Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

i

PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA Alamat Redaksi: Gedung Pusat Jasa Lt. VB Perpusnas RI. Jl. Salemba Raya No. 28 A Kotak Pos: 3624, Jakarta 10002 Telp : (021)-3154863 ext. 264 e-mail: jumantara@pnri.go.id homepage: http://www.pnri.go.id/MajalahOnline.aspx

JUMANTARA - Jurnal Manuskrip Nusantara Vol.3 No.1 Tahun 2012 Pembina Pengarah : Kepala Perpustakaan Nasional RI : 1. Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi 2. Kepala Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi : Kepala Bidang Layanan Koleksi Khusus : Drs. Nindya Noegraha : 1. Drs. H. Sanwani 2. Aditia Gunawan, S.Pd. 3. Agung Kriswanto, SS. 4. Drs. Nur Karim, M. Hum. 5. Yudhi Irawan, S. Hum. 6. Didik Purwanto, SS. 7. Mardiono : 1. Prof. Dr. Achadiati 2. Dr. I. Kuntara Wiryamartana : Dra. Dina Isyanti, M. Si. : 1. Komari 2. Dian Soni Amellia, S.Hum. : Bambang Hernawan, SS. : Aditia Gunawan, S.Pd.

Penanggung jawab Pemimpin Redaksi Dewan Redaksi

Mitra Bestari Editor Bahasa Sekretaris Redaksi Sirkulasi Tata Letak

Jumantara adalah jurnal ilmiah dengan fokus kajian naskah (manuskrip) nusantara yang menyajikan karangan ilmiah dalam bentuk hasil penelitian, penilaian terhadap hasil penelitian, serta tinjauan buku. Diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan ISSN 2087-1074.

ii

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Artikel 1

Anung Tedjowirawan Menelusuri Jejak Cerita Rama dalam Serat Pustakaraja Karya Pujangga R.Ng. Ranggawarsita Fakhriati Perempuan dalam Manuskrip Aceh: Kajian Teks dan Konteks Atep Kurnia Sinurat Ring Merega; Tinjauan atas Kolofon Naskah Sunda Kuna Tedi Permadi Identifikasi Bahan Naskah (Daluang) Gulungan Koleksi Cagar Budaya Candi Cangkuang dengan Metode Pengamatan Langsung dan Uji Sampel di Laboratorium Ida Bagus Rai Putra Lontar: Manuskrip Perekam Peradaban dari Bali Mahrus El-mawa Rekonstruksi Kejayaan Islam di Cirebon; Studi Historis pada Masa Syarif Hidayatullah (1479-1568) Oman Fathurahman Sulalat al-Salatin Karya Tun Seri Lanang: Kebesaran Karya Sastra Melayu yang Melampaui Zamannya

44

77

128

148

100

167

Review Buku 178 Kuntara Wiryamartana Filologi Jawa dan Kuñjarakarṇa Prosa

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

iii

Meski teks Ramayana bukan berasal dari Nusantara. hukum. dan lain-lain. Jerih payah para pakar pengkaji naskah pada gilirannya telah berperan serta melestarikan budaya Nusantara. Apalagi jika melihat kenyataan bahwa penyumbang tulisan dalam jurnal ini adalah para ahli filologi yang jumlahnya saat ini semakin sedikit. terus terbitnya Jumantara secara rutin menandakan bahwa para pakar dan peminat naskah tetap ada dan setia menyumbangkan hasil penelitiannya. Dengan gamblang penulis memaparkan perjalanan teks Ramayana. tulisan Anung Tedjowirawan tentang jejak cerita Rama. sejarah. Dalam nomor ini disajikan artikel-artikel yang menyampaikan berbagai pengetahuan penting dan menarik. Naskah memiliki peran penting bagi bangsa Indonesia. dari Ramayana Wālmīki sampai kepada teks Serat Pustakaraja karya pujangga Ranggawarsita.J umantara telah menginjak usia ketiga. Sebagai contoh. mungkin kita tidak pernah mendengar istilah-istilah “sakti” tersebut. mitologi. Para pujangga seperti Ranggawarsita menyerap isi cerita kemudian disesuaikan dengan kebudayaan lokal. obat-obatan.1 Tahun 2012 . dari India sampai Jawa. ekonomi. tetapi kisah ini termashur di Nusantara. Ia dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi bangsa. Fakhriati mencoba menggali ajaran dan praktik tentang iv Jumantara Vol. istilah pancasila yang menjadi dasar negara dan bhineka tunggal ika yang merupakan semboyan negara diambil dari teks Kakawin Sutasoma. Inilah yang coba ditunjukkan oleh Fakhriati melalui tulisannya yang menyoroti kedudukan perempuan sebagaimana terkandung dalam sebuah naskah Aceh. Andaikata naskah lontar tersebut tidak pernah terbaca. tetapi juga mencakup tema-tema politik. usia yang masih sangat rawan bagi keberlangsungan hidup sebuah jurnal. Kandungan naskah Nusantara tidak selalu hanya berkaitan dengan kesusastraan. Pertama. 3 No. sosial. budaya dan agama. Meski demikian.

yang ditulis oleh Atep Kurnia. merupakan tinjauan terhadap kolofon naskah Sunda Kuna. Mahrus el-Mawa berusaha memaparkan secara luas salah satu Jumantara Vol. Dalam tataran praktis. Berbeda dengan Tedi Permadi. Sebagai bahan perbandingan. 3 No. tempat. Dari tulisan itu diperoleh gambaran bahwa identitas penulis naskah tidak selalu dinyatakan dengan jelas. Dalam artikelnya. tetapi jika dicermati ternyata dapat memberikan informasi penting tentang sebuah naskah. peneliti dari UPI Bandung. Ida Bagus membahas lontar sebagai media menulis naskah. Selain kajian teks.1 Tahun 2012 v . Tradisi lontar yang masih lestari di Bali saat ini dapat memberi petunjuk bagaimana fungsi naskah lontar pada masa lalu. sampai tradisi penulisan dan pembacaan lontar yang masih hidup di Bali. Melalui perspektif sejarah. tokoh utama dalam teks Hikayat Siti Islam. dan waktu penulisan naskah. kesimpulan tersebut dapat membantu pihak yang berkepentingan untuk menilai fisik suatu naskah. membahas secara rinci naskah daluang yang berasal dari Candi Cangkuang. Kajian seperti itu termasuk dalam ranah kodikologi. misalnya: ketebalan naskah yang diukur secara cermat dapat membuktikan apakah sebuah naskah dikerjakan secara tradisional atau merupakan buatan pabrik. Fakhriati menggunakan teks berjudul Siti Hasanah. Banyak data yang sepertinya sepele. Tedi Permadi. Sebagian besar naskah Sunda Kuna yang ditulis di gunung dapat dijadikan petunjuk awal yang mengungkap kedudukan gunung sebagai skriptorium penciptaan sebuah karya intelektual pada masa lalu. Artikel ketiga. mencakup informasi tentang identitas penulis atau penyalin. Ida Bagus Rai Putra membahas berbagai segi penggunaan daun lontar sebagai media menulis naskah. dalam edisi ini disajikan pula artikel yang membahas wujud naskah itu sendiri. di antaranya dari dari segi fisik. Mahrus el-Mawa mengkaji puncak kejayaan Islam di Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.kehidupan perempuan di Aceh pada masa lalu melalui kehidupan Siti Islam. proses pembuatan.

Tulisannya mengingatkan kita akan pentingnya aspek-aspek mendasar dari filologi. yaitu penyajian teks dan terjemahan. tetapi usahanya merekonstruksi kejayaan Islam di Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah melalui teks lama dan bukti-bukti artefak. yaitu unsur Islam yang terkandung dalam teks tersebut. bukan berarti pembahasan terhadapnya telah tuntas.tokoh penting Walisongo ini. 3 No. “demikian banyaknya diselidiki”. 2011). Dari artikel-artikel yang kami sajikan dalam edisi kali ini. Filologi secara harafiah berarti “cinta kata”.1 Tahun 2012 . mengkaji sejarah penelitian salah satu teks Melayu yang. Oman Fathurahman masih melihat adanya aspek yang belum tergali yang dapat dimanfaatkan oleh para peneliti selanjutnya. Walaupun ia tidak mengulas tentang guru dan ajaran keagamaan Syarif Hidayatullah secara mendalam. membuktikan bahwa Sunan Gunung Jati bukanlah tokoh mitos. Selamat membaca! vi Jumantara Vol. melainkan tokoh historis. Kecintaan itulah yang ditunjukkan I. Secara cermat I Kuntara menunjukkan alternatif bacaan dan terjemahan (ada kalanya perbaikan) terhadap teks Jawa Kuna Kunjarakarna. Artikel terakhir. yaitu Sulalat alSalatin atau lebih populer disebut Sejarah Melayu. Kami berharap Jumantara dapat dijadikan sebagai “arena” penulisan artikel yang berkaitan dengan pernaskahan di Indonesia sehingga isi dan kandungan naskah dapat dibaca secara luas oleh masyarakat. pembaca dapat melihat betapa beragamnya persoalan yang diangkat oleh para penulis. Meski banyak sarjana yang telah meneliti teks tersebut. Hooykas. meminjam istilah C. karya Oman Fathurahman. Kuntara Wiryamartana dalam tinjauan buku Kritik Teks Jawa: Sebuah Pendekatan Baru terhadap Kunjarakarna Prosa karangan Wilem van der Molen (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Ini menunjukkan bahwa naskah “kuno” Nusantara dapat dijadikan “sumber inspirasi baru” untuk perkembangan penelitian di Indonesia.

peneliti dan pengajar di Jurusan Sastra Nusantara FIB Universitas Gajah Mada Jumantara Vol. 3 No. Dari ritual agung Aswameda tersebut kemudian lahirlah putra-putra Prabu Dasarata antara lain: Rama. Sĕrat Suktinawyasa. mengenai kisah hidup Prabu Ramawijaya ketika dicopot dari tahta serta harus meninggalkan istana Ayodya untuk pergi ke hutan belantara bersama Dewi Sinta. Sĕrat Prabu Gĕndrayana. serta adiknya * Penulis. Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara. Laksmana.Abstrak Jejak cerita Rama dalam Sĕrat Pustakaraja diantaranya terdapat dalam Sĕrat Rukmawati.1 Tahun 2012 1 . Ritual agung Aswameda tersebut diselenggarakan di hutan Madura dekat sungai Sarayu (Gangga). sedangkan putra Prabu Basurata yang lahir bernama Raden Brahmaneka. tempat keberadaan "Jamur Dipa". Barata dan Satrugna. penjelmaan Rĕsi Anggira (Maharsi Paspa). Ritual tersebut disaksikan oleh para raja sekutu Prabu Dasarata serta dihadiri oleh Prabu Basurata dari Wiratha. Dalam Sĕrat Suktinawyasa jejak cerita Rama terdapat dalam cerita yang disampaikan Dhang Hyang Wiku Salya kepada Rĕsi Abyasa. Raja Ayodya dalam rangka memohon kelahiran putra yang menjadi penjelmaan Sang Hyang Wisnu. Dalam Sĕrat Rukmawati dikemukakan tentang peristiwa ritual agung Aswameda yang diselenggarakan oleh Prabu Dasarata. istrinya.

Laksmana. Dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana. Kata Kunci: Kakawin Rāmāyaņa. Sĕrat Prabu Gĕndrayana.1 Tahun 2012 . 3 No. Cerita tersebut dikemukakan Dhang Hyang Wiku Salya dalam rangka untuk menghibur agar Rĕsi Abyasa tidak terlalu bersedih hati karena sepeninggal ayahandanya (Rĕsi Palasara) ia tidak ditunjuk untuk menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai raja melainkan hanya diangkat sebagai raja pendeta. 2 Jumantara Vol. Dalam Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara jejak cerita Rama tampak pada penampilan Sang Maharsi Mayangkara (Anoman. Sĕrat Purusangkara. Dèwi Pramuni dengan Radèn Darmasarana. Sĕrat Mayangkara. Mereka antara lain: Dèwi Pramèsthi dengan Prabu Astradarma (Purusangkara). jejak cerita Rama dikemukakan oleh Bagawan Danèswara kepada Prabu Gĕndrayana. sampai Dewi Sinta diculik dan dibawa lari oleh Prabu Dasamuka ke Alengka. Hanūman). yang merusak segenap sawah dan ladang penduduk di wilayah Gunung Nilandusa (Wilis). Dalam kedua cerita tersebut Sang Maharsi Mayangkara akhirnya gugur dalam pertempurannya yang dahsyat melawan Prabu Yaksadewa (penjelmaan Sang Hyang Kala) yang bersenjatakan gada (penjelmaan Sang Hyang Brahma). Serat Suktinawyasa. dan Dèwi Sasanti dengan Radèn Darmakusuma. Sĕrat Rukmawati. lewat perka-winan putra-putri mereka. Dalam kedua Serat tersebut dikisahkan peran Sang Maharsi Mayangkara yang mendapat tugas Bathara Guru untuk menjalin kembali kerukunan di antara keturunan Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) dengan keturunan Prabu Sariwahana. Cerita tersebut diungkapkan Bagawan Danèswara agar Prabu Gĕndrayana merelakan putranya yaitu Raden Narayana (Jayabhaya) untuk diminta bantuannya melenyapkan segala jenis hama tanaman (yang dilindungi para Dewa). yang merusak pertapaan. Sĕrat Pustakaraja. bahwa Batara Ramawijaya sewaktu muda (8 tahun) sudah dibawa Bagawan Sutiknayogi ke Gunung Dhandhaka untuk diadu dengan para raksasa bala tentara Rahwana (Dasamuka).

dari 200 tahun sebelum Masehi sampai dengan 200 tahun sesudah Masehi. dan Atharwa Weda. Pada waktu Wālmīki akan menggubah Rāmāyaņa. Beberapa sarjana mengemukakan bahwa hakikat inti Jumantara Vol. ia berhasil diinsyafkan dan disuruh bertapa di hutan sambil mengucapkan mantra: marā.Pengantar Rāmāyaņa adalah karya agung dari India. selama seribu tahun tanpa boleh bergerak. sungai-sungai mengalir di permukaan bumi selama itu juga kisah Rāmāyaņa akan terus berlangsung di dunia (Padmapuspita. 3 No. Rāmāyaņa dicipta melalui proses waktu yang cukup panjang.1 Tahun 2012 3 . terus-menerus dengan tempo secepat-cepatnya. si petapa tetap pada tempatnya semula. berbahasa Sanskerta. tidak bergerak sambil mengucapkan mantra: marā. Rāma. marā sedemikian cepatnya sehingga ucapannya terbalik menjadi: Rāma. kitab suci Weda yang kelima. 1979: 1-2). tumbuh menjadi seorang penjahat. yaitu 400 tahun. melengkapi kitab suci Catur Weda Samhita. Rāma. bahwa selama masih ada gunung-gunung yang berdiri. (Padmapuspita. Dalam mitologinya. marā. Bagaimanakah mitologi terciptanya karya agung ini? Ada seorang putra Brahmana. Adapun Mahābhārata karya Mpu Vyāsa mengalami proses pertumbuhan selama 800 tahun. Saat itulah ia mendapat ilham untuk mencipta bentuk sanjak. Yayur-Weda. Maka sejak itu pemuda petapa tersebut disebut Wālmīki (Padmapuspita. yang oleh pujangga penciptanya diwariskan untuk seluruh umat manusia. Keagungan dan kemasyuran kisah Rāmāyaņa ini memang sudah diramalkan ribuan tahun sebelumnya. marā. Pada waktu Saptarşi menengoknya. Sāma-Weda. 1979: 1-2). ia duduk termenung di tepian sungai sambil melihat air sungai yang beriakriak. yang terdiri dari Ŗg-Weda. marā. Baik Rāmāyaņa maupun Mahābhārata termasuk Itihāsa. Seluruh badan petapa tersebut tertimbun di bawah „onggokan sarang semut hutan‟ yang dalam bahasa Sanskerta disebut walmīka. Ketika merampok tujuh orang dewa – resi (Saptarşi). yang karena senang berkumpul dan bergaul dengan para perampok. 1979: 1). dari 400 tahun Sebelum Masehi sampai 400 tahun Sesudah Masehi.

(e) Dasar pola cerita Rāma merupakan persoalan tindakan dharma melawan adharma (Darusuprapta. Di Indonesia cerita Rāma digubah ke dalam Kakawin Rāmāyaņa maupun terpatri pada relief di candi Prambanan dan candi Panataran. Rāma melambangkan satria Arya yang. (c) Dianggap sebagai cerita roman cinta kasih. selain Wālmīki yang berhasil menggubah Rāmāyaņa. Uttara Rāma oleh Bhavabhutti. Sarabhangga. Rāvaņavadha (pembunuhan Rāvaņa) oleh Bhaţţi.Rāmāyaņa adalah: (a) Berisi lambang gerakan ekspansi bangsa Arya dari tanah India Utara ke India Selatan. Surjohudojo. misalnya: Raghuvangśa (keturunan Raghu) karya Kalidasa. Cerita Rāmāyaņa dari India tersebut kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Thailand. Dari berbagai penelitian para ahli teks. (b) Dianggap sebagai lambang perebutan kekuasaan negara yang senantiasa terjadi di sepanjang sejarah. Kakawin Rāmāyaņa diperkirakan digubah pada abad IX Masehi (820-832 Ç atau 898-910 M). Kamboja. 3 No. Surjohudojo. 1963: 48. menyerang Langka hingga takluk. Dalam hal ini cerita Rāma dianggap sebagai dokumen sejarah. Relief cerita Ramayana di candi Prambanan rupanya lebih dekat dengan Sĕrat Rama Kĕling. Agastya. Laos. penyair-penyair India lain pun mencoba membuat cerita Rāma– Sīta tersebut. Di Asia Tenggara cerita Rāma terdapat di Vietnam. kesetiaan. Melayu. Janakīharaņa (penculikan Sīta) oleh Kumaradasa. pertentangan Subali melawan Sugriwa. dan Rāmāyaņa Kathāsara-mānjari oleh Ksemendra (Darusuprapta. adapun relief di candi Panataran dekat dengan Kakawin Rāmāyaņa. didalangi para Brahmana (yang ditokohkan sebagai Bharadwāja. ketika kekuasaan rajawi masih 4 Jumantara Vol. Rāmācaritamanasa (telaga kisah Rāma) oleh Tulasi Dasa (Tulsi Das). dengan pola cerita pengendalian Bharata oleh Kekayi. Atri. Sutīkşņa). dan politik tinggi Wibisana. lebih-lebih bagi golongan Waisnawa.1 Tahun 2012 .. Di India. 1961: 10). maupun Jawa (Manu. (d) Dianggap sebagai kitab suci yang keramat. 1998: 136-146). yang menganggap bahwa Rāma adalah penjelmaan Dewa Wisnu. Birma. 1963: 12-13. kesucian yang tiada taranya. Filipina. 1961: 4-10).

1998: 20-21). sebagaimana anggapan yang terbiasa di Bali. 1983: 288-290. Manu. Padmapuspita menjelaskan beberapa alasan mengapa di dalam tradisi Bali penulisan Kakawin Jumantara Vol. Berg. Somvir menyatakan pula bahwa pertimbangan utama Yogīśwara dalam memilih Bhaţţikâvya adalah bahwa penyair Bhaţţi tergolong ke dalam sekte Shiwa. Somvir. Darusuprapta. dan Hooykaas. Surjohudojo. 1957: 2-3. diketahui bahwa sumber penulisan Kakawin Rāmāyaņa adalah Rāvaņavadha karya Bhaţţikâvya (Poerbatjaraka. Camille Blucke. Manomohan Ghosh. 1979: 3. Baris kalimat yang memuat kata yogīśwara tersebut berbunyi: "Sang yogīśwara çişţa sang sujana çuddha manahira huwus mace sira". 1998: 19-20). seperti: Kern. 1963: 60). Berdasarkan penelitian Himansu Bhusan Sarkar. pada mulanya para sarjana. 3 No. 1961: 11-12. Tradisi Shiwaisme itulah kiranya yang mendorong Yogīśwara untuk memilih Bhaţţikâvya sebagai sumber penggubahan Kakawin Rāmāyaņa (Somvir. Dalam kaitannya dengan penulis dan saat penulisan Kakawin Rāmāyaņa menurut tradisi Bali.berpusat di Jawa Tengah. mengikuti anggapan umum di Bali (misalnya Ktut Ginarsa) bahwa penulis Kakawin Rāmāyaņa adalah Yogīśwara (Darusuprapta. Juynboll. 1963: 60). Oleh karena itu Poerbatjaraka menegaskan bahwa kata yogīśwara harus diartikan sebagai 'pendeta besar'. Zoetmulder.1 Tahun 2012 5 . yang artinya sang yogīśwara (pendeta besar) menjadi sangat pandai dan sang sujana (orang baik) menjadi bersih hatinya setelah membacanya (Rāmāyaņa ini) (Darusuprapta. Berkaitan dengan penulisan Kakawin Rāmāyaņa. dan Hooykaas. 1963: 53-56. Shiwaisme adalah sekte tertua yang dapat dibuktikan jejaknya lewat penempatan dewa-dewa penting yang memakai atributatribut Shiwa di candi Prambanan. bukan menunjuk pada penulis Kakawin Rāmāyaņa. Padmapuspita. Meskipun demikian Somvir (setelah 40 tahun kemudian) mengharapkan bahwa Yogīśwara sebagai pencipta Kakawin Rāmāyaņa menurut tradisi Bali selama ini dapat diterima (Somvir. 1998: 137. 1998: 20).

Rāmāyaņa adalah pada tahun 1016 Ç (1094 M) oleh Yogīśwara. Rangkaian kata-kata "çişţa sujana çuddha manahira" itu dianggap memuat sengkalan yang menunjuk tahun 1016 Ç. Dalam hal ini kata çişţa = 6; sujana = 1; çuddha = 0; manah = 1. Jadi 6101 atau tahun 1016 Ç (Padmapuspita, 1979: 13). Akan tetapi dalam koreksinya, Padmapuspita lebih cenderung menyetujui bahwa sengkalan di atas menunjuk tahun 1018 Ç (1096 M), karena kata çişţa yang artinya 'terpelajar' atau 'pandai' diberi arti '8', sama dengan pendeta. Padmapuspita juga menemukan adanya kata "guna" sampai tiga kali (triguna) dari bait penutup dalam Kakawin Rāmāyaņa tersebut. Karena itu Padmapuspita menawarkan pandangannya bahwa kemungkinan penulis Kakawin Rāmāyaņa adalah Mpu Triguna, semasa pemerintahan Çri Jayawarsa Digwijaya Çastra Prabu, yang memerintah tahun 1026 Ç (1104 M). Walaupun demikian, Padmapuspita juga sependapat dengan Poerbatjaraka, bahwa yogīśwara bukanlah nama orang, melainkan sebutan penghormatan, seperti halnya kata yogīndra yang diberikan kepada Wālmīki. Bhaţţi sendiri (pengarang Rāvaņavadha) diperkirakan merupakan nama samaran Bhartrhari. Dalam hal ini kata bhaţţi dapat dihubungkan dengan kata bhaţţa, sebutan untuk sarjana besar, semacam penulisan gelar Doktor yang disingkat Dr. (Padmapuspita, 1979: 14-15). Dalam perkembangannya Kakawin Rāmāyaņa digubah dalam kesastraan Jawa Baru dengan judul Sĕrat Rama oleh pujangga R.Ng. Yasadipura I (Poerbatjaraka, 1957: 152; Darusuprapta, 1963: 43; Ricklefs, 1997: 276). Kakawin Rāmāyaņa juga digubah oleh R.Ng. Yasadipura II menjadi Sĕrat Arjuna Sasrabahu, baik yang berbentuk tembang macapat maupun yang berbentuk Kawi miring, serta juga digubah oleh Sindusastra menjadi Sĕrat Arjunasasra atau Sĕrat Lokapala (Mc. Donald dalam Manu, 1998: 138). Bila cerita dalam Rāmāyaņa dan Mahābhārata yang di India seperti tidak ada hubungannya satu sama lain, maka di Jawa kedua tradisi tersebut dicoba dihubungkan, terutama dalam

6

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

pewayangan. Misalnya tampak pada cerita Wahyu Makutharama (Ki Siswaharsaya), Sĕrat Kandha Lampahan Jayasĕmadi, Sĕrat Kandha Lampahan Sĕmar Boyong, Sĕrat Kandha Lampahan Rama Nitis, Arjuna Krama, Lampahan Wahyu Tunggul Naga, dan sebagainya. Sĕrat Pustakaraja Sebelum dikemukakan jejak cerita Rāma dalam Sĕrat Pustakaraja, akan dikemukakan secara sepintas tentang karya tersebut. Sĕrat Pustakaraja adalah karya agung dan merupakan puncak karya pujangga R. Ng. Ranggawarsita, disamping Sĕrat Ajipamasa maupun Sĕrat Witaradya. Bedanya, kalau Sĕrat Pustakaraja berbentuk prosa, maka Sĕrat Ajipamasa dan Sĕrat Witaradya berbentuk puisi Jawa Baru (Macapat). Disebut Pustakaraja karena karya ini dijadikan kitab pedoman bagi seorang Raja (pakĕmipun panjĕnĕngan nata). Pustakaraja dapat juga diartikan 'Rajanya Kitab', karena merupakan kitab yang terkemuka dan menjadi induk segala kitab cerita Jawa (Sĕrat Raja, amargi dados tĕtunggul tuwin dados baboning Sĕrat cariyos Jawi) (Ranggawarsita, 1938: 7). Sĕrat Pustakaraja dapat dibagi menjadi 2, yaitu Sĕrat Pustakaraja Purwa dan Sĕrat Pustakaraja Puwara. Sĕrat Pustakaraja Purwa dibagi menjadi beberapa kelompok besar, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Sĕrat Maha Parwa, meliputi: a. Sĕrat Purwa Pada; b. Sĕrat Sabaloka. Sĕrat Maha Déwa, meliputi: a. Sĕrat Déwa Buddha; b. Sĕrat Dewa Raja. Sĕrat Maha Rĕsi, meliputi: a. Sĕrat Rĕsi Kala; b. Sĕrat Buddha Krĕsna. Sĕrat Maha Raja, meliputi: a. Sĕrat Raja Kanwa; b. Sĕrat Palindria; c. Sĕrat Silacala; d. Sĕrat Sumanasantaka. Sĕrat Maharata, meliputi: a. Sĕrat Dyitayama; b. Sĕrat Tritarata; c. Sĕrat Sindula; d. Sĕrat Rukmawati; e. Sĕrat Sri

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

7

Sadana. 6. Sĕrat Maha Tantra, meliputi: a. Sĕrat Sri Kala; b. Sĕrat Raja Watara; c. Sĕrat Crita Kaprawa; d. Sĕrat Ariawanda; e. Sĕrat Para Patra. Sĕrat Maha Putra, meliputi: a. Sĕrat Mahandya Purwa; b. Sĕrat Suktinawyasa; c. Sĕrat Hariwangsa; d. Sĕrat Darma Sarya; e. Sĕrat Kumbayana; f. Sĕrat Wanda Laksana; g. Sĕrat Darma Mukta; h. Sĕrat Drĕta Nĕgara. Sĕrat Maha Dharma, meliputi: a. Sĕrat Kuramaka; b. Sĕrat Smara Dahana; c. Sĕrat Ambarawaja; d. Sĕrat Krida Krĕsna; e. Sĕrat Kunjarakarna; f. Sĕrat Kunjara Krĕsna; g. Sĕrat Partayagnya; h. Sĕrat Manik Harya Purwaka; i. Sĕrat Sumantri Parta; j. Sĕrat Dĕwa Ruci; k. Sĕrat Parta Wiwaha/Mintaraga; Sĕrat Indra Naraga; m. Sĕrat Urubaya; n. Sĕrat Domantara; o. Sĕrat Bomantaka; p. Sĕrat Baratayuda; q. Sĕrat Kirimataya; r. Sĕrat Darmasarana; s. Sĕrat Yudhayana.

7.

8.

Sĕrat Pustakaraja Puwara juga dibagi menjadi beberapa kelompok besar, yaitu: 1. Sĕrat Maha Parma, meliputi; a. Sĕrat Budhayana; b. Sĕrat Sariwahana; c. Sĕrat Purusangkara; d. Sĕrat Partakaraja; e. Sĕrat Ajidharma; f. Sĕrat Ajipamasa. 2. Sĕrat Maharaka, meliputi; a. Sĕrat Witaradya; b. Sĕrat Purwanyana; c. Sĕrat Bandawasa; d. Sĕrat Déwatacèngkar. 3. Sĕrat Maha Prana, meliputi: a. Sĕrat Widayaka; b. Sĕrat Danèswara; c. Sĕrat Jaya Lĕngkara; d. Sĕrat Dharma Kusuma; e. Sĕrat Catasi Panuaka. 4. Sĕrat Maha Krasma, meliputi: a. Sĕrat Surya Wisésa; b. Sĕrat Raja Sunda; c. Sĕrat Madu Sudana; d. Sĕrat Panca Prabanggana. 5. Sĕrat Maha Kara, meliputi: a. Sĕrat Mundingsari; b. Sĕrat Raja Purwaka; c. Sĕrat Maha Kara.

8

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

6. Sĕrat Maha Para (Ranggawarsita 1938: 10-49; Mulyono, 1989: 191-200; Tedjowirawan, 2008: 84-86).

Sri

Dalam Kepustakaan Jawa (1957), Poerbatjaraka menilai bahwa Kitab (Sĕrat) Pustakaraja pada pokoknya digubah berdasarkan kitab-kitab lakon wayang, pendengaran R. Ng. Ranggawarsita tentang cerita-cerita dari temannya, dan dongengdongeng yang pada waktu itu sudah ada. Semuanya itu diubah dan ditambah oleh R. Ng. Ranggawarsita menurut kehendak hatinya. Lebih jauh Poerbatjaraka menyatakan bahwa: “Walau bagaimanapun juga keadaannya, dengan pendek Kitab Pustakaraja itu sebagian besar hanya berisi “omong kosong” belaka daripada R.Ng. Ranggawarsita. Kitab-kitab yang disebut di dalam Kitab Pustakaraja, itu seperti kitabkitab Maha Parwa, Purwa Pada, Sabaloka, Maha Déwa, Maha Rĕsi, dan sebagainya, itu sebenarnya tidak ada dan tak pernah ada.” (Poerbatjaraka, 1957: 186). C.C. Berg dalam Penulisan Sejarah Jawa (Javaansche Geschiedschrijving, dalam geschiedenis van Nederlands Indie, 1938) mengakui bahwa pihak Barat belum memberikan perhatian yang berarti terhadap Pustakaraja, namun diakui bahwa R.Ng. Ranggawarsita mempunyai pergaulan dengan ahli-ahli ilmu bahasa dan kebudayaan Jawa yang berkebangsaan Barat. Selanjutnya dikatakan bahwa R.Ng. Ranggawarsita dalam menulis karyanya menempuh jalan baru dan untuk memperoleh bahan-bahan ia menggali sumber-sumber baru. Akhirnya dikatakan juga bahwa R.Ng. Ranggawarsita (ternyata) mencurahkan amat banyak perhatian untuk menentukan tarikh peristiwa-peristiwa yang dibukukannya. Ia selalu memberikan dua tarikh, yang satu menurut tahun Syamsiah dan yang satu lagi menurut tahun Komariyah. Berdasarkan kenyataan itu bukan mustahil bila sesungguhnya R.Ng. Ranggawarsita bermaksud untuk menulis sejarah menurut tanggapan Barat. Bahwa usahanya tersebut tidak berhasil tidaklah penting. Apabila R.Ng.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

9

Sĕrat Pustakaraja Purwa seringkali dikatakan sebagai suatu penulisan baru mengenai sumber-sumber cerita wayang (penulisan cerita Mahābharāta versi Indonesia) (Mulyono. Di sini C.Ranggawarsita bermaksud mencari nama sebagai ahli sejarah pertama yang beraliran modern. cosmogony. at first sight preposterous. 1974: 87). which he called Pustaka Raja. Pigeaud dalam Literature of Java Volume I (1967) menyatakan: “Rangga Warsita‟s books on mythology and ancient history. 1967: 170). 3 No.Ng. maka kiranya kita harus membedakan karyanya dengan karya rekan-rekannya yang terdahulu. impress the reader in a remarkable way. Ranggawarsita) bukanlah orang yang mempelajari ilmu sejarah. karena yang disebut belakangan ini (R. Menurut Sri Mulyono. adalah hasil saduran kembali cerita dalam Mahābharāta dengan berbagai adaptasi dan inovasi. which it is not. akan tetapi pendeta-pendeta magi sastra. 1989: 202). Keanehan dalam Sĕrat Pustakaraja tersebut justru sering dinilai “sangat menakjubkan” 10 Jumantara Vol. Sĕrat Pustakaraja. Sĕrat Pustakaraja isinya sudah menyimpang dan berbeda jauh dengan Ramāyāna maupun Mahābharāta. of Rangga Warsita‟s own invention. Books of Kings. Berg hanya dapat mengemukakan tidak lebih dari perkiraan-perkiraannya (Berg.C. Rangga Warsita‟s chronicles of creation. which should also be made visible in myth and ancient history” (Pigeaud. The events of myth and epic history are dated consecu-tively according to a chronology.1 Tahun 2012 . khususnya Sĕrat Pustakaraja Purwa. “manusia ular”. pujangga dalam arti yang asli. His. idea of dating all tales is to be considered as a consequence of his thoroughly Javanese belief in an all pervading Order. and so the Pustaka Raja makes an impression of being historically reliable. solar and lunar years. myth and epics have parallels in the literatures of other peoples.

Jejak Cerita Rama dalam Serat Pustakaraja Di dalam Sĕrat Pustakaraja jejak cerita Rāma terdapat di dalam: 1) Sĕrat Rukmawati bagian kelompok Kitab Maharata (bagian Pustakaraja Purwa).Ng.1 Tahun 2012 11 . 1989: 202.sehingga para sarjana berkesimpulan bahwa kitab tersebut adalah wishfull thinking pujangga R. Adapun jejak cerita Rāma dalam Serat-Serat di atas dapat dikemukakan sebagai berikut: Cerita Rāma dalam Sĕrat Rukmawati Pujangga R. yaitu memberikan penerangan bahwa dewa-dewa (para Jawata) yang diartikan sebagai nenek moyang orang Jawa itu bukanlah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Ng. 3 No. 3) Sĕrat Prabu Gendrayana yang dapat disejajarkan dengan Sĕrat Budhayana sehingga dapat dimasukkan ke dalam kelompok Sĕrat Maha Parma (bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara). 4) Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara yang dapat dimasukkan ke dalam kelompok Sĕrat Maha Parma (bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara). tetapi hanya sebagai titah biasa (Mulyono. Wiryamartana. 2) Sĕrat Suktinawyasa bagian Sĕrat Mahapatra (bagian Pustakaraja Purwa). putranipun Sang Hyang Anantaboga anggènipun amĕmĕca saha mitulungi sarana dha-tĕng Jumantara Vol. Ranggawarsita di dalam Sĕrat Pustakaraja menyatakan: Sĕrat Rukmawati. 1980: 2). wiyosipun punika cariyos lalampahanipun Dèwi Rukmawati. Ranggawarsita (Sĕrat Pustakaraja) adalah menempatkan jatining panembah.Ng. Di samping itu salah satu maksud tujuan disusunnya Sĕrat Pustakaraja adalah untuk mendidik anak cucu dengan mengajarkan sejarah kepahlawanan leluhurnya. Ranggawarsita sendiri. Selain itu yang terpenting dari segala uraian karya-karya pujangga R.

sadhĕngaha ingkang nĕdha tulung. Pada waktu itu bidadari bernama Dewi Rukmawati. 1939: 2-3. Kamajaya 1994: 2). kaétang ing taun Candra-sangkala amarĕngi 879 (Ranggawarsita. dihitung (ber-dasarkan) tahun Candrasangkala bertepatan tahun 879). penggubahannya pada tahun Suryasangkala 853. putra Sang Hyang Anantaboga. putra Sang Hyang Anantaboga ketika meramalkan dan menolong memberikan jalan (petunjuk) kepada siapapun yang meminta pertolongan (padanya). 1938: 17). 1994: 33). Madura dan Sumatra. Dikarang oleh Mpu Sindura di Mamenang.1 Tahun 2012 . (4) Sri Maharaja Sindhula (putra Prabu Watugunung). (Sĕrat Rukmawati. 3 No. Prabu Sri Mahapunggung dan Prabu Basurata adalah putra Sang Hyang Wisnu. Kaanggit dé-ning Mpu Sindura ing Mamĕnang. termasuk tanah Kendal atau Pekalongan. panganggitipun anuju ing taun Suryasangkala 853. Dewi Rukmawati dengan ketajaman penglihatan batinnya sering meramal dan menolong orang yang sedang bersedih sehingga ia termashur 12 Jumantara Vol. kerajaannya di Purwacarita. (3) Prabu Basurata kerajaannya di Wiratha yang pertama di tanah Tegal. (2) Prabu Sri Mahapunggung. kerajaannya di Medanggalungan tanah Pekalongan (Ranggawarsita. kerajaannya di Gilingwĕsi tanah Prayangan (Priangan). Dikemukakan dalam Sĕrat Rukmawati bahwa pada waktu itu pulau Jawa masih bersatu dengan Bali. Di Jawa ada empat raja: (1) Prabu Brahmanaraja (putra Sang Hyang Brahma). inilah cerita kisah perjalanan hidup Dewi Rukmawati. Adapun cerita dalam Sĕrat Rukmawati dimulai dari tahun Suryasangkala 453 (Uninga – marganing – yoga) atau terhitung tahun Candrasangkala 467 (Rĕsi – rasaning – catur) sampai dengan tahun Suryasangkala 456 (Karasa – marganing – dadi) atau terhitung tahun Candrasangkala 470 (Kagunturan – sabda – pakarti – muluk) (Kamajaya. turun ke dunia dan berdiam di pertapaan di Gunung Mahendra (Gunung Lawu) di tanah Surakarta.

Resi Wisama (putra Bathara Laksmana) cucu Sang Hyang Resi Wismana. terutama kepala seseorang. Di dalam abu tersebut kemudian tumbuhlah jamur yang terkenal sebagai Jamur Dipa yang dapat menjadi sarana untuk mendapatkan seorang putera yang istimewa. cicit Sang Hyang Pancaresi. Konon terjadinya abu tersebut bermula ketika Rĕsi Anggira yang dari kanak-kanak sampai tua melakukan tapa brata. seketika akan menjadi abu. Ketika Rĕsi Anggira mencoba merayu dan ingin mencumbu Dewi Anggarini maka ia disarankan untuk mandi keramas dahulu. menyarankan agar Prabu Basurata meminta petunjuk kepada Dewi Rukmawati di Gunung Mahendra.sampai ke mancapraja (mancanegara). tetapi terus dikejar oleh Rĕsi Anggira. Prabu Basurata disarankan agar pergi ke hutan Madura di tanah Hindi. sehingga akhirnya ia sendiri yang menjadi abu. Karena berujud abu ia juga disebut Maharsi Paspa. Rĕsi Anggira lupa bahwa tangannya sudah memiliki kesaktian yang dahsyat. Ilham raja tersebut disampaikan kepada para pertapa. sebab di sana terdapat Jamur Dipa yang tumbuh dari abu Rĕsi Anggira atau yang juga disebut juga Maharesi Paspa. Prabu Basurata dengan diiringi Resi Wisama kemudian pergi berkunjung ke Gunung Mahendra. termasuk dalam wilayah negara Ngayodya.1 Tahun 2012 13 . Pada waktu itu Prabu Basurata mendapat ilham dalam mimpinya bahwa ia hendaknya mencari cara agar mendapatkan putra. Karena itu Prabu Basurata disarankan untuk mengambil/memetik Jamur Dipa ke hutan Madura di tanah India (Ranggawarsita. Ketika membersihkan rambutnya. Permintaan Rĕsi Anggira adalah bahwa hendaknya telapak tangannya memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga apa yang diraba. Di dalam Jumantara Vol. Permintaan itu dikabulkan oleh Sang Hyang Jagadnata. 3 No. 1939: 12-14. sehingga didatangi Sang Hyang Jagadnata untuk memberikan anugerah. akan tetapi Rĕsi Anggira ingin mencoba kesaktian telapak tangannya dengan meraba kepala Sang Hyang Jagadnata. Sang Hyang Jagadnata menolak. Kamajaya. Sang Hyang Jagadnata kemudian lenyap dan tidak berapa lama muncullah Sang Hyang Wisnu menyamar sebagai seorang wanita yang sangat cantik bernama Dewi Anggarini. 1994: 3-10). Oleh Dewi Rukmawati.

lajĕng binujĕng. menawi anggĕpok utamangganing dumadi ingkang amba grayang sirahipun wau. Pangandikanipun Sang Hyang Jagad-nata: „Heh Anggira sutaning Sakru. kawula kamipurun anunuwun tandha. Kala semantĕn nuju dhatĕng kanugrahanipun Rĕsi Anggira katĕdhakan Sang Hyang Jagadnata.‟ Rĕsi Anggira umatur: 'Dhuh Pukulun.‟ Sang Hyang Jagadnata botĕn amarĕngi. nanging wontĕn sarananipun. Déné dados awu. putuning Sakutri. mugi kasĕmbadanana ing panuwun-amba. ugi sinĕbat nama Maharsi Paspa. sagĕda lajĕng dados awu sami sanalika. Sang Hyang Jagadnata lumajĕng. Èpèk-èpèk amba kalih pisan punika kaparingan kamayan tiksna.1 Tahun 2012 . Botĕn watawis dangu. Sang Hyang Jagadnata lajĕng muksa. 3 No. sarèhning sampun kasĕmbadan ing sapanuwun amba. apa kang dadi sĕdyanira ing mĕngko sayĕkti sun-turuti‟ Aturing Rĕsi Anggira: „Dhuh Pukulun Kang Binathara Ing Jagad. panggénanipun sarana dumunung wontĕn sabrang ing wana Madura tanah Hindi. Sarèhning tĕdhakipun Sang Hyang Jagadnata botĕn wontĕn ingkang ndhèrèkakĕn.‟ Sang Hyang Jagadnata angandika: „Lah iya ingsun wus anĕmbadani.' Ing ngrika wontĕn Jamur-dipa. mĕnggah ingkang dados karsa paduka angudi wĕkasing tumuwuh ambabarakĕn wiji punika. rama paduka Sang Hyang Wisnu tumurun mimindha pawèstri langkung éndah ing warni. Rĕsi Anggira 14 Jumantara Vol. nanging Rĕsi Anggira adrĕng badhé pari-pĕksa. kadadosan awunipun Rĕsi Anggira. manawi amarĕngakĕn kawula kalilana anggrayang mustaka paduka. talatahipun nagarai Ngayodya. aturipun Dèwi Rukmawati: 'Kakang Prabu. Sarĕng mèh kacandhak. bubukanipun makatĕn: „Kala ing kina Rĕsi Anggira punika tatapa sangkaning raré ngantos sĕpuh.Sĕrat Pustakaraja kisah mengenai Rĕsi Anggira (Maharsi Paspa) yang menjadi Jamur Dipa dapat dilihat pada kutipan berikut: Sarĕng ing wanci bangun énjing Dèwi Rukmawati amanggihi Prabu Basurata. ba-ngĕt tĕmĕn ĕggonnira kapati-brata. sampun rinilan déning Sang Hyang Wisésa.

sami sanalika wau Rĕsi Anggira lajĕng dados awu. sumanggèng karsa. Dèwi Anggarini darbé panĕdha. ratu limpad ing Sĕrat Wéddha. lajĕng pitakèn namanipun. bubukanipun ing kina. kĕkah ing adilipun. supé bilih tanganipun kadunungan kamayan tiskna.. Rĕsi Anggira botĕn darana Dèwi Anggarini lajĕng rinarurum ingarih-arih. kinèn adus karamas rumiyin. 3 No.. Dĕwi Anggarini uninga manawi Rĕsi Anggira pĕjah dados awu. Punika kakang Prabu. putus dhatĕng kawajiban suci. akaliyan Sĕrat Weddhangga. Kathah ing-kang sami ngupados badhé kadamĕl sarananipun tiyang ig-kang sumĕdya angudi wĕkasing tumuwuh ambabarakĕn wiji. rama-paduka Sang Hyang Wisnu muksa. tĕrahipun Ikswaku. kinèdhĕpan samaning tumuwuh. Di dalam Sĕrat Rukmawati sosok Prabu Dasarata dan keadaan kerajaan Ayodya digambarkan sebagai berikut: . sidik ing paningal. ing nalika punika ingkang jumĕnĕng nata ajujuluk Prabu Dhasarata. saking anggènipun mungkul ing katĕmĕnan sarta anĕtĕpi agami tigang prakawis. Jumantara Vol. kawasa amĕnggak budi hawanipun. mèh anyamèni para maharsi.sarĕng aningali langkung kasmaran. lajĕng wangsul warni Sang Hyang Wisnu malih. nagari ing Ayodya. awit sira wujud awu. Manawi sampun suci badan. Saking déné srĕnging karsa.' Sasampunipun ngandika makatĕn. sarwi angandika makatĕn: „Hèh Rĕsi Anggira ing mĕngko sira nĕmu wĕwĕlèh dadi awu dhéwé. Ratu pinandhita. mandraguna sinĕkti. bijaksana. Ing mangké awu wau cukul jamuripun katĕlah sinĕbut Jamur-dipa. sarèhning Rĕsi Anggira mĕntas tapa lami. sayĕktiné ing mĕngko sira aran Maharsi Paspa. Sarĕng karamas tanganipun kadamĕl anguyĕg sirah. Rĕsi Anggira langkung suka lajĕng dhatĕng ing lèpèn sumĕdya adus karamas. Pada waktu itu di negeri Ayodya Prabu Dasarata menjadi raja.1 Tahun 2012 15 . Sira mari aran Rĕsi Anggira. gĕntos kacariyos. Rama-paduka angakĕn nama Dèwi Anggarini.

karena dia (baginda) (sudah) tekun dalam kelurusan hati (kejujuran) serta menepati agama 3 macam. sangat sakti. Kitha wau rinĕksa ing prajurit éwon. Mumpuni 16 Jumantara Vol. ( . Botĕn wontĕn tiyang ingkang awon griyanipun. Botĕn wontĕn tiyang sakĕdhik anakipun.. botĕn wontĕn tiyang murtad. Tiyangipun èstri sami éndah-éndahing warni. Sawarninipun tiyang sami busana adi-adi ingkang rinĕngga ing kancana sosotya nawarĕtna. botĕn wontĕn tiyang ingkang manganggé lungsĕd. botĕn wontĕn tiyang ingkang botĕn nĕtĕpi wajibing ngagĕsang.. Para nayakanipun sang Prabu cacahipun wowolu. botĕn wontĕn tiyang bodho.1 Tahun 2012 . bijaksana. putus dhatĕng wajib pangĕrèhing praja. sarta botĕn saged kawon pĕrang. sarwi agaganda amrik arum. keturunan Ikswaku. sami limpad ing kawruh wéddha. Ing kitha wau titiyangipun sami bĕgja. tajam penglihatannya. botĕn pĕgat anggĕnipun ambudi wĕwahing kaluhuraning ratunipun. putus (mumpuni) dalam hal kewajiban suci. tani-tani sarta bĕkti-bĕkti ing laki. kemudian diceritakan. ingkang sampun misuwur ing kautamanipun. botĕn wontĕn tiyang cĕlak umuripun. botĕn wontĕn tiyang ingkang alit manahipun. raja yang (telah) ahli dalam Sĕrat Wéddha dan Sĕrat Wéddhangga. Botĕn wontĕn tiyang ingkang drĕngki. kokoh dalam keadilan. nagari di Ayodya. botĕn wontĕn tiyang awon warninipun. botĕn wonten tiyang ingkang tanpa aji. botĕn wontĕn tiyang musakat. Raja (yang bersifat) pendeta. prasasat sami akaliyan para déwa. Keutamaan serta keluhuran sang raja termashur di tiga dunia. pada waktu itu yang menjadi raja bergelar Prabu Dasarata. hampir menyamai para maharsi. disegani oleh sesama makhluk. botĕn wontĕn tiyang kĕsèd.Kautaman tuwin kaluhuranipun sang nata misuwur ing jagad titiga. kuasa menahan hawa nafsunya. anggigirisi kados latu murub. Lulus tataraharjaning praja. bijaksana. 3 No. bagaikan sama dengan para dewa.

tidak ada orang yang malas. tidak henti-hentinya dalam berusaha menambah keluhuran rajanya). tidak ada orang yang hina. tidak ada orang yang pendek umurnya. serta berbau harum semerbak. Para pemimpin sang Prabu berjumlah 8. putus (ahli) dalam hal tata pemerintahan negara. semua ahli dalam ilmu Wédha. Tidak ada orang yang sedikit anaknya. Para pendeta menyarankan agar Prabu Dasarata mengadakan upacara (sedekah) Aswameda di hutan Madura di dekat sungai Sarayu. Tidak ada orang yang dengki. Para perempuannya semua cantik-cantik parasnya. tidak ada orang yang tanpa harga diri. menakutkan seperti api yang menyala serta tidak terkalahkan dalam perang. Para dewa kemudian mengusulkan kepada Bathara Prayapati agar memberikan putra sebagai titisan Dewa Wisnu kepada Prabu Jumantara Vol. Kedatangan Prabu Basurata di hutan Madura disambut dengan gembira oleh Prabu Dasarata di Ayodya.mengatur keselamatan dan kesejahteraan negara. Tidak ada orang yang buruk rumahnya. tidak ada orang yang tidak menepati kewajiban hidupnya. Di dalam kerajaan tersebut rakyatnya semua bahagia. para petani (perempuan) pada berbakti pada suaminya. tidak ada orang yang kecil hatinya. Prabu Dasarata pada waktu itu juga menginginkan memiliki putra yang termashur di dunia karena pada waktu itu baginda belum berputra. Semua orang pakaiannya indah-indah yang dihiasi dengan emas intan permata. tidak ada orang yang bodoh. Prabu Dasarata mendapat petunjuk dewa bahwa ia hendaknya menunggu kedatangan putra Sang Hyang Wisnu. tidak ada orang yang berpakaian lusuh. Kota tersebut dijaga oleh ribuan prajurit. tidak ada orang yang buruk wajahnya. Bathara Prayapati (Sang Hyang Jagadnata) yang diiringi para dewa sangat berkenan. Mantili. Ketika persembahan Aswameda tersebut dilakukan. dan Malawa. tidak ada orang yang murtad. Sewaktu perlengkapan persembahan sudah siap. 3 No.1 Tahun 2012 17 . bersama para raja di kerajaan Prawa. (mereka) sudah termashur keutamaannya.

Kamajaya. saking katrimahing sidhĕkahipun. Hal ini dimaksudkannya agar putra Prabu Dasarata kelak dapat membunuh raja raksasa. yang sangat termashur kesombongannya dan sebagai perusak segala yang tumbuh (Ranggawarsita. tĕtĕdhan awarni-warni. Bathara Wisnu kemudian memberi Payasa yang ditempatkan di atas jamur tersebut. barang pèni raja pèni. sabarang ingkang kinarsakakĕn wontĕn. Sarĕng para déwa aningali sidhĕkahipun Prabu Dhasarata ingkang tanpa timbang. Payasa adalah makanan para dewa yang sangat lezat. anjanma-a ing putranipun Prabu Dhasarata. Rahwana.. sagĕda anyimakakĕn 18 Jumantara Vol.. Kepada kedua raja tersebut Bathara Wisnu menyatakan bahwa keduanya diperbolehkan mengambil Payasa yang terletak di Jamur Dipa untuk dimakan bersama istrinya. Di dalam Sĕrat Rukmawati prosesi ritual agung Asmaweda tersebut diuraikan sebagai berikut: . Sarĕng sampun rĕrĕm sawatawis dintĕn. amĕpĕki. 1994: 14-18). Jamur Dipa tersebut kemudian berubah menjadi seperti mustika. niscaya kedua raja tersebut akan memperoleh putra yang utama. Sang Hyang Jagadnata ingkang ugi sinĕbut Bathara Prayapati. 3 No. Kalanipun Prabu Dhasarata anggĕlarakĕn sidhĕkah. Ingkang dados pangagĕng tumandang pangruktining sidhĕkah Rĕsi Srĕngga.Dasarata. Beberapa waktu kemudian para istri Prabu Dasarata hamil. anĕdhaki dhatĕng panggènan sidhĕkah kadhèrèkaken para déwa. Prabu Dhasarata dhawuh angawiti pakurmataning sidhĕkah nĕtĕpi ingkang kasĕbut ing sastra tuwin adat waton.1 Tahun 2012 . Prabu Dasarata dan Prabu Basurata kemudian mengambil Japur Dipa dan Payasa untuk kemudian dimakan bersama permaisuri mereka. mugi kaparĕnga amaringi putra dhatĕng Prabu Dhasarata saha mugi andhawuhna dhatĕng Bathara Wisnu. Wujudipun sidhĕkah. Prabu Basurata dan Prabu Dasarata serta para raja lainnya kemudian mendekati Jamur Dipa yang terlihat menyalanyala. sami matur dhatĕng Bathara Prayapati. 1938: 24-29.

Prabu Basurata akaliyan Prabu Dhasarata tuwin para ratu sami anĕdhaki panggènanipun Jamur-dipa. Payasa wau dhaharipun para déwa ingkang raosipun sakalangkung éca. Jamur-dipa dipun dum waradin dhatĕng para ratu. ingkang sakalangkung kumalungkung dados gĕgĕlahing bumi. Bathara Wisnu lajĕng amaringi "Payasa" kadunungakĕn sanginggiling jamur. lajĕng sami mundhut Payasa ingkang dumunung ing Jamur-dipa. Panganan iku kang dadi jalarané sira padha kasinungan suta. Banjur sira pangana lan somahira. Prabu Dhasarata. jamur katingal amaya-maya kados musthika. Sarawuhipun ing Ayodya langkung sinuba-suba. Bathara Wisnu angatingal sarwi angandika: „Hé ratu sudibya. Sarĕng Prabu Basurata. 3 No.. kaki Prabu Basurata lan kaki Prabu Dhasarata. Jumantara Vol. sasampunipun anampèni pandumaning sidhĕkah. Sang Hyang Wisnu muksa. Karsaning déwa angkĕripun Jamur-dipa dados cabar. pinundhi ing mastaka. urubing Jamur-dipa sirĕp. Prabu Basurata.. Ratu kalih lajĕng kondur dhatĕng pasanggrahan. para brahmana sapanunggilanipun. Jamur-dipa katinggal murub angkara-kara. sira ingsun wĕnangaké ngalap Payasa kang dumunung ing Jamur-dipa iku. dalah Jamur-dipa ugi kapundhut. Sasampunipun sidhĕkah. angrisak samining tumuwuh. tumuntĕn kadhahar akaliyan pramèswari nata titiga. Payasa ingkang kapundhut Prabu Dhasarata. Para ratu tuwin para rĕsi.ratuning danawa ingkang nama Rahwana.1 Tahun 2012 19 . Naréndra ing Mantili.. ing Malawa. ing Prawa. Bathara Pryapati amarĕngi panuwun wau. Prabu Dhasarata anyĕlaki. agawé undhaking kautaman lan kamulyan‟. Prabu Basurata kaaturan tĕdhak kampir dhatĕng Ayodya. Pamukartaning sidhĕkan kĕndĕl. lajĕng sami bibaran. Prabu Dhasarata dalah pramèswari nata kondur dhatĕng praja. andhĕku sumĕmbah ing Sang Hyang Wisnu. sami tumutur angurmati.

Di dalam Sĕrat Rukmawati kelahiran Rāma bersaudara tersebut dikemukakan sebagai berikut: Kacariyos. Bertepatan masa Manggakala. Kamajaya. 1938: 28-32. ing tanah Hindi pramèswari Ngayodya. Dewi Kekayi berputra Bharata. Kamajaya. Dewi Kusalya berputra Rama. sampun ambabar putra kakung langkung rumiyin ingkang miyos saking Dèwi Kusalya kaparingan nama Rama. permaisuri Dewi Brahmaniyuta melahirkan putra laki-laki diberi nama Raden Brahmaneka. Jamur Dipa tersebut kemudian dipuja Dewi Rukmawati berubah menjadi buah-buahan disebut buah Wipula. akaliyan Satrugna. Ingkang miyos saking Dèwi Kĕkayi pinaringan nama Barata. yaitu rajah Purusa dan rajah Kani. sekembalinya ke Wiratha. sementara itu di kerajaan Ngayodya permaisuri Prabu Dasarata pun melahirkan putra. 1994: 22). Pada tahun Wiya terhitung tahun 454 (Suryasangkala) dengan sĕngkalan: Dadi-tataning-pakarti atau tahun 468 (Candrasengkala) dengan ditandai sĕngkalan: Sarira-angrasa-suci.1 Tahun 2012 . kadi sarĕng lampahanipun. Sebagai ungkapan kebahagiaan Prabu Dasarata disertai Raja Mantili.Beberapa waktu kemudian Prabu Basurata. Dewi Rukmawati melihat bahwa di dalam Jamur Dipa terdapat 2 rajah. 1938: 34. Raja Malawa dan Raja Prawa kemudian mengunjungi Prabu Basurata di Wiratha (Ranggawarsita. 3 No. Sarĕng 20 Jumantara Vol. memperlihatkan Jamur Dipa dan Payasa tersebut kepada Dewi Rukmawati. Payasa dan buah Wipula kemudian diminta untuk dimakan Prabu Basurata bersama permaisuri Dewi Brahmaniyuta (Ranggawarsita. Prabu Dhasarata andhatĕngngakĕn suka pari suka. ananging cariyosipun kadamĕl gĕntos. 1994: 18-21). Menurut Dewi Rukmawati bahwa Prabu Basurata kelak akan berputra raja besar serta seorang putri yang nantinya juga menurunkan raja besar. adapun Dewi Sumitra berputra Laksmana dan Satrugna. Ingkang miyos saking Dĕwi Sumitra kakalih pinaringan nama Laksmana.

Jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Sutiknawyasa tampak dari cerita yang disampaikan oleh Dhang Hyang Wiku Salya kepada Bagawan Abyasa tentang kisah Rama ketika ia harus Jumantara Vol. Kaanggit déning Mpu Widdhayaka ing Mamĕnang. terutama berkaitan dengan prosesi ritual agung (Asmaweda) yang dilakukan oleh Prabu Dasarata. kaétang ing tahun Candrasangkala amarĕngi 879. inilah cerita kisah hidup Prabu Kresna Dwipayana di Ngastina sampai menjadi begawan bernama Bagawan Byasa. Panganggitipun anuju ing tahun Suryasangkala 853. kanthi ratu ing Mantili. (Ranggawarsita.sampun dumugi anggĕnipun amangun suka. 3 No. Demikian jejak cerita Rama (Rāma) yang terdapat dalam Sĕrat Rukmawati. ing Malawa lan ing Prawa. kabĕkta saking rĕnaning panggalih déné kadumugĕn ingkang dados karsanipun. 1938: 21). Prabu Dhasarata karsa tĕdhak cangkrama dhatĕng nuswa Jawi. raja Ayodya. Digubah oleh Mpu Widdhayaka di Mamenang. terhitung tahun Candrasangkala bertepatan tahun 879).1 Tahun 2012 21 . (Sĕrat Sutiknawyasa. dalam rangka memohon kelahiran putra yang menjadi penjelmaan Sang Hyang Wisnu (Rāma bersaudara). penggubahannya bertepatan tahun Surya-sangkala 853. Ng. Lajĕng sami bidhalan saking palabuhan Prawa anitih baita. Ranggawarsita di dalam Sĕrat Pustakaraja menyatakan: Sĕrat Sutiknawyasa wiyosipun punika cariyos panjĕnĕngan nata Prabu Krĕsna Dwipayana ing Ngastina ngantos dumugi ambagawan nama Bagawan Byasa. Cerita Rāma dalam Sĕrat Sutiknawyasa Pujangga R.

Sapintĕn kémawon sungkawaning galihira Prabu Ramawijaya. seperti tampak pada kutipan berikut: "Kala Prabu Ramawijaya sinèrènan kaprabonipun ingkang rama Prabu Dasarata jumĕnĕng nata ing Ayudya. 3 No. botĕn lami kalungsur ginantosan ingkang rayi anama Prabu Barata. Betapa besar kesedihaan hati Prabu Ramawijaya. Ing wĕkasan dados saraya sagĕdipun kapanggih kaliyan garwa Dĕwi Sinta. Dumadakan angsal wasita sawantah. namun bahkan selalu mengasah pikirannya di dalam bersamadi. meskipun demikian ia tidak diam membisu. Kemudian 22 Jumantara Vol. 1981: 443444).meninggalkan kerajaan Ayodya untuk pergi ke hutan. Lajĕng jumĕnĕng nata malih wontĕn ing Ayudya. punika among saking dènira tabĕri amarsudi rĕmbaging janma. Tiba-tiba (Prabu Ramawijaya) mendapat petunjuk yang jelas bahwasanya ia disuruh menolong kesedihan raja kera Sugriwa. kinèn amitulungi sungkawaning wanara raja Sugriwa. anggĕr lajaran asring angsal pitulungan saking tiyang ingkang sami kasungkawan. Kelak dikemudian hari (akan) menjadi sarana ia berjumpa kembali dengan istrinya Dewi Sinta. Lajĕng kinèn tĕtaki dhatĕng wana pringga kawĕwahan kénging kadhusta ing duratmaka Prabu Dasamuka kabĕkta dhatĕng Alĕngka. hanya disertai oleh istrinya (Dewi Sinta) dan adiknya Laksmana.1 Tahun 2012 . parandosipun botĕn amĕgĕng pangandika kajawi amung tansah amĕsu cipta salĕbĕting samadi kémawon. " (Karyarujita dan Sastranaryatmo. (Prabu Ramawijaya) kemudian disuruh bertapa ke hutan belantara. ditambah (Dewi Sinta) diculik oleh pencuri Prabu Dasamuka (untuk) dibawa ke Alengka. (Ketika Prabu Ramawijaya mendapatkan tahta dari ayahandanya Prabu Dasarata untuk menjadi raja di Ayodya. Mila bĕbasanipun tiyang kadhatĕngan sungkawa. tidak berapa lama (tahta tersebut) diminta kembali untuk digantikan oleh adiknya yang bernama Prabu Barata.

karena ternyata yang menimpa Prabu Ramawijaya lebih pahit lagi. Nasehat Dhang Hyang Wiku Salya tersebut melengkapi nasehat dari Dhang Hyang Smarasanta kepada Rĕsi Abyasa agar tidak terlalu bersedih. Dhang Hyang Smarasanta mengemukakan keadaan dirinya yang telah berumur 150 tahun tetapi tetap tampak muda karena hatinya tenang dan damai. Naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana terdiri dari 2 jilid. Karena itu peribahasanya seseorang yang sedang sedih. serta didudukkan kembali menjadi raja (Karyarujita dan Sastranaryatmo. 1981: 442-443). Bathara Guru. Cerita Rāma dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana Di dalam konstruksi teks-teks Pustakaraja. Sĕrat Prabu Gĕndrayana dapat dijajarkan dengan Sĕrat Budhayana. ia kemudian menjadi pertapa di Waringin Sapta (Waringin Pitu) sampai akhirnya ia ditugaskan melenyapkan Prabu Silacala (Watugunung) sebelum diampuni kesalahannya oleh ayahnya. yaitu Sĕrat Prabu Gĕndrayana I dengan kode D 46 A yang terdiri atas 577 Jumantara Vol.1 Tahun 2012 23 . Demikian pula kisah Sang Hyang Wisnu yang juga dicopot kedudukannya sebagai raja. 3 No. Dhang Hyang Smarasanta juga mengemukakan peristiwa yang dialami Maharĕsi Manumanasa yang menjadi pertapa setelah tidak diangkat menjadi raja menggantikan ayahandanya.akan menjadi raja kembali di Ayodya. apabila mau menolong seringkali (ia) mendapat pertolongan oleh seseorang yang juga mengalami kesusahan). inilah hasil kalau (seseorang itu) rajin berupaya menolong manusia. Dengan demikian peristiwa kepergian Prabu Ramawijaya dari istana ke hutan belantara tersebut dihadirkan oleh Dhang Hyang Wiku Salya dengan maksud agar Rĕsi Abyasa tidak merasa terlalu bersedih hati dengan tidak diangkatnya dia menjadi raja di Ngastina menggantikan ayahandanya Bagawan Parasara (Palasara). Dengan demikian Sĕrat Prabu Gĕndrayana termasuk dalam kelompok Sĕrat Mahaparma Bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara.

849 halaman. yaitu Raden Narayana. ludhĕp. yang dapat melenyapkan segala hama dan penyakit tanaman tersebut adalah Raden Narayana. burung. karena beliau adalah titisan Sang Hyang Wisnu Murti. ulat. Isi ceritanya dimulai dari sewaktu Bathara Naradha mengukuhkan Arya Prabu Bambang Sudarsana menjadi raja di Yawastina (Ngastina Baru) bergelar Prabu Yudayaka atau Prabu Darmayana. Jadi Sĕrat Prabu Gĕndrayana terdiri atas 1. Misalnya: Bathara Kithaka merajai segala jenis belalang. Soemarso Pontjo Soetjipto. 3 No. Cerita diakhiri sewaktu Prabu Yudayaka bermaksud turun tahta menjadi begawan dan akan mengukuhkan putranya yaitu Raden Kijing Wahana sebagai raja di Yawastina.272 halaman dan sudah ditranskripsi oleh Soepardi Hadisuparto. Adapun hama tanaman yang menyerang sawah ladang mereka adalah: cèlèng. walang. Berdasarkan petunjuk (wangsit) dewa.R.1 Tahun 2012 . bĕkocok. Bathara Sungkara merajai segala jenis cèlèng. dan Bathara Hiranyaka merajai segala jenis tikus. Naskah-naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana di atas adalah koleksi Perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran Surakarta. mau membantunya untuk melenyapkan segenap hama tanaman yang menyerang sawah dan ladang penduduk Gunung Nilandusa dan menyebabkan mereka gagal panen.T. tikus. Adapun naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana II dengan kode D 46 B yang terdiri atas 1.halaman dan pernah ditranskripsi oleh K. mĕnthèk. putra Prabu Gendrayana. Adapun jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana dikemukakan oleh Bagawan Danèswara dari Gunung Nilandusa (Wilis) menghadap Prabu Gendrayana untuk mohon bantuan agar putra baginda. lĕladhoh. Bathara Printanjala merajai segala jenis burung. Adapun waktu yang diceritakan dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana tahun 790 – 800 (Suryasangkala) atau tahun 816 – 824 (Candrasengkala). jamur dan lain sebagainya. Bathara Gindhala merajai segala jenis ludhĕp. ganggĕngan. pemelihara dunia. Apalagi pada 24 Jumantara Vol. Segala hama tanaman tersebut sulit dibasmi karena mereka dilindungi para Dewa keturunan Sang Hyang Kala.

1 Tahun 2012 25 . sewaktu Ramawijaya baru berumur 8 tahun sudah dimintai bantuan oleh Bagawan Sutiksnayogi dari Gunung Dhandhaka agar menumpas para raksasa bala tentara Prabu Rahwana dari Ngalengka yang merusak pertapaan para pertapa. manawi kados makatĕn pamanggihipun ing karsa paduka punika Pukulun. 3 No. karena bagaimana mungkin putranya yang baru berusia 13 tahun tersebut harus berhadapan dengan segala jenis hama tanaman yang dilindungi oleh para dewa. yèn Bathara Ramawijaya wau inggih panuksamaning Sang Hyang Wisnumurti. utawi ingkang luhur sugih wadya bala sami sura sakti ing yuda. dados kénging sinĕbut tilar kasantosaning galih supé dhatĕng kawasaning déwa. manawi Sang Hyang Jagad Pratingkah adamel apĕsipun ing titiyang ingkang sami sura sakti wau. Hal inilah yang membuat Prabu Gendrayana khawatir atas keselamatan putranya. kaliyan malih Pukulun. Laksmana. manawi Sang Hyang Wisésa ingkang adamĕl unggul sayĕkti botĕn sangsaya dènira hamisésa ing ama. ingkang saupami tiyang sĕpuh ingkang sampun sura sĕkti mandraguna. saèstunipun nadyan raréya ingkang taksih mudha punggung pisan. putra Prabu Dasarata raja Ngayodya dari tanah Hindu. Menurutnya. Prabu Gendrayana merasa ragu dan keberatan. yĕkti botĕn dangu lajĕng dhadhal larut sadaya. Akan tetapi. panjĕnĕngan paduka punika punapa supé cariyos lampahanipun Bathara Ramawijaya putranipun Prabu Dasarata ing Ngayodya tanah ing Indhu. Adapun kisah kepahlawanan Ramawijaya dan adiknya.waktu lahir Raden Narayana sudah mendapatkan senjata dari dewa berupa panah Pasopati dan panah Sarotama. yang dapat dijadikan tauladan tersebut tersurat pada Sĕrat Prabu Gĕndrayana II seperti pada kutipan berikut: "Dhuh dhuh Pukulun Kangjĕng Déwaji. sarĕng sawĕg yuswa wolung warsa lajĕng kasuwun dhatĕng Bagawan Sutiksnayogi ing wukir Jumantara Vol. Oleh karena Prabu Gendrayana masih merasa ragu-ragu maka Bagawan Danèswara mengingatkan baginda atas kisah kepahlawanan Ramawijaya.

2007: 158-159. Karyarujita dan Sastranaryatmo. 848-853. 3 No. sarĕng Bathara Ramawijaya saking karsaning Dewa sagĕd amĕnthang. 1981: 480-481). sarĕng dumugi ing patapan raja putra kalih wau karsaning Déwa tĕka lajĕng sagĕd anirnakakĕn sagunging raksasa tanpa étangan tumpĕs déning satriya kalih kémawon. dupi wontĕn ing margi kabégal déning pandhita langkung sakti mandra guna. inggih punika kang angawonakĕn Prabu Harjunasasra ing Mahèspati nguni. hal. Hadisuparto.1 Tahun 2012 . botĕn antawis lami Bathara Ramawijaya wau kaliyan ingkang rayi bidhal saking patapaning pandhita lajĕng amĕdali sayĕmbara dhatĕng nagari ing Mantilidirja. nama Dèwi Sinta.Dhandhaka. saèstunipun sĕpuh putra paduka Radèn Narayana punika (Sĕrat Prabu Gĕndrayana II. 26 Jumantara Vol. panuwunipun badhé kaabĕn kaliyan danawa ingkang sami angririsak dhatĕng patapaning para wiku. wasta Rĕsi Ramaparasu. D 46 B. panjĕnĕnganipun Prabu Janaka darbé atmaja pawèstri satunggal langkung ayu éndah warninipun. sarĕng bidhal saking Mantili kadhèrèkakĕn para punggawa langkung kathah. manawi ing yuswanipun nalika numpĕs sagunging diyu ditya rĕksasa wil danawa murka kang wontĕn ing wukir Dhandhaka nguni inggih sawĕg yuswa wolung warsa. Prabu Janaka langkung suka kalampahan kadhaupakĕn kaliyan Dèwi Sinta. kala semantĕn sagunging para nata sèwu nagari botĕn wontĕn ingkang lĕbda karya wĕkasan sami kawangsulakĕn. Bathara Ramawijaya kalampahan kabĕkta dhatĕng Bagawan Sutiksnayogi. danawa wau balanipun Prabu Rawana Ngalĕngka. lampahipun saking nagari ing Ngayodya botĕn ambĕkta wadya bala aming kadhèrèkakĕn ingkang rayi satunggal anama Raden Laksmana Widagda. dèntĕn sayĕmbaranipun Prabu Janaka nguni singa ingkang sagĕd amĕnthang langkap pusakanipun Prabu Janaka saèstu dados jatu kraminipun putra nata Dèwi Sinta wau. Sang Ramaparasu wau karsaning Déwa lajĕng kasor déning Bathara Ramawijaya. malah punang langkap pusaka lajĕng tugĕl tanpa karana.

kemudian diminta oleh Bagawan Sutiksnayogi dari Gunung Dhandhaka. (tapi) hanya diiringkan seorang adiknya bernama Raden Laksmana Widagda. kedua putra raja tersebut (karena) kehendak Dewa berhasil melenyapkan semua raksasa yang tak terhitung banyaknya (semua) tumpas hanya oleh kedua satria tadi. Prabu Janaka memiliki seorang putri yang sangat cantik parasnya bernama Dewi Sinta. jika demikian ini pendapat paduka Pukulun. Bathara Ramawijaya bersedia dibawa oleh Bagawan Sutiksnayogi. sesungguhnya meskipun masih anak-anak dan lagi masih bodoh.1 Tahun 2012 27 . Pada waktu itu semua para raja (yang berjumlah) 1. bahwasanya Bathara Ramawijaya juga penjelmaan Sang Hyang Wisnu Murti. lupa pada kekuasaan Dewa. apabila Sang Hyang Jagad Pratingkah membuat apĕs (malang) kepada orang-orang yang sangat sakti itu. tentu tidaklah sulit dalam meraih kemenangan atas hama (tanaman). akhirnya mereka semua Jumantara Vol. bahwasannya siapa saja yang mampu membentangkan busur panah pusaka Prabu Janaka. sungguh akan dikawinkan dengan putri raja tersebut. permintaan (Bagawan Sutiksnayogi) Bathara Ramawijaya akan diadu dengan raksasa yang merusak pertapaan para wiku. putra Prabu Dasarata di Ngayodya Tanah Hindu. atau yang berkedudukan tinggi (memiliki) banyak bala tentara yang sakti-sakti dalam peperangan. Tidak beberapa lama Bathara Ramawijaya bersama adiknya meninggalkan pertapaan pendeta untuk mengikuti sayembara ke negeri Mantilidirja. dan lagi Pukulun. sekalipun seumpama orang sudah tua.000 negara tidak ada satu pun yang mampu melakukannya.("Dhuh dhuh Pukulun Kanjeng Dewaji. apabila Sang Hyang Wisesa yang membuat menang. raksasa tersebut adalah bala tentara Prabu Rahwana (dari) Ngalengka. sesampainya di pertapaan. Adapun sayembara Prabu Janaka tersebut. perjalanan (Bathara Ramawijaya) dari negeri Ngayodya tidak membawa bala tentara. dapat disebut meninggalkan kesentausaan hati. tentu tidak lama juga akan tumpas semua. 3 No. berani lagi sangat sakti. ketika baru berumur 8 tahun. apakah Paduka ini lupa pada cerita kisah hidup Bathara Ramawijaya.

disuruh kembali (ke kerajaannya). yaitu Raden Narayana (yang juga penjelmaan Sang Hyang Wisnu Murti. Dialah yang dahulu mengalahkan Prabu Arjunasasra di kerajaan Mahespati. Demikianlah tampilnya cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana sengaja dihadirkan oleh Bagawan Danèswara untuk memberikan gambaran dan pandangan kepada Prabu Gendrayana agar merelakan putranya. Jika dikatakan bahwa 28 Jumantara Vol. Prabu Janaka sangat gembira (Bathara Ramawijaya) kemudian dikawinkan dengan Dewi Sinta. namun dalam Sĕrat Paramayoga (Sĕrat Kalĕmpakaning Piwulang) yang dikumpulkan oleh R. sebagaimana Bathara Ramawijaya). Kalau di dalam teks naskah Prabu Gĕndrayana II. sebagaimana yang terdapat pada halaman 480 dan 481. 3 No. Bathara Ramawijaya waktu itu berusia 8 tahun (wolung warsa). Jadi ada selisih waktu 10 tahun. Pada waktu mereka di tengah jalan. Ketika Bathara Ramawijaya menumpas para raksasa. Karyarujita dari Sĕrat Paramayoga dan Sĕrat Pustakaraja dikatakan bahwa usia Bathara Ramawijaya adalah 18 tahun (wolulas warsa). dihadang (dirampok) oleh pendeta yang teramat sakti bernama Ramaparasu. kode D 46 B di halaman 849 dan halaman 853.1 Tahun 2012 . yang menyerang sawah dan ladang penduduk di wilayah Gunung Nilandusa. Ng. karena kehendak Dewa berhasil membentangkan. Dalam hal ini. Sang Ramaparasu karena kehendak Dewa dapat dikalahkan oleh Bathara Ramawijaya. Raden Narayana). ada sedikit perbedaan tentang usia Bathara Ramawijaya ketika dimintai bantuan oleh Bagawan Sutiksnayogi untuk melawan para raksasa perusak pertapaan di Gunung Dhandhaka. wil dan sebangsanya yang merusak (pertapaan) di Gunung Dhandhaka dahulu usianya baru 8 tahun. bahkan busur panah pusaka kemudian putus tanpa sebab. Bathara Ramawijaya. untuk menumpas segala hama tanaman yang dilindungi para Dewa. Sesungguhnya masih lebih tua dengan putra Paduka. Ketika mereka meninggalkan Mantili diiringkan para punggawa yang sangat banyak.

2007: 20-25). Beliau lahir pada tahun 801 (Suryasangkala) atau tahun 825 (Candrasangkala). jauh lebih muda usianya dari Raden Narayana (13 tahun) sewaktu ia dimintai pertolongan menumpas para raksasa yang merusak pertapaan para Brahmana dan Pendeta di Gunung Dhandhaka. Di sini pun terdapat kejanggalan. Ng. Dalam hal ini jika usia Bathara Ramawijaya adalah 18 tahun akan lebih logis bila ia memenangkan sayembara memperebutkan Dewi Sinta dan dikawinkan dengannya. sehingga ia kemudian dikawinkan dengan Dewi Sinta (dalam usia 8 tahun). Penciptaannya bertepatan tahun 919 (Suryasangkala) atau tahun 948 (Candrasangkala).1 Tahun 2012 29 . Namun pada halaman depan Sĕrat Mayangkara dikemukakan secara jelas bahwa R. Kedua kitab tersebut adalah karya Mpu Sindungkara di Pengging. seperti yang tersurat dalam naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana II halaman 112 – 139 (Hadisuparto.Raden Narayana waktu itu lebih tua daripada Bathara Ramawijaya. Hadisuparto. 3 No. maka bagaimana mungkin dalam usia semuda itu ia mengikuti dan memenangkan sayembara di kerajaan Mantilidirja. Ranggawarsita adalah pengarangnya (Babon tĕmbung pangikĕtipun sang misuwuring jagad: R. maka Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara termasuk kelompok Kitab Maha Parma (bagian Kitab Pustakaraja Puwara). Hanya tentunya tidak dapat dikatakan bahwa ia masih kecil. Ng. 2007: 152-187). Jika usia Ramawijaya sewaktu dimintai pertolongan oleh Bagawan Sutiksnayogi baru 8 tahun. pujangga Dalĕm ing Kraton Surakarta Jumantara Vol. Cerita Rāma dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara Di dalam Sĕrat Pustakaraja. maka hal ini ada benarnya karena usia Raden Narayana adalah 13 tahun. Ranggawarsita. Adapun peristiwa Raden Narayana dimintai pertolongan melenyapkan segala hama tanaman tersebut terjadi pada tahun 814 (Suryasangkala) atau tahun 839 (Candrasangkala) (Naskah halaman 816 – 1008.

dengan titik berat penceritaannya hanya mengenai Sang Hyang Mayangkara. 1938: 35). ketika kawin dengan putri dari Mamenang.1 Tahun 2012 . kaétang ing tahun Candrasangkala amarĕngi 948. panganggitipun anuju ing tahun Suryasangkala 920. sampai Kerajaan Yawastina tenggelam menjadi samodra. ngantos dumuginipun nagari ing Yawastina kĕlĕm anjĕmblong dados samodra. penggubahannya bertepatan pada tahun Suryasangkala 920. inilah cerita kisah (perjalanan) hidup Prabu Purusangkara di Yawastina. 3 No. maka waktu penceritaan dalam Sĕrat Mayangkara hanya selama 1 tahun.Adiningrat)." (Ranggawarsita. Ng. karena jika waktu penceritaan di dalam Sĕrat Purusangkara berlangsung selama 5 tahun. terhitung tahun Candrasangkala bertepatan tahun 948) Adapun waktu yang diceritakan dalam Sĕrat Purusangkara mulai tahun 841 Suryasangkala (Ratu – gusthika – sarira ing boma) atau tahun Candrasangkala 866 dengan sengkalan berbunyi Anggas – angrasa – murti sampai dengan tahun Suryasangkala 846 atau terhitung tahun Candrasangkala tahun 871. Kaanggit déning Mpu Sindungkara ing Pĕngging. wiyosipun punika cariyos lalampahanipun Prabu Purusangkara ing Yawastina. kala krama antuk putri ing Mamĕnang. yaitu menceritakan tentang Sang Maharsi Mayangkara (Anoman). 30 Jumantara Vol. Pada bagian permulaan. antara Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara isinya hampir sama. Pujangga R. Hanya saja cerita di dalam Sĕrat Purusangkara masih cukup panjang. (Sĕrat Purusangkara. Ranggawarsita sendiri di dalam Sĕrat Pustakaraja juga menyatakan bahwa: "Sĕrat Purusangkara. Digubah oleh Mpu Sindungkara di Pengging.

2) Pertentangan antara Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) dengan ketiga menantunya yaitu Prabu Purusangkara bersaudara. 3 No.1 Tahun 2012 31 . 4) Perkawinan Madrim dengan Arya Susastra. Dalam melanjutkan perjalanannya Sang Hyang Narada bertemu dengan roh Sang Maharsi Mayangkara (jiwa Anoman) yang mengungkapkan keinginannya untuk segera berkumpul dengan para dewa. Adapun garis besar cerita di dalam Sĕrat Mayangkara dan Sĕrat Purusangkara pada bagian awal dapat dikemukakan sebagai berikut: Sang Hyang Girinata mengadakan persidangan dengan para dewa di kahyangan Suralaya. Sang Maharsi Jumantara Vol.Adapun penceritaan di dalam Sĕrat Purusangkara masih sangat panjang karena menceritakan berbagai peristiwa yang terjadi di Kerajaan Widarba (Kediri) setelah gugurnya Sang Maharsi Mayangkara. Mereka memperbincangkan turunnya Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Brahma ke dunia. Sang Hyang Narada menerangkan bahwa Sang Maharsi Mayangkara masih mendapat tugas dewa untuk mengawinkan para putra mendiang Prabu Sariwahana (Yawastina) dengan para putri Prabu Jayapurusa (Widarba). Sang Hyang Narada menerangkan bahwa maksud Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Brahma mau melenyapkan semua keturunan Sang Hyang Wisnu. Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kesanggupannya dan pulang kembali ke pertapaan Kendalisada menemui raganya (Rĕsi Anoman). dan 5) Prabu Darmadewa beserta saudara-saudaranya menyerbu kerajaan Widarba (Tedjowirawan. 3) Kisah Madrim dan Madrika. Adapun cerita-cerita tersebut antara lain: 1) Perkawinan Raden Jayaamijaya dengan Ken Satapi. 1985: 33-40). Rĕsi Anoman menyatakan mau menyatu kembali dengan jiwa (rohnya) Sang Maharsi Mayangkara asal teka-teki yang diajukannya dapat ditebak secara tepat. Kemudian Sang Hyang Girinata memerintahkan Sang Hyang Narada untuk melindungi keturunan Sang Hyang Wisnu dengan sarana mengawinkan Prabu Astradarma (raja Yawastina) dengan putri Prabu Jayapurusa (Prabu Jayabhaya) di kerajaan Widarba. sampai ditenggelamkannya Kerajaan Yawastina.

ia beristirahat di bawah pohon beringin kembar. 3 No. anak Ajar Subrata. Hal itu dimaksudkan guna mempererat kembali tali persaudaraan yang telah retak akibat pertikaian yang terjadi antara Prabu Sariwahana dan Prabu Ajidarma di Malawapati melawan Prabu Jayapurusa di Widarba.Mayangkara dapat menebak teka-teki yang diajukan padanya. Sesampainya di Yawastina. Patih Suksara mengusulkan agar Prabu Jayapurusa memikirkan pula perkawinan ketiga putri raja terlebih dahulu untuk menghindari dari pergunjingan rakyat Widarba.1 Tahun 2012 . ketika Prabu Astradarma melihat adanya putih-putih di bawah pohon beringin. Pada waktu itu. Tidak lama kemudian datanglah Sang Hyang Narada yang memerintahkan Sang Maharsi Mayangkara ke Yawastina. Kemudian Prabu Astradarma dan saudara-saudaranya dibawa Sang Maharsi Mayangkara pergi ke kerajaan Widarba. sehingga ia menyatu kembali dengan raganya. Sementara itu para prajurit Yawastina di bawah pimpinan Patih Sudarma mempersiapkan diri menyusul rajanya. Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kepada Prabu Astradarma bahwa ia ditugaskan Sang Hyang Narada untuk mengawinkan Prabu Astradarma bersaudara dengan ketiga putri Prabu Jayapurusa di Widarba. Prabu Jayapurusa di kerajaan Widarba sedang menerima Raden Jayamijaya. utusan Prabu 32 Jumantara Vol. Perselisihan dan perpecahan itu berawal dari nenek moyang mereka dahulu. Patih Suksara serta para prajurit Widarba yang menghadap. Mereka memikirkan perkawinan Raden Jayaamijaya dengan putri Ken Satapi. Sang Maharsi Mayangkara kemudian dihadapkan kepada Prabu Astradarma. maka baginda segera memerintahkan punggawanya untuk memeriksa Sang Maharsi Mayangkara. Prabu Astradarma merasa ragu-ragu bahwa Prabu Jayapurusa telah melupakan permusuhan ayah-ayah mereka dahulu dengan baginda (Prabu Jayapursa). Pada waktu itu datanglah Gadaksa dan Pradaksa. akan tetapi Prabu Jayapurusa menyerahkan jodoh ketiga putrinya kepada dewa. akan tetapi Sang Maharsi Mayangkara meyakinkan bahwa dewalah yang menentukan segalanya.

yaitu raja di Yawastina. Raden Jayaamijaya sangat malu dan ia bermaksud meminta bantuan kepada saudaranya. keduanya berjumpa dengan Sang Maharsi Mayangkara.Yaksadewa dari kerajaan Selauma untuk melamar Dewi Pramesthi. maka mereka segera mengejar Gadaksa dan Pradaksa. dan memaksa Gadaksa dan Pradaksa untuk mengundurkan diri kembali ke kerajaan Selauma. Terjadilah pertempuran yang sangat hebat. Prabu Jayapurusa mengambil jalan tengah yaitu andaikata Dewi Pramesti telah menjadi jodoh Prabu Yaksadewa maka perkawinan mereka akan segera dilangsungkan. Arya Susastra dan Sang Maharsi Mayangkara kemudian kembali ke Widarba. Raden Jayaamijaya. Kepada ayahandanya (Prabu Jayapurusa) ia menerangkan bahwa Sang Maharsi Mayangkaralah yang berhasil memenangkan pertempuran melawan utusan kerajaan Selauma. tetapi Sang Maharsi Mayangkara meminta imbalan ketiga putri Widarba. 3 No. Prabu Jayapurusa menjadi ragu-ragu menerima permintaan Sang Maharsi Mayangkara tersebut. Surat lamaran tersebut mengandung ancaman bahwa seandainya Dewi Pramesthi tidak diberikan maka kerajaan Widarba akan digempur. Raden Jayaamijaya meminta bantuan kepada Sang Maharsi Mayangkara. Arya Susastra bersama pasukan Widarba dapat dikalahkan. Raden Jayaamijaya sangat marah membaca surat lamaran tersebut. Setelah Raden Jayaamijaya menyanggupi permintaan itu. tetapi akhirnya baginda Jumantara Vol.1 Tahun 2012 33 . namun Sang Maharsi Mayangkara dapat menghancurkan pasukan kerajaan Selauma. Dalam perjalanan Raden Jayaamijaya bersama Arya Susastra. maka Raden Jayaamijaya disertai Arya Susastra bersama pasukannya mengejar kedua utusan kerajaan Selauma tersebut. Pertempuran tak dapat dielakkan. Raden Jayaamijaya. Dikemukakannya pula bahwa ia telah terlanjur menyanggupi untuk memenuhi permintaan Sang Maharsi Mayangkara yang menginginkan kawin dengan ketiga putri Widarba. Sepeninggal Gadaksa dan Pradaksa.

dèntĕn Sang Maharsi Mayangkara langkung panjang yuswanipun. Pangandikanipun Prabu Jayapurusa: 34 Jumantara Vol. kaliyan adhi kula nak-sanak sutanipun paman kawula ingkang sĕpuh wasta Prabu Subali. mila kawula dados sénapati. dhatĕng nagari ing Ngalĕngka. Penulisan cerita Rama pada mulanya bersumberkan keterangan dari Brahmana Hindu yang bernama Dhang Hyang Asuman dan Dang Hyang Ilandhi.1 Tahun 2012 . kaambil sraya déning Bathara Ramawijaya wau. Prabu Jayapurusa segera memerintahkan kepada Empu Pulwa untuk mencatat keterangan Sang Maharsi Mayangkara guna meluruskan kembali peristiwa sebenarnya tentang cerita peperangan Prabu Ramawijaya melawan Prabu Rawana. dénya ambĕdhah nagari Ngalĕngka nguni. Sang Rĕsi Anoman matur: "Dhuh-dhuh Pukulun Kanjĕng Déwaji. 3 No. malah kala sĕmantĕn kawula inggih kinarya sénapatining ayuda. dados sawadyanipun para ratu wanara sadaya sami umiring Bathara Ramawijaya. Selanjutnya Prabu Jayapurusa meminta kepada Sang Maharsi Mayangkara untuk menceritakan kembali pengalaman peperangannya sewaktu menjadi senapati perang yang terpercaya Prabu Ramawijaya. Raja Alengka. bokmanawi èngĕt ing cariyos lalampahanipun Prabu Ramawijaya ing Ngayudyapala. ingkang dados pangungunipun. rèhning nguni kawarti kawijilanipun saking nagari Guwakiskĕndha tanah Hindhu. sukanipun dèntĕn badhé angsal wĕwahing cariyos lalampahanipun Prabu Ramawijaya nguni. ing Guwakiskĕndha. saèstunipun kawula nguni èngĕt sadaya. manawi lalampahanipun Bathara Ramawijaya Ngayudyapala anggènipun ambĕdhah nagari ing Nglĕngka nguni. amargi paman kawula ingkang anèm wasta Prabu Sugriwa punika. Prabu Jayapurusa langkung suka angungun. Di dalam Sĕrat Mayangkara permintaan Prabu Jayapurusa agar Sang Maharsi Mayangkara menceritakan pengalamannya sewaktu menjadi senapati perang pasukan Prabu Ramawijaya tersebut diuraikan sebagai berikut: Sasampunipun makatĕn Prabu Jayapurusa andangu malih dhatĕng Sang Maharsi Mayangkara.meluluskannya.

amargi botĕn sumĕrĕp piyambak kados Sang Maharsi wau. sakalangkung rĕmĕn kula. lajĕng dhawuh dhatĕng Empu Pulwa kinèn amĕwahakĕn panganggitipun kaliyan ingkang saking cariyosing brahmana kalih nguni. malah ing mangké sampun kaanggit déning ĕmpu jangga kula kang wasta Émpu Pulwa. barangkali teringat cerita perjalanan hidup Prabu Ramawijaya di Ngayudyapala. punika sami anyariyosakĕn ingkang dados lalampahanipun Prabu Ramawijaya nguni. ananging pangraosing manah kula kados taksih kirang jangkĕping cariyosipun. saèstu badhé andadosakĕn sukaning manah kula. ananging panuwun kula mugi kagancarĕna dalah lalampahanipun wontĕn ing margi sadaya. miwiti mĕkasi. lajĕng anyariyosakĕn kawiwitan saking nagarinipun Prabu Ramawijaya wontĕn ing Ngayudyapala. yèn sambada karsanipun sang wiku. kaliyan Prabu Kusia ing Ngayudyapala. Ing ngriku Prabu Jayapurusa langkung suka galihipun. ngantos kaping kalih. ingkang dados lalampahanipun Prabu Ramawijaya dènira ambĕdhah nagari Ngalĕngka wau. ngantos dumugi sédanipun ingkang putra Prabu Ramawijaya ingkang nama Prabu Batlawa ing Duryapura. salalampahanipun sampun sami kagancarakĕn sadaya. Émpu Pulwa matur sandika. (Kemudian Prabu Jayapurusa bertanya lagi kepada Sang Maharsi Mayangkara. 3 No. nulya cinathĕtan sadaya. ketika Jumantara Vol. karena dahulu konon berasal dari Guwakiskenda tanah Indu. awit bokmanawi wontĕn wĕwahipun malih saking cariyosing brahmana kalih nguni. mila makatĕn awit ing nguni kula katamuwan brahmana saking tanah Hindhu.1 Tahun 2012 35 . milanipun manawi sang wiku karsa anyariyosakĕn lalampahanipun Prabu Ramawijaya. sampun ngantos wontĕn ingkang kalangkungan cariyosipun". Sang Maharsi Mayangkara matur sandika. mugi kagancarĕna sadaya. ingkang rumiyin wasta Dhang Hyang Asuman ingkang kantun wasta Dhang Hyang Ilandhi.Hé Sang Maharsi Mayangkara kakasihing jawata.

dahulu menyerbu kerajaan Ngalengka. sebab barangkali ada penambahan lagi dari cerita dua brahmana dahulu itu. kemudian menceritakan mulai dari negara Prabu Ramawijaya di Ngayudyapala. Prabu Jayapurusa gembira (dan) heran. bahkan pada waktu itu hamba juga sebagai senapati perang. yang dahulu bernama Dhang Hyang Asuman. bahwa usia Sang Maharsi Mayangkara demikian panjang. jika sang wiku berkenan. karena paman hamba yang bernama Prabu Sugriwa itu diminta bantuannya oleh Batara Ramawijaya. semoga diceritakan semua tentang perjalanan hidup Prabu Ramawijaya dalam menyerbu negara Ngalengka dahulu. sungguh sangat menyenangkan hati saya. oleh karena dahulu kala saya kedatangan Brahmana dari tanah Hindu. putra paman hamba yang bernama Prabu Subali di Guwakiskenda. (sedangkan) yang menjadi keheranannya. keduanya menceritakan perjalanan hidup Prabu Ramawijaya dahulu. sampai mangkatnya putra Prabu Ramawijaya yang bernama Prabu Batlawa di 36 Jumantara Vol. makanya hamba menjadi senapati. sebab tidak mengetahui sendiri seperti halnya Sang Maharsi. gembira karena akan mendapat tambahan cerita kehidupan Prabu Ramawijaya. akan tetapi permintaanku hendaknya diuraikan sekaligus semua peristiwa yang terjadi di perjalanan. jangan sampai ada cerita yang terlewat. bahkan sekarang sudah disusun oleh pujangga saya yang bernama Empu Pulwa.1 Tahun 2012 . yang terakhir bernama Dhang Hyang Ilandhi. jika peristiwa penyerbuan Batara Ramawijaya Ngayudyapala dahulu ke negara Ngalengka. 3 No. sesungguhnya hamba teringat semuanya." Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kesediaannya. Sang Resi Anoman berkata: "Duh-duh Pukulun Kanjeng Dewaji. maka seandainya sang wiku mau menceritakan perjalanan hidup Prabu Ramawijaya. saya sangat gembira. jadi semua bala tentara para raja kera semua mengiring Batara Ramawijaya ke negara Ngalengka. akan tetapi menurut pendapat saya nampak masih kurang lengkap ceritanya. Kata Prabu Jayapurusa: "Hai Sang Maharsi Mayangkara kekasih dewata. bersama adik sepupu hamba. sampai dua kali.

Pesta perkawinan mereka sangat meriah dan berlangsung selama setengah bulan. ia kalah. Selanjutnya Sang Maharsi Mayangkara menjelaskan. Prabu Jayapurusa mengawinkan Sang Maharsi Mayangkara dengan Dewi Pramesthi. mengawali mengakhiri.1 Tahun 2012 37 . Akan tetapi. Raden Darmasarana dengan Dewi Pramuni. kemudian semua dicacat. bahwa sebenarnya dialah yang menjadi pengatur pertemuan antara Prabu Astradarma bersaudara dengan ketiga putri raja. Prabu Jayapurusa segera memerintahkan Raden Jayaamijaya untuk menangkap perusak kesusilaan di taman sari itu. Prabu Jayapurusa bermaksud mau maju sendiri. Gadaksa dan Pradaksa telah kembali ke Jumantara Vol. Dewi Pramuni dan Dewi Sasanti dengan Prabu Astradarma bersaudara. Prabu Astradarma mengadakan pertemuan dengan Dewi Pramesthi. kemudian memerintahkan kepada Empu Pulwa untuk mengubah penyusunan cerita Ramawijaya seperti yang berdasarkan cerita dua brahmana dahulu. semua peristiwa sudah diceritakan. Empu Pulwa menyatakan kesanggupan-nya. akan tetapi segera dicegah oleh Sang Maharsi Mayangkara. Dalam pertempurannya melawan Prabu Astradarma maupun dengan Raden Darmasarana dan Raden Darmakusuma. Oleh karena itu. Kemudian dilangsungkannyalah pesta perkawinan Dewi Pramesthi. Prabu Jayapurusa bergembira. Hal itu dilakukan atas perintah dewa agar menjadi perekat kembali persaudaraan raja dengan ketiga putra mendiang Prabu Sariwahana.) Beberapa waktu kemudian.Duryapura dan Prabu Kusia di Ngayudyapala. karena ia akan bermenantukan Prabu Astradarma bersaudara. Pada waktu malam pengantin tiba. Mendengar penjelasan itu. pertemuan itu diketahui oleh seorang ĕmban „inang pengasuh‟ yang kemudian melaporkannya kepada Prabu Jayapurusa. Sementara itu. Prabu Jayapurusa sangat gembira hatinya. dan Raden Darmakusuma dengan Dewi Sasanti. 3 No. Sang Maharsi Mayangkara mengeluarkan ketiga putra Yawastina untuk mengadakan pertemuan dengan ketiga putri Widarba.

Dalam pertempuran yang dahsyat itu Sang Maharsi Mayangkara gugur di medan laga. sedangkan gada saktinya menjelma menjadi Sang Hyang Brahma. Prabu Yaksadewa sangat marah dan segera memerintahkan Patih Mohita untuk mempersiapkan pasukannya menyerbu ke Widarba. kecuali Sang Maharsi Mayangkara. maju melawan Prabu Yaksadewa. Sebelum Prabu Jayapurusa maju datanglah Sang Hyang Narada memberitahukan bahwa Prabu Yaksadewa adalah penjelmaan Sang Hyang Kala. Prabu Yaksadewa menjadi sangat marah. tetapi mereka pun gugur. Prabu Astradarma. Raden Darmasarana dan Raden Darmakusuma segera menuntut bela. Patih Mohita mencoba melawannya tetapi ia pun gugur. Dengan gada saktinya ia menggempur Sang Maharsi Mayangkara. Sang Hyang 38 Jumantara Vol. Kemudian Sang Hyang Narada menjelma menjadi gada sakti agar dapat dipakai Prabu Jayapurusa melawan gada sakti Prabu Yaksadewa.1 Tahun 2012 . Kedatangan pasukan Selauma disongsong oleh pasukan Widarba yang diperkuat oleh Sang Maharsi Mayangkara serta tiga putra Yawastina. Dalam pertempuran yang dahsyat itu banyak perwira kerajaan Selauma gugur di tangan Sang Maharsi Mayangkara. sedangkan gada saktinya adalah penjelmaan Sang Hyang Brahma. Kemudian Sang Hyang Girinata memerintahkan Sang Hyang Narada untuk menghidupkan kembali mereka yang tewas dalam pertempuran itu. Oleh karena itu sudah sepantasnya Sang Maharsi Mayangkara memperoleh anugerah dewa di surga. 3 No. Sang Hyang Narada pun menjelma kembali. Sang Hyang Girinata menerangkan kepada Prabu Jayapurusa bahwa gugurnya Sang Maharsi Mayangkara memang sudah merupakan kehendak dewa. Dalam pertempuran yang dahsyat maka Prabu Yaksadewa menjelma menjadi Sang Hyang Kala. Sang Maharsi Mayangkara telah menjalankan kewajibannya di dunia dengan baik pada akhir hidupnya dengan mengawinkan ketiga putra mendiang Prabu Sariwahana (Yawstina) dengan ketiga putri Prabu Jayapurusa (Widarba).kerajaan Selauma serta melaporkan hasil lamaran raja. Bertepatan dengan itu nampaklah Sang Hyang Girinata bersemayam di atas kepala Prabu Jayapurusa. Prabu Jayapurusa sendiri mau melawan Prabu Yaksadewa.

yang menjelma sebagai gada sakti senjata Sang Hyang Kala. Rāvaņavadha oleh Bhaţţi. Dengan demikian. Kakawin Rāmāyaņa kemudian digubah menjadi Sĕrat Rama oleh R. Filipina. Rāmāyaņakathāsaramānjari oleh Ksemendra. jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara dikisahkan sendiri oleh Sang Maharsi Mayangkara (Anoman) yang pada waktu itu (jaman Kediri) masih hidup. Cerita Rāmāyaņa dari India tersebut kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. sampai ia sendiri kembali ke surga setelah secara tidak langsung dijemput oleh Sang Hyang Kala (Prabu Yaksadewa) dan Sang Hyang Brahma. Uttara Rāma oleh Bhavabhutti. 3 No.Kala dan Sang Hyang Brahma segera menghidupkan kembali pasukan Widarba dan Selauma (Tedjowirawan. maupun Jawa. 1985: 29-32). Janakīharaņa oleh Kumaradasa. Melayu.1 Tahun 2012 39 . Salah satu versi cerita Rāma dari India yaitu Rāvaņavadha karya Bhaţţi.Ng. di Jawa kemudian digubah menjadi Kakawin Rāmāyaņa oleh pujangga yang belum ditetapkan secara pasti siapa nama sebenarnya. Birma. Kakawin Rāmāyaņa tersebut menjadi bahan perbincangan yang sangat ramai di antara para sarjana. Cerita Rāma ternyata ditemui juga jejaknya di dalam bagian Sĕrat Pustakaraja. misalnya: Raghuvangśa karya Kalidasa. terutama sarjana-sarjana barat yang pada mulanya mengadakan penelitian atas karya-karya sastra Jawa Kuna. Yasadipura II menggubahnya menjadi Sĕrat Arjuna Sasrabahu. Penyair-penyair India lain pun kemudian mencoba membuat cerita Rāma–Sīta. terutama di dalam Sĕrat Rukmawati. R. sedangkan Sindusastra menggubahnya menjadi Sĕrat Arjuna Sasra dan Sĕrat Lokapala. Di Asia Tenggara cerita Rāma terdapat di Vietnam. setelah melewati proses ritual (tapabrata) selama 1. Thailand.000 tahun. Yasadipura I. Laos. Rāmācaritamanasa oleh Tulasi Dasa. Kamboja. Simpulan Cerita Rama (Rāma) pada mulanya digubah dalam bahasa Sanskerta oleh yogīndra Wālmīki. Sĕrat Jumantara Vol.Ng.

Dalam Sĕrat Suktinawyasa jejak cerita Rāma dikemukakan oleh Dhang Hyang Wikusalya kepada Rĕsi Abyasa agar tidak terlalu bersedih hati karena tidak diangkat menggantikan ayahandanya menjadi raja di Ngastina. Jakarta: Bharata. Surakarta: Reksapustaka. Peristiwa gugurnya Sang Maharsi Mayangkara tersebut pada masa pemerintahan Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) di kerajaan Widarba (Kediri).C. Penulisan Sejarah Jawa. Bahkan gugurnya Sang Maharsi Mayangkara dijemput oleh Sang Hyang Kala (Prabu Yaksadewa) dan Sang Hyang Brahma. Karyarujita. Merunut Pupuh-pupuh Rama Djarwa Matjapat jang Bersumber dari Sarga II dan III Rāmāyaņa Kakawin (Tesis). Hadisuparto. Sĕrat Prabu Gĕndrayana. Sĕrat Paramayoga: Sĕrat Jumantara Vol. (1981).Suktinawyasa. 3 No. Pura Mangkunegaran Surakarta. Jogjakarta: Djurusan Sastra Djawa. Universitas Gadjah Mada. (1974). Di dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana jejak cerita Rāma dikemukakan oleh Bagawan Danĕswara agar Prabu Gendrayana merelakan putranya yang masih sangat muda yaitu Raden Narayana (Jayabhaya) untuk dimintai bantuannya melenyapkan segala jenis hama tanaman yang menyerang sawah dan ladang para penduduk di wilayah Gunung Nilandusa (Wilis). melainkan hanya diangkat sebagai raja pendeta. Daftar Pustaka Berg. jejak cerita Rāma tampak dengan tampilnya Sang Maharsi Mayangkara (Anoman). Fakultas Sastra dan Kebudajaan. Soepardi (Pengalih Huruf) (2007). Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara. 40 R. Darusuprapta (1963). Sĕrat Prabu Gĕndrayana II (46 B). yang menjelma menjadi gada sakti Prabu Yaksadewa. Dalam Sĕrat Rukmawati jejak cerita Rāma terutama terkait dengan prosesi ritual yang dilakukan Prabu Dasarata untuk memohon kelahiran putra penjelmaan Sang Hyang Wisnu (Rāma).1 Tahun 2012 . Adapun dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara.Ng. C.

Cetakan Kedua. _______. Sĕrat Prabu Gĕndrayana I (46 A). Surakarta dan Yogyakarta: Yayasan "Mangadeg" dan Yayasan "Centhini". Sĕrat Mayangkara. K. Djokdja: Boekhandel En Drukerij Kolf Buning. Disalin oleh Soetomo W.H.1 Tahun 2012 41 . (1967). (1938). Sĕrat Pustakaraja Purwa Jilid I – III. (Pengalih Huruf) (2007). Alih Aksara Kamajaya. „Ramayana: Asal-usul. Z. Solo: Boekhandel M. Alih Aksara dan Ringkasan oleh Sudibya. Somvir (1998). 3 No. _______. “Runut Merunut Penulisan dan Penulis Kakawin Rāmāyaņa”. Hadji Pamoso Jilid I-X.T. _______. Pura Mangkunegaran Surakarta.M. (1997). Yogyakarta: Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. _______. Sĕrat Witaradya I & II. (1993). Kepustakaan Djawa. Depdikbud. Ranggawarsita. Surakarta: Reksapustaka. Alih Aksara dan Alih Bahasa oleh Moelyono Sastronaryatmo. I. "The Yasadipura Problem". Pigeaud. Literature of Java Vol. dan Tardjan Hadidjaja (1957). Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud.. Mangkunegara IV (1914). The Hague: Martinus Nijhoff. BKI 153-II. Semarang: Yayasan Studi Bahasa Jawa "Kanthil". Ng. Soemarso Pontjo. Th. Sejarah dan Transformasi Jumantara Vol. R. Sĕrat Pustakaraja Purwa Jilid III. R. G.C. Surakarta: Albert Rusche. Witaradya. Makalah Ceramah. M. Soetjipto. Th.E. _______. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Ng. (1910). (1979). (1908). Ricklefs.. (1924). (1979). Tanojo. Y. Soerakarta: Albert Rusche.Kalĕmpaking Piwulang. Cetakan Keempat. dkk. Sĕrat Ajipamasa. _______. Padmapuspita. Lampahan Jayapurusa. Poerbatjaraka. (1994).R. Djakarta: Djambatan.

Manu Jayaatmaja (1998). Jakarta: Djambatan. Haji Masagung.J. P. Ng.dari India ke Indonesia‟ dalam Ramayana. Naskah 157. _______ (2008). Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. _______ (1986). Zoetmulder. Tedjowirawan. Rama Kathā. Ranggawarsita. Sri Mulyono (1989). (1983). Procedings Seminar Internasional Aktualisasi Teks-teks Ranggawarsitan dalam Konteks 100 Tahun Kebangkitan Nasional dalam rangka Dies ke 62 Fakultas Ilmu Budaya UGM 16 Mei 2008. FPBS IKIP Yogyakarta. “Persebaran Rāmāyaņa di Asia Tenggara”. Kalangwan. Filsafat dan Masa Depannya. Prodi Sastra Jawa. dalam Ramayana. Anung (1985). “Dari Gendrayana ke Bambang Sudarsana (Sebuah Suksesi Kepemimpinan di Ngastina menurut Teks-teks Pustakaraja Madya Karya Pujangga R. Wayang: Asal-usul. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi).Ng. Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa. Serat Mayangkara Karya R. Ng. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM. Supomo (1961). Satu Kajian Pada Karya Sastra R. terjemahan Dick Hartaka. Pengembangan dan Masa Depannya. Ranggawarsita: Sajian Teks-Terjemahan Pembahasan. Widyaseputra. Jakarta: CV. Ranggawarsita”. Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa. 3 No. Surakarta: Museum 42 Jumantara Vol. Pengembangan dan Masa Depannya. Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang.1 Tahun 2012 . Surjohudojo. Jogjakarta: Fakultas Sastra dan Kebudajaan Universitas Gadjah Mada. Naskah Sĕrat Gĕndrayana. Yogyakarta: Jurusan Sastra Nusantara. FPBS IKIP Yogyakarta. Analisis Struktural Serat Purusangkara. Cetakan III.

3 No. Naskah 46 B. Sĕrat Prabu Gĕndrayana II. Surakarta: Museum Sĕrat Yudayana. 155. Surakarta: Reksapustaka. Pura Mangkunegaran Surakarta.Radyapustaka Surakarta. Surakarta: Reksapustaka. Jumantara Vol. Naskah 46 A. Naskah 153. Surakarta: Museum Radyapustaka Surakarta. Naskah Radyapustaka Surakarta. Pura Mangkunegaran Surakarta.1 Tahun 2012 43 . Sĕrat Purusangkara. Sĕrat Prabu Gĕndrayana I.

3 No.1 Tahun 2012 . 44 Jumantara Vol. yaitu Hikayat Siti Islam. Teks. dan masyarakatnya. tokoh utama dalam sebuah manuskrip Aceh sekaligus menjadi judul dari manuskrip tersebut. Fokus utama penelitian ini tertuju kepada Siti Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami. menjelaskan tentang perilaku sosial lingkungan terhadap mereka. yang dewasa ini sudah menjadi manuskrip. *) Penulis adalah peneliti di Puslitbang Lektur – Balitbang Departemen Agama RI. Selanjutnya perbandingan teks dilakukan dengan manuskrip lain yang mengisahkan tentang perempuan lain bernama Siti Hazanah. Kata Kunci: Perempuan. dan mencari korelasi positif antara perilaku perempuan dalam teks dengan perempuan Aceh pada umumnya dalam kurun waktu masa lampau dan dewasa ini.Abstrak Penelitian ini mencoba menggali kembali ajaran dan praktik kehidupan sehari-hari perempuan Aceh dalam keluarga dan masyarakat yang dituangkan ke dalam tulisan pada masa lampau. Manuskrip Aceh. keluarga. Konteks.

sering perempuan dijadikan objek kesenangan laki-laki. 2003:416-419 dan Azhari Noer. mengurusi anak dan suaminya sendiri.2 Perempuan bukanlah diciptakan untuk 1 Untuk uraian lebih rinci tentang makna perempuan bagi Ibn Arabi. Laki-laki dengan bangga menjadi suami atas keberhasilan isterinya mempertahankan keluarga untuk menutupi kebutuhan keluarganya. Sering perempuan mendapat perlakuan tidak seimbang dan bahkan melecehkan derajat dan kehormatannya. Di luar rumah.1 Tahun 2012 45 . Sayyidah Nizam adalah salah seorang perempuan yang disebutkan Ibn Arabi yang dapat memberikan inspirasi kepadanya untuk menulis sekumpulan puisi dan telah memberikan pengaruh spiritual yang dalam kepadanya. dibalik fisik dan tenaganya yang lemah jika dibandingkan dengan kekuatan fisik laki-laki. Jumantara Vol. kadang disalahgunakan oleh lawan jenisnya. tidak berlebihan bila agama memperjuangkan hak perempuan dan bahkan menyamakannya dengan kaum laki-laki sesuai dengan fungsinya masing-masing. Karena itu. laki-laki yang menggunakan kekuatan dan kehebatan fisiknya untuk mencari kesenangan di bawah penderitaan isterinya. karena di tangan merekalah terletak kekuasaan yang terselubung. 2005: 1-8. fisik perempuan yang lemah.1 Namun. Mereka dapat memberikan inspirasi tertentu kepadanya. Ibn Arabi. 3 No. mulai dari mengurus rumah tangga hingga mencari nafkah di luar rumah. Dengan segala kelemahannya perempuan harus mengikuti perintah para suami. Kasus yang muncul di media masa dan televisi tidak jarang adalah kasus pelecehan dan perusakan kehormatan perempuan. sebagai tokoh sufi yang terkenal.Pendahuluan Perempuan merupakan lambang keberhasilan dan kekuatan sebuah keluarga dan negara. 2002: 220-222. mengakui akan kehebatan yang dimiliki perempuan. Sering terjadi permerkosaan dan perlakuan tidak senonoh dari para pecundang birahi. lihat Austin. 2 Untuk penjelesan lebih rinci lihat Quraish Shihab. Perempuan diperlakukan seperti budak demi kepuasan kaum lakilaki. Bahkan tidak jarang kepada kaum perempuan dibebankan segala tumpuan dan pekerjaan keluarga.

perempuan harus bersedia untuk tidak mengecap dan merasakan manisnya pendidikan formal. misalnya. para perempuan menjadi pekerja setia. Dari sisi lain. Di Aceh. Perempuan adalah sosok manusia yang hebat dan lemah. (Q. perempuan menjadi tonggak keluarga untuk keberhasilan sebuah rumah tangga. dijunjung oleh 3 Hasil Observasi dan wawancara langsung dengan sebagian penduduk Bali di Denpasar pada bulan Januari sampai April 1995. Di kalangan petani. melainkan juga di luar rumah. mulai dari mencabut. mulai dari menghadirkan dan menyiapkan makanan sampai mengurus anak dan suami. 46 Jumantara Vol. Dalam sejarah.1 Tahun 2012 . Mereka tidak hanya bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga untuk anak dan suami mereka. hingga memanen padi. menanam. 3 No. demi untuk mempertahankan saudara laki-lakinya bersekolah. kebebasan mereka diberikan untuk berjuang bersama kaum laki-laki untuk kepentingan agama dan bangsa. Perempuan harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga. Di pasar. Mereka harus rela melakukan apa saja untuk memperjuangkan saudara laki-lakinya dan suaminya sukses di luar rumah. para ibu-ibu menjadi pedagang paling dominan ketimbang para laki-laki. misalnya. Tidak hanya itu. Dalam Al-qur‟an disebutkan bahwa Segala sesuatu Kami menciptakan berpasangpasangan supaya kamu mengingat keesaan Allah. tidak hanya berada di rumah melainkan juga di luar rumah. perempuan juga menjadi tumpuan keluarga dan negara. (Umar. Istilah inong balee. melainkan untuk saling melengkapi. Di Bali3.melengkapi hasrat dan keinginan laki-laki. Dalam setiap suku yang ada di Indonesia. perempuan terlihat diberikan kebebasan dalam bergerak. Sehingga dalam sejarah muncul srikandi-srikandi Aceh dengan berbagai istilah mereka sandang demi memperjuangkan agama dan negara. sehingga sering disalahgunakan karena dua faktor tersebut. perlakuan terhadap perempuan hampir boleh dikatakan sama dan serupa. AlZariyat:49). 2000:16-17).S.

Sejauhmana korelasi positif antara perilaku perempuan Aceh dengan isi teks naskah? Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan kembali sejarah perempuan Aceh yang terdapat di dalam manuskrip. Secara rinci tujuan tersebut adalah: Jumantara Vol. Selanjutnya perbandingan teks dilakukan dengan manuskrip lain yang mengisahkan tentang perempuan lain bernama Siti Hazanah. Hal yang juga perlu dipertanyakan adalah apakah mereka mendapatkan kebebasan dan kehebatan seperti srikandi-srikandi yang telah harum namanya dalam sejarah. yang dewasa ini sudah menjadi manuskrip. Bagaimana kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami. 3 No. Karena itu. keluarga. yaitu Hikayat Siti Islam. Fokus utama penelitian ini tertuju kepada Siti Islam.Malahayati dalam menggerakan kaumnya melawan Belanda dan mempertahankan agama. Penelitian ini mencoba menggali kembali ajaran dan praktik kehidupan sehari-hari perempuan Aceh dalam keluarga dan masyarakat yang dituangkan ke dalam tulisan pada masa lampau. tokoh utama dalam sebuah manuskrip Aceh sekaligus menjadi judul dari manuskrip tersebut. Selanjutnya tidak semua perempuan Aceh menjadi srikandi.1 Tahun 2012 47 . Meskipun demikian. masih perlu dipertanyakan apa yang dimaksud dengan kebebasan yang mereka miliki dan sejauh mana kebebasan tersebut didapatkan. dan masyarakatnya? 2. Nasib sebagian mereka tentu berbeda dengan srikandi-srikandi yang sudah harum namanya. pertanyaan-pertanyaan yang dapat dirumuskan untuk penelitian ini adalah: 1. Bagaimana tanggapan lingkungan terhadap mereka? 3. tetapi juga terhadap perempuan-perempuan yang menjadi masyarakat biasa dalam kehidupan keluarga dan sosialnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pendorong saya untuk meneliti sejarah perempuan Aceh yang tidak hanya terfokus kepada para srikandi yang harum namanya dalam sejarah.

1 Tahun 2012 . Dapat mengungkapkan kembali khazanah tentang perempuan pada masa silam melalui manuskrip. Dapat menjadi referensi bagi peneliti khususnya yang bergelut dengan permasalahan gender. 3 No. sosial. 1998). Khan dalam The Jewel Affair. Reid menjelaskan bahwa terdapat kesetaraan perempuan di wilayah Asia Tenggara termasuk di dalamnya Aceh dengan kaum laki-laki dalam konteks yang memungkinkan keduanya bersaing secara langsung. The Sultana. 3. penelitian terkait dengan perempuan sudah sangat banyak dilakukan oleh berbagai pihak. keluarga.1. Untuk menjelaskan tentang perilaku sosial lingkungan terhadap mereka. Untuk mencari korelasi positif antara perilaku perempuan dalam teks dengan perempuan Aceh pada umumnya dalam kurun waktu masa lampau dan dewasa ini. Sher Banu A. her Orang Kaya and the Dutch Foreign Envoys. 2. Demikian juga halnya dengan penelitian khusus perempuan Aceh. Sejarah sudah banyak berbicara tentang perempuan Aceh dari berbagai segi. Hal ini ditemukan dalam berbagai peran ekonomi. L. yaitu sebagai perempuan politisi dan ibu atau sebagai pedagang dan ibu. 2. yaitu di dalam ekonomi dan politik. Dari sisi kajian terdahulu. Sedangkan manfaat dari penelitian ini diharapkan: 1. (Reid. Untuk mengetahui kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami. dan masyarakatnya. Dalam artikelnya. menunjukkan peran para sultanat sebagai perempuan dalam menjalankan 48 Jumantara Vol. mulai dari kiprah mereka dalam politik sampai kepada kehidupan sosial. Perempuan dalam kehidupan masa sekarang juga telah mendapat perhatian banyak peneliti untuk menelaahnya dari berbagai segi. perempuan mendapatkan dua peran sekaligus. Karena itu. Di antara penelitian yang terkait dengan perempuan Aceh adalah. dan politik yang dijalankan oleh perempuan dalam posisi mereka di keluarga dan masyarakat yang lebih luas. karya Anthony Reid Female in Southeast Asia.

Ia menggunakan manuskrip Melayu kuno dan cerita lisan untuk menjelaskan gagasan kekuasaan perempuan dalam tradisi kemaharajaan. (Siapno. 2002). yang dikenal sebagai pendiri kerajan Jumantara Vol.1 Tahun 2012 49 . namun tidak pernah dihargai keberhasilannya karena hal tersebut sudah menjadi tugasnya. Islam. 2011). Demikian juga dalam cerita tradisi lisan. Mereka dianugerahi empat orang anak Syahir Nuwi. Semua mereka berhasil dididik olehnya dan mereka kemudian menjadi penguasa negeri (imum tuha peut). Ia menjelaskan tentang peran perempuan dalam sejarah. dan literatur. Ia adalah putri Istana Jeumpa. yang melalui mereka telah muncul kejayaan-kejayaan untuk sebuah kerajaan. Syahir Pauli. khususnya Ratu Safiyatuddin dapat menjadikan barangbarang berharga. 3 No. dan Syahir Tanwi. Syahir Dauli.tugasnya sebagai pemimpin negara setelah Sultan Iskandar Tsani. Cooptation and Resitance dengan menggunakan metode sejarah. bukan untuk berfoya-foya. Dalam manuskrip yang menceritakan Putri Betung. Mereka. seperti intan permata. ia menemukan narasi yang mengedepankan perempuan supernatural. Putri Mayang Seuludang. yang memiliki kesaktian dan kekuasaan. adalah salah satu contoh perempuan yang diutarakannya. etnografi. untuk kekayaan dan kepentingan kerajaan. menikah dengan Pangeran Salman. semacam bidadari atau peri dari antah berantah. Jacqueline Aquino Siapno dalam karyanya Gender. telah mengelaborasi dan membuka khazanah penafsiran mengenai sejarah politik perempuan di Aceh. Namun pada akhirnya bidadari tersebut harus menjadi agen kekuasaan para lelaki sebagai penguasa yang nyata. Ia adalah ibu dari Sayid Maulana Abdul Aziz. Nationalism and the State in Aceh: The Paradox of Power. perempuan dijadikan sebagai orang yang mampu melakukan segalanya. Begitu juga dengan Putri Tansyir Dewi yang berasal dari Peureulak. Haslinda dalam bukunya Perempuan Aceh Dalam Lintas Sejarah Abad VIII – XIX menjelaskan tentang keberhasilan perempuan dalam membangkitkan negara dan agama sekaligus juga menjadi tumpuan keluarganya. (Khan.

yaitu dengan fokus kajian pada manuskrip yang diperkirakan ditulis pada abad ke-18 dan 19M. Penelitian ini berbentuk library research dengan model pendekatan kualitatif. (Haslinda. maka pendekatan antropologi menjadi penting. filologi dan kodikologi yang diperuntukkan pada kajian isi dan fisik naskah tersebut. Karena itu. dapat dilihat bahwa hanya Siapno yang menggunakan manuskrip sebagai salah satu sumber rujukan utamanya. sehingga direct participant ke dalam masyarakat dalam waktu yang relatif lama dan in depth interview dapat dilaksanakan dengan cermat dan teliti. 50 Jumantara Vol. 3 No. pendekatan intertekstual digunakan untuk membandingkan teks naskah yang menjadi fokus kajian ini dengan teks sejenis guna untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan topik kajian. 2008). yaitu budaya perempuan Aceh dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Namun demikian. Untuk melihat dan mendiskusikan perkembangan budaya pada masa sekarang dan relevansinya dengan teks naskah. pendekatan sejarah sosial digunakan untuk mengetahui konteks latar belakang muncul dan keberadaan naskah yang dikaji dan tentang refleksi perempuan Aceh dalam sejarah secara umum serta fakta yang ada dewasa ini. Siapno hanya menfokuskan kajian tentang perempuan yang berkaitan dengan tradisi kemaharajaan pada masa awal Islam. Untuk menelaah dua naskah yang menjadi sasaran penelitian ini perlu digunakan pendekatan interdisipliner.Islam Perlak pada tahun 840M. pendekatan antropologi. Penelitian ini mencoba mengisi kekosongan tersebut. Keempat. Kedua.1 Tahun 2012 . dapat disimpulkan bahwa penelitian tentang aktivitas perempuan dalam kehidupan sehari-hari dan ajaran yang berlaku padanya dengan berlandaskan manuskrip belum ada yang melakukan. pertama. Dari penelitian-penelitian di atas. Ketiga.

sedangkan iluminasi serta ilustrasi juga tidak diketemukan. sehingga ia menyatakan bahwa kertas yang ber-watermark seperti di atas besar kemungkinan diproduksi pada waktu modern. Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI pada tahun 2010.1 Tahun 2012 51 . Naskah ini memiliki ukuran 16X22 cm. Jumantara Vol. Tidak ada rubrikasi dalam teks. 1935. seorang masyarakat Aceh yang berdomisili di Dayah Tanoh. 3 No. karena ada beberapa halaman akhir telah hilang. Naskah ini kemudian didigitalkan oleh Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan. Naskah berjudul Hikayat Siti Islam ini. cap air seperti ini tidak dapat diidentifikasi tahunnya. diperkirakan naskah ini ditulis sekitar abad ke-19M. Pidie. kemungkinan karena teks naskah ini berbentuk cerita. 4 Menurut Heawood.Kiprah Perempuan dalam Manuskrip Tentang Manuskrip Siti Islam Deskripsi Naskah ini dikoleksi oleh Ampon Hasballah Dayah Tanoh. dan blok teksnya berukuran 10X16 cm. yaitu berbentuk sajak dan berbait-bait atau puisi. Aceh. Lihat Heawood. Alas tulis naskah ini adalah kertas Eropa yang memiliki cap air berbentuk bulan sabit dalam bentuk wajah manusia dilingkari pagar atau yang dalam bahasa Inggris disebut dengan moonface in shield. Tinta yang digunakan untuk menulis teks berwarna hitam. Churchill. sehingga tidak ada kata-kata yang perlu ada penekanan maknanya. 1986:84. karena Buku Heawood dan Churchill hanya memuat daftar watermark dan countermark yang berkisar antara abad ke-17 dan 18M. Berdasarkan cap airnya. tidak diketahui siapa pengarangnya. yang mungkin saja memuat informasi tentang pengarangnya. Naskah ditulis dalam bentuk hikayat.4 Tidak terdapat bagian halaman yang kosong dalam naskah ini. Kemungkinan besar tahun produksinya setelah abad ke-18M.

. Nyoe calitera nabi Muhammad soe yang ingat raya bahgia . kemudian singgah di beberapa negara dan di beberapa tempat di Aceh. karena lembaran akhir sudah hilang.. Naskah ini tidak memiliki kolofon. Cerita ini diberitakannya terjadi pada masa Rasulullah masih hidup. Dalam persinggahannya ia mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak yang mendengarkan ceritanya. Ia mengambil cerita ini dari Arab. Empat halaman pertama digunakan pengarang khusus untuk mengungkapkan bahwa cerita yang ditulisnya sangat diharapkan oleh siapa pun di dunia ini. hingga sampai di kampung halamannya.Naskah Siti Islam Teks naskah ditulis dengan menggunakan bahasa Arab dan Aceh. 3 No.1 Tahun 2012 .. na si‟at teuka si Nyak Ti dara agam taphôm makna 52 Jumantara Vol. sebagaimana disebutkan dalam teks: Nyoe hikayat Siti Islam . beraksara Arab dan Jawi. Ringkasan Isi Naskah ini berisi cerita (hikayat) fiktif dengan diiringi berita dari si pengarang terlebih dahulu..

Rajawali. Jumantara Vol. 3 No. Nabi sebagai tokoh yang dapat memecahkan dan mengatasi segala persoalan. diceritakan terlebih dahulu segala hal yang terkait dengan pengajaran terhadap perempuan dalam menghadapi suami dan rumah tangga. Bila tidak demikian. kedua. Pengajaran dan bimbingan diberikan langsung oleh Nabi dan tertuju kepada Siti Islam sebagai tokoh utama dalam cerita ini. patuh. Cerita dalam naskah ini menggambarkan cara hidup seorang perempuan pada masa Nabi yang bernama Siti Islam. yaitu: pertama. suami Siti Islam.1 Tahun 2012 53 . Pada awalnya. Nabi memberitahu bahwa perilaku wanita yang baik menurut agama adalah harus patuh. dan ketiga. dan melayani suami. maka para perempuan akan menerima azab balasannya di hari akhirat. dan penurut. Siti Islam yang digambarkan sebagai tokoh perempuan yang taat. yang melindungi dan menguasai Siti Islam dalam hidupnya setelah berumah tangga. penurut.Rupa jieh sa hana macam That taqwa uroe malam Terjemahan: Ini [hikayat ini diberi nama dengan] Hikayat Siti Islam… Ti Islam nan keurasoe hana macam that bakti Agar laki-laki dan perempuan yang masih muda dapat memahami artinya Siapa yang [mau] mengingatkannya sangat besar kesenangan Sebentar setelah itu datanglah Nyak Ti Ini cerita [masa] Nabi Muhammad… Wajahnya cantik tiada banding Sangat takwa [kepada Tuhan] siang dan malam Ti Islam namanya dipanggil Tiada ada tandingan sangat berbakti Cerita ini memiliki tiga tokoh utama.

1 Tahun 2012 . Begitu juga sebaliknya. laki-laki yang berhubungan dengan perempuan tersebut di luar nikah akan mendapat hukuman yang sama. Lalu bangun perempuan yang celaka Lalu di bahunya duduklah perempuan Pada laki-laki begini ditanyakan Dulu engkau suka kepada saya seorang Ketika saya tidak mau pada azeub siksa hana lawan nam plôh limeng tujôh lapan deungen ineng man saboh kawan lethat ineng jimoe sajan agam jiwa nibak badan jitanyeng meunoe lakuan lee ineng soe rimueng kuran lam taki-taki uroe malam meudeh meunoe lôn ta padan azab siksa tiada lawan enam puluh lima tujuh delapan dengan isteri sebuah kelompok banyak sekali isteri menangis laki-laki dipeluk badannya ditanyakannya apakah begini balasan oleh perempuan dengan suara harimau engkau bohongi siang malam berbagai cara engkau rayu aku 54 Jumantara Vol. Contoh dalam teks: Ureung lakoe yang celaka Jimoe sabee ureung ineng Azeub peudeh han pue tanyeng Jiduek ji eh ji jak ji deng ..Nabi kemudian menjelaskan tentang perempuan yang membangkang dan tidak menjaga hubungan baik dengan suami. bahkan mencari orang lain sebagai tempat pelariannya... 3 No.. Lom jibeudeh ineng ceulaka Trôh bak bahoe jiduek ineng Nibak agam meunoe jitanyeng Dilee galak keu lôn sidroe Oh han lôn tem yôh saboh uroe Terjemahan: Suami yang celaka Menangis selalu si isteri Azab pedih tidak dapat dikatakan Duduk tidur berjalan berdiri . Bagi mereka disediakan siksa yang sangat pedih di hari akhirat.

3 No. Seorang perempuan harus tunduk dan patuh kepada suaminya serta menjaga keharmonisan rumah tangga sesuai aturan agama. Nabi menjelaskan panjang lebar tentang ciri-ciri isteri yang baik yang dapat membawa kebahagiaan dunia dan akhirat serta akan mendapat balasan surga di akhirat. kepada Siti Islam kemudian diajarkan tentang bagaimana seharusnya kehidupan seorang isteri terhadap suami dalam berumah tangga.satu hari Siksa yang akan dialami oleh mereka yang tidak patuh kepada suami dan berselingkuh dengan laki-laki lain tidak akan pernah berhenti. karena Jumantara Vol. Disebutkan dalam teks sebagai berikut: hancô hutak lheuh ngen gaki teumar meuwolom misei suboh meunan azeub barang jan masa malam Jumu‟at yang na reuda la‟en nibak nyan buleun puasa la‟en nibaknya hana reuda Terjemahan: Hancur otak lepas kaki Lalu kembali seperti semula Begitulah azab sepanjang masa [Cuma] Malam Jumat yang reda [tidak disiksa] Selain itu pada bulan puasa Selain itu tidak perlah lekang dari siksaan tuleung ngen asoe jeut ka karam lom geusipak hana macam hana reuda uroe malam hana siksa ineng agam yang na reuda Ti Islam jih lam siksa hana macam tulang dan daging sudah tiada lalu disepak lagi dengan sangat keras tiada reda siang dan malam tidak disiksa laki-laki dan perempuan yang tidak disiksa [hai] Ti Islam mereka dalam siksa tiada tara Setelah mendapatkan pengajaran yang demikian panjang lebar.1 Tahun 2012 55 . kecuali pada hari Jumat dan bulan Ramadan.

Ia terus mendesak Nabi untuk menceritakan segala hal yang 56 Jumantara Vol. maka isteri harus minta izin kepada suami untuk mencari ilmu kepada ulama: Teumar guree nibak lakoe Adat banta lakoe gata Lake izin nibak lakoe Beuna izin nibak lakoe tameureunoe kebajikan bak ulama taberjalan suara bandum ban meunisan jak meureunoe iluemee Tuhan Terjemahan: Lalu bergurulah kepada suami belajarlah kebajikan padanya Bila suami anda tidak bisa kepada ulama engkau pergi Minta izin kepada suami suara dan tingkah laku semuanya harus manis Harus ada izin dari suami pergi menuntut ilmu Tuhan Siti Islam dengan tekun dan penuh khidmat mengikuti ajaran Nabi. si isteri harus selalu mencium lututnya dengan wajah tersenyum. Lam syuruga wahe Nyak Ti Diyub tapak gaki suami Terjemahan: Dalam surga wahai Nyak Ti Di bawah telapak kaki suami diyub gaki ureung agam ta deunge hai meunoe kalam di bawah kaki laki-laki dengarkanlah kalam seperti ini Sebagai contoh.1 Tahun 2012 . 3 No. Contoh teks: Oh woe lakoe geunap seupôt côm bak tu‟ôt barangkajan Terjemahan: Ketika pulang suami di waktu sore cium di lutut kapan saja Nabi juga menjelaskan bahwa seorang isteri harus menjadikan suaminya sebagai guru dan tempat belajar. Kalaupun tidak bisa seperti itu. setiap kali suami pulang.surga berada di bawah telapak kaki suami.

Siti Islam sangat sedih mendengar berita tersebut.1 Tahun 2012 57 . termasuk untuk keluar rumah. Siti Islam kemudian menerapkan segala ajaran dan bimbingan Nabi saw yang telah didapatnya. Atas petunjuk Nabi. Siti Islam menceritakan kepada 5 Dalam teks disebutkan bahwa keluar rumah menuju pasar membutuhkan waktu cukup lama. Ia tidak pernah berani bertindak tanpa seizin suami. Siti Islam pada awalnya tidak berniat untuk menikah. Di tengah-tengah pejalanan suaminya keluar kota5. Orang tuanya pun meninggal. Dalam membangun dan mempertahankan rumah tangganya. Jumantara Vol. Nabi memperingatkan agar Siti Islam tidak luput memperhatikan rambu-rambu yang perlu ditaati sebagai seorang isteri nantinya. 3 No. Ia adalah sosok perempuan yang patuh secara mutlak terhadap ajaran Nabi. Siti Islam memutuskan untuk tidak pergi melihat orang tuanya. orang tua Siti Islam sakit keras. Rajawali berniat hendak pergi jauh keluar wilayah kerajaannya karena ada urusan penting yang harus diselesaikan. namun dia tidak berani pulang ke rumah orang tuanya. Tidak boleh sama sekali berjalan bila tidak dengan seizin suami. Karena harus menjunjung tinggi amanah suaminya. Semua harta dan barangnya dititipkan kepada Siti Islam. Rajawali kemudian mengatakan bahwa Siti Islam dilarang keluar rumah sebelum ia pulang. Ia kembali pergi ke tempat Nabi dan bertanya tentang masalah yang dihadapinya. Mungkin pasarnya jauh di negeri lain.terkait dengan kehidupan isteri dan suami serta akibat-akibatnya. Siti Islam menyerahkan dan mengabdikan dirinya secara penuh kepada suaminya tanpa ada rasa penolakan sedikit pun. Dalam menjalani rumah tangga bersama suaminya. Nabi menjawab bahwa tindakan Siti Islam adalah benar. Dikatakan oleh Nabi bahwa Siti Islam akan mendapat pahala yang besar dengan sikap tersebut dan orang tuanya akan berada di tempat yang baik. karena takut tidak mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam rumah tangga. ia akhirnya menikah dengan seorang anak Sultan yang bernama Rajawali. Ketika suaminya pulang. karena anaknya yang taat kepada suaminya. Pada suatu hari.

Setelah itu. 3 No. kembali kepada Nabi untuk berkonsultasi tentang balasan dari apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang harus mereka lakukan setelah ibunya meninggal. Mereka bertiga sangat sedih dan jatuh dalam pelukan kerinduan dan keterharuan.1 Tahun 2012 .6 Naskah ini dapat 6 Naskah ini sudah musnah akibat tsunami pada tahun 2004. termasuk gedungnya yang juga menyimpan sejumlah naskah Aceh lainnya. ia sebenarnya mengizinkan Siti Islam pulang ke rumah orang tuanya untuk melihat mereka yang sedang sekarat.suaminya tentang peristiwa yang sudah terjadi selama suaminya tidak ada di rumah. pulang ke tempat orang tuanya. Bandingan dengan naskah Siti Hazanah Deskripsi Naskah ini adalah koleksi Balai Kajian Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional Aceh di Banda Aceh sebelum terjadi Tsunami tahun 2004 dengan nomor invetaris 007/NK/1998. Ibu dan ayah Siti Islam berbahagia di dalam kubur dan dapat merasakan kebaikan kedua anaknya. Suaminya kemudian menjawab bahwa. Ternyata ibunda Siti Islam masih hidup dan dalam keadaan sakit parah. Nabi menjawab bahwa tindakan mereka adalah pekerjaan yang terpuji. Sebelumnya naskah ini dikoleksi oleh Sulaiman di Aceh Besar. tetapi kopi naskah tersedia. Akhirnya keduanya. Mereka berdua diharapkan selalu berdoa untuk orang tuanya dan bersedakah untuknya. Siti Islam dan Rajawali. untuk segala hal yang terkait dengan orang tua. namun ayahnya sudah tiada. Siti Islam dan Rajawali. Rajawali menggerakan rakyatnya untuk mengadakan kenduri selama tujuh hari tujuh malam. karena pada tahun 2003 telah dicopy dan dibuat edisinya oleh Fakhriati atas dukungan dari Program 58 Jumantara Vol. Setelah ibunya meninggal. Ibunya kemudian mewasiatkan kepada Siti Islam agar ia tetap menjaga dan menghormati perintah dan larangan suaminya. ia mengeluarkan hartanya untuk memberi makan fakir miskin dan rakyat untuk mengharapkan pahala bagi orang tua isterinya. Meskipun naskah asli tidak ada lagi. Dengan sukarela.

1 Tahun 2012 59 . Dari jenis kertasnya. Jumantara Vol. Naskah Siti Hazanah ini tidak memiliki kolofon di akhir teks. kecuali kuras ketiga yang terdiri dari tujuh lembar. kemungkinan karena halamannya yang sudah hilang. Namun demikian tidak terlihat watermark dan countermark di atas garis-garis tersebut. FIB-UI.7 Naskah Siti Hazanah berukuran 26x17 cm dan ukuran teks 24x16cm dengan jumlah baris 20 dan 21 pada tiap halaman.dikatakan berasal dari Aceh Besar karena pengarangnya bernama Teungku Lam Ba‟it berasal dari Aceh Besar. yang masing-masing kuras terdiri dari delapan lembar.mungkin dapat dikatakan sebagai kolofon – yang memberikan informasi tentang nama pengarang dan judul naskah. Naskah ini memiliki ilustrasi dan iluminasi dalam bentuk bunga sulur. Sedangkan halamannya berjumlah 46 halaman dan setiap halaman terdiri dari 21 baris. ternyata naskah ini lebih layak diberi judul Kisah Siti Hazanah. Terkait dengan judul naskah. yaitu Hikayat Abdurrahman. Di beberapa halaman awal teks memang ditulis tentang kehidupan penggalakan Sumber-sumber Tertulis Nusantara. 3 No. gaya tulisannya terlihat agak berbeda dengan tulisan di teks utama. 8 Untuk diskusi tentang jenis-jenis kertas Eropa dan watermarknya dapat dibaca dalam makalah Fakhriati. Tulisan naskah berbentuk nastaklik dengan menggunakan tinta hitam untuk penulisan secara umum dan rubrikasi untuk penekanan pada kata-kata tertentu. Ada kemungkinan bahwa salah satu lembar naskah ini telah hilang. 2011. Namun demikian. Alas tulisnya adalah kertas Eropa dengan ciri bergaris tebal dan halus dengan bayang-bayang di antaranya. setelah dibaca isinya. dapat diprediksi bahwa umur naskah ini berkisar antara abad ke-19M. karena teks naskah ini bercerita lebih banyak dan lebih dominan tentang kisah Siti Hazanah dalam mengarungi kehidupannya di dunia. 7 Sebutan nama orang berdasarkan nama tempat bisa bermakna tempat ia berasal atau kepopulerannya dalam berkarier.8 Naskah ini terdiri dari tiga kuras. Namun demikian pada halaman awal terdapat tulisan dalam bentuk pyramid -.

ia menikah dengan Teungku Ahmad Qusyasyi9 dan hidup dalam rumah tangga yang mawaddah dan rahmah. Sejak lahir. Siti Hazanah sudah hidup sendirian dan hanya berteman dengan binatang di dalam hutan. karena Teungku berkehendak pergi ke Mekkah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Ahmad Qusyasyi adalah tokoh yang populer bagi masyarakat Aceh. Waktu luangnya hanya digunakan untuk bertafakkur. Mekkah. Sama seperti Siti Islam. 60 Jumantara Vol. yaitu di dalam hutan. Ringkasan Isi Teks naskah ini menceritakan tentang kehidupan Siti Hazanah yang sejak kecil berada dalam kesendirian dan kesepian setelah ditinggal wafat kedua orang tuanya. Ia dipelihara oleh malaikat dengan berpakaian dedaunan.orang tua Siti Hazanah. Abdurrahman. Dalam kehidupan rumah tangganya. Siti Hazanah juga menghormati suaminya dengan 9 Ahmad Qusyasyi adalah guru tarekat Syattariyah Abdurrauf al-Fansuri dari Arab. Selanjutnya ia menghadapi berbagai macam rintangan dan tantangan selama ditinggalkan suaminya ke tanah suci (Mekkah). Siti Hazanah tumbuh dan berkembang menjadi seorang gadis. Mereka kemudian hidup bersama dalam kekurangan di tempat yang jauh dari jangkauan manusia. yang bertemu dan kemudian menikah dengan isterinya. nama Ahmad Qusyasyi juga didapatkan di dalam naskah-naskah lain seperti Sarakata „surat raja-raja di Aceh‟. Siti Hazanah menyetujui menikah dengannya dan hidup bersama dalam waktu yang tidak terlalu lama. Selain itu. Nama tokoh Ahmad Qusyasyi menjadi populer di kalangan masyarakat Aceh sejak diketahui bahwa Tarekat Syattariyah merupakan tarekat yang paling populer di Aceh. 2008). Pada masa ini. yaitu Teungku Ahmad Qusyasyi. Setelah tumbuh besar. Nanggroe Aceh Darussalam). dan melayani suaminya. Teungku tersebut tertarik melihat tingkah laku Siti Hazanah sehingga ia ingin menikahinya. 3 No.1 Tahun 2012 . (lihat misalnya Sarakata uleebalang Cut Nyak Manfarijah yang berdomisili di Dayah Tanoh. Pidie. menambah pengetahuan agama. Siti Hazanah menyerahkan hidupnya untuk beribadah dan untuk suaminya. (lihat Fakhriati. ia bertemu dengan seorang laki-laki.

Saudara dari pihak suaminya berusaha menggangu kehormatannya.. Karena keteguhan dan kesufiannya.mencium lutut suaminya ketika ia pulang dari bepergian. 3 No. Siti Hazanah juga ditinggal pergi oleh suaminya. Siti Hazanah mendapat cobaaan yang cukup berat.1 Tahun 2012 61 . ia mendapat sambutan hangat dan kasih sayang dari binatang-binatang. Tanpa goyah sedikit pun dalam hati. Ketika berjalan menelusuri hutan dalam kesendirian. Ketika suami Siti Hazanah pergi ke Mekkah. Siti Hazanah mempertahankan dan memperjuangkan nama baik suami dan kehormatannya semaksimal mungkin. Ia kemudian mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya membela kebenaran dan Jumantara Vol. ia kemudian mendapat pembelaan yang tidak diduga-duga. ia hanya mengatakan: Lon keubah gata ubak Allah Terjemahan: Saya titipkan kamu pada Allah saya akan kembali dalam waktu dekat lon jak langkah rijang keunoe Pada masa ditinggalkan suami. Ia harus menderita karena siksaan masyarakat sekitar akibat ulah saudara suaminya. namun suaminya tidak berpesan seperti pesan suami Siti Islam. Tidak ada celah sedikit pun untuk orang lain bisa masuk untuk mengganggunya. Disebutkan dalam teks: Teungku Syekh neurah gaki Terjemahan: Setelah Teungku Syekh mencuci kakinya tuan Siti seumah lee reujang tuan Siti langsung menyembah di lututnya Sama seperti Siti Islam.

maka azab akan menimpanya di hari kiamat tanpa henti. namun dia juga diperkenankan untuk menyisihkan waktu untuk kepentingan pribadinya dalam hal beribadah kepada Allah SWT. harus melayani suami dengan baik. kecuali pada hari Jum‟at dan bulan Ramadan. Meskipun demikian. Seorang perempuan harus mendahulukan kepentingan suami dari pada kepentingan orang tuanya. karena syurga berada di bawah telapak kaki suami. Seorang perempuan harus menjadikan suami sebagai guru dan imam dalam hidupnya. khususnya perempuan. Pengarang menekankan akan pentingnya seorang perempuan berperilaku sesuai dengan tuntunan ajaran Islam agar mendapatkan kebahagiaan ukhrawi dan disenangi oleh suami. Bila tidak berlaku atau bersikap seperti di atas. Tugas seorang perempuan sepenuhnya melayani suami kapan pun dan dimana pun. 2) 3) 4) 5) Sementara dalam naskah Siti Hazanah. Pesan-Pesan dalam Teks Dalam kedua teks yang terdapat dalam dua naskah di atas terdapat pesan bahwa hendaknya seorang perempuan dalam mengarungi rumah tangga dan menghadapi masyarakat sekeliling harus sesuai dengan ajaran Islam dan tuntunan Nabi. Dalam naskah Hikayat Siti Islam. pesan yang dapat diambil adalah: 1) Seorang makhluk Allah. 3 No.1 Tahun 2012 .menjaga kehormatan suaminya. dalam kehidupan praktis yang dialami kedua perempuan tersebut. pesan yang dapat dipetik adalah: 1) Seorang perempuan harus benar-benar tunduk dan patuh kepada suami. terdapat beberapa perbedaan pesan yang dapat dipetik. 62 Jumantara Vol.

Seorang perempuan harus mampu menjaga kehormatan dirinya. terutama kepada orang tuanya. Siti Islam berada dalam lingkungan yang menganut budaya patrilineal. Seorang perempuan diharapkan dapat mencapai tujuan hidupnya yang utama. meskipun ia harus menahan hatinya untuk tidak menjenguk orang tuanya yang sakit.1 Tahun 2012 63 . Siti Islam mendapatkan seorang suami yang kaya dan berpendidikan agama yang tinggi. Demikian juga dengan suaminya. meskipun berada dalam lingkungan yang tidak mendukung kepadanya.2) 3) 4) Seorang perempuan harus bisa berperilaku baik kepada kepada suami dan kepada siapa pun makhluk Allah yang ada di dunia. Ia memberikan peluang kepada Siti Islam untuk menjaga hartanya. sehingga ia dapat menerapkan segala bentuk pengajaran dari Nabi yang didapatkannya sebelum menikah. yaitu mencapai tingkat yang paling tinggi dalam kesufian berupa makrifatullah. Siti Islam benar-benar taat kepada perintah suaminya. dan sekaligus berbuat baik kepada orang lain. Siti Islam harus mengalami kesedihan dan kehancuran hati karena tidak dapat bertemu dengan orangtuanya yang sedang sekarat. Perilaku Lingkungan Siti Islam dan Siti Hazanah Lingkungan Siti Islam yang tersebut dalam naskah pertama berbeda dengan lingkungan Siti Hazanah dalam naskah kedua. lingkungan Siti Islam sangat mendukung kehidupan dan perilaku Siti Islam yang telah dibentuk sebelumnya. Ia menghormati dan melayani suaminya sebagaimana diajarkan Nabi. Meskipun demikian. Siti Islam selalu menjunjung tinggi pesan-pesan suaminya. hanya disebabkan belum ada izin suaminya untuk pergi ke rumah orang tuanya. Ia sangat sayang kepada Siti Islam sebagai isteri yang sangat baik baginya. Jumantara Vol. 3 No. yaitu seorang isteri harus berada penuh di bawah naungan dan pengawasan suami. Isteri tidak dibenarkan keluar dari pantauan dan pengawasan suami sedikit pun.

3 No. Kondisi masyarakat luas lainnya yang berada di lingkungan Siti Islam juga sangat mendukung kehidupan dan perilaku Siti Islam dan suaminya. tidak menjadi larangannya. sehingga mereka pun dapat hidup dalam rumah tangga yang mawaddah dan rahmah. Pelayanan yang sempurna kepada suami sangat ditekankan oleh orang tuanya. ibunya tidak keberatan bila Siti Islam tidak menjenguknya. 64 Jumantara Vol. kapan dan di mana pun. Ketika mereka berdua harus melaksanakan ritual atas meninggalnya orang tua Siti Islam.membahu mensukseskan acara tersebut. namun Siti Islam tidak berani keluar rumah. seluruh masyarakat dan rakyat yang ada di wilayah tempat tinggal Siti Islam dan suaminya membantu dan saling bahu. Berbeda dengan lingkungan Siti Islam. Di dalam teks disebutkan: Meunyo tawoe saket umi Hana lôn tham saket umi Terjemahan: Bila engkau pulang untuk lihat ibu sakit Tidak saya larang pada sakit umi selama lôn bri wahe Intan geugrak pakri hai buleun trang selamanya saya izinkan pergi saja hai Bulan terang Ibu Siti Islam juga memberi dukungan penuh kepadanya agar selalu setia kepada suami. Hal ini terjadi karena suami Siti Islam sendiri adalah raja yang berhasil memimpin umatnya.Hal ini dapat dilihat ketika ia mendengar keluhan Siti Islam tentang orang tuanya yang sedang sakit. Suaminya memberitahu Siti Islam bahwa untuk berkunjung kepada orang tua. Karena itu. karena belum ada izin suaminya. dikarenakan belum adanya izin suami. Ia bahkan mampu menyendiri ke hutan untuk mencari ketenangan hidup dan mencapai tujuan kesufian tingkat terakhir. Siti Hazanah mendapat kesempatan untuk keluar rumah dan mempertahankan dirinya sebagai perempuan suci di hadapan masyarakat luas.1 Tahun 2012 .

sehingga Siti Hazanah mendapatkan ketenangan hidup. yaitu makrifatullah. Di sisi lain. Lifestyle Perempuan Aceh Dan Isi Teks Dua naskah di atas memberikan gambaran dan pengajaran kepada perempuan Aceh dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Karena tidak berhasil untuk mengotori kehormatan Siti Hazanah. 3 No. Di satu sisi. Mereka bahu membahu memberi bantuan dan perlindungan kepada Siti Hazanah. termasuk kebutuhan untuk beribadah. Ia dapat menjalankan ibadah dengan baik sampai akhirnya ia mendapatkan derajat paling tinggi dalam kesufiannya. Lingkungan di hutan yang terdiri dari berbagai macam binatang sangat sayang kepada Siti Hazanah. Ia memberikan kebutuhan isterinya dalam berbagai sisi. ia pun dengan beraninya menjelekkan dan memfitnah Siti Hazanah di hadapan masyarakat luas. Naskah ini juga menunjukkan bahwa salah satu ciri perempuan Aceh adalah patuh kepada ajaran agama dan tangguh menghadapi segala cobaan dan rintangan. Siti Hazanah hidup dalam lingkungan yang kurang menguntungkan bagi dirinya. Isi naskah Hikayat Siti Islam diperuntukkan kepada Jumantara Vol. Tanggapan masyarakat menjadi keliru terhadap Siti Hazanah.Meskipun demikian. namun sebagai manusia ia memiliki keterbatasan.1 Tahun 2012 65 . Segala fitnah dan penyiksaan dari masyarakat luas ditimpakan kepada Siti Hazanah. dan masyarakat. Siti Hazanah akhirnya memutuskan untuk keluar dari kampung tersebut dan pergi menyendiri di hutan serta berpisah dengan suaminya. Siti Hazanah menerimanya dengan penuh kesabaran dan ketabahan. terutama suami mereka. keluarga suaminya tidak menghargai Siti Hazanah sebagai bagian dari keluarganya yang perlu dilindungi dan dijaga kehormatannya. keluarga. Adik suaminya berani mengganggu Siti Hazanah yang sedang sendirian karena ditinggal suami untuk pergi haji. suami Siti Hazanah sangat sayang kepada isterinya.

pengajaran seperti yang terdapat dalam hikayat tersebut dijumpai dalam bahan ajar untuk santri. perempuan harus secara total berada di bawah penguasaan suami. ketika menjumpai guru pulang dari Mekkah. Tradisi tersebut juga diberlakukan kepada orang yang patut dihormati. 3 No. terutama pada masyarakat tradisional yang tinggal di desa dan dayah. Pidie. suami adalah orang yang patut dihormati. Demikian juga. Tidak hanya itu. Pada intinya. agar dapat dicontoh oleh perempuan Aceh pada umumnya. terutama dengan suami diuraikan secara detail. Di dayah Darussaadah dan Darussalam Teupin Raya. mereka juga membaca kitab-kitab lain. serupa dengan seorang guru. Tradisi yang masih sangat jelas dilihat di Aceh adalah tradisi mencium lutut ketika suami pulang dan datang dari jauh atau pada hari-hari tertentu. Setiap santri dan masyarakat kampung lain mencium lutut gurunya ketika bertemu untuk belajar dan ketika selesai belajar. 66 Jumantara Vol. dan salah satu cara penghormatan adalah dengan mencium lututnya. seperti kitab fikih terkait dengan hal yang layak dan tidak layak dilakukan. hal seperti yang diungkapkan dalam naskah di atas sebagian besar telah diterapkan oleh perempuan Aceh. yang belum terkontaminasi oleh budaya luar. misalnya guru mereka. Bacaan-bacaan dari berbagai kitab yang disediakan di dayah menjadi tauladan dan pedoman mereka dalam bergerak dan bertindak di dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari. misalnya. dan hal yang dianjurkan dan tidak dianjurkan agama dalam berumah tangga dan bermasyarakat.perempuan Aceh agar mereka dapat membaca dan mengikuti ajaran dan perilaku serta konsep yang wajar menurut Islam.1 Tahun 2012 . seperti hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Para perempuan/isteri pada umumnya tunduk dan patuh kepada suaminya tanpa mengharap imbalan apa pun selain rida dari Tuhannya. yaitu yang sesuai dengan ajaran Nabi. tradisi ini masih berlaku hingga sekarang. Cara kehidupan sehari-hari yang harus dipraktikkan dalam kehidupan berumah tangga. Karena itu. Di dayah.

agama dan negara mereka telah diabadikan dalam sejarah. Pedir dan Aceh Darussalam11. dan Aceh Besar. Cut Meutia. Aceh Utara. Anak Meurah Jeumpa.Di desa-desa yang dekat dengan dayah. (Haslinda. Putroe Manyang Seuleudong atau ada yang menyebutnya dengan Dewi Ratna Keumala.10 Ketangguhan seorang perempuan dalam berjuang mempertahankan agama dan kehormatan dirinya seperti yang diceritakan dalam naskah kedua juga terlihat dalam jati diri perempuan Aceh. Perempuan dari suku Aceh dikenal dengan sifat dan wataknya yang agamis. berani. dan para inong balee lainnya. Setelah selesai ijab qabul. Contoh lain tokoh-tokoh perempuan Aceh yang berani berada di garis depan dalam berjuang melawan penjajah Belanda yang ingin meruntuhkan agama dan negara adalah Cut Nyak Dhien. baik dalam memperjuangkan keluarganya maupun agama dan negara. yang cantik rupawan serta cerdas dan berwibawa telah mendukung karir dan perjuangan suaminya sehingga berhasil mengembangkan sebuah Kerajaan Islam yang berwibawa di wilayah tersebut. Sebagaimana contoh yang diuraikan dalam sejarah. maka hal yang pertama sekali dilakukan isteri adalah mencium lutut suami sebagai tanda penghormatan awal kepada suami. Pasai. dan tangguh. 2008:14). namun dalam setiap tindakan yang mereka 10 11 Hasil observasi di wilayah Pidie. Selanjutnya dikatakan kerajaan tersebut menjadi cikal bakal lahirnya Kerajaan Islam lain di wilayah Perlak. Gerak dan langkahnya yang tiada mengenal lelah telah mewarnai sejarah Aceh.html Jumantara Vol. Ketangguhan mereka dalam menghadapi dunia yang tidak sejalan dengan kepribadian.tk/2011/04/putroe-jeumpa-manyang-seuleudongmaha. seorang isteri diwajibkan mencium lutut suami pertama sekali adalah ketika berlangsungnya acara pernikahan.1 Tahun 2012 67 . 3 No. tentang seorang perempuan di Bireun yang telah berhasil mendorong suami dan anak-anaknya untuk menjadi raja. Malahayati. Dapat dikatakan bahwa keberhasilan Aceh dalam sejarah sebagiannya adalah karena campur tangan perempuan Aceh. Lihat http://www.atjehcyber.

perempuan Aceh mampu berperan sebagai isteri yang sabar menanti suaminya pergi berperang dan dengan setia menjaga anak-anaknya. ia tidak bisa dengan leluasa berjuang di tengah-tengah masyarakat banyak. Kali ini suaminya meninggal di tanah suci. Kehidupan mereka tetap berada di bawah penguasaan suami. apalagi untuk berjuang. suaminya kemudian meninggal lagi. bergerak melawan penjajah. Aduhai do ku do da idi (Aduhai do ku do da idi) Meurah Pati ateuh awan (Burung Merpati di atas awan) Beuridjang rajeuk Banta Saidi (Cepat Besar Anakku Sayang) 68 Jumantara Vol. namun masalah timbul lagi. Setelah suaminya meninggal. pada masa perjuangan melawan Belanda. Akhirnya ia menikah untuk ketiga kalinya. Di dalam rumah tangga. apalagi untuk beribadah. (Ismail. Ia lalu berniat ingin melaksanakan ibadah haji. Malahayati berjuang melawan penjajah melanjutkan perjuangan suaminya yang telah mendahuluinya di laut. ia bergerak mengumpulkan perempuan-perempuan lain untuk berjuang melawan Belanda.lakukan telah mendapatkan izin sebelumnya dari suami mereka. Teungku Fakinah dari Lam Krak. adalah contoh perempuan Aceh lainnya yang memiliki semangat dan jiwa yang luhur untuk memperjuangkan agama dan negaranya. Akan tetapi dalam berjuang. Akhirnya ia memutuskan untuk menikah lagi. Cut Nyak Dhien melakukan perjuangan terhadap Belanda atas izin suaminya. Ia pergi berdampingan membantu suaminya terjun ke dalam medan perang. yaitu tidak adanya suami sebagai muhrim untuk pergi jauh. karena pandangan masyarakat umum menjadi tidak bagus bila ia sendirian tanpa ada laki-laki yang mendampinginya pergi keluar. Aceh Besar (1856 .1 Tahun 2012 . Cut Meutia.1933M). Pada mulanya ia mendukung penuh suaminya untuk berjuang melawan Belanda. Dalam lirik lagu yang disenandungkan bagi anak-anak balita. Ia kembali berdiam di dayah dan mengajar mengaji para santrinya. tercermin peran mereka. 2004:31-44). 3 No. atas izin suaminya. Meskipun demikian.

2004:114-122). karena di luar dia harus dijaga oleh suami sebagai muhrimnya. Siapno mengatakan bahwa kebebasan perempuan Aceh tidak sepenuhnya berlaku. Terkadang para suami memanfaatkan kesempatan ini dengan 12 Lihat http://www. (Muslikhati. tetap berada di bawah pengontrolan suaminya. Perempuan berbeda dengan laki-laki dalam hal kekuatan fisik sehingga ia perlu mendapatkan perlindungan dari laki-laki. Kemudian perempuan mendapatkan tempat lebih banyak di rumah untuk menjadi sebagai ibu dan menjaga keluarga dan harta suaminya. (Shihab: 2005. Selanjutnya perempuan adalah makhluk yang dipimpin oleh laki-laki karena adanya ayat yang mengatakan bahwa laki-laki sebagai qawwam. meskipun dia berada di luar rumah untuk kepentingan umat dan agamanya. Perempuan Aceh sangat taat kepada agama. Tidak ada pilihan lain.1 Tahun 2012 69 . 3 No. Pertama. 2002). Pengaruh pendidikan ini telah membuat perempuan Aceh secara mutlak tunduk dan patuh kepada orang tua sebelum menikah dan kepada suami setelah menikah.Djak Prang Sabi Bela Agama (Pergi ke Medan Perang Membela Agama)12 Karena itu dapat dikatakan bahwa setiap aktivitas perempuan Aceh. Mereka tetap berada di bawah kekuasaan laki-laki. Adalah kewajiban orang tua untuk memasukkan anak perempuannya ke pendidikan agama. Ajaran Islam telah mengatur hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki sesuai dengan fungsinya masing-masing. Kejayaan menguasai negara juga tidak sepenuhnya berada di tangan perempuan. Meskipun ayat tersebut diperuntukkan kepada laki-laki yang mencari nafkah.html Aceh/12981-Posisi-Perempuan-Dalam-Politik- Jumantara Vol. karena didikan orang tua untuk menyantri. yaitu pendidikan menyantri di pesantren. Selain dari itu. pengaruh didikan orang tua yang sejak kecil menanamkan pendidikan Aagama dan cara bergaul Islami. setidaknya ada tiga faktor yang membentuk gaya hidup perempuan Aceh seperti tersebut di atas. (Siapno.Gender Melayu-Aceh. 338-339).

memperlakukan isterinya sekehendak hati. juga mampu berperan di luar rumah. tepatnya pada tahun 1919M. dimanfaatkan oleh lawan jenisnya untuk mengambil berbagai keuntungan. Tempat pengaduannya hanyalah Tuhan yang Maha Esa. Belanda. lingkungan yang mendidik mereka untuk berjiwa besar dan tangguh. Perempuan sepertinya tidak kuasa untuk melawannya. 3 No. idiom untuk perempuan sebagi isteri adalah njang po reumoh (yang memiliki rumah) (Siegel. Melalui dayah juga. berfungsi melayani suami dan menjadi ibu untuk anak-anaknya sebagai hal yang mutlak. Dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya para isteri hanya bisa pasrah dan kembali kepada Tuhan yang Maha Esa. Hal ini tetap berlangsung sampai dewasa ini. Ketiga. Jepang. mulai dari perjuangan menghadapi Portugis. dan sebutan umum untuk isteri oleh suaminya menjadi peureumoh. Hal ini tersirat maknanya bahwa seorang isteri tempatnya di rumah. (Kern. mencari 70 Jumantara Vol. Kedua. 1969:51) di dalam rumah tangganya. 1979: 26-27). Reaksi Sosial Terhadap Perilaku Perempuan Di Aceh Model kehidupan yang dipraktikkan oleh perempuan Aceh. kadang. Aceh Utara. seorang santri perempuan berani melakukan perjuangan untuk kepentingan agamanya dengan membunuh kontroler Belanda. kemudian. Pada masa perjuangan melawan Belanda. di Matang Kuli.1 Tahun 2012 . karena kondisi politik dan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sebagian besar tertumpu kepada mereka. Perempuan Aceh hidup dalam sejarah perjuangan yang cukup panjang. Selanjutnya. ia bermimpi bertemu dengan Nabi. terbentuk pola pikir perempuan Aceh untuk mempertahankan agama lebih dari segalanya. isteri. dan Nabi memerintahkan untuk membunuh kafir yang mengganggu agama dan negaranya. pengaruh pendidikan tradisional yang agamis yang diperoleh dalam menyantri di dayah selama bertahun-tahun. Dikatakan bahwa pada waktu malam hari. dan kemudian setelah kemerdekaan konflik telah terjadi berkali-kali di Aceh.

Di dalam teks disebutkan: Oh neupajôh bu jirah jaroe Ketika makan suami dia [Siti Islam] mencuci tangan suaminya Mungkin aktivitas utama perempuan ada di sektor domestik sesuai dengan fitrahnya sebagai perempuan yang berbeda dengan laki-laki.. (Reid. dan mengikuti keinginannya adalah mengalahkan semua itu. sampai pada tahap mencuci tangan suami bila ia hendak makan. Mereka diizinkan para suami mereka untuk keluar rumah mencari nafkah.nafkah untuk kebutuhan keluarganya. terutama suaminya.. (HR alBaihaqi). Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Baihaqi. yaitu bahwa seorang isteri kadang harus menyuapi atau memasukkan makanan ke dalam mulut sang suami.. Pada abad 16-17M. sebagaimana dipaparkan dalam naskah bahwa Siti Islamdengan segala sukarelanya melayani suaminya hingga dalam bentuk yang sekecil-kecilnya. Penyalahgunaan kemampuan perempuan pun muncul. bahwa kebaikan salah seorang di antara kalian (para perempuan) dalam memperlakukan suaminya. 2004:127-129. yaitu. membesarkan anak-anaknya. mencari keridaan suaminya. dipaksa memeras tenaganya lahir dan batin dalam menanggung beban keluarga.13 Tekait dengan penyalahgunaan kemampuan yang dimiliki 13 Untuk isi hadis secara keseluruhan dan cerita lebih rinci lihat Muslikhati. 2006). tidak untuk mencari nafkah di luar. 3 No. Nabi memberikan jawaban kepada pertanyaan yang diajukan oleh seorang perempuan yang mewakili perempuan lain. Mungkin menjadi wajar bila isteri melayani suami hanya di rumah saja. Tidak jarang perempuan Aceh diperlakukan buruk oleh para lelaki. perempuan Aceh telah menunjukkan kemampuan untuk melakukan dua fungsi tersebut.1 Tahun 2012 71 . Jumantara Vol. serta tidak luput juga melayani suami yang tinggal menunggu yang sudah jadi dan masak. Bahkan kadang lebih tragis lagi.. Pergilah kepada perempuan mana saja dan beritahukanlah mereka yang ada di belakangmu.

23 – 24 February 2009. dewasa ini. yang masih tersisa dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Eksploitasi terhadap perempuan mungkin tidak hanya ditinjau dari sisi keinginan dan kemauan para laki-laki saja. 3 No. Di Batak. 2002:91-101). (Siapno. meskipun sudah dimodifikasikan dengan ajaran Islam. yaitu masa sebelum datang Islam. akan tetapi juga pengaruh budaya masa lampau. keluarga dan saudara pihak suami dalam menyiapkan segala kebutuhan rumah tangga dan dapat mencari nafkah di luar15. Sebuah Tradisi Ritual Sosial Masyarakat Pasee dalam Perpektif Tradisionalis dan Reformis‟ artikel dipresentasikan pada International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. Cerita lisan juga didapatkan dari rakyat Aceh tentang kisah kehidupan keluarga Pak Pande.perempuan. seorang isteri dikatakan baik bila ia dapat menunjukkan keberhasilan mengurus suami. Tradisi seperti di atas. Perempuan yang baru menikah sering kali disendaguraukan oleh keluarga pihak suami bahwa dia harus tunduk dan patuh dan melayani suami serta keluarga karena sudah dibeli. Kemungkinan besar hal ini didasarkan kepada tradisi pernikahan yang berlaku di Batak. maka para perempuan bertugas menanam padi sementara suami duduk di atas rangkang menonton isteri bekerja. „Peusijuek.1 Tahun 2012 . Indonesia. akan tetapi di wilayah lain juga. ibarat dagangan yang 14 Pengaruh kental dari budaya Hindu di Aceh masih dapat dilihat dalam cara pelaksaaan ritual peusijuek (tepung tawar). sementara Pak Pande sendiri bermalasmalasan menunggu dari hasil yang dibawa oleh isterinya untuk kebutuhan rumah tangganya. seperti Batak. di desa-desa masih ditemukan lelaki beristeri yang duduk berjam-jam di kedai kopi menghabiskan waktu untuk menunggu si isteri pulang kerja dan selesai memasak. Budaya Aceh sangat mungkin masih diwarnai sisa pengaruh budaya Hindu14 meskipun sebenarnya ajaran Islam lebih mendominasi. Lihat karya Saifuddin Dzuhri. Bila mereka pergi ke sawah. 15 Hasil observasi dan wawancara dengan perempuan-perempuan asal Batak. tidak hanya berlaku pada perempuan Aceh. 72 Jumantara Vol. Isteri Pak Pande adalah orang yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarganya. Banda Aceh.

1 Tahun 2012 73 . isteri hanya melahirkan saja. Boli dan tuhor ini. (Parsadaan Marga Harahap. keluarga. Dia tidak memiliki hak sama sekali untuk mengatur dan membuat keputusan dalam rumah tangga. meskipun tidak separah pada suku Batak dan Bali yang Jumantara Vol. Setelah diberikan tukon (mahar) perempuan dianggap seperti barang yang sudah laku dan dia seratus persen berada di bawah kekuasaan suami dan keluarganya. Penutup Kisah perempuan dalam dua manuskrip Aceh yang menjadi fokus dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai refleksi gaya hidup perempuan pada umumnya di Aceh. Korelasi positif ditemukan dalam sikap dan tingkah laku serta gaya hidup perempuan. baik dalam sejarah maupun dalam kehidupan sekarang ini pada masyarakat pedesaan. Karena itu. terutama mereka yang tinggal di pedesaan terpencil dan jauh dari pengaruh budaya luar. berubah maknanya menjadi mahar yang diserahkan kepada pihak calon isteri. Tradisi seperti ini memiliki kemiripan dengan tradisi yang berlaku pada masa Majapahit. dan bila juga terjadi. Kata beli dalam bahasa Batak disebut dengan boli atau disebut juga dengan tuhor. 2006:251-253). yang menandakan bahwa perempuan tersebut sudah sah menjadi isteri suaminya. maka ayahnya dapat menceraikan anaknya. Hal ini terjadi karena pengaruh sistem budaya lokal dan kemudian dipadukan dengan budaya dan ajaran Islam. Seperti dalam hal mencari jodoh anaknya si ibu tidak punya hak sama sekali untuk menjodohkan anaknya. dan anaknya. 1993: 270-271). yaitu mereka berada pada posisi di bawah kekuasaan laki-laki. 3 No. kemudian setelah datang Islam. Kehidupan mereka diwarnai sifat patrilineal. gaya hidupnya sudah dipengaruhi oleh gaya hidup „modern‟ yang datang dari berbagai budaya di dunia.sudah dibeli. Anak adalah milik suami. Dalam rumah tangga. (Muljana. sementara perempuan yang tinggal di perkotaan. si isteri hanya berfungsi sebagai pelayan semata untuk suami. dapat dikatakan bahwa bias gender masih sangat kentara untuk suku Aceh.

penelitian untuk kajian perempuan masih harus terus dilakukan untuk mengungkapkan budaya-budaya pada masa lampau yang menjadi bagian hidup perempuan. dalam Warisan Sufi. Saifuddin (2009). J. Makalah International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. Jakarta: Balitbang dan Diklat Departemen Agama RI. Jakarta: Gramedia. diedit oleh Ali Munhanif. 3 No.A. Kautsar dan Oman Fathurrahman (2002). Fakhriati (2008). Banda Aceh. Watermarks in Paper in Holland. Jogjakarta: Pustaka Sufi. Churchill. Azhari Noer. “Peusijuek. dalam Mutiara Terpendam: Perempuan dalam Literatur Islam Klasik. diterjemahkan oleh Ade Alimah dkk. 23 – 24 February 2009. Sebuah Tradisi Ritual Sosial Masyarakat Pasee dalam Perpektif Tradisionalis dan Reformis”. (2003). Karena itu. Dhuhri. Ismail. (1935). England. Amsterdam: Enno Hertzberger & Co. R. karena diketahui bahwa Aceh adalah salah satu gudang manuskrip Nusantara. Daftar Pustaka Austin. W. France in the XVII and XVIII Centuries and their Interconnection. Selain dua manuskrip di atas. Indonesia. “Teungku Fakinah: Profil Ulama dan Pejuang Perempuan Aceh”. “Feminin Sofianik (Perempuan Bijak) dalam Karya Ibn Arabi dan Rumi”. dalam Ensiklopedi Pemikiran 74 Jumantara Vol. Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh melalui Naskah. “PriaPerempuan sebagai Korespondensi Kosmis: Perempuan dalam Literatur Tasawuf”.. Nurjannah (2004). diedit oleh Seyyed Hossein Nasr dkk. masih banyak manuskrip Aceh lainnya yang menceritakan tentang hal yang berkaitan dengan perempuan di Aceh. W.1 Tahun 2012 .masih memperlakukan perempuan sebagai manusia kedua setelah laki-laki dan membebani mereka dengan pekerjaan di dalam dan di luar rumah tangga.

Jakarta: Gema Insani.3. Umar. Berkeley: University of California Press. Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Nasaruddin (2000). ---------------------. Siegel. Nationalism and the State in Aceh: The Paradox of Power. Paradigma baru Teologi Perempuan. Slamet (2006). No. “Female Roles in Pre-Colonial Southeast Asia”. Trans. Horja Adat Dalihan Natolu. Jakarta: Fikihati Aneska. R. The Rope of God. Jakarta: Lentera Hati. hlm. Bandung: Grafiti. Kodrat Perempuan dalam Islam. James T (1969). 629-645. Gender. Shihab. Edward (1986). Co-optation and Resitance. Siti (2004). Jumantara Vol. Singapore: Singapore University Press. Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan dalam Timbangan Islam. Parsadaan Marga Harahap Dohot Anak Boruna (1993). Amsterdam: The Paper Publications Society. Anthony (eds. Yogyakarta: LKiS.(2000). Watermark: Malay of the 17th and 18th centuries. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Siapno. London: Routledge-Curzon. Muslikhati.n]: Pelita Hidup Insani. M.Ulama Aceh. Muljana. Jakarta: Fikahati Aneska. Haslinda (2008). Anthony (1988). 22. IAIN Ar-Raniry Press.1 Tahun 2012 75 . Heawood. (1979). Reid. Verandah of Violence: the Background to the Aceh Problem.) (2006). Quraish (2005). Special Issue: Asian Studies in Honour of Professor Charles Boxer. Perempuan Aceh dalam litas sejarah Abad VIII – XXI. 3 No. Hasil Penyelidikan tentang Sebab Musabab terjadinya Pembunuhan. By Aboe Bakar. Jacqueline Aquino (2002). Modern Asian Studies Vol. Syahrul. A. Kern. [s. Perempuan. Islam. Reid.

3 No.1 Tahun 2012 .Gender Aceh/12981-Posisi-Perempuan-DalamPolitik-Melayu-Aceh.html. 76 Jumantara Vol. http://www.atjehcyber.html.tk/2011/04/putroe-jeumpa-manyangseuleudong-maha.Situs Web: http://www.

judul. 16 Kata-kata ini bisa ditemukan pada baris-baris akhir Kropak 408 (Sewaka Darma).com. dengan pertimbangan bahwa di Perpustakaan Nasional tersimpan NSK dalam jumlah terbesar. dan waktu penulisan naskah. Kedua. dkk (1987:72) sebagai “ditulis di jalan”. Bergiat di Rumah Baca Buku Sunda. 3 No. tempat.1 Tahun 2012 77 . serta tempat dan waktu penulisan NSK. yang diterjemahkan oleh Saleh Danasmita. Bisa dihubungi melalui surat elektronik. Kolofon. dan Sanggar Sastra Kampus (Sasaka) UIN Sunan Gunung Jati. saya melakukan analisis atas penulis-penyalin.Abstrak Tulisan ini bermaksud memetakan hal-hal yang berkaitan dengan kolofon Naskah Sunda Kuna (NSK). Kata Kunci: Naskah Sunda Kuna. tempat. di samping yang disimpan oleh masyarakat. dan waktu penulisan NSK. dan waktu penulisan. tempat. Untuk menganalisis identitas penulis-penyalin. *) Peneliti di Pusat Studi Sunda (PSS). pertama-tama saya menyajikan tabel yang berisi kode. Jumantara Vol. Sebagai titik pijak saya menggunakan penelusuran Munawwar Holil dan Aditia Gunawan (2010) atas NSK koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. atepkurnia@yahoo. mencakup identitas penulis atau penyalin. nama penulis-penyalin.

tempat. untuk keperluan tulisan ini penelusuran keduanya sangat membantu. tempat. Bali. nama penulis-penyalin. karena kedua penulis itu juga menyeertakan manggala atau awal teks NSK dan kalimatkalimat yang ada di akhir teksnya. yang pada gilirannya ditambahkan pada tabel yang telah dibuat. bahan-bahan bacaan mengenai perikehidupan kegiatan literasi di Jawa Tengah dan Timur. transkripsi. termasuk di dalamnya. judul. serta tempat dan waktu penulisan NSK. sejauh yang saya baca. 3 No. dan waktu penulisan NSK sebagaimana yang saya baca pada tulisan Munawwar Holil dan Aditia Gunawan serta bahan-bahan dari bacaan lainnya. kedua penulis itu juga melampirkan pemerian NSK yang ada di Perpusnas RI. dan terjemahan NSK yang selama ini telah dikerjakan para filolog dan peneliti NSK. Selasa Manis 78 Jumantara Vol.Pendahuluan Menurut hasil rekatalogisasi Holil dan Gunawan (2010). pertama-tama saya menyajikan tabel yang berisi kode. juga digunakan sebagai perbandingan untuk membaca identitas penulis-penyalin. saya melakukan analisis atas penulispenyalin. dan India. dan waktu penulisan. Dari lampiran tersebut dapat diketahui ada beberapa puluh NSK yang mengandung kolofon di akhir teksnya. Perpustakaan Nasional mengoleksi 63 Naskah Sunda Kuna (NSK). Tabel Kolofon Naskah Sunda Kuna Koleksi Perpustakaan Nasional RI No 1 Kode 1**Peti 85 Judul Sanghyang Siksa Kandang Karesian 2 408 Peti Kawih Buyut Ni Pertapaan Ni Teja Puru Penulis Tempat Nusakrata? Waktu Bulan ke10. Untuk menganalisis identitas penulis-penyalin. Di samping menerakan jumlah NSK. Selain itu. Kedua. Oleh karena itu.1 Tahun 2012 . dan waktu penulisan NSK. tempat. Saya juga menggunakan berbagai sumber bacaan untuk menambah luas pemahaman. transliterasi.

Kuta Wawatan. Gn. bulan ke-8 Jumantara Vol. Cisanti Bulan ke-8 14 626 Peti Sanghyang Buyut Gn. Cikuray 10 621 Peti 15 Sanghyang Sasana Maha Guru Desa Mahapawitra. Larang Sri Manganti Gn.16 Panyaraman Dawit Bacana.Cikuray. Cikuray bulan ke-1 13 625 Peti 88 Sri Ajnyana Mandala Betung Pamaringinan. Gn. Larang Sri Manganti 6 420 Peti 15 Kawih Paningkes Kai Raga Sutanangtung 7 423 Peti 15 Carita Purnawijaya Kai Raga Gn. Larang Sri Manganti Gn. buyut Téjanagara Gn. Larang Sela 8 424 Peti 15 Kawih Panyaraman 9 610 Peti 15 Pitutur ning Jalma cucu Sang Sida. Kumbang 3 410 Peti 15 Carita Ratu Pakuan Gn. 3 No. Jedang bulan ke-4 11 622 Peti 88 Warugan Lemah Rabu Manis 12 623 Peti 16 Bimaswarga/Bi maleupas Euncu nu Ngahérang Gn. Larang Sri Manganti 4 411 Peti 15 Ratu Pakuan 5 416 Peti 15 Carita Purnawijaya Kai Raga Gn.1 Tahun 2012 79 .

1357 Ś (± 1435 M). bulan ke-7. Cupu dimulai Selasa Kliwon. Tajak Barat 22 638 Peti 16 Sanghyang Hayu Argasela. 1440 Saka (1518 M) 17 632b Peti 16 Kaluputan Sanghyang Darma Hulu Kumbang Batu Wangi Desa Sunya bulan ke10 18 633 Peti 16 Siksa Guru 19 634 Peti 16 Sanghyang Hayu Désa Mahapwité.1 Tahun 2012 . 80 Jumantara Vol. Talagacandana . selesai hari pon bulan ke-9. 3 No. Giri Wangsa 1445 Ś (± 1523 M) 20 636 Peti 16 Sanghyang Hayu Sang Bujangga Resi Laksa Giri Sunya 21 637 Peti 16 Sanghyang Hayu Désa Mahapawita.69 Swawar Cinta Téjanagara Hulukumbang Batuwangi 15 628 Peti 16 Siksa Guru Lurah Kamulan? 16 630 Peti 16 Sanghyang Siksa Kandang Karesian bulan ke3. Gn. Tajak Barat.

Cucu Sang Sida/Buyut Tejanagara. yang diterjemahkan oleh Undang A. sementara penulis 17 Kata-kata ini muncul pada baris-bari menjelang akhir NSK Kropak 410 (Carita Ratu Pakuan). Jumantara Vol. Penulis perempuan diwakili Buyut Ni Dawit. Darsa (2007:217) sebagai “hasil belajar menulis”. Hulu Alas Sunya. 24 642 Peti 88 Siksa Guru Desa Mahapawitra Tahun Saka hlaŕ twa ya wu? 25 1095 Peti 69 Langgeng Jati Gn. yakni Buyut Ni Dawit. Bulan Muharam “Beunang Diajar Nulis17” Dari tabel di atas. Sang Bujangga Resi Laksa. Ketujuh nama di atas. Mandala Puntang 26 1097 Peti 69 Carita Jati Mula Sagara Wisésa 27 KBG 75 Wirid Kai Raga Jum’at Kliwon. Euncu nu Ngaherang.1 Tahun 2012 81 . Jati Sunya. Ada penulis perempuan dan ada juga laki-laki.23 641 Peti 16 Arjunawiwāha sang Guguron? Sanghyang Mandala Katyagan di Gugur 1256 Ś (1334 M). dan Sang Guguron. 3 No. dengan jelas menunjukkan jenis kelamin berbeda. Buyut Tejanagara. Kai Raga. kita berkenalan dengan tujuh nama penulispenyalin NSK.

rupanya ingin menjalin persaudaraan. dan Sang Guguron belum dapat dipastikan jenis kelaminnya. ada baiknya dilihat sumber lain yang terkait dengan hal tersebut. Téka béka mulung lanceuk. misalnya. 3 No. Inilah gambarannya: 850 Datang tiagi (wa)don. Di samping itu. dapat kita jadikan salah satu rujukan. Mengenai Buyut Ni Dawit. dkk18. digambarkan Bujangga Manik “digoda” oleh rahib perempuan. Buyut Ni Dawit adalah seorang wanita. 18 Datang seorang pertapa perempuan. sebab ia bertapa di Gunung Kumbang di pertapaan Ni Teja Puru Bancana. na rua mamarayaeun. Sedangkan Cucu Sang Sida/buyut Téjanagara. Saleh Danasasmita. iapun paham benar kelengkapan pakaian bidadari yang tentu dikhayalkannya dari pakaian wanita bangsawan dalam zamannya. Euncu nu Ngahérang. Untuk memperluas bahasan mengenai keterlibatan perempuan dalam kegiatan baca-tulis dalam NSK. NSK Bujangga Manik. carékna: „Kaka lanceuking. Pada baris ke-850 hingga 868 naskah itu. Pada halaman 39 iapun asyik mengisahkan sebuah gisa (lesung) dengan istilah-istilah yang khas untuk wanita seperti “dyangiran”. tentu penyusunnya adalah cicit Ni Dawit tanpa diketahui siapa namanya. Menurut Saleh Danasasmita. (1987: 1) 82 Jumantara Vol. Hingga terus-terang menganggap kakak. katanya: „Kakandaku. ada keterangan menarik mengapa ia diasumsikan sebagai perempuan. Ada petunjuk bahwa pengarangnya wanita. bukan gelar kehormatan untuk pertapa ulung. spk. dan “dipesekkan”.1 Tahun 2012 . “dikasayan”. Buyut Téjanagara. Selengkapnya Danasasmita menyatakan: Bila kata “buyut” berarti cicit.laki-laki diwakili Kai Raga dan Sang Bujangga Resi Laksa.

3 No. Hinzler. tulisan H.R. 19 20 J. 3 (1993: 438-473) Jumantara Vol. Tiga Pesona Sunda Kuna (2009: 298-299). Literary sources show this as early as the sixteenth century.1 Tahun 2012 83 . /16r/ repot karena penampilan badan.‟ sayang sekali akan ketampananmu. aing na pitiagieun. aku calon biarawati. Teeuw. manan hésé ku mamanéh. aku ini rahib perempuan. References to males and females being able to read and write are to be found in literary texts as well as in the colophons of manuscripts. mu(ng)ku burung éta seungeut. kemarilah. Yang berjudul Siksaguru. Hinzler (1993: 464) menyatakan: There was no caste or sex restriction on learning to write. Carék di na apus téa: Menurut kitab itu: 865 “Kadiangganing ring geni. „Balinese Palm-Leaf Manuscripts‟ dalam BKI 149 No. rusuh ku na panga/wakan. Bawaing apus sata(m)bi. jika berdekatan dengan ijuk.” Di samping Bujangga Manik. Ngaran(n)a na Siksaguru. Ketika membahas para penulis atau penyalin naskah (scribes).‟ begitulah antara laki-laki dengan perempuan19. „Biarlah kupertimbangkan dahulu. Noorduyn & A.Rakaki Bujangga Manik. but data in texts from the nineteenth century are the most abundant. héman ku na karuaan. H. daripada sulit-sulit memikirkan diri sendiri. Hinzler perihal naskah-naskah lontar di Bali20 bisa juga dijadikan rujukan. kitu lanang deungeun wadon”. sudah pasti terjadi kebakaran. lamun padeukeut deung eu(n)juk. “Bagaikan kobaran api. Kubawa kitab selengkapnya.I. Yang mulia Bujangga Manik.‟ 860 Carékna Bujan(ga) Manik: Bujangga Manik berkata: „Ku ngaing dirarasakeun. 855 haup aing ebon-ebon.

di penghujung abad ke-15. maka hal tersebut pun agaknya tidak akan jauh berbeda. beraksara Sunda Kuna dan Cacarakan. tradisi menulis manuskrip di Bali sangat terpengaruh budaya literasi India dan Jawa Timur. Menurut Holil dan Gunawan (2010: 146). Karya yang ditulis Kai Raga tersebut bisa jadi sangat kontras dengan naskah lain yang tertulis atas namanya.1 Tahun 2012 .Dari uraian Hinzler. terutama setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit. bahwa Kai Raga melintasi zaman yang sangat panjang. dan agaknya hal itu dapat diparalelkan dengan kehidupan para pembaca dan penulis yang hidup di Jawa Timur. Hal ini dapat dibuktikan dari beberapa naskah yang ditulisnya. di atas daun lontar. sekiranya tradisi menulis dan membaca naskah masih hidup di wilayah yang bersangkutan. diterangkan pula tentang persiapan dan pelaksanaan kegiatan peribadatan. dan Jawa Barat. 84 Jumantara Vol. Sebagaimana kita ketahui. misalnya NSK Kropak 420 yang ditulis di atas lontar. Bila diterapkan pada tradisi menulis NSK. yakni NSK “Wirid” (KBG 75). tidak ada pembatasan yang jelas [dalam hal kasta dan jenis kelamin] penulis dan pembaca naskah ketika tradisi itu hidup di Bali. naskah kertas daluang. Kalau dikaitkan dengan nama satu orang pasti mengandaikan orang yang berumur sangat panjang. bulan Muharram. terselip naskah yang berisi unsur keislaman. 3 No. Tengah. Dari keempat naskah yang diakhiri dengan keterangan Kai Raga. beraksara dan berbahasa Sunda Kuna dan berisi dialog yang bersifat moral-religius antara pendeta dengan Pwah Batari Sri sebagai penguasa alam kahyangan. Selanjutnya. Bisa jadi nama itu adalah nama gelaran. ditulis Kai Raga pada hari Jum‟at Kliwon. Nama penulispenyalin ini agaknya bukan nama sebenarnya. bersampul kertas marmer berwarna merah dan berjumlah 12 halaman itu berisi perihal asal-usul terciptanya alam dan manusia. yang isinya hampir sama dengan NSK L 420. yang menarik adalah Kai Raga. Di dalamnya. Hal tersebut mengindikasikan. Demikian pula dengan NSK L 423 yang juga ditulis oleh Kai Raga. berbahasa Sunda kuna.

pada 1904. Pleyte berkunjung ke Cikuray. Pleyte menelusuri identitas Kai Raga21. Kai Raga yang menyerahkan beberapa NSK kepada Raden Saleh yang pada tahun 1865 ditugaskan untuk berkeliling Priangan untuk mengumpulkan peninggalan purbakala. melainkan kepada nama gelaran. penelusuran Pleyte mengenai Kai Raga dan tulisan Hinzler dapat digunakan untuk membaca perihal tidak dipentingkannya nama pribadi bagi para penulis-penyalin naskah yang masih berada di bawah bayang-bayang budaya literasi Hindu-Budha. Dalam jawabannya. Pleyte meyakini orang tersebut dipastikan telah meninggal dan tidak meninggalkan keturunan. Pleyte mengirim surat kepada Asisten Residen Garut. C. Mengenai ihwal cucu Kai Raga. Huls van Taxis. namun kampung tersebut tidak dikenal lagi karena telah ditinggalkan penduduknya. Selain itu. Menurut penemuannya.K. yang pertapaannya terletak di Gunung Cikuray. saya yakin Kai Raga tidak merujuk pada nama seseorang.M. sejak tahun 1856. Oleh karena itu. Jumantara Vol. Mengenai hal ini. Uraian Kai Raga dapat pula dibandingkan dengan Kiai Windusana yang memelihara dan menuliskan kembali sejumlah 21 Lihat „Poernawidjaja‟s Hellevaart of de Volledige Verlossing‟ dalam TBG No.1 Tahun 2012 85 . van Taxis menerangkan bahwa Cikuray memang mulanya biasa disebut Sri Manganti. Pada mulanya Kampung Sri Manganti termasuk dalam wilayah Desa Cigedug. Kai Raga yang dianggap menyerahkan naskah kepada Raden Saleh adalah cucu Kai Raga yang menjadi pemuka kelompok keagamaan. 3 No. menurut cerita rakyat di sana. Menindaklanjuti perjalanan itu.hingga beratus tahun. yang didasarkan pada nama sebuah kampung yang terletak di lereng sebelah barat gunung tersebut. pada mulanya nama Cikuray adalah Sri Manganti. Garut.F. Van Taxis juga menyatakan bahwa orang tidak ingat lagi mengenai keberadaan pertapa di tempat tersebut. C. termasuk NSK. ia mendapat keterangan dari lurah Desa Ciburuy bahwa. tidak ada lagi keterangan yang lebih lanjut. Saat itu. 56 (1914: 365-441) dan Ratu Pakuan: Tjeritera Sunda-Kuno dari Lereng Gunung Tjikura (1970) garapan Atja.

23 Hinzler (1993: 465). was a person of distinction. melainkan perempuan pun ikut terlibat di dalamnya. Pertama.1 Tahun 2012 . Mereka kebanyakaan berasal dari kalangan agamawan dan ada juga yang berasal dari kalangan istana. bahkan menolak dunia luar sebagaimana yang dapat kita temukan sosoknya pada diri Bujangga Manik. Jawa Pertengahan. 22 „The Merapi-Merbabu Manuscripts: A Neglected Collection‟ karya W. usually man. di Bali: A Scribe. Menurut kedua filolog itu. Selain menyatakan para penulis naskah itu bisa laki-laki maupun perempuan.. Ia dikenal sebagai pendeta tinggi dalam agama Budha dan dilaporkan memiliki ribuan naskah yang aneh.. baik karena mereka menjadi anggota kelompok agamawan maupun karena termasuk kalangan istana. Van der Molen dan I. Namun saat Bataviaasch Genootschap mengambil naskah-naskahnya pada tahun 1852. Wiryamartana yang dimuat dalam BKI 157 No. panyarikan. but also of low-caste families23. berkaitan dengan kriteria dan profesi penulis-penyalin naskah. Tidak terbatas hanya pada laki-laki semata. 1 (2001: 52). 86 Jumantara Vol. maka sebenarnya mengindikasikan bahwa para penulisnya cenderung menyembunyikan nama mereka sebenarnya karena mereka justru sedang menyembunyikan diri dari dunia luar atau cenderung mengasingkan diri. This is apparent from the colophons of eighteenth and nineteenthcentury manuscripts. Menurut Hinzler. The rulers of the kingdom employed scribes (manghuri. Hinzler menyatakan dua hal lain yang berkaitan dengan para penulis-penyalin naskah. panulisan) not only of highcaste families. 3 No. Windusana hidup di sekitar abad ke-18. Kuntara Wiryamartana dan Willem van der Molen22. Bila pernyataan tersebut kita tarik kepada kegiatan literasi NSK. jumlahnya hanya berkisar empat ratusan naskah.naskah Jawa Kuna. dan Jawa Modern di lereng Gunung Merbabu sebagaimana yang ditelusuri I. .

Kata nusa dan sagara dengan jelas mengindikasikan daerah yang paling tidak berdekatan dengan lautan. Dari tabel itu kita juga mendapatkan nama Gunung Kumbang (Kawih Panyaraman). sebagaimana yang terlihat dari deskripsi Gunawan & Holil (2010). sebagaimana yang termaktub pada pembahasan mengenai penulis. Jumantara Vol. Bimaswarga/Bimaleupas. Gunung Larang Sela (Kawih Panyaraman). Gunung Jedang (Sanghyang Sasana Maha Guru.1 Tahun 2012 87 . Oleh karena itu. Sanghyang Swawar Cinta. namun ternyata ada dua naskah yang merujuk ke daerah dekat atau di sekitar laut. Siksa Guru). seperti bukit dan puncak gunung (hulu). Ratu Pakuan. 3 No. Sanghyang Hayu. Dari tabel itu nampak bahwa gunung dan sekitarnya. Carita Purnawijaya). Gunung Larang Sri Manganti (Carita Ratu Pakuan. seperti Naskah Kropak 1 Peti 85 Sanghyang Siksa Kandang Karesian ternyata ditulis di Nusakrata? Dan Carita Jati Mula ditulis di Sagara Wisésa. Giri Sunya (Sanghyang Hayu). Menurut Agus Aris Munandar25. gunung memang dijadikan 24 Kata ini berasal dari nama yang dijadikan tempat penulisan NSK Kropak 636 (Sanghyang Hayu). dan Gunung Cupu (Sanghyang Hayu).. Namun tetap saja dengan banyaknya nama yang berkaitan dengan gunung mengindikasikan sentralnya tempat tersebut sebagai tempat penulisan NSK. Kaluputan Sanghyang Darma). Gunung Cikuray (Pitutur ning Jalma. maka kita mendapatkan delapan naskah yang dalam kolofonnya diterangkan ditulis di Gunung Cikuray. dapat diketemukan keterangan bahwa Larang Sri Manganti adalah nama lama Gunung Cikuray. dalam bagian berikut disajikan ulasan mengenai peran gunung dalam peri kehidupan orang Sunda atau Jawa Barat. Sanghyang Hayu. Dengan demikian.Giri Sunya24 Dari tabel di atas kita juga dapat berbicara mengenai tempat NSK ditulis. menjadi pilihan para penulis-penyalin NSK untuk menulis. Carita Purnawijaya. kalau dihitung. Meski banyak yang berlatar gunung. Sebagai catatan.

dan kemudian dimuat dalam Prosiding KIBS 1 Jilid 1 (2006). 2224 Agustus 2001. Saat memasuki periode pengaruh Hindu-Budha (kurang lebih abad ke-9 hingga abad ke-16). Adapun tempatnya yang berada di daerah ketinggian. yakni ketika masyarakatnya berada di masa prasejarah. Cireme. dan sebagainya. Demikian pula yang terjadi pada keyakinan kosmologis Budha. Keyakinan ini tidak saja hidup ketika ke daerah ini hadir pengaruh agama Hindu-Budha. dan “Sebaran Situs Arkeologi di Jawa Barat: Tinjauan Terhadap Dasar Konsepsi Keagamaan” (2001) yang disajikan pada Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) I. situs Gunung Padang di Cianjur. Gunung tersebut dikelilingi tujuh lautan dan tujuh pegunungan berselang-seling. Situs-situsnya.sebagai tempat keramat bagi kalangan masyarakat yang ada di Jawa Barat. seperti gunung. Batu Lulumpang di Garut. Di puncaknya terdapat tempat tinggal para dewa.1 Tahun 2012 . 11-13 Nopember 1991. dan dataran tinggi lainnya. terutama dari masa bercocok tanam dan perundagian. 25 “Kegiatan Keagamaan dalam Masyarakat Kerajaan Sunda: Data Prasasti dan Karya Sastra” (1991) yang disajikan pada Seminar Nasional Sastra dan Sejarah Pakuan Pajajaran. Tradisi megalitik ini berkaitan dengan konsep kultus leluhur. Arca Domas di pusat Kanekes. Lebak Sibedug. melainkan telah ada sebelumnya. bukit. Bedanya. Salak Datar. Gunung Mahameru yang mempunyai empat puncak lain yang lebih rendah dan terletak di tengah benua yang bernama Jambhudwipa dipercaya sebagai pusat alam semesta. Bogor. misalnya. 88 Jumantara Vol. Di Gunung Meru terdapat alam berlapis-lapis. Pangguyangan. Di kedelapan arah mata anginnya dijaga dewa Astadikpalaka sebagai pelindung alam semesta. menunjukkan bahwa masyarakat prasejarah di Jawa bagian barat percaya bahwa leluhur bersemayam di puncak-puncak gunung. 3 No. Bandung. Banten Selatan. Dari masa prasejarah. di Jawa Barat banyak peninggalan megalitik yang terdapat di wilayah yang bergunung-gunung. Cipari. Sementara alam semestanya berbentuk pipih melingkar seperti cakram. Karena dalam keyakinan kosmologis Hindu-Budha. yang dikepalai Dewa Indra. yakni pemujaan pada arwah nenek moyang. gunung juga begitu sentral perannya.

utara. pengamalan keagamaan. tempat hidup manusia dan hewan. kemungkinan direbutnya kemuliaan (kewibawaan kekuasaan) dan pegangan kesaktian (kejayaan) oleh Sunda. Dalam hal ini. yang disokong serta dilindungi kekuasaan kerajaan yang ada di Tatar Jawa Barat. dan penyebaran ilmu oleh kalangan agama Hindu dan Budha. terdapat empat benua. Dalam beberapa hal. terutama Kabuyutan Galunggung. gunung dan tempat-tempat di sekitarnya dijadikan tempat tinggal. para pedagang (orang Jumantara Vol. Prabu Jayadewata. dan barat dihuni oleh mahluk ajaib. misalnya. terutama baris ke-5 sampai ke-7. dan Prebu Niskala Wastukancana. pada keempat arah mata angin utama. yang di tengahnya.di luar lingkaran tujuh pegunungan itu terdapat lagi samudera. berkaitan dengan keinginan Prabu Raja Wastu untuk menyelaraskan purinya dengan gambaran alam semesta menurut ajaran Hindu-Budha. Lampung.1 Tahun 2012 89 . dan Menir. Rakeyan Darmasiksa dalam NSK Kropak 632 (Amanat Galunggung) menegaskan pentingnya memelihara kabuyutan atau tempat yang dikeramatkan karena menjadi pusat pengamalan serta penyebaran ilmu keagamaan. Munandar. Jawa. Medang. Baluk. Oleh karena kekeramatan itulah. Demikian pula Sri Baduga Maharaja yang membangun gugunungan. seperti yang termaktub dalam Prasasti Batutulis. bagaimana penguasa melindungi situs yang ada di gunung dan sekitarnya. atau dalam NSK Sewaka Darma terdapat uraian bahwa para dewata Hindu mempunyai istana yang indah di Gunung Kendan. Keyakinan ini terbawa ke Pulau Jawa. menafsirkan Prasasti Kawali I. yang dijadikan tempat penyebaran ilmu keagamaan khususnya dapat terlihat dari sepak terjang Rakeyan Darmasiksa. sementara ketiga benua yang ada di timur. dan kemudian diterapkan pemeluk agama HinduBudha yang ada di sana ke dalam lingkungan mereka. dan tentu saja ke Tatar Jawa Barat. Ia menyatakan [Terjemahan dari pernyataannya?]: “Waspadalah. Benua yang terletak di sebelah selatan Gunung Meru dinamakan Jambudwipa. 3 No.

Kabuyutan itu akan dikuasai orang lain karena telah ditinggalkan rama dan resi. Ti naha bagina? Ti sang wiku nu ngawakan jati Sunda. Rakeyan Darmasiksa. Ibid (1987: 125-6). ti sang tarahan.asing) yang akan merebut Kabuyutan di Galunggung26” Hal itu karena dengan dikuasainya Kabuyutan Galunggung. kabuyutan itu harus dipertahankan sekuat tenaga. pergilah ke kabuyutan. nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama. seperti: memperoleh kesaktian dari tapa. dan lama berjaya. mikukuh Sanghyang 90 Jumantara Vol. Dengan demikian. Nasihat Rakeyan Darmasiksa juga sekali lagi menekankan pentingnya Kabuyutan Galunggung: “Bila terjadi perang (memperebutkan) kabuyutan di Galunggung. dua dari tiga unsur “trias politika” Sunda kuna. baik yang menganut kepercayaan kepada leluhur (ngawakan jati Sunda) maupun yang memeluk agama lainnya.. bertahanlah kita di sana. (1987: 12). ia mendorong berlangsungnya tradisi baca-tulis atau literasi di kalangan agamawan.1 Tahun 2012 .. pangupatyan Sanghyang Wisnu. tina Parahyangan. bahkan sampai titik darah penghabisan. 3 No. yang menyatakan bahwa Rakeyan Darmasiksa adalah raja Sunda yang mendirikan lembaga pendidikan bernama Sanghyang Binayapanti.. ti sang rêsi. unggul dalam berperang. yang digambarkan sebagai titisan Dewa Wisnu. inya nu nyieun Sanghyang Binayapanti. Dan yang lebih penting. menjamin keberlangsungan kehidupan keagamaan. maka orang yang menguasainya akan beroleh manfaat dari sana.” Hal ini pun diperjelas dalam NSK Kropak 406 (Carita Parahyangan). Selain itu. 28 Kutipan lengkapnya: Sang Rakeyan Darmasiksa. sekaligus juga di kalangan istana28.Lebih berharga nilai kulit lasun di tempat sampah daripada rajaputra (bila kabuyutan) akhirnya jatuh ke tangan orang lain27. dengan kompleks pendidikannya yang disebut kabuyutan. ti sang disri. 26 27 Saleh Danasasmita dkk.

teja. dan tanah Dewa Sasana yang berada di Gunung Samaya sebagai daerah yang tidak boleh diganggu gugat. Salah satu bukti kejayaannya: sang resi dapat tenteram melaksanakan tugas kependetaannya. Galunggung (Tasikmalaya).. Sang wiku enak ngadewasasana. Cisanti (Bandung). Ngawakan sanghyang rajasasana. ngawakan na purbatisti purbajati . lempir 21b.. dan sang wiku tenteram melaksanakan atau menunaikan undang-undang dewa (Sang resi enak ngaresianana. enak ngadêg manurajasunyia. Dari sekian nama Darma. 21a. yaitu Prebu Niskala Wastukancana. Dalam Kropak 406 (Carita Parahyangan) pun ada gambaran penguasa Sunda yang berdedikasi tinggi pada kehidupan keagamaan sekaligus kegiatan literasinya. 3 No. enak ngadeg manurajasunyia). bayu. Sang rêsi enak ngarêsianana.. 22b. Wilayah tersebut juga tidak boleh dikenai pajak karena merupakan daerah larangan. Sang disi enak masini. akasa. dan 22a) Jumantara Vol. tempat tinggal para wiku.42-43) ia mengamanatkan kepada rakyatnya untuk menjaga dan memelihara Jayagiri. Sanghyang apah. Sunda Sembawa dan Jayagiri (Bekasi?). brata siya puja tanpa lum. ngawakan sanghyang Watangageung.Hal serupa juga dilakukan Prabu Jayadewata. sang bu enak ngalungguh di Sanghyang Jagatpalaka. Koleang. ku gêde hamo diukih.. Dalam Prasasti E-44 daerah larangan itu disebut dengan nama kabuyutan dan kawikuan. Nya mana sang tarahan enak lalayaran. Sang wiku enak ngadewasasana. ngaduuman alas parialas. Sunda Sembawa. Ku beet hamo diukih. Jasinga (Bogor). Wanareja dan Ciburuy (Garut). Sanghyang Tapak (Sukabumi). ngawakan Sanghyang Siksa (Kropak 406. ngawakan na purbatisti purbajati. Yang mencoba mengganggu daerah-daerah tersebut diperintahkan untuk dibunuh. angadêg di Sanghyang Linggawêsi. Pada Prasasti Kabantenan (E. dan Kawali (Ciamis). ngawakan sanghyang Watangageung. (Kropak 406. Kerajaan Sunda mengalami kejayaan.1 Tahun 2012 91 . Pada masa Kerajaan Sunda diperintah oleh raja yang merupakan adik Dyah Citraresmi yang gugur di Bubat.29 Kabuyutan-kabuyutan yang dikenal selama ini antara lain: Kanekes (Banten). ngawakan na manusasana. menjalankan kebiasaan leluhur .. ngawakan manurajasasasana. lempir 36a & 20b) 29 Kutipan lengkapnya: Nya mana sang rama enak mangan.

622 (Warugan Lemah). 624 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian). 1103 (Serat Jati Niskala). 630 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian). 408 (Kawih Panyaraman). 635 (Sanghyang Hayu). 416 (Carita Purnawijaya). antara lain ditemukan NSK Kropak 610 (Pitutur ning Jalma). 407 (Carita Raden Jayakeling). 638 (Sanghyang Hayu). 637 (Sanghyang Hayu). 414. 633 (Siksa Guru). Ekadjati30. 3 No. Kabuyutan Kawali di Ciamis. 415 (Mantra Darma Pamulih). melaksanakan pendidikan. Naskah Bambu 426 C (Sanghyang Jati Maha Pitutur). 409 (Kapaliasan). menurut Edi S. 1101 (Sasana Sang Pandita). Naskah Bambu 426 B (Kaleupasan). melakukan upacara ritual. 20 November 2004. 412 (Fragmen Carita Parahiyangan). dan Kropak 642 (Siksa Guru). Bandung. karena secara jelas atau tertulis dalam NSK atau tempat diperolehnya sejumlah NSK seperti yang diinventarisasi oleh Gunawan dan Holil (2010). dan Kropak 631 (Candrakirana).kabuyutan itu yang dikenal sebagai tempat penulisan NSK. jeung Kropak 105.1 Tahun 2012 . 625 (Sri Ajnyana). 639 (Serat Buana Pitu). mendalami dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan (agama). 1099 (Pakéeun Raga). ke Ciamis. 641 (Arjunawiwāha). Ketiga. Dari Kabuyutan Koleang antara lain ditemukan NSK Kropak 1095 (Langgeng Jati). 413 (Ajaran Islam). Pada tataran praktisnya. 423 (Carita Purnawijaya). 634 (Sanghyang Hayu). Bogor. 418 (Nur Illahi). Ke sebelah timurnya. dan Kabuyutan Koléang. 1104 (Primbon). Jenis kegiatan pertama antara lain dalam bentuk mendoakan raja 30 „Pendidikan di Tatar Sunda I‟ HU. 1097 (Carita Jati Mula). aya Kropak 620 (Tutur Bwana). Ti Cisanti. 636 (Sanghyang Hayu). dan Kropak 626 (Sanghyang Swawar Cinta). ditemukan Kropak 406 (Carita Parahyangan & Fragmen Carita Parahyangan). 1102 (Para Putera Rama dan Rahwana). Kedua. Dari kabuyutan yang ada di Garut. Pertama. Kabuyutan Cisanti di Bandung. 422 (Jatiniskala). 92 Jumantara Vol. 623 (Bimaswarga). yakni Kabuyutan Ciburuy dan Kabuyutan Wanareja di Garut. 621 (Sanghyang Sasana Maha). Pikiran Rakyat. ada tiga jenis kegiatan yang dilakukan di kabuyutan.

1 Tahun 2012 93 . baik yang ada di kabuyutan sendiri maupun yang datang dari luar. pratanda menguasi ilmu agama dan parigama. Mengajarkan pengetahuan agama. Berbagai pengetahuan tersebut telah dikuasai oleh para guru yang kemudian disampaikannya secara lisan dan tertulis kepada siswasiswanya. dan renungan para leluhur (patikrama). seperti: brahmana menguasai aneka macam mantra. menyelenggarakan dan memimpin upacara ritual. Ia menjelaskan bahwa bahan ajarnya berupa berbagai pengetahuan agama (Hindu-Budha) dan ajaran hidup yang berasal dari intisari pengalaman. mendidik anak-anak calon pendeta. pandan. Sebagaimana uraian Ekadjati di atas. Selanjutnya Ekadjati menjelaskan mengenai bahan ajar dan spesialisasi guru-guru yang ada di kabuyutan. janggan menguasai berbagai jenis upacara ritual. mengarang suatu ilmu pengetahuan.serta pejabat negara dan rakyat pada umumnya. bambu). aturan. kelapa. pendeta menguasai pustaka. memberi nasihat orang. Media tulisnya terdiri atas beberapa jenis bahan (lontar. dan menulis naskah (asli atau salinan) tergolong kegiatan intelektual. memberi contoh cara hidup di mandala termasuk jenis kegiatan kedua (pendidikan). dan membaca teks-teks keagamaan. nipah. Untuk keperluan itu pejabat negara dan masyarakat umum sering datang ke kabuyutan dan sebaliknya penghuni kabuyutan sering pula diundang ke wilayah negara. Anak-anak dan orang muda yang memilih kegiatan keagamaan sebagai jalan hidupnya memasuki kompleks dan menjadi siswa (sisya) di kabuyutan untuk menerima berbagai ilmu pengetahuan (agama) dan tata cara hidup sebagai penghuni kabuyutan. Di sana juga terlihat lalu-lintas naskah antar satu kabuyutan dengan kabuyutan lainnya. aren. sedangkan alat tulisnya berupa pisau pangot. kemudian diwujudkan dalam bentuk karya tulis. kalam. Di antara guru-guru itu ada yang memiliki spesialisasi pengetahuan. hasil akumulasi ilmu pengetahuan tersebut. Penulisan itu merupakan tugas pendeta yang menjadi penanggungjawabnya. 3 No. dan tinta. Hal ini dimungkinkan oleh adanya Jumantara Vol. Mendalami ilmu pengetahuan (agama).

Dengan kehadiran nama-nama tempat yang berkaitan dengan pulau dan laut dapat diduga bahwa. Yang menyertakan bulan saja bisa dikatakan merupakan yang paling banyak bila dibandingkan dengan yang menyertakan hari maupun tahun. dan melintasi Pulau Bali untuk belajar keagaamaan. Jawa Timur. penyalinan. Seperti yang kita saksikan dari peri kehidupan Bujangga Manik yang dalam perjalanannya senantiasa mencari tempat-tempat sepi. Rabu Manis. penerjemahan. yang tidak hanya berada di Jawa Barat saja. Namun ada juga yang menyertakan hari dan bulan. namun ada juga yang berada di luar Jawa Barat. bulan Muharam. karena keramaian itu akan terasa mengganggunya. ia memang mencari tempat-tempat sepi. Contoh rahib pengelana ini adalah tokoh Bujangga Manik atau Perebu Jaka Pakuan atau Ameng Layaran yang berkeliling Pulau Jawa dan Bali. misalnya. Jum‟at Kliwon. NSK berikut memakai bulan saja sebagai titimangsa penulisan NSK: Kropak 621 (Sanghyang 94 Jumantara Vol. penyaduran naskah-naskah yang dihasilkan dari daerah lain dan kemudian dibawa oleh para rahib pengelana tersebut ke Tatar Jawa Barat. Selasa Manis dan Kropak KBG 75 (Wirid). yang diutamakan adalah keberjarakan dari dunia ramai. yakni Kropak 1** (Sanghyang Siksa Kandang Karesian) bulan ke-10. Jadi. memang terjadi penulisan. Titimangsa Dari tabel di atas juga dapat dibahas mengenai titimangsa atau waktu penulisan NSK. dan tahun. seperti yang dapat kita temukan pada NSK sebagai berikut: Kropak 622 (Warugan Lemah).rahib atau pendeta pengelana yang (berkelana?) sambil belajar dari satu kabuyutan ke kabuyutan lain. bulan.1 Tahun 2012 . karena nampak bahwa pada NSK terdapat keterangan hari. ke Jawa Tengah. para penulis-penyalin NSK ada yang hanya menyertakan hari saja. Dari Jawa Barat. Dalam perjalanan tersebut memang Bujangga Manik tidak terlepas dari naskah-naskah yang dibawa dan dibacanya. Dalam beberapa adegan. 3 No. pada prinsipnya. Pada praktiknya.

Sasana Maha Guru) ditulis pada bulan ke-4. dalam artian bahwa ada yang hanya yang memakai hari. Kropak 641 (Arjuna Wiwaha). bulan ke-8. dan tahun penulisannya. sehingga terkesan arbitrer alias sewenang-wenang. 3 No. Ketiga. bulan ke-1. Kropak 626 (Sanghyang Swawar Cinta). 1256 Ś (1334 M). bulan. Dari paparan di atas nampak beberapa kenyataan yang patut dibahas secara luas dan mendalam. Ada juga yang bisa dikatakan lengkap menyebutkan ketiganya. Kedua. dalam artian tidak ada keharusan atau kewajiban untuk mencantumkan titimangsa pada umumnya NSK. Hal itu terbukti dari tabel di atas. yang terdapat pada Kropak 630 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian) bulan ke-3. 1445 Ś (± 1523 M). dan ada yang mencantumkan campuran hari dengan bulan. Tahun Saka hlaŕ twa ya wu? Ada pula yang hanya campuran antara bulan dan tahun. Pemilihan unsur waktu penulisan NSK sangat acak. dan Kropak 633 (Siksa Guru). bulan dengan tahun. selesai hari Pon bulan ke-9. atau tahun saja. namun ada juga yang mencantumkan campuran dua sampai tiga unsur waktu. bulan ke-7. Sementara Kropak 638 (Sanghyang Hayu) terbilang yang paling lengkap menyertakan hari. kesewenang-wenangan itu juga terjadi pada pemilihan unsur waktu yang dicantumkan ketika penulis-penyalin NSK memberikan keterangan waktu penulisan. Mengenai hal ini Jumantara Vol. bulan ke-8. Kropak 623 (Bimaswarga/Bimaleupas). Kropak 625 (Sri Ajnyana). 1357 Ś (± 1435 M). Sementara yang memakai keterangan tahun ada: Kropak 634 (Sanghyang Hayu). penggunaan candrasangkala atau kronogram. nampaknya tidak ada aturan yang ketat. Penggunaan kode-kode ini memang biasa dilakukan oleh para penulis-penyalin naskah-naskah di India. bulan ke-10. bulan. yaitu dimulai Selasa Kliwon. tergantung pada penulis-penyalin naskahnya. 1440 Saka (1518 M). Pertama. dan Kropak 642 (Siksa Guru). hari dengan tahun.1 Tahun 2012 95 . Para penulis-penyalin naskah di India biasanya memberikan catatan penomoran dengan menggunakan kata-kata dan huruf-huruf.

dan m=5. Angka 1 diekspresikan dengan rupa. Angka 9 digambarkan dengan anka. cidra. Angka 0 bisa diwakili oleh kata Sunya. Akasa. t=6. Buhler menyatakan ada dua sistem yang dipakai. mathematics and metrics. Pada penomoran menggunakan huruf. seperti huruf ka hingga ke la yang berarti sama dengan 1 hingga 34. sitarasmi. Dalam hal ini Buhler memberikan contoh dari angka 0 hingga 49. as well as in the dates of inscriptions and of MSS. as they are not without interest for paleography.George Buhler menyatakan31: In many manuals of astronomy. connote numbers. bhu. the numerals are expressed by the names of things. dan Ananta. nanda. Sementara untuk penomoran yang menggunakan huruf. nayaka. George. have still to be described. Indian Paleography (1980: 103-107). dan tanu. Sistem kedua memakai konsonan bervokal untuk penomoran. sasi. Sistem pertama dianggap hanya hurufhuruf konsonan yang tak mempunyai huruf vokal yang penting. seperti pada huruf k=1. according to Burnell originally South-Indian. Baik penggunaan kata-kata maupun huruf. beings or ideas. Ambara. juga digunakan untuk memberikan titimangsa penulisan naskahnya. meskipun ada yang ia lewati. y=1. adi. 3 No. keduanya.1 Tahun 2012 . selain digunakan untuk penonoran halaman naskah. atau ka sampai kah yang sama dengan 1 hingga 12. mahi. which both employ the phonetically arranged characters of the alphabet. Buhler menyatakan: Two system of numeral notation. th=7. Untuk 31 Lihat Buhler. naturally or in accordance with the teaching of the Sastras. 96 Jumantara Vol. kh=2. indu. which.

samudra= 0-0-4-41=14400. sebagai tanggal diselesaikannya. yang menghasilkan pada musim semi yang siang maupun malamnya hampir sama waktunya (vernal equinox). Keterangan ini bisa menjadi jalan memahami kehadiran katakata maupun huruf-huruf yang digunakan pada akhir sejumlah NSK. 24 Maret 1184 Masehi. Dalam NSK ditemukan juga kata-kata yang belum ditemukan artinya. Buhler memberikan contoh dari Sarvanukramani: 23 1 565 1 khago=ntyan=mesam=apa Penggabungan angka-angka di atas nilainya sama dengan 1565132. 3 No.1 Tahun 2012 97 . Buhler memberikan contoh dari Pancasiddhantika. atau 1523 Masehi.veda. Maret-April 2012 Daftar Pustaka Jumantara Vol. kurang wuwuhan. Cibiru. yang mengandung arti penulis-penyalinnya memaksudkan angka-angka itu pada masa-masa selepas masa awal Kaliyuga.contoh penggunaan dari kata-kata. di akhir naskahnya terdapat kata-kata nora catur sagara wulan yang sama dengan tahun 1440 Saka atau. 4. menjadi 1518 Masehi. Sementara untuk penggunaan huruf. 44: kha – kha. misalnya. Demikian juga pada naskah NSK Kropak 634 (Sanghyang Hayu) terdapat kata-kata panca warna catur bumi yang artinya 1445 Saka. Untuk Kropak 630 (Sanghyang Siksakandang Karesian). seperti NSK Kropak 408 (Sewaka Darma) yang mengandung kata-kata akhir nanu namas haba jaja atau NSK Kropak 642 (Siksa Guru) yang diakhiri dengan katakata hlaŕ twa ya wu? Sugan aya sastra leuwih suda baan. bila dikonversi ke penanggalan masehi.

Direktorat Jendral Kebudayaan Dep. “Membuka Peti Naskah Sunda Kuna di Perpustakaan Nasional RI: Upaya Rekatalogisasi”. Molen. Agus Aris (1991). Ekadjati (2004.Atja (1968). Bandung: Lembaga Bahasa dan Sedjarah. “Pendidikan di Tatar Sunda I”. H. Edi S. Atja (1970). Undang A. Indian Paleography. Wiryamartana (2001). “The MerapiMerbabu Manuscripts: A Neglected Collection”. 3. Munandar. Seri Sundalana 6: Menyelamatkan Alam Sunda. 1. Ekadjati (2003). Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda Hinzler. Sewaka Darma (Kropak 408). BKI 157 No. Tjarita Parahijangan Titilar Karuhun Urang Sunda Abad ka-16 Masehi. Makalah pada Seminar Nasional Sastra dan 98 Jumantara Vol. Van der dan I. Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda . Ratu Pakuan: Tjeritera Sunda-Kuno dari Lereng Gunung Tjikuraj. Pendidikan Dan Kebudayaan Nasional Darsa. Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda (PSS). Séri Sundalana 1: Tulak Bala. Saleh dkk. Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630). Buhler. 3 No. W. dan Edi S. (2007). Amanat Galunggung (Kropak 632): Transkripsi dan Terjemahan”. Seri Sundalana 9: Perubahan Pandangan Aristokrat Sunda. Undang A. (1987). New Delhi: Oriental Books Reprint Corporation Danasasmita. BKI 149 No. (1993). “Fragmén Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan (Kropak 406)”. “Balinese Palm-Leaf Manuscripts”. Bandung: Jajasan Nusalarang. Gunawan. “Carita Ratu Pakuan (Kropak 410): Suntingan dan Terjemahan Naskah Sunda”. 20 Nopember). George (1980).1 Tahun 2012 . Aditia & Munawwar Holil (2010). HU Pikiran Rakyat. “Kegiatan Keagamaan dalam Masyarakat Kerajaan Sunda: Data Prasasti dan Karya Sastra”. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi). Darsa.

dari Three Old Sundanese Poems (2006). Noorduyn.M. teks Sunda kuna oleh Tien Wartini dan Undang A. Jakarta: Pustaka Jaya. Diterjemahkan oleh Hawe Setiawan. (1914). Bogor. & A. dan kemudian dimuat dalam Prosiding KIBS 1 Jilid 1 (2006). C.1 Tahun 2012 99 . __________ (2001). Makalah Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) I. TBG No. Teeuw (2009). “Poernawidjaja‟s Hellevaart of de Volledige Verlossing”. J. 3 No. 56. Pleyte. 11-13 Nopember. 22-24 Agustus 2001. Bandung. Jumantara Vol. Tiga Pesona Sunda Kuna. “Sebaran Situs Arkeologi di Jawa Barat: Tinjauan Terhadap Dasar Konsepsi Keagamaan”. Darsa.Sejarah Pakuan Pajajaran.

3 No. Secara strategis. terutama di Cirebon pada tahun 1479-1568. Dekan Fakultas Ushuluddin ISIF dan Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Tulisan ini merupakan upaya untuk melakukan rekonstruksi sejarah kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah (1479-1568). terutama kepada ISIF. tulisan ini diharapkan mampu menjadi kelengkapan khazanah sejarah Islam Indonesia dalam konteks rekonstruksi sejarah Islam Nusantara dan kehidupan keagamaan masyarakat. serta mengungkapkan pengaruh Syarif Hidayatullah terhadap perkembangan dakwah Islam di Jawa. Terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu tulisan ini sehingga dapat hadir di hadapan pembaca. mitos. terutama di Cirebon. Beberapa nama penting juga disebutkan disini. Cirebon. Nurul Huda SA dan Aan Jaelani yang telah menemani saya ketika beberapa kali turun lapangan. dan Balai Litbang Agama Jakarta. atau semacamnya.Abstrak Dari berbagai sumber tertulis diketahui bahwa pada masa Syarif Hidayatullah peradaban Islam di Cirebon mencapai masa kejayaannya. 100 Jumantara Vol. Saeful dan Salman dari Balai Litbang Agama Jakarta.1 Tahun 2012 . Signifikansi tulisan ini untuk menunjukkan adanya pembuktian atau lebih tepatnya penegasan akademik bahwa Syarif Hidayatullah yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Jati itu bukan sekedar tokoh legenda. Kata Kunci: Islam. tetapi bagian dari tokoh historis dan fakta sosial melalui rekonstruksi historis peradaban Islam Nusantara. Syarif Hidayatullah * Kandidat Doktor Filologi di Departemen Susastra FIB UI Depok. menunjukkan bukti-bukti sejarah peradaban tersebut sebagai bukti kejayaan peradaban Islam di Cirebon.

(Jakarta: Transpustaka. Sunan Ampel.H. K.33 Sebelum Syarif Hidayatullah. dan setelah Syarif Hidayatullah. Ishom El-Saha (edit. dan Sunan Kalijaga. dan M. utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana Sunan Gunung Jati di Cirebon mengajarkan tatacara berdoa dan membaca matera. hlm. 1613-1645). amewahi donga hakaliyan mantra.1 Tahun 2012 101 . 3 No. Walisongo terdiri dari Sembilan wali. Disertasi. pengaruh para penguasa Cirebon masih berlindung di balik kebesaran nama Syarif Hidayatullah. 32 Kutipan ini merupakan bagian dari tugas-tugas Wali Songo dalam Primbon milik Prof. Sunan Giri. atau lebih dikenal dengan gelar Sunan Gunung Jati. Salah satu di antara kontribusi Syarif Hidayatullah adalah bahwa ia menjadi salah seorang dewan Walisongo34 di Jawa. Maulana Malik Ibrahim. Indonesia”. (Yale University: 1997).R.Kanjeng Susuhunan ing Gunung jati ing Cirebon. dan Syarif Hidayatullah di Cirebon (1479-1568). Sunan Drajat. Era Syarif Hidayatullah. hlm. Sunan Gunung Jati. Sekedar menyebut beberapa contoh tokoh tersebut adalah Abdur Rauf asSinkili di Aceh (1615-1693). daerah-daerah di mana suatu kerajaan Islam telah berdiri dan berjaya pada masanya. Di antara tokoh tersebut. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan.32 Mengapa (masih) Mengkaji Syarif Hidayatullah? Rekonstruksi sejarah Islam Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kontribusi pemikiran dan tindakan setiap tokoh di daerahnya. “An Inheritance from the Friends of God: The Southern Shadow Puppet Theater of West Java.). Sunan Kudus. Terlebih lagi. hampir dipastikan terdapat seorang tokoh yang mempunyai keutamaan dan pengaruh kuat bagi masyarakatnya. seperti dikutip Agus Sunyoto. Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Pertumbuhan Jumantara Vol. Moh. 90 33 Matthew Isaac Cohen. Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Cakrabuana (1447-1479) merupakan rintisan pemerintahan berdasarkan asas Islam. serta tata cara membuka hutan. 2011). Adnan. Sunan Bonang. 7 34 Walisongo adalah pelopor dan pemimpin dakwah Islam yang berhasil membawa murid-muridnya untuk menjalankan dakwah Islam ke seluruh Nusantara pada abad ke-15. Sunan Muria. tata cara pengobatan. dapat dikatakan sebagai era keemasan (Golden Age) perkembangan Islam di Cirebon. Sultan Agung di Jogjakarta (dulu Kesultanan Mataram. Penjelasan lebih lanjut pada Mastuki HS.

35 Perbedaan lain dengan para Walisongo ialah bahwa Syarif Hidayatullah selain sebagai ulama juga umara. Sejalan dengan bukti tersebut. Ensiklopedi Ulama Nusantara: Riwayat Hidup. (Sunan Gunung Jati di Cirebon mengajarkan tata cara berdoa dan membaca matera. Jalal al-Din al-Suyuti (w. pemikiran. Era renaisans bukan sekedar merupakan kehidupan yang cemerlang di bidang seni. hlm. (Jakarta. hlm. 2001). Afif Muhammad dan Abdul Adhem. 38 Abdullah Mustofa al-Maraghi. Selaras dengan itu. 2009). maupun kesusastraan yang mengeluarkan Eropa dari kegelapan Pesantren.37 Dalam konteks itulah Syarif Hidayatullah membangun peradaban muslim di Cirebon. amewahi donga hakaliyan mantra.757. penterj. Mistikus Islam: Ujaran-ujaran dan Karyanya. 1995) cet. 2001). Dalam catatan sejarah. 1565). 73. Margaret. peradaban Islam pada periode tersebut telah melahirkan berbagai tokoh pemikirnya. 2003). Pakar-Pakar Fiqh Sepanjang Sejarah. (Bandung: Mizan. 36 H. 35 Agus Sunyoto. Tugas itu dirumuskan sebagai berikut. (Yogyakarta: LKPSM.36 Berbagai bukti kejayaan kepemimpinannya antara lain Masjid Merah Panjunan (+ 1480) dan masjid Agung Sang Cipta Rasa (1500). 102 Jumantara Vol. serta tata cara membuka hutan). Membangun Dunia Baru Islam.1 Tahun 2012 . 1505). hlm. Gelegar Media Indonesia.39 Periode tersebut merupakan era renaisans bagi benua Eropa (1495-1500). penterj. Malik Bin Nabi (1905-1973) dalam Syuruth al-Nahdlah. antara lain Sadr al-Din al-Syirazi (w. 1499). utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana”. 37 Malik Bin Nabi. Bibit Suprapto. (Jakarta: Diva Pustaka.38 Abd al-Wahhab al-Sya‟rani/alSya‟rawi (w. Al-Qarafi (1533-1600). Banten. berpendapat bahwa suatu peradaban muslim tidak dapat bangkit kecuali dengan akidah keagamaan. Ribut Wahyudi (Surabaya: Risalah Gusti. Husein Muhammad. dan Sunda Kelapa (Jakarta). yaitu Sultan di Cirebon.. 90. Abu al-Ma‟ali al-Maqdisi (w. “Kanjeng Susuhunan ing Gunung jati ing Cirebon. pemikir Aljazair. 39 Smith. 3 No. penterj. hlm. hlm.M. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah. 1497). Karya. 21-34. tata cara pengobatan. 1492). renaisans adalah periode yang berlangsung dalam kurun waktu 25-50 tahun dan mencapai puncaknya pada tahun 1500. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. II.Syarif Hidayatullah mendapatkan tugas berdakwah di Cirebon (Jawa Barat). dan Abd al-Rahman Jami (w. 183.

atau paling tidak. 43 Kraton Pakungwati merupakan tempat kedudukan utama para Raja Cirebon. yaitu: daerah Panembahan Sepuh (Kasepuhan) dan daerah Panembahan Anom 40 Yenne. budaya. bukan sebaliknya. [t. Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra. 74-75 41 Ibid. telah menemukan kepulauan Amerika. sehingga Sunan Gunung Jati tidak hanya dibaca seperti yang selama ini dikenal dalam legenda atau mitos. Bill.intelektual Abad Pertengahan. tetapi juga merupakan suatu revolusi budaya. hlm. 3 No. Cirebon dikenal juga sebagai „Jalur Sutra‟. dan pemikiran yang melintasi kawasan tersebut. ekonomi. dan politik yang berkembang pada saat itu menarik untuk dilihat sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.k. Jumantara Vol. pusat Kesultanan Islam Cirebon berada di Kraton Pakungwati. Salah satu revolusi pemikiran pada era tersebut dikemukakan Nicolas Kopernick (Copernicus). Pakungwati terbagi menjadi dua kesultanan. gerakan. Pada masa itu. 72 42 Diskusi tentang Cirebon sebagai jalur perdagangan dapat dibaca Susanto Zuhdi. nakhoda dari Italia. menjadi tempat persinggahan bagi setiap budaya. 2005).. tetapi sebagai konteks sosial. 1996). Tahun 1662. Keterbukaan itu pula yang terdapat dalam diri Syarif Hidayatullah selama memimpin di Cirebon. penterj.43 Di istana itulah Syarif Hidayatullah memulai membangun dan mengembangkan Kesultanan Cirebon sampai dengan pengunduran dirinya.41 Sekalipun peristiwa-peristiwa besar di belahan dunia tersebut tidak berhubungan langsung dengan Cirebon ataupun Syarif Hidayatullah. Lili Sri Padmawati. 100 Peristiwa yang Berpengaruh di dalam Sejarah Dunia (100 Events That Shaped World History). Adanya Pelabuhan Muara Jati yang berada di lalu lintas utama kawasan tersebut telah menjadi arena perdagangan internasional. (Jakarta: Depdikbud. 40 Pada tahun 1492.42 Pelabuhan yang ramai dan jalur utama transportasi yang menghubungkannya dengan wilayah-wilayah lain menyebabkan kota tersebut tampil dengan keterbukaan dan menerima. Christopher Columbus.1 Tahun 2012 103 . yang menyatakan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. hlm. pada masa Panembahan Ratu II (Girilaya). Meneruskan pendahulunya.]: Karisma Publishing Group.

dan Pangeran Tohpati. Kanoman dan Keprabonan. seperti perdagangan pakaian dan opium. (Jakarta: Balai Pustaka. untuk Samsuddin Mertawijaya (1677-1697) dan Badruddin Kartawijaya (1677-1703). 3 No. Pembagian wilayah kesultanan tersebut didasarkan pada kesepakatan yang difasilitasi oleh Kesultanan Jogjakarta dan Banten. Nugroho Notosusanto. tentang pengakuan dan pembagian cacah. dan perjanjian 8 September 1688 yang ditandatangai Sultan Sepuh I.44 Artinya. yaitu:. Sebab. Pudjiastuti mencatat sisi positif dari perpecahan Kesultanan Cirebon. Sejarah Nasional Indonesia: Jaman Pertumbuhan dan Perkembangan III. 45 Siddique. Bersamaan dengan kedatangan Daendels pada tahun 1808. 2001). situasi pernaskahan di kraton itu sangat bergantung dengan perkembangan dari kraton sendiri. 1992). Sultan Anom. hlm. Sharon. dimonopoli VOC. (Jakarta: Balai Pustaka. Di situlah kesusasteraan tumbuh maju dan berkembang. hlm. Sultan Kanoman yang dibuang tersebut 44 Titik Pudjiastuti. bukan Kanoman. seperti dikutip dalam Marwati Djoened Poesponegoro. Sultan IX yang dimaksud barangkali Sultan Kacirebonan. Kesultanan Kanoman terbagi lagi menjadi dua kraton. salah seorang Sultan Kanoman Cirebon dibuang ke Ambon. Kasepuhan berkedudukan di Pakungwati dan Kanoman menempati kraton baru bekas istana Panembahan Cakrabuana. antara lain: perjanjian 7 Januari 1681 yang menetapkan bahwa ekonomi-perdagangan. Bersamaan dengan kedatangan Belanda sebagai penjajah yang menguasai Cirebon sekitar tahun 1700. Saat itu. 87. Relics of the Past: Sociological Study of the Sultanates of Cirebon West Java.45 Sekitar tahun 1800. 65 104 Jumantara Vol. Kesultanan Cirebon telah mengalami kemerosotan karena pihak lain (asing) sejak tahun 1681-1940. Beberapa perjanjian dengan VOC telah mendorong terjadinya kemunduran itu. Dampak internalnya. timbul perpecahan dalam Kesultanan Cirebon.(Kanoman). Kanoman dan Kaceribonan. Sultan Kanoman IX itu bernama Sultan Muhammad Nurbuat. Kesultanan Cirebon terbagi pada masa Sultan IX yang bernama Sultan Anom Muhammad Kaeruddin. Menurut Siddique. Dalam sumber lain. Kasultanan Kanoman terbagi menjadi dua lagi. “Cirebon” dalam Sastra Jawa Suatu Tinjauan Umum. Terakhir. yaitu telah terjadi perubahan progresif dalam kesusteraan setiap kali muncul Kraton baru.1 Tahun 2012 .

Sebab.1 Tahun 2012 105 . R. bahwa kekuasaan Cirebon makin lama makin dipersempit. tetapi semua dapat dipadamkan Belanda. dalam tradisi lisan Cirebon dan beberapa tulisan menyebutkan. lalu ditugasi di Sunda Kelapa dan Banten. II. Tentang klarifikasi Fatahillah.47 Penegasan serupa ditulis H. Pada tahun 1809. 213. 21. Kern dan Husein Djajadiningrat. ketika suasana damai di Cirebon terganggu oleh kolonial. Pigeaud dalam De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java. De Graaf dan Th. Pada tahun 1700 Belanda mengangkat Jacob Palm menjadi Residen pertama. Pada tahun 1815. Dalam entri Cirebon ini. Pemberontakan Cirebon telah dimulai sejak tahun 1788 dan terbesar tahun 1802.46 Kenyataan itu sejalan dengan pendapat Kern bahwa Cirebon berakhir kejayaannya pada abad ke-17.A. 46 Tim IAIN Syarif Hidayatullah.A. 1974).J. pemberontakan pun timbul sebagai salah satu cara untuk menolaknya. hlm. Tak ayal lagi. karena Britania harus mengembalikan Jawa dan bekas daerah kekuasaan HindiaBelanda lainnya kepada Belanda sesuai persetujuan akhir Perang Napoleon. Fatahillah itu bukan keturunan Cirebon. dan Husein Djajadiningrat.A. Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid I A-H. Jakarta: Djambatan. R. gelar Sultan di lingkungan kraton sudah tidak diperbolehkan dipakai lagi. Studen Over de Staatkundige Geschiendenis van de 15 de en 16 de Eeuw.A. Stamford Raffles memerintah langsung atas Cirebon namun pemerintahannya sangatlah singkat. cet. dalam R. Jumantara Vol. “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinya”. Kesultanan Cirebon juga dijajah Inggris ketika pemerintahan Inggris menguasai (sebagian) Indonesia sekitar tahun 1811-1816. dalam Kern. lihat juga pada P.dibebaskan oleh Daendels yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal. 3 No. bahwa nama lain Sunan Gunung Jati itu Fatahillah. 33-39 47 Kern. tetapi dari Kesultanan Pasai yang diperbantukan di Cirebon. 2002. Dalam Ensiklopedi Islam Indonesia disebutkan.. Selain dikuasai Belanda. Masa Awal. tetapi pemberontakan di daerah perbatasan melawan penjajah tetap belanjut. revisi. hlm. terdapat informasi yang masih meragukan validitasnya. (Jakarta: Bhratara. “Beberapa Catatan Mengenai “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinja”. Masa Awal Kerajaan Cirebon. Daendels membangun jalan raya melintasi pegunungan dari Batavia ke Cirebon (Jalan Raya Pos/Groote Postweg). hlm. Hoesein Djajadiningrat. Bahkan kemudian.

“Kedaulatan atas daerah Cirebon termasuk daerah-daerah Sunda pada 1705 diserahkan oleh susuhunan di Kartasura kepada kompeni (VOC) di Batavia. Keraton-keraton para keturunan Sunan Gunung Jati di kota Cirebon masing-masing tetap dipertahankan di bawah kekuasaan dan dengan tunjangan uang dari pemerintah Hindia Belanda hingga abad XX ini.”48 Dengan demikian, pemerintah Kolonial Belanda telah semakin dalam ikut campur mengatur Cirebon, sehingga semakin surutlah peranan kraton-kraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya. Pada tahun 1906 dan 1926, kekuasaan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan pengesahan berdirinya Kota Cirebon (Gemeente Cheirebon). Saat itu, luas wilayahnya mencakup 1.100 hektar, dengan sekitar 20.000 jiwa penduduk (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370). Tahun 1942, Kota Cirebon kembali diperluas menjadi 2.450 hektar.49 Sejak tahun 1965 Cirebon telah berubah menjadi kota madya dan sekarang menjadi kota Cirebon dengan luas 37,36 km2.50 Memperhatikan latar belakang tersebut, tulisan ini menjadi penting untuk mengungkap Kesultanan Cirebon sebelum adanya campur tangan pihak asing, termasuk intervensi pihak kesultanan Jogjakarta dan Banten. Dari berbagai sumber tertulis diketahui bahwa pada masa Syarif Hidayatullah itulah peradaban Islam di Cirebon dapat dikatakan mencapai masa kejayaannya. “Ingsun titip tajug lan fakir miskin” adalah salah satu pernyataan atau petatah petitih dari Syarif Hidayatullah yang digunakan sebagai ikon oleh kalangan, baik pemerintah maupun swasta di Cirebon. Saat ini, Cirebon tetap dijadikan sebagai nama salah satu kota dan kabupaten di Jawa Barat. Sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia dan selama Cirebon menjadi pusat pemerintahan kota dan kabupaten, keluarga besar Kraton Cirebon sepertinya belum pernah ada yang menjadi bupati ataupun

48

De Graaf, HJ. & Th. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI, penyunting Eko Endarmoko dan Jaap Erkelens, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2003), hlm. 132. 49 http://indahartgallery.webs.com/keraton.htm 50 Profil kota Cirebon Jawa Barat.

106

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

walikota.51 Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penting dikemukakan pertanyaan, bagaimana kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568? Bukti-bukti sejarah apa yang mendukung adanya kejayaan tersebut? Dengan bukti-bukti tersebut, seberapa jauh peran Syarif Hidayatullah pada perkembangan dakwah Islam di Jawa? Tulisan ini merupakan upaya untuk melakukan rekonstruksi sejarah kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568, dan untuk menunjukkan buktibukti sejarah peradaban tersebut sebagai bukti kejayaan peradaban Islam di Cirebon, serta mengungkapkan pengaruh Syarif Hidayatullah pada perkembangan dakwah Islam di Jawa. Signifikansi tulisan ini untuk menunjukkan adanya pembuktian atau lebih tepatnya penegasan akademik bahwa Syarif Hidayatullah yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Jati itu bukan sekedar tokoh legenda, mitos, atau semacamnya, tetapi bagian dari tokoh historis dan fakta sosial melalui rekonstruksi historis peradaban Islam Nusantara, terutama di Cirebon pada tahun 1479-1568. Secara strategis, tulisan ini diharapkan mampu menjadi kelengkapan khazanah sejarah Islam Indonesia dalam konteks rekonstruksi sejarah Islam Nusantara dan kehidupan keagamaan masyarakat, terutama di Cirebon. Penelitian Terdahulu dan Landasan Kajian Penelitian Kejayaan Peradaban Islam di Cirebon pada Era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568 ini tidak dapat dilepaskan dari kajian-kajian sebelumnya, baik karena kemiripan dalam penggunaan metode dan pendekatannya, maupun kedekatan konteks serta cakupannya. Kajian terdahulu berguna untuk mengetahui perbedaan kajian ini dengan kajian-kajian tersebut, sehingga kajian ini ditemukan orisinalitasnya. Adapun kajian secara khusus dengan nama Syarif
51

Bahan awal tentang Cirebon dapat dibaca dalam Sulendraningrat, P.R.A. Sejarah Cirebon, (Jakarta: Balai Pustaka, 1985) dan Membumikan Wasiat Sunan Gunung Djati Dalam Membangun Jawa Barat Bermartabat, (Cirebon: Yayasan Keraton Kasepuhan Cirebon, 2004).

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

107

Hidayatullah, sampai dengan penulisan laporan ini belum ditemukan, kecuali kajian terhadap naskah kuno, yaitu Sajarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati, baik dalam Naskah Mertasinga (2005) maupun Naskah Kuningan (2007). Kajian naskah serupa dilakukan Atja (1972) dengan judul, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Tjirebon). Dengan pendekatan sejarah dan filologi, Atja mengungkap sejarah awal mula Cirebon; diuraikan pula tentang Syarif Hidayatullah melalui naskah yang ditulis Pangeran Arya Cirebon dan transliterasinya, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari.52 Nama Sunan Gunung Jati lebih sering digunakan para peneliti daripada nama Syarif Hidayatullah., misalnya dalam disertasi Dadang Wildan yang telah diterbitkan dengan judul Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural (Bandung, 2002).53 Akbarudin Sucipto menulis Dakwah Sunan Gunung Jati dalam Perspektif Politik: Analisis Deskriptif terhadap Proses Islamisasi Cirebon abad ke-XV dan XVI (Skripsi: STAIN Cirebon, 2006). Kajian tentang Sunan Gunung Jati juga dapat ditemukan dalam ensiklopedi-ensiklopedi, seperti Ensiklopedi Islam (2002, cet.II), Ensiklopedi Ulama Nusantara (2009), dan Intelektualisme Pesantren (2003). Kajian mutakhir tentang Sunan Gunung Jati dilakukan Agus Sunyoto (2011). Dalam buku yang diberi judul Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, Sunyoto memaparkan sehistoris mungkin berdasarkan data manuskrip dan arkeologi gugatan para penulis sejarah Islam di Jawa, di mana Wali Songo masih diabaikan. Kajian tentang Cirebon dalam konteks sejarah beberapa kali telah dilakukan, termasuk bahasan khusus tentang Syarif Hidayatullah walaupun tidak mendalam. De Graaf dan Pigeaud (2003 cet. V) menulis Riwayat Kerajaan di Jawa Barat pada
52

Untuk melengkapi penelitian ini, transliterasi Atja dilampirkan, sebagai bagian tak terpisah dari hasil penelitian ini. Penelitian Atja tahun 1972 ini diterbitkan Ikatan Karyawan Meseum. 53 Dalam kajian Wildan tersebut, dipaparkan pula 7 (tujuh) naskah yang terkait dengan Syarif Hidayatullah dalam bentuk prosa dan tembang. Dalam bentuk prosa yaitu Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Sunda, dan Sejarah Cirebon. Dalam bentuk tembang, yaitu Carub Kanda, Babad Cerbon, Babad Cirebon, dan Wawacan Sunan Gunung Jati.

108

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Abad XVI: Cirebon. Kajian tentang Cirebon tersebut hanyalah salah satu bagian dari kajiannya tentang kerajaan Islam di Jawa, yang dimulai dari Demak, Kudus, Madura, hingga Banten. Acuan penulisan keduanya adalah literatur lokal atau pribumi. Kajian serupa juga dilakukan RH. Unang Sunardjo, Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cirebon 1479-1809 (1983). Begitu pula Uka Tjandrasasmita, yang menulis “Kesultanan Cirebon: Tinjauan Historis dan Kultural” dalam karya arkeologisnya, Arkeologi Islam Nusantara (2009). Tjandrasasmita menguraikan tentang Cirebon dengan pendekatan sejarah, mulai dari pertumbuhan, perkembangan, sampai dengan keruntuhan kesultanan. Paparan lainnya terkait dengan beberapa aspek penting di Cirebon, seperti keagamaan, seni sastra, seni bangun dan ragam hias, serta wayang dan topeng. Kajian lain tentang Cirebon secara khusus dilakukan oleh tim peneliti dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UNPAD dengan judul Sejarah Cirebon Abad Ketujuh Belas (Bandung, 1991). Kajian lain tentang Cirebon dilakukan oleh Darkum (Skripsi Pendidikan Sejarah Fak. Ilmu Sosial UNNES, 2007) dengan judul Peranan Pangeran Walangsungsang dalam Merintis Kesultanan Cirebon 1445-1529. Kajian lain yang masih berkaitan dengan Cirebon dilakukan oleh Heriyanto (Tesis UI, 2000) dengan judul Upacara Panjang Jimat: Suatu Kajian tentang Kraton Kasepuhan Cirebon Masa Kini. Dalam salah satu bagian kajiannya, Heriyanto memaparkan tentang Kraton Pakungwati dan Syarif Hidayatullah. Informasi tersebut, sekalipun tidak berasal dari sumber primer, dapat menjadi informasi penegasan. Adapun kajian dengan pendekatan sastra dan filologi dilakukan Pudjiastuti, yaitu Cirebon (2001) dan Kajian Kodikologis atas Surat Sultan Kanoman, Cirebon [Cod. Or. 2241 ILLB 17 (N0. 80)] (2007). Studi kodeks dalam kajian Pudjiastuti dapat mempertajam analisis untuk mengungkap konteks surat Sultan Kanoman pada akhir abad ke-17. Isi surat itu menobatkan putra bungsu Sultan menjadi Panembahan. Penjelasan lebih luas tentang dinamika Kesultanan Cirebon diungkap Pudjiastuti pada “Cirebon” sebagai salah satu entri Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Umum. Konteks Cirebon dalam tulisan Pudjiastuti berkaitan dengan pernaskahan kuna di Cirebon.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

109

yaitu sejarah. dst. para penulis asing juga melakukan kajian tentang Kesultanan Islam Cirebon. karena itu menjadi penting dan mendesak untuk dilakukan. dan Panjunan Cirebon dikupas sekilas. Wahby (2007). hingga tentang peleburan kota-kota kecil. filologi. dan Syafe‟I dalam „Jawa Barat pada masa Pemasukan dan Perkembangan Islam‟ dan „Jawa Barat dalam Abad ke -19‟ sebagai bagian dari Sejarah Daerah Jawa Barat (1979). arkeologi. dan kitab-kitab lokal lainnya. I. sekurangnya terdapat beberapa landasan kajian yang digunakan. yang berasal dari disertasinya pada Fakultät Geistes und Kulturwissenschaften (GuK) der Otto-Friedrich-Universität Bamberg.1 Tahun 2012 . dan arsitektur. dan Karel Steenbrink dalam Kawan Dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1941) (1995). Pada kajian-kajian terdahulu di atas. kebudayaan. Sulendraningrat memaparkan tentang Cirebon sejak masa Pra Sejarah sampai dengan masa masuknya Islam di Indonesia. Suwarno. Van Der Kemp dalam Pemberontakan Cirebon Tahun 1818 (1979). Karya orang dalam kraton tersebut mengacu pada Babad Cirebon. untuk mengungkap Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah (1479-1568) digunakan pendekatan sejarah yang belum pernah dilakukan. Catur Kanda. III). Dalam kajian Ahmed E. seperti Kuningan ke Cirebon. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern: 1200-2008 (2010 cet. Carub Kanda. Dengan demikian. silsilah 4 (empat) kesultanan.Penelitian dan penulisan tentang Cirebon dapat ditemukan pula dalam hasil penelitian dan buku-buku yang berasal dari seminar ataupun lainnya. Kritik internal dan eksternal dalam pendekatan sejarah juga digunakan dalam penelitian ini demi menjaga obyektifitas keilmuan. 2008). Sejarah dalam kajian ini juga didasarkan pada sumber naskah dan artefak budaya. Sebagai keluarga kraton Cirebon. Paparan senada diungkap Kosoh. Architecture of the Early Mosques and Shrines of Java: Influences of the Arab Merchants in the 15th and 16th Centuries?. 3 No. kajian ini diharapkan selain dapat 110 Jumantara Vol. Dengan perspektif yang berbeda. silsilah Sunan Gunung Jati dari garis ayah/ibu. Syarif Hidayatullah. mulai dari Raffles dalam The History of Java (Terj. Sulendraningrat menulis Sejarah Cirebon (1978). Adapun dalam kajian ini. masjid Agung.

Raja Abdullah bukanlah raja di Mesir. Sunan Ampel. tapi kemungkinan besar sebagai penguasa kawasan Aceh. (Bandung: Pustaka. Ayah Syarif Hidayatullah. walaupun berdarah Timur Tengah. dan Syekh Quro. 3 No. dengan judul Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup. Wahju.). Syarif Hidayatullah telah berguru kepada Syekh Tajudin al-Kubri selama 2 tahun dan Syekh Ataillahi Syazally yang bermazhab Syafei. 755 dan 758. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. hlm. Jumantara Vol. alih aksara dan bahasa Amman N.54 Menurut Purwaka Caruban Nagari. hlm. putri Prabu Siliwangi asal Pajajaran yang bergelar Syarifah Mudaim.56 54 Syarif Hidayatullah adalah putra raja Abdullah (Syarif Abdullah) bin Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Husein (al-Husaini) bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan Nurdin bin Abdul Malik bin Gazam bin Alwi bin Muhammad bin Ubaidillah bin Ahmad Muhajir bin Isa al-Bakir (ar-Rumi) bin Muhammad Idris an-Naqib bin Ali al-Uraidhi (Kasim al-Kamil) bin Ja‟far Shadiq bin Muhammad al-Bakir bin Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib (suami Fatimah az-Zahra binti Rasulullah Muhammad SAW. tetapi memang dapat dibuktikan melalui fakta-fakta historis. Syekh Najmurini (Nujumuddin) Kubra di Mekkah. Lihat Bibit Suprapto. Dilahirkan di Mesir. kajian ini dapat pula menjadi penegas. sama dengan Sunan Bonang dan Sunan Drajat atau Sunan Giri. Wahju. Syekh Bentong. Syarif Hidayatullah masih termasuk keturunan Rasulullah SAW. Syarif Hidayatullah dilahirkan pada tahun 1448 dari perkawinan Raja Abdullah (Syarif Abdullah) dengan Rara Santang. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara.1 Tahun 2012 111 . dalam urutan ke-22. Silsilah Syarif Hidayatullah: Arab dan Cirebon Menurut Ensiklopedi Ulama Nusantara. Ini mirip dengan pendapat Hosein Jayadiningrat dengan argumentasi yang berbeda. dan mitos belaka. alih aksara dan bahasa Amman N. filologis. pada masa remajanya. 55 Naskah Mertasinga. pada usia 120 tahun Syarif Hidayatullah (tahun 1568) dipanggil sang Khalik dan dikebumikan di Gunung Sembung Cirebon. 219 56 Lihat pada Naskah Mertasinga dan Kuningan. bahwa Syarif Hidayatullah atau sering dikenal dengan Sunan Gunung Jati itu bukanlah legenda.memberikan sumbangsih kepada masyarakat.55 Guru Syarif Hidayatullah lainnya adalah Syekh Nur Jati (Datuk Khafidz). Karya. terutama Perlak atau Pasei. 2007). 2009). ketika umur 20 tahun. Syekh Sidiq. (Jakarta: Gramedia. dan arkeologis.

pernikahan ketiga dengan Nyi Mas Retna Babadan (Putri Ki Gedeng Babadan). 2007). Pangeran Cakrabuana. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. hlm. 2009). Karya.57 Silsilah Syarif Hidayatullah dari jalur ayah sampai pada Rasulullah SAW. yaitu: Ratu Ayu (istri Fatahillah) dan Pangeran Pesarean (Dipati Muhammad Arifin). Dari pernikahannya dengan Prabu Siliwangi mempunyai tiga anak. dan dari pernikahannya dengan Sultan Mahmud mempunyai dua putra. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. pernikahan kedua dengan Ong Tien (Putri Cina. Syarifah Mudaim). pernikahan pertama dengan Retna Pakungwati (Putri Pangeran Cakrabuana) dikaruniai dua anak. (Bandung: Pustaka. Rasulullah SAW. Juru Labuhan Muarajati II) mempunyai anak Nyi Subang Larang yang menikah dengan Prabu Siliwangi. (Bandung: Pustaka. Rara Santang menikah dengan Sultan Bani Israil (Sultan Hud. berganti nama Rara Sumanding) tidak berlangsung lama. Sari Kabun (Rara Santang. Wahju. (Jakarta: Gramedia. 58 Adapun silsilah Syarif Hidayatullah dari jalur ibu sampai ke Prabu Bunisora. Ratu Winaon dan Pangeran Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I). Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup. kelima dengan Nyi Mas Rara Kerta (Putri Ki Gedeng Jatimerta) dikaruniai dua anak: Pangeran Jaya Lelana dan Pangeran Brata Lelana. mempunyai seorang putri bernama Siti Fatimah yang berputra Sayid Husein yang berputra Zainal Abidin yang berputra Syekh Zainal Kabir yang berputra Syekh Jumadil Kubra dari Quswa yang berputra Raha Umrah-Raja Odhara dari Mesir yang berputra Sultan Bani Israil yang berputra Syarif Hidayatullah. 2007) 57 Bibit Suprapto. Sultan Mahmud).. 756-757 58 Naskah Kuningan. adalah sebagai berikut: Sang Prabu mempunyai anak Ki Gedeng Kasmaya (Ki Ageng Giridewata) Penguasa Carbon Girang yang mempunyai putrid Nyi Karancang Singapuri dari Pulo Pinang/Singapura menikah dengan Ki Gedeng Tapa (Ki Gedeng Juman Jati. alih aksara dan bahasa Amman N. 3 No. yaitu:. dan Raja Sangara. secara singkat sebagai berikut:. karena Ong Tien meninggal dunia. lampiran 112 Jumantara Vol. hlm. keempat dengan Dewi Kawunganten (Putri Ki Gedeng Kawunganten.Syarif Hidayatullah pernah beberapa kali menikah. Banten) dikaruniai dua anak.1 Tahun 2012 .

demikian hingga akhir hidup. sira aja ngebat-tebat. 3 No.Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. “Perkara lampah kang katiti. 223-245.1 Tahun 2012 113 . (Dalam hidup ini. sira aja angebat-tebat ing laku den teka patine. Syarif Hidayatullah telah mendalami akidah. Syarif Hidayatullah juga belajar Tarekat Syattariyah. Den 59 60 Ibid. dalam babad-babad tentang Syarif Hidayatullah diceritakan bahwa sebelum kepergiannya ke tanah Jawa. Setelah itu. yaitu tarekat yang dihubungkan dengan nama Najamuddin al-Kubra. Bruinessen. alih aksara dan bahasa Amman N. Bruinessen juga berpendapat bahwa Syarif Hidayatullah merupakan penganut Tarekat Kubrawiyah. III. dan Naqsyabandiyah. “Mapam kita iki ing ngahurip. iku samono kang nyata den kukuh laku iku”. Pesan Syekh Athaillah di Sadili kepada Syarif Hidayatullah. Qadiriyah. Yen ngucap kang satuhu. (Bandung: Pustaka. bicaralah yang jujur dan jangan melawan hokum dari Yang Maha Esa. janganlah kamu bertindak berlebihan. syari‟ah. 59 Guru dan Ajaran Syarif Hidayatullah Menurut Bruinessen. hlm. 2007) Jumantara Vol. itulah hal yang nyata dan lakukanlah hal itu dengan teguh).60 Adapun beberapa ajarannya melalui pesan. 1999) cet. Syarif Hidayatullah berguru kepada Ibnu Atha‟illah al-Iskandari al-Syadzili selama dua puluh tahun di Madinah dan ia mendapat bayaran karena menjadi penganut Tarekat Syadziliyah. lan aja nyerang hukuming Widhi. Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat. yang dalam Babad Cirebon selalu disebutsebut. hlm. 23 61 Naskah Mertasinga dalam Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Martin van. Bandingkan dengan Naskah Mertasinga. antara lain sebagai berikut: Pesan Syekh Najmuddin Kubra kepada Syarif Hidayatullah61. Istika‟i. TradisiTradisi Islam di Indonesia (Bandung: Mizan. bahkan tasawuf dengan tarekatnya. Kalau bicara. Wahju.

dan perdagangan. maju sangat pesat.. keagamaan. Pada masa itu pula berlangsung penyebaran Islam ke Banten (sekitar 1525-1526) melalui penempatan salah seorang putra Syarif Hidayatullah. Wali Songo. hiduplah dengan bersahaja.62 Memang penelitian ini perlu dilanjutkan lagi. aja langguk ing wicara. seperti di atas. lakukanlah tapa di tengah ramainya manusia. sira aja ilok anglaluwih ing padaning manusa. Maulana Hasanuddin. Iku lampah kang sampurna jati. penguasa kadipaten dari Kerajaan Sunda Pajajaran yang berkududukan di Banten Girang. Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikanmu takabur. (Jakarta: Pustaka Gramdia. untuk mendalami apa yang dinyatakan Sunyoto. hlm. Uka. Sira laku tapaha maring ingkang remening jalma. menyebutnya dengan “. Mung semana lampah ingkang sejati”. Pan sira aja susah tatapa ing gunung utawa guane iku dadi takabur. bidang politik. Pada masa itu.. Kemajuan Islam pada era Syarif Hidayatullah tidak berhenti pada terbentuknya pusat pemerintahan di bawah pimpinan 62 63 Sunyoto. khusus mengenai guru dan ajaran Syarif Hidayatullah. jangan sombong dalam bicara dan jangan berlebihan terhadap sesame manusia. Arkeologi Islam Nusantara. hlm.diwarnai cerita-cerita absurd yang perlu penafsiran untuk mengetahui kebernaran historisnya”. (Mengenai langkah yang harus dijalani. Bukti Kejayaan Pada Era Syarif Hidayatullah Periode Syarif Hidayatullah (1479-1568) memimpin Cirebon merupakan masa perkembangan sekaligus masa kejayaan Islam di Cirebon. 2009). Sunyoto (2011) dalam analisisnya tentang pendidikan dan pengembangan keilmuan Syarif Hidayatullah. Wong kang luput den ampura. 3 No. hanya itulah langkah yang sejati).1 Tahun 2012 . janganlah kamu berlebihan. Itulah langkah sempurna yang sejati. Milikilah sikap luhur dan maafkan orang yang salah. Lan duwea muhung.63 Peristiwa itu terjadi setelah keruntuhan pemerintahan Pucuk Umum. 164 114 Jumantara Vol. 156 Tjandrasasmita.basaja sira iku.

1 Tahun 2012 115 . yaitu yang bersifat rohaniah seperti penyebaran Islam. selain terlihat dari sisi keagamaannya. Sampai saat ini masjid tersebut masih terpelihara dan dikenal dengan nama dalam dialek Cirebon. . masjid Pejalagrahan. dekat Muara Cibanten. graha artinya rumah). juga dapat dilihat pada perkembangan bangunan fisiknya. Krawang. Jika dipetakan. dan pelabuhan yang saat ini tidak seramai dahulu lagi. Masjid ini merupakan masjid pertama di tatar Sunda dan didirikan di pesisir laut Cirebon. khususnya masjid. telah dilakukan sejak Islam masuk di Cirebon. kemudian Talaga (tahun 1530).Maulana Hasanuddin yang terletak di Surosowan. Kraton Pakungwati. antara lain ke Kerajaan Galuh (tahun 1528). Bekasi. Tangerang. Untuk kepentingan ibadah dan pengajaran agama Islam. Bukti-bukti kejayaan Syarif Hidayatullah di Cirebon.Wilayah Kekuasaan Syarif Hidayatullah 1479-1568 - Tajug dan (atau) Masjid Pendirian tempat ibadah. Pangeran Cakrabuana mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Sang Tajug Jalagrahan (jala artinya air. seperti yang tampak dalam gambar. yaitu Indramayu. dan Serang (Banten). seperti Tajug (Masjid). wilayah perkembangan Islam pada era itu. Jumantara Vol. tetapi pengembangan juga dilakukan ke arah Priangan Timur. 3 No. saat ini berada di Kasepuhan.

Bangunan kedua masjid terbagi menjadi 2 (dua).1 Tahun 2012 . masjid Agung Sang Cipta Rasa. tempat pengimaman hanya digunakan salat idul fitri dan idul adha 64 Babad Tanah Sunda. yakni masjid Merah Panjunan dan masjid Agung Sang Cipta Rasa. menurutnya. Sunan Gunung Jati.64 Selain itu. 45 65 Wawancara Agustus 2011 di Masjid Merah Panjunan Cirebon. dibangun sesudah masjid Merah Panjunan. yaitu bangunan dalam dan luar. terdapat beberapa bangunan masjid yang dibangun pada masa Syarif Hidayatullah. para walisongo sering mengadakan rapat di dalam masjid untuk membicarakan beberapa hal penting urusan umat. Bagian dalam masjid digunakan hanya untuk waktu-waktu khusus. 116 Jumantara Vol. berbentuk undukan bata. Bagian dalam Masjid Merah Panjunan. yang sampai hari ini diakui keberadaannya. terbitan Suleman Sulendraningrat. seperti ditulis Dadan Wildan. yaitu sekitar tahun 1480. di dinding bagian pengimaman terdapat lukisan khusus. Kasepuhan. Menurut salah seorang takmir masjid. Khusus untuk Masjid Merah Panjunan. Masjid tersebut dibangun sekitar tahun 1454. Berbeda dari informasi yang berkembang di masyarakat. sebelum masjid Agung Sang Cipta Rasa didirikan.bertempat di dalam Kraton Pakungwati. dan dihiasi piring keramik dari Cina. sedangkan bagian luar berfungsi untuk salat maktubah. 3 No. hlm. bagian dalam hanya digunakan untuk Salat hari raya („Ied). 65 Sebagaimana ciri khas masjid Cirebon lainnya.

Mesjid Merah Panjunan Mesjid Merah Panjunan Kejayaan era Syarif Hidayatullah juga terlihat dari keberadaan sebuah bangunan masjid yang bernama Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang saat ini berada dalam lingkungan kompleks Kraton Kasepuhan. 3 No.1 Tahun 2012 117 . Masjid itu dibangun tahun 1549 atau seperti yang tertulis dalam candrasangkala yang berbunyi Waspada Jumantara Vol.

hlm. Syarif Hidayatullah sendiri lebih memilih mengkhususkan diri dalam syiar Islam ke daerah pedalaman.Penenbehe Yuganing Ratu. Keaktifan dakwah Islam Syarif Hidayatullah tidak membuatnya melupakan penataan pemerintahan di daerah sekitarnya. Paramita R. Kota Dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra. xxviii 68 Adeng . Cerbon. Berbagai perubahan sistem pemerintahan yang berdasarkan nilai-nilai Islam mulai diterapkan. alih aksara dan ringkasan S. Dhandhanggula)67 Sejak serah terima dari Pangeran Cakrabuana. Masjid Agung dibangun ketika Syarif Hidayatullah berumur 113 tahun atau sekitar 1561. hlm. 1998).Z. Perkembangan Islam secara luas dan massif bermula dari tempat itu. Tetapi menurut Naskah Mertasinga.dkk. jadi 1422 caka. 34-35 118 Jumantara Vol. Hadisutjipto (Jakarta: Depdikbud. 3 No. Sebagai bagian dari Walisongo. Yuga = 4. Ratu = 1. kekuasaan cukup dijalankan oleh putranya di Banten. Syarif Hidayatullah tinggal di Kraton Pakungwati. mulai dengan alun-alun dan istana yang kemudian terkenal dengan nama Istana Pakungwati (Pupuh 18. Syarif Hidayatullah di akhir hayatnya lebih memilih untuk menjadi seorang ulama daripada penguasa pemerintahan. 1979). (Jakarta: Depdikbud. Nama lain masjid ini adalah Masjid Pakungwati.66 Bentuk bangunan dan simbol-simbol dalam masjid semuanya sarat dengan makna filosofis. Mempertimbangkan hal itu. 123 67 Babad Cirebon. Naskah Mertasinga. Kraton dan Sistem Pemerintahan Cirebon Sarip Hidayat menikah dengan Pakungwati dan mulailah pembangunan negara (kota) Carbon. Pesarean merupakan putra Syarif Hidayatullah dengan Nyai Tepasari. 1982). hlm. Abdurrachman (penyunt. (Jakarta: Sinar Harapan.1 Tahun 2012 . Simbol bangunan masjid melambangkan filsafat Hayyun ila Ruhin (hidup tanpa ruh). yang bermakna 1500.68 66 Waspada = 2. Hal itu pula merupakan konskuensinya sebagai anggota penting Walisongo. Panembehe = 2. Baginya. Syarif Hidayatullah menyerahkan kekuasaan pemerintahan di Cirebon kepada Pangeran Pesarean pada kurun waktu 1528-1552. hlm. 83.).

Masjid Agung Sang Cipta Rasa dari berbagai sisi Pintu Gerbang Masjid Pintu Masuk Masjid Dalem Dengan tidak aktifnya Syarif Hidayatullah dalam pemerintahan. maka ia mendapat julukan Pandita Ratu (ulama yang menjadi raja. Kraton Kasepuhan sebagai pintu gerbang menuju Kraton Pakungwati Kraton Cirebon setelah ditinggal Syarif Hidayatullah mengalami Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012 119 . tetapi lebih giat menjalankan keagamaan daripada bergerak di bidang politik).

“Perkembangan Pelabuhan Cirebon 1859 -1930”. Sebagai kota pantai. dapat disaksikan puluhan kapal besar tengah bersandar di dermaga.ac. (Semarang: Skripsi Fak.pdf 70 Sigit W. terjadi dengan damai dan tanpa kekerasan. Dari berbagai sumber diketahui. 3 No. Sastra UNDIP. Pelabuhan Cirebon diduga berdiri seiring dengan kelahiran Cirebon pada 1371. kota Cirebon juga menjadi kota pelabuhan alternatif terpenting di pantai utara Jawa setelah Jakarta dan Semarang. Hal itu sejalan dengan perkembangan pesat dari beberapa kerajaan Islam di Jawa dan Banten. Gelar penguasa Cirebon pernah mengalami beberapa perubahan. Perkembangan pelabuhan paling pesat terjadi pada abad ke-19. Indramayu.unikom. Pelabuhan sebagai Pusat Perdagangan Peninggalan Syarif Hidayatullah yang pernah menjadi bagian dari jalur sutra perdagangan dunia internasional adalah pelabuhan. 1994) dalam http://eprints.undip.69 Selain itu. yaitu Panembahan Ratu dan Sultan.. bersamaan dengan berlangsungnya era kolonialisme. Pada sore hari.70 Menurut Singgih Tri Sulistiono. bahwa perubahan nama gelar untuk penguasa di Kraton Cirebon juga menunjukkan adanya dinamika yang luar biasa. dan Karawang. Kapal-kapal asing yang mengangkut barang-barang niaga dari dan ke luar negara pernah meramaikan pelabuhan ini. terlebih lagi setelah adanya pengaruh pihak kolonial atau masuknya VOC ke Cirebon. penyebaran Islam ke daerah Babadan.berbagai kemunduran.1 Tahun 2012 .id/files/disk1/475/jbptunikompp-gdl-midiansoem-237253-bab2-mid-n. Mungkin fenomena ini bisa ditafsirkan sebagai upaya Cirebon untuk memperkuat posisinya di bidang perdagangan dan pelayaran dengan cara menguasai daerah pedalaman yang menjadi sumber 69 http://elib.id/22079/ 120 Jumantara Vol. Pemandangan itu pun masih dapat ditemui hingga saat ini. Pelabuhan Cirebon merupakan pelabuhan yang memiliki peran strategis dalam hal perdagangan sejak masa Syarif Hidayatullah masih berkuasa. Cirebon merupakan pusat perdagangan untuk daerah sekitarnya. Kuningan (Selatan Cirebon).ac.

seperti beras dan kayu. hlm. Seperti disebutkan 71 72 Seperti dikutip Tjandrasasmita.com/photos/album/91/Pelabuhan_Cirebon Jumantara Vol. Adapun pelabuhan Cirebon dikelola oleh BUMN yang keberadaannya dibawah manajemen PT (Persero). Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa jika pelabuhan tersebut kurang dimanfaatkan. Uka. pelabuhan Cirebon berstatus pelabuhan internasional. serta sekaligus tempat mensuplai barang-barang dari luar. Lebih-lebih pada masa pemerintahan Syarif Hidayatullah (1479-1568) yang lebih kurang berusia satu abad. Arkeologi Islam Nusantara.72 Pelabuhan Cirebon inilah salah satu sumber ekonomi terbesar Kraton Cirebon sehingga pihak kraton dapat memenuhi kehidupan masyarakatnya. 71 Pelabuhan Kota Cirebon saat ini Saat ini. 3 No.1 Tahun 2012 121 . kota pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon sudah lebih banyak penduduknya dan lebih ramai. yang berarti bahwa pelabuhan Cirebon terbuka bagi kegiatan bongkar muat barang dari dan ke luar negeri atau barang ekspor dan impor.penghasil komoditas perdagangan. Pengaruh Syarif Hidayatullah di Jawa Sebagaimana disebut di awal pembahasan. pelabuhan samudra dan pelabuhan ekspor impor.multiply. setiap Sunan dalam Wali Songo mempunyai tugas masing-masing. 164 http://boykomar. maka kejayaan Cirebon juga sudah mulai tenggelam.

kaliyan kemasan. 122 Jumantara Vol. tandu joli sapanunggalanipun. Kanjeng Susuhunan ing Giri adamel pranatanipun ing karaton Jawi. adalah sebagai berikut: Sunan Ampel membuat peraturan-peraturan yang Islami untuk masyarakat Jawa. tugas tokoh-tokoh Wali Songo dalam mengubah dan menyesuaikan tatanan nilai dan sistem sosial budaya masyarakat. amewahi donga hakaliyan mantra. utawi andamel garabah. tata cara pengobatan. adamel susuluking ngelmi kaliyan amewahi ricikanipun ing gangsa. 3 No. sebagai berikut: Susuhunan ing Ngampel-denta handamel pranating agami Islam. Kanjeng Susuhunan Drajat.. dan lauk pauk. Dalam bahasa Primbonnya.1 Tahun 2012 . Sunan Giri membuat tatanan pemerintahan di Jawa.Sunyoto. seperti disebut Sunyoto. membuat gamelan. juga merintis pembukaan jalan. Kanjeng Susuhunan Kudus amewahi dapuripun dadamel. kanggenipun ing tiyang Jawi. melengkapi peralatan pande besi. mengatur perhitungan kalender siklus perubahan hari. hlm. kerajinan emas. menyesuaikan siklus pawukon. undang-undang. sinjang batik.73 Menurut Serat Walisana. tenun lurik. utawi tiyang ingkang karembat ing tiyang. serta membuat gerabah. kaliyan malih amiwiti damel dalan tiyang Jawi. kaliyan amewahi parabotanipun ing among tani. Sunan Bonang mengajar ilmu suluk. dan menggubah irama gamelan. serta tata cara membuka hutan. kaliyan sinjang lurik. tahun. membuat keris. dan windu. dan perlengkapan kuda. utawi amewahi lagunipun ing gending. saha adamel angger-anggeripun hingga pangadilan hokum ingkang keninging kalampahan ing titiyang Jawi. Raja Pandhita ing Gresik amewahi ing polanipun ing sinjang. memperbarui alat-alat pertanian. saha amewahi ing wangunipun kakapaning kuda. Kanjeng Susuhunan Bonang. utawi amewahi lampahing pawukon sapanunggalipun. Sebagai Raja Pandita di Gresik ia merancang pola kain batik. Susuhunan Majagung mengajarkan mengolah berbagai macam jenis masakan. utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana. juga membuat peraturan. kaliyan amewahi bangsa pepetangan lampahing dinten wulan tahun windu. 90-91. utawi amewahi parabotipun bekakasing pande. bulan. Susuhunan ing Majagung amewahi wangunipun ing olah-olahan. Syarif Hidayatullah di Cirebon mengajarkan tata cara berdoa dan membaca mantra. Kanjeng Susuhunan ing Gunung Jati ing Cirebon. hingga sistem peradilan yang diperuntukkan bagi orang Jawa. tokoh Syarif Hidayatullah dikisahkan memiliki kaitan dengan ajaran sufisme 73 Sunyoto. waos duwung sapanunggalanipun. Sunan Drajat mengajarkan tata cara membangun rumah dan membuat alat untuk memikul orang. dadaharan hutawi ulam-ulaman. amewahi wanguning griya. Sunan Kudus merancang pekerjaan peleburan. seperti tandu dan joli.

alih aksara dan bahasa Amman N. Syarif Hidayatullah yang hidup pada abad ke-15/16 di Cirebon. Sekurangnya terdapat beberapa peristiwa besar di Demak. Sunan Giri. Perkembangan Tarekat Syattariyah dan Akmaliyah. 72-88 Jumantara Vol. (Bandung: Pustaka. Abad tersebut. Syaikh Sbti. Syaikh Rudadi. daripada sebagai penguasa formal birokratis di kesultanan Cirebon. sering pula dinisbatkan pada ajaranajaran Wali Songo. sampai dengan tulisan ini dibuat.melalui kitab-kitab Syaikh Ibrahim Arki. 100-101 76 Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga). Ibid. V. Syaikh Muhyiddin Ibn „Arabi. dan Syaikh Samangun Asarani. Wahju. Sunan Kalijaga. antara lain rapat Wali Songo pernah dipindah dari Demak ke Cirebon untuk membicarakan banyak hal di Jawa. (Yogyakarta: LKiS. 91-92 Slamet Muljana.. 3 No. cet. hlm.75 Keterlibatan Syarif Hidayatullah dengan kerajaan Islam di Demak. Sebagai sosok historis. Setiap teks selalu menawarkan informasi yang tak jarang berbeda dan bertentangan satu teks dengan teks lainnya tentang sosok Syarif Hidayatullah. intelektual dan muballig. bersamaan dengan masa renaisans di Eropa dan kehadiran para pemikir besar muslim pada masanya. Syaikh Abu Yazid Bustomi. hlm. hlm. 2007). Bukti kedekatan pengaruh juga ditunjukkan dengan pola pernikahan putra putrinya. Fatahillah. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya NegaraNegara Islam di Nusantara. disebutkan pula dalam Naskah Mertasinga. Syarif Hidayatullah telah menanamkan suatu 74 75 Sunyoto.76 Menurut sumber lain. seperti dikutip Muljana. tidak ditemukan suatu kitab atau karya akademiknya.74 Dalam Serat Kanda. Syarif Hidayatullah juga ikut dalam perjuangan Islam di Jayakarta melalui utusannya.. Sebagai tokoh yang lebih memilih dakwah syiar Islam bagi masyarakatnya. terdapat berita bahwa Sunan Cirebon ikut serta membangun masjid Demak sebagai salah satu di antara Sembilan wali. khususnya Syarif Hidayatullah. 2007). Kesimpulan Mengkaji teks Syarif Hidayatullah sungguh mengasikkan. Begitu pula dengan keterlibatannya dengan kerajaan Islam di Banten.1 Tahun 2012 123 . dan Syekh Siti Jenar.

Sumedang. Matthew Isaac (1997). bukti kejayaannya dapat ditemukan melalui bangunan tajug atau masjid dengan keragaman seni dan filosofinya. Karena itu. Cet. HJ. Tak kalah pentingnya lagi kontribusi Syarif Hidayatullah pada perkembangan Islam di Jawa Barat dengan cara dakwah dengan damai. Cianjur. Pengaruh Syarif Hidayatullah terhadap perkembangan Islam di Jawa sangat besar sekali. “An Inheritance from the Friends of God: The Southern Shadow Puppet Theater of West Java. Bruinessen. Skripsi UNES Semarang. Ciamis. Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Masjid Merah Panjunan. Wallahu a‟lam bis sawab Bibliografi Adeng. Disertasi. Indramayu.peradaban moral dan teologis bagi muslim Indonesia terutama di Cirebon. Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat. Bandung: Mizan. De & Th. Yale University.1 Tahun 2012 . Darkum (2007). “Peranan Walangsungsang dalam Merintis Kesultanan Cirebon 1445-1529”. (1998). barangkali merupakan sebagian di antara bukti peradaban muslim klasik Indonesia dari Syarif Hidayatullah selama kurun waktu 1479-1568 di Cirebon. Indonesia”. Garut. Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. Graaf. dkk. 124 Jumantara Vol. mulai dari Kuningan. Kota Dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra. Martin van (1999). Majalengka. Pigeaud (2003). Cohen. Atja (1974). Adanya kerajaan Islam di Demak dan Banten merupakan beberapa contohnya. bahkan Jayakarta (Betawi). Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah muladjadi Tjirebon). Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia. Jakarta: Ikatan Karyawan Meseum. Penyunting Eko Endarmoko dan Jaap Erkelens. Jakarta: Depdikbud. 3 No. III.

Husein Muhammad. Iskandar. Jakarta: Diva Pustaka. II.) (1982). Abdurrachman. dalam R. K.Djajadiningrat. Munandar. Jakarta: Bhratara. Yoseph (2008) Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakwasa). Hoesein (1974). Yogyakarta. Paramita R. Jakarta: Bhratara.1 Tahun 2012 125 . dalam Susanto Zuhdi. Masduqi. Sharon (1992). Yogyakarta: LKPSM. seperti dikutip dalam Marwati Djoened Poesponegoro. Masa Awal Kerajaan Cirebon. Mastuki HS. Denzin. Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Pertumbuhan Pesantren. (1974) “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinya”. Cet. Cet.N. dalam R.A.) (2003). dan M. Siddique.A. Agus Aris dan Titik Pudjiastuti (1997) “SumberSumber Tekstual tentang Sejarah Cirebon”. (2000) Hand Book of Qualitative Research. Cerbon.Y.A. Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra. Sejarah Nasional Indonesia: Jaman Jumantara Vol. Abdullah Mustofa (2001) Pakar-Pakar Fiqh Sepanjang Sejarah. “Beberapa Catatan Mengenai Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinja”. Bandung: Geger Sunten.A. Jakarta: Sinar Harapan. R. Tesis. United States: Sage Publications Inc. Universitas Gajah Mada. & Lincoln S. Ishom (edit. X. Kern dan Husein Djajadiningrat. El-Saha. Kern dan Husein Djajadiningrat. Nugroho Notosusanto. Jakarta: Depdikbud. Masa Awal Kerajaan Cirebon. Relics of the Past: Sociological Study of the Sultanates of Cirebon West Java. Zaenal (2010) “Pemerintahan Kota Cirebon (19061942)”. Kern. Jakarta: Djambatan. 3 No. (penyunt. P. Tim IAIN Syarif Hidayatullah (2002) Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid I A-H. Penterj. al-Maraghi.

_______ (2004) Membumikan Wasiat Sunan Gunung Djati Dalam Membangun Jawa Barat Bermartabat. Margaret (2001).]: Karisma Publishing Group. Suprapto. Skripsi. Jakarta: Balai Pustaka.id/22079/ Yenne. Imam (2001).1 Tahun 2012 . Surabaya: Risalah Gusti. Wildan. Jakarta: Transpustaka. terbitan Suleman Sulendraningrat dalam Dadan Wildan. 100 Peristiwa yang Berpengaruh di dalam Sejarah Dunia (100 Events That Shaped World History). Suprayogo dan Tobroni. Sigit W (1994) “Perkembangan Pelabuhan Cirebon 1859-1930”. Jakarta: Gramedia. Mistikus Islam: Ujaran-ujaran dan Karyanya. Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural. Smith. Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup. Ribut Wahyudi. Fakultas Sastra UNDIP. Tulisan dapat diakses di http://eprints. Bandung: Humaniora. Bibit (2009). Dadan (2002). Lili Sri Padmawati. Suntingan/Terbitan Naskah Babad Tanah Sunda. Jakarta: Balai Pustaka. Karya.Pertumbuhan dan Perkembangan III.ac. Metodologi Penelitian Sosial-Agama. 3 No. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. Sunyoto. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan. Sulendraningrat. Penterj. Bandung: Remaja Rosda Karya. Sejarah Cirebon. Bill (2005). Agus (2011). Cirebon: Yayasan Keraton Kasepuhan Cirebon. penterj. Uka (2009) Arkeologi Islam Nusantara.undip. PRA (1985).k. Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan 126 Jumantara Vol. Jakarta: Pustaka Gramedia. Tjandrasasmita. [t.

2002) Babad Tanah Sunda. 2002) Babad Cirebon. alih aksara dan bahasa Amman N. alih aksara dan bahasa Amman N.com/2010/12/kisah-sejarah-kotacirebon.kemdiknas.pdf http://www.id/files/disk1/475/jbptunikompp-gdlmidiansoem-23725-3-bab2-mid-n.php http://boykomar.Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. (Bandung: Humaniora.com/photos/album/91/Pelabuhan_Cireb on http://elib.go. Wahju. 2005) Naskah Kuningan. (Bandung: Pustaka.ac. alih aksara dan ringkasan S.id/kbbi/index. Wahju.multiply.htm Jumantara Vol.com/keraton. 3 No. Hadisutjipto (Jakarta: Depdikbud.html http://indahartgallery.unikom.1 Tahun 2012 127 .Z. terbitan Suleman Sulendraningrat dalam Dadan Wildan. 2007) Website http://pusatbahasa. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. (Bandung: Pustaka. (Bandung: Humaniora.nusawarta.webs. 1979) Naskah Mertasinga. Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural.

Daluang.1 Tahun 2012 . panjang serat. warna bahan. kadar asam dan jenis kerusakan naskah.Abstrak Tulisan ini berupaya memaparkan hasil identifikasi naskah berbahan daluang dengan menggunakan dua metode. Adanya kemungkinan penggunaan metode dan hasil identifikasi bahan naskah daluang tersebut diharapkan dapat memperkaya metode kajian naskah dan mempertajam analisis filologis selanjutnya. Candi Cangkuang *) Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia 128 Jumantara Vol. Adapun uji sampel di laboratorium mengacu pada Standard Nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional Indonesia (BNSNI) sehingga hasilnya lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. 3 No. yaitu pengamatan langsung dan uji sampel di laboratorium. jenis serat. digunakan beberapa alat bantu identifikasi agar hasilnya lebih terukur. Kata Kunci: Identifikasi. Dalam hal metode pengamatan langsung. Bahan Naskah. Karakteristik bahan naskah yang dihasilkan berupa ketebalan bahan. Dua metode tersebut digunakan untuk identifikasi bahan naskah gulungan koleksi Cagar Budaya Candi Cangkuang (CBCC).

Terkait dengan bahan naskah. Sudardi. 1994: 11).1 Tahun 2012 129 . dan daluang saéh. yang secara otomatis Jumantara Vol. baik dari segi peristilahan. 74 buah di antaranya berbahan “daluang”. 2001: 18-20. 3 No.Pendahuluan Naskah dibedakan atas adanya fisik dan kandungan teks. yang menyatakan bahwa dari 137 buah koleksi naskah yang ada terdaftar. yaitu bahan dan teknik. Medium dalam naskah dapat dibedakan pula atas dua hal. di antaranya Lubis (1996:37) yang menyatakan bahwa “daluang adalah kertas yang digunakan di Pulau Jawa yang terbuat dari kulit kayu sebagai campuran”. Contoh kesalahan dalam pendeskripsian naskah yang memakai daluang sebagai bahannya adalah pendeskripsian bahan naskah pada koleksi Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga Jawa Barat (BPMNSBJB). Naskah berbahan daluang dideskripsikan sebagai naskah berbahan kulit kambing. saéh. yaitu daluang. 1985: 4-5. yang pertama kali dapat dilakukan di antaranya adalah pendeskripsian medium. fisik naskah adalah medium yang mewadahi teks sebagai kandungannya (Baried. Dalam hal ini digunakan tiga istilah untuk satu jenis bahan naskah yang sama. Namun patut dicatat bahwa masih terdapat beberapa kekeliruan dalam memahami daluang. Kabupaten Garut. Dalam identifikasi naskah. Di samping itu. Kasus serupa terjadi pada pendeskripsian naskah gulungan CBCC di Kecamatan Leles. Sudjiman. Provinsi Jawa Barat. 2 buah berbahan saéh. Terjadinya kesalahan dalam identifikasi naskah berbahan daluang. daluang merupakan salah satu dari sekian banyak bahan naskah yang digunakan dalam tradisi tulis Nusantara. terdapat pula kekeliruan dalam pendeskripsian bahan naskah pada materi pameran tetap di BPMNSBJB. dan 1 naskah berbahan daluang saéh. pengenalan karakteristik bahan. yaitu naskah Babad Pajajaran yang kemungkinannya besar berbahan daluang dideskripsikan sebagai naskah berbahan kulit binatang. dan aspek-aspek lainnya. bisa jadi disebabkan oleh hilangnya tradisi pembuatan daluang.

tidak mengenal wujud dan ciri-ciri daluang dengan baik. Buruknya kondisi naskah-naskah berbentuk buku bisa jadi disebabkan oleh tingginya tingkat penggunaan pada masa naskah itu digunakan atau karena kurang baiknya teknik penjilidan. Sehubungan dengan hal itu. naskah CBCC ternyata belum banyak diteliti. Naskah koleksi CBCC seluruhnya berjumlah tujuh belas naskah dan seluruh bahan naskahnya diperkirakan berupa daluang.menyebabkan informasi mengenai daluang menjadi terputus. Di antara sekian banyak naskah yang berhasil dihimpun dalam berbagai katalog naskah Nusantara. penyimpanan. dan aksaranya sudah tidak terlalu jelas. Dalam hal ini peran kajian kodikologi untuk mengenali bahan. daluang sebagai bahan naskah yang dihasilkan oleh tradisi tulis Nusantara menjadi penting untuk dikaji lebih lanjut. dan perawatan naskah. 3 No. berjamur. lembar halamannya terurai dari jilidannya sehingga halaman demi halamannya tercecer. sehingga menyulitkan ketika akan dibaca. Naskah-naskah koleksi CBCC disimpan di tiga lemari kaca yang berbeda. bahkan dalam berbagai katalog naskah pun belum tercantum. lembab. Kemasan naskahnya terdiri dari dua bentuk. serta fungsinya diperkirakan dapat memberi jalan bagi pendalaman kajian terhadap naskah serta pengembangan bagi disiplin ilmu filologi. naskah gulungan kondisinya lebih baik. Berbeda dengan yang berbentuk buku. atau karena kurang baiknya pemeliharaan masyarakat pendukung berikutnya. termasuk para petugas yang menangani naskah. Adapun informasi mengenai koleksi naskah CBCC dapat dilihat pada buku Cagar Budaya Candi Cangkuang dan Sekitarnya yang disusun oleh Zaki Munawar (2002). teknik. berupa buku (binding) dan gulungan (scroll). 130 Jumantara Vol.1 Tahun 2012 . termasuk di dalamnya naskah berbentuk gulungan. lima belas buah naskah berbentuk buku disimpan berjajar dalam dua lemari kaca dan dua naskah disimpan terpisah dalam sebuah lemari kaca lainnya. Kondisi fisik naskah berbentuk buku umumnya sudah mulai rusak (dari enam belas naskah hanya tiga naskah yang kondisinya masih cukup baik). Kini banyak orang.

lembarannya relatif masih utuh, tidak terlalu lembab, tidak terlalu berjamur, dan aksaranya terlihat jelas sehingga memudahkan pembacaan teks. Kondisi naskah berbentuk gulungan yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi naskah berbentuk buku mengundang beberapa pertanyaan, di antaranya: apakah naskah yang dikemas dalam bentuk gulungan lebih baik daripada naskah berbentuk buku atau apakah ada kaitan antara bahan naskah dan bentuk kemasan naskah dengan tingkat kekuatan fisik naskah?

Gambar 1. Tampak kerusakan naskah berbentuk buku koleksi CBCC. (dok. pribadi)

Naskah gulungan koleksi CBCC mempunyai ukuran 176 X 23 cm., kedua permukaannya ditulisi dengan teks beraksara Arab,; tinta yang digunakan untuk menuliskan aksara berwarna hitam dan tinta yang digunakan untuk menuliskan tanda baca berwarna merah. Identifikasi bahan naskah gulungan koleksi CBCC pada dasarnya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan berdasarkan pengujian di laboratorium. Pengamatan secara langsung di lapangan dapat dilakukan dengan bantuan alat ukur dan peralatan lainnya yang

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

131

diperlukan. Alat ukur yang digunakan di lapangan memberikan hasil ukur secara langsung, seperti panjang dan lebar bahan naskah, ketebalan bahan naskah, warna bahan naskah, jenis aksara, dan warna tinta tulis yang digunakan. Adapun pengujian bahan di laboratorium dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan laboratorium dan didasarkan pada metode dan standar yang sudah diakui secara nasional, yaitu SNI. Pengamatan Langsung Pengamatan terhadap bahan naskah gulungan koleksi CBCC yang bisa dilakukan secara langsung di lapangan adalah berupa pengukuran dimensi panjang dan lebar bahan naskah dengan menggunakan mistar, pengukuran ketebalan bahan naskah dengan menggunakan mikrometer digital, dan pengukuran warna dengan menggunakan tabel warna; di samping itu dilakukan pula pengambilan gambar dengan menggunakan kamera digital untuk keperluan dokumentasi penelitian. Setelah dilakukan pengukuran, hasilnya menunjukkan bahwa ukuran bahan naskah adalah 176 X 23 cm., sama dengan informasi yang diberikan oleh juru pelihara CBCC. Ukuran bahan naskah seperti itu termasuk jarang digunakan dalam penulisan naskah, hal ini dapat di antaranya dapat dilihat pada data dalam Katalogus Naskah Sunda (1988), yang menunjukkan bahwa naskah-naskah Sunda umumnya mempunyai ukuran di bawah ukuran bahan naskah gulungan koleksi CBCC dan umumnya berbentuk buku. Kelangkaan ukuran bahan naskah tersebut juga dapat mengindikasikan bahan baku yang digunakannya. Dalam hal ini bisa diyakini bahwa naskah gulungan koleksi CBCC bukan terbuat dari kulit kambing seperti yang dideskripsikan oleh petugas juru pelihara CBCC, berangkat dari asumsi panjang kulit kambing dari bagian leher sampai dengan bagian ekor berkisar antara 90 sampai dengan 120 cm. Di samping itu tidak terdapat bintik-bintik bekas pori-pori dan bekas tumbuhnya bulu seperti pada lembaran kulit binatang pada umumnya. Serat pembentuk

132

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

lembarannya pun serat panjang seperti halnya serat pembentuk lembaran kulit kayu. Mengenai kepastian jenis serat pembentuk bahan, selanjutnya akan dipastikan melalui uji laboratorioum.

Gambar 2. Tampak serat pembentuk bahan naskah NGCBCC. (dok. pribadi)

Mengenai ketebalan bahan naskah gulungan koleksi CBCC, setelah dilakukan pengukuran ternyata bahwa ketebalan bahannya tidak sama, paling tipis adalah 0.29 mm dan paling tebal adalah 0.48 mm. Berpijak pada adanya variasi ketebalan bahan dan dikaitkan dengan jenis serat pembentuk lembaran yang diduga berasal dari serat kulit kayu, maka dapat dipastikan bahwa bahan naskah gulungan koleksi CBCC dibuat secara tradisional; bukan dibuat secara modern dengan menggunakan mesin pembuat kertas yang dapat menghasilkan kertas dengan ketebalan yang sama karena dibentuk oleh sebuah mekanisme pembentuk lembaran (sheet former) yang presisi. Dengan adanya kenyataan serat pembentuk bahan naskah berupa jenis serat panjang yang berasal dari kulit kayu, penentuan bahan naskah pun bisa dirujuk pada adanya daluang sebagai bahan naskah Nusantara. Mengenai warna bahan naskah gulungan CBCC, agar

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

133

keterukurannya lebih akurat, maka pengukuran warna disandarkan pada tabel warna C/M/Y/K. Setelah diukur secara acak berdasarkan kesamaan dan perbedaan warna yang mencolok, didapatkan hasil ukur warna dengan pola (1) 10/20/50/0, (2) 40/40/50/0, (3) 5/5/50/0, (4), 5/20/50/0 (5), 0/10/50/0, dan (6) 5/10/50/0. Jika keseluruhan pola warna tersebut dikonversikan ke tabel warna yang dikeluarkan oleh Winsor & Newton, maka warna bahan naskah gulungan CBCC dapat termasuk ke dalam warna naples yellow, yellow ochre, atau raw sienna.

Gambar 3. Tampak pengukuran ketebalan kertas - 0.29 mm. (dok. pribadi)

Gambar 4. Tampak nilai warna pola 1. 10/20/50/0 (dok. pribadi).

134

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

pribadi). atau raw sienna (dok. pengujian panjang serat didasarkan pada SNI ISO 16065. Seluruh pengujian tersebut metodenya didasarkan pada standar yang telah ditetapkan BSNI. berdasarkan informasi studi lapangan yang dilakukan pada tanggal 3 Pebruari 2011 di Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) yang berlokasi di Jalan Raya Dayeuhkolot 132 Bandung.2-2010. Hasil Uji Laboratorium Untuk melakukan identifikasi bahan naskah di labotatorium. Kepala Bidang Pengujian. maka perbedaan warna yang dapat disaksikan saat ini adalah perbedaan warna yang dihasilkan atau diakibatkan oleh perjalanan waktu serta perlakuan terhadap naskah itu sendiri. (4) daya serap tinta atau penetrasi minyak IGT. 3 No.2-1998.Adanya perbedaan atau gradasi warna yang terdapat pada naskah gulungan CBCC menunjukkan bahwa. yaitu: pengujian pH didasarkan pada SNI 14-0479. (5) daya serap air atau Cobb 60. (3) panjang serat. Gambar 5. pengujian daya serap Jumantara Vol. Tampak hasil konversi warna bahan NGCBCC yang menunjuk pada warna naples yellow. Sertifikasi.1 Tahun 2012 135 . menyatakan bahwa bahan naskah gulungan koleksi CBCC dapat diidentifikasi berdasarkan uji atas (1) pH atau kadar asam. (2) jenis serat. jika pada saat pembuatan warna bahan naskah adalah sama. Nina Elyani. yellow ochre. pengujian jenis serat didasarkan pada SNI 0441-2009. dan Kalibrasi. dan (6) ketahanan lipat.

3 No. pribadi) Pengujian kadar asam serta penentuan jenis dan panjang serat bahan naskah gulungan CBCC menjadi sangat penting untuk dilakukan karena melalui pengujian ini akan dapat diketahui apakah bahan naskah tersebut termasuk kertas yang kuat.tinta didasarkan pada SNI 14-9584-1989. dan pengujian ketahanan lipat didasarkan pada SNI 0491-2009. pengujian daya serap air didasarkan pada SNI 0449-2008. penentuan jenis serat. Keberadaannya harus senantiasa dijaga dan harus tetap berada di lokasi CBCC. Gambar 6. dan panjang serat bahan naskah karena contoh bahan naskah yang diperlukan untuk pengujian tersebut tidak terlalu besar. (dok. Untuk melakukan uji kualitas bahan naskah diperlukan bahan atau sampel dengan ukuran minimum 15 X 20 cm yang akan hancur setelah proses pengujian berlangsung. Sampel bahan diambil dari bagian naskah gulungan CBCC yang koyak. Tampak bagian ujung bahan naskah yang koyak. yaitu sekitar 1 X 1 cm untuk uji kadar asam dan 1 X 1 cm untuk uji jenis serat dan panjang serat. Etika keilmuan filologi juga tidak memperkenankan untuk pengambilan bahan naskah karena akan merusak naskah itu sendiri. dengan 136 Jumantara Vol. Namun demikian. yang selanjutnya disebut sampel utama. ternyata masih terdapat peluang untuk melakukan uji pH atau kadar asam. Ukuran minimun bahan untuk uji kualitas tersebut nampaknya tidak dapat dipenuhi karena naskah gulungan CBCC merupakan benda koleksi dilindungi oleh Undang-Undang Cagar Budaya.1 Tahun 2012 .

ketahanan (durability) merupakan sifat ketahanan kertas terhadap perlakuan fisik yang dapat menyebabkan rusaknya kertas. “unsur asam atau lignin. Jumantara Vol. mengenai unsur asam pada yang terdapat dalam kertas (termasuk daluang). pada dasarnya merupakan salah satu bahan baku pembuatan kertas dan sudah dipergunakan sejak kira-kira seratus tahun yang lalu. lignin juga merupakan kandungan dari serat kayu itu sendiri. Permanensi berhubungan dengan stabilitas kimia kertas. dan skala pH 14 menunjukkan derajat basa.” Adapun menurut Harvey. dalam Lukman (2009: 56).1 Tahun 2012 137 . 3 No. contohnya goresan dan lipatan.permanensi (kekuatan) dan durability (ketahanan) tinggi. sedangkan ketahanan berhubungan dengan kekuatan fisik. potassium alumunium sulphate untuk penghalus permukaan kertas (bahan kimia dalam proses pembuatan kertas pabrikan) dan penggunaan tinta tulis yang mengandung unsur iron gallotannate (garam besi) juga merupakan faktor yang dapat menyebabkan tingkat keasaman (acid sulfurik) bahan naskah menjadi tinggi”. skala pH 7 menunjukkan sifat netral. “permanensi adalah kemampuan kertas untuk tetap stabil dan tahan terhadap aksi kimia. Sementara itu. Wan Mamat (1988:62--63) memaparkan bahwa. penggunaan zat-zat kimia seperti clorine untuk pemutih kertas. Di samping lignin. di mana skala pH 0 menunjukkan derajat asam. yaitu kadar keasaman atau kebasaan suatu kertas dengan skala 0 – 14. dinyatakan bahwa ukuran terpenting yang menjadi penentu kertas bersifat permanen adalah kadar pH. baik dari dalam maupun dari lingkungan sekitarnya. atau bahkan sebaliknya seperti yang dipaparkan Lukman (2009: 55). Selanjutnya.

dan hasil uji panjang serat sepanjang 2.96 ± 0. daya serap air permukaan atas 15. daya serap tinta permukaan bawah 53.Secara kebetulan. Zaki Munawwar. Tampak bahan naskah sampel pembanding dan daluang hasil rekonstruksi. dan hasil uji panjang serat sepanjang 2. ditemukan naskah yang bahannya diperkirakan sejenis dengan bahan naskah gulungan koleksi CBCC. 3 No.4 ± 2.82 ± 0.3 ± 3.1 Tahun 2012 . dari sampel pembanding didapatkan hasil uji pH sebesar 5.1. diuji pula sampel daluang hasil rekonstruksi. pribadi) Berdasarkan laporan hasil uji atas ketiga sampel yang dikeluarkan BBPK tertanggal 17 Pebruari 2012.02. adapun dari sampel rekonstruksi didapatkan hasil uji pH sebesar 6.01.985 mm. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood. daya serap tinta permukaan atas 50. di sekitar lokasi CBCC.5 ± 2. dan daya serap air permukaan bawah 17. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood.2 ± 9. selanjutnya disebut sampel rekonstruksi. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood. daya serap tinta permukaan atas 48.725 mm.1. tepatnya di Desa Cangkuang Kecamatan Leles. Sampel ini selanjutnya disebut sampel pembanding. Di samping itu. Gambar 7.7. dari sampel utama didapatkan hasil uji pH sebesar 4. daya serap tinta permukaan 138 Jumantara Vol.01. yang oleh pemiliknya.575 mm.6. diserahkan kepada penulis agar bahannya dapat dimanfaatkan untuk uji laboratorium. agar didapatkan gambaran mengenai kualitasnya guna pemanfaatan praktis selanjutnya. dan hasil uji panjang serat sepanjang 3. (dok.9.0 ± 0.81 ± 0.

0 ± 3. dan ketahanan lipat silang serat 496 ± 333. kelembaban ruangan pada RH 50 ± 2 %.5.1 17.96 ± 0. jenis serat.Bottom side 6 Ketahanan Lipat . Jumantara Vol. 3 No.01 Softwood 2. Hasil Uji Sampel Bahan Kertas.4.0 ± 0.4 Tabel 1.Top side . Parameter Satuan Sampel Utama 1 pH Jenis serat Panjang serat Penetrasi minyak IGT . Tabel di atas memuat hasil uji atas tiga parameter yang dapat dibandingkan dari sampel utama.81 ± 0.5 193. ketahanan lipat arah serat sebesar 4246 ± 935.1 Tahun 2012 139 . sampel pembanding.bawah 77.727 2 3 4 - - 48.02 Softwood 2.5 ± 2.1 77. daya serap air permukaan atas 150.Arah serat -Silang serat 4246 ± 935 496 ± 333 g/m2 g/m 2 Sampel Pembading 5. Untuk memudahkan pembahasan.Bottom side 5 Cobb 60 .985 Sampel Rekonstruksi 6.2 - 15. dan daya serap air permukaan bawah 193.7 150. Seluruh hasil uji tersebut didasarkan pula pada kondisi ruang pengujian dengan suhu 23 ± 10 C.5 ± 29. dan sampel rekonstruksi.82 ± 0.5 ± 29.2. yaitu pH.4 ± 2.6 50.Top side .3 ± 3.575 mm 4.9 53.1 ± 1.0 ± 3.2 ± 9.01 Softwood 3.1 ± 1. Hasil Uji No. berikut ini adalah tabel hasil uji dimaksud. dan panjang serat.

1 Tahun 2012 . dan panjang serat sampel utama 2. jenis serat ketiga sampel adalah softwood. ketiga sampel menunjukkan jenis serat yang sama. dan panjang serat sampel rekonstruksi 3.81 ± 0.Derajat pH sampel utama 4. menyatakan bahwa kadar pH kertas pada waktu pembuatan tidak boleh kurang dari 6.82 ± 0. 140 Jumantara Vol. setelah melakukan penelusuran lebih lanjut atas penggolongan jenis serat.96 ± 0. panjang serat sampel pembanding 2. secara objektif menunjukkan tingkat derajat keasaman pada waktu pengujian. dalam Lukman (2009: 59). Selanjutnya untuk jenis serat.01. yaitu jenis softwood. Tingkat derajat keasaman yang didapat dari perbandingan hasil uji tersebut. Ross Harvey. maka penanganan naskah-naskah koleksi CBCC selanjutnya menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Menurut Iswanto (2008: 1) dan Sucipto (2009: 1). Hasil perbandingan atas tiga parameter di atas menunjukkan bahwa untuk derajat pH. sampel utama memiliki derajat keasaman paling tinggi. karena jika penanganannya tidak dilakukan secara baik. sedangkan untuk sampel rekonstruksi. 3 No. di samping menunjukkan tingkat derajat keasaman pada waktu pengujian.727 mm. maka tingkat penurunan kualitas bahan naskah akan berlangsung dengan cepat dan mengakibatkan kerusakan naskah-naskah itu sendiri. softwood adalah pengolongan jenis serat untuk kayu dan bukan untuk jenis serat kulit kayu.01. dan derajat pH sampel rekonstruksi 6. derajat pH sampel pembanding 5. secara umum kayu dibagi menjadi dua kelompok. dan sampel rekontruksi. Namun demikian.02. Melihat kenyataan bahwa kadar pH bahan naskah gulungan koleksi CBCC termasuk ke dalam kategori di bawah netral atau cenderung asam.985 mm. untuk sampel utama dan sampel pembanding.575 mm. dan yang membedakan keduanya adalah keberadaan sel pembuluh yang hanya terdapat pada kayu daun lebar.5 agar dapat dikategorikan sebagai kertas permanen. juga menunjukkan tingkat kadar asam pada waktu selesai pembuatan. yaitu hardwood (kayu keras atau kayu daun lebar) dan softwood (kayu lunak atau kayu daun jarum). diikuti oleh sampel pembanding.

sehingga kekuatan kertas lebih didasarkan atas exobond dari luas permukaan setiap selnya. selanjutnya diikuti oleh sampel pembanding. Batubara (2008) menyatakan bahwa pada dasarnya kulit kayu dan kayu adalah dua bagian yang berbeda. artinya semakin panjang serat. dan sampel rekonstruksi. “Secara umum panjang serat mempunyai peranan langsung terhadap sifat-sifat kekuatan kertas. seperti yang dipaparkan Budi (1995: 105).1 Tahun 2012 141 .410 mm. Selain itu kekuatan internal dalam serat atau sel. Hal ini dapat menunjukkan bahwa ketahanan lipat sampel utama dan sampel pembanding lebih rendah dari sampel rekonstruksi.Mengenai kulit kayu. kayu adalah jaringan xylem dan kulit kayu adalah jaringan phloem. Dengan demikian. 3 No. karena panjang serat berbanding lurus dengan ketahanan lipat dan kekuatan kertas. kedua jaringan ini merupakan pembentuk struktur kayu secara utuh. Jumantara Vol. maka kekuatan kertasnya semakin baik. Selain itu lembaran kertas yang terdiri dari kumpulan sel-sel yang terpisah terikat kembali satu sama lain secara lamai tanpa adanya tambahan bahan perekat. karena dikategorikan sebagai jenis yang sama. untuk penentuan jenis serat ketiga sampel di atas. maka akan lebih baik jika digolongkan ke dalam jenis serat kulit kayu (daluang). kayu kapur 1. kayu meranti merah 1. hal ini dikarenakan panjang serat erat hubungannya dengan banyaknya kontak perkesatuan sel.413 mm. kayu terap 1.” Adapun untuk panjang serat. panjang serat ketiga sampel di atas.345 mm. Teygeler (1995) menyarankannya dengan menyatakan bahwa “ finally dluwang can be defined as beaten treebark (tapa) of paper – mulberry tree (Broussonetia papyrifera Vent.) from Java or Madura.” Namun demikian. masih lebih panjang jika dibandingkan dengan panjang serat dari empat jenis kayu yang diteliti oleh Budi (1995: 103) yaitu. lebih besar dari pada ikatan antar sel. sampel utama memiliki panjang serat yang paling pendek. Semakin panjang sel serat akan memberikan pengaruh yang positif terhadap kekuatan pada kertas.

Naskah gulungan koleksi CBCC dengan dimensi 176 X 23 cm. Wan Mamat (1988:57--58) menyatakan bahwa suhu ideal berkisar antara 550F (130C) sampai dengan 650F (180C) dengan kondisi udara yang mengalir. 3 No. sedangkan kelembaban berkisar 50%. karena pada dasarnya bahan naskah mudah rusak jika tidak ditangani dengan baik. Dengan memperhatikan hal tersebut. Pengemasan naskah dalam bentuk gulungan sepertinya merupakan pengemasan yang cukup baik untuk dimensi panjang 176 cm. karena dalam bentuk gulungan serat-serat pembentuk lembaran bahan akan lebih terjaga dibandingkan jika dikemas dalam bentuk lipatan. laju kerusakan bahan naskah dapat diperlambat dan kondisi fisiknya dapat dipertahankan sehingga suatu naskah dapat bertahan lebih lama.1 Tahun 2012 . dan kayu keruing. rak. saat ini tampak disimpan dalam sebuah lemari kaca yang cukup baik sehingga terbebas dari debu dan serangga yang dikhawatirkan akan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut pada naskah. diperkirakan sejak bahan naskah dibuat sampai saat ini.689 mm. kayu meranti merah. dan kotak yang terbuat dari kertas bebas asam. kayu kapur. Pengemasan dan penyimpanan naskah dalam bentuk gulungan diperkirakan ada sudah sejak lama. memungkinkan serat pembentuk lembaran 142 Jumantara Vol. Dengan demikian. Di beberapa tempat penyimpanan koleksi naskah yang sudah maju. Naskah pun ditempatkan dalam lemari. Mengenai suhu ruangan untuk penyimpanan naskah.dan kayu keruing 1. Alat untuk mengatur suhu ruangan dikenal sebagai air conditioning (AC) dan alat untuk mengatur kelembaban dikenal sebagai higrometer. naskah disimpan di ruangan khusus dengan suhu dan kelembaban udara tertentu. kekuatan kertas berbahan baku kulit kayu seperti yang terdapat pada ketiga sampel yang diuji di BBPK masih lebih tinggi tingkat kekuatan kertasnya jika dibandingkan dengan kertas berbahan baku kayu terap. Penyimpanan dan Perawatan Naskah Penyimpanan dan perawatan naskah memerlukan penanganan yang baik.

pribadi) Walaupun saat ini penyimpanan dan perawatan naskah sudah cukup baik. Faktor penyebab kerusakan naskah yang nampak. Hal ini tampak dari adanya bagian naskah yang lembab karena terhidrolisis oleh udara basah. di antaranya. (dok. Di samping itu terdapat pula kulit telur kecoa yang menempel di permukaan bahan naskah dan beberapa lubang kecil yang diperkirakan disebabkan serangga sejenis kutu buku. Gambar 8. 3 No.1 Tahun 2012 143 . dan lubang-lubang pada naskah menunjukkan adanya faktor biologis sebagai penyebab kerusakan naskah. adalah faktor lingkungan. yaitu mendorong tumbuhnya jamur. data diambil pada bulan Juni 2008. namun secara kasat mata terlihat bahwa pada permukaan bahan naskah masih terdapat beberapa kerusakan yang mungkin akan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut. Bagian naskah yang lembab ini kemudian menimbulkan kerusakan lebih lanjut. dan terbebas dari jamahan tangan. debu.bahan akan putus sebagai akibat dari proses buka tutup lipatan yang berulang. yaitu naskah disimpan dalam lemari kaca sehingga terhindar dari kontak langsung dengan udara luar. kulit telur kecoa. Jumantara Vol. Adanya jamur. suhu ruangan 27 derajat celcius dan kelembaban 64 persen.

Gambar 9. Tampak faktor biologis sebagai faktor penyebab kerusakan naskah. (dok. pribadi)

Atas dasar hal tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa kerusakan bahan naskah gulungan koleksi CBCC, di antaranya, disebabkan oleh faktor usia, faktor lingkungan, faktor biologis, dan faktor mekanis. Pada kalangan masyarakat tertentu di Indonesia saat ini, khususnya masyarakat tradisional, terdapat kegiatan penyimpanan dan perawatan naskah secara tradisional. Berdasarkan pengamatan sepintas, upaya yang dilakukan masyarakat tradisional dalam melakukan penyimpanan dan perawatan naskah memberikan keuntungan bagi kondisi naskah, sehingga keberadaan naskah masih dapat disaksikan sampai saat ini. Upaya yang dilakukan masyarakat tradisional di antaranya dengan menyimpan naskah pada kotak kayu, menyimpan naskah di atas tempat yang agak tinggi pada bagian dinding rumah agar tidak terjangkau anak-anak, membungkus naskah dengan kain, dan ada kalanya di dalam kotak kayu dan bungkusan kain tersebut disertakan pula beberapa batang cerutu, biji cengkih, bunga melati, dan sebagainya.

144

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Gambar 10. Tampak gulungan Wayang Beber dan kotak penyimpannya di Gunung Kidul. (dok. pribadi)

Cerutu, biji cengkih, dan bunga melati yang disimpan di dalam kotak kayu ataupun kain pembungkus naskah ternyata dapat menghindarkan serangan rayap, kutu buku, semut, ataupun serangga pengganggu lainnya yang dapat mengakibatkan kerusakan pada naskah. hal ini dapat dipahami karena ternyata baik cerutu, biji cengkih, dan bunga melati masing-masing mempunyai aroma khas yang tidak disukai serangga.

Gambar 11. Tampak penyimpanan naskah yang dijadikan sarang semut. (dok. pribadi)

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

145

Di beberapa tempat tertentu, yang masyarakat pendukungnya masih memegang teguh adat istiadat, naskah dan benda-benda koleksi lainnya hanya boleh dibuka dan dilihat satu tahun sekali, biasanya pada bulan-bulan yang dianggap sakral, seperti bulan Mulud sekaligus dengan melakukan prosesi pembersihan pusaka. Pengaturan waktu untuk membuka dan membersihkan naskah beserta benda-benda yang dianggap keramat (termasuk mengkeramatkan naskah), ternyata ada sisi positif dan sisi negatifnya. Sisi positifnya adalah memberikan ketahanan bagi naskah itu sendiri, dalam hal ini naskah tidak sembarang waktu dijamah tangan dan dibuka tutup. Sisi negatifnya adalah kandungan informasi naskah tidak diketahui masyarakat banyak sehingga, jika terjadi penurunan kualitas kondisi naskah, maka tingkat kerusakannya tidak cepat diketahui dan kerusakannya tidak akan dapat dicegah. Daftar Pustaka Baried, Siti Baroroh (1985). Pengantar Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Batubara, Ridwanti (2008). Kimia Kulit Kayu, Potensi dan Peluang Pemanfaatannya. Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Budi, Agus Sulistyo (1995). “Morfologi Serat Pulp dari Empat Jenis Kayu Daun Lebar dalam Hubungannya dengan Kekuatan Kertasnya”. Jurnal FRONTIER Nomor 17. September 1995. Ekadjati, Edi S. (1988). Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran dan The Toyota Foundation. Lubis, Nabilah (1996). Naskah, Teks, dan Metode Penelitian Filologi. Jakarta: Forum Kajian Bahasa & Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah. Lukman (2009). “Penggunaan Kertas Permanen sebagai

146

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Pencegahan Kerusakan Kertas”. Jurnal BACA Vol. 30, No. 1, Agustus 2009 (01-72). Munawar, Zaki (2002). Cagar Budaya Candi Cangkuang dan Sekitarnya. Garut: Dinas Pariwisata Seni dan Budaya. Sudjiman, Panuti (1994). Filologi Melayu. Jakarta: Pustaka Jaya. Teygeler, René (1995). “Dluwang, a Javanese/Madurese Tapa from The Paper-mulberry Tree” dalam www\IIAS Newsletter\IIASN-6\Southeast Asia. Dikunjungi pada tanggal 14 April 2004. Wan Mamat, Wan Ali Hj. (1988). Pemuliharaan Buku dan Manuskrip. Kualalumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

147

Masyarakat Bali berkeyakinan lontar memiliki arti yang penting dan sangat bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya. Fakultas Sastra. Warisan budaya yang satu ini juga telah memberikan aura keluhuran dan mentransmisikan keunggulan pemikiran masyarakat Bali yang melahirkannya. Lontar sebagai produk budaya kaya makna telah mengangkat citra tradisi Bali di tengah-tengah pergaulan peradaban masyarakat dunia.Abstrak Lontar adalah produk budaya Bali dan telah diakui menjadi warisan budaya dunia. yaitu rontal /daun ental/tal (sejenis daun palma/borassus flabelliformis). Universitas Udayana Bali. Bali. Manuskrip Pendahuluan Kata lontar memiliki kaitan erat dengan sumber bahan dasar pembuatannya. serta proses pembuatan manuskrip lontar. 3 No. yaitu contoh dan implementasi kehidupan yang patut dan tidak patut dilakukan.1 Tahun 2012 . tradisi penulisan manuskrip. 148 Jumantara Vol. Tradisi lontar di Bali memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan umur yang tua seiring dengan nilai-nilai *) Pengajar di Jurusan Sastra Bali. Kata Kunci: Lontar. Tulisan ini mendeskripsikan lontar dari berbagai dimensi mencakup lontar sebagai warisan budaya. Lontar dengan segala bentuk wacana penuturannya memotret dan memberikan cermin kehidupan yang dapat dijadikan smerti.

filsafat. Bhatari Dewi. 3 No.sejarah. kata Saraswati diterjemahkan sebagai Ida Sang mambek toya tur wagmi sajroning bebaosan yang artinya beliau yang mengalirkan air suci pengetahuan. pada hari Minggu Umanis Watugunung. Masyarakat Bali meyakini lontar adalah wahana bersemayam Sang Hyang Aji Saraswati. Para panglingsir (orang tua berpengetahuan) di Bali memaparkan kata Saraswati ke dalam dua bentuk dasar. Julukan yang lain untuk memuliakan Dewi Saraswati sebagai sumber ilmu pengetahuan yaitu: Putkari Dewi. dangan mes membah (beliau yang berbadankan air. agama. Sarada Dewi. Setiap 6 bulan sekali. begitu mudah mengalir atau sesuatu yang mengalir) dan kecap bebaos sang mraga wagmi sajroning bebaosan (kata-kata orang bijaksana saat memberikan petuah). Jumantara Vol. Lontar perekam jagat pemikiran masyarakat Bali sampai dalam bentuknya sekarang merupakan saksi sejarah dan menjadi penampang historik masyarakat pendukungnya. masyarakat Bali pagi-pagi benar membawa toya kumkuman (air suci) menuju sumber-sumber mata air atau pantai melaksanakan upacara banyu pinaruh (menyambut turunnya ilmu pengetahuan). Dewi sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang berupa tastra (manuskrip aksara Bali) yang bersemayam di mahligai lontar. sastra.1 Tahun 2012 149 . yaitu saras dan wati. Saras diterjemahkan sebagai sang mraga toya. Keesokan harinya. dan ilmu pengetahuan tinggi lainnya. Saraswati adalah sumber dari segala sumber kata-kata bijak (mraga wagmi). Pada hari ini masyarakat menghaturkan aneka banten pasucian Weton Saraswati. yaitu manifestasi Ida Sang Hyang Widi (Tuhan) sebagai sumber ilmu pengetahuan. Dewi Saraswati juga dijuluki Dewi Wagmiswari (Dewi Katakata) atau Wagmimaya (Kata-kata Bertuah). Pewarisan tradisi lontar di Bali berlanjut dari generasi ke generasi dalam suasana kerohanian dan kemurnian hati nurani. pengobatan. bertepatan dengan perhitungan kalender Bali Sabtu Kliwon Wuku Watugunung lontar-lontar dibuatkan upacara piodalan Saraswati. Itulah Saraswati. Wati diterjemahkan sang adrue (pemilik). dan Brahma Putri. Karena itu. Dari uraian itu.

yaitu contoh dan implementasi kehidupan yang patut dan tidak patut dilakukan. 5) memiliki fungsi dan kedudukan yang terhormat dan disucikan dalam masyarakat (abstract). Tradisi keberaksaraan dan keterpelajaran pada lontar adalah warisan budaya yang sangat berharga dan penting. 4) memiliki wujud fisik (tangible) dan non-fisik (intangible). dan diteruskan agar tercapai kehidupan material-spiritual yang lebih baik. kandungan lontar dengan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang pernah ada dan dimiliki masyarakat Bali masa lampau dapat dikembangkan untuk menata dan meningkatkan kehidupan spiritual dan material saat ini dan masa-masa mendatang. Keadaan ini berbeda jauh dengan masyarakat Indonesia lainnya yang mewarisi tradisi 150 Jumantara Vol. 3) mudah dipindahkan (moveable). 2) tradisi yang hidup (living tradition). Betapa tidak. Volume 10 (1998: 2-6) lontar Bali termasuk salah satu warisan budaya dunia karena memiliki karakteristik.1 Tahun 2012 . tradisi ini masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat Bali. seperti: 1) warisan budaya intelektual (intellectual heritage). Lontar Tradisi yang Masih Hidup Kita meyakini tradisi lontar adalah tradisi masyarakat Bali yang sudah tua. Mereka itulah yang sesungguhnya steak holders lontar di Bali. Semuanya masih relevan dan patut diwarisi. 3 No. tetapi juga penting untuk menghiasi khazanah intelektual masyarakat luas lainnya.Lontar Warisan Budaya Lontar adalah produk budaya Bali dan telah diakui menjadi warisan budaya dunia. Bukan saja penting untuk para leluhur dan orang Bali kini. Itu artinya. Lontar Warisan Intelektual Kekayaan pemikiran dan rohani masyarakat Bali secara tradisi terekam dalam manuskrip lontar. Masyarakat Bali berkeyakinan lontar memiliki arti yang penting dan sangat bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya. dan 6) sudah menjadi salah satu warisan dunia (wolrd heritage). Walaupun usianya telah tua. Lontar dengan segala bentuk wacana penuturannya memotret dan memberikan cermin kehidupan yang dapat dijadikan smerti. Menurut Bali Cultural Heritage Coservation. Tradisi masyarakat Bali mempelajari dan menekuni lontar disebut anak nyastra (a man of letters) yang artinya beliau yang terpelajar (gelettered). dilestarikan.

menyanyikan. Perpustakaan Unhi Denpasar. Universitas Dwijendra. dan yang lainnya. seperti untuk bahan anyaman dan kerajinan tangan lainnya. seperti SMUN I Sidemen (dulu SMU Sidamaha) Karangasem. Pohon lontar adalah sumber alam yang dapat diperbaharui. Jumlahnya mencapai ribuan pohon. (4) Adanya sekolah khusus yang mengajarkan cara menulis lontar. (2) Masih adanya orang yang mewarisi tradisi pembuatan daun lontar sebagai bahan rumah pintar” Dewa Catra. yang menyimpan lontar-lontar penting yang dibutuhkan masyarakat. sehingga dari waktu ke waktu jumlahnya tidak pernah berkurang. dan perguruan tinggi lainnya. seperti Fakultas Sastra di Universitas Udayana. Hidupnya tradisi lontar dalam masyarakat Bali sangat didukung oleh masih hidupnya aktivitas budaya dan sumber alam lainnya.manuskrip. Unisha Singaraja. (5) Masih banyak orang yang mampu menulis lontar secara tradisional. Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana. maka pohon lontar dibudidayakan dengan baik. Mengingat lontar memiliki multimanfaat. Sekriptorium-sekriptorium yang ada di Bali masih menjalankan aktivitas sebagaimana mestinya. (3) Adanya pusat-pusat penulisan lontar dan kegiatan penyalinan lontar di masyarakat. Jurusan Sastra Bali di berbagai perguruan tinggi di Bali. dan mengapresiasi) karya-karya sastra tradisional Bali di Jumantara Vol. 3 No. (6) Adanya perpustakaan lontar yang memiliki latar belakang sejarah yang penting seperti: Gedong Kitrya di Singaraja. Pohon lontar yang menjadi sumber utama bahan penulisan lontar tumbuh subur di belahan Timur dan Utara pulau Bali. dan yang lainnya. (7) Tradisi membaca lontar dalam aktivitas bersastra di Bali secara tradisional erat kaitannya dengan sistem upacara dan sistem keagamaan Hindu di Bali. Perpustakaan Lontar Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. IKIP PGRI Bali. Balai Bahasa Denpasar.1 Tahun 2012 151 . (8) Adanya kegiatan mabasan (membaca. IHDN. Perpustakaan Musieum Bali. seperti: (1) Tersedianya cukup banyak pohon lontar.

Aktivitas pembacaan lontar cakepan. Pekan Olahraga dan Seni Pelajar (Porsenijar) se-Bali. (10) Banyak masyarakat umum yang mengoleksi lontar. 1999: 3-4). Bali CHC: Volume 10. Banyak anggota masyarakat Tenganan Pagringsingan menggambar dan menulis prasi serta melukis di atas media daun lontar. 152 Jumantara Vol. Pesta Kesenian Bali. yang menjadikan manuskrip lontar sebagai bahan bacaannya. (11) Aktivitas lomba menyalin huruf Latin ke dalam aksara Bali di atas lempiran lontar untuk tingkat SMP dan SMA terus digalakkan. baik sebagai warisan maupun atas usahanya sendiri membangun perpustakaan pribadi.1 Tahun 2012 . 3 No. serta acara-acara khusus seperti Gebiar Nyurat Lontar oleh Pemerintah Kota Denpasar.lingkungan masyarakat Bali. Acara ini dikaitkan dengan misi Kota Denpasar sebagai Kota Kreatif Berwawasan Budaya Unggulan. Gambar 1. Lomba menyalin huruf Latin ke dalam aksara Bali di atas lempiran lontar selalu ada dalam ajang Pekan Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar. Lontar-lontar dalam bentuk baru itu khusus dibuat untuk dijual sebagai komoditas pariwisata ( BUIP. dan pihak penyelenggara lainnya. Jumlah lontar cakepan di masyarakat Bali adalah ribuan. seperti di desa Tenganan Pegringsingan Karangasem. (9) Perkembangan pariwisata menyumbangkan peran untuk mempertahankan tradisi lontar.

1 Tahun 2012 153 . Diperkirakan Jumantara Vol. sisi Utara lereng gunung Rinjani di Lombok Utara. lontar mudah dibawa dan dibaca. Golongan yang terakhir ini yang memanfaatkan tenaga lokal untuk keluar masuk desa ‟mengejar‟. lontar yang berusia tua dan berkarakter antik dan unik. tidak mampu mengurus sehingga kuatir rusak di tempat. dan lebar tidak lebih dari 4 cm. antik. diantaranya: ingin menutupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Karena fisiknya yang sederhana ini lontar juga mudah dipindahtangankan. Mudah Dipindahkan Wujud fisik lontar cukup simpel. Sejumlah masyarakat pemilik lontar menjual lontar warisannya dengan beragam alasan. dan beragam alasan ekonomi lainnya. untuk modal usaha. 3 No. Penulis melakukan pengukuran terhadap lontar yang dikeramatkan masyarakat Desa Bayan Beleq. Alasan-alasan ini pula yang membuat semakin bersemangatnya para ”pemburu” lontar. Lontar-lontar tua. sampai 60 cm. dan unik yang telah dijual masyarakat Bali tentu tidak dapat diidentifikasi judul dan isinya. baik dari kalangan masyarakat lokal maupun mancanegara. maka tidak jarang lontar diperjualbelikan sebagai barang antik. Dengan panjang antara 30 cm.Gambar 2. Karenanya lontar-lontar yang sudah raib ke luar dari pulau Bali dan tidak sempat katedun (disalin ke dalam naskah yang baru) ini tidak dijumpai di perpustakaan-perpustakaan yang ada.

pada tahun 1967 mengklasifikasikan kepustakaan lontar 154 Jumantara Vol. di Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana tersimpan sebanyak 738 cakep. sesuai dengan keluasan pengetahuan masing-masing mengenai jenis dan isi naskah lontar yang didapatkannya. baik ilmuwan luar negeri maupun dalam negeri. Jumlah itu belum termasuk yang tersimpan di perpustakaan lontar yang resmi. Kabupaten. 3 No. khususnya di Griya dan Puri di Bali yang jumlahnya begitu banyak. di Perpustakaan Universitas Hindu Indonesia tersimpan sebanyak 151 cakep. sedangkan yang tersimpan di rumah-rumah penduduk. Perlu dilakukan usaha-usaha konservasi dan pengobatan secara ilmiah dan bertanggung jawab. kalau tidak mau dikatakan ribuan. Lontar sebagai bagian dari khazanah ilmu kepustakaan memiliki kodifikasi keilmuan yang kompleks dan beragam. seperti di Gedong Kirtya. baik dari kalangan masyarakat pengoleksi maupun dari pihak pemegang kebijakan. Kalau semua pihak cermat dalam menangani dan mensosialisasikan fungsi strategis manuskrip lontar Bali. perlu mendapat penanganan fisik secara khusus agar terhindar dari kelapukan.1 Tahun 2012 . di Perpustakaan Museum Bali tersimpan 60 cakep. di Perpustakaan Lontar Universitas Dwijendra Denpasar tersimpan sebanyak 50 cakep. Lontar yang tersimpan di lembaga-lembaga resmi biasanya mendapat pemeliharaan yang baik. di perpustakaan Balai Bahasa Denpasar tersimpan sebanyak 90 cakep. Memiliki Wujud Fisik dan Non-Fisik Jumlah lontar yang ada di masyarakat dapat diperkirakan lebih dari 55 ribu cakep (dalam kesatuan yang utuh) lontar. yaitu instansi pemerintah yang terkait. dan Kota di seluruh Bali. DPRD. Diperlukan juga kemauan politik dari para wakil rakyat. tingkat Provinsi. Th Pigeaud yang telah mempelajari klasifikasi Freiderich (1847) dan R. dan di Perpustakaan Lontar Dokumentasi Budaya Bali. Para ahli kepustakaan lontar. Di tempat ini tersimpan sebanyak 2414 cakep. tentu nilai manfaat lontar dapat disumbangkan untuk memperkaya khazanah budaya bangsa dan budaya dalam lingkup internasional. membuat klasifikasi lontar Bali secara sangat beragam. Untuk itu diperlukan kemauan bersama. Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tersimpan sebanyak 2274 cakep. Van Eck (1875).bahwa lontar yang telah ”raib” jumlahnya ratusan.

Customs. Ekalavya. dan (4) Science. (5) Babad. arja dan yang lainnya. Humanities. yaitu : (1) Religion and Ethics. Sasana. urak dan yang lainnya. kakawin. dan uwug/rereg/rusak. Lontar memuat kode etik arsitektur tradisional seperti Dharmaning Sangging. b. kakawin. dan yang berhubungan dengan upacara penyucian bangunan. Asthabhumi. usana. (2) Agama. yang terdiri dari jenis lontar wariga. Wiswakarma. yang terdiri dari jenis lontar palakreta. Dewagama. Dasanama. dan uwug/rusak/rereg. c. antara lain: usada. seperti pustaka lontar : babad. dan e. Arts. sedangkan lontar Krakah antara lain memuat uraian beserta makna istilah dalam naskah-naskah tertentu. tutur. Kutara Manawa.1 Tahun 2012 155 . kidung. dan (6) Tantri yang terdiri dari jenis lontar tantri dan satua. Astakosala.Bali menjadi empat kategori besar. kidung. (3) Belles Lettres. seperti lontar Pemlaspas. sasana. Tutur. Klasifisasi termutakhir yang banyak dirujuk adalah klasifikasi yang diterapkan Nyoman Kadjeng dari perpustakaan lontar Gedong Kirtya Singaraja (1928). dan kalpasastra. mantra. usana. serta satua. yang memuat lakon-lakon pertunjukan kesenian gambuh. dan usada. awig-awig. 3 No. Suksmabasa. Naskah leksikografi dan tata bahasa seperti lontar Adiswara. yang terdiri dari jenis lontar parwa. dan puja. kanda. yang terdiri dari jenis lontar pamancangah. Cantakaparwa. yaitu lelampahan. yaitu: (1) Weda. Jumantara Vol. Naskah hukum juga ditemukan dalam dunia lontar di Bali. prasi. Wujud fisik naskah lontar yang disebut pengetahuan-pengetahuan lain oleh kalangan peneliti pernaskahan di Bali dikelompokkan karena menguraikan pengetahuan tertentu. mantra. Law. seperti pustaka lontar parwa. Beberapa yang penting adalah: lontar Adigama. Klasifikasi manuskrip lontar di atas telah dapat memberikan citra wujud fisik naskah lontar yang ada di Bali. Niti. uar-uar. dan yang lain). (2) History and Mythologi. Folklore. prasasti. wayang. weda. yang terdiri dari jenis lontar weda. (4) Itihasa. pipil. d. pamancangah. geguritan dan parikan. dan geguritan. dan yang memakai judul Krakah. Lontar Ekalawya dan Dasanama tidak sekedar memuat daftar kata. 3) Wariga. Kalpasastra. Krakah Modre dan yang lainnya. sima. seperti Krakah Sastra. tetapi juga memuat sejumlah makna sinonim. Kemudian I Ketut Suwidja menambah klasifikasi lontar Gedong Kirtya dengan kelompok VII. seperti pustaka lontar: a. seperti pengetahuan kearsitekturan (Astakosali. dan Niti. Kretabasa.

Para ahli pernaskahan dari berbagai belahan dunia mengakui bahwa lontar merupakan warisan budaya dunia yang harus diselamatkan. Lontar yang memuat pengetahuan astronomi biasanya memakai judul Wariga dan Sundari. diantaranya: Kretasima. Hyang Wagiswari disimbolkan bersthana dalam aksara suci. Puja Saraswati ditandai dengan kegiatan membuat candi aksara atau candi pustaka (mengumpulkan lontar-lontar terpilih) yang dijadikan sthana bagi Sang Aji Saraswati. Ada hari khusus yang ditetapkan untuk menghormati dan mensucikan lontar. dan awig-awig. Hari dan Wuku peringatan Puja Saraswati ditempatkan pada hari terakhir. Sang Hyang Aji Saraswati. Lontar-lontar suci disthanakan sebagai candi Tastra Saraswati (candi pustaka. Banyak menguraikan masalah-masalah pertanian seperti penentuan iklim. kemudian orang Bali melakukan pemujaan pada pagi hari. sampai dengan penentuan hari-hari baik untuk upacara keagamaan (Agastia: 1985:13-14). Lontar-lontar hukum yang lebih banyak bercorak Bali. Watugunung.1 Tahun 2012 . sedangkan pada malam harinya (semalam suntuk) membaca dan menyanyikan sastra-sastra lontar pilihan. Lontar jenis ini banyak dijumpai. yaitu hari Puja Saraswati. Kretasima Subak. Manakala warisan budaya dunia ini lenyap. dilestarikan. itu berarti salah satu warisan dunia yang penting telah 156 Jumantara Vol. Memiliki Abstraksi Nilai Fungsi dan kedudukan lontar dalam masyarakat memiliki kaitan yang erat dengan sistem kepercayaan dan kehidupan keagamaan masyarakat Bali. Lontar bagi masyarakat Bali adalah kitab suci yang selain disucikan juga dipelajari untuk dijadikan pegangan hidup sehari-hari (suluh nikang prabha).dan Purwadhigama. hari baik atau buruk untuk suatu pekerjaan. 3 No. serta kaya makna dan filosofi. Paswara. candi sastra. Warisan Budaya Dunia Lontar kaya wujud dan jenis. Hari khusus tersebut ditandai dengan kegiatan mengumpulkan benda-benda pusaka lontar. ataupun candi aksara) yang adalah tempat suci bagi Saraswati. Puja Saraswati mendapat tempat istimewa bagi umat Hindu di Bali sehingga masuk ke dalam sistem kalender Bali. Aksara menjadi badan Sang Hyang Aji Saraswati. dan dimanfaatkan. candi bahasa. yaitu hari Sabtu (Saniscara) dan Wuku terakhir.

hilang. kemunafikan. hal itu merupakan kebodohan. Dalam tradisi penulisan lontar. sehingga prosesi pembacaan menjadi lancar dan apa yang dicari dalam lontar didapatkan. Aksara Bali adalah wahana atau sarana untuk mengungkapkan segala hal tentang kebudayaan Bali (BUIP. Lontar yang dikeramatkan masyarakat saat dibaca didahului dengan melakukan prosesi upacara. Aksara Bali adalah lambang bahasa yang telah mengambil fungsi dan peran sebagai lambang identitas masyarakat Bali.1 Tahun 2012 157 . Karena itu. dan kesalahan besar yang dilakukan oleh generasi “anak bumi” di dunia ini. karena melalui aksara Balilah bahasa sebagai unsur universal dari kebudayaan itu terdokumentasikan. 1999:4). untuk memohon kemurahan-Nya. sebelum memulai Jumantara Vol. Perlindungan yang sifatnya mengharuskan pewaris lontar untuk menyelamatkan. sudah saatnya dilakukan upaya yang lebih besar dan kuat untuk menyelamatkan lontar sebagai warisan budaya dunia. 3 No. Gambar 3. dan mempelajari lontar yang diwarisinya adalah implementasi keberlangsungan hidup dan kehidupan lontar sebagai warisan budaya dunia. Manakala hal itu benar-benar terjadi. CHC. perlu dipahami apa yang dimaksud dengan aksara Bali sebagai lambang bahasa. melanjutkan. Tradisi Menulis di Atas Daun Lontar Sebelum mencermati goresan artistik aksara Bali di atas daun lontar.

sehingga aksara yang salah tulis tidak berbunyi (mati). Dalam aktivitas penulisan lontar. seorang penulis lontar selalu berusaha keras agar tidak mematikan atau ngucek (mencoret) aksara. penulis membubuhkan dua sandangan (pangangge) aksara. serta menjaga irama pernafasan yang teratur dan jernih. Seandainya terjadi salah tulis. sida sidi kasaraswaten. Dengan cara ini mereka yakin akan berhasil menciptakan teks lontar yang utama dan memiliki jiwa (ruh suci). Bhagawan Mredhu berstana pada kedua tangan penulis. (2) pelikan (alat penjepit lembaran lontar yang akan di tulis terbuat dari 158 Jumantara Vol. Hyang Yogiswara difilsafatkan berstana pada kedua mata penulis lontar. dan melangkahi aksara akan mengakibatkan kebodohan.1 Tahun 2012 . seorang pengawi atau penyalin biasanya melakukan ritual kecil untuk memohon anugerah ke hadapan Ida Sang Hyang Aji Saraswati. dan Baghawan Reka berstana pada ujung pangrupak. yaitu ”bagaikan aksara memakai dua sandangan suara. Hakikat menulis adalah mempraktikkan yoga spiritualitas. yang artinya sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi alias sudah mati. Karena itu pula. kehalusan rasa.menggoreskan pangrupak di atas lempiran lontar. dan tampak seperti tidak ada penulisan. Kepercayaan ini menjadikan lontar yang ada kelihatan bersih serta rapi tulisannya. Mencoret sandangan aksara yang berada di atas pangawak (badan pokok aksara) seperti ulu akan mengakibatkan kebutaan atau berkurangnya daya ingat. Mereka percaya hal itu akan mendatangkan akibat buruk pada diri. cepat-cepatlah melirik aksara berikutnya yang merupakan sambungan aksara didepannya. Sandangan yang lazim dipakai adalah ulu dan suku. pengarang karya sastra Bali (pangawi) dan penedun (penyalin) lontar adalah para stake holders bahasa. 3 No. masuku (memakai suku) dan maulu (memakai ulu)”. Tidak pernah ada aksara Bali yang dicoret. mencoret taleng/taling dan bisah/wisah berakibat pancet (sakit pinggang). para stake holders ini menyiapkan bahan-bahan utama seperti: (1) pepesan (daun tal siap tulis). seperti umur pendek. Karenanya. ada perumpamaan yang jamak dituturkan dalam masyarakat Bali. Bagaimana membaca lontar yang banyak ditemukan aksara matinya? Pembaca lontar harus tanggap. pangrupak (pisau tulis). Secara tradisi. Sebagaimana dinyatakan dalam lontar Tutur Saraswati. sastra dan aksara Bali. mengasah dan mempraktikkan seluruh kemampuan intelektual dan kualitas intuitif.

atau uyung (seseh pohon enau). dan mengagumkan). telunjuk menekan halus saat menggoreskan bentukan aksara. (9) dan sesajen seperlunya. yang berkaitan dengan posisi tangan saat menggores lontar. halus. lebar. yaitu: pangrupak dengan kelancipan 45 derajat untuk menulis aksara Bali. Dua jemari tangan kanan lainnya. Demikian juga menggunakan pangrupak berbeda dengan cara menggunakan pisau dapur atau alat pertukangan lainnya. dan pangrupak kelancipan sedang (kurang lebih 10 derajat). bambu. (3) serbuk tinggkih (buah kemiri) atau buah naga sari yang dibakar sebagai bahan penghitam goresan aksara Bali di atas daun lontar. (4) bantalan kasur kecil sebagai alas menulis. Dalam menggoreskan aksara Bali dari kiri ke kanan harus Jumantara Vol. jari manis dan kelingking. aksara Ongkara. sedangkan tangan kanan berada di posisi atas memegang pangrupak seraya menggerakkan jari-jemari tangan sedemikian rupa.1 Tahun 2012 159 . (6) penggaris dan pensil (bagi penulis yang tidak yakin akan mampu menghasilkan urut-urutan aksara Bali yang lurus. Menulis di atas daun lontar menggunakan pangrupak. Tangan kiri berada di posisi bawah untuk mengalasi atau memegang lontar. Cara menulis di atas daun lontar berbeda dengan di atas kertas. Jempol kiri bertugas mendorong-dorong pangrupak hingga terjadi pergerakan lontar ke arah kanan. Ibu jari dan jari tengah tangan kanan menjepit lembut pangrupak. yaitu aksara Bali yang memiliki kakuub (karakter) wayah dan ngatumbah/matan titiran (bundar. dan tajam untuk memotong rontal. (7) panakep dari kayu. Masing-masing pangrupak juga memakai hiasan. memerlukan keterampilan menulis yang khusus. (8) kapas atau kain halus untuk menggosok dan membersihkan bekas-bekas material penghitam. dan yang lainnya. pangrupak dengan kelancipan 70 derajat untuk membuat prasi (menggambar di atas daun lontar). ada yang menyerupai pendeta. burung merak. Pangrupak memiliki tiga mata sisi yang tajam untuk menghasilkan karakter aksara Bali ideal. rapi dan bersih). patung hanoman. 3 No. (5) dulang kayu (sejenis meja yang bundar) sebagai meja tulis.bambu kecil yang dilubangi hingga tembus pada kedua sisinya). lembut. membantu menjaga kestabilan dan berfungsi mensuplai energi kelembutan sehingga tangan tidak mudah lelah. Jenis pangrupak yang dipakai menggores lontar disesuaikan dengan maksud dan tujuan penulisan.

Menulis aksara Bali di atas daun lontar memerlukan pengetahuan tersendiri. taksu (kekuatan ilahi). Lontar mempunyai kekuatan yang luar biasa. Di samping itu. tengah. lembut. dan senang. Gambar 4. menggunakan teknologi tradisional. Karena itu jagalah hati. Mulailah menulis dari garis yang memiliki ruang paling sempit.1 Tahun 2012 . Sekalikali nikmati bunyi irama yang ditimbulkan oleh goresan yang dibuat. lontar memiliki wibawa.dicermati ruang-ruang diantara tiga lubang yang ada di kiri. Perhatikan lebar ruang yang disediakan di antara garis-garis yang tersedia. 3 No. dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama. Berkosentrasi dan menciptalah dengan perasaan halus. Bagi masyarakat Bali. dan kanan. membutuhkan 160 Jumantara Vol. dengan aksara digantung pada garis yang telah disediakan. Terdapat empat garis yang tersedia di atas rontal. tenang. Kualitas lontar yang penulis citrakan tidak lepas dari dasardasar budaya dan keyakinan masyarakat Bali yang melahirkannya. dan dihormati sebagai sumber berbagai ilmu pengetahuan lahir dan batin. Irama yang mengkhusukkan. cerdaskan intuisi dan intekstualitas yang dimiliki. Lemah lembut dalam ketenangan hati yang menakjubkan. Bernafaslah yang teratur. sampai berabad-abad. Goresan simbol aksara yang pertama sangat mempengaruhi besar kecil dan kehalusan aksara berikutnya. lontar Bali dibuat dengan cara yang saksama. Proses Pembuatan Lempiran Lontar Lontar terbuat dari daun alami pohon Tal/Rontal.

Masyarakat Bali membedakan pohon rontal atas dua jenis. mudah ditulisi. Demikian pula jenis dan kualitas daun pohon rontal berbeda-beda. dan dalam suasana yang khusuk.. Pada kesempatan ini penulis sarikan informasi pembuatan lempiran daun lontar sebagaimana yang dilakukan oleh Ida I Dewa Gde Catra di Rumah Pintar Tradisional di bilangan jalan Untung Surapati. daunnya kurang baik dibuat pepesan karena tebal. yang mendapat sinar matahari langsung dari pagi hingga sore. rumit. Pohon tersebut harus tumbuh di tanah yang mengandung kapur. di ujung Timur pulau Bali. dihasilkan melalui proses khas teknologi tradisi Bali. seniman lontar perlu memperhatikan jenis pohon rontal yang akan dipetik daunnya. Pohon rontal yang baik adalah yang telah berumur lebih dari 30 tahun. 3 No. serta bentuknya indah dan rapi. sehingga menghasilkan lempiran lontar sehelai demi sehelai. Amlapura. Rontal muani berbunga tetapi bunganya tidak pernah menjadi buah. tanah bebatuan seperti tanah lahar. sehingga tidak banyak mengandung sagu. Pohon itu juga sudah pernah disadap niranya. selempir demi selempir sehingga menghasilkan pepesan. serat Jumantara Vol. Ida I Dewa Gde Catra (pelaku prosesi pembuatan lempiran lontar yang paling produktif sampai hari ini di Bali) menyebut helai daun lontar yang dihasilkannya sebagai lempiran. Pohon rontal yang tumbuh di tanah yang subur. Sebelum prosesi pembuatan lontar dilakukan.1 Tahun 2012 161 . Satu bendel terdiri dari 100 lempiran.kesabaran yang tinggi. kenyal. Tujuannya adalah mendapatkan mutu lempiran yang baik. bertahan dalam waktu yang panjang. Penulisan prosesi daun lontar ini disajikan berdasarkan pengalaman penulis meneliti prosesi pembuatan lempiran lontar dan berdasarkan bahan bacaan yang ada. yaitu rontal luh (betina) yang dapat menghasilkan buah atau tuak (nira) dan rontal muani (jantan) yang tidak menghasilkan buah. Dinyatakan pula pembuatan lempiran lontar memakan waktu yang relatif lama. membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Inilah lempiran lontar kosong yang siap ditulisi. tanah di tepi laut. berserat besar-besar dan kaku. Berikut penulis sarikan teknik tradisional Prosesi Pembuatan Lempiran Lontar (2010) Bali seperti yang dilakukan budayawan lontar asal Puri Sidemen Karangasem ini. Daun lontar atau lempiran yang dimaksud berbentuk blanko. Pohon rontal yang daunnya luwes.

permukaan rata tidak tuludan (berlekak-lekuk). Sedangkan lontar yang masih muda berupa busung (janur) ataupun yang sudah berupa danyuh/wayah (tua) tidak dapat dimanfaatkan sebagai lempiran pepesan. yaitu sejenis golok yang panjang). tidak lebih dari empat sampai enam helai setiap satu pelepah daun tal. dan sasih katiga-kapat (seputar bulan September . Ngesit (melepas lidi) dilakukan secara hati-hati agar bilah daun lontar kering petik tidak amis (rusak).April). Daun tal petik kering yang dipilih untuk pepesan adalah yang bilahnya panjang. pohon tal???) Daun tal yang dipilih untuk prosesi pembuatan pepesan berkatagori panyaja (muda atau menengah). Sedangkan pohon yang helai daunnya panjang dan lebar disebut dolog (menyerupai senjata dolog. Usia daun tal penyaja diketahui dari kategori hijau daunnya juga ditandai dari posisi kecondongan pelepahnya yang kurang lebih 45 drajat.halus disebut ron tal taluh (telor). Daun tal harus dijemur di tempat yang terang beberapa kali.Oktober).kadasa (seputar bulan Maret . Bilah daun tal kering petik yang sudah kasit (dilepaskan lidinya) dikumpulkan dan ditata sedemikian rupa. 3 No. sehingga benar-benar renyah (kering benar). Musim petik daun tal yang baik pada sasih kasanga . lebarnya sesuai. tidak berbintik-bintik. saat matahari bersinar panas dan langit terang benderang. Pada minggu 162 Jumantara Vol. dan sore. dengan semua ujungnya panjut (merapat dan sedikit mengering). dan helai daunnya tidak terlalu tebal atau terlalu tipis. pagi. Pohon yang daunnya tebal berserat kasar dan kaku seperti kulit binatang disebut ron tal belulang. yang disebut kreta masa. tentu proses pengeringannya memakan waktu yang cukup lama. yang disebut gegadon. Pada minggu pertama air kum berwarna keruh kekuningan dan berbau kurang sedap sehingga harus diganti setiap hari. pohon lontar. Bulan-bulan ini adalah musim kemarau. maka agar benar-benar kering seperti yang diinginkan.1 Tahun 2012 . seratnya halus. kemudian kakum (direndam) selama tiga minggu. (pohon rontal. Bilah daun tal petik kering dipotong ujung dan pangkalnya dengan ukuran panjang tertentu sesuai dengan keperluan. Pemetikan daun tal untuk pepesan menggunakan joan anggetan (galah yang ujungnya memakai pisau). Daun tal yang berbentuk kipas kangget (dipotong dan dicari ) hanya bagian tengah saja. Mengingat daun tal cukup tebal dan tiap bilahnya terdiri dari dua helai dalam satu lidi.

angkat dan segera jemur di tempat yang lapang dan mendapat sinar matahari penuh. dan tidak berbau lagi. merica. Bahan-bahan itu digunakan sesuai dengan jumlah rontal yang akan direbus. Agar lebih cepat kering. berulang-ulang hingga lima sampai enam jam. Alat ini digunakan untuk meluruskan dan memampatkan serat dan rongga-rongga yang kemungkinan masih terdapat pada lontar setelah proses pengeringan. tengah dan pangkalnya. Tiga puluh sampai dengan lima puluh lembar lontar disatukan. Ngekum (merendam) daun tal kering petik dengan tujuan menghilangkan sagunya. kulit pangkal pohon kelapa.kedua dan ketiga air kum diganti setiap tiga hari sekali. Lebih lama direbus hasilnya lebih baik. 3 No. Blagbag. hawa panas berlebihan. Biarkan agar dingin dengan sendirinya. kayu api. ujan. kayu wong. Saat perebusan. pres tradisional untuk lontar yang dibuat dari kayu dengan menggunakan pasak. Setelah berjumlah seratus. dan jebug (buah pinang yang tua) semua dirajang dan kemudian ditumbuk hingga halus menjadi serbuk. dan air yang cukup dan harus dijaga dengan saksama. Daun tal yang dianggap telah masak jangan langsung diangkat. demikian juga selanjutnya hingga penuh. diikat ujung. Setelah merata kering. Setelah dingin. terhindar dari sinar matahari. agar hampa tak rapuh (serbukan) yang disukai rayap. Dua hari dua malam dianginanginkan untuk tiga bulan kemudian baru direbus. umbi gadung diparut. batang kantewali. Lama menyimpan tiga-empat bulan. tunggu.1 Tahun 2012 163 . daun sambiroto. diangkat perlahan-lahan agar tidak pecah. Merebus daun tal kering petik memerlukan panci besar. Ramuan bahan pengawet seperti kulit pohon kayu intaran. setiap kali air rebus menyurut petugas harus menambahkan air secukupnya. Tiga minggu prosesi ngekum tal telah berlalu. daun lontar yang telah direbus dan disimpan berbulan-bulan dimasukkan ke dalam penjepit blagbag secara teratur sesuai dengan panjang lontar masing-masing. ditebarkan sedemikian rapi di tempat yang terang sehingga hari itu juga dipastikan benar-benar kering. hingga benar-benar bersih. tidak berbuih. dijemur. kemudian dayuhin (diangin-anginkan) di tempat yang teduh. jebug harum. disela dengan penampang kayu (pandalan). dan semakin lama disimpan kualitasnya semakin membaik. lontar dibolak-balik selembar demi selembar. Rempah-rempah seperti: lada. lalu simpan di tempat yang aman. sesuai Jumantara Vol. Caranya. Daun tal diangkat dan di diguyur air bersih.

kanan. Pewarisan tradisi lontar di Bali berlanjut dari generasi ke generasi. Nepes adalah pres terakhir lontar tepesan. lalu diisi lubang sebasar jarum. nyerut adalah merapikan ujung pangkal dan diisi cat tradisional Bali agar kelihatan indah dan rapi. Sebagai tradisi yang hidup. Sebagai warisan budaya. Lontar yang telah mapirit (berlubang) dimasuki lidi (jelujuh) agar tidak mudah bergerak saat diiris dan dirapikan pinggirannya. hingga rontal benar-benar lurus dan rata. dan penelitian teks naskah lontar yang semakin meningkat. Warisan dan tradisi lontar telah berusia cukup tua. dan tengah. Kesimpulan Lontar sebagai manuskrip masyarakat Bali telah mengangkat citra tradisi peradaban Bali di tengah-tengah intelektualitas peradaban dunia. kemudian pasak dipasang. sehingga harus disela dengan pandalan dan dipasak kembali hingga mampat. Sedangkan nyepat adalah pembuatan lontar tepesan siap tulis (gores) dengan pangrupak (pisau tulis tradisional Bali). pasak pun akan menjadi longgar. Di Bali banyak dijumpai lontar yang berumur tua yang memiliki nilai sejarah. dan nyepat (menggaris).kapasitas blagbag. kadang berbulan-bulan. filsafat. Pembuatan lontar pepesan didahului dengan pembuatan mal yang dibuat dari daun tal dengan panjang dan lebar yang telah ditetapkan. jarum pirit (paser tradisional Bali) ditusukkan pada tengah-tengah lubang kecil mal yang di kiri. Proses ini dilakukan berminggu-minggu. 3 No. sastra. Mirit artinya melubangi lontar di samping kiri. agama. (b) tradisi yang masih hidup (living tradition). manuskrip lontar di Bali memiliki karakter antara lain: (a) warisan budaya intelektual (intellectual heritage). (c) 164 Jumantara Vol. manuskrip masyarakat Bali ini didukung oleh ketersediaan bahan baku yang cukup. dan ilmu pengetahuan tinggi lainnya. nyerut (mengetam). dan tengah tepat di titik ujung pirit. kegiatan pembacaan yang masih semarak. Mal ditempal di atas daun tal. pengobatan. Langkah berikutnya dalam proses pembuatan lontar adalah nepes (menjepit). Manuskrip lontar adalah produk budaya Bali yang kaya makna dan memberikan citra keluhuran dan keunggulan jagat pemikiran masyarakat Bali yang melahirkannya. kegiatan penulisan lontar yang masih berlangsung.1 Tahun 2012 . kanan. Setelah beberapa hari lontar mengalami pemampatan.

IBG (1985). (d) memiliki wujud fisik (tangible) dan non-fisik (intangible). rapi dan bersih). Lontar mempunyai kekuatan yang luar biasa. atau uyung (seseh pohon enau). sastra dan aksara Bali. Jumantara Vol. I Nengah. Secara tradisi. (5) dulang kayu (sejenis meja yang bundar) sebagai meja tulis. (2) pelikan (alat penjepit lembaran lontar yang akan di tulis terbuat dari bambu kecil yang dilubangi hingga tembus pada kedua sisinya). (9) dan sesajen seperlunya. (7) penakep dari kayu. Catra. (8) kapas atau kain halus untuk menggosok dan membersihkan bekas-bekas material penghitam. (4) bantalan kasur kecil sebagai alas menulis. 3 No. dkk. pengarang karya sastra Bali (pangawi) dan penedun (penyalin) lontar adalah para stake holders bahasa. menggunakan teknologi tradisional. (6) penggaris dan pensil (bagi penulis yang tidak yakin akan mampu menghasilkan urut-urutan aksara Bali yang lurus. taksu (kekuatan ilahi). Lontar terbuat dari daun alami pohon Tal/Rontal. dan dalam suasana yang khusuk. Ida I Dewa Gde. ”Prosesi Pembuatan Daun Lontar”. pangrupak (pisau tulis). sehingga menghasilkan lempiran lontar sehelai demi sehelai. Yogyakarta: Javanologi. bambu.1 Tahun 2012 165 . Pedoman Pasang Aksara Bali. lontar memiliki wibawa.mudah dipindahkan (moveable). para stake holders ini menyiapkan bahan-bahan utama seperti: (1) pepesan (daun tal siap tulis). Di samping itu. (2005). Medera. Daftar Pustaka Agastia. dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama. Dalam aktivitas penulisan lontar. lontar Bali dibuat dengan cara yang saksama. Keadaan dan Jenis-Jenis Naskah Bali. dan dihormati sebagai sumber berbagai ilmu pengetahuan lahir dan batin. (e) memiliki fungsi dan kedudukan terhormat atau disucikan oleh masyarakat Bali (abstract). membutuhkan kesabaran yang tinggi. Kualitas lontar yang penulis citrakan tidak lepas dari dasardasar budaya dan keyakinan masyarakat Bali yang melahirkannya. dan (g) menjadi salah satu warisan budaya dunia (world heritage). Denpasar: Jurusan Sastra Daerah FS Universitas Udayana . sampai berabad-abad. Bagi masyarakat Bali. (3) serbuk tingkih (buah kemiri) atau buah naga sari yang dibakar sebagai bahan penghitam goresan aksara Bali di atas daun lontar.

Simpen AB.1 Tahun 2012 . Makalah diskusi hari suci Saraswati. Denpasar: Dinas Kebudayaan Propinsi Bali. I Wayan (1973). BUIP CHC Volume 10. Ida Bagus (2006). ”Tastra Sastra Saraswati”.(2008). Denpasar: Dinas Pengajaran Propinsi Bali Daerah Tingkat I Bali. Denpasar: PWII Bali. Tim Consultancy Service (1999). 166 Jumantara Vol.Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. ”Teknik Nyurat Aksara Bali untuk Kejuaraan”. Pasang Aksara Bali. Rai Putra. ------------. Denpasar: Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar. 3 No.

Tahqiq. 8 Desember 2011.Abstrak Teks Sulalat al-Salatin (Perteturun Raja-raja) karya Tun Seri Lanang jelas sangat fenomenal. Tun Seri Lanang. Kajian Filologis. Jakarta. dan bahkan pengarangnya. Dalam konteks sejarah kesusastraan Melayu klasik. bekerja sama dengan Yayasan Tun Sri Lanang.1 Tahun 2012 167 . Tulisan ini akan menegaskan kembali signifikansi teks Sulalat al-Salatin sebagai sebuah karya sastra Melayu tradisional adiluhung yang dihubungkan dengan tokoh Tun Seri Lanang dengan melihatnya dari perspektif tahqiq atau kajian filologis. Saat ini menjabat sebagai ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Aceh. Kata Kunci: Sulalat al-Salatin. Sulalat al-Salatin dapat dianggap sebagai salah satu teks Melayu terpenting yang berhasil memikat dan menyita perhatian sejumlah sarjana. 3 No. Jumantara Vol. Biereun. 77 Tulisan ini berasal dari “Seminar Ketokohan Tun Seri Lanang dalam Sejarah Dua Bangsa”. yang diselenggarakan oleh Direktorat Nilai Sejarah. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. * Penulis adalah peneliti senior di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah. Teks ini mampu „hidup‟ berabadabad melampaui kebesaran zamannya.

“…Di dalamnya terbayang bukan saja genius pengarangnya tetapi juga genius sastera serta bangsa yang menciptanya…” Muhammad Haji Salleh. seperti persiapan perang sebelum Portugis menyerang. seolah 78 Dr. Sulalat al-Salatin jelas sangat fenomenal. 131. Tun Seri Lanang memang tidak dikenal memiliki karya sastra Melayu lain selain Sulalat al-Salatin. C.78 Teuku Iskandar menambahkan bahwa semua kisah dalam Sulalat al-Salatin tersebut. dalam Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu (teks diunduh dari situs MCP). Perintis Sastra (1951: 132). Wolters. Sejauh pengetahuan saya.“…Tak ada tulisan Melayu jang demikian banjaknya diselidiki [selain Sulalat al-Salatin]…”. 168 Jumantara Vol. Teks ini mampu „hidup‟ berabad-abad melampaui kebesaran zamannya. peristiwa pertempurannya. Membincangkan Tun Seri Lanang berkaitan dengan karya sastranya. dan bahkan pengarangnya. Hooykaas. Perintis Sastra (Groningen. Tun Seri Lanang. Sulalat alSalatin dapat dianggap sebagai salah satu teks Melayu terpenting yang berhasil memikat dan menyita perhatian sejumlah sarjana. Dr. mereka membuat terdjemahan2 dan daftar isi tjerita itu…”. Hooykaas menegaskan bahwa para sarjana sedemikian tertarik dengan Sulalat al-Salatin karena “…cara kitab itu melukiskan sesuatu hal dengan tjara jang sederhana sekali dan oleh isi kitab itu jang amat indah2nya. diceriterakan dengan begitu hidup. ingatan orang niscaya akan langsung mengarah pada sebuah karya sastra sejarah. Kendati demikian. pengunduran Sultan ke Muar dan Pahang. Hooykaas. 1951).1 Tahun 2012 . Sulalat al-Salatin (Perteturun Rajaraja). Terkait dengan kutipan di atas. Djakarta: J. Dalam konteks sejarah kesusastraan Melayu klasik. C. Teks ini merupakan satu-satunya karya sastra yang kepengarangannya dihubungkan dengan tokoh „jagoan‟ kita dalam tulisan ini. B. 3 No.

penulisnya hadir menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri. 3 (1938): 1-226. 1995). menyusul kemudian Abdullah bin Abdul Kadir [ed. ya‟ni Perteturun Segala Raja-raja Karangan Tun Seri Lanang (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka. 3 No. Publikasi lebih kemudian tentang Sulalat al-Salatin adalah artikel yang mencoba melihat teks ini sebagai „mitos politik Melayu‟ oleh Henri Chambert-Loir. artikel.80 Sejumlah buku.D.].. John Leyden with an introduction by Sir Thomas Stamford Raffles (London: Longman etc. R.79 Muhammad Haji Salleh bahkan dengan berbunga-bunga mengakui: “… Dengan rasa bahawa saya sedang berdiri di depan rimba rahasia fikiran leluhur maka sebagai seorang pembaca Melayu. 1952). 242. Shellabear [ed. betapa pun saya terpisah dari akar ini. Sejarah Melayu (Singapore: Methodist Publishing House. 1841). Universiti Brunei Darussalam. Sedjarah Melayu Menurut Terbitan Abdullah (ibn Abdulkadir Munsji) (Jakarta: Djambatan. Chambert-Loir menegaskan bahwa Sulalat al-Salatin tidak sekedar teks yang merekam dan menggambarkan peristiwa masa 79 Teuku Iskandar. 2001). T.” JMBRAS 16. Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu (teks diunduh dari situs MCP). Sulalat al-Salatin. “The Malay Annals or Sejarah Melayu: The Earliest Recension from MS 18 of the Raffless Collection.G. Winstedt. h. 1821. 1997). Malay Annals: Translated from the Malay language by the late Dr. dan Muhammad Haji Salleh.O. Jumantara Vol. kemudian W.].] Sejarah Melayu (Singapore: Thomas McMicking. Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad (Brunei: Jabatan Kesusasteraan Melayu. „The Sulalat al-Salatin as A Political Myth‟ yang terbit di Jurnal Indonesia 79 (April 2005). 80 Muhammad Haji Salleh. 1898). 1. dan edisi teks atas Sulalat al-Salatin pernah ditulis dan diterbitkan dalam kurun waktu hampir dua abad ini! Sarjana paling awal di antaranya adalah John Leyden.1 Tahun 2012 169 . Situmorang & A. diterbitkan ulang di Kuala Lumpur: MBRAS. saya berdiri kagum…”. Teeuw [eds. dan juga sebagai seorang pengarang yang menghadapi pendahulunya.

dan Raja Ahmad Iskandar Raja Yaacob berjudul “The Malay world: an analysis of Quranic verses in Sulalat al-Salatin”. Muhammad Ridhuan Tony Lim Abdullah. dan mengemukakan tinjauan atas ayat-ayat al-Quran yang dikutip oleh pengarang Sulalat al-Salatin. artikel ini belum akan menjawab pertanyaanpertanyaan yang saya kemukakan sendiri di atas. misalnya. Artikel Abdurrahman dkk.81 Apresiasi paling mutakhir terkait Sulalat al-Salatin barangkali adalah artikel yang ditulis bersama oleh Abdrurrahman. 170 Jumantara Vol. sayangnya. Barangkali. 3 No. “The Sulalat al-Salatin as a Political Myth” dalam Indonesia 79 (April 2005). tidak tersedia saat artikel ini ditulis. Apakah kemudian pembahasan tentang Sulalat al-Salatin boleh dianggap lengkap dan tuntas? Tampaknya tidak juga. Banyaknya perhatian para sarjana tersebut tidak terlalu mengherankan mengingat kenyataannya Sulalat al-Salatin adalah sebuah sumber tertulis langka yang menjelaskan Kesultanan Melayu di Malaka abad ke-15. dalam kesempatan ini 81 Henri Chambert-Loir. di atas pun rasanya belum memadai karena hanya memaparkan tinjauan sederhana atas ayat-ayat al-Quran dalam Sulalat al-Salatin.lalu. Masih perlu diungkapkan. sejauh mana Islam tergambar dalam Sulalat al-Salatin sebagai pedoman kehidupan negara di Melaka saat itu? Adakah pengaruhnya dalam penegakan hukum dan kebijakan politik? dan beberapa pertanyaan terkait awal Islamisasi lainnya. salah satu aspek penting yang belum banyak dielaborasi terkait teks Sulalat al-Salatin adalah unsur Islam dalam teks tersebut. h. mengingat telaah semacam itu membutuhkan penelitian dan pembacaan atas sumber-sumber primer yang memadai yang. Karenanya. Meski demikian. Artikel ini dipresentasikan dalam “2011 International Conference on Social Sciences and Society” di Shanghai. melainkan juga merupakan kumpulan motif yang dapat dianggap sebagai mitos politik Melayu yang secara sadar digunakan untuk menonjolkan sebuah visi sejarah tertentu.1 Tahun 2012 . China. 14-15 Oktober 2011 lalu. 160.

h. 133. sejauh informasi terkait bisa dijumpai.1 Tahun 2012 171 .saya hanya akan menegaskan kembali signifikansi teks Sulalat alSalatin sebagai sebuah karya sastra Melayu tradisional adiluhung yang dihubungkan dengan tokoh Tun Seri Lanang. Menurutnya. Winstedt (1938. dari aspek sumber. Artikel tersebut dapat dibaca di: http://mcp. sifat. penyebaran.83 Dalam perspektif filologi dan tahqiq.au/papers/MHS%20Esei1. h. validitas teks. Lihat Lihat „Abd alHadi al-Fadli. „Abd al-Hadi al-Fadli. seperti Shellabear (1896). 85 „Abd al-Hadi al-Fadli menjelaskan bahwa di antara tugas seorang muhaqqiq (filolog) adalah untuk: memverifikasi judul sebuah karya. yang lebih suka menyebut judul teks Sulalat al-Salatin sebagai Sejarah Melayu atau Malay Annals.84 judul sebuah teks memang seyogyanya didasarkan pada informasi asal yang berasal dari teks itu sendiri. Liaw Yock Fang (1993) Teuku Iskandar (1995). yang secara sederhana dapat diartikan sebagai „ihkam al-shay‟ (menghakimi sesuatu). 121. h. 31-32.85 Dalam hal Sulalat al-Salatin. 84 Tahqiq seyogyanya merupakan terjemahan dari kata „criticism‟.html. karena dalam publikasinya (1997). tanpa diragukan lagi bahwa salah 82 83 Henri Chambert-Loir. Tahqiq al-turath.82 Muhammad Haji Salleh barangkali adalah salah seorang kekecualian. “The Sulalat al-Salatin.anu. Sulalat al-Salatin atau Sejarah Melayu? Henri Chambert-Loir memberikan komentar kritis atas kebanyakan sarjana.edu. ia memberi judul Sulalat al-Salatin. (Jeddah: Maktabat al-„Ilm. Dua tulisan yang dimaksud adalah Leyden 1821 dan Abdullah 1841 seperti dikemukakan di atas. memverifikasi nama pengarang. 1982). 3 No. penyebutan Sejarah Melayu atau Malay Annals tersebut mengikuti dua tulisan paling awal terkait teks Sulalat al-Salatin yang disebutnya „misleading‟. Tahqiq al-turath. demikian juga dalam artikelnya yang lain berjudul “Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu”. dan sedikit melihatnya dari perspektif tahqiq atau kajian filologis. Jumantara Vol. dan sejarah teks tersebut). dan menegaskan hubungan sebuah karya dengan nama pengarang yang disebut. dan lainnya. Dalam konteks sastra. tahqiq didefinisikan sebagai „al-fahs al-„ilm li-al-nusus aladabiyah min haythu masdaruha wa-sihhat nassuha wa-insha‟uha wa-sifatuha wa-tarikhuha‟ (sebuah telaah ilmiah atas teks-teks sastra. 1969).

86 87 Dikutip dari Teuku Iskandar. tidak ada alasan yang masuk akal untuk tidak menyebut Sulalat al-Salatin sebagai judul teks. Akan tetapi jika yang dimaksudkan adalah kandungan isinya. 245. h. 88 M. karena yang lebih penting adalah menampilkan apa yang tertulis dalam teks. Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections (Oxford: Oxford University Press. h.1 Tahun 2012 . termasuk manuskrip Raffles Malay 18 yang dijadikan sebagai landasan edisi oleh Winstedt 1938. Ricklefs and P. M. maka penyebutan „Sejarah Melayu‟ atau Malay Annals tentu boleh-boleh saja. 1977). 172 Jumantara Vol. h. supaya akan menyukakan duli hadhirat baginda. mendaftarkan kata kunci „Sejarah Melayu‟ dalam indeksnya87 yang merujuk pada manuskrip yang disebut sebagai Sulalat al-Salatin ini. 230. Apakah hal itu disebabkan karena kata Sulalat al-Salatin adalah bahasa Arab yang tidak terlalu jelas maknanya bagi sebagian orang sehingga kebanyakan merasa lebih „nyaman‟ menyebut „Sejarah Melayu‟ yang lebih mudah difahami? Tentu ini bukan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Kesusasteraan. Ricklefs and P. bukan hanya sumber-sumber yang disebut di atas saja yang banyak menjadikan Sejarah Melayu sebagai judul teks. 3 No. Voorhoeve. melainkan juga katalog manuskrip yang menginventarisasi dan mendeskripsikannya. Anehnya. 134-135.satu bagian dari mukadimah teks yang sedang didiskusikan ini berbunyi: “…maka Fakir karanglah hikayat ini kama sami‟tuhu min jaddi wa-abi. Voorhoeve. Katalog Ricklefs & Voorhoeve 1977 misalnya. C. C.86 Berdasar pada sumber tertulis di atas. bukan apa yang difahami peneliti atas teks tersebut! Judul berbahasa Arab untuk teks-teks Melayu adalah sebuah kelaziman pada masa lalu. Indonesian…. Maka Fakir namai hikayat itu Sulalat al-Salatin yakni peraturan segala raja-raja…”.88 Kata „Sulalat al-Salatin‟ bahkan tidak terdaftar sama sekali dalam katalog ini.

Sebagian mengejanya sebagai „Peraturan‟91. sebagian lagi „pertuturan‟92. Jumantara Vol. The Sulalat…. 116. seyogyanya diluruskan. 1994). Dalam beberapa sumber. Tun Seri Lanang timang-timangannya. 3 No.Dengan demikian. h. h. Hal ini terutama karena ada bukti tertulis dalam mukaddimah naskah Sulalat al-Salatin sebagai berikut: “…setelah Fakir mendengar demikian. A Dictionary of Modern Written Arabic (Urbana: Spoken Language Services. ya‟ni Perteturun Segala Raja-Raja Karangan Tun Seri Lanang (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka. dan karena itulah versi Melayunya perlu dibaca sebagai „Perteturun Raja-raja‟. 1987). yang menjadi acuan terjemahan judul tersebut. dan diganti menjadi Sulalat alSalatin saja. Tokoh-tokoh Sastera Melayu Klasik (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. dan sebagian lainnya „perteturun. sedangkan al-Salatin berarti raja-raja (kings/sultans)90. jadi beratlah atas anggota Fakir alladzi murakkabun „ala „l-jahli. Kata „Sulalat‟ sendiri. 90 Hans Wehr. h. penyebutan „Sejarah Melayu‟ sebagai judul teks yang dihubungkan dengan dengan tokoh Tun Seri Lanang ini. 245. Kesusasteraan… h. dalam bahasa Arab berarti „keturunan‟ (descendant)89. Bendahara. Tun Seri Lanang: Diskusi Kepengarangan Sulalat al-Salatin Pengetahuan umum kita menyatakan bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang langsung teks Sulalat al-Salatin. 91 Lihat antara lain Mohammad Daud Mohammad.‟93 Memperhatikan maknanya. terjemahan yang paling mendekati dari definisi kata Sulalat tersebut tampaknya adalah „perteturun‟. Paduka Raja gelarannya.1 Tahun 2012 173 . cicit Bendahara Seri 89 Hans Wehr. 92 Lihat misalnya Henri Chambert-Loir. saya berpendapat bahwa ke depan. h. 1997). anak Orang Kaya Paduka Raja. 489. kecuali jika dimaksudkan sebagai penjelasan atau pemerian belaka. 493. Tun Muhammad namanya. 93 Lihat misalnya Muhammad Haji Salleh. cucu Bendahara Seri Maharaja. 134. Sulalat al-Salatin. kata „Sulalat‟ ini diterjemahkan menjadi berbeda-beda. A Dictionary. Teuku Iskandar. 110.

97 Argumen seperti ini tentu saja masih dapat diperdebatkan. 245-259. dari Bukit Siguntang Mahameru. Alih-alih menganggap Tun Seri Lanang sebagai pengarang langsung. qaddasa „llahu sirrahum. O. mengetahui bahasa Sanskritt. h. anak baginda Mani Purindam.95 Disebutkan. 96 Teuku Iskandar. serta mengetahui sedikit bahasa Cina dan Siam. Kesusasteraan. Wilkinson dan R. J. Wilkinson menduga bahwa teks Sulalat al-Salatin tersebut dikarang oleh seorang peranakan Tamil yang mengenal kehidupan istana Melaka. 97. Melayu bangsanya. 96 Winstedt menambahkan beberapa hal yang membuat dirinya sangsi bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang Sulalat alSalatin. h.Maharaja. h. Tamil dan Arab. Teuku Iskandar. Malakat negerinya. yang mengisyaratkan seolah-olah pengarangnya adalah Raja Bungsu. tambahan berbagai gelar serta asal-usul pengarang sebagai keturunan para pembesar kerajaan. yang terkesan sebagai pamer status.1 Tahun 2012 . 1993). karena 94 95 Dikutip dari Teuku Iskandar. Parsi. piut Bendahara Seri Maharaja anak Seri Nara Diraja Tun Ali. Kesusasteraan. 244. 245. Winstedt yang masih mendiskusikan apakah Tun Seri Lanang dapat disebut sebagai pengarang langsung teks Sulalat al-Salatin atau penyalin? Teuku Iskandar mendiskusikan perbincangan para sarjana tersebut secara panjang lebar. juga tidak menunjukkan kerendahan hati bangsa Melayu pada umumnya. 174 Jumantara Vol. lihat juga Liaw Yock Fang. 3 No. Salah satunya adalah karena di akhir naskah versi Raffles Malay 18 tertulis kalimat: “…wa-katibuhu Raja Bungsu…”. h. Batu Sawar Darussalam…”94 Akan tetapi. cicit Bendahara Tun Nara Wangsa. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik 2 (Jakarta: Penerbit Erlangga. Wilkinson misalnya berasumsi bahwa kalimat “…maka Fakir karanglah hikayat ini…” dalam teks Sulalat al-Salatin tidak cukup lazim ditulis oleh seorang pengarang Melayu yang menyebut dirinya sendiri sebagai seorang „pengarang‟. h. 97 Teuku Iskandar. Kesusasteraan. 249. Kesusasteraan. Selain itu. ada beberapa sarjana seperti R.

3 No. yang dalam bahasa Arab berarti „penulis‟. Kesusasteraan. Itulah mengapa Teuku Iskandar memberikan komentar bahwa manuskrip Raffles Malay 18 yang diakhiri dengan kalimat “…wa-katibuhu Raja Bungsu…” adalah salinan manuskrip dari hikayat yang dibawa dari Goa. Menurut Teuku Iskandar. Sejarah… h. Liaw Yock Fang adalah salah satu di antaranya. h. 250. mengatakan bahwa penyebab keraguan itu adalah karena: “…kebanyakan daripada versi-versi [manuskrip Sulalat al-Salatin. misalnya. baik pada pengarang maupun penyalin sebuah teks. yang dianggap perlu. h. termasuk di antara mereka yang meyakini bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang Sulalat al-Salatin. Teuku Iskandar dan C. 97. tampaknya sebuah kajian tekstologis untuk secara khusus memastikan Tun Seri Lanang sebagai pengarang Sulalat alSalatin perlu dilakukan. kadang satu episode cukup panjang.99 Tentu saja ada sejumlah sarjana lain yang tidak sependapat dengan pandangan di atas. Teuku Iskandar secara tegas mengatakan: 98 99 100 Teuku Iskandar.] ini masih belum cukup diselidiki dan sukar ditentukan pengarang dan masa tertulisnya…”. Kesusasteraan. melainkan juga menambahkan bagian. Hooykaas misalnya. Ia. karena ia tidak hanya sekedar menyalin. sesuai konteks dan kebutuhan pada masanya. yang dimiliki oleh Raja Bungsu. terlepas dari pengakuan atas keindahan dan keagungan Sulalat al-Salatin sebagai karya sastra sejarah Melayu. memperbaiki bagian yang dianggap tidak tepat.1 Tahun 2012 175 . masih ada beberapa lagi sarjana yang masih belum yakin bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarangnya. Jumantara Vol. 252.98 Demikianlah. pen. dapat saja merujuk. harus difahami bahwa konsep „penyalin‟ dalam tradisi kesusasteraan Melayu lama dapat juga berarti „pengarang‟.kata „katib‟ sendiri.100 Dengan demikian. Teuku Iskandar. karena selain Wilkinson dan Winstedt di atas. setelah memaparkan argumentasi yang cukup panjang. Liaw Yock Fang. bahkan mengubah bahasa karya asal atau menerjemahkan.

Hal ini mungkin karena dalam kenyataannya. Daftar Bacaan Chambert-Loir.101 Dalam konteks ini.1 Tahun 2012 . Kesusasteraan. barangkali pendekatan tahqiq seperti saya kemukakan di atas dapat diterapkan untuk melakukan sebuah kajian khusus berkaitan dengan kepengarangan teks Sulalat alSalatin. meski sarjana semisal Henri Chambert-Loir mengaku tidak tertarik memperdebatkan apakah Sulalat al-Salatin ini dikarang oleh Tun Seri Lanang sendiri atau pengarang lainnya.(1982). Tahqiq al-turath. Liaw Yock (1993). Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik 2. Wallahu a‟lam bissawab. 3 No. karena ia tidak melihat ada alasan kuat untuk mempermasalahkannya. Fang. 176 Jumantara Vol. h. Saya hanya berharap bahwa kajian atas karya-karya sastra Melayu semisal Sulalat al-Salatin dapat terus digalakkan dengan melihatnya dari berbagai perspektif. kebesaran dan keindahan teks Sulalat al-Salatin itu sendiri sebagai sebuah karya sastra sejarah Melayu klasik dalam beberapa hal sepertinya sudah jauh melebihi kebesaran zaman dan pengarangnya. Jeddah: Maktabat al-„Ilm. 256. Fadli. 160. h. Penutup Demikianlah. tulisan ini mungkin tidak memberikan kontribusi penting dan juga tidak menyediakan informasi baru terkait karyakarya sastra yang dihubungkan dengan Tun Seri Lanang.“…sejak tahun 1964 kita telah menyatakan bahwa Tun Seri Lananglah pengarang Sejarah Melayu dan menentang pendapat Winstedt yang menafikan hakikat ini…”. Henri (2005). „Abd al-Hadi al. „The Sulalat al-Salatin as a Political Myth‟ dalam Indonesia 79 (April 2005). agar kajian tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh terkait peradaban Melayu Nusantara kita pada masa lalu. 101 Teuku Iskandar.

Ricklefs M.edu. Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu. Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections. Tokoh-tokoh Sastera Melayu Klasik. Sulalat al-Salatin. 1 ----------. Teuku (1995). Urbana: Spoken Language Services.html). Wehr. Perintis Sastra. C. A Dictionary of Modern Written Arabic. Hans (1994). and P. 1997). Wolters. (1997). B. Voorhoeve (1977). Artikel diunduh dari situs Malay Corcondance Project (http://mcp. Iskandar.au/papers/MHS%20Esei1. (1951). 1994. Muhammad Haji.anu. Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. C. Mohammad. Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka. Groningen. Hooykaas. 3 No. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Salleh. h.Jakarta: Penerbit Erlangga.1 Tahun 2012 177 . Jumantara Vol. Brunei: Jabatan Kesusasteraan Melayu. Mohammad Daud (1987). Djakarta: J. ya‟ni Perteturun Segala Raja-Raja Karangan Tun Seri Lanang. Universiti Brunei Darussalam. Oxford: Oxford University Press.

3 No. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.Willem van der Molen (2011). sungguh membantu pembaca untuk bekerja sendiri: menganalisis. bahkan mungkin mencoba membuat rekonstruksi. Tebal x + 392 hlm.1 Tahun 2012 . Berdasarkan kesempatan luas yang diberikan itu 178 Jumantara Vol. ISBN 978-979-461-787-8. no. terjemahan. Sebuah pemandangan umum dan pendekatan baru yang diterapkan kepada Kunjarakarna. dan perbaikan bacaan Terbitan diplomatik teks Kuñjarakarṇa (prosa) dari ketiga naskah yang diteliti. van der Molen dalam terjemahan bahasa Indonesia. 255-272). hlm. yang disajikan secara sinoptik. Juli 1984. saya merasa perlu untuk menerbitkan lagi artikel itu dengan pengurangan dan perubahan seperlunya. Terbitan teks. XXXIII. 7. Artikel resensi ini adalah telaah lama yang pernah diterbitkan di majalah Basis (Th. Kritik Teks Jawa. Sehubungan dengan terbitnya disertasi W. mengemukakan alternatif bacaan.

121162). 175) pakaian. sanḍaŋ agoh arabihanakkanak Terjemahan: “Makan. terutama dari naskah H. Penelitian ini diharapkan akan menampilkan ciri-ciri kebahasaan dari teks yang bersangkutan. lembu). Dalam hal ini terbitan teks Kuñjarakarṇa (prosa) menunjukkan kekurangan yang menyolok. (h. Pemahaman teks dan perbaikan bacaan secara bertahap perlu memperhatikan: teks dari satu naskah. 3 No. Ejaan yang tidak konsisten sangat penting diselidiki demi pemahaman teks dan perbaikan bacaan. pemisahan kata menimbulkan kesalahan (1) 125 H paŋan inum. yang dapat membantu untuk menentukan kedudukan teks itu dalam sejarah bahasa dan tahapan tradisi. Kesalahan terjemahan.1 Tahun 2012 179 . Terjemahan “ternak” berhubungan dengan bacaan “agoh” (“goh”. sanḍaŋ Jumantara Vol. suatu masalah yang berulang kali dibahas oleh para penerbit teks Jawa adalah masalah pemisahan kata beserta dasar-dasar linguistiknya.akan dikemukakan beberapa hal yang mungkin membantu pemahaman dan penelitian lebih lanjut. Sejumlah contoh berikut ini dimaksudkan sebagai sumbangan pikiran untuk pemahaman teks dan perbaikan bacaan. namun barulah menyangkut pemakaian beberapa huruf saja. Erat hubungan dengan hal itu. bandingan antarteks dengan karya yang sama dari naskah lain. Diandaikan. minum. dan terbatas pada tataran kata dasar (h. bahwa setiap penerbit atau penyunting teks memahami teks dan menguasai bahasa teks yang diterbitkan atau disuntingnya. ternak. dan hubungan antar teks dengan berbagai karya lainnya. berkeluarga. […]”. Selanjutnya masih perlu dilakukan penelitian ejaan dengan memperhatikan tataran morfo-sintaksis. Seharusnya dibaca: 125 H paŋan inum. Sekalipun hal-ihwal ejaan telah diselidiki secara rumit.

219) Seharusnya dibaca: “wawaṣi manguyu ḷbuguntuṅ”. II: 1647. sandaŋ) (2) 334 H śammi dadupa mrabukk arum pawaŋi Terjemahan: “[…] mewangi. lebuguntung”.ago harabi hanakkanak “Sanḍaŋ a <ṅ> go” berarti: “pakaian dan perhiasan” (lihat Zoetmulder. maŋuyu. I: 1001. ma oṃ. bdk. lebuguntur). kĕmbaṅ kuṣaṅ runtiṅruntiṅ. sima. (5) 3130 H halŋa burat. […] 180 Jumantara Vol. (h. 290-291) Seharusnya dibaca: “watu pinaŋka tawulan”. 3 No. tahulan). (3) 1028 H wawa ṣima ŋuyu ḷbuguntuṅ. […] Terjemahan: “[…] Ø Batu sebagai bulan (h. 185) berbau dupa semerbak harum Seharusnya dibaca: “śammida dupa”. aŋgo. cinakuṣ i wawaŋi kambaŋ wĕrataŋanta. 594 H pamanuyon. yang berarti: “kayu bakar (dan) dupa” (OJED. (h. I: 100. Terjemahan: “wawal. yang adalah nama-nama jenis pertapa. (4) 2440 H […] Ø watu pinaŋka ta wulan. yang berarti: “batu merupakan tulang(nya)”. samiddha). II: 2216. II: 1901. 1982. (OJED. nguyu. II: 1638. samidha. Lalu “winoŋan” (333) seharusnya dihubungkan dengan “śammida dupa”. I: 1114. Old-Javanese English Dictionary = OJED.1 Tahun 2012 . wasi. (OJED.

K: kĕmbaṅ wĕratta baranta). perbaikan bacaan belum dilakukan. 3 No. karena arti masih gelap. 257). I: 327. kulit). melainkan “telur yang dikuliti (dikupas kulitnya)”. dalam bandingan intrateks. ranak baṭara. tidak termasuk mantra yang terdahulu. bunga kusang dan runting … wewangian. Mantra: Oṃ. “Hantiga kinulitan” artinya bukanlah “telur berkulit”. Bungaku Sang Runting-runting. (7) 2203 H […] maŋke taṇn agiraha. kadi hantiga kinulitan. 325). Mantra: om. bahasa. pemisahan kata ditangguhkan. sebab: pemisahan kata salah. Seharusnya dibaca: 3130 H halŋa burat. (h. (Ungkapan ini menandai tahap upacara. ungkapan. pukulun Jumantara Vol. Ciriku (OJED. […] Terjemahan: “Rupa anda waktu itu seperti telur berkulit” (h. cihna II) Si Harum Bunga Weratanganta (? Bdk. dan konteks kurang dipahami.Terjemahan: “[…] dengan minyak dan boreh.” Seperti telah terlihat pada contoh-contoh di atas.1 Tahun 2012 181 . baik dalam kamus. […] Artinya: “Mengenakan minyak boreh. banyak bagian tidak diterjemahkan (ditandai: …). (OJED. Berikut ini disajikan beberapa contoh lagi. (6) 1792 H sammana rupanta. ma oṃ. kĕmbaṅku ṣaṅ runtiṅruntiṅ cinaku ṣi wawaŋi kambaŋ wĕratanaŋta. dan lain-lain. maupun bandingan antarteks. arti kata tidak dicari. Bunga wratanganta. I: 918.

grah). […]‟”. Terjemahan sementara: “[…] Si Purnawijaya mohon diri. Larik 3191 seharusnya dibaca: “paṣĕkk apaŋgaḥ. 327). haniti hi pantaraṇn aji. hanitihi”. Terjemahan: “Purnawijaya mohon diri: „Tinggallah baikbaik … di atas singgasana raja. K tinbul krawa le bujana kulit 3125 H tan tĕtĕsa deniṅ wwakadaga. K tan tĕtĕsa deniṅ wwakadga hendak ucapan Tuanku rajawi. 279) Memang naskah K berbunyi: “maŋge tan agiraṅ”. Hendaklah tinggal tetap terhormat menduduki singgasana Tuanku” (9) 3124 H timbul krawa len bujana kulit. pukulun. pasak I. (h. “tan agiraha” (naskah H) selayaknya dibaca: “tan ageraha” (tak akan merasa sakit). II. (8) 3188 H […] pun puṙṇawijaya. (h. 182 Jumantara Vol. (Bagian kalimat ini termasuk langsung! OJED. (OJED. Batara. tetapi sejajar dengan “tan panaŋguha lara”. II: 1438. I: 540. pasĕk. Terjemahan: “Sekarang … Hamba tidak menganggapnya penderitaan. 3 No. Perihal sandhi atau gabungan kata semacam ini perlu dipertimbangkan lagi demi pemahaman ciri kebahasan dari teks yang bersangkutan. […]”. Mungkin “pantaraṇn aji” (3192) lebih baik tetap dibaca: “pantaraṇnaji” (gabungan kata: pa [n] taraṇnaaji. pun I). 2023. K pataraṇna maṇni). amintaha. titih). (OJED.tan panaŋguha lara. 3190 amit kantuna paṣĕk kapaŋgaḥ. II: 1310.1 Tahun 2012 .

Dalam Cantakaparwa terdapat pula Aji Jahinang dengan ungkapan: “Lulur onĕng ring untunku” (naskah Kirtya 398. gḍug. berdasarkan bandingan teks dari kedua naskah. OJED. (h. 1967. Ensink. Us 156: timbal kurawale) bujan<eṅ> kulit.3126 H lwir pusuḥ tĕg kĕṅ kĕṅ. (bdk. Bacaan dapat diperbaiki menjadi: “timbul krawalen (atau: krawale. dan bandingan antarteks dengan karya lain. 1936) terdapat Aji Sūkṣma -jahinang dengan ungkapan: “lulut onĕng ring utari” (h.” (3123 H. On the OldJavanese Cantakaparwa and Its Tale of Sutasoma. Menurut konteks “gḍug. tak akan mempan oleh segala macam pedang (senjata) bagaikan kuncup bunga (?). (10) 3116 H satakuṣilulunnonen […] K maṭakuśilulukonĕn […] Pemisahan kata belum ditentukan. Membatu”. dengan arti: “Mataku Si Lulut Onĕng (Si Asyik-Masyuk)”. 9). (OJED. lulut.323).1 Tahun 2012 183 . (bdk. I: 1055. dan tidak diterjemahkan. 136). h. […] K lwir pusuḥ kĕg. Dalam Korawāçrama (Swellengrebel. lir pusuḥ tĕg (atau: kĕg) kĕṅkĕṅ”. II: 2121. suara orang menghentak bumi) berhubungan dengan “om […] dalamakanku”. karawalya (karawali?). Jumantara Vol. Tĕg. unaŋ). I: 806. 3116 H: puspa liŋganeṅ siraḥku). diusulkan bacaan: “mataku si lulut onĕng”. unĕŋ. 3 No. h. 325). (h. 99a). Tan tĕtĕsa deninṅ <sar>wwakadga. Aji ini terdapat sesudah cerita tentang Kuñjayakarna dan Pūrṇawijaya. Terjemahan sementara: “Timbul Krawale Buja (Sakti Kebal Lengan?) ada di kulit. Teg keng keng”. kĕṅ kĕṅ […] Terjemahan: “tak tertembus oleh … seperti kuncup bunga.

Seperti itulah halnya kawah tempat siksaan. 1716. 1698. Rumah itu bukan milik Besawarna. 1708. Dinda. 1043. kemala. Seharusnya dibaca: “papaṭ <t>a humahnya”. (H 1015-1030). Bukanlah Yama yang memiliki kawah itu.” (h.1 Tahun 2012 . dan mengacaukan arti!). (h. yang berarti: “seperti itulah. dan nanti akan dinikmati. bila mereka sudah mati. 3 No.” (Terjemahan “iwa maŋkana” dengan “meskipun demikian”. atau “meski demikian”. 1032. […] Terjemahan: “Bandingkan dengan Besawarna yang me nunggui kayangan pendosa.(11) 1009 H […] upamanya yi kadyaŋga ṇniṅ saṅ besawaṙṇna hatuŋgu kaywaŋan. 219) Terjemahan: “yang menunggui kayangan pendosa” berhubungan dengan bacaan “papa ṭa” dan salah hubung dengan “kaywaŋan” (1011). papa ṭa humaḥnya kĕbĕk deṇniṅ raja drawwa. kawahku. melainkan milik orang-orang di dunia yang berbuat kebaikan. mas pirak miraḥ kommala hinten. 219) Seharusnya dibaca: “iwa maŋkana yayi kawa<ḥ>ulun”. tidak tepat. Maka: (13) 1001 H […] tanta 184 Jumantara Vol. Maka: (12) 1032 H iwa maŋkana yayi kawa ulun… Terjemahan: “[…] …meskipun demikian saya ragu adik. yang berarti: “Empatlah rumahnya”. Rumahnya penuh dengan harta benda emas. intan. melainkan orang-orang di dunia. perak permata.

Jumantara Vol. merekalah yang punya. Seharusnya dibaca: 989 H […] tanta. Terjemahan: “[…] … ku. draweni kawah hi<ka> wwaṅ madyapada kaṅ drawenni <i> ka [n] yayi. 217). drawe ni kawah hi wwaṅ. Terjemahan: “Bukanlah aku yang memiliki kawah itu. Kawah adalah milik orang di dunia. saua suruh masuk sendiri dik”. 219). Bukanlah Yama yang memasukkan atau memasak orangorang berdosa di dalam kawah. (h. orang-orang di dunialah yang memiliki itu. Dinda”. hawake ḍawak aḷbokĕṇn ika yayi Terjemahan: “Bukanlah aku yang memasukkan ke dalam kawah itu. hawake ḍawak aḷbokĕṇ nika yayi Terjemahan: “[…] … Caranya pada saya kalau saya memasukkan orang ke kawah. Seharusnya dibaca: 1001 H […] tantan i ṅŋulun. ṇni ŋulun haḷbokna kawaḥ hika. Dinda”. madyapada kaṅ drawenni kaṅ yayi.1 Tahun 2012 185 . Maka: (14) 989 H […] tanta. dik. 3 No.” (h. dirinya sendiri memasukkan itu. ṇn i ŋulun haḷbokna kawaḥ hika.niṅ ŋulun. melainkan orang-orang itu sendirilah yang masuk ke dalam kawah.

Namun demikian. berdasarkan bandingan dengan larik 1301-1302 dan dengan bacaan naskah K (2822-2823: janmanya acukitt adulit). dan lainlain. tĕlas). wwaṅ tuhu si maḷbu ḍawak mariṅ kawaḥ […] Terjemahan: “Tidaklah aku masak. 223). Perbaikan bacaan “klĕ” (1097) menjadi “kĕla” sejalan dengan “tlĕs” (156.(15) 1096 H […] tanta ulun. Jadi artinya: “Ada pun penjelmaannya adalah orang-orang 186 Jumantara Vol. (h. kĕla. orang-orang itu sesungguhnya masuk sendiri ke dalam kawah”. Terjemahan: “… pemulung.1 Tahun 2012 . pĕjah). Dalam naskah H bentuk huruf “c” agak mirip dengan “j”. “pjĕh” (3392. penjual kapur”. 233) 2822 H kunaṅ pañcanmanya. (16) 1301 H […] hacukit hadulit. sedangkan “t” jauh berbeda dengan “c”. klĕ.t adulit. wwaṅ tuhu si maḷbu ḍawak mariṅ kawaḥ […] Terjemahan: “[…] … Ada orang yang masuk yang sangat … Ia masuk sendiri ke dalam kawah […]”.” Bentuk “ywacukit” dapat dipandang sebagai gabungan kata “ya acukit” dengan sisihan/tambahan “wa” pada kata “ya”. ywa tukit. 309). 3 No. tadulit. Seharusnya dibaca: 1096 H […] tanta <n> (atau: tan ta?) ulun. (h. (h. ywacukit. […] Terjemahan: “selanjutnya … … penjual kapur”. dapatlah bacaan larik 2822-2823 diperbaiki menjadi: “kunan pañjanmanya.

kaleṣa. 1942. kapur. “swadakala” (528 H. Jadi di sini perlu dipertahankan: “ikaṅ sakala”. Sisipan/tambahan “w(a)” atau “y(a) dalam ejaan naskah H perlu diperhatikan untuk perbaikan bacaan dan pemahaman bahasa. dan lain sebagainya). 169).1 Tahun 2012 187 . dan berasal dari “sakala” (t<k. 1946). 1544. Perbaikan itu sejalan dengan bentuk-bentuk: “swalaka” (229 H. Jadi arti perbaikan bacaan itu: “supaya hilanglah Jumantara Vol. (h. 3 No. 1556. dan lainlain. 286). I. sehingga “ṣwatala” ekuivalen dengan “satala” (naskah K). dan passim) dalam naskah H kadang kadang dieja “kalesa”/kaleṣa” (1541. “Ikaṅ ṣwatala” (naskah H) diterjemahkan: “tempatnya sendiri” (h. h. 1951. salah satu buktinya: naskah A). (17) 28 A sakala maray. ta. “kalṣe” (1076. itulah Mungkin harus diperbaiki demikian: 68 H <i> laŋ <a> kaleswa ywaki (yweki?) ywaki (yweki?) bawanya Ø Kata “klesa” (1933. “kalweṣa” (80. K ikaṅ satala marayata H ikaṅ ṣwatala. dan passim). dan “kleswa” (116). 324 H: salaka). yang berarti: “pada waktu yang bersamaan”. Di sini mungkin terdapat sisipan tambahan “wa”. (OJED. maratabwan. (18) 68 H laŋka leswa ywaki ywaki bawanya Ø Terjemahan: “ „Alasan maksudnya”. sadakala). bdk. sakala II). 171) untuk bepergian.(yang pekerjaannya) „cukit‟. Maka terbukalah kemungkinan untuk bacaan “kaleswa” (68). II: 1604. „dulit‟ ” (pedagang terasi. 1970.

itulah maksudnya”. 223). tata I). […] Terjemahan: “Sesudah itu berturut-turut para dewa memuja Batara Buddja Sri Wironcana”. yeki maŋke tinmunya dyan tḍuni <i> kaṅ kawaḥ Terjemahan: “Siapa yang seperti itu sikapnya. (h. sapata?” . Dalam perbaikan bacaan terdapat: “atatya? b. diterjunilah kawah itu”. Pertanyaan itu tidak perlu. 3 No. inilah sekarang yang ditemuinya. 169). 188 Jumantara Vol. maka bacaannya: 1114 H […] sapa kayweku riṅ pakśanya. (20) 8 H […] ummilu atatya dewata kabeḥ myamujaha rwiṅ ḃaṫara byudda sri wiroñcana. 356). Mungkinkah diperbaiki menjadi: “dyan tḍuni <i> kaṅ kawaṅ”? (A: den tĕḍūni ikaṅ kawaḥ). Dalam perbaikan bacaan terdapat: “sapa ka 1. (h. Bila demikian. seperti halnya: “byuda” – “budda”. (19) 1114 H […] sapa ka yweku riṅ pakśanya. Sebenarnya “atatya” ekuivalen dengan “atata” (OJED.1 Tahun 2012 . Yang perlu diperhatikan ialah: “dyan tuṭ ri kaṅ kawah”.kecemarannya. ata tyan?” (h. II: 1958. yeki maŋke tinmunya dyan tuṭ ri kaṅ kawaḥ Terjemahannya: “[…] … Mereka sekarang berhadapan dengan perbuatan jahatnya dan harus mengikutinya ke kawah”.

Ayo berpakaianlah anda”. kaleṣa” (hlm. n <ta> Jumantara Vol. nandaḥ padaŋdana kita rari. awruḥ. Terjemahan: “Bila sudah tahu akan Sang Hyang Dharma. 245) Lebih tepat diperbaiki menjadi: 1555 H […] maŋkana ilaŋan niṅ kaleṣa papa nniṅ sarira. “tirtya” (3082) – “tirta”. (22) 1555 H […] maŋkana ilaŋan niṅ (sic) kaleṣa papa nniṅ sarira. (h. (21) 1074 H […] den aswruḥ hiṅ saṅ hyaṅ daṙmma. […] Terjemahan: “[…] Begitulah caranya menghilangkan kekotoran serta kekurangan badan. ilaŋana kaleṣa niṅ sariranta. 221). 3 No. 1076. “wuwustya” (3009) – “wuwusta”. Jadi: 1074 H […] den <wu> s wruḥ hiṅ saṅ hyaṅ daṙmma. dan lain-lain. ilaŋana kalṣe ṇniṅ sariranta. Kurangnya “pasangan” beserta “sandangan”-nya perlu diperhitungkan dalam perbaikan bacaan. 359) Mungkin “s” pada “aswruh” perlu dipertahankan. Terjemahan: “[…] Pahamilah Darma maka penyakit akan hilang dari badan anda”. Dalam perbaikan bacaan terdapat: “1075.“myamujaha” – “mamujaha”. kalṣe b.1 Tahun 2012 189 . (h. aswruḥ b. hendaklah dihilangkan kecemaran tubuhmu”.

. […] Diandaikan.1 Tahun 2012 . Jadi artinya: “Kerak segala kecemaran. 319) Perbaikan bacaan: 3039 H itip <iṅ> kasmala kabeḥ.ndaḥ padaŋdana kita rari. Bentuk huruf “ḷ” serupa dengan bentuk kombinasi huruf “ŋ(a)” dan “n(a)” (sebagai “pasangan”). hendaklah kau bunuh semua”. panteni denta kabeh. (lalu) berkata kepada Sang Purnawijaya: […]”. (23) 3039 H itipa ka sla kabeh. harus anda bunuh semua”. “pa” (pada “itipa”) kehilangan “wulu” dan “cĕcak”. […] Di sini diandaikan pasangan “ta” hilang (K: sariranta). (h. 247). (24) 1587 H maŋaḷŋĕn śaṅ kuñjarakaṙṇna swojaṙ riṅ saṅ puṙnawijaya Terjemahan: “Sambil memegang lengannya berkata Kunjarakarna kepada Purnawijaya”. (h. panteni denta kabeh. aŋĕn) Sang Kunjarakarna. 2165 H: kasmalammu). […] Terjemahan: “. 3 No. Maka sebaiknya dibaca: 1587 H maŋaŋnaŋĕn śaṅ kuñjarakaṙṇna swojaṙ riṅ saṅ puṙnawijaya Terjemahan: “Berpikirlah (OJED. I: 96.. dan “s” (pada “kasla”) kehilangan “pasangan m(a)” (bdk. Begitu pula: (25) 3179 H ih hiŋaḷnĕndriya haja tan 190 Jumantara Vol.

perlu diperhatikan konsistensi dalam Dalam hal ini sangat penting pertimbangan dari segi linguistik. Terjemahan: “Hai. Begitu pula tempat-tempat lain yang paralel. (h. Selanjutnya transliterasi.1 Tahun 2012 191 . Seharusnya: “[…] burung gagak (OJED.prayatna. perlu dipertahankan pula kekhasan bahasa Jumantara Vol. […]” (26) 399 H […] gagakk alwar curiga Terjemahan: “[…] Mereka jahat” Teks naskah H dan perbaikan bacaan atas bacaan Kern pada naskah A: “gālak” (VG X: 57) menjadi “gāgak” tidak diikuti dengan terjemahan yang sesuai. dipikir dengan periksa. seperti: “taṇn ana lena kapaŋguḥ” (2464. Artinya: “Nah. Namun demikian. 327) Sebaiknya dibaca: 3179 H ih hiŋaŋnaŋĕn driya haja tan prayatna.1824 A mawak masarira K mawaṅk asarira H mawak asarira Semestinya 835 K dan H ditransliterasikan: “mawak asarira” dan “mawak aṣarira”. dan lain-lain. gāgak) yang bersayap keris”. 3 No. … berusahalah keras […]”. 3539). Sekedar contoh: (27) 835 A mawāk masarira K mawakasarira H mawakaṣarira . gagak. jangan tak waspada. I 473. 2900.

bdk. raśaksa b. 356). 1300. 360). Sejarah teks dan tradisi Dalam melacak sejarah teks dan tradisinya W. 192 Jumantara Vol. bahwa kedua naskah itu mempunyai induk yang bersamaan. Jawa Baru: rasĕksa). 2. hamahĕk b. rakṣasa. 574. 358) Kiranya perlu dipertahankan: “meŋkeneha” (3369 H: meŋkeneha. 365). 2. meṅkene). (h. Perbaikan bacaan nama-nama “kuñjayakaṙṇna” beserta varian ejaannya (105. Sakula < Nakula) menjadi “muladara” (h. OJED. raṣaksa b. Dalam hal ini perbaikan bacaan tidak konsisten. 3306. Di sini pun perlu dipertahankan: “raśaksa” (beserta varian ejaannya).dan tradisi teks masing-masing. perlu dipertimbangkan lagi dalam rangka tradisi penulis/penyalin. 360). maŋkeneha. Cantakaparwa) menjadi “kuñjarakaṙṇna” (h. moŋkono) – “meŋkene”. Untuk naskah H lebih tepat ditentukan: “hamahĕt”. Misalnya: 1. passim) – “moŋkono” (2136 H: moŋkonoha. 1504. Jadi pada naskah H terdapat: “maŋkana” (513. van der Molen menyimpulkan. (h. yang menunjukkan tahap perkembangan bahasa tertentu (bdk. 4. 3. 3353. I: 1139. hamahĕt b. 3 No. pertukaran „d‟ dan „n‟ pada naskah H dan K menyatakan. (h. dan “paladara” (3270. hamahĕt. 356). 361). OJED. bdk. Bisa ditambah: 1507 H: rasakṣa. 1760. mengingat kesalahan-kesalahan yang terjadi berkat salah baca. di mana bentuk kedua huruf itu serupa. rakśasa. 170. 364). rakṣasa. 2825. bahwa: 1. (h.1 Tahun 2012 . 160. 3346. 29. (h. meŋkeneha b. (h. hamahat. penyalin naskah A bekerja dengan lebih teliti daripada penyalin naskah H dan K. I: 1149. rasakṣa b.

Ada kemungkinan teks naskah A berhubungan dengan upacara orang mati (OJED. sedangkan teks naskah H dan K menekankan perbuatan (ritual). hal itu disebabkan oleh salah susun satu lempir pada naskah induknya. 1. Dalam konteks itu diberikan ajaran tentang dunia orang mati. bahwa (a) teks naskah A menekankan pengetahuan (esoteris). 5. samādhi dan tapa sebagai penghilang kecemaran dan jalan kelepasan. Tengger: Ĕntas-ĕntas). larik 3085-3137). serta hakekat pengetahuan akan dharma. hukum karma. Untuk tidak memperpanjang artikel ini akan diberikan beberapa pokok pikiran untuk penelitian lebih lanjut. proses kelahiran. bahwa pada sebagian episode siksaan di neraka (larik 464-570 pada terbitan teks) terdapat kekacauan urutan dan kehilangan pada naskah H dan K. sedangkan teks naskah H dan K mengalami perubahan-perubahan yang penting. manakah bacaan yang harus dianggap asli. baik ke arah penentuan tradisi maupun ke arah rekonstruksi teks yang dicitacitakan. perbandingan dengan teks naskah A menunjukkan. tiwa.3. yang bersifat pembayatan (inisiasi) atau ruwat. van der Molen meletakkan dasar untuk penelitian lebih lanjut. 3 No. Pengambilalihan teks itu sesuai Jumantara Vol.1 Tahun 2012 193 . Salah satu perbedaan teks yang penting terdapat pada larik 294: “saṅ mātiwatiwa (naskah A) dan “sṣaṅ mati” (naskah H)/ “sṣa mati” (naskah K). (b) teks naskah A mewakili bentuk yang lebih asli. 4. Perbandingan isi dan struktur teks menyatakan. Teks naskah H dan K memperluas ajaran itu dan lebih terarah pada praktek dengan mengambil alih teks upacara (mis. penjelmaan kembali. penggantian kata-kata dengan sinonimnya dalam ketiga naskah itu tak dapat memberi kepastian. Dengan kesimpulan-kesimpulan itu W. II: 2026.

H-K dengan 2048-2060. H-K).lukisan pintu Ayahbumipantana (321-340. antara unsur-unsur cerita . H-K). H-K). Perbandingan struktur teks ketiga naskah itu memperlihatkan.lukisan tapa Kunjarakarna dan Purnawijaya pada akhir cerita (3549-3559. 828-835. larik 1973-1975). A-H-K) diimbangi dengan ajaran serupa dari Yama kepada Kunjarakarna (844-866. H-K). juga 3080-3138. H-K). - - c. A-H-K) diimbangi dengan lukisan pintu yang dijaga oleh Dorakala (222-230. H-K) diimbangi dengan lukisan praktek Purnawijaya (2905-2917. ajaran tentang “pañcabuta” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2237-2260. bahwa perubahan atau tambahan pada teks naskah H dan K bersifat membuat keseimbangan: a. A-H-K) diimbangi dengan ajaran serupa dari Wairocana kepada Purnawijaya (2305-2310. antara ajaran dan praktek - 194 Jumantara Vol. antara yang terjadi pada diri Kunjarakarna dan yang terjadi pada diri Purnawijaya ajaran tentang “atma” dari Wairocana kepada Kunjarakarna (805-810. A-H-K) diimbangi dengan pembersihan serupa pada diri Purnawijaya (3048-3071. 2.1 Tahun 2012 . pembersihan dengan “tirta pañjitah mala” pada diri Kunjarakarna (2038-2044. .dengan ajaran yang juga termuat dalam naskah A (mis. H-K). 2312-2317. Bdk. H-K). ajaran tentang “atma” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2312-2317. A-H-K) diimbangi dengan lukisan tapa Kunjarakarna pada awal cerita (39-46. 3 No. b.

1 Tahun 2012 195 . Masih banyak hal serupa bisa ditemukan. Perbedaan teks ajaran dengan lukisan praktek mungkin menunjukkan tahap penyusunan yang berbeda. Jumantara Vol. 3 No. 2550-2555. Analisis semacam ini dapat membantu untuk mengenali lapisan-lapisan teks dan tahaptahap penyusunannya. H-K) diimbangi dengan lukisan praktek Purnawijaya (dua tahap: 2491-2494. H-K).- ajaran tentang “samadhi” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2436-2454.

4. Jl. kedudukan tetap. 28 A Jakarta 10002. Naskah yang masuk akan diseleksi oleh Dewan Redaksi bersama Mitra Bestari dan apabila perlu akan dilakukan penyempurnaan tanpa mengubah substansi naskah. Penulis menyertakan identitas lengkap meliputi jenjang pendidikan terakhir. 2.1 Tahun 2012 . Panjang tulisan berkisar antara 20.go. ketik spasi rangkap di atas kertas A4). 3 No.000 karakter (1520 halaman termasuk bibliografi. Gedung Pusat Jasa Lt. Jenis tulisan berupa artikel hasil penelitian atau setara hasil penelitian mengenai naskah serta tinjauan buku. VB Perpusnas RI. dan alamat lengkap yang mudah dihubungi. Artikel ditulis menggunakan bahasa Indonesia disertai abstrak dan kata kunci dalam bahasa Indonesia. Salemba Raya No. Tulisan dikirim melalui surat elektronik dengan alamat jumantara@pnri.Ketentuan Penulisan untuk Jumantara: 1.id atau melalui pos ke Redaksi Jumantara. 3. Tulisan yang dimuat akan diberikan imbalan/honor sesuai peraturan yang berlaku. 7.000 – 40. 6. 196 Jumantara Vol. karya tulis yang dianggap penting. 5. alamat surat elektronik pribadi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful