P. 1
Jumantara Vol 3, No 1, 2012

Jumantara Vol 3, No 1, 2012

|Views: 384|Likes:
Published by Jawa Kuna
Jurnal Manuskrip Nusantara
Jurnal Manuskrip Nusantara

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Jawa Kuna on Jun 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2014

pdf

text

original

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

i

PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA Alamat Redaksi: Gedung Pusat Jasa Lt. VB Perpusnas RI. Jl. Salemba Raya No. 28 A Kotak Pos: 3624, Jakarta 10002 Telp : (021)-3154863 ext. 264 e-mail: jumantara@pnri.go.id homepage: http://www.pnri.go.id/MajalahOnline.aspx

JUMANTARA - Jurnal Manuskrip Nusantara Vol.3 No.1 Tahun 2012 Pembina Pengarah : Kepala Perpustakaan Nasional RI : 1. Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi 2. Kepala Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi : Kepala Bidang Layanan Koleksi Khusus : Drs. Nindya Noegraha : 1. Drs. H. Sanwani 2. Aditia Gunawan, S.Pd. 3. Agung Kriswanto, SS. 4. Drs. Nur Karim, M. Hum. 5. Yudhi Irawan, S. Hum. 6. Didik Purwanto, SS. 7. Mardiono : 1. Prof. Dr. Achadiati 2. Dr. I. Kuntara Wiryamartana : Dra. Dina Isyanti, M. Si. : 1. Komari 2. Dian Soni Amellia, S.Hum. : Bambang Hernawan, SS. : Aditia Gunawan, S.Pd.

Penanggung jawab Pemimpin Redaksi Dewan Redaksi

Mitra Bestari Editor Bahasa Sekretaris Redaksi Sirkulasi Tata Letak

Jumantara adalah jurnal ilmiah dengan fokus kajian naskah (manuskrip) nusantara yang menyajikan karangan ilmiah dalam bentuk hasil penelitian, penilaian terhadap hasil penelitian, serta tinjauan buku. Diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan ISSN 2087-1074.

ii

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Artikel 1

Anung Tedjowirawan Menelusuri Jejak Cerita Rama dalam Serat Pustakaraja Karya Pujangga R.Ng. Ranggawarsita Fakhriati Perempuan dalam Manuskrip Aceh: Kajian Teks dan Konteks Atep Kurnia Sinurat Ring Merega; Tinjauan atas Kolofon Naskah Sunda Kuna Tedi Permadi Identifikasi Bahan Naskah (Daluang) Gulungan Koleksi Cagar Budaya Candi Cangkuang dengan Metode Pengamatan Langsung dan Uji Sampel di Laboratorium Ida Bagus Rai Putra Lontar: Manuskrip Perekam Peradaban dari Bali Mahrus El-mawa Rekonstruksi Kejayaan Islam di Cirebon; Studi Historis pada Masa Syarif Hidayatullah (1479-1568) Oman Fathurahman Sulalat al-Salatin Karya Tun Seri Lanang: Kebesaran Karya Sastra Melayu yang Melampaui Zamannya

44

77

128

148

100

167

Review Buku 178 Kuntara Wiryamartana Filologi Jawa dan Kuñjarakarṇa Prosa

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

iii

obat-obatan.1 Tahun 2012 . tulisan Anung Tedjowirawan tentang jejak cerita Rama. terus terbitnya Jumantara secara rutin menandakan bahwa para pakar dan peminat naskah tetap ada dan setia menyumbangkan hasil penelitiannya. budaya dan agama. dari India sampai Jawa. Naskah memiliki peran penting bagi bangsa Indonesia. sejarah. Inilah yang coba ditunjukkan oleh Fakhriati melalui tulisannya yang menyoroti kedudukan perempuan sebagaimana terkandung dalam sebuah naskah Aceh. Kandungan naskah Nusantara tidak selalu hanya berkaitan dengan kesusastraan. usia yang masih sangat rawan bagi keberlangsungan hidup sebuah jurnal. hukum. Andaikata naskah lontar tersebut tidak pernah terbaca. tetapi kisah ini termashur di Nusantara. Dalam nomor ini disajikan artikel-artikel yang menyampaikan berbagai pengetahuan penting dan menarik. Apalagi jika melihat kenyataan bahwa penyumbang tulisan dalam jurnal ini adalah para ahli filologi yang jumlahnya saat ini semakin sedikit. mitologi. Meski teks Ramayana bukan berasal dari Nusantara. Sebagai contoh. Dengan gamblang penulis memaparkan perjalanan teks Ramayana. sosial. Meski demikian. istilah pancasila yang menjadi dasar negara dan bhineka tunggal ika yang merupakan semboyan negara diambil dari teks Kakawin Sutasoma. dan lain-lain. tetapi juga mencakup tema-tema politik. mungkin kita tidak pernah mendengar istilah-istilah “sakti” tersebut. Pertama. dari Ramayana Wālmīki sampai kepada teks Serat Pustakaraja karya pujangga Ranggawarsita. ekonomi. Ia dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi bangsa. 3 No. Jerih payah para pakar pengkaji naskah pada gilirannya telah berperan serta melestarikan budaya Nusantara. Para pujangga seperti Ranggawarsita menyerap isi cerita kemudian disesuaikan dengan kebudayaan lokal.J umantara telah menginjak usia ketiga. Fakhriati mencoba menggali ajaran dan praktik tentang iv Jumantara Vol.

Dalam tataran praktis. 3 No. misalnya: ketebalan naskah yang diukur secara cermat dapat membuktikan apakah sebuah naskah dikerjakan secara tradisional atau merupakan buatan pabrik.kehidupan perempuan di Aceh pada masa lalu melalui kehidupan Siti Islam. di antaranya dari dari segi fisik. Kajian seperti itu termasuk dalam ranah kodikologi. Berbeda dengan Tedi Permadi. dalam edisi ini disajikan pula artikel yang membahas wujud naskah itu sendiri. Sebagai bahan perbandingan. peneliti dari UPI Bandung. tetapi jika dicermati ternyata dapat memberikan informasi penting tentang sebuah naskah. Dalam artikelnya. Mahrus el-Mawa berusaha memaparkan secara luas salah satu Jumantara Vol. merupakan tinjauan terhadap kolofon naskah Sunda Kuna. dan waktu penulisan naskah. tokoh utama dalam teks Hikayat Siti Islam. Banyak data yang sepertinya sepele. Artikel ketiga. tempat. sampai tradisi penulisan dan pembacaan lontar yang masih hidup di Bali. Fakhriati menggunakan teks berjudul Siti Hasanah. Mahrus el-Mawa mengkaji puncak kejayaan Islam di Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. mencakup informasi tentang identitas penulis atau penyalin. proses pembuatan. Tedi Permadi. Melalui perspektif sejarah. Selain kajian teks. Tradisi lontar yang masih lestari di Bali saat ini dapat memberi petunjuk bagaimana fungsi naskah lontar pada masa lalu. Sebagian besar naskah Sunda Kuna yang ditulis di gunung dapat dijadikan petunjuk awal yang mengungkap kedudukan gunung sebagai skriptorium penciptaan sebuah karya intelektual pada masa lalu. Ida Bagus membahas lontar sebagai media menulis naskah. Dari tulisan itu diperoleh gambaran bahwa identitas penulis naskah tidak selalu dinyatakan dengan jelas.1 Tahun 2012 v . Ida Bagus Rai Putra membahas berbagai segi penggunaan daun lontar sebagai media menulis naskah. yang ditulis oleh Atep Kurnia. kesimpulan tersebut dapat membantu pihak yang berkepentingan untuk menilai fisik suatu naskah. membahas secara rinci naskah daluang yang berasal dari Candi Cangkuang.

Kuntara Wiryamartana dalam tinjauan buku Kritik Teks Jawa: Sebuah Pendekatan Baru terhadap Kunjarakarna Prosa karangan Wilem van der Molen (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. karya Oman Fathurahman. bukan berarti pembahasan terhadapnya telah tuntas. 2011). pembaca dapat melihat betapa beragamnya persoalan yang diangkat oleh para penulis. Tulisannya mengingatkan kita akan pentingnya aspek-aspek mendasar dari filologi. melainkan tokoh historis.1 Tahun 2012 . Secara cermat I Kuntara menunjukkan alternatif bacaan dan terjemahan (ada kalanya perbaikan) terhadap teks Jawa Kuna Kunjarakarna. membuktikan bahwa Sunan Gunung Jati bukanlah tokoh mitos. 3 No. Kami berharap Jumantara dapat dijadikan sebagai “arena” penulisan artikel yang berkaitan dengan pernaskahan di Indonesia sehingga isi dan kandungan naskah dapat dibaca secara luas oleh masyarakat. “demikian banyaknya diselidiki”. Ini menunjukkan bahwa naskah “kuno” Nusantara dapat dijadikan “sumber inspirasi baru” untuk perkembangan penelitian di Indonesia. Dari artikel-artikel yang kami sajikan dalam edisi kali ini. Hooykas. tetapi usahanya merekonstruksi kejayaan Islam di Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah melalui teks lama dan bukti-bukti artefak. yaitu penyajian teks dan terjemahan. Selamat membaca! vi Jumantara Vol. Meski banyak sarjana yang telah meneliti teks tersebut. mengkaji sejarah penelitian salah satu teks Melayu yang. meminjam istilah C. Kecintaan itulah yang ditunjukkan I. Artikel terakhir. Walaupun ia tidak mengulas tentang guru dan ajaran keagamaan Syarif Hidayatullah secara mendalam. Filologi secara harafiah berarti “cinta kata”.tokoh penting Walisongo ini. yaitu Sulalat alSalatin atau lebih populer disebut Sejarah Melayu. Oman Fathurahman masih melihat adanya aspek yang belum tergali yang dapat dimanfaatkan oleh para peneliti selanjutnya. yaitu unsur Islam yang terkandung dalam teks tersebut.

Ritual tersebut disaksikan oleh para raja sekutu Prabu Dasarata serta dihadiri oleh Prabu Basurata dari Wiratha.Abstrak Jejak cerita Rama dalam Sĕrat Pustakaraja diantaranya terdapat dalam Sĕrat Rukmawati. Dalam Sĕrat Rukmawati dikemukakan tentang peristiwa ritual agung Aswameda yang diselenggarakan oleh Prabu Dasarata. penjelmaan Rĕsi Anggira (Maharsi Paspa). istrinya. Ritual agung Aswameda tersebut diselenggarakan di hutan Madura dekat sungai Sarayu (Gangga). Sĕrat Prabu Gĕndrayana. Raja Ayodya dalam rangka memohon kelahiran putra yang menjadi penjelmaan Sang Hyang Wisnu. Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara. peneliti dan pengajar di Jurusan Sastra Nusantara FIB Universitas Gajah Mada Jumantara Vol. 3 No. serta adiknya * Penulis. Dari ritual agung Aswameda tersebut kemudian lahirlah putra-putra Prabu Dasarata antara lain: Rama. Laksmana. Dalam Sĕrat Suktinawyasa jejak cerita Rama terdapat dalam cerita yang disampaikan Dhang Hyang Wiku Salya kepada Rĕsi Abyasa. sedangkan putra Prabu Basurata yang lahir bernama Raden Brahmaneka. tempat keberadaan "Jamur Dipa". Sĕrat Suktinawyasa. Barata dan Satrugna.1 Tahun 2012 1 . mengenai kisah hidup Prabu Ramawijaya ketika dicopot dari tahta serta harus meninggalkan istana Ayodya untuk pergi ke hutan belantara bersama Dewi Sinta.

1 Tahun 2012 . Dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana.Laksmana. Dalam Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara jejak cerita Rama tampak pada penampilan Sang Maharsi Mayangkara (Anoman. Sĕrat Pustakaraja. yang merusak pertapaan. Dalam kedua cerita tersebut Sang Maharsi Mayangkara akhirnya gugur dalam pertempurannya yang dahsyat melawan Prabu Yaksadewa (penjelmaan Sang Hyang Kala) yang bersenjatakan gada (penjelmaan Sang Hyang Brahma). Cerita tersebut dikemukakan Dhang Hyang Wiku Salya dalam rangka untuk menghibur agar Rĕsi Abyasa tidak terlalu bersedih hati karena sepeninggal ayahandanya (Rĕsi Palasara) ia tidak ditunjuk untuk menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai raja melainkan hanya diangkat sebagai raja pendeta. Hanūman). jejak cerita Rama dikemukakan oleh Bagawan Danèswara kepada Prabu Gĕndrayana. lewat perka-winan putra-putri mereka. bahwa Batara Ramawijaya sewaktu muda (8 tahun) sudah dibawa Bagawan Sutiknayogi ke Gunung Dhandhaka untuk diadu dengan para raksasa bala tentara Rahwana (Dasamuka). Sĕrat Mayangkara. Serat Suktinawyasa. Dèwi Pramuni dengan Radèn Darmasarana. yang merusak segenap sawah dan ladang penduduk di wilayah Gunung Nilandusa (Wilis). dan Dèwi Sasanti dengan Radèn Darmakusuma. Kata Kunci: Kakawin Rāmāyaņa. 3 No. Sĕrat Purusangkara. Cerita tersebut diungkapkan Bagawan Danèswara agar Prabu Gĕndrayana merelakan putranya yaitu Raden Narayana (Jayabhaya) untuk diminta bantuannya melenyapkan segala jenis hama tanaman (yang dilindungi para Dewa). sampai Dewi Sinta diculik dan dibawa lari oleh Prabu Dasamuka ke Alengka. Dalam kedua Serat tersebut dikisahkan peran Sang Maharsi Mayangkara yang mendapat tugas Bathara Guru untuk menjalin kembali kerukunan di antara keturunan Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) dengan keturunan Prabu Sariwahana. 2 Jumantara Vol. Sĕrat Rukmawati. Sĕrat Prabu Gĕndrayana. Mereka antara lain: Dèwi Pramèsthi dengan Prabu Astradarma (Purusangkara).

Pada waktu Wālmīki akan menggubah Rāmāyaņa. berbahasa Sanskerta. si petapa tetap pada tempatnya semula. 1979: 1-2). (Padmapuspita. Adapun Mahābhārata karya Mpu Vyāsa mengalami proses pertumbuhan selama 800 tahun.Pengantar Rāmāyaņa adalah karya agung dari India. yang karena senang berkumpul dan bergaul dengan para perampok. tumbuh menjadi seorang penjahat. 1979: 1-2).1 Tahun 2012 3 . ia berhasil diinsyafkan dan disuruh bertapa di hutan sambil mengucapkan mantra: marā. Yayur-Weda. Beberapa sarjana mengemukakan bahwa hakikat inti Jumantara Vol. marā. tidak bergerak sambil mengucapkan mantra: marā. yang oleh pujangga penciptanya diwariskan untuk seluruh umat manusia. Rāma. dari 400 tahun Sebelum Masehi sampai 400 tahun Sesudah Masehi. selama seribu tahun tanpa boleh bergerak. melengkapi kitab suci Catur Weda Samhita. Keagungan dan kemasyuran kisah Rāmāyaņa ini memang sudah diramalkan ribuan tahun sebelumnya. marā. Maka sejak itu pemuda petapa tersebut disebut Wālmīki (Padmapuspita. Pada waktu Saptarşi menengoknya. Saat itulah ia mendapat ilham untuk mencipta bentuk sanjak. Bagaimanakah mitologi terciptanya karya agung ini? Ada seorang putra Brahmana. dan Atharwa Weda. kitab suci Weda yang kelima. Rāma. ia duduk termenung di tepian sungai sambil melihat air sungai yang beriakriak. yaitu 400 tahun. marā. dari 200 tahun sebelum Masehi sampai dengan 200 tahun sesudah Masehi. sungai-sungai mengalir di permukaan bumi selama itu juga kisah Rāmāyaņa akan terus berlangsung di dunia (Padmapuspita. Seluruh badan petapa tersebut tertimbun di bawah „onggokan sarang semut hutan‟ yang dalam bahasa Sanskerta disebut walmīka. Sāma-Weda. terus-menerus dengan tempo secepat-cepatnya. Rāmāyaņa dicipta melalui proses waktu yang cukup panjang. bahwa selama masih ada gunung-gunung yang berdiri. Dalam mitologinya. yang terdiri dari Ŗg-Weda. marā sedemikian cepatnya sehingga ucapannya terbalik menjadi: Rāma. Ketika merampok tujuh orang dewa – resi (Saptarşi). 3 No. 1979: 1). Baik Rāmāyaņa maupun Mahābhārata termasuk Itihāsa.

menyerang Langka hingga takluk. Melayu. Atri. Agastya. Sutīkşņa). 1998: 136-146). Sarabhangga. Uttara Rāma oleh Bhavabhutti. Rāvaņavadha (pembunuhan Rāvaņa) oleh Bhaţţi.Rāmāyaņa adalah: (a) Berisi lambang gerakan ekspansi bangsa Arya dari tanah India Utara ke India Selatan. penyair-penyair India lain pun mencoba membuat cerita Rāma– Sīta tersebut. Di Indonesia cerita Rāma digubah ke dalam Kakawin Rāmāyaņa maupun terpatri pada relief di candi Prambanan dan candi Panataran. ketika kekuasaan rajawi masih 4 Jumantara Vol. Rāma melambangkan satria Arya yang. (d) Dianggap sebagai kitab suci yang keramat. 1963: 12-13. Kamboja. selain Wālmīki yang berhasil menggubah Rāmāyaņa. Surjohudojo. Birma. adapun relief di candi Panataran dekat dengan Kakawin Rāmāyaņa. pertentangan Subali melawan Sugriwa. dan Rāmāyaņa Kathāsara-mānjari oleh Ksemendra (Darusuprapta. dan politik tinggi Wibisana. misalnya: Raghuvangśa (keturunan Raghu) karya Kalidasa. Relief cerita Ramayana di candi Prambanan rupanya lebih dekat dengan Sĕrat Rama Kĕling. Dari berbagai penelitian para ahli teks. Filipina. (b) Dianggap sebagai lambang perebutan kekuasaan negara yang senantiasa terjadi di sepanjang sejarah. (c) Dianggap sebagai cerita roman cinta kasih. maupun Jawa (Manu. Surjohudojo. 1963: 48. (e) Dasar pola cerita Rāma merupakan persoalan tindakan dharma melawan adharma (Darusuprapta. lebih-lebih bagi golongan Waisnawa. Rāmācaritamanasa (telaga kisah Rāma) oleh Tulasi Dasa (Tulsi Das).1 Tahun 2012 . Laos. Di Asia Tenggara cerita Rāma terdapat di Vietnam. 1961: 10). Di India. Dalam hal ini cerita Rāma dianggap sebagai dokumen sejarah. Kakawin Rāmāyaņa diperkirakan digubah pada abad IX Masehi (820-832 Ç atau 898-910 M). Janakīharaņa (penculikan Sīta) oleh Kumaradasa. Thailand.. 3 No. Cerita Rāmāyaņa dari India tersebut kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. yang menganggap bahwa Rāma adalah penjelmaan Dewa Wisnu. dengan pola cerita pengendalian Bharata oleh Kekayi. 1961: 4-10). didalangi para Brahmana (yang ditokohkan sebagai Bharadwāja. kesetiaan. kesucian yang tiada taranya.

Padmapuspita menjelaskan beberapa alasan mengapa di dalam tradisi Bali penulisan Kakawin Jumantara Vol. 1961: 11-12. Berkaitan dengan penulisan Kakawin Rāmāyaņa. Manomohan Ghosh. Surjohudojo. Baris kalimat yang memuat kata yogīśwara tersebut berbunyi: "Sang yogīśwara çişţa sang sujana çuddha manahira huwus mace sira". Tradisi Shiwaisme itulah kiranya yang mendorong Yogīśwara untuk memilih Bhaţţikâvya sebagai sumber penggubahan Kakawin Rāmāyaņa (Somvir. Meskipun demikian Somvir (setelah 40 tahun kemudian) mengharapkan bahwa Yogīśwara sebagai pencipta Kakawin Rāmāyaņa menurut tradisi Bali selama ini dapat diterima (Somvir. 1998: 19-20). 3 No. 1998: 20). dan Hooykaas. Berg. Shiwaisme adalah sekte tertua yang dapat dibuktikan jejaknya lewat penempatan dewa-dewa penting yang memakai atributatribut Shiwa di candi Prambanan. yang artinya sang yogīśwara (pendeta besar) menjadi sangat pandai dan sang sujana (orang baik) menjadi bersih hatinya setelah membacanya (Rāmāyaņa ini) (Darusuprapta. diketahui bahwa sumber penulisan Kakawin Rāmāyaņa adalah Rāvaņavadha karya Bhaţţikâvya (Poerbatjaraka. 1983: 288-290.berpusat di Jawa Tengah. 1979: 3. bukan menunjuk pada penulis Kakawin Rāmāyaņa. Zoetmulder. Juynboll. sebagaimana anggapan yang terbiasa di Bali. 1998: 137. Oleh karena itu Poerbatjaraka menegaskan bahwa kata yogīśwara harus diartikan sebagai 'pendeta besar'. 1957: 2-3. dan Hooykaas. Berdasarkan penelitian Himansu Bhusan Sarkar. 1998: 20-21). mengikuti anggapan umum di Bali (misalnya Ktut Ginarsa) bahwa penulis Kakawin Rāmāyaņa adalah Yogīśwara (Darusuprapta. Manu. Darusuprapta. Somvir menyatakan pula bahwa pertimbangan utama Yogīśwara dalam memilih Bhaţţikâvya adalah bahwa penyair Bhaţţi tergolong ke dalam sekte Shiwa. 1963: 60).1 Tahun 2012 5 . Camille Blucke. seperti: Kern. Dalam kaitannya dengan penulis dan saat penulisan Kakawin Rāmāyaņa menurut tradisi Bali. pada mulanya para sarjana. 1963: 60). 1963: 53-56. Somvir. Padmapuspita.

Rāmāyaņa adalah pada tahun 1016 Ç (1094 M) oleh Yogīśwara. Rangkaian kata-kata "çişţa sujana çuddha manahira" itu dianggap memuat sengkalan yang menunjuk tahun 1016 Ç. Dalam hal ini kata çişţa = 6; sujana = 1; çuddha = 0; manah = 1. Jadi 6101 atau tahun 1016 Ç (Padmapuspita, 1979: 13). Akan tetapi dalam koreksinya, Padmapuspita lebih cenderung menyetujui bahwa sengkalan di atas menunjuk tahun 1018 Ç (1096 M), karena kata çişţa yang artinya 'terpelajar' atau 'pandai' diberi arti '8', sama dengan pendeta. Padmapuspita juga menemukan adanya kata "guna" sampai tiga kali (triguna) dari bait penutup dalam Kakawin Rāmāyaņa tersebut. Karena itu Padmapuspita menawarkan pandangannya bahwa kemungkinan penulis Kakawin Rāmāyaņa adalah Mpu Triguna, semasa pemerintahan Çri Jayawarsa Digwijaya Çastra Prabu, yang memerintah tahun 1026 Ç (1104 M). Walaupun demikian, Padmapuspita juga sependapat dengan Poerbatjaraka, bahwa yogīśwara bukanlah nama orang, melainkan sebutan penghormatan, seperti halnya kata yogīndra yang diberikan kepada Wālmīki. Bhaţţi sendiri (pengarang Rāvaņavadha) diperkirakan merupakan nama samaran Bhartrhari. Dalam hal ini kata bhaţţi dapat dihubungkan dengan kata bhaţţa, sebutan untuk sarjana besar, semacam penulisan gelar Doktor yang disingkat Dr. (Padmapuspita, 1979: 14-15). Dalam perkembangannya Kakawin Rāmāyaņa digubah dalam kesastraan Jawa Baru dengan judul Sĕrat Rama oleh pujangga R.Ng. Yasadipura I (Poerbatjaraka, 1957: 152; Darusuprapta, 1963: 43; Ricklefs, 1997: 276). Kakawin Rāmāyaņa juga digubah oleh R.Ng. Yasadipura II menjadi Sĕrat Arjuna Sasrabahu, baik yang berbentuk tembang macapat maupun yang berbentuk Kawi miring, serta juga digubah oleh Sindusastra menjadi Sĕrat Arjunasasra atau Sĕrat Lokapala (Mc. Donald dalam Manu, 1998: 138). Bila cerita dalam Rāmāyaņa dan Mahābhārata yang di India seperti tidak ada hubungannya satu sama lain, maka di Jawa kedua tradisi tersebut dicoba dihubungkan, terutama dalam

6

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

pewayangan. Misalnya tampak pada cerita Wahyu Makutharama (Ki Siswaharsaya), Sĕrat Kandha Lampahan Jayasĕmadi, Sĕrat Kandha Lampahan Sĕmar Boyong, Sĕrat Kandha Lampahan Rama Nitis, Arjuna Krama, Lampahan Wahyu Tunggul Naga, dan sebagainya. Sĕrat Pustakaraja Sebelum dikemukakan jejak cerita Rāma dalam Sĕrat Pustakaraja, akan dikemukakan secara sepintas tentang karya tersebut. Sĕrat Pustakaraja adalah karya agung dan merupakan puncak karya pujangga R. Ng. Ranggawarsita, disamping Sĕrat Ajipamasa maupun Sĕrat Witaradya. Bedanya, kalau Sĕrat Pustakaraja berbentuk prosa, maka Sĕrat Ajipamasa dan Sĕrat Witaradya berbentuk puisi Jawa Baru (Macapat). Disebut Pustakaraja karena karya ini dijadikan kitab pedoman bagi seorang Raja (pakĕmipun panjĕnĕngan nata). Pustakaraja dapat juga diartikan 'Rajanya Kitab', karena merupakan kitab yang terkemuka dan menjadi induk segala kitab cerita Jawa (Sĕrat Raja, amargi dados tĕtunggul tuwin dados baboning Sĕrat cariyos Jawi) (Ranggawarsita, 1938: 7). Sĕrat Pustakaraja dapat dibagi menjadi 2, yaitu Sĕrat Pustakaraja Purwa dan Sĕrat Pustakaraja Puwara. Sĕrat Pustakaraja Purwa dibagi menjadi beberapa kelompok besar, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Sĕrat Maha Parwa, meliputi: a. Sĕrat Purwa Pada; b. Sĕrat Sabaloka. Sĕrat Maha Déwa, meliputi: a. Sĕrat Déwa Buddha; b. Sĕrat Dewa Raja. Sĕrat Maha Rĕsi, meliputi: a. Sĕrat Rĕsi Kala; b. Sĕrat Buddha Krĕsna. Sĕrat Maha Raja, meliputi: a. Sĕrat Raja Kanwa; b. Sĕrat Palindria; c. Sĕrat Silacala; d. Sĕrat Sumanasantaka. Sĕrat Maharata, meliputi: a. Sĕrat Dyitayama; b. Sĕrat Tritarata; c. Sĕrat Sindula; d. Sĕrat Rukmawati; e. Sĕrat Sri

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

7

Sadana. 6. Sĕrat Maha Tantra, meliputi: a. Sĕrat Sri Kala; b. Sĕrat Raja Watara; c. Sĕrat Crita Kaprawa; d. Sĕrat Ariawanda; e. Sĕrat Para Patra. Sĕrat Maha Putra, meliputi: a. Sĕrat Mahandya Purwa; b. Sĕrat Suktinawyasa; c. Sĕrat Hariwangsa; d. Sĕrat Darma Sarya; e. Sĕrat Kumbayana; f. Sĕrat Wanda Laksana; g. Sĕrat Darma Mukta; h. Sĕrat Drĕta Nĕgara. Sĕrat Maha Dharma, meliputi: a. Sĕrat Kuramaka; b. Sĕrat Smara Dahana; c. Sĕrat Ambarawaja; d. Sĕrat Krida Krĕsna; e. Sĕrat Kunjarakarna; f. Sĕrat Kunjara Krĕsna; g. Sĕrat Partayagnya; h. Sĕrat Manik Harya Purwaka; i. Sĕrat Sumantri Parta; j. Sĕrat Dĕwa Ruci; k. Sĕrat Parta Wiwaha/Mintaraga; Sĕrat Indra Naraga; m. Sĕrat Urubaya; n. Sĕrat Domantara; o. Sĕrat Bomantaka; p. Sĕrat Baratayuda; q. Sĕrat Kirimataya; r. Sĕrat Darmasarana; s. Sĕrat Yudhayana.

7.

8.

Sĕrat Pustakaraja Puwara juga dibagi menjadi beberapa kelompok besar, yaitu: 1. Sĕrat Maha Parma, meliputi; a. Sĕrat Budhayana; b. Sĕrat Sariwahana; c. Sĕrat Purusangkara; d. Sĕrat Partakaraja; e. Sĕrat Ajidharma; f. Sĕrat Ajipamasa. 2. Sĕrat Maharaka, meliputi; a. Sĕrat Witaradya; b. Sĕrat Purwanyana; c. Sĕrat Bandawasa; d. Sĕrat Déwatacèngkar. 3. Sĕrat Maha Prana, meliputi: a. Sĕrat Widayaka; b. Sĕrat Danèswara; c. Sĕrat Jaya Lĕngkara; d. Sĕrat Dharma Kusuma; e. Sĕrat Catasi Panuaka. 4. Sĕrat Maha Krasma, meliputi: a. Sĕrat Surya Wisésa; b. Sĕrat Raja Sunda; c. Sĕrat Madu Sudana; d. Sĕrat Panca Prabanggana. 5. Sĕrat Maha Kara, meliputi: a. Sĕrat Mundingsari; b. Sĕrat Raja Purwaka; c. Sĕrat Maha Kara.

8

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

6. Sĕrat Maha Para (Ranggawarsita 1938: 10-49; Mulyono, 1989: 191-200; Tedjowirawan, 2008: 84-86).

Sri

Dalam Kepustakaan Jawa (1957), Poerbatjaraka menilai bahwa Kitab (Sĕrat) Pustakaraja pada pokoknya digubah berdasarkan kitab-kitab lakon wayang, pendengaran R. Ng. Ranggawarsita tentang cerita-cerita dari temannya, dan dongengdongeng yang pada waktu itu sudah ada. Semuanya itu diubah dan ditambah oleh R. Ng. Ranggawarsita menurut kehendak hatinya. Lebih jauh Poerbatjaraka menyatakan bahwa: “Walau bagaimanapun juga keadaannya, dengan pendek Kitab Pustakaraja itu sebagian besar hanya berisi “omong kosong” belaka daripada R.Ng. Ranggawarsita. Kitab-kitab yang disebut di dalam Kitab Pustakaraja, itu seperti kitabkitab Maha Parwa, Purwa Pada, Sabaloka, Maha Déwa, Maha Rĕsi, dan sebagainya, itu sebenarnya tidak ada dan tak pernah ada.” (Poerbatjaraka, 1957: 186). C.C. Berg dalam Penulisan Sejarah Jawa (Javaansche Geschiedschrijving, dalam geschiedenis van Nederlands Indie, 1938) mengakui bahwa pihak Barat belum memberikan perhatian yang berarti terhadap Pustakaraja, namun diakui bahwa R.Ng. Ranggawarsita mempunyai pergaulan dengan ahli-ahli ilmu bahasa dan kebudayaan Jawa yang berkebangsaan Barat. Selanjutnya dikatakan bahwa R.Ng. Ranggawarsita dalam menulis karyanya menempuh jalan baru dan untuk memperoleh bahan-bahan ia menggali sumber-sumber baru. Akhirnya dikatakan juga bahwa R.Ng. Ranggawarsita (ternyata) mencurahkan amat banyak perhatian untuk menentukan tarikh peristiwa-peristiwa yang dibukukannya. Ia selalu memberikan dua tarikh, yang satu menurut tahun Syamsiah dan yang satu lagi menurut tahun Komariyah. Berdasarkan kenyataan itu bukan mustahil bila sesungguhnya R.Ng. Ranggawarsita bermaksud untuk menulis sejarah menurut tanggapan Barat. Bahwa usahanya tersebut tidak berhasil tidaklah penting. Apabila R.Ng.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

9

Sĕrat Pustakaraja. His. Sĕrat Pustakaraja isinya sudah menyimpang dan berbeda jauh dengan Ramāyāna maupun Mahābharāta. “manusia ular”. of Rangga Warsita‟s own invention. 1974: 87). The events of myth and epic history are dated consecu-tively according to a chronology. akan tetapi pendeta-pendeta magi sastra. idea of dating all tales is to be considered as a consequence of his thoroughly Javanese belief in an all pervading Order. at first sight preposterous. pujangga dalam arti yang asli. karena yang disebut belakangan ini (R. Sĕrat Pustakaraja Purwa seringkali dikatakan sebagai suatu penulisan baru mengenai sumber-sumber cerita wayang (penulisan cerita Mahābharāta versi Indonesia) (Mulyono. impress the reader in a remarkable way. maka kiranya kita harus membedakan karyanya dengan karya rekan-rekannya yang terdahulu. Menurut Sri Mulyono. cosmogony. Books of Kings. which he called Pustaka Raja. Di sini C. adalah hasil saduran kembali cerita dalam Mahābharāta dengan berbagai adaptasi dan inovasi. 3 No. 1989: 202). and so the Pustaka Raja makes an impression of being historically reliable.Ng.Ranggawarsita bermaksud mencari nama sebagai ahli sejarah pertama yang beraliran modern. 1967: 170). which should also be made visible in myth and ancient history” (Pigeaud. Keanehan dalam Sĕrat Pustakaraja tersebut justru sering dinilai “sangat menakjubkan” 10 Jumantara Vol. khususnya Sĕrat Pustakaraja Purwa. Rangga Warsita‟s chronicles of creation. solar and lunar years.1 Tahun 2012 . Berg hanya dapat mengemukakan tidak lebih dari perkiraan-perkiraannya (Berg. Ranggawarsita) bukanlah orang yang mempelajari ilmu sejarah. which it is not.C. myth and epics have parallels in the literatures of other peoples. Pigeaud dalam Literature of Java Volume I (1967) menyatakan: “Rangga Warsita‟s books on mythology and ancient history.

Ranggawarsita sendiri. wiyosipun punika cariyos lalampahanipun Dèwi Rukmawati. 2) Sĕrat Suktinawyasa bagian Sĕrat Mahapatra (bagian Pustakaraja Purwa). Ranggawarsita di dalam Sĕrat Pustakaraja menyatakan: Sĕrat Rukmawati. Wiryamartana. 4) Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara yang dapat dimasukkan ke dalam kelompok Sĕrat Maha Parma (bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara). tetapi hanya sebagai titah biasa (Mulyono.1 Tahun 2012 11 . Di samping itu salah satu maksud tujuan disusunnya Sĕrat Pustakaraja adalah untuk mendidik anak cucu dengan mengajarkan sejarah kepahlawanan leluhurnya. 1980: 2). Ng. putranipun Sang Hyang Anantaboga anggènipun amĕmĕca saha mitulungi sarana dha-tĕng Jumantara Vol. Selain itu yang terpenting dari segala uraian karya-karya pujangga R.Ng. yaitu memberikan penerangan bahwa dewa-dewa (para Jawata) yang diartikan sebagai nenek moyang orang Jawa itu bukanlah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Jejak Cerita Rama dalam Serat Pustakaraja Di dalam Sĕrat Pustakaraja jejak cerita Rāma terdapat di dalam: 1) Sĕrat Rukmawati bagian kelompok Kitab Maharata (bagian Pustakaraja Purwa).Ng. Ranggawarsita (Sĕrat Pustakaraja) adalah menempatkan jatining panembah.sehingga para sarjana berkesimpulan bahwa kitab tersebut adalah wishfull thinking pujangga R. 1989: 202. 3 No. 3) Sĕrat Prabu Gendrayana yang dapat disejajarkan dengan Sĕrat Budhayana sehingga dapat dimasukkan ke dalam kelompok Sĕrat Maha Parma (bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara). Adapun jejak cerita Rāma dalam Serat-Serat di atas dapat dikemukakan sebagai berikut: Cerita Rāma dalam Sĕrat Rukmawati Pujangga R.

1939: 2-3. Di Jawa ada empat raja: (1) Prabu Brahmanaraja (putra Sang Hyang Brahma).sadhĕngaha ingkang nĕdha tulung. dihitung (ber-dasarkan) tahun Candrasangkala bertepatan tahun 879). Kamajaya 1994: 2). Prabu Sri Mahapunggung dan Prabu Basurata adalah putra Sang Hyang Wisnu. (Sĕrat Rukmawati. putra Sang Hyang Anantaboga ketika meramalkan dan menolong memberikan jalan (petunjuk) kepada siapapun yang meminta pertolongan (padanya). termasuk tanah Kendal atau Pekalongan. panganggitipun anuju ing taun Suryasangkala 853. inilah cerita kisah perjalanan hidup Dewi Rukmawati. Kaanggit dé-ning Mpu Sindura ing Mamĕnang. 1994: 33).1 Tahun 2012 . turun ke dunia dan berdiam di pertapaan di Gunung Mahendra (Gunung Lawu) di tanah Surakarta. Dikemukakan dalam Sĕrat Rukmawati bahwa pada waktu itu pulau Jawa masih bersatu dengan Bali. putra Sang Hyang Anantaboga. kerajaannya di Medanggalungan tanah Pekalongan (Ranggawarsita. Dikarang oleh Mpu Sindura di Mamenang. 3 No. Madura dan Sumatra. penggubahannya pada tahun Suryasangkala 853. Adapun cerita dalam Sĕrat Rukmawati dimulai dari tahun Suryasangkala 453 (Uninga – marganing – yoga) atau terhitung tahun Candrasangkala 467 (Rĕsi – rasaning – catur) sampai dengan tahun Suryasangkala 456 (Karasa – marganing – dadi) atau terhitung tahun Candrasangkala 470 (Kagunturan – sabda – pakarti – muluk) (Kamajaya. kaétang ing taun Candra-sangkala amarĕngi 879 (Ranggawarsita. kerajaannya di Purwacarita. (4) Sri Maharaja Sindhula (putra Prabu Watugunung). (3) Prabu Basurata kerajaannya di Wiratha yang pertama di tanah Tegal. (2) Prabu Sri Mahapunggung. 1938: 17). Pada waktu itu bidadari bernama Dewi Rukmawati. Dewi Rukmawati dengan ketajaman penglihatan batinnya sering meramal dan menolong orang yang sedang bersedih sehingga ia termashur 12 Jumantara Vol. kerajaannya di Gilingwĕsi tanah Prayangan (Priangan).

Karena itu Prabu Basurata disarankan untuk mengambil/memetik Jamur Dipa ke hutan Madura di tanah India (Ranggawarsita. Oleh Dewi Rukmawati. tetapi terus dikejar oleh Rĕsi Anggira. terutama kepala seseorang. Ilham raja tersebut disampaikan kepada para pertapa. Di dalam Jumantara Vol. 1994: 3-10). Karena berujud abu ia juga disebut Maharsi Paspa. Resi Wisama (putra Bathara Laksmana) cucu Sang Hyang Resi Wismana. Sang Hyang Jagadnata kemudian lenyap dan tidak berapa lama muncullah Sang Hyang Wisnu menyamar sebagai seorang wanita yang sangat cantik bernama Dewi Anggarini. Pada waktu itu Prabu Basurata mendapat ilham dalam mimpinya bahwa ia hendaknya mencari cara agar mendapatkan putra. seketika akan menjadi abu. Ketika membersihkan rambutnya. sehingga akhirnya ia sendiri yang menjadi abu. Rĕsi Anggira lupa bahwa tangannya sudah memiliki kesaktian yang dahsyat. menyarankan agar Prabu Basurata meminta petunjuk kepada Dewi Rukmawati di Gunung Mahendra. sehingga didatangi Sang Hyang Jagadnata untuk memberikan anugerah. Kamajaya. Di dalam abu tersebut kemudian tumbuhlah jamur yang terkenal sebagai Jamur Dipa yang dapat menjadi sarana untuk mendapatkan seorang putera yang istimewa.sampai ke mancapraja (mancanegara). Permintaan itu dikabulkan oleh Sang Hyang Jagadnata. Sang Hyang Jagadnata menolak. Ketika Rĕsi Anggira mencoba merayu dan ingin mencumbu Dewi Anggarini maka ia disarankan untuk mandi keramas dahulu.1 Tahun 2012 13 . Permintaan Rĕsi Anggira adalah bahwa hendaknya telapak tangannya memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga apa yang diraba. 3 No. akan tetapi Rĕsi Anggira ingin mencoba kesaktian telapak tangannya dengan meraba kepala Sang Hyang Jagadnata. Prabu Basurata dengan diiringi Resi Wisama kemudian pergi berkunjung ke Gunung Mahendra. Konon terjadinya abu tersebut bermula ketika Rĕsi Anggira yang dari kanak-kanak sampai tua melakukan tapa brata. Prabu Basurata disarankan agar pergi ke hutan Madura di tanah Hindi. cicit Sang Hyang Pancaresi. 1939: 12-14. termasuk dalam wilayah negara Ngayodya. sebab di sana terdapat Jamur Dipa yang tumbuh dari abu Rĕsi Anggira atau yang juga disebut juga Maharesi Paspa.

putuning Sakutri. Déné dados awu. sampun rinilan déning Sang Hyang Wisésa. apa kang dadi sĕdyanira ing mĕngko sayĕkti sun-turuti‟ Aturing Rĕsi Anggira: „Dhuh Pukulun Kang Binathara Ing Jagad. mugi kasĕmbadanana ing panuwun-amba.' Ing ngrika wontĕn Jamur-dipa. Sarĕng mèh kacandhak. Sang Hyang Jagadnata lumajĕng. ugi sinĕbat nama Maharsi Paspa.‟ Sang Hyang Jagadnata botĕn amarĕngi. ba-ngĕt tĕmĕn ĕggonnira kapati-brata. 3 No.‟ Sang Hyang Jagadnata angandika: „Lah iya ingsun wus anĕmbadani. Kala semantĕn nuju dhatĕng kanugrahanipun Rĕsi Anggira katĕdhakan Sang Hyang Jagadnata.‟ Rĕsi Anggira umatur: 'Dhuh Pukulun. talatahipun nagarai Ngayodya.Sĕrat Pustakaraja kisah mengenai Rĕsi Anggira (Maharsi Paspa) yang menjadi Jamur Dipa dapat dilihat pada kutipan berikut: Sarĕng ing wanci bangun énjing Dèwi Rukmawati amanggihi Prabu Basurata. nanging wontĕn sarananipun. lajĕng binujĕng. rama paduka Sang Hyang Wisnu tumurun mimindha pawèstri langkung éndah ing warni. bubukanipun makatĕn: „Kala ing kina Rĕsi Anggira punika tatapa sangkaning raré ngantos sĕpuh. menawi anggĕpok utamangganing dumadi ingkang amba grayang sirahipun wau. nanging Rĕsi Anggira adrĕng badhé pari-pĕksa. sarèhning sampun kasĕmbadan ing sapanuwun amba. Rĕsi Anggira 14 Jumantara Vol.1 Tahun 2012 . Èpèk-èpèk amba kalih pisan punika kaparingan kamayan tiksna. panggénanipun sarana dumunung wontĕn sabrang ing wana Madura tanah Hindi. Botĕn watawis dangu. mĕnggah ingkang dados karsa paduka angudi wĕkasing tumuwuh ambabarakĕn wiji punika. Pangandikanipun Sang Hyang Jagad-nata: „Heh Anggira sutaning Sakru. aturipun Dèwi Rukmawati: 'Kakang Prabu. manawi amarĕngakĕn kawula kalilana anggrayang mustaka paduka. kadadosan awunipun Rĕsi Anggira. sagĕda lajĕng dados awu sami sanalika. Sang Hyang Jagadnata lajĕng muksa. kawula kamipurun anunuwun tandha. Sarèhning tĕdhakipun Sang Hyang Jagadnata botĕn wontĕn ingkang ndhèrèkakĕn.

sayĕktiné ing mĕngko sira aran Maharsi Paspa. sidik ing paningal. Jumantara Vol. lajĕng pitakèn namanipun. sami sanalika wau Rĕsi Anggira lajĕng dados awu. lajĕng wangsul warni Sang Hyang Wisnu malih.. Saking déné srĕnging karsa. sarèhning Rĕsi Anggira mĕntas tapa lami.1 Tahun 2012 15 . putus dhatĕng kawajiban suci. 3 No. kinèn adus karamas rumiyin. rama-paduka Sang Hyang Wisnu muksa. tĕrahipun Ikswaku. Rĕsi Anggira botĕn darana Dèwi Anggarini lajĕng rinarurum ingarih-arih. sumanggèng karsa. kawasa amĕnggak budi hawanipun. ing nalika punika ingkang jumĕnĕng nata ajujuluk Prabu Dhasarata. Punika kakang Prabu. Rama-paduka angakĕn nama Dèwi Anggarini. mèh anyamèni para maharsi. sarwi angandika makatĕn: „Hèh Rĕsi Anggira ing mĕngko sira nĕmu wĕwĕlèh dadi awu dhéwé. ratu limpad ing Sĕrat Wéddha. Sira mari aran Rĕsi Anggira. supé bilih tanganipun kadunungan kamayan tiskna. Di dalam Sĕrat Rukmawati sosok Prabu Dasarata dan keadaan kerajaan Ayodya digambarkan sebagai berikut: . gĕntos kacariyos.sarĕng aningali langkung kasmaran. Sarĕng karamas tanganipun kadamĕl anguyĕg sirah.' Sasampunipun ngandika makatĕn. bijaksana. mandraguna sinĕkti. Kathah ing-kang sami ngupados badhé kadamĕl sarananipun tiyang ig-kang sumĕdya angudi wĕkasing tumuwuh ambabarakĕn wiji. Ratu pinandhita. saking anggènipun mungkul ing katĕmĕnan sarta anĕtĕpi agami tigang prakawis. Manawi sampun suci badan. kĕkah ing adilipun. Pada waktu itu di negeri Ayodya Prabu Dasarata menjadi raja. akaliyan Sĕrat Weddhangga. awit sira wujud awu.. kinèdhĕpan samaning tumuwuh. Dèwi Anggarini darbé panĕdha. bubukanipun ing kina. Rĕsi Anggira langkung suka lajĕng dhatĕng ing lèpèn sumĕdya adus karamas. Dĕwi Anggarini uninga manawi Rĕsi Anggira pĕjah dados awu. nagari ing Ayodya. Ing mangké awu wau cukul jamuripun katĕlah sinĕbut Jamur-dipa.

Raja (yang bersifat) pendeta. pada waktu itu yang menjadi raja bergelar Prabu Dasarata. botĕn wontĕn tiyang kĕsèd. kemudian diceritakan. botĕn wontĕn tiyang musakat. Sawarninipun tiyang sami busana adi-adi ingkang rinĕngga ing kancana sosotya nawarĕtna. prasasat sami akaliyan para déwa. sarta botĕn saged kawon pĕrang. ingkang sampun misuwur ing kautamanipun. keturunan Ikswaku. Botĕn wontĕn tiyang sakĕdhik anakipun. botĕn wontĕn tiyang ingkang manganggé lungsĕd. Lulus tataraharjaning praja.1 Tahun 2012 . Botĕn wontĕn tiyang ingkang awon griyanipun. Para nayakanipun sang Prabu cacahipun wowolu. sangat sakti. botĕn wontĕn tiyang ingkang alit manahipun. 3 No. Ing kitha wau titiyangipun sami bĕgja. botĕn pĕgat anggĕnipun ambudi wĕwahing kaluhuraning ratunipun. putus (mumpuni) dalam hal kewajiban suci. Keutamaan serta keluhuran sang raja termashur di tiga dunia. bijaksana. botĕn wontĕn tiyang murtad. bagaikan sama dengan para dewa. ( . sarwi agaganda amrik arum. nagari di Ayodya. kuasa menahan hawa nafsunya.Kautaman tuwin kaluhuranipun sang nata misuwur ing jagad titiga. putus dhatĕng wajib pangĕrèhing praja. karena dia (baginda) (sudah) tekun dalam kelurusan hati (kejujuran) serta menepati agama 3 macam.. raja yang (telah) ahli dalam Sĕrat Wéddha dan Sĕrat Wéddhangga. hampir menyamai para maharsi. botĕn wontĕn tiyang ingkang botĕn nĕtĕpi wajibing ngagĕsang. tani-tani sarta bĕkti-bĕkti ing laki. Kitha wau rinĕksa ing prajurit éwon. botĕn wontĕn tiyang bodho. Tiyangipun èstri sami éndah-éndahing warni. botĕn wontĕn tiyang awon warninipun. sami limpad ing kawruh wéddha. disegani oleh sesama makhluk. botĕn wonten tiyang ingkang tanpa aji. bijaksana. tajam penglihatannya.. Botĕn wontĕn tiyang ingkang drĕngki. kokoh dalam keadilan. anggigirisi kados latu murub. botĕn wontĕn tiyang cĕlak umuripun. Mumpuni 16 Jumantara Vol.

Para pemimpin sang Prabu berjumlah 8. Para perempuannya semua cantik-cantik parasnya. Tidak ada orang yang dengki. bersama para raja di kerajaan Prawa. tidak ada orang yang pendek umurnya. serta berbau harum semerbak. Para dewa kemudian mengusulkan kepada Bathara Prayapati agar memberikan putra sebagai titisan Dewa Wisnu kepada Prabu Jumantara Vol. tidak ada orang yang tanpa harga diri. tidak henti-hentinya dalam berusaha menambah keluhuran rajanya). tidak ada orang yang malas. Prabu Dasarata mendapat petunjuk dewa bahwa ia hendaknya menunggu kedatangan putra Sang Hyang Wisnu. tidak ada orang yang hina. menakutkan seperti api yang menyala serta tidak terkalahkan dalam perang. Mantili. tidak ada orang yang murtad. putus (ahli) dalam hal tata pemerintahan negara. Prabu Dasarata pada waktu itu juga menginginkan memiliki putra yang termashur di dunia karena pada waktu itu baginda belum berputra. Kota tersebut dijaga oleh ribuan prajurit. tidak ada orang yang berpakaian lusuh. tidak ada orang yang kecil hatinya. Di dalam kerajaan tersebut rakyatnya semua bahagia. Ketika persembahan Aswameda tersebut dilakukan. Bathara Prayapati (Sang Hyang Jagadnata) yang diiringi para dewa sangat berkenan. tidak ada orang yang buruk wajahnya. Tidak ada orang yang buruk rumahnya.1 Tahun 2012 17 . Para pendeta menyarankan agar Prabu Dasarata mengadakan upacara (sedekah) Aswameda di hutan Madura di dekat sungai Sarayu. tidak ada orang yang bodoh. Semua orang pakaiannya indah-indah yang dihiasi dengan emas intan permata. Sewaktu perlengkapan persembahan sudah siap. dan Malawa. Kedatangan Prabu Basurata di hutan Madura disambut dengan gembira oleh Prabu Dasarata di Ayodya. tidak ada orang yang tidak menepati kewajiban hidupnya.mengatur keselamatan dan kesejahteraan negara. (mereka) sudah termashur keutamaannya. 3 No. para petani (perempuan) pada berbakti pada suaminya. semua ahli dalam ilmu Wédha. Tidak ada orang yang sedikit anaknya.

Prabu Basurata dan Prabu Dasarata serta para raja lainnya kemudian mendekati Jamur Dipa yang terlihat menyalanyala. 1994: 14-18). Sang Hyang Jagadnata ingkang ugi sinĕbut Bathara Prayapati. 3 No.Dasarata. Payasa adalah makanan para dewa yang sangat lezat.. 1938: 24-29. anjanma-a ing putranipun Prabu Dhasarata. saking katrimahing sidhĕkahipun. amĕpĕki. Prabu Dasarata dan Prabu Basurata kemudian mengambil Japur Dipa dan Payasa untuk kemudian dimakan bersama permaisuri mereka. barang pèni raja pèni. sagĕda anyimakakĕn 18 Jumantara Vol. Ingkang dados pangagĕng tumandang pangruktining sidhĕkah Rĕsi Srĕngga. sabarang ingkang kinarsakakĕn wontĕn. Prabu Dhasarata dhawuh angawiti pakurmataning sidhĕkah nĕtĕpi ingkang kasĕbut ing sastra tuwin adat waton. niscaya kedua raja tersebut akan memperoleh putra yang utama. Sarĕng para déwa aningali sidhĕkahipun Prabu Dhasarata ingkang tanpa timbang. sami matur dhatĕng Bathara Prayapati. Jamur Dipa tersebut kemudian berubah menjadi seperti mustika. Sarĕng sampun rĕrĕm sawatawis dintĕn. Di dalam Sĕrat Rukmawati prosesi ritual agung Asmaweda tersebut diuraikan sebagai berikut: . Kepada kedua raja tersebut Bathara Wisnu menyatakan bahwa keduanya diperbolehkan mengambil Payasa yang terletak di Jamur Dipa untuk dimakan bersama istrinya.. Rahwana. Hal ini dimaksudkannya agar putra Prabu Dasarata kelak dapat membunuh raja raksasa. Bathara Wisnu kemudian memberi Payasa yang ditempatkan di atas jamur tersebut. Wujudipun sidhĕkah.1 Tahun 2012 . yang sangat termashur kesombongannya dan sebagai perusak segala yang tumbuh (Ranggawarsita. anĕdhaki dhatĕng panggènan sidhĕkah kadhèrèkaken para déwa. mugi kaparĕnga amaringi putra dhatĕng Prabu Dhasarata saha mugi andhawuhna dhatĕng Bathara Wisnu. Beberapa waktu kemudian para istri Prabu Dasarata hamil. tĕtĕdhan awarni-warni. Kalanipun Prabu Dhasarata anggĕlarakĕn sidhĕkah. Kamajaya.

ing Malawa. Payasa wau dhaharipun para déwa ingkang raosipun sakalangkung éca. Jamur-dipa katinggal murub angkara-kara. Karsaning déwa angkĕripun Jamur-dipa dados cabar. Ratu kalih lajĕng kondur dhatĕng pasanggrahan. Prabu Basurata akaliyan Prabu Dhasarata tuwin para ratu sami anĕdhaki panggènanipun Jamur-dipa. ing Prawa. Bathara Wisnu angatingal sarwi angandika: „Hé ratu sudibya. Banjur sira pangana lan somahira. Sarawuhipun ing Ayodya langkung sinuba-suba. Prabu Basurata kaaturan tĕdhak kampir dhatĕng Ayodya. jamur katingal amaya-maya kados musthika. tumuntĕn kadhahar akaliyan pramèswari nata titiga. agawé undhaking kautaman lan kamulyan‟. lajĕng sami mundhut Payasa ingkang dumunung ing Jamur-dipa..ratuning danawa ingkang nama Rahwana. Sang Hyang Wisnu muksa. Prabu Dhasarata. lajĕng sami bibaran. sasampunipun anampèni pandumaning sidhĕkah. Bathara Pryapati amarĕngi panuwun wau. ingkang sakalangkung kumalungkung dados gĕgĕlahing bumi. Sasampunipun sidhĕkah. Payasa ingkang kapundhut Prabu Dhasarata. urubing Jamur-dipa sirĕp. Prabu Dhasarata dalah pramèswari nata kondur dhatĕng praja. Panganan iku kang dadi jalarané sira padha kasinungan suta. Naréndra ing Mantili. para brahmana sapanunggilanipun. 3 No. pinundhi ing mastaka. angrisak samining tumuwuh. Prabu Basurata. dalah Jamur-dipa ugi kapundhut. Sarĕng Prabu Basurata. sami tumutur angurmati. Para ratu tuwin para rĕsi. Pamukartaning sidhĕkan kĕndĕl. andhĕku sumĕmbah ing Sang Hyang Wisnu.. Jumantara Vol.1 Tahun 2012 19 . Prabu Dhasarata anyĕlaki. kaki Prabu Basurata lan kaki Prabu Dhasarata. Bathara Wisnu lajĕng amaringi "Payasa" kadunungakĕn sanginggiling jamur.. Jamur-dipa dipun dum waradin dhatĕng para ratu. sira ingsun wĕnangaké ngalap Payasa kang dumunung ing Jamur-dipa iku.

Sarĕng 20 Jumantara Vol. Raja Malawa dan Raja Prawa kemudian mengunjungi Prabu Basurata di Wiratha (Ranggawarsita. Kamajaya. Payasa dan buah Wipula kemudian diminta untuk dimakan Prabu Basurata bersama permaisuri Dewi Brahmaniyuta (Ranggawarsita.Beberapa waktu kemudian Prabu Basurata. Kamajaya. permaisuri Dewi Brahmaniyuta melahirkan putra laki-laki diberi nama Raden Brahmaneka. 1994: 22). akaliyan Satrugna. kadi sarĕng lampahanipun. yaitu rajah Purusa dan rajah Kani. Menurut Dewi Rukmawati bahwa Prabu Basurata kelak akan berputra raja besar serta seorang putri yang nantinya juga menurunkan raja besar. Ingkang miyos saking Dèwi Kĕkayi pinaringan nama Barata. Dewi Kusalya berputra Rama. sampun ambabar putra kakung langkung rumiyin ingkang miyos saking Dèwi Kusalya kaparingan nama Rama. memperlihatkan Jamur Dipa dan Payasa tersebut kepada Dewi Rukmawati. 3 No. Sebagai ungkapan kebahagiaan Prabu Dasarata disertai Raja Mantili. sekembalinya ke Wiratha. 1938: 34. Di dalam Sĕrat Rukmawati kelahiran Rāma bersaudara tersebut dikemukakan sebagai berikut: Kacariyos. Pada tahun Wiya terhitung tahun 454 (Suryasangkala) dengan sĕngkalan: Dadi-tataning-pakarti atau tahun 468 (Candrasengkala) dengan ditandai sĕngkalan: Sarira-angrasa-suci. sementara itu di kerajaan Ngayodya permaisuri Prabu Dasarata pun melahirkan putra.1 Tahun 2012 . adapun Dewi Sumitra berputra Laksmana dan Satrugna. ing tanah Hindi pramèswari Ngayodya. Ingkang miyos saking Dĕwi Sumitra kakalih pinaringan nama Laksmana. Prabu Dhasarata andhatĕngngakĕn suka pari suka. ananging cariyosipun kadamĕl gĕntos. Jamur Dipa tersebut kemudian dipuja Dewi Rukmawati berubah menjadi buah-buahan disebut buah Wipula. 1938: 28-32. Dewi Kekayi berputra Bharata. Dewi Rukmawati melihat bahwa di dalam Jamur Dipa terdapat 2 rajah. Bertepatan masa Manggakala. 1994: 18-21).

Demikian jejak cerita Rama (Rāma) yang terdapat dalam Sĕrat Rukmawati. 3 No. ing Malawa lan ing Prawa. Ng. terhitung tahun Candrasangkala bertepatan tahun 879). Prabu Dhasarata karsa tĕdhak cangkrama dhatĕng nuswa Jawi. inilah cerita kisah hidup Prabu Kresna Dwipayana di Ngastina sampai menjadi begawan bernama Bagawan Byasa. kaétang ing tahun Candrasangkala amarĕngi 879. Ranggawarsita di dalam Sĕrat Pustakaraja menyatakan: Sĕrat Sutiknawyasa wiyosipun punika cariyos panjĕnĕngan nata Prabu Krĕsna Dwipayana ing Ngastina ngantos dumugi ambagawan nama Bagawan Byasa. kanthi ratu ing Mantili. 1938: 21). terutama berkaitan dengan prosesi ritual agung (Asmaweda) yang dilakukan oleh Prabu Dasarata. (Ranggawarsita. Cerita Rāma dalam Sĕrat Sutiknawyasa Pujangga R. dalam rangka memohon kelahiran putra yang menjadi penjelmaan Sang Hyang Wisnu (Rāma bersaudara). Panganggitipun anuju ing tahun Suryasangkala 853. penggubahannya bertepatan tahun Surya-sangkala 853.sampun dumugi anggĕnipun amangun suka.1 Tahun 2012 21 . Jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Sutiknawyasa tampak dari cerita yang disampaikan oleh Dhang Hyang Wiku Salya kepada Bagawan Abyasa tentang kisah Rama ketika ia harus Jumantara Vol. Lajĕng sami bidhalan saking palabuhan Prawa anitih baita. raja Ayodya. Digubah oleh Mpu Widdhayaka di Mamenang. (Sĕrat Sutiknawyasa. Kaanggit déning Mpu Widdhayaka ing Mamĕnang. kabĕkta saking rĕnaning panggalih déné kadumugĕn ingkang dados karsanipun.

Betapa besar kesedihaan hati Prabu Ramawijaya. punika among saking dènira tabĕri amarsudi rĕmbaging janma. seperti tampak pada kutipan berikut: "Kala Prabu Ramawijaya sinèrènan kaprabonipun ingkang rama Prabu Dasarata jumĕnĕng nata ing Ayudya. botĕn lami kalungsur ginantosan ingkang rayi anama Prabu Barata. 1981: 443444). Dumadakan angsal wasita sawantah. anggĕr lajaran asring angsal pitulungan saking tiyang ingkang sami kasungkawan. Ing wĕkasan dados saraya sagĕdipun kapanggih kaliyan garwa Dĕwi Sinta. meskipun demikian ia tidak diam membisu. tidak berapa lama (tahta tersebut) diminta kembali untuk digantikan oleh adiknya yang bernama Prabu Barata. parandosipun botĕn amĕgĕng pangandika kajawi amung tansah amĕsu cipta salĕbĕting samadi kémawon. Lajĕng jumĕnĕng nata malih wontĕn ing Ayudya. (Prabu Ramawijaya) kemudian disuruh bertapa ke hutan belantara. Sapintĕn kémawon sungkawaning galihira Prabu Ramawijaya. (Ketika Prabu Ramawijaya mendapatkan tahta dari ayahandanya Prabu Dasarata untuk menjadi raja di Ayodya. kinèn amitulungi sungkawaning wanara raja Sugriwa. Mila bĕbasanipun tiyang kadhatĕngan sungkawa. " (Karyarujita dan Sastranaryatmo. Kemudian 22 Jumantara Vol.meninggalkan kerajaan Ayodya untuk pergi ke hutan. Kelak dikemudian hari (akan) menjadi sarana ia berjumpa kembali dengan istrinya Dewi Sinta. Tiba-tiba (Prabu Ramawijaya) mendapat petunjuk yang jelas bahwasanya ia disuruh menolong kesedihan raja kera Sugriwa. ditambah (Dewi Sinta) diculik oleh pencuri Prabu Dasamuka (untuk) dibawa ke Alengka. Lajĕng kinèn tĕtaki dhatĕng wana pringga kawĕwahan kénging kadhusta ing duratmaka Prabu Dasamuka kabĕkta dhatĕng Alĕngka. namun bahkan selalu mengasah pikirannya di dalam bersamadi. 3 No. hanya disertai oleh istrinya (Dewi Sinta) dan adiknya Laksmana.1 Tahun 2012 .

serta didudukkan kembali menjadi raja (Karyarujita dan Sastranaryatmo. karena ternyata yang menimpa Prabu Ramawijaya lebih pahit lagi. Dengan demikian Sĕrat Prabu Gĕndrayana termasuk dalam kelompok Sĕrat Mahaparma Bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara. Bathara Guru. Naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana terdiri dari 2 jilid. 3 No. Sĕrat Prabu Gĕndrayana dapat dijajarkan dengan Sĕrat Budhayana. ia kemudian menjadi pertapa di Waringin Sapta (Waringin Pitu) sampai akhirnya ia ditugaskan melenyapkan Prabu Silacala (Watugunung) sebelum diampuni kesalahannya oleh ayahnya. Nasehat Dhang Hyang Wiku Salya tersebut melengkapi nasehat dari Dhang Hyang Smarasanta kepada Rĕsi Abyasa agar tidak terlalu bersedih. inilah hasil kalau (seseorang itu) rajin berupaya menolong manusia. Dengan demikian peristiwa kepergian Prabu Ramawijaya dari istana ke hutan belantara tersebut dihadirkan oleh Dhang Hyang Wiku Salya dengan maksud agar Rĕsi Abyasa tidak merasa terlalu bersedih hati dengan tidak diangkatnya dia menjadi raja di Ngastina menggantikan ayahandanya Bagawan Parasara (Palasara). Cerita Rāma dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana Di dalam konstruksi teks-teks Pustakaraja. Karena itu peribahasanya seseorang yang sedang sedih. apabila mau menolong seringkali (ia) mendapat pertolongan oleh seseorang yang juga mengalami kesusahan). Demikian pula kisah Sang Hyang Wisnu yang juga dicopot kedudukannya sebagai raja. Dhang Hyang Smarasanta juga mengemukakan peristiwa yang dialami Maharĕsi Manumanasa yang menjadi pertapa setelah tidak diangkat menjadi raja menggantikan ayahandanya. yaitu Sĕrat Prabu Gĕndrayana I dengan kode D 46 A yang terdiri atas 577 Jumantara Vol. Dhang Hyang Smarasanta mengemukakan keadaan dirinya yang telah berumur 150 tahun tetapi tetap tampak muda karena hatinya tenang dan damai.1 Tahun 2012 23 .akan menjadi raja kembali di Ayodya. 1981: 442-443).

R. 3 No. dan Bathara Hiranyaka merajai segala jenis tikus. karena beliau adalah titisan Sang Hyang Wisnu Murti. yang dapat melenyapkan segala hama dan penyakit tanaman tersebut adalah Raden Narayana.1 Tahun 2012 . ulat. putra Prabu Gendrayana. Adapun jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana dikemukakan oleh Bagawan Danèswara dari Gunung Nilandusa (Wilis) menghadap Prabu Gendrayana untuk mohon bantuan agar putra baginda. lĕladhoh.T. mau membantunya untuk melenyapkan segenap hama tanaman yang menyerang sawah dan ladang penduduk Gunung Nilandusa dan menyebabkan mereka gagal panen. walang. Isi ceritanya dimulai dari sewaktu Bathara Naradha mengukuhkan Arya Prabu Bambang Sudarsana menjadi raja di Yawastina (Ngastina Baru) bergelar Prabu Yudayaka atau Prabu Darmayana. Misalnya: Bathara Kithaka merajai segala jenis belalang. Jadi Sĕrat Prabu Gĕndrayana terdiri atas 1. Naskah-naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana di atas adalah koleksi Perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran Surakarta. ludhĕp. mĕnthèk. Cerita diakhiri sewaktu Prabu Yudayaka bermaksud turun tahta menjadi begawan dan akan mengukuhkan putranya yaitu Raden Kijing Wahana sebagai raja di Yawastina. Adapun hama tanaman yang menyerang sawah ladang mereka adalah: cèlèng. ganggĕngan. jamur dan lain sebagainya.849 halaman. Bathara Sungkara merajai segala jenis cèlèng. Adapun naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana II dengan kode D 46 B yang terdiri atas 1. Berdasarkan petunjuk (wangsit) dewa. Adapun waktu yang diceritakan dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana tahun 790 – 800 (Suryasangkala) atau tahun 816 – 824 (Candrasengkala). Bathara Printanjala merajai segala jenis burung. Soemarso Pontjo Soetjipto.272 halaman dan sudah ditranskripsi oleh Soepardi Hadisuparto. burung. bĕkocok.halaman dan pernah ditranskripsi oleh K. pemelihara dunia. Apalagi pada 24 Jumantara Vol. yaitu Raden Narayana. tikus. Segala hama tanaman tersebut sulit dibasmi karena mereka dilindungi para Dewa keturunan Sang Hyang Kala. Bathara Gindhala merajai segala jenis ludhĕp.

Adapun kisah kepahlawanan Ramawijaya dan adiknya. Hal inilah yang membuat Prabu Gendrayana khawatir atas keselamatan putranya. Prabu Gendrayana merasa ragu dan keberatan. kaliyan malih Pukulun. putra Prabu Dasarata raja Ngayodya dari tanah Hindu. yĕkti botĕn dangu lajĕng dhadhal larut sadaya. manawi Sang Hyang Wisésa ingkang adamĕl unggul sayĕkti botĕn sangsaya dènira hamisésa ing ama. yèn Bathara Ramawijaya wau inggih panuksamaning Sang Hyang Wisnumurti. sarĕng sawĕg yuswa wolung warsa lajĕng kasuwun dhatĕng Bagawan Sutiksnayogi ing wukir Jumantara Vol. ingkang saupami tiyang sĕpuh ingkang sampun sura sĕkti mandraguna. Akan tetapi. saèstunipun nadyan raréya ingkang taksih mudha punggung pisan. karena bagaimana mungkin putranya yang baru berusia 13 tahun tersebut harus berhadapan dengan segala jenis hama tanaman yang dilindungi oleh para dewa. sewaktu Ramawijaya baru berumur 8 tahun sudah dimintai bantuan oleh Bagawan Sutiksnayogi dari Gunung Dhandhaka agar menumpas para raksasa bala tentara Prabu Rahwana dari Ngalengka yang merusak pertapaan para pertapa. Menurutnya.waktu lahir Raden Narayana sudah mendapatkan senjata dari dewa berupa panah Pasopati dan panah Sarotama. manawi kados makatĕn pamanggihipun ing karsa paduka punika Pukulun. manawi Sang Hyang Jagad Pratingkah adamel apĕsipun ing titiyang ingkang sami sura sakti wau.1 Tahun 2012 25 . Oleh karena Prabu Gendrayana masih merasa ragu-ragu maka Bagawan Danèswara mengingatkan baginda atas kisah kepahlawanan Ramawijaya. panjĕnĕngan paduka punika punapa supé cariyos lampahanipun Bathara Ramawijaya putranipun Prabu Dasarata ing Ngayodya tanah ing Indhu. yang dapat dijadikan tauladan tersebut tersurat pada Sĕrat Prabu Gĕndrayana II seperti pada kutipan berikut: "Dhuh dhuh Pukulun Kangjĕng Déwaji. utawi ingkang luhur sugih wadya bala sami sura sakti ing yuda. Laksmana. dados kénging sinĕbut tilar kasantosaning galih supé dhatĕng kawasaning déwa. 3 No.

panjĕnĕnganipun Prabu Janaka darbé atmaja pawèstri satunggal langkung ayu éndah warninipun. Karyarujita dan Sastranaryatmo. nama Dèwi Sinta. panuwunipun badhé kaabĕn kaliyan danawa ingkang sami angririsak dhatĕng patapaning para wiku. kala semantĕn sagunging para nata sèwu nagari botĕn wontĕn ingkang lĕbda karya wĕkasan sami kawangsulakĕn. inggih punika kang angawonakĕn Prabu Harjunasasra ing Mahèspati nguni. danawa wau balanipun Prabu Rawana Ngalĕngka. Hadisuparto. 1981: 480-481). dupi wontĕn ing margi kabégal déning pandhita langkung sakti mandra guna. sarĕng dumugi ing patapan raja putra kalih wau karsaning Déwa tĕka lajĕng sagĕd anirnakakĕn sagunging raksasa tanpa étangan tumpĕs déning satriya kalih kémawon. sarĕng bidhal saking Mantili kadhèrèkakĕn para punggawa langkung kathah. Prabu Janaka langkung suka kalampahan kadhaupakĕn kaliyan Dèwi Sinta. 2007: 158-159. lampahipun saking nagari ing Ngayodya botĕn ambĕkta wadya bala aming kadhèrèkakĕn ingkang rayi satunggal anama Raden Laksmana Widagda.Dhandhaka. 3 No. Sang Ramaparasu wau karsaning Déwa lajĕng kasor déning Bathara Ramawijaya. 848-853. sarĕng Bathara Ramawijaya saking karsaning Dewa sagĕd amĕnthang. dèntĕn sayĕmbaranipun Prabu Janaka nguni singa ingkang sagĕd amĕnthang langkap pusakanipun Prabu Janaka saèstu dados jatu kraminipun putra nata Dèwi Sinta wau. malah punang langkap pusaka lajĕng tugĕl tanpa karana.1 Tahun 2012 . manawi ing yuswanipun nalika numpĕs sagunging diyu ditya rĕksasa wil danawa murka kang wontĕn ing wukir Dhandhaka nguni inggih sawĕg yuswa wolung warsa. wasta Rĕsi Ramaparasu. D 46 B. hal. saèstunipun sĕpuh putra paduka Radèn Narayana punika (Sĕrat Prabu Gĕndrayana II. 26 Jumantara Vol. botĕn antawis lami Bathara Ramawijaya wau kaliyan ingkang rayi bidhal saking patapaning pandhita lajĕng amĕdali sayĕmbara dhatĕng nagari ing Mantilidirja. Bathara Ramawijaya kalampahan kabĕkta dhatĕng Bagawan Sutiksnayogi.

Tidak beberapa lama Bathara Ramawijaya bersama adiknya meninggalkan pertapaan pendeta untuk mengikuti sayembara ke negeri Mantilidirja. Pada waktu itu semua para raja (yang berjumlah) 1. perjalanan (Bathara Ramawijaya) dari negeri Ngayodya tidak membawa bala tentara. berani lagi sangat sakti. apabila Sang Hyang Wisesa yang membuat menang. sungguh akan dikawinkan dengan putri raja tersebut. (tapi) hanya diiringkan seorang adiknya bernama Raden Laksmana Widagda. permintaan (Bagawan Sutiksnayogi) Bathara Ramawijaya akan diadu dengan raksasa yang merusak pertapaan para wiku. tentu tidak lama juga akan tumpas semua. lupa pada kekuasaan Dewa.000 negara tidak ada satu pun yang mampu melakukannya. tentu tidaklah sulit dalam meraih kemenangan atas hama (tanaman). apakah Paduka ini lupa pada cerita kisah hidup Bathara Ramawijaya. atau yang berkedudukan tinggi (memiliki) banyak bala tentara yang sakti-sakti dalam peperangan. Prabu Janaka memiliki seorang putri yang sangat cantik parasnya bernama Dewi Sinta.("Dhuh dhuh Pukulun Kanjeng Dewaji. bahwasanya Bathara Ramawijaya juga penjelmaan Sang Hyang Wisnu Murti. Adapun sayembara Prabu Janaka tersebut. apabila Sang Hyang Jagad Pratingkah membuat apĕs (malang) kepada orang-orang yang sangat sakti itu. kemudian diminta oleh Bagawan Sutiksnayogi dari Gunung Dhandhaka. dapat disebut meninggalkan kesentausaan hati. bahwasannya siapa saja yang mampu membentangkan busur panah pusaka Prabu Janaka. jika demikian ini pendapat paduka Pukulun. sesungguhnya meskipun masih anak-anak dan lagi masih bodoh. kedua putra raja tersebut (karena) kehendak Dewa berhasil melenyapkan semua raksasa yang tak terhitung banyaknya (semua) tumpas hanya oleh kedua satria tadi. putra Prabu Dasarata di Ngayodya Tanah Hindu.1 Tahun 2012 27 . 3 No. raksasa tersebut adalah bala tentara Prabu Rahwana (dari) Ngalengka. ketika baru berumur 8 tahun. dan lagi Pukulun. sekalipun seumpama orang sudah tua. akhirnya mereka semua Jumantara Vol. Bathara Ramawijaya bersedia dibawa oleh Bagawan Sutiksnayogi. sesampainya di pertapaan.

Karyarujita dari Sĕrat Paramayoga dan Sĕrat Pustakaraja dikatakan bahwa usia Bathara Ramawijaya adalah 18 tahun (wolulas warsa). Jadi ada selisih waktu 10 tahun. Jika dikatakan bahwa 28 Jumantara Vol. Prabu Janaka sangat gembira (Bathara Ramawijaya) kemudian dikawinkan dengan Dewi Sinta. sebagaimana Bathara Ramawijaya). Kalau di dalam teks naskah Prabu Gĕndrayana II. Demikianlah tampilnya cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana sengaja dihadirkan oleh Bagawan Danèswara untuk memberikan gambaran dan pandangan kepada Prabu Gendrayana agar merelakan putranya. Raden Narayana). Sesungguhnya masih lebih tua dengan putra Paduka. kode D 46 B di halaman 849 dan halaman 853.disuruh kembali (ke kerajaannya). wil dan sebangsanya yang merusak (pertapaan) di Gunung Dhandhaka dahulu usianya baru 8 tahun. karena kehendak Dewa berhasil membentangkan. ada sedikit perbedaan tentang usia Bathara Ramawijaya ketika dimintai bantuan oleh Bagawan Sutiksnayogi untuk melawan para raksasa perusak pertapaan di Gunung Dhandhaka. bahkan busur panah pusaka kemudian putus tanpa sebab. Dalam hal ini. Bathara Ramawijaya. 3 No. Ng. Ketika Bathara Ramawijaya menumpas para raksasa. yaitu Raden Narayana (yang juga penjelmaan Sang Hyang Wisnu Murti. Dialah yang dahulu mengalahkan Prabu Arjunasasra di kerajaan Mahespati. Bathara Ramawijaya waktu itu berusia 8 tahun (wolung warsa).1 Tahun 2012 . dihadang (dirampok) oleh pendeta yang teramat sakti bernama Ramaparasu. untuk menumpas segala hama tanaman yang dilindungi para Dewa. Ketika mereka meninggalkan Mantili diiringkan para punggawa yang sangat banyak. namun dalam Sĕrat Paramayoga (Sĕrat Kalĕmpakaning Piwulang) yang dikumpulkan oleh R. yang menyerang sawah dan ladang penduduk di wilayah Gunung Nilandusa. sebagaimana yang terdapat pada halaman 480 dan 481. Sang Ramaparasu karena kehendak Dewa dapat dikalahkan oleh Bathara Ramawijaya. Pada waktu mereka di tengah jalan.

Hadisuparto. seperti yang tersurat dalam naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana II halaman 112 – 139 (Hadisuparto. Hanya tentunya tidak dapat dikatakan bahwa ia masih kecil. Ranggawarsita adalah pengarangnya (Babon tĕmbung pangikĕtipun sang misuwuring jagad: R. Ng. Di sini pun terdapat kejanggalan. Dalam hal ini jika usia Bathara Ramawijaya adalah 18 tahun akan lebih logis bila ia memenangkan sayembara memperebutkan Dewi Sinta dan dikawinkan dengannya. 2007: 20-25). Jika usia Ramawijaya sewaktu dimintai pertolongan oleh Bagawan Sutiksnayogi baru 8 tahun. Cerita Rāma dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara Di dalam Sĕrat Pustakaraja. Adapun peristiwa Raden Narayana dimintai pertolongan melenyapkan segala hama tanaman tersebut terjadi pada tahun 814 (Suryasangkala) atau tahun 839 (Candrasangkala) (Naskah halaman 816 – 1008. Penciptaannya bertepatan tahun 919 (Suryasangkala) atau tahun 948 (Candrasangkala). maka hal ini ada benarnya karena usia Raden Narayana adalah 13 tahun. jauh lebih muda usianya dari Raden Narayana (13 tahun) sewaktu ia dimintai pertolongan menumpas para raksasa yang merusak pertapaan para Brahmana dan Pendeta di Gunung Dhandhaka. Ranggawarsita. maka bagaimana mungkin dalam usia semuda itu ia mengikuti dan memenangkan sayembara di kerajaan Mantilidirja. Beliau lahir pada tahun 801 (Suryasangkala) atau tahun 825 (Candrasangkala).1 Tahun 2012 29 . sehingga ia kemudian dikawinkan dengan Dewi Sinta (dalam usia 8 tahun). Namun pada halaman depan Sĕrat Mayangkara dikemukakan secara jelas bahwa R. 3 No. Ng. pujangga Dalĕm ing Kraton Surakarta Jumantara Vol.Raden Narayana waktu itu lebih tua daripada Bathara Ramawijaya. Kedua kitab tersebut adalah karya Mpu Sindungkara di Pengging. 2007: 152-187). maka Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara termasuk kelompok Kitab Maha Parma (bagian Kitab Pustakaraja Puwara).

Hanya saja cerita di dalam Sĕrat Purusangkara masih cukup panjang. karena jika waktu penceritaan di dalam Sĕrat Purusangkara berlangsung selama 5 tahun. 1938: 35). maka waktu penceritaan dalam Sĕrat Mayangkara hanya selama 1 tahun. penggubahannya bertepatan pada tahun Suryasangkala 920. sampai Kerajaan Yawastina tenggelam menjadi samodra. kala krama antuk putri ing Mamĕnang. panganggitipun anuju ing tahun Suryasangkala 920. Ng. (Sĕrat Purusangkara. Pujangga R. ketika kawin dengan putri dari Mamenang.1 Tahun 2012 . wiyosipun punika cariyos lalampahanipun Prabu Purusangkara ing Yawastina. Ranggawarsita sendiri di dalam Sĕrat Pustakaraja juga menyatakan bahwa: "Sĕrat Purusangkara." (Ranggawarsita. Kaanggit déning Mpu Sindungkara ing Pĕngging. ngantos dumuginipun nagari ing Yawastina kĕlĕm anjĕmblong dados samodra. 3 No. yaitu menceritakan tentang Sang Maharsi Mayangkara (Anoman). kaétang ing tahun Candrasangkala amarĕngi 948. dengan titik berat penceritaannya hanya mengenai Sang Hyang Mayangkara. 30 Jumantara Vol. inilah cerita kisah (perjalanan) hidup Prabu Purusangkara di Yawastina. Digubah oleh Mpu Sindungkara di Pengging. antara Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara isinya hampir sama.Adiningrat). terhitung tahun Candrasangkala bertepatan tahun 948) Adapun waktu yang diceritakan dalam Sĕrat Purusangkara mulai tahun 841 Suryasangkala (Ratu – gusthika – sarira ing boma) atau tahun Candrasangkala 866 dengan sengkalan berbunyi Anggas – angrasa – murti sampai dengan tahun Suryasangkala 846 atau terhitung tahun Candrasangkala tahun 871. Pada bagian permulaan.

Adapun penceritaan di dalam Sĕrat Purusangkara masih sangat panjang karena menceritakan berbagai peristiwa yang terjadi di Kerajaan Widarba (Kediri) setelah gugurnya Sang Maharsi Mayangkara. dan 5) Prabu Darmadewa beserta saudara-saudaranya menyerbu kerajaan Widarba (Tedjowirawan. Dalam melanjutkan perjalanannya Sang Hyang Narada bertemu dengan roh Sang Maharsi Mayangkara (jiwa Anoman) yang mengungkapkan keinginannya untuk segera berkumpul dengan para dewa. 4) Perkawinan Madrim dengan Arya Susastra.1 Tahun 2012 31 . Adapun cerita-cerita tersebut antara lain: 1) Perkawinan Raden Jayaamijaya dengan Ken Satapi. 2) Pertentangan antara Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) dengan ketiga menantunya yaitu Prabu Purusangkara bersaudara. 3 No. Kemudian Sang Hyang Girinata memerintahkan Sang Hyang Narada untuk melindungi keturunan Sang Hyang Wisnu dengan sarana mengawinkan Prabu Astradarma (raja Yawastina) dengan putri Prabu Jayapurusa (Prabu Jayabhaya) di kerajaan Widarba. sampai ditenggelamkannya Kerajaan Yawastina. Sang Hyang Narada menerangkan bahwa Sang Maharsi Mayangkara masih mendapat tugas dewa untuk mengawinkan para putra mendiang Prabu Sariwahana (Yawastina) dengan para putri Prabu Jayapurusa (Widarba). Rĕsi Anoman menyatakan mau menyatu kembali dengan jiwa (rohnya) Sang Maharsi Mayangkara asal teka-teki yang diajukannya dapat ditebak secara tepat. 3) Kisah Madrim dan Madrika. Mereka memperbincangkan turunnya Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Brahma ke dunia. 1985: 33-40). Adapun garis besar cerita di dalam Sĕrat Mayangkara dan Sĕrat Purusangkara pada bagian awal dapat dikemukakan sebagai berikut: Sang Hyang Girinata mengadakan persidangan dengan para dewa di kahyangan Suralaya. Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kesanggupannya dan pulang kembali ke pertapaan Kendalisada menemui raganya (Rĕsi Anoman). Sang Maharsi Jumantara Vol. Sang Hyang Narada menerangkan bahwa maksud Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Brahma mau melenyapkan semua keturunan Sang Hyang Wisnu.

Sementara itu para prajurit Yawastina di bawah pimpinan Patih Sudarma mempersiapkan diri menyusul rajanya. akan tetapi Sang Maharsi Mayangkara meyakinkan bahwa dewalah yang menentukan segalanya. Pada waktu itu. Mereka memikirkan perkawinan Raden Jayaamijaya dengan putri Ken Satapi. Kemudian Prabu Astradarma dan saudara-saudaranya dibawa Sang Maharsi Mayangkara pergi ke kerajaan Widarba. akan tetapi Prabu Jayapurusa menyerahkan jodoh ketiga putrinya kepada dewa.Mayangkara dapat menebak teka-teki yang diajukan padanya. Patih Suksara mengusulkan agar Prabu Jayapurusa memikirkan pula perkawinan ketiga putri raja terlebih dahulu untuk menghindari dari pergunjingan rakyat Widarba.1 Tahun 2012 . anak Ajar Subrata. Pada waktu itu datanglah Gadaksa dan Pradaksa. Sang Maharsi Mayangkara kemudian dihadapkan kepada Prabu Astradarma. Prabu Astradarma merasa ragu-ragu bahwa Prabu Jayapurusa telah melupakan permusuhan ayah-ayah mereka dahulu dengan baginda (Prabu Jayapursa). utusan Prabu 32 Jumantara Vol. Sesampainya di Yawastina. Tidak lama kemudian datanglah Sang Hyang Narada yang memerintahkan Sang Maharsi Mayangkara ke Yawastina. Hal itu dimaksudkan guna mempererat kembali tali persaudaraan yang telah retak akibat pertikaian yang terjadi antara Prabu Sariwahana dan Prabu Ajidarma di Malawapati melawan Prabu Jayapurusa di Widarba. ia beristirahat di bawah pohon beringin kembar. sehingga ia menyatu kembali dengan raganya. maka baginda segera memerintahkan punggawanya untuk memeriksa Sang Maharsi Mayangkara. Patih Suksara serta para prajurit Widarba yang menghadap. Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kepada Prabu Astradarma bahwa ia ditugaskan Sang Hyang Narada untuk mengawinkan Prabu Astradarma bersaudara dengan ketiga putri Prabu Jayapurusa di Widarba. Perselisihan dan perpecahan itu berawal dari nenek moyang mereka dahulu. ketika Prabu Astradarma melihat adanya putih-putih di bawah pohon beringin. Prabu Jayapurusa di kerajaan Widarba sedang menerima Raden Jayamijaya. 3 No.

3 No. maka mereka segera mengejar Gadaksa dan Pradaksa. Setelah Raden Jayaamijaya menyanggupi permintaan itu.Yaksadewa dari kerajaan Selauma untuk melamar Dewi Pramesthi. Raden Jayaamijaya. keduanya berjumpa dengan Sang Maharsi Mayangkara. Dikemukakannya pula bahwa ia telah terlanjur menyanggupi untuk memenuhi permintaan Sang Maharsi Mayangkara yang menginginkan kawin dengan ketiga putri Widarba. Raden Jayaamijaya sangat marah membaca surat lamaran tersebut. Raden Jayaamijaya sangat malu dan ia bermaksud meminta bantuan kepada saudaranya. yaitu raja di Yawastina. Sepeninggal Gadaksa dan Pradaksa. Terjadilah pertempuran yang sangat hebat. maka Raden Jayaamijaya disertai Arya Susastra bersama pasukannya mengejar kedua utusan kerajaan Selauma tersebut.1 Tahun 2012 33 . Arya Susastra bersama pasukan Widarba dapat dikalahkan. Prabu Jayapurusa mengambil jalan tengah yaitu andaikata Dewi Pramesti telah menjadi jodoh Prabu Yaksadewa maka perkawinan mereka akan segera dilangsungkan. dan memaksa Gadaksa dan Pradaksa untuk mengundurkan diri kembali ke kerajaan Selauma. Pertempuran tak dapat dielakkan. namun Sang Maharsi Mayangkara dapat menghancurkan pasukan kerajaan Selauma. Raden Jayaamijaya. Arya Susastra dan Sang Maharsi Mayangkara kemudian kembali ke Widarba. Prabu Jayapurusa menjadi ragu-ragu menerima permintaan Sang Maharsi Mayangkara tersebut. Surat lamaran tersebut mengandung ancaman bahwa seandainya Dewi Pramesthi tidak diberikan maka kerajaan Widarba akan digempur. Kepada ayahandanya (Prabu Jayapurusa) ia menerangkan bahwa Sang Maharsi Mayangkaralah yang berhasil memenangkan pertempuran melawan utusan kerajaan Selauma. tetapi akhirnya baginda Jumantara Vol. Raden Jayaamijaya meminta bantuan kepada Sang Maharsi Mayangkara. Dalam perjalanan Raden Jayaamijaya bersama Arya Susastra. tetapi Sang Maharsi Mayangkara meminta imbalan ketiga putri Widarba.

Selanjutnya Prabu Jayapurusa meminta kepada Sang Maharsi Mayangkara untuk menceritakan kembali pengalaman peperangannya sewaktu menjadi senapati perang yang terpercaya Prabu Ramawijaya. malah kala sĕmantĕn kawula inggih kinarya sénapatining ayuda. manawi lalampahanipun Bathara Ramawijaya Ngayudyapala anggènipun ambĕdhah nagari ing Nglĕngka nguni. dèntĕn Sang Maharsi Mayangkara langkung panjang yuswanipun. sukanipun dèntĕn badhé angsal wĕwahing cariyos lalampahanipun Prabu Ramawijaya nguni. dados sawadyanipun para ratu wanara sadaya sami umiring Bathara Ramawijaya. ing Guwakiskĕndha. kaliyan adhi kula nak-sanak sutanipun paman kawula ingkang sĕpuh wasta Prabu Subali. Prabu Jayapurusa langkung suka angungun.1 Tahun 2012 . bokmanawi èngĕt ing cariyos lalampahanipun Prabu Ramawijaya ing Ngayudyapala. kaambil sraya déning Bathara Ramawijaya wau. Raja Alengka. Pangandikanipun Prabu Jayapurusa: 34 Jumantara Vol. ingkang dados pangungunipun. Prabu Jayapurusa segera memerintahkan kepada Empu Pulwa untuk mencatat keterangan Sang Maharsi Mayangkara guna meluruskan kembali peristiwa sebenarnya tentang cerita peperangan Prabu Ramawijaya melawan Prabu Rawana. Di dalam Sĕrat Mayangkara permintaan Prabu Jayapurusa agar Sang Maharsi Mayangkara menceritakan pengalamannya sewaktu menjadi senapati perang pasukan Prabu Ramawijaya tersebut diuraikan sebagai berikut: Sasampunipun makatĕn Prabu Jayapurusa andangu malih dhatĕng Sang Maharsi Mayangkara. mila kawula dados sénapati. rèhning nguni kawarti kawijilanipun saking nagari Guwakiskĕndha tanah Hindhu. Penulisan cerita Rama pada mulanya bersumberkan keterangan dari Brahmana Hindu yang bernama Dhang Hyang Asuman dan Dang Hyang Ilandhi. amargi paman kawula ingkang anèm wasta Prabu Sugriwa punika. saèstunipun kawula nguni èngĕt sadaya. Sang Rĕsi Anoman matur: "Dhuh-dhuh Pukulun Kanjĕng Déwaji. dhatĕng nagari ing Ngalĕngka.meluluskannya. 3 No. dénya ambĕdhah nagari Ngalĕngka nguni.

miwiti mĕkasi. mila makatĕn awit ing nguni kula katamuwan brahmana saking tanah Hindhu. (Kemudian Prabu Jayapurusa bertanya lagi kepada Sang Maharsi Mayangkara. lajĕng dhawuh dhatĕng Empu Pulwa kinèn amĕwahakĕn panganggitipun kaliyan ingkang saking cariyosing brahmana kalih nguni. sampun ngantos wontĕn ingkang kalangkungan cariyosipun". saèstu badhé andadosakĕn sukaning manah kula. ingkang dados lalampahanipun Prabu Ramawijaya dènira ambĕdhah nagari Ngalĕngka wau. awit bokmanawi wontĕn wĕwahipun malih saking cariyosing brahmana kalih nguni. sakalangkung rĕmĕn kula. punika sami anyariyosakĕn ingkang dados lalampahanipun Prabu Ramawijaya nguni. ingkang rumiyin wasta Dhang Hyang Asuman ingkang kantun wasta Dhang Hyang Ilandhi. Émpu Pulwa matur sandika. ananging panuwun kula mugi kagancarĕna dalah lalampahanipun wontĕn ing margi sadaya. kaliyan Prabu Kusia ing Ngayudyapala. malah ing mangké sampun kaanggit déning ĕmpu jangga kula kang wasta Émpu Pulwa. barangkali teringat cerita perjalanan hidup Prabu Ramawijaya di Ngayudyapala. Sang Maharsi Mayangkara matur sandika.1 Tahun 2012 35 . karena dahulu konon berasal dari Guwakiskenda tanah Indu. ngantos dumugi sédanipun ingkang putra Prabu Ramawijaya ingkang nama Prabu Batlawa ing Duryapura. yèn sambada karsanipun sang wiku. nulya cinathĕtan sadaya. ananging pangraosing manah kula kados taksih kirang jangkĕping cariyosipun. salalampahanipun sampun sami kagancarakĕn sadaya. ketika Jumantara Vol. amargi botĕn sumĕrĕp piyambak kados Sang Maharsi wau. Ing ngriku Prabu Jayapurusa langkung suka galihipun. ngantos kaping kalih. 3 No.Hé Sang Maharsi Mayangkara kakasihing jawata. mugi kagancarĕna sadaya. milanipun manawi sang wiku karsa anyariyosakĕn lalampahanipun Prabu Ramawijaya. lajĕng anyariyosakĕn kawiwitan saking nagarinipun Prabu Ramawijaya wontĕn ing Ngayudyapala.

bahkan sekarang sudah disusun oleh pujangga saya yang bernama Empu Pulwa. karena paman hamba yang bernama Prabu Sugriwa itu diminta bantuannya oleh Batara Ramawijaya. jika sang wiku berkenan.dahulu menyerbu kerajaan Ngalengka. Prabu Jayapurusa gembira (dan) heran. keduanya menceritakan perjalanan hidup Prabu Ramawijaya dahulu. putra paman hamba yang bernama Prabu Subali di Guwakiskenda. oleh karena dahulu kala saya kedatangan Brahmana dari tanah Hindu. Kata Prabu Jayapurusa: "Hai Sang Maharsi Mayangkara kekasih dewata. makanya hamba menjadi senapati. sampai dua kali. sampai mangkatnya putra Prabu Ramawijaya yang bernama Prabu Batlawa di 36 Jumantara Vol.1 Tahun 2012 . sungguh sangat menyenangkan hati saya." Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kesediaannya. yang terakhir bernama Dhang Hyang Ilandhi. jadi semua bala tentara para raja kera semua mengiring Batara Ramawijaya ke negara Ngalengka. akan tetapi permintaanku hendaknya diuraikan sekaligus semua peristiwa yang terjadi di perjalanan. saya sangat gembira. sebab tidak mengetahui sendiri seperti halnya Sang Maharsi. kemudian menceritakan mulai dari negara Prabu Ramawijaya di Ngayudyapala. sebab barangkali ada penambahan lagi dari cerita dua brahmana dahulu itu. (sedangkan) yang menjadi keheranannya. maka seandainya sang wiku mau menceritakan perjalanan hidup Prabu Ramawijaya. bahkan pada waktu itu hamba juga sebagai senapati perang. gembira karena akan mendapat tambahan cerita kehidupan Prabu Ramawijaya. yang dahulu bernama Dhang Hyang Asuman. 3 No. jika peristiwa penyerbuan Batara Ramawijaya Ngayudyapala dahulu ke negara Ngalengka. Sang Resi Anoman berkata: "Duh-duh Pukulun Kanjeng Dewaji. bahwa usia Sang Maharsi Mayangkara demikian panjang. sesungguhnya hamba teringat semuanya. akan tetapi menurut pendapat saya nampak masih kurang lengkap ceritanya. jangan sampai ada cerita yang terlewat. semoga diceritakan semua tentang perjalanan hidup Prabu Ramawijaya dalam menyerbu negara Ngalengka dahulu. bersama adik sepupu hamba.

dan Raden Darmakusuma dengan Dewi Sasanti. karena ia akan bermenantukan Prabu Astradarma bersaudara. 3 No. Mendengar penjelasan itu. mengawali mengakhiri. Oleh karena itu. Pesta perkawinan mereka sangat meriah dan berlangsung selama setengah bulan.Duryapura dan Prabu Kusia di Ngayudyapala. Prabu Jayapurusa segera memerintahkan Raden Jayaamijaya untuk menangkap perusak kesusilaan di taman sari itu. Empu Pulwa menyatakan kesanggupan-nya. Akan tetapi. semua peristiwa sudah diceritakan. bahwa sebenarnya dialah yang menjadi pengatur pertemuan antara Prabu Astradarma bersaudara dengan ketiga putri raja. akan tetapi segera dicegah oleh Sang Maharsi Mayangkara.1 Tahun 2012 37 . Dalam pertempurannya melawan Prabu Astradarma maupun dengan Raden Darmasarana dan Raden Darmakusuma. Hal itu dilakukan atas perintah dewa agar menjadi perekat kembali persaudaraan raja dengan ketiga putra mendiang Prabu Sariwahana. Prabu Jayapurusa sangat gembira hatinya. Gadaksa dan Pradaksa telah kembali ke Jumantara Vol. Kemudian dilangsungkannyalah pesta perkawinan Dewi Pramesthi. Prabu Astradarma mengadakan pertemuan dengan Dewi Pramesthi. Raden Darmasarana dengan Dewi Pramuni. Prabu Jayapurusa bermaksud mau maju sendiri. Sang Maharsi Mayangkara mengeluarkan ketiga putra Yawastina untuk mengadakan pertemuan dengan ketiga putri Widarba. Prabu Jayapurusa mengawinkan Sang Maharsi Mayangkara dengan Dewi Pramesthi. pertemuan itu diketahui oleh seorang ĕmban „inang pengasuh‟ yang kemudian melaporkannya kepada Prabu Jayapurusa. Dewi Pramuni dan Dewi Sasanti dengan Prabu Astradarma bersaudara.) Beberapa waktu kemudian. Prabu Jayapurusa bergembira. kemudian semua dicacat. kemudian memerintahkan kepada Empu Pulwa untuk mengubah penyusunan cerita Ramawijaya seperti yang berdasarkan cerita dua brahmana dahulu. Sementara itu. Selanjutnya Sang Maharsi Mayangkara menjelaskan. Pada waktu malam pengantin tiba. ia kalah.

3 No. Bertepatan dengan itu nampaklah Sang Hyang Girinata bersemayam di atas kepala Prabu Jayapurusa. Dengan gada saktinya ia menggempur Sang Maharsi Mayangkara. kecuali Sang Maharsi Mayangkara. Sebelum Prabu Jayapurusa maju datanglah Sang Hyang Narada memberitahukan bahwa Prabu Yaksadewa adalah penjelmaan Sang Hyang Kala. Prabu Yaksadewa menjadi sangat marah. Sang Hyang Girinata menerangkan kepada Prabu Jayapurusa bahwa gugurnya Sang Maharsi Mayangkara memang sudah merupakan kehendak dewa. Raden Darmasarana dan Raden Darmakusuma segera menuntut bela. Prabu Yaksadewa sangat marah dan segera memerintahkan Patih Mohita untuk mempersiapkan pasukannya menyerbu ke Widarba. Dalam pertempuran yang dahsyat itu banyak perwira kerajaan Selauma gugur di tangan Sang Maharsi Mayangkara.1 Tahun 2012 . Prabu Jayapurusa sendiri mau melawan Prabu Yaksadewa. sedangkan gada saktinya adalah penjelmaan Sang Hyang Brahma. Kemudian Sang Hyang Narada menjelma menjadi gada sakti agar dapat dipakai Prabu Jayapurusa melawan gada sakti Prabu Yaksadewa. Sang Maharsi Mayangkara telah menjalankan kewajibannya di dunia dengan baik pada akhir hidupnya dengan mengawinkan ketiga putra mendiang Prabu Sariwahana (Yawstina) dengan ketiga putri Prabu Jayapurusa (Widarba). sedangkan gada saktinya menjelma menjadi Sang Hyang Brahma. Kedatangan pasukan Selauma disongsong oleh pasukan Widarba yang diperkuat oleh Sang Maharsi Mayangkara serta tiga putra Yawastina. Dalam pertempuran yang dahsyat maka Prabu Yaksadewa menjelma menjadi Sang Hyang Kala. Dalam pertempuran yang dahsyat itu Sang Maharsi Mayangkara gugur di medan laga. Patih Mohita mencoba melawannya tetapi ia pun gugur.kerajaan Selauma serta melaporkan hasil lamaran raja. Kemudian Sang Hyang Girinata memerintahkan Sang Hyang Narada untuk menghidupkan kembali mereka yang tewas dalam pertempuran itu. tetapi mereka pun gugur. Prabu Astradarma. Oleh karena itu sudah sepantasnya Sang Maharsi Mayangkara memperoleh anugerah dewa di surga. maju melawan Prabu Yaksadewa. Sang Hyang 38 Jumantara Vol. Sang Hyang Narada pun menjelma kembali.

Kala dan Sang Hyang Brahma segera menghidupkan kembali pasukan Widarba dan Selauma (Tedjowirawan. terutama sarjana-sarjana barat yang pada mulanya mengadakan penelitian atas karya-karya sastra Jawa Kuna. Rāmāyaņakathāsaramānjari oleh Ksemendra. Yasadipura I. 1985: 29-32). Kakawin Rāmāyaņa kemudian digubah menjadi Sĕrat Rama oleh R. Rāvaņavadha oleh Bhaţţi. Rāmācaritamanasa oleh Tulasi Dasa. Simpulan Cerita Rama (Rāma) pada mulanya digubah dalam bahasa Sanskerta oleh yogīndra Wālmīki.1 Tahun 2012 39 . Kamboja.000 tahun. maupun Jawa. R. sampai ia sendiri kembali ke surga setelah secara tidak langsung dijemput oleh Sang Hyang Kala (Prabu Yaksadewa) dan Sang Hyang Brahma. terutama di dalam Sĕrat Rukmawati. Uttara Rāma oleh Bhavabhutti. Yasadipura II menggubahnya menjadi Sĕrat Arjuna Sasrabahu. Kakawin Rāmāyaņa tersebut menjadi bahan perbincangan yang sangat ramai di antara para sarjana.Ng. Cerita Rāmāyaņa dari India tersebut kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Laos. Cerita Rāma ternyata ditemui juga jejaknya di dalam bagian Sĕrat Pustakaraja. Melayu. yang menjelma sebagai gada sakti senjata Sang Hyang Kala. Thailand. Janakīharaņa oleh Kumaradasa. Filipina. setelah melewati proses ritual (tapabrata) selama 1. Birma. Di Asia Tenggara cerita Rāma terdapat di Vietnam. misalnya: Raghuvangśa karya Kalidasa.Ng. jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara dikisahkan sendiri oleh Sang Maharsi Mayangkara (Anoman) yang pada waktu itu (jaman Kediri) masih hidup. Sĕrat Jumantara Vol. Dengan demikian. Penyair-penyair India lain pun kemudian mencoba membuat cerita Rāma–Sīta. sedangkan Sindusastra menggubahnya menjadi Sĕrat Arjuna Sasra dan Sĕrat Lokapala. Salah satu versi cerita Rāma dari India yaitu Rāvaņavadha karya Bhaţţi. 3 No. di Jawa kemudian digubah menjadi Kakawin Rāmāyaņa oleh pujangga yang belum ditetapkan secara pasti siapa nama sebenarnya.

Jogjakarta: Djurusan Sastra Djawa. C. Merunut Pupuh-pupuh Rama Djarwa Matjapat jang Bersumber dari Sarga II dan III Rāmāyaņa Kakawin (Tesis). Peristiwa gugurnya Sang Maharsi Mayangkara tersebut pada masa pemerintahan Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) di kerajaan Widarba (Kediri). 40 R. Penulisan Sejarah Jawa.Suktinawyasa. Dalam Sĕrat Rukmawati jejak cerita Rāma terutama terkait dengan prosesi ritual yang dilakukan Prabu Dasarata untuk memohon kelahiran putra penjelmaan Sang Hyang Wisnu (Rāma).Ng. Soepardi (Pengalih Huruf) (2007). Sĕrat Prabu Gĕndrayana II (46 B). melainkan hanya diangkat sebagai raja pendeta. Bahkan gugurnya Sang Maharsi Mayangkara dijemput oleh Sang Hyang Kala (Prabu Yaksadewa) dan Sang Hyang Brahma. Darusuprapta (1963). Sĕrat Paramayoga: Sĕrat Jumantara Vol. yang menjelma menjadi gada sakti Prabu Yaksadewa. (1981).C. Surakarta: Reksapustaka. Karyarujita. Sĕrat Prabu Gĕndrayana. Universitas Gadjah Mada. Daftar Pustaka Berg. jejak cerita Rāma tampak dengan tampilnya Sang Maharsi Mayangkara (Anoman). Hadisuparto. 3 No. Adapun dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara.1 Tahun 2012 . Pura Mangkunegaran Surakarta. Di dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana jejak cerita Rāma dikemukakan oleh Bagawan Danĕswara agar Prabu Gendrayana merelakan putranya yang masih sangat muda yaitu Raden Narayana (Jayabhaya) untuk dimintai bantuannya melenyapkan segala jenis hama tanaman yang menyerang sawah dan ladang para penduduk di wilayah Gunung Nilandusa (Wilis). Fakultas Sastra dan Kebudajaan. Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara. Dalam Sĕrat Suktinawyasa jejak cerita Rāma dikemukakan oleh Dhang Hyang Wikusalya kepada Rĕsi Abyasa agar tidak terlalu bersedih hati karena tidak diangkat menggantikan ayahandanya menjadi raja di Ngastina. Jakarta: Bharata. (1974).

Sĕrat Prabu Gĕndrayana I (46 A). “Runut Merunut Penulisan dan Penulis Kakawin Rāmāyaņa”. (1924). Th. Kepustakaan Djawa. (1910). (1997). (Pengalih Huruf) (2007). M. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud. The Hague: Martinus Nijhoff. Witaradya. Surakarta dan Yogyakarta: Yayasan "Mangadeg" dan Yayasan "Centhini". Sĕrat Witaradya I & II. Cetakan Kedua. _______. _______. Soetjipto. Th. Surakarta: Albert Rusche. Soemarso Pontjo. BKI 153-II. Alih Aksara Kamajaya.E. Cetakan Keempat. Poerbatjaraka. Sĕrat Ajipamasa. G. (1938). Pigeaud. _______. Sejarah dan Transformasi Jumantara Vol. K.1 Tahun 2012 41 . Literature of Java Vol. (1993). (1979). Depdikbud. (1967). "The Yasadipura Problem". Sĕrat Pustakaraja Purwa Jilid I – III. Mangkunegara IV (1914). Padmapuspita. Djakarta: Djambatan. Sĕrat Pustakaraja Purwa Jilid III.. 3 No. Pura Mangkunegaran Surakarta. _______. (1979). Ng. Alih Aksara dan Ringkasan oleh Sudibya. Djokdja: Boekhandel En Drukerij Kolf Buning. (1908). Ricklefs. Soerakarta: Albert Rusche. „Ramayana: Asal-usul.R. _______. R. Sĕrat Mayangkara. Tanojo. Solo: Boekhandel M.C. Hadji Pamoso Jilid I-X. Lampahan Jayapurusa. R. (1994). Makalah Ceramah. Semarang: Yayasan Studi Bahasa Jawa "Kanthil". Disalin oleh Soetomo W. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.H. Y. Ranggawarsita.M.. dkk. Z. dan Tardjan Hadidjaja (1957). Somvir (1998). Surakarta: Reksapustaka. _______. Ng. Yogyakarta: Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. Alih Aksara dan Alih Bahasa oleh Moelyono Sastronaryatmo.T. I.Kalĕmpaking Piwulang.

Procedings Seminar Internasional Aktualisasi Teks-teks Ranggawarsitan dalam Konteks 100 Tahun Kebangkitan Nasional dalam rangka Dies ke 62 Fakultas Ilmu Budaya UGM 16 Mei 2008. Sri Mulyono (1989). Naskah Sĕrat Gĕndrayana. Yogyakarta: Jurusan Sastra Nusantara. Rama Kathā. Zoetmulder. Analisis Struktural Serat Purusangkara.J. FPBS IKIP Yogyakarta. “Dari Gendrayana ke Bambang Sudarsana (Sebuah Suksesi Kepemimpinan di Ngastina menurut Teks-teks Pustakaraja Madya Karya Pujangga R. Prodi Sastra Jawa. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Wayang: Asal-usul. 3 No. Supomo (1961). Kalangwan. Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa. (1983). Manu Jayaatmaja (1998). Satu Kajian Pada Karya Sastra R. Naskah 157. Pengembangan dan Masa Depannya. Cetakan III. Jogjakarta: Fakultas Sastra dan Kebudajaan Universitas Gadjah Mada. Ranggawarsita: Sajian Teks-Terjemahan Pembahasan.1 Tahun 2012 . Serat Mayangkara Karya R. Anung (1985). Pengembangan dan Masa Depannya. Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa. Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi). Tedjowirawan. terjemahan Dick Hartaka.dari India ke Indonesia‟ dalam Ramayana. “Persebaran Rāmāyaņa di Asia Tenggara”. Ranggawarsita. FPBS IKIP Yogyakarta. Ng.Ng. Widyaseputra. Jakarta: CV. dalam Ramayana. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM. _______ (1986). Ng. Filsafat dan Masa Depannya. P. Ranggawarsita”. Surakarta: Museum 42 Jumantara Vol. Surjohudojo. Jakarta: Djambatan. Haji Masagung. _______ (2008).

Naskah Radyapustaka Surakarta. Sĕrat Prabu Gĕndrayana I. 3 No. Pura Mangkunegaran Surakarta. Sĕrat Prabu Gĕndrayana II.1 Tahun 2012 43 . Surakarta: Museum Radyapustaka Surakarta. Jumantara Vol. 155. Surakarta: Reksapustaka. Surakarta: Reksapustaka. Sĕrat Purusangkara. Naskah 153. Pura Mangkunegaran Surakarta. Naskah 46 A. Naskah 46 B. Surakarta: Museum Sĕrat Yudayana.Radyapustaka Surakarta.

dan mencari korelasi positif antara perilaku perempuan dalam teks dengan perempuan Aceh pada umumnya dalam kurun waktu masa lampau dan dewasa ini. 3 No. keluarga. *) Penulis adalah peneliti di Puslitbang Lektur – Balitbang Departemen Agama RI. Fokus utama penelitian ini tertuju kepada Siti Islam. Manuskrip Aceh. Konteks. menjelaskan tentang perilaku sosial lingkungan terhadap mereka. dan masyarakatnya.1 Tahun 2012 . Teks. Selanjutnya perbandingan teks dilakukan dengan manuskrip lain yang mengisahkan tentang perempuan lain bernama Siti Hazanah. Kata Kunci: Perempuan. yang dewasa ini sudah menjadi manuskrip. tokoh utama dalam sebuah manuskrip Aceh sekaligus menjadi judul dari manuskrip tersebut. 44 Jumantara Vol.Abstrak Penelitian ini mencoba menggali kembali ajaran dan praktik kehidupan sehari-hari perempuan Aceh dalam keluarga dan masyarakat yang dituangkan ke dalam tulisan pada masa lampau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami. yaitu Hikayat Siti Islam.

laki-laki yang menggunakan kekuatan dan kehebatan fisiknya untuk mencari kesenangan di bawah penderitaan isterinya. Di luar rumah. Kasus yang muncul di media masa dan televisi tidak jarang adalah kasus pelecehan dan perusakan kehormatan perempuan.1 Namun. Bahkan tidak jarang kepada kaum perempuan dibebankan segala tumpuan dan pekerjaan keluarga. fisik perempuan yang lemah. Sering perempuan mendapat perlakuan tidak seimbang dan bahkan melecehkan derajat dan kehormatannya. Perempuan diperlakukan seperti budak demi kepuasan kaum lakilaki. tidak berlebihan bila agama memperjuangkan hak perempuan dan bahkan menyamakannya dengan kaum laki-laki sesuai dengan fungsinya masing-masing. kadang disalahgunakan oleh lawan jenisnya. 2 Untuk penjelesan lebih rinci lihat Quraish Shihab. Ibn Arabi. dibalik fisik dan tenaganya yang lemah jika dibandingkan dengan kekuatan fisik laki-laki. sering perempuan dijadikan objek kesenangan laki-laki. sebagai tokoh sufi yang terkenal. Karena itu. Jumantara Vol. mulai dari mengurus rumah tangga hingga mencari nafkah di luar rumah. lihat Austin. mengurusi anak dan suaminya sendiri. karena di tangan merekalah terletak kekuasaan yang terselubung. 2005: 1-8. 2002: 220-222. 3 No. Mereka dapat memberikan inspirasi tertentu kepadanya. Dengan segala kelemahannya perempuan harus mengikuti perintah para suami. 2003:416-419 dan Azhari Noer. mengakui akan kehebatan yang dimiliki perempuan. Sayyidah Nizam adalah salah seorang perempuan yang disebutkan Ibn Arabi yang dapat memberikan inspirasi kepadanya untuk menulis sekumpulan puisi dan telah memberikan pengaruh spiritual yang dalam kepadanya.1 Tahun 2012 45 .2 Perempuan bukanlah diciptakan untuk 1 Untuk uraian lebih rinci tentang makna perempuan bagi Ibn Arabi. Sering terjadi permerkosaan dan perlakuan tidak senonoh dari para pecundang birahi.Pendahuluan Perempuan merupakan lambang keberhasilan dan kekuatan sebuah keluarga dan negara. Laki-laki dengan bangga menjadi suami atas keberhasilan isterinya mempertahankan keluarga untuk menutupi kebutuhan keluarganya.

misalnya. demi untuk mempertahankan saudara laki-lakinya bersekolah. (Q. Dari sisi lain. perempuan harus bersedia untuk tidak mengecap dan merasakan manisnya pendidikan formal.S.1 Tahun 2012 . menanam. tidak hanya berada di rumah melainkan juga di luar rumah. mulai dari mencabut. (Umar. Perempuan adalah sosok manusia yang hebat dan lemah. Di Bali3. para perempuan menjadi pekerja setia. kebebasan mereka diberikan untuk berjuang bersama kaum laki-laki untuk kepentingan agama dan bangsa. melainkan juga di luar rumah. para ibu-ibu menjadi pedagang paling dominan ketimbang para laki-laki. mulai dari menghadirkan dan menyiapkan makanan sampai mengurus anak dan suami. 3 No. 2000:16-17). perempuan juga menjadi tumpuan keluarga dan negara. misalnya. Di kalangan petani. sehingga sering disalahgunakan karena dua faktor tersebut.melengkapi hasrat dan keinginan laki-laki. Dalam Al-qur‟an disebutkan bahwa Segala sesuatu Kami menciptakan berpasangpasangan supaya kamu mengingat keesaan Allah. dijunjung oleh 3 Hasil Observasi dan wawancara langsung dengan sebagian penduduk Bali di Denpasar pada bulan Januari sampai April 1995. Mereka tidak hanya bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga untuk anak dan suami mereka. Di Aceh. Istilah inong balee. Sehingga dalam sejarah muncul srikandi-srikandi Aceh dengan berbagai istilah mereka sandang demi memperjuangkan agama dan negara. Dalam setiap suku yang ada di Indonesia. perempuan terlihat diberikan kebebasan dalam bergerak. Mereka harus rela melakukan apa saja untuk memperjuangkan saudara laki-lakinya dan suaminya sukses di luar rumah. hingga memanen padi. Tidak hanya itu. perlakuan terhadap perempuan hampir boleh dikatakan sama dan serupa. Di pasar. Dalam sejarah. melainkan untuk saling melengkapi. 46 Jumantara Vol. Perempuan harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga. AlZariyat:49). perempuan menjadi tonggak keluarga untuk keberhasilan sebuah rumah tangga.

Selanjutnya perbandingan teks dilakukan dengan manuskrip lain yang mengisahkan tentang perempuan lain bernama Siti Hazanah. keluarga. Fokus utama penelitian ini tertuju kepada Siti Islam. Selanjutnya tidak semua perempuan Aceh menjadi srikandi. Bagaimana tanggapan lingkungan terhadap mereka? 3. yang dewasa ini sudah menjadi manuskrip. Bagaimana kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami. Hal yang juga perlu dipertanyakan adalah apakah mereka mendapatkan kebebasan dan kehebatan seperti srikandi-srikandi yang telah harum namanya dalam sejarah. Sejauhmana korelasi positif antara perilaku perempuan Aceh dengan isi teks naskah? Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan kembali sejarah perempuan Aceh yang terdapat di dalam manuskrip.Malahayati dalam menggerakan kaumnya melawan Belanda dan mempertahankan agama. yaitu Hikayat Siti Islam. pertanyaan-pertanyaan yang dapat dirumuskan untuk penelitian ini adalah: 1. Penelitian ini mencoba menggali kembali ajaran dan praktik kehidupan sehari-hari perempuan Aceh dalam keluarga dan masyarakat yang dituangkan ke dalam tulisan pada masa lampau. masih perlu dipertanyakan apa yang dimaksud dengan kebebasan yang mereka miliki dan sejauh mana kebebasan tersebut didapatkan. 3 No.1 Tahun 2012 47 . tetapi juga terhadap perempuan-perempuan yang menjadi masyarakat biasa dalam kehidupan keluarga dan sosialnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pendorong saya untuk meneliti sejarah perempuan Aceh yang tidak hanya terfokus kepada para srikandi yang harum namanya dalam sejarah. Karena itu. Secara rinci tujuan tersebut adalah: Jumantara Vol. Nasib sebagian mereka tentu berbeda dengan srikandi-srikandi yang sudah harum namanya. dan masyarakatnya? 2. Meskipun demikian. tokoh utama dalam sebuah manuskrip Aceh sekaligus menjadi judul dari manuskrip tersebut.

1 Tahun 2012 . Khan dalam The Jewel Affair. Sher Banu A. sosial. Untuk mengetahui kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami. dan politik yang dijalankan oleh perempuan dalam posisi mereka di keluarga dan masyarakat yang lebih luas. Demikian juga halnya dengan penelitian khusus perempuan Aceh. Untuk mencari korelasi positif antara perilaku perempuan dalam teks dengan perempuan Aceh pada umumnya dalam kurun waktu masa lampau dan dewasa ini. Karena itu. Untuk menjelaskan tentang perilaku sosial lingkungan terhadap mereka. L. Dapat mengungkapkan kembali khazanah tentang perempuan pada masa silam melalui manuskrip. Dari sisi kajian terdahulu. (Reid. perempuan mendapatkan dua peran sekaligus. karya Anthony Reid Female in Southeast Asia.1. Sejarah sudah banyak berbicara tentang perempuan Aceh dari berbagai segi. Dapat menjadi referensi bagi peneliti khususnya yang bergelut dengan permasalahan gender. Dalam artikelnya. Hal ini ditemukan dalam berbagai peran ekonomi. 2. 3 No. dan masyarakatnya. 3. 2. keluarga. 1998). yaitu di dalam ekonomi dan politik. mulai dari kiprah mereka dalam politik sampai kepada kehidupan sosial. yaitu sebagai perempuan politisi dan ibu atau sebagai pedagang dan ibu. The Sultana. Di antara penelitian yang terkait dengan perempuan Aceh adalah. menunjukkan peran para sultanat sebagai perempuan dalam menjalankan 48 Jumantara Vol. Perempuan dalam kehidupan masa sekarang juga telah mendapat perhatian banyak peneliti untuk menelaahnya dari berbagai segi. Sedangkan manfaat dari penelitian ini diharapkan: 1. her Orang Kaya and the Dutch Foreign Envoys. penelitian terkait dengan perempuan sudah sangat banyak dilakukan oleh berbagai pihak. Reid menjelaskan bahwa terdapat kesetaraan perempuan di wilayah Asia Tenggara termasuk di dalamnya Aceh dengan kaum laki-laki dalam konteks yang memungkinkan keduanya bersaing secara langsung.

tugasnya sebagai pemimpin negara setelah Sultan Iskandar Tsani. khususnya Ratu Safiyatuddin dapat menjadikan barangbarang berharga. dan literatur. bukan untuk berfoya-foya. Ia menggunakan manuskrip Melayu kuno dan cerita lisan untuk menjelaskan gagasan kekuasaan perempuan dalam tradisi kemaharajaan. untuk kekayaan dan kepentingan kerajaan. Semua mereka berhasil dididik olehnya dan mereka kemudian menjadi penguasa negeri (imum tuha peut). menikah dengan Pangeran Salman. Haslinda dalam bukunya Perempuan Aceh Dalam Lintas Sejarah Abad VIII – XIX menjelaskan tentang keberhasilan perempuan dalam membangkitkan negara dan agama sekaligus juga menjadi tumpuan keluarganya. namun tidak pernah dihargai keberhasilannya karena hal tersebut sudah menjadi tugasnya. Syahir Pauli. Begitu juga dengan Putri Tansyir Dewi yang berasal dari Peureulak. Namun pada akhirnya bidadari tersebut harus menjadi agen kekuasaan para lelaki sebagai penguasa yang nyata. yang melalui mereka telah muncul kejayaan-kejayaan untuk sebuah kerajaan. telah mengelaborasi dan membuka khazanah penafsiran mengenai sejarah politik perempuan di Aceh. semacam bidadari atau peri dari antah berantah. (Siapno. 2011). Cooptation and Resitance dengan menggunakan metode sejarah. perempuan dijadikan sebagai orang yang mampu melakukan segalanya. dan Syahir Tanwi. Ia adalah ibu dari Sayid Maulana Abdul Aziz. Syahir Dauli. (Khan. yang memiliki kesaktian dan kekuasaan. Mereka. Demikian juga dalam cerita tradisi lisan. adalah salah satu contoh perempuan yang diutarakannya. Mereka dianugerahi empat orang anak Syahir Nuwi. seperti intan permata. 2002).1 Tahun 2012 49 . yang dikenal sebagai pendiri kerajan Jumantara Vol. Dalam manuskrip yang menceritakan Putri Betung. Nationalism and the State in Aceh: The Paradox of Power. Ia adalah putri Istana Jeumpa. 3 No. Jacqueline Aquino Siapno dalam karyanya Gender. Islam. ia menemukan narasi yang mengedepankan perempuan supernatural. Putri Mayang Seuludang. Ia menjelaskan tentang peran perempuan dalam sejarah. etnografi.

1 Tahun 2012 . filologi dan kodikologi yang diperuntukkan pada kajian isi dan fisik naskah tersebut. Keempat. 2008). 50 Jumantara Vol. Karena itu. Penelitian ini mencoba mengisi kekosongan tersebut. sehingga direct participant ke dalam masyarakat dalam waktu yang relatif lama dan in depth interview dapat dilaksanakan dengan cermat dan teliti. pendekatan intertekstual digunakan untuk membandingkan teks naskah yang menjadi fokus kajian ini dengan teks sejenis guna untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan topik kajian. pertama. (Haslinda. Penelitian ini berbentuk library research dengan model pendekatan kualitatif. dapat dilihat bahwa hanya Siapno yang menggunakan manuskrip sebagai salah satu sumber rujukan utamanya. Namun demikian. 3 No. Ketiga. Siapno hanya menfokuskan kajian tentang perempuan yang berkaitan dengan tradisi kemaharajaan pada masa awal Islam. Untuk melihat dan mendiskusikan perkembangan budaya pada masa sekarang dan relevansinya dengan teks naskah. dapat disimpulkan bahwa penelitian tentang aktivitas perempuan dalam kehidupan sehari-hari dan ajaran yang berlaku padanya dengan berlandaskan manuskrip belum ada yang melakukan. Untuk menelaah dua naskah yang menjadi sasaran penelitian ini perlu digunakan pendekatan interdisipliner. pendekatan sejarah sosial digunakan untuk mengetahui konteks latar belakang muncul dan keberadaan naskah yang dikaji dan tentang refleksi perempuan Aceh dalam sejarah secara umum serta fakta yang ada dewasa ini. yaitu dengan fokus kajian pada manuskrip yang diperkirakan ditulis pada abad ke-18 dan 19M. yaitu budaya perempuan Aceh dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.Islam Perlak pada tahun 840M. maka pendekatan antropologi menjadi penting. pendekatan antropologi. Dari penelitian-penelitian di atas. Kedua.

Naskah ini memiliki ukuran 16X22 cm. dan blok teksnya berukuran 10X16 cm. karena Buku Heawood dan Churchill hanya memuat daftar watermark dan countermark yang berkisar antara abad ke-17 dan 18M. 1935. diperkirakan naskah ini ditulis sekitar abad ke-19M. Aceh. cap air seperti ini tidak dapat diidentifikasi tahunnya. Pidie. 1986:84. kemungkinan karena teks naskah ini berbentuk cerita. Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI pada tahun 2010. sehingga tidak ada kata-kata yang perlu ada penekanan maknanya. tidak diketahui siapa pengarangnya. sedangkan iluminasi serta ilustrasi juga tidak diketemukan. Naskah berjudul Hikayat Siti Islam ini.4 Tidak terdapat bagian halaman yang kosong dalam naskah ini. Naskah ini kemudian didigitalkan oleh Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan. Alas tulis naskah ini adalah kertas Eropa yang memiliki cap air berbentuk bulan sabit dalam bentuk wajah manusia dilingkari pagar atau yang dalam bahasa Inggris disebut dengan moonface in shield. yaitu berbentuk sajak dan berbait-bait atau puisi. sehingga ia menyatakan bahwa kertas yang ber-watermark seperti di atas besar kemungkinan diproduksi pada waktu modern. Jumantara Vol. Tidak ada rubrikasi dalam teks. Berdasarkan cap airnya. Lihat Heawood. 3 No. 4 Menurut Heawood. yang mungkin saja memuat informasi tentang pengarangnya. Kemungkinan besar tahun produksinya setelah abad ke-18M. seorang masyarakat Aceh yang berdomisili di Dayah Tanoh. Tinta yang digunakan untuk menulis teks berwarna hitam.1 Tahun 2012 51 . karena ada beberapa halaman akhir telah hilang. Churchill.Kiprah Perempuan dalam Manuskrip Tentang Manuskrip Siti Islam Deskripsi Naskah ini dikoleksi oleh Ampon Hasballah Dayah Tanoh. Naskah ditulis dalam bentuk hikayat.

Naskah Siti Islam Teks naskah ditulis dengan menggunakan bahasa Arab dan Aceh.. Naskah ini tidak memiliki kolofon. karena lembaran akhir sudah hilang. na si‟at teuka si Nyak Ti dara agam taphôm makna 52 Jumantara Vol. beraksara Arab dan Jawi.1 Tahun 2012 . Cerita ini diberitakannya terjadi pada masa Rasulullah masih hidup. Nyoe calitera nabi Muhammad soe yang ingat raya bahgia . Dalam persinggahannya ia mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak yang mendengarkan ceritanya. Ia mengambil cerita ini dari Arab.. Ringkasan Isi Naskah ini berisi cerita (hikayat) fiktif dengan diiringi berita dari si pengarang terlebih dahulu.. sebagaimana disebutkan dalam teks: Nyoe hikayat Siti Islam . kemudian singgah di beberapa negara dan di beberapa tempat di Aceh. 3 No. hingga sampai di kampung halamannya. Empat halaman pertama digunakan pengarang khusus untuk mengungkapkan bahwa cerita yang ditulisnya sangat diharapkan oleh siapa pun di dunia ini..

yaitu: pertama.Rupa jieh sa hana macam That taqwa uroe malam Terjemahan: Ini [hikayat ini diberi nama dengan] Hikayat Siti Islam… Ti Islam nan keurasoe hana macam that bakti Agar laki-laki dan perempuan yang masih muda dapat memahami artinya Siapa yang [mau] mengingatkannya sangat besar kesenangan Sebentar setelah itu datanglah Nyak Ti Ini cerita [masa] Nabi Muhammad… Wajahnya cantik tiada banding Sangat takwa [kepada Tuhan] siang dan malam Ti Islam namanya dipanggil Tiada ada tandingan sangat berbakti Cerita ini memiliki tiga tokoh utama. maka para perempuan akan menerima azab balasannya di hari akhirat. Pada awalnya. dan melayani suami. Nabi sebagai tokoh yang dapat memecahkan dan mengatasi segala persoalan. Pengajaran dan bimbingan diberikan langsung oleh Nabi dan tertuju kepada Siti Islam sebagai tokoh utama dalam cerita ini. Jumantara Vol. Cerita dalam naskah ini menggambarkan cara hidup seorang perempuan pada masa Nabi yang bernama Siti Islam. kedua. Bila tidak demikian. 3 No. dan penurut. yang melindungi dan menguasai Siti Islam dalam hidupnya setelah berumah tangga. dan ketiga. patuh. suami Siti Islam. Rajawali. Siti Islam yang digambarkan sebagai tokoh perempuan yang taat. diceritakan terlebih dahulu segala hal yang terkait dengan pengajaran terhadap perempuan dalam menghadapi suami dan rumah tangga. Nabi memberitahu bahwa perilaku wanita yang baik menurut agama adalah harus patuh.1 Tahun 2012 53 . penurut.

laki-laki yang berhubungan dengan perempuan tersebut di luar nikah akan mendapat hukuman yang sama. Lom jibeudeh ineng ceulaka Trôh bak bahoe jiduek ineng Nibak agam meunoe jitanyeng Dilee galak keu lôn sidroe Oh han lôn tem yôh saboh uroe Terjemahan: Suami yang celaka Menangis selalu si isteri Azab pedih tidak dapat dikatakan Duduk tidur berjalan berdiri .1 Tahun 2012 . bahkan mencari orang lain sebagai tempat pelariannya.Nabi kemudian menjelaskan tentang perempuan yang membangkang dan tidak menjaga hubungan baik dengan suami. Bagi mereka disediakan siksa yang sangat pedih di hari akhirat. 3 No.. Begitu juga sebaliknya. Lalu bangun perempuan yang celaka Lalu di bahunya duduklah perempuan Pada laki-laki begini ditanyakan Dulu engkau suka kepada saya seorang Ketika saya tidak mau pada azeub siksa hana lawan nam plôh limeng tujôh lapan deungen ineng man saboh kawan lethat ineng jimoe sajan agam jiwa nibak badan jitanyeng meunoe lakuan lee ineng soe rimueng kuran lam taki-taki uroe malam meudeh meunoe lôn ta padan azab siksa tiada lawan enam puluh lima tujuh delapan dengan isteri sebuah kelompok banyak sekali isteri menangis laki-laki dipeluk badannya ditanyakannya apakah begini balasan oleh perempuan dengan suara harimau engkau bohongi siang malam berbagai cara engkau rayu aku 54 Jumantara Vol... Contoh dalam teks: Ureung lakoe yang celaka Jimoe sabee ureung ineng Azeub peudeh han pue tanyeng Jiduek ji eh ji jak ji deng ..

3 No. Disebutkan dalam teks sebagai berikut: hancô hutak lheuh ngen gaki teumar meuwolom misei suboh meunan azeub barang jan masa malam Jumu‟at yang na reuda la‟en nibak nyan buleun puasa la‟en nibaknya hana reuda Terjemahan: Hancur otak lepas kaki Lalu kembali seperti semula Begitulah azab sepanjang masa [Cuma] Malam Jumat yang reda [tidak disiksa] Selain itu pada bulan puasa Selain itu tidak perlah lekang dari siksaan tuleung ngen asoe jeut ka karam lom geusipak hana macam hana reuda uroe malam hana siksa ineng agam yang na reuda Ti Islam jih lam siksa hana macam tulang dan daging sudah tiada lalu disepak lagi dengan sangat keras tiada reda siang dan malam tidak disiksa laki-laki dan perempuan yang tidak disiksa [hai] Ti Islam mereka dalam siksa tiada tara Setelah mendapatkan pengajaran yang demikian panjang lebar.1 Tahun 2012 55 .satu hari Siksa yang akan dialami oleh mereka yang tidak patuh kepada suami dan berselingkuh dengan laki-laki lain tidak akan pernah berhenti. kepada Siti Islam kemudian diajarkan tentang bagaimana seharusnya kehidupan seorang isteri terhadap suami dalam berumah tangga. Nabi menjelaskan panjang lebar tentang ciri-ciri isteri yang baik yang dapat membawa kebahagiaan dunia dan akhirat serta akan mendapat balasan surga di akhirat. Seorang perempuan harus tunduk dan patuh kepada suaminya serta menjaga keharmonisan rumah tangga sesuai aturan agama. karena Jumantara Vol. kecuali pada hari Jumat dan bulan Ramadan.

si isteri harus selalu mencium lututnya dengan wajah tersenyum. Ia terus mendesak Nabi untuk menceritakan segala hal yang 56 Jumantara Vol. Contoh teks: Oh woe lakoe geunap seupôt côm bak tu‟ôt barangkajan Terjemahan: Ketika pulang suami di waktu sore cium di lutut kapan saja Nabi juga menjelaskan bahwa seorang isteri harus menjadikan suaminya sebagai guru dan tempat belajar. Kalaupun tidak bisa seperti itu.1 Tahun 2012 . Lam syuruga wahe Nyak Ti Diyub tapak gaki suami Terjemahan: Dalam surga wahai Nyak Ti Di bawah telapak kaki suami diyub gaki ureung agam ta deunge hai meunoe kalam di bawah kaki laki-laki dengarkanlah kalam seperti ini Sebagai contoh.surga berada di bawah telapak kaki suami. maka isteri harus minta izin kepada suami untuk mencari ilmu kepada ulama: Teumar guree nibak lakoe Adat banta lakoe gata Lake izin nibak lakoe Beuna izin nibak lakoe tameureunoe kebajikan bak ulama taberjalan suara bandum ban meunisan jak meureunoe iluemee Tuhan Terjemahan: Lalu bergurulah kepada suami belajarlah kebajikan padanya Bila suami anda tidak bisa kepada ulama engkau pergi Minta izin kepada suami suara dan tingkah laku semuanya harus manis Harus ada izin dari suami pergi menuntut ilmu Tuhan Siti Islam dengan tekun dan penuh khidmat mengikuti ajaran Nabi. 3 No. setiap kali suami pulang.

Siti Islam menyerahkan dan mengabdikan dirinya secara penuh kepada suaminya tanpa ada rasa penolakan sedikit pun. Nabi menjawab bahwa tindakan Siti Islam adalah benar. Tidak boleh sama sekali berjalan bila tidak dengan seizin suami. Pada suatu hari.terkait dengan kehidupan isteri dan suami serta akibat-akibatnya. namun dia tidak berani pulang ke rumah orang tuanya. Semua harta dan barangnya dititipkan kepada Siti Islam. Mungkin pasarnya jauh di negeri lain. orang tua Siti Islam sakit keras. Jumantara Vol. karena anaknya yang taat kepada suaminya. Atas petunjuk Nabi. karena takut tidak mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam rumah tangga. Dalam menjalani rumah tangga bersama suaminya. Siti Islam pada awalnya tidak berniat untuk menikah. ia akhirnya menikah dengan seorang anak Sultan yang bernama Rajawali. Siti Islam kemudian menerapkan segala ajaran dan bimbingan Nabi saw yang telah didapatnya. Ia adalah sosok perempuan yang patuh secara mutlak terhadap ajaran Nabi. Karena harus menjunjung tinggi amanah suaminya. Ketika suaminya pulang. 3 No. Siti Islam memutuskan untuk tidak pergi melihat orang tuanya. Rajawali berniat hendak pergi jauh keluar wilayah kerajaannya karena ada urusan penting yang harus diselesaikan. Rajawali kemudian mengatakan bahwa Siti Islam dilarang keluar rumah sebelum ia pulang. Dalam membangun dan mempertahankan rumah tangganya. termasuk untuk keluar rumah. Orang tuanya pun meninggal. Siti Islam menceritakan kepada 5 Dalam teks disebutkan bahwa keluar rumah menuju pasar membutuhkan waktu cukup lama. Siti Islam sangat sedih mendengar berita tersebut. Di tengah-tengah pejalanan suaminya keluar kota5. Ia tidak pernah berani bertindak tanpa seizin suami. Ia kembali pergi ke tempat Nabi dan bertanya tentang masalah yang dihadapinya. Nabi memperingatkan agar Siti Islam tidak luput memperhatikan rambu-rambu yang perlu ditaati sebagai seorang isteri nantinya.1 Tahun 2012 57 . Dikatakan oleh Nabi bahwa Siti Islam akan mendapat pahala yang besar dengan sikap tersebut dan orang tuanya akan berada di tempat yang baik.

Mereka berdua diharapkan selalu berdoa untuk orang tuanya dan bersedakah untuknya. Ibunya kemudian mewasiatkan kepada Siti Islam agar ia tetap menjaga dan menghormati perintah dan larangan suaminya. ia mengeluarkan hartanya untuk memberi makan fakir miskin dan rakyat untuk mengharapkan pahala bagi orang tua isterinya. 3 No. Suaminya kemudian menjawab bahwa. Siti Islam dan Rajawali. Setelah ibunya meninggal. karena pada tahun 2003 telah dicopy dan dibuat edisinya oleh Fakhriati atas dukungan dari Program 58 Jumantara Vol. Ternyata ibunda Siti Islam masih hidup dan dalam keadaan sakit parah. Akhirnya keduanya. Meskipun naskah asli tidak ada lagi.1 Tahun 2012 . Dengan sukarela. Nabi menjawab bahwa tindakan mereka adalah pekerjaan yang terpuji. Setelah itu. ia sebenarnya mengizinkan Siti Islam pulang ke rumah orang tuanya untuk melihat mereka yang sedang sekarat. Ibu dan ayah Siti Islam berbahagia di dalam kubur dan dapat merasakan kebaikan kedua anaknya. tetapi kopi naskah tersedia. kembali kepada Nabi untuk berkonsultasi tentang balasan dari apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang harus mereka lakukan setelah ibunya meninggal. Sebelumnya naskah ini dikoleksi oleh Sulaiman di Aceh Besar. termasuk gedungnya yang juga menyimpan sejumlah naskah Aceh lainnya. namun ayahnya sudah tiada.suaminya tentang peristiwa yang sudah terjadi selama suaminya tidak ada di rumah. Rajawali menggerakan rakyatnya untuk mengadakan kenduri selama tujuh hari tujuh malam. pulang ke tempat orang tuanya. Siti Islam dan Rajawali. untuk segala hal yang terkait dengan orang tua.6 Naskah ini dapat 6 Naskah ini sudah musnah akibat tsunami pada tahun 2004. Bandingan dengan naskah Siti Hazanah Deskripsi Naskah ini adalah koleksi Balai Kajian Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional Aceh di Banda Aceh sebelum terjadi Tsunami tahun 2004 dengan nomor invetaris 007/NK/1998. Mereka bertiga sangat sedih dan jatuh dalam pelukan kerinduan dan keterharuan.

Tulisan naskah berbentuk nastaklik dengan menggunakan tinta hitam untuk penulisan secara umum dan rubrikasi untuk penekanan pada kata-kata tertentu. kecuali kuras ketiga yang terdiri dari tujuh lembar. Di beberapa halaman awal teks memang ditulis tentang kehidupan penggalakan Sumber-sumber Tertulis Nusantara. Naskah ini memiliki ilustrasi dan iluminasi dalam bentuk bunga sulur. Sedangkan halamannya berjumlah 46 halaman dan setiap halaman terdiri dari 21 baris. 2011. 3 No. Alas tulisnya adalah kertas Eropa dengan ciri bergaris tebal dan halus dengan bayang-bayang di antaranya.mungkin dapat dikatakan sebagai kolofon – yang memberikan informasi tentang nama pengarang dan judul naskah. 7 Sebutan nama orang berdasarkan nama tempat bisa bermakna tempat ia berasal atau kepopulerannya dalam berkarier. Namun demikian tidak terlihat watermark dan countermark di atas garis-garis tersebut. Namun demikian pada halaman awal terdapat tulisan dalam bentuk pyramid -. karena teks naskah ini bercerita lebih banyak dan lebih dominan tentang kisah Siti Hazanah dalam mengarungi kehidupannya di dunia. Ada kemungkinan bahwa salah satu lembar naskah ini telah hilang. Namun demikian.7 Naskah Siti Hazanah berukuran 26x17 cm dan ukuran teks 24x16cm dengan jumlah baris 20 dan 21 pada tiap halaman. 8 Untuk diskusi tentang jenis-jenis kertas Eropa dan watermarknya dapat dibaca dalam makalah Fakhriati. ternyata naskah ini lebih layak diberi judul Kisah Siti Hazanah. yang masing-masing kuras terdiri dari delapan lembar. yaitu Hikayat Abdurrahman. kemungkinan karena halamannya yang sudah hilang. Jumantara Vol. Dari jenis kertasnya. dapat diprediksi bahwa umur naskah ini berkisar antara abad ke-19M.1 Tahun 2012 59 . FIB-UI.8 Naskah ini terdiri dari tiga kuras. Terkait dengan judul naskah.dikatakan berasal dari Aceh Besar karena pengarangnya bernama Teungku Lam Ba‟it berasal dari Aceh Besar. setelah dibaca isinya. gaya tulisannya terlihat agak berbeda dengan tulisan di teks utama. Naskah Siti Hazanah ini tidak memiliki kolofon di akhir teks.

yaitu Teungku Ahmad Qusyasyi. Nama tokoh Ahmad Qusyasyi menjadi populer di kalangan masyarakat Aceh sejak diketahui bahwa Tarekat Syattariyah merupakan tarekat yang paling populer di Aceh. 3 No. Mekkah. ia bertemu dengan seorang laki-laki. Pidie. Setelah tumbuh besar. yaitu di dalam hutan. Abdurrahman. Sejak lahir. Sama seperti Siti Islam. Dalam kehidupan rumah tangganya.orang tua Siti Hazanah. Selanjutnya ia menghadapi berbagai macam rintangan dan tantangan selama ditinggalkan suaminya ke tanah suci (Mekkah). Siti Hazanah menyerahkan hidupnya untuk beribadah dan untuk suaminya. Siti Hazanah juga menghormati suaminya dengan 9 Ahmad Qusyasyi adalah guru tarekat Syattariyah Abdurrauf al-Fansuri dari Arab.1 Tahun 2012 . Ia dipelihara oleh malaikat dengan berpakaian dedaunan. 2008). karena Teungku berkehendak pergi ke Mekkah. Nanggroe Aceh Darussalam). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Ahmad Qusyasyi adalah tokoh yang populer bagi masyarakat Aceh. Pada masa ini. Ringkasan Isi Teks naskah ini menceritakan tentang kehidupan Siti Hazanah yang sejak kecil berada dalam kesendirian dan kesepian setelah ditinggal wafat kedua orang tuanya. Siti Hazanah sudah hidup sendirian dan hanya berteman dengan binatang di dalam hutan. Mereka kemudian hidup bersama dalam kekurangan di tempat yang jauh dari jangkauan manusia. (lihat Fakhriati. yang bertemu dan kemudian menikah dengan isterinya. 60 Jumantara Vol. Siti Hazanah tumbuh dan berkembang menjadi seorang gadis. dan melayani suaminya. menambah pengetahuan agama. nama Ahmad Qusyasyi juga didapatkan di dalam naskah-naskah lain seperti Sarakata „surat raja-raja di Aceh‟. Teungku tersebut tertarik melihat tingkah laku Siti Hazanah sehingga ia ingin menikahinya. Waktu luangnya hanya digunakan untuk bertafakkur. (lihat misalnya Sarakata uleebalang Cut Nyak Manfarijah yang berdomisili di Dayah Tanoh. Selain itu. ia menikah dengan Teungku Ahmad Qusyasyi9 dan hidup dalam rumah tangga yang mawaddah dan rahmah. Siti Hazanah menyetujui menikah dengannya dan hidup bersama dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Siti Hazanah juga ditinggal pergi oleh suaminya. Ketika berjalan menelusuri hutan dalam kesendirian. Siti Hazanah mendapat cobaaan yang cukup berat. ia kemudian mendapat pembelaan yang tidak diduga-duga. Disebutkan dalam teks: Teungku Syekh neurah gaki Terjemahan: Setelah Teungku Syekh mencuci kakinya tuan Siti seumah lee reujang tuan Siti langsung menyembah di lututnya Sama seperti Siti Islam. Karena keteguhan dan kesufiannya. Ia harus menderita karena siksaan masyarakat sekitar akibat ulah saudara suaminya.. Ketika suami Siti Hazanah pergi ke Mekkah. Tanpa goyah sedikit pun dalam hati. Tidak ada celah sedikit pun untuk orang lain bisa masuk untuk mengganggunya. namun suaminya tidak berpesan seperti pesan suami Siti Islam. ia mendapat sambutan hangat dan kasih sayang dari binatang-binatang.mencium lutut suaminya ketika ia pulang dari bepergian. Ia kemudian mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya membela kebenaran dan Jumantara Vol.1 Tahun 2012 61 . 3 No. Siti Hazanah mempertahankan dan memperjuangkan nama baik suami dan kehormatannya semaksimal mungkin. ia hanya mengatakan: Lon keubah gata ubak Allah Terjemahan: Saya titipkan kamu pada Allah saya akan kembali dalam waktu dekat lon jak langkah rijang keunoe Pada masa ditinggalkan suami. Saudara dari pihak suaminya berusaha menggangu kehormatannya.

Seorang perempuan harus menjadikan suami sebagai guru dan imam dalam hidupnya. Seorang perempuan harus mendahulukan kepentingan suami dari pada kepentingan orang tuanya. Meskipun demikian.menjaga kehormatan suaminya. karena syurga berada di bawah telapak kaki suami. Bila tidak berlaku atau bersikap seperti di atas. pesan yang dapat diambil adalah: 1) Seorang makhluk Allah. namun dia juga diperkenankan untuk menyisihkan waktu untuk kepentingan pribadinya dalam hal beribadah kepada Allah SWT. dalam kehidupan praktis yang dialami kedua perempuan tersebut.1 Tahun 2012 . 2) 3) 4) 5) Sementara dalam naskah Siti Hazanah. Pengarang menekankan akan pentingnya seorang perempuan berperilaku sesuai dengan tuntunan ajaran Islam agar mendapatkan kebahagiaan ukhrawi dan disenangi oleh suami. Dalam naskah Hikayat Siti Islam. maka azab akan menimpanya di hari kiamat tanpa henti. khususnya perempuan. 62 Jumantara Vol. Pesan-Pesan dalam Teks Dalam kedua teks yang terdapat dalam dua naskah di atas terdapat pesan bahwa hendaknya seorang perempuan dalam mengarungi rumah tangga dan menghadapi masyarakat sekeliling harus sesuai dengan ajaran Islam dan tuntunan Nabi. harus melayani suami dengan baik. kecuali pada hari Jum‟at dan bulan Ramadan. 3 No. terdapat beberapa perbedaan pesan yang dapat dipetik. pesan yang dapat dipetik adalah: 1) Seorang perempuan harus benar-benar tunduk dan patuh kepada suami. Tugas seorang perempuan sepenuhnya melayani suami kapan pun dan dimana pun.

sehingga ia dapat menerapkan segala bentuk pengajaran dari Nabi yang didapatkannya sebelum menikah. Siti Islam berada dalam lingkungan yang menganut budaya patrilineal. Siti Islam harus mengalami kesedihan dan kehancuran hati karena tidak dapat bertemu dengan orangtuanya yang sedang sekarat. yaitu seorang isteri harus berada penuh di bawah naungan dan pengawasan suami. Demikian juga dengan suaminya. lingkungan Siti Islam sangat mendukung kehidupan dan perilaku Siti Islam yang telah dibentuk sebelumnya. Isteri tidak dibenarkan keluar dari pantauan dan pengawasan suami sedikit pun. 3 No. Perilaku Lingkungan Siti Islam dan Siti Hazanah Lingkungan Siti Islam yang tersebut dalam naskah pertama berbeda dengan lingkungan Siti Hazanah dalam naskah kedua. Ia memberikan peluang kepada Siti Islam untuk menjaga hartanya. meskipun ia harus menahan hatinya untuk tidak menjenguk orang tuanya yang sakit. Siti Islam selalu menjunjung tinggi pesan-pesan suaminya. hanya disebabkan belum ada izin suaminya untuk pergi ke rumah orang tuanya. terutama kepada orang tuanya. Ia menghormati dan melayani suaminya sebagaimana diajarkan Nabi.1 Tahun 2012 63 . Seorang perempuan diharapkan dapat mencapai tujuan hidupnya yang utama. Ia sangat sayang kepada Siti Islam sebagai isteri yang sangat baik baginya. Seorang perempuan harus mampu menjaga kehormatan dirinya. Jumantara Vol.2) 3) 4) Seorang perempuan harus bisa berperilaku baik kepada kepada suami dan kepada siapa pun makhluk Allah yang ada di dunia. meskipun berada dalam lingkungan yang tidak mendukung kepadanya. yaitu mencapai tingkat yang paling tinggi dalam kesufian berupa makrifatullah. dan sekaligus berbuat baik kepada orang lain. Siti Islam benar-benar taat kepada perintah suaminya. Siti Islam mendapatkan seorang suami yang kaya dan berpendidikan agama yang tinggi. Meskipun demikian.

seluruh masyarakat dan rakyat yang ada di wilayah tempat tinggal Siti Islam dan suaminya membantu dan saling bahu. dikarenakan belum adanya izin suami.1 Tahun 2012 . Karena itu. karena belum ada izin suaminya. tidak menjadi larangannya. Hal ini terjadi karena suami Siti Islam sendiri adalah raja yang berhasil memimpin umatnya. 3 No. namun Siti Islam tidak berani keluar rumah. ibunya tidak keberatan bila Siti Islam tidak menjenguknya. Pelayanan yang sempurna kepada suami sangat ditekankan oleh orang tuanya. Kondisi masyarakat luas lainnya yang berada di lingkungan Siti Islam juga sangat mendukung kehidupan dan perilaku Siti Islam dan suaminya.Hal ini dapat dilihat ketika ia mendengar keluhan Siti Islam tentang orang tuanya yang sedang sakit.membahu mensukseskan acara tersebut. Berbeda dengan lingkungan Siti Islam. 64 Jumantara Vol. Siti Hazanah mendapat kesempatan untuk keluar rumah dan mempertahankan dirinya sebagai perempuan suci di hadapan masyarakat luas. Ketika mereka berdua harus melaksanakan ritual atas meninggalnya orang tua Siti Islam. Suaminya memberitahu Siti Islam bahwa untuk berkunjung kepada orang tua. kapan dan di mana pun. Di dalam teks disebutkan: Meunyo tawoe saket umi Hana lôn tham saket umi Terjemahan: Bila engkau pulang untuk lihat ibu sakit Tidak saya larang pada sakit umi selama lôn bri wahe Intan geugrak pakri hai buleun trang selamanya saya izinkan pergi saja hai Bulan terang Ibu Siti Islam juga memberi dukungan penuh kepadanya agar selalu setia kepada suami. Ia bahkan mampu menyendiri ke hutan untuk mencari ketenangan hidup dan mencapai tujuan kesufian tingkat terakhir. sehingga mereka pun dapat hidup dalam rumah tangga yang mawaddah dan rahmah.

suami Siti Hazanah sangat sayang kepada isterinya. Tanggapan masyarakat menjadi keliru terhadap Siti Hazanah. Lingkungan di hutan yang terdiri dari berbagai macam binatang sangat sayang kepada Siti Hazanah. Ia memberikan kebutuhan isterinya dalam berbagai sisi. Isi naskah Hikayat Siti Islam diperuntukkan kepada Jumantara Vol. Adik suaminya berani mengganggu Siti Hazanah yang sedang sendirian karena ditinggal suami untuk pergi haji. ia pun dengan beraninya menjelekkan dan memfitnah Siti Hazanah di hadapan masyarakat luas. keluarga. Segala fitnah dan penyiksaan dari masyarakat luas ditimpakan kepada Siti Hazanah. Siti Hazanah menerimanya dengan penuh kesabaran dan ketabahan. 3 No. Siti Hazanah akhirnya memutuskan untuk keluar dari kampung tersebut dan pergi menyendiri di hutan serta berpisah dengan suaminya.Meskipun demikian. termasuk kebutuhan untuk beribadah. Di satu sisi. Di sisi lain. Mereka bahu membahu memberi bantuan dan perlindungan kepada Siti Hazanah. Lifestyle Perempuan Aceh Dan Isi Teks Dua naskah di atas memberikan gambaran dan pengajaran kepada perempuan Aceh dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Karena tidak berhasil untuk mengotori kehormatan Siti Hazanah. Siti Hazanah hidup dalam lingkungan yang kurang menguntungkan bagi dirinya. yaitu makrifatullah. terutama suami mereka. keluarga suaminya tidak menghargai Siti Hazanah sebagai bagian dari keluarganya yang perlu dilindungi dan dijaga kehormatannya. Naskah ini juga menunjukkan bahwa salah satu ciri perempuan Aceh adalah patuh kepada ajaran agama dan tangguh menghadapi segala cobaan dan rintangan.1 Tahun 2012 65 . dan masyarakat. namun sebagai manusia ia memiliki keterbatasan. sehingga Siti Hazanah mendapatkan ketenangan hidup. Ia dapat menjalankan ibadah dengan baik sampai akhirnya ia mendapatkan derajat paling tinggi dalam kesufiannya.

Pada intinya. ketika menjumpai guru pulang dari Mekkah. tradisi ini masih berlaku hingga sekarang. Tradisi tersebut juga diberlakukan kepada orang yang patut dihormati. agar dapat dicontoh oleh perempuan Aceh pada umumnya. Tradisi yang masih sangat jelas dilihat di Aceh adalah tradisi mencium lutut ketika suami pulang dan datang dari jauh atau pada hari-hari tertentu. terutama dengan suami diuraikan secara detail. mereka juga membaca kitab-kitab lain. Pidie. 66 Jumantara Vol. misalnya guru mereka. hal seperti yang diungkapkan dalam naskah di atas sebagian besar telah diterapkan oleh perempuan Aceh. perempuan harus secara total berada di bawah penguasaan suami. dan hal yang dianjurkan dan tidak dianjurkan agama dalam berumah tangga dan bermasyarakat. Setiap santri dan masyarakat kampung lain mencium lutut gurunya ketika bertemu untuk belajar dan ketika selesai belajar. Para perempuan/isteri pada umumnya tunduk dan patuh kepada suaminya tanpa mengharap imbalan apa pun selain rida dari Tuhannya. seperti kitab fikih terkait dengan hal yang layak dan tidak layak dilakukan.perempuan Aceh agar mereka dapat membaca dan mengikuti ajaran dan perilaku serta konsep yang wajar menurut Islam. dan salah satu cara penghormatan adalah dengan mencium lututnya. suami adalah orang yang patut dihormati. yang belum terkontaminasi oleh budaya luar. Demikian juga. Cara kehidupan sehari-hari yang harus dipraktikkan dalam kehidupan berumah tangga. Dalam kehidupan sehari-hari. terutama pada masyarakat tradisional yang tinggal di desa dan dayah. 3 No. Di dayah Darussaadah dan Darussalam Teupin Raya. misalnya. seperti hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. serupa dengan seorang guru. Tidak hanya itu.1 Tahun 2012 . Bacaan-bacaan dari berbagai kitab yang disediakan di dayah menjadi tauladan dan pedoman mereka dalam bergerak dan bertindak di dalam kehidupan sehari-hari. pengajaran seperti yang terdapat dalam hikayat tersebut dijumpai dalam bahan ajar untuk santri. Karena itu. Di dayah. yaitu yang sesuai dengan ajaran Nabi.

Aceh Utara. Selanjutnya dikatakan kerajaan tersebut menjadi cikal bakal lahirnya Kerajaan Islam lain di wilayah Perlak. Dapat dikatakan bahwa keberhasilan Aceh dalam sejarah sebagiannya adalah karena campur tangan perempuan Aceh.1 Tahun 2012 67 . maka hal yang pertama sekali dilakukan isteri adalah mencium lutut suami sebagai tanda penghormatan awal kepada suami.Di desa-desa yang dekat dengan dayah. seorang isteri diwajibkan mencium lutut suami pertama sekali adalah ketika berlangsungnya acara pernikahan. dan tangguh. yang cantik rupawan serta cerdas dan berwibawa telah mendukung karir dan perjuangan suaminya sehingga berhasil mengembangkan sebuah Kerajaan Islam yang berwibawa di wilayah tersebut. Lihat http://www. Sebagaimana contoh yang diuraikan dalam sejarah. Cut Meutia. Pedir dan Aceh Darussalam11. 2008:14).html Jumantara Vol.atjehcyber. (Haslinda. dan para inong balee lainnya. Malahayati. Pasai. 3 No. agama dan negara mereka telah diabadikan dalam sejarah. baik dalam memperjuangkan keluarganya maupun agama dan negara. Anak Meurah Jeumpa.tk/2011/04/putroe-jeumpa-manyang-seuleudongmaha. Putroe Manyang Seuleudong atau ada yang menyebutnya dengan Dewi Ratna Keumala. berani. Ketangguhan mereka dalam menghadapi dunia yang tidak sejalan dengan kepribadian. Contoh lain tokoh-tokoh perempuan Aceh yang berani berada di garis depan dalam berjuang melawan penjajah Belanda yang ingin meruntuhkan agama dan negara adalah Cut Nyak Dhien. Gerak dan langkahnya yang tiada mengenal lelah telah mewarnai sejarah Aceh. Perempuan dari suku Aceh dikenal dengan sifat dan wataknya yang agamis.10 Ketangguhan seorang perempuan dalam berjuang mempertahankan agama dan kehormatan dirinya seperti yang diceritakan dalam naskah kedua juga terlihat dalam jati diri perempuan Aceh. Setelah selesai ijab qabul. dan Aceh Besar. namun dalam setiap tindakan yang mereka 10 11 Hasil observasi di wilayah Pidie. tentang seorang perempuan di Bireun yang telah berhasil mendorong suami dan anak-anaknya untuk menjadi raja.

ia bergerak mengumpulkan perempuan-perempuan lain untuk berjuang melawan Belanda. Setelah suaminya meninggal. Kali ini suaminya meninggal di tanah suci. pada masa perjuangan melawan Belanda. ia tidak bisa dengan leluasa berjuang di tengah-tengah masyarakat banyak. tercermin peran mereka. apalagi untuk berjuang. Di dalam rumah tangga. apalagi untuk beribadah. Akhirnya ia menikah untuk ketiga kalinya. bergerak melawan penjajah. 3 No. Akhirnya ia memutuskan untuk menikah lagi.1 Tahun 2012 . Aduhai do ku do da idi (Aduhai do ku do da idi) Meurah Pati ateuh awan (Burung Merpati di atas awan) Beuridjang rajeuk Banta Saidi (Cepat Besar Anakku Sayang) 68 Jumantara Vol. Malahayati berjuang melawan penjajah melanjutkan perjuangan suaminya yang telah mendahuluinya di laut. Meskipun demikian. Cut Nyak Dhien melakukan perjuangan terhadap Belanda atas izin suaminya. namun masalah timbul lagi. suaminya kemudian meninggal lagi. Teungku Fakinah dari Lam Krak. yaitu tidak adanya suami sebagai muhrim untuk pergi jauh. Ia kembali berdiam di dayah dan mengajar mengaji para santrinya. Dalam lirik lagu yang disenandungkan bagi anak-anak balita.lakukan telah mendapatkan izin sebelumnya dari suami mereka. perempuan Aceh mampu berperan sebagai isteri yang sabar menanti suaminya pergi berperang dan dengan setia menjaga anak-anaknya. atas izin suaminya. Pada mulanya ia mendukung penuh suaminya untuk berjuang melawan Belanda. 2004:31-44). Akan tetapi dalam berjuang. Kehidupan mereka tetap berada di bawah penguasaan suami. Ia pergi berdampingan membantu suaminya terjun ke dalam medan perang.1933M). Cut Meutia. Aceh Besar (1856 . karena pandangan masyarakat umum menjadi tidak bagus bila ia sendirian tanpa ada laki-laki yang mendampinginya pergi keluar. adalah contoh perempuan Aceh lainnya yang memiliki semangat dan jiwa yang luhur untuk memperjuangkan agama dan negaranya. Ia lalu berniat ingin melaksanakan ibadah haji. (Ismail.

Meskipun ayat tersebut diperuntukkan kepada laki-laki yang mencari nafkah. Selain dari itu. (Shihab: 2005. Pengaruh pendidikan ini telah membuat perempuan Aceh secara mutlak tunduk dan patuh kepada orang tua sebelum menikah dan kepada suami setelah menikah.1 Tahun 2012 69 . Perempuan berbeda dengan laki-laki dalam hal kekuatan fisik sehingga ia perlu mendapatkan perlindungan dari laki-laki. 2004:114-122). Ajaran Islam telah mengatur hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki sesuai dengan fungsinya masing-masing. Mereka tetap berada di bawah kekuasaan laki-laki. karena didikan orang tua untuk menyantri. setidaknya ada tiga faktor yang membentuk gaya hidup perempuan Aceh seperti tersebut di atas. pengaruh didikan orang tua yang sejak kecil menanamkan pendidikan Aagama dan cara bergaul Islami. Adalah kewajiban orang tua untuk memasukkan anak perempuannya ke pendidikan agama. 3 No.Gender Melayu-Aceh.Djak Prang Sabi Bela Agama (Pergi ke Medan Perang Membela Agama)12 Karena itu dapat dikatakan bahwa setiap aktivitas perempuan Aceh. Siapno mengatakan bahwa kebebasan perempuan Aceh tidak sepenuhnya berlaku. 338-339). Selanjutnya perempuan adalah makhluk yang dipimpin oleh laki-laki karena adanya ayat yang mengatakan bahwa laki-laki sebagai qawwam. (Siapno. Perempuan Aceh sangat taat kepada agama. Tidak ada pilihan lain. (Muslikhati. tetap berada di bawah pengontrolan suaminya. Kemudian perempuan mendapatkan tempat lebih banyak di rumah untuk menjadi sebagai ibu dan menjaga keluarga dan harta suaminya. karena di luar dia harus dijaga oleh suami sebagai muhrimnya. Terkadang para suami memanfaatkan kesempatan ini dengan 12 Lihat http://www. Kejayaan menguasai negara juga tidak sepenuhnya berada di tangan perempuan. meskipun dia berada di luar rumah untuk kepentingan umat dan agamanya. Pertama. yaitu pendidikan menyantri di pesantren.html Aceh/12981-Posisi-Perempuan-Dalam-Politik- Jumantara Vol. 2002).

juga mampu berperan di luar rumah. 1969:51) di dalam rumah tangganya. Ketiga. mulai dari perjuangan menghadapi Portugis. dan Nabi memerintahkan untuk membunuh kafir yang mengganggu agama dan negaranya. Hal ini tersirat maknanya bahwa seorang isteri tempatnya di rumah.memperlakukan isterinya sekehendak hati. Akhirnya para isteri hanya bisa pasrah dan kembali kepada Tuhan yang Maha Esa. Pada masa perjuangan melawan Belanda. idiom untuk perempuan sebagi isteri adalah njang po reumoh (yang memiliki rumah) (Siegel. Tempat pengaduannya hanyalah Tuhan yang Maha Esa. Reaksi Sosial Terhadap Perilaku Perempuan Di Aceh Model kehidupan yang dipraktikkan oleh perempuan Aceh. 1979: 26-27). pengaruh pendidikan tradisional yang agamis yang diperoleh dalam menyantri di dayah selama bertahun-tahun. kemudian. Selanjutnya. Belanda. seorang santri perempuan berani melakukan perjuangan untuk kepentingan agamanya dengan membunuh kontroler Belanda. dan sebutan umum untuk isteri oleh suaminya menjadi peureumoh. karena kondisi politik dan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sebagian besar tertumpu kepada mereka. Kedua. isteri. dimanfaatkan oleh lawan jenisnya untuk mengambil berbagai keuntungan. Aceh Utara. Perempuan Aceh hidup dalam sejarah perjuangan yang cukup panjang.1 Tahun 2012 . tepatnya pada tahun 1919M. Dalam kehidupan sehari-hari. terbentuk pola pikir perempuan Aceh untuk mempertahankan agama lebih dari segalanya. berfungsi melayani suami dan menjadi ibu untuk anak-anaknya sebagai hal yang mutlak. mencari 70 Jumantara Vol. dan kemudian setelah kemerdekaan konflik telah terjadi berkali-kali di Aceh. lingkungan yang mendidik mereka untuk berjiwa besar dan tangguh. kadang. di Matang Kuli. Dikatakan bahwa pada waktu malam hari. Jepang. 3 No. Perempuan sepertinya tidak kuasa untuk melawannya. ia bermimpi bertemu dengan Nabi. (Kern. Melalui dayah juga. Hal ini tetap berlangsung sampai dewasa ini.

Bahkan kadang lebih tragis lagi. (Reid. Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Baihaqi. membesarkan anak-anaknya. Jumantara Vol. sebagaimana dipaparkan dalam naskah bahwa Siti Islamdengan segala sukarelanya melayani suaminya hingga dalam bentuk yang sekecil-kecilnya. Pada abad 16-17M. perempuan Aceh telah menunjukkan kemampuan untuk melakukan dua fungsi tersebut. dipaksa memeras tenaganya lahir dan batin dalam menanggung beban keluarga. Pergilah kepada perempuan mana saja dan beritahukanlah mereka yang ada di belakangmu. yaitu.. serta tidak luput juga melayani suami yang tinggal menunggu yang sudah jadi dan masak. Di dalam teks disebutkan: Oh neupajôh bu jirah jaroe Ketika makan suami dia [Siti Islam] mencuci tangan suaminya Mungkin aktivitas utama perempuan ada di sektor domestik sesuai dengan fitrahnya sebagai perempuan yang berbeda dengan laki-laki.13 Tekait dengan penyalahgunaan kemampuan yang dimiliki 13 Untuk isi hadis secara keseluruhan dan cerita lebih rinci lihat Muslikhati.nafkah untuk kebutuhan keluarganya. mencari keridaan suaminya. dan mengikuti keinginannya adalah mengalahkan semua itu. 3 No. bahwa kebaikan salah seorang di antara kalian (para perempuan) dalam memperlakukan suaminya. yaitu bahwa seorang isteri kadang harus menyuapi atau memasukkan makanan ke dalam mulut sang suami.. sampai pada tahap mencuci tangan suami bila ia hendak makan. 2004:127-129. Nabi memberikan jawaban kepada pertanyaan yang diajukan oleh seorang perempuan yang mewakili perempuan lain. Tidak jarang perempuan Aceh diperlakukan buruk oleh para lelaki. Mereka diizinkan para suami mereka untuk keluar rumah mencari nafkah. Penyalahgunaan kemampuan perempuan pun muncul. Mungkin menjadi wajar bila isteri melayani suami hanya di rumah saja. terutama suaminya. tidak untuk mencari nafkah di luar.1 Tahun 2012 71 .. (HR alBaihaqi).. 2006).

seorang isteri dikatakan baik bila ia dapat menunjukkan keberhasilan mengurus suami. ibarat dagangan yang 14 Pengaruh kental dari budaya Hindu di Aceh masih dapat dilihat dalam cara pelaksaaan ritual peusijuek (tepung tawar). di desa-desa masih ditemukan lelaki beristeri yang duduk berjam-jam di kedai kopi menghabiskan waktu untuk menunggu si isteri pulang kerja dan selesai memasak. Perempuan yang baru menikah sering kali disendaguraukan oleh keluarga pihak suami bahwa dia harus tunduk dan patuh dan melayani suami serta keluarga karena sudah dibeli. tidak hanya berlaku pada perempuan Aceh.1 Tahun 2012 . Eksploitasi terhadap perempuan mungkin tidak hanya ditinjau dari sisi keinginan dan kemauan para laki-laki saja. akan tetapi juga pengaruh budaya masa lampau. Indonesia. Bila mereka pergi ke sawah. yang masih tersisa dari satu generasi ke generasi selanjutnya. keluarga dan saudara pihak suami dalam menyiapkan segala kebutuhan rumah tangga dan dapat mencari nafkah di luar15. maka para perempuan bertugas menanam padi sementara suami duduk di atas rangkang menonton isteri bekerja. 2002:91-101). 3 No. Kemungkinan besar hal ini didasarkan kepada tradisi pernikahan yang berlaku di Batak. dewasa ini. (Siapno. Budaya Aceh sangat mungkin masih diwarnai sisa pengaruh budaya Hindu14 meskipun sebenarnya ajaran Islam lebih mendominasi. Cerita lisan juga didapatkan dari rakyat Aceh tentang kisah kehidupan keluarga Pak Pande. seperti Batak. „Peusijuek.perempuan. sementara Pak Pande sendiri bermalasmalasan menunggu dari hasil yang dibawa oleh isterinya untuk kebutuhan rumah tangganya. meskipun sudah dimodifikasikan dengan ajaran Islam. Di Batak. yaitu masa sebelum datang Islam. Tradisi seperti di atas. Banda Aceh. 72 Jumantara Vol. akan tetapi di wilayah lain juga. Sebuah Tradisi Ritual Sosial Masyarakat Pasee dalam Perpektif Tradisionalis dan Reformis‟ artikel dipresentasikan pada International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. 23 – 24 February 2009. Isteri Pak Pande adalah orang yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarganya. Lihat karya Saifuddin Dzuhri. 15 Hasil observasi dan wawancara dengan perempuan-perempuan asal Batak.

(Parsadaan Marga Harahap. Karena itu. Tradisi seperti ini memiliki kemiripan dengan tradisi yang berlaku pada masa Majapahit. (Muljana. dan bila juga terjadi. Dia tidak memiliki hak sama sekali untuk mengatur dan membuat keputusan dalam rumah tangga. 2006:251-253). Anak adalah milik suami. Setelah diberikan tukon (mahar) perempuan dianggap seperti barang yang sudah laku dan dia seratus persen berada di bawah kekuasaan suami dan keluarganya. Kehidupan mereka diwarnai sifat patrilineal. berubah maknanya menjadi mahar yang diserahkan kepada pihak calon isteri. 3 No. maka ayahnya dapat menceraikan anaknya. Korelasi positif ditemukan dalam sikap dan tingkah laku serta gaya hidup perempuan. Hal ini terjadi karena pengaruh sistem budaya lokal dan kemudian dipadukan dengan budaya dan ajaran Islam. gaya hidupnya sudah dipengaruhi oleh gaya hidup „modern‟ yang datang dari berbagai budaya di dunia. Dalam rumah tangga. yang menandakan bahwa perempuan tersebut sudah sah menjadi isteri suaminya. dan anaknya. dapat dikatakan bahwa bias gender masih sangat kentara untuk suku Aceh. Kata beli dalam bahasa Batak disebut dengan boli atau disebut juga dengan tuhor. meskipun tidak separah pada suku Batak dan Bali yang Jumantara Vol. sementara perempuan yang tinggal di perkotaan. yaitu mereka berada pada posisi di bawah kekuasaan laki-laki. isteri hanya melahirkan saja. terutama mereka yang tinggal di pedesaan terpencil dan jauh dari pengaruh budaya luar. 1993: 270-271).sudah dibeli. keluarga. si isteri hanya berfungsi sebagai pelayan semata untuk suami.1 Tahun 2012 73 . Seperti dalam hal mencari jodoh anaknya si ibu tidak punya hak sama sekali untuk menjodohkan anaknya. kemudian setelah datang Islam. Penutup Kisah perempuan dalam dua manuskrip Aceh yang menjadi fokus dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai refleksi gaya hidup perempuan pada umumnya di Aceh. Boli dan tuhor ini. baik dalam sejarah maupun dalam kehidupan sekarang ini pada masyarakat pedesaan.

Banda Aceh. (2003)..1 Tahun 2012 . 23 – 24 February 2009. Selain dua manuskrip di atas. dalam Ensiklopedi Pemikiran 74 Jumantara Vol. diterjemahkan oleh Ade Alimah dkk. “Teungku Fakinah: Profil Ulama dan Pejuang Perempuan Aceh”. Saifuddin (2009). Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh melalui Naskah. dalam Mutiara Terpendam: Perempuan dalam Literatur Islam Klasik. karena diketahui bahwa Aceh adalah salah satu gudang manuskrip Nusantara. Jakarta: Gramedia. Ismail. France in the XVII and XVIII Centuries and their Interconnection. Jogjakarta: Pustaka Sufi. Sebuah Tradisi Ritual Sosial Masyarakat Pasee dalam Perpektif Tradisionalis dan Reformis”. “Peusijuek.A. Indonesia. dalam Warisan Sufi. England. R. J. diedit oleh Ali Munhanif. Churchill. Jakarta: Balitbang dan Diklat Departemen Agama RI. Amsterdam: Enno Hertzberger & Co. (1935). Azhari Noer. “PriaPerempuan sebagai Korespondensi Kosmis: Perempuan dalam Literatur Tasawuf”. Karena itu. 3 No. diedit oleh Seyyed Hossein Nasr dkk. W. Daftar Pustaka Austin. Nurjannah (2004). masih banyak manuskrip Aceh lainnya yang menceritakan tentang hal yang berkaitan dengan perempuan di Aceh. Watermarks in Paper in Holland.masih memperlakukan perempuan sebagai manusia kedua setelah laki-laki dan membebani mereka dengan pekerjaan di dalam dan di luar rumah tangga. Makalah International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. Dhuhri. penelitian untuk kajian perempuan masih harus terus dilakukan untuk mengungkapkan budaya-budaya pada masa lampau yang menjadi bagian hidup perempuan. Fakhriati (2008). “Feminin Sofianik (Perempuan Bijak) dalam Karya Ibn Arabi dan Rumi”. W. Kautsar dan Oman Fathurrahman (2002).

Nationalism and the State in Aceh: The Paradox of Power. Paradigma baru Teologi Perempuan. Berkeley: University of California Press. A. 3 No. Umar. Perempuan Aceh dalam litas sejarah Abad VIII – XXI. Jacqueline Aquino (2002). Siapno. Islam. 22. Muslikhati. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Kern. Siti (2004). ---------------------. Quraish (2005). Watermark: Malay of the 17th and 18th centuries. Anthony (1988).3. Trans. IAIN Ar-Raniry Press. Reid. Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan dalam Timbangan Islam. Slamet (2006). 629-645.1 Tahun 2012 75 . Gender. Nasaruddin (2000). James T (1969). Heawood.n]: Pelita Hidup Insani. M. Reid. Hasil Penyelidikan tentang Sebab Musabab terjadinya Pembunuhan.(2000). Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Muljana. Jakarta: Fikahati Aneska.Ulama Aceh. Singapore: Singapore University Press. London: Routledge-Curzon. Verandah of Violence: the Background to the Aceh Problem. Siegel. (1979). Jakarta: Lentera Hati.) (2006). Jakarta: Fikihati Aneska. Horja Adat Dalihan Natolu. Syahrul. Anthony (eds. Shihab. Amsterdam: The Paper Publications Society. Perempuan. “Female Roles in Pre-Colonial Southeast Asia”. hlm. Co-optation and Resitance. By Aboe Bakar. Jakarta: Gema Insani. Bandung: Grafiti. Modern Asian Studies Vol. Parsadaan Marga Harahap Dohot Anak Boruna (1993). Edward (1986). [s. The Rope of God. Yogyakarta: LKiS. R. Kodrat Perempuan dalam Islam. Jumantara Vol. Special Issue: Asian Studies in Honour of Professor Charles Boxer. No. Haslinda (2008).

atjehcyber.html.Gender Aceh/12981-Posisi-Perempuan-DalamPolitik-Melayu-Aceh.Situs Web: http://www. http://www.html. 3 No. 76 Jumantara Vol.tk/2011/04/putroe-jeumpa-manyangseuleudong-maha.1 Tahun 2012 .

3 No. Kedua. tempat. Sebagai titik pijak saya menggunakan penelusuran Munawwar Holil dan Aditia Gunawan (2010) atas NSK koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 16 Kata-kata ini bisa ditemukan pada baris-baris akhir Kropak 408 (Sewaka Darma). mencakup identitas penulis atau penyalin. dkk (1987:72) sebagai “ditulis di jalan”. saya melakukan analisis atas penulis-penyalin.Abstrak Tulisan ini bermaksud memetakan hal-hal yang berkaitan dengan kolofon Naskah Sunda Kuna (NSK). Jumantara Vol. nama penulis-penyalin.1 Tahun 2012 77 . Untuk menganalisis identitas penulis-penyalin. dengan pertimbangan bahwa di Perpustakaan Nasional tersimpan NSK dalam jumlah terbesar. Bergiat di Rumah Baca Buku Sunda. atepkurnia@yahoo. Kata Kunci: Naskah Sunda Kuna. dan Sanggar Sastra Kampus (Sasaka) UIN Sunan Gunung Jati. yang diterjemahkan oleh Saleh Danasmita. judul. dan waktu penulisan NSK. Kolofon. pertama-tama saya menyajikan tabel yang berisi kode. *) Peneliti di Pusat Studi Sunda (PSS). Bisa dihubungi melalui surat elektronik. dan waktu penulisan. serta tempat dan waktu penulisan NSK. dan waktu penulisan naskah. tempat. di samping yang disimpan oleh masyarakat. tempat.com.

Untuk menganalisis identitas penulis-penyalin. termasuk di dalamnya.Pendahuluan Menurut hasil rekatalogisasi Holil dan Gunawan (2010). dan waktu penulisan. Saya juga menggunakan berbagai sumber bacaan untuk menambah luas pemahaman. nama penulis-penyalin. karena kedua penulis itu juga menyeertakan manggala atau awal teks NSK dan kalimatkalimat yang ada di akhir teksnya. Bali. juga digunakan sebagai perbandingan untuk membaca identitas penulis-penyalin. bahan-bahan bacaan mengenai perikehidupan kegiatan literasi di Jawa Tengah dan Timur. Tabel Kolofon Naskah Sunda Kuna Koleksi Perpustakaan Nasional RI No 1 Kode 1**Peti 85 Judul Sanghyang Siksa Kandang Karesian 2 408 Peti Kawih Buyut Ni Pertapaan Ni Teja Puru Penulis Tempat Nusakrata? Waktu Bulan ke10. Di samping menerakan jumlah NSK. 3 No. transkripsi. Dari lampiran tersebut dapat diketahui ada beberapa puluh NSK yang mengandung kolofon di akhir teksnya. Selain itu. judul. Oleh karena itu. tempat. yang pada gilirannya ditambahkan pada tabel yang telah dibuat. Kedua. untuk keperluan tulisan ini penelusuran keduanya sangat membantu. kedua penulis itu juga melampirkan pemerian NSK yang ada di Perpusnas RI. Perpustakaan Nasional mengoleksi 63 Naskah Sunda Kuna (NSK). dan waktu penulisan NSK. serta tempat dan waktu penulisan NSK. saya melakukan analisis atas penulispenyalin. dan waktu penulisan NSK sebagaimana yang saya baca pada tulisan Munawwar Holil dan Aditia Gunawan serta bahan-bahan dari bacaan lainnya. tempat. pertama-tama saya menyajikan tabel yang berisi kode. transliterasi. Selasa Manis 78 Jumantara Vol. tempat. dan India. dan terjemahan NSK yang selama ini telah dikerjakan para filolog dan peneliti NSK. sejauh yang saya baca.1 Tahun 2012 .

Cikuray 10 621 Peti 15 Sanghyang Sasana Maha Guru Desa Mahapawitra.Cikuray. 3 No.1 Tahun 2012 79 . Cisanti Bulan ke-8 14 626 Peti Sanghyang Buyut Gn. Larang Sri Manganti Gn. Gn. Larang Sri Manganti 4 411 Peti 15 Ratu Pakuan 5 416 Peti 15 Carita Purnawijaya Kai Raga Gn. Larang Sri Manganti 6 420 Peti 15 Kawih Paningkes Kai Raga Sutanangtung 7 423 Peti 15 Carita Purnawijaya Kai Raga Gn. Gn. Larang Sela 8 424 Peti 15 Kawih Panyaraman 9 610 Peti 15 Pitutur ning Jalma cucu Sang Sida. Kumbang 3 410 Peti 15 Carita Ratu Pakuan Gn. bulan ke-8 Jumantara Vol. Cikuray bulan ke-1 13 625 Peti 88 Sri Ajnyana Mandala Betung Pamaringinan.16 Panyaraman Dawit Bacana. Kuta Wawatan. Larang Sri Manganti Gn. buyut Téjanagara Gn. Jedang bulan ke-4 11 622 Peti 88 Warugan Lemah Rabu Manis 12 623 Peti 16 Bimaswarga/Bi maleupas Euncu nu Ngahérang Gn.

Talagacandana . Gn.69 Swawar Cinta Téjanagara Hulukumbang Batuwangi 15 628 Peti 16 Siksa Guru Lurah Kamulan? 16 630 Peti 16 Sanghyang Siksa Kandang Karesian bulan ke3. selesai hari pon bulan ke-9. 1357 Ś (± 1435 M).1 Tahun 2012 . 1440 Saka (1518 M) 17 632b Peti 16 Kaluputan Sanghyang Darma Hulu Kumbang Batu Wangi Desa Sunya bulan ke10 18 633 Peti 16 Siksa Guru 19 634 Peti 16 Sanghyang Hayu Désa Mahapwité. 3 No. Giri Wangsa 1445 Ś (± 1523 M) 20 636 Peti 16 Sanghyang Hayu Sang Bujangga Resi Laksa Giri Sunya 21 637 Peti 16 Sanghyang Hayu Désa Mahapawita. Tajak Barat 22 638 Peti 16 Sanghyang Hayu Argasela. Cupu dimulai Selasa Kliwon. bulan ke-7. Tajak Barat. 80 Jumantara Vol.

dan Sang Guguron. Cucu Sang Sida/Buyut Tejanagara. Jumantara Vol.1 Tahun 2012 81 . Penulis perempuan diwakili Buyut Ni Dawit. Buyut Tejanagara. Ketujuh nama di atas. Euncu nu Ngaherang. 3 No. sementara penulis 17 Kata-kata ini muncul pada baris-bari menjelang akhir NSK Kropak 410 (Carita Ratu Pakuan). Darsa (2007:217) sebagai “hasil belajar menulis”. Ada penulis perempuan dan ada juga laki-laki. Kai Raga. Jati Sunya. Sang Bujangga Resi Laksa. dengan jelas menunjukkan jenis kelamin berbeda. Bulan Muharam “Beunang Diajar Nulis17” Dari tabel di atas. Hulu Alas Sunya. yakni Buyut Ni Dawit.23 641 Peti 16 Arjunawiwāha sang Guguron? Sanghyang Mandala Katyagan di Gugur 1256 Ś (1334 M). Mandala Puntang 26 1097 Peti 69 Carita Jati Mula Sagara Wisésa 27 KBG 75 Wirid Kai Raga Jum’at Kliwon. kita berkenalan dengan tujuh nama penulispenyalin NSK. 24 642 Peti 88 Siksa Guru Desa Mahapawitra Tahun Saka hlaŕ twa ya wu? 25 1095 Peti 69 Langgeng Jati Gn. yang diterjemahkan oleh Undang A.

3 No. sebab ia bertapa di Gunung Kumbang di pertapaan Ni Teja Puru Bancana. Pada baris ke-850 hingga 868 naskah itu. spk. Inilah gambarannya: 850 Datang tiagi (wa)don. Buyut Téjanagara. dan Sang Guguron belum dapat dipastikan jenis kelaminnya. digambarkan Bujangga Manik “digoda” oleh rahib perempuan. dapat kita jadikan salah satu rujukan.1 Tahun 2012 . Untuk memperluas bahasan mengenai keterlibatan perempuan dalam kegiatan baca-tulis dalam NSK. Di samping itu. Buyut Ni Dawit adalah seorang wanita. Selengkapnya Danasasmita menyatakan: Bila kata “buyut” berarti cicit. Téka béka mulung lanceuk. carékna: „Kaka lanceuking. tentu penyusunnya adalah cicit Ni Dawit tanpa diketahui siapa namanya. rupanya ingin menjalin persaudaraan. (1987: 1) 82 Jumantara Vol. na rua mamarayaeun. Pada halaman 39 iapun asyik mengisahkan sebuah gisa (lesung) dengan istilah-istilah yang khas untuk wanita seperti “dyangiran”. bukan gelar kehormatan untuk pertapa ulung.laki-laki diwakili Kai Raga dan Sang Bujangga Resi Laksa. Menurut Saleh Danasasmita. “dikasayan”. 18 Datang seorang pertapa perempuan. Sedangkan Cucu Sang Sida/buyut Téjanagara. Euncu nu Ngahérang. ada baiknya dilihat sumber lain yang terkait dengan hal tersebut. dkk18. NSK Bujangga Manik. iapun paham benar kelengkapan pakaian bidadari yang tentu dikhayalkannya dari pakaian wanita bangsawan dalam zamannya. katanya: „Kakandaku. Hingga terus-terang menganggap kakak. Mengenai Buyut Ni Dawit. Ada petunjuk bahwa pengarangnya wanita. ada keterangan menarik mengapa ia diasumsikan sebagai perempuan. misalnya. dan “dipesekkan”. Saleh Danasasmita.

Yang berjudul Siksaguru. héman ku na karuaan.Rakaki Bujangga Manik.I. jika berdekatan dengan ijuk. aku ini rahib perempuan. but data in texts from the nineteenth century are the most abundant. lamun padeukeut deung eu(n)juk. 19 20 J. rusuh ku na panga/wakan. aku calon biarawati. Literary sources show this as early as the sixteenth century. Hinzler (1993: 464) menyatakan: There was no caste or sex restriction on learning to write. Ketika membahas para penulis atau penyalin naskah (scribes). H. 3 (1993: 438-473) Jumantara Vol. kemarilah. 855 haup aing ebon-ebon. Teeuw.‟ sayang sekali akan ketampananmu. 3 No. Noorduyn & A. Hinzler perihal naskah-naskah lontar di Bali20 bisa juga dijadikan rujukan. Yang mulia Bujangga Manik. sudah pasti terjadi kebakaran. “Bagaikan kobaran api.R.‟ begitulah antara laki-laki dengan perempuan19. manan hésé ku mamanéh. References to males and females being able to read and write are to be found in literary texts as well as in the colophons of manuscripts. Hinzler. Carék di na apus téa: Menurut kitab itu: 865 “Kadiangganing ring geni. Tiga Pesona Sunda Kuna (2009: 298-299). mu(ng)ku burung éta seungeut.‟ 860 Carékna Bujan(ga) Manik: Bujangga Manik berkata: „Ku ngaing dirarasakeun.” Di samping Bujangga Manik. kitu lanang deungeun wadon”. /16r/ repot karena penampilan badan.1 Tahun 2012 83 . tulisan H. Kubawa kitab selengkapnya. daripada sulit-sulit memikirkan diri sendiri. „Biarlah kupertimbangkan dahulu. aing na pitiagieun. Ngaran(n)a na Siksaguru. Bawaing apus sata(m)bi. „Balinese Palm-Leaf Manuscripts‟ dalam BKI 149 No.

Bisa jadi nama itu adalah nama gelaran. Menurut Holil dan Gunawan (2010: 146). Sebagaimana kita ketahui. berbahasa Sunda kuna. yang isinya hampir sama dengan NSK L 420. misalnya NSK Kropak 420 yang ditulis di atas lontar. Bila diterapkan pada tradisi menulis NSK.Dari uraian Hinzler. tradisi menulis manuskrip di Bali sangat terpengaruh budaya literasi India dan Jawa Timur. Demikian pula dengan NSK L 423 yang juga ditulis oleh Kai Raga. beraksara dan berbahasa Sunda Kuna dan berisi dialog yang bersifat moral-religius antara pendeta dengan Pwah Batari Sri sebagai penguasa alam kahyangan. maka hal tersebut pun agaknya tidak akan jauh berbeda.1 Tahun 2012 . Hal ini dapat dibuktikan dari beberapa naskah yang ditulisnya. 84 Jumantara Vol. tidak ada pembatasan yang jelas [dalam hal kasta dan jenis kelamin] penulis dan pembaca naskah ketika tradisi itu hidup di Bali. di atas daun lontar. bersampul kertas marmer berwarna merah dan berjumlah 12 halaman itu berisi perihal asal-usul terciptanya alam dan manusia. naskah kertas daluang. 3 No. sekiranya tradisi menulis dan membaca naskah masih hidup di wilayah yang bersangkutan. dan agaknya hal itu dapat diparalelkan dengan kehidupan para pembaca dan penulis yang hidup di Jawa Timur. yakni NSK “Wirid” (KBG 75). beraksara Sunda Kuna dan Cacarakan. Di dalamnya. Selanjutnya. Karya yang ditulis Kai Raga tersebut bisa jadi sangat kontras dengan naskah lain yang tertulis atas namanya. diterangkan pula tentang persiapan dan pelaksanaan kegiatan peribadatan. Nama penulispenyalin ini agaknya bukan nama sebenarnya. yang menarik adalah Kai Raga. dan Jawa Barat. Hal tersebut mengindikasikan. terselip naskah yang berisi unsur keislaman. di penghujung abad ke-15. ditulis Kai Raga pada hari Jum‟at Kliwon. Kalau dikaitkan dengan nama satu orang pasti mengandaikan orang yang berumur sangat panjang. terutama setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit. Tengah. Dari keempat naskah yang diakhiri dengan keterangan Kai Raga. bahwa Kai Raga melintasi zaman yang sangat panjang. bulan Muharram.

termasuk NSK. pada mulanya nama Cikuray adalah Sri Manganti. Garut. C. penelusuran Pleyte mengenai Kai Raga dan tulisan Hinzler dapat digunakan untuk membaca perihal tidak dipentingkannya nama pribadi bagi para penulis-penyalin naskah yang masih berada di bawah bayang-bayang budaya literasi Hindu-Budha.K.M. ia mendapat keterangan dari lurah Desa Ciburuy bahwa. van Taxis menerangkan bahwa Cikuray memang mulanya biasa disebut Sri Manganti. saya yakin Kai Raga tidak merujuk pada nama seseorang.hingga beratus tahun. Kai Raga yang menyerahkan beberapa NSK kepada Raden Saleh yang pada tahun 1865 ditugaskan untuk berkeliling Priangan untuk mengumpulkan peninggalan purbakala. yang pertapaannya terletak di Gunung Cikuray. tidak ada lagi keterangan yang lebih lanjut. C. Menurut penemuannya. Pleyte meyakini orang tersebut dipastikan telah meninggal dan tidak meninggalkan keturunan. Huls van Taxis. Kai Raga yang dianggap menyerahkan naskah kepada Raden Saleh adalah cucu Kai Raga yang menjadi pemuka kelompok keagamaan. Pleyte mengirim surat kepada Asisten Residen Garut.F. pada 1904. Jumantara Vol. 3 No. Pleyte berkunjung ke Cikuray. Pleyte menelusuri identitas Kai Raga21. Dalam jawabannya. 56 (1914: 365-441) dan Ratu Pakuan: Tjeritera Sunda-Kuno dari Lereng Gunung Tjikura (1970) garapan Atja. yang didasarkan pada nama sebuah kampung yang terletak di lereng sebelah barat gunung tersebut. Mengenai ihwal cucu Kai Raga. namun kampung tersebut tidak dikenal lagi karena telah ditinggalkan penduduknya. Saat itu. melainkan kepada nama gelaran. Mengenai hal ini.1 Tahun 2012 85 . Menindaklanjuti perjalanan itu. Pada mulanya Kampung Sri Manganti termasuk dalam wilayah Desa Cigedug. Oleh karena itu. sejak tahun 1856. Selain itu. menurut cerita rakyat di sana. Van Taxis juga menyatakan bahwa orang tidak ingat lagi mengenai keberadaan pertapa di tempat tersebut. Uraian Kai Raga dapat pula dibandingkan dengan Kiai Windusana yang memelihara dan menuliskan kembali sejumlah 21 Lihat „Poernawidjaja‟s Hellevaart of de Volledige Verlossing‟ dalam TBG No.

naskah Jawa Kuna. jumlahnya hanya berkisar empat ratusan naskah. Namun saat Bataviaasch Genootschap mengambil naskah-naskahnya pada tahun 1852. was a person of distinction. The rulers of the kingdom employed scribes (manghuri. but also of low-caste families23. maka sebenarnya mengindikasikan bahwa para penulisnya cenderung menyembunyikan nama mereka sebenarnya karena mereka justru sedang menyembunyikan diri dari dunia luar atau cenderung mengasingkan diri. Windusana hidup di sekitar abad ke-18. Van der Molen dan I. di Bali: A Scribe. berkaitan dengan kriteria dan profesi penulis-penyalin naskah. Tidak terbatas hanya pada laki-laki semata. Selain menyatakan para penulis naskah itu bisa laki-laki maupun perempuan. 23 Hinzler (1993: 465). Jawa Pertengahan. panulisan) not only of highcaste families. This is apparent from the colophons of eighteenth and nineteenthcentury manuscripts. 1 (2001: 52). Mereka kebanyakaan berasal dari kalangan agamawan dan ada juga yang berasal dari kalangan istana. melainkan perempuan pun ikut terlibat di dalamnya. Kuntara Wiryamartana dan Willem van der Molen22. Ia dikenal sebagai pendeta tinggi dalam agama Budha dan dilaporkan memiliki ribuan naskah yang aneh. panyarikan. Pertama. Menurut Hinzler.1 Tahun 2012 . Hinzler menyatakan dua hal lain yang berkaitan dengan para penulis-penyalin naskah. baik karena mereka menjadi anggota kelompok agamawan maupun karena termasuk kalangan istana. 86 Jumantara Vol. usually man. Menurut kedua filolog itu. 22 „The Merapi-Merbabu Manuscripts: A Neglected Collection‟ karya W. Bila pernyataan tersebut kita tarik kepada kegiatan literasi NSK. dan Jawa Modern di lereng Gunung Merbabu sebagaimana yang ditelusuri I. .. 3 No. Wiryamartana yang dimuat dalam BKI 157 No. bahkan menolak dunia luar sebagaimana yang dapat kita temukan sosoknya pada diri Bujangga Manik..

Sanghyang Hayu. kalau dihitung. Gunung Cikuray (Pitutur ning Jalma. Bimaswarga/Bimaleupas. Gunung Larang Sela (Kawih Panyaraman). Siksa Guru). Menurut Agus Aris Munandar25. Dari tabel itu kita juga mendapatkan nama Gunung Kumbang (Kawih Panyaraman). Carita Purnawijaya). Gunung Larang Sri Manganti (Carita Ratu Pakuan. Sanghyang Swawar Cinta. Giri Sunya (Sanghyang Hayu). namun ternyata ada dua naskah yang merujuk ke daerah dekat atau di sekitar laut. 3 No. Dari tabel itu nampak bahwa gunung dan sekitarnya. Oleh karena itu. Jumantara Vol.. Sebagai catatan. dalam bagian berikut disajikan ulasan mengenai peran gunung dalam peri kehidupan orang Sunda atau Jawa Barat. Meski banyak yang berlatar gunung. Sanghyang Hayu. gunung memang dijadikan 24 Kata ini berasal dari nama yang dijadikan tempat penulisan NSK Kropak 636 (Sanghyang Hayu). dan Gunung Cupu (Sanghyang Hayu). sebagaimana yang termaktub pada pembahasan mengenai penulis. Namun tetap saja dengan banyaknya nama yang berkaitan dengan gunung mengindikasikan sentralnya tempat tersebut sebagai tempat penulisan NSK. Kata nusa dan sagara dengan jelas mengindikasikan daerah yang paling tidak berdekatan dengan lautan. Ratu Pakuan. Kaluputan Sanghyang Darma). Carita Purnawijaya.1 Tahun 2012 87 . seperti bukit dan puncak gunung (hulu). Dengan demikian. dapat diketemukan keterangan bahwa Larang Sri Manganti adalah nama lama Gunung Cikuray. seperti Naskah Kropak 1 Peti 85 Sanghyang Siksa Kandang Karesian ternyata ditulis di Nusakrata? Dan Carita Jati Mula ditulis di Sagara Wisésa.Giri Sunya24 Dari tabel di atas kita juga dapat berbicara mengenai tempat NSK ditulis. menjadi pilihan para penulis-penyalin NSK untuk menulis. Gunung Jedang (Sanghyang Sasana Maha Guru. maka kita mendapatkan delapan naskah yang dalam kolofonnya diterangkan ditulis di Gunung Cikuray. sebagaimana yang terlihat dari deskripsi Gunawan & Holil (2010).

Keyakinan ini tidak saja hidup ketika ke daerah ini hadir pengaruh agama Hindu-Budha. Batu Lulumpang di Garut. Adapun tempatnya yang berada di daerah ketinggian. Situs-situsnya. situs Gunung Padang di Cianjur. dan sebagainya. Cipari. Lebak Sibedug. dan “Sebaran Situs Arkeologi di Jawa Barat: Tinjauan Terhadap Dasar Konsepsi Keagamaan” (2001) yang disajikan pada Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) I.1 Tahun 2012 . Bedanya. Demikian pula yang terjadi pada keyakinan kosmologis Budha. Cireme. 25 “Kegiatan Keagamaan dalam Masyarakat Kerajaan Sunda: Data Prasasti dan Karya Sastra” (1991) yang disajikan pada Seminar Nasional Sastra dan Sejarah Pakuan Pajajaran. Di puncaknya terdapat tempat tinggal para dewa. dan dataran tinggi lainnya. melainkan telah ada sebelumnya. Di kedelapan arah mata anginnya dijaga dewa Astadikpalaka sebagai pelindung alam semesta. Pangguyangan. Tradisi megalitik ini berkaitan dengan konsep kultus leluhur. 11-13 Nopember 1991. dan kemudian dimuat dalam Prosiding KIBS 1 Jilid 1 (2006). Gunung Mahameru yang mempunyai empat puncak lain yang lebih rendah dan terletak di tengah benua yang bernama Jambhudwipa dipercaya sebagai pusat alam semesta. misalnya. Gunung tersebut dikelilingi tujuh lautan dan tujuh pegunungan berselang-seling. yang dikepalai Dewa Indra. 3 No. Dari masa prasejarah. Arca Domas di pusat Kanekes. bukit. gunung juga begitu sentral perannya. terutama dari masa bercocok tanam dan perundagian. Bogor. 88 Jumantara Vol. Karena dalam keyakinan kosmologis Hindu-Budha. Banten Selatan. Salak Datar. di Jawa Barat banyak peninggalan megalitik yang terdapat di wilayah yang bergunung-gunung.sebagai tempat keramat bagi kalangan masyarakat yang ada di Jawa Barat. menunjukkan bahwa masyarakat prasejarah di Jawa bagian barat percaya bahwa leluhur bersemayam di puncak-puncak gunung. Bandung. yakni ketika masyarakatnya berada di masa prasejarah. 2224 Agustus 2001. yakni pemujaan pada arwah nenek moyang. Sementara alam semestanya berbentuk pipih melingkar seperti cakram. Saat memasuki periode pengaruh Hindu-Budha (kurang lebih abad ke-9 hingga abad ke-16). seperti gunung. Di Gunung Meru terdapat alam berlapis-lapis.

atau dalam NSK Sewaka Darma terdapat uraian bahwa para dewata Hindu mempunyai istana yang indah di Gunung Kendan. yang disokong serta dilindungi kekuasaan kerajaan yang ada di Tatar Jawa Barat. gunung dan tempat-tempat di sekitarnya dijadikan tempat tinggal. yang dijadikan tempat penyebaran ilmu keagamaan khususnya dapat terlihat dari sepak terjang Rakeyan Darmasiksa. Keyakinan ini terbawa ke Pulau Jawa. terutama Kabuyutan Galunggung. dan barat dihuni oleh mahluk ajaib. yang di tengahnya. para pedagang (orang Jumantara Vol. Rakeyan Darmasiksa dalam NSK Kropak 632 (Amanat Galunggung) menegaskan pentingnya memelihara kabuyutan atau tempat yang dikeramatkan karena menjadi pusat pengamalan serta penyebaran ilmu keagamaan. tempat hidup manusia dan hewan. Baluk. Oleh karena kekeramatan itulah. Prabu Jayadewata.di luar lingkaran tujuh pegunungan itu terdapat lagi samudera. pengamalan keagamaan. dan Prebu Niskala Wastukancana. Lampung. sementara ketiga benua yang ada di timur. terdapat empat benua. Munandar. Dalam beberapa hal. menafsirkan Prasasti Kawali I. Medang. pada keempat arah mata angin utama. dan penyebaran ilmu oleh kalangan agama Hindu dan Budha. terutama baris ke-5 sampai ke-7. utara. seperti yang termaktub dalam Prasasti Batutulis. berkaitan dengan keinginan Prabu Raja Wastu untuk menyelaraskan purinya dengan gambaran alam semesta menurut ajaran Hindu-Budha. Ia menyatakan [Terjemahan dari pernyataannya?]: “Waspadalah. dan Menir. 3 No. kemungkinan direbutnya kemuliaan (kewibawaan kekuasaan) dan pegangan kesaktian (kejayaan) oleh Sunda. dan tentu saja ke Tatar Jawa Barat. Dalam hal ini. dan kemudian diterapkan pemeluk agama HinduBudha yang ada di sana ke dalam lingkungan mereka. bagaimana penguasa melindungi situs yang ada di gunung dan sekitarnya.1 Tahun 2012 89 . Jawa. Benua yang terletak di sebelah selatan Gunung Meru dinamakan Jambudwipa. misalnya. Demikian pula Sri Baduga Maharaja yang membangun gugunungan.

maka orang yang menguasainya akan beroleh manfaat dari sana. Rakeyan Darmasiksa. Ti naha bagina? Ti sang wiku nu ngawakan jati Sunda.. Dengan demikian. ti sang disri.asing) yang akan merebut Kabuyutan di Galunggung26” Hal itu karena dengan dikuasainya Kabuyutan Galunggung. yang digambarkan sebagai titisan Dewa Wisnu.” Hal ini pun diperjelas dalam NSK Kropak 406 (Carita Parahyangan). nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama... yang menyatakan bahwa Rakeyan Darmasiksa adalah raja Sunda yang mendirikan lembaga pendidikan bernama Sanghyang Binayapanti. inya nu nyieun Sanghyang Binayapanti. seperti: memperoleh kesaktian dari tapa. pangupatyan Sanghyang Wisnu. mikukuh Sanghyang 90 Jumantara Vol. 28 Kutipan lengkapnya: Sang Rakeyan Darmasiksa. Dan yang lebih penting. kabuyutan itu harus dipertahankan sekuat tenaga. sekaligus juga di kalangan istana28. ti sang rêsi. dan lama berjaya. Kabuyutan itu akan dikuasai orang lain karena telah ditinggalkan rama dan resi. Selain itu. baik yang menganut kepercayaan kepada leluhur (ngawakan jati Sunda) maupun yang memeluk agama lainnya. menjamin keberlangsungan kehidupan keagamaan. dua dari tiga unsur “trias politika” Sunda kuna. bahkan sampai titik darah penghabisan. dengan kompleks pendidikannya yang disebut kabuyutan. ti sang tarahan. Ibid (1987: 125-6). ia mendorong berlangsungnya tradisi baca-tulis atau literasi di kalangan agamawan.Lebih berharga nilai kulit lasun di tempat sampah daripada rajaputra (bila kabuyutan) akhirnya jatuh ke tangan orang lain27. (1987: 12). Nasihat Rakeyan Darmasiksa juga sekali lagi menekankan pentingnya Kabuyutan Galunggung: “Bila terjadi perang (memperebutkan) kabuyutan di Galunggung. 3 No. 26 27 Saleh Danasasmita dkk. bertahanlah kita di sana.1 Tahun 2012 . unggul dalam berperang. pergilah ke kabuyutan. tina Parahyangan.

29 Kabuyutan-kabuyutan yang dikenal selama ini antara lain: Kanekes (Banten). dan sang wiku tenteram melaksanakan atau menunaikan undang-undang dewa (Sang resi enak ngaresianana. enak ngadeg manurajasunyia).Hal serupa juga dilakukan Prabu Jayadewata. Sunda Sembawa dan Jayagiri (Bekasi?). Dalam Prasasti E-44 daerah larangan itu disebut dengan nama kabuyutan dan kawikuan. Cisanti (Bandung). 21a. ngawakan sanghyang Watangageung. akasa. yaitu Prebu Niskala Wastukancana. ngawakan manurajasasasana.. dan tanah Dewa Sasana yang berada di Gunung Samaya sebagai daerah yang tidak boleh diganggu gugat.. Dari sekian nama Darma.. ngaduuman alas parialas. ngawakan sanghyang Watangageung. Sang rêsi enak ngarêsianana. 22b. Sang wiku enak ngadewasasana. enak ngadêg manurajasunyia. Nya mana sang tarahan enak lalayaran. bayu. Sang wiku enak ngadewasasana.. menjalankan kebiasaan leluhur . brata siya puja tanpa lum. Dalam Kropak 406 (Carita Parahyangan) pun ada gambaran penguasa Sunda yang berdedikasi tinggi pada kehidupan keagamaan sekaligus kegiatan literasinya..1 Tahun 2012 91 . Jasinga (Bogor). ngawakan Sanghyang Siksa (Kropak 406. lempir 21b. (Kropak 406. Yang mencoba mengganggu daerah-daerah tersebut diperintahkan untuk dibunuh. lempir 36a & 20b) 29 Kutipan lengkapnya: Nya mana sang rama enak mangan. Sunda Sembawa. Kerajaan Sunda mengalami kejayaan. Sanghyang apah. Sang disi enak masini. angadêg di Sanghyang Linggawêsi. Ngawakan sanghyang rajasasana.42-43) ia mengamanatkan kepada rakyatnya untuk menjaga dan memelihara Jayagiri. ngawakan na manusasana. Wanareja dan Ciburuy (Garut). ku gêde hamo diukih. tempat tinggal para wiku. Koleang. Salah satu bukti kejayaannya: sang resi dapat tenteram melaksanakan tugas kependetaannya. Galunggung (Tasikmalaya). ngawakan na purbatisti purbajati . ngawakan na purbatisti purbajati. Pada masa Kerajaan Sunda diperintah oleh raja yang merupakan adik Dyah Citraresmi yang gugur di Bubat. sang bu enak ngalungguh di Sanghyang Jagatpalaka. Pada Prasasti Kabantenan (E. Sanghyang Tapak (Sukabumi). Ku beet hamo diukih. 3 No. teja. dan 22a) Jumantara Vol. Wilayah tersebut juga tidak boleh dikenai pajak karena merupakan daerah larangan. dan Kawali (Ciamis).

Ekadjati30. karena secara jelas atau tertulis dalam NSK atau tempat diperolehnya sejumlah NSK seperti yang diinventarisasi oleh Gunawan dan Holil (2010). 423 (Carita Purnawijaya). ditemukan Kropak 406 (Carita Parahyangan & Fragmen Carita Parahyangan). aya Kropak 620 (Tutur Bwana). dan Kropak 631 (Candrakirana). 408 (Kawih Panyaraman). 418 (Nur Illahi). 415 (Mantra Darma Pamulih). 621 (Sanghyang Sasana Maha). jeung Kropak 105. 1099 (Pakéeun Raga). 622 (Warugan Lemah). melaksanakan pendidikan. Dari Kabuyutan Koleang antara lain ditemukan NSK Kropak 1095 (Langgeng Jati). Naskah Bambu 426 B (Kaleupasan). Ke sebelah timurnya. 412 (Fragmen Carita Parahiyangan). 20 November 2004. 1103 (Serat Jati Niskala). 635 (Sanghyang Hayu). 625 (Sri Ajnyana). 634 (Sanghyang Hayu). 633 (Siksa Guru). Ketiga. yakni Kabuyutan Ciburuy dan Kabuyutan Wanareja di Garut. 409 (Kapaliasan). 623 (Bimaswarga). dan Kabuyutan Koléang. ke Ciamis. Dari kabuyutan yang ada di Garut. ada tiga jenis kegiatan yang dilakukan di kabuyutan. 413 (Ajaran Islam). 422 (Jatiniskala). Bandung.kabuyutan itu yang dikenal sebagai tempat penulisan NSK. Kabuyutan Kawali di Ciamis. dan Kropak 642 (Siksa Guru). melakukan upacara ritual. 1104 (Primbon). 630 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian).1 Tahun 2012 . Pikiran Rakyat. 407 (Carita Raden Jayakeling). dan Kropak 626 (Sanghyang Swawar Cinta). 1102 (Para Putera Rama dan Rahwana). 1101 (Sasana Sang Pandita). Jenis kegiatan pertama antara lain dalam bentuk mendoakan raja 30 „Pendidikan di Tatar Sunda I‟ HU. 3 No. antara lain ditemukan NSK Kropak 610 (Pitutur ning Jalma). 92 Jumantara Vol. 637 (Sanghyang Hayu). 1097 (Carita Jati Mula). 414. 624 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian). Kedua. mendalami dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan (agama). 641 (Arjunawiwāha). Naskah Bambu 426 C (Sanghyang Jati Maha Pitutur). 639 (Serat Buana Pitu). Pertama. Pada tataran praktisnya. Ti Cisanti. 416 (Carita Purnawijaya). Kabuyutan Cisanti di Bandung. Bogor. menurut Edi S. 636 (Sanghyang Hayu). 638 (Sanghyang Hayu).

kalam. Media tulisnya terdiri atas beberapa jenis bahan (lontar. memberi contoh cara hidup di mandala termasuk jenis kegiatan kedua (pendidikan). sedangkan alat tulisnya berupa pisau pangot. memberi nasihat orang. Anak-anak dan orang muda yang memilih kegiatan keagamaan sebagai jalan hidupnya memasuki kompleks dan menjadi siswa (sisya) di kabuyutan untuk menerima berbagai ilmu pengetahuan (agama) dan tata cara hidup sebagai penghuni kabuyutan. dan renungan para leluhur (patikrama). Di antara guru-guru itu ada yang memiliki spesialisasi pengetahuan. Sebagaimana uraian Ekadjati di atas. dan tinta. baik yang ada di kabuyutan sendiri maupun yang datang dari luar. Penulisan itu merupakan tugas pendeta yang menjadi penanggungjawabnya. janggan menguasai berbagai jenis upacara ritual. Berbagai pengetahuan tersebut telah dikuasai oleh para guru yang kemudian disampaikannya secara lisan dan tertulis kepada siswasiswanya. Ia menjelaskan bahwa bahan ajarnya berupa berbagai pengetahuan agama (Hindu-Budha) dan ajaran hidup yang berasal dari intisari pengalaman. nipah. Mengajarkan pengetahuan agama.serta pejabat negara dan rakyat pada umumnya. pandan. 3 No. pratanda menguasi ilmu agama dan parigama. Untuk keperluan itu pejabat negara dan masyarakat umum sering datang ke kabuyutan dan sebaliknya penghuni kabuyutan sering pula diundang ke wilayah negara. mendidik anak-anak calon pendeta. Hal ini dimungkinkan oleh adanya Jumantara Vol. Di sana juga terlihat lalu-lintas naskah antar satu kabuyutan dengan kabuyutan lainnya. hasil akumulasi ilmu pengetahuan tersebut. mengarang suatu ilmu pengetahuan. pendeta menguasai pustaka. menyelenggarakan dan memimpin upacara ritual. Mendalami ilmu pengetahuan (agama).1 Tahun 2012 93 . kemudian diwujudkan dalam bentuk karya tulis. kelapa. aturan. dan menulis naskah (asli atau salinan) tergolong kegiatan intelektual. bambu). dan membaca teks-teks keagamaan. seperti: brahmana menguasai aneka macam mantra. Selanjutnya Ekadjati menjelaskan mengenai bahan ajar dan spesialisasi guru-guru yang ada di kabuyutan. aren.

karena nampak bahwa pada NSK terdapat keterangan hari.rahib atau pendeta pengelana yang (berkelana?) sambil belajar dari satu kabuyutan ke kabuyutan lain. Jum‟at Kliwon. Seperti yang kita saksikan dari peri kehidupan Bujangga Manik yang dalam perjalanannya senantiasa mencari tempat-tempat sepi. Contoh rahib pengelana ini adalah tokoh Bujangga Manik atau Perebu Jaka Pakuan atau Ameng Layaran yang berkeliling Pulau Jawa dan Bali. Jadi. seperti yang dapat kita temukan pada NSK sebagai berikut: Kropak 622 (Warugan Lemah). Titimangsa Dari tabel di atas juga dapat dibahas mengenai titimangsa atau waktu penulisan NSK. para penulis-penyalin NSK ada yang hanya menyertakan hari saja. Dari Jawa Barat. Namun ada juga yang menyertakan hari dan bulan. misalnya. yang diutamakan adalah keberjarakan dari dunia ramai. yakni Kropak 1** (Sanghyang Siksa Kandang Karesian) bulan ke-10. memang terjadi penulisan. ia memang mencari tempat-tempat sepi. Pada praktiknya. namun ada juga yang berada di luar Jawa Barat. Jawa Timur. NSK berikut memakai bulan saja sebagai titimangsa penulisan NSK: Kropak 621 (Sanghyang 94 Jumantara Vol. Selasa Manis dan Kropak KBG 75 (Wirid). dan tahun. Yang menyertakan bulan saja bisa dikatakan merupakan yang paling banyak bila dibandingkan dengan yang menyertakan hari maupun tahun. ke Jawa Tengah. 3 No.1 Tahun 2012 . bulan Muharam. Dalam beberapa adegan. dan melintasi Pulau Bali untuk belajar keagaamaan. Rabu Manis. karena keramaian itu akan terasa mengganggunya. yang tidak hanya berada di Jawa Barat saja. Dengan kehadiran nama-nama tempat yang berkaitan dengan pulau dan laut dapat diduga bahwa. Dalam perjalanan tersebut memang Bujangga Manik tidak terlepas dari naskah-naskah yang dibawa dan dibacanya. penyalinan. bulan. penyaduran naskah-naskah yang dihasilkan dari daerah lain dan kemudian dibawa oleh para rahib pengelana tersebut ke Tatar Jawa Barat. pada prinsipnya. penerjemahan.

bulan ke-1. sehingga terkesan arbitrer alias sewenang-wenang. bulan ke-8. dalam artian tidak ada keharusan atau kewajiban untuk mencantumkan titimangsa pada umumnya NSK. Ketiga. Ada juga yang bisa dikatakan lengkap menyebutkan ketiganya. bulan dengan tahun. 1440 Saka (1518 M). dalam artian bahwa ada yang hanya yang memakai hari. Dari paparan di atas nampak beberapa kenyataan yang patut dibahas secara luas dan mendalam. Kropak 626 (Sanghyang Swawar Cinta). Tahun Saka hlaŕ twa ya wu? Ada pula yang hanya campuran antara bulan dan tahun. hari dengan tahun. nampaknya tidak ada aturan yang ketat. namun ada juga yang mencantumkan campuran dua sampai tiga unsur waktu. 1357 Ś (± 1435 M). Hal itu terbukti dari tabel di atas. 3 No. Penggunaan kode-kode ini memang biasa dilakukan oleh para penulis-penyalin naskah-naskah di India. Para penulis-penyalin naskah di India biasanya memberikan catatan penomoran dengan menggunakan kata-kata dan huruf-huruf. Sementara yang memakai keterangan tahun ada: Kropak 634 (Sanghyang Hayu). bulan. Pertama. Kedua. penggunaan candrasangkala atau kronogram. kesewenang-wenangan itu juga terjadi pada pemilihan unsur waktu yang dicantumkan ketika penulis-penyalin NSK memberikan keterangan waktu penulisan. tergantung pada penulis-penyalin naskahnya. yaitu dimulai Selasa Kliwon. selesai hari Pon bulan ke-9. bulan. bulan ke-10. dan ada yang mencantumkan campuran hari dengan bulan.Sasana Maha Guru) ditulis pada bulan ke-4. dan Kropak 633 (Siksa Guru). bulan ke-8. atau tahun saja. Kropak 625 (Sri Ajnyana). dan Kropak 642 (Siksa Guru). Kropak 623 (Bimaswarga/Bimaleupas). yang terdapat pada Kropak 630 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian) bulan ke-3. 1445 Ś (± 1523 M). Pemilihan unsur waktu penulisan NSK sangat acak. dan tahun penulisannya.1 Tahun 2012 95 . Sementara Kropak 638 (Sanghyang Hayu) terbilang yang paling lengkap menyertakan hari. Mengenai hal ini Jumantara Vol. Kropak 641 (Arjuna Wiwaha). 1256 Ś (1334 M). bulan ke-7.

nanda. meskipun ada yang ia lewati. Indian Paleography (1980: 103-107). connote numbers. sitarasmi. Angka 1 diekspresikan dengan rupa. which. Buhler menyatakan ada dua sistem yang dipakai. selain digunakan untuk penonoran halaman naskah. sasi. dan Ananta. Pada penomoran menggunakan huruf. juga digunakan untuk memberikan titimangsa penulisan naskahnya. y=1. mahi. atau ka sampai kah yang sama dengan 1 hingga 12. George. cidra. Sementara untuk penomoran yang menggunakan huruf. Ambara. bhu. Angka 0 bisa diwakili oleh kata Sunya. dan m=5. th=7. Sistem pertama dianggap hanya hurufhuruf konsonan yang tak mempunyai huruf vokal yang penting. Akasa. beings or ideas. Buhler menyatakan: Two system of numeral notation. Sistem kedua memakai konsonan bervokal untuk penomoran. indu. dan tanu. as they are not without interest for paleography. according to Burnell originally South-Indian. kh=2. Angka 9 digambarkan dengan anka. 3 No. Dalam hal ini Buhler memberikan contoh dari angka 0 hingga 49. the numerals are expressed by the names of things. seperti pada huruf k=1. Baik penggunaan kata-kata maupun huruf. as well as in the dates of inscriptions and of MSS. adi. nayaka. have still to be described. seperti huruf ka hingga ke la yang berarti sama dengan 1 hingga 34. 96 Jumantara Vol. t=6. naturally or in accordance with the teaching of the Sastras. mathematics and metrics.1 Tahun 2012 . which both employ the phonetically arranged characters of the alphabet. keduanya.George Buhler menyatakan31: In many manuals of astronomy. Untuk 31 Lihat Buhler.

menjadi 1518 Masehi. sebagai tanggal diselesaikannya. atau 1523 Masehi. 24 Maret 1184 Masehi. Buhler memberikan contoh dari Pancasiddhantika. bila dikonversi ke penanggalan masehi. yang mengandung arti penulis-penyalinnya memaksudkan angka-angka itu pada masa-masa selepas masa awal Kaliyuga.1 Tahun 2012 97 . Demikian juga pada naskah NSK Kropak 634 (Sanghyang Hayu) terdapat kata-kata panca warna catur bumi yang artinya 1445 Saka. kurang wuwuhan. 4. misalnya. Buhler memberikan contoh dari Sarvanukramani: 23 1 565 1 khago=ntyan=mesam=apa Penggabungan angka-angka di atas nilainya sama dengan 1565132. di akhir naskahnya terdapat kata-kata nora catur sagara wulan yang sama dengan tahun 1440 Saka atau. Maret-April 2012 Daftar Pustaka Jumantara Vol. 3 No.veda. Cibiru. yang menghasilkan pada musim semi yang siang maupun malamnya hampir sama waktunya (vernal equinox). Keterangan ini bisa menjadi jalan memahami kehadiran katakata maupun huruf-huruf yang digunakan pada akhir sejumlah NSK. Sementara untuk penggunaan huruf. 44: kha – kha. seperti NSK Kropak 408 (Sewaka Darma) yang mengandung kata-kata akhir nanu namas haba jaja atau NSK Kropak 642 (Siksa Guru) yang diakhiri dengan katakata hlaŕ twa ya wu? Sugan aya sastra leuwih suda baan. Untuk Kropak 630 (Sanghyang Siksakandang Karesian).samudra= 0-0-4-41=14400. Dalam NSK ditemukan juga kata-kata yang belum ditemukan artinya.contoh penggunaan dari kata-kata.

BKI 149 No. Munandar. 3 No. Direktorat Jendral Kebudayaan Dep.Atja (1968).1 Tahun 2012 . Amanat Galunggung (Kropak 632): Transkripsi dan Terjemahan”. H. Indian Paleography. Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630). (1987). Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda (PSS). “Carita Ratu Pakuan (Kropak 410): Suntingan dan Terjemahan Naskah Sunda”. Molen. (2007). Buhler. Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda . 1. Atja (1970). “Balinese Palm-Leaf Manuscripts”. Undang A. Agus Aris (1991). Wiryamartana (2001). Seri Sundalana 6: Menyelamatkan Alam Sunda. Bandung: Jajasan Nusalarang. “The MerapiMerbabu Manuscripts: A Neglected Collection”. BKI 157 No. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi). Pendidikan Dan Kebudayaan Nasional Darsa. Saleh dkk. “Pendidikan di Tatar Sunda I”. New Delhi: Oriental Books Reprint Corporation Danasasmita. Aditia & Munawwar Holil (2010). Tjarita Parahijangan Titilar Karuhun Urang Sunda Abad ka-16 Masehi. Sewaka Darma (Kropak 408). Ratu Pakuan: Tjeritera Sunda-Kuno dari Lereng Gunung Tjikuraj. Undang A. Makalah pada Seminar Nasional Sastra dan 98 Jumantara Vol. HU Pikiran Rakyat. Gunawan. “Fragmén Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan (Kropak 406)”. Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda Hinzler. 20 Nopember). George (1980). Edi S. Séri Sundalana 1: Tulak Bala. Van der dan I. Darsa. “Membuka Peti Naskah Sunda Kuna di Perpustakaan Nasional RI: Upaya Rekatalogisasi”. “Kegiatan Keagamaan dalam Masyarakat Kerajaan Sunda: Data Prasasti dan Karya Sastra”. (1993). Ekadjati (2003). Bandung: Lembaga Bahasa dan Sedjarah. dan Edi S. W. Ekadjati (2004. 3. Seri Sundalana 9: Perubahan Pandangan Aristokrat Sunda.

11-13 Nopember. 3 No. Bogor. Makalah Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) I. TBG No. Darsa. (1914). 22-24 Agustus 2001. Jumantara Vol. Pleyte.Sejarah Pakuan Pajajaran. “Sebaran Situs Arkeologi di Jawa Barat: Tinjauan Terhadap Dasar Konsepsi Keagamaan”. Noorduyn. Diterjemahkan oleh Hawe Setiawan. dan kemudian dimuat dalam Prosiding KIBS 1 Jilid 1 (2006). “Poernawidjaja‟s Hellevaart of de Volledige Verlossing”.1 Tahun 2012 99 . __________ (2001). Jakarta: Pustaka Jaya. J. Bandung. Tiga Pesona Sunda Kuna. & A. teks Sunda kuna oleh Tien Wartini dan Undang A. dari Three Old Sundanese Poems (2006). 56.M. Teeuw (2009). C.

dan Balai Litbang Agama Jakarta. Tulisan ini merupakan upaya untuk melakukan rekonstruksi sejarah kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah (1479-1568). tetapi bagian dari tokoh historis dan fakta sosial melalui rekonstruksi historis peradaban Islam Nusantara.Abstrak Dari berbagai sumber tertulis diketahui bahwa pada masa Syarif Hidayatullah peradaban Islam di Cirebon mencapai masa kejayaannya. Terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu tulisan ini sehingga dapat hadir di hadapan pembaca. mitos. Signifikansi tulisan ini untuk menunjukkan adanya pembuktian atau lebih tepatnya penegasan akademik bahwa Syarif Hidayatullah yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Jati itu bukan sekedar tokoh legenda. Nurul Huda SA dan Aan Jaelani yang telah menemani saya ketika beberapa kali turun lapangan. atau semacamnya. Secara strategis. terutama di Cirebon pada tahun 1479-1568. Kata Kunci: Islam. serta mengungkapkan pengaruh Syarif Hidayatullah terhadap perkembangan dakwah Islam di Jawa. Saeful dan Salman dari Balai Litbang Agama Jakarta. Cirebon. Beberapa nama penting juga disebutkan disini. terutama di Cirebon. 100 Jumantara Vol. Dekan Fakultas Ushuluddin ISIF dan Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon. terutama kepada ISIF. menunjukkan bukti-bukti sejarah peradaban tersebut sebagai bukti kejayaan peradaban Islam di Cirebon.1 Tahun 2012 . 3 No. Syarif Hidayatullah * Kandidat Doktor Filologi di Departemen Susastra FIB UI Depok. tulisan ini diharapkan mampu menjadi kelengkapan khazanah sejarah Islam Indonesia dalam konteks rekonstruksi sejarah Islam Nusantara dan kehidupan keagamaan masyarakat.

(Yale University: 1997). Sekedar menyebut beberapa contoh tokoh tersebut adalah Abdur Rauf asSinkili di Aceh (1615-1693). Salah satu di antara kontribusi Syarif Hidayatullah adalah bahwa ia menjadi salah seorang dewan Walisongo34 di Jawa.33 Sebelum Syarif Hidayatullah.32 Mengapa (masih) Mengkaji Syarif Hidayatullah? Rekonstruksi sejarah Islam Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kontribusi pemikiran dan tindakan setiap tokoh di daerahnya. Era Syarif Hidayatullah. dan Sunan Kalijaga. 1613-1645). 32 Kutipan ini merupakan bagian dari tugas-tugas Wali Songo dalam Primbon milik Prof. atau lebih dikenal dengan gelar Sunan Gunung Jati. Sunan Kudus. Maulana Malik Ibrahim. Ishom El-Saha (edit. Penjelasan lebih lanjut pada Mastuki HS. Sunan Ampel. hlm. Sunan Drajat.Kanjeng Susuhunan ing Gunung jati ing Cirebon.). Sunan Muria. dan Syarif Hidayatullah di Cirebon (1479-1568). 90 33 Matthew Isaac Cohen. hampir dipastikan terdapat seorang tokoh yang mempunyai keutamaan dan pengaruh kuat bagi masyarakatnya. (Jakarta: Transpustaka. Terlebih lagi. 7 34 Walisongo adalah pelopor dan pemimpin dakwah Islam yang berhasil membawa murid-muridnya untuk menjalankan dakwah Islam ke seluruh Nusantara pada abad ke-15. pengaruh para penguasa Cirebon masih berlindung di balik kebesaran nama Syarif Hidayatullah. “An Inheritance from the Friends of God: The Southern Shadow Puppet Theater of West Java. dan M. tata cara pengobatan. Disertasi. hlm. Indonesia”. 2011). K. Sultan Agung di Jogjakarta (dulu Kesultanan Mataram. seperti dikutip Agus Sunyoto. Moh.R. Sunan Bonang. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan. daerah-daerah di mana suatu kerajaan Islam telah berdiri dan berjaya pada masanya. Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Pertumbuhan Jumantara Vol. utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana Sunan Gunung Jati di Cirebon mengajarkan tatacara berdoa dan membaca matera. Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Cakrabuana (1447-1479) merupakan rintisan pemerintahan berdasarkan asas Islam. Walisongo terdiri dari Sembilan wali. dan setelah Syarif Hidayatullah. serta tata cara membuka hutan.H. Di antara tokoh tersebut. amewahi donga hakaliyan mantra.1 Tahun 2012 101 . dapat dikatakan sebagai era keemasan (Golden Age) perkembangan Islam di Cirebon. Adnan. 3 No. Sunan Giri. Sunan Gunung Jati.

1499). 90. dan Sunda Kelapa (Jakarta). penterj. berpendapat bahwa suatu peradaban muslim tidak dapat bangkit kecuali dengan akidah keagamaan. 1497). 1565). hlm. Selaras dengan itu. 38 Abdullah Mustofa al-Maraghi. penterj.1 Tahun 2012 . “Kanjeng Susuhunan ing Gunung jati ing Cirebon. 37 Malik Bin Nabi. Afif Muhammad dan Abdul Adhem. amewahi donga hakaliyan mantra. 21-34. utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana”. 36 H. dan Abd al-Rahman Jami (w. serta tata cara membuka hutan). 2003). Malik Bin Nabi (1905-1973) dalam Syuruth al-Nahdlah. Ensiklopedi Ulama Nusantara: Riwayat Hidup. Gelegar Media Indonesia. 35 Agus Sunyoto.38 Abd al-Wahhab al-Sya‟rani/alSya‟rawi (w. peradaban Islam pada periode tersebut telah melahirkan berbagai tokoh pemikirnya. 3 No. 2009). Margaret. 183. (Bandung: Mizan. penterj. tata cara pengobatan. 1492). Al-Qarafi (1533-1600). Mistikus Islam: Ujaran-ujaran dan Karyanya. Bibit Suprapto. Era renaisans bukan sekedar merupakan kehidupan yang cemerlang di bidang seni. 39 Smith. hlm. (Sunan Gunung Jati di Cirebon mengajarkan tata cara berdoa dan membaca matera. (Yogyakarta: LKPSM. 2001). Abu al-Ma‟ali al-Maqdisi (w.Syarif Hidayatullah mendapatkan tugas berdakwah di Cirebon (Jawa Barat). Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah. hlm. 1505). Banten. pemikir Aljazair. (Jakarta. 2001). Ribut Wahyudi (Surabaya: Risalah Gusti.35 Perbedaan lain dengan para Walisongo ialah bahwa Syarif Hidayatullah selain sebagai ulama juga umara. 102 Jumantara Vol. hlm. pemikiran. Karya. antara lain Sadr al-Din al-Syirazi (w. 73.757. renaisans adalah periode yang berlangsung dalam kurun waktu 25-50 tahun dan mencapai puncaknya pada tahun 1500. Pakar-Pakar Fiqh Sepanjang Sejarah.39 Periode tersebut merupakan era renaisans bagi benua Eropa (1495-1500). Husein Muhammad.37 Dalam konteks itulah Syarif Hidayatullah membangun peradaban muslim di Cirebon. hlm. (Jakarta: Diva Pustaka. maupun kesusastraan yang mengeluarkan Eropa dari kegelapan Pesantren..M. Sejalan dengan bukti tersebut. Dalam catatan sejarah.36 Berbagai bukti kejayaan kepemimpinannya antara lain Masjid Merah Panjunan (+ 1480) dan masjid Agung Sang Cipta Rasa (1500). Membangun Dunia Baru Islam. Jalal al-Din al-Suyuti (w. II. yaitu Sultan di Cirebon. Tugas itu dirumuskan sebagai berikut. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. 1995) cet.

Adanya Pelabuhan Muara Jati yang berada di lalu lintas utama kawasan tersebut telah menjadi arena perdagangan internasional. gerakan. penterj. nakhoda dari Italia. telah menemukan kepulauan Amerika. Salah satu revolusi pemikiran pada era tersebut dikemukakan Nicolas Kopernick (Copernicus). 40 Pada tahun 1492. dan politik yang berkembang pada saat itu menarik untuk dilihat sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. bukan sebaliknya. tetapi juga merupakan suatu revolusi budaya. 2005). hlm. [t.42 Pelabuhan yang ramai dan jalur utama transportasi yang menghubungkannya dengan wilayah-wilayah lain menyebabkan kota tersebut tampil dengan keterbukaan dan menerima. Lili Sri Padmawati. hlm. Jumantara Vol. Bill. 100 Peristiwa yang Berpengaruh di dalam Sejarah Dunia (100 Events That Shaped World History).. Christopher Columbus. Meneruskan pendahulunya. 72 42 Diskusi tentang Cirebon sebagai jalur perdagangan dapat dibaca Susanto Zuhdi.k.1 Tahun 2012 103 . dan pemikiran yang melintasi kawasan tersebut. 1996). Keterbukaan itu pula yang terdapat dalam diri Syarif Hidayatullah selama memimpin di Cirebon. Pakungwati terbagi menjadi dua kesultanan. ekonomi. menjadi tempat persinggahan bagi setiap budaya. pusat Kesultanan Islam Cirebon berada di Kraton Pakungwati. Cirebon dikenal juga sebagai „Jalur Sutra‟. yaitu: daerah Panembahan Sepuh (Kasepuhan) dan daerah Panembahan Anom 40 Yenne. Pada masa itu.43 Di istana itulah Syarif Hidayatullah memulai membangun dan mengembangkan Kesultanan Cirebon sampai dengan pengunduran dirinya. 43 Kraton Pakungwati merupakan tempat kedudukan utama para Raja Cirebon. sehingga Sunan Gunung Jati tidak hanya dibaca seperti yang selama ini dikenal dalam legenda atau mitos. Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra. 3 No. budaya. yang menyatakan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. 74-75 41 Ibid. tetapi sebagai konteks sosial. pada masa Panembahan Ratu II (Girilaya). (Jakarta: Depdikbud.intelektual Abad Pertengahan.]: Karisma Publishing Group.41 Sekalipun peristiwa-peristiwa besar di belahan dunia tersebut tidak berhubungan langsung dengan Cirebon ataupun Syarif Hidayatullah. Tahun 1662. atau paling tidak.

Sultan Anom. Bersamaan dengan kedatangan Belanda sebagai penjajah yang menguasai Cirebon sekitar tahun 1700. Kanoman dan Kaceribonan. Sultan Kanoman IX itu bernama Sultan Muhammad Nurbuat. hlm. Kesultanan Cirebon terbagi pada masa Sultan IX yang bernama Sultan Anom Muhammad Kaeruddin. untuk Samsuddin Mertawijaya (1677-1697) dan Badruddin Kartawijaya (1677-1703). Beberapa perjanjian dengan VOC telah mendorong terjadinya kemunduran itu. (Jakarta: Balai Pustaka. Menurut Siddique. Pudjiastuti mencatat sisi positif dari perpecahan Kesultanan Cirebon.44 Artinya. Saat itu. tentang pengakuan dan pembagian cacah. Dalam sumber lain. 1992). 3 No. Kesultanan Kanoman terbagi lagi menjadi dua kraton. Sebab. Sejarah Nasional Indonesia: Jaman Pertumbuhan dan Perkembangan III. yaitu:. dan Pangeran Tohpati. dan perjanjian 8 September 1688 yang ditandatangai Sultan Sepuh I. 2001). Terakhir. yaitu telah terjadi perubahan progresif dalam kesusteraan setiap kali muncul Kraton baru. Bersamaan dengan kedatangan Daendels pada tahun 1808. Sharon.45 Sekitar tahun 1800. dimonopoli VOC. Dampak internalnya. Sultan Kanoman yang dibuang tersebut 44 Titik Pudjiastuti. (Jakarta: Balai Pustaka. Kasepuhan berkedudukan di Pakungwati dan Kanoman menempati kraton baru bekas istana Panembahan Cakrabuana. Relics of the Past: Sociological Study of the Sultanates of Cirebon West Java.1 Tahun 2012 . Kesultanan Cirebon telah mengalami kemerosotan karena pihak lain (asing) sejak tahun 1681-1940. 87. seperti perdagangan pakaian dan opium. 45 Siddique. situasi pernaskahan di kraton itu sangat bergantung dengan perkembangan dari kraton sendiri. Kasultanan Kanoman terbagi menjadi dua lagi. timbul perpecahan dalam Kesultanan Cirebon. bukan Kanoman. Di situlah kesusasteraan tumbuh maju dan berkembang.(Kanoman). “Cirebon” dalam Sastra Jawa Suatu Tinjauan Umum. Nugroho Notosusanto. seperti dikutip dalam Marwati Djoened Poesponegoro. 65 104 Jumantara Vol. Kanoman dan Keprabonan. Pembagian wilayah kesultanan tersebut didasarkan pada kesepakatan yang difasilitasi oleh Kesultanan Jogjakarta dan Banten. Sultan IX yang dimaksud barangkali Sultan Kacirebonan. salah seorang Sultan Kanoman Cirebon dibuang ke Ambon. hlm. antara lain: perjanjian 7 Januari 1681 yang menetapkan bahwa ekonomi-perdagangan.

Dalam Ensiklopedi Islam Indonesia disebutkan. tetapi pemberontakan di daerah perbatasan melawan penjajah tetap belanjut. Hoesein Djajadiningrat. Jakarta: Djambatan. R. lalu ditugasi di Sunda Kelapa dan Banten. lihat juga pada P. 213. ketika suasana damai di Cirebon terganggu oleh kolonial. cet. Tak ayal lagi. 2002. hlm. Masa Awal.A. (Jakarta: Bhratara.1 Tahun 2012 105 . dan Husein Djajadiningrat. Stamford Raffles memerintah langsung atas Cirebon namun pemerintahannya sangatlah singkat.A. Pada tahun 1815.A. tetapi semua dapat dipadamkan Belanda.dibebaskan oleh Daendels yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal. Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid I A-H. Pada tahun 1700 Belanda mengangkat Jacob Palm menjadi Residen pertama. Dalam entri Cirebon ini. Pigeaud dalam De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java. Bahkan kemudian. dalam Kern. Kern dan Husein Djajadiningrat. 33-39 47 Kern. Daendels membangun jalan raya melintasi pegunungan dari Batavia ke Cirebon (Jalan Raya Pos/Groote Postweg). Sebab.47 Penegasan serupa ditulis H. pemberontakan pun timbul sebagai salah satu cara untuk menolaknya. 3 No. bahwa kekuasaan Cirebon makin lama makin dipersempit. Jumantara Vol. gelar Sultan di lingkungan kraton sudah tidak diperbolehkan dipakai lagi.. “Beberapa Catatan Mengenai “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinja”. dalam tradisi lisan Cirebon dan beberapa tulisan menyebutkan. bahwa nama lain Sunan Gunung Jati itu Fatahillah. Studen Over de Staatkundige Geschiendenis van de 15 de en 16 de Eeuw.A. karena Britania harus mengembalikan Jawa dan bekas daerah kekuasaan HindiaBelanda lainnya kepada Belanda sesuai persetujuan akhir Perang Napoleon. De Graaf dan Th. Kesultanan Cirebon juga dijajah Inggris ketika pemerintahan Inggris menguasai (sebagian) Indonesia sekitar tahun 1811-1816. 46 Tim IAIN Syarif Hidayatullah. Fatahillah itu bukan keturunan Cirebon. Pada tahun 1809. Pemberontakan Cirebon telah dimulai sejak tahun 1788 dan terbesar tahun 1802. Tentang klarifikasi Fatahillah. Selain dikuasai Belanda. “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinya”.J. R. terdapat informasi yang masih meragukan validitasnya. dalam R.46 Kenyataan itu sejalan dengan pendapat Kern bahwa Cirebon berakhir kejayaannya pada abad ke-17. hlm. Masa Awal Kerajaan Cirebon. 21. II. 1974). revisi. tetapi dari Kesultanan Pasai yang diperbantukan di Cirebon. hlm.

“Kedaulatan atas daerah Cirebon termasuk daerah-daerah Sunda pada 1705 diserahkan oleh susuhunan di Kartasura kepada kompeni (VOC) di Batavia. Keraton-keraton para keturunan Sunan Gunung Jati di kota Cirebon masing-masing tetap dipertahankan di bawah kekuasaan dan dengan tunjangan uang dari pemerintah Hindia Belanda hingga abad XX ini.”48 Dengan demikian, pemerintah Kolonial Belanda telah semakin dalam ikut campur mengatur Cirebon, sehingga semakin surutlah peranan kraton-kraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya. Pada tahun 1906 dan 1926, kekuasaan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan pengesahan berdirinya Kota Cirebon (Gemeente Cheirebon). Saat itu, luas wilayahnya mencakup 1.100 hektar, dengan sekitar 20.000 jiwa penduduk (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370). Tahun 1942, Kota Cirebon kembali diperluas menjadi 2.450 hektar.49 Sejak tahun 1965 Cirebon telah berubah menjadi kota madya dan sekarang menjadi kota Cirebon dengan luas 37,36 km2.50 Memperhatikan latar belakang tersebut, tulisan ini menjadi penting untuk mengungkap Kesultanan Cirebon sebelum adanya campur tangan pihak asing, termasuk intervensi pihak kesultanan Jogjakarta dan Banten. Dari berbagai sumber tertulis diketahui bahwa pada masa Syarif Hidayatullah itulah peradaban Islam di Cirebon dapat dikatakan mencapai masa kejayaannya. “Ingsun titip tajug lan fakir miskin” adalah salah satu pernyataan atau petatah petitih dari Syarif Hidayatullah yang digunakan sebagai ikon oleh kalangan, baik pemerintah maupun swasta di Cirebon. Saat ini, Cirebon tetap dijadikan sebagai nama salah satu kota dan kabupaten di Jawa Barat. Sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia dan selama Cirebon menjadi pusat pemerintahan kota dan kabupaten, keluarga besar Kraton Cirebon sepertinya belum pernah ada yang menjadi bupati ataupun

48

De Graaf, HJ. & Th. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI, penyunting Eko Endarmoko dan Jaap Erkelens, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2003), hlm. 132. 49 http://indahartgallery.webs.com/keraton.htm 50 Profil kota Cirebon Jawa Barat.

106

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

walikota.51 Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penting dikemukakan pertanyaan, bagaimana kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568? Bukti-bukti sejarah apa yang mendukung adanya kejayaan tersebut? Dengan bukti-bukti tersebut, seberapa jauh peran Syarif Hidayatullah pada perkembangan dakwah Islam di Jawa? Tulisan ini merupakan upaya untuk melakukan rekonstruksi sejarah kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568, dan untuk menunjukkan buktibukti sejarah peradaban tersebut sebagai bukti kejayaan peradaban Islam di Cirebon, serta mengungkapkan pengaruh Syarif Hidayatullah pada perkembangan dakwah Islam di Jawa. Signifikansi tulisan ini untuk menunjukkan adanya pembuktian atau lebih tepatnya penegasan akademik bahwa Syarif Hidayatullah yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Jati itu bukan sekedar tokoh legenda, mitos, atau semacamnya, tetapi bagian dari tokoh historis dan fakta sosial melalui rekonstruksi historis peradaban Islam Nusantara, terutama di Cirebon pada tahun 1479-1568. Secara strategis, tulisan ini diharapkan mampu menjadi kelengkapan khazanah sejarah Islam Indonesia dalam konteks rekonstruksi sejarah Islam Nusantara dan kehidupan keagamaan masyarakat, terutama di Cirebon. Penelitian Terdahulu dan Landasan Kajian Penelitian Kejayaan Peradaban Islam di Cirebon pada Era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568 ini tidak dapat dilepaskan dari kajian-kajian sebelumnya, baik karena kemiripan dalam penggunaan metode dan pendekatannya, maupun kedekatan konteks serta cakupannya. Kajian terdahulu berguna untuk mengetahui perbedaan kajian ini dengan kajian-kajian tersebut, sehingga kajian ini ditemukan orisinalitasnya. Adapun kajian secara khusus dengan nama Syarif
51

Bahan awal tentang Cirebon dapat dibaca dalam Sulendraningrat, P.R.A. Sejarah Cirebon, (Jakarta: Balai Pustaka, 1985) dan Membumikan Wasiat Sunan Gunung Djati Dalam Membangun Jawa Barat Bermartabat, (Cirebon: Yayasan Keraton Kasepuhan Cirebon, 2004).

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

107

Hidayatullah, sampai dengan penulisan laporan ini belum ditemukan, kecuali kajian terhadap naskah kuno, yaitu Sajarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati, baik dalam Naskah Mertasinga (2005) maupun Naskah Kuningan (2007). Kajian naskah serupa dilakukan Atja (1972) dengan judul, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Tjirebon). Dengan pendekatan sejarah dan filologi, Atja mengungkap sejarah awal mula Cirebon; diuraikan pula tentang Syarif Hidayatullah melalui naskah yang ditulis Pangeran Arya Cirebon dan transliterasinya, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari.52 Nama Sunan Gunung Jati lebih sering digunakan para peneliti daripada nama Syarif Hidayatullah., misalnya dalam disertasi Dadang Wildan yang telah diterbitkan dengan judul Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural (Bandung, 2002).53 Akbarudin Sucipto menulis Dakwah Sunan Gunung Jati dalam Perspektif Politik: Analisis Deskriptif terhadap Proses Islamisasi Cirebon abad ke-XV dan XVI (Skripsi: STAIN Cirebon, 2006). Kajian tentang Sunan Gunung Jati juga dapat ditemukan dalam ensiklopedi-ensiklopedi, seperti Ensiklopedi Islam (2002, cet.II), Ensiklopedi Ulama Nusantara (2009), dan Intelektualisme Pesantren (2003). Kajian mutakhir tentang Sunan Gunung Jati dilakukan Agus Sunyoto (2011). Dalam buku yang diberi judul Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, Sunyoto memaparkan sehistoris mungkin berdasarkan data manuskrip dan arkeologi gugatan para penulis sejarah Islam di Jawa, di mana Wali Songo masih diabaikan. Kajian tentang Cirebon dalam konteks sejarah beberapa kali telah dilakukan, termasuk bahasan khusus tentang Syarif Hidayatullah walaupun tidak mendalam. De Graaf dan Pigeaud (2003 cet. V) menulis Riwayat Kerajaan di Jawa Barat pada
52

Untuk melengkapi penelitian ini, transliterasi Atja dilampirkan, sebagai bagian tak terpisah dari hasil penelitian ini. Penelitian Atja tahun 1972 ini diterbitkan Ikatan Karyawan Meseum. 53 Dalam kajian Wildan tersebut, dipaparkan pula 7 (tujuh) naskah yang terkait dengan Syarif Hidayatullah dalam bentuk prosa dan tembang. Dalam bentuk prosa yaitu Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Sunda, dan Sejarah Cirebon. Dalam bentuk tembang, yaitu Carub Kanda, Babad Cerbon, Babad Cirebon, dan Wawacan Sunan Gunung Jati.

108

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Abad XVI: Cirebon. Kajian tentang Cirebon tersebut hanyalah salah satu bagian dari kajiannya tentang kerajaan Islam di Jawa, yang dimulai dari Demak, Kudus, Madura, hingga Banten. Acuan penulisan keduanya adalah literatur lokal atau pribumi. Kajian serupa juga dilakukan RH. Unang Sunardjo, Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cirebon 1479-1809 (1983). Begitu pula Uka Tjandrasasmita, yang menulis “Kesultanan Cirebon: Tinjauan Historis dan Kultural” dalam karya arkeologisnya, Arkeologi Islam Nusantara (2009). Tjandrasasmita menguraikan tentang Cirebon dengan pendekatan sejarah, mulai dari pertumbuhan, perkembangan, sampai dengan keruntuhan kesultanan. Paparan lainnya terkait dengan beberapa aspek penting di Cirebon, seperti keagamaan, seni sastra, seni bangun dan ragam hias, serta wayang dan topeng. Kajian lain tentang Cirebon secara khusus dilakukan oleh tim peneliti dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UNPAD dengan judul Sejarah Cirebon Abad Ketujuh Belas (Bandung, 1991). Kajian lain tentang Cirebon dilakukan oleh Darkum (Skripsi Pendidikan Sejarah Fak. Ilmu Sosial UNNES, 2007) dengan judul Peranan Pangeran Walangsungsang dalam Merintis Kesultanan Cirebon 1445-1529. Kajian lain yang masih berkaitan dengan Cirebon dilakukan oleh Heriyanto (Tesis UI, 2000) dengan judul Upacara Panjang Jimat: Suatu Kajian tentang Kraton Kasepuhan Cirebon Masa Kini. Dalam salah satu bagian kajiannya, Heriyanto memaparkan tentang Kraton Pakungwati dan Syarif Hidayatullah. Informasi tersebut, sekalipun tidak berasal dari sumber primer, dapat menjadi informasi penegasan. Adapun kajian dengan pendekatan sastra dan filologi dilakukan Pudjiastuti, yaitu Cirebon (2001) dan Kajian Kodikologis atas Surat Sultan Kanoman, Cirebon [Cod. Or. 2241 ILLB 17 (N0. 80)] (2007). Studi kodeks dalam kajian Pudjiastuti dapat mempertajam analisis untuk mengungkap konteks surat Sultan Kanoman pada akhir abad ke-17. Isi surat itu menobatkan putra bungsu Sultan menjadi Panembahan. Penjelasan lebih luas tentang dinamika Kesultanan Cirebon diungkap Pudjiastuti pada “Cirebon” sebagai salah satu entri Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Umum. Konteks Cirebon dalam tulisan Pudjiastuti berkaitan dengan pernaskahan kuna di Cirebon.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

109

kebudayaan. Suwarno. 2008). Kritik internal dan eksternal dalam pendekatan sejarah juga digunakan dalam penelitian ini demi menjaga obyektifitas keilmuan.Penelitian dan penulisan tentang Cirebon dapat ditemukan pula dalam hasil penelitian dan buku-buku yang berasal dari seminar ataupun lainnya. dan kitab-kitab lokal lainnya. Dengan perspektif yang berbeda. yang berasal dari disertasinya pada Fakultät Geistes und Kulturwissenschaften (GuK) der Otto-Friedrich-Universität Bamberg. Pada kajian-kajian terdahulu di atas. filologi. dst. Carub Kanda. silsilah Sunan Gunung Jati dari garis ayah/ibu. para penulis asing juga melakukan kajian tentang Kesultanan Islam Cirebon. Sebagai keluarga kraton Cirebon. dan Panjunan Cirebon dikupas sekilas. dan Syafe‟I dalam „Jawa Barat pada masa Pemasukan dan Perkembangan Islam‟ dan „Jawa Barat dalam Abad ke -19‟ sebagai bagian dari Sejarah Daerah Jawa Barat (1979). I. yaitu sejarah. Sulendraningrat memaparkan tentang Cirebon sejak masa Pra Sejarah sampai dengan masa masuknya Islam di Indonesia. Sulendraningrat menulis Sejarah Cirebon (1978). Syarif Hidayatullah. silsilah 4 (empat) kesultanan. karena itu menjadi penting dan mendesak untuk dilakukan. Dengan demikian. mulai dari Raffles dalam The History of Java (Terj. seperti Kuningan ke Cirebon. Van Der Kemp dalam Pemberontakan Cirebon Tahun 1818 (1979). arkeologi. masjid Agung. Catur Kanda. Dalam kajian Ahmed E. Karya orang dalam kraton tersebut mengacu pada Babad Cirebon. dan Karel Steenbrink dalam Kawan Dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1941) (1995). Wahby (2007). untuk mengungkap Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah (1479-1568) digunakan pendekatan sejarah yang belum pernah dilakukan. dan arsitektur. Paparan senada diungkap Kosoh. 3 No. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern: 1200-2008 (2010 cet.1 Tahun 2012 . hingga tentang peleburan kota-kota kecil. III). Sejarah dalam kajian ini juga didasarkan pada sumber naskah dan artefak budaya. sekurangnya terdapat beberapa landasan kajian yang digunakan. Adapun dalam kajian ini. Architecture of the Early Mosques and Shrines of Java: Influences of the Arab Merchants in the 15th and 16th Centuries?. kajian ini diharapkan selain dapat 110 Jumantara Vol.

tetapi memang dapat dibuktikan melalui fakta-fakta historis. tapi kemungkinan besar sebagai penguasa kawasan Aceh. alih aksara dan bahasa Amman N.56 54 Syarif Hidayatullah adalah putra raja Abdullah (Syarif Abdullah) bin Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Husein (al-Husaini) bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan Nurdin bin Abdul Malik bin Gazam bin Alwi bin Muhammad bin Ubaidillah bin Ahmad Muhajir bin Isa al-Bakir (ar-Rumi) bin Muhammad Idris an-Naqib bin Ali al-Uraidhi (Kasim al-Kamil) bin Ja‟far Shadiq bin Muhammad al-Bakir bin Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib (suami Fatimah az-Zahra binti Rasulullah Muhammad SAW. dalam urutan ke-22. (Jakarta: Gramedia. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. Wahju. walaupun berdarah Timur Tengah. dengan judul Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. (Bandung: Pustaka. sama dengan Sunan Bonang dan Sunan Drajat atau Sunan Giri.1 Tahun 2012 111 . 2007). dan mitos belaka. Syekh Najmurini (Nujumuddin) Kubra di Mekkah. terutama Perlak atau Pasei. Syarif Hidayatullah dilahirkan pada tahun 1448 dari perkawinan Raja Abdullah (Syarif Abdullah) dengan Rara Santang. Syarif Hidayatullah telah berguru kepada Syekh Tajudin al-Kubri selama 2 tahun dan Syekh Ataillahi Syazally yang bermazhab Syafei. pada usia 120 tahun Syarif Hidayatullah (tahun 1568) dipanggil sang Khalik dan dikebumikan di Gunung Sembung Cirebon. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. hlm. 3 No. 755 dan 758. 219 56 Lihat pada Naskah Mertasinga dan Kuningan. Ini mirip dengan pendapat Hosein Jayadiningrat dengan argumentasi yang berbeda. Dilahirkan di Mesir. bahwa Syarif Hidayatullah atau sering dikenal dengan Sunan Gunung Jati itu bukanlah legenda.54 Menurut Purwaka Caruban Nagari. dan arkeologis.). filologis.memberikan sumbangsih kepada masyarakat. Karya. kajian ini dapat pula menjadi penegas. Syekh Bentong. 55 Naskah Mertasinga. hlm. pada masa remajanya. Sunan Ampel. dan Syekh Quro. Jumantara Vol. Syarif Hidayatullah masih termasuk keturunan Rasulullah SAW. Wahju. 2009). Silsilah Syarif Hidayatullah: Arab dan Cirebon Menurut Ensiklopedi Ulama Nusantara.55 Guru Syarif Hidayatullah lainnya adalah Syekh Nur Jati (Datuk Khafidz). alih aksara dan bahasa Amman N. Raja Abdullah bukanlah raja di Mesir. putri Prabu Siliwangi asal Pajajaran yang bergelar Syarifah Mudaim. ketika umur 20 tahun. Ayah Syarif Hidayatullah. Syekh Sidiq. Lihat Bibit Suprapto. Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup.

yaitu: Ratu Ayu (istri Fatahillah) dan Pangeran Pesarean (Dipati Muhammad Arifin). Sari Kabun (Rara Santang. secara singkat sebagai berikut:. (Jakarta: Gramedia. Dari pernikahannya dengan Prabu Siliwangi mempunyai tiga anak. alih aksara dan bahasa Amman N. yaitu:.57 Silsilah Syarif Hidayatullah dari jalur ayah sampai pada Rasulullah SAW. (Bandung: Pustaka. Wahju. 58 Adapun silsilah Syarif Hidayatullah dari jalur ibu sampai ke Prabu Bunisora. 2009). Banten) dikaruniai dua anak. Sultan Mahmud). dan dari pernikahannya dengan Sultan Mahmud mempunyai dua putra. Syarifah Mudaim). Pangeran Cakrabuana. 756-757 58 Naskah Kuningan.Syarif Hidayatullah pernah beberapa kali menikah. hlm. keempat dengan Dewi Kawunganten (Putri Ki Gedeng Kawunganten. Ratu Winaon dan Pangeran Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I). Rara Santang menikah dengan Sultan Bani Israil (Sultan Hud. kelima dengan Nyi Mas Rara Kerta (Putri Ki Gedeng Jatimerta) dikaruniai dua anak: Pangeran Jaya Lelana dan Pangeran Brata Lelana. Karya. berganti nama Rara Sumanding) tidak berlangsung lama. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. 2007). dan Raja Sangara.1 Tahun 2012 .. (Bandung: Pustaka. karena Ong Tien meninggal dunia. Juru Labuhan Muarajati II) mempunyai anak Nyi Subang Larang yang menikah dengan Prabu Siliwangi. Rasulullah SAW. pernikahan kedua dengan Ong Tien (Putri Cina. lampiran 112 Jumantara Vol. 3 No. mempunyai seorang putri bernama Siti Fatimah yang berputra Sayid Husein yang berputra Zainal Abidin yang berputra Syekh Zainal Kabir yang berputra Syekh Jumadil Kubra dari Quswa yang berputra Raha Umrah-Raja Odhara dari Mesir yang berputra Sultan Bani Israil yang berputra Syarif Hidayatullah. adalah sebagai berikut: Sang Prabu mempunyai anak Ki Gedeng Kasmaya (Ki Ageng Giridewata) Penguasa Carbon Girang yang mempunyai putrid Nyi Karancang Singapuri dari Pulo Pinang/Singapura menikah dengan Ki Gedeng Tapa (Ki Gedeng Juman Jati. Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup. pernikahan pertama dengan Retna Pakungwati (Putri Pangeran Cakrabuana) dikaruniai dua anak. pernikahan ketiga dengan Nyi Mas Retna Babadan (Putri Ki Gedeng Babadan). Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. 2007) 57 Bibit Suprapto. hlm.

Bruinessen. 59 Guru dan Ajaran Syarif Hidayatullah Menurut Bruinessen. 23 61 Naskah Mertasinga dalam Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. sira aja ngebat-tebat. 223-245. Den 59 60 Ibid. “Perkara lampah kang katiti. 1999) cet. iku samono kang nyata den kukuh laku iku”. Setelah itu. (Dalam hidup ini. dan Naqsyabandiyah. yaitu tarekat yang dihubungkan dengan nama Najamuddin al-Kubra.60 Adapun beberapa ajarannya melalui pesan. Martin van. Syarif Hidayatullah juga belajar Tarekat Syattariyah. syari‟ah. Kalau bicara.1 Tahun 2012 113 . janganlah kamu bertindak berlebihan. antara lain sebagai berikut: Pesan Syekh Najmuddin Kubra kepada Syarif Hidayatullah61. 3 No. yang dalam Babad Cirebon selalu disebutsebut. Bandingkan dengan Naskah Mertasinga. bahkan tasawuf dengan tarekatnya. TradisiTradisi Islam di Indonesia (Bandung: Mizan. Qadiriyah.Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. alih aksara dan bahasa Amman N. lan aja nyerang hukuming Widhi. Pesan Syekh Athaillah di Sadili kepada Syarif Hidayatullah. itulah hal yang nyata dan lakukanlah hal itu dengan teguh). 2007) Jumantara Vol. bicaralah yang jujur dan jangan melawan hokum dari Yang Maha Esa. (Bandung: Pustaka. hlm. Yen ngucap kang satuhu. demikian hingga akhir hidup. Syarif Hidayatullah berguru kepada Ibnu Atha‟illah al-Iskandari al-Syadzili selama dua puluh tahun di Madinah dan ia mendapat bayaran karena menjadi penganut Tarekat Syadziliyah. Bruinessen juga berpendapat bahwa Syarif Hidayatullah merupakan penganut Tarekat Kubrawiyah. III. Syarif Hidayatullah telah mendalami akidah. Wahju. Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat. Istika‟i. dalam babad-babad tentang Syarif Hidayatullah diceritakan bahwa sebelum kepergiannya ke tanah Jawa. sira aja angebat-tebat ing laku den teka patine. hlm. “Mapam kita iki ing ngahurip.

janganlah kamu berlebihan.basaja sira iku.62 Memang penelitian ini perlu dilanjutkan lagi. menyebutnya dengan “. (Mengenai langkah yang harus dijalani. Wali Songo.1 Tahun 2012 . Pada masa itu. khusus mengenai guru dan ajaran Syarif Hidayatullah. Arkeologi Islam Nusantara. dan perdagangan. Lan duwea muhung. sira aja ilok anglaluwih ing padaning manusa. hlm. 156 Tjandrasasmita. Iku lampah kang sampurna jati. lakukanlah tapa di tengah ramainya manusia.diwarnai cerita-cerita absurd yang perlu penafsiran untuk mengetahui kebernaran historisnya”. hiduplah dengan bersahaja. bidang politik. Itulah langkah sempurna yang sejati. penguasa kadipaten dari Kerajaan Sunda Pajajaran yang berkududukan di Banten Girang. Maulana Hasanuddin. 164 114 Jumantara Vol. Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikanmu takabur. untuk mendalami apa yang dinyatakan Sunyoto. jangan sombong dalam bicara dan jangan berlebihan terhadap sesame manusia. Mung semana lampah ingkang sejati”.63 Peristiwa itu terjadi setelah keruntuhan pemerintahan Pucuk Umum. Kemajuan Islam pada era Syarif Hidayatullah tidak berhenti pada terbentuknya pusat pemerintahan di bawah pimpinan 62 63 Sunyoto. Milikilah sikap luhur dan maafkan orang yang salah. Uka. Wong kang luput den ampura. Pada masa itu pula berlangsung penyebaran Islam ke Banten (sekitar 1525-1526) melalui penempatan salah seorang putra Syarif Hidayatullah. aja langguk ing wicara. Bukti Kejayaan Pada Era Syarif Hidayatullah Periode Syarif Hidayatullah (1479-1568) memimpin Cirebon merupakan masa perkembangan sekaligus masa kejayaan Islam di Cirebon.. hlm. keagamaan. (Jakarta: Pustaka Gramdia. maju sangat pesat. hanya itulah langkah yang sejati).. 3 No. seperti di atas. Sunyoto (2011) dalam analisisnya tentang pendidikan dan pengembangan keilmuan Syarif Hidayatullah. 2009). Pan sira aja susah tatapa ing gunung utawa guane iku dadi takabur. Sira laku tapaha maring ingkang remening jalma.

seperti yang tampak dalam gambar. graha artinya rumah). dan pelabuhan yang saat ini tidak seramai dahulu lagi. yaitu yang bersifat rohaniah seperti penyebaran Islam. Bukti-bukti kejayaan Syarif Hidayatullah di Cirebon.1 Tahun 2012 115 . Masjid ini merupakan masjid pertama di tatar Sunda dan didirikan di pesisir laut Cirebon. Sampai saat ini masjid tersebut masih terpelihara dan dikenal dengan nama dalam dialek Cirebon. wilayah perkembangan Islam pada era itu. antara lain ke Kerajaan Galuh (tahun 1528). . juga dapat dilihat pada perkembangan bangunan fisiknya. Jika dipetakan. Tangerang. Jumantara Vol. kemudian Talaga (tahun 1530). seperti Tajug (Masjid). telah dilakukan sejak Islam masuk di Cirebon.Maulana Hasanuddin yang terletak di Surosowan. Pangeran Cakrabuana mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Sang Tajug Jalagrahan (jala artinya air. khususnya masjid. Krawang. tetapi pengembangan juga dilakukan ke arah Priangan Timur. Kraton Pakungwati. selain terlihat dari sisi keagamaannya. Untuk kepentingan ibadah dan pengajaran agama Islam. dekat Muara Cibanten.Wilayah Kekuasaan Syarif Hidayatullah 1479-1568 - Tajug dan (atau) Masjid Pendirian tempat ibadah. Bekasi. 3 No. masjid Pejalagrahan. saat ini berada di Kasepuhan. dan Serang (Banten). yaitu Indramayu.

di dinding bagian pengimaman terdapat lukisan khusus. Berbeda dari informasi yang berkembang di masyarakat. sedangkan bagian luar berfungsi untuk salat maktubah. 65 Sebagaimana ciri khas masjid Cirebon lainnya. 45 65 Wawancara Agustus 2011 di Masjid Merah Panjunan Cirebon. Bagian dalam Masjid Merah Panjunan. dibangun sesudah masjid Merah Panjunan. yang sampai hari ini diakui keberadaannya. hlm. dan dihiasi piring keramik dari Cina. menurutnya. 116 Jumantara Vol. Masjid tersebut dibangun sekitar tahun 1454. seperti ditulis Dadan Wildan. para walisongo sering mengadakan rapat di dalam masjid untuk membicarakan beberapa hal penting urusan umat. 3 No. Bangunan kedua masjid terbagi menjadi 2 (dua). yaitu bangunan dalam dan luar.1 Tahun 2012 . yaitu sekitar tahun 1480. yakni masjid Merah Panjunan dan masjid Agung Sang Cipta Rasa. Menurut salah seorang takmir masjid. Bagian dalam masjid digunakan hanya untuk waktu-waktu khusus. berbentuk undukan bata. Kasepuhan. Sunan Gunung Jati. sebelum masjid Agung Sang Cipta Rasa didirikan. terdapat beberapa bangunan masjid yang dibangun pada masa Syarif Hidayatullah. terbitan Suleman Sulendraningrat. Khusus untuk Masjid Merah Panjunan. bagian dalam hanya digunakan untuk Salat hari raya („Ied).bertempat di dalam Kraton Pakungwati. masjid Agung Sang Cipta Rasa.64 Selain itu. tempat pengimaman hanya digunakan salat idul fitri dan idul adha 64 Babad Tanah Sunda.

Mesjid Merah Panjunan Mesjid Merah Panjunan Kejayaan era Syarif Hidayatullah juga terlihat dari keberadaan sebuah bangunan masjid yang bernama Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang saat ini berada dalam lingkungan kompleks Kraton Kasepuhan. 3 No.1 Tahun 2012 117 . Masjid itu dibangun tahun 1549 atau seperti yang tertulis dalam candrasangkala yang berbunyi Waspada Jumantara Vol.

1998). 1982). Nama lain masjid ini adalah Masjid Pakungwati. kekuasaan cukup dijalankan oleh putranya di Banten. Baginya. Syarif Hidayatullah sendiri lebih memilih mengkhususkan diri dalam syiar Islam ke daerah pedalaman. Pesarean merupakan putra Syarif Hidayatullah dengan Nyai Tepasari. 34-35 118 Jumantara Vol. (Jakarta: Sinar Harapan. mulai dengan alun-alun dan istana yang kemudian terkenal dengan nama Istana Pakungwati (Pupuh 18. Hal itu pula merupakan konskuensinya sebagai anggota penting Walisongo. hlm. alih aksara dan ringkasan S. yang bermakna 1500. jadi 1422 caka. hlm. hlm. Panembehe = 2. Yuga = 4. Kraton dan Sistem Pemerintahan Cirebon Sarip Hidayat menikah dengan Pakungwati dan mulailah pembangunan negara (kota) Carbon. 1979). xxviii 68 Adeng . 123 67 Babad Cirebon. Dhandhanggula)67 Sejak serah terima dari Pangeran Cakrabuana. Mempertimbangkan hal itu. Perkembangan Islam secara luas dan massif bermula dari tempat itu. Naskah Mertasinga. Paramita R. Syarif Hidayatullah di akhir hayatnya lebih memilih untuk menjadi seorang ulama daripada penguasa pemerintahan. Masjid Agung dibangun ketika Syarif Hidayatullah berumur 113 tahun atau sekitar 1561.). Keaktifan dakwah Islam Syarif Hidayatullah tidak membuatnya melupakan penataan pemerintahan di daerah sekitarnya.66 Bentuk bangunan dan simbol-simbol dalam masjid semuanya sarat dengan makna filosofis. Syarif Hidayatullah tinggal di Kraton Pakungwati. Cerbon.Z. Simbol bangunan masjid melambangkan filsafat Hayyun ila Ruhin (hidup tanpa ruh). (Jakarta: Depdikbud.68 66 Waspada = 2. Abdurrachman (penyunt. hlm. Kota Dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra.dkk.1 Tahun 2012 . 83. Sebagai bagian dari Walisongo. Hadisutjipto (Jakarta: Depdikbud. Berbagai perubahan sistem pemerintahan yang berdasarkan nilai-nilai Islam mulai diterapkan. 3 No. Ratu = 1. Tetapi menurut Naskah Mertasinga. Syarif Hidayatullah menyerahkan kekuasaan pemerintahan di Cirebon kepada Pangeran Pesarean pada kurun waktu 1528-1552.Penenbehe Yuganing Ratu.

Kraton Kasepuhan sebagai pintu gerbang menuju Kraton Pakungwati Kraton Cirebon setelah ditinggal Syarif Hidayatullah mengalami Jumantara Vol.Masjid Agung Sang Cipta Rasa dari berbagai sisi Pintu Gerbang Masjid Pintu Masuk Masjid Dalem Dengan tidak aktifnya Syarif Hidayatullah dalam pemerintahan.1 Tahun 2012 119 . 3 No. maka ia mendapat julukan Pandita Ratu (ulama yang menjadi raja. tetapi lebih giat menjalankan keagamaan daripada bergerak di bidang politik).

bahwa perubahan nama gelar untuk penguasa di Kraton Cirebon juga menunjukkan adanya dinamika yang luar biasa. Kuningan (Selatan Cirebon). terlebih lagi setelah adanya pengaruh pihak kolonial atau masuknya VOC ke Cirebon. Gelar penguasa Cirebon pernah mengalami beberapa perubahan. penyebaran Islam ke daerah Babadan. Pelabuhan sebagai Pusat Perdagangan Peninggalan Syarif Hidayatullah yang pernah menjadi bagian dari jalur sutra perdagangan dunia internasional adalah pelabuhan. terjadi dengan damai dan tanpa kekerasan. yaitu Panembahan Ratu dan Sultan. “Perkembangan Pelabuhan Cirebon 1859 -1930”. 3 No.ac. Pemandangan itu pun masih dapat ditemui hingga saat ini. Mungkin fenomena ini bisa ditafsirkan sebagai upaya Cirebon untuk memperkuat posisinya di bidang perdagangan dan pelayaran dengan cara menguasai daerah pedalaman yang menjadi sumber 69 http://elib. Pada sore hari.id/files/disk1/475/jbptunikompp-gdl-midiansoem-237253-bab2-mid-n.berbagai kemunduran.undip. Hal itu sejalan dengan perkembangan pesat dari beberapa kerajaan Islam di Jawa dan Banten.unikom.pdf 70 Sigit W. 1994) dalam http://eprints. Dari berbagai sumber diketahui.ac. Pelabuhan Cirebon diduga berdiri seiring dengan kelahiran Cirebon pada 1371. kota Cirebon juga menjadi kota pelabuhan alternatif terpenting di pantai utara Jawa setelah Jakarta dan Semarang. bersamaan dengan berlangsungnya era kolonialisme. (Semarang: Skripsi Fak. Perkembangan pelabuhan paling pesat terjadi pada abad ke-19. Kapal-kapal asing yang mengangkut barang-barang niaga dari dan ke luar negara pernah meramaikan pelabuhan ini.69 Selain itu. Sastra UNDIP.id/22079/ 120 Jumantara Vol.70 Menurut Singgih Tri Sulistiono..1 Tahun 2012 . Cirebon merupakan pusat perdagangan untuk daerah sekitarnya. Indramayu. dapat disaksikan puluhan kapal besar tengah bersandar di dermaga. Pelabuhan Cirebon merupakan pelabuhan yang memiliki peran strategis dalam hal perdagangan sejak masa Syarif Hidayatullah masih berkuasa. dan Karawang. Sebagai kota pantai.

Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa jika pelabuhan tersebut kurang dimanfaatkan. Seperti disebutkan 71 72 Seperti dikutip Tjandrasasmita.1 Tahun 2012 121 . Uka. 3 No. hlm. kota pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon sudah lebih banyak penduduknya dan lebih ramai.72 Pelabuhan Cirebon inilah salah satu sumber ekonomi terbesar Kraton Cirebon sehingga pihak kraton dapat memenuhi kehidupan masyarakatnya. pelabuhan Cirebon berstatus pelabuhan internasional. Arkeologi Islam Nusantara. yang berarti bahwa pelabuhan Cirebon terbuka bagi kegiatan bongkar muat barang dari dan ke luar negeri atau barang ekspor dan impor. setiap Sunan dalam Wali Songo mempunyai tugas masing-masing.com/photos/album/91/Pelabuhan_Cirebon Jumantara Vol. maka kejayaan Cirebon juga sudah mulai tenggelam. seperti beras dan kayu. pelabuhan samudra dan pelabuhan ekspor impor. serta sekaligus tempat mensuplai barang-barang dari luar. Adapun pelabuhan Cirebon dikelola oleh BUMN yang keberadaannya dibawah manajemen PT (Persero). 71 Pelabuhan Kota Cirebon saat ini Saat ini.penghasil komoditas perdagangan. Lebih-lebih pada masa pemerintahan Syarif Hidayatullah (1479-1568) yang lebih kurang berusia satu abad. 164 http://boykomar. Pengaruh Syarif Hidayatullah di Jawa Sebagaimana disebut di awal pembahasan.multiply.

Raja Pandhita ing Gresik amewahi ing polanipun ing sinjang. adalah sebagai berikut: Sunan Ampel membuat peraturan-peraturan yang Islami untuk masyarakat Jawa. utawi amewahi parabotipun bekakasing pande. kaliyan kemasan.73 Menurut Serat Walisana. Kanjeng Susuhunan Drajat.1 Tahun 2012 . kaliyan amewahi bangsa pepetangan lampahing dinten wulan tahun windu. sebagai berikut: Susuhunan ing Ngampel-denta handamel pranating agami Islam. kerajinan emas. tugas tokoh-tokoh Wali Songo dalam mengubah dan menyesuaikan tatanan nilai dan sistem sosial budaya masyarakat. seperti tandu dan joli. menyesuaikan siklus pawukon. Dalam bahasa Primbonnya. tenun lurik. utawi amewahi lagunipun ing gending. utawi andamel garabah. hlm. adamel susuluking ngelmi kaliyan amewahi ricikanipun ing gangsa. 3 No. memperbarui alat-alat pertanian. Sunan Kudus merancang pekerjaan peleburan. dan perlengkapan kuda. kanggenipun ing tiyang Jawi. Kanjeng Susuhunan ing Giri adamel pranatanipun ing karaton Jawi. mengatur perhitungan kalender siklus perubahan hari. Sunan Drajat mengajarkan tata cara membangun rumah dan membuat alat untuk memikul orang.Sunyoto. seperti disebut Sunyoto. sinjang batik. 122 Jumantara Vol. tokoh Syarif Hidayatullah dikisahkan memiliki kaitan dengan ajaran sufisme 73 Sunyoto. Susuhunan ing Majagung amewahi wangunipun ing olah-olahan. waos duwung sapanunggalanipun. kaliyan malih amiwiti damel dalan tiyang Jawi. tata cara pengobatan.. dan menggubah irama gamelan. membuat gamelan. Sebagai Raja Pandita di Gresik ia merancang pola kain batik. juga merintis pembukaan jalan. Sunan Giri membuat tatanan pemerintahan di Jawa. Sunan Bonang mengajar ilmu suluk. kaliyan sinjang lurik. tahun. dan lauk pauk. saha amewahi ing wangunipun kakapaning kuda. juga membuat peraturan. 90-91. Kanjeng Susuhunan ing Gunung Jati ing Cirebon. serta tata cara membuka hutan. Susuhunan Majagung mengajarkan mengolah berbagai macam jenis masakan. bulan. undang-undang. serta membuat gerabah. Syarif Hidayatullah di Cirebon mengajarkan tata cara berdoa dan membaca mantra. amewahi wanguning griya. melengkapi peralatan pande besi. hingga sistem peradilan yang diperuntukkan bagi orang Jawa. Kanjeng Susuhunan Kudus amewahi dapuripun dadamel. Kanjeng Susuhunan Bonang. kaliyan amewahi parabotanipun ing among tani. membuat keris. tandu joli sapanunggalanipun. dadaharan hutawi ulam-ulaman. utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana. utawi amewahi lampahing pawukon sapanunggalipun. amewahi donga hakaliyan mantra. saha adamel angger-anggeripun hingga pangadilan hokum ingkang keninging kalampahan ing titiyang Jawi. dan windu. utawi tiyang ingkang karembat ing tiyang.

Syaikh Rudadi. Perkembangan Tarekat Syattariyah dan Akmaliyah. Bukti kedekatan pengaruh juga ditunjukkan dengan pola pernikahan putra putrinya. terdapat berita bahwa Sunan Cirebon ikut serta membangun masjid Demak sebagai salah satu di antara Sembilan wali. hlm. dan Syekh Siti Jenar. Begitu pula dengan keterlibatannya dengan kerajaan Islam di Banten. Setiap teks selalu menawarkan informasi yang tak jarang berbeda dan bertentangan satu teks dengan teks lainnya tentang sosok Syarif Hidayatullah. Fatahillah. Syaikh Sbti. 72-88 Jumantara Vol. cet. Sunan Giri. 3 No. Sebagai sosok historis.76 Menurut sumber lain. Syarif Hidayatullah yang hidup pada abad ke-15/16 di Cirebon. hlm.1 Tahun 2012 123 .75 Keterlibatan Syarif Hidayatullah dengan kerajaan Islam di Demak. 2007). bersamaan dengan masa renaisans di Eropa dan kehadiran para pemikir besar muslim pada masanya. Sekurangnya terdapat beberapa peristiwa besar di Demak. V. Kesimpulan Mengkaji teks Syarif Hidayatullah sungguh mengasikkan. antara lain rapat Wali Songo pernah dipindah dari Demak ke Cirebon untuk membicarakan banyak hal di Jawa. alih aksara dan bahasa Amman N. seperti dikutip Muljana. dan Syaikh Samangun Asarani. daripada sebagai penguasa formal birokratis di kesultanan Cirebon. Syarif Hidayatullah telah menanamkan suatu 74 75 Sunyoto. Syaikh Muhyiddin Ibn „Arabi. Sebagai tokoh yang lebih memilih dakwah syiar Islam bagi masyarakatnya. Sunan Kalijaga. Syaikh Abu Yazid Bustomi. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya NegaraNegara Islam di Nusantara.melalui kitab-kitab Syaikh Ibrahim Arki. intelektual dan muballig. hlm. Ibid. Wahju. khususnya Syarif Hidayatullah. disebutkan pula dalam Naskah Mertasinga. (Yogyakarta: LKiS. Abad tersebut.. sampai dengan tulisan ini dibuat.. tidak ditemukan suatu kitab atau karya akademiknya. 100-101 76 Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga). 91-92 Slamet Muljana. (Bandung: Pustaka. Syarif Hidayatullah juga ikut dalam perjuangan Islam di Jayakarta melalui utusannya.74 Dalam Serat Kanda. 2007). sering pula dinisbatkan pada ajaranajaran Wali Songo.

Majalengka. Indramayu.1 Tahun 2012 . Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia. Indonesia”. Cohen.peradaban moral dan teologis bagi muslim Indonesia terutama di Cirebon. Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah muladjadi Tjirebon). (1998). Tak kalah pentingnya lagi kontribusi Syarif Hidayatullah pada perkembangan Islam di Jawa Barat dengan cara dakwah dengan damai. Karena itu. Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat. Disertasi. bahkan Jayakarta (Betawi). bukti kejayaannya dapat ditemukan melalui bangunan tajug atau masjid dengan keragaman seni dan filosofinya. Penyunting Eko Endarmoko dan Jaap Erkelens. Wallahu a‟lam bis sawab Bibliografi Adeng. Kota Dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra. De & Th. Skripsi UNES Semarang. 124 Jumantara Vol. Ciamis. Bruinessen. Cet. Martin van (1999). Yale University. HJ. Matthew Isaac (1997). III. “An Inheritance from the Friends of God: The Southern Shadow Puppet Theater of West Java. mulai dari Kuningan. Graaf. 3 No. dkk. Jakarta: Ikatan Karyawan Meseum. Bandung: Mizan. Darkum (2007). Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Pengaruh Syarif Hidayatullah terhadap perkembangan Islam di Jawa sangat besar sekali. barangkali merupakan sebagian di antara bukti peradaban muslim klasik Indonesia dari Syarif Hidayatullah selama kurun waktu 1479-1568 di Cirebon. Cianjur. “Peranan Walangsungsang dalam Merintis Kesultanan Cirebon 1445-1529”. Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Masjid Merah Panjunan. Garut. Jakarta: Depdikbud. Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. Sumedang. Atja (1974). Adanya kerajaan Islam di Demak dan Banten merupakan beberapa contohnya. Pigeaud (2003).

Sejarah Nasional Indonesia: Jaman Jumantara Vol. dalam R. Yogyakarta: LKPSM. (2000) Hand Book of Qualitative Research. “Beberapa Catatan Mengenai Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinja”. Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra. Masa Awal Kerajaan Cirebon. X. Masa Awal Kerajaan Cirebon.N. Kern dan Husein Djajadiningrat.A. (1974) “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinya”. Iskandar. Abdullah Mustofa (2001) Pakar-Pakar Fiqh Sepanjang Sejarah. al-Maraghi.Y.1 Tahun 2012 125 . II. Denzin. Yoseph (2008) Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakwasa). Munandar. Jakarta: Depdikbud. (penyunt.A. Tim IAIN Syarif Hidayatullah (2002) Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid I A-H. United States: Sage Publications Inc. Agus Aris dan Titik Pudjiastuti (1997) “SumberSumber Tekstual tentang Sejarah Cirebon”. Jakarta: Bhratara. dan M. P. Bandung: Geger Sunten.Djajadiningrat.A. Jakarta: Sinar Harapan. dalam R. Cet. K. El-Saha. Paramita R. Kern. seperti dikutip dalam Marwati Djoened Poesponegoro. Nugroho Notosusanto. Abdurrachman. Penterj.) (2003). Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Pertumbuhan Pesantren. R. & Lincoln S. Sharon (1992). Cerbon. Zaenal (2010) “Pemerintahan Kota Cirebon (19061942)”. dalam Susanto Zuhdi. Husein Muhammad. Siddique. Cet. Yogyakarta. Universitas Gajah Mada. Tesis. Jakarta: Diva Pustaka. Hoesein (1974). Masduqi. 3 No.) (1982).A. Mastuki HS. Jakarta: Djambatan. Ishom (edit. Kern dan Husein Djajadiningrat. Jakarta: Bhratara. Relics of the Past: Sociological Study of the Sultanates of Cirebon West Java.

Tjandrasasmita. Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan 126 Jumantara Vol. Tulisan dapat diakses di http://eprints. Suprayogo dan Tobroni. Metodologi Penelitian Sosial-Agama. Dadan (2002). Jakarta: Gramedia. Karya. Imam (2001). Sunyoto. Jakarta: Transpustaka. _______ (2004) Membumikan Wasiat Sunan Gunung Djati Dalam Membangun Jawa Barat Bermartabat. Bill (2005). Jakarta: Pustaka Gramedia. Mistikus Islam: Ujaran-ujaran dan Karyanya. Surabaya: Risalah Gusti.ac. Penterj. Smith. Suntingan/Terbitan Naskah Babad Tanah Sunda.k. Ribut Wahyudi. Bandung: Humaniora. Skripsi. terbitan Suleman Sulendraningrat dalam Dadan Wildan. Sulendraningrat. Cirebon: Yayasan Keraton Kasepuhan Cirebon. Jakarta: Balai Pustaka. Fakultas Sastra UNDIP.1 Tahun 2012 . Wildan. Agus (2011). Bandung: Remaja Rosda Karya. Bibit (2009).Pertumbuhan dan Perkembangan III. Sigit W (1994) “Perkembangan Pelabuhan Cirebon 1859-1930”.id/22079/ Yenne. Uka (2009) Arkeologi Islam Nusantara.]: Karisma Publishing Group. PRA (1985). Margaret (2001). Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup. 100 Peristiwa yang Berpengaruh di dalam Sejarah Dunia (100 Events That Shaped World History). 3 No. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan. Lili Sri Padmawati. [t. Suprapto. Jakarta: Balai Pustaka. Sejarah Cirebon. penterj. Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural.undip. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara.

Z. (Bandung: Pustaka.htm Jumantara Vol.com/2010/12/kisah-sejarah-kotacirebon. 3 No. alih aksara dan bahasa Amman N. 1979) Naskah Mertasinga. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.id/kbbi/index. 2005) Naskah Kuningan. 2002) Babad Cirebon.html http://indahartgallery.com/keraton. alih aksara dan bahasa Amman N.unikom. alih aksara dan ringkasan S. Wahju. Hadisutjipto (Jakarta: Depdikbud. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. (Bandung: Pustaka.1 Tahun 2012 127 .ac.Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural.com/photos/album/91/Pelabuhan_Cireb on http://elib. terbitan Suleman Sulendraningrat dalam Dadan Wildan. (Bandung: Humaniora.webs. 2002) Babad Tanah Sunda. 2007) Website http://pusatbahasa.id/files/disk1/475/jbptunikompp-gdlmidiansoem-23725-3-bab2-mid-n.nusawarta. Wahju.kemdiknas.multiply.go. Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural.pdf http://www. (Bandung: Humaniora.php http://boykomar.

Karakteristik bahan naskah yang dihasilkan berupa ketebalan bahan. panjang serat. 3 No. yaitu pengamatan langsung dan uji sampel di laboratorium. Dua metode tersebut digunakan untuk identifikasi bahan naskah gulungan koleksi Cagar Budaya Candi Cangkuang (CBCC). jenis serat. warna bahan.1 Tahun 2012 .Abstrak Tulisan ini berupaya memaparkan hasil identifikasi naskah berbahan daluang dengan menggunakan dua metode. Candi Cangkuang *) Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia 128 Jumantara Vol. Daluang. Bahan Naskah. Adanya kemungkinan penggunaan metode dan hasil identifikasi bahan naskah daluang tersebut diharapkan dapat memperkaya metode kajian naskah dan mempertajam analisis filologis selanjutnya. Dalam hal metode pengamatan langsung. kadar asam dan jenis kerusakan naskah. Kata Kunci: Identifikasi. digunakan beberapa alat bantu identifikasi agar hasilnya lebih terukur. Adapun uji sampel di laboratorium mengacu pada Standard Nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional Indonesia (BNSNI) sehingga hasilnya lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

1985: 4-5.1 Tahun 2012 129 . terdapat pula kekeliruan dalam pendeskripsian bahan naskah pada materi pameran tetap di BPMNSBJB. yaitu naskah Babad Pajajaran yang kemungkinannya besar berbahan daluang dideskripsikan sebagai naskah berbahan kulit binatang. baik dari segi peristilahan. Kabupaten Garut. Contoh kesalahan dalam pendeskripsian naskah yang memakai daluang sebagai bahannya adalah pendeskripsian bahan naskah pada koleksi Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga Jawa Barat (BPMNSBJB). daluang merupakan salah satu dari sekian banyak bahan naskah yang digunakan dalam tradisi tulis Nusantara. yaitu bahan dan teknik. 3 No. fisik naskah adalah medium yang mewadahi teks sebagai kandungannya (Baried. Kasus serupa terjadi pada pendeskripsian naskah gulungan CBCC di Kecamatan Leles. yang pertama kali dapat dilakukan di antaranya adalah pendeskripsian medium. Terkait dengan bahan naskah. Dalam hal ini digunakan tiga istilah untuk satu jenis bahan naskah yang sama. 2001: 18-20. dan 1 naskah berbahan daluang saéh. di antaranya Lubis (1996:37) yang menyatakan bahwa “daluang adalah kertas yang digunakan di Pulau Jawa yang terbuat dari kulit kayu sebagai campuran”. 1994: 11). dan daluang saéh. yang secara otomatis Jumantara Vol. dan aspek-aspek lainnya. saéh. Namun patut dicatat bahwa masih terdapat beberapa kekeliruan dalam memahami daluang. Dalam identifikasi naskah. Sudardi. Medium dalam naskah dapat dibedakan pula atas dua hal. yang menyatakan bahwa dari 137 buah koleksi naskah yang ada terdaftar. Terjadinya kesalahan dalam identifikasi naskah berbahan daluang. Provinsi Jawa Barat. Di samping itu. 2 buah berbahan saéh. 74 buah di antaranya berbahan “daluang”. pengenalan karakteristik bahan.Pendahuluan Naskah dibedakan atas adanya fisik dan kandungan teks. Naskah berbahan daluang dideskripsikan sebagai naskah berbahan kulit kambing. yaitu daluang. bisa jadi disebabkan oleh hilangnya tradisi pembuatan daluang. Sudjiman.

lembab. Dalam hal ini peran kajian kodikologi untuk mengenali bahan. Kemasan naskahnya terdiri dari dua bentuk. serta fungsinya diperkirakan dapat memberi jalan bagi pendalaman kajian terhadap naskah serta pengembangan bagi disiplin ilmu filologi. atau karena kurang baiknya pemeliharaan masyarakat pendukung berikutnya. Adapun informasi mengenai koleksi naskah CBCC dapat dilihat pada buku Cagar Budaya Candi Cangkuang dan Sekitarnya yang disusun oleh Zaki Munawar (2002). Buruknya kondisi naskah-naskah berbentuk buku bisa jadi disebabkan oleh tingginya tingkat penggunaan pada masa naskah itu digunakan atau karena kurang baiknya teknik penjilidan. berupa buku (binding) dan gulungan (scroll). dan perawatan naskah. Naskah-naskah koleksi CBCC disimpan di tiga lemari kaca yang berbeda. Naskah koleksi CBCC seluruhnya berjumlah tujuh belas naskah dan seluruh bahan naskahnya diperkirakan berupa daluang. dan aksaranya sudah tidak terlalu jelas. teknik. daluang sebagai bahan naskah yang dihasilkan oleh tradisi tulis Nusantara menjadi penting untuk dikaji lebih lanjut. termasuk para petugas yang menangani naskah. termasuk di dalamnya naskah berbentuk gulungan. bahkan dalam berbagai katalog naskah pun belum tercantum. lembar halamannya terurai dari jilidannya sehingga halaman demi halamannya tercecer. penyimpanan. lima belas buah naskah berbentuk buku disimpan berjajar dalam dua lemari kaca dan dua naskah disimpan terpisah dalam sebuah lemari kaca lainnya. Sehubungan dengan hal itu. 130 Jumantara Vol. Berbeda dengan yang berbentuk buku. Di antara sekian banyak naskah yang berhasil dihimpun dalam berbagai katalog naskah Nusantara. berjamur.1 Tahun 2012 . Kini banyak orang.menyebabkan informasi mengenai daluang menjadi terputus. naskah gulungan kondisinya lebih baik. 3 No. sehingga menyulitkan ketika akan dibaca. naskah CBCC ternyata belum banyak diteliti. Kondisi fisik naskah berbentuk buku umumnya sudah mulai rusak (dari enam belas naskah hanya tiga naskah yang kondisinya masih cukup baik). tidak mengenal wujud dan ciri-ciri daluang dengan baik.

lembarannya relatif masih utuh, tidak terlalu lembab, tidak terlalu berjamur, dan aksaranya terlihat jelas sehingga memudahkan pembacaan teks. Kondisi naskah berbentuk gulungan yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi naskah berbentuk buku mengundang beberapa pertanyaan, di antaranya: apakah naskah yang dikemas dalam bentuk gulungan lebih baik daripada naskah berbentuk buku atau apakah ada kaitan antara bahan naskah dan bentuk kemasan naskah dengan tingkat kekuatan fisik naskah?

Gambar 1. Tampak kerusakan naskah berbentuk buku koleksi CBCC. (dok. pribadi)

Naskah gulungan koleksi CBCC mempunyai ukuran 176 X 23 cm., kedua permukaannya ditulisi dengan teks beraksara Arab,; tinta yang digunakan untuk menuliskan aksara berwarna hitam dan tinta yang digunakan untuk menuliskan tanda baca berwarna merah. Identifikasi bahan naskah gulungan koleksi CBCC pada dasarnya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan berdasarkan pengujian di laboratorium. Pengamatan secara langsung di lapangan dapat dilakukan dengan bantuan alat ukur dan peralatan lainnya yang

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

131

diperlukan. Alat ukur yang digunakan di lapangan memberikan hasil ukur secara langsung, seperti panjang dan lebar bahan naskah, ketebalan bahan naskah, warna bahan naskah, jenis aksara, dan warna tinta tulis yang digunakan. Adapun pengujian bahan di laboratorium dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan laboratorium dan didasarkan pada metode dan standar yang sudah diakui secara nasional, yaitu SNI. Pengamatan Langsung Pengamatan terhadap bahan naskah gulungan koleksi CBCC yang bisa dilakukan secara langsung di lapangan adalah berupa pengukuran dimensi panjang dan lebar bahan naskah dengan menggunakan mistar, pengukuran ketebalan bahan naskah dengan menggunakan mikrometer digital, dan pengukuran warna dengan menggunakan tabel warna; di samping itu dilakukan pula pengambilan gambar dengan menggunakan kamera digital untuk keperluan dokumentasi penelitian. Setelah dilakukan pengukuran, hasilnya menunjukkan bahwa ukuran bahan naskah adalah 176 X 23 cm., sama dengan informasi yang diberikan oleh juru pelihara CBCC. Ukuran bahan naskah seperti itu termasuk jarang digunakan dalam penulisan naskah, hal ini dapat di antaranya dapat dilihat pada data dalam Katalogus Naskah Sunda (1988), yang menunjukkan bahwa naskah-naskah Sunda umumnya mempunyai ukuran di bawah ukuran bahan naskah gulungan koleksi CBCC dan umumnya berbentuk buku. Kelangkaan ukuran bahan naskah tersebut juga dapat mengindikasikan bahan baku yang digunakannya. Dalam hal ini bisa diyakini bahwa naskah gulungan koleksi CBCC bukan terbuat dari kulit kambing seperti yang dideskripsikan oleh petugas juru pelihara CBCC, berangkat dari asumsi panjang kulit kambing dari bagian leher sampai dengan bagian ekor berkisar antara 90 sampai dengan 120 cm. Di samping itu tidak terdapat bintik-bintik bekas pori-pori dan bekas tumbuhnya bulu seperti pada lembaran kulit binatang pada umumnya. Serat pembentuk

132

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

lembarannya pun serat panjang seperti halnya serat pembentuk lembaran kulit kayu. Mengenai kepastian jenis serat pembentuk bahan, selanjutnya akan dipastikan melalui uji laboratorioum.

Gambar 2. Tampak serat pembentuk bahan naskah NGCBCC. (dok. pribadi)

Mengenai ketebalan bahan naskah gulungan koleksi CBCC, setelah dilakukan pengukuran ternyata bahwa ketebalan bahannya tidak sama, paling tipis adalah 0.29 mm dan paling tebal adalah 0.48 mm. Berpijak pada adanya variasi ketebalan bahan dan dikaitkan dengan jenis serat pembentuk lembaran yang diduga berasal dari serat kulit kayu, maka dapat dipastikan bahwa bahan naskah gulungan koleksi CBCC dibuat secara tradisional; bukan dibuat secara modern dengan menggunakan mesin pembuat kertas yang dapat menghasilkan kertas dengan ketebalan yang sama karena dibentuk oleh sebuah mekanisme pembentuk lembaran (sheet former) yang presisi. Dengan adanya kenyataan serat pembentuk bahan naskah berupa jenis serat panjang yang berasal dari kulit kayu, penentuan bahan naskah pun bisa dirujuk pada adanya daluang sebagai bahan naskah Nusantara. Mengenai warna bahan naskah gulungan CBCC, agar

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

133

keterukurannya lebih akurat, maka pengukuran warna disandarkan pada tabel warna C/M/Y/K. Setelah diukur secara acak berdasarkan kesamaan dan perbedaan warna yang mencolok, didapatkan hasil ukur warna dengan pola (1) 10/20/50/0, (2) 40/40/50/0, (3) 5/5/50/0, (4), 5/20/50/0 (5), 0/10/50/0, dan (6) 5/10/50/0. Jika keseluruhan pola warna tersebut dikonversikan ke tabel warna yang dikeluarkan oleh Winsor & Newton, maka warna bahan naskah gulungan CBCC dapat termasuk ke dalam warna naples yellow, yellow ochre, atau raw sienna.

Gambar 3. Tampak pengukuran ketebalan kertas - 0.29 mm. (dok. pribadi)

Gambar 4. Tampak nilai warna pola 1. 10/20/50/0 (dok. pribadi).

134

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

yaitu: pengujian pH didasarkan pada SNI 14-0479. Kepala Bidang Pengujian. jika pada saat pembuatan warna bahan naskah adalah sama.2-1998. 3 No. Gambar 5. yellow ochre. dan (6) ketahanan lipat. pengujian panjang serat didasarkan pada SNI ISO 16065. berdasarkan informasi studi lapangan yang dilakukan pada tanggal 3 Pebruari 2011 di Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) yang berlokasi di Jalan Raya Dayeuhkolot 132 Bandung. pribadi). pengujian daya serap Jumantara Vol.2-2010. Nina Elyani. (2) jenis serat. pengujian jenis serat didasarkan pada SNI 0441-2009. Seluruh pengujian tersebut metodenya didasarkan pada standar yang telah ditetapkan BSNI. menyatakan bahwa bahan naskah gulungan koleksi CBCC dapat diidentifikasi berdasarkan uji atas (1) pH atau kadar asam. Hasil Uji Laboratorium Untuk melakukan identifikasi bahan naskah di labotatorium.Adanya perbedaan atau gradasi warna yang terdapat pada naskah gulungan CBCC menunjukkan bahwa. (4) daya serap tinta atau penetrasi minyak IGT. maka perbedaan warna yang dapat disaksikan saat ini adalah perbedaan warna yang dihasilkan atau diakibatkan oleh perjalanan waktu serta perlakuan terhadap naskah itu sendiri. Sertifikasi. (5) daya serap air atau Cobb 60. Tampak hasil konversi warna bahan NGCBCC yang menunjuk pada warna naples yellow. (3) panjang serat. atau raw sienna (dok. dan Kalibrasi.1 Tahun 2012 135 .

Keberadaannya harus senantiasa dijaga dan harus tetap berada di lokasi CBCC. Untuk melakukan uji kualitas bahan naskah diperlukan bahan atau sampel dengan ukuran minimum 15 X 20 cm yang akan hancur setelah proses pengujian berlangsung. ternyata masih terdapat peluang untuk melakukan uji pH atau kadar asam. Tampak bagian ujung bahan naskah yang koyak. dan panjang serat bahan naskah karena contoh bahan naskah yang diperlukan untuk pengujian tersebut tidak terlalu besar. dan pengujian ketahanan lipat didasarkan pada SNI 0491-2009. Ukuran minimun bahan untuk uji kualitas tersebut nampaknya tidak dapat dipenuhi karena naskah gulungan CBCC merupakan benda koleksi dilindungi oleh Undang-Undang Cagar Budaya. yaitu sekitar 1 X 1 cm untuk uji kadar asam dan 1 X 1 cm untuk uji jenis serat dan panjang serat. dengan 136 Jumantara Vol. Sampel bahan diambil dari bagian naskah gulungan CBCC yang koyak.1 Tahun 2012 . Etika keilmuan filologi juga tidak memperkenankan untuk pengambilan bahan naskah karena akan merusak naskah itu sendiri.tinta didasarkan pada SNI 14-9584-1989. penentuan jenis serat. Namun demikian. pengujian daya serap air didasarkan pada SNI 0449-2008. Gambar 6. yang selanjutnya disebut sampel utama. (dok. pribadi) Pengujian kadar asam serta penentuan jenis dan panjang serat bahan naskah gulungan CBCC menjadi sangat penting untuk dilakukan karena melalui pengujian ini akan dapat diketahui apakah bahan naskah tersebut termasuk kertas yang kuat. 3 No.

pada dasarnya merupakan salah satu bahan baku pembuatan kertas dan sudah dipergunakan sejak kira-kira seratus tahun yang lalu. dan skala pH 14 menunjukkan derajat basa.” Adapun menurut Harvey. 3 No. dinyatakan bahwa ukuran terpenting yang menjadi penentu kertas bersifat permanen adalah kadar pH. di mana skala pH 0 menunjukkan derajat asam. sedangkan ketahanan berhubungan dengan kekuatan fisik. “permanensi adalah kemampuan kertas untuk tetap stabil dan tahan terhadap aksi kimia. Selanjutnya. lignin juga merupakan kandungan dari serat kayu itu sendiri. dalam Lukman (2009: 56). “unsur asam atau lignin. Di samping lignin. Jumantara Vol. Wan Mamat (1988:62--63) memaparkan bahwa. atau bahkan sebaliknya seperti yang dipaparkan Lukman (2009: 55). ketahanan (durability) merupakan sifat ketahanan kertas terhadap perlakuan fisik yang dapat menyebabkan rusaknya kertas. Permanensi berhubungan dengan stabilitas kimia kertas. baik dari dalam maupun dari lingkungan sekitarnya.1 Tahun 2012 137 . skala pH 7 menunjukkan sifat netral. Sementara itu. potassium alumunium sulphate untuk penghalus permukaan kertas (bahan kimia dalam proses pembuatan kertas pabrikan) dan penggunaan tinta tulis yang mengandung unsur iron gallotannate (garam besi) juga merupakan faktor yang dapat menyebabkan tingkat keasaman (acid sulfurik) bahan naskah menjadi tinggi”. yaitu kadar keasaman atau kebasaan suatu kertas dengan skala 0 – 14. mengenai unsur asam pada yang terdapat dalam kertas (termasuk daluang). contohnya goresan dan lipatan. penggunaan zat-zat kimia seperti clorine untuk pemutih kertas.permanensi (kekuatan) dan durability (ketahanan) tinggi.

2 ± 9. daya serap tinta permukaan 138 Jumantara Vol. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood.Secara kebetulan. pribadi) Berdasarkan laporan hasil uji atas ketiga sampel yang dikeluarkan BBPK tertanggal 17 Pebruari 2012.1.725 mm. daya serap tinta permukaan bawah 53. yang oleh pemiliknya.1 Tahun 2012 . selanjutnya disebut sampel rekonstruksi.96 ± 0.01. dan daya serap air permukaan bawah 17. dari sampel utama didapatkan hasil uji pH sebesar 4. dan hasil uji panjang serat sepanjang 3. dari sampel pembanding didapatkan hasil uji pH sebesar 5.01.9. diuji pula sampel daluang hasil rekonstruksi.6.575 mm. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood. Sampel ini selanjutnya disebut sampel pembanding.4 ± 2. Zaki Munawwar. dan hasil uji panjang serat sepanjang 2.02.7.3 ± 3.0 ± 0.5 ± 2. tepatnya di Desa Cangkuang Kecamatan Leles. adapun dari sampel rekonstruksi didapatkan hasil uji pH sebesar 6. (dok. diserahkan kepada penulis agar bahannya dapat dimanfaatkan untuk uji laboratorium.81 ± 0. Tampak bahan naskah sampel pembanding dan daluang hasil rekonstruksi.985 mm. agar didapatkan gambaran mengenai kualitasnya guna pemanfaatan praktis selanjutnya. 3 No. daya serap tinta permukaan atas 50.1. Gambar 7.82 ± 0. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood. daya serap air permukaan atas 15. daya serap tinta permukaan atas 48. ditemukan naskah yang bahannya diperkirakan sejenis dengan bahan naskah gulungan koleksi CBCC. dan hasil uji panjang serat sepanjang 2. Di samping itu. di sekitar lokasi CBCC.

5 ± 2.4 ± 2.3 ± 3. Untuk memudahkan pembahasan. jenis serat.02 Softwood 2. yaitu pH.5 ± 29.Arah serat -Silang serat 4246 ± 935 496 ± 333 g/m2 g/m 2 Sampel Pembading 5.575 mm 4. dan panjang serat.4.01 Softwood 2.1 Tahun 2012 139 . ketahanan lipat arah serat sebesar 4246 ± 935. dan daya serap air permukaan bawah 193. Parameter Satuan Sampel Utama 1 pH Jenis serat Panjang serat Penetrasi minyak IGT .Bottom side 5 Cobb 60 . 3 No.Bottom side 6 Ketahanan Lipat . dan ketahanan lipat silang serat 496 ± 333.1 ± 1.985 Sampel Rekonstruksi 6.1 ± 1.0 ± 3.2 ± 9.82 ± 0.2 - 15. sampel pembanding. kelembaban ruangan pada RH 50 ± 2 %.9 53.5 ± 29. Hasil Uji No. Hasil Uji Sampel Bahan Kertas.4 Tabel 1.727 2 3 4 - - 48.81 ± 0. berikut ini adalah tabel hasil uji dimaksud.Top side .1 17. Tabel di atas memuat hasil uji atas tiga parameter yang dapat dibandingkan dari sampel utama. Jumantara Vol. daya serap air permukaan atas 150.5.Top side .6 50.5 193.0 ± 0. Seluruh hasil uji tersebut didasarkan pula pada kondisi ruang pengujian dengan suhu 23 ± 10 C.0 ± 3.1 77.2.bawah 77. dan sampel rekonstruksi.7 150.96 ± 0.01 Softwood 3.

Tingkat derajat keasaman yang didapat dari perbandingan hasil uji tersebut. dalam Lukman (2009: 59). yaitu jenis softwood. panjang serat sampel pembanding 2. menyatakan bahwa kadar pH kertas pada waktu pembuatan tidak boleh kurang dari 6. sampel utama memiliki derajat keasaman paling tinggi. yaitu hardwood (kayu keras atau kayu daun lebar) dan softwood (kayu lunak atau kayu daun jarum). di samping menunjukkan tingkat derajat keasaman pada waktu pengujian. dan yang membedakan keduanya adalah keberadaan sel pembuluh yang hanya terdapat pada kayu daun lebar. 3 No. secara objektif menunjukkan tingkat derajat keasaman pada waktu pengujian.82 ± 0. derajat pH sampel pembanding 5.96 ± 0.Derajat pH sampel utama 4. sedangkan untuk sampel rekonstruksi. dan derajat pH sampel rekonstruksi 6. Namun demikian.81 ± 0.727 mm. dan panjang serat sampel rekonstruksi 3.01. maka penanganan naskah-naskah koleksi CBCC selanjutnya menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Melihat kenyataan bahwa kadar pH bahan naskah gulungan koleksi CBCC termasuk ke dalam kategori di bawah netral atau cenderung asam. juga menunjukkan tingkat kadar asam pada waktu selesai pembuatan. Selanjutnya untuk jenis serat. setelah melakukan penelusuran lebih lanjut atas penggolongan jenis serat.575 mm.985 mm. untuk sampel utama dan sampel pembanding. ketiga sampel menunjukkan jenis serat yang sama.1 Tahun 2012 .02. Ross Harvey. Hasil perbandingan atas tiga parameter di atas menunjukkan bahwa untuk derajat pH. dan sampel rekontruksi. 140 Jumantara Vol. maka tingkat penurunan kualitas bahan naskah akan berlangsung dengan cepat dan mengakibatkan kerusakan naskah-naskah itu sendiri. jenis serat ketiga sampel adalah softwood. Menurut Iswanto (2008: 1) dan Sucipto (2009: 1).01. dan panjang serat sampel utama 2. karena jika penanganannya tidak dilakukan secara baik. secara umum kayu dibagi menjadi dua kelompok.5 agar dapat dikategorikan sebagai kertas permanen. diikuti oleh sampel pembanding. softwood adalah pengolongan jenis serat untuk kayu dan bukan untuk jenis serat kulit kayu.

karena panjang serat berbanding lurus dengan ketahanan lipat dan kekuatan kertas. masih lebih panjang jika dibandingkan dengan panjang serat dari empat jenis kayu yang diteliti oleh Budi (1995: 103) yaitu. sehingga kekuatan kertas lebih didasarkan atas exobond dari luas permukaan setiap selnya. hal ini dikarenakan panjang serat erat hubungannya dengan banyaknya kontak perkesatuan sel. sampel utama memiliki panjang serat yang paling pendek.” Adapun untuk panjang serat. Semakin panjang sel serat akan memberikan pengaruh yang positif terhadap kekuatan pada kertas. artinya semakin panjang serat. kayu kapur 1. Teygeler (1995) menyarankannya dengan menyatakan bahwa “ finally dluwang can be defined as beaten treebark (tapa) of paper – mulberry tree (Broussonetia papyrifera Vent. “Secara umum panjang serat mempunyai peranan langsung terhadap sifat-sifat kekuatan kertas. Selain itu lembaran kertas yang terdiri dari kumpulan sel-sel yang terpisah terikat kembali satu sama lain secara lamai tanpa adanya tambahan bahan perekat. Batubara (2008) menyatakan bahwa pada dasarnya kulit kayu dan kayu adalah dua bagian yang berbeda.” Namun demikian. karena dikategorikan sebagai jenis yang sama. kedua jaringan ini merupakan pembentuk struktur kayu secara utuh. untuk penentuan jenis serat ketiga sampel di atas.1 Tahun 2012 141 . maka akan lebih baik jika digolongkan ke dalam jenis serat kulit kayu (daluang). lebih besar dari pada ikatan antar sel.) from Java or Madura. selanjutnya diikuti oleh sampel pembanding. dan sampel rekonstruksi.345 mm. maka kekuatan kertasnya semakin baik. 3 No. kayu meranti merah 1. Selain itu kekuatan internal dalam serat atau sel. Jumantara Vol. seperti yang dipaparkan Budi (1995: 105). Hal ini dapat menunjukkan bahwa ketahanan lipat sampel utama dan sampel pembanding lebih rendah dari sampel rekonstruksi. panjang serat ketiga sampel di atas. kayu terap 1. Dengan demikian.410 mm.Mengenai kulit kayu. kayu adalah jaringan xylem dan kulit kayu adalah jaringan phloem.413 mm.

karena dalam bentuk gulungan serat-serat pembentuk lembaran bahan akan lebih terjaga dibandingkan jika dikemas dalam bentuk lipatan. 3 No. Dengan memperhatikan hal tersebut. laju kerusakan bahan naskah dapat diperlambat dan kondisi fisiknya dapat dipertahankan sehingga suatu naskah dapat bertahan lebih lama. Mengenai suhu ruangan untuk penyimpanan naskah. Wan Mamat (1988:57--58) menyatakan bahwa suhu ideal berkisar antara 550F (130C) sampai dengan 650F (180C) dengan kondisi udara yang mengalir. rak. Di beberapa tempat penyimpanan koleksi naskah yang sudah maju. diperkirakan sejak bahan naskah dibuat sampai saat ini. kekuatan kertas berbahan baku kulit kayu seperti yang terdapat pada ketiga sampel yang diuji di BBPK masih lebih tinggi tingkat kekuatan kertasnya jika dibandingkan dengan kertas berbahan baku kayu terap.1 Tahun 2012 . sedangkan kelembaban berkisar 50%. Penyimpanan dan Perawatan Naskah Penyimpanan dan perawatan naskah memerlukan penanganan yang baik. Pengemasan dan penyimpanan naskah dalam bentuk gulungan diperkirakan ada sudah sejak lama. karena pada dasarnya bahan naskah mudah rusak jika tidak ditangani dengan baik. memungkinkan serat pembentuk lembaran 142 Jumantara Vol.dan kayu keruing 1.689 mm. Alat untuk mengatur suhu ruangan dikenal sebagai air conditioning (AC) dan alat untuk mengatur kelembaban dikenal sebagai higrometer. kayu kapur. Pengemasan naskah dalam bentuk gulungan sepertinya merupakan pengemasan yang cukup baik untuk dimensi panjang 176 cm. dan kotak yang terbuat dari kertas bebas asam. dan kayu keruing. kayu meranti merah. Dengan demikian. naskah disimpan di ruangan khusus dengan suhu dan kelembaban udara tertentu. saat ini tampak disimpan dalam sebuah lemari kaca yang cukup baik sehingga terbebas dari debu dan serangga yang dikhawatirkan akan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut pada naskah. Naskah pun ditempatkan dalam lemari. Naskah gulungan koleksi CBCC dengan dimensi 176 X 23 cm.

debu. di antaranya. data diambil pada bulan Juni 2008. adalah faktor lingkungan.1 Tahun 2012 143 . (dok. Gambar 8. Adanya jamur. Bagian naskah yang lembab ini kemudian menimbulkan kerusakan lebih lanjut. yaitu mendorong tumbuhnya jamur. 3 No. Di samping itu terdapat pula kulit telur kecoa yang menempel di permukaan bahan naskah dan beberapa lubang kecil yang diperkirakan disebabkan serangga sejenis kutu buku. Faktor penyebab kerusakan naskah yang nampak. pribadi) Walaupun saat ini penyimpanan dan perawatan naskah sudah cukup baik. yaitu naskah disimpan dalam lemari kaca sehingga terhindar dari kontak langsung dengan udara luar. namun secara kasat mata terlihat bahwa pada permukaan bahan naskah masih terdapat beberapa kerusakan yang mungkin akan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut. kulit telur kecoa. suhu ruangan 27 derajat celcius dan kelembaban 64 persen. dan terbebas dari jamahan tangan. dan lubang-lubang pada naskah menunjukkan adanya faktor biologis sebagai penyebab kerusakan naskah. Jumantara Vol.bahan akan putus sebagai akibat dari proses buka tutup lipatan yang berulang. Hal ini tampak dari adanya bagian naskah yang lembab karena terhidrolisis oleh udara basah.

Gambar 9. Tampak faktor biologis sebagai faktor penyebab kerusakan naskah. (dok. pribadi)

Atas dasar hal tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa kerusakan bahan naskah gulungan koleksi CBCC, di antaranya, disebabkan oleh faktor usia, faktor lingkungan, faktor biologis, dan faktor mekanis. Pada kalangan masyarakat tertentu di Indonesia saat ini, khususnya masyarakat tradisional, terdapat kegiatan penyimpanan dan perawatan naskah secara tradisional. Berdasarkan pengamatan sepintas, upaya yang dilakukan masyarakat tradisional dalam melakukan penyimpanan dan perawatan naskah memberikan keuntungan bagi kondisi naskah, sehingga keberadaan naskah masih dapat disaksikan sampai saat ini. Upaya yang dilakukan masyarakat tradisional di antaranya dengan menyimpan naskah pada kotak kayu, menyimpan naskah di atas tempat yang agak tinggi pada bagian dinding rumah agar tidak terjangkau anak-anak, membungkus naskah dengan kain, dan ada kalanya di dalam kotak kayu dan bungkusan kain tersebut disertakan pula beberapa batang cerutu, biji cengkih, bunga melati, dan sebagainya.

144

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Gambar 10. Tampak gulungan Wayang Beber dan kotak penyimpannya di Gunung Kidul. (dok. pribadi)

Cerutu, biji cengkih, dan bunga melati yang disimpan di dalam kotak kayu ataupun kain pembungkus naskah ternyata dapat menghindarkan serangan rayap, kutu buku, semut, ataupun serangga pengganggu lainnya yang dapat mengakibatkan kerusakan pada naskah. hal ini dapat dipahami karena ternyata baik cerutu, biji cengkih, dan bunga melati masing-masing mempunyai aroma khas yang tidak disukai serangga.

Gambar 11. Tampak penyimpanan naskah yang dijadikan sarang semut. (dok. pribadi)

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

145

Di beberapa tempat tertentu, yang masyarakat pendukungnya masih memegang teguh adat istiadat, naskah dan benda-benda koleksi lainnya hanya boleh dibuka dan dilihat satu tahun sekali, biasanya pada bulan-bulan yang dianggap sakral, seperti bulan Mulud sekaligus dengan melakukan prosesi pembersihan pusaka. Pengaturan waktu untuk membuka dan membersihkan naskah beserta benda-benda yang dianggap keramat (termasuk mengkeramatkan naskah), ternyata ada sisi positif dan sisi negatifnya. Sisi positifnya adalah memberikan ketahanan bagi naskah itu sendiri, dalam hal ini naskah tidak sembarang waktu dijamah tangan dan dibuka tutup. Sisi negatifnya adalah kandungan informasi naskah tidak diketahui masyarakat banyak sehingga, jika terjadi penurunan kualitas kondisi naskah, maka tingkat kerusakannya tidak cepat diketahui dan kerusakannya tidak akan dapat dicegah. Daftar Pustaka Baried, Siti Baroroh (1985). Pengantar Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Batubara, Ridwanti (2008). Kimia Kulit Kayu, Potensi dan Peluang Pemanfaatannya. Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Budi, Agus Sulistyo (1995). “Morfologi Serat Pulp dari Empat Jenis Kayu Daun Lebar dalam Hubungannya dengan Kekuatan Kertasnya”. Jurnal FRONTIER Nomor 17. September 1995. Ekadjati, Edi S. (1988). Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran dan The Toyota Foundation. Lubis, Nabilah (1996). Naskah, Teks, dan Metode Penelitian Filologi. Jakarta: Forum Kajian Bahasa & Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah. Lukman (2009). “Penggunaan Kertas Permanen sebagai

146

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Pencegahan Kerusakan Kertas”. Jurnal BACA Vol. 30, No. 1, Agustus 2009 (01-72). Munawar, Zaki (2002). Cagar Budaya Candi Cangkuang dan Sekitarnya. Garut: Dinas Pariwisata Seni dan Budaya. Sudjiman, Panuti (1994). Filologi Melayu. Jakarta: Pustaka Jaya. Teygeler, René (1995). “Dluwang, a Javanese/Madurese Tapa from The Paper-mulberry Tree” dalam www\IIAS Newsletter\IIASN-6\Southeast Asia. Dikunjungi pada tanggal 14 April 2004. Wan Mamat, Wan Ali Hj. (1988). Pemuliharaan Buku dan Manuskrip. Kualalumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

147

Tradisi lontar di Bali memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan umur yang tua seiring dengan nilai-nilai *) Pengajar di Jurusan Sastra Bali. Masyarakat Bali berkeyakinan lontar memiliki arti yang penting dan sangat bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya. 3 No. Bali. Manuskrip Pendahuluan Kata lontar memiliki kaitan erat dengan sumber bahan dasar pembuatannya. Kata Kunci: Lontar. yaitu rontal /daun ental/tal (sejenis daun palma/borassus flabelliformis). Fakultas Sastra.1 Tahun 2012 . tradisi penulisan manuskrip. Warisan budaya yang satu ini juga telah memberikan aura keluhuran dan mentransmisikan keunggulan pemikiran masyarakat Bali yang melahirkannya. 148 Jumantara Vol.Abstrak Lontar adalah produk budaya Bali dan telah diakui menjadi warisan budaya dunia. Lontar sebagai produk budaya kaya makna telah mengangkat citra tradisi Bali di tengah-tengah pergaulan peradaban masyarakat dunia. Lontar dengan segala bentuk wacana penuturannya memotret dan memberikan cermin kehidupan yang dapat dijadikan smerti. serta proses pembuatan manuskrip lontar. yaitu contoh dan implementasi kehidupan yang patut dan tidak patut dilakukan. Tulisan ini mendeskripsikan lontar dari berbagai dimensi mencakup lontar sebagai warisan budaya. Universitas Udayana Bali.

Setiap 6 bulan sekali. dan ilmu pengetahuan tinggi lainnya. dan Brahma Putri. bertepatan dengan perhitungan kalender Bali Sabtu Kliwon Wuku Watugunung lontar-lontar dibuatkan upacara piodalan Saraswati. Saras diterjemahkan sebagai sang mraga toya.1 Tahun 2012 149 . yaitu manifestasi Ida Sang Hyang Widi (Tuhan) sebagai sumber ilmu pengetahuan. dangan mes membah (beliau yang berbadankan air. Itulah Saraswati. kata Saraswati diterjemahkan sebagai Ida Sang mambek toya tur wagmi sajroning bebaosan yang artinya beliau yang mengalirkan air suci pengetahuan. Pada hari ini masyarakat menghaturkan aneka banten pasucian Weton Saraswati. Karena itu. sastra. Dari uraian itu. Keesokan harinya. agama. Julukan yang lain untuk memuliakan Dewi Saraswati sebagai sumber ilmu pengetahuan yaitu: Putkari Dewi. yaitu saras dan wati. Pewarisan tradisi lontar di Bali berlanjut dari generasi ke generasi dalam suasana kerohanian dan kemurnian hati nurani. Dewi Saraswati juga dijuluki Dewi Wagmiswari (Dewi Katakata) atau Wagmimaya (Kata-kata Bertuah). Lontar perekam jagat pemikiran masyarakat Bali sampai dalam bentuknya sekarang merupakan saksi sejarah dan menjadi penampang historik masyarakat pendukungnya. masyarakat Bali pagi-pagi benar membawa toya kumkuman (air suci) menuju sumber-sumber mata air atau pantai melaksanakan upacara banyu pinaruh (menyambut turunnya ilmu pengetahuan). begitu mudah mengalir atau sesuatu yang mengalir) dan kecap bebaos sang mraga wagmi sajroning bebaosan (kata-kata orang bijaksana saat memberikan petuah). pengobatan. Wati diterjemahkan sang adrue (pemilik). Bhatari Dewi. filsafat. 3 No. Masyarakat Bali meyakini lontar adalah wahana bersemayam Sang Hyang Aji Saraswati. Sarada Dewi. Saraswati adalah sumber dari segala sumber kata-kata bijak (mraga wagmi). pada hari Minggu Umanis Watugunung. Dewi sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang berupa tastra (manuskrip aksara Bali) yang bersemayam di mahligai lontar. Para panglingsir (orang tua berpengetahuan) di Bali memaparkan kata Saraswati ke dalam dua bentuk dasar. Jumantara Vol.sejarah.

2) tradisi yang hidup (living tradition). Tradisi masyarakat Bali mempelajari dan menekuni lontar disebut anak nyastra (a man of letters) yang artinya beliau yang terpelajar (gelettered). dan diteruskan agar tercapai kehidupan material-spiritual yang lebih baik. tradisi ini masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat Bali. Semuanya masih relevan dan patut diwarisi. Mereka itulah yang sesungguhnya steak holders lontar di Bali. Lontar Tradisi yang Masih Hidup Kita meyakini tradisi lontar adalah tradisi masyarakat Bali yang sudah tua. Lontar Warisan Intelektual Kekayaan pemikiran dan rohani masyarakat Bali secara tradisi terekam dalam manuskrip lontar.Lontar Warisan Budaya Lontar adalah produk budaya Bali dan telah diakui menjadi warisan budaya dunia. Volume 10 (1998: 2-6) lontar Bali termasuk salah satu warisan budaya dunia karena memiliki karakteristik. Menurut Bali Cultural Heritage Coservation. Walaupun usianya telah tua. 3 No. dan 6) sudah menjadi salah satu warisan dunia (wolrd heritage). Betapa tidak. Itu artinya. tetapi juga penting untuk menghiasi khazanah intelektual masyarakat luas lainnya. kandungan lontar dengan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang pernah ada dan dimiliki masyarakat Bali masa lampau dapat dikembangkan untuk menata dan meningkatkan kehidupan spiritual dan material saat ini dan masa-masa mendatang. Keadaan ini berbeda jauh dengan masyarakat Indonesia lainnya yang mewarisi tradisi 150 Jumantara Vol. 4) memiliki wujud fisik (tangible) dan non-fisik (intangible). Tradisi keberaksaraan dan keterpelajaran pada lontar adalah warisan budaya yang sangat berharga dan penting. Lontar dengan segala bentuk wacana penuturannya memotret dan memberikan cermin kehidupan yang dapat dijadikan smerti.1 Tahun 2012 . 5) memiliki fungsi dan kedudukan yang terhormat dan disucikan dalam masyarakat (abstract). 3) mudah dipindahkan (moveable). dilestarikan. Masyarakat Bali berkeyakinan lontar memiliki arti yang penting dan sangat bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya. seperti: 1) warisan budaya intelektual (intellectual heritage). Bukan saja penting untuk para leluhur dan orang Bali kini. yaitu contoh dan implementasi kehidupan yang patut dan tidak patut dilakukan.

(6) Adanya perpustakaan lontar yang memiliki latar belakang sejarah yang penting seperti: Gedong Kitrya di Singaraja. (7) Tradisi membaca lontar dalam aktivitas bersastra di Bali secara tradisional erat kaitannya dengan sistem upacara dan sistem keagamaan Hindu di Bali. Hidupnya tradisi lontar dalam masyarakat Bali sangat didukung oleh masih hidupnya aktivitas budaya dan sumber alam lainnya. maka pohon lontar dibudidayakan dengan baik. Balai Bahasa Denpasar. dan yang lainnya. Perpustakaan Musieum Bali. seperti untuk bahan anyaman dan kerajinan tangan lainnya. seperti Fakultas Sastra di Universitas Udayana. (2) Masih adanya orang yang mewarisi tradisi pembuatan daun lontar sebagai bahan rumah pintar” Dewa Catra. sehingga dari waktu ke waktu jumlahnya tidak pernah berkurang. seperti SMUN I Sidemen (dulu SMU Sidamaha) Karangasem. dan perguruan tinggi lainnya. Pohon lontar adalah sumber alam yang dapat diperbaharui. Perpustakaan Unhi Denpasar. IHDN. Perpustakaan Lontar Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. (4) Adanya sekolah khusus yang mengajarkan cara menulis lontar. Jurusan Sastra Bali di berbagai perguruan tinggi di Bali.1 Tahun 2012 151 . yang menyimpan lontar-lontar penting yang dibutuhkan masyarakat. seperti: (1) Tersedianya cukup banyak pohon lontar. dan mengapresiasi) karya-karya sastra tradisional Bali di Jumantara Vol. IKIP PGRI Bali. 3 No. (8) Adanya kegiatan mabasan (membaca. Sekriptorium-sekriptorium yang ada di Bali masih menjalankan aktivitas sebagaimana mestinya. (3) Adanya pusat-pusat penulisan lontar dan kegiatan penyalinan lontar di masyarakat. (5) Masih banyak orang yang mampu menulis lontar secara tradisional. Unisha Singaraja. dan yang lainnya.manuskrip. menyanyikan. Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana. Pohon lontar yang menjadi sumber utama bahan penulisan lontar tumbuh subur di belahan Timur dan Utara pulau Bali. Universitas Dwijendra. Mengingat lontar memiliki multimanfaat. Jumlahnya mencapai ribuan pohon.

serta acara-acara khusus seperti Gebiar Nyurat Lontar oleh Pemerintah Kota Denpasar. Lontar-lontar dalam bentuk baru itu khusus dibuat untuk dijual sebagai komoditas pariwisata ( BUIP. Pekan Olahraga dan Seni Pelajar (Porsenijar) se-Bali.1 Tahun 2012 . baik sebagai warisan maupun atas usahanya sendiri membangun perpustakaan pribadi. 3 No. (10) Banyak masyarakat umum yang mengoleksi lontar. (9) Perkembangan pariwisata menyumbangkan peran untuk mempertahankan tradisi lontar. Gambar 1. dan pihak penyelenggara lainnya. Bali CHC: Volume 10. 152 Jumantara Vol. seperti di desa Tenganan Pegringsingan Karangasem. Banyak anggota masyarakat Tenganan Pagringsingan menggambar dan menulis prasi serta melukis di atas media daun lontar. yang menjadikan manuskrip lontar sebagai bahan bacaannya. Lomba menyalin huruf Latin ke dalam aksara Bali di atas lempiran lontar selalu ada dalam ajang Pekan Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar. 1999: 3-4).lingkungan masyarakat Bali. (11) Aktivitas lomba menyalin huruf Latin ke dalam aksara Bali di atas lempiran lontar untuk tingkat SMP dan SMA terus digalakkan. Aktivitas pembacaan lontar cakepan. Jumlah lontar cakepan di masyarakat Bali adalah ribuan. Acara ini dikaitkan dengan misi Kota Denpasar sebagai Kota Kreatif Berwawasan Budaya Unggulan. Pesta Kesenian Bali.

tidak mampu mengurus sehingga kuatir rusak di tempat. Golongan yang terakhir ini yang memanfaatkan tenaga lokal untuk keluar masuk desa ‟mengejar‟. untuk modal usaha.1 Tahun 2012 153 . sampai 60 cm.Gambar 2. diantaranya: ingin menutupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. sisi Utara lereng gunung Rinjani di Lombok Utara. Mudah Dipindahkan Wujud fisik lontar cukup simpel. lontar yang berusia tua dan berkarakter antik dan unik. 3 No. dan beragam alasan ekonomi lainnya. maka tidak jarang lontar diperjualbelikan sebagai barang antik. Alasan-alasan ini pula yang membuat semakin bersemangatnya para ”pemburu” lontar. Sejumlah masyarakat pemilik lontar menjual lontar warisannya dengan beragam alasan. Dengan panjang antara 30 cm. dan lebar tidak lebih dari 4 cm. baik dari kalangan masyarakat lokal maupun mancanegara. Karena fisiknya yang sederhana ini lontar juga mudah dipindahtangankan. dan unik yang telah dijual masyarakat Bali tentu tidak dapat diidentifikasi judul dan isinya. Lontar-lontar tua. Penulis melakukan pengukuran terhadap lontar yang dikeramatkan masyarakat Desa Bayan Beleq. Karenanya lontar-lontar yang sudah raib ke luar dari pulau Bali dan tidak sempat katedun (disalin ke dalam naskah yang baru) ini tidak dijumpai di perpustakaan-perpustakaan yang ada. lontar mudah dibawa dan dibaca. Diperkirakan Jumantara Vol. antik.

di Perpustakaan Lontar Universitas Dwijendra Denpasar tersimpan sebanyak 50 cakep. pada tahun 1967 mengklasifikasikan kepustakaan lontar 154 Jumantara Vol. di perpustakaan Balai Bahasa Denpasar tersimpan sebanyak 90 cakep. sedangkan yang tersimpan di rumah-rumah penduduk. Jumlah itu belum termasuk yang tersimpan di perpustakaan lontar yang resmi.1 Tahun 2012 . Para ahli kepustakaan lontar. DPRD. Perlu dilakukan usaha-usaha konservasi dan pengobatan secara ilmiah dan bertanggung jawab. Diperlukan juga kemauan politik dari para wakil rakyat. di Perpustakaan Universitas Hindu Indonesia tersimpan sebanyak 151 cakep. seperti di Gedong Kirtya. di Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana tersimpan sebanyak 738 cakep. dan Kota di seluruh Bali. Th Pigeaud yang telah mempelajari klasifikasi Freiderich (1847) dan R. tingkat Provinsi. Di tempat ini tersimpan sebanyak 2414 cakep. Lontar yang tersimpan di lembaga-lembaga resmi biasanya mendapat pemeliharaan yang baik. Kabupaten. di Perpustakaan Museum Bali tersimpan 60 cakep. tentu nilai manfaat lontar dapat disumbangkan untuk memperkaya khazanah budaya bangsa dan budaya dalam lingkup internasional. kalau tidak mau dikatakan ribuan. membuat klasifikasi lontar Bali secara sangat beragam. yaitu instansi pemerintah yang terkait. Lontar sebagai bagian dari khazanah ilmu kepustakaan memiliki kodifikasi keilmuan yang kompleks dan beragam. baik dari kalangan masyarakat pengoleksi maupun dari pihak pemegang kebijakan. Memiliki Wujud Fisik dan Non-Fisik Jumlah lontar yang ada di masyarakat dapat diperkirakan lebih dari 55 ribu cakep (dalam kesatuan yang utuh) lontar. Van Eck (1875).bahwa lontar yang telah ”raib” jumlahnya ratusan. sesuai dengan keluasan pengetahuan masing-masing mengenai jenis dan isi naskah lontar yang didapatkannya. baik ilmuwan luar negeri maupun dalam negeri. Kalau semua pihak cermat dalam menangani dan mensosialisasikan fungsi strategis manuskrip lontar Bali. khususnya di Griya dan Puri di Bali yang jumlahnya begitu banyak. dan di Perpustakaan Lontar Dokumentasi Budaya Bali. Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tersimpan sebanyak 2274 cakep. perlu mendapat penanganan fisik secara khusus agar terhindar dari kelapukan. 3 No. Untuk itu diperlukan kemauan bersama.

dan kalpasastra. dan uwug/rereg/rusak. Wiswakarma. d. (5) Babad. Dewagama. (2) History and Mythologi. kakawin. kidung. (4) Itihasa. Tutur. Jumantara Vol. dan yang lain). Naskah hukum juga ditemukan dalam dunia lontar di Bali. Asthabhumi. Krakah Modre dan yang lainnya. prasi. Lontar memuat kode etik arsitektur tradisional seperti Dharmaning Sangging. yaitu lelampahan.1 Tahun 2012 155 . tutur. b. kidung. dan e. seperti pustaka lontar : babad. yang terdiri dari jenis lontar pamancangah.Bali menjadi empat kategori besar. dan uwug/rusak/rereg. pipil. Humanities. Astakosala. Dasanama. Kretabasa. geguritan dan parikan. Cantakaparwa. Lontar Ekalawya dan Dasanama tidak sekedar memuat daftar kata. prasasti. Sasana. mantra. pamancangah. Kutara Manawa. dan (6) Tantri yang terdiri dari jenis lontar tantri dan satua. yaitu : (1) Religion and Ethics. dan geguritan. seperti pengetahuan kearsitekturan (Astakosali. Ekalavya. c. kakawin. dan Niti. Klasifikasi manuskrip lontar di atas telah dapat memberikan citra wujud fisik naskah lontar yang ada di Bali. dan puja. seperti lontar Pemlaspas. dan usada. Arts. wayang. yaitu: (1) Weda. serta satua. sasana. seperti pustaka lontar parwa. arja dan yang lainnya. (2) Agama. Niti. sima. 3) Wariga. seperti pustaka lontar: a. dan yang memakai judul Krakah. Customs. Wujud fisik naskah lontar yang disebut pengetahuan-pengetahuan lain oleh kalangan peneliti pernaskahan di Bali dikelompokkan karena menguraikan pengetahuan tertentu. dan yang berhubungan dengan upacara penyucian bangunan. sedangkan lontar Krakah antara lain memuat uraian beserta makna istilah dalam naskah-naskah tertentu. kanda. mantra. tetapi juga memuat sejumlah makna sinonim. dan (4) Science. yang terdiri dari jenis lontar wariga. Kemudian I Ketut Suwidja menambah klasifikasi lontar Gedong Kirtya dengan kelompok VII. weda. Naskah leksikografi dan tata bahasa seperti lontar Adiswara. awig-awig. seperti Krakah Sastra. (3) Belles Lettres. uar-uar. Law. yang terdiri dari jenis lontar weda. antara lain: usada. yang terdiri dari jenis lontar palakreta. Klasifisasi termutakhir yang banyak dirujuk adalah klasifikasi yang diterapkan Nyoman Kadjeng dari perpustakaan lontar Gedong Kirtya Singaraja (1928). Beberapa yang penting adalah: lontar Adigama. usana. Kalpasastra. urak dan yang lainnya. 3 No. Suksmabasa. yang terdiri dari jenis lontar parwa. Folklore. usana. yang memuat lakon-lakon pertunjukan kesenian gambuh.

Memiliki Abstraksi Nilai Fungsi dan kedudukan lontar dalam masyarakat memiliki kaitan yang erat dengan sistem kepercayaan dan kehidupan keagamaan masyarakat Bali. hari baik atau buruk untuk suatu pekerjaan. Puja Saraswati ditandai dengan kegiatan membuat candi aksara atau candi pustaka (mengumpulkan lontar-lontar terpilih) yang dijadikan sthana bagi Sang Aji Saraswati. Paswara. Hari khusus tersebut ditandai dengan kegiatan mengumpulkan benda-benda pusaka lontar. Sang Hyang Aji Saraswati. yaitu hari Puja Saraswati. dan dimanfaatkan. yaitu hari Sabtu (Saniscara) dan Wuku terakhir. Lontar jenis ini banyak dijumpai. Banyak menguraikan masalah-masalah pertanian seperti penentuan iklim.dan Purwadhigama. ataupun candi aksara) yang adalah tempat suci bagi Saraswati. serta kaya makna dan filosofi. Lontar yang memuat pengetahuan astronomi biasanya memakai judul Wariga dan Sundari. Ada hari khusus yang ditetapkan untuk menghormati dan mensucikan lontar. candi sastra. Para ahli pernaskahan dari berbagai belahan dunia mengakui bahwa lontar merupakan warisan budaya dunia yang harus diselamatkan. Watugunung. Warisan Budaya Dunia Lontar kaya wujud dan jenis.1 Tahun 2012 . itu berarti salah satu warisan dunia yang penting telah 156 Jumantara Vol. Hyang Wagiswari disimbolkan bersthana dalam aksara suci. sedangkan pada malam harinya (semalam suntuk) membaca dan menyanyikan sastra-sastra lontar pilihan. dilestarikan. kemudian orang Bali melakukan pemujaan pada pagi hari. Aksara menjadi badan Sang Hyang Aji Saraswati. Lontar-lontar suci disthanakan sebagai candi Tastra Saraswati (candi pustaka. 3 No. diantaranya: Kretasima. Lontar-lontar hukum yang lebih banyak bercorak Bali. Puja Saraswati mendapat tempat istimewa bagi umat Hindu di Bali sehingga masuk ke dalam sistem kalender Bali. Hari dan Wuku peringatan Puja Saraswati ditempatkan pada hari terakhir. sampai dengan penentuan hari-hari baik untuk upacara keagamaan (Agastia: 1985:13-14). Lontar bagi masyarakat Bali adalah kitab suci yang selain disucikan juga dipelajari untuk dijadikan pegangan hidup sehari-hari (suluh nikang prabha). Manakala warisan budaya dunia ini lenyap. dan awig-awig. candi bahasa. Kretasima Subak.

karena melalui aksara Balilah bahasa sebagai unsur universal dari kebudayaan itu terdokumentasikan. 1999:4). Tradisi Menulis di Atas Daun Lontar Sebelum mencermati goresan artistik aksara Bali di atas daun lontar. sudah saatnya dilakukan upaya yang lebih besar dan kuat untuk menyelamatkan lontar sebagai warisan budaya dunia. Karena itu. CHC.1 Tahun 2012 157 . dan mempelajari lontar yang diwarisinya adalah implementasi keberlangsungan hidup dan kehidupan lontar sebagai warisan budaya dunia. sehingga prosesi pembacaan menjadi lancar dan apa yang dicari dalam lontar didapatkan. untuk memohon kemurahan-Nya. kemunafikan. hal itu merupakan kebodohan. Aksara Bali adalah wahana atau sarana untuk mengungkapkan segala hal tentang kebudayaan Bali (BUIP. Gambar 3. 3 No. Dalam tradisi penulisan lontar. perlu dipahami apa yang dimaksud dengan aksara Bali sebagai lambang bahasa. Lontar yang dikeramatkan masyarakat saat dibaca didahului dengan melakukan prosesi upacara. Perlindungan yang sifatnya mengharuskan pewaris lontar untuk menyelamatkan. sebelum memulai Jumantara Vol. Manakala hal itu benar-benar terjadi. Aksara Bali adalah lambang bahasa yang telah mengambil fungsi dan peran sebagai lambang identitas masyarakat Bali.hilang. dan kesalahan besar yang dilakukan oleh generasi “anak bumi” di dunia ini. melanjutkan.

Karena itu pula. dan tampak seperti tidak ada penulisan. kehalusan rasa. (2) pelikan (alat penjepit lembaran lontar yang akan di tulis terbuat dari 158 Jumantara Vol. penulis membubuhkan dua sandangan (pangangge) aksara. Dengan cara ini mereka yakin akan berhasil menciptakan teks lontar yang utama dan memiliki jiwa (ruh suci). yaitu ”bagaikan aksara memakai dua sandangan suara. serta menjaga irama pernafasan yang teratur dan jernih. yang artinya sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi alias sudah mati. ada perumpamaan yang jamak dituturkan dalam masyarakat Bali. cepat-cepatlah melirik aksara berikutnya yang merupakan sambungan aksara didepannya. sastra dan aksara Bali. mencoret taleng/taling dan bisah/wisah berakibat pancet (sakit pinggang). Dalam aktivitas penulisan lontar. seperti umur pendek. mengasah dan mempraktikkan seluruh kemampuan intelektual dan kualitas intuitif. seorang pengawi atau penyalin biasanya melakukan ritual kecil untuk memohon anugerah ke hadapan Ida Sang Hyang Aji Saraswati. Mereka percaya hal itu akan mendatangkan akibat buruk pada diri. Secara tradisi. masuku (memakai suku) dan maulu (memakai ulu)”. Seandainya terjadi salah tulis. Tidak pernah ada aksara Bali yang dicoret. para stake holders ini menyiapkan bahan-bahan utama seperti: (1) pepesan (daun tal siap tulis). dan melangkahi aksara akan mengakibatkan kebodohan. pengarang karya sastra Bali (pangawi) dan penedun (penyalin) lontar adalah para stake holders bahasa. Bhagawan Mredhu berstana pada kedua tangan penulis. seorang penulis lontar selalu berusaha keras agar tidak mematikan atau ngucek (mencoret) aksara. Hakikat menulis adalah mempraktikkan yoga spiritualitas.1 Tahun 2012 . Sebagaimana dinyatakan dalam lontar Tutur Saraswati. Hyang Yogiswara difilsafatkan berstana pada kedua mata penulis lontar. Bagaimana membaca lontar yang banyak ditemukan aksara matinya? Pembaca lontar harus tanggap. Kepercayaan ini menjadikan lontar yang ada kelihatan bersih serta rapi tulisannya. sida sidi kasaraswaten. pangrupak (pisau tulis). Mencoret sandangan aksara yang berada di atas pangawak (badan pokok aksara) seperti ulu akan mengakibatkan kebutaan atau berkurangnya daya ingat. sehingga aksara yang salah tulis tidak berbunyi (mati). Sandangan yang lazim dipakai adalah ulu dan suku. Karenanya. 3 No.menggoreskan pangrupak di atas lempiran lontar. dan Baghawan Reka berstana pada ujung pangrupak.

membantu menjaga kestabilan dan berfungsi mensuplai energi kelembutan sehingga tangan tidak mudah lelah. Menulis di atas daun lontar menggunakan pangrupak. (4) bantalan kasur kecil sebagai alas menulis. dan yang lainnya. pangrupak dengan kelancipan 70 derajat untuk membuat prasi (menggambar di atas daun lontar). yaitu aksara Bali yang memiliki kakuub (karakter) wayah dan ngatumbah/matan titiran (bundar. (5) dulang kayu (sejenis meja yang bundar) sebagai meja tulis. dan tajam untuk memotong rontal. aksara Ongkara. Masing-masing pangrupak juga memakai hiasan. 3 No. sedangkan tangan kanan berada di posisi atas memegang pangrupak seraya menggerakkan jari-jemari tangan sedemikian rupa. (3) serbuk tinggkih (buah kemiri) atau buah naga sari yang dibakar sebagai bahan penghitam goresan aksara Bali di atas daun lontar. Jenis pangrupak yang dipakai menggores lontar disesuaikan dengan maksud dan tujuan penulisan. (7) panakep dari kayu. Tangan kiri berada di posisi bawah untuk mengalasi atau memegang lontar. lebar. (6) penggaris dan pensil (bagi penulis yang tidak yakin akan mampu menghasilkan urut-urutan aksara Bali yang lurus. jari manis dan kelingking.bambu kecil yang dilubangi hingga tembus pada kedua sisinya). patung hanoman. burung merak. yang berkaitan dengan posisi tangan saat menggores lontar. halus. Pangrupak memiliki tiga mata sisi yang tajam untuk menghasilkan karakter aksara Bali ideal. Cara menulis di atas daun lontar berbeda dengan di atas kertas. dan mengagumkan). Jempol kiri bertugas mendorong-dorong pangrupak hingga terjadi pergerakan lontar ke arah kanan. Ibu jari dan jari tengah tangan kanan menjepit lembut pangrupak. lembut. memerlukan keterampilan menulis yang khusus. (8) kapas atau kain halus untuk menggosok dan membersihkan bekas-bekas material penghitam. Demikian juga menggunakan pangrupak berbeda dengan cara menggunakan pisau dapur atau alat pertukangan lainnya. bambu. atau uyung (seseh pohon enau). (9) dan sesajen seperlunya. yaitu: pangrupak dengan kelancipan 45 derajat untuk menulis aksara Bali. ada yang menyerupai pendeta. rapi dan bersih). telunjuk menekan halus saat menggoreskan bentukan aksara.1 Tahun 2012 159 . Dalam menggoreskan aksara Bali dari kiri ke kanan harus Jumantara Vol. dan pangrupak kelancipan sedang (kurang lebih 10 derajat). Dua jemari tangan kanan lainnya.

Mulailah menulis dari garis yang memiliki ruang paling sempit.dicermati ruang-ruang diantara tiga lubang yang ada di kiri. Perhatikan lebar ruang yang disediakan di antara garis-garis yang tersedia. dan senang. dan dihormati sebagai sumber berbagai ilmu pengetahuan lahir dan batin. Bernafaslah yang teratur. Terdapat empat garis yang tersedia di atas rontal. cerdaskan intuisi dan intekstualitas yang dimiliki. Irama yang mengkhusukkan. Menulis aksara Bali di atas daun lontar memerlukan pengetahuan tersendiri. dengan aksara digantung pada garis yang telah disediakan. Bagi masyarakat Bali. Di samping itu. lontar Bali dibuat dengan cara yang saksama. Goresan simbol aksara yang pertama sangat mempengaruhi besar kecil dan kehalusan aksara berikutnya. Gambar 4.1 Tahun 2012 . dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama. lembut. Karena itu jagalah hati. dan kanan. Lemah lembut dalam ketenangan hati yang menakjubkan. Berkosentrasi dan menciptalah dengan perasaan halus. menggunakan teknologi tradisional. Proses Pembuatan Lempiran Lontar Lontar terbuat dari daun alami pohon Tal/Rontal. Sekalikali nikmati bunyi irama yang ditimbulkan oleh goresan yang dibuat. Lontar mempunyai kekuatan yang luar biasa. taksu (kekuatan ilahi). tenang. tengah. sampai berabad-abad. Kualitas lontar yang penulis citrakan tidak lepas dari dasardasar budaya dan keyakinan masyarakat Bali yang melahirkannya. membutuhkan 160 Jumantara Vol. 3 No. lontar memiliki wibawa.

seniman lontar perlu memperhatikan jenis pohon rontal yang akan dipetik daunnya. Inilah lempiran lontar kosong yang siap ditulisi. dihasilkan melalui proses khas teknologi tradisi Bali. Masyarakat Bali membedakan pohon rontal atas dua jenis. Pohon tersebut harus tumbuh di tanah yang mengandung kapur. sehingga tidak banyak mengandung sagu. di ujung Timur pulau Bali. yaitu rontal luh (betina) yang dapat menghasilkan buah atau tuak (nira) dan rontal muani (jantan) yang tidak menghasilkan buah. tanah bebatuan seperti tanah lahar. dan dalam suasana yang khusuk. Pohon itu juga sudah pernah disadap niranya. yang mendapat sinar matahari langsung dari pagi hingga sore. Dinyatakan pula pembuatan lempiran lontar memakan waktu yang relatif lama. daunnya kurang baik dibuat pepesan karena tebal. rumit. Pohon rontal yang tumbuh di tanah yang subur. bertahan dalam waktu yang panjang. selempir demi selempir sehingga menghasilkan pepesan. serat Jumantara Vol. Pohon rontal yang baik adalah yang telah berumur lebih dari 30 tahun.1 Tahun 2012 161 . mudah ditulisi. Ida I Dewa Gde Catra (pelaku prosesi pembuatan lempiran lontar yang paling produktif sampai hari ini di Bali) menyebut helai daun lontar yang dihasilkannya sebagai lempiran. tanah di tepi laut. 3 No. Pada kesempatan ini penulis sarikan informasi pembuatan lempiran daun lontar sebagaimana yang dilakukan oleh Ida I Dewa Gde Catra di Rumah Pintar Tradisional di bilangan jalan Untung Surapati. berserat besar-besar dan kaku.kesabaran yang tinggi. sehingga menghasilkan lempiran lontar sehelai demi sehelai. membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Berikut penulis sarikan teknik tradisional Prosesi Pembuatan Lempiran Lontar (2010) Bali seperti yang dilakukan budayawan lontar asal Puri Sidemen Karangasem ini. Tujuannya adalah mendapatkan mutu lempiran yang baik. Amlapura. Pohon rontal yang daunnya luwes. Rontal muani berbunga tetapi bunganya tidak pernah menjadi buah. kenyal. serta bentuknya indah dan rapi.. Daun lontar atau lempiran yang dimaksud berbentuk blanko. Sebelum prosesi pembuatan lontar dilakukan. Satu bendel terdiri dari 100 lempiran. Demikian pula jenis dan kualitas daun pohon rontal berbeda-beda. Penulisan prosesi daun lontar ini disajikan berdasarkan pengalaman penulis meneliti prosesi pembuatan lempiran lontar dan berdasarkan bahan bacaan yang ada.

Daun tal harus dijemur di tempat yang terang beberapa kali. dengan semua ujungnya panjut (merapat dan sedikit mengering). dan sore. Daun tal yang berbentuk kipas kangget (dipotong dan dicari ) hanya bagian tengah saja. pagi. dan helai daunnya tidak terlalu tebal atau terlalu tipis.kadasa (seputar bulan Maret .April). pohon lontar. Bilah daun tal kering petik yang sudah kasit (dilepaskan lidinya) dikumpulkan dan ditata sedemikian rupa. yaitu sejenis golok yang panjang). Bulan-bulan ini adalah musim kemarau. maka agar benar-benar kering seperti yang diinginkan. Sedangkan pohon yang helai daunnya panjang dan lebar disebut dolog (menyerupai senjata dolog. Sedangkan lontar yang masih muda berupa busung (janur) ataupun yang sudah berupa danyuh/wayah (tua) tidak dapat dimanfaatkan sebagai lempiran pepesan. kemudian kakum (direndam) selama tiga minggu. Pada minggu 162 Jumantara Vol. Daun tal petik kering yang dipilih untuk pepesan adalah yang bilahnya panjang. 3 No. permukaan rata tidak tuludan (berlekak-lekuk). Ngesit (melepas lidi) dilakukan secara hati-hati agar bilah daun lontar kering petik tidak amis (rusak).halus disebut ron tal taluh (telor). (pohon rontal. Pada minggu pertama air kum berwarna keruh kekuningan dan berbau kurang sedap sehingga harus diganti setiap hari.Oktober).1 Tahun 2012 . Pemetikan daun tal untuk pepesan menggunakan joan anggetan (galah yang ujungnya memakai pisau). sehingga benar-benar renyah (kering benar). yang disebut kreta masa. tidak berbintik-bintik. Pohon yang daunnya tebal berserat kasar dan kaku seperti kulit binatang disebut ron tal belulang. Usia daun tal penyaja diketahui dari kategori hijau daunnya juga ditandai dari posisi kecondongan pelepahnya yang kurang lebih 45 drajat. tidak lebih dari empat sampai enam helai setiap satu pelepah daun tal. Bilah daun tal petik kering dipotong ujung dan pangkalnya dengan ukuran panjang tertentu sesuai dengan keperluan. seratnya halus. Mengingat daun tal cukup tebal dan tiap bilahnya terdiri dari dua helai dalam satu lidi. pohon tal???) Daun tal yang dipilih untuk prosesi pembuatan pepesan berkatagori panyaja (muda atau menengah). yang disebut gegadon. Musim petik daun tal yang baik pada sasih kasanga . saat matahari bersinar panas dan langit terang benderang. lebarnya sesuai. dan sasih katiga-kapat (seputar bulan September . tentu proses pengeringannya memakan waktu yang cukup lama.

dan air yang cukup dan harus dijaga dengan saksama. dan semakin lama disimpan kualitasnya semakin membaik. tengah dan pangkalnya. Alat ini digunakan untuk meluruskan dan memampatkan serat dan rongga-rongga yang kemungkinan masih terdapat pada lontar setelah proses pengeringan. daun lontar yang telah direbus dan disimpan berbulan-bulan dimasukkan ke dalam penjepit blagbag secara teratur sesuai dengan panjang lontar masing-masing. Ngekum (merendam) daun tal kering petik dengan tujuan menghilangkan sagunya. diangkat perlahan-lahan agar tidak pecah. Agar lebih cepat kering. setiap kali air rebus menyurut petugas harus menambahkan air secukupnya. sesuai Jumantara Vol. pres tradisional untuk lontar yang dibuat dari kayu dengan menggunakan pasak. Ramuan bahan pengawet seperti kulit pohon kayu intaran. Rempah-rempah seperti: lada. umbi gadung diparut. kayu wong. terhindar dari sinar matahari. dan tidak berbau lagi.kedua dan ketiga air kum diganti setiap tiga hari sekali. Setelah merata kering. hawa panas berlebihan. Tiga puluh sampai dengan lima puluh lembar lontar disatukan. Biarkan agar dingin dengan sendirinya. ditebarkan sedemikian rapi di tempat yang terang sehingga hari itu juga dipastikan benar-benar kering. Daun tal yang dianggap telah masak jangan langsung diangkat. dijemur. Setelah berjumlah seratus. lontar dibolak-balik selembar demi selembar. hingga benar-benar bersih. agar hampa tak rapuh (serbukan) yang disukai rayap.1 Tahun 2012 163 . Bahan-bahan itu digunakan sesuai dengan jumlah rontal yang akan direbus. Merebus daun tal kering petik memerlukan panci besar. Lama menyimpan tiga-empat bulan. daun sambiroto. dan jebug (buah pinang yang tua) semua dirajang dan kemudian ditumbuk hingga halus menjadi serbuk. ujan. disela dengan penampang kayu (pandalan). 3 No. tidak berbuih. Lebih lama direbus hasilnya lebih baik. diikat ujung. lalu simpan di tempat yang aman. berulang-ulang hingga lima sampai enam jam. demikian juga selanjutnya hingga penuh. Tiga minggu prosesi ngekum tal telah berlalu. Caranya. Saat perebusan. merica. kemudian dayuhin (diangin-anginkan) di tempat yang teduh. Setelah dingin. kulit pangkal pohon kelapa. Dua hari dua malam dianginanginkan untuk tiga bulan kemudian baru direbus. kayu api. Daun tal diangkat dan di diguyur air bersih. jebug harum. angkat dan segera jemur di tempat yang lapang dan mendapat sinar matahari penuh. tunggu. Blagbag. batang kantewali.

nyerut (mengetam). (b) tradisi yang masih hidup (living tradition). lalu diisi lubang sebasar jarum. filsafat. Pembuatan lontar pepesan didahului dengan pembuatan mal yang dibuat dari daun tal dengan panjang dan lebar yang telah ditetapkan. manuskrip masyarakat Bali ini didukung oleh ketersediaan bahan baku yang cukup. Sebagai tradisi yang hidup. Nepes adalah pres terakhir lontar tepesan. hingga rontal benar-benar lurus dan rata. Mirit artinya melubangi lontar di samping kiri. Manuskrip lontar adalah produk budaya Bali yang kaya makna dan memberikan citra keluhuran dan keunggulan jagat pemikiran masyarakat Bali yang melahirkannya. Kesimpulan Lontar sebagai manuskrip masyarakat Bali telah mengangkat citra tradisi peradaban Bali di tengah-tengah intelektualitas peradaban dunia. jarum pirit (paser tradisional Bali) ditusukkan pada tengah-tengah lubang kecil mal yang di kiri. Di Bali banyak dijumpai lontar yang berumur tua yang memiliki nilai sejarah. Warisan dan tradisi lontar telah berusia cukup tua. dan nyepat (menggaris). agama. Pewarisan tradisi lontar di Bali berlanjut dari generasi ke generasi. Sebagai warisan budaya. sastra. Proses ini dilakukan berminggu-minggu. kegiatan penulisan lontar yang masih berlangsung. pasak pun akan menjadi longgar. kanan. Sedangkan nyepat adalah pembuatan lontar tepesan siap tulis (gores) dengan pangrupak (pisau tulis tradisional Bali). sehingga harus disela dengan pandalan dan dipasak kembali hingga mampat. Langkah berikutnya dalam proses pembuatan lontar adalah nepes (menjepit). nyerut adalah merapikan ujung pangkal dan diisi cat tradisional Bali agar kelihatan indah dan rapi. kanan. dan tengah. kegiatan pembacaan yang masih semarak. Mal ditempal di atas daun tal. manuskrip lontar di Bali memiliki karakter antara lain: (a) warisan budaya intelektual (intellectual heritage). dan tengah tepat di titik ujung pirit.kapasitas blagbag. (c) 164 Jumantara Vol. Lontar yang telah mapirit (berlubang) dimasuki lidi (jelujuh) agar tidak mudah bergerak saat diiris dan dirapikan pinggirannya. dan penelitian teks naskah lontar yang semakin meningkat. kemudian pasak dipasang. 3 No.1 Tahun 2012 . dan ilmu pengetahuan tinggi lainnya. kadang berbulan-bulan. pengobatan. Setelah beberapa hari lontar mengalami pemampatan.

Kualitas lontar yang penulis citrakan tidak lepas dari dasardasar budaya dan keyakinan masyarakat Bali yang melahirkannya. taksu (kekuatan ilahi). Denpasar: Jurusan Sastra Daerah FS Universitas Udayana . (7) penakep dari kayu. (2005). Lontar mempunyai kekuatan yang luar biasa. ”Prosesi Pembuatan Daun Lontar”. (9) dan sesajen seperlunya. membutuhkan kesabaran yang tinggi. 3 No. para stake holders ini menyiapkan bahan-bahan utama seperti: (1) pepesan (daun tal siap tulis). dkk. sastra dan aksara Bali. dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama. Yogyakarta: Javanologi. rapi dan bersih). Secara tradisi. Bagi masyarakat Bali. (6) penggaris dan pensil (bagi penulis yang tidak yakin akan mampu menghasilkan urut-urutan aksara Bali yang lurus. dan dihormati sebagai sumber berbagai ilmu pengetahuan lahir dan batin. menggunakan teknologi tradisional. (e) memiliki fungsi dan kedudukan terhormat atau disucikan oleh masyarakat Bali (abstract). (8) kapas atau kain halus untuk menggosok dan membersihkan bekas-bekas material penghitam. Keadaan dan Jenis-Jenis Naskah Bali. Medera. atau uyung (seseh pohon enau). Ida I Dewa Gde. sehingga menghasilkan lempiran lontar sehelai demi sehelai. I Nengah. Pedoman Pasang Aksara Bali. pangrupak (pisau tulis).mudah dipindahkan (moveable). dan dalam suasana yang khusuk. Dalam aktivitas penulisan lontar. Daftar Pustaka Agastia. bambu. (2) pelikan (alat penjepit lembaran lontar yang akan di tulis terbuat dari bambu kecil yang dilubangi hingga tembus pada kedua sisinya). dan (g) menjadi salah satu warisan budaya dunia (world heritage). (3) serbuk tingkih (buah kemiri) atau buah naga sari yang dibakar sebagai bahan penghitam goresan aksara Bali di atas daun lontar. IBG (1985). sampai berabad-abad. lontar memiliki wibawa. Lontar terbuat dari daun alami pohon Tal/Rontal. Catra. (d) memiliki wujud fisik (tangible) dan non-fisik (intangible). Jumantara Vol. (5) dulang kayu (sejenis meja yang bundar) sebagai meja tulis. lontar Bali dibuat dengan cara yang saksama. Di samping itu.1 Tahun 2012 165 . pengarang karya sastra Bali (pangawi) dan penedun (penyalin) lontar adalah para stake holders bahasa. (4) bantalan kasur kecil sebagai alas menulis.

BUIP CHC Volume 10.1 Tahun 2012 .Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. I Wayan (1973). Pasang Aksara Bali. 3 No. ”Tastra Sastra Saraswati”. Denpasar: PWII Bali. Ida Bagus (2006). ”Teknik Nyurat Aksara Bali untuk Kejuaraan”. Tim Consultancy Service (1999). Denpasar: Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar.(2008). Denpasar: Dinas Kebudayaan Propinsi Bali. Rai Putra. Makalah diskusi hari suci Saraswati. ------------. Simpen AB. Denpasar: Dinas Pengajaran Propinsi Bali Daerah Tingkat I Bali. 166 Jumantara Vol.

3 No. Tahqiq. * Penulis adalah peneliti senior di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah. Dalam konteks sejarah kesusastraan Melayu klasik. Jakarta. Kajian Filologis. Teks ini mampu „hidup‟ berabadabad melampaui kebesaran zamannya. Saat ini menjabat sebagai ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Aceh. 77 Tulisan ini berasal dari “Seminar Ketokohan Tun Seri Lanang dalam Sejarah Dua Bangsa”. Jumantara Vol. Tun Seri Lanang.Abstrak Teks Sulalat al-Salatin (Perteturun Raja-raja) karya Tun Seri Lanang jelas sangat fenomenal. 8 Desember 2011. Biereun. Kata Kunci: Sulalat al-Salatin.1 Tahun 2012 167 . bekerja sama dengan Yayasan Tun Sri Lanang. Tulisan ini akan menegaskan kembali signifikansi teks Sulalat al-Salatin sebagai sebuah karya sastra Melayu tradisional adiluhung yang dihubungkan dengan tokoh Tun Seri Lanang dengan melihatnya dari perspektif tahqiq atau kajian filologis. yang diselenggarakan oleh Direktorat Nilai Sejarah. dan bahkan pengarangnya. Sulalat al-Salatin dapat dianggap sebagai salah satu teks Melayu terpenting yang berhasil memikat dan menyita perhatian sejumlah sarjana.

Sejauh pengetahuan saya. Hooykaas menegaskan bahwa para sarjana sedemikian tertarik dengan Sulalat al-Salatin karena “…cara kitab itu melukiskan sesuatu hal dengan tjara jang sederhana sekali dan oleh isi kitab itu jang amat indah2nya. Tun Seri Lanang memang tidak dikenal memiliki karya sastra Melayu lain selain Sulalat al-Salatin. “…Di dalamnya terbayang bukan saja genius pengarangnya tetapi juga genius sastera serta bangsa yang menciptanya…” Muhammad Haji Salleh. Membincangkan Tun Seri Lanang berkaitan dengan karya sastranya. Kendati demikian. Dr. C.“…Tak ada tulisan Melayu jang demikian banjaknya diselidiki [selain Sulalat al-Salatin]…”. 131. peristiwa pertempurannya. Dalam konteks sejarah kesusastraan Melayu klasik.1 Tahun 2012 . Tun Seri Lanang. Perintis Sastra (Groningen. Perintis Sastra (1951: 132). Hooykaas. seperti persiapan perang sebelum Portugis menyerang. pengunduran Sultan ke Muar dan Pahang.78 Teuku Iskandar menambahkan bahwa semua kisah dalam Sulalat al-Salatin tersebut. mereka membuat terdjemahan2 dan daftar isi tjerita itu…”. 1951). Sulalat alSalatin dapat dianggap sebagai salah satu teks Melayu terpenting yang berhasil memikat dan menyita perhatian sejumlah sarjana. 3 No. 168 Jumantara Vol. dalam Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu (teks diunduh dari situs MCP). Teks ini merupakan satu-satunya karya sastra yang kepengarangannya dihubungkan dengan tokoh „jagoan‟ kita dalam tulisan ini. Djakarta: J. B. Hooykaas. Sulalat al-Salatin (Perteturun Rajaraja). seolah 78 Dr. Wolters. Teks ini mampu „hidup‟ berabad-abad melampaui kebesaran zamannya. C. Sulalat al-Salatin jelas sangat fenomenal. dan bahkan pengarangnya. ingatan orang niscaya akan langsung mengarah pada sebuah karya sastra sejarah. diceriterakan dengan begitu hidup. Terkait dengan kutipan di atas.

Sulalat al-Salatin. 2001). diterbitkan ulang di Kuala Lumpur: MBRAS. ya‟ni Perteturun Segala Raja-raja Karangan Tun Seri Lanang (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka.” JMBRAS 16. 1821. Sedjarah Melayu Menurut Terbitan Abdullah (ibn Abdulkadir Munsji) (Jakarta: Djambatan. saya berdiri kagum…”. 1898). 3 (1938): 1-226. kemudian W. Winstedt.G.D. artikel. Shellabear [ed. 1952). Universiti Brunei Darussalam.]. h. 80 Muhammad Haji Salleh.80 Sejumlah buku.penulisnya hadir menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri. Publikasi lebih kemudian tentang Sulalat al-Salatin adalah artikel yang mencoba melihat teks ini sebagai „mitos politik Melayu‟ oleh Henri Chambert-Loir.]. 1841). T. dan Muhammad Haji Salleh. Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad (Brunei: Jabatan Kesusasteraan Melayu.O.79 Muhammad Haji Salleh bahkan dengan berbunga-bunga mengakui: “… Dengan rasa bahawa saya sedang berdiri di depan rimba rahasia fikiran leluhur maka sebagai seorang pembaca Melayu. Malay Annals: Translated from the Malay language by the late Dr. Situmorang & A.] Sejarah Melayu (Singapore: Thomas McMicking. Chambert-Loir menegaskan bahwa Sulalat al-Salatin tidak sekedar teks yang merekam dan menggambarkan peristiwa masa 79 Teuku Iskandar. betapa pun saya terpisah dari akar ini.1 Tahun 2012 169 . “The Malay Annals or Sejarah Melayu: The Earliest Recension from MS 18 of the Raffless Collection. „The Sulalat al-Salatin as A Political Myth‟ yang terbit di Jurnal Indonesia 79 (April 2005). Sejarah Melayu (Singapore: Methodist Publishing House. 1995). 242. John Leyden with an introduction by Sir Thomas Stamford Raffles (London: Longman etc.. 1. menyusul kemudian Abdullah bin Abdul Kadir [ed. Jumantara Vol. Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu (teks diunduh dari situs MCP). R. dan edisi teks atas Sulalat al-Salatin pernah ditulis dan diterbitkan dalam kurun waktu hampir dua abad ini! Sarjana paling awal di antaranya adalah John Leyden. Teeuw [eds. 3 No. dan juga sebagai seorang pengarang yang menghadapi pendahulunya. 1997).

Muhammad Ridhuan Tony Lim Abdullah.lalu. Apakah kemudian pembahasan tentang Sulalat al-Salatin boleh dianggap lengkap dan tuntas? Tampaknya tidak juga. China. mengingat telaah semacam itu membutuhkan penelitian dan pembacaan atas sumber-sumber primer yang memadai yang. sejauh mana Islam tergambar dalam Sulalat al-Salatin sebagai pedoman kehidupan negara di Melaka saat itu? Adakah pengaruhnya dalam penegakan hukum dan kebijakan politik? dan beberapa pertanyaan terkait awal Islamisasi lainnya. 170 Jumantara Vol. “The Sulalat al-Salatin as a Political Myth” dalam Indonesia 79 (April 2005). misalnya. Masih perlu diungkapkan. 3 No. Karenanya. dan mengemukakan tinjauan atas ayat-ayat al-Quran yang dikutip oleh pengarang Sulalat al-Salatin. Barangkali. tidak tersedia saat artikel ini ditulis. Artikel ini dipresentasikan dalam “2011 International Conference on Social Sciences and Society” di Shanghai. melainkan juga merupakan kumpulan motif yang dapat dianggap sebagai mitos politik Melayu yang secara sadar digunakan untuk menonjolkan sebuah visi sejarah tertentu. dan Raja Ahmad Iskandar Raja Yaacob berjudul “The Malay world: an analysis of Quranic verses in Sulalat al-Salatin”.81 Apresiasi paling mutakhir terkait Sulalat al-Salatin barangkali adalah artikel yang ditulis bersama oleh Abdrurrahman. sayangnya. Artikel Abdurrahman dkk. salah satu aspek penting yang belum banyak dielaborasi terkait teks Sulalat al-Salatin adalah unsur Islam dalam teks tersebut.1 Tahun 2012 . 160. 14-15 Oktober 2011 lalu. di atas pun rasanya belum memadai karena hanya memaparkan tinjauan sederhana atas ayat-ayat al-Quran dalam Sulalat al-Salatin. h. dalam kesempatan ini 81 Henri Chambert-Loir. Meski demikian. artikel ini belum akan menjawab pertanyaanpertanyaan yang saya kemukakan sendiri di atas. Banyaknya perhatian para sarjana tersebut tidak terlalu mengherankan mengingat kenyataannya Sulalat al-Salatin adalah sebuah sumber tertulis langka yang menjelaskan Kesultanan Melayu di Malaka abad ke-15.

82 Muhammad Haji Salleh barangkali adalah salah seorang kekecualian. sifat.saya hanya akan menegaskan kembali signifikansi teks Sulalat alSalatin sebagai sebuah karya sastra Melayu tradisional adiluhung yang dihubungkan dengan tokoh Tun Seri Lanang. h. 121. seperti Shellabear (1896). 3 No. 31-32. 1982). sejauh informasi terkait bisa dijumpai. dan sedikit melihatnya dari perspektif tahqiq atau kajian filologis. dan menegaskan hubungan sebuah karya dengan nama pengarang yang disebut. Tahqiq al-turath. „Abd al-Hadi al-Fadli.85 Dalam hal Sulalat al-Salatin. 84 Tahqiq seyogyanya merupakan terjemahan dari kata „criticism‟. yang lebih suka menyebut judul teks Sulalat al-Salatin sebagai Sejarah Melayu atau Malay Annals. h. (Jeddah: Maktabat al-„Ilm. Sulalat al-Salatin atau Sejarah Melayu? Henri Chambert-Loir memberikan komentar kritis atas kebanyakan sarjana. Winstedt (1938. ia memberi judul Sulalat al-Salatin.84 judul sebuah teks memang seyogyanya didasarkan pada informasi asal yang berasal dari teks itu sendiri. dan sejarah teks tersebut). “The Sulalat al-Salatin. 133. tahqiq didefinisikan sebagai „al-fahs al-„ilm li-al-nusus aladabiyah min haythu masdaruha wa-sihhat nassuha wa-insha‟uha wa-sifatuha wa-tarikhuha‟ (sebuah telaah ilmiah atas teks-teks sastra. 85 „Abd al-Hadi al-Fadli menjelaskan bahwa di antara tugas seorang muhaqqiq (filolog) adalah untuk: memverifikasi judul sebuah karya. h. dan lainnya. Lihat Lihat „Abd alHadi al-Fadli. penyebaran. Liaw Yock Fang (1993) Teuku Iskandar (1995). Tahqiq al-turath. penyebutan Sejarah Melayu atau Malay Annals tersebut mengikuti dua tulisan paling awal terkait teks Sulalat al-Salatin yang disebutnya „misleading‟. memverifikasi nama pengarang.html. 1969).edu. validitas teks. tanpa diragukan lagi bahwa salah 82 83 Henri Chambert-Loir. Dua tulisan yang dimaksud adalah Leyden 1821 dan Abdullah 1841 seperti dikemukakan di atas.83 Dalam perspektif filologi dan tahqiq.1 Tahun 2012 171 . Menurutnya. dari aspek sumber.au/papers/MHS%20Esei1. Artikel tersebut dapat dibaca di: http://mcp.anu. Dalam konteks sastra. demikian juga dalam artikelnya yang lain berjudul “Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu”. karena dalam publikasinya (1997). yang secara sederhana dapat diartikan sebagai „ihkam al-shay‟ (menghakimi sesuatu). Jumantara Vol.

1977). h. maka penyebutan „Sejarah Melayu‟ atau Malay Annals tentu boleh-boleh saja. 3 No. 172 Jumantara Vol. Anehnya. Ricklefs and P. 230. termasuk manuskrip Raffles Malay 18 yang dijadikan sebagai landasan edisi oleh Winstedt 1938. h. tidak ada alasan yang masuk akal untuk tidak menyebut Sulalat al-Salatin sebagai judul teks. mendaftarkan kata kunci „Sejarah Melayu‟ dalam indeksnya87 yang merujuk pada manuskrip yang disebut sebagai Sulalat al-Salatin ini. Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections (Oxford: Oxford University Press. h. 134-135. 88 M. Indonesian…. Katalog Ricklefs & Voorhoeve 1977 misalnya. Ricklefs and P. C.86 Berdasar pada sumber tertulis di atas. Apakah hal itu disebabkan karena kata Sulalat al-Salatin adalah bahasa Arab yang tidak terlalu jelas maknanya bagi sebagian orang sehingga kebanyakan merasa lebih „nyaman‟ menyebut „Sejarah Melayu‟ yang lebih mudah difahami? Tentu ini bukan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Akan tetapi jika yang dimaksudkan adalah kandungan isinya.88 Kata „Sulalat al-Salatin‟ bahkan tidak terdaftar sama sekali dalam katalog ini. Voorhoeve. karena yang lebih penting adalah menampilkan apa yang tertulis dalam teks. Maka Fakir namai hikayat itu Sulalat al-Salatin yakni peraturan segala raja-raja…”. bukan apa yang difahami peneliti atas teks tersebut! Judul berbahasa Arab untuk teks-teks Melayu adalah sebuah kelaziman pada masa lalu. 245. bukan hanya sumber-sumber yang disebut di atas saja yang banyak menjadikan Sejarah Melayu sebagai judul teks.satu bagian dari mukadimah teks yang sedang didiskusikan ini berbunyi: “…maka Fakir karanglah hikayat ini kama sami‟tuhu min jaddi wa-abi. melainkan juga katalog manuskrip yang menginventarisasi dan mendeskripsikannya. Kesusasteraan. supaya akan menyukakan duli hadhirat baginda. C. 86 87 Dikutip dari Teuku Iskandar. Voorhoeve.1 Tahun 2012 . M.

91 Lihat antara lain Mohammad Daud Mohammad. The Sulalat…. jadi beratlah atas anggota Fakir alladzi murakkabun „ala „l-jahli. Hal ini terutama karena ada bukti tertulis dalam mukaddimah naskah Sulalat al-Salatin sebagai berikut: “…setelah Fakir mendengar demikian. 90 Hans Wehr.‟93 Memperhatikan maknanya. dan diganti menjadi Sulalat alSalatin saja. Sebagian mengejanya sebagai „Peraturan‟91. kata „Sulalat‟ ini diterjemahkan menjadi berbeda-beda. sebagian lagi „pertuturan‟92. 116. h. 92 Lihat misalnya Henri Chambert-Loir.Dengan demikian. dalam bahasa Arab berarti „keturunan‟ (descendant)89. penyebutan „Sejarah Melayu‟ sebagai judul teks yang dihubungkan dengan dengan tokoh Tun Seri Lanang ini. 1997). dan karena itulah versi Melayunya perlu dibaca sebagai „Perteturun Raja-raja‟. Kata „Sulalat‟ sendiri. 1994). 134. Bendahara. A Dictionary of Modern Written Arabic (Urbana: Spoken Language Services. seyogyanya diluruskan. yang menjadi acuan terjemahan judul tersebut. cucu Bendahara Seri Maharaja. Kesusasteraan… h. Jumantara Vol. Teuku Iskandar. Tokoh-tokoh Sastera Melayu Klasik (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. 245. terjemahan yang paling mendekati dari definisi kata Sulalat tersebut tampaknya adalah „perteturun‟. Dalam beberapa sumber. ya‟ni Perteturun Segala Raja-Raja Karangan Tun Seri Lanang (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka. Tun Seri Lanang timang-timangannya. h. Tun Seri Lanang: Diskusi Kepengarangan Sulalat al-Salatin Pengetahuan umum kita menyatakan bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang langsung teks Sulalat al-Salatin. 1987).1 Tahun 2012 173 . h. Sulalat al-Salatin. 3 No. kecuali jika dimaksudkan sebagai penjelasan atau pemerian belaka. anak Orang Kaya Paduka Raja. A Dictionary. Tun Muhammad namanya. dan sebagian lainnya „perteturun. 489. cicit Bendahara Seri 89 Hans Wehr. 93 Lihat misalnya Muhammad Haji Salleh. h. 493. sedangkan al-Salatin berarti raja-raja (kings/sultans)90. Paduka Raja gelarannya. saya berpendapat bahwa ke depan. 110.

245-259. 96 Winstedt menambahkan beberapa hal yang membuat dirinya sangsi bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang Sulalat alSalatin. qaddasa „llahu sirrahum. Kesusasteraan. Kesusasteraan. Melayu bangsanya. dari Bukit Siguntang Mahameru. Batu Sawar Darussalam…”94 Akan tetapi. Alih-alih menganggap Tun Seri Lanang sebagai pengarang langsung. h. yang terkesan sebagai pamer status. Winstedt yang masih mendiskusikan apakah Tun Seri Lanang dapat disebut sebagai pengarang langsung teks Sulalat al-Salatin atau penyalin? Teuku Iskandar mendiskusikan perbincangan para sarjana tersebut secara panjang lebar. h. karena 94 95 Dikutip dari Teuku Iskandar. 1993). 96 Teuku Iskandar. 245. h. lihat juga Liaw Yock Fang.1 Tahun 2012 . 97 Teuku Iskandar. Salah satunya adalah karena di akhir naskah versi Raffles Malay 18 tertulis kalimat: “…wa-katibuhu Raja Bungsu…”. cicit Bendahara Tun Nara Wangsa. 174 Jumantara Vol. tambahan berbagai gelar serta asal-usul pengarang sebagai keturunan para pembesar kerajaan. h.95 Disebutkan. yang mengisyaratkan seolah-olah pengarangnya adalah Raja Bungsu. h. 97. ada beberapa sarjana seperti R. Selain itu.Maharaja. 3 No. O. piut Bendahara Seri Maharaja anak Seri Nara Diraja Tun Ali. Wilkinson dan R. Wilkinson misalnya berasumsi bahwa kalimat “…maka Fakir karanglah hikayat ini…” dalam teks Sulalat al-Salatin tidak cukup lazim ditulis oleh seorang pengarang Melayu yang menyebut dirinya sendiri sebagai seorang „pengarang‟. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik 2 (Jakarta: Penerbit Erlangga. mengetahui bahasa Sanskritt. 244. Malakat negerinya. J.97 Argumen seperti ini tentu saja masih dapat diperdebatkan. Parsi. anak baginda Mani Purindam. Tamil dan Arab. Kesusasteraan. 249. serta mengetahui sedikit bahasa Cina dan Siam. Wilkinson menduga bahwa teks Sulalat al-Salatin tersebut dikarang oleh seorang peranakan Tamil yang mengenal kehidupan istana Melaka. Kesusasteraan. Teuku Iskandar. juga tidak menunjukkan kerendahan hati bangsa Melayu pada umumnya.

mengatakan bahwa penyebab keraguan itu adalah karena: “…kebanyakan daripada versi-versi [manuskrip Sulalat al-Salatin. dapat saja merujuk. Teuku Iskandar secara tegas mengatakan: 98 99 100 Teuku Iskandar. Itulah mengapa Teuku Iskandar memberikan komentar bahwa manuskrip Raffles Malay 18 yang diakhiri dengan kalimat “…wa-katibuhu Raja Bungsu…” adalah salinan manuskrip dari hikayat yang dibawa dari Goa. karena selain Wilkinson dan Winstedt di atas. Teuku Iskandar. karena ia tidak hanya sekedar menyalin. Jumantara Vol. Ia. melainkan juga menambahkan bagian. Liaw Yock Fang adalah salah satu di antaranya. terlepas dari pengakuan atas keindahan dan keagungan Sulalat al-Salatin sebagai karya sastra sejarah Melayu. kadang satu episode cukup panjang. harus difahami bahwa konsep „penyalin‟ dalam tradisi kesusasteraan Melayu lama dapat juga berarti „pengarang‟. Hooykaas misalnya. Menurut Teuku Iskandar. 3 No. h. memperbaiki bagian yang dianggap tidak tepat. yang dianggap perlu. bahkan mengubah bahasa karya asal atau menerjemahkan. Sejarah… h. masih ada beberapa lagi sarjana yang masih belum yakin bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarangnya. setelah memaparkan argumentasi yang cukup panjang. h. baik pada pengarang maupun penyalin sebuah teks. yang dalam bahasa Arab berarti „penulis‟.100 Dengan demikian. 252.kata „katib‟ sendiri. misalnya. 97. Kesusasteraan. sesuai konteks dan kebutuhan pada masanya.] ini masih belum cukup diselidiki dan sukar ditentukan pengarang dan masa tertulisnya…”. yang dimiliki oleh Raja Bungsu. termasuk di antara mereka yang meyakini bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang Sulalat al-Salatin. Liaw Yock Fang. pen. Teuku Iskandar dan C.98 Demikianlah. Kesusasteraan. tampaknya sebuah kajian tekstologis untuk secara khusus memastikan Tun Seri Lanang sebagai pengarang Sulalat alSalatin perlu dilakukan.1 Tahun 2012 175 . 250.99 Tentu saja ada sejumlah sarjana lain yang tidak sependapat dengan pandangan di atas.

3 No. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik 2. Saya hanya berharap bahwa kajian atas karya-karya sastra Melayu semisal Sulalat al-Salatin dapat terus digalakkan dengan melihatnya dari berbagai perspektif.1 Tahun 2012 . Henri (2005). kebesaran dan keindahan teks Sulalat al-Salatin itu sendiri sebagai sebuah karya sastra sejarah Melayu klasik dalam beberapa hal sepertinya sudah jauh melebihi kebesaran zaman dan pengarangnya. Fang. karena ia tidak melihat ada alasan kuat untuk mempermasalahkannya.“…sejak tahun 1964 kita telah menyatakan bahwa Tun Seri Lananglah pengarang Sejarah Melayu dan menentang pendapat Winstedt yang menafikan hakikat ini…”. h. h. 160. Jeddah: Maktabat al-„Ilm. 101 Teuku Iskandar.101 Dalam konteks ini. 176 Jumantara Vol. „Abd al-Hadi al. „The Sulalat al-Salatin as a Political Myth‟ dalam Indonesia 79 (April 2005). agar kajian tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh terkait peradaban Melayu Nusantara kita pada masa lalu. Tahqiq al-turath. tulisan ini mungkin tidak memberikan kontribusi penting dan juga tidak menyediakan informasi baru terkait karyakarya sastra yang dihubungkan dengan Tun Seri Lanang.(1982). Daftar Bacaan Chambert-Loir. meski sarjana semisal Henri Chambert-Loir mengaku tidak tertarik memperdebatkan apakah Sulalat al-Salatin ini dikarang oleh Tun Seri Lanang sendiri atau pengarang lainnya. barangkali pendekatan tahqiq seperti saya kemukakan di atas dapat diterapkan untuk melakukan sebuah kajian khusus berkaitan dengan kepengarangan teks Sulalat alSalatin. Fadli. Liaw Yock (1993). Wallahu a‟lam bissawab. Kesusasteraan. Penutup Demikianlah. 256. Hal ini mungkin karena dalam kenyataannya.

A Dictionary of Modern Written Arabic. 1994. Muhammad Haji.edu. Hooykaas. ya‟ni Perteturun Segala Raja-Raja Karangan Tun Seri Lanang. Iskandar. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.Jakarta: Penerbit Erlangga. h.au/papers/MHS%20Esei1. C. Sulalat al-Salatin. C.1 Tahun 2012 177 . Artikel diunduh dari situs Malay Corcondance Project (http://mcp. Jumantara Vol. Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka. 1997).html). Ricklefs M. Groningen. Perintis Sastra. Urbana: Spoken Language Services. Mohammad Daud (1987). Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu. Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections. 3 No. Brunei: Jabatan Kesusasteraan Melayu. Teuku (1995).anu. Djakarta: J. (1997). Oxford: Oxford University Press. and P. Mohammad. B. Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. Universiti Brunei Darussalam. (1951). Hans (1994). Wehr. Salleh. Wolters. 1 ----------. Voorhoeve (1977). Tokoh-tokoh Sastera Melayu Klasik.

7. Sebuah pemandangan umum dan pendekatan baru yang diterapkan kepada Kunjarakarna. saya merasa perlu untuk menerbitkan lagi artikel itu dengan pengurangan dan perubahan seperlunya. no. Juli 1984. dan perbaikan bacaan Terbitan diplomatik teks Kuñjarakarṇa (prosa) dari ketiga naskah yang diteliti. Berdasarkan kesempatan luas yang diberikan itu 178 Jumantara Vol.Willem van der Molen (2011). hlm. mengemukakan alternatif bacaan. 255-272). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. terjemahan. yang disajikan secara sinoptik. sungguh membantu pembaca untuk bekerja sendiri: menganalisis.1 Tahun 2012 . Sehubungan dengan terbitnya disertasi W. Tebal x + 392 hlm. XXXIII. Kritik Teks Jawa. Terbitan teks. bahkan mungkin mencoba membuat rekonstruksi. 3 No. Artikel resensi ini adalah telaah lama yang pernah diterbitkan di majalah Basis (Th. ISBN 978-979-461-787-8. van der Molen dalam terjemahan bahasa Indonesia.

Diandaikan. pemisahan kata menimbulkan kesalahan (1) 125 H paŋan inum. suatu masalah yang berulang kali dibahas oleh para penerbit teks Jawa adalah masalah pemisahan kata beserta dasar-dasar linguistiknya. Seharusnya dibaca: 125 H paŋan inum. ternak. (h. namun barulah menyangkut pemakaian beberapa huruf saja. yang dapat membantu untuk menentukan kedudukan teks itu dalam sejarah bahasa dan tahapan tradisi. Sekalipun hal-ihwal ejaan telah diselidiki secara rumit. 175) pakaian. sanḍaŋ Jumantara Vol. Penelitian ini diharapkan akan menampilkan ciri-ciri kebahasaan dari teks yang bersangkutan. bandingan antarteks dengan karya yang sama dari naskah lain.1 Tahun 2012 179 . Selanjutnya masih perlu dilakukan penelitian ejaan dengan memperhatikan tataran morfo-sintaksis. sanḍaŋ agoh arabihanakkanak Terjemahan: “Makan. 3 No. terutama dari naskah H. dan hubungan antar teks dengan berbagai karya lainnya. Pemahaman teks dan perbaikan bacaan secara bertahap perlu memperhatikan: teks dari satu naskah. Terjemahan “ternak” berhubungan dengan bacaan “agoh” (“goh”. 121162). Kesalahan terjemahan. Dalam hal ini terbitan teks Kuñjarakarṇa (prosa) menunjukkan kekurangan yang menyolok. lembu). Ejaan yang tidak konsisten sangat penting diselidiki demi pemahaman teks dan perbaikan bacaan. minum. berkeluarga. Sejumlah contoh berikut ini dimaksudkan sebagai sumbangan pikiran untuk pemahaman teks dan perbaikan bacaan. […]”. dan terbatas pada tataran kata dasar (h. bahwa setiap penerbit atau penyunting teks memahami teks dan menguasai bahasa teks yang diterbitkan atau disuntingnya.akan dikemukakan beberapa hal yang mungkin membantu pemahaman dan penelitian lebih lanjut. Erat hubungan dengan hal itu.

II: 1638. sima. Old-Javanese English Dictionary = OJED. […] 180 Jumantara Vol. […] Terjemahan: “[…] Ø Batu sebagai bulan (h. I: 100. (OJED. II: 2216. (OJED. kĕmbaṅ kuṣaṅ runtiṅruntiṅ. lebuguntung”. lebuguntur). wasi. 185) berbau dupa semerbak harum Seharusnya dibaca: “śammida dupa”.1 Tahun 2012 . yang adalah nama-nama jenis pertapa. (h. ma oṃ. 594 H pamanuyon. I: 1001. samidha. 219) Seharusnya dibaca: “wawaṣi manguyu ḷbuguntuṅ”. (h. (4) 2440 H […] Ø watu pinaŋka ta wulan. II: 1901. II: 1647. 1982. yang berarti: “batu merupakan tulang(nya)”. samiddha). 290-291) Seharusnya dibaca: “watu pinaŋka tawulan”. bdk. tahulan). sandaŋ) (2) 334 H śammi dadupa mrabukk arum pawaŋi Terjemahan: “[…] mewangi. maŋuyu. Terjemahan: “wawal. yang berarti: “kayu bakar (dan) dupa” (OJED. cinakuṣ i wawaŋi kambaŋ wĕrataŋanta. (3) 1028 H wawa ṣima ŋuyu ḷbuguntuṅ.ago harabi hanakkanak “Sanḍaŋ a <ṅ> go” berarti: “pakaian dan perhiasan” (lihat Zoetmulder. Lalu “winoŋan” (333) seharusnya dihubungkan dengan “śammida dupa”. aŋgo. I: 1114. 3 No. (5) 3130 H halŋa burat. nguyu.

I: 327. tidak termasuk mantra yang terdahulu. (OJED. Berikut ini disajikan beberapa contoh lagi. Bunga wratanganta. 3 No. (Ungkapan ini menandai tahap upacara. “Hantiga kinulitan” artinya bukanlah “telur berkulit”. pemisahan kata ditangguhkan. bahasa. Seharusnya dibaca: 3130 H halŋa burat. Bungaku Sang Runting-runting. ma oṃ. bunga kusang dan runting … wewangian. I: 918. (7) 2203 H […] maŋke taṇn agiraha. maupun bandingan antarteks. pukulun Jumantara Vol. Ciriku (OJED.Terjemahan: “[…] dengan minyak dan boreh. […] Artinya: “Mengenakan minyak boreh. arti kata tidak dicari. melainkan “telur yang dikuliti (dikupas kulitnya)”. baik dalam kamus. Mantra: om. […] Terjemahan: “Rupa anda waktu itu seperti telur berkulit” (h. Mantra: Oṃ. kadi hantiga kinulitan. K: kĕmbaṅ wĕratta baranta).1 Tahun 2012 181 . banyak bagian tidak diterjemahkan (ditandai: …). perbaikan bacaan belum dilakukan. dan lain-lain. (6) 1792 H sammana rupanta. 257). (h. ungkapan. ranak baṭara. sebab: pemisahan kata salah. 325).” Seperti telah terlihat pada contoh-contoh di atas. cihna II) Si Harum Bunga Weratanganta (? Bdk. kĕmbaṅku ṣaṅ runtiṅruntiṅ cinaku ṣi wawaŋi kambaŋ wĕratanaŋta. kulit). karena arti masih gelap. dan konteks kurang dipahami. dalam bandingan intrateks.

titih). tetapi sejajar dengan “tan panaŋguha lara”. haniti hi pantaraṇn aji. II: 1310. Hendaklah tinggal tetap terhormat menduduki singgasana Tuanku” (9) 3124 H timbul krawa len bujana kulit. grah). 2023. K tan tĕtĕsa deniṅ wwakadga hendak ucapan Tuanku rajawi. K tinbul krawa le bujana kulit 3125 H tan tĕtĕsa deniṅ wwakadaga. 182 Jumantara Vol.1 Tahun 2012 . (OJED. 3 No. amintaha. I: 540. K pataraṇna maṇni). (h. Larik 3191 seharusnya dibaca: “paṣĕkk apaŋgaḥ. Terjemahan: “Purnawijaya mohon diri: „Tinggallah baikbaik … di atas singgasana raja. pasĕk. “tan agiraha” (naskah H) selayaknya dibaca: “tan ageraha” (tak akan merasa sakit). (h. 279) Memang naskah K berbunyi: “maŋge tan agiraṅ”.tan panaŋguha lara. Perihal sandhi atau gabungan kata semacam ini perlu dipertimbangkan lagi demi pemahaman ciri kebahasan dari teks yang bersangkutan. II. (8) 3188 H […] pun puṙṇawijaya. 327). 3190 amit kantuna paṣĕk kapaŋgaḥ. II: 1438. pukulun. Terjemahan sementara: “[…] Si Purnawijaya mohon diri. (Bagian kalimat ini termasuk langsung! OJED. […]‟”. […]”. Mungkin “pantaraṇn aji” (3192) lebih baik tetap dibaca: “pantaraṇnaji” (gabungan kata: pa [n] taraṇnaaji. Terjemahan: “Sekarang … Hamba tidak menganggapnya penderitaan. pasak I. hanitihi”. pun I). Batara. (OJED.

1967. (OJED. 1936) terdapat Aji Sūkṣma -jahinang dengan ungkapan: “lulut onĕng ring utari” (h. […] K lwir pusuḥ kĕg. lulut.1 Tahun 2012 183 . Bacaan dapat diperbaiki menjadi: “timbul krawalen (atau: krawale. Tĕg. Us 156: timbal kurawale) bujan<eṅ> kulit. I: 806. I: 1055. 3116 H: puspa liŋganeṅ siraḥku). Aji ini terdapat sesudah cerita tentang Kuñjayakarna dan Pūrṇawijaya. berdasarkan bandingan teks dari kedua naskah. unaŋ). tak akan mempan oleh segala macam pedang (senjata) bagaikan kuncup bunga (?).” (3123 H. Dalam Korawāçrama (Swellengrebel. (bdk. lir pusuḥ tĕg (atau: kĕg) kĕṅkĕṅ”. 3 No. 136).3126 H lwir pusuḥ tĕg kĕṅ kĕṅ. suara orang menghentak bumi) berhubungan dengan “om […] dalamakanku”. unĕŋ. dengan arti: “Mataku Si Lulut Onĕng (Si Asyik-Masyuk)”. OJED. (h. Jumantara Vol. dan tidak diterjemahkan. Terjemahan sementara: “Timbul Krawale Buja (Sakti Kebal Lengan?) ada di kulit. Tan tĕtĕsa deninṅ <sar>wwakadga. (h. h. On the OldJavanese Cantakaparwa and Its Tale of Sutasoma. karawalya (karawali?). Ensink. dan bandingan antarteks dengan karya lain.323). Membatu”. (10) 3116 H satakuṣilulunnonen […] K maṭakuśilulukonĕn […] Pemisahan kata belum ditentukan. gḍug. diusulkan bacaan: “mataku si lulut onĕng”. Teg keng keng”. (bdk. 325). h. kĕṅ kĕṅ […] Terjemahan: “tak tertembus oleh … seperti kuncup bunga. Dalam Cantakaparwa terdapat pula Aji Jahinang dengan ungkapan: “Lulur onĕng ring untunku” (naskah Kirtya 398. 9). II: 2121. Menurut konteks “gḍug. 99a).

1 Tahun 2012 . (H 1015-1030). tidak tepat.” (h. Seperti itulah halnya kawah tempat siksaan. dan nanti akan dinikmati. atau “meski demikian”. […] Terjemahan: “Bandingkan dengan Besawarna yang me nunggui kayangan pendosa.(11) 1009 H […] upamanya yi kadyaŋga ṇniṅ saṅ besawaṙṇna hatuŋgu kaywaŋan. 3 No. 219) Terjemahan: “yang menunggui kayangan pendosa” berhubungan dengan bacaan “papa ṭa” dan salah hubung dengan “kaywaŋan” (1011). Maka: (12) 1032 H iwa maŋkana yayi kawa ulun… Terjemahan: “[…] …meskipun demikian saya ragu adik. Maka: (13) 1001 H […] tanta 184 Jumantara Vol. Seharusnya dibaca: “papaṭ <t>a humahnya”. Bukanlah Yama yang memiliki kawah itu.” (Terjemahan “iwa maŋkana” dengan “meskipun demikian”. papa ṭa humaḥnya kĕbĕk deṇniṅ raja drawwa. kemala. 1032. yang berarti: “seperti itulah. Rumah itu bukan milik Besawarna. kawahku. intan. melainkan orang-orang di dunia. dan mengacaukan arti!). 1716. 1043. mas pirak miraḥ kommala hinten. Rumahnya penuh dengan harta benda emas. yang berarti: “Empatlah rumahnya”. 1698. melainkan milik orang-orang di dunia yang berbuat kebaikan. perak permata. 1708. (h. Dinda. bila mereka sudah mati. 219) Seharusnya dibaca: “iwa maŋkana yayi kawa<ḥ>ulun”.

draweni kawah hi<ka> wwaṅ madyapada kaṅ drawenni <i> ka [n] yayi. dirinya sendiri memasukkan itu. Jumantara Vol. saua suruh masuk sendiri dik”. ṇn i ŋulun haḷbokna kawaḥ hika. 3 No. hawake ḍawak aḷbokĕṇ nika yayi Terjemahan: “[…] … Caranya pada saya kalau saya memasukkan orang ke kawah. Maka: (14) 989 H […] tanta. Seharusnya dibaca: 1001 H […] tantan i ṅŋulun. Seharusnya dibaca: 989 H […] tanta. hawake ḍawak aḷbokĕṇn ika yayi Terjemahan: “Bukanlah aku yang memasukkan ke dalam kawah itu. melainkan orang-orang itu sendirilah yang masuk ke dalam kawah. 217). ṇni ŋulun haḷbokna kawaḥ hika. Kawah adalah milik orang di dunia. Dinda”. drawe ni kawah hi wwaṅ. (h.1 Tahun 2012 185 . orang-orang di dunialah yang memiliki itu. Terjemahan: “Bukanlah aku yang memiliki kawah itu. merekalah yang punya. dik. Terjemahan: “[…] … ku.” (h. 219). madyapada kaṅ drawenni kaṅ yayi. Bukanlah Yama yang memasukkan atau memasak orangorang berdosa di dalam kawah.niṅ ŋulun. Dinda”.

” Bentuk “ywacukit” dapat dipandang sebagai gabungan kata “ya acukit” dengan sisihan/tambahan “wa” pada kata “ya”. kĕla.t adulit. berdasarkan bandingan dengan larik 1301-1302 dan dengan bacaan naskah K (2822-2823: janmanya acukitt adulit). 309). ywacukit. 233) 2822 H kunaṅ pañcanmanya. wwaṅ tuhu si maḷbu ḍawak mariṅ kawaḥ […] Terjemahan: “[…] … Ada orang yang masuk yang sangat … Ia masuk sendiri ke dalam kawah […]”. Perbaikan bacaan “klĕ” (1097) menjadi “kĕla” sejalan dengan “tlĕs” (156. (h. klĕ. 3 No. orang-orang itu sesungguhnya masuk sendiri ke dalam kawah”.1 Tahun 2012 . […] Terjemahan: “selanjutnya … … penjual kapur”. Namun demikian. sedangkan “t” jauh berbeda dengan “c”. pĕjah). wwaṅ tuhu si maḷbu ḍawak mariṅ kawaḥ […] Terjemahan: “Tidaklah aku masak. ywa tukit.(15) 1096 H […] tanta ulun. Terjemahan: “… pemulung. dapatlah bacaan larik 2822-2823 diperbaiki menjadi: “kunan pañjanmanya. tadulit. tĕlas). Dalam naskah H bentuk huruf “c” agak mirip dengan “j”. Seharusnya dibaca: 1096 H […] tanta <n> (atau: tan ta?) ulun. (16) 1301 H […] hacukit hadulit. “pjĕh” (3392. Jadi artinya: “Ada pun penjelmaannya adalah orang-orang 186 Jumantara Vol. dan lainlain. penjual kapur”. (h. (h. 223).

ta. sakala II). kapur. 169). (OJED. itulah Mungkin harus diperbaiki demikian: 68 H <i> laŋ <a> kaleswa ywaki (yweki?) ywaki (yweki?) bawanya Ø Kata “klesa” (1933.1 Tahun 2012 187 . 1946). kaleṣa. dan lain sebagainya). 1951. h. salah satu buktinya: naskah A). 1544. 1942. 324 H: salaka). “kalweṣa” (80. 3 No. „dulit‟ ” (pedagang terasi. dan berasal dari “sakala” (t<k. Sisipan/tambahan “w(a)” atau “y(a) dalam ejaan naskah H perlu diperhatikan untuk perbaikan bacaan dan pemahaman bahasa. Di sini mungkin terdapat sisipan tambahan “wa”. yang berarti: “pada waktu yang bersamaan”. II: 1604. (h. bdk. dan passim). sadakala). (17) 28 A sakala maray. dan “kleswa” (116).(yang pekerjaannya) „cukit‟. K ikaṅ satala marayata H ikaṅ ṣwatala. Perbaikan itu sejalan dengan bentuk-bentuk: “swalaka” (229 H. Maka terbukalah kemungkinan untuk bacaan “kaleswa” (68). “kalṣe” (1076. (18) 68 H laŋka leswa ywaki ywaki bawanya Ø Terjemahan: “ „Alasan maksudnya”. I. Jadi di sini perlu dipertahankan: “ikaṅ sakala”. sehingga “ṣwatala” ekuivalen dengan “satala” (naskah K). dan lainlain. 1970. Jadi arti perbaikan bacaan itu: “supaya hilanglah Jumantara Vol. maratabwan. “swadakala” (528 H. 171) untuk bepergian. 286). dan passim) dalam naskah H kadang kadang dieja “kalesa”/kaleṣa” (1541. “Ikaṅ ṣwatala” (naskah H) diterjemahkan: “tempatnya sendiri” (h. 1556.

(h. yeki maŋke tinmunya dyan tḍuni <i> kaṅ kawaḥ Terjemahan: “Siapa yang seperti itu sikapnya. ata tyan?” (h. Yang perlu diperhatikan ialah: “dyan tuṭ ri kaṅ kawah”. (19) 1114 H […] sapa ka yweku riṅ pakśanya. Bila demikian. (20) 8 H […] ummilu atatya dewata kabeḥ myamujaha rwiṅ ḃaṫara byudda sri wiroñcana. Dalam perbaikan bacaan terdapat: “sapa ka 1.1 Tahun 2012 . Pertanyaan itu tidak perlu. yeki maŋke tinmunya dyan tuṭ ri kaṅ kawaḥ Terjemahannya: “[…] … Mereka sekarang berhadapan dengan perbuatan jahatnya dan harus mengikutinya ke kawah”. II: 1958. itulah maksudnya”. 3 No. 188 Jumantara Vol. Sebenarnya “atatya” ekuivalen dengan “atata” (OJED. Dalam perbaikan bacaan terdapat: “atatya? b. seperti halnya: “byuda” – “budda”.kecemarannya. tata I). 223). sapata?” . maka bacaannya: 1114 H […] sapa kayweku riṅ pakśanya. (h. 356). Mungkinkah diperbaiki menjadi: “dyan tḍuni <i> kaṅ kawaṅ”? (A: den tĕḍūni ikaṅ kawaḥ). inilah sekarang yang ditemuinya. diterjunilah kawah itu”. 169). […] Terjemahan: “Sesudah itu berturut-turut para dewa memuja Batara Buddja Sri Wironcana”.

Terjemahan: “Bila sudah tahu akan Sang Hyang Dharma. (h. 359) Mungkin “s” pada “aswruh” perlu dipertahankan. Ayo berpakaianlah anda”. Terjemahan: “[…] Pahamilah Darma maka penyakit akan hilang dari badan anda”. 245) Lebih tepat diperbaiki menjadi: 1555 H […] maŋkana ilaŋan niṅ kaleṣa papa nniṅ sarira.1 Tahun 2012 189 . “wuwustya” (3009) – “wuwusta”. (22) 1555 H […] maŋkana ilaŋan niṅ (sic) kaleṣa papa nniṅ sarira. hendaklah dihilangkan kecemaran tubuhmu”. Kurangnya “pasangan” beserta “sandangan”-nya perlu diperhitungkan dalam perbaikan bacaan. Dalam perbaikan bacaan terdapat: “1075. nandaḥ padaŋdana kita rari. kaleṣa” (hlm. aswruḥ b. ilaŋana kalṣe ṇniṅ sariranta. (h. Jadi: 1074 H […] den <wu> s wruḥ hiṅ saṅ hyaṅ daṙmma. dan lain-lain. “tirtya” (3082) – “tirta”. 3 No. kalṣe b. (21) 1074 H […] den aswruḥ hiṅ saṅ hyaṅ daṙmma. n <ta> Jumantara Vol. ilaŋana kaleṣa niṅ sariranta. 1076. […] Terjemahan: “[…] Begitulah caranya menghilangkan kekotoran serta kekurangan badan.“myamujaha” – “mamujaha”. 221). awruḥ.

1 Tahun 2012 . […] Di sini diandaikan pasangan “ta” hilang (K: sariranta). (lalu) berkata kepada Sang Purnawijaya: […]”. 247). Jadi artinya: “Kerak segala kecemaran. I: 96. “pa” (pada “itipa”) kehilangan “wulu” dan “cĕcak”. (24) 1587 H maŋaḷŋĕn śaṅ kuñjarakaṙṇna swojaṙ riṅ saṅ puṙnawijaya Terjemahan: “Sambil memegang lengannya berkata Kunjarakarna kepada Purnawijaya”. aŋĕn) Sang Kunjarakarna. dan “s” (pada “kasla”) kehilangan “pasangan m(a)” (bdk. […] Terjemahan: “. […] Diandaikan. 3 No.. hendaklah kau bunuh semua”. harus anda bunuh semua”. panteni denta kabeh.ndaḥ padaŋdana kita rari. Maka sebaiknya dibaca: 1587 H maŋaŋnaŋĕn śaṅ kuñjarakaṙṇna swojaṙ riṅ saṅ puṙnawijaya Terjemahan: “Berpikirlah (OJED.. Bentuk huruf “ḷ” serupa dengan bentuk kombinasi huruf “ŋ(a)” dan “n(a)” (sebagai “pasangan”). (h. (h. 319) Perbaikan bacaan: 3039 H itip <iṅ> kasmala kabeḥ. (23) 3039 H itipa ka sla kabeh. 2165 H: kasmalammu). panteni denta kabeh. Begitu pula: (25) 3179 H ih hiŋaḷnĕndriya haja tan 190 Jumantara Vol.

1824 A mawak masarira K mawaṅk asarira H mawak asarira Semestinya 835 K dan H ditransliterasikan: “mawak asarira” dan “mawak aṣarira”. perlu diperhatikan konsistensi dalam Dalam hal ini sangat penting pertimbangan dari segi linguistik. perlu dipertahankan pula kekhasan bahasa Jumantara Vol. gagak. 3539). seperti: “taṇn ana lena kapaŋguḥ” (2464.1 Tahun 2012 191 . jangan tak waspada. gāgak) yang bersayap keris”.prayatna. (h. Begitu pula tempat-tempat lain yang paralel. Selanjutnya transliterasi. Sekedar contoh: (27) 835 A mawāk masarira K mawakasarira H mawakaṣarira . Terjemahan: “Hai. Namun demikian. […]” (26) 399 H […] gagakk alwar curiga Terjemahan: “[…] Mereka jahat” Teks naskah H dan perbaikan bacaan atas bacaan Kern pada naskah A: “gālak” (VG X: 57) menjadi “gāgak” tidak diikuti dengan terjemahan yang sesuai. I 473. 327) Sebaiknya dibaca: 3179 H ih hiŋaŋnaŋĕn driya haja tan prayatna. … berusahalah keras […]”. Artinya: “Nah. 2900. dipikir dengan periksa. 3 No. dan lain-lain. Seharusnya: “[…] burung gagak (OJED.

2825. 1300. Perbaikan bacaan nama-nama “kuñjayakaṙṇna” beserta varian ejaannya (105. dan “paladara” (3270. (h. Bisa ditambah: 1507 H: rasakṣa. 361). (h. 2. hamahat. 192 Jumantara Vol. 360). Misalnya: 1. 2. bdk. 170. passim) – “moŋkono” (2136 H: moŋkonoha. bahwa kedua naskah itu mempunyai induk yang bersamaan. Sejarah teks dan tradisi Dalam melacak sejarah teks dan tradisinya W. 356). 3346. 356). di mana bentuk kedua huruf itu serupa. 29. moŋkono) – “meŋkene”. rakśasa. maŋkeneha. meṅkene). van der Molen menyimpulkan. hamahĕk b. OJED. (h. 365). OJED. Dalam hal ini perbaikan bacaan tidak konsisten. bahwa: 1. Cantakaparwa) menjadi “kuñjarakaṙṇna” (h. 1504. I: 1149. rakṣasa. 1760. bdk. Jawa Baru: rasĕksa). raṣaksa b. 3. yang menunjukkan tahap perkembangan bahasa tertentu (bdk. hamahĕt. hamahĕt b.1 Tahun 2012 . 3 No. penyalin naskah A bekerja dengan lebih teliti daripada penyalin naskah H dan K. Jadi pada naskah H terdapat: “maŋkana” (513. (h. pertukaran „d‟ dan „n‟ pada naskah H dan K menyatakan. 364). (h. Di sini pun perlu dipertahankan: “raśaksa” (beserta varian ejaannya). Untuk naskah H lebih tepat ditentukan: “hamahĕt”. 4. 358) Kiranya perlu dipertahankan: “meŋkeneha” (3369 H: meŋkeneha. raśaksa b. Sakula < Nakula) menjadi “muladara” (h. 160. (h. 574. rakṣasa. mengingat kesalahan-kesalahan yang terjadi berkat salah baca. 3353. 360). 3306.dan tradisi teks masing-masing. I: 1139. rasakṣa b. perlu dipertimbangkan lagi dalam rangka tradisi penulis/penyalin. meŋkeneha b.

bahwa pada sebagian episode siksaan di neraka (larik 464-570 pada terbitan teks) terdapat kekacauan urutan dan kehilangan pada naskah H dan K. 5. Salah satu perbedaan teks yang penting terdapat pada larik 294: “saṅ mātiwatiwa (naskah A) dan “sṣaṅ mati” (naskah H)/ “sṣa mati” (naskah K). samādhi dan tapa sebagai penghilang kecemaran dan jalan kelepasan. larik 3085-3137). Teks naskah H dan K memperluas ajaran itu dan lebih terarah pada praktek dengan mengambil alih teks upacara (mis. sedangkan teks naskah H dan K menekankan perbuatan (ritual). 3 No. hal itu disebabkan oleh salah susun satu lempir pada naskah induknya. Pengambilalihan teks itu sesuai Jumantara Vol. Perbandingan isi dan struktur teks menyatakan. (b) teks naskah A mewakili bentuk yang lebih asli. proses kelahiran.1 Tahun 2012 193 .3. Tengger: Ĕntas-ĕntas). perbandingan dengan teks naskah A menunjukkan. manakah bacaan yang harus dianggap asli. penggantian kata-kata dengan sinonimnya dalam ketiga naskah itu tak dapat memberi kepastian. yang bersifat pembayatan (inisiasi) atau ruwat. van der Molen meletakkan dasar untuk penelitian lebih lanjut. Dengan kesimpulan-kesimpulan itu W. hukum karma. serta hakekat pengetahuan akan dharma. sedangkan teks naskah H dan K mengalami perubahan-perubahan yang penting. tiwa. penjelmaan kembali. 1. 4. Untuk tidak memperpanjang artikel ini akan diberikan beberapa pokok pikiran untuk penelitian lebih lanjut. Dalam konteks itu diberikan ajaran tentang dunia orang mati. baik ke arah penentuan tradisi maupun ke arah rekonstruksi teks yang dicitacitakan. bahwa (a) teks naskah A menekankan pengetahuan (esoteris). II: 2026. Ada kemungkinan teks naskah A berhubungan dengan upacara orang mati (OJED.

H-K).lukisan pintu Ayahbumipantana (321-340. ajaran tentang “pañcabuta” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2237-2260. Bdk. larik 1973-1975).1 Tahun 2012 . 828-835. A-H-K) diimbangi dengan lukisan tapa Kunjarakarna pada awal cerita (39-46. H-K). antara unsur-unsur cerita . 2312-2317. H-K). b. A-H-K) diimbangi dengan ajaran serupa dari Yama kepada Kunjarakarna (844-866. . H-K dengan 2048-2060.lukisan tapa Kunjarakarna dan Purnawijaya pada akhir cerita (3549-3559. H-K). A-H-K) diimbangi dengan pembersihan serupa pada diri Purnawijaya (3048-3071.dengan ajaran yang juga termuat dalam naskah A (mis. 3 No. ajaran tentang “atma” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2312-2317. juga 3080-3138. bahwa perubahan atau tambahan pada teks naskah H dan K bersifat membuat keseimbangan: a. Perbandingan struktur teks ketiga naskah itu memperlihatkan. A-H-K) diimbangi dengan ajaran serupa dari Wairocana kepada Purnawijaya (2305-2310. H-K). H-K) diimbangi dengan lukisan praktek Purnawijaya (2905-2917. 2. antara yang terjadi pada diri Kunjarakarna dan yang terjadi pada diri Purnawijaya ajaran tentang “atma” dari Wairocana kepada Kunjarakarna (805-810. antara ajaran dan praktek - 194 Jumantara Vol. - - c. pembersihan dengan “tirta pañjitah mala” pada diri Kunjarakarna (2038-2044. H-K). H-K). A-H-K) diimbangi dengan lukisan pintu yang dijaga oleh Dorakala (222-230.

H-K) diimbangi dengan lukisan praktek Purnawijaya (dua tahap: 2491-2494.- ajaran tentang “samadhi” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2436-2454. 2550-2555. Masih banyak hal serupa bisa ditemukan. Jumantara Vol. Perbedaan teks ajaran dengan lukisan praktek mungkin menunjukkan tahap penyusunan yang berbeda. Analisis semacam ini dapat membantu untuk mengenali lapisan-lapisan teks dan tahaptahap penyusunannya. H-K).1 Tahun 2012 195 . 3 No.

Artikel ditulis menggunakan bahasa Indonesia disertai abstrak dan kata kunci dalam bahasa Indonesia.1 Tahun 2012 . 28 A Jakarta 10002. 3.Ketentuan Penulisan untuk Jumantara: 1. 3 No. Tulisan yang dimuat akan diberikan imbalan/honor sesuai peraturan yang berlaku. 5. ketik spasi rangkap di atas kertas A4). Jenis tulisan berupa artikel hasil penelitian atau setara hasil penelitian mengenai naskah serta tinjauan buku. Naskah yang masuk akan diseleksi oleh Dewan Redaksi bersama Mitra Bestari dan apabila perlu akan dilakukan penyempurnaan tanpa mengubah substansi naskah.000 karakter (1520 halaman termasuk bibliografi.go. Panjang tulisan berkisar antara 20. 196 Jumantara Vol. 6. Tulisan dikirim melalui surat elektronik dengan alamat jumantara@pnri. Penulis menyertakan identitas lengkap meliputi jenjang pendidikan terakhir. alamat surat elektronik pribadi. Jl. kedudukan tetap. 2. 4.id atau melalui pos ke Redaksi Jumantara. VB Perpusnas RI. dan alamat lengkap yang mudah dihubungi. 7.000 – 40. Gedung Pusat Jasa Lt. Salemba Raya No. karya tulis yang dianggap penting.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->