Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

i

PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA Alamat Redaksi: Gedung Pusat Jasa Lt. VB Perpusnas RI. Jl. Salemba Raya No. 28 A Kotak Pos: 3624, Jakarta 10002 Telp : (021)-3154863 ext. 264 e-mail: jumantara@pnri.go.id homepage: http://www.pnri.go.id/MajalahOnline.aspx

JUMANTARA - Jurnal Manuskrip Nusantara Vol.3 No.1 Tahun 2012 Pembina Pengarah : Kepala Perpustakaan Nasional RI : 1. Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi 2. Kepala Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi : Kepala Bidang Layanan Koleksi Khusus : Drs. Nindya Noegraha : 1. Drs. H. Sanwani 2. Aditia Gunawan, S.Pd. 3. Agung Kriswanto, SS. 4. Drs. Nur Karim, M. Hum. 5. Yudhi Irawan, S. Hum. 6. Didik Purwanto, SS. 7. Mardiono : 1. Prof. Dr. Achadiati 2. Dr. I. Kuntara Wiryamartana : Dra. Dina Isyanti, M. Si. : 1. Komari 2. Dian Soni Amellia, S.Hum. : Bambang Hernawan, SS. : Aditia Gunawan, S.Pd.

Penanggung jawab Pemimpin Redaksi Dewan Redaksi

Mitra Bestari Editor Bahasa Sekretaris Redaksi Sirkulasi Tata Letak

Jumantara adalah jurnal ilmiah dengan fokus kajian naskah (manuskrip) nusantara yang menyajikan karangan ilmiah dalam bentuk hasil penelitian, penilaian terhadap hasil penelitian, serta tinjauan buku. Diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan ISSN 2087-1074.

ii

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Artikel 1

Anung Tedjowirawan Menelusuri Jejak Cerita Rama dalam Serat Pustakaraja Karya Pujangga R.Ng. Ranggawarsita Fakhriati Perempuan dalam Manuskrip Aceh: Kajian Teks dan Konteks Atep Kurnia Sinurat Ring Merega; Tinjauan atas Kolofon Naskah Sunda Kuna Tedi Permadi Identifikasi Bahan Naskah (Daluang) Gulungan Koleksi Cagar Budaya Candi Cangkuang dengan Metode Pengamatan Langsung dan Uji Sampel di Laboratorium Ida Bagus Rai Putra Lontar: Manuskrip Perekam Peradaban dari Bali Mahrus El-mawa Rekonstruksi Kejayaan Islam di Cirebon; Studi Historis pada Masa Syarif Hidayatullah (1479-1568) Oman Fathurahman Sulalat al-Salatin Karya Tun Seri Lanang: Kebesaran Karya Sastra Melayu yang Melampaui Zamannya

44

77

128

148

100

167

Review Buku 178 Kuntara Wiryamartana Filologi Jawa dan Kuñjarakarṇa Prosa

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

iii

tetapi juga mencakup tema-tema politik. Dengan gamblang penulis memaparkan perjalanan teks Ramayana. dari Ramayana Wālmīki sampai kepada teks Serat Pustakaraja karya pujangga Ranggawarsita. Dalam nomor ini disajikan artikel-artikel yang menyampaikan berbagai pengetahuan penting dan menarik. Jerih payah para pakar pengkaji naskah pada gilirannya telah berperan serta melestarikan budaya Nusantara. tetapi kisah ini termashur di Nusantara. Fakhriati mencoba menggali ajaran dan praktik tentang iv Jumantara Vol. terus terbitnya Jumantara secara rutin menandakan bahwa para pakar dan peminat naskah tetap ada dan setia menyumbangkan hasil penelitiannya. Inilah yang coba ditunjukkan oleh Fakhriati melalui tulisannya yang menyoroti kedudukan perempuan sebagaimana terkandung dalam sebuah naskah Aceh. Apalagi jika melihat kenyataan bahwa penyumbang tulisan dalam jurnal ini adalah para ahli filologi yang jumlahnya saat ini semakin sedikit. Pertama. Ia dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi bangsa.J umantara telah menginjak usia ketiga. obat-obatan. Para pujangga seperti Ranggawarsita menyerap isi cerita kemudian disesuaikan dengan kebudayaan lokal.1 Tahun 2012 . tulisan Anung Tedjowirawan tentang jejak cerita Rama. Kandungan naskah Nusantara tidak selalu hanya berkaitan dengan kesusastraan. usia yang masih sangat rawan bagi keberlangsungan hidup sebuah jurnal. istilah pancasila yang menjadi dasar negara dan bhineka tunggal ika yang merupakan semboyan negara diambil dari teks Kakawin Sutasoma. sejarah. Andaikata naskah lontar tersebut tidak pernah terbaca. mitologi. mungkin kita tidak pernah mendengar istilah-istilah “sakti” tersebut. sosial. dan lain-lain. Sebagai contoh. 3 No. Naskah memiliki peran penting bagi bangsa Indonesia. Meski demikian. hukum. Meski teks Ramayana bukan berasal dari Nusantara. dari India sampai Jawa. budaya dan agama. ekonomi.

sampai tradisi penulisan dan pembacaan lontar yang masih hidup di Bali. tempat.1 Tahun 2012 v . Tradisi lontar yang masih lestari di Bali saat ini dapat memberi petunjuk bagaimana fungsi naskah lontar pada masa lalu. Kajian seperti itu termasuk dalam ranah kodikologi. Mahrus el-Mawa berusaha memaparkan secara luas salah satu Jumantara Vol. peneliti dari UPI Bandung. Ida Bagus membahas lontar sebagai media menulis naskah. Selain kajian teks. yang ditulis oleh Atep Kurnia. Tedi Permadi. Artikel ketiga. Ida Bagus Rai Putra membahas berbagai segi penggunaan daun lontar sebagai media menulis naskah. tetapi jika dicermati ternyata dapat memberikan informasi penting tentang sebuah naskah. Melalui perspektif sejarah.kehidupan perempuan di Aceh pada masa lalu melalui kehidupan Siti Islam. mencakup informasi tentang identitas penulis atau penyalin. 3 No. membahas secara rinci naskah daluang yang berasal dari Candi Cangkuang. kesimpulan tersebut dapat membantu pihak yang berkepentingan untuk menilai fisik suatu naskah. tokoh utama dalam teks Hikayat Siti Islam. merupakan tinjauan terhadap kolofon naskah Sunda Kuna. Berbeda dengan Tedi Permadi. Dari tulisan itu diperoleh gambaran bahwa identitas penulis naskah tidak selalu dinyatakan dengan jelas. Dalam tataran praktis. proses pembuatan. Mahrus el-Mawa mengkaji puncak kejayaan Islam di Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. di antaranya dari dari segi fisik. Fakhriati menggunakan teks berjudul Siti Hasanah. Dalam artikelnya. dan waktu penulisan naskah. Sebagai bahan perbandingan. Banyak data yang sepertinya sepele. misalnya: ketebalan naskah yang diukur secara cermat dapat membuktikan apakah sebuah naskah dikerjakan secara tradisional atau merupakan buatan pabrik. Sebagian besar naskah Sunda Kuna yang ditulis di gunung dapat dijadikan petunjuk awal yang mengungkap kedudukan gunung sebagai skriptorium penciptaan sebuah karya intelektual pada masa lalu. dalam edisi ini disajikan pula artikel yang membahas wujud naskah itu sendiri.

Ini menunjukkan bahwa naskah “kuno” Nusantara dapat dijadikan “sumber inspirasi baru” untuk perkembangan penelitian di Indonesia. yaitu penyajian teks dan terjemahan. Tulisannya mengingatkan kita akan pentingnya aspek-aspek mendasar dari filologi. yaitu unsur Islam yang terkandung dalam teks tersebut. 3 No. Walaupun ia tidak mengulas tentang guru dan ajaran keagamaan Syarif Hidayatullah secara mendalam. karya Oman Fathurahman. melainkan tokoh historis. yaitu Sulalat alSalatin atau lebih populer disebut Sejarah Melayu. Oman Fathurahman masih melihat adanya aspek yang belum tergali yang dapat dimanfaatkan oleh para peneliti selanjutnya. Selamat membaca! vi Jumantara Vol. Dari artikel-artikel yang kami sajikan dalam edisi kali ini. Meski banyak sarjana yang telah meneliti teks tersebut.1 Tahun 2012 . meminjam istilah C. membuktikan bahwa Sunan Gunung Jati bukanlah tokoh mitos. Kecintaan itulah yang ditunjukkan I. Filologi secara harafiah berarti “cinta kata”. Kami berharap Jumantara dapat dijadikan sebagai “arena” penulisan artikel yang berkaitan dengan pernaskahan di Indonesia sehingga isi dan kandungan naskah dapat dibaca secara luas oleh masyarakat. mengkaji sejarah penelitian salah satu teks Melayu yang. 2011). Artikel terakhir.tokoh penting Walisongo ini. Kuntara Wiryamartana dalam tinjauan buku Kritik Teks Jawa: Sebuah Pendekatan Baru terhadap Kunjarakarna Prosa karangan Wilem van der Molen (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Secara cermat I Kuntara menunjukkan alternatif bacaan dan terjemahan (ada kalanya perbaikan) terhadap teks Jawa Kuna Kunjarakarna. tetapi usahanya merekonstruksi kejayaan Islam di Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah melalui teks lama dan bukti-bukti artefak. pembaca dapat melihat betapa beragamnya persoalan yang diangkat oleh para penulis. bukan berarti pembahasan terhadapnya telah tuntas. “demikian banyaknya diselidiki”. Hooykas.

Ritual tersebut disaksikan oleh para raja sekutu Prabu Dasarata serta dihadiri oleh Prabu Basurata dari Wiratha. Dari ritual agung Aswameda tersebut kemudian lahirlah putra-putra Prabu Dasarata antara lain: Rama. Sĕrat Prabu Gĕndrayana. sedangkan putra Prabu Basurata yang lahir bernama Raden Brahmaneka. peneliti dan pengajar di Jurusan Sastra Nusantara FIB Universitas Gajah Mada Jumantara Vol. Ritual agung Aswameda tersebut diselenggarakan di hutan Madura dekat sungai Sarayu (Gangga). 3 No. Laksmana. Sĕrat Suktinawyasa. Dalam Sĕrat Rukmawati dikemukakan tentang peristiwa ritual agung Aswameda yang diselenggarakan oleh Prabu Dasarata. Barata dan Satrugna. mengenai kisah hidup Prabu Ramawijaya ketika dicopot dari tahta serta harus meninggalkan istana Ayodya untuk pergi ke hutan belantara bersama Dewi Sinta. Raja Ayodya dalam rangka memohon kelahiran putra yang menjadi penjelmaan Sang Hyang Wisnu. istrinya. penjelmaan Rĕsi Anggira (Maharsi Paspa).Abstrak Jejak cerita Rama dalam Sĕrat Pustakaraja diantaranya terdapat dalam Sĕrat Rukmawati. Dalam Sĕrat Suktinawyasa jejak cerita Rama terdapat dalam cerita yang disampaikan Dhang Hyang Wiku Salya kepada Rĕsi Abyasa.1 Tahun 2012 1 . serta adiknya * Penulis. Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara. tempat keberadaan "Jamur Dipa".

Sĕrat Pustakaraja. Sĕrat Prabu Gĕndrayana. Dalam Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara jejak cerita Rama tampak pada penampilan Sang Maharsi Mayangkara (Anoman. Hanūman). Dalam kedua cerita tersebut Sang Maharsi Mayangkara akhirnya gugur dalam pertempurannya yang dahsyat melawan Prabu Yaksadewa (penjelmaan Sang Hyang Kala) yang bersenjatakan gada (penjelmaan Sang Hyang Brahma). Sĕrat Purusangkara. Mereka antara lain: Dèwi Pramèsthi dengan Prabu Astradarma (Purusangkara). jejak cerita Rama dikemukakan oleh Bagawan Danèswara kepada Prabu Gĕndrayana. bahwa Batara Ramawijaya sewaktu muda (8 tahun) sudah dibawa Bagawan Sutiknayogi ke Gunung Dhandhaka untuk diadu dengan para raksasa bala tentara Rahwana (Dasamuka). 2 Jumantara Vol. Sĕrat Rukmawati. dan Dèwi Sasanti dengan Radèn Darmakusuma. Kata Kunci: Kakawin Rāmāyaņa. Dèwi Pramuni dengan Radèn Darmasarana. sampai Dewi Sinta diculik dan dibawa lari oleh Prabu Dasamuka ke Alengka. Sĕrat Mayangkara. Serat Suktinawyasa. Cerita tersebut diungkapkan Bagawan Danèswara agar Prabu Gĕndrayana merelakan putranya yaitu Raden Narayana (Jayabhaya) untuk diminta bantuannya melenyapkan segala jenis hama tanaman (yang dilindungi para Dewa). 3 No.Laksmana. Dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana. yang merusak pertapaan. lewat perka-winan putra-putri mereka. yang merusak segenap sawah dan ladang penduduk di wilayah Gunung Nilandusa (Wilis).1 Tahun 2012 . Dalam kedua Serat tersebut dikisahkan peran Sang Maharsi Mayangkara yang mendapat tugas Bathara Guru untuk menjalin kembali kerukunan di antara keturunan Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) dengan keturunan Prabu Sariwahana. Cerita tersebut dikemukakan Dhang Hyang Wiku Salya dalam rangka untuk menghibur agar Rĕsi Abyasa tidak terlalu bersedih hati karena sepeninggal ayahandanya (Rĕsi Palasara) ia tidak ditunjuk untuk menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai raja melainkan hanya diangkat sebagai raja pendeta.

marā sedemikian cepatnya sehingga ucapannya terbalik menjadi: Rāma.1 Tahun 2012 3 . yang oleh pujangga penciptanya diwariskan untuk seluruh umat manusia. 1979: 1-2).Pengantar Rāmāyaņa adalah karya agung dari India. Adapun Mahābhārata karya Mpu Vyāsa mengalami proses pertumbuhan selama 800 tahun. terus-menerus dengan tempo secepat-cepatnya. yang terdiri dari Ŗg-Weda. yang karena senang berkumpul dan bergaul dengan para perampok. Pada waktu Wālmīki akan menggubah Rāmāyaņa. marā. dan Atharwa Weda. Rāmāyaņa dicipta melalui proses waktu yang cukup panjang. 3 No. 1979: 1-2). bahwa selama masih ada gunung-gunung yang berdiri. berbahasa Sanskerta. Pada waktu Saptarşi menengoknya. marā. Baik Rāmāyaņa maupun Mahābhārata termasuk Itihāsa. Beberapa sarjana mengemukakan bahwa hakikat inti Jumantara Vol. si petapa tetap pada tempatnya semula. Dalam mitologinya. Bagaimanakah mitologi terciptanya karya agung ini? Ada seorang putra Brahmana. Maka sejak itu pemuda petapa tersebut disebut Wālmīki (Padmapuspita. (Padmapuspita. Sāma-Weda. Yayur-Weda. tumbuh menjadi seorang penjahat. ia berhasil diinsyafkan dan disuruh bertapa di hutan sambil mengucapkan mantra: marā. melengkapi kitab suci Catur Weda Samhita. tidak bergerak sambil mengucapkan mantra: marā. selama seribu tahun tanpa boleh bergerak. Ketika merampok tujuh orang dewa – resi (Saptarşi). 1979: 1). dari 400 tahun Sebelum Masehi sampai 400 tahun Sesudah Masehi. Rāma. Keagungan dan kemasyuran kisah Rāmāyaņa ini memang sudah diramalkan ribuan tahun sebelumnya. dari 200 tahun sebelum Masehi sampai dengan 200 tahun sesudah Masehi. ia duduk termenung di tepian sungai sambil melihat air sungai yang beriakriak. marā. Seluruh badan petapa tersebut tertimbun di bawah „onggokan sarang semut hutan‟ yang dalam bahasa Sanskerta disebut walmīka. Saat itulah ia mendapat ilham untuk mencipta bentuk sanjak. kitab suci Weda yang kelima. yaitu 400 tahun. sungai-sungai mengalir di permukaan bumi selama itu juga kisah Rāmāyaņa akan terus berlangsung di dunia (Padmapuspita. Rāma.

(b) Dianggap sebagai lambang perebutan kekuasaan negara yang senantiasa terjadi di sepanjang sejarah. Kamboja. Di Asia Tenggara cerita Rāma terdapat di Vietnam. yang menganggap bahwa Rāma adalah penjelmaan Dewa Wisnu. Di India. 3 No. lebih-lebih bagi golongan Waisnawa. 1963: 48. 1961: 4-10). Surjohudojo. Atri. Thailand. didalangi para Brahmana (yang ditokohkan sebagai Bharadwāja. Laos. Dari berbagai penelitian para ahli teks.Rāmāyaņa adalah: (a) Berisi lambang gerakan ekspansi bangsa Arya dari tanah India Utara ke India Selatan. Relief cerita Ramayana di candi Prambanan rupanya lebih dekat dengan Sĕrat Rama Kĕling. Filipina. menyerang Langka hingga takluk. 1963: 12-13. Rāmācaritamanasa (telaga kisah Rāma) oleh Tulasi Dasa (Tulsi Das). dengan pola cerita pengendalian Bharata oleh Kekayi. (e) Dasar pola cerita Rāma merupakan persoalan tindakan dharma melawan adharma (Darusuprapta. 1961: 10). dan politik tinggi Wibisana. (c) Dianggap sebagai cerita roman cinta kasih. Sarabhangga. penyair-penyair India lain pun mencoba membuat cerita Rāma– Sīta tersebut. selain Wālmīki yang berhasil menggubah Rāmāyaņa. Kakawin Rāmāyaņa diperkirakan digubah pada abad IX Masehi (820-832 Ç atau 898-910 M).. Janakīharaņa (penculikan Sīta) oleh Kumaradasa. Agastya. Di Indonesia cerita Rāma digubah ke dalam Kakawin Rāmāyaņa maupun terpatri pada relief di candi Prambanan dan candi Panataran. misalnya: Raghuvangśa (keturunan Raghu) karya Kalidasa. 1998: 136-146). (d) Dianggap sebagai kitab suci yang keramat. kesucian yang tiada taranya. Sutīkşņa). Cerita Rāmāyaņa dari India tersebut kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. maupun Jawa (Manu. ketika kekuasaan rajawi masih 4 Jumantara Vol. Uttara Rāma oleh Bhavabhutti. Melayu. Dalam hal ini cerita Rāma dianggap sebagai dokumen sejarah.1 Tahun 2012 . Rāma melambangkan satria Arya yang. Surjohudojo. Rāvaņavadha (pembunuhan Rāvaņa) oleh Bhaţţi. dan Rāmāyaņa Kathāsara-mānjari oleh Ksemendra (Darusuprapta. pertentangan Subali melawan Sugriwa. adapun relief di candi Panataran dekat dengan Kakawin Rāmāyaņa. kesetiaan. Birma.

Berg. Padmapuspita menjelaskan beberapa alasan mengapa di dalam tradisi Bali penulisan Kakawin Jumantara Vol. bukan menunjuk pada penulis Kakawin Rāmāyaņa. 1963: 60). 1998: 137. Shiwaisme adalah sekte tertua yang dapat dibuktikan jejaknya lewat penempatan dewa-dewa penting yang memakai atributatribut Shiwa di candi Prambanan. Oleh karena itu Poerbatjaraka menegaskan bahwa kata yogīśwara harus diartikan sebagai 'pendeta besar'. Manomohan Ghosh. sebagaimana anggapan yang terbiasa di Bali. dan Hooykaas. Padmapuspita. 1998: 20). seperti: Kern. Camille Blucke. Manu. 1998: 20-21). 1963: 60). Somvir menyatakan pula bahwa pertimbangan utama Yogīśwara dalam memilih Bhaţţikâvya adalah bahwa penyair Bhaţţi tergolong ke dalam sekte Shiwa. Baris kalimat yang memuat kata yogīśwara tersebut berbunyi: "Sang yogīśwara çişţa sang sujana çuddha manahira huwus mace sira".1 Tahun 2012 5 . mengikuti anggapan umum di Bali (misalnya Ktut Ginarsa) bahwa penulis Kakawin Rāmāyaņa adalah Yogīśwara (Darusuprapta. yang artinya sang yogīśwara (pendeta besar) menjadi sangat pandai dan sang sujana (orang baik) menjadi bersih hatinya setelah membacanya (Rāmāyaņa ini) (Darusuprapta. Meskipun demikian Somvir (setelah 40 tahun kemudian) mengharapkan bahwa Yogīśwara sebagai pencipta Kakawin Rāmāyaņa menurut tradisi Bali selama ini dapat diterima (Somvir. Berkaitan dengan penulisan Kakawin Rāmāyaņa. 1998: 19-20). 3 No. pada mulanya para sarjana. diketahui bahwa sumber penulisan Kakawin Rāmāyaņa adalah Rāvaņavadha karya Bhaţţikâvya (Poerbatjaraka. 1963: 53-56. Tradisi Shiwaisme itulah kiranya yang mendorong Yogīśwara untuk memilih Bhaţţikâvya sebagai sumber penggubahan Kakawin Rāmāyaņa (Somvir. 1961: 11-12. dan Hooykaas. 1957: 2-3.berpusat di Jawa Tengah. Berdasarkan penelitian Himansu Bhusan Sarkar. 1983: 288-290. Somvir. Juynboll. Zoetmulder. Dalam kaitannya dengan penulis dan saat penulisan Kakawin Rāmāyaņa menurut tradisi Bali. 1979: 3. Surjohudojo. Darusuprapta.

Rāmāyaņa adalah pada tahun 1016 Ç (1094 M) oleh Yogīśwara. Rangkaian kata-kata "çişţa sujana çuddha manahira" itu dianggap memuat sengkalan yang menunjuk tahun 1016 Ç. Dalam hal ini kata çişţa = 6; sujana = 1; çuddha = 0; manah = 1. Jadi 6101 atau tahun 1016 Ç (Padmapuspita, 1979: 13). Akan tetapi dalam koreksinya, Padmapuspita lebih cenderung menyetujui bahwa sengkalan di atas menunjuk tahun 1018 Ç (1096 M), karena kata çişţa yang artinya 'terpelajar' atau 'pandai' diberi arti '8', sama dengan pendeta. Padmapuspita juga menemukan adanya kata "guna" sampai tiga kali (triguna) dari bait penutup dalam Kakawin Rāmāyaņa tersebut. Karena itu Padmapuspita menawarkan pandangannya bahwa kemungkinan penulis Kakawin Rāmāyaņa adalah Mpu Triguna, semasa pemerintahan Çri Jayawarsa Digwijaya Çastra Prabu, yang memerintah tahun 1026 Ç (1104 M). Walaupun demikian, Padmapuspita juga sependapat dengan Poerbatjaraka, bahwa yogīśwara bukanlah nama orang, melainkan sebutan penghormatan, seperti halnya kata yogīndra yang diberikan kepada Wālmīki. Bhaţţi sendiri (pengarang Rāvaņavadha) diperkirakan merupakan nama samaran Bhartrhari. Dalam hal ini kata bhaţţi dapat dihubungkan dengan kata bhaţţa, sebutan untuk sarjana besar, semacam penulisan gelar Doktor yang disingkat Dr. (Padmapuspita, 1979: 14-15). Dalam perkembangannya Kakawin Rāmāyaņa digubah dalam kesastraan Jawa Baru dengan judul Sĕrat Rama oleh pujangga R.Ng. Yasadipura I (Poerbatjaraka, 1957: 152; Darusuprapta, 1963: 43; Ricklefs, 1997: 276). Kakawin Rāmāyaņa juga digubah oleh R.Ng. Yasadipura II menjadi Sĕrat Arjuna Sasrabahu, baik yang berbentuk tembang macapat maupun yang berbentuk Kawi miring, serta juga digubah oleh Sindusastra menjadi Sĕrat Arjunasasra atau Sĕrat Lokapala (Mc. Donald dalam Manu, 1998: 138). Bila cerita dalam Rāmāyaņa dan Mahābhārata yang di India seperti tidak ada hubungannya satu sama lain, maka di Jawa kedua tradisi tersebut dicoba dihubungkan, terutama dalam

6

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

pewayangan. Misalnya tampak pada cerita Wahyu Makutharama (Ki Siswaharsaya), Sĕrat Kandha Lampahan Jayasĕmadi, Sĕrat Kandha Lampahan Sĕmar Boyong, Sĕrat Kandha Lampahan Rama Nitis, Arjuna Krama, Lampahan Wahyu Tunggul Naga, dan sebagainya. Sĕrat Pustakaraja Sebelum dikemukakan jejak cerita Rāma dalam Sĕrat Pustakaraja, akan dikemukakan secara sepintas tentang karya tersebut. Sĕrat Pustakaraja adalah karya agung dan merupakan puncak karya pujangga R. Ng. Ranggawarsita, disamping Sĕrat Ajipamasa maupun Sĕrat Witaradya. Bedanya, kalau Sĕrat Pustakaraja berbentuk prosa, maka Sĕrat Ajipamasa dan Sĕrat Witaradya berbentuk puisi Jawa Baru (Macapat). Disebut Pustakaraja karena karya ini dijadikan kitab pedoman bagi seorang Raja (pakĕmipun panjĕnĕngan nata). Pustakaraja dapat juga diartikan 'Rajanya Kitab', karena merupakan kitab yang terkemuka dan menjadi induk segala kitab cerita Jawa (Sĕrat Raja, amargi dados tĕtunggul tuwin dados baboning Sĕrat cariyos Jawi) (Ranggawarsita, 1938: 7). Sĕrat Pustakaraja dapat dibagi menjadi 2, yaitu Sĕrat Pustakaraja Purwa dan Sĕrat Pustakaraja Puwara. Sĕrat Pustakaraja Purwa dibagi menjadi beberapa kelompok besar, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Sĕrat Maha Parwa, meliputi: a. Sĕrat Purwa Pada; b. Sĕrat Sabaloka. Sĕrat Maha Déwa, meliputi: a. Sĕrat Déwa Buddha; b. Sĕrat Dewa Raja. Sĕrat Maha Rĕsi, meliputi: a. Sĕrat Rĕsi Kala; b. Sĕrat Buddha Krĕsna. Sĕrat Maha Raja, meliputi: a. Sĕrat Raja Kanwa; b. Sĕrat Palindria; c. Sĕrat Silacala; d. Sĕrat Sumanasantaka. Sĕrat Maharata, meliputi: a. Sĕrat Dyitayama; b. Sĕrat Tritarata; c. Sĕrat Sindula; d. Sĕrat Rukmawati; e. Sĕrat Sri

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

7

Sadana. 6. Sĕrat Maha Tantra, meliputi: a. Sĕrat Sri Kala; b. Sĕrat Raja Watara; c. Sĕrat Crita Kaprawa; d. Sĕrat Ariawanda; e. Sĕrat Para Patra. Sĕrat Maha Putra, meliputi: a. Sĕrat Mahandya Purwa; b. Sĕrat Suktinawyasa; c. Sĕrat Hariwangsa; d. Sĕrat Darma Sarya; e. Sĕrat Kumbayana; f. Sĕrat Wanda Laksana; g. Sĕrat Darma Mukta; h. Sĕrat Drĕta Nĕgara. Sĕrat Maha Dharma, meliputi: a. Sĕrat Kuramaka; b. Sĕrat Smara Dahana; c. Sĕrat Ambarawaja; d. Sĕrat Krida Krĕsna; e. Sĕrat Kunjarakarna; f. Sĕrat Kunjara Krĕsna; g. Sĕrat Partayagnya; h. Sĕrat Manik Harya Purwaka; i. Sĕrat Sumantri Parta; j. Sĕrat Dĕwa Ruci; k. Sĕrat Parta Wiwaha/Mintaraga; Sĕrat Indra Naraga; m. Sĕrat Urubaya; n. Sĕrat Domantara; o. Sĕrat Bomantaka; p. Sĕrat Baratayuda; q. Sĕrat Kirimataya; r. Sĕrat Darmasarana; s. Sĕrat Yudhayana.

7.

8.

Sĕrat Pustakaraja Puwara juga dibagi menjadi beberapa kelompok besar, yaitu: 1. Sĕrat Maha Parma, meliputi; a. Sĕrat Budhayana; b. Sĕrat Sariwahana; c. Sĕrat Purusangkara; d. Sĕrat Partakaraja; e. Sĕrat Ajidharma; f. Sĕrat Ajipamasa. 2. Sĕrat Maharaka, meliputi; a. Sĕrat Witaradya; b. Sĕrat Purwanyana; c. Sĕrat Bandawasa; d. Sĕrat Déwatacèngkar. 3. Sĕrat Maha Prana, meliputi: a. Sĕrat Widayaka; b. Sĕrat Danèswara; c. Sĕrat Jaya Lĕngkara; d. Sĕrat Dharma Kusuma; e. Sĕrat Catasi Panuaka. 4. Sĕrat Maha Krasma, meliputi: a. Sĕrat Surya Wisésa; b. Sĕrat Raja Sunda; c. Sĕrat Madu Sudana; d. Sĕrat Panca Prabanggana. 5. Sĕrat Maha Kara, meliputi: a. Sĕrat Mundingsari; b. Sĕrat Raja Purwaka; c. Sĕrat Maha Kara.

8

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

6. Sĕrat Maha Para (Ranggawarsita 1938: 10-49; Mulyono, 1989: 191-200; Tedjowirawan, 2008: 84-86).

Sri

Dalam Kepustakaan Jawa (1957), Poerbatjaraka menilai bahwa Kitab (Sĕrat) Pustakaraja pada pokoknya digubah berdasarkan kitab-kitab lakon wayang, pendengaran R. Ng. Ranggawarsita tentang cerita-cerita dari temannya, dan dongengdongeng yang pada waktu itu sudah ada. Semuanya itu diubah dan ditambah oleh R. Ng. Ranggawarsita menurut kehendak hatinya. Lebih jauh Poerbatjaraka menyatakan bahwa: “Walau bagaimanapun juga keadaannya, dengan pendek Kitab Pustakaraja itu sebagian besar hanya berisi “omong kosong” belaka daripada R.Ng. Ranggawarsita. Kitab-kitab yang disebut di dalam Kitab Pustakaraja, itu seperti kitabkitab Maha Parwa, Purwa Pada, Sabaloka, Maha Déwa, Maha Rĕsi, dan sebagainya, itu sebenarnya tidak ada dan tak pernah ada.” (Poerbatjaraka, 1957: 186). C.C. Berg dalam Penulisan Sejarah Jawa (Javaansche Geschiedschrijving, dalam geschiedenis van Nederlands Indie, 1938) mengakui bahwa pihak Barat belum memberikan perhatian yang berarti terhadap Pustakaraja, namun diakui bahwa R.Ng. Ranggawarsita mempunyai pergaulan dengan ahli-ahli ilmu bahasa dan kebudayaan Jawa yang berkebangsaan Barat. Selanjutnya dikatakan bahwa R.Ng. Ranggawarsita dalam menulis karyanya menempuh jalan baru dan untuk memperoleh bahan-bahan ia menggali sumber-sumber baru. Akhirnya dikatakan juga bahwa R.Ng. Ranggawarsita (ternyata) mencurahkan amat banyak perhatian untuk menentukan tarikh peristiwa-peristiwa yang dibukukannya. Ia selalu memberikan dua tarikh, yang satu menurut tahun Syamsiah dan yang satu lagi menurut tahun Komariyah. Berdasarkan kenyataan itu bukan mustahil bila sesungguhnya R.Ng. Ranggawarsita bermaksud untuk menulis sejarah menurut tanggapan Barat. Bahwa usahanya tersebut tidak berhasil tidaklah penting. Apabila R.Ng.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

9

adalah hasil saduran kembali cerita dalam Mahābharāta dengan berbagai adaptasi dan inovasi. 1967: 170). at first sight preposterous. Sĕrat Pustakaraja Purwa seringkali dikatakan sebagai suatu penulisan baru mengenai sumber-sumber cerita wayang (penulisan cerita Mahābharāta versi Indonesia) (Mulyono.Ng.C. 3 No. and so the Pustaka Raja makes an impression of being historically reliable. which it is not. Berg hanya dapat mengemukakan tidak lebih dari perkiraan-perkiraannya (Berg. pujangga dalam arti yang asli. idea of dating all tales is to be considered as a consequence of his thoroughly Javanese belief in an all pervading Order. Di sini C. which he called Pustaka Raja. 1974: 87). myth and epics have parallels in the literatures of other peoples. which should also be made visible in myth and ancient history” (Pigeaud. Books of Kings.Ranggawarsita bermaksud mencari nama sebagai ahli sejarah pertama yang beraliran modern. khususnya Sĕrat Pustakaraja Purwa. of Rangga Warsita‟s own invention. akan tetapi pendeta-pendeta magi sastra. cosmogony. impress the reader in a remarkable way. “manusia ular”. Sĕrat Pustakaraja isinya sudah menyimpang dan berbeda jauh dengan Ramāyāna maupun Mahābharāta. maka kiranya kita harus membedakan karyanya dengan karya rekan-rekannya yang terdahulu. 1989: 202). Sĕrat Pustakaraja.1 Tahun 2012 . The events of myth and epic history are dated consecu-tively according to a chronology. Keanehan dalam Sĕrat Pustakaraja tersebut justru sering dinilai “sangat menakjubkan” 10 Jumantara Vol. His. Menurut Sri Mulyono. Rangga Warsita‟s chronicles of creation. Ranggawarsita) bukanlah orang yang mempelajari ilmu sejarah. solar and lunar years. Pigeaud dalam Literature of Java Volume I (1967) menyatakan: “Rangga Warsita‟s books on mythology and ancient history. karena yang disebut belakangan ini (R.

Ng. Ranggawarsita (Sĕrat Pustakaraja) adalah menempatkan jatining panembah. 1989: 202. tetapi hanya sebagai titah biasa (Mulyono. Di samping itu salah satu maksud tujuan disusunnya Sĕrat Pustakaraja adalah untuk mendidik anak cucu dengan mengajarkan sejarah kepahlawanan leluhurnya. Ranggawarsita sendiri. Wiryamartana. Ranggawarsita di dalam Sĕrat Pustakaraja menyatakan: Sĕrat Rukmawati. 4) Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara yang dapat dimasukkan ke dalam kelompok Sĕrat Maha Parma (bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara).1 Tahun 2012 11 . yaitu memberikan penerangan bahwa dewa-dewa (para Jawata) yang diartikan sebagai nenek moyang orang Jawa itu bukanlah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. wiyosipun punika cariyos lalampahanipun Dèwi Rukmawati.sehingga para sarjana berkesimpulan bahwa kitab tersebut adalah wishfull thinking pujangga R. putranipun Sang Hyang Anantaboga anggènipun amĕmĕca saha mitulungi sarana dha-tĕng Jumantara Vol. Jejak Cerita Rama dalam Serat Pustakaraja Di dalam Sĕrat Pustakaraja jejak cerita Rāma terdapat di dalam: 1) Sĕrat Rukmawati bagian kelompok Kitab Maharata (bagian Pustakaraja Purwa). 3 No.Ng. 1980: 2). Selain itu yang terpenting dari segala uraian karya-karya pujangga R. 3) Sĕrat Prabu Gendrayana yang dapat disejajarkan dengan Sĕrat Budhayana sehingga dapat dimasukkan ke dalam kelompok Sĕrat Maha Parma (bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara). Adapun jejak cerita Rāma dalam Serat-Serat di atas dapat dikemukakan sebagai berikut: Cerita Rāma dalam Sĕrat Rukmawati Pujangga R. 2) Sĕrat Suktinawyasa bagian Sĕrat Mahapatra (bagian Pustakaraja Purwa).Ng.

Madura dan Sumatra. panganggitipun anuju ing taun Suryasangkala 853. 1939: 2-3. Kamajaya 1994: 2). penggubahannya pada tahun Suryasangkala 853. Adapun cerita dalam Sĕrat Rukmawati dimulai dari tahun Suryasangkala 453 (Uninga – marganing – yoga) atau terhitung tahun Candrasangkala 467 (Rĕsi – rasaning – catur) sampai dengan tahun Suryasangkala 456 (Karasa – marganing – dadi) atau terhitung tahun Candrasangkala 470 (Kagunturan – sabda – pakarti – muluk) (Kamajaya. putra Sang Hyang Anantaboga ketika meramalkan dan menolong memberikan jalan (petunjuk) kepada siapapun yang meminta pertolongan (padanya). Dikemukakan dalam Sĕrat Rukmawati bahwa pada waktu itu pulau Jawa masih bersatu dengan Bali. (Sĕrat Rukmawati. (2) Prabu Sri Mahapunggung. kerajaannya di Medanggalungan tanah Pekalongan (Ranggawarsita. Dewi Rukmawati dengan ketajaman penglihatan batinnya sering meramal dan menolong orang yang sedang bersedih sehingga ia termashur 12 Jumantara Vol. dihitung (ber-dasarkan) tahun Candrasangkala bertepatan tahun 879). kerajaannya di Purwacarita. Pada waktu itu bidadari bernama Dewi Rukmawati. Dikarang oleh Mpu Sindura di Mamenang. (4) Sri Maharaja Sindhula (putra Prabu Watugunung).sadhĕngaha ingkang nĕdha tulung. inilah cerita kisah perjalanan hidup Dewi Rukmawati. 3 No. kaétang ing taun Candra-sangkala amarĕngi 879 (Ranggawarsita. putra Sang Hyang Anantaboga. (3) Prabu Basurata kerajaannya di Wiratha yang pertama di tanah Tegal. kerajaannya di Gilingwĕsi tanah Prayangan (Priangan). Kaanggit dé-ning Mpu Sindura ing Mamĕnang. Di Jawa ada empat raja: (1) Prabu Brahmanaraja (putra Sang Hyang Brahma).1 Tahun 2012 . 1938: 17). termasuk tanah Kendal atau Pekalongan. turun ke dunia dan berdiam di pertapaan di Gunung Mahendra (Gunung Lawu) di tanah Surakarta. 1994: 33). Prabu Sri Mahapunggung dan Prabu Basurata adalah putra Sang Hyang Wisnu.

cicit Sang Hyang Pancaresi. sebab di sana terdapat Jamur Dipa yang tumbuh dari abu Rĕsi Anggira atau yang juga disebut juga Maharesi Paspa. Ketika Rĕsi Anggira mencoba merayu dan ingin mencumbu Dewi Anggarini maka ia disarankan untuk mandi keramas dahulu. 1939: 12-14. Karena berujud abu ia juga disebut Maharsi Paspa. terutama kepala seseorang. Prabu Basurata disarankan agar pergi ke hutan Madura di tanah Hindi. akan tetapi Rĕsi Anggira ingin mencoba kesaktian telapak tangannya dengan meraba kepala Sang Hyang Jagadnata. sehingga didatangi Sang Hyang Jagadnata untuk memberikan anugerah. Resi Wisama (putra Bathara Laksmana) cucu Sang Hyang Resi Wismana. Konon terjadinya abu tersebut bermula ketika Rĕsi Anggira yang dari kanak-kanak sampai tua melakukan tapa brata.sampai ke mancapraja (mancanegara). Prabu Basurata dengan diiringi Resi Wisama kemudian pergi berkunjung ke Gunung Mahendra. Permintaan itu dikabulkan oleh Sang Hyang Jagadnata. Di dalam Jumantara Vol. tetapi terus dikejar oleh Rĕsi Anggira. Ilham raja tersebut disampaikan kepada para pertapa. termasuk dalam wilayah negara Ngayodya. Sang Hyang Jagadnata kemudian lenyap dan tidak berapa lama muncullah Sang Hyang Wisnu menyamar sebagai seorang wanita yang sangat cantik bernama Dewi Anggarini. sehingga akhirnya ia sendiri yang menjadi abu. Oleh Dewi Rukmawati. seketika akan menjadi abu. Rĕsi Anggira lupa bahwa tangannya sudah memiliki kesaktian yang dahsyat. Karena itu Prabu Basurata disarankan untuk mengambil/memetik Jamur Dipa ke hutan Madura di tanah India (Ranggawarsita. Sang Hyang Jagadnata menolak. Permintaan Rĕsi Anggira adalah bahwa hendaknya telapak tangannya memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga apa yang diraba. menyarankan agar Prabu Basurata meminta petunjuk kepada Dewi Rukmawati di Gunung Mahendra. Kamajaya. Di dalam abu tersebut kemudian tumbuhlah jamur yang terkenal sebagai Jamur Dipa yang dapat menjadi sarana untuk mendapatkan seorang putera yang istimewa.1 Tahun 2012 13 . 1994: 3-10). Ketika membersihkan rambutnya. 3 No. Pada waktu itu Prabu Basurata mendapat ilham dalam mimpinya bahwa ia hendaknya mencari cara agar mendapatkan putra.

Èpèk-èpèk amba kalih pisan punika kaparingan kamayan tiksna. menawi anggĕpok utamangganing dumadi ingkang amba grayang sirahipun wau. nanging wontĕn sarananipun.‟ Sang Hyang Jagadnata botĕn amarĕngi. apa kang dadi sĕdyanira ing mĕngko sayĕkti sun-turuti‟ Aturing Rĕsi Anggira: „Dhuh Pukulun Kang Binathara Ing Jagad. bubukanipun makatĕn: „Kala ing kina Rĕsi Anggira punika tatapa sangkaning raré ngantos sĕpuh. talatahipun nagarai Ngayodya. mugi kasĕmbadanana ing panuwun-amba. Sarèhning tĕdhakipun Sang Hyang Jagadnata botĕn wontĕn ingkang ndhèrèkakĕn.‟ Sang Hyang Jagadnata angandika: „Lah iya ingsun wus anĕmbadani. Kala semantĕn nuju dhatĕng kanugrahanipun Rĕsi Anggira katĕdhakan Sang Hyang Jagadnata.1 Tahun 2012 . sampun rinilan déning Sang Hyang Wisésa. kawula kamipurun anunuwun tandha.‟ Rĕsi Anggira umatur: 'Dhuh Pukulun. aturipun Dèwi Rukmawati: 'Kakang Prabu. Rĕsi Anggira 14 Jumantara Vol. ugi sinĕbat nama Maharsi Paspa. Sarĕng mèh kacandhak. ba-ngĕt tĕmĕn ĕggonnira kapati-brata. kadadosan awunipun Rĕsi Anggira. lajĕng binujĕng. panggénanipun sarana dumunung wontĕn sabrang ing wana Madura tanah Hindi. rama paduka Sang Hyang Wisnu tumurun mimindha pawèstri langkung éndah ing warni. sagĕda lajĕng dados awu sami sanalika.Sĕrat Pustakaraja kisah mengenai Rĕsi Anggira (Maharsi Paspa) yang menjadi Jamur Dipa dapat dilihat pada kutipan berikut: Sarĕng ing wanci bangun énjing Dèwi Rukmawati amanggihi Prabu Basurata. mĕnggah ingkang dados karsa paduka angudi wĕkasing tumuwuh ambabarakĕn wiji punika. putuning Sakutri. nanging Rĕsi Anggira adrĕng badhé pari-pĕksa. manawi amarĕngakĕn kawula kalilana anggrayang mustaka paduka.' Ing ngrika wontĕn Jamur-dipa. Botĕn watawis dangu. sarèhning sampun kasĕmbadan ing sapanuwun amba. Déné dados awu. Sang Hyang Jagadnata lumajĕng. Pangandikanipun Sang Hyang Jagad-nata: „Heh Anggira sutaning Sakru. 3 No. Sang Hyang Jagadnata lajĕng muksa.

sarwi angandika makatĕn: „Hèh Rĕsi Anggira ing mĕngko sira nĕmu wĕwĕlèh dadi awu dhéwé. kinèn adus karamas rumiyin. Kathah ing-kang sami ngupados badhé kadamĕl sarananipun tiyang ig-kang sumĕdya angudi wĕkasing tumuwuh ambabarakĕn wiji. ing nalika punika ingkang jumĕnĕng nata ajujuluk Prabu Dhasarata. ratu limpad ing Sĕrat Wéddha. Pada waktu itu di negeri Ayodya Prabu Dasarata menjadi raja. lajĕng wangsul warni Sang Hyang Wisnu malih. Punika kakang Prabu. Dèwi Anggarini darbé panĕdha. rama-paduka Sang Hyang Wisnu muksa. Rĕsi Anggira botĕn darana Dèwi Anggarini lajĕng rinarurum ingarih-arih. akaliyan Sĕrat Weddhangga. bijaksana. putus dhatĕng kawajiban suci. lajĕng pitakèn namanipun. Ratu pinandhita. mèh anyamèni para maharsi. Sarĕng karamas tanganipun kadamĕl anguyĕg sirah. Sira mari aran Rĕsi Anggira. 3 No. sarèhning Rĕsi Anggira mĕntas tapa lami. mandraguna sinĕkti. kawasa amĕnggak budi hawanipun. Saking déné srĕnging karsa. kinèdhĕpan samaning tumuwuh. Ing mangké awu wau cukul jamuripun katĕlah sinĕbut Jamur-dipa. sidik ing paningal. supé bilih tanganipun kadunungan kamayan tiskna.. Manawi sampun suci badan.' Sasampunipun ngandika makatĕn. kĕkah ing adilipun. gĕntos kacariyos. sami sanalika wau Rĕsi Anggira lajĕng dados awu. bubukanipun ing kina. awit sira wujud awu. nagari ing Ayodya.sarĕng aningali langkung kasmaran. tĕrahipun Ikswaku. sayĕktiné ing mĕngko sira aran Maharsi Paspa. Rĕsi Anggira langkung suka lajĕng dhatĕng ing lèpèn sumĕdya adus karamas. sumanggèng karsa. Dĕwi Anggarini uninga manawi Rĕsi Anggira pĕjah dados awu. Jumantara Vol. saking anggènipun mungkul ing katĕmĕnan sarta anĕtĕpi agami tigang prakawis.. Di dalam Sĕrat Rukmawati sosok Prabu Dasarata dan keadaan kerajaan Ayodya digambarkan sebagai berikut: . Rama-paduka angakĕn nama Dèwi Anggarini.1 Tahun 2012 15 .

botĕn wontĕn tiyang bodho.1 Tahun 2012 . botĕn wontĕn tiyang murtad. Ing kitha wau titiyangipun sami bĕgja. sami limpad ing kawruh wéddha. Keutamaan serta keluhuran sang raja termashur di tiga dunia. botĕn wontĕn tiyang musakat. ingkang sampun misuwur ing kautamanipun. ( . sangat sakti. 3 No. kokoh dalam keadilan. pada waktu itu yang menjadi raja bergelar Prabu Dasarata. tani-tani sarta bĕkti-bĕkti ing laki. putus (mumpuni) dalam hal kewajiban suci. bagaikan sama dengan para dewa.Kautaman tuwin kaluhuranipun sang nata misuwur ing jagad titiga.. disegani oleh sesama makhluk. Botĕn wontĕn tiyang ingkang drĕngki. botĕn wontĕn tiyang cĕlak umuripun. bijaksana. prasasat sami akaliyan para déwa. botĕn wontĕn tiyang ingkang manganggé lungsĕd. Para nayakanipun sang Prabu cacahipun wowolu. Tiyangipun èstri sami éndah-éndahing warni. Raja (yang bersifat) pendeta.. Mumpuni 16 Jumantara Vol. sarwi agaganda amrik arum. hampir menyamai para maharsi. sarta botĕn saged kawon pĕrang. tajam penglihatannya. Kitha wau rinĕksa ing prajurit éwon. kemudian diceritakan. Lulus tataraharjaning praja. karena dia (baginda) (sudah) tekun dalam kelurusan hati (kejujuran) serta menepati agama 3 macam. Sawarninipun tiyang sami busana adi-adi ingkang rinĕngga ing kancana sosotya nawarĕtna. botĕn wontĕn tiyang kĕsèd. nagari di Ayodya. Botĕn wontĕn tiyang sakĕdhik anakipun. anggigirisi kados latu murub. botĕn pĕgat anggĕnipun ambudi wĕwahing kaluhuraning ratunipun. botĕn wontĕn tiyang awon warninipun. bijaksana. keturunan Ikswaku. raja yang (telah) ahli dalam Sĕrat Wéddha dan Sĕrat Wéddhangga. botĕn wonten tiyang ingkang tanpa aji. kuasa menahan hawa nafsunya. botĕn wontĕn tiyang ingkang alit manahipun. putus dhatĕng wajib pangĕrèhing praja. Botĕn wontĕn tiyang ingkang awon griyanipun. botĕn wontĕn tiyang ingkang botĕn nĕtĕpi wajibing ngagĕsang.

menakutkan seperti api yang menyala serta tidak terkalahkan dalam perang. Semua orang pakaiannya indah-indah yang dihiasi dengan emas intan permata. tidak ada orang yang bodoh. putus (ahli) dalam hal tata pemerintahan negara. Tidak ada orang yang dengki. Prabu Dasarata pada waktu itu juga menginginkan memiliki putra yang termashur di dunia karena pada waktu itu baginda belum berputra. tidak ada orang yang malas. Tidak ada orang yang sedikit anaknya. Sewaktu perlengkapan persembahan sudah siap. tidak ada orang yang tidak menepati kewajiban hidupnya. tidak ada orang yang kecil hatinya. bersama para raja di kerajaan Prawa. para petani (perempuan) pada berbakti pada suaminya. dan Malawa. Ketika persembahan Aswameda tersebut dilakukan. 3 No. Para dewa kemudian mengusulkan kepada Bathara Prayapati agar memberikan putra sebagai titisan Dewa Wisnu kepada Prabu Jumantara Vol.1 Tahun 2012 17 . tidak ada orang yang buruk wajahnya. Kota tersebut dijaga oleh ribuan prajurit. Bathara Prayapati (Sang Hyang Jagadnata) yang diiringi para dewa sangat berkenan. Prabu Dasarata mendapat petunjuk dewa bahwa ia hendaknya menunggu kedatangan putra Sang Hyang Wisnu. Para pemimpin sang Prabu berjumlah 8. semua ahli dalam ilmu Wédha. tidak henti-hentinya dalam berusaha menambah keluhuran rajanya).mengatur keselamatan dan kesejahteraan negara. Para pendeta menyarankan agar Prabu Dasarata mengadakan upacara (sedekah) Aswameda di hutan Madura di dekat sungai Sarayu. tidak ada orang yang pendek umurnya. Mantili. tidak ada orang yang hina. tidak ada orang yang berpakaian lusuh. (mereka) sudah termashur keutamaannya. Para perempuannya semua cantik-cantik parasnya. tidak ada orang yang tanpa harga diri. Kedatangan Prabu Basurata di hutan Madura disambut dengan gembira oleh Prabu Dasarata di Ayodya. Tidak ada orang yang buruk rumahnya. Di dalam kerajaan tersebut rakyatnya semua bahagia. tidak ada orang yang murtad. serta berbau harum semerbak.

Hal ini dimaksudkannya agar putra Prabu Dasarata kelak dapat membunuh raja raksasa. Kalanipun Prabu Dhasarata anggĕlarakĕn sidhĕkah. sami matur dhatĕng Bathara Prayapati. sagĕda anyimakakĕn 18 Jumantara Vol. tĕtĕdhan awarni-warni. Beberapa waktu kemudian para istri Prabu Dasarata hamil. Kamajaya. Kepada kedua raja tersebut Bathara Wisnu menyatakan bahwa keduanya diperbolehkan mengambil Payasa yang terletak di Jamur Dipa untuk dimakan bersama istrinya. barang pèni raja pèni. 3 No. Sarĕng sampun rĕrĕm sawatawis dintĕn.. 1994: 14-18). anĕdhaki dhatĕng panggènan sidhĕkah kadhèrèkaken para déwa. 1938: 24-29. Wujudipun sidhĕkah. amĕpĕki.1 Tahun 2012 . Bathara Wisnu kemudian memberi Payasa yang ditempatkan di atas jamur tersebut. Prabu Basurata dan Prabu Dasarata serta para raja lainnya kemudian mendekati Jamur Dipa yang terlihat menyalanyala. anjanma-a ing putranipun Prabu Dhasarata. Prabu Dhasarata dhawuh angawiti pakurmataning sidhĕkah nĕtĕpi ingkang kasĕbut ing sastra tuwin adat waton. sabarang ingkang kinarsakakĕn wontĕn. Ingkang dados pangagĕng tumandang pangruktining sidhĕkah Rĕsi Srĕngga. Jamur Dipa tersebut kemudian berubah menjadi seperti mustika. Sang Hyang Jagadnata ingkang ugi sinĕbut Bathara Prayapati. Prabu Dasarata dan Prabu Basurata kemudian mengambil Japur Dipa dan Payasa untuk kemudian dimakan bersama permaisuri mereka.. yang sangat termashur kesombongannya dan sebagai perusak segala yang tumbuh (Ranggawarsita. mugi kaparĕnga amaringi putra dhatĕng Prabu Dhasarata saha mugi andhawuhna dhatĕng Bathara Wisnu. Sarĕng para déwa aningali sidhĕkahipun Prabu Dhasarata ingkang tanpa timbang. Di dalam Sĕrat Rukmawati prosesi ritual agung Asmaweda tersebut diuraikan sebagai berikut: . niscaya kedua raja tersebut akan memperoleh putra yang utama. saking katrimahing sidhĕkahipun.Dasarata. Rahwana. Payasa adalah makanan para dewa yang sangat lezat.

sasampunipun anampèni pandumaning sidhĕkah... tumuntĕn kadhahar akaliyan pramèswari nata titiga. Jamur-dipa dipun dum waradin dhatĕng para ratu. pinundhi ing mastaka. Bathara Pryapati amarĕngi panuwun wau. dalah Jamur-dipa ugi kapundhut. Naréndra ing Mantili. Para ratu tuwin para rĕsi. Sasampunipun sidhĕkah. Prabu Basurata. Payasa wau dhaharipun para déwa ingkang raosipun sakalangkung éca.ratuning danawa ingkang nama Rahwana. ingkang sakalangkung kumalungkung dados gĕgĕlahing bumi. Prabu Dhasarata. para brahmana sapanunggilanipun. ing Malawa. Prabu Dhasarata anyĕlaki.1 Tahun 2012 19 . sami tumutur angurmati. Prabu Basurata kaaturan tĕdhak kampir dhatĕng Ayodya. Bathara Wisnu lajĕng amaringi "Payasa" kadunungakĕn sanginggiling jamur. agawé undhaking kautaman lan kamulyan‟. lajĕng sami mundhut Payasa ingkang dumunung ing Jamur-dipa. Sarawuhipun ing Ayodya langkung sinuba-suba. Pamukartaning sidhĕkan kĕndĕl. sira ingsun wĕnangaké ngalap Payasa kang dumunung ing Jamur-dipa iku. jamur katingal amaya-maya kados musthika. 3 No. Panganan iku kang dadi jalarané sira padha kasinungan suta. Jumantara Vol. angrisak samining tumuwuh. Prabu Basurata akaliyan Prabu Dhasarata tuwin para ratu sami anĕdhaki panggènanipun Jamur-dipa. Jamur-dipa katinggal murub angkara-kara. Prabu Dhasarata dalah pramèswari nata kondur dhatĕng praja. Payasa ingkang kapundhut Prabu Dhasarata. ing Prawa. Bathara Wisnu angatingal sarwi angandika: „Hé ratu sudibya. lajĕng sami bibaran. kaki Prabu Basurata lan kaki Prabu Dhasarata. Sang Hyang Wisnu muksa. Ratu kalih lajĕng kondur dhatĕng pasanggrahan. Karsaning déwa angkĕripun Jamur-dipa dados cabar. andhĕku sumĕmbah ing Sang Hyang Wisnu. urubing Jamur-dipa sirĕp. Sarĕng Prabu Basurata. Banjur sira pangana lan somahira..

Bertepatan masa Manggakala. ananging cariyosipun kadamĕl gĕntos. 1994: 18-21). yaitu rajah Purusa dan rajah Kani. adapun Dewi Sumitra berputra Laksmana dan Satrugna. Dewi Rukmawati melihat bahwa di dalam Jamur Dipa terdapat 2 rajah. sampun ambabar putra kakung langkung rumiyin ingkang miyos saking Dèwi Kusalya kaparingan nama Rama. Di dalam Sĕrat Rukmawati kelahiran Rāma bersaudara tersebut dikemukakan sebagai berikut: Kacariyos. akaliyan Satrugna. sekembalinya ke Wiratha. Kamajaya. sementara itu di kerajaan Ngayodya permaisuri Prabu Dasarata pun melahirkan putra. memperlihatkan Jamur Dipa dan Payasa tersebut kepada Dewi Rukmawati. Ingkang miyos saking Dĕwi Sumitra kakalih pinaringan nama Laksmana. Kamajaya. Menurut Dewi Rukmawati bahwa Prabu Basurata kelak akan berputra raja besar serta seorang putri yang nantinya juga menurunkan raja besar. Raja Malawa dan Raja Prawa kemudian mengunjungi Prabu Basurata di Wiratha (Ranggawarsita. 1994: 22). ing tanah Hindi pramèswari Ngayodya. Ingkang miyos saking Dèwi Kĕkayi pinaringan nama Barata. 1938: 34. Dewi Kekayi berputra Bharata. Sarĕng 20 Jumantara Vol. permaisuri Dewi Brahmaniyuta melahirkan putra laki-laki diberi nama Raden Brahmaneka. Prabu Dhasarata andhatĕngngakĕn suka pari suka. kadi sarĕng lampahanipun. Jamur Dipa tersebut kemudian dipuja Dewi Rukmawati berubah menjadi buah-buahan disebut buah Wipula.1 Tahun 2012 . Payasa dan buah Wipula kemudian diminta untuk dimakan Prabu Basurata bersama permaisuri Dewi Brahmaniyuta (Ranggawarsita. 3 No.Beberapa waktu kemudian Prabu Basurata. Pada tahun Wiya terhitung tahun 454 (Suryasangkala) dengan sĕngkalan: Dadi-tataning-pakarti atau tahun 468 (Candrasengkala) dengan ditandai sĕngkalan: Sarira-angrasa-suci. Dewi Kusalya berputra Rama. Sebagai ungkapan kebahagiaan Prabu Dasarata disertai Raja Mantili. 1938: 28-32.

ing Malawa lan ing Prawa. kabĕkta saking rĕnaning panggalih déné kadumugĕn ingkang dados karsanipun. 3 No. inilah cerita kisah hidup Prabu Kresna Dwipayana di Ngastina sampai menjadi begawan bernama Bagawan Byasa. raja Ayodya. Jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Sutiknawyasa tampak dari cerita yang disampaikan oleh Dhang Hyang Wiku Salya kepada Bagawan Abyasa tentang kisah Rama ketika ia harus Jumantara Vol. (Sĕrat Sutiknawyasa. dalam rangka memohon kelahiran putra yang menjadi penjelmaan Sang Hyang Wisnu (Rāma bersaudara).1 Tahun 2012 21 . Panganggitipun anuju ing tahun Suryasangkala 853.sampun dumugi anggĕnipun amangun suka. Digubah oleh Mpu Widdhayaka di Mamenang. 1938: 21). Ranggawarsita di dalam Sĕrat Pustakaraja menyatakan: Sĕrat Sutiknawyasa wiyosipun punika cariyos panjĕnĕngan nata Prabu Krĕsna Dwipayana ing Ngastina ngantos dumugi ambagawan nama Bagawan Byasa. kanthi ratu ing Mantili. (Ranggawarsita. penggubahannya bertepatan tahun Surya-sangkala 853. Prabu Dhasarata karsa tĕdhak cangkrama dhatĕng nuswa Jawi. terutama berkaitan dengan prosesi ritual agung (Asmaweda) yang dilakukan oleh Prabu Dasarata. terhitung tahun Candrasangkala bertepatan tahun 879). kaétang ing tahun Candrasangkala amarĕngi 879. Cerita Rāma dalam Sĕrat Sutiknawyasa Pujangga R. Lajĕng sami bidhalan saking palabuhan Prawa anitih baita. Kaanggit déning Mpu Widdhayaka ing Mamĕnang. Demikian jejak cerita Rama (Rāma) yang terdapat dalam Sĕrat Rukmawati. Ng.

Lajĕng kinèn tĕtaki dhatĕng wana pringga kawĕwahan kénging kadhusta ing duratmaka Prabu Dasamuka kabĕkta dhatĕng Alĕngka. seperti tampak pada kutipan berikut: "Kala Prabu Ramawijaya sinèrènan kaprabonipun ingkang rama Prabu Dasarata jumĕnĕng nata ing Ayudya. Tiba-tiba (Prabu Ramawijaya) mendapat petunjuk yang jelas bahwasanya ia disuruh menolong kesedihan raja kera Sugriwa. anggĕr lajaran asring angsal pitulungan saking tiyang ingkang sami kasungkawan. punika among saking dènira tabĕri amarsudi rĕmbaging janma. Dumadakan angsal wasita sawantah. tidak berapa lama (tahta tersebut) diminta kembali untuk digantikan oleh adiknya yang bernama Prabu Barata. (Prabu Ramawijaya) kemudian disuruh bertapa ke hutan belantara. (Ketika Prabu Ramawijaya mendapatkan tahta dari ayahandanya Prabu Dasarata untuk menjadi raja di Ayodya. " (Karyarujita dan Sastranaryatmo. Betapa besar kesedihaan hati Prabu Ramawijaya. Sapintĕn kémawon sungkawaning galihira Prabu Ramawijaya. kinèn amitulungi sungkawaning wanara raja Sugriwa. Kelak dikemudian hari (akan) menjadi sarana ia berjumpa kembali dengan istrinya Dewi Sinta. 1981: 443444). Kemudian 22 Jumantara Vol. Mila bĕbasanipun tiyang kadhatĕngan sungkawa. botĕn lami kalungsur ginantosan ingkang rayi anama Prabu Barata. 3 No. ditambah (Dewi Sinta) diculik oleh pencuri Prabu Dasamuka (untuk) dibawa ke Alengka. hanya disertai oleh istrinya (Dewi Sinta) dan adiknya Laksmana. parandosipun botĕn amĕgĕng pangandika kajawi amung tansah amĕsu cipta salĕbĕting samadi kémawon. Lajĕng jumĕnĕng nata malih wontĕn ing Ayudya.1 Tahun 2012 . Ing wĕkasan dados saraya sagĕdipun kapanggih kaliyan garwa Dĕwi Sinta. meskipun demikian ia tidak diam membisu.meninggalkan kerajaan Ayodya untuk pergi ke hutan. namun bahkan selalu mengasah pikirannya di dalam bersamadi.

inilah hasil kalau (seseorang itu) rajin berupaya menolong manusia. 3 No. Dhang Hyang Smarasanta juga mengemukakan peristiwa yang dialami Maharĕsi Manumanasa yang menjadi pertapa setelah tidak diangkat menjadi raja menggantikan ayahandanya. apabila mau menolong seringkali (ia) mendapat pertolongan oleh seseorang yang juga mengalami kesusahan). Demikian pula kisah Sang Hyang Wisnu yang juga dicopot kedudukannya sebagai raja. Naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana terdiri dari 2 jilid. yaitu Sĕrat Prabu Gĕndrayana I dengan kode D 46 A yang terdiri atas 577 Jumantara Vol.akan menjadi raja kembali di Ayodya. Karena itu peribahasanya seseorang yang sedang sedih. serta didudukkan kembali menjadi raja (Karyarujita dan Sastranaryatmo. Bathara Guru.1 Tahun 2012 23 . Sĕrat Prabu Gĕndrayana dapat dijajarkan dengan Sĕrat Budhayana. Cerita Rāma dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana Di dalam konstruksi teks-teks Pustakaraja. Dhang Hyang Smarasanta mengemukakan keadaan dirinya yang telah berumur 150 tahun tetapi tetap tampak muda karena hatinya tenang dan damai. 1981: 442-443). Nasehat Dhang Hyang Wiku Salya tersebut melengkapi nasehat dari Dhang Hyang Smarasanta kepada Rĕsi Abyasa agar tidak terlalu bersedih. karena ternyata yang menimpa Prabu Ramawijaya lebih pahit lagi. ia kemudian menjadi pertapa di Waringin Sapta (Waringin Pitu) sampai akhirnya ia ditugaskan melenyapkan Prabu Silacala (Watugunung) sebelum diampuni kesalahannya oleh ayahnya. Dengan demikian peristiwa kepergian Prabu Ramawijaya dari istana ke hutan belantara tersebut dihadirkan oleh Dhang Hyang Wiku Salya dengan maksud agar Rĕsi Abyasa tidak merasa terlalu bersedih hati dengan tidak diangkatnya dia menjadi raja di Ngastina menggantikan ayahandanya Bagawan Parasara (Palasara). Dengan demikian Sĕrat Prabu Gĕndrayana termasuk dalam kelompok Sĕrat Mahaparma Bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara.

R. 3 No. mau membantunya untuk melenyapkan segenap hama tanaman yang menyerang sawah dan ladang penduduk Gunung Nilandusa dan menyebabkan mereka gagal panen. Segala hama tanaman tersebut sulit dibasmi karena mereka dilindungi para Dewa keturunan Sang Hyang Kala. Adapun naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana II dengan kode D 46 B yang terdiri atas 1. ganggĕngan. Berdasarkan petunjuk (wangsit) dewa.halaman dan pernah ditranskripsi oleh K.T. walang.1 Tahun 2012 . Adapun hama tanaman yang menyerang sawah ladang mereka adalah: cèlèng. Adapun jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana dikemukakan oleh Bagawan Danèswara dari Gunung Nilandusa (Wilis) menghadap Prabu Gendrayana untuk mohon bantuan agar putra baginda. Bathara Sungkara merajai segala jenis cèlèng. ulat. yang dapat melenyapkan segala hama dan penyakit tanaman tersebut adalah Raden Narayana. lĕladhoh.272 halaman dan sudah ditranskripsi oleh Soepardi Hadisuparto. yaitu Raden Narayana. mĕnthèk. Soemarso Pontjo Soetjipto. Bathara Gindhala merajai segala jenis ludhĕp. Isi ceritanya dimulai dari sewaktu Bathara Naradha mengukuhkan Arya Prabu Bambang Sudarsana menjadi raja di Yawastina (Ngastina Baru) bergelar Prabu Yudayaka atau Prabu Darmayana. Misalnya: Bathara Kithaka merajai segala jenis belalang. Bathara Printanjala merajai segala jenis burung. putra Prabu Gendrayana. pemelihara dunia. tikus. Apalagi pada 24 Jumantara Vol. burung. jamur dan lain sebagainya. dan Bathara Hiranyaka merajai segala jenis tikus.849 halaman. Jadi Sĕrat Prabu Gĕndrayana terdiri atas 1. Naskah-naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana di atas adalah koleksi Perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran Surakarta. karena beliau adalah titisan Sang Hyang Wisnu Murti. Adapun waktu yang diceritakan dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana tahun 790 – 800 (Suryasangkala) atau tahun 816 – 824 (Candrasengkala). Cerita diakhiri sewaktu Prabu Yudayaka bermaksud turun tahta menjadi begawan dan akan mengukuhkan putranya yaitu Raden Kijing Wahana sebagai raja di Yawastina. ludhĕp. bĕkocok.

dados kénging sinĕbut tilar kasantosaning galih supé dhatĕng kawasaning déwa. Menurutnya. yang dapat dijadikan tauladan tersebut tersurat pada Sĕrat Prabu Gĕndrayana II seperti pada kutipan berikut: "Dhuh dhuh Pukulun Kangjĕng Déwaji. Oleh karena Prabu Gendrayana masih merasa ragu-ragu maka Bagawan Danèswara mengingatkan baginda atas kisah kepahlawanan Ramawijaya. sarĕng sawĕg yuswa wolung warsa lajĕng kasuwun dhatĕng Bagawan Sutiksnayogi ing wukir Jumantara Vol. manawi Sang Hyang Wisésa ingkang adamĕl unggul sayĕkti botĕn sangsaya dènira hamisésa ing ama. yĕkti botĕn dangu lajĕng dhadhal larut sadaya. panjĕnĕngan paduka punika punapa supé cariyos lampahanipun Bathara Ramawijaya putranipun Prabu Dasarata ing Ngayodya tanah ing Indhu. Akan tetapi.1 Tahun 2012 25 . manawi kados makatĕn pamanggihipun ing karsa paduka punika Pukulun. ingkang saupami tiyang sĕpuh ingkang sampun sura sĕkti mandraguna. sewaktu Ramawijaya baru berumur 8 tahun sudah dimintai bantuan oleh Bagawan Sutiksnayogi dari Gunung Dhandhaka agar menumpas para raksasa bala tentara Prabu Rahwana dari Ngalengka yang merusak pertapaan para pertapa. karena bagaimana mungkin putranya yang baru berusia 13 tahun tersebut harus berhadapan dengan segala jenis hama tanaman yang dilindungi oleh para dewa. utawi ingkang luhur sugih wadya bala sami sura sakti ing yuda. saèstunipun nadyan raréya ingkang taksih mudha punggung pisan. Hal inilah yang membuat Prabu Gendrayana khawatir atas keselamatan putranya. yèn Bathara Ramawijaya wau inggih panuksamaning Sang Hyang Wisnumurti. kaliyan malih Pukulun. Laksmana. Adapun kisah kepahlawanan Ramawijaya dan adiknya. 3 No.waktu lahir Raden Narayana sudah mendapatkan senjata dari dewa berupa panah Pasopati dan panah Sarotama. Prabu Gendrayana merasa ragu dan keberatan. putra Prabu Dasarata raja Ngayodya dari tanah Hindu. manawi Sang Hyang Jagad Pratingkah adamel apĕsipun ing titiyang ingkang sami sura sakti wau.

hal. Hadisuparto. sarĕng Bathara Ramawijaya saking karsaning Dewa sagĕd amĕnthang. panjĕnĕnganipun Prabu Janaka darbé atmaja pawèstri satunggal langkung ayu éndah warninipun. kala semantĕn sagunging para nata sèwu nagari botĕn wontĕn ingkang lĕbda karya wĕkasan sami kawangsulakĕn.1 Tahun 2012 . D 46 B. dèntĕn sayĕmbaranipun Prabu Janaka nguni singa ingkang sagĕd amĕnthang langkap pusakanipun Prabu Janaka saèstu dados jatu kraminipun putra nata Dèwi Sinta wau. 1981: 480-481). manawi ing yuswanipun nalika numpĕs sagunging diyu ditya rĕksasa wil danawa murka kang wontĕn ing wukir Dhandhaka nguni inggih sawĕg yuswa wolung warsa. saèstunipun sĕpuh putra paduka Radèn Narayana punika (Sĕrat Prabu Gĕndrayana II. wasta Rĕsi Ramaparasu. nama Dèwi Sinta. sarĕng bidhal saking Mantili kadhèrèkakĕn para punggawa langkung kathah. panuwunipun badhé kaabĕn kaliyan danawa ingkang sami angririsak dhatĕng patapaning para wiku. 26 Jumantara Vol. 848-853. malah punang langkap pusaka lajĕng tugĕl tanpa karana. 2007: 158-159. dupi wontĕn ing margi kabégal déning pandhita langkung sakti mandra guna. inggih punika kang angawonakĕn Prabu Harjunasasra ing Mahèspati nguni. lampahipun saking nagari ing Ngayodya botĕn ambĕkta wadya bala aming kadhèrèkakĕn ingkang rayi satunggal anama Raden Laksmana Widagda. Bathara Ramawijaya kalampahan kabĕkta dhatĕng Bagawan Sutiksnayogi.Dhandhaka. 3 No. danawa wau balanipun Prabu Rawana Ngalĕngka. Karyarujita dan Sastranaryatmo. botĕn antawis lami Bathara Ramawijaya wau kaliyan ingkang rayi bidhal saking patapaning pandhita lajĕng amĕdali sayĕmbara dhatĕng nagari ing Mantilidirja. Sang Ramaparasu wau karsaning Déwa lajĕng kasor déning Bathara Ramawijaya. sarĕng dumugi ing patapan raja putra kalih wau karsaning Déwa tĕka lajĕng sagĕd anirnakakĕn sagunging raksasa tanpa étangan tumpĕs déning satriya kalih kémawon. Prabu Janaka langkung suka kalampahan kadhaupakĕn kaliyan Dèwi Sinta.

akhirnya mereka semua Jumantara Vol. sekalipun seumpama orang sudah tua. apabila Sang Hyang Jagad Pratingkah membuat apĕs (malang) kepada orang-orang yang sangat sakti itu. putra Prabu Dasarata di Ngayodya Tanah Hindu. Tidak beberapa lama Bathara Ramawijaya bersama adiknya meninggalkan pertapaan pendeta untuk mengikuti sayembara ke negeri Mantilidirja. ketika baru berumur 8 tahun. Adapun sayembara Prabu Janaka tersebut. dan lagi Pukulun. kemudian diminta oleh Bagawan Sutiksnayogi dari Gunung Dhandhaka. perjalanan (Bathara Ramawijaya) dari negeri Ngayodya tidak membawa bala tentara. atau yang berkedudukan tinggi (memiliki) banyak bala tentara yang sakti-sakti dalam peperangan. kedua putra raja tersebut (karena) kehendak Dewa berhasil melenyapkan semua raksasa yang tak terhitung banyaknya (semua) tumpas hanya oleh kedua satria tadi. tentu tidak lama juga akan tumpas semua.1 Tahun 2012 27 . Pada waktu itu semua para raja (yang berjumlah) 1. dapat disebut meninggalkan kesentausaan hati. permintaan (Bagawan Sutiksnayogi) Bathara Ramawijaya akan diadu dengan raksasa yang merusak pertapaan para wiku. berani lagi sangat sakti.("Dhuh dhuh Pukulun Kanjeng Dewaji. lupa pada kekuasaan Dewa. Prabu Janaka memiliki seorang putri yang sangat cantik parasnya bernama Dewi Sinta. Bathara Ramawijaya bersedia dibawa oleh Bagawan Sutiksnayogi. apabila Sang Hyang Wisesa yang membuat menang.000 negara tidak ada satu pun yang mampu melakukannya. 3 No. bahwasanya Bathara Ramawijaya juga penjelmaan Sang Hyang Wisnu Murti. sungguh akan dikawinkan dengan putri raja tersebut. sesampainya di pertapaan. raksasa tersebut adalah bala tentara Prabu Rahwana (dari) Ngalengka. apakah Paduka ini lupa pada cerita kisah hidup Bathara Ramawijaya. jika demikian ini pendapat paduka Pukulun. (tapi) hanya diiringkan seorang adiknya bernama Raden Laksmana Widagda. tentu tidaklah sulit dalam meraih kemenangan atas hama (tanaman). sesungguhnya meskipun masih anak-anak dan lagi masih bodoh. bahwasannya siapa saja yang mampu membentangkan busur panah pusaka Prabu Janaka.

Karyarujita dari Sĕrat Paramayoga dan Sĕrat Pustakaraja dikatakan bahwa usia Bathara Ramawijaya adalah 18 tahun (wolulas warsa). Pada waktu mereka di tengah jalan. Bathara Ramawijaya waktu itu berusia 8 tahun (wolung warsa). Sesungguhnya masih lebih tua dengan putra Paduka. Dalam hal ini. Demikianlah tampilnya cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana sengaja dihadirkan oleh Bagawan Danèswara untuk memberikan gambaran dan pandangan kepada Prabu Gendrayana agar merelakan putranya. Dialah yang dahulu mengalahkan Prabu Arjunasasra di kerajaan Mahespati. Sang Ramaparasu karena kehendak Dewa dapat dikalahkan oleh Bathara Ramawijaya. wil dan sebangsanya yang merusak (pertapaan) di Gunung Dhandhaka dahulu usianya baru 8 tahun. untuk menumpas segala hama tanaman yang dilindungi para Dewa. 3 No. Bathara Ramawijaya. yaitu Raden Narayana (yang juga penjelmaan Sang Hyang Wisnu Murti. Ketika Bathara Ramawijaya menumpas para raksasa. dihadang (dirampok) oleh pendeta yang teramat sakti bernama Ramaparasu. ada sedikit perbedaan tentang usia Bathara Ramawijaya ketika dimintai bantuan oleh Bagawan Sutiksnayogi untuk melawan para raksasa perusak pertapaan di Gunung Dhandhaka. Ketika mereka meninggalkan Mantili diiringkan para punggawa yang sangat banyak. sebagaimana yang terdapat pada halaman 480 dan 481. yang menyerang sawah dan ladang penduduk di wilayah Gunung Nilandusa. Jadi ada selisih waktu 10 tahun. namun dalam Sĕrat Paramayoga (Sĕrat Kalĕmpakaning Piwulang) yang dikumpulkan oleh R. karena kehendak Dewa berhasil membentangkan. Prabu Janaka sangat gembira (Bathara Ramawijaya) kemudian dikawinkan dengan Dewi Sinta. Ng. sebagaimana Bathara Ramawijaya). Kalau di dalam teks naskah Prabu Gĕndrayana II.disuruh kembali (ke kerajaannya). bahkan busur panah pusaka kemudian putus tanpa sebab. Jika dikatakan bahwa 28 Jumantara Vol. Raden Narayana). kode D 46 B di halaman 849 dan halaman 853.1 Tahun 2012 .

pujangga Dalĕm ing Kraton Surakarta Jumantara Vol. maka hal ini ada benarnya karena usia Raden Narayana adalah 13 tahun.Raden Narayana waktu itu lebih tua daripada Bathara Ramawijaya. Hadisuparto. Ng. Ng. maka bagaimana mungkin dalam usia semuda itu ia mengikuti dan memenangkan sayembara di kerajaan Mantilidirja. 3 No. Penciptaannya bertepatan tahun 919 (Suryasangkala) atau tahun 948 (Candrasangkala). 2007: 152-187). Ranggawarsita adalah pengarangnya (Babon tĕmbung pangikĕtipun sang misuwuring jagad: R. Cerita Rāma dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara Di dalam Sĕrat Pustakaraja. 2007: 20-25). Hanya tentunya tidak dapat dikatakan bahwa ia masih kecil. Jika usia Ramawijaya sewaktu dimintai pertolongan oleh Bagawan Sutiksnayogi baru 8 tahun. maka Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara termasuk kelompok Kitab Maha Parma (bagian Kitab Pustakaraja Puwara). Namun pada halaman depan Sĕrat Mayangkara dikemukakan secara jelas bahwa R. Adapun peristiwa Raden Narayana dimintai pertolongan melenyapkan segala hama tanaman tersebut terjadi pada tahun 814 (Suryasangkala) atau tahun 839 (Candrasangkala) (Naskah halaman 816 – 1008. Ranggawarsita. Di sini pun terdapat kejanggalan.1 Tahun 2012 29 . jauh lebih muda usianya dari Raden Narayana (13 tahun) sewaktu ia dimintai pertolongan menumpas para raksasa yang merusak pertapaan para Brahmana dan Pendeta di Gunung Dhandhaka. sehingga ia kemudian dikawinkan dengan Dewi Sinta (dalam usia 8 tahun). seperti yang tersurat dalam naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana II halaman 112 – 139 (Hadisuparto. Kedua kitab tersebut adalah karya Mpu Sindungkara di Pengging. Beliau lahir pada tahun 801 (Suryasangkala) atau tahun 825 (Candrasangkala). Dalam hal ini jika usia Bathara Ramawijaya adalah 18 tahun akan lebih logis bila ia memenangkan sayembara memperebutkan Dewi Sinta dan dikawinkan dengannya.

1938: 35). 3 No. yaitu menceritakan tentang Sang Maharsi Mayangkara (Anoman). Digubah oleh Mpu Sindungkara di Pengging. Pada bagian permulaan. dengan titik berat penceritaannya hanya mengenai Sang Hyang Mayangkara. kaétang ing tahun Candrasangkala amarĕngi 948. terhitung tahun Candrasangkala bertepatan tahun 948) Adapun waktu yang diceritakan dalam Sĕrat Purusangkara mulai tahun 841 Suryasangkala (Ratu – gusthika – sarira ing boma) atau tahun Candrasangkala 866 dengan sengkalan berbunyi Anggas – angrasa – murti sampai dengan tahun Suryasangkala 846 atau terhitung tahun Candrasangkala tahun 871. 30 Jumantara Vol. Ng. Hanya saja cerita di dalam Sĕrat Purusangkara masih cukup panjang. antara Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara isinya hampir sama. ngantos dumuginipun nagari ing Yawastina kĕlĕm anjĕmblong dados samodra. Ranggawarsita sendiri di dalam Sĕrat Pustakaraja juga menyatakan bahwa: "Sĕrat Purusangkara. inilah cerita kisah (perjalanan) hidup Prabu Purusangkara di Yawastina. karena jika waktu penceritaan di dalam Sĕrat Purusangkara berlangsung selama 5 tahun. (Sĕrat Purusangkara.1 Tahun 2012 . ketika kawin dengan putri dari Mamenang.Adiningrat). maka waktu penceritaan dalam Sĕrat Mayangkara hanya selama 1 tahun." (Ranggawarsita. sampai Kerajaan Yawastina tenggelam menjadi samodra. wiyosipun punika cariyos lalampahanipun Prabu Purusangkara ing Yawastina. Pujangga R. panganggitipun anuju ing tahun Suryasangkala 920. Kaanggit déning Mpu Sindungkara ing Pĕngging. penggubahannya bertepatan pada tahun Suryasangkala 920. kala krama antuk putri ing Mamĕnang.

1985: 33-40).1 Tahun 2012 31 . Kemudian Sang Hyang Girinata memerintahkan Sang Hyang Narada untuk melindungi keturunan Sang Hyang Wisnu dengan sarana mengawinkan Prabu Astradarma (raja Yawastina) dengan putri Prabu Jayapurusa (Prabu Jayabhaya) di kerajaan Widarba. Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kesanggupannya dan pulang kembali ke pertapaan Kendalisada menemui raganya (Rĕsi Anoman). Dalam melanjutkan perjalanannya Sang Hyang Narada bertemu dengan roh Sang Maharsi Mayangkara (jiwa Anoman) yang mengungkapkan keinginannya untuk segera berkumpul dengan para dewa. 2) Pertentangan antara Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) dengan ketiga menantunya yaitu Prabu Purusangkara bersaudara. 3 No. sampai ditenggelamkannya Kerajaan Yawastina. 3) Kisah Madrim dan Madrika. dan 5) Prabu Darmadewa beserta saudara-saudaranya menyerbu kerajaan Widarba (Tedjowirawan. Sang Hyang Narada menerangkan bahwa Sang Maharsi Mayangkara masih mendapat tugas dewa untuk mengawinkan para putra mendiang Prabu Sariwahana (Yawastina) dengan para putri Prabu Jayapurusa (Widarba). Sang Hyang Narada menerangkan bahwa maksud Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Brahma mau melenyapkan semua keturunan Sang Hyang Wisnu.Adapun penceritaan di dalam Sĕrat Purusangkara masih sangat panjang karena menceritakan berbagai peristiwa yang terjadi di Kerajaan Widarba (Kediri) setelah gugurnya Sang Maharsi Mayangkara. 4) Perkawinan Madrim dengan Arya Susastra. Sang Maharsi Jumantara Vol. Rĕsi Anoman menyatakan mau menyatu kembali dengan jiwa (rohnya) Sang Maharsi Mayangkara asal teka-teki yang diajukannya dapat ditebak secara tepat. Adapun garis besar cerita di dalam Sĕrat Mayangkara dan Sĕrat Purusangkara pada bagian awal dapat dikemukakan sebagai berikut: Sang Hyang Girinata mengadakan persidangan dengan para dewa di kahyangan Suralaya. Mereka memperbincangkan turunnya Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Brahma ke dunia. Adapun cerita-cerita tersebut antara lain: 1) Perkawinan Raden Jayaamijaya dengan Ken Satapi.

utusan Prabu 32 Jumantara Vol. Tidak lama kemudian datanglah Sang Hyang Narada yang memerintahkan Sang Maharsi Mayangkara ke Yawastina. maka baginda segera memerintahkan punggawanya untuk memeriksa Sang Maharsi Mayangkara. Pada waktu itu. anak Ajar Subrata. ketika Prabu Astradarma melihat adanya putih-putih di bawah pohon beringin. Prabu Jayapurusa di kerajaan Widarba sedang menerima Raden Jayamijaya. Patih Suksara mengusulkan agar Prabu Jayapurusa memikirkan pula perkawinan ketiga putri raja terlebih dahulu untuk menghindari dari pergunjingan rakyat Widarba. Sang Maharsi Mayangkara kemudian dihadapkan kepada Prabu Astradarma. sehingga ia menyatu kembali dengan raganya. Prabu Astradarma merasa ragu-ragu bahwa Prabu Jayapurusa telah melupakan permusuhan ayah-ayah mereka dahulu dengan baginda (Prabu Jayapursa). Pada waktu itu datanglah Gadaksa dan Pradaksa. ia beristirahat di bawah pohon beringin kembar. Perselisihan dan perpecahan itu berawal dari nenek moyang mereka dahulu. Kemudian Prabu Astradarma dan saudara-saudaranya dibawa Sang Maharsi Mayangkara pergi ke kerajaan Widarba. akan tetapi Prabu Jayapurusa menyerahkan jodoh ketiga putrinya kepada dewa. 3 No.Mayangkara dapat menebak teka-teki yang diajukan padanya. Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kepada Prabu Astradarma bahwa ia ditugaskan Sang Hyang Narada untuk mengawinkan Prabu Astradarma bersaudara dengan ketiga putri Prabu Jayapurusa di Widarba. Sementara itu para prajurit Yawastina di bawah pimpinan Patih Sudarma mempersiapkan diri menyusul rajanya. Sesampainya di Yawastina. Hal itu dimaksudkan guna mempererat kembali tali persaudaraan yang telah retak akibat pertikaian yang terjadi antara Prabu Sariwahana dan Prabu Ajidarma di Malawapati melawan Prabu Jayapurusa di Widarba. akan tetapi Sang Maharsi Mayangkara meyakinkan bahwa dewalah yang menentukan segalanya. Mereka memikirkan perkawinan Raden Jayaamijaya dengan putri Ken Satapi.1 Tahun 2012 . Patih Suksara serta para prajurit Widarba yang menghadap.

dan memaksa Gadaksa dan Pradaksa untuk mengundurkan diri kembali ke kerajaan Selauma.Yaksadewa dari kerajaan Selauma untuk melamar Dewi Pramesthi. Prabu Jayapurusa menjadi ragu-ragu menerima permintaan Sang Maharsi Mayangkara tersebut. Dikemukakannya pula bahwa ia telah terlanjur menyanggupi untuk memenuhi permintaan Sang Maharsi Mayangkara yang menginginkan kawin dengan ketiga putri Widarba. maka Raden Jayaamijaya disertai Arya Susastra bersama pasukannya mengejar kedua utusan kerajaan Selauma tersebut. tetapi Sang Maharsi Mayangkara meminta imbalan ketiga putri Widarba. Prabu Jayapurusa mengambil jalan tengah yaitu andaikata Dewi Pramesti telah menjadi jodoh Prabu Yaksadewa maka perkawinan mereka akan segera dilangsungkan. Arya Susastra bersama pasukan Widarba dapat dikalahkan. maka mereka segera mengejar Gadaksa dan Pradaksa.1 Tahun 2012 33 . Raden Jayaamijaya. Raden Jayaamijaya. Arya Susastra dan Sang Maharsi Mayangkara kemudian kembali ke Widarba. Raden Jayaamijaya sangat malu dan ia bermaksud meminta bantuan kepada saudaranya. Sepeninggal Gadaksa dan Pradaksa. Raden Jayaamijaya sangat marah membaca surat lamaran tersebut. Dalam perjalanan Raden Jayaamijaya bersama Arya Susastra. Setelah Raden Jayaamijaya menyanggupi permintaan itu. Pertempuran tak dapat dielakkan. Raden Jayaamijaya meminta bantuan kepada Sang Maharsi Mayangkara. Surat lamaran tersebut mengandung ancaman bahwa seandainya Dewi Pramesthi tidak diberikan maka kerajaan Widarba akan digempur. Terjadilah pertempuran yang sangat hebat. 3 No. namun Sang Maharsi Mayangkara dapat menghancurkan pasukan kerajaan Selauma. keduanya berjumpa dengan Sang Maharsi Mayangkara. yaitu raja di Yawastina. Kepada ayahandanya (Prabu Jayapurusa) ia menerangkan bahwa Sang Maharsi Mayangkaralah yang berhasil memenangkan pertempuran melawan utusan kerajaan Selauma. tetapi akhirnya baginda Jumantara Vol.

dénya ambĕdhah nagari Ngalĕngka nguni. ingkang dados pangungunipun. dados sawadyanipun para ratu wanara sadaya sami umiring Bathara Ramawijaya. Pangandikanipun Prabu Jayapurusa: 34 Jumantara Vol. bokmanawi èngĕt ing cariyos lalampahanipun Prabu Ramawijaya ing Ngayudyapala. Prabu Jayapurusa langkung suka angungun. rèhning nguni kawarti kawijilanipun saking nagari Guwakiskĕndha tanah Hindhu. kaliyan adhi kula nak-sanak sutanipun paman kawula ingkang sĕpuh wasta Prabu Subali.meluluskannya. Prabu Jayapurusa segera memerintahkan kepada Empu Pulwa untuk mencatat keterangan Sang Maharsi Mayangkara guna meluruskan kembali peristiwa sebenarnya tentang cerita peperangan Prabu Ramawijaya melawan Prabu Rawana. kaambil sraya déning Bathara Ramawijaya wau. ing Guwakiskĕndha.1 Tahun 2012 . 3 No. amargi paman kawula ingkang anèm wasta Prabu Sugriwa punika. dhatĕng nagari ing Ngalĕngka. saèstunipun kawula nguni èngĕt sadaya. Di dalam Sĕrat Mayangkara permintaan Prabu Jayapurusa agar Sang Maharsi Mayangkara menceritakan pengalamannya sewaktu menjadi senapati perang pasukan Prabu Ramawijaya tersebut diuraikan sebagai berikut: Sasampunipun makatĕn Prabu Jayapurusa andangu malih dhatĕng Sang Maharsi Mayangkara. malah kala sĕmantĕn kawula inggih kinarya sénapatining ayuda. dèntĕn Sang Maharsi Mayangkara langkung panjang yuswanipun. Raja Alengka. Selanjutnya Prabu Jayapurusa meminta kepada Sang Maharsi Mayangkara untuk menceritakan kembali pengalaman peperangannya sewaktu menjadi senapati perang yang terpercaya Prabu Ramawijaya. mila kawula dados sénapati. Penulisan cerita Rama pada mulanya bersumberkan keterangan dari Brahmana Hindu yang bernama Dhang Hyang Asuman dan Dang Hyang Ilandhi. sukanipun dèntĕn badhé angsal wĕwahing cariyos lalampahanipun Prabu Ramawijaya nguni. Sang Rĕsi Anoman matur: "Dhuh-dhuh Pukulun Kanjĕng Déwaji. manawi lalampahanipun Bathara Ramawijaya Ngayudyapala anggènipun ambĕdhah nagari ing Nglĕngka nguni.

Hé Sang Maharsi Mayangkara kakasihing jawata. Sang Maharsi Mayangkara matur sandika. punika sami anyariyosakĕn ingkang dados lalampahanipun Prabu Ramawijaya nguni. (Kemudian Prabu Jayapurusa bertanya lagi kepada Sang Maharsi Mayangkara. lajĕng dhawuh dhatĕng Empu Pulwa kinèn amĕwahakĕn panganggitipun kaliyan ingkang saking cariyosing brahmana kalih nguni. salalampahanipun sampun sami kagancarakĕn sadaya. ngantos dumugi sédanipun ingkang putra Prabu Ramawijaya ingkang nama Prabu Batlawa ing Duryapura.1 Tahun 2012 35 . sampun ngantos wontĕn ingkang kalangkungan cariyosipun". miwiti mĕkasi. ingkang dados lalampahanipun Prabu Ramawijaya dènira ambĕdhah nagari Ngalĕngka wau. Émpu Pulwa matur sandika. milanipun manawi sang wiku karsa anyariyosakĕn lalampahanipun Prabu Ramawijaya. barangkali teringat cerita perjalanan hidup Prabu Ramawijaya di Ngayudyapala. mila makatĕn awit ing nguni kula katamuwan brahmana saking tanah Hindhu. yèn sambada karsanipun sang wiku. ketika Jumantara Vol. karena dahulu konon berasal dari Guwakiskenda tanah Indu. saèstu badhé andadosakĕn sukaning manah kula. ananging pangraosing manah kula kados taksih kirang jangkĕping cariyosipun. ananging panuwun kula mugi kagancarĕna dalah lalampahanipun wontĕn ing margi sadaya. mugi kagancarĕna sadaya. ingkang rumiyin wasta Dhang Hyang Asuman ingkang kantun wasta Dhang Hyang Ilandhi. ngantos kaping kalih. malah ing mangké sampun kaanggit déning ĕmpu jangga kula kang wasta Émpu Pulwa. nulya cinathĕtan sadaya. 3 No. Ing ngriku Prabu Jayapurusa langkung suka galihipun. sakalangkung rĕmĕn kula. awit bokmanawi wontĕn wĕwahipun malih saking cariyosing brahmana kalih nguni. lajĕng anyariyosakĕn kawiwitan saking nagarinipun Prabu Ramawijaya wontĕn ing Ngayudyapala. amargi botĕn sumĕrĕp piyambak kados Sang Maharsi wau. kaliyan Prabu Kusia ing Ngayudyapala.

keduanya menceritakan perjalanan hidup Prabu Ramawijaya dahulu. saya sangat gembira. sesungguhnya hamba teringat semuanya. jangan sampai ada cerita yang terlewat. semoga diceritakan semua tentang perjalanan hidup Prabu Ramawijaya dalam menyerbu negara Ngalengka dahulu. Kata Prabu Jayapurusa: "Hai Sang Maharsi Mayangkara kekasih dewata. 3 No. bahkan pada waktu itu hamba juga sebagai senapati perang. yang dahulu bernama Dhang Hyang Asuman. sungguh sangat menyenangkan hati saya. bahkan sekarang sudah disusun oleh pujangga saya yang bernama Empu Pulwa. (sedangkan) yang menjadi keheranannya. kemudian menceritakan mulai dari negara Prabu Ramawijaya di Ngayudyapala. bahwa usia Sang Maharsi Mayangkara demikian panjang. karena paman hamba yang bernama Prabu Sugriwa itu diminta bantuannya oleh Batara Ramawijaya." Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kesediaannya. sebab tidak mengetahui sendiri seperti halnya Sang Maharsi. makanya hamba menjadi senapati. sampai dua kali.1 Tahun 2012 . maka seandainya sang wiku mau menceritakan perjalanan hidup Prabu Ramawijaya. yang terakhir bernama Dhang Hyang Ilandhi. akan tetapi menurut pendapat saya nampak masih kurang lengkap ceritanya. oleh karena dahulu kala saya kedatangan Brahmana dari tanah Hindu. akan tetapi permintaanku hendaknya diuraikan sekaligus semua peristiwa yang terjadi di perjalanan. gembira karena akan mendapat tambahan cerita kehidupan Prabu Ramawijaya. bersama adik sepupu hamba. jadi semua bala tentara para raja kera semua mengiring Batara Ramawijaya ke negara Ngalengka. jika peristiwa penyerbuan Batara Ramawijaya Ngayudyapala dahulu ke negara Ngalengka.dahulu menyerbu kerajaan Ngalengka. Prabu Jayapurusa gembira (dan) heran. jika sang wiku berkenan. Sang Resi Anoman berkata: "Duh-duh Pukulun Kanjeng Dewaji. sampai mangkatnya putra Prabu Ramawijaya yang bernama Prabu Batlawa di 36 Jumantara Vol. sebab barangkali ada penambahan lagi dari cerita dua brahmana dahulu itu. putra paman hamba yang bernama Prabu Subali di Guwakiskenda.

Sementara itu. pertemuan itu diketahui oleh seorang ĕmban „inang pengasuh‟ yang kemudian melaporkannya kepada Prabu Jayapurusa.1 Tahun 2012 37 . Hal itu dilakukan atas perintah dewa agar menjadi perekat kembali persaudaraan raja dengan ketiga putra mendiang Prabu Sariwahana. Prabu Astradarma mengadakan pertemuan dengan Dewi Pramesthi. Kemudian dilangsungkannyalah pesta perkawinan Dewi Pramesthi.) Beberapa waktu kemudian. Oleh karena itu. 3 No. Pesta perkawinan mereka sangat meriah dan berlangsung selama setengah bulan. Prabu Jayapurusa bergembira. Akan tetapi. kemudian semua dicacat. Prabu Jayapurusa mengawinkan Sang Maharsi Mayangkara dengan Dewi Pramesthi. Prabu Jayapurusa segera memerintahkan Raden Jayaamijaya untuk menangkap perusak kesusilaan di taman sari itu. Pada waktu malam pengantin tiba. Prabu Jayapurusa sangat gembira hatinya. Dewi Pramuni dan Dewi Sasanti dengan Prabu Astradarma bersaudara. bahwa sebenarnya dialah yang menjadi pengatur pertemuan antara Prabu Astradarma bersaudara dengan ketiga putri raja. Raden Darmasarana dengan Dewi Pramuni. Empu Pulwa menyatakan kesanggupan-nya. akan tetapi segera dicegah oleh Sang Maharsi Mayangkara. Prabu Jayapurusa bermaksud mau maju sendiri. semua peristiwa sudah diceritakan.Duryapura dan Prabu Kusia di Ngayudyapala. Dalam pertempurannya melawan Prabu Astradarma maupun dengan Raden Darmasarana dan Raden Darmakusuma. kemudian memerintahkan kepada Empu Pulwa untuk mengubah penyusunan cerita Ramawijaya seperti yang berdasarkan cerita dua brahmana dahulu. dan Raden Darmakusuma dengan Dewi Sasanti. karena ia akan bermenantukan Prabu Astradarma bersaudara. ia kalah. Gadaksa dan Pradaksa telah kembali ke Jumantara Vol. Selanjutnya Sang Maharsi Mayangkara menjelaskan. mengawali mengakhiri. Sang Maharsi Mayangkara mengeluarkan ketiga putra Yawastina untuk mengadakan pertemuan dengan ketiga putri Widarba. Mendengar penjelasan itu.

tetapi mereka pun gugur. Prabu Astradarma. Dalam pertempuran yang dahsyat itu Sang Maharsi Mayangkara gugur di medan laga. Sang Hyang 38 Jumantara Vol. Kedatangan pasukan Selauma disongsong oleh pasukan Widarba yang diperkuat oleh Sang Maharsi Mayangkara serta tiga putra Yawastina.1 Tahun 2012 . Raden Darmasarana dan Raden Darmakusuma segera menuntut bela. sedangkan gada saktinya menjelma menjadi Sang Hyang Brahma. 3 No. Prabu Yaksadewa menjadi sangat marah. Dalam pertempuran yang dahsyat itu banyak perwira kerajaan Selauma gugur di tangan Sang Maharsi Mayangkara. kecuali Sang Maharsi Mayangkara. Dengan gada saktinya ia menggempur Sang Maharsi Mayangkara. Bertepatan dengan itu nampaklah Sang Hyang Girinata bersemayam di atas kepala Prabu Jayapurusa. Oleh karena itu sudah sepantasnya Sang Maharsi Mayangkara memperoleh anugerah dewa di surga. Sang Hyang Girinata menerangkan kepada Prabu Jayapurusa bahwa gugurnya Sang Maharsi Mayangkara memang sudah merupakan kehendak dewa. Prabu Yaksadewa sangat marah dan segera memerintahkan Patih Mohita untuk mempersiapkan pasukannya menyerbu ke Widarba. Kemudian Sang Hyang Narada menjelma menjadi gada sakti agar dapat dipakai Prabu Jayapurusa melawan gada sakti Prabu Yaksadewa. Sang Maharsi Mayangkara telah menjalankan kewajibannya di dunia dengan baik pada akhir hidupnya dengan mengawinkan ketiga putra mendiang Prabu Sariwahana (Yawstina) dengan ketiga putri Prabu Jayapurusa (Widarba). Sebelum Prabu Jayapurusa maju datanglah Sang Hyang Narada memberitahukan bahwa Prabu Yaksadewa adalah penjelmaan Sang Hyang Kala. Prabu Jayapurusa sendiri mau melawan Prabu Yaksadewa.kerajaan Selauma serta melaporkan hasil lamaran raja. Sang Hyang Narada pun menjelma kembali. maju melawan Prabu Yaksadewa. Patih Mohita mencoba melawannya tetapi ia pun gugur. sedangkan gada saktinya adalah penjelmaan Sang Hyang Brahma. Dalam pertempuran yang dahsyat maka Prabu Yaksadewa menjelma menjadi Sang Hyang Kala. Kemudian Sang Hyang Girinata memerintahkan Sang Hyang Narada untuk menghidupkan kembali mereka yang tewas dalam pertempuran itu.

Rāmācaritamanasa oleh Tulasi Dasa. Uttara Rāma oleh Bhavabhutti. Janakīharaņa oleh Kumaradasa. setelah melewati proses ritual (tapabrata) selama 1. Salah satu versi cerita Rāma dari India yaitu Rāvaņavadha karya Bhaţţi. Rāmāyaņakathāsaramānjari oleh Ksemendra. Simpulan Cerita Rama (Rāma) pada mulanya digubah dalam bahasa Sanskerta oleh yogīndra Wālmīki. Dengan demikian. jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara dikisahkan sendiri oleh Sang Maharsi Mayangkara (Anoman) yang pada waktu itu (jaman Kediri) masih hidup. Yasadipura II menggubahnya menjadi Sĕrat Arjuna Sasrabahu. Kakawin Rāmāyaņa kemudian digubah menjadi Sĕrat Rama oleh R. Kamboja. maupun Jawa. R. Yasadipura I. Cerita Rāma ternyata ditemui juga jejaknya di dalam bagian Sĕrat Pustakaraja.Ng. Thailand. misalnya: Raghuvangśa karya Kalidasa. Kakawin Rāmāyaņa tersebut menjadi bahan perbincangan yang sangat ramai di antara para sarjana. terutama sarjana-sarjana barat yang pada mulanya mengadakan penelitian atas karya-karya sastra Jawa Kuna. Filipina. Laos. Birma. Cerita Rāmāyaņa dari India tersebut kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia.1 Tahun 2012 39 . sedangkan Sindusastra menggubahnya menjadi Sĕrat Arjuna Sasra dan Sĕrat Lokapala. di Jawa kemudian digubah menjadi Kakawin Rāmāyaņa oleh pujangga yang belum ditetapkan secara pasti siapa nama sebenarnya. 3 No. Rāvaņavadha oleh Bhaţţi. yang menjelma sebagai gada sakti senjata Sang Hyang Kala. Melayu. terutama di dalam Sĕrat Rukmawati. Penyair-penyair India lain pun kemudian mencoba membuat cerita Rāma–Sīta. 1985: 29-32).Kala dan Sang Hyang Brahma segera menghidupkan kembali pasukan Widarba dan Selauma (Tedjowirawan. Di Asia Tenggara cerita Rāma terdapat di Vietnam.000 tahun.Ng. sampai ia sendiri kembali ke surga setelah secara tidak langsung dijemput oleh Sang Hyang Kala (Prabu Yaksadewa) dan Sang Hyang Brahma. Sĕrat Jumantara Vol.

Merunut Pupuh-pupuh Rama Djarwa Matjapat jang Bersumber dari Sarga II dan III Rāmāyaņa Kakawin (Tesis).Ng. jejak cerita Rāma tampak dengan tampilnya Sang Maharsi Mayangkara (Anoman). Pura Mangkunegaran Surakarta.Suktinawyasa. Soepardi (Pengalih Huruf) (2007). Adapun dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara. Dalam Sĕrat Suktinawyasa jejak cerita Rāma dikemukakan oleh Dhang Hyang Wikusalya kepada Rĕsi Abyasa agar tidak terlalu bersedih hati karena tidak diangkat menggantikan ayahandanya menjadi raja di Ngastina. 3 No. Fakultas Sastra dan Kebudajaan. Darusuprapta (1963). Daftar Pustaka Berg. Sĕrat Prabu Gĕndrayana II (46 B). C. Jogjakarta: Djurusan Sastra Djawa. (1974). Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara. Di dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana jejak cerita Rāma dikemukakan oleh Bagawan Danĕswara agar Prabu Gendrayana merelakan putranya yang masih sangat muda yaitu Raden Narayana (Jayabhaya) untuk dimintai bantuannya melenyapkan segala jenis hama tanaman yang menyerang sawah dan ladang para penduduk di wilayah Gunung Nilandusa (Wilis). (1981). Peristiwa gugurnya Sang Maharsi Mayangkara tersebut pada masa pemerintahan Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) di kerajaan Widarba (Kediri). Hadisuparto.1 Tahun 2012 . Sĕrat Paramayoga: Sĕrat Jumantara Vol. Dalam Sĕrat Rukmawati jejak cerita Rāma terutama terkait dengan prosesi ritual yang dilakukan Prabu Dasarata untuk memohon kelahiran putra penjelmaan Sang Hyang Wisnu (Rāma). 40 R.C. Surakarta: Reksapustaka. yang menjelma menjadi gada sakti Prabu Yaksadewa. Bahkan gugurnya Sang Maharsi Mayangkara dijemput oleh Sang Hyang Kala (Prabu Yaksadewa) dan Sang Hyang Brahma. Sĕrat Prabu Gĕndrayana. melainkan hanya diangkat sebagai raja pendeta. Penulisan Sejarah Jawa. Karyarujita. Jakarta: Bharata. Universitas Gadjah Mada.

(1979). Sĕrat Mayangkara. Sĕrat Witaradya I & II. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud. Sejarah dan Transformasi Jumantara Vol. I. Pura Mangkunegaran Surakarta. Ng. (1910). Pigeaud. _______. _______. Ng. Lampahan Jayapurusa.M.Kalĕmpaking Piwulang. _______. Sĕrat Ajipamasa. (1967). Semarang: Yayasan Studi Bahasa Jawa "Kanthil".C. Literature of Java Vol. dkk. Sĕrat Pustakaraja Purwa Jilid I – III. Surakarta: Reksapustaka. Soetjipto. Z. Soerakarta: Albert Rusche. Mangkunegara IV (1914). (1924). Makalah Ceramah. Alih Aksara dan Ringkasan oleh Sudibya. “Runut Merunut Penulisan dan Penulis Kakawin Rāmāyaņa”.T. Soemarso Pontjo. _______. (1997). „Ramayana: Asal-usul. Djakarta: Djambatan. Surakarta dan Yogyakarta: Yayasan "Mangadeg" dan Yayasan "Centhini". Cetakan Kedua. (1979). Th. Ricklefs. (1938).H. Depdikbud.E. Djokdja: Boekhandel En Drukerij Kolf Buning. Sĕrat Pustakaraja Purwa Jilid III. "The Yasadipura Problem". The Hague: Martinus Nijhoff. G. Y. Solo: Boekhandel M. (Pengalih Huruf) (2007). 3 No. Th. Surakarta: Albert Rusche.R. dan Tardjan Hadidjaja (1957). (1994). Hadji Pamoso Jilid I-X. Alih Aksara dan Alih Bahasa oleh Moelyono Sastronaryatmo.1 Tahun 2012 41 . Alih Aksara Kamajaya. _______. Kepustakaan Djawa. Ranggawarsita. Somvir (1998). M. BKI 153-II. Witaradya.. Disalin oleh Soetomo W. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Cetakan Keempat. Poerbatjaraka.. _______. Yogyakarta: Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. (1993). Tanojo. K. Padmapuspita. R. R. Sĕrat Prabu Gĕndrayana I (46 A). (1908).

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. (1983). Jogjakarta: Fakultas Sastra dan Kebudajaan Universitas Gadjah Mada. Ranggawarsita. Tedjowirawan. Naskah Sĕrat Gĕndrayana. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi). Surakarta: Museum 42 Jumantara Vol. Anung (1985). Sri Mulyono (1989). Manu Jayaatmaja (1998). Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa. “Persebaran Rāmāyaņa di Asia Tenggara”. Satu Kajian Pada Karya Sastra R. dalam Ramayana. Ranggawarsita”. Ng.dari India ke Indonesia‟ dalam Ramayana. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM. Zoetmulder. Ranggawarsita: Sajian Teks-Terjemahan Pembahasan. Serat Mayangkara Karya R. P. Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa. _______ (2008). Haji Masagung. Ng.1 Tahun 2012 . Filsafat dan Masa Depannya. Pengembangan dan Masa Depannya. Yogyakarta: Jurusan Sastra Nusantara. FPBS IKIP Yogyakarta. Prodi Sastra Jawa. Widyaseputra. Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang. “Dari Gendrayana ke Bambang Sudarsana (Sebuah Suksesi Kepemimpinan di Ngastina menurut Teks-teks Pustakaraja Madya Karya Pujangga R. FPBS IKIP Yogyakarta. _______ (1986). Analisis Struktural Serat Purusangkara. Kalangwan. Rama Kathā. Wayang: Asal-usul. Surjohudojo. Pengembangan dan Masa Depannya. Cetakan III. Jakarta: Djambatan.Ng.J. 3 No. Jakarta: CV. Naskah 157. Supomo (1961). Procedings Seminar Internasional Aktualisasi Teks-teks Ranggawarsitan dalam Konteks 100 Tahun Kebangkitan Nasional dalam rangka Dies ke 62 Fakultas Ilmu Budaya UGM 16 Mei 2008. terjemahan Dick Hartaka.

1 Tahun 2012 43 . Sĕrat Prabu Gĕndrayana II. Sĕrat Prabu Gĕndrayana I. 155. Naskah Radyapustaka Surakarta. Surakarta: Reksapustaka.Radyapustaka Surakarta. Jumantara Vol. Pura Mangkunegaran Surakarta. Surakarta: Reksapustaka. Naskah 153. Surakarta: Museum Sĕrat Yudayana. Naskah 46 B. Pura Mangkunegaran Surakarta. Surakarta: Museum Radyapustaka Surakarta. Naskah 46 A. Sĕrat Purusangkara. 3 No.

3 No. dan masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami. Konteks. yaitu Hikayat Siti Islam.1 Tahun 2012 . *) Penulis adalah peneliti di Puslitbang Lektur – Balitbang Departemen Agama RI.Abstrak Penelitian ini mencoba menggali kembali ajaran dan praktik kehidupan sehari-hari perempuan Aceh dalam keluarga dan masyarakat yang dituangkan ke dalam tulisan pada masa lampau. Kata Kunci: Perempuan. keluarga. 44 Jumantara Vol. dan mencari korelasi positif antara perilaku perempuan dalam teks dengan perempuan Aceh pada umumnya dalam kurun waktu masa lampau dan dewasa ini. Teks. Selanjutnya perbandingan teks dilakukan dengan manuskrip lain yang mengisahkan tentang perempuan lain bernama Siti Hazanah. yang dewasa ini sudah menjadi manuskrip. tokoh utama dalam sebuah manuskrip Aceh sekaligus menjadi judul dari manuskrip tersebut. Manuskrip Aceh. Fokus utama penelitian ini tertuju kepada Siti Islam. menjelaskan tentang perilaku sosial lingkungan terhadap mereka.

3 No. dibalik fisik dan tenaganya yang lemah jika dibandingkan dengan kekuatan fisik laki-laki. tidak berlebihan bila agama memperjuangkan hak perempuan dan bahkan menyamakannya dengan kaum laki-laki sesuai dengan fungsinya masing-masing. Mereka dapat memberikan inspirasi tertentu kepadanya. Perempuan diperlakukan seperti budak demi kepuasan kaum lakilaki. laki-laki yang menggunakan kekuatan dan kehebatan fisiknya untuk mencari kesenangan di bawah penderitaan isterinya. Kasus yang muncul di media masa dan televisi tidak jarang adalah kasus pelecehan dan perusakan kehormatan perempuan. sebagai tokoh sufi yang terkenal. Sayyidah Nizam adalah salah seorang perempuan yang disebutkan Ibn Arabi yang dapat memberikan inspirasi kepadanya untuk menulis sekumpulan puisi dan telah memberikan pengaruh spiritual yang dalam kepadanya. mengurusi anak dan suaminya sendiri.1 Tahun 2012 45 . Karena itu.2 Perempuan bukanlah diciptakan untuk 1 Untuk uraian lebih rinci tentang makna perempuan bagi Ibn Arabi. Bahkan tidak jarang kepada kaum perempuan dibebankan segala tumpuan dan pekerjaan keluarga. Jumantara Vol. mengakui akan kehebatan yang dimiliki perempuan. Sering terjadi permerkosaan dan perlakuan tidak senonoh dari para pecundang birahi. lihat Austin.Pendahuluan Perempuan merupakan lambang keberhasilan dan kekuatan sebuah keluarga dan negara. mulai dari mengurus rumah tangga hingga mencari nafkah di luar rumah. kadang disalahgunakan oleh lawan jenisnya. 2005: 1-8. Sering perempuan mendapat perlakuan tidak seimbang dan bahkan melecehkan derajat dan kehormatannya. 2 Untuk penjelesan lebih rinci lihat Quraish Shihab. Di luar rumah. 2003:416-419 dan Azhari Noer. Dengan segala kelemahannya perempuan harus mengikuti perintah para suami. Laki-laki dengan bangga menjadi suami atas keberhasilan isterinya mempertahankan keluarga untuk menutupi kebutuhan keluarganya.1 Namun. fisik perempuan yang lemah. sering perempuan dijadikan objek kesenangan laki-laki. 2002: 220-222. Ibn Arabi. karena di tangan merekalah terletak kekuasaan yang terselubung.

perlakuan terhadap perempuan hampir boleh dikatakan sama dan serupa. Perempuan adalah sosok manusia yang hebat dan lemah. Dalam Al-qur‟an disebutkan bahwa Segala sesuatu Kami menciptakan berpasangpasangan supaya kamu mengingat keesaan Allah. 3 No. AlZariyat:49). Di Aceh. menanam. para ibu-ibu menjadi pedagang paling dominan ketimbang para laki-laki. Dalam sejarah. melainkan juga di luar rumah. perempuan menjadi tonggak keluarga untuk keberhasilan sebuah rumah tangga. melainkan untuk saling melengkapi. Tidak hanya itu. Istilah inong balee. Di Bali3. 46 Jumantara Vol. Sehingga dalam sejarah muncul srikandi-srikandi Aceh dengan berbagai istilah mereka sandang demi memperjuangkan agama dan negara. (Q. Mereka harus rela melakukan apa saja untuk memperjuangkan saudara laki-lakinya dan suaminya sukses di luar rumah. perempuan harus bersedia untuk tidak mengecap dan merasakan manisnya pendidikan formal. misalnya. para perempuan menjadi pekerja setia. tidak hanya berada di rumah melainkan juga di luar rumah. mulai dari menghadirkan dan menyiapkan makanan sampai mengurus anak dan suami. misalnya.1 Tahun 2012 .S. Dari sisi lain. Mereka tidak hanya bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga untuk anak dan suami mereka. Di pasar. (Umar. perempuan juga menjadi tumpuan keluarga dan negara. hingga memanen padi.melengkapi hasrat dan keinginan laki-laki. Di kalangan petani. sehingga sering disalahgunakan karena dua faktor tersebut. mulai dari mencabut. perempuan terlihat diberikan kebebasan dalam bergerak. Dalam setiap suku yang ada di Indonesia. dijunjung oleh 3 Hasil Observasi dan wawancara langsung dengan sebagian penduduk Bali di Denpasar pada bulan Januari sampai April 1995. demi untuk mempertahankan saudara laki-lakinya bersekolah. kebebasan mereka diberikan untuk berjuang bersama kaum laki-laki untuk kepentingan agama dan bangsa. Perempuan harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga. 2000:16-17).

Sejauhmana korelasi positif antara perilaku perempuan Aceh dengan isi teks naskah? Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan kembali sejarah perempuan Aceh yang terdapat di dalam manuskrip. Karena itu. Meskipun demikian. Selanjutnya perbandingan teks dilakukan dengan manuskrip lain yang mengisahkan tentang perempuan lain bernama Siti Hazanah.1 Tahun 2012 47 . Hal yang juga perlu dipertanyakan adalah apakah mereka mendapatkan kebebasan dan kehebatan seperti srikandi-srikandi yang telah harum namanya dalam sejarah. Bagaimana tanggapan lingkungan terhadap mereka? 3. masih perlu dipertanyakan apa yang dimaksud dengan kebebasan yang mereka miliki dan sejauh mana kebebasan tersebut didapatkan. keluarga. 3 No. Secara rinci tujuan tersebut adalah: Jumantara Vol. pertanyaan-pertanyaan yang dapat dirumuskan untuk penelitian ini adalah: 1. dan masyarakatnya? 2. Fokus utama penelitian ini tertuju kepada Siti Islam. yaitu Hikayat Siti Islam. tokoh utama dalam sebuah manuskrip Aceh sekaligus menjadi judul dari manuskrip tersebut. Selanjutnya tidak semua perempuan Aceh menjadi srikandi. yang dewasa ini sudah menjadi manuskrip. Bagaimana kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami. tetapi juga terhadap perempuan-perempuan yang menjadi masyarakat biasa dalam kehidupan keluarga dan sosialnya.Malahayati dalam menggerakan kaumnya melawan Belanda dan mempertahankan agama. Penelitian ini mencoba menggali kembali ajaran dan praktik kehidupan sehari-hari perempuan Aceh dalam keluarga dan masyarakat yang dituangkan ke dalam tulisan pada masa lampau. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pendorong saya untuk meneliti sejarah perempuan Aceh yang tidak hanya terfokus kepada para srikandi yang harum namanya dalam sejarah. Nasib sebagian mereka tentu berbeda dengan srikandi-srikandi yang sudah harum namanya.

1 Tahun 2012 . Sejarah sudah banyak berbicara tentang perempuan Aceh dari berbagai segi. Untuk mencari korelasi positif antara perilaku perempuan dalam teks dengan perempuan Aceh pada umumnya dalam kurun waktu masa lampau dan dewasa ini. Dari sisi kajian terdahulu. Sher Banu A. (Reid. Sedangkan manfaat dari penelitian ini diharapkan: 1. 2. Karena itu. 3 No. Dalam artikelnya. Untuk mengetahui kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami. 1998). 3. her Orang Kaya and the Dutch Foreign Envoys. mulai dari kiprah mereka dalam politik sampai kepada kehidupan sosial. Khan dalam The Jewel Affair. penelitian terkait dengan perempuan sudah sangat banyak dilakukan oleh berbagai pihak. dan politik yang dijalankan oleh perempuan dalam posisi mereka di keluarga dan masyarakat yang lebih luas. keluarga. Demikian juga halnya dengan penelitian khusus perempuan Aceh. L. yaitu sebagai perempuan politisi dan ibu atau sebagai pedagang dan ibu. Hal ini ditemukan dalam berbagai peran ekonomi. dan masyarakatnya. The Sultana. sosial.1. yaitu di dalam ekonomi dan politik. perempuan mendapatkan dua peran sekaligus. menunjukkan peran para sultanat sebagai perempuan dalam menjalankan 48 Jumantara Vol. Di antara penelitian yang terkait dengan perempuan Aceh adalah. Dapat menjadi referensi bagi peneliti khususnya yang bergelut dengan permasalahan gender. Untuk menjelaskan tentang perilaku sosial lingkungan terhadap mereka. karya Anthony Reid Female in Southeast Asia. 2. Dapat mengungkapkan kembali khazanah tentang perempuan pada masa silam melalui manuskrip. Reid menjelaskan bahwa terdapat kesetaraan perempuan di wilayah Asia Tenggara termasuk di dalamnya Aceh dengan kaum laki-laki dalam konteks yang memungkinkan keduanya bersaing secara langsung. Perempuan dalam kehidupan masa sekarang juga telah mendapat perhatian banyak peneliti untuk menelaahnya dari berbagai segi.

Namun pada akhirnya bidadari tersebut harus menjadi agen kekuasaan para lelaki sebagai penguasa yang nyata. khususnya Ratu Safiyatuddin dapat menjadikan barangbarang berharga. menikah dengan Pangeran Salman. bukan untuk berfoya-foya. 3 No. Semua mereka berhasil dididik olehnya dan mereka kemudian menjadi penguasa negeri (imum tuha peut). semacam bidadari atau peri dari antah berantah. Ia menggunakan manuskrip Melayu kuno dan cerita lisan untuk menjelaskan gagasan kekuasaan perempuan dalam tradisi kemaharajaan. Demikian juga dalam cerita tradisi lisan. yang melalui mereka telah muncul kejayaan-kejayaan untuk sebuah kerajaan. Ia adalah putri Istana Jeumpa. (Siapno. Syahir Dauli. dan Syahir Tanwi. Begitu juga dengan Putri Tansyir Dewi yang berasal dari Peureulak. untuk kekayaan dan kepentingan kerajaan. yang memiliki kesaktian dan kekuasaan. Ia adalah ibu dari Sayid Maulana Abdul Aziz. Dalam manuskrip yang menceritakan Putri Betung. etnografi. yang dikenal sebagai pendiri kerajan Jumantara Vol. ia menemukan narasi yang mengedepankan perempuan supernatural. Mereka. perempuan dijadikan sebagai orang yang mampu melakukan segalanya. 2011). Syahir Pauli. Jacqueline Aquino Siapno dalam karyanya Gender. (Khan. Putri Mayang Seuludang. Nationalism and the State in Aceh: The Paradox of Power.tugasnya sebagai pemimpin negara setelah Sultan Iskandar Tsani. Haslinda dalam bukunya Perempuan Aceh Dalam Lintas Sejarah Abad VIII – XIX menjelaskan tentang keberhasilan perempuan dalam membangkitkan negara dan agama sekaligus juga menjadi tumpuan keluarganya. 2002). telah mengelaborasi dan membuka khazanah penafsiran mengenai sejarah politik perempuan di Aceh. Cooptation and Resitance dengan menggunakan metode sejarah. namun tidak pernah dihargai keberhasilannya karena hal tersebut sudah menjadi tugasnya. seperti intan permata. adalah salah satu contoh perempuan yang diutarakannya.1 Tahun 2012 49 . Ia menjelaskan tentang peran perempuan dalam sejarah. Islam. dan literatur. Mereka dianugerahi empat orang anak Syahir Nuwi.

yaitu budaya perempuan Aceh dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. dapat dilihat bahwa hanya Siapno yang menggunakan manuskrip sebagai salah satu sumber rujukan utamanya. 50 Jumantara Vol. pertama.1 Tahun 2012 . maka pendekatan antropologi menjadi penting. Karena itu. pendekatan sejarah sosial digunakan untuk mengetahui konteks latar belakang muncul dan keberadaan naskah yang dikaji dan tentang refleksi perempuan Aceh dalam sejarah secara umum serta fakta yang ada dewasa ini. filologi dan kodikologi yang diperuntukkan pada kajian isi dan fisik naskah tersebut. pendekatan intertekstual digunakan untuk membandingkan teks naskah yang menjadi fokus kajian ini dengan teks sejenis guna untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan topik kajian.Islam Perlak pada tahun 840M. Namun demikian. Untuk melihat dan mendiskusikan perkembangan budaya pada masa sekarang dan relevansinya dengan teks naskah. dapat disimpulkan bahwa penelitian tentang aktivitas perempuan dalam kehidupan sehari-hari dan ajaran yang berlaku padanya dengan berlandaskan manuskrip belum ada yang melakukan. Penelitian ini berbentuk library research dengan model pendekatan kualitatif. Keempat. Penelitian ini mencoba mengisi kekosongan tersebut. Dari penelitian-penelitian di atas. Siapno hanya menfokuskan kajian tentang perempuan yang berkaitan dengan tradisi kemaharajaan pada masa awal Islam. yaitu dengan fokus kajian pada manuskrip yang diperkirakan ditulis pada abad ke-18 dan 19M. 3 No. Kedua. 2008). (Haslinda. sehingga direct participant ke dalam masyarakat dalam waktu yang relatif lama dan in depth interview dapat dilaksanakan dengan cermat dan teliti. Untuk menelaah dua naskah yang menjadi sasaran penelitian ini perlu digunakan pendekatan interdisipliner. pendekatan antropologi. Ketiga.

Naskah berjudul Hikayat Siti Islam ini. Berdasarkan cap airnya. karena ada beberapa halaman akhir telah hilang. yaitu berbentuk sajak dan berbait-bait atau puisi. Alas tulis naskah ini adalah kertas Eropa yang memiliki cap air berbentuk bulan sabit dalam bentuk wajah manusia dilingkari pagar atau yang dalam bahasa Inggris disebut dengan moonface in shield. 3 No. Kemungkinan besar tahun produksinya setelah abad ke-18M. 4 Menurut Heawood. dan blok teksnya berukuran 10X16 cm. 1935.4 Tidak terdapat bagian halaman yang kosong dalam naskah ini. 1986:84. sedangkan iluminasi serta ilustrasi juga tidak diketemukan. Jumantara Vol. seorang masyarakat Aceh yang berdomisili di Dayah Tanoh.Kiprah Perempuan dalam Manuskrip Tentang Manuskrip Siti Islam Deskripsi Naskah ini dikoleksi oleh Ampon Hasballah Dayah Tanoh. kemungkinan karena teks naskah ini berbentuk cerita. yang mungkin saja memuat informasi tentang pengarangnya. Naskah ini memiliki ukuran 16X22 cm. sehingga ia menyatakan bahwa kertas yang ber-watermark seperti di atas besar kemungkinan diproduksi pada waktu modern. Naskah ditulis dalam bentuk hikayat. Naskah ini kemudian didigitalkan oleh Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan. sehingga tidak ada kata-kata yang perlu ada penekanan maknanya. Aceh. Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI pada tahun 2010. Tidak ada rubrikasi dalam teks. Pidie. tidak diketahui siapa pengarangnya. cap air seperti ini tidak dapat diidentifikasi tahunnya. Tinta yang digunakan untuk menulis teks berwarna hitam. diperkirakan naskah ini ditulis sekitar abad ke-19M. Lihat Heawood. karena Buku Heawood dan Churchill hanya memuat daftar watermark dan countermark yang berkisar antara abad ke-17 dan 18M.1 Tahun 2012 51 . Churchill.

1 Tahun 2012 . Cerita ini diberitakannya terjadi pada masa Rasulullah masih hidup. Nyoe calitera nabi Muhammad soe yang ingat raya bahgia . Ringkasan Isi Naskah ini berisi cerita (hikayat) fiktif dengan diiringi berita dari si pengarang terlebih dahulu. 3 No.. sebagaimana disebutkan dalam teks: Nyoe hikayat Siti Islam . Ia mengambil cerita ini dari Arab.. Dalam persinggahannya ia mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak yang mendengarkan ceritanya.. karena lembaran akhir sudah hilang. Empat halaman pertama digunakan pengarang khusus untuk mengungkapkan bahwa cerita yang ditulisnya sangat diharapkan oleh siapa pun di dunia ini.Naskah Siti Islam Teks naskah ditulis dengan menggunakan bahasa Arab dan Aceh. hingga sampai di kampung halamannya. Naskah ini tidak memiliki kolofon. na si‟at teuka si Nyak Ti dara agam taphôm makna 52 Jumantara Vol. beraksara Arab dan Jawi.. kemudian singgah di beberapa negara dan di beberapa tempat di Aceh.

dan ketiga.1 Tahun 2012 53 . yang melindungi dan menguasai Siti Islam dalam hidupnya setelah berumah tangga. dan penurut. penurut. patuh. Pengajaran dan bimbingan diberikan langsung oleh Nabi dan tertuju kepada Siti Islam sebagai tokoh utama dalam cerita ini. maka para perempuan akan menerima azab balasannya di hari akhirat. Nabi sebagai tokoh yang dapat memecahkan dan mengatasi segala persoalan. Nabi memberitahu bahwa perilaku wanita yang baik menurut agama adalah harus patuh. diceritakan terlebih dahulu segala hal yang terkait dengan pengajaran terhadap perempuan dalam menghadapi suami dan rumah tangga. 3 No. Bila tidak demikian. kedua.Rupa jieh sa hana macam That taqwa uroe malam Terjemahan: Ini [hikayat ini diberi nama dengan] Hikayat Siti Islam… Ti Islam nan keurasoe hana macam that bakti Agar laki-laki dan perempuan yang masih muda dapat memahami artinya Siapa yang [mau] mengingatkannya sangat besar kesenangan Sebentar setelah itu datanglah Nyak Ti Ini cerita [masa] Nabi Muhammad… Wajahnya cantik tiada banding Sangat takwa [kepada Tuhan] siang dan malam Ti Islam namanya dipanggil Tiada ada tandingan sangat berbakti Cerita ini memiliki tiga tokoh utama. dan melayani suami. Pada awalnya. yaitu: pertama. suami Siti Islam. Siti Islam yang digambarkan sebagai tokoh perempuan yang taat. Rajawali. Cerita dalam naskah ini menggambarkan cara hidup seorang perempuan pada masa Nabi yang bernama Siti Islam. Jumantara Vol.

.1 Tahun 2012 ... Begitu juga sebaliknya.Nabi kemudian menjelaskan tentang perempuan yang membangkang dan tidak menjaga hubungan baik dengan suami. Bagi mereka disediakan siksa yang sangat pedih di hari akhirat. laki-laki yang berhubungan dengan perempuan tersebut di luar nikah akan mendapat hukuman yang sama. Lom jibeudeh ineng ceulaka Trôh bak bahoe jiduek ineng Nibak agam meunoe jitanyeng Dilee galak keu lôn sidroe Oh han lôn tem yôh saboh uroe Terjemahan: Suami yang celaka Menangis selalu si isteri Azab pedih tidak dapat dikatakan Duduk tidur berjalan berdiri . 3 No. Lalu bangun perempuan yang celaka Lalu di bahunya duduklah perempuan Pada laki-laki begini ditanyakan Dulu engkau suka kepada saya seorang Ketika saya tidak mau pada azeub siksa hana lawan nam plôh limeng tujôh lapan deungen ineng man saboh kawan lethat ineng jimoe sajan agam jiwa nibak badan jitanyeng meunoe lakuan lee ineng soe rimueng kuran lam taki-taki uroe malam meudeh meunoe lôn ta padan azab siksa tiada lawan enam puluh lima tujuh delapan dengan isteri sebuah kelompok banyak sekali isteri menangis laki-laki dipeluk badannya ditanyakannya apakah begini balasan oleh perempuan dengan suara harimau engkau bohongi siang malam berbagai cara engkau rayu aku 54 Jumantara Vol. Contoh dalam teks: Ureung lakoe yang celaka Jimoe sabee ureung ineng Azeub peudeh han pue tanyeng Jiduek ji eh ji jak ji deng . bahkan mencari orang lain sebagai tempat pelariannya..

1 Tahun 2012 55 . 3 No.satu hari Siksa yang akan dialami oleh mereka yang tidak patuh kepada suami dan berselingkuh dengan laki-laki lain tidak akan pernah berhenti. Nabi menjelaskan panjang lebar tentang ciri-ciri isteri yang baik yang dapat membawa kebahagiaan dunia dan akhirat serta akan mendapat balasan surga di akhirat. karena Jumantara Vol. Seorang perempuan harus tunduk dan patuh kepada suaminya serta menjaga keharmonisan rumah tangga sesuai aturan agama. kecuali pada hari Jumat dan bulan Ramadan. kepada Siti Islam kemudian diajarkan tentang bagaimana seharusnya kehidupan seorang isteri terhadap suami dalam berumah tangga. Disebutkan dalam teks sebagai berikut: hancô hutak lheuh ngen gaki teumar meuwolom misei suboh meunan azeub barang jan masa malam Jumu‟at yang na reuda la‟en nibak nyan buleun puasa la‟en nibaknya hana reuda Terjemahan: Hancur otak lepas kaki Lalu kembali seperti semula Begitulah azab sepanjang masa [Cuma] Malam Jumat yang reda [tidak disiksa] Selain itu pada bulan puasa Selain itu tidak perlah lekang dari siksaan tuleung ngen asoe jeut ka karam lom geusipak hana macam hana reuda uroe malam hana siksa ineng agam yang na reuda Ti Islam jih lam siksa hana macam tulang dan daging sudah tiada lalu disepak lagi dengan sangat keras tiada reda siang dan malam tidak disiksa laki-laki dan perempuan yang tidak disiksa [hai] Ti Islam mereka dalam siksa tiada tara Setelah mendapatkan pengajaran yang demikian panjang lebar.

Contoh teks: Oh woe lakoe geunap seupôt côm bak tu‟ôt barangkajan Terjemahan: Ketika pulang suami di waktu sore cium di lutut kapan saja Nabi juga menjelaskan bahwa seorang isteri harus menjadikan suaminya sebagai guru dan tempat belajar. Lam syuruga wahe Nyak Ti Diyub tapak gaki suami Terjemahan: Dalam surga wahai Nyak Ti Di bawah telapak kaki suami diyub gaki ureung agam ta deunge hai meunoe kalam di bawah kaki laki-laki dengarkanlah kalam seperti ini Sebagai contoh.surga berada di bawah telapak kaki suami. Kalaupun tidak bisa seperti itu. setiap kali suami pulang.1 Tahun 2012 . Ia terus mendesak Nabi untuk menceritakan segala hal yang 56 Jumantara Vol. si isteri harus selalu mencium lututnya dengan wajah tersenyum. 3 No. maka isteri harus minta izin kepada suami untuk mencari ilmu kepada ulama: Teumar guree nibak lakoe Adat banta lakoe gata Lake izin nibak lakoe Beuna izin nibak lakoe tameureunoe kebajikan bak ulama taberjalan suara bandum ban meunisan jak meureunoe iluemee Tuhan Terjemahan: Lalu bergurulah kepada suami belajarlah kebajikan padanya Bila suami anda tidak bisa kepada ulama engkau pergi Minta izin kepada suami suara dan tingkah laku semuanya harus manis Harus ada izin dari suami pergi menuntut ilmu Tuhan Siti Islam dengan tekun dan penuh khidmat mengikuti ajaran Nabi.

Tidak boleh sama sekali berjalan bila tidak dengan seizin suami. Rajawali kemudian mengatakan bahwa Siti Islam dilarang keluar rumah sebelum ia pulang. Karena harus menjunjung tinggi amanah suaminya. Ketika suaminya pulang. Siti Islam memutuskan untuk tidak pergi melihat orang tuanya. Dalam menjalani rumah tangga bersama suaminya.terkait dengan kehidupan isteri dan suami serta akibat-akibatnya. Jumantara Vol. Ia adalah sosok perempuan yang patuh secara mutlak terhadap ajaran Nabi. Siti Islam kemudian menerapkan segala ajaran dan bimbingan Nabi saw yang telah didapatnya. Orang tuanya pun meninggal. termasuk untuk keluar rumah. orang tua Siti Islam sakit keras. Di tengah-tengah pejalanan suaminya keluar kota5. Siti Islam menceritakan kepada 5 Dalam teks disebutkan bahwa keluar rumah menuju pasar membutuhkan waktu cukup lama. Dalam membangun dan mempertahankan rumah tangganya. Ia tidak pernah berani bertindak tanpa seizin suami. Siti Islam sangat sedih mendengar berita tersebut. karena takut tidak mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam rumah tangga. karena anaknya yang taat kepada suaminya. Nabi memperingatkan agar Siti Islam tidak luput memperhatikan rambu-rambu yang perlu ditaati sebagai seorang isteri nantinya. Pada suatu hari. Nabi menjawab bahwa tindakan Siti Islam adalah benar. 3 No.1 Tahun 2012 57 . Ia kembali pergi ke tempat Nabi dan bertanya tentang masalah yang dihadapinya. Atas petunjuk Nabi. Semua harta dan barangnya dititipkan kepada Siti Islam. Siti Islam pada awalnya tidak berniat untuk menikah. ia akhirnya menikah dengan seorang anak Sultan yang bernama Rajawali. Mungkin pasarnya jauh di negeri lain. Dikatakan oleh Nabi bahwa Siti Islam akan mendapat pahala yang besar dengan sikap tersebut dan orang tuanya akan berada di tempat yang baik. Siti Islam menyerahkan dan mengabdikan dirinya secara penuh kepada suaminya tanpa ada rasa penolakan sedikit pun. namun dia tidak berani pulang ke rumah orang tuanya. Rajawali berniat hendak pergi jauh keluar wilayah kerajaannya karena ada urusan penting yang harus diselesaikan.

ia sebenarnya mengizinkan Siti Islam pulang ke rumah orang tuanya untuk melihat mereka yang sedang sekarat. Mereka bertiga sangat sedih dan jatuh dalam pelukan kerinduan dan keterharuan.6 Naskah ini dapat 6 Naskah ini sudah musnah akibat tsunami pada tahun 2004. termasuk gedungnya yang juga menyimpan sejumlah naskah Aceh lainnya. tetapi kopi naskah tersedia. Meskipun naskah asli tidak ada lagi. Siti Islam dan Rajawali. namun ayahnya sudah tiada. Suaminya kemudian menjawab bahwa. Akhirnya keduanya. Sebelumnya naskah ini dikoleksi oleh Sulaiman di Aceh Besar.1 Tahun 2012 . pulang ke tempat orang tuanya. Ibu dan ayah Siti Islam berbahagia di dalam kubur dan dapat merasakan kebaikan kedua anaknya. Nabi menjawab bahwa tindakan mereka adalah pekerjaan yang terpuji.suaminya tentang peristiwa yang sudah terjadi selama suaminya tidak ada di rumah. untuk segala hal yang terkait dengan orang tua. Mereka berdua diharapkan selalu berdoa untuk orang tuanya dan bersedakah untuknya. Setelah ibunya meninggal. ia mengeluarkan hartanya untuk memberi makan fakir miskin dan rakyat untuk mengharapkan pahala bagi orang tua isterinya. Ibunya kemudian mewasiatkan kepada Siti Islam agar ia tetap menjaga dan menghormati perintah dan larangan suaminya. Setelah itu. kembali kepada Nabi untuk berkonsultasi tentang balasan dari apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang harus mereka lakukan setelah ibunya meninggal. 3 No. Bandingan dengan naskah Siti Hazanah Deskripsi Naskah ini adalah koleksi Balai Kajian Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional Aceh di Banda Aceh sebelum terjadi Tsunami tahun 2004 dengan nomor invetaris 007/NK/1998. Dengan sukarela. karena pada tahun 2003 telah dicopy dan dibuat edisinya oleh Fakhriati atas dukungan dari Program 58 Jumantara Vol. Siti Islam dan Rajawali. Rajawali menggerakan rakyatnya untuk mengadakan kenduri selama tujuh hari tujuh malam. Ternyata ibunda Siti Islam masih hidup dan dalam keadaan sakit parah.

7 Naskah Siti Hazanah berukuran 26x17 cm dan ukuran teks 24x16cm dengan jumlah baris 20 dan 21 pada tiap halaman. kemungkinan karena halamannya yang sudah hilang.mungkin dapat dikatakan sebagai kolofon – yang memberikan informasi tentang nama pengarang dan judul naskah. 7 Sebutan nama orang berdasarkan nama tempat bisa bermakna tempat ia berasal atau kepopulerannya dalam berkarier. Dari jenis kertasnya. karena teks naskah ini bercerita lebih banyak dan lebih dominan tentang kisah Siti Hazanah dalam mengarungi kehidupannya di dunia.1 Tahun 2012 59 . 8 Untuk diskusi tentang jenis-jenis kertas Eropa dan watermarknya dapat dibaca dalam makalah Fakhriati. Ada kemungkinan bahwa salah satu lembar naskah ini telah hilang. dapat diprediksi bahwa umur naskah ini berkisar antara abad ke-19M. gaya tulisannya terlihat agak berbeda dengan tulisan di teks utama. Tulisan naskah berbentuk nastaklik dengan menggunakan tinta hitam untuk penulisan secara umum dan rubrikasi untuk penekanan pada kata-kata tertentu. Namun demikian. kecuali kuras ketiga yang terdiri dari tujuh lembar. Namun demikian pada halaman awal terdapat tulisan dalam bentuk pyramid -. FIB-UI. Namun demikian tidak terlihat watermark dan countermark di atas garis-garis tersebut. Naskah ini memiliki ilustrasi dan iluminasi dalam bentuk bunga sulur. Terkait dengan judul naskah.8 Naskah ini terdiri dari tiga kuras. Naskah Siti Hazanah ini tidak memiliki kolofon di akhir teks. 3 No. 2011. yang masing-masing kuras terdiri dari delapan lembar. Alas tulisnya adalah kertas Eropa dengan ciri bergaris tebal dan halus dengan bayang-bayang di antaranya.dikatakan berasal dari Aceh Besar karena pengarangnya bernama Teungku Lam Ba‟it berasal dari Aceh Besar. yaitu Hikayat Abdurrahman. Di beberapa halaman awal teks memang ditulis tentang kehidupan penggalakan Sumber-sumber Tertulis Nusantara. Sedangkan halamannya berjumlah 46 halaman dan setiap halaman terdiri dari 21 baris. Jumantara Vol. ternyata naskah ini lebih layak diberi judul Kisah Siti Hazanah. setelah dibaca isinya.

Sama seperti Siti Islam. Teungku tersebut tertarik melihat tingkah laku Siti Hazanah sehingga ia ingin menikahinya. dan melayani suaminya. ia menikah dengan Teungku Ahmad Qusyasyi9 dan hidup dalam rumah tangga yang mawaddah dan rahmah. Pada masa ini. Selain itu. 3 No. Mereka kemudian hidup bersama dalam kekurangan di tempat yang jauh dari jangkauan manusia. yaitu di dalam hutan.1 Tahun 2012 . yang bertemu dan kemudian menikah dengan isterinya. Ia dipelihara oleh malaikat dengan berpakaian dedaunan. (lihat misalnya Sarakata uleebalang Cut Nyak Manfarijah yang berdomisili di Dayah Tanoh. Siti Hazanah sudah hidup sendirian dan hanya berteman dengan binatang di dalam hutan. karena Teungku berkehendak pergi ke Mekkah. Mekkah. Sejak lahir. Siti Hazanah menyetujui menikah dengannya dan hidup bersama dalam waktu yang tidak terlalu lama. Selanjutnya ia menghadapi berbagai macam rintangan dan tantangan selama ditinggalkan suaminya ke tanah suci (Mekkah). yaitu Teungku Ahmad Qusyasyi. Ringkasan Isi Teks naskah ini menceritakan tentang kehidupan Siti Hazanah yang sejak kecil berada dalam kesendirian dan kesepian setelah ditinggal wafat kedua orang tuanya. Dalam kehidupan rumah tangganya. (lihat Fakhriati. Nama tokoh Ahmad Qusyasyi menjadi populer di kalangan masyarakat Aceh sejak diketahui bahwa Tarekat Syattariyah merupakan tarekat yang paling populer di Aceh. 2008). menambah pengetahuan agama. 60 Jumantara Vol.orang tua Siti Hazanah. Setelah tumbuh besar. Siti Hazanah juga menghormati suaminya dengan 9 Ahmad Qusyasyi adalah guru tarekat Syattariyah Abdurrauf al-Fansuri dari Arab. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Ahmad Qusyasyi adalah tokoh yang populer bagi masyarakat Aceh. Nanggroe Aceh Darussalam). Siti Hazanah tumbuh dan berkembang menjadi seorang gadis. ia bertemu dengan seorang laki-laki. Waktu luangnya hanya digunakan untuk bertafakkur. Pidie. Abdurrahman. Siti Hazanah menyerahkan hidupnya untuk beribadah dan untuk suaminya. nama Ahmad Qusyasyi juga didapatkan di dalam naskah-naskah lain seperti Sarakata „surat raja-raja di Aceh‟.

Ia kemudian mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya membela kebenaran dan Jumantara Vol. Siti Hazanah mempertahankan dan memperjuangkan nama baik suami dan kehormatannya semaksimal mungkin. Ketika suami Siti Hazanah pergi ke Mekkah. ia kemudian mendapat pembelaan yang tidak diduga-duga. Tanpa goyah sedikit pun dalam hati. Karena keteguhan dan kesufiannya. Saudara dari pihak suaminya berusaha menggangu kehormatannya.. ia mendapat sambutan hangat dan kasih sayang dari binatang-binatang. Ia harus menderita karena siksaan masyarakat sekitar akibat ulah saudara suaminya. Ketika berjalan menelusuri hutan dalam kesendirian. Disebutkan dalam teks: Teungku Syekh neurah gaki Terjemahan: Setelah Teungku Syekh mencuci kakinya tuan Siti seumah lee reujang tuan Siti langsung menyembah di lututnya Sama seperti Siti Islam. namun suaminya tidak berpesan seperti pesan suami Siti Islam. Siti Hazanah mendapat cobaaan yang cukup berat. 3 No. Siti Hazanah juga ditinggal pergi oleh suaminya. ia hanya mengatakan: Lon keubah gata ubak Allah Terjemahan: Saya titipkan kamu pada Allah saya akan kembali dalam waktu dekat lon jak langkah rijang keunoe Pada masa ditinggalkan suami. Tidak ada celah sedikit pun untuk orang lain bisa masuk untuk mengganggunya.1 Tahun 2012 61 .mencium lutut suaminya ketika ia pulang dari bepergian.

62 Jumantara Vol. Seorang perempuan harus mendahulukan kepentingan suami dari pada kepentingan orang tuanya. Bila tidak berlaku atau bersikap seperti di atas. Tugas seorang perempuan sepenuhnya melayani suami kapan pun dan dimana pun. pesan yang dapat dipetik adalah: 1) Seorang perempuan harus benar-benar tunduk dan patuh kepada suami.menjaga kehormatan suaminya. terdapat beberapa perbedaan pesan yang dapat dipetik. 2) 3) 4) 5) Sementara dalam naskah Siti Hazanah. maka azab akan menimpanya di hari kiamat tanpa henti. dalam kehidupan praktis yang dialami kedua perempuan tersebut. pesan yang dapat diambil adalah: 1) Seorang makhluk Allah. Seorang perempuan harus menjadikan suami sebagai guru dan imam dalam hidupnya. khususnya perempuan. Pesan-Pesan dalam Teks Dalam kedua teks yang terdapat dalam dua naskah di atas terdapat pesan bahwa hendaknya seorang perempuan dalam mengarungi rumah tangga dan menghadapi masyarakat sekeliling harus sesuai dengan ajaran Islam dan tuntunan Nabi. Meskipun demikian. Dalam naskah Hikayat Siti Islam. kecuali pada hari Jum‟at dan bulan Ramadan. namun dia juga diperkenankan untuk menyisihkan waktu untuk kepentingan pribadinya dalam hal beribadah kepada Allah SWT. harus melayani suami dengan baik. Pengarang menekankan akan pentingnya seorang perempuan berperilaku sesuai dengan tuntunan ajaran Islam agar mendapatkan kebahagiaan ukhrawi dan disenangi oleh suami. 3 No. karena syurga berada di bawah telapak kaki suami.1 Tahun 2012 .

Siti Islam benar-benar taat kepada perintah suaminya. Jumantara Vol. Seorang perempuan diharapkan dapat mencapai tujuan hidupnya yang utama. Meskipun demikian. yaitu mencapai tingkat yang paling tinggi dalam kesufian berupa makrifatullah. Siti Islam selalu menjunjung tinggi pesan-pesan suaminya. Demikian juga dengan suaminya. hanya disebabkan belum ada izin suaminya untuk pergi ke rumah orang tuanya. 3 No. Isteri tidak dibenarkan keluar dari pantauan dan pengawasan suami sedikit pun. yaitu seorang isteri harus berada penuh di bawah naungan dan pengawasan suami. lingkungan Siti Islam sangat mendukung kehidupan dan perilaku Siti Islam yang telah dibentuk sebelumnya. Siti Islam mendapatkan seorang suami yang kaya dan berpendidikan agama yang tinggi.2) 3) 4) Seorang perempuan harus bisa berperilaku baik kepada kepada suami dan kepada siapa pun makhluk Allah yang ada di dunia.1 Tahun 2012 63 . meskipun berada dalam lingkungan yang tidak mendukung kepadanya. Perilaku Lingkungan Siti Islam dan Siti Hazanah Lingkungan Siti Islam yang tersebut dalam naskah pertama berbeda dengan lingkungan Siti Hazanah dalam naskah kedua. Seorang perempuan harus mampu menjaga kehormatan dirinya. Ia sangat sayang kepada Siti Islam sebagai isteri yang sangat baik baginya. Siti Islam berada dalam lingkungan yang menganut budaya patrilineal. Siti Islam harus mengalami kesedihan dan kehancuran hati karena tidak dapat bertemu dengan orangtuanya yang sedang sekarat. Ia menghormati dan melayani suaminya sebagaimana diajarkan Nabi. terutama kepada orang tuanya. Ia memberikan peluang kepada Siti Islam untuk menjaga hartanya. meskipun ia harus menahan hatinya untuk tidak menjenguk orang tuanya yang sakit. dan sekaligus berbuat baik kepada orang lain. sehingga ia dapat menerapkan segala bentuk pengajaran dari Nabi yang didapatkannya sebelum menikah.

64 Jumantara Vol. Berbeda dengan lingkungan Siti Islam. Siti Hazanah mendapat kesempatan untuk keluar rumah dan mempertahankan dirinya sebagai perempuan suci di hadapan masyarakat luas. tidak menjadi larangannya. seluruh masyarakat dan rakyat yang ada di wilayah tempat tinggal Siti Islam dan suaminya membantu dan saling bahu. Kondisi masyarakat luas lainnya yang berada di lingkungan Siti Islam juga sangat mendukung kehidupan dan perilaku Siti Islam dan suaminya. kapan dan di mana pun. Di dalam teks disebutkan: Meunyo tawoe saket umi Hana lôn tham saket umi Terjemahan: Bila engkau pulang untuk lihat ibu sakit Tidak saya larang pada sakit umi selama lôn bri wahe Intan geugrak pakri hai buleun trang selamanya saya izinkan pergi saja hai Bulan terang Ibu Siti Islam juga memberi dukungan penuh kepadanya agar selalu setia kepada suami. sehingga mereka pun dapat hidup dalam rumah tangga yang mawaddah dan rahmah. Ia bahkan mampu menyendiri ke hutan untuk mencari ketenangan hidup dan mencapai tujuan kesufian tingkat terakhir. Suaminya memberitahu Siti Islam bahwa untuk berkunjung kepada orang tua. Karena itu. Ketika mereka berdua harus melaksanakan ritual atas meninggalnya orang tua Siti Islam. namun Siti Islam tidak berani keluar rumah.1 Tahun 2012 . karena belum ada izin suaminya. ibunya tidak keberatan bila Siti Islam tidak menjenguknya. Hal ini terjadi karena suami Siti Islam sendiri adalah raja yang berhasil memimpin umatnya. 3 No. dikarenakan belum adanya izin suami.Hal ini dapat dilihat ketika ia mendengar keluhan Siti Islam tentang orang tuanya yang sedang sakit. Pelayanan yang sempurna kepada suami sangat ditekankan oleh orang tuanya.membahu mensukseskan acara tersebut.

terutama suami mereka. Di sisi lain. suami Siti Hazanah sangat sayang kepada isterinya. Tanggapan masyarakat menjadi keliru terhadap Siti Hazanah.1 Tahun 2012 65 . keluarga. Ia dapat menjalankan ibadah dengan baik sampai akhirnya ia mendapatkan derajat paling tinggi dalam kesufiannya. Naskah ini juga menunjukkan bahwa salah satu ciri perempuan Aceh adalah patuh kepada ajaran agama dan tangguh menghadapi segala cobaan dan rintangan. Mereka bahu membahu memberi bantuan dan perlindungan kepada Siti Hazanah. keluarga suaminya tidak menghargai Siti Hazanah sebagai bagian dari keluarganya yang perlu dilindungi dan dijaga kehormatannya. Siti Hazanah akhirnya memutuskan untuk keluar dari kampung tersebut dan pergi menyendiri di hutan serta berpisah dengan suaminya. sehingga Siti Hazanah mendapatkan ketenangan hidup. Di satu sisi.Meskipun demikian. Isi naskah Hikayat Siti Islam diperuntukkan kepada Jumantara Vol. Lifestyle Perempuan Aceh Dan Isi Teks Dua naskah di atas memberikan gambaran dan pengajaran kepada perempuan Aceh dalam menjalani kehidupan rumah tangga. dan masyarakat. Siti Hazanah hidup dalam lingkungan yang kurang menguntungkan bagi dirinya. namun sebagai manusia ia memiliki keterbatasan. Ia memberikan kebutuhan isterinya dalam berbagai sisi. ia pun dengan beraninya menjelekkan dan memfitnah Siti Hazanah di hadapan masyarakat luas. Siti Hazanah menerimanya dengan penuh kesabaran dan ketabahan. 3 No. termasuk kebutuhan untuk beribadah. Lingkungan di hutan yang terdiri dari berbagai macam binatang sangat sayang kepada Siti Hazanah. yaitu makrifatullah. Karena tidak berhasil untuk mengotori kehormatan Siti Hazanah. Adik suaminya berani mengganggu Siti Hazanah yang sedang sendirian karena ditinggal suami untuk pergi haji. Segala fitnah dan penyiksaan dari masyarakat luas ditimpakan kepada Siti Hazanah.

yaitu yang sesuai dengan ajaran Nabi.perempuan Aceh agar mereka dapat membaca dan mengikuti ajaran dan perilaku serta konsep yang wajar menurut Islam. terutama dengan suami diuraikan secara detail.1 Tahun 2012 . Pidie. pengajaran seperti yang terdapat dalam hikayat tersebut dijumpai dalam bahan ajar untuk santri. ketika menjumpai guru pulang dari Mekkah. Tidak hanya itu. Setiap santri dan masyarakat kampung lain mencium lutut gurunya ketika bertemu untuk belajar dan ketika selesai belajar. misalnya guru mereka. Karena itu. hal seperti yang diungkapkan dalam naskah di atas sebagian besar telah diterapkan oleh perempuan Aceh. perempuan harus secara total berada di bawah penguasaan suami. 66 Jumantara Vol. Tradisi tersebut juga diberlakukan kepada orang yang patut dihormati. Dalam kehidupan sehari-hari. dan salah satu cara penghormatan adalah dengan mencium lututnya. misalnya. suami adalah orang yang patut dihormati. seperti hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Tradisi yang masih sangat jelas dilihat di Aceh adalah tradisi mencium lutut ketika suami pulang dan datang dari jauh atau pada hari-hari tertentu. agar dapat dicontoh oleh perempuan Aceh pada umumnya. Demikian juga. terutama pada masyarakat tradisional yang tinggal di desa dan dayah. tradisi ini masih berlaku hingga sekarang. Cara kehidupan sehari-hari yang harus dipraktikkan dalam kehidupan berumah tangga. yang belum terkontaminasi oleh budaya luar. mereka juga membaca kitab-kitab lain. Para perempuan/isteri pada umumnya tunduk dan patuh kepada suaminya tanpa mengharap imbalan apa pun selain rida dari Tuhannya. Di dayah. Di dayah Darussaadah dan Darussalam Teupin Raya. Bacaan-bacaan dari berbagai kitab yang disediakan di dayah menjadi tauladan dan pedoman mereka dalam bergerak dan bertindak di dalam kehidupan sehari-hari. 3 No. Pada intinya. dan hal yang dianjurkan dan tidak dianjurkan agama dalam berumah tangga dan bermasyarakat. serupa dengan seorang guru. seperti kitab fikih terkait dengan hal yang layak dan tidak layak dilakukan.

Putroe Manyang Seuleudong atau ada yang menyebutnya dengan Dewi Ratna Keumala. Gerak dan langkahnya yang tiada mengenal lelah telah mewarnai sejarah Aceh. yang cantik rupawan serta cerdas dan berwibawa telah mendukung karir dan perjuangan suaminya sehingga berhasil mengembangkan sebuah Kerajaan Islam yang berwibawa di wilayah tersebut. Aceh Utara.Di desa-desa yang dekat dengan dayah.html Jumantara Vol. Anak Meurah Jeumpa. (Haslinda. seorang isteri diwajibkan mencium lutut suami pertama sekali adalah ketika berlangsungnya acara pernikahan. Dapat dikatakan bahwa keberhasilan Aceh dalam sejarah sebagiannya adalah karena campur tangan perempuan Aceh.tk/2011/04/putroe-jeumpa-manyang-seuleudongmaha.10 Ketangguhan seorang perempuan dalam berjuang mempertahankan agama dan kehormatan dirinya seperti yang diceritakan dalam naskah kedua juga terlihat dalam jati diri perempuan Aceh. berani. Setelah selesai ijab qabul. tentang seorang perempuan di Bireun yang telah berhasil mendorong suami dan anak-anaknya untuk menjadi raja.atjehcyber. Sebagaimana contoh yang diuraikan dalam sejarah. Pasai. Malahayati. dan tangguh.1 Tahun 2012 67 . agama dan negara mereka telah diabadikan dalam sejarah. maka hal yang pertama sekali dilakukan isteri adalah mencium lutut suami sebagai tanda penghormatan awal kepada suami. Selanjutnya dikatakan kerajaan tersebut menjadi cikal bakal lahirnya Kerajaan Islam lain di wilayah Perlak. Ketangguhan mereka dalam menghadapi dunia yang tidak sejalan dengan kepribadian. Pedir dan Aceh Darussalam11. Lihat http://www. baik dalam memperjuangkan keluarganya maupun agama dan negara. 2008:14). Contoh lain tokoh-tokoh perempuan Aceh yang berani berada di garis depan dalam berjuang melawan penjajah Belanda yang ingin meruntuhkan agama dan negara adalah Cut Nyak Dhien. namun dalam setiap tindakan yang mereka 10 11 Hasil observasi di wilayah Pidie. dan para inong balee lainnya. 3 No. Perempuan dari suku Aceh dikenal dengan sifat dan wataknya yang agamis. Cut Meutia. dan Aceh Besar.

Akan tetapi dalam berjuang. Cut Nyak Dhien melakukan perjuangan terhadap Belanda atas izin suaminya. Meskipun demikian. Kali ini suaminya meninggal di tanah suci. Setelah suaminya meninggal. Akhirnya ia menikah untuk ketiga kalinya. Teungku Fakinah dari Lam Krak. perempuan Aceh mampu berperan sebagai isteri yang sabar menanti suaminya pergi berperang dan dengan setia menjaga anak-anaknya. namun masalah timbul lagi. 3 No. Aduhai do ku do da idi (Aduhai do ku do da idi) Meurah Pati ateuh awan (Burung Merpati di atas awan) Beuridjang rajeuk Banta Saidi (Cepat Besar Anakku Sayang) 68 Jumantara Vol. Ia pergi berdampingan membantu suaminya terjun ke dalam medan perang. (Ismail. Malahayati berjuang melawan penjajah melanjutkan perjuangan suaminya yang telah mendahuluinya di laut. Ia kembali berdiam di dayah dan mengajar mengaji para santrinya. Pada mulanya ia mendukung penuh suaminya untuk berjuang melawan Belanda. Akhirnya ia memutuskan untuk menikah lagi. bergerak melawan penjajah. adalah contoh perempuan Aceh lainnya yang memiliki semangat dan jiwa yang luhur untuk memperjuangkan agama dan negaranya. apalagi untuk berjuang. yaitu tidak adanya suami sebagai muhrim untuk pergi jauh. Aceh Besar (1856 .lakukan telah mendapatkan izin sebelumnya dari suami mereka. tercermin peran mereka. Di dalam rumah tangga. Cut Meutia. 2004:31-44). Kehidupan mereka tetap berada di bawah penguasaan suami. ia bergerak mengumpulkan perempuan-perempuan lain untuk berjuang melawan Belanda.1 Tahun 2012 . pada masa perjuangan melawan Belanda. karena pandangan masyarakat umum menjadi tidak bagus bila ia sendirian tanpa ada laki-laki yang mendampinginya pergi keluar. Dalam lirik lagu yang disenandungkan bagi anak-anak balita. suaminya kemudian meninggal lagi. atas izin suaminya.1933M). ia tidak bisa dengan leluasa berjuang di tengah-tengah masyarakat banyak. Ia lalu berniat ingin melaksanakan ibadah haji. apalagi untuk beribadah.

karena di luar dia harus dijaga oleh suami sebagai muhrimnya. Selanjutnya perempuan adalah makhluk yang dipimpin oleh laki-laki karena adanya ayat yang mengatakan bahwa laki-laki sebagai qawwam. Ajaran Islam telah mengatur hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki sesuai dengan fungsinya masing-masing. meskipun dia berada di luar rumah untuk kepentingan umat dan agamanya. 2004:114-122). Tidak ada pilihan lain. Perempuan berbeda dengan laki-laki dalam hal kekuatan fisik sehingga ia perlu mendapatkan perlindungan dari laki-laki. (Shihab: 2005.html Aceh/12981-Posisi-Perempuan-Dalam-Politik- Jumantara Vol. 2002). setidaknya ada tiga faktor yang membentuk gaya hidup perempuan Aceh seperti tersebut di atas. Terkadang para suami memanfaatkan kesempatan ini dengan 12 Lihat http://www.Djak Prang Sabi Bela Agama (Pergi ke Medan Perang Membela Agama)12 Karena itu dapat dikatakan bahwa setiap aktivitas perempuan Aceh. yaitu pendidikan menyantri di pesantren. 3 No. Kejayaan menguasai negara juga tidak sepenuhnya berada di tangan perempuan. Selain dari itu. Meskipun ayat tersebut diperuntukkan kepada laki-laki yang mencari nafkah. karena didikan orang tua untuk menyantri. Perempuan Aceh sangat taat kepada agama.Gender Melayu-Aceh. Adalah kewajiban orang tua untuk memasukkan anak perempuannya ke pendidikan agama. 338-339). Siapno mengatakan bahwa kebebasan perempuan Aceh tidak sepenuhnya berlaku. Pengaruh pendidikan ini telah membuat perempuan Aceh secara mutlak tunduk dan patuh kepada orang tua sebelum menikah dan kepada suami setelah menikah. tetap berada di bawah pengontrolan suaminya.1 Tahun 2012 69 . pengaruh didikan orang tua yang sejak kecil menanamkan pendidikan Aagama dan cara bergaul Islami. (Muslikhati. Kemudian perempuan mendapatkan tempat lebih banyak di rumah untuk menjadi sebagai ibu dan menjaga keluarga dan harta suaminya. (Siapno. Mereka tetap berada di bawah kekuasaan laki-laki. Pertama.

terbentuk pola pikir perempuan Aceh untuk mempertahankan agama lebih dari segalanya. juga mampu berperan di luar rumah. 1979: 26-27). Melalui dayah juga. Reaksi Sosial Terhadap Perilaku Perempuan Di Aceh Model kehidupan yang dipraktikkan oleh perempuan Aceh.memperlakukan isterinya sekehendak hati. lingkungan yang mendidik mereka untuk berjiwa besar dan tangguh. Perempuan Aceh hidup dalam sejarah perjuangan yang cukup panjang. dan Nabi memerintahkan untuk membunuh kafir yang mengganggu agama dan negaranya. Hal ini tersirat maknanya bahwa seorang isteri tempatnya di rumah. Pada masa perjuangan melawan Belanda. 1969:51) di dalam rumah tangganya. Jepang. idiom untuk perempuan sebagi isteri adalah njang po reumoh (yang memiliki rumah) (Siegel. Perempuan sepertinya tidak kuasa untuk melawannya. dan sebutan umum untuk isteri oleh suaminya menjadi peureumoh. Ketiga. Tempat pengaduannya hanyalah Tuhan yang Maha Esa. seorang santri perempuan berani melakukan perjuangan untuk kepentingan agamanya dengan membunuh kontroler Belanda. 3 No. Dalam kehidupan sehari-hari. mencari 70 Jumantara Vol. Belanda. dan kemudian setelah kemerdekaan konflik telah terjadi berkali-kali di Aceh. isteri. dimanfaatkan oleh lawan jenisnya untuk mengambil berbagai keuntungan. kadang. Selanjutnya. karena kondisi politik dan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sebagian besar tertumpu kepada mereka. Kedua. kemudian. pengaruh pendidikan tradisional yang agamis yang diperoleh dalam menyantri di dayah selama bertahun-tahun. Aceh Utara. mulai dari perjuangan menghadapi Portugis. Akhirnya para isteri hanya bisa pasrah dan kembali kepada Tuhan yang Maha Esa. di Matang Kuli. Dikatakan bahwa pada waktu malam hari. tepatnya pada tahun 1919M. berfungsi melayani suami dan menjadi ibu untuk anak-anaknya sebagai hal yang mutlak. ia bermimpi bertemu dengan Nabi.1 Tahun 2012 . Hal ini tetap berlangsung sampai dewasa ini. (Kern.

(HR alBaihaqi).. Penyalahgunaan kemampuan perempuan pun muncul. terutama suaminya. Tidak jarang perempuan Aceh diperlakukan buruk oleh para lelaki. bahwa kebaikan salah seorang di antara kalian (para perempuan) dalam memperlakukan suaminya.. Pada abad 16-17M. Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Baihaqi. Nabi memberikan jawaban kepada pertanyaan yang diajukan oleh seorang perempuan yang mewakili perempuan lain. dipaksa memeras tenaganya lahir dan batin dalam menanggung beban keluarga. yaitu.nafkah untuk kebutuhan keluarganya. serta tidak luput juga melayani suami yang tinggal menunggu yang sudah jadi dan masak. dan mengikuti keinginannya adalah mengalahkan semua itu. Di dalam teks disebutkan: Oh neupajôh bu jirah jaroe Ketika makan suami dia [Siti Islam] mencuci tangan suaminya Mungkin aktivitas utama perempuan ada di sektor domestik sesuai dengan fitrahnya sebagai perempuan yang berbeda dengan laki-laki. 2004:127-129. mencari keridaan suaminya. Jumantara Vol. Mungkin menjadi wajar bila isteri melayani suami hanya di rumah saja. (Reid. membesarkan anak-anaknya. perempuan Aceh telah menunjukkan kemampuan untuk melakukan dua fungsi tersebut. yaitu bahwa seorang isteri kadang harus menyuapi atau memasukkan makanan ke dalam mulut sang suami.13 Tekait dengan penyalahgunaan kemampuan yang dimiliki 13 Untuk isi hadis secara keseluruhan dan cerita lebih rinci lihat Muslikhati. sebagaimana dipaparkan dalam naskah bahwa Siti Islamdengan segala sukarelanya melayani suaminya hingga dalam bentuk yang sekecil-kecilnya. sampai pada tahap mencuci tangan suami bila ia hendak makan.. Mereka diizinkan para suami mereka untuk keluar rumah mencari nafkah. tidak untuk mencari nafkah di luar. 3 No.. Pergilah kepada perempuan mana saja dan beritahukanlah mereka yang ada di belakangmu.1 Tahun 2012 71 . 2006). Bahkan kadang lebih tragis lagi.

Tradisi seperti di atas. 23 – 24 February 2009. sementara Pak Pande sendiri bermalasmalasan menunggu dari hasil yang dibawa oleh isterinya untuk kebutuhan rumah tangganya. 72 Jumantara Vol. 2002:91-101). yang masih tersisa dari satu generasi ke generasi selanjutnya. di desa-desa masih ditemukan lelaki beristeri yang duduk berjam-jam di kedai kopi menghabiskan waktu untuk menunggu si isteri pulang kerja dan selesai memasak. yaitu masa sebelum datang Islam. 3 No. ibarat dagangan yang 14 Pengaruh kental dari budaya Hindu di Aceh masih dapat dilihat dalam cara pelaksaaan ritual peusijuek (tepung tawar). Bila mereka pergi ke sawah. „Peusijuek. seorang isteri dikatakan baik bila ia dapat menunjukkan keberhasilan mengurus suami. Cerita lisan juga didapatkan dari rakyat Aceh tentang kisah kehidupan keluarga Pak Pande. Perempuan yang baru menikah sering kali disendaguraukan oleh keluarga pihak suami bahwa dia harus tunduk dan patuh dan melayani suami serta keluarga karena sudah dibeli. Lihat karya Saifuddin Dzuhri. keluarga dan saudara pihak suami dalam menyiapkan segala kebutuhan rumah tangga dan dapat mencari nafkah di luar15. Kemungkinan besar hal ini didasarkan kepada tradisi pernikahan yang berlaku di Batak. akan tetapi di wilayah lain juga. Isteri Pak Pande adalah orang yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarganya. (Siapno. seperti Batak. Banda Aceh.1 Tahun 2012 . Indonesia. Di Batak. Budaya Aceh sangat mungkin masih diwarnai sisa pengaruh budaya Hindu14 meskipun sebenarnya ajaran Islam lebih mendominasi. meskipun sudah dimodifikasikan dengan ajaran Islam. akan tetapi juga pengaruh budaya masa lampau. Eksploitasi terhadap perempuan mungkin tidak hanya ditinjau dari sisi keinginan dan kemauan para laki-laki saja. Sebuah Tradisi Ritual Sosial Masyarakat Pasee dalam Perpektif Tradisionalis dan Reformis‟ artikel dipresentasikan pada International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. tidak hanya berlaku pada perempuan Aceh. 15 Hasil observasi dan wawancara dengan perempuan-perempuan asal Batak. maka para perempuan bertugas menanam padi sementara suami duduk di atas rangkang menonton isteri bekerja.perempuan. dewasa ini.

sementara perempuan yang tinggal di perkotaan. yang menandakan bahwa perempuan tersebut sudah sah menjadi isteri suaminya. Kehidupan mereka diwarnai sifat patrilineal. isteri hanya melahirkan saja. Boli dan tuhor ini. (Parsadaan Marga Harahap. maka ayahnya dapat menceraikan anaknya. Kata beli dalam bahasa Batak disebut dengan boli atau disebut juga dengan tuhor.1 Tahun 2012 73 . 3 No. 2006:251-253). gaya hidupnya sudah dipengaruhi oleh gaya hidup „modern‟ yang datang dari berbagai budaya di dunia. keluarga. 1993: 270-271). Seperti dalam hal mencari jodoh anaknya si ibu tidak punya hak sama sekali untuk menjodohkan anaknya. Tradisi seperti ini memiliki kemiripan dengan tradisi yang berlaku pada masa Majapahit. Anak adalah milik suami. Karena itu. (Muljana. dapat dikatakan bahwa bias gender masih sangat kentara untuk suku Aceh. terutama mereka yang tinggal di pedesaan terpencil dan jauh dari pengaruh budaya luar. Hal ini terjadi karena pengaruh sistem budaya lokal dan kemudian dipadukan dengan budaya dan ajaran Islam. baik dalam sejarah maupun dalam kehidupan sekarang ini pada masyarakat pedesaan. yaitu mereka berada pada posisi di bawah kekuasaan laki-laki. si isteri hanya berfungsi sebagai pelayan semata untuk suami. Korelasi positif ditemukan dalam sikap dan tingkah laku serta gaya hidup perempuan.sudah dibeli. dan bila juga terjadi. Dia tidak memiliki hak sama sekali untuk mengatur dan membuat keputusan dalam rumah tangga. Penutup Kisah perempuan dalam dua manuskrip Aceh yang menjadi fokus dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai refleksi gaya hidup perempuan pada umumnya di Aceh. Dalam rumah tangga. dan anaknya. kemudian setelah datang Islam. meskipun tidak separah pada suku Batak dan Bali yang Jumantara Vol. Setelah diberikan tukon (mahar) perempuan dianggap seperti barang yang sudah laku dan dia seratus persen berada di bawah kekuasaan suami dan keluarganya. berubah maknanya menjadi mahar yang diserahkan kepada pihak calon isteri.

. “PriaPerempuan sebagai Korespondensi Kosmis: Perempuan dalam Literatur Tasawuf”. (1935). dalam Warisan Sufi. Jogjakarta: Pustaka Sufi. karena diketahui bahwa Aceh adalah salah satu gudang manuskrip Nusantara. (2003). Makalah International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. R. Saifuddin (2009). “Teungku Fakinah: Profil Ulama dan Pejuang Perempuan Aceh”. Selain dua manuskrip di atas. Ismail. France in the XVII and XVIII Centuries and their Interconnection.A. Kautsar dan Oman Fathurrahman (2002).1 Tahun 2012 . “Peusijuek. Azhari Noer. Sebuah Tradisi Ritual Sosial Masyarakat Pasee dalam Perpektif Tradisionalis dan Reformis”. “Feminin Sofianik (Perempuan Bijak) dalam Karya Ibn Arabi dan Rumi”. Watermarks in Paper in Holland. dalam Mutiara Terpendam: Perempuan dalam Literatur Islam Klasik. diedit oleh Ali Munhanif. J. Jakarta: Balitbang dan Diklat Departemen Agama RI. Daftar Pustaka Austin. Banda Aceh. diedit oleh Seyyed Hossein Nasr dkk. England. Dhuhri. Churchill. Karena itu. 23 – 24 February 2009. Amsterdam: Enno Hertzberger & Co. Nurjannah (2004). 3 No. penelitian untuk kajian perempuan masih harus terus dilakukan untuk mengungkapkan budaya-budaya pada masa lampau yang menjadi bagian hidup perempuan. Fakhriati (2008). W.masih memperlakukan perempuan sebagai manusia kedua setelah laki-laki dan membebani mereka dengan pekerjaan di dalam dan di luar rumah tangga. diterjemahkan oleh Ade Alimah dkk. Jakarta: Gramedia. Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh melalui Naskah. masih banyak manuskrip Aceh lainnya yang menceritakan tentang hal yang berkaitan dengan perempuan di Aceh. Indonesia. dalam Ensiklopedi Pemikiran 74 Jumantara Vol. W.

Syahrul. Gender. Jakarta: Fikihati Aneska. 22. Muslikhati. Bandung: Grafiti. Siegel. Co-optation and Resitance. Heawood. Anthony (1988). London: Routledge-Curzon. Shihab. 629-645. Nasaruddin (2000). Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Jakarta: Fikahati Aneska. Siti (2004). Amsterdam: The Paper Publications Society. Jumantara Vol. Special Issue: Asian Studies in Honour of Professor Charles Boxer. By Aboe Bakar. Quraish (2005). Yogyakarta: LKiS. Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan dalam Timbangan Islam. Jakarta: Gema Insani.) (2006). Paradigma baru Teologi Perempuan. Jakarta: Lentera Hati. A. M. Reid. Jacqueline Aquino (2002). The Rope of God. Nationalism and the State in Aceh: The Paradox of Power. R. Kern.Ulama Aceh. “Female Roles in Pre-Colonial Southeast Asia”. Perempuan Aceh dalam litas sejarah Abad VIII – XXI. 3 No. Tafsir Sejarah Nagarakretagama.n]: Pelita Hidup Insani. [s. Trans. Siapno. hlm. Anthony (eds. Singapore: Singapore University Press. Haslinda (2008). Berkeley: University of California Press. Perempuan. IAIN Ar-Raniry Press.(2000). Islam. Reid. No. Umar. Hasil Penyelidikan tentang Sebab Musabab terjadinya Pembunuhan. Verandah of Violence: the Background to the Aceh Problem.3.1 Tahun 2012 75 . James T (1969). Slamet (2006). ---------------------. (1979). Watermark: Malay of the 17th and 18th centuries. Parsadaan Marga Harahap Dohot Anak Boruna (1993). Muljana. Kodrat Perempuan dalam Islam. Edward (1986). Horja Adat Dalihan Natolu. Modern Asian Studies Vol.

tk/2011/04/putroe-jeumpa-manyangseuleudong-maha. 76 Jumantara Vol.html.1 Tahun 2012 . 3 No.Gender Aceh/12981-Posisi-Perempuan-DalamPolitik-Melayu-Aceh.Situs Web: http://www.html.atjehcyber. http://www.

Jumantara Vol. judul. Kata Kunci: Naskah Sunda Kuna. Sebagai titik pijak saya menggunakan penelusuran Munawwar Holil dan Aditia Gunawan (2010) atas NSK koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. *) Peneliti di Pusat Studi Sunda (PSS). tempat. Bisa dihubungi melalui surat elektronik. mencakup identitas penulis atau penyalin. tempat. dkk (1987:72) sebagai “ditulis di jalan”.Abstrak Tulisan ini bermaksud memetakan hal-hal yang berkaitan dengan kolofon Naskah Sunda Kuna (NSK).1 Tahun 2012 77 . 16 Kata-kata ini bisa ditemukan pada baris-baris akhir Kropak 408 (Sewaka Darma). atepkurnia@yahoo. dan waktu penulisan naskah. dan waktu penulisan NSK. nama penulis-penyalin. yang diterjemahkan oleh Saleh Danasmita. pertama-tama saya menyajikan tabel yang berisi kode. tempat. serta tempat dan waktu penulisan NSK. dengan pertimbangan bahwa di Perpustakaan Nasional tersimpan NSK dalam jumlah terbesar. 3 No. saya melakukan analisis atas penulis-penyalin. dan waktu penulisan. Kedua. Untuk menganalisis identitas penulis-penyalin.com. dan Sanggar Sastra Kampus (Sasaka) UIN Sunan Gunung Jati. Kolofon. Bergiat di Rumah Baca Buku Sunda. di samping yang disimpan oleh masyarakat.

Kedua. Selain itu. tempat. bahan-bahan bacaan mengenai perikehidupan kegiatan literasi di Jawa Tengah dan Timur. Selasa Manis 78 Jumantara Vol. transliterasi. dan terjemahan NSK yang selama ini telah dikerjakan para filolog dan peneliti NSK. Dari lampiran tersebut dapat diketahui ada beberapa puluh NSK yang mengandung kolofon di akhir teksnya. tempat. Di samping menerakan jumlah NSK. tempat. kedua penulis itu juga melampirkan pemerian NSK yang ada di Perpusnas RI. serta tempat dan waktu penulisan NSK. Tabel Kolofon Naskah Sunda Kuna Koleksi Perpustakaan Nasional RI No 1 Kode 1**Peti 85 Judul Sanghyang Siksa Kandang Karesian 2 408 Peti Kawih Buyut Ni Pertapaan Ni Teja Puru Penulis Tempat Nusakrata? Waktu Bulan ke10. Saya juga menggunakan berbagai sumber bacaan untuk menambah luas pemahaman. juga digunakan sebagai perbandingan untuk membaca identitas penulis-penyalin. Bali. yang pada gilirannya ditambahkan pada tabel yang telah dibuat. nama penulis-penyalin. sejauh yang saya baca. Oleh karena itu. judul. dan waktu penulisan NSK sebagaimana yang saya baca pada tulisan Munawwar Holil dan Aditia Gunawan serta bahan-bahan dari bacaan lainnya. transkripsi. untuk keperluan tulisan ini penelusuran keduanya sangat membantu. pertama-tama saya menyajikan tabel yang berisi kode. Untuk menganalisis identitas penulis-penyalin. dan waktu penulisan NSK. termasuk di dalamnya. karena kedua penulis itu juga menyeertakan manggala atau awal teks NSK dan kalimatkalimat yang ada di akhir teksnya. dan India. 3 No. Perpustakaan Nasional mengoleksi 63 Naskah Sunda Kuna (NSK). dan waktu penulisan. saya melakukan analisis atas penulispenyalin.1 Tahun 2012 .Pendahuluan Menurut hasil rekatalogisasi Holil dan Gunawan (2010).

Cisanti Bulan ke-8 14 626 Peti Sanghyang Buyut Gn. Gn. Kuta Wawatan.Cikuray.1 Tahun 2012 79 . Larang Sri Manganti 6 420 Peti 15 Kawih Paningkes Kai Raga Sutanangtung 7 423 Peti 15 Carita Purnawijaya Kai Raga Gn. Larang Sri Manganti Gn. bulan ke-8 Jumantara Vol. Gn. Larang Sri Manganti Gn. Larang Sela 8 424 Peti 15 Kawih Panyaraman 9 610 Peti 15 Pitutur ning Jalma cucu Sang Sida. Cikuray 10 621 Peti 15 Sanghyang Sasana Maha Guru Desa Mahapawitra. buyut Téjanagara Gn. 3 No. Larang Sri Manganti 4 411 Peti 15 Ratu Pakuan 5 416 Peti 15 Carita Purnawijaya Kai Raga Gn. Cikuray bulan ke-1 13 625 Peti 88 Sri Ajnyana Mandala Betung Pamaringinan. Kumbang 3 410 Peti 15 Carita Ratu Pakuan Gn.16 Panyaraman Dawit Bacana. Jedang bulan ke-4 11 622 Peti 88 Warugan Lemah Rabu Manis 12 623 Peti 16 Bimaswarga/Bi maleupas Euncu nu Ngahérang Gn.

Giri Wangsa 1445 Ś (± 1523 M) 20 636 Peti 16 Sanghyang Hayu Sang Bujangga Resi Laksa Giri Sunya 21 637 Peti 16 Sanghyang Hayu Désa Mahapawita. Gn. bulan ke-7. 3 No. 80 Jumantara Vol. 1357 Ś (± 1435 M). Talagacandana .69 Swawar Cinta Téjanagara Hulukumbang Batuwangi 15 628 Peti 16 Siksa Guru Lurah Kamulan? 16 630 Peti 16 Sanghyang Siksa Kandang Karesian bulan ke3. Tajak Barat. selesai hari pon bulan ke-9. Cupu dimulai Selasa Kliwon.1 Tahun 2012 . 1440 Saka (1518 M) 17 632b Peti 16 Kaluputan Sanghyang Darma Hulu Kumbang Batu Wangi Desa Sunya bulan ke10 18 633 Peti 16 Siksa Guru 19 634 Peti 16 Sanghyang Hayu Désa Mahapwité. Tajak Barat 22 638 Peti 16 Sanghyang Hayu Argasela.

Ada penulis perempuan dan ada juga laki-laki. Ketujuh nama di atas. yang diterjemahkan oleh Undang A. kita berkenalan dengan tujuh nama penulispenyalin NSK. 24 642 Peti 88 Siksa Guru Desa Mahapawitra Tahun Saka hlaŕ twa ya wu? 25 1095 Peti 69 Langgeng Jati Gn. Bulan Muharam “Beunang Diajar Nulis17” Dari tabel di atas. Mandala Puntang 26 1097 Peti 69 Carita Jati Mula Sagara Wisésa 27 KBG 75 Wirid Kai Raga Jum’at Kliwon. Sang Bujangga Resi Laksa.23 641 Peti 16 Arjunawiwāha sang Guguron? Sanghyang Mandala Katyagan di Gugur 1256 Ś (1334 M). Hulu Alas Sunya. Euncu nu Ngaherang.1 Tahun 2012 81 . dengan jelas menunjukkan jenis kelamin berbeda. Jumantara Vol. dan Sang Guguron. Buyut Tejanagara. Darsa (2007:217) sebagai “hasil belajar menulis”. Jati Sunya. Kai Raga. yakni Buyut Ni Dawit. sementara penulis 17 Kata-kata ini muncul pada baris-bari menjelang akhir NSK Kropak 410 (Carita Ratu Pakuan). Cucu Sang Sida/Buyut Tejanagara. 3 No. Penulis perempuan diwakili Buyut Ni Dawit.

Buyut Téjanagara. Euncu nu Ngahérang. Hingga terus-terang menganggap kakak. Menurut Saleh Danasasmita. ada baiknya dilihat sumber lain yang terkait dengan hal tersebut. Di samping itu. digambarkan Bujangga Manik “digoda” oleh rahib perempuan. Saleh Danasasmita. na rua mamarayaeun. 18 Datang seorang pertapa perempuan.laki-laki diwakili Kai Raga dan Sang Bujangga Resi Laksa. dapat kita jadikan salah satu rujukan. 3 No. sebab ia bertapa di Gunung Kumbang di pertapaan Ni Teja Puru Bancana. Pada halaman 39 iapun asyik mengisahkan sebuah gisa (lesung) dengan istilah-istilah yang khas untuk wanita seperti “dyangiran”. “dikasayan”. Pada baris ke-850 hingga 868 naskah itu. carékna: „Kaka lanceuking. rupanya ingin menjalin persaudaraan. dan “dipesekkan”. Mengenai Buyut Ni Dawit. NSK Bujangga Manik. Sedangkan Cucu Sang Sida/buyut Téjanagara. spk. bukan gelar kehormatan untuk pertapa ulung. misalnya. ada keterangan menarik mengapa ia diasumsikan sebagai perempuan. Buyut Ni Dawit adalah seorang wanita. iapun paham benar kelengkapan pakaian bidadari yang tentu dikhayalkannya dari pakaian wanita bangsawan dalam zamannya. Inilah gambarannya: 850 Datang tiagi (wa)don. (1987: 1) 82 Jumantara Vol. katanya: „Kakandaku. dkk18. Téka béka mulung lanceuk. tentu penyusunnya adalah cicit Ni Dawit tanpa diketahui siapa namanya.1 Tahun 2012 . Untuk memperluas bahasan mengenai keterlibatan perempuan dalam kegiatan baca-tulis dalam NSK. dan Sang Guguron belum dapat dipastikan jenis kelaminnya. Ada petunjuk bahwa pengarangnya wanita. Selengkapnya Danasasmita menyatakan: Bila kata “buyut” berarti cicit.

” Di samping Bujangga Manik. Ketika membahas para penulis atau penyalin naskah (scribes).‟ sayang sekali akan ketampananmu. kitu lanang deungeun wadon”.I. „Biarlah kupertimbangkan dahulu.‟ begitulah antara laki-laki dengan perempuan19. Literary sources show this as early as the sixteenth century. kemarilah.‟ 860 Carékna Bujan(ga) Manik: Bujangga Manik berkata: „Ku ngaing dirarasakeun. “Bagaikan kobaran api.R. aku ini rahib perempuan. /16r/ repot karena penampilan badan. Carék di na apus téa: Menurut kitab itu: 865 “Kadiangganing ring geni. 855 haup aing ebon-ebon. aing na pitiagieun. héman ku na karuaan. 3 (1993: 438-473) Jumantara Vol. Yang berjudul Siksaguru. H. Yang mulia Bujangga Manik. References to males and females being able to read and write are to be found in literary texts as well as in the colophons of manuscripts. sudah pasti terjadi kebakaran. mu(ng)ku burung éta seungeut. Ngaran(n)a na Siksaguru. Hinzler. 19 20 J. but data in texts from the nineteenth century are the most abundant. Tiga Pesona Sunda Kuna (2009: 298-299). Hinzler (1993: 464) menyatakan: There was no caste or sex restriction on learning to write. Noorduyn & A. tulisan H. rusuh ku na panga/wakan. „Balinese Palm-Leaf Manuscripts‟ dalam BKI 149 No. lamun padeukeut deung eu(n)juk. Teeuw.1 Tahun 2012 83 . jika berdekatan dengan ijuk. aku calon biarawati. manan hésé ku mamanéh. Hinzler perihal naskah-naskah lontar di Bali20 bisa juga dijadikan rujukan.Rakaki Bujangga Manik. Bawaing apus sata(m)bi. daripada sulit-sulit memikirkan diri sendiri. Kubawa kitab selengkapnya. 3 No.

Hal tersebut mengindikasikan. Hal ini dapat dibuktikan dari beberapa naskah yang ditulisnya.1 Tahun 2012 . yang menarik adalah Kai Raga. Bila diterapkan pada tradisi menulis NSK.Dari uraian Hinzler. Tengah. maka hal tersebut pun agaknya tidak akan jauh berbeda. yang isinya hampir sama dengan NSK L 420. Bisa jadi nama itu adalah nama gelaran. berbahasa Sunda kuna. sekiranya tradisi menulis dan membaca naskah masih hidup di wilayah yang bersangkutan. bahwa Kai Raga melintasi zaman yang sangat panjang. terutama setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit. Dari keempat naskah yang diakhiri dengan keterangan Kai Raga. beraksara dan berbahasa Sunda Kuna dan berisi dialog yang bersifat moral-religius antara pendeta dengan Pwah Batari Sri sebagai penguasa alam kahyangan. Nama penulispenyalin ini agaknya bukan nama sebenarnya. ditulis Kai Raga pada hari Jum‟at Kliwon. yakni NSK “Wirid” (KBG 75). naskah kertas daluang. di atas daun lontar. diterangkan pula tentang persiapan dan pelaksanaan kegiatan peribadatan. bulan Muharram. Di dalamnya. Demikian pula dengan NSK L 423 yang juga ditulis oleh Kai Raga. Kalau dikaitkan dengan nama satu orang pasti mengandaikan orang yang berumur sangat panjang. tradisi menulis manuskrip di Bali sangat terpengaruh budaya literasi India dan Jawa Timur. Selanjutnya. di penghujung abad ke-15. bersampul kertas marmer berwarna merah dan berjumlah 12 halaman itu berisi perihal asal-usul terciptanya alam dan manusia. tidak ada pembatasan yang jelas [dalam hal kasta dan jenis kelamin] penulis dan pembaca naskah ketika tradisi itu hidup di Bali. Menurut Holil dan Gunawan (2010: 146). Karya yang ditulis Kai Raga tersebut bisa jadi sangat kontras dengan naskah lain yang tertulis atas namanya. 3 No. 84 Jumantara Vol. dan Jawa Barat. misalnya NSK Kropak 420 yang ditulis di atas lontar. Sebagaimana kita ketahui. beraksara Sunda Kuna dan Cacarakan. terselip naskah yang berisi unsur keislaman. dan agaknya hal itu dapat diparalelkan dengan kehidupan para pembaca dan penulis yang hidup di Jawa Timur.

penelusuran Pleyte mengenai Kai Raga dan tulisan Hinzler dapat digunakan untuk membaca perihal tidak dipentingkannya nama pribadi bagi para penulis-penyalin naskah yang masih berada di bawah bayang-bayang budaya literasi Hindu-Budha. van Taxis menerangkan bahwa Cikuray memang mulanya biasa disebut Sri Manganti. sejak tahun 1856. melainkan kepada nama gelaran. Van Taxis juga menyatakan bahwa orang tidak ingat lagi mengenai keberadaan pertapa di tempat tersebut. Uraian Kai Raga dapat pula dibandingkan dengan Kiai Windusana yang memelihara dan menuliskan kembali sejumlah 21 Lihat „Poernawidjaja‟s Hellevaart of de Volledige Verlossing‟ dalam TBG No. 3 No. Saat itu. Oleh karena itu. Kai Raga yang menyerahkan beberapa NSK kepada Raden Saleh yang pada tahun 1865 ditugaskan untuk berkeliling Priangan untuk mengumpulkan peninggalan purbakala. yang pertapaannya terletak di Gunung Cikuray. Menindaklanjuti perjalanan itu. Mengenai ihwal cucu Kai Raga. yang didasarkan pada nama sebuah kampung yang terletak di lereng sebelah barat gunung tersebut. Selain itu. Jumantara Vol. termasuk NSK. Kai Raga yang dianggap menyerahkan naskah kepada Raden Saleh adalah cucu Kai Raga yang menjadi pemuka kelompok keagamaan. Pleyte berkunjung ke Cikuray. Pleyte meyakini orang tersebut dipastikan telah meninggal dan tidak meninggalkan keturunan. saya yakin Kai Raga tidak merujuk pada nama seseorang.1 Tahun 2012 85 . Dalam jawabannya. 56 (1914: 365-441) dan Ratu Pakuan: Tjeritera Sunda-Kuno dari Lereng Gunung Tjikura (1970) garapan Atja.F. C. pada mulanya nama Cikuray adalah Sri Manganti. Garut. namun kampung tersebut tidak dikenal lagi karena telah ditinggalkan penduduknya. Pada mulanya Kampung Sri Manganti termasuk dalam wilayah Desa Cigedug. Pleyte menelusuri identitas Kai Raga21.M. menurut cerita rakyat di sana. Huls van Taxis. C. tidak ada lagi keterangan yang lebih lanjut.hingga beratus tahun. Menurut penemuannya. ia mendapat keterangan dari lurah Desa Ciburuy bahwa.K. Pleyte mengirim surat kepada Asisten Residen Garut. pada 1904. Mengenai hal ini.

The rulers of the kingdom employed scribes (manghuri. 86 Jumantara Vol. 3 No. Windusana hidup di sekitar abad ke-18. Bila pernyataan tersebut kita tarik kepada kegiatan literasi NSK..naskah Jawa Kuna. melainkan perempuan pun ikut terlibat di dalamnya. Tidak terbatas hanya pada laki-laki semata. usually man. Selain menyatakan para penulis naskah itu bisa laki-laki maupun perempuan. Pertama. Namun saat Bataviaasch Genootschap mengambil naskah-naskahnya pada tahun 1852. Jawa Pertengahan. Menurut kedua filolog itu. Mereka kebanyakaan berasal dari kalangan agamawan dan ada juga yang berasal dari kalangan istana. . Kuntara Wiryamartana dan Willem van der Molen22. Wiryamartana yang dimuat dalam BKI 157 No. 22 „The Merapi-Merbabu Manuscripts: A Neglected Collection‟ karya W. bahkan menolak dunia luar sebagaimana yang dapat kita temukan sosoknya pada diri Bujangga Manik. Hinzler menyatakan dua hal lain yang berkaitan dengan para penulis-penyalin naskah. 23 Hinzler (1993: 465). This is apparent from the colophons of eighteenth and nineteenthcentury manuscripts. di Bali: A Scribe. baik karena mereka menjadi anggota kelompok agamawan maupun karena termasuk kalangan istana. Ia dikenal sebagai pendeta tinggi dalam agama Budha dan dilaporkan memiliki ribuan naskah yang aneh. Van der Molen dan I. maka sebenarnya mengindikasikan bahwa para penulisnya cenderung menyembunyikan nama mereka sebenarnya karena mereka justru sedang menyembunyikan diri dari dunia luar atau cenderung mengasingkan diri. jumlahnya hanya berkisar empat ratusan naskah. berkaitan dengan kriteria dan profesi penulis-penyalin naskah.1 Tahun 2012 . 1 (2001: 52). but also of low-caste families23.. Menurut Hinzler. dan Jawa Modern di lereng Gunung Merbabu sebagaimana yang ditelusuri I. panyarikan. was a person of distinction. panulisan) not only of highcaste families.

Jumantara Vol. seperti bukit dan puncak gunung (hulu). Dari tabel itu nampak bahwa gunung dan sekitarnya. namun ternyata ada dua naskah yang merujuk ke daerah dekat atau di sekitar laut. 3 No. Gunung Jedang (Sanghyang Sasana Maha Guru. Carita Purnawijaya). Sanghyang Hayu. seperti Naskah Kropak 1 Peti 85 Sanghyang Siksa Kandang Karesian ternyata ditulis di Nusakrata? Dan Carita Jati Mula ditulis di Sagara Wisésa. menjadi pilihan para penulis-penyalin NSK untuk menulis. Namun tetap saja dengan banyaknya nama yang berkaitan dengan gunung mengindikasikan sentralnya tempat tersebut sebagai tempat penulisan NSK. maka kita mendapatkan delapan naskah yang dalam kolofonnya diterangkan ditulis di Gunung Cikuray. dan Gunung Cupu (Sanghyang Hayu). Gunung Larang Sela (Kawih Panyaraman). Siksa Guru). dapat diketemukan keterangan bahwa Larang Sri Manganti adalah nama lama Gunung Cikuray. kalau dihitung. Carita Purnawijaya. Ratu Pakuan. gunung memang dijadikan 24 Kata ini berasal dari nama yang dijadikan tempat penulisan NSK Kropak 636 (Sanghyang Hayu).. sebagaimana yang termaktub pada pembahasan mengenai penulis. Dari tabel itu kita juga mendapatkan nama Gunung Kumbang (Kawih Panyaraman). Menurut Agus Aris Munandar25.Giri Sunya24 Dari tabel di atas kita juga dapat berbicara mengenai tempat NSK ditulis. Sanghyang Hayu. Sebagai catatan. sebagaimana yang terlihat dari deskripsi Gunawan & Holil (2010). Sanghyang Swawar Cinta. Kaluputan Sanghyang Darma). dalam bagian berikut disajikan ulasan mengenai peran gunung dalam peri kehidupan orang Sunda atau Jawa Barat. Oleh karena itu. Gunung Cikuray (Pitutur ning Jalma. Gunung Larang Sri Manganti (Carita Ratu Pakuan.1 Tahun 2012 87 . Giri Sunya (Sanghyang Hayu). Dengan demikian. Bimaswarga/Bimaleupas. Meski banyak yang berlatar gunung. Kata nusa dan sagara dengan jelas mengindikasikan daerah yang paling tidak berdekatan dengan lautan.

88 Jumantara Vol. gunung juga begitu sentral perannya. terutama dari masa bercocok tanam dan perundagian. Batu Lulumpang di Garut. Sementara alam semestanya berbentuk pipih melingkar seperti cakram. Di kedelapan arah mata anginnya dijaga dewa Astadikpalaka sebagai pelindung alam semesta. 2224 Agustus 2001. menunjukkan bahwa masyarakat prasejarah di Jawa bagian barat percaya bahwa leluhur bersemayam di puncak-puncak gunung. 25 “Kegiatan Keagamaan dalam Masyarakat Kerajaan Sunda: Data Prasasti dan Karya Sastra” (1991) yang disajikan pada Seminar Nasional Sastra dan Sejarah Pakuan Pajajaran. Gunung tersebut dikelilingi tujuh lautan dan tujuh pegunungan berselang-seling. Adapun tempatnya yang berada di daerah ketinggian. dan dataran tinggi lainnya.1 Tahun 2012 . bukit. Saat memasuki periode pengaruh Hindu-Budha (kurang lebih abad ke-9 hingga abad ke-16). yang dikepalai Dewa Indra. misalnya. dan kemudian dimuat dalam Prosiding KIBS 1 Jilid 1 (2006). di Jawa Barat banyak peninggalan megalitik yang terdapat di wilayah yang bergunung-gunung. Bedanya. Pangguyangan. dan “Sebaran Situs Arkeologi di Jawa Barat: Tinjauan Terhadap Dasar Konsepsi Keagamaan” (2001) yang disajikan pada Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) I. Gunung Mahameru yang mempunyai empat puncak lain yang lebih rendah dan terletak di tengah benua yang bernama Jambhudwipa dipercaya sebagai pusat alam semesta. Di puncaknya terdapat tempat tinggal para dewa. 11-13 Nopember 1991. Karena dalam keyakinan kosmologis Hindu-Budha. Di Gunung Meru terdapat alam berlapis-lapis. Cipari. Tradisi megalitik ini berkaitan dengan konsep kultus leluhur. yakni ketika masyarakatnya berada di masa prasejarah. Cireme. yakni pemujaan pada arwah nenek moyang. Situs-situsnya. situs Gunung Padang di Cianjur. Dari masa prasejarah. melainkan telah ada sebelumnya. Bogor. Lebak Sibedug. seperti gunung. Demikian pula yang terjadi pada keyakinan kosmologis Budha. Bandung. Keyakinan ini tidak saja hidup ketika ke daerah ini hadir pengaruh agama Hindu-Budha. dan sebagainya. Banten Selatan. Arca Domas di pusat Kanekes.sebagai tempat keramat bagi kalangan masyarakat yang ada di Jawa Barat. Salak Datar. 3 No.

dan Menir. Dalam hal ini. Rakeyan Darmasiksa dalam NSK Kropak 632 (Amanat Galunggung) menegaskan pentingnya memelihara kabuyutan atau tempat yang dikeramatkan karena menjadi pusat pengamalan serta penyebaran ilmu keagamaan. kemungkinan direbutnya kemuliaan (kewibawaan kekuasaan) dan pegangan kesaktian (kejayaan) oleh Sunda. Prabu Jayadewata. yang dijadikan tempat penyebaran ilmu keagamaan khususnya dapat terlihat dari sepak terjang Rakeyan Darmasiksa. Medang. Baluk. dan kemudian diterapkan pemeluk agama HinduBudha yang ada di sana ke dalam lingkungan mereka. yang di tengahnya. Demikian pula Sri Baduga Maharaja yang membangun gugunungan. berkaitan dengan keinginan Prabu Raja Wastu untuk menyelaraskan purinya dengan gambaran alam semesta menurut ajaran Hindu-Budha.1 Tahun 2012 89 . Benua yang terletak di sebelah selatan Gunung Meru dinamakan Jambudwipa.di luar lingkaran tujuh pegunungan itu terdapat lagi samudera. terutama Kabuyutan Galunggung. Ia menyatakan [Terjemahan dari pernyataannya?]: “Waspadalah. para pedagang (orang Jumantara Vol. dan barat dihuni oleh mahluk ajaib. bagaimana penguasa melindungi situs yang ada di gunung dan sekitarnya. misalnya. Lampung. pada keempat arah mata angin utama. utara. tempat hidup manusia dan hewan. dan tentu saja ke Tatar Jawa Barat. dan penyebaran ilmu oleh kalangan agama Hindu dan Budha. terutama baris ke-5 sampai ke-7. sementara ketiga benua yang ada di timur. atau dalam NSK Sewaka Darma terdapat uraian bahwa para dewata Hindu mempunyai istana yang indah di Gunung Kendan. seperti yang termaktub dalam Prasasti Batutulis. terdapat empat benua. Jawa. Munandar. 3 No. Dalam beberapa hal. Oleh karena kekeramatan itulah. menafsirkan Prasasti Kawali I. pengamalan keagamaan. Keyakinan ini terbawa ke Pulau Jawa. yang disokong serta dilindungi kekuasaan kerajaan yang ada di Tatar Jawa Barat. dan Prebu Niskala Wastukancana. gunung dan tempat-tempat di sekitarnya dijadikan tempat tinggal.

Ti naha bagina? Ti sang wiku nu ngawakan jati Sunda. sekaligus juga di kalangan istana28. maka orang yang menguasainya akan beroleh manfaat dari sana. Rakeyan Darmasiksa. ia mendorong berlangsungnya tradisi baca-tulis atau literasi di kalangan agamawan. 26 27 Saleh Danasasmita dkk.asing) yang akan merebut Kabuyutan di Galunggung26” Hal itu karena dengan dikuasainya Kabuyutan Galunggung. dengan kompleks pendidikannya yang disebut kabuyutan. mikukuh Sanghyang 90 Jumantara Vol. Ibid (1987: 125-6). pergilah ke kabuyutan. 3 No..1 Tahun 2012 . menjamin keberlangsungan kehidupan keagamaan. yang menyatakan bahwa Rakeyan Darmasiksa adalah raja Sunda yang mendirikan lembaga pendidikan bernama Sanghyang Binayapanti. Kabuyutan itu akan dikuasai orang lain karena telah ditinggalkan rama dan resi. bahkan sampai titik darah penghabisan. Dan yang lebih penting. baik yang menganut kepercayaan kepada leluhur (ngawakan jati Sunda) maupun yang memeluk agama lainnya. kabuyutan itu harus dipertahankan sekuat tenaga. nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama. inya nu nyieun Sanghyang Binayapanti. 28 Kutipan lengkapnya: Sang Rakeyan Darmasiksa. (1987: 12). Selain itu.. unggul dalam berperang..Lebih berharga nilai kulit lasun di tempat sampah daripada rajaputra (bila kabuyutan) akhirnya jatuh ke tangan orang lain27. Nasihat Rakeyan Darmasiksa juga sekali lagi menekankan pentingnya Kabuyutan Galunggung: “Bila terjadi perang (memperebutkan) kabuyutan di Galunggung. dua dari tiga unsur “trias politika” Sunda kuna. yang digambarkan sebagai titisan Dewa Wisnu.” Hal ini pun diperjelas dalam NSK Kropak 406 (Carita Parahyangan). dan lama berjaya. pangupatyan Sanghyang Wisnu. ti sang disri. seperti: memperoleh kesaktian dari tapa. ti sang rêsi. bertahanlah kita di sana. ti sang tarahan. tina Parahyangan. Dengan demikian.

tempat tinggal para wiku. Sang wiku enak ngadewasasana. menjalankan kebiasaan leluhur . Sunda Sembawa. Galunggung (Tasikmalaya). lempir 21b. Ku beet hamo diukih.1 Tahun 2012 91 . Sunda Sembawa dan Jayagiri (Bekasi?). ngawakan na manusasana. Cisanti (Bandung).42-43) ia mengamanatkan kepada rakyatnya untuk menjaga dan memelihara Jayagiri.29 Kabuyutan-kabuyutan yang dikenal selama ini antara lain: Kanekes (Banten). Nya mana sang tarahan enak lalayaran. sang bu enak ngalungguh di Sanghyang Jagatpalaka. ngawakan manurajasasasana.. Pada masa Kerajaan Sunda diperintah oleh raja yang merupakan adik Dyah Citraresmi yang gugur di Bubat. Sang disi enak masini. dan 22a) Jumantara Vol. Pada Prasasti Kabantenan (E.. Sanghyang Tapak (Sukabumi). Dalam Prasasti E-44 daerah larangan itu disebut dengan nama kabuyutan dan kawikuan. 21a. Dalam Kropak 406 (Carita Parahyangan) pun ada gambaran penguasa Sunda yang berdedikasi tinggi pada kehidupan keagamaan sekaligus kegiatan literasinya. Dari sekian nama Darma. bayu. (Kropak 406. ngawakan na purbatisti purbajati. enak ngadeg manurajasunyia). 22b. Yang mencoba mengganggu daerah-daerah tersebut diperintahkan untuk dibunuh. dan tanah Dewa Sasana yang berada di Gunung Samaya sebagai daerah yang tidak boleh diganggu gugat.. ngawakan sanghyang Watangageung. akasa. dan Kawali (Ciamis).Hal serupa juga dilakukan Prabu Jayadewata. Kerajaan Sunda mengalami kejayaan. ngawakan Sanghyang Siksa (Kropak 406. enak ngadêg manurajasunyia. brata siya puja tanpa lum.. Sang wiku enak ngadewasasana. Jasinga (Bogor). teja. Salah satu bukti kejayaannya: sang resi dapat tenteram melaksanakan tugas kependetaannya. Sanghyang apah. Wilayah tersebut juga tidak boleh dikenai pajak karena merupakan daerah larangan.. Wanareja dan Ciburuy (Garut). ngaduuman alas parialas. yaitu Prebu Niskala Wastukancana. Sang rêsi enak ngarêsianana. lempir 36a & 20b) 29 Kutipan lengkapnya: Nya mana sang rama enak mangan. Koleang. angadêg di Sanghyang Linggawêsi. ngawakan sanghyang Watangageung. ngawakan na purbatisti purbajati . 3 No. ku gêde hamo diukih. Ngawakan sanghyang rajasasana. dan sang wiku tenteram melaksanakan atau menunaikan undang-undang dewa (Sang resi enak ngaresianana.

630 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian). 1103 (Serat Jati Niskala). dan Kropak 642 (Siksa Guru). 641 (Arjunawiwāha). Bandung. Jenis kegiatan pertama antara lain dalam bentuk mendoakan raja 30 „Pendidikan di Tatar Sunda I‟ HU. 408 (Kawih Panyaraman). 423 (Carita Purnawijaya). Kabuyutan Cisanti di Bandung. Naskah Bambu 426 B (Kaleupasan). ada tiga jenis kegiatan yang dilakukan di kabuyutan. 418 (Nur Illahi). 624 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian). 639 (Serat Buana Pitu). 621 (Sanghyang Sasana Maha). 625 (Sri Ajnyana). 1104 (Primbon). Pikiran Rakyat.kabuyutan itu yang dikenal sebagai tempat penulisan NSK. ditemukan Kropak 406 (Carita Parahyangan & Fragmen Carita Parahyangan). Dari Kabuyutan Koleang antara lain ditemukan NSK Kropak 1095 (Langgeng Jati). 633 (Siksa Guru). karena secara jelas atau tertulis dalam NSK atau tempat diperolehnya sejumlah NSK seperti yang diinventarisasi oleh Gunawan dan Holil (2010). 638 (Sanghyang Hayu). 636 (Sanghyang Hayu). ke Ciamis. Bogor. Ke sebelah timurnya. Kedua. 1097 (Carita Jati Mula). dan Kabuyutan Koléang. Dari kabuyutan yang ada di Garut. 407 (Carita Raden Jayakeling). Ketiga. Pada tataran praktisnya. mendalami dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan (agama). Pertama. 637 (Sanghyang Hayu). 422 (Jatiniskala). aya Kropak 620 (Tutur Bwana). 635 (Sanghyang Hayu). Ekadjati30. 623 (Bimaswarga). menurut Edi S. 409 (Kapaliasan). 412 (Fragmen Carita Parahiyangan). antara lain ditemukan NSK Kropak 610 (Pitutur ning Jalma). Kabuyutan Kawali di Ciamis. dan Kropak 631 (Candrakirana). 1102 (Para Putera Rama dan Rahwana). jeung Kropak 105. 415 (Mantra Darma Pamulih). 413 (Ajaran Islam). 1099 (Pakéeun Raga). Ti Cisanti. 3 No. melaksanakan pendidikan. melakukan upacara ritual. 634 (Sanghyang Hayu). yakni Kabuyutan Ciburuy dan Kabuyutan Wanareja di Garut. 92 Jumantara Vol. 622 (Warugan Lemah). Naskah Bambu 426 C (Sanghyang Jati Maha Pitutur). 414. 1101 (Sasana Sang Pandita).1 Tahun 2012 . 20 November 2004. 416 (Carita Purnawijaya). dan Kropak 626 (Sanghyang Swawar Cinta).

Mendalami ilmu pengetahuan (agama). hasil akumulasi ilmu pengetahuan tersebut. pandan. nipah. Berbagai pengetahuan tersebut telah dikuasai oleh para guru yang kemudian disampaikannya secara lisan dan tertulis kepada siswasiswanya. dan tinta. menyelenggarakan dan memimpin upacara ritual. dan menulis naskah (asli atau salinan) tergolong kegiatan intelektual. bambu). mengarang suatu ilmu pengetahuan. pendeta menguasai pustaka. Anak-anak dan orang muda yang memilih kegiatan keagamaan sebagai jalan hidupnya memasuki kompleks dan menjadi siswa (sisya) di kabuyutan untuk menerima berbagai ilmu pengetahuan (agama) dan tata cara hidup sebagai penghuni kabuyutan. Sebagaimana uraian Ekadjati di atas. dan renungan para leluhur (patikrama). Penulisan itu merupakan tugas pendeta yang menjadi penanggungjawabnya. mendidik anak-anak calon pendeta. Media tulisnya terdiri atas beberapa jenis bahan (lontar. memberi nasihat orang. dan membaca teks-teks keagamaan. seperti: brahmana menguasai aneka macam mantra. baik yang ada di kabuyutan sendiri maupun yang datang dari luar. kemudian diwujudkan dalam bentuk karya tulis. Di sana juga terlihat lalu-lintas naskah antar satu kabuyutan dengan kabuyutan lainnya. Untuk keperluan itu pejabat negara dan masyarakat umum sering datang ke kabuyutan dan sebaliknya penghuni kabuyutan sering pula diundang ke wilayah negara. aren. kalam. kelapa.serta pejabat negara dan rakyat pada umumnya. 3 No. Mengajarkan pengetahuan agama. Ia menjelaskan bahwa bahan ajarnya berupa berbagai pengetahuan agama (Hindu-Budha) dan ajaran hidup yang berasal dari intisari pengalaman. Di antara guru-guru itu ada yang memiliki spesialisasi pengetahuan. Hal ini dimungkinkan oleh adanya Jumantara Vol. aturan.1 Tahun 2012 93 . memberi contoh cara hidup di mandala termasuk jenis kegiatan kedua (pendidikan). pratanda menguasi ilmu agama dan parigama. sedangkan alat tulisnya berupa pisau pangot. janggan menguasai berbagai jenis upacara ritual. Selanjutnya Ekadjati menjelaskan mengenai bahan ajar dan spesialisasi guru-guru yang ada di kabuyutan.

memang terjadi penulisan. bulan. penerjemahan. Namun ada juga yang menyertakan hari dan bulan. Dengan kehadiran nama-nama tempat yang berkaitan dengan pulau dan laut dapat diduga bahwa. Dari Jawa Barat. penyaduran naskah-naskah yang dihasilkan dari daerah lain dan kemudian dibawa oleh para rahib pengelana tersebut ke Tatar Jawa Barat. Dalam perjalanan tersebut memang Bujangga Manik tidak terlepas dari naskah-naskah yang dibawa dan dibacanya. Jawa Timur. seperti yang dapat kita temukan pada NSK sebagai berikut: Kropak 622 (Warugan Lemah). Jadi. yang tidak hanya berada di Jawa Barat saja. Titimangsa Dari tabel di atas juga dapat dibahas mengenai titimangsa atau waktu penulisan NSK. NSK berikut memakai bulan saja sebagai titimangsa penulisan NSK: Kropak 621 (Sanghyang 94 Jumantara Vol. namun ada juga yang berada di luar Jawa Barat. ia memang mencari tempat-tempat sepi. dan melintasi Pulau Bali untuk belajar keagaamaan.rahib atau pendeta pengelana yang (berkelana?) sambil belajar dari satu kabuyutan ke kabuyutan lain. ke Jawa Tengah. bulan Muharam. Pada praktiknya. Seperti yang kita saksikan dari peri kehidupan Bujangga Manik yang dalam perjalanannya senantiasa mencari tempat-tempat sepi. dan tahun.1 Tahun 2012 . para penulis-penyalin NSK ada yang hanya menyertakan hari saja. Contoh rahib pengelana ini adalah tokoh Bujangga Manik atau Perebu Jaka Pakuan atau Ameng Layaran yang berkeliling Pulau Jawa dan Bali. Yang menyertakan bulan saja bisa dikatakan merupakan yang paling banyak bila dibandingkan dengan yang menyertakan hari maupun tahun. Dalam beberapa adegan. penyalinan. 3 No. karena nampak bahwa pada NSK terdapat keterangan hari. Jum‟at Kliwon. yang diutamakan adalah keberjarakan dari dunia ramai. pada prinsipnya. karena keramaian itu akan terasa mengganggunya. misalnya. yakni Kropak 1** (Sanghyang Siksa Kandang Karesian) bulan ke-10. Rabu Manis. Selasa Manis dan Kropak KBG 75 (Wirid).

Sementara Kropak 638 (Sanghyang Hayu) terbilang yang paling lengkap menyertakan hari. bulan ke-8. Dari paparan di atas nampak beberapa kenyataan yang patut dibahas secara luas dan mendalam. nampaknya tidak ada aturan yang ketat. penggunaan candrasangkala atau kronogram. Para penulis-penyalin naskah di India biasanya memberikan catatan penomoran dengan menggunakan kata-kata dan huruf-huruf. bulan ke-8. bulan ke-10. Pemilihan unsur waktu penulisan NSK sangat acak. 1357 Ś (± 1435 M). dan ada yang mencantumkan campuran hari dengan bulan. yaitu dimulai Selasa Kliwon. Hal itu terbukti dari tabel di atas. dalam artian bahwa ada yang hanya yang memakai hari. Kropak 625 (Sri Ajnyana). 3 No. Penggunaan kode-kode ini memang biasa dilakukan oleh para penulis-penyalin naskah-naskah di India. Kedua. bulan dengan tahun. Ada juga yang bisa dikatakan lengkap menyebutkan ketiganya. selesai hari Pon bulan ke-9. Kropak 641 (Arjuna Wiwaha). tergantung pada penulis-penyalin naskahnya. Ketiga.Sasana Maha Guru) ditulis pada bulan ke-4. sehingga terkesan arbitrer alias sewenang-wenang. 1256 Ś (1334 M). dan Kropak 642 (Siksa Guru). bulan. atau tahun saja. dalam artian tidak ada keharusan atau kewajiban untuk mencantumkan titimangsa pada umumnya NSK. Mengenai hal ini Jumantara Vol. kesewenang-wenangan itu juga terjadi pada pemilihan unsur waktu yang dicantumkan ketika penulis-penyalin NSK memberikan keterangan waktu penulisan. Kropak 626 (Sanghyang Swawar Cinta). Sementara yang memakai keterangan tahun ada: Kropak 634 (Sanghyang Hayu). 1445 Ś (± 1523 M). bulan ke-7. hari dengan tahun. bulan. Kropak 623 (Bimaswarga/Bimaleupas). Tahun Saka hlaŕ twa ya wu? Ada pula yang hanya campuran antara bulan dan tahun. dan tahun penulisannya. dan Kropak 633 (Siksa Guru). namun ada juga yang mencantumkan campuran dua sampai tiga unsur waktu. yang terdapat pada Kropak 630 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian) bulan ke-3. 1440 Saka (1518 M). Pertama. bulan ke-1.1 Tahun 2012 95 .

according to Burnell originally South-Indian. bhu. kh=2. th=7. y=1. cidra. 96 Jumantara Vol. Angka 0 bisa diwakili oleh kata Sunya. sasi. 3 No. as well as in the dates of inscriptions and of MSS. which both employ the phonetically arranged characters of the alphabet. the numerals are expressed by the names of things. mahi. adi. dan tanu. which. Pada penomoran menggunakan huruf. beings or ideas. seperti huruf ka hingga ke la yang berarti sama dengan 1 hingga 34.1 Tahun 2012 . Ambara. meskipun ada yang ia lewati. dan Ananta. naturally or in accordance with the teaching of the Sastras. t=6. mathematics and metrics. keduanya. Akasa. Untuk 31 Lihat Buhler. connote numbers. Sistem kedua memakai konsonan bervokal untuk penomoran. Buhler menyatakan ada dua sistem yang dipakai. dan m=5. selain digunakan untuk penonoran halaman naskah. Buhler menyatakan: Two system of numeral notation. juga digunakan untuk memberikan titimangsa penulisan naskahnya. Angka 1 diekspresikan dengan rupa. Angka 9 digambarkan dengan anka. George. Dalam hal ini Buhler memberikan contoh dari angka 0 hingga 49. as they are not without interest for paleography. Indian Paleography (1980: 103-107). atau ka sampai kah yang sama dengan 1 hingga 12. nanda. seperti pada huruf k=1. nayaka. Baik penggunaan kata-kata maupun huruf. sitarasmi. Sistem pertama dianggap hanya hurufhuruf konsonan yang tak mempunyai huruf vokal yang penting. indu. have still to be described.George Buhler menyatakan31: In many manuals of astronomy. Sementara untuk penomoran yang menggunakan huruf.

bila dikonversi ke penanggalan masehi. menjadi 1518 Masehi. atau 1523 Masehi. 24 Maret 1184 Masehi.veda. Untuk Kropak 630 (Sanghyang Siksakandang Karesian). Buhler memberikan contoh dari Pancasiddhantika.samudra= 0-0-4-41=14400. Sementara untuk penggunaan huruf. 3 No. yang menghasilkan pada musim semi yang siang maupun malamnya hampir sama waktunya (vernal equinox). 4. seperti NSK Kropak 408 (Sewaka Darma) yang mengandung kata-kata akhir nanu namas haba jaja atau NSK Kropak 642 (Siksa Guru) yang diakhiri dengan katakata hlaŕ twa ya wu? Sugan aya sastra leuwih suda baan. di akhir naskahnya terdapat kata-kata nora catur sagara wulan yang sama dengan tahun 1440 Saka atau. Keterangan ini bisa menjadi jalan memahami kehadiran katakata maupun huruf-huruf yang digunakan pada akhir sejumlah NSK. 44: kha – kha. kurang wuwuhan. Demikian juga pada naskah NSK Kropak 634 (Sanghyang Hayu) terdapat kata-kata panca warna catur bumi yang artinya 1445 Saka. Maret-April 2012 Daftar Pustaka Jumantara Vol. misalnya. Cibiru. Dalam NSK ditemukan juga kata-kata yang belum ditemukan artinya.1 Tahun 2012 97 . sebagai tanggal diselesaikannya. Buhler memberikan contoh dari Sarvanukramani: 23 1 565 1 khago=ntyan=mesam=apa Penggabungan angka-angka di atas nilainya sama dengan 1565132.contoh penggunaan dari kata-kata. yang mengandung arti penulis-penyalinnya memaksudkan angka-angka itu pada masa-masa selepas masa awal Kaliyuga.

(1987). Bandung: Jajasan Nusalarang. “Balinese Palm-Leaf Manuscripts”. Van der dan I. “Fragmén Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan (Kropak 406)”. Pendidikan Dan Kebudayaan Nasional Darsa. 1. Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda . George (1980). Seri Sundalana 6: Menyelamatkan Alam Sunda. Wiryamartana (2001). Undang A. Aditia & Munawwar Holil (2010). Séri Sundalana 1: Tulak Bala. Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630). Darsa. Ekadjati (2003). Atja (1970). “The MerapiMerbabu Manuscripts: A Neglected Collection”. Agus Aris (1991). Undang A. Indian Paleography. Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda (PSS). Ratu Pakuan: Tjeritera Sunda-Kuno dari Lereng Gunung Tjikuraj. Edi S. HU Pikiran Rakyat. Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda Hinzler.Atja (1968). 20 Nopember). Direktorat Jendral Kebudayaan Dep. New Delhi: Oriental Books Reprint Corporation Danasasmita. (2007). BKI 157 No. Makalah pada Seminar Nasional Sastra dan 98 Jumantara Vol. “Carita Ratu Pakuan (Kropak 410): Suntingan dan Terjemahan Naskah Sunda”. “Pendidikan di Tatar Sunda I”.1 Tahun 2012 . Sewaka Darma (Kropak 408). BKI 149 No. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi). “Kegiatan Keagamaan dalam Masyarakat Kerajaan Sunda: Data Prasasti dan Karya Sastra”. Munandar. Molen. (1993). Amanat Galunggung (Kropak 632): Transkripsi dan Terjemahan”. Bandung: Lembaga Bahasa dan Sedjarah. Buhler. Gunawan. 3 No. Ekadjati (2004. W. dan Edi S. Tjarita Parahijangan Titilar Karuhun Urang Sunda Abad ka-16 Masehi. 3. H. Saleh dkk. Seri Sundalana 9: Perubahan Pandangan Aristokrat Sunda. “Membuka Peti Naskah Sunda Kuna di Perpustakaan Nasional RI: Upaya Rekatalogisasi”.

& A. 3 No. Jakarta: Pustaka Jaya. “Poernawidjaja‟s Hellevaart of de Volledige Verlossing”. 11-13 Nopember. “Sebaran Situs Arkeologi di Jawa Barat: Tinjauan Terhadap Dasar Konsepsi Keagamaan”. dari Three Old Sundanese Poems (2006). Teeuw (2009). teks Sunda kuna oleh Tien Wartini dan Undang A. C. Bogor. Darsa. Jumantara Vol. 56. __________ (2001). J. Makalah Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) I.M. 22-24 Agustus 2001. Noorduyn. dan kemudian dimuat dalam Prosiding KIBS 1 Jilid 1 (2006).Sejarah Pakuan Pajajaran. (1914). Diterjemahkan oleh Hawe Setiawan. Pleyte. TBG No.1 Tahun 2012 99 . Bandung. Tiga Pesona Sunda Kuna.

Signifikansi tulisan ini untuk menunjukkan adanya pembuktian atau lebih tepatnya penegasan akademik bahwa Syarif Hidayatullah yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Jati itu bukan sekedar tokoh legenda. Kata Kunci: Islam. Terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu tulisan ini sehingga dapat hadir di hadapan pembaca. Nurul Huda SA dan Aan Jaelani yang telah menemani saya ketika beberapa kali turun lapangan. dan Balai Litbang Agama Jakarta. Dekan Fakultas Ushuluddin ISIF dan Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Tulisan ini merupakan upaya untuk melakukan rekonstruksi sejarah kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah (1479-1568). menunjukkan bukti-bukti sejarah peradaban tersebut sebagai bukti kejayaan peradaban Islam di Cirebon. tulisan ini diharapkan mampu menjadi kelengkapan khazanah sejarah Islam Indonesia dalam konteks rekonstruksi sejarah Islam Nusantara dan kehidupan keagamaan masyarakat. mitos. serta mengungkapkan pengaruh Syarif Hidayatullah terhadap perkembangan dakwah Islam di Jawa. 100 Jumantara Vol. Saeful dan Salman dari Balai Litbang Agama Jakarta. Cirebon. Beberapa nama penting juga disebutkan disini. terutama kepada ISIF. terutama di Cirebon pada tahun 1479-1568. Syarif Hidayatullah * Kandidat Doktor Filologi di Departemen Susastra FIB UI Depok. 3 No. terutama di Cirebon. tetapi bagian dari tokoh historis dan fakta sosial melalui rekonstruksi historis peradaban Islam Nusantara. atau semacamnya. Secara strategis.1 Tahun 2012 .Abstrak Dari berbagai sumber tertulis diketahui bahwa pada masa Syarif Hidayatullah peradaban Islam di Cirebon mencapai masa kejayaannya.

Di antara tokoh tersebut.33 Sebelum Syarif Hidayatullah. Moh. Sunan Gunung Jati. dapat dikatakan sebagai era keemasan (Golden Age) perkembangan Islam di Cirebon.H.32 Mengapa (masih) Mengkaji Syarif Hidayatullah? Rekonstruksi sejarah Islam Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kontribusi pemikiran dan tindakan setiap tokoh di daerahnya. Sultan Agung di Jogjakarta (dulu Kesultanan Mataram. Ishom El-Saha (edit. Sunan Drajat. dan setelah Syarif Hidayatullah. tata cara pengobatan. Sunan Kudus. hlm. daerah-daerah di mana suatu kerajaan Islam telah berdiri dan berjaya pada masanya. Terlebih lagi. 3 No. dan M. Disertasi. Sunan Giri. seperti dikutip Agus Sunyoto. 90 33 Matthew Isaac Cohen. Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Cakrabuana (1447-1479) merupakan rintisan pemerintahan berdasarkan asas Islam. Adnan. (Jakarta: Transpustaka. Sunan Muria. dan Syarif Hidayatullah di Cirebon (1479-1568). (Yale University: 1997). hampir dipastikan terdapat seorang tokoh yang mempunyai keutamaan dan pengaruh kuat bagi masyarakatnya. Maulana Malik Ibrahim. Era Syarif Hidayatullah.Kanjeng Susuhunan ing Gunung jati ing Cirebon. amewahi donga hakaliyan mantra. 1613-1645). hlm. atau lebih dikenal dengan gelar Sunan Gunung Jati. utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana Sunan Gunung Jati di Cirebon mengajarkan tatacara berdoa dan membaca matera. Sekedar menyebut beberapa contoh tokoh tersebut adalah Abdur Rauf asSinkili di Aceh (1615-1693). Salah satu di antara kontribusi Syarif Hidayatullah adalah bahwa ia menjadi salah seorang dewan Walisongo34 di Jawa. serta tata cara membuka hutan.). Sunan Ampel. Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Pertumbuhan Jumantara Vol. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan. dan Sunan Kalijaga. pengaruh para penguasa Cirebon masih berlindung di balik kebesaran nama Syarif Hidayatullah. Sunan Bonang. 32 Kutipan ini merupakan bagian dari tugas-tugas Wali Songo dalam Primbon milik Prof. Indonesia”. 7 34 Walisongo adalah pelopor dan pemimpin dakwah Islam yang berhasil membawa murid-muridnya untuk menjalankan dakwah Islam ke seluruh Nusantara pada abad ke-15. Penjelasan lebih lanjut pada Mastuki HS. K. Walisongo terdiri dari Sembilan wali.1 Tahun 2012 101 .R. 2011). “An Inheritance from the Friends of God: The Southern Shadow Puppet Theater of West Java.

maupun kesusastraan yang mengeluarkan Eropa dari kegelapan Pesantren. Husein Muhammad. Abu al-Ma‟ali al-Maqdisi (w. Banten. hlm. antara lain Sadr al-Din al-Syirazi (w. 1505). 37 Malik Bin Nabi. Sejalan dengan bukti tersebut. Gelegar Media Indonesia. 1995) cet. 2001). 1497). Malik Bin Nabi (1905-1973) dalam Syuruth al-Nahdlah. Tugas itu dirumuskan sebagai berikut. Pakar-Pakar Fiqh Sepanjang Sejarah. 90. 39 Smith. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah. (Yogyakarta: LKPSM. (Jakarta: Diva Pustaka. Selaras dengan itu. peradaban Islam pada periode tersebut telah melahirkan berbagai tokoh pemikirnya.35 Perbedaan lain dengan para Walisongo ialah bahwa Syarif Hidayatullah selain sebagai ulama juga umara. tata cara pengobatan. hlm. 183. serta tata cara membuka hutan). Margaret.37 Dalam konteks itulah Syarif Hidayatullah membangun peradaban muslim di Cirebon. (Jakarta. Dalam catatan sejarah. II.. dan Sunda Kelapa (Jakarta). hlm. 73. pemikir Aljazair. Mistikus Islam: Ujaran-ujaran dan Karyanya. yaitu Sultan di Cirebon. (Sunan Gunung Jati di Cirebon mengajarkan tata cara berdoa dan membaca matera. 1492). renaisans adalah periode yang berlangsung dalam kurun waktu 25-50 tahun dan mencapai puncaknya pada tahun 1500. Afif Muhammad dan Abdul Adhem. 2001). “Kanjeng Susuhunan ing Gunung jati ing Cirebon. Karya. utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana”. 1499). 3 No. Ensiklopedi Ulama Nusantara: Riwayat Hidup. Ribut Wahyudi (Surabaya: Risalah Gusti. berpendapat bahwa suatu peradaban muslim tidak dapat bangkit kecuali dengan akidah keagamaan.M. 35 Agus Sunyoto.Syarif Hidayatullah mendapatkan tugas berdakwah di Cirebon (Jawa Barat). 38 Abdullah Mustofa al-Maraghi. hlm. Jalal al-Din al-Suyuti (w. (Bandung: Mizan. Bibit Suprapto. Membangun Dunia Baru Islam. dan Abd al-Rahman Jami (w. Al-Qarafi (1533-1600). penterj. hlm.757. penterj. 36 H. 2009).1 Tahun 2012 .38 Abd al-Wahhab al-Sya‟rani/alSya‟rawi (w. 2003). penterj. 21-34.39 Periode tersebut merupakan era renaisans bagi benua Eropa (1495-1500). Era renaisans bukan sekedar merupakan kehidupan yang cemerlang di bidang seni. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. amewahi donga hakaliyan mantra. pemikiran. 102 Jumantara Vol.36 Berbagai bukti kejayaan kepemimpinannya antara lain Masjid Merah Panjunan (+ 1480) dan masjid Agung Sang Cipta Rasa (1500). 1565).

tetapi juga merupakan suatu revolusi budaya. 3 No. penterj. ekonomi. Lili Sri Padmawati. 43 Kraton Pakungwati merupakan tempat kedudukan utama para Raja Cirebon. 1996). dan pemikiran yang melintasi kawasan tersebut. pada masa Panembahan Ratu II (Girilaya). telah menemukan kepulauan Amerika. yaitu: daerah Panembahan Sepuh (Kasepuhan) dan daerah Panembahan Anom 40 Yenne. Adanya Pelabuhan Muara Jati yang berada di lalu lintas utama kawasan tersebut telah menjadi arena perdagangan internasional. (Jakarta: Depdikbud. dan politik yang berkembang pada saat itu menarik untuk dilihat sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. nakhoda dari Italia. yang menyatakan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.]: Karisma Publishing Group.intelektual Abad Pertengahan.1 Tahun 2012 103 . tetapi sebagai konteks sosial.. Cirebon dikenal juga sebagai „Jalur Sutra‟. Salah satu revolusi pemikiran pada era tersebut dikemukakan Nicolas Kopernick (Copernicus). Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra. Meneruskan pendahulunya.43 Di istana itulah Syarif Hidayatullah memulai membangun dan mengembangkan Kesultanan Cirebon sampai dengan pengunduran dirinya. [t. Pada masa itu. 72 42 Diskusi tentang Cirebon sebagai jalur perdagangan dapat dibaca Susanto Zuhdi. bukan sebaliknya. hlm. menjadi tempat persinggahan bagi setiap budaya. atau paling tidak. gerakan. sehingga Sunan Gunung Jati tidak hanya dibaca seperti yang selama ini dikenal dalam legenda atau mitos. Jumantara Vol. 100 Peristiwa yang Berpengaruh di dalam Sejarah Dunia (100 Events That Shaped World History).42 Pelabuhan yang ramai dan jalur utama transportasi yang menghubungkannya dengan wilayah-wilayah lain menyebabkan kota tersebut tampil dengan keterbukaan dan menerima.k. 40 Pada tahun 1492. 74-75 41 Ibid.41 Sekalipun peristiwa-peristiwa besar di belahan dunia tersebut tidak berhubungan langsung dengan Cirebon ataupun Syarif Hidayatullah. 2005). Bill. pusat Kesultanan Islam Cirebon berada di Kraton Pakungwati. budaya. Tahun 1662. hlm. Keterbukaan itu pula yang terdapat dalam diri Syarif Hidayatullah selama memimpin di Cirebon. Pakungwati terbagi menjadi dua kesultanan. Christopher Columbus.

yaitu:. Sharon. Bersamaan dengan kedatangan Daendels pada tahun 1808. situasi pernaskahan di kraton itu sangat bergantung dengan perkembangan dari kraton sendiri.44 Artinya. dan Pangeran Tohpati. 1992). Sultan Anom. Sebab. yaitu telah terjadi perubahan progresif dalam kesusteraan setiap kali muncul Kraton baru. Dalam sumber lain. Di situlah kesusasteraan tumbuh maju dan berkembang. 87. salah seorang Sultan Kanoman Cirebon dibuang ke Ambon. hlm. 65 104 Jumantara Vol. Bersamaan dengan kedatangan Belanda sebagai penjajah yang menguasai Cirebon sekitar tahun 1700. seperti dikutip dalam Marwati Djoened Poesponegoro.1 Tahun 2012 . Sultan IX yang dimaksud barangkali Sultan Kacirebonan. Kasepuhan berkedudukan di Pakungwati dan Kanoman menempati kraton baru bekas istana Panembahan Cakrabuana. untuk Samsuddin Mertawijaya (1677-1697) dan Badruddin Kartawijaya (1677-1703). Dampak internalnya. Kesultanan Kanoman terbagi lagi menjadi dua kraton. Nugroho Notosusanto. dimonopoli VOC. seperti perdagangan pakaian dan opium. Menurut Siddique. Kanoman dan Keprabonan. Terakhir.45 Sekitar tahun 1800. 45 Siddique. Pudjiastuti mencatat sisi positif dari perpecahan Kesultanan Cirebon.(Kanoman). 2001). Pembagian wilayah kesultanan tersebut didasarkan pada kesepakatan yang difasilitasi oleh Kesultanan Jogjakarta dan Banten. dan perjanjian 8 September 1688 yang ditandatangai Sultan Sepuh I. (Jakarta: Balai Pustaka. Kesultanan Cirebon telah mengalami kemerosotan karena pihak lain (asing) sejak tahun 1681-1940. Kasultanan Kanoman terbagi menjadi dua lagi. Sultan Kanoman yang dibuang tersebut 44 Titik Pudjiastuti. Sejarah Nasional Indonesia: Jaman Pertumbuhan dan Perkembangan III. timbul perpecahan dalam Kesultanan Cirebon. antara lain: perjanjian 7 Januari 1681 yang menetapkan bahwa ekonomi-perdagangan. hlm. 3 No. Kanoman dan Kaceribonan. bukan Kanoman. (Jakarta: Balai Pustaka. Sultan Kanoman IX itu bernama Sultan Muhammad Nurbuat. Relics of the Past: Sociological Study of the Sultanates of Cirebon West Java. Beberapa perjanjian dengan VOC telah mendorong terjadinya kemunduran itu. Saat itu. tentang pengakuan dan pembagian cacah. Kesultanan Cirebon terbagi pada masa Sultan IX yang bernama Sultan Anom Muhammad Kaeruddin. “Cirebon” dalam Sastra Jawa Suatu Tinjauan Umum.

A. 21. 46 Tim IAIN Syarif Hidayatullah. Pada tahun 1809. hlm.46 Kenyataan itu sejalan dengan pendapat Kern bahwa Cirebon berakhir kejayaannya pada abad ke-17. ketika suasana damai di Cirebon terganggu oleh kolonial. gelar Sultan di lingkungan kraton sudah tidak diperbolehkan dipakai lagi. karena Britania harus mengembalikan Jawa dan bekas daerah kekuasaan HindiaBelanda lainnya kepada Belanda sesuai persetujuan akhir Perang Napoleon. Dalam entri Cirebon ini. II. Kesultanan Cirebon juga dijajah Inggris ketika pemerintahan Inggris menguasai (sebagian) Indonesia sekitar tahun 1811-1816.1 Tahun 2012 105 . De Graaf dan Th. Pada tahun 1815. pemberontakan pun timbul sebagai salah satu cara untuk menolaknya. Masa Awal. Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid I A-H. revisi. Selain dikuasai Belanda. hlm. Dalam Ensiklopedi Islam Indonesia disebutkan. dalam R. Tentang klarifikasi Fatahillah. dalam tradisi lisan Cirebon dan beberapa tulisan menyebutkan. Daendels membangun jalan raya melintasi pegunungan dari Batavia ke Cirebon (Jalan Raya Pos/Groote Postweg). Stamford Raffles memerintah langsung atas Cirebon namun pemerintahannya sangatlah singkat. cet. Jakarta: Djambatan. Tak ayal lagi. R.. terdapat informasi yang masih meragukan validitasnya. Kern dan Husein Djajadiningrat. bahwa nama lain Sunan Gunung Jati itu Fatahillah.A. 3 No. “Beberapa Catatan Mengenai “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinja”. Pada tahun 1700 Belanda mengangkat Jacob Palm menjadi Residen pertama. Pigeaud dalam De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java. Fatahillah itu bukan keturunan Cirebon. Sebab.J. bahwa kekuasaan Cirebon makin lama makin dipersempit. R. Masa Awal Kerajaan Cirebon. tetapi semua dapat dipadamkan Belanda.dibebaskan oleh Daendels yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal. lihat juga pada P.A. tetapi dari Kesultanan Pasai yang diperbantukan di Cirebon. 213. Jumantara Vol. (Jakarta: Bhratara. Studen Over de Staatkundige Geschiendenis van de 15 de en 16 de Eeuw. 33-39 47 Kern. lalu ditugasi di Sunda Kelapa dan Banten.47 Penegasan serupa ditulis H. Hoesein Djajadiningrat. Bahkan kemudian. Pemberontakan Cirebon telah dimulai sejak tahun 1788 dan terbesar tahun 1802. hlm.A. 2002. “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinya”. 1974). tetapi pemberontakan di daerah perbatasan melawan penjajah tetap belanjut. dalam Kern. dan Husein Djajadiningrat.

“Kedaulatan atas daerah Cirebon termasuk daerah-daerah Sunda pada 1705 diserahkan oleh susuhunan di Kartasura kepada kompeni (VOC) di Batavia. Keraton-keraton para keturunan Sunan Gunung Jati di kota Cirebon masing-masing tetap dipertahankan di bawah kekuasaan dan dengan tunjangan uang dari pemerintah Hindia Belanda hingga abad XX ini.”48 Dengan demikian, pemerintah Kolonial Belanda telah semakin dalam ikut campur mengatur Cirebon, sehingga semakin surutlah peranan kraton-kraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya. Pada tahun 1906 dan 1926, kekuasaan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan pengesahan berdirinya Kota Cirebon (Gemeente Cheirebon). Saat itu, luas wilayahnya mencakup 1.100 hektar, dengan sekitar 20.000 jiwa penduduk (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370). Tahun 1942, Kota Cirebon kembali diperluas menjadi 2.450 hektar.49 Sejak tahun 1965 Cirebon telah berubah menjadi kota madya dan sekarang menjadi kota Cirebon dengan luas 37,36 km2.50 Memperhatikan latar belakang tersebut, tulisan ini menjadi penting untuk mengungkap Kesultanan Cirebon sebelum adanya campur tangan pihak asing, termasuk intervensi pihak kesultanan Jogjakarta dan Banten. Dari berbagai sumber tertulis diketahui bahwa pada masa Syarif Hidayatullah itulah peradaban Islam di Cirebon dapat dikatakan mencapai masa kejayaannya. “Ingsun titip tajug lan fakir miskin” adalah salah satu pernyataan atau petatah petitih dari Syarif Hidayatullah yang digunakan sebagai ikon oleh kalangan, baik pemerintah maupun swasta di Cirebon. Saat ini, Cirebon tetap dijadikan sebagai nama salah satu kota dan kabupaten di Jawa Barat. Sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia dan selama Cirebon menjadi pusat pemerintahan kota dan kabupaten, keluarga besar Kraton Cirebon sepertinya belum pernah ada yang menjadi bupati ataupun

48

De Graaf, HJ. & Th. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI, penyunting Eko Endarmoko dan Jaap Erkelens, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2003), hlm. 132. 49 http://indahartgallery.webs.com/keraton.htm 50 Profil kota Cirebon Jawa Barat.

106

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

walikota.51 Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penting dikemukakan pertanyaan, bagaimana kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568? Bukti-bukti sejarah apa yang mendukung adanya kejayaan tersebut? Dengan bukti-bukti tersebut, seberapa jauh peran Syarif Hidayatullah pada perkembangan dakwah Islam di Jawa? Tulisan ini merupakan upaya untuk melakukan rekonstruksi sejarah kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568, dan untuk menunjukkan buktibukti sejarah peradaban tersebut sebagai bukti kejayaan peradaban Islam di Cirebon, serta mengungkapkan pengaruh Syarif Hidayatullah pada perkembangan dakwah Islam di Jawa. Signifikansi tulisan ini untuk menunjukkan adanya pembuktian atau lebih tepatnya penegasan akademik bahwa Syarif Hidayatullah yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Jati itu bukan sekedar tokoh legenda, mitos, atau semacamnya, tetapi bagian dari tokoh historis dan fakta sosial melalui rekonstruksi historis peradaban Islam Nusantara, terutama di Cirebon pada tahun 1479-1568. Secara strategis, tulisan ini diharapkan mampu menjadi kelengkapan khazanah sejarah Islam Indonesia dalam konteks rekonstruksi sejarah Islam Nusantara dan kehidupan keagamaan masyarakat, terutama di Cirebon. Penelitian Terdahulu dan Landasan Kajian Penelitian Kejayaan Peradaban Islam di Cirebon pada Era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568 ini tidak dapat dilepaskan dari kajian-kajian sebelumnya, baik karena kemiripan dalam penggunaan metode dan pendekatannya, maupun kedekatan konteks serta cakupannya. Kajian terdahulu berguna untuk mengetahui perbedaan kajian ini dengan kajian-kajian tersebut, sehingga kajian ini ditemukan orisinalitasnya. Adapun kajian secara khusus dengan nama Syarif
51

Bahan awal tentang Cirebon dapat dibaca dalam Sulendraningrat, P.R.A. Sejarah Cirebon, (Jakarta: Balai Pustaka, 1985) dan Membumikan Wasiat Sunan Gunung Djati Dalam Membangun Jawa Barat Bermartabat, (Cirebon: Yayasan Keraton Kasepuhan Cirebon, 2004).

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

107

Hidayatullah, sampai dengan penulisan laporan ini belum ditemukan, kecuali kajian terhadap naskah kuno, yaitu Sajarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati, baik dalam Naskah Mertasinga (2005) maupun Naskah Kuningan (2007). Kajian naskah serupa dilakukan Atja (1972) dengan judul, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Tjirebon). Dengan pendekatan sejarah dan filologi, Atja mengungkap sejarah awal mula Cirebon; diuraikan pula tentang Syarif Hidayatullah melalui naskah yang ditulis Pangeran Arya Cirebon dan transliterasinya, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari.52 Nama Sunan Gunung Jati lebih sering digunakan para peneliti daripada nama Syarif Hidayatullah., misalnya dalam disertasi Dadang Wildan yang telah diterbitkan dengan judul Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural (Bandung, 2002).53 Akbarudin Sucipto menulis Dakwah Sunan Gunung Jati dalam Perspektif Politik: Analisis Deskriptif terhadap Proses Islamisasi Cirebon abad ke-XV dan XVI (Skripsi: STAIN Cirebon, 2006). Kajian tentang Sunan Gunung Jati juga dapat ditemukan dalam ensiklopedi-ensiklopedi, seperti Ensiklopedi Islam (2002, cet.II), Ensiklopedi Ulama Nusantara (2009), dan Intelektualisme Pesantren (2003). Kajian mutakhir tentang Sunan Gunung Jati dilakukan Agus Sunyoto (2011). Dalam buku yang diberi judul Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, Sunyoto memaparkan sehistoris mungkin berdasarkan data manuskrip dan arkeologi gugatan para penulis sejarah Islam di Jawa, di mana Wali Songo masih diabaikan. Kajian tentang Cirebon dalam konteks sejarah beberapa kali telah dilakukan, termasuk bahasan khusus tentang Syarif Hidayatullah walaupun tidak mendalam. De Graaf dan Pigeaud (2003 cet. V) menulis Riwayat Kerajaan di Jawa Barat pada
52

Untuk melengkapi penelitian ini, transliterasi Atja dilampirkan, sebagai bagian tak terpisah dari hasil penelitian ini. Penelitian Atja tahun 1972 ini diterbitkan Ikatan Karyawan Meseum. 53 Dalam kajian Wildan tersebut, dipaparkan pula 7 (tujuh) naskah yang terkait dengan Syarif Hidayatullah dalam bentuk prosa dan tembang. Dalam bentuk prosa yaitu Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Sunda, dan Sejarah Cirebon. Dalam bentuk tembang, yaitu Carub Kanda, Babad Cerbon, Babad Cirebon, dan Wawacan Sunan Gunung Jati.

108

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Abad XVI: Cirebon. Kajian tentang Cirebon tersebut hanyalah salah satu bagian dari kajiannya tentang kerajaan Islam di Jawa, yang dimulai dari Demak, Kudus, Madura, hingga Banten. Acuan penulisan keduanya adalah literatur lokal atau pribumi. Kajian serupa juga dilakukan RH. Unang Sunardjo, Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cirebon 1479-1809 (1983). Begitu pula Uka Tjandrasasmita, yang menulis “Kesultanan Cirebon: Tinjauan Historis dan Kultural” dalam karya arkeologisnya, Arkeologi Islam Nusantara (2009). Tjandrasasmita menguraikan tentang Cirebon dengan pendekatan sejarah, mulai dari pertumbuhan, perkembangan, sampai dengan keruntuhan kesultanan. Paparan lainnya terkait dengan beberapa aspek penting di Cirebon, seperti keagamaan, seni sastra, seni bangun dan ragam hias, serta wayang dan topeng. Kajian lain tentang Cirebon secara khusus dilakukan oleh tim peneliti dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UNPAD dengan judul Sejarah Cirebon Abad Ketujuh Belas (Bandung, 1991). Kajian lain tentang Cirebon dilakukan oleh Darkum (Skripsi Pendidikan Sejarah Fak. Ilmu Sosial UNNES, 2007) dengan judul Peranan Pangeran Walangsungsang dalam Merintis Kesultanan Cirebon 1445-1529. Kajian lain yang masih berkaitan dengan Cirebon dilakukan oleh Heriyanto (Tesis UI, 2000) dengan judul Upacara Panjang Jimat: Suatu Kajian tentang Kraton Kasepuhan Cirebon Masa Kini. Dalam salah satu bagian kajiannya, Heriyanto memaparkan tentang Kraton Pakungwati dan Syarif Hidayatullah. Informasi tersebut, sekalipun tidak berasal dari sumber primer, dapat menjadi informasi penegasan. Adapun kajian dengan pendekatan sastra dan filologi dilakukan Pudjiastuti, yaitu Cirebon (2001) dan Kajian Kodikologis atas Surat Sultan Kanoman, Cirebon [Cod. Or. 2241 ILLB 17 (N0. 80)] (2007). Studi kodeks dalam kajian Pudjiastuti dapat mempertajam analisis untuk mengungkap konteks surat Sultan Kanoman pada akhir abad ke-17. Isi surat itu menobatkan putra bungsu Sultan menjadi Panembahan. Penjelasan lebih luas tentang dinamika Kesultanan Cirebon diungkap Pudjiastuti pada “Cirebon” sebagai salah satu entri Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Umum. Konteks Cirebon dalam tulisan Pudjiastuti berkaitan dengan pernaskahan kuna di Cirebon.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

109

Architecture of the Early Mosques and Shrines of Java: Influences of the Arab Merchants in the 15th and 16th Centuries?. Dengan demikian. dan Syafe‟I dalam „Jawa Barat pada masa Pemasukan dan Perkembangan Islam‟ dan „Jawa Barat dalam Abad ke -19‟ sebagai bagian dari Sejarah Daerah Jawa Barat (1979). arkeologi. Dalam kajian Ahmed E. Sebagai keluarga kraton Cirebon. Van Der Kemp dalam Pemberontakan Cirebon Tahun 1818 (1979). Paparan senada diungkap Kosoh. karena itu menjadi penting dan mendesak untuk dilakukan. Dengan perspektif yang berbeda. Catur Kanda. dan Panjunan Cirebon dikupas sekilas. masjid Agung. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern: 1200-2008 (2010 cet. dan arsitektur. Sulendraningrat menulis Sejarah Cirebon (1978). yang berasal dari disertasinya pada Fakultät Geistes und Kulturwissenschaften (GuK) der Otto-Friedrich-Universität Bamberg. 2008). seperti Kuningan ke Cirebon. Pada kajian-kajian terdahulu di atas. silsilah Sunan Gunung Jati dari garis ayah/ibu. sekurangnya terdapat beberapa landasan kajian yang digunakan. silsilah 4 (empat) kesultanan. I. Sejarah dalam kajian ini juga didasarkan pada sumber naskah dan artefak budaya. Carub Kanda. 3 No. Karya orang dalam kraton tersebut mengacu pada Babad Cirebon. dan Karel Steenbrink dalam Kawan Dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1941) (1995). kebudayaan. Kritik internal dan eksternal dalam pendekatan sejarah juga digunakan dalam penelitian ini demi menjaga obyektifitas keilmuan. dan kitab-kitab lokal lainnya. Suwarno. yaitu sejarah. Wahby (2007). Syarif Hidayatullah. Sulendraningrat memaparkan tentang Cirebon sejak masa Pra Sejarah sampai dengan masa masuknya Islam di Indonesia. filologi. kajian ini diharapkan selain dapat 110 Jumantara Vol.Penelitian dan penulisan tentang Cirebon dapat ditemukan pula dalam hasil penelitian dan buku-buku yang berasal dari seminar ataupun lainnya.1 Tahun 2012 . III). untuk mengungkap Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah (1479-1568) digunakan pendekatan sejarah yang belum pernah dilakukan. mulai dari Raffles dalam The History of Java (Terj. dst. hingga tentang peleburan kota-kota kecil. Adapun dalam kajian ini. para penulis asing juga melakukan kajian tentang Kesultanan Islam Cirebon.

). tetapi memang dapat dibuktikan melalui fakta-fakta historis.54 Menurut Purwaka Caruban Nagari. bahwa Syarif Hidayatullah atau sering dikenal dengan Sunan Gunung Jati itu bukanlah legenda. dan arkeologis. walaupun berdarah Timur Tengah. Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup. Jumantara Vol. kajian ini dapat pula menjadi penegas. 55 Naskah Mertasinga. hlm. pada masa remajanya. 2007). Syekh Najmurini (Nujumuddin) Kubra di Mekkah. Syarif Hidayatullah dilahirkan pada tahun 1448 dari perkawinan Raja Abdullah (Syarif Abdullah) dengan Rara Santang. Dilahirkan di Mesir. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara.56 54 Syarif Hidayatullah adalah putra raja Abdullah (Syarif Abdullah) bin Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Husein (al-Husaini) bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan Nurdin bin Abdul Malik bin Gazam bin Alwi bin Muhammad bin Ubaidillah bin Ahmad Muhajir bin Isa al-Bakir (ar-Rumi) bin Muhammad Idris an-Naqib bin Ali al-Uraidhi (Kasim al-Kamil) bin Ja‟far Shadiq bin Muhammad al-Bakir bin Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib (suami Fatimah az-Zahra binti Rasulullah Muhammad SAW. dalam urutan ke-22. dengan judul Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.55 Guru Syarif Hidayatullah lainnya adalah Syekh Nur Jati (Datuk Khafidz). pada usia 120 tahun Syarif Hidayatullah (tahun 1568) dipanggil sang Khalik dan dikebumikan di Gunung Sembung Cirebon. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. sama dengan Sunan Bonang dan Sunan Drajat atau Sunan Giri. Karya. hlm. alih aksara dan bahasa Amman N. putri Prabu Siliwangi asal Pajajaran yang bergelar Syarifah Mudaim. terutama Perlak atau Pasei.1 Tahun 2012 111 . alih aksara dan bahasa Amman N. Ayah Syarif Hidayatullah. Raja Abdullah bukanlah raja di Mesir. 219 56 Lihat pada Naskah Mertasinga dan Kuningan. (Bandung: Pustaka. 755 dan 758. filologis. Syekh Sidiq. Wahju.memberikan sumbangsih kepada masyarakat. dan Syekh Quro. 3 No. Sunan Ampel. Wahju. Syarif Hidayatullah telah berguru kepada Syekh Tajudin al-Kubri selama 2 tahun dan Syekh Ataillahi Syazally yang bermazhab Syafei. 2009). Syekh Bentong. tapi kemungkinan besar sebagai penguasa kawasan Aceh. ketika umur 20 tahun. (Jakarta: Gramedia. Lihat Bibit Suprapto. dan mitos belaka. Ini mirip dengan pendapat Hosein Jayadiningrat dengan argumentasi yang berbeda. Syarif Hidayatullah masih termasuk keturunan Rasulullah SAW. Silsilah Syarif Hidayatullah: Arab dan Cirebon Menurut Ensiklopedi Ulama Nusantara.

secara singkat sebagai berikut:. Wahju. Banten) dikaruniai dua anak. karena Ong Tien meninggal dunia. dan Raja Sangara. Syarifah Mudaim). berganti nama Rara Sumanding) tidak berlangsung lama.57 Silsilah Syarif Hidayatullah dari jalur ayah sampai pada Rasulullah SAW. Sultan Mahmud). (Jakarta: Gramedia. (Bandung: Pustaka. yaitu: Ratu Ayu (istri Fatahillah) dan Pangeran Pesarean (Dipati Muhammad Arifin). adalah sebagai berikut: Sang Prabu mempunyai anak Ki Gedeng Kasmaya (Ki Ageng Giridewata) Penguasa Carbon Girang yang mempunyai putrid Nyi Karancang Singapuri dari Pulo Pinang/Singapura menikah dengan Ki Gedeng Tapa (Ki Gedeng Juman Jati. Dari pernikahannya dengan Prabu Siliwangi mempunyai tiga anak. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. 3 No. dan dari pernikahannya dengan Sultan Mahmud mempunyai dua putra. Ratu Winaon dan Pangeran Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I). alih aksara dan bahasa Amman N. Rasulullah SAW. Karya. 58 Adapun silsilah Syarif Hidayatullah dari jalur ibu sampai ke Prabu Bunisora. lampiran 112 Jumantara Vol. (Bandung: Pustaka. Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup. pernikahan kedua dengan Ong Tien (Putri Cina. pernikahan pertama dengan Retna Pakungwati (Putri Pangeran Cakrabuana) dikaruniai dua anak. Juru Labuhan Muarajati II) mempunyai anak Nyi Subang Larang yang menikah dengan Prabu Siliwangi. mempunyai seorang putri bernama Siti Fatimah yang berputra Sayid Husein yang berputra Zainal Abidin yang berputra Syekh Zainal Kabir yang berputra Syekh Jumadil Kubra dari Quswa yang berputra Raha Umrah-Raja Odhara dari Mesir yang berputra Sultan Bani Israil yang berputra Syarif Hidayatullah. 2009). 2007) 57 Bibit Suprapto. kelima dengan Nyi Mas Rara Kerta (Putri Ki Gedeng Jatimerta) dikaruniai dua anak: Pangeran Jaya Lelana dan Pangeran Brata Lelana. hlm. Rara Santang menikah dengan Sultan Bani Israil (Sultan Hud. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.1 Tahun 2012 .Syarif Hidayatullah pernah beberapa kali menikah. Pangeran Cakrabuana. hlm. yaitu:. Sari Kabun (Rara Santang. 2007). pernikahan ketiga dengan Nyi Mas Retna Babadan (Putri Ki Gedeng Babadan).. 756-757 58 Naskah Kuningan. keempat dengan Dewi Kawunganten (Putri Ki Gedeng Kawunganten.

bahkan tasawuf dengan tarekatnya. Martin van. 3 No. Yen ngucap kang satuhu. (Bandung: Pustaka. “Perkara lampah kang katiti. 59 Guru dan Ajaran Syarif Hidayatullah Menurut Bruinessen. 1999) cet. Kalau bicara. Bruinessen juga berpendapat bahwa Syarif Hidayatullah merupakan penganut Tarekat Kubrawiyah. iku samono kang nyata den kukuh laku iku”. itulah hal yang nyata dan lakukanlah hal itu dengan teguh). bicaralah yang jujur dan jangan melawan hokum dari Yang Maha Esa. Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat.Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Bandingkan dengan Naskah Mertasinga. Pesan Syekh Athaillah di Sadili kepada Syarif Hidayatullah. “Mapam kita iki ing ngahurip. Bruinessen. antara lain sebagai berikut: Pesan Syekh Najmuddin Kubra kepada Syarif Hidayatullah61. hlm. dan Naqsyabandiyah. 2007) Jumantara Vol. Qadiriyah. Istika‟i. alih aksara dan bahasa Amman N. TradisiTradisi Islam di Indonesia (Bandung: Mizan. Setelah itu. (Dalam hidup ini. 223-245. Syarif Hidayatullah telah mendalami akidah. Syarif Hidayatullah juga belajar Tarekat Syattariyah. dalam babad-babad tentang Syarif Hidayatullah diceritakan bahwa sebelum kepergiannya ke tanah Jawa. Den 59 60 Ibid. janganlah kamu bertindak berlebihan. Syarif Hidayatullah berguru kepada Ibnu Atha‟illah al-Iskandari al-Syadzili selama dua puluh tahun di Madinah dan ia mendapat bayaran karena menjadi penganut Tarekat Syadziliyah. Wahju. sira aja angebat-tebat ing laku den teka patine. yaitu tarekat yang dihubungkan dengan nama Najamuddin al-Kubra. syari‟ah. yang dalam Babad Cirebon selalu disebutsebut. III. 23 61 Naskah Mertasinga dalam Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. demikian hingga akhir hidup. sira aja ngebat-tebat.60 Adapun beberapa ajarannya melalui pesan. hlm.1 Tahun 2012 113 . lan aja nyerang hukuming Widhi.

Iku lampah kang sampurna jati. hanya itulah langkah yang sejati). 156 Tjandrasasmita. Mung semana lampah ingkang sejati”.diwarnai cerita-cerita absurd yang perlu penafsiran untuk mengetahui kebernaran historisnya”. menyebutnya dengan “. Pada masa itu. Kemajuan Islam pada era Syarif Hidayatullah tidak berhenti pada terbentuknya pusat pemerintahan di bawah pimpinan 62 63 Sunyoto. Pada masa itu pula berlangsung penyebaran Islam ke Banten (sekitar 1525-1526) melalui penempatan salah seorang putra Syarif Hidayatullah. Lan duwea muhung. maju sangat pesat. hlm. janganlah kamu berlebihan. Arkeologi Islam Nusantara... hlm. seperti di atas. penguasa kadipaten dari Kerajaan Sunda Pajajaran yang berkududukan di Banten Girang. Pan sira aja susah tatapa ing gunung utawa guane iku dadi takabur. 164 114 Jumantara Vol. Itulah langkah sempurna yang sejati. Milikilah sikap luhur dan maafkan orang yang salah. Sira laku tapaha maring ingkang remening jalma. (Jakarta: Pustaka Gramdia. keagamaan. sira aja ilok anglaluwih ing padaning manusa. Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikanmu takabur. Uka. Wong kang luput den ampura. jangan sombong dalam bicara dan jangan berlebihan terhadap sesame manusia.1 Tahun 2012 .63 Peristiwa itu terjadi setelah keruntuhan pemerintahan Pucuk Umum. hiduplah dengan bersahaja.basaja sira iku. khusus mengenai guru dan ajaran Syarif Hidayatullah. 3 No. dan perdagangan. untuk mendalami apa yang dinyatakan Sunyoto. aja langguk ing wicara. Maulana Hasanuddin. (Mengenai langkah yang harus dijalani. Sunyoto (2011) dalam analisisnya tentang pendidikan dan pengembangan keilmuan Syarif Hidayatullah. lakukanlah tapa di tengah ramainya manusia. bidang politik. Wali Songo.62 Memang penelitian ini perlu dilanjutkan lagi. Bukti Kejayaan Pada Era Syarif Hidayatullah Periode Syarif Hidayatullah (1479-1568) memimpin Cirebon merupakan masa perkembangan sekaligus masa kejayaan Islam di Cirebon. 2009).

Maulana Hasanuddin yang terletak di Surosowan. yaitu yang bersifat rohaniah seperti penyebaran Islam. Kraton Pakungwati. saat ini berada di Kasepuhan. Bekasi. . Bukti-bukti kejayaan Syarif Hidayatullah di Cirebon. seperti Tajug (Masjid). dekat Muara Cibanten. dan Serang (Banten).Wilayah Kekuasaan Syarif Hidayatullah 1479-1568 - Tajug dan (atau) Masjid Pendirian tempat ibadah. tetapi pengembangan juga dilakukan ke arah Priangan Timur. Sampai saat ini masjid tersebut masih terpelihara dan dikenal dengan nama dalam dialek Cirebon. juga dapat dilihat pada perkembangan bangunan fisiknya. Tangerang. 3 No. Pangeran Cakrabuana mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Sang Tajug Jalagrahan (jala artinya air. graha artinya rumah). Jumantara Vol. wilayah perkembangan Islam pada era itu. khususnya masjid. seperti yang tampak dalam gambar. kemudian Talaga (tahun 1530).1 Tahun 2012 115 . dan pelabuhan yang saat ini tidak seramai dahulu lagi. Jika dipetakan. Krawang. Masjid ini merupakan masjid pertama di tatar Sunda dan didirikan di pesisir laut Cirebon. telah dilakukan sejak Islam masuk di Cirebon. Untuk kepentingan ibadah dan pengajaran agama Islam. yaitu Indramayu. selain terlihat dari sisi keagamaannya. antara lain ke Kerajaan Galuh (tahun 1528). masjid Pejalagrahan.

sedangkan bagian luar berfungsi untuk salat maktubah. 45 65 Wawancara Agustus 2011 di Masjid Merah Panjunan Cirebon. dan dihiasi piring keramik dari Cina. 65 Sebagaimana ciri khas masjid Cirebon lainnya. Berbeda dari informasi yang berkembang di masyarakat. yang sampai hari ini diakui keberadaannya. Bagian dalam Masjid Merah Panjunan. yakni masjid Merah Panjunan dan masjid Agung Sang Cipta Rasa. terbitan Suleman Sulendraningrat. dibangun sesudah masjid Merah Panjunan. terdapat beberapa bangunan masjid yang dibangun pada masa Syarif Hidayatullah. para walisongo sering mengadakan rapat di dalam masjid untuk membicarakan beberapa hal penting urusan umat. yaitu sekitar tahun 1480. Bagian dalam masjid digunakan hanya untuk waktu-waktu khusus. sebelum masjid Agung Sang Cipta Rasa didirikan.64 Selain itu. Khusus untuk Masjid Merah Panjunan. menurutnya. Kasepuhan. Masjid tersebut dibangun sekitar tahun 1454. masjid Agung Sang Cipta Rasa. berbentuk undukan bata. bagian dalam hanya digunakan untuk Salat hari raya („Ied). hlm. di dinding bagian pengimaman terdapat lukisan khusus.bertempat di dalam Kraton Pakungwati. tempat pengimaman hanya digunakan salat idul fitri dan idul adha 64 Babad Tanah Sunda. yaitu bangunan dalam dan luar.1 Tahun 2012 . Sunan Gunung Jati. Menurut salah seorang takmir masjid. 3 No. seperti ditulis Dadan Wildan. 116 Jumantara Vol. Bangunan kedua masjid terbagi menjadi 2 (dua).

Masjid itu dibangun tahun 1549 atau seperti yang tertulis dalam candrasangkala yang berbunyi Waspada Jumantara Vol.1 Tahun 2012 117 . 3 No.Mesjid Merah Panjunan Mesjid Merah Panjunan Kejayaan era Syarif Hidayatullah juga terlihat dari keberadaan sebuah bangunan masjid yang bernama Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang saat ini berada dalam lingkungan kompleks Kraton Kasepuhan.

Naskah Mertasinga. Sebagai bagian dari Walisongo. Mempertimbangkan hal itu. hlm. Keaktifan dakwah Islam Syarif Hidayatullah tidak membuatnya melupakan penataan pemerintahan di daerah sekitarnya. Syarif Hidayatullah tinggal di Kraton Pakungwati. Dhandhanggula)67 Sejak serah terima dari Pangeran Cakrabuana.dkk. hlm. 1979).68 66 Waspada = 2. 34-35 118 Jumantara Vol. (Jakarta: Sinar Harapan. Syarif Hidayatullah menyerahkan kekuasaan pemerintahan di Cirebon kepada Pangeran Pesarean pada kurun waktu 1528-1552. Syarif Hidayatullah sendiri lebih memilih mengkhususkan diri dalam syiar Islam ke daerah pedalaman. Berbagai perubahan sistem pemerintahan yang berdasarkan nilai-nilai Islam mulai diterapkan. jadi 1422 caka. Perkembangan Islam secara luas dan massif bermula dari tempat itu. Nama lain masjid ini adalah Masjid Pakungwati. Hadisutjipto (Jakarta: Depdikbud. 1982). (Jakarta: Depdikbud. 83. Tetapi menurut Naskah Mertasinga. Syarif Hidayatullah di akhir hayatnya lebih memilih untuk menjadi seorang ulama daripada penguasa pemerintahan. Cerbon. hlm. 3 No.66 Bentuk bangunan dan simbol-simbol dalam masjid semuanya sarat dengan makna filosofis. Yuga = 4. Abdurrachman (penyunt. Simbol bangunan masjid melambangkan filsafat Hayyun ila Ruhin (hidup tanpa ruh). 123 67 Babad Cirebon. Paramita R.Penenbehe Yuganing Ratu. Baginya. xxviii 68 Adeng . yang bermakna 1500. 1998). kekuasaan cukup dijalankan oleh putranya di Banten. mulai dengan alun-alun dan istana yang kemudian terkenal dengan nama Istana Pakungwati (Pupuh 18. Pesarean merupakan putra Syarif Hidayatullah dengan Nyai Tepasari. Masjid Agung dibangun ketika Syarif Hidayatullah berumur 113 tahun atau sekitar 1561. Hal itu pula merupakan konskuensinya sebagai anggota penting Walisongo. Panembehe = 2. alih aksara dan ringkasan S. Kraton dan Sistem Pemerintahan Cirebon Sarip Hidayat menikah dengan Pakungwati dan mulailah pembangunan negara (kota) Carbon. hlm. Ratu = 1. Kota Dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra.Z.1 Tahun 2012 .).

1 Tahun 2012 119 . Kraton Kasepuhan sebagai pintu gerbang menuju Kraton Pakungwati Kraton Cirebon setelah ditinggal Syarif Hidayatullah mengalami Jumantara Vol. 3 No. maka ia mendapat julukan Pandita Ratu (ulama yang menjadi raja.Masjid Agung Sang Cipta Rasa dari berbagai sisi Pintu Gerbang Masjid Pintu Masuk Masjid Dalem Dengan tidak aktifnya Syarif Hidayatullah dalam pemerintahan. tetapi lebih giat menjalankan keagamaan daripada bergerak di bidang politik).

Pelabuhan sebagai Pusat Perdagangan Peninggalan Syarif Hidayatullah yang pernah menjadi bagian dari jalur sutra perdagangan dunia internasional adalah pelabuhan. Pada sore hari.70 Menurut Singgih Tri Sulistiono. 3 No. kota Cirebon juga menjadi kota pelabuhan alternatif terpenting di pantai utara Jawa setelah Jakarta dan Semarang.id/22079/ 120 Jumantara Vol. Indramayu. Kuningan (Selatan Cirebon).69 Selain itu.1 Tahun 2012 .pdf 70 Sigit W. Perkembangan pelabuhan paling pesat terjadi pada abad ke-19. 1994) dalam http://eprints. Sastra UNDIP. yaitu Panembahan Ratu dan Sultan. Dari berbagai sumber diketahui. Mungkin fenomena ini bisa ditafsirkan sebagai upaya Cirebon untuk memperkuat posisinya di bidang perdagangan dan pelayaran dengan cara menguasai daerah pedalaman yang menjadi sumber 69 http://elib. Pemandangan itu pun masih dapat ditemui hingga saat ini. (Semarang: Skripsi Fak. Gelar penguasa Cirebon pernah mengalami beberapa perubahan. bahwa perubahan nama gelar untuk penguasa di Kraton Cirebon juga menunjukkan adanya dinamika yang luar biasa.undip. Kapal-kapal asing yang mengangkut barang-barang niaga dari dan ke luar negara pernah meramaikan pelabuhan ini. dan Karawang. “Perkembangan Pelabuhan Cirebon 1859 -1930”. Pelabuhan Cirebon diduga berdiri seiring dengan kelahiran Cirebon pada 1371. Hal itu sejalan dengan perkembangan pesat dari beberapa kerajaan Islam di Jawa dan Banten.id/files/disk1/475/jbptunikompp-gdl-midiansoem-237253-bab2-mid-n.ac. Pelabuhan Cirebon merupakan pelabuhan yang memiliki peran strategis dalam hal perdagangan sejak masa Syarif Hidayatullah masih berkuasa. penyebaran Islam ke daerah Babadan. dapat disaksikan puluhan kapal besar tengah bersandar di dermaga. terjadi dengan damai dan tanpa kekerasan. terlebih lagi setelah adanya pengaruh pihak kolonial atau masuknya VOC ke Cirebon.berbagai kemunduran..unikom. Cirebon merupakan pusat perdagangan untuk daerah sekitarnya.ac. bersamaan dengan berlangsungnya era kolonialisme. Sebagai kota pantai.

164 http://boykomar. yang berarti bahwa pelabuhan Cirebon terbuka bagi kegiatan bongkar muat barang dari dan ke luar negeri atau barang ekspor dan impor.72 Pelabuhan Cirebon inilah salah satu sumber ekonomi terbesar Kraton Cirebon sehingga pihak kraton dapat memenuhi kehidupan masyarakatnya. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa jika pelabuhan tersebut kurang dimanfaatkan. hlm. Pengaruh Syarif Hidayatullah di Jawa Sebagaimana disebut di awal pembahasan. Lebih-lebih pada masa pemerintahan Syarif Hidayatullah (1479-1568) yang lebih kurang berusia satu abad. setiap Sunan dalam Wali Songo mempunyai tugas masing-masing.com/photos/album/91/Pelabuhan_Cirebon Jumantara Vol. seperti beras dan kayu.1 Tahun 2012 121 .penghasil komoditas perdagangan. Uka.multiply. kota pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon sudah lebih banyak penduduknya dan lebih ramai. pelabuhan samudra dan pelabuhan ekspor impor. Arkeologi Islam Nusantara. 3 No. pelabuhan Cirebon berstatus pelabuhan internasional. Seperti disebutkan 71 72 Seperti dikutip Tjandrasasmita. 71 Pelabuhan Kota Cirebon saat ini Saat ini. maka kejayaan Cirebon juga sudah mulai tenggelam. Adapun pelabuhan Cirebon dikelola oleh BUMN yang keberadaannya dibawah manajemen PT (Persero). serta sekaligus tempat mensuplai barang-barang dari luar.

Kanjeng Susuhunan Kudus amewahi dapuripun dadamel. juga membuat peraturan. Sunan Kudus merancang pekerjaan peleburan. 3 No. adalah sebagai berikut: Sunan Ampel membuat peraturan-peraturan yang Islami untuk masyarakat Jawa. tahun. sinjang batik. Sunan Bonang mengajar ilmu suluk. utawi andamel garabah. seperti disebut Sunyoto. kaliyan amewahi parabotanipun ing among tani.. waos duwung sapanunggalanipun.Sunyoto. hlm. utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana. dan menggubah irama gamelan. membuat keris. bulan. melengkapi peralatan pande besi. kerajinan emas. Raja Pandhita ing Gresik amewahi ing polanipun ing sinjang. Sebagai Raja Pandita di Gresik ia merancang pola kain batik. tugas tokoh-tokoh Wali Songo dalam mengubah dan menyesuaikan tatanan nilai dan sistem sosial budaya masyarakat. amewahi wanguning griya. memperbarui alat-alat pertanian. dadaharan hutawi ulam-ulaman. tandu joli sapanunggalanipun. utawi tiyang ingkang karembat ing tiyang. adamel susuluking ngelmi kaliyan amewahi ricikanipun ing gangsa. serta membuat gerabah. Kanjeng Susuhunan Drajat. Kanjeng Susuhunan ing Giri adamel pranatanipun ing karaton Jawi. saha amewahi ing wangunipun kakapaning kuda. kaliyan malih amiwiti damel dalan tiyang Jawi. Susuhunan Majagung mengajarkan mengolah berbagai macam jenis masakan. 122 Jumantara Vol. tokoh Syarif Hidayatullah dikisahkan memiliki kaitan dengan ajaran sufisme 73 Sunyoto. tata cara pengobatan. 90-91. dan lauk pauk. Susuhunan ing Majagung amewahi wangunipun ing olah-olahan. tenun lurik. menyesuaikan siklus pawukon. dan perlengkapan kuda. Kanjeng Susuhunan ing Gunung Jati ing Cirebon. utawi amewahi lampahing pawukon sapanunggalipun. mengatur perhitungan kalender siklus perubahan hari. sebagai berikut: Susuhunan ing Ngampel-denta handamel pranating agami Islam. Kanjeng Susuhunan Bonang. Dalam bahasa Primbonnya. Sunan Drajat mengajarkan tata cara membangun rumah dan membuat alat untuk memikul orang. seperti tandu dan joli. kaliyan sinjang lurik. kaliyan kemasan. dan windu. kaliyan amewahi bangsa pepetangan lampahing dinten wulan tahun windu. utawi amewahi lagunipun ing gending. Sunan Giri membuat tatanan pemerintahan di Jawa. saha adamel angger-anggeripun hingga pangadilan hokum ingkang keninging kalampahan ing titiyang Jawi. membuat gamelan. serta tata cara membuka hutan. Syarif Hidayatullah di Cirebon mengajarkan tata cara berdoa dan membaca mantra. juga merintis pembukaan jalan.73 Menurut Serat Walisana. undang-undang. amewahi donga hakaliyan mantra. hingga sistem peradilan yang diperuntukkan bagi orang Jawa. utawi amewahi parabotipun bekakasing pande.1 Tahun 2012 . kanggenipun ing tiyang Jawi.

dan Syaikh Samangun Asarani. Syarif Hidayatullah yang hidup pada abad ke-15/16 di Cirebon. cet. hlm. (Yogyakarta: LKiS. Sebagai tokoh yang lebih memilih dakwah syiar Islam bagi masyarakatnya. Fatahillah. Abad tersebut. antara lain rapat Wali Songo pernah dipindah dari Demak ke Cirebon untuk membicarakan banyak hal di Jawa. intelektual dan muballig. hlm. bersamaan dengan masa renaisans di Eropa dan kehadiran para pemikir besar muslim pada masanya. Syaikh Muhyiddin Ibn „Arabi. Begitu pula dengan keterlibatannya dengan kerajaan Islam di Banten. Bukti kedekatan pengaruh juga ditunjukkan dengan pola pernikahan putra putrinya. Ibid. 2007). Sunan Kalijaga. terdapat berita bahwa Sunan Cirebon ikut serta membangun masjid Demak sebagai salah satu di antara Sembilan wali. seperti dikutip Muljana. daripada sebagai penguasa formal birokratis di kesultanan Cirebon. 2007). hlm. Sekurangnya terdapat beberapa peristiwa besar di Demak. Syaikh Rudadi. tidak ditemukan suatu kitab atau karya akademiknya. alih aksara dan bahasa Amman N.76 Menurut sumber lain. 100-101 76 Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga). Syarif Hidayatullah telah menanamkan suatu 74 75 Sunyoto. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya NegaraNegara Islam di Nusantara.. Perkembangan Tarekat Syattariyah dan Akmaliyah.75 Keterlibatan Syarif Hidayatullah dengan kerajaan Islam di Demak. Syaikh Sbti. (Bandung: Pustaka. 72-88 Jumantara Vol. Wahju.melalui kitab-kitab Syaikh Ibrahim Arki. 91-92 Slamet Muljana. Setiap teks selalu menawarkan informasi yang tak jarang berbeda dan bertentangan satu teks dengan teks lainnya tentang sosok Syarif Hidayatullah. disebutkan pula dalam Naskah Mertasinga. V. Syarif Hidayatullah juga ikut dalam perjuangan Islam di Jayakarta melalui utusannya.74 Dalam Serat Kanda. sampai dengan tulisan ini dibuat. Syaikh Abu Yazid Bustomi. sering pula dinisbatkan pada ajaranajaran Wali Songo.1 Tahun 2012 123 .. khususnya Syarif Hidayatullah. 3 No. dan Syekh Siti Jenar. Kesimpulan Mengkaji teks Syarif Hidayatullah sungguh mengasikkan. Sunan Giri. Sebagai sosok historis.

Skripsi UNES Semarang. De & Th. Indonesia”. Kota Dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra. HJ. Cohen. Adanya kerajaan Islam di Demak dan Banten merupakan beberapa contohnya. Cet. Penyunting Eko Endarmoko dan Jaap Erkelens. Garut. “An Inheritance from the Friends of God: The Southern Shadow Puppet Theater of West Java. Sumedang. 124 Jumantara Vol.peradaban moral dan teologis bagi muslim Indonesia terutama di Cirebon. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. Martin van (1999). Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia. Karena itu. Yale University. Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Masjid Merah Panjunan. dkk. Bruinessen. mulai dari Kuningan. Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat. Indramayu. Matthew Isaac (1997). Ciamis. barangkali merupakan sebagian di antara bukti peradaban muslim klasik Indonesia dari Syarif Hidayatullah selama kurun waktu 1479-1568 di Cirebon. “Peranan Walangsungsang dalam Merintis Kesultanan Cirebon 1445-1529”. Tak kalah pentingnya lagi kontribusi Syarif Hidayatullah pada perkembangan Islam di Jawa Barat dengan cara dakwah dengan damai. Bandung: Mizan. III. Disertasi. Pengaruh Syarif Hidayatullah terhadap perkembangan Islam di Jawa sangat besar sekali. Pigeaud (2003). Majalengka. Jakarta: Depdikbud. Jakarta: Ikatan Karyawan Meseum. bukti kejayaannya dapat ditemukan melalui bangunan tajug atau masjid dengan keragaman seni dan filosofinya. Cianjur. Graaf. 3 No. Darkum (2007).1 Tahun 2012 . Atja (1974). Wallahu a‟lam bis sawab Bibliografi Adeng. bahkan Jayakarta (Betawi). Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah muladjadi Tjirebon). (1998).

A. (2000) Hand Book of Qualitative Research. K. Abdurrachman. II. Masa Awal Kerajaan Cirebon. Ishom (edit.A. Hoesein (1974). Relics of the Past: Sociological Study of the Sultanates of Cirebon West Java. Tim IAIN Syarif Hidayatullah (2002) Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid I A-H. 3 No. Jakarta: Sinar Harapan. Kern. dalam Susanto Zuhdi. Jakarta: Diva Pustaka.A. P.1 Tahun 2012 125 . dan M. dalam R. (1974) “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinya”. Paramita R. Cet.Y. Bandung: Geger Sunten. Kern dan Husein Djajadiningrat. Tesis. & Lincoln S. seperti dikutip dalam Marwati Djoened Poesponegoro. Universitas Gajah Mada. Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Pertumbuhan Pesantren. Yogyakarta. Kern dan Husein Djajadiningrat. Siddique. El-Saha.N. United States: Sage Publications Inc. Jakarta: Bhratara. (penyunt.) (1982). Denzin. Yogyakarta: LKPSM. Agus Aris dan Titik Pudjiastuti (1997) “SumberSumber Tekstual tentang Sejarah Cirebon”. Iskandar. Jakarta: Depdikbud.A. Jakarta: Bhratara. Sejarah Nasional Indonesia: Jaman Jumantara Vol. Sharon (1992). Jakarta: Djambatan. Mastuki HS. X. Masduqi. Penterj. Masa Awal Kerajaan Cirebon. Munandar. Nugroho Notosusanto. al-Maraghi.Djajadiningrat. dalam R. “Beberapa Catatan Mengenai Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinja”. Yoseph (2008) Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakwasa). Cet. Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra. Abdullah Mustofa (2001) Pakar-Pakar Fiqh Sepanjang Sejarah. Cerbon. Husein Muhammad. Zaenal (2010) “Pemerintahan Kota Cirebon (19061942)”.) (2003). R.

Jakarta: Balai Pustaka. Dadan (2002). Suntingan/Terbitan Naskah Babad Tanah Sunda. Jakarta: Gramedia. Tjandrasasmita. Suprayogo dan Tobroni. Bandung: Humaniora. Cirebon: Yayasan Keraton Kasepuhan Cirebon. Bandung: Remaja Rosda Karya. 3 No. Suprapto. Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan 126 Jumantara Vol. penterj. Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup. terbitan Suleman Sulendraningrat dalam Dadan Wildan. Jakarta: Balai Pustaka. Mistikus Islam: Ujaran-ujaran dan Karyanya. _______ (2004) Membumikan Wasiat Sunan Gunung Djati Dalam Membangun Jawa Barat Bermartabat. Bibit (2009). Wildan. Margaret (2001). dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. Uka (2009) Arkeologi Islam Nusantara. Ribut Wahyudi.Pertumbuhan dan Perkembangan III.id/22079/ Yenne. Surabaya: Risalah Gusti. Tulisan dapat diakses di http://eprints.ac. Agus (2011). Jakarta: Pustaka Gramedia. Penterj. Jakarta: Transpustaka.]: Karisma Publishing Group. Bill (2005). Sigit W (1994) “Perkembangan Pelabuhan Cirebon 1859-1930”. Lili Sri Padmawati.undip. Fakultas Sastra UNDIP. Skripsi. Karya. PRA (1985). Sejarah Cirebon. Sulendraningrat. Metodologi Penelitian Sosial-Agama. [t. Smith. 100 Peristiwa yang Berpengaruh di dalam Sejarah Dunia (100 Events That Shaped World History). Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural.1 Tahun 2012 .k. Sunyoto. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan. Imam (2001).

alih aksara dan bahasa Amman N.htm Jumantara Vol.html http://indahartgallery. Hadisutjipto (Jakarta: Depdikbud.webs.id/kbbi/index.kemdiknas. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. 2002) Babad Tanah Sunda. alih aksara dan ringkasan S. (Bandung: Pustaka. 2002) Babad Cirebon.multiply. 2007) Website http://pusatbahasa.id/files/disk1/475/jbptunikompp-gdlmidiansoem-23725-3-bab2-mid-n. (Bandung: Humaniora.go.pdf http://www. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. 1979) Naskah Mertasinga. Wahju.1 Tahun 2012 127 .Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural.ac.com/2010/12/kisah-sejarah-kotacirebon.php http://boykomar. terbitan Suleman Sulendraningrat dalam Dadan Wildan. 3 No.nusawarta. Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural. alih aksara dan bahasa Amman N. Wahju.Z.unikom. 2005) Naskah Kuningan. (Bandung: Pustaka.com/keraton.com/photos/album/91/Pelabuhan_Cireb on http://elib. (Bandung: Humaniora.

digunakan beberapa alat bantu identifikasi agar hasilnya lebih terukur. jenis serat. warna bahan. Candi Cangkuang *) Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia 128 Jumantara Vol. Dua metode tersebut digunakan untuk identifikasi bahan naskah gulungan koleksi Cagar Budaya Candi Cangkuang (CBCC). Karakteristik bahan naskah yang dihasilkan berupa ketebalan bahan. kadar asam dan jenis kerusakan naskah. Bahan Naskah. Adapun uji sampel di laboratorium mengacu pada Standard Nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional Indonesia (BNSNI) sehingga hasilnya lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Adanya kemungkinan penggunaan metode dan hasil identifikasi bahan naskah daluang tersebut diharapkan dapat memperkaya metode kajian naskah dan mempertajam analisis filologis selanjutnya.1 Tahun 2012 . Kata Kunci: Identifikasi. 3 No. Daluang. yaitu pengamatan langsung dan uji sampel di laboratorium.Abstrak Tulisan ini berupaya memaparkan hasil identifikasi naskah berbahan daluang dengan menggunakan dua metode. panjang serat. Dalam hal metode pengamatan langsung.

Di samping itu. di antaranya Lubis (1996:37) yang menyatakan bahwa “daluang adalah kertas yang digunakan di Pulau Jawa yang terbuat dari kulit kayu sebagai campuran”. Sudjiman. dan 1 naskah berbahan daluang saéh. saéh. fisik naskah adalah medium yang mewadahi teks sebagai kandungannya (Baried. Kabupaten Garut. Namun patut dicatat bahwa masih terdapat beberapa kekeliruan dalam memahami daluang. yang menyatakan bahwa dari 137 buah koleksi naskah yang ada terdaftar. Provinsi Jawa Barat. Sudardi. Dalam identifikasi naskah. 2001: 18-20. 2 buah berbahan saéh. pengenalan karakteristik bahan. Naskah berbahan daluang dideskripsikan sebagai naskah berbahan kulit kambing. yaitu bahan dan teknik. Terjadinya kesalahan dalam identifikasi naskah berbahan daluang. dan daluang saéh. daluang merupakan salah satu dari sekian banyak bahan naskah yang digunakan dalam tradisi tulis Nusantara.Pendahuluan Naskah dibedakan atas adanya fisik dan kandungan teks. dan aspek-aspek lainnya.1 Tahun 2012 129 . Contoh kesalahan dalam pendeskripsian naskah yang memakai daluang sebagai bahannya adalah pendeskripsian bahan naskah pada koleksi Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga Jawa Barat (BPMNSBJB). terdapat pula kekeliruan dalam pendeskripsian bahan naskah pada materi pameran tetap di BPMNSBJB. baik dari segi peristilahan. Terkait dengan bahan naskah. Kasus serupa terjadi pada pendeskripsian naskah gulungan CBCC di Kecamatan Leles. Medium dalam naskah dapat dibedakan pula atas dua hal. 1994: 11). 1985: 4-5. yang pertama kali dapat dilakukan di antaranya adalah pendeskripsian medium. yaitu naskah Babad Pajajaran yang kemungkinannya besar berbahan daluang dideskripsikan sebagai naskah berbahan kulit binatang. Dalam hal ini digunakan tiga istilah untuk satu jenis bahan naskah yang sama. 74 buah di antaranya berbahan “daluang”. 3 No. bisa jadi disebabkan oleh hilangnya tradisi pembuatan daluang. yaitu daluang. yang secara otomatis Jumantara Vol.

dan aksaranya sudah tidak terlalu jelas. lembar halamannya terurai dari jilidannya sehingga halaman demi halamannya tercecer. termasuk para petugas yang menangani naskah. serta fungsinya diperkirakan dapat memberi jalan bagi pendalaman kajian terhadap naskah serta pengembangan bagi disiplin ilmu filologi. naskah CBCC ternyata belum banyak diteliti. termasuk di dalamnya naskah berbentuk gulungan. Kemasan naskahnya terdiri dari dua bentuk. 3 No. Kondisi fisik naskah berbentuk buku umumnya sudah mulai rusak (dari enam belas naskah hanya tiga naskah yang kondisinya masih cukup baik). sehingga menyulitkan ketika akan dibaca. Berbeda dengan yang berbentuk buku. teknik. 130 Jumantara Vol. daluang sebagai bahan naskah yang dihasilkan oleh tradisi tulis Nusantara menjadi penting untuk dikaji lebih lanjut. lima belas buah naskah berbentuk buku disimpan berjajar dalam dua lemari kaca dan dua naskah disimpan terpisah dalam sebuah lemari kaca lainnya.1 Tahun 2012 . berupa buku (binding) dan gulungan (scroll). Adapun informasi mengenai koleksi naskah CBCC dapat dilihat pada buku Cagar Budaya Candi Cangkuang dan Sekitarnya yang disusun oleh Zaki Munawar (2002). Kini banyak orang. Di antara sekian banyak naskah yang berhasil dihimpun dalam berbagai katalog naskah Nusantara. penyimpanan. atau karena kurang baiknya pemeliharaan masyarakat pendukung berikutnya. Buruknya kondisi naskah-naskah berbentuk buku bisa jadi disebabkan oleh tingginya tingkat penggunaan pada masa naskah itu digunakan atau karena kurang baiknya teknik penjilidan. naskah gulungan kondisinya lebih baik. berjamur. Naskah-naskah koleksi CBCC disimpan di tiga lemari kaca yang berbeda. dan perawatan naskah. Sehubungan dengan hal itu. Naskah koleksi CBCC seluruhnya berjumlah tujuh belas naskah dan seluruh bahan naskahnya diperkirakan berupa daluang. lembab. bahkan dalam berbagai katalog naskah pun belum tercantum. Dalam hal ini peran kajian kodikologi untuk mengenali bahan.menyebabkan informasi mengenai daluang menjadi terputus. tidak mengenal wujud dan ciri-ciri daluang dengan baik.

lembarannya relatif masih utuh, tidak terlalu lembab, tidak terlalu berjamur, dan aksaranya terlihat jelas sehingga memudahkan pembacaan teks. Kondisi naskah berbentuk gulungan yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi naskah berbentuk buku mengundang beberapa pertanyaan, di antaranya: apakah naskah yang dikemas dalam bentuk gulungan lebih baik daripada naskah berbentuk buku atau apakah ada kaitan antara bahan naskah dan bentuk kemasan naskah dengan tingkat kekuatan fisik naskah?

Gambar 1. Tampak kerusakan naskah berbentuk buku koleksi CBCC. (dok. pribadi)

Naskah gulungan koleksi CBCC mempunyai ukuran 176 X 23 cm., kedua permukaannya ditulisi dengan teks beraksara Arab,; tinta yang digunakan untuk menuliskan aksara berwarna hitam dan tinta yang digunakan untuk menuliskan tanda baca berwarna merah. Identifikasi bahan naskah gulungan koleksi CBCC pada dasarnya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan berdasarkan pengujian di laboratorium. Pengamatan secara langsung di lapangan dapat dilakukan dengan bantuan alat ukur dan peralatan lainnya yang

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

131

diperlukan. Alat ukur yang digunakan di lapangan memberikan hasil ukur secara langsung, seperti panjang dan lebar bahan naskah, ketebalan bahan naskah, warna bahan naskah, jenis aksara, dan warna tinta tulis yang digunakan. Adapun pengujian bahan di laboratorium dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan laboratorium dan didasarkan pada metode dan standar yang sudah diakui secara nasional, yaitu SNI. Pengamatan Langsung Pengamatan terhadap bahan naskah gulungan koleksi CBCC yang bisa dilakukan secara langsung di lapangan adalah berupa pengukuran dimensi panjang dan lebar bahan naskah dengan menggunakan mistar, pengukuran ketebalan bahan naskah dengan menggunakan mikrometer digital, dan pengukuran warna dengan menggunakan tabel warna; di samping itu dilakukan pula pengambilan gambar dengan menggunakan kamera digital untuk keperluan dokumentasi penelitian. Setelah dilakukan pengukuran, hasilnya menunjukkan bahwa ukuran bahan naskah adalah 176 X 23 cm., sama dengan informasi yang diberikan oleh juru pelihara CBCC. Ukuran bahan naskah seperti itu termasuk jarang digunakan dalam penulisan naskah, hal ini dapat di antaranya dapat dilihat pada data dalam Katalogus Naskah Sunda (1988), yang menunjukkan bahwa naskah-naskah Sunda umumnya mempunyai ukuran di bawah ukuran bahan naskah gulungan koleksi CBCC dan umumnya berbentuk buku. Kelangkaan ukuran bahan naskah tersebut juga dapat mengindikasikan bahan baku yang digunakannya. Dalam hal ini bisa diyakini bahwa naskah gulungan koleksi CBCC bukan terbuat dari kulit kambing seperti yang dideskripsikan oleh petugas juru pelihara CBCC, berangkat dari asumsi panjang kulit kambing dari bagian leher sampai dengan bagian ekor berkisar antara 90 sampai dengan 120 cm. Di samping itu tidak terdapat bintik-bintik bekas pori-pori dan bekas tumbuhnya bulu seperti pada lembaran kulit binatang pada umumnya. Serat pembentuk

132

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

lembarannya pun serat panjang seperti halnya serat pembentuk lembaran kulit kayu. Mengenai kepastian jenis serat pembentuk bahan, selanjutnya akan dipastikan melalui uji laboratorioum.

Gambar 2. Tampak serat pembentuk bahan naskah NGCBCC. (dok. pribadi)

Mengenai ketebalan bahan naskah gulungan koleksi CBCC, setelah dilakukan pengukuran ternyata bahwa ketebalan bahannya tidak sama, paling tipis adalah 0.29 mm dan paling tebal adalah 0.48 mm. Berpijak pada adanya variasi ketebalan bahan dan dikaitkan dengan jenis serat pembentuk lembaran yang diduga berasal dari serat kulit kayu, maka dapat dipastikan bahwa bahan naskah gulungan koleksi CBCC dibuat secara tradisional; bukan dibuat secara modern dengan menggunakan mesin pembuat kertas yang dapat menghasilkan kertas dengan ketebalan yang sama karena dibentuk oleh sebuah mekanisme pembentuk lembaran (sheet former) yang presisi. Dengan adanya kenyataan serat pembentuk bahan naskah berupa jenis serat panjang yang berasal dari kulit kayu, penentuan bahan naskah pun bisa dirujuk pada adanya daluang sebagai bahan naskah Nusantara. Mengenai warna bahan naskah gulungan CBCC, agar

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

133

keterukurannya lebih akurat, maka pengukuran warna disandarkan pada tabel warna C/M/Y/K. Setelah diukur secara acak berdasarkan kesamaan dan perbedaan warna yang mencolok, didapatkan hasil ukur warna dengan pola (1) 10/20/50/0, (2) 40/40/50/0, (3) 5/5/50/0, (4), 5/20/50/0 (5), 0/10/50/0, dan (6) 5/10/50/0. Jika keseluruhan pola warna tersebut dikonversikan ke tabel warna yang dikeluarkan oleh Winsor & Newton, maka warna bahan naskah gulungan CBCC dapat termasuk ke dalam warna naples yellow, yellow ochre, atau raw sienna.

Gambar 3. Tampak pengukuran ketebalan kertas - 0.29 mm. (dok. pribadi)

Gambar 4. Tampak nilai warna pola 1. 10/20/50/0 (dok. pribadi).

134

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Nina Elyani. 3 No.2-1998.2-2010. Hasil Uji Laboratorium Untuk melakukan identifikasi bahan naskah di labotatorium. pengujian panjang serat didasarkan pada SNI ISO 16065. dan (6) ketahanan lipat. maka perbedaan warna yang dapat disaksikan saat ini adalah perbedaan warna yang dihasilkan atau diakibatkan oleh perjalanan waktu serta perlakuan terhadap naskah itu sendiri. jika pada saat pembuatan warna bahan naskah adalah sama. pengujian daya serap Jumantara Vol. atau raw sienna (dok. pribadi).1 Tahun 2012 135 . Sertifikasi. (3) panjang serat. (4) daya serap tinta atau penetrasi minyak IGT. berdasarkan informasi studi lapangan yang dilakukan pada tanggal 3 Pebruari 2011 di Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) yang berlokasi di Jalan Raya Dayeuhkolot 132 Bandung. yellow ochre. Kepala Bidang Pengujian. (5) daya serap air atau Cobb 60. Tampak hasil konversi warna bahan NGCBCC yang menunjuk pada warna naples yellow. Gambar 5. pengujian jenis serat didasarkan pada SNI 0441-2009. dan Kalibrasi.Adanya perbedaan atau gradasi warna yang terdapat pada naskah gulungan CBCC menunjukkan bahwa. menyatakan bahwa bahan naskah gulungan koleksi CBCC dapat diidentifikasi berdasarkan uji atas (1) pH atau kadar asam. Seluruh pengujian tersebut metodenya didasarkan pada standar yang telah ditetapkan BSNI. (2) jenis serat. yaitu: pengujian pH didasarkan pada SNI 14-0479.

pengujian daya serap air didasarkan pada SNI 0449-2008. ternyata masih terdapat peluang untuk melakukan uji pH atau kadar asam. dan panjang serat bahan naskah karena contoh bahan naskah yang diperlukan untuk pengujian tersebut tidak terlalu besar. Keberadaannya harus senantiasa dijaga dan harus tetap berada di lokasi CBCC. (dok. Etika keilmuan filologi juga tidak memperkenankan untuk pengambilan bahan naskah karena akan merusak naskah itu sendiri. Untuk melakukan uji kualitas bahan naskah diperlukan bahan atau sampel dengan ukuran minimum 15 X 20 cm yang akan hancur setelah proses pengujian berlangsung. pribadi) Pengujian kadar asam serta penentuan jenis dan panjang serat bahan naskah gulungan CBCC menjadi sangat penting untuk dilakukan karena melalui pengujian ini akan dapat diketahui apakah bahan naskah tersebut termasuk kertas yang kuat. dan pengujian ketahanan lipat didasarkan pada SNI 0491-2009. yang selanjutnya disebut sampel utama. 3 No.1 Tahun 2012 . Sampel bahan diambil dari bagian naskah gulungan CBCC yang koyak. Namun demikian.tinta didasarkan pada SNI 14-9584-1989. Tampak bagian ujung bahan naskah yang koyak. yaitu sekitar 1 X 1 cm untuk uji kadar asam dan 1 X 1 cm untuk uji jenis serat dan panjang serat. penentuan jenis serat. Gambar 6. Ukuran minimun bahan untuk uji kualitas tersebut nampaknya tidak dapat dipenuhi karena naskah gulungan CBCC merupakan benda koleksi dilindungi oleh Undang-Undang Cagar Budaya. dengan 136 Jumantara Vol.

Jumantara Vol. Sementara itu.1 Tahun 2012 137 . baik dari dalam maupun dari lingkungan sekitarnya. sedangkan ketahanan berhubungan dengan kekuatan fisik. contohnya goresan dan lipatan.permanensi (kekuatan) dan durability (ketahanan) tinggi. “unsur asam atau lignin.” Adapun menurut Harvey. “permanensi adalah kemampuan kertas untuk tetap stabil dan tahan terhadap aksi kimia. dan skala pH 14 menunjukkan derajat basa. Permanensi berhubungan dengan stabilitas kimia kertas. skala pH 7 menunjukkan sifat netral. mengenai unsur asam pada yang terdapat dalam kertas (termasuk daluang). ketahanan (durability) merupakan sifat ketahanan kertas terhadap perlakuan fisik yang dapat menyebabkan rusaknya kertas. lignin juga merupakan kandungan dari serat kayu itu sendiri. yaitu kadar keasaman atau kebasaan suatu kertas dengan skala 0 – 14. Wan Mamat (1988:62--63) memaparkan bahwa. pada dasarnya merupakan salah satu bahan baku pembuatan kertas dan sudah dipergunakan sejak kira-kira seratus tahun yang lalu. Di samping lignin. Selanjutnya. di mana skala pH 0 menunjukkan derajat asam. dalam Lukman (2009: 56). dinyatakan bahwa ukuran terpenting yang menjadi penentu kertas bersifat permanen adalah kadar pH. atau bahkan sebaliknya seperti yang dipaparkan Lukman (2009: 55). potassium alumunium sulphate untuk penghalus permukaan kertas (bahan kimia dalam proses pembuatan kertas pabrikan) dan penggunaan tinta tulis yang mengandung unsur iron gallotannate (garam besi) juga merupakan faktor yang dapat menyebabkan tingkat keasaman (acid sulfurik) bahan naskah menjadi tinggi”. 3 No. penggunaan zat-zat kimia seperti clorine untuk pemutih kertas.

9. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood.82 ± 0. dan hasil uji panjang serat sepanjang 2. dan hasil uji panjang serat sepanjang 3. Gambar 7. pribadi) Berdasarkan laporan hasil uji atas ketiga sampel yang dikeluarkan BBPK tertanggal 17 Pebruari 2012. (dok. Tampak bahan naskah sampel pembanding dan daluang hasil rekonstruksi.0 ± 0.725 mm. diuji pula sampel daluang hasil rekonstruksi. Di samping itu.81 ± 0. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood. daya serap tinta permukaan bawah 53. yang oleh pemiliknya.01.01. ditemukan naskah yang bahannya diperkirakan sejenis dengan bahan naskah gulungan koleksi CBCC. selanjutnya disebut sampel rekonstruksi. Sampel ini selanjutnya disebut sampel pembanding. di sekitar lokasi CBCC. daya serap tinta permukaan atas 48. diserahkan kepada penulis agar bahannya dapat dimanfaatkan untuk uji laboratorium.1 Tahun 2012 . dan daya serap air permukaan bawah 17.1.575 mm. dari sampel pembanding didapatkan hasil uji pH sebesar 5. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood.3 ± 3. adapun dari sampel rekonstruksi didapatkan hasil uji pH sebesar 6.6.02. Zaki Munawwar. dari sampel utama didapatkan hasil uji pH sebesar 4. 3 No. daya serap tinta permukaan 138 Jumantara Vol.7.985 mm. daya serap air permukaan atas 15. dan hasil uji panjang serat sepanjang 2.96 ± 0.Secara kebetulan. agar didapatkan gambaran mengenai kualitasnya guna pemanfaatan praktis selanjutnya.2 ± 9.4 ± 2. tepatnya di Desa Cangkuang Kecamatan Leles.1.5 ± 2. daya serap tinta permukaan atas 50.

Parameter Satuan Sampel Utama 1 pH Jenis serat Panjang serat Penetrasi minyak IGT .0 ± 3.Arah serat -Silang serat 4246 ± 935 496 ± 333 g/m2 g/m 2 Sampel Pembading 5. Jumantara Vol.96 ± 0.Top side .2 ± 9.Top side .01 Softwood 2.4 Tabel 1. sampel pembanding. Seluruh hasil uji tersebut didasarkan pula pada kondisi ruang pengujian dengan suhu 23 ± 10 C. dan daya serap air permukaan bawah 193.bawah 77. Hasil Uji Sampel Bahan Kertas.02 Softwood 2.7 150. Tabel di atas memuat hasil uji atas tiga parameter yang dapat dibandingkan dari sampel utama. kelembaban ruangan pada RH 50 ± 2 %.2.Bottom side 5 Cobb 60 . jenis serat.2 - 15. yaitu pH.1 77.1 ± 1. ketahanan lipat arah serat sebesar 4246 ± 935. Untuk memudahkan pembahasan.81 ± 0.727 2 3 4 - - 48.82 ± 0. berikut ini adalah tabel hasil uji dimaksud.6 50.9 53. dan panjang serat.1 17. dan ketahanan lipat silang serat 496 ± 333. dan sampel rekonstruksi. 3 No.5 193.Bottom side 6 Ketahanan Lipat .3 ± 3.01 Softwood 3.4.4 ± 2.575 mm 4.5 ± 2. Hasil Uji No.5 ± 29.1 Tahun 2012 139 . daya serap air permukaan atas 150.0 ± 0.985 Sampel Rekonstruksi 6.5.1 ± 1.5 ± 29.0 ± 3.

sampel utama memiliki derajat keasaman paling tinggi.727 mm. panjang serat sampel pembanding 2. softwood adalah pengolongan jenis serat untuk kayu dan bukan untuk jenis serat kulit kayu.575 mm. Melihat kenyataan bahwa kadar pH bahan naskah gulungan koleksi CBCC termasuk ke dalam kategori di bawah netral atau cenderung asam. di samping menunjukkan tingkat derajat keasaman pada waktu pengujian. Ross Harvey. Selanjutnya untuk jenis serat. 3 No.1 Tahun 2012 . Menurut Iswanto (2008: 1) dan Sucipto (2009: 1). setelah melakukan penelusuran lebih lanjut atas penggolongan jenis serat.Derajat pH sampel utama 4. Namun demikian. untuk sampel utama dan sampel pembanding. 140 Jumantara Vol. dan yang membedakan keduanya adalah keberadaan sel pembuluh yang hanya terdapat pada kayu daun lebar. jenis serat ketiga sampel adalah softwood. ketiga sampel menunjukkan jenis serat yang sama.985 mm.82 ± 0.81 ± 0. dan panjang serat sampel utama 2. juga menunjukkan tingkat kadar asam pada waktu selesai pembuatan. Tingkat derajat keasaman yang didapat dari perbandingan hasil uji tersebut. yaitu jenis softwood. derajat pH sampel pembanding 5. sedangkan untuk sampel rekonstruksi. maka tingkat penurunan kualitas bahan naskah akan berlangsung dengan cepat dan mengakibatkan kerusakan naskah-naskah itu sendiri. yaitu hardwood (kayu keras atau kayu daun lebar) dan softwood (kayu lunak atau kayu daun jarum). secara objektif menunjukkan tingkat derajat keasaman pada waktu pengujian. diikuti oleh sampel pembanding.5 agar dapat dikategorikan sebagai kertas permanen.96 ± 0.02. menyatakan bahwa kadar pH kertas pada waktu pembuatan tidak boleh kurang dari 6. dan panjang serat sampel rekonstruksi 3. secara umum kayu dibagi menjadi dua kelompok. dalam Lukman (2009: 59). maka penanganan naskah-naskah koleksi CBCC selanjutnya menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Hasil perbandingan atas tiga parameter di atas menunjukkan bahwa untuk derajat pH.01. karena jika penanganannya tidak dilakukan secara baik. dan sampel rekontruksi. dan derajat pH sampel rekonstruksi 6.01.

” Adapun untuk panjang serat. Hal ini dapat menunjukkan bahwa ketahanan lipat sampel utama dan sampel pembanding lebih rendah dari sampel rekonstruksi.” Namun demikian. 3 No. Teygeler (1995) menyarankannya dengan menyatakan bahwa “ finally dluwang can be defined as beaten treebark (tapa) of paper – mulberry tree (Broussonetia papyrifera Vent. dan sampel rekonstruksi. panjang serat ketiga sampel di atas. hal ini dikarenakan panjang serat erat hubungannya dengan banyaknya kontak perkesatuan sel. Dengan demikian. sampel utama memiliki panjang serat yang paling pendek. kayu terap 1. “Secara umum panjang serat mempunyai peranan langsung terhadap sifat-sifat kekuatan kertas.410 mm. untuk penentuan jenis serat ketiga sampel di atas. Semakin panjang sel serat akan memberikan pengaruh yang positif terhadap kekuatan pada kertas.Mengenai kulit kayu.1 Tahun 2012 141 . maka kekuatan kertasnya semakin baik. masih lebih panjang jika dibandingkan dengan panjang serat dari empat jenis kayu yang diteliti oleh Budi (1995: 103) yaitu. seperti yang dipaparkan Budi (1995: 105). Batubara (2008) menyatakan bahwa pada dasarnya kulit kayu dan kayu adalah dua bagian yang berbeda. kayu adalah jaringan xylem dan kulit kayu adalah jaringan phloem. Jumantara Vol.345 mm. sehingga kekuatan kertas lebih didasarkan atas exobond dari luas permukaan setiap selnya. kedua jaringan ini merupakan pembentuk struktur kayu secara utuh. Selain itu kekuatan internal dalam serat atau sel.413 mm. selanjutnya diikuti oleh sampel pembanding. Selain itu lembaran kertas yang terdiri dari kumpulan sel-sel yang terpisah terikat kembali satu sama lain secara lamai tanpa adanya tambahan bahan perekat. kayu meranti merah 1. lebih besar dari pada ikatan antar sel. kayu kapur 1. artinya semakin panjang serat. maka akan lebih baik jika digolongkan ke dalam jenis serat kulit kayu (daluang). karena dikategorikan sebagai jenis yang sama.) from Java or Madura. karena panjang serat berbanding lurus dengan ketahanan lipat dan kekuatan kertas.

sedangkan kelembaban berkisar 50%. Pengemasan naskah dalam bentuk gulungan sepertinya merupakan pengemasan yang cukup baik untuk dimensi panjang 176 cm. karena dalam bentuk gulungan serat-serat pembentuk lembaran bahan akan lebih terjaga dibandingkan jika dikemas dalam bentuk lipatan.689 mm. dan kotak yang terbuat dari kertas bebas asam. Wan Mamat (1988:57--58) menyatakan bahwa suhu ideal berkisar antara 550F (130C) sampai dengan 650F (180C) dengan kondisi udara yang mengalir. diperkirakan sejak bahan naskah dibuat sampai saat ini. karena pada dasarnya bahan naskah mudah rusak jika tidak ditangani dengan baik. kekuatan kertas berbahan baku kulit kayu seperti yang terdapat pada ketiga sampel yang diuji di BBPK masih lebih tinggi tingkat kekuatan kertasnya jika dibandingkan dengan kertas berbahan baku kayu terap. naskah disimpan di ruangan khusus dengan suhu dan kelembaban udara tertentu. kayu meranti merah. Pengemasan dan penyimpanan naskah dalam bentuk gulungan diperkirakan ada sudah sejak lama. Dengan demikian. Penyimpanan dan Perawatan Naskah Penyimpanan dan perawatan naskah memerlukan penanganan yang baik. kayu kapur. memungkinkan serat pembentuk lembaran 142 Jumantara Vol.dan kayu keruing 1. Naskah pun ditempatkan dalam lemari. 3 No. Dengan memperhatikan hal tersebut. Naskah gulungan koleksi CBCC dengan dimensi 176 X 23 cm. Di beberapa tempat penyimpanan koleksi naskah yang sudah maju.1 Tahun 2012 . laju kerusakan bahan naskah dapat diperlambat dan kondisi fisiknya dapat dipertahankan sehingga suatu naskah dapat bertahan lebih lama. Alat untuk mengatur suhu ruangan dikenal sebagai air conditioning (AC) dan alat untuk mengatur kelembaban dikenal sebagai higrometer. saat ini tampak disimpan dalam sebuah lemari kaca yang cukup baik sehingga terbebas dari debu dan serangga yang dikhawatirkan akan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut pada naskah. dan kayu keruing. rak. Mengenai suhu ruangan untuk penyimpanan naskah.

adalah faktor lingkungan. dan terbebas dari jamahan tangan. pribadi) Walaupun saat ini penyimpanan dan perawatan naskah sudah cukup baik. Bagian naskah yang lembab ini kemudian menimbulkan kerusakan lebih lanjut.bahan akan putus sebagai akibat dari proses buka tutup lipatan yang berulang. Adanya jamur. suhu ruangan 27 derajat celcius dan kelembaban 64 persen. namun secara kasat mata terlihat bahwa pada permukaan bahan naskah masih terdapat beberapa kerusakan yang mungkin akan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut. data diambil pada bulan Juni 2008. Gambar 8. debu. 3 No. yaitu mendorong tumbuhnya jamur. kulit telur kecoa. dan lubang-lubang pada naskah menunjukkan adanya faktor biologis sebagai penyebab kerusakan naskah. Di samping itu terdapat pula kulit telur kecoa yang menempel di permukaan bahan naskah dan beberapa lubang kecil yang diperkirakan disebabkan serangga sejenis kutu buku. yaitu naskah disimpan dalam lemari kaca sehingga terhindar dari kontak langsung dengan udara luar. di antaranya. (dok. Hal ini tampak dari adanya bagian naskah yang lembab karena terhidrolisis oleh udara basah. Faktor penyebab kerusakan naskah yang nampak.1 Tahun 2012 143 . Jumantara Vol.

Gambar 9. Tampak faktor biologis sebagai faktor penyebab kerusakan naskah. (dok. pribadi)

Atas dasar hal tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa kerusakan bahan naskah gulungan koleksi CBCC, di antaranya, disebabkan oleh faktor usia, faktor lingkungan, faktor biologis, dan faktor mekanis. Pada kalangan masyarakat tertentu di Indonesia saat ini, khususnya masyarakat tradisional, terdapat kegiatan penyimpanan dan perawatan naskah secara tradisional. Berdasarkan pengamatan sepintas, upaya yang dilakukan masyarakat tradisional dalam melakukan penyimpanan dan perawatan naskah memberikan keuntungan bagi kondisi naskah, sehingga keberadaan naskah masih dapat disaksikan sampai saat ini. Upaya yang dilakukan masyarakat tradisional di antaranya dengan menyimpan naskah pada kotak kayu, menyimpan naskah di atas tempat yang agak tinggi pada bagian dinding rumah agar tidak terjangkau anak-anak, membungkus naskah dengan kain, dan ada kalanya di dalam kotak kayu dan bungkusan kain tersebut disertakan pula beberapa batang cerutu, biji cengkih, bunga melati, dan sebagainya.

144

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Gambar 10. Tampak gulungan Wayang Beber dan kotak penyimpannya di Gunung Kidul. (dok. pribadi)

Cerutu, biji cengkih, dan bunga melati yang disimpan di dalam kotak kayu ataupun kain pembungkus naskah ternyata dapat menghindarkan serangan rayap, kutu buku, semut, ataupun serangga pengganggu lainnya yang dapat mengakibatkan kerusakan pada naskah. hal ini dapat dipahami karena ternyata baik cerutu, biji cengkih, dan bunga melati masing-masing mempunyai aroma khas yang tidak disukai serangga.

Gambar 11. Tampak penyimpanan naskah yang dijadikan sarang semut. (dok. pribadi)

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

145

Di beberapa tempat tertentu, yang masyarakat pendukungnya masih memegang teguh adat istiadat, naskah dan benda-benda koleksi lainnya hanya boleh dibuka dan dilihat satu tahun sekali, biasanya pada bulan-bulan yang dianggap sakral, seperti bulan Mulud sekaligus dengan melakukan prosesi pembersihan pusaka. Pengaturan waktu untuk membuka dan membersihkan naskah beserta benda-benda yang dianggap keramat (termasuk mengkeramatkan naskah), ternyata ada sisi positif dan sisi negatifnya. Sisi positifnya adalah memberikan ketahanan bagi naskah itu sendiri, dalam hal ini naskah tidak sembarang waktu dijamah tangan dan dibuka tutup. Sisi negatifnya adalah kandungan informasi naskah tidak diketahui masyarakat banyak sehingga, jika terjadi penurunan kualitas kondisi naskah, maka tingkat kerusakannya tidak cepat diketahui dan kerusakannya tidak akan dapat dicegah. Daftar Pustaka Baried, Siti Baroroh (1985). Pengantar Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Batubara, Ridwanti (2008). Kimia Kulit Kayu, Potensi dan Peluang Pemanfaatannya. Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Budi, Agus Sulistyo (1995). “Morfologi Serat Pulp dari Empat Jenis Kayu Daun Lebar dalam Hubungannya dengan Kekuatan Kertasnya”. Jurnal FRONTIER Nomor 17. September 1995. Ekadjati, Edi S. (1988). Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran dan The Toyota Foundation. Lubis, Nabilah (1996). Naskah, Teks, dan Metode Penelitian Filologi. Jakarta: Forum Kajian Bahasa & Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah. Lukman (2009). “Penggunaan Kertas Permanen sebagai

146

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Pencegahan Kerusakan Kertas”. Jurnal BACA Vol. 30, No. 1, Agustus 2009 (01-72). Munawar, Zaki (2002). Cagar Budaya Candi Cangkuang dan Sekitarnya. Garut: Dinas Pariwisata Seni dan Budaya. Sudjiman, Panuti (1994). Filologi Melayu. Jakarta: Pustaka Jaya. Teygeler, René (1995). “Dluwang, a Javanese/Madurese Tapa from The Paper-mulberry Tree” dalam www\IIAS Newsletter\IIASN-6\Southeast Asia. Dikunjungi pada tanggal 14 April 2004. Wan Mamat, Wan Ali Hj. (1988). Pemuliharaan Buku dan Manuskrip. Kualalumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

147

Abstrak Lontar adalah produk budaya Bali dan telah diakui menjadi warisan budaya dunia. yaitu contoh dan implementasi kehidupan yang patut dan tidak patut dilakukan. Tulisan ini mendeskripsikan lontar dari berbagai dimensi mencakup lontar sebagai warisan budaya.1 Tahun 2012 . Kata Kunci: Lontar. Tradisi lontar di Bali memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan umur yang tua seiring dengan nilai-nilai *) Pengajar di Jurusan Sastra Bali. Lontar dengan segala bentuk wacana penuturannya memotret dan memberikan cermin kehidupan yang dapat dijadikan smerti. Lontar sebagai produk budaya kaya makna telah mengangkat citra tradisi Bali di tengah-tengah pergaulan peradaban masyarakat dunia. serta proses pembuatan manuskrip lontar. tradisi penulisan manuskrip. 3 No. Manuskrip Pendahuluan Kata lontar memiliki kaitan erat dengan sumber bahan dasar pembuatannya. Masyarakat Bali berkeyakinan lontar memiliki arti yang penting dan sangat bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya. 148 Jumantara Vol. Bali. Warisan budaya yang satu ini juga telah memberikan aura keluhuran dan mentransmisikan keunggulan pemikiran masyarakat Bali yang melahirkannya. Fakultas Sastra. Universitas Udayana Bali. yaitu rontal /daun ental/tal (sejenis daun palma/borassus flabelliformis).

Keesokan harinya. dan ilmu pengetahuan tinggi lainnya. Lontar perekam jagat pemikiran masyarakat Bali sampai dalam bentuknya sekarang merupakan saksi sejarah dan menjadi penampang historik masyarakat pendukungnya.sejarah. yaitu manifestasi Ida Sang Hyang Widi (Tuhan) sebagai sumber ilmu pengetahuan. pengobatan. masyarakat Bali pagi-pagi benar membawa toya kumkuman (air suci) menuju sumber-sumber mata air atau pantai melaksanakan upacara banyu pinaruh (menyambut turunnya ilmu pengetahuan).1 Tahun 2012 149 . kata Saraswati diterjemahkan sebagai Ida Sang mambek toya tur wagmi sajroning bebaosan yang artinya beliau yang mengalirkan air suci pengetahuan. begitu mudah mengalir atau sesuatu yang mengalir) dan kecap bebaos sang mraga wagmi sajroning bebaosan (kata-kata orang bijaksana saat memberikan petuah). Itulah Saraswati. Sarada Dewi. Setiap 6 bulan sekali. Saraswati adalah sumber dari segala sumber kata-kata bijak (mraga wagmi). Saras diterjemahkan sebagai sang mraga toya. Masyarakat Bali meyakini lontar adalah wahana bersemayam Sang Hyang Aji Saraswati. dangan mes membah (beliau yang berbadankan air. Wati diterjemahkan sang adrue (pemilik). Karena itu. Jumantara Vol. Pada hari ini masyarakat menghaturkan aneka banten pasucian Weton Saraswati. agama. Para panglingsir (orang tua berpengetahuan) di Bali memaparkan kata Saraswati ke dalam dua bentuk dasar. dan Brahma Putri. Pewarisan tradisi lontar di Bali berlanjut dari generasi ke generasi dalam suasana kerohanian dan kemurnian hati nurani. 3 No. Dewi Saraswati juga dijuluki Dewi Wagmiswari (Dewi Katakata) atau Wagmimaya (Kata-kata Bertuah). bertepatan dengan perhitungan kalender Bali Sabtu Kliwon Wuku Watugunung lontar-lontar dibuatkan upacara piodalan Saraswati. Julukan yang lain untuk memuliakan Dewi Saraswati sebagai sumber ilmu pengetahuan yaitu: Putkari Dewi. filsafat. Bhatari Dewi. yaitu saras dan wati. Dewi sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang berupa tastra (manuskrip aksara Bali) yang bersemayam di mahligai lontar. sastra. pada hari Minggu Umanis Watugunung. Dari uraian itu.

dilestarikan. 4) memiliki wujud fisik (tangible) dan non-fisik (intangible). Lontar Warisan Intelektual Kekayaan pemikiran dan rohani masyarakat Bali secara tradisi terekam dalam manuskrip lontar. 3) mudah dipindahkan (moveable). Mereka itulah yang sesungguhnya steak holders lontar di Bali.Lontar Warisan Budaya Lontar adalah produk budaya Bali dan telah diakui menjadi warisan budaya dunia. Lontar dengan segala bentuk wacana penuturannya memotret dan memberikan cermin kehidupan yang dapat dijadikan smerti. Walaupun usianya telah tua. seperti: 1) warisan budaya intelektual (intellectual heritage). Tradisi masyarakat Bali mempelajari dan menekuni lontar disebut anak nyastra (a man of letters) yang artinya beliau yang terpelajar (gelettered). Bukan saja penting untuk para leluhur dan orang Bali kini. Semuanya masih relevan dan patut diwarisi. tetapi juga penting untuk menghiasi khazanah intelektual masyarakat luas lainnya. yaitu contoh dan implementasi kehidupan yang patut dan tidak patut dilakukan. Itu artinya. Menurut Bali Cultural Heritage Coservation. Volume 10 (1998: 2-6) lontar Bali termasuk salah satu warisan budaya dunia karena memiliki karakteristik. Betapa tidak. 2) tradisi yang hidup (living tradition). Lontar Tradisi yang Masih Hidup Kita meyakini tradisi lontar adalah tradisi masyarakat Bali yang sudah tua. 5) memiliki fungsi dan kedudukan yang terhormat dan disucikan dalam masyarakat (abstract). dan 6) sudah menjadi salah satu warisan dunia (wolrd heritage). kandungan lontar dengan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang pernah ada dan dimiliki masyarakat Bali masa lampau dapat dikembangkan untuk menata dan meningkatkan kehidupan spiritual dan material saat ini dan masa-masa mendatang.1 Tahun 2012 . Tradisi keberaksaraan dan keterpelajaran pada lontar adalah warisan budaya yang sangat berharga dan penting. Keadaan ini berbeda jauh dengan masyarakat Indonesia lainnya yang mewarisi tradisi 150 Jumantara Vol. 3 No. Masyarakat Bali berkeyakinan lontar memiliki arti yang penting dan sangat bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya. dan diteruskan agar tercapai kehidupan material-spiritual yang lebih baik. tradisi ini masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat Bali.

1 Tahun 2012 151 . Unisha Singaraja. IHDN. seperti Fakultas Sastra di Universitas Udayana. (8) Adanya kegiatan mabasan (membaca. Balai Bahasa Denpasar. Mengingat lontar memiliki multimanfaat. sehingga dari waktu ke waktu jumlahnya tidak pernah berkurang. Universitas Dwijendra. seperti SMUN I Sidemen (dulu SMU Sidamaha) Karangasem. Perpustakaan Musieum Bali. seperti: (1) Tersedianya cukup banyak pohon lontar. (5) Masih banyak orang yang mampu menulis lontar secara tradisional. yang menyimpan lontar-lontar penting yang dibutuhkan masyarakat. (6) Adanya perpustakaan lontar yang memiliki latar belakang sejarah yang penting seperti: Gedong Kitrya di Singaraja. Jurusan Sastra Bali di berbagai perguruan tinggi di Bali. IKIP PGRI Bali. dan yang lainnya.manuskrip. (3) Adanya pusat-pusat penulisan lontar dan kegiatan penyalinan lontar di masyarakat. dan perguruan tinggi lainnya. Pohon lontar yang menjadi sumber utama bahan penulisan lontar tumbuh subur di belahan Timur dan Utara pulau Bali. dan yang lainnya. Perpustakaan Lontar Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. (4) Adanya sekolah khusus yang mengajarkan cara menulis lontar. maka pohon lontar dibudidayakan dengan baik. seperti untuk bahan anyaman dan kerajinan tangan lainnya. (2) Masih adanya orang yang mewarisi tradisi pembuatan daun lontar sebagai bahan rumah pintar” Dewa Catra. dan mengapresiasi) karya-karya sastra tradisional Bali di Jumantara Vol. 3 No. Hidupnya tradisi lontar dalam masyarakat Bali sangat didukung oleh masih hidupnya aktivitas budaya dan sumber alam lainnya. Pohon lontar adalah sumber alam yang dapat diperbaharui. Sekriptorium-sekriptorium yang ada di Bali masih menjalankan aktivitas sebagaimana mestinya. Jumlahnya mencapai ribuan pohon. Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana. (7) Tradisi membaca lontar dalam aktivitas bersastra di Bali secara tradisional erat kaitannya dengan sistem upacara dan sistem keagamaan Hindu di Bali. menyanyikan. Perpustakaan Unhi Denpasar.

dan pihak penyelenggara lainnya. (11) Aktivitas lomba menyalin huruf Latin ke dalam aksara Bali di atas lempiran lontar untuk tingkat SMP dan SMA terus digalakkan. 3 No. (9) Perkembangan pariwisata menyumbangkan peran untuk mempertahankan tradisi lontar. Pekan Olahraga dan Seni Pelajar (Porsenijar) se-Bali. serta acara-acara khusus seperti Gebiar Nyurat Lontar oleh Pemerintah Kota Denpasar. Aktivitas pembacaan lontar cakepan. Lontar-lontar dalam bentuk baru itu khusus dibuat untuk dijual sebagai komoditas pariwisata ( BUIP. yang menjadikan manuskrip lontar sebagai bahan bacaannya. baik sebagai warisan maupun atas usahanya sendiri membangun perpustakaan pribadi. 152 Jumantara Vol. Gambar 1. Banyak anggota masyarakat Tenganan Pagringsingan menggambar dan menulis prasi serta melukis di atas media daun lontar. Acara ini dikaitkan dengan misi Kota Denpasar sebagai Kota Kreatif Berwawasan Budaya Unggulan. Pesta Kesenian Bali. 1999: 3-4).lingkungan masyarakat Bali. Bali CHC: Volume 10. (10) Banyak masyarakat umum yang mengoleksi lontar. seperti di desa Tenganan Pegringsingan Karangasem. Jumlah lontar cakepan di masyarakat Bali adalah ribuan.1 Tahun 2012 . Lomba menyalin huruf Latin ke dalam aksara Bali di atas lempiran lontar selalu ada dalam ajang Pekan Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar.

Gambar 2. Karenanya lontar-lontar yang sudah raib ke luar dari pulau Bali dan tidak sempat katedun (disalin ke dalam naskah yang baru) ini tidak dijumpai di perpustakaan-perpustakaan yang ada.1 Tahun 2012 153 . baik dari kalangan masyarakat lokal maupun mancanegara. dan lebar tidak lebih dari 4 cm. Lontar-lontar tua. Sejumlah masyarakat pemilik lontar menjual lontar warisannya dengan beragam alasan. dan unik yang telah dijual masyarakat Bali tentu tidak dapat diidentifikasi judul dan isinya. dan beragam alasan ekonomi lainnya. Diperkirakan Jumantara Vol. lontar mudah dibawa dan dibaca. tidak mampu mengurus sehingga kuatir rusak di tempat. Mudah Dipindahkan Wujud fisik lontar cukup simpel. diantaranya: ingin menutupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. maka tidak jarang lontar diperjualbelikan sebagai barang antik. untuk modal usaha. Penulis melakukan pengukuran terhadap lontar yang dikeramatkan masyarakat Desa Bayan Beleq. lontar yang berusia tua dan berkarakter antik dan unik. Karena fisiknya yang sederhana ini lontar juga mudah dipindahtangankan. sampai 60 cm. Dengan panjang antara 30 cm. 3 No. Alasan-alasan ini pula yang membuat semakin bersemangatnya para ”pemburu” lontar. sisi Utara lereng gunung Rinjani di Lombok Utara. antik. Golongan yang terakhir ini yang memanfaatkan tenaga lokal untuk keluar masuk desa ‟mengejar‟.

Memiliki Wujud Fisik dan Non-Fisik Jumlah lontar yang ada di masyarakat dapat diperkirakan lebih dari 55 ribu cakep (dalam kesatuan yang utuh) lontar. dan Kota di seluruh Bali. dan di Perpustakaan Lontar Dokumentasi Budaya Bali. kalau tidak mau dikatakan ribuan. seperti di Gedong Kirtya. membuat klasifikasi lontar Bali secara sangat beragam. perlu mendapat penanganan fisik secara khusus agar terhindar dari kelapukan. sedangkan yang tersimpan di rumah-rumah penduduk. di perpustakaan Balai Bahasa Denpasar tersimpan sebanyak 90 cakep. Van Eck (1875). yaitu instansi pemerintah yang terkait. Kabupaten. Di tempat ini tersimpan sebanyak 2414 cakep. Perlu dilakukan usaha-usaha konservasi dan pengobatan secara ilmiah dan bertanggung jawab. Untuk itu diperlukan kemauan bersama. baik ilmuwan luar negeri maupun dalam negeri. Jumlah itu belum termasuk yang tersimpan di perpustakaan lontar yang resmi. baik dari kalangan masyarakat pengoleksi maupun dari pihak pemegang kebijakan. di Perpustakaan Lontar Universitas Dwijendra Denpasar tersimpan sebanyak 50 cakep. Lontar yang tersimpan di lembaga-lembaga resmi biasanya mendapat pemeliharaan yang baik. di Perpustakaan Universitas Hindu Indonesia tersimpan sebanyak 151 cakep. 3 No. Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tersimpan sebanyak 2274 cakep. tingkat Provinsi. DPRD.1 Tahun 2012 . Lontar sebagai bagian dari khazanah ilmu kepustakaan memiliki kodifikasi keilmuan yang kompleks dan beragam. Diperlukan juga kemauan politik dari para wakil rakyat. sesuai dengan keluasan pengetahuan masing-masing mengenai jenis dan isi naskah lontar yang didapatkannya. Para ahli kepustakaan lontar. di Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana tersimpan sebanyak 738 cakep. tentu nilai manfaat lontar dapat disumbangkan untuk memperkaya khazanah budaya bangsa dan budaya dalam lingkup internasional. khususnya di Griya dan Puri di Bali yang jumlahnya begitu banyak. Th Pigeaud yang telah mempelajari klasifikasi Freiderich (1847) dan R. di Perpustakaan Museum Bali tersimpan 60 cakep.bahwa lontar yang telah ”raib” jumlahnya ratusan. pada tahun 1967 mengklasifikasikan kepustakaan lontar 154 Jumantara Vol. Kalau semua pihak cermat dalam menangani dan mensosialisasikan fungsi strategis manuskrip lontar Bali.

Customs. Kalpasastra. seperti lontar Pemlaspas. dan uwug/rusak/rereg. Kemudian I Ketut Suwidja menambah klasifikasi lontar Gedong Kirtya dengan kelompok VII. dan usada. Folklore. c. 3) Wariga. pipil. mantra. Wujud fisik naskah lontar yang disebut pengetahuan-pengetahuan lain oleh kalangan peneliti pernaskahan di Bali dikelompokkan karena menguraikan pengetahuan tertentu. Humanities. Lontar memuat kode etik arsitektur tradisional seperti Dharmaning Sangging. sima. dan Niti. geguritan dan parikan. Ekalavya. seperti pustaka lontar : babad. Naskah leksikografi dan tata bahasa seperti lontar Adiswara. serta satua. Astakosala. Jumantara Vol. Niti. tetapi juga memuat sejumlah makna sinonim. sedangkan lontar Krakah antara lain memuat uraian beserta makna istilah dalam naskah-naskah tertentu. dan (6) Tantri yang terdiri dari jenis lontar tantri dan satua. prasi. Kutara Manawa. Klasifikasi manuskrip lontar di atas telah dapat memberikan citra wujud fisik naskah lontar yang ada di Bali. (3) Belles Lettres. yang memuat lakon-lakon pertunjukan kesenian gambuh. wayang. Krakah Modre dan yang lainnya. Wiswakarma. kidung. seperti pengetahuan kearsitekturan (Astakosali. dan e. Suksmabasa. yang terdiri dari jenis lontar parwa. pamancangah. yang terdiri dari jenis lontar pamancangah. dan puja. seperti pustaka lontar: a. b. dan yang lain). Asthabhumi. dan yang berhubungan dengan upacara penyucian bangunan. Naskah hukum juga ditemukan dalam dunia lontar di Bali. arja dan yang lainnya. kakawin. kakawin. tutur. seperti pustaka lontar parwa. Beberapa yang penting adalah: lontar Adigama. 3 No. (4) Itihasa. awig-awig. yaitu: (1) Weda. (5) Babad. Lontar Ekalawya dan Dasanama tidak sekedar memuat daftar kata. Arts. yaitu lelampahan. d. yang terdiri dari jenis lontar palakreta. usana. dan kalpasastra. Cantakaparwa. Dasanama. uar-uar. antara lain: usada. Dewagama. Klasifisasi termutakhir yang banyak dirujuk adalah klasifikasi yang diterapkan Nyoman Kadjeng dari perpustakaan lontar Gedong Kirtya Singaraja (1928). kanda. seperti Krakah Sastra. sasana. dan (4) Science. urak dan yang lainnya. (2) History and Mythologi. Sasana. usana. mantra. Tutur.1 Tahun 2012 155 . yang terdiri dari jenis lontar wariga. prasasti.Bali menjadi empat kategori besar. (2) Agama. dan yang memakai judul Krakah. Law. yang terdiri dari jenis lontar weda. Kretabasa. yaitu : (1) Religion and Ethics. weda. kidung. dan geguritan. dan uwug/rereg/rusak.

sedangkan pada malam harinya (semalam suntuk) membaca dan menyanyikan sastra-sastra lontar pilihan. ataupun candi aksara) yang adalah tempat suci bagi Saraswati. serta kaya makna dan filosofi. Lontar-lontar suci disthanakan sebagai candi Tastra Saraswati (candi pustaka. Lontar yang memuat pengetahuan astronomi biasanya memakai judul Wariga dan Sundari. Banyak menguraikan masalah-masalah pertanian seperti penentuan iklim.dan Purwadhigama. 3 No. Hyang Wagiswari disimbolkan bersthana dalam aksara suci. candi bahasa. Para ahli pernaskahan dari berbagai belahan dunia mengakui bahwa lontar merupakan warisan budaya dunia yang harus diselamatkan. Paswara. sampai dengan penentuan hari-hari baik untuk upacara keagamaan (Agastia: 1985:13-14). dan dimanfaatkan. Watugunung. Warisan Budaya Dunia Lontar kaya wujud dan jenis. Manakala warisan budaya dunia ini lenyap. Aksara menjadi badan Sang Hyang Aji Saraswati. Puja Saraswati ditandai dengan kegiatan membuat candi aksara atau candi pustaka (mengumpulkan lontar-lontar terpilih) yang dijadikan sthana bagi Sang Aji Saraswati. yaitu hari Sabtu (Saniscara) dan Wuku terakhir. Lontar-lontar hukum yang lebih banyak bercorak Bali. Ada hari khusus yang ditetapkan untuk menghormati dan mensucikan lontar.1 Tahun 2012 . Hari dan Wuku peringatan Puja Saraswati ditempatkan pada hari terakhir. Memiliki Abstraksi Nilai Fungsi dan kedudukan lontar dalam masyarakat memiliki kaitan yang erat dengan sistem kepercayaan dan kehidupan keagamaan masyarakat Bali. dilestarikan. Sang Hyang Aji Saraswati. candi sastra. Puja Saraswati mendapat tempat istimewa bagi umat Hindu di Bali sehingga masuk ke dalam sistem kalender Bali. kemudian orang Bali melakukan pemujaan pada pagi hari. itu berarti salah satu warisan dunia yang penting telah 156 Jumantara Vol. dan awig-awig. Kretasima Subak. yaitu hari Puja Saraswati. Hari khusus tersebut ditandai dengan kegiatan mengumpulkan benda-benda pusaka lontar. Lontar jenis ini banyak dijumpai. hari baik atau buruk untuk suatu pekerjaan. Lontar bagi masyarakat Bali adalah kitab suci yang selain disucikan juga dipelajari untuk dijadikan pegangan hidup sehari-hari (suluh nikang prabha). diantaranya: Kretasima.

dan mempelajari lontar yang diwarisinya adalah implementasi keberlangsungan hidup dan kehidupan lontar sebagai warisan budaya dunia. melanjutkan. 3 No. Aksara Bali adalah wahana atau sarana untuk mengungkapkan segala hal tentang kebudayaan Bali (BUIP. Aksara Bali adalah lambang bahasa yang telah mengambil fungsi dan peran sebagai lambang identitas masyarakat Bali. untuk memohon kemurahan-Nya. Tradisi Menulis di Atas Daun Lontar Sebelum mencermati goresan artistik aksara Bali di atas daun lontar. karena melalui aksara Balilah bahasa sebagai unsur universal dari kebudayaan itu terdokumentasikan.hilang. dan kesalahan besar yang dilakukan oleh generasi “anak bumi” di dunia ini. sudah saatnya dilakukan upaya yang lebih besar dan kuat untuk menyelamatkan lontar sebagai warisan budaya dunia. Karena itu. CHC.1 Tahun 2012 157 . 1999:4). hal itu merupakan kebodohan. Manakala hal itu benar-benar terjadi. Lontar yang dikeramatkan masyarakat saat dibaca didahului dengan melakukan prosesi upacara. perlu dipahami apa yang dimaksud dengan aksara Bali sebagai lambang bahasa. sehingga prosesi pembacaan menjadi lancar dan apa yang dicari dalam lontar didapatkan. Dalam tradisi penulisan lontar. kemunafikan. Perlindungan yang sifatnya mengharuskan pewaris lontar untuk menyelamatkan. sebelum memulai Jumantara Vol. Gambar 3.

dan melangkahi aksara akan mengakibatkan kebodohan. Secara tradisi. sehingga aksara yang salah tulis tidak berbunyi (mati). Sandangan yang lazim dipakai adalah ulu dan suku. Dengan cara ini mereka yakin akan berhasil menciptakan teks lontar yang utama dan memiliki jiwa (ruh suci).1 Tahun 2012 . kehalusan rasa. yaitu ”bagaikan aksara memakai dua sandangan suara. mengasah dan mempraktikkan seluruh kemampuan intelektual dan kualitas intuitif. Bagaimana membaca lontar yang banyak ditemukan aksara matinya? Pembaca lontar harus tanggap. (2) pelikan (alat penjepit lembaran lontar yang akan di tulis terbuat dari 158 Jumantara Vol. Seandainya terjadi salah tulis. Hyang Yogiswara difilsafatkan berstana pada kedua mata penulis lontar. pengarang karya sastra Bali (pangawi) dan penedun (penyalin) lontar adalah para stake holders bahasa. Tidak pernah ada aksara Bali yang dicoret. Bhagawan Mredhu berstana pada kedua tangan penulis. ada perumpamaan yang jamak dituturkan dalam masyarakat Bali. mencoret taleng/taling dan bisah/wisah berakibat pancet (sakit pinggang).menggoreskan pangrupak di atas lempiran lontar. Karena itu pula. seperti umur pendek. para stake holders ini menyiapkan bahan-bahan utama seperti: (1) pepesan (daun tal siap tulis). penulis membubuhkan dua sandangan (pangangge) aksara. Sebagaimana dinyatakan dalam lontar Tutur Saraswati. Dalam aktivitas penulisan lontar. pangrupak (pisau tulis). sastra dan aksara Bali. dan tampak seperti tidak ada penulisan. Hakikat menulis adalah mempraktikkan yoga spiritualitas. dan Baghawan Reka berstana pada ujung pangrupak. 3 No. yang artinya sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi alias sudah mati. cepat-cepatlah melirik aksara berikutnya yang merupakan sambungan aksara didepannya. Mencoret sandangan aksara yang berada di atas pangawak (badan pokok aksara) seperti ulu akan mengakibatkan kebutaan atau berkurangnya daya ingat. Kepercayaan ini menjadikan lontar yang ada kelihatan bersih serta rapi tulisannya. Karenanya. seorang penulis lontar selalu berusaha keras agar tidak mematikan atau ngucek (mencoret) aksara. serta menjaga irama pernafasan yang teratur dan jernih. masuku (memakai suku) dan maulu (memakai ulu)”. seorang pengawi atau penyalin biasanya melakukan ritual kecil untuk memohon anugerah ke hadapan Ida Sang Hyang Aji Saraswati. Mereka percaya hal itu akan mendatangkan akibat buruk pada diri. sida sidi kasaraswaten.

lebar. Pangrupak memiliki tiga mata sisi yang tajam untuk menghasilkan karakter aksara Bali ideal. yang berkaitan dengan posisi tangan saat menggores lontar. (3) serbuk tinggkih (buah kemiri) atau buah naga sari yang dibakar sebagai bahan penghitam goresan aksara Bali di atas daun lontar. yaitu aksara Bali yang memiliki kakuub (karakter) wayah dan ngatumbah/matan titiran (bundar. (9) dan sesajen seperlunya. jari manis dan kelingking. rapi dan bersih). ada yang menyerupai pendeta. dan tajam untuk memotong rontal. lembut. Ibu jari dan jari tengah tangan kanan menjepit lembut pangrupak. Demikian juga menggunakan pangrupak berbeda dengan cara menggunakan pisau dapur atau alat pertukangan lainnya. atau uyung (seseh pohon enau). Cara menulis di atas daun lontar berbeda dengan di atas kertas.1 Tahun 2012 159 . (5) dulang kayu (sejenis meja yang bundar) sebagai meja tulis. dan pangrupak kelancipan sedang (kurang lebih 10 derajat). aksara Ongkara. Jempol kiri bertugas mendorong-dorong pangrupak hingga terjadi pergerakan lontar ke arah kanan. Dalam menggoreskan aksara Bali dari kiri ke kanan harus Jumantara Vol. Masing-masing pangrupak juga memakai hiasan. (7) panakep dari kayu.bambu kecil yang dilubangi hingga tembus pada kedua sisinya). halus. Jenis pangrupak yang dipakai menggores lontar disesuaikan dengan maksud dan tujuan penulisan. (6) penggaris dan pensil (bagi penulis yang tidak yakin akan mampu menghasilkan urut-urutan aksara Bali yang lurus. yaitu: pangrupak dengan kelancipan 45 derajat untuk menulis aksara Bali. membantu menjaga kestabilan dan berfungsi mensuplai energi kelembutan sehingga tangan tidak mudah lelah. sedangkan tangan kanan berada di posisi atas memegang pangrupak seraya menggerakkan jari-jemari tangan sedemikian rupa. Dua jemari tangan kanan lainnya. telunjuk menekan halus saat menggoreskan bentukan aksara. dan yang lainnya. Tangan kiri berada di posisi bawah untuk mengalasi atau memegang lontar. patung hanoman. dan mengagumkan). (8) kapas atau kain halus untuk menggosok dan membersihkan bekas-bekas material penghitam. Menulis di atas daun lontar menggunakan pangrupak. pangrupak dengan kelancipan 70 derajat untuk membuat prasi (menggambar di atas daun lontar). (4) bantalan kasur kecil sebagai alas menulis. 3 No. bambu. burung merak. memerlukan keterampilan menulis yang khusus.

cerdaskan intuisi dan intekstualitas yang dimiliki. Kualitas lontar yang penulis citrakan tidak lepas dari dasardasar budaya dan keyakinan masyarakat Bali yang melahirkannya. dan senang. menggunakan teknologi tradisional. Di samping itu. Lemah lembut dalam ketenangan hati yang menakjubkan. lontar Bali dibuat dengan cara yang saksama. Mulailah menulis dari garis yang memiliki ruang paling sempit. 3 No. Goresan simbol aksara yang pertama sangat mempengaruhi besar kecil dan kehalusan aksara berikutnya. Proses Pembuatan Lempiran Lontar Lontar terbuat dari daun alami pohon Tal/Rontal. dengan aksara digantung pada garis yang telah disediakan. Perhatikan lebar ruang yang disediakan di antara garis-garis yang tersedia. Terdapat empat garis yang tersedia di atas rontal. Sekalikali nikmati bunyi irama yang ditimbulkan oleh goresan yang dibuat. dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama. Lontar mempunyai kekuatan yang luar biasa. tengah. taksu (kekuatan ilahi). Menulis aksara Bali di atas daun lontar memerlukan pengetahuan tersendiri. dan dihormati sebagai sumber berbagai ilmu pengetahuan lahir dan batin. lontar memiliki wibawa. lembut. membutuhkan 160 Jumantara Vol. Irama yang mengkhusukkan. Bagi masyarakat Bali. Gambar 4. Berkosentrasi dan menciptalah dengan perasaan halus. Karena itu jagalah hati.dicermati ruang-ruang diantara tiga lubang yang ada di kiri. dan kanan. tenang. Bernafaslah yang teratur. sampai berabad-abad.1 Tahun 2012 .

Ida I Dewa Gde Catra (pelaku prosesi pembuatan lempiran lontar yang paling produktif sampai hari ini di Bali) menyebut helai daun lontar yang dihasilkannya sebagai lempiran.1 Tahun 2012 161 . Daun lontar atau lempiran yang dimaksud berbentuk blanko. Berikut penulis sarikan teknik tradisional Prosesi Pembuatan Lempiran Lontar (2010) Bali seperti yang dilakukan budayawan lontar asal Puri Sidemen Karangasem ini. sehingga menghasilkan lempiran lontar sehelai demi sehelai. Sebelum prosesi pembuatan lontar dilakukan.kesabaran yang tinggi. Demikian pula jenis dan kualitas daun pohon rontal berbeda-beda. kenyal. Tujuannya adalah mendapatkan mutu lempiran yang baik. Amlapura. Inilah lempiran lontar kosong yang siap ditulisi. dan dalam suasana yang khusuk. Pohon tersebut harus tumbuh di tanah yang mengandung kapur.. serat Jumantara Vol. bertahan dalam waktu yang panjang. di ujung Timur pulau Bali. seniman lontar perlu memperhatikan jenis pohon rontal yang akan dipetik daunnya. sehingga tidak banyak mengandung sagu. Pohon itu juga sudah pernah disadap niranya. Rontal muani berbunga tetapi bunganya tidak pernah menjadi buah. 3 No. Pohon rontal yang daunnya luwes. Satu bendel terdiri dari 100 lempiran. serta bentuknya indah dan rapi. Penulisan prosesi daun lontar ini disajikan berdasarkan pengalaman penulis meneliti prosesi pembuatan lempiran lontar dan berdasarkan bahan bacaan yang ada. yang mendapat sinar matahari langsung dari pagi hingga sore. mudah ditulisi. rumit. dihasilkan melalui proses khas teknologi tradisi Bali. Pohon rontal yang baik adalah yang telah berumur lebih dari 30 tahun. selempir demi selempir sehingga menghasilkan pepesan. daunnya kurang baik dibuat pepesan karena tebal. tanah bebatuan seperti tanah lahar. berserat besar-besar dan kaku. Pada kesempatan ini penulis sarikan informasi pembuatan lempiran daun lontar sebagaimana yang dilakukan oleh Ida I Dewa Gde Catra di Rumah Pintar Tradisional di bilangan jalan Untung Surapati. yaitu rontal luh (betina) yang dapat menghasilkan buah atau tuak (nira) dan rontal muani (jantan) yang tidak menghasilkan buah. membutuhkan ketekunan dan kesabaran. tanah di tepi laut. Dinyatakan pula pembuatan lempiran lontar memakan waktu yang relatif lama. Masyarakat Bali membedakan pohon rontal atas dua jenis. Pohon rontal yang tumbuh di tanah yang subur.

tentu proses pengeringannya memakan waktu yang cukup lama. Daun tal yang berbentuk kipas kangget (dipotong dan dicari ) hanya bagian tengah saja. Daun tal petik kering yang dipilih untuk pepesan adalah yang bilahnya panjang. (pohon rontal. 3 No. Bilah daun tal petik kering dipotong ujung dan pangkalnya dengan ukuran panjang tertentu sesuai dengan keperluan. dengan semua ujungnya panjut (merapat dan sedikit mengering). lebarnya sesuai. saat matahari bersinar panas dan langit terang benderang. pagi. seratnya halus. pohon lontar. yang disebut gegadon. Daun tal harus dijemur di tempat yang terang beberapa kali.April). tidak berbintik-bintik. kemudian kakum (direndam) selama tiga minggu. Pohon yang daunnya tebal berserat kasar dan kaku seperti kulit binatang disebut ron tal belulang. maka agar benar-benar kering seperti yang diinginkan. Pada minggu pertama air kum berwarna keruh kekuningan dan berbau kurang sedap sehingga harus diganti setiap hari. Pemetikan daun tal untuk pepesan menggunakan joan anggetan (galah yang ujungnya memakai pisau). dan sasih katiga-kapat (seputar bulan September . Sedangkan pohon yang helai daunnya panjang dan lebar disebut dolog (menyerupai senjata dolog. Usia daun tal penyaja diketahui dari kategori hijau daunnya juga ditandai dari posisi kecondongan pelepahnya yang kurang lebih 45 drajat. permukaan rata tidak tuludan (berlekak-lekuk). dan sore.kadasa (seputar bulan Maret . Musim petik daun tal yang baik pada sasih kasanga . Sedangkan lontar yang masih muda berupa busung (janur) ataupun yang sudah berupa danyuh/wayah (tua) tidak dapat dimanfaatkan sebagai lempiran pepesan. Bulan-bulan ini adalah musim kemarau. Pada minggu 162 Jumantara Vol. dan helai daunnya tidak terlalu tebal atau terlalu tipis. tidak lebih dari empat sampai enam helai setiap satu pelepah daun tal.1 Tahun 2012 .halus disebut ron tal taluh (telor). sehingga benar-benar renyah (kering benar). yang disebut kreta masa. Bilah daun tal kering petik yang sudah kasit (dilepaskan lidinya) dikumpulkan dan ditata sedemikian rupa. yaitu sejenis golok yang panjang). Mengingat daun tal cukup tebal dan tiap bilahnya terdiri dari dua helai dalam satu lidi.Oktober). Ngesit (melepas lidi) dilakukan secara hati-hati agar bilah daun lontar kering petik tidak amis (rusak). pohon tal???) Daun tal yang dipilih untuk prosesi pembuatan pepesan berkatagori panyaja (muda atau menengah).

Ramuan bahan pengawet seperti kulit pohon kayu intaran. setiap kali air rebus menyurut petugas harus menambahkan air secukupnya. Merebus daun tal kering petik memerlukan panci besar. Daun tal diangkat dan di diguyur air bersih.1 Tahun 2012 163 . Lebih lama direbus hasilnya lebih baik. dijemur. ditebarkan sedemikian rapi di tempat yang terang sehingga hari itu juga dipastikan benar-benar kering. Saat perebusan. Caranya. daun sambiroto. tunggu. Tiga minggu prosesi ngekum tal telah berlalu. disela dengan penampang kayu (pandalan). tidak berbuih. diikat ujung. kemudian dayuhin (diangin-anginkan) di tempat yang teduh. daun lontar yang telah direbus dan disimpan berbulan-bulan dimasukkan ke dalam penjepit blagbag secara teratur sesuai dengan panjang lontar masing-masing. hawa panas berlebihan. kayu api. sesuai Jumantara Vol. dan tidak berbau lagi. hingga benar-benar bersih. dan air yang cukup dan harus dijaga dengan saksama. lontar dibolak-balik selembar demi selembar. dan jebug (buah pinang yang tua) semua dirajang dan kemudian ditumbuk hingga halus menjadi serbuk. umbi gadung diparut. pres tradisional untuk lontar yang dibuat dari kayu dengan menggunakan pasak. Tiga puluh sampai dengan lima puluh lembar lontar disatukan. batang kantewali. dan semakin lama disimpan kualitasnya semakin membaik. Ngekum (merendam) daun tal kering petik dengan tujuan menghilangkan sagunya. agar hampa tak rapuh (serbukan) yang disukai rayap. Lama menyimpan tiga-empat bulan. Bahan-bahan itu digunakan sesuai dengan jumlah rontal yang akan direbus. berulang-ulang hingga lima sampai enam jam. kayu wong. Rempah-rempah seperti: lada. jebug harum. angkat dan segera jemur di tempat yang lapang dan mendapat sinar matahari penuh.kedua dan ketiga air kum diganti setiap tiga hari sekali. diangkat perlahan-lahan agar tidak pecah. Blagbag. Alat ini digunakan untuk meluruskan dan memampatkan serat dan rongga-rongga yang kemungkinan masih terdapat pada lontar setelah proses pengeringan. Setelah dingin. Setelah merata kering. terhindar dari sinar matahari. Agar lebih cepat kering. Dua hari dua malam dianginanginkan untuk tiga bulan kemudian baru direbus. 3 No. lalu simpan di tempat yang aman. Daun tal yang dianggap telah masak jangan langsung diangkat. Biarkan agar dingin dengan sendirinya. kulit pangkal pohon kelapa. Setelah berjumlah seratus. ujan. demikian juga selanjutnya hingga penuh. merica. tengah dan pangkalnya.

Manuskrip lontar adalah produk budaya Bali yang kaya makna dan memberikan citra keluhuran dan keunggulan jagat pemikiran masyarakat Bali yang melahirkannya. pasak pun akan menjadi longgar. dan nyepat (menggaris). manuskrip masyarakat Bali ini didukung oleh ketersediaan bahan baku yang cukup. kegiatan pembacaan yang masih semarak. nyerut (mengetam). Pembuatan lontar pepesan didahului dengan pembuatan mal yang dibuat dari daun tal dengan panjang dan lebar yang telah ditetapkan.kapasitas blagbag. pengobatan. agama. dan tengah tepat di titik ujung pirit. manuskrip lontar di Bali memiliki karakter antara lain: (a) warisan budaya intelektual (intellectual heritage). (c) 164 Jumantara Vol. hingga rontal benar-benar lurus dan rata. Nepes adalah pres terakhir lontar tepesan. dan tengah. Warisan dan tradisi lontar telah berusia cukup tua. Mal ditempal di atas daun tal. kegiatan penulisan lontar yang masih berlangsung. Langkah berikutnya dalam proses pembuatan lontar adalah nepes (menjepit). kadang berbulan-bulan. lalu diisi lubang sebasar jarum. Proses ini dilakukan berminggu-minggu. Kesimpulan Lontar sebagai manuskrip masyarakat Bali telah mengangkat citra tradisi peradaban Bali di tengah-tengah intelektualitas peradaban dunia. kanan. sastra. Sedangkan nyepat adalah pembuatan lontar tepesan siap tulis (gores) dengan pangrupak (pisau tulis tradisional Bali). Setelah beberapa hari lontar mengalami pemampatan. Sebagai tradisi yang hidup. nyerut adalah merapikan ujung pangkal dan diisi cat tradisional Bali agar kelihatan indah dan rapi. Mirit artinya melubangi lontar di samping kiri. 3 No.1 Tahun 2012 . jarum pirit (paser tradisional Bali) ditusukkan pada tengah-tengah lubang kecil mal yang di kiri. kanan. dan ilmu pengetahuan tinggi lainnya. Lontar yang telah mapirit (berlubang) dimasuki lidi (jelujuh) agar tidak mudah bergerak saat diiris dan dirapikan pinggirannya. Di Bali banyak dijumpai lontar yang berumur tua yang memiliki nilai sejarah. dan penelitian teks naskah lontar yang semakin meningkat. sehingga harus disela dengan pandalan dan dipasak kembali hingga mampat. kemudian pasak dipasang. filsafat. Pewarisan tradisi lontar di Bali berlanjut dari generasi ke generasi. (b) tradisi yang masih hidup (living tradition). Sebagai warisan budaya.

I Nengah. (2) pelikan (alat penjepit lembaran lontar yang akan di tulis terbuat dari bambu kecil yang dilubangi hingga tembus pada kedua sisinya). Secara tradisi. pengarang karya sastra Bali (pangawi) dan penedun (penyalin) lontar adalah para stake holders bahasa. taksu (kekuatan ilahi). menggunakan teknologi tradisional. sehingga menghasilkan lempiran lontar sehelai demi sehelai. dan dalam suasana yang khusuk. pangrupak (pisau tulis). Catra. dkk. ”Prosesi Pembuatan Daun Lontar”. (e) memiliki fungsi dan kedudukan terhormat atau disucikan oleh masyarakat Bali (abstract). Yogyakarta: Javanologi. dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama. (9) dan sesajen seperlunya. Kualitas lontar yang penulis citrakan tidak lepas dari dasardasar budaya dan keyakinan masyarakat Bali yang melahirkannya. (3) serbuk tingkih (buah kemiri) atau buah naga sari yang dibakar sebagai bahan penghitam goresan aksara Bali di atas daun lontar. Lontar terbuat dari daun alami pohon Tal/Rontal. Di samping itu. (6) penggaris dan pensil (bagi penulis yang tidak yakin akan mampu menghasilkan urut-urutan aksara Bali yang lurus. Jumantara Vol. Bagi masyarakat Bali. (4) bantalan kasur kecil sebagai alas menulis.1 Tahun 2012 165 . atau uyung (seseh pohon enau). lontar Bali dibuat dengan cara yang saksama. (d) memiliki wujud fisik (tangible) dan non-fisik (intangible). Dalam aktivitas penulisan lontar. IBG (1985). Medera. dan dihormati sebagai sumber berbagai ilmu pengetahuan lahir dan batin. bambu. (5) dulang kayu (sejenis meja yang bundar) sebagai meja tulis. Denpasar: Jurusan Sastra Daerah FS Universitas Udayana . (2005). Keadaan dan Jenis-Jenis Naskah Bali. lontar memiliki wibawa.mudah dipindahkan (moveable). (8) kapas atau kain halus untuk menggosok dan membersihkan bekas-bekas material penghitam. Ida I Dewa Gde. para stake holders ini menyiapkan bahan-bahan utama seperti: (1) pepesan (daun tal siap tulis). 3 No. Daftar Pustaka Agastia. sastra dan aksara Bali. Pedoman Pasang Aksara Bali. membutuhkan kesabaran yang tinggi. dan (g) menjadi salah satu warisan budaya dunia (world heritage). (7) penakep dari kayu. rapi dan bersih). sampai berabad-abad. Lontar mempunyai kekuatan yang luar biasa.

1 Tahun 2012 . Tim Consultancy Service (1999). Rai Putra. Simpen AB. Denpasar: Dinas Kebudayaan Propinsi Bali. BUIP CHC Volume 10. Makalah diskusi hari suci Saraswati. I Wayan (1973). Pasang Aksara Bali.(2008). Denpasar: Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar. 3 No. ”Teknik Nyurat Aksara Bali untuk Kejuaraan”. Denpasar: Dinas Pengajaran Propinsi Bali Daerah Tingkat I Bali. Denpasar: PWII Bali. 166 Jumantara Vol. Ida Bagus (2006).Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. ”Tastra Sastra Saraswati”. ------------.

Aceh. dan bahkan pengarangnya. * Penulis adalah peneliti senior di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah. 8 Desember 2011. Tahqiq.1 Tahun 2012 167 . yang diselenggarakan oleh Direktorat Nilai Sejarah. Kajian Filologis. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.Abstrak Teks Sulalat al-Salatin (Perteturun Raja-raja) karya Tun Seri Lanang jelas sangat fenomenal. Jumantara Vol. 3 No. Dalam konteks sejarah kesusastraan Melayu klasik. Biereun. Teks ini mampu „hidup‟ berabadabad melampaui kebesaran zamannya. Jakarta. bekerja sama dengan Yayasan Tun Sri Lanang. Tulisan ini akan menegaskan kembali signifikansi teks Sulalat al-Salatin sebagai sebuah karya sastra Melayu tradisional adiluhung yang dihubungkan dengan tokoh Tun Seri Lanang dengan melihatnya dari perspektif tahqiq atau kajian filologis. 77 Tulisan ini berasal dari “Seminar Ketokohan Tun Seri Lanang dalam Sejarah Dua Bangsa”. Saat ini menjabat sebagai ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Tun Seri Lanang. Sulalat al-Salatin dapat dianggap sebagai salah satu teks Melayu terpenting yang berhasil memikat dan menyita perhatian sejumlah sarjana. Kata Kunci: Sulalat al-Salatin.

diceriterakan dengan begitu hidup.“…Tak ada tulisan Melayu jang demikian banjaknya diselidiki [selain Sulalat al-Salatin]…”. Tun Seri Lanang memang tidak dikenal memiliki karya sastra Melayu lain selain Sulalat al-Salatin. C. Terkait dengan kutipan di atas.78 Teuku Iskandar menambahkan bahwa semua kisah dalam Sulalat al-Salatin tersebut. Perintis Sastra (Groningen. seolah 78 Dr. Teks ini merupakan satu-satunya karya sastra yang kepengarangannya dihubungkan dengan tokoh „jagoan‟ kita dalam tulisan ini. dalam Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu (teks diunduh dari situs MCP).1 Tahun 2012 . pengunduran Sultan ke Muar dan Pahang. Sulalat al-Salatin (Perteturun Rajaraja). “…Di dalamnya terbayang bukan saja genius pengarangnya tetapi juga genius sastera serta bangsa yang menciptanya…” Muhammad Haji Salleh. Dalam konteks sejarah kesusastraan Melayu klasik. Sulalat al-Salatin jelas sangat fenomenal. peristiwa pertempurannya. Hooykaas. Tun Seri Lanang. C. Teks ini mampu „hidup‟ berabad-abad melampaui kebesaran zamannya. Kendati demikian. Djakarta: J. Wolters. 168 Jumantara Vol. ingatan orang niscaya akan langsung mengarah pada sebuah karya sastra sejarah. seperti persiapan perang sebelum Portugis menyerang. B. Hooykaas. Hooykaas menegaskan bahwa para sarjana sedemikian tertarik dengan Sulalat al-Salatin karena “…cara kitab itu melukiskan sesuatu hal dengan tjara jang sederhana sekali dan oleh isi kitab itu jang amat indah2nya. 3 No. dan bahkan pengarangnya. Membincangkan Tun Seri Lanang berkaitan dengan karya sastranya. 1951). Sejauh pengetahuan saya. 131. Sulalat alSalatin dapat dianggap sebagai salah satu teks Melayu terpenting yang berhasil memikat dan menyita perhatian sejumlah sarjana. Dr. mereka membuat terdjemahan2 dan daftar isi tjerita itu…”. Perintis Sastra (1951: 132).

] Sejarah Melayu (Singapore: Thomas McMicking. Malay Annals: Translated from the Malay language by the late Dr. diterbitkan ulang di Kuala Lumpur: MBRAS. Shellabear [ed. Sejarah Melayu (Singapore: Methodist Publishing House. „The Sulalat al-Salatin as A Political Myth‟ yang terbit di Jurnal Indonesia 79 (April 2005). Publikasi lebih kemudian tentang Sulalat al-Salatin adalah artikel yang mencoba melihat teks ini sebagai „mitos politik Melayu‟ oleh Henri Chambert-Loir. 1952). Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu (teks diunduh dari situs MCP). 3 (1938): 1-226. Sulalat al-Salatin. Sedjarah Melayu Menurut Terbitan Abdullah (ibn Abdulkadir Munsji) (Jakarta: Djambatan. 1898). 242. Situmorang & A. Jumantara Vol. saya berdiri kagum…”. 1997). dan edisi teks atas Sulalat al-Salatin pernah ditulis dan diterbitkan dalam kurun waktu hampir dua abad ini! Sarjana paling awal di antaranya adalah John Leyden.O.80 Sejumlah buku. ya‟ni Perteturun Segala Raja-raja Karangan Tun Seri Lanang (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka. 1995). 1841). Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad (Brunei: Jabatan Kesusasteraan Melayu.” JMBRAS 16. 1821. artikel.D.1 Tahun 2012 169 .G. 80 Muhammad Haji Salleh. R. 3 No. betapa pun saya terpisah dari akar ini. Winstedt. 1. dan juga sebagai seorang pengarang yang menghadapi pendahulunya. Universiti Brunei Darussalam. John Leyden with an introduction by Sir Thomas Stamford Raffles (London: Longman etc.]. menyusul kemudian Abdullah bin Abdul Kadir [ed. T.79 Muhammad Haji Salleh bahkan dengan berbunga-bunga mengakui: “… Dengan rasa bahawa saya sedang berdiri di depan rimba rahasia fikiran leluhur maka sebagai seorang pembaca Melayu. kemudian W. h.. “The Malay Annals or Sejarah Melayu: The Earliest Recension from MS 18 of the Raffless Collection. 2001).]. Chambert-Loir menegaskan bahwa Sulalat al-Salatin tidak sekedar teks yang merekam dan menggambarkan peristiwa masa 79 Teuku Iskandar. Teeuw [eds.penulisnya hadir menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri. dan Muhammad Haji Salleh.

170 Jumantara Vol. 3 No. di atas pun rasanya belum memadai karena hanya memaparkan tinjauan sederhana atas ayat-ayat al-Quran dalam Sulalat al-Salatin. Artikel ini dipresentasikan dalam “2011 International Conference on Social Sciences and Society” di Shanghai. Meski demikian.1 Tahun 2012 . sejauh mana Islam tergambar dalam Sulalat al-Salatin sebagai pedoman kehidupan negara di Melaka saat itu? Adakah pengaruhnya dalam penegakan hukum dan kebijakan politik? dan beberapa pertanyaan terkait awal Islamisasi lainnya. salah satu aspek penting yang belum banyak dielaborasi terkait teks Sulalat al-Salatin adalah unsur Islam dalam teks tersebut. h. 160. Muhammad Ridhuan Tony Lim Abdullah. Barangkali. Masih perlu diungkapkan. China.81 Apresiasi paling mutakhir terkait Sulalat al-Salatin barangkali adalah artikel yang ditulis bersama oleh Abdrurrahman. tidak tersedia saat artikel ini ditulis. Artikel Abdurrahman dkk. Banyaknya perhatian para sarjana tersebut tidak terlalu mengherankan mengingat kenyataannya Sulalat al-Salatin adalah sebuah sumber tertulis langka yang menjelaskan Kesultanan Melayu di Malaka abad ke-15. dan mengemukakan tinjauan atas ayat-ayat al-Quran yang dikutip oleh pengarang Sulalat al-Salatin. dalam kesempatan ini 81 Henri Chambert-Loir.lalu. “The Sulalat al-Salatin as a Political Myth” dalam Indonesia 79 (April 2005). sayangnya. 14-15 Oktober 2011 lalu. dan Raja Ahmad Iskandar Raja Yaacob berjudul “The Malay world: an analysis of Quranic verses in Sulalat al-Salatin”. Apakah kemudian pembahasan tentang Sulalat al-Salatin boleh dianggap lengkap dan tuntas? Tampaknya tidak juga. Karenanya. artikel ini belum akan menjawab pertanyaanpertanyaan yang saya kemukakan sendiri di atas. mengingat telaah semacam itu membutuhkan penelitian dan pembacaan atas sumber-sumber primer yang memadai yang. melainkan juga merupakan kumpulan motif yang dapat dianggap sebagai mitos politik Melayu yang secara sadar digunakan untuk menonjolkan sebuah visi sejarah tertentu. misalnya.

h.84 judul sebuah teks memang seyogyanya didasarkan pada informasi asal yang berasal dari teks itu sendiri. 31-32. Menurutnya. Artikel tersebut dapat dibaca di: http://mcp. validitas teks. dan sedikit melihatnya dari perspektif tahqiq atau kajian filologis. 121.82 Muhammad Haji Salleh barangkali adalah salah seorang kekecualian. Dua tulisan yang dimaksud adalah Leyden 1821 dan Abdullah 1841 seperti dikemukakan di atas. dan sejarah teks tersebut).anu. yang secara sederhana dapat diartikan sebagai „ihkam al-shay‟ (menghakimi sesuatu). sifat. Lihat Lihat „Abd alHadi al-Fadli. demikian juga dalam artikelnya yang lain berjudul “Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu”. 85 „Abd al-Hadi al-Fadli menjelaskan bahwa di antara tugas seorang muhaqqiq (filolog) adalah untuk: memverifikasi judul sebuah karya. 84 Tahqiq seyogyanya merupakan terjemahan dari kata „criticism‟. tanpa diragukan lagi bahwa salah 82 83 Henri Chambert-Loir. Tahqiq al-turath. 1969).83 Dalam perspektif filologi dan tahqiq. seperti Shellabear (1896). memverifikasi nama pengarang. Sulalat al-Salatin atau Sejarah Melayu? Henri Chambert-Loir memberikan komentar kritis atas kebanyakan sarjana. 3 No.1 Tahun 2012 171 . penyebutan Sejarah Melayu atau Malay Annals tersebut mengikuti dua tulisan paling awal terkait teks Sulalat al-Salatin yang disebutnya „misleading‟.edu. dari aspek sumber. yang lebih suka menyebut judul teks Sulalat al-Salatin sebagai Sejarah Melayu atau Malay Annals. dan menegaskan hubungan sebuah karya dengan nama pengarang yang disebut.au/papers/MHS%20Esei1. h. Dalam konteks sastra. 133. Jumantara Vol.85 Dalam hal Sulalat al-Salatin. „Abd al-Hadi al-Fadli. tahqiq didefinisikan sebagai „al-fahs al-„ilm li-al-nusus aladabiyah min haythu masdaruha wa-sihhat nassuha wa-insha‟uha wa-sifatuha wa-tarikhuha‟ (sebuah telaah ilmiah atas teks-teks sastra. penyebaran. Winstedt (1938. 1982). “The Sulalat al-Salatin.saya hanya akan menegaskan kembali signifikansi teks Sulalat alSalatin sebagai sebuah karya sastra Melayu tradisional adiluhung yang dihubungkan dengan tokoh Tun Seri Lanang.html. sejauh informasi terkait bisa dijumpai. Tahqiq al-turath. dan lainnya. ia memberi judul Sulalat al-Salatin. karena dalam publikasinya (1997). h. (Jeddah: Maktabat al-„Ilm. Liaw Yock Fang (1993) Teuku Iskandar (1995).

245. Voorhoeve. Maka Fakir namai hikayat itu Sulalat al-Salatin yakni peraturan segala raja-raja…”. karena yang lebih penting adalah menampilkan apa yang tertulis dalam teks.satu bagian dari mukadimah teks yang sedang didiskusikan ini berbunyi: “…maka Fakir karanglah hikayat ini kama sami‟tuhu min jaddi wa-abi.86 Berdasar pada sumber tertulis di atas. Katalog Ricklefs & Voorhoeve 1977 misalnya. Kesusasteraan. tidak ada alasan yang masuk akal untuk tidak menyebut Sulalat al-Salatin sebagai judul teks. 1977). termasuk manuskrip Raffles Malay 18 yang dijadikan sebagai landasan edisi oleh Winstedt 1938. supaya akan menyukakan duli hadhirat baginda. maka penyebutan „Sejarah Melayu‟ atau Malay Annals tentu boleh-boleh saja. Voorhoeve. 88 M. 86 87 Dikutip dari Teuku Iskandar. C. 172 Jumantara Vol. Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections (Oxford: Oxford University Press. h.1 Tahun 2012 . Ricklefs and P. bukan hanya sumber-sumber yang disebut di atas saja yang banyak menjadikan Sejarah Melayu sebagai judul teks. h. bukan apa yang difahami peneliti atas teks tersebut! Judul berbahasa Arab untuk teks-teks Melayu adalah sebuah kelaziman pada masa lalu. 230. Indonesian…. melainkan juga katalog manuskrip yang menginventarisasi dan mendeskripsikannya. 134-135. Anehnya. Ricklefs and P. Akan tetapi jika yang dimaksudkan adalah kandungan isinya. mendaftarkan kata kunci „Sejarah Melayu‟ dalam indeksnya87 yang merujuk pada manuskrip yang disebut sebagai Sulalat al-Salatin ini. Apakah hal itu disebabkan karena kata Sulalat al-Salatin adalah bahasa Arab yang tidak terlalu jelas maknanya bagi sebagian orang sehingga kebanyakan merasa lebih „nyaman‟ menyebut „Sejarah Melayu‟ yang lebih mudah difahami? Tentu ini bukan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. M. 3 No. h.88 Kata „Sulalat al-Salatin‟ bahkan tidak terdaftar sama sekali dalam katalog ini. C.

h. Kesusasteraan… h. dan sebagian lainnya „perteturun.1 Tahun 2012 173 . h. 3 No. Tun Seri Lanang timang-timangannya. 116. Paduka Raja gelarannya. A Dictionary. dan diganti menjadi Sulalat alSalatin saja. kata „Sulalat‟ ini diterjemahkan menjadi berbeda-beda. Teuku Iskandar. 1997). 1987). 134. Tun Seri Lanang: Diskusi Kepengarangan Sulalat al-Salatin Pengetahuan umum kita menyatakan bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang langsung teks Sulalat al-Salatin. dan karena itulah versi Melayunya perlu dibaca sebagai „Perteturun Raja-raja‟. h. Dalam beberapa sumber. sedangkan al-Salatin berarti raja-raja (kings/sultans)90. seyogyanya diluruskan. penyebutan „Sejarah Melayu‟ sebagai judul teks yang dihubungkan dengan dengan tokoh Tun Seri Lanang ini. Jumantara Vol. Tun Muhammad namanya. 91 Lihat antara lain Mohammad Daud Mohammad. 493.Dengan demikian. dalam bahasa Arab berarti „keturunan‟ (descendant)89. 489. ya‟ni Perteturun Segala Raja-Raja Karangan Tun Seri Lanang (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka. Tokoh-tokoh Sastera Melayu Klasik (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. sebagian lagi „pertuturan‟92.‟93 Memperhatikan maknanya. anak Orang Kaya Paduka Raja. cucu Bendahara Seri Maharaja. 90 Hans Wehr. jadi beratlah atas anggota Fakir alladzi murakkabun „ala „l-jahli. 92 Lihat misalnya Henri Chambert-Loir. terjemahan yang paling mendekati dari definisi kata Sulalat tersebut tampaknya adalah „perteturun‟. Sulalat al-Salatin. h. saya berpendapat bahwa ke depan. Kata „Sulalat‟ sendiri. cicit Bendahara Seri 89 Hans Wehr. kecuali jika dimaksudkan sebagai penjelasan atau pemerian belaka. Bendahara. 1994). yang menjadi acuan terjemahan judul tersebut. A Dictionary of Modern Written Arabic (Urbana: Spoken Language Services. 110. 245. Hal ini terutama karena ada bukti tertulis dalam mukaddimah naskah Sulalat al-Salatin sebagai berikut: “…setelah Fakir mendengar demikian. 93 Lihat misalnya Muhammad Haji Salleh. The Sulalat…. Sebagian mengejanya sebagai „Peraturan‟91.

h. Parsi. qaddasa „llahu sirrahum. ada beberapa sarjana seperti R. Tamil dan Arab. Alih-alih menganggap Tun Seri Lanang sebagai pengarang langsung. juga tidak menunjukkan kerendahan hati bangsa Melayu pada umumnya. karena 94 95 Dikutip dari Teuku Iskandar. lihat juga Liaw Yock Fang. Malakat negerinya. 96 Teuku Iskandar. anak baginda Mani Purindam. Winstedt yang masih mendiskusikan apakah Tun Seri Lanang dapat disebut sebagai pengarang langsung teks Sulalat al-Salatin atau penyalin? Teuku Iskandar mendiskusikan perbincangan para sarjana tersebut secara panjang lebar.Maharaja. Batu Sawar Darussalam…”94 Akan tetapi. 174 Jumantara Vol.1 Tahun 2012 . 244. serta mengetahui sedikit bahasa Cina dan Siam.97 Argumen seperti ini tentu saja masih dapat diperdebatkan. 3 No. Kesusasteraan. Wilkinson dan R. yang mengisyaratkan seolah-olah pengarangnya adalah Raja Bungsu. h. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik 2 (Jakarta: Penerbit Erlangga. Teuku Iskandar. dari Bukit Siguntang Mahameru. Wilkinson misalnya berasumsi bahwa kalimat “…maka Fakir karanglah hikayat ini…” dalam teks Sulalat al-Salatin tidak cukup lazim ditulis oleh seorang pengarang Melayu yang menyebut dirinya sendiri sebagai seorang „pengarang‟. 245. Wilkinson menduga bahwa teks Sulalat al-Salatin tersebut dikarang oleh seorang peranakan Tamil yang mengenal kehidupan istana Melaka. 97 Teuku Iskandar. Selain itu. yang terkesan sebagai pamer status. J. O. Salah satunya adalah karena di akhir naskah versi Raffles Malay 18 tertulis kalimat: “…wa-katibuhu Raja Bungsu…”. 96 Winstedt menambahkan beberapa hal yang membuat dirinya sangsi bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang Sulalat alSalatin. Melayu bangsanya. Kesusasteraan. h. h. 1993). piut Bendahara Seri Maharaja anak Seri Nara Diraja Tun Ali. cicit Bendahara Tun Nara Wangsa. Kesusasteraan. 245-259. 97. h. Kesusasteraan. 249.95 Disebutkan. tambahan berbagai gelar serta asal-usul pengarang sebagai keturunan para pembesar kerajaan. mengetahui bahasa Sanskritt.

yang dianggap perlu. 97. setelah memaparkan argumentasi yang cukup panjang.] ini masih belum cukup diselidiki dan sukar ditentukan pengarang dan masa tertulisnya…”.100 Dengan demikian. Teuku Iskandar. Ia. karena selain Wilkinson dan Winstedt di atas. Sejarah… h. pen. 252. tampaknya sebuah kajian tekstologis untuk secara khusus memastikan Tun Seri Lanang sebagai pengarang Sulalat alSalatin perlu dilakukan. Hooykaas misalnya.kata „katib‟ sendiri. h. Teuku Iskandar secara tegas mengatakan: 98 99 100 Teuku Iskandar. melainkan juga menambahkan bagian. yang dimiliki oleh Raja Bungsu. dapat saja merujuk. harus difahami bahwa konsep „penyalin‟ dalam tradisi kesusasteraan Melayu lama dapat juga berarti „pengarang‟.98 Demikianlah. karena ia tidak hanya sekedar menyalin. yang dalam bahasa Arab berarti „penulis‟. Liaw Yock Fang. Itulah mengapa Teuku Iskandar memberikan komentar bahwa manuskrip Raffles Malay 18 yang diakhiri dengan kalimat “…wa-katibuhu Raja Bungsu…” adalah salinan manuskrip dari hikayat yang dibawa dari Goa. Liaw Yock Fang adalah salah satu di antaranya. Menurut Teuku Iskandar. misalnya. 250. kadang satu episode cukup panjang. terlepas dari pengakuan atas keindahan dan keagungan Sulalat al-Salatin sebagai karya sastra sejarah Melayu. h. Teuku Iskandar dan C.99 Tentu saja ada sejumlah sarjana lain yang tidak sependapat dengan pandangan di atas. baik pada pengarang maupun penyalin sebuah teks. Kesusasteraan. Kesusasteraan.1 Tahun 2012 175 . bahkan mengubah bahasa karya asal atau menerjemahkan. mengatakan bahwa penyebab keraguan itu adalah karena: “…kebanyakan daripada versi-versi [manuskrip Sulalat al-Salatin. memperbaiki bagian yang dianggap tidak tepat. 3 No. Jumantara Vol. sesuai konteks dan kebutuhan pada masanya. termasuk di antara mereka yang meyakini bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang Sulalat al-Salatin. masih ada beberapa lagi sarjana yang masih belum yakin bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarangnya.

„Abd al-Hadi al. barangkali pendekatan tahqiq seperti saya kemukakan di atas dapat diterapkan untuk melakukan sebuah kajian khusus berkaitan dengan kepengarangan teks Sulalat alSalatin. Fang. tulisan ini mungkin tidak memberikan kontribusi penting dan juga tidak menyediakan informasi baru terkait karyakarya sastra yang dihubungkan dengan Tun Seri Lanang.“…sejak tahun 1964 kita telah menyatakan bahwa Tun Seri Lananglah pengarang Sejarah Melayu dan menentang pendapat Winstedt yang menafikan hakikat ini…”. agar kajian tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh terkait peradaban Melayu Nusantara kita pada masa lalu. 176 Jumantara Vol. h.1 Tahun 2012 . Daftar Bacaan Chambert-Loir. Henri (2005). Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik 2. 256. 101 Teuku Iskandar. 3 No. Wallahu a‟lam bissawab. meski sarjana semisal Henri Chambert-Loir mengaku tidak tertarik memperdebatkan apakah Sulalat al-Salatin ini dikarang oleh Tun Seri Lanang sendiri atau pengarang lainnya.101 Dalam konteks ini. kebesaran dan keindahan teks Sulalat al-Salatin itu sendiri sebagai sebuah karya sastra sejarah Melayu klasik dalam beberapa hal sepertinya sudah jauh melebihi kebesaran zaman dan pengarangnya. Jeddah: Maktabat al-„Ilm. karena ia tidak melihat ada alasan kuat untuk mempermasalahkannya. 160.(1982). Fadli. Liaw Yock (1993). h. „The Sulalat al-Salatin as a Political Myth‟ dalam Indonesia 79 (April 2005). Hal ini mungkin karena dalam kenyataannya. Saya hanya berharap bahwa kajian atas karya-karya sastra Melayu semisal Sulalat al-Salatin dapat terus digalakkan dengan melihatnya dari berbagai perspektif. Tahqiq al-turath. Kesusasteraan. Penutup Demikianlah.

A Dictionary of Modern Written Arabic. Salleh.Jakarta: Penerbit Erlangga. Ricklefs M. Voorhoeve (1977). Brunei: Jabatan Kesusasteraan Melayu. and P. 1997). C. C. Wehr. 3 No.edu. B. Mohammad. Groningen. Iskandar. Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections. Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu. h. Perintis Sastra. ya‟ni Perteturun Segala Raja-Raja Karangan Tun Seri Lanang. Wolters. Oxford: Oxford University Press.html). Artikel diunduh dari situs Malay Corcondance Project (http://mcp. Urbana: Spoken Language Services. 1 ----------. Muhammad Haji. Sulalat al-Salatin. 1994. Hooykaas.au/papers/MHS%20Esei1. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Universiti Brunei Darussalam. (1997). (1951).anu. Mohammad Daud (1987).1 Tahun 2012 177 . Hans (1994). Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka. Djakarta: J. Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. Jumantara Vol. Teuku (1995). Tokoh-tokoh Sastera Melayu Klasik.

hlm. van der Molen dalam terjemahan bahasa Indonesia. 255-272). dan perbaikan bacaan Terbitan diplomatik teks Kuñjarakarṇa (prosa) dari ketiga naskah yang diteliti. Berdasarkan kesempatan luas yang diberikan itu 178 Jumantara Vol. Sebuah pemandangan umum dan pendekatan baru yang diterapkan kepada Kunjarakarna. terjemahan. bahkan mungkin mencoba membuat rekonstruksi. ISBN 978-979-461-787-8. Juli 1984. Artikel resensi ini adalah telaah lama yang pernah diterbitkan di majalah Basis (Th. yang disajikan secara sinoptik. 7. mengemukakan alternatif bacaan. sungguh membantu pembaca untuk bekerja sendiri: menganalisis. Kritik Teks Jawa.1 Tahun 2012 . Terbitan teks. Sehubungan dengan terbitnya disertasi W. 3 No.Willem van der Molen (2011). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. saya merasa perlu untuk menerbitkan lagi artikel itu dengan pengurangan dan perubahan seperlunya. XXXIII. no. Tebal x + 392 hlm.

121162). Pemahaman teks dan perbaikan bacaan secara bertahap perlu memperhatikan: teks dari satu naskah. yang dapat membantu untuk menentukan kedudukan teks itu dalam sejarah bahasa dan tahapan tradisi. lembu). 3 No. Terjemahan “ternak” berhubungan dengan bacaan “agoh” (“goh”. namun barulah menyangkut pemakaian beberapa huruf saja. suatu masalah yang berulang kali dibahas oleh para penerbit teks Jawa adalah masalah pemisahan kata beserta dasar-dasar linguistiknya. 175) pakaian. dan terbatas pada tataran kata dasar (h. terutama dari naskah H. sanḍaŋ agoh arabihanakkanak Terjemahan: “Makan. bandingan antarteks dengan karya yang sama dari naskah lain. […]”.1 Tahun 2012 179 . pemisahan kata menimbulkan kesalahan (1) 125 H paŋan inum. Penelitian ini diharapkan akan menampilkan ciri-ciri kebahasaan dari teks yang bersangkutan. Dalam hal ini terbitan teks Kuñjarakarṇa (prosa) menunjukkan kekurangan yang menyolok. Erat hubungan dengan hal itu. Ejaan yang tidak konsisten sangat penting diselidiki demi pemahaman teks dan perbaikan bacaan. berkeluarga.akan dikemukakan beberapa hal yang mungkin membantu pemahaman dan penelitian lebih lanjut. Diandaikan. bahwa setiap penerbit atau penyunting teks memahami teks dan menguasai bahasa teks yang diterbitkan atau disuntingnya. minum. ternak. Kesalahan terjemahan. (h. dan hubungan antar teks dengan berbagai karya lainnya. Seharusnya dibaca: 125 H paŋan inum. Sekalipun hal-ihwal ejaan telah diselidiki secara rumit. sanḍaŋ Jumantara Vol. Sejumlah contoh berikut ini dimaksudkan sebagai sumbangan pikiran untuk pemahaman teks dan perbaikan bacaan. Selanjutnya masih perlu dilakukan penelitian ejaan dengan memperhatikan tataran morfo-sintaksis.

(h. II: 1647. (5) 3130 H halŋa burat. (4) 2440 H […] Ø watu pinaŋka ta wulan. sandaŋ) (2) 334 H śammi dadupa mrabukk arum pawaŋi Terjemahan: “[…] mewangi. 1982. kĕmbaṅ kuṣaṅ runtiṅruntiṅ. yang adalah nama-nama jenis pertapa.1 Tahun 2012 .ago harabi hanakkanak “Sanḍaŋ a <ṅ> go” berarti: “pakaian dan perhiasan” (lihat Zoetmulder. (3) 1028 H wawa ṣima ŋuyu ḷbuguntuṅ. […] Terjemahan: “[…] Ø Batu sebagai bulan (h. (OJED. Lalu “winoŋan” (333) seharusnya dihubungkan dengan “śammida dupa”. 290-291) Seharusnya dibaca: “watu pinaŋka tawulan”. I: 1001. bdk. maŋuyu. 3 No. sima. yang berarti: “batu merupakan tulang(nya)”. II: 1638. aŋgo. tahulan). nguyu. (OJED. […] 180 Jumantara Vol. ma oṃ. I: 100. 185) berbau dupa semerbak harum Seharusnya dibaca: “śammida dupa”. 594 H pamanuyon. II: 1901. Old-Javanese English Dictionary = OJED. lebuguntung”. I: 1114. yang berarti: “kayu bakar (dan) dupa” (OJED. cinakuṣ i wawaŋi kambaŋ wĕrataŋanta. II: 2216. Terjemahan: “wawal. 219) Seharusnya dibaca: “wawaṣi manguyu ḷbuguntuṅ”. samiddha). samidha. lebuguntur). wasi. (h.

kĕmbaṅku ṣaṅ runtiṅruntiṅ cinaku ṣi wawaŋi kambaŋ wĕratanaŋta.” Seperti telah terlihat pada contoh-contoh di atas. […] Artinya: “Mengenakan minyak boreh. ma oṃ. (h. Ciriku (OJED. dan konteks kurang dipahami. 257). arti kata tidak dicari. (6) 1792 H sammana rupanta. kulit). 325). dan lain-lain. ungkapan. ranak baṭara. banyak bagian tidak diterjemahkan (ditandai: …). Mantra: Oṃ. (7) 2203 H […] maŋke taṇn agiraha. pukulun Jumantara Vol. dalam bandingan intrateks. bunga kusang dan runting … wewangian. baik dalam kamus. (Ungkapan ini menandai tahap upacara. I: 918. pemisahan kata ditangguhkan. cihna II) Si Harum Bunga Weratanganta (? Bdk. (OJED. Berikut ini disajikan beberapa contoh lagi. melainkan “telur yang dikuliti (dikupas kulitnya)”. I: 327. bahasa. Bunga wratanganta. maupun bandingan antarteks. perbaikan bacaan belum dilakukan.1 Tahun 2012 181 . Mantra: om. 3 No. Bungaku Sang Runting-runting. K: kĕmbaṅ wĕratta baranta). “Hantiga kinulitan” artinya bukanlah “telur berkulit”. sebab: pemisahan kata salah. tidak termasuk mantra yang terdahulu. karena arti masih gelap. kadi hantiga kinulitan. […] Terjemahan: “Rupa anda waktu itu seperti telur berkulit” (h. Seharusnya dibaca: 3130 H halŋa burat.Terjemahan: “[…] dengan minyak dan boreh.

pasak I. (Bagian kalimat ini termasuk langsung! OJED. (h. 2023. amintaha. titih). K pataraṇna maṇni). pasĕk. II: 1438. (OJED. […]‟”. (OJED. Larik 3191 seharusnya dibaca: “paṣĕkk apaŋgaḥ. K tinbul krawa le bujana kulit 3125 H tan tĕtĕsa deniṅ wwakadaga. Terjemahan: “Purnawijaya mohon diri: „Tinggallah baikbaik … di atas singgasana raja. II: 1310. 3 No. pun I). haniti hi pantaraṇn aji. I: 540. Terjemahan: “Sekarang … Hamba tidak menganggapnya penderitaan. 3190 amit kantuna paṣĕk kapaŋgaḥ. hanitihi”. pukulun. 182 Jumantara Vol. tetapi sejajar dengan “tan panaŋguha lara”. “tan agiraha” (naskah H) selayaknya dibaca: “tan ageraha” (tak akan merasa sakit). Hendaklah tinggal tetap terhormat menduduki singgasana Tuanku” (9) 3124 H timbul krawa len bujana kulit. […]”. 279) Memang naskah K berbunyi: “maŋge tan agiraṅ”. grah).tan panaŋguha lara. Batara. (8) 3188 H […] pun puṙṇawijaya. K tan tĕtĕsa deniṅ wwakadga hendak ucapan Tuanku rajawi. Mungkin “pantaraṇn aji” (3192) lebih baik tetap dibaca: “pantaraṇnaji” (gabungan kata: pa [n] taraṇnaaji. (h. 327). II. Terjemahan sementara: “[…] Si Purnawijaya mohon diri. Perihal sandhi atau gabungan kata semacam ini perlu dipertimbangkan lagi demi pemahaman ciri kebahasan dari teks yang bersangkutan.1 Tahun 2012 .

(bdk. Teg keng keng”. dengan arti: “Mataku Si Lulut Onĕng (Si Asyik-Masyuk)”.323). I: 1055.3126 H lwir pusuḥ tĕg kĕṅ kĕṅ. (OJED. Bacaan dapat diperbaiki menjadi: “timbul krawalen (atau: krawale. Us 156: timbal kurawale) bujan<eṅ> kulit. Membatu”. II: 2121. 9). 325). 99a). Terjemahan sementara: “Timbul Krawale Buja (Sakti Kebal Lengan?) ada di kulit. unaŋ). tak akan mempan oleh segala macam pedang (senjata) bagaikan kuncup bunga (?). (10) 3116 H satakuṣilulunnonen […] K maṭakuśilulukonĕn […] Pemisahan kata belum ditentukan. (h. Jumantara Vol. (bdk. (h. Menurut konteks “gḍug. Aji ini terdapat sesudah cerita tentang Kuñjayakarna dan Pūrṇawijaya. 1936) terdapat Aji Sūkṣma -jahinang dengan ungkapan: “lulut onĕng ring utari” (h. h. Dalam Cantakaparwa terdapat pula Aji Jahinang dengan ungkapan: “Lulur onĕng ring untunku” (naskah Kirtya 398. Tan tĕtĕsa deninṅ <sar>wwakadga. OJED. kĕṅ kĕṅ […] Terjemahan: “tak tertembus oleh … seperti kuncup bunga. diusulkan bacaan: “mataku si lulut onĕng”. lulut.” (3123 H. I: 806. On the OldJavanese Cantakaparwa and Its Tale of Sutasoma. 3 No. Tĕg. Ensink. lir pusuḥ tĕg (atau: kĕg) kĕṅkĕṅ”. dan tidak diterjemahkan. 136). berdasarkan bandingan teks dari kedua naskah. 1967. h. 3116 H: puspa liŋganeṅ siraḥku). unĕŋ. dan bandingan antarteks dengan karya lain. Dalam Korawāçrama (Swellengrebel. […] K lwir pusuḥ kĕg. karawalya (karawali?). gḍug. suara orang menghentak bumi) berhubungan dengan “om […] dalamakanku”.1 Tahun 2012 183 .

dan nanti akan dinikmati. Dinda. 219) Seharusnya dibaca: “iwa maŋkana yayi kawa<ḥ>ulun”. (h. kemala. 3 No. […] Terjemahan: “Bandingkan dengan Besawarna yang me nunggui kayangan pendosa. dan mengacaukan arti!). 1043. mas pirak miraḥ kommala hinten.(11) 1009 H […] upamanya yi kadyaŋga ṇniṅ saṅ besawaṙṇna hatuŋgu kaywaŋan. 1698. melainkan milik orang-orang di dunia yang berbuat kebaikan. Bukanlah Yama yang memiliki kawah itu. papa ṭa humaḥnya kĕbĕk deṇniṅ raja drawwa. kawahku. yang berarti: “seperti itulah.1 Tahun 2012 . Seperti itulah halnya kawah tempat siksaan. intan. melainkan orang-orang di dunia.” (Terjemahan “iwa maŋkana” dengan “meskipun demikian”. atau “meski demikian”. (H 1015-1030). Maka: (12) 1032 H iwa maŋkana yayi kawa ulun… Terjemahan: “[…] …meskipun demikian saya ragu adik. Rumahnya penuh dengan harta benda emas. bila mereka sudah mati. perak permata. 1032. 219) Terjemahan: “yang menunggui kayangan pendosa” berhubungan dengan bacaan “papa ṭa” dan salah hubung dengan “kaywaŋan” (1011). Seharusnya dibaca: “papaṭ <t>a humahnya”. tidak tepat. Maka: (13) 1001 H […] tanta 184 Jumantara Vol. 1708.” (h. yang berarti: “Empatlah rumahnya”. 1716. Rumah itu bukan milik Besawarna.

dirinya sendiri memasukkan itu. hawake ḍawak aḷbokĕṇ nika yayi Terjemahan: “[…] … Caranya pada saya kalau saya memasukkan orang ke kawah. orang-orang di dunialah yang memiliki itu. 3 No. Seharusnya dibaca: 989 H […] tanta. Terjemahan: “Bukanlah aku yang memiliki kawah itu. hawake ḍawak aḷbokĕṇn ika yayi Terjemahan: “Bukanlah aku yang memasukkan ke dalam kawah itu. madyapada kaṅ drawenni kaṅ yayi.” (h. ṇni ŋulun haḷbokna kawaḥ hika. dik. draweni kawah hi<ka> wwaṅ madyapada kaṅ drawenni <i> ka [n] yayi. melainkan orang-orang itu sendirilah yang masuk ke dalam kawah. 219). Dinda”. (h. 217). saua suruh masuk sendiri dik”. Jumantara Vol. Kawah adalah milik orang di dunia. merekalah yang punya. Seharusnya dibaca: 1001 H […] tantan i ṅŋulun. Maka: (14) 989 H […] tanta.1 Tahun 2012 185 . ṇn i ŋulun haḷbokna kawaḥ hika. Dinda”.niṅ ŋulun. Terjemahan: “[…] … ku. Bukanlah Yama yang memasukkan atau memasak orangorang berdosa di dalam kawah. drawe ni kawah hi wwaṅ.

ywa tukit.(15) 1096 H […] tanta ulun. Dalam naskah H bentuk huruf “c” agak mirip dengan “j”. Seharusnya dibaca: 1096 H […] tanta <n> (atau: tan ta?) ulun. 3 No. (16) 1301 H […] hacukit hadulit. wwaṅ tuhu si maḷbu ḍawak mariṅ kawaḥ […] Terjemahan: “[…] … Ada orang yang masuk yang sangat … Ia masuk sendiri ke dalam kawah […]”. Namun demikian. dapatlah bacaan larik 2822-2823 diperbaiki menjadi: “kunan pañjanmanya. (h. “pjĕh” (3392.1 Tahun 2012 . tadulit. 233) 2822 H kunaṅ pañcanmanya.” Bentuk “ywacukit” dapat dipandang sebagai gabungan kata “ya acukit” dengan sisihan/tambahan “wa” pada kata “ya”. Perbaikan bacaan “klĕ” (1097) menjadi “kĕla” sejalan dengan “tlĕs” (156. wwaṅ tuhu si maḷbu ḍawak mariṅ kawaḥ […] Terjemahan: “Tidaklah aku masak. Terjemahan: “… pemulung. klĕ. 309). ywacukit. (h. dan lainlain. Jadi artinya: “Ada pun penjelmaannya adalah orang-orang 186 Jumantara Vol. pĕjah). (h. sedangkan “t” jauh berbeda dengan “c”. kĕla. 223). orang-orang itu sesungguhnya masuk sendiri ke dalam kawah”. berdasarkan bandingan dengan larik 1301-1302 dan dengan bacaan naskah K (2822-2823: janmanya acukitt adulit).t adulit. penjual kapur”. tĕlas). […] Terjemahan: “selanjutnya … … penjual kapur”.

bdk. 1942. kaleṣa. dan lainlain. Sisipan/tambahan “w(a)” atau “y(a) dalam ejaan naskah H perlu diperhatikan untuk perbaikan bacaan dan pemahaman bahasa. 171) untuk bepergian. Perbaikan itu sejalan dengan bentuk-bentuk: “swalaka” (229 H. Jadi di sini perlu dipertahankan: “ikaṅ sakala”. sehingga “ṣwatala” ekuivalen dengan “satala” (naskah K). (OJED. 169).1 Tahun 2012 187 . II: 1604. ta. yang berarti: “pada waktu yang bersamaan”. I. Di sini mungkin terdapat sisipan tambahan “wa”. sadakala). 1544. “kalṣe” (1076. 1556. Maka terbukalah kemungkinan untuk bacaan “kaleswa” (68). 286). “Ikaṅ ṣwatala” (naskah H) diterjemahkan: “tempatnya sendiri” (h. sakala II). salah satu buktinya: naskah A). maratabwan. “kalweṣa” (80. dan lain sebagainya). Jadi arti perbaikan bacaan itu: “supaya hilanglah Jumantara Vol. K ikaṅ satala marayata H ikaṅ ṣwatala. 1946). 1970.(yang pekerjaannya) „cukit‟. „dulit‟ ” (pedagang terasi. 1951. h. 324 H: salaka). kapur. dan “kleswa” (116). dan passim). (18) 68 H laŋka leswa ywaki ywaki bawanya Ø Terjemahan: “ „Alasan maksudnya”. dan berasal dari “sakala” (t<k. 3 No. itulah Mungkin harus diperbaiki demikian: 68 H <i> laŋ <a> kaleswa ywaki (yweki?) ywaki (yweki?) bawanya Ø Kata “klesa” (1933. dan passim) dalam naskah H kadang kadang dieja “kalesa”/kaleṣa” (1541. “swadakala” (528 H. (17) 28 A sakala maray. (h.

1 Tahun 2012 . 223). 188 Jumantara Vol. 3 No. (20) 8 H […] ummilu atatya dewata kabeḥ myamujaha rwiṅ ḃaṫara byudda sri wiroñcana. (h. yeki maŋke tinmunya dyan tuṭ ri kaṅ kawaḥ Terjemahannya: “[…] … Mereka sekarang berhadapan dengan perbuatan jahatnya dan harus mengikutinya ke kawah”. itulah maksudnya”. 169). (19) 1114 H […] sapa ka yweku riṅ pakśanya. (h. maka bacaannya: 1114 H […] sapa kayweku riṅ pakśanya. yeki maŋke tinmunya dyan tḍuni <i> kaṅ kawaḥ Terjemahan: “Siapa yang seperti itu sikapnya. Mungkinkah diperbaiki menjadi: “dyan tḍuni <i> kaṅ kawaṅ”? (A: den tĕḍūni ikaṅ kawaḥ). Pertanyaan itu tidak perlu. Dalam perbaikan bacaan terdapat: “atatya? b. seperti halnya: “byuda” – “budda”. sapata?” . diterjunilah kawah itu”. inilah sekarang yang ditemuinya. tata I). 356). Yang perlu diperhatikan ialah: “dyan tuṭ ri kaṅ kawah”. II: 1958. Bila demikian. Dalam perbaikan bacaan terdapat: “sapa ka 1. Sebenarnya “atatya” ekuivalen dengan “atata” (OJED.kecemarannya. […] Terjemahan: “Sesudah itu berturut-turut para dewa memuja Batara Buddja Sri Wironcana”. ata tyan?” (h.

nandaḥ padaŋdana kita rari. hendaklah dihilangkan kecemaran tubuhmu”. ilaŋana kalṣe ṇniṅ sariranta. “wuwustya” (3009) – “wuwusta”. 359) Mungkin “s” pada “aswruh” perlu dipertahankan. aswruḥ b. n <ta> Jumantara Vol. ilaŋana kaleṣa niṅ sariranta. Dalam perbaikan bacaan terdapat: “1075. Ayo berpakaianlah anda”. Terjemahan: “[…] Pahamilah Darma maka penyakit akan hilang dari badan anda”. “tirtya” (3082) – “tirta”. kalṣe b. awruḥ. Kurangnya “pasangan” beserta “sandangan”-nya perlu diperhitungkan dalam perbaikan bacaan.“myamujaha” – “mamujaha”. dan lain-lain. (h. Jadi: 1074 H […] den <wu> s wruḥ hiṅ saṅ hyaṅ daṙmma. Terjemahan: “Bila sudah tahu akan Sang Hyang Dharma. 221). 245) Lebih tepat diperbaiki menjadi: 1555 H […] maŋkana ilaŋan niṅ kaleṣa papa nniṅ sarira. 1076.1 Tahun 2012 189 . kaleṣa” (hlm. (21) 1074 H […] den aswruḥ hiṅ saṅ hyaṅ daṙmma. (22) 1555 H […] maŋkana ilaŋan niṅ (sic) kaleṣa papa nniṅ sarira. (h. 3 No. […] Terjemahan: “[…] Begitulah caranya menghilangkan kekotoran serta kekurangan badan.

. I: 96. (23) 3039 H itipa ka sla kabeh. (lalu) berkata kepada Sang Purnawijaya: […]”. (24) 1587 H maŋaḷŋĕn śaṅ kuñjarakaṙṇna swojaṙ riṅ saṅ puṙnawijaya Terjemahan: “Sambil memegang lengannya berkata Kunjarakarna kepada Purnawijaya”. […] Diandaikan. panteni denta kabeh. (h. Maka sebaiknya dibaca: 1587 H maŋaŋnaŋĕn śaṅ kuñjarakaṙṇna swojaṙ riṅ saṅ puṙnawijaya Terjemahan: “Berpikirlah (OJED. Bentuk huruf “ḷ” serupa dengan bentuk kombinasi huruf “ŋ(a)” dan “n(a)” (sebagai “pasangan”).1 Tahun 2012 . 3 No. (h. “pa” (pada “itipa”) kehilangan “wulu” dan “cĕcak”. dan “s” (pada “kasla”) kehilangan “pasangan m(a)” (bdk. Jadi artinya: “Kerak segala kecemaran. harus anda bunuh semua”. […] Di sini diandaikan pasangan “ta” hilang (K: sariranta). panteni denta kabeh. 319) Perbaikan bacaan: 3039 H itip <iṅ> kasmala kabeḥ.ndaḥ padaŋdana kita rari. […] Terjemahan: “.. Begitu pula: (25) 3179 H ih hiŋaḷnĕndriya haja tan 190 Jumantara Vol. 247). hendaklah kau bunuh semua”. aŋĕn) Sang Kunjarakarna. 2165 H: kasmalammu).

(h. Selanjutnya transliterasi. dan lain-lain. dipikir dengan periksa. gagak. Artinya: “Nah. Begitu pula tempat-tempat lain yang paralel. 327) Sebaiknya dibaca: 3179 H ih hiŋaŋnaŋĕn driya haja tan prayatna. Terjemahan: “Hai. I 473.1824 A mawak masarira K mawaṅk asarira H mawak asarira Semestinya 835 K dan H ditransliterasikan: “mawak asarira” dan “mawak aṣarira”.1 Tahun 2012 191 . Seharusnya: “[…] burung gagak (OJED.prayatna. seperti: “taṇn ana lena kapaŋguḥ” (2464. Namun demikian. 3 No. … berusahalah keras […]”. gāgak) yang bersayap keris”. perlu dipertahankan pula kekhasan bahasa Jumantara Vol. Sekedar contoh: (27) 835 A mawāk masarira K mawakasarira H mawakaṣarira . 2900. perlu diperhatikan konsistensi dalam Dalam hal ini sangat penting pertimbangan dari segi linguistik. 3539). […]” (26) 399 H […] gagakk alwar curiga Terjemahan: “[…] Mereka jahat” Teks naskah H dan perbaikan bacaan atas bacaan Kern pada naskah A: “gālak” (VG X: 57) menjadi “gāgak” tidak diikuti dengan terjemahan yang sesuai. jangan tak waspada.

rakṣasa. I: 1149. 364). Untuk naskah H lebih tepat ditentukan: “hamahĕt”. 361). Di sini pun perlu dipertahankan: “raśaksa” (beserta varian ejaannya). 3346. Cantakaparwa) menjadi “kuñjarakaṙṇna” (h. pertukaran „d‟ dan „n‟ pada naskah H dan K menyatakan.1 Tahun 2012 . 3. Dalam hal ini perbaikan bacaan tidak konsisten. 2. 1300. rasakṣa b. 360).dan tradisi teks masing-masing. 160. 170. van der Molen menyimpulkan. 2. raṣaksa b. raśaksa b. 1504. OJED. Misalnya: 1. Sejarah teks dan tradisi Dalam melacak sejarah teks dan tradisinya W. bahwa kedua naskah itu mempunyai induk yang bersamaan. yang menunjukkan tahap perkembangan bahasa tertentu (bdk. (h. 3306. 365). bahwa: 1. bdk. bdk. penyalin naskah A bekerja dengan lebih teliti daripada penyalin naskah H dan K. rakṣasa. 1760. mengingat kesalahan-kesalahan yang terjadi berkat salah baca. 358) Kiranya perlu dipertahankan: “meŋkeneha” (3369 H: meŋkeneha. Bisa ditambah: 1507 H: rasakṣa. 2825. (h. 356). Sakula < Nakula) menjadi “muladara” (h. moŋkono) – “meŋkene”. maŋkeneha. 3 No. perlu dipertimbangkan lagi dalam rangka tradisi penulis/penyalin. Jadi pada naskah H terdapat: “maŋkana” (513. hamahat. hamahĕk b. Perbaikan bacaan nama-nama “kuñjayakaṙṇna” beserta varian ejaannya (105. hamahĕt b. di mana bentuk kedua huruf itu serupa. hamahĕt. 356). I: 1139. 574. (h. meŋkeneha b. 29. dan “paladara” (3270. (h. 4. 3353. (h. passim) – “moŋkono” (2136 H: moŋkonoha. OJED. rakśasa. 192 Jumantara Vol. meṅkene). 360). (h. Jawa Baru: rasĕksa).

Perbandingan isi dan struktur teks menyatakan. yang bersifat pembayatan (inisiasi) atau ruwat.3. perbandingan dengan teks naskah A menunjukkan. penggantian kata-kata dengan sinonimnya dalam ketiga naskah itu tak dapat memberi kepastian. 4. larik 3085-3137). bahwa (a) teks naskah A menekankan pengetahuan (esoteris). manakah bacaan yang harus dianggap asli. tiwa. sedangkan teks naskah H dan K menekankan perbuatan (ritual). Pengambilalihan teks itu sesuai Jumantara Vol. samādhi dan tapa sebagai penghilang kecemaran dan jalan kelepasan. 1. hal itu disebabkan oleh salah susun satu lempir pada naskah induknya. Salah satu perbedaan teks yang penting terdapat pada larik 294: “saṅ mātiwatiwa (naskah A) dan “sṣaṅ mati” (naskah H)/ “sṣa mati” (naskah K). (b) teks naskah A mewakili bentuk yang lebih asli. sedangkan teks naskah H dan K mengalami perubahan-perubahan yang penting. baik ke arah penentuan tradisi maupun ke arah rekonstruksi teks yang dicitacitakan. Dengan kesimpulan-kesimpulan itu W. Dalam konteks itu diberikan ajaran tentang dunia orang mati. bahwa pada sebagian episode siksaan di neraka (larik 464-570 pada terbitan teks) terdapat kekacauan urutan dan kehilangan pada naskah H dan K.1 Tahun 2012 193 . van der Molen meletakkan dasar untuk penelitian lebih lanjut. 5. Teks naskah H dan K memperluas ajaran itu dan lebih terarah pada praktek dengan mengambil alih teks upacara (mis. serta hakekat pengetahuan akan dharma. Untuk tidak memperpanjang artikel ini akan diberikan beberapa pokok pikiran untuk penelitian lebih lanjut. hukum karma. II: 2026. penjelmaan kembali. proses kelahiran. Tengger: Ĕntas-ĕntas). Ada kemungkinan teks naskah A berhubungan dengan upacara orang mati (OJED. 3 No.

antara yang terjadi pada diri Kunjarakarna dan yang terjadi pada diri Purnawijaya ajaran tentang “atma” dari Wairocana kepada Kunjarakarna (805-810. 3 No. A-H-K) diimbangi dengan lukisan tapa Kunjarakarna pada awal cerita (39-46. A-H-K) diimbangi dengan lukisan pintu yang dijaga oleh Dorakala (222-230. H-K). A-H-K) diimbangi dengan ajaran serupa dari Yama kepada Kunjarakarna (844-866. b. H-K). - - c. 2312-2317. Perbandingan struktur teks ketiga naskah itu memperlihatkan. H-K). Bdk. H-K). antara ajaran dan praktek - 194 Jumantara Vol. H-K) diimbangi dengan lukisan praktek Purnawijaya (2905-2917. 828-835.lukisan pintu Ayahbumipantana (321-340. larik 1973-1975). A-H-K) diimbangi dengan ajaran serupa dari Wairocana kepada Purnawijaya (2305-2310. 2. juga 3080-3138. H-K).dengan ajaran yang juga termuat dalam naskah A (mis. H-K dengan 2048-2060.1 Tahun 2012 . ajaran tentang “atma” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2312-2317. bahwa perubahan atau tambahan pada teks naskah H dan K bersifat membuat keseimbangan: a. ajaran tentang “pañcabuta” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2237-2260. H-K). pembersihan dengan “tirta pañjitah mala” pada diri Kunjarakarna (2038-2044.lukisan tapa Kunjarakarna dan Purnawijaya pada akhir cerita (3549-3559. . H-K). antara unsur-unsur cerita . A-H-K) diimbangi dengan pembersihan serupa pada diri Purnawijaya (3048-3071.

3 No.1 Tahun 2012 195 . 2550-2555. H-K) diimbangi dengan lukisan praktek Purnawijaya (dua tahap: 2491-2494.- ajaran tentang “samadhi” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2436-2454. H-K). Jumantara Vol. Masih banyak hal serupa bisa ditemukan. Perbedaan teks ajaran dengan lukisan praktek mungkin menunjukkan tahap penyusunan yang berbeda. Analisis semacam ini dapat membantu untuk mengenali lapisan-lapisan teks dan tahaptahap penyusunannya.

dan alamat lengkap yang mudah dihubungi. 3. Gedung Pusat Jasa Lt.1 Tahun 2012 . alamat surat elektronik pribadi. Tulisan dikirim melalui surat elektronik dengan alamat jumantara@pnri. 196 Jumantara Vol. 3 No. 4.Ketentuan Penulisan untuk Jumantara: 1. Naskah yang masuk akan diseleksi oleh Dewan Redaksi bersama Mitra Bestari dan apabila perlu akan dilakukan penyempurnaan tanpa mengubah substansi naskah.000 karakter (1520 halaman termasuk bibliografi. karya tulis yang dianggap penting. Artikel ditulis menggunakan bahasa Indonesia disertai abstrak dan kata kunci dalam bahasa Indonesia. 2. Tulisan yang dimuat akan diberikan imbalan/honor sesuai peraturan yang berlaku.id atau melalui pos ke Redaksi Jumantara. ketik spasi rangkap di atas kertas A4). VB Perpusnas RI. Penulis menyertakan identitas lengkap meliputi jenjang pendidikan terakhir. Panjang tulisan berkisar antara 20. 5. 7.go. kedudukan tetap. Jl.000 – 40. 28 A Jakarta 10002. Jenis tulisan berupa artikel hasil penelitian atau setara hasil penelitian mengenai naskah serta tinjauan buku. 6. Salemba Raya No.