Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

i

PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA Alamat Redaksi: Gedung Pusat Jasa Lt. VB Perpusnas RI. Jl. Salemba Raya No. 28 A Kotak Pos: 3624, Jakarta 10002 Telp : (021)-3154863 ext. 264 e-mail: jumantara@pnri.go.id homepage: http://www.pnri.go.id/MajalahOnline.aspx

JUMANTARA - Jurnal Manuskrip Nusantara Vol.3 No.1 Tahun 2012 Pembina Pengarah : Kepala Perpustakaan Nasional RI : 1. Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi 2. Kepala Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi : Kepala Bidang Layanan Koleksi Khusus : Drs. Nindya Noegraha : 1. Drs. H. Sanwani 2. Aditia Gunawan, S.Pd. 3. Agung Kriswanto, SS. 4. Drs. Nur Karim, M. Hum. 5. Yudhi Irawan, S. Hum. 6. Didik Purwanto, SS. 7. Mardiono : 1. Prof. Dr. Achadiati 2. Dr. I. Kuntara Wiryamartana : Dra. Dina Isyanti, M. Si. : 1. Komari 2. Dian Soni Amellia, S.Hum. : Bambang Hernawan, SS. : Aditia Gunawan, S.Pd.

Penanggung jawab Pemimpin Redaksi Dewan Redaksi

Mitra Bestari Editor Bahasa Sekretaris Redaksi Sirkulasi Tata Letak

Jumantara adalah jurnal ilmiah dengan fokus kajian naskah (manuskrip) nusantara yang menyajikan karangan ilmiah dalam bentuk hasil penelitian, penilaian terhadap hasil penelitian, serta tinjauan buku. Diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan ISSN 2087-1074.

ii

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Artikel 1

Anung Tedjowirawan Menelusuri Jejak Cerita Rama dalam Serat Pustakaraja Karya Pujangga R.Ng. Ranggawarsita Fakhriati Perempuan dalam Manuskrip Aceh: Kajian Teks dan Konteks Atep Kurnia Sinurat Ring Merega; Tinjauan atas Kolofon Naskah Sunda Kuna Tedi Permadi Identifikasi Bahan Naskah (Daluang) Gulungan Koleksi Cagar Budaya Candi Cangkuang dengan Metode Pengamatan Langsung dan Uji Sampel di Laboratorium Ida Bagus Rai Putra Lontar: Manuskrip Perekam Peradaban dari Bali Mahrus El-mawa Rekonstruksi Kejayaan Islam di Cirebon; Studi Historis pada Masa Syarif Hidayatullah (1479-1568) Oman Fathurahman Sulalat al-Salatin Karya Tun Seri Lanang: Kebesaran Karya Sastra Melayu yang Melampaui Zamannya

44

77

128

148

100

167

Review Buku 178 Kuntara Wiryamartana Filologi Jawa dan Kuñjarakarṇa Prosa

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

iii

Ia dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi bangsa. usia yang masih sangat rawan bagi keberlangsungan hidup sebuah jurnal. tetapi juga mencakup tema-tema politik. Fakhriati mencoba menggali ajaran dan praktik tentang iv Jumantara Vol. Inilah yang coba ditunjukkan oleh Fakhriati melalui tulisannya yang menyoroti kedudukan perempuan sebagaimana terkandung dalam sebuah naskah Aceh. Andaikata naskah lontar tersebut tidak pernah terbaca. 3 No. Meski demikian. hukum. Para pujangga seperti Ranggawarsita menyerap isi cerita kemudian disesuaikan dengan kebudayaan lokal. mitologi. dan lain-lain. obat-obatan. sosial. Apalagi jika melihat kenyataan bahwa penyumbang tulisan dalam jurnal ini adalah para ahli filologi yang jumlahnya saat ini semakin sedikit. mungkin kita tidak pernah mendengar istilah-istilah “sakti” tersebut. tulisan Anung Tedjowirawan tentang jejak cerita Rama. Jerih payah para pakar pengkaji naskah pada gilirannya telah berperan serta melestarikan budaya Nusantara. tetapi kisah ini termashur di Nusantara.J umantara telah menginjak usia ketiga. dari Ramayana Wālmīki sampai kepada teks Serat Pustakaraja karya pujangga Ranggawarsita. istilah pancasila yang menjadi dasar negara dan bhineka tunggal ika yang merupakan semboyan negara diambil dari teks Kakawin Sutasoma. budaya dan agama. Sebagai contoh. dari India sampai Jawa. terus terbitnya Jumantara secara rutin menandakan bahwa para pakar dan peminat naskah tetap ada dan setia menyumbangkan hasil penelitiannya. Dengan gamblang penulis memaparkan perjalanan teks Ramayana. Naskah memiliki peran penting bagi bangsa Indonesia. Dalam nomor ini disajikan artikel-artikel yang menyampaikan berbagai pengetahuan penting dan menarik. sejarah. Kandungan naskah Nusantara tidak selalu hanya berkaitan dengan kesusastraan. Pertama. ekonomi.1 Tahun 2012 . Meski teks Ramayana bukan berasal dari Nusantara.

yang ditulis oleh Atep Kurnia. Tedi Permadi. Ida Bagus Rai Putra membahas berbagai segi penggunaan daun lontar sebagai media menulis naskah. tempat. Tradisi lontar yang masih lestari di Bali saat ini dapat memberi petunjuk bagaimana fungsi naskah lontar pada masa lalu. Ida Bagus membahas lontar sebagai media menulis naskah. Artikel ketiga. peneliti dari UPI Bandung. dalam edisi ini disajikan pula artikel yang membahas wujud naskah itu sendiri. Sebagian besar naskah Sunda Kuna yang ditulis di gunung dapat dijadikan petunjuk awal yang mengungkap kedudukan gunung sebagai skriptorium penciptaan sebuah karya intelektual pada masa lalu. misalnya: ketebalan naskah yang diukur secara cermat dapat membuktikan apakah sebuah naskah dikerjakan secara tradisional atau merupakan buatan pabrik. Fakhriati menggunakan teks berjudul Siti Hasanah.kehidupan perempuan di Aceh pada masa lalu melalui kehidupan Siti Islam. Selain kajian teks. mencakup informasi tentang identitas penulis atau penyalin. Dari tulisan itu diperoleh gambaran bahwa identitas penulis naskah tidak selalu dinyatakan dengan jelas. proses pembuatan. Mahrus el-Mawa mengkaji puncak kejayaan Islam di Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Melalui perspektif sejarah. Mahrus el-Mawa berusaha memaparkan secara luas salah satu Jumantara Vol. Dalam artikelnya. tetapi jika dicermati ternyata dapat memberikan informasi penting tentang sebuah naskah. Dalam tataran praktis. 3 No.1 Tahun 2012 v . merupakan tinjauan terhadap kolofon naskah Sunda Kuna. di antaranya dari dari segi fisik. Banyak data yang sepertinya sepele. membahas secara rinci naskah daluang yang berasal dari Candi Cangkuang. kesimpulan tersebut dapat membantu pihak yang berkepentingan untuk menilai fisik suatu naskah. Kajian seperti itu termasuk dalam ranah kodikologi. sampai tradisi penulisan dan pembacaan lontar yang masih hidup di Bali. Sebagai bahan perbandingan. tokoh utama dalam teks Hikayat Siti Islam. dan waktu penulisan naskah. Berbeda dengan Tedi Permadi.

“demikian banyaknya diselidiki”. Artikel terakhir. tetapi usahanya merekonstruksi kejayaan Islam di Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah melalui teks lama dan bukti-bukti artefak.1 Tahun 2012 . membuktikan bahwa Sunan Gunung Jati bukanlah tokoh mitos. yaitu Sulalat alSalatin atau lebih populer disebut Sejarah Melayu. bukan berarti pembahasan terhadapnya telah tuntas. pembaca dapat melihat betapa beragamnya persoalan yang diangkat oleh para penulis. Filologi secara harafiah berarti “cinta kata”.tokoh penting Walisongo ini. yaitu unsur Islam yang terkandung dalam teks tersebut. Oman Fathurahman masih melihat adanya aspek yang belum tergali yang dapat dimanfaatkan oleh para peneliti selanjutnya. Hooykas. Dari artikel-artikel yang kami sajikan dalam edisi kali ini. 2011). yaitu penyajian teks dan terjemahan. Meski banyak sarjana yang telah meneliti teks tersebut. meminjam istilah C. mengkaji sejarah penelitian salah satu teks Melayu yang. karya Oman Fathurahman. melainkan tokoh historis. Ini menunjukkan bahwa naskah “kuno” Nusantara dapat dijadikan “sumber inspirasi baru” untuk perkembangan penelitian di Indonesia. Kami berharap Jumantara dapat dijadikan sebagai “arena” penulisan artikel yang berkaitan dengan pernaskahan di Indonesia sehingga isi dan kandungan naskah dapat dibaca secara luas oleh masyarakat. Selamat membaca! vi Jumantara Vol. Secara cermat I Kuntara menunjukkan alternatif bacaan dan terjemahan (ada kalanya perbaikan) terhadap teks Jawa Kuna Kunjarakarna. 3 No. Walaupun ia tidak mengulas tentang guru dan ajaran keagamaan Syarif Hidayatullah secara mendalam. Kecintaan itulah yang ditunjukkan I. Kuntara Wiryamartana dalam tinjauan buku Kritik Teks Jawa: Sebuah Pendekatan Baru terhadap Kunjarakarna Prosa karangan Wilem van der Molen (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Tulisannya mengingatkan kita akan pentingnya aspek-aspek mendasar dari filologi.

Barata dan Satrugna. tempat keberadaan "Jamur Dipa". penjelmaan Rĕsi Anggira (Maharsi Paspa). Laksmana. sedangkan putra Prabu Basurata yang lahir bernama Raden Brahmaneka. Sĕrat Suktinawyasa. peneliti dan pengajar di Jurusan Sastra Nusantara FIB Universitas Gajah Mada Jumantara Vol. Dari ritual agung Aswameda tersebut kemudian lahirlah putra-putra Prabu Dasarata antara lain: Rama. mengenai kisah hidup Prabu Ramawijaya ketika dicopot dari tahta serta harus meninggalkan istana Ayodya untuk pergi ke hutan belantara bersama Dewi Sinta.1 Tahun 2012 1 . Raja Ayodya dalam rangka memohon kelahiran putra yang menjadi penjelmaan Sang Hyang Wisnu.Abstrak Jejak cerita Rama dalam Sĕrat Pustakaraja diantaranya terdapat dalam Sĕrat Rukmawati. Dalam Sĕrat Suktinawyasa jejak cerita Rama terdapat dalam cerita yang disampaikan Dhang Hyang Wiku Salya kepada Rĕsi Abyasa. Ritual agung Aswameda tersebut diselenggarakan di hutan Madura dekat sungai Sarayu (Gangga). Dalam Sĕrat Rukmawati dikemukakan tentang peristiwa ritual agung Aswameda yang diselenggarakan oleh Prabu Dasarata. serta adiknya * Penulis. 3 No. Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara. Ritual tersebut disaksikan oleh para raja sekutu Prabu Dasarata serta dihadiri oleh Prabu Basurata dari Wiratha. Sĕrat Prabu Gĕndrayana. istrinya.

1 Tahun 2012 . Dalam kedua Serat tersebut dikisahkan peran Sang Maharsi Mayangkara yang mendapat tugas Bathara Guru untuk menjalin kembali kerukunan di antara keturunan Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) dengan keturunan Prabu Sariwahana. Sĕrat Mayangkara. Sĕrat Rukmawati. sampai Dewi Sinta diculik dan dibawa lari oleh Prabu Dasamuka ke Alengka. jejak cerita Rama dikemukakan oleh Bagawan Danèswara kepada Prabu Gĕndrayana. Cerita tersebut dikemukakan Dhang Hyang Wiku Salya dalam rangka untuk menghibur agar Rĕsi Abyasa tidak terlalu bersedih hati karena sepeninggal ayahandanya (Rĕsi Palasara) ia tidak ditunjuk untuk menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai raja melainkan hanya diangkat sebagai raja pendeta. Dèwi Pramuni dengan Radèn Darmasarana.Laksmana. dan Dèwi Sasanti dengan Radèn Darmakusuma. Sĕrat Prabu Gĕndrayana. Serat Suktinawyasa. yang merusak segenap sawah dan ladang penduduk di wilayah Gunung Nilandusa (Wilis). Sĕrat Pustakaraja. bahwa Batara Ramawijaya sewaktu muda (8 tahun) sudah dibawa Bagawan Sutiknayogi ke Gunung Dhandhaka untuk diadu dengan para raksasa bala tentara Rahwana (Dasamuka). Dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana. Hanūman). Kata Kunci: Kakawin Rāmāyaņa. Dalam kedua cerita tersebut Sang Maharsi Mayangkara akhirnya gugur dalam pertempurannya yang dahsyat melawan Prabu Yaksadewa (penjelmaan Sang Hyang Kala) yang bersenjatakan gada (penjelmaan Sang Hyang Brahma). 2 Jumantara Vol. Dalam Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara jejak cerita Rama tampak pada penampilan Sang Maharsi Mayangkara (Anoman. 3 No. Cerita tersebut diungkapkan Bagawan Danèswara agar Prabu Gĕndrayana merelakan putranya yaitu Raden Narayana (Jayabhaya) untuk diminta bantuannya melenyapkan segala jenis hama tanaman (yang dilindungi para Dewa). lewat perka-winan putra-putri mereka. Mereka antara lain: Dèwi Pramèsthi dengan Prabu Astradarma (Purusangkara). Sĕrat Purusangkara. yang merusak pertapaan.

Sāma-Weda. Pada waktu Saptarşi menengoknya. 3 No. 1979: 1). yaitu 400 tahun. bahwa selama masih ada gunung-gunung yang berdiri. Adapun Mahābhārata karya Mpu Vyāsa mengalami proses pertumbuhan selama 800 tahun. 1979: 1-2). Yayur-Weda. Rāma. Pada waktu Wālmīki akan menggubah Rāmāyaņa. Dalam mitologinya. Keagungan dan kemasyuran kisah Rāmāyaņa ini memang sudah diramalkan ribuan tahun sebelumnya.1 Tahun 2012 3 .Pengantar Rāmāyaņa adalah karya agung dari India. Ketika merampok tujuh orang dewa – resi (Saptarşi). sungai-sungai mengalir di permukaan bumi selama itu juga kisah Rāmāyaņa akan terus berlangsung di dunia (Padmapuspita. marā sedemikian cepatnya sehingga ucapannya terbalik menjadi: Rāma. yang karena senang berkumpul dan bergaul dengan para perampok. tidak bergerak sambil mengucapkan mantra: marā. Saat itulah ia mendapat ilham untuk mencipta bentuk sanjak. Rāma. dan Atharwa Weda. Maka sejak itu pemuda petapa tersebut disebut Wālmīki (Padmapuspita. Rāmāyaņa dicipta melalui proses waktu yang cukup panjang. ia duduk termenung di tepian sungai sambil melihat air sungai yang beriakriak. marā. yang terdiri dari Ŗg-Weda. dari 400 tahun Sebelum Masehi sampai 400 tahun Sesudah Masehi. Bagaimanakah mitologi terciptanya karya agung ini? Ada seorang putra Brahmana. 1979: 1-2). marā. terus-menerus dengan tempo secepat-cepatnya. Seluruh badan petapa tersebut tertimbun di bawah „onggokan sarang semut hutan‟ yang dalam bahasa Sanskerta disebut walmīka. Baik Rāmāyaņa maupun Mahābhārata termasuk Itihāsa. selama seribu tahun tanpa boleh bergerak. si petapa tetap pada tempatnya semula. berbahasa Sanskerta. kitab suci Weda yang kelima. ia berhasil diinsyafkan dan disuruh bertapa di hutan sambil mengucapkan mantra: marā. marā. dari 200 tahun sebelum Masehi sampai dengan 200 tahun sesudah Masehi. melengkapi kitab suci Catur Weda Samhita. yang oleh pujangga penciptanya diwariskan untuk seluruh umat manusia. Beberapa sarjana mengemukakan bahwa hakikat inti Jumantara Vol. tumbuh menjadi seorang penjahat. (Padmapuspita.

Rāma melambangkan satria Arya yang. pertentangan Subali melawan Sugriwa. adapun relief di candi Panataran dekat dengan Kakawin Rāmāyaņa. Sutīkşņa). selain Wālmīki yang berhasil menggubah Rāmāyaņa. (c) Dianggap sebagai cerita roman cinta kasih. 1963: 12-13. kesetiaan. Agastya. Melayu.Rāmāyaņa adalah: (a) Berisi lambang gerakan ekspansi bangsa Arya dari tanah India Utara ke India Selatan. 1998: 136-146). Di India. Sarabhangga.1 Tahun 2012 . Uttara Rāma oleh Bhavabhutti. yang menganggap bahwa Rāma adalah penjelmaan Dewa Wisnu. Janakīharaņa (penculikan Sīta) oleh Kumaradasa. Di Asia Tenggara cerita Rāma terdapat di Vietnam. dan politik tinggi Wibisana. penyair-penyair India lain pun mencoba membuat cerita Rāma– Sīta tersebut. Relief cerita Ramayana di candi Prambanan rupanya lebih dekat dengan Sĕrat Rama Kĕling. Thailand. Birma. dengan pola cerita pengendalian Bharata oleh Kekayi. Surjohudojo. Rāmācaritamanasa (telaga kisah Rāma) oleh Tulasi Dasa (Tulsi Das). didalangi para Brahmana (yang ditokohkan sebagai Bharadwāja. lebih-lebih bagi golongan Waisnawa. 1963: 48. 1961: 4-10). Rāvaņavadha (pembunuhan Rāvaņa) oleh Bhaţţi.. maupun Jawa (Manu. dan Rāmāyaņa Kathāsara-mānjari oleh Ksemendra (Darusuprapta. Cerita Rāmāyaņa dari India tersebut kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Laos. 1961: 10). menyerang Langka hingga takluk. ketika kekuasaan rajawi masih 4 Jumantara Vol. (b) Dianggap sebagai lambang perebutan kekuasaan negara yang senantiasa terjadi di sepanjang sejarah. misalnya: Raghuvangśa (keturunan Raghu) karya Kalidasa. Atri. Kamboja. kesucian yang tiada taranya. Surjohudojo. Filipina. Dalam hal ini cerita Rāma dianggap sebagai dokumen sejarah. Kakawin Rāmāyaņa diperkirakan digubah pada abad IX Masehi (820-832 Ç atau 898-910 M). Dari berbagai penelitian para ahli teks. Di Indonesia cerita Rāma digubah ke dalam Kakawin Rāmāyaņa maupun terpatri pada relief di candi Prambanan dan candi Panataran. (d) Dianggap sebagai kitab suci yang keramat. (e) Dasar pola cerita Rāma merupakan persoalan tindakan dharma melawan adharma (Darusuprapta. 3 No.

Meskipun demikian Somvir (setelah 40 tahun kemudian) mengharapkan bahwa Yogīśwara sebagai pencipta Kakawin Rāmāyaņa menurut tradisi Bali selama ini dapat diterima (Somvir. Somvir menyatakan pula bahwa pertimbangan utama Yogīśwara dalam memilih Bhaţţikâvya adalah bahwa penyair Bhaţţi tergolong ke dalam sekte Shiwa. Manomohan Ghosh. Baris kalimat yang memuat kata yogīśwara tersebut berbunyi: "Sang yogīśwara çişţa sang sujana çuddha manahira huwus mace sira". 1998: 20). 3 No. 1963: 60). diketahui bahwa sumber penulisan Kakawin Rāmāyaņa adalah Rāvaņavadha karya Bhaţţikâvya (Poerbatjaraka. Berg. Surjohudojo. 1963: 53-56.1 Tahun 2012 5 .berpusat di Jawa Tengah. 1983: 288-290. Juynboll. Manu. Darusuprapta. bukan menunjuk pada penulis Kakawin Rāmāyaņa. mengikuti anggapan umum di Bali (misalnya Ktut Ginarsa) bahwa penulis Kakawin Rāmāyaņa adalah Yogīśwara (Darusuprapta. sebagaimana anggapan yang terbiasa di Bali. dan Hooykaas. pada mulanya para sarjana. Camille Blucke. Berdasarkan penelitian Himansu Bhusan Sarkar. Padmapuspita menjelaskan beberapa alasan mengapa di dalam tradisi Bali penulisan Kakawin Jumantara Vol. seperti: Kern. Shiwaisme adalah sekte tertua yang dapat dibuktikan jejaknya lewat penempatan dewa-dewa penting yang memakai atributatribut Shiwa di candi Prambanan. Dalam kaitannya dengan penulis dan saat penulisan Kakawin Rāmāyaņa menurut tradisi Bali. 1998: 137. 1998: 20-21). Tradisi Shiwaisme itulah kiranya yang mendorong Yogīśwara untuk memilih Bhaţţikâvya sebagai sumber penggubahan Kakawin Rāmāyaņa (Somvir. Berkaitan dengan penulisan Kakawin Rāmāyaņa. dan Hooykaas. yang artinya sang yogīśwara (pendeta besar) menjadi sangat pandai dan sang sujana (orang baik) menjadi bersih hatinya setelah membacanya (Rāmāyaņa ini) (Darusuprapta. 1979: 3. 1998: 19-20). Padmapuspita. 1957: 2-3. Somvir. 1961: 11-12. Oleh karena itu Poerbatjaraka menegaskan bahwa kata yogīśwara harus diartikan sebagai 'pendeta besar'. Zoetmulder. 1963: 60).

Rāmāyaņa adalah pada tahun 1016 Ç (1094 M) oleh Yogīśwara. Rangkaian kata-kata "çişţa sujana çuddha manahira" itu dianggap memuat sengkalan yang menunjuk tahun 1016 Ç. Dalam hal ini kata çişţa = 6; sujana = 1; çuddha = 0; manah = 1. Jadi 6101 atau tahun 1016 Ç (Padmapuspita, 1979: 13). Akan tetapi dalam koreksinya, Padmapuspita lebih cenderung menyetujui bahwa sengkalan di atas menunjuk tahun 1018 Ç (1096 M), karena kata çişţa yang artinya 'terpelajar' atau 'pandai' diberi arti '8', sama dengan pendeta. Padmapuspita juga menemukan adanya kata "guna" sampai tiga kali (triguna) dari bait penutup dalam Kakawin Rāmāyaņa tersebut. Karena itu Padmapuspita menawarkan pandangannya bahwa kemungkinan penulis Kakawin Rāmāyaņa adalah Mpu Triguna, semasa pemerintahan Çri Jayawarsa Digwijaya Çastra Prabu, yang memerintah tahun 1026 Ç (1104 M). Walaupun demikian, Padmapuspita juga sependapat dengan Poerbatjaraka, bahwa yogīśwara bukanlah nama orang, melainkan sebutan penghormatan, seperti halnya kata yogīndra yang diberikan kepada Wālmīki. Bhaţţi sendiri (pengarang Rāvaņavadha) diperkirakan merupakan nama samaran Bhartrhari. Dalam hal ini kata bhaţţi dapat dihubungkan dengan kata bhaţţa, sebutan untuk sarjana besar, semacam penulisan gelar Doktor yang disingkat Dr. (Padmapuspita, 1979: 14-15). Dalam perkembangannya Kakawin Rāmāyaņa digubah dalam kesastraan Jawa Baru dengan judul Sĕrat Rama oleh pujangga R.Ng. Yasadipura I (Poerbatjaraka, 1957: 152; Darusuprapta, 1963: 43; Ricklefs, 1997: 276). Kakawin Rāmāyaņa juga digubah oleh R.Ng. Yasadipura II menjadi Sĕrat Arjuna Sasrabahu, baik yang berbentuk tembang macapat maupun yang berbentuk Kawi miring, serta juga digubah oleh Sindusastra menjadi Sĕrat Arjunasasra atau Sĕrat Lokapala (Mc. Donald dalam Manu, 1998: 138). Bila cerita dalam Rāmāyaņa dan Mahābhārata yang di India seperti tidak ada hubungannya satu sama lain, maka di Jawa kedua tradisi tersebut dicoba dihubungkan, terutama dalam

6

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

pewayangan. Misalnya tampak pada cerita Wahyu Makutharama (Ki Siswaharsaya), Sĕrat Kandha Lampahan Jayasĕmadi, Sĕrat Kandha Lampahan Sĕmar Boyong, Sĕrat Kandha Lampahan Rama Nitis, Arjuna Krama, Lampahan Wahyu Tunggul Naga, dan sebagainya. Sĕrat Pustakaraja Sebelum dikemukakan jejak cerita Rāma dalam Sĕrat Pustakaraja, akan dikemukakan secara sepintas tentang karya tersebut. Sĕrat Pustakaraja adalah karya agung dan merupakan puncak karya pujangga R. Ng. Ranggawarsita, disamping Sĕrat Ajipamasa maupun Sĕrat Witaradya. Bedanya, kalau Sĕrat Pustakaraja berbentuk prosa, maka Sĕrat Ajipamasa dan Sĕrat Witaradya berbentuk puisi Jawa Baru (Macapat). Disebut Pustakaraja karena karya ini dijadikan kitab pedoman bagi seorang Raja (pakĕmipun panjĕnĕngan nata). Pustakaraja dapat juga diartikan 'Rajanya Kitab', karena merupakan kitab yang terkemuka dan menjadi induk segala kitab cerita Jawa (Sĕrat Raja, amargi dados tĕtunggul tuwin dados baboning Sĕrat cariyos Jawi) (Ranggawarsita, 1938: 7). Sĕrat Pustakaraja dapat dibagi menjadi 2, yaitu Sĕrat Pustakaraja Purwa dan Sĕrat Pustakaraja Puwara. Sĕrat Pustakaraja Purwa dibagi menjadi beberapa kelompok besar, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Sĕrat Maha Parwa, meliputi: a. Sĕrat Purwa Pada; b. Sĕrat Sabaloka. Sĕrat Maha Déwa, meliputi: a. Sĕrat Déwa Buddha; b. Sĕrat Dewa Raja. Sĕrat Maha Rĕsi, meliputi: a. Sĕrat Rĕsi Kala; b. Sĕrat Buddha Krĕsna. Sĕrat Maha Raja, meliputi: a. Sĕrat Raja Kanwa; b. Sĕrat Palindria; c. Sĕrat Silacala; d. Sĕrat Sumanasantaka. Sĕrat Maharata, meliputi: a. Sĕrat Dyitayama; b. Sĕrat Tritarata; c. Sĕrat Sindula; d. Sĕrat Rukmawati; e. Sĕrat Sri

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

7

Sadana. 6. Sĕrat Maha Tantra, meliputi: a. Sĕrat Sri Kala; b. Sĕrat Raja Watara; c. Sĕrat Crita Kaprawa; d. Sĕrat Ariawanda; e. Sĕrat Para Patra. Sĕrat Maha Putra, meliputi: a. Sĕrat Mahandya Purwa; b. Sĕrat Suktinawyasa; c. Sĕrat Hariwangsa; d. Sĕrat Darma Sarya; e. Sĕrat Kumbayana; f. Sĕrat Wanda Laksana; g. Sĕrat Darma Mukta; h. Sĕrat Drĕta Nĕgara. Sĕrat Maha Dharma, meliputi: a. Sĕrat Kuramaka; b. Sĕrat Smara Dahana; c. Sĕrat Ambarawaja; d. Sĕrat Krida Krĕsna; e. Sĕrat Kunjarakarna; f. Sĕrat Kunjara Krĕsna; g. Sĕrat Partayagnya; h. Sĕrat Manik Harya Purwaka; i. Sĕrat Sumantri Parta; j. Sĕrat Dĕwa Ruci; k. Sĕrat Parta Wiwaha/Mintaraga; Sĕrat Indra Naraga; m. Sĕrat Urubaya; n. Sĕrat Domantara; o. Sĕrat Bomantaka; p. Sĕrat Baratayuda; q. Sĕrat Kirimataya; r. Sĕrat Darmasarana; s. Sĕrat Yudhayana.

7.

8.

Sĕrat Pustakaraja Puwara juga dibagi menjadi beberapa kelompok besar, yaitu: 1. Sĕrat Maha Parma, meliputi; a. Sĕrat Budhayana; b. Sĕrat Sariwahana; c. Sĕrat Purusangkara; d. Sĕrat Partakaraja; e. Sĕrat Ajidharma; f. Sĕrat Ajipamasa. 2. Sĕrat Maharaka, meliputi; a. Sĕrat Witaradya; b. Sĕrat Purwanyana; c. Sĕrat Bandawasa; d. Sĕrat Déwatacèngkar. 3. Sĕrat Maha Prana, meliputi: a. Sĕrat Widayaka; b. Sĕrat Danèswara; c. Sĕrat Jaya Lĕngkara; d. Sĕrat Dharma Kusuma; e. Sĕrat Catasi Panuaka. 4. Sĕrat Maha Krasma, meliputi: a. Sĕrat Surya Wisésa; b. Sĕrat Raja Sunda; c. Sĕrat Madu Sudana; d. Sĕrat Panca Prabanggana. 5. Sĕrat Maha Kara, meliputi: a. Sĕrat Mundingsari; b. Sĕrat Raja Purwaka; c. Sĕrat Maha Kara.

8

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

6. Sĕrat Maha Para (Ranggawarsita 1938: 10-49; Mulyono, 1989: 191-200; Tedjowirawan, 2008: 84-86).

Sri

Dalam Kepustakaan Jawa (1957), Poerbatjaraka menilai bahwa Kitab (Sĕrat) Pustakaraja pada pokoknya digubah berdasarkan kitab-kitab lakon wayang, pendengaran R. Ng. Ranggawarsita tentang cerita-cerita dari temannya, dan dongengdongeng yang pada waktu itu sudah ada. Semuanya itu diubah dan ditambah oleh R. Ng. Ranggawarsita menurut kehendak hatinya. Lebih jauh Poerbatjaraka menyatakan bahwa: “Walau bagaimanapun juga keadaannya, dengan pendek Kitab Pustakaraja itu sebagian besar hanya berisi “omong kosong” belaka daripada R.Ng. Ranggawarsita. Kitab-kitab yang disebut di dalam Kitab Pustakaraja, itu seperti kitabkitab Maha Parwa, Purwa Pada, Sabaloka, Maha Déwa, Maha Rĕsi, dan sebagainya, itu sebenarnya tidak ada dan tak pernah ada.” (Poerbatjaraka, 1957: 186). C.C. Berg dalam Penulisan Sejarah Jawa (Javaansche Geschiedschrijving, dalam geschiedenis van Nederlands Indie, 1938) mengakui bahwa pihak Barat belum memberikan perhatian yang berarti terhadap Pustakaraja, namun diakui bahwa R.Ng. Ranggawarsita mempunyai pergaulan dengan ahli-ahli ilmu bahasa dan kebudayaan Jawa yang berkebangsaan Barat. Selanjutnya dikatakan bahwa R.Ng. Ranggawarsita dalam menulis karyanya menempuh jalan baru dan untuk memperoleh bahan-bahan ia menggali sumber-sumber baru. Akhirnya dikatakan juga bahwa R.Ng. Ranggawarsita (ternyata) mencurahkan amat banyak perhatian untuk menentukan tarikh peristiwa-peristiwa yang dibukukannya. Ia selalu memberikan dua tarikh, yang satu menurut tahun Syamsiah dan yang satu lagi menurut tahun Komariyah. Berdasarkan kenyataan itu bukan mustahil bila sesungguhnya R.Ng. Ranggawarsita bermaksud untuk menulis sejarah menurut tanggapan Barat. Bahwa usahanya tersebut tidak berhasil tidaklah penting. Apabila R.Ng.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

9

khususnya Sĕrat Pustakaraja Purwa. Sĕrat Pustakaraja Purwa seringkali dikatakan sebagai suatu penulisan baru mengenai sumber-sumber cerita wayang (penulisan cerita Mahābharāta versi Indonesia) (Mulyono. Di sini C. Berg hanya dapat mengemukakan tidak lebih dari perkiraan-perkiraannya (Berg. pujangga dalam arti yang asli. which he called Pustaka Raja. which it is not. adalah hasil saduran kembali cerita dalam Mahābharāta dengan berbagai adaptasi dan inovasi. cosmogony. impress the reader in a remarkable way. at first sight preposterous. “manusia ular”. 1974: 87). karena yang disebut belakangan ini (R. 3 No. idea of dating all tales is to be considered as a consequence of his thoroughly Javanese belief in an all pervading Order. of Rangga Warsita‟s own invention. Sĕrat Pustakaraja. The events of myth and epic history are dated consecu-tively according to a chronology.1 Tahun 2012 . His. Rangga Warsita‟s chronicles of creation. myth and epics have parallels in the literatures of other peoples.Ng. which should also be made visible in myth and ancient history” (Pigeaud. Books of Kings. Menurut Sri Mulyono. maka kiranya kita harus membedakan karyanya dengan karya rekan-rekannya yang terdahulu. and so the Pustaka Raja makes an impression of being historically reliable. 1967: 170). Ranggawarsita) bukanlah orang yang mempelajari ilmu sejarah. Sĕrat Pustakaraja isinya sudah menyimpang dan berbeda jauh dengan Ramāyāna maupun Mahābharāta. akan tetapi pendeta-pendeta magi sastra.C. Keanehan dalam Sĕrat Pustakaraja tersebut justru sering dinilai “sangat menakjubkan” 10 Jumantara Vol.Ranggawarsita bermaksud mencari nama sebagai ahli sejarah pertama yang beraliran modern. solar and lunar years. 1989: 202). Pigeaud dalam Literature of Java Volume I (1967) menyatakan: “Rangga Warsita‟s books on mythology and ancient history.

Selain itu yang terpenting dari segala uraian karya-karya pujangga R. wiyosipun punika cariyos lalampahanipun Dèwi Rukmawati. Ranggawarsita di dalam Sĕrat Pustakaraja menyatakan: Sĕrat Rukmawati. Adapun jejak cerita Rāma dalam Serat-Serat di atas dapat dikemukakan sebagai berikut: Cerita Rāma dalam Sĕrat Rukmawati Pujangga R. Di samping itu salah satu maksud tujuan disusunnya Sĕrat Pustakaraja adalah untuk mendidik anak cucu dengan mengajarkan sejarah kepahlawanan leluhurnya. 3) Sĕrat Prabu Gendrayana yang dapat disejajarkan dengan Sĕrat Budhayana sehingga dapat dimasukkan ke dalam kelompok Sĕrat Maha Parma (bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara). 2) Sĕrat Suktinawyasa bagian Sĕrat Mahapatra (bagian Pustakaraja Purwa). putranipun Sang Hyang Anantaboga anggènipun amĕmĕca saha mitulungi sarana dha-tĕng Jumantara Vol. Ranggawarsita sendiri.Ng.sehingga para sarjana berkesimpulan bahwa kitab tersebut adalah wishfull thinking pujangga R.1 Tahun 2012 11 . 3 No.Ng. 1989: 202. 1980: 2). Jejak Cerita Rama dalam Serat Pustakaraja Di dalam Sĕrat Pustakaraja jejak cerita Rāma terdapat di dalam: 1) Sĕrat Rukmawati bagian kelompok Kitab Maharata (bagian Pustakaraja Purwa). Wiryamartana. 4) Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara yang dapat dimasukkan ke dalam kelompok Sĕrat Maha Parma (bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara). Ng. tetapi hanya sebagai titah biasa (Mulyono. Ranggawarsita (Sĕrat Pustakaraja) adalah menempatkan jatining panembah. yaitu memberikan penerangan bahwa dewa-dewa (para Jawata) yang diartikan sebagai nenek moyang orang Jawa itu bukanlah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

3 No. Pada waktu itu bidadari bernama Dewi Rukmawati. panganggitipun anuju ing taun Suryasangkala 853. Adapun cerita dalam Sĕrat Rukmawati dimulai dari tahun Suryasangkala 453 (Uninga – marganing – yoga) atau terhitung tahun Candrasangkala 467 (Rĕsi – rasaning – catur) sampai dengan tahun Suryasangkala 456 (Karasa – marganing – dadi) atau terhitung tahun Candrasangkala 470 (Kagunturan – sabda – pakarti – muluk) (Kamajaya. Dikemukakan dalam Sĕrat Rukmawati bahwa pada waktu itu pulau Jawa masih bersatu dengan Bali. penggubahannya pada tahun Suryasangkala 853. Kamajaya 1994: 2). 1939: 2-3. dihitung (ber-dasarkan) tahun Candrasangkala bertepatan tahun 879). kaétang ing taun Candra-sangkala amarĕngi 879 (Ranggawarsita. Dewi Rukmawati dengan ketajaman penglihatan batinnya sering meramal dan menolong orang yang sedang bersedih sehingga ia termashur 12 Jumantara Vol. inilah cerita kisah perjalanan hidup Dewi Rukmawati. 1938: 17). (3) Prabu Basurata kerajaannya di Wiratha yang pertama di tanah Tegal. kerajaannya di Gilingwĕsi tanah Prayangan (Priangan). Madura dan Sumatra. turun ke dunia dan berdiam di pertapaan di Gunung Mahendra (Gunung Lawu) di tanah Surakarta. (Sĕrat Rukmawati. (4) Sri Maharaja Sindhula (putra Prabu Watugunung). Prabu Sri Mahapunggung dan Prabu Basurata adalah putra Sang Hyang Wisnu.sadhĕngaha ingkang nĕdha tulung.1 Tahun 2012 . Dikarang oleh Mpu Sindura di Mamenang. putra Sang Hyang Anantaboga. termasuk tanah Kendal atau Pekalongan. (2) Prabu Sri Mahapunggung. putra Sang Hyang Anantaboga ketika meramalkan dan menolong memberikan jalan (petunjuk) kepada siapapun yang meminta pertolongan (padanya). 1994: 33). kerajaannya di Medanggalungan tanah Pekalongan (Ranggawarsita. Kaanggit dé-ning Mpu Sindura ing Mamĕnang. kerajaannya di Purwacarita. Di Jawa ada empat raja: (1) Prabu Brahmanaraja (putra Sang Hyang Brahma).

sampai ke mancapraja (mancanegara).1 Tahun 2012 13 . Prabu Basurata disarankan agar pergi ke hutan Madura di tanah Hindi. 1939: 12-14. tetapi terus dikejar oleh Rĕsi Anggira. Pada waktu itu Prabu Basurata mendapat ilham dalam mimpinya bahwa ia hendaknya mencari cara agar mendapatkan putra. sebab di sana terdapat Jamur Dipa yang tumbuh dari abu Rĕsi Anggira atau yang juga disebut juga Maharesi Paspa. seketika akan menjadi abu. Rĕsi Anggira lupa bahwa tangannya sudah memiliki kesaktian yang dahsyat. Sang Hyang Jagadnata menolak. Konon terjadinya abu tersebut bermula ketika Rĕsi Anggira yang dari kanak-kanak sampai tua melakukan tapa brata. Kamajaya. Di dalam Jumantara Vol. sehingga akhirnya ia sendiri yang menjadi abu. terutama kepala seseorang. Resi Wisama (putra Bathara Laksmana) cucu Sang Hyang Resi Wismana. termasuk dalam wilayah negara Ngayodya. akan tetapi Rĕsi Anggira ingin mencoba kesaktian telapak tangannya dengan meraba kepala Sang Hyang Jagadnata. Sang Hyang Jagadnata kemudian lenyap dan tidak berapa lama muncullah Sang Hyang Wisnu menyamar sebagai seorang wanita yang sangat cantik bernama Dewi Anggarini. Karena berujud abu ia juga disebut Maharsi Paspa. Permintaan itu dikabulkan oleh Sang Hyang Jagadnata. Prabu Basurata dengan diiringi Resi Wisama kemudian pergi berkunjung ke Gunung Mahendra. menyarankan agar Prabu Basurata meminta petunjuk kepada Dewi Rukmawati di Gunung Mahendra. Permintaan Rĕsi Anggira adalah bahwa hendaknya telapak tangannya memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga apa yang diraba. Di dalam abu tersebut kemudian tumbuhlah jamur yang terkenal sebagai Jamur Dipa yang dapat menjadi sarana untuk mendapatkan seorang putera yang istimewa. Ketika Rĕsi Anggira mencoba merayu dan ingin mencumbu Dewi Anggarini maka ia disarankan untuk mandi keramas dahulu. Ketika membersihkan rambutnya. cicit Sang Hyang Pancaresi. Oleh Dewi Rukmawati. 1994: 3-10). 3 No. Karena itu Prabu Basurata disarankan untuk mengambil/memetik Jamur Dipa ke hutan Madura di tanah India (Ranggawarsita. sehingga didatangi Sang Hyang Jagadnata untuk memberikan anugerah. Ilham raja tersebut disampaikan kepada para pertapa.

Kala semantĕn nuju dhatĕng kanugrahanipun Rĕsi Anggira katĕdhakan Sang Hyang Jagadnata. sampun rinilan déning Sang Hyang Wisésa. aturipun Dèwi Rukmawati: 'Kakang Prabu. mugi kasĕmbadanana ing panuwun-amba.' Ing ngrika wontĕn Jamur-dipa. Èpèk-èpèk amba kalih pisan punika kaparingan kamayan tiksna. kadadosan awunipun Rĕsi Anggira. nanging wontĕn sarananipun. manawi amarĕngakĕn kawula kalilana anggrayang mustaka paduka.1 Tahun 2012 . ugi sinĕbat nama Maharsi Paspa. Déné dados awu. sarèhning sampun kasĕmbadan ing sapanuwun amba. Rĕsi Anggira 14 Jumantara Vol. rama paduka Sang Hyang Wisnu tumurun mimindha pawèstri langkung éndah ing warni. mĕnggah ingkang dados karsa paduka angudi wĕkasing tumuwuh ambabarakĕn wiji punika. Sang Hyang Jagadnata lumajĕng. nanging Rĕsi Anggira adrĕng badhé pari-pĕksa. talatahipun nagarai Ngayodya. Sarèhning tĕdhakipun Sang Hyang Jagadnata botĕn wontĕn ingkang ndhèrèkakĕn. sagĕda lajĕng dados awu sami sanalika. bubukanipun makatĕn: „Kala ing kina Rĕsi Anggira punika tatapa sangkaning raré ngantos sĕpuh. kawula kamipurun anunuwun tandha. Botĕn watawis dangu. Sang Hyang Jagadnata lajĕng muksa.Sĕrat Pustakaraja kisah mengenai Rĕsi Anggira (Maharsi Paspa) yang menjadi Jamur Dipa dapat dilihat pada kutipan berikut: Sarĕng ing wanci bangun énjing Dèwi Rukmawati amanggihi Prabu Basurata. Pangandikanipun Sang Hyang Jagad-nata: „Heh Anggira sutaning Sakru.‟ Rĕsi Anggira umatur: 'Dhuh Pukulun. panggénanipun sarana dumunung wontĕn sabrang ing wana Madura tanah Hindi.‟ Sang Hyang Jagadnata botĕn amarĕngi. apa kang dadi sĕdyanira ing mĕngko sayĕkti sun-turuti‟ Aturing Rĕsi Anggira: „Dhuh Pukulun Kang Binathara Ing Jagad. Sarĕng mèh kacandhak. putuning Sakutri. lajĕng binujĕng.‟ Sang Hyang Jagadnata angandika: „Lah iya ingsun wus anĕmbadani. menawi anggĕpok utamangganing dumadi ingkang amba grayang sirahipun wau. ba-ngĕt tĕmĕn ĕggonnira kapati-brata. 3 No.

awit sira wujud awu. sayĕktiné ing mĕngko sira aran Maharsi Paspa. ing nalika punika ingkang jumĕnĕng nata ajujuluk Prabu Dhasarata. Rama-paduka angakĕn nama Dèwi Anggarini. lajĕng wangsul warni Sang Hyang Wisnu malih. supé bilih tanganipun kadunungan kamayan tiskna. Pada waktu itu di negeri Ayodya Prabu Dasarata menjadi raja. sarèhning Rĕsi Anggira mĕntas tapa lami. Ing mangké awu wau cukul jamuripun katĕlah sinĕbut Jamur-dipa. bubukanipun ing kina. kinèn adus karamas rumiyin. lajĕng pitakèn namanipun. Manawi sampun suci badan. bijaksana. akaliyan Sĕrat Weddhangga. rama-paduka Sang Hyang Wisnu muksa. Sarĕng karamas tanganipun kadamĕl anguyĕg sirah. tĕrahipun Ikswaku. Sira mari aran Rĕsi Anggira. kĕkah ing adilipun.. Dèwi Anggarini darbé panĕdha. mèh anyamèni para maharsi. gĕntos kacariyos. Jumantara Vol.' Sasampunipun ngandika makatĕn. sami sanalika wau Rĕsi Anggira lajĕng dados awu. 3 No. nagari ing Ayodya. kawasa amĕnggak budi hawanipun. sidik ing paningal. Saking déné srĕnging karsa. Punika kakang Prabu. mandraguna sinĕkti.. ratu limpad ing Sĕrat Wéddha. putus dhatĕng kawajiban suci. Rĕsi Anggira botĕn darana Dèwi Anggarini lajĕng rinarurum ingarih-arih.sarĕng aningali langkung kasmaran. Rĕsi Anggira langkung suka lajĕng dhatĕng ing lèpèn sumĕdya adus karamas.1 Tahun 2012 15 . Di dalam Sĕrat Rukmawati sosok Prabu Dasarata dan keadaan kerajaan Ayodya digambarkan sebagai berikut: . Dĕwi Anggarini uninga manawi Rĕsi Anggira pĕjah dados awu. Kathah ing-kang sami ngupados badhé kadamĕl sarananipun tiyang ig-kang sumĕdya angudi wĕkasing tumuwuh ambabarakĕn wiji. Ratu pinandhita. saking anggènipun mungkul ing katĕmĕnan sarta anĕtĕpi agami tigang prakawis. sumanggèng karsa. sarwi angandika makatĕn: „Hèh Rĕsi Anggira ing mĕngko sira nĕmu wĕwĕlèh dadi awu dhéwé. kinèdhĕpan samaning tumuwuh.

Lulus tataraharjaning praja. Botĕn wontĕn tiyang ingkang awon griyanipun. Raja (yang bersifat) pendeta. tajam penglihatannya. pada waktu itu yang menjadi raja bergelar Prabu Dasarata. botĕn wontĕn tiyang murtad. tani-tani sarta bĕkti-bĕkti ing laki. Mumpuni 16 Jumantara Vol. botĕn wonten tiyang ingkang tanpa aji. botĕn wontĕn tiyang ingkang alit manahipun. karena dia (baginda) (sudah) tekun dalam kelurusan hati (kejujuran) serta menepati agama 3 macam. botĕn wontĕn tiyang ingkang botĕn nĕtĕpi wajibing ngagĕsang. raja yang (telah) ahli dalam Sĕrat Wéddha dan Sĕrat Wéddhangga. botĕn wontĕn tiyang bodho. putus (mumpuni) dalam hal kewajiban suci. prasasat sami akaliyan para déwa.1 Tahun 2012 . sami limpad ing kawruh wéddha. Botĕn wontĕn tiyang sakĕdhik anakipun. kuasa menahan hawa nafsunya. sarwi agaganda amrik arum. botĕn wontĕn tiyang kĕsèd. Ing kitha wau titiyangipun sami bĕgja. Tiyangipun èstri sami éndah-éndahing warni. hampir menyamai para maharsi.Kautaman tuwin kaluhuranipun sang nata misuwur ing jagad titiga.. ( . nagari di Ayodya. sangat sakti. putus dhatĕng wajib pangĕrèhing praja. Botĕn wontĕn tiyang ingkang drĕngki. bijaksana. disegani oleh sesama makhluk. sarta botĕn saged kawon pĕrang. Keutamaan serta keluhuran sang raja termashur di tiga dunia.. 3 No. Para nayakanipun sang Prabu cacahipun wowolu. bagaikan sama dengan para dewa. botĕn wontĕn tiyang musakat. keturunan Ikswaku. kokoh dalam keadilan. botĕn wontĕn tiyang ingkang manganggé lungsĕd. Sawarninipun tiyang sami busana adi-adi ingkang rinĕngga ing kancana sosotya nawarĕtna. anggigirisi kados latu murub. botĕn wontĕn tiyang awon warninipun. botĕn pĕgat anggĕnipun ambudi wĕwahing kaluhuraning ratunipun. kemudian diceritakan. bijaksana. Kitha wau rinĕksa ing prajurit éwon. botĕn wontĕn tiyang cĕlak umuripun. ingkang sampun misuwur ing kautamanipun.

tidak ada orang yang malas. tidak ada orang yang buruk wajahnya. Di dalam kerajaan tersebut rakyatnya semua bahagia. Semua orang pakaiannya indah-indah yang dihiasi dengan emas intan permata. semua ahli dalam ilmu Wédha. Para dewa kemudian mengusulkan kepada Bathara Prayapati agar memberikan putra sebagai titisan Dewa Wisnu kepada Prabu Jumantara Vol. Kota tersebut dijaga oleh ribuan prajurit. bersama para raja di kerajaan Prawa. tidak ada orang yang kecil hatinya. Sewaktu perlengkapan persembahan sudah siap.1 Tahun 2012 17 . tidak ada orang yang tidak menepati kewajiban hidupnya. putus (ahli) dalam hal tata pemerintahan negara. tidak ada orang yang pendek umurnya. Prabu Dasarata mendapat petunjuk dewa bahwa ia hendaknya menunggu kedatangan putra Sang Hyang Wisnu. Ketika persembahan Aswameda tersebut dilakukan. dan Malawa. para petani (perempuan) pada berbakti pada suaminya. Tidak ada orang yang sedikit anaknya. Bathara Prayapati (Sang Hyang Jagadnata) yang diiringi para dewa sangat berkenan. Para pemimpin sang Prabu berjumlah 8. Prabu Dasarata pada waktu itu juga menginginkan memiliki putra yang termashur di dunia karena pada waktu itu baginda belum berputra. Para pendeta menyarankan agar Prabu Dasarata mengadakan upacara (sedekah) Aswameda di hutan Madura di dekat sungai Sarayu. Mantili. (mereka) sudah termashur keutamaannya. tidak henti-hentinya dalam berusaha menambah keluhuran rajanya).mengatur keselamatan dan kesejahteraan negara. tidak ada orang yang bodoh. Para perempuannya semua cantik-cantik parasnya. Tidak ada orang yang buruk rumahnya. tidak ada orang yang berpakaian lusuh. tidak ada orang yang hina. Kedatangan Prabu Basurata di hutan Madura disambut dengan gembira oleh Prabu Dasarata di Ayodya. tidak ada orang yang murtad. serta berbau harum semerbak. Tidak ada orang yang dengki. 3 No. tidak ada orang yang tanpa harga diri. menakutkan seperti api yang menyala serta tidak terkalahkan dalam perang.

Jamur Dipa tersebut kemudian berubah menjadi seperti mustika. mugi kaparĕnga amaringi putra dhatĕng Prabu Dhasarata saha mugi andhawuhna dhatĕng Bathara Wisnu. Kepada kedua raja tersebut Bathara Wisnu menyatakan bahwa keduanya diperbolehkan mengambil Payasa yang terletak di Jamur Dipa untuk dimakan bersama istrinya. Kamajaya.. Wujudipun sidhĕkah. amĕpĕki. yang sangat termashur kesombongannya dan sebagai perusak segala yang tumbuh (Ranggawarsita. Ingkang dados pangagĕng tumandang pangruktining sidhĕkah Rĕsi Srĕngga. sagĕda anyimakakĕn 18 Jumantara Vol. Hal ini dimaksudkannya agar putra Prabu Dasarata kelak dapat membunuh raja raksasa. 1938: 24-29. anĕdhaki dhatĕng panggènan sidhĕkah kadhèrèkaken para déwa. sabarang ingkang kinarsakakĕn wontĕn. anjanma-a ing putranipun Prabu Dhasarata. Bathara Wisnu kemudian memberi Payasa yang ditempatkan di atas jamur tersebut..1 Tahun 2012 . saking katrimahing sidhĕkahipun. Sarĕng para déwa aningali sidhĕkahipun Prabu Dhasarata ingkang tanpa timbang. tĕtĕdhan awarni-warni. 1994: 14-18). sami matur dhatĕng Bathara Prayapati. barang pèni raja pèni. Rahwana. Prabu Dhasarata dhawuh angawiti pakurmataning sidhĕkah nĕtĕpi ingkang kasĕbut ing sastra tuwin adat waton. Prabu Basurata dan Prabu Dasarata serta para raja lainnya kemudian mendekati Jamur Dipa yang terlihat menyalanyala. Payasa adalah makanan para dewa yang sangat lezat. Sarĕng sampun rĕrĕm sawatawis dintĕn. Prabu Dasarata dan Prabu Basurata kemudian mengambil Japur Dipa dan Payasa untuk kemudian dimakan bersama permaisuri mereka. Sang Hyang Jagadnata ingkang ugi sinĕbut Bathara Prayapati. Kalanipun Prabu Dhasarata anggĕlarakĕn sidhĕkah. Di dalam Sĕrat Rukmawati prosesi ritual agung Asmaweda tersebut diuraikan sebagai berikut: .Dasarata. Beberapa waktu kemudian para istri Prabu Dasarata hamil. niscaya kedua raja tersebut akan memperoleh putra yang utama. 3 No.

ratuning danawa ingkang nama Rahwana. Payasa ingkang kapundhut Prabu Dhasarata. Naréndra ing Mantili. Jamur-dipa dipun dum waradin dhatĕng para ratu. Prabu Dhasarata dalah pramèswari nata kondur dhatĕng praja. Sasampunipun sidhĕkah.. andhĕku sumĕmbah ing Sang Hyang Wisnu. lajĕng sami bibaran.1 Tahun 2012 19 . ing Prawa. tumuntĕn kadhahar akaliyan pramèswari nata titiga.. Bathara Wisnu angatingal sarwi angandika: „Hé ratu sudibya. ingkang sakalangkung kumalungkung dados gĕgĕlahing bumi. Sarĕng Prabu Basurata. Prabu Basurata akaliyan Prabu Dhasarata tuwin para ratu sami anĕdhaki panggènanipun Jamur-dipa. sira ingsun wĕnangaké ngalap Payasa kang dumunung ing Jamur-dipa iku. kaki Prabu Basurata lan kaki Prabu Dhasarata. Payasa wau dhaharipun para déwa ingkang raosipun sakalangkung éca. pinundhi ing mastaka. ing Malawa. Pamukartaning sidhĕkan kĕndĕl. Panganan iku kang dadi jalarané sira padha kasinungan suta. Jumantara Vol. urubing Jamur-dipa sirĕp.. Karsaning déwa angkĕripun Jamur-dipa dados cabar. Para ratu tuwin para rĕsi. Ratu kalih lajĕng kondur dhatĕng pasanggrahan. jamur katingal amaya-maya kados musthika. angrisak samining tumuwuh. Sang Hyang Wisnu muksa. Prabu Dhasarata. Jamur-dipa katinggal murub angkara-kara. agawé undhaking kautaman lan kamulyan‟. lajĕng sami mundhut Payasa ingkang dumunung ing Jamur-dipa. Prabu Basurata. dalah Jamur-dipa ugi kapundhut. 3 No. Banjur sira pangana lan somahira. Bathara Pryapati amarĕngi panuwun wau. Prabu Basurata kaaturan tĕdhak kampir dhatĕng Ayodya. Sarawuhipun ing Ayodya langkung sinuba-suba. sami tumutur angurmati. Bathara Wisnu lajĕng amaringi "Payasa" kadunungakĕn sanginggiling jamur. sasampunipun anampèni pandumaning sidhĕkah. para brahmana sapanunggilanipun. Prabu Dhasarata anyĕlaki.

1938: 34. sementara itu di kerajaan Ngayodya permaisuri Prabu Dasarata pun melahirkan putra. Dewi Kekayi berputra Bharata. Kamajaya. ananging cariyosipun kadamĕl gĕntos. 3 No. Dewi Kusalya berputra Rama. Sarĕng 20 Jumantara Vol. 1938: 28-32. permaisuri Dewi Brahmaniyuta melahirkan putra laki-laki diberi nama Raden Brahmaneka. Di dalam Sĕrat Rukmawati kelahiran Rāma bersaudara tersebut dikemukakan sebagai berikut: Kacariyos. adapun Dewi Sumitra berputra Laksmana dan Satrugna. Prabu Dhasarata andhatĕngngakĕn suka pari suka. Kamajaya. Ingkang miyos saking Dĕwi Sumitra kakalih pinaringan nama Laksmana. akaliyan Satrugna. 1994: 22). Bertepatan masa Manggakala. Sebagai ungkapan kebahagiaan Prabu Dasarata disertai Raja Mantili.1 Tahun 2012 . 1994: 18-21). ing tanah Hindi pramèswari Ngayodya. memperlihatkan Jamur Dipa dan Payasa tersebut kepada Dewi Rukmawati. Dewi Rukmawati melihat bahwa di dalam Jamur Dipa terdapat 2 rajah.Beberapa waktu kemudian Prabu Basurata. yaitu rajah Purusa dan rajah Kani. sekembalinya ke Wiratha. sampun ambabar putra kakung langkung rumiyin ingkang miyos saking Dèwi Kusalya kaparingan nama Rama. Raja Malawa dan Raja Prawa kemudian mengunjungi Prabu Basurata di Wiratha (Ranggawarsita. Ingkang miyos saking Dèwi Kĕkayi pinaringan nama Barata. Menurut Dewi Rukmawati bahwa Prabu Basurata kelak akan berputra raja besar serta seorang putri yang nantinya juga menurunkan raja besar. Payasa dan buah Wipula kemudian diminta untuk dimakan Prabu Basurata bersama permaisuri Dewi Brahmaniyuta (Ranggawarsita. Jamur Dipa tersebut kemudian dipuja Dewi Rukmawati berubah menjadi buah-buahan disebut buah Wipula. Pada tahun Wiya terhitung tahun 454 (Suryasangkala) dengan sĕngkalan: Dadi-tataning-pakarti atau tahun 468 (Candrasengkala) dengan ditandai sĕngkalan: Sarira-angrasa-suci. kadi sarĕng lampahanipun.

kabĕkta saking rĕnaning panggalih déné kadumugĕn ingkang dados karsanipun. (Sĕrat Sutiknawyasa. dalam rangka memohon kelahiran putra yang menjadi penjelmaan Sang Hyang Wisnu (Rāma bersaudara). raja Ayodya. Lajĕng sami bidhalan saking palabuhan Prawa anitih baita. penggubahannya bertepatan tahun Surya-sangkala 853. 1938: 21). kaétang ing tahun Candrasangkala amarĕngi 879. Kaanggit déning Mpu Widdhayaka ing Mamĕnang.1 Tahun 2012 21 . inilah cerita kisah hidup Prabu Kresna Dwipayana di Ngastina sampai menjadi begawan bernama Bagawan Byasa. terutama berkaitan dengan prosesi ritual agung (Asmaweda) yang dilakukan oleh Prabu Dasarata. Panganggitipun anuju ing tahun Suryasangkala 853. Prabu Dhasarata karsa tĕdhak cangkrama dhatĕng nuswa Jawi. 3 No. Ranggawarsita di dalam Sĕrat Pustakaraja menyatakan: Sĕrat Sutiknawyasa wiyosipun punika cariyos panjĕnĕngan nata Prabu Krĕsna Dwipayana ing Ngastina ngantos dumugi ambagawan nama Bagawan Byasa. ing Malawa lan ing Prawa. Demikian jejak cerita Rama (Rāma) yang terdapat dalam Sĕrat Rukmawati. kanthi ratu ing Mantili. Cerita Rāma dalam Sĕrat Sutiknawyasa Pujangga R.sampun dumugi anggĕnipun amangun suka. Digubah oleh Mpu Widdhayaka di Mamenang. terhitung tahun Candrasangkala bertepatan tahun 879). (Ranggawarsita. Ng. Jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Sutiknawyasa tampak dari cerita yang disampaikan oleh Dhang Hyang Wiku Salya kepada Bagawan Abyasa tentang kisah Rama ketika ia harus Jumantara Vol.

Tiba-tiba (Prabu Ramawijaya) mendapat petunjuk yang jelas bahwasanya ia disuruh menolong kesedihan raja kera Sugriwa. parandosipun botĕn amĕgĕng pangandika kajawi amung tansah amĕsu cipta salĕbĕting samadi kémawon. (Prabu Ramawijaya) kemudian disuruh bertapa ke hutan belantara. Ing wĕkasan dados saraya sagĕdipun kapanggih kaliyan garwa Dĕwi Sinta. Kemudian 22 Jumantara Vol. " (Karyarujita dan Sastranaryatmo.meninggalkan kerajaan Ayodya untuk pergi ke hutan. kinèn amitulungi sungkawaning wanara raja Sugriwa. tidak berapa lama (tahta tersebut) diminta kembali untuk digantikan oleh adiknya yang bernama Prabu Barata. Lajĕng jumĕnĕng nata malih wontĕn ing Ayudya. hanya disertai oleh istrinya (Dewi Sinta) dan adiknya Laksmana. namun bahkan selalu mengasah pikirannya di dalam bersamadi.1 Tahun 2012 . seperti tampak pada kutipan berikut: "Kala Prabu Ramawijaya sinèrènan kaprabonipun ingkang rama Prabu Dasarata jumĕnĕng nata ing Ayudya. Betapa besar kesedihaan hati Prabu Ramawijaya. Kelak dikemudian hari (akan) menjadi sarana ia berjumpa kembali dengan istrinya Dewi Sinta. meskipun demikian ia tidak diam membisu. Mila bĕbasanipun tiyang kadhatĕngan sungkawa. botĕn lami kalungsur ginantosan ingkang rayi anama Prabu Barata. anggĕr lajaran asring angsal pitulungan saking tiyang ingkang sami kasungkawan. Sapintĕn kémawon sungkawaning galihira Prabu Ramawijaya. (Ketika Prabu Ramawijaya mendapatkan tahta dari ayahandanya Prabu Dasarata untuk menjadi raja di Ayodya. punika among saking dènira tabĕri amarsudi rĕmbaging janma. 1981: 443444). ditambah (Dewi Sinta) diculik oleh pencuri Prabu Dasamuka (untuk) dibawa ke Alengka. Lajĕng kinèn tĕtaki dhatĕng wana pringga kawĕwahan kénging kadhusta ing duratmaka Prabu Dasamuka kabĕkta dhatĕng Alĕngka. Dumadakan angsal wasita sawantah. 3 No.

inilah hasil kalau (seseorang itu) rajin berupaya menolong manusia. ia kemudian menjadi pertapa di Waringin Sapta (Waringin Pitu) sampai akhirnya ia ditugaskan melenyapkan Prabu Silacala (Watugunung) sebelum diampuni kesalahannya oleh ayahnya. Sĕrat Prabu Gĕndrayana dapat dijajarkan dengan Sĕrat Budhayana. apabila mau menolong seringkali (ia) mendapat pertolongan oleh seseorang yang juga mengalami kesusahan). Dhang Hyang Smarasanta mengemukakan keadaan dirinya yang telah berumur 150 tahun tetapi tetap tampak muda karena hatinya tenang dan damai. 1981: 442-443). Naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana terdiri dari 2 jilid. serta didudukkan kembali menjadi raja (Karyarujita dan Sastranaryatmo. Dengan demikian Sĕrat Prabu Gĕndrayana termasuk dalam kelompok Sĕrat Mahaparma Bagian Sĕrat Pustakaraja Puwara. Dengan demikian peristiwa kepergian Prabu Ramawijaya dari istana ke hutan belantara tersebut dihadirkan oleh Dhang Hyang Wiku Salya dengan maksud agar Rĕsi Abyasa tidak merasa terlalu bersedih hati dengan tidak diangkatnya dia menjadi raja di Ngastina menggantikan ayahandanya Bagawan Parasara (Palasara). Demikian pula kisah Sang Hyang Wisnu yang juga dicopot kedudukannya sebagai raja. Bathara Guru. karena ternyata yang menimpa Prabu Ramawijaya lebih pahit lagi.1 Tahun 2012 23 . Dhang Hyang Smarasanta juga mengemukakan peristiwa yang dialami Maharĕsi Manumanasa yang menjadi pertapa setelah tidak diangkat menjadi raja menggantikan ayahandanya. 3 No. Karena itu peribahasanya seseorang yang sedang sedih. Cerita Rāma dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana Di dalam konstruksi teks-teks Pustakaraja.akan menjadi raja kembali di Ayodya. Nasehat Dhang Hyang Wiku Salya tersebut melengkapi nasehat dari Dhang Hyang Smarasanta kepada Rĕsi Abyasa agar tidak terlalu bersedih. yaitu Sĕrat Prabu Gĕndrayana I dengan kode D 46 A yang terdiri atas 577 Jumantara Vol.

Adapun hama tanaman yang menyerang sawah ladang mereka adalah: cèlèng.1 Tahun 2012 . 3 No. burung.272 halaman dan sudah ditranskripsi oleh Soepardi Hadisuparto. Misalnya: Bathara Kithaka merajai segala jenis belalang. walang. mĕnthèk. Berdasarkan petunjuk (wangsit) dewa. mau membantunya untuk melenyapkan segenap hama tanaman yang menyerang sawah dan ladang penduduk Gunung Nilandusa dan menyebabkan mereka gagal panen. Bathara Gindhala merajai segala jenis ludhĕp. dan Bathara Hiranyaka merajai segala jenis tikus. lĕladhoh. bĕkocok. yaitu Raden Narayana.halaman dan pernah ditranskripsi oleh K. Isi ceritanya dimulai dari sewaktu Bathara Naradha mengukuhkan Arya Prabu Bambang Sudarsana menjadi raja di Yawastina (Ngastina Baru) bergelar Prabu Yudayaka atau Prabu Darmayana. Bathara Sungkara merajai segala jenis cèlèng. Cerita diakhiri sewaktu Prabu Yudayaka bermaksud turun tahta menjadi begawan dan akan mengukuhkan putranya yaitu Raden Kijing Wahana sebagai raja di Yawastina.T. Jadi Sĕrat Prabu Gĕndrayana terdiri atas 1.849 halaman. putra Prabu Gendrayana. Soemarso Pontjo Soetjipto. yang dapat melenyapkan segala hama dan penyakit tanaman tersebut adalah Raden Narayana. Naskah-naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana di atas adalah koleksi Perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran Surakarta. Segala hama tanaman tersebut sulit dibasmi karena mereka dilindungi para Dewa keturunan Sang Hyang Kala. Bathara Printanjala merajai segala jenis burung. karena beliau adalah titisan Sang Hyang Wisnu Murti. ludhĕp. Adapun jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana dikemukakan oleh Bagawan Danèswara dari Gunung Nilandusa (Wilis) menghadap Prabu Gendrayana untuk mohon bantuan agar putra baginda. ganggĕngan. Adapun naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana II dengan kode D 46 B yang terdiri atas 1. Adapun waktu yang diceritakan dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana tahun 790 – 800 (Suryasangkala) atau tahun 816 – 824 (Candrasengkala). tikus.R. jamur dan lain sebagainya. pemelihara dunia. ulat. Apalagi pada 24 Jumantara Vol.

karena bagaimana mungkin putranya yang baru berusia 13 tahun tersebut harus berhadapan dengan segala jenis hama tanaman yang dilindungi oleh para dewa. Oleh karena Prabu Gendrayana masih merasa ragu-ragu maka Bagawan Danèswara mengingatkan baginda atas kisah kepahlawanan Ramawijaya.waktu lahir Raden Narayana sudah mendapatkan senjata dari dewa berupa panah Pasopati dan panah Sarotama. yèn Bathara Ramawijaya wau inggih panuksamaning Sang Hyang Wisnumurti. manawi Sang Hyang Jagad Pratingkah adamel apĕsipun ing titiyang ingkang sami sura sakti wau. yang dapat dijadikan tauladan tersebut tersurat pada Sĕrat Prabu Gĕndrayana II seperti pada kutipan berikut: "Dhuh dhuh Pukulun Kangjĕng Déwaji. Laksmana. 3 No. Akan tetapi. sewaktu Ramawijaya baru berumur 8 tahun sudah dimintai bantuan oleh Bagawan Sutiksnayogi dari Gunung Dhandhaka agar menumpas para raksasa bala tentara Prabu Rahwana dari Ngalengka yang merusak pertapaan para pertapa. dados kénging sinĕbut tilar kasantosaning galih supé dhatĕng kawasaning déwa.1 Tahun 2012 25 . ingkang saupami tiyang sĕpuh ingkang sampun sura sĕkti mandraguna. utawi ingkang luhur sugih wadya bala sami sura sakti ing yuda. yĕkti botĕn dangu lajĕng dhadhal larut sadaya. putra Prabu Dasarata raja Ngayodya dari tanah Hindu. sarĕng sawĕg yuswa wolung warsa lajĕng kasuwun dhatĕng Bagawan Sutiksnayogi ing wukir Jumantara Vol. kaliyan malih Pukulun. Prabu Gendrayana merasa ragu dan keberatan. manawi Sang Hyang Wisésa ingkang adamĕl unggul sayĕkti botĕn sangsaya dènira hamisésa ing ama. panjĕnĕngan paduka punika punapa supé cariyos lampahanipun Bathara Ramawijaya putranipun Prabu Dasarata ing Ngayodya tanah ing Indhu. Adapun kisah kepahlawanan Ramawijaya dan adiknya. saèstunipun nadyan raréya ingkang taksih mudha punggung pisan. manawi kados makatĕn pamanggihipun ing karsa paduka punika Pukulun. Menurutnya. Hal inilah yang membuat Prabu Gendrayana khawatir atas keselamatan putranya.

sarĕng bidhal saking Mantili kadhèrèkakĕn para punggawa langkung kathah. panuwunipun badhé kaabĕn kaliyan danawa ingkang sami angririsak dhatĕng patapaning para wiku. botĕn antawis lami Bathara Ramawijaya wau kaliyan ingkang rayi bidhal saking patapaning pandhita lajĕng amĕdali sayĕmbara dhatĕng nagari ing Mantilidirja.Dhandhaka. panjĕnĕnganipun Prabu Janaka darbé atmaja pawèstri satunggal langkung ayu éndah warninipun. kala semantĕn sagunging para nata sèwu nagari botĕn wontĕn ingkang lĕbda karya wĕkasan sami kawangsulakĕn. manawi ing yuswanipun nalika numpĕs sagunging diyu ditya rĕksasa wil danawa murka kang wontĕn ing wukir Dhandhaka nguni inggih sawĕg yuswa wolung warsa. 2007: 158-159. sarĕng Bathara Ramawijaya saking karsaning Dewa sagĕd amĕnthang. Karyarujita dan Sastranaryatmo. Hadisuparto. 848-853.1 Tahun 2012 . malah punang langkap pusaka lajĕng tugĕl tanpa karana. 1981: 480-481). nama Dèwi Sinta. dèntĕn sayĕmbaranipun Prabu Janaka nguni singa ingkang sagĕd amĕnthang langkap pusakanipun Prabu Janaka saèstu dados jatu kraminipun putra nata Dèwi Sinta wau. hal. lampahipun saking nagari ing Ngayodya botĕn ambĕkta wadya bala aming kadhèrèkakĕn ingkang rayi satunggal anama Raden Laksmana Widagda. 3 No. Sang Ramaparasu wau karsaning Déwa lajĕng kasor déning Bathara Ramawijaya. inggih punika kang angawonakĕn Prabu Harjunasasra ing Mahèspati nguni. saèstunipun sĕpuh putra paduka Radèn Narayana punika (Sĕrat Prabu Gĕndrayana II. D 46 B. dupi wontĕn ing margi kabégal déning pandhita langkung sakti mandra guna. wasta Rĕsi Ramaparasu. Bathara Ramawijaya kalampahan kabĕkta dhatĕng Bagawan Sutiksnayogi. Prabu Janaka langkung suka kalampahan kadhaupakĕn kaliyan Dèwi Sinta. danawa wau balanipun Prabu Rawana Ngalĕngka. 26 Jumantara Vol. sarĕng dumugi ing patapan raja putra kalih wau karsaning Déwa tĕka lajĕng sagĕd anirnakakĕn sagunging raksasa tanpa étangan tumpĕs déning satriya kalih kémawon.

raksasa tersebut adalah bala tentara Prabu Rahwana (dari) Ngalengka. kedua putra raja tersebut (karena) kehendak Dewa berhasil melenyapkan semua raksasa yang tak terhitung banyaknya (semua) tumpas hanya oleh kedua satria tadi. sungguh akan dikawinkan dengan putri raja tersebut. berani lagi sangat sakti. ketika baru berumur 8 tahun. sesungguhnya meskipun masih anak-anak dan lagi masih bodoh. Tidak beberapa lama Bathara Ramawijaya bersama adiknya meninggalkan pertapaan pendeta untuk mengikuti sayembara ke negeri Mantilidirja. bahwasanya Bathara Ramawijaya juga penjelmaan Sang Hyang Wisnu Murti. dapat disebut meninggalkan kesentausaan hati. akhirnya mereka semua Jumantara Vol. Prabu Janaka memiliki seorang putri yang sangat cantik parasnya bernama Dewi Sinta. lupa pada kekuasaan Dewa. dan lagi Pukulun. apabila Sang Hyang Wisesa yang membuat menang. perjalanan (Bathara Ramawijaya) dari negeri Ngayodya tidak membawa bala tentara.000 negara tidak ada satu pun yang mampu melakukannya. (tapi) hanya diiringkan seorang adiknya bernama Raden Laksmana Widagda. jika demikian ini pendapat paduka Pukulun. atau yang berkedudukan tinggi (memiliki) banyak bala tentara yang sakti-sakti dalam peperangan. tentu tidaklah sulit dalam meraih kemenangan atas hama (tanaman). Pada waktu itu semua para raja (yang berjumlah) 1. 3 No. apakah Paduka ini lupa pada cerita kisah hidup Bathara Ramawijaya. apabila Sang Hyang Jagad Pratingkah membuat apĕs (malang) kepada orang-orang yang sangat sakti itu. Adapun sayembara Prabu Janaka tersebut.("Dhuh dhuh Pukulun Kanjeng Dewaji. sesampainya di pertapaan. permintaan (Bagawan Sutiksnayogi) Bathara Ramawijaya akan diadu dengan raksasa yang merusak pertapaan para wiku. tentu tidak lama juga akan tumpas semua. Bathara Ramawijaya bersedia dibawa oleh Bagawan Sutiksnayogi. sekalipun seumpama orang sudah tua. kemudian diminta oleh Bagawan Sutiksnayogi dari Gunung Dhandhaka.1 Tahun 2012 27 . putra Prabu Dasarata di Ngayodya Tanah Hindu. bahwasannya siapa saja yang mampu membentangkan busur panah pusaka Prabu Janaka.

wil dan sebangsanya yang merusak (pertapaan) di Gunung Dhandhaka dahulu usianya baru 8 tahun. Demikianlah tampilnya cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana sengaja dihadirkan oleh Bagawan Danèswara untuk memberikan gambaran dan pandangan kepada Prabu Gendrayana agar merelakan putranya. Jadi ada selisih waktu 10 tahun. Sang Ramaparasu karena kehendak Dewa dapat dikalahkan oleh Bathara Ramawijaya. sebagaimana yang terdapat pada halaman 480 dan 481. Pada waktu mereka di tengah jalan. bahkan busur panah pusaka kemudian putus tanpa sebab. dihadang (dirampok) oleh pendeta yang teramat sakti bernama Ramaparasu.1 Tahun 2012 . Dialah yang dahulu mengalahkan Prabu Arjunasasra di kerajaan Mahespati. untuk menumpas segala hama tanaman yang dilindungi para Dewa. kode D 46 B di halaman 849 dan halaman 853. ada sedikit perbedaan tentang usia Bathara Ramawijaya ketika dimintai bantuan oleh Bagawan Sutiksnayogi untuk melawan para raksasa perusak pertapaan di Gunung Dhandhaka. yang menyerang sawah dan ladang penduduk di wilayah Gunung Nilandusa. Kalau di dalam teks naskah Prabu Gĕndrayana II. Ng. Sesungguhnya masih lebih tua dengan putra Paduka. Ketika mereka meninggalkan Mantili diiringkan para punggawa yang sangat banyak. Jika dikatakan bahwa 28 Jumantara Vol. Prabu Janaka sangat gembira (Bathara Ramawijaya) kemudian dikawinkan dengan Dewi Sinta. Raden Narayana). namun dalam Sĕrat Paramayoga (Sĕrat Kalĕmpakaning Piwulang) yang dikumpulkan oleh R. yaitu Raden Narayana (yang juga penjelmaan Sang Hyang Wisnu Murti. Dalam hal ini. Karyarujita dari Sĕrat Paramayoga dan Sĕrat Pustakaraja dikatakan bahwa usia Bathara Ramawijaya adalah 18 tahun (wolulas warsa). Bathara Ramawijaya.disuruh kembali (ke kerajaannya). Bathara Ramawijaya waktu itu berusia 8 tahun (wolung warsa). Ketika Bathara Ramawijaya menumpas para raksasa. 3 No. sebagaimana Bathara Ramawijaya). karena kehendak Dewa berhasil membentangkan.

Ranggawarsita adalah pengarangnya (Babon tĕmbung pangikĕtipun sang misuwuring jagad: R. Ng.Raden Narayana waktu itu lebih tua daripada Bathara Ramawijaya. sehingga ia kemudian dikawinkan dengan Dewi Sinta (dalam usia 8 tahun). Ranggawarsita. Adapun peristiwa Raden Narayana dimintai pertolongan melenyapkan segala hama tanaman tersebut terjadi pada tahun 814 (Suryasangkala) atau tahun 839 (Candrasangkala) (Naskah halaman 816 – 1008.1 Tahun 2012 29 . jauh lebih muda usianya dari Raden Narayana (13 tahun) sewaktu ia dimintai pertolongan menumpas para raksasa yang merusak pertapaan para Brahmana dan Pendeta di Gunung Dhandhaka. Penciptaannya bertepatan tahun 919 (Suryasangkala) atau tahun 948 (Candrasangkala). Hanya tentunya tidak dapat dikatakan bahwa ia masih kecil. 2007: 20-25). Di sini pun terdapat kejanggalan. Beliau lahir pada tahun 801 (Suryasangkala) atau tahun 825 (Candrasangkala). Cerita Rāma dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara Di dalam Sĕrat Pustakaraja. Namun pada halaman depan Sĕrat Mayangkara dikemukakan secara jelas bahwa R. 2007: 152-187). Ng. seperti yang tersurat dalam naskah Sĕrat Prabu Gĕndrayana II halaman 112 – 139 (Hadisuparto. Hadisuparto. 3 No. Jika usia Ramawijaya sewaktu dimintai pertolongan oleh Bagawan Sutiksnayogi baru 8 tahun. maka hal ini ada benarnya karena usia Raden Narayana adalah 13 tahun. maka Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara termasuk kelompok Kitab Maha Parma (bagian Kitab Pustakaraja Puwara). maka bagaimana mungkin dalam usia semuda itu ia mengikuti dan memenangkan sayembara di kerajaan Mantilidirja. Dalam hal ini jika usia Bathara Ramawijaya adalah 18 tahun akan lebih logis bila ia memenangkan sayembara memperebutkan Dewi Sinta dan dikawinkan dengannya. pujangga Dalĕm ing Kraton Surakarta Jumantara Vol. Kedua kitab tersebut adalah karya Mpu Sindungkara di Pengging.

yaitu menceritakan tentang Sang Maharsi Mayangkara (Anoman). (Sĕrat Purusangkara. Kaanggit déning Mpu Sindungkara ing Pĕngging. Pada bagian permulaan.Adiningrat). Digubah oleh Mpu Sindungkara di Pengging. Ranggawarsita sendiri di dalam Sĕrat Pustakaraja juga menyatakan bahwa: "Sĕrat Purusangkara. kaétang ing tahun Candrasangkala amarĕngi 948.1 Tahun 2012 . 3 No. ketika kawin dengan putri dari Mamenang. kala krama antuk putri ing Mamĕnang. penggubahannya bertepatan pada tahun Suryasangkala 920. panganggitipun anuju ing tahun Suryasangkala 920. Ng. ngantos dumuginipun nagari ing Yawastina kĕlĕm anjĕmblong dados samodra. Pujangga R. inilah cerita kisah (perjalanan) hidup Prabu Purusangkara di Yawastina. maka waktu penceritaan dalam Sĕrat Mayangkara hanya selama 1 tahun. karena jika waktu penceritaan di dalam Sĕrat Purusangkara berlangsung selama 5 tahun." (Ranggawarsita. wiyosipun punika cariyos lalampahanipun Prabu Purusangkara ing Yawastina. dengan titik berat penceritaannya hanya mengenai Sang Hyang Mayangkara. terhitung tahun Candrasangkala bertepatan tahun 948) Adapun waktu yang diceritakan dalam Sĕrat Purusangkara mulai tahun 841 Suryasangkala (Ratu – gusthika – sarira ing boma) atau tahun Candrasangkala 866 dengan sengkalan berbunyi Anggas – angrasa – murti sampai dengan tahun Suryasangkala 846 atau terhitung tahun Candrasangkala tahun 871. 1938: 35). 30 Jumantara Vol. sampai Kerajaan Yawastina tenggelam menjadi samodra. Hanya saja cerita di dalam Sĕrat Purusangkara masih cukup panjang. antara Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara isinya hampir sama.

2) Pertentangan antara Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) dengan ketiga menantunya yaitu Prabu Purusangkara bersaudara.Adapun penceritaan di dalam Sĕrat Purusangkara masih sangat panjang karena menceritakan berbagai peristiwa yang terjadi di Kerajaan Widarba (Kediri) setelah gugurnya Sang Maharsi Mayangkara.1 Tahun 2012 31 . 3 No. Adapun garis besar cerita di dalam Sĕrat Mayangkara dan Sĕrat Purusangkara pada bagian awal dapat dikemukakan sebagai berikut: Sang Hyang Girinata mengadakan persidangan dengan para dewa di kahyangan Suralaya. Mereka memperbincangkan turunnya Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Brahma ke dunia. Adapun cerita-cerita tersebut antara lain: 1) Perkawinan Raden Jayaamijaya dengan Ken Satapi. Sang Hyang Narada menerangkan bahwa maksud Sang Hyang Kala dan Sang Hyang Brahma mau melenyapkan semua keturunan Sang Hyang Wisnu. 4) Perkawinan Madrim dengan Arya Susastra. Rĕsi Anoman menyatakan mau menyatu kembali dengan jiwa (rohnya) Sang Maharsi Mayangkara asal teka-teki yang diajukannya dapat ditebak secara tepat. dan 5) Prabu Darmadewa beserta saudara-saudaranya menyerbu kerajaan Widarba (Tedjowirawan. Sang Hyang Narada menerangkan bahwa Sang Maharsi Mayangkara masih mendapat tugas dewa untuk mengawinkan para putra mendiang Prabu Sariwahana (Yawastina) dengan para putri Prabu Jayapurusa (Widarba). 1985: 33-40). Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kesanggupannya dan pulang kembali ke pertapaan Kendalisada menemui raganya (Rĕsi Anoman). Dalam melanjutkan perjalanannya Sang Hyang Narada bertemu dengan roh Sang Maharsi Mayangkara (jiwa Anoman) yang mengungkapkan keinginannya untuk segera berkumpul dengan para dewa. sampai ditenggelamkannya Kerajaan Yawastina. 3) Kisah Madrim dan Madrika. Sang Maharsi Jumantara Vol. Kemudian Sang Hyang Girinata memerintahkan Sang Hyang Narada untuk melindungi keturunan Sang Hyang Wisnu dengan sarana mengawinkan Prabu Astradarma (raja Yawastina) dengan putri Prabu Jayapurusa (Prabu Jayabhaya) di kerajaan Widarba.

1 Tahun 2012 .Mayangkara dapat menebak teka-teki yang diajukan padanya. sehingga ia menyatu kembali dengan raganya. Mereka memikirkan perkawinan Raden Jayaamijaya dengan putri Ken Satapi. akan tetapi Prabu Jayapurusa menyerahkan jodoh ketiga putrinya kepada dewa. Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kepada Prabu Astradarma bahwa ia ditugaskan Sang Hyang Narada untuk mengawinkan Prabu Astradarma bersaudara dengan ketiga putri Prabu Jayapurusa di Widarba. Pada waktu itu. Prabu Astradarma merasa ragu-ragu bahwa Prabu Jayapurusa telah melupakan permusuhan ayah-ayah mereka dahulu dengan baginda (Prabu Jayapursa). Prabu Jayapurusa di kerajaan Widarba sedang menerima Raden Jayamijaya. Pada waktu itu datanglah Gadaksa dan Pradaksa. 3 No. akan tetapi Sang Maharsi Mayangkara meyakinkan bahwa dewalah yang menentukan segalanya. Tidak lama kemudian datanglah Sang Hyang Narada yang memerintahkan Sang Maharsi Mayangkara ke Yawastina. Sesampainya di Yawastina. Patih Suksara serta para prajurit Widarba yang menghadap. anak Ajar Subrata. ia beristirahat di bawah pohon beringin kembar. ketika Prabu Astradarma melihat adanya putih-putih di bawah pohon beringin. Sementara itu para prajurit Yawastina di bawah pimpinan Patih Sudarma mempersiapkan diri menyusul rajanya. Perselisihan dan perpecahan itu berawal dari nenek moyang mereka dahulu. maka baginda segera memerintahkan punggawanya untuk memeriksa Sang Maharsi Mayangkara. Kemudian Prabu Astradarma dan saudara-saudaranya dibawa Sang Maharsi Mayangkara pergi ke kerajaan Widarba. Hal itu dimaksudkan guna mempererat kembali tali persaudaraan yang telah retak akibat pertikaian yang terjadi antara Prabu Sariwahana dan Prabu Ajidarma di Malawapati melawan Prabu Jayapurusa di Widarba. Sang Maharsi Mayangkara kemudian dihadapkan kepada Prabu Astradarma. Patih Suksara mengusulkan agar Prabu Jayapurusa memikirkan pula perkawinan ketiga putri raja terlebih dahulu untuk menghindari dari pergunjingan rakyat Widarba. utusan Prabu 32 Jumantara Vol.

namun Sang Maharsi Mayangkara dapat menghancurkan pasukan kerajaan Selauma. Pertempuran tak dapat dielakkan. Raden Jayaamijaya. Raden Jayaamijaya meminta bantuan kepada Sang Maharsi Mayangkara. Arya Susastra dan Sang Maharsi Mayangkara kemudian kembali ke Widarba. Sepeninggal Gadaksa dan Pradaksa. maka Raden Jayaamijaya disertai Arya Susastra bersama pasukannya mengejar kedua utusan kerajaan Selauma tersebut. Prabu Jayapurusa mengambil jalan tengah yaitu andaikata Dewi Pramesti telah menjadi jodoh Prabu Yaksadewa maka perkawinan mereka akan segera dilangsungkan. Kepada ayahandanya (Prabu Jayapurusa) ia menerangkan bahwa Sang Maharsi Mayangkaralah yang berhasil memenangkan pertempuran melawan utusan kerajaan Selauma. Setelah Raden Jayaamijaya menyanggupi permintaan itu. Dalam perjalanan Raden Jayaamijaya bersama Arya Susastra. Raden Jayaamijaya sangat marah membaca surat lamaran tersebut. 3 No. Terjadilah pertempuran yang sangat hebat. Raden Jayaamijaya. yaitu raja di Yawastina. Prabu Jayapurusa menjadi ragu-ragu menerima permintaan Sang Maharsi Mayangkara tersebut. tetapi Sang Maharsi Mayangkara meminta imbalan ketiga putri Widarba. Raden Jayaamijaya sangat malu dan ia bermaksud meminta bantuan kepada saudaranya. Dikemukakannya pula bahwa ia telah terlanjur menyanggupi untuk memenuhi permintaan Sang Maharsi Mayangkara yang menginginkan kawin dengan ketiga putri Widarba. dan memaksa Gadaksa dan Pradaksa untuk mengundurkan diri kembali ke kerajaan Selauma. keduanya berjumpa dengan Sang Maharsi Mayangkara.Yaksadewa dari kerajaan Selauma untuk melamar Dewi Pramesthi. Arya Susastra bersama pasukan Widarba dapat dikalahkan.1 Tahun 2012 33 . tetapi akhirnya baginda Jumantara Vol. Surat lamaran tersebut mengandung ancaman bahwa seandainya Dewi Pramesthi tidak diberikan maka kerajaan Widarba akan digempur. maka mereka segera mengejar Gadaksa dan Pradaksa.

3 No. manawi lalampahanipun Bathara Ramawijaya Ngayudyapala anggènipun ambĕdhah nagari ing Nglĕngka nguni. ing Guwakiskĕndha. dhatĕng nagari ing Ngalĕngka. sukanipun dèntĕn badhé angsal wĕwahing cariyos lalampahanipun Prabu Ramawijaya nguni. Pangandikanipun Prabu Jayapurusa: 34 Jumantara Vol. ingkang dados pangungunipun. dados sawadyanipun para ratu wanara sadaya sami umiring Bathara Ramawijaya. kaambil sraya déning Bathara Ramawijaya wau. saèstunipun kawula nguni èngĕt sadaya.meluluskannya. bokmanawi èngĕt ing cariyos lalampahanipun Prabu Ramawijaya ing Ngayudyapala. rèhning nguni kawarti kawijilanipun saking nagari Guwakiskĕndha tanah Hindhu. mila kawula dados sénapati. Prabu Jayapurusa segera memerintahkan kepada Empu Pulwa untuk mencatat keterangan Sang Maharsi Mayangkara guna meluruskan kembali peristiwa sebenarnya tentang cerita peperangan Prabu Ramawijaya melawan Prabu Rawana. Sang Rĕsi Anoman matur: "Dhuh-dhuh Pukulun Kanjĕng Déwaji. dénya ambĕdhah nagari Ngalĕngka nguni. amargi paman kawula ingkang anèm wasta Prabu Sugriwa punika. Selanjutnya Prabu Jayapurusa meminta kepada Sang Maharsi Mayangkara untuk menceritakan kembali pengalaman peperangannya sewaktu menjadi senapati perang yang terpercaya Prabu Ramawijaya. Di dalam Sĕrat Mayangkara permintaan Prabu Jayapurusa agar Sang Maharsi Mayangkara menceritakan pengalamannya sewaktu menjadi senapati perang pasukan Prabu Ramawijaya tersebut diuraikan sebagai berikut: Sasampunipun makatĕn Prabu Jayapurusa andangu malih dhatĕng Sang Maharsi Mayangkara.1 Tahun 2012 . dèntĕn Sang Maharsi Mayangkara langkung panjang yuswanipun. Raja Alengka. Penulisan cerita Rama pada mulanya bersumberkan keterangan dari Brahmana Hindu yang bernama Dhang Hyang Asuman dan Dang Hyang Ilandhi. malah kala sĕmantĕn kawula inggih kinarya sénapatining ayuda. Prabu Jayapurusa langkung suka angungun. kaliyan adhi kula nak-sanak sutanipun paman kawula ingkang sĕpuh wasta Prabu Subali.

(Kemudian Prabu Jayapurusa bertanya lagi kepada Sang Maharsi Mayangkara.1 Tahun 2012 35 . ananging pangraosing manah kula kados taksih kirang jangkĕping cariyosipun. ketika Jumantara Vol. karena dahulu konon berasal dari Guwakiskenda tanah Indu. barangkali teringat cerita perjalanan hidup Prabu Ramawijaya di Ngayudyapala. kaliyan Prabu Kusia ing Ngayudyapala. Ing ngriku Prabu Jayapurusa langkung suka galihipun. sampun ngantos wontĕn ingkang kalangkungan cariyosipun".Hé Sang Maharsi Mayangkara kakasihing jawata. mugi kagancarĕna sadaya. mila makatĕn awit ing nguni kula katamuwan brahmana saking tanah Hindhu. ngantos kaping kalih. lajĕng dhawuh dhatĕng Empu Pulwa kinèn amĕwahakĕn panganggitipun kaliyan ingkang saking cariyosing brahmana kalih nguni. ingkang rumiyin wasta Dhang Hyang Asuman ingkang kantun wasta Dhang Hyang Ilandhi. lajĕng anyariyosakĕn kawiwitan saking nagarinipun Prabu Ramawijaya wontĕn ing Ngayudyapala. milanipun manawi sang wiku karsa anyariyosakĕn lalampahanipun Prabu Ramawijaya. 3 No. miwiti mĕkasi. malah ing mangké sampun kaanggit déning ĕmpu jangga kula kang wasta Émpu Pulwa. awit bokmanawi wontĕn wĕwahipun malih saking cariyosing brahmana kalih nguni. Émpu Pulwa matur sandika. saèstu badhé andadosakĕn sukaning manah kula. nulya cinathĕtan sadaya. amargi botĕn sumĕrĕp piyambak kados Sang Maharsi wau. ingkang dados lalampahanipun Prabu Ramawijaya dènira ambĕdhah nagari Ngalĕngka wau. punika sami anyariyosakĕn ingkang dados lalampahanipun Prabu Ramawijaya nguni. salalampahanipun sampun sami kagancarakĕn sadaya. ananging panuwun kula mugi kagancarĕna dalah lalampahanipun wontĕn ing margi sadaya. ngantos dumugi sédanipun ingkang putra Prabu Ramawijaya ingkang nama Prabu Batlawa ing Duryapura. sakalangkung rĕmĕn kula. yèn sambada karsanipun sang wiku. Sang Maharsi Mayangkara matur sandika.

bahwa usia Sang Maharsi Mayangkara demikian panjang. bahkan pada waktu itu hamba juga sebagai senapati perang. yang terakhir bernama Dhang Hyang Ilandhi. saya sangat gembira. sungguh sangat menyenangkan hati saya.dahulu menyerbu kerajaan Ngalengka." Sang Maharsi Mayangkara menyatakan kesediaannya. gembira karena akan mendapat tambahan cerita kehidupan Prabu Ramawijaya. jadi semua bala tentara para raja kera semua mengiring Batara Ramawijaya ke negara Ngalengka. kemudian menceritakan mulai dari negara Prabu Ramawijaya di Ngayudyapala. semoga diceritakan semua tentang perjalanan hidup Prabu Ramawijaya dalam menyerbu negara Ngalengka dahulu. sampai mangkatnya putra Prabu Ramawijaya yang bernama Prabu Batlawa di 36 Jumantara Vol.1 Tahun 2012 . (sedangkan) yang menjadi keheranannya. putra paman hamba yang bernama Prabu Subali di Guwakiskenda. bersama adik sepupu hamba. sesungguhnya hamba teringat semuanya. karena paman hamba yang bernama Prabu Sugriwa itu diminta bantuannya oleh Batara Ramawijaya. jangan sampai ada cerita yang terlewat. akan tetapi menurut pendapat saya nampak masih kurang lengkap ceritanya. akan tetapi permintaanku hendaknya diuraikan sekaligus semua peristiwa yang terjadi di perjalanan. 3 No. sebab barangkali ada penambahan lagi dari cerita dua brahmana dahulu itu. oleh karena dahulu kala saya kedatangan Brahmana dari tanah Hindu. sebab tidak mengetahui sendiri seperti halnya Sang Maharsi. Kata Prabu Jayapurusa: "Hai Sang Maharsi Mayangkara kekasih dewata. Sang Resi Anoman berkata: "Duh-duh Pukulun Kanjeng Dewaji. Prabu Jayapurusa gembira (dan) heran. bahkan sekarang sudah disusun oleh pujangga saya yang bernama Empu Pulwa. yang dahulu bernama Dhang Hyang Asuman. jika sang wiku berkenan. maka seandainya sang wiku mau menceritakan perjalanan hidup Prabu Ramawijaya. jika peristiwa penyerbuan Batara Ramawijaya Ngayudyapala dahulu ke negara Ngalengka. makanya hamba menjadi senapati. sampai dua kali. keduanya menceritakan perjalanan hidup Prabu Ramawijaya dahulu.

Prabu Jayapurusa mengawinkan Sang Maharsi Mayangkara dengan Dewi Pramesthi.Duryapura dan Prabu Kusia di Ngayudyapala. Prabu Jayapurusa bermaksud mau maju sendiri. akan tetapi segera dicegah oleh Sang Maharsi Mayangkara. Empu Pulwa menyatakan kesanggupan-nya. Dalam pertempurannya melawan Prabu Astradarma maupun dengan Raden Darmasarana dan Raden Darmakusuma.) Beberapa waktu kemudian. Raden Darmasarana dengan Dewi Pramuni. Prabu Jayapurusa sangat gembira hatinya. Akan tetapi. Sang Maharsi Mayangkara mengeluarkan ketiga putra Yawastina untuk mengadakan pertemuan dengan ketiga putri Widarba.1 Tahun 2012 37 . Dewi Pramuni dan Dewi Sasanti dengan Prabu Astradarma bersaudara. Pada waktu malam pengantin tiba. ia kalah. Oleh karena itu. pertemuan itu diketahui oleh seorang ĕmban „inang pengasuh‟ yang kemudian melaporkannya kepada Prabu Jayapurusa. Hal itu dilakukan atas perintah dewa agar menjadi perekat kembali persaudaraan raja dengan ketiga putra mendiang Prabu Sariwahana. Gadaksa dan Pradaksa telah kembali ke Jumantara Vol. karena ia akan bermenantukan Prabu Astradarma bersaudara. mengawali mengakhiri. dan Raden Darmakusuma dengan Dewi Sasanti. Selanjutnya Sang Maharsi Mayangkara menjelaskan. Prabu Jayapurusa bergembira. kemudian memerintahkan kepada Empu Pulwa untuk mengubah penyusunan cerita Ramawijaya seperti yang berdasarkan cerita dua brahmana dahulu. Mendengar penjelasan itu. semua peristiwa sudah diceritakan. 3 No. Prabu Astradarma mengadakan pertemuan dengan Dewi Pramesthi. kemudian semua dicacat. bahwa sebenarnya dialah yang menjadi pengatur pertemuan antara Prabu Astradarma bersaudara dengan ketiga putri raja. Sementara itu. Prabu Jayapurusa segera memerintahkan Raden Jayaamijaya untuk menangkap perusak kesusilaan di taman sari itu. Kemudian dilangsungkannyalah pesta perkawinan Dewi Pramesthi. Pesta perkawinan mereka sangat meriah dan berlangsung selama setengah bulan.

Kedatangan pasukan Selauma disongsong oleh pasukan Widarba yang diperkuat oleh Sang Maharsi Mayangkara serta tiga putra Yawastina. Sang Hyang Narada pun menjelma kembali. Sang Hyang Girinata menerangkan kepada Prabu Jayapurusa bahwa gugurnya Sang Maharsi Mayangkara memang sudah merupakan kehendak dewa. Prabu Yaksadewa sangat marah dan segera memerintahkan Patih Mohita untuk mempersiapkan pasukannya menyerbu ke Widarba. 3 No. sedangkan gada saktinya menjelma menjadi Sang Hyang Brahma. Sebelum Prabu Jayapurusa maju datanglah Sang Hyang Narada memberitahukan bahwa Prabu Yaksadewa adalah penjelmaan Sang Hyang Kala. Kemudian Sang Hyang Girinata memerintahkan Sang Hyang Narada untuk menghidupkan kembali mereka yang tewas dalam pertempuran itu. Raden Darmasarana dan Raden Darmakusuma segera menuntut bela. Oleh karena itu sudah sepantasnya Sang Maharsi Mayangkara memperoleh anugerah dewa di surga. Dalam pertempuran yang dahsyat itu banyak perwira kerajaan Selauma gugur di tangan Sang Maharsi Mayangkara. Kemudian Sang Hyang Narada menjelma menjadi gada sakti agar dapat dipakai Prabu Jayapurusa melawan gada sakti Prabu Yaksadewa. tetapi mereka pun gugur. Prabu Astradarma. Patih Mohita mencoba melawannya tetapi ia pun gugur. sedangkan gada saktinya adalah penjelmaan Sang Hyang Brahma. Dengan gada saktinya ia menggempur Sang Maharsi Mayangkara. Sang Hyang 38 Jumantara Vol. kecuali Sang Maharsi Mayangkara. Dalam pertempuran yang dahsyat maka Prabu Yaksadewa menjelma menjadi Sang Hyang Kala. maju melawan Prabu Yaksadewa. Bertepatan dengan itu nampaklah Sang Hyang Girinata bersemayam di atas kepala Prabu Jayapurusa. Prabu Yaksadewa menjadi sangat marah. Dalam pertempuran yang dahsyat itu Sang Maharsi Mayangkara gugur di medan laga.kerajaan Selauma serta melaporkan hasil lamaran raja.1 Tahun 2012 . Prabu Jayapurusa sendiri mau melawan Prabu Yaksadewa. Sang Maharsi Mayangkara telah menjalankan kewajibannya di dunia dengan baik pada akhir hidupnya dengan mengawinkan ketiga putra mendiang Prabu Sariwahana (Yawstina) dengan ketiga putri Prabu Jayapurusa (Widarba).

Yasadipura I. 1985: 29-32). yang menjelma sebagai gada sakti senjata Sang Hyang Kala. Yasadipura II menggubahnya menjadi Sĕrat Arjuna Sasrabahu. Dengan demikian. Thailand. Laos. misalnya: Raghuvangśa karya Kalidasa. Cerita Rāmāyaņa dari India tersebut kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Uttara Rāma oleh Bhavabhutti.000 tahun. Simpulan Cerita Rama (Rāma) pada mulanya digubah dalam bahasa Sanskerta oleh yogīndra Wālmīki. terutama di dalam Sĕrat Rukmawati. R. maupun Jawa. Cerita Rāma ternyata ditemui juga jejaknya di dalam bagian Sĕrat Pustakaraja. Kakawin Rāmāyaņa tersebut menjadi bahan perbincangan yang sangat ramai di antara para sarjana. di Jawa kemudian digubah menjadi Kakawin Rāmāyaņa oleh pujangga yang belum ditetapkan secara pasti siapa nama sebenarnya. Birma. Penyair-penyair India lain pun kemudian mencoba membuat cerita Rāma–Sīta.Ng.Ng. Salah satu versi cerita Rāma dari India yaitu Rāvaņavadha karya Bhaţţi. Janakīharaņa oleh Kumaradasa. Kamboja. sedangkan Sindusastra menggubahnya menjadi Sĕrat Arjuna Sasra dan Sĕrat Lokapala. terutama sarjana-sarjana barat yang pada mulanya mengadakan penelitian atas karya-karya sastra Jawa Kuna. 3 No. setelah melewati proses ritual (tapabrata) selama 1. Di Asia Tenggara cerita Rāma terdapat di Vietnam. Rāmācaritamanasa oleh Tulasi Dasa.Kala dan Sang Hyang Brahma segera menghidupkan kembali pasukan Widarba dan Selauma (Tedjowirawan. jejak cerita Rama (Rāma) dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara dikisahkan sendiri oleh Sang Maharsi Mayangkara (Anoman) yang pada waktu itu (jaman Kediri) masih hidup. Rāmāyaņakathāsaramānjari oleh Ksemendra. Filipina. Sĕrat Jumantara Vol. Kakawin Rāmāyaņa kemudian digubah menjadi Sĕrat Rama oleh R. sampai ia sendiri kembali ke surga setelah secara tidak langsung dijemput oleh Sang Hyang Kala (Prabu Yaksadewa) dan Sang Hyang Brahma. Rāvaņavadha oleh Bhaţţi. Melayu.1 Tahun 2012 39 .

Merunut Pupuh-pupuh Rama Djarwa Matjapat jang Bersumber dari Sarga II dan III Rāmāyaņa Kakawin (Tesis). Surakarta: Reksapustaka. Penulisan Sejarah Jawa.Ng. Jakarta: Bharata. Universitas Gadjah Mada. (1981). Karyarujita. jejak cerita Rāma tampak dengan tampilnya Sang Maharsi Mayangkara (Anoman).Suktinawyasa. Sĕrat Purusangkara maupun Sĕrat Mayangkara. Di dalam Sĕrat Prabu Gĕndrayana jejak cerita Rāma dikemukakan oleh Bagawan Danĕswara agar Prabu Gendrayana merelakan putranya yang masih sangat muda yaitu Raden Narayana (Jayabhaya) untuk dimintai bantuannya melenyapkan segala jenis hama tanaman yang menyerang sawah dan ladang para penduduk di wilayah Gunung Nilandusa (Wilis). Sĕrat Prabu Gĕndrayana II (46 B). Dalam Sĕrat Suktinawyasa jejak cerita Rāma dikemukakan oleh Dhang Hyang Wikusalya kepada Rĕsi Abyasa agar tidak terlalu bersedih hati karena tidak diangkat menggantikan ayahandanya menjadi raja di Ngastina. Jogjakarta: Djurusan Sastra Djawa. 40 R. Peristiwa gugurnya Sang Maharsi Mayangkara tersebut pada masa pemerintahan Prabu Jayapurusa (Jayabhaya) di kerajaan Widarba (Kediri).C. Darusuprapta (1963). yang menjelma menjadi gada sakti Prabu Yaksadewa. C. Bahkan gugurnya Sang Maharsi Mayangkara dijemput oleh Sang Hyang Kala (Prabu Yaksadewa) dan Sang Hyang Brahma. Pura Mangkunegaran Surakarta. Daftar Pustaka Berg. Soepardi (Pengalih Huruf) (2007). Sĕrat Paramayoga: Sĕrat Jumantara Vol. melainkan hanya diangkat sebagai raja pendeta. Adapun dalam Sĕrat Purusangkara dan Sĕrat Mayangkara.1 Tahun 2012 . Fakultas Sastra dan Kebudajaan. (1974). 3 No. Hadisuparto. Sĕrat Prabu Gĕndrayana. Dalam Sĕrat Rukmawati jejak cerita Rāma terutama terkait dengan prosesi ritual yang dilakukan Prabu Dasarata untuk memohon kelahiran putra penjelmaan Sang Hyang Wisnu (Rāma).

_______. (1924). Ng. K. _______. _______. Mangkunegara IV (1914). Yogyakarta: Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. Makalah Ceramah. Depdikbud. Solo: Boekhandel M. Sĕrat Witaradya I & II. (1993). (1938). R. Soemarso Pontjo. Semarang: Yayasan Studi Bahasa Jawa "Kanthil". G. Ricklefs. M. Soerakarta: Albert Rusche. (1910). Kepustakaan Djawa. (1908). (Pengalih Huruf) (2007). 3 No. BKI 153-II. Sĕrat Pustakaraja Purwa Jilid I – III. dan Tardjan Hadidjaja (1957). Disalin oleh Soetomo W. Somvir (1998). Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud.H.Kalĕmpaking Piwulang. _______. Soetjipto.. (1997). “Runut Merunut Penulisan dan Penulis Kakawin Rāmāyaņa”. Z.1 Tahun 2012 41 . Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Sĕrat Ajipamasa. The Hague: Martinus Nijhoff. Sĕrat Prabu Gĕndrayana I (46 A). Alih Aksara Kamajaya. "The Yasadipura Problem". Sejarah dan Transformasi Jumantara Vol. Surakarta: Albert Rusche. Pigeaud.T. (1979).M. Poerbatjaraka. Cetakan Kedua. Pura Mangkunegaran Surakarta. R. Djakarta: Djambatan. Padmapuspita. „Ramayana: Asal-usul. Th. Literature of Java Vol. (1967). I. Witaradya. Ranggawarsita. Alih Aksara dan Ringkasan oleh Sudibya.E. (1979). Alih Aksara dan Alih Bahasa oleh Moelyono Sastronaryatmo. _______. Y. Lampahan Jayapurusa.C.R. (1994). Tanojo. Djokdja: Boekhandel En Drukerij Kolf Buning. Ng. dkk. _______. Hadji Pamoso Jilid I-X. Surakarta dan Yogyakarta: Yayasan "Mangadeg" dan Yayasan "Centhini". Sĕrat Mayangkara. Cetakan Keempat. Surakarta: Reksapustaka. Sĕrat Pustakaraja Purwa Jilid III. Th..

Procedings Seminar Internasional Aktualisasi Teks-teks Ranggawarsitan dalam Konteks 100 Tahun Kebangkitan Nasional dalam rangka Dies ke 62 Fakultas Ilmu Budaya UGM 16 Mei 2008. FPBS IKIP Yogyakarta. FPBS IKIP Yogyakarta. Naskah Sĕrat Gĕndrayana. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.1 Tahun 2012 . Ng. “Dari Gendrayana ke Bambang Sudarsana (Sebuah Suksesi Kepemimpinan di Ngastina menurut Teks-teks Pustakaraja Madya Karya Pujangga R. Cetakan III. Rama Kathā.dari India ke Indonesia‟ dalam Ramayana. (1983). Jakarta: Djambatan. Serat Mayangkara Karya R. Naskah 157.Ng. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi). Ranggawarsita”. Pengembangan dan Masa Depannya. Manu Jayaatmaja (1998). Jogjakarta: Fakultas Sastra dan Kebudajaan Universitas Gadjah Mada. Jakarta: CV. Prodi Sastra Jawa. Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa. Wayang: Asal-usul. Zoetmulder. _______ (1986). Supomo (1961). Satu Kajian Pada Karya Sastra R. Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa. Ng. Surakarta: Museum 42 Jumantara Vol. terjemahan Dick Hartaka. Yogyakarta: Jurusan Sastra Nusantara. Kalangwan. 3 No. _______ (2008). “Persebaran Rāmāyaņa di Asia Tenggara”. Sri Mulyono (1989). Surjohudojo. Analisis Struktural Serat Purusangkara.J. Widyaseputra. dalam Ramayana. Ranggawarsita. Pengembangan dan Masa Depannya. Anung (1985). Ranggawarsita: Sajian Teks-Terjemahan Pembahasan. Filsafat dan Masa Depannya. Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang. Tedjowirawan. P. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM. Haji Masagung.

Sĕrat Prabu Gĕndrayana II. Pura Mangkunegaran Surakarta. Surakarta: Museum Radyapustaka Surakarta. Pura Mangkunegaran Surakarta. Sĕrat Prabu Gĕndrayana I.Radyapustaka Surakarta.1 Tahun 2012 43 . 3 No. Naskah 153. Jumantara Vol. Naskah Radyapustaka Surakarta. Surakarta: Museum Sĕrat Yudayana. Surakarta: Reksapustaka. Sĕrat Purusangkara. Surakarta: Reksapustaka. Naskah 46 A. Naskah 46 B. 155.

Selanjutnya perbandingan teks dilakukan dengan manuskrip lain yang mengisahkan tentang perempuan lain bernama Siti Hazanah. Teks. Manuskrip Aceh.Abstrak Penelitian ini mencoba menggali kembali ajaran dan praktik kehidupan sehari-hari perempuan Aceh dalam keluarga dan masyarakat yang dituangkan ke dalam tulisan pada masa lampau. dan mencari korelasi positif antara perilaku perempuan dalam teks dengan perempuan Aceh pada umumnya dalam kurun waktu masa lampau dan dewasa ini. keluarga. 44 Jumantara Vol.1 Tahun 2012 . *) Penulis adalah peneliti di Puslitbang Lektur – Balitbang Departemen Agama RI. yang dewasa ini sudah menjadi manuskrip. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami. tokoh utama dalam sebuah manuskrip Aceh sekaligus menjadi judul dari manuskrip tersebut. menjelaskan tentang perilaku sosial lingkungan terhadap mereka. dan masyarakatnya. Kata Kunci: Perempuan. yaitu Hikayat Siti Islam. 3 No. Fokus utama penelitian ini tertuju kepada Siti Islam. Konteks.

2002: 220-222. Sering perempuan mendapat perlakuan tidak seimbang dan bahkan melecehkan derajat dan kehormatannya.2 Perempuan bukanlah diciptakan untuk 1 Untuk uraian lebih rinci tentang makna perempuan bagi Ibn Arabi. 2 Untuk penjelesan lebih rinci lihat Quraish Shihab. Dengan segala kelemahannya perempuan harus mengikuti perintah para suami. Bahkan tidak jarang kepada kaum perempuan dibebankan segala tumpuan dan pekerjaan keluarga. Ibn Arabi. Perempuan diperlakukan seperti budak demi kepuasan kaum lakilaki. Laki-laki dengan bangga menjadi suami atas keberhasilan isterinya mempertahankan keluarga untuk menutupi kebutuhan keluarganya. laki-laki yang menggunakan kekuatan dan kehebatan fisiknya untuk mencari kesenangan di bawah penderitaan isterinya. mulai dari mengurus rumah tangga hingga mencari nafkah di luar rumah. Jumantara Vol.Pendahuluan Perempuan merupakan lambang keberhasilan dan kekuatan sebuah keluarga dan negara. Sayyidah Nizam adalah salah seorang perempuan yang disebutkan Ibn Arabi yang dapat memberikan inspirasi kepadanya untuk menulis sekumpulan puisi dan telah memberikan pengaruh spiritual yang dalam kepadanya. kadang disalahgunakan oleh lawan jenisnya. tidak berlebihan bila agama memperjuangkan hak perempuan dan bahkan menyamakannya dengan kaum laki-laki sesuai dengan fungsinya masing-masing.1 Namun. Karena itu. mengurusi anak dan suaminya sendiri.1 Tahun 2012 45 . fisik perempuan yang lemah. 2003:416-419 dan Azhari Noer. 2005: 1-8. Kasus yang muncul di media masa dan televisi tidak jarang adalah kasus pelecehan dan perusakan kehormatan perempuan. sebagai tokoh sufi yang terkenal. mengakui akan kehebatan yang dimiliki perempuan. 3 No. dibalik fisik dan tenaganya yang lemah jika dibandingkan dengan kekuatan fisik laki-laki. sering perempuan dijadikan objek kesenangan laki-laki. Mereka dapat memberikan inspirasi tertentu kepadanya. Di luar rumah. karena di tangan merekalah terletak kekuasaan yang terselubung. lihat Austin. Sering terjadi permerkosaan dan perlakuan tidak senonoh dari para pecundang birahi.

hingga memanen padi. Mereka tidak hanya bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga untuk anak dan suami mereka. perempuan harus bersedia untuk tidak mengecap dan merasakan manisnya pendidikan formal. misalnya. (Q. 3 No. Perempuan adalah sosok manusia yang hebat dan lemah. mulai dari mencabut. misalnya. tidak hanya berada di rumah melainkan juga di luar rumah. perlakuan terhadap perempuan hampir boleh dikatakan sama dan serupa. Sehingga dalam sejarah muncul srikandi-srikandi Aceh dengan berbagai istilah mereka sandang demi memperjuangkan agama dan negara. AlZariyat:49).1 Tahun 2012 . Di Bali3. kebebasan mereka diberikan untuk berjuang bersama kaum laki-laki untuk kepentingan agama dan bangsa. Dalam sejarah. sehingga sering disalahgunakan karena dua faktor tersebut. (Umar. perempuan terlihat diberikan kebebasan dalam bergerak. perempuan menjadi tonggak keluarga untuk keberhasilan sebuah rumah tangga. Dalam Al-qur‟an disebutkan bahwa Segala sesuatu Kami menciptakan berpasangpasangan supaya kamu mengingat keesaan Allah. para perempuan menjadi pekerja setia. demi untuk mempertahankan saudara laki-lakinya bersekolah. Mereka harus rela melakukan apa saja untuk memperjuangkan saudara laki-lakinya dan suaminya sukses di luar rumah. Di pasar. mulai dari menghadirkan dan menyiapkan makanan sampai mengurus anak dan suami. Di Aceh. melainkan untuk saling melengkapi. Istilah inong balee. Di kalangan petani.melengkapi hasrat dan keinginan laki-laki. para ibu-ibu menjadi pedagang paling dominan ketimbang para laki-laki. menanam. 2000:16-17). Perempuan harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga. Tidak hanya itu. dijunjung oleh 3 Hasil Observasi dan wawancara langsung dengan sebagian penduduk Bali di Denpasar pada bulan Januari sampai April 1995.S. Dalam setiap suku yang ada di Indonesia. perempuan juga menjadi tumpuan keluarga dan negara. 46 Jumantara Vol. Dari sisi lain. melainkan juga di luar rumah.

Karena itu. yang dewasa ini sudah menjadi manuskrip.Malahayati dalam menggerakan kaumnya melawan Belanda dan mempertahankan agama. Fokus utama penelitian ini tertuju kepada Siti Islam. Sejauhmana korelasi positif antara perilaku perempuan Aceh dengan isi teks naskah? Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan kembali sejarah perempuan Aceh yang terdapat di dalam manuskrip. Nasib sebagian mereka tentu berbeda dengan srikandi-srikandi yang sudah harum namanya. pertanyaan-pertanyaan yang dapat dirumuskan untuk penelitian ini adalah: 1. Bagaimana tanggapan lingkungan terhadap mereka? 3. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pendorong saya untuk meneliti sejarah perempuan Aceh yang tidak hanya terfokus kepada para srikandi yang harum namanya dalam sejarah. yaitu Hikayat Siti Islam. Selanjutnya tidak semua perempuan Aceh menjadi srikandi. Hal yang juga perlu dipertanyakan adalah apakah mereka mendapatkan kebebasan dan kehebatan seperti srikandi-srikandi yang telah harum namanya dalam sejarah. tetapi juga terhadap perempuan-perempuan yang menjadi masyarakat biasa dalam kehidupan keluarga dan sosialnya. tokoh utama dalam sebuah manuskrip Aceh sekaligus menjadi judul dari manuskrip tersebut. Secara rinci tujuan tersebut adalah: Jumantara Vol. keluarga. masih perlu dipertanyakan apa yang dimaksud dengan kebebasan yang mereka miliki dan sejauh mana kebebasan tersebut didapatkan. Meskipun demikian. Bagaimana kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami.1 Tahun 2012 47 . Penelitian ini mencoba menggali kembali ajaran dan praktik kehidupan sehari-hari perempuan Aceh dalam keluarga dan masyarakat yang dituangkan ke dalam tulisan pada masa lampau. 3 No. Selanjutnya perbandingan teks dilakukan dengan manuskrip lain yang mengisahkan tentang perempuan lain bernama Siti Hazanah. dan masyarakatnya? 2.

perempuan mendapatkan dua peran sekaligus. menunjukkan peran para sultanat sebagai perempuan dalam menjalankan 48 Jumantara Vol. Khan dalam The Jewel Affair. Karena itu. 3 No. dan politik yang dijalankan oleh perempuan dalam posisi mereka di keluarga dan masyarakat yang lebih luas. Perempuan dalam kehidupan masa sekarang juga telah mendapat perhatian banyak peneliti untuk menelaahnya dari berbagai segi.1 Tahun 2012 . L. Sedangkan manfaat dari penelitian ini diharapkan: 1. Dapat mengungkapkan kembali khazanah tentang perempuan pada masa silam melalui manuskrip. 1998). 3. Dapat menjadi referensi bagi peneliti khususnya yang bergelut dengan permasalahan gender. Untuk menjelaskan tentang perilaku sosial lingkungan terhadap mereka. her Orang Kaya and the Dutch Foreign Envoys. penelitian terkait dengan perempuan sudah sangat banyak dilakukan oleh berbagai pihak. Dalam artikelnya. Untuk mengetahui kisah Siti Islam dan Siti Hazanah dalam kehidupan bersama suami. Hal ini ditemukan dalam berbagai peran ekonomi. dan masyarakatnya. The Sultana. mulai dari kiprah mereka dalam politik sampai kepada kehidupan sosial. keluarga. 2. Di antara penelitian yang terkait dengan perempuan Aceh adalah. Untuk mencari korelasi positif antara perilaku perempuan dalam teks dengan perempuan Aceh pada umumnya dalam kurun waktu masa lampau dan dewasa ini. sosial. 2.1. Dari sisi kajian terdahulu. yaitu di dalam ekonomi dan politik. Demikian juga halnya dengan penelitian khusus perempuan Aceh. Sher Banu A. karya Anthony Reid Female in Southeast Asia. (Reid. Reid menjelaskan bahwa terdapat kesetaraan perempuan di wilayah Asia Tenggara termasuk di dalamnya Aceh dengan kaum laki-laki dalam konteks yang memungkinkan keduanya bersaing secara langsung. yaitu sebagai perempuan politisi dan ibu atau sebagai pedagang dan ibu. Sejarah sudah banyak berbicara tentang perempuan Aceh dari berbagai segi.

Ia menggunakan manuskrip Melayu kuno dan cerita lisan untuk menjelaskan gagasan kekuasaan perempuan dalam tradisi kemaharajaan. etnografi. telah mengelaborasi dan membuka khazanah penafsiran mengenai sejarah politik perempuan di Aceh. (Siapno. Islam. Begitu juga dengan Putri Tansyir Dewi yang berasal dari Peureulak. Demikian juga dalam cerita tradisi lisan. Jacqueline Aquino Siapno dalam karyanya Gender. dan Syahir Tanwi. 3 No. semacam bidadari atau peri dari antah berantah. 2002). Mereka. bukan untuk berfoya-foya. (Khan. Ia menjelaskan tentang peran perempuan dalam sejarah. Cooptation and Resitance dengan menggunakan metode sejarah. Putri Mayang Seuludang. Ia adalah putri Istana Jeumpa. ia menemukan narasi yang mengedepankan perempuan supernatural.tugasnya sebagai pemimpin negara setelah Sultan Iskandar Tsani. namun tidak pernah dihargai keberhasilannya karena hal tersebut sudah menjadi tugasnya. yang melalui mereka telah muncul kejayaan-kejayaan untuk sebuah kerajaan. Mereka dianugerahi empat orang anak Syahir Nuwi. perempuan dijadikan sebagai orang yang mampu melakukan segalanya. Ia adalah ibu dari Sayid Maulana Abdul Aziz. Syahir Pauli. khususnya Ratu Safiyatuddin dapat menjadikan barangbarang berharga. untuk kekayaan dan kepentingan kerajaan. 2011). dan literatur. Haslinda dalam bukunya Perempuan Aceh Dalam Lintas Sejarah Abad VIII – XIX menjelaskan tentang keberhasilan perempuan dalam membangkitkan negara dan agama sekaligus juga menjadi tumpuan keluarganya.1 Tahun 2012 49 . Namun pada akhirnya bidadari tersebut harus menjadi agen kekuasaan para lelaki sebagai penguasa yang nyata. yang dikenal sebagai pendiri kerajan Jumantara Vol. adalah salah satu contoh perempuan yang diutarakannya. Dalam manuskrip yang menceritakan Putri Betung. menikah dengan Pangeran Salman. Syahir Dauli. Semua mereka berhasil dididik olehnya dan mereka kemudian menjadi penguasa negeri (imum tuha peut). seperti intan permata. yang memiliki kesaktian dan kekuasaan. Nationalism and the State in Aceh: The Paradox of Power.

filologi dan kodikologi yang diperuntukkan pada kajian isi dan fisik naskah tersebut.1 Tahun 2012 . Kedua. Karena itu. Keempat. yaitu dengan fokus kajian pada manuskrip yang diperkirakan ditulis pada abad ke-18 dan 19M. Namun demikian. sehingga direct participant ke dalam masyarakat dalam waktu yang relatif lama dan in depth interview dapat dilaksanakan dengan cermat dan teliti. Untuk melihat dan mendiskusikan perkembangan budaya pada masa sekarang dan relevansinya dengan teks naskah.Islam Perlak pada tahun 840M. (Haslinda. Penelitian ini berbentuk library research dengan model pendekatan kualitatif. pertama. 3 No. Penelitian ini mencoba mengisi kekosongan tersebut. dapat disimpulkan bahwa penelitian tentang aktivitas perempuan dalam kehidupan sehari-hari dan ajaran yang berlaku padanya dengan berlandaskan manuskrip belum ada yang melakukan. Dari penelitian-penelitian di atas. 50 Jumantara Vol. dapat dilihat bahwa hanya Siapno yang menggunakan manuskrip sebagai salah satu sumber rujukan utamanya. pendekatan sejarah sosial digunakan untuk mengetahui konteks latar belakang muncul dan keberadaan naskah yang dikaji dan tentang refleksi perempuan Aceh dalam sejarah secara umum serta fakta yang ada dewasa ini. pendekatan intertekstual digunakan untuk membandingkan teks naskah yang menjadi fokus kajian ini dengan teks sejenis guna untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan topik kajian. maka pendekatan antropologi menjadi penting. Ketiga. 2008). Siapno hanya menfokuskan kajian tentang perempuan yang berkaitan dengan tradisi kemaharajaan pada masa awal Islam. Untuk menelaah dua naskah yang menjadi sasaran penelitian ini perlu digunakan pendekatan interdisipliner. pendekatan antropologi. yaitu budaya perempuan Aceh dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.

karena Buku Heawood dan Churchill hanya memuat daftar watermark dan countermark yang berkisar antara abad ke-17 dan 18M. Tidak ada rubrikasi dalam teks. Naskah berjudul Hikayat Siti Islam ini. yaitu berbentuk sajak dan berbait-bait atau puisi. Lihat Heawood. kemungkinan karena teks naskah ini berbentuk cerita. Tinta yang digunakan untuk menulis teks berwarna hitam. Naskah ditulis dalam bentuk hikayat. 1935. Pidie. seorang masyarakat Aceh yang berdomisili di Dayah Tanoh.Kiprah Perempuan dalam Manuskrip Tentang Manuskrip Siti Islam Deskripsi Naskah ini dikoleksi oleh Ampon Hasballah Dayah Tanoh. sedangkan iluminasi serta ilustrasi juga tidak diketemukan. Naskah ini kemudian didigitalkan oleh Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan.4 Tidak terdapat bagian halaman yang kosong dalam naskah ini. diperkirakan naskah ini ditulis sekitar abad ke-19M. 4 Menurut Heawood. Berdasarkan cap airnya. Naskah ini memiliki ukuran 16X22 cm. sehingga tidak ada kata-kata yang perlu ada penekanan maknanya. Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI pada tahun 2010. tidak diketahui siapa pengarangnya. Alas tulis naskah ini adalah kertas Eropa yang memiliki cap air berbentuk bulan sabit dalam bentuk wajah manusia dilingkari pagar atau yang dalam bahasa Inggris disebut dengan moonface in shield. dan blok teksnya berukuran 10X16 cm. Kemungkinan besar tahun produksinya setelah abad ke-18M. Churchill. Jumantara Vol. yang mungkin saja memuat informasi tentang pengarangnya.1 Tahun 2012 51 . 3 No. cap air seperti ini tidak dapat diidentifikasi tahunnya. sehingga ia menyatakan bahwa kertas yang ber-watermark seperti di atas besar kemungkinan diproduksi pada waktu modern. Aceh. 1986:84. karena ada beberapa halaman akhir telah hilang.

Dalam persinggahannya ia mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak yang mendengarkan ceritanya. na si‟at teuka si Nyak Ti dara agam taphôm makna 52 Jumantara Vol. sebagaimana disebutkan dalam teks: Nyoe hikayat Siti Islam . karena lembaran akhir sudah hilang. Naskah ini tidak memiliki kolofon.Naskah Siti Islam Teks naskah ditulis dengan menggunakan bahasa Arab dan Aceh.. Empat halaman pertama digunakan pengarang khusus untuk mengungkapkan bahwa cerita yang ditulisnya sangat diharapkan oleh siapa pun di dunia ini.. Ringkasan Isi Naskah ini berisi cerita (hikayat) fiktif dengan diiringi berita dari si pengarang terlebih dahulu. Cerita ini diberitakannya terjadi pada masa Rasulullah masih hidup. beraksara Arab dan Jawi. 3 No. kemudian singgah di beberapa negara dan di beberapa tempat di Aceh.1 Tahun 2012 . hingga sampai di kampung halamannya.. Ia mengambil cerita ini dari Arab.. Nyoe calitera nabi Muhammad soe yang ingat raya bahgia .

maka para perempuan akan menerima azab balasannya di hari akhirat. Nabi sebagai tokoh yang dapat memecahkan dan mengatasi segala persoalan. kedua. patuh. penurut. Nabi memberitahu bahwa perilaku wanita yang baik menurut agama adalah harus patuh. Pada awalnya. dan penurut. diceritakan terlebih dahulu segala hal yang terkait dengan pengajaran terhadap perempuan dalam menghadapi suami dan rumah tangga.Rupa jieh sa hana macam That taqwa uroe malam Terjemahan: Ini [hikayat ini diberi nama dengan] Hikayat Siti Islam… Ti Islam nan keurasoe hana macam that bakti Agar laki-laki dan perempuan yang masih muda dapat memahami artinya Siapa yang [mau] mengingatkannya sangat besar kesenangan Sebentar setelah itu datanglah Nyak Ti Ini cerita [masa] Nabi Muhammad… Wajahnya cantik tiada banding Sangat takwa [kepada Tuhan] siang dan malam Ti Islam namanya dipanggil Tiada ada tandingan sangat berbakti Cerita ini memiliki tiga tokoh utama. Siti Islam yang digambarkan sebagai tokoh perempuan yang taat. Bila tidak demikian. suami Siti Islam. yang melindungi dan menguasai Siti Islam dalam hidupnya setelah berumah tangga.1 Tahun 2012 53 . yaitu: pertama. dan ketiga. Jumantara Vol. 3 No. Rajawali. Pengajaran dan bimbingan diberikan langsung oleh Nabi dan tertuju kepada Siti Islam sebagai tokoh utama dalam cerita ini. dan melayani suami. Cerita dalam naskah ini menggambarkan cara hidup seorang perempuan pada masa Nabi yang bernama Siti Islam.

.Nabi kemudian menjelaskan tentang perempuan yang membangkang dan tidak menjaga hubungan baik dengan suami. laki-laki yang berhubungan dengan perempuan tersebut di luar nikah akan mendapat hukuman yang sama.. Lalu bangun perempuan yang celaka Lalu di bahunya duduklah perempuan Pada laki-laki begini ditanyakan Dulu engkau suka kepada saya seorang Ketika saya tidak mau pada azeub siksa hana lawan nam plôh limeng tujôh lapan deungen ineng man saboh kawan lethat ineng jimoe sajan agam jiwa nibak badan jitanyeng meunoe lakuan lee ineng soe rimueng kuran lam taki-taki uroe malam meudeh meunoe lôn ta padan azab siksa tiada lawan enam puluh lima tujuh delapan dengan isteri sebuah kelompok banyak sekali isteri menangis laki-laki dipeluk badannya ditanyakannya apakah begini balasan oleh perempuan dengan suara harimau engkau bohongi siang malam berbagai cara engkau rayu aku 54 Jumantara Vol. bahkan mencari orang lain sebagai tempat pelariannya. Bagi mereka disediakan siksa yang sangat pedih di hari akhirat.. Begitu juga sebaliknya. 3 No. Contoh dalam teks: Ureung lakoe yang celaka Jimoe sabee ureung ineng Azeub peudeh han pue tanyeng Jiduek ji eh ji jak ji deng ..1 Tahun 2012 . Lom jibeudeh ineng ceulaka Trôh bak bahoe jiduek ineng Nibak agam meunoe jitanyeng Dilee galak keu lôn sidroe Oh han lôn tem yôh saboh uroe Terjemahan: Suami yang celaka Menangis selalu si isteri Azab pedih tidak dapat dikatakan Duduk tidur berjalan berdiri .

3 No.1 Tahun 2012 55 . Seorang perempuan harus tunduk dan patuh kepada suaminya serta menjaga keharmonisan rumah tangga sesuai aturan agama. kecuali pada hari Jumat dan bulan Ramadan. Nabi menjelaskan panjang lebar tentang ciri-ciri isteri yang baik yang dapat membawa kebahagiaan dunia dan akhirat serta akan mendapat balasan surga di akhirat. karena Jumantara Vol.satu hari Siksa yang akan dialami oleh mereka yang tidak patuh kepada suami dan berselingkuh dengan laki-laki lain tidak akan pernah berhenti. Disebutkan dalam teks sebagai berikut: hancô hutak lheuh ngen gaki teumar meuwolom misei suboh meunan azeub barang jan masa malam Jumu‟at yang na reuda la‟en nibak nyan buleun puasa la‟en nibaknya hana reuda Terjemahan: Hancur otak lepas kaki Lalu kembali seperti semula Begitulah azab sepanjang masa [Cuma] Malam Jumat yang reda [tidak disiksa] Selain itu pada bulan puasa Selain itu tidak perlah lekang dari siksaan tuleung ngen asoe jeut ka karam lom geusipak hana macam hana reuda uroe malam hana siksa ineng agam yang na reuda Ti Islam jih lam siksa hana macam tulang dan daging sudah tiada lalu disepak lagi dengan sangat keras tiada reda siang dan malam tidak disiksa laki-laki dan perempuan yang tidak disiksa [hai] Ti Islam mereka dalam siksa tiada tara Setelah mendapatkan pengajaran yang demikian panjang lebar. kepada Siti Islam kemudian diajarkan tentang bagaimana seharusnya kehidupan seorang isteri terhadap suami dalam berumah tangga.

maka isteri harus minta izin kepada suami untuk mencari ilmu kepada ulama: Teumar guree nibak lakoe Adat banta lakoe gata Lake izin nibak lakoe Beuna izin nibak lakoe tameureunoe kebajikan bak ulama taberjalan suara bandum ban meunisan jak meureunoe iluemee Tuhan Terjemahan: Lalu bergurulah kepada suami belajarlah kebajikan padanya Bila suami anda tidak bisa kepada ulama engkau pergi Minta izin kepada suami suara dan tingkah laku semuanya harus manis Harus ada izin dari suami pergi menuntut ilmu Tuhan Siti Islam dengan tekun dan penuh khidmat mengikuti ajaran Nabi. 3 No. Ia terus mendesak Nabi untuk menceritakan segala hal yang 56 Jumantara Vol. si isteri harus selalu mencium lututnya dengan wajah tersenyum. Lam syuruga wahe Nyak Ti Diyub tapak gaki suami Terjemahan: Dalam surga wahai Nyak Ti Di bawah telapak kaki suami diyub gaki ureung agam ta deunge hai meunoe kalam di bawah kaki laki-laki dengarkanlah kalam seperti ini Sebagai contoh.surga berada di bawah telapak kaki suami.1 Tahun 2012 . Kalaupun tidak bisa seperti itu. Contoh teks: Oh woe lakoe geunap seupôt côm bak tu‟ôt barangkajan Terjemahan: Ketika pulang suami di waktu sore cium di lutut kapan saja Nabi juga menjelaskan bahwa seorang isteri harus menjadikan suaminya sebagai guru dan tempat belajar. setiap kali suami pulang.

Jumantara Vol.terkait dengan kehidupan isteri dan suami serta akibat-akibatnya. Rajawali berniat hendak pergi jauh keluar wilayah kerajaannya karena ada urusan penting yang harus diselesaikan. Siti Islam memutuskan untuk tidak pergi melihat orang tuanya. Ia kembali pergi ke tempat Nabi dan bertanya tentang masalah yang dihadapinya. Dalam membangun dan mempertahankan rumah tangganya. ia akhirnya menikah dengan seorang anak Sultan yang bernama Rajawali. Nabi memperingatkan agar Siti Islam tidak luput memperhatikan rambu-rambu yang perlu ditaati sebagai seorang isteri nantinya. namun dia tidak berani pulang ke rumah orang tuanya. karena takut tidak mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam rumah tangga. Ia tidak pernah berani bertindak tanpa seizin suami. Rajawali kemudian mengatakan bahwa Siti Islam dilarang keluar rumah sebelum ia pulang. Siti Islam pada awalnya tidak berniat untuk menikah. orang tua Siti Islam sakit keras. Mungkin pasarnya jauh di negeri lain. Siti Islam menceritakan kepada 5 Dalam teks disebutkan bahwa keluar rumah menuju pasar membutuhkan waktu cukup lama. Tidak boleh sama sekali berjalan bila tidak dengan seizin suami. 3 No. Semua harta dan barangnya dititipkan kepada Siti Islam. Pada suatu hari. Ketika suaminya pulang. Atas petunjuk Nabi. Ia adalah sosok perempuan yang patuh secara mutlak terhadap ajaran Nabi. karena anaknya yang taat kepada suaminya. Siti Islam menyerahkan dan mengabdikan dirinya secara penuh kepada suaminya tanpa ada rasa penolakan sedikit pun. Dikatakan oleh Nabi bahwa Siti Islam akan mendapat pahala yang besar dengan sikap tersebut dan orang tuanya akan berada di tempat yang baik. Orang tuanya pun meninggal. Dalam menjalani rumah tangga bersama suaminya. Siti Islam sangat sedih mendengar berita tersebut. Karena harus menjunjung tinggi amanah suaminya. Di tengah-tengah pejalanan suaminya keluar kota5. termasuk untuk keluar rumah.1 Tahun 2012 57 . Siti Islam kemudian menerapkan segala ajaran dan bimbingan Nabi saw yang telah didapatnya. Nabi menjawab bahwa tindakan Siti Islam adalah benar.

termasuk gedungnya yang juga menyimpan sejumlah naskah Aceh lainnya. untuk segala hal yang terkait dengan orang tua. ia sebenarnya mengizinkan Siti Islam pulang ke rumah orang tuanya untuk melihat mereka yang sedang sekarat.suaminya tentang peristiwa yang sudah terjadi selama suaminya tidak ada di rumah. Siti Islam dan Rajawali. 3 No.1 Tahun 2012 . kembali kepada Nabi untuk berkonsultasi tentang balasan dari apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang harus mereka lakukan setelah ibunya meninggal. Setelah itu. Setelah ibunya meninggal. tetapi kopi naskah tersedia. Mereka bertiga sangat sedih dan jatuh dalam pelukan kerinduan dan keterharuan. karena pada tahun 2003 telah dicopy dan dibuat edisinya oleh Fakhriati atas dukungan dari Program 58 Jumantara Vol. Rajawali menggerakan rakyatnya untuk mengadakan kenduri selama tujuh hari tujuh malam. Dengan sukarela. Suaminya kemudian menjawab bahwa.6 Naskah ini dapat 6 Naskah ini sudah musnah akibat tsunami pada tahun 2004. Nabi menjawab bahwa tindakan mereka adalah pekerjaan yang terpuji. Ibunya kemudian mewasiatkan kepada Siti Islam agar ia tetap menjaga dan menghormati perintah dan larangan suaminya. Ternyata ibunda Siti Islam masih hidup dan dalam keadaan sakit parah. namun ayahnya sudah tiada. Mereka berdua diharapkan selalu berdoa untuk orang tuanya dan bersedakah untuknya. Meskipun naskah asli tidak ada lagi. Akhirnya keduanya. Bandingan dengan naskah Siti Hazanah Deskripsi Naskah ini adalah koleksi Balai Kajian Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional Aceh di Banda Aceh sebelum terjadi Tsunami tahun 2004 dengan nomor invetaris 007/NK/1998. pulang ke tempat orang tuanya. Sebelumnya naskah ini dikoleksi oleh Sulaiman di Aceh Besar. ia mengeluarkan hartanya untuk memberi makan fakir miskin dan rakyat untuk mengharapkan pahala bagi orang tua isterinya. Ibu dan ayah Siti Islam berbahagia di dalam kubur dan dapat merasakan kebaikan kedua anaknya. Siti Islam dan Rajawali.

dapat diprediksi bahwa umur naskah ini berkisar antara abad ke-19M. kemungkinan karena halamannya yang sudah hilang. Ada kemungkinan bahwa salah satu lembar naskah ini telah hilang. 3 No. gaya tulisannya terlihat agak berbeda dengan tulisan di teks utama. Namun demikian. 7 Sebutan nama orang berdasarkan nama tempat bisa bermakna tempat ia berasal atau kepopulerannya dalam berkarier. Alas tulisnya adalah kertas Eropa dengan ciri bergaris tebal dan halus dengan bayang-bayang di antaranya.dikatakan berasal dari Aceh Besar karena pengarangnya bernama Teungku Lam Ba‟it berasal dari Aceh Besar.7 Naskah Siti Hazanah berukuran 26x17 cm dan ukuran teks 24x16cm dengan jumlah baris 20 dan 21 pada tiap halaman. Terkait dengan judul naskah. ternyata naskah ini lebih layak diberi judul Kisah Siti Hazanah. Dari jenis kertasnya. Sedangkan halamannya berjumlah 46 halaman dan setiap halaman terdiri dari 21 baris.1 Tahun 2012 59 . Di beberapa halaman awal teks memang ditulis tentang kehidupan penggalakan Sumber-sumber Tertulis Nusantara. kecuali kuras ketiga yang terdiri dari tujuh lembar.8 Naskah ini terdiri dari tiga kuras. Naskah Siti Hazanah ini tidak memiliki kolofon di akhir teks. Tulisan naskah berbentuk nastaklik dengan menggunakan tinta hitam untuk penulisan secara umum dan rubrikasi untuk penekanan pada kata-kata tertentu. FIB-UI. setelah dibaca isinya.mungkin dapat dikatakan sebagai kolofon – yang memberikan informasi tentang nama pengarang dan judul naskah. Namun demikian tidak terlihat watermark dan countermark di atas garis-garis tersebut. Namun demikian pada halaman awal terdapat tulisan dalam bentuk pyramid -. 8 Untuk diskusi tentang jenis-jenis kertas Eropa dan watermarknya dapat dibaca dalam makalah Fakhriati. 2011. yang masing-masing kuras terdiri dari delapan lembar. Jumantara Vol. Naskah ini memiliki ilustrasi dan iluminasi dalam bentuk bunga sulur. yaitu Hikayat Abdurrahman. karena teks naskah ini bercerita lebih banyak dan lebih dominan tentang kisah Siti Hazanah dalam mengarungi kehidupannya di dunia.

Siti Hazanah menyetujui menikah dengannya dan hidup bersama dalam waktu yang tidak terlalu lama. Pada masa ini. Pidie.orang tua Siti Hazanah. Mereka kemudian hidup bersama dalam kekurangan di tempat yang jauh dari jangkauan manusia. Sejak lahir. nama Ahmad Qusyasyi juga didapatkan di dalam naskah-naskah lain seperti Sarakata „surat raja-raja di Aceh‟. Selanjutnya ia menghadapi berbagai macam rintangan dan tantangan selama ditinggalkan suaminya ke tanah suci (Mekkah). yaitu di dalam hutan. Ringkasan Isi Teks naskah ini menceritakan tentang kehidupan Siti Hazanah yang sejak kecil berada dalam kesendirian dan kesepian setelah ditinggal wafat kedua orang tuanya. 2008). Mekkah. yang bertemu dan kemudian menikah dengan isterinya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Ahmad Qusyasyi adalah tokoh yang populer bagi masyarakat Aceh. Sama seperti Siti Islam. Nama tokoh Ahmad Qusyasyi menjadi populer di kalangan masyarakat Aceh sejak diketahui bahwa Tarekat Syattariyah merupakan tarekat yang paling populer di Aceh. (lihat Fakhriati. dan melayani suaminya. ia bertemu dengan seorang laki-laki. Selain itu. 60 Jumantara Vol. Abdurrahman. Nanggroe Aceh Darussalam). Siti Hazanah menyerahkan hidupnya untuk beribadah dan untuk suaminya. Siti Hazanah tumbuh dan berkembang menjadi seorang gadis. karena Teungku berkehendak pergi ke Mekkah. Siti Hazanah sudah hidup sendirian dan hanya berteman dengan binatang di dalam hutan. Dalam kehidupan rumah tangganya. Teungku tersebut tertarik melihat tingkah laku Siti Hazanah sehingga ia ingin menikahinya. (lihat misalnya Sarakata uleebalang Cut Nyak Manfarijah yang berdomisili di Dayah Tanoh. Ia dipelihara oleh malaikat dengan berpakaian dedaunan. Waktu luangnya hanya digunakan untuk bertafakkur. 3 No. yaitu Teungku Ahmad Qusyasyi. Setelah tumbuh besar.1 Tahun 2012 . Siti Hazanah juga menghormati suaminya dengan 9 Ahmad Qusyasyi adalah guru tarekat Syattariyah Abdurrauf al-Fansuri dari Arab. menambah pengetahuan agama. ia menikah dengan Teungku Ahmad Qusyasyi9 dan hidup dalam rumah tangga yang mawaddah dan rahmah.

ia mendapat sambutan hangat dan kasih sayang dari binatang-binatang. ia hanya mengatakan: Lon keubah gata ubak Allah Terjemahan: Saya titipkan kamu pada Allah saya akan kembali dalam waktu dekat lon jak langkah rijang keunoe Pada masa ditinggalkan suami.mencium lutut suaminya ketika ia pulang dari bepergian.1 Tahun 2012 61 . Ketika berjalan menelusuri hutan dalam kesendirian. Ketika suami Siti Hazanah pergi ke Mekkah. namun suaminya tidak berpesan seperti pesan suami Siti Islam. Siti Hazanah mendapat cobaaan yang cukup berat. ia kemudian mendapat pembelaan yang tidak diduga-duga. Saudara dari pihak suaminya berusaha menggangu kehormatannya.. Ia kemudian mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya membela kebenaran dan Jumantara Vol. Siti Hazanah juga ditinggal pergi oleh suaminya. Karena keteguhan dan kesufiannya. Tidak ada celah sedikit pun untuk orang lain bisa masuk untuk mengganggunya. 3 No. Disebutkan dalam teks: Teungku Syekh neurah gaki Terjemahan: Setelah Teungku Syekh mencuci kakinya tuan Siti seumah lee reujang tuan Siti langsung menyembah di lututnya Sama seperti Siti Islam. Ia harus menderita karena siksaan masyarakat sekitar akibat ulah saudara suaminya. Tanpa goyah sedikit pun dalam hati. Siti Hazanah mempertahankan dan memperjuangkan nama baik suami dan kehormatannya semaksimal mungkin.

Meskipun demikian. dalam kehidupan praktis yang dialami kedua perempuan tersebut. Pesan-Pesan dalam Teks Dalam kedua teks yang terdapat dalam dua naskah di atas terdapat pesan bahwa hendaknya seorang perempuan dalam mengarungi rumah tangga dan menghadapi masyarakat sekeliling harus sesuai dengan ajaran Islam dan tuntunan Nabi. Seorang perempuan harus mendahulukan kepentingan suami dari pada kepentingan orang tuanya. pesan yang dapat dipetik adalah: 1) Seorang perempuan harus benar-benar tunduk dan patuh kepada suami. pesan yang dapat diambil adalah: 1) Seorang makhluk Allah.menjaga kehormatan suaminya. Bila tidak berlaku atau bersikap seperti di atas. namun dia juga diperkenankan untuk menyisihkan waktu untuk kepentingan pribadinya dalam hal beribadah kepada Allah SWT. Seorang perempuan harus menjadikan suami sebagai guru dan imam dalam hidupnya. 3 No. harus melayani suami dengan baik. 2) 3) 4) 5) Sementara dalam naskah Siti Hazanah. kecuali pada hari Jum‟at dan bulan Ramadan. terdapat beberapa perbedaan pesan yang dapat dipetik. Dalam naskah Hikayat Siti Islam. khususnya perempuan. karena syurga berada di bawah telapak kaki suami.1 Tahun 2012 . Pengarang menekankan akan pentingnya seorang perempuan berperilaku sesuai dengan tuntunan ajaran Islam agar mendapatkan kebahagiaan ukhrawi dan disenangi oleh suami. maka azab akan menimpanya di hari kiamat tanpa henti. Tugas seorang perempuan sepenuhnya melayani suami kapan pun dan dimana pun. 62 Jumantara Vol.

Ia memberikan peluang kepada Siti Islam untuk menjaga hartanya. Seorang perempuan harus mampu menjaga kehormatan dirinya. terutama kepada orang tuanya. hanya disebabkan belum ada izin suaminya untuk pergi ke rumah orang tuanya. sehingga ia dapat menerapkan segala bentuk pengajaran dari Nabi yang didapatkannya sebelum menikah. Siti Islam harus mengalami kesedihan dan kehancuran hati karena tidak dapat bertemu dengan orangtuanya yang sedang sekarat.1 Tahun 2012 63 . Ia menghormati dan melayani suaminya sebagaimana diajarkan Nabi. Perilaku Lingkungan Siti Islam dan Siti Hazanah Lingkungan Siti Islam yang tersebut dalam naskah pertama berbeda dengan lingkungan Siti Hazanah dalam naskah kedua. Siti Islam berada dalam lingkungan yang menganut budaya patrilineal. Jumantara Vol. lingkungan Siti Islam sangat mendukung kehidupan dan perilaku Siti Islam yang telah dibentuk sebelumnya. meskipun berada dalam lingkungan yang tidak mendukung kepadanya. meskipun ia harus menahan hatinya untuk tidak menjenguk orang tuanya yang sakit. Ia sangat sayang kepada Siti Islam sebagai isteri yang sangat baik baginya.2) 3) 4) Seorang perempuan harus bisa berperilaku baik kepada kepada suami dan kepada siapa pun makhluk Allah yang ada di dunia. 3 No. yaitu mencapai tingkat yang paling tinggi dalam kesufian berupa makrifatullah. Siti Islam selalu menjunjung tinggi pesan-pesan suaminya. Seorang perempuan diharapkan dapat mencapai tujuan hidupnya yang utama. Siti Islam benar-benar taat kepada perintah suaminya. Demikian juga dengan suaminya. yaitu seorang isteri harus berada penuh di bawah naungan dan pengawasan suami. Isteri tidak dibenarkan keluar dari pantauan dan pengawasan suami sedikit pun. dan sekaligus berbuat baik kepada orang lain. Siti Islam mendapatkan seorang suami yang kaya dan berpendidikan agama yang tinggi. Meskipun demikian.

Karena itu. Ia bahkan mampu menyendiri ke hutan untuk mencari ketenangan hidup dan mencapai tujuan kesufian tingkat terakhir. Di dalam teks disebutkan: Meunyo tawoe saket umi Hana lôn tham saket umi Terjemahan: Bila engkau pulang untuk lihat ibu sakit Tidak saya larang pada sakit umi selama lôn bri wahe Intan geugrak pakri hai buleun trang selamanya saya izinkan pergi saja hai Bulan terang Ibu Siti Islam juga memberi dukungan penuh kepadanya agar selalu setia kepada suami. Hal ini terjadi karena suami Siti Islam sendiri adalah raja yang berhasil memimpin umatnya. Ketika mereka berdua harus melaksanakan ritual atas meninggalnya orang tua Siti Islam. dikarenakan belum adanya izin suami. Siti Hazanah mendapat kesempatan untuk keluar rumah dan mempertahankan dirinya sebagai perempuan suci di hadapan masyarakat luas. Berbeda dengan lingkungan Siti Islam. Kondisi masyarakat luas lainnya yang berada di lingkungan Siti Islam juga sangat mendukung kehidupan dan perilaku Siti Islam dan suaminya. kapan dan di mana pun. seluruh masyarakat dan rakyat yang ada di wilayah tempat tinggal Siti Islam dan suaminya membantu dan saling bahu. namun Siti Islam tidak berani keluar rumah. 64 Jumantara Vol. Suaminya memberitahu Siti Islam bahwa untuk berkunjung kepada orang tua.membahu mensukseskan acara tersebut.Hal ini dapat dilihat ketika ia mendengar keluhan Siti Islam tentang orang tuanya yang sedang sakit. 3 No. ibunya tidak keberatan bila Siti Islam tidak menjenguknya. tidak menjadi larangannya. karena belum ada izin suaminya. sehingga mereka pun dapat hidup dalam rumah tangga yang mawaddah dan rahmah. Pelayanan yang sempurna kepada suami sangat ditekankan oleh orang tuanya.1 Tahun 2012 .

sehingga Siti Hazanah mendapatkan ketenangan hidup. Siti Hazanah menerimanya dengan penuh kesabaran dan ketabahan. suami Siti Hazanah sangat sayang kepada isterinya. ia pun dengan beraninya menjelekkan dan memfitnah Siti Hazanah di hadapan masyarakat luas. keluarga. Di sisi lain. Segala fitnah dan penyiksaan dari masyarakat luas ditimpakan kepada Siti Hazanah. namun sebagai manusia ia memiliki keterbatasan. termasuk kebutuhan untuk beribadah. Naskah ini juga menunjukkan bahwa salah satu ciri perempuan Aceh adalah patuh kepada ajaran agama dan tangguh menghadapi segala cobaan dan rintangan. Lifestyle Perempuan Aceh Dan Isi Teks Dua naskah di atas memberikan gambaran dan pengajaran kepada perempuan Aceh dalam menjalani kehidupan rumah tangga. dan masyarakat. Ia dapat menjalankan ibadah dengan baik sampai akhirnya ia mendapatkan derajat paling tinggi dalam kesufiannya. Tanggapan masyarakat menjadi keliru terhadap Siti Hazanah. yaitu makrifatullah. Ia memberikan kebutuhan isterinya dalam berbagai sisi. Lingkungan di hutan yang terdiri dari berbagai macam binatang sangat sayang kepada Siti Hazanah. Karena tidak berhasil untuk mengotori kehormatan Siti Hazanah. Siti Hazanah hidup dalam lingkungan yang kurang menguntungkan bagi dirinya. Mereka bahu membahu memberi bantuan dan perlindungan kepada Siti Hazanah. Di satu sisi. Adik suaminya berani mengganggu Siti Hazanah yang sedang sendirian karena ditinggal suami untuk pergi haji. Siti Hazanah akhirnya memutuskan untuk keluar dari kampung tersebut dan pergi menyendiri di hutan serta berpisah dengan suaminya. keluarga suaminya tidak menghargai Siti Hazanah sebagai bagian dari keluarganya yang perlu dilindungi dan dijaga kehormatannya.1 Tahun 2012 65 . 3 No. Isi naskah Hikayat Siti Islam diperuntukkan kepada Jumantara Vol. terutama suami mereka.Meskipun demikian.

3 No. tradisi ini masih berlaku hingga sekarang. Di dayah. Pidie. 66 Jumantara Vol. yang belum terkontaminasi oleh budaya luar. pengajaran seperti yang terdapat dalam hikayat tersebut dijumpai dalam bahan ajar untuk santri. dan salah satu cara penghormatan adalah dengan mencium lututnya. seperti kitab fikih terkait dengan hal yang layak dan tidak layak dilakukan. yaitu yang sesuai dengan ajaran Nabi.perempuan Aceh agar mereka dapat membaca dan mengikuti ajaran dan perilaku serta konsep yang wajar menurut Islam. agar dapat dicontoh oleh perempuan Aceh pada umumnya. Karena itu. Bacaan-bacaan dari berbagai kitab yang disediakan di dayah menjadi tauladan dan pedoman mereka dalam bergerak dan bertindak di dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi yang masih sangat jelas dilihat di Aceh adalah tradisi mencium lutut ketika suami pulang dan datang dari jauh atau pada hari-hari tertentu. suami adalah orang yang patut dihormati. ketika menjumpai guru pulang dari Mekkah. Demikian juga.1 Tahun 2012 . Para perempuan/isteri pada umumnya tunduk dan patuh kepada suaminya tanpa mengharap imbalan apa pun selain rida dari Tuhannya. perempuan harus secara total berada di bawah penguasaan suami. Di dayah Darussaadah dan Darussalam Teupin Raya. misalnya. terutama dengan suami diuraikan secara detail. Setiap santri dan masyarakat kampung lain mencium lutut gurunya ketika bertemu untuk belajar dan ketika selesai belajar. hal seperti yang diungkapkan dalam naskah di atas sebagian besar telah diterapkan oleh perempuan Aceh. seperti hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. misalnya guru mereka. Dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi tersebut juga diberlakukan kepada orang yang patut dihormati. serupa dengan seorang guru. dan hal yang dianjurkan dan tidak dianjurkan agama dalam berumah tangga dan bermasyarakat. terutama pada masyarakat tradisional yang tinggal di desa dan dayah. Cara kehidupan sehari-hari yang harus dipraktikkan dalam kehidupan berumah tangga. Tidak hanya itu. mereka juga membaca kitab-kitab lain. Pada intinya.

Aceh Utara. Setelah selesai ijab qabul. dan para inong balee lainnya. Dapat dikatakan bahwa keberhasilan Aceh dalam sejarah sebagiannya adalah karena campur tangan perempuan Aceh. dan tangguh. Malahayati.html Jumantara Vol.tk/2011/04/putroe-jeumpa-manyang-seuleudongmaha. Putroe Manyang Seuleudong atau ada yang menyebutnya dengan Dewi Ratna Keumala. Pedir dan Aceh Darussalam11. baik dalam memperjuangkan keluarganya maupun agama dan negara. 2008:14). Lihat http://www.10 Ketangguhan seorang perempuan dalam berjuang mempertahankan agama dan kehormatan dirinya seperti yang diceritakan dalam naskah kedua juga terlihat dalam jati diri perempuan Aceh.atjehcyber.Di desa-desa yang dekat dengan dayah. Gerak dan langkahnya yang tiada mengenal lelah telah mewarnai sejarah Aceh. Anak Meurah Jeumpa. 3 No. namun dalam setiap tindakan yang mereka 10 11 Hasil observasi di wilayah Pidie. Sebagaimana contoh yang diuraikan dalam sejarah. Selanjutnya dikatakan kerajaan tersebut menjadi cikal bakal lahirnya Kerajaan Islam lain di wilayah Perlak. seorang isteri diwajibkan mencium lutut suami pertama sekali adalah ketika berlangsungnya acara pernikahan. agama dan negara mereka telah diabadikan dalam sejarah. tentang seorang perempuan di Bireun yang telah berhasil mendorong suami dan anak-anaknya untuk menjadi raja. Contoh lain tokoh-tokoh perempuan Aceh yang berani berada di garis depan dalam berjuang melawan penjajah Belanda yang ingin meruntuhkan agama dan negara adalah Cut Nyak Dhien. yang cantik rupawan serta cerdas dan berwibawa telah mendukung karir dan perjuangan suaminya sehingga berhasil mengembangkan sebuah Kerajaan Islam yang berwibawa di wilayah tersebut. Ketangguhan mereka dalam menghadapi dunia yang tidak sejalan dengan kepribadian. maka hal yang pertama sekali dilakukan isteri adalah mencium lutut suami sebagai tanda penghormatan awal kepada suami. Cut Meutia. Perempuan dari suku Aceh dikenal dengan sifat dan wataknya yang agamis. Pasai.1 Tahun 2012 67 . berani. dan Aceh Besar. (Haslinda.

Akhirnya ia memutuskan untuk menikah lagi. ia tidak bisa dengan leluasa berjuang di tengah-tengah masyarakat banyak. tercermin peran mereka. apalagi untuk berjuang. Ia kembali berdiam di dayah dan mengajar mengaji para santrinya. apalagi untuk beribadah.1 Tahun 2012 .1933M). Kehidupan mereka tetap berada di bawah penguasaan suami. namun masalah timbul lagi. Cut Nyak Dhien melakukan perjuangan terhadap Belanda atas izin suaminya. yaitu tidak adanya suami sebagai muhrim untuk pergi jauh. Akhirnya ia menikah untuk ketiga kalinya. (Ismail. adalah contoh perempuan Aceh lainnya yang memiliki semangat dan jiwa yang luhur untuk memperjuangkan agama dan negaranya. Ia pergi berdampingan membantu suaminya terjun ke dalam medan perang. atas izin suaminya. Ia lalu berniat ingin melaksanakan ibadah haji. Setelah suaminya meninggal. Aduhai do ku do da idi (Aduhai do ku do da idi) Meurah Pati ateuh awan (Burung Merpati di atas awan) Beuridjang rajeuk Banta Saidi (Cepat Besar Anakku Sayang) 68 Jumantara Vol. 2004:31-44). Malahayati berjuang melawan penjajah melanjutkan perjuangan suaminya yang telah mendahuluinya di laut. Dalam lirik lagu yang disenandungkan bagi anak-anak balita. pada masa perjuangan melawan Belanda. Kali ini suaminya meninggal di tanah suci. perempuan Aceh mampu berperan sebagai isteri yang sabar menanti suaminya pergi berperang dan dengan setia menjaga anak-anaknya. 3 No. bergerak melawan penjajah. Akan tetapi dalam berjuang. karena pandangan masyarakat umum menjadi tidak bagus bila ia sendirian tanpa ada laki-laki yang mendampinginya pergi keluar. Aceh Besar (1856 . Teungku Fakinah dari Lam Krak. Cut Meutia. Di dalam rumah tangga. suaminya kemudian meninggal lagi. ia bergerak mengumpulkan perempuan-perempuan lain untuk berjuang melawan Belanda. Pada mulanya ia mendukung penuh suaminya untuk berjuang melawan Belanda.lakukan telah mendapatkan izin sebelumnya dari suami mereka. Meskipun demikian.

Gender Melayu-Aceh. Adalah kewajiban orang tua untuk memasukkan anak perempuannya ke pendidikan agama. Mereka tetap berada di bawah kekuasaan laki-laki. Kemudian perempuan mendapatkan tempat lebih banyak di rumah untuk menjadi sebagai ibu dan menjaga keluarga dan harta suaminya. Pertama.html Aceh/12981-Posisi-Perempuan-Dalam-Politik- Jumantara Vol. 338-339). Selain dari itu. tetap berada di bawah pengontrolan suaminya. Kejayaan menguasai negara juga tidak sepenuhnya berada di tangan perempuan. 3 No. (Shihab: 2005. Pengaruh pendidikan ini telah membuat perempuan Aceh secara mutlak tunduk dan patuh kepada orang tua sebelum menikah dan kepada suami setelah menikah. Perempuan berbeda dengan laki-laki dalam hal kekuatan fisik sehingga ia perlu mendapatkan perlindungan dari laki-laki. setidaknya ada tiga faktor yang membentuk gaya hidup perempuan Aceh seperti tersebut di atas. Selanjutnya perempuan adalah makhluk yang dipimpin oleh laki-laki karena adanya ayat yang mengatakan bahwa laki-laki sebagai qawwam. Ajaran Islam telah mengatur hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki sesuai dengan fungsinya masing-masing. meskipun dia berada di luar rumah untuk kepentingan umat dan agamanya. Perempuan Aceh sangat taat kepada agama.1 Tahun 2012 69 . (Siapno. 2002). Terkadang para suami memanfaatkan kesempatan ini dengan 12 Lihat http://www. yaitu pendidikan menyantri di pesantren. (Muslikhati. karena di luar dia harus dijaga oleh suami sebagai muhrimnya. 2004:114-122). Siapno mengatakan bahwa kebebasan perempuan Aceh tidak sepenuhnya berlaku. Tidak ada pilihan lain. pengaruh didikan orang tua yang sejak kecil menanamkan pendidikan Aagama dan cara bergaul Islami. Meskipun ayat tersebut diperuntukkan kepada laki-laki yang mencari nafkah. karena didikan orang tua untuk menyantri.Djak Prang Sabi Bela Agama (Pergi ke Medan Perang Membela Agama)12 Karena itu dapat dikatakan bahwa setiap aktivitas perempuan Aceh.

Jepang. ia bermimpi bertemu dengan Nabi. Hal ini tersirat maknanya bahwa seorang isteri tempatnya di rumah. 1969:51) di dalam rumah tangganya. dan Nabi memerintahkan untuk membunuh kafir yang mengganggu agama dan negaranya. 1979: 26-27).memperlakukan isterinya sekehendak hati. dimanfaatkan oleh lawan jenisnya untuk mengambil berbagai keuntungan. pengaruh pendidikan tradisional yang agamis yang diperoleh dalam menyantri di dayah selama bertahun-tahun. karena kondisi politik dan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sebagian besar tertumpu kepada mereka. 3 No. Ketiga. terbentuk pola pikir perempuan Aceh untuk mempertahankan agama lebih dari segalanya. Aceh Utara. Tempat pengaduannya hanyalah Tuhan yang Maha Esa. Dikatakan bahwa pada waktu malam hari. Reaksi Sosial Terhadap Perilaku Perempuan Di Aceh Model kehidupan yang dipraktikkan oleh perempuan Aceh. (Kern. mulai dari perjuangan menghadapi Portugis. Kedua. Perempuan Aceh hidup dalam sejarah perjuangan yang cukup panjang. Pada masa perjuangan melawan Belanda. dan sebutan umum untuk isteri oleh suaminya menjadi peureumoh. seorang santri perempuan berani melakukan perjuangan untuk kepentingan agamanya dengan membunuh kontroler Belanda. idiom untuk perempuan sebagi isteri adalah njang po reumoh (yang memiliki rumah) (Siegel. Akhirnya para isteri hanya bisa pasrah dan kembali kepada Tuhan yang Maha Esa. isteri. di Matang Kuli. Belanda. kemudian.1 Tahun 2012 . dan kemudian setelah kemerdekaan konflik telah terjadi berkali-kali di Aceh. juga mampu berperan di luar rumah. Melalui dayah juga. tepatnya pada tahun 1919M. berfungsi melayani suami dan menjadi ibu untuk anak-anaknya sebagai hal yang mutlak. Selanjutnya. kadang. Hal ini tetap berlangsung sampai dewasa ini. Perempuan sepertinya tidak kuasa untuk melawannya. Dalam kehidupan sehari-hari. lingkungan yang mendidik mereka untuk berjiwa besar dan tangguh. mencari 70 Jumantara Vol.

Penyalahgunaan kemampuan perempuan pun muncul. 2004:127-129. Pergilah kepada perempuan mana saja dan beritahukanlah mereka yang ada di belakangmu.. sampai pada tahap mencuci tangan suami bila ia hendak makan. sebagaimana dipaparkan dalam naskah bahwa Siti Islamdengan segala sukarelanya melayani suaminya hingga dalam bentuk yang sekecil-kecilnya. Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Baihaqi. Pada abad 16-17M.. Tidak jarang perempuan Aceh diperlakukan buruk oleh para lelaki. 3 No. (HR alBaihaqi). mencari keridaan suaminya. dipaksa memeras tenaganya lahir dan batin dalam menanggung beban keluarga. tidak untuk mencari nafkah di luar. serta tidak luput juga melayani suami yang tinggal menunggu yang sudah jadi dan masak.1 Tahun 2012 71 . Mungkin menjadi wajar bila isteri melayani suami hanya di rumah saja. Mereka diizinkan para suami mereka untuk keluar rumah mencari nafkah. Nabi memberikan jawaban kepada pertanyaan yang diajukan oleh seorang perempuan yang mewakili perempuan lain. 2006).nafkah untuk kebutuhan keluarganya. yaitu bahwa seorang isteri kadang harus menyuapi atau memasukkan makanan ke dalam mulut sang suami. bahwa kebaikan salah seorang di antara kalian (para perempuan) dalam memperlakukan suaminya. (Reid... Di dalam teks disebutkan: Oh neupajôh bu jirah jaroe Ketika makan suami dia [Siti Islam] mencuci tangan suaminya Mungkin aktivitas utama perempuan ada di sektor domestik sesuai dengan fitrahnya sebagai perempuan yang berbeda dengan laki-laki. Bahkan kadang lebih tragis lagi. terutama suaminya. yaitu. dan mengikuti keinginannya adalah mengalahkan semua itu. membesarkan anak-anaknya. Jumantara Vol. perempuan Aceh telah menunjukkan kemampuan untuk melakukan dua fungsi tersebut.13 Tekait dengan penyalahgunaan kemampuan yang dimiliki 13 Untuk isi hadis secara keseluruhan dan cerita lebih rinci lihat Muslikhati.

Tradisi seperti di atas. meskipun sudah dimodifikasikan dengan ajaran Islam. Bila mereka pergi ke sawah.1 Tahun 2012 . yaitu masa sebelum datang Islam. maka para perempuan bertugas menanam padi sementara suami duduk di atas rangkang menonton isteri bekerja. 15 Hasil observasi dan wawancara dengan perempuan-perempuan asal Batak. Di Batak. seperti Batak. (Siapno. Lihat karya Saifuddin Dzuhri. akan tetapi juga pengaruh budaya masa lampau. 23 – 24 February 2009.perempuan. tidak hanya berlaku pada perempuan Aceh. keluarga dan saudara pihak suami dalam menyiapkan segala kebutuhan rumah tangga dan dapat mencari nafkah di luar15. Perempuan yang baru menikah sering kali disendaguraukan oleh keluarga pihak suami bahwa dia harus tunduk dan patuh dan melayani suami serta keluarga karena sudah dibeli. Budaya Aceh sangat mungkin masih diwarnai sisa pengaruh budaya Hindu14 meskipun sebenarnya ajaran Islam lebih mendominasi. Indonesia. Isteri Pak Pande adalah orang yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarganya. Cerita lisan juga didapatkan dari rakyat Aceh tentang kisah kehidupan keluarga Pak Pande. 72 Jumantara Vol. 2002:91-101). „Peusijuek. 3 No. Kemungkinan besar hal ini didasarkan kepada tradisi pernikahan yang berlaku di Batak. dewasa ini. Eksploitasi terhadap perempuan mungkin tidak hanya ditinjau dari sisi keinginan dan kemauan para laki-laki saja. Banda Aceh. ibarat dagangan yang 14 Pengaruh kental dari budaya Hindu di Aceh masih dapat dilihat dalam cara pelaksaaan ritual peusijuek (tepung tawar). yang masih tersisa dari satu generasi ke generasi selanjutnya. seorang isteri dikatakan baik bila ia dapat menunjukkan keberhasilan mengurus suami. akan tetapi di wilayah lain juga. Sebuah Tradisi Ritual Sosial Masyarakat Pasee dalam Perpektif Tradisionalis dan Reformis‟ artikel dipresentasikan pada International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. sementara Pak Pande sendiri bermalasmalasan menunggu dari hasil yang dibawa oleh isterinya untuk kebutuhan rumah tangganya. di desa-desa masih ditemukan lelaki beristeri yang duduk berjam-jam di kedai kopi menghabiskan waktu untuk menunggu si isteri pulang kerja dan selesai memasak.

Anak adalah milik suami. Penutup Kisah perempuan dalam dua manuskrip Aceh yang menjadi fokus dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai refleksi gaya hidup perempuan pada umumnya di Aceh. yang menandakan bahwa perempuan tersebut sudah sah menjadi isteri suaminya. Kata beli dalam bahasa Batak disebut dengan boli atau disebut juga dengan tuhor. Setelah diberikan tukon (mahar) perempuan dianggap seperti barang yang sudah laku dan dia seratus persen berada di bawah kekuasaan suami dan keluarganya. kemudian setelah datang Islam. 1993: 270-271). isteri hanya melahirkan saja. Kehidupan mereka diwarnai sifat patrilineal. Dia tidak memiliki hak sama sekali untuk mengatur dan membuat keputusan dalam rumah tangga.1 Tahun 2012 73 . gaya hidupnya sudah dipengaruhi oleh gaya hidup „modern‟ yang datang dari berbagai budaya di dunia. 2006:251-253). Karena itu. baik dalam sejarah maupun dalam kehidupan sekarang ini pada masyarakat pedesaan. sementara perempuan yang tinggal di perkotaan. Seperti dalam hal mencari jodoh anaknya si ibu tidak punya hak sama sekali untuk menjodohkan anaknya. maka ayahnya dapat menceraikan anaknya. Hal ini terjadi karena pengaruh sistem budaya lokal dan kemudian dipadukan dengan budaya dan ajaran Islam. meskipun tidak separah pada suku Batak dan Bali yang Jumantara Vol. Korelasi positif ditemukan dalam sikap dan tingkah laku serta gaya hidup perempuan. (Parsadaan Marga Harahap. dapat dikatakan bahwa bias gender masih sangat kentara untuk suku Aceh. terutama mereka yang tinggal di pedesaan terpencil dan jauh dari pengaruh budaya luar. keluarga. (Muljana. dan anaknya. dan bila juga terjadi. yaitu mereka berada pada posisi di bawah kekuasaan laki-laki. Boli dan tuhor ini. Dalam rumah tangga.sudah dibeli. berubah maknanya menjadi mahar yang diserahkan kepada pihak calon isteri. si isteri hanya berfungsi sebagai pelayan semata untuk suami. Tradisi seperti ini memiliki kemiripan dengan tradisi yang berlaku pada masa Majapahit. 3 No.

W. diedit oleh Seyyed Hossein Nasr dkk. Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh melalui Naskah. 23 – 24 February 2009. Nurjannah (2004). Kautsar dan Oman Fathurrahman (2002). Jakarta: Balitbang dan Diklat Departemen Agama RI.1 Tahun 2012 . Saifuddin (2009).masih memperlakukan perempuan sebagai manusia kedua setelah laki-laki dan membebani mereka dengan pekerjaan di dalam dan di luar rumah tangga.. (2003). Banda Aceh. Selain dua manuskrip di atas. 3 No. Makalah International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. dalam Warisan Sufi. Daftar Pustaka Austin. “Feminin Sofianik (Perempuan Bijak) dalam Karya Ibn Arabi dan Rumi”. England. dalam Mutiara Terpendam: Perempuan dalam Literatur Islam Klasik. dalam Ensiklopedi Pemikiran 74 Jumantara Vol. (1935). Amsterdam: Enno Hertzberger & Co. Fakhriati (2008). Ismail. France in the XVII and XVIII Centuries and their Interconnection. “Teungku Fakinah: Profil Ulama dan Pejuang Perempuan Aceh”. karena diketahui bahwa Aceh adalah salah satu gudang manuskrip Nusantara. diterjemahkan oleh Ade Alimah dkk. “Peusijuek. penelitian untuk kajian perempuan masih harus terus dilakukan untuk mengungkapkan budaya-budaya pada masa lampau yang menjadi bagian hidup perempuan. Indonesia. diedit oleh Ali Munhanif.A. Watermarks in Paper in Holland. Churchill. masih banyak manuskrip Aceh lainnya yang menceritakan tentang hal yang berkaitan dengan perempuan di Aceh. Jogjakarta: Pustaka Sufi. Azhari Noer. Sebuah Tradisi Ritual Sosial Masyarakat Pasee dalam Perpektif Tradisionalis dan Reformis”. “PriaPerempuan sebagai Korespondensi Kosmis: Perempuan dalam Literatur Tasawuf”. J. Jakarta: Gramedia. R. Dhuhri. W. Karena itu.

Horja Adat Dalihan Natolu. Perempuan. The Rope of God. Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan dalam Timbangan Islam. Anthony (eds. Quraish (2005). 22. Watermark: Malay of the 17th and 18th centuries.) (2006). Perempuan Aceh dalam litas sejarah Abad VIII – XXI.1 Tahun 2012 75 . Heawood. Slamet (2006). ---------------------. Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Reid.Ulama Aceh.3. Jumantara Vol. Kern. Umar. Siapno. No. James T (1969). hlm. By Aboe Bakar. Shihab. Nasaruddin (2000). Amsterdam: The Paper Publications Society. Berkeley: University of California Press. Haslinda (2008).(2000). Yogyakarta: LKiS. Anthony (1988). [s. Paradigma baru Teologi Perempuan. Parsadaan Marga Harahap Dohot Anak Boruna (1993).n]: Pelita Hidup Insani. Muljana. Jakarta: Fikihati Aneska. Kodrat Perempuan dalam Islam. Trans. 3 No. (1979). Islam. Gender. Nationalism and the State in Aceh: The Paradox of Power. Siti (2004). Singapore: Singapore University Press. M. Bandung: Grafiti. Special Issue: Asian Studies in Honour of Professor Charles Boxer. Reid. Modern Asian Studies Vol. 629-645. IAIN Ar-Raniry Press. Edward (1986). Syahrul. Co-optation and Resitance. Jakarta: Gema Insani. R. “Female Roles in Pre-Colonial Southeast Asia”. Jacqueline Aquino (2002). London: Routledge-Curzon. A. Siegel. Verandah of Violence: the Background to the Aceh Problem. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Jakarta: Fikahati Aneska. Hasil Penyelidikan tentang Sebab Musabab terjadinya Pembunuhan. Muslikhati. Jakarta: Lentera Hati.

Gender Aceh/12981-Posisi-Perempuan-DalamPolitik-Melayu-Aceh. 76 Jumantara Vol.tk/2011/04/putroe-jeumpa-manyangseuleudong-maha. http://www.atjehcyber.html.Situs Web: http://www.html.1 Tahun 2012 . 3 No.

dan waktu penulisan.1 Tahun 2012 77 . *) Peneliti di Pusat Studi Sunda (PSS). tempat. judul. 3 No. Untuk menganalisis identitas penulis-penyalin. Kedua. atepkurnia@yahoo.com. Sebagai titik pijak saya menggunakan penelusuran Munawwar Holil dan Aditia Gunawan (2010) atas NSK koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. dan Sanggar Sastra Kampus (Sasaka) UIN Sunan Gunung Jati. Bergiat di Rumah Baca Buku Sunda. dan waktu penulisan NSK. pertama-tama saya menyajikan tabel yang berisi kode. 16 Kata-kata ini bisa ditemukan pada baris-baris akhir Kropak 408 (Sewaka Darma). serta tempat dan waktu penulisan NSK. dengan pertimbangan bahwa di Perpustakaan Nasional tersimpan NSK dalam jumlah terbesar. tempat. dkk (1987:72) sebagai “ditulis di jalan”. Jumantara Vol. Kata Kunci: Naskah Sunda Kuna. saya melakukan analisis atas penulis-penyalin. dan waktu penulisan naskah. Kolofon. tempat. Bisa dihubungi melalui surat elektronik.Abstrak Tulisan ini bermaksud memetakan hal-hal yang berkaitan dengan kolofon Naskah Sunda Kuna (NSK). yang diterjemahkan oleh Saleh Danasmita. mencakup identitas penulis atau penyalin. nama penulis-penyalin. di samping yang disimpan oleh masyarakat.

Tabel Kolofon Naskah Sunda Kuna Koleksi Perpustakaan Nasional RI No 1 Kode 1**Peti 85 Judul Sanghyang Siksa Kandang Karesian 2 408 Peti Kawih Buyut Ni Pertapaan Ni Teja Puru Penulis Tempat Nusakrata? Waktu Bulan ke10. pertama-tama saya menyajikan tabel yang berisi kode. tempat. serta tempat dan waktu penulisan NSK. judul. dan waktu penulisan NSK. Selasa Manis 78 Jumantara Vol. bahan-bahan bacaan mengenai perikehidupan kegiatan literasi di Jawa Tengah dan Timur. 3 No. kedua penulis itu juga melampirkan pemerian NSK yang ada di Perpusnas RI. Perpustakaan Nasional mengoleksi 63 Naskah Sunda Kuna (NSK). karena kedua penulis itu juga menyeertakan manggala atau awal teks NSK dan kalimatkalimat yang ada di akhir teksnya. Kedua. transkripsi. juga digunakan sebagai perbandingan untuk membaca identitas penulis-penyalin. dan waktu penulisan NSK sebagaimana yang saya baca pada tulisan Munawwar Holil dan Aditia Gunawan serta bahan-bahan dari bacaan lainnya. dan terjemahan NSK yang selama ini telah dikerjakan para filolog dan peneliti NSK. Saya juga menggunakan berbagai sumber bacaan untuk menambah luas pemahaman. Oleh karena itu. termasuk di dalamnya. Selain itu. yang pada gilirannya ditambahkan pada tabel yang telah dibuat. nama penulis-penyalin. Dari lampiran tersebut dapat diketahui ada beberapa puluh NSK yang mengandung kolofon di akhir teksnya.1 Tahun 2012 . tempat. Bali. untuk keperluan tulisan ini penelusuran keduanya sangat membantu. transliterasi. dan India. Untuk menganalisis identitas penulis-penyalin. dan waktu penulisan.Pendahuluan Menurut hasil rekatalogisasi Holil dan Gunawan (2010). Di samping menerakan jumlah NSK. saya melakukan analisis atas penulispenyalin. tempat. sejauh yang saya baca.

Kuta Wawatan. Kumbang 3 410 Peti 15 Carita Ratu Pakuan Gn. Larang Sri Manganti 6 420 Peti 15 Kawih Paningkes Kai Raga Sutanangtung 7 423 Peti 15 Carita Purnawijaya Kai Raga Gn.1 Tahun 2012 79 .16 Panyaraman Dawit Bacana. Gn. buyut Téjanagara Gn. Cisanti Bulan ke-8 14 626 Peti Sanghyang Buyut Gn. Jedang bulan ke-4 11 622 Peti 88 Warugan Lemah Rabu Manis 12 623 Peti 16 Bimaswarga/Bi maleupas Euncu nu Ngahérang Gn. 3 No.Cikuray. Larang Sri Manganti 4 411 Peti 15 Ratu Pakuan 5 416 Peti 15 Carita Purnawijaya Kai Raga Gn. bulan ke-8 Jumantara Vol. Larang Sri Manganti Gn. Larang Sela 8 424 Peti 15 Kawih Panyaraman 9 610 Peti 15 Pitutur ning Jalma cucu Sang Sida. Cikuray bulan ke-1 13 625 Peti 88 Sri Ajnyana Mandala Betung Pamaringinan. Larang Sri Manganti Gn. Gn. Cikuray 10 621 Peti 15 Sanghyang Sasana Maha Guru Desa Mahapawitra.

bulan ke-7. Tajak Barat 22 638 Peti 16 Sanghyang Hayu Argasela. Gn.1 Tahun 2012 . selesai hari pon bulan ke-9.69 Swawar Cinta Téjanagara Hulukumbang Batuwangi 15 628 Peti 16 Siksa Guru Lurah Kamulan? 16 630 Peti 16 Sanghyang Siksa Kandang Karesian bulan ke3. 1357 Ś (± 1435 M). Talagacandana . Giri Wangsa 1445 Ś (± 1523 M) 20 636 Peti 16 Sanghyang Hayu Sang Bujangga Resi Laksa Giri Sunya 21 637 Peti 16 Sanghyang Hayu Désa Mahapawita. Tajak Barat. Cupu dimulai Selasa Kliwon. 3 No. 80 Jumantara Vol. 1440 Saka (1518 M) 17 632b Peti 16 Kaluputan Sanghyang Darma Hulu Kumbang Batu Wangi Desa Sunya bulan ke10 18 633 Peti 16 Siksa Guru 19 634 Peti 16 Sanghyang Hayu Désa Mahapwité.

1 Tahun 2012 81 . yakni Buyut Ni Dawit. Kai Raga. Bulan Muharam “Beunang Diajar Nulis17” Dari tabel di atas. dengan jelas menunjukkan jenis kelamin berbeda. 24 642 Peti 88 Siksa Guru Desa Mahapawitra Tahun Saka hlaŕ twa ya wu? 25 1095 Peti 69 Langgeng Jati Gn. Cucu Sang Sida/Buyut Tejanagara. Jumantara Vol. yang diterjemahkan oleh Undang A. Hulu Alas Sunya. Sang Bujangga Resi Laksa. Ketujuh nama di atas. Darsa (2007:217) sebagai “hasil belajar menulis”. Penulis perempuan diwakili Buyut Ni Dawit. Jati Sunya. 3 No. Ada penulis perempuan dan ada juga laki-laki. kita berkenalan dengan tujuh nama penulispenyalin NSK. sementara penulis 17 Kata-kata ini muncul pada baris-bari menjelang akhir NSK Kropak 410 (Carita Ratu Pakuan). Buyut Tejanagara. dan Sang Guguron. Euncu nu Ngaherang. Mandala Puntang 26 1097 Peti 69 Carita Jati Mula Sagara Wisésa 27 KBG 75 Wirid Kai Raga Jum’at Kliwon.23 641 Peti 16 Arjunawiwāha sang Guguron? Sanghyang Mandala Katyagan di Gugur 1256 Ś (1334 M).

Pada baris ke-850 hingga 868 naskah itu. dan Sang Guguron belum dapat dipastikan jenis kelaminnya.laki-laki diwakili Kai Raga dan Sang Bujangga Resi Laksa. (1987: 1) 82 Jumantara Vol. ada keterangan menarik mengapa ia diasumsikan sebagai perempuan. carékna: „Kaka lanceuking. spk. dapat kita jadikan salah satu rujukan. Di samping itu.1 Tahun 2012 . tentu penyusunnya adalah cicit Ni Dawit tanpa diketahui siapa namanya. dan “dipesekkan”. “dikasayan”. katanya: „Kakandaku. misalnya. dkk18. 18 Datang seorang pertapa perempuan. Hingga terus-terang menganggap kakak. sebab ia bertapa di Gunung Kumbang di pertapaan Ni Teja Puru Bancana. NSK Bujangga Manik. na rua mamarayaeun. Inilah gambarannya: 850 Datang tiagi (wa)don. Saleh Danasasmita. Sedangkan Cucu Sang Sida/buyut Téjanagara. Buyut Téjanagara. Euncu nu Ngahérang. Téka béka mulung lanceuk. digambarkan Bujangga Manik “digoda” oleh rahib perempuan. iapun paham benar kelengkapan pakaian bidadari yang tentu dikhayalkannya dari pakaian wanita bangsawan dalam zamannya. rupanya ingin menjalin persaudaraan. 3 No. bukan gelar kehormatan untuk pertapa ulung. Mengenai Buyut Ni Dawit. Ada petunjuk bahwa pengarangnya wanita. ada baiknya dilihat sumber lain yang terkait dengan hal tersebut. Pada halaman 39 iapun asyik mengisahkan sebuah gisa (lesung) dengan istilah-istilah yang khas untuk wanita seperti “dyangiran”. Untuk memperluas bahasan mengenai keterlibatan perempuan dalam kegiatan baca-tulis dalam NSK. Buyut Ni Dawit adalah seorang wanita. Menurut Saleh Danasasmita. Selengkapnya Danasasmita menyatakan: Bila kata “buyut” berarti cicit.

3 No. 19 20 J. Yang mulia Bujangga Manik.1 Tahun 2012 83 . Yang berjudul Siksaguru. daripada sulit-sulit memikirkan diri sendiri. lamun padeukeut deung eu(n)juk. Bawaing apus sata(m)bi. mu(ng)ku burung éta seungeut. “Bagaikan kobaran api. Hinzler perihal naskah-naskah lontar di Bali20 bisa juga dijadikan rujukan. aku calon biarawati. héman ku na karuaan. Kubawa kitab selengkapnya. Ketika membahas para penulis atau penyalin naskah (scribes). Noorduyn & A. Hinzler. H. aku ini rahib perempuan. „Balinese Palm-Leaf Manuscripts‟ dalam BKI 149 No.Rakaki Bujangga Manik. Teeuw. Literary sources show this as early as the sixteenth century. aing na pitiagieun. but data in texts from the nineteenth century are the most abundant. References to males and females being able to read and write are to be found in literary texts as well as in the colophons of manuscripts. sudah pasti terjadi kebakaran. Hinzler (1993: 464) menyatakan: There was no caste or sex restriction on learning to write. kitu lanang deungeun wadon”.R. Ngaran(n)a na Siksaguru. kemarilah.‟ sayang sekali akan ketampananmu. jika berdekatan dengan ijuk.I. 3 (1993: 438-473) Jumantara Vol. Carék di na apus téa: Menurut kitab itu: 865 “Kadiangganing ring geni. manan hésé ku mamanéh.‟ begitulah antara laki-laki dengan perempuan19. rusuh ku na panga/wakan. Tiga Pesona Sunda Kuna (2009: 298-299). /16r/ repot karena penampilan badan. „Biarlah kupertimbangkan dahulu. 855 haup aing ebon-ebon. tulisan H.‟ 860 Carékna Bujan(ga) Manik: Bujangga Manik berkata: „Ku ngaing dirarasakeun.” Di samping Bujangga Manik.

Dari uraian Hinzler. bulan Muharram. beraksara Sunda Kuna dan Cacarakan. Karya yang ditulis Kai Raga tersebut bisa jadi sangat kontras dengan naskah lain yang tertulis atas namanya. Kalau dikaitkan dengan nama satu orang pasti mengandaikan orang yang berumur sangat panjang. naskah kertas daluang. 84 Jumantara Vol. Di dalamnya. diterangkan pula tentang persiapan dan pelaksanaan kegiatan peribadatan. yang isinya hampir sama dengan NSK L 420. dan Jawa Barat. bahwa Kai Raga melintasi zaman yang sangat panjang. 3 No. Sebagaimana kita ketahui. Nama penulispenyalin ini agaknya bukan nama sebenarnya. ditulis Kai Raga pada hari Jum‟at Kliwon. di penghujung abad ke-15. Menurut Holil dan Gunawan (2010: 146). yang menarik adalah Kai Raga. sekiranya tradisi menulis dan membaca naskah masih hidup di wilayah yang bersangkutan. tidak ada pembatasan yang jelas [dalam hal kasta dan jenis kelamin] penulis dan pembaca naskah ketika tradisi itu hidup di Bali. terselip naskah yang berisi unsur keislaman. tradisi menulis manuskrip di Bali sangat terpengaruh budaya literasi India dan Jawa Timur. Tengah. Hal tersebut mengindikasikan.1 Tahun 2012 . beraksara dan berbahasa Sunda Kuna dan berisi dialog yang bersifat moral-religius antara pendeta dengan Pwah Batari Sri sebagai penguasa alam kahyangan. dan agaknya hal itu dapat diparalelkan dengan kehidupan para pembaca dan penulis yang hidup di Jawa Timur. Bila diterapkan pada tradisi menulis NSK. yakni NSK “Wirid” (KBG 75). misalnya NSK Kropak 420 yang ditulis di atas lontar. Dari keempat naskah yang diakhiri dengan keterangan Kai Raga. Demikian pula dengan NSK L 423 yang juga ditulis oleh Kai Raga. Hal ini dapat dibuktikan dari beberapa naskah yang ditulisnya. maka hal tersebut pun agaknya tidak akan jauh berbeda. bersampul kertas marmer berwarna merah dan berjumlah 12 halaman itu berisi perihal asal-usul terciptanya alam dan manusia. berbahasa Sunda kuna. terutama setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit. Selanjutnya. di atas daun lontar. Bisa jadi nama itu adalah nama gelaran.

Kai Raga yang menyerahkan beberapa NSK kepada Raden Saleh yang pada tahun 1865 ditugaskan untuk berkeliling Priangan untuk mengumpulkan peninggalan purbakala. ia mendapat keterangan dari lurah Desa Ciburuy bahwa.F. sejak tahun 1856.hingga beratus tahun. C. Pleyte meyakini orang tersebut dipastikan telah meninggal dan tidak meninggalkan keturunan.1 Tahun 2012 85 . C. pada 1904. Uraian Kai Raga dapat pula dibandingkan dengan Kiai Windusana yang memelihara dan menuliskan kembali sejumlah 21 Lihat „Poernawidjaja‟s Hellevaart of de Volledige Verlossing‟ dalam TBG No. Oleh karena itu. 3 No. Garut. Pleyte berkunjung ke Cikuray. menurut cerita rakyat di sana. Kai Raga yang dianggap menyerahkan naskah kepada Raden Saleh adalah cucu Kai Raga yang menjadi pemuka kelompok keagamaan. Dalam jawabannya. tidak ada lagi keterangan yang lebih lanjut. Pada mulanya Kampung Sri Manganti termasuk dalam wilayah Desa Cigedug. Menindaklanjuti perjalanan itu. Jumantara Vol. Huls van Taxis. penelusuran Pleyte mengenai Kai Raga dan tulisan Hinzler dapat digunakan untuk membaca perihal tidak dipentingkannya nama pribadi bagi para penulis-penyalin naskah yang masih berada di bawah bayang-bayang budaya literasi Hindu-Budha. termasuk NSK. saya yakin Kai Raga tidak merujuk pada nama seseorang. namun kampung tersebut tidak dikenal lagi karena telah ditinggalkan penduduknya. Mengenai hal ini. Selain itu. yang pertapaannya terletak di Gunung Cikuray. Van Taxis juga menyatakan bahwa orang tidak ingat lagi mengenai keberadaan pertapa di tempat tersebut.M. Pleyte mengirim surat kepada Asisten Residen Garut. yang didasarkan pada nama sebuah kampung yang terletak di lereng sebelah barat gunung tersebut. Mengenai ihwal cucu Kai Raga. melainkan kepada nama gelaran. van Taxis menerangkan bahwa Cikuray memang mulanya biasa disebut Sri Manganti. pada mulanya nama Cikuray adalah Sri Manganti. 56 (1914: 365-441) dan Ratu Pakuan: Tjeritera Sunda-Kuno dari Lereng Gunung Tjikura (1970) garapan Atja. Menurut penemuannya. Pleyte menelusuri identitas Kai Raga21.K. Saat itu.

but also of low-caste families23. This is apparent from the colophons of eighteenth and nineteenthcentury manuscripts. berkaitan dengan kriteria dan profesi penulis-penyalin naskah. Namun saat Bataviaasch Genootschap mengambil naskah-naskahnya pada tahun 1852. was a person of distinction.1 Tahun 2012 . Kuntara Wiryamartana dan Willem van der Molen22. maka sebenarnya mengindikasikan bahwa para penulisnya cenderung menyembunyikan nama mereka sebenarnya karena mereka justru sedang menyembunyikan diri dari dunia luar atau cenderung mengasingkan diri. Selain menyatakan para penulis naskah itu bisa laki-laki maupun perempuan. Hinzler menyatakan dua hal lain yang berkaitan dengan para penulis-penyalin naskah. melainkan perempuan pun ikut terlibat di dalamnya. Menurut kedua filolog itu. Ia dikenal sebagai pendeta tinggi dalam agama Budha dan dilaporkan memiliki ribuan naskah yang aneh. panyarikan. Van der Molen dan I. Bila pernyataan tersebut kita tarik kepada kegiatan literasi NSK. Tidak terbatas hanya pada laki-laki semata. di Bali: A Scribe. panulisan) not only of highcaste families.. 86 Jumantara Vol. bahkan menolak dunia luar sebagaimana yang dapat kita temukan sosoknya pada diri Bujangga Manik. usually man. 22 „The Merapi-Merbabu Manuscripts: A Neglected Collection‟ karya W. Windusana hidup di sekitar abad ke-18. Wiryamartana yang dimuat dalam BKI 157 No. jumlahnya hanya berkisar empat ratusan naskah. 23 Hinzler (1993: 465). baik karena mereka menjadi anggota kelompok agamawan maupun karena termasuk kalangan istana. The rulers of the kingdom employed scribes (manghuri. Mereka kebanyakaan berasal dari kalangan agamawan dan ada juga yang berasal dari kalangan istana. Jawa Pertengahan.naskah Jawa Kuna. .. 1 (2001: 52). dan Jawa Modern di lereng Gunung Merbabu sebagaimana yang ditelusuri I. Pertama. Menurut Hinzler. 3 No.

gunung memang dijadikan 24 Kata ini berasal dari nama yang dijadikan tempat penulisan NSK Kropak 636 (Sanghyang Hayu). Dari tabel itu kita juga mendapatkan nama Gunung Kumbang (Kawih Panyaraman). dan Gunung Cupu (Sanghyang Hayu). dapat diketemukan keterangan bahwa Larang Sri Manganti adalah nama lama Gunung Cikuray. menjadi pilihan para penulis-penyalin NSK untuk menulis. Gunung Larang Sri Manganti (Carita Ratu Pakuan. Meski banyak yang berlatar gunung. seperti bukit dan puncak gunung (hulu). Sanghyang Hayu. Namun tetap saja dengan banyaknya nama yang berkaitan dengan gunung mengindikasikan sentralnya tempat tersebut sebagai tempat penulisan NSK. Sanghyang Swawar Cinta.. Carita Purnawijaya. sebagaimana yang terlihat dari deskripsi Gunawan & Holil (2010). Gunung Cikuray (Pitutur ning Jalma. Ratu Pakuan. Sebagai catatan. seperti Naskah Kropak 1 Peti 85 Sanghyang Siksa Kandang Karesian ternyata ditulis di Nusakrata? Dan Carita Jati Mula ditulis di Sagara Wisésa. Dengan demikian.1 Tahun 2012 87 . Gunung Larang Sela (Kawih Panyaraman). Gunung Jedang (Sanghyang Sasana Maha Guru. Jumantara Vol.Giri Sunya24 Dari tabel di atas kita juga dapat berbicara mengenai tempat NSK ditulis. Giri Sunya (Sanghyang Hayu). Dari tabel itu nampak bahwa gunung dan sekitarnya. namun ternyata ada dua naskah yang merujuk ke daerah dekat atau di sekitar laut. Carita Purnawijaya). Kata nusa dan sagara dengan jelas mengindikasikan daerah yang paling tidak berdekatan dengan lautan. Menurut Agus Aris Munandar25. Sanghyang Hayu. Bimaswarga/Bimaleupas. maka kita mendapatkan delapan naskah yang dalam kolofonnya diterangkan ditulis di Gunung Cikuray. kalau dihitung. Kaluputan Sanghyang Darma). Oleh karena itu. 3 No. sebagaimana yang termaktub pada pembahasan mengenai penulis. dalam bagian berikut disajikan ulasan mengenai peran gunung dalam peri kehidupan orang Sunda atau Jawa Barat. Siksa Guru).

bukit. gunung juga begitu sentral perannya. Pangguyangan. 2224 Agustus 2001. yakni pemujaan pada arwah nenek moyang. Batu Lulumpang di Garut. Di kedelapan arah mata anginnya dijaga dewa Astadikpalaka sebagai pelindung alam semesta. Demikian pula yang terjadi pada keyakinan kosmologis Budha. Di puncaknya terdapat tempat tinggal para dewa. Bogor. 11-13 Nopember 1991. Salak Datar. Cireme. dan “Sebaran Situs Arkeologi di Jawa Barat: Tinjauan Terhadap Dasar Konsepsi Keagamaan” (2001) yang disajikan pada Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) I. 25 “Kegiatan Keagamaan dalam Masyarakat Kerajaan Sunda: Data Prasasti dan Karya Sastra” (1991) yang disajikan pada Seminar Nasional Sastra dan Sejarah Pakuan Pajajaran. Saat memasuki periode pengaruh Hindu-Budha (kurang lebih abad ke-9 hingga abad ke-16). Cipari.1 Tahun 2012 . dan sebagainya. misalnya. Bandung. melainkan telah ada sebelumnya. terutama dari masa bercocok tanam dan perundagian. Lebak Sibedug. di Jawa Barat banyak peninggalan megalitik yang terdapat di wilayah yang bergunung-gunung. yakni ketika masyarakatnya berada di masa prasejarah. Bedanya. Karena dalam keyakinan kosmologis Hindu-Budha. Di Gunung Meru terdapat alam berlapis-lapis. seperti gunung. Dari masa prasejarah. situs Gunung Padang di Cianjur. Gunung tersebut dikelilingi tujuh lautan dan tujuh pegunungan berselang-seling. 3 No. Gunung Mahameru yang mempunyai empat puncak lain yang lebih rendah dan terletak di tengah benua yang bernama Jambhudwipa dipercaya sebagai pusat alam semesta. Keyakinan ini tidak saja hidup ketika ke daerah ini hadir pengaruh agama Hindu-Budha. Arca Domas di pusat Kanekes. dan dataran tinggi lainnya. dan kemudian dimuat dalam Prosiding KIBS 1 Jilid 1 (2006). yang dikepalai Dewa Indra. 88 Jumantara Vol. Adapun tempatnya yang berada di daerah ketinggian. Banten Selatan. Situs-situsnya.sebagai tempat keramat bagi kalangan masyarakat yang ada di Jawa Barat. Tradisi megalitik ini berkaitan dengan konsep kultus leluhur. menunjukkan bahwa masyarakat prasejarah di Jawa bagian barat percaya bahwa leluhur bersemayam di puncak-puncak gunung. Sementara alam semestanya berbentuk pipih melingkar seperti cakram.

Oleh karena kekeramatan itulah. Demikian pula Sri Baduga Maharaja yang membangun gugunungan. tempat hidup manusia dan hewan. yang di tengahnya. menafsirkan Prasasti Kawali I. dan Prebu Niskala Wastukancana. seperti yang termaktub dalam Prasasti Batutulis. sementara ketiga benua yang ada di timur. atau dalam NSK Sewaka Darma terdapat uraian bahwa para dewata Hindu mempunyai istana yang indah di Gunung Kendan. Rakeyan Darmasiksa dalam NSK Kropak 632 (Amanat Galunggung) menegaskan pentingnya memelihara kabuyutan atau tempat yang dikeramatkan karena menjadi pusat pengamalan serta penyebaran ilmu keagamaan. misalnya. yang dijadikan tempat penyebaran ilmu keagamaan khususnya dapat terlihat dari sepak terjang Rakeyan Darmasiksa. Munandar. Lampung. dan kemudian diterapkan pemeluk agama HinduBudha yang ada di sana ke dalam lingkungan mereka. dan tentu saja ke Tatar Jawa Barat. terutama Kabuyutan Galunggung. utara. Baluk. bagaimana penguasa melindungi situs yang ada di gunung dan sekitarnya. berkaitan dengan keinginan Prabu Raja Wastu untuk menyelaraskan purinya dengan gambaran alam semesta menurut ajaran Hindu-Budha. yang disokong serta dilindungi kekuasaan kerajaan yang ada di Tatar Jawa Barat.di luar lingkaran tujuh pegunungan itu terdapat lagi samudera. 3 No. kemungkinan direbutnya kemuliaan (kewibawaan kekuasaan) dan pegangan kesaktian (kejayaan) oleh Sunda. Jawa. dan Menir. terdapat empat benua. Benua yang terletak di sebelah selatan Gunung Meru dinamakan Jambudwipa. pada keempat arah mata angin utama. para pedagang (orang Jumantara Vol. Prabu Jayadewata. Medang. Dalam beberapa hal.1 Tahun 2012 89 . gunung dan tempat-tempat di sekitarnya dijadikan tempat tinggal. terutama baris ke-5 sampai ke-7. dan penyebaran ilmu oleh kalangan agama Hindu dan Budha. Keyakinan ini terbawa ke Pulau Jawa. dan barat dihuni oleh mahluk ajaib. Ia menyatakan [Terjemahan dari pernyataannya?]: “Waspadalah. Dalam hal ini. pengamalan keagamaan.

. Kabuyutan itu akan dikuasai orang lain karena telah ditinggalkan rama dan resi..1 Tahun 2012 . Dan yang lebih penting. pangupatyan Sanghyang Wisnu. nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama. bahkan sampai titik darah penghabisan. dan lama berjaya. Ti naha bagina? Ti sang wiku nu ngawakan jati Sunda. unggul dalam berperang. ti sang tarahan. pergilah ke kabuyutan. maka orang yang menguasainya akan beroleh manfaat dari sana. 28 Kutipan lengkapnya: Sang Rakeyan Darmasiksa. kabuyutan itu harus dipertahankan sekuat tenaga. dua dari tiga unsur “trias politika” Sunda kuna. baik yang menganut kepercayaan kepada leluhur (ngawakan jati Sunda) maupun yang memeluk agama lainnya. sekaligus juga di kalangan istana28.” Hal ini pun diperjelas dalam NSK Kropak 406 (Carita Parahyangan). dengan kompleks pendidikannya yang disebut kabuyutan. Ibid (1987: 125-6). yang menyatakan bahwa Rakeyan Darmasiksa adalah raja Sunda yang mendirikan lembaga pendidikan bernama Sanghyang Binayapanti.asing) yang akan merebut Kabuyutan di Galunggung26” Hal itu karena dengan dikuasainya Kabuyutan Galunggung. 26 27 Saleh Danasasmita dkk. (1987: 12). Nasihat Rakeyan Darmasiksa juga sekali lagi menekankan pentingnya Kabuyutan Galunggung: “Bila terjadi perang (memperebutkan) kabuyutan di Galunggung. mikukuh Sanghyang 90 Jumantara Vol. menjamin keberlangsungan kehidupan keagamaan. Dengan demikian. Rakeyan Darmasiksa. seperti: memperoleh kesaktian dari tapa. ti sang rêsi. 3 No. bertahanlah kita di sana. inya nu nyieun Sanghyang Binayapanti. yang digambarkan sebagai titisan Dewa Wisnu. ia mendorong berlangsungnya tradisi baca-tulis atau literasi di kalangan agamawan. tina Parahyangan.. ti sang disri. Selain itu.Lebih berharga nilai kulit lasun di tempat sampah daripada rajaputra (bila kabuyutan) akhirnya jatuh ke tangan orang lain27.

ngawakan na purbatisti purbajati.1 Tahun 2012 91 . 22b.. ngawakan sanghyang Watangageung. enak ngadêg manurajasunyia. 21a. dan Kawali (Ciamis). menjalankan kebiasaan leluhur . Sunda Sembawa. tempat tinggal para wiku. Pada Prasasti Kabantenan (E. 3 No. Galunggung (Tasikmalaya). Sanghyang Tapak (Sukabumi). Cisanti (Bandung). Salah satu bukti kejayaannya: sang resi dapat tenteram melaksanakan tugas kependetaannya. Dalam Prasasti E-44 daerah larangan itu disebut dengan nama kabuyutan dan kawikuan. enak ngadeg manurajasunyia). yaitu Prebu Niskala Wastukancana. (Kropak 406. Wilayah tersebut juga tidak boleh dikenai pajak karena merupakan daerah larangan. Sang wiku enak ngadewasasana. sang bu enak ngalungguh di Sanghyang Jagatpalaka. ngawakan Sanghyang Siksa (Kropak 406. bayu. Sanghyang apah. dan 22a) Jumantara Vol. Sang wiku enak ngadewasasana. Sang disi enak masini. Sang rêsi enak ngarêsianana. teja.29 Kabuyutan-kabuyutan yang dikenal selama ini antara lain: Kanekes (Banten). dan sang wiku tenteram melaksanakan atau menunaikan undang-undang dewa (Sang resi enak ngaresianana. ngawakan manurajasasasana. dan tanah Dewa Sasana yang berada di Gunung Samaya sebagai daerah yang tidak boleh diganggu gugat. ngawakan na purbatisti purbajati . Ku beet hamo diukih. lempir 36a & 20b) 29 Kutipan lengkapnya: Nya mana sang rama enak mangan. ngawakan na manusasana. Sunda Sembawa dan Jayagiri (Bekasi?). brata siya puja tanpa lum. Nya mana sang tarahan enak lalayaran.. Kerajaan Sunda mengalami kejayaan.. Yang mencoba mengganggu daerah-daerah tersebut diperintahkan untuk dibunuh. Dalam Kropak 406 (Carita Parahyangan) pun ada gambaran penguasa Sunda yang berdedikasi tinggi pada kehidupan keagamaan sekaligus kegiatan literasinya. akasa. angadêg di Sanghyang Linggawêsi. ku gêde hamo diukih. Dari sekian nama Darma.. Ngawakan sanghyang rajasasana.Hal serupa juga dilakukan Prabu Jayadewata.. Koleang. Wanareja dan Ciburuy (Garut). ngaduuman alas parialas. lempir 21b. Jasinga (Bogor). Pada masa Kerajaan Sunda diperintah oleh raja yang merupakan adik Dyah Citraresmi yang gugur di Bubat.42-43) ia mengamanatkan kepada rakyatnya untuk menjaga dan memelihara Jayagiri. ngawakan sanghyang Watangageung.

Bogor. yakni Kabuyutan Ciburuy dan Kabuyutan Wanareja di Garut. dan Kropak 626 (Sanghyang Swawar Cinta). 92 Jumantara Vol. 639 (Serat Buana Pitu). 1102 (Para Putera Rama dan Rahwana). 625 (Sri Ajnyana). Ekadjati30. 407 (Carita Raden Jayakeling). karena secara jelas atau tertulis dalam NSK atau tempat diperolehnya sejumlah NSK seperti yang diinventarisasi oleh Gunawan dan Holil (2010).1 Tahun 2012 . Pikiran Rakyat. aya Kropak 620 (Tutur Bwana). Pertama. 621 (Sanghyang Sasana Maha).kabuyutan itu yang dikenal sebagai tempat penulisan NSK. 422 (Jatiniskala). 1099 (Pakéeun Raga). 641 (Arjunawiwāha). Ke sebelah timurnya. 1101 (Sasana Sang Pandita). dan Kropak 631 (Candrakirana). Ti Cisanti. melakukan upacara ritual. mendalami dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan (agama). 637 (Sanghyang Hayu). Jenis kegiatan pertama antara lain dalam bentuk mendoakan raja 30 „Pendidikan di Tatar Sunda I‟ HU. 635 (Sanghyang Hayu). melaksanakan pendidikan. 413 (Ajaran Islam). Kedua. 20 November 2004. 623 (Bimaswarga). 415 (Mantra Darma Pamulih). ada tiga jenis kegiatan yang dilakukan di kabuyutan. 624 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian). 634 (Sanghyang Hayu). ke Ciamis. antara lain ditemukan NSK Kropak 610 (Pitutur ning Jalma). menurut Edi S. Naskah Bambu 426 C (Sanghyang Jati Maha Pitutur). Pada tataran praktisnya. Ketiga. Naskah Bambu 426 B (Kaleupasan). 1097 (Carita Jati Mula). 622 (Warugan Lemah). 414. 636 (Sanghyang Hayu). 638 (Sanghyang Hayu). 409 (Kapaliasan). 1104 (Primbon). 423 (Carita Purnawijaya). 630 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian). 416 (Carita Purnawijaya). Dari Kabuyutan Koleang antara lain ditemukan NSK Kropak 1095 (Langgeng Jati). 3 No. Bandung. 1103 (Serat Jati Niskala). 412 (Fragmen Carita Parahiyangan). dan Kropak 642 (Siksa Guru). Kabuyutan Cisanti di Bandung. jeung Kropak 105. 633 (Siksa Guru). Dari kabuyutan yang ada di Garut. 418 (Nur Illahi). Kabuyutan Kawali di Ciamis. ditemukan Kropak 406 (Carita Parahyangan & Fragmen Carita Parahyangan). 408 (Kawih Panyaraman). dan Kabuyutan Koléang.

Selanjutnya Ekadjati menjelaskan mengenai bahan ajar dan spesialisasi guru-guru yang ada di kabuyutan. Mendalami ilmu pengetahuan (agama). aturan. seperti: brahmana menguasai aneka macam mantra. aren. kemudian diwujudkan dalam bentuk karya tulis. Di sana juga terlihat lalu-lintas naskah antar satu kabuyutan dengan kabuyutan lainnya. dan renungan para leluhur (patikrama). kelapa. memberi nasihat orang. Sebagaimana uraian Ekadjati di atas. Penulisan itu merupakan tugas pendeta yang menjadi penanggungjawabnya. bambu). kalam. janggan menguasai berbagai jenis upacara ritual. pandan.1 Tahun 2012 93 . Anak-anak dan orang muda yang memilih kegiatan keagamaan sebagai jalan hidupnya memasuki kompleks dan menjadi siswa (sisya) di kabuyutan untuk menerima berbagai ilmu pengetahuan (agama) dan tata cara hidup sebagai penghuni kabuyutan. Ia menjelaskan bahwa bahan ajarnya berupa berbagai pengetahuan agama (Hindu-Budha) dan ajaran hidup yang berasal dari intisari pengalaman. dan menulis naskah (asli atau salinan) tergolong kegiatan intelektual. memberi contoh cara hidup di mandala termasuk jenis kegiatan kedua (pendidikan).serta pejabat negara dan rakyat pada umumnya. pendeta menguasai pustaka. dan membaca teks-teks keagamaan. dan tinta. pratanda menguasi ilmu agama dan parigama. Hal ini dimungkinkan oleh adanya Jumantara Vol. mendidik anak-anak calon pendeta. Berbagai pengetahuan tersebut telah dikuasai oleh para guru yang kemudian disampaikannya secara lisan dan tertulis kepada siswasiswanya. hasil akumulasi ilmu pengetahuan tersebut. baik yang ada di kabuyutan sendiri maupun yang datang dari luar. menyelenggarakan dan memimpin upacara ritual. Untuk keperluan itu pejabat negara dan masyarakat umum sering datang ke kabuyutan dan sebaliknya penghuni kabuyutan sering pula diundang ke wilayah negara. Media tulisnya terdiri atas beberapa jenis bahan (lontar. Di antara guru-guru itu ada yang memiliki spesialisasi pengetahuan. mengarang suatu ilmu pengetahuan. nipah. sedangkan alat tulisnya berupa pisau pangot. 3 No. Mengajarkan pengetahuan agama.

yang tidak hanya berada di Jawa Barat saja. penyaduran naskah-naskah yang dihasilkan dari daerah lain dan kemudian dibawa oleh para rahib pengelana tersebut ke Tatar Jawa Barat. yang diutamakan adalah keberjarakan dari dunia ramai. Jawa Timur. bulan Muharam. Dalam beberapa adegan. Titimangsa Dari tabel di atas juga dapat dibahas mengenai titimangsa atau waktu penulisan NSK. karena keramaian itu akan terasa mengganggunya. memang terjadi penulisan. Contoh rahib pengelana ini adalah tokoh Bujangga Manik atau Perebu Jaka Pakuan atau Ameng Layaran yang berkeliling Pulau Jawa dan Bali. Dalam perjalanan tersebut memang Bujangga Manik tidak terlepas dari naskah-naskah yang dibawa dan dibacanya. yakni Kropak 1** (Sanghyang Siksa Kandang Karesian) bulan ke-10.1 Tahun 2012 . bulan. Selasa Manis dan Kropak KBG 75 (Wirid). seperti yang dapat kita temukan pada NSK sebagai berikut: Kropak 622 (Warugan Lemah). Jadi. Dari Jawa Barat. Yang menyertakan bulan saja bisa dikatakan merupakan yang paling banyak bila dibandingkan dengan yang menyertakan hari maupun tahun. Pada praktiknya. penerjemahan. NSK berikut memakai bulan saja sebagai titimangsa penulisan NSK: Kropak 621 (Sanghyang 94 Jumantara Vol.rahib atau pendeta pengelana yang (berkelana?) sambil belajar dari satu kabuyutan ke kabuyutan lain. para penulis-penyalin NSK ada yang hanya menyertakan hari saja. Jum‟at Kliwon. pada prinsipnya. karena nampak bahwa pada NSK terdapat keterangan hari. dan melintasi Pulau Bali untuk belajar keagaamaan. dan tahun. Namun ada juga yang menyertakan hari dan bulan. misalnya. penyalinan. 3 No. ke Jawa Tengah. Seperti yang kita saksikan dari peri kehidupan Bujangga Manik yang dalam perjalanannya senantiasa mencari tempat-tempat sepi. Rabu Manis. Dengan kehadiran nama-nama tempat yang berkaitan dengan pulau dan laut dapat diduga bahwa. namun ada juga yang berada di luar Jawa Barat. ia memang mencari tempat-tempat sepi.

bulan. dalam artian tidak ada keharusan atau kewajiban untuk mencantumkan titimangsa pada umumnya NSK. bulan ke-10. Ada juga yang bisa dikatakan lengkap menyebutkan ketiganya. hari dengan tahun. yaitu dimulai Selasa Kliwon. 1357 Ś (± 1435 M). atau tahun saja. Kropak 625 (Sri Ajnyana). nampaknya tidak ada aturan yang ketat. Kropak 641 (Arjuna Wiwaha). yang terdapat pada Kropak 630 (Sanghyang Siksa Kandang Karesian) bulan ke-3. Sementara yang memakai keterangan tahun ada: Kropak 634 (Sanghyang Hayu). bulan ke-8. bulan ke-7. bulan dengan tahun. Pemilihan unsur waktu penulisan NSK sangat acak. Dari paparan di atas nampak beberapa kenyataan yang patut dibahas secara luas dan mendalam. 1445 Ś (± 1523 M). kesewenang-wenangan itu juga terjadi pada pemilihan unsur waktu yang dicantumkan ketika penulis-penyalin NSK memberikan keterangan waktu penulisan. Tahun Saka hlaŕ twa ya wu? Ada pula yang hanya campuran antara bulan dan tahun. Kedua. 1256 Ś (1334 M). namun ada juga yang mencantumkan campuran dua sampai tiga unsur waktu. bulan ke-1. selesai hari Pon bulan ke-9. penggunaan candrasangkala atau kronogram. Ketiga. bulan. 3 No. Penggunaan kode-kode ini memang biasa dilakukan oleh para penulis-penyalin naskah-naskah di India. 1440 Saka (1518 M). Para penulis-penyalin naskah di India biasanya memberikan catatan penomoran dengan menggunakan kata-kata dan huruf-huruf. dan Kropak 642 (Siksa Guru). dan ada yang mencantumkan campuran hari dengan bulan. Hal itu terbukti dari tabel di atas. sehingga terkesan arbitrer alias sewenang-wenang. dalam artian bahwa ada yang hanya yang memakai hari. Kropak 623 (Bimaswarga/Bimaleupas).1 Tahun 2012 95 . Sementara Kropak 638 (Sanghyang Hayu) terbilang yang paling lengkap menyertakan hari. Pertama. Kropak 626 (Sanghyang Swawar Cinta). dan tahun penulisannya. Mengenai hal ini Jumantara Vol. bulan ke-8.Sasana Maha Guru) ditulis pada bulan ke-4. dan Kropak 633 (Siksa Guru). tergantung pada penulis-penyalin naskahnya.

th=7. 96 Jumantara Vol. y=1. as well as in the dates of inscriptions and of MSS. Sistem kedua memakai konsonan bervokal untuk penomoran. Pada penomoran menggunakan huruf. indu. selain digunakan untuk penonoran halaman naskah. Buhler menyatakan ada dua sistem yang dipakai. Ambara. mathematics and metrics.George Buhler menyatakan31: In many manuals of astronomy. dan tanu. according to Burnell originally South-Indian. sasi. which. Untuk 31 Lihat Buhler. atau ka sampai kah yang sama dengan 1 hingga 12. juga digunakan untuk memberikan titimangsa penulisan naskahnya. mahi. Angka 0 bisa diwakili oleh kata Sunya. the numerals are expressed by the names of things. which both employ the phonetically arranged characters of the alphabet. sitarasmi. bhu. nanda. connote numbers. Baik penggunaan kata-kata maupun huruf. keduanya. Sistem pertama dianggap hanya hurufhuruf konsonan yang tak mempunyai huruf vokal yang penting. seperti pada huruf k=1. Buhler menyatakan: Two system of numeral notation. nayaka. kh=2.1 Tahun 2012 . George. have still to be described. Sementara untuk penomoran yang menggunakan huruf. adi. dan Ananta. Indian Paleography (1980: 103-107). naturally or in accordance with the teaching of the Sastras. 3 No. beings or ideas. meskipun ada yang ia lewati. seperti huruf ka hingga ke la yang berarti sama dengan 1 hingga 34. Dalam hal ini Buhler memberikan contoh dari angka 0 hingga 49. cidra. dan m=5. Angka 9 digambarkan dengan anka. Angka 1 diekspresikan dengan rupa. t=6. Akasa. as they are not without interest for paleography.

Dalam NSK ditemukan juga kata-kata yang belum ditemukan artinya. Keterangan ini bisa menjadi jalan memahami kehadiran katakata maupun huruf-huruf yang digunakan pada akhir sejumlah NSK. yang menghasilkan pada musim semi yang siang maupun malamnya hampir sama waktunya (vernal equinox).1 Tahun 2012 97 . misalnya. Demikian juga pada naskah NSK Kropak 634 (Sanghyang Hayu) terdapat kata-kata panca warna catur bumi yang artinya 1445 Saka. yang mengandung arti penulis-penyalinnya memaksudkan angka-angka itu pada masa-masa selepas masa awal Kaliyuga. kurang wuwuhan. di akhir naskahnya terdapat kata-kata nora catur sagara wulan yang sama dengan tahun 1440 Saka atau. Sementara untuk penggunaan huruf. Untuk Kropak 630 (Sanghyang Siksakandang Karesian). menjadi 1518 Masehi. 44: kha – kha.contoh penggunaan dari kata-kata. Cibiru. 3 No. 24 Maret 1184 Masehi. Buhler memberikan contoh dari Pancasiddhantika. atau 1523 Masehi. seperti NSK Kropak 408 (Sewaka Darma) yang mengandung kata-kata akhir nanu namas haba jaja atau NSK Kropak 642 (Siksa Guru) yang diakhiri dengan katakata hlaŕ twa ya wu? Sugan aya sastra leuwih suda baan. Maret-April 2012 Daftar Pustaka Jumantara Vol. Buhler memberikan contoh dari Sarvanukramani: 23 1 565 1 khago=ntyan=mesam=apa Penggabungan angka-angka di atas nilainya sama dengan 1565132. bila dikonversi ke penanggalan masehi. 4.veda. sebagai tanggal diselesaikannya.samudra= 0-0-4-41=14400.

Seri Sundalana 9: Perubahan Pandangan Aristokrat Sunda. Undang A. New Delhi: Oriental Books Reprint Corporation Danasasmita. Pendidikan Dan Kebudayaan Nasional Darsa. Molen. “Balinese Palm-Leaf Manuscripts”. Agus Aris (1991). Ratu Pakuan: Tjeritera Sunda-Kuno dari Lereng Gunung Tjikuraj. 3 No. Ekadjati (2004. Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630). (1987). Ekadjati (2003). BKI 157 No. Makalah pada Seminar Nasional Sastra dan 98 Jumantara Vol. Seri Sundalana 6: Menyelamatkan Alam Sunda. “Kegiatan Keagamaan dalam Masyarakat Kerajaan Sunda: Data Prasasti dan Karya Sastra”. Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda Hinzler. 20 Nopember). Saleh dkk. Bandung: Lembaga Bahasa dan Sedjarah. Buhler. BKI 149 No. Séri Sundalana 1: Tulak Bala. Bandung: Jajasan Nusalarang.Atja (1968). “Pendidikan di Tatar Sunda I”. Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda . (2007). “Membuka Peti Naskah Sunda Kuna di Perpustakaan Nasional RI: Upaya Rekatalogisasi”. Indian Paleography. Darsa. (1993). Atja (1970). Undang A. Edi S. Direktorat Jendral Kebudayaan Dep. Van der dan I. dan Edi S. George (1980). Bandung: Yayasan Pusat Studi Sunda (PSS). H. W. Aditia & Munawwar Holil (2010). “Carita Ratu Pakuan (Kropak 410): Suntingan dan Terjemahan Naskah Sunda”. HU Pikiran Rakyat. Amanat Galunggung (Kropak 632): Transkripsi dan Terjemahan”. Wiryamartana (2001). “Fragmén Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan (Kropak 406)”. Gunawan. Munandar. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi).1 Tahun 2012 . Sewaka Darma (Kropak 408). Tjarita Parahijangan Titilar Karuhun Urang Sunda Abad ka-16 Masehi. “The MerapiMerbabu Manuscripts: A Neglected Collection”. 1. 3.

C. Bogor. dari Three Old Sundanese Poems (2006). 56.M. “Poernawidjaja‟s Hellevaart of de Volledige Verlossing”.1 Tahun 2012 99 . 22-24 Agustus 2001. Diterjemahkan oleh Hawe Setiawan. & A. Darsa. teks Sunda kuna oleh Tien Wartini dan Undang A. dan kemudian dimuat dalam Prosiding KIBS 1 Jilid 1 (2006). Noorduyn. (1914). __________ (2001). Pleyte. Tiga Pesona Sunda Kuna. Makalah Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) I. TBG No. J. “Sebaran Situs Arkeologi di Jawa Barat: Tinjauan Terhadap Dasar Konsepsi Keagamaan”.Sejarah Pakuan Pajajaran. Jakarta: Pustaka Jaya. Teeuw (2009). 3 No. 11-13 Nopember. Bandung. Jumantara Vol.

Cirebon. Dekan Fakultas Ushuluddin ISIF dan Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon.Abstrak Dari berbagai sumber tertulis diketahui bahwa pada masa Syarif Hidayatullah peradaban Islam di Cirebon mencapai masa kejayaannya. tulisan ini diharapkan mampu menjadi kelengkapan khazanah sejarah Islam Indonesia dalam konteks rekonstruksi sejarah Islam Nusantara dan kehidupan keagamaan masyarakat. menunjukkan bukti-bukti sejarah peradaban tersebut sebagai bukti kejayaan peradaban Islam di Cirebon. serta mengungkapkan pengaruh Syarif Hidayatullah terhadap perkembangan dakwah Islam di Jawa. Saeful dan Salman dari Balai Litbang Agama Jakarta. terutama di Cirebon. Tulisan ini merupakan upaya untuk melakukan rekonstruksi sejarah kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah (1479-1568). tetapi bagian dari tokoh historis dan fakta sosial melalui rekonstruksi historis peradaban Islam Nusantara. mitos. Beberapa nama penting juga disebutkan disini. Syarif Hidayatullah * Kandidat Doktor Filologi di Departemen Susastra FIB UI Depok. 3 No. Terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu tulisan ini sehingga dapat hadir di hadapan pembaca.1 Tahun 2012 . terutama kepada ISIF. dan Balai Litbang Agama Jakarta. Signifikansi tulisan ini untuk menunjukkan adanya pembuktian atau lebih tepatnya penegasan akademik bahwa Syarif Hidayatullah yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Jati itu bukan sekedar tokoh legenda. Nurul Huda SA dan Aan Jaelani yang telah menemani saya ketika beberapa kali turun lapangan. atau semacamnya. 100 Jumantara Vol. terutama di Cirebon pada tahun 1479-1568. Kata Kunci: Islam. Secara strategis.

amewahi donga hakaliyan mantra. Sunan Drajat. Sunan Muria. “An Inheritance from the Friends of God: The Southern Shadow Puppet Theater of West Java. Sunan Gunung Jati.33 Sebelum Syarif Hidayatullah.H. dan M. Terlebih lagi. Penjelasan lebih lanjut pada Mastuki HS. atau lebih dikenal dengan gelar Sunan Gunung Jati. Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Pertumbuhan Jumantara Vol. daerah-daerah di mana suatu kerajaan Islam telah berdiri dan berjaya pada masanya. hampir dipastikan terdapat seorang tokoh yang mempunyai keutamaan dan pengaruh kuat bagi masyarakatnya. Moh.32 Mengapa (masih) Mengkaji Syarif Hidayatullah? Rekonstruksi sejarah Islam Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kontribusi pemikiran dan tindakan setiap tokoh di daerahnya. 32 Kutipan ini merupakan bagian dari tugas-tugas Wali Songo dalam Primbon milik Prof. Sunan Kudus. Ishom El-Saha (edit. serta tata cara membuka hutan. Era Syarif Hidayatullah.Kanjeng Susuhunan ing Gunung jati ing Cirebon. dan Syarif Hidayatullah di Cirebon (1479-1568). pengaruh para penguasa Cirebon masih berlindung di balik kebesaran nama Syarif Hidayatullah. 7 34 Walisongo adalah pelopor dan pemimpin dakwah Islam yang berhasil membawa murid-muridnya untuk menjalankan dakwah Islam ke seluruh Nusantara pada abad ke-15. Sunan Ampel. Sunan Bonang. hlm. Indonesia”. dan Sunan Kalijaga.1 Tahun 2012 101 . 90 33 Matthew Isaac Cohen. tata cara pengobatan.R. Sekedar menyebut beberapa contoh tokoh tersebut adalah Abdur Rauf asSinkili di Aceh (1615-1693). dapat dikatakan sebagai era keemasan (Golden Age) perkembangan Islam di Cirebon.). Sunan Giri. Salah satu di antara kontribusi Syarif Hidayatullah adalah bahwa ia menjadi salah seorang dewan Walisongo34 di Jawa. seperti dikutip Agus Sunyoto. Walisongo terdiri dari Sembilan wali. (Jakarta: Transpustaka. Di antara tokoh tersebut. 1613-1645). Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Cakrabuana (1447-1479) merupakan rintisan pemerintahan berdasarkan asas Islam. 2011). K. Adnan. (Yale University: 1997). Maulana Malik Ibrahim. 3 No. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan. dan setelah Syarif Hidayatullah. hlm. utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana Sunan Gunung Jati di Cirebon mengajarkan tatacara berdoa dan membaca matera. Disertasi. Sultan Agung di Jogjakarta (dulu Kesultanan Mataram.

berpendapat bahwa suatu peradaban muslim tidak dapat bangkit kecuali dengan akidah keagamaan. tata cara pengobatan. Abu al-Ma‟ali al-Maqdisi (w.M. peradaban Islam pada periode tersebut telah melahirkan berbagai tokoh pemikirnya. 1492). Dalam catatan sejarah. 1565). Ribut Wahyudi (Surabaya: Risalah Gusti. 2001). yaitu Sultan di Cirebon. antara lain Sadr al-Din al-Syirazi (w. Mistikus Islam: Ujaran-ujaran dan Karyanya.38 Abd al-Wahhab al-Sya‟rani/alSya‟rawi (w. 2003). penterj. (Jakarta: Diva Pustaka. 73. Karya. penterj. hlm. hlm.757. 102 Jumantara Vol. (Jakarta. 1499). Sejalan dengan bukti tersebut. dan Abd al-Rahman Jami (w. penterj. 183. Ensiklopedi Ulama Nusantara: Riwayat Hidup. 36 H. Bibit Suprapto. 1497). Era renaisans bukan sekedar merupakan kehidupan yang cemerlang di bidang seni.Syarif Hidayatullah mendapatkan tugas berdakwah di Cirebon (Jawa Barat). Margaret. “Kanjeng Susuhunan ing Gunung jati ing Cirebon. Gelegar Media Indonesia. II. Al-Qarafi (1533-1600).. 1505). Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah. (Yogyakarta: LKPSM. (Bandung: Mizan. 39 Smith. Banten. serta tata cara membuka hutan).37 Dalam konteks itulah Syarif Hidayatullah membangun peradaban muslim di Cirebon.36 Berbagai bukti kejayaan kepemimpinannya antara lain Masjid Merah Panjunan (+ 1480) dan masjid Agung Sang Cipta Rasa (1500). Jalal al-Din al-Suyuti (w. 35 Agus Sunyoto. 37 Malik Bin Nabi. renaisans adalah periode yang berlangsung dalam kurun waktu 25-50 tahun dan mencapai puncaknya pada tahun 1500. (Sunan Gunung Jati di Cirebon mengajarkan tata cara berdoa dan membaca matera. 38 Abdullah Mustofa al-Maraghi. utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana”. Pakar-Pakar Fiqh Sepanjang Sejarah.1 Tahun 2012 . hlm. 2009). 1995) cet. amewahi donga hakaliyan mantra. Malik Bin Nabi (1905-1973) dalam Syuruth al-Nahdlah. hlm. dan Sunda Kelapa (Jakarta). Tugas itu dirumuskan sebagai berikut. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. Selaras dengan itu. 21-34. Membangun Dunia Baru Islam. 90. 2001).35 Perbedaan lain dengan para Walisongo ialah bahwa Syarif Hidayatullah selain sebagai ulama juga umara. 3 No. hlm. maupun kesusastraan yang mengeluarkan Eropa dari kegelapan Pesantren. Husein Muhammad. pemikiran.39 Periode tersebut merupakan era renaisans bagi benua Eropa (1495-1500). Afif Muhammad dan Abdul Adhem. pemikir Aljazair.

74-75 41 Ibid. pusat Kesultanan Islam Cirebon berada di Kraton Pakungwati.1 Tahun 2012 103 . hlm. Adanya Pelabuhan Muara Jati yang berada di lalu lintas utama kawasan tersebut telah menjadi arena perdagangan internasional. hlm. tetapi sebagai konteks sosial. Christopher Columbus. 3 No. Lili Sri Padmawati. Pakungwati terbagi menjadi dua kesultanan. Jumantara Vol. telah menemukan kepulauan Amerika. Salah satu revolusi pemikiran pada era tersebut dikemukakan Nicolas Kopernick (Copernicus). atau paling tidak. dan pemikiran yang melintasi kawasan tersebut. tetapi juga merupakan suatu revolusi budaya. nakhoda dari Italia. 40 Pada tahun 1492. 72 42 Diskusi tentang Cirebon sebagai jalur perdagangan dapat dibaca Susanto Zuhdi. yang menyatakan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Tahun 1662. 2005). pada masa Panembahan Ratu II (Girilaya). [t. 1996). bukan sebaliknya. gerakan. Pada masa itu. penterj.42 Pelabuhan yang ramai dan jalur utama transportasi yang menghubungkannya dengan wilayah-wilayah lain menyebabkan kota tersebut tampil dengan keterbukaan dan menerima.k. Cirebon dikenal juga sebagai „Jalur Sutra‟. 100 Peristiwa yang Berpengaruh di dalam Sejarah Dunia (100 Events That Shaped World History).41 Sekalipun peristiwa-peristiwa besar di belahan dunia tersebut tidak berhubungan langsung dengan Cirebon ataupun Syarif Hidayatullah.intelektual Abad Pertengahan. Meneruskan pendahulunya. (Jakarta: Depdikbud.]: Karisma Publishing Group. Keterbukaan itu pula yang terdapat dalam diri Syarif Hidayatullah selama memimpin di Cirebon. 43 Kraton Pakungwati merupakan tempat kedudukan utama para Raja Cirebon. Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra. Bill. dan politik yang berkembang pada saat itu menarik untuk dilihat sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.. budaya. ekonomi.43 Di istana itulah Syarif Hidayatullah memulai membangun dan mengembangkan Kesultanan Cirebon sampai dengan pengunduran dirinya. yaitu: daerah Panembahan Sepuh (Kasepuhan) dan daerah Panembahan Anom 40 Yenne. sehingga Sunan Gunung Jati tidak hanya dibaca seperti yang selama ini dikenal dalam legenda atau mitos. menjadi tempat persinggahan bagi setiap budaya.

hlm. Bersamaan dengan kedatangan Belanda sebagai penjajah yang menguasai Cirebon sekitar tahun 1700. 1992). Kasepuhan berkedudukan di Pakungwati dan Kanoman menempati kraton baru bekas istana Panembahan Cakrabuana. hlm. 45 Siddique. Bersamaan dengan kedatangan Daendels pada tahun 1808. 2001). Kanoman dan Kaceribonan. Beberapa perjanjian dengan VOC telah mendorong terjadinya kemunduran itu. “Cirebon” dalam Sastra Jawa Suatu Tinjauan Umum. Kanoman dan Keprabonan. 65 104 Jumantara Vol. Nugroho Notosusanto. yaitu telah terjadi perubahan progresif dalam kesusteraan setiap kali muncul Kraton baru. Di situlah kesusasteraan tumbuh maju dan berkembang. Sejarah Nasional Indonesia: Jaman Pertumbuhan dan Perkembangan III.45 Sekitar tahun 1800. dan Pangeran Tohpati. bukan Kanoman. untuk Samsuddin Mertawijaya (1677-1697) dan Badruddin Kartawijaya (1677-1703). Sultan Kanoman yang dibuang tersebut 44 Titik Pudjiastuti. salah seorang Sultan Kanoman Cirebon dibuang ke Ambon. yaitu:. seperti dikutip dalam Marwati Djoened Poesponegoro. Saat itu. 87. Sultan Kanoman IX itu bernama Sultan Muhammad Nurbuat. antara lain: perjanjian 7 Januari 1681 yang menetapkan bahwa ekonomi-perdagangan. Kasultanan Kanoman terbagi menjadi dua lagi. timbul perpecahan dalam Kesultanan Cirebon.44 Artinya. situasi pernaskahan di kraton itu sangat bergantung dengan perkembangan dari kraton sendiri. Relics of the Past: Sociological Study of the Sultanates of Cirebon West Java. Kesultanan Cirebon telah mengalami kemerosotan karena pihak lain (asing) sejak tahun 1681-1940. Menurut Siddique. Dalam sumber lain. tentang pengakuan dan pembagian cacah. Sultan IX yang dimaksud barangkali Sultan Kacirebonan. Pembagian wilayah kesultanan tersebut didasarkan pada kesepakatan yang difasilitasi oleh Kesultanan Jogjakarta dan Banten. dan perjanjian 8 September 1688 yang ditandatangai Sultan Sepuh I.1 Tahun 2012 . Kesultanan Cirebon terbagi pada masa Sultan IX yang bernama Sultan Anom Muhammad Kaeruddin. Pudjiastuti mencatat sisi positif dari perpecahan Kesultanan Cirebon. Sultan Anom. seperti perdagangan pakaian dan opium.(Kanoman). (Jakarta: Balai Pustaka. Terakhir. (Jakarta: Balai Pustaka. Sebab. 3 No. Kesultanan Kanoman terbagi lagi menjadi dua kraton. Dampak internalnya. Sharon. dimonopoli VOC.

Tak ayal lagi. Jumantara Vol. Dalam entri Cirebon ini. dalam R. “Beberapa Catatan Mengenai “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinja”. Pada tahun 1809. Selain dikuasai Belanda. Dalam Ensiklopedi Islam Indonesia disebutkan. 33-39 47 Kern. 21. Stamford Raffles memerintah langsung atas Cirebon namun pemerintahannya sangatlah singkat.dibebaskan oleh Daendels yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal. R. hlm. dalam tradisi lisan Cirebon dan beberapa tulisan menyebutkan. terdapat informasi yang masih meragukan validitasnya. ketika suasana damai di Cirebon terganggu oleh kolonial. 2002. Studen Over de Staatkundige Geschiendenis van de 15 de en 16 de Eeuw. bahwa kekuasaan Cirebon makin lama makin dipersempit. 1974). 213. Daendels membangun jalan raya melintasi pegunungan dari Batavia ke Cirebon (Jalan Raya Pos/Groote Postweg). De Graaf dan Th. Pada tahun 1815. dan Husein Djajadiningrat. R. Pada tahun 1700 Belanda mengangkat Jacob Palm menjadi Residen pertama. Sebab. cet. Kern dan Husein Djajadiningrat. tetapi dari Kesultanan Pasai yang diperbantukan di Cirebon.A. Masa Awal. Kesultanan Cirebon juga dijajah Inggris ketika pemerintahan Inggris menguasai (sebagian) Indonesia sekitar tahun 1811-1816. revisi. Fatahillah itu bukan keturunan Cirebon.A. II.J. gelar Sultan di lingkungan kraton sudah tidak diperbolehkan dipakai lagi. hlm. Tentang klarifikasi Fatahillah. 46 Tim IAIN Syarif Hidayatullah. hlm. 3 No. dalam Kern. Bahkan kemudian. pemberontakan pun timbul sebagai salah satu cara untuk menolaknya.. Masa Awal Kerajaan Cirebon. Jakarta: Djambatan.46 Kenyataan itu sejalan dengan pendapat Kern bahwa Cirebon berakhir kejayaannya pada abad ke-17. tetapi pemberontakan di daerah perbatasan melawan penjajah tetap belanjut. Pemberontakan Cirebon telah dimulai sejak tahun 1788 dan terbesar tahun 1802. bahwa nama lain Sunan Gunung Jati itu Fatahillah. Hoesein Djajadiningrat. tetapi semua dapat dipadamkan Belanda. “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinya”. Pigeaud dalam De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java. Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid I A-H.A. (Jakarta: Bhratara. lihat juga pada P.1 Tahun 2012 105 . karena Britania harus mengembalikan Jawa dan bekas daerah kekuasaan HindiaBelanda lainnya kepada Belanda sesuai persetujuan akhir Perang Napoleon.A.47 Penegasan serupa ditulis H. lalu ditugasi di Sunda Kelapa dan Banten.

“Kedaulatan atas daerah Cirebon termasuk daerah-daerah Sunda pada 1705 diserahkan oleh susuhunan di Kartasura kepada kompeni (VOC) di Batavia. Keraton-keraton para keturunan Sunan Gunung Jati di kota Cirebon masing-masing tetap dipertahankan di bawah kekuasaan dan dengan tunjangan uang dari pemerintah Hindia Belanda hingga abad XX ini.”48 Dengan demikian, pemerintah Kolonial Belanda telah semakin dalam ikut campur mengatur Cirebon, sehingga semakin surutlah peranan kraton-kraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya. Pada tahun 1906 dan 1926, kekuasaan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan pengesahan berdirinya Kota Cirebon (Gemeente Cheirebon). Saat itu, luas wilayahnya mencakup 1.100 hektar, dengan sekitar 20.000 jiwa penduduk (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370). Tahun 1942, Kota Cirebon kembali diperluas menjadi 2.450 hektar.49 Sejak tahun 1965 Cirebon telah berubah menjadi kota madya dan sekarang menjadi kota Cirebon dengan luas 37,36 km2.50 Memperhatikan latar belakang tersebut, tulisan ini menjadi penting untuk mengungkap Kesultanan Cirebon sebelum adanya campur tangan pihak asing, termasuk intervensi pihak kesultanan Jogjakarta dan Banten. Dari berbagai sumber tertulis diketahui bahwa pada masa Syarif Hidayatullah itulah peradaban Islam di Cirebon dapat dikatakan mencapai masa kejayaannya. “Ingsun titip tajug lan fakir miskin” adalah salah satu pernyataan atau petatah petitih dari Syarif Hidayatullah yang digunakan sebagai ikon oleh kalangan, baik pemerintah maupun swasta di Cirebon. Saat ini, Cirebon tetap dijadikan sebagai nama salah satu kota dan kabupaten di Jawa Barat. Sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia dan selama Cirebon menjadi pusat pemerintahan kota dan kabupaten, keluarga besar Kraton Cirebon sepertinya belum pernah ada yang menjadi bupati ataupun

48

De Graaf, HJ. & Th. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI, penyunting Eko Endarmoko dan Jaap Erkelens, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2003), hlm. 132. 49 http://indahartgallery.webs.com/keraton.htm 50 Profil kota Cirebon Jawa Barat.

106

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

walikota.51 Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penting dikemukakan pertanyaan, bagaimana kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568? Bukti-bukti sejarah apa yang mendukung adanya kejayaan tersebut? Dengan bukti-bukti tersebut, seberapa jauh peran Syarif Hidayatullah pada perkembangan dakwah Islam di Jawa? Tulisan ini merupakan upaya untuk melakukan rekonstruksi sejarah kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568, dan untuk menunjukkan buktibukti sejarah peradaban tersebut sebagai bukti kejayaan peradaban Islam di Cirebon, serta mengungkapkan pengaruh Syarif Hidayatullah pada perkembangan dakwah Islam di Jawa. Signifikansi tulisan ini untuk menunjukkan adanya pembuktian atau lebih tepatnya penegasan akademik bahwa Syarif Hidayatullah yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Jati itu bukan sekedar tokoh legenda, mitos, atau semacamnya, tetapi bagian dari tokoh historis dan fakta sosial melalui rekonstruksi historis peradaban Islam Nusantara, terutama di Cirebon pada tahun 1479-1568. Secara strategis, tulisan ini diharapkan mampu menjadi kelengkapan khazanah sejarah Islam Indonesia dalam konteks rekonstruksi sejarah Islam Nusantara dan kehidupan keagamaan masyarakat, terutama di Cirebon. Penelitian Terdahulu dan Landasan Kajian Penelitian Kejayaan Peradaban Islam di Cirebon pada Era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568 ini tidak dapat dilepaskan dari kajian-kajian sebelumnya, baik karena kemiripan dalam penggunaan metode dan pendekatannya, maupun kedekatan konteks serta cakupannya. Kajian terdahulu berguna untuk mengetahui perbedaan kajian ini dengan kajian-kajian tersebut, sehingga kajian ini ditemukan orisinalitasnya. Adapun kajian secara khusus dengan nama Syarif
51

Bahan awal tentang Cirebon dapat dibaca dalam Sulendraningrat, P.R.A. Sejarah Cirebon, (Jakarta: Balai Pustaka, 1985) dan Membumikan Wasiat Sunan Gunung Djati Dalam Membangun Jawa Barat Bermartabat, (Cirebon: Yayasan Keraton Kasepuhan Cirebon, 2004).

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

107

Hidayatullah, sampai dengan penulisan laporan ini belum ditemukan, kecuali kajian terhadap naskah kuno, yaitu Sajarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati, baik dalam Naskah Mertasinga (2005) maupun Naskah Kuningan (2007). Kajian naskah serupa dilakukan Atja (1972) dengan judul, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Tjirebon). Dengan pendekatan sejarah dan filologi, Atja mengungkap sejarah awal mula Cirebon; diuraikan pula tentang Syarif Hidayatullah melalui naskah yang ditulis Pangeran Arya Cirebon dan transliterasinya, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari.52 Nama Sunan Gunung Jati lebih sering digunakan para peneliti daripada nama Syarif Hidayatullah., misalnya dalam disertasi Dadang Wildan yang telah diterbitkan dengan judul Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural (Bandung, 2002).53 Akbarudin Sucipto menulis Dakwah Sunan Gunung Jati dalam Perspektif Politik: Analisis Deskriptif terhadap Proses Islamisasi Cirebon abad ke-XV dan XVI (Skripsi: STAIN Cirebon, 2006). Kajian tentang Sunan Gunung Jati juga dapat ditemukan dalam ensiklopedi-ensiklopedi, seperti Ensiklopedi Islam (2002, cet.II), Ensiklopedi Ulama Nusantara (2009), dan Intelektualisme Pesantren (2003). Kajian mutakhir tentang Sunan Gunung Jati dilakukan Agus Sunyoto (2011). Dalam buku yang diberi judul Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, Sunyoto memaparkan sehistoris mungkin berdasarkan data manuskrip dan arkeologi gugatan para penulis sejarah Islam di Jawa, di mana Wali Songo masih diabaikan. Kajian tentang Cirebon dalam konteks sejarah beberapa kali telah dilakukan, termasuk bahasan khusus tentang Syarif Hidayatullah walaupun tidak mendalam. De Graaf dan Pigeaud (2003 cet. V) menulis Riwayat Kerajaan di Jawa Barat pada
52

Untuk melengkapi penelitian ini, transliterasi Atja dilampirkan, sebagai bagian tak terpisah dari hasil penelitian ini. Penelitian Atja tahun 1972 ini diterbitkan Ikatan Karyawan Meseum. 53 Dalam kajian Wildan tersebut, dipaparkan pula 7 (tujuh) naskah yang terkait dengan Syarif Hidayatullah dalam bentuk prosa dan tembang. Dalam bentuk prosa yaitu Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Sunda, dan Sejarah Cirebon. Dalam bentuk tembang, yaitu Carub Kanda, Babad Cerbon, Babad Cirebon, dan Wawacan Sunan Gunung Jati.

108

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Abad XVI: Cirebon. Kajian tentang Cirebon tersebut hanyalah salah satu bagian dari kajiannya tentang kerajaan Islam di Jawa, yang dimulai dari Demak, Kudus, Madura, hingga Banten. Acuan penulisan keduanya adalah literatur lokal atau pribumi. Kajian serupa juga dilakukan RH. Unang Sunardjo, Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cirebon 1479-1809 (1983). Begitu pula Uka Tjandrasasmita, yang menulis “Kesultanan Cirebon: Tinjauan Historis dan Kultural” dalam karya arkeologisnya, Arkeologi Islam Nusantara (2009). Tjandrasasmita menguraikan tentang Cirebon dengan pendekatan sejarah, mulai dari pertumbuhan, perkembangan, sampai dengan keruntuhan kesultanan. Paparan lainnya terkait dengan beberapa aspek penting di Cirebon, seperti keagamaan, seni sastra, seni bangun dan ragam hias, serta wayang dan topeng. Kajian lain tentang Cirebon secara khusus dilakukan oleh tim peneliti dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UNPAD dengan judul Sejarah Cirebon Abad Ketujuh Belas (Bandung, 1991). Kajian lain tentang Cirebon dilakukan oleh Darkum (Skripsi Pendidikan Sejarah Fak. Ilmu Sosial UNNES, 2007) dengan judul Peranan Pangeran Walangsungsang dalam Merintis Kesultanan Cirebon 1445-1529. Kajian lain yang masih berkaitan dengan Cirebon dilakukan oleh Heriyanto (Tesis UI, 2000) dengan judul Upacara Panjang Jimat: Suatu Kajian tentang Kraton Kasepuhan Cirebon Masa Kini. Dalam salah satu bagian kajiannya, Heriyanto memaparkan tentang Kraton Pakungwati dan Syarif Hidayatullah. Informasi tersebut, sekalipun tidak berasal dari sumber primer, dapat menjadi informasi penegasan. Adapun kajian dengan pendekatan sastra dan filologi dilakukan Pudjiastuti, yaitu Cirebon (2001) dan Kajian Kodikologis atas Surat Sultan Kanoman, Cirebon [Cod. Or. 2241 ILLB 17 (N0. 80)] (2007). Studi kodeks dalam kajian Pudjiastuti dapat mempertajam analisis untuk mengungkap konteks surat Sultan Kanoman pada akhir abad ke-17. Isi surat itu menobatkan putra bungsu Sultan menjadi Panembahan. Penjelasan lebih luas tentang dinamika Kesultanan Cirebon diungkap Pudjiastuti pada “Cirebon” sebagai salah satu entri Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Umum. Konteks Cirebon dalam tulisan Pudjiastuti berkaitan dengan pernaskahan kuna di Cirebon.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

109

Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern: 1200-2008 (2010 cet. Catur Kanda. dan kitab-kitab lokal lainnya. filologi. Architecture of the Early Mosques and Shrines of Java: Influences of the Arab Merchants in the 15th and 16th Centuries?. 2008). karena itu menjadi penting dan mendesak untuk dilakukan. yang berasal dari disertasinya pada Fakultät Geistes und Kulturwissenschaften (GuK) der Otto-Friedrich-Universität Bamberg. Sulendraningrat memaparkan tentang Cirebon sejak masa Pra Sejarah sampai dengan masa masuknya Islam di Indonesia. seperti Kuningan ke Cirebon. Dengan perspektif yang berbeda. para penulis asing juga melakukan kajian tentang Kesultanan Islam Cirebon. masjid Agung. Paparan senada diungkap Kosoh. Sebagai keluarga kraton Cirebon. yaitu sejarah. Kritik internal dan eksternal dalam pendekatan sejarah juga digunakan dalam penelitian ini demi menjaga obyektifitas keilmuan. kajian ini diharapkan selain dapat 110 Jumantara Vol. Carub Kanda. Dengan demikian. dan arsitektur. sekurangnya terdapat beberapa landasan kajian yang digunakan. I. III). dan Karel Steenbrink dalam Kawan Dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1941) (1995). Van Der Kemp dalam Pemberontakan Cirebon Tahun 1818 (1979). dan Syafe‟I dalam „Jawa Barat pada masa Pemasukan dan Perkembangan Islam‟ dan „Jawa Barat dalam Abad ke -19‟ sebagai bagian dari Sejarah Daerah Jawa Barat (1979). mulai dari Raffles dalam The History of Java (Terj.1 Tahun 2012 . Karya orang dalam kraton tersebut mengacu pada Babad Cirebon. untuk mengungkap Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah (1479-1568) digunakan pendekatan sejarah yang belum pernah dilakukan.Penelitian dan penulisan tentang Cirebon dapat ditemukan pula dalam hasil penelitian dan buku-buku yang berasal dari seminar ataupun lainnya. kebudayaan. Syarif Hidayatullah. Sejarah dalam kajian ini juga didasarkan pada sumber naskah dan artefak budaya. 3 No. hingga tentang peleburan kota-kota kecil. dan Panjunan Cirebon dikupas sekilas. arkeologi. dst. silsilah 4 (empat) kesultanan. Wahby (2007). Sulendraningrat menulis Sejarah Cirebon (1978). Dalam kajian Ahmed E. silsilah Sunan Gunung Jati dari garis ayah/ibu. Adapun dalam kajian ini. Pada kajian-kajian terdahulu di atas. Suwarno.

putri Prabu Siliwangi asal Pajajaran yang bergelar Syarifah Mudaim. Wahju. 755 dan 758. dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara.1 Tahun 2012 111 .55 Guru Syarif Hidayatullah lainnya adalah Syekh Nur Jati (Datuk Khafidz). bahwa Syarif Hidayatullah atau sering dikenal dengan Sunan Gunung Jati itu bukanlah legenda. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup.memberikan sumbangsih kepada masyarakat. Syekh Sidiq. ketika umur 20 tahun. Syarif Hidayatullah dilahirkan pada tahun 1448 dari perkawinan Raja Abdullah (Syarif Abdullah) dengan Rara Santang. 3 No. kajian ini dapat pula menjadi penegas. Raja Abdullah bukanlah raja di Mesir. pada masa remajanya. 219 56 Lihat pada Naskah Mertasinga dan Kuningan. 2009). alih aksara dan bahasa Amman N.54 Menurut Purwaka Caruban Nagari. Karya. (Bandung: Pustaka.). pada usia 120 tahun Syarif Hidayatullah (tahun 1568) dipanggil sang Khalik dan dikebumikan di Gunung Sembung Cirebon. Jumantara Vol. dalam urutan ke-22. Syekh Bentong. alih aksara dan bahasa Amman N. 55 Naskah Mertasinga. filologis. (Jakarta: Gramedia. Lihat Bibit Suprapto. hlm. Ayah Syarif Hidayatullah. Wahju. dan mitos belaka. 2007). Syarif Hidayatullah masih termasuk keturunan Rasulullah SAW. Syarif Hidayatullah telah berguru kepada Syekh Tajudin al-Kubri selama 2 tahun dan Syekh Ataillahi Syazally yang bermazhab Syafei. sama dengan Sunan Bonang dan Sunan Drajat atau Sunan Giri. hlm. Ini mirip dengan pendapat Hosein Jayadiningrat dengan argumentasi yang berbeda. tetapi memang dapat dibuktikan melalui fakta-fakta historis. tapi kemungkinan besar sebagai penguasa kawasan Aceh. Dilahirkan di Mesir. walaupun berdarah Timur Tengah. dan arkeologis.56 54 Syarif Hidayatullah adalah putra raja Abdullah (Syarif Abdullah) bin Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Husein (al-Husaini) bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan Nurdin bin Abdul Malik bin Gazam bin Alwi bin Muhammad bin Ubaidillah bin Ahmad Muhajir bin Isa al-Bakir (ar-Rumi) bin Muhammad Idris an-Naqib bin Ali al-Uraidhi (Kasim al-Kamil) bin Ja‟far Shadiq bin Muhammad al-Bakir bin Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib (suami Fatimah az-Zahra binti Rasulullah Muhammad SAW. Syekh Najmurini (Nujumuddin) Kubra di Mekkah. dan Syekh Quro. terutama Perlak atau Pasei. Sunan Ampel. Silsilah Syarif Hidayatullah: Arab dan Cirebon Menurut Ensiklopedi Ulama Nusantara. dengan judul Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.

secara singkat sebagai berikut:. lampiran 112 Jumantara Vol. berganti nama Rara Sumanding) tidak berlangsung lama. pernikahan kedua dengan Ong Tien (Putri Cina. (Bandung: Pustaka. Rasulullah SAW. pernikahan ketiga dengan Nyi Mas Retna Babadan (Putri Ki Gedeng Babadan). 3 No. yaitu:. (Jakarta: Gramedia. Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup. Wahju. 58 Adapun silsilah Syarif Hidayatullah dari jalur ibu sampai ke Prabu Bunisora. hlm. Dari pernikahannya dengan Prabu Siliwangi mempunyai tiga anak. yaitu: Ratu Ayu (istri Fatahillah) dan Pangeran Pesarean (Dipati Muhammad Arifin).Syarif Hidayatullah pernah beberapa kali menikah. dan Raja Sangara. Sari Kabun (Rara Santang. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Sultan Mahmud). 2009). dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. Ratu Winaon dan Pangeran Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I). kelima dengan Nyi Mas Rara Kerta (Putri Ki Gedeng Jatimerta) dikaruniai dua anak: Pangeran Jaya Lelana dan Pangeran Brata Lelana. dan dari pernikahannya dengan Sultan Mahmud mempunyai dua putra. Karya. Rara Santang menikah dengan Sultan Bani Israil (Sultan Hud. Juru Labuhan Muarajati II) mempunyai anak Nyi Subang Larang yang menikah dengan Prabu Siliwangi. 2007) 57 Bibit Suprapto. Pangeran Cakrabuana. mempunyai seorang putri bernama Siti Fatimah yang berputra Sayid Husein yang berputra Zainal Abidin yang berputra Syekh Zainal Kabir yang berputra Syekh Jumadil Kubra dari Quswa yang berputra Raha Umrah-Raja Odhara dari Mesir yang berputra Sultan Bani Israil yang berputra Syarif Hidayatullah. adalah sebagai berikut: Sang Prabu mempunyai anak Ki Gedeng Kasmaya (Ki Ageng Giridewata) Penguasa Carbon Girang yang mempunyai putrid Nyi Karancang Singapuri dari Pulo Pinang/Singapura menikah dengan Ki Gedeng Tapa (Ki Gedeng Juman Jati. hlm. Banten) dikaruniai dua anak.57 Silsilah Syarif Hidayatullah dari jalur ayah sampai pada Rasulullah SAW.1 Tahun 2012 . Syarifah Mudaim). pernikahan pertama dengan Retna Pakungwati (Putri Pangeran Cakrabuana) dikaruniai dua anak. karena Ong Tien meninggal dunia. (Bandung: Pustaka. alih aksara dan bahasa Amman N. 756-757 58 Naskah Kuningan. 2007). keempat dengan Dewi Kawunganten (Putri Ki Gedeng Kawunganten..

dan Naqsyabandiyah. 59 Guru dan Ajaran Syarif Hidayatullah Menurut Bruinessen. Syarif Hidayatullah juga belajar Tarekat Syattariyah. (Dalam hidup ini. sira aja ngebat-tebat. Istika‟i. Bruinessen. Bandingkan dengan Naskah Mertasinga. janganlah kamu bertindak berlebihan. hlm. 2007) Jumantara Vol. hlm. “Perkara lampah kang katiti. yaitu tarekat yang dihubungkan dengan nama Najamuddin al-Kubra. Wahju. Bruinessen juga berpendapat bahwa Syarif Hidayatullah merupakan penganut Tarekat Kubrawiyah. itulah hal yang nyata dan lakukanlah hal itu dengan teguh). III.60 Adapun beberapa ajarannya melalui pesan. Setelah itu. “Mapam kita iki ing ngahurip. Yen ngucap kang satuhu. Martin van. demikian hingga akhir hidup. antara lain sebagai berikut: Pesan Syekh Najmuddin Kubra kepada Syarif Hidayatullah61. dalam babad-babad tentang Syarif Hidayatullah diceritakan bahwa sebelum kepergiannya ke tanah Jawa. (Bandung: Pustaka. 1999) cet. Syarif Hidayatullah berguru kepada Ibnu Atha‟illah al-Iskandari al-Syadzili selama dua puluh tahun di Madinah dan ia mendapat bayaran karena menjadi penganut Tarekat Syadziliyah. bicaralah yang jujur dan jangan melawan hokum dari Yang Maha Esa. lan aja nyerang hukuming Widhi. Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat.Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Syarif Hidayatullah telah mendalami akidah. Den 59 60 Ibid. Qadiriyah. yang dalam Babad Cirebon selalu disebutsebut. 223-245. syari‟ah. TradisiTradisi Islam di Indonesia (Bandung: Mizan. Kalau bicara. Pesan Syekh Athaillah di Sadili kepada Syarif Hidayatullah.1 Tahun 2012 113 . bahkan tasawuf dengan tarekatnya. sira aja angebat-tebat ing laku den teka patine. alih aksara dan bahasa Amman N. iku samono kang nyata den kukuh laku iku”. 23 61 Naskah Mertasinga dalam Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. 3 No.

untuk mendalami apa yang dinyatakan Sunyoto. menyebutnya dengan “. 164 114 Jumantara Vol. Kemajuan Islam pada era Syarif Hidayatullah tidak berhenti pada terbentuknya pusat pemerintahan di bawah pimpinan 62 63 Sunyoto. maju sangat pesat. dan perdagangan. lakukanlah tapa di tengah ramainya manusia. Pan sira aja susah tatapa ing gunung utawa guane iku dadi takabur. hanya itulah langkah yang sejati). Sunyoto (2011) dalam analisisnya tentang pendidikan dan pengembangan keilmuan Syarif Hidayatullah. seperti di atas. Lan duwea muhung. khusus mengenai guru dan ajaran Syarif Hidayatullah. Sira laku tapaha maring ingkang remening jalma. 2009).basaja sira iku. Iku lampah kang sampurna jati. 156 Tjandrasasmita. (Mengenai langkah yang harus dijalani. bidang politik..diwarnai cerita-cerita absurd yang perlu penafsiran untuk mengetahui kebernaran historisnya”. sira aja ilok anglaluwih ing padaning manusa. Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikanmu takabur. Pada masa itu pula berlangsung penyebaran Islam ke Banten (sekitar 1525-1526) melalui penempatan salah seorang putra Syarif Hidayatullah. janganlah kamu berlebihan. Bukti Kejayaan Pada Era Syarif Hidayatullah Periode Syarif Hidayatullah (1479-1568) memimpin Cirebon merupakan masa perkembangan sekaligus masa kejayaan Islam di Cirebon. Uka. Arkeologi Islam Nusantara. Mung semana lampah ingkang sejati”. Milikilah sikap luhur dan maafkan orang yang salah. jangan sombong dalam bicara dan jangan berlebihan terhadap sesame manusia..1 Tahun 2012 . Pada masa itu. penguasa kadipaten dari Kerajaan Sunda Pajajaran yang berkududukan di Banten Girang. keagamaan. (Jakarta: Pustaka Gramdia. Wali Songo. Maulana Hasanuddin.62 Memang penelitian ini perlu dilanjutkan lagi. 3 No.63 Peristiwa itu terjadi setelah keruntuhan pemerintahan Pucuk Umum. aja langguk ing wicara. hiduplah dengan bersahaja. hlm. Itulah langkah sempurna yang sejati. hlm. Wong kang luput den ampura.

khususnya masjid.Wilayah Kekuasaan Syarif Hidayatullah 1479-1568 - Tajug dan (atau) Masjid Pendirian tempat ibadah. yaitu yang bersifat rohaniah seperti penyebaran Islam. seperti yang tampak dalam gambar. tetapi pengembangan juga dilakukan ke arah Priangan Timur. Bukti-bukti kejayaan Syarif Hidayatullah di Cirebon. Krawang.1 Tahun 2012 115 . yaitu Indramayu. graha artinya rumah). Tangerang. . masjid Pejalagrahan. juga dapat dilihat pada perkembangan bangunan fisiknya. Jumantara Vol. Bekasi. dan pelabuhan yang saat ini tidak seramai dahulu lagi. telah dilakukan sejak Islam masuk di Cirebon. 3 No. Kraton Pakungwati. Masjid ini merupakan masjid pertama di tatar Sunda dan didirikan di pesisir laut Cirebon. Pangeran Cakrabuana mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Sang Tajug Jalagrahan (jala artinya air. kemudian Talaga (tahun 1530). dekat Muara Cibanten. selain terlihat dari sisi keagamaannya. seperti Tajug (Masjid). Sampai saat ini masjid tersebut masih terpelihara dan dikenal dengan nama dalam dialek Cirebon. antara lain ke Kerajaan Galuh (tahun 1528). Jika dipetakan.Maulana Hasanuddin yang terletak di Surosowan. saat ini berada di Kasepuhan. wilayah perkembangan Islam pada era itu. Untuk kepentingan ibadah dan pengajaran agama Islam. dan Serang (Banten).

yaitu sekitar tahun 1480. Bagian dalam masjid digunakan hanya untuk waktu-waktu khusus. dan dihiasi piring keramik dari Cina. terbitan Suleman Sulendraningrat. Kasepuhan. 116 Jumantara Vol. dibangun sesudah masjid Merah Panjunan. berbentuk undukan bata. Sunan Gunung Jati. menurutnya. seperti ditulis Dadan Wildan.64 Selain itu. sebelum masjid Agung Sang Cipta Rasa didirikan. yaitu bangunan dalam dan luar. Bagian dalam Masjid Merah Panjunan. 3 No. hlm. masjid Agung Sang Cipta Rasa. sedangkan bagian luar berfungsi untuk salat maktubah. Bangunan kedua masjid terbagi menjadi 2 (dua). 45 65 Wawancara Agustus 2011 di Masjid Merah Panjunan Cirebon. yang sampai hari ini diakui keberadaannya. terdapat beberapa bangunan masjid yang dibangun pada masa Syarif Hidayatullah. di dinding bagian pengimaman terdapat lukisan khusus.bertempat di dalam Kraton Pakungwati. Berbeda dari informasi yang berkembang di masyarakat. para walisongo sering mengadakan rapat di dalam masjid untuk membicarakan beberapa hal penting urusan umat. 65 Sebagaimana ciri khas masjid Cirebon lainnya. bagian dalam hanya digunakan untuk Salat hari raya („Ied). tempat pengimaman hanya digunakan salat idul fitri dan idul adha 64 Babad Tanah Sunda. Menurut salah seorang takmir masjid.1 Tahun 2012 . Masjid tersebut dibangun sekitar tahun 1454. yakni masjid Merah Panjunan dan masjid Agung Sang Cipta Rasa. Khusus untuk Masjid Merah Panjunan.

Mesjid Merah Panjunan Mesjid Merah Panjunan Kejayaan era Syarif Hidayatullah juga terlihat dari keberadaan sebuah bangunan masjid yang bernama Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang saat ini berada dalam lingkungan kompleks Kraton Kasepuhan. Masjid itu dibangun tahun 1549 atau seperti yang tertulis dalam candrasangkala yang berbunyi Waspada Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012 117 .

Berbagai perubahan sistem pemerintahan yang berdasarkan nilai-nilai Islam mulai diterapkan. mulai dengan alun-alun dan istana yang kemudian terkenal dengan nama Istana Pakungwati (Pupuh 18.1 Tahun 2012 . Panembehe = 2. Nama lain masjid ini adalah Masjid Pakungwati. 123 67 Babad Cirebon. 1982). Syarif Hidayatullah tinggal di Kraton Pakungwati. xxviii 68 Adeng .dkk.). Dhandhanggula)67 Sejak serah terima dari Pangeran Cakrabuana. Yuga = 4. Hadisutjipto (Jakarta: Depdikbud.Z. hlm. Ratu = 1. Syarif Hidayatullah di akhir hayatnya lebih memilih untuk menjadi seorang ulama daripada penguasa pemerintahan.66 Bentuk bangunan dan simbol-simbol dalam masjid semuanya sarat dengan makna filosofis. hlm. Hal itu pula merupakan konskuensinya sebagai anggota penting Walisongo. Tetapi menurut Naskah Mertasinga. 83. Masjid Agung dibangun ketika Syarif Hidayatullah berumur 113 tahun atau sekitar 1561. jadi 1422 caka. Naskah Mertasinga. Simbol bangunan masjid melambangkan filsafat Hayyun ila Ruhin (hidup tanpa ruh). Sebagai bagian dari Walisongo. 1979). alih aksara dan ringkasan S. 3 No. Baginya. kekuasaan cukup dijalankan oleh putranya di Banten.Penenbehe Yuganing Ratu. Abdurrachman (penyunt. hlm. 34-35 118 Jumantara Vol. yang bermakna 1500. (Jakarta: Depdikbud.68 66 Waspada = 2. Paramita R. Cerbon. 1998). Pesarean merupakan putra Syarif Hidayatullah dengan Nyai Tepasari. Keaktifan dakwah Islam Syarif Hidayatullah tidak membuatnya melupakan penataan pemerintahan di daerah sekitarnya. hlm. Perkembangan Islam secara luas dan massif bermula dari tempat itu. Kraton dan Sistem Pemerintahan Cirebon Sarip Hidayat menikah dengan Pakungwati dan mulailah pembangunan negara (kota) Carbon. Mempertimbangkan hal itu. Kota Dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra. Syarif Hidayatullah sendiri lebih memilih mengkhususkan diri dalam syiar Islam ke daerah pedalaman. (Jakarta: Sinar Harapan. Syarif Hidayatullah menyerahkan kekuasaan pemerintahan di Cirebon kepada Pangeran Pesarean pada kurun waktu 1528-1552.

1 Tahun 2012 119 . maka ia mendapat julukan Pandita Ratu (ulama yang menjadi raja. Kraton Kasepuhan sebagai pintu gerbang menuju Kraton Pakungwati Kraton Cirebon setelah ditinggal Syarif Hidayatullah mengalami Jumantara Vol. 3 No. tetapi lebih giat menjalankan keagamaan daripada bergerak di bidang politik).Masjid Agung Sang Cipta Rasa dari berbagai sisi Pintu Gerbang Masjid Pintu Masuk Masjid Dalem Dengan tidak aktifnya Syarif Hidayatullah dalam pemerintahan.

penyebaran Islam ke daerah Babadan. Pelabuhan Cirebon merupakan pelabuhan yang memiliki peran strategis dalam hal perdagangan sejak masa Syarif Hidayatullah masih berkuasa. Kuningan (Selatan Cirebon). Gelar penguasa Cirebon pernah mengalami beberapa perubahan. 1994) dalam http://eprints.pdf 70 Sigit W.1 Tahun 2012 . Pelabuhan sebagai Pusat Perdagangan Peninggalan Syarif Hidayatullah yang pernah menjadi bagian dari jalur sutra perdagangan dunia internasional adalah pelabuhan. Sastra UNDIP. kota Cirebon juga menjadi kota pelabuhan alternatif terpenting di pantai utara Jawa setelah Jakarta dan Semarang. Dari berbagai sumber diketahui. Kapal-kapal asing yang mengangkut barang-barang niaga dari dan ke luar negara pernah meramaikan pelabuhan ini. Pada sore hari. terlebih lagi setelah adanya pengaruh pihak kolonial atau masuknya VOC ke Cirebon. dapat disaksikan puluhan kapal besar tengah bersandar di dermaga. dan Karawang. yaitu Panembahan Ratu dan Sultan.undip. Indramayu. bahwa perubahan nama gelar untuk penguasa di Kraton Cirebon juga menunjukkan adanya dinamika yang luar biasa. Hal itu sejalan dengan perkembangan pesat dari beberapa kerajaan Islam di Jawa dan Banten.unikom.berbagai kemunduran. “Perkembangan Pelabuhan Cirebon 1859 -1930”. Sebagai kota pantai. terjadi dengan damai dan tanpa kekerasan.ac. 3 No. Perkembangan pelabuhan paling pesat terjadi pada abad ke-19. Pelabuhan Cirebon diduga berdiri seiring dengan kelahiran Cirebon pada 1371.70 Menurut Singgih Tri Sulistiono. Mungkin fenomena ini bisa ditafsirkan sebagai upaya Cirebon untuk memperkuat posisinya di bidang perdagangan dan pelayaran dengan cara menguasai daerah pedalaman yang menjadi sumber 69 http://elib.id/22079/ 120 Jumantara Vol.ac. (Semarang: Skripsi Fak. bersamaan dengan berlangsungnya era kolonialisme.id/files/disk1/475/jbptunikompp-gdl-midiansoem-237253-bab2-mid-n..69 Selain itu. Pemandangan itu pun masih dapat ditemui hingga saat ini. Cirebon merupakan pusat perdagangan untuk daerah sekitarnya.

Arkeologi Islam Nusantara.multiply. 71 Pelabuhan Kota Cirebon saat ini Saat ini. seperti beras dan kayu. maka kejayaan Cirebon juga sudah mulai tenggelam. Pengaruh Syarif Hidayatullah di Jawa Sebagaimana disebut di awal pembahasan. Lebih-lebih pada masa pemerintahan Syarif Hidayatullah (1479-1568) yang lebih kurang berusia satu abad.72 Pelabuhan Cirebon inilah salah satu sumber ekonomi terbesar Kraton Cirebon sehingga pihak kraton dapat memenuhi kehidupan masyarakatnya. setiap Sunan dalam Wali Songo mempunyai tugas masing-masing. hlm.1 Tahun 2012 121 . 3 No. yang berarti bahwa pelabuhan Cirebon terbuka bagi kegiatan bongkar muat barang dari dan ke luar negeri atau barang ekspor dan impor.penghasil komoditas perdagangan. 164 http://boykomar. Uka. kota pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon sudah lebih banyak penduduknya dan lebih ramai. pelabuhan samudra dan pelabuhan ekspor impor. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa jika pelabuhan tersebut kurang dimanfaatkan. Seperti disebutkan 71 72 Seperti dikutip Tjandrasasmita.com/photos/album/91/Pelabuhan_Cirebon Jumantara Vol. serta sekaligus tempat mensuplai barang-barang dari luar. Adapun pelabuhan Cirebon dikelola oleh BUMN yang keberadaannya dibawah manajemen PT (Persero). pelabuhan Cirebon berstatus pelabuhan internasional.

bulan.. hingga sistem peradilan yang diperuntukkan bagi orang Jawa. utawi andamel garabah. tugas tokoh-tokoh Wali Songo dalam mengubah dan menyesuaikan tatanan nilai dan sistem sosial budaya masyarakat. saha amewahi ing wangunipun kakapaning kuda. Syarif Hidayatullah di Cirebon mengajarkan tata cara berdoa dan membaca mantra. hlm. kaliyan amewahi parabotanipun ing among tani. sebagai berikut: Susuhunan ing Ngampel-denta handamel pranating agami Islam. Sunan Bonang mengajar ilmu suluk. utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana. amewahi donga hakaliyan mantra. waos duwung sapanunggalanipun. dan perlengkapan kuda. kerajinan emas. Susuhunan ing Majagung amewahi wangunipun ing olah-olahan. saha adamel angger-anggeripun hingga pangadilan hokum ingkang keninging kalampahan ing titiyang Jawi. adalah sebagai berikut: Sunan Ampel membuat peraturan-peraturan yang Islami untuk masyarakat Jawa. amewahi wanguning griya. seperti tandu dan joli. dadaharan hutawi ulam-ulaman. Kanjeng Susuhunan Kudus amewahi dapuripun dadamel. membuat keris. kaliyan amewahi bangsa pepetangan lampahing dinten wulan tahun windu. tahun. serta tata cara membuka hutan. Kanjeng Susuhunan ing Gunung Jati ing Cirebon. tokoh Syarif Hidayatullah dikisahkan memiliki kaitan dengan ajaran sufisme 73 Sunyoto. Susuhunan Majagung mengajarkan mengolah berbagai macam jenis masakan. Sebagai Raja Pandita di Gresik ia merancang pola kain batik. juga merintis pembukaan jalan. tata cara pengobatan. dan menggubah irama gamelan. memperbarui alat-alat pertanian. kaliyan malih amiwiti damel dalan tiyang Jawi. 122 Jumantara Vol. serta membuat gerabah. tandu joli sapanunggalanipun. 90-91. Sunan Drajat mengajarkan tata cara membangun rumah dan membuat alat untuk memikul orang. Kanjeng Susuhunan ing Giri adamel pranatanipun ing karaton Jawi. Dalam bahasa Primbonnya. mengatur perhitungan kalender siklus perubahan hari. dan windu. utawi amewahi lampahing pawukon sapanunggalipun. kaliyan sinjang lurik. dan lauk pauk. sinjang batik.1 Tahun 2012 . Sunan Giri membuat tatanan pemerintahan di Jawa. Kanjeng Susuhunan Bonang. melengkapi peralatan pande besi. membuat gamelan. juga membuat peraturan. kanggenipun ing tiyang Jawi. utawi amewahi lagunipun ing gending. utawi amewahi parabotipun bekakasing pande. kaliyan kemasan. menyesuaikan siklus pawukon. Raja Pandhita ing Gresik amewahi ing polanipun ing sinjang.73 Menurut Serat Walisana. undang-undang. tenun lurik. adamel susuluking ngelmi kaliyan amewahi ricikanipun ing gangsa. utawi tiyang ingkang karembat ing tiyang. seperti disebut Sunyoto.Sunyoto. Sunan Kudus merancang pekerjaan peleburan. Kanjeng Susuhunan Drajat. 3 No.

cet. Setiap teks selalu menawarkan informasi yang tak jarang berbeda dan bertentangan satu teks dengan teks lainnya tentang sosok Syarif Hidayatullah. 2007). tidak ditemukan suatu kitab atau karya akademiknya.74 Dalam Serat Kanda. disebutkan pula dalam Naskah Mertasinga. V. Sebagai tokoh yang lebih memilih dakwah syiar Islam bagi masyarakatnya. sampai dengan tulisan ini dibuat. Sunan Kalijaga.. Syaikh Sbti. Fatahillah. alih aksara dan bahasa Amman N. Syarif Hidayatullah juga ikut dalam perjuangan Islam di Jayakarta melalui utusannya. 100-101 76 Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga). (Yogyakarta: LKiS. Sunan Giri. Syaikh Muhyiddin Ibn „Arabi.75 Keterlibatan Syarif Hidayatullah dengan kerajaan Islam di Demak. 91-92 Slamet Muljana. (Bandung: Pustaka. Syarif Hidayatullah yang hidup pada abad ke-15/16 di Cirebon. hlm. Sebagai sosok historis. Wahju. antara lain rapat Wali Songo pernah dipindah dari Demak ke Cirebon untuk membicarakan banyak hal di Jawa. 2007).1 Tahun 2012 123 . sering pula dinisbatkan pada ajaranajaran Wali Songo.. Syarif Hidayatullah telah menanamkan suatu 74 75 Sunyoto. Syaikh Abu Yazid Bustomi. daripada sebagai penguasa formal birokratis di kesultanan Cirebon. dan Syekh Siti Jenar. khususnya Syarif Hidayatullah. seperti dikutip Muljana. 3 No. Perkembangan Tarekat Syattariyah dan Akmaliyah. Ibid.76 Menurut sumber lain. Abad tersebut. 72-88 Jumantara Vol. Bukti kedekatan pengaruh juga ditunjukkan dengan pola pernikahan putra putrinya. Syaikh Rudadi.melalui kitab-kitab Syaikh Ibrahim Arki. hlm. dan Syaikh Samangun Asarani. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya NegaraNegara Islam di Nusantara. bersamaan dengan masa renaisans di Eropa dan kehadiran para pemikir besar muslim pada masanya. intelektual dan muballig. Kesimpulan Mengkaji teks Syarif Hidayatullah sungguh mengasikkan. terdapat berita bahwa Sunan Cirebon ikut serta membangun masjid Demak sebagai salah satu di antara Sembilan wali. hlm. Begitu pula dengan keterlibatannya dengan kerajaan Islam di Banten. Sekurangnya terdapat beberapa peristiwa besar di Demak.

peradaban moral dan teologis bagi muslim Indonesia terutama di Cirebon. Adanya kerajaan Islam di Demak dan Banten merupakan beberapa contohnya. mulai dari Kuningan. De & Th. Pigeaud (2003). Kota Dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra. Graaf. Disertasi. Bruinessen. Jakarta: Depdikbud. Cet.1 Tahun 2012 . Garut. Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat. Indonesia”. Matthew Isaac (1997). Wallahu a‟lam bis sawab Bibliografi Adeng. Cohen. Pengaruh Syarif Hidayatullah terhadap perkembangan Islam di Jawa sangat besar sekali. Skripsi UNES Semarang. (1998). Sumedang. Darkum (2007). Karena itu. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Martin van (1999). 3 No. bahkan Jayakarta (Betawi). Bandung: Mizan. barangkali merupakan sebagian di antara bukti peradaban muslim klasik Indonesia dari Syarif Hidayatullah selama kurun waktu 1479-1568 di Cirebon. Ciamis. “Peranan Walangsungsang dalam Merintis Kesultanan Cirebon 1445-1529”. Indramayu. Penyunting Eko Endarmoko dan Jaap Erkelens. Atja (1974). Majalengka. bukti kejayaannya dapat ditemukan melalui bangunan tajug atau masjid dengan keragaman seni dan filosofinya. 124 Jumantara Vol. Yale University. Jakarta: Ikatan Karyawan Meseum. Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia. Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Masjid Merah Panjunan. Cianjur. “An Inheritance from the Friends of God: The Southern Shadow Puppet Theater of West Java. Tak kalah pentingnya lagi kontribusi Syarif Hidayatullah pada perkembangan Islam di Jawa Barat dengan cara dakwah dengan damai. HJ. Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. dkk. III. Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah muladjadi Tjirebon).

N. “Beberapa Catatan Mengenai Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinja”. (penyunt. K. Paramita R. Bandung: Geger Sunten. Iskandar. Yoseph (2008) Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakwasa). Abdullah Mustofa (2001) Pakar-Pakar Fiqh Sepanjang Sejarah. Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Pertumbuhan Pesantren. Jakarta: Djambatan.Y. Denzin. Jakarta: Bhratara. Yogyakarta: LKPSM. United States: Sage Publications Inc. P. Penterj. Masa Awal Kerajaan Cirebon. Yogyakarta. Munandar.A. Mastuki HS. Siddique. Jakarta: Depdikbud.) (1982). dalam R. Hoesein (1974). X. dalam Susanto Zuhdi. 3 No. El-Saha. Jakarta: Bhratara. Kern. Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra. dalam R. Zaenal (2010) “Pemerintahan Kota Cirebon (19061942)”. Cerbon. Cet. Masa Awal Kerajaan Cirebon. R. Nugroho Notosusanto. seperti dikutip dalam Marwati Djoened Poesponegoro.Djajadiningrat. dan M. (1974) “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinya”. Kern dan Husein Djajadiningrat.A. Relics of the Past: Sociological Study of the Sultanates of Cirebon West Java. Agus Aris dan Titik Pudjiastuti (1997) “SumberSumber Tekstual tentang Sejarah Cirebon”. II. Tim IAIN Syarif Hidayatullah (2002) Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid I A-H. Universitas Gajah Mada. Kern dan Husein Djajadiningrat. Sharon (1992). al-Maraghi. Jakarta: Diva Pustaka. & Lincoln S. Abdurrachman. Masduqi. Jakarta: Sinar Harapan.A. Tesis. (2000) Hand Book of Qualitative Research.1 Tahun 2012 125 . Cet.A. Sejarah Nasional Indonesia: Jaman Jumantara Vol.) (2003). Ishom (edit. Husein Muhammad.

Sulendraningrat. Sunyoto.id/22079/ Yenne. Uka (2009) Arkeologi Islam Nusantara. Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural. Cirebon: Yayasan Keraton Kasepuhan Cirebon. 100 Peristiwa yang Berpengaruh di dalam Sejarah Dunia (100 Events That Shaped World History). Dadan (2002). Jakarta: Pustaka Gramedia. Jakarta: Balai Pustaka. Bill (2005). Karya. Tjandrasasmita. Mistikus Islam: Ujaran-ujaran dan Karyanya. _______ (2004) Membumikan Wasiat Sunan Gunung Djati Dalam Membangun Jawa Barat Bermartabat. penterj. terbitan Suleman Sulendraningrat dalam Dadan Wildan. [t. Suprapto. Penterj. Sigit W (1994) “Perkembangan Pelabuhan Cirebon 1859-1930”. Surabaya: Risalah Gusti.undip. 3 No. Jakarta: Gramedia. Sejarah Cirebon. Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan 126 Jumantara Vol. Suntingan/Terbitan Naskah Babad Tanah Sunda. Wildan.Pertumbuhan dan Perkembangan III. Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup. Smith. Bandung: Remaja Rosda Karya. Suprayogo dan Tobroni. Agus (2011). Imam (2001).ac. Jakarta: Transpustaka. Bibit (2009). dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara. Jakarta: Balai Pustaka.k. Tulisan dapat diakses di http://eprints.]: Karisma Publishing Group.1 Tahun 2012 . Ribut Wahyudi. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan. Metodologi Penelitian Sosial-Agama. Fakultas Sastra UNDIP. Skripsi. PRA (1985). Lili Sri Padmawati. Margaret (2001). Bandung: Humaniora.

go. Wahju.com/2010/12/kisah-sejarah-kotacirebon. 1979) Naskah Mertasinga.nusawarta.webs.pdf http://www. (Bandung: Pustaka.kemdiknas.1 Tahun 2012 127 . alih aksara dan ringkasan S. terbitan Suleman Sulendraningrat dalam Dadan Wildan. 3 No.html http://indahartgallery. Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural.multiply.id/files/disk1/475/jbptunikompp-gdlmidiansoem-23725-3-bab2-mid-n. 2002) Babad Tanah Sunda. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.id/kbbi/index.com/keraton.Z.php http://boykomar.unikom.htm Jumantara Vol. (Bandung: Humaniora.ac. 2002) Babad Cirebon. Wahju.Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural. (Bandung: Pustaka. alih aksara dan bahasa Amman N. Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Hadisutjipto (Jakarta: Depdikbud. 2005) Naskah Kuningan.com/photos/album/91/Pelabuhan_Cireb on http://elib. (Bandung: Humaniora. 2007) Website http://pusatbahasa. alih aksara dan bahasa Amman N.

Abstrak Tulisan ini berupaya memaparkan hasil identifikasi naskah berbahan daluang dengan menggunakan dua metode. kadar asam dan jenis kerusakan naskah. panjang serat. Kata Kunci: Identifikasi. digunakan beberapa alat bantu identifikasi agar hasilnya lebih terukur. Dua metode tersebut digunakan untuk identifikasi bahan naskah gulungan koleksi Cagar Budaya Candi Cangkuang (CBCC). Dalam hal metode pengamatan langsung. Adanya kemungkinan penggunaan metode dan hasil identifikasi bahan naskah daluang tersebut diharapkan dapat memperkaya metode kajian naskah dan mempertajam analisis filologis selanjutnya. Bahan Naskah. Karakteristik bahan naskah yang dihasilkan berupa ketebalan bahan. yaitu pengamatan langsung dan uji sampel di laboratorium. Adapun uji sampel di laboratorium mengacu pada Standard Nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional Indonesia (BNSNI) sehingga hasilnya lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. warna bahan. Candi Cangkuang *) Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia 128 Jumantara Vol. Daluang. 3 No. jenis serat.1 Tahun 2012 .

2 buah berbahan saéh. fisik naskah adalah medium yang mewadahi teks sebagai kandungannya (Baried. terdapat pula kekeliruan dalam pendeskripsian bahan naskah pada materi pameran tetap di BPMNSBJB. Medium dalam naskah dapat dibedakan pula atas dua hal. 2001: 18-20. yaitu bahan dan teknik. Kabupaten Garut. yang menyatakan bahwa dari 137 buah koleksi naskah yang ada terdaftar. pengenalan karakteristik bahan. Provinsi Jawa Barat. di antaranya Lubis (1996:37) yang menyatakan bahwa “daluang adalah kertas yang digunakan di Pulau Jawa yang terbuat dari kulit kayu sebagai campuran”. Dalam hal ini digunakan tiga istilah untuk satu jenis bahan naskah yang sama. Naskah berbahan daluang dideskripsikan sebagai naskah berbahan kulit kambing. Contoh kesalahan dalam pendeskripsian naskah yang memakai daluang sebagai bahannya adalah pendeskripsian bahan naskah pada koleksi Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga Jawa Barat (BPMNSBJB). yaitu naskah Babad Pajajaran yang kemungkinannya besar berbahan daluang dideskripsikan sebagai naskah berbahan kulit binatang. Dalam identifikasi naskah. Sudardi.Pendahuluan Naskah dibedakan atas adanya fisik dan kandungan teks. bisa jadi disebabkan oleh hilangnya tradisi pembuatan daluang. dan aspek-aspek lainnya. yang pertama kali dapat dilakukan di antaranya adalah pendeskripsian medium. Kasus serupa terjadi pada pendeskripsian naskah gulungan CBCC di Kecamatan Leles. Terjadinya kesalahan dalam identifikasi naskah berbahan daluang. Sudjiman. Namun patut dicatat bahwa masih terdapat beberapa kekeliruan dalam memahami daluang. dan daluang saéh.1 Tahun 2012 129 . 3 No. baik dari segi peristilahan. 1994: 11). 1985: 4-5. yang secara otomatis Jumantara Vol. daluang merupakan salah satu dari sekian banyak bahan naskah yang digunakan dalam tradisi tulis Nusantara. Di samping itu. saéh. dan 1 naskah berbahan daluang saéh. 74 buah di antaranya berbahan “daluang”. yaitu daluang. Terkait dengan bahan naskah.

Kemasan naskahnya terdiri dari dua bentuk. berupa buku (binding) dan gulungan (scroll). Kini banyak orang. dan aksaranya sudah tidak terlalu jelas. Buruknya kondisi naskah-naskah berbentuk buku bisa jadi disebabkan oleh tingginya tingkat penggunaan pada masa naskah itu digunakan atau karena kurang baiknya teknik penjilidan. 3 No. tidak mengenal wujud dan ciri-ciri daluang dengan baik. Dalam hal ini peran kajian kodikologi untuk mengenali bahan. naskah gulungan kondisinya lebih baik. sehingga menyulitkan ketika akan dibaca. daluang sebagai bahan naskah yang dihasilkan oleh tradisi tulis Nusantara menjadi penting untuk dikaji lebih lanjut. dan perawatan naskah.1 Tahun 2012 .menyebabkan informasi mengenai daluang menjadi terputus. berjamur. Adapun informasi mengenai koleksi naskah CBCC dapat dilihat pada buku Cagar Budaya Candi Cangkuang dan Sekitarnya yang disusun oleh Zaki Munawar (2002). termasuk para petugas yang menangani naskah. Kondisi fisik naskah berbentuk buku umumnya sudah mulai rusak (dari enam belas naskah hanya tiga naskah yang kondisinya masih cukup baik). lima belas buah naskah berbentuk buku disimpan berjajar dalam dua lemari kaca dan dua naskah disimpan terpisah dalam sebuah lemari kaca lainnya. atau karena kurang baiknya pemeliharaan masyarakat pendukung berikutnya. lembar halamannya terurai dari jilidannya sehingga halaman demi halamannya tercecer. lembab. Sehubungan dengan hal itu. Berbeda dengan yang berbentuk buku. bahkan dalam berbagai katalog naskah pun belum tercantum. teknik. termasuk di dalamnya naskah berbentuk gulungan. Naskah-naskah koleksi CBCC disimpan di tiga lemari kaca yang berbeda. 130 Jumantara Vol. serta fungsinya diperkirakan dapat memberi jalan bagi pendalaman kajian terhadap naskah serta pengembangan bagi disiplin ilmu filologi. naskah CBCC ternyata belum banyak diteliti. penyimpanan. Naskah koleksi CBCC seluruhnya berjumlah tujuh belas naskah dan seluruh bahan naskahnya diperkirakan berupa daluang. Di antara sekian banyak naskah yang berhasil dihimpun dalam berbagai katalog naskah Nusantara.

lembarannya relatif masih utuh, tidak terlalu lembab, tidak terlalu berjamur, dan aksaranya terlihat jelas sehingga memudahkan pembacaan teks. Kondisi naskah berbentuk gulungan yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi naskah berbentuk buku mengundang beberapa pertanyaan, di antaranya: apakah naskah yang dikemas dalam bentuk gulungan lebih baik daripada naskah berbentuk buku atau apakah ada kaitan antara bahan naskah dan bentuk kemasan naskah dengan tingkat kekuatan fisik naskah?

Gambar 1. Tampak kerusakan naskah berbentuk buku koleksi CBCC. (dok. pribadi)

Naskah gulungan koleksi CBCC mempunyai ukuran 176 X 23 cm., kedua permukaannya ditulisi dengan teks beraksara Arab,; tinta yang digunakan untuk menuliskan aksara berwarna hitam dan tinta yang digunakan untuk menuliskan tanda baca berwarna merah. Identifikasi bahan naskah gulungan koleksi CBCC pada dasarnya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan berdasarkan pengujian di laboratorium. Pengamatan secara langsung di lapangan dapat dilakukan dengan bantuan alat ukur dan peralatan lainnya yang

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

131

diperlukan. Alat ukur yang digunakan di lapangan memberikan hasil ukur secara langsung, seperti panjang dan lebar bahan naskah, ketebalan bahan naskah, warna bahan naskah, jenis aksara, dan warna tinta tulis yang digunakan. Adapun pengujian bahan di laboratorium dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan laboratorium dan didasarkan pada metode dan standar yang sudah diakui secara nasional, yaitu SNI. Pengamatan Langsung Pengamatan terhadap bahan naskah gulungan koleksi CBCC yang bisa dilakukan secara langsung di lapangan adalah berupa pengukuran dimensi panjang dan lebar bahan naskah dengan menggunakan mistar, pengukuran ketebalan bahan naskah dengan menggunakan mikrometer digital, dan pengukuran warna dengan menggunakan tabel warna; di samping itu dilakukan pula pengambilan gambar dengan menggunakan kamera digital untuk keperluan dokumentasi penelitian. Setelah dilakukan pengukuran, hasilnya menunjukkan bahwa ukuran bahan naskah adalah 176 X 23 cm., sama dengan informasi yang diberikan oleh juru pelihara CBCC. Ukuran bahan naskah seperti itu termasuk jarang digunakan dalam penulisan naskah, hal ini dapat di antaranya dapat dilihat pada data dalam Katalogus Naskah Sunda (1988), yang menunjukkan bahwa naskah-naskah Sunda umumnya mempunyai ukuran di bawah ukuran bahan naskah gulungan koleksi CBCC dan umumnya berbentuk buku. Kelangkaan ukuran bahan naskah tersebut juga dapat mengindikasikan bahan baku yang digunakannya. Dalam hal ini bisa diyakini bahwa naskah gulungan koleksi CBCC bukan terbuat dari kulit kambing seperti yang dideskripsikan oleh petugas juru pelihara CBCC, berangkat dari asumsi panjang kulit kambing dari bagian leher sampai dengan bagian ekor berkisar antara 90 sampai dengan 120 cm. Di samping itu tidak terdapat bintik-bintik bekas pori-pori dan bekas tumbuhnya bulu seperti pada lembaran kulit binatang pada umumnya. Serat pembentuk

132

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

lembarannya pun serat panjang seperti halnya serat pembentuk lembaran kulit kayu. Mengenai kepastian jenis serat pembentuk bahan, selanjutnya akan dipastikan melalui uji laboratorioum.

Gambar 2. Tampak serat pembentuk bahan naskah NGCBCC. (dok. pribadi)

Mengenai ketebalan bahan naskah gulungan koleksi CBCC, setelah dilakukan pengukuran ternyata bahwa ketebalan bahannya tidak sama, paling tipis adalah 0.29 mm dan paling tebal adalah 0.48 mm. Berpijak pada adanya variasi ketebalan bahan dan dikaitkan dengan jenis serat pembentuk lembaran yang diduga berasal dari serat kulit kayu, maka dapat dipastikan bahwa bahan naskah gulungan koleksi CBCC dibuat secara tradisional; bukan dibuat secara modern dengan menggunakan mesin pembuat kertas yang dapat menghasilkan kertas dengan ketebalan yang sama karena dibentuk oleh sebuah mekanisme pembentuk lembaran (sheet former) yang presisi. Dengan adanya kenyataan serat pembentuk bahan naskah berupa jenis serat panjang yang berasal dari kulit kayu, penentuan bahan naskah pun bisa dirujuk pada adanya daluang sebagai bahan naskah Nusantara. Mengenai warna bahan naskah gulungan CBCC, agar

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

133

keterukurannya lebih akurat, maka pengukuran warna disandarkan pada tabel warna C/M/Y/K. Setelah diukur secara acak berdasarkan kesamaan dan perbedaan warna yang mencolok, didapatkan hasil ukur warna dengan pola (1) 10/20/50/0, (2) 40/40/50/0, (3) 5/5/50/0, (4), 5/20/50/0 (5), 0/10/50/0, dan (6) 5/10/50/0. Jika keseluruhan pola warna tersebut dikonversikan ke tabel warna yang dikeluarkan oleh Winsor & Newton, maka warna bahan naskah gulungan CBCC dapat termasuk ke dalam warna naples yellow, yellow ochre, atau raw sienna.

Gambar 3. Tampak pengukuran ketebalan kertas - 0.29 mm. (dok. pribadi)

Gambar 4. Tampak nilai warna pola 1. 10/20/50/0 (dok. pribadi).

134

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Kepala Bidang Pengujian. 3 No. jika pada saat pembuatan warna bahan naskah adalah sama. pengujian daya serap Jumantara Vol. atau raw sienna (dok. Gambar 5. berdasarkan informasi studi lapangan yang dilakukan pada tanggal 3 Pebruari 2011 di Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) yang berlokasi di Jalan Raya Dayeuhkolot 132 Bandung.2-2010. Hasil Uji Laboratorium Untuk melakukan identifikasi bahan naskah di labotatorium. yaitu: pengujian pH didasarkan pada SNI 14-0479. dan (6) ketahanan lipat.1 Tahun 2012 135 . dan Kalibrasi.Adanya perbedaan atau gradasi warna yang terdapat pada naskah gulungan CBCC menunjukkan bahwa. Sertifikasi. Seluruh pengujian tersebut metodenya didasarkan pada standar yang telah ditetapkan BSNI. yellow ochre. maka perbedaan warna yang dapat disaksikan saat ini adalah perbedaan warna yang dihasilkan atau diakibatkan oleh perjalanan waktu serta perlakuan terhadap naskah itu sendiri. (4) daya serap tinta atau penetrasi minyak IGT. (2) jenis serat. Nina Elyani. pengujian panjang serat didasarkan pada SNI ISO 16065. pribadi). menyatakan bahwa bahan naskah gulungan koleksi CBCC dapat diidentifikasi berdasarkan uji atas (1) pH atau kadar asam. pengujian jenis serat didasarkan pada SNI 0441-2009. (5) daya serap air atau Cobb 60.2-1998. (3) panjang serat. Tampak hasil konversi warna bahan NGCBCC yang menunjuk pada warna naples yellow.

3 No. ternyata masih terdapat peluang untuk melakukan uji pH atau kadar asam. dan pengujian ketahanan lipat didasarkan pada SNI 0491-2009. dan panjang serat bahan naskah karena contoh bahan naskah yang diperlukan untuk pengujian tersebut tidak terlalu besar. Etika keilmuan filologi juga tidak memperkenankan untuk pengambilan bahan naskah karena akan merusak naskah itu sendiri. Ukuran minimun bahan untuk uji kualitas tersebut nampaknya tidak dapat dipenuhi karena naskah gulungan CBCC merupakan benda koleksi dilindungi oleh Undang-Undang Cagar Budaya. yaitu sekitar 1 X 1 cm untuk uji kadar asam dan 1 X 1 cm untuk uji jenis serat dan panjang serat. Untuk melakukan uji kualitas bahan naskah diperlukan bahan atau sampel dengan ukuran minimum 15 X 20 cm yang akan hancur setelah proses pengujian berlangsung. yang selanjutnya disebut sampel utama. pengujian daya serap air didasarkan pada SNI 0449-2008. (dok. Sampel bahan diambil dari bagian naskah gulungan CBCC yang koyak. penentuan jenis serat.tinta didasarkan pada SNI 14-9584-1989. Namun demikian. Tampak bagian ujung bahan naskah yang koyak.1 Tahun 2012 . Gambar 6. Keberadaannya harus senantiasa dijaga dan harus tetap berada di lokasi CBCC. dengan 136 Jumantara Vol. pribadi) Pengujian kadar asam serta penentuan jenis dan panjang serat bahan naskah gulungan CBCC menjadi sangat penting untuk dilakukan karena melalui pengujian ini akan dapat diketahui apakah bahan naskah tersebut termasuk kertas yang kuat.

dan skala pH 14 menunjukkan derajat basa.permanensi (kekuatan) dan durability (ketahanan) tinggi. baik dari dalam maupun dari lingkungan sekitarnya. dinyatakan bahwa ukuran terpenting yang menjadi penentu kertas bersifat permanen adalah kadar pH. “unsur asam atau lignin. Permanensi berhubungan dengan stabilitas kimia kertas. contohnya goresan dan lipatan.1 Tahun 2012 137 . yaitu kadar keasaman atau kebasaan suatu kertas dengan skala 0 – 14. skala pH 7 menunjukkan sifat netral. dalam Lukman (2009: 56). lignin juga merupakan kandungan dari serat kayu itu sendiri. atau bahkan sebaliknya seperti yang dipaparkan Lukman (2009: 55). “permanensi adalah kemampuan kertas untuk tetap stabil dan tahan terhadap aksi kimia. di mana skala pH 0 menunjukkan derajat asam. 3 No. pada dasarnya merupakan salah satu bahan baku pembuatan kertas dan sudah dipergunakan sejak kira-kira seratus tahun yang lalu. potassium alumunium sulphate untuk penghalus permukaan kertas (bahan kimia dalam proses pembuatan kertas pabrikan) dan penggunaan tinta tulis yang mengandung unsur iron gallotannate (garam besi) juga merupakan faktor yang dapat menyebabkan tingkat keasaman (acid sulfurik) bahan naskah menjadi tinggi”. mengenai unsur asam pada yang terdapat dalam kertas (termasuk daluang). Di samping lignin. ketahanan (durability) merupakan sifat ketahanan kertas terhadap perlakuan fisik yang dapat menyebabkan rusaknya kertas. Wan Mamat (1988:62--63) memaparkan bahwa. penggunaan zat-zat kimia seperti clorine untuk pemutih kertas. sedangkan ketahanan berhubungan dengan kekuatan fisik. Jumantara Vol. Selanjutnya.” Adapun menurut Harvey. Sementara itu.

1 Tahun 2012 . pribadi) Berdasarkan laporan hasil uji atas ketiga sampel yang dikeluarkan BBPK tertanggal 17 Pebruari 2012. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood. di sekitar lokasi CBCC. dan hasil uji panjang serat sepanjang 3. agar didapatkan gambaran mengenai kualitasnya guna pemanfaatan praktis selanjutnya.3 ± 3. daya serap air permukaan atas 15.575 mm. Tampak bahan naskah sampel pembanding dan daluang hasil rekonstruksi. dari sampel pembanding didapatkan hasil uji pH sebesar 5. Sampel ini selanjutnya disebut sampel pembanding.725 mm. dan hasil uji panjang serat sepanjang 2. dan daya serap air permukaan bawah 17. ditemukan naskah yang bahannya diperkirakan sejenis dengan bahan naskah gulungan koleksi CBCC.6.81 ± 0. daya serap tinta permukaan 138 Jumantara Vol.2 ± 9. Gambar 7.02. Di samping itu.5 ± 2. adapun dari sampel rekonstruksi didapatkan hasil uji pH sebesar 6. tepatnya di Desa Cangkuang Kecamatan Leles. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood. Zaki Munawwar.1. diuji pula sampel daluang hasil rekonstruksi.9. (dok.82 ± 0.01.7. dari sampel utama didapatkan hasil uji pH sebesar 4.985 mm.1. yang oleh pemiliknya.0 ± 0. hasil uji jenis serat menunjukkan bahwa jenis serat bahan adalah jenis softwood.01.4 ± 2.Secara kebetulan. daya serap tinta permukaan atas 48. dan hasil uji panjang serat sepanjang 2. 3 No.96 ± 0. daya serap tinta permukaan atas 50. diserahkan kepada penulis agar bahannya dapat dimanfaatkan untuk uji laboratorium. daya serap tinta permukaan bawah 53. selanjutnya disebut sampel rekonstruksi.

kelembaban ruangan pada RH 50 ± 2 %.4 Tabel 1.81 ± 0.0 ± 3.2. Parameter Satuan Sampel Utama 1 pH Jenis serat Panjang serat Penetrasi minyak IGT .Arah serat -Silang serat 4246 ± 935 496 ± 333 g/m2 g/m 2 Sampel Pembading 5. ketahanan lipat arah serat sebesar 4246 ± 935.4 ± 2.Bottom side 5 Cobb 60 .5 ± 2. berikut ini adalah tabel hasil uji dimaksud. Hasil Uji No.Top side .5 ± 29.Bottom side 6 Ketahanan Lipat .727 2 3 4 - - 48.9 53.5.1 77. Jumantara Vol.01 Softwood 2. sampel pembanding.1 ± 1.1 17.0 ± 3.6 50. Seluruh hasil uji tersebut didasarkan pula pada kondisi ruang pengujian dengan suhu 23 ± 10 C.3 ± 3.bawah 77. dan ketahanan lipat silang serat 496 ± 333.Top side . dan daya serap air permukaan bawah 193.02 Softwood 2.2 - 15.1 Tahun 2012 139 .7 150.0 ± 0. dan panjang serat. Hasil Uji Sampel Bahan Kertas.82 ± 0. jenis serat.01 Softwood 3.4.575 mm 4. Untuk memudahkan pembahasan.1 ± 1. 3 No.2 ± 9.96 ± 0.985 Sampel Rekonstruksi 6.5 193. yaitu pH. daya serap air permukaan atas 150.5 ± 29. dan sampel rekonstruksi. Tabel di atas memuat hasil uji atas tiga parameter yang dapat dibandingkan dari sampel utama.

Tingkat derajat keasaman yang didapat dari perbandingan hasil uji tersebut. di samping menunjukkan tingkat derajat keasaman pada waktu pengujian. panjang serat sampel pembanding 2.01. softwood adalah pengolongan jenis serat untuk kayu dan bukan untuk jenis serat kulit kayu. Selanjutnya untuk jenis serat. sampel utama memiliki derajat keasaman paling tinggi. Ross Harvey.96 ± 0. diikuti oleh sampel pembanding. maka penanganan naskah-naskah koleksi CBCC selanjutnya menjadi sangat penting untuk diperhatikan. jenis serat ketiga sampel adalah softwood. Melihat kenyataan bahwa kadar pH bahan naskah gulungan koleksi CBCC termasuk ke dalam kategori di bawah netral atau cenderung asam. sedangkan untuk sampel rekonstruksi.1 Tahun 2012 .575 mm. maka tingkat penurunan kualitas bahan naskah akan berlangsung dengan cepat dan mengakibatkan kerusakan naskah-naskah itu sendiri.5 agar dapat dikategorikan sebagai kertas permanen.82 ± 0. 140 Jumantara Vol. yaitu hardwood (kayu keras atau kayu daun lebar) dan softwood (kayu lunak atau kayu daun jarum).Derajat pH sampel utama 4. setelah melakukan penelusuran lebih lanjut atas penggolongan jenis serat. dan sampel rekontruksi. Hasil perbandingan atas tiga parameter di atas menunjukkan bahwa untuk derajat pH.985 mm. dan panjang serat sampel utama 2. Menurut Iswanto (2008: 1) dan Sucipto (2009: 1). dan panjang serat sampel rekonstruksi 3. derajat pH sampel pembanding 5. 3 No. dalam Lukman (2009: 59). untuk sampel utama dan sampel pembanding.727 mm. juga menunjukkan tingkat kadar asam pada waktu selesai pembuatan.81 ± 0. secara umum kayu dibagi menjadi dua kelompok. Namun demikian. dan yang membedakan keduanya adalah keberadaan sel pembuluh yang hanya terdapat pada kayu daun lebar. karena jika penanganannya tidak dilakukan secara baik.02. ketiga sampel menunjukkan jenis serat yang sama. secara objektif menunjukkan tingkat derajat keasaman pada waktu pengujian.01. dan derajat pH sampel rekonstruksi 6. menyatakan bahwa kadar pH kertas pada waktu pembuatan tidak boleh kurang dari 6. yaitu jenis softwood.

Semakin panjang sel serat akan memberikan pengaruh yang positif terhadap kekuatan pada kertas. Dengan demikian. panjang serat ketiga sampel di atas. hal ini dikarenakan panjang serat erat hubungannya dengan banyaknya kontak perkesatuan sel. artinya semakin panjang serat. kayu meranti merah 1. 3 No.” Adapun untuk panjang serat.) from Java or Madura. kayu kapur 1. sampel utama memiliki panjang serat yang paling pendek. seperti yang dipaparkan Budi (1995: 105). sehingga kekuatan kertas lebih didasarkan atas exobond dari luas permukaan setiap selnya. masih lebih panjang jika dibandingkan dengan panjang serat dari empat jenis kayu yang diteliti oleh Budi (1995: 103) yaitu. Selain itu kekuatan internal dalam serat atau sel. kayu adalah jaringan xylem dan kulit kayu adalah jaringan phloem. maka akan lebih baik jika digolongkan ke dalam jenis serat kulit kayu (daluang).410 mm. untuk penentuan jenis serat ketiga sampel di atas. Teygeler (1995) menyarankannya dengan menyatakan bahwa “ finally dluwang can be defined as beaten treebark (tapa) of paper – mulberry tree (Broussonetia papyrifera Vent. Batubara (2008) menyatakan bahwa pada dasarnya kulit kayu dan kayu adalah dua bagian yang berbeda.1 Tahun 2012 141 . kedua jaringan ini merupakan pembentuk struktur kayu secara utuh. kayu terap 1. karena dikategorikan sebagai jenis yang sama.” Namun demikian. selanjutnya diikuti oleh sampel pembanding.345 mm. dan sampel rekonstruksi. karena panjang serat berbanding lurus dengan ketahanan lipat dan kekuatan kertas. “Secara umum panjang serat mempunyai peranan langsung terhadap sifat-sifat kekuatan kertas. Selain itu lembaran kertas yang terdiri dari kumpulan sel-sel yang terpisah terikat kembali satu sama lain secara lamai tanpa adanya tambahan bahan perekat. maka kekuatan kertasnya semakin baik.Mengenai kulit kayu. Hal ini dapat menunjukkan bahwa ketahanan lipat sampel utama dan sampel pembanding lebih rendah dari sampel rekonstruksi. Jumantara Vol.413 mm. lebih besar dari pada ikatan antar sel.

Mengenai suhu ruangan untuk penyimpanan naskah. Dengan demikian. Di beberapa tempat penyimpanan koleksi naskah yang sudah maju.1 Tahun 2012 . memungkinkan serat pembentuk lembaran 142 Jumantara Vol. Penyimpanan dan Perawatan Naskah Penyimpanan dan perawatan naskah memerlukan penanganan yang baik. dan kotak yang terbuat dari kertas bebas asam. karena pada dasarnya bahan naskah mudah rusak jika tidak ditangani dengan baik.dan kayu keruing 1. kayu meranti merah. dan kayu keruing. Wan Mamat (1988:57--58) menyatakan bahwa suhu ideal berkisar antara 550F (130C) sampai dengan 650F (180C) dengan kondisi udara yang mengalir. Dengan memperhatikan hal tersebut. karena dalam bentuk gulungan serat-serat pembentuk lembaran bahan akan lebih terjaga dibandingkan jika dikemas dalam bentuk lipatan. Naskah gulungan koleksi CBCC dengan dimensi 176 X 23 cm.689 mm. kekuatan kertas berbahan baku kulit kayu seperti yang terdapat pada ketiga sampel yang diuji di BBPK masih lebih tinggi tingkat kekuatan kertasnya jika dibandingkan dengan kertas berbahan baku kayu terap. rak. kayu kapur. Alat untuk mengatur suhu ruangan dikenal sebagai air conditioning (AC) dan alat untuk mengatur kelembaban dikenal sebagai higrometer. diperkirakan sejak bahan naskah dibuat sampai saat ini. saat ini tampak disimpan dalam sebuah lemari kaca yang cukup baik sehingga terbebas dari debu dan serangga yang dikhawatirkan akan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut pada naskah. naskah disimpan di ruangan khusus dengan suhu dan kelembaban udara tertentu. Pengemasan dan penyimpanan naskah dalam bentuk gulungan diperkirakan ada sudah sejak lama. 3 No. Pengemasan naskah dalam bentuk gulungan sepertinya merupakan pengemasan yang cukup baik untuk dimensi panjang 176 cm. laju kerusakan bahan naskah dapat diperlambat dan kondisi fisiknya dapat dipertahankan sehingga suatu naskah dapat bertahan lebih lama. Naskah pun ditempatkan dalam lemari. sedangkan kelembaban berkisar 50%.

suhu ruangan 27 derajat celcius dan kelembaban 64 persen. kulit telur kecoa. yaitu mendorong tumbuhnya jamur. 3 No. yaitu naskah disimpan dalam lemari kaca sehingga terhindar dari kontak langsung dengan udara luar.1 Tahun 2012 143 . (dok. Faktor penyebab kerusakan naskah yang nampak. adalah faktor lingkungan. namun secara kasat mata terlihat bahwa pada permukaan bahan naskah masih terdapat beberapa kerusakan yang mungkin akan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut. Hal ini tampak dari adanya bagian naskah yang lembab karena terhidrolisis oleh udara basah. Adanya jamur. Gambar 8. Bagian naskah yang lembab ini kemudian menimbulkan kerusakan lebih lanjut. pribadi) Walaupun saat ini penyimpanan dan perawatan naskah sudah cukup baik.bahan akan putus sebagai akibat dari proses buka tutup lipatan yang berulang. Jumantara Vol. Di samping itu terdapat pula kulit telur kecoa yang menempel di permukaan bahan naskah dan beberapa lubang kecil yang diperkirakan disebabkan serangga sejenis kutu buku. di antaranya. dan terbebas dari jamahan tangan. debu. data diambil pada bulan Juni 2008. dan lubang-lubang pada naskah menunjukkan adanya faktor biologis sebagai penyebab kerusakan naskah.

Gambar 9. Tampak faktor biologis sebagai faktor penyebab kerusakan naskah. (dok. pribadi)

Atas dasar hal tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa kerusakan bahan naskah gulungan koleksi CBCC, di antaranya, disebabkan oleh faktor usia, faktor lingkungan, faktor biologis, dan faktor mekanis. Pada kalangan masyarakat tertentu di Indonesia saat ini, khususnya masyarakat tradisional, terdapat kegiatan penyimpanan dan perawatan naskah secara tradisional. Berdasarkan pengamatan sepintas, upaya yang dilakukan masyarakat tradisional dalam melakukan penyimpanan dan perawatan naskah memberikan keuntungan bagi kondisi naskah, sehingga keberadaan naskah masih dapat disaksikan sampai saat ini. Upaya yang dilakukan masyarakat tradisional di antaranya dengan menyimpan naskah pada kotak kayu, menyimpan naskah di atas tempat yang agak tinggi pada bagian dinding rumah agar tidak terjangkau anak-anak, membungkus naskah dengan kain, dan ada kalanya di dalam kotak kayu dan bungkusan kain tersebut disertakan pula beberapa batang cerutu, biji cengkih, bunga melati, dan sebagainya.

144

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Gambar 10. Tampak gulungan Wayang Beber dan kotak penyimpannya di Gunung Kidul. (dok. pribadi)

Cerutu, biji cengkih, dan bunga melati yang disimpan di dalam kotak kayu ataupun kain pembungkus naskah ternyata dapat menghindarkan serangan rayap, kutu buku, semut, ataupun serangga pengganggu lainnya yang dapat mengakibatkan kerusakan pada naskah. hal ini dapat dipahami karena ternyata baik cerutu, biji cengkih, dan bunga melati masing-masing mempunyai aroma khas yang tidak disukai serangga.

Gambar 11. Tampak penyimpanan naskah yang dijadikan sarang semut. (dok. pribadi)

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

145

Di beberapa tempat tertentu, yang masyarakat pendukungnya masih memegang teguh adat istiadat, naskah dan benda-benda koleksi lainnya hanya boleh dibuka dan dilihat satu tahun sekali, biasanya pada bulan-bulan yang dianggap sakral, seperti bulan Mulud sekaligus dengan melakukan prosesi pembersihan pusaka. Pengaturan waktu untuk membuka dan membersihkan naskah beserta benda-benda yang dianggap keramat (termasuk mengkeramatkan naskah), ternyata ada sisi positif dan sisi negatifnya. Sisi positifnya adalah memberikan ketahanan bagi naskah itu sendiri, dalam hal ini naskah tidak sembarang waktu dijamah tangan dan dibuka tutup. Sisi negatifnya adalah kandungan informasi naskah tidak diketahui masyarakat banyak sehingga, jika terjadi penurunan kualitas kondisi naskah, maka tingkat kerusakannya tidak cepat diketahui dan kerusakannya tidak akan dapat dicegah. Daftar Pustaka Baried, Siti Baroroh (1985). Pengantar Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Batubara, Ridwanti (2008). Kimia Kulit Kayu, Potensi dan Peluang Pemanfaatannya. Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Budi, Agus Sulistyo (1995). “Morfologi Serat Pulp dari Empat Jenis Kayu Daun Lebar dalam Hubungannya dengan Kekuatan Kertasnya”. Jurnal FRONTIER Nomor 17. September 1995. Ekadjati, Edi S. (1988). Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran dan The Toyota Foundation. Lubis, Nabilah (1996). Naskah, Teks, dan Metode Penelitian Filologi. Jakarta: Forum Kajian Bahasa & Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah. Lukman (2009). “Penggunaan Kertas Permanen sebagai

146

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

Pencegahan Kerusakan Kertas”. Jurnal BACA Vol. 30, No. 1, Agustus 2009 (01-72). Munawar, Zaki (2002). Cagar Budaya Candi Cangkuang dan Sekitarnya. Garut: Dinas Pariwisata Seni dan Budaya. Sudjiman, Panuti (1994). Filologi Melayu. Jakarta: Pustaka Jaya. Teygeler, René (1995). “Dluwang, a Javanese/Madurese Tapa from The Paper-mulberry Tree” dalam www\IIAS Newsletter\IIASN-6\Southeast Asia. Dikunjungi pada tanggal 14 April 2004. Wan Mamat, Wan Ali Hj. (1988). Pemuliharaan Buku dan Manuskrip. Kualalumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.

Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012

147

Masyarakat Bali berkeyakinan lontar memiliki arti yang penting dan sangat bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya. Bali. Universitas Udayana Bali. Kata Kunci: Lontar. 3 No. Lontar dengan segala bentuk wacana penuturannya memotret dan memberikan cermin kehidupan yang dapat dijadikan smerti. Warisan budaya yang satu ini juga telah memberikan aura keluhuran dan mentransmisikan keunggulan pemikiran masyarakat Bali yang melahirkannya. yaitu rontal /daun ental/tal (sejenis daun palma/borassus flabelliformis). Tradisi lontar di Bali memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan umur yang tua seiring dengan nilai-nilai *) Pengajar di Jurusan Sastra Bali. serta proses pembuatan manuskrip lontar.Abstrak Lontar adalah produk budaya Bali dan telah diakui menjadi warisan budaya dunia. Manuskrip Pendahuluan Kata lontar memiliki kaitan erat dengan sumber bahan dasar pembuatannya. Fakultas Sastra.1 Tahun 2012 . Lontar sebagai produk budaya kaya makna telah mengangkat citra tradisi Bali di tengah-tengah pergaulan peradaban masyarakat dunia. yaitu contoh dan implementasi kehidupan yang patut dan tidak patut dilakukan. tradisi penulisan manuskrip. Tulisan ini mendeskripsikan lontar dari berbagai dimensi mencakup lontar sebagai warisan budaya. 148 Jumantara Vol.

filsafat. Dewi sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang berupa tastra (manuskrip aksara Bali) yang bersemayam di mahligai lontar. yaitu saras dan wati. Jumantara Vol.sejarah. kata Saraswati diterjemahkan sebagai Ida Sang mambek toya tur wagmi sajroning bebaosan yang artinya beliau yang mengalirkan air suci pengetahuan. begitu mudah mengalir atau sesuatu yang mengalir) dan kecap bebaos sang mraga wagmi sajroning bebaosan (kata-kata orang bijaksana saat memberikan petuah). Saraswati adalah sumber dari segala sumber kata-kata bijak (mraga wagmi). Itulah Saraswati. 3 No. bertepatan dengan perhitungan kalender Bali Sabtu Kliwon Wuku Watugunung lontar-lontar dibuatkan upacara piodalan Saraswati. Pewarisan tradisi lontar di Bali berlanjut dari generasi ke generasi dalam suasana kerohanian dan kemurnian hati nurani. Dari uraian itu. Saras diterjemahkan sebagai sang mraga toya. dangan mes membah (beliau yang berbadankan air. agama. Julukan yang lain untuk memuliakan Dewi Saraswati sebagai sumber ilmu pengetahuan yaitu: Putkari Dewi. Dewi Saraswati juga dijuluki Dewi Wagmiswari (Dewi Katakata) atau Wagmimaya (Kata-kata Bertuah). dan Brahma Putri. pengobatan. Wati diterjemahkan sang adrue (pemilik). Setiap 6 bulan sekali. pada hari Minggu Umanis Watugunung. Keesokan harinya. Pada hari ini masyarakat menghaturkan aneka banten pasucian Weton Saraswati. masyarakat Bali pagi-pagi benar membawa toya kumkuman (air suci) menuju sumber-sumber mata air atau pantai melaksanakan upacara banyu pinaruh (menyambut turunnya ilmu pengetahuan). Para panglingsir (orang tua berpengetahuan) di Bali memaparkan kata Saraswati ke dalam dua bentuk dasar. dan ilmu pengetahuan tinggi lainnya. Lontar perekam jagat pemikiran masyarakat Bali sampai dalam bentuknya sekarang merupakan saksi sejarah dan menjadi penampang historik masyarakat pendukungnya. Karena itu. sastra. yaitu manifestasi Ida Sang Hyang Widi (Tuhan) sebagai sumber ilmu pengetahuan. Bhatari Dewi. Masyarakat Bali meyakini lontar adalah wahana bersemayam Sang Hyang Aji Saraswati. Sarada Dewi.1 Tahun 2012 149 .

Masyarakat Bali berkeyakinan lontar memiliki arti yang penting dan sangat bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya. Tradisi masyarakat Bali mempelajari dan menekuni lontar disebut anak nyastra (a man of letters) yang artinya beliau yang terpelajar (gelettered). 4) memiliki wujud fisik (tangible) dan non-fisik (intangible). Lontar Warisan Intelektual Kekayaan pemikiran dan rohani masyarakat Bali secara tradisi terekam dalam manuskrip lontar. tradisi ini masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat Bali. 3) mudah dipindahkan (moveable). Itu artinya. Keadaan ini berbeda jauh dengan masyarakat Indonesia lainnya yang mewarisi tradisi 150 Jumantara Vol. 3 No.1 Tahun 2012 . Semuanya masih relevan dan patut diwarisi. Tradisi keberaksaraan dan keterpelajaran pada lontar adalah warisan budaya yang sangat berharga dan penting. dilestarikan. yaitu contoh dan implementasi kehidupan yang patut dan tidak patut dilakukan. 5) memiliki fungsi dan kedudukan yang terhormat dan disucikan dalam masyarakat (abstract). Bukan saja penting untuk para leluhur dan orang Bali kini. seperti: 1) warisan budaya intelektual (intellectual heritage). Volume 10 (1998: 2-6) lontar Bali termasuk salah satu warisan budaya dunia karena memiliki karakteristik. tetapi juga penting untuk menghiasi khazanah intelektual masyarakat luas lainnya. Lontar Tradisi yang Masih Hidup Kita meyakini tradisi lontar adalah tradisi masyarakat Bali yang sudah tua. Mereka itulah yang sesungguhnya steak holders lontar di Bali. 2) tradisi yang hidup (living tradition). Lontar dengan segala bentuk wacana penuturannya memotret dan memberikan cermin kehidupan yang dapat dijadikan smerti. dan 6) sudah menjadi salah satu warisan dunia (wolrd heritage). Walaupun usianya telah tua. Betapa tidak. Menurut Bali Cultural Heritage Coservation. kandungan lontar dengan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang pernah ada dan dimiliki masyarakat Bali masa lampau dapat dikembangkan untuk menata dan meningkatkan kehidupan spiritual dan material saat ini dan masa-masa mendatang.Lontar Warisan Budaya Lontar adalah produk budaya Bali dan telah diakui menjadi warisan budaya dunia. dan diteruskan agar tercapai kehidupan material-spiritual yang lebih baik.

seperti untuk bahan anyaman dan kerajinan tangan lainnya. Balai Bahasa Denpasar. dan mengapresiasi) karya-karya sastra tradisional Bali di Jumantara Vol. Hidupnya tradisi lontar dalam masyarakat Bali sangat didukung oleh masih hidupnya aktivitas budaya dan sumber alam lainnya. Pohon lontar adalah sumber alam yang dapat diperbaharui. IKIP PGRI Bali. (7) Tradisi membaca lontar dalam aktivitas bersastra di Bali secara tradisional erat kaitannya dengan sistem upacara dan sistem keagamaan Hindu di Bali. Sekriptorium-sekriptorium yang ada di Bali masih menjalankan aktivitas sebagaimana mestinya. dan yang lainnya. sehingga dari waktu ke waktu jumlahnya tidak pernah berkurang. maka pohon lontar dibudidayakan dengan baik. Perpustakaan Unhi Denpasar. yang menyimpan lontar-lontar penting yang dibutuhkan masyarakat.1 Tahun 2012 151 . (4) Adanya sekolah khusus yang mengajarkan cara menulis lontar. (6) Adanya perpustakaan lontar yang memiliki latar belakang sejarah yang penting seperti: Gedong Kitrya di Singaraja. menyanyikan. dan perguruan tinggi lainnya. Perpustakaan Lontar Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Jurusan Sastra Bali di berbagai perguruan tinggi di Bali. Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana. (2) Masih adanya orang yang mewarisi tradisi pembuatan daun lontar sebagai bahan rumah pintar” Dewa Catra. Perpustakaan Musieum Bali. (8) Adanya kegiatan mabasan (membaca. seperti SMUN I Sidemen (dulu SMU Sidamaha) Karangasem. Unisha Singaraja. seperti Fakultas Sastra di Universitas Udayana. 3 No. (5) Masih banyak orang yang mampu menulis lontar secara tradisional. IHDN. seperti: (1) Tersedianya cukup banyak pohon lontar. Mengingat lontar memiliki multimanfaat. (3) Adanya pusat-pusat penulisan lontar dan kegiatan penyalinan lontar di masyarakat. Jumlahnya mencapai ribuan pohon. Universitas Dwijendra.manuskrip. dan yang lainnya. Pohon lontar yang menjadi sumber utama bahan penulisan lontar tumbuh subur di belahan Timur dan Utara pulau Bali.

serta acara-acara khusus seperti Gebiar Nyurat Lontar oleh Pemerintah Kota Denpasar. Acara ini dikaitkan dengan misi Kota Denpasar sebagai Kota Kreatif Berwawasan Budaya Unggulan.1 Tahun 2012 . 1999: 3-4). 152 Jumantara Vol. baik sebagai warisan maupun atas usahanya sendiri membangun perpustakaan pribadi. Pekan Olahraga dan Seni Pelajar (Porsenijar) se-Bali. Lontar-lontar dalam bentuk baru itu khusus dibuat untuk dijual sebagai komoditas pariwisata ( BUIP. (10) Banyak masyarakat umum yang mengoleksi lontar. Lomba menyalin huruf Latin ke dalam aksara Bali di atas lempiran lontar selalu ada dalam ajang Pekan Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar. Gambar 1. seperti di desa Tenganan Pegringsingan Karangasem. Jumlah lontar cakepan di masyarakat Bali adalah ribuan. Bali CHC: Volume 10. Aktivitas pembacaan lontar cakepan. yang menjadikan manuskrip lontar sebagai bahan bacaannya. (9) Perkembangan pariwisata menyumbangkan peran untuk mempertahankan tradisi lontar. dan pihak penyelenggara lainnya. 3 No. Pesta Kesenian Bali.lingkungan masyarakat Bali. (11) Aktivitas lomba menyalin huruf Latin ke dalam aksara Bali di atas lempiran lontar untuk tingkat SMP dan SMA terus digalakkan. Banyak anggota masyarakat Tenganan Pagringsingan menggambar dan menulis prasi serta melukis di atas media daun lontar.

Mudah Dipindahkan Wujud fisik lontar cukup simpel. Golongan yang terakhir ini yang memanfaatkan tenaga lokal untuk keluar masuk desa ‟mengejar‟. Karena fisiknya yang sederhana ini lontar juga mudah dipindahtangankan. Alasan-alasan ini pula yang membuat semakin bersemangatnya para ”pemburu” lontar. tidak mampu mengurus sehingga kuatir rusak di tempat. sisi Utara lereng gunung Rinjani di Lombok Utara. antik. Lontar-lontar tua. lontar mudah dibawa dan dibaca. dan beragam alasan ekonomi lainnya. dan unik yang telah dijual masyarakat Bali tentu tidak dapat diidentifikasi judul dan isinya. Diperkirakan Jumantara Vol. Sejumlah masyarakat pemilik lontar menjual lontar warisannya dengan beragam alasan. Dengan panjang antara 30 cm.Gambar 2. lontar yang berusia tua dan berkarakter antik dan unik. dan lebar tidak lebih dari 4 cm. 3 No. Karenanya lontar-lontar yang sudah raib ke luar dari pulau Bali dan tidak sempat katedun (disalin ke dalam naskah yang baru) ini tidak dijumpai di perpustakaan-perpustakaan yang ada. Penulis melakukan pengukuran terhadap lontar yang dikeramatkan masyarakat Desa Bayan Beleq. maka tidak jarang lontar diperjualbelikan sebagai barang antik. diantaranya: ingin menutupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. untuk modal usaha. sampai 60 cm.1 Tahun 2012 153 . baik dari kalangan masyarakat lokal maupun mancanegara.

khususnya di Griya dan Puri di Bali yang jumlahnya begitu banyak. Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tersimpan sebanyak 2274 cakep. 3 No. Lontar sebagai bagian dari khazanah ilmu kepustakaan memiliki kodifikasi keilmuan yang kompleks dan beragam. di Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana tersimpan sebanyak 738 cakep. di perpustakaan Balai Bahasa Denpasar tersimpan sebanyak 90 cakep. perlu mendapat penanganan fisik secara khusus agar terhindar dari kelapukan. yaitu instansi pemerintah yang terkait.1 Tahun 2012 . baik dari kalangan masyarakat pengoleksi maupun dari pihak pemegang kebijakan. di Perpustakaan Universitas Hindu Indonesia tersimpan sebanyak 151 cakep. dan di Perpustakaan Lontar Dokumentasi Budaya Bali. kalau tidak mau dikatakan ribuan. baik ilmuwan luar negeri maupun dalam negeri. DPRD. membuat klasifikasi lontar Bali secara sangat beragam. dan Kota di seluruh Bali. tingkat Provinsi. Van Eck (1875). sedangkan yang tersimpan di rumah-rumah penduduk.bahwa lontar yang telah ”raib” jumlahnya ratusan. Para ahli kepustakaan lontar. pada tahun 1967 mengklasifikasikan kepustakaan lontar 154 Jumantara Vol. tentu nilai manfaat lontar dapat disumbangkan untuk memperkaya khazanah budaya bangsa dan budaya dalam lingkup internasional. Kabupaten. Memiliki Wujud Fisik dan Non-Fisik Jumlah lontar yang ada di masyarakat dapat diperkirakan lebih dari 55 ribu cakep (dalam kesatuan yang utuh) lontar. di Perpustakaan Museum Bali tersimpan 60 cakep. Perlu dilakukan usaha-usaha konservasi dan pengobatan secara ilmiah dan bertanggung jawab. Kalau semua pihak cermat dalam menangani dan mensosialisasikan fungsi strategis manuskrip lontar Bali. Lontar yang tersimpan di lembaga-lembaga resmi biasanya mendapat pemeliharaan yang baik. seperti di Gedong Kirtya. Untuk itu diperlukan kemauan bersama. Di tempat ini tersimpan sebanyak 2414 cakep. Jumlah itu belum termasuk yang tersimpan di perpustakaan lontar yang resmi. sesuai dengan keluasan pengetahuan masing-masing mengenai jenis dan isi naskah lontar yang didapatkannya. Th Pigeaud yang telah mempelajari klasifikasi Freiderich (1847) dan R. di Perpustakaan Lontar Universitas Dwijendra Denpasar tersimpan sebanyak 50 cakep. Diperlukan juga kemauan politik dari para wakil rakyat.

sedangkan lontar Krakah antara lain memuat uraian beserta makna istilah dalam naskah-naskah tertentu.1 Tahun 2012 155 . kidung. arja dan yang lainnya. kidung. Cantakaparwa. 3 No. Klasifikasi manuskrip lontar di atas telah dapat memberikan citra wujud fisik naskah lontar yang ada di Bali. dan geguritan. dan (6) Tantri yang terdiri dari jenis lontar tantri dan satua. Niti. urak dan yang lainnya. yaitu : (1) Religion and Ethics. pamancangah. Law. Folklore. pipil. (2) Agama. prasi. (5) Babad. yang terdiri dari jenis lontar pamancangah. Jumantara Vol. seperti pustaka lontar parwa. Sasana. dan usada. uar-uar. seperti pengetahuan kearsitekturan (Astakosali. c. Wiswakarma. Kemudian I Ketut Suwidja menambah klasifikasi lontar Gedong Kirtya dengan kelompok VII. (4) Itihasa. Wujud fisik naskah lontar yang disebut pengetahuan-pengetahuan lain oleh kalangan peneliti pernaskahan di Bali dikelompokkan karena menguraikan pengetahuan tertentu. kanda. seperti Krakah Sastra. dan (4) Science. dan uwug/rereg/rusak. Customs. Lontar Ekalawya dan Dasanama tidak sekedar memuat daftar kata. prasasti. geguritan dan parikan. Arts. yang terdiri dari jenis lontar parwa. Krakah Modre dan yang lainnya. sima. Klasifisasi termutakhir yang banyak dirujuk adalah klasifikasi yang diterapkan Nyoman Kadjeng dari perpustakaan lontar Gedong Kirtya Singaraja (1928). Ekalavya. Dewagama. 3) Wariga. Lontar memuat kode etik arsitektur tradisional seperti Dharmaning Sangging. Humanities. Suksmabasa. dan e. dan yang berhubungan dengan upacara penyucian bangunan. dan uwug/rusak/rereg. yaitu lelampahan. dan yang lain). serta satua. dan kalpasastra. Naskah hukum juga ditemukan dalam dunia lontar di Bali. (3) Belles Lettres. sasana. Kalpasastra. yang memuat lakon-lakon pertunjukan kesenian gambuh. tutur.Bali menjadi empat kategori besar. antara lain: usada. mantra. Tutur. wayang. yang terdiri dari jenis lontar weda. usana. Kutara Manawa. yaitu: (1) Weda. Dasanama. seperti lontar Pemlaspas. mantra. dan yang memakai judul Krakah. Astakosala. b. kakawin. yang terdiri dari jenis lontar palakreta. usana. seperti pustaka lontar: a. kakawin. weda. dan puja. Naskah leksikografi dan tata bahasa seperti lontar Adiswara. Beberapa yang penting adalah: lontar Adigama. seperti pustaka lontar : babad. d. yang terdiri dari jenis lontar wariga. dan Niti. tetapi juga memuat sejumlah makna sinonim. Kretabasa. awig-awig. Asthabhumi. (2) History and Mythologi.

Sang Hyang Aji Saraswati. itu berarti salah satu warisan dunia yang penting telah 156 Jumantara Vol. Lontar bagi masyarakat Bali adalah kitab suci yang selain disucikan juga dipelajari untuk dijadikan pegangan hidup sehari-hari (suluh nikang prabha). Hari dan Wuku peringatan Puja Saraswati ditempatkan pada hari terakhir. Hyang Wagiswari disimbolkan bersthana dalam aksara suci. Memiliki Abstraksi Nilai Fungsi dan kedudukan lontar dalam masyarakat memiliki kaitan yang erat dengan sistem kepercayaan dan kehidupan keagamaan masyarakat Bali. dilestarikan. Aksara menjadi badan Sang Hyang Aji Saraswati. Manakala warisan budaya dunia ini lenyap. Para ahli pernaskahan dari berbagai belahan dunia mengakui bahwa lontar merupakan warisan budaya dunia yang harus diselamatkan. Kretasima Subak. dan dimanfaatkan. Watugunung. kemudian orang Bali melakukan pemujaan pada pagi hari. Puja Saraswati mendapat tempat istimewa bagi umat Hindu di Bali sehingga masuk ke dalam sistem kalender Bali. yaitu hari Sabtu (Saniscara) dan Wuku terakhir. Lontar jenis ini banyak dijumpai. sampai dengan penentuan hari-hari baik untuk upacara keagamaan (Agastia: 1985:13-14). Ada hari khusus yang ditetapkan untuk menghormati dan mensucikan lontar. Puja Saraswati ditandai dengan kegiatan membuat candi aksara atau candi pustaka (mengumpulkan lontar-lontar terpilih) yang dijadikan sthana bagi Sang Aji Saraswati.dan Purwadhigama. candi bahasa. diantaranya: Kretasima. Warisan Budaya Dunia Lontar kaya wujud dan jenis. 3 No. Lontar-lontar suci disthanakan sebagai candi Tastra Saraswati (candi pustaka. Banyak menguraikan masalah-masalah pertanian seperti penentuan iklim. ataupun candi aksara) yang adalah tempat suci bagi Saraswati. hari baik atau buruk untuk suatu pekerjaan. candi sastra. Lontar yang memuat pengetahuan astronomi biasanya memakai judul Wariga dan Sundari. serta kaya makna dan filosofi. Lontar-lontar hukum yang lebih banyak bercorak Bali. Paswara. dan awig-awig.1 Tahun 2012 . yaitu hari Puja Saraswati. Hari khusus tersebut ditandai dengan kegiatan mengumpulkan benda-benda pusaka lontar. sedangkan pada malam harinya (semalam suntuk) membaca dan menyanyikan sastra-sastra lontar pilihan.

Manakala hal itu benar-benar terjadi. Aksara Bali adalah lambang bahasa yang telah mengambil fungsi dan peran sebagai lambang identitas masyarakat Bali. hal itu merupakan kebodohan. Tradisi Menulis di Atas Daun Lontar Sebelum mencermati goresan artistik aksara Bali di atas daun lontar. CHC. 1999:4). dan mempelajari lontar yang diwarisinya adalah implementasi keberlangsungan hidup dan kehidupan lontar sebagai warisan budaya dunia. Lontar yang dikeramatkan masyarakat saat dibaca didahului dengan melakukan prosesi upacara. 3 No.hilang. Karena itu.1 Tahun 2012 157 . sudah saatnya dilakukan upaya yang lebih besar dan kuat untuk menyelamatkan lontar sebagai warisan budaya dunia. kemunafikan. Gambar 3. Aksara Bali adalah wahana atau sarana untuk mengungkapkan segala hal tentang kebudayaan Bali (BUIP. Perlindungan yang sifatnya mengharuskan pewaris lontar untuk menyelamatkan. karena melalui aksara Balilah bahasa sebagai unsur universal dari kebudayaan itu terdokumentasikan. dan kesalahan besar yang dilakukan oleh generasi “anak bumi” di dunia ini. perlu dipahami apa yang dimaksud dengan aksara Bali sebagai lambang bahasa. sehingga prosesi pembacaan menjadi lancar dan apa yang dicari dalam lontar didapatkan. Dalam tradisi penulisan lontar. sebelum memulai Jumantara Vol. melanjutkan. untuk memohon kemurahan-Nya.

Hyang Yogiswara difilsafatkan berstana pada kedua mata penulis lontar. mengasah dan mempraktikkan seluruh kemampuan intelektual dan kualitas intuitif. dan tampak seperti tidak ada penulisan. serta menjaga irama pernafasan yang teratur dan jernih. Dengan cara ini mereka yakin akan berhasil menciptakan teks lontar yang utama dan memiliki jiwa (ruh suci). masuku (memakai suku) dan maulu (memakai ulu)”. Secara tradisi. Karenanya. Karena itu pula. Bagaimana membaca lontar yang banyak ditemukan aksara matinya? Pembaca lontar harus tanggap. 3 No.1 Tahun 2012 . Sebagaimana dinyatakan dalam lontar Tutur Saraswati. seperti umur pendek. dan Baghawan Reka berstana pada ujung pangrupak. yang artinya sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi alias sudah mati. cepat-cepatlah melirik aksara berikutnya yang merupakan sambungan aksara didepannya. sehingga aksara yang salah tulis tidak berbunyi (mati). sida sidi kasaraswaten. dan melangkahi aksara akan mengakibatkan kebodohan. Sandangan yang lazim dipakai adalah ulu dan suku. kehalusan rasa. sastra dan aksara Bali. Hakikat menulis adalah mempraktikkan yoga spiritualitas. Bhagawan Mredhu berstana pada kedua tangan penulis. Tidak pernah ada aksara Bali yang dicoret. Dalam aktivitas penulisan lontar. Mencoret sandangan aksara yang berada di atas pangawak (badan pokok aksara) seperti ulu akan mengakibatkan kebutaan atau berkurangnya daya ingat. mencoret taleng/taling dan bisah/wisah berakibat pancet (sakit pinggang). penulis membubuhkan dua sandangan (pangangge) aksara. ada perumpamaan yang jamak dituturkan dalam masyarakat Bali. seorang penulis lontar selalu berusaha keras agar tidak mematikan atau ngucek (mencoret) aksara. yaitu ”bagaikan aksara memakai dua sandangan suara. para stake holders ini menyiapkan bahan-bahan utama seperti: (1) pepesan (daun tal siap tulis). seorang pengawi atau penyalin biasanya melakukan ritual kecil untuk memohon anugerah ke hadapan Ida Sang Hyang Aji Saraswati. pengarang karya sastra Bali (pangawi) dan penedun (penyalin) lontar adalah para stake holders bahasa. Seandainya terjadi salah tulis.menggoreskan pangrupak di atas lempiran lontar. Mereka percaya hal itu akan mendatangkan akibat buruk pada diri. pangrupak (pisau tulis). Kepercayaan ini menjadikan lontar yang ada kelihatan bersih serta rapi tulisannya. (2) pelikan (alat penjepit lembaran lontar yang akan di tulis terbuat dari 158 Jumantara Vol.

bambu. burung merak. Dalam menggoreskan aksara Bali dari kiri ke kanan harus Jumantara Vol. yaitu aksara Bali yang memiliki kakuub (karakter) wayah dan ngatumbah/matan titiran (bundar. Cara menulis di atas daun lontar berbeda dengan di atas kertas. lebar. (5) dulang kayu (sejenis meja yang bundar) sebagai meja tulis. Tangan kiri berada di posisi bawah untuk mengalasi atau memegang lontar. sedangkan tangan kanan berada di posisi atas memegang pangrupak seraya menggerakkan jari-jemari tangan sedemikian rupa. 3 No. (8) kapas atau kain halus untuk menggosok dan membersihkan bekas-bekas material penghitam. Menulis di atas daun lontar menggunakan pangrupak. (9) dan sesajen seperlunya. pangrupak dengan kelancipan 70 derajat untuk membuat prasi (menggambar di atas daun lontar). Ibu jari dan jari tengah tangan kanan menjepit lembut pangrupak. ada yang menyerupai pendeta. (6) penggaris dan pensil (bagi penulis yang tidak yakin akan mampu menghasilkan urut-urutan aksara Bali yang lurus. Demikian juga menggunakan pangrupak berbeda dengan cara menggunakan pisau dapur atau alat pertukangan lainnya. Jenis pangrupak yang dipakai menggores lontar disesuaikan dengan maksud dan tujuan penulisan. aksara Ongkara. rapi dan bersih). Jempol kiri bertugas mendorong-dorong pangrupak hingga terjadi pergerakan lontar ke arah kanan. telunjuk menekan halus saat menggoreskan bentukan aksara. jari manis dan kelingking.1 Tahun 2012 159 . yaitu: pangrupak dengan kelancipan 45 derajat untuk menulis aksara Bali. memerlukan keterampilan menulis yang khusus. halus. dan pangrupak kelancipan sedang (kurang lebih 10 derajat). (3) serbuk tinggkih (buah kemiri) atau buah naga sari yang dibakar sebagai bahan penghitam goresan aksara Bali di atas daun lontar. yang berkaitan dengan posisi tangan saat menggores lontar. dan tajam untuk memotong rontal. Masing-masing pangrupak juga memakai hiasan. (4) bantalan kasur kecil sebagai alas menulis. dan yang lainnya. dan mengagumkan). lembut. (7) panakep dari kayu. atau uyung (seseh pohon enau). Dua jemari tangan kanan lainnya. membantu menjaga kestabilan dan berfungsi mensuplai energi kelembutan sehingga tangan tidak mudah lelah. patung hanoman.bambu kecil yang dilubangi hingga tembus pada kedua sisinya). Pangrupak memiliki tiga mata sisi yang tajam untuk menghasilkan karakter aksara Bali ideal.

cerdaskan intuisi dan intekstualitas yang dimiliki. dan kanan. lontar memiliki wibawa. Di samping itu. Mulailah menulis dari garis yang memiliki ruang paling sempit. Proses Pembuatan Lempiran Lontar Lontar terbuat dari daun alami pohon Tal/Rontal. Irama yang mengkhusukkan. Gambar 4. Lemah lembut dalam ketenangan hati yang menakjubkan.1 Tahun 2012 . dan senang. dengan aksara digantung pada garis yang telah disediakan. Karena itu jagalah hati. lembut. lontar Bali dibuat dengan cara yang saksama.dicermati ruang-ruang diantara tiga lubang yang ada di kiri. Perhatikan lebar ruang yang disediakan di antara garis-garis yang tersedia. Lontar mempunyai kekuatan yang luar biasa. Sekalikali nikmati bunyi irama yang ditimbulkan oleh goresan yang dibuat. Goresan simbol aksara yang pertama sangat mempengaruhi besar kecil dan kehalusan aksara berikutnya. sampai berabad-abad. membutuhkan 160 Jumantara Vol. Berkosentrasi dan menciptalah dengan perasaan halus. Kualitas lontar yang penulis citrakan tidak lepas dari dasardasar budaya dan keyakinan masyarakat Bali yang melahirkannya. menggunakan teknologi tradisional. taksu (kekuatan ilahi). dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama. Bagi masyarakat Bali. Bernafaslah yang teratur. tengah. Terdapat empat garis yang tersedia di atas rontal. Menulis aksara Bali di atas daun lontar memerlukan pengetahuan tersendiri. 3 No. dan dihormati sebagai sumber berbagai ilmu pengetahuan lahir dan batin. tenang.

Pada kesempatan ini penulis sarikan informasi pembuatan lempiran daun lontar sebagaimana yang dilakukan oleh Ida I Dewa Gde Catra di Rumah Pintar Tradisional di bilangan jalan Untung Surapati. Inilah lempiran lontar kosong yang siap ditulisi. Masyarakat Bali membedakan pohon rontal atas dua jenis. Demikian pula jenis dan kualitas daun pohon rontal berbeda-beda. serat Jumantara Vol. Daun lontar atau lempiran yang dimaksud berbentuk blanko. sehingga menghasilkan lempiran lontar sehelai demi sehelai. dan dalam suasana yang khusuk. bertahan dalam waktu yang panjang. Pohon tersebut harus tumbuh di tanah yang mengandung kapur. dihasilkan melalui proses khas teknologi tradisi Bali. Pohon rontal yang daunnya luwes. kenyal. Berikut penulis sarikan teknik tradisional Prosesi Pembuatan Lempiran Lontar (2010) Bali seperti yang dilakukan budayawan lontar asal Puri Sidemen Karangasem ini. membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Pohon rontal yang baik adalah yang telah berumur lebih dari 30 tahun. Satu bendel terdiri dari 100 lempiran. Pohon rontal yang tumbuh di tanah yang subur. yaitu rontal luh (betina) yang dapat menghasilkan buah atau tuak (nira) dan rontal muani (jantan) yang tidak menghasilkan buah. daunnya kurang baik dibuat pepesan karena tebal. Penulisan prosesi daun lontar ini disajikan berdasarkan pengalaman penulis meneliti prosesi pembuatan lempiran lontar dan berdasarkan bahan bacaan yang ada. Dinyatakan pula pembuatan lempiran lontar memakan waktu yang relatif lama. Rontal muani berbunga tetapi bunganya tidak pernah menjadi buah. Ida I Dewa Gde Catra (pelaku prosesi pembuatan lempiran lontar yang paling produktif sampai hari ini di Bali) menyebut helai daun lontar yang dihasilkannya sebagai lempiran. Pohon itu juga sudah pernah disadap niranya. 3 No. berserat besar-besar dan kaku. Tujuannya adalah mendapatkan mutu lempiran yang baik. Amlapura.kesabaran yang tinggi.1 Tahun 2012 161 . Sebelum prosesi pembuatan lontar dilakukan. tanah bebatuan seperti tanah lahar. selempir demi selempir sehingga menghasilkan pepesan.. tanah di tepi laut. sehingga tidak banyak mengandung sagu. serta bentuknya indah dan rapi. rumit. seniman lontar perlu memperhatikan jenis pohon rontal yang akan dipetik daunnya. yang mendapat sinar matahari langsung dari pagi hingga sore. mudah ditulisi. di ujung Timur pulau Bali.

pagi. lebarnya sesuai. Daun tal petik kering yang dipilih untuk pepesan adalah yang bilahnya panjang. Pemetikan daun tal untuk pepesan menggunakan joan anggetan (galah yang ujungnya memakai pisau). seratnya halus. maka agar benar-benar kering seperti yang diinginkan. Pohon yang daunnya tebal berserat kasar dan kaku seperti kulit binatang disebut ron tal belulang. (pohon rontal. yang disebut kreta masa. tidak berbintik-bintik.1 Tahun 2012 . dan sasih katiga-kapat (seputar bulan September . Daun tal yang berbentuk kipas kangget (dipotong dan dicari ) hanya bagian tengah saja. pohon tal???) Daun tal yang dipilih untuk prosesi pembuatan pepesan berkatagori panyaja (muda atau menengah). Pada minggu pertama air kum berwarna keruh kekuningan dan berbau kurang sedap sehingga harus diganti setiap hari. Mengingat daun tal cukup tebal dan tiap bilahnya terdiri dari dua helai dalam satu lidi. tentu proses pengeringannya memakan waktu yang cukup lama. Bulan-bulan ini adalah musim kemarau. dengan semua ujungnya panjut (merapat dan sedikit mengering). Daun tal harus dijemur di tempat yang terang beberapa kali. Usia daun tal penyaja diketahui dari kategori hijau daunnya juga ditandai dari posisi kecondongan pelepahnya yang kurang lebih 45 drajat. pohon lontar.halus disebut ron tal taluh (telor). sehingga benar-benar renyah (kering benar). yaitu sejenis golok yang panjang). dan sore. Ngesit (melepas lidi) dilakukan secara hati-hati agar bilah daun lontar kering petik tidak amis (rusak). Pada minggu 162 Jumantara Vol. tidak lebih dari empat sampai enam helai setiap satu pelepah daun tal. Bilah daun tal petik kering dipotong ujung dan pangkalnya dengan ukuran panjang tertentu sesuai dengan keperluan. saat matahari bersinar panas dan langit terang benderang. 3 No.Oktober).April). Sedangkan lontar yang masih muda berupa busung (janur) ataupun yang sudah berupa danyuh/wayah (tua) tidak dapat dimanfaatkan sebagai lempiran pepesan.kadasa (seputar bulan Maret . permukaan rata tidak tuludan (berlekak-lekuk). kemudian kakum (direndam) selama tiga minggu. dan helai daunnya tidak terlalu tebal atau terlalu tipis. Bilah daun tal kering petik yang sudah kasit (dilepaskan lidinya) dikumpulkan dan ditata sedemikian rupa. yang disebut gegadon. Musim petik daun tal yang baik pada sasih kasanga . Sedangkan pohon yang helai daunnya panjang dan lebar disebut dolog (menyerupai senjata dolog.

Saat perebusan. dijemur. sesuai Jumantara Vol. Rempah-rempah seperti: lada. Caranya. dan tidak berbau lagi. umbi gadung diparut. batang kantewali. Merebus daun tal kering petik memerlukan panci besar. dan air yang cukup dan harus dijaga dengan saksama. ujan. Dua hari dua malam dianginanginkan untuk tiga bulan kemudian baru direbus. Daun tal yang dianggap telah masak jangan langsung diangkat. daun sambiroto. setiap kali air rebus menyurut petugas harus menambahkan air secukupnya. hingga benar-benar bersih. kemudian dayuhin (diangin-anginkan) di tempat yang teduh. ditebarkan sedemikian rapi di tempat yang terang sehingga hari itu juga dipastikan benar-benar kering. Setelah berjumlah seratus. Bahan-bahan itu digunakan sesuai dengan jumlah rontal yang akan direbus. Lama menyimpan tiga-empat bulan. 3 No. Tiga puluh sampai dengan lima puluh lembar lontar disatukan. Agar lebih cepat kering. Setelah merata kering. tunggu. tidak berbuih. tengah dan pangkalnya. hawa panas berlebihan. berulang-ulang hingga lima sampai enam jam. Lebih lama direbus hasilnya lebih baik. Setelah dingin. Biarkan agar dingin dengan sendirinya. diangkat perlahan-lahan agar tidak pecah. Alat ini digunakan untuk meluruskan dan memampatkan serat dan rongga-rongga yang kemungkinan masih terdapat pada lontar setelah proses pengeringan. dan jebug (buah pinang yang tua) semua dirajang dan kemudian ditumbuk hingga halus menjadi serbuk. dan semakin lama disimpan kualitasnya semakin membaik. angkat dan segera jemur di tempat yang lapang dan mendapat sinar matahari penuh. pres tradisional untuk lontar yang dibuat dari kayu dengan menggunakan pasak. diikat ujung. terhindar dari sinar matahari. lontar dibolak-balik selembar demi selembar. Ngekum (merendam) daun tal kering petik dengan tujuan menghilangkan sagunya. jebug harum. Blagbag. demikian juga selanjutnya hingga penuh. disela dengan penampang kayu (pandalan).1 Tahun 2012 163 . merica.kedua dan ketiga air kum diganti setiap tiga hari sekali. kulit pangkal pohon kelapa. lalu simpan di tempat yang aman. agar hampa tak rapuh (serbukan) yang disukai rayap. kayu api. daun lontar yang telah direbus dan disimpan berbulan-bulan dimasukkan ke dalam penjepit blagbag secara teratur sesuai dengan panjang lontar masing-masing. Daun tal diangkat dan di diguyur air bersih. Tiga minggu prosesi ngekum tal telah berlalu. Ramuan bahan pengawet seperti kulit pohon kayu intaran. kayu wong.

Sebagai warisan budaya. nyerut (mengetam). Lontar yang telah mapirit (berlubang) dimasuki lidi (jelujuh) agar tidak mudah bergerak saat diiris dan dirapikan pinggirannya.1 Tahun 2012 . Di Bali banyak dijumpai lontar yang berumur tua yang memiliki nilai sejarah. kemudian pasak dipasang. Pembuatan lontar pepesan didahului dengan pembuatan mal yang dibuat dari daun tal dengan panjang dan lebar yang telah ditetapkan. kanan. lalu diisi lubang sebasar jarum. agama. dan penelitian teks naskah lontar yang semakin meningkat. Warisan dan tradisi lontar telah berusia cukup tua. 3 No. jarum pirit (paser tradisional Bali) ditusukkan pada tengah-tengah lubang kecil mal yang di kiri. Nepes adalah pres terakhir lontar tepesan. hingga rontal benar-benar lurus dan rata. Mal ditempal di atas daun tal.kapasitas blagbag. sehingga harus disela dengan pandalan dan dipasak kembali hingga mampat. dan nyepat (menggaris). sastra. filsafat. kadang berbulan-bulan. manuskrip masyarakat Bali ini didukung oleh ketersediaan bahan baku yang cukup. Pewarisan tradisi lontar di Bali berlanjut dari generasi ke generasi. nyerut adalah merapikan ujung pangkal dan diisi cat tradisional Bali agar kelihatan indah dan rapi. kegiatan penulisan lontar yang masih berlangsung. pengobatan. Sedangkan nyepat adalah pembuatan lontar tepesan siap tulis (gores) dengan pangrupak (pisau tulis tradisional Bali). Sebagai tradisi yang hidup. kanan. dan tengah tepat di titik ujung pirit. dan tengah. Mirit artinya melubangi lontar di samping kiri. Langkah berikutnya dalam proses pembuatan lontar adalah nepes (menjepit). Manuskrip lontar adalah produk budaya Bali yang kaya makna dan memberikan citra keluhuran dan keunggulan jagat pemikiran masyarakat Bali yang melahirkannya. dan ilmu pengetahuan tinggi lainnya. Kesimpulan Lontar sebagai manuskrip masyarakat Bali telah mengangkat citra tradisi peradaban Bali di tengah-tengah intelektualitas peradaban dunia. kegiatan pembacaan yang masih semarak. pasak pun akan menjadi longgar. manuskrip lontar di Bali memiliki karakter antara lain: (a) warisan budaya intelektual (intellectual heritage). Proses ini dilakukan berminggu-minggu. (c) 164 Jumantara Vol. Setelah beberapa hari lontar mengalami pemampatan. (b) tradisi yang masih hidup (living tradition).

para stake holders ini menyiapkan bahan-bahan utama seperti: (1) pepesan (daun tal siap tulis). dan dalam suasana yang khusuk. menggunakan teknologi tradisional.mudah dipindahkan (moveable). lontar Bali dibuat dengan cara yang saksama. dan (g) menjadi salah satu warisan budaya dunia (world heritage). Di samping itu. (7) penakep dari kayu. dkk. Medera. Secara tradisi. (2005). Lontar mempunyai kekuatan yang luar biasa. IBG (1985). Yogyakarta: Javanologi. dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama. atau uyung (seseh pohon enau). Ida I Dewa Gde. Catra. I Nengah. pengarang karya sastra Bali (pangawi) dan penedun (penyalin) lontar adalah para stake holders bahasa. ”Prosesi Pembuatan Daun Lontar”. taksu (kekuatan ilahi). (2) pelikan (alat penjepit lembaran lontar yang akan di tulis terbuat dari bambu kecil yang dilubangi hingga tembus pada kedua sisinya). Jumantara Vol. pangrupak (pisau tulis). membutuhkan kesabaran yang tinggi. Pedoman Pasang Aksara Bali. (6) penggaris dan pensil (bagi penulis yang tidak yakin akan mampu menghasilkan urut-urutan aksara Bali yang lurus. (3) serbuk tingkih (buah kemiri) atau buah naga sari yang dibakar sebagai bahan penghitam goresan aksara Bali di atas daun lontar. dan dihormati sebagai sumber berbagai ilmu pengetahuan lahir dan batin. Dalam aktivitas penulisan lontar. Denpasar: Jurusan Sastra Daerah FS Universitas Udayana . bambu. rapi dan bersih). (5) dulang kayu (sejenis meja yang bundar) sebagai meja tulis. lontar memiliki wibawa. Daftar Pustaka Agastia. (8) kapas atau kain halus untuk menggosok dan membersihkan bekas-bekas material penghitam. Kualitas lontar yang penulis citrakan tidak lepas dari dasardasar budaya dan keyakinan masyarakat Bali yang melahirkannya. sampai berabad-abad. Lontar terbuat dari daun alami pohon Tal/Rontal. (9) dan sesajen seperlunya.1 Tahun 2012 165 . Keadaan dan Jenis-Jenis Naskah Bali. 3 No. (4) bantalan kasur kecil sebagai alas menulis. (e) memiliki fungsi dan kedudukan terhormat atau disucikan oleh masyarakat Bali (abstract). Bagi masyarakat Bali. (d) memiliki wujud fisik (tangible) dan non-fisik (intangible). sehingga menghasilkan lempiran lontar sehelai demi sehelai. sastra dan aksara Bali.

------------.(2008). Pasang Aksara Bali. BUIP CHC Volume 10. Simpen AB. ”Tastra Sastra Saraswati”. 3 No. Denpasar: Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar.Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Tim Consultancy Service (1999). 166 Jumantara Vol. Makalah diskusi hari suci Saraswati. Denpasar: Dinas Kebudayaan Propinsi Bali. ”Teknik Nyurat Aksara Bali untuk Kejuaraan”.1 Tahun 2012 . Rai Putra. Denpasar: Dinas Pengajaran Propinsi Bali Daerah Tingkat I Bali. Denpasar: PWII Bali. I Wayan (1973). Ida Bagus (2006).

Kata Kunci: Sulalat al-Salatin. * Penulis adalah peneliti senior di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah. 77 Tulisan ini berasal dari “Seminar Ketokohan Tun Seri Lanang dalam Sejarah Dua Bangsa”. yang diselenggarakan oleh Direktorat Nilai Sejarah. Kajian Filologis. Tun Seri Lanang. Sulalat al-Salatin dapat dianggap sebagai salah satu teks Melayu terpenting yang berhasil memikat dan menyita perhatian sejumlah sarjana.Abstrak Teks Sulalat al-Salatin (Perteturun Raja-raja) karya Tun Seri Lanang jelas sangat fenomenal. Jakarta. Tulisan ini akan menegaskan kembali signifikansi teks Sulalat al-Salatin sebagai sebuah karya sastra Melayu tradisional adiluhung yang dihubungkan dengan tokoh Tun Seri Lanang dengan melihatnya dari perspektif tahqiq atau kajian filologis. 3 No.1 Tahun 2012 167 . 8 Desember 2011. Dalam konteks sejarah kesusastraan Melayu klasik. bekerja sama dengan Yayasan Tun Sri Lanang. Aceh. dan bahkan pengarangnya. Teks ini mampu „hidup‟ berabadabad melampaui kebesaran zamannya. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Tahqiq. Jumantara Vol. Biereun. Saat ini menjabat sebagai ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara.

peristiwa pertempurannya. “…Di dalamnya terbayang bukan saja genius pengarangnya tetapi juga genius sastera serta bangsa yang menciptanya…” Muhammad Haji Salleh. B. Perintis Sastra (Groningen. Dalam konteks sejarah kesusastraan Melayu klasik. Teks ini merupakan satu-satunya karya sastra yang kepengarangannya dihubungkan dengan tokoh „jagoan‟ kita dalam tulisan ini.1 Tahun 2012 . 1951). dan bahkan pengarangnya. mereka membuat terdjemahan2 dan daftar isi tjerita itu…”. Terkait dengan kutipan di atas. C. Perintis Sastra (1951: 132). Tun Seri Lanang. dalam Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu (teks diunduh dari situs MCP). Sulalat al-Salatin (Perteturun Rajaraja). Wolters. ingatan orang niscaya akan langsung mengarah pada sebuah karya sastra sejarah. Sulalat alSalatin dapat dianggap sebagai salah satu teks Melayu terpenting yang berhasil memikat dan menyita perhatian sejumlah sarjana. Membincangkan Tun Seri Lanang berkaitan dengan karya sastranya. Hooykaas. Tun Seri Lanang memang tidak dikenal memiliki karya sastra Melayu lain selain Sulalat al-Salatin. Djakarta: J. Hooykaas. Hooykaas menegaskan bahwa para sarjana sedemikian tertarik dengan Sulalat al-Salatin karena “…cara kitab itu melukiskan sesuatu hal dengan tjara jang sederhana sekali dan oleh isi kitab itu jang amat indah2nya. 168 Jumantara Vol.78 Teuku Iskandar menambahkan bahwa semua kisah dalam Sulalat al-Salatin tersebut. 131. 3 No. Teks ini mampu „hidup‟ berabad-abad melampaui kebesaran zamannya. seolah 78 Dr. Sulalat al-Salatin jelas sangat fenomenal. pengunduran Sultan ke Muar dan Pahang. C. Sejauh pengetahuan saya. seperti persiapan perang sebelum Portugis menyerang.“…Tak ada tulisan Melayu jang demikian banjaknya diselidiki [selain Sulalat al-Salatin]…”. diceriterakan dengan begitu hidup. Dr. Kendati demikian.

Sejarah Melayu (Singapore: Methodist Publishing House.G.O. Teeuw [eds. 1997). 3 No.] Sejarah Melayu (Singapore: Thomas McMicking.].” JMBRAS 16. dan Muhammad Haji Salleh.1 Tahun 2012 169 . 1898). 1821. Universiti Brunei Darussalam. dan juga sebagai seorang pengarang yang menghadapi pendahulunya. 242. 3 (1938): 1-226. saya berdiri kagum…”.]. R. Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu (teks diunduh dari situs MCP). 1841). Malay Annals: Translated from the Malay language by the late Dr.penulisnya hadir menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri. 1995).. “The Malay Annals or Sejarah Melayu: The Earliest Recension from MS 18 of the Raffless Collection. diterbitkan ulang di Kuala Lumpur: MBRAS. ya‟ni Perteturun Segala Raja-raja Karangan Tun Seri Lanang (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka. 1952). h. 1. Chambert-Loir menegaskan bahwa Sulalat al-Salatin tidak sekedar teks yang merekam dan menggambarkan peristiwa masa 79 Teuku Iskandar. Situmorang & A.80 Sejumlah buku. John Leyden with an introduction by Sir Thomas Stamford Raffles (London: Longman etc. betapa pun saya terpisah dari akar ini. Shellabear [ed. 80 Muhammad Haji Salleh. Publikasi lebih kemudian tentang Sulalat al-Salatin adalah artikel yang mencoba melihat teks ini sebagai „mitos politik Melayu‟ oleh Henri Chambert-Loir. dan edisi teks atas Sulalat al-Salatin pernah ditulis dan diterbitkan dalam kurun waktu hampir dua abad ini! Sarjana paling awal di antaranya adalah John Leyden. Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad (Brunei: Jabatan Kesusasteraan Melayu. Jumantara Vol. 2001). kemudian W. artikel. Sulalat al-Salatin.79 Muhammad Haji Salleh bahkan dengan berbunga-bunga mengakui: “… Dengan rasa bahawa saya sedang berdiri di depan rimba rahasia fikiran leluhur maka sebagai seorang pembaca Melayu. „The Sulalat al-Salatin as A Political Myth‟ yang terbit di Jurnal Indonesia 79 (April 2005). Winstedt. T. menyusul kemudian Abdullah bin Abdul Kadir [ed. Sedjarah Melayu Menurut Terbitan Abdullah (ibn Abdulkadir Munsji) (Jakarta: Djambatan.D.

Artikel ini dipresentasikan dalam “2011 International Conference on Social Sciences and Society” di Shanghai. Artikel Abdurrahman dkk. Apakah kemudian pembahasan tentang Sulalat al-Salatin boleh dianggap lengkap dan tuntas? Tampaknya tidak juga. “The Sulalat al-Salatin as a Political Myth” dalam Indonesia 79 (April 2005).lalu. di atas pun rasanya belum memadai karena hanya memaparkan tinjauan sederhana atas ayat-ayat al-Quran dalam Sulalat al-Salatin. h. 160. mengingat telaah semacam itu membutuhkan penelitian dan pembacaan atas sumber-sumber primer yang memadai yang. 14-15 Oktober 2011 lalu. Muhammad Ridhuan Tony Lim Abdullah. sayangnya.81 Apresiasi paling mutakhir terkait Sulalat al-Salatin barangkali adalah artikel yang ditulis bersama oleh Abdrurrahman. misalnya. tidak tersedia saat artikel ini ditulis. salah satu aspek penting yang belum banyak dielaborasi terkait teks Sulalat al-Salatin adalah unsur Islam dalam teks tersebut. dan mengemukakan tinjauan atas ayat-ayat al-Quran yang dikutip oleh pengarang Sulalat al-Salatin. Meski demikian. Banyaknya perhatian para sarjana tersebut tidak terlalu mengherankan mengingat kenyataannya Sulalat al-Salatin adalah sebuah sumber tertulis langka yang menjelaskan Kesultanan Melayu di Malaka abad ke-15. Masih perlu diungkapkan. Karenanya. artikel ini belum akan menjawab pertanyaanpertanyaan yang saya kemukakan sendiri di atas. Barangkali. dalam kesempatan ini 81 Henri Chambert-Loir. sejauh mana Islam tergambar dalam Sulalat al-Salatin sebagai pedoman kehidupan negara di Melaka saat itu? Adakah pengaruhnya dalam penegakan hukum dan kebijakan politik? dan beberapa pertanyaan terkait awal Islamisasi lainnya. 170 Jumantara Vol. China.1 Tahun 2012 . melainkan juga merupakan kumpulan motif yang dapat dianggap sebagai mitos politik Melayu yang secara sadar digunakan untuk menonjolkan sebuah visi sejarah tertentu. 3 No. dan Raja Ahmad Iskandar Raja Yaacob berjudul “The Malay world: an analysis of Quranic verses in Sulalat al-Salatin”.

h. demikian juga dalam artikelnya yang lain berjudul “Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu”. 85 „Abd al-Hadi al-Fadli menjelaskan bahwa di antara tugas seorang muhaqqiq (filolog) adalah untuk: memverifikasi judul sebuah karya. 1982).saya hanya akan menegaskan kembali signifikansi teks Sulalat alSalatin sebagai sebuah karya sastra Melayu tradisional adiluhung yang dihubungkan dengan tokoh Tun Seri Lanang. h.edu. tahqiq didefinisikan sebagai „al-fahs al-„ilm li-al-nusus aladabiyah min haythu masdaruha wa-sihhat nassuha wa-insha‟uha wa-sifatuha wa-tarikhuha‟ (sebuah telaah ilmiah atas teks-teks sastra. dan sedikit melihatnya dari perspektif tahqiq atau kajian filologis. Artikel tersebut dapat dibaca di: http://mcp. „Abd al-Hadi al-Fadli.au/papers/MHS%20Esei1. Tahqiq al-turath. (Jeddah: Maktabat al-„Ilm. 121. seperti Shellabear (1896). Lihat Lihat „Abd alHadi al-Fadli. validitas teks. Dalam konteks sastra. 84 Tahqiq seyogyanya merupakan terjemahan dari kata „criticism‟. penyebutan Sejarah Melayu atau Malay Annals tersebut mengikuti dua tulisan paling awal terkait teks Sulalat al-Salatin yang disebutnya „misleading‟. 31-32. dan menegaskan hubungan sebuah karya dengan nama pengarang yang disebut.anu. h.1 Tahun 2012 171 . dari aspek sumber. Winstedt (1938. tanpa diragukan lagi bahwa salah 82 83 Henri Chambert-Loir. dan sejarah teks tersebut). Tahqiq al-turath. penyebaran. ia memberi judul Sulalat al-Salatin. yang lebih suka menyebut judul teks Sulalat al-Salatin sebagai Sejarah Melayu atau Malay Annals. sejauh informasi terkait bisa dijumpai. 1969).85 Dalam hal Sulalat al-Salatin. Jumantara Vol. Dua tulisan yang dimaksud adalah Leyden 1821 dan Abdullah 1841 seperti dikemukakan di atas.84 judul sebuah teks memang seyogyanya didasarkan pada informasi asal yang berasal dari teks itu sendiri. 3 No. dan lainnya. memverifikasi nama pengarang. 133.83 Dalam perspektif filologi dan tahqiq. yang secara sederhana dapat diartikan sebagai „ihkam al-shay‟ (menghakimi sesuatu). “The Sulalat al-Salatin. Liaw Yock Fang (1993) Teuku Iskandar (1995). sifat. Menurutnya. Sulalat al-Salatin atau Sejarah Melayu? Henri Chambert-Loir memberikan komentar kritis atas kebanyakan sarjana. karena dalam publikasinya (1997).82 Muhammad Haji Salleh barangkali adalah salah seorang kekecualian.html.

Voorhoeve. Anehnya. melainkan juga katalog manuskrip yang menginventarisasi dan mendeskripsikannya. 3 No. bukan hanya sumber-sumber yang disebut di atas saja yang banyak menjadikan Sejarah Melayu sebagai judul teks. supaya akan menyukakan duli hadhirat baginda. Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections (Oxford: Oxford University Press. h. Akan tetapi jika yang dimaksudkan adalah kandungan isinya. 230. bukan apa yang difahami peneliti atas teks tersebut! Judul berbahasa Arab untuk teks-teks Melayu adalah sebuah kelaziman pada masa lalu. h. 172 Jumantara Vol. maka penyebutan „Sejarah Melayu‟ atau Malay Annals tentu boleh-boleh saja. termasuk manuskrip Raffles Malay 18 yang dijadikan sebagai landasan edisi oleh Winstedt 1938. 1977).satu bagian dari mukadimah teks yang sedang didiskusikan ini berbunyi: “…maka Fakir karanglah hikayat ini kama sami‟tuhu min jaddi wa-abi. Apakah hal itu disebabkan karena kata Sulalat al-Salatin adalah bahasa Arab yang tidak terlalu jelas maknanya bagi sebagian orang sehingga kebanyakan merasa lebih „nyaman‟ menyebut „Sejarah Melayu‟ yang lebih mudah difahami? Tentu ini bukan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. M. 86 87 Dikutip dari Teuku Iskandar. 134-135. Ricklefs and P. Voorhoeve.88 Kata „Sulalat al-Salatin‟ bahkan tidak terdaftar sama sekali dalam katalog ini.1 Tahun 2012 . Maka Fakir namai hikayat itu Sulalat al-Salatin yakni peraturan segala raja-raja…”. Ricklefs and P. 245. 88 M. Kesusasteraan. Katalog Ricklefs & Voorhoeve 1977 misalnya. C. tidak ada alasan yang masuk akal untuk tidak menyebut Sulalat al-Salatin sebagai judul teks. C. Indonesian…. h. mendaftarkan kata kunci „Sejarah Melayu‟ dalam indeksnya87 yang merujuk pada manuskrip yang disebut sebagai Sulalat al-Salatin ini. karena yang lebih penting adalah menampilkan apa yang tertulis dalam teks.86 Berdasar pada sumber tertulis di atas.

Sebagian mengejanya sebagai „Peraturan‟91. 92 Lihat misalnya Henri Chambert-Loir. dan karena itulah versi Melayunya perlu dibaca sebagai „Perteturun Raja-raja‟. h. 1994). kata „Sulalat‟ ini diterjemahkan menjadi berbeda-beda. penyebutan „Sejarah Melayu‟ sebagai judul teks yang dihubungkan dengan dengan tokoh Tun Seri Lanang ini. Tun Seri Lanang timang-timangannya. Dalam beberapa sumber. Hal ini terutama karena ada bukti tertulis dalam mukaddimah naskah Sulalat al-Salatin sebagai berikut: “…setelah Fakir mendengar demikian. 91 Lihat antara lain Mohammad Daud Mohammad. 134. 489.1 Tahun 2012 173 . saya berpendapat bahwa ke depan. anak Orang Kaya Paduka Raja. 493. 3 No.‟93 Memperhatikan maknanya. seyogyanya diluruskan. sebagian lagi „pertuturan‟92. yang menjadi acuan terjemahan judul tersebut. h. 110. Tun Muhammad namanya. 1997). Tun Seri Lanang: Diskusi Kepengarangan Sulalat al-Salatin Pengetahuan umum kita menyatakan bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang langsung teks Sulalat al-Salatin. sedangkan al-Salatin berarti raja-raja (kings/sultans)90. h. dan diganti menjadi Sulalat alSalatin saja. A Dictionary. cucu Bendahara Seri Maharaja. The Sulalat…. Kesusasteraan… h. cicit Bendahara Seri 89 Hans Wehr. 90 Hans Wehr. Sulalat al-Salatin. ya‟ni Perteturun Segala Raja-Raja Karangan Tun Seri Lanang (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka. dalam bahasa Arab berarti „keturunan‟ (descendant)89. kecuali jika dimaksudkan sebagai penjelasan atau pemerian belaka. Paduka Raja gelarannya. Bendahara. h. Kata „Sulalat‟ sendiri. dan sebagian lainnya „perteturun. terjemahan yang paling mendekati dari definisi kata Sulalat tersebut tampaknya adalah „perteturun‟. Teuku Iskandar. Tokoh-tokoh Sastera Melayu Klasik (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. jadi beratlah atas anggota Fakir alladzi murakkabun „ala „l-jahli. A Dictionary of Modern Written Arabic (Urbana: Spoken Language Services. 116.Dengan demikian. 245. Jumantara Vol. 93 Lihat misalnya Muhammad Haji Salleh. 1987).

Kesusasteraan. Batu Sawar Darussalam…”94 Akan tetapi.97 Argumen seperti ini tentu saja masih dapat diperdebatkan. anak baginda Mani Purindam. 3 No. qaddasa „llahu sirrahum. 174 Jumantara Vol. Alih-alih menganggap Tun Seri Lanang sebagai pengarang langsung. yang mengisyaratkan seolah-olah pengarangnya adalah Raja Bungsu. O. yang terkesan sebagai pamer status. Malakat negerinya. 97. Teuku Iskandar. mengetahui bahasa Sanskritt. Wilkinson menduga bahwa teks Sulalat al-Salatin tersebut dikarang oleh seorang peranakan Tamil yang mengenal kehidupan istana Melaka. Salah satunya adalah karena di akhir naskah versi Raffles Malay 18 tertulis kalimat: “…wa-katibuhu Raja Bungsu…”. h. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik 2 (Jakarta: Penerbit Erlangga. 244. Tamil dan Arab. h. Kesusasteraan. 1993). juga tidak menunjukkan kerendahan hati bangsa Melayu pada umumnya. Wilkinson dan R. 97 Teuku Iskandar. 96 Winstedt menambahkan beberapa hal yang membuat dirinya sangsi bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang Sulalat alSalatin. Parsi. 245-259.Maharaja. Kesusasteraan. tambahan berbagai gelar serta asal-usul pengarang sebagai keturunan para pembesar kerajaan. Selain itu. Kesusasteraan. piut Bendahara Seri Maharaja anak Seri Nara Diraja Tun Ali. J. 249. h. cicit Bendahara Tun Nara Wangsa. ada beberapa sarjana seperti R. Winstedt yang masih mendiskusikan apakah Tun Seri Lanang dapat disebut sebagai pengarang langsung teks Sulalat al-Salatin atau penyalin? Teuku Iskandar mendiskusikan perbincangan para sarjana tersebut secara panjang lebar. lihat juga Liaw Yock Fang.1 Tahun 2012 . karena 94 95 Dikutip dari Teuku Iskandar. serta mengetahui sedikit bahasa Cina dan Siam. 96 Teuku Iskandar. 245. Wilkinson misalnya berasumsi bahwa kalimat “…maka Fakir karanglah hikayat ini…” dalam teks Sulalat al-Salatin tidak cukup lazim ditulis oleh seorang pengarang Melayu yang menyebut dirinya sendiri sebagai seorang „pengarang‟. h. h. Melayu bangsanya.95 Disebutkan. dari Bukit Siguntang Mahameru.

setelah memaparkan argumentasi yang cukup panjang. tampaknya sebuah kajian tekstologis untuk secara khusus memastikan Tun Seri Lanang sebagai pengarang Sulalat alSalatin perlu dilakukan. Sejarah… h. h. yang dalam bahasa Arab berarti „penulis‟. Itulah mengapa Teuku Iskandar memberikan komentar bahwa manuskrip Raffles Malay 18 yang diakhiri dengan kalimat “…wa-katibuhu Raja Bungsu…” adalah salinan manuskrip dari hikayat yang dibawa dari Goa.kata „katib‟ sendiri. Liaw Yock Fang. Teuku Iskandar. Jumantara Vol. sesuai konteks dan kebutuhan pada masanya. termasuk di antara mereka yang meyakini bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarang Sulalat al-Salatin. Teuku Iskandar secara tegas mengatakan: 98 99 100 Teuku Iskandar. Liaw Yock Fang adalah salah satu di antaranya.1 Tahun 2012 175 .98 Demikianlah. Kesusasteraan. 97. Hooykaas misalnya. mengatakan bahwa penyebab keraguan itu adalah karena: “…kebanyakan daripada versi-versi [manuskrip Sulalat al-Salatin.99 Tentu saja ada sejumlah sarjana lain yang tidak sependapat dengan pandangan di atas. baik pada pengarang maupun penyalin sebuah teks. karena ia tidak hanya sekedar menyalin. masih ada beberapa lagi sarjana yang masih belum yakin bahwa Tun Seri Lanang adalah pengarangnya. h. kadang satu episode cukup panjang.100 Dengan demikian. terlepas dari pengakuan atas keindahan dan keagungan Sulalat al-Salatin sebagai karya sastra sejarah Melayu. dapat saja merujuk. melainkan juga menambahkan bagian. yang dimiliki oleh Raja Bungsu. misalnya.] ini masih belum cukup diselidiki dan sukar ditentukan pengarang dan masa tertulisnya…”. Ia. pen. Kesusasteraan. 3 No. bahkan mengubah bahasa karya asal atau menerjemahkan. Teuku Iskandar dan C. karena selain Wilkinson dan Winstedt di atas. Menurut Teuku Iskandar. memperbaiki bagian yang dianggap tidak tepat. harus difahami bahwa konsep „penyalin‟ dalam tradisi kesusasteraan Melayu lama dapat juga berarti „pengarang‟. 252. 250. yang dianggap perlu.

meski sarjana semisal Henri Chambert-Loir mengaku tidak tertarik memperdebatkan apakah Sulalat al-Salatin ini dikarang oleh Tun Seri Lanang sendiri atau pengarang lainnya. Kesusasteraan. karena ia tidak melihat ada alasan kuat untuk mempermasalahkannya.1 Tahun 2012 . 3 No. Fang. Hal ini mungkin karena dalam kenyataannya. kebesaran dan keindahan teks Sulalat al-Salatin itu sendiri sebagai sebuah karya sastra sejarah Melayu klasik dalam beberapa hal sepertinya sudah jauh melebihi kebesaran zaman dan pengarangnya. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik 2. 256. Wallahu a‟lam bissawab. 101 Teuku Iskandar. „The Sulalat al-Salatin as a Political Myth‟ dalam Indonesia 79 (April 2005).(1982). Fadli. Daftar Bacaan Chambert-Loir. barangkali pendekatan tahqiq seperti saya kemukakan di atas dapat diterapkan untuk melakukan sebuah kajian khusus berkaitan dengan kepengarangan teks Sulalat alSalatin. Penutup Demikianlah. Saya hanya berharap bahwa kajian atas karya-karya sastra Melayu semisal Sulalat al-Salatin dapat terus digalakkan dengan melihatnya dari berbagai perspektif. h. 176 Jumantara Vol. 160. h. tulisan ini mungkin tidak memberikan kontribusi penting dan juga tidak menyediakan informasi baru terkait karyakarya sastra yang dihubungkan dengan Tun Seri Lanang. „Abd al-Hadi al. Henri (2005).“…sejak tahun 1964 kita telah menyatakan bahwa Tun Seri Lananglah pengarang Sejarah Melayu dan menentang pendapat Winstedt yang menafikan hakikat ini…”. Liaw Yock (1993). Tahqiq al-turath. agar kajian tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh terkait peradaban Melayu Nusantara kita pada masa lalu. Jeddah: Maktabat al-„Ilm.101 Dalam konteks ini.

A Dictionary of Modern Written Arabic. (1997). C. Ricklefs M. Groningen. and P. Djakarta: J. Sulalat al-Salatin: Adikarya Akalbudi Melayu. 1 ----------. Oxford: Oxford University Press. 3 No. B. Teuku (1995). Mohammad. Tokoh-tokoh Sastera Melayu Klasik. h.Jakarta: Penerbit Erlangga. Wehr. Urbana: Spoken Language Services. Perintis Sastra. Iskandar. ya‟ni Perteturun Segala Raja-Raja Karangan Tun Seri Lanang.html). 1997). Sulalat al-Salatin. Voorhoeve (1977).1 Tahun 2012 177 . Brunei: Jabatan Kesusasteraan Melayu.edu. Wolters. Muhammad Haji.anu. 1994. Hooykaas.au/papers/MHS%20Esei1. Salleh. Universiti Brunei Darussalam. Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. Artikel diunduh dari situs Malay Corcondance Project (http://mcp. Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections. Jumantara Vol. (1951). Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan & Dewan Bahasa dan Pustaka. Mohammad Daud (1987). C. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Hans (1994).

Terbitan teks. mengemukakan alternatif bacaan. no. dan perbaikan bacaan Terbitan diplomatik teks Kuñjarakarṇa (prosa) dari ketiga naskah yang diteliti.Willem van der Molen (2011). Sehubungan dengan terbitnya disertasi W. Sebuah pemandangan umum dan pendekatan baru yang diterapkan kepada Kunjarakarna.1 Tahun 2012 . sungguh membantu pembaca untuk bekerja sendiri: menganalisis. Kritik Teks Jawa. Juli 1984. hlm. terjemahan. Tebal x + 392 hlm. 3 No. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 255-272). bahkan mungkin mencoba membuat rekonstruksi. XXXIII. ISBN 978-979-461-787-8. 7. Artikel resensi ini adalah telaah lama yang pernah diterbitkan di majalah Basis (Th. yang disajikan secara sinoptik. van der Molen dalam terjemahan bahasa Indonesia. Berdasarkan kesempatan luas yang diberikan itu 178 Jumantara Vol. saya merasa perlu untuk menerbitkan lagi artikel itu dengan pengurangan dan perubahan seperlunya.

ternak. Sekalipun hal-ihwal ejaan telah diselidiki secara rumit. […]”. sanḍaŋ Jumantara Vol. 3 No. suatu masalah yang berulang kali dibahas oleh para penerbit teks Jawa adalah masalah pemisahan kata beserta dasar-dasar linguistiknya. bahwa setiap penerbit atau penyunting teks memahami teks dan menguasai bahasa teks yang diterbitkan atau disuntingnya. terutama dari naskah H. dan terbatas pada tataran kata dasar (h.akan dikemukakan beberapa hal yang mungkin membantu pemahaman dan penelitian lebih lanjut. dan hubungan antar teks dengan berbagai karya lainnya. minum. 121162). yang dapat membantu untuk menentukan kedudukan teks itu dalam sejarah bahasa dan tahapan tradisi. Kesalahan terjemahan. Erat hubungan dengan hal itu. Seharusnya dibaca: 125 H paŋan inum. Penelitian ini diharapkan akan menampilkan ciri-ciri kebahasaan dari teks yang bersangkutan. lembu). namun barulah menyangkut pemakaian beberapa huruf saja. sanḍaŋ agoh arabihanakkanak Terjemahan: “Makan. Pemahaman teks dan perbaikan bacaan secara bertahap perlu memperhatikan: teks dari satu naskah. berkeluarga. Selanjutnya masih perlu dilakukan penelitian ejaan dengan memperhatikan tataran morfo-sintaksis. 175) pakaian. pemisahan kata menimbulkan kesalahan (1) 125 H paŋan inum. Terjemahan “ternak” berhubungan dengan bacaan “agoh” (“goh”. Sejumlah contoh berikut ini dimaksudkan sebagai sumbangan pikiran untuk pemahaman teks dan perbaikan bacaan. Dalam hal ini terbitan teks Kuñjarakarṇa (prosa) menunjukkan kekurangan yang menyolok.1 Tahun 2012 179 . Ejaan yang tidak konsisten sangat penting diselidiki demi pemahaman teks dan perbaikan bacaan. Diandaikan. (h. bandingan antarteks dengan karya yang sama dari naskah lain.

1 Tahun 2012 . lebuguntur). I: 100. kĕmbaṅ kuṣaṅ runtiṅruntiṅ. yang adalah nama-nama jenis pertapa. (OJED. […] Terjemahan: “[…] Ø Batu sebagai bulan (h. maŋuyu. yang berarti: “batu merupakan tulang(nya)”. 1982. II: 1647. tahulan). (h. 219) Seharusnya dibaca: “wawaṣi manguyu ḷbuguntuṅ”. 3 No. 185) berbau dupa semerbak harum Seharusnya dibaca: “śammida dupa”. (5) 3130 H halŋa burat. samidha. II: 1638. (OJED. samiddha). II: 2216. (h. wasi.ago harabi hanakkanak “Sanḍaŋ a <ṅ> go” berarti: “pakaian dan perhiasan” (lihat Zoetmulder. lebuguntung”. (4) 2440 H […] Ø watu pinaŋka ta wulan. II: 1901. (3) 1028 H wawa ṣima ŋuyu ḷbuguntuṅ. sima. nguyu. I: 1114. aŋgo. I: 1001. 594 H pamanuyon. ma oṃ. sandaŋ) (2) 334 H śammi dadupa mrabukk arum pawaŋi Terjemahan: “[…] mewangi. bdk. 290-291) Seharusnya dibaca: “watu pinaŋka tawulan”. Lalu “winoŋan” (333) seharusnya dihubungkan dengan “śammida dupa”. […] 180 Jumantara Vol. Old-Javanese English Dictionary = OJED. Terjemahan: “wawal. yang berarti: “kayu bakar (dan) dupa” (OJED. cinakuṣ i wawaŋi kambaŋ wĕrataŋanta.

Seharusnya dibaca: 3130 H halŋa burat. kulit). banyak bagian tidak diterjemahkan (ditandai: …). Bungaku Sang Runting-runting. 257). baik dalam kamus. Ciriku (OJED. cihna II) Si Harum Bunga Weratanganta (? Bdk. 325). dalam bandingan intrateks. pukulun Jumantara Vol. tidak termasuk mantra yang terdahulu. kadi hantiga kinulitan. bahasa. dan lain-lain. […] Terjemahan: “Rupa anda waktu itu seperti telur berkulit” (h. pemisahan kata ditangguhkan. (OJED.Terjemahan: “[…] dengan minyak dan boreh. K: kĕmbaṅ wĕratta baranta). I: 918. karena arti masih gelap. arti kata tidak dicari. kĕmbaṅku ṣaṅ runtiṅruntiṅ cinaku ṣi wawaŋi kambaŋ wĕratanaŋta. bunga kusang dan runting … wewangian. (6) 1792 H sammana rupanta. Mantra: om. sebab: pemisahan kata salah. Bunga wratanganta.” Seperti telah terlihat pada contoh-contoh di atas. dan konteks kurang dipahami. ma oṃ. Mantra: Oṃ. (7) 2203 H […] maŋke taṇn agiraha. ungkapan. Berikut ini disajikan beberapa contoh lagi. 3 No. perbaikan bacaan belum dilakukan. ranak baṭara. […] Artinya: “Mengenakan minyak boreh. (Ungkapan ini menandai tahap upacara. (h. melainkan “telur yang dikuliti (dikupas kulitnya)”.1 Tahun 2012 181 . I: 327. “Hantiga kinulitan” artinya bukanlah “telur berkulit”. maupun bandingan antarteks.

[…]”. 182 Jumantara Vol. titih). (8) 3188 H […] pun puṙṇawijaya.1 Tahun 2012 . 327). hanitihi”. 3 No. pukulun. K tinbul krawa le bujana kulit 3125 H tan tĕtĕsa deniṅ wwakadaga. Batara. “tan agiraha” (naskah H) selayaknya dibaca: “tan ageraha” (tak akan merasa sakit). (h. Perihal sandhi atau gabungan kata semacam ini perlu dipertimbangkan lagi demi pemahaman ciri kebahasan dari teks yang bersangkutan. 2023. Terjemahan: “Purnawijaya mohon diri: „Tinggallah baikbaik … di atas singgasana raja. […]‟”. pasak I.tan panaŋguha lara. II. 279) Memang naskah K berbunyi: “maŋge tan agiraṅ”. tetapi sejajar dengan “tan panaŋguha lara”. Mungkin “pantaraṇn aji” (3192) lebih baik tetap dibaca: “pantaraṇnaji” (gabungan kata: pa [n] taraṇnaaji. (OJED. (h. Larik 3191 seharusnya dibaca: “paṣĕkk apaŋgaḥ. 3190 amit kantuna paṣĕk kapaŋgaḥ. Terjemahan sementara: “[…] Si Purnawijaya mohon diri. amintaha. II: 1438. Terjemahan: “Sekarang … Hamba tidak menganggapnya penderitaan. K pataraṇna maṇni). K tan tĕtĕsa deniṅ wwakadga hendak ucapan Tuanku rajawi. pasĕk. Hendaklah tinggal tetap terhormat menduduki singgasana Tuanku” (9) 3124 H timbul krawa len bujana kulit. haniti hi pantaraṇn aji. (OJED. pun I). (Bagian kalimat ini termasuk langsung! OJED. II: 1310. grah). I: 540.

(10) 3116 H satakuṣilulunnonen […] K maṭakuśilulukonĕn […] Pemisahan kata belum ditentukan. h. kĕṅ kĕṅ […] Terjemahan: “tak tertembus oleh … seperti kuncup bunga. dengan arti: “Mataku Si Lulut Onĕng (Si Asyik-Masyuk)”. dan bandingan antarteks dengan karya lain. Dalam Korawāçrama (Swellengrebel. h. berdasarkan bandingan teks dari kedua naskah. II: 2121. 99a). 325).” (3123 H. OJED. Membatu”. 9). Teg keng keng”. dan tidak diterjemahkan. Bacaan dapat diperbaiki menjadi: “timbul krawalen (atau: krawale. (h. Jumantara Vol. 3 No. unĕŋ. Ensink. I: 806. Aji ini terdapat sesudah cerita tentang Kuñjayakarna dan Pūrṇawijaya. tak akan mempan oleh segala macam pedang (senjata) bagaikan kuncup bunga (?). Tan tĕtĕsa deninṅ <sar>wwakadga. suara orang menghentak bumi) berhubungan dengan “om […] dalamakanku”.323). gḍug. 136). lir pusuḥ tĕg (atau: kĕg) kĕṅkĕṅ”.3126 H lwir pusuḥ tĕg kĕṅ kĕṅ. karawalya (karawali?). 1967.1 Tahun 2012 183 . Us 156: timbal kurawale) bujan<eṅ> kulit. Menurut konteks “gḍug. (OJED. (h. I: 1055. Tĕg. 1936) terdapat Aji Sūkṣma -jahinang dengan ungkapan: “lulut onĕng ring utari” (h. (bdk. On the OldJavanese Cantakaparwa and Its Tale of Sutasoma. (bdk. […] K lwir pusuḥ kĕg. unaŋ). Terjemahan sementara: “Timbul Krawale Buja (Sakti Kebal Lengan?) ada di kulit. lulut. 3116 H: puspa liŋganeṅ siraḥku). diusulkan bacaan: “mataku si lulut onĕng”. Dalam Cantakaparwa terdapat pula Aji Jahinang dengan ungkapan: “Lulur onĕng ring untunku” (naskah Kirtya 398.

” (h. melainkan orang-orang di dunia. Rumahnya penuh dengan harta benda emas. kemala.(11) 1009 H […] upamanya yi kadyaŋga ṇniṅ saṅ besawaṙṇna hatuŋgu kaywaŋan. 3 No. bila mereka sudah mati. Rumah itu bukan milik Besawarna. dan mengacaukan arti!).” (Terjemahan “iwa maŋkana” dengan “meskipun demikian”. Bukanlah Yama yang memiliki kawah itu. perak permata. atau “meski demikian”. yang berarti: “Empatlah rumahnya”. Maka: (12) 1032 H iwa maŋkana yayi kawa ulun… Terjemahan: “[…] …meskipun demikian saya ragu adik. (h. 1032. Seperti itulah halnya kawah tempat siksaan. yang berarti: “seperti itulah. 1708. 219) Seharusnya dibaca: “iwa maŋkana yayi kawa<ḥ>ulun”. (H 1015-1030). 1716. 219) Terjemahan: “yang menunggui kayangan pendosa” berhubungan dengan bacaan “papa ṭa” dan salah hubung dengan “kaywaŋan” (1011). melainkan milik orang-orang di dunia yang berbuat kebaikan. Seharusnya dibaca: “papaṭ <t>a humahnya”. mas pirak miraḥ kommala hinten. dan nanti akan dinikmati. kawahku. […] Terjemahan: “Bandingkan dengan Besawarna yang me nunggui kayangan pendosa. intan. papa ṭa humaḥnya kĕbĕk deṇniṅ raja drawwa. Dinda. Maka: (13) 1001 H […] tanta 184 Jumantara Vol. 1043. 1698. tidak tepat.1 Tahun 2012 .

Kawah adalah milik orang di dunia. Seharusnya dibaca: 989 H […] tanta. Dinda”. ṇni ŋulun haḷbokna kawaḥ hika. 3 No. Bukanlah Yama yang memasukkan atau memasak orangorang berdosa di dalam kawah.” (h. draweni kawah hi<ka> wwaṅ madyapada kaṅ drawenni <i> ka [n] yayi. Terjemahan: “[…] … ku. madyapada kaṅ drawenni kaṅ yayi. saua suruh masuk sendiri dik”. Jumantara Vol. orang-orang di dunialah yang memiliki itu. 217). Seharusnya dibaca: 1001 H […] tantan i ṅŋulun. 219). merekalah yang punya. hawake ḍawak aḷbokĕṇ nika yayi Terjemahan: “[…] … Caranya pada saya kalau saya memasukkan orang ke kawah.1 Tahun 2012 185 . hawake ḍawak aḷbokĕṇn ika yayi Terjemahan: “Bukanlah aku yang memasukkan ke dalam kawah itu. Maka: (14) 989 H […] tanta. drawe ni kawah hi wwaṅ.niṅ ŋulun. Dinda”. melainkan orang-orang itu sendirilah yang masuk ke dalam kawah. ṇn i ŋulun haḷbokna kawaḥ hika. (h. dik. dirinya sendiri memasukkan itu. Terjemahan: “Bukanlah aku yang memiliki kawah itu.

Seharusnya dibaca: 1096 H […] tanta <n> (atau: tan ta?) ulun. klĕ. berdasarkan bandingan dengan larik 1301-1302 dan dengan bacaan naskah K (2822-2823: janmanya acukitt adulit). 223). Terjemahan: “… pemulung. orang-orang itu sesungguhnya masuk sendiri ke dalam kawah”.t adulit. ywa tukit. 3 No. (h. sedangkan “t” jauh berbeda dengan “c”. ywacukit. dan lainlain. penjual kapur”.” Bentuk “ywacukit” dapat dipandang sebagai gabungan kata “ya acukit” dengan sisihan/tambahan “wa” pada kata “ya”.(15) 1096 H […] tanta ulun. […] Terjemahan: “selanjutnya … … penjual kapur”. “pjĕh” (3392. (h. Perbaikan bacaan “klĕ” (1097) menjadi “kĕla” sejalan dengan “tlĕs” (156. 233) 2822 H kunaṅ pañcanmanya. pĕjah). Jadi artinya: “Ada pun penjelmaannya adalah orang-orang 186 Jumantara Vol. Dalam naskah H bentuk huruf “c” agak mirip dengan “j”. Namun demikian. wwaṅ tuhu si maḷbu ḍawak mariṅ kawaḥ […] Terjemahan: “[…] … Ada orang yang masuk yang sangat … Ia masuk sendiri ke dalam kawah […]”. wwaṅ tuhu si maḷbu ḍawak mariṅ kawaḥ […] Terjemahan: “Tidaklah aku masak. (h.1 Tahun 2012 . kĕla. (16) 1301 H […] hacukit hadulit. dapatlah bacaan larik 2822-2823 diperbaiki menjadi: “kunan pañjanmanya. tadulit. tĕlas). 309).

(yang pekerjaannya) „cukit‟. “Ikaṅ ṣwatala” (naskah H) diterjemahkan: “tempatnya sendiri” (h. 1556. salah satu buktinya: naskah A). K ikaṅ satala marayata H ikaṅ ṣwatala. dan berasal dari “sakala” (t<k. yang berarti: “pada waktu yang bersamaan”. dan lain sebagainya). Di sini mungkin terdapat sisipan tambahan “wa”. kapur. 1942. 1946). ta. 171) untuk bepergian. h. “kalṣe” (1076. sehingga “ṣwatala” ekuivalen dengan “satala” (naskah K). Maka terbukalah kemungkinan untuk bacaan “kaleswa” (68). (18) 68 H laŋka leswa ywaki ywaki bawanya Ø Terjemahan: “ „Alasan maksudnya”. II: 1604. 1544. sakala II). 3 No. “kalweṣa” (80. bdk. dan passim). (h. Perbaikan itu sejalan dengan bentuk-bentuk: “swalaka” (229 H. dan passim) dalam naskah H kadang kadang dieja “kalesa”/kaleṣa” (1541. Jadi arti perbaikan bacaan itu: “supaya hilanglah Jumantara Vol. „dulit‟ ” (pedagang terasi. dan lainlain.1 Tahun 2012 187 . 1951. dan “kleswa” (116). (17) 28 A sakala maray. itulah Mungkin harus diperbaiki demikian: 68 H <i> laŋ <a> kaleswa ywaki (yweki?) ywaki (yweki?) bawanya Ø Kata “klesa” (1933. Jadi di sini perlu dipertahankan: “ikaṅ sakala”. sadakala). “swadakala” (528 H. 169). 286). maratabwan. I. kaleṣa. (OJED. 324 H: salaka). 1970. Sisipan/tambahan “w(a)” atau “y(a) dalam ejaan naskah H perlu diperhatikan untuk perbaikan bacaan dan pemahaman bahasa.

kecemarannya. maka bacaannya: 1114 H […] sapa kayweku riṅ pakśanya. Dalam perbaikan bacaan terdapat: “sapa ka 1. (h. diterjunilah kawah itu”. (20) 8 H […] ummilu atatya dewata kabeḥ myamujaha rwiṅ ḃaṫara byudda sri wiroñcana. sapata?” . Mungkinkah diperbaiki menjadi: “dyan tḍuni <i> kaṅ kawaṅ”? (A: den tĕḍūni ikaṅ kawaḥ).1 Tahun 2012 . (19) 1114 H […] sapa ka yweku riṅ pakśanya. inilah sekarang yang ditemuinya. itulah maksudnya”. Sebenarnya “atatya” ekuivalen dengan “atata” (OJED. II: 1958. (h. yeki maŋke tinmunya dyan tuṭ ri kaṅ kawaḥ Terjemahannya: “[…] … Mereka sekarang berhadapan dengan perbuatan jahatnya dan harus mengikutinya ke kawah”. 223). Yang perlu diperhatikan ialah: “dyan tuṭ ri kaṅ kawah”. […] Terjemahan: “Sesudah itu berturut-turut para dewa memuja Batara Buddja Sri Wironcana”. ata tyan?” (h. yeki maŋke tinmunya dyan tḍuni <i> kaṅ kawaḥ Terjemahan: “Siapa yang seperti itu sikapnya. tata I). 356). Dalam perbaikan bacaan terdapat: “atatya? b. 3 No. seperti halnya: “byuda” – “budda”. Pertanyaan itu tidak perlu. 169). Bila demikian. 188 Jumantara Vol.

359) Mungkin “s” pada “aswruh” perlu dipertahankan. nandaḥ padaŋdana kita rari. (h. “wuwustya” (3009) – “wuwusta”. (22) 1555 H […] maŋkana ilaŋan niṅ (sic) kaleṣa papa nniṅ sarira. kalṣe b.1 Tahun 2012 189 . awruḥ. dan lain-lain. aswruḥ b. kaleṣa” (hlm. 245) Lebih tepat diperbaiki menjadi: 1555 H […] maŋkana ilaŋan niṅ kaleṣa papa nniṅ sarira. 221). Dalam perbaikan bacaan terdapat: “1075. Jadi: 1074 H […] den <wu> s wruḥ hiṅ saṅ hyaṅ daṙmma. Kurangnya “pasangan” beserta “sandangan”-nya perlu diperhitungkan dalam perbaikan bacaan. (h. n <ta> Jumantara Vol. 1076. ilaŋana kalṣe ṇniṅ sariranta. Ayo berpakaianlah anda”. Terjemahan: “[…] Pahamilah Darma maka penyakit akan hilang dari badan anda”. (21) 1074 H […] den aswruḥ hiṅ saṅ hyaṅ daṙmma.“myamujaha” – “mamujaha”. “tirtya” (3082) – “tirta”. Terjemahan: “Bila sudah tahu akan Sang Hyang Dharma. […] Terjemahan: “[…] Begitulah caranya menghilangkan kekotoran serta kekurangan badan. hendaklah dihilangkan kecemaran tubuhmu”. 3 No. ilaŋana kaleṣa niṅ sariranta.

[…] Diandaikan. panteni denta kabeh. Bentuk huruf “ḷ” serupa dengan bentuk kombinasi huruf “ŋ(a)” dan “n(a)” (sebagai “pasangan”). (h. hendaklah kau bunuh semua”. harus anda bunuh semua”. aŋĕn) Sang Kunjarakarna. Maka sebaiknya dibaca: 1587 H maŋaŋnaŋĕn śaṅ kuñjarakaṙṇna swojaṙ riṅ saṅ puṙnawijaya Terjemahan: “Berpikirlah (OJED. 2165 H: kasmalammu). (24) 1587 H maŋaḷŋĕn śaṅ kuñjarakaṙṇna swojaṙ riṅ saṅ puṙnawijaya Terjemahan: “Sambil memegang lengannya berkata Kunjarakarna kepada Purnawijaya”. I: 96.1 Tahun 2012 . dan “s” (pada “kasla”) kehilangan “pasangan m(a)” (bdk.ndaḥ padaŋdana kita rari. Jadi artinya: “Kerak segala kecemaran. “pa” (pada “itipa”) kehilangan “wulu” dan “cĕcak”. (h. […] Di sini diandaikan pasangan “ta” hilang (K: sariranta). (lalu) berkata kepada Sang Purnawijaya: […]”.. 319) Perbaikan bacaan: 3039 H itip <iṅ> kasmala kabeḥ. […] Terjemahan: “. 247). 3 No. (23) 3039 H itipa ka sla kabeh. Begitu pula: (25) 3179 H ih hiŋaḷnĕndriya haja tan 190 Jumantara Vol.. panteni denta kabeh.

dan lain-lain. gāgak) yang bersayap keris”. I 473.1 Tahun 2012 191 . … berusahalah keras […]”. Selanjutnya transliterasi. jangan tak waspada. Begitu pula tempat-tempat lain yang paralel.1824 A mawak masarira K mawaṅk asarira H mawak asarira Semestinya 835 K dan H ditransliterasikan: “mawak asarira” dan “mawak aṣarira”. (h. Seharusnya: “[…] burung gagak (OJED. 3539). seperti: “taṇn ana lena kapaŋguḥ” (2464. 3 No. perlu dipertahankan pula kekhasan bahasa Jumantara Vol. gagak. Sekedar contoh: (27) 835 A mawāk masarira K mawakasarira H mawakaṣarira . Artinya: “Nah. 2900. Terjemahan: “Hai. 327) Sebaiknya dibaca: 3179 H ih hiŋaŋnaŋĕn driya haja tan prayatna. […]” (26) 399 H […] gagakk alwar curiga Terjemahan: “[…] Mereka jahat” Teks naskah H dan perbaikan bacaan atas bacaan Kern pada naskah A: “gālak” (VG X: 57) menjadi “gāgak” tidak diikuti dengan terjemahan yang sesuai. dipikir dengan periksa. Namun demikian.prayatna. perlu diperhatikan konsistensi dalam Dalam hal ini sangat penting pertimbangan dari segi linguistik.

dan tradisi teks masing-masing. rakṣasa. hamahĕk b. Misalnya: 1. 2. perlu dipertimbangkan lagi dalam rangka tradisi penulis/penyalin. 29. Bisa ditambah: 1507 H: rasakṣa. Di sini pun perlu dipertahankan: “raśaksa” (beserta varian ejaannya). raśaksa b. di mana bentuk kedua huruf itu serupa. rasakṣa b. OJED. 574. van der Molen menyimpulkan. Sejarah teks dan tradisi Dalam melacak sejarah teks dan tradisinya W. Cantakaparwa) menjadi “kuñjarakaṙṇna” (h. 3306. bahwa kedua naskah itu mempunyai induk yang bersamaan. Jawa Baru: rasĕksa). 361). (h. 1300. 3353. (h. 192 Jumantara Vol. 356). hamahĕt b. 1760. hamahat. meŋkeneha b. yang menunjukkan tahap perkembangan bahasa tertentu (bdk. 365). 3346. bdk. dan “paladara” (3270. Jadi pada naskah H terdapat: “maŋkana” (513. 358) Kiranya perlu dipertahankan: “meŋkeneha” (3369 H: meŋkeneha. Perbaikan bacaan nama-nama “kuñjayakaṙṇna” beserta varian ejaannya (105. 360). bahwa: 1. 1504. 356). (h. 3 No. rakśasa. pertukaran „d‟ dan „n‟ pada naskah H dan K menyatakan. Untuk naskah H lebih tepat ditentukan: “hamahĕt”. (h. meṅkene). 170. Dalam hal ini perbaikan bacaan tidak konsisten. passim) – “moŋkono” (2136 H: moŋkonoha. hamahĕt. 364). OJED. rakṣasa.1 Tahun 2012 . I: 1139. maŋkeneha. 160. 2825. 360). raṣaksa b. mengingat kesalahan-kesalahan yang terjadi berkat salah baca. Sakula < Nakula) menjadi “muladara” (h. (h. I: 1149. 2. penyalin naskah A bekerja dengan lebih teliti daripada penyalin naskah H dan K. moŋkono) – “meŋkene”. bdk. 3. (h. 4.

Pengambilalihan teks itu sesuai Jumantara Vol. (b) teks naskah A mewakili bentuk yang lebih asli. 5. penggantian kata-kata dengan sinonimnya dalam ketiga naskah itu tak dapat memberi kepastian. Dalam konteks itu diberikan ajaran tentang dunia orang mati.3. Teks naskah H dan K memperluas ajaran itu dan lebih terarah pada praktek dengan mengambil alih teks upacara (mis. hukum karma. proses kelahiran. 1. Untuk tidak memperpanjang artikel ini akan diberikan beberapa pokok pikiran untuk penelitian lebih lanjut. van der Molen meletakkan dasar untuk penelitian lebih lanjut. larik 3085-3137). penjelmaan kembali. II: 2026. bahwa (a) teks naskah A menekankan pengetahuan (esoteris). 3 No. serta hakekat pengetahuan akan dharma. 4. bahwa pada sebagian episode siksaan di neraka (larik 464-570 pada terbitan teks) terdapat kekacauan urutan dan kehilangan pada naskah H dan K. manakah bacaan yang harus dianggap asli. perbandingan dengan teks naskah A menunjukkan. Ada kemungkinan teks naskah A berhubungan dengan upacara orang mati (OJED. sedangkan teks naskah H dan K mengalami perubahan-perubahan yang penting. baik ke arah penentuan tradisi maupun ke arah rekonstruksi teks yang dicitacitakan. yang bersifat pembayatan (inisiasi) atau ruwat. sedangkan teks naskah H dan K menekankan perbuatan (ritual). Perbandingan isi dan struktur teks menyatakan. tiwa. samādhi dan tapa sebagai penghilang kecemaran dan jalan kelepasan. Dengan kesimpulan-kesimpulan itu W. Salah satu perbedaan teks yang penting terdapat pada larik 294: “saṅ mātiwatiwa (naskah A) dan “sṣaṅ mati” (naskah H)/ “sṣa mati” (naskah K).1 Tahun 2012 193 . hal itu disebabkan oleh salah susun satu lempir pada naskah induknya. Tengger: Ĕntas-ĕntas).

pembersihan dengan “tirta pañjitah mala” pada diri Kunjarakarna (2038-2044. H-K). 2. A-H-K) diimbangi dengan lukisan pintu yang dijaga oleh Dorakala (222-230. ajaran tentang “pañcabuta” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2237-2260. H-K). A-H-K) diimbangi dengan pembersihan serupa pada diri Purnawijaya (3048-3071. Perbandingan struktur teks ketiga naskah itu memperlihatkan. A-H-K) diimbangi dengan ajaran serupa dari Yama kepada Kunjarakarna (844-866. b. bahwa perubahan atau tambahan pada teks naskah H dan K bersifat membuat keseimbangan: a. H-K).1 Tahun 2012 . H-K). - - c.dengan ajaran yang juga termuat dalam naskah A (mis. A-H-K) diimbangi dengan lukisan tapa Kunjarakarna pada awal cerita (39-46. larik 1973-1975). H-K). H-K). H-K dengan 2048-2060. 828-835. antara unsur-unsur cerita . .lukisan tapa Kunjarakarna dan Purnawijaya pada akhir cerita (3549-3559. ajaran tentang “atma” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2312-2317. antara yang terjadi pada diri Kunjarakarna dan yang terjadi pada diri Purnawijaya ajaran tentang “atma” dari Wairocana kepada Kunjarakarna (805-810. Bdk. A-H-K) diimbangi dengan ajaran serupa dari Wairocana kepada Purnawijaya (2305-2310.lukisan pintu Ayahbumipantana (321-340. H-K). juga 3080-3138. 3 No. antara ajaran dan praktek - 194 Jumantara Vol. 2312-2317. H-K) diimbangi dengan lukisan praktek Purnawijaya (2905-2917.

3 No. Perbedaan teks ajaran dengan lukisan praktek mungkin menunjukkan tahap penyusunan yang berbeda. Analisis semacam ini dapat membantu untuk mengenali lapisan-lapisan teks dan tahaptahap penyusunannya. Masih banyak hal serupa bisa ditemukan. H-K) diimbangi dengan lukisan praktek Purnawijaya (dua tahap: 2491-2494. H-K). Jumantara Vol.1 Tahun 2012 195 . 2550-2555.- ajaran tentang “samadhi” dari Wairocana kepada Purnawijaya (2436-2454.

3. karya tulis yang dianggap penting. alamat surat elektronik pribadi. kedudukan tetap. Gedung Pusat Jasa Lt. ketik spasi rangkap di atas kertas A4). Salemba Raya No. dan alamat lengkap yang mudah dihubungi.Ketentuan Penulisan untuk Jumantara: 1. Jenis tulisan berupa artikel hasil penelitian atau setara hasil penelitian mengenai naskah serta tinjauan buku. Tulisan yang dimuat akan diberikan imbalan/honor sesuai peraturan yang berlaku. Jl. VB Perpusnas RI.000 – 40. 7. 5.id atau melalui pos ke Redaksi Jumantara. 28 A Jakarta 10002. 3 No. 4. Panjang tulisan berkisar antara 20. 2. Artikel ditulis menggunakan bahasa Indonesia disertai abstrak dan kata kunci dalam bahasa Indonesia.1 Tahun 2012 . 196 Jumantara Vol. Naskah yang masuk akan diseleksi oleh Dewan Redaksi bersama Mitra Bestari dan apabila perlu akan dilakukan penyempurnaan tanpa mengubah substansi naskah. Tulisan dikirim melalui surat elektronik dengan alamat jumantara@pnri. 6.go.000 karakter (1520 halaman termasuk bibliografi. Penulis menyertakan identitas lengkap meliputi jenjang pendidikan terakhir.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful