Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

i

PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA Alamat Redaksi: Gedung Pusat Jasa Lt. VB Perpusnas RI. Jl. Salemba Raya No. 28 A Kotak Pos: 3624, Jakarta 10002 Telp : (021)-3154863 ext. 264 e-mail: jumantara@pnri.go.id homepage: http://www.pnri.go.id/MajalahOnline.aspx

JUMANTARA - Jurnal Manuskrip Nusantara Vol.3 No.1 Tahun 2012 Pembina Pengarah : Kepala Perpustakaan Nasional RI : 1. Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi 2. Kepala Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi : Kepala Bidang Layanan Koleksi Khusus : Drs. Nindya Noegraha : 1. Drs. H. Sanwani 2. Aditia Gunawan, S.Pd. 3. Agung Kriswanto, SS. 4. Drs. Nur Karim, M. Hum. 5. Yudhi Irawan, S. Hum. 6. Didik Purwanto, SS. 7. Mardiono : 1. Prof. Dr. Achadiati 2. Dr. I. Kuntara Wiryamartana : Dra. Dina Isyanti, M. Si. : 1. Komari 2. Dian Soni Amellia, S.Hum. : Bambang Hernawan, SS. : Aditia Gunawan, S.Pd.

Penanggung jawab Pemimpin Redaksi Dewan Redaksi

Mitra Bestari Editor Bahasa Sekretaris Redaksi Sirkulasi Tata Letak

Jumantara adalah jurnal ilmiah dengan fokus kajian naskah (manuskrip) nusantara yang menyajikan karangan ilmiah dalam bentuk hasil penelitian, penilaian terhadap hasil penelitian, serta tinjauan buku. Diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan ISSN 2087-1074.

ii

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Artikel 1

Anung Tedjowirawan Menelusuri Jejak Cerita Rama dalam Serat Pustakaraja Karya Pujangga R.Ng. Ranggawarsita Fakhriati Perempuan dalam Manuskrip Aceh: Kajian Teks dan Konteks Atep Kurnia Sinurat Ring Merega; Tinjauan atas Kolofon Naskah Sunda Kuna Tedi Permadi Identifikasi Bahan Naskah (Daluang) Gulungan Koleksi Cagar Budaya Candi Cangkuang dengan Metode Pengamatan Langsung dan Uji Sampel di Laboratorium Ida Bagus Rai Putra Lontar: Manuskrip Perekam Peradaban dari Bali Mahrus El-mawa Rekonstruksi Kejayaan Islam di Cirebon; Studi Historis pada Masa Syarif Hidayatullah (1479-1568) Oman Fathurahman Sulalat al-Salatin Karya Tun Seri Lanang: Kebesaran Karya Sastra Melayu yang Melampaui Zamannya

44

77

128

148

100

167

Review Buku 178 Kuntara Wiryamartana Filologi Jawa dan Kuñjarakarṇa Prosa

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

iii

1 Tahun 2012 . Pertama. Meski demikian. Dalam nomor ini disajikan artikel-artikel yang menyampaikan berbagai pengetahuan penting dan menarik. budaya dan agama. Andaikata naskah lontar tersebut tidak pernah terbaca. Ia dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi bangsa. dari Ramayana Wālmīki sampai kepada teks Serat Pustakaraja karya pujangga Ranggawarsita. tulisan Anung Tedjowirawan tentang jejak cerita Rama. Sebagai contoh. sosial. mungkin kita tidak pernah mendengar istilah-istilah “sakti” tersebut. Meski teks Ramayana bukan berasal dari Nusantara. sejarah. mitologi. Apalagi jika melihat kenyataan bahwa penyumbang tulisan dalam jurnal ini adalah para ahli filologi yang jumlahnya saat ini semakin sedikit. dan lain-lain. Kandungan naskah Nusantara tidak selalu hanya berkaitan dengan kesusastraan. usia yang masih sangat rawan bagi keberlangsungan hidup sebuah jurnal. ekonomi. tetapi kisah ini termashur di Nusantara. Naskah memiliki peran penting bagi bangsa Indonesia. Dengan gamblang penulis memaparkan perjalanan teks Ramayana. terus terbitnya Jumantara secara rutin menandakan bahwa para pakar dan peminat naskah tetap ada dan setia menyumbangkan hasil penelitiannya. 3 No. istilah pancasila yang menjadi dasar negara dan bhineka tunggal ika yang merupakan semboyan negara diambil dari teks Kakawin Sutasoma. Inilah yang coba ditunjukkan oleh Fakhriati melalui tulisannya yang menyoroti kedudukan perempuan sebagaimana terkandung dalam sebuah naskah Aceh. dari India sampai Jawa. Para pujangga seperti Ranggawarsita menyerap isi cerita kemudian disesuaikan dengan kebudayaan lokal. hukum. Fakhriati mencoba menggali ajaran dan praktik tentang iv Jumantara Vol. obat-obatan. Jerih payah para pakar pengkaji naskah pada gilirannya telah berperan serta melestarikan budaya Nusantara. tetapi juga mencakup tema-tema politik.J umantara telah menginjak usia ketiga.

tempat. Mahrus el-Mawa berusaha memaparkan secara luas salah satu Jumantara Vol. tetapi jika dicermati ternyata dapat memberikan informasi penting tentang sebuah naskah. Artikel ketiga. dan waktu penulisan naskah. kesimpulan tersebut dapat membantu pihak yang berkepentingan untuk menilai fisik suatu naskah. membahas secara rinci naskah daluang yang berasal dari Candi Cangkuang.1 Tahun 2012 v . Selain kajian teks. Tedi Permadi. mencakup informasi tentang identitas penulis atau penyalin.kehidupan perempuan di Aceh pada masa lalu melalui kehidupan Siti Islam. Banyak data yang sepertinya sepele. peneliti dari UPI Bandung. Melalui perspektif sejarah. Dalam artikelnya. sampai tradisi penulisan dan pembacaan lontar yang masih hidup di Bali. merupakan tinjauan terhadap kolofon naskah Sunda Kuna. 3 No. Ida Bagus Rai Putra membahas berbagai segi penggunaan daun lontar sebagai media menulis naskah. proses pembuatan. Dari tulisan itu diperoleh gambaran bahwa identitas penulis naskah tidak selalu dinyatakan dengan jelas. Fakhriati menggunakan teks berjudul Siti Hasanah. Mahrus el-Mawa mengkaji puncak kejayaan Islam di Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Berbeda dengan Tedi Permadi. Dalam tataran praktis. Sebagian besar naskah Sunda Kuna yang ditulis di gunung dapat dijadikan petunjuk awal yang mengungkap kedudukan gunung sebagai skriptorium penciptaan sebuah karya intelektual pada masa lalu. tokoh utama dalam teks Hikayat Siti Islam. Tradisi lontar yang masih lestari di Bali saat ini dapat memberi petunjuk bagaimana fungsi naskah lontar pada masa lalu. di antaranya dari dari segi fisik. Ida Bagus membahas lontar sebagai media menulis naskah. Sebagai bahan perbandingan. misalnya: ketebalan naskah yang diukur secara cermat dapat membuktikan apakah sebuah naskah dikerjakan secara tradisional atau merupakan buatan pabrik. dalam edisi ini disajikan pula artikel yang membahas wujud naskah itu sendiri. yang ditulis oleh Atep Kurnia. Kajian seperti itu termasuk dalam ranah kodikologi.

bukan berarti pembahasan terhadapnya telah tuntas. Artikel terakhir. tetapi usahanya merekonstruksi kejayaan Islam di Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah melalui teks lama dan bukti-bukti artefak. Kuntara Wiryamartana dalam tinjauan buku Kritik Teks Jawa: Sebuah Pendekatan Baru terhadap Kunjarakarna Prosa karangan Wilem van der Molen (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. yaitu unsur Islam yang terkandung dalam teks tersebut. melainkan tokoh historis. Oman Fathurahman masih melihat adanya aspek yang belum tergali yang dapat dimanfaatkan oleh para peneliti selanjutnya. pembaca dapat melihat betapa beragamnya persoalan yang diangkat oleh para penulis. Selamat membaca! vi Jumantara Vol. meminjam istilah C. Filologi secara harafiah berarti “cinta kata”. Tulisannya mengingatkan kita akan pentingnya aspek-aspek mendasar dari filologi. Secara cermat I Kuntara menunjukkan alternatif bacaan dan terjemahan (ada kalanya perbaikan) terhadap teks Jawa Kuna Kunjarakarna. Walaupun ia tidak mengulas tentang guru dan ajaran keagamaan Syarif Hidayatullah secara mendalam. Meski banyak sarjana yang telah meneliti teks tersebut.tokoh penting Walisongo ini. Hooykas. membuktikan bahwa Sunan Gunung Jati bukanlah tokoh mitos. “demikian banyaknya diselidiki”. 3 No. 2011). mengkaji sejarah penelitian salah satu teks Melayu yang. Dari artikel-artikel yang kami sajikan dalam edisi kali ini.1 Tahun 2012 . Ini menunjukkan bahwa naskah “kuno” Nusantara dapat dijadikan “sumber inspirasi baru” untuk perkembangan penelitian di Indonesia. yaitu penyajian teks dan terjemahan. Kami berharap Jumantara dapat dijadikan sebagai “arena” penulisan artikel yang berkaitan dengan pernaskahan di Indonesia sehingga isi dan kandungan naskah dapat dibaca secara luas oleh masyarakat. karya Oman Fathurahman. yaitu Sulalat alSalatin atau lebih populer disebut Sejarah Melayu. Kecintaan itulah yang ditunjukkan I.

Ritual agung Aswameda tersebut diselenggarakan di hutan Madura dekat sungai Sarayu (Gangga). Raja Ayodya dalam rangka memohon kelahiran putra yang menjadi penjelmaan Sang Hyang Wisnu. Dalam Sĕrat Suktinawyasa jejak cerita Rama terdapat dalam cerita yang disampaikan Dhang Hyang Wiku Salya kepada Rĕsi Abyasa. istrinya. mengenai kisah hidup Prabu Ramawijaya ketika dicopot dari tahta serta harus meninggalkan istana Ayodya untuk pergi ke hutan belantara bersama Dewi Sinta. Sĕrat Prabu Gĕndrayana. Dalam Sĕrat Rukmawati dikemukakan tentang peristiwa ritual agung Aswameda yang diselenggarakan oleh Prabu Dasarata. 3 No. serta adiknya * Penulis. Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara. tempat keberadaan "Jamur Dipa". Laksmana.Abstrak Jejak cerita Rama dalam Sĕrat Pustakaraja diantaranya terdapat dalam Sĕrat Rukmawati.1 Tahun 2012 1 . Dari ritual agung Aswameda tersebut kemudian lahirlah putra-putra Prabu Dasarata antara lain: Rama. penjelmaan Rĕsi Anggira (Maharsi Paspa). sedangkan putra Prabu Basurata yang lahir bernama Raden Brahmaneka. Barata dan Satrugna. Ritual tersebut disaksikan oleh para raja sekutu Prabu Dasarata serta dihadiri oleh Prabu Basurata dari Wiratha. peneliti dan pengajar di Jurusan Sastra Nusantara FIB Universitas Gajah Mada Jumantara Vol. Sĕrat Suktinawyasa.

dan Dèwi Sasanti dengan Radèn Darmakusuma. jejak cerita Rama dikemukakan oleh Bagawan Danèswara kepada Prabu Gĕndrayana.Laksmana. Sĕrat Rukmawati. Dèwi Pramuni dengan Radèn Darmasarana. 2 Jumantara Vol. Dalam Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara jejak cerita Rama tampak pada penampilan Sang Maharsi Mayangkara (Anoman.1 Tahun 2012 . Mereka antara lain: Dèwi Pramèsthi dengan Prabu Astradarma (Purusangkara). Hanūman). Sĕrat Prabu Gĕndrayana. yang merusak pertapaan. Kata Kunci: Kakawin Rāmāyaņa. bahwa Batara Ramawijaya sewaktu muda (8 tahun) sudah dibawa Bagawan Sutiknayogi ke Gunung Dhandhaka untuk diadu dengan para raksasa bala tentara Rahwana (Dasamuka). 3 No. yang merusak segenap sawah dan ladang penduduk di wilayah Gunung Nilandusa (Wilis). Dalam kedua cerita tersebut Sang Maharsi Mayangkara akhirnya gugur dalam pertempurannya yang dahsyat melawan Prabu Yaksadewa (penjelmaan Sang Hyang Kala) yang bersenjatakan gada (penjelmaan Sang Hyang Brahma). Dalam kedua Serat tersebut dikisahkan peran Sang Maharsi Mayangkara yang mendapat tugas Bathara Guru untuk menjalin kembali kerukunan di antara keturunan Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) dengan keturunan Prabu Sariwahana. Sĕrat Purusangkara. Cerita tersebut diungkapkan Bagawan Danèswara agar Prabu Gĕndrayana merelakan putranya yaitu Raden Narayana (Jayabhaya) untuk diminta bantuannya melenyapkan segala jenis hama tanaman (yang dilindungi para Dewa). Dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana. Sĕrat Pustakaraja. Serat Suktinawyasa. sampai Dewi Sinta diculik dan dibawa lari oleh Prabu Dasamuka ke Alengka. lewat perka-winan putra-putri mereka. Sĕrat Mayangkara. Cerita tersebut dikemukakan Dhang Hyang Wiku Salya dalam rangka untuk menghibur agar Rĕsi Abyasa tidak terlalu bersedih hati karena sepeninggal ayahandanya (Rĕsi Palasara) ia tidak ditunjuk untuk menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai raja melainkan hanya diangkat sebagai raja pendeta.

Yayur-Weda. si petapa tetap pada tempatnya semula. tidak bergerak sambil mengucapkan mantra: marā. kitab suci Weda yang kelima. yang oleh pujangga penciptanya diwariskan untuk seluruh umat manusia. marā sedemikian cepatnya sehingga ucapannya terbalik menjadi: Rāma. marā. yaitu 400 tahun. Saat itulah ia mendapat ilham untuk mencipta bentuk sanjak. ia duduk termenung di tepian sungai sambil melihat air sungai yang beriakriak. berbahasa Sanskerta. Beberapa sarjana mengemukakan bahwa hakikat inti Jumantara Vol. tumbuh menjadi seorang penjahat. terus-menerus dengan tempo secepat-cepatnya. Pada waktu Saptarşi menengoknya. Sāma-Weda. 1979: 1). dan Atharwa Weda. dari 400 tahun Sebelum Masehi sampai 400 tahun Sesudah Masehi. 3 No. selama seribu tahun tanpa boleh bergerak. yang karena senang berkumpul dan bergaul dengan para perampok. Dalam mitologinya. marā. Rāmāyaņa dicipta melalui proses waktu yang cukup panjang. bahwa selama masih ada gunung-gunung yang berdiri. Maka sejak itu pemuda petapa tersebut disebut Wālmīki (Padmapuspita.1 Tahun 2012 3 . Seluruh badan petapa tersebut tertimbun di bawah „onggokan sarang semut hutan‟ yang dalam bahasa Sanskerta disebut walmīka.Pengantar Rāmāyaņa adalah karya agung dari India. yang terdiri dari Ŗg-Weda. (Padmapuspita. Ketika merampok tujuh orang dewa – resi (Saptarşi). sungai-sungai mengalir di permukaan bumi selama itu juga kisah Rāmāyaņa akan terus berlangsung di dunia (Padmapuspita. ia berhasil diinsyafkan dan disuruh bertapa di hutan sambil mengucapkan mantra: marā. Baik Rāmāyaņa maupun Mahābhārata termasuk Itihāsa. Adapun Mahābhārata karya Mpu Vyāsa mengalami proses pertumbuhan selama 800 tahun. Bagaimanakah mitologi terciptanya karya agung ini? Ada seorang putra Brahmana. Pada waktu Wālmīki akan menggubah Rāmāyaņa. 1979: 1-2). Keagungan dan kemasyuran kisah Rāmāyaņa ini memang sudah diramalkan ribuan tahun sebelumnya. melengkapi kitab suci Catur Weda Samhita. marā. 1979: 1-2). Rāma. dari 200 tahun sebelum Masehi sampai dengan 200 tahun sesudah Masehi. Rāma.

1998: 136-146). 3 No. Dari berbagai penelitian para ahli teks. penyair-penyair India lain pun mencoba membuat cerita Rāma– Sīta tersebut. Di Indonesia cerita Rāma digubah ke dalam Kakawin Rāmāyaņa maupun terpatri pada relief di candi Prambanan dan candi Panataran. Relief cerita Ramayana di candi Prambanan rupanya lebih dekat dengan Sĕrat Rama Kĕling. Rāvaņavadha (pembunuhan Rāvaņa) oleh Bhaţţi. (d) Dianggap sebagai kitab suci yang keramat. kesucian yang tiada taranya. dengan pola cerita pengendalian Bharata oleh Kekayi. Di India. menyerang Langka hingga takluk. Kakawin Rāmāyaņa diperkirakan digubah pada abad IX Masehi (820-832 Ç atau 898-910 M). Melayu. Sutīkşņa). (c) Dianggap sebagai cerita roman cinta kasih. Rāma melambangkan satria Arya yang. pertentangan Subali melawan Sugriwa. 1963: 12-13. Filipina. Di Asia Tenggara cerita Rāma terdapat di Vietnam. dan Rāmāyaņa Kathāsara-mānjari oleh Ksemendra (Darusuprapta. Kamboja. 1963: 48. Surjohudojo. Dalam hal ini cerita Rāma dianggap sebagai dokumen sejarah. dan politik tinggi Wibisana. 1961: 10).Rāmāyaņa adalah: (a) Berisi lambang gerakan ekspansi bangsa Arya dari tanah India Utara ke India Selatan. lebih-lebih bagi golongan Waisnawa. Thailand. maupun Jawa (Manu. Surjohudojo. Cerita Rāmāyaņa dari India tersebut kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. yang menganggap bahwa Rāma adalah penjelmaan Dewa Wisnu. Uttara Rāma oleh Bhavabhutti. kesetiaan. ketika kekuasaan rajawi masih 4 Jumantara Vol. Birma.1 Tahun 2012 . Rāmācaritamanasa (telaga kisah Rāma) oleh Tulasi Dasa (Tulsi Das).. didalangi para Brahmana (yang ditokohkan sebagai Bharadwāja. Janakīharaņa (penculikan Sīta) oleh Kumaradasa. selain Wālmīki yang berhasil menggubah Rāmāyaņa. Laos. misalnya: Raghuvangśa (keturunan Raghu) karya Kalidasa. 1961: 4-10). Sarabhangga. Atri. adapun relief di candi Panataran dekat dengan Kakawin Rāmāyaņa. (b) Dianggap sebagai lambang perebutan kekuasaan negara yang senantiasa terjadi di sepanjang sejarah. Agastya. (e) Dasar pola cerita Rāma merupakan persoalan tindakan dharma melawan adharma (Darusuprapta.

Darusuprapta. Dalam kaitannya dengan penulis dan saat penulisan Kakawin Rāmāyaņa menurut tradisi Bali. Zoetmulder. seperti: Kern. Berdasarkan penelitian Himansu Bhusan Sarkar. 1963: 60). Somvir menyatakan pula bahwa pertimbangan utama Yogīśwara dalam memilih Bhaţţikâvya adalah bahwa penyair Bhaţţi tergolong ke dalam sekte Shiwa. diketahui bahwa sumber penulisan Kakawin Rāmāyaņa adalah Rāvaņavadha karya Bhaţţikâvya (Poerbatjaraka. 1998: 20). dan Hooykaas. mengikuti anggapan umum di Bali (misalnya Ktut Ginarsa) bahwa penulis Kakawin Rāmāyaņa adalah Yogīśwara (Darusuprapta. 1998: 137. yang artinya sang yogīśwara (pendeta besar) menjadi sangat pandai dan sang sujana (orang baik) menjadi bersih hatinya setelah membacanya (Rāmāyaņa ini) (Darusuprapta. Oleh karena itu Poerbatjaraka menegaskan bahwa kata yogīśwara harus diartikan sebagai 'pendeta besar'. dan Hooykaas. sebagaimana anggapan yang terbiasa di Bali. 1963: 60).1 Tahun 2012 5 . Juynboll. 1979: 3. 3 No. 1961: 11-12. Baris kalimat yang memuat kata yogīśwara tersebut berbunyi: "Sang yogīśwara çişţa sang sujana çuddha manahira huwus mace sira". 1998: 20-21). Padmapuspita menjelaskan beberapa alasan mengapa di dalam tradisi Bali penulisan Kakawin Jumantara Vol. Camille Blucke. Berkaitan dengan penulisan Kakawin Rāmāyaņa. Padmapuspita. Manu. 1963: 53-56. Somvir. Tradisi Shiwaisme itulah kiranya yang mendorong Yogīśwara untuk memilih Bhaţţikâvya sebagai sumber penggubahan Kakawin Rāmāyaņa (Somvir. Shiwaisme adalah sekte tertua yang dapat dibuktikan jejaknya lewat penempatan dewa-dewa penting yang memakai atributatribut Shiwa di candi Prambanan. Manomohan Ghosh. Berg. 1983: 288-290. 1998: 19-20).berpusat di Jawa Tengah. Surjohudojo. Meskipun demikian Somvir (setelah 40 tahun kemudian) mengharapkan bahwa Yogīśwara sebagai pencipta Kakawin Rāmāyaņa menurut tradisi Bali selama ini dapat diterima (Somvir. bukan menunjuk pada penulis Kakawin Rāmāyaņa. 1957: 2-3. pada mulanya para sarjana.

Rāmāyaņa adalah pada tahun 1016 Ç (1094 M) oleh Yogīśwara. Rangkaian kata-kata "çişţa sujana çuddha manahira" itu dianggap memuat sengkalan yang menunjuk tahun 1016 Ç. Dalam hal ini kata çişţa = 6; sujana = 1; çuddha = 0; manah = 1. Jadi 6101 atau tahun 1016 Ç (Padmapuspita, 1979: 13). Akan tetapi dalam koreksinya, Padmapuspita lebih cenderung menyetujui bahwa sengkalan di atas menunjuk tahun 1018 Ç (1096 M), karena kata çişţa yang artinya 'terpelajar' atau 'pandai' diberi arti '8', sama dengan pendeta. Padmapuspita juga menemukan adanya kata "guna" sampai tiga kali (triguna) dari bait penutup dalam Kakawin Rāmāyaņa tersebut. Karena itu Padmapuspita menawarkan pandangannya bahwa kemungkinan penulis Kakawin Rāmāyaņa adalah Mpu Triguna, semasa pemerintahan Çri Jayawarsa Digwijaya Çastra Prabu, yang memerintah tahun 1026 Ç (1104 M). Walaupun demikian, Padmapuspita juga sependapat dengan Poerbatjaraka, bahwa yogīśwara bukanlah nama orang, melainkan sebutan penghormatan, seperti halnya kata yogīndra yang diberikan kepada Wālmīki. Bhaţţi sendiri (pengarang Rāvaņavadha) diperkirakan merupakan nama samaran Bhartrhari. Dalam hal ini kata bhaţţi dapat dihubungkan dengan kata bhaţţa, sebutan untuk sarjana besar, semacam penulisan gelar Doktor yang disingkat Dr. (Padmapuspita, 1979: 14-15). Dalam perkembangannya Kakawin Rāmāyaņa digubah dalam kesastraan Jawa Baru dengan judul Sĕrat Rama oleh pujangga R.Ng. Yasadipura I (Poerbatjaraka, 1957: 152; Darusuprapta, 1963: 43; Ricklefs, 1997: 276). Kakawin Rāmāyaņa juga digubah oleh R.Ng. Yasadipura II menjadi Sĕrat Arjuna Sasrabahu, baik yang berbentuk tembang macapat maupun yang berbentuk Kawi miring, serta juga digubah oleh Sindusastra menjadi Sĕrat Arjunasasra atau Sĕrat Lokapala (Mc. Donald dalam Manu, 1998: 138). Bila cerita dalam Rāmāyaņa dan Mahābhārata yang di India seperti tidak ada hubungannya satu sama lain, maka di Jawa kedua tradisi tersebut dicoba dihubungkan, terutama dalam

6

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

pewayangan. Misalnya tampak pada cerita Wahyu Makutharama (Ki Siswaharsaya), Sĕrat Kandha Lampahan Jayasĕmadi, Sĕrat Kandha Lampahan Sĕmar Boyong, Sĕrat Kandha Lampahan Rama Nitis, Arjuna Krama, Lampahan Wahyu Tunggul Naga, dan sebagainya. Sĕrat Pustakaraja Sebelum dikemukakan jejak cerita Rāma dalam Sĕrat Pustakaraja, akan dikemukakan secara sepintas tentang karya tersebut. Sĕrat Pustakaraja adalah karya agung dan merupakan puncak karya pujangga R. Ng. Ranggawarsita, disamping Sĕrat Ajipamasa maupun Sĕrat Witaradya. Bedanya, kalau Sĕrat Pustakaraja berbentuk prosa, maka Sĕrat Ajipamasa dan Sĕrat Witaradya berbentuk puisi Jawa Baru (Macapat). Disebut Pustakaraja karena karya ini dijadikan kitab pedoman bagi seorang Raja (pakĕmipun panjĕnĕngan nata). Pustakaraja dapat juga diartikan 'Rajanya Kitab', karena merupakan kitab yang terkemuka dan menjadi induk segala kitab cerita Jawa (Sĕrat Raja, amargi dados tĕtunggul tuwin dados baboning Sĕrat cariyos Jawi) (Ranggawarsita, 1938: 7). Sĕrat Pustakaraja dapat dibagi menjadi 2, yaitu Sĕrat Pustakaraja Purwa dan Sĕrat Pustakaraja Puwara. Sĕrat Pustakaraja Purwa dibagi menjadi beberapa kelompok besar, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Sĕrat Maha Parwa, meliputi: a. Sĕrat Purwa Pada; b. Sĕrat Sabaloka. Sĕrat Maha Déwa, meliputi: a. Sĕrat Déwa Buddha; b. Sĕrat Dewa Raja. Sĕrat Maha Rĕsi, meliputi: a. Sĕrat Rĕsi Kala; b. Sĕrat Buddha Krĕsna. Sĕrat Maha Raja, meliputi: a. Sĕrat Raja Kanwa; b. Sĕrat Palindria; c. Sĕrat Silacala; d. Sĕrat Sumanasantaka. Sĕrat Maharata, meliputi: a. Sĕrat Dyitayama; b. Sĕrat Tritarata; c. Sĕrat Sindula; d. Sĕrat Rukmawati; e. Sĕrat Sri

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

7

Sadana. 6. Sĕrat Maha Tantra, meliputi: a. Sĕrat Sri Kala; b. Sĕrat Raja Watara; c. Sĕrat Crita Kaprawa; d. Sĕrat Ariawanda; e. Sĕrat Para Patra. Sĕrat Maha Putra, meliputi: a. Sĕrat Mahandya Purwa; b. Sĕrat Suktinawyasa; c. Sĕrat Hariwangsa; d. Sĕrat Darma Sarya; e. Sĕrat Kumbayana; f. Sĕrat Wanda Laksana; g. Sĕrat Darma Mukta; h. Sĕrat Drĕta Nĕgara. Sĕrat Maha Dharma, meliputi: a. Sĕrat Kuramaka; b. Sĕrat Smara Dahana; c. Sĕrat Ambarawaja; d. Sĕrat Krida Krĕsna; e. Sĕrat Kunjarakarna; f. Sĕrat Kunjara Krĕsna; g. Sĕrat Partayagnya; h. Sĕrat Manik Harya Purwaka; i. Sĕrat Sumantri Parta; j. Sĕrat Dĕwa Ruci; k. Sĕrat Parta Wiwaha/Mintaraga; Sĕrat Indra Naraga; m. Sĕrat Urubaya; n. Sĕrat Domantara; o. Sĕrat Bomantaka; p. Sĕrat Baratayuda; q. Sĕrat Kirimataya; r. Sĕrat Darmasarana; s. Sĕrat Yudhayana.

7.

8.

Sĕrat Pustakaraja Puwara juga dibagi menjadi beberapa kelompok besar, yaitu: 1. Sĕrat Maha Parma, meliputi; a. Sĕrat Budhayana; b. Sĕrat Sariwahana; c. Sĕrat Purusangkara; d. Sĕrat Partakaraja; e. Sĕrat Ajidharma; f. Sĕrat Ajipamasa. 2. Sĕrat Maharaka, meliputi; a. Sĕrat Witaradya; b. Sĕrat Purwanyana; c. Sĕrat Bandawasa; d. Sĕrat Déwatacèngkar. 3. Sĕrat Maha Prana, meliputi: a. Sĕrat Widayaka; b. Sĕrat Danèswara; c. Sĕrat Jaya Lĕngkara; d. Sĕrat Dharma Kusuma; e. Sĕrat Catasi Panuaka. 4. Sĕrat Maha Krasma, meliputi: a. Sĕrat Surya Wisésa; b. Sĕrat Raja Sunda; c. Sĕrat Madu Sudana; d. Sĕrat Panca Prabanggana. 5. Sĕrat Maha Kara, meliputi: a. Sĕrat Mundingsari; b. Sĕrat Raja Purwaka; c. Sĕrat Maha Kara.

8

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

6. Sĕrat Maha Para (Ranggawarsita 1938: 10-49; Mulyono, 1989: 191-200; Tedjowirawan, 2008: 84-86).

Sri

Dalam Kepustakaan Jawa (1957), Poerbatjaraka menilai bahwa Kitab (Sĕrat) Pustakaraja pada pokoknya digubah berdasarkan kitab-kitab lakon wayang, pendengaran R. Ng. Ranggawarsita tentang cerita-cerita dari temannya, dan dongengdongeng yang pada waktu itu sudah ada. Semuanya itu diubah dan ditambah oleh R. Ng. Ranggawarsita menurut kehendak hatinya. Lebih jauh Poerbatjaraka menyatakan bahwa: “Walau bagaimanapun juga keadaannya, dengan pendek Kitab Pustakaraja itu sebagian besar hanya berisi “omong kosong” belaka daripada R.Ng. Ranggawarsita. Kitab-kitab yang disebut di dalam Kitab Pustakaraja, itu seperti kitabkitab Maha Parwa, Purwa Pada, Sabaloka, Maha Déwa, Maha Rĕsi, dan sebagainya, itu sebenarnya tidak ada dan tak pernah ada.” (Poerbatjaraka, 1957: 186). C.C. Berg dalam Penulisan Sejarah Jawa (Javaansche Geschiedschrijving, dalam geschiedenis van Nederlands Indie, 1938) mengakui bahwa pihak Barat belum memberikan perhatian yang berarti terhadap Pustakaraja, namun diakui bahwa R.Ng. Ranggawarsita mempunyai pergaulan dengan ahli-ahli ilmu bahasa dan kebudayaan Jawa yang berkebangsaan Barat. Selanjutnya dikatakan bahwa R.Ng. Ranggawarsita dalam menulis karyanya menempuh jalan baru dan untuk memperoleh bahan-bahan ia menggali sumber-sumber baru. Akhirnya dikatakan juga bahwa R.Ng. Ranggawarsita (ternyata) mencurahkan amat banyak perhatian untuk menentukan tarikh peristiwa-peristiwa yang dibukukannya. Ia selalu memberikan dua tarikh, yang satu menurut tahun Syamsiah dan yang satu lagi menurut tahun Komariyah. Berdasarkan kenyataan itu bukan mustahil bila sesungguhnya R.Ng. Ranggawarsita bermaksud untuk menulis sejarah menurut tanggapan Barat. Bahwa usahanya tersebut tidak berhasil tidaklah penting. Apabila R.Ng.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

9

Rangga Warsita‟s chronicles of creation. solar and lunar years. which should also be made visible in myth and ancient history” (Pigeaud. which he called Pustaka Raja. 1967: 170). Keanehan dalam Sĕrat Pustakaraja tersebut justru sering dinilai “sangat menakjubkan” 10 Jumantara Vol. cosmogony. maka kiranya kita harus membedakan karyanya dengan karya rekan-rekannya yang terdahulu.Ranggawarsita bermaksud mencari nama sebagai ahli sejarah pertama yang beraliran modern. 1974: 87). Di sini C. His. Pigeaud dalam Literature of Java Volume I (1967) menyatakan: “Rangga Warsita‟s books on mythology and ancient history. Sĕrat Pustakaraja isinya sudah menyimpang dan berbeda jauh dengan Ramāyāna maupun Mahābharāta. of Rangga Warsita‟s own invention. Menurut Sri Mulyono. adalah hasil saduran kembali cerita dalam Mahābharāta dengan berbagai adaptasi dan inovasi. Ranggawarsita) bukanlah orang yang mempelajari ilmu sejarah. Berg hanya dapat mengemukakan tidak lebih dari perkiraan-perkiraannya (Berg. myth and epics have parallels in the literatures of other peoples. at first sight preposterous. pujangga dalam arti yang asli. 1989: 202).Ng. idea of dating all tales is to be considered as a consequence of his thoroughly Javanese belief in an all pervading Order. akan tetapi pendeta-pendeta magi sastra. Sĕrat Pustakaraja Purwa seringkali dikatakan sebagai suatu penulisan baru mengenai sumber-sumber cerita wayang (penulisan cerita Mahābharāta versi Indonesia) (Mulyono. impress the reader in a remarkable way.1 Tahun 2012 . Sĕrat Pustakaraja. and so the Pustaka Raja makes an impression of being historically reliable. which it is not. karena yang disebut belakangan ini (R. The events of myth and epic history are dated consecu-tively according to a chronology. “manusia ular”. Books of Kings.C. 3 No. khususnya Sĕrat Pustakaraja Purwa.

putranipun Sang Hyang Anantaboga anggènipun amĕmĕca saha mitulungi sarana dha-tĕng Jumantara Vol. wiyosipun punika cariyos lalampahanipun Dèwi Rukmawati. 1989: 202. Ranggawarsita (Sĕrat Pustakaraja) adalah menempatkan jatining panembah. 4) Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara yang dapat dimasukkan ke dalam kelompok Sĕrat Maha Parma (bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara). 3) Sĕrat Prabu Gendrayana yang dapat disejajarkan dengan Sĕrat Budhayana sehingga dapat dimasukkan ke dalam kelompok Sĕrat Maha Parma (bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara). tetapi hanya sebagai titah biasa (Mulyono. Selain itu yang terpenting dari segala uraian karya-karya pujangga R. 1980: 2). Ranggawarsita di dalam Sĕrat Pustakaraja menyatakan: Sĕrat Rukmawati. Ranggawarsita sendiri.Ng. yaitu memberikan penerangan bahwa dewa-dewa (para Jawata) yang diartikan sebagai nenek moyang orang Jawa itu bukanlah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.1 Tahun 2012 11 . Adapun jejak cerita Rāma dalam Serat-Serat di atas dapat dikemukakan sebagai berikut: Cerita Rāma dalam Sĕrat Rukmawati Pujangga R. Jejak Cerita Rama dalam Serat Pustakaraja Di dalam Sĕrat Pustakaraja jejak cerita Rāma terdapat di dalam: 1) Sĕrat Rukmawati bagian kelompok Kitab Maharata (bagian Pustakaraja Purwa). Wiryamartana. 2) Sĕrat Suktinawyasa bagian Sĕrat Mahapatra (bagian Pustakaraja Purwa). Ng.Ng. 3 No. Di samping itu salah satu maksud tujuan disusunnya Sĕrat Pustakaraja adalah untuk mendidik anak cucu dengan mengajarkan sejarah kepahlawanan leluhurnya.sehingga para sarjana berkesimpulan bahwa kitab tersebut adalah wishfull thinking pujangga R.

inilah cerita kisah perjalanan hidup Dewi Rukmawati. Dewi Rukmawati dengan ketajaman penglihatan batinnya sering meramal dan menolong orang yang sedang bersedih sehingga ia termashur 12 Jumantara Vol.sadhĕngaha ingkang nĕdha tulung. Prabu Sri Mahapunggung dan Prabu Basurata adalah putra Sang Hyang Wisnu. kerajaannya di Medanggalungan tanah Pekalongan (Ranggawarsita. termasuk tanah Kendal atau Pekalongan. Pada waktu itu bidadari bernama Dewi Rukmawati. kerajaannya di Purwacarita. Madura dan Sumatra. Kamajaya 1994: 2). Dikemukakan dalam Sĕrat Rukmawati bahwa pada waktu itu pulau Jawa masih bersatu dengan Bali. kerajaannya di Gilingwĕsi tanah Prayangan (Priangan). dihitung (ber-dasarkan) tahun Candrasangkala bertepatan tahun 879). 1939: 2-3. turun ke dunia dan berdiam di pertapaan di Gunung Mahendra (Gunung Lawu) di tanah Surakarta. putra Sang Hyang Anantaboga ketika meramalkan dan menolong memberikan jalan (petunjuk) kepada siapapun yang meminta pertolongan (padanya). (Sĕrat Rukmawati. 3 No. kaétang ing taun Candra-sangkala amarĕngi 879 (Ranggawarsita.1 Tahun 2012 . penggubahannya pada tahun Suryasangkala 853. (3) Prabu Basurata kerajaannya di Wiratha yang pertama di tanah Tegal. (2) Prabu Sri Mahapunggung. panganggitipun anuju ing taun Suryasangkala 853. 1994: 33). Adapun cerita dalam Sĕrat Rukmawati dimulai dari tahun Suryasangkala 453 (Uninga – marganing – yoga) atau terhitung tahun Candrasangkala 467 (Rĕsi – rasaning – catur) sampai dengan tahun Suryasangkala 456 (Karasa – marganing – dadi) atau terhitung tahun Candrasangkala 470 (Kagunturan – sabda – pakarti – muluk) (Kamajaya. Dikarang oleh Mpu Sindura di Mamenang. Kaanggit dé-ning Mpu Sindura ing Mamĕnang. putra Sang Hyang Anantaboga. (4) Sri Maharaja Sindhula (putra Prabu Watugunung). 1938: 17). Di Jawa ada empat raja: (1) Prabu Brahmanaraja (putra Sang Hyang Brahma).

sampai ke mancapraja (mancanegara). 1994: 3-10). Konon terjadinya abu tersebut bermula ketika Rĕsi Anggira yang dari kanak-kanak sampai tua melakukan tapa brata. tetapi terus dikejar oleh Rĕsi Anggira. termasuk dalam wilayah negara Ngayodya. menyarankan agar Prabu Basurata meminta petunjuk kepada Dewi Rukmawati di Gunung Mahendra. Di dalam abu tersebut kemudian tumbuhlah jamur yang terkenal sebagai Jamur Dipa yang dapat menjadi sarana untuk mendapatkan seorang putera yang istimewa.1 Tahun 2012 13 . akan tetapi Rĕsi Anggira ingin mencoba kesaktian telapak tangannya dengan meraba kepala Sang Hyang Jagadnata. Sang Hyang Jagadnata kemudian lenyap dan tidak berapa lama muncullah Sang Hyang Wisnu menyamar sebagai seorang wanita yang sangat cantik bernama Dewi Anggarini. Pada waktu itu Prabu Basurata mendapat ilham dalam mimpinya bahwa ia hendaknya mencari cara agar mendapatkan putra. Prabu Basurata dengan diiringi Resi Wisama kemudian pergi berkunjung ke Gunung Mahendra. sehingga akhirnya ia sendiri yang menjadi abu. cicit Sang Hyang Pancaresi. Ilham raja tersebut disampaikan kepada para pertapa. sebab di sana terdapat Jamur Dipa yang tumbuh dari abu Rĕsi Anggira atau yang juga disebut juga Maharesi Paspa. terutama kepala seseorang. Sang Hyang Jagadnata menolak. 3 No. Resi Wisama (putra Bathara Laksmana) cucu Sang Hyang Resi Wismana. sehingga didatangi Sang Hyang Jagadnata untuk memberikan anugerah. Ketika Rĕsi Anggira mencoba merayu dan ingin mencumbu Dewi Anggarini maka ia disarankan untuk mandi keramas dahulu. Karena berujud abu ia juga disebut Maharsi Paspa. Ketika membersihkan rambutnya. Kamajaya. Rĕsi Anggira lupa bahwa tangannya sudah memiliki kesaktian yang dahsyat. Di dalam Jumantara Vol. Permintaan Rĕsi Anggira adalah bahwa hendaknya telapak tangannya memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga apa yang diraba. Permintaan itu dikabulkan oleh Sang Hyang Jagadnata. Prabu Basurata disarankan agar pergi ke hutan Madura di tanah Hindi. Karena itu Prabu Basurata disarankan untuk mengambil/memetik Jamur Dipa ke hutan Madura di tanah India (Ranggawarsita. Oleh Dewi Rukmawati. 1939: 12-14. seketika akan menjadi abu.

nanging wontĕn sarananipun. kawula kamipurun anunuwun tandha. sarèhning sampun kasĕmbadan ing sapanuwun amba. Sarĕng mèh kacandhak. Botĕn watawis dangu.Sĕrat Pustakaraja kisah mengenai Rĕsi Anggira (Maharsi Paspa) yang menjadi Jamur Dipa dapat dilihat pada kutipan berikut: Sarĕng ing wanci bangun énjing Dèwi Rukmawati amanggihi Prabu Basurata.' Ing ngrika wontĕn Jamur-dipa. Déné dados awu. menawi anggĕpok utamangganing dumadi ingkang amba grayang sirahipun wau. mugi kasĕmbadanana ing panuwun-amba. mĕnggah ingkang dados karsa paduka angudi wĕkasing tumuwuh ambabarakĕn wiji punika. Sang Hyang Jagadnata lajĕng muksa.‟ Rĕsi Anggira umatur: 'Dhuh Pukulun. Kala semantĕn nuju dhatĕng kanugrahanipun Rĕsi Anggira katĕdhakan Sang Hyang Jagadnata. sagĕda lajĕng dados awu sami sanalika. aturipun Dèwi Rukmawati: 'Kakang Prabu.1 Tahun 2012 . 3 No. Rĕsi Anggira 14 Jumantara Vol. panggénanipun sarana dumunung wontĕn sabrang ing wana Madura tanah Hindi.‟ Sang Hyang Jagadnata botĕn amarĕngi. Èpèk-èpèk amba kalih pisan punika kaparingan kamayan tiksna. ugi sinĕbat nama Maharsi Paspa. talatahipun nagarai Ngayodya. nanging Rĕsi Anggira adrĕng badhé pari-pĕksa. sampun rinilan déning Sang Hyang Wisésa.‟ Sang Hyang Jagadnata angandika: „Lah iya ingsun wus anĕmbadani. kadadosan awunipun Rĕsi Anggira. Sang Hyang Jagadnata lumajĕng. ba-ngĕt tĕmĕn ĕggonnira kapati-brata. lajĕng binujĕng. putuning Sakutri. Sarèhning tĕdhakipun Sang Hyang Jagadnata botĕn wontĕn ingkang ndhèrèkakĕn. apa kang dadi sĕdyanira ing mĕngko sayĕkti sun-turuti‟ Aturing Rĕsi Anggira: „Dhuh Pukulun Kang Binathara Ing Jagad. rama paduka Sang Hyang Wisnu tumurun mimindha pawèstri langkung éndah ing warni. bubukanipun makatĕn: „Kala ing kina Rĕsi Anggira punika tatapa sangkaning raré ngantos sĕpuh. Pangandikanipun Sang Hyang Jagad-nata: „Heh Anggira sutaning Sakru. manawi amarĕngakĕn kawula kalilana anggrayang mustaka paduka.

Ing mangké awu wau cukul jamuripun katĕlah sinĕbut Jamur-dipa. sarèhning Rĕsi Anggira mĕntas tapa lami. Sira mari aran Rĕsi Anggira. bijaksana. rama-paduka Sang Hyang Wisnu muksa. Di dalam Sĕrat Rukmawati sosok Prabu Dasarata dan keadaan kerajaan Ayodya digambarkan sebagai berikut: . Dĕwi Anggarini uninga manawi Rĕsi Anggira pĕjah dados awu.sarĕng aningali langkung kasmaran. akaliyan Sĕrat Weddhangga. Dèwi Anggarini darbé panĕdha. mandraguna sinĕkti. putus dhatĕng kawajiban suci. kĕkah ing adilipun. saking anggènipun mungkul ing katĕmĕnan sarta anĕtĕpi agami tigang prakawis. 3 No.. bubukanipun ing kina. sidik ing paningal. Punika kakang Prabu.1 Tahun 2012 15 . mèh anyamèni para maharsi. lajĕng pitakèn namanipun. Rama-paduka angakĕn nama Dèwi Anggarini.. ing nalika punika ingkang jumĕnĕng nata ajujuluk Prabu Dhasarata. Saking déné srĕnging karsa. Pada waktu itu di negeri Ayodya Prabu Dasarata menjadi raja. supé bilih tanganipun kadunungan kamayan tiskna. sumanggèng karsa. Rĕsi Anggira langkung suka lajĕng dhatĕng ing lèpèn sumĕdya adus karamas. gĕntos kacariyos. tĕrahipun Ikswaku. lajĕng wangsul warni Sang Hyang Wisnu malih. Manawi sampun suci badan. Ratu pinandhita. Jumantara Vol. Kathah ing-kang sami ngupados badhé kadamĕl sarananipun tiyang ig-kang sumĕdya angudi wĕkasing tumuwuh ambabarakĕn wiji. kinèdhĕpan samaning tumuwuh. Rĕsi Anggira botĕn darana Dèwi Anggarini lajĕng rinarurum ingarih-arih. sarwi angandika makatĕn: „Hèh Rĕsi Anggira ing mĕngko sira nĕmu wĕwĕlèh dadi awu dhéwé. kawasa amĕnggak budi hawanipun. ratu limpad ing Sĕrat Wéddha. sayĕktiné ing mĕngko sira aran Maharsi Paspa. nagari ing Ayodya. Sarĕng karamas tanganipun kadamĕl anguyĕg sirah. kinèn adus karamas rumiyin. awit sira wujud awu.' Sasampunipun ngandika makatĕn. sami sanalika wau Rĕsi Anggira lajĕng dados awu.

pada waktu itu yang menjadi raja bergelar Prabu Dasarata. hampir menyamai para maharsi. botĕn wonten tiyang ingkang tanpa aji. Raja (yang bersifat) pendeta. botĕn wontĕn tiyang musakat. kokoh dalam keadilan. tajam penglihatannya.Kautaman tuwin kaluhuranipun sang nata misuwur ing jagad titiga.. bijaksana. ingkang sampun misuwur ing kautamanipun. Keutamaan serta keluhuran sang raja termashur di tiga dunia. Botĕn wontĕn tiyang ingkang awon griyanipun. Botĕn wontĕn tiyang ingkang drĕngki. botĕn pĕgat anggĕnipun ambudi wĕwahing kaluhuraning ratunipun. botĕn wontĕn tiyang bodho. nagari di Ayodya. sarta botĕn saged kawon pĕrang. sami limpad ing kawruh wéddha. raja yang (telah) ahli dalam Sĕrat Wéddha dan Sĕrat Wéddhangga.. prasasat sami akaliyan para déwa. Kitha wau rinĕksa ing prajurit éwon. 3 No. botĕn wontĕn tiyang kĕsèd. Mumpuni 16 Jumantara Vol. ( . keturunan Ikswaku. botĕn wontĕn tiyang ingkang alit manahipun. Lulus tataraharjaning praja. bijaksana. tani-tani sarta bĕkti-bĕkti ing laki. botĕn wontĕn tiyang ingkang manganggé lungsĕd. kemudian diceritakan.1 Tahun 2012 . putus dhatĕng wajib pangĕrèhing praja. Ing kitha wau titiyangipun sami bĕgja. anggigirisi kados latu murub. sarwi agaganda amrik arum. sangat sakti. karena dia (baginda) (sudah) tekun dalam kelurusan hati (kejujuran) serta menepati agama 3 macam. disegani oleh sesama makhluk. botĕn wontĕn tiyang cĕlak umuripun. putus (mumpuni) dalam hal kewajiban suci. Botĕn wontĕn tiyang sakĕdhik anakipun. botĕn wontĕn tiyang awon warninipun. kuasa menahan hawa nafsunya. botĕn wontĕn tiyang ingkang botĕn nĕtĕpi wajibing ngagĕsang. Para nayakanipun sang Prabu cacahipun wowolu. botĕn wontĕn tiyang murtad. Sawarninipun tiyang sami busana adi-adi ingkang rinĕngga ing kancana sosotya nawarĕtna. Tiyangipun èstri sami éndah-éndahing warni. bagaikan sama dengan para dewa.

tidak ada orang yang tidak menepati kewajiban hidupnya.mengatur keselamatan dan kesejahteraan negara. serta berbau harum semerbak. tidak ada orang yang tanpa harga diri. Tidak ada orang yang sedikit anaknya. Para dewa kemudian mengusulkan kepada Bathara Prayapati agar memberikan putra sebagai titisan Dewa Wisnu kepada Prabu Jumantara Vol. Para perempuannya semua cantik-cantik parasnya. tidak henti-hentinya dalam berusaha menambah keluhuran rajanya). tidak ada orang yang berpakaian lusuh. 3 No. tidak ada orang yang buruk wajahnya. Bathara Prayapati (Sang Hyang Jagadnata) yang diiringi para dewa sangat berkenan. Kedatangan Prabu Basurata di hutan Madura disambut dengan gembira oleh Prabu Dasarata di Ayodya. Para pendeta menyarankan agar Prabu Dasarata mengadakan upacara (sedekah) Aswameda di hutan Madura di dekat sungai Sarayu. Tidak ada orang yang dengki. Para pemimpin sang Prabu berjumlah 8. putus (ahli) dalam hal tata pemerintahan negara. semua ahli dalam ilmu Wédha. Sewaktu perlengkapan persembahan sudah siap. Prabu Dasarata pada waktu itu juga menginginkan memiliki putra yang termashur di dunia karena pada waktu itu baginda belum berputra. tidak ada orang yang pendek umurnya. Prabu Dasarata mendapat petunjuk dewa bahwa ia hendaknya menunggu kedatangan putra Sang Hyang Wisnu. tidak ada orang yang bodoh. Tidak ada orang yang buruk rumahnya. menakutkan seperti api yang menyala serta tidak terkalahkan dalam perang. Kota tersebut dijaga oleh ribuan prajurit. Semua orang pakaiannya indah-indah yang dihiasi dengan emas intan permata. Ketika persembahan Aswameda tersebut dilakukan.1 Tahun 2012 17 . tidak ada orang yang kecil hatinya. bersama para raja di kerajaan Prawa. Mantili. Di dalam kerajaan tersebut rakyatnya semua bahagia. dan Malawa. para petani (perempuan) pada berbakti pada suaminya. tidak ada orang yang hina. tidak ada orang yang malas. (mereka) sudah termashur keutamaannya. tidak ada orang yang murtad.

3 No. sagĕda anyimakakĕn 18 Jumantara Vol.. Prabu Dhasarata dhawuh angawiti pakurmataning sidhĕkah nĕtĕpi ingkang kasĕbut ing sastra tuwin adat waton. Kalanipun Prabu Dhasarata anggĕlarakĕn sidhĕkah. Hal ini dimaksudkannya agar putra Prabu Dasarata kelak dapat membunuh raja raksasa. sabarang ingkang kinarsakakĕn wontĕn. anĕdhaki dhatĕng panggènan sidhĕkah kadhèrèkaken para déwa. barang pèni raja pèni. Wujudipun sidhĕkah. Sarĕng para déwa aningali sidhĕkahipun Prabu Dhasarata ingkang tanpa timbang. yang sangat termashur kesombongannya dan sebagai perusak segala yang tumbuh (Ranggawarsita. 1994: 14-18). Beberapa waktu kemudian para istri Prabu Dasarata hamil. amĕpĕki. Ingkang dados pangagĕng tumandang pangruktining sidhĕkah Rĕsi Srĕngga.Dasarata. Di dalam Sĕrat Rukmawati prosesi ritual agung Asmaweda tersebut diuraikan sebagai berikut: . saking katrimahing sidhĕkahipun. Sarĕng sampun rĕrĕm sawatawis dintĕn. Jamur Dipa tersebut kemudian berubah menjadi seperti mustika. Bathara Wisnu kemudian memberi Payasa yang ditempatkan di atas jamur tersebut..1 Tahun 2012 . Kepada kedua raja tersebut Bathara Wisnu menyatakan bahwa keduanya diperbolehkan mengambil Payasa yang terletak di Jamur Dipa untuk dimakan bersama istrinya. Rahwana. Prabu Basurata dan Prabu Dasarata serta para raja lainnya kemudian mendekati Jamur Dipa yang terlihat menyalanyala. Sang Hyang Jagadnata ingkang ugi sinĕbut Bathara Prayapati. Kamajaya. 1938: 24-29. tĕtĕdhan awarni-warni. Payasa adalah makanan para dewa yang sangat lezat. anjanma-a ing putranipun Prabu Dhasarata. sami matur dhatĕng Bathara Prayapati. mugi kaparĕnga amaringi putra dhatĕng Prabu Dhasarata saha mugi andhawuhna dhatĕng Bathara Wisnu. niscaya kedua raja tersebut akan memperoleh putra yang utama. Prabu Dasarata dan Prabu Basurata kemudian mengambil Japur Dipa dan Payasa untuk kemudian dimakan bersama permaisuri mereka.

ing Prawa. ing Malawa. Jamur-dipa katinggal murub angkara-kara. sira ingsun wĕnangaké ngalap Payasa kang dumunung ing Jamur-dipa iku. ingkang sakalangkung kumalungkung dados gĕgĕlahing bumi. Payasa ingkang kapundhut Prabu Dhasarata. Pamukartaning sidhĕkan kĕndĕl. jamur katingal amaya-maya kados musthika. para brahmana sapanunggilanipun.1 Tahun 2012 19 . andhĕku sumĕmbah ing Sang Hyang Wisnu. Bathara Wisnu lajĕng amaringi "Payasa" kadunungakĕn sanginggiling jamur. Banjur sira pangana lan somahira. lajĕng sami mundhut Payasa ingkang dumunung ing Jamur-dipa. Sarĕng Prabu Basurata. Karsaning déwa angkĕripun Jamur-dipa dados cabar. Prabu Dhasarata anyĕlaki... Prabu Basurata akaliyan Prabu Dhasarata tuwin para ratu sami anĕdhaki panggènanipun Jamur-dipa. Para ratu tuwin para rĕsi. dalah Jamur-dipa ugi kapundhut. sami tumutur angurmati.. Sasampunipun sidhĕkah. sasampunipun anampèni pandumaning sidhĕkah. 3 No. Payasa wau dhaharipun para déwa ingkang raosipun sakalangkung éca. kaki Prabu Basurata lan kaki Prabu Dhasarata. Bathara Wisnu angatingal sarwi angandika: „Hé ratu sudibya. lajĕng sami bibaran. Ratu kalih lajĕng kondur dhatĕng pasanggrahan.ratuning danawa ingkang nama Rahwana. pinundhi ing mastaka. Panganan iku kang dadi jalarané sira padha kasinungan suta. angrisak samining tumuwuh. Sang Hyang Wisnu muksa. Naréndra ing Mantili. tumuntĕn kadhahar akaliyan pramèswari nata titiga. Sarawuhipun ing Ayodya langkung sinuba-suba. urubing Jamur-dipa sirĕp. Jumantara Vol. Prabu Dhasarata. Prabu Basurata. Bathara Pryapati amarĕngi panuwun wau. Jamur-dipa dipun dum waradin dhatĕng para ratu. agawé undhaking kautaman lan kamulyan‟. Prabu Dhasarata dalah pramèswari nata kondur dhatĕng praja. Prabu Basurata kaaturan tĕdhak kampir dhatĕng Ayodya.

Sarĕng 20 Jumantara Vol. Ingkang miyos saking Dèwi Kĕkayi pinaringan nama Barata. Bertepatan masa Manggakala. Menurut Dewi Rukmawati bahwa Prabu Basurata kelak akan berputra raja besar serta seorang putri yang nantinya juga menurunkan raja besar. permaisuri Dewi Brahmaniyuta melahirkan putra laki-laki diberi nama Raden Brahmaneka.1 Tahun 2012 . Payasa dan buah Wipula kemudian diminta untuk dimakan Prabu Basurata bersama permaisuri Dewi Brahmaniyuta (Ranggawarsita. akaliyan Satrugna. adapun Dewi Sumitra berputra Laksmana dan Satrugna. sekembalinya ke Wiratha. Pada tahun Wiya terhitung tahun 454 (Suryasangkala) dengan sĕngkalan: Dadi-tataning-pakarti atau tahun 468 (Candrasengkala) dengan ditandai sĕngkalan: Sarira-angrasa-suci. Ingkang miyos saking Dĕwi Sumitra kakalih pinaringan nama Laksmana. Kamajaya. Dewi Kusalya berputra Rama. yaitu rajah Purusa dan rajah Kani. kadi sarĕng lampahanipun. Sebagai ungkapan kebahagiaan Prabu Dasarata disertai Raja Mantili. ing tanah Hindi pramèswari Ngayodya. sampun ambabar putra kakung langkung rumiyin ingkang miyos saking Dèwi Kusalya kaparingan nama Rama. 1938: 28-32. sementara itu di kerajaan Ngayodya permaisuri Prabu Dasarata pun melahirkan putra. Jamur Dipa tersebut kemudian dipuja Dewi Rukmawati berubah menjadi buah-buahan disebut buah Wipula. Dewi Rukmawati melihat bahwa di dalam Jamur Dipa terdapat 2 rajah. 1938: 34. memperlihatkan Jamur Dipa dan Payasa tersebut kepada Dewi Rukmawati. Kamajaya. 3 No. Prabu Dhasarata andhatĕngngakĕn suka pari suka. Dewi Kekayi berputra Bharata. 1994: 18-21). ananging cariyosipun kadamĕl gĕntos. Raja Malawa dan Raja Prawa kemudian mengunjungi Prabu Basurata di Wiratha (Ranggawarsita. 1994: 22).Beberapa waktu kemudian Prabu Basurata. Di dalam Sĕrat Rukmawati kelahiran Rāma bersaudara tersebut dikemukakan sebagai berikut: Kacariyos.

kaétang ing tahun Candrasangkala amarĕngi 879. terhitung tahun Candrasangkala bertepatan tahun 879). (Sĕrat Sutiknawyasa. raja Ayodya. Prabu Dhasarata karsa tĕdhak cangkrama dhatĕng nuswa Jawi. Digubah oleh Mpu Widdhayaka di Mamenang. Lajĕng sami bidhalan saking palabuhan Prawa anitih baita. penggubahannya bertepatan tahun Surya-sangkala 853. dalam rangka memohon kelahiran putra yang menjadi penjelmaan Sang Hyang Wisnu (Rāma bersaudara). ing Malawa lan ing Prawa. Ng. terutama berkaitan dengan prosesi ritual agung (Asmaweda) yang dilakukan oleh Prabu Dasarata. kabĕkta saking rĕnaning panggalih déné kadumugĕn ingkang dados karsanipun. Demikian jejak cerita Rama (Rāma) yang terdapat dalam Sĕrat Rukmawati. Panganggitipun anuju ing tahun Suryasangkala 853. Ranggawarsita di dalam Sĕrat Pustakaraja menyatakan: Sĕrat Sutiknawyasa wiyosipun punika cariyos panjĕnĕngan nata Prabu Krĕsna Dwipayana ing Ngastina ngantos dumugi ambagawan nama Bagawan Byasa. kanthi ratu ing Mantili.1 Tahun 2012 21 . Jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Sutiknawyasa tampak dari cerita yang disampaikan oleh Dhang Hyang Wiku Salya kepada Bagawan Abyasa tentang kisah Rama ketika ia harus Jumantara Vol. inilah cerita kisah hidup Prabu Kresna Dwipayana di Ngastina sampai menjadi begawan bernama Bagawan Byasa. (Ranggawarsita. Cerita Rāma dalam Sĕrat Sutiknawyasa Pujangga R. 1938: 21). 3 No.sampun dumugi anggĕnipun amangun suka. Kaanggit déning Mpu Widdhayaka ing Mamĕnang.

punika among saking dènira tabĕri amarsudi rĕmbaging janma.1 Tahun 2012 . Kemudian 22 Jumantara Vol. ditambah (Dewi Sinta) diculik oleh pencuri Prabu Dasamuka (untuk) dibawa ke Alengka. (Ketika Prabu Ramawijaya mendapatkan tahta dari ayahandanya Prabu Dasarata untuk menjadi raja di Ayodya. namun bahkan selalu mengasah pikirannya di dalam bersamadi. Tiba-tiba (Prabu Ramawijaya) mendapat petunjuk yang jelas bahwasanya ia disuruh menolong kesedihan raja kera Sugriwa.meninggalkan kerajaan Ayodya untuk pergi ke hutan. 1981: 443444). (Prabu Ramawijaya) kemudian disuruh bertapa ke hutan belantara. hanya disertai oleh istrinya (Dewi Sinta) dan adiknya Laksmana. Lajĕng kinèn tĕtaki dhatĕng wana pringga kawĕwahan kénging kadhusta ing duratmaka Prabu Dasamuka kabĕkta dhatĕng Alĕngka. meskipun demikian ia tidak diam membisu. parandosipun botĕn amĕgĕng pangandika kajawi amung tansah amĕsu cipta salĕbĕting samadi kémawon. Kelak dikemudian hari (akan) menjadi sarana ia berjumpa kembali dengan istrinya Dewi Sinta. Ing wĕkasan dados saraya sagĕdipun kapanggih kaliyan garwa Dĕwi Sinta. Sapintĕn kémawon sungkawaning galihira Prabu Ramawijaya. botĕn lami kalungsur ginantosan ingkang rayi anama Prabu Barata. tidak berapa lama (tahta tersebut) diminta kembali untuk digantikan oleh adiknya yang bernama Prabu Barata. Mila bĕbasanipun tiyang kadhatĕngan sungkawa. " (Karyarujita dan Sastranaryatmo. Dumadakan angsal wasita sawantah. kinèn amitulungi sungkawaning wanara raja Sugriwa. seperti tampak pada kutipan berikut: "Kala Prabu Ramawijaya sinèrènan kaprabonipun ingkang rama Prabu Dasarata jumĕnĕng nata ing Ayudya. Lajĕng jumĕnĕng nata malih wontĕn ing Ayudya. Betapa besar kesedihaan hati Prabu Ramawijaya. anggĕr lajaran asring angsal pitulungan saking tiyang ingkang sami kasungkawan. 3 No.

apabila mau menolong seringkali (ia) mendapat pertolongan oleh seseorang yang juga mengalami kesusahan).akan menjadi raja kembali di Ayodya. Dhang Hyang Smarasanta juga mengemukakan peristiwa yang dialami Maharĕsi Manumanasa yang menjadi pertapa setelah tidak diangkat menjadi raja menggantikan ayahandanya. serta didudukkan kembali menjadi raja (Karyarujita dan Sastranaryatmo. Sĕrat Prabu Gĕndrayana dapat dijajarkan dengan Sĕrat Budhayana. Karena itu peribahasanya seseorang yang sedang sedih. Bathara Guru. Demikian pula kisah Sang Hyang Wisnu yang juga dicopot kedudukannya sebagai raja. Cerita Rāma dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana Di dalam konstruksi teks-teks Pustakaraja. 3 No. yaitu Sĕrat Prabu Gĕndrayana I dengan kode D 46 A yang terdiri atas 577 Jumantara Vol. ia kemudian menjadi pertapa di Waringin Sapta (Waringin Pitu) sampai akhirnya ia ditugaskan melenyapkan Prabu Silacala (Watugunung) sebelum diampuni kesalahannya oleh ayahnya. karena ternyata yang menimpa Prabu Ramawijaya lebih pahit lagi. Dengan demikian peristiwa kepergian Prabu Ramawijaya dari istana ke hutan belantara tersebut dihadirkan oleh Dhang Hyang Wiku Salya dengan maksud agar Rĕsi Abyasa tidak merasa terlalu bersedih hati dengan tidak diangkatnya dia menjadi raja di Ngastina menggantikan ayahandanya Bagawan Parasara (Palasara). Nasehat Dhang Hyang Wiku Salya tersebut melengkapi nasehat dari Dhang Hyang Smarasanta kepada Rĕsi Abyasa agar tidak terlalu bersedih. inilah hasil kalau (seseorang itu) rajin berupaya menolong manusia. 1981: 442-443). Naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana terdiri dari 2 jilid. Dhang Hyang Smarasanta mengemukakan keadaan dirinya yang telah berumur 150 tahun tetapi tetap tampak muda karena hatinya tenang dan damai. Dengan demikian Sĕrat Prabu Gĕndrayana termasuk dalam kelompok Sĕrat Mahaparma Bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara.1 Tahun 2012 23 .

Berdasarkan petunjuk (wangsit) dewa. yaitu Raden Narayana. dan Bathara Hiranyaka merajai segala jenis tikus.272 halaman dan sudah ditranskripsi oleh Soepardi Hadisuparto. yang dapat melenyapkan segala hama dan penyakit tanaman tersebut adalah Raden Narayana. Soemarso Pontjo Soetjipto. Cerita diakhiri sewaktu Prabu Yudayaka bermaksud turun tahta menjadi begawan dan akan mengukuhkan putranya yaitu Raden Kijing Wahana sebagai raja di Yawastina.849 halaman. ganggĕngan. Adapun naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana II dengan kode D 46 B yang terdiri atas 1.1 Tahun 2012 . pemelihara dunia. Adapun hama tanaman yang menyerang sawah ladang mereka adalah: cèlèng. Bathara Sungkara merajai segala jenis cèlèng. Apalagi pada 24 Jumantara Vol. ulat. putra Prabu Gendrayana. burung. Adapun jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana dikemukakan oleh Bagawan Danèswara dari Gunung Nilandusa (Wilis) menghadap Prabu Gendrayana untuk mohon bantuan agar putra baginda. karena beliau adalah titisan Sang Hyang Wisnu Murti. mau membantunya untuk melenyapkan segenap hama tanaman yang menyerang sawah dan ladang penduduk Gunung Nilandusa dan menyebabkan mereka gagal panen.T. Misalnya: Bathara Kithaka merajai segala jenis belalang. Bathara Printanjala merajai segala jenis burung. Naskah-naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana di atas adalah koleksi Perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran Surakarta. Adapun waktu yang diceritakan dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana tahun 790 – 800 (Suryasangkala) atau tahun 816 – 824 (Candrasengkala). bĕkocok. 3 No. mĕnthèk. ludhĕp. Segala hama tanaman tersebut sulit dibasmi karena mereka dilindungi para Dewa keturunan Sang Hyang Kala.halaman dan pernah ditranskripsi oleh K.R. Jadi Sĕrat Prabu Gĕndrayana terdiri atas 1. Isi ceritanya dimulai dari sewaktu Bathara Naradha mengukuhkan Arya Prabu Bambang Sudarsana menjadi raja di Yawastina (Ngastina Baru) bergelar Prabu Yudayaka atau Prabu Darmayana. tikus. walang. Bathara Gindhala merajai segala jenis ludhĕp. jamur dan lain sebagainya. lĕladhoh.

utawi ingkang luhur sugih wadya bala sami sura sakti ing yuda. Adapun kisah kepahlawanan Ramawijaya dan adiknya. Hal inilah yang membuat Prabu Gendrayana khawatir atas keselamatan putranya. Akan tetapi.waktu lahir Raden Narayana sudah mendapatkan senjata dari dewa berupa panah Pasopati dan panah Sarotama. dados kénging sinĕbut tilar kasantosaning galih supé dhatĕng kawasaning déwa. sarĕng sawĕg yuswa wolung warsa lajĕng kasuwun dhatĕng Bagawan Sutiksnayogi ing wukir Jumantara Vol. yang dapat dijadikan tauladan tersebut tersurat pada Sĕrat Prabu Gĕndrayana II seperti pada kutipan berikut: "Dhuh dhuh Pukulun Kangjĕng Déwaji. ingkang saupami tiyang sĕpuh ingkang sampun sura sĕkti mandraguna. manawi kados makatĕn pamanggihipun ing karsa paduka punika Pukulun.1 Tahun 2012 25 . Menurutnya. Prabu Gendrayana merasa ragu dan keberatan. Oleh karena Prabu Gendrayana masih merasa ragu-ragu maka Bagawan Danèswara mengingatkan baginda atas kisah kepahlawanan Ramawijaya. putra Prabu Dasarata raja Ngayodya dari tanah Hindu. manawi Sang Hyang Wisésa ingkang adamĕl unggul sayĕkti botĕn sangsaya dènira hamisésa ing ama. 3 No. yèn Bathara Ramawijaya wau inggih panuksamaning Sang Hyang Wisnumurti. sewaktu Ramawijaya baru berumur 8 tahun sudah dimintai bantuan oleh Bagawan Sutiksnayogi dari Gunung Dhandhaka agar menumpas para raksasa bala tentara Prabu Rahwana dari Ngalengka yang merusak pertapaan para pertapa. manawi Sang Hyang Jagad Pratingkah adamel apĕsipun ing titiyang ingkang sami sura sakti wau. panjĕnĕngan paduka punika punapa supé cariyos lampahanipun Bathara Ramawijaya putranipun Prabu Dasarata ing Ngayodya tanah ing Indhu. karena bagaimana mungkin putranya yang baru berusia 13 tahun tersebut harus berhadapan dengan segala jenis hama tanaman yang dilindungi oleh para dewa. yĕkti botĕn dangu lajĕng dhadhal larut sadaya. Laksmana. kaliyan malih Pukulun. saèstunipun nadyan raréya ingkang taksih mudha punggung pisan.

26 Jumantara Vol. panuwunipun badhé kaabĕn kaliyan danawa ingkang sami angririsak dhatĕng patapaning para wiku. Prabu Janaka langkung suka kalampahan kadhaupakĕn kaliyan Dèwi Sinta. Sang Ramaparasu wau karsaning Déwa lajĕng kasor déning Bathara Ramawijaya. Hadisuparto. lampahipun saking nagari ing Ngayodya botĕn ambĕkta wadya bala aming kadhèrèkakĕn ingkang rayi satunggal anama Raden Laksmana Widagda. 3 No. sarĕng dumugi ing patapan raja putra kalih wau karsaning Déwa tĕka lajĕng sagĕd anirnakakĕn sagunging raksasa tanpa étangan tumpĕs déning satriya kalih kémawon. 848-853. sarĕng Bathara Ramawijaya saking karsaning Dewa sagĕd amĕnthang. wasta Rĕsi Ramaparasu. inggih punika kang angawonakĕn Prabu Harjunasasra ing Mahèspati nguni. Karyarujita dan Sastranaryatmo. nama Dèwi Sinta. malah punang langkap pusaka lajĕng tugĕl tanpa karana. kala semantĕn sagunging para nata sèwu nagari botĕn wontĕn ingkang lĕbda karya wĕkasan sami kawangsulakĕn.1 Tahun 2012 . dupi wontĕn ing margi kabégal déning pandhita langkung sakti mandra guna. saèstunipun sĕpuh putra paduka Radèn Narayana punika (Sĕrat Prabu Gĕndrayana II. 2007: 158-159. botĕn antawis lami Bathara Ramawijaya wau kaliyan ingkang rayi bidhal saking patapaning pandhita lajĕng amĕdali sayĕmbara dhatĕng nagari ing Mantilidirja. manawi ing yuswanipun nalika numpĕs sagunging diyu ditya rĕksasa wil danawa murka kang wontĕn ing wukir Dhandhaka nguni inggih sawĕg yuswa wolung warsa. sarĕng bidhal saking Mantili kadhèrèkakĕn para punggawa langkung kathah. Bathara Ramawijaya kalampahan kabĕkta dhatĕng Bagawan Sutiksnayogi. panjĕnĕnganipun Prabu Janaka darbé atmaja pawèstri satunggal langkung ayu éndah warninipun.Dhandhaka. D 46 B. hal. danawa wau balanipun Prabu Rawana Ngalĕngka. 1981: 480-481). dèntĕn sayĕmbaranipun Prabu Janaka nguni singa ingkang sagĕd amĕnthang langkap pusakanipun Prabu Janaka saèstu dados jatu kraminipun putra nata Dèwi Sinta wau.

("Dhuh dhuh Pukulun Kanjeng Dewaji. tentu tidak lama juga akan tumpas semua. ketika baru berumur 8 tahun. perjalanan (Bathara Ramawijaya) dari negeri Ngayodya tidak membawa bala tentara. kedua putra raja tersebut (karena) kehendak Dewa berhasil melenyapkan semua raksasa yang tak terhitung banyaknya (semua) tumpas hanya oleh kedua satria tadi. bahwasanya Bathara Ramawijaya juga penjelmaan Sang Hyang Wisnu Murti. lupa pada kekuasaan Dewa. atau yang berkedudukan tinggi (memiliki) banyak bala tentara yang sakti-sakti dalam peperangan. berani lagi sangat sakti. permintaan (Bagawan Sutiksnayogi) Bathara Ramawijaya akan diadu dengan raksasa yang merusak pertapaan para wiku. raksasa tersebut adalah bala tentara Prabu Rahwana (dari) Ngalengka. dan lagi Pukulun. jika demikian ini pendapat paduka Pukulun. kemudian diminta oleh Bagawan Sutiksnayogi dari Gunung Dhandhaka. sesungguhnya meskipun masih anak-anak dan lagi masih bodoh. Prabu Janaka memiliki seorang putri yang sangat cantik parasnya bernama Dewi Sinta. (tapi) hanya diiringkan seorang adiknya bernama Raden Laksmana Widagda.000 negara tidak ada satu pun yang mampu melakukannya. sekalipun seumpama orang sudah tua. Adapun sayembara Prabu Janaka tersebut. Pada waktu itu semua para raja (yang berjumlah) 1. akhirnya mereka semua Jumantara Vol. sesampainya di pertapaan. Bathara Ramawijaya bersedia dibawa oleh Bagawan Sutiksnayogi. sungguh akan dikawinkan dengan putri raja tersebut. 3 No. apakah Paduka ini lupa pada cerita kisah hidup Bathara Ramawijaya. dapat disebut meninggalkan kesentausaan hati. bahwasannya siapa saja yang mampu membentangkan busur panah pusaka Prabu Janaka. apabila Sang Hyang Jagad Pratingkah membuat apĕs (malang) kepada orang-orang yang sangat sakti itu. Tidak beberapa lama Bathara Ramawijaya bersama adiknya meninggalkan pertapaan pendeta untuk mengikuti sayembara ke negeri Mantilidirja. apabila Sang Hyang Wisesa yang membuat menang.1 Tahun 2012 27 . tentu tidaklah sulit dalam meraih kemenangan atas hama (tanaman). putra Prabu Dasarata di Ngayodya Tanah Hindu.

Ketika Bathara Ramawijaya menumpas para raksasa. sebagaimana yang terdapat pada halaman 480 dan 481. dihadang (dirampok) oleh pendeta yang teramat sakti bernama Ramaparasu. Pada waktu mereka di tengah jalan. Dalam hal ini. Dialah yang dahulu mengalahkan Prabu Arjunasasra di kerajaan Mahespati. Sang Ramaparasu karena kehendak Dewa dapat dikalahkan oleh Bathara Ramawijaya.disuruh kembali (ke kerajaannya). bahkan busur panah pusaka kemudian putus tanpa sebab. Jika dikatakan bahwa 28 Jumantara Vol. yang menyerang sawah dan ladang penduduk di wilayah Gunung Nilandusa. Ng. wil dan sebangsanya yang merusak (pertapaan) di Gunung Dhandhaka dahulu usianya baru 8 tahun. sebagaimana Bathara Ramawijaya). Prabu Janaka sangat gembira (Bathara Ramawijaya) kemudian dikawinkan dengan Dewi Sinta. Demikianlah tampilnya cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana sengaja dihadirkan oleh Bagawan Danèswara untuk memberikan gambaran dan pandangan kepada Prabu Gendrayana agar merelakan putranya. ada sedikit perbedaan tentang usia Bathara Ramawijaya ketika dimintai bantuan oleh Bagawan Sutiksnayogi untuk melawan para raksasa perusak pertapaan di Gunung Dhandhaka. yaitu Raden Narayana (yang juga penjelmaan Sang Hyang Wisnu Murti. untuk menumpas segala hama tanaman yang dilindungi para Dewa. Karyarujita dari Sĕrat Paramayoga dan Sĕrat Pustakaraja dikatakan bahwa usia Bathara Ramawijaya adalah 18 tahun (wolulas warsa).1 Tahun 2012 . 3 No. Bathara Ramawijaya waktu itu berusia 8 tahun (wolung warsa). Raden Narayana). Sesungguhnya masih lebih tua dengan putra Paduka. kode D 46 B di halaman 849 dan halaman 853. namun dalam Sĕrat Paramayoga (Sĕrat Kalĕmpakaning Piwulang) yang dikumpulkan oleh R. Kalau di dalam teks naskah Prabu Gĕndrayana II. karena kehendak Dewa berhasil membentangkan. Jadi ada selisih waktu 10 tahun. Ketika mereka meninggalkan Mantili diiringkan para punggawa yang sangat banyak. Bathara Ramawijaya.

Kedua kitab tersebut adalah karya Mpu Sindungkara di Pengging. maka bagaimana mungkin dalam usia semuda itu ia mengikuti dan memenangkan sayembara di kerajaan Mantilidirja. 2007: 152-187). Di sini pun terdapat kejanggalan. Hanya tentunya tidak dapat dikatakan bahwa ia masih kecil. 2007: 20-25). Jika usia Ramawijaya sewaktu dimintai pertolongan oleh Bagawan Sutiksnayogi baru 8 tahun.1 Tahun 2012 29 . Ng. sehingga ia kemudian dikawinkan dengan Dewi Sinta (dalam usia 8 tahun). Dalam hal ini jika usia Bathara Ramawijaya adalah 18 tahun akan lebih logis bila ia memenangkan sayembara memperebutkan Dewi Sinta dan dikawinkan dengannya. maka Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara termasuk kelompok Kitab Maha Parma (bagian Kitab Pustakaraja Puwara).Raden Narayana waktu itu lebih tua daripada Bathara Ramawijaya. jauh lebih muda usianya dari Raden Narayana (13 tahun) sewaktu ia dimintai pertolongan menumpas para raksasa yang merusak pertapaan para Brahmana dan Pendeta di Gunung Dhandhaka. Beliau lahir pada tahun 801 (Suryasangkala) atau tahun 825 (Candrasangkala). maka hal ini ada benarnya karena usia Raden Narayana adalah 13 tahun. pujangga Dalĕm ing Kraton Surakarta Jumantara Vol. Ranggawarsita. 3 No. Ng. seperti yang tersurat dalam naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana II halaman 112 – 139 (Hadisuparto. Namun pada halaman depan Sĕrat Mayangkara dikemukakan secara jelas bahwa R. Ranggawarsita adalah pengarangnya (Babon tĕmbung pangikĕtipun sang misuwuring jagad: R. Penciptaannya bertepatan tahun 919 (Suryasangkala) atau tahun 948 (Candrasangkala). Adapun peristiwa Raden Narayana dimintai pertolongan melenyapkan segala hama tanaman tersebut terjadi pada tahun 814 (Suryasangkala) atau tahun 839 (Candrasangkala) (Naskah halaman 816 – 1008. Hadisuparto. Cerita Rāma dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara Di dalam Sĕrat Pustakaraja.

Kaanggit déning Mpu Sindungkara ing Pĕngging." (Ranggawarsita.1 Tahun 2012 .Adiningrat). kala krama antuk putri ing Mamĕnang. panganggitipun anuju ing tahun Suryasangkala 920. Ng. inilah cerita kisah (perjalanan) hidup Prabu Purusangkara di Yawastina. sampai Kerajaan Yawastina tenggelam menjadi samodra. antara Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara isinya hampir sama. ketika kawin dengan putri dari Mamenang. wiyosipun punika cariyos lalampahanipun Prabu Purusangkara ing Yawastina. Hanya saja cerita di dalam Sĕrat Purusangkara masih cukup panjang. 30 Jumantara Vol. Pada bagian permulaan. 3 No. karena jika waktu penceritaan di dalam Sĕrat Purusangkara berlangsung selama 5 tahun. ngantos dumuginipun nagari ing Yawastina kĕlĕm anjĕmblong dados samodra. penggubahannya bertepatan pada tahun Suryasangkala 920. 1938: 35). Pujangga R. terhitung tahun Candrasangkala bertepatan tahun 948) Adapun waktu yang diceritakan dalam Sĕrat Purusangkara mulai tahun 841 Suryasangkala (Ratu – gusthika – sarira ing boma) atau tahun Candrasangkala 866 dengan sengkalan berbunyi Anggas – angrasa – murti sampai dengan tahun Suryasangkala 846 atau terhitung tahun Candrasangkala tahun 871. dengan titik berat penceritaannya hanya mengenai Sang Hyang Mayangkara. yaitu menceritakan tentang Sang Maharsi Mayangkara (Anoman). Ranggawarsita sendiri di dalam Sĕrat Pustakaraja juga menyatakan bahwa: "Sĕrat Purusangkara. kaétang ing tahun Candrasangkala amarĕngi 948. Digubah oleh Mpu Sindungkara di Pengging. maka waktu penceritaan dalam Sĕrat Mayangkara hanya selama 1 tahun. (Sĕrat Purusangkara.

2) Pertentangan antara Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) dengan ketiga menantunya yaitu Prabu Purusangkara bersaudara. Mereka memperbincangkan turunnya Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Brahma ke dunia. sampai ditenggelamkannya Kerajaan Yawastina. 4) Perkawinan Madrim dengan Arya Susastra.Adapun penceritaan di dalam Sĕrat Purusangkara masih sangat panjang karena menceritakan berbagai peristiwa yang terjadi di Kerajaan Widarba (Kediri) setelah gugurnya Sang Maharsi Mayangkara. 1985: 33-40). 3) Kisah Madrim dan Madrika. Kemudian Sang Hyang Girinata memerintahkan Sang Hyang Narada untuk melindungi keturunan Sang Hyang Wisnu dengan sarana mengawinkan Prabu Astradarma (raja Yawastina) dengan putri Prabu Jayapurusa (Prabu Jayabhaya) di kerajaan Widarba. 3 No. Adapun cerita-cerita tersebut antara lain: 1) Perkawinan Raden Jayaamijaya dengan Ken Satapi. Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kesanggupannya dan pulang kembali ke pertapaan Kendalisada menemui raganya (Rĕsi Anoman).1 Tahun 2012 31 . Adapun garis besar cerita di dalam Sĕrat Mayangkara dan Sĕrat Purusangkara pada bagian awal dapat dikemukakan sebagai berikut: Sang Hyang Girinata mengadakan persidangan dengan para dewa di kahyangan Suralaya. Sang Hyang Narada menerangkan bahwa maksud Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Brahma mau melenyapkan semua keturunan Sang Hyang Wisnu. Rĕsi Anoman menyatakan mau menyatu kembali dengan jiwa (rohnya) Sang Maharsi Mayangkara asal teka-teki yang diajukannya dapat ditebak secara tepat. Dalam melanjutkan perjalanannya Sang Hyang Narada bertemu dengan roh Sang Maharsi Mayangkara (jiwa Anoman) yang mengungkapkan keinginannya untuk segera berkumpul dengan para dewa. Sang Maharsi Jumantara Vol. Sang Hyang Narada menerangkan bahwa Sang Maharsi Mayangkara masih mendapat tugas dewa untuk mengawinkan para putra mendiang Prabu Sariwahana (Yawastina) dengan para putri Prabu Jayapurusa (Widarba). dan 5) Prabu Darmadewa beserta saudara-saudaranya menyerbu kerajaan Widarba (Tedjowirawan.

Patih Suksara serta para prajurit Widarba yang menghadap. utusan Prabu 32 Jumantara Vol. anak Ajar Subrata. Tidak lama kemudian datanglah Sang Hyang Narada yang memerintahkan Sang Maharsi Mayangkara ke Yawastina.1 Tahun 2012 . akan tetapi Prabu Jayapurusa menyerahkan jodoh ketiga putrinya kepada dewa. Prabu Jayapurusa di kerajaan Widarba sedang menerima Raden Jayamijaya. Mereka memikirkan perkawinan Raden Jayaamijaya dengan putri Ken Satapi. Sementara itu para prajurit Yawastina di bawah pimpinan Patih Sudarma mempersiapkan diri menyusul rajanya. Sang Maharsi Mayangkara kemudian dihadapkan kepada Prabu Astradarma. Patih Suksara mengusulkan agar Prabu Jayapurusa memikirkan pula perkawinan ketiga putri raja terlebih dahulu untuk menghindari dari pergunjingan rakyat Widarba. Sesampainya di Yawastina. Hal itu dimaksudkan guna mempererat kembali tali persaudaraan yang telah retak akibat pertikaian yang terjadi antara Prabu Sariwahana dan Prabu Ajidarma di Malawapati melawan Prabu Jayapurusa di Widarba. sehingga ia menyatu kembali dengan raganya. Pada waktu itu. Perselisihan dan perpecahan itu berawal dari nenek moyang mereka dahulu. Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kepada Prabu Astradarma bahwa ia ditugaskan Sang Hyang Narada untuk mengawinkan Prabu Astradarma bersaudara dengan ketiga putri Prabu Jayapurusa di Widarba. ketika Prabu Astradarma melihat adanya putih-putih di bawah pohon beringin. Pada waktu itu datanglah Gadaksa dan Pradaksa. Prabu Astradarma merasa ragu-ragu bahwa Prabu Jayapurusa telah melupakan permusuhan ayah-ayah mereka dahulu dengan baginda (Prabu Jayapursa). akan tetapi Sang Maharsi Mayangkara meyakinkan bahwa dewalah yang menentukan segalanya. ia beristirahat di bawah pohon beringin kembar. 3 No. maka baginda segera memerintahkan punggawanya untuk memeriksa Sang Maharsi Mayangkara. Kemudian Prabu Astradarma dan saudara-saudaranya dibawa Sang Maharsi Mayangkara pergi ke kerajaan Widarba.Mayangkara dapat menebak teka-teki yang diajukan padanya.

keduanya berjumpa dengan Sang Maharsi Mayangkara. Dikemukakannya pula bahwa ia telah terlanjur menyanggupi untuk memenuhi permintaan Sang Maharsi Mayangkara yang menginginkan kawin dengan ketiga putri Widarba. Raden Jayaamijaya sangat malu dan ia bermaksud meminta bantuan kepada saudaranya. Kepada ayahandanya (Prabu Jayapurusa) ia menerangkan bahwa Sang Maharsi Mayangkaralah yang berhasil memenangkan pertempuran melawan utusan kerajaan Selauma. Prabu Jayapurusa mengambil jalan tengah yaitu andaikata Dewi Pramesti telah menjadi jodoh Prabu Yaksadewa maka perkawinan mereka akan segera dilangsungkan. Raden Jayaamijaya sangat marah membaca surat lamaran tersebut. Terjadilah pertempuran yang sangat hebat. Raden Jayaamijaya. Dalam perjalanan Raden Jayaamijaya bersama Arya Susastra. tetapi akhirnya baginda Jumantara Vol.1 Tahun 2012 33 . yaitu raja di Yawastina. Pertempuran tak dapat dielakkan. maka Raden Jayaamijaya disertai Arya Susastra bersama pasukannya mengejar kedua utusan kerajaan Selauma tersebut. namun Sang Maharsi Mayangkara dapat menghancurkan pasukan kerajaan Selauma. Arya Susastra bersama pasukan Widarba dapat dikalahkan. dan memaksa Gadaksa dan Pradaksa untuk mengundurkan diri kembali ke kerajaan Selauma. maka mereka segera mengejar Gadaksa dan Pradaksa. Prabu Jayapurusa menjadi ragu-ragu menerima permintaan Sang Maharsi Mayangkara tersebut. Raden Jayaamijaya meminta bantuan kepada Sang Maharsi Mayangkara. Setelah Raden Jayaamijaya menyanggupi permintaan itu. tetapi Sang Maharsi Mayangkara meminta imbalan ketiga putri Widarba. Surat lamaran tersebut mengandung ancaman bahwa seandainya Dewi Pramesthi tidak diberikan maka kerajaan Widarba akan digempur. Arya Susastra dan Sang Maharsi Mayangkara kemudian kembali ke Widarba. Sepeninggal Gadaksa dan Pradaksa. Raden Jayaamijaya.Yaksadewa dari kerajaan Selauma untuk melamar Dewi Pramesthi. 3 No.

malah kala sĕmantĕn kawula inggih kinarya sénapatining ayuda. sukanipun dèntĕn badhé angsal wĕwahing cariyos lalampahanipun Prabu Ramawijaya nguni.meluluskannya. Pangandikanipun Prabu Jayapurusa: 34 Jumantara Vol. Selanjutnya Prabu Jayapurusa meminta kepada Sang Maharsi Mayangkara untuk menceritakan kembali pengalaman peperangannya sewaktu menjadi senapati perang yang terpercaya Prabu Ramawijaya. kaambil sraya déning Bathara Ramawijaya wau. dénya ambĕdhah nagari Ngalĕngka nguni. 3 No. Di dalam Sĕrat Mayangkara permintaan Prabu Jayapurusa agar Sang Maharsi Mayangkara menceritakan pengalamannya sewaktu menjadi senapati perang pasukan Prabu Ramawijaya tersebut diuraikan sebagai berikut: Sasampunipun makatĕn Prabu Jayapurusa andangu malih dhatĕng Sang Maharsi Mayangkara. kaliyan adhi kula nak-sanak sutanipun paman kawula ingkang sĕpuh wasta Prabu Subali. Raja Alengka. bokmanawi èngĕt ing cariyos lalampahanipun Prabu Ramawijaya ing Ngayudyapala. Sang Rĕsi Anoman matur: "Dhuh-dhuh Pukulun Kanjĕng Déwaji. dèntĕn Sang Maharsi Mayangkara langkung panjang yuswanipun. Penulisan cerita Rama pada mulanya bersumberkan keterangan dari Brahmana Hindu yang bernama Dhang Hyang Asuman dan Dang Hyang Ilandhi. saèstunipun kawula nguni èngĕt sadaya. manawi lalampahanipun Bathara Ramawijaya Ngayudyapala anggènipun ambĕdhah nagari ing Nglĕngka nguni. mila kawula dados sénapati. ing Guwakiskĕndha. dhatĕng nagari ing Ngalĕngka. ingkang dados pangungunipun. Prabu Jayapurusa segera memerintahkan kepada Empu Pulwa untuk mencatat keterangan Sang Maharsi Mayangkara guna meluruskan kembali peristiwa sebenarnya tentang cerita peperangan Prabu Ramawijaya melawan Prabu Rawana.1 Tahun 2012 . dados sawadyanipun para ratu wanara sadaya sami umiring Bathara Ramawijaya. Prabu Jayapurusa langkung suka angungun. amargi paman kawula ingkang anèm wasta Prabu Sugriwa punika. rèhning nguni kawarti kawijilanipun saking nagari Guwakiskĕndha tanah Hindhu.

lajĕng dhawuh dhatĕng Empu Pulwa kinèn amĕwahakĕn panganggitipun kaliyan ingkang saking cariyosing brahmana kalih nguni. yèn sambada karsanipun sang wiku. ananging panuwun kula mugi kagancarĕna dalah lalampahanipun wontĕn ing margi sadaya. Ing ngriku Prabu Jayapurusa langkung suka galihipun. malah ing mangké sampun kaanggit déning ĕmpu jangga kula kang wasta Émpu Pulwa. ngantos dumugi sédanipun ingkang putra Prabu Ramawijaya ingkang nama Prabu Batlawa ing Duryapura. Émpu Pulwa matur sandika. ingkang rumiyin wasta Dhang Hyang Asuman ingkang kantun wasta Dhang Hyang Ilandhi. ngantos kaping kalih. lajĕng anyariyosakĕn kawiwitan saking nagarinipun Prabu Ramawijaya wontĕn ing Ngayudyapala. (Kemudian Prabu Jayapurusa bertanya lagi kepada Sang Maharsi Mayangkara.Hé Sang Maharsi Mayangkara kakasihing jawata. milanipun manawi sang wiku karsa anyariyosakĕn lalampahanipun Prabu Ramawijaya. mila makatĕn awit ing nguni kula katamuwan brahmana saking tanah Hindhu. 3 No. Sang Maharsi Mayangkara matur sandika. ingkang dados lalampahanipun Prabu Ramawijaya dènira ambĕdhah nagari Ngalĕngka wau. awit bokmanawi wontĕn wĕwahipun malih saking cariyosing brahmana kalih nguni. salalampahanipun sampun sami kagancarakĕn sadaya. karena dahulu konon berasal dari Guwakiskenda tanah Indu. miwiti mĕkasi. kaliyan Prabu Kusia ing Ngayudyapala. saèstu badhé andadosakĕn sukaning manah kula. sakalangkung rĕmĕn kula. punika sami anyariyosakĕn ingkang dados lalampahanipun Prabu Ramawijaya nguni. nulya cinathĕtan sadaya. ketika Jumantara Vol. amargi botĕn sumĕrĕp piyambak kados Sang Maharsi wau. sampun ngantos wontĕn ingkang kalangkungan cariyosipun". barangkali teringat cerita perjalanan hidup Prabu Ramawijaya di Ngayudyapala.1 Tahun 2012 35 . ananging pangraosing manah kula kados taksih kirang jangkĕping cariyosipun. mugi kagancarĕna sadaya.

sebab barangkali ada penambahan lagi dari cerita dua brahmana dahulu itu.dahulu menyerbu kerajaan Ngalengka.1 Tahun 2012 . bahkan pada waktu itu hamba juga sebagai senapati perang. sampai dua kali. sungguh sangat menyenangkan hati saya. yang dahulu bernama Dhang Hyang Asuman. semoga diceritakan semua tentang perjalanan hidup Prabu Ramawijaya dalam menyerbu negara Ngalengka dahulu. Prabu Jayapurusa gembira (dan) heran. maka seandainya sang wiku mau menceritakan perjalanan hidup Prabu Ramawijaya. (sedangkan) yang menjadi keheranannya. gembira karena akan mendapat tambahan cerita kehidupan Prabu Ramawijaya. bersama adik sepupu hamba." Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kesediaannya. saya sangat gembira. sesungguhnya hamba teringat semuanya. makanya hamba menjadi senapati. kemudian menceritakan mulai dari negara Prabu Ramawijaya di Ngayudyapala. bahkan sekarang sudah disusun oleh pujangga saya yang bernama Empu Pulwa. yang terakhir bernama Dhang Hyang Ilandhi. jadi semua bala tentara para raja kera semua mengiring Batara Ramawijaya ke negara Ngalengka. 3 No. akan tetapi permintaanku hendaknya diuraikan sekaligus semua peristiwa yang terjadi di perjalanan. oleh karena dahulu kala saya kedatangan Brahmana dari tanah Hindu. jangan sampai ada cerita yang terlewat. karena paman hamba yang bernama Prabu Sugriwa itu diminta bantuannya oleh Batara Ramawijaya. jika peristiwa penyerbuan Batara Ramawijaya Ngayudyapala dahulu ke negara Ngalengka. Kata Prabu Jayapurusa: "Hai Sang Maharsi Mayangkara kekasih dewata. akan tetapi menurut pendapat saya nampak masih kurang lengkap ceritanya. sampai mangkatnya putra Prabu Ramawijaya yang bernama Prabu Batlawa di 36 Jumantara Vol. jika sang wiku berkenan. Sang Resi Anoman berkata: "Duh-duh Pukulun Kanjeng Dewaji. putra paman hamba yang bernama Prabu Subali di Guwakiskenda. sebab tidak mengetahui sendiri seperti halnya Sang Maharsi. keduanya menceritakan perjalanan hidup Prabu Ramawijaya dahulu. bahwa usia Sang Maharsi Mayangkara demikian panjang.

Empu Pulwa menyatakan kesanggupan-nya. Pada waktu malam pengantin tiba.) Beberapa waktu kemudian. Prabu Jayapurusa bergembira. 3 No. semua peristiwa sudah diceritakan. Prabu Jayapurusa mengawinkan Sang Maharsi Mayangkara dengan Dewi Pramesthi. Oleh karena itu. Prabu Jayapurusa segera memerintahkan Raden Jayaamijaya untuk menangkap perusak kesusilaan di taman sari itu. kemudian memerintahkan kepada Empu Pulwa untuk mengubah penyusunan cerita Ramawijaya seperti yang berdasarkan cerita dua brahmana dahulu. Dalam pertempurannya melawan Prabu Astradarma maupun dengan Raden Darmasarana dan Raden Darmakusuma. Sementara itu. Raden Darmasarana dengan Dewi Pramuni. Prabu Jayapurusa sangat gembira hatinya. Gadaksa dan Pradaksa telah kembali ke Jumantara Vol. akan tetapi segera dicegah oleh Sang Maharsi Mayangkara. karena ia akan bermenantukan Prabu Astradarma bersaudara. Selanjutnya Sang Maharsi Mayangkara menjelaskan.Duryapura dan Prabu Kusia di Ngayudyapala. Akan tetapi. kemudian semua dicacat. Kemudian dilangsungkannyalah pesta perkawinan Dewi Pramesthi. mengawali mengakhiri. Dewi Pramuni dan Dewi Sasanti dengan Prabu Astradarma bersaudara. Prabu Astradarma mengadakan pertemuan dengan Dewi Pramesthi. Mendengar penjelasan itu. Pesta perkawinan mereka sangat meriah dan berlangsung selama setengah bulan. Prabu Jayapurusa bermaksud mau maju sendiri. dan Raden Darmakusuma dengan Dewi Sasanti. Hal itu dilakukan atas perintah dewa agar menjadi perekat kembali persaudaraan raja dengan ketiga putra mendiang Prabu Sariwahana. bahwa sebenarnya dialah yang menjadi pengatur pertemuan antara Prabu Astradarma bersaudara dengan ketiga putri raja. ia kalah.1 Tahun 2012 37 . Sang Maharsi Mayangkara mengeluarkan ketiga putra Yawastina untuk mengadakan pertemuan dengan ketiga putri Widarba. pertemuan itu diketahui oleh seorang ĕmban „inang pengasuh‟ yang kemudian melaporkannya kepada Prabu Jayapurusa.

Patih Mohita mencoba melawannya tetapi ia pun gugur. Sang Hyang Girinata menerangkan kepada Prabu Jayapurusa bahwa gugurnya Sang Maharsi Mayangkara memang sudah merupakan kehendak dewa. Kedatangan pasukan Selauma disongsong oleh pasukan Widarba yang diperkuat oleh Sang Maharsi Mayangkara serta tiga putra Yawastina.kerajaan Selauma serta melaporkan hasil lamaran raja. maju melawan Prabu Yaksadewa. Dengan gada saktinya ia menggempur Sang Maharsi Mayangkara. Dalam pertempuran yang dahsyat itu Sang Maharsi Mayangkara gugur di medan laga. Oleh karena itu sudah sepantasnya Sang Maharsi Mayangkara memperoleh anugerah dewa di surga. kecuali Sang Maharsi Mayangkara. Raden Darmasarana dan Raden Darmakusuma segera menuntut bela.1 Tahun 2012 . Prabu Yaksadewa sangat marah dan segera memerintahkan Patih Mohita untuk mempersiapkan pasukannya menyerbu ke Widarba. Kemudian Sang Hyang Narada menjelma menjadi gada sakti agar dapat dipakai Prabu Jayapurusa melawan gada sakti Prabu Yaksadewa. Kemudian Sang Hyang Girinata memerintahkan Sang Hyang Narada untuk menghidupkan kembali mereka yang tewas dalam pertempuran itu. Prabu Astradarma. Sang Hyang Narada pun menjelma kembali. Prabu Jayapurusa sendiri mau melawan Prabu Yaksadewa. tetapi mereka pun gugur. sedangkan gada saktinya adalah penjelmaan Sang Hyang Brahma. Bertepatan dengan itu nampaklah Sang Hyang Girinata bersemayam di atas kepala Prabu Jayapurusa. Sebelum Prabu Jayapurusa maju datanglah Sang Hyang Narada memberitahukan bahwa Prabu Yaksadewa adalah penjelmaan Sang Hyang Kala. Dalam pertempuran yang dahsyat itu banyak perwira kerajaan Selauma gugur di tangan Sang Maharsi Mayangkara. Dalam pertempuran yang dahsyat maka Prabu Yaksadewa menjelma menjadi Sang Hyang Kala. sedangkan gada saktinya menjelma menjadi Sang Hyang Brahma. Sang Hyang 38 Jumantara Vol. Prabu Yaksadewa menjadi sangat marah. Sang Maharsi Mayangkara telah menjalankan kewajibannya di dunia dengan baik pada akhir hidupnya dengan mengawinkan ketiga putra mendiang Prabu Sariwahana (Yawstina) dengan ketiga putri Prabu Jayapurusa (Widarba). 3 No.

jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara dikisahkan sendiri oleh Sang Maharsi Mayangkara (Anoman) yang pada waktu itu (jaman Kediri) masih hidup. Janakīharaņa oleh Kumaradasa. Cerita Rāmāyaņa dari India tersebut kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Rāmācaritamanasa oleh Tulasi Dasa. Uttara Rāma oleh Bhavabhutti. terutama di dalam Sĕrat Rukmawati. di Jawa kemudian digubah menjadi Kakawin Rāmāyaņa oleh pujangga yang belum ditetapkan secara pasti siapa nama sebenarnya. Kakawin Rāmāyaņa tersebut menjadi bahan perbincangan yang sangat ramai di antara para sarjana. maupun Jawa. yang menjelma sebagai gada sakti senjata Sang Hyang Kala. terutama sarjana-sarjana barat yang pada mulanya mengadakan penelitian atas karya-karya sastra Jawa Kuna. Birma. 3 No. Filipina. 1985: 29-32). Thailand.000 tahun. Penyair-penyair India lain pun kemudian mencoba membuat cerita Rāma–Sīta. R. Salah satu versi cerita Rāma dari India yaitu Rāvaņavadha karya Bhaţţi. Yasadipura I. sedangkan Sindusastra menggubahnya menjadi Sĕrat Arjuna Sasra dan Sĕrat Lokapala. Di Asia Tenggara cerita Rāma terdapat di Vietnam. Laos. Kakawin Rāmāyaņa kemudian digubah menjadi Sĕrat Rama oleh R. Melayu. Cerita Rāma ternyata ditemui juga jejaknya di dalam bagian Sĕrat Pustakaraja.Kala dan Sang Hyang Brahma segera menghidupkan kembali pasukan Widarba dan Selauma (Tedjowirawan. sampai ia sendiri kembali ke surga setelah secara tidak langsung dijemput oleh Sang Hyang Kala (Prabu Yaksadewa) dan Sang Hyang Brahma. misalnya: Raghuvangśa karya Kalidasa. Rāmāyaņakathāsaramānjari oleh Ksemendra.1 Tahun 2012 39 .Ng. Dengan demikian. setelah melewati proses ritual (tapabrata) selama 1. Kamboja.Ng. Sĕrat Jumantara Vol. Yasadipura II menggubahnya menjadi Sĕrat Arjuna Sasrabahu. Simpulan Cerita Rama (Rāma) pada mulanya digubah dalam bahasa Sanskerta oleh yogīndra Wālmīki. Rāvaņavadha oleh Bhaţţi.

Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara.Suktinawyasa. Dalam Sĕrat Suktinawyasa jejak cerita Rāma dikemukakan oleh Dhang Hyang Wikusalya kepada Rĕsi Abyasa agar tidak terlalu bersedih hati karena tidak diangkat menggantikan ayahandanya menjadi raja di Ngastina. jejak cerita Rāma tampak dengan tampilnya Sang Maharsi Mayangkara (Anoman). Daftar Pustaka Berg. 40 R. Sĕrat Prabu Gĕndrayana. Surakarta: Reksapustaka. Darusuprapta (1963).C. Hadisuparto. Bahkan gugurnya Sang Maharsi Mayangkara dijemput oleh Sang Hyang Kala (Prabu Yaksadewa) dan Sang Hyang Brahma. Peristiwa gugurnya Sang Maharsi Mayangkara tersebut pada masa pemerintahan Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) di kerajaan Widarba (Kediri). melainkan hanya diangkat sebagai raja pendeta.1 Tahun 2012 . yang menjelma menjadi gada sakti Prabu Yaksadewa. Adapun dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara. Fakultas Sastra dan Kebudajaan. Di dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana jejak cerita Rāma dikemukakan oleh Bagawan Danĕswara agar Prabu Gendrayana merelakan putranya yang masih sangat muda yaitu Raden Narayana (Jayabhaya) untuk dimintai bantuannya melenyapkan segala jenis hama tanaman yang menyerang sawah dan ladang para penduduk di wilayah Gunung Nilandusa (Wilis). (1981). Merunut Pupuh-pupuh Rama Djarwa Matjapat jang Bersumber dari Sarga II dan III Rāmāyaņa Kakawin (Tesis). C. Penulisan Sejarah Jawa. Karyarujita. (1974). Soepardi (Pengalih Huruf) (2007). Sĕrat Paramayoga: Sĕrat Jumantara Vol. Jakarta: Bharata. Jogjakarta: Djurusan Sastra Djawa. 3 No. Pura Mangkunegaran Surakarta.Ng. Universitas Gadjah Mada. Sĕrat Prabu Gĕndrayana II (46 B). Dalam Sĕrat Rukmawati jejak cerita Rāma terutama terkait dengan prosesi ritual yang dilakukan Prabu Dasarata untuk memohon kelahiran putra penjelmaan Sang Hyang Wisnu (Rāma).

Kalĕmpaking Piwulang. Sejarah dan Transformasi Jumantara Vol.T. Soerakarta: Albert Rusche. (1924). (1979).. Disalin oleh Soetomo W. Solo: Boekhandel M. Alih Aksara dan Alih Bahasa oleh Moelyono Sastronaryatmo. BKI 153-II. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud. _______. Th. Ng. Cetakan Kedua. M.1 Tahun 2012 41 . Sĕrat Ajipamasa. Somvir (1998). (1938). R. dkk. Tanojo.H. Semarang: Yayasan Studi Bahasa Jawa "Kanthil". (1967). Ranggawarsita. Depdikbud. dan Tardjan Hadidjaja (1957). (1979). Soemarso Pontjo. Djakarta: Djambatan. _______. Sĕrat Witaradya I & II. Alih Aksara dan Ringkasan oleh Sudibya. Surakarta dan Yogyakarta: Yayasan "Mangadeg" dan Yayasan "Centhini". Makalah Ceramah. Ng. _______. 3 No. Sĕrat Pustakaraja Purwa Jilid I – III. Hadji Pamoso Jilid I-X.. G. (Pengalih Huruf) (2007). Cetakan Keempat. (1997). Djokdja: Boekhandel En Drukerij Kolf Buning. Lampahan Jayapurusa. “Runut Merunut Penulisan dan Penulis Kakawin Rāmāyaņa”. Pigeaud. Padmapuspita. _______. Z. Witaradya.E. (1910). Y. Sĕrat Pustakaraja Purwa Jilid III. „Ramayana: Asal-usul. Soetjipto. Alih Aksara Kamajaya. (1908). Th. Pura Mangkunegaran Surakarta.M. K. _______. "The Yasadipura Problem". R. Surakarta: Albert Rusche. Poerbatjaraka.C. I. Ricklefs.R. (1993). Mangkunegara IV (1914). Surakarta: Reksapustaka. Sĕrat Prabu Gĕndrayana I (46 A). Kepustakaan Djawa. (1994). Literature of Java Vol. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Yogyakarta: Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. _______. Sĕrat Mayangkara. The Hague: Martinus Nijhoff.

Jakarta: CV. Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa. FPBS IKIP Yogyakarta. FPBS IKIP Yogyakarta. Zoetmulder. Tedjowirawan. Kalangwan. Surakarta: Museum 42 Jumantara Vol. Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang. Ranggawarsita: Sajian Teks-Terjemahan Pembahasan.J. “Dari Gendrayana ke Bambang Sudarsana (Sebuah Suksesi Kepemimpinan di Ngastina menurut Teks-teks Pustakaraja Madya Karya Pujangga R. dalam Ramayana. Pengembangan dan Masa Depannya. Ng. Surjohudojo. _______ (2008). Widyaseputra. Satu Kajian Pada Karya Sastra R. Sri Mulyono (1989). Naskah 157. Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa. Procedings Seminar Internasional Aktualisasi Teks-teks Ranggawarsitan dalam Konteks 100 Tahun Kebangkitan Nasional dalam rangka Dies ke 62 Fakultas Ilmu Budaya UGM 16 Mei 2008. Anung (1985). Jogjakarta: Fakultas Sastra dan Kebudajaan Universitas Gadjah Mada. _______ (1986). Cetakan III.Ng. Prodi Sastra Jawa. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM. Serat Mayangkara Karya R. 3 No.dari India ke Indonesia‟ dalam Ramayana. Filsafat dan Masa Depannya. Haji Masagung.1 Tahun 2012 . Supomo (1961). Wayang: Asal-usul. Yogyakarta: Jurusan Sastra Nusantara. Rama Kathā. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi). Manu Jayaatmaja (1998). Ranggawarsita. Analisis Struktural Serat Purusangkara. terjemahan Dick Hartaka. Pengembangan dan Masa Depannya. “Persebaran Rāmāyaņa di Asia Tenggara”. Jakarta: Djambatan. Ng. Naskah Sĕrat Gĕndrayana. (1983). P. Ranggawarsita”.

Sĕrat Prabu Gĕndrayana I. 3 No. Naskah 153. Naskah 46 A. Jumantara Vol. Surakarta: Reksapustaka. Naskah Radyapustaka Surakarta. 155.1 Tahun 2012 43 .Radyapustaka Surakarta. Surakarta: Museum Radyapustaka Surakarta. Sĕrat Prabu Gĕndrayana II. Pura Mangkunegaran Surakarta. Surakarta: Reksapustaka. Naskah 46 B. Pura Mangkunegaran Surakarta. Sĕrat Purusangkara. Surakarta: Museum Sĕrat Yudayana.

Konteks. 3 No. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami. menjelaskan tentang perilaku sosial lingkungan terhadap mereka. yang dewasa ini sudah menjadi manuskrip. dan mencari korelasi positif antara perilaku perempuan dalam teks dengan perempuan Aceh pada umumnya dalam kurun waktu masa lampau dan dewasa ini. Manuskrip Aceh. keluarga. dan masyarakatnya. Teks.Abstrak Penelitian ini mencoba menggali kembali ajaran dan praktik kehidupan sehari-hari perempuan Aceh dalam keluarga dan masyarakat yang dituangkan ke dalam tulisan pada masa lampau. Fokus utama penelitian ini tertuju kepada Siti Islam.1 Tahun 2012 . yaitu Hikayat Siti Islam. 44 Jumantara Vol. *) Penulis adalah peneliti di Puslitbang Lektur – Balitbang Departemen Agama RI. Kata Kunci: Perempuan. Selanjutnya perbandingan teks dilakukan dengan manuskrip lain yang mengisahkan tentang perempuan lain bernama Siti Hazanah. tokoh utama dalam sebuah manuskrip Aceh sekaligus menjadi judul dari manuskrip tersebut.

mengurusi anak dan suaminya sendiri. Jumantara Vol.1 Namun. Ibn Arabi. Sering perempuan mendapat perlakuan tidak seimbang dan bahkan melecehkan derajat dan kehormatannya. Laki-laki dengan bangga menjadi suami atas keberhasilan isterinya mempertahankan keluarga untuk menutupi kebutuhan keluarganya.1 Tahun 2012 45 . Sering terjadi permerkosaan dan perlakuan tidak senonoh dari para pecundang birahi. Bahkan tidak jarang kepada kaum perempuan dibebankan segala tumpuan dan pekerjaan keluarga. sering perempuan dijadikan objek kesenangan laki-laki. 3 No. mulai dari mengurus rumah tangga hingga mencari nafkah di luar rumah. Di luar rumah. 2005: 1-8. lihat Austin. 2 Untuk penjelesan lebih rinci lihat Quraish Shihab.Pendahuluan Perempuan merupakan lambang keberhasilan dan kekuatan sebuah keluarga dan negara. 2003:416-419 dan Azhari Noer. kadang disalahgunakan oleh lawan jenisnya. Dengan segala kelemahannya perempuan harus mengikuti perintah para suami. 2002: 220-222. dibalik fisik dan tenaganya yang lemah jika dibandingkan dengan kekuatan fisik laki-laki. mengakui akan kehebatan yang dimiliki perempuan. karena di tangan merekalah terletak kekuasaan yang terselubung. laki-laki yang menggunakan kekuatan dan kehebatan fisiknya untuk mencari kesenangan di bawah penderitaan isterinya. tidak berlebihan bila agama memperjuangkan hak perempuan dan bahkan menyamakannya dengan kaum laki-laki sesuai dengan fungsinya masing-masing. Sayyidah Nizam adalah salah seorang perempuan yang disebutkan Ibn Arabi yang dapat memberikan inspirasi kepadanya untuk menulis sekumpulan puisi dan telah memberikan pengaruh spiritual yang dalam kepadanya. fisik perempuan yang lemah. Karena itu. sebagai tokoh sufi yang terkenal. Perempuan diperlakukan seperti budak demi kepuasan kaum lakilaki. Mereka dapat memberikan inspirasi tertentu kepadanya.2 Perempuan bukanlah diciptakan untuk 1 Untuk uraian lebih rinci tentang makna perempuan bagi Ibn Arabi. Kasus yang muncul di media masa dan televisi tidak jarang adalah kasus pelecehan dan perusakan kehormatan perempuan.

2000:16-17). perempuan terlihat diberikan kebebasan dalam bergerak. menanam.1 Tahun 2012 . Di kalangan petani. Mereka tidak hanya bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga untuk anak dan suami mereka. Di Aceh. Perempuan adalah sosok manusia yang hebat dan lemah. sehingga sering disalahgunakan karena dua faktor tersebut. hingga memanen padi. para perempuan menjadi pekerja setia. melainkan untuk saling melengkapi. mulai dari mencabut. Dalam setiap suku yang ada di Indonesia. dijunjung oleh 3 Hasil Observasi dan wawancara langsung dengan sebagian penduduk Bali di Denpasar pada bulan Januari sampai April 1995. perempuan harus bersedia untuk tidak mengecap dan merasakan manisnya pendidikan formal. Mereka harus rela melakukan apa saja untuk memperjuangkan saudara laki-lakinya dan suaminya sukses di luar rumah. misalnya. Di Bali3. perempuan juga menjadi tumpuan keluarga dan negara. perlakuan terhadap perempuan hampir boleh dikatakan sama dan serupa. mulai dari menghadirkan dan menyiapkan makanan sampai mengurus anak dan suami. Dalam sejarah. perempuan menjadi tonggak keluarga untuk keberhasilan sebuah rumah tangga. Tidak hanya itu. melainkan juga di luar rumah. 3 No. AlZariyat:49). kebebasan mereka diberikan untuk berjuang bersama kaum laki-laki untuk kepentingan agama dan bangsa. (Umar. (Q. tidak hanya berada di rumah melainkan juga di luar rumah. Sehingga dalam sejarah muncul srikandi-srikandi Aceh dengan berbagai istilah mereka sandang demi memperjuangkan agama dan negara. Perempuan harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga. Istilah inong balee. 46 Jumantara Vol.melengkapi hasrat dan keinginan laki-laki. Di pasar. demi untuk mempertahankan saudara laki-lakinya bersekolah. Dalam Al-qur‟an disebutkan bahwa Segala sesuatu Kami menciptakan berpasangpasangan supaya kamu mengingat keesaan Allah.S. misalnya. Dari sisi lain. para ibu-ibu menjadi pedagang paling dominan ketimbang para laki-laki.

yang dewasa ini sudah menjadi manuskrip. Selanjutnya tidak semua perempuan Aceh menjadi srikandi. Sejauhmana korelasi positif antara perilaku perempuan Aceh dengan isi teks naskah? Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan kembali sejarah perempuan Aceh yang terdapat di dalam manuskrip. Secara rinci tujuan tersebut adalah: Jumantara Vol. Nasib sebagian mereka tentu berbeda dengan srikandi-srikandi yang sudah harum namanya. Karena itu. Hal yang juga perlu dipertanyakan adalah apakah mereka mendapatkan kebebasan dan kehebatan seperti srikandi-srikandi yang telah harum namanya dalam sejarah.Malahayati dalam menggerakan kaumnya melawan Belanda dan mempertahankan agama. tetapi juga terhadap perempuan-perempuan yang menjadi masyarakat biasa dalam kehidupan keluarga dan sosialnya.1 Tahun 2012 47 . Fokus utama penelitian ini tertuju kepada Siti Islam. Meskipun demikian. Penelitian ini mencoba menggali kembali ajaran dan praktik kehidupan sehari-hari perempuan Aceh dalam keluarga dan masyarakat yang dituangkan ke dalam tulisan pada masa lampau. pertanyaan-pertanyaan yang dapat dirumuskan untuk penelitian ini adalah: 1. 3 No. yaitu Hikayat Siti Islam. Selanjutnya perbandingan teks dilakukan dengan manuskrip lain yang mengisahkan tentang perempuan lain bernama Siti Hazanah. masih perlu dipertanyakan apa yang dimaksud dengan kebebasan yang mereka miliki dan sejauh mana kebebasan tersebut didapatkan. tokoh utama dalam sebuah manuskrip Aceh sekaligus menjadi judul dari manuskrip tersebut. Bagaimana kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami. Bagaimana tanggapan lingkungan terhadap mereka? 3. keluarga. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pendorong saya untuk meneliti sejarah perempuan Aceh yang tidak hanya terfokus kepada para srikandi yang harum namanya dalam sejarah. dan masyarakatnya? 2.

Dapat menjadi referensi bagi peneliti khususnya yang bergelut dengan permasalahan gender. Untuk menjelaskan tentang perilaku sosial lingkungan terhadap mereka. 2.1 Tahun 2012 . 1998). Dalam artikelnya.1. 2. Khan dalam The Jewel Affair. Untuk mencari korelasi positif antara perilaku perempuan dalam teks dengan perempuan Aceh pada umumnya dalam kurun waktu masa lampau dan dewasa ini. 3 No. Demikian juga halnya dengan penelitian khusus perempuan Aceh. Perempuan dalam kehidupan masa sekarang juga telah mendapat perhatian banyak peneliti untuk menelaahnya dari berbagai segi. 3. Dapat mengungkapkan kembali khazanah tentang perempuan pada masa silam melalui manuskrip. Hal ini ditemukan dalam berbagai peran ekonomi. penelitian terkait dengan perempuan sudah sangat banyak dilakukan oleh berbagai pihak. perempuan mendapatkan dua peran sekaligus. mulai dari kiprah mereka dalam politik sampai kepada kehidupan sosial. Di antara penelitian yang terkait dengan perempuan Aceh adalah. yaitu sebagai perempuan politisi dan ibu atau sebagai pedagang dan ibu. Sedangkan manfaat dari penelitian ini diharapkan: 1. Sher Banu A. L. (Reid. Reid menjelaskan bahwa terdapat kesetaraan perempuan di wilayah Asia Tenggara termasuk di dalamnya Aceh dengan kaum laki-laki dalam konteks yang memungkinkan keduanya bersaing secara langsung. sosial. dan masyarakatnya. keluarga. menunjukkan peran para sultanat sebagai perempuan dalam menjalankan 48 Jumantara Vol. her Orang Kaya and the Dutch Foreign Envoys. karya Anthony Reid Female in Southeast Asia. Dari sisi kajian terdahulu. Untuk mengetahui kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami. Sejarah sudah banyak berbicara tentang perempuan Aceh dari berbagai segi. Karena itu. yaitu di dalam ekonomi dan politik. dan politik yang dijalankan oleh perempuan dalam posisi mereka di keluarga dan masyarakat yang lebih luas. The Sultana.

dan literatur. menikah dengan Pangeran Salman. dan Syahir Tanwi. Ia adalah putri Istana Jeumpa. ia menemukan narasi yang mengedepankan perempuan supernatural. (Khan. Begitu juga dengan Putri Tansyir Dewi yang berasal dari Peureulak. semacam bidadari atau peri dari antah berantah. adalah salah satu contoh perempuan yang diutarakannya. Ia menggunakan manuskrip Melayu kuno dan cerita lisan untuk menjelaskan gagasan kekuasaan perempuan dalam tradisi kemaharajaan.tugasnya sebagai pemimpin negara setelah Sultan Iskandar Tsani. Mereka dianugerahi empat orang anak Syahir Nuwi. yang dikenal sebagai pendiri kerajan Jumantara Vol. Jacqueline Aquino Siapno dalam karyanya Gender. telah mengelaborasi dan membuka khazanah penafsiran mengenai sejarah politik perempuan di Aceh. Semua mereka berhasil dididik olehnya dan mereka kemudian menjadi penguasa negeri (imum tuha peut). Ia menjelaskan tentang peran perempuan dalam sejarah. Namun pada akhirnya bidadari tersebut harus menjadi agen kekuasaan para lelaki sebagai penguasa yang nyata. 2011). Cooptation and Resitance dengan menggunakan metode sejarah. Islam. Demikian juga dalam cerita tradisi lisan. Ia adalah ibu dari Sayid Maulana Abdul Aziz. khususnya Ratu Safiyatuddin dapat menjadikan barangbarang berharga. etnografi. seperti intan permata. (Siapno. Putri Mayang Seuludang. bukan untuk berfoya-foya. Syahir Dauli.1 Tahun 2012 49 . Haslinda dalam bukunya Perempuan Aceh Dalam Lintas Sejarah Abad VIII – XIX menjelaskan tentang keberhasilan perempuan dalam membangkitkan negara dan agama sekaligus juga menjadi tumpuan keluarganya. 2002). yang melalui mereka telah muncul kejayaan-kejayaan untuk sebuah kerajaan. yang memiliki kesaktian dan kekuasaan. perempuan dijadikan sebagai orang yang mampu melakukan segalanya. namun tidak pernah dihargai keberhasilannya karena hal tersebut sudah menjadi tugasnya. Syahir Pauli. Nationalism and the State in Aceh: The Paradox of Power. untuk kekayaan dan kepentingan kerajaan. Mereka. Dalam manuskrip yang menceritakan Putri Betung. 3 No.

pertama. Karena itu. dapat disimpulkan bahwa penelitian tentang aktivitas perempuan dalam kehidupan sehari-hari dan ajaran yang berlaku padanya dengan berlandaskan manuskrip belum ada yang melakukan. 3 No. Penelitian ini mencoba mengisi kekosongan tersebut. (Haslinda. pendekatan sejarah sosial digunakan untuk mengetahui konteks latar belakang muncul dan keberadaan naskah yang dikaji dan tentang refleksi perempuan Aceh dalam sejarah secara umum serta fakta yang ada dewasa ini. Dari penelitian-penelitian di atas. Keempat. Siapno hanya menfokuskan kajian tentang perempuan yang berkaitan dengan tradisi kemaharajaan pada masa awal Islam. Ketiga. Penelitian ini berbentuk library research dengan model pendekatan kualitatif.Islam Perlak pada tahun 840M. Untuk melihat dan mendiskusikan perkembangan budaya pada masa sekarang dan relevansinya dengan teks naskah. Untuk menelaah dua naskah yang menjadi sasaran penelitian ini perlu digunakan pendekatan interdisipliner. yaitu budaya perempuan Aceh dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. filologi dan kodikologi yang diperuntukkan pada kajian isi dan fisik naskah tersebut. pendekatan intertekstual digunakan untuk membandingkan teks naskah yang menjadi fokus kajian ini dengan teks sejenis guna untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan topik kajian. maka pendekatan antropologi menjadi penting. dapat dilihat bahwa hanya Siapno yang menggunakan manuskrip sebagai salah satu sumber rujukan utamanya. 2008).1 Tahun 2012 . sehingga direct participant ke dalam masyarakat dalam waktu yang relatif lama dan in depth interview dapat dilaksanakan dengan cermat dan teliti. yaitu dengan fokus kajian pada manuskrip yang diperkirakan ditulis pada abad ke-18 dan 19M. 50 Jumantara Vol. Namun demikian. Kedua. pendekatan antropologi.

kemungkinan karena teks naskah ini berbentuk cerita. tidak diketahui siapa pengarangnya. Naskah ditulis dalam bentuk hikayat. Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI pada tahun 2010. Pidie. Berdasarkan cap airnya. 1935. yaitu berbentuk sajak dan berbait-bait atau puisi. 1986:84.1 Tahun 2012 51 . Jumantara Vol. diperkirakan naskah ini ditulis sekitar abad ke-19M. Tidak ada rubrikasi dalam teks. seorang masyarakat Aceh yang berdomisili di Dayah Tanoh. Naskah berjudul Hikayat Siti Islam ini.4 Tidak terdapat bagian halaman yang kosong dalam naskah ini. Lihat Heawood. Churchill. Tinta yang digunakan untuk menulis teks berwarna hitam.Kiprah Perempuan dalam Manuskrip Tentang Manuskrip Siti Islam Deskripsi Naskah ini dikoleksi oleh Ampon Hasballah Dayah Tanoh. sedangkan iluminasi serta ilustrasi juga tidak diketemukan. Kemungkinan besar tahun produksinya setelah abad ke-18M. Naskah ini kemudian didigitalkan oleh Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan. sehingga ia menyatakan bahwa kertas yang ber-watermark seperti di atas besar kemungkinan diproduksi pada waktu modern. Aceh. 3 No. yang mungkin saja memuat informasi tentang pengarangnya. Naskah ini memiliki ukuran 16X22 cm. sehingga tidak ada kata-kata yang perlu ada penekanan maknanya. Alas tulis naskah ini adalah kertas Eropa yang memiliki cap air berbentuk bulan sabit dalam bentuk wajah manusia dilingkari pagar atau yang dalam bahasa Inggris disebut dengan moonface in shield. karena ada beberapa halaman akhir telah hilang. cap air seperti ini tidak dapat diidentifikasi tahunnya. karena Buku Heawood dan Churchill hanya memuat daftar watermark dan countermark yang berkisar antara abad ke-17 dan 18M. 4 Menurut Heawood. dan blok teksnya berukuran 10X16 cm.

Empat halaman pertama digunakan pengarang khusus untuk mengungkapkan bahwa cerita yang ditulisnya sangat diharapkan oleh siapa pun di dunia ini. karena lembaran akhir sudah hilang. Nyoe calitera nabi Muhammad soe yang ingat raya bahgia . Naskah ini tidak memiliki kolofon. hingga sampai di kampung halamannya.Naskah Siti Islam Teks naskah ditulis dengan menggunakan bahasa Arab dan Aceh. Cerita ini diberitakannya terjadi pada masa Rasulullah masih hidup. beraksara Arab dan Jawi. kemudian singgah di beberapa negara dan di beberapa tempat di Aceh. Ia mengambil cerita ini dari Arab.. sebagaimana disebutkan dalam teks: Nyoe hikayat Siti Islam ..1 Tahun 2012 .. Dalam persinggahannya ia mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak yang mendengarkan ceritanya. 3 No. na si‟at teuka si Nyak Ti dara agam taphôm makna 52 Jumantara Vol.. Ringkasan Isi Naskah ini berisi cerita (hikayat) fiktif dengan diiringi berita dari si pengarang terlebih dahulu.

Pengajaran dan bimbingan diberikan langsung oleh Nabi dan tertuju kepada Siti Islam sebagai tokoh utama dalam cerita ini. Nabi sebagai tokoh yang dapat memecahkan dan mengatasi segala persoalan. patuh. penurut. kedua. diceritakan terlebih dahulu segala hal yang terkait dengan pengajaran terhadap perempuan dalam menghadapi suami dan rumah tangga. suami Siti Islam. yaitu: pertama. Cerita dalam naskah ini menggambarkan cara hidup seorang perempuan pada masa Nabi yang bernama Siti Islam.1 Tahun 2012 53 . Rajawali. Siti Islam yang digambarkan sebagai tokoh perempuan yang taat.Rupa jieh sa hana macam That taqwa uroe malam Terjemahan: Ini [hikayat ini diberi nama dengan] Hikayat Siti Islam… Ti Islam nan keurasoe hana macam that bakti Agar laki-laki dan perempuan yang masih muda dapat memahami artinya Siapa yang [mau] mengingatkannya sangat besar kesenangan Sebentar setelah itu datanglah Nyak Ti Ini cerita [masa] Nabi Muhammad… Wajahnya cantik tiada banding Sangat takwa [kepada Tuhan] siang dan malam Ti Islam namanya dipanggil Tiada ada tandingan sangat berbakti Cerita ini memiliki tiga tokoh utama. dan ketiga. dan penurut. dan melayani suami. Jumantara Vol. Nabi memberitahu bahwa perilaku wanita yang baik menurut agama adalah harus patuh. yang melindungi dan menguasai Siti Islam dalam hidupnya setelah berumah tangga. Bila tidak demikian. 3 No. Pada awalnya. maka para perempuan akan menerima azab balasannya di hari akhirat.

. Contoh dalam teks: Ureung lakoe yang celaka Jimoe sabee ureung ineng Azeub peudeh han pue tanyeng Jiduek ji eh ji jak ji deng .1 Tahun 2012 . Lom jibeudeh ineng ceulaka Trôh bak bahoe jiduek ineng Nibak agam meunoe jitanyeng Dilee galak keu lôn sidroe Oh han lôn tem yôh saboh uroe Terjemahan: Suami yang celaka Menangis selalu si isteri Azab pedih tidak dapat dikatakan Duduk tidur berjalan berdiri . Bagi mereka disediakan siksa yang sangat pedih di hari akhirat... Begitu juga sebaliknya.Nabi kemudian menjelaskan tentang perempuan yang membangkang dan tidak menjaga hubungan baik dengan suami. 3 No.. Lalu bangun perempuan yang celaka Lalu di bahunya duduklah perempuan Pada laki-laki begini ditanyakan Dulu engkau suka kepada saya seorang Ketika saya tidak mau pada azeub siksa hana lawan nam plôh limeng tujôh lapan deungen ineng man saboh kawan lethat ineng jimoe sajan agam jiwa nibak badan jitanyeng meunoe lakuan lee ineng soe rimueng kuran lam taki-taki uroe malam meudeh meunoe lôn ta padan azab siksa tiada lawan enam puluh lima tujuh delapan dengan isteri sebuah kelompok banyak sekali isteri menangis laki-laki dipeluk badannya ditanyakannya apakah begini balasan oleh perempuan dengan suara harimau engkau bohongi siang malam berbagai cara engkau rayu aku 54 Jumantara Vol. bahkan mencari orang lain sebagai tempat pelariannya. laki-laki yang berhubungan dengan perempuan tersebut di luar nikah akan mendapat hukuman yang sama.

Seorang perempuan harus tunduk dan patuh kepada suaminya serta menjaga keharmonisan rumah tangga sesuai aturan agama. Disebutkan dalam teks sebagai berikut: hancô hutak lheuh ngen gaki teumar meuwolom misei suboh meunan azeub barang jan masa malam Jumu‟at yang na reuda la‟en nibak nyan buleun puasa la‟en nibaknya hana reuda Terjemahan: Hancur otak lepas kaki Lalu kembali seperti semula Begitulah azab sepanjang masa [Cuma] Malam Jumat yang reda [tidak disiksa] Selain itu pada bulan puasa Selain itu tidak perlah lekang dari siksaan tuleung ngen asoe jeut ka karam lom geusipak hana macam hana reuda uroe malam hana siksa ineng agam yang na reuda Ti Islam jih lam siksa hana macam tulang dan daging sudah tiada lalu disepak lagi dengan sangat keras tiada reda siang dan malam tidak disiksa laki-laki dan perempuan yang tidak disiksa [hai] Ti Islam mereka dalam siksa tiada tara Setelah mendapatkan pengajaran yang demikian panjang lebar.1 Tahun 2012 55 .satu hari Siksa yang akan dialami oleh mereka yang tidak patuh kepada suami dan berselingkuh dengan laki-laki lain tidak akan pernah berhenti. kecuali pada hari Jumat dan bulan Ramadan. kepada Siti Islam kemudian diajarkan tentang bagaimana seharusnya kehidupan seorang isteri terhadap suami dalam berumah tangga. Nabi menjelaskan panjang lebar tentang ciri-ciri isteri yang baik yang dapat membawa kebahagiaan dunia dan akhirat serta akan mendapat balasan surga di akhirat. 3 No. karena Jumantara Vol.

3 No. maka isteri harus minta izin kepada suami untuk mencari ilmu kepada ulama: Teumar guree nibak lakoe Adat banta lakoe gata Lake izin nibak lakoe Beuna izin nibak lakoe tameureunoe kebajikan bak ulama taberjalan suara bandum ban meunisan jak meureunoe iluemee Tuhan Terjemahan: Lalu bergurulah kepada suami belajarlah kebajikan padanya Bila suami anda tidak bisa kepada ulama engkau pergi Minta izin kepada suami suara dan tingkah laku semuanya harus manis Harus ada izin dari suami pergi menuntut ilmu Tuhan Siti Islam dengan tekun dan penuh khidmat mengikuti ajaran Nabi. Ia terus mendesak Nabi untuk menceritakan segala hal yang 56 Jumantara Vol. si isteri harus selalu mencium lututnya dengan wajah tersenyum.1 Tahun 2012 . Kalaupun tidak bisa seperti itu. setiap kali suami pulang.surga berada di bawah telapak kaki suami. Contoh teks: Oh woe lakoe geunap seupôt côm bak tu‟ôt barangkajan Terjemahan: Ketika pulang suami di waktu sore cium di lutut kapan saja Nabi juga menjelaskan bahwa seorang isteri harus menjadikan suaminya sebagai guru dan tempat belajar. Lam syuruga wahe Nyak Ti Diyub tapak gaki suami Terjemahan: Dalam surga wahai Nyak Ti Di bawah telapak kaki suami diyub gaki ureung agam ta deunge hai meunoe kalam di bawah kaki laki-laki dengarkanlah kalam seperti ini Sebagai contoh.

Jumantara Vol. Dalam menjalani rumah tangga bersama suaminya.terkait dengan kehidupan isteri dan suami serta akibat-akibatnya. Rajawali kemudian mengatakan bahwa Siti Islam dilarang keluar rumah sebelum ia pulang. Siti Islam menyerahkan dan mengabdikan dirinya secara penuh kepada suaminya tanpa ada rasa penolakan sedikit pun. Siti Islam memutuskan untuk tidak pergi melihat orang tuanya. namun dia tidak berani pulang ke rumah orang tuanya.1 Tahun 2012 57 . Dikatakan oleh Nabi bahwa Siti Islam akan mendapat pahala yang besar dengan sikap tersebut dan orang tuanya akan berada di tempat yang baik. Ia adalah sosok perempuan yang patuh secara mutlak terhadap ajaran Nabi. Atas petunjuk Nabi. Pada suatu hari. Nabi menjawab bahwa tindakan Siti Islam adalah benar. Siti Islam sangat sedih mendengar berita tersebut. termasuk untuk keluar rumah. 3 No. karena takut tidak mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam rumah tangga. Siti Islam pada awalnya tidak berniat untuk menikah. Semua harta dan barangnya dititipkan kepada Siti Islam. Nabi memperingatkan agar Siti Islam tidak luput memperhatikan rambu-rambu yang perlu ditaati sebagai seorang isteri nantinya. Siti Islam kemudian menerapkan segala ajaran dan bimbingan Nabi saw yang telah didapatnya. Ia kembali pergi ke tempat Nabi dan bertanya tentang masalah yang dihadapinya. Siti Islam menceritakan kepada 5 Dalam teks disebutkan bahwa keluar rumah menuju pasar membutuhkan waktu cukup lama. orang tua Siti Islam sakit keras. Ketika suaminya pulang. Dalam membangun dan mempertahankan rumah tangganya. ia akhirnya menikah dengan seorang anak Sultan yang bernama Rajawali. Ia tidak pernah berani bertindak tanpa seizin suami. Tidak boleh sama sekali berjalan bila tidak dengan seizin suami. Rajawali berniat hendak pergi jauh keluar wilayah kerajaannya karena ada urusan penting yang harus diselesaikan. Mungkin pasarnya jauh di negeri lain. Di tengah-tengah pejalanan suaminya keluar kota5. karena anaknya yang taat kepada suaminya. Orang tuanya pun meninggal. Karena harus menjunjung tinggi amanah suaminya.

Sebelumnya naskah ini dikoleksi oleh Sulaiman di Aceh Besar. ia mengeluarkan hartanya untuk memberi makan fakir miskin dan rakyat untuk mengharapkan pahala bagi orang tua isterinya. Akhirnya keduanya. Nabi menjawab bahwa tindakan mereka adalah pekerjaan yang terpuji. Suaminya kemudian menjawab bahwa. Dengan sukarela. tetapi kopi naskah tersedia. pulang ke tempat orang tuanya. termasuk gedungnya yang juga menyimpan sejumlah naskah Aceh lainnya. Ibunya kemudian mewasiatkan kepada Siti Islam agar ia tetap menjaga dan menghormati perintah dan larangan suaminya.6 Naskah ini dapat 6 Naskah ini sudah musnah akibat tsunami pada tahun 2004. Ternyata ibunda Siti Islam masih hidup dan dalam keadaan sakit parah. Setelah ibunya meninggal. 3 No. Siti Islam dan Rajawali. Setelah itu. Mereka berdua diharapkan selalu berdoa untuk orang tuanya dan bersedakah untuknya. Rajawali menggerakan rakyatnya untuk mengadakan kenduri selama tujuh hari tujuh malam. Mereka bertiga sangat sedih dan jatuh dalam pelukan kerinduan dan keterharuan. kembali kepada Nabi untuk berkonsultasi tentang balasan dari apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang harus mereka lakukan setelah ibunya meninggal. Bandingan dengan naskah Siti Hazanah Deskripsi Naskah ini adalah koleksi Balai Kajian Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional Aceh di Banda Aceh sebelum terjadi Tsunami tahun 2004 dengan nomor invetaris 007/NK/1998. Ibu dan ayah Siti Islam berbahagia di dalam kubur dan dapat merasakan kebaikan kedua anaknya. Siti Islam dan Rajawali. namun ayahnya sudah tiada. ia sebenarnya mengizinkan Siti Islam pulang ke rumah orang tuanya untuk melihat mereka yang sedang sekarat. karena pada tahun 2003 telah dicopy dan dibuat edisinya oleh Fakhriati atas dukungan dari Program 58 Jumantara Vol. Meskipun naskah asli tidak ada lagi. untuk segala hal yang terkait dengan orang tua.1 Tahun 2012 .suaminya tentang peristiwa yang sudah terjadi selama suaminya tidak ada di rumah.

setelah dibaca isinya. yang masing-masing kuras terdiri dari delapan lembar. FIB-UI. yaitu Hikayat Abdurrahman. Terkait dengan judul naskah.mungkin dapat dikatakan sebagai kolofon – yang memberikan informasi tentang nama pengarang dan judul naskah. 3 No. 8 Untuk diskusi tentang jenis-jenis kertas Eropa dan watermarknya dapat dibaca dalam makalah Fakhriati. Di beberapa halaman awal teks memang ditulis tentang kehidupan penggalakan Sumber-sumber Tertulis Nusantara. Ada kemungkinan bahwa salah satu lembar naskah ini telah hilang.dikatakan berasal dari Aceh Besar karena pengarangnya bernama Teungku Lam Ba‟it berasal dari Aceh Besar.1 Tahun 2012 59 . Naskah ini memiliki ilustrasi dan iluminasi dalam bentuk bunga sulur. Alas tulisnya adalah kertas Eropa dengan ciri bergaris tebal dan halus dengan bayang-bayang di antaranya. karena teks naskah ini bercerita lebih banyak dan lebih dominan tentang kisah Siti Hazanah dalam mengarungi kehidupannya di dunia. Sedangkan halamannya berjumlah 46 halaman dan setiap halaman terdiri dari 21 baris. Tulisan naskah berbentuk nastaklik dengan menggunakan tinta hitam untuk penulisan secara umum dan rubrikasi untuk penekanan pada kata-kata tertentu. 2011. Dari jenis kertasnya. Jumantara Vol. Naskah Siti Hazanah ini tidak memiliki kolofon di akhir teks.8 Naskah ini terdiri dari tiga kuras. ternyata naskah ini lebih layak diberi judul Kisah Siti Hazanah. Namun demikian pada halaman awal terdapat tulisan dalam bentuk pyramid -. 7 Sebutan nama orang berdasarkan nama tempat bisa bermakna tempat ia berasal atau kepopulerannya dalam berkarier. kemungkinan karena halamannya yang sudah hilang. gaya tulisannya terlihat agak berbeda dengan tulisan di teks utama. dapat diprediksi bahwa umur naskah ini berkisar antara abad ke-19M. Namun demikian tidak terlihat watermark dan countermark di atas garis-garis tersebut. kecuali kuras ketiga yang terdiri dari tujuh lembar. Namun demikian.7 Naskah Siti Hazanah berukuran 26x17 cm dan ukuran teks 24x16cm dengan jumlah baris 20 dan 21 pada tiap halaman.

Abdurrahman. Siti Hazanah sudah hidup sendirian dan hanya berteman dengan binatang di dalam hutan. Pada masa ini. Ringkasan Isi Teks naskah ini menceritakan tentang kehidupan Siti Hazanah yang sejak kecil berada dalam kesendirian dan kesepian setelah ditinggal wafat kedua orang tuanya. 2008). nama Ahmad Qusyasyi juga didapatkan di dalam naskah-naskah lain seperti Sarakata „surat raja-raja di Aceh‟. Nama tokoh Ahmad Qusyasyi menjadi populer di kalangan masyarakat Aceh sejak diketahui bahwa Tarekat Syattariyah merupakan tarekat yang paling populer di Aceh. (lihat Fakhriati. 3 No. Ia dipelihara oleh malaikat dengan berpakaian dedaunan.orang tua Siti Hazanah. Selanjutnya ia menghadapi berbagai macam rintangan dan tantangan selama ditinggalkan suaminya ke tanah suci (Mekkah). ia bertemu dengan seorang laki-laki. Waktu luangnya hanya digunakan untuk bertafakkur. Pidie. Mereka kemudian hidup bersama dalam kekurangan di tempat yang jauh dari jangkauan manusia. Siti Hazanah tumbuh dan berkembang menjadi seorang gadis. karena Teungku berkehendak pergi ke Mekkah. Siti Hazanah menyerahkan hidupnya untuk beribadah dan untuk suaminya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Ahmad Qusyasyi adalah tokoh yang populer bagi masyarakat Aceh.1 Tahun 2012 . Nanggroe Aceh Darussalam). yang bertemu dan kemudian menikah dengan isterinya. (lihat misalnya Sarakata uleebalang Cut Nyak Manfarijah yang berdomisili di Dayah Tanoh. Dalam kehidupan rumah tangganya. Setelah tumbuh besar. 60 Jumantara Vol. Mekkah. menambah pengetahuan agama. yaitu di dalam hutan. Sejak lahir. yaitu Teungku Ahmad Qusyasyi. Siti Hazanah menyetujui menikah dengannya dan hidup bersama dalam waktu yang tidak terlalu lama. Siti Hazanah juga menghormati suaminya dengan 9 Ahmad Qusyasyi adalah guru tarekat Syattariyah Abdurrauf al-Fansuri dari Arab. Teungku tersebut tertarik melihat tingkah laku Siti Hazanah sehingga ia ingin menikahinya. dan melayani suaminya. Sama seperti Siti Islam. Selain itu. ia menikah dengan Teungku Ahmad Qusyasyi9 dan hidup dalam rumah tangga yang mawaddah dan rahmah.

Tidak ada celah sedikit pun untuk orang lain bisa masuk untuk mengganggunya. Tanpa goyah sedikit pun dalam hati. Disebutkan dalam teks: Teungku Syekh neurah gaki Terjemahan: Setelah Teungku Syekh mencuci kakinya tuan Siti seumah lee reujang tuan Siti langsung menyembah di lututnya Sama seperti Siti Islam. ia kemudian mendapat pembelaan yang tidak diduga-duga. ia hanya mengatakan: Lon keubah gata ubak Allah Terjemahan: Saya titipkan kamu pada Allah saya akan kembali dalam waktu dekat lon jak langkah rijang keunoe Pada masa ditinggalkan suami. Ia harus menderita karena siksaan masyarakat sekitar akibat ulah saudara suaminya. ia mendapat sambutan hangat dan kasih sayang dari binatang-binatang. Ketika berjalan menelusuri hutan dalam kesendirian. 3 No.1 Tahun 2012 61 . Saudara dari pihak suaminya berusaha menggangu kehormatannya. Siti Hazanah mempertahankan dan memperjuangkan nama baik suami dan kehormatannya semaksimal mungkin. Ia kemudian mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya membela kebenaran dan Jumantara Vol.. Siti Hazanah juga ditinggal pergi oleh suaminya. namun suaminya tidak berpesan seperti pesan suami Siti Islam. Siti Hazanah mendapat cobaaan yang cukup berat. Ketika suami Siti Hazanah pergi ke Mekkah.mencium lutut suaminya ketika ia pulang dari bepergian. Karena keteguhan dan kesufiannya.

Seorang perempuan harus menjadikan suami sebagai guru dan imam dalam hidupnya. Bila tidak berlaku atau bersikap seperti di atas. 62 Jumantara Vol.1 Tahun 2012 . namun dia juga diperkenankan untuk menyisihkan waktu untuk kepentingan pribadinya dalam hal beribadah kepada Allah SWT. karena syurga berada di bawah telapak kaki suami. harus melayani suami dengan baik. terdapat beberapa perbedaan pesan yang dapat dipetik. Seorang perempuan harus mendahulukan kepentingan suami dari pada kepentingan orang tuanya. Dalam naskah Hikayat Siti Islam.menjaga kehormatan suaminya. pesan yang dapat dipetik adalah: 1) Seorang perempuan harus benar-benar tunduk dan patuh kepada suami. khususnya perempuan. kecuali pada hari Jum‟at dan bulan Ramadan. dalam kehidupan praktis yang dialami kedua perempuan tersebut. Meskipun demikian. 3 No. maka azab akan menimpanya di hari kiamat tanpa henti. pesan yang dapat diambil adalah: 1) Seorang makhluk Allah. Pesan-Pesan dalam Teks Dalam kedua teks yang terdapat dalam dua naskah di atas terdapat pesan bahwa hendaknya seorang perempuan dalam mengarungi rumah tangga dan menghadapi masyarakat sekeliling harus sesuai dengan ajaran Islam dan tuntunan Nabi. 2) 3) 4) 5) Sementara dalam naskah Siti Hazanah. Pengarang menekankan akan pentingnya seorang perempuan berperilaku sesuai dengan tuntunan ajaran Islam agar mendapatkan kebahagiaan ukhrawi dan disenangi oleh suami. Tugas seorang perempuan sepenuhnya melayani suami kapan pun dan dimana pun.

2) 3) 4) Seorang perempuan harus bisa berperilaku baik kepada kepada suami dan kepada siapa pun makhluk Allah yang ada di dunia. Siti Islam mendapatkan seorang suami yang kaya dan berpendidikan agama yang tinggi. dan sekaligus berbuat baik kepada orang lain. Seorang perempuan diharapkan dapat mencapai tujuan hidupnya yang utama. Ia sangat sayang kepada Siti Islam sebagai isteri yang sangat baik baginya. Siti Islam benar-benar taat kepada perintah suaminya. Siti Islam berada dalam lingkungan yang menganut budaya patrilineal. Seorang perempuan harus mampu menjaga kehormatan dirinya. meskipun berada dalam lingkungan yang tidak mendukung kepadanya. Siti Islam selalu menjunjung tinggi pesan-pesan suaminya. yaitu seorang isteri harus berada penuh di bawah naungan dan pengawasan suami. Jumantara Vol. hanya disebabkan belum ada izin suaminya untuk pergi ke rumah orang tuanya. meskipun ia harus menahan hatinya untuk tidak menjenguk orang tuanya yang sakit. yaitu mencapai tingkat yang paling tinggi dalam kesufian berupa makrifatullah. Ia menghormati dan melayani suaminya sebagaimana diajarkan Nabi. Isteri tidak dibenarkan keluar dari pantauan dan pengawasan suami sedikit pun. lingkungan Siti Islam sangat mendukung kehidupan dan perilaku Siti Islam yang telah dibentuk sebelumnya. Siti Islam harus mengalami kesedihan dan kehancuran hati karena tidak dapat bertemu dengan orangtuanya yang sedang sekarat. Perilaku Lingkungan Siti Islam dan Siti Hazanah Lingkungan Siti Islam yang tersebut dalam naskah pertama berbeda dengan lingkungan Siti Hazanah dalam naskah kedua. Ia memberikan peluang kepada Siti Islam untuk menjaga hartanya. Demikian juga dengan suaminya. terutama kepada orang tuanya. sehingga ia dapat menerapkan segala bentuk pengajaran dari Nabi yang didapatkannya sebelum menikah. 3 No.1 Tahun 2012 63 . Meskipun demikian.

Di dalam teks disebutkan: Meunyo tawoe saket umi Hana lôn tham saket umi Terjemahan: Bila engkau pulang untuk lihat ibu sakit Tidak saya larang pada sakit umi selama lôn bri wahe Intan geugrak pakri hai buleun trang selamanya saya izinkan pergi saja hai Bulan terang Ibu Siti Islam juga memberi dukungan penuh kepadanya agar selalu setia kepada suami.1 Tahun 2012 . Kondisi masyarakat luas lainnya yang berada di lingkungan Siti Islam juga sangat mendukung kehidupan dan perilaku Siti Islam dan suaminya. Suaminya memberitahu Siti Islam bahwa untuk berkunjung kepada orang tua. dikarenakan belum adanya izin suami. 64 Jumantara Vol. karena belum ada izin suaminya. Pelayanan yang sempurna kepada suami sangat ditekankan oleh orang tuanya. seluruh masyarakat dan rakyat yang ada di wilayah tempat tinggal Siti Islam dan suaminya membantu dan saling bahu.membahu mensukseskan acara tersebut. sehingga mereka pun dapat hidup dalam rumah tangga yang mawaddah dan rahmah. Karena itu. Berbeda dengan lingkungan Siti Islam. 3 No. Hal ini terjadi karena suami Siti Islam sendiri adalah raja yang berhasil memimpin umatnya. tidak menjadi larangannya. Siti Hazanah mendapat kesempatan untuk keluar rumah dan mempertahankan dirinya sebagai perempuan suci di hadapan masyarakat luas. Ia bahkan mampu menyendiri ke hutan untuk mencari ketenangan hidup dan mencapai tujuan kesufian tingkat terakhir.Hal ini dapat dilihat ketika ia mendengar keluhan Siti Islam tentang orang tuanya yang sedang sakit. ibunya tidak keberatan bila Siti Islam tidak menjenguknya. Ketika mereka berdua harus melaksanakan ritual atas meninggalnya orang tua Siti Islam. namun Siti Islam tidak berani keluar rumah. kapan dan di mana pun.

Isi naskah Hikayat Siti Islam diperuntukkan kepada Jumantara Vol. termasuk kebutuhan untuk beribadah. Di sisi lain.1 Tahun 2012 65 . ia pun dengan beraninya menjelekkan dan memfitnah Siti Hazanah di hadapan masyarakat luas. yaitu makrifatullah. Di satu sisi. Segala fitnah dan penyiksaan dari masyarakat luas ditimpakan kepada Siti Hazanah. Lingkungan di hutan yang terdiri dari berbagai macam binatang sangat sayang kepada Siti Hazanah. Adik suaminya berani mengganggu Siti Hazanah yang sedang sendirian karena ditinggal suami untuk pergi haji. Ia memberikan kebutuhan isterinya dalam berbagai sisi. dan masyarakat.Meskipun demikian. Tanggapan masyarakat menjadi keliru terhadap Siti Hazanah. sehingga Siti Hazanah mendapatkan ketenangan hidup. keluarga. suami Siti Hazanah sangat sayang kepada isterinya. 3 No. Karena tidak berhasil untuk mengotori kehormatan Siti Hazanah. Siti Hazanah menerimanya dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Lifestyle Perempuan Aceh Dan Isi Teks Dua naskah di atas memberikan gambaran dan pengajaran kepada perempuan Aceh dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Ia dapat menjalankan ibadah dengan baik sampai akhirnya ia mendapatkan derajat paling tinggi dalam kesufiannya. terutama suami mereka. Siti Hazanah hidup dalam lingkungan yang kurang menguntungkan bagi dirinya. keluarga suaminya tidak menghargai Siti Hazanah sebagai bagian dari keluarganya yang perlu dilindungi dan dijaga kehormatannya. namun sebagai manusia ia memiliki keterbatasan. Siti Hazanah akhirnya memutuskan untuk keluar dari kampung tersebut dan pergi menyendiri di hutan serta berpisah dengan suaminya. Naskah ini juga menunjukkan bahwa salah satu ciri perempuan Aceh adalah patuh kepada ajaran agama dan tangguh menghadapi segala cobaan dan rintangan. Mereka bahu membahu memberi bantuan dan perlindungan kepada Siti Hazanah.

ketika menjumpai guru pulang dari Mekkah. Dalam kehidupan sehari-hari. seperti kitab fikih terkait dengan hal yang layak dan tidak layak dilakukan. dan salah satu cara penghormatan adalah dengan mencium lututnya. hal seperti yang diungkapkan dalam naskah di atas sebagian besar telah diterapkan oleh perempuan Aceh. perempuan harus secara total berada di bawah penguasaan suami. serupa dengan seorang guru. dan hal yang dianjurkan dan tidak dianjurkan agama dalam berumah tangga dan bermasyarakat. agar dapat dicontoh oleh perempuan Aceh pada umumnya. pengajaran seperti yang terdapat dalam hikayat tersebut dijumpai dalam bahan ajar untuk santri. Di dayah Darussaadah dan Darussalam Teupin Raya. mereka juga membaca kitab-kitab lain. tradisi ini masih berlaku hingga sekarang. yaitu yang sesuai dengan ajaran Nabi. Bacaan-bacaan dari berbagai kitab yang disediakan di dayah menjadi tauladan dan pedoman mereka dalam bergerak dan bertindak di dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi tersebut juga diberlakukan kepada orang yang patut dihormati. seperti hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Cara kehidupan sehari-hari yang harus dipraktikkan dalam kehidupan berumah tangga. Di dayah. misalnya guru mereka. suami adalah orang yang patut dihormati. terutama pada masyarakat tradisional yang tinggal di desa dan dayah. Tradisi yang masih sangat jelas dilihat di Aceh adalah tradisi mencium lutut ketika suami pulang dan datang dari jauh atau pada hari-hari tertentu. 3 No. 66 Jumantara Vol. misalnya. yang belum terkontaminasi oleh budaya luar. Para perempuan/isteri pada umumnya tunduk dan patuh kepada suaminya tanpa mengharap imbalan apa pun selain rida dari Tuhannya.1 Tahun 2012 . Demikian juga. Pada intinya. Tidak hanya itu. Pidie. terutama dengan suami diuraikan secara detail. Setiap santri dan masyarakat kampung lain mencium lutut gurunya ketika bertemu untuk belajar dan ketika selesai belajar.perempuan Aceh agar mereka dapat membaca dan mengikuti ajaran dan perilaku serta konsep yang wajar menurut Islam. Karena itu.

Ketangguhan mereka dalam menghadapi dunia yang tidak sejalan dengan kepribadian. berani. Contoh lain tokoh-tokoh perempuan Aceh yang berani berada di garis depan dalam berjuang melawan penjajah Belanda yang ingin meruntuhkan agama dan negara adalah Cut Nyak Dhien. dan Aceh Besar. tentang seorang perempuan di Bireun yang telah berhasil mendorong suami dan anak-anaknya untuk menjadi raja. Putroe Manyang Seuleudong atau ada yang menyebutnya dengan Dewi Ratna Keumala. agama dan negara mereka telah diabadikan dalam sejarah. Selanjutnya dikatakan kerajaan tersebut menjadi cikal bakal lahirnya Kerajaan Islam lain di wilayah Perlak. Gerak dan langkahnya yang tiada mengenal lelah telah mewarnai sejarah Aceh. 2008:14).10 Ketangguhan seorang perempuan dalam berjuang mempertahankan agama dan kehormatan dirinya seperti yang diceritakan dalam naskah kedua juga terlihat dalam jati diri perempuan Aceh.atjehcyber.1 Tahun 2012 67 . Malahayati. Perempuan dari suku Aceh dikenal dengan sifat dan wataknya yang agamis. maka hal yang pertama sekali dilakukan isteri adalah mencium lutut suami sebagai tanda penghormatan awal kepada suami. Sebagaimana contoh yang diuraikan dalam sejarah. yang cantik rupawan serta cerdas dan berwibawa telah mendukung karir dan perjuangan suaminya sehingga berhasil mengembangkan sebuah Kerajaan Islam yang berwibawa di wilayah tersebut. Anak Meurah Jeumpa. Lihat http://www.Di desa-desa yang dekat dengan dayah. dan para inong balee lainnya. Pedir dan Aceh Darussalam11. Aceh Utara.html Jumantara Vol. (Haslinda. dan tangguh. Cut Meutia. baik dalam memperjuangkan keluarganya maupun agama dan negara. 3 No. Setelah selesai ijab qabul. Dapat dikatakan bahwa keberhasilan Aceh dalam sejarah sebagiannya adalah karena campur tangan perempuan Aceh. Pasai. seorang isteri diwajibkan mencium lutut suami pertama sekali adalah ketika berlangsungnya acara pernikahan. namun dalam setiap tindakan yang mereka 10 11 Hasil observasi di wilayah Pidie.tk/2011/04/putroe-jeumpa-manyang-seuleudongmaha.

adalah contoh perempuan Aceh lainnya yang memiliki semangat dan jiwa yang luhur untuk memperjuangkan agama dan negaranya. 2004:31-44).lakukan telah mendapatkan izin sebelumnya dari suami mereka. Di dalam rumah tangga. Kehidupan mereka tetap berada di bawah penguasaan suami. ia bergerak mengumpulkan perempuan-perempuan lain untuk berjuang melawan Belanda. karena pandangan masyarakat umum menjadi tidak bagus bila ia sendirian tanpa ada laki-laki yang mendampinginya pergi keluar. Ia pergi berdampingan membantu suaminya terjun ke dalam medan perang. (Ismail. Cut Meutia. ia tidak bisa dengan leluasa berjuang di tengah-tengah masyarakat banyak. Aduhai do ku do da idi (Aduhai do ku do da idi) Meurah Pati ateuh awan (Burung Merpati di atas awan) Beuridjang rajeuk Banta Saidi (Cepat Besar Anakku Sayang) 68 Jumantara Vol. 3 No. namun masalah timbul lagi. Kali ini suaminya meninggal di tanah suci. Akhirnya ia memutuskan untuk menikah lagi. Malahayati berjuang melawan penjajah melanjutkan perjuangan suaminya yang telah mendahuluinya di laut. suaminya kemudian meninggal lagi. apalagi untuk beribadah. Meskipun demikian. Dalam lirik lagu yang disenandungkan bagi anak-anak balita. Cut Nyak Dhien melakukan perjuangan terhadap Belanda atas izin suaminya. Akhirnya ia menikah untuk ketiga kalinya. pada masa perjuangan melawan Belanda. Setelah suaminya meninggal. apalagi untuk berjuang. Teungku Fakinah dari Lam Krak. atas izin suaminya.1 Tahun 2012 . yaitu tidak adanya suami sebagai muhrim untuk pergi jauh. Ia kembali berdiam di dayah dan mengajar mengaji para santrinya. Ia lalu berniat ingin melaksanakan ibadah haji. Akan tetapi dalam berjuang. Aceh Besar (1856 .1933M). Pada mulanya ia mendukung penuh suaminya untuk berjuang melawan Belanda. tercermin peran mereka. bergerak melawan penjajah. perempuan Aceh mampu berperan sebagai isteri yang sabar menanti suaminya pergi berperang dan dengan setia menjaga anak-anaknya.

Perempuan Aceh sangat taat kepada agama. Perempuan berbeda dengan laki-laki dalam hal kekuatan fisik sehingga ia perlu mendapatkan perlindungan dari laki-laki.1 Tahun 2012 69 . 2004:114-122). Kemudian perempuan mendapatkan tempat lebih banyak di rumah untuk menjadi sebagai ibu dan menjaga keluarga dan harta suaminya. setidaknya ada tiga faktor yang membentuk gaya hidup perempuan Aceh seperti tersebut di atas. yaitu pendidikan menyantri di pesantren. Ajaran Islam telah mengatur hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki sesuai dengan fungsinya masing-masing. 2002). Siapno mengatakan bahwa kebebasan perempuan Aceh tidak sepenuhnya berlaku. Tidak ada pilihan lain. tetap berada di bawah pengontrolan suaminya. Kejayaan menguasai negara juga tidak sepenuhnya berada di tangan perempuan.Djak Prang Sabi Bela Agama (Pergi ke Medan Perang Membela Agama)12 Karena itu dapat dikatakan bahwa setiap aktivitas perempuan Aceh. karena di luar dia harus dijaga oleh suami sebagai muhrimnya. meskipun dia berada di luar rumah untuk kepentingan umat dan agamanya. Pertama. Selain dari itu. Terkadang para suami memanfaatkan kesempatan ini dengan 12 Lihat http://www. 338-339). 3 No. Selanjutnya perempuan adalah makhluk yang dipimpin oleh laki-laki karena adanya ayat yang mengatakan bahwa laki-laki sebagai qawwam.html Aceh/12981-Posisi-Perempuan-Dalam-Politik- Jumantara Vol. (Siapno. Pengaruh pendidikan ini telah membuat perempuan Aceh secara mutlak tunduk dan patuh kepada orang tua sebelum menikah dan kepada suami setelah menikah. (Shihab: 2005. karena didikan orang tua untuk menyantri. Meskipun ayat tersebut diperuntukkan kepada laki-laki yang mencari nafkah. Adalah kewajiban orang tua untuk memasukkan anak perempuannya ke pendidikan agama. Mereka tetap berada di bawah kekuasaan laki-laki. pengaruh didikan orang tua yang sejak kecil menanamkan pendidikan Aagama dan cara bergaul Islami.Gender Melayu-Aceh. (Muslikhati.

terbentuk pola pikir perempuan Aceh untuk mempertahankan agama lebih dari segalanya. Akhirnya para isteri hanya bisa pasrah dan kembali kepada Tuhan yang Maha Esa. di Matang Kuli. 1979: 26-27). Hal ini tersirat maknanya bahwa seorang isteri tempatnya di rumah. idiom untuk perempuan sebagi isteri adalah njang po reumoh (yang memiliki rumah) (Siegel. Dikatakan bahwa pada waktu malam hari. Pada masa perjuangan melawan Belanda.memperlakukan isterinya sekehendak hati. Kedua. Belanda. Selanjutnya. Hal ini tetap berlangsung sampai dewasa ini. Melalui dayah juga. tepatnya pada tahun 1919M. 3 No. dan kemudian setelah kemerdekaan konflik telah terjadi berkali-kali di Aceh. dan sebutan umum untuk isteri oleh suaminya menjadi peureumoh. juga mampu berperan di luar rumah. karena kondisi politik dan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sebagian besar tertumpu kepada mereka. 1969:51) di dalam rumah tangganya. pengaruh pendidikan tradisional yang agamis yang diperoleh dalam menyantri di dayah selama bertahun-tahun. ia bermimpi bertemu dengan Nabi. berfungsi melayani suami dan menjadi ibu untuk anak-anaknya sebagai hal yang mutlak. Ketiga. kadang. Tempat pengaduannya hanyalah Tuhan yang Maha Esa.1 Tahun 2012 . Perempuan Aceh hidup dalam sejarah perjuangan yang cukup panjang. Dalam kehidupan sehari-hari. mencari 70 Jumantara Vol. kemudian. lingkungan yang mendidik mereka untuk berjiwa besar dan tangguh. Reaksi Sosial Terhadap Perilaku Perempuan Di Aceh Model kehidupan yang dipraktikkan oleh perempuan Aceh. dan Nabi memerintahkan untuk membunuh kafir yang mengganggu agama dan negaranya. dimanfaatkan oleh lawan jenisnya untuk mengambil berbagai keuntungan. seorang santri perempuan berani melakukan perjuangan untuk kepentingan agamanya dengan membunuh kontroler Belanda. mulai dari perjuangan menghadapi Portugis. Jepang. Perempuan sepertinya tidak kuasa untuk melawannya. isteri. Aceh Utara. (Kern.

yaitu. Di dalam teks disebutkan: Oh neupajôh bu jirah jaroe Ketika makan suami dia [Siti Islam] mencuci tangan suaminya Mungkin aktivitas utama perempuan ada di sektor domestik sesuai dengan fitrahnya sebagai perempuan yang berbeda dengan laki-laki. (Reid. Bahkan kadang lebih tragis lagi. terutama suaminya.. Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Baihaqi.1 Tahun 2012 71 . (HR alBaihaqi).. Mereka diizinkan para suami mereka untuk keluar rumah mencari nafkah. 3 No. Pergilah kepada perempuan mana saja dan beritahukanlah mereka yang ada di belakangmu.nafkah untuk kebutuhan keluarganya.. sampai pada tahap mencuci tangan suami bila ia hendak makan. dipaksa memeras tenaganya lahir dan batin dalam menanggung beban keluarga. Tidak jarang perempuan Aceh diperlakukan buruk oleh para lelaki.. perempuan Aceh telah menunjukkan kemampuan untuk melakukan dua fungsi tersebut. sebagaimana dipaparkan dalam naskah bahwa Siti Islamdengan segala sukarelanya melayani suaminya hingga dalam bentuk yang sekecil-kecilnya. Pada abad 16-17M.13 Tekait dengan penyalahgunaan kemampuan yang dimiliki 13 Untuk isi hadis secara keseluruhan dan cerita lebih rinci lihat Muslikhati. 2004:127-129. yaitu bahwa seorang isteri kadang harus menyuapi atau memasukkan makanan ke dalam mulut sang suami. bahwa kebaikan salah seorang di antara kalian (para perempuan) dalam memperlakukan suaminya. Nabi memberikan jawaban kepada pertanyaan yang diajukan oleh seorang perempuan yang mewakili perempuan lain. Jumantara Vol. serta tidak luput juga melayani suami yang tinggal menunggu yang sudah jadi dan masak. Mungkin menjadi wajar bila isteri melayani suami hanya di rumah saja. Penyalahgunaan kemampuan perempuan pun muncul. mencari keridaan suaminya. membesarkan anak-anaknya. tidak untuk mencari nafkah di luar. dan mengikuti keinginannya adalah mengalahkan semua itu. 2006).

72 Jumantara Vol. maka para perempuan bertugas menanam padi sementara suami duduk di atas rangkang menonton isteri bekerja. keluarga dan saudara pihak suami dalam menyiapkan segala kebutuhan rumah tangga dan dapat mencari nafkah di luar15. Lihat karya Saifuddin Dzuhri. Eksploitasi terhadap perempuan mungkin tidak hanya ditinjau dari sisi keinginan dan kemauan para laki-laki saja. tidak hanya berlaku pada perempuan Aceh. Isteri Pak Pande adalah orang yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarganya. di desa-desa masih ditemukan lelaki beristeri yang duduk berjam-jam di kedai kopi menghabiskan waktu untuk menunggu si isteri pulang kerja dan selesai memasak. 2002:91-101). Perempuan yang baru menikah sering kali disendaguraukan oleh keluarga pihak suami bahwa dia harus tunduk dan patuh dan melayani suami serta keluarga karena sudah dibeli. 15 Hasil observasi dan wawancara dengan perempuan-perempuan asal Batak. yaitu masa sebelum datang Islam. Budaya Aceh sangat mungkin masih diwarnai sisa pengaruh budaya Hindu14 meskipun sebenarnya ajaran Islam lebih mendominasi. „Peusijuek. akan tetapi juga pengaruh budaya masa lampau. Cerita lisan juga didapatkan dari rakyat Aceh tentang kisah kehidupan keluarga Pak Pande. seperti Batak. sementara Pak Pande sendiri bermalasmalasan menunggu dari hasil yang dibawa oleh isterinya untuk kebutuhan rumah tangganya. meskipun sudah dimodifikasikan dengan ajaran Islam. yang masih tersisa dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Indonesia. ibarat dagangan yang 14 Pengaruh kental dari budaya Hindu di Aceh masih dapat dilihat dalam cara pelaksaaan ritual peusijuek (tepung tawar). Kemungkinan besar hal ini didasarkan kepada tradisi pernikahan yang berlaku di Batak. dewasa ini. akan tetapi di wilayah lain juga. Di Batak. 23 – 24 February 2009. Tradisi seperti di atas. Bila mereka pergi ke sawah.perempuan. seorang isteri dikatakan baik bila ia dapat menunjukkan keberhasilan mengurus suami. Banda Aceh. Sebuah Tradisi Ritual Sosial Masyarakat Pasee dalam Perpektif Tradisionalis dan Reformis‟ artikel dipresentasikan pada International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. (Siapno. 3 No.1 Tahun 2012 .

meskipun tidak separah pada suku Batak dan Bali yang Jumantara Vol. isteri hanya melahirkan saja. Anak adalah milik suami. Kehidupan mereka diwarnai sifat patrilineal. 2006:251-253). Kata beli dalam bahasa Batak disebut dengan boli atau disebut juga dengan tuhor. dapat dikatakan bahwa bias gender masih sangat kentara untuk suku Aceh. maka ayahnya dapat menceraikan anaknya. 1993: 270-271).sudah dibeli. dan anaknya.1 Tahun 2012 73 . kemudian setelah datang Islam. sementara perempuan yang tinggal di perkotaan. berubah maknanya menjadi mahar yang diserahkan kepada pihak calon isteri. Seperti dalam hal mencari jodoh anaknya si ibu tidak punya hak sama sekali untuk menjodohkan anaknya. gaya hidupnya sudah dipengaruhi oleh gaya hidup „modern‟ yang datang dari berbagai budaya di dunia. Hal ini terjadi karena pengaruh sistem budaya lokal dan kemudian dipadukan dengan budaya dan ajaran Islam. (Parsadaan Marga Harahap. yaitu mereka berada pada posisi di bawah kekuasaan laki-laki. Karena itu. Dia tidak memiliki hak sama sekali untuk mengatur dan membuat keputusan dalam rumah tangga. yang menandakan bahwa perempuan tersebut sudah sah menjadi isteri suaminya. si isteri hanya berfungsi sebagai pelayan semata untuk suami. terutama mereka yang tinggal di pedesaan terpencil dan jauh dari pengaruh budaya luar. Dalam rumah tangga. Korelasi positif ditemukan dalam sikap dan tingkah laku serta gaya hidup perempuan. keluarga. Setelah diberikan tukon (mahar) perempuan dianggap seperti barang yang sudah laku dan dia seratus persen berada di bawah kekuasaan suami dan keluarganya. dan bila juga terjadi. Tradisi seperti ini memiliki kemiripan dengan tradisi yang berlaku pada masa Majapahit. Penutup Kisah perempuan dalam dua manuskrip Aceh yang menjadi fokus dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai refleksi gaya hidup perempuan pada umumnya di Aceh. baik dalam sejarah maupun dalam kehidupan sekarang ini pada masyarakat pedesaan. (Muljana. 3 No. Boli dan tuhor ini.

Makalah International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. Jogjakarta: Pustaka Sufi. Kautsar dan Oman Fathurrahman (2002). J. diedit oleh Ali Munhanif. Nurjannah (2004). Indonesia. Ismail. “Feminin Sofianik (Perempuan Bijak) dalam Karya Ibn Arabi dan Rumi”. Jakarta: Balitbang dan Diklat Departemen Agama RI.A. Karena itu. Fakhriati (2008). 3 No. France in the XVII and XVIII Centuries and their Interconnection. Saifuddin (2009). Watermarks in Paper in Holland. Jakarta: Gramedia. karena diketahui bahwa Aceh adalah salah satu gudang manuskrip Nusantara. Daftar Pustaka Austin. Azhari Noer. England. dalam Warisan Sufi. W. dalam Ensiklopedi Pemikiran 74 Jumantara Vol. “PriaPerempuan sebagai Korespondensi Kosmis: Perempuan dalam Literatur Tasawuf”. diedit oleh Seyyed Hossein Nasr dkk.1 Tahun 2012 .masih memperlakukan perempuan sebagai manusia kedua setelah laki-laki dan membebani mereka dengan pekerjaan di dalam dan di luar rumah tangga.. “Peusijuek. 23 – 24 February 2009. Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh melalui Naskah. diterjemahkan oleh Ade Alimah dkk. R. Selain dua manuskrip di atas. Amsterdam: Enno Hertzberger & Co. (2003). penelitian untuk kajian perempuan masih harus terus dilakukan untuk mengungkapkan budaya-budaya pada masa lampau yang menjadi bagian hidup perempuan. “Teungku Fakinah: Profil Ulama dan Pejuang Perempuan Aceh”. Sebuah Tradisi Ritual Sosial Masyarakat Pasee dalam Perpektif Tradisionalis dan Reformis”. Churchill. masih banyak manuskrip Aceh lainnya yang menceritakan tentang hal yang berkaitan dengan perempuan di Aceh. Dhuhri. dalam Mutiara Terpendam: Perempuan dalam Literatur Islam Klasik. W. Banda Aceh. (1935).

(2000). Syahrul. Gender. Special Issue: Asian Studies in Honour of Professor Charles Boxer. 22. By Aboe Bakar. ---------------------. Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Hasil Penyelidikan tentang Sebab Musabab terjadinya Pembunuhan. Paradigma baru Teologi Perempuan. [s.) (2006). Quraish (2005). 3 No. Muslikhati. Siegel. Horja Adat Dalihan Natolu. Bandung: Grafiti. IAIN Ar-Raniry Press. Jakarta: Fikahati Aneska. Parsadaan Marga Harahap Dohot Anak Boruna (1993).3. Siti (2004). Yogyakarta: LKiS. Reid. Anthony (eds. Perempuan Aceh dalam litas sejarah Abad VIII – XXI. Modern Asian Studies Vol.n]: Pelita Hidup Insani. Nationalism and the State in Aceh: The Paradox of Power. Amsterdam: The Paper Publications Society.Ulama Aceh. (1979). Jakarta: Lentera Hati. Berkeley: University of California Press. Jumantara Vol. Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan dalam Timbangan Islam. Kern. Edward (1986). Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Muljana. Slamet (2006). Umar. Nasaruddin (2000).1 Tahun 2012 75 . Co-optation and Resitance. No. Heawood. Anthony (1988). hlm. Shihab. Haslinda (2008). Reid. Kodrat Perempuan dalam Islam. Singapore: Singapore University Press. “Female Roles in Pre-Colonial Southeast Asia”. M. Verandah of Violence: the Background to the Aceh Problem. 629-645. R. The Rope of God. Jacqueline Aquino (2002). Trans. Siapno. London: Routledge-Curzon. Jakarta: Gema Insani. James T (1969). Islam. Jakarta: Fikihati Aneska. Perempuan. A. Watermark: Malay of the 17th and 18th centuries.

atjehcyber.html.Gender Aceh/12981-Posisi-Perempuan-DalamPolitik-Melayu-Aceh. http://www. 3 No.1 Tahun 2012 .html.tk/2011/04/putroe-jeumpa-manyangseuleudong-maha.Situs Web: http://www. 76 Jumantara Vol.

Kedua. Bisa dihubungi melalui surat elektronik. atepkurnia@yahoo. dan waktu penulisan. pertama-tama saya menyajikan tabel yang berisi kode. Kolofon. mencakup identitas penulis atau penyalin.com. yang diterjemahkan oleh Saleh Danasmita. saya melakukan analisis atas penulis-penyalin. Jumantara Vol. dan Sanggar Sastra Kampus (Sasaka) UIN Sunan Gunung Jati. Sebagai titik pijak saya menggunakan penelusuran Munawwar Holil dan Aditia Gunawan (2010) atas NSK koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Untuk menganalisis identitas penulis-penyalin. judul. tempat. Bergiat di Rumah Baca Buku Sunda. serta tempat dan waktu penulisan NSK. nama penulis-penyalin. dan waktu penulisan NSK. dkk (1987:72) sebagai “ditulis di jalan”. dengan pertimbangan bahwa di Perpustakaan Nasional tersimpan NSK dalam jumlah terbesar. di samping yang disimpan oleh masyarakat. tempat. Kata Kunci: Naskah Sunda Kuna.Abstrak Tulisan ini bermaksud memetakan hal-hal yang berkaitan dengan kolofon Naskah Sunda Kuna (NSK). 16 Kata-kata ini bisa ditemukan pada baris-baris akhir Kropak 408 (Sewaka Darma). tempat.1 Tahun 2012 77 . *) Peneliti di Pusat Studi Sunda (PSS). dan waktu penulisan naskah. 3 No.

nama penulis-penyalin. termasuk di dalamnya. pertama-tama saya menyajikan tabel yang berisi kode. serta tempat dan waktu penulisan NSK. transkripsi.Pendahuluan Menurut hasil rekatalogisasi Holil dan Gunawan (2010). dan terjemahan NSK yang selama ini telah dikerjakan para filolog dan peneliti NSK. bahan-bahan bacaan mengenai perikehidupan kegiatan literasi di Jawa Tengah dan Timur. saya melakukan analisis atas penulispenyalin. untuk keperluan tulisan ini penelusuran keduanya sangat membantu. kedua penulis itu juga melampirkan pemerian NSK yang ada di Perpusnas RI. karena kedua penulis itu juga menyeertakan manggala atau awal teks NSK dan kalimatkalimat yang ada di akhir teksnya. transliterasi. Perpustakaan Nasional mengoleksi 63 Naskah Sunda Kuna (NSK).1 Tahun 2012 . dan waktu penulisan. tempat. judul. dan waktu penulisan NSK. Bali. yang pada gilirannya ditambahkan pada tabel yang telah dibuat. Selain itu. dan waktu penulisan NSK sebagaimana yang saya baca pada tulisan Munawwar Holil dan Aditia Gunawan serta bahan-bahan dari bacaan lainnya. Selasa Manis 78 Jumantara Vol. sejauh yang saya baca. dan India. Oleh karena itu. Saya juga menggunakan berbagai sumber bacaan untuk menambah luas pemahaman. 3 No. juga digunakan sebagai perbandingan untuk membaca identitas penulis-penyalin. Di samping menerakan jumlah NSK. Tabel Kolofon Naskah Sunda Kuna Koleksi Perpustakaan Nasional RI No 1 Kode 1**Peti 85 Judul Sanghyang Siksa Kandang Karesian 2 408 Peti Kawih Buyut Ni Pertapaan Ni Teja Puru Penulis Tempat Nusakrata? Waktu Bulan ke10. Untuk menganalisis identitas penulis-penyalin. Kedua. Dari lampiran tersebut dapat diketahui ada beberapa puluh NSK yang mengandung kolofon di akhir teksnya. tempat. tempat.

1 Tahun 2012 79 . Larang Sri Manganti 6 420 Peti 15 Kawih Paningkes Kai Raga Sutanangtung 7 423 Peti 15 Carita Purnawijaya Kai Raga Gn. Jedang bulan ke-4 11 622 Peti 88 Warugan Lemah Rabu Manis 12 623 Peti 16 Bimaswarga/Bi maleupas Euncu nu Ngahérang Gn. Larang Sri Manganti 4 411 Peti 15 Ratu Pakuan 5 416 Peti 15 Carita Purnawijaya Kai Raga Gn. bulan ke-8 Jumantara Vol.16 Panyaraman Dawit Bacana. Kuta Wawatan. Cikuray bulan ke-1 13 625 Peti 88 Sri Ajnyana Mandala Betung Pamaringinan. 3 No. Gn. Cisanti Bulan ke-8 14 626 Peti Sanghyang Buyut Gn. Gn.Cikuray. Cikuray 10 621 Peti 15 Sanghyang Sasana Maha Guru Desa Mahapawitra. Larang Sela 8 424 Peti 15 Kawih Panyaraman 9 610 Peti 15 Pitutur ning Jalma cucu Sang Sida. Larang Sri Manganti Gn. buyut Téjanagara Gn. Kumbang 3 410 Peti 15 Carita Ratu Pakuan Gn. Larang Sri Manganti Gn.

1357 Ś (± 1435 M). Gn.1 Tahun 2012 .69 Swawar Cinta Téjanagara Hulukumbang Batuwangi 15 628 Peti 16 Siksa Guru Lurah Kamulan? 16 630 Peti 16 Sanghyang Siksa Kandang Karesian bulan ke3. 1440 Saka (1518 M) 17 632b Peti 16 Kaluputan Sanghyang Darma Hulu Kumbang Batu Wangi Desa Sunya bulan ke10 18 633 Peti 16 Siksa Guru 19 634 Peti 16 Sanghyang Hayu Désa Mahapwité. bulan ke-7. 80 Jumantara Vol. Tajak Barat 22 638 Peti 16 Sanghyang Hayu Argasela. Cupu dimulai Selasa Kliwon. Talagacandana . 3 No. Giri Wangsa 1445 Ś (± 1523 M) 20 636 Peti 16 Sanghyang Hayu Sang Bujangga Resi Laksa Giri Sunya 21 637 Peti 16 Sanghyang Hayu Désa Mahapawita. Tajak Barat. selesai hari pon bulan ke-9.

Buyut Tejanagara. sementara penulis 17 Kata-kata ini muncul pada baris-bari menjelang akhir NSK Kropak 410 (Carita Ratu Pakuan). kita berkenalan dengan tujuh nama penulispenyalin NSK.23 641 Peti 16 Arjunawiwāha sang Guguron? Sanghyang Mandala Katyagan di Gugur 1256 Ś (1334 M).1 Tahun 2012 81 . yakni Buyut Ni Dawit. Cucu Sang Sida/Buyut Tejanagara. Sang Bujangga Resi Laksa. Ketujuh nama di atas. 3 No. Darsa (2007:217) sebagai “hasil belajar menulis”. Kai Raga. Mandala Puntang 26 1097 Peti 69 Carita Jati Mula Sagara Wisésa 27 KBG 75 Wirid Kai Raga Jum’at Kliwon. Hulu Alas Sunya. Jumantara Vol. Penulis perempuan diwakili Buyut Ni Dawit. Euncu nu Ngaherang. dan Sang Guguron. yang diterjemahkan oleh Undang A. 24 642 Peti 88 Siksa Guru Desa Mahapawitra Tahun Saka hlaŕ twa ya wu? 25 1095 Peti 69 Langgeng Jati Gn. Bulan Muharam “Beunang Diajar Nulis17” Dari tabel di atas. Ada penulis perempuan dan ada juga laki-laki. Jati Sunya. dengan jelas menunjukkan jenis kelamin berbeda.

laki-laki diwakili Kai Raga dan Sang Bujangga Resi Laksa. Téka béka mulung lanceuk. ada baiknya dilihat sumber lain yang terkait dengan hal tersebut. sebab ia bertapa di Gunung Kumbang di pertapaan Ni Teja Puru Bancana. NSK Bujangga Manik. misalnya. na rua mamarayaeun. 3 No. Mengenai Buyut Ni Dawit. 18 Datang seorang pertapa perempuan. Saleh Danasasmita. Menurut Saleh Danasasmita. Pada halaman 39 iapun asyik mengisahkan sebuah gisa (lesung) dengan istilah-istilah yang khas untuk wanita seperti “dyangiran”. Selengkapnya Danasasmita menyatakan: Bila kata “buyut” berarti cicit. Sedangkan Cucu Sang Sida/buyut Téjanagara. iapun paham benar kelengkapan pakaian bidadari yang tentu dikhayalkannya dari pakaian wanita bangsawan dalam zamannya. carékna: „Kaka lanceuking. (1987: 1) 82 Jumantara Vol.1 Tahun 2012 . Ada petunjuk bahwa pengarangnya wanita. bukan gelar kehormatan untuk pertapa ulung. rupanya ingin menjalin persaudaraan. spk. Pada baris ke-850 hingga 868 naskah itu. Untuk memperluas bahasan mengenai keterlibatan perempuan dalam kegiatan baca-tulis dalam NSK. katanya: „Kakandaku. dan Sang Guguron belum dapat dipastikan jenis kelaminnya. Euncu nu Ngahérang. dapat kita jadikan salah satu rujukan. Di samping itu. Buyut Téjanagara. Hingga terus-terang menganggap kakak. digambarkan Bujangga Manik “digoda” oleh rahib perempuan. Buyut Ni Dawit adalah seorang wanita. tentu penyusunnya adalah cicit Ni Dawit tanpa diketahui siapa namanya. dan “dipesekkan”. ada keterangan menarik mengapa ia diasumsikan sebagai perempuan. dkk18. “dikasayan”. Inilah gambarannya: 850 Datang tiagi (wa)don.

mu(ng)ku burung éta seungeut.1 Tahun 2012 83 . Carék di na apus téa: Menurut kitab itu: 865 “Kadiangganing ring geni.‟ sayang sekali akan ketampananmu. „Balinese Palm-Leaf Manuscripts‟ dalam BKI 149 No. rusuh ku na panga/wakan. Teeuw. 3 (1993: 438-473) Jumantara Vol. but data in texts from the nineteenth century are the most abundant. 855 haup aing ebon-ebon. Tiga Pesona Sunda Kuna (2009: 298-299).Rakaki Bujangga Manik. H. jika berdekatan dengan ijuk.‟ begitulah antara laki-laki dengan perempuan19. sudah pasti terjadi kebakaran. Ngaran(n)a na Siksaguru. “Bagaikan kobaran api. Yang berjudul Siksaguru.” Di samping Bujangga Manik. lamun padeukeut deung eu(n)juk. Noorduyn & A. Hinzler perihal naskah-naskah lontar di Bali20 bisa juga dijadikan rujukan. 19 20 J. daripada sulit-sulit memikirkan diri sendiri. kitu lanang deungeun wadon”. Hinzler (1993: 464) menyatakan: There was no caste or sex restriction on learning to write. kemarilah. Bawaing apus sata(m)bi. Kubawa kitab selengkapnya. Literary sources show this as early as the sixteenth century. manan hésé ku mamanéh.‟ 860 Carékna Bujan(ga) Manik: Bujangga Manik berkata: „Ku ngaing dirarasakeun. aku ini rahib perempuan. Ketika membahas para penulis atau penyalin naskah (scribes). héman ku na karuaan. aku calon biarawati. Yang mulia Bujangga Manik. Hinzler. „Biarlah kupertimbangkan dahulu.I. /16r/ repot karena penampilan badan. 3 No. References to males and females being able to read and write are to be found in literary texts as well as in the colophons of manuscripts.R. tulisan H. aing na pitiagieun.

diterangkan pula tentang persiapan dan pelaksanaan kegiatan peribadatan. Demikian pula dengan NSK L 423 yang juga ditulis oleh Kai Raga. Hal tersebut mengindikasikan. misalnya NSK Kropak 420 yang ditulis di atas lontar. bahwa Kai Raga melintasi zaman yang sangat panjang. Di dalamnya. berbahasa Sunda kuna. Selanjutnya. Sebagaimana kita ketahui. terutama setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit. sekiranya tradisi menulis dan membaca naskah masih hidup di wilayah yang bersangkutan. naskah kertas daluang. 3 No. 84 Jumantara Vol. Menurut Holil dan Gunawan (2010: 146). dan Jawa Barat.Dari uraian Hinzler. Bisa jadi nama itu adalah nama gelaran. beraksara Sunda Kuna dan Cacarakan. maka hal tersebut pun agaknya tidak akan jauh berbeda. tradisi menulis manuskrip di Bali sangat terpengaruh budaya literasi India dan Jawa Timur. di penghujung abad ke-15. beraksara dan berbahasa Sunda Kuna dan berisi dialog yang bersifat moral-religius antara pendeta dengan Pwah Batari Sri sebagai penguasa alam kahyangan. yang isinya hampir sama dengan NSK L 420. yang menarik adalah Kai Raga. bulan Muharram. Karya yang ditulis Kai Raga tersebut bisa jadi sangat kontras dengan naskah lain yang tertulis atas namanya. tidak ada pembatasan yang jelas [dalam hal kasta dan jenis kelamin] penulis dan pembaca naskah ketika tradisi itu hidup di Bali. bersampul kertas marmer berwarna merah dan berjumlah 12 halaman itu berisi perihal asal-usul terciptanya alam dan manusia. di atas daun lontar. dan agaknya hal itu dapat diparalelkan dengan kehidupan para pembaca dan penulis yang hidup di Jawa Timur. Dari keempat naskah yang diakhiri dengan keterangan Kai Raga. ditulis Kai Raga pada hari Jum‟at Kliwon. Nama penulispenyalin ini agaknya bukan nama sebenarnya. Bila diterapkan pada tradisi menulis NSK.1 Tahun 2012 . Tengah. Hal ini dapat dibuktikan dari beberapa naskah yang ditulisnya. yakni NSK “Wirid” (KBG 75). terselip naskah yang berisi unsur keislaman. Kalau dikaitkan dengan nama satu orang pasti mengandaikan orang yang berumur sangat panjang.

yang pertapaannya terletak di Gunung Cikuray.F.M. Huls van Taxis. melainkan kepada nama gelaran. Pleyte meyakini orang tersebut dipastikan telah meninggal dan tidak meninggalkan keturunan. menurut cerita rakyat di sana. termasuk NSK. pada 1904. C. Jumantara Vol.hingga beratus tahun. C.K. Pleyte mengirim surat kepada Asisten Residen Garut. Garut. Pada mulanya Kampung Sri Manganti termasuk dalam wilayah Desa Cigedug. Mengenai ihwal cucu Kai Raga. Selain itu. Mengenai hal ini. Kai Raga yang menyerahkan beberapa NSK kepada Raden Saleh yang pada tahun 1865 ditugaskan untuk berkeliling Priangan untuk mengumpulkan peninggalan purbakala. ia mendapat keterangan dari lurah Desa Ciburuy bahwa. Pleyte menelusuri identitas Kai Raga21. sejak tahun 1856. van Taxis menerangkan bahwa Cikuray memang mulanya biasa disebut Sri Manganti. Menurut penemuannya. Pleyte berkunjung ke Cikuray. penelusuran Pleyte mengenai Kai Raga dan tulisan Hinzler dapat digunakan untuk membaca perihal tidak dipentingkannya nama pribadi bagi para penulis-penyalin naskah yang masih berada di bawah bayang-bayang budaya literasi Hindu-Budha. saya yakin Kai Raga tidak merujuk pada nama seseorang. 56 (1914: 365-441) dan Ratu Pakuan: Tjeritera Sunda-Kuno dari Lereng Gunung Tjikura (1970) garapan Atja.1 Tahun 2012 85 . Kai Raga yang dianggap menyerahkan naskah kepada Raden Saleh adalah cucu Kai Raga yang menjadi pemuka kelompok keagamaan. Saat itu. yang didasarkan pada nama sebuah kampung yang terletak di lereng sebelah barat gunung tersebut. Oleh karena itu. pada mulanya nama Cikuray adalah Sri Manganti. namun kampung tersebut tidak dikenal lagi karena telah ditinggalkan penduduknya. 3 No. Menindaklanjuti perjalanan itu. tidak ada lagi keterangan yang lebih lanjut. Van Taxis juga menyatakan bahwa orang tidak ingat lagi mengenai keberadaan pertapa di tempat tersebut. Uraian Kai Raga dapat pula dibandingkan dengan Kiai Windusana yang memelihara dan menuliskan kembali sejumlah 21 Lihat „Poernawidjaja‟s Hellevaart of de Volledige Verlossing‟ dalam TBG No. Dalam jawabannya.

23 Hinzler (1993: 465). This is apparent from the colophons of eighteenth and nineteenthcentury manuscripts. di Bali: A Scribe. Namun saat Bataviaasch Genootschap mengambil naskah-naskahnya pada tahun 1852.1 Tahun 2012 . panyarikan. Mereka kebanyakaan berasal dari kalangan agamawan dan ada juga yang berasal dari kalangan istana. Windusana hidup di sekitar abad ke-18. melainkan perempuan pun ikut terlibat di dalamnya. usually man. Kuntara Wiryamartana dan Willem van der Molen22.. Pertama. was a person of distinction. dan Jawa Modern di lereng Gunung Merbabu sebagaimana yang ditelusuri I. bahkan menolak dunia luar sebagaimana yang dapat kita temukan sosoknya pada diri Bujangga Manik. baik karena mereka menjadi anggota kelompok agamawan maupun karena termasuk kalangan istana. 1 (2001: 52).. 86 Jumantara Vol. Wiryamartana yang dimuat dalam BKI 157 No. Selain menyatakan para penulis naskah itu bisa laki-laki maupun perempuan. panulisan) not only of highcaste families. Van der Molen dan I. jumlahnya hanya berkisar empat ratusan naskah. maka sebenarnya mengindikasikan bahwa para penulisnya cenderung menyembunyikan nama mereka sebenarnya karena mereka justru sedang menyembunyikan diri dari dunia luar atau cenderung mengasingkan diri. but also of low-caste families23. berkaitan dengan kriteria dan profesi penulis-penyalin naskah.naskah Jawa Kuna. The rulers of the kingdom employed scribes (manghuri. . Bila pernyataan tersebut kita tarik kepada kegiatan literasi NSK. Ia dikenal sebagai pendeta tinggi dalam agama Budha dan dilaporkan memiliki ribuan naskah yang aneh. 3 No. Tidak terbatas hanya pada laki-laki semata. Menurut kedua filolog itu. Menurut Hinzler. 22 „The Merapi-Merbabu Manuscripts: A Neglected Collection‟ karya W. Jawa Pertengahan. Hinzler menyatakan dua hal lain yang berkaitan dengan para penulis-penyalin naskah.

. Sebagai catatan. sebagaimana yang terlihat dari deskripsi Gunawan & Holil (2010). Jumantara Vol. seperti bukit dan puncak gunung (hulu). Bimaswarga/Bimaleupas. Menurut Agus Aris Munandar25. menjadi pilihan para penulis-penyalin NSK untuk menulis. gunung memang dijadikan 24 Kata ini berasal dari nama yang dijadikan tempat penulisan NSK Kropak 636 (Sanghyang Hayu).1 Tahun 2012 87 . Gunung Larang Sela (Kawih Panyaraman). Gunung Cikuray (Pitutur ning Jalma. dapat diketemukan keterangan bahwa Larang Sri Manganti adalah nama lama Gunung Cikuray.Giri Sunya24 Dari tabel di atas kita juga dapat berbicara mengenai tempat NSK ditulis. Giri Sunya (Sanghyang Hayu). Gunung Larang Sri Manganti (Carita Ratu Pakuan. Siksa Guru). Oleh karena itu. Kaluputan Sanghyang Darma). sebagaimana yang termaktub pada pembahasan mengenai penulis. Dari tabel itu kita juga mendapatkan nama Gunung Kumbang (Kawih Panyaraman). Carita Purnawijaya). maka kita mendapatkan delapan naskah yang dalam kolofonnya diterangkan ditulis di Gunung Cikuray. Gunung Jedang (Sanghyang Sasana Maha Guru. dan Gunung Cupu (Sanghyang Hayu). 3 No. Dengan demikian. Sanghyang Hayu. Ratu Pakuan. Sanghyang Hayu. Kata nusa dan sagara dengan jelas mengindikasikan daerah yang paling tidak berdekatan dengan lautan. namun ternyata ada dua naskah yang merujuk ke daerah dekat atau di sekitar laut. Meski banyak yang berlatar gunung. dalam bagian berikut disajikan ulasan mengenai peran gunung dalam peri kehidupan orang Sunda atau Jawa Barat. Sanghyang Swawar Cinta. kalau dihitung. seperti Naskah Kropak 1 Peti 85 Sanghyang Siksa Kandang Karesian ternyata ditulis di Nusakrata? Dan Carita Jati Mula ditulis di Sagara Wisésa. Carita Purnawijaya. Namun tetap saja dengan banyaknya nama yang berkaitan dengan gunung mengindikasikan sentralnya tempat tersebut sebagai tempat penulisan NSK. Dari tabel itu nampak bahwa gunung dan sekitarnya.

Demikian pula yang terjadi pada keyakinan kosmologis Budha. Dari masa prasejarah. Bogor. Di puncaknya terdapat tempat tinggal para dewa. Karena dalam keyakinan kosmologis Hindu-Budha. dan “Sebaran Situs Arkeologi di Jawa Barat: Tinjauan Terhadap Dasar Konsepsi Keagamaan” (2001) yang disajikan pada Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) I. Tradisi megalitik ini berkaitan dengan konsep kultus leluhur. Lebak Sibedug. Batu Lulumpang di Garut. terutama dari masa bercocok tanam dan perundagian. Bedanya. Pangguyangan. gunung juga begitu sentral perannya.1 Tahun 2012 . Arca Domas di pusat Kanekes. Gunung Mahameru yang mempunyai empat puncak lain yang lebih rendah dan terletak di tengah benua yang bernama Jambhudwipa dipercaya sebagai pusat alam semesta. 11-13 Nopember 1991. Di Gunung Meru terdapat alam berlapis-lapis. yang dikepalai Dewa Indra. Adapun tempatnya yang berada di daerah ketinggian. Situs-situsnya. di Jawa Barat banyak peninggalan megalitik yang terdapat di wilayah yang bergunung-gunung. seperti gunung. dan kemudian dimuat dalam Prosiding KIBS 1 Jilid 1 (2006). Cipari. yakni pemujaan pada arwah nenek moyang. Banten Selatan. dan sebagainya. Sementara alam semestanya berbentuk pipih melingkar seperti cakram. dan dataran tinggi lainnya. 2224 Agustus 2001. misalnya. situs Gunung Padang di Cianjur. Keyakinan ini tidak saja hidup ketika ke daerah ini hadir pengaruh agama Hindu-Budha. 25 “Kegiatan Keagamaan dalam Masyarakat Kerajaan Sunda: Data Prasasti dan Karya Sastra” (1991) yang disajikan pada Seminar Nasional Sastra dan Sejarah Pakuan Pajajaran.sebagai tempat keramat bagi kalangan masyarakat yang ada di Jawa Barat. Bandung. yakni ketika masyarakatnya berada di masa prasejarah. 88 Jumantara Vol. 3 No. menunjukkan bahwa masyarakat prasejarah di Jawa bagian barat percaya bahwa leluhur bersemayam di puncak-puncak gunung. bukit. melainkan telah ada sebelumnya. Di kedelapan arah mata anginnya dijaga dewa Astadikpalaka sebagai pelindung alam semesta. Cireme. Salak Datar. Gunung tersebut dikelilingi tujuh lautan dan tujuh pegunungan berselang-seling. Saat memasuki periode pengaruh Hindu-Budha (kurang lebih abad ke-9 hingga abad ke-16).

Munandar. kemungkinan direbutnya kemuliaan (kewibawaan kekuasaan) dan pegangan kesaktian (kejayaan) oleh Sunda. utara.di luar lingkaran tujuh pegunungan itu terdapat lagi samudera. Dalam beberapa hal. Ia menyatakan [Terjemahan dari pernyataannya?]: “Waspadalah. yang di tengahnya. terdapat empat benua. misalnya. dan kemudian diterapkan pemeluk agama HinduBudha yang ada di sana ke dalam lingkungan mereka. Demikian pula Sri Baduga Maharaja yang membangun gugunungan. Oleh karena kekeramatan itulah. Jawa. dan barat dihuni oleh mahluk ajaib. Medang. Benua yang terletak di sebelah selatan Gunung Meru dinamakan Jambudwipa. Keyakinan ini terbawa ke Pulau Jawa. pengamalan keagamaan. para pedagang (orang Jumantara Vol. atau dalam NSK Sewaka Darma terdapat uraian bahwa para dewata Hindu mempunyai istana yang indah di Gunung Kendan. Lampung. menafsirkan Prasasti Kawali I. terutama baris ke-5 sampai ke-7.1 Tahun 2012 89 . sementara ketiga benua yang ada di timur. gunung dan tempat-tempat di sekitarnya dijadikan tempat tinggal. Rakeyan Darmasiksa dalam NSK Kropak 632 (Amanat Galunggung) menegaskan pentingnya memelihara kabuyutan atau tempat yang dikeramatkan karena menjadi pusat pengamalan serta penyebaran ilmu keagamaan. bagaimana penguasa melindungi situs yang ada di gunung dan sekitarnya. pada keempat arah mata angin utama. 3 No. Baluk. dan Menir. Prabu Jayadewata. dan Prebu Niskala Wastukancana. terutama Kabuyutan Galunggung. yang disokong serta dilindungi kekuasaan kerajaan yang ada di Tatar Jawa Barat. dan penyebaran ilmu oleh kalangan agama Hindu dan Budha. dan tentu saja ke Tatar Jawa Barat. seperti yang termaktub dalam Prasasti Batutulis. berkaitan dengan keinginan Prabu Raja Wastu untuk menyelaraskan purinya dengan gambaran alam semesta menurut ajaran Hindu-Budha. Dalam hal ini. yang dijadikan tempat penyebaran ilmu keagamaan khususnya dapat terlihat dari sepak terjang Rakeyan Darmasiksa. tempat hidup manusia dan hewan.

mikukuh Sanghyang 90 Jumantara Vol. 26 27 Saleh Danasasmita dkk. 3 No. bahkan sampai titik darah penghabisan. sekaligus juga di kalangan istana28. Nasihat Rakeyan Darmasiksa juga sekali lagi menekankan pentingnya Kabuyutan Galunggung: “Bila terjadi perang (memperebutkan) kabuyutan di Galunggung. Selain itu. seperti: memperoleh kesaktian dari tapa. Dan yang lebih penting. bertahanlah kita di sana. kabuyutan itu harus dipertahankan sekuat tenaga. dua dari tiga unsur “trias politika” Sunda kuna.” Hal ini pun diperjelas dalam NSK Kropak 406 (Carita Parahyangan). ti sang disri. Dengan demikian. Ti naha bagina? Ti sang wiku nu ngawakan jati Sunda. ti sang tarahan. pangupatyan Sanghyang Wisnu. dengan kompleks pendidikannya yang disebut kabuyutan. baik yang menganut kepercayaan kepada leluhur (ngawakan jati Sunda) maupun yang memeluk agama lainnya. Rakeyan Darmasiksa. inya nu nyieun Sanghyang Binayapanti.. maka orang yang menguasainya akan beroleh manfaat dari sana. ti sang rêsi. nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama.Lebih berharga nilai kulit lasun di tempat sampah daripada rajaputra (bila kabuyutan) akhirnya jatuh ke tangan orang lain27. unggul dalam berperang. menjamin keberlangsungan kehidupan keagamaan. Ibid (1987: 125-6). dan lama berjaya. Kabuyutan itu akan dikuasai orang lain karena telah ditinggalkan rama dan resi. pergilah ke kabuyutan.asing) yang akan merebut Kabuyutan di Galunggung26” Hal itu karena dengan dikuasainya Kabuyutan Galunggung.. yang menyatakan bahwa Rakeyan Darmasiksa adalah raja Sunda yang mendirikan lembaga pendidikan bernama Sanghyang Binayapanti. yang digambarkan sebagai titisan Dewa Wisnu. tina Parahyangan. ia mendorong berlangsungnya tradisi baca-tulis atau literasi di kalangan agamawan. 28 Kutipan lengkapnya: Sang Rakeyan Darmasiksa.. (1987: 12).1 Tahun 2012 .

tempat tinggal para wiku. Sang rêsi enak ngarêsianana. yaitu Prebu Niskala Wastukancana.Hal serupa juga dilakukan Prabu Jayadewata. Sunda Sembawa. Sanghyang Tapak (Sukabumi). ngawakan na manusasana. menjalankan kebiasaan leluhur . lempir 36a & 20b) 29 Kutipan lengkapnya: Nya mana sang rama enak mangan. lempir 21b.. Jasinga (Bogor). 22b. angadêg di Sanghyang Linggawêsi. Pada Prasasti Kabantenan (E. Sang wiku enak ngadewasasana. dan 22a) Jumantara Vol. 21a. ngawakan sanghyang Watangageung. 3 No. Galunggung (Tasikmalaya). Dalam Prasasti E-44 daerah larangan itu disebut dengan nama kabuyutan dan kawikuan. Pada masa Kerajaan Sunda diperintah oleh raja yang merupakan adik Dyah Citraresmi yang gugur di Bubat. Wanareja dan Ciburuy (Garut). (Kropak 406. Dari sekian nama Darma. teja.. akasa. ngawakan na purbatisti purbajati. dan sang wiku tenteram melaksanakan atau menunaikan undang-undang dewa (Sang resi enak ngaresianana. ngawakan manurajasasasana. Sang wiku enak ngadewasasana. bayu. Sanghyang apah. sang bu enak ngalungguh di Sanghyang Jagatpalaka.. dan Kawali (Ciamis).29 Kabuyutan-kabuyutan yang dikenal selama ini antara lain: Kanekes (Banten). Wilayah tersebut juga tidak boleh dikenai pajak karena merupakan daerah larangan. Kerajaan Sunda mengalami kejayaan. enak ngadêg manurajasunyia.42-43) ia mengamanatkan kepada rakyatnya untuk menjaga dan memelihara Jayagiri. Sang disi enak masini. Ngawakan sanghyang rajasasana. ku gêde hamo diukih. Yang mencoba mengganggu daerah-daerah tersebut diperintahkan untuk dibunuh. Ku beet hamo diukih. ngaduuman alas parialas. ngawakan Sanghyang Siksa (Kropak 406. Dalam Kropak 406 (Carita Parahyangan) pun ada gambaran penguasa Sunda yang berdedikasi tinggi pada kehidupan keagamaan sekaligus kegiatan literasinya. Koleang. ngawakan sanghyang Watangageung.1 Tahun 2012 91 . Cisanti (Bandung). Salah satu bukti kejayaannya: sang resi dapat tenteram melaksanakan tugas kependetaannya. ngawakan na purbatisti purbajati . brata siya puja tanpa lum. Nya mana sang tarahan enak lalayaran. enak ngadeg manurajasunyia)... dan tanah Dewa Sasana yang berada di Gunung Samaya sebagai daerah yang tidak boleh diganggu gugat. Sunda Sembawa dan Jayagiri (Bekasi?).

415 (Mantra Darma Pamulih). Kabuyutan Cisanti di Bandung. jeung Kropak 105. 409 (Kapaliasan). 624 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian). 1102 (Para Putera Rama dan Rahwana). ada tiga jenis kegiatan yang dilakukan di kabuyutan. 423 (Carita Purnawijaya). 1099 (Pakéeun Raga). dan Kropak 631 (Candrakirana). 92 Jumantara Vol. 634 (Sanghyang Hayu). ke Ciamis. 1104 (Primbon). 3 No. Pada tataran praktisnya. ditemukan Kropak 406 (Carita Parahyangan & Fragmen Carita Parahyangan). dan Kabuyutan Koléang. Jenis kegiatan pertama antara lain dalam bentuk mendoakan raja 30 „Pendidikan di Tatar Sunda I‟ HU. 623 (Bimaswarga). 407 (Carita Raden Jayakeling). 633 (Siksa Guru). 412 (Fragmen Carita Parahiyangan). 413 (Ajaran Islam).kabuyutan itu yang dikenal sebagai tempat penulisan NSK. 1101 (Sasana Sang Pandita). 1103 (Serat Jati Niskala). Ke sebelah timurnya. Naskah Bambu 426 C (Sanghyang Jati Maha Pitutur). Kabuyutan Kawali di Ciamis. Dari kabuyutan yang ada di Garut. Pikiran Rakyat. Ketiga. 625 (Sri Ajnyana). 637 (Sanghyang Hayu). mendalami dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan (agama). Kedua. menurut Edi S. 639 (Serat Buana Pitu). 641 (Arjunawiwāha). 1097 (Carita Jati Mula). 636 (Sanghyang Hayu).1 Tahun 2012 . Ti Cisanti. antara lain ditemukan NSK Kropak 610 (Pitutur ning Jalma). Naskah Bambu 426 B (Kaleupasan). Pertama. 408 (Kawih Panyaraman). dan Kropak 626 (Sanghyang Swawar Cinta). 630 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian). 622 (Warugan Lemah). 418 (Nur Illahi). 635 (Sanghyang Hayu). aya Kropak 620 (Tutur Bwana). 621 (Sanghyang Sasana Maha). Ekadjati30. 422 (Jatiniskala). melakukan upacara ritual. yakni Kabuyutan Ciburuy dan Kabuyutan Wanareja di Garut. 416 (Carita Purnawijaya). dan Kropak 642 (Siksa Guru). Dari Kabuyutan Koleang antara lain ditemukan NSK Kropak 1095 (Langgeng Jati). karena secara jelas atau tertulis dalam NSK atau tempat diperolehnya sejumlah NSK seperti yang diinventarisasi oleh Gunawan dan Holil (2010). melaksanakan pendidikan. 414. Bogor. Bandung. 638 (Sanghyang Hayu). 20 November 2004.

Ia menjelaskan bahwa bahan ajarnya berupa berbagai pengetahuan agama (Hindu-Budha) dan ajaran hidup yang berasal dari intisari pengalaman. memberi contoh cara hidup di mandala termasuk jenis kegiatan kedua (pendidikan). dan membaca teks-teks keagamaan. Mendalami ilmu pengetahuan (agama). nipah. Sebagaimana uraian Ekadjati di atas. bambu). Media tulisnya terdiri atas beberapa jenis bahan (lontar. dan renungan para leluhur (patikrama). Anak-anak dan orang muda yang memilih kegiatan keagamaan sebagai jalan hidupnya memasuki kompleks dan menjadi siswa (sisya) di kabuyutan untuk menerima berbagai ilmu pengetahuan (agama) dan tata cara hidup sebagai penghuni kabuyutan.1 Tahun 2012 93 . pandan. pendeta menguasai pustaka. 3 No. Di antara guru-guru itu ada yang memiliki spesialisasi pengetahuan. memberi nasihat orang. Hal ini dimungkinkan oleh adanya Jumantara Vol. baik yang ada di kabuyutan sendiri maupun yang datang dari luar. pratanda menguasi ilmu agama dan parigama. mendidik anak-anak calon pendeta. Penulisan itu merupakan tugas pendeta yang menjadi penanggungjawabnya. Berbagai pengetahuan tersebut telah dikuasai oleh para guru yang kemudian disampaikannya secara lisan dan tertulis kepada siswasiswanya. kelapa. Selanjutnya Ekadjati menjelaskan mengenai bahan ajar dan spesialisasi guru-guru yang ada di kabuyutan. kalam. seperti: brahmana menguasai aneka macam mantra. dan tinta. dan menulis naskah (asli atau salinan) tergolong kegiatan intelektual. mengarang suatu ilmu pengetahuan. hasil akumulasi ilmu pengetahuan tersebut. Di sana juga terlihat lalu-lintas naskah antar satu kabuyutan dengan kabuyutan lainnya.serta pejabat negara dan rakyat pada umumnya. aturan. Mengajarkan pengetahuan agama. janggan menguasai berbagai jenis upacara ritual. sedangkan alat tulisnya berupa pisau pangot. menyelenggarakan dan memimpin upacara ritual. Untuk keperluan itu pejabat negara dan masyarakat umum sering datang ke kabuyutan dan sebaliknya penghuni kabuyutan sering pula diundang ke wilayah negara. kemudian diwujudkan dalam bentuk karya tulis. aren.

Rabu Manis. Dalam perjalanan tersebut memang Bujangga Manik tidak terlepas dari naskah-naskah yang dibawa dan dibacanya. misalnya. yakni Kropak 1** (Sanghyang Siksa Kandang Karesian) bulan ke-10. penyalinan. karena keramaian itu akan terasa mengganggunya. yang diutamakan adalah keberjarakan dari dunia ramai. yang tidak hanya berada di Jawa Barat saja. 3 No. bulan Muharam. memang terjadi penulisan. bulan. Yang menyertakan bulan saja bisa dikatakan merupakan yang paling banyak bila dibandingkan dengan yang menyertakan hari maupun tahun. Jadi. namun ada juga yang berada di luar Jawa Barat. Seperti yang kita saksikan dari peri kehidupan Bujangga Manik yang dalam perjalanannya senantiasa mencari tempat-tempat sepi.rahib atau pendeta pengelana yang (berkelana?) sambil belajar dari satu kabuyutan ke kabuyutan lain. Namun ada juga yang menyertakan hari dan bulan. Dari Jawa Barat. Selasa Manis dan Kropak KBG 75 (Wirid). Jum‟at Kliwon.1 Tahun 2012 . Titimangsa Dari tabel di atas juga dapat dibahas mengenai titimangsa atau waktu penulisan NSK. penerjemahan. Dalam beberapa adegan. para penulis-penyalin NSK ada yang hanya menyertakan hari saja. pada prinsipnya. seperti yang dapat kita temukan pada NSK sebagai berikut: Kropak 622 (Warugan Lemah). penyaduran naskah-naskah yang dihasilkan dari daerah lain dan kemudian dibawa oleh para rahib pengelana tersebut ke Tatar Jawa Barat. dan tahun. ia memang mencari tempat-tempat sepi. dan melintasi Pulau Bali untuk belajar keagaamaan. Contoh rahib pengelana ini adalah tokoh Bujangga Manik atau Perebu Jaka Pakuan atau Ameng Layaran yang berkeliling Pulau Jawa dan Bali. ke Jawa Tengah. Jawa Timur. Dengan kehadiran nama-nama tempat yang berkaitan dengan pulau dan laut dapat diduga bahwa. karena nampak bahwa pada NSK terdapat keterangan hari. Pada praktiknya. NSK berikut memakai bulan saja sebagai titimangsa penulisan NSK: Kropak 621 (Sanghyang 94 Jumantara Vol.

1440 Saka (1518 M). nampaknya tidak ada aturan yang ketat. 1256 Ś (1334 M). Kropak 641 (Arjuna Wiwaha). penggunaan candrasangkala atau kronogram. Sementara yang memakai keterangan tahun ada: Kropak 634 (Sanghyang Hayu). sehingga terkesan arbitrer alias sewenang-wenang. 3 No. selesai hari Pon bulan ke-9. atau tahun saja. Dari paparan di atas nampak beberapa kenyataan yang patut dibahas secara luas dan mendalam. bulan ke-1. bulan ke-8. Pemilihan unsur waktu penulisan NSK sangat acak. 1445 Ś (± 1523 M). Penggunaan kode-kode ini memang biasa dilakukan oleh para penulis-penyalin naskah-naskah di India. Sementara Kropak 638 (Sanghyang Hayu) terbilang yang paling lengkap menyertakan hari. Ada juga yang bisa dikatakan lengkap menyebutkan ketiganya. tergantung pada penulis-penyalin naskahnya. Tahun Saka hlaŕ twa ya wu? Ada pula yang hanya campuran antara bulan dan tahun. Kropak 623 (Bimaswarga/Bimaleupas). hari dengan tahun. Pertama. bulan. Hal itu terbukti dari tabel di atas. Ketiga. 1357 Ś (± 1435 M). dalam artian tidak ada keharusan atau kewajiban untuk mencantumkan titimangsa pada umumnya NSK. yaitu dimulai Selasa Kliwon. Para penulis-penyalin naskah di India biasanya memberikan catatan penomoran dengan menggunakan kata-kata dan huruf-huruf. yang terdapat pada Kropak 630 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian) bulan ke-3. dan ada yang mencantumkan campuran hari dengan bulan. dan Kropak 642 (Siksa Guru). Kropak 626 (Sanghyang Swawar Cinta). namun ada juga yang mencantumkan campuran dua sampai tiga unsur waktu. Kropak 625 (Sri Ajnyana). Mengenai hal ini Jumantara Vol. bulan dengan tahun. dalam artian bahwa ada yang hanya yang memakai hari. kesewenang-wenangan itu juga terjadi pada pemilihan unsur waktu yang dicantumkan ketika penulis-penyalin NSK memberikan keterangan waktu penulisan. bulan ke-8. dan tahun penulisannya. bulan ke-10. bulan. dan Kropak 633 (Siksa Guru).1 Tahun 2012 95 . bulan ke-7. Kedua.Sasana Maha Guru) ditulis pada bulan ke-4.

according to Burnell originally South-Indian. which both employ the phonetically arranged characters of the alphabet. t=6. Buhler menyatakan: Two system of numeral notation. mathematics and metrics. Angka 9 digambarkan dengan anka. atau ka sampai kah yang sama dengan 1 hingga 12. have still to be described. dan m=5. selain digunakan untuk penonoran halaman naskah. th=7. nanda. Sistem kedua memakai konsonan bervokal untuk penomoran. sasi. the numerals are expressed by the names of things. meskipun ada yang ia lewati. 96 Jumantara Vol. naturally or in accordance with the teaching of the Sastras. seperti pada huruf k=1. Sementara untuk penomoran yang menggunakan huruf. Buhler menyatakan ada dua sistem yang dipakai. Pada penomoran menggunakan huruf. bhu. sitarasmi. indu. dan tanu. Untuk 31 Lihat Buhler. 3 No. as they are not without interest for paleography. Dalam hal ini Buhler memberikan contoh dari angka 0 hingga 49. Angka 0 bisa diwakili oleh kata Sunya. nayaka. beings or ideas.George Buhler menyatakan31: In many manuals of astronomy. Akasa. seperti huruf ka hingga ke la yang berarti sama dengan 1 hingga 34. kh=2. Sistem pertama dianggap hanya hurufhuruf konsonan yang tak mempunyai huruf vokal yang penting. mahi. which. cidra. y=1. connote numbers. George. as well as in the dates of inscriptions and of MSS. Angka 1 diekspresikan dengan rupa.1 Tahun 2012 . juga digunakan untuk memberikan titimangsa penulisan naskahnya. adi. Ambara. dan Ananta. Indian Paleography (1980: 103-107). Baik penggunaan kata-kata maupun huruf. keduanya.

Keterangan ini bisa menjadi jalan memahami kehadiran katakata maupun huruf-huruf yang digunakan pada akhir sejumlah NSK. kurang wuwuhan. atau 1523 Masehi. 44: kha – kha. Maret-April 2012 Daftar Pustaka Jumantara Vol. 3 No. seperti NSK Kropak 408 (Sewaka Darma) yang mengandung kata-kata akhir nanu namas haba jaja atau NSK Kropak 642 (Siksa Guru) yang diakhiri dengan katakata hlaŕ twa ya wu? Sugan aya sastra leuwih suda baan.contoh penggunaan dari kata-kata. Cibiru. Sementara untuk penggunaan huruf. Demikian juga pada naskah NSK Kropak 634 (Sanghyang Hayu) terdapat kata-kata panca warna catur bumi yang artinya 1445 Saka. 4. Buhler memberikan contoh dari Pancasiddhantika. di akhir naskahnya terdapat kata-kata nora catur sagara wulan yang sama dengan tahun 1440 Saka atau. 24 Maret 1184 Masehi.1 Tahun 2012 97 . misalnya. Buhler memberikan contoh dari Sarvanukramani: 23 1 565 1 khago=ntyan=mesam=apa Penggabungan angka-angka di atas nilainya sama dengan 1565132. bila dikonversi ke penanggalan masehi. Dalam NSK ditemukan juga kata-kata yang belum ditemukan artinya.veda. sebagai tanggal diselesaikannya.samudra= 0-0-4-41=14400. Untuk Kropak 630 (Sanghyang Siksakandang Karesian). menjadi 1518 Masehi. yang menghasilkan pada musim semi yang siang maupun malamnya hampir sama waktunya (vernal equinox). yang mengandung arti penulis-penyalinnya memaksudkan angka-angka itu pada masa-masa selepas masa awal Kaliyuga.

Pendidikan Dan Kebudayaan Nasional Darsa. 3 No. 1. Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda . Seri Sundalana 9: Perubahan Pandangan Aristokrat Sunda. “Fragmén Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan (Kropak 406)”. 20 Nopember). W. “Carita Ratu Pakuan (Kropak 410): Suntingan dan Terjemahan Naskah Sunda”. BKI 149 No. Saleh dkk.Atja (1968). Edi S. Van der dan I. New Delhi: Oriental Books Reprint Corporation Danasasmita. Sewaka Darma (Kropak 408). Amanat Galunggung (Kropak 632): Transkripsi dan Terjemahan”. Undang A. Aditia & Munawwar Holil (2010). Bandung: Jajasan Nusalarang. HU Pikiran Rakyat. Gunawan. “The MerapiMerbabu Manuscripts: A Neglected Collection”. George (1980). (1987). BKI 157 No. Wiryamartana (2001). Bandung: Lembaga Bahasa dan Sedjarah. Ratu Pakuan: Tjeritera Sunda-Kuno dari Lereng Gunung Tjikuraj. “Kegiatan Keagamaan dalam Masyarakat Kerajaan Sunda: Data Prasasti dan Karya Sastra”. “Membuka Peti Naskah Sunda Kuna di Perpustakaan Nasional RI: Upaya Rekatalogisasi”. Indian Paleography. Undang A. Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda Hinzler. Buhler. Direktorat Jendral Kebudayaan Dep. H. Darsa. Munandar. Tjarita Parahijangan Titilar Karuhun Urang Sunda Abad ka-16 Masehi. 3. (2007). Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda (PSS). Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi). dan Edi S. Atja (1970). Ekadjati (2003). Agus Aris (1991). Ekadjati (2004. Makalah pada Seminar Nasional Sastra dan 98 Jumantara Vol. Séri Sundalana 1: Tulak Bala. Molen. “Balinese Palm-Leaf Manuscripts”. Seri Sundalana 6: Menyelamatkan Alam Sunda. Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630). “Pendidikan di Tatar Sunda I”.1 Tahun 2012 . (1993).

teks Sunda kuna oleh Tien Wartini dan Undang A. & A. Diterjemahkan oleh Hawe Setiawan. J. Tiga Pesona Sunda Kuna. 11-13 Nopember. 56.Sejarah Pakuan Pajajaran.1 Tahun 2012 99 . Darsa. Teeuw (2009). Jakarta: Pustaka Jaya. Bogor.M. “Poernawidjaja‟s Hellevaart of de Volledige Verlossing”. C. 22-24 Agustus 2001. “Sebaran Situs Arkeologi di Jawa Barat: Tinjauan Terhadap Dasar Konsepsi Keagamaan”. dan kemudian dimuat dalam Prosiding KIBS 1 Jilid 1 (2006). Makalah Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) I. TBG No. Bandung. Noorduyn. (1914). __________ (2001). dari Three Old Sundanese Poems (2006). Jumantara Vol. Pleyte. 3 No.

100 Jumantara Vol. Syarif Hidayatullah * Kandidat Doktor Filologi di Departemen Susastra FIB UI Depok. Dekan Fakultas Ushuluddin ISIF dan Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon. tetapi bagian dari tokoh historis dan fakta sosial melalui rekonstruksi historis peradaban Islam Nusantara. Tulisan ini merupakan upaya untuk melakukan rekonstruksi sejarah kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah (1479-1568). terutama di Cirebon pada tahun 1479-1568. Cirebon. Signifikansi tulisan ini untuk menunjukkan adanya pembuktian atau lebih tepatnya penegasan akademik bahwa Syarif Hidayatullah yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Jati itu bukan sekedar tokoh legenda. atau semacamnya. Secara strategis. mitos. menunjukkan bukti-bukti sejarah peradaban tersebut sebagai bukti kejayaan peradaban Islam di Cirebon. dan Balai Litbang Agama Jakarta. Beberapa nama penting juga disebutkan disini. Nurul Huda SA dan Aan Jaelani yang telah menemani saya ketika beberapa kali turun lapangan. 3 No. terutama di Cirebon. terutama kepada ISIF.Abstrak Dari berbagai sumber tertulis diketahui bahwa pada masa Syarif Hidayatullah peradaban Islam di Cirebon mencapai masa kejayaannya. Saeful dan Salman dari Balai Litbang Agama Jakarta. Terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu tulisan ini sehingga dapat hadir di hadapan pembaca. tulisan ini diharapkan mampu menjadi kelengkapan khazanah sejarah Islam Indonesia dalam konteks rekonstruksi sejarah Islam Nusantara dan kehidupan keagamaan masyarakat. Kata Kunci: Islam.1 Tahun 2012 . serta mengungkapkan pengaruh Syarif Hidayatullah terhadap perkembangan dakwah Islam di Jawa.

3 No. 90 33 Matthew Isaac Cohen. Terlebih lagi. Indonesia”. “An Inheritance from the Friends of God: The Southern Shadow Puppet Theater of West Java. daerah-daerah di mana suatu kerajaan Islam telah berdiri dan berjaya pada masanya.1 Tahun 2012 101 . utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana Sunan Gunung Jati di Cirebon mengajarkan tatacara berdoa dan membaca matera. Ishom El-Saha (edit. Sunan Ampel. Sekedar menyebut beberapa contoh tokoh tersebut adalah Abdur Rauf asSinkili di Aceh (1615-1693). (Yale University: 1997). dapat dikatakan sebagai era keemasan (Golden Age) perkembangan Islam di Cirebon. Maulana Malik Ibrahim. dan Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati.33 Sebelum Syarif Hidayatullah. 32 Kutipan ini merupakan bagian dari tugas-tugas Wali Songo dalam Primbon milik Prof. amewahi donga hakaliyan mantra. tata cara pengobatan. 1613-1645). Adnan. (Jakarta: Transpustaka. Walisongo terdiri dari Sembilan wali. Salah satu di antara kontribusi Syarif Hidayatullah adalah bahwa ia menjadi salah seorang dewan Walisongo34 di Jawa. Moh. hlm. 7 34 Walisongo adalah pelopor dan pemimpin dakwah Islam yang berhasil membawa murid-muridnya untuk menjalankan dakwah Islam ke seluruh Nusantara pada abad ke-15. hlm. Era Syarif Hidayatullah. Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Pertumbuhan Jumantara Vol. 2011). Sunan Bonang. K. dan Syarif Hidayatullah di Cirebon (1479-1568).R. Sunan Giri.H. Sultan Agung di Jogjakarta (dulu Kesultanan Mataram. Penjelasan lebih lanjut pada Mastuki HS. Sunan Drajat. hampir dipastikan terdapat seorang tokoh yang mempunyai keutamaan dan pengaruh kuat bagi masyarakatnya. Sunan Kudus. Di antara tokoh tersebut. atau lebih dikenal dengan gelar Sunan Gunung Jati. dan M. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan. Disertasi. dan setelah Syarif Hidayatullah. seperti dikutip Agus Sunyoto. Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Cakrabuana (1447-1479) merupakan rintisan pemerintahan berdasarkan asas Islam.Kanjeng Susuhunan ing Gunung jati ing Cirebon. serta tata cara membuka hutan. pengaruh para penguasa Cirebon masih berlindung di balik kebesaran nama Syarif Hidayatullah.32 Mengapa (masih) Mengkaji Syarif Hidayatullah? Rekonstruksi sejarah Islam Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kontribusi pemikiran dan tindakan setiap tokoh di daerahnya.). Sunan Muria.

hlm. (Jakarta: Diva Pustaka. Selaras dengan itu. Tugas itu dirumuskan sebagai berikut. serta tata cara membuka hutan).757. (Bandung: Mizan. 1565). 1492). Malik Bin Nabi (1905-1973) dalam Syuruth al-Nahdlah. Karya. Pakar-Pakar Fiqh Sepanjang Sejarah. penterj. 102 Jumantara Vol.M.35 Perbedaan lain dengan para Walisongo ialah bahwa Syarif Hidayatullah selain sebagai ulama juga umara. 2009). dan Abd al-Rahman Jami (w. Afif Muhammad dan Abdul Adhem. pemikiran. amewahi donga hakaliyan mantra. Ensiklopedi Ulama Nusantara: Riwayat Hidup. 3 No. 2001). 1995) cet. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah. hlm.Syarif Hidayatullah mendapatkan tugas berdakwah di Cirebon (Jawa Barat). 2003). renaisans adalah periode yang berlangsung dalam kurun waktu 25-50 tahun dan mencapai puncaknya pada tahun 1500. antara lain Sadr al-Din al-Syirazi (w. hlm. Banten. tata cara pengobatan. dan Sunda Kelapa (Jakarta). hlm. (Jakarta. 35 Agus Sunyoto. II. 39 Smith. peradaban Islam pada periode tersebut telah melahirkan berbagai tokoh pemikirnya. Dalam catatan sejarah. Al-Qarafi (1533-1600). Gelegar Media Indonesia. 36 H. penterj. (Yogyakarta: LKPSM. 73. 37 Malik Bin Nabi. pemikir Aljazair.36 Berbagai bukti kejayaan kepemimpinannya antara lain Masjid Merah Panjunan (+ 1480) dan masjid Agung Sang Cipta Rasa (1500).39 Periode tersebut merupakan era renaisans bagi benua Eropa (1495-1500). Jalal al-Din al-Suyuti (w. 90. Era renaisans bukan sekedar merupakan kehidupan yang cemerlang di bidang seni.1 Tahun 2012 . 1497). hlm. Bibit Suprapto. 1505). Margaret. 1499). Sejalan dengan bukti tersebut.38 Abd al-Wahhab al-Sya‟rani/alSya‟rawi (w. berpendapat bahwa suatu peradaban muslim tidak dapat bangkit kecuali dengan akidah keagamaan. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. 38 Abdullah Mustofa al-Maraghi. Mistikus Islam: Ujaran-ujaran dan Karyanya. “Kanjeng Susuhunan ing Gunung jati ing Cirebon. (Sunan Gunung Jati di Cirebon mengajarkan tata cara berdoa dan membaca matera.37 Dalam konteks itulah Syarif Hidayatullah membangun peradaban muslim di Cirebon. Membangun Dunia Baru Islam. 183. utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana”. 21-34. 2001). Abu al-Ma‟ali al-Maqdisi (w.. penterj. maupun kesusastraan yang mengeluarkan Eropa dari kegelapan Pesantren. yaitu Sultan di Cirebon. Husein Muhammad. Ribut Wahyudi (Surabaya: Risalah Gusti.

hlm. pada masa Panembahan Ratu II (Girilaya). bukan sebaliknya. (Jakarta: Depdikbud. dan politik yang berkembang pada saat itu menarik untuk dilihat sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. 3 No. Meneruskan pendahulunya. nakhoda dari Italia. tetapi juga merupakan suatu revolusi budaya. 43 Kraton Pakungwati merupakan tempat kedudukan utama para Raja Cirebon.. 74-75 41 Ibid. Jumantara Vol. Adanya Pelabuhan Muara Jati yang berada di lalu lintas utama kawasan tersebut telah menjadi arena perdagangan internasional.42 Pelabuhan yang ramai dan jalur utama transportasi yang menghubungkannya dengan wilayah-wilayah lain menyebabkan kota tersebut tampil dengan keterbukaan dan menerima. menjadi tempat persinggahan bagi setiap budaya. 100 Peristiwa yang Berpengaruh di dalam Sejarah Dunia (100 Events That Shaped World History).1 Tahun 2012 103 . yang menyatakan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. yaitu: daerah Panembahan Sepuh (Kasepuhan) dan daerah Panembahan Anom 40 Yenne. tetapi sebagai konteks sosial.intelektual Abad Pertengahan.43 Di istana itulah Syarif Hidayatullah memulai membangun dan mengembangkan Kesultanan Cirebon sampai dengan pengunduran dirinya. budaya. 40 Pada tahun 1492. 1996). 2005). penterj. Lili Sri Padmawati. sehingga Sunan Gunung Jati tidak hanya dibaca seperti yang selama ini dikenal dalam legenda atau mitos. ekonomi. Pada masa itu. hlm.]: Karisma Publishing Group. Tahun 1662.k. atau paling tidak. Salah satu revolusi pemikiran pada era tersebut dikemukakan Nicolas Kopernick (Copernicus). pusat Kesultanan Islam Cirebon berada di Kraton Pakungwati. Keterbukaan itu pula yang terdapat dalam diri Syarif Hidayatullah selama memimpin di Cirebon. Bill. Pakungwati terbagi menjadi dua kesultanan. Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra. gerakan.41 Sekalipun peristiwa-peristiwa besar di belahan dunia tersebut tidak berhubungan langsung dengan Cirebon ataupun Syarif Hidayatullah. Christopher Columbus. Cirebon dikenal juga sebagai „Jalur Sutra‟. dan pemikiran yang melintasi kawasan tersebut. 72 42 Diskusi tentang Cirebon sebagai jalur perdagangan dapat dibaca Susanto Zuhdi. [t. telah menemukan kepulauan Amerika.

Sultan IX yang dimaksud barangkali Sultan Kacirebonan. situasi pernaskahan di kraton itu sangat bergantung dengan perkembangan dari kraton sendiri. 65 104 Jumantara Vol. 2001). Sharon. Sebab. Sultan Kanoman IX itu bernama Sultan Muhammad Nurbuat. 45 Siddique.45 Sekitar tahun 1800. Dalam sumber lain. untuk Samsuddin Mertawijaya (1677-1697) dan Badruddin Kartawijaya (1677-1703). bukan Kanoman. yaitu:. antara lain: perjanjian 7 Januari 1681 yang menetapkan bahwa ekonomi-perdagangan. Menurut Siddique. Kanoman dan Keprabonan. salah seorang Sultan Kanoman Cirebon dibuang ke Ambon.(Kanoman). Beberapa perjanjian dengan VOC telah mendorong terjadinya kemunduran itu. Sultan Kanoman yang dibuang tersebut 44 Titik Pudjiastuti. timbul perpecahan dalam Kesultanan Cirebon. Pudjiastuti mencatat sisi positif dari perpecahan Kesultanan Cirebon. Kesultanan Cirebon telah mengalami kemerosotan karena pihak lain (asing) sejak tahun 1681-1940. dan Pangeran Tohpati. “Cirebon” dalam Sastra Jawa Suatu Tinjauan Umum. Nugroho Notosusanto.1 Tahun 2012 . Kanoman dan Kaceribonan. Saat itu. Sultan Anom. Bersamaan dengan kedatangan Daendels pada tahun 1808. 87.44 Artinya. Di situlah kesusasteraan tumbuh maju dan berkembang. Dampak internalnya. seperti dikutip dalam Marwati Djoened Poesponegoro. hlm. Bersamaan dengan kedatangan Belanda sebagai penjajah yang menguasai Cirebon sekitar tahun 1700. Sejarah Nasional Indonesia: Jaman Pertumbuhan dan Perkembangan III. Pembagian wilayah kesultanan tersebut didasarkan pada kesepakatan yang difasilitasi oleh Kesultanan Jogjakarta dan Banten. Terakhir. dan perjanjian 8 September 1688 yang ditandatangai Sultan Sepuh I. Kasultanan Kanoman terbagi menjadi dua lagi. 1992). Kasepuhan berkedudukan di Pakungwati dan Kanoman menempati kraton baru bekas istana Panembahan Cakrabuana. tentang pengakuan dan pembagian cacah. dimonopoli VOC. seperti perdagangan pakaian dan opium. yaitu telah terjadi perubahan progresif dalam kesusteraan setiap kali muncul Kraton baru. 3 No. Kesultanan Cirebon terbagi pada masa Sultan IX yang bernama Sultan Anom Muhammad Kaeruddin. Kesultanan Kanoman terbagi lagi menjadi dua kraton. (Jakarta: Balai Pustaka. Relics of the Past: Sociological Study of the Sultanates of Cirebon West Java. (Jakarta: Balai Pustaka. hlm.

dalam tradisi lisan Cirebon dan beberapa tulisan menyebutkan. hlm. 33-39 47 Kern. Pemberontakan Cirebon telah dimulai sejak tahun 1788 dan terbesar tahun 1802. tetapi dari Kesultanan Pasai yang diperbantukan di Cirebon. karena Britania harus mengembalikan Jawa dan bekas daerah kekuasaan HindiaBelanda lainnya kepada Belanda sesuai persetujuan akhir Perang Napoleon. Fatahillah itu bukan keturunan Cirebon. dalam Kern. Masa Awal. Dalam Ensiklopedi Islam Indonesia disebutkan. R.A. 2002. 46 Tim IAIN Syarif Hidayatullah. II. tetapi pemberontakan di daerah perbatasan melawan penjajah tetap belanjut.1 Tahun 2012 105 . ketika suasana damai di Cirebon terganggu oleh kolonial. lihat juga pada P. Tak ayal lagi. revisi. Pigeaud dalam De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java. Jakarta: Djambatan. Pada tahun 1700 Belanda mengangkat Jacob Palm menjadi Residen pertama. 21. lalu ditugasi di Sunda Kelapa dan Banten. Stamford Raffles memerintah langsung atas Cirebon namun pemerintahannya sangatlah singkat.J. Sebab.47 Penegasan serupa ditulis H. Pada tahun 1809. bahwa nama lain Sunan Gunung Jati itu Fatahillah. hlm. bahwa kekuasaan Cirebon makin lama makin dipersempit.dibebaskan oleh Daendels yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal. Kern dan Husein Djajadiningrat.46 Kenyataan itu sejalan dengan pendapat Kern bahwa Cirebon berakhir kejayaannya pada abad ke-17.. cet. 3 No. Selain dikuasai Belanda. (Jakarta: Bhratara. terdapat informasi yang masih meragukan validitasnya. “Beberapa Catatan Mengenai “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinja”. pemberontakan pun timbul sebagai salah satu cara untuk menolaknya. Daendels membangun jalan raya melintasi pegunungan dari Batavia ke Cirebon (Jalan Raya Pos/Groote Postweg). hlm. Tentang klarifikasi Fatahillah. De Graaf dan Th. Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid I A-H. Jumantara Vol. Kesultanan Cirebon juga dijajah Inggris ketika pemerintahan Inggris menguasai (sebagian) Indonesia sekitar tahun 1811-1816. Bahkan kemudian. “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinya”. Dalam entri Cirebon ini. Pada tahun 1815. Masa Awal Kerajaan Cirebon. Studen Over de Staatkundige Geschiendenis van de 15 de en 16 de Eeuw. Hoesein Djajadiningrat. 213. R. gelar Sultan di lingkungan kraton sudah tidak diperbolehkan dipakai lagi.A.A.A. dan Husein Djajadiningrat. dalam R. 1974). tetapi semua dapat dipadamkan Belanda.

“Kedaulatan atas daerah Cirebon termasuk daerah-daerah Sunda pada 1705 diserahkan oleh susuhunan di Kartasura kepada kompeni (VOC) di Batavia. Keraton-keraton para keturunan Sunan Gunung Jati di kota Cirebon masing-masing tetap dipertahankan di bawah kekuasaan dan dengan tunjangan uang dari pemerintah Hindia Belanda hingga abad XX ini.”48 Dengan demikian, pemerintah Kolonial Belanda telah semakin dalam ikut campur mengatur Cirebon, sehingga semakin surutlah peranan kraton-kraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya. Pada tahun 1906 dan 1926, kekuasaan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan pengesahan berdirinya Kota Cirebon (Gemeente Cheirebon). Saat itu, luas wilayahnya mencakup 1.100 hektar, dengan sekitar 20.000 jiwa penduduk (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370). Tahun 1942, Kota Cirebon kembali diperluas menjadi 2.450 hektar.49 Sejak tahun 1965 Cirebon telah berubah menjadi kota madya dan sekarang menjadi kota Cirebon dengan luas 37,36 km2.50 Memperhatikan latar belakang tersebut, tulisan ini menjadi penting untuk mengungkap Kesultanan Cirebon sebelum adanya campur tangan pihak asing, termasuk intervensi pihak kesultanan Jogjakarta dan Banten. Dari berbagai sumber tertulis diketahui bahwa pada masa Syarif Hidayatullah itulah peradaban Islam di Cirebon dapat dikatakan mencapai masa kejayaannya. “Ingsun titip tajug lan fakir miskin” adalah salah satu pernyataan atau petatah petitih dari Syarif Hidayatullah yang digunakan sebagai ikon oleh kalangan, baik pemerintah maupun swasta di Cirebon. Saat ini, Cirebon tetap dijadikan sebagai nama salah satu kota dan kabupaten di Jawa Barat. Sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia dan selama Cirebon menjadi pusat pemerintahan kota dan kabupaten, keluarga besar Kraton Cirebon sepertinya belum pernah ada yang menjadi bupati ataupun

48

De Graaf, HJ. & Th. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI, penyunting Eko Endarmoko dan Jaap Erkelens, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2003), hlm. 132. 49 http://indahartgallery.webs.com/keraton.htm 50 Profil kota Cirebon Jawa Barat.

106

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

walikota.51 Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penting dikemukakan pertanyaan, bagaimana kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568? Bukti-bukti sejarah apa yang mendukung adanya kejayaan tersebut? Dengan bukti-bukti tersebut, seberapa jauh peran Syarif Hidayatullah pada perkembangan dakwah Islam di Jawa? Tulisan ini merupakan upaya untuk melakukan rekonstruksi sejarah kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568, dan untuk menunjukkan buktibukti sejarah peradaban tersebut sebagai bukti kejayaan peradaban Islam di Cirebon, serta mengungkapkan pengaruh Syarif Hidayatullah pada perkembangan dakwah Islam di Jawa. Signifikansi tulisan ini untuk menunjukkan adanya pembuktian atau lebih tepatnya penegasan akademik bahwa Syarif Hidayatullah yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Jati itu bukan sekedar tokoh legenda, mitos, atau semacamnya, tetapi bagian dari tokoh historis dan fakta sosial melalui rekonstruksi historis peradaban Islam Nusantara, terutama di Cirebon pada tahun 1479-1568. Secara strategis, tulisan ini diharapkan mampu menjadi kelengkapan khazanah sejarah Islam Indonesia dalam konteks rekonstruksi sejarah Islam Nusantara dan kehidupan keagamaan masyarakat, terutama di Cirebon. Penelitian Terdahulu dan Landasan Kajian Penelitian Kejayaan Peradaban Islam di Cirebon pada Era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568 ini tidak dapat dilepaskan dari kajian-kajian sebelumnya, baik karena kemiripan dalam penggunaan metode dan pendekatannya, maupun kedekatan konteks serta cakupannya. Kajian terdahulu berguna untuk mengetahui perbedaan kajian ini dengan kajian-kajian tersebut, sehingga kajian ini ditemukan orisinalitasnya. Adapun kajian secara khusus dengan nama Syarif
51

Bahan awal tentang Cirebon dapat dibaca dalam Sulendraningrat, P.R.A. Sejarah Cirebon, (Jakarta: Balai Pustaka, 1985) dan Membumikan Wasiat Sunan Gunung Djati Dalam Membangun Jawa Barat Bermartabat, (Cirebon: Yayasan Keraton Kasepuhan Cirebon, 2004).

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

107

Hidayatullah, sampai dengan penulisan laporan ini belum ditemukan, kecuali kajian terhadap naskah kuno, yaitu Sajarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati, baik dalam Naskah Mertasinga (2005) maupun Naskah Kuningan (2007). Kajian naskah serupa dilakukan Atja (1972) dengan judul, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Tjirebon). Dengan pendekatan sejarah dan filologi, Atja mengungkap sejarah awal mula Cirebon; diuraikan pula tentang Syarif Hidayatullah melalui naskah yang ditulis Pangeran Arya Cirebon dan transliterasinya, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari.52 Nama Sunan Gunung Jati lebih sering digunakan para peneliti daripada nama Syarif Hidayatullah., misalnya dalam disertasi Dadang Wildan yang telah diterbitkan dengan judul Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural (Bandung, 2002).53 Akbarudin Sucipto menulis Dakwah Sunan Gunung Jati dalam Perspektif Politik: Analisis Deskriptif terhadap Proses Islamisasi Cirebon abad ke-XV dan XVI (Skripsi: STAIN Cirebon, 2006). Kajian tentang Sunan Gunung Jati juga dapat ditemukan dalam ensiklopedi-ensiklopedi, seperti Ensiklopedi Islam (2002, cet.II), Ensiklopedi Ulama Nusantara (2009), dan Intelektualisme Pesantren (2003). Kajian mutakhir tentang Sunan Gunung Jati dilakukan Agus Sunyoto (2011). Dalam buku yang diberi judul Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, Sunyoto memaparkan sehistoris mungkin berdasarkan data manuskrip dan arkeologi gugatan para penulis sejarah Islam di Jawa, di mana Wali Songo masih diabaikan. Kajian tentang Cirebon dalam konteks sejarah beberapa kali telah dilakukan, termasuk bahasan khusus tentang Syarif Hidayatullah walaupun tidak mendalam. De Graaf dan Pigeaud (2003 cet. V) menulis Riwayat Kerajaan di Jawa Barat pada
52

Untuk melengkapi penelitian ini, transliterasi Atja dilampirkan, sebagai bagian tak terpisah dari hasil penelitian ini. Penelitian Atja tahun 1972 ini diterbitkan Ikatan Karyawan Meseum. 53 Dalam kajian Wildan tersebut, dipaparkan pula 7 (tujuh) naskah yang terkait dengan Syarif Hidayatullah dalam bentuk prosa dan tembang. Dalam bentuk prosa yaitu Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Sunda, dan Sejarah Cirebon. Dalam bentuk tembang, yaitu Carub Kanda, Babad Cerbon, Babad Cirebon, dan Wawacan Sunan Gunung Jati.

108

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Abad XVI: Cirebon. Kajian tentang Cirebon tersebut hanyalah salah satu bagian dari kajiannya tentang kerajaan Islam di Jawa, yang dimulai dari Demak, Kudus, Madura, hingga Banten. Acuan penulisan keduanya adalah literatur lokal atau pribumi. Kajian serupa juga dilakukan RH. Unang Sunardjo, Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cirebon 1479-1809 (1983). Begitu pula Uka Tjandrasasmita, yang menulis “Kesultanan Cirebon: Tinjauan Historis dan Kultural” dalam karya arkeologisnya, Arkeologi Islam Nusantara (2009). Tjandrasasmita menguraikan tentang Cirebon dengan pendekatan sejarah, mulai dari pertumbuhan, perkembangan, sampai dengan keruntuhan kesultanan. Paparan lainnya terkait dengan beberapa aspek penting di Cirebon, seperti keagamaan, seni sastra, seni bangun dan ragam hias, serta wayang dan topeng. Kajian lain tentang Cirebon secara khusus dilakukan oleh tim peneliti dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UNPAD dengan judul Sejarah Cirebon Abad Ketujuh Belas (Bandung, 1991). Kajian lain tentang Cirebon dilakukan oleh Darkum (Skripsi Pendidikan Sejarah Fak. Ilmu Sosial UNNES, 2007) dengan judul Peranan Pangeran Walangsungsang dalam Merintis Kesultanan Cirebon 1445-1529. Kajian lain yang masih berkaitan dengan Cirebon dilakukan oleh Heriyanto (Tesis UI, 2000) dengan judul Upacara Panjang Jimat: Suatu Kajian tentang Kraton Kasepuhan Cirebon Masa Kini. Dalam salah satu bagian kajiannya, Heriyanto memaparkan tentang Kraton Pakungwati dan Syarif Hidayatullah. Informasi tersebut, sekalipun tidak berasal dari sumber primer, dapat menjadi informasi penegasan. Adapun kajian dengan pendekatan sastra dan filologi dilakukan Pudjiastuti, yaitu Cirebon (2001) dan Kajian Kodikologis atas Surat Sultan Kanoman, Cirebon [Cod. Or. 2241 ILLB 17 (N0. 80)] (2007). Studi kodeks dalam kajian Pudjiastuti dapat mempertajam analisis untuk mengungkap konteks surat Sultan Kanoman pada akhir abad ke-17. Isi surat itu menobatkan putra bungsu Sultan menjadi Panembahan. Penjelasan lebih luas tentang dinamika Kesultanan Cirebon diungkap Pudjiastuti pada “Cirebon” sebagai salah satu entri Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Umum. Konteks Cirebon dalam tulisan Pudjiastuti berkaitan dengan pernaskahan kuna di Cirebon.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

109

Sulendraningrat memaparkan tentang Cirebon sejak masa Pra Sejarah sampai dengan masa masuknya Islam di Indonesia. 3 No. arkeologi. kajian ini diharapkan selain dapat 110 Jumantara Vol. para penulis asing juga melakukan kajian tentang Kesultanan Islam Cirebon. Wahby (2007). silsilah Sunan Gunung Jati dari garis ayah/ibu. I. Suwarno. silsilah 4 (empat) kesultanan. 2008). III). dst. Sebagai keluarga kraton Cirebon. Architecture of the Early Mosques and Shrines of Java: Influences of the Arab Merchants in the 15th and 16th Centuries?. Kritik internal dan eksternal dalam pendekatan sejarah juga digunakan dalam penelitian ini demi menjaga obyektifitas keilmuan.Penelitian dan penulisan tentang Cirebon dapat ditemukan pula dalam hasil penelitian dan buku-buku yang berasal dari seminar ataupun lainnya. kebudayaan. yang berasal dari disertasinya pada Fakultät Geistes und Kulturwissenschaften (GuK) der Otto-Friedrich-Universität Bamberg. hingga tentang peleburan kota-kota kecil. dan Syafe‟I dalam „Jawa Barat pada masa Pemasukan dan Perkembangan Islam‟ dan „Jawa Barat dalam Abad ke -19‟ sebagai bagian dari Sejarah Daerah Jawa Barat (1979). Catur Kanda. mulai dari Raffles dalam The History of Java (Terj. untuk mengungkap Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah (1479-1568) digunakan pendekatan sejarah yang belum pernah dilakukan. Dengan demikian. masjid Agung. filologi. Karya orang dalam kraton tersebut mengacu pada Babad Cirebon. dan Panjunan Cirebon dikupas sekilas. Sulendraningrat menulis Sejarah Cirebon (1978). dan kitab-kitab lokal lainnya. dan arsitektur. Dalam kajian Ahmed E. yaitu sejarah. Dengan perspektif yang berbeda. Paparan senada diungkap Kosoh. Pada kajian-kajian terdahulu di atas.1 Tahun 2012 . Van Der Kemp dalam Pemberontakan Cirebon Tahun 1818 (1979). Carub Kanda. dan Karel Steenbrink dalam Kawan Dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1941) (1995). Adapun dalam kajian ini. karena itu menjadi penting dan mendesak untuk dilakukan. seperti Kuningan ke Cirebon. Sejarah dalam kajian ini juga didasarkan pada sumber naskah dan artefak budaya. Syarif Hidayatullah. sekurangnya terdapat beberapa landasan kajian yang digunakan. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern: 1200-2008 (2010 cet.

dan Syekh Quro. kajian ini dapat pula menjadi penegas.1 Tahun 2012 111 . ketika umur 20 tahun. Syarif Hidayatullah telah berguru kepada Syekh Tajudin al-Kubri selama 2 tahun dan Syekh Ataillahi Syazally yang bermazhab Syafei. bahwa Syarif Hidayatullah atau sering dikenal dengan Sunan Gunung Jati itu bukanlah legenda. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. hlm. Wahju. Syarif Hidayatullah masih termasuk keturunan Rasulullah SAW. Silsilah Syarif Hidayatullah: Arab dan Cirebon Menurut Ensiklopedi Ulama Nusantara. (Bandung: Pustaka. Raja Abdullah bukanlah raja di Mesir.56 54 Syarif Hidayatullah adalah putra raja Abdullah (Syarif Abdullah) bin Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Husein (al-Husaini) bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan Nurdin bin Abdul Malik bin Gazam bin Alwi bin Muhammad bin Ubaidillah bin Ahmad Muhajir bin Isa al-Bakir (ar-Rumi) bin Muhammad Idris an-Naqib bin Ali al-Uraidhi (Kasim al-Kamil) bin Ja‟far Shadiq bin Muhammad al-Bakir bin Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib (suami Fatimah az-Zahra binti Rasulullah Muhammad SAW. 2007). 755 dan 758. dalam urutan ke-22. sama dengan Sunan Bonang dan Sunan Drajat atau Sunan Giri.memberikan sumbangsih kepada masyarakat. hlm. putri Prabu Siliwangi asal Pajajaran yang bergelar Syarifah Mudaim.55 Guru Syarif Hidayatullah lainnya adalah Syekh Nur Jati (Datuk Khafidz). Syekh Najmurini (Nujumuddin) Kubra di Mekkah. Dilahirkan di Mesir. terutama Perlak atau Pasei. 2009). Wahju. Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup. Jumantara Vol. alih aksara dan bahasa Amman N. Sunan Ampel.54 Menurut Purwaka Caruban Nagari.). (Jakarta: Gramedia. dan arkeologis. 219 56 Lihat pada Naskah Mertasinga dan Kuningan. pada usia 120 tahun Syarif Hidayatullah (tahun 1568) dipanggil sang Khalik dan dikebumikan di Gunung Sembung Cirebon. Syekh Bentong. tapi kemungkinan besar sebagai penguasa kawasan Aceh. alih aksara dan bahasa Amman N. Syarif Hidayatullah dilahirkan pada tahun 1448 dari perkawinan Raja Abdullah (Syarif Abdullah) dengan Rara Santang. 55 Naskah Mertasinga. Karya. Lihat Bibit Suprapto. walaupun berdarah Timur Tengah. tetapi memang dapat dibuktikan melalui fakta-fakta historis. filologis. Syekh Sidiq. pada masa remajanya. dan mitos belaka. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. 3 No. Ini mirip dengan pendapat Hosein Jayadiningrat dengan argumentasi yang berbeda. Ayah Syarif Hidayatullah. dengan judul Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.

Syarif Hidayatullah pernah beberapa kali menikah. Karya. pernikahan ketiga dengan Nyi Mas Retna Babadan (Putri Ki Gedeng Babadan). yaitu: Ratu Ayu (istri Fatahillah) dan Pangeran Pesarean (Dipati Muhammad Arifin). karena Ong Tien meninggal dunia. kelima dengan Nyi Mas Rara Kerta (Putri Ki Gedeng Jatimerta) dikaruniai dua anak: Pangeran Jaya Lelana dan Pangeran Brata Lelana. hlm. Banten) dikaruniai dua anak. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. Juru Labuhan Muarajati II) mempunyai anak Nyi Subang Larang yang menikah dengan Prabu Siliwangi. Dari pernikahannya dengan Prabu Siliwangi mempunyai tiga anak. keempat dengan Dewi Kawunganten (Putri Ki Gedeng Kawunganten. Sultan Mahmud). dan Raja Sangara.57 Silsilah Syarif Hidayatullah dari jalur ayah sampai pada Rasulullah SAW. alih aksara dan bahasa Amman N. Rasulullah SAW.. (Bandung: Pustaka. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.1 Tahun 2012 . 2007). adalah sebagai berikut: Sang Prabu mempunyai anak Ki Gedeng Kasmaya (Ki Ageng Giridewata) Penguasa Carbon Girang yang mempunyai putrid Nyi Karancang Singapuri dari Pulo Pinang/Singapura menikah dengan Ki Gedeng Tapa (Ki Gedeng Juman Jati. (Jakarta: Gramedia. Ratu Winaon dan Pangeran Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I). Syarifah Mudaim). lampiran 112 Jumantara Vol. pernikahan kedua dengan Ong Tien (Putri Cina. dan dari pernikahannya dengan Sultan Mahmud mempunyai dua putra. Sari Kabun (Rara Santang. berganti nama Rara Sumanding) tidak berlangsung lama. mempunyai seorang putri bernama Siti Fatimah yang berputra Sayid Husein yang berputra Zainal Abidin yang berputra Syekh Zainal Kabir yang berputra Syekh Jumadil Kubra dari Quswa yang berputra Raha Umrah-Raja Odhara dari Mesir yang berputra Sultan Bani Israil yang berputra Syarif Hidayatullah. hlm. 3 No. 58 Adapun silsilah Syarif Hidayatullah dari jalur ibu sampai ke Prabu Bunisora. secara singkat sebagai berikut:. Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup. 2009). Wahju. pernikahan pertama dengan Retna Pakungwati (Putri Pangeran Cakrabuana) dikaruniai dua anak. Pangeran Cakrabuana. (Bandung: Pustaka. yaitu:. 2007) 57 Bibit Suprapto. Rara Santang menikah dengan Sultan Bani Israil (Sultan Hud. 756-757 58 Naskah Kuningan.

hlm. Qadiriyah. Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat. Setelah itu. Bruinessen. 223-245. “Perkara lampah kang katiti. 3 No. Kalau bicara. (Dalam hidup ini. 1999) cet. (Bandung: Pustaka. Syarif Hidayatullah berguru kepada Ibnu Atha‟illah al-Iskandari al-Syadzili selama dua puluh tahun di Madinah dan ia mendapat bayaran karena menjadi penganut Tarekat Syadziliyah. dalam babad-babad tentang Syarif Hidayatullah diceritakan bahwa sebelum kepergiannya ke tanah Jawa.60 Adapun beberapa ajarannya melalui pesan. sira aja angebat-tebat ing laku den teka patine. sira aja ngebat-tebat. 59 Guru dan Ajaran Syarif Hidayatullah Menurut Bruinessen. 2007) Jumantara Vol.Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. “Mapam kita iki ing ngahurip. Syarif Hidayatullah juga belajar Tarekat Syattariyah. alih aksara dan bahasa Amman N. Martin van. 23 61 Naskah Mertasinga dalam Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Istika‟i. lan aja nyerang hukuming Widhi. Syarif Hidayatullah telah mendalami akidah. hlm. Den 59 60 Ibid. TradisiTradisi Islam di Indonesia (Bandung: Mizan. antara lain sebagai berikut: Pesan Syekh Najmuddin Kubra kepada Syarif Hidayatullah61. Pesan Syekh Athaillah di Sadili kepada Syarif Hidayatullah. dan Naqsyabandiyah. janganlah kamu bertindak berlebihan. Yen ngucap kang satuhu. syari‟ah. demikian hingga akhir hidup. bahkan tasawuf dengan tarekatnya. itulah hal yang nyata dan lakukanlah hal itu dengan teguh). yang dalam Babad Cirebon selalu disebutsebut. bicaralah yang jujur dan jangan melawan hokum dari Yang Maha Esa.1 Tahun 2012 113 . III. iku samono kang nyata den kukuh laku iku”. yaitu tarekat yang dihubungkan dengan nama Najamuddin al-Kubra. Bruinessen juga berpendapat bahwa Syarif Hidayatullah merupakan penganut Tarekat Kubrawiyah. Bandingkan dengan Naskah Mertasinga. Wahju.

dan perdagangan. Wali Songo. Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikanmu takabur. Uka.basaja sira iku. Pada masa itu. 156 Tjandrasasmita. maju sangat pesat. Sunyoto (2011) dalam analisisnya tentang pendidikan dan pengembangan keilmuan Syarif Hidayatullah. Kemajuan Islam pada era Syarif Hidayatullah tidak berhenti pada terbentuknya pusat pemerintahan di bawah pimpinan 62 63 Sunyoto. Arkeologi Islam Nusantara. (Mengenai langkah yang harus dijalani. Iku lampah kang sampurna jati. jangan sombong dalam bicara dan jangan berlebihan terhadap sesame manusia. sira aja ilok anglaluwih ing padaning manusa. bidang politik. 3 No. Itulah langkah sempurna yang sejati. Lan duwea muhung. untuk mendalami apa yang dinyatakan Sunyoto. keagamaan. Maulana Hasanuddin. lakukanlah tapa di tengah ramainya manusia.. Mung semana lampah ingkang sejati”. hanya itulah langkah yang sejati). Sira laku tapaha maring ingkang remening jalma.1 Tahun 2012 . Wong kang luput den ampura. khusus mengenai guru dan ajaran Syarif Hidayatullah. penguasa kadipaten dari Kerajaan Sunda Pajajaran yang berkududukan di Banten Girang. hlm.diwarnai cerita-cerita absurd yang perlu penafsiran untuk mengetahui kebernaran historisnya”. hiduplah dengan bersahaja.62 Memang penelitian ini perlu dilanjutkan lagi. Bukti Kejayaan Pada Era Syarif Hidayatullah Periode Syarif Hidayatullah (1479-1568) memimpin Cirebon merupakan masa perkembangan sekaligus masa kejayaan Islam di Cirebon. hlm. Milikilah sikap luhur dan maafkan orang yang salah. janganlah kamu berlebihan. seperti di atas. 164 114 Jumantara Vol. 2009).63 Peristiwa itu terjadi setelah keruntuhan pemerintahan Pucuk Umum. aja langguk ing wicara.. Pada masa itu pula berlangsung penyebaran Islam ke Banten (sekitar 1525-1526) melalui penempatan salah seorang putra Syarif Hidayatullah. menyebutnya dengan “. (Jakarta: Pustaka Gramdia. Pan sira aja susah tatapa ing gunung utawa guane iku dadi takabur.

yaitu Indramayu. Tangerang. selain terlihat dari sisi keagamaannya. Bekasi. wilayah perkembangan Islam pada era itu.Maulana Hasanuddin yang terletak di Surosowan. Untuk kepentingan ibadah dan pengajaran agama Islam. Jumantara Vol. saat ini berada di Kasepuhan. Sampai saat ini masjid tersebut masih terpelihara dan dikenal dengan nama dalam dialek Cirebon. Masjid ini merupakan masjid pertama di tatar Sunda dan didirikan di pesisir laut Cirebon.Wilayah Kekuasaan Syarif Hidayatullah 1479-1568 - Tajug dan (atau) Masjid Pendirian tempat ibadah. tetapi pengembangan juga dilakukan ke arah Priangan Timur. khususnya masjid. masjid Pejalagrahan. dekat Muara Cibanten. Kraton Pakungwati. Jika dipetakan. seperti yang tampak dalam gambar. dan Serang (Banten). seperti Tajug (Masjid). kemudian Talaga (tahun 1530). Pangeran Cakrabuana mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Sang Tajug Jalagrahan (jala artinya air. dan pelabuhan yang saat ini tidak seramai dahulu lagi. juga dapat dilihat pada perkembangan bangunan fisiknya. . antara lain ke Kerajaan Galuh (tahun 1528). Krawang. 3 No. yaitu yang bersifat rohaniah seperti penyebaran Islam. graha artinya rumah).1 Tahun 2012 115 . telah dilakukan sejak Islam masuk di Cirebon. Bukti-bukti kejayaan Syarif Hidayatullah di Cirebon.

64 Selain itu. terdapat beberapa bangunan masjid yang dibangun pada masa Syarif Hidayatullah. hlm. Menurut salah seorang takmir masjid. yaitu bangunan dalam dan luar. tempat pengimaman hanya digunakan salat idul fitri dan idul adha 64 Babad Tanah Sunda. yang sampai hari ini diakui keberadaannya.bertempat di dalam Kraton Pakungwati. bagian dalam hanya digunakan untuk Salat hari raya („Ied). Berbeda dari informasi yang berkembang di masyarakat. terbitan Suleman Sulendraningrat. 65 Sebagaimana ciri khas masjid Cirebon lainnya. yakni masjid Merah Panjunan dan masjid Agung Sang Cipta Rasa.1 Tahun 2012 . berbentuk undukan bata. yaitu sekitar tahun 1480. dan dihiasi piring keramik dari Cina. Bagian dalam Masjid Merah Panjunan. 116 Jumantara Vol. Masjid tersebut dibangun sekitar tahun 1454. Bangunan kedua masjid terbagi menjadi 2 (dua). Kasepuhan. dibangun sesudah masjid Merah Panjunan. Bagian dalam masjid digunakan hanya untuk waktu-waktu khusus. sebelum masjid Agung Sang Cipta Rasa didirikan. Sunan Gunung Jati. masjid Agung Sang Cipta Rasa. di dinding bagian pengimaman terdapat lukisan khusus. Khusus untuk Masjid Merah Panjunan. 3 No. menurutnya. sedangkan bagian luar berfungsi untuk salat maktubah. 45 65 Wawancara Agustus 2011 di Masjid Merah Panjunan Cirebon. seperti ditulis Dadan Wildan. para walisongo sering mengadakan rapat di dalam masjid untuk membicarakan beberapa hal penting urusan umat.

Mesjid Merah Panjunan Mesjid Merah Panjunan Kejayaan era Syarif Hidayatullah juga terlihat dari keberadaan sebuah bangunan masjid yang bernama Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang saat ini berada dalam lingkungan kompleks Kraton Kasepuhan.1 Tahun 2012 117 . Masjid itu dibangun tahun 1549 atau seperti yang tertulis dalam candrasangkala yang berbunyi Waspada Jumantara Vol. 3 No.

kekuasaan cukup dijalankan oleh putranya di Banten. 1979). yang bermakna 1500. mulai dengan alun-alun dan istana yang kemudian terkenal dengan nama Istana Pakungwati (Pupuh 18. Mempertimbangkan hal itu. Syarif Hidayatullah di akhir hayatnya lebih memilih untuk menjadi seorang ulama daripada penguasa pemerintahan. (Jakarta: Sinar Harapan. Perkembangan Islam secara luas dan massif bermula dari tempat itu.68 66 Waspada = 2. Kraton dan Sistem Pemerintahan Cirebon Sarip Hidayat menikah dengan Pakungwati dan mulailah pembangunan negara (kota) Carbon.1 Tahun 2012 . 123 67 Babad Cirebon. hlm. Baginya. Pesarean merupakan putra Syarif Hidayatullah dengan Nyai Tepasari. hlm. Sebagai bagian dari Walisongo. Abdurrachman (penyunt. Nama lain masjid ini adalah Masjid Pakungwati. Cerbon. (Jakarta: Depdikbud. 83. xxviii 68 Adeng .Penenbehe Yuganing Ratu. Dhandhanggula)67 Sejak serah terima dari Pangeran Cakrabuana. Tetapi menurut Naskah Mertasinga. 1982). Panembehe = 2. Hadisutjipto (Jakarta: Depdikbud. hlm.dkk. Keaktifan dakwah Islam Syarif Hidayatullah tidak membuatnya melupakan penataan pemerintahan di daerah sekitarnya. Syarif Hidayatullah menyerahkan kekuasaan pemerintahan di Cirebon kepada Pangeran Pesarean pada kurun waktu 1528-1552. alih aksara dan ringkasan S. Simbol bangunan masjid melambangkan filsafat Hayyun ila Ruhin (hidup tanpa ruh). 3 No. Syarif Hidayatullah tinggal di Kraton Pakungwati. 34-35 118 Jumantara Vol.). Syarif Hidayatullah sendiri lebih memilih mengkhususkan diri dalam syiar Islam ke daerah pedalaman. 1998). Hal itu pula merupakan konskuensinya sebagai anggota penting Walisongo. jadi 1422 caka.Z. Masjid Agung dibangun ketika Syarif Hidayatullah berumur 113 tahun atau sekitar 1561. Kota Dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra. Berbagai perubahan sistem pemerintahan yang berdasarkan nilai-nilai Islam mulai diterapkan. Paramita R. hlm. Yuga = 4. Naskah Mertasinga. Ratu = 1.66 Bentuk bangunan dan simbol-simbol dalam masjid semuanya sarat dengan makna filosofis.

maka ia mendapat julukan Pandita Ratu (ulama yang menjadi raja. Kraton Kasepuhan sebagai pintu gerbang menuju Kraton Pakungwati Kraton Cirebon setelah ditinggal Syarif Hidayatullah mengalami Jumantara Vol. 3 No.Masjid Agung Sang Cipta Rasa dari berbagai sisi Pintu Gerbang Masjid Pintu Masuk Masjid Dalem Dengan tidak aktifnya Syarif Hidayatullah dalam pemerintahan.1 Tahun 2012 119 . tetapi lebih giat menjalankan keagamaan daripada bergerak di bidang politik).

kota Cirebon juga menjadi kota pelabuhan alternatif terpenting di pantai utara Jawa setelah Jakarta dan Semarang. penyebaran Islam ke daerah Babadan.unikom.1 Tahun 2012 . Kapal-kapal asing yang mengangkut barang-barang niaga dari dan ke luar negara pernah meramaikan pelabuhan ini.undip.70 Menurut Singgih Tri Sulistiono. Cirebon merupakan pusat perdagangan untuk daerah sekitarnya. Mungkin fenomena ini bisa ditafsirkan sebagai upaya Cirebon untuk memperkuat posisinya di bidang perdagangan dan pelayaran dengan cara menguasai daerah pedalaman yang menjadi sumber 69 http://elib. Sastra UNDIP. 3 No. Kuningan (Selatan Cirebon). yaitu Panembahan Ratu dan Sultan.id/22079/ 120 Jumantara Vol.ac. dan Karawang. Hal itu sejalan dengan perkembangan pesat dari beberapa kerajaan Islam di Jawa dan Banten. Perkembangan pelabuhan paling pesat terjadi pada abad ke-19.ac.. Pelabuhan Cirebon merupakan pelabuhan yang memiliki peran strategis dalam hal perdagangan sejak masa Syarif Hidayatullah masih berkuasa. bersamaan dengan berlangsungnya era kolonialisme.69 Selain itu. Indramayu. “Perkembangan Pelabuhan Cirebon 1859 -1930”.berbagai kemunduran. dapat disaksikan puluhan kapal besar tengah bersandar di dermaga. Gelar penguasa Cirebon pernah mengalami beberapa perubahan. Pemandangan itu pun masih dapat ditemui hingga saat ini.pdf 70 Sigit W. Pelabuhan Cirebon diduga berdiri seiring dengan kelahiran Cirebon pada 1371. 1994) dalam http://eprints. Pelabuhan sebagai Pusat Perdagangan Peninggalan Syarif Hidayatullah yang pernah menjadi bagian dari jalur sutra perdagangan dunia internasional adalah pelabuhan. terlebih lagi setelah adanya pengaruh pihak kolonial atau masuknya VOC ke Cirebon. (Semarang: Skripsi Fak.id/files/disk1/475/jbptunikompp-gdl-midiansoem-237253-bab2-mid-n. bahwa perubahan nama gelar untuk penguasa di Kraton Cirebon juga menunjukkan adanya dinamika yang luar biasa. Pada sore hari. Dari berbagai sumber diketahui. Sebagai kota pantai. terjadi dengan damai dan tanpa kekerasan.

penghasil komoditas perdagangan. setiap Sunan dalam Wali Songo mempunyai tugas masing-masing. Arkeologi Islam Nusantara. 3 No.1 Tahun 2012 121 . Seperti disebutkan 71 72 Seperti dikutip Tjandrasasmita.com/photos/album/91/Pelabuhan_Cirebon Jumantara Vol. Lebih-lebih pada masa pemerintahan Syarif Hidayatullah (1479-1568) yang lebih kurang berusia satu abad. hlm. Adapun pelabuhan Cirebon dikelola oleh BUMN yang keberadaannya dibawah manajemen PT (Persero). 164 http://boykomar. maka kejayaan Cirebon juga sudah mulai tenggelam. pelabuhan samudra dan pelabuhan ekspor impor. Uka. pelabuhan Cirebon berstatus pelabuhan internasional. Pengaruh Syarif Hidayatullah di Jawa Sebagaimana disebut di awal pembahasan. seperti beras dan kayu. 71 Pelabuhan Kota Cirebon saat ini Saat ini.72 Pelabuhan Cirebon inilah salah satu sumber ekonomi terbesar Kraton Cirebon sehingga pihak kraton dapat memenuhi kehidupan masyarakatnya. kota pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon sudah lebih banyak penduduknya dan lebih ramai. serta sekaligus tempat mensuplai barang-barang dari luar. yang berarti bahwa pelabuhan Cirebon terbuka bagi kegiatan bongkar muat barang dari dan ke luar negeri atau barang ekspor dan impor.multiply. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa jika pelabuhan tersebut kurang dimanfaatkan.

1 Tahun 2012 . kaliyan sinjang lurik. serta tata cara membuka hutan. membuat gamelan. dan menggubah irama gamelan. Kanjeng Susuhunan Bonang. Syarif Hidayatullah di Cirebon mengajarkan tata cara berdoa dan membaca mantra. juga membuat peraturan. hingga sistem peradilan yang diperuntukkan bagi orang Jawa. utawi amewahi lampahing pawukon sapanunggalipun. juga merintis pembukaan jalan. tandu joli sapanunggalanipun.. kaliyan malih amiwiti damel dalan tiyang Jawi. sinjang batik. Kanjeng Susuhunan Kudus amewahi dapuripun dadamel. bulan. adamel susuluking ngelmi kaliyan amewahi ricikanipun ing gangsa. Kanjeng Susuhunan ing Gunung Jati ing Cirebon. kaliyan amewahi bangsa pepetangan lampahing dinten wulan tahun windu. kaliyan amewahi parabotanipun ing among tani. tenun lurik. 122 Jumantara Vol. Sunan Bonang mengajar ilmu suluk. tata cara pengobatan. saha adamel angger-anggeripun hingga pangadilan hokum ingkang keninging kalampahan ing titiyang Jawi. dan windu. kaliyan kemasan. kanggenipun ing tiyang Jawi. mengatur perhitungan kalender siklus perubahan hari. sebagai berikut: Susuhunan ing Ngampel-denta handamel pranating agami Islam. Susuhunan Majagung mengajarkan mengolah berbagai macam jenis masakan. saha amewahi ing wangunipun kakapaning kuda.73 Menurut Serat Walisana. Dalam bahasa Primbonnya. serta membuat gerabah. seperti disebut Sunyoto. Raja Pandhita ing Gresik amewahi ing polanipun ing sinjang. tokoh Syarif Hidayatullah dikisahkan memiliki kaitan dengan ajaran sufisme 73 Sunyoto. memperbarui alat-alat pertanian. Sunan Giri membuat tatanan pemerintahan di Jawa. hlm. dan perlengkapan kuda. utawi amewahi lagunipun ing gending. tahun. Sunan Kudus merancang pekerjaan peleburan. dan lauk pauk. menyesuaikan siklus pawukon. utawi tiyang ingkang karembat ing tiyang. adalah sebagai berikut: Sunan Ampel membuat peraturan-peraturan yang Islami untuk masyarakat Jawa. utawi amewahi parabotipun bekakasing pande. dadaharan hutawi ulam-ulaman.Sunyoto. Sunan Drajat mengajarkan tata cara membangun rumah dan membuat alat untuk memikul orang. membuat keris. amewahi donga hakaliyan mantra. Sebagai Raja Pandita di Gresik ia merancang pola kain batik. melengkapi peralatan pande besi. Susuhunan ing Majagung amewahi wangunipun ing olah-olahan. kerajinan emas. 90-91. utawi andamel garabah. 3 No. waos duwung sapanunggalanipun. utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana. undang-undang. Kanjeng Susuhunan Drajat. amewahi wanguning griya. Kanjeng Susuhunan ing Giri adamel pranatanipun ing karaton Jawi. seperti tandu dan joli. tugas tokoh-tokoh Wali Songo dalam mengubah dan menyesuaikan tatanan nilai dan sistem sosial budaya masyarakat.

Syarif Hidayatullah yang hidup pada abad ke-15/16 di Cirebon. Kesimpulan Mengkaji teks Syarif Hidayatullah sungguh mengasikkan. daripada sebagai penguasa formal birokratis di kesultanan Cirebon.76 Menurut sumber lain. cet. Syaikh Sbti. Syarif Hidayatullah telah menanamkan suatu 74 75 Sunyoto. khususnya Syarif Hidayatullah. Syaikh Muhyiddin Ibn „Arabi. Begitu pula dengan keterlibatannya dengan kerajaan Islam di Banten. Syaikh Rudadi.1 Tahun 2012 123 . hlm. 3 No. Sunan Giri. antara lain rapat Wali Songo pernah dipindah dari Demak ke Cirebon untuk membicarakan banyak hal di Jawa. Setiap teks selalu menawarkan informasi yang tak jarang berbeda dan bertentangan satu teks dengan teks lainnya tentang sosok Syarif Hidayatullah. Sebagai tokoh yang lebih memilih dakwah syiar Islam bagi masyarakatnya. alih aksara dan bahasa Amman N. terdapat berita bahwa Sunan Cirebon ikut serta membangun masjid Demak sebagai salah satu di antara Sembilan wali. V. 2007). hlm. hlm. dan Syekh Siti Jenar.75 Keterlibatan Syarif Hidayatullah dengan kerajaan Islam di Demak. sering pula dinisbatkan pada ajaranajaran Wali Songo. Bukti kedekatan pengaruh juga ditunjukkan dengan pola pernikahan putra putrinya.74 Dalam Serat Kanda. Sunan Kalijaga. 2007). seperti dikutip Muljana. Abad tersebut. Sekurangnya terdapat beberapa peristiwa besar di Demak. Wahju. (Yogyakarta: LKiS. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya NegaraNegara Islam di Nusantara. Sebagai sosok historis.. 100-101 76 Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga). (Bandung: Pustaka. sampai dengan tulisan ini dibuat.. tidak ditemukan suatu kitab atau karya akademiknya. intelektual dan muballig. Ibid.melalui kitab-kitab Syaikh Ibrahim Arki. Perkembangan Tarekat Syattariyah dan Akmaliyah. Fatahillah. 91-92 Slamet Muljana. disebutkan pula dalam Naskah Mertasinga. 72-88 Jumantara Vol. Syarif Hidayatullah juga ikut dalam perjuangan Islam di Jayakarta melalui utusannya. dan Syaikh Samangun Asarani. Syaikh Abu Yazid Bustomi. bersamaan dengan masa renaisans di Eropa dan kehadiran para pemikir besar muslim pada masanya.

Tak kalah pentingnya lagi kontribusi Syarif Hidayatullah pada perkembangan Islam di Jawa Barat dengan cara dakwah dengan damai. “Peranan Walangsungsang dalam Merintis Kesultanan Cirebon 1445-1529”. Ciamis. III. mulai dari Kuningan. Majalengka. Adanya kerajaan Islam di Demak dan Banten merupakan beberapa contohnya. “An Inheritance from the Friends of God: The Southern Shadow Puppet Theater of West Java. barangkali merupakan sebagian di antara bukti peradaban muslim klasik Indonesia dari Syarif Hidayatullah selama kurun waktu 1479-1568 di Cirebon. Cet. Kota Dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra. Bandung: Mizan. Bruinessen. Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia. Martin van (1999). (1998). Skripsi UNES Semarang. Cohen. Indonesia”. Yale University. Matthew Isaac (1997). Garut. Penyunting Eko Endarmoko dan Jaap Erkelens. Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah muladjadi Tjirebon). Karena itu. Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. bukti kejayaannya dapat ditemukan melalui bangunan tajug atau masjid dengan keragaman seni dan filosofinya. 3 No. dkk. Wallahu a‟lam bis sawab Bibliografi Adeng. Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Masjid Merah Panjunan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Sumedang. Pigeaud (2003). Jakarta: Depdikbud.peradaban moral dan teologis bagi muslim Indonesia terutama di Cirebon. HJ. Pengaruh Syarif Hidayatullah terhadap perkembangan Islam di Jawa sangat besar sekali. Cianjur. 124 Jumantara Vol. De & Th.1 Tahun 2012 . Darkum (2007). Disertasi. Indramayu. Atja (1974). Graaf. bahkan Jayakarta (Betawi). Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat. Jakarta: Ikatan Karyawan Meseum.

(2000) Hand Book of Qualitative Research. Paramita R. Kern dan Husein Djajadiningrat. Jakarta: Bhratara. Husein Muhammad. Tesis. Kern dan Husein Djajadiningrat. Cet. P. Agus Aris dan Titik Pudjiastuti (1997) “SumberSumber Tekstual tentang Sejarah Cirebon”. Jakarta: Sinar Harapan. Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Pertumbuhan Pesantren.Djajadiningrat.A. Siddique. Universitas Gajah Mada. “Beberapa Catatan Mengenai Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinja”. Denzin. & Lincoln S. Masa Awal Kerajaan Cirebon.A. Munandar. K. Yoseph (2008) Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakwasa). Kern. dalam R. dalam R. Abdullah Mustofa (2001) Pakar-Pakar Fiqh Sepanjang Sejarah. al-Maraghi. Hoesein (1974). (1974) “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinya”. Yogyakarta.N. R. Nugroho Notosusanto. Yogyakarta: LKPSM. Jakarta: Bhratara. Ishom (edit. Cerbon. Masa Awal Kerajaan Cirebon.) (1982). II. 3 No.) (2003). Sejarah Nasional Indonesia: Jaman Jumantara Vol. Mastuki HS.A. Jakarta: Diva Pustaka.A. dan M. Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra. Jakarta: Depdikbud. Masduqi. Bandung: Geger Sunten. Abdurrachman. Cet. dalam Susanto Zuhdi. Zaenal (2010) “Pemerintahan Kota Cirebon (19061942)”. X. Jakarta: Djambatan. Tim IAIN Syarif Hidayatullah (2002) Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid I A-H. (penyunt. United States: Sage Publications Inc. Sharon (1992). Relics of the Past: Sociological Study of the Sultanates of Cirebon West Java. Penterj. seperti dikutip dalam Marwati Djoened Poesponegoro.1 Tahun 2012 125 . Iskandar. El-Saha.Y.

PRA (1985). Sigit W (1994) “Perkembangan Pelabuhan Cirebon 1859-1930”. _______ (2004) Membumikan Wasiat Sunan Gunung Djati Dalam Membangun Jawa Barat Bermartabat.Pertumbuhan dan Perkembangan III. Ribut Wahyudi. Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural.undip. Dadan (2002).ac. 3 No. Smith. Bandung: Humaniora. Sunyoto. Bill (2005). dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. Metodologi Penelitian Sosial-Agama. Skripsi. Cirebon: Yayasan Keraton Kasepuhan Cirebon.id/22079/ Yenne. Margaret (2001). Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan 126 Jumantara Vol. Uka (2009) Arkeologi Islam Nusantara. Fakultas Sastra UNDIP. Suntingan/Terbitan Naskah Babad Tanah Sunda. penterj.]: Karisma Publishing Group. Jakarta: Balai Pustaka. Surabaya: Risalah Gusti. Karya. Tulisan dapat diakses di http://eprints. Mistikus Islam: Ujaran-ujaran dan Karyanya. Agus (2011). Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan. Sejarah Cirebon. Tjandrasasmita. Jakarta: Gramedia. Sulendraningrat. Jakarta: Transpustaka. Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup.1 Tahun 2012 . Jakarta: Pustaka Gramedia. Wildan. [t. Lili Sri Padmawati. Imam (2001). Suprayogo dan Tobroni.k. terbitan Suleman Sulendraningrat dalam Dadan Wildan. 100 Peristiwa yang Berpengaruh di dalam Sejarah Dunia (100 Events That Shaped World History). Suprapto. Bandung: Remaja Rosda Karya. Bibit (2009). Penterj. Jakarta: Balai Pustaka.

id/kbbi/index. 3 No.id/files/disk1/475/jbptunikompp-gdlmidiansoem-23725-3-bab2-mid-n. (Bandung: Humaniora. Wahju. alih aksara dan ringkasan S. 1979) Naskah Mertasinga.htm Jumantara Vol.html http://indahartgallery.php http://boykomar. Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.multiply. Wahju. 2007) Website http://pusatbahasa.nusawarta.kemdiknas.webs. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.com/2010/12/kisah-sejarah-kotacirebon. alih aksara dan bahasa Amman N. (Bandung: Humaniora. (Bandung: Pustaka.go.com/photos/album/91/Pelabuhan_Cireb on http://elib.1 Tahun 2012 127 .Z.pdf http://www. Hadisutjipto (Jakarta: Depdikbud.unikom. 2005) Naskah Kuningan.ac. (Bandung: Pustaka.Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural. alih aksara dan bahasa Amman N. terbitan Suleman Sulendraningrat dalam Dadan Wildan. 2002) Babad Tanah Sunda.com/keraton. 2002) Babad Cirebon.

panjang serat. digunakan beberapa alat bantu identifikasi agar hasilnya lebih terukur. warna bahan. Daluang.1 Tahun 2012 . Adapun uji sampel di laboratorium mengacu pada Standard Nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional Indonesia (BNSNI) sehingga hasilnya lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Adanya kemungkinan penggunaan metode dan hasil identifikasi bahan naskah daluang tersebut diharapkan dapat memperkaya metode kajian naskah dan mempertajam analisis filologis selanjutnya. yaitu pengamatan langsung dan uji sampel di laboratorium. Dalam hal metode pengamatan langsung. Candi Cangkuang *) Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia 128 Jumantara Vol. Dua metode tersebut digunakan untuk identifikasi bahan naskah gulungan koleksi Cagar Budaya Candi Cangkuang (CBCC). Kata Kunci: Identifikasi. Bahan Naskah.Abstrak Tulisan ini berupaya memaparkan hasil identifikasi naskah berbahan daluang dengan menggunakan dua metode. kadar asam dan jenis kerusakan naskah. jenis serat. 3 No. Karakteristik bahan naskah yang dihasilkan berupa ketebalan bahan.

daluang merupakan salah satu dari sekian banyak bahan naskah yang digunakan dalam tradisi tulis Nusantara. dan aspek-aspek lainnya. Dalam identifikasi naskah. Kasus serupa terjadi pada pendeskripsian naskah gulungan CBCC di Kecamatan Leles. Terjadinya kesalahan dalam identifikasi naskah berbahan daluang. Contoh kesalahan dalam pendeskripsian naskah yang memakai daluang sebagai bahannya adalah pendeskripsian bahan naskah pada koleksi Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga Jawa Barat (BPMNSBJB). yang secara otomatis Jumantara Vol. terdapat pula kekeliruan dalam pendeskripsian bahan naskah pada materi pameran tetap di BPMNSBJB. dan 1 naskah berbahan daluang saéh. Naskah berbahan daluang dideskripsikan sebagai naskah berbahan kulit kambing. 1985: 4-5. Sudjiman. 3 No. di antaranya Lubis (1996:37) yang menyatakan bahwa “daluang adalah kertas yang digunakan di Pulau Jawa yang terbuat dari kulit kayu sebagai campuran”. Terkait dengan bahan naskah. Namun patut dicatat bahwa masih terdapat beberapa kekeliruan dalam memahami daluang. Provinsi Jawa Barat. 2 buah berbahan saéh. 74 buah di antaranya berbahan “daluang”. yang menyatakan bahwa dari 137 buah koleksi naskah yang ada terdaftar. Kabupaten Garut. dan daluang saéh.Pendahuluan Naskah dibedakan atas adanya fisik dan kandungan teks. yang pertama kali dapat dilakukan di antaranya adalah pendeskripsian medium. Dalam hal ini digunakan tiga istilah untuk satu jenis bahan naskah yang sama. fisik naskah adalah medium yang mewadahi teks sebagai kandungannya (Baried. Medium dalam naskah dapat dibedakan pula atas dua hal. saéh. yaitu naskah Babad Pajajaran yang kemungkinannya besar berbahan daluang dideskripsikan sebagai naskah berbahan kulit binatang. Sudardi.1 Tahun 2012 129 . baik dari segi peristilahan. 2001: 18-20. bisa jadi disebabkan oleh hilangnya tradisi pembuatan daluang. 1994: 11). Di samping itu. pengenalan karakteristik bahan. yaitu daluang. yaitu bahan dan teknik.

Buruknya kondisi naskah-naskah berbentuk buku bisa jadi disebabkan oleh tingginya tingkat penggunaan pada masa naskah itu digunakan atau karena kurang baiknya teknik penjilidan. naskah gulungan kondisinya lebih baik. bahkan dalam berbagai katalog naskah pun belum tercantum. teknik. Naskah koleksi CBCC seluruhnya berjumlah tujuh belas naskah dan seluruh bahan naskahnya diperkirakan berupa daluang. Di antara sekian banyak naskah yang berhasil dihimpun dalam berbagai katalog naskah Nusantara. berupa buku (binding) dan gulungan (scroll). dan aksaranya sudah tidak terlalu jelas. naskah CBCC ternyata belum banyak diteliti. lima belas buah naskah berbentuk buku disimpan berjajar dalam dua lemari kaca dan dua naskah disimpan terpisah dalam sebuah lemari kaca lainnya. termasuk para petugas yang menangani naskah. tidak mengenal wujud dan ciri-ciri daluang dengan baik. Kini banyak orang. Dalam hal ini peran kajian kodikologi untuk mengenali bahan. Adapun informasi mengenai koleksi naskah CBCC dapat dilihat pada buku Cagar Budaya Candi Cangkuang dan Sekitarnya yang disusun oleh Zaki Munawar (2002). Berbeda dengan yang berbentuk buku. 3 No. Sehubungan dengan hal itu. penyimpanan. serta fungsinya diperkirakan dapat memberi jalan bagi pendalaman kajian terhadap naskah serta pengembangan bagi disiplin ilmu filologi. daluang sebagai bahan naskah yang dihasilkan oleh tradisi tulis Nusantara menjadi penting untuk dikaji lebih lanjut. sehingga menyulitkan ketika akan dibaca. 130 Jumantara Vol. termasuk di dalamnya naskah berbentuk gulungan. berjamur. lembab.1 Tahun 2012 . Kondisi fisik naskah berbentuk buku umumnya sudah mulai rusak (dari enam belas naskah hanya tiga naskah yang kondisinya masih cukup baik). Kemasan naskahnya terdiri dari dua bentuk.menyebabkan informasi mengenai daluang menjadi terputus. lembar halamannya terurai dari jilidannya sehingga halaman demi halamannya tercecer. atau karena kurang baiknya pemeliharaan masyarakat pendukung berikutnya. Naskah-naskah koleksi CBCC disimpan di tiga lemari kaca yang berbeda. dan perawatan naskah.

lembarannya relatif masih utuh, tidak terlalu lembab, tidak terlalu berjamur, dan aksaranya terlihat jelas sehingga memudahkan pembacaan teks. Kondisi naskah berbentuk gulungan yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi naskah berbentuk buku mengundang beberapa pertanyaan, di antaranya: apakah naskah yang dikemas dalam bentuk gulungan lebih baik daripada naskah berbentuk buku atau apakah ada kaitan antara bahan naskah dan bentuk kemasan naskah dengan tingkat kekuatan fisik naskah?

Gambar 1. Tampak kerusakan naskah berbentuk buku koleksi CBCC. (dok. pribadi)

Naskah gulungan koleksi CBCC mempunyai ukuran 176 X 23 cm., kedua permukaannya ditulisi dengan teks beraksara Arab,; tinta yang digunakan untuk menuliskan aksara berwarna hitam dan tinta yang digunakan untuk menuliskan tanda baca berwarna merah. Identifikasi bahan naskah gulungan koleksi CBCC pada dasarnya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan berdasarkan pengujian di laboratorium. Pengamatan secara langsung di lapangan dapat dilakukan dengan bantuan alat ukur dan peralatan lainnya yang

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

131

diperlukan. Alat ukur yang digunakan di lapangan memberikan hasil ukur secara langsung, seperti panjang dan lebar bahan naskah, ketebalan bahan naskah, warna bahan naskah, jenis aksara, dan warna tinta tulis yang digunakan. Adapun pengujian bahan di laboratorium dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan laboratorium dan didasarkan pada metode dan standar yang sudah diakui secara nasional, yaitu SNI. Pengamatan Langsung Pengamatan terhadap bahan naskah gulungan koleksi CBCC yang bisa dilakukan secara langsung di lapangan adalah berupa pengukuran dimensi panjang dan lebar bahan naskah dengan menggunakan mistar, pengukuran ketebalan bahan naskah dengan menggunakan mikrometer digital, dan pengukuran warna dengan menggunakan tabel warna; di samping itu dilakukan pula pengambilan gambar dengan menggunakan kamera digital untuk keperluan dokumentasi penelitian. Setelah dilakukan pengukuran, hasilnya menunjukkan bahwa ukuran bahan naskah adalah 176 X 23 cm., sama dengan informasi yang diberikan oleh juru pelihara CBCC. Ukuran bahan naskah seperti itu termasuk jarang digunakan dalam penulisan naskah, hal ini dapat di antaranya dapat dilihat pada data dalam Katalogus Naskah Sunda (1988), yang menunjukkan bahwa naskah-naskah Sunda umumnya mempunyai ukuran di bawah ukuran bahan naskah gulungan koleksi CBCC dan umumnya berbentuk buku. Kelangkaan ukuran bahan naskah tersebut juga dapat mengindikasikan bahan baku yang digunakannya. Dalam hal ini bisa diyakini bahwa naskah gulungan koleksi CBCC bukan terbuat dari kulit kambing seperti yang dideskripsikan oleh petugas juru pelihara CBCC, berangkat dari asumsi panjang kulit kambing dari bagian leher sampai dengan bagian ekor berkisar antara 90 sampai dengan 120 cm. Di samping itu tidak terdapat bintik-bintik bekas pori-pori dan bekas tumbuhnya bulu seperti pada lembaran kulit binatang pada umumnya. Serat pembentuk

132

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

lembarannya pun serat panjang seperti halnya serat pembentuk lembaran kulit kayu. Mengenai kepastian jenis serat pembentuk bahan, selanjutnya akan dipastikan melalui uji laboratorioum.

Gambar 2. Tampak serat pembentuk bahan naskah NGCBCC. (dok. pribadi)

Mengenai ketebalan bahan naskah gulungan koleksi CBCC, setelah dilakukan pengukuran ternyata bahwa ketebalan bahannya tidak sama, paling tipis adalah 0.29 mm dan paling tebal adalah 0.48 mm. Berpijak pada adanya variasi ketebalan bahan dan dikaitkan dengan jenis serat pembentuk lembaran yang diduga berasal dari serat kulit kayu, maka dapat dipastikan bahwa bahan naskah gulungan koleksi CBCC dibuat secara tradisional; bukan dibuat secara modern dengan menggunakan mesin pembuat kertas yang dapat menghasilkan kertas dengan ketebalan yang sama karena dibentuk oleh sebuah mekanisme pembentuk lembaran (sheet former) yang presisi. Dengan adanya kenyataan serat pembentuk bahan naskah berupa jenis serat panjang yang berasal dari kulit kayu, penentuan bahan naskah pun bisa dirujuk pada adanya daluang sebagai bahan naskah Nusantara. Mengenai warna bahan naskah gulungan CBCC, agar

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

133

keterukurannya lebih akurat, maka pengukuran warna disandarkan pada tabel warna C/M/Y/K. Setelah diukur secara acak berdasarkan kesamaan dan perbedaan warna yang mencolok, didapatkan hasil ukur warna dengan pola (1) 10/20/50/0, (2) 40/40/50/0, (3) 5/5/50/0, (4), 5/20/50/0 (5), 0/10/50/0, dan (6) 5/10/50/0. Jika keseluruhan pola warna tersebut dikonversikan ke tabel warna yang dikeluarkan oleh Winsor & Newton, maka warna bahan naskah gulungan CBCC dapat termasuk ke dalam warna naples yellow, yellow ochre, atau raw sienna.

Gambar 3. Tampak pengukuran ketebalan kertas - 0.29 mm. (dok. pribadi)

Gambar 4. Tampak nilai warna pola 1. 10/20/50/0 (dok. pribadi).

134

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

atau raw sienna (dok. 3 No.2-1998. yaitu: pengujian pH didasarkan pada SNI 14-0479. yellow ochre. pengujian daya serap Jumantara Vol. Sertifikasi. Gambar 5. Kepala Bidang Pengujian. menyatakan bahwa bahan naskah gulungan koleksi CBCC dapat diidentifikasi berdasarkan uji atas (1) pH atau kadar asam. dan (6) ketahanan lipat. dan Kalibrasi. pengujian panjang serat didasarkan pada SNI ISO 16065.1 Tahun 2012 135 . jika pada saat pembuatan warna bahan naskah adalah sama.2-2010. maka perbedaan warna yang dapat disaksikan saat ini adalah perbedaan warna yang dihasilkan atau diakibatkan oleh perjalanan waktu serta perlakuan terhadap naskah itu sendiri. Seluruh pengujian tersebut metodenya didasarkan pada standar yang telah ditetapkan BSNI. pribadi). (5) daya serap air atau Cobb 60. (3) panjang serat. (4) daya serap tinta atau penetrasi minyak IGT. Nina Elyani. Tampak hasil konversi warna bahan NGCBCC yang menunjuk pada warna naples yellow. (2) jenis serat. pengujian jenis serat didasarkan pada SNI 0441-2009. berdasarkan informasi studi lapangan yang dilakukan pada tanggal 3 Pebruari 2011 di Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) yang berlokasi di Jalan Raya Dayeuhkolot 132 Bandung.Adanya perbedaan atau gradasi warna yang terdapat pada naskah gulungan CBCC menunjukkan bahwa. Hasil Uji Laboratorium Untuk melakukan identifikasi bahan naskah di labotatorium.

pribadi) Pengujian kadar asam serta penentuan jenis dan panjang serat bahan naskah gulungan CBCC menjadi sangat penting untuk dilakukan karena melalui pengujian ini akan dapat diketahui apakah bahan naskah tersebut termasuk kertas yang kuat. Keberadaannya harus senantiasa dijaga dan harus tetap berada di lokasi CBCC. dan panjang serat bahan naskah karena contoh bahan naskah yang diperlukan untuk pengujian tersebut tidak terlalu besar. 3 No. dan pengujian ketahanan lipat didasarkan pada SNI 0491-2009. Namun demikian. yang selanjutnya disebut sampel utama. ternyata masih terdapat peluang untuk melakukan uji pH atau kadar asam. dengan 136 Jumantara Vol. Ukuran minimun bahan untuk uji kualitas tersebut nampaknya tidak dapat dipenuhi karena naskah gulungan CBCC merupakan benda koleksi dilindungi oleh Undang-Undang Cagar Budaya. penentuan jenis serat. Tampak bagian ujung bahan naskah yang koyak. Gambar 6. yaitu sekitar 1 X 1 cm untuk uji kadar asam dan 1 X 1 cm untuk uji jenis serat dan panjang serat.tinta didasarkan pada SNI 14-9584-1989. (dok. Sampel bahan diambil dari bagian naskah gulungan CBCC yang koyak.1 Tahun 2012 . pengujian daya serap air didasarkan pada SNI 0449-2008. Etika keilmuan filologi juga tidak memperkenankan untuk pengambilan bahan naskah karena akan merusak naskah itu sendiri. Untuk melakukan uji kualitas bahan naskah diperlukan bahan atau sampel dengan ukuran minimum 15 X 20 cm yang akan hancur setelah proses pengujian berlangsung.

“permanensi adalah kemampuan kertas untuk tetap stabil dan tahan terhadap aksi kimia.” Adapun menurut Harvey. “unsur asam atau lignin. di mana skala pH 0 menunjukkan derajat asam. dinyatakan bahwa ukuran terpenting yang menjadi penentu kertas bersifat permanen adalah kadar pH. skala pH 7 menunjukkan sifat netral.permanensi (kekuatan) dan durability (ketahanan) tinggi. potassium alumunium sulphate untuk penghalus permukaan kertas (bahan kimia dalam proses pembuatan kertas pabrikan) dan penggunaan tinta tulis yang mengandung unsur iron gallotannate (garam besi) juga merupakan faktor yang dapat menyebabkan tingkat keasaman (acid sulfurik) bahan naskah menjadi tinggi”. contohnya goresan dan lipatan. yaitu kadar keasaman atau kebasaan suatu kertas dengan skala 0 – 14. Wan Mamat (1988:62--63) memaparkan bahwa. dan skala pH 14 menunjukkan derajat basa. mengenai unsur asam pada yang terdapat dalam kertas (termasuk daluang). Selanjutnya. Sementara itu. Di samping lignin. pada dasarnya merupakan salah satu bahan baku pembuatan kertas dan sudah dipergunakan sejak kira-kira seratus tahun yang lalu. Jumantara Vol. penggunaan zat-zat kimia seperti clorine untuk pemutih kertas.1 Tahun 2012 137 . dalam Lukman (2009: 56). sedangkan ketahanan berhubungan dengan kekuatan fisik. atau bahkan sebaliknya seperti yang dipaparkan Lukman (2009: 55). ketahanan (durability) merupakan sifat ketahanan kertas terhadap perlakuan fisik yang dapat menyebabkan rusaknya kertas. lignin juga merupakan kandungan dari serat kayu itu sendiri. baik dari dalam maupun dari lingkungan sekitarnya. 3 No. Permanensi berhubungan dengan stabilitas kimia kertas.

dan hasil uji panjang serat sepanjang 3. Gambar 7. daya serap tinta permukaan 138 Jumantara Vol. Zaki Munawwar. Di samping itu.7.725 mm.81 ± 0. daya serap tinta permukaan bawah 53. Sampel ini selanjutnya disebut sampel pembanding.9. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood.1.01. selanjutnya disebut sampel rekonstruksi.1.2 ± 9. ditemukan naskah yang bahannya diperkirakan sejenis dengan bahan naskah gulungan koleksi CBCC.5 ± 2.1 Tahun 2012 . daya serap tinta permukaan atas 48.6. di sekitar lokasi CBCC. (dok. dari sampel utama didapatkan hasil uji pH sebesar 4.4 ± 2.3 ± 3. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood.82 ± 0. diuji pula sampel daluang hasil rekonstruksi. Tampak bahan naskah sampel pembanding dan daluang hasil rekonstruksi. tepatnya di Desa Cangkuang Kecamatan Leles.575 mm.Secara kebetulan.96 ± 0.0 ± 0. daya serap air permukaan atas 15. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood. yang oleh pemiliknya. 3 No. dari sampel pembanding didapatkan hasil uji pH sebesar 5. daya serap tinta permukaan atas 50. dan hasil uji panjang serat sepanjang 2. adapun dari sampel rekonstruksi didapatkan hasil uji pH sebesar 6. dan hasil uji panjang serat sepanjang 2. agar didapatkan gambaran mengenai kualitasnya guna pemanfaatan praktis selanjutnya.985 mm. diserahkan kepada penulis agar bahannya dapat dimanfaatkan untuk uji laboratorium. pribadi) Berdasarkan laporan hasil uji atas ketiga sampel yang dikeluarkan BBPK tertanggal 17 Pebruari 2012.01.02. dan daya serap air permukaan bawah 17.

dan ketahanan lipat silang serat 496 ± 333. 3 No. Tabel di atas memuat hasil uji atas tiga parameter yang dapat dibandingkan dari sampel utama.81 ± 0.1 77.Arah serat -Silang serat 4246 ± 935 496 ± 333 g/m2 g/m 2 Sampel Pembading 5.2 ± 9. Hasil Uji No.1 17.Bottom side 6 Ketahanan Lipat .5 ± 29. Seluruh hasil uji tersebut didasarkan pula pada kondisi ruang pengujian dengan suhu 23 ± 10 C.5 ± 2.Top side .Top side .9 53. yaitu pH. dan sampel rekonstruksi. dan daya serap air permukaan bawah 193.1 Tahun 2012 139 .4 Tabel 1. sampel pembanding. Hasil Uji Sampel Bahan Kertas.01 Softwood 3. ketahanan lipat arah serat sebesar 4246 ± 935.1 ± 1.bawah 77.1 ± 1.02 Softwood 2. berikut ini adalah tabel hasil uji dimaksud.Bottom side 5 Cobb 60 . Parameter Satuan Sampel Utama 1 pH Jenis serat Panjang serat Penetrasi minyak IGT .5 ± 29.4.2. daya serap air permukaan atas 150. kelembaban ruangan pada RH 50 ± 2 %. Jumantara Vol.6 50. jenis serat.575 mm 4.82 ± 0.5 193.0 ± 0.727 2 3 4 - - 48.4 ± 2.2 - 15.5.96 ± 0.0 ± 3. dan panjang serat.985 Sampel Rekonstruksi 6.7 150.3 ± 3.0 ± 3.01 Softwood 2. Untuk memudahkan pembahasan.

96 ± 0. untuk sampel utama dan sampel pembanding. maka penanganan naskah-naskah koleksi CBCC selanjutnya menjadi sangat penting untuk diperhatikan. diikuti oleh sampel pembanding.82 ± 0. Tingkat derajat keasaman yang didapat dari perbandingan hasil uji tersebut. jenis serat ketiga sampel adalah softwood. juga menunjukkan tingkat kadar asam pada waktu selesai pembuatan.5 agar dapat dikategorikan sebagai kertas permanen.81 ± 0. secara objektif menunjukkan tingkat derajat keasaman pada waktu pengujian.02. ketiga sampel menunjukkan jenis serat yang sama.575 mm. Namun demikian. derajat pH sampel pembanding 5. dan panjang serat sampel utama 2.727 mm. di samping menunjukkan tingkat derajat keasaman pada waktu pengujian.Derajat pH sampel utama 4. dan panjang serat sampel rekonstruksi 3.985 mm. sampel utama memiliki derajat keasaman paling tinggi. dan sampel rekontruksi. sedangkan untuk sampel rekonstruksi. setelah melakukan penelusuran lebih lanjut atas penggolongan jenis serat. 3 No. panjang serat sampel pembanding 2. dan yang membedakan keduanya adalah keberadaan sel pembuluh yang hanya terdapat pada kayu daun lebar.01. karena jika penanganannya tidak dilakukan secara baik. softwood adalah pengolongan jenis serat untuk kayu dan bukan untuk jenis serat kulit kayu. Menurut Iswanto (2008: 1) dan Sucipto (2009: 1). Ross Harvey. Melihat kenyataan bahwa kadar pH bahan naskah gulungan koleksi CBCC termasuk ke dalam kategori di bawah netral atau cenderung asam. Hasil perbandingan atas tiga parameter di atas menunjukkan bahwa untuk derajat pH. dan derajat pH sampel rekonstruksi 6. maka tingkat penurunan kualitas bahan naskah akan berlangsung dengan cepat dan mengakibatkan kerusakan naskah-naskah itu sendiri. 140 Jumantara Vol.1 Tahun 2012 . menyatakan bahwa kadar pH kertas pada waktu pembuatan tidak boleh kurang dari 6. secara umum kayu dibagi menjadi dua kelompok. yaitu hardwood (kayu keras atau kayu daun lebar) dan softwood (kayu lunak atau kayu daun jarum).01. dalam Lukman (2009: 59). Selanjutnya untuk jenis serat. yaitu jenis softwood.

dan sampel rekonstruksi. kayu terap 1.1 Tahun 2012 141 . masih lebih panjang jika dibandingkan dengan panjang serat dari empat jenis kayu yang diteliti oleh Budi (1995: 103) yaitu. kedua jaringan ini merupakan pembentuk struktur kayu secara utuh. lebih besar dari pada ikatan antar sel. maka kekuatan kertasnya semakin baik. Dengan demikian. karena dikategorikan sebagai jenis yang sama. kayu meranti merah 1. Hal ini dapat menunjukkan bahwa ketahanan lipat sampel utama dan sampel pembanding lebih rendah dari sampel rekonstruksi. sehingga kekuatan kertas lebih didasarkan atas exobond dari luas permukaan setiap selnya. Teygeler (1995) menyarankannya dengan menyatakan bahwa “ finally dluwang can be defined as beaten treebark (tapa) of paper – mulberry tree (Broussonetia papyrifera Vent. seperti yang dipaparkan Budi (1995: 105).345 mm. Semakin panjang sel serat akan memberikan pengaruh yang positif terhadap kekuatan pada kertas. maka akan lebih baik jika digolongkan ke dalam jenis serat kulit kayu (daluang). untuk penentuan jenis serat ketiga sampel di atas. hal ini dikarenakan panjang serat erat hubungannya dengan banyaknya kontak perkesatuan sel. Batubara (2008) menyatakan bahwa pada dasarnya kulit kayu dan kayu adalah dua bagian yang berbeda. karena panjang serat berbanding lurus dengan ketahanan lipat dan kekuatan kertas.” Namun demikian.410 mm.413 mm. kayu kapur 1.Mengenai kulit kayu. artinya semakin panjang serat. sampel utama memiliki panjang serat yang paling pendek. “Secara umum panjang serat mempunyai peranan langsung terhadap sifat-sifat kekuatan kertas. Jumantara Vol.) from Java or Madura. Selain itu lembaran kertas yang terdiri dari kumpulan sel-sel yang terpisah terikat kembali satu sama lain secara lamai tanpa adanya tambahan bahan perekat. 3 No.” Adapun untuk panjang serat. kayu adalah jaringan xylem dan kulit kayu adalah jaringan phloem. panjang serat ketiga sampel di atas. Selain itu kekuatan internal dalam serat atau sel. selanjutnya diikuti oleh sampel pembanding.

kayu kapur. Alat untuk mengatur suhu ruangan dikenal sebagai air conditioning (AC) dan alat untuk mengatur kelembaban dikenal sebagai higrometer. saat ini tampak disimpan dalam sebuah lemari kaca yang cukup baik sehingga terbebas dari debu dan serangga yang dikhawatirkan akan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut pada naskah. memungkinkan serat pembentuk lembaran 142 Jumantara Vol.1 Tahun 2012 . rak.689 mm. karena dalam bentuk gulungan serat-serat pembentuk lembaran bahan akan lebih terjaga dibandingkan jika dikemas dalam bentuk lipatan. naskah disimpan di ruangan khusus dengan suhu dan kelembaban udara tertentu. Wan Mamat (1988:57--58) menyatakan bahwa suhu ideal berkisar antara 550F (130C) sampai dengan 650F (180C) dengan kondisi udara yang mengalir. Penyimpanan dan Perawatan Naskah Penyimpanan dan perawatan naskah memerlukan penanganan yang baik. kayu meranti merah.dan kayu keruing 1. Dengan demikian. dan kotak yang terbuat dari kertas bebas asam. Mengenai suhu ruangan untuk penyimpanan naskah. Naskah gulungan koleksi CBCC dengan dimensi 176 X 23 cm. Pengemasan dan penyimpanan naskah dalam bentuk gulungan diperkirakan ada sudah sejak lama. diperkirakan sejak bahan naskah dibuat sampai saat ini. Pengemasan naskah dalam bentuk gulungan sepertinya merupakan pengemasan yang cukup baik untuk dimensi panjang 176 cm. Naskah pun ditempatkan dalam lemari. dan kayu keruing. kekuatan kertas berbahan baku kulit kayu seperti yang terdapat pada ketiga sampel yang diuji di BBPK masih lebih tinggi tingkat kekuatan kertasnya jika dibandingkan dengan kertas berbahan baku kayu terap. Dengan memperhatikan hal tersebut. laju kerusakan bahan naskah dapat diperlambat dan kondisi fisiknya dapat dipertahankan sehingga suatu naskah dapat bertahan lebih lama. sedangkan kelembaban berkisar 50%. 3 No. Di beberapa tempat penyimpanan koleksi naskah yang sudah maju. karena pada dasarnya bahan naskah mudah rusak jika tidak ditangani dengan baik.

3 No. yaitu mendorong tumbuhnya jamur. suhu ruangan 27 derajat celcius dan kelembaban 64 persen. yaitu naskah disimpan dalam lemari kaca sehingga terhindar dari kontak langsung dengan udara luar. dan lubang-lubang pada naskah menunjukkan adanya faktor biologis sebagai penyebab kerusakan naskah. pribadi) Walaupun saat ini penyimpanan dan perawatan naskah sudah cukup baik. Hal ini tampak dari adanya bagian naskah yang lembab karena terhidrolisis oleh udara basah. kulit telur kecoa. dan terbebas dari jamahan tangan. di antaranya. Adanya jamur. (dok. adalah faktor lingkungan.1 Tahun 2012 143 . Jumantara Vol. data diambil pada bulan Juni 2008. Gambar 8.bahan akan putus sebagai akibat dari proses buka tutup lipatan yang berulang. namun secara kasat mata terlihat bahwa pada permukaan bahan naskah masih terdapat beberapa kerusakan yang mungkin akan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut. Di samping itu terdapat pula kulit telur kecoa yang menempel di permukaan bahan naskah dan beberapa lubang kecil yang diperkirakan disebabkan serangga sejenis kutu buku. debu. Faktor penyebab kerusakan naskah yang nampak. Bagian naskah yang lembab ini kemudian menimbulkan kerusakan lebih lanjut.

Gambar 9. Tampak faktor biologis sebagai faktor penyebab kerusakan naskah. (dok. pribadi)

Atas dasar hal tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa kerusakan bahan naskah gulungan koleksi CBCC, di antaranya, disebabkan oleh faktor usia, faktor lingkungan, faktor biologis, dan faktor mekanis. Pada kalangan masyarakat tertentu di Indonesia saat ini, khususnya masyarakat tradisional, terdapat kegiatan penyimpanan dan perawatan naskah secara tradisional. Berdasarkan pengamatan sepintas, upaya yang dilakukan masyarakat tradisional dalam melakukan penyimpanan dan perawatan naskah memberikan keuntungan bagi kondisi naskah, sehingga keberadaan naskah masih dapat disaksikan sampai saat ini. Upaya yang dilakukan masyarakat tradisional di antaranya dengan menyimpan naskah pada kotak kayu, menyimpan naskah di atas tempat yang agak tinggi pada bagian dinding rumah agar tidak terjangkau anak-anak, membungkus naskah dengan kain, dan ada kalanya di dalam kotak kayu dan bungkusan kain tersebut disertakan pula beberapa batang cerutu, biji cengkih, bunga melati, dan sebagainya.

144

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Gambar 10. Tampak gulungan Wayang Beber dan kotak penyimpannya di Gunung Kidul. (dok. pribadi)

Cerutu, biji cengkih, dan bunga melati yang disimpan di dalam kotak kayu ataupun kain pembungkus naskah ternyata dapat menghindarkan serangan rayap, kutu buku, semut, ataupun serangga pengganggu lainnya yang dapat mengakibatkan kerusakan pada naskah. hal ini dapat dipahami karena ternyata baik cerutu, biji cengkih, dan bunga melati masing-masing mempunyai aroma khas yang tidak disukai serangga.

Gambar 11. Tampak penyimpanan naskah yang dijadikan sarang semut. (dok. pribadi)

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

145

Di beberapa tempat tertentu, yang masyarakat pendukungnya masih memegang teguh adat istiadat, naskah dan benda-benda koleksi lainnya hanya boleh dibuka dan dilihat satu tahun sekali, biasanya pada bulan-bulan yang dianggap sakral, seperti bulan Mulud sekaligus dengan melakukan prosesi pembersihan pusaka. Pengaturan waktu untuk membuka dan membersihkan naskah beserta benda-benda yang dianggap keramat (termasuk mengkeramatkan naskah), ternyata ada sisi positif dan sisi negatifnya. Sisi positifnya adalah memberikan ketahanan bagi naskah itu sendiri, dalam hal ini naskah tidak sembarang waktu dijamah tangan dan dibuka tutup. Sisi negatifnya adalah kandungan informasi naskah tidak diketahui masyarakat banyak sehingga, jika terjadi penurunan kualitas kondisi naskah, maka tingkat kerusakannya tidak cepat diketahui dan kerusakannya tidak akan dapat dicegah. Daftar Pustaka Baried, Siti Baroroh (1985). Pengantar Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Batubara, Ridwanti (2008). Kimia Kulit Kayu, Potensi dan Peluang Pemanfaatannya. Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Budi, Agus Sulistyo (1995). “Morfologi Serat Pulp dari Empat Jenis Kayu Daun Lebar dalam Hubungannya dengan Kekuatan Kertasnya”. Jurnal FRONTIER Nomor 17. September 1995. Ekadjati, Edi S. (1988). Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran dan The Toyota Foundation. Lubis, Nabilah (1996). Naskah, Teks, dan Metode Penelitian Filologi. Jakarta: Forum Kajian Bahasa & Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah. Lukman (2009). “Penggunaan Kertas Permanen sebagai

146

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Pencegahan Kerusakan Kertas”. Jurnal BACA Vol. 30, No. 1, Agustus 2009 (01-72). Munawar, Zaki (2002). Cagar Budaya Candi Cangkuang dan Sekitarnya. Garut: Dinas Pariwisata Seni dan Budaya. Sudjiman, Panuti (1994). Filologi Melayu. Jakarta: Pustaka Jaya. Teygeler, René (1995). “Dluwang, a Javanese/Madurese Tapa from The Paper-mulberry Tree” dalam www\IIAS Newsletter\IIASN-6\Southeast Asia. Dikunjungi pada tanggal 14 April 2004. Wan Mamat, Wan Ali Hj. (1988). Pemuliharaan Buku dan Manuskrip. Kualalumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

147

tradisi penulisan manuskrip.1 Tahun 2012 . Tradisi lontar di Bali memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan umur yang tua seiring dengan nilai-nilai *) Pengajar di Jurusan Sastra Bali. Tulisan ini mendeskripsikan lontar dari berbagai dimensi mencakup lontar sebagai warisan budaya. Universitas Udayana Bali.Abstrak Lontar adalah produk budaya Bali dan telah diakui menjadi warisan budaya dunia. Warisan budaya yang satu ini juga telah memberikan aura keluhuran dan mentransmisikan keunggulan pemikiran masyarakat Bali yang melahirkannya. 3 No. Lontar sebagai produk budaya kaya makna telah mengangkat citra tradisi Bali di tengah-tengah pergaulan peradaban masyarakat dunia. Bali. Manuskrip Pendahuluan Kata lontar memiliki kaitan erat dengan sumber bahan dasar pembuatannya. yaitu rontal /daun ental/tal (sejenis daun palma/borassus flabelliformis). 148 Jumantara Vol. Fakultas Sastra. yaitu contoh dan implementasi kehidupan yang patut dan tidak patut dilakukan. Kata Kunci: Lontar. serta proses pembuatan manuskrip lontar. Masyarakat Bali berkeyakinan lontar memiliki arti yang penting dan sangat bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya. Lontar dengan segala bentuk wacana penuturannya memotret dan memberikan cermin kehidupan yang dapat dijadikan smerti.

Julukan yang lain untuk memuliakan Dewi Saraswati sebagai sumber ilmu pengetahuan yaitu: Putkari Dewi. filsafat. pengobatan.sejarah. Masyarakat Bali meyakini lontar adalah wahana bersemayam Sang Hyang Aji Saraswati. Keesokan harinya. dangan mes membah (beliau yang berbadankan air. Karena itu. Itulah Saraswati. Bhatari Dewi. dan ilmu pengetahuan tinggi lainnya.1 Tahun 2012 149 . Wati diterjemahkan sang adrue (pemilik). begitu mudah mengalir atau sesuatu yang mengalir) dan kecap bebaos sang mraga wagmi sajroning bebaosan (kata-kata orang bijaksana saat memberikan petuah). Pada hari ini masyarakat menghaturkan aneka banten pasucian Weton Saraswati. Pewarisan tradisi lontar di Bali berlanjut dari generasi ke generasi dalam suasana kerohanian dan kemurnian hati nurani. Setiap 6 bulan sekali. Dari uraian itu. agama. Para panglingsir (orang tua berpengetahuan) di Bali memaparkan kata Saraswati ke dalam dua bentuk dasar. dan Brahma Putri. Saraswati adalah sumber dari segala sumber kata-kata bijak (mraga wagmi). Dewi sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang berupa tastra (manuskrip aksara Bali) yang bersemayam di mahligai lontar. Saras diterjemahkan sebagai sang mraga toya. Lontar perekam jagat pemikiran masyarakat Bali sampai dalam bentuknya sekarang merupakan saksi sejarah dan menjadi penampang historik masyarakat pendukungnya. Jumantara Vol. pada hari Minggu Umanis Watugunung. yaitu saras dan wati. Dewi Saraswati juga dijuluki Dewi Wagmiswari (Dewi Katakata) atau Wagmimaya (Kata-kata Bertuah). sastra. Sarada Dewi. masyarakat Bali pagi-pagi benar membawa toya kumkuman (air suci) menuju sumber-sumber mata air atau pantai melaksanakan upacara banyu pinaruh (menyambut turunnya ilmu pengetahuan). kata Saraswati diterjemahkan sebagai Ida Sang mambek toya tur wagmi sajroning bebaosan yang artinya beliau yang mengalirkan air suci pengetahuan. yaitu manifestasi Ida Sang Hyang Widi (Tuhan) sebagai sumber ilmu pengetahuan. 3 No. bertepatan dengan perhitungan kalender Bali Sabtu Kliwon Wuku Watugunung lontar-lontar dibuatkan upacara piodalan Saraswati.

2) tradisi yang hidup (living tradition). Tradisi masyarakat Bali mempelajari dan menekuni lontar disebut anak nyastra (a man of letters) yang artinya beliau yang terpelajar (gelettered). 3) mudah dipindahkan (moveable). Itu artinya. Masyarakat Bali berkeyakinan lontar memiliki arti yang penting dan sangat bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya. Menurut Bali Cultural Heritage Coservation. tradisi ini masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat Bali. tetapi juga penting untuk menghiasi khazanah intelektual masyarakat luas lainnya. 3 No. 4) memiliki wujud fisik (tangible) dan non-fisik (intangible).Lontar Warisan Budaya Lontar adalah produk budaya Bali dan telah diakui menjadi warisan budaya dunia. Bukan saja penting untuk para leluhur dan orang Bali kini. Lontar Tradisi yang Masih Hidup Kita meyakini tradisi lontar adalah tradisi masyarakat Bali yang sudah tua.1 Tahun 2012 . Keadaan ini berbeda jauh dengan masyarakat Indonesia lainnya yang mewarisi tradisi 150 Jumantara Vol. dilestarikan. Semuanya masih relevan dan patut diwarisi. Mereka itulah yang sesungguhnya steak holders lontar di Bali. Betapa tidak. dan 6) sudah menjadi salah satu warisan dunia (wolrd heritage). Walaupun usianya telah tua. yaitu contoh dan implementasi kehidupan yang patut dan tidak patut dilakukan. 5) memiliki fungsi dan kedudukan yang terhormat dan disucikan dalam masyarakat (abstract). Tradisi keberaksaraan dan keterpelajaran pada lontar adalah warisan budaya yang sangat berharga dan penting. Volume 10 (1998: 2-6) lontar Bali termasuk salah satu warisan budaya dunia karena memiliki karakteristik. Lontar Warisan Intelektual Kekayaan pemikiran dan rohani masyarakat Bali secara tradisi terekam dalam manuskrip lontar. kandungan lontar dengan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang pernah ada dan dimiliki masyarakat Bali masa lampau dapat dikembangkan untuk menata dan meningkatkan kehidupan spiritual dan material saat ini dan masa-masa mendatang. seperti: 1) warisan budaya intelektual (intellectual heritage). Lontar dengan segala bentuk wacana penuturannya memotret dan memberikan cermin kehidupan yang dapat dijadikan smerti. dan diteruskan agar tercapai kehidupan material-spiritual yang lebih baik.

Pohon lontar adalah sumber alam yang dapat diperbaharui. (8) Adanya kegiatan mabasan (membaca. Hidupnya tradisi lontar dalam masyarakat Bali sangat didukung oleh masih hidupnya aktivitas budaya dan sumber alam lainnya. Balai Bahasa Denpasar. seperti: (1) Tersedianya cukup banyak pohon lontar. Unisha Singaraja. (7) Tradisi membaca lontar dalam aktivitas bersastra di Bali secara tradisional erat kaitannya dengan sistem upacara dan sistem keagamaan Hindu di Bali. Mengingat lontar memiliki multimanfaat. Jurusan Sastra Bali di berbagai perguruan tinggi di Bali. (2) Masih adanya orang yang mewarisi tradisi pembuatan daun lontar sebagai bahan rumah pintar” Dewa Catra. 3 No. sehingga dari waktu ke waktu jumlahnya tidak pernah berkurang. dan yang lainnya.manuskrip. (6) Adanya perpustakaan lontar yang memiliki latar belakang sejarah yang penting seperti: Gedong Kitrya di Singaraja. Perpustakaan Musieum Bali. Perpustakaan Unhi Denpasar. maka pohon lontar dibudidayakan dengan baik. yang menyimpan lontar-lontar penting yang dibutuhkan masyarakat. seperti untuk bahan anyaman dan kerajinan tangan lainnya. seperti SMUN I Sidemen (dulu SMU Sidamaha) Karangasem. Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana. (5) Masih banyak orang yang mampu menulis lontar secara tradisional. IHDN.1 Tahun 2012 151 . dan perguruan tinggi lainnya. (4) Adanya sekolah khusus yang mengajarkan cara menulis lontar. Pohon lontar yang menjadi sumber utama bahan penulisan lontar tumbuh subur di belahan Timur dan Utara pulau Bali. IKIP PGRI Bali. (3) Adanya pusat-pusat penulisan lontar dan kegiatan penyalinan lontar di masyarakat. Jumlahnya mencapai ribuan pohon. dan yang lainnya. dan mengapresiasi) karya-karya sastra tradisional Bali di Jumantara Vol. Universitas Dwijendra. Perpustakaan Lontar Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Sekriptorium-sekriptorium yang ada di Bali masih menjalankan aktivitas sebagaimana mestinya. menyanyikan. seperti Fakultas Sastra di Universitas Udayana.

Aktivitas pembacaan lontar cakepan. Bali CHC: Volume 10. Lontar-lontar dalam bentuk baru itu khusus dibuat untuk dijual sebagai komoditas pariwisata ( BUIP. Gambar 1. Jumlah lontar cakepan di masyarakat Bali adalah ribuan.lingkungan masyarakat Bali.1 Tahun 2012 . seperti di desa Tenganan Pegringsingan Karangasem. Banyak anggota masyarakat Tenganan Pagringsingan menggambar dan menulis prasi serta melukis di atas media daun lontar. baik sebagai warisan maupun atas usahanya sendiri membangun perpustakaan pribadi. serta acara-acara khusus seperti Gebiar Nyurat Lontar oleh Pemerintah Kota Denpasar. dan pihak penyelenggara lainnya. yang menjadikan manuskrip lontar sebagai bahan bacaannya. (11) Aktivitas lomba menyalin huruf Latin ke dalam aksara Bali di atas lempiran lontar untuk tingkat SMP dan SMA terus digalakkan. (9) Perkembangan pariwisata menyumbangkan peran untuk mempertahankan tradisi lontar. 3 No. Acara ini dikaitkan dengan misi Kota Denpasar sebagai Kota Kreatif Berwawasan Budaya Unggulan. (10) Banyak masyarakat umum yang mengoleksi lontar. 1999: 3-4). Pekan Olahraga dan Seni Pelajar (Porsenijar) se-Bali. 152 Jumantara Vol. Lomba menyalin huruf Latin ke dalam aksara Bali di atas lempiran lontar selalu ada dalam ajang Pekan Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar. Pesta Kesenian Bali.

Diperkirakan Jumantara Vol.1 Tahun 2012 153 . untuk modal usaha. Karena fisiknya yang sederhana ini lontar juga mudah dipindahtangankan. Golongan yang terakhir ini yang memanfaatkan tenaga lokal untuk keluar masuk desa ‟mengejar‟. maka tidak jarang lontar diperjualbelikan sebagai barang antik. lontar mudah dibawa dan dibaca. antik. lontar yang berusia tua dan berkarakter antik dan unik. Alasan-alasan ini pula yang membuat semakin bersemangatnya para ”pemburu” lontar. Mudah Dipindahkan Wujud fisik lontar cukup simpel. baik dari kalangan masyarakat lokal maupun mancanegara. Sejumlah masyarakat pemilik lontar menjual lontar warisannya dengan beragam alasan. dan unik yang telah dijual masyarakat Bali tentu tidak dapat diidentifikasi judul dan isinya. tidak mampu mengurus sehingga kuatir rusak di tempat. Dengan panjang antara 30 cm.Gambar 2. Lontar-lontar tua. Karenanya lontar-lontar yang sudah raib ke luar dari pulau Bali dan tidak sempat katedun (disalin ke dalam naskah yang baru) ini tidak dijumpai di perpustakaan-perpustakaan yang ada. sisi Utara lereng gunung Rinjani di Lombok Utara. diantaranya: ingin menutupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. 3 No. Penulis melakukan pengukuran terhadap lontar yang dikeramatkan masyarakat Desa Bayan Beleq. sampai 60 cm. dan beragam alasan ekonomi lainnya. dan lebar tidak lebih dari 4 cm.

dan di Perpustakaan Lontar Dokumentasi Budaya Bali. tingkat Provinsi. Perlu dilakukan usaha-usaha konservasi dan pengobatan secara ilmiah dan bertanggung jawab. di Perpustakaan Universitas Hindu Indonesia tersimpan sebanyak 151 cakep. khususnya di Griya dan Puri di Bali yang jumlahnya begitu banyak. Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tersimpan sebanyak 2274 cakep. di Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana tersimpan sebanyak 738 cakep. baik dari kalangan masyarakat pengoleksi maupun dari pihak pemegang kebijakan. seperti di Gedong Kirtya. di perpustakaan Balai Bahasa Denpasar tersimpan sebanyak 90 cakep. di Perpustakaan Lontar Universitas Dwijendra Denpasar tersimpan sebanyak 50 cakep. di Perpustakaan Museum Bali tersimpan 60 cakep. kalau tidak mau dikatakan ribuan. yaitu instansi pemerintah yang terkait.1 Tahun 2012 . Kalau semua pihak cermat dalam menangani dan mensosialisasikan fungsi strategis manuskrip lontar Bali. Lontar sebagai bagian dari khazanah ilmu kepustakaan memiliki kodifikasi keilmuan yang kompleks dan beragam. Untuk itu diperlukan kemauan bersama. Jumlah itu belum termasuk yang tersimpan di perpustakaan lontar yang resmi. sedangkan yang tersimpan di rumah-rumah penduduk. membuat klasifikasi lontar Bali secara sangat beragam. Lontar yang tersimpan di lembaga-lembaga resmi biasanya mendapat pemeliharaan yang baik. Van Eck (1875). DPRD. Memiliki Wujud Fisik dan Non-Fisik Jumlah lontar yang ada di masyarakat dapat diperkirakan lebih dari 55 ribu cakep (dalam kesatuan yang utuh) lontar. Diperlukan juga kemauan politik dari para wakil rakyat. dan Kota di seluruh Bali. pada tahun 1967 mengklasifikasikan kepustakaan lontar 154 Jumantara Vol. Th Pigeaud yang telah mempelajari klasifikasi Freiderich (1847) dan R. baik ilmuwan luar negeri maupun dalam negeri. Kabupaten. sesuai dengan keluasan pengetahuan masing-masing mengenai jenis dan isi naskah lontar yang didapatkannya. perlu mendapat penanganan fisik secara khusus agar terhindar dari kelapukan. Di tempat ini tersimpan sebanyak 2414 cakep. tentu nilai manfaat lontar dapat disumbangkan untuk memperkaya khazanah budaya bangsa dan budaya dalam lingkup internasional. 3 No. Para ahli kepustakaan lontar.bahwa lontar yang telah ”raib” jumlahnya ratusan.

sima. tutur. Naskah hukum juga ditemukan dalam dunia lontar di Bali. prasasti. dan uwug/rereg/rusak. Tutur. (5) Babad. (2) History and Mythologi. (2) Agama. Sasana. yang terdiri dari jenis lontar parwa. b. Asthabhumi. tetapi juga memuat sejumlah makna sinonim. sedangkan lontar Krakah antara lain memuat uraian beserta makna istilah dalam naskah-naskah tertentu. Dasanama. yang terdiri dari jenis lontar palakreta. Niti. Kalpasastra. weda. Customs. mantra. dan kalpasastra. Klasifikasi manuskrip lontar di atas telah dapat memberikan citra wujud fisik naskah lontar yang ada di Bali. pipil. yaitu lelampahan. usana. prasi. dan (4) Science. Wujud fisik naskah lontar yang disebut pengetahuan-pengetahuan lain oleh kalangan peneliti pernaskahan di Bali dikelompokkan karena menguraikan pengetahuan tertentu. dan yang memakai judul Krakah. Krakah Modre dan yang lainnya. d. dan puja. Law. Astakosala. yang terdiri dari jenis lontar wariga. Lontar memuat kode etik arsitektur tradisional seperti Dharmaning Sangging. kanda. Lontar Ekalawya dan Dasanama tidak sekedar memuat daftar kata. yang terdiri dari jenis lontar pamancangah. yang memuat lakon-lakon pertunjukan kesenian gambuh. kakawin. Naskah leksikografi dan tata bahasa seperti lontar Adiswara. urak dan yang lainnya. Kutara Manawa. 3) Wariga. Kretabasa. Suksmabasa.Bali menjadi empat kategori besar. uar-uar. Arts. serta satua. awig-awig. dan yang berhubungan dengan upacara penyucian bangunan. arja dan yang lainnya. Wiswakarma. seperti pustaka lontar : babad. dan uwug/rusak/rereg.1 Tahun 2012 155 . geguritan dan parikan. Dewagama. wayang. yaitu: (1) Weda. sasana. seperti pengetahuan kearsitekturan (Astakosali. Klasifisasi termutakhir yang banyak dirujuk adalah klasifikasi yang diterapkan Nyoman Kadjeng dari perpustakaan lontar Gedong Kirtya Singaraja (1928). dan usada. antara lain: usada. (3) Belles Lettres. yaitu : (1) Religion and Ethics. c. seperti Krakah Sastra. 3 No. Jumantara Vol. (4) Itihasa. seperti lontar Pemlaspas. Ekalavya. dan yang lain). Humanities. seperti pustaka lontar: a. usana. Cantakaparwa. seperti pustaka lontar parwa. dan e. Beberapa yang penting adalah: lontar Adigama. pamancangah. Kemudian I Ketut Suwidja menambah klasifikasi lontar Gedong Kirtya dengan kelompok VII. kakawin. kidung. mantra. dan (6) Tantri yang terdiri dari jenis lontar tantri dan satua. dan geguritan. Folklore. kidung. dan Niti. yang terdiri dari jenis lontar weda.

hari baik atau buruk untuk suatu pekerjaan. Lontar-lontar suci disthanakan sebagai candi Tastra Saraswati (candi pustaka. sampai dengan penentuan hari-hari baik untuk upacara keagamaan (Agastia: 1985:13-14). Aksara menjadi badan Sang Hyang Aji Saraswati. candi sastra. Para ahli pernaskahan dari berbagai belahan dunia mengakui bahwa lontar merupakan warisan budaya dunia yang harus diselamatkan. Lontar jenis ini banyak dijumpai.1 Tahun 2012 . Manakala warisan budaya dunia ini lenyap. Hari khusus tersebut ditandai dengan kegiatan mengumpulkan benda-benda pusaka lontar. Memiliki Abstraksi Nilai Fungsi dan kedudukan lontar dalam masyarakat memiliki kaitan yang erat dengan sistem kepercayaan dan kehidupan keagamaan masyarakat Bali. Sang Hyang Aji Saraswati. Lontar yang memuat pengetahuan astronomi biasanya memakai judul Wariga dan Sundari. Paswara. Lontar-lontar hukum yang lebih banyak bercorak Bali. yaitu hari Puja Saraswati. Puja Saraswati mendapat tempat istimewa bagi umat Hindu di Bali sehingga masuk ke dalam sistem kalender Bali. dilestarikan. Hari dan Wuku peringatan Puja Saraswati ditempatkan pada hari terakhir. itu berarti salah satu warisan dunia yang penting telah 156 Jumantara Vol. Puja Saraswati ditandai dengan kegiatan membuat candi aksara atau candi pustaka (mengumpulkan lontar-lontar terpilih) yang dijadikan sthana bagi Sang Aji Saraswati. Watugunung. diantaranya: Kretasima. serta kaya makna dan filosofi. Ada hari khusus yang ditetapkan untuk menghormati dan mensucikan lontar. ataupun candi aksara) yang adalah tempat suci bagi Saraswati.dan Purwadhigama. Warisan Budaya Dunia Lontar kaya wujud dan jenis. Banyak menguraikan masalah-masalah pertanian seperti penentuan iklim. sedangkan pada malam harinya (semalam suntuk) membaca dan menyanyikan sastra-sastra lontar pilihan. yaitu hari Sabtu (Saniscara) dan Wuku terakhir. dan dimanfaatkan. dan awig-awig. 3 No. kemudian orang Bali melakukan pemujaan pada pagi hari. Hyang Wagiswari disimbolkan bersthana dalam aksara suci. Lontar bagi masyarakat Bali adalah kitab suci yang selain disucikan juga dipelajari untuk dijadikan pegangan hidup sehari-hari (suluh nikang prabha). candi bahasa. Kretasima Subak.

Aksara Bali adalah lambang bahasa yang telah mengambil fungsi dan peran sebagai lambang identitas masyarakat Bali. dan mempelajari lontar yang diwarisinya adalah implementasi keberlangsungan hidup dan kehidupan lontar sebagai warisan budaya dunia.hilang. kemunafikan. sudah saatnya dilakukan upaya yang lebih besar dan kuat untuk menyelamatkan lontar sebagai warisan budaya dunia. hal itu merupakan kebodohan. Manakala hal itu benar-benar terjadi. Tradisi Menulis di Atas Daun Lontar Sebelum mencermati goresan artistik aksara Bali di atas daun lontar. sebelum memulai Jumantara Vol. sehingga prosesi pembacaan menjadi lancar dan apa yang dicari dalam lontar didapatkan. untuk memohon kemurahan-Nya. 1999:4). CHC. Lontar yang dikeramatkan masyarakat saat dibaca didahului dengan melakukan prosesi upacara.1 Tahun 2012 157 . Aksara Bali adalah wahana atau sarana untuk mengungkapkan segala hal tentang kebudayaan Bali (BUIP. karena melalui aksara Balilah bahasa sebagai unsur universal dari kebudayaan itu terdokumentasikan. perlu dipahami apa yang dimaksud dengan aksara Bali sebagai lambang bahasa. Karena itu. Dalam tradisi penulisan lontar. 3 No. Perlindungan yang sifatnya mengharuskan pewaris lontar untuk menyelamatkan. dan kesalahan besar yang dilakukan oleh generasi “anak bumi” di dunia ini. melanjutkan. Gambar 3.

Sebagaimana dinyatakan dalam lontar Tutur Saraswati. ada perumpamaan yang jamak dituturkan dalam masyarakat Bali. 3 No. seperti umur pendek. sida sidi kasaraswaten. Mencoret sandangan aksara yang berada di atas pangawak (badan pokok aksara) seperti ulu akan mengakibatkan kebutaan atau berkurangnya daya ingat. Tidak pernah ada aksara Bali yang dicoret. Seandainya terjadi salah tulis. dan Baghawan Reka berstana pada ujung pangrupak. Bagaimana membaca lontar yang banyak ditemukan aksara matinya? Pembaca lontar harus tanggap. pengarang karya sastra Bali (pangawi) dan penedun (penyalin) lontar adalah para stake holders bahasa. Dengan cara ini mereka yakin akan berhasil menciptakan teks lontar yang utama dan memiliki jiwa (ruh suci). Secara tradisi. masuku (memakai suku) dan maulu (memakai ulu)”. Bhagawan Mredhu berstana pada kedua tangan penulis. Dalam aktivitas penulisan lontar. sastra dan aksara Bali. Mereka percaya hal itu akan mendatangkan akibat buruk pada diri. mencoret taleng/taling dan bisah/wisah berakibat pancet (sakit pinggang). Hakikat menulis adalah mempraktikkan yoga spiritualitas. Karenanya. (2) pelikan (alat penjepit lembaran lontar yang akan di tulis terbuat dari 158 Jumantara Vol. yaitu ”bagaikan aksara memakai dua sandangan suara. Hyang Yogiswara difilsafatkan berstana pada kedua mata penulis lontar. para stake holders ini menyiapkan bahan-bahan utama seperti: (1) pepesan (daun tal siap tulis). dan tampak seperti tidak ada penulisan. seorang penulis lontar selalu berusaha keras agar tidak mematikan atau ngucek (mencoret) aksara. serta menjaga irama pernafasan yang teratur dan jernih. penulis membubuhkan dua sandangan (pangangge) aksara. cepat-cepatlah melirik aksara berikutnya yang merupakan sambungan aksara didepannya. yang artinya sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi alias sudah mati. Sandangan yang lazim dipakai adalah ulu dan suku. pangrupak (pisau tulis).menggoreskan pangrupak di atas lempiran lontar. sehingga aksara yang salah tulis tidak berbunyi (mati). Kepercayaan ini menjadikan lontar yang ada kelihatan bersih serta rapi tulisannya. Karena itu pula.1 Tahun 2012 . seorang pengawi atau penyalin biasanya melakukan ritual kecil untuk memohon anugerah ke hadapan Ida Sang Hyang Aji Saraswati. kehalusan rasa. dan melangkahi aksara akan mengakibatkan kebodohan. mengasah dan mempraktikkan seluruh kemampuan intelektual dan kualitas intuitif.

Pangrupak memiliki tiga mata sisi yang tajam untuk menghasilkan karakter aksara Bali ideal. Demikian juga menggunakan pangrupak berbeda dengan cara menggunakan pisau dapur atau alat pertukangan lainnya. Masing-masing pangrupak juga memakai hiasan. patung hanoman.bambu kecil yang dilubangi hingga tembus pada kedua sisinya). Dua jemari tangan kanan lainnya. atau uyung (seseh pohon enau).1 Tahun 2012 159 . (6) penggaris dan pensil (bagi penulis yang tidak yakin akan mampu menghasilkan urut-urutan aksara Bali yang lurus. jari manis dan kelingking. (7) panakep dari kayu. Jenis pangrupak yang dipakai menggores lontar disesuaikan dengan maksud dan tujuan penulisan. telunjuk menekan halus saat menggoreskan bentukan aksara. burung merak. dan pangrupak kelancipan sedang (kurang lebih 10 derajat). aksara Ongkara. (3) serbuk tinggkih (buah kemiri) atau buah naga sari yang dibakar sebagai bahan penghitam goresan aksara Bali di atas daun lontar. sedangkan tangan kanan berada di posisi atas memegang pangrupak seraya menggerakkan jari-jemari tangan sedemikian rupa. (5) dulang kayu (sejenis meja yang bundar) sebagai meja tulis. bambu. membantu menjaga kestabilan dan berfungsi mensuplai energi kelembutan sehingga tangan tidak mudah lelah. Jempol kiri bertugas mendorong-dorong pangrupak hingga terjadi pergerakan lontar ke arah kanan. Ibu jari dan jari tengah tangan kanan menjepit lembut pangrupak. Tangan kiri berada di posisi bawah untuk mengalasi atau memegang lontar. ada yang menyerupai pendeta. lembut. Cara menulis di atas daun lontar berbeda dengan di atas kertas. (4) bantalan kasur kecil sebagai alas menulis. dan mengagumkan). lebar. 3 No. yang berkaitan dengan posisi tangan saat menggores lontar. halus. yaitu: pangrupak dengan kelancipan 45 derajat untuk menulis aksara Bali. Dalam menggoreskan aksara Bali dari kiri ke kanan harus Jumantara Vol. pangrupak dengan kelancipan 70 derajat untuk membuat prasi (menggambar di atas daun lontar). yaitu aksara Bali yang memiliki kakuub (karakter) wayah dan ngatumbah/matan titiran (bundar. (9) dan sesajen seperlunya. (8) kapas atau kain halus untuk menggosok dan membersihkan bekas-bekas material penghitam. memerlukan keterampilan menulis yang khusus. dan yang lainnya. dan tajam untuk memotong rontal. Menulis di atas daun lontar menggunakan pangrupak. rapi dan bersih).

3 No. dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama. lontar Bali dibuat dengan cara yang saksama. Bagi masyarakat Bali. lembut. Lontar mempunyai kekuatan yang luar biasa. Bernafaslah yang teratur. taksu (kekuatan ilahi). dan senang. tenang. membutuhkan 160 Jumantara Vol. Berkosentrasi dan menciptalah dengan perasaan halus. Mulailah menulis dari garis yang memiliki ruang paling sempit. Goresan simbol aksara yang pertama sangat mempengaruhi besar kecil dan kehalusan aksara berikutnya. Irama yang mengkhusukkan. lontar memiliki wibawa. cerdaskan intuisi dan intekstualitas yang dimiliki. Terdapat empat garis yang tersedia di atas rontal. Sekalikali nikmati bunyi irama yang ditimbulkan oleh goresan yang dibuat.1 Tahun 2012 . dengan aksara digantung pada garis yang telah disediakan. Gambar 4. Karena itu jagalah hati. tengah. Proses Pembuatan Lempiran Lontar Lontar terbuat dari daun alami pohon Tal/Rontal. dan dihormati sebagai sumber berbagai ilmu pengetahuan lahir dan batin. dan kanan. Kualitas lontar yang penulis citrakan tidak lepas dari dasardasar budaya dan keyakinan masyarakat Bali yang melahirkannya. Di samping itu. Menulis aksara Bali di atas daun lontar memerlukan pengetahuan tersendiri. Lemah lembut dalam ketenangan hati yang menakjubkan. menggunakan teknologi tradisional. Perhatikan lebar ruang yang disediakan di antara garis-garis yang tersedia.dicermati ruang-ruang diantara tiga lubang yang ada di kiri. sampai berabad-abad.

Satu bendel terdiri dari 100 lempiran. kenyal. Pohon rontal yang daunnya luwes. Pohon rontal yang tumbuh di tanah yang subur. berserat besar-besar dan kaku. yang mendapat sinar matahari langsung dari pagi hingga sore. Pohon rontal yang baik adalah yang telah berumur lebih dari 30 tahun. 3 No. Inilah lempiran lontar kosong yang siap ditulisi. Pohon itu juga sudah pernah disadap niranya. rumit. yaitu rontal luh (betina) yang dapat menghasilkan buah atau tuak (nira) dan rontal muani (jantan) yang tidak menghasilkan buah. sehingga menghasilkan lempiran lontar sehelai demi sehelai. Ida I Dewa Gde Catra (pelaku prosesi pembuatan lempiran lontar yang paling produktif sampai hari ini di Bali) menyebut helai daun lontar yang dihasilkannya sebagai lempiran. Rontal muani berbunga tetapi bunganya tidak pernah menjadi buah. mudah ditulisi. Pada kesempatan ini penulis sarikan informasi pembuatan lempiran daun lontar sebagaimana yang dilakukan oleh Ida I Dewa Gde Catra di Rumah Pintar Tradisional di bilangan jalan Untung Surapati. tanah di tepi laut. dihasilkan melalui proses khas teknologi tradisi Bali. membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Berikut penulis sarikan teknik tradisional Prosesi Pembuatan Lempiran Lontar (2010) Bali seperti yang dilakukan budayawan lontar asal Puri Sidemen Karangasem ini. serat Jumantara Vol. daunnya kurang baik dibuat pepesan karena tebal. Dinyatakan pula pembuatan lempiran lontar memakan waktu yang relatif lama. selempir demi selempir sehingga menghasilkan pepesan. sehingga tidak banyak mengandung sagu. Penulisan prosesi daun lontar ini disajikan berdasarkan pengalaman penulis meneliti prosesi pembuatan lempiran lontar dan berdasarkan bahan bacaan yang ada. bertahan dalam waktu yang panjang.kesabaran yang tinggi. di ujung Timur pulau Bali. serta bentuknya indah dan rapi. Pohon tersebut harus tumbuh di tanah yang mengandung kapur. tanah bebatuan seperti tanah lahar. Masyarakat Bali membedakan pohon rontal atas dua jenis. Sebelum prosesi pembuatan lontar dilakukan. Amlapura. Tujuannya adalah mendapatkan mutu lempiran yang baik.1 Tahun 2012 161 . seniman lontar perlu memperhatikan jenis pohon rontal yang akan dipetik daunnya. Daun lontar atau lempiran yang dimaksud berbentuk blanko. Demikian pula jenis dan kualitas daun pohon rontal berbeda-beda. dan dalam suasana yang khusuk..

kemudian kakum (direndam) selama tiga minggu. (pohon rontal. dan helai daunnya tidak terlalu tebal atau terlalu tipis. yang disebut gegadon.halus disebut ron tal taluh (telor). Daun tal harus dijemur di tempat yang terang beberapa kali. Daun tal yang berbentuk kipas kangget (dipotong dan dicari ) hanya bagian tengah saja. Pemetikan daun tal untuk pepesan menggunakan joan anggetan (galah yang ujungnya memakai pisau). dan sasih katiga-kapat (seputar bulan September . Sedangkan lontar yang masih muda berupa busung (janur) ataupun yang sudah berupa danyuh/wayah (tua) tidak dapat dimanfaatkan sebagai lempiran pepesan. Ngesit (melepas lidi) dilakukan secara hati-hati agar bilah daun lontar kering petik tidak amis (rusak). Daun tal petik kering yang dipilih untuk pepesan adalah yang bilahnya panjang.Oktober). Musim petik daun tal yang baik pada sasih kasanga . pohon lontar. Sedangkan pohon yang helai daunnya panjang dan lebar disebut dolog (menyerupai senjata dolog. pohon tal???) Daun tal yang dipilih untuk prosesi pembuatan pepesan berkatagori panyaja (muda atau menengah). tentu proses pengeringannya memakan waktu yang cukup lama. sehingga benar-benar renyah (kering benar). Bulan-bulan ini adalah musim kemarau.1 Tahun 2012 . Usia daun tal penyaja diketahui dari kategori hijau daunnya juga ditandai dari posisi kecondongan pelepahnya yang kurang lebih 45 drajat. Pada minggu pertama air kum berwarna keruh kekuningan dan berbau kurang sedap sehingga harus diganti setiap hari. tidak berbintik-bintik. Mengingat daun tal cukup tebal dan tiap bilahnya terdiri dari dua helai dalam satu lidi. permukaan rata tidak tuludan (berlekak-lekuk).April). Bilah daun tal kering petik yang sudah kasit (dilepaskan lidinya) dikumpulkan dan ditata sedemikian rupa. dengan semua ujungnya panjut (merapat dan sedikit mengering). yang disebut kreta masa. Pada minggu 162 Jumantara Vol. Pohon yang daunnya tebal berserat kasar dan kaku seperti kulit binatang disebut ron tal belulang. lebarnya sesuai. saat matahari bersinar panas dan langit terang benderang. tidak lebih dari empat sampai enam helai setiap satu pelepah daun tal.kadasa (seputar bulan Maret . maka agar benar-benar kering seperti yang diinginkan. pagi. seratnya halus. Bilah daun tal petik kering dipotong ujung dan pangkalnya dengan ukuran panjang tertentu sesuai dengan keperluan. dan sore. yaitu sejenis golok yang panjang). 3 No.

Rempah-rempah seperti: lada. terhindar dari sinar matahari. Daun tal diangkat dan di diguyur air bersih. Ramuan bahan pengawet seperti kulit pohon kayu intaran. kayu wong. Biarkan agar dingin dengan sendirinya. tunggu. 3 No. Setelah merata kering. disela dengan penampang kayu (pandalan). Setelah berjumlah seratus. dan air yang cukup dan harus dijaga dengan saksama. diikat ujung. Lama menyimpan tiga-empat bulan. Setelah dingin. Tiga puluh sampai dengan lima puluh lembar lontar disatukan. angkat dan segera jemur di tempat yang lapang dan mendapat sinar matahari penuh. diangkat perlahan-lahan agar tidak pecah. Daun tal yang dianggap telah masak jangan langsung diangkat. Caranya. Saat perebusan.kedua dan ketiga air kum diganti setiap tiga hari sekali. Merebus daun tal kering petik memerlukan panci besar. setiap kali air rebus menyurut petugas harus menambahkan air secukupnya. Alat ini digunakan untuk meluruskan dan memampatkan serat dan rongga-rongga yang kemungkinan masih terdapat pada lontar setelah proses pengeringan. daun lontar yang telah direbus dan disimpan berbulan-bulan dimasukkan ke dalam penjepit blagbag secara teratur sesuai dengan panjang lontar masing-masing. Ngekum (merendam) daun tal kering petik dengan tujuan menghilangkan sagunya. kemudian dayuhin (diangin-anginkan) di tempat yang teduh. merica. Bahan-bahan itu digunakan sesuai dengan jumlah rontal yang akan direbus. agar hampa tak rapuh (serbukan) yang disukai rayap. pres tradisional untuk lontar yang dibuat dari kayu dengan menggunakan pasak. Agar lebih cepat kering. dan jebug (buah pinang yang tua) semua dirajang dan kemudian ditumbuk hingga halus menjadi serbuk.1 Tahun 2012 163 . jebug harum. Blagbag. tengah dan pangkalnya. ujan. kulit pangkal pohon kelapa. umbi gadung diparut. Dua hari dua malam dianginanginkan untuk tiga bulan kemudian baru direbus. sesuai Jumantara Vol. dan semakin lama disimpan kualitasnya semakin membaik. tidak berbuih. berulang-ulang hingga lima sampai enam jam. dan tidak berbau lagi. demikian juga selanjutnya hingga penuh. ditebarkan sedemikian rapi di tempat yang terang sehingga hari itu juga dipastikan benar-benar kering. batang kantewali. hawa panas berlebihan. kayu api. lalu simpan di tempat yang aman. lontar dibolak-balik selembar demi selembar. Tiga minggu prosesi ngekum tal telah berlalu. dijemur. daun sambiroto. Lebih lama direbus hasilnya lebih baik. hingga benar-benar bersih.

Nepes adalah pres terakhir lontar tepesan. Langkah berikutnya dalam proses pembuatan lontar adalah nepes (menjepit). Sebagai tradisi yang hidup. Pewarisan tradisi lontar di Bali berlanjut dari generasi ke generasi. nyerut adalah merapikan ujung pangkal dan diisi cat tradisional Bali agar kelihatan indah dan rapi. lalu diisi lubang sebasar jarum.kapasitas blagbag. dan tengah tepat di titik ujung pirit. dan nyepat (menggaris). kadang berbulan-bulan. jarum pirit (paser tradisional Bali) ditusukkan pada tengah-tengah lubang kecil mal yang di kiri. kemudian pasak dipasang. kegiatan penulisan lontar yang masih berlangsung. Sedangkan nyepat adalah pembuatan lontar tepesan siap tulis (gores) dengan pangrupak (pisau tulis tradisional Bali).1 Tahun 2012 . kanan. kanan. nyerut (mengetam). agama. Proses ini dilakukan berminggu-minggu. filsafat. Di Bali banyak dijumpai lontar yang berumur tua yang memiliki nilai sejarah. pengobatan. kegiatan pembacaan yang masih semarak. Lontar yang telah mapirit (berlubang) dimasuki lidi (jelujuh) agar tidak mudah bergerak saat diiris dan dirapikan pinggirannya. Sebagai warisan budaya. dan tengah. 3 No. hingga rontal benar-benar lurus dan rata. Warisan dan tradisi lontar telah berusia cukup tua. pasak pun akan menjadi longgar. dan penelitian teks naskah lontar yang semakin meningkat. Pembuatan lontar pepesan didahului dengan pembuatan mal yang dibuat dari daun tal dengan panjang dan lebar yang telah ditetapkan. Manuskrip lontar adalah produk budaya Bali yang kaya makna dan memberikan citra keluhuran dan keunggulan jagat pemikiran masyarakat Bali yang melahirkannya. Setelah beberapa hari lontar mengalami pemampatan. (c) 164 Jumantara Vol. (b) tradisi yang masih hidup (living tradition). sehingga harus disela dengan pandalan dan dipasak kembali hingga mampat. manuskrip lontar di Bali memiliki karakter antara lain: (a) warisan budaya intelektual (intellectual heritage). dan ilmu pengetahuan tinggi lainnya. manuskrip masyarakat Bali ini didukung oleh ketersediaan bahan baku yang cukup. Mal ditempal di atas daun tal. Kesimpulan Lontar sebagai manuskrip masyarakat Bali telah mengangkat citra tradisi peradaban Bali di tengah-tengah intelektualitas peradaban dunia. sastra. Mirit artinya melubangi lontar di samping kiri.

Jumantara Vol. lontar memiliki wibawa. Ida I Dewa Gde. rapi dan bersih). dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama. (9) dan sesajen seperlunya. dan (g) menjadi salah satu warisan budaya dunia (world heritage). Yogyakarta: Javanologi. Dalam aktivitas penulisan lontar. (3) serbuk tingkih (buah kemiri) atau buah naga sari yang dibakar sebagai bahan penghitam goresan aksara Bali di atas daun lontar. Lontar mempunyai kekuatan yang luar biasa. I Nengah. Secara tradisi. IBG (1985). (2005). (2) pelikan (alat penjepit lembaran lontar yang akan di tulis terbuat dari bambu kecil yang dilubangi hingga tembus pada kedua sisinya). menggunakan teknologi tradisional. dkk. Bagi masyarakat Bali. Keadaan dan Jenis-Jenis Naskah Bali.1 Tahun 2012 165 . dan dihormati sebagai sumber berbagai ilmu pengetahuan lahir dan batin. pengarang karya sastra Bali (pangawi) dan penedun (penyalin) lontar adalah para stake holders bahasa. Di samping itu. (5) dulang kayu (sejenis meja yang bundar) sebagai meja tulis. (4) bantalan kasur kecil sebagai alas menulis. bambu. (e) memiliki fungsi dan kedudukan terhormat atau disucikan oleh masyarakat Bali (abstract). atau uyung (seseh pohon enau). para stake holders ini menyiapkan bahan-bahan utama seperti: (1) pepesan (daun tal siap tulis). Lontar terbuat dari daun alami pohon Tal/Rontal. Pedoman Pasang Aksara Bali. Daftar Pustaka Agastia.mudah dipindahkan (moveable). Denpasar: Jurusan Sastra Daerah FS Universitas Udayana . ”Prosesi Pembuatan Daun Lontar”. Catra. lontar Bali dibuat dengan cara yang saksama. sastra dan aksara Bali. membutuhkan kesabaran yang tinggi. pangrupak (pisau tulis). 3 No. (6) penggaris dan pensil (bagi penulis yang tidak yakin akan mampu menghasilkan urut-urutan aksara Bali yang lurus. sampai berabad-abad. (7) penakep dari kayu. Medera. taksu (kekuatan ilahi). sehingga menghasilkan lempiran lontar sehelai demi sehelai. Kualitas lontar yang penulis citrakan tidak lepas dari dasardasar budaya dan keyakinan masyarakat Bali yang melahirkannya. (8) kapas atau kain halus untuk menggosok dan membersihkan bekas-bekas material penghitam. (d) memiliki wujud fisik (tangible) dan non-fisik (intangible). dan dalam suasana yang khusuk.

”Tastra Sastra Saraswati”.1 Tahun 2012 . Tim Consultancy Service (1999). BUIP CHC Volume 10. Pasang Aksara Bali. I Wayan (1973). Makalah diskusi hari suci Saraswati. ”Teknik Nyurat Aksara Bali untuk Kejuaraan”. Ida Bagus (2006). Simpen AB. Denpasar: Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar.(2008). 3 No. Rai Putra. Denpasar: PWII Bali. Denpasar: Dinas Pengajaran Propinsi Bali Daerah Tingkat I Bali. ------------. Denpasar: Dinas Kebudayaan Propinsi Bali.Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. 166 Jumantara Vol.

Kajian Filologis. * Penulis adalah peneliti senior di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah. Saat ini menjabat sebagai ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Kata Kunci: Sulalat al-Salatin. Tahqiq. Aceh. Tulisan ini akan menegaskan kembali signifikansi teks Sulalat al-Salatin sebagai sebuah karya sastra Melayu tradisional adiluhung yang dihubungkan dengan tokoh Tun Seri Lanang dengan melihatnya dari perspektif tahqiq atau kajian filologis. dan bahkan pengarangnya. Jumantara Vol. 77 Tulisan ini berasal dari “Seminar Ketokohan Tun Seri Lanang dalam Sejarah Dua Bangsa”. Tun Seri Lanang. bekerja sama dengan Yayasan Tun Sri Lanang. Jakarta. Sulalat al-Salatin dapat dianggap sebagai salah satu teks Melayu terpenting yang berhasil memikat dan menyita perhatian sejumlah sarjana. Dalam konteks sejarah kesusastraan Melayu klasik. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Biereun. 8 Desember 2011. yang diselenggarakan oleh Direktorat Nilai Sejarah.1 Tahun 2012 167 . 3 No.Abstrak Teks Sulalat al-Salatin (Perteturun Raja-raja) karya Tun Seri Lanang jelas sangat fenomenal. Teks ini mampu „hidup‟ berabadabad melampaui kebesaran zamannya.

3 No. Tun Seri Lanang memang tidak dikenal memiliki karya sastra Melayu lain selain Sulalat al-Salatin. Djakarta: J. Sulalat alSalatin dapat dianggap sebagai salah satu teks Melayu terpenting yang berhasil memikat dan menyita perhatian sejumlah sarjana. Tun Seri Lanang. diceriterakan dengan begitu hidup.78 Teuku Iskandar menambahkan bahwa semua kisah dalam Sulalat al-Salatin tersebut. Teks ini mampu „hidup‟ berabad-abad melampaui kebesaran zamannya. Kendati demikian. Hooykaas. pengunduran Sultan ke Muar dan Pahang. Teks ini merupakan satu-satunya karya sastra yang kepengarangannya dihubungkan dengan tokoh „jagoan‟ kita dalam tulisan ini. C. dalam Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu (teks diunduh dari situs MCP). Terkait dengan kutipan di atas. Perintis Sastra (Groningen. Dalam konteks sejarah kesusastraan Melayu klasik. Wolters. 1951). B. 131. seolah 78 Dr. Hooykaas menegaskan bahwa para sarjana sedemikian tertarik dengan Sulalat al-Salatin karena “…cara kitab itu melukiskan sesuatu hal dengan tjara jang sederhana sekali dan oleh isi kitab itu jang amat indah2nya. mereka membuat terdjemahan2 dan daftar isi tjerita itu…”. “…Di dalamnya terbayang bukan saja genius pengarangnya tetapi juga genius sastera serta bangsa yang menciptanya…” Muhammad Haji Salleh. Hooykaas. 168 Jumantara Vol. ingatan orang niscaya akan langsung mengarah pada sebuah karya sastra sejarah. Perintis Sastra (1951: 132). Membincangkan Tun Seri Lanang berkaitan dengan karya sastranya. Dr. seperti persiapan perang sebelum Portugis menyerang. dan bahkan pengarangnya. Sulalat al-Salatin (Perteturun Rajaraja).1 Tahun 2012 . C. Sulalat al-Salatin jelas sangat fenomenal. Sejauh pengetahuan saya. peristiwa pertempurannya.“…Tak ada tulisan Melayu jang demikian banjaknya diselidiki [selain Sulalat al-Salatin]…”.

R. kemudian W.]. 1997). Universiti Brunei Darussalam.1 Tahun 2012 169 . diterbitkan ulang di Kuala Lumpur: MBRAS.” JMBRAS 16. dan Muhammad Haji Salleh. ya‟ni Perteturun Segala Raja-raja Karangan Tun Seri Lanang (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka. Situmorang & A. John Leyden with an introduction by Sir Thomas Stamford Raffles (London: Longman etc. artikel.O. “The Malay Annals or Sejarah Melayu: The Earliest Recension from MS 18 of the Raffless Collection.penulisnya hadir menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri. Malay Annals: Translated from the Malay language by the late Dr. Shellabear [ed. 1821. 2001). Sejarah Melayu (Singapore: Methodist Publishing House.80 Sejumlah buku. dan juga sebagai seorang pengarang yang menghadapi pendahulunya. 1841).D. T.] Sejarah Melayu (Singapore: Thomas McMicking. saya berdiri kagum…”. 1952). 1995). Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu (teks diunduh dari situs MCP). 80 Muhammad Haji Salleh. Sedjarah Melayu Menurut Terbitan Abdullah (ibn Abdulkadir Munsji) (Jakarta: Djambatan.].. Teeuw [eds. betapa pun saya terpisah dari akar ini. „The Sulalat al-Salatin as A Political Myth‟ yang terbit di Jurnal Indonesia 79 (April 2005). Winstedt. 3 No. Sulalat al-Salatin. menyusul kemudian Abdullah bin Abdul Kadir [ed.79 Muhammad Haji Salleh bahkan dengan berbunga-bunga mengakui: “… Dengan rasa bahawa saya sedang berdiri di depan rimba rahasia fikiran leluhur maka sebagai seorang pembaca Melayu. Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad (Brunei: Jabatan Kesusasteraan Melayu. 1. Chambert-Loir menegaskan bahwa Sulalat al-Salatin tidak sekedar teks yang merekam dan menggambarkan peristiwa masa 79 Teuku Iskandar. dan edisi teks atas Sulalat al-Salatin pernah ditulis dan diterbitkan dalam kurun waktu hampir dua abad ini! Sarjana paling awal di antaranya adalah John Leyden. h. 242.G. 1898). 3 (1938): 1-226. Jumantara Vol. Publikasi lebih kemudian tentang Sulalat al-Salatin adalah artikel yang mencoba melihat teks ini sebagai „mitos politik Melayu‟ oleh Henri Chambert-Loir.

lalu. di atas pun rasanya belum memadai karena hanya memaparkan tinjauan sederhana atas ayat-ayat al-Quran dalam Sulalat al-Salatin. salah satu aspek penting yang belum banyak dielaborasi terkait teks Sulalat al-Salatin adalah unsur Islam dalam teks tersebut. artikel ini belum akan menjawab pertanyaanpertanyaan yang saya kemukakan sendiri di atas. Artikel ini dipresentasikan dalam “2011 International Conference on Social Sciences and Society” di Shanghai. Masih perlu diungkapkan. Artikel Abdurrahman dkk. dan Raja Ahmad Iskandar Raja Yaacob berjudul “The Malay world: an analysis of Quranic verses in Sulalat al-Salatin”. Banyaknya perhatian para sarjana tersebut tidak terlalu mengherankan mengingat kenyataannya Sulalat al-Salatin adalah sebuah sumber tertulis langka yang menjelaskan Kesultanan Melayu di Malaka abad ke-15. h. 14-15 Oktober 2011 lalu. Karenanya. 160. 3 No.1 Tahun 2012 . sejauh mana Islam tergambar dalam Sulalat al-Salatin sebagai pedoman kehidupan negara di Melaka saat itu? Adakah pengaruhnya dalam penegakan hukum dan kebijakan politik? dan beberapa pertanyaan terkait awal Islamisasi lainnya. mengingat telaah semacam itu membutuhkan penelitian dan pembacaan atas sumber-sumber primer yang memadai yang. melainkan juga merupakan kumpulan motif yang dapat dianggap sebagai mitos politik Melayu yang secara sadar digunakan untuk menonjolkan sebuah visi sejarah tertentu. misalnya. Meski demikian. dan mengemukakan tinjauan atas ayat-ayat al-Quran yang dikutip oleh pengarang Sulalat al-Salatin. dalam kesempatan ini 81 Henri Chambert-Loir. 170 Jumantara Vol. Apakah kemudian pembahasan tentang Sulalat al-Salatin boleh dianggap lengkap dan tuntas? Tampaknya tidak juga. tidak tersedia saat artikel ini ditulis. “The Sulalat al-Salatin as a Political Myth” dalam Indonesia 79 (April 2005). China. Barangkali.81 Apresiasi paling mutakhir terkait Sulalat al-Salatin barangkali adalah artikel yang ditulis bersama oleh Abdrurrahman. sayangnya. Muhammad Ridhuan Tony Lim Abdullah.

Menurutnya.saya hanya akan menegaskan kembali signifikansi teks Sulalat alSalatin sebagai sebuah karya sastra Melayu tradisional adiluhung yang dihubungkan dengan tokoh Tun Seri Lanang. tahqiq didefinisikan sebagai „al-fahs al-„ilm li-al-nusus aladabiyah min haythu masdaruha wa-sihhat nassuha wa-insha‟uha wa-sifatuha wa-tarikhuha‟ (sebuah telaah ilmiah atas teks-teks sastra. 85 „Abd al-Hadi al-Fadli menjelaskan bahwa di antara tugas seorang muhaqqiq (filolog) adalah untuk: memverifikasi judul sebuah karya. 31-32.84 judul sebuah teks memang seyogyanya didasarkan pada informasi asal yang berasal dari teks itu sendiri. dari aspek sumber. Winstedt (1938. penyebaran. Tahqiq al-turath. dan sedikit melihatnya dari perspektif tahqiq atau kajian filologis. dan sejarah teks tersebut). Dalam konteks sastra. “The Sulalat al-Salatin. h. (Jeddah: Maktabat al-„Ilm. h. Dua tulisan yang dimaksud adalah Leyden 1821 dan Abdullah 1841 seperti dikemukakan di atas. validitas teks. karena dalam publikasinya (1997). 1982). 3 No. tanpa diragukan lagi bahwa salah 82 83 Henri Chambert-Loir.82 Muhammad Haji Salleh barangkali adalah salah seorang kekecualian. Lihat Lihat „Abd alHadi al-Fadli. penyebutan Sejarah Melayu atau Malay Annals tersebut mengikuti dua tulisan paling awal terkait teks Sulalat al-Salatin yang disebutnya „misleading‟.au/papers/MHS%20Esei1.1 Tahun 2012 171 . Jumantara Vol.anu. h.83 Dalam perspektif filologi dan tahqiq.html. 1969). yang lebih suka menyebut judul teks Sulalat al-Salatin sebagai Sejarah Melayu atau Malay Annals. Sulalat al-Salatin atau Sejarah Melayu? Henri Chambert-Loir memberikan komentar kritis atas kebanyakan sarjana. seperti Shellabear (1896). 84 Tahqiq seyogyanya merupakan terjemahan dari kata „criticism‟. demikian juga dalam artikelnya yang lain berjudul “Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu”. „Abd al-Hadi al-Fadli. dan lainnya. Liaw Yock Fang (1993) Teuku Iskandar (1995). ia memberi judul Sulalat al-Salatin. Artikel tersebut dapat dibaca di: http://mcp.85 Dalam hal Sulalat al-Salatin. sifat. dan menegaskan hubungan sebuah karya dengan nama pengarang yang disebut. 121. yang secara sederhana dapat diartikan sebagai „ihkam al-shay‟ (menghakimi sesuatu).edu. sejauh informasi terkait bisa dijumpai. 133. memverifikasi nama pengarang. Tahqiq al-turath.

Apakah hal itu disebabkan karena kata Sulalat al-Salatin adalah bahasa Arab yang tidak terlalu jelas maknanya bagi sebagian orang sehingga kebanyakan merasa lebih „nyaman‟ menyebut „Sejarah Melayu‟ yang lebih mudah difahami? Tentu ini bukan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. h. M. 134-135. 3 No. tidak ada alasan yang masuk akal untuk tidak menyebut Sulalat al-Salatin sebagai judul teks. Maka Fakir namai hikayat itu Sulalat al-Salatin yakni peraturan segala raja-raja…”. h. Ricklefs and P. 88 M. supaya akan menyukakan duli hadhirat baginda. 86 87 Dikutip dari Teuku Iskandar. Kesusasteraan. bukan apa yang difahami peneliti atas teks tersebut! Judul berbahasa Arab untuk teks-teks Melayu adalah sebuah kelaziman pada masa lalu. karena yang lebih penting adalah menampilkan apa yang tertulis dalam teks. mendaftarkan kata kunci „Sejarah Melayu‟ dalam indeksnya87 yang merujuk pada manuskrip yang disebut sebagai Sulalat al-Salatin ini. melainkan juga katalog manuskrip yang menginventarisasi dan mendeskripsikannya. Indonesian…. Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections (Oxford: Oxford University Press.1 Tahun 2012 . C. h. maka penyebutan „Sejarah Melayu‟ atau Malay Annals tentu boleh-boleh saja. bukan hanya sumber-sumber yang disebut di atas saja yang banyak menjadikan Sejarah Melayu sebagai judul teks. 245.satu bagian dari mukadimah teks yang sedang didiskusikan ini berbunyi: “…maka Fakir karanglah hikayat ini kama sami‟tuhu min jaddi wa-abi.86 Berdasar pada sumber tertulis di atas. Voorhoeve. 230. Ricklefs and P. C. 172 Jumantara Vol. Katalog Ricklefs & Voorhoeve 1977 misalnya. Voorhoeve. Akan tetapi jika yang dimaksudkan adalah kandungan isinya. termasuk manuskrip Raffles Malay 18 yang dijadikan sebagai landasan edisi oleh Winstedt 1938. 1977). Anehnya.88 Kata „Sulalat al-Salatin‟ bahkan tidak terdaftar sama sekali dalam katalog ini.

116. The Sulalat…. 1994). 1997). h. 493.Dengan demikian. 245. sedangkan al-Salatin berarti raja-raja (kings/sultans)90. Tokoh-tokoh Sastera Melayu Klasik (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Sebagian mengejanya sebagai „Peraturan‟91. Sulalat al-Salatin. cicit Bendahara Seri 89 Hans Wehr. sebagian lagi „pertuturan‟92. 92 Lihat misalnya Henri Chambert-Loir. penyebutan „Sejarah Melayu‟ sebagai judul teks yang dihubungkan dengan dengan tokoh Tun Seri Lanang ini. Bendahara. anak Orang Kaya Paduka Raja. Jumantara Vol. dan sebagian lainnya „perteturun. yang menjadi acuan terjemahan judul tersebut. dan diganti menjadi Sulalat alSalatin saja. h. 91 Lihat antara lain Mohammad Daud Mohammad. kata „Sulalat‟ ini diterjemahkan menjadi berbeda-beda. seyogyanya diluruskan. Tun Seri Lanang timang-timangannya. terjemahan yang paling mendekati dari definisi kata Sulalat tersebut tampaknya adalah „perteturun‟. Dalam beberapa sumber. 90 Hans Wehr. 134. Kesusasteraan… h. h.1 Tahun 2012 173 . Kata „Sulalat‟ sendiri. saya berpendapat bahwa ke depan. ya‟ni Perteturun Segala Raja-Raja Karangan Tun Seri Lanang (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka. Teuku Iskandar. Hal ini terutama karena ada bukti tertulis dalam mukaddimah naskah Sulalat al-Salatin sebagai berikut: “…setelah Fakir mendengar demikian. Tun Muhammad namanya. dalam bahasa Arab berarti „keturunan‟ (descendant)89. jadi beratlah atas anggota Fakir alladzi murakkabun „ala „l-jahli. 1987). 489.‟93 Memperhatikan maknanya. 93 Lihat misalnya Muhammad Haji Salleh. dan karena itulah versi Melayunya perlu dibaca sebagai „Perteturun Raja-raja‟. A Dictionary. 3 No. h. Paduka Raja gelarannya. cucu Bendahara Seri Maharaja. 110. A Dictionary of Modern Written Arabic (Urbana: Spoken Language Services. Tun Seri Lanang: Diskusi Kepengarangan Sulalat al-Salatin Pengetahuan umum kita menyatakan bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang langsung teks Sulalat al-Salatin. kecuali jika dimaksudkan sebagai penjelasan atau pemerian belaka.

h. 97. Winstedt yang masih mendiskusikan apakah Tun Seri Lanang dapat disebut sebagai pengarang langsung teks Sulalat al-Salatin atau penyalin? Teuku Iskandar mendiskusikan perbincangan para sarjana tersebut secara panjang lebar.Maharaja.1 Tahun 2012 . Teuku Iskandar. 96 Winstedt menambahkan beberapa hal yang membuat dirinya sangsi bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang Sulalat alSalatin. O. juga tidak menunjukkan kerendahan hati bangsa Melayu pada umumnya. serta mengetahui sedikit bahasa Cina dan Siam. Kesusasteraan. piut Bendahara Seri Maharaja anak Seri Nara Diraja Tun Ali. lihat juga Liaw Yock Fang. anak baginda Mani Purindam. Tamil dan Arab. h. J. Parsi. 96 Teuku Iskandar. Kesusasteraan. 245-259. Wilkinson misalnya berasumsi bahwa kalimat “…maka Fakir karanglah hikayat ini…” dalam teks Sulalat al-Salatin tidak cukup lazim ditulis oleh seorang pengarang Melayu yang menyebut dirinya sendiri sebagai seorang „pengarang‟. 3 No. Alih-alih menganggap Tun Seri Lanang sebagai pengarang langsung. qaddasa „llahu sirrahum. Kesusasteraan. 249. 1993). ada beberapa sarjana seperti R. 245. yang mengisyaratkan seolah-olah pengarangnya adalah Raja Bungsu. Salah satunya adalah karena di akhir naskah versi Raffles Malay 18 tertulis kalimat: “…wa-katibuhu Raja Bungsu…”. h. Kesusasteraan. Selain itu. cicit Bendahara Tun Nara Wangsa. Wilkinson menduga bahwa teks Sulalat al-Salatin tersebut dikarang oleh seorang peranakan Tamil yang mengenal kehidupan istana Melaka. 97 Teuku Iskandar. h. 174 Jumantara Vol. mengetahui bahasa Sanskritt. Wilkinson dan R. tambahan berbagai gelar serta asal-usul pengarang sebagai keturunan para pembesar kerajaan. h. 244. Malakat negerinya. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik 2 (Jakarta: Penerbit Erlangga.95 Disebutkan. dari Bukit Siguntang Mahameru. Melayu bangsanya. Batu Sawar Darussalam…”94 Akan tetapi. karena 94 95 Dikutip dari Teuku Iskandar.97 Argumen seperti ini tentu saja masih dapat diperdebatkan. yang terkesan sebagai pamer status.

98 Demikianlah. terlepas dari pengakuan atas keindahan dan keagungan Sulalat al-Salatin sebagai karya sastra sejarah Melayu. baik pada pengarang maupun penyalin sebuah teks. Kesusasteraan.99 Tentu saja ada sejumlah sarjana lain yang tidak sependapat dengan pandangan di atas. kadang satu episode cukup panjang. 3 No. misalnya.100 Dengan demikian. bahkan mengubah bahasa karya asal atau menerjemahkan. Teuku Iskandar. Liaw Yock Fang adalah salah satu di antaranya. harus difahami bahwa konsep „penyalin‟ dalam tradisi kesusasteraan Melayu lama dapat juga berarti „pengarang‟. Jumantara Vol. setelah memaparkan argumentasi yang cukup panjang. Hooykaas misalnya. tampaknya sebuah kajian tekstologis untuk secara khusus memastikan Tun Seri Lanang sebagai pengarang Sulalat alSalatin perlu dilakukan. sesuai konteks dan kebutuhan pada masanya. h. mengatakan bahwa penyebab keraguan itu adalah karena: “…kebanyakan daripada versi-versi [manuskrip Sulalat al-Salatin. Itulah mengapa Teuku Iskandar memberikan komentar bahwa manuskrip Raffles Malay 18 yang diakhiri dengan kalimat “…wa-katibuhu Raja Bungsu…” adalah salinan manuskrip dari hikayat yang dibawa dari Goa. Sejarah… h. yang dianggap perlu. Ia. pen. karena selain Wilkinson dan Winstedt di atas. dapat saja merujuk. 250. h.] ini masih belum cukup diselidiki dan sukar ditentukan pengarang dan masa tertulisnya…”. Menurut Teuku Iskandar. Teuku Iskandar dan C. yang dalam bahasa Arab berarti „penulis‟. karena ia tidak hanya sekedar menyalin. yang dimiliki oleh Raja Bungsu. Liaw Yock Fang. masih ada beberapa lagi sarjana yang masih belum yakin bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarangnya.1 Tahun 2012 175 . Teuku Iskandar secara tegas mengatakan: 98 99 100 Teuku Iskandar. Kesusasteraan. termasuk di antara mereka yang meyakini bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang Sulalat al-Salatin. melainkan juga menambahkan bagian. 97. 252. memperbaiki bagian yang dianggap tidak tepat.kata „katib‟ sendiri.

karena ia tidak melihat ada alasan kuat untuk mempermasalahkannya. Wallahu a‟lam bissawab. Liaw Yock (1993). barangkali pendekatan tahqiq seperti saya kemukakan di atas dapat diterapkan untuk melakukan sebuah kajian khusus berkaitan dengan kepengarangan teks Sulalat alSalatin. tulisan ini mungkin tidak memberikan kontribusi penting dan juga tidak menyediakan informasi baru terkait karyakarya sastra yang dihubungkan dengan Tun Seri Lanang. 101 Teuku Iskandar. Saya hanya berharap bahwa kajian atas karya-karya sastra Melayu semisal Sulalat al-Salatin dapat terus digalakkan dengan melihatnya dari berbagai perspektif. 176 Jumantara Vol. kebesaran dan keindahan teks Sulalat al-Salatin itu sendiri sebagai sebuah karya sastra sejarah Melayu klasik dalam beberapa hal sepertinya sudah jauh melebihi kebesaran zaman dan pengarangnya. „Abd al-Hadi al. h.101 Dalam konteks ini. Kesusasteraan. 256. Fadli. Tahqiq al-turath. „The Sulalat al-Salatin as a Political Myth‟ dalam Indonesia 79 (April 2005). Hal ini mungkin karena dalam kenyataannya. Henri (2005). Penutup Demikianlah. meski sarjana semisal Henri Chambert-Loir mengaku tidak tertarik memperdebatkan apakah Sulalat al-Salatin ini dikarang oleh Tun Seri Lanang sendiri atau pengarang lainnya.1 Tahun 2012 . h. Daftar Bacaan Chambert-Loir. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik 2.“…sejak tahun 1964 kita telah menyatakan bahwa Tun Seri Lananglah pengarang Sejarah Melayu dan menentang pendapat Winstedt yang menafikan hakikat ini…”.(1982). Jeddah: Maktabat al-„Ilm. 160. agar kajian tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh terkait peradaban Melayu Nusantara kita pada masa lalu. Fang. 3 No.

Tokoh-tokoh Sastera Melayu Klasik. Teuku (1995).edu. Oxford: Oxford University Press. Ricklefs M. Perintis Sastra.anu. A Dictionary of Modern Written Arabic. ya‟ni Perteturun Segala Raja-Raja Karangan Tun Seri Lanang. Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu. Jumantara Vol. Djakarta: J. Hooykaas. Muhammad Haji. Hans (1994). Sulalat al-Salatin. Voorhoeve (1977). Urbana: Spoken Language Services. Wehr. 3 No. Wolters. Groningen. and P. h. 1994. C. Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections. 1997).Jakarta: Penerbit Erlangga. Mohammad. Brunei: Jabatan Kesusasteraan Melayu. 1 ----------. (1951). Mohammad Daud (1987). Salleh. Artikel diunduh dari situs Malay Corcondance Project (http://mcp. C. Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka. Iskandar. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.1 Tahun 2012 177 .au/papers/MHS%20Esei1.html). (1997). Universiti Brunei Darussalam. B.

Berdasarkan kesempatan luas yang diberikan itu 178 Jumantara Vol. saya merasa perlu untuk menerbitkan lagi artikel itu dengan pengurangan dan perubahan seperlunya. Terbitan teks. 7. ISBN 978-979-461-787-8. Sehubungan dengan terbitnya disertasi W.1 Tahun 2012 . terjemahan.Willem van der Molen (2011). Kritik Teks Jawa. 3 No. 255-272). Artikel resensi ini adalah telaah lama yang pernah diterbitkan di majalah Basis (Th. Juli 1984. mengemukakan alternatif bacaan. dan perbaikan bacaan Terbitan diplomatik teks Kuñjarakarṇa (prosa) dari ketiga naskah yang diteliti. no. bahkan mungkin mencoba membuat rekonstruksi. hlm. XXXIII. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. sungguh membantu pembaca untuk bekerja sendiri: menganalisis. van der Molen dalam terjemahan bahasa Indonesia. Tebal x + 392 hlm. Sebuah pemandangan umum dan pendekatan baru yang diterapkan kepada Kunjarakarna. yang disajikan secara sinoptik.

Sekalipun hal-ihwal ejaan telah diselidiki secara rumit. Pemahaman teks dan perbaikan bacaan secara bertahap perlu memperhatikan: teks dari satu naskah. yang dapat membantu untuk menentukan kedudukan teks itu dalam sejarah bahasa dan tahapan tradisi. 121162). ternak.1 Tahun 2012 179 . bandingan antarteks dengan karya yang sama dari naskah lain. 3 No. Seharusnya dibaca: 125 H paŋan inum. pemisahan kata menimbulkan kesalahan (1) 125 H paŋan inum. berkeluarga. Sejumlah contoh berikut ini dimaksudkan sebagai sumbangan pikiran untuk pemahaman teks dan perbaikan bacaan. […]”. namun barulah menyangkut pemakaian beberapa huruf saja. Dalam hal ini terbitan teks Kuñjarakarṇa (prosa) menunjukkan kekurangan yang menyolok. bahwa setiap penerbit atau penyunting teks memahami teks dan menguasai bahasa teks yang diterbitkan atau disuntingnya. Kesalahan terjemahan. minum. lembu). Erat hubungan dengan hal itu. sanḍaŋ Jumantara Vol. Selanjutnya masih perlu dilakukan penelitian ejaan dengan memperhatikan tataran morfo-sintaksis. sanḍaŋ agoh arabihanakkanak Terjemahan: “Makan. (h. Penelitian ini diharapkan akan menampilkan ciri-ciri kebahasaan dari teks yang bersangkutan.akan dikemukakan beberapa hal yang mungkin membantu pemahaman dan penelitian lebih lanjut. Ejaan yang tidak konsisten sangat penting diselidiki demi pemahaman teks dan perbaikan bacaan. terutama dari naskah H. Diandaikan. Terjemahan “ternak” berhubungan dengan bacaan “agoh” (“goh”. dan terbatas pada tataran kata dasar (h. suatu masalah yang berulang kali dibahas oleh para penerbit teks Jawa adalah masalah pemisahan kata beserta dasar-dasar linguistiknya. dan hubungan antar teks dengan berbagai karya lainnya. 175) pakaian.

yang berarti: “kayu bakar (dan) dupa” (OJED. lebuguntung”. 1982. tahulan). (3) 1028 H wawa ṣima ŋuyu ḷbuguntuṅ. samidha. I: 1114. samiddha). II: 1647. 185) berbau dupa semerbak harum Seharusnya dibaca: “śammida dupa”. […] 180 Jumantara Vol. kĕmbaṅ kuṣaṅ runtiṅruntiṅ. 594 H pamanuyon. yang berarti: “batu merupakan tulang(nya)”.ago harabi hanakkanak “Sanḍaŋ a <ṅ> go” berarti: “pakaian dan perhiasan” (lihat Zoetmulder. bdk. cinakuṣ i wawaŋi kambaŋ wĕrataŋanta. ma oṃ. II: 2216. II: 1901. sima. II: 1638. aŋgo. Old-Javanese English Dictionary = OJED. 219) Seharusnya dibaca: “wawaṣi manguyu ḷbuguntuṅ”. I: 100. (4) 2440 H […] Ø watu pinaŋka ta wulan. maŋuyu. 3 No.1 Tahun 2012 . (h. (h. wasi. sandaŋ) (2) 334 H śammi dadupa mrabukk arum pawaŋi Terjemahan: “[…] mewangi. Lalu “winoŋan” (333) seharusnya dihubungkan dengan “śammida dupa”. yang adalah nama-nama jenis pertapa. nguyu. I: 1001. (OJED. […] Terjemahan: “[…] Ø Batu sebagai bulan (h. Terjemahan: “wawal. (5) 3130 H halŋa burat. (OJED. 290-291) Seharusnya dibaca: “watu pinaŋka tawulan”. lebuguntur).

325).Terjemahan: “[…] dengan minyak dan boreh. dalam bandingan intrateks. kulit). kadi hantiga kinulitan. banyak bagian tidak diterjemahkan (ditandai: …). […] Terjemahan: “Rupa anda waktu itu seperti telur berkulit” (h. 3 No. maupun bandingan antarteks. karena arti masih gelap. Bungaku Sang Runting-runting. sebab: pemisahan kata salah. kĕmbaṅku ṣaṅ runtiṅruntiṅ cinaku ṣi wawaŋi kambaŋ wĕratanaŋta. Seharusnya dibaca: 3130 H halŋa burat. […] Artinya: “Mengenakan minyak boreh. arti kata tidak dicari. dan konteks kurang dipahami. I: 918. bunga kusang dan runting … wewangian. Mantra: om. ungkapan. cihna II) Si Harum Bunga Weratanganta (? Bdk. “Hantiga kinulitan” artinya bukanlah “telur berkulit”. dan lain-lain.1 Tahun 2012 181 . Bunga wratanganta. (OJED. 257). Berikut ini disajikan beberapa contoh lagi. I: 327. (Ungkapan ini menandai tahap upacara. baik dalam kamus. perbaikan bacaan belum dilakukan. tidak termasuk mantra yang terdahulu. Mantra: Oṃ. melainkan “telur yang dikuliti (dikupas kulitnya)”. (6) 1792 H sammana rupanta. pemisahan kata ditangguhkan. ranak baṭara. bahasa. Ciriku (OJED. (7) 2203 H […] maŋke taṇn agiraha. ma oṃ. K: kĕmbaṅ wĕratta baranta). pukulun Jumantara Vol.” Seperti telah terlihat pada contoh-contoh di atas. (h.

(Bagian kalimat ini termasuk langsung! OJED. K pataraṇna maṇni). hanitihi”. Perihal sandhi atau gabungan kata semacam ini perlu dipertimbangkan lagi demi pemahaman ciri kebahasan dari teks yang bersangkutan. Batara. titih). (h. amintaha. 279) Memang naskah K berbunyi: “maŋge tan agiraṅ”. 3190 amit kantuna paṣĕk kapaŋgaḥ. (OJED. grah). II: 1438. II. 182 Jumantara Vol. pasĕk. tetapi sejajar dengan “tan panaŋguha lara”. I: 540. (h. 3 No. Terjemahan sementara: “[…] Si Purnawijaya mohon diri. pukulun.1 Tahun 2012 . pun I). haniti hi pantaraṇn aji. Hendaklah tinggal tetap terhormat menduduki singgasana Tuanku” (9) 3124 H timbul krawa len bujana kulit. Mungkin “pantaraṇn aji” (3192) lebih baik tetap dibaca: “pantaraṇnaji” (gabungan kata: pa [n] taraṇnaaji. (OJED. 327). […]‟”. Larik 3191 seharusnya dibaca: “paṣĕkk apaŋgaḥ. K tan tĕtĕsa deniṅ wwakadga hendak ucapan Tuanku rajawi. (8) 3188 H […] pun puṙṇawijaya. […]”. Terjemahan: “Purnawijaya mohon diri: „Tinggallah baikbaik … di atas singgasana raja. Terjemahan: “Sekarang … Hamba tidak menganggapnya penderitaan. “tan agiraha” (naskah H) selayaknya dibaca: “tan ageraha” (tak akan merasa sakit). K tinbul krawa le bujana kulit 3125 H tan tĕtĕsa deniṅ wwakadaga. 2023. II: 1310.tan panaŋguha lara. pasak I.

Ensink. h.1 Tahun 2012 183 . Jumantara Vol. (10) 3116 H satakuṣilulunnonen […] K maṭakuśilulukonĕn […] Pemisahan kata belum ditentukan. On the OldJavanese Cantakaparwa and Its Tale of Sutasoma. gḍug.” (3123 H. Teg keng keng”. 325). (bdk. 3 No.3126 H lwir pusuḥ tĕg kĕṅ kĕṅ. Membatu”. kĕṅ kĕṅ […] Terjemahan: “tak tertembus oleh … seperti kuncup bunga. unaŋ). Dalam Korawāçrama (Swellengrebel. dan tidak diterjemahkan. (h. (OJED. 9). tak akan mempan oleh segala macam pedang (senjata) bagaikan kuncup bunga (?). Tan tĕtĕsa deninṅ <sar>wwakadga. dan bandingan antarteks dengan karya lain. I: 1055. h. II: 2121. Aji ini terdapat sesudah cerita tentang Kuñjayakarna dan Pūrṇawijaya. 3116 H: puspa liŋganeṅ siraḥku). Terjemahan sementara: “Timbul Krawale Buja (Sakti Kebal Lengan?) ada di kulit. (h. I: 806. Us 156: timbal kurawale) bujan<eṅ> kulit. OJED. berdasarkan bandingan teks dari kedua naskah. […] K lwir pusuḥ kĕg. Bacaan dapat diperbaiki menjadi: “timbul krawalen (atau: krawale. diusulkan bacaan: “mataku si lulut onĕng”. 136). lulut.323). karawalya (karawali?). 1936) terdapat Aji Sūkṣma -jahinang dengan ungkapan: “lulut onĕng ring utari” (h. 99a). suara orang menghentak bumi) berhubungan dengan “om […] dalamakanku”. lir pusuḥ tĕg (atau: kĕg) kĕṅkĕṅ”. Menurut konteks “gḍug. (bdk. dengan arti: “Mataku Si Lulut Onĕng (Si Asyik-Masyuk)”. 1967. unĕŋ. Tĕg. Dalam Cantakaparwa terdapat pula Aji Jahinang dengan ungkapan: “Lulur onĕng ring untunku” (naskah Kirtya 398.

atau “meski demikian”.1 Tahun 2012 . 219) Terjemahan: “yang menunggui kayangan pendosa” berhubungan dengan bacaan “papa ṭa” dan salah hubung dengan “kaywaŋan” (1011). kemala. kawahku. Seharusnya dibaca: “papaṭ <t>a humahnya”. 1032. mas pirak miraḥ kommala hinten. dan mengacaukan arti!). 1716.(11) 1009 H […] upamanya yi kadyaŋga ṇniṅ saṅ besawaṙṇna hatuŋgu kaywaŋan. Dinda. intan. (h. Seperti itulah halnya kawah tempat siksaan. tidak tepat. dan nanti akan dinikmati. 1043. 3 No. yang berarti: “Empatlah rumahnya”. Maka: (13) 1001 H […] tanta 184 Jumantara Vol.” (Terjemahan “iwa maŋkana” dengan “meskipun demikian”. (H 1015-1030). bila mereka sudah mati. melainkan orang-orang di dunia. papa ṭa humaḥnya kĕbĕk deṇniṅ raja drawwa.” (h. yang berarti: “seperti itulah. Bukanlah Yama yang memiliki kawah itu. perak permata. melainkan milik orang-orang di dunia yang berbuat kebaikan. […] Terjemahan: “Bandingkan dengan Besawarna yang me nunggui kayangan pendosa. 1698. Rumah itu bukan milik Besawarna. 219) Seharusnya dibaca: “iwa maŋkana yayi kawa<ḥ>ulun”. 1708. Maka: (12) 1032 H iwa maŋkana yayi kawa ulun… Terjemahan: “[…] …meskipun demikian saya ragu adik. Rumahnya penuh dengan harta benda emas.

draweni kawah hi<ka> wwaṅ madyapada kaṅ drawenni <i> ka [n] yayi.niṅ ŋulun. Terjemahan: “Bukanlah aku yang memiliki kawah itu.1 Tahun 2012 185 . 217). 3 No. 219). Jumantara Vol. dik. madyapada kaṅ drawenni kaṅ yayi. (h. Seharusnya dibaca: 989 H […] tanta. Seharusnya dibaca: 1001 H […] tantan i ṅŋulun. dirinya sendiri memasukkan itu. ṇni ŋulun haḷbokna kawaḥ hika. orang-orang di dunialah yang memiliki itu. saua suruh masuk sendiri dik”. merekalah yang punya. Kawah adalah milik orang di dunia. hawake ḍawak aḷbokĕṇn ika yayi Terjemahan: “Bukanlah aku yang memasukkan ke dalam kawah itu. hawake ḍawak aḷbokĕṇ nika yayi Terjemahan: “[…] … Caranya pada saya kalau saya memasukkan orang ke kawah. Maka: (14) 989 H […] tanta. Dinda”. ṇn i ŋulun haḷbokna kawaḥ hika. Dinda”. melainkan orang-orang itu sendirilah yang masuk ke dalam kawah. Terjemahan: “[…] … ku.” (h. Bukanlah Yama yang memasukkan atau memasak orangorang berdosa di dalam kawah. drawe ni kawah hi wwaṅ.

3 No. (h. (h. wwaṅ tuhu si maḷbu ḍawak mariṅ kawaḥ […] Terjemahan: “Tidaklah aku masak. Namun demikian. Dalam naskah H bentuk huruf “c” agak mirip dengan “j”. Terjemahan: “… pemulung. dapatlah bacaan larik 2822-2823 diperbaiki menjadi: “kunan pañjanmanya. Perbaikan bacaan “klĕ” (1097) menjadi “kĕla” sejalan dengan “tlĕs” (156. Seharusnya dibaca: 1096 H […] tanta <n> (atau: tan ta?) ulun. pĕjah). “pjĕh” (3392. sedangkan “t” jauh berbeda dengan “c”. kĕla. berdasarkan bandingan dengan larik 1301-1302 dan dengan bacaan naskah K (2822-2823: janmanya acukitt adulit). 233) 2822 H kunaṅ pañcanmanya. 223). tĕlas). tadulit. ywa tukit.t adulit. (16) 1301 H […] hacukit hadulit.” Bentuk “ywacukit” dapat dipandang sebagai gabungan kata “ya acukit” dengan sisihan/tambahan “wa” pada kata “ya”. Jadi artinya: “Ada pun penjelmaannya adalah orang-orang 186 Jumantara Vol. 309). orang-orang itu sesungguhnya masuk sendiri ke dalam kawah”. wwaṅ tuhu si maḷbu ḍawak mariṅ kawaḥ […] Terjemahan: “[…] … Ada orang yang masuk yang sangat … Ia masuk sendiri ke dalam kawah […]”. […] Terjemahan: “selanjutnya … … penjual kapur”. dan lainlain. ywacukit. klĕ. (h. penjual kapur”.(15) 1096 H […] tanta ulun.1 Tahun 2012 .

dan lainlain. dan “kleswa” (116). Jadi arti perbaikan bacaan itu: “supaya hilanglah Jumantara Vol. Jadi di sini perlu dipertahankan: “ikaṅ sakala”. sakala II). ta. 171) untuk bepergian. bdk. „dulit‟ ” (pedagang terasi. Maka terbukalah kemungkinan untuk bacaan “kaleswa” (68). 1946). dan berasal dari “sakala” (t<k. dan passim). 1951. maratabwan. K ikaṅ satala marayata H ikaṅ ṣwatala. 1942. 1544. (OJED. 286). 1970. II: 1604. h. I. itulah Mungkin harus diperbaiki demikian: 68 H <i> laŋ <a> kaleswa ywaki (yweki?) ywaki (yweki?) bawanya Ø Kata “klesa” (1933. kapur. “kalweṣa” (80. 324 H: salaka).1 Tahun 2012 187 . Perbaikan itu sejalan dengan bentuk-bentuk: “swalaka” (229 H. (18) 68 H laŋka leswa ywaki ywaki bawanya Ø Terjemahan: “ „Alasan maksudnya”. Sisipan/tambahan “w(a)” atau “y(a) dalam ejaan naskah H perlu diperhatikan untuk perbaikan bacaan dan pemahaman bahasa. kaleṣa. (17) 28 A sakala maray. salah satu buktinya: naskah A). sadakala). “Ikaṅ ṣwatala” (naskah H) diterjemahkan: “tempatnya sendiri” (h. “kalṣe” (1076. “swadakala” (528 H. 1556. Di sini mungkin terdapat sisipan tambahan “wa”.(yang pekerjaannya) „cukit‟. dan passim) dalam naskah H kadang kadang dieja “kalesa”/kaleṣa” (1541. 3 No. (h. sehingga “ṣwatala” ekuivalen dengan “satala” (naskah K). dan lain sebagainya). 169). yang berarti: “pada waktu yang bersamaan”.

Sebenarnya “atatya” ekuivalen dengan “atata” (OJED. 223). sapata?” . (19) 1114 H […] sapa ka yweku riṅ pakśanya. 188 Jumantara Vol. yeki maŋke tinmunya dyan tuṭ ri kaṅ kawaḥ Terjemahannya: “[…] … Mereka sekarang berhadapan dengan perbuatan jahatnya dan harus mengikutinya ke kawah”. Bila demikian. Yang perlu diperhatikan ialah: “dyan tuṭ ri kaṅ kawah”. seperti halnya: “byuda” – “budda”. […] Terjemahan: “Sesudah itu berturut-turut para dewa memuja Batara Buddja Sri Wironcana”. Mungkinkah diperbaiki menjadi: “dyan tḍuni <i> kaṅ kawaṅ”? (A: den tĕḍūni ikaṅ kawaḥ). diterjunilah kawah itu”. ata tyan?” (h. II: 1958. yeki maŋke tinmunya dyan tḍuni <i> kaṅ kawaḥ Terjemahan: “Siapa yang seperti itu sikapnya.kecemarannya. Dalam perbaikan bacaan terdapat: “sapa ka 1. Dalam perbaikan bacaan terdapat: “atatya? b. tata I). 3 No. (h. (h. 169). Pertanyaan itu tidak perlu.1 Tahun 2012 . (20) 8 H […] ummilu atatya dewata kabeḥ myamujaha rwiṅ ḃaṫara byudda sri wiroñcana. 356). maka bacaannya: 1114 H […] sapa kayweku riṅ pakśanya. inilah sekarang yang ditemuinya. itulah maksudnya”.

245) Lebih tepat diperbaiki menjadi: 1555 H […] maŋkana ilaŋan niṅ kaleṣa papa nniṅ sarira. 1076. aswruḥ b. (h. nandaḥ padaŋdana kita rari. n <ta> Jumantara Vol. Ayo berpakaianlah anda”. (21) 1074 H […] den aswruḥ hiṅ saṅ hyaṅ daṙmma. ilaŋana kaleṣa niṅ sariranta. kalṣe b. 3 No. Terjemahan: “Bila sudah tahu akan Sang Hyang Dharma. ilaŋana kalṣe ṇniṅ sariranta. hendaklah dihilangkan kecemaran tubuhmu”. Dalam perbaikan bacaan terdapat: “1075. 359) Mungkin “s” pada “aswruh” perlu dipertahankan.1 Tahun 2012 189 . Jadi: 1074 H […] den <wu> s wruḥ hiṅ saṅ hyaṅ daṙmma.“myamujaha” – “mamujaha”. Terjemahan: “[…] Pahamilah Darma maka penyakit akan hilang dari badan anda”. kaleṣa” (hlm. dan lain-lain. (h. 221). awruḥ. “tirtya” (3082) – “tirta”. “wuwustya” (3009) – “wuwusta”. Kurangnya “pasangan” beserta “sandangan”-nya perlu diperhitungkan dalam perbaikan bacaan. […] Terjemahan: “[…] Begitulah caranya menghilangkan kekotoran serta kekurangan badan. (22) 1555 H […] maŋkana ilaŋan niṅ (sic) kaleṣa papa nniṅ sarira.

247). hendaklah kau bunuh semua”. (23) 3039 H itipa ka sla kabeh. I: 96. […] Diandaikan.. (h. (lalu) berkata kepada Sang Purnawijaya: […]”..1 Tahun 2012 . panteni denta kabeh. panteni denta kabeh. […] Di sini diandaikan pasangan “ta” hilang (K: sariranta). 3 No. 319) Perbaikan bacaan: 3039 H itip <iṅ> kasmala kabeḥ.ndaḥ padaŋdana kita rari. Bentuk huruf “ḷ” serupa dengan bentuk kombinasi huruf “ŋ(a)” dan “n(a)” (sebagai “pasangan”). […] Terjemahan: “. dan “s” (pada “kasla”) kehilangan “pasangan m(a)” (bdk. Jadi artinya: “Kerak segala kecemaran. (24) 1587 H maŋaḷŋĕn śaṅ kuñjarakaṙṇna swojaṙ riṅ saṅ puṙnawijaya Terjemahan: “Sambil memegang lengannya berkata Kunjarakarna kepada Purnawijaya”. “pa” (pada “itipa”) kehilangan “wulu” dan “cĕcak”. Maka sebaiknya dibaca: 1587 H maŋaŋnaŋĕn śaṅ kuñjarakaṙṇna swojaṙ riṅ saṅ puṙnawijaya Terjemahan: “Berpikirlah (OJED. Begitu pula: (25) 3179 H ih hiŋaḷnĕndriya haja tan 190 Jumantara Vol. harus anda bunuh semua”. 2165 H: kasmalammu). (h. aŋĕn) Sang Kunjarakarna.

seperti: “taṇn ana lena kapaŋguḥ” (2464. 327) Sebaiknya dibaca: 3179 H ih hiŋaŋnaŋĕn driya haja tan prayatna. 2900. perlu dipertahankan pula kekhasan bahasa Jumantara Vol. […]” (26) 399 H […] gagakk alwar curiga Terjemahan: “[…] Mereka jahat” Teks naskah H dan perbaikan bacaan atas bacaan Kern pada naskah A: “gālak” (VG X: 57) menjadi “gāgak” tidak diikuti dengan terjemahan yang sesuai. (h. Namun demikian.prayatna. dan lain-lain. Artinya: “Nah. … berusahalah keras […]”. Begitu pula tempat-tempat lain yang paralel. Sekedar contoh: (27) 835 A mawāk masarira K mawakasarira H mawakaṣarira . 3539). gāgak) yang bersayap keris”. gagak. dipikir dengan periksa.1824 A mawak masarira K mawaṅk asarira H mawak asarira Semestinya 835 K dan H ditransliterasikan: “mawak asarira” dan “mawak aṣarira”. Selanjutnya transliterasi.1 Tahun 2012 191 . Seharusnya: “[…] burung gagak (OJED. 3 No. I 473. perlu diperhatikan konsistensi dalam Dalam hal ini sangat penting pertimbangan dari segi linguistik. jangan tak waspada. Terjemahan: “Hai.

dan tradisi teks masing-masing. raṣaksa b. moŋkono) – “meŋkene”. Jawa Baru: rasĕksa).1 Tahun 2012 . I: 1139. 3 No. yang menunjukkan tahap perkembangan bahasa tertentu (bdk. (h. Cantakaparwa) menjadi “kuñjarakaṙṇna” (h. I: 1149. (h. mengingat kesalahan-kesalahan yang terjadi berkat salah baca. 160. 365). 2. perlu dipertimbangkan lagi dalam rangka tradisi penulis/penyalin. meṅkene). 2. bahwa: 1. OJED. Sejarah teks dan tradisi Dalam melacak sejarah teks dan tradisinya W. 2825. meŋkeneha b. 3346. OJED. 360). Untuk naskah H lebih tepat ditentukan: “hamahĕt”. 574. bahwa kedua naskah itu mempunyai induk yang bersamaan. hamahĕt. 170. Jadi pada naskah H terdapat: “maŋkana” (513. Sakula < Nakula) menjadi “muladara” (h. (h. 29. 1760. 1504. 192 Jumantara Vol. 3306. rasakṣa b. Di sini pun perlu dipertahankan: “raśaksa” (beserta varian ejaannya). (h. Misalnya: 1. rakśasa. 364). hamahĕk b. rakṣasa. Dalam hal ini perbaikan bacaan tidak konsisten. Bisa ditambah: 1507 H: rasakṣa. pertukaran „d‟ dan „n‟ pada naskah H dan K menyatakan. (h. raśaksa b. 1300. 356). rakṣasa. bdk. van der Molen menyimpulkan. 358) Kiranya perlu dipertahankan: “meŋkeneha” (3369 H: meŋkeneha. 361). (h. maŋkeneha. penyalin naskah A bekerja dengan lebih teliti daripada penyalin naskah H dan K. 360). 4. hamahĕt b. bdk. 3. dan “paladara” (3270. Perbaikan bacaan nama-nama “kuñjayakaṙṇna” beserta varian ejaannya (105. passim) – “moŋkono” (2136 H: moŋkonoha. 3353. 356). hamahat. di mana bentuk kedua huruf itu serupa.

van der Molen meletakkan dasar untuk penelitian lebih lanjut. Dengan kesimpulan-kesimpulan itu W. baik ke arah penentuan tradisi maupun ke arah rekonstruksi teks yang dicitacitakan. 4. hukum karma. serta hakekat pengetahuan akan dharma. penggantian kata-kata dengan sinonimnya dalam ketiga naskah itu tak dapat memberi kepastian. proses kelahiran. Ada kemungkinan teks naskah A berhubungan dengan upacara orang mati (OJED. bahwa (a) teks naskah A menekankan pengetahuan (esoteris).3. 5. bahwa pada sebagian episode siksaan di neraka (larik 464-570 pada terbitan teks) terdapat kekacauan urutan dan kehilangan pada naskah H dan K. tiwa. II: 2026.1 Tahun 2012 193 . manakah bacaan yang harus dianggap asli. Pengambilalihan teks itu sesuai Jumantara Vol. Dalam konteks itu diberikan ajaran tentang dunia orang mati. perbandingan dengan teks naskah A menunjukkan. Perbandingan isi dan struktur teks menyatakan. penjelmaan kembali. yang bersifat pembayatan (inisiasi) atau ruwat. sedangkan teks naskah H dan K mengalami perubahan-perubahan yang penting. 3 No. Untuk tidak memperpanjang artikel ini akan diberikan beberapa pokok pikiran untuk penelitian lebih lanjut. Salah satu perbedaan teks yang penting terdapat pada larik 294: “saṅ mātiwatiwa (naskah A) dan “sṣaṅ mati” (naskah H)/ “sṣa mati” (naskah K). larik 3085-3137). 1. sedangkan teks naskah H dan K menekankan perbuatan (ritual). hal itu disebabkan oleh salah susun satu lempir pada naskah induknya. Teks naskah H dan K memperluas ajaran itu dan lebih terarah pada praktek dengan mengambil alih teks upacara (mis. Tengger: Ĕntas-ĕntas). (b) teks naskah A mewakili bentuk yang lebih asli. samādhi dan tapa sebagai penghilang kecemaran dan jalan kelepasan.

H-K). A-H-K) diimbangi dengan ajaran serupa dari Yama kepada Kunjarakarna (844-866. 2. antara unsur-unsur cerita . . bahwa perubahan atau tambahan pada teks naskah H dan K bersifat membuat keseimbangan: a. pembersihan dengan “tirta pañjitah mala” pada diri Kunjarakarna (2038-2044. A-H-K) diimbangi dengan ajaran serupa dari Wairocana kepada Purnawijaya (2305-2310.1 Tahun 2012 . A-H-K) diimbangi dengan pembersihan serupa pada diri Purnawijaya (3048-3071.dengan ajaran yang juga termuat dalam naskah A (mis. antara ajaran dan praktek - 194 Jumantara Vol. H-K). juga 3080-3138. Bdk. H-K). b. H-K). H-K) diimbangi dengan lukisan praktek Purnawijaya (2905-2917. - - c. A-H-K) diimbangi dengan lukisan tapa Kunjarakarna pada awal cerita (39-46. Perbandingan struktur teks ketiga naskah itu memperlihatkan. H-K dengan 2048-2060. 3 No. H-K). antara yang terjadi pada diri Kunjarakarna dan yang terjadi pada diri Purnawijaya ajaran tentang “atma” dari Wairocana kepada Kunjarakarna (805-810. H-K). 2312-2317. larik 1973-1975). 828-835. H-K).lukisan pintu Ayahbumipantana (321-340.lukisan tapa Kunjarakarna dan Purnawijaya pada akhir cerita (3549-3559. A-H-K) diimbangi dengan lukisan pintu yang dijaga oleh Dorakala (222-230. ajaran tentang “pañcabuta” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2237-2260. ajaran tentang “atma” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2312-2317.

H-K). Perbedaan teks ajaran dengan lukisan praktek mungkin menunjukkan tahap penyusunan yang berbeda. Analisis semacam ini dapat membantu untuk mengenali lapisan-lapisan teks dan tahaptahap penyusunannya. Masih banyak hal serupa bisa ditemukan. 2550-2555. 3 No.1 Tahun 2012 195 . Jumantara Vol.- ajaran tentang “samadhi” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2436-2454. H-K) diimbangi dengan lukisan praktek Purnawijaya (dua tahap: 2491-2494.

Panjang tulisan berkisar antara 20. 3 No. ketik spasi rangkap di atas kertas A4). 28 A Jakarta 10002.1 Tahun 2012 . 7. 3. Tulisan yang dimuat akan diberikan imbalan/honor sesuai peraturan yang berlaku. dan alamat lengkap yang mudah dihubungi. kedudukan tetap. alamat surat elektronik pribadi. Jenis tulisan berupa artikel hasil penelitian atau setara hasil penelitian mengenai naskah serta tinjauan buku. Tulisan dikirim melalui surat elektronik dengan alamat jumantara@pnri. Artikel ditulis menggunakan bahasa Indonesia disertai abstrak dan kata kunci dalam bahasa Indonesia. Jl. VB Perpusnas RI.id atau melalui pos ke Redaksi Jumantara. 6. 2. Salemba Raya No. 5.000 karakter (1520 halaman termasuk bibliografi. Naskah yang masuk akan diseleksi oleh Dewan Redaksi bersama Mitra Bestari dan apabila perlu akan dilakukan penyempurnaan tanpa mengubah substansi naskah. 196 Jumantara Vol. 4.Ketentuan Penulisan untuk Jumantara: 1. karya tulis yang dianggap penting.go. Gedung Pusat Jasa Lt.000 – 40. Penulis menyertakan identitas lengkap meliputi jenjang pendidikan terakhir.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful