P. 1
Futurisme Ke Surealisme

Futurisme Ke Surealisme

|Views: 71|Likes:
Published by Rain Rosidi

More info:

Published by: Rain Rosidi on Jun 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2013

pdf

text

original

DARI FUTURISME KE SUREALISME

Minat Utama Seni Patung FSR ISI Yogyakarta Pembina: Drs. Suwardi, MSn. Anusapati, MFA Ichwan Noor, S.Sn. Yoga Budiwantoro, M.Sn. Rain Rosidi, S.Sn

FUTURISME
• Futurisme adalah suatu gerakan penting sebelum Mahzab New York yang lahir di Perancis (Paris). Gerakan ini sebetulnya merupakan gerakan seniman Itali (Milan) yang dicetuskan pada 20 Februari 1909 lewat satu artikel di harian ‘Le Figaro’ oleh seorang sastrawan Filippo Tommaso Marinetti. Gerakan ini lahir karena ada semacam dorongan dari para seniman yang ingin membebaskan diri dari kebesaran Itali masa lalu. Mereka merasa bahwa Itali tidak memberikan sumbangan apa-apa terhadap perkembangan dunia modern. Mereka mengelu-elukan dunia modern, kemajuan industri dan teknologi sebagai suatu inspirasi/citra keindahan baru yang lebih dibandingkan keindahan klasik dalam kebudayaan Itali.

• Pada intinya, gerakan ini lebih merupakan satu usaha bentuk revolusi kebudayaan dan kalau perlu dalam bentuk gerakan politik. Bukan sekedar bentuk gerakan kesenian. • Dalam pernyataannya (General Manifesto) pada tahun 1909 Marinetti menyatakan bahwa mobil yang menderum seperti senapan mesin lebih indah dari ‘Dewi Kemenangan Bersayap dari Samothrace’ (sebuah patung yang merupakan ikon klasik keindahan seni Yunani). Manifesto pertama yang kemudian diikuti dengan Manifesto lain seperti ‘Technical Manifesto’ (1910) (merupakan dasar/kunci estetika Futurisme) yang sebelumnya diawali dengan ‘Manifesto Futurist Painting’ juga pada tahun 1910. Dalam Manifesto tersebut mereka menyebutkan bahwa dinamisme universal harus direpresentasikan dalam bentuk sensasi yang dinamis. Bahwa kemudian, gerak dan cahaya telah merusak substansi dari obyek-obyek. Mereka ingin merepresentasikan bentuk mesin dan figur secara aktual dalam geraknya. Menurut visi mereka, semua obyek tidak lepas berdiri sendiri, masing-masing akan saling melakukan interpenetrasi.

• Pada tahun 1912, Bocciani meluncurkan Manifestonya tentang seni patung Futurisme. Dalam perjalanan ke seluruh Eropa, pameran futurisme banyak menimbulkan keributan yang sensasional tetapi sekaligus menarik perhatian. Meskipun demikian, sebagai suatu kekuatan estetis, Futurisme selesai pada awal Perang Dunia I dan semua anggotanya yang masih hidup kembali ke metode ekspresi yang konvensional.

• Dalam salah satu seginya, pematung Futurist banyak menggunakan idiom Kubistik, sehingga ada yang menyebut Futurisme sebagai Kubisme dinamis. Perbedaan yang cukup prinsip dibandingkan Konstruktivisme ialah bahwa Futurisme mengambil teknologi sebagai ide/gagasan. Sedangkan konstruktivisme mengambil bahan/material hasil industri sebagai media berekspresi.

Tokoh-tokohnya • Umberto Bocciani • Giacomo Balla • Carra • Severini • Russolo

DADAISME

Lahir di Zurich (Switzerland) 1916-1919 Tokoh-tokohnya: • Hugo Ball • Hugo Haelsenbeck • Tristan Tzara (Seorang penyair Rusia) • Marcel Janco (Pelukis, pematung dan penyair) • Jean (Hans) Arp (Pelukis, pematung dan penyair)

• Dadaisme adalah pengujian secara kritis terhadap tradisi, premis (kebenaran), hukum, dasar-dasar logis bahkan konsep dari tertib keindahan yang telah menjadi acuan dari penciptaan-penciptaan seni sebelumnya. • Dadaisme adalah simbol ejekan/cemohan terhadap gerakan yang mapan, baik tradisional maupun eksperimental yang mewarnai seni awal abad 20

• Asal usul kata Dada • Dalam Kamus Prancis-Jerman: Mainan Kuda anak-anak (racking horse) • Dalam bahasa Rumania : ‘Yes” (ya) • Dalam bahasa Perancis : hobby, peristiwa besar atau obsesi • Secara Internasional : ada tiga gerakan Dada:
– New York Dada : 1915-1920 – Jerman Dada : 1918-1923 – Paris Dada : 1919-1922

• Beberapa karakteristik gerakan Dadaisme • Penghapusan pengkotaan seni dan pembatasan material • Merusak berarti mencipta • Kecenderungan untuk berusaha menggoyahkan semua tradisi sosial dan artistik, tetapi tidak menciptakan sesuatu yang baru. Tidak menciptakan gaya (style) tetapi menciptakan Way of life (pandangan hidup) • Menolak mekanisasi dunia, peperangan • Memandang rendah apa yang oleh umum diklasifikasikan sebagai seni. Semua ciptaan manusia adalah seni. • Dada berprinsip: mendistik (meniadakan apa yang sebelumnya ada), hal tersebut diilhami oleh bencana yang disebabkan perang.

• Meskipun demikian Dada bukan merupakan satu gerakan yang negatif. Di dalam Irasionalitasnya yang diperhitungkan terdapat semacam pembebasan serta penjelajahan ke bagian-bagian kreatifitas yang belum diketahui tentang kreatifitas. Satu-satunya hukum yang mereka hormati adalah : “Law by Chance” (hukumhukum ketaksengajaan) dan satu-satunya kenyataan/realitas adalah imaji mereka sendiri. • Sifat-sifat kesenian Dada antara lain: • Spontanitas, bermain-main. Hal ini seperti impuls (dorongan-dorongan) yang melatarbelakangi karyakarya barang jadi (ready made) dari Marcel Duchamp yang didalam mencipta hanya sekedar merubah konteks (hubungan) dari fungsi ke estetik. • Kreasi artistik tidak tergantung pada hukum yang telah ditetapkan ataupun ketrampilan tangan (skill)

• Usaha-usaha kreatifitas Dada didasari oleh 3 faktor utama • Bruitism (noise= keributan) • Simultanitas (pengaruh kubisme lewat futurisme) • By chance: fase tertentu di dalam kegiatan kreasi artistik, yang dianggap sebagai suatu prinsip yang menolakan kegiatan artistik sebelumnya yang cenderung untuk selalu mengontrol dan mengarahkan setiap proses kreasi. Contohnya, misalnya karya kolase Jean (Hans) Arp

• • • • • • •

Tokoh-tokoh Dada yang lain Jean (Hans) Arp Kurt Schwitters Max Erust Francis Picabia Marcel Duchamp (New York Dadaist) Man Ray

Jean (Hans) Arp (1887-1986)
• Ia berpendirian bahwa ada kenyataan metafisik dari obyek dan kehidupan itu sendiri dan ia ingin mengungkapkan kenyataan tersebut dengan istilah yang paling kongkrit, yakni abstraksi organis atau konkretasi organis yang kemudian menyebabkannya ia bergeser dari lukisan ke kolase dan kemudian ke relief dan patung tiga dimensi. • Relief-reliefnya memberi sugesti bentuk tanaman, tumbuhtumbuhan yang eksotik, amuba, dengan kandungan arti yang kuat tentang kehidupan, pertumbuhan dan metamorfosa. Jean Arp adalah seorang perintis dalam penggunaan bentuk-bentuk abstrak organis (sebagai lawan dari abstrak geometrik) dengan warnawarna non-deskriptif yang berubah-rubah untuk menciptakan fantasi dibalik dunia yang bisa dilihat.

• Perkembangan Relief (berwarna dan bisa dilihat dari pandangan tiga perempat atau frontal) dari Arp merupakan dasar ke arah penciptaan seni patungnya. Relief berwarnanya juga mendekati apa yang disebut polychrome sculpture, judul hanya berdasarkan kemiripan bentuk misalnya karya dengan judul ‘Forest” dikarenakan bentuknya yang mirip dengan pohon. Elemen-elemen seni Dada ditekankan pada ‘Randomness’. Dadaisme merupakan dasar pijakan perkembangan estetika Arp. Dada berpihak ke hal-hal yang tidak masuk akal (senseless) tetapi bukan omomg kosong (nonsense) dan berpihak kepada alam dalam menentang seni, yaitu bersifat langsung seperti alam.

Dalam berkarya Arp menciptakan sesuatu secara otomatis dengan gerakan tangan dan keputusan intelek. Ini nampak sekali pada phase Surealisme, menurutnya karya seni (seperti patung atau lukisan atau apa saja) seharusnya berasal dari dalamnya sendiri. Seolah-olah ia hanya membiarkan dituntun oleh karya yang sedang berada dalam proses kelahirannya, apapun wujud yang lahir tidak pernah dipersoalkan. Seniman hanya menggerakkan tangannya, atau dengan kata lain ‘bentuk dulu baru makna’ Ia juga tidak pernah bersikap apriori terhadap judul dari karya yang sedang dalam proses berlangsung. Tiap bentuk mesti menandai sesuatu. Arp tidak pernah sengaja mendeformasi bentuk alam yang ada, tetapi bentuk tadi secara natural lahir dari tangannya. Dengan demikian judul hanya berdasarkan asosiasi dia terhadap sesuatu yang mirip dan kalau tidak ada ia akan sekedar memberi judul “Drawing” Komposisi misalnya karya-karya patungnya dia anggap sebagai sesuatu yang kongkrit bukan abstrak (karena tidak ada bekas/jejak proses abstraksi sama sekali dari realitas yang nampak). juga tidak ada kesan dekoratif maupun figuratif seolah-olah semuanya diatur oleh hukum ketaksengajaan (Law of change) Kalau Brancusi mulai dari sesuatu yang ada di alam menuju bentuk-bentuk yang lebih murni (misal: ‘Anjing Laut’ ‘Kepala Wanita’ dan sebagainya). Sedangkan Arp bertolak dari hal-hal yang tidak ada dalam realitas. Jadi abstraksi adalah lawan dari konkretasi.

Marcel Duchamp
• Karya-karyanya yang memakai barang jadi (Ready made) didasarkan pada suatu reaksi dari “pengabaian visual” (visual indifference) tanpa adanya selera baik atau buruk. Judul dimaksudkan untuk membawa pikiran penonton kearah persoalan yang lain yang lebih verbal. Seperti karyanya ‘Sebelum lengan patah” tidak menghadirkan apa-apa kecuali keinginan pikiran untuk memahaminya. Pilihan terhadap barang-barang tersebut tidak pernah didikte/diperintah oleh kenikmatan estetis dan pada kenyataannya hal ini merupakan pembiusan fatal yang mendisorientasikan penonton.

Kurt Schwitters
• Ia banyak membuat kolase yang elemenelemennya berasal dari “found object” (benda temuan) seperti karton, atau benda-benda bekas lain. • Ia juga termasuk salah seorang seniman yang merintis karya seni yang sekarang disebut instalasi. Salah satu karyanya yang disusun seperti itu adalah “Merzbau” (Cathedral of Misery)

Francis Picabia
• Ia berprinsip bahwa seniman adalah bukan orang yang superior, pendapat ini kemudian ditafsirkan secara berbeda-beda. Lukisan dan puisi dapat diciptakan oleh siapa saja, tidak perlu lagi dibutuhkan luapan emosi untuk menciptakan sesuatu. Tidak ada perbedaan yang fundamental antara suatu benda yang dibuat orang dengan benda yang dibuat mesin. Intervensi/campurtangan pribadi yang memugkinkan hanya pilihan/choice. • Ia bersama Tristan Tzara cenderung lebih menaruh minat pada halhal yang destruktif lewat ejekan/cemohan (mocking) untuk mengeksploitir ironi dari kedudukan dan identitas sosial mereka sebagai seniman. Hal ini berbeda dengan sikap Arp dan Hugo ball misalnya yang mencoba mencari seni yang baru untuk menggantikan estetika yang usang dan irelevan

SUREALISME
• Berasal/muncul di Prancis pada tahun 1920 an, pencetusnya adalah Andre Breton yang bertujuan untuk memecahkan kondisi-kondisi yang saling bertentangan antara mimpi dan realitas. • Surealisme bisa berarti automatisme psikis murni yang dimaksudkan untuk mengungkapkan secara verbal, dengan tulisan atau dengan cara-cara lain, proses pikiran yang sebenarnya. Juga berarti perintah dari pikiran yang bebas dari kontrol serta alasan moral dan estetis yang sebelumnya ada. • Surealisme mengarahkan seniman untuk mencipta sesuai dengan perintah/dorongan yang irasional dari pikiran dan pandangan bawah sadarnya.

• Tujuan Surealisme adalah : • Keinginan untuk berbuat yang positif untuk membangun di atas puing-puing Dadaisme. • Surealisme : • Fantasi murni (mis : obyek temuan/found object) misalnya karya Kurt Schwitters • Rekonstruksi dunia mimpi yang njlimet (mis : karya Salvador Dah) • Perbedaan antara Surealisme dengan Dadarisame : • Surealisme mempunyai muatan unsure magis sedangkan Dada tidak

• • • • • • •

Tokoh-tokohnya: Alberto Giaccometti Joan Miro Alexander Calder Jean Arp Max Ernst Paul Nash

Alberto Giaccometti
• Obyek-obyeknya tidak merupakan Representasi obyek lagi tetapi seperti semacam pertemuan yang tidak disengaja. Dalam pertemuan ini ketenangan dan sensasi yang hening dari ruang menjadi kongkrit. Ia sama sekali tidak membuka misteri apapun, rahasia obyek-obyeknya tetap tetapi kehilangan sesuatu sifat seperti berat, material substansi (hakekat). Sementara eksistensi keruangan menjadi tidak terbatas. Keahlian Alberto Giaccometti terletak dalam menempatkan obyek, ruang dan figur menusia menjadi setara. Pengaruh patung Etkuscan merupakan penemuan yang orisinal dari Alberto Giaccometti, bahwa ia sanggup menekan volume figur dan potret dadanya hampir sempurna dan ia mampu merubah proporsi dengan memperlebar kaki-kakinya dan membuat tubuh tersebut seolah-olah muncul keatas karena ada semacam kekuatan di ruang yang menariknya. Ia berusaha mencari dan kemudian mengekspresikan jarak-jarak diantara volume/obyek di ruang dan secara intuitif sadar bahwa apa yang ingin dia ciptakan akan menjadi artikulasi dari ruang. Karya-karya patungnya yang meruang memuncak pada ‘Istana pada pukul 4 subuh’ yakni dengan adanya citra yang muncul dari pengertian sang seniman tentang kesendirian/kesunyian dari kehidupan manusia modern. Tetapi karena kebutuhan untuk mencoba apa yang dia rasakan sebagai sesuatu yang tidak mungkin yakni menggambarkan apa yang benar-benar dilihat oleh mata (visible), menyebabkan ia meninggalkan patung-patung surealiastiknya dan mulai dengan usaha yang intensif dengan subyek yang terbatas yakni figur potret kepala. Karya Alberto Giaccometti bukan merupakan suatu destraksi (perusakan) bentuk seperti yang diduga akan tetapi pengecilan dan penyederhanaan figur-figurnya merupakan hasil filosofi tentang ruang melalui mana ia menciptakan dan memperbaru hubungan yang intuitif antara gerak dan volume di satu fihak serta ruang dan waktu di lain fihak. bagaimanapun juga figur-figur rampingnya tetap dianggap sebagai konstruksi yang transparan (spasial) bukan massa yang padat.

Joan Miro
• Ia digolongkan dalam surealisme organik/biomorfik (absolute surrealism) karena mempunyai sifat yang dekat dengan bentuk abstrak. Disamping itu ia juga meneruskan bentuk-bentuk eksperimental ( in chance) dan automatisme yang dilakukan oleh kelompok Dada yang didominasi oleh ‘Dictation of thought without control of mind”. Bagi dia bentuk karyanya tidak pernah abstrak, karena selalu merupakan tanda dari sesuatu, baik itu orang, burung atau obyek yang lain. “Its near form for form’s shake”.

Alexander Calder
• Lebih cenderung pada naluri bermainmain (bukan otomatisme psikis yang murni)

ABSEN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->