P. 1
AMEBIASIS

AMEBIASIS

|Views: 12|Likes:
Published by Latifa Sary

More info:

Published by: Latifa Sary on Jun 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/27/2014

pdf

text

original

AMEBIASIS Skenario Seorang anak umur 6 tahun dibawa ke rumah sakit dengan keluhan sejak 4 hari yang lalu

BAB dengan tinja lembek disertai lender dan darah lebih dari 5x/hari. Keluhan disertai panas, sakit perut, dan mual muntah. Tidak ada batuk pilek atau nyeri telan. Sudah 2 hari ini penderita tidak mau makan dan minum sehingga kondisinya lemah. Sudah makan obat diapet tetapi masih belum sembuh. Dari anamnesis didapatkan pasien adalah keluarga buruh bangunan dan anak tersebut suka bermain tanah dan kadang minum air mentah. Pada pemeriksaan fisik didapatkan: Vital sign: T 110/70, N 120x/menit, R 24x/menit, suhu 39,2OC. Pemeriksaan abdomen: inspeksi normal, Auskultasi: hiperperistaltik, palpasi: nyeri tekan region kanan bawah. Perkusi: hipertimpani. Nyeri tekan lepas titik Mc Burney (-). Kemudian dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium darah dan tinja untuk melihat kemungkinan agent penyebabnya. Hipotesis Pasien tersebut menderita amebiasis usus (kolon) akut yang disebabkan oleh protozoa usus, yaitu spesies Entamoeba histolytica.

BAB II STUDI PUSTAKA
A. Entamoeba histolytica E.histolytica merupakan salah satu dari enam spesies Amoeba kelas RHIZOPODA. Parasit ini dapat menyebabkan penyakit yang disebut amebiasis dengan manusia sebagai hospesnya. Dalam daur hidupnya,E.histolyrica mempunyai 3 stadium, yaitu bentuk histolitika, minuta, dan kista. Bentuk histolitika dan minuta adalah bentuk trofozoit, perbedaannya terletak pada sifat dan ukurannya. Bentuk histolitika bersifat patogen dan mempunyai ukuran yang leBih besar. Bentuk ini dapat hidup di jaringan usus besar, hati, paru, otak, kulit, dan vagina. Sedang bentuk minuta adalah bentuk pokok (esensial). Tanpa bentuk minuta, daur hidup tidak dapat berlangsung. Lalu kista dibentuk di rongga usus besar. Bentuk ini tidak patogen, tetapi dapat merupakan bentuk infektif (Staf Pengajar Bagian Parasitologi, 2006). Jadi E.histolytica tidak selalu menyebabkan penyakit. Bila tidak menyebabkan penyakit, ameba ini hidup sebagai kisat sebagai bentuk minuta yang bersifat komensal di rongga usus besar, berkembangbiak secara belah pasang. Kemudian bentuk minuta dapat membentuk dinding dan berubah menjadi bentuk kista. Kista dikeluarkan bersama tinja. B. AMEBIASI Amebiasis terdapat di seluruh dunia (kosmopolit) terutama di daerah tropik dan daerah beriklim sedang. Dibeberapa negara tropik, prevalensinya antibodi terhadap E.histo 50%. Di negara

Gejala tersebut dapat dibedakan dari gejala penyakit disentri basilaris. 2007). yaiturasa tidak enak di perut. Bentuk trofozoit (histolitika) ditemukan dalam jumlah besar di dasar dan dinding ulkus. berada pada lumen usus besar tidak mengadakan invasi ke dinding usus (Soewondo. Bentuk trofozoit (histolitika) memasuki mukosa usus besar yang utuh dan mengeluarkan enzim yang dapat menghancurkan jaringan (lisis). sigmoid. turis yg bepergian ke daerh endemis. amebiasis ditemukan pada kel. 2007) Amebiasis Intestinal Amebiasis Kolon Akut Berlangsung kurang dari 1 bulan. Soewondo. orang tinggl d asrama dan penderita (+) HIV. dapat terjadi penebalan dinding usus. dengan tepi yang tidak teratur agak meninggi dan menggaung. Biasanya gejala diare berlangsung tidak lebih dari 10x/hari. Tinja ini disebut tinja disentri yaitu tinja yang bercampur darah dan lendir (Staf Pengajar Bagian Parasitologi. maka kerusakan dapat menjadi luas sekali sehingga ulkusulkus saling berhubungan dan terbentuk sinus sinus dibawah mukosa. Di sekitar ulkus disertai peradangan. Amebiasis Kolon Menahun Biasanya sudah beralngasung lebih dari 1 bulan atau bila terjadi gejala ringan. 2006. Seluruh kolon dan rektum dapat dihinggapi apabila infeksi berat. rektum. imigran. bentuk rongga ulkus seperti botol dengan lubang sempit dan dasar yang lebar. Penebalan ini merupakan suatu granuloma. terdapat juga demam dan leukositosis. Diagnosis klinis ditetapkan bila terdapat sindrom disentri yang merupakan kumpulan gejala terdiri atas diare (bercak-bercak encer) dengan tinja yang berlendir dan berdarah serta tenesmus anus (nyeri apda anus saat BAB) dan terdapat rasa tidak enak di perut dan mules. disebut juga ameboma. 3. Bila tidak ditemukan perlu diulangi 3 hari berturutturut (Staf Pengajar Bagian Parasitologi. a.industri. Amebiasis Ekstraintestinal . bersarang di submukosa dan membuat kerusakan yang lebih luas daripada di mukosa usus. kadang-kadang sampai lebih dari 10x/hari. b. Amebiasis ini ditegakkan dengan menemukanE. Enzim ini adalah suatu cystein proteinase yang disebut histolisin. Bila terjadi infeksi sekunder tyerjadilah proses peradangan. Diagnosisnya dengan menemukan bentuk trofozoit dalam tinja (sulit). Hal ini disebabkan karena ameba yang 2. Dengan peristaltis usus. 2006). Akibatnya terjadi luka yang disebut ulkus ameba. Tempat yang sering dihinggapi (predileksi) adalah sekum. bentuk ini dikeluarkan bersama isi ulkus ke rongga usus kemudian menyerang lagi mukosa usus yang sehat atau dikeluarkan bersama tinja. dapat juga terjadi suatu eksaserbasi akut dengan sindrom disentri. Bentuk klinis yang dapat dikenal adalah: 1. Carrier (Cyst Passer) Pasien tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali. Lesi ini biasanyamerupakan ulkus-ulkus kecil yang letaknya tersebar di mukosa usus. 2006). Proses ini dapat meluas di submukosa dan melebar ke lateral sepanjang sumbu usus. Pada disentri basilaris terdapat sindrom disentri dengan diare yang lebih sering.histolytica bentuk trofozoit dalam tinja (Staf Pengajar Bagian Parasitologi. Proses yang terjadi terutama nekrosis dengan lisis sel jaringan. Kemudian trofozoit memasuki submukosa dengan menembus lapisan muskularis mukosa.homoseksual. diare yang diselingi obstipasi.

tidak nafsu makan disertai pembesaran hati yang nyeri tekan. E. . Pada pemeriksaan tinja secara rutin 1. Pada pemeriksaan radiologi biasanya didsapatkan peninggian diafragma. 3. badan terasa lemah. tenesmus. Proses diare adalah akibat adanya enterotoksin yang mengakibatkan diare cair dengan volume yang besar tanpa lendir dan darah.Salmonella. 2006). yang disebut dengan Watery diarrhea. dan rasa terdesak untuk BAB dengan atau tanpa inkontinensia fekaldengan frekwensi yang meningkat. demam. Pada pemeriksaan tinja rutin secara makroskopis ditemukan lendir dan/atau darah. Mikroorganisme penyebab seperti. serta gejala dan tanda dehidrasi. Mikroorganisme penyebab seperti. Dapat pula terjadi di daerah vulvovaginal akibat invasi ameba yang berasal dari anus (Soewando. frekuensi BAB. C. 2007). muntah. Biasanya gejala klinis yang menyertai adalah keluhan abdominal seperti mulas sampai nyeri seperti kolik. lebih banyak kasus diare akut dibandingkan yang kronis (Arijanty. diare dibagi menjadi 2. namun gejala dan tanda dehidrasi cepat timbul.jejuni. dapat dibagi menjadi (Zein. Berdasarkan jangka waktu terjadinya. Diare akut yang terjadi sampai dengan 7 hari. atau dengan perkiraan volume tinja > 200 gr/hari (Sutadi. DIARE Diare didefinisikan sebagai buang air besar yang dapat dihubungkan dengan meningkatnya cairan. Penyakit ini disebut juga Enteric fever. Wibawa and Wiryani. Keluhan abdominal biasanya minimal atau tidak ada sama sekali. Penetrating Diarrhea Lokasi pada bagian distal usus halus. Shigella. mual. kemudian diare melanjut berlangsung 8-14 hari. sering terjadi di daerah perianal atau di dinding perut. Di Indonesia. sedangkan kronis terjadi lebih dari 2 minggu. Pada pemeriksaan tinja secara rutin tidak ditemukan leukosit. yaitu diare akut dan kronis.V. Entero Invasive E. Diagnosis lab ditegakkan dengan menemukan bentuk trofozoit dalam biopsi dinding abses atau dalam aspirasi nanah anses (Staf Pengajar Bagian Parasitologi. b. dengan gejala klinis demam disertai diare. dengan membentuk hiliran (fistel0. terutama pada kasus yang tidak segera mendapat cairan pengganti. Non Inflamatory Diarrhea Dengan kelainan yang ditemukan di usus halus bagian proksimal.cholerae. 2. 2004): Inflamatory Diarrhea Akibat proses invasion dan cytotoxin di kolon dengan manifestasi sindroma Disentri dengan diare yang disertai lendir dan darah (disebut juga Bloody diarrhea). V.difficile. Pemeriksaan darah menunjukkan adanya leukositosis. umumnya frekwensi > 3 kali/hari. Chronic Septicemia.parahaemolitycus. demam. Sedangkan berdasarkan patofisiologi enteric infection. tidak enak pada perinal. secara mikroskopis didapati leukosit polimorfonuklear. Amebiasis Hati Secara klinis dapat dibuat diagnosis bila terdapat gejala berat badan menurun.coli (EIEC).histolytica. 2003. C.2007). dan C.coli (ETEC). 2007). Enterotoxigenic E.a. Amebiasis Kulit Terjadi akibat invasi ameba langsung dari dinding usus besar.

lalu auskultasi didapatkan hiperperistaltis. sebanyak 10 – 15 L/hari. atau kombinasi dari hal-hal tersebut. menganalisis kemungkinan agen infeksiusnya. S. danC.enteritidis. anterior superior kanan dan umbilikus (pada pangkal apendiks) (Dorland. Motilitas yang lambat mungkin berhubungan dengan pertumbuhan bakteri yang berlebihan sebagai penyebab diare (Nelson. Pada inspeksi abdomen hasilnya normal. Gangguan motilitas mungkin berhubungan dengan perpindahan yang cepat atau lambat. yang diminum atau disekresi. Sakit perut.thypi. Diare sekretorik sering disebabkan oleh zat-zat pemacu sekresi. Analisis pertama yang perlu diperhatikan adalah keluhan demam. Usus halus pada orang dewasa dapat menyerap cairan. berarti kemungkinan apendisitis bisa dieliminasi. BAB III PEMBAHASAN Seorang pasien anak-anak berumur 6 tahun memiliki keluhan 4 hari yang lalu BAB dengan tinja lembek disertai lendir dan darah lebih dari 5x/hari.parathypi A. sedangkan kolon menyerap sekitar ½ L. Sudah 2 hari tidak mau makan sehingga badan lemas. Titik Mc Burney yaitu titik yang terletak pada 1/3 spina illiaca. Keluhan tersebut disertai panas. osmotik atau motilitas. S. konsistensi tinjanya cair. Patogenesis kebanyakan episode diare dapat dijelaskan dari kelinan sekretorik. .didapati leukosit mononuclear. Sebenarnya dasar semua diare adalah gangguan transportasi larutan usus. 2006).cholerasuis. dan muntah menandakan ada gangguan pada daerah abdomennya. dapat digunakan untuk mengarahkan kelainan pada kolon.B. Ternyata terjadi nyeri tekan pada regio kanan bawah ketika palpasi. Hal ini bisa dijelaskan mengingat penyerapan air terbanyak terjadi di dalam usus halus. Sehingga didapatkan suatu kecurigaan infeksi pada daerah abdomen. Mikrooragnisme penyebab biasanya S. karena biasanya kelainan pada usus halus.fetus. dan umumnya tidak berhubungan dengan jumlah diare yang banyak. Setelah mengetahui kecurigaan letak patologi anatominya. S. 2000). mual. Diare ini cenderung menjadi diare cair.enterocolitidea. tidak batuk pilek atau nyeri telan. Kolon memekatkan isi usus pada keadaan osmotik tinggi. yang terikat pada reseptor di epitel permukaan usus dan kemudian memacu akumulasi cAMP atau cGMP di dalam sel. tetapi hal ini bisa lebih menjurus kepada penyakit infeksi. Sebenarnya dengan melihat tipe tinjanya yang lembek. mual muntah. Hampir semua penyakit disertai demam. Regio kanan bawah merupakan daerah kolon ascenden. Diare sekretorik umumnya menetap walaupun tidak diberi makanan per oral (dipuasakan) (Nelson. 2000). seperti toksin kolera. Y. Bentuk diare ini biasanya jumlahnya lebih sedikit dibandingkan diare sekretorik dan berhenti dengan berpuasa. Kemungkinan selanjutnya infeksi pada usus. Makanan – makanan tersebut memeberi pengaruh peningkatan beban larutan osmotik. Tetapi nyeri tekan lepas titik Mc Burney (-). yang volumenya banyak. Beberapa asam lemak intralumen dan garam empedu menyebabkan mukosa kolon mensekresi melalui mekanisme ini. sakit perut. Diare osmotik terjadi setelah makan makanan cair yang sulit diserap.

Pengobatan diare seperti ini harus diberi antibiotik untuk membunuh agen infeksius tersebut (Arijanty. bisa disimpulkan parsait tersebut bisa ditularkan melalui tanah maupun air. Dengan begitu dapat ditetapkan diagnosis awal pasien tersebut adalah amebiasis yang disebabkan oleh infeksi dari E. T. Penelitian baru-baru ini telah menunjukkan bahwa kematian tergantung kontak oleh trofozoa. dan organ lain) (Soewondo. uji hemaglutinasi indirek. hapusan secara sigmoidisme. cairan abses. cacing tambang.histolytica). Demam yang terjadi pada amebiasis disebabkan karena E. Jika amebiasis tidak segera diobati. Pirogen eksogen yang dihasilkan oleh agen infeksi merangsang leukosit untuk menghasilkan pirogen atau pirogen endogen atau IL-1. 2007) BAB IV SIMPULAN DAN SARAN . dan PCR. Tindakan yang dapat dilaksanakan selain pemberian antibiotik adalah pemberian cairan pengganti elektrolit untuk mencegah terjadinya dehidrasi. infeksi karena cacing bisa dieliminasi. IL-1 merangsang produksi prostaglandin di dalam hipotalamus sehingga terjadilah demam.histolytica. dan air liur penderita). Dari data tersebut. amebiasis pleuropulmonal. dan fagositosis. menyebabkan penghancuran jaringan sehingga terjadi sedikit respon inflamasi lokal karena kapasitas sitolitik organisme (Nelson. seperti pada skenario ini. uji serologis (Nelson. 2007). otak. ameboma. abses paru. Ternyata anak tersebut tidak ada gejala batuk pilek ataupun nyeri telan. 2000). dan penyempitan usus) dan ekstra intestinal (amebiasis hati. dan A. yaitu kontak sel dan pemajanan toksis. 2007). perforasi usus. 2007). Lumbricoides karena parasit ini juga menginfeksi paru-paru (Pohan. Diare dengan lendir dan darah ini dapat terjadi pada infeksi E. deteksi antigen (antigen ameba: Gal/Gal Naclectin dpt dideteksi dlm tinja. intususepsi. Tidak ditemukan juga gatal kemerahan di kaki (karena invasi cacing) yang disebabkan cacing tambang (Pohan. Komplikasi tersebut berupa komplikasi intestinal (perdarahan usus. lumbricoides.Diare yang terjadi adalah diare akut. hystolitica. Pemberian obat diapet sebagai antimotilitas tidak akan mempan. 2007). 2000). berarti bukan A. sampel biopsi. limpa. Jika melihat dari waktu panasnya yang berbarengan dengan diare.histolytica ke jaringan lain. Juga telah dirumuskan bahwa amuba dapat mengeluarkan protein pembentuk pori yang membentuk saluran pada membran sel sasaran hospes (Nelson. serum. Seolah-olah diarenya berhenti tapi di dalam masih berlangsung. sitolisis ekstraseluler. (Arijanty. karena baru berlangsung selama 4 hari. Patogenitas E. pemeriksaan mikroskopik. trichiura. meliputi perlekatan (adherence). diperlukan tes-tes penunjang diantaranya pemeriksaan laboratorium seperti deteksi organisme pada sampel tinja (diharapkan ditemukan trofozoit E. Justru pada kasus seperti ini pemberian obat tersebut membahayakan karena justru membuat usus tersebut luka.histolytica menginvasi mukosa usus.histolytica diyakini tergantung pada dua mekanisme. 2000). amebiasis kulit. Salah satunya adalah Metronidazol. Dari anamnesis didapatkan pasien merpakan keluarga buruh bangunan dan anak tersebut suka bermain tanah dan kadang minum air mentah. dapat terjadi komplikasi akibat invasi E. Reseptor lektin spesifik galaktosa diduga bertanggungjawab dalam menjembatani perlekatan pada mukosa kolon. Untuk menetapkan diagnosa pasti terhadap pasien.

3. E. 2. 3. 5.histolytica ke jaringan lain. Pemberian obat diare tidak boleh asal-asalan. Keadaan sanitasi lingkungan dan higiene individu sangat mempengaruhi terjadinya penularan Entamoeba histolytica. 2. 6. Penatalaksanaan amebiasis harus dilaksanakan dengan tepat agar tidak terjadi komplikasi akibat invasi E. terutama melalui air dan tanah. Frekuensi BAB dan lama diare dapat menentuka jenis diare yang dialami. Pada infeksi parasit harus diberikan antibiotik untuk membunuh agen infeksiusnya. 4.histolytica harus dibedakan dengan E. tetapi harus melihat jenis diarenya. Pemberian antimotilitas tidak akan memberi pengaruh justru membuat usus menjadi luka. . SIMPULAN 1. Konsistensi tinja dapat digunakan sebagai salah satu penentu bagian usus yang mengalami gangguan. B. SARAN 1.A. Lebih meningkatkan kebersihan lingkungan dan individu.histolytica dapat menginfeksi kolon dan jaringan lain dengan membuat perforasi. E. 8. Pemberian cairan pengganti elektrolit dapat diberikan pada penderita diare untuk mencegah terjadinya dehidrasi. 7.coli saat pemeriksaan agar tidak salah dalam penatalaksanaannya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->