Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

i

PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA Alamat Redaksi: Gedung Pusat Jasa Lt. VB Perpusnas RI. Jl. Salemba Raya No. 28 A Kotak Pos: 3624, Jakarta 10002 Telp : (021)-3154863 ext. 264 e-mail: jumantara@pnri.go.id homepage: http://www.pnri.go.id/MajalahOnline.aspx

JUMANTARA - Jurnal Manuskrip Nusantara Vol.3 No.1 Tahun 2012 Pembina Pengarah : Kepala Perpustakaan Nasional RI : 1. Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi 2. Kepala Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi : Kepala Bidang Layanan Koleksi Khusus : Drs. Nindya Noegraha : 1. Drs. H. Sanwani 2. Aditia Gunawan, S.Pd. 3. Agung Kriswanto, SS. 4. Drs. Nur Karim, M. Hum. 5. Yudhi Irawan, S. Hum. 6. Didik Purwanto, SS. 7. Mardiono : 1. Prof. Dr. Achadiati 2. Dr. I. Kuntara Wiryamartana : Dra. Dina Isyanti, M. Si. : 1. Komari 2. Dian Soni Amellia, S.Hum. : Bambang Hernawan, SS. : Aditia Gunawan, S.Pd.

Penanggung jawab Pemimpin Redaksi Dewan Redaksi

Mitra Bestari Editor Bahasa Sekretaris Redaksi Sirkulasi Tata Letak

Jumantara adalah jurnal ilmiah dengan fokus kajian naskah (manuskrip) nusantara yang menyajikan karangan ilmiah dalam bentuk hasil penelitian, penilaian terhadap hasil penelitian, serta tinjauan buku. Diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan ISSN 2087-1074.

ii

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Artikel 1

Anung Tedjowirawan Menelusuri Jejak Cerita Rama dalam Serat Pustakaraja Karya Pujangga R.Ng. Ranggawarsita Fakhriati Perempuan dalam Manuskrip Aceh: Kajian Teks dan Konteks Atep Kurnia Sinurat Ring Merega; Tinjauan atas Kolofon Naskah Sunda Kuna Tedi Permadi Identifikasi Bahan Naskah (Daluang) Gulungan Koleksi Cagar Budaya Candi Cangkuang dengan Metode Pengamatan Langsung dan Uji Sampel di Laboratorium Ida Bagus Rai Putra Lontar: Manuskrip Perekam Peradaban dari Bali Mahrus El-mawa Rekonstruksi Kejayaan Islam di Cirebon; Studi Historis pada Masa Syarif Hidayatullah (1479-1568) Oman Fathurahman Sulalat al-Salatin Karya Tun Seri Lanang: Kebesaran Karya Sastra Melayu yang Melampaui Zamannya

44

77

128

148

100

167

Review Buku 178 Kuntara Wiryamartana Filologi Jawa dan Kuñjarakarṇa Prosa

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

iii

usia yang masih sangat rawan bagi keberlangsungan hidup sebuah jurnal. Dengan gamblang penulis memaparkan perjalanan teks Ramayana. tetapi kisah ini termashur di Nusantara. Jerih payah para pakar pengkaji naskah pada gilirannya telah berperan serta melestarikan budaya Nusantara. Andaikata naskah lontar tersebut tidak pernah terbaca. tetapi juga mencakup tema-tema politik. terus terbitnya Jumantara secara rutin menandakan bahwa para pakar dan peminat naskah tetap ada dan setia menyumbangkan hasil penelitiannya. dari Ramayana Wālmīki sampai kepada teks Serat Pustakaraja karya pujangga Ranggawarsita. ekonomi. 3 No. tulisan Anung Tedjowirawan tentang jejak cerita Rama. obat-obatan. Apalagi jika melihat kenyataan bahwa penyumbang tulisan dalam jurnal ini adalah para ahli filologi yang jumlahnya saat ini semakin sedikit. Sebagai contoh. istilah pancasila yang menjadi dasar negara dan bhineka tunggal ika yang merupakan semboyan negara diambil dari teks Kakawin Sutasoma. hukum. mungkin kita tidak pernah mendengar istilah-istilah “sakti” tersebut. Ia dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi bangsa. dan lain-lain. Meski demikian. Meski teks Ramayana bukan berasal dari Nusantara.1 Tahun 2012 . Kandungan naskah Nusantara tidak selalu hanya berkaitan dengan kesusastraan. dari India sampai Jawa. Para pujangga seperti Ranggawarsita menyerap isi cerita kemudian disesuaikan dengan kebudayaan lokal. sosial. mitologi.J umantara telah menginjak usia ketiga. Dalam nomor ini disajikan artikel-artikel yang menyampaikan berbagai pengetahuan penting dan menarik. Fakhriati mencoba menggali ajaran dan praktik tentang iv Jumantara Vol. Pertama. budaya dan agama. Naskah memiliki peran penting bagi bangsa Indonesia. Inilah yang coba ditunjukkan oleh Fakhriati melalui tulisannya yang menyoroti kedudukan perempuan sebagaimana terkandung dalam sebuah naskah Aceh. sejarah.

proses pembuatan. Artikel ketiga. Dalam artikelnya. tempat. tetapi jika dicermati ternyata dapat memberikan informasi penting tentang sebuah naskah.1 Tahun 2012 v . Berbeda dengan Tedi Permadi. Tradisi lontar yang masih lestari di Bali saat ini dapat memberi petunjuk bagaimana fungsi naskah lontar pada masa lalu. kesimpulan tersebut dapat membantu pihak yang berkepentingan untuk menilai fisik suatu naskah. Ida Bagus Rai Putra membahas berbagai segi penggunaan daun lontar sebagai media menulis naskah. Mahrus el-Mawa berusaha memaparkan secara luas salah satu Jumantara Vol. merupakan tinjauan terhadap kolofon naskah Sunda Kuna. dalam edisi ini disajikan pula artikel yang membahas wujud naskah itu sendiri. Dari tulisan itu diperoleh gambaran bahwa identitas penulis naskah tidak selalu dinyatakan dengan jelas. peneliti dari UPI Bandung. di antaranya dari dari segi fisik. yang ditulis oleh Atep Kurnia. dan waktu penulisan naskah. Sebagai bahan perbandingan. Fakhriati menggunakan teks berjudul Siti Hasanah. Kajian seperti itu termasuk dalam ranah kodikologi. Banyak data yang sepertinya sepele. misalnya: ketebalan naskah yang diukur secara cermat dapat membuktikan apakah sebuah naskah dikerjakan secara tradisional atau merupakan buatan pabrik. Tedi Permadi. Ida Bagus membahas lontar sebagai media menulis naskah. Melalui perspektif sejarah.kehidupan perempuan di Aceh pada masa lalu melalui kehidupan Siti Islam. Dalam tataran praktis. membahas secara rinci naskah daluang yang berasal dari Candi Cangkuang. tokoh utama dalam teks Hikayat Siti Islam. 3 No. Mahrus el-Mawa mengkaji puncak kejayaan Islam di Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. sampai tradisi penulisan dan pembacaan lontar yang masih hidup di Bali. Selain kajian teks. mencakup informasi tentang identitas penulis atau penyalin. Sebagian besar naskah Sunda Kuna yang ditulis di gunung dapat dijadikan petunjuk awal yang mengungkap kedudukan gunung sebagai skriptorium penciptaan sebuah karya intelektual pada masa lalu.

karya Oman Fathurahman.1 Tahun 2012 . Secara cermat I Kuntara menunjukkan alternatif bacaan dan terjemahan (ada kalanya perbaikan) terhadap teks Jawa Kuna Kunjarakarna. membuktikan bahwa Sunan Gunung Jati bukanlah tokoh mitos. mengkaji sejarah penelitian salah satu teks Melayu yang. “demikian banyaknya diselidiki”. Oman Fathurahman masih melihat adanya aspek yang belum tergali yang dapat dimanfaatkan oleh para peneliti selanjutnya. Kami berharap Jumantara dapat dijadikan sebagai “arena” penulisan artikel yang berkaitan dengan pernaskahan di Indonesia sehingga isi dan kandungan naskah dapat dibaca secara luas oleh masyarakat. 3 No. bukan berarti pembahasan terhadapnya telah tuntas. Hooykas. Artikel terakhir. Meski banyak sarjana yang telah meneliti teks tersebut. Ini menunjukkan bahwa naskah “kuno” Nusantara dapat dijadikan “sumber inspirasi baru” untuk perkembangan penelitian di Indonesia. Walaupun ia tidak mengulas tentang guru dan ajaran keagamaan Syarif Hidayatullah secara mendalam. Dari artikel-artikel yang kami sajikan dalam edisi kali ini. pembaca dapat melihat betapa beragamnya persoalan yang diangkat oleh para penulis. tetapi usahanya merekonstruksi kejayaan Islam di Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah melalui teks lama dan bukti-bukti artefak. Kuntara Wiryamartana dalam tinjauan buku Kritik Teks Jawa: Sebuah Pendekatan Baru terhadap Kunjarakarna Prosa karangan Wilem van der Molen (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. yaitu penyajian teks dan terjemahan. Tulisannya mengingatkan kita akan pentingnya aspek-aspek mendasar dari filologi. yaitu Sulalat alSalatin atau lebih populer disebut Sejarah Melayu. meminjam istilah C. Selamat membaca! vi Jumantara Vol. Filologi secara harafiah berarti “cinta kata”.tokoh penting Walisongo ini. 2011). yaitu unsur Islam yang terkandung dalam teks tersebut. Kecintaan itulah yang ditunjukkan I. melainkan tokoh historis.

Ritual tersebut disaksikan oleh para raja sekutu Prabu Dasarata serta dihadiri oleh Prabu Basurata dari Wiratha. Ritual agung Aswameda tersebut diselenggarakan di hutan Madura dekat sungai Sarayu (Gangga). 3 No. Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara. mengenai kisah hidup Prabu Ramawijaya ketika dicopot dari tahta serta harus meninggalkan istana Ayodya untuk pergi ke hutan belantara bersama Dewi Sinta. tempat keberadaan "Jamur Dipa". serta adiknya * Penulis. peneliti dan pengajar di Jurusan Sastra Nusantara FIB Universitas Gajah Mada Jumantara Vol. penjelmaan Rĕsi Anggira (Maharsi Paspa). Dalam Sĕrat Suktinawyasa jejak cerita Rama terdapat dalam cerita yang disampaikan Dhang Hyang Wiku Salya kepada Rĕsi Abyasa. sedangkan putra Prabu Basurata yang lahir bernama Raden Brahmaneka. Sĕrat Suktinawyasa. Sĕrat Prabu Gĕndrayana. Barata dan Satrugna. Dari ritual agung Aswameda tersebut kemudian lahirlah putra-putra Prabu Dasarata antara lain: Rama. Laksmana.Abstrak Jejak cerita Rama dalam Sĕrat Pustakaraja diantaranya terdapat dalam Sĕrat Rukmawati. Raja Ayodya dalam rangka memohon kelahiran putra yang menjadi penjelmaan Sang Hyang Wisnu. Dalam Sĕrat Rukmawati dikemukakan tentang peristiwa ritual agung Aswameda yang diselenggarakan oleh Prabu Dasarata.1 Tahun 2012 1 . istrinya.

Sĕrat Rukmawati. Kata Kunci: Kakawin Rāmāyaņa. Cerita tersebut diungkapkan Bagawan Danèswara agar Prabu Gĕndrayana merelakan putranya yaitu Raden Narayana (Jayabhaya) untuk diminta bantuannya melenyapkan segala jenis hama tanaman (yang dilindungi para Dewa). Cerita tersebut dikemukakan Dhang Hyang Wiku Salya dalam rangka untuk menghibur agar Rĕsi Abyasa tidak terlalu bersedih hati karena sepeninggal ayahandanya (Rĕsi Palasara) ia tidak ditunjuk untuk menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai raja melainkan hanya diangkat sebagai raja pendeta. Serat Suktinawyasa. Hanūman). bahwa Batara Ramawijaya sewaktu muda (8 tahun) sudah dibawa Bagawan Sutiknayogi ke Gunung Dhandhaka untuk diadu dengan para raksasa bala tentara Rahwana (Dasamuka). Dèwi Pramuni dengan Radèn Darmasarana. Dalam Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara jejak cerita Rama tampak pada penampilan Sang Maharsi Mayangkara (Anoman. Dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana. Dalam kedua Serat tersebut dikisahkan peran Sang Maharsi Mayangkara yang mendapat tugas Bathara Guru untuk menjalin kembali kerukunan di antara keturunan Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) dengan keturunan Prabu Sariwahana. Sĕrat Mayangkara.1 Tahun 2012 . yang merusak segenap sawah dan ladang penduduk di wilayah Gunung Nilandusa (Wilis). dan Dèwi Sasanti dengan Radèn Darmakusuma. 3 No. 2 Jumantara Vol. Mereka antara lain: Dèwi Pramèsthi dengan Prabu Astradarma (Purusangkara). jejak cerita Rama dikemukakan oleh Bagawan Danèswara kepada Prabu Gĕndrayana. lewat perka-winan putra-putri mereka. Dalam kedua cerita tersebut Sang Maharsi Mayangkara akhirnya gugur dalam pertempurannya yang dahsyat melawan Prabu Yaksadewa (penjelmaan Sang Hyang Kala) yang bersenjatakan gada (penjelmaan Sang Hyang Brahma). yang merusak pertapaan. Sĕrat Prabu Gĕndrayana. Sĕrat Pustakaraja.Laksmana. sampai Dewi Sinta diculik dan dibawa lari oleh Prabu Dasamuka ke Alengka. Sĕrat Purusangkara.

yang karena senang berkumpul dan bergaul dengan para perampok. Rāmāyaņa dicipta melalui proses waktu yang cukup panjang. (Padmapuspita. sungai-sungai mengalir di permukaan bumi selama itu juga kisah Rāmāyaņa akan terus berlangsung di dunia (Padmapuspita. Saat itulah ia mendapat ilham untuk mencipta bentuk sanjak. yaitu 400 tahun. yang terdiri dari Ŗg-Weda. Beberapa sarjana mengemukakan bahwa hakikat inti Jumantara Vol. dan Atharwa Weda. Baik Rāmāyaņa maupun Mahābhārata termasuk Itihāsa. 1979: 1-2). ia berhasil diinsyafkan dan disuruh bertapa di hutan sambil mengucapkan mantra: marā.1 Tahun 2012 3 .Pengantar Rāmāyaņa adalah karya agung dari India. dari 200 tahun sebelum Masehi sampai dengan 200 tahun sesudah Masehi. yang oleh pujangga penciptanya diwariskan untuk seluruh umat manusia. marā. Dalam mitologinya. marā sedemikian cepatnya sehingga ucapannya terbalik menjadi: Rāma. si petapa tetap pada tempatnya semula. Maka sejak itu pemuda petapa tersebut disebut Wālmīki (Padmapuspita. bahwa selama masih ada gunung-gunung yang berdiri. berbahasa Sanskerta. Bagaimanakah mitologi terciptanya karya agung ini? Ada seorang putra Brahmana. terus-menerus dengan tempo secepat-cepatnya. Pada waktu Wālmīki akan menggubah Rāmāyaņa. 3 No. Adapun Mahābhārata karya Mpu Vyāsa mengalami proses pertumbuhan selama 800 tahun. 1979: 1-2). melengkapi kitab suci Catur Weda Samhita. kitab suci Weda yang kelima. selama seribu tahun tanpa boleh bergerak. dari 400 tahun Sebelum Masehi sampai 400 tahun Sesudah Masehi. Pada waktu Saptarşi menengoknya. Keagungan dan kemasyuran kisah Rāmāyaņa ini memang sudah diramalkan ribuan tahun sebelumnya. 1979: 1). Rāma. Yayur-Weda. Seluruh badan petapa tersebut tertimbun di bawah „onggokan sarang semut hutan‟ yang dalam bahasa Sanskerta disebut walmīka. marā. Ketika merampok tujuh orang dewa – resi (Saptarşi). tidak bergerak sambil mengucapkan mantra: marā. ia duduk termenung di tepian sungai sambil melihat air sungai yang beriakriak. marā. Rāma. Sāma-Weda. tumbuh menjadi seorang penjahat.

Laos. 3 No. Janakīharaņa (penculikan Sīta) oleh Kumaradasa. Surjohudojo.. Cerita Rāmāyaņa dari India tersebut kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. yang menganggap bahwa Rāma adalah penjelmaan Dewa Wisnu. Sutīkşņa). ketika kekuasaan rajawi masih 4 Jumantara Vol. kesetiaan. misalnya: Raghuvangśa (keturunan Raghu) karya Kalidasa. pertentangan Subali melawan Sugriwa. 1961: 4-10). Birma. menyerang Langka hingga takluk. Rāma melambangkan satria Arya yang. maupun Jawa (Manu. Relief cerita Ramayana di candi Prambanan rupanya lebih dekat dengan Sĕrat Rama Kĕling. Kakawin Rāmāyaņa diperkirakan digubah pada abad IX Masehi (820-832 Ç atau 898-910 M). 1963: 48. Rāmācaritamanasa (telaga kisah Rāma) oleh Tulasi Dasa (Tulsi Das). Sarabhangga. dan Rāmāyaņa Kathāsara-mānjari oleh Ksemendra (Darusuprapta. selain Wālmīki yang berhasil menggubah Rāmāyaņa. (e) Dasar pola cerita Rāma merupakan persoalan tindakan dharma melawan adharma (Darusuprapta. (b) Dianggap sebagai lambang perebutan kekuasaan negara yang senantiasa terjadi di sepanjang sejarah. Rāvaņavadha (pembunuhan Rāvaņa) oleh Bhaţţi. Di Asia Tenggara cerita Rāma terdapat di Vietnam.Rāmāyaņa adalah: (a) Berisi lambang gerakan ekspansi bangsa Arya dari tanah India Utara ke India Selatan. dan politik tinggi Wibisana. Dari berbagai penelitian para ahli teks. 1998: 136-146). (c) Dianggap sebagai cerita roman cinta kasih. Surjohudojo. Di Indonesia cerita Rāma digubah ke dalam Kakawin Rāmāyaņa maupun terpatri pada relief di candi Prambanan dan candi Panataran. (d) Dianggap sebagai kitab suci yang keramat. lebih-lebih bagi golongan Waisnawa. Kamboja. Dalam hal ini cerita Rāma dianggap sebagai dokumen sejarah. Agastya. penyair-penyair India lain pun mencoba membuat cerita Rāma– Sīta tersebut.1 Tahun 2012 . Melayu. Uttara Rāma oleh Bhavabhutti. dengan pola cerita pengendalian Bharata oleh Kekayi. Thailand. Filipina. adapun relief di candi Panataran dekat dengan Kakawin Rāmāyaņa. Di India. Atri. kesucian yang tiada taranya. 1961: 10). 1963: 12-13. didalangi para Brahmana (yang ditokohkan sebagai Bharadwāja.

3 No. Berkaitan dengan penulisan Kakawin Rāmāyaņa. Shiwaisme adalah sekte tertua yang dapat dibuktikan jejaknya lewat penempatan dewa-dewa penting yang memakai atributatribut Shiwa di candi Prambanan. 1963: 60). seperti: Kern. Padmapuspita menjelaskan beberapa alasan mengapa di dalam tradisi Bali penulisan Kakawin Jumantara Vol. mengikuti anggapan umum di Bali (misalnya Ktut Ginarsa) bahwa penulis Kakawin Rāmāyaņa adalah Yogīśwara (Darusuprapta. pada mulanya para sarjana. Somvir. Berdasarkan penelitian Himansu Bhusan Sarkar.berpusat di Jawa Tengah. 1963: 53-56. Meskipun demikian Somvir (setelah 40 tahun kemudian) mengharapkan bahwa Yogīśwara sebagai pencipta Kakawin Rāmāyaņa menurut tradisi Bali selama ini dapat diterima (Somvir. diketahui bahwa sumber penulisan Kakawin Rāmāyaņa adalah Rāvaņavadha karya Bhaţţikâvya (Poerbatjaraka. 1998: 20).1 Tahun 2012 5 . Zoetmulder. dan Hooykaas. Tradisi Shiwaisme itulah kiranya yang mendorong Yogīśwara untuk memilih Bhaţţikâvya sebagai sumber penggubahan Kakawin Rāmāyaņa (Somvir. Dalam kaitannya dengan penulis dan saat penulisan Kakawin Rāmāyaņa menurut tradisi Bali. Darusuprapta. Manomohan Ghosh. Padmapuspita. 1957: 2-3. Camille Blucke. dan Hooykaas. 1998: 20-21). 1979: 3. sebagaimana anggapan yang terbiasa di Bali. Manu. Somvir menyatakan pula bahwa pertimbangan utama Yogīśwara dalam memilih Bhaţţikâvya adalah bahwa penyair Bhaţţi tergolong ke dalam sekte Shiwa. Baris kalimat yang memuat kata yogīśwara tersebut berbunyi: "Sang yogīśwara çişţa sang sujana çuddha manahira huwus mace sira". Berg. 1983: 288-290. 1961: 11-12. 1998: 137. 1998: 19-20). yang artinya sang yogīśwara (pendeta besar) menjadi sangat pandai dan sang sujana (orang baik) menjadi bersih hatinya setelah membacanya (Rāmāyaņa ini) (Darusuprapta. Juynboll. Oleh karena itu Poerbatjaraka menegaskan bahwa kata yogīśwara harus diartikan sebagai 'pendeta besar'. Surjohudojo. 1963: 60). bukan menunjuk pada penulis Kakawin Rāmāyaņa.

Rāmāyaņa adalah pada tahun 1016 Ç (1094 M) oleh Yogīśwara. Rangkaian kata-kata "çişţa sujana çuddha manahira" itu dianggap memuat sengkalan yang menunjuk tahun 1016 Ç. Dalam hal ini kata çişţa = 6; sujana = 1; çuddha = 0; manah = 1. Jadi 6101 atau tahun 1016 Ç (Padmapuspita, 1979: 13). Akan tetapi dalam koreksinya, Padmapuspita lebih cenderung menyetujui bahwa sengkalan di atas menunjuk tahun 1018 Ç (1096 M), karena kata çişţa yang artinya 'terpelajar' atau 'pandai' diberi arti '8', sama dengan pendeta. Padmapuspita juga menemukan adanya kata "guna" sampai tiga kali (triguna) dari bait penutup dalam Kakawin Rāmāyaņa tersebut. Karena itu Padmapuspita menawarkan pandangannya bahwa kemungkinan penulis Kakawin Rāmāyaņa adalah Mpu Triguna, semasa pemerintahan Çri Jayawarsa Digwijaya Çastra Prabu, yang memerintah tahun 1026 Ç (1104 M). Walaupun demikian, Padmapuspita juga sependapat dengan Poerbatjaraka, bahwa yogīśwara bukanlah nama orang, melainkan sebutan penghormatan, seperti halnya kata yogīndra yang diberikan kepada Wālmīki. Bhaţţi sendiri (pengarang Rāvaņavadha) diperkirakan merupakan nama samaran Bhartrhari. Dalam hal ini kata bhaţţi dapat dihubungkan dengan kata bhaţţa, sebutan untuk sarjana besar, semacam penulisan gelar Doktor yang disingkat Dr. (Padmapuspita, 1979: 14-15). Dalam perkembangannya Kakawin Rāmāyaņa digubah dalam kesastraan Jawa Baru dengan judul Sĕrat Rama oleh pujangga R.Ng. Yasadipura I (Poerbatjaraka, 1957: 152; Darusuprapta, 1963: 43; Ricklefs, 1997: 276). Kakawin Rāmāyaņa juga digubah oleh R.Ng. Yasadipura II menjadi Sĕrat Arjuna Sasrabahu, baik yang berbentuk tembang macapat maupun yang berbentuk Kawi miring, serta juga digubah oleh Sindusastra menjadi Sĕrat Arjunasasra atau Sĕrat Lokapala (Mc. Donald dalam Manu, 1998: 138). Bila cerita dalam Rāmāyaņa dan Mahābhārata yang di India seperti tidak ada hubungannya satu sama lain, maka di Jawa kedua tradisi tersebut dicoba dihubungkan, terutama dalam

6

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

pewayangan. Misalnya tampak pada cerita Wahyu Makutharama (Ki Siswaharsaya), Sĕrat Kandha Lampahan Jayasĕmadi, Sĕrat Kandha Lampahan Sĕmar Boyong, Sĕrat Kandha Lampahan Rama Nitis, Arjuna Krama, Lampahan Wahyu Tunggul Naga, dan sebagainya. Sĕrat Pustakaraja Sebelum dikemukakan jejak cerita Rāma dalam Sĕrat Pustakaraja, akan dikemukakan secara sepintas tentang karya tersebut. Sĕrat Pustakaraja adalah karya agung dan merupakan puncak karya pujangga R. Ng. Ranggawarsita, disamping Sĕrat Ajipamasa maupun Sĕrat Witaradya. Bedanya, kalau Sĕrat Pustakaraja berbentuk prosa, maka Sĕrat Ajipamasa dan Sĕrat Witaradya berbentuk puisi Jawa Baru (Macapat). Disebut Pustakaraja karena karya ini dijadikan kitab pedoman bagi seorang Raja (pakĕmipun panjĕnĕngan nata). Pustakaraja dapat juga diartikan 'Rajanya Kitab', karena merupakan kitab yang terkemuka dan menjadi induk segala kitab cerita Jawa (Sĕrat Raja, amargi dados tĕtunggul tuwin dados baboning Sĕrat cariyos Jawi) (Ranggawarsita, 1938: 7). Sĕrat Pustakaraja dapat dibagi menjadi 2, yaitu Sĕrat Pustakaraja Purwa dan Sĕrat Pustakaraja Puwara. Sĕrat Pustakaraja Purwa dibagi menjadi beberapa kelompok besar, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Sĕrat Maha Parwa, meliputi: a. Sĕrat Purwa Pada; b. Sĕrat Sabaloka. Sĕrat Maha Déwa, meliputi: a. Sĕrat Déwa Buddha; b. Sĕrat Dewa Raja. Sĕrat Maha Rĕsi, meliputi: a. Sĕrat Rĕsi Kala; b. Sĕrat Buddha Krĕsna. Sĕrat Maha Raja, meliputi: a. Sĕrat Raja Kanwa; b. Sĕrat Palindria; c. Sĕrat Silacala; d. Sĕrat Sumanasantaka. Sĕrat Maharata, meliputi: a. Sĕrat Dyitayama; b. Sĕrat Tritarata; c. Sĕrat Sindula; d. Sĕrat Rukmawati; e. Sĕrat Sri

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

7

Sadana. 6. Sĕrat Maha Tantra, meliputi: a. Sĕrat Sri Kala; b. Sĕrat Raja Watara; c. Sĕrat Crita Kaprawa; d. Sĕrat Ariawanda; e. Sĕrat Para Patra. Sĕrat Maha Putra, meliputi: a. Sĕrat Mahandya Purwa; b. Sĕrat Suktinawyasa; c. Sĕrat Hariwangsa; d. Sĕrat Darma Sarya; e. Sĕrat Kumbayana; f. Sĕrat Wanda Laksana; g. Sĕrat Darma Mukta; h. Sĕrat Drĕta Nĕgara. Sĕrat Maha Dharma, meliputi: a. Sĕrat Kuramaka; b. Sĕrat Smara Dahana; c. Sĕrat Ambarawaja; d. Sĕrat Krida Krĕsna; e. Sĕrat Kunjarakarna; f. Sĕrat Kunjara Krĕsna; g. Sĕrat Partayagnya; h. Sĕrat Manik Harya Purwaka; i. Sĕrat Sumantri Parta; j. Sĕrat Dĕwa Ruci; k. Sĕrat Parta Wiwaha/Mintaraga; Sĕrat Indra Naraga; m. Sĕrat Urubaya; n. Sĕrat Domantara; o. Sĕrat Bomantaka; p. Sĕrat Baratayuda; q. Sĕrat Kirimataya; r. Sĕrat Darmasarana; s. Sĕrat Yudhayana.

7.

8.

Sĕrat Pustakaraja Puwara juga dibagi menjadi beberapa kelompok besar, yaitu: 1. Sĕrat Maha Parma, meliputi; a. Sĕrat Budhayana; b. Sĕrat Sariwahana; c. Sĕrat Purusangkara; d. Sĕrat Partakaraja; e. Sĕrat Ajidharma; f. Sĕrat Ajipamasa. 2. Sĕrat Maharaka, meliputi; a. Sĕrat Witaradya; b. Sĕrat Purwanyana; c. Sĕrat Bandawasa; d. Sĕrat Déwatacèngkar. 3. Sĕrat Maha Prana, meliputi: a. Sĕrat Widayaka; b. Sĕrat Danèswara; c. Sĕrat Jaya Lĕngkara; d. Sĕrat Dharma Kusuma; e. Sĕrat Catasi Panuaka. 4. Sĕrat Maha Krasma, meliputi: a. Sĕrat Surya Wisésa; b. Sĕrat Raja Sunda; c. Sĕrat Madu Sudana; d. Sĕrat Panca Prabanggana. 5. Sĕrat Maha Kara, meliputi: a. Sĕrat Mundingsari; b. Sĕrat Raja Purwaka; c. Sĕrat Maha Kara.

8

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

6. Sĕrat Maha Para (Ranggawarsita 1938: 10-49; Mulyono, 1989: 191-200; Tedjowirawan, 2008: 84-86).

Sri

Dalam Kepustakaan Jawa (1957), Poerbatjaraka menilai bahwa Kitab (Sĕrat) Pustakaraja pada pokoknya digubah berdasarkan kitab-kitab lakon wayang, pendengaran R. Ng. Ranggawarsita tentang cerita-cerita dari temannya, dan dongengdongeng yang pada waktu itu sudah ada. Semuanya itu diubah dan ditambah oleh R. Ng. Ranggawarsita menurut kehendak hatinya. Lebih jauh Poerbatjaraka menyatakan bahwa: “Walau bagaimanapun juga keadaannya, dengan pendek Kitab Pustakaraja itu sebagian besar hanya berisi “omong kosong” belaka daripada R.Ng. Ranggawarsita. Kitab-kitab yang disebut di dalam Kitab Pustakaraja, itu seperti kitabkitab Maha Parwa, Purwa Pada, Sabaloka, Maha Déwa, Maha Rĕsi, dan sebagainya, itu sebenarnya tidak ada dan tak pernah ada.” (Poerbatjaraka, 1957: 186). C.C. Berg dalam Penulisan Sejarah Jawa (Javaansche Geschiedschrijving, dalam geschiedenis van Nederlands Indie, 1938) mengakui bahwa pihak Barat belum memberikan perhatian yang berarti terhadap Pustakaraja, namun diakui bahwa R.Ng. Ranggawarsita mempunyai pergaulan dengan ahli-ahli ilmu bahasa dan kebudayaan Jawa yang berkebangsaan Barat. Selanjutnya dikatakan bahwa R.Ng. Ranggawarsita dalam menulis karyanya menempuh jalan baru dan untuk memperoleh bahan-bahan ia menggali sumber-sumber baru. Akhirnya dikatakan juga bahwa R.Ng. Ranggawarsita (ternyata) mencurahkan amat banyak perhatian untuk menentukan tarikh peristiwa-peristiwa yang dibukukannya. Ia selalu memberikan dua tarikh, yang satu menurut tahun Syamsiah dan yang satu lagi menurut tahun Komariyah. Berdasarkan kenyataan itu bukan mustahil bila sesungguhnya R.Ng. Ranggawarsita bermaksud untuk menulis sejarah menurut tanggapan Barat. Bahwa usahanya tersebut tidak berhasil tidaklah penting. Apabila R.Ng.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

9

C. “manusia ular”.Ranggawarsita bermaksud mencari nama sebagai ahli sejarah pertama yang beraliran modern. Ranggawarsita) bukanlah orang yang mempelajari ilmu sejarah. maka kiranya kita harus membedakan karyanya dengan karya rekan-rekannya yang terdahulu.1 Tahun 2012 . Books of Kings. Keanehan dalam Sĕrat Pustakaraja tersebut justru sering dinilai “sangat menakjubkan” 10 Jumantara Vol. Di sini C. impress the reader in a remarkable way.Ng. Sĕrat Pustakaraja. idea of dating all tales is to be considered as a consequence of his thoroughly Javanese belief in an all pervading Order. The events of myth and epic history are dated consecu-tively according to a chronology. 3 No. pujangga dalam arti yang asli. Pigeaud dalam Literature of Java Volume I (1967) menyatakan: “Rangga Warsita‟s books on mythology and ancient history. 1967: 170). and so the Pustaka Raja makes an impression of being historically reliable. karena yang disebut belakangan ini (R. Menurut Sri Mulyono. myth and epics have parallels in the literatures of other peoples. solar and lunar years. of Rangga Warsita‟s own invention. which he called Pustaka Raja. Sĕrat Pustakaraja isinya sudah menyimpang dan berbeda jauh dengan Ramāyāna maupun Mahābharāta. adalah hasil saduran kembali cerita dalam Mahābharāta dengan berbagai adaptasi dan inovasi. Rangga Warsita‟s chronicles of creation. 1989: 202). Sĕrat Pustakaraja Purwa seringkali dikatakan sebagai suatu penulisan baru mengenai sumber-sumber cerita wayang (penulisan cerita Mahābharāta versi Indonesia) (Mulyono. akan tetapi pendeta-pendeta magi sastra. His. which it is not. which should also be made visible in myth and ancient history” (Pigeaud. Berg hanya dapat mengemukakan tidak lebih dari perkiraan-perkiraannya (Berg. khususnya Sĕrat Pustakaraja Purwa. at first sight preposterous. cosmogony. 1974: 87).

Adapun jejak cerita Rāma dalam Serat-Serat di atas dapat dikemukakan sebagai berikut: Cerita Rāma dalam Sĕrat Rukmawati Pujangga R. 4) Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara yang dapat dimasukkan ke dalam kelompok Sĕrat Maha Parma (bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara). Ranggawarsita di dalam Sĕrat Pustakaraja menyatakan: Sĕrat Rukmawati. yaitu memberikan penerangan bahwa dewa-dewa (para Jawata) yang diartikan sebagai nenek moyang orang Jawa itu bukanlah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. tetapi hanya sebagai titah biasa (Mulyono.sehingga para sarjana berkesimpulan bahwa kitab tersebut adalah wishfull thinking pujangga R. 3) Sĕrat Prabu Gendrayana yang dapat disejajarkan dengan Sĕrat Budhayana sehingga dapat dimasukkan ke dalam kelompok Sĕrat Maha Parma (bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara). Ng. 1989: 202. 3 No. wiyosipun punika cariyos lalampahanipun Dèwi Rukmawati. Jejak Cerita Rama dalam Serat Pustakaraja Di dalam Sĕrat Pustakaraja jejak cerita Rāma terdapat di dalam: 1) Sĕrat Rukmawati bagian kelompok Kitab Maharata (bagian Pustakaraja Purwa). Di samping itu salah satu maksud tujuan disusunnya Sĕrat Pustakaraja adalah untuk mendidik anak cucu dengan mengajarkan sejarah kepahlawanan leluhurnya.Ng. Wiryamartana. putranipun Sang Hyang Anantaboga anggènipun amĕmĕca saha mitulungi sarana dha-tĕng Jumantara Vol.1 Tahun 2012 11 . Ranggawarsita (Sĕrat Pustakaraja) adalah menempatkan jatining panembah.Ng. 2) Sĕrat Suktinawyasa bagian Sĕrat Mahapatra (bagian Pustakaraja Purwa). 1980: 2). Ranggawarsita sendiri. Selain itu yang terpenting dari segala uraian karya-karya pujangga R.

sadhĕngaha ingkang nĕdha tulung. penggubahannya pada tahun Suryasangkala 853. putra Sang Hyang Anantaboga. (3) Prabu Basurata kerajaannya di Wiratha yang pertama di tanah Tegal. 3 No. 1939: 2-3. putra Sang Hyang Anantaboga ketika meramalkan dan menolong memberikan jalan (petunjuk) kepada siapapun yang meminta pertolongan (padanya). kerajaannya di Gilingwĕsi tanah Prayangan (Priangan). (Sĕrat Rukmawati. inilah cerita kisah perjalanan hidup Dewi Rukmawati. Kamajaya 1994: 2). kerajaannya di Purwacarita. turun ke dunia dan berdiam di pertapaan di Gunung Mahendra (Gunung Lawu) di tanah Surakarta. kerajaannya di Medanggalungan tanah Pekalongan (Ranggawarsita. Madura dan Sumatra. (4) Sri Maharaja Sindhula (putra Prabu Watugunung). (2) Prabu Sri Mahapunggung. Dikemukakan dalam Sĕrat Rukmawati bahwa pada waktu itu pulau Jawa masih bersatu dengan Bali. Prabu Sri Mahapunggung dan Prabu Basurata adalah putra Sang Hyang Wisnu. 1938: 17). termasuk tanah Kendal atau Pekalongan. Pada waktu itu bidadari bernama Dewi Rukmawati. Dewi Rukmawati dengan ketajaman penglihatan batinnya sering meramal dan menolong orang yang sedang bersedih sehingga ia termashur 12 Jumantara Vol. Adapun cerita dalam Sĕrat Rukmawati dimulai dari tahun Suryasangkala 453 (Uninga – marganing – yoga) atau terhitung tahun Candrasangkala 467 (Rĕsi – rasaning – catur) sampai dengan tahun Suryasangkala 456 (Karasa – marganing – dadi) atau terhitung tahun Candrasangkala 470 (Kagunturan – sabda – pakarti – muluk) (Kamajaya. panganggitipun anuju ing taun Suryasangkala 853. Di Jawa ada empat raja: (1) Prabu Brahmanaraja (putra Sang Hyang Brahma). 1994: 33). kaétang ing taun Candra-sangkala amarĕngi 879 (Ranggawarsita. Kaanggit dé-ning Mpu Sindura ing Mamĕnang. dihitung (ber-dasarkan) tahun Candrasangkala bertepatan tahun 879). Dikarang oleh Mpu Sindura di Mamenang.1 Tahun 2012 .

Karena berujud abu ia juga disebut Maharsi Paspa. Rĕsi Anggira lupa bahwa tangannya sudah memiliki kesaktian yang dahsyat. cicit Sang Hyang Pancaresi. tetapi terus dikejar oleh Rĕsi Anggira. Karena itu Prabu Basurata disarankan untuk mengambil/memetik Jamur Dipa ke hutan Madura di tanah India (Ranggawarsita. akan tetapi Rĕsi Anggira ingin mencoba kesaktian telapak tangannya dengan meraba kepala Sang Hyang Jagadnata. Pada waktu itu Prabu Basurata mendapat ilham dalam mimpinya bahwa ia hendaknya mencari cara agar mendapatkan putra. termasuk dalam wilayah negara Ngayodya. seketika akan menjadi abu. terutama kepala seseorang. 1939: 12-14. Sang Hyang Jagadnata menolak. Konon terjadinya abu tersebut bermula ketika Rĕsi Anggira yang dari kanak-kanak sampai tua melakukan tapa brata. Di dalam Jumantara Vol. Kamajaya. Di dalam abu tersebut kemudian tumbuhlah jamur yang terkenal sebagai Jamur Dipa yang dapat menjadi sarana untuk mendapatkan seorang putera yang istimewa. Ketika membersihkan rambutnya. Sang Hyang Jagadnata kemudian lenyap dan tidak berapa lama muncullah Sang Hyang Wisnu menyamar sebagai seorang wanita yang sangat cantik bernama Dewi Anggarini. Permintaan itu dikabulkan oleh Sang Hyang Jagadnata. Permintaan Rĕsi Anggira adalah bahwa hendaknya telapak tangannya memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga apa yang diraba. Prabu Basurata dengan diiringi Resi Wisama kemudian pergi berkunjung ke Gunung Mahendra. Resi Wisama (putra Bathara Laksmana) cucu Sang Hyang Resi Wismana. Oleh Dewi Rukmawati. Ilham raja tersebut disampaikan kepada para pertapa.sampai ke mancapraja (mancanegara). menyarankan agar Prabu Basurata meminta petunjuk kepada Dewi Rukmawati di Gunung Mahendra. sebab di sana terdapat Jamur Dipa yang tumbuh dari abu Rĕsi Anggira atau yang juga disebut juga Maharesi Paspa. Prabu Basurata disarankan agar pergi ke hutan Madura di tanah Hindi. Ketika Rĕsi Anggira mencoba merayu dan ingin mencumbu Dewi Anggarini maka ia disarankan untuk mandi keramas dahulu. 3 No. sehingga akhirnya ia sendiri yang menjadi abu.1 Tahun 2012 13 . 1994: 3-10). sehingga didatangi Sang Hyang Jagadnata untuk memberikan anugerah.

‟ Sang Hyang Jagadnata botĕn amarĕngi. nanging Rĕsi Anggira adrĕng badhé pari-pĕksa. talatahipun nagarai Ngayodya. Èpèk-èpèk amba kalih pisan punika kaparingan kamayan tiksna.' Ing ngrika wontĕn Jamur-dipa. Sang Hyang Jagadnata lumajĕng. aturipun Dèwi Rukmawati: 'Kakang Prabu.‟ Sang Hyang Jagadnata angandika: „Lah iya ingsun wus anĕmbadani. rama paduka Sang Hyang Wisnu tumurun mimindha pawèstri langkung éndah ing warni. ba-ngĕt tĕmĕn ĕggonnira kapati-brata. sarèhning sampun kasĕmbadan ing sapanuwun amba. manawi amarĕngakĕn kawula kalilana anggrayang mustaka paduka. 3 No.1 Tahun 2012 . putuning Sakutri. Déné dados awu. Sarĕng mèh kacandhak. nanging wontĕn sarananipun. Sarèhning tĕdhakipun Sang Hyang Jagadnata botĕn wontĕn ingkang ndhèrèkakĕn. Rĕsi Anggira 14 Jumantara Vol. Kala semantĕn nuju dhatĕng kanugrahanipun Rĕsi Anggira katĕdhakan Sang Hyang Jagadnata. mĕnggah ingkang dados karsa paduka angudi wĕkasing tumuwuh ambabarakĕn wiji punika.‟ Rĕsi Anggira umatur: 'Dhuh Pukulun. kawula kamipurun anunuwun tandha. mugi kasĕmbadanana ing panuwun-amba. sampun rinilan déning Sang Hyang Wisésa. Botĕn watawis dangu. bubukanipun makatĕn: „Kala ing kina Rĕsi Anggira punika tatapa sangkaning raré ngantos sĕpuh. menawi anggĕpok utamangganing dumadi ingkang amba grayang sirahipun wau. lajĕng binujĕng. Pangandikanipun Sang Hyang Jagad-nata: „Heh Anggira sutaning Sakru. ugi sinĕbat nama Maharsi Paspa. sagĕda lajĕng dados awu sami sanalika. Sang Hyang Jagadnata lajĕng muksa. panggénanipun sarana dumunung wontĕn sabrang ing wana Madura tanah Hindi.Sĕrat Pustakaraja kisah mengenai Rĕsi Anggira (Maharsi Paspa) yang menjadi Jamur Dipa dapat dilihat pada kutipan berikut: Sarĕng ing wanci bangun énjing Dèwi Rukmawati amanggihi Prabu Basurata. apa kang dadi sĕdyanira ing mĕngko sayĕkti sun-turuti‟ Aturing Rĕsi Anggira: „Dhuh Pukulun Kang Binathara Ing Jagad. kadadosan awunipun Rĕsi Anggira.

nagari ing Ayodya.1 Tahun 2012 15 . rama-paduka Sang Hyang Wisnu muksa. sarwi angandika makatĕn: „Hèh Rĕsi Anggira ing mĕngko sira nĕmu wĕwĕlèh dadi awu dhéwé. sarèhning Rĕsi Anggira mĕntas tapa lami. ing nalika punika ingkang jumĕnĕng nata ajujuluk Prabu Dhasarata.. sami sanalika wau Rĕsi Anggira lajĕng dados awu.. Jumantara Vol. Di dalam Sĕrat Rukmawati sosok Prabu Dasarata dan keadaan kerajaan Ayodya digambarkan sebagai berikut: . kawasa amĕnggak budi hawanipun. sumanggèng karsa. bijaksana. Saking déné srĕnging karsa. sidik ing paningal. kinèn adus karamas rumiyin. Pada waktu itu di negeri Ayodya Prabu Dasarata menjadi raja. Sarĕng karamas tanganipun kadamĕl anguyĕg sirah. Punika kakang Prabu. lajĕng pitakèn namanipun. bubukanipun ing kina. awit sira wujud awu. mèh anyamèni para maharsi. Dèwi Anggarini darbé panĕdha.sarĕng aningali langkung kasmaran. Rama-paduka angakĕn nama Dèwi Anggarini. Ratu pinandhita. lajĕng wangsul warni Sang Hyang Wisnu malih. mandraguna sinĕkti. gĕntos kacariyos. Rĕsi Anggira botĕn darana Dèwi Anggarini lajĕng rinarurum ingarih-arih. kĕkah ing adilipun. Rĕsi Anggira langkung suka lajĕng dhatĕng ing lèpèn sumĕdya adus karamas.' Sasampunipun ngandika makatĕn. Kathah ing-kang sami ngupados badhé kadamĕl sarananipun tiyang ig-kang sumĕdya angudi wĕkasing tumuwuh ambabarakĕn wiji. Ing mangké awu wau cukul jamuripun katĕlah sinĕbut Jamur-dipa. tĕrahipun Ikswaku. Manawi sampun suci badan. putus dhatĕng kawajiban suci. 3 No. sayĕktiné ing mĕngko sira aran Maharsi Paspa. Sira mari aran Rĕsi Anggira. kinèdhĕpan samaning tumuwuh. ratu limpad ing Sĕrat Wéddha. Dĕwi Anggarini uninga manawi Rĕsi Anggira pĕjah dados awu. saking anggènipun mungkul ing katĕmĕnan sarta anĕtĕpi agami tigang prakawis. akaliyan Sĕrat Weddhangga. supé bilih tanganipun kadunungan kamayan tiskna.

sangat sakti. 3 No. bagaikan sama dengan para dewa. botĕn wonten tiyang ingkang tanpa aji. sarta botĕn saged kawon pĕrang. botĕn wontĕn tiyang murtad. kokoh dalam keadilan.1 Tahun 2012 . nagari di Ayodya. kemudian diceritakan.Kautaman tuwin kaluhuranipun sang nata misuwur ing jagad titiga. Sawarninipun tiyang sami busana adi-adi ingkang rinĕngga ing kancana sosotya nawarĕtna.. prasasat sami akaliyan para déwa. botĕn wontĕn tiyang ingkang alit manahipun. sarwi agaganda amrik arum. Tiyangipun èstri sami éndah-éndahing warni. pada waktu itu yang menjadi raja bergelar Prabu Dasarata.. kuasa menahan hawa nafsunya. Botĕn wontĕn tiyang ingkang awon griyanipun. Kitha wau rinĕksa ing prajurit éwon. putus (mumpuni) dalam hal kewajiban suci. ingkang sampun misuwur ing kautamanipun. botĕn pĕgat anggĕnipun ambudi wĕwahing kaluhuraning ratunipun. tani-tani sarta bĕkti-bĕkti ing laki. Para nayakanipun sang Prabu cacahipun wowolu. Lulus tataraharjaning praja. Mumpuni 16 Jumantara Vol. Botĕn wontĕn tiyang sakĕdhik anakipun. anggigirisi kados latu murub. botĕn wontĕn tiyang ingkang botĕn nĕtĕpi wajibing ngagĕsang. sami limpad ing kawruh wéddha. botĕn wontĕn tiyang kĕsèd. raja yang (telah) ahli dalam Sĕrat Wéddha dan Sĕrat Wéddhangga. tajam penglihatannya. botĕn wontĕn tiyang awon warninipun. Ing kitha wau titiyangipun sami bĕgja. botĕn wontĕn tiyang cĕlak umuripun. karena dia (baginda) (sudah) tekun dalam kelurusan hati (kejujuran) serta menepati agama 3 macam. botĕn wontĕn tiyang ingkang manganggé lungsĕd. disegani oleh sesama makhluk. botĕn wontĕn tiyang bodho. ( . Raja (yang bersifat) pendeta. botĕn wontĕn tiyang musakat. bijaksana. putus dhatĕng wajib pangĕrèhing praja. keturunan Ikswaku. hampir menyamai para maharsi. Botĕn wontĕn tiyang ingkang drĕngki. bijaksana. Keutamaan serta keluhuran sang raja termashur di tiga dunia.

tidak ada orang yang malas. Para dewa kemudian mengusulkan kepada Bathara Prayapati agar memberikan putra sebagai titisan Dewa Wisnu kepada Prabu Jumantara Vol. tidak ada orang yang pendek umurnya.mengatur keselamatan dan kesejahteraan negara. serta berbau harum semerbak. Mantili. Sewaktu perlengkapan persembahan sudah siap. para petani (perempuan) pada berbakti pada suaminya. tidak ada orang yang murtad. (mereka) sudah termashur keutamaannya. Para pemimpin sang Prabu berjumlah 8. Para perempuannya semua cantik-cantik parasnya. tidak ada orang yang tidak menepati kewajiban hidupnya. putus (ahli) dalam hal tata pemerintahan negara. tidak ada orang yang bodoh. Tidak ada orang yang sedikit anaknya. tidak ada orang yang berpakaian lusuh. dan Malawa.1 Tahun 2012 17 . Prabu Dasarata pada waktu itu juga menginginkan memiliki putra yang termashur di dunia karena pada waktu itu baginda belum berputra. tidak ada orang yang tanpa harga diri. tidak ada orang yang hina. menakutkan seperti api yang menyala serta tidak terkalahkan dalam perang. Semua orang pakaiannya indah-indah yang dihiasi dengan emas intan permata. semua ahli dalam ilmu Wédha. 3 No. tidak ada orang yang buruk wajahnya. Tidak ada orang yang dengki. tidak henti-hentinya dalam berusaha menambah keluhuran rajanya). bersama para raja di kerajaan Prawa. Di dalam kerajaan tersebut rakyatnya semua bahagia. Prabu Dasarata mendapat petunjuk dewa bahwa ia hendaknya menunggu kedatangan putra Sang Hyang Wisnu. Para pendeta menyarankan agar Prabu Dasarata mengadakan upacara (sedekah) Aswameda di hutan Madura di dekat sungai Sarayu. Ketika persembahan Aswameda tersebut dilakukan. tidak ada orang yang kecil hatinya. Bathara Prayapati (Sang Hyang Jagadnata) yang diiringi para dewa sangat berkenan. Kota tersebut dijaga oleh ribuan prajurit. Kedatangan Prabu Basurata di hutan Madura disambut dengan gembira oleh Prabu Dasarata di Ayodya. Tidak ada orang yang buruk rumahnya.

Kepada kedua raja tersebut Bathara Wisnu menyatakan bahwa keduanya diperbolehkan mengambil Payasa yang terletak di Jamur Dipa untuk dimakan bersama istrinya. tĕtĕdhan awarni-warni. Ingkang dados pangagĕng tumandang pangruktining sidhĕkah Rĕsi Srĕngga. anĕdhaki dhatĕng panggènan sidhĕkah kadhèrèkaken para déwa. Prabu Basurata dan Prabu Dasarata serta para raja lainnya kemudian mendekati Jamur Dipa yang terlihat menyalanyala. Prabu Dhasarata dhawuh angawiti pakurmataning sidhĕkah nĕtĕpi ingkang kasĕbut ing sastra tuwin adat waton. amĕpĕki... Payasa adalah makanan para dewa yang sangat lezat. 3 No. Wujudipun sidhĕkah. Bathara Wisnu kemudian memberi Payasa yang ditempatkan di atas jamur tersebut. sami matur dhatĕng Bathara Prayapati.1 Tahun 2012 . Di dalam Sĕrat Rukmawati prosesi ritual agung Asmaweda tersebut diuraikan sebagai berikut: . Kamajaya. Kalanipun Prabu Dhasarata anggĕlarakĕn sidhĕkah. Sang Hyang Jagadnata ingkang ugi sinĕbut Bathara Prayapati. Hal ini dimaksudkannya agar putra Prabu Dasarata kelak dapat membunuh raja raksasa. Jamur Dipa tersebut kemudian berubah menjadi seperti mustika. anjanma-a ing putranipun Prabu Dhasarata. sagĕda anyimakakĕn 18 Jumantara Vol. Prabu Dasarata dan Prabu Basurata kemudian mengambil Japur Dipa dan Payasa untuk kemudian dimakan bersama permaisuri mereka. 1994: 14-18). barang pèni raja pèni. 1938: 24-29. Beberapa waktu kemudian para istri Prabu Dasarata hamil. sabarang ingkang kinarsakakĕn wontĕn. yang sangat termashur kesombongannya dan sebagai perusak segala yang tumbuh (Ranggawarsita. saking katrimahing sidhĕkahipun.Dasarata. mugi kaparĕnga amaringi putra dhatĕng Prabu Dhasarata saha mugi andhawuhna dhatĕng Bathara Wisnu. niscaya kedua raja tersebut akan memperoleh putra yang utama. Rahwana. Sarĕng para déwa aningali sidhĕkahipun Prabu Dhasarata ingkang tanpa timbang. Sarĕng sampun rĕrĕm sawatawis dintĕn.

Sang Hyang Wisnu muksa. Jamur-dipa katinggal murub angkara-kara. Bathara Wisnu angatingal sarwi angandika: „Hé ratu sudibya.. kaki Prabu Basurata lan kaki Prabu Dhasarata. sami tumutur angurmati. Naréndra ing Mantili. Prabu Dhasarata anyĕlaki. Sarĕng Prabu Basurata. para brahmana sapanunggilanipun. Prabu Dhasarata dalah pramèswari nata kondur dhatĕng praja. Pamukartaning sidhĕkan kĕndĕl. 3 No. Prabu Basurata kaaturan tĕdhak kampir dhatĕng Ayodya. agawé undhaking kautaman lan kamulyan‟. Payasa ingkang kapundhut Prabu Dhasarata. ing Prawa. Bathara Wisnu lajĕng amaringi "Payasa" kadunungakĕn sanginggiling jamur. andhĕku sumĕmbah ing Sang Hyang Wisnu. jamur katingal amaya-maya kados musthika. Prabu Dhasarata. Prabu Basurata akaliyan Prabu Dhasarata tuwin para ratu sami anĕdhaki panggènanipun Jamur-dipa.. dalah Jamur-dipa ugi kapundhut. Karsaning déwa angkĕripun Jamur-dipa dados cabar. Bathara Pryapati amarĕngi panuwun wau. urubing Jamur-dipa sirĕp. Ratu kalih lajĕng kondur dhatĕng pasanggrahan. Banjur sira pangana lan somahira.1 Tahun 2012 19 . lajĕng sami mundhut Payasa ingkang dumunung ing Jamur-dipa. sasampunipun anampèni pandumaning sidhĕkah. pinundhi ing mastaka. Prabu Basurata. ing Malawa. tumuntĕn kadhahar akaliyan pramèswari nata titiga. Panganan iku kang dadi jalarané sira padha kasinungan suta. Jumantara Vol..ratuning danawa ingkang nama Rahwana. ingkang sakalangkung kumalungkung dados gĕgĕlahing bumi. Para ratu tuwin para rĕsi. lajĕng sami bibaran. Sarawuhipun ing Ayodya langkung sinuba-suba. angrisak samining tumuwuh. Jamur-dipa dipun dum waradin dhatĕng para ratu. Payasa wau dhaharipun para déwa ingkang raosipun sakalangkung éca. Sasampunipun sidhĕkah. sira ingsun wĕnangaké ngalap Payasa kang dumunung ing Jamur-dipa iku.

kadi sarĕng lampahanipun. Dewi Kekayi berputra Bharata. 1938: 34. 1994: 18-21). Pada tahun Wiya terhitung tahun 454 (Suryasangkala) dengan sĕngkalan: Dadi-tataning-pakarti atau tahun 468 (Candrasengkala) dengan ditandai sĕngkalan: Sarira-angrasa-suci. ananging cariyosipun kadamĕl gĕntos. Jamur Dipa tersebut kemudian dipuja Dewi Rukmawati berubah menjadi buah-buahan disebut buah Wipula. Sarĕng 20 Jumantara Vol. Di dalam Sĕrat Rukmawati kelahiran Rāma bersaudara tersebut dikemukakan sebagai berikut: Kacariyos. 1994: 22). Dewi Rukmawati melihat bahwa di dalam Jamur Dipa terdapat 2 rajah. 3 No. akaliyan Satrugna. sekembalinya ke Wiratha. Ingkang miyos saking Dĕwi Sumitra kakalih pinaringan nama Laksmana. Payasa dan buah Wipula kemudian diminta untuk dimakan Prabu Basurata bersama permaisuri Dewi Brahmaniyuta (Ranggawarsita. Raja Malawa dan Raja Prawa kemudian mengunjungi Prabu Basurata di Wiratha (Ranggawarsita. adapun Dewi Sumitra berputra Laksmana dan Satrugna. sampun ambabar putra kakung langkung rumiyin ingkang miyos saking Dèwi Kusalya kaparingan nama Rama. Kamajaya. Ingkang miyos saking Dèwi Kĕkayi pinaringan nama Barata. Prabu Dhasarata andhatĕngngakĕn suka pari suka. 1938: 28-32. Bertepatan masa Manggakala.Beberapa waktu kemudian Prabu Basurata. Menurut Dewi Rukmawati bahwa Prabu Basurata kelak akan berputra raja besar serta seorang putri yang nantinya juga menurunkan raja besar. ing tanah Hindi pramèswari Ngayodya. sementara itu di kerajaan Ngayodya permaisuri Prabu Dasarata pun melahirkan putra. yaitu rajah Purusa dan rajah Kani. Kamajaya. permaisuri Dewi Brahmaniyuta melahirkan putra laki-laki diberi nama Raden Brahmaneka. memperlihatkan Jamur Dipa dan Payasa tersebut kepada Dewi Rukmawati.1 Tahun 2012 . Dewi Kusalya berputra Rama. Sebagai ungkapan kebahagiaan Prabu Dasarata disertai Raja Mantili.

inilah cerita kisah hidup Prabu Kresna Dwipayana di Ngastina sampai menjadi begawan bernama Bagawan Byasa. 3 No. Panganggitipun anuju ing tahun Suryasangkala 853. dalam rangka memohon kelahiran putra yang menjadi penjelmaan Sang Hyang Wisnu (Rāma bersaudara).1 Tahun 2012 21 . kanthi ratu ing Mantili. Jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Sutiknawyasa tampak dari cerita yang disampaikan oleh Dhang Hyang Wiku Salya kepada Bagawan Abyasa tentang kisah Rama ketika ia harus Jumantara Vol. Ranggawarsita di dalam Sĕrat Pustakaraja menyatakan: Sĕrat Sutiknawyasa wiyosipun punika cariyos panjĕnĕngan nata Prabu Krĕsna Dwipayana ing Ngastina ngantos dumugi ambagawan nama Bagawan Byasa. (Sĕrat Sutiknawyasa. kabĕkta saking rĕnaning panggalih déné kadumugĕn ingkang dados karsanipun. Kaanggit déning Mpu Widdhayaka ing Mamĕnang. Demikian jejak cerita Rama (Rāma) yang terdapat dalam Sĕrat Rukmawati. (Ranggawarsita. Lajĕng sami bidhalan saking palabuhan Prawa anitih baita. Cerita Rāma dalam Sĕrat Sutiknawyasa Pujangga R. 1938: 21). kaétang ing tahun Candrasangkala amarĕngi 879. terutama berkaitan dengan prosesi ritual agung (Asmaweda) yang dilakukan oleh Prabu Dasarata. Ng. terhitung tahun Candrasangkala bertepatan tahun 879). ing Malawa lan ing Prawa. Prabu Dhasarata karsa tĕdhak cangkrama dhatĕng nuswa Jawi. Digubah oleh Mpu Widdhayaka di Mamenang.sampun dumugi anggĕnipun amangun suka. penggubahannya bertepatan tahun Surya-sangkala 853. raja Ayodya.

Kemudian 22 Jumantara Vol. Ing wĕkasan dados saraya sagĕdipun kapanggih kaliyan garwa Dĕwi Sinta. kinèn amitulungi sungkawaning wanara raja Sugriwa. Mila bĕbasanipun tiyang kadhatĕngan sungkawa. Sapintĕn kémawon sungkawaning galihira Prabu Ramawijaya. seperti tampak pada kutipan berikut: "Kala Prabu Ramawijaya sinèrènan kaprabonipun ingkang rama Prabu Dasarata jumĕnĕng nata ing Ayudya. namun bahkan selalu mengasah pikirannya di dalam bersamadi. " (Karyarujita dan Sastranaryatmo. meskipun demikian ia tidak diam membisu. hanya disertai oleh istrinya (Dewi Sinta) dan adiknya Laksmana. punika among saking dènira tabĕri amarsudi rĕmbaging janma. Tiba-tiba (Prabu Ramawijaya) mendapat petunjuk yang jelas bahwasanya ia disuruh menolong kesedihan raja kera Sugriwa. (Prabu Ramawijaya) kemudian disuruh bertapa ke hutan belantara. (Ketika Prabu Ramawijaya mendapatkan tahta dari ayahandanya Prabu Dasarata untuk menjadi raja di Ayodya. 1981: 443444). Lajĕng kinèn tĕtaki dhatĕng wana pringga kawĕwahan kénging kadhusta ing duratmaka Prabu Dasamuka kabĕkta dhatĕng Alĕngka.meninggalkan kerajaan Ayodya untuk pergi ke hutan. ditambah (Dewi Sinta) diculik oleh pencuri Prabu Dasamuka (untuk) dibawa ke Alengka. Kelak dikemudian hari (akan) menjadi sarana ia berjumpa kembali dengan istrinya Dewi Sinta. botĕn lami kalungsur ginantosan ingkang rayi anama Prabu Barata. tidak berapa lama (tahta tersebut) diminta kembali untuk digantikan oleh adiknya yang bernama Prabu Barata. Betapa besar kesedihaan hati Prabu Ramawijaya.1 Tahun 2012 . 3 No. Dumadakan angsal wasita sawantah. Lajĕng jumĕnĕng nata malih wontĕn ing Ayudya. anggĕr lajaran asring angsal pitulungan saking tiyang ingkang sami kasungkawan. parandosipun botĕn amĕgĕng pangandika kajawi amung tansah amĕsu cipta salĕbĕting samadi kémawon.

Karena itu peribahasanya seseorang yang sedang sedih. serta didudukkan kembali menjadi raja (Karyarujita dan Sastranaryatmo. Naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana terdiri dari 2 jilid. Dengan demikian peristiwa kepergian Prabu Ramawijaya dari istana ke hutan belantara tersebut dihadirkan oleh Dhang Hyang Wiku Salya dengan maksud agar Rĕsi Abyasa tidak merasa terlalu bersedih hati dengan tidak diangkatnya dia menjadi raja di Ngastina menggantikan ayahandanya Bagawan Parasara (Palasara). Nasehat Dhang Hyang Wiku Salya tersebut melengkapi nasehat dari Dhang Hyang Smarasanta kepada Rĕsi Abyasa agar tidak terlalu bersedih. Dhang Hyang Smarasanta mengemukakan keadaan dirinya yang telah berumur 150 tahun tetapi tetap tampak muda karena hatinya tenang dan damai. Dhang Hyang Smarasanta juga mengemukakan peristiwa yang dialami Maharĕsi Manumanasa yang menjadi pertapa setelah tidak diangkat menjadi raja menggantikan ayahandanya. Dengan demikian Sĕrat Prabu Gĕndrayana termasuk dalam kelompok Sĕrat Mahaparma Bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara.akan menjadi raja kembali di Ayodya. 3 No. 1981: 442-443). Sĕrat Prabu Gĕndrayana dapat dijajarkan dengan Sĕrat Budhayana. yaitu Sĕrat Prabu Gĕndrayana I dengan kode D 46 A yang terdiri atas 577 Jumantara Vol. Cerita Rāma dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana Di dalam konstruksi teks-teks Pustakaraja.1 Tahun 2012 23 . Bathara Guru. inilah hasil kalau (seseorang itu) rajin berupaya menolong manusia. apabila mau menolong seringkali (ia) mendapat pertolongan oleh seseorang yang juga mengalami kesusahan). Demikian pula kisah Sang Hyang Wisnu yang juga dicopot kedudukannya sebagai raja. ia kemudian menjadi pertapa di Waringin Sapta (Waringin Pitu) sampai akhirnya ia ditugaskan melenyapkan Prabu Silacala (Watugunung) sebelum diampuni kesalahannya oleh ayahnya. karena ternyata yang menimpa Prabu Ramawijaya lebih pahit lagi.

Segala hama tanaman tersebut sulit dibasmi karena mereka dilindungi para Dewa keturunan Sang Hyang Kala. mĕnthèk.halaman dan pernah ditranskripsi oleh K. ganggĕngan. Naskah-naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana di atas adalah koleksi Perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran Surakarta. ludhĕp. karena beliau adalah titisan Sang Hyang Wisnu Murti. ulat. jamur dan lain sebagainya. bĕkocok. Adapun jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana dikemukakan oleh Bagawan Danèswara dari Gunung Nilandusa (Wilis) menghadap Prabu Gendrayana untuk mohon bantuan agar putra baginda. Cerita diakhiri sewaktu Prabu Yudayaka bermaksud turun tahta menjadi begawan dan akan mengukuhkan putranya yaitu Raden Kijing Wahana sebagai raja di Yawastina. mau membantunya untuk melenyapkan segenap hama tanaman yang menyerang sawah dan ladang penduduk Gunung Nilandusa dan menyebabkan mereka gagal panen. Adapun waktu yang diceritakan dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana tahun 790 – 800 (Suryasangkala) atau tahun 816 – 824 (Candrasengkala). Soemarso Pontjo Soetjipto. tikus. Apalagi pada 24 Jumantara Vol. burung.1 Tahun 2012 . Adapun hama tanaman yang menyerang sawah ladang mereka adalah: cèlèng. lĕladhoh. Jadi Sĕrat Prabu Gĕndrayana terdiri atas 1. Misalnya: Bathara Kithaka merajai segala jenis belalang. putra Prabu Gendrayana. pemelihara dunia.R.272 halaman dan sudah ditranskripsi oleh Soepardi Hadisuparto. Bathara Sungkara merajai segala jenis cèlèng. Isi ceritanya dimulai dari sewaktu Bathara Naradha mengukuhkan Arya Prabu Bambang Sudarsana menjadi raja di Yawastina (Ngastina Baru) bergelar Prabu Yudayaka atau Prabu Darmayana. dan Bathara Hiranyaka merajai segala jenis tikus. Berdasarkan petunjuk (wangsit) dewa. walang.T. yaitu Raden Narayana. Bathara Printanjala merajai segala jenis burung. 3 No.849 halaman. yang dapat melenyapkan segala hama dan penyakit tanaman tersebut adalah Raden Narayana. Bathara Gindhala merajai segala jenis ludhĕp. Adapun naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana II dengan kode D 46 B yang terdiri atas 1.

yang dapat dijadikan tauladan tersebut tersurat pada Sĕrat Prabu Gĕndrayana II seperti pada kutipan berikut: "Dhuh dhuh Pukulun Kangjĕng Déwaji. Oleh karena Prabu Gendrayana masih merasa ragu-ragu maka Bagawan Danèswara mengingatkan baginda atas kisah kepahlawanan Ramawijaya. ingkang saupami tiyang sĕpuh ingkang sampun sura sĕkti mandraguna. kaliyan malih Pukulun. manawi kados makatĕn pamanggihipun ing karsa paduka punika Pukulun. manawi Sang Hyang Wisésa ingkang adamĕl unggul sayĕkti botĕn sangsaya dènira hamisésa ing ama. dados kénging sinĕbut tilar kasantosaning galih supé dhatĕng kawasaning déwa. yĕkti botĕn dangu lajĕng dhadhal larut sadaya. manawi Sang Hyang Jagad Pratingkah adamel apĕsipun ing titiyang ingkang sami sura sakti wau. Prabu Gendrayana merasa ragu dan keberatan. sarĕng sawĕg yuswa wolung warsa lajĕng kasuwun dhatĕng Bagawan Sutiksnayogi ing wukir Jumantara Vol. 3 No. sewaktu Ramawijaya baru berumur 8 tahun sudah dimintai bantuan oleh Bagawan Sutiksnayogi dari Gunung Dhandhaka agar menumpas para raksasa bala tentara Prabu Rahwana dari Ngalengka yang merusak pertapaan para pertapa. karena bagaimana mungkin putranya yang baru berusia 13 tahun tersebut harus berhadapan dengan segala jenis hama tanaman yang dilindungi oleh para dewa. Laksmana. utawi ingkang luhur sugih wadya bala sami sura sakti ing yuda. yèn Bathara Ramawijaya wau inggih panuksamaning Sang Hyang Wisnumurti. saèstunipun nadyan raréya ingkang taksih mudha punggung pisan. Menurutnya.waktu lahir Raden Narayana sudah mendapatkan senjata dari dewa berupa panah Pasopati dan panah Sarotama. putra Prabu Dasarata raja Ngayodya dari tanah Hindu. Adapun kisah kepahlawanan Ramawijaya dan adiknya. Akan tetapi. panjĕnĕngan paduka punika punapa supé cariyos lampahanipun Bathara Ramawijaya putranipun Prabu Dasarata ing Ngayodya tanah ing Indhu.1 Tahun 2012 25 . Hal inilah yang membuat Prabu Gendrayana khawatir atas keselamatan putranya.

sarĕng bidhal saking Mantili kadhèrèkakĕn para punggawa langkung kathah. panjĕnĕnganipun Prabu Janaka darbé atmaja pawèstri satunggal langkung ayu éndah warninipun. 26 Jumantara Vol. Bathara Ramawijaya kalampahan kabĕkta dhatĕng Bagawan Sutiksnayogi. sarĕng dumugi ing patapan raja putra kalih wau karsaning Déwa tĕka lajĕng sagĕd anirnakakĕn sagunging raksasa tanpa étangan tumpĕs déning satriya kalih kémawon. botĕn antawis lami Bathara Ramawijaya wau kaliyan ingkang rayi bidhal saking patapaning pandhita lajĕng amĕdali sayĕmbara dhatĕng nagari ing Mantilidirja. Hadisuparto. D 46 B. 3 No. 2007: 158-159. 1981: 480-481). inggih punika kang angawonakĕn Prabu Harjunasasra ing Mahèspati nguni. Prabu Janaka langkung suka kalampahan kadhaupakĕn kaliyan Dèwi Sinta. lampahipun saking nagari ing Ngayodya botĕn ambĕkta wadya bala aming kadhèrèkakĕn ingkang rayi satunggal anama Raden Laksmana Widagda. malah punang langkap pusaka lajĕng tugĕl tanpa karana. panuwunipun badhé kaabĕn kaliyan danawa ingkang sami angririsak dhatĕng patapaning para wiku. dupi wontĕn ing margi kabégal déning pandhita langkung sakti mandra guna. kala semantĕn sagunging para nata sèwu nagari botĕn wontĕn ingkang lĕbda karya wĕkasan sami kawangsulakĕn. danawa wau balanipun Prabu Rawana Ngalĕngka. Karyarujita dan Sastranaryatmo. manawi ing yuswanipun nalika numpĕs sagunging diyu ditya rĕksasa wil danawa murka kang wontĕn ing wukir Dhandhaka nguni inggih sawĕg yuswa wolung warsa. saèstunipun sĕpuh putra paduka Radèn Narayana punika (Sĕrat Prabu Gĕndrayana II. nama Dèwi Sinta. wasta Rĕsi Ramaparasu. dèntĕn sayĕmbaranipun Prabu Janaka nguni singa ingkang sagĕd amĕnthang langkap pusakanipun Prabu Janaka saèstu dados jatu kraminipun putra nata Dèwi Sinta wau.1 Tahun 2012 . 848-853.Dhandhaka. hal. Sang Ramaparasu wau karsaning Déwa lajĕng kasor déning Bathara Ramawijaya. sarĕng Bathara Ramawijaya saking karsaning Dewa sagĕd amĕnthang.

atau yang berkedudukan tinggi (memiliki) banyak bala tentara yang sakti-sakti dalam peperangan. akhirnya mereka semua Jumantara Vol. Bathara Ramawijaya bersedia dibawa oleh Bagawan Sutiksnayogi. sesampainya di pertapaan. sekalipun seumpama orang sudah tua. perjalanan (Bathara Ramawijaya) dari negeri Ngayodya tidak membawa bala tentara. apakah Paduka ini lupa pada cerita kisah hidup Bathara Ramawijaya. (tapi) hanya diiringkan seorang adiknya bernama Raden Laksmana Widagda. kemudian diminta oleh Bagawan Sutiksnayogi dari Gunung Dhandhaka. ketika baru berumur 8 tahun. berani lagi sangat sakti.1 Tahun 2012 27 . jika demikian ini pendapat paduka Pukulun. sesungguhnya meskipun masih anak-anak dan lagi masih bodoh.("Dhuh dhuh Pukulun Kanjeng Dewaji. dan lagi Pukulun. bahwasanya Bathara Ramawijaya juga penjelmaan Sang Hyang Wisnu Murti. permintaan (Bagawan Sutiksnayogi) Bathara Ramawijaya akan diadu dengan raksasa yang merusak pertapaan para wiku. raksasa tersebut adalah bala tentara Prabu Rahwana (dari) Ngalengka. lupa pada kekuasaan Dewa. tentu tidaklah sulit dalam meraih kemenangan atas hama (tanaman). kedua putra raja tersebut (karena) kehendak Dewa berhasil melenyapkan semua raksasa yang tak terhitung banyaknya (semua) tumpas hanya oleh kedua satria tadi. bahwasannya siapa saja yang mampu membentangkan busur panah pusaka Prabu Janaka. tentu tidak lama juga akan tumpas semua. apabila Sang Hyang Jagad Pratingkah membuat apĕs (malang) kepada orang-orang yang sangat sakti itu. putra Prabu Dasarata di Ngayodya Tanah Hindu. Prabu Janaka memiliki seorang putri yang sangat cantik parasnya bernama Dewi Sinta. dapat disebut meninggalkan kesentausaan hati. Tidak beberapa lama Bathara Ramawijaya bersama adiknya meninggalkan pertapaan pendeta untuk mengikuti sayembara ke negeri Mantilidirja. Pada waktu itu semua para raja (yang berjumlah) 1. apabila Sang Hyang Wisesa yang membuat menang. sungguh akan dikawinkan dengan putri raja tersebut. 3 No. Adapun sayembara Prabu Janaka tersebut.000 negara tidak ada satu pun yang mampu melakukannya.

Kalau di dalam teks naskah Prabu Gĕndrayana II. Demikianlah tampilnya cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana sengaja dihadirkan oleh Bagawan Danèswara untuk memberikan gambaran dan pandangan kepada Prabu Gendrayana agar merelakan putranya. karena kehendak Dewa berhasil membentangkan. Bathara Ramawijaya. Sesungguhnya masih lebih tua dengan putra Paduka. Bathara Ramawijaya waktu itu berusia 8 tahun (wolung warsa). Pada waktu mereka di tengah jalan. sebagaimana Bathara Ramawijaya). Jika dikatakan bahwa 28 Jumantara Vol. bahkan busur panah pusaka kemudian putus tanpa sebab. yang menyerang sawah dan ladang penduduk di wilayah Gunung Nilandusa. dihadang (dirampok) oleh pendeta yang teramat sakti bernama Ramaparasu.1 Tahun 2012 . Ketika Bathara Ramawijaya menumpas para raksasa. Dialah yang dahulu mengalahkan Prabu Arjunasasra di kerajaan Mahespati. Ng. wil dan sebangsanya yang merusak (pertapaan) di Gunung Dhandhaka dahulu usianya baru 8 tahun. Jadi ada selisih waktu 10 tahun.disuruh kembali (ke kerajaannya). Dalam hal ini. Sang Ramaparasu karena kehendak Dewa dapat dikalahkan oleh Bathara Ramawijaya. 3 No. kode D 46 B di halaman 849 dan halaman 853. Raden Narayana). Ketika mereka meninggalkan Mantili diiringkan para punggawa yang sangat banyak. namun dalam Sĕrat Paramayoga (Sĕrat Kalĕmpakaning Piwulang) yang dikumpulkan oleh R. Prabu Janaka sangat gembira (Bathara Ramawijaya) kemudian dikawinkan dengan Dewi Sinta. sebagaimana yang terdapat pada halaman 480 dan 481. Karyarujita dari Sĕrat Paramayoga dan Sĕrat Pustakaraja dikatakan bahwa usia Bathara Ramawijaya adalah 18 tahun (wolulas warsa). ada sedikit perbedaan tentang usia Bathara Ramawijaya ketika dimintai bantuan oleh Bagawan Sutiksnayogi untuk melawan para raksasa perusak pertapaan di Gunung Dhandhaka. yaitu Raden Narayana (yang juga penjelmaan Sang Hyang Wisnu Murti. untuk menumpas segala hama tanaman yang dilindungi para Dewa.

2007: 152-187). Cerita Rāma dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara Di dalam Sĕrat Pustakaraja. jauh lebih muda usianya dari Raden Narayana (13 tahun) sewaktu ia dimintai pertolongan menumpas para raksasa yang merusak pertapaan para Brahmana dan Pendeta di Gunung Dhandhaka. maka bagaimana mungkin dalam usia semuda itu ia mengikuti dan memenangkan sayembara di kerajaan Mantilidirja. Di sini pun terdapat kejanggalan. Ng. maka Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara termasuk kelompok Kitab Maha Parma (bagian Kitab Pustakaraja Puwara). Ranggawarsita. maka hal ini ada benarnya karena usia Raden Narayana adalah 13 tahun. 2007: 20-25). 3 No.Raden Narayana waktu itu lebih tua daripada Bathara Ramawijaya.1 Tahun 2012 29 . Beliau lahir pada tahun 801 (Suryasangkala) atau tahun 825 (Candrasangkala). Ranggawarsita adalah pengarangnya (Babon tĕmbung pangikĕtipun sang misuwuring jagad: R. Dalam hal ini jika usia Bathara Ramawijaya adalah 18 tahun akan lebih logis bila ia memenangkan sayembara memperebutkan Dewi Sinta dan dikawinkan dengannya. sehingga ia kemudian dikawinkan dengan Dewi Sinta (dalam usia 8 tahun). Adapun peristiwa Raden Narayana dimintai pertolongan melenyapkan segala hama tanaman tersebut terjadi pada tahun 814 (Suryasangkala) atau tahun 839 (Candrasangkala) (Naskah halaman 816 – 1008. Hanya tentunya tidak dapat dikatakan bahwa ia masih kecil. Jika usia Ramawijaya sewaktu dimintai pertolongan oleh Bagawan Sutiksnayogi baru 8 tahun. seperti yang tersurat dalam naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana II halaman 112 – 139 (Hadisuparto. Penciptaannya bertepatan tahun 919 (Suryasangkala) atau tahun 948 (Candrasangkala). pujangga Dalĕm ing Kraton Surakarta Jumantara Vol. Hadisuparto. Namun pada halaman depan Sĕrat Mayangkara dikemukakan secara jelas bahwa R. Kedua kitab tersebut adalah karya Mpu Sindungkara di Pengging. Ng.

" (Ranggawarsita. Pada bagian permulaan. 3 No. ngantos dumuginipun nagari ing Yawastina kĕlĕm anjĕmblong dados samodra. terhitung tahun Candrasangkala bertepatan tahun 948) Adapun waktu yang diceritakan dalam Sĕrat Purusangkara mulai tahun 841 Suryasangkala (Ratu – gusthika – sarira ing boma) atau tahun Candrasangkala 866 dengan sengkalan berbunyi Anggas – angrasa – murti sampai dengan tahun Suryasangkala 846 atau terhitung tahun Candrasangkala tahun 871. wiyosipun punika cariyos lalampahanipun Prabu Purusangkara ing Yawastina. maka waktu penceritaan dalam Sĕrat Mayangkara hanya selama 1 tahun. Ng. penggubahannya bertepatan pada tahun Suryasangkala 920. panganggitipun anuju ing tahun Suryasangkala 920. antara Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara isinya hampir sama. inilah cerita kisah (perjalanan) hidup Prabu Purusangkara di Yawastina. Ranggawarsita sendiri di dalam Sĕrat Pustakaraja juga menyatakan bahwa: "Sĕrat Purusangkara. dengan titik berat penceritaannya hanya mengenai Sang Hyang Mayangkara. yaitu menceritakan tentang Sang Maharsi Mayangkara (Anoman). sampai Kerajaan Yawastina tenggelam menjadi samodra. ketika kawin dengan putri dari Mamenang. Kaanggit déning Mpu Sindungkara ing Pĕngging.1 Tahun 2012 . Digubah oleh Mpu Sindungkara di Pengging.Adiningrat). kala krama antuk putri ing Mamĕnang. Pujangga R. (Sĕrat Purusangkara. Hanya saja cerita di dalam Sĕrat Purusangkara masih cukup panjang. kaétang ing tahun Candrasangkala amarĕngi 948. 30 Jumantara Vol. karena jika waktu penceritaan di dalam Sĕrat Purusangkara berlangsung selama 5 tahun. 1938: 35).

sampai ditenggelamkannya Kerajaan Yawastina. Sang Hyang Narada menerangkan bahwa maksud Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Brahma mau melenyapkan semua keturunan Sang Hyang Wisnu. Dalam melanjutkan perjalanannya Sang Hyang Narada bertemu dengan roh Sang Maharsi Mayangkara (jiwa Anoman) yang mengungkapkan keinginannya untuk segera berkumpul dengan para dewa. Adapun cerita-cerita tersebut antara lain: 1) Perkawinan Raden Jayaamijaya dengan Ken Satapi. 4) Perkawinan Madrim dengan Arya Susastra. Kemudian Sang Hyang Girinata memerintahkan Sang Hyang Narada untuk melindungi keturunan Sang Hyang Wisnu dengan sarana mengawinkan Prabu Astradarma (raja Yawastina) dengan putri Prabu Jayapurusa (Prabu Jayabhaya) di kerajaan Widarba. 3) Kisah Madrim dan Madrika. 1985: 33-40). Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kesanggupannya dan pulang kembali ke pertapaan Kendalisada menemui raganya (Rĕsi Anoman). Sang Hyang Narada menerangkan bahwa Sang Maharsi Mayangkara masih mendapat tugas dewa untuk mengawinkan para putra mendiang Prabu Sariwahana (Yawastina) dengan para putri Prabu Jayapurusa (Widarba). Rĕsi Anoman menyatakan mau menyatu kembali dengan jiwa (rohnya) Sang Maharsi Mayangkara asal teka-teki yang diajukannya dapat ditebak secara tepat.1 Tahun 2012 31 .Adapun penceritaan di dalam Sĕrat Purusangkara masih sangat panjang karena menceritakan berbagai peristiwa yang terjadi di Kerajaan Widarba (Kediri) setelah gugurnya Sang Maharsi Mayangkara. 3 No. Mereka memperbincangkan turunnya Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Brahma ke dunia. Sang Maharsi Jumantara Vol. dan 5) Prabu Darmadewa beserta saudara-saudaranya menyerbu kerajaan Widarba (Tedjowirawan. 2) Pertentangan antara Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) dengan ketiga menantunya yaitu Prabu Purusangkara bersaudara. Adapun garis besar cerita di dalam Sĕrat Mayangkara dan Sĕrat Purusangkara pada bagian awal dapat dikemukakan sebagai berikut: Sang Hyang Girinata mengadakan persidangan dengan para dewa di kahyangan Suralaya.

Prabu Astradarma merasa ragu-ragu bahwa Prabu Jayapurusa telah melupakan permusuhan ayah-ayah mereka dahulu dengan baginda (Prabu Jayapursa). maka baginda segera memerintahkan punggawanya untuk memeriksa Sang Maharsi Mayangkara. Tidak lama kemudian datanglah Sang Hyang Narada yang memerintahkan Sang Maharsi Mayangkara ke Yawastina. utusan Prabu 32 Jumantara Vol. Sesampainya di Yawastina. sehingga ia menyatu kembali dengan raganya. Hal itu dimaksudkan guna mempererat kembali tali persaudaraan yang telah retak akibat pertikaian yang terjadi antara Prabu Sariwahana dan Prabu Ajidarma di Malawapati melawan Prabu Jayapurusa di Widarba. ketika Prabu Astradarma melihat adanya putih-putih di bawah pohon beringin. Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kepada Prabu Astradarma bahwa ia ditugaskan Sang Hyang Narada untuk mengawinkan Prabu Astradarma bersaudara dengan ketiga putri Prabu Jayapurusa di Widarba. Patih Suksara serta para prajurit Widarba yang menghadap. Sementara itu para prajurit Yawastina di bawah pimpinan Patih Sudarma mempersiapkan diri menyusul rajanya. akan tetapi Prabu Jayapurusa menyerahkan jodoh ketiga putrinya kepada dewa. Prabu Jayapurusa di kerajaan Widarba sedang menerima Raden Jayamijaya. Patih Suksara mengusulkan agar Prabu Jayapurusa memikirkan pula perkawinan ketiga putri raja terlebih dahulu untuk menghindari dari pergunjingan rakyat Widarba.Mayangkara dapat menebak teka-teki yang diajukan padanya.1 Tahun 2012 . Sang Maharsi Mayangkara kemudian dihadapkan kepada Prabu Astradarma. Pada waktu itu. akan tetapi Sang Maharsi Mayangkara meyakinkan bahwa dewalah yang menentukan segalanya. 3 No. ia beristirahat di bawah pohon beringin kembar. Kemudian Prabu Astradarma dan saudara-saudaranya dibawa Sang Maharsi Mayangkara pergi ke kerajaan Widarba. Mereka memikirkan perkawinan Raden Jayaamijaya dengan putri Ken Satapi. anak Ajar Subrata. Pada waktu itu datanglah Gadaksa dan Pradaksa. Perselisihan dan perpecahan itu berawal dari nenek moyang mereka dahulu.

1 Tahun 2012 33 . Raden Jayaamijaya. namun Sang Maharsi Mayangkara dapat menghancurkan pasukan kerajaan Selauma. Raden Jayaamijaya.Yaksadewa dari kerajaan Selauma untuk melamar Dewi Pramesthi. Sepeninggal Gadaksa dan Pradaksa. Setelah Raden Jayaamijaya menyanggupi permintaan itu. Prabu Jayapurusa mengambil jalan tengah yaitu andaikata Dewi Pramesti telah menjadi jodoh Prabu Yaksadewa maka perkawinan mereka akan segera dilangsungkan. tetapi akhirnya baginda Jumantara Vol. Raden Jayaamijaya sangat marah membaca surat lamaran tersebut. Arya Susastra dan Sang Maharsi Mayangkara kemudian kembali ke Widarba. Prabu Jayapurusa menjadi ragu-ragu menerima permintaan Sang Maharsi Mayangkara tersebut. 3 No. tetapi Sang Maharsi Mayangkara meminta imbalan ketiga putri Widarba. Dalam perjalanan Raden Jayaamijaya bersama Arya Susastra. Arya Susastra bersama pasukan Widarba dapat dikalahkan. Raden Jayaamijaya meminta bantuan kepada Sang Maharsi Mayangkara. Pertempuran tak dapat dielakkan. Kepada ayahandanya (Prabu Jayapurusa) ia menerangkan bahwa Sang Maharsi Mayangkaralah yang berhasil memenangkan pertempuran melawan utusan kerajaan Selauma. maka mereka segera mengejar Gadaksa dan Pradaksa. yaitu raja di Yawastina. Dikemukakannya pula bahwa ia telah terlanjur menyanggupi untuk memenuhi permintaan Sang Maharsi Mayangkara yang menginginkan kawin dengan ketiga putri Widarba. keduanya berjumpa dengan Sang Maharsi Mayangkara. maka Raden Jayaamijaya disertai Arya Susastra bersama pasukannya mengejar kedua utusan kerajaan Selauma tersebut. Surat lamaran tersebut mengandung ancaman bahwa seandainya Dewi Pramesthi tidak diberikan maka kerajaan Widarba akan digempur. Terjadilah pertempuran yang sangat hebat. Raden Jayaamijaya sangat malu dan ia bermaksud meminta bantuan kepada saudaranya. dan memaksa Gadaksa dan Pradaksa untuk mengundurkan diri kembali ke kerajaan Selauma.

dhatĕng nagari ing Ngalĕngka. 3 No.meluluskannya. dados sawadyanipun para ratu wanara sadaya sami umiring Bathara Ramawijaya. sukanipun dèntĕn badhé angsal wĕwahing cariyos lalampahanipun Prabu Ramawijaya nguni. kaliyan adhi kula nak-sanak sutanipun paman kawula ingkang sĕpuh wasta Prabu Subali.1 Tahun 2012 . rèhning nguni kawarti kawijilanipun saking nagari Guwakiskĕndha tanah Hindhu. Raja Alengka. saèstunipun kawula nguni èngĕt sadaya. malah kala sĕmantĕn kawula inggih kinarya sénapatining ayuda. Prabu Jayapurusa langkung suka angungun. bokmanawi èngĕt ing cariyos lalampahanipun Prabu Ramawijaya ing Ngayudyapala. manawi lalampahanipun Bathara Ramawijaya Ngayudyapala anggènipun ambĕdhah nagari ing Nglĕngka nguni. dèntĕn Sang Maharsi Mayangkara langkung panjang yuswanipun. Di dalam Sĕrat Mayangkara permintaan Prabu Jayapurusa agar Sang Maharsi Mayangkara menceritakan pengalamannya sewaktu menjadi senapati perang pasukan Prabu Ramawijaya tersebut diuraikan sebagai berikut: Sasampunipun makatĕn Prabu Jayapurusa andangu malih dhatĕng Sang Maharsi Mayangkara. ingkang dados pangungunipun. Sang Rĕsi Anoman matur: "Dhuh-dhuh Pukulun Kanjĕng Déwaji. Penulisan cerita Rama pada mulanya bersumberkan keterangan dari Brahmana Hindu yang bernama Dhang Hyang Asuman dan Dang Hyang Ilandhi. amargi paman kawula ingkang anèm wasta Prabu Sugriwa punika. Selanjutnya Prabu Jayapurusa meminta kepada Sang Maharsi Mayangkara untuk menceritakan kembali pengalaman peperangannya sewaktu menjadi senapati perang yang terpercaya Prabu Ramawijaya. ing Guwakiskĕndha. mila kawula dados sénapati. Prabu Jayapurusa segera memerintahkan kepada Empu Pulwa untuk mencatat keterangan Sang Maharsi Mayangkara guna meluruskan kembali peristiwa sebenarnya tentang cerita peperangan Prabu Ramawijaya melawan Prabu Rawana. Pangandikanipun Prabu Jayapurusa: 34 Jumantara Vol. dénya ambĕdhah nagari Ngalĕngka nguni. kaambil sraya déning Bathara Ramawijaya wau.

amargi botĕn sumĕrĕp piyambak kados Sang Maharsi wau. nulya cinathĕtan sadaya. ketika Jumantara Vol. Sang Maharsi Mayangkara matur sandika. sampun ngantos wontĕn ingkang kalangkungan cariyosipun". barangkali teringat cerita perjalanan hidup Prabu Ramawijaya di Ngayudyapala. Émpu Pulwa matur sandika.1 Tahun 2012 35 . lajĕng anyariyosakĕn kawiwitan saking nagarinipun Prabu Ramawijaya wontĕn ing Ngayudyapala. milanipun manawi sang wiku karsa anyariyosakĕn lalampahanipun Prabu Ramawijaya. ngantos dumugi sédanipun ingkang putra Prabu Ramawijaya ingkang nama Prabu Batlawa ing Duryapura. karena dahulu konon berasal dari Guwakiskenda tanah Indu. miwiti mĕkasi. punika sami anyariyosakĕn ingkang dados lalampahanipun Prabu Ramawijaya nguni. awit bokmanawi wontĕn wĕwahipun malih saking cariyosing brahmana kalih nguni. ngantos kaping kalih. malah ing mangké sampun kaanggit déning ĕmpu jangga kula kang wasta Émpu Pulwa. (Kemudian Prabu Jayapurusa bertanya lagi kepada Sang Maharsi Mayangkara. lajĕng dhawuh dhatĕng Empu Pulwa kinèn amĕwahakĕn panganggitipun kaliyan ingkang saking cariyosing brahmana kalih nguni. ingkang rumiyin wasta Dhang Hyang Asuman ingkang kantun wasta Dhang Hyang Ilandhi. Ing ngriku Prabu Jayapurusa langkung suka galihipun. mila makatĕn awit ing nguni kula katamuwan brahmana saking tanah Hindhu. 3 No. salalampahanipun sampun sami kagancarakĕn sadaya. ingkang dados lalampahanipun Prabu Ramawijaya dènira ambĕdhah nagari Ngalĕngka wau. ananging pangraosing manah kula kados taksih kirang jangkĕping cariyosipun. ananging panuwun kula mugi kagancarĕna dalah lalampahanipun wontĕn ing margi sadaya. mugi kagancarĕna sadaya. kaliyan Prabu Kusia ing Ngayudyapala. sakalangkung rĕmĕn kula. saèstu badhé andadosakĕn sukaning manah kula. yèn sambada karsanipun sang wiku.Hé Sang Maharsi Mayangkara kakasihing jawata.

Sang Resi Anoman berkata: "Duh-duh Pukulun Kanjeng Dewaji. Prabu Jayapurusa gembira (dan) heran." Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kesediaannya. jika sang wiku berkenan. jika peristiwa penyerbuan Batara Ramawijaya Ngayudyapala dahulu ke negara Ngalengka. sebab barangkali ada penambahan lagi dari cerita dua brahmana dahulu itu. makanya hamba menjadi senapati. jangan sampai ada cerita yang terlewat. bahkan sekarang sudah disusun oleh pujangga saya yang bernama Empu Pulwa. semoga diceritakan semua tentang perjalanan hidup Prabu Ramawijaya dalam menyerbu negara Ngalengka dahulu.dahulu menyerbu kerajaan Ngalengka. bersama adik sepupu hamba. saya sangat gembira. bahkan pada waktu itu hamba juga sebagai senapati perang. bahwa usia Sang Maharsi Mayangkara demikian panjang. Kata Prabu Jayapurusa: "Hai Sang Maharsi Mayangkara kekasih dewata. jadi semua bala tentara para raja kera semua mengiring Batara Ramawijaya ke negara Ngalengka. akan tetapi permintaanku hendaknya diuraikan sekaligus semua peristiwa yang terjadi di perjalanan. sampai mangkatnya putra Prabu Ramawijaya yang bernama Prabu Batlawa di 36 Jumantara Vol. oleh karena dahulu kala saya kedatangan Brahmana dari tanah Hindu. karena paman hamba yang bernama Prabu Sugriwa itu diminta bantuannya oleh Batara Ramawijaya. 3 No. yang dahulu bernama Dhang Hyang Asuman. maka seandainya sang wiku mau menceritakan perjalanan hidup Prabu Ramawijaya. sebab tidak mengetahui sendiri seperti halnya Sang Maharsi. putra paman hamba yang bernama Prabu Subali di Guwakiskenda. gembira karena akan mendapat tambahan cerita kehidupan Prabu Ramawijaya. sampai dua kali. sesungguhnya hamba teringat semuanya. (sedangkan) yang menjadi keheranannya. yang terakhir bernama Dhang Hyang Ilandhi.1 Tahun 2012 . sungguh sangat menyenangkan hati saya. kemudian menceritakan mulai dari negara Prabu Ramawijaya di Ngayudyapala. keduanya menceritakan perjalanan hidup Prabu Ramawijaya dahulu. akan tetapi menurut pendapat saya nampak masih kurang lengkap ceritanya.

Dewi Pramuni dan Dewi Sasanti dengan Prabu Astradarma bersaudara. Prabu Jayapurusa bergembira. 3 No. Kemudian dilangsungkannyalah pesta perkawinan Dewi Pramesthi. semua peristiwa sudah diceritakan. kemudian semua dicacat. Sang Maharsi Mayangkara mengeluarkan ketiga putra Yawastina untuk mengadakan pertemuan dengan ketiga putri Widarba. dan Raden Darmakusuma dengan Dewi Sasanti. pertemuan itu diketahui oleh seorang ĕmban „inang pengasuh‟ yang kemudian melaporkannya kepada Prabu Jayapurusa. Dalam pertempurannya melawan Prabu Astradarma maupun dengan Raden Darmasarana dan Raden Darmakusuma. Hal itu dilakukan atas perintah dewa agar menjadi perekat kembali persaudaraan raja dengan ketiga putra mendiang Prabu Sariwahana.Duryapura dan Prabu Kusia di Ngayudyapala. akan tetapi segera dicegah oleh Sang Maharsi Mayangkara. karena ia akan bermenantukan Prabu Astradarma bersaudara. Akan tetapi. Prabu Jayapurusa sangat gembira hatinya. mengawali mengakhiri. Prabu Astradarma mengadakan pertemuan dengan Dewi Pramesthi.1 Tahun 2012 37 . Prabu Jayapurusa segera memerintahkan Raden Jayaamijaya untuk menangkap perusak kesusilaan di taman sari itu. Prabu Jayapurusa mengawinkan Sang Maharsi Mayangkara dengan Dewi Pramesthi. ia kalah. Pada waktu malam pengantin tiba. kemudian memerintahkan kepada Empu Pulwa untuk mengubah penyusunan cerita Ramawijaya seperti yang berdasarkan cerita dua brahmana dahulu.) Beberapa waktu kemudian. Pesta perkawinan mereka sangat meriah dan berlangsung selama setengah bulan. Prabu Jayapurusa bermaksud mau maju sendiri. Raden Darmasarana dengan Dewi Pramuni. Sementara itu. Empu Pulwa menyatakan kesanggupan-nya. Mendengar penjelasan itu. Gadaksa dan Pradaksa telah kembali ke Jumantara Vol. Selanjutnya Sang Maharsi Mayangkara menjelaskan. bahwa sebenarnya dialah yang menjadi pengatur pertemuan antara Prabu Astradarma bersaudara dengan ketiga putri raja. Oleh karena itu.

Sang Maharsi Mayangkara telah menjalankan kewajibannya di dunia dengan baik pada akhir hidupnya dengan mengawinkan ketiga putra mendiang Prabu Sariwahana (Yawstina) dengan ketiga putri Prabu Jayapurusa (Widarba). Patih Mohita mencoba melawannya tetapi ia pun gugur. Prabu Astradarma. Kemudian Sang Hyang Girinata memerintahkan Sang Hyang Narada untuk menghidupkan kembali mereka yang tewas dalam pertempuran itu. Dalam pertempuran yang dahsyat itu banyak perwira kerajaan Selauma gugur di tangan Sang Maharsi Mayangkara. Dalam pertempuran yang dahsyat itu Sang Maharsi Mayangkara gugur di medan laga. Sang Hyang 38 Jumantara Vol. sedangkan gada saktinya menjelma menjadi Sang Hyang Brahma. Sang Hyang Narada pun menjelma kembali. Kemudian Sang Hyang Narada menjelma menjadi gada sakti agar dapat dipakai Prabu Jayapurusa melawan gada sakti Prabu Yaksadewa. Bertepatan dengan itu nampaklah Sang Hyang Girinata bersemayam di atas kepala Prabu Jayapurusa. Sebelum Prabu Jayapurusa maju datanglah Sang Hyang Narada memberitahukan bahwa Prabu Yaksadewa adalah penjelmaan Sang Hyang Kala.1 Tahun 2012 .kerajaan Selauma serta melaporkan hasil lamaran raja. maju melawan Prabu Yaksadewa. kecuali Sang Maharsi Mayangkara. Prabu Yaksadewa menjadi sangat marah. Prabu Yaksadewa sangat marah dan segera memerintahkan Patih Mohita untuk mempersiapkan pasukannya menyerbu ke Widarba. Prabu Jayapurusa sendiri mau melawan Prabu Yaksadewa. Sang Hyang Girinata menerangkan kepada Prabu Jayapurusa bahwa gugurnya Sang Maharsi Mayangkara memang sudah merupakan kehendak dewa. Dengan gada saktinya ia menggempur Sang Maharsi Mayangkara. Dalam pertempuran yang dahsyat maka Prabu Yaksadewa menjelma menjadi Sang Hyang Kala. Raden Darmasarana dan Raden Darmakusuma segera menuntut bela. tetapi mereka pun gugur. Kedatangan pasukan Selauma disongsong oleh pasukan Widarba yang diperkuat oleh Sang Maharsi Mayangkara serta tiga putra Yawastina. Oleh karena itu sudah sepantasnya Sang Maharsi Mayangkara memperoleh anugerah dewa di surga. sedangkan gada saktinya adalah penjelmaan Sang Hyang Brahma. 3 No.

Cerita Rāmāyaņa dari India tersebut kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. maupun Jawa. Di Asia Tenggara cerita Rāma terdapat di Vietnam. misalnya: Raghuvangśa karya Kalidasa.1 Tahun 2012 39 . Penyair-penyair India lain pun kemudian mencoba membuat cerita Rāma–Sīta. Filipina. Uttara Rāma oleh Bhavabhutti. Thailand. Kakawin Rāmāyaņa tersebut menjadi bahan perbincangan yang sangat ramai di antara para sarjana. Salah satu versi cerita Rāma dari India yaitu Rāvaņavadha karya Bhaţţi.Ng.Kala dan Sang Hyang Brahma segera menghidupkan kembali pasukan Widarba dan Selauma (Tedjowirawan. di Jawa kemudian digubah menjadi Kakawin Rāmāyaņa oleh pujangga yang belum ditetapkan secara pasti siapa nama sebenarnya. 1985: 29-32). Birma.000 tahun. Laos. sedangkan Sindusastra menggubahnya menjadi Sĕrat Arjuna Sasra dan Sĕrat Lokapala. Janakīharaņa oleh Kumaradasa. Yasadipura II menggubahnya menjadi Sĕrat Arjuna Sasrabahu. Sĕrat Jumantara Vol. Rāmāyaņakathāsaramānjari oleh Ksemendra. jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara dikisahkan sendiri oleh Sang Maharsi Mayangkara (Anoman) yang pada waktu itu (jaman Kediri) masih hidup. terutama sarjana-sarjana barat yang pada mulanya mengadakan penelitian atas karya-karya sastra Jawa Kuna. Kamboja.Ng. Melayu. terutama di dalam Sĕrat Rukmawati. R. Kakawin Rāmāyaņa kemudian digubah menjadi Sĕrat Rama oleh R. Rāmācaritamanasa oleh Tulasi Dasa. sampai ia sendiri kembali ke surga setelah secara tidak langsung dijemput oleh Sang Hyang Kala (Prabu Yaksadewa) dan Sang Hyang Brahma. Dengan demikian. Cerita Rāma ternyata ditemui juga jejaknya di dalam bagian Sĕrat Pustakaraja. yang menjelma sebagai gada sakti senjata Sang Hyang Kala. Simpulan Cerita Rama (Rāma) pada mulanya digubah dalam bahasa Sanskerta oleh yogīndra Wālmīki. setelah melewati proses ritual (tapabrata) selama 1. 3 No. Rāvaņavadha oleh Bhaţţi. Yasadipura I.

Dalam Sĕrat Suktinawyasa jejak cerita Rāma dikemukakan oleh Dhang Hyang Wikusalya kepada Rĕsi Abyasa agar tidak terlalu bersedih hati karena tidak diangkat menggantikan ayahandanya menjadi raja di Ngastina. Di dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana jejak cerita Rāma dikemukakan oleh Bagawan Danĕswara agar Prabu Gendrayana merelakan putranya yang masih sangat muda yaitu Raden Narayana (Jayabhaya) untuk dimintai bantuannya melenyapkan segala jenis hama tanaman yang menyerang sawah dan ladang para penduduk di wilayah Gunung Nilandusa (Wilis). Fakultas Sastra dan Kebudajaan.Ng. Penulisan Sejarah Jawa. Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara. Jakarta: Bharata. 3 No. Bahkan gugurnya Sang Maharsi Mayangkara dijemput oleh Sang Hyang Kala (Prabu Yaksadewa) dan Sang Hyang Brahma. Dalam Sĕrat Rukmawati jejak cerita Rāma terutama terkait dengan prosesi ritual yang dilakukan Prabu Dasarata untuk memohon kelahiran putra penjelmaan Sang Hyang Wisnu (Rāma). Merunut Pupuh-pupuh Rama Djarwa Matjapat jang Bersumber dari Sarga II dan III Rāmāyaņa Kakawin (Tesis). Jogjakarta: Djurusan Sastra Djawa. (1974). jejak cerita Rāma tampak dengan tampilnya Sang Maharsi Mayangkara (Anoman). Sĕrat Paramayoga: Sĕrat Jumantara Vol. Karyarujita. Soepardi (Pengalih Huruf) (2007).C. Sĕrat Prabu Gĕndrayana II (46 B). (1981). Surakarta: Reksapustaka.Suktinawyasa. Darusuprapta (1963). 40 R. Universitas Gadjah Mada. Hadisuparto. Sĕrat Prabu Gĕndrayana. Adapun dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara. yang menjelma menjadi gada sakti Prabu Yaksadewa. Daftar Pustaka Berg.1 Tahun 2012 . Peristiwa gugurnya Sang Maharsi Mayangkara tersebut pada masa pemerintahan Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) di kerajaan Widarba (Kediri). Pura Mangkunegaran Surakarta. melainkan hanya diangkat sebagai raja pendeta. C.

Yogyakarta: Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. Pura Mangkunegaran Surakarta. 3 No. Sĕrat Pustakaraja Purwa Jilid III. Y. _______. Surakarta: Reksapustaka. Hadji Pamoso Jilid I-X. (1967). Pigeaud. (1938). (Pengalih Huruf) (2007). Ricklefs. Th. Ranggawarsita. Sejarah dan Transformasi Jumantara Vol. Solo: Boekhandel M. _______. R. Sĕrat Ajipamasa. dan Tardjan Hadidjaja (1957).H. Semarang: Yayasan Studi Bahasa Jawa "Kanthil". Mangkunegara IV (1914).. Cetakan Keempat. _______. Soerakarta: Albert Rusche. Djakarta: Djambatan.M. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Djokdja: Boekhandel En Drukerij Kolf Buning. Sĕrat Witaradya I & II. Literature of Java Vol. Sĕrat Mayangkara.R.1 Tahun 2012 41 . (1997). _______. "The Yasadipura Problem". Kepustakaan Djawa. Depdikbud. R. Ng. (1993). Soemarso Pontjo. “Runut Merunut Penulisan dan Penulis Kakawin Rāmāyaņa”. dkk. Ng. Alih Aksara dan Ringkasan oleh Sudibya. BKI 153-II.Kalĕmpaking Piwulang.E. The Hague: Martinus Nijhoff. Tanojo.T. Cetakan Kedua. Somvir (1998). (1979). Poerbatjaraka. (1910). _______. Witaradya.C. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud. G. Disalin oleh Soetomo W. Z. K. (1979). (1908). I. _______. Alih Aksara Kamajaya. Lampahan Jayapurusa. (1924). Surakarta dan Yogyakarta: Yayasan "Mangadeg" dan Yayasan "Centhini". „Ramayana: Asal-usul. Alih Aksara dan Alih Bahasa oleh Moelyono Sastronaryatmo. Sĕrat Prabu Gĕndrayana I (46 A). M. Surakarta: Albert Rusche. (1994). Makalah Ceramah.. Padmapuspita. Sĕrat Pustakaraja Purwa Jilid I – III. Th. Soetjipto.

Wayang: Asal-usul. Tedjowirawan. Zoetmulder. Prodi Sastra Jawa. Jakarta: CV. Naskah 157. Ng. _______ (1986). 3 No. Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa. Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM. Analisis Struktural Serat Purusangkara. FPBS IKIP Yogyakarta.J. P. _______ (2008). Jogjakarta: Fakultas Sastra dan Kebudajaan Universitas Gadjah Mada. Pengembangan dan Masa Depannya. Sri Mulyono (1989).dari India ke Indonesia‟ dalam Ramayana.1 Tahun 2012 . Pengembangan dan Masa Depannya. Haji Masagung. Jakarta: Djambatan. Surjohudojo. Filsafat dan Masa Depannya. Ng. (1983). Surakarta: Museum 42 Jumantara Vol. Manu Jayaatmaja (1998). Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi). Kalangwan. dalam Ramayana. Cetakan III. Ranggawarsita: Sajian Teks-Terjemahan Pembahasan. Anung (1985). terjemahan Dick Hartaka. Naskah Sĕrat Gĕndrayana. “Dari Gendrayana ke Bambang Sudarsana (Sebuah Suksesi Kepemimpinan di Ngastina menurut Teks-teks Pustakaraja Madya Karya Pujangga R. FPBS IKIP Yogyakarta. Supomo (1961). Rama Kathā. Yogyakarta: Jurusan Sastra Nusantara. Ranggawarsita. Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang. Serat Mayangkara Karya R. “Persebaran Rāmāyaņa di Asia Tenggara”. Satu Kajian Pada Karya Sastra R.Ng. Procedings Seminar Internasional Aktualisasi Teks-teks Ranggawarsitan dalam Konteks 100 Tahun Kebangkitan Nasional dalam rangka Dies ke 62 Fakultas Ilmu Budaya UGM 16 Mei 2008. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Widyaseputra. Ranggawarsita”.

Pura Mangkunegaran Surakarta. Naskah Radyapustaka Surakarta. Naskah 46 B. Surakarta: Reksapustaka.1 Tahun 2012 43 . 155. Surakarta: Museum Radyapustaka Surakarta. Sĕrat Prabu Gĕndrayana II. Surakarta: Museum Sĕrat Yudayana. Sĕrat Purusangkara.Radyapustaka Surakarta. Jumantara Vol. Surakarta: Reksapustaka. Pura Mangkunegaran Surakarta. Sĕrat Prabu Gĕndrayana I. Naskah 153. Naskah 46 A. 3 No.

Abstrak Penelitian ini mencoba menggali kembali ajaran dan praktik kehidupan sehari-hari perempuan Aceh dalam keluarga dan masyarakat yang dituangkan ke dalam tulisan pada masa lampau. yang dewasa ini sudah menjadi manuskrip. tokoh utama dalam sebuah manuskrip Aceh sekaligus menjadi judul dari manuskrip tersebut. Manuskrip Aceh. Kata Kunci: Perempuan. yaitu Hikayat Siti Islam. 3 No. dan masyarakatnya. Konteks. menjelaskan tentang perilaku sosial lingkungan terhadap mereka. dan mencari korelasi positif antara perilaku perempuan dalam teks dengan perempuan Aceh pada umumnya dalam kurun waktu masa lampau dan dewasa ini. Selanjutnya perbandingan teks dilakukan dengan manuskrip lain yang mengisahkan tentang perempuan lain bernama Siti Hazanah.1 Tahun 2012 . 44 Jumantara Vol. Teks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami. keluarga. Fokus utama penelitian ini tertuju kepada Siti Islam. *) Penulis adalah peneliti di Puslitbang Lektur – Balitbang Departemen Agama RI.

Karena itu. laki-laki yang menggunakan kekuatan dan kehebatan fisiknya untuk mencari kesenangan di bawah penderitaan isterinya.2 Perempuan bukanlah diciptakan untuk 1 Untuk uraian lebih rinci tentang makna perempuan bagi Ibn Arabi. Mereka dapat memberikan inspirasi tertentu kepadanya. Bahkan tidak jarang kepada kaum perempuan dibebankan segala tumpuan dan pekerjaan keluarga. fisik perempuan yang lemah. Di luar rumah. 2003:416-419 dan Azhari Noer. mengakui akan kehebatan yang dimiliki perempuan. Jumantara Vol. 2002: 220-222. Kasus yang muncul di media masa dan televisi tidak jarang adalah kasus pelecehan dan perusakan kehormatan perempuan. sebagai tokoh sufi yang terkenal. Perempuan diperlakukan seperti budak demi kepuasan kaum lakilaki. lihat Austin. sering perempuan dijadikan objek kesenangan laki-laki. 2 Untuk penjelesan lebih rinci lihat Quraish Shihab. 3 No.1 Namun. 2005: 1-8.Pendahuluan Perempuan merupakan lambang keberhasilan dan kekuatan sebuah keluarga dan negara. kadang disalahgunakan oleh lawan jenisnya. dibalik fisik dan tenaganya yang lemah jika dibandingkan dengan kekuatan fisik laki-laki. Sering terjadi permerkosaan dan perlakuan tidak senonoh dari para pecundang birahi. mulai dari mengurus rumah tangga hingga mencari nafkah di luar rumah. Laki-laki dengan bangga menjadi suami atas keberhasilan isterinya mempertahankan keluarga untuk menutupi kebutuhan keluarganya. Dengan segala kelemahannya perempuan harus mengikuti perintah para suami. tidak berlebihan bila agama memperjuangkan hak perempuan dan bahkan menyamakannya dengan kaum laki-laki sesuai dengan fungsinya masing-masing. Sering perempuan mendapat perlakuan tidak seimbang dan bahkan melecehkan derajat dan kehormatannya.1 Tahun 2012 45 . mengurusi anak dan suaminya sendiri. karena di tangan merekalah terletak kekuasaan yang terselubung. Ibn Arabi. Sayyidah Nizam adalah salah seorang perempuan yang disebutkan Ibn Arabi yang dapat memberikan inspirasi kepadanya untuk menulis sekumpulan puisi dan telah memberikan pengaruh spiritual yang dalam kepadanya.

melainkan juga di luar rumah. 46 Jumantara Vol. perempuan juga menjadi tumpuan keluarga dan negara. tidak hanya berada di rumah melainkan juga di luar rumah. Dari sisi lain. misalnya. mulai dari menghadirkan dan menyiapkan makanan sampai mengurus anak dan suami. Sehingga dalam sejarah muncul srikandi-srikandi Aceh dengan berbagai istilah mereka sandang demi memperjuangkan agama dan negara. (Q. 2000:16-17). (Umar. para ibu-ibu menjadi pedagang paling dominan ketimbang para laki-laki. Mereka tidak hanya bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga untuk anak dan suami mereka.melengkapi hasrat dan keinginan laki-laki. perempuan terlihat diberikan kebebasan dalam bergerak. menanam. kebebasan mereka diberikan untuk berjuang bersama kaum laki-laki untuk kepentingan agama dan bangsa. 3 No. perlakuan terhadap perempuan hampir boleh dikatakan sama dan serupa. Di Aceh. para perempuan menjadi pekerja setia. demi untuk mempertahankan saudara laki-lakinya bersekolah. Perempuan adalah sosok manusia yang hebat dan lemah. Dalam sejarah. perempuan harus bersedia untuk tidak mengecap dan merasakan manisnya pendidikan formal.S. Dalam setiap suku yang ada di Indonesia. Di pasar. perempuan menjadi tonggak keluarga untuk keberhasilan sebuah rumah tangga. misalnya. Di kalangan petani. AlZariyat:49). dijunjung oleh 3 Hasil Observasi dan wawancara langsung dengan sebagian penduduk Bali di Denpasar pada bulan Januari sampai April 1995. Tidak hanya itu. Di Bali3. Perempuan harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga. Mereka harus rela melakukan apa saja untuk memperjuangkan saudara laki-lakinya dan suaminya sukses di luar rumah. mulai dari mencabut.1 Tahun 2012 . sehingga sering disalahgunakan karena dua faktor tersebut. Istilah inong balee. melainkan untuk saling melengkapi. Dalam Al-qur‟an disebutkan bahwa Segala sesuatu Kami menciptakan berpasangpasangan supaya kamu mengingat keesaan Allah. hingga memanen padi.

masih perlu dipertanyakan apa yang dimaksud dengan kebebasan yang mereka miliki dan sejauh mana kebebasan tersebut didapatkan. tetapi juga terhadap perempuan-perempuan yang menjadi masyarakat biasa dalam kehidupan keluarga dan sosialnya. Meskipun demikian. Selanjutnya perbandingan teks dilakukan dengan manuskrip lain yang mengisahkan tentang perempuan lain bernama Siti Hazanah. Sejauhmana korelasi positif antara perilaku perempuan Aceh dengan isi teks naskah? Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan kembali sejarah perempuan Aceh yang terdapat di dalam manuskrip. Penelitian ini mencoba menggali kembali ajaran dan praktik kehidupan sehari-hari perempuan Aceh dalam keluarga dan masyarakat yang dituangkan ke dalam tulisan pada masa lampau. yang dewasa ini sudah menjadi manuskrip. tokoh utama dalam sebuah manuskrip Aceh sekaligus menjadi judul dari manuskrip tersebut.Malahayati dalam menggerakan kaumnya melawan Belanda dan mempertahankan agama. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pendorong saya untuk meneliti sejarah perempuan Aceh yang tidak hanya terfokus kepada para srikandi yang harum namanya dalam sejarah. Selanjutnya tidak semua perempuan Aceh menjadi srikandi. Bagaimana kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami. keluarga. Secara rinci tujuan tersebut adalah: Jumantara Vol. yaitu Hikayat Siti Islam. Hal yang juga perlu dipertanyakan adalah apakah mereka mendapatkan kebebasan dan kehebatan seperti srikandi-srikandi yang telah harum namanya dalam sejarah. 3 No. dan masyarakatnya? 2. pertanyaan-pertanyaan yang dapat dirumuskan untuk penelitian ini adalah: 1. Karena itu.1 Tahun 2012 47 . Nasib sebagian mereka tentu berbeda dengan srikandi-srikandi yang sudah harum namanya. Bagaimana tanggapan lingkungan terhadap mereka? 3. Fokus utama penelitian ini tertuju kepada Siti Islam.

Untuk mengetahui kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami. Dapat mengungkapkan kembali khazanah tentang perempuan pada masa silam melalui manuskrip. mulai dari kiprah mereka dalam politik sampai kepada kehidupan sosial. Dapat menjadi referensi bagi peneliti khususnya yang bergelut dengan permasalahan gender. perempuan mendapatkan dua peran sekaligus. dan politik yang dijalankan oleh perempuan dalam posisi mereka di keluarga dan masyarakat yang lebih luas. yaitu di dalam ekonomi dan politik. menunjukkan peran para sultanat sebagai perempuan dalam menjalankan 48 Jumantara Vol. keluarga. 2. yaitu sebagai perempuan politisi dan ibu atau sebagai pedagang dan ibu. karya Anthony Reid Female in Southeast Asia. Reid menjelaskan bahwa terdapat kesetaraan perempuan di wilayah Asia Tenggara termasuk di dalamnya Aceh dengan kaum laki-laki dalam konteks yang memungkinkan keduanya bersaing secara langsung. Sher Banu A. L. Dari sisi kajian terdahulu.1. Perempuan dalam kehidupan masa sekarang juga telah mendapat perhatian banyak peneliti untuk menelaahnya dari berbagai segi. Hal ini ditemukan dalam berbagai peran ekonomi. sosial. Sejarah sudah banyak berbicara tentang perempuan Aceh dari berbagai segi. 1998). Demikian juga halnya dengan penelitian khusus perempuan Aceh. Untuk mencari korelasi positif antara perilaku perempuan dalam teks dengan perempuan Aceh pada umumnya dalam kurun waktu masa lampau dan dewasa ini. Sedangkan manfaat dari penelitian ini diharapkan: 1. Khan dalam The Jewel Affair. Karena itu.1 Tahun 2012 . her Orang Kaya and the Dutch Foreign Envoys. 3. 3 No. Dalam artikelnya. Untuk menjelaskan tentang perilaku sosial lingkungan terhadap mereka. The Sultana. penelitian terkait dengan perempuan sudah sangat banyak dilakukan oleh berbagai pihak. (Reid. Di antara penelitian yang terkait dengan perempuan Aceh adalah. 2. dan masyarakatnya.

Putri Mayang Seuludang. Syahir Pauli. dan Syahir Tanwi. Mereka dianugerahi empat orang anak Syahir Nuwi. (Siapno. bukan untuk berfoya-foya. Nationalism and the State in Aceh: The Paradox of Power. yang dikenal sebagai pendiri kerajan Jumantara Vol. Ia adalah ibu dari Sayid Maulana Abdul Aziz. Ia menggunakan manuskrip Melayu kuno dan cerita lisan untuk menjelaskan gagasan kekuasaan perempuan dalam tradisi kemaharajaan. Ia adalah putri Istana Jeumpa. Syahir Dauli. Jacqueline Aquino Siapno dalam karyanya Gender. Begitu juga dengan Putri Tansyir Dewi yang berasal dari Peureulak. Ia menjelaskan tentang peran perempuan dalam sejarah. yang memiliki kesaktian dan kekuasaan. etnografi. Islam. adalah salah satu contoh perempuan yang diutarakannya. semacam bidadari atau peri dari antah berantah. 2011).1 Tahun 2012 49 . dan literatur. 2002). perempuan dijadikan sebagai orang yang mampu melakukan segalanya. Namun pada akhirnya bidadari tersebut harus menjadi agen kekuasaan para lelaki sebagai penguasa yang nyata. Dalam manuskrip yang menceritakan Putri Betung. untuk kekayaan dan kepentingan kerajaan. menikah dengan Pangeran Salman. ia menemukan narasi yang mengedepankan perempuan supernatural. namun tidak pernah dihargai keberhasilannya karena hal tersebut sudah menjadi tugasnya. khususnya Ratu Safiyatuddin dapat menjadikan barangbarang berharga. (Khan.tugasnya sebagai pemimpin negara setelah Sultan Iskandar Tsani. Mereka. 3 No. seperti intan permata. telah mengelaborasi dan membuka khazanah penafsiran mengenai sejarah politik perempuan di Aceh. Cooptation and Resitance dengan menggunakan metode sejarah. Haslinda dalam bukunya Perempuan Aceh Dalam Lintas Sejarah Abad VIII – XIX menjelaskan tentang keberhasilan perempuan dalam membangkitkan negara dan agama sekaligus juga menjadi tumpuan keluarganya. Demikian juga dalam cerita tradisi lisan. Semua mereka berhasil dididik olehnya dan mereka kemudian menjadi penguasa negeri (imum tuha peut). yang melalui mereka telah muncul kejayaan-kejayaan untuk sebuah kerajaan.

Siapno hanya menfokuskan kajian tentang perempuan yang berkaitan dengan tradisi kemaharajaan pada masa awal Islam. dapat disimpulkan bahwa penelitian tentang aktivitas perempuan dalam kehidupan sehari-hari dan ajaran yang berlaku padanya dengan berlandaskan manuskrip belum ada yang melakukan. maka pendekatan antropologi menjadi penting. yaitu budaya perempuan Aceh dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. 50 Jumantara Vol. 2008). filologi dan kodikologi yang diperuntukkan pada kajian isi dan fisik naskah tersebut. pendekatan antropologi. pendekatan sejarah sosial digunakan untuk mengetahui konteks latar belakang muncul dan keberadaan naskah yang dikaji dan tentang refleksi perempuan Aceh dalam sejarah secara umum serta fakta yang ada dewasa ini. Untuk melihat dan mendiskusikan perkembangan budaya pada masa sekarang dan relevansinya dengan teks naskah. Dari penelitian-penelitian di atas. Ketiga.1 Tahun 2012 . Penelitian ini mencoba mengisi kekosongan tersebut. dapat dilihat bahwa hanya Siapno yang menggunakan manuskrip sebagai salah satu sumber rujukan utamanya. 3 No. sehingga direct participant ke dalam masyarakat dalam waktu yang relatif lama dan in depth interview dapat dilaksanakan dengan cermat dan teliti. Kedua. pertama. pendekatan intertekstual digunakan untuk membandingkan teks naskah yang menjadi fokus kajian ini dengan teks sejenis guna untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan topik kajian. Penelitian ini berbentuk library research dengan model pendekatan kualitatif. Karena itu. Keempat. (Haslinda. yaitu dengan fokus kajian pada manuskrip yang diperkirakan ditulis pada abad ke-18 dan 19M. Untuk menelaah dua naskah yang menjadi sasaran penelitian ini perlu digunakan pendekatan interdisipliner. Namun demikian.Islam Perlak pada tahun 840M.

Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI pada tahun 2010. Alas tulis naskah ini adalah kertas Eropa yang memiliki cap air berbentuk bulan sabit dalam bentuk wajah manusia dilingkari pagar atau yang dalam bahasa Inggris disebut dengan moonface in shield. Pidie.1 Tahun 2012 51 . cap air seperti ini tidak dapat diidentifikasi tahunnya. seorang masyarakat Aceh yang berdomisili di Dayah Tanoh. 1935. Naskah ini kemudian didigitalkan oleh Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan. sehingga ia menyatakan bahwa kertas yang ber-watermark seperti di atas besar kemungkinan diproduksi pada waktu modern. Churchill. Naskah ini memiliki ukuran 16X22 cm. Kemungkinan besar tahun produksinya setelah abad ke-18M. Lihat Heawood. karena Buku Heawood dan Churchill hanya memuat daftar watermark dan countermark yang berkisar antara abad ke-17 dan 18M. diperkirakan naskah ini ditulis sekitar abad ke-19M. Tinta yang digunakan untuk menulis teks berwarna hitam. Tidak ada rubrikasi dalam teks. karena ada beberapa halaman akhir telah hilang. Naskah berjudul Hikayat Siti Islam ini.4 Tidak terdapat bagian halaman yang kosong dalam naskah ini. kemungkinan karena teks naskah ini berbentuk cerita. yang mungkin saja memuat informasi tentang pengarangnya. sehingga tidak ada kata-kata yang perlu ada penekanan maknanya. Naskah ditulis dalam bentuk hikayat. dan blok teksnya berukuran 10X16 cm.Kiprah Perempuan dalam Manuskrip Tentang Manuskrip Siti Islam Deskripsi Naskah ini dikoleksi oleh Ampon Hasballah Dayah Tanoh. sedangkan iluminasi serta ilustrasi juga tidak diketemukan. yaitu berbentuk sajak dan berbait-bait atau puisi. 1986:84. Aceh. 4 Menurut Heawood. 3 No. Berdasarkan cap airnya. tidak diketahui siapa pengarangnya. Jumantara Vol.

.. hingga sampai di kampung halamannya. Ringkasan Isi Naskah ini berisi cerita (hikayat) fiktif dengan diiringi berita dari si pengarang terlebih dahulu. Ia mengambil cerita ini dari Arab. 3 No.. Cerita ini diberitakannya terjadi pada masa Rasulullah masih hidup. na si‟at teuka si Nyak Ti dara agam taphôm makna 52 Jumantara Vol.Naskah Siti Islam Teks naskah ditulis dengan menggunakan bahasa Arab dan Aceh.. beraksara Arab dan Jawi. Naskah ini tidak memiliki kolofon. Dalam persinggahannya ia mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak yang mendengarkan ceritanya. Empat halaman pertama digunakan pengarang khusus untuk mengungkapkan bahwa cerita yang ditulisnya sangat diharapkan oleh siapa pun di dunia ini. kemudian singgah di beberapa negara dan di beberapa tempat di Aceh. sebagaimana disebutkan dalam teks: Nyoe hikayat Siti Islam .1 Tahun 2012 . Nyoe calitera nabi Muhammad soe yang ingat raya bahgia . karena lembaran akhir sudah hilang.

dan ketiga. dan melayani suami. yaitu: pertama. Pengajaran dan bimbingan diberikan langsung oleh Nabi dan tertuju kepada Siti Islam sebagai tokoh utama dalam cerita ini. Nabi memberitahu bahwa perilaku wanita yang baik menurut agama adalah harus patuh. kedua.1 Tahun 2012 53 . yang melindungi dan menguasai Siti Islam dalam hidupnya setelah berumah tangga. 3 No. Cerita dalam naskah ini menggambarkan cara hidup seorang perempuan pada masa Nabi yang bernama Siti Islam.Rupa jieh sa hana macam That taqwa uroe malam Terjemahan: Ini [hikayat ini diberi nama dengan] Hikayat Siti Islam… Ti Islam nan keurasoe hana macam that bakti Agar laki-laki dan perempuan yang masih muda dapat memahami artinya Siapa yang [mau] mengingatkannya sangat besar kesenangan Sebentar setelah itu datanglah Nyak Ti Ini cerita [masa] Nabi Muhammad… Wajahnya cantik tiada banding Sangat takwa [kepada Tuhan] siang dan malam Ti Islam namanya dipanggil Tiada ada tandingan sangat berbakti Cerita ini memiliki tiga tokoh utama. patuh. Nabi sebagai tokoh yang dapat memecahkan dan mengatasi segala persoalan. Jumantara Vol. Bila tidak demikian. Siti Islam yang digambarkan sebagai tokoh perempuan yang taat. Rajawali. dan penurut. penurut. Pada awalnya. suami Siti Islam. maka para perempuan akan menerima azab balasannya di hari akhirat. diceritakan terlebih dahulu segala hal yang terkait dengan pengajaran terhadap perempuan dalam menghadapi suami dan rumah tangga.

Begitu juga sebaliknya. Bagi mereka disediakan siksa yang sangat pedih di hari akhirat. laki-laki yang berhubungan dengan perempuan tersebut di luar nikah akan mendapat hukuman yang sama.. Contoh dalam teks: Ureung lakoe yang celaka Jimoe sabee ureung ineng Azeub peudeh han pue tanyeng Jiduek ji eh ji jak ji deng ..1 Tahun 2012 . Lom jibeudeh ineng ceulaka Trôh bak bahoe jiduek ineng Nibak agam meunoe jitanyeng Dilee galak keu lôn sidroe Oh han lôn tem yôh saboh uroe Terjemahan: Suami yang celaka Menangis selalu si isteri Azab pedih tidak dapat dikatakan Duduk tidur berjalan berdiri ...Nabi kemudian menjelaskan tentang perempuan yang membangkang dan tidak menjaga hubungan baik dengan suami. Lalu bangun perempuan yang celaka Lalu di bahunya duduklah perempuan Pada laki-laki begini ditanyakan Dulu engkau suka kepada saya seorang Ketika saya tidak mau pada azeub siksa hana lawan nam plôh limeng tujôh lapan deungen ineng man saboh kawan lethat ineng jimoe sajan agam jiwa nibak badan jitanyeng meunoe lakuan lee ineng soe rimueng kuran lam taki-taki uroe malam meudeh meunoe lôn ta padan azab siksa tiada lawan enam puluh lima tujuh delapan dengan isteri sebuah kelompok banyak sekali isteri menangis laki-laki dipeluk badannya ditanyakannya apakah begini balasan oleh perempuan dengan suara harimau engkau bohongi siang malam berbagai cara engkau rayu aku 54 Jumantara Vol. 3 No. bahkan mencari orang lain sebagai tempat pelariannya.

1 Tahun 2012 55 . karena Jumantara Vol. Nabi menjelaskan panjang lebar tentang ciri-ciri isteri yang baik yang dapat membawa kebahagiaan dunia dan akhirat serta akan mendapat balasan surga di akhirat. Disebutkan dalam teks sebagai berikut: hancô hutak lheuh ngen gaki teumar meuwolom misei suboh meunan azeub barang jan masa malam Jumu‟at yang na reuda la‟en nibak nyan buleun puasa la‟en nibaknya hana reuda Terjemahan: Hancur otak lepas kaki Lalu kembali seperti semula Begitulah azab sepanjang masa [Cuma] Malam Jumat yang reda [tidak disiksa] Selain itu pada bulan puasa Selain itu tidak perlah lekang dari siksaan tuleung ngen asoe jeut ka karam lom geusipak hana macam hana reuda uroe malam hana siksa ineng agam yang na reuda Ti Islam jih lam siksa hana macam tulang dan daging sudah tiada lalu disepak lagi dengan sangat keras tiada reda siang dan malam tidak disiksa laki-laki dan perempuan yang tidak disiksa [hai] Ti Islam mereka dalam siksa tiada tara Setelah mendapatkan pengajaran yang demikian panjang lebar.satu hari Siksa yang akan dialami oleh mereka yang tidak patuh kepada suami dan berselingkuh dengan laki-laki lain tidak akan pernah berhenti. 3 No. kepada Siti Islam kemudian diajarkan tentang bagaimana seharusnya kehidupan seorang isteri terhadap suami dalam berumah tangga. Seorang perempuan harus tunduk dan patuh kepada suaminya serta menjaga keharmonisan rumah tangga sesuai aturan agama. kecuali pada hari Jumat dan bulan Ramadan.

maka isteri harus minta izin kepada suami untuk mencari ilmu kepada ulama: Teumar guree nibak lakoe Adat banta lakoe gata Lake izin nibak lakoe Beuna izin nibak lakoe tameureunoe kebajikan bak ulama taberjalan suara bandum ban meunisan jak meureunoe iluemee Tuhan Terjemahan: Lalu bergurulah kepada suami belajarlah kebajikan padanya Bila suami anda tidak bisa kepada ulama engkau pergi Minta izin kepada suami suara dan tingkah laku semuanya harus manis Harus ada izin dari suami pergi menuntut ilmu Tuhan Siti Islam dengan tekun dan penuh khidmat mengikuti ajaran Nabi.surga berada di bawah telapak kaki suami. si isteri harus selalu mencium lututnya dengan wajah tersenyum. 3 No.1 Tahun 2012 . setiap kali suami pulang. Kalaupun tidak bisa seperti itu. Lam syuruga wahe Nyak Ti Diyub tapak gaki suami Terjemahan: Dalam surga wahai Nyak Ti Di bawah telapak kaki suami diyub gaki ureung agam ta deunge hai meunoe kalam di bawah kaki laki-laki dengarkanlah kalam seperti ini Sebagai contoh. Contoh teks: Oh woe lakoe geunap seupôt côm bak tu‟ôt barangkajan Terjemahan: Ketika pulang suami di waktu sore cium di lutut kapan saja Nabi juga menjelaskan bahwa seorang isteri harus menjadikan suaminya sebagai guru dan tempat belajar. Ia terus mendesak Nabi untuk menceritakan segala hal yang 56 Jumantara Vol.

Dalam membangun dan mempertahankan rumah tangganya. Rajawali kemudian mengatakan bahwa Siti Islam dilarang keluar rumah sebelum ia pulang. karena anaknya yang taat kepada suaminya.1 Tahun 2012 57 . Dikatakan oleh Nabi bahwa Siti Islam akan mendapat pahala yang besar dengan sikap tersebut dan orang tuanya akan berada di tempat yang baik. Mungkin pasarnya jauh di negeri lain. Semua harta dan barangnya dititipkan kepada Siti Islam. 3 No. Ia kembali pergi ke tempat Nabi dan bertanya tentang masalah yang dihadapinya. Karena harus menjunjung tinggi amanah suaminya. Jumantara Vol. Nabi memperingatkan agar Siti Islam tidak luput memperhatikan rambu-rambu yang perlu ditaati sebagai seorang isteri nantinya. Siti Islam menceritakan kepada 5 Dalam teks disebutkan bahwa keluar rumah menuju pasar membutuhkan waktu cukup lama. Siti Islam menyerahkan dan mengabdikan dirinya secara penuh kepada suaminya tanpa ada rasa penolakan sedikit pun. Ia adalah sosok perempuan yang patuh secara mutlak terhadap ajaran Nabi. ia akhirnya menikah dengan seorang anak Sultan yang bernama Rajawali. Siti Islam pada awalnya tidak berniat untuk menikah. namun dia tidak berani pulang ke rumah orang tuanya. Ia tidak pernah berani bertindak tanpa seizin suami. Ketika suaminya pulang. Tidak boleh sama sekali berjalan bila tidak dengan seizin suami. termasuk untuk keluar rumah.terkait dengan kehidupan isteri dan suami serta akibat-akibatnya. Nabi menjawab bahwa tindakan Siti Islam adalah benar. Dalam menjalani rumah tangga bersama suaminya. Pada suatu hari. Di tengah-tengah pejalanan suaminya keluar kota5. Orang tuanya pun meninggal. Siti Islam sangat sedih mendengar berita tersebut. Siti Islam memutuskan untuk tidak pergi melihat orang tuanya. karena takut tidak mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam rumah tangga. Siti Islam kemudian menerapkan segala ajaran dan bimbingan Nabi saw yang telah didapatnya. orang tua Siti Islam sakit keras. Atas petunjuk Nabi. Rajawali berniat hendak pergi jauh keluar wilayah kerajaannya karena ada urusan penting yang harus diselesaikan.

Dengan sukarela. Siti Islam dan Rajawali. termasuk gedungnya yang juga menyimpan sejumlah naskah Aceh lainnya. Nabi menjawab bahwa tindakan mereka adalah pekerjaan yang terpuji. tetapi kopi naskah tersedia. Mereka berdua diharapkan selalu berdoa untuk orang tuanya dan bersedakah untuknya. Setelah itu. Siti Islam dan Rajawali. Sebelumnya naskah ini dikoleksi oleh Sulaiman di Aceh Besar. 3 No.1 Tahun 2012 . Mereka bertiga sangat sedih dan jatuh dalam pelukan kerinduan dan keterharuan. ia mengeluarkan hartanya untuk memberi makan fakir miskin dan rakyat untuk mengharapkan pahala bagi orang tua isterinya. kembali kepada Nabi untuk berkonsultasi tentang balasan dari apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang harus mereka lakukan setelah ibunya meninggal.suaminya tentang peristiwa yang sudah terjadi selama suaminya tidak ada di rumah. ia sebenarnya mengizinkan Siti Islam pulang ke rumah orang tuanya untuk melihat mereka yang sedang sekarat. Akhirnya keduanya. Ternyata ibunda Siti Islam masih hidup dan dalam keadaan sakit parah. pulang ke tempat orang tuanya. namun ayahnya sudah tiada. Suaminya kemudian menjawab bahwa.6 Naskah ini dapat 6 Naskah ini sudah musnah akibat tsunami pada tahun 2004. untuk segala hal yang terkait dengan orang tua. Rajawali menggerakan rakyatnya untuk mengadakan kenduri selama tujuh hari tujuh malam. Setelah ibunya meninggal. Bandingan dengan naskah Siti Hazanah Deskripsi Naskah ini adalah koleksi Balai Kajian Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional Aceh di Banda Aceh sebelum terjadi Tsunami tahun 2004 dengan nomor invetaris 007/NK/1998. Meskipun naskah asli tidak ada lagi. Ibunya kemudian mewasiatkan kepada Siti Islam agar ia tetap menjaga dan menghormati perintah dan larangan suaminya. karena pada tahun 2003 telah dicopy dan dibuat edisinya oleh Fakhriati atas dukungan dari Program 58 Jumantara Vol. Ibu dan ayah Siti Islam berbahagia di dalam kubur dan dapat merasakan kebaikan kedua anaknya.

ternyata naskah ini lebih layak diberi judul Kisah Siti Hazanah. yang masing-masing kuras terdiri dari delapan lembar. Jumantara Vol. Sedangkan halamannya berjumlah 46 halaman dan setiap halaman terdiri dari 21 baris. Dari jenis kertasnya.dikatakan berasal dari Aceh Besar karena pengarangnya bernama Teungku Lam Ba‟it berasal dari Aceh Besar. Namun demikian pada halaman awal terdapat tulisan dalam bentuk pyramid -. Di beberapa halaman awal teks memang ditulis tentang kehidupan penggalakan Sumber-sumber Tertulis Nusantara. Naskah ini memiliki ilustrasi dan iluminasi dalam bentuk bunga sulur. Namun demikian. 3 No. 2011. setelah dibaca isinya. Alas tulisnya adalah kertas Eropa dengan ciri bergaris tebal dan halus dengan bayang-bayang di antaranya. 7 Sebutan nama orang berdasarkan nama tempat bisa bermakna tempat ia berasal atau kepopulerannya dalam berkarier.8 Naskah ini terdiri dari tiga kuras. 8 Untuk diskusi tentang jenis-jenis kertas Eropa dan watermarknya dapat dibaca dalam makalah Fakhriati. Terkait dengan judul naskah. yaitu Hikayat Abdurrahman. gaya tulisannya terlihat agak berbeda dengan tulisan di teks utama. karena teks naskah ini bercerita lebih banyak dan lebih dominan tentang kisah Siti Hazanah dalam mengarungi kehidupannya di dunia. Tulisan naskah berbentuk nastaklik dengan menggunakan tinta hitam untuk penulisan secara umum dan rubrikasi untuk penekanan pada kata-kata tertentu. kemungkinan karena halamannya yang sudah hilang. Namun demikian tidak terlihat watermark dan countermark di atas garis-garis tersebut. dapat diprediksi bahwa umur naskah ini berkisar antara abad ke-19M. Ada kemungkinan bahwa salah satu lembar naskah ini telah hilang.mungkin dapat dikatakan sebagai kolofon – yang memberikan informasi tentang nama pengarang dan judul naskah. Naskah Siti Hazanah ini tidak memiliki kolofon di akhir teks. FIB-UI.7 Naskah Siti Hazanah berukuran 26x17 cm dan ukuran teks 24x16cm dengan jumlah baris 20 dan 21 pada tiap halaman.1 Tahun 2012 59 . kecuali kuras ketiga yang terdiri dari tujuh lembar.

Nama tokoh Ahmad Qusyasyi menjadi populer di kalangan masyarakat Aceh sejak diketahui bahwa Tarekat Syattariyah merupakan tarekat yang paling populer di Aceh. Siti Hazanah juga menghormati suaminya dengan 9 Ahmad Qusyasyi adalah guru tarekat Syattariyah Abdurrauf al-Fansuri dari Arab. 3 No. dan melayani suaminya. (lihat Fakhriati. Mekkah. Sejak lahir.orang tua Siti Hazanah. Sama seperti Siti Islam. (lihat misalnya Sarakata uleebalang Cut Nyak Manfarijah yang berdomisili di Dayah Tanoh. Siti Hazanah sudah hidup sendirian dan hanya berteman dengan binatang di dalam hutan. Ia dipelihara oleh malaikat dengan berpakaian dedaunan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Ahmad Qusyasyi adalah tokoh yang populer bagi masyarakat Aceh. Pidie. 2008). 60 Jumantara Vol. karena Teungku berkehendak pergi ke Mekkah. nama Ahmad Qusyasyi juga didapatkan di dalam naskah-naskah lain seperti Sarakata „surat raja-raja di Aceh‟. Abdurrahman. Mereka kemudian hidup bersama dalam kekurangan di tempat yang jauh dari jangkauan manusia. Ringkasan Isi Teks naskah ini menceritakan tentang kehidupan Siti Hazanah yang sejak kecil berada dalam kesendirian dan kesepian setelah ditinggal wafat kedua orang tuanya. yaitu Teungku Ahmad Qusyasyi. Siti Hazanah menyetujui menikah dengannya dan hidup bersama dalam waktu yang tidak terlalu lama.1 Tahun 2012 . Nanggroe Aceh Darussalam). yaitu di dalam hutan. Selain itu. Waktu luangnya hanya digunakan untuk bertafakkur. ia bertemu dengan seorang laki-laki. Dalam kehidupan rumah tangganya. Selanjutnya ia menghadapi berbagai macam rintangan dan tantangan selama ditinggalkan suaminya ke tanah suci (Mekkah). Siti Hazanah tumbuh dan berkembang menjadi seorang gadis. Siti Hazanah menyerahkan hidupnya untuk beribadah dan untuk suaminya. menambah pengetahuan agama. ia menikah dengan Teungku Ahmad Qusyasyi9 dan hidup dalam rumah tangga yang mawaddah dan rahmah. Pada masa ini. yang bertemu dan kemudian menikah dengan isterinya. Teungku tersebut tertarik melihat tingkah laku Siti Hazanah sehingga ia ingin menikahinya. Setelah tumbuh besar.

Disebutkan dalam teks: Teungku Syekh neurah gaki Terjemahan: Setelah Teungku Syekh mencuci kakinya tuan Siti seumah lee reujang tuan Siti langsung menyembah di lututnya Sama seperti Siti Islam.. Siti Hazanah juga ditinggal pergi oleh suaminya.1 Tahun 2012 61 . Tidak ada celah sedikit pun untuk orang lain bisa masuk untuk mengganggunya. Ketika berjalan menelusuri hutan dalam kesendirian. Siti Hazanah mempertahankan dan memperjuangkan nama baik suami dan kehormatannya semaksimal mungkin. namun suaminya tidak berpesan seperti pesan suami Siti Islam. ia kemudian mendapat pembelaan yang tidak diduga-duga. Karena keteguhan dan kesufiannya. ia hanya mengatakan: Lon keubah gata ubak Allah Terjemahan: Saya titipkan kamu pada Allah saya akan kembali dalam waktu dekat lon jak langkah rijang keunoe Pada masa ditinggalkan suami. 3 No. ia mendapat sambutan hangat dan kasih sayang dari binatang-binatang. Siti Hazanah mendapat cobaaan yang cukup berat. Ia kemudian mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya membela kebenaran dan Jumantara Vol. Saudara dari pihak suaminya berusaha menggangu kehormatannya. Tanpa goyah sedikit pun dalam hati. Ketika suami Siti Hazanah pergi ke Mekkah. Ia harus menderita karena siksaan masyarakat sekitar akibat ulah saudara suaminya.mencium lutut suaminya ketika ia pulang dari bepergian.

Bila tidak berlaku atau bersikap seperti di atas. terdapat beberapa perbedaan pesan yang dapat dipetik. 2) 3) 4) 5) Sementara dalam naskah Siti Hazanah. Meskipun demikian. 62 Jumantara Vol. Seorang perempuan harus mendahulukan kepentingan suami dari pada kepentingan orang tuanya. Pesan-Pesan dalam Teks Dalam kedua teks yang terdapat dalam dua naskah di atas terdapat pesan bahwa hendaknya seorang perempuan dalam mengarungi rumah tangga dan menghadapi masyarakat sekeliling harus sesuai dengan ajaran Islam dan tuntunan Nabi. Seorang perempuan harus menjadikan suami sebagai guru dan imam dalam hidupnya. karena syurga berada di bawah telapak kaki suami.1 Tahun 2012 . dalam kehidupan praktis yang dialami kedua perempuan tersebut. khususnya perempuan. Dalam naskah Hikayat Siti Islam. harus melayani suami dengan baik. Tugas seorang perempuan sepenuhnya melayani suami kapan pun dan dimana pun. pesan yang dapat diambil adalah: 1) Seorang makhluk Allah.menjaga kehormatan suaminya. kecuali pada hari Jum‟at dan bulan Ramadan. pesan yang dapat dipetik adalah: 1) Seorang perempuan harus benar-benar tunduk dan patuh kepada suami. Pengarang menekankan akan pentingnya seorang perempuan berperilaku sesuai dengan tuntunan ajaran Islam agar mendapatkan kebahagiaan ukhrawi dan disenangi oleh suami. namun dia juga diperkenankan untuk menyisihkan waktu untuk kepentingan pribadinya dalam hal beribadah kepada Allah SWT. 3 No. maka azab akan menimpanya di hari kiamat tanpa henti.

Ia menghormati dan melayani suaminya sebagaimana diajarkan Nabi. 3 No. Siti Islam berada dalam lingkungan yang menganut budaya patrilineal. Siti Islam benar-benar taat kepada perintah suaminya. sehingga ia dapat menerapkan segala bentuk pengajaran dari Nabi yang didapatkannya sebelum menikah. lingkungan Siti Islam sangat mendukung kehidupan dan perilaku Siti Islam yang telah dibentuk sebelumnya. Siti Islam selalu menjunjung tinggi pesan-pesan suaminya. Meskipun demikian. Jumantara Vol. dan sekaligus berbuat baik kepada orang lain. Siti Islam harus mengalami kesedihan dan kehancuran hati karena tidak dapat bertemu dengan orangtuanya yang sedang sekarat. Demikian juga dengan suaminya. yaitu mencapai tingkat yang paling tinggi dalam kesufian berupa makrifatullah. yaitu seorang isteri harus berada penuh di bawah naungan dan pengawasan suami. Ia sangat sayang kepada Siti Islam sebagai isteri yang sangat baik baginya.2) 3) 4) Seorang perempuan harus bisa berperilaku baik kepada kepada suami dan kepada siapa pun makhluk Allah yang ada di dunia. Perilaku Lingkungan Siti Islam dan Siti Hazanah Lingkungan Siti Islam yang tersebut dalam naskah pertama berbeda dengan lingkungan Siti Hazanah dalam naskah kedua.1 Tahun 2012 63 . meskipun ia harus menahan hatinya untuk tidak menjenguk orang tuanya yang sakit. Siti Islam mendapatkan seorang suami yang kaya dan berpendidikan agama yang tinggi. Isteri tidak dibenarkan keluar dari pantauan dan pengawasan suami sedikit pun. Ia memberikan peluang kepada Siti Islam untuk menjaga hartanya. meskipun berada dalam lingkungan yang tidak mendukung kepadanya. Seorang perempuan harus mampu menjaga kehormatan dirinya. hanya disebabkan belum ada izin suaminya untuk pergi ke rumah orang tuanya. Seorang perempuan diharapkan dapat mencapai tujuan hidupnya yang utama. terutama kepada orang tuanya.

Suaminya memberitahu Siti Islam bahwa untuk berkunjung kepada orang tua. Kondisi masyarakat luas lainnya yang berada di lingkungan Siti Islam juga sangat mendukung kehidupan dan perilaku Siti Islam dan suaminya. Siti Hazanah mendapat kesempatan untuk keluar rumah dan mempertahankan dirinya sebagai perempuan suci di hadapan masyarakat luas. namun Siti Islam tidak berani keluar rumah. Ia bahkan mampu menyendiri ke hutan untuk mencari ketenangan hidup dan mencapai tujuan kesufian tingkat terakhir. kapan dan di mana pun. 64 Jumantara Vol. tidak menjadi larangannya. ibunya tidak keberatan bila Siti Islam tidak menjenguknya. Pelayanan yang sempurna kepada suami sangat ditekankan oleh orang tuanya. Di dalam teks disebutkan: Meunyo tawoe saket umi Hana lôn tham saket umi Terjemahan: Bila engkau pulang untuk lihat ibu sakit Tidak saya larang pada sakit umi selama lôn bri wahe Intan geugrak pakri hai buleun trang selamanya saya izinkan pergi saja hai Bulan terang Ibu Siti Islam juga memberi dukungan penuh kepadanya agar selalu setia kepada suami. karena belum ada izin suaminya. 3 No. dikarenakan belum adanya izin suami. Berbeda dengan lingkungan Siti Islam.membahu mensukseskan acara tersebut. sehingga mereka pun dapat hidup dalam rumah tangga yang mawaddah dan rahmah. Hal ini terjadi karena suami Siti Islam sendiri adalah raja yang berhasil memimpin umatnya. Ketika mereka berdua harus melaksanakan ritual atas meninggalnya orang tua Siti Islam. seluruh masyarakat dan rakyat yang ada di wilayah tempat tinggal Siti Islam dan suaminya membantu dan saling bahu.Hal ini dapat dilihat ketika ia mendengar keluhan Siti Islam tentang orang tuanya yang sedang sakit.1 Tahun 2012 . Karena itu.

Lingkungan di hutan yang terdiri dari berbagai macam binatang sangat sayang kepada Siti Hazanah. termasuk kebutuhan untuk beribadah. Siti Hazanah akhirnya memutuskan untuk keluar dari kampung tersebut dan pergi menyendiri di hutan serta berpisah dengan suaminya. Tanggapan masyarakat menjadi keliru terhadap Siti Hazanah. Siti Hazanah menerimanya dengan penuh kesabaran dan ketabahan. keluarga. namun sebagai manusia ia memiliki keterbatasan. Siti Hazanah hidup dalam lingkungan yang kurang menguntungkan bagi dirinya. suami Siti Hazanah sangat sayang kepada isterinya. terutama suami mereka. Naskah ini juga menunjukkan bahwa salah satu ciri perempuan Aceh adalah patuh kepada ajaran agama dan tangguh menghadapi segala cobaan dan rintangan. Isi naskah Hikayat Siti Islam diperuntukkan kepada Jumantara Vol.1 Tahun 2012 65 . Mereka bahu membahu memberi bantuan dan perlindungan kepada Siti Hazanah. Adik suaminya berani mengganggu Siti Hazanah yang sedang sendirian karena ditinggal suami untuk pergi haji. Di satu sisi. Segala fitnah dan penyiksaan dari masyarakat luas ditimpakan kepada Siti Hazanah. sehingga Siti Hazanah mendapatkan ketenangan hidup. 3 No. Ia memberikan kebutuhan isterinya dalam berbagai sisi.Meskipun demikian. keluarga suaminya tidak menghargai Siti Hazanah sebagai bagian dari keluarganya yang perlu dilindungi dan dijaga kehormatannya. Karena tidak berhasil untuk mengotori kehormatan Siti Hazanah. Di sisi lain. ia pun dengan beraninya menjelekkan dan memfitnah Siti Hazanah di hadapan masyarakat luas. Lifestyle Perempuan Aceh Dan Isi Teks Dua naskah di atas memberikan gambaran dan pengajaran kepada perempuan Aceh dalam menjalani kehidupan rumah tangga. dan masyarakat. yaitu makrifatullah. Ia dapat menjalankan ibadah dengan baik sampai akhirnya ia mendapatkan derajat paling tinggi dalam kesufiannya.

pengajaran seperti yang terdapat dalam hikayat tersebut dijumpai dalam bahan ajar untuk santri. ketika menjumpai guru pulang dari Mekkah. Di dayah Darussaadah dan Darussalam Teupin Raya. 3 No. seperti kitab fikih terkait dengan hal yang layak dan tidak layak dilakukan.perempuan Aceh agar mereka dapat membaca dan mengikuti ajaran dan perilaku serta konsep yang wajar menurut Islam. Para perempuan/isteri pada umumnya tunduk dan patuh kepada suaminya tanpa mengharap imbalan apa pun selain rida dari Tuhannya. Bacaan-bacaan dari berbagai kitab yang disediakan di dayah menjadi tauladan dan pedoman mereka dalam bergerak dan bertindak di dalam kehidupan sehari-hari. seperti hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. terutama dengan suami diuraikan secara detail. 66 Jumantara Vol. terutama pada masyarakat tradisional yang tinggal di desa dan dayah. suami adalah orang yang patut dihormati. Pada intinya. yang belum terkontaminasi oleh budaya luar. perempuan harus secara total berada di bawah penguasaan suami. Setiap santri dan masyarakat kampung lain mencium lutut gurunya ketika bertemu untuk belajar dan ketika selesai belajar. dan hal yang dianjurkan dan tidak dianjurkan agama dalam berumah tangga dan bermasyarakat. Cara kehidupan sehari-hari yang harus dipraktikkan dalam kehidupan berumah tangga. mereka juga membaca kitab-kitab lain. Di dayah. Tradisi tersebut juga diberlakukan kepada orang yang patut dihormati. Dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga. tradisi ini masih berlaku hingga sekarang. agar dapat dicontoh oleh perempuan Aceh pada umumnya. serupa dengan seorang guru. Tradisi yang masih sangat jelas dilihat di Aceh adalah tradisi mencium lutut ketika suami pulang dan datang dari jauh atau pada hari-hari tertentu. hal seperti yang diungkapkan dalam naskah di atas sebagian besar telah diterapkan oleh perempuan Aceh. Tidak hanya itu.1 Tahun 2012 . misalnya guru mereka. dan salah satu cara penghormatan adalah dengan mencium lututnya. Karena itu. misalnya. Pidie. yaitu yang sesuai dengan ajaran Nabi.

tk/2011/04/putroe-jeumpa-manyang-seuleudongmaha. maka hal yang pertama sekali dilakukan isteri adalah mencium lutut suami sebagai tanda penghormatan awal kepada suami. Contoh lain tokoh-tokoh perempuan Aceh yang berani berada di garis depan dalam berjuang melawan penjajah Belanda yang ingin meruntuhkan agama dan negara adalah Cut Nyak Dhien. 2008:14). Putroe Manyang Seuleudong atau ada yang menyebutnya dengan Dewi Ratna Keumala. agama dan negara mereka telah diabadikan dalam sejarah. Cut Meutia.Di desa-desa yang dekat dengan dayah. Anak Meurah Jeumpa.1 Tahun 2012 67 .10 Ketangguhan seorang perempuan dalam berjuang mempertahankan agama dan kehormatan dirinya seperti yang diceritakan dalam naskah kedua juga terlihat dalam jati diri perempuan Aceh. yang cantik rupawan serta cerdas dan berwibawa telah mendukung karir dan perjuangan suaminya sehingga berhasil mengembangkan sebuah Kerajaan Islam yang berwibawa di wilayah tersebut.html Jumantara Vol. (Haslinda. Malahayati. Aceh Utara. baik dalam memperjuangkan keluarganya maupun agama dan negara. namun dalam setiap tindakan yang mereka 10 11 Hasil observasi di wilayah Pidie. seorang isteri diwajibkan mencium lutut suami pertama sekali adalah ketika berlangsungnya acara pernikahan. Pasai. tentang seorang perempuan di Bireun yang telah berhasil mendorong suami dan anak-anaknya untuk menjadi raja. dan tangguh. dan Aceh Besar. Pedir dan Aceh Darussalam11. berani. dan para inong balee lainnya. 3 No. Sebagaimana contoh yang diuraikan dalam sejarah. Dapat dikatakan bahwa keberhasilan Aceh dalam sejarah sebagiannya adalah karena campur tangan perempuan Aceh. Ketangguhan mereka dalam menghadapi dunia yang tidak sejalan dengan kepribadian.atjehcyber. Setelah selesai ijab qabul. Selanjutnya dikatakan kerajaan tersebut menjadi cikal bakal lahirnya Kerajaan Islam lain di wilayah Perlak. Perempuan dari suku Aceh dikenal dengan sifat dan wataknya yang agamis. Lihat http://www. Gerak dan langkahnya yang tiada mengenal lelah telah mewarnai sejarah Aceh.

Ia lalu berniat ingin melaksanakan ibadah haji. atas izin suaminya. apalagi untuk berjuang. yaitu tidak adanya suami sebagai muhrim untuk pergi jauh. ia bergerak mengumpulkan perempuan-perempuan lain untuk berjuang melawan Belanda. namun masalah timbul lagi. Cut Nyak Dhien melakukan perjuangan terhadap Belanda atas izin suaminya.1933M). suaminya kemudian meninggal lagi. Aduhai do ku do da idi (Aduhai do ku do da idi) Meurah Pati ateuh awan (Burung Merpati di atas awan) Beuridjang rajeuk Banta Saidi (Cepat Besar Anakku Sayang) 68 Jumantara Vol. Dalam lirik lagu yang disenandungkan bagi anak-anak balita. tercermin peran mereka. Ia pergi berdampingan membantu suaminya terjun ke dalam medan perang. Cut Meutia. Kehidupan mereka tetap berada di bawah penguasaan suami. Kali ini suaminya meninggal di tanah suci. Pada mulanya ia mendukung penuh suaminya untuk berjuang melawan Belanda. pada masa perjuangan melawan Belanda. Akan tetapi dalam berjuang. ia tidak bisa dengan leluasa berjuang di tengah-tengah masyarakat banyak. 2004:31-44). Teungku Fakinah dari Lam Krak. apalagi untuk beribadah.lakukan telah mendapatkan izin sebelumnya dari suami mereka. karena pandangan masyarakat umum menjadi tidak bagus bila ia sendirian tanpa ada laki-laki yang mendampinginya pergi keluar. perempuan Aceh mampu berperan sebagai isteri yang sabar menanti suaminya pergi berperang dan dengan setia menjaga anak-anaknya. Akhirnya ia menikah untuk ketiga kalinya. Akhirnya ia memutuskan untuk menikah lagi. Di dalam rumah tangga. (Ismail. Aceh Besar (1856 . bergerak melawan penjajah. Setelah suaminya meninggal. Malahayati berjuang melawan penjajah melanjutkan perjuangan suaminya yang telah mendahuluinya di laut.1 Tahun 2012 . adalah contoh perempuan Aceh lainnya yang memiliki semangat dan jiwa yang luhur untuk memperjuangkan agama dan negaranya. Ia kembali berdiam di dayah dan mengajar mengaji para santrinya. Meskipun demikian. 3 No.

setidaknya ada tiga faktor yang membentuk gaya hidup perempuan Aceh seperti tersebut di atas. Pengaruh pendidikan ini telah membuat perempuan Aceh secara mutlak tunduk dan patuh kepada orang tua sebelum menikah dan kepada suami setelah menikah. Mereka tetap berada di bawah kekuasaan laki-laki. Adalah kewajiban orang tua untuk memasukkan anak perempuannya ke pendidikan agama. 338-339). 3 No. Terkadang para suami memanfaatkan kesempatan ini dengan 12 Lihat http://www. pengaruh didikan orang tua yang sejak kecil menanamkan pendidikan Aagama dan cara bergaul Islami. (Muslikhati. Selain dari itu. 2004:114-122). Perempuan Aceh sangat taat kepada agama. Tidak ada pilihan lain. Meskipun ayat tersebut diperuntukkan kepada laki-laki yang mencari nafkah. Kejayaan menguasai negara juga tidak sepenuhnya berada di tangan perempuan. Perempuan berbeda dengan laki-laki dalam hal kekuatan fisik sehingga ia perlu mendapatkan perlindungan dari laki-laki. (Shihab: 2005. Pertama. tetap berada di bawah pengontrolan suaminya. Kemudian perempuan mendapatkan tempat lebih banyak di rumah untuk menjadi sebagai ibu dan menjaga keluarga dan harta suaminya.Djak Prang Sabi Bela Agama (Pergi ke Medan Perang Membela Agama)12 Karena itu dapat dikatakan bahwa setiap aktivitas perempuan Aceh.html Aceh/12981-Posisi-Perempuan-Dalam-Politik- Jumantara Vol. 2002). karena didikan orang tua untuk menyantri. meskipun dia berada di luar rumah untuk kepentingan umat dan agamanya. yaitu pendidikan menyantri di pesantren. Siapno mengatakan bahwa kebebasan perempuan Aceh tidak sepenuhnya berlaku.1 Tahun 2012 69 . Ajaran Islam telah mengatur hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki sesuai dengan fungsinya masing-masing. Selanjutnya perempuan adalah makhluk yang dipimpin oleh laki-laki karena adanya ayat yang mengatakan bahwa laki-laki sebagai qawwam. karena di luar dia harus dijaga oleh suami sebagai muhrimnya.Gender Melayu-Aceh. (Siapno.

ia bermimpi bertemu dengan Nabi. Dikatakan bahwa pada waktu malam hari.memperlakukan isterinya sekehendak hati. 1979: 26-27). pengaruh pendidikan tradisional yang agamis yang diperoleh dalam menyantri di dayah selama bertahun-tahun. Melalui dayah juga. Kedua. mulai dari perjuangan menghadapi Portugis. isteri. seorang santri perempuan berani melakukan perjuangan untuk kepentingan agamanya dengan membunuh kontroler Belanda. tepatnya pada tahun 1919M. kemudian. terbentuk pola pikir perempuan Aceh untuk mempertahankan agama lebih dari segalanya. juga mampu berperan di luar rumah. dan sebutan umum untuk isteri oleh suaminya menjadi peureumoh. Perempuan sepertinya tidak kuasa untuk melawannya. (Kern. mencari 70 Jumantara Vol. lingkungan yang mendidik mereka untuk berjiwa besar dan tangguh. Jepang. Aceh Utara. Tempat pengaduannya hanyalah Tuhan yang Maha Esa. Perempuan Aceh hidup dalam sejarah perjuangan yang cukup panjang. di Matang Kuli. Ketiga. Selanjutnya. idiom untuk perempuan sebagi isteri adalah njang po reumoh (yang memiliki rumah) (Siegel. Belanda. 3 No. berfungsi melayani suami dan menjadi ibu untuk anak-anaknya sebagai hal yang mutlak. Reaksi Sosial Terhadap Perilaku Perempuan Di Aceh Model kehidupan yang dipraktikkan oleh perempuan Aceh. karena kondisi politik dan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sebagian besar tertumpu kepada mereka. 1969:51) di dalam rumah tangganya.1 Tahun 2012 . dan kemudian setelah kemerdekaan konflik telah terjadi berkali-kali di Aceh. dan Nabi memerintahkan untuk membunuh kafir yang mengganggu agama dan negaranya. Hal ini tetap berlangsung sampai dewasa ini. Pada masa perjuangan melawan Belanda. dimanfaatkan oleh lawan jenisnya untuk mengambil berbagai keuntungan. Akhirnya para isteri hanya bisa pasrah dan kembali kepada Tuhan yang Maha Esa. Dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tersirat maknanya bahwa seorang isteri tempatnya di rumah. kadang.

. yaitu bahwa seorang isteri kadang harus menyuapi atau memasukkan makanan ke dalam mulut sang suami. Mereka diizinkan para suami mereka untuk keluar rumah mencari nafkah. (Reid. terutama suaminya.. Tidak jarang perempuan Aceh diperlakukan buruk oleh para lelaki. perempuan Aceh telah menunjukkan kemampuan untuk melakukan dua fungsi tersebut... sebagaimana dipaparkan dalam naskah bahwa Siti Islamdengan segala sukarelanya melayani suaminya hingga dalam bentuk yang sekecil-kecilnya.13 Tekait dengan penyalahgunaan kemampuan yang dimiliki 13 Untuk isi hadis secara keseluruhan dan cerita lebih rinci lihat Muslikhati. Nabi memberikan jawaban kepada pertanyaan yang diajukan oleh seorang perempuan yang mewakili perempuan lain. Penyalahgunaan kemampuan perempuan pun muncul. 2006). 3 No. sampai pada tahap mencuci tangan suami bila ia hendak makan. dipaksa memeras tenaganya lahir dan batin dalam menanggung beban keluarga.1 Tahun 2012 71 . serta tidak luput juga melayani suami yang tinggal menunggu yang sudah jadi dan masak. Pada abad 16-17M. Jumantara Vol. Pergilah kepada perempuan mana saja dan beritahukanlah mereka yang ada di belakangmu. Bahkan kadang lebih tragis lagi. 2004:127-129. Di dalam teks disebutkan: Oh neupajôh bu jirah jaroe Ketika makan suami dia [Siti Islam] mencuci tangan suaminya Mungkin aktivitas utama perempuan ada di sektor domestik sesuai dengan fitrahnya sebagai perempuan yang berbeda dengan laki-laki. Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Baihaqi. Mungkin menjadi wajar bila isteri melayani suami hanya di rumah saja. (HR alBaihaqi). mencari keridaan suaminya. yaitu. membesarkan anak-anaknya.nafkah untuk kebutuhan keluarganya. tidak untuk mencari nafkah di luar. dan mengikuti keinginannya adalah mengalahkan semua itu. bahwa kebaikan salah seorang di antara kalian (para perempuan) dalam memperlakukan suaminya.

perempuan. „Peusijuek. Sebuah Tradisi Ritual Sosial Masyarakat Pasee dalam Perpektif Tradisionalis dan Reformis‟ artikel dipresentasikan pada International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. Budaya Aceh sangat mungkin masih diwarnai sisa pengaruh budaya Hindu14 meskipun sebenarnya ajaran Islam lebih mendominasi. ibarat dagangan yang 14 Pengaruh kental dari budaya Hindu di Aceh masih dapat dilihat dalam cara pelaksaaan ritual peusijuek (tepung tawar). Perempuan yang baru menikah sering kali disendaguraukan oleh keluarga pihak suami bahwa dia harus tunduk dan patuh dan melayani suami serta keluarga karena sudah dibeli. di desa-desa masih ditemukan lelaki beristeri yang duduk berjam-jam di kedai kopi menghabiskan waktu untuk menunggu si isteri pulang kerja dan selesai memasak. dewasa ini. tidak hanya berlaku pada perempuan Aceh. 23 – 24 February 2009. 72 Jumantara Vol. 3 No. akan tetapi juga pengaruh budaya masa lampau. sementara Pak Pande sendiri bermalasmalasan menunggu dari hasil yang dibawa oleh isterinya untuk kebutuhan rumah tangganya. Lihat karya Saifuddin Dzuhri. Cerita lisan juga didapatkan dari rakyat Aceh tentang kisah kehidupan keluarga Pak Pande. akan tetapi di wilayah lain juga. meskipun sudah dimodifikasikan dengan ajaran Islam. yaitu masa sebelum datang Islam. Eksploitasi terhadap perempuan mungkin tidak hanya ditinjau dari sisi keinginan dan kemauan para laki-laki saja. Banda Aceh. Isteri Pak Pande adalah orang yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarganya. maka para perempuan bertugas menanam padi sementara suami duduk di atas rangkang menonton isteri bekerja. Bila mereka pergi ke sawah. seorang isteri dikatakan baik bila ia dapat menunjukkan keberhasilan mengurus suami. seperti Batak. Tradisi seperti di atas. Indonesia. keluarga dan saudara pihak suami dalam menyiapkan segala kebutuhan rumah tangga dan dapat mencari nafkah di luar15. 15 Hasil observasi dan wawancara dengan perempuan-perempuan asal Batak. 2002:91-101). yang masih tersisa dari satu generasi ke generasi selanjutnya. (Siapno. Kemungkinan besar hal ini didasarkan kepada tradisi pernikahan yang berlaku di Batak. Di Batak.1 Tahun 2012 .

2006:251-253). sementara perempuan yang tinggal di perkotaan. dan anaknya. 3 No.sudah dibeli. Boli dan tuhor ini. Kata beli dalam bahasa Batak disebut dengan boli atau disebut juga dengan tuhor. yaitu mereka berada pada posisi di bawah kekuasaan laki-laki. gaya hidupnya sudah dipengaruhi oleh gaya hidup „modern‟ yang datang dari berbagai budaya di dunia. dan bila juga terjadi. Setelah diberikan tukon (mahar) perempuan dianggap seperti barang yang sudah laku dan dia seratus persen berada di bawah kekuasaan suami dan keluarganya. kemudian setelah datang Islam. meskipun tidak separah pada suku Batak dan Bali yang Jumantara Vol. isteri hanya melahirkan saja. Hal ini terjadi karena pengaruh sistem budaya lokal dan kemudian dipadukan dengan budaya dan ajaran Islam. Tradisi seperti ini memiliki kemiripan dengan tradisi yang berlaku pada masa Majapahit. Kehidupan mereka diwarnai sifat patrilineal. baik dalam sejarah maupun dalam kehidupan sekarang ini pada masyarakat pedesaan. Penutup Kisah perempuan dalam dua manuskrip Aceh yang menjadi fokus dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai refleksi gaya hidup perempuan pada umumnya di Aceh. Karena itu. dapat dikatakan bahwa bias gender masih sangat kentara untuk suku Aceh. 1993: 270-271). Korelasi positif ditemukan dalam sikap dan tingkah laku serta gaya hidup perempuan. keluarga. terutama mereka yang tinggal di pedesaan terpencil dan jauh dari pengaruh budaya luar. Seperti dalam hal mencari jodoh anaknya si ibu tidak punya hak sama sekali untuk menjodohkan anaknya. Anak adalah milik suami. si isteri hanya berfungsi sebagai pelayan semata untuk suami. Dia tidak memiliki hak sama sekali untuk mengatur dan membuat keputusan dalam rumah tangga. yang menandakan bahwa perempuan tersebut sudah sah menjadi isteri suaminya. maka ayahnya dapat menceraikan anaknya.1 Tahun 2012 73 . berubah maknanya menjadi mahar yang diserahkan kepada pihak calon isteri. (Parsadaan Marga Harahap. (Muljana. Dalam rumah tangga.

Selain dua manuskrip di atas. Fakhriati (2008). W. Dhuhri.masih memperlakukan perempuan sebagai manusia kedua setelah laki-laki dan membebani mereka dengan pekerjaan di dalam dan di luar rumah tangga. diedit oleh Seyyed Hossein Nasr dkk. “Teungku Fakinah: Profil Ulama dan Pejuang Perempuan Aceh”. Amsterdam: Enno Hertzberger & Co. England. diedit oleh Ali Munhanif. dalam Warisan Sufi.1 Tahun 2012 . Nurjannah (2004). 3 No. R. Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh melalui Naskah. Jakarta: Gramedia. diterjemahkan oleh Ade Alimah dkk. Daftar Pustaka Austin. Jakarta: Balitbang dan Diklat Departemen Agama RI. (1935).A. “Peusijuek. Kautsar dan Oman Fathurrahman (2002). J. “Feminin Sofianik (Perempuan Bijak) dalam Karya Ibn Arabi dan Rumi”. dalam Mutiara Terpendam: Perempuan dalam Literatur Islam Klasik. Watermarks in Paper in Holland. Sebuah Tradisi Ritual Sosial Masyarakat Pasee dalam Perpektif Tradisionalis dan Reformis”. Jogjakarta: Pustaka Sufi. (2003). Banda Aceh. 23 – 24 February 2009. Azhari Noer. penelitian untuk kajian perempuan masih harus terus dilakukan untuk mengungkapkan budaya-budaya pada masa lampau yang menjadi bagian hidup perempuan. W. Saifuddin (2009). Indonesia.. Karena itu. France in the XVII and XVIII Centuries and their Interconnection. Churchill. Ismail. dalam Ensiklopedi Pemikiran 74 Jumantara Vol. masih banyak manuskrip Aceh lainnya yang menceritakan tentang hal yang berkaitan dengan perempuan di Aceh. karena diketahui bahwa Aceh adalah salah satu gudang manuskrip Nusantara. Makalah International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. “PriaPerempuan sebagai Korespondensi Kosmis: Perempuan dalam Literatur Tasawuf”.

Jakarta: Gema Insani. London: Routledge-Curzon. Umar. Paradigma baru Teologi Perempuan. Kodrat Perempuan dalam Islam. Shihab. Islam. Kern. M.n]: Pelita Hidup Insani. Siapno. Singapore: Singapore University Press. IAIN Ar-Raniry Press. Tafsir Sejarah Nagarakretagama. ---------------------. Yogyakarta: LKiS. Special Issue: Asian Studies in Honour of Professor Charles Boxer. Heawood. Jacqueline Aquino (2002). Bandung: Grafiti. Anthony (1988). The Rope of God. By Aboe Bakar. Watermark: Malay of the 17th and 18th centuries. A. Gender. R. (1979). James T (1969).) (2006). [s. 629-645. Edward (1986).Ulama Aceh. 22. Perempuan. Nationalism and the State in Aceh: The Paradox of Power. Perempuan Aceh dalam litas sejarah Abad VIII – XXI. Muslikhati. Slamet (2006). Jumantara Vol. Siegel.(2000). 3 No. Anthony (eds. Horja Adat Dalihan Natolu.3. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh.1 Tahun 2012 75 . Jakarta: Fikihati Aneska. Jakarta: Lentera Hati. Haslinda (2008). Reid. Quraish (2005). Hasil Penyelidikan tentang Sebab Musabab terjadinya Pembunuhan. Amsterdam: The Paper Publications Society. Siti (2004). Verandah of Violence: the Background to the Aceh Problem. Co-optation and Resitance. hlm. Reid. Berkeley: University of California Press. Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan dalam Timbangan Islam. Parsadaan Marga Harahap Dohot Anak Boruna (1993). “Female Roles in Pre-Colonial Southeast Asia”. Trans. No. Modern Asian Studies Vol. Syahrul. Muljana. Jakarta: Fikahati Aneska. Nasaruddin (2000).

3 No. 76 Jumantara Vol.Gender Aceh/12981-Posisi-Perempuan-DalamPolitik-Melayu-Aceh.atjehcyber.html.1 Tahun 2012 .Situs Web: http://www. http://www.tk/2011/04/putroe-jeumpa-manyangseuleudong-maha.html.

atepkurnia@yahoo.Abstrak Tulisan ini bermaksud memetakan hal-hal yang berkaitan dengan kolofon Naskah Sunda Kuna (NSK). Bergiat di Rumah Baca Buku Sunda. Untuk menganalisis identitas penulis-penyalin. Sebagai titik pijak saya menggunakan penelusuran Munawwar Holil dan Aditia Gunawan (2010) atas NSK koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. di samping yang disimpan oleh masyarakat. Jumantara Vol. pertama-tama saya menyajikan tabel yang berisi kode. Bisa dihubungi melalui surat elektronik. dan Sanggar Sastra Kampus (Sasaka) UIN Sunan Gunung Jati. yang diterjemahkan oleh Saleh Danasmita. judul. 16 Kata-kata ini bisa ditemukan pada baris-baris akhir Kropak 408 (Sewaka Darma). nama penulis-penyalin. saya melakukan analisis atas penulis-penyalin. mencakup identitas penulis atau penyalin. tempat. tempat. dengan pertimbangan bahwa di Perpustakaan Nasional tersimpan NSK dalam jumlah terbesar. 3 No. serta tempat dan waktu penulisan NSK. tempat. dkk (1987:72) sebagai “ditulis di jalan”. Kedua.com.1 Tahun 2012 77 . Kata Kunci: Naskah Sunda Kuna. dan waktu penulisan naskah. Kolofon. dan waktu penulisan. *) Peneliti di Pusat Studi Sunda (PSS). dan waktu penulisan NSK.

Kedua. Dari lampiran tersebut dapat diketahui ada beberapa puluh NSK yang mengandung kolofon di akhir teksnya. 3 No. dan terjemahan NSK yang selama ini telah dikerjakan para filolog dan peneliti NSK. tempat. Saya juga menggunakan berbagai sumber bacaan untuk menambah luas pemahaman. Oleh karena itu. termasuk di dalamnya. dan waktu penulisan NSK sebagaimana yang saya baca pada tulisan Munawwar Holil dan Aditia Gunawan serta bahan-bahan dari bacaan lainnya. dan waktu penulisan NSK. Selasa Manis 78 Jumantara Vol. juga digunakan sebagai perbandingan untuk membaca identitas penulis-penyalin. serta tempat dan waktu penulisan NSK. Di samping menerakan jumlah NSK. Selain itu. Perpustakaan Nasional mengoleksi 63 Naskah Sunda Kuna (NSK). Tabel Kolofon Naskah Sunda Kuna Koleksi Perpustakaan Nasional RI No 1 Kode 1**Peti 85 Judul Sanghyang Siksa Kandang Karesian 2 408 Peti Kawih Buyut Ni Pertapaan Ni Teja Puru Penulis Tempat Nusakrata? Waktu Bulan ke10. dan India. tempat. yang pada gilirannya ditambahkan pada tabel yang telah dibuat. bahan-bahan bacaan mengenai perikehidupan kegiatan literasi di Jawa Tengah dan Timur. transliterasi. saya melakukan analisis atas penulispenyalin. Bali. nama penulis-penyalin. sejauh yang saya baca. untuk keperluan tulisan ini penelusuran keduanya sangat membantu. dan waktu penulisan. kedua penulis itu juga melampirkan pemerian NSK yang ada di Perpusnas RI. pertama-tama saya menyajikan tabel yang berisi kode.Pendahuluan Menurut hasil rekatalogisasi Holil dan Gunawan (2010). tempat. transkripsi. Untuk menganalisis identitas penulis-penyalin.1 Tahun 2012 . karena kedua penulis itu juga menyeertakan manggala atau awal teks NSK dan kalimatkalimat yang ada di akhir teksnya. judul.

buyut Téjanagara Gn. Kuta Wawatan. Larang Sri Manganti Gn. Jedang bulan ke-4 11 622 Peti 88 Warugan Lemah Rabu Manis 12 623 Peti 16 Bimaswarga/Bi maleupas Euncu nu Ngahérang Gn. bulan ke-8 Jumantara Vol.1 Tahun 2012 79 .Cikuray. Cikuray bulan ke-1 13 625 Peti 88 Sri Ajnyana Mandala Betung Pamaringinan. Larang Sri Manganti 4 411 Peti 15 Ratu Pakuan 5 416 Peti 15 Carita Purnawijaya Kai Raga Gn. Gn. Cisanti Bulan ke-8 14 626 Peti Sanghyang Buyut Gn. Larang Sela 8 424 Peti 15 Kawih Panyaraman 9 610 Peti 15 Pitutur ning Jalma cucu Sang Sida. Larang Sri Manganti Gn.16 Panyaraman Dawit Bacana. Larang Sri Manganti 6 420 Peti 15 Kawih Paningkes Kai Raga Sutanangtung 7 423 Peti 15 Carita Purnawijaya Kai Raga Gn. Kumbang 3 410 Peti 15 Carita Ratu Pakuan Gn. Gn. 3 No. Cikuray 10 621 Peti 15 Sanghyang Sasana Maha Guru Desa Mahapawitra.

1 Tahun 2012 . 1357 Ś (± 1435 M). selesai hari pon bulan ke-9. 1440 Saka (1518 M) 17 632b Peti 16 Kaluputan Sanghyang Darma Hulu Kumbang Batu Wangi Desa Sunya bulan ke10 18 633 Peti 16 Siksa Guru 19 634 Peti 16 Sanghyang Hayu Désa Mahapwité. 3 No. Gn. Talagacandana . Tajak Barat. Tajak Barat 22 638 Peti 16 Sanghyang Hayu Argasela.69 Swawar Cinta Téjanagara Hulukumbang Batuwangi 15 628 Peti 16 Siksa Guru Lurah Kamulan? 16 630 Peti 16 Sanghyang Siksa Kandang Karesian bulan ke3. Giri Wangsa 1445 Ś (± 1523 M) 20 636 Peti 16 Sanghyang Hayu Sang Bujangga Resi Laksa Giri Sunya 21 637 Peti 16 Sanghyang Hayu Désa Mahapawita. Cupu dimulai Selasa Kliwon. 80 Jumantara Vol. bulan ke-7.

Sang Bujangga Resi Laksa.1 Tahun 2012 81 . Darsa (2007:217) sebagai “hasil belajar menulis”. Penulis perempuan diwakili Buyut Ni Dawit. Mandala Puntang 26 1097 Peti 69 Carita Jati Mula Sagara Wisésa 27 KBG 75 Wirid Kai Raga Jum’at Kliwon. Kai Raga. Cucu Sang Sida/Buyut Tejanagara. Hulu Alas Sunya. yakni Buyut Ni Dawit. Jumantara Vol. 3 No. Euncu nu Ngaherang. Bulan Muharam “Beunang Diajar Nulis17” Dari tabel di atas. Buyut Tejanagara. Ketujuh nama di atas. Jati Sunya. dengan jelas menunjukkan jenis kelamin berbeda. sementara penulis 17 Kata-kata ini muncul pada baris-bari menjelang akhir NSK Kropak 410 (Carita Ratu Pakuan).23 641 Peti 16 Arjunawiwāha sang Guguron? Sanghyang Mandala Katyagan di Gugur 1256 Ś (1334 M). dan Sang Guguron. Ada penulis perempuan dan ada juga laki-laki. yang diterjemahkan oleh Undang A. kita berkenalan dengan tujuh nama penulispenyalin NSK. 24 642 Peti 88 Siksa Guru Desa Mahapawitra Tahun Saka hlaŕ twa ya wu? 25 1095 Peti 69 Langgeng Jati Gn.

18 Datang seorang pertapa perempuan. dkk18. “dikasayan”. Untuk memperluas bahasan mengenai keterlibatan perempuan dalam kegiatan baca-tulis dalam NSK. dan “dipesekkan”. Ada petunjuk bahwa pengarangnya wanita. ada keterangan menarik mengapa ia diasumsikan sebagai perempuan. na rua mamarayaeun. Inilah gambarannya: 850 Datang tiagi (wa)don. dapat kita jadikan salah satu rujukan. Buyut Ni Dawit adalah seorang wanita. misalnya. Selengkapnya Danasasmita menyatakan: Bila kata “buyut” berarti cicit. spk. rupanya ingin menjalin persaudaraan. Téka béka mulung lanceuk. Pada halaman 39 iapun asyik mengisahkan sebuah gisa (lesung) dengan istilah-istilah yang khas untuk wanita seperti “dyangiran”. 3 No. Di samping itu. ada baiknya dilihat sumber lain yang terkait dengan hal tersebut. Hingga terus-terang menganggap kakak. carékna: „Kaka lanceuking. Pada baris ke-850 hingga 868 naskah itu. Buyut Téjanagara. NSK Bujangga Manik. dan Sang Guguron belum dapat dipastikan jenis kelaminnya. Euncu nu Ngahérang. katanya: „Kakandaku. tentu penyusunnya adalah cicit Ni Dawit tanpa diketahui siapa namanya. Mengenai Buyut Ni Dawit. Menurut Saleh Danasasmita.laki-laki diwakili Kai Raga dan Sang Bujangga Resi Laksa. Sedangkan Cucu Sang Sida/buyut Téjanagara. Saleh Danasasmita. iapun paham benar kelengkapan pakaian bidadari yang tentu dikhayalkannya dari pakaian wanita bangsawan dalam zamannya. (1987: 1) 82 Jumantara Vol. sebab ia bertapa di Gunung Kumbang di pertapaan Ni Teja Puru Bancana. digambarkan Bujangga Manik “digoda” oleh rahib perempuan. bukan gelar kehormatan untuk pertapa ulung.1 Tahun 2012 .

Hinzler (1993: 464) menyatakan: There was no caste or sex restriction on learning to write. rusuh ku na panga/wakan.R. manan hésé ku mamanéh. kemarilah. Hinzler perihal naskah-naskah lontar di Bali20 bisa juga dijadikan rujukan. sudah pasti terjadi kebakaran. Ketika membahas para penulis atau penyalin naskah (scribes). 19 20 J. Yang berjudul Siksaguru.‟ begitulah antara laki-laki dengan perempuan19. H. /16r/ repot karena penampilan badan. jika berdekatan dengan ijuk.I. aku ini rahib perempuan. aing na pitiagieun.Rakaki Bujangga Manik. mu(ng)ku burung éta seungeut. daripada sulit-sulit memikirkan diri sendiri. Tiga Pesona Sunda Kuna (2009: 298-299). Teeuw. héman ku na karuaan. 3 (1993: 438-473) Jumantara Vol.” Di samping Bujangga Manik. „Balinese Palm-Leaf Manuscripts‟ dalam BKI 149 No.‟ 860 Carékna Bujan(ga) Manik: Bujangga Manik berkata: „Ku ngaing dirarasakeun. Carék di na apus téa: Menurut kitab itu: 865 “Kadiangganing ring geni. Kubawa kitab selengkapnya.1 Tahun 2012 83 . Bawaing apus sata(m)bi. Hinzler. Literary sources show this as early as the sixteenth century. 855 haup aing ebon-ebon. Noorduyn & A. aku calon biarawati. 3 No. Yang mulia Bujangga Manik.‟ sayang sekali akan ketampananmu. “Bagaikan kobaran api. lamun padeukeut deung eu(n)juk. but data in texts from the nineteenth century are the most abundant. „Biarlah kupertimbangkan dahulu. Ngaran(n)a na Siksaguru. References to males and females being able to read and write are to be found in literary texts as well as in the colophons of manuscripts. tulisan H. kitu lanang deungeun wadon”.

Kalau dikaitkan dengan nama satu orang pasti mengandaikan orang yang berumur sangat panjang. naskah kertas daluang. berbahasa Sunda kuna. Sebagaimana kita ketahui. Di dalamnya. Hal ini dapat dibuktikan dari beberapa naskah yang ditulisnya. yang menarik adalah Kai Raga. bahwa Kai Raga melintasi zaman yang sangat panjang. Demikian pula dengan NSK L 423 yang juga ditulis oleh Kai Raga. Tengah. Dari keempat naskah yang diakhiri dengan keterangan Kai Raga. bulan Muharram. Hal tersebut mengindikasikan. di atas daun lontar. 84 Jumantara Vol. Nama penulispenyalin ini agaknya bukan nama sebenarnya. dan agaknya hal itu dapat diparalelkan dengan kehidupan para pembaca dan penulis yang hidup di Jawa Timur. terutama setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit. Selanjutnya. Menurut Holil dan Gunawan (2010: 146). beraksara dan berbahasa Sunda Kuna dan berisi dialog yang bersifat moral-religius antara pendeta dengan Pwah Batari Sri sebagai penguasa alam kahyangan.Dari uraian Hinzler. bersampul kertas marmer berwarna merah dan berjumlah 12 halaman itu berisi perihal asal-usul terciptanya alam dan manusia. di penghujung abad ke-15. dan Jawa Barat. Bila diterapkan pada tradisi menulis NSK. terselip naskah yang berisi unsur keislaman. misalnya NSK Kropak 420 yang ditulis di atas lontar.1 Tahun 2012 . diterangkan pula tentang persiapan dan pelaksanaan kegiatan peribadatan. yakni NSK “Wirid” (KBG 75). yang isinya hampir sama dengan NSK L 420. Karya yang ditulis Kai Raga tersebut bisa jadi sangat kontras dengan naskah lain yang tertulis atas namanya. ditulis Kai Raga pada hari Jum‟at Kliwon. 3 No. sekiranya tradisi menulis dan membaca naskah masih hidup di wilayah yang bersangkutan. Bisa jadi nama itu adalah nama gelaran. tradisi menulis manuskrip di Bali sangat terpengaruh budaya literasi India dan Jawa Timur. maka hal tersebut pun agaknya tidak akan jauh berbeda. beraksara Sunda Kuna dan Cacarakan. tidak ada pembatasan yang jelas [dalam hal kasta dan jenis kelamin] penulis dan pembaca naskah ketika tradisi itu hidup di Bali.

Pada mulanya Kampung Sri Manganti termasuk dalam wilayah Desa Cigedug. namun kampung tersebut tidak dikenal lagi karena telah ditinggalkan penduduknya. Huls van Taxis. Menindaklanjuti perjalanan itu. Selain itu. Menurut penemuannya. penelusuran Pleyte mengenai Kai Raga dan tulisan Hinzler dapat digunakan untuk membaca perihal tidak dipentingkannya nama pribadi bagi para penulis-penyalin naskah yang masih berada di bawah bayang-bayang budaya literasi Hindu-Budha. Garut. Pleyte menelusuri identitas Kai Raga21. Pleyte meyakini orang tersebut dipastikan telah meninggal dan tidak meninggalkan keturunan. Saat itu.M. ia mendapat keterangan dari lurah Desa Ciburuy bahwa. yang didasarkan pada nama sebuah kampung yang terletak di lereng sebelah barat gunung tersebut. 3 No. Kai Raga yang dianggap menyerahkan naskah kepada Raden Saleh adalah cucu Kai Raga yang menjadi pemuka kelompok keagamaan. C. Pleyte berkunjung ke Cikuray. Kai Raga yang menyerahkan beberapa NSK kepada Raden Saleh yang pada tahun 1865 ditugaskan untuk berkeliling Priangan untuk mengumpulkan peninggalan purbakala.F.K. 56 (1914: 365-441) dan Ratu Pakuan: Tjeritera Sunda-Kuno dari Lereng Gunung Tjikura (1970) garapan Atja. sejak tahun 1856.hingga beratus tahun.1 Tahun 2012 85 . saya yakin Kai Raga tidak merujuk pada nama seseorang. Oleh karena itu. menurut cerita rakyat di sana. pada mulanya nama Cikuray adalah Sri Manganti. melainkan kepada nama gelaran. yang pertapaannya terletak di Gunung Cikuray. Dalam jawabannya. Jumantara Vol. Uraian Kai Raga dapat pula dibandingkan dengan Kiai Windusana yang memelihara dan menuliskan kembali sejumlah 21 Lihat „Poernawidjaja‟s Hellevaart of de Volledige Verlossing‟ dalam TBG No. tidak ada lagi keterangan yang lebih lanjut. Van Taxis juga menyatakan bahwa orang tidak ingat lagi mengenai keberadaan pertapa di tempat tersebut. Pleyte mengirim surat kepada Asisten Residen Garut. termasuk NSK. Mengenai ihwal cucu Kai Raga. van Taxis menerangkan bahwa Cikuray memang mulanya biasa disebut Sri Manganti. C. pada 1904. Mengenai hal ini.

berkaitan dengan kriteria dan profesi penulis-penyalin naskah. Ia dikenal sebagai pendeta tinggi dalam agama Budha dan dilaporkan memiliki ribuan naskah yang aneh.naskah Jawa Kuna. Van der Molen dan I. Jawa Pertengahan. Bila pernyataan tersebut kita tarik kepada kegiatan literasi NSK. Tidak terbatas hanya pada laki-laki semata. Hinzler menyatakan dua hal lain yang berkaitan dengan para penulis-penyalin naskah.1 Tahun 2012 . jumlahnya hanya berkisar empat ratusan naskah. but also of low-caste families23. Windusana hidup di sekitar abad ke-18. was a person of distinction. Selain menyatakan para penulis naskah itu bisa laki-laki maupun perempuan. panulisan) not only of highcaste families. usually man. bahkan menolak dunia luar sebagaimana yang dapat kita temukan sosoknya pada diri Bujangga Manik. baik karena mereka menjadi anggota kelompok agamawan maupun karena termasuk kalangan istana. 3 No.. 22 „The Merapi-Merbabu Manuscripts: A Neglected Collection‟ karya W. maka sebenarnya mengindikasikan bahwa para penulisnya cenderung menyembunyikan nama mereka sebenarnya karena mereka justru sedang menyembunyikan diri dari dunia luar atau cenderung mengasingkan diri. Menurut kedua filolog itu. 23 Hinzler (1993: 465). Wiryamartana yang dimuat dalam BKI 157 No. di Bali: A Scribe. 86 Jumantara Vol. This is apparent from the colophons of eighteenth and nineteenthcentury manuscripts. Kuntara Wiryamartana dan Willem van der Molen22. Menurut Hinzler. dan Jawa Modern di lereng Gunung Merbabu sebagaimana yang ditelusuri I.. Mereka kebanyakaan berasal dari kalangan agamawan dan ada juga yang berasal dari kalangan istana. panyarikan. Pertama. melainkan perempuan pun ikut terlibat di dalamnya. The rulers of the kingdom employed scribes (manghuri. . Namun saat Bataviaasch Genootschap mengambil naskah-naskahnya pada tahun 1852. 1 (2001: 52).

Sanghyang Hayu. sebagaimana yang termaktub pada pembahasan mengenai penulis. namun ternyata ada dua naskah yang merujuk ke daerah dekat atau di sekitar laut. Meski banyak yang berlatar gunung. Siksa Guru). Dari tabel itu nampak bahwa gunung dan sekitarnya. menjadi pilihan para penulis-penyalin NSK untuk menulis. 3 No. maka kita mendapatkan delapan naskah yang dalam kolofonnya diterangkan ditulis di Gunung Cikuray. Gunung Larang Sela (Kawih Panyaraman).. Carita Purnawijaya. Gunung Cikuray (Pitutur ning Jalma. Menurut Agus Aris Munandar25. Sebagai catatan.1 Tahun 2012 87 . Dengan demikian. Giri Sunya (Sanghyang Hayu). Namun tetap saja dengan banyaknya nama yang berkaitan dengan gunung mengindikasikan sentralnya tempat tersebut sebagai tempat penulisan NSK. Sanghyang Swawar Cinta. dapat diketemukan keterangan bahwa Larang Sri Manganti adalah nama lama Gunung Cikuray. Carita Purnawijaya). Oleh karena itu. seperti bukit dan puncak gunung (hulu). kalau dihitung. Kaluputan Sanghyang Darma). Ratu Pakuan. dan Gunung Cupu (Sanghyang Hayu). Dari tabel itu kita juga mendapatkan nama Gunung Kumbang (Kawih Panyaraman). gunung memang dijadikan 24 Kata ini berasal dari nama yang dijadikan tempat penulisan NSK Kropak 636 (Sanghyang Hayu). seperti Naskah Kropak 1 Peti 85 Sanghyang Siksa Kandang Karesian ternyata ditulis di Nusakrata? Dan Carita Jati Mula ditulis di Sagara Wisésa.Giri Sunya24 Dari tabel di atas kita juga dapat berbicara mengenai tempat NSK ditulis. Bimaswarga/Bimaleupas. Gunung Larang Sri Manganti (Carita Ratu Pakuan. dalam bagian berikut disajikan ulasan mengenai peran gunung dalam peri kehidupan orang Sunda atau Jawa Barat. Jumantara Vol. sebagaimana yang terlihat dari deskripsi Gunawan & Holil (2010). Sanghyang Hayu. Gunung Jedang (Sanghyang Sasana Maha Guru. Kata nusa dan sagara dengan jelas mengindikasikan daerah yang paling tidak berdekatan dengan lautan.

Adapun tempatnya yang berada di daerah ketinggian. Bandung. Gunung Mahameru yang mempunyai empat puncak lain yang lebih rendah dan terletak di tengah benua yang bernama Jambhudwipa dipercaya sebagai pusat alam semesta. misalnya. Cipari. terutama dari masa bercocok tanam dan perundagian. bukit.1 Tahun 2012 . Batu Lulumpang di Garut. Salak Datar. Banten Selatan. Cireme. melainkan telah ada sebelumnya. yang dikepalai Dewa Indra. 25 “Kegiatan Keagamaan dalam Masyarakat Kerajaan Sunda: Data Prasasti dan Karya Sastra” (1991) yang disajikan pada Seminar Nasional Sastra dan Sejarah Pakuan Pajajaran. Keyakinan ini tidak saja hidup ketika ke daerah ini hadir pengaruh agama Hindu-Budha. dan dataran tinggi lainnya. Dari masa prasejarah. seperti gunung. 88 Jumantara Vol. 2224 Agustus 2001. Pangguyangan. Sementara alam semestanya berbentuk pipih melingkar seperti cakram.sebagai tempat keramat bagi kalangan masyarakat yang ada di Jawa Barat. di Jawa Barat banyak peninggalan megalitik yang terdapat di wilayah yang bergunung-gunung. Situs-situsnya. Demikian pula yang terjadi pada keyakinan kosmologis Budha. Bogor. Gunung tersebut dikelilingi tujuh lautan dan tujuh pegunungan berselang-seling. Bedanya. Di Gunung Meru terdapat alam berlapis-lapis. Karena dalam keyakinan kosmologis Hindu-Budha. situs Gunung Padang di Cianjur. 11-13 Nopember 1991. Di kedelapan arah mata anginnya dijaga dewa Astadikpalaka sebagai pelindung alam semesta. Saat memasuki periode pengaruh Hindu-Budha (kurang lebih abad ke-9 hingga abad ke-16). yakni pemujaan pada arwah nenek moyang. Tradisi megalitik ini berkaitan dengan konsep kultus leluhur. 3 No. yakni ketika masyarakatnya berada di masa prasejarah. Di puncaknya terdapat tempat tinggal para dewa. menunjukkan bahwa masyarakat prasejarah di Jawa bagian barat percaya bahwa leluhur bersemayam di puncak-puncak gunung. dan sebagainya. dan kemudian dimuat dalam Prosiding KIBS 1 Jilid 1 (2006). gunung juga begitu sentral perannya. dan “Sebaran Situs Arkeologi di Jawa Barat: Tinjauan Terhadap Dasar Konsepsi Keagamaan” (2001) yang disajikan pada Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) I. Lebak Sibedug. Arca Domas di pusat Kanekes.

dan kemudian diterapkan pemeluk agama HinduBudha yang ada di sana ke dalam lingkungan mereka. Oleh karena kekeramatan itulah. tempat hidup manusia dan hewan. terdapat empat benua. para pedagang (orang Jumantara Vol. yang di tengahnya. atau dalam NSK Sewaka Darma terdapat uraian bahwa para dewata Hindu mempunyai istana yang indah di Gunung Kendan. Prabu Jayadewata. Munandar. utara. Benua yang terletak di sebelah selatan Gunung Meru dinamakan Jambudwipa. Rakeyan Darmasiksa dalam NSK Kropak 632 (Amanat Galunggung) menegaskan pentingnya memelihara kabuyutan atau tempat yang dikeramatkan karena menjadi pusat pengamalan serta penyebaran ilmu keagamaan.di luar lingkaran tujuh pegunungan itu terdapat lagi samudera. Ia menyatakan [Terjemahan dari pernyataannya?]: “Waspadalah. sementara ketiga benua yang ada di timur. menafsirkan Prasasti Kawali I. Demikian pula Sri Baduga Maharaja yang membangun gugunungan. Dalam hal ini. terutama baris ke-5 sampai ke-7. Jawa.1 Tahun 2012 89 . Lampung. yang disokong serta dilindungi kekuasaan kerajaan yang ada di Tatar Jawa Barat. gunung dan tempat-tempat di sekitarnya dijadikan tempat tinggal. dan barat dihuni oleh mahluk ajaib. dan Prebu Niskala Wastukancana. bagaimana penguasa melindungi situs yang ada di gunung dan sekitarnya. pada keempat arah mata angin utama. terutama Kabuyutan Galunggung. 3 No. seperti yang termaktub dalam Prasasti Batutulis. Medang. Dalam beberapa hal. Baluk. Keyakinan ini terbawa ke Pulau Jawa. misalnya. pengamalan keagamaan. dan Menir. kemungkinan direbutnya kemuliaan (kewibawaan kekuasaan) dan pegangan kesaktian (kejayaan) oleh Sunda. dan tentu saja ke Tatar Jawa Barat. yang dijadikan tempat penyebaran ilmu keagamaan khususnya dapat terlihat dari sepak terjang Rakeyan Darmasiksa. dan penyebaran ilmu oleh kalangan agama Hindu dan Budha. berkaitan dengan keinginan Prabu Raja Wastu untuk menyelaraskan purinya dengan gambaran alam semesta menurut ajaran Hindu-Budha.

seperti: memperoleh kesaktian dari tapa. menjamin keberlangsungan kehidupan keagamaan. Ti naha bagina? Ti sang wiku nu ngawakan jati Sunda. pangupatyan Sanghyang Wisnu.. Dan yang lebih penting. 26 27 Saleh Danasasmita dkk. mikukuh Sanghyang 90 Jumantara Vol. 3 No.. maka orang yang menguasainya akan beroleh manfaat dari sana. nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama. Kabuyutan itu akan dikuasai orang lain karena telah ditinggalkan rama dan resi. (1987: 12). unggul dalam berperang. Ibid (1987: 125-6). pergilah ke kabuyutan. Rakeyan Darmasiksa. ia mendorong berlangsungnya tradisi baca-tulis atau literasi di kalangan agamawan. bertahanlah kita di sana. ti sang tarahan. yang digambarkan sebagai titisan Dewa Wisnu.” Hal ini pun diperjelas dalam NSK Kropak 406 (Carita Parahyangan). 28 Kutipan lengkapnya: Sang Rakeyan Darmasiksa. Dengan demikian. bahkan sampai titik darah penghabisan. ti sang rêsi. inya nu nyieun Sanghyang Binayapanti.1 Tahun 2012 . baik yang menganut kepercayaan kepada leluhur (ngawakan jati Sunda) maupun yang memeluk agama lainnya.asing) yang akan merebut Kabuyutan di Galunggung26” Hal itu karena dengan dikuasainya Kabuyutan Galunggung. Nasihat Rakeyan Darmasiksa juga sekali lagi menekankan pentingnya Kabuyutan Galunggung: “Bila terjadi perang (memperebutkan) kabuyutan di Galunggung. dan lama berjaya. Selain itu.Lebih berharga nilai kulit lasun di tempat sampah daripada rajaputra (bila kabuyutan) akhirnya jatuh ke tangan orang lain27. kabuyutan itu harus dipertahankan sekuat tenaga. sekaligus juga di kalangan istana28. yang menyatakan bahwa Rakeyan Darmasiksa adalah raja Sunda yang mendirikan lembaga pendidikan bernama Sanghyang Binayapanti. dengan kompleks pendidikannya yang disebut kabuyutan. dua dari tiga unsur “trias politika” Sunda kuna.. ti sang disri. tina Parahyangan.

ngawakan sanghyang Watangageung.. Sang wiku enak ngadewasasana. Dalam Kropak 406 (Carita Parahyangan) pun ada gambaran penguasa Sunda yang berdedikasi tinggi pada kehidupan keagamaan sekaligus kegiatan literasinya. Dalam Prasasti E-44 daerah larangan itu disebut dengan nama kabuyutan dan kawikuan. ngawakan sanghyang Watangageung. Sunda Sembawa. dan sang wiku tenteram melaksanakan atau menunaikan undang-undang dewa (Sang resi enak ngaresianana.1 Tahun 2012 91 . Ngawakan sanghyang rajasasana. Wanareja dan Ciburuy (Garut). Jasinga (Bogor). ngawakan na purbatisti purbajati. Cisanti (Bandung). Wilayah tersebut juga tidak boleh dikenai pajak karena merupakan daerah larangan. Sang rêsi enak ngarêsianana. ngawakan Sanghyang Siksa (Kropak 406.. Yang mencoba mengganggu daerah-daerah tersebut diperintahkan untuk dibunuh. (Kropak 406. Ku beet hamo diukih. sang bu enak ngalungguh di Sanghyang Jagatpalaka. Sanghyang apah. enak ngadeg manurajasunyia).Hal serupa juga dilakukan Prabu Jayadewata.42-43) ia mengamanatkan kepada rakyatnya untuk menjaga dan memelihara Jayagiri. Sang disi enak masini. dan 22a) Jumantara Vol. Dari sekian nama Darma. ngawakan na purbatisti purbajati . Kerajaan Sunda mengalami kejayaan. Pada masa Kerajaan Sunda diperintah oleh raja yang merupakan adik Dyah Citraresmi yang gugur di Bubat. 3 No. dan tanah Dewa Sasana yang berada di Gunung Samaya sebagai daerah yang tidak boleh diganggu gugat. ku gêde hamo diukih.. Koleang. ngawakan na manusasana. akasa. Nya mana sang tarahan enak lalayaran. Sunda Sembawa dan Jayagiri (Bekasi?). brata siya puja tanpa lum. Salah satu bukti kejayaannya: sang resi dapat tenteram melaksanakan tugas kependetaannya. tempat tinggal para wiku. dan Kawali (Ciamis). Sang wiku enak ngadewasasana. 21a. Pada Prasasti Kabantenan (E. Sanghyang Tapak (Sukabumi). Galunggung (Tasikmalaya). bayu. ngaduuman alas parialas. menjalankan kebiasaan leluhur . 22b. teja.29 Kabuyutan-kabuyutan yang dikenal selama ini antara lain: Kanekes (Banten). yaitu Prebu Niskala Wastukancana. lempir 21b. angadêg di Sanghyang Linggawêsi.. ngawakan manurajasasasana.. enak ngadêg manurajasunyia. lempir 36a & 20b) 29 Kutipan lengkapnya: Nya mana sang rama enak mangan.

Kabuyutan Cisanti di Bandung. 409 (Kapaliasan). menurut Edi S. 1103 (Serat Jati Niskala). Pertama. 412 (Fragmen Carita Parahiyangan). Ke sebelah timurnya. 621 (Sanghyang Sasana Maha). 413 (Ajaran Islam). jeung Kropak 105. Ekadjati30. ada tiga jenis kegiatan yang dilakukan di kabuyutan. dan Kropak 631 (Candrakirana). 639 (Serat Buana Pitu). ke Ciamis. 418 (Nur Illahi). 634 (Sanghyang Hayu). Naskah Bambu 426 C (Sanghyang Jati Maha Pitutur). melaksanakan pendidikan. dan Kropak 642 (Siksa Guru). 1099 (Pakéeun Raga). antara lain ditemukan NSK Kropak 610 (Pitutur ning Jalma). yakni Kabuyutan Ciburuy dan Kabuyutan Wanareja di Garut. 622 (Warugan Lemah). ditemukan Kropak 406 (Carita Parahyangan & Fragmen Carita Parahyangan). Kedua. 625 (Sri Ajnyana). 630 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian).1 Tahun 2012 . Jenis kegiatan pertama antara lain dalam bentuk mendoakan raja 30 „Pendidikan di Tatar Sunda I‟ HU. 92 Jumantara Vol. Naskah Bambu 426 B (Kaleupasan). 1104 (Primbon). Pada tataran praktisnya. melakukan upacara ritual. 407 (Carita Raden Jayakeling). mendalami dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan (agama). 635 (Sanghyang Hayu). karena secara jelas atau tertulis dalam NSK atau tempat diperolehnya sejumlah NSK seperti yang diinventarisasi oleh Gunawan dan Holil (2010). 423 (Carita Purnawijaya). 414. 624 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian). 408 (Kawih Panyaraman). Bandung. 633 (Siksa Guru). 638 (Sanghyang Hayu). dan Kropak 626 (Sanghyang Swawar Cinta). 623 (Bimaswarga). 641 (Arjunawiwāha). 636 (Sanghyang Hayu). Dari kabuyutan yang ada di Garut. 20 November 2004. 637 (Sanghyang Hayu). Dari Kabuyutan Koleang antara lain ditemukan NSK Kropak 1095 (Langgeng Jati). 1101 (Sasana Sang Pandita).kabuyutan itu yang dikenal sebagai tempat penulisan NSK. aya Kropak 620 (Tutur Bwana). 1097 (Carita Jati Mula). 416 (Carita Purnawijaya). Pikiran Rakyat. 1102 (Para Putera Rama dan Rahwana). dan Kabuyutan Koléang. Ketiga. Kabuyutan Kawali di Ciamis. 422 (Jatiniskala). Ti Cisanti. 3 No. Bogor. 415 (Mantra Darma Pamulih).

kalam. memberi nasihat orang. sedangkan alat tulisnya berupa pisau pangot. Selanjutnya Ekadjati menjelaskan mengenai bahan ajar dan spesialisasi guru-guru yang ada di kabuyutan. Mendalami ilmu pengetahuan (agama). Anak-anak dan orang muda yang memilih kegiatan keagamaan sebagai jalan hidupnya memasuki kompleks dan menjadi siswa (sisya) di kabuyutan untuk menerima berbagai ilmu pengetahuan (agama) dan tata cara hidup sebagai penghuni kabuyutan. kelapa. mendidik anak-anak calon pendeta. Di sana juga terlihat lalu-lintas naskah antar satu kabuyutan dengan kabuyutan lainnya. nipah. pandan. dan menulis naskah (asli atau salinan) tergolong kegiatan intelektual. Untuk keperluan itu pejabat negara dan masyarakat umum sering datang ke kabuyutan dan sebaliknya penghuni kabuyutan sering pula diundang ke wilayah negara.1 Tahun 2012 93 .serta pejabat negara dan rakyat pada umumnya. dan renungan para leluhur (patikrama). seperti: brahmana menguasai aneka macam mantra. menyelenggarakan dan memimpin upacara ritual. mengarang suatu ilmu pengetahuan. Ia menjelaskan bahwa bahan ajarnya berupa berbagai pengetahuan agama (Hindu-Budha) dan ajaran hidup yang berasal dari intisari pengalaman. memberi contoh cara hidup di mandala termasuk jenis kegiatan kedua (pendidikan). Media tulisnya terdiri atas beberapa jenis bahan (lontar. baik yang ada di kabuyutan sendiri maupun yang datang dari luar. hasil akumulasi ilmu pengetahuan tersebut. pendeta menguasai pustaka. Mengajarkan pengetahuan agama. Di antara guru-guru itu ada yang memiliki spesialisasi pengetahuan. dan membaca teks-teks keagamaan. Hal ini dimungkinkan oleh adanya Jumantara Vol. Berbagai pengetahuan tersebut telah dikuasai oleh para guru yang kemudian disampaikannya secara lisan dan tertulis kepada siswasiswanya. Penulisan itu merupakan tugas pendeta yang menjadi penanggungjawabnya. bambu). pratanda menguasi ilmu agama dan parigama. 3 No. Sebagaimana uraian Ekadjati di atas. aturan. kemudian diwujudkan dalam bentuk karya tulis. dan tinta. aren. janggan menguasai berbagai jenis upacara ritual.

3 No. NSK berikut memakai bulan saja sebagai titimangsa penulisan NSK: Kropak 621 (Sanghyang 94 Jumantara Vol. ke Jawa Tengah. Jum‟at Kliwon. Jawa Timur. dan melintasi Pulau Bali untuk belajar keagaamaan. bulan Muharam. penyaduran naskah-naskah yang dihasilkan dari daerah lain dan kemudian dibawa oleh para rahib pengelana tersebut ke Tatar Jawa Barat. dan tahun. bulan. yakni Kropak 1** (Sanghyang Siksa Kandang Karesian) bulan ke-10. Dalam beberapa adegan. Rabu Manis. pada prinsipnya. para penulis-penyalin NSK ada yang hanya menyertakan hari saja. Jadi. namun ada juga yang berada di luar Jawa Barat. memang terjadi penulisan. karena nampak bahwa pada NSK terdapat keterangan hari. Dengan kehadiran nama-nama tempat yang berkaitan dengan pulau dan laut dapat diduga bahwa. Selasa Manis dan Kropak KBG 75 (Wirid). Dalam perjalanan tersebut memang Bujangga Manik tidak terlepas dari naskah-naskah yang dibawa dan dibacanya. Titimangsa Dari tabel di atas juga dapat dibahas mengenai titimangsa atau waktu penulisan NSK. karena keramaian itu akan terasa mengganggunya. Pada praktiknya. misalnya. Yang menyertakan bulan saja bisa dikatakan merupakan yang paling banyak bila dibandingkan dengan yang menyertakan hari maupun tahun. yang tidak hanya berada di Jawa Barat saja. Contoh rahib pengelana ini adalah tokoh Bujangga Manik atau Perebu Jaka Pakuan atau Ameng Layaran yang berkeliling Pulau Jawa dan Bali. yang diutamakan adalah keberjarakan dari dunia ramai. Seperti yang kita saksikan dari peri kehidupan Bujangga Manik yang dalam perjalanannya senantiasa mencari tempat-tempat sepi. Dari Jawa Barat. penerjemahan. Namun ada juga yang menyertakan hari dan bulan.rahib atau pendeta pengelana yang (berkelana?) sambil belajar dari satu kabuyutan ke kabuyutan lain. ia memang mencari tempat-tempat sepi. penyalinan. seperti yang dapat kita temukan pada NSK sebagai berikut: Kropak 622 (Warugan Lemah).1 Tahun 2012 .

Tahun Saka hlaŕ twa ya wu? Ada pula yang hanya campuran antara bulan dan tahun. Sementara Kropak 638 (Sanghyang Hayu) terbilang yang paling lengkap menyertakan hari. dalam artian tidak ada keharusan atau kewajiban untuk mencantumkan titimangsa pada umumnya NSK. Pemilihan unsur waktu penulisan NSK sangat acak. Kropak 623 (Bimaswarga/Bimaleupas). sehingga terkesan arbitrer alias sewenang-wenang. 1440 Saka (1518 M).1 Tahun 2012 95 .Sasana Maha Guru) ditulis pada bulan ke-4. Hal itu terbukti dari tabel di atas. dan Kropak 642 (Siksa Guru). Ada juga yang bisa dikatakan lengkap menyebutkan ketiganya. bulan ke-8. dalam artian bahwa ada yang hanya yang memakai hari. 1357 Ś (± 1435 M). Kedua. Pertama. bulan dengan tahun. tergantung pada penulis-penyalin naskahnya. 1256 Ś (1334 M). dan ada yang mencantumkan campuran hari dengan bulan. 1445 Ś (± 1523 M). Para penulis-penyalin naskah di India biasanya memberikan catatan penomoran dengan menggunakan kata-kata dan huruf-huruf. bulan ke-10. penggunaan candrasangkala atau kronogram. Ketiga. Mengenai hal ini Jumantara Vol. Kropak 641 (Arjuna Wiwaha). atau tahun saja. Penggunaan kode-kode ini memang biasa dilakukan oleh para penulis-penyalin naskah-naskah di India. nampaknya tidak ada aturan yang ketat. Dari paparan di atas nampak beberapa kenyataan yang patut dibahas secara luas dan mendalam. Kropak 625 (Sri Ajnyana). bulan. dan Kropak 633 (Siksa Guru). namun ada juga yang mencantumkan campuran dua sampai tiga unsur waktu. Kropak 626 (Sanghyang Swawar Cinta). yaitu dimulai Selasa Kliwon. 3 No. hari dengan tahun. bulan ke-8. kesewenang-wenangan itu juga terjadi pada pemilihan unsur waktu yang dicantumkan ketika penulis-penyalin NSK memberikan keterangan waktu penulisan. bulan ke-1. selesai hari Pon bulan ke-9. dan tahun penulisannya. Sementara yang memakai keterangan tahun ada: Kropak 634 (Sanghyang Hayu). yang terdapat pada Kropak 630 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian) bulan ke-3. bulan. bulan ke-7.

y=1. Angka 9 digambarkan dengan anka. Buhler menyatakan: Two system of numeral notation. beings or ideas. which both employ the phonetically arranged characters of the alphabet. Pada penomoran menggunakan huruf. connote numbers. have still to be described. sasi. nayaka. according to Burnell originally South-Indian. George. Indian Paleography (1980: 103-107). bhu. seperti pada huruf k=1. dan m=5. seperti huruf ka hingga ke la yang berarti sama dengan 1 hingga 34. Baik penggunaan kata-kata maupun huruf. the numerals are expressed by the names of things. cidra.George Buhler menyatakan31: In many manuals of astronomy. mahi. Buhler menyatakan ada dua sistem yang dipakai. dan Ananta. as well as in the dates of inscriptions and of MSS. as they are not without interest for paleography. 3 No. nanda. t=6. adi. Ambara. sitarasmi. kh=2. 96 Jumantara Vol. th=7. which. juga digunakan untuk memberikan titimangsa penulisan naskahnya. Untuk 31 Lihat Buhler. selain digunakan untuk penonoran halaman naskah. atau ka sampai kah yang sama dengan 1 hingga 12. meskipun ada yang ia lewati. Akasa. Sistem pertama dianggap hanya hurufhuruf konsonan yang tak mempunyai huruf vokal yang penting. naturally or in accordance with the teaching of the Sastras. dan tanu. Angka 0 bisa diwakili oleh kata Sunya.1 Tahun 2012 . indu. keduanya. Sementara untuk penomoran yang menggunakan huruf. Dalam hal ini Buhler memberikan contoh dari angka 0 hingga 49. mathematics and metrics. Angka 1 diekspresikan dengan rupa. Sistem kedua memakai konsonan bervokal untuk penomoran.

contoh penggunaan dari kata-kata. 44: kha – kha. 3 No. bila dikonversi ke penanggalan masehi. yang menghasilkan pada musim semi yang siang maupun malamnya hampir sama waktunya (vernal equinox).samudra= 0-0-4-41=14400. Cibiru. Dalam NSK ditemukan juga kata-kata yang belum ditemukan artinya. yang mengandung arti penulis-penyalinnya memaksudkan angka-angka itu pada masa-masa selepas masa awal Kaliyuga. misalnya. seperti NSK Kropak 408 (Sewaka Darma) yang mengandung kata-kata akhir nanu namas haba jaja atau NSK Kropak 642 (Siksa Guru) yang diakhiri dengan katakata hlaŕ twa ya wu? Sugan aya sastra leuwih suda baan. di akhir naskahnya terdapat kata-kata nora catur sagara wulan yang sama dengan tahun 1440 Saka atau. Buhler memberikan contoh dari Pancasiddhantika. menjadi 1518 Masehi. kurang wuwuhan. Maret-April 2012 Daftar Pustaka Jumantara Vol.veda. Sementara untuk penggunaan huruf. atau 1523 Masehi. 24 Maret 1184 Masehi.1 Tahun 2012 97 . Keterangan ini bisa menjadi jalan memahami kehadiran katakata maupun huruf-huruf yang digunakan pada akhir sejumlah NSK. Buhler memberikan contoh dari Sarvanukramani: 23 1 565 1 khago=ntyan=mesam=apa Penggabungan angka-angka di atas nilainya sama dengan 1565132. Demikian juga pada naskah NSK Kropak 634 (Sanghyang Hayu) terdapat kata-kata panca warna catur bumi yang artinya 1445 Saka. 4. sebagai tanggal diselesaikannya. Untuk Kropak 630 (Sanghyang Siksakandang Karesian).

3. Sewaka Darma (Kropak 408). Gunawan. Agus Aris (1991). Undang A. Wiryamartana (2001). Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi). “Membuka Peti Naskah Sunda Kuna di Perpustakaan Nasional RI: Upaya Rekatalogisasi”. Bandung: Lembaga Bahasa dan Sedjarah. Ekadjati (2003). 3 No. dan Edi S. BKI 149 No. (1993). Tjarita Parahijangan Titilar Karuhun Urang Sunda Abad ka-16 Masehi. Seri Sundalana 6: Menyelamatkan Alam Sunda. (2007). Saleh dkk. BKI 157 No. HU Pikiran Rakyat. Ekadjati (2004. Amanat Galunggung (Kropak 632): Transkripsi dan Terjemahan”. Indian Paleography. Munandar. 1. Edi S. 20 Nopember). George (1980). “Balinese Palm-Leaf Manuscripts”. “Carita Ratu Pakuan (Kropak 410): Suntingan dan Terjemahan Naskah Sunda”. Pendidikan Dan Kebudayaan Nasional Darsa. Aditia & Munawwar Holil (2010). Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda . Molen. “Fragmén Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan (Kropak 406)”. W. Buhler. Atja (1970). Séri Sundalana 1: Tulak Bala. (1987). Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda Hinzler. H. Bandung: Jajasan Nusalarang. Direktorat Jendral Kebudayaan Dep. Ratu Pakuan: Tjeritera Sunda-Kuno dari Lereng Gunung Tjikuraj. New Delhi: Oriental Books Reprint Corporation Danasasmita. Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda (PSS). “The MerapiMerbabu Manuscripts: A Neglected Collection”. Undang A. Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630). Makalah pada Seminar Nasional Sastra dan 98 Jumantara Vol.1 Tahun 2012 . Van der dan I. Seri Sundalana 9: Perubahan Pandangan Aristokrat Sunda. “Kegiatan Keagamaan dalam Masyarakat Kerajaan Sunda: Data Prasasti dan Karya Sastra”. “Pendidikan di Tatar Sunda I”. Darsa.Atja (1968).

“Sebaran Situs Arkeologi di Jawa Barat: Tinjauan Terhadap Dasar Konsepsi Keagamaan”. Jakarta: Pustaka Jaya. TBG No. Teeuw (2009). Bandung.1 Tahun 2012 99 . dan kemudian dimuat dalam Prosiding KIBS 1 Jilid 1 (2006). & A. C. J. Pleyte. 56. (1914). __________ (2001). Bogor. Makalah Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) I. “Poernawidjaja‟s Hellevaart of de Volledige Verlossing”. 11-13 Nopember. teks Sunda kuna oleh Tien Wartini dan Undang A. Jumantara Vol.Sejarah Pakuan Pajajaran. Darsa. 22-24 Agustus 2001.M. Noorduyn. dari Three Old Sundanese Poems (2006). Tiga Pesona Sunda Kuna. 3 No. Diterjemahkan oleh Hawe Setiawan.

dan Balai Litbang Agama Jakarta. menunjukkan bukti-bukti sejarah peradaban tersebut sebagai bukti kejayaan peradaban Islam di Cirebon.Abstrak Dari berbagai sumber tertulis diketahui bahwa pada masa Syarif Hidayatullah peradaban Islam di Cirebon mencapai masa kejayaannya. 3 No. Terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu tulisan ini sehingga dapat hadir di hadapan pembaca. Cirebon. terutama di Cirebon pada tahun 1479-1568. tetapi bagian dari tokoh historis dan fakta sosial melalui rekonstruksi historis peradaban Islam Nusantara. Kata Kunci: Islam. terutama kepada ISIF. Tulisan ini merupakan upaya untuk melakukan rekonstruksi sejarah kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah (1479-1568). Syarif Hidayatullah * Kandidat Doktor Filologi di Departemen Susastra FIB UI Depok. tulisan ini diharapkan mampu menjadi kelengkapan khazanah sejarah Islam Indonesia dalam konteks rekonstruksi sejarah Islam Nusantara dan kehidupan keagamaan masyarakat. Dekan Fakultas Ushuluddin ISIF dan Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Secara strategis. terutama di Cirebon. Signifikansi tulisan ini untuk menunjukkan adanya pembuktian atau lebih tepatnya penegasan akademik bahwa Syarif Hidayatullah yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Jati itu bukan sekedar tokoh legenda. atau semacamnya. Saeful dan Salman dari Balai Litbang Agama Jakarta. serta mengungkapkan pengaruh Syarif Hidayatullah terhadap perkembangan dakwah Islam di Jawa. Nurul Huda SA dan Aan Jaelani yang telah menemani saya ketika beberapa kali turun lapangan. mitos. 100 Jumantara Vol.1 Tahun 2012 . Beberapa nama penting juga disebutkan disini.

dan Syarif Hidayatullah di Cirebon (1479-1568). 2011). Moh. Sunan Ampel. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan.33 Sebelum Syarif Hidayatullah. tata cara pengobatan. hlm.Kanjeng Susuhunan ing Gunung jati ing Cirebon. Sunan Giri. Sultan Agung di Jogjakarta (dulu Kesultanan Mataram.H.). Sekedar menyebut beberapa contoh tokoh tersebut adalah Abdur Rauf asSinkili di Aceh (1615-1693). amewahi donga hakaliyan mantra.1 Tahun 2012 101 .R. serta tata cara membuka hutan. 32 Kutipan ini merupakan bagian dari tugas-tugas Wali Songo dalam Primbon milik Prof. Disertasi. Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Cakrabuana (1447-1479) merupakan rintisan pemerintahan berdasarkan asas Islam. Sunan Kudus. Sunan Bonang. Penjelasan lebih lanjut pada Mastuki HS. Ishom El-Saha (edit. pengaruh para penguasa Cirebon masih berlindung di balik kebesaran nama Syarif Hidayatullah. dan M. (Jakarta: Transpustaka. Sunan Gunung Jati. Maulana Malik Ibrahim. K. Terlebih lagi.32 Mengapa (masih) Mengkaji Syarif Hidayatullah? Rekonstruksi sejarah Islam Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kontribusi pemikiran dan tindakan setiap tokoh di daerahnya. utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana Sunan Gunung Jati di Cirebon mengajarkan tatacara berdoa dan membaca matera. dapat dikatakan sebagai era keemasan (Golden Age) perkembangan Islam di Cirebon. seperti dikutip Agus Sunyoto. atau lebih dikenal dengan gelar Sunan Gunung Jati. Indonesia”. Sunan Drajat. 3 No. Salah satu di antara kontribusi Syarif Hidayatullah adalah bahwa ia menjadi salah seorang dewan Walisongo34 di Jawa. hampir dipastikan terdapat seorang tokoh yang mempunyai keutamaan dan pengaruh kuat bagi masyarakatnya. dan Sunan Kalijaga. 90 33 Matthew Isaac Cohen. (Yale University: 1997). daerah-daerah di mana suatu kerajaan Islam telah berdiri dan berjaya pada masanya. Era Syarif Hidayatullah. Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Pertumbuhan Jumantara Vol. Adnan. Sunan Muria. 7 34 Walisongo adalah pelopor dan pemimpin dakwah Islam yang berhasil membawa murid-muridnya untuk menjalankan dakwah Islam ke seluruh Nusantara pada abad ke-15. dan setelah Syarif Hidayatullah. “An Inheritance from the Friends of God: The Southern Shadow Puppet Theater of West Java. Walisongo terdiri dari Sembilan wali. 1613-1645). hlm. Di antara tokoh tersebut.

38 Abd al-Wahhab al-Sya‟rani/alSya‟rawi (w. (Sunan Gunung Jati di Cirebon mengajarkan tata cara berdoa dan membaca matera. 39 Smith. amewahi donga hakaliyan mantra.39 Periode tersebut merupakan era renaisans bagi benua Eropa (1495-1500). Margaret.1 Tahun 2012 .M. Jalal al-Din al-Suyuti (w. Abu al-Ma‟ali al-Maqdisi (w. 3 No. maupun kesusastraan yang mengeluarkan Eropa dari kegelapan Pesantren. 1497). 90. antara lain Sadr al-Din al-Syirazi (w. peradaban Islam pada periode tersebut telah melahirkan berbagai tokoh pemikirnya. renaisans adalah periode yang berlangsung dalam kurun waktu 25-50 tahun dan mencapai puncaknya pada tahun 1500. 35 Agus Sunyoto. Era renaisans bukan sekedar merupakan kehidupan yang cemerlang di bidang seni. 2001). Husein Muhammad. Ensiklopedi Ulama Nusantara: Riwayat Hidup.36 Berbagai bukti kejayaan kepemimpinannya antara lain Masjid Merah Panjunan (+ 1480) dan masjid Agung Sang Cipta Rasa (1500). 2009). penterj.Syarif Hidayatullah mendapatkan tugas berdakwah di Cirebon (Jawa Barat). utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana”. Banten. pemikiran. Dalam catatan sejarah. 1505). Malik Bin Nabi (1905-1973) dalam Syuruth al-Nahdlah. tata cara pengobatan. dan Sunda Kelapa (Jakarta). 2001). penterj. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah. Selaras dengan itu. 183. 1995) cet. 38 Abdullah Mustofa al-Maraghi. (Jakarta.37 Dalam konteks itulah Syarif Hidayatullah membangun peradaban muslim di Cirebon. (Yogyakarta: LKPSM. hlm. (Bandung: Mizan. 73. hlm. (Jakarta: Diva Pustaka. 21-34. 1492). hlm.757. 102 Jumantara Vol. II.. dan Abd al-Rahman Jami (w. 37 Malik Bin Nabi. penterj. Tugas itu dirumuskan sebagai berikut. 2003).35 Perbedaan lain dengan para Walisongo ialah bahwa Syarif Hidayatullah selain sebagai ulama juga umara. Gelegar Media Indonesia. Membangun Dunia Baru Islam. Bibit Suprapto. pemikir Aljazair. Pakar-Pakar Fiqh Sepanjang Sejarah. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. Mistikus Islam: Ujaran-ujaran dan Karyanya. Ribut Wahyudi (Surabaya: Risalah Gusti. yaitu Sultan di Cirebon. serta tata cara membuka hutan). berpendapat bahwa suatu peradaban muslim tidak dapat bangkit kecuali dengan akidah keagamaan. 1565). hlm. Karya. Al-Qarafi (1533-1600). 1499). hlm. “Kanjeng Susuhunan ing Gunung jati ing Cirebon. 36 H. Sejalan dengan bukti tersebut. Afif Muhammad dan Abdul Adhem.

intelektual Abad Pertengahan. yaitu: daerah Panembahan Sepuh (Kasepuhan) dan daerah Panembahan Anom 40 Yenne. Meneruskan pendahulunya. tetapi sebagai konteks sosial. pada masa Panembahan Ratu II (Girilaya). menjadi tempat persinggahan bagi setiap budaya. dan politik yang berkembang pada saat itu menarik untuk dilihat sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.. Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra. Tahun 1662. sehingga Sunan Gunung Jati tidak hanya dibaca seperti yang selama ini dikenal dalam legenda atau mitos. 3 No. Salah satu revolusi pemikiran pada era tersebut dikemukakan Nicolas Kopernick (Copernicus).42 Pelabuhan yang ramai dan jalur utama transportasi yang menghubungkannya dengan wilayah-wilayah lain menyebabkan kota tersebut tampil dengan keterbukaan dan menerima.k. Pakungwati terbagi menjadi dua kesultanan. 72 42 Diskusi tentang Cirebon sebagai jalur perdagangan dapat dibaca Susanto Zuhdi.41 Sekalipun peristiwa-peristiwa besar di belahan dunia tersebut tidak berhubungan langsung dengan Cirebon ataupun Syarif Hidayatullah. ekonomi. Jumantara Vol. 2005). Adanya Pelabuhan Muara Jati yang berada di lalu lintas utama kawasan tersebut telah menjadi arena perdagangan internasional. dan pemikiran yang melintasi kawasan tersebut. gerakan. nakhoda dari Italia. Keterbukaan itu pula yang terdapat dalam diri Syarif Hidayatullah selama memimpin di Cirebon. hlm.43 Di istana itulah Syarif Hidayatullah memulai membangun dan mengembangkan Kesultanan Cirebon sampai dengan pengunduran dirinya. yang menyatakan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. budaya.1 Tahun 2012 103 . 43 Kraton Pakungwati merupakan tempat kedudukan utama para Raja Cirebon. penterj. Cirebon dikenal juga sebagai „Jalur Sutra‟. 1996). 74-75 41 Ibid. atau paling tidak. pusat Kesultanan Islam Cirebon berada di Kraton Pakungwati. (Jakarta: Depdikbud. tetapi juga merupakan suatu revolusi budaya. bukan sebaliknya.]: Karisma Publishing Group. 100 Peristiwa yang Berpengaruh di dalam Sejarah Dunia (100 Events That Shaped World History). Lili Sri Padmawati. Christopher Columbus. hlm. 40 Pada tahun 1492. Bill. [t. telah menemukan kepulauan Amerika. Pada masa itu.

yaitu telah terjadi perubahan progresif dalam kesusteraan setiap kali muncul Kraton baru.44 Artinya.45 Sekitar tahun 1800.1 Tahun 2012 . Di situlah kesusasteraan tumbuh maju dan berkembang. Sultan Anom. Saat itu. Bersamaan dengan kedatangan Belanda sebagai penjajah yang menguasai Cirebon sekitar tahun 1700. Beberapa perjanjian dengan VOC telah mendorong terjadinya kemunduran itu. 2001). Sejarah Nasional Indonesia: Jaman Pertumbuhan dan Perkembangan III. Dampak internalnya. 65 104 Jumantara Vol. Pudjiastuti mencatat sisi positif dari perpecahan Kesultanan Cirebon. timbul perpecahan dalam Kesultanan Cirebon. Sultan IX yang dimaksud barangkali Sultan Kacirebonan. 87. Kanoman dan Keprabonan. Sebab. dan perjanjian 8 September 1688 yang ditandatangai Sultan Sepuh I. bukan Kanoman. Sultan Kanoman yang dibuang tersebut 44 Titik Pudjiastuti. hlm. Kasepuhan berkedudukan di Pakungwati dan Kanoman menempati kraton baru bekas istana Panembahan Cakrabuana. Relics of the Past: Sociological Study of the Sultanates of Cirebon West Java. Nugroho Notosusanto. 45 Siddique. Sharon. seperti perdagangan pakaian dan opium. (Jakarta: Balai Pustaka. untuk Samsuddin Mertawijaya (1677-1697) dan Badruddin Kartawijaya (1677-1703). Bersamaan dengan kedatangan Daendels pada tahun 1808. Kesultanan Cirebon terbagi pada masa Sultan IX yang bernama Sultan Anom Muhammad Kaeruddin. hlm. dimonopoli VOC. tentang pengakuan dan pembagian cacah. “Cirebon” dalam Sastra Jawa Suatu Tinjauan Umum. Kesultanan Kanoman terbagi lagi menjadi dua kraton.(Kanoman). Terakhir. seperti dikutip dalam Marwati Djoened Poesponegoro. Kesultanan Cirebon telah mengalami kemerosotan karena pihak lain (asing) sejak tahun 1681-1940. Kanoman dan Kaceribonan. dan Pangeran Tohpati. Dalam sumber lain. yaitu:. Kasultanan Kanoman terbagi menjadi dua lagi. 3 No. antara lain: perjanjian 7 Januari 1681 yang menetapkan bahwa ekonomi-perdagangan. situasi pernaskahan di kraton itu sangat bergantung dengan perkembangan dari kraton sendiri. Sultan Kanoman IX itu bernama Sultan Muhammad Nurbuat. 1992). (Jakarta: Balai Pustaka. Pembagian wilayah kesultanan tersebut didasarkan pada kesepakatan yang difasilitasi oleh Kesultanan Jogjakarta dan Banten. Menurut Siddique. salah seorang Sultan Kanoman Cirebon dibuang ke Ambon.

Kern dan Husein Djajadiningrat. Bahkan kemudian. Sebab. hlm. terdapat informasi yang masih meragukan validitasnya. karena Britania harus mengembalikan Jawa dan bekas daerah kekuasaan HindiaBelanda lainnya kepada Belanda sesuai persetujuan akhir Perang Napoleon.A. Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid I A-H. bahwa kekuasaan Cirebon makin lama makin dipersempit. (Jakarta: Bhratara. bahwa nama lain Sunan Gunung Jati itu Fatahillah.J. 21. Jakarta: Djambatan. Masa Awal Kerajaan Cirebon. Fatahillah itu bukan keturunan Cirebon. Jumantara Vol. Hoesein Djajadiningrat. Masa Awal. Pada tahun 1809. R. 46 Tim IAIN Syarif Hidayatullah. R. Tak ayal lagi. Pada tahun 1700 Belanda mengangkat Jacob Palm menjadi Residen pertama. Pigeaud dalam De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java. dalam tradisi lisan Cirebon dan beberapa tulisan menyebutkan. 3 No. II. 1974). tetapi dari Kesultanan Pasai yang diperbantukan di Cirebon. Daendels membangun jalan raya melintasi pegunungan dari Batavia ke Cirebon (Jalan Raya Pos/Groote Postweg).dibebaskan oleh Daendels yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal.A. 213. hlm. Stamford Raffles memerintah langsung atas Cirebon namun pemerintahannya sangatlah singkat. 33-39 47 Kern. dan Husein Djajadiningrat. hlm. dalam R. Pemberontakan Cirebon telah dimulai sejak tahun 1788 dan terbesar tahun 1802.A.47 Penegasan serupa ditulis H.. Kesultanan Cirebon juga dijajah Inggris ketika pemerintahan Inggris menguasai (sebagian) Indonesia sekitar tahun 1811-1816. gelar Sultan di lingkungan kraton sudah tidak diperbolehkan dipakai lagi. “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinya”. “Beberapa Catatan Mengenai “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinja”. ketika suasana damai di Cirebon terganggu oleh kolonial. revisi. Pada tahun 1815.46 Kenyataan itu sejalan dengan pendapat Kern bahwa Cirebon berakhir kejayaannya pada abad ke-17. Dalam entri Cirebon ini.1 Tahun 2012 105 . cet. lalu ditugasi di Sunda Kelapa dan Banten. 2002.A. Dalam Ensiklopedi Islam Indonesia disebutkan. Tentang klarifikasi Fatahillah. lihat juga pada P. dalam Kern. Selain dikuasai Belanda. Studen Over de Staatkundige Geschiendenis van de 15 de en 16 de Eeuw. pemberontakan pun timbul sebagai salah satu cara untuk menolaknya. tetapi pemberontakan di daerah perbatasan melawan penjajah tetap belanjut. tetapi semua dapat dipadamkan Belanda. De Graaf dan Th.

“Kedaulatan atas daerah Cirebon termasuk daerah-daerah Sunda pada 1705 diserahkan oleh susuhunan di Kartasura kepada kompeni (VOC) di Batavia. Keraton-keraton para keturunan Sunan Gunung Jati di kota Cirebon masing-masing tetap dipertahankan di bawah kekuasaan dan dengan tunjangan uang dari pemerintah Hindia Belanda hingga abad XX ini.”48 Dengan demikian, pemerintah Kolonial Belanda telah semakin dalam ikut campur mengatur Cirebon, sehingga semakin surutlah peranan kraton-kraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya. Pada tahun 1906 dan 1926, kekuasaan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan pengesahan berdirinya Kota Cirebon (Gemeente Cheirebon). Saat itu, luas wilayahnya mencakup 1.100 hektar, dengan sekitar 20.000 jiwa penduduk (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370). Tahun 1942, Kota Cirebon kembali diperluas menjadi 2.450 hektar.49 Sejak tahun 1965 Cirebon telah berubah menjadi kota madya dan sekarang menjadi kota Cirebon dengan luas 37,36 km2.50 Memperhatikan latar belakang tersebut, tulisan ini menjadi penting untuk mengungkap Kesultanan Cirebon sebelum adanya campur tangan pihak asing, termasuk intervensi pihak kesultanan Jogjakarta dan Banten. Dari berbagai sumber tertulis diketahui bahwa pada masa Syarif Hidayatullah itulah peradaban Islam di Cirebon dapat dikatakan mencapai masa kejayaannya. “Ingsun titip tajug lan fakir miskin” adalah salah satu pernyataan atau petatah petitih dari Syarif Hidayatullah yang digunakan sebagai ikon oleh kalangan, baik pemerintah maupun swasta di Cirebon. Saat ini, Cirebon tetap dijadikan sebagai nama salah satu kota dan kabupaten di Jawa Barat. Sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia dan selama Cirebon menjadi pusat pemerintahan kota dan kabupaten, keluarga besar Kraton Cirebon sepertinya belum pernah ada yang menjadi bupati ataupun

48

De Graaf, HJ. & Th. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI, penyunting Eko Endarmoko dan Jaap Erkelens, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2003), hlm. 132. 49 http://indahartgallery.webs.com/keraton.htm 50 Profil kota Cirebon Jawa Barat.

106

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

walikota.51 Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penting dikemukakan pertanyaan, bagaimana kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568? Bukti-bukti sejarah apa yang mendukung adanya kejayaan tersebut? Dengan bukti-bukti tersebut, seberapa jauh peran Syarif Hidayatullah pada perkembangan dakwah Islam di Jawa? Tulisan ini merupakan upaya untuk melakukan rekonstruksi sejarah kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568, dan untuk menunjukkan buktibukti sejarah peradaban tersebut sebagai bukti kejayaan peradaban Islam di Cirebon, serta mengungkapkan pengaruh Syarif Hidayatullah pada perkembangan dakwah Islam di Jawa. Signifikansi tulisan ini untuk menunjukkan adanya pembuktian atau lebih tepatnya penegasan akademik bahwa Syarif Hidayatullah yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Jati itu bukan sekedar tokoh legenda, mitos, atau semacamnya, tetapi bagian dari tokoh historis dan fakta sosial melalui rekonstruksi historis peradaban Islam Nusantara, terutama di Cirebon pada tahun 1479-1568. Secara strategis, tulisan ini diharapkan mampu menjadi kelengkapan khazanah sejarah Islam Indonesia dalam konteks rekonstruksi sejarah Islam Nusantara dan kehidupan keagamaan masyarakat, terutama di Cirebon. Penelitian Terdahulu dan Landasan Kajian Penelitian Kejayaan Peradaban Islam di Cirebon pada Era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568 ini tidak dapat dilepaskan dari kajian-kajian sebelumnya, baik karena kemiripan dalam penggunaan metode dan pendekatannya, maupun kedekatan konteks serta cakupannya. Kajian terdahulu berguna untuk mengetahui perbedaan kajian ini dengan kajian-kajian tersebut, sehingga kajian ini ditemukan orisinalitasnya. Adapun kajian secara khusus dengan nama Syarif
51

Bahan awal tentang Cirebon dapat dibaca dalam Sulendraningrat, P.R.A. Sejarah Cirebon, (Jakarta: Balai Pustaka, 1985) dan Membumikan Wasiat Sunan Gunung Djati Dalam Membangun Jawa Barat Bermartabat, (Cirebon: Yayasan Keraton Kasepuhan Cirebon, 2004).

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

107

Hidayatullah, sampai dengan penulisan laporan ini belum ditemukan, kecuali kajian terhadap naskah kuno, yaitu Sajarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati, baik dalam Naskah Mertasinga (2005) maupun Naskah Kuningan (2007). Kajian naskah serupa dilakukan Atja (1972) dengan judul, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Tjirebon). Dengan pendekatan sejarah dan filologi, Atja mengungkap sejarah awal mula Cirebon; diuraikan pula tentang Syarif Hidayatullah melalui naskah yang ditulis Pangeran Arya Cirebon dan transliterasinya, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari.52 Nama Sunan Gunung Jati lebih sering digunakan para peneliti daripada nama Syarif Hidayatullah., misalnya dalam disertasi Dadang Wildan yang telah diterbitkan dengan judul Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural (Bandung, 2002).53 Akbarudin Sucipto menulis Dakwah Sunan Gunung Jati dalam Perspektif Politik: Analisis Deskriptif terhadap Proses Islamisasi Cirebon abad ke-XV dan XVI (Skripsi: STAIN Cirebon, 2006). Kajian tentang Sunan Gunung Jati juga dapat ditemukan dalam ensiklopedi-ensiklopedi, seperti Ensiklopedi Islam (2002, cet.II), Ensiklopedi Ulama Nusantara (2009), dan Intelektualisme Pesantren (2003). Kajian mutakhir tentang Sunan Gunung Jati dilakukan Agus Sunyoto (2011). Dalam buku yang diberi judul Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, Sunyoto memaparkan sehistoris mungkin berdasarkan data manuskrip dan arkeologi gugatan para penulis sejarah Islam di Jawa, di mana Wali Songo masih diabaikan. Kajian tentang Cirebon dalam konteks sejarah beberapa kali telah dilakukan, termasuk bahasan khusus tentang Syarif Hidayatullah walaupun tidak mendalam. De Graaf dan Pigeaud (2003 cet. V) menulis Riwayat Kerajaan di Jawa Barat pada
52

Untuk melengkapi penelitian ini, transliterasi Atja dilampirkan, sebagai bagian tak terpisah dari hasil penelitian ini. Penelitian Atja tahun 1972 ini diterbitkan Ikatan Karyawan Meseum. 53 Dalam kajian Wildan tersebut, dipaparkan pula 7 (tujuh) naskah yang terkait dengan Syarif Hidayatullah dalam bentuk prosa dan tembang. Dalam bentuk prosa yaitu Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Sunda, dan Sejarah Cirebon. Dalam bentuk tembang, yaitu Carub Kanda, Babad Cerbon, Babad Cirebon, dan Wawacan Sunan Gunung Jati.

108

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Abad XVI: Cirebon. Kajian tentang Cirebon tersebut hanyalah salah satu bagian dari kajiannya tentang kerajaan Islam di Jawa, yang dimulai dari Demak, Kudus, Madura, hingga Banten. Acuan penulisan keduanya adalah literatur lokal atau pribumi. Kajian serupa juga dilakukan RH. Unang Sunardjo, Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cirebon 1479-1809 (1983). Begitu pula Uka Tjandrasasmita, yang menulis “Kesultanan Cirebon: Tinjauan Historis dan Kultural” dalam karya arkeologisnya, Arkeologi Islam Nusantara (2009). Tjandrasasmita menguraikan tentang Cirebon dengan pendekatan sejarah, mulai dari pertumbuhan, perkembangan, sampai dengan keruntuhan kesultanan. Paparan lainnya terkait dengan beberapa aspek penting di Cirebon, seperti keagamaan, seni sastra, seni bangun dan ragam hias, serta wayang dan topeng. Kajian lain tentang Cirebon secara khusus dilakukan oleh tim peneliti dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UNPAD dengan judul Sejarah Cirebon Abad Ketujuh Belas (Bandung, 1991). Kajian lain tentang Cirebon dilakukan oleh Darkum (Skripsi Pendidikan Sejarah Fak. Ilmu Sosial UNNES, 2007) dengan judul Peranan Pangeran Walangsungsang dalam Merintis Kesultanan Cirebon 1445-1529. Kajian lain yang masih berkaitan dengan Cirebon dilakukan oleh Heriyanto (Tesis UI, 2000) dengan judul Upacara Panjang Jimat: Suatu Kajian tentang Kraton Kasepuhan Cirebon Masa Kini. Dalam salah satu bagian kajiannya, Heriyanto memaparkan tentang Kraton Pakungwati dan Syarif Hidayatullah. Informasi tersebut, sekalipun tidak berasal dari sumber primer, dapat menjadi informasi penegasan. Adapun kajian dengan pendekatan sastra dan filologi dilakukan Pudjiastuti, yaitu Cirebon (2001) dan Kajian Kodikologis atas Surat Sultan Kanoman, Cirebon [Cod. Or. 2241 ILLB 17 (N0. 80)] (2007). Studi kodeks dalam kajian Pudjiastuti dapat mempertajam analisis untuk mengungkap konteks surat Sultan Kanoman pada akhir abad ke-17. Isi surat itu menobatkan putra bungsu Sultan menjadi Panembahan. Penjelasan lebih luas tentang dinamika Kesultanan Cirebon diungkap Pudjiastuti pada “Cirebon” sebagai salah satu entri Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Umum. Konteks Cirebon dalam tulisan Pudjiastuti berkaitan dengan pernaskahan kuna di Cirebon.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

109

filologi. Dengan perspektif yang berbeda. Pada kajian-kajian terdahulu di atas. yaitu sejarah. silsilah 4 (empat) kesultanan. Sulendraningrat menulis Sejarah Cirebon (1978). kajian ini diharapkan selain dapat 110 Jumantara Vol. Suwarno. arkeologi. silsilah Sunan Gunung Jati dari garis ayah/ibu. Paparan senada diungkap Kosoh. Syarif Hidayatullah. seperti Kuningan ke Cirebon.Penelitian dan penulisan tentang Cirebon dapat ditemukan pula dalam hasil penelitian dan buku-buku yang berasal dari seminar ataupun lainnya. dst. dan Syafe‟I dalam „Jawa Barat pada masa Pemasukan dan Perkembangan Islam‟ dan „Jawa Barat dalam Abad ke -19‟ sebagai bagian dari Sejarah Daerah Jawa Barat (1979). masjid Agung. Wahby (2007). Adapun dalam kajian ini. kebudayaan. Catur Kanda. Sebagai keluarga kraton Cirebon. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern: 1200-2008 (2010 cet. III). 3 No. Dengan demikian. Carub Kanda. Van Der Kemp dalam Pemberontakan Cirebon Tahun 1818 (1979). dan arsitektur. dan kitab-kitab lokal lainnya. untuk mengungkap Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah (1479-1568) digunakan pendekatan sejarah yang belum pernah dilakukan. yang berasal dari disertasinya pada Fakultät Geistes und Kulturwissenschaften (GuK) der Otto-Friedrich-Universität Bamberg. sekurangnya terdapat beberapa landasan kajian yang digunakan. Sejarah dalam kajian ini juga didasarkan pada sumber naskah dan artefak budaya. hingga tentang peleburan kota-kota kecil.1 Tahun 2012 . Architecture of the Early Mosques and Shrines of Java: Influences of the Arab Merchants in the 15th and 16th Centuries?. dan Panjunan Cirebon dikupas sekilas. Kritik internal dan eksternal dalam pendekatan sejarah juga digunakan dalam penelitian ini demi menjaga obyektifitas keilmuan. 2008). Dalam kajian Ahmed E. karena itu menjadi penting dan mendesak untuk dilakukan. Sulendraningrat memaparkan tentang Cirebon sejak masa Pra Sejarah sampai dengan masa masuknya Islam di Indonesia. Karya orang dalam kraton tersebut mengacu pada Babad Cirebon. para penulis asing juga melakukan kajian tentang Kesultanan Islam Cirebon. mulai dari Raffles dalam The History of Java (Terj. I. dan Karel Steenbrink dalam Kawan Dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1941) (1995).

Syekh Bentong. filologis. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Wahju.memberikan sumbangsih kepada masyarakat. dalam urutan ke-22. walaupun berdarah Timur Tengah. Syarif Hidayatullah dilahirkan pada tahun 1448 dari perkawinan Raja Abdullah (Syarif Abdullah) dengan Rara Santang. 219 56 Lihat pada Naskah Mertasinga dan Kuningan. Silsilah Syarif Hidayatullah: Arab dan Cirebon Menurut Ensiklopedi Ulama Nusantara. sama dengan Sunan Bonang dan Sunan Drajat atau Sunan Giri.56 54 Syarif Hidayatullah adalah putra raja Abdullah (Syarif Abdullah) bin Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Husein (al-Husaini) bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan Nurdin bin Abdul Malik bin Gazam bin Alwi bin Muhammad bin Ubaidillah bin Ahmad Muhajir bin Isa al-Bakir (ar-Rumi) bin Muhammad Idris an-Naqib bin Ali al-Uraidhi (Kasim al-Kamil) bin Ja‟far Shadiq bin Muhammad al-Bakir bin Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib (suami Fatimah az-Zahra binti Rasulullah Muhammad SAW. (Jakarta: Gramedia. bahwa Syarif Hidayatullah atau sering dikenal dengan Sunan Gunung Jati itu bukanlah legenda. dan Syekh Quro. Lihat Bibit Suprapto. Syarif Hidayatullah telah berguru kepada Syekh Tajudin al-Kubri selama 2 tahun dan Syekh Ataillahi Syazally yang bermazhab Syafei. dan arkeologis. Syekh Najmurini (Nujumuddin) Kubra di Mekkah. kajian ini dapat pula menjadi penegas. terutama Perlak atau Pasei. 2009). hlm. 3 No. tetapi memang dapat dibuktikan melalui fakta-fakta historis. (Bandung: Pustaka.54 Menurut Purwaka Caruban Nagari. Jumantara Vol. 2007). alih aksara dan bahasa Amman N. dengan judul Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. alih aksara dan bahasa Amman N.1 Tahun 2012 111 . hlm.55 Guru Syarif Hidayatullah lainnya adalah Syekh Nur Jati (Datuk Khafidz). Wahju. putri Prabu Siliwangi asal Pajajaran yang bergelar Syarifah Mudaim. Syekh Sidiq. 755 dan 758. Raja Abdullah bukanlah raja di Mesir. Karya. pada masa remajanya. dan mitos belaka. Sunan Ampel. ketika umur 20 tahun. pada usia 120 tahun Syarif Hidayatullah (tahun 1568) dipanggil sang Khalik dan dikebumikan di Gunung Sembung Cirebon. tapi kemungkinan besar sebagai penguasa kawasan Aceh. 55 Naskah Mertasinga. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. Dilahirkan di Mesir.). Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup. Ini mirip dengan pendapat Hosein Jayadiningrat dengan argumentasi yang berbeda. Syarif Hidayatullah masih termasuk keturunan Rasulullah SAW. Ayah Syarif Hidayatullah.

Syarifah Mudaim). Karya. hlm. pernikahan kedua dengan Ong Tien (Putri Cina. Wahju. 2007) 57 Bibit Suprapto.. Ratu Winaon dan Pangeran Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I). 756-757 58 Naskah Kuningan. adalah sebagai berikut: Sang Prabu mempunyai anak Ki Gedeng Kasmaya (Ki Ageng Giridewata) Penguasa Carbon Girang yang mempunyai putrid Nyi Karancang Singapuri dari Pulo Pinang/Singapura menikah dengan Ki Gedeng Tapa (Ki Gedeng Juman Jati. alih aksara dan bahasa Amman N. yaitu:. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. (Bandung: Pustaka.Syarif Hidayatullah pernah beberapa kali menikah. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Pangeran Cakrabuana.1 Tahun 2012 . Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup.57 Silsilah Syarif Hidayatullah dari jalur ayah sampai pada Rasulullah SAW. lampiran 112 Jumantara Vol. Dari pernikahannya dengan Prabu Siliwangi mempunyai tiga anak. 2009). dan dari pernikahannya dengan Sultan Mahmud mempunyai dua putra. Sultan Mahmud). keempat dengan Dewi Kawunganten (Putri Ki Gedeng Kawunganten. Juru Labuhan Muarajati II) mempunyai anak Nyi Subang Larang yang menikah dengan Prabu Siliwangi. dan Raja Sangara. yaitu: Ratu Ayu (istri Fatahillah) dan Pangeran Pesarean (Dipati Muhammad Arifin). pernikahan pertama dengan Retna Pakungwati (Putri Pangeran Cakrabuana) dikaruniai dua anak. Banten) dikaruniai dua anak. 3 No. mempunyai seorang putri bernama Siti Fatimah yang berputra Sayid Husein yang berputra Zainal Abidin yang berputra Syekh Zainal Kabir yang berputra Syekh Jumadil Kubra dari Quswa yang berputra Raha Umrah-Raja Odhara dari Mesir yang berputra Sultan Bani Israil yang berputra Syarif Hidayatullah. Rasulullah SAW. 2007). (Jakarta: Gramedia. (Bandung: Pustaka. Sari Kabun (Rara Santang. berganti nama Rara Sumanding) tidak berlangsung lama. 58 Adapun silsilah Syarif Hidayatullah dari jalur ibu sampai ke Prabu Bunisora. hlm. secara singkat sebagai berikut:. pernikahan ketiga dengan Nyi Mas Retna Babadan (Putri Ki Gedeng Babadan). kelima dengan Nyi Mas Rara Kerta (Putri Ki Gedeng Jatimerta) dikaruniai dua anak: Pangeran Jaya Lelana dan Pangeran Brata Lelana. Rara Santang menikah dengan Sultan Bani Israil (Sultan Hud. karena Ong Tien meninggal dunia.

(Dalam hidup ini. sira aja angebat-tebat ing laku den teka patine. dan Naqsyabandiyah. 223-245. lan aja nyerang hukuming Widhi. Setelah itu. itulah hal yang nyata dan lakukanlah hal itu dengan teguh). bahkan tasawuf dengan tarekatnya. “Mapam kita iki ing ngahurip. Syarif Hidayatullah juga belajar Tarekat Syattariyah. yang dalam Babad Cirebon selalu disebutsebut. Syarif Hidayatullah telah mendalami akidah. Syarif Hidayatullah berguru kepada Ibnu Atha‟illah al-Iskandari al-Syadzili selama dua puluh tahun di Madinah dan ia mendapat bayaran karena menjadi penganut Tarekat Syadziliyah. hlm. 1999) cet. Den 59 60 Ibid. Qadiriyah. janganlah kamu bertindak berlebihan. dalam babad-babad tentang Syarif Hidayatullah diceritakan bahwa sebelum kepergiannya ke tanah Jawa. syari‟ah.1 Tahun 2012 113 . TradisiTradisi Islam di Indonesia (Bandung: Mizan. Pesan Syekh Athaillah di Sadili kepada Syarif Hidayatullah. Wahju. Istika‟i. iku samono kang nyata den kukuh laku iku”. antara lain sebagai berikut: Pesan Syekh Najmuddin Kubra kepada Syarif Hidayatullah61. (Bandung: Pustaka. 3 No. demikian hingga akhir hidup. 59 Guru dan Ajaran Syarif Hidayatullah Menurut Bruinessen. “Perkara lampah kang katiti. hlm. Bandingkan dengan Naskah Mertasinga. alih aksara dan bahasa Amman N. 2007) Jumantara Vol. Kalau bicara. Bruinessen juga berpendapat bahwa Syarif Hidayatullah merupakan penganut Tarekat Kubrawiyah.60 Adapun beberapa ajarannya melalui pesan. III.Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Martin van. Yen ngucap kang satuhu. sira aja ngebat-tebat. yaitu tarekat yang dihubungkan dengan nama Najamuddin al-Kubra. bicaralah yang jujur dan jangan melawan hokum dari Yang Maha Esa. 23 61 Naskah Mertasinga dalam Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat. Bruinessen.

lakukanlah tapa di tengah ramainya manusia. Maulana Hasanuddin. hiduplah dengan bersahaja.. bidang politik. Itulah langkah sempurna yang sejati. Pada masa itu.diwarnai cerita-cerita absurd yang perlu penafsiran untuk mengetahui kebernaran historisnya”. Sira laku tapaha maring ingkang remening jalma. maju sangat pesat. Kemajuan Islam pada era Syarif Hidayatullah tidak berhenti pada terbentuknya pusat pemerintahan di bawah pimpinan 62 63 Sunyoto.basaja sira iku. Pan sira aja susah tatapa ing gunung utawa guane iku dadi takabur. Wong kang luput den ampura. 164 114 Jumantara Vol. Iku lampah kang sampurna jati. jangan sombong dalam bicara dan jangan berlebihan terhadap sesame manusia. Pada masa itu pula berlangsung penyebaran Islam ke Banten (sekitar 1525-1526) melalui penempatan salah seorang putra Syarif Hidayatullah.1 Tahun 2012 . Sunyoto (2011) dalam analisisnya tentang pendidikan dan pengembangan keilmuan Syarif Hidayatullah. 2009). Bukti Kejayaan Pada Era Syarif Hidayatullah Periode Syarif Hidayatullah (1479-1568) memimpin Cirebon merupakan masa perkembangan sekaligus masa kejayaan Islam di Cirebon. Uka. keagamaan. Arkeologi Islam Nusantara. hanya itulah langkah yang sejati).63 Peristiwa itu terjadi setelah keruntuhan pemerintahan Pucuk Umum. Wali Songo. Lan duwea muhung.. penguasa kadipaten dari Kerajaan Sunda Pajajaran yang berkududukan di Banten Girang. 156 Tjandrasasmita. aja langguk ing wicara. khusus mengenai guru dan ajaran Syarif Hidayatullah. (Mengenai langkah yang harus dijalani. dan perdagangan. hlm. hlm. Mung semana lampah ingkang sejati”. menyebutnya dengan “. Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikanmu takabur. 3 No. seperti di atas. untuk mendalami apa yang dinyatakan Sunyoto. sira aja ilok anglaluwih ing padaning manusa.62 Memang penelitian ini perlu dilanjutkan lagi. janganlah kamu berlebihan. (Jakarta: Pustaka Gramdia. Milikilah sikap luhur dan maafkan orang yang salah.

yaitu yang bersifat rohaniah seperti penyebaran Islam. khususnya masjid. seperti Tajug (Masjid). selain terlihat dari sisi keagamaannya. Tangerang. graha artinya rumah). Krawang. Bukti-bukti kejayaan Syarif Hidayatullah di Cirebon. Bekasi. antara lain ke Kerajaan Galuh (tahun 1528). Kraton Pakungwati. dan Serang (Banten).Wilayah Kekuasaan Syarif Hidayatullah 1479-1568 - Tajug dan (atau) Masjid Pendirian tempat ibadah. tetapi pengembangan juga dilakukan ke arah Priangan Timur. Jumantara Vol. Untuk kepentingan ibadah dan pengajaran agama Islam. Pangeran Cakrabuana mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Sang Tajug Jalagrahan (jala artinya air. Masjid ini merupakan masjid pertama di tatar Sunda dan didirikan di pesisir laut Cirebon.1 Tahun 2012 115 . . telah dilakukan sejak Islam masuk di Cirebon. wilayah perkembangan Islam pada era itu. kemudian Talaga (tahun 1530). Jika dipetakan. dan pelabuhan yang saat ini tidak seramai dahulu lagi. saat ini berada di Kasepuhan. Sampai saat ini masjid tersebut masih terpelihara dan dikenal dengan nama dalam dialek Cirebon. yaitu Indramayu. 3 No. juga dapat dilihat pada perkembangan bangunan fisiknya. masjid Pejalagrahan.Maulana Hasanuddin yang terletak di Surosowan. dekat Muara Cibanten. seperti yang tampak dalam gambar.

Bagian dalam masjid digunakan hanya untuk waktu-waktu khusus. di dinding bagian pengimaman terdapat lukisan khusus. masjid Agung Sang Cipta Rasa. Sunan Gunung Jati. 116 Jumantara Vol. 45 65 Wawancara Agustus 2011 di Masjid Merah Panjunan Cirebon. Bagian dalam Masjid Merah Panjunan. yaitu sekitar tahun 1480. Bangunan kedua masjid terbagi menjadi 2 (dua). menurutnya.1 Tahun 2012 . Menurut salah seorang takmir masjid. Berbeda dari informasi yang berkembang di masyarakat. yakni masjid Merah Panjunan dan masjid Agung Sang Cipta Rasa.64 Selain itu. terbitan Suleman Sulendraningrat. seperti ditulis Dadan Wildan. sebelum masjid Agung Sang Cipta Rasa didirikan. terdapat beberapa bangunan masjid yang dibangun pada masa Syarif Hidayatullah. bagian dalam hanya digunakan untuk Salat hari raya („Ied). 3 No. Khusus untuk Masjid Merah Panjunan. yang sampai hari ini diakui keberadaannya. sedangkan bagian luar berfungsi untuk salat maktubah. dibangun sesudah masjid Merah Panjunan. 65 Sebagaimana ciri khas masjid Cirebon lainnya. yaitu bangunan dalam dan luar. hlm. para walisongo sering mengadakan rapat di dalam masjid untuk membicarakan beberapa hal penting urusan umat.bertempat di dalam Kraton Pakungwati. Masjid tersebut dibangun sekitar tahun 1454. dan dihiasi piring keramik dari Cina. Kasepuhan. berbentuk undukan bata. tempat pengimaman hanya digunakan salat idul fitri dan idul adha 64 Babad Tanah Sunda.

Masjid itu dibangun tahun 1549 atau seperti yang tertulis dalam candrasangkala yang berbunyi Waspada Jumantara Vol.Mesjid Merah Panjunan Mesjid Merah Panjunan Kejayaan era Syarif Hidayatullah juga terlihat dari keberadaan sebuah bangunan masjid yang bernama Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang saat ini berada dalam lingkungan kompleks Kraton Kasepuhan.1 Tahun 2012 117 . 3 No.

hlm. 83. Tetapi menurut Naskah Mertasinga. Abdurrachman (penyunt. Ratu = 1. Nama lain masjid ini adalah Masjid Pakungwati.68 66 Waspada = 2. 1982).). Mempertimbangkan hal itu. Hadisutjipto (Jakarta: Depdikbud. 123 67 Babad Cirebon.Z. (Jakarta: Depdikbud. Syarif Hidayatullah tinggal di Kraton Pakungwati. Syarif Hidayatullah di akhir hayatnya lebih memilih untuk menjadi seorang ulama daripada penguasa pemerintahan. Naskah Mertasinga. 3 No.1 Tahun 2012 . Masjid Agung dibangun ketika Syarif Hidayatullah berumur 113 tahun atau sekitar 1561. Baginya. Perkembangan Islam secara luas dan massif bermula dari tempat itu. alih aksara dan ringkasan S. 34-35 118 Jumantara Vol. yang bermakna 1500. Simbol bangunan masjid melambangkan filsafat Hayyun ila Ruhin (hidup tanpa ruh). Dhandhanggula)67 Sejak serah terima dari Pangeran Cakrabuana. Yuga = 4. Panembehe = 2. Paramita R. Syarif Hidayatullah sendiri lebih memilih mengkhususkan diri dalam syiar Islam ke daerah pedalaman. Syarif Hidayatullah menyerahkan kekuasaan pemerintahan di Cirebon kepada Pangeran Pesarean pada kurun waktu 1528-1552. hlm. Sebagai bagian dari Walisongo. kekuasaan cukup dijalankan oleh putranya di Banten. Pesarean merupakan putra Syarif Hidayatullah dengan Nyai Tepasari. Cerbon. 1998). (Jakarta: Sinar Harapan.Penenbehe Yuganing Ratu. Hal itu pula merupakan konskuensinya sebagai anggota penting Walisongo. Berbagai perubahan sistem pemerintahan yang berdasarkan nilai-nilai Islam mulai diterapkan. Keaktifan dakwah Islam Syarif Hidayatullah tidak membuatnya melupakan penataan pemerintahan di daerah sekitarnya. xxviii 68 Adeng . jadi 1422 caka. 1979). hlm. hlm. mulai dengan alun-alun dan istana yang kemudian terkenal dengan nama Istana Pakungwati (Pupuh 18.66 Bentuk bangunan dan simbol-simbol dalam masjid semuanya sarat dengan makna filosofis.dkk. Kraton dan Sistem Pemerintahan Cirebon Sarip Hidayat menikah dengan Pakungwati dan mulailah pembangunan negara (kota) Carbon. Kota Dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra.

maka ia mendapat julukan Pandita Ratu (ulama yang menjadi raja. tetapi lebih giat menjalankan keagamaan daripada bergerak di bidang politik). 3 No. Kraton Kasepuhan sebagai pintu gerbang menuju Kraton Pakungwati Kraton Cirebon setelah ditinggal Syarif Hidayatullah mengalami Jumantara Vol.1 Tahun 2012 119 .Masjid Agung Sang Cipta Rasa dari berbagai sisi Pintu Gerbang Masjid Pintu Masuk Masjid Dalem Dengan tidak aktifnya Syarif Hidayatullah dalam pemerintahan.

Sastra UNDIP. bahwa perubahan nama gelar untuk penguasa di Kraton Cirebon juga menunjukkan adanya dinamika yang luar biasa.1 Tahun 2012 . Indramayu. “Perkembangan Pelabuhan Cirebon 1859 -1930”. penyebaran Islam ke daerah Babadan. dan Karawang. terlebih lagi setelah adanya pengaruh pihak kolonial atau masuknya VOC ke Cirebon. Pelabuhan Cirebon merupakan pelabuhan yang memiliki peran strategis dalam hal perdagangan sejak masa Syarif Hidayatullah masih berkuasa. 3 No. Pemandangan itu pun masih dapat ditemui hingga saat ini. 1994) dalam http://eprints. Pada sore hari. Pelabuhan sebagai Pusat Perdagangan Peninggalan Syarif Hidayatullah yang pernah menjadi bagian dari jalur sutra perdagangan dunia internasional adalah pelabuhan.id/files/disk1/475/jbptunikompp-gdl-midiansoem-237253-bab2-mid-n. dapat disaksikan puluhan kapal besar tengah bersandar di dermaga.. yaitu Panembahan Ratu dan Sultan.ac. Gelar penguasa Cirebon pernah mengalami beberapa perubahan. Kapal-kapal asing yang mengangkut barang-barang niaga dari dan ke luar negara pernah meramaikan pelabuhan ini. Pelabuhan Cirebon diduga berdiri seiring dengan kelahiran Cirebon pada 1371. kota Cirebon juga menjadi kota pelabuhan alternatif terpenting di pantai utara Jawa setelah Jakarta dan Semarang. Hal itu sejalan dengan perkembangan pesat dari beberapa kerajaan Islam di Jawa dan Banten.undip. Sebagai kota pantai.unikom.id/22079/ 120 Jumantara Vol. Cirebon merupakan pusat perdagangan untuk daerah sekitarnya. terjadi dengan damai dan tanpa kekerasan.berbagai kemunduran. bersamaan dengan berlangsungnya era kolonialisme.pdf 70 Sigit W. Mungkin fenomena ini bisa ditafsirkan sebagai upaya Cirebon untuk memperkuat posisinya di bidang perdagangan dan pelayaran dengan cara menguasai daerah pedalaman yang menjadi sumber 69 http://elib.69 Selain itu. (Semarang: Skripsi Fak.70 Menurut Singgih Tri Sulistiono. Kuningan (Selatan Cirebon). Dari berbagai sumber diketahui. Perkembangan pelabuhan paling pesat terjadi pada abad ke-19.ac.

Arkeologi Islam Nusantara.com/photos/album/91/Pelabuhan_Cirebon Jumantara Vol. Adapun pelabuhan Cirebon dikelola oleh BUMN yang keberadaannya dibawah manajemen PT (Persero). 71 Pelabuhan Kota Cirebon saat ini Saat ini. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa jika pelabuhan tersebut kurang dimanfaatkan. Seperti disebutkan 71 72 Seperti dikutip Tjandrasasmita. 164 http://boykomar. setiap Sunan dalam Wali Songo mempunyai tugas masing-masing. serta sekaligus tempat mensuplai barang-barang dari luar. Uka. maka kejayaan Cirebon juga sudah mulai tenggelam. seperti beras dan kayu. pelabuhan Cirebon berstatus pelabuhan internasional. Pengaruh Syarif Hidayatullah di Jawa Sebagaimana disebut di awal pembahasan.1 Tahun 2012 121 .72 Pelabuhan Cirebon inilah salah satu sumber ekonomi terbesar Kraton Cirebon sehingga pihak kraton dapat memenuhi kehidupan masyarakatnya. hlm. pelabuhan samudra dan pelabuhan ekspor impor.penghasil komoditas perdagangan. kota pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon sudah lebih banyak penduduknya dan lebih ramai.multiply. Lebih-lebih pada masa pemerintahan Syarif Hidayatullah (1479-1568) yang lebih kurang berusia satu abad. yang berarti bahwa pelabuhan Cirebon terbuka bagi kegiatan bongkar muat barang dari dan ke luar negeri atau barang ekspor dan impor. 3 No.

Sunan Giri membuat tatanan pemerintahan di Jawa. Kanjeng Susuhunan Kudus amewahi dapuripun dadamel. membuat keris. dan windu. Sebagai Raja Pandita di Gresik ia merancang pola kain batik. memperbarui alat-alat pertanian. waos duwung sapanunggalanipun. tahun.1 Tahun 2012 . 90-91. hingga sistem peradilan yang diperuntukkan bagi orang Jawa. kerajinan emas. kaliyan kemasan. 3 No. utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana. sinjang batik. tenun lurik. Raja Pandhita ing Gresik amewahi ing polanipun ing sinjang. juga membuat peraturan. dan lauk pauk. Dalam bahasa Primbonnya. tata cara pengobatan. amewahi donga hakaliyan mantra. melengkapi peralatan pande besi. hlm. Sunan Bonang mengajar ilmu suluk. seperti disebut Sunyoto. saha adamel angger-anggeripun hingga pangadilan hokum ingkang keninging kalampahan ing titiyang Jawi. utawi andamel garabah. Susuhunan Majagung mengajarkan mengolah berbagai macam jenis masakan. kaliyan malih amiwiti damel dalan tiyang Jawi. Syarif Hidayatullah di Cirebon mengajarkan tata cara berdoa dan membaca mantra. saha amewahi ing wangunipun kakapaning kuda. mengatur perhitungan kalender siklus perubahan hari. serta tata cara membuka hutan. kanggenipun ing tiyang Jawi. sebagai berikut: Susuhunan ing Ngampel-denta handamel pranating agami Islam. utawi tiyang ingkang karembat ing tiyang. menyesuaikan siklus pawukon. kaliyan sinjang lurik. amewahi wanguning griya. Kanjeng Susuhunan Bonang. tokoh Syarif Hidayatullah dikisahkan memiliki kaitan dengan ajaran sufisme 73 Sunyoto. utawi amewahi parabotipun bekakasing pande. 122 Jumantara Vol. utawi amewahi lagunipun ing gending. dan perlengkapan kuda. kaliyan amewahi parabotanipun ing among tani. juga merintis pembukaan jalan. serta membuat gerabah. undang-undang. seperti tandu dan joli. Kanjeng Susuhunan ing Giri adamel pranatanipun ing karaton Jawi. membuat gamelan. kaliyan amewahi bangsa pepetangan lampahing dinten wulan tahun windu. dadaharan hutawi ulam-ulaman. tandu joli sapanunggalanipun. Kanjeng Susuhunan ing Gunung Jati ing Cirebon. bulan.73 Menurut Serat Walisana.. utawi amewahi lampahing pawukon sapanunggalipun.Sunyoto. adalah sebagai berikut: Sunan Ampel membuat peraturan-peraturan yang Islami untuk masyarakat Jawa. Sunan Drajat mengajarkan tata cara membangun rumah dan membuat alat untuk memikul orang. Kanjeng Susuhunan Drajat. adamel susuluking ngelmi kaliyan amewahi ricikanipun ing gangsa. dan menggubah irama gamelan. Susuhunan ing Majagung amewahi wangunipun ing olah-olahan. Sunan Kudus merancang pekerjaan peleburan. tugas tokoh-tokoh Wali Songo dalam mengubah dan menyesuaikan tatanan nilai dan sistem sosial budaya masyarakat.

. cet. dan Syekh Siti Jenar. Sekurangnya terdapat beberapa peristiwa besar di Demak. Sebagai sosok historis. Ibid. Syarif Hidayatullah juga ikut dalam perjuangan Islam di Jayakarta melalui utusannya. antara lain rapat Wali Songo pernah dipindah dari Demak ke Cirebon untuk membicarakan banyak hal di Jawa. khususnya Syarif Hidayatullah.76 Menurut sumber lain. 2007). Bukti kedekatan pengaruh juga ditunjukkan dengan pola pernikahan putra putrinya.74 Dalam Serat Kanda. Fatahillah. 3 No. bersamaan dengan masa renaisans di Eropa dan kehadiran para pemikir besar muslim pada masanya. Syarif Hidayatullah yang hidup pada abad ke-15/16 di Cirebon. hlm. 91-92 Slamet Muljana. Syaikh Muhyiddin Ibn „Arabi. daripada sebagai penguasa formal birokratis di kesultanan Cirebon.1 Tahun 2012 123 . disebutkan pula dalam Naskah Mertasinga. Kesimpulan Mengkaji teks Syarif Hidayatullah sungguh mengasikkan. Syaikh Abu Yazid Bustomi. (Yogyakarta: LKiS. Abad tersebut. sampai dengan tulisan ini dibuat. 72-88 Jumantara Vol. 2007).75 Keterlibatan Syarif Hidayatullah dengan kerajaan Islam di Demak. Sebagai tokoh yang lebih memilih dakwah syiar Islam bagi masyarakatnya. hlm. Sunan Kalijaga. Wahju. (Bandung: Pustaka.. dan Syaikh Samangun Asarani. terdapat berita bahwa Sunan Cirebon ikut serta membangun masjid Demak sebagai salah satu di antara Sembilan wali. Syarif Hidayatullah telah menanamkan suatu 74 75 Sunyoto. Syaikh Sbti. sering pula dinisbatkan pada ajaranajaran Wali Songo. hlm. Perkembangan Tarekat Syattariyah dan Akmaliyah. Setiap teks selalu menawarkan informasi yang tak jarang berbeda dan bertentangan satu teks dengan teks lainnya tentang sosok Syarif Hidayatullah. seperti dikutip Muljana. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya NegaraNegara Islam di Nusantara. alih aksara dan bahasa Amman N. V. Sunan Giri. tidak ditemukan suatu kitab atau karya akademiknya. Syaikh Rudadi.melalui kitab-kitab Syaikh Ibrahim Arki. intelektual dan muballig. Begitu pula dengan keterlibatannya dengan kerajaan Islam di Banten. 100-101 76 Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga).

dkk. Sumedang. Bruinessen. Ciamis. 3 No. Pigeaud (2003). Adanya kerajaan Islam di Demak dan Banten merupakan beberapa contohnya. bukti kejayaannya dapat ditemukan melalui bangunan tajug atau masjid dengan keragaman seni dan filosofinya. (1998). barangkali merupakan sebagian di antara bukti peradaban muslim klasik Indonesia dari Syarif Hidayatullah selama kurun waktu 1479-1568 di Cirebon. Tak kalah pentingnya lagi kontribusi Syarif Hidayatullah pada perkembangan Islam di Jawa Barat dengan cara dakwah dengan damai. Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Masjid Merah Panjunan. Jakarta: Ikatan Karyawan Meseum. De & Th. mulai dari Kuningan. Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat. Jakarta: Depdikbud. Majalengka. Penyunting Eko Endarmoko dan Jaap Erkelens. Bandung: Mizan. Martin van (1999). HJ.peradaban moral dan teologis bagi muslim Indonesia terutama di Cirebon. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Cianjur. Pengaruh Syarif Hidayatullah terhadap perkembangan Islam di Jawa sangat besar sekali. Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia. Yale University. bahkan Jayakarta (Betawi).1 Tahun 2012 . Kota Dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra. Atja (1974). Graaf. Wallahu a‟lam bis sawab Bibliografi Adeng. Indonesia”. III. Garut. Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah muladjadi Tjirebon). 124 Jumantara Vol. “An Inheritance from the Friends of God: The Southern Shadow Puppet Theater of West Java. Matthew Isaac (1997). “Peranan Walangsungsang dalam Merintis Kesultanan Cirebon 1445-1529”. Skripsi UNES Semarang. Disertasi. Darkum (2007). Indramayu. Cohen. Cet. Karena itu.

United States: Sage Publications Inc. Nugroho Notosusanto. Bandung: Geger Sunten. P. Denzin. Kern dan Husein Djajadiningrat. (1974) “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinya”. Cerbon.Djajadiningrat. Jakarta: Diva Pustaka. Universitas Gajah Mada.N.A. II. Cet. dalam R. Yoseph (2008) Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakwasa). Ishom (edit. Jakarta: Bhratara.A. El-Saha. Mastuki HS. Kern. Sejarah Nasional Indonesia: Jaman Jumantara Vol.A. Kern dan Husein Djajadiningrat. 3 No.1 Tahun 2012 125 . Jakarta: Bhratara.) (2003). R. Abdurrachman. Paramita R. K. dalam Susanto Zuhdi. Cet. & Lincoln S. Tim IAIN Syarif Hidayatullah (2002) Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid I A-H. dan M. Husein Muhammad.A.Y. Jakarta: Djambatan. (penyunt. Hoesein (1974). Yogyakarta. Iskandar. Masa Awal Kerajaan Cirebon. Siddique. seperti dikutip dalam Marwati Djoened Poesponegoro. Masduqi. “Beberapa Catatan Mengenai Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinja”. Jakarta: Depdikbud.) (1982). Yogyakarta: LKPSM. Agus Aris dan Titik Pudjiastuti (1997) “SumberSumber Tekstual tentang Sejarah Cirebon”. Sharon (1992). dalam R. Tesis. Relics of the Past: Sociological Study of the Sultanates of Cirebon West Java. Munandar. Zaenal (2010) “Pemerintahan Kota Cirebon (19061942)”. Masa Awal Kerajaan Cirebon. (2000) Hand Book of Qualitative Research. Penterj. Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra. Jakarta: Sinar Harapan. al-Maraghi. Abdullah Mustofa (2001) Pakar-Pakar Fiqh Sepanjang Sejarah. Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Pertumbuhan Pesantren. X.

Jakarta: Transpustaka.1 Tahun 2012 . Imam (2001). Bandung: Remaja Rosda Karya. Smith. Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup.Pertumbuhan dan Perkembangan III.]: Karisma Publishing Group. Suprayogo dan Tobroni. Suntingan/Terbitan Naskah Babad Tanah Sunda.k. PRA (1985). Wildan. Tulisan dapat diakses di http://eprints. Dadan (2002). penterj. Cirebon: Yayasan Keraton Kasepuhan Cirebon. Sunyoto. Bandung: Humaniora. _______ (2004) Membumikan Wasiat Sunan Gunung Djati Dalam Membangun Jawa Barat Bermartabat. Karya. Bill (2005). Lili Sri Padmawati. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan. Jakarta: Balai Pustaka. Sigit W (1994) “Perkembangan Pelabuhan Cirebon 1859-1930”. 100 Peristiwa yang Berpengaruh di dalam Sejarah Dunia (100 Events That Shaped World History).id/22079/ Yenne. Uka (2009) Arkeologi Islam Nusantara. Fakultas Sastra UNDIP. [t. Metodologi Penelitian Sosial-Agama. Tjandrasasmita. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara.ac.undip. Sejarah Cirebon. 3 No. Mistikus Islam: Ujaran-ujaran dan Karyanya. Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural. Ribut Wahyudi. Margaret (2001). Agus (2011). Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan 126 Jumantara Vol. Skripsi. Jakarta: Balai Pustaka. Jakarta: Pustaka Gramedia. Sulendraningrat. terbitan Suleman Sulendraningrat dalam Dadan Wildan. Penterj. Bibit (2009). Jakarta: Gramedia. Suprapto. Surabaya: Risalah Gusti.

htm Jumantara Vol. (Bandung: Humaniora.pdf http://www. (Bandung: Pustaka. Hadisutjipto (Jakarta: Depdikbud.id/kbbi/index.1 Tahun 2012 127 .html http://indahartgallery.Z. 2002) Babad Tanah Sunda.nusawarta. 1979) Naskah Mertasinga. 2007) Website http://pusatbahasa. terbitan Suleman Sulendraningrat dalam Dadan Wildan.go.webs. alih aksara dan bahasa Amman N. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural. 2002) Babad Cirebon. Wahju. alih aksara dan ringkasan S. Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural. 2005) Naskah Kuningan.id/files/disk1/475/jbptunikompp-gdlmidiansoem-23725-3-bab2-mid-n. alih aksara dan bahasa Amman N.unikom.multiply.php http://boykomar.com/keraton. (Bandung: Pustaka. Wahju.com/2010/12/kisah-sejarah-kotacirebon. (Bandung: Humaniora.ac.kemdiknas. 3 No.com/photos/album/91/Pelabuhan_Cireb on http://elib.

Daluang. panjang serat.1 Tahun 2012 . Candi Cangkuang *) Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia 128 Jumantara Vol. warna bahan. Adapun uji sampel di laboratorium mengacu pada Standard Nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional Indonesia (BNSNI) sehingga hasilnya lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. kadar asam dan jenis kerusakan naskah. Adanya kemungkinan penggunaan metode dan hasil identifikasi bahan naskah daluang tersebut diharapkan dapat memperkaya metode kajian naskah dan mempertajam analisis filologis selanjutnya. 3 No.Abstrak Tulisan ini berupaya memaparkan hasil identifikasi naskah berbahan daluang dengan menggunakan dua metode. digunakan beberapa alat bantu identifikasi agar hasilnya lebih terukur. Dalam hal metode pengamatan langsung. Kata Kunci: Identifikasi. jenis serat. Dua metode tersebut digunakan untuk identifikasi bahan naskah gulungan koleksi Cagar Budaya Candi Cangkuang (CBCC). Bahan Naskah. Karakteristik bahan naskah yang dihasilkan berupa ketebalan bahan. yaitu pengamatan langsung dan uji sampel di laboratorium.

pengenalan karakteristik bahan. yaitu daluang. Dalam identifikasi naskah. 1985: 4-5. di antaranya Lubis (1996:37) yang menyatakan bahwa “daluang adalah kertas yang digunakan di Pulau Jawa yang terbuat dari kulit kayu sebagai campuran”. dan aspek-aspek lainnya. dan 1 naskah berbahan daluang saéh. Kasus serupa terjadi pada pendeskripsian naskah gulungan CBCC di Kecamatan Leles. Kabupaten Garut.1 Tahun 2012 129 . saéh. Medium dalam naskah dapat dibedakan pula atas dua hal. 3 No. yang secara otomatis Jumantara Vol. Sudardi. Sudjiman.Pendahuluan Naskah dibedakan atas adanya fisik dan kandungan teks. 2001: 18-20. terdapat pula kekeliruan dalam pendeskripsian bahan naskah pada materi pameran tetap di BPMNSBJB. Naskah berbahan daluang dideskripsikan sebagai naskah berbahan kulit kambing. dan daluang saéh. Di samping itu. 74 buah di antaranya berbahan “daluang”. daluang merupakan salah satu dari sekian banyak bahan naskah yang digunakan dalam tradisi tulis Nusantara. 1994: 11). Contoh kesalahan dalam pendeskripsian naskah yang memakai daluang sebagai bahannya adalah pendeskripsian bahan naskah pada koleksi Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga Jawa Barat (BPMNSBJB). Provinsi Jawa Barat. Terkait dengan bahan naskah. yaitu bahan dan teknik. Terjadinya kesalahan dalam identifikasi naskah berbahan daluang. yang pertama kali dapat dilakukan di antaranya adalah pendeskripsian medium. yang menyatakan bahwa dari 137 buah koleksi naskah yang ada terdaftar. baik dari segi peristilahan. Dalam hal ini digunakan tiga istilah untuk satu jenis bahan naskah yang sama. Namun patut dicatat bahwa masih terdapat beberapa kekeliruan dalam memahami daluang. bisa jadi disebabkan oleh hilangnya tradisi pembuatan daluang. 2 buah berbahan saéh. yaitu naskah Babad Pajajaran yang kemungkinannya besar berbahan daluang dideskripsikan sebagai naskah berbahan kulit binatang. fisik naskah adalah medium yang mewadahi teks sebagai kandungannya (Baried.

3 No. dan perawatan naskah. Di antara sekian banyak naskah yang berhasil dihimpun dalam berbagai katalog naskah Nusantara. Kini banyak orang. daluang sebagai bahan naskah yang dihasilkan oleh tradisi tulis Nusantara menjadi penting untuk dikaji lebih lanjut. Buruknya kondisi naskah-naskah berbentuk buku bisa jadi disebabkan oleh tingginya tingkat penggunaan pada masa naskah itu digunakan atau karena kurang baiknya teknik penjilidan. lembar halamannya terurai dari jilidannya sehingga halaman demi halamannya tercecer. 130 Jumantara Vol. Adapun informasi mengenai koleksi naskah CBCC dapat dilihat pada buku Cagar Budaya Candi Cangkuang dan Sekitarnya yang disusun oleh Zaki Munawar (2002). penyimpanan.menyebabkan informasi mengenai daluang menjadi terputus. serta fungsinya diperkirakan dapat memberi jalan bagi pendalaman kajian terhadap naskah serta pengembangan bagi disiplin ilmu filologi. Naskah-naskah koleksi CBCC disimpan di tiga lemari kaca yang berbeda. berjamur. Dalam hal ini peran kajian kodikologi untuk mengenali bahan. tidak mengenal wujud dan ciri-ciri daluang dengan baik. atau karena kurang baiknya pemeliharaan masyarakat pendukung berikutnya. termasuk para petugas yang menangani naskah. naskah gulungan kondisinya lebih baik. teknik. berupa buku (binding) dan gulungan (scroll).1 Tahun 2012 . Berbeda dengan yang berbentuk buku. naskah CBCC ternyata belum banyak diteliti. Naskah koleksi CBCC seluruhnya berjumlah tujuh belas naskah dan seluruh bahan naskahnya diperkirakan berupa daluang. dan aksaranya sudah tidak terlalu jelas. Kemasan naskahnya terdiri dari dua bentuk. lima belas buah naskah berbentuk buku disimpan berjajar dalam dua lemari kaca dan dua naskah disimpan terpisah dalam sebuah lemari kaca lainnya. sehingga menyulitkan ketika akan dibaca. Kondisi fisik naskah berbentuk buku umumnya sudah mulai rusak (dari enam belas naskah hanya tiga naskah yang kondisinya masih cukup baik). lembab. termasuk di dalamnya naskah berbentuk gulungan. Sehubungan dengan hal itu. bahkan dalam berbagai katalog naskah pun belum tercantum.

lembarannya relatif masih utuh, tidak terlalu lembab, tidak terlalu berjamur, dan aksaranya terlihat jelas sehingga memudahkan pembacaan teks. Kondisi naskah berbentuk gulungan yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi naskah berbentuk buku mengundang beberapa pertanyaan, di antaranya: apakah naskah yang dikemas dalam bentuk gulungan lebih baik daripada naskah berbentuk buku atau apakah ada kaitan antara bahan naskah dan bentuk kemasan naskah dengan tingkat kekuatan fisik naskah?

Gambar 1. Tampak kerusakan naskah berbentuk buku koleksi CBCC. (dok. pribadi)

Naskah gulungan koleksi CBCC mempunyai ukuran 176 X 23 cm., kedua permukaannya ditulisi dengan teks beraksara Arab,; tinta yang digunakan untuk menuliskan aksara berwarna hitam dan tinta yang digunakan untuk menuliskan tanda baca berwarna merah. Identifikasi bahan naskah gulungan koleksi CBCC pada dasarnya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan berdasarkan pengujian di laboratorium. Pengamatan secara langsung di lapangan dapat dilakukan dengan bantuan alat ukur dan peralatan lainnya yang

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

131

diperlukan. Alat ukur yang digunakan di lapangan memberikan hasil ukur secara langsung, seperti panjang dan lebar bahan naskah, ketebalan bahan naskah, warna bahan naskah, jenis aksara, dan warna tinta tulis yang digunakan. Adapun pengujian bahan di laboratorium dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan laboratorium dan didasarkan pada metode dan standar yang sudah diakui secara nasional, yaitu SNI. Pengamatan Langsung Pengamatan terhadap bahan naskah gulungan koleksi CBCC yang bisa dilakukan secara langsung di lapangan adalah berupa pengukuran dimensi panjang dan lebar bahan naskah dengan menggunakan mistar, pengukuran ketebalan bahan naskah dengan menggunakan mikrometer digital, dan pengukuran warna dengan menggunakan tabel warna; di samping itu dilakukan pula pengambilan gambar dengan menggunakan kamera digital untuk keperluan dokumentasi penelitian. Setelah dilakukan pengukuran, hasilnya menunjukkan bahwa ukuran bahan naskah adalah 176 X 23 cm., sama dengan informasi yang diberikan oleh juru pelihara CBCC. Ukuran bahan naskah seperti itu termasuk jarang digunakan dalam penulisan naskah, hal ini dapat di antaranya dapat dilihat pada data dalam Katalogus Naskah Sunda (1988), yang menunjukkan bahwa naskah-naskah Sunda umumnya mempunyai ukuran di bawah ukuran bahan naskah gulungan koleksi CBCC dan umumnya berbentuk buku. Kelangkaan ukuran bahan naskah tersebut juga dapat mengindikasikan bahan baku yang digunakannya. Dalam hal ini bisa diyakini bahwa naskah gulungan koleksi CBCC bukan terbuat dari kulit kambing seperti yang dideskripsikan oleh petugas juru pelihara CBCC, berangkat dari asumsi panjang kulit kambing dari bagian leher sampai dengan bagian ekor berkisar antara 90 sampai dengan 120 cm. Di samping itu tidak terdapat bintik-bintik bekas pori-pori dan bekas tumbuhnya bulu seperti pada lembaran kulit binatang pada umumnya. Serat pembentuk

132

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

lembarannya pun serat panjang seperti halnya serat pembentuk lembaran kulit kayu. Mengenai kepastian jenis serat pembentuk bahan, selanjutnya akan dipastikan melalui uji laboratorioum.

Gambar 2. Tampak serat pembentuk bahan naskah NGCBCC. (dok. pribadi)

Mengenai ketebalan bahan naskah gulungan koleksi CBCC, setelah dilakukan pengukuran ternyata bahwa ketebalan bahannya tidak sama, paling tipis adalah 0.29 mm dan paling tebal adalah 0.48 mm. Berpijak pada adanya variasi ketebalan bahan dan dikaitkan dengan jenis serat pembentuk lembaran yang diduga berasal dari serat kulit kayu, maka dapat dipastikan bahwa bahan naskah gulungan koleksi CBCC dibuat secara tradisional; bukan dibuat secara modern dengan menggunakan mesin pembuat kertas yang dapat menghasilkan kertas dengan ketebalan yang sama karena dibentuk oleh sebuah mekanisme pembentuk lembaran (sheet former) yang presisi. Dengan adanya kenyataan serat pembentuk bahan naskah berupa jenis serat panjang yang berasal dari kulit kayu, penentuan bahan naskah pun bisa dirujuk pada adanya daluang sebagai bahan naskah Nusantara. Mengenai warna bahan naskah gulungan CBCC, agar

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

133

keterukurannya lebih akurat, maka pengukuran warna disandarkan pada tabel warna C/M/Y/K. Setelah diukur secara acak berdasarkan kesamaan dan perbedaan warna yang mencolok, didapatkan hasil ukur warna dengan pola (1) 10/20/50/0, (2) 40/40/50/0, (3) 5/5/50/0, (4), 5/20/50/0 (5), 0/10/50/0, dan (6) 5/10/50/0. Jika keseluruhan pola warna tersebut dikonversikan ke tabel warna yang dikeluarkan oleh Winsor & Newton, maka warna bahan naskah gulungan CBCC dapat termasuk ke dalam warna naples yellow, yellow ochre, atau raw sienna.

Gambar 3. Tampak pengukuran ketebalan kertas - 0.29 mm. (dok. pribadi)

Gambar 4. Tampak nilai warna pola 1. 10/20/50/0 (dok. pribadi).

134

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Seluruh pengujian tersebut metodenya didasarkan pada standar yang telah ditetapkan BSNI. dan Kalibrasi. pengujian daya serap Jumantara Vol. pengujian jenis serat didasarkan pada SNI 0441-2009.Adanya perbedaan atau gradasi warna yang terdapat pada naskah gulungan CBCC menunjukkan bahwa. Gambar 5. (3) panjang serat. Hasil Uji Laboratorium Untuk melakukan identifikasi bahan naskah di labotatorium. Sertifikasi. dan (6) ketahanan lipat. Tampak hasil konversi warna bahan NGCBCC yang menunjuk pada warna naples yellow. pribadi). yaitu: pengujian pH didasarkan pada SNI 14-0479. Nina Elyani. jika pada saat pembuatan warna bahan naskah adalah sama. berdasarkan informasi studi lapangan yang dilakukan pada tanggal 3 Pebruari 2011 di Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) yang berlokasi di Jalan Raya Dayeuhkolot 132 Bandung. maka perbedaan warna yang dapat disaksikan saat ini adalah perbedaan warna yang dihasilkan atau diakibatkan oleh perjalanan waktu serta perlakuan terhadap naskah itu sendiri. (5) daya serap air atau Cobb 60. atau raw sienna (dok. (2) jenis serat. pengujian panjang serat didasarkan pada SNI ISO 16065. yellow ochre. 3 No. (4) daya serap tinta atau penetrasi minyak IGT.2-2010. Kepala Bidang Pengujian. menyatakan bahwa bahan naskah gulungan koleksi CBCC dapat diidentifikasi berdasarkan uji atas (1) pH atau kadar asam.2-1998.1 Tahun 2012 135 .

yaitu sekitar 1 X 1 cm untuk uji kadar asam dan 1 X 1 cm untuk uji jenis serat dan panjang serat. Gambar 6. Untuk melakukan uji kualitas bahan naskah diperlukan bahan atau sampel dengan ukuran minimum 15 X 20 cm yang akan hancur setelah proses pengujian berlangsung. penentuan jenis serat. Sampel bahan diambil dari bagian naskah gulungan CBCC yang koyak. 3 No.tinta didasarkan pada SNI 14-9584-1989. ternyata masih terdapat peluang untuk melakukan uji pH atau kadar asam.1 Tahun 2012 . (dok. dan panjang serat bahan naskah karena contoh bahan naskah yang diperlukan untuk pengujian tersebut tidak terlalu besar. Namun demikian. Etika keilmuan filologi juga tidak memperkenankan untuk pengambilan bahan naskah karena akan merusak naskah itu sendiri. Tampak bagian ujung bahan naskah yang koyak. Ukuran minimun bahan untuk uji kualitas tersebut nampaknya tidak dapat dipenuhi karena naskah gulungan CBCC merupakan benda koleksi dilindungi oleh Undang-Undang Cagar Budaya. dengan 136 Jumantara Vol. pribadi) Pengujian kadar asam serta penentuan jenis dan panjang serat bahan naskah gulungan CBCC menjadi sangat penting untuk dilakukan karena melalui pengujian ini akan dapat diketahui apakah bahan naskah tersebut termasuk kertas yang kuat. pengujian daya serap air didasarkan pada SNI 0449-2008. yang selanjutnya disebut sampel utama. dan pengujian ketahanan lipat didasarkan pada SNI 0491-2009. Keberadaannya harus senantiasa dijaga dan harus tetap berada di lokasi CBCC.

“permanensi adalah kemampuan kertas untuk tetap stabil dan tahan terhadap aksi kimia. Selanjutnya. di mana skala pH 0 menunjukkan derajat asam. dalam Lukman (2009: 56). potassium alumunium sulphate untuk penghalus permukaan kertas (bahan kimia dalam proses pembuatan kertas pabrikan) dan penggunaan tinta tulis yang mengandung unsur iron gallotannate (garam besi) juga merupakan faktor yang dapat menyebabkan tingkat keasaman (acid sulfurik) bahan naskah menjadi tinggi”. Jumantara Vol. dan skala pH 14 menunjukkan derajat basa. pada dasarnya merupakan salah satu bahan baku pembuatan kertas dan sudah dipergunakan sejak kira-kira seratus tahun yang lalu. baik dari dalam maupun dari lingkungan sekitarnya. yaitu kadar keasaman atau kebasaan suatu kertas dengan skala 0 – 14. lignin juga merupakan kandungan dari serat kayu itu sendiri. dinyatakan bahwa ukuran terpenting yang menjadi penentu kertas bersifat permanen adalah kadar pH. Permanensi berhubungan dengan stabilitas kimia kertas.1 Tahun 2012 137 .permanensi (kekuatan) dan durability (ketahanan) tinggi. mengenai unsur asam pada yang terdapat dalam kertas (termasuk daluang). Wan Mamat (1988:62--63) memaparkan bahwa. contohnya goresan dan lipatan. skala pH 7 menunjukkan sifat netral. sedangkan ketahanan berhubungan dengan kekuatan fisik. penggunaan zat-zat kimia seperti clorine untuk pemutih kertas. Di samping lignin.” Adapun menurut Harvey. atau bahkan sebaliknya seperti yang dipaparkan Lukman (2009: 55). ketahanan (durability) merupakan sifat ketahanan kertas terhadap perlakuan fisik yang dapat menyebabkan rusaknya kertas. “unsur asam atau lignin. 3 No. Sementara itu.

1.725 mm. selanjutnya disebut sampel rekonstruksi.Secara kebetulan.5 ± 2.4 ± 2. Tampak bahan naskah sampel pembanding dan daluang hasil rekonstruksi. dari sampel pembanding didapatkan hasil uji pH sebesar 5.02. dan hasil uji panjang serat sepanjang 2.985 mm.1 Tahun 2012 .81 ± 0. dan hasil uji panjang serat sepanjang 2. dari sampel utama didapatkan hasil uji pH sebesar 4. yang oleh pemiliknya. dan daya serap air permukaan bawah 17. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood. (dok. Di samping itu. ditemukan naskah yang bahannya diperkirakan sejenis dengan bahan naskah gulungan koleksi CBCC. Zaki Munawwar. Sampel ini selanjutnya disebut sampel pembanding.01. di sekitar lokasi CBCC. dan hasil uji panjang serat sepanjang 3. daya serap tinta permukaan bawah 53.9.0 ± 0. adapun dari sampel rekonstruksi didapatkan hasil uji pH sebesar 6.6. daya serap tinta permukaan 138 Jumantara Vol.575 mm. daya serap tinta permukaan atas 48. diuji pula sampel daluang hasil rekonstruksi. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood.2 ± 9. Gambar 7.01. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood.1. pribadi) Berdasarkan laporan hasil uji atas ketiga sampel yang dikeluarkan BBPK tertanggal 17 Pebruari 2012. diserahkan kepada penulis agar bahannya dapat dimanfaatkan untuk uji laboratorium. agar didapatkan gambaran mengenai kualitasnya guna pemanfaatan praktis selanjutnya.96 ± 0. 3 No.82 ± 0.7. daya serap air permukaan atas 15. tepatnya di Desa Cangkuang Kecamatan Leles. daya serap tinta permukaan atas 50.3 ± 3.

dan ketahanan lipat silang serat 496 ± 333.1 ± 1.96 ± 0.bawah 77.Top side . dan daya serap air permukaan bawah 193.4 ± 2. Hasil Uji Sampel Bahan Kertas.1 77.5 ± 2. yaitu pH.Bottom side 5 Cobb 60 .01 Softwood 3.3 ± 3.01 Softwood 2.985 Sampel Rekonstruksi 6. Tabel di atas memuat hasil uji atas tiga parameter yang dapat dibandingkan dari sampel utama. Untuk memudahkan pembahasan.727 2 3 4 - - 48.4 Tabel 1. 3 No. kelembaban ruangan pada RH 50 ± 2 %.5. berikut ini adalah tabel hasil uji dimaksud.1 17.7 150. jenis serat.1 ± 1.2. daya serap air permukaan atas 150.9 53.5 193.82 ± 0. dan sampel rekonstruksi. ketahanan lipat arah serat sebesar 4246 ± 935.575 mm 4.02 Softwood 2.4.Bottom side 6 Ketahanan Lipat .Top side .5 ± 29.5 ± 29.81 ± 0.0 ± 3. Jumantara Vol.1 Tahun 2012 139 . sampel pembanding. Parameter Satuan Sampel Utama 1 pH Jenis serat Panjang serat Penetrasi minyak IGT .0 ± 3. Hasil Uji No. Seluruh hasil uji tersebut didasarkan pula pada kondisi ruang pengujian dengan suhu 23 ± 10 C.6 50.2 ± 9.2 - 15. dan panjang serat.Arah serat -Silang serat 4246 ± 935 496 ± 333 g/m2 g/m 2 Sampel Pembading 5.0 ± 0.

yaitu hardwood (kayu keras atau kayu daun lebar) dan softwood (kayu lunak atau kayu daun jarum). untuk sampel utama dan sampel pembanding.01. Selanjutnya untuk jenis serat. Melihat kenyataan bahwa kadar pH bahan naskah gulungan koleksi CBCC termasuk ke dalam kategori di bawah netral atau cenderung asam. yaitu jenis softwood. maka tingkat penurunan kualitas bahan naskah akan berlangsung dengan cepat dan mengakibatkan kerusakan naskah-naskah itu sendiri. 140 Jumantara Vol. dalam Lukman (2009: 59). sampel utama memiliki derajat keasaman paling tinggi. dan sampel rekontruksi.81 ± 0. dan panjang serat sampel utama 2. maka penanganan naskah-naskah koleksi CBCC selanjutnya menjadi sangat penting untuk diperhatikan. derajat pH sampel pembanding 5.01. di samping menunjukkan tingkat derajat keasaman pada waktu pengujian. Hasil perbandingan atas tiga parameter di atas menunjukkan bahwa untuk derajat pH. Namun demikian. secara umum kayu dibagi menjadi dua kelompok. jenis serat ketiga sampel adalah softwood.1 Tahun 2012 .02. ketiga sampel menunjukkan jenis serat yang sama. Menurut Iswanto (2008: 1) dan Sucipto (2009: 1). dan panjang serat sampel rekonstruksi 3. secara objektif menunjukkan tingkat derajat keasaman pada waktu pengujian.985 mm.5 agar dapat dikategorikan sebagai kertas permanen. panjang serat sampel pembanding 2. Tingkat derajat keasaman yang didapat dari perbandingan hasil uji tersebut. dan yang membedakan keduanya adalah keberadaan sel pembuluh yang hanya terdapat pada kayu daun lebar. juga menunjukkan tingkat kadar asam pada waktu selesai pembuatan. softwood adalah pengolongan jenis serat untuk kayu dan bukan untuk jenis serat kulit kayu. menyatakan bahwa kadar pH kertas pada waktu pembuatan tidak boleh kurang dari 6. karena jika penanganannya tidak dilakukan secara baik. setelah melakukan penelusuran lebih lanjut atas penggolongan jenis serat.575 mm.96 ± 0. sedangkan untuk sampel rekonstruksi. diikuti oleh sampel pembanding.Derajat pH sampel utama 4. Ross Harvey.82 ± 0. dan derajat pH sampel rekonstruksi 6.727 mm. 3 No.

masih lebih panjang jika dibandingkan dengan panjang serat dari empat jenis kayu yang diteliti oleh Budi (1995: 103) yaitu.1 Tahun 2012 141 . Jumantara Vol. 3 No. Selain itu lembaran kertas yang terdiri dari kumpulan sel-sel yang terpisah terikat kembali satu sama lain secara lamai tanpa adanya tambahan bahan perekat. artinya semakin panjang serat. dan sampel rekonstruksi.Mengenai kulit kayu.410 mm.” Namun demikian. lebih besar dari pada ikatan antar sel. kayu meranti merah 1.413 mm. sehingga kekuatan kertas lebih didasarkan atas exobond dari luas permukaan setiap selnya. karena dikategorikan sebagai jenis yang sama. panjang serat ketiga sampel di atas. hal ini dikarenakan panjang serat erat hubungannya dengan banyaknya kontak perkesatuan sel. Selain itu kekuatan internal dalam serat atau sel. kayu adalah jaringan xylem dan kulit kayu adalah jaringan phloem.) from Java or Madura. seperti yang dipaparkan Budi (1995: 105).” Adapun untuk panjang serat. Dengan demikian. maka kekuatan kertasnya semakin baik. “Secara umum panjang serat mempunyai peranan langsung terhadap sifat-sifat kekuatan kertas. Batubara (2008) menyatakan bahwa pada dasarnya kulit kayu dan kayu adalah dua bagian yang berbeda. sampel utama memiliki panjang serat yang paling pendek. maka akan lebih baik jika digolongkan ke dalam jenis serat kulit kayu (daluang). selanjutnya diikuti oleh sampel pembanding. karena panjang serat berbanding lurus dengan ketahanan lipat dan kekuatan kertas. kayu terap 1. untuk penentuan jenis serat ketiga sampel di atas. kedua jaringan ini merupakan pembentuk struktur kayu secara utuh. Teygeler (1995) menyarankannya dengan menyatakan bahwa “ finally dluwang can be defined as beaten treebark (tapa) of paper – mulberry tree (Broussonetia papyrifera Vent. Hal ini dapat menunjukkan bahwa ketahanan lipat sampel utama dan sampel pembanding lebih rendah dari sampel rekonstruksi.345 mm. kayu kapur 1. Semakin panjang sel serat akan memberikan pengaruh yang positif terhadap kekuatan pada kertas.

kayu kapur.dan kayu keruing 1. naskah disimpan di ruangan khusus dengan suhu dan kelembaban udara tertentu. Pengemasan dan penyimpanan naskah dalam bentuk gulungan diperkirakan ada sudah sejak lama.1 Tahun 2012 . rak. Wan Mamat (1988:57--58) menyatakan bahwa suhu ideal berkisar antara 550F (130C) sampai dengan 650F (180C) dengan kondisi udara yang mengalir. karena dalam bentuk gulungan serat-serat pembentuk lembaran bahan akan lebih terjaga dibandingkan jika dikemas dalam bentuk lipatan. Mengenai suhu ruangan untuk penyimpanan naskah. sedangkan kelembaban berkisar 50%. Naskah gulungan koleksi CBCC dengan dimensi 176 X 23 cm. memungkinkan serat pembentuk lembaran 142 Jumantara Vol.689 mm. Dengan demikian. Di beberapa tempat penyimpanan koleksi naskah yang sudah maju. Alat untuk mengatur suhu ruangan dikenal sebagai air conditioning (AC) dan alat untuk mengatur kelembaban dikenal sebagai higrometer. Dengan memperhatikan hal tersebut. Pengemasan naskah dalam bentuk gulungan sepertinya merupakan pengemasan yang cukup baik untuk dimensi panjang 176 cm. dan kayu keruing. saat ini tampak disimpan dalam sebuah lemari kaca yang cukup baik sehingga terbebas dari debu dan serangga yang dikhawatirkan akan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut pada naskah. laju kerusakan bahan naskah dapat diperlambat dan kondisi fisiknya dapat dipertahankan sehingga suatu naskah dapat bertahan lebih lama. Penyimpanan dan Perawatan Naskah Penyimpanan dan perawatan naskah memerlukan penanganan yang baik. kekuatan kertas berbahan baku kulit kayu seperti yang terdapat pada ketiga sampel yang diuji di BBPK masih lebih tinggi tingkat kekuatan kertasnya jika dibandingkan dengan kertas berbahan baku kayu terap. Naskah pun ditempatkan dalam lemari. dan kotak yang terbuat dari kertas bebas asam. 3 No. kayu meranti merah. karena pada dasarnya bahan naskah mudah rusak jika tidak ditangani dengan baik. diperkirakan sejak bahan naskah dibuat sampai saat ini.

debu. (dok. Adanya jamur. Gambar 8. yaitu naskah disimpan dalam lemari kaca sehingga terhindar dari kontak langsung dengan udara luar. Di samping itu terdapat pula kulit telur kecoa yang menempel di permukaan bahan naskah dan beberapa lubang kecil yang diperkirakan disebabkan serangga sejenis kutu buku. pribadi) Walaupun saat ini penyimpanan dan perawatan naskah sudah cukup baik. namun secara kasat mata terlihat bahwa pada permukaan bahan naskah masih terdapat beberapa kerusakan yang mungkin akan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut.1 Tahun 2012 143 . 3 No. dan lubang-lubang pada naskah menunjukkan adanya faktor biologis sebagai penyebab kerusakan naskah. Hal ini tampak dari adanya bagian naskah yang lembab karena terhidrolisis oleh udara basah. data diambil pada bulan Juni 2008. di antaranya.bahan akan putus sebagai akibat dari proses buka tutup lipatan yang berulang. yaitu mendorong tumbuhnya jamur. kulit telur kecoa. adalah faktor lingkungan. Faktor penyebab kerusakan naskah yang nampak. dan terbebas dari jamahan tangan. Jumantara Vol. Bagian naskah yang lembab ini kemudian menimbulkan kerusakan lebih lanjut. suhu ruangan 27 derajat celcius dan kelembaban 64 persen.

Gambar 9. Tampak faktor biologis sebagai faktor penyebab kerusakan naskah. (dok. pribadi)

Atas dasar hal tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa kerusakan bahan naskah gulungan koleksi CBCC, di antaranya, disebabkan oleh faktor usia, faktor lingkungan, faktor biologis, dan faktor mekanis. Pada kalangan masyarakat tertentu di Indonesia saat ini, khususnya masyarakat tradisional, terdapat kegiatan penyimpanan dan perawatan naskah secara tradisional. Berdasarkan pengamatan sepintas, upaya yang dilakukan masyarakat tradisional dalam melakukan penyimpanan dan perawatan naskah memberikan keuntungan bagi kondisi naskah, sehingga keberadaan naskah masih dapat disaksikan sampai saat ini. Upaya yang dilakukan masyarakat tradisional di antaranya dengan menyimpan naskah pada kotak kayu, menyimpan naskah di atas tempat yang agak tinggi pada bagian dinding rumah agar tidak terjangkau anak-anak, membungkus naskah dengan kain, dan ada kalanya di dalam kotak kayu dan bungkusan kain tersebut disertakan pula beberapa batang cerutu, biji cengkih, bunga melati, dan sebagainya.

144

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Gambar 10. Tampak gulungan Wayang Beber dan kotak penyimpannya di Gunung Kidul. (dok. pribadi)

Cerutu, biji cengkih, dan bunga melati yang disimpan di dalam kotak kayu ataupun kain pembungkus naskah ternyata dapat menghindarkan serangan rayap, kutu buku, semut, ataupun serangga pengganggu lainnya yang dapat mengakibatkan kerusakan pada naskah. hal ini dapat dipahami karena ternyata baik cerutu, biji cengkih, dan bunga melati masing-masing mempunyai aroma khas yang tidak disukai serangga.

Gambar 11. Tampak penyimpanan naskah yang dijadikan sarang semut. (dok. pribadi)

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

145

Di beberapa tempat tertentu, yang masyarakat pendukungnya masih memegang teguh adat istiadat, naskah dan benda-benda koleksi lainnya hanya boleh dibuka dan dilihat satu tahun sekali, biasanya pada bulan-bulan yang dianggap sakral, seperti bulan Mulud sekaligus dengan melakukan prosesi pembersihan pusaka. Pengaturan waktu untuk membuka dan membersihkan naskah beserta benda-benda yang dianggap keramat (termasuk mengkeramatkan naskah), ternyata ada sisi positif dan sisi negatifnya. Sisi positifnya adalah memberikan ketahanan bagi naskah itu sendiri, dalam hal ini naskah tidak sembarang waktu dijamah tangan dan dibuka tutup. Sisi negatifnya adalah kandungan informasi naskah tidak diketahui masyarakat banyak sehingga, jika terjadi penurunan kualitas kondisi naskah, maka tingkat kerusakannya tidak cepat diketahui dan kerusakannya tidak akan dapat dicegah. Daftar Pustaka Baried, Siti Baroroh (1985). Pengantar Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Batubara, Ridwanti (2008). Kimia Kulit Kayu, Potensi dan Peluang Pemanfaatannya. Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Budi, Agus Sulistyo (1995). “Morfologi Serat Pulp dari Empat Jenis Kayu Daun Lebar dalam Hubungannya dengan Kekuatan Kertasnya”. Jurnal FRONTIER Nomor 17. September 1995. Ekadjati, Edi S. (1988). Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran dan The Toyota Foundation. Lubis, Nabilah (1996). Naskah, Teks, dan Metode Penelitian Filologi. Jakarta: Forum Kajian Bahasa & Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah. Lukman (2009). “Penggunaan Kertas Permanen sebagai

146

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Pencegahan Kerusakan Kertas”. Jurnal BACA Vol. 30, No. 1, Agustus 2009 (01-72). Munawar, Zaki (2002). Cagar Budaya Candi Cangkuang dan Sekitarnya. Garut: Dinas Pariwisata Seni dan Budaya. Sudjiman, Panuti (1994). Filologi Melayu. Jakarta: Pustaka Jaya. Teygeler, René (1995). “Dluwang, a Javanese/Madurese Tapa from The Paper-mulberry Tree” dalam www\IIAS Newsletter\IIASN-6\Southeast Asia. Dikunjungi pada tanggal 14 April 2004. Wan Mamat, Wan Ali Hj. (1988). Pemuliharaan Buku dan Manuskrip. Kualalumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

147

Abstrak Lontar adalah produk budaya Bali dan telah diakui menjadi warisan budaya dunia. 3 No. Manuskrip Pendahuluan Kata lontar memiliki kaitan erat dengan sumber bahan dasar pembuatannya. Masyarakat Bali berkeyakinan lontar memiliki arti yang penting dan sangat bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya. Tulisan ini mendeskripsikan lontar dari berbagai dimensi mencakup lontar sebagai warisan budaya. Lontar dengan segala bentuk wacana penuturannya memotret dan memberikan cermin kehidupan yang dapat dijadikan smerti. Warisan budaya yang satu ini juga telah memberikan aura keluhuran dan mentransmisikan keunggulan pemikiran masyarakat Bali yang melahirkannya. Fakultas Sastra. Tradisi lontar di Bali memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan umur yang tua seiring dengan nilai-nilai *) Pengajar di Jurusan Sastra Bali. tradisi penulisan manuskrip. Bali. Universitas Udayana Bali. yaitu rontal /daun ental/tal (sejenis daun palma/borassus flabelliformis). 148 Jumantara Vol. yaitu contoh dan implementasi kehidupan yang patut dan tidak patut dilakukan. Lontar sebagai produk budaya kaya makna telah mengangkat citra tradisi Bali di tengah-tengah pergaulan peradaban masyarakat dunia. Kata Kunci: Lontar. serta proses pembuatan manuskrip lontar.1 Tahun 2012 .

filsafat. yaitu manifestasi Ida Sang Hyang Widi (Tuhan) sebagai sumber ilmu pengetahuan. Para panglingsir (orang tua berpengetahuan) di Bali memaparkan kata Saraswati ke dalam dua bentuk dasar. 3 No. Wati diterjemahkan sang adrue (pemilik). Setiap 6 bulan sekali. pada hari Minggu Umanis Watugunung. Masyarakat Bali meyakini lontar adalah wahana bersemayam Sang Hyang Aji Saraswati.1 Tahun 2012 149 . Dari uraian itu. yaitu saras dan wati. Dewi Saraswati juga dijuluki Dewi Wagmiswari (Dewi Katakata) atau Wagmimaya (Kata-kata Bertuah). dan ilmu pengetahuan tinggi lainnya. Bhatari Dewi. Julukan yang lain untuk memuliakan Dewi Saraswati sebagai sumber ilmu pengetahuan yaitu: Putkari Dewi. Pada hari ini masyarakat menghaturkan aneka banten pasucian Weton Saraswati. kata Saraswati diterjemahkan sebagai Ida Sang mambek toya tur wagmi sajroning bebaosan yang artinya beliau yang mengalirkan air suci pengetahuan. Dewi sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang berupa tastra (manuskrip aksara Bali) yang bersemayam di mahligai lontar. Itulah Saraswati. Sarada Dewi. Keesokan harinya.sejarah. Karena itu. bertepatan dengan perhitungan kalender Bali Sabtu Kliwon Wuku Watugunung lontar-lontar dibuatkan upacara piodalan Saraswati. pengobatan. dangan mes membah (beliau yang berbadankan air. Saraswati adalah sumber dari segala sumber kata-kata bijak (mraga wagmi). agama. Lontar perekam jagat pemikiran masyarakat Bali sampai dalam bentuknya sekarang merupakan saksi sejarah dan menjadi penampang historik masyarakat pendukungnya. Pewarisan tradisi lontar di Bali berlanjut dari generasi ke generasi dalam suasana kerohanian dan kemurnian hati nurani. dan Brahma Putri. begitu mudah mengalir atau sesuatu yang mengalir) dan kecap bebaos sang mraga wagmi sajroning bebaosan (kata-kata orang bijaksana saat memberikan petuah). masyarakat Bali pagi-pagi benar membawa toya kumkuman (air suci) menuju sumber-sumber mata air atau pantai melaksanakan upacara banyu pinaruh (menyambut turunnya ilmu pengetahuan). sastra. Jumantara Vol. Saras diterjemahkan sebagai sang mraga toya.

Lontar Tradisi yang Masih Hidup Kita meyakini tradisi lontar adalah tradisi masyarakat Bali yang sudah tua. tradisi ini masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat Bali. 3) mudah dipindahkan (moveable). Keadaan ini berbeda jauh dengan masyarakat Indonesia lainnya yang mewarisi tradisi 150 Jumantara Vol. seperti: 1) warisan budaya intelektual (intellectual heritage). Menurut Bali Cultural Heritage Coservation.Lontar Warisan Budaya Lontar adalah produk budaya Bali dan telah diakui menjadi warisan budaya dunia. 2) tradisi yang hidup (living tradition). Mereka itulah yang sesungguhnya steak holders lontar di Bali. Walaupun usianya telah tua. dan diteruskan agar tercapai kehidupan material-spiritual yang lebih baik. Semuanya masih relevan dan patut diwarisi. 3 No. 4) memiliki wujud fisik (tangible) dan non-fisik (intangible). Betapa tidak.1 Tahun 2012 . yaitu contoh dan implementasi kehidupan yang patut dan tidak patut dilakukan. Lontar dengan segala bentuk wacana penuturannya memotret dan memberikan cermin kehidupan yang dapat dijadikan smerti. dilestarikan. kandungan lontar dengan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang pernah ada dan dimiliki masyarakat Bali masa lampau dapat dikembangkan untuk menata dan meningkatkan kehidupan spiritual dan material saat ini dan masa-masa mendatang. Lontar Warisan Intelektual Kekayaan pemikiran dan rohani masyarakat Bali secara tradisi terekam dalam manuskrip lontar. 5) memiliki fungsi dan kedudukan yang terhormat dan disucikan dalam masyarakat (abstract). Volume 10 (1998: 2-6) lontar Bali termasuk salah satu warisan budaya dunia karena memiliki karakteristik. Masyarakat Bali berkeyakinan lontar memiliki arti yang penting dan sangat bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya. tetapi juga penting untuk menghiasi khazanah intelektual masyarakat luas lainnya. Bukan saja penting untuk para leluhur dan orang Bali kini. Tradisi keberaksaraan dan keterpelajaran pada lontar adalah warisan budaya yang sangat berharga dan penting. Tradisi masyarakat Bali mempelajari dan menekuni lontar disebut anak nyastra (a man of letters) yang artinya beliau yang terpelajar (gelettered). dan 6) sudah menjadi salah satu warisan dunia (wolrd heritage). Itu artinya.

Jumlahnya mencapai ribuan pohon. Hidupnya tradisi lontar dalam masyarakat Bali sangat didukung oleh masih hidupnya aktivitas budaya dan sumber alam lainnya. Balai Bahasa Denpasar. (5) Masih banyak orang yang mampu menulis lontar secara tradisional. Perpustakaan Lontar Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. seperti Fakultas Sastra di Universitas Udayana.manuskrip. IKIP PGRI Bali. dan yang lainnya. Jurusan Sastra Bali di berbagai perguruan tinggi di Bali. seperti: (1) Tersedianya cukup banyak pohon lontar. maka pohon lontar dibudidayakan dengan baik. (2) Masih adanya orang yang mewarisi tradisi pembuatan daun lontar sebagai bahan rumah pintar” Dewa Catra. 3 No. dan perguruan tinggi lainnya. dan yang lainnya. dan mengapresiasi) karya-karya sastra tradisional Bali di Jumantara Vol. Universitas Dwijendra. menyanyikan. Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana. Pohon lontar adalah sumber alam yang dapat diperbaharui. Mengingat lontar memiliki multimanfaat. Perpustakaan Unhi Denpasar. (8) Adanya kegiatan mabasan (membaca. (4) Adanya sekolah khusus yang mengajarkan cara menulis lontar. (3) Adanya pusat-pusat penulisan lontar dan kegiatan penyalinan lontar di masyarakat. seperti untuk bahan anyaman dan kerajinan tangan lainnya.1 Tahun 2012 151 . IHDN. seperti SMUN I Sidemen (dulu SMU Sidamaha) Karangasem. Pohon lontar yang menjadi sumber utama bahan penulisan lontar tumbuh subur di belahan Timur dan Utara pulau Bali. Unisha Singaraja. sehingga dari waktu ke waktu jumlahnya tidak pernah berkurang. Sekriptorium-sekriptorium yang ada di Bali masih menjalankan aktivitas sebagaimana mestinya. yang menyimpan lontar-lontar penting yang dibutuhkan masyarakat. (7) Tradisi membaca lontar dalam aktivitas bersastra di Bali secara tradisional erat kaitannya dengan sistem upacara dan sistem keagamaan Hindu di Bali. (6) Adanya perpustakaan lontar yang memiliki latar belakang sejarah yang penting seperti: Gedong Kitrya di Singaraja. Perpustakaan Musieum Bali.

Jumlah lontar cakepan di masyarakat Bali adalah ribuan. (10) Banyak masyarakat umum yang mengoleksi lontar. 1999: 3-4). yang menjadikan manuskrip lontar sebagai bahan bacaannya. baik sebagai warisan maupun atas usahanya sendiri membangun perpustakaan pribadi. (9) Perkembangan pariwisata menyumbangkan peran untuk mempertahankan tradisi lontar. 3 No. serta acara-acara khusus seperti Gebiar Nyurat Lontar oleh Pemerintah Kota Denpasar. Pesta Kesenian Bali. (11) Aktivitas lomba menyalin huruf Latin ke dalam aksara Bali di atas lempiran lontar untuk tingkat SMP dan SMA terus digalakkan. dan pihak penyelenggara lainnya. Banyak anggota masyarakat Tenganan Pagringsingan menggambar dan menulis prasi serta melukis di atas media daun lontar. seperti di desa Tenganan Pegringsingan Karangasem. Acara ini dikaitkan dengan misi Kota Denpasar sebagai Kota Kreatif Berwawasan Budaya Unggulan. 152 Jumantara Vol. Pekan Olahraga dan Seni Pelajar (Porsenijar) se-Bali. Lontar-lontar dalam bentuk baru itu khusus dibuat untuk dijual sebagai komoditas pariwisata ( BUIP. Gambar 1. Bali CHC: Volume 10. Aktivitas pembacaan lontar cakepan.lingkungan masyarakat Bali.1 Tahun 2012 . Lomba menyalin huruf Latin ke dalam aksara Bali di atas lempiran lontar selalu ada dalam ajang Pekan Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar.

3 No. Diperkirakan Jumantara Vol. maka tidak jarang lontar diperjualbelikan sebagai barang antik. Alasan-alasan ini pula yang membuat semakin bersemangatnya para ”pemburu” lontar.Gambar 2. diantaranya: ingin menutupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. tidak mampu mengurus sehingga kuatir rusak di tempat. Sejumlah masyarakat pemilik lontar menjual lontar warisannya dengan beragam alasan. lontar mudah dibawa dan dibaca. sampai 60 cm. untuk modal usaha. antik. dan beragam alasan ekonomi lainnya.1 Tahun 2012 153 . Karena fisiknya yang sederhana ini lontar juga mudah dipindahtangankan. lontar yang berusia tua dan berkarakter antik dan unik. Golongan yang terakhir ini yang memanfaatkan tenaga lokal untuk keluar masuk desa ‟mengejar‟. baik dari kalangan masyarakat lokal maupun mancanegara. sisi Utara lereng gunung Rinjani di Lombok Utara. dan lebar tidak lebih dari 4 cm. Karenanya lontar-lontar yang sudah raib ke luar dari pulau Bali dan tidak sempat katedun (disalin ke dalam naskah yang baru) ini tidak dijumpai di perpustakaan-perpustakaan yang ada. Mudah Dipindahkan Wujud fisik lontar cukup simpel. Dengan panjang antara 30 cm. Lontar-lontar tua. dan unik yang telah dijual masyarakat Bali tentu tidak dapat diidentifikasi judul dan isinya. Penulis melakukan pengukuran terhadap lontar yang dikeramatkan masyarakat Desa Bayan Beleq.

Para ahli kepustakaan lontar. di perpustakaan Balai Bahasa Denpasar tersimpan sebanyak 90 cakep. di Perpustakaan Museum Bali tersimpan 60 cakep. di Perpustakaan Lontar Universitas Dwijendra Denpasar tersimpan sebanyak 50 cakep. DPRD. Memiliki Wujud Fisik dan Non-Fisik Jumlah lontar yang ada di masyarakat dapat diperkirakan lebih dari 55 ribu cakep (dalam kesatuan yang utuh) lontar. yaitu instansi pemerintah yang terkait. Perlu dilakukan usaha-usaha konservasi dan pengobatan secara ilmiah dan bertanggung jawab. Kalau semua pihak cermat dalam menangani dan mensosialisasikan fungsi strategis manuskrip lontar Bali. Diperlukan juga kemauan politik dari para wakil rakyat. dan Kota di seluruh Bali. membuat klasifikasi lontar Bali secara sangat beragam. pada tahun 1967 mengklasifikasikan kepustakaan lontar 154 Jumantara Vol. sedangkan yang tersimpan di rumah-rumah penduduk. seperti di Gedong Kirtya. Kabupaten. Untuk itu diperlukan kemauan bersama.1 Tahun 2012 . tingkat Provinsi. dan di Perpustakaan Lontar Dokumentasi Budaya Bali. baik dari kalangan masyarakat pengoleksi maupun dari pihak pemegang kebijakan. tentu nilai manfaat lontar dapat disumbangkan untuk memperkaya khazanah budaya bangsa dan budaya dalam lingkup internasional.bahwa lontar yang telah ”raib” jumlahnya ratusan. Lontar sebagai bagian dari khazanah ilmu kepustakaan memiliki kodifikasi keilmuan yang kompleks dan beragam. sesuai dengan keluasan pengetahuan masing-masing mengenai jenis dan isi naskah lontar yang didapatkannya. khususnya di Griya dan Puri di Bali yang jumlahnya begitu banyak. Van Eck (1875). di Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana tersimpan sebanyak 738 cakep. 3 No. di Perpustakaan Universitas Hindu Indonesia tersimpan sebanyak 151 cakep. Lontar yang tersimpan di lembaga-lembaga resmi biasanya mendapat pemeliharaan yang baik. Di tempat ini tersimpan sebanyak 2414 cakep. perlu mendapat penanganan fisik secara khusus agar terhindar dari kelapukan. Th Pigeaud yang telah mempelajari klasifikasi Freiderich (1847) dan R. kalau tidak mau dikatakan ribuan. Jumlah itu belum termasuk yang tersimpan di perpustakaan lontar yang resmi. Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tersimpan sebanyak 2274 cakep. baik ilmuwan luar negeri maupun dalam negeri.

dan yang berhubungan dengan upacara penyucian bangunan. usana. kidung. weda. yang terdiri dari jenis lontar wariga. dan yang memakai judul Krakah. Folklore. sedangkan lontar Krakah antara lain memuat uraian beserta makna istilah dalam naskah-naskah tertentu. c. arja dan yang lainnya. wayang. kakawin. Arts. awig-awig. dan geguritan. Customs. 3 No. yang terdiri dari jenis lontar weda. Naskah hukum juga ditemukan dalam dunia lontar di Bali. dan yang lain). Krakah Modre dan yang lainnya. b. sima. yang terdiri dari jenis lontar parwa. geguritan dan parikan. Sasana. Jumantara Vol. yang terdiri dari jenis lontar palakreta. seperti pengetahuan kearsitekturan (Astakosali. seperti Krakah Sastra. Astakosala. yaitu lelampahan. dan usada. tutur. Wiswakarma. (2) Agama. Cantakaparwa. dan kalpasastra. (2) History and Mythologi. seperti pustaka lontar: a. d. prasasti. 3) Wariga. yang memuat lakon-lakon pertunjukan kesenian gambuh. prasi. Kalpasastra. antara lain: usada. kanda. (4) Itihasa.Bali menjadi empat kategori besar. dan uwug/rusak/rereg. Kutara Manawa. mantra. Law. (3) Belles Lettres. dan puja. Lontar memuat kode etik arsitektur tradisional seperti Dharmaning Sangging. Dasanama. Ekalavya. serta satua. sasana. yaitu : (1) Religion and Ethics. Tutur.1 Tahun 2012 155 . pamancangah. yang terdiri dari jenis lontar pamancangah. Naskah leksikografi dan tata bahasa seperti lontar Adiswara. Beberapa yang penting adalah: lontar Adigama. tetapi juga memuat sejumlah makna sinonim. seperti lontar Pemlaspas. Klasifisasi termutakhir yang banyak dirujuk adalah klasifikasi yang diterapkan Nyoman Kadjeng dari perpustakaan lontar Gedong Kirtya Singaraja (1928). dan (4) Science. yaitu: (1) Weda. uar-uar. dan (6) Tantri yang terdiri dari jenis lontar tantri dan satua. seperti pustaka lontar parwa. kidung. mantra. kakawin. Klasifikasi manuskrip lontar di atas telah dapat memberikan citra wujud fisik naskah lontar yang ada di Bali. dan uwug/rereg/rusak. Kretabasa. pipil. Dewagama. dan Niti. urak dan yang lainnya. seperti pustaka lontar : babad. Niti. Kemudian I Ketut Suwidja menambah klasifikasi lontar Gedong Kirtya dengan kelompok VII. Suksmabasa. Asthabhumi. Humanities. Wujud fisik naskah lontar yang disebut pengetahuan-pengetahuan lain oleh kalangan peneliti pernaskahan di Bali dikelompokkan karena menguraikan pengetahuan tertentu. usana. Lontar Ekalawya dan Dasanama tidak sekedar memuat daftar kata. (5) Babad. dan e.

dan awig-awig. Banyak menguraikan masalah-masalah pertanian seperti penentuan iklim. candi bahasa. candi sastra. yaitu hari Sabtu (Saniscara) dan Wuku terakhir. Hari khusus tersebut ditandai dengan kegiatan mengumpulkan benda-benda pusaka lontar. Hyang Wagiswari disimbolkan bersthana dalam aksara suci. diantaranya: Kretasima. hari baik atau buruk untuk suatu pekerjaan. Puja Saraswati mendapat tempat istimewa bagi umat Hindu di Bali sehingga masuk ke dalam sistem kalender Bali. serta kaya makna dan filosofi. Lontar-lontar hukum yang lebih banyak bercorak Bali. Manakala warisan budaya dunia ini lenyap. Lontar-lontar suci disthanakan sebagai candi Tastra Saraswati (candi pustaka. Hari dan Wuku peringatan Puja Saraswati ditempatkan pada hari terakhir. Puja Saraswati ditandai dengan kegiatan membuat candi aksara atau candi pustaka (mengumpulkan lontar-lontar terpilih) yang dijadikan sthana bagi Sang Aji Saraswati.1 Tahun 2012 . Para ahli pernaskahan dari berbagai belahan dunia mengakui bahwa lontar merupakan warisan budaya dunia yang harus diselamatkan. Memiliki Abstraksi Nilai Fungsi dan kedudukan lontar dalam masyarakat memiliki kaitan yang erat dengan sistem kepercayaan dan kehidupan keagamaan masyarakat Bali. sampai dengan penentuan hari-hari baik untuk upacara keagamaan (Agastia: 1985:13-14). dilestarikan. Warisan Budaya Dunia Lontar kaya wujud dan jenis. Paswara. 3 No. Aksara menjadi badan Sang Hyang Aji Saraswati.dan Purwadhigama. yaitu hari Puja Saraswati. Ada hari khusus yang ditetapkan untuk menghormati dan mensucikan lontar. ataupun candi aksara) yang adalah tempat suci bagi Saraswati. Lontar yang memuat pengetahuan astronomi biasanya memakai judul Wariga dan Sundari. dan dimanfaatkan. itu berarti salah satu warisan dunia yang penting telah 156 Jumantara Vol. Lontar jenis ini banyak dijumpai. kemudian orang Bali melakukan pemujaan pada pagi hari. Watugunung. sedangkan pada malam harinya (semalam suntuk) membaca dan menyanyikan sastra-sastra lontar pilihan. Kretasima Subak. Sang Hyang Aji Saraswati. Lontar bagi masyarakat Bali adalah kitab suci yang selain disucikan juga dipelajari untuk dijadikan pegangan hidup sehari-hari (suluh nikang prabha).

Karena itu. 3 No. karena melalui aksara Balilah bahasa sebagai unsur universal dari kebudayaan itu terdokumentasikan. Aksara Bali adalah wahana atau sarana untuk mengungkapkan segala hal tentang kebudayaan Bali (BUIP. Aksara Bali adalah lambang bahasa yang telah mengambil fungsi dan peran sebagai lambang identitas masyarakat Bali. CHC. Dalam tradisi penulisan lontar. Manakala hal itu benar-benar terjadi. sehingga prosesi pembacaan menjadi lancar dan apa yang dicari dalam lontar didapatkan. hal itu merupakan kebodohan. sebelum memulai Jumantara Vol.hilang.1 Tahun 2012 157 . 1999:4). untuk memohon kemurahan-Nya. Tradisi Menulis di Atas Daun Lontar Sebelum mencermati goresan artistik aksara Bali di atas daun lontar. perlu dipahami apa yang dimaksud dengan aksara Bali sebagai lambang bahasa. Gambar 3. melanjutkan. dan mempelajari lontar yang diwarisinya adalah implementasi keberlangsungan hidup dan kehidupan lontar sebagai warisan budaya dunia. Perlindungan yang sifatnya mengharuskan pewaris lontar untuk menyelamatkan. Lontar yang dikeramatkan masyarakat saat dibaca didahului dengan melakukan prosesi upacara. kemunafikan. sudah saatnya dilakukan upaya yang lebih besar dan kuat untuk menyelamatkan lontar sebagai warisan budaya dunia. dan kesalahan besar yang dilakukan oleh generasi “anak bumi” di dunia ini.

yaitu ”bagaikan aksara memakai dua sandangan suara. Karenanya. 3 No. Dalam aktivitas penulisan lontar. seorang pengawi atau penyalin biasanya melakukan ritual kecil untuk memohon anugerah ke hadapan Ida Sang Hyang Aji Saraswati. Tidak pernah ada aksara Bali yang dicoret. seperti umur pendek. Sandangan yang lazim dipakai adalah ulu dan suku. dan Baghawan Reka berstana pada ujung pangrupak. para stake holders ini menyiapkan bahan-bahan utama seperti: (1) pepesan (daun tal siap tulis). Seandainya terjadi salah tulis. Sebagaimana dinyatakan dalam lontar Tutur Saraswati.1 Tahun 2012 . (2) pelikan (alat penjepit lembaran lontar yang akan di tulis terbuat dari 158 Jumantara Vol. yang artinya sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi alias sudah mati.menggoreskan pangrupak di atas lempiran lontar. serta menjaga irama pernafasan yang teratur dan jernih. mencoret taleng/taling dan bisah/wisah berakibat pancet (sakit pinggang). Bhagawan Mredhu berstana pada kedua tangan penulis. masuku (memakai suku) dan maulu (memakai ulu)”. ada perumpamaan yang jamak dituturkan dalam masyarakat Bali. Kepercayaan ini menjadikan lontar yang ada kelihatan bersih serta rapi tulisannya. cepat-cepatlah melirik aksara berikutnya yang merupakan sambungan aksara didepannya. Mencoret sandangan aksara yang berada di atas pangawak (badan pokok aksara) seperti ulu akan mengakibatkan kebutaan atau berkurangnya daya ingat. penulis membubuhkan dua sandangan (pangangge) aksara. Bagaimana membaca lontar yang banyak ditemukan aksara matinya? Pembaca lontar harus tanggap. Hyang Yogiswara difilsafatkan berstana pada kedua mata penulis lontar. seorang penulis lontar selalu berusaha keras agar tidak mematikan atau ngucek (mencoret) aksara. mengasah dan mempraktikkan seluruh kemampuan intelektual dan kualitas intuitif. Secara tradisi. Hakikat menulis adalah mempraktikkan yoga spiritualitas. pangrupak (pisau tulis). sida sidi kasaraswaten. dan melangkahi aksara akan mengakibatkan kebodohan. Karena itu pula. dan tampak seperti tidak ada penulisan. kehalusan rasa. Mereka percaya hal itu akan mendatangkan akibat buruk pada diri. Dengan cara ini mereka yakin akan berhasil menciptakan teks lontar yang utama dan memiliki jiwa (ruh suci). sehingga aksara yang salah tulis tidak berbunyi (mati). pengarang karya sastra Bali (pangawi) dan penedun (penyalin) lontar adalah para stake holders bahasa. sastra dan aksara Bali.

burung merak. membantu menjaga kestabilan dan berfungsi mensuplai energi kelembutan sehingga tangan tidak mudah lelah. Tangan kiri berada di posisi bawah untuk mengalasi atau memegang lontar. Dalam menggoreskan aksara Bali dari kiri ke kanan harus Jumantara Vol. Jempol kiri bertugas mendorong-dorong pangrupak hingga terjadi pergerakan lontar ke arah kanan. (6) penggaris dan pensil (bagi penulis yang tidak yakin akan mampu menghasilkan urut-urutan aksara Bali yang lurus. halus. memerlukan keterampilan menulis yang khusus. (3) serbuk tinggkih (buah kemiri) atau buah naga sari yang dibakar sebagai bahan penghitam goresan aksara Bali di atas daun lontar. Dua jemari tangan kanan lainnya. yang berkaitan dengan posisi tangan saat menggores lontar. (8) kapas atau kain halus untuk menggosok dan membersihkan bekas-bekas material penghitam. (5) dulang kayu (sejenis meja yang bundar) sebagai meja tulis. Cara menulis di atas daun lontar berbeda dengan di atas kertas. Jenis pangrupak yang dipakai menggores lontar disesuaikan dengan maksud dan tujuan penulisan. atau uyung (seseh pohon enau). bambu. (9) dan sesajen seperlunya.1 Tahun 2012 159 . aksara Ongkara. Masing-masing pangrupak juga memakai hiasan. Pangrupak memiliki tiga mata sisi yang tajam untuk menghasilkan karakter aksara Bali ideal. yaitu aksara Bali yang memiliki kakuub (karakter) wayah dan ngatumbah/matan titiran (bundar. rapi dan bersih). dan yang lainnya. dan tajam untuk memotong rontal. ada yang menyerupai pendeta.bambu kecil yang dilubangi hingga tembus pada kedua sisinya). (4) bantalan kasur kecil sebagai alas menulis. telunjuk menekan halus saat menggoreskan bentukan aksara. Ibu jari dan jari tengah tangan kanan menjepit lembut pangrupak. lebar. pangrupak dengan kelancipan 70 derajat untuk membuat prasi (menggambar di atas daun lontar). dan pangrupak kelancipan sedang (kurang lebih 10 derajat). lembut. Demikian juga menggunakan pangrupak berbeda dengan cara menggunakan pisau dapur atau alat pertukangan lainnya. dan mengagumkan). patung hanoman. sedangkan tangan kanan berada di posisi atas memegang pangrupak seraya menggerakkan jari-jemari tangan sedemikian rupa. Menulis di atas daun lontar menggunakan pangrupak. jari manis dan kelingking. 3 No. (7) panakep dari kayu. yaitu: pangrupak dengan kelancipan 45 derajat untuk menulis aksara Bali.

membutuhkan 160 Jumantara Vol. lembut. Berkosentrasi dan menciptalah dengan perasaan halus. Bagi masyarakat Bali. Di samping itu. dan dihormati sebagai sumber berbagai ilmu pengetahuan lahir dan batin. Lontar mempunyai kekuatan yang luar biasa. Kualitas lontar yang penulis citrakan tidak lepas dari dasardasar budaya dan keyakinan masyarakat Bali yang melahirkannya. Goresan simbol aksara yang pertama sangat mempengaruhi besar kecil dan kehalusan aksara berikutnya. Gambar 4. tenang. cerdaskan intuisi dan intekstualitas yang dimiliki. Proses Pembuatan Lempiran Lontar Lontar terbuat dari daun alami pohon Tal/Rontal. dan kanan. sampai berabad-abad. Mulailah menulis dari garis yang memiliki ruang paling sempit. Menulis aksara Bali di atas daun lontar memerlukan pengetahuan tersendiri. Terdapat empat garis yang tersedia di atas rontal. lontar Bali dibuat dengan cara yang saksama. dan senang. dengan aksara digantung pada garis yang telah disediakan. tengah. Sekalikali nikmati bunyi irama yang ditimbulkan oleh goresan yang dibuat. Bernafaslah yang teratur. menggunakan teknologi tradisional. Irama yang mengkhusukkan. Lemah lembut dalam ketenangan hati yang menakjubkan. dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama. Perhatikan lebar ruang yang disediakan di antara garis-garis yang tersedia.1 Tahun 2012 . taksu (kekuatan ilahi). 3 No. Karena itu jagalah hati.dicermati ruang-ruang diantara tiga lubang yang ada di kiri. lontar memiliki wibawa.

dihasilkan melalui proses khas teknologi tradisi Bali. Pohon tersebut harus tumbuh di tanah yang mengandung kapur. Daun lontar atau lempiran yang dimaksud berbentuk blanko. Dinyatakan pula pembuatan lempiran lontar memakan waktu yang relatif lama. Satu bendel terdiri dari 100 lempiran. Inilah lempiran lontar kosong yang siap ditulisi. Pohon rontal yang tumbuh di tanah yang subur. Amlapura. Rontal muani berbunga tetapi bunganya tidak pernah menjadi buah. Demikian pula jenis dan kualitas daun pohon rontal berbeda-beda. 3 No. tanah bebatuan seperti tanah lahar.. yang mendapat sinar matahari langsung dari pagi hingga sore. Penulisan prosesi daun lontar ini disajikan berdasarkan pengalaman penulis meneliti prosesi pembuatan lempiran lontar dan berdasarkan bahan bacaan yang ada. mudah ditulisi. kenyal. serta bentuknya indah dan rapi. Pohon itu juga sudah pernah disadap niranya. membutuhkan ketekunan dan kesabaran. sehingga tidak banyak mengandung sagu. selempir demi selempir sehingga menghasilkan pepesan. Pohon rontal yang baik adalah yang telah berumur lebih dari 30 tahun. rumit. yaitu rontal luh (betina) yang dapat menghasilkan buah atau tuak (nira) dan rontal muani (jantan) yang tidak menghasilkan buah. serat Jumantara Vol. daunnya kurang baik dibuat pepesan karena tebal. Pada kesempatan ini penulis sarikan informasi pembuatan lempiran daun lontar sebagaimana yang dilakukan oleh Ida I Dewa Gde Catra di Rumah Pintar Tradisional di bilangan jalan Untung Surapati. tanah di tepi laut. seniman lontar perlu memperhatikan jenis pohon rontal yang akan dipetik daunnya. di ujung Timur pulau Bali. bertahan dalam waktu yang panjang. Sebelum prosesi pembuatan lontar dilakukan.1 Tahun 2012 161 . dan dalam suasana yang khusuk. berserat besar-besar dan kaku. Berikut penulis sarikan teknik tradisional Prosesi Pembuatan Lempiran Lontar (2010) Bali seperti yang dilakukan budayawan lontar asal Puri Sidemen Karangasem ini. sehingga menghasilkan lempiran lontar sehelai demi sehelai.kesabaran yang tinggi. Pohon rontal yang daunnya luwes. Tujuannya adalah mendapatkan mutu lempiran yang baik. Ida I Dewa Gde Catra (pelaku prosesi pembuatan lempiran lontar yang paling produktif sampai hari ini di Bali) menyebut helai daun lontar yang dihasilkannya sebagai lempiran. Masyarakat Bali membedakan pohon rontal atas dua jenis.

1 Tahun 2012 . permukaan rata tidak tuludan (berlekak-lekuk).kadasa (seputar bulan Maret . Bulan-bulan ini adalah musim kemarau. Sedangkan pohon yang helai daunnya panjang dan lebar disebut dolog (menyerupai senjata dolog. pagi. (pohon rontal. Pada minggu 162 Jumantara Vol. yang disebut kreta masa. kemudian kakum (direndam) selama tiga minggu.Oktober). dengan semua ujungnya panjut (merapat dan sedikit mengering). yaitu sejenis golok yang panjang). pohon tal???) Daun tal yang dipilih untuk prosesi pembuatan pepesan berkatagori panyaja (muda atau menengah). Bilah daun tal petik kering dipotong ujung dan pangkalnya dengan ukuran panjang tertentu sesuai dengan keperluan. sehingga benar-benar renyah (kering benar). Pohon yang daunnya tebal berserat kasar dan kaku seperti kulit binatang disebut ron tal belulang. dan sasih katiga-kapat (seputar bulan September . Pemetikan daun tal untuk pepesan menggunakan joan anggetan (galah yang ujungnya memakai pisau). Ngesit (melepas lidi) dilakukan secara hati-hati agar bilah daun lontar kering petik tidak amis (rusak). Usia daun tal penyaja diketahui dari kategori hijau daunnya juga ditandai dari posisi kecondongan pelepahnya yang kurang lebih 45 drajat. pohon lontar. Musim petik daun tal yang baik pada sasih kasanga . tidak lebih dari empat sampai enam helai setiap satu pelepah daun tal. saat matahari bersinar panas dan langit terang benderang.halus disebut ron tal taluh (telor). Daun tal yang berbentuk kipas kangget (dipotong dan dicari ) hanya bagian tengah saja. Mengingat daun tal cukup tebal dan tiap bilahnya terdiri dari dua helai dalam satu lidi. tentu proses pengeringannya memakan waktu yang cukup lama. Daun tal petik kering yang dipilih untuk pepesan adalah yang bilahnya panjang. maka agar benar-benar kering seperti yang diinginkan. dan helai daunnya tidak terlalu tebal atau terlalu tipis. tidak berbintik-bintik. Daun tal harus dijemur di tempat yang terang beberapa kali. 3 No. yang disebut gegadon. seratnya halus. Pada minggu pertama air kum berwarna keruh kekuningan dan berbau kurang sedap sehingga harus diganti setiap hari. Sedangkan lontar yang masih muda berupa busung (janur) ataupun yang sudah berupa danyuh/wayah (tua) tidak dapat dimanfaatkan sebagai lempiran pepesan. Bilah daun tal kering petik yang sudah kasit (dilepaskan lidinya) dikumpulkan dan ditata sedemikian rupa. dan sore. lebarnya sesuai.April).

Lebih lama direbus hasilnya lebih baik. diikat ujung. demikian juga selanjutnya hingga penuh. lalu simpan di tempat yang aman. dan semakin lama disimpan kualitasnya semakin membaik. sesuai Jumantara Vol. Daun tal diangkat dan di diguyur air bersih. tunggu. kemudian dayuhin (diangin-anginkan) di tempat yang teduh. terhindar dari sinar matahari. daun lontar yang telah direbus dan disimpan berbulan-bulan dimasukkan ke dalam penjepit blagbag secara teratur sesuai dengan panjang lontar masing-masing. pres tradisional untuk lontar yang dibuat dari kayu dengan menggunakan pasak. dan air yang cukup dan harus dijaga dengan saksama.1 Tahun 2012 163 . kulit pangkal pohon kelapa. dijemur. dan tidak berbau lagi. merica. Caranya. Daun tal yang dianggap telah masak jangan langsung diangkat. setiap kali air rebus menyurut petugas harus menambahkan air secukupnya. Rempah-rempah seperti: lada. Lama menyimpan tiga-empat bulan. daun sambiroto. Dua hari dua malam dianginanginkan untuk tiga bulan kemudian baru direbus. disela dengan penampang kayu (pandalan). jebug harum. Tiga puluh sampai dengan lima puluh lembar lontar disatukan.kedua dan ketiga air kum diganti setiap tiga hari sekali. Ramuan bahan pengawet seperti kulit pohon kayu intaran. tengah dan pangkalnya. hingga benar-benar bersih. ditebarkan sedemikian rapi di tempat yang terang sehingga hari itu juga dipastikan benar-benar kering. diangkat perlahan-lahan agar tidak pecah. Agar lebih cepat kering. tidak berbuih. lontar dibolak-balik selembar demi selembar. 3 No. hawa panas berlebihan. dan jebug (buah pinang yang tua) semua dirajang dan kemudian ditumbuk hingga halus menjadi serbuk. Alat ini digunakan untuk meluruskan dan memampatkan serat dan rongga-rongga yang kemungkinan masih terdapat pada lontar setelah proses pengeringan. batang kantewali. Saat perebusan. Setelah berjumlah seratus. berulang-ulang hingga lima sampai enam jam. kayu wong. Merebus daun tal kering petik memerlukan panci besar. Biarkan agar dingin dengan sendirinya. Setelah merata kering. kayu api. agar hampa tak rapuh (serbukan) yang disukai rayap. umbi gadung diparut. Setelah dingin. angkat dan segera jemur di tempat yang lapang dan mendapat sinar matahari penuh. Ngekum (merendam) daun tal kering petik dengan tujuan menghilangkan sagunya. Bahan-bahan itu digunakan sesuai dengan jumlah rontal yang akan direbus. Blagbag. ujan. Tiga minggu prosesi ngekum tal telah berlalu.

manuskrip lontar di Bali memiliki karakter antara lain: (a) warisan budaya intelektual (intellectual heritage). 3 No.1 Tahun 2012 . (c) 164 Jumantara Vol. sehingga harus disela dengan pandalan dan dipasak kembali hingga mampat. dan nyepat (menggaris). Mal ditempal di atas daun tal. manuskrip masyarakat Bali ini didukung oleh ketersediaan bahan baku yang cukup. Warisan dan tradisi lontar telah berusia cukup tua. pengobatan. Manuskrip lontar adalah produk budaya Bali yang kaya makna dan memberikan citra keluhuran dan keunggulan jagat pemikiran masyarakat Bali yang melahirkannya. Pembuatan lontar pepesan didahului dengan pembuatan mal yang dibuat dari daun tal dengan panjang dan lebar yang telah ditetapkan. lalu diisi lubang sebasar jarum. kegiatan pembacaan yang masih semarak. pasak pun akan menjadi longgar. Mirit artinya melubangi lontar di samping kiri. kegiatan penulisan lontar yang masih berlangsung. hingga rontal benar-benar lurus dan rata. dan tengah tepat di titik ujung pirit. Langkah berikutnya dalam proses pembuatan lontar adalah nepes (menjepit). Sedangkan nyepat adalah pembuatan lontar tepesan siap tulis (gores) dengan pangrupak (pisau tulis tradisional Bali). nyerut adalah merapikan ujung pangkal dan diisi cat tradisional Bali agar kelihatan indah dan rapi. Sebagai tradisi yang hidup. kemudian pasak dipasang. dan tengah. nyerut (mengetam). agama. Sebagai warisan budaya. jarum pirit (paser tradisional Bali) ditusukkan pada tengah-tengah lubang kecil mal yang di kiri. filsafat. dan penelitian teks naskah lontar yang semakin meningkat.kapasitas blagbag. kanan. Kesimpulan Lontar sebagai manuskrip masyarakat Bali telah mengangkat citra tradisi peradaban Bali di tengah-tengah intelektualitas peradaban dunia. (b) tradisi yang masih hidup (living tradition). Pewarisan tradisi lontar di Bali berlanjut dari generasi ke generasi. Lontar yang telah mapirit (berlubang) dimasuki lidi (jelujuh) agar tidak mudah bergerak saat diiris dan dirapikan pinggirannya. dan ilmu pengetahuan tinggi lainnya. sastra. Setelah beberapa hari lontar mengalami pemampatan. Nepes adalah pres terakhir lontar tepesan. Di Bali banyak dijumpai lontar yang berumur tua yang memiliki nilai sejarah. kadang berbulan-bulan. Proses ini dilakukan berminggu-minggu. kanan.

IBG (1985). Lontar mempunyai kekuatan yang luar biasa. Lontar terbuat dari daun alami pohon Tal/Rontal. (2005). Denpasar: Jurusan Sastra Daerah FS Universitas Udayana . pangrupak (pisau tulis). sehingga menghasilkan lempiran lontar sehelai demi sehelai. pengarang karya sastra Bali (pangawi) dan penedun (penyalin) lontar adalah para stake holders bahasa. atau uyung (seseh pohon enau). I Nengah. membutuhkan kesabaran yang tinggi. para stake holders ini menyiapkan bahan-bahan utama seperti: (1) pepesan (daun tal siap tulis). Daftar Pustaka Agastia.mudah dipindahkan (moveable). (3) serbuk tingkih (buah kemiri) atau buah naga sari yang dibakar sebagai bahan penghitam goresan aksara Bali di atas daun lontar. Catra. (8) kapas atau kain halus untuk menggosok dan membersihkan bekas-bekas material penghitam. (6) penggaris dan pensil (bagi penulis yang tidak yakin akan mampu menghasilkan urut-urutan aksara Bali yang lurus. Jumantara Vol. dan (g) menjadi salah satu warisan budaya dunia (world heritage). (4) bantalan kasur kecil sebagai alas menulis. Medera. (e) memiliki fungsi dan kedudukan terhormat atau disucikan oleh masyarakat Bali (abstract). dkk. Di samping itu. Bagi masyarakat Bali. rapi dan bersih). (5) dulang kayu (sejenis meja yang bundar) sebagai meja tulis. lontar memiliki wibawa. dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama.1 Tahun 2012 165 . taksu (kekuatan ilahi). Keadaan dan Jenis-Jenis Naskah Bali. Pedoman Pasang Aksara Bali. dan dalam suasana yang khusuk. (d) memiliki wujud fisik (tangible) dan non-fisik (intangible). Ida I Dewa Gde. bambu. (9) dan sesajen seperlunya. sampai berabad-abad. (2) pelikan (alat penjepit lembaran lontar yang akan di tulis terbuat dari bambu kecil yang dilubangi hingga tembus pada kedua sisinya). lontar Bali dibuat dengan cara yang saksama. 3 No. Secara tradisi. Yogyakarta: Javanologi. Kualitas lontar yang penulis citrakan tidak lepas dari dasardasar budaya dan keyakinan masyarakat Bali yang melahirkannya. menggunakan teknologi tradisional. sastra dan aksara Bali. ”Prosesi Pembuatan Daun Lontar”. Dalam aktivitas penulisan lontar. dan dihormati sebagai sumber berbagai ilmu pengetahuan lahir dan batin. (7) penakep dari kayu.

Ida Bagus (2006).Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.(2008). Denpasar: PWII Bali. Simpen AB. BUIP CHC Volume 10. Pasang Aksara Bali. 3 No. Tim Consultancy Service (1999). I Wayan (1973). ------------. 166 Jumantara Vol. Denpasar: Dinas Kebudayaan Propinsi Bali. ”Tastra Sastra Saraswati”. Makalah diskusi hari suci Saraswati. Denpasar: Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar.1 Tahun 2012 . ”Teknik Nyurat Aksara Bali untuk Kejuaraan”. Rai Putra. Denpasar: Dinas Pengajaran Propinsi Bali Daerah Tingkat I Bali.

8 Desember 2011. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kajian Filologis. Tulisan ini akan menegaskan kembali signifikansi teks Sulalat al-Salatin sebagai sebuah karya sastra Melayu tradisional adiluhung yang dihubungkan dengan tokoh Tun Seri Lanang dengan melihatnya dari perspektif tahqiq atau kajian filologis. Sulalat al-Salatin dapat dianggap sebagai salah satu teks Melayu terpenting yang berhasil memikat dan menyita perhatian sejumlah sarjana. Saat ini menjabat sebagai ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Tahqiq. Jumantara Vol. Teks ini mampu „hidup‟ berabadabad melampaui kebesaran zamannya. dan bahkan pengarangnya. Biereun. 3 No. * Penulis adalah peneliti senior di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta.1 Tahun 2012 167 . Kata Kunci: Sulalat al-Salatin. Dalam konteks sejarah kesusastraan Melayu klasik. Aceh. Tun Seri Lanang. 77 Tulisan ini berasal dari “Seminar Ketokohan Tun Seri Lanang dalam Sejarah Dua Bangsa”. bekerja sama dengan Yayasan Tun Sri Lanang. yang diselenggarakan oleh Direktorat Nilai Sejarah.Abstrak Teks Sulalat al-Salatin (Perteturun Raja-raja) karya Tun Seri Lanang jelas sangat fenomenal.

diceriterakan dengan begitu hidup. seperti persiapan perang sebelum Portugis menyerang.1 Tahun 2012 . Membincangkan Tun Seri Lanang berkaitan dengan karya sastranya. Sulalat al-Salatin (Perteturun Rajaraja). Teks ini merupakan satu-satunya karya sastra yang kepengarangannya dihubungkan dengan tokoh „jagoan‟ kita dalam tulisan ini. 131. pengunduran Sultan ke Muar dan Pahang. mereka membuat terdjemahan2 dan daftar isi tjerita itu…”. C. Dalam konteks sejarah kesusastraan Melayu klasik. Terkait dengan kutipan di atas. Dr. 168 Jumantara Vol. peristiwa pertempurannya. Wolters. Sulalat alSalatin dapat dianggap sebagai salah satu teks Melayu terpenting yang berhasil memikat dan menyita perhatian sejumlah sarjana. “…Di dalamnya terbayang bukan saja genius pengarangnya tetapi juga genius sastera serta bangsa yang menciptanya…” Muhammad Haji Salleh. Tun Seri Lanang. B.78 Teuku Iskandar menambahkan bahwa semua kisah dalam Sulalat al-Salatin tersebut. Sejauh pengetahuan saya. Teks ini mampu „hidup‟ berabad-abad melampaui kebesaran zamannya. Sulalat al-Salatin jelas sangat fenomenal. 3 No. ingatan orang niscaya akan langsung mengarah pada sebuah karya sastra sejarah. dan bahkan pengarangnya. Hooykaas. Kendati demikian. Perintis Sastra (Groningen. 1951). Perintis Sastra (1951: 132). Hooykaas. C. Hooykaas menegaskan bahwa para sarjana sedemikian tertarik dengan Sulalat al-Salatin karena “…cara kitab itu melukiskan sesuatu hal dengan tjara jang sederhana sekali dan oleh isi kitab itu jang amat indah2nya. Djakarta: J.“…Tak ada tulisan Melayu jang demikian banjaknya diselidiki [selain Sulalat al-Salatin]…”. dalam Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu (teks diunduh dari situs MCP). Tun Seri Lanang memang tidak dikenal memiliki karya sastra Melayu lain selain Sulalat al-Salatin. seolah 78 Dr.

” JMBRAS 16. Malay Annals: Translated from the Malay language by the late Dr. 1997). Sedjarah Melayu Menurut Terbitan Abdullah (ibn Abdulkadir Munsji) (Jakarta: Djambatan.D. ya‟ni Perteturun Segala Raja-raja Karangan Tun Seri Lanang (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka. 3 No. 80 Muhammad Haji Salleh. “The Malay Annals or Sejarah Melayu: The Earliest Recension from MS 18 of the Raffless Collection.. 3 (1938): 1-226. 1841). 2001).1 Tahun 2012 169 . artikel. betapa pun saya terpisah dari akar ini. 1. dan Muhammad Haji Salleh. 1898).G. R. diterbitkan ulang di Kuala Lumpur: MBRAS. Publikasi lebih kemudian tentang Sulalat al-Salatin adalah artikel yang mencoba melihat teks ini sebagai „mitos politik Melayu‟ oleh Henri Chambert-Loir. T. Shellabear [ed. menyusul kemudian Abdullah bin Abdul Kadir [ed. dan edisi teks atas Sulalat al-Salatin pernah ditulis dan diterbitkan dalam kurun waktu hampir dua abad ini! Sarjana paling awal di antaranya adalah John Leyden.] Sejarah Melayu (Singapore: Thomas McMicking. h.79 Muhammad Haji Salleh bahkan dengan berbunga-bunga mengakui: “… Dengan rasa bahawa saya sedang berdiri di depan rimba rahasia fikiran leluhur maka sebagai seorang pembaca Melayu.penulisnya hadir menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri. Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad (Brunei: Jabatan Kesusasteraan Melayu. John Leyden with an introduction by Sir Thomas Stamford Raffles (London: Longman etc. Winstedt. Jumantara Vol. dan juga sebagai seorang pengarang yang menghadapi pendahulunya. Universiti Brunei Darussalam. 1995). Chambert-Loir menegaskan bahwa Sulalat al-Salatin tidak sekedar teks yang merekam dan menggambarkan peristiwa masa 79 Teuku Iskandar. 242. Sejarah Melayu (Singapore: Methodist Publishing House.]. kemudian W. 1821.O. Teeuw [eds. Sulalat al-Salatin. 1952).]. saya berdiri kagum…”. „The Sulalat al-Salatin as A Political Myth‟ yang terbit di Jurnal Indonesia 79 (April 2005). Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu (teks diunduh dari situs MCP). Situmorang & A.80 Sejumlah buku.

tidak tersedia saat artikel ini ditulis. mengingat telaah semacam itu membutuhkan penelitian dan pembacaan atas sumber-sumber primer yang memadai yang. Muhammad Ridhuan Tony Lim Abdullah. sayangnya. 170 Jumantara Vol.1 Tahun 2012 . dalam kesempatan ini 81 Henri Chambert-Loir. “The Sulalat al-Salatin as a Political Myth” dalam Indonesia 79 (April 2005). dan mengemukakan tinjauan atas ayat-ayat al-Quran yang dikutip oleh pengarang Sulalat al-Salatin. dan Raja Ahmad Iskandar Raja Yaacob berjudul “The Malay world: an analysis of Quranic verses in Sulalat al-Salatin”. sejauh mana Islam tergambar dalam Sulalat al-Salatin sebagai pedoman kehidupan negara di Melaka saat itu? Adakah pengaruhnya dalam penegakan hukum dan kebijakan politik? dan beberapa pertanyaan terkait awal Islamisasi lainnya.81 Apresiasi paling mutakhir terkait Sulalat al-Salatin barangkali adalah artikel yang ditulis bersama oleh Abdrurrahman. 14-15 Oktober 2011 lalu. melainkan juga merupakan kumpulan motif yang dapat dianggap sebagai mitos politik Melayu yang secara sadar digunakan untuk menonjolkan sebuah visi sejarah tertentu. h. di atas pun rasanya belum memadai karena hanya memaparkan tinjauan sederhana atas ayat-ayat al-Quran dalam Sulalat al-Salatin. 160. Artikel Abdurrahman dkk. misalnya. Apakah kemudian pembahasan tentang Sulalat al-Salatin boleh dianggap lengkap dan tuntas? Tampaknya tidak juga. Masih perlu diungkapkan. Artikel ini dipresentasikan dalam “2011 International Conference on Social Sciences and Society” di Shanghai. 3 No. Karenanya. Meski demikian. salah satu aspek penting yang belum banyak dielaborasi terkait teks Sulalat al-Salatin adalah unsur Islam dalam teks tersebut. Barangkali. artikel ini belum akan menjawab pertanyaanpertanyaan yang saya kemukakan sendiri di atas.lalu. China. Banyaknya perhatian para sarjana tersebut tidak terlalu mengherankan mengingat kenyataannya Sulalat al-Salatin adalah sebuah sumber tertulis langka yang menjelaskan Kesultanan Melayu di Malaka abad ke-15.

dan menegaskan hubungan sebuah karya dengan nama pengarang yang disebut.83 Dalam perspektif filologi dan tahqiq. tahqiq didefinisikan sebagai „al-fahs al-„ilm li-al-nusus aladabiyah min haythu masdaruha wa-sihhat nassuha wa-insha‟uha wa-sifatuha wa-tarikhuha‟ (sebuah telaah ilmiah atas teks-teks sastra. Sulalat al-Salatin atau Sejarah Melayu? Henri Chambert-Loir memberikan komentar kritis atas kebanyakan sarjana. h.82 Muhammad Haji Salleh barangkali adalah salah seorang kekecualian. 1969).1 Tahun 2012 171 . dan sejarah teks tersebut). penyebutan Sejarah Melayu atau Malay Annals tersebut mengikuti dua tulisan paling awal terkait teks Sulalat al-Salatin yang disebutnya „misleading‟. penyebaran. 133. yang lebih suka menyebut judul teks Sulalat al-Salatin sebagai Sejarah Melayu atau Malay Annals.html. karena dalam publikasinya (1997).anu. memverifikasi nama pengarang. Tahqiq al-turath.au/papers/MHS%20Esei1. (Jeddah: Maktabat al-„Ilm. 84 Tahqiq seyogyanya merupakan terjemahan dari kata „criticism‟. Menurutnya. h. Lihat Lihat „Abd alHadi al-Fadli. tanpa diragukan lagi bahwa salah 82 83 Henri Chambert-Loir. sifat. Liaw Yock Fang (1993) Teuku Iskandar (1995). sejauh informasi terkait bisa dijumpai. dari aspek sumber.edu. Winstedt (1938. 121. “The Sulalat al-Salatin.saya hanya akan menegaskan kembali signifikansi teks Sulalat alSalatin sebagai sebuah karya sastra Melayu tradisional adiluhung yang dihubungkan dengan tokoh Tun Seri Lanang. validitas teks. 1982). 3 No. seperti Shellabear (1896). 85 „Abd al-Hadi al-Fadli menjelaskan bahwa di antara tugas seorang muhaqqiq (filolog) adalah untuk: memverifikasi judul sebuah karya. demikian juga dalam artikelnya yang lain berjudul “Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu”. 31-32. Dalam konteks sastra. yang secara sederhana dapat diartikan sebagai „ihkam al-shay‟ (menghakimi sesuatu).84 judul sebuah teks memang seyogyanya didasarkan pada informasi asal yang berasal dari teks itu sendiri.85 Dalam hal Sulalat al-Salatin. Jumantara Vol. Artikel tersebut dapat dibaca di: http://mcp. „Abd al-Hadi al-Fadli. Dua tulisan yang dimaksud adalah Leyden 1821 dan Abdullah 1841 seperti dikemukakan di atas. h. ia memberi judul Sulalat al-Salatin. dan lainnya. dan sedikit melihatnya dari perspektif tahqiq atau kajian filologis. Tahqiq al-turath.

bukan hanya sumber-sumber yang disebut di atas saja yang banyak menjadikan Sejarah Melayu sebagai judul teks. mendaftarkan kata kunci „Sejarah Melayu‟ dalam indeksnya87 yang merujuk pada manuskrip yang disebut sebagai Sulalat al-Salatin ini. tidak ada alasan yang masuk akal untuk tidak menyebut Sulalat al-Salatin sebagai judul teks.86 Berdasar pada sumber tertulis di atas. Indonesian…. 172 Jumantara Vol. C. Ricklefs and P. Katalog Ricklefs & Voorhoeve 1977 misalnya. h. h. karena yang lebih penting adalah menampilkan apa yang tertulis dalam teks. Maka Fakir namai hikayat itu Sulalat al-Salatin yakni peraturan segala raja-raja…”. Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections (Oxford: Oxford University Press. h. Ricklefs and P. termasuk manuskrip Raffles Malay 18 yang dijadikan sebagai landasan edisi oleh Winstedt 1938. Voorhoeve. maka penyebutan „Sejarah Melayu‟ atau Malay Annals tentu boleh-boleh saja. 3 No.88 Kata „Sulalat al-Salatin‟ bahkan tidak terdaftar sama sekali dalam katalog ini.satu bagian dari mukadimah teks yang sedang didiskusikan ini berbunyi: “…maka Fakir karanglah hikayat ini kama sami‟tuhu min jaddi wa-abi. Kesusasteraan. 230. Akan tetapi jika yang dimaksudkan adalah kandungan isinya. 88 M. M. melainkan juga katalog manuskrip yang menginventarisasi dan mendeskripsikannya. Voorhoeve. 86 87 Dikutip dari Teuku Iskandar. 245. 134-135. 1977). bukan apa yang difahami peneliti atas teks tersebut! Judul berbahasa Arab untuk teks-teks Melayu adalah sebuah kelaziman pada masa lalu. C. Apakah hal itu disebabkan karena kata Sulalat al-Salatin adalah bahasa Arab yang tidak terlalu jelas maknanya bagi sebagian orang sehingga kebanyakan merasa lebih „nyaman‟ menyebut „Sejarah Melayu‟ yang lebih mudah difahami? Tentu ini bukan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.1 Tahun 2012 . Anehnya. supaya akan menyukakan duli hadhirat baginda.

dan karena itulah versi Melayunya perlu dibaca sebagai „Perteturun Raja-raja‟. 493. dan sebagian lainnya „perteturun. anak Orang Kaya Paduka Raja. terjemahan yang paling mendekati dari definisi kata Sulalat tersebut tampaknya adalah „perteturun‟. 134. Tun Muhammad namanya.1 Tahun 2012 173 . saya berpendapat bahwa ke depan. h. Dalam beberapa sumber. 92 Lihat misalnya Henri Chambert-Loir. 110. ya‟ni Perteturun Segala Raja-Raja Karangan Tun Seri Lanang (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka. kata „Sulalat‟ ini diterjemahkan menjadi berbeda-beda. Jumantara Vol. 489. 116. h. Paduka Raja gelarannya. Hal ini terutama karena ada bukti tertulis dalam mukaddimah naskah Sulalat al-Salatin sebagai berikut: “…setelah Fakir mendengar demikian. 3 No. A Dictionary of Modern Written Arabic (Urbana: Spoken Language Services. kecuali jika dimaksudkan sebagai penjelasan atau pemerian belaka. Sebagian mengejanya sebagai „Peraturan‟91. Teuku Iskandar. Sulalat al-Salatin. sedangkan al-Salatin berarti raja-raja (kings/sultans)90. The Sulalat…. 1994). 93 Lihat misalnya Muhammad Haji Salleh. Tun Seri Lanang: Diskusi Kepengarangan Sulalat al-Salatin Pengetahuan umum kita menyatakan bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang langsung teks Sulalat al-Salatin. yang menjadi acuan terjemahan judul tersebut. 245. 1987). jadi beratlah atas anggota Fakir alladzi murakkabun „ala „l-jahli. Bendahara. 1997). penyebutan „Sejarah Melayu‟ sebagai judul teks yang dihubungkan dengan dengan tokoh Tun Seri Lanang ini. seyogyanya diluruskan. cucu Bendahara Seri Maharaja. 91 Lihat antara lain Mohammad Daud Mohammad. h. 90 Hans Wehr. h. Kata „Sulalat‟ sendiri. sebagian lagi „pertuturan‟92. Tun Seri Lanang timang-timangannya. Tokoh-tokoh Sastera Melayu Klasik (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. cicit Bendahara Seri 89 Hans Wehr. dalam bahasa Arab berarti „keturunan‟ (descendant)89. A Dictionary.‟93 Memperhatikan maknanya. dan diganti menjadi Sulalat alSalatin saja. Kesusasteraan… h.Dengan demikian.

karena 94 95 Dikutip dari Teuku Iskandar. yang terkesan sebagai pamer status. h. Alih-alih menganggap Tun Seri Lanang sebagai pengarang langsung. Winstedt yang masih mendiskusikan apakah Tun Seri Lanang dapat disebut sebagai pengarang langsung teks Sulalat al-Salatin atau penyalin? Teuku Iskandar mendiskusikan perbincangan para sarjana tersebut secara panjang lebar. Batu Sawar Darussalam…”94 Akan tetapi. 1993).1 Tahun 2012 . juga tidak menunjukkan kerendahan hati bangsa Melayu pada umumnya. h. Salah satunya adalah karena di akhir naskah versi Raffles Malay 18 tertulis kalimat: “…wa-katibuhu Raja Bungsu…”. h. qaddasa „llahu sirrahum. serta mengetahui sedikit bahasa Cina dan Siam. h. Kesusasteraan. piut Bendahara Seri Maharaja anak Seri Nara Diraja Tun Ali.Maharaja. Melayu bangsanya. Kesusasteraan. mengetahui bahasa Sanskritt. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik 2 (Jakarta: Penerbit Erlangga. yang mengisyaratkan seolah-olah pengarangnya adalah Raja Bungsu. Kesusasteraan. 96 Teuku Iskandar. 174 Jumantara Vol. O.95 Disebutkan. Wilkinson misalnya berasumsi bahwa kalimat “…maka Fakir karanglah hikayat ini…” dalam teks Sulalat al-Salatin tidak cukup lazim ditulis oleh seorang pengarang Melayu yang menyebut dirinya sendiri sebagai seorang „pengarang‟. Parsi. 97 Teuku Iskandar. anak baginda Mani Purindam. Wilkinson dan R. 3 No. Wilkinson menduga bahwa teks Sulalat al-Salatin tersebut dikarang oleh seorang peranakan Tamil yang mengenal kehidupan istana Melaka. h. Tamil dan Arab. dari Bukit Siguntang Mahameru. tambahan berbagai gelar serta asal-usul pengarang sebagai keturunan para pembesar kerajaan. cicit Bendahara Tun Nara Wangsa. 249. Malakat negerinya.97 Argumen seperti ini tentu saja masih dapat diperdebatkan. 245. ada beberapa sarjana seperti R. Kesusasteraan. 244. lihat juga Liaw Yock Fang. Teuku Iskandar. 97. 245-259. 96 Winstedt menambahkan beberapa hal yang membuat dirinya sangsi bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang Sulalat alSalatin. J. Selain itu.

Menurut Teuku Iskandar. 3 No. Hooykaas misalnya. dapat saja merujuk. yang dalam bahasa Arab berarti „penulis‟. h. Ia. melainkan juga menambahkan bagian. kadang satu episode cukup panjang.1 Tahun 2012 175 . termasuk di antara mereka yang meyakini bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang Sulalat al-Salatin. memperbaiki bagian yang dianggap tidak tepat.98 Demikianlah. Teuku Iskandar.99 Tentu saja ada sejumlah sarjana lain yang tidak sependapat dengan pandangan di atas. harus difahami bahwa konsep „penyalin‟ dalam tradisi kesusasteraan Melayu lama dapat juga berarti „pengarang‟. Kesusasteraan. setelah memaparkan argumentasi yang cukup panjang. bahkan mengubah bahasa karya asal atau menerjemahkan. terlepas dari pengakuan atas keindahan dan keagungan Sulalat al-Salatin sebagai karya sastra sejarah Melayu. yang dimiliki oleh Raja Bungsu. Itulah mengapa Teuku Iskandar memberikan komentar bahwa manuskrip Raffles Malay 18 yang diakhiri dengan kalimat “…wa-katibuhu Raja Bungsu…” adalah salinan manuskrip dari hikayat yang dibawa dari Goa. baik pada pengarang maupun penyalin sebuah teks. 97.kata „katib‟ sendiri. Teuku Iskandar secara tegas mengatakan: 98 99 100 Teuku Iskandar. sesuai konteks dan kebutuhan pada masanya.100 Dengan demikian. karena selain Wilkinson dan Winstedt di atas. tampaknya sebuah kajian tekstologis untuk secara khusus memastikan Tun Seri Lanang sebagai pengarang Sulalat alSalatin perlu dilakukan. Liaw Yock Fang. Sejarah… h. Jumantara Vol. masih ada beberapa lagi sarjana yang masih belum yakin bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarangnya. karena ia tidak hanya sekedar menyalin. Liaw Yock Fang adalah salah satu di antaranya. mengatakan bahwa penyebab keraguan itu adalah karena: “…kebanyakan daripada versi-versi [manuskrip Sulalat al-Salatin. 250. h.] ini masih belum cukup diselidiki dan sukar ditentukan pengarang dan masa tertulisnya…”. pen. yang dianggap perlu. 252. Teuku Iskandar dan C. misalnya. Kesusasteraan.

Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik 2. barangkali pendekatan tahqiq seperti saya kemukakan di atas dapat diterapkan untuk melakukan sebuah kajian khusus berkaitan dengan kepengarangan teks Sulalat alSalatin. Hal ini mungkin karena dalam kenyataannya. Daftar Bacaan Chambert-Loir. „The Sulalat al-Salatin as a Political Myth‟ dalam Indonesia 79 (April 2005). Fadli. Henri (2005). 3 No. Tahqiq al-turath. „Abd al-Hadi al. meski sarjana semisal Henri Chambert-Loir mengaku tidak tertarik memperdebatkan apakah Sulalat al-Salatin ini dikarang oleh Tun Seri Lanang sendiri atau pengarang lainnya. 101 Teuku Iskandar. karena ia tidak melihat ada alasan kuat untuk mempermasalahkannya. Kesusasteraan. h. kebesaran dan keindahan teks Sulalat al-Salatin itu sendiri sebagai sebuah karya sastra sejarah Melayu klasik dalam beberapa hal sepertinya sudah jauh melebihi kebesaran zaman dan pengarangnya. Liaw Yock (1993). 256. Jeddah: Maktabat al-„Ilm.101 Dalam konteks ini. h.1 Tahun 2012 . 176 Jumantara Vol. Penutup Demikianlah.(1982). tulisan ini mungkin tidak memberikan kontribusi penting dan juga tidak menyediakan informasi baru terkait karyakarya sastra yang dihubungkan dengan Tun Seri Lanang. Saya hanya berharap bahwa kajian atas karya-karya sastra Melayu semisal Sulalat al-Salatin dapat terus digalakkan dengan melihatnya dari berbagai perspektif.“…sejak tahun 1964 kita telah menyatakan bahwa Tun Seri Lananglah pengarang Sejarah Melayu dan menentang pendapat Winstedt yang menafikan hakikat ini…”. Wallahu a‟lam bissawab. 160. agar kajian tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh terkait peradaban Melayu Nusantara kita pada masa lalu. Fang.

Mohammad. Voorhoeve (1977). Tokoh-tokoh Sastera Melayu Klasik. Teuku (1995). Groningen. Muhammad Haji. h. 1994. C. Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu.anu. Ricklefs M. Hooykaas. Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. Salleh.1 Tahun 2012 177 .edu. Jumantara Vol. Mohammad Daud (1987). Wehr. Perintis Sastra. A Dictionary of Modern Written Arabic. (1997). Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections. 1 ----------. (1951). Hans (1994). 1997). B. Brunei: Jabatan Kesusasteraan Melayu.Jakarta: Penerbit Erlangga. Djakarta: J. Universiti Brunei Darussalam. and P. Wolters. Artikel diunduh dari situs Malay Corcondance Project (http://mcp. Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka. C. ya‟ni Perteturun Segala Raja-Raja Karangan Tun Seri Lanang. Iskandar. Urbana: Spoken Language Services. Oxford: Oxford University Press. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.au/papers/MHS%20Esei1. Sulalat al-Salatin. 3 No.html).

dan perbaikan bacaan Terbitan diplomatik teks Kuñjarakarṇa (prosa) dari ketiga naskah yang diteliti. Juli 1984.1 Tahun 2012 . Artikel resensi ini adalah telaah lama yang pernah diterbitkan di majalah Basis (Th. bahkan mungkin mencoba membuat rekonstruksi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. saya merasa perlu untuk menerbitkan lagi artikel itu dengan pengurangan dan perubahan seperlunya. ISBN 978-979-461-787-8. Sebuah pemandangan umum dan pendekatan baru yang diterapkan kepada Kunjarakarna. Kritik Teks Jawa. 255-272). 3 No. sungguh membantu pembaca untuk bekerja sendiri: menganalisis. Berdasarkan kesempatan luas yang diberikan itu 178 Jumantara Vol. yang disajikan secara sinoptik.Willem van der Molen (2011). no. XXXIII. hlm. van der Molen dalam terjemahan bahasa Indonesia. 7. mengemukakan alternatif bacaan. Terbitan teks. Sehubungan dengan terbitnya disertasi W. terjemahan. Tebal x + 392 hlm.

Dalam hal ini terbitan teks Kuñjarakarṇa (prosa) menunjukkan kekurangan yang menyolok. berkeluarga. suatu masalah yang berulang kali dibahas oleh para penerbit teks Jawa adalah masalah pemisahan kata beserta dasar-dasar linguistiknya. […]”. pemisahan kata menimbulkan kesalahan (1) 125 H paŋan inum. dan hubungan antar teks dengan berbagai karya lainnya. ternak. minum. Sejumlah contoh berikut ini dimaksudkan sebagai sumbangan pikiran untuk pemahaman teks dan perbaikan bacaan. namun barulah menyangkut pemakaian beberapa huruf saja. sanḍaŋ Jumantara Vol. lembu).1 Tahun 2012 179 . Selanjutnya masih perlu dilakukan penelitian ejaan dengan memperhatikan tataran morfo-sintaksis. Ejaan yang tidak konsisten sangat penting diselidiki demi pemahaman teks dan perbaikan bacaan. Terjemahan “ternak” berhubungan dengan bacaan “agoh” (“goh”.akan dikemukakan beberapa hal yang mungkin membantu pemahaman dan penelitian lebih lanjut. Seharusnya dibaca: 125 H paŋan inum. yang dapat membantu untuk menentukan kedudukan teks itu dalam sejarah bahasa dan tahapan tradisi. 121162). bahwa setiap penerbit atau penyunting teks memahami teks dan menguasai bahasa teks yang diterbitkan atau disuntingnya. Penelitian ini diharapkan akan menampilkan ciri-ciri kebahasaan dari teks yang bersangkutan. terutama dari naskah H. (h. 3 No. bandingan antarteks dengan karya yang sama dari naskah lain. sanḍaŋ agoh arabihanakkanak Terjemahan: “Makan. dan terbatas pada tataran kata dasar (h. Pemahaman teks dan perbaikan bacaan secara bertahap perlu memperhatikan: teks dari satu naskah. Diandaikan. Erat hubungan dengan hal itu. Sekalipun hal-ihwal ejaan telah diselidiki secara rumit. Kesalahan terjemahan. 175) pakaian.

(h. 3 No. lebuguntur). yang berarti: “kayu bakar (dan) dupa” (OJED. sandaŋ) (2) 334 H śammi dadupa mrabukk arum pawaŋi Terjemahan: “[…] mewangi. Old-Javanese English Dictionary = OJED. I: 1114. yang adalah nama-nama jenis pertapa. ma oṃ. II: 1901.1 Tahun 2012 . 290-291) Seharusnya dibaca: “watu pinaŋka tawulan”. I: 1001. samidha. II: 2216. nguyu. Terjemahan: “wawal. tahulan). samiddha). (OJED. 219) Seharusnya dibaca: “wawaṣi manguyu ḷbuguntuṅ”. 185) berbau dupa semerbak harum Seharusnya dibaca: “śammida dupa”. (OJED. 1982. II: 1638. (h. bdk. 594 H pamanuyon. (5) 3130 H halŋa burat. lebuguntung”. kĕmbaṅ kuṣaṅ runtiṅruntiṅ. sima.ago harabi hanakkanak “Sanḍaŋ a <ṅ> go” berarti: “pakaian dan perhiasan” (lihat Zoetmulder. II: 1647. aŋgo. maŋuyu. yang berarti: “batu merupakan tulang(nya)”. I: 100. wasi. (4) 2440 H […] Ø watu pinaŋka ta wulan. Lalu “winoŋan” (333) seharusnya dihubungkan dengan “śammida dupa”. […] Terjemahan: “[…] Ø Batu sebagai bulan (h. (3) 1028 H wawa ṣima ŋuyu ḷbuguntuṅ. […] 180 Jumantara Vol. cinakuṣ i wawaŋi kambaŋ wĕrataŋanta.

pukulun Jumantara Vol. I: 327. 3 No. Ciriku (OJED.Terjemahan: “[…] dengan minyak dan boreh. sebab: pemisahan kata salah. Mantra: Oṃ. dan lain-lain. “Hantiga kinulitan” artinya bukanlah “telur berkulit”. Mantra: om.” Seperti telah terlihat pada contoh-contoh di atas. kĕmbaṅku ṣaṅ runtiṅruntiṅ cinaku ṣi wawaŋi kambaŋ wĕratanaŋta. I: 918. tidak termasuk mantra yang terdahulu. Bungaku Sang Runting-runting. ungkapan. […] Terjemahan: “Rupa anda waktu itu seperti telur berkulit” (h. pemisahan kata ditangguhkan. cihna II) Si Harum Bunga Weratanganta (? Bdk. ranak baṭara. K: kĕmbaṅ wĕratta baranta). Berikut ini disajikan beberapa contoh lagi. kulit). dan konteks kurang dipahami. […] Artinya: “Mengenakan minyak boreh. bunga kusang dan runting … wewangian. dalam bandingan intrateks.1 Tahun 2012 181 . melainkan “telur yang dikuliti (dikupas kulitnya)”. Seharusnya dibaca: 3130 H halŋa burat. karena arti masih gelap. kadi hantiga kinulitan. 325). arti kata tidak dicari. baik dalam kamus. (Ungkapan ini menandai tahap upacara. perbaikan bacaan belum dilakukan. ma oṃ. bahasa. Bunga wratanganta. 257). maupun bandingan antarteks. (6) 1792 H sammana rupanta. (OJED. banyak bagian tidak diterjemahkan (ditandai: …). (h. (7) 2203 H […] maŋke taṇn agiraha.

hanitihi”. (h. tetapi sejajar dengan “tan panaŋguha lara”. amintaha. (OJED. 327). titih). 3190 amit kantuna paṣĕk kapaŋgaḥ. (8) 3188 H […] pun puṙṇawijaya. II. K tinbul krawa le bujana kulit 3125 H tan tĕtĕsa deniṅ wwakadaga. Larik 3191 seharusnya dibaca: “paṣĕkk apaŋgaḥ. “tan agiraha” (naskah H) selayaknya dibaca: “tan ageraha” (tak akan merasa sakit). Terjemahan: “Sekarang … Hamba tidak menganggapnya penderitaan. 279) Memang naskah K berbunyi: “maŋge tan agiraṅ”. […]‟”. pun I). K tan tĕtĕsa deniṅ wwakadga hendak ucapan Tuanku rajawi. (OJED. Perihal sandhi atau gabungan kata semacam ini perlu dipertimbangkan lagi demi pemahaman ciri kebahasan dari teks yang bersangkutan. K pataraṇna maṇni). haniti hi pantaraṇn aji. Hendaklah tinggal tetap terhormat menduduki singgasana Tuanku” (9) 3124 H timbul krawa len bujana kulit.tan panaŋguha lara. (h. II: 1438.1 Tahun 2012 . II: 1310. Mungkin “pantaraṇn aji” (3192) lebih baik tetap dibaca: “pantaraṇnaji” (gabungan kata: pa [n] taraṇnaaji. (Bagian kalimat ini termasuk langsung! OJED. Terjemahan sementara: “[…] Si Purnawijaya mohon diri. 3 No. pasĕk. […]”. pasak I. Terjemahan: “Purnawijaya mohon diri: „Tinggallah baikbaik … di atas singgasana raja. grah). 182 Jumantara Vol. I: 540. Batara. pukulun. 2023.

99a). dengan arti: “Mataku Si Lulut Onĕng (Si Asyik-Masyuk)”. […] K lwir pusuḥ kĕg. (OJED. h. OJED. 1936) terdapat Aji Sūkṣma -jahinang dengan ungkapan: “lulut onĕng ring utari” (h. I: 1055.1 Tahun 2012 183 . gḍug. II: 2121. h. lir pusuḥ tĕg (atau: kĕg) kĕṅkĕṅ”. dan bandingan antarteks dengan karya lain.3126 H lwir pusuḥ tĕg kĕṅ kĕṅ. Jumantara Vol. On the OldJavanese Cantakaparwa and Its Tale of Sutasoma. lulut. unĕŋ. I: 806. (h. Tan tĕtĕsa deninṅ <sar>wwakadga. Menurut konteks “gḍug. 9). suara orang menghentak bumi) berhubungan dengan “om […] dalamakanku”. Membatu”. dan tidak diterjemahkan. Aji ini terdapat sesudah cerita tentang Kuñjayakarna dan Pūrṇawijaya. 3116 H: puspa liŋganeṅ siraḥku).” (3123 H. Bacaan dapat diperbaiki menjadi: “timbul krawalen (atau: krawale. karawalya (karawali?). 325). Dalam Cantakaparwa terdapat pula Aji Jahinang dengan ungkapan: “Lulur onĕng ring untunku” (naskah Kirtya 398. (10) 3116 H satakuṣilulunnonen […] K maṭakuśilulukonĕn […] Pemisahan kata belum ditentukan. (bdk. unaŋ). Dalam Korawāçrama (Swellengrebel. berdasarkan bandingan teks dari kedua naskah. diusulkan bacaan: “mataku si lulut onĕng”. (bdk. Teg keng keng”. Terjemahan sementara: “Timbul Krawale Buja (Sakti Kebal Lengan?) ada di kulit. (h. Us 156: timbal kurawale) bujan<eṅ> kulit. 3 No. kĕṅ kĕṅ […] Terjemahan: “tak tertembus oleh … seperti kuncup bunga. 1967. Tĕg.323). Ensink. tak akan mempan oleh segala macam pedang (senjata) bagaikan kuncup bunga (?). 136).

mas pirak miraḥ kommala hinten. dan nanti akan dinikmati. intan. 1043. 1032. Seperti itulah halnya kawah tempat siksaan. Rumahnya penuh dengan harta benda emas. papa ṭa humaḥnya kĕbĕk deṇniṅ raja drawwa. 219) Terjemahan: “yang menunggui kayangan pendosa” berhubungan dengan bacaan “papa ṭa” dan salah hubung dengan “kaywaŋan” (1011). dan mengacaukan arti!). 1716. atau “meski demikian”. yang berarti: “seperti itulah.1 Tahun 2012 . 219) Seharusnya dibaca: “iwa maŋkana yayi kawa<ḥ>ulun”. Dinda. 1708. melainkan orang-orang di dunia. yang berarti: “Empatlah rumahnya”. (h. Seharusnya dibaca: “papaṭ <t>a humahnya”.” (h.” (Terjemahan “iwa maŋkana” dengan “meskipun demikian”. 3 No. (H 1015-1030). Rumah itu bukan milik Besawarna. kawahku. tidak tepat. perak permata. kemala. […] Terjemahan: “Bandingkan dengan Besawarna yang me nunggui kayangan pendosa. Maka: (13) 1001 H […] tanta 184 Jumantara Vol. Maka: (12) 1032 H iwa maŋkana yayi kawa ulun… Terjemahan: “[…] …meskipun demikian saya ragu adik. 1698. bila mereka sudah mati. melainkan milik orang-orang di dunia yang berbuat kebaikan. Bukanlah Yama yang memiliki kawah itu.(11) 1009 H […] upamanya yi kadyaŋga ṇniṅ saṅ besawaṙṇna hatuŋgu kaywaŋan.

1 Tahun 2012 185 . Dinda”. Dinda”. saua suruh masuk sendiri dik”. Bukanlah Yama yang memasukkan atau memasak orangorang berdosa di dalam kawah. Maka: (14) 989 H […] tanta. Terjemahan: “Bukanlah aku yang memiliki kawah itu. hawake ḍawak aḷbokĕṇ nika yayi Terjemahan: “[…] … Caranya pada saya kalau saya memasukkan orang ke kawah. hawake ḍawak aḷbokĕṇn ika yayi Terjemahan: “Bukanlah aku yang memasukkan ke dalam kawah itu. 219). dirinya sendiri memasukkan itu. Jumantara Vol. melainkan orang-orang itu sendirilah yang masuk ke dalam kawah. dik. drawe ni kawah hi wwaṅ. Seharusnya dibaca: 1001 H […] tantan i ṅŋulun. Terjemahan: “[…] … ku. ṇni ŋulun haḷbokna kawaḥ hika. merekalah yang punya. 3 No. ṇn i ŋulun haḷbokna kawaḥ hika. Kawah adalah milik orang di dunia. madyapada kaṅ drawenni kaṅ yayi. Seharusnya dibaca: 989 H […] tanta.” (h. orang-orang di dunialah yang memiliki itu. draweni kawah hi<ka> wwaṅ madyapada kaṅ drawenni <i> ka [n] yayi. (h. 217).niṅ ŋulun.

233) 2822 H kunaṅ pañcanmanya.1 Tahun 2012 . orang-orang itu sesungguhnya masuk sendiri ke dalam kawah”.(15) 1096 H […] tanta ulun. Perbaikan bacaan “klĕ” (1097) menjadi “kĕla” sejalan dengan “tlĕs” (156. (h. klĕ. Terjemahan: “… pemulung. ywa tukit. 3 No. 309). penjual kapur”. tĕlas). pĕjah). Jadi artinya: “Ada pun penjelmaannya adalah orang-orang 186 Jumantara Vol. (16) 1301 H […] hacukit hadulit. Namun demikian. […] Terjemahan: “selanjutnya … … penjual kapur”. tadulit. (h. 223). sedangkan “t” jauh berbeda dengan “c”. wwaṅ tuhu si maḷbu ḍawak mariṅ kawaḥ […] Terjemahan: “Tidaklah aku masak.” Bentuk “ywacukit” dapat dipandang sebagai gabungan kata “ya acukit” dengan sisihan/tambahan “wa” pada kata “ya”.t adulit. Seharusnya dibaca: 1096 H […] tanta <n> (atau: tan ta?) ulun. dan lainlain. (h. berdasarkan bandingan dengan larik 1301-1302 dan dengan bacaan naskah K (2822-2823: janmanya acukitt adulit). wwaṅ tuhu si maḷbu ḍawak mariṅ kawaḥ […] Terjemahan: “[…] … Ada orang yang masuk yang sangat … Ia masuk sendiri ke dalam kawah […]”. ywacukit. kĕla. “pjĕh” (3392. dapatlah bacaan larik 2822-2823 diperbaiki menjadi: “kunan pañjanmanya. Dalam naskah H bentuk huruf “c” agak mirip dengan “j”.

Perbaikan itu sejalan dengan bentuk-bentuk: “swalaka” (229 H. maratabwan. 1556. 1970. “kalṣe” (1076. 3 No. sehingga “ṣwatala” ekuivalen dengan “satala” (naskah K). (18) 68 H laŋka leswa ywaki ywaki bawanya Ø Terjemahan: “ „Alasan maksudnya”. „dulit‟ ” (pedagang terasi. K ikaṅ satala marayata H ikaṅ ṣwatala. dan passim). (17) 28 A sakala maray. kaleṣa. Maka terbukalah kemungkinan untuk bacaan “kaleswa” (68). dan lain sebagainya). 169).(yang pekerjaannya) „cukit‟. II: 1604. Jadi arti perbaikan bacaan itu: “supaya hilanglah Jumantara Vol. dan berasal dari “sakala” (t<k. kapur. dan passim) dalam naskah H kadang kadang dieja “kalesa”/kaleṣa” (1541. 1946). “swadakala” (528 H. salah satu buktinya: naskah A). Jadi di sini perlu dipertahankan: “ikaṅ sakala”. “kalweṣa” (80. dan lainlain. Di sini mungkin terdapat sisipan tambahan “wa”. sadakala). 324 H: salaka). sakala II). 286). I. dan “kleswa” (116).1 Tahun 2012 187 . h. Sisipan/tambahan “w(a)” atau “y(a) dalam ejaan naskah H perlu diperhatikan untuk perbaikan bacaan dan pemahaman bahasa. yang berarti: “pada waktu yang bersamaan”. “Ikaṅ ṣwatala” (naskah H) diterjemahkan: “tempatnya sendiri” (h. (h. bdk. ta. 1942. 171) untuk bepergian. itulah Mungkin harus diperbaiki demikian: 68 H <i> laŋ <a> kaleswa ywaki (yweki?) ywaki (yweki?) bawanya Ø Kata “klesa” (1933. (OJED. 1544. 1951.

1 Tahun 2012 . yeki maŋke tinmunya dyan tḍuni <i> kaṅ kawaḥ Terjemahan: “Siapa yang seperti itu sikapnya. inilah sekarang yang ditemuinya. sapata?” . tata I). (20) 8 H […] ummilu atatya dewata kabeḥ myamujaha rwiṅ ḃaṫara byudda sri wiroñcana. Bila demikian. 188 Jumantara Vol. diterjunilah kawah itu”. (h. (h. itulah maksudnya”. 169). II: 1958. 356). […] Terjemahan: “Sesudah itu berturut-turut para dewa memuja Batara Buddja Sri Wironcana”. seperti halnya: “byuda” – “budda”. maka bacaannya: 1114 H […] sapa kayweku riṅ pakśanya. Mungkinkah diperbaiki menjadi: “dyan tḍuni <i> kaṅ kawaṅ”? (A: den tĕḍūni ikaṅ kawaḥ). 223). yeki maŋke tinmunya dyan tuṭ ri kaṅ kawaḥ Terjemahannya: “[…] … Mereka sekarang berhadapan dengan perbuatan jahatnya dan harus mengikutinya ke kawah”. Dalam perbaikan bacaan terdapat: “sapa ka 1. Pertanyaan itu tidak perlu. Dalam perbaikan bacaan terdapat: “atatya? b. (19) 1114 H […] sapa ka yweku riṅ pakśanya.kecemarannya. Sebenarnya “atatya” ekuivalen dengan “atata” (OJED. 3 No. Yang perlu diperhatikan ialah: “dyan tuṭ ri kaṅ kawah”. ata tyan?” (h.

hendaklah dihilangkan kecemaran tubuhmu”.“myamujaha” – “mamujaha”. (21) 1074 H […] den aswruḥ hiṅ saṅ hyaṅ daṙmma. “tirtya” (3082) – “tirta”. Jadi: 1074 H […] den <wu> s wruḥ hiṅ saṅ hyaṅ daṙmma. 245) Lebih tepat diperbaiki menjadi: 1555 H […] maŋkana ilaŋan niṅ kaleṣa papa nniṅ sarira. 3 No. ilaŋana kalṣe ṇniṅ sariranta. […] Terjemahan: “[…] Begitulah caranya menghilangkan kekotoran serta kekurangan badan. awruḥ. 221). Kurangnya “pasangan” beserta “sandangan”-nya perlu diperhitungkan dalam perbaikan bacaan. (h. Ayo berpakaianlah anda”. 359) Mungkin “s” pada “aswruh” perlu dipertahankan.1 Tahun 2012 189 . nandaḥ padaŋdana kita rari. Dalam perbaikan bacaan terdapat: “1075. (h. kaleṣa” (hlm. n <ta> Jumantara Vol. kalṣe b. Terjemahan: “[…] Pahamilah Darma maka penyakit akan hilang dari badan anda”. Terjemahan: “Bila sudah tahu akan Sang Hyang Dharma. 1076. dan lain-lain. “wuwustya” (3009) – “wuwusta”. ilaŋana kaleṣa niṅ sariranta. aswruḥ b. (22) 1555 H […] maŋkana ilaŋan niṅ (sic) kaleṣa papa nniṅ sarira.

I: 96.. aŋĕn) Sang Kunjarakarna. […] Diandaikan. (23) 3039 H itipa ka sla kabeh.ndaḥ padaŋdana kita rari. Begitu pula: (25) 3179 H ih hiŋaḷnĕndriya haja tan 190 Jumantara Vol. hendaklah kau bunuh semua”. (lalu) berkata kepada Sang Purnawijaya: […]”. panteni denta kabeh. […] Di sini diandaikan pasangan “ta” hilang (K: sariranta). dan “s” (pada “kasla”) kehilangan “pasangan m(a)” (bdk. (h. harus anda bunuh semua”. Bentuk huruf “ḷ” serupa dengan bentuk kombinasi huruf “ŋ(a)” dan “n(a)” (sebagai “pasangan”). 3 No. […] Terjemahan: “.1 Tahun 2012 . Jadi artinya: “Kerak segala kecemaran. 319) Perbaikan bacaan: 3039 H itip <iṅ> kasmala kabeḥ. 247). “pa” (pada “itipa”) kehilangan “wulu” dan “cĕcak”. (24) 1587 H maŋaḷŋĕn śaṅ kuñjarakaṙṇna swojaṙ riṅ saṅ puṙnawijaya Terjemahan: “Sambil memegang lengannya berkata Kunjarakarna kepada Purnawijaya”. 2165 H: kasmalammu). (h.. panteni denta kabeh. Maka sebaiknya dibaca: 1587 H maŋaŋnaŋĕn śaṅ kuñjarakaṙṇna swojaṙ riṅ saṅ puṙnawijaya Terjemahan: “Berpikirlah (OJED.

1824 A mawak masarira K mawaṅk asarira H mawak asarira Semestinya 835 K dan H ditransliterasikan: “mawak asarira” dan “mawak aṣarira”. 2900. Artinya: “Nah. seperti: “taṇn ana lena kapaŋguḥ” (2464. […]” (26) 399 H […] gagakk alwar curiga Terjemahan: “[…] Mereka jahat” Teks naskah H dan perbaikan bacaan atas bacaan Kern pada naskah A: “gālak” (VG X: 57) menjadi “gāgak” tidak diikuti dengan terjemahan yang sesuai.prayatna. gāgak) yang bersayap keris”. Selanjutnya transliterasi. perlu diperhatikan konsistensi dalam Dalam hal ini sangat penting pertimbangan dari segi linguistik. Seharusnya: “[…] burung gagak (OJED.1 Tahun 2012 191 . jangan tak waspada. (h. Sekedar contoh: (27) 835 A mawāk masarira K mawakasarira H mawakaṣarira . dan lain-lain. gagak. dipikir dengan periksa. … berusahalah keras […]”. Begitu pula tempat-tempat lain yang paralel. 3539). Namun demikian. 327) Sebaiknya dibaca: 3179 H ih hiŋaŋnaŋĕn driya haja tan prayatna. I 473. Terjemahan: “Hai. 3 No. perlu dipertahankan pula kekhasan bahasa Jumantara Vol.

1760. 3. meŋkeneha b. 364). maŋkeneha. I: 1139. mengingat kesalahan-kesalahan yang terjadi berkat salah baca. (h. Misalnya: 1. 574. 160. (h. Bisa ditambah: 1507 H: rasakṣa.1 Tahun 2012 . (h. 4. OJED. 356). meṅkene).dan tradisi teks masing-masing. (h. 192 Jumantara Vol. dan “paladara” (3270. bdk. 3353. moŋkono) – “meŋkene”. rasakṣa b. 2. OJED. perlu dipertimbangkan lagi dalam rangka tradisi penulis/penyalin. 365). Jadi pada naskah H terdapat: “maŋkana” (513. rakśasa. Di sini pun perlu dipertahankan: “raśaksa” (beserta varian ejaannya). Cantakaparwa) menjadi “kuñjarakaṙṇna” (h. raṣaksa b. raśaksa b. bahwa kedua naskah itu mempunyai induk yang bersamaan. 360). 1300. bdk. I: 1149. 170. 3 No. Sejarah teks dan tradisi Dalam melacak sejarah teks dan tradisinya W. Perbaikan bacaan nama-nama “kuñjayakaṙṇna” beserta varian ejaannya (105. 360). bahwa: 1. pertukaran „d‟ dan „n‟ pada naskah H dan K menyatakan. hamahĕt b. Dalam hal ini perbaikan bacaan tidak konsisten. (h. Jawa Baru: rasĕksa). penyalin naskah A bekerja dengan lebih teliti daripada penyalin naskah H dan K. 2825. hamahĕk b. rakṣasa. 358) Kiranya perlu dipertahankan: “meŋkeneha” (3369 H: meŋkeneha. (h. 3306. 2. hamahĕt. 1504. hamahat. passim) – “moŋkono” (2136 H: moŋkonoha. rakṣasa. 356). 3346. Untuk naskah H lebih tepat ditentukan: “hamahĕt”. van der Molen menyimpulkan. yang menunjukkan tahap perkembangan bahasa tertentu (bdk. 29. 361). di mana bentuk kedua huruf itu serupa. Sakula < Nakula) menjadi “muladara” (h.

manakah bacaan yang harus dianggap asli. van der Molen meletakkan dasar untuk penelitian lebih lanjut. Untuk tidak memperpanjang artikel ini akan diberikan beberapa pokok pikiran untuk penelitian lebih lanjut. samādhi dan tapa sebagai penghilang kecemaran dan jalan kelepasan. yang bersifat pembayatan (inisiasi) atau ruwat. (b) teks naskah A mewakili bentuk yang lebih asli. hukum karma. penggantian kata-kata dengan sinonimnya dalam ketiga naskah itu tak dapat memberi kepastian. sedangkan teks naskah H dan K mengalami perubahan-perubahan yang penting. Dengan kesimpulan-kesimpulan itu W. bahwa pada sebagian episode siksaan di neraka (larik 464-570 pada terbitan teks) terdapat kekacauan urutan dan kehilangan pada naskah H dan K. larik 3085-3137). perbandingan dengan teks naskah A menunjukkan. hal itu disebabkan oleh salah susun satu lempir pada naskah induknya. 4.3.1 Tahun 2012 193 . sedangkan teks naskah H dan K menekankan perbuatan (ritual). baik ke arah penentuan tradisi maupun ke arah rekonstruksi teks yang dicitacitakan. 1. proses kelahiran. Perbandingan isi dan struktur teks menyatakan. Salah satu perbedaan teks yang penting terdapat pada larik 294: “saṅ mātiwatiwa (naskah A) dan “sṣaṅ mati” (naskah H)/ “sṣa mati” (naskah K). 3 No. Dalam konteks itu diberikan ajaran tentang dunia orang mati. serta hakekat pengetahuan akan dharma. Tengger: Ĕntas-ĕntas). II: 2026. penjelmaan kembali. Teks naskah H dan K memperluas ajaran itu dan lebih terarah pada praktek dengan mengambil alih teks upacara (mis. Pengambilalihan teks itu sesuai Jumantara Vol. bahwa (a) teks naskah A menekankan pengetahuan (esoteris). 5. tiwa. Ada kemungkinan teks naskah A berhubungan dengan upacara orang mati (OJED.

H-K). pembersihan dengan “tirta pañjitah mala” pada diri Kunjarakarna (2038-2044. H-K).lukisan pintu Ayahbumipantana (321-340.lukisan tapa Kunjarakarna dan Purnawijaya pada akhir cerita (3549-3559. bahwa perubahan atau tambahan pada teks naskah H dan K bersifat membuat keseimbangan: a. H-K).1 Tahun 2012 . A-H-K) diimbangi dengan lukisan tapa Kunjarakarna pada awal cerita (39-46. H-K). juga 3080-3138. . H-K dengan 2048-2060. A-H-K) diimbangi dengan pembersihan serupa pada diri Purnawijaya (3048-3071. ajaran tentang “atma” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2312-2317. A-H-K) diimbangi dengan ajaran serupa dari Yama kepada Kunjarakarna (844-866. Perbandingan struktur teks ketiga naskah itu memperlihatkan. H-K). 2. Bdk. antara ajaran dan praktek - 194 Jumantara Vol. b. A-H-K) diimbangi dengan lukisan pintu yang dijaga oleh Dorakala (222-230. H-K).dengan ajaran yang juga termuat dalam naskah A (mis. antara unsur-unsur cerita . 3 No. antara yang terjadi pada diri Kunjarakarna dan yang terjadi pada diri Purnawijaya ajaran tentang “atma” dari Wairocana kepada Kunjarakarna (805-810. larik 1973-1975). H-K) diimbangi dengan lukisan praktek Purnawijaya (2905-2917. ajaran tentang “pañcabuta” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2237-2260. A-H-K) diimbangi dengan ajaran serupa dari Wairocana kepada Purnawijaya (2305-2310. H-K). 828-835. - - c. 2312-2317.

2550-2555. Masih banyak hal serupa bisa ditemukan. Jumantara Vol.- ajaran tentang “samadhi” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2436-2454. H-K).1 Tahun 2012 195 . Analisis semacam ini dapat membantu untuk mengenali lapisan-lapisan teks dan tahaptahap penyusunannya. H-K) diimbangi dengan lukisan praktek Purnawijaya (dua tahap: 2491-2494. Perbedaan teks ajaran dengan lukisan praktek mungkin menunjukkan tahap penyusunan yang berbeda. 3 No.

1 Tahun 2012 . karya tulis yang dianggap penting. 3. Panjang tulisan berkisar antara 20. 4. Tulisan dikirim melalui surat elektronik dengan alamat jumantara@pnri. Gedung Pusat Jasa Lt. Jenis tulisan berupa artikel hasil penelitian atau setara hasil penelitian mengenai naskah serta tinjauan buku. dan alamat lengkap yang mudah dihubungi. Artikel ditulis menggunakan bahasa Indonesia disertai abstrak dan kata kunci dalam bahasa Indonesia. Penulis menyertakan identitas lengkap meliputi jenjang pendidikan terakhir. Jl.000 – 40. alamat surat elektronik pribadi. Naskah yang masuk akan diseleksi oleh Dewan Redaksi bersama Mitra Bestari dan apabila perlu akan dilakukan penyempurnaan tanpa mengubah substansi naskah.id atau melalui pos ke Redaksi Jumantara. 28 A Jakarta 10002. 196 Jumantara Vol. Salemba Raya No. Tulisan yang dimuat akan diberikan imbalan/honor sesuai peraturan yang berlaku. kedudukan tetap. 3 No. ketik spasi rangkap di atas kertas A4). 5.go. 7. 2. 6. VB Perpusnas RI.Ketentuan Penulisan untuk Jumantara: 1.000 karakter (1520 halaman termasuk bibliografi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful