P. 1
Teori disonansi kognitif

Teori disonansi kognitif

|Views: 35|Likes:
Published by Amin S. Putra
selamat menikmati
selamat menikmati

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Amin S. Putra on Jun 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/12/2014

pdf

text

original

Teori disonansi kognitif

Latar belakang teori. Teori disonansi kognitif merupakan sebuah teori komunikasi yang membahas mengenai perasaan ketidaknyamanan seseorang yang diakibatkan oleh sikap, pemikiran, dan perilaku yang tidak konsisten dan memotivasi seseorang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan tersebut. Pernahkah kamu merasa terbebani dengan orientasi seksualmu? Kamu bingung mengapa bisa memiliki rasa suka kepada sesama jenis dan berusaha menyangkalnya? Tidakkah saat itu kamu merasa sangat takut jika orang lain tahu sehingga kamu berusaha menyembunyikan dan tidak menginginkannya? Gejala-gejala seperti ini menunjukkan bahwa kamu sedang mengalami dilema. Dalam dunia LGBT, keadaan semacam ini populer dengan istilah denial. Namun, ditinjau dari segi psikologis, kamu mungkin mengalami apa yang disebut sebagai cognitive dissonance atau disonansi kognitif. Defenisi Disonansi Kognitif Disonasi kognitif didefinisikan sebagai keadaan tidak nyaman akibat adanya ketidaksesuaian antara dua sikap atau lebih serta antara sikap dan tingkah laku. Festinger (1957), berpendapat bahwa disonansi terjadi apabila terdapat hubungan yang bertolak belakang, yang diakibatkan oleh penyangkalan dari satu elemen kognitif terhadap elemen lain, antara elemenelemen kognitif dalam diri individu. Hubungan yang bertolak belakang tersebut, terjadi bila ada penyangkalan antara elemen kognitif yang satu dengan yang lain, misalnya antara sikap positif A terhadap B (A mencintai suaminya B) dan sikap A terhadap perilaku B (berselingkuh). Seorang lesbian, misalnya, dapat mengalami disonansi ketika menyadari orientasi seksualnya karena dia tahu agama dan norma sosial menganggap orientasinya sebagai penyimpangan. Akibatnya, lesbian tersebut berusaha menyangkal orientasinya untuk tetap berpegang pada norma agama dan norma sosial, atau justru menyangkal norma tersebut untuk dan berusaha merasa nyaman dengan orientasi seksualnya. Namun, perlu diingat, bahwa istilah disonansi tidak hanya digunakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan orientasi seksual. Ketika seseorang bingung karena sangat ingin pergi ke luar kota bersama teman tetapi juga tidak ingin melanggar larangan orang tua, dia juga bisa disebut mengalami disonansi kognitif. Larangan yang harus dipatuhi berbenturan dan membentuk penyangkalan pada keinginannya untuk pergi. Disonansi kognitif tidak hanya bisa timbul dari diri seseorang saja, tetapi juga dapat timbul akibat pengaruh faktor eksternal di luar dirinya. Seorang lesbian yang sudah merasa keluar dari masa denial dan bisa menerima orientasi seksualnya, misalnya, masih dapat mengalami disonansi kognitif akibat sikap atau perkataan orang lain. Dalam sebuah penelitian, seorang lesbian mengaku, ”The tension I experience comes from trying to answer ordained clergy’s questions about ‘ a sin of being openly avowing as a lesbian Christian” (Mahaffy, 1996).
1

Bersikeras mempertahankan kedua-duanya. Disonansi adalah perasaan tidak suka yang mendorong orang untuk melakukan suatu tindakan dengan dampak-dampak yang tidak dapat diukur. ada sesuatu yang harus dilepas. Perasaan yang tidak seimbang sebagai disonansi kognitif. hal 4). Disonansi diciptakan oleh inkonsistensi biologis. dan perilakunya. sikap. Tidak relevan satu sama lain. maka akan memotifasi seseorang untuk berusaha mengurangi disonansi dan mencapai harmonis atau keselarasan. Teori berpendapat bahwa disonansi. yaitu : 1. 1 2 . Disonansi akan mendorong usaha untuk memperoleh konsonansi dan usaha untuk mengurangi disonansi. sehingga ia akan melakukan tindakan untuk keluar dari ketidaknyamanan tersebut. Orang juga akan secara aktif menolak situasi-situasi dan informasi yang sekiranya akan memunculkan disonansi dalam berkomunikasi. 2. teori ini berpendapat bahwa disonansi adalah sebuah perasaan tidak nyaman yang memotivasi orang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyaman itu. akan terasa sangat menyiksa. Teori ini beranggapan bahwa rangsangan disonansi yang diberikan akan memotivasi seseorang untuk keluar dari inkonsistensi tersebut dan mengembalikannya pada konsistensi. Teori ini menekankan sebuah model mengenai sifat dasar dari manusia yang mementigkan adanya stabilitas dan konsistensi. Teori ini menekankan seseorang yang berada dalam disonansi memberikan keadaan yang tidak nyaman. Konsisten satu sama lain (harmoni). atau mempunyai pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat lain yang mereka pegang”(1957. Asumsi-Asumsi Teoritis Asumsi dari teori disonansi kognitif memiliki sejumlah anggapan atau asumsi dasar diantaranya adalah1: • Manusia memiliki hasrat akan adanya konsistensi pada keyakinan. hal ini merupakan perasaan yang dimiliki orang ketika mereka menemukan diri mereka sendiri melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Dalam teori disonansi kognitif ada tiga elemen yang menjadi sorotan. • • • Menurut Leon Festinger. Konsep ini membentuk inti dari teori disonansi kognitif. Teori ini merujuk pada fakta-fakta harus tidak konsisten secara psikologis satu dengan lainnya untuk menimbulkan disonansi kognitif. secara psikologis tidak nyaman .Bila terjadi disonansi. atau ada ketidaksesuaian antara suatu keyakinan dengan keyakinan-keyakinan atau sikap yang penting. Teori disonansi kognitif beranggapan bahwa dua elemen pengetahuan merupakan hubungan yang disonan (tidak harmonis) apabila dengan mempertimbangkan dua eleman itu sendiri pengamatan satu elemen akan mengikuti elemen lainnya.

disonansi (dissoanant). Dalam kasus ini. Contoh dari hubungan disonan antarelemen adalah seorang penganut agama yang mendukung hak perempuan untuk memilih melakukan aborsi. Atau kasus kaum lesbian. mereka mengakui adanya konsep tingkat disonansi. Atau pada kasus kaum lesbian. atau tidak relevan (irrelevan). maka keyakinan anda mengenai kesehatan dan perilaku anda sendiri akan memiliki hubungan yang konsonan antara satu sama lain. Tidak konsisten satu sama lain (disonansi). membuat hubungan ini disonan. keyakinan keagamaan orang itu berkonflik dengan keyakinan politiknya mengenai aborsi. Hubungan konsonan (consonant relationship) ada antara dua elemen ketika dua elemen tersebut pada posisi seimbang satu sama lain. Tingkat Disonansi 3 . Jika anda yakin. mengenai perilakunya yang lesbi dengan konflik dengan norma agama atau sosial yang bertentangan. Tingkat disonansi akan menentukan tindakan yang akan diambil seseorang dan kognisi yang mungkin ia gunakan untuk mengurangi disonansi. berarti lesbian dengan norma agama dan sosial merupakan hubungan yang konsonan. Roger brown (1965) mengatakan. Pentingnya disonansi kognitif bagi peneliti komunikasi ditunjukkan dalam pernyataan Festinger bahwa ketidaknyaman yang disebabkan oleh disonansi akan mendorong terjadinya perubahan. Brown menyatakan teori ini memungkinkan dua elemen untuk melihat tiga hubungan yang berbeda satu sama lain. Mungkin saja konsonan (consonant). misalnya.3. Disonansi adalah sebutan ketidakseimbangan dan konsonansi adalah sebutan untuk keseimbangan. jika bahwa kesehatan dan kebugaran adalah tujuan yang penting dan anda berolahraga sebanyak tiga sampai lima kali dalam seminggu. Jika perilaku lesbian dan norma agama atau sosial tidak ada pertentangan. Konsep dan Proses Disonansi Kognitif Ketika teoretikus disonansi berusaha untuk melakukan prediksi seberapa banyak ketidaknyaman atau disonansi yang dialami seseorang. Hubungan tidak relevan (irrelevan relationship) ada ketika elemen-elemen tidakmengimplikasikan apa pun mengenai satu sama lain. Teori CDT membedakan antara situasi yang menghasilkan lebih banyak disonansi dan situasi yang menghasilkan lebih sedikit disonansi. dasar dari teori ini mengikuti sebuah prinsip yang cukup sederhana ”Keadaan disonansi kognitif dikatakan sebagai keadaam ketidaknyaman psikologis atau ketegangan yang memotivasi usaha-usaha untuk mencapai konsonansi”. Tingkat disonansi (magnitude of dissonance) merujuk kepada jumlah kuantitatif disonansi yang dialami oleh seseorang. Hubungan disonansi (dissonant relationship) berarti bahwa elemen-elemennya tidak seimbang satu dengan lainnya.

dan pemilihan retensi (selective retention). Orang memperhatikan informasi dalam lingkungannya yang sesuai dengan sikap dan keyakinannya sementara tidak menghiraukan informasi yang tidak konsisten. atau seberapa signifikan suatu masalah. Makin banyaka alasan yang dimiliki seseorang untuk mengatasi kesenjangan yang ada. ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi tingkat disonansi yang dirasakan seseorang(Zimbardo. kebanyakan orang menginterpretasikan sikap teman dekatnya sesuai dengan sikap mereka sendiri daripada yang sebenarnya terjadi(Bescheid&Walster. Kepentingan. c.1978).Merujuk kepada jumlah inkonsistensi yang dialami seseorang. Interpretasi Selektif (Selective Interpretation) Melibatkan penginterpretasikan informasi yang ambigu sehingga menjadi konsisten. karena teori ini memprediksi bahwa orang akan menghindari informasi yang meningkatkan disonansi. pemilihan perhatian (selective attention). Faktor ini merujuk pada alasan yang dikemukan untuk menjelaskan mengapa sebuah inkonsistensi muncul. Terpaan Selektif (Selective Exposure) Mencari informasi yang konsisten yang belum ada. a. CDT memprediksikan bahwa orang akan menghindari informasi yang meningkatkan disonansi dan mencari informasi yang konsisten dengan sikap dan prilaku mereka. d. 2. membantu untuk mengurangi disonansi. berpengaruh terhadap tingkat disonansi yang dirasakan. 3. b. Proses perseptual ini merupakan dasar dari penghindaran ini. Disonansi Kognitif dan Persepsi Teori CDT berkaitan dengan proses pemilihan terpaan (selective exposure). Rasio disonansi atau jumlah kognisi disonan berbanding dengan jumlah kognisi yang konsonan. Rasionalitas yang digunakan individu untuk menjustifikasi inkonsistensi. Dengan menggunakan interpretasi selektif. ebbsen&Maslach. 1977): 1. Pemilihan Perhatian (Selective Attention) Merujuk pada melihat informasi secara konsisten begitu konsisten itu ada. 4 . maka semakin sedikit disonansi yang seseorang rasakan. Retensi Selektif (Selective Retention) Merujuk pada mengingat dan mempelajari informasi yang konsisten dengan kemampuannya yang lebih besar dibandingkan yang kita akan lakukan terhadap informasi yang konsisten dengan kemampuan yang lebih besar dibandingkan yang kita lakukan terhadap informasi yang tidak konsisten. pemilihan interpretasi (selective interpretation).

c. Misalnyanya seorang lesbian mencari informasi tentang perilakunya yang menyimpang di lihat dari sudut sosial. Atau cari info lain yang juga bisa menemukan beberapa artikel argumentatif yang mengemukakan bahwa homoseksualitas sebenarnya tidak bertentangan dengan agama tertentu. S. b. Kamu menjalankan mekanisme ini ketika kamu berusaha tidak peduli. Mekanisme yang kedua adalah mencari informasi baru yang mendukung sikap atau perilaku untuk menyeimbangkan elemen kognitif yang bertentangan. namun cara yang paling efektif untuk ditempuh adalah: a.. mencari pembenaran dengan hal yang serupa. Menghapus disonansi dengan cara tertentu. Mekanisme yang terakhir adalah trivialization yang berarti mengabaikan atau menganggap ketidaksesuaian antara sikap atau perilaku penyebab disonansi sebagai hal yang biasa. 5 . membaca artikel ini. Berusaha mencari artikel sejenis untuk menenangkan diri atau dijadikan dasar argumen ketika berdiskusi dengan orang lain juga merupakan aplikasi dari mekanisme di atas. Misalnya.W. dan tetap berusaha menjalani hari-hari sesuai dengan norma yang ada. misalnya. atau (2) pindah ke lingkungan lain yang lebih bisa menerima diri dan orientasinya. Teori ini dinilai kurang memiliki kegunaan karena teori ini tidak menjelaskan secara menyeluruh kapan dan bagaimanaseseorang akan mencoba untuk mengurangi disonansi. 2009) mengemukakan tiga mekanisme yang dapat digunakan untuk mengurangi disonansi kognitif. Aronson dan Festinger (1968. yaitu: (1) mengubah orientasi seksualnya atau setidaknya berpura-pura menjadi heteroseksual. dapat mengaplikasikan mekanisme ini dengan dua cara. 3.Cara Mengatasi Disonansi Kognitif Ada banyak cara untuk mengatasi disonansi kognitif. sebut aja disini artikel SepociKopi. Kemungkinan pengujian tidak sepenuhnya terdapat dalam teori ini. Mengurangi pentingnya keyakinan disonan kita. Mengubah sikap atau perilaku menjadi konsisten satu sama lain. Kemungkinan pengujian berarti kemampuan untuk membuktikan apakah teori tersebut benar atau salah. Seorang lesbian yang tinggal di lingkungan yang sangat keras menentang homoseksualitas. yaitu: 1. b. 1957. dalam Sarwono. mungkin kamu tanpa sadar sedang menjalankan mekanisme tersebut. Kritik Terhadap Teori Disonansi a. meskipun tetap menjalankan kehidupan sebagai lesbian misalnya. Menambahkan keyakinan yang konsonan. 2.

6 .. Buku 1. Jakarta: Salemba Humanika. 2011.Daftar Pustaka Turner H. Richard. Lynn dan West. Pengantar Teori Komunikasi Analisis & Aplikasi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->