LAPORAN PENDAHULUAN A.

PENGERTIAN Fraktur adalah putusnya hubungan suatu tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh kekerasan (E. Oerswari, 1989 : 144). Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2000 : 347). Fraktur tertutup adalah bila tidak ada hubungan patah tulang dengan dunia luar. Fraktur terbuka adalah fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit, dimana potensial untuk terjadi infeksi (Sjamsuhidajat, 1999 : 1138). Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian), dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan pendertia jatuh dalam syok (FKUI, 1995:543). Jadi, kesimpulan fraktur adalah suatu cedera yang mengenai tulang yang disebabkan oleh trauma benda keras. B. ANATOMI DAN FISIOLOGIS

Struktur tulang dan jaringan ikat menyusun kurang lebih 25% berat badan, dan otot menyusun kurang lebih 50%.Kesehatan baikya fungsi system musculoskeletal sangat

Sumsum tulang merah yang terletak di sternum. 3.bembulu darah dan limfatik.matrik protein. Ostioklas adalah sel multi nukliar yang berperan dalam panghancuran.resorpsi dan remodeling tulang.Tulang mulai tarbentuk lama sebelum kelahiran. Kerangka tulang merupakan kerangka yang kuat untuk meyangga struktur tubuh otot yang melekat ke tulang memungkinkan tubuh bergerak metrik.tulang memberi perlindungan terhadap organ vital termasuk otak.pembentukan tulang . Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokhanter kecil. yaitu : 1. 2000 : 347) C.fertebra dan rusuk pada orang dewasa. Sumsum tulang merupakan jaringan faskuler dalam rongga sumsum tulang panjang dan dalam pipih.bertanggung jawab pada produksi sel darah merah dan putih.osteosit dan osteocklas. Tulang dalam tubuh manusia yang terbagi dalam empat kategori: tulang panjang (missal femur tulang kumat) tulang pendek (missal tulang tarsalia). Fraktur Intrakapsuler femur yang terjadi di dalam tulang sendi. Terjadi di luar sendi dan kapsul. Fraktur Ekstrakapsuler.sel selnya terdiri atas tiga jenis dasar osteoblas. Tulang tersusun oleh jaringan tulang kanselus (trabekular atau spongius). fosfor. (Mansjoer.endosteum adalah membrane faskuler tipis yang menutupi rongga sumsum tulang panjang dan rongga – rongga dalam tulang kanselus.osteoblas berfungi dalam pembetukan tulang dengan mensekresikan matriks tulang. KLASIFIKASI Ada 2 type dari fraktur femur. fluor. Struktur tulang. Ostiosit adalah sel dewasa yang terlibat dalam pemeliharahan fungsi tulang dan tarletak ostion.jantung dan paru. Tulang meyimpam kalsium. magnesium. melalui trokhanter femur yang lebih besar/yang lebih kecil /pada daerah intertrokhanter.ilium. Matrik merupakan kerangka dimana garam . . 4.tulang pipih (sternum) dan tulang tak teratur (vertebra). panggul dan Melalui kepala femur (capital fraktur)  Hanya di bawah kepala femur  Melalui leher dari femur 2. Tulang diselimuti oleh membran fibrus padat di namakan periosteum mengandung saraf.tergantung pada sistem tubuh yang lain.Tulang tersusun atas sel.deposit mineral.garam mineral anorganik di timbun.

D. b. Kemampuan otot mendukung tulang turun. ETIOLOGI / PREDISPOSISI Menurut Sachdeva (1996). Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat. Fraktur Patologik Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut : a. misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula. maka volume darah menurun. biasanya disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah. PATOFISIOLOGI Fraktur ganggguan pada tulang biasanya disebabkan oleh trauma gangguan adanya gaya dalam tubuh. 3. gangguan fisik. Secara Spontan Disesbabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran. lambat dan sakit nyeri. penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga. COP menurun maka terjadi . Tumor Tulang ( Jinak atau Ganas ) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif. Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan. baik yang terbuka ataupun tertutup. b. c. Cedera Traumatik Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh : a. yaitu 1. Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang patah secara spontan. Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain. Kerusakan pembuluh darah akan mengakibatkan pendarahan. c. patologik. 2. gangguan metabolic. yaitu stress. E. Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit di atasnya.

7. Rotasi pemendekan tulang. Kehilangan sensasi ( mati rasa. Disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi dan kerusakan jaringan lunak akan mengakibatkan kerusakan integritas kulit. Tenderness / keempukan. Bengkak : Edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur. disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi terkontaminasi dengan udara luar. 2. (Sylvia. Selaian itu dapat mengenai tulang sehingga akan terjadi neurovaskuler yang akan menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik terganggu. b. 6. 3. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur. 1995 : 1183) F. . MANIFESTASI KLINIS 1. Fraktur adalah patah tulang. mungkin terjadi dari rusaknya syaraf/perdarahan ). Dari hilangnya darah. Fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut saraf yang dapat menimbulkan ganggguan rasa nyaman nyeri. Penekanan tulang. 4.peubahan perfusi jaringan. 9. Hematoma akan mengeksudasi plasma dan poliferasi menjadi edem lokal maka penumpukan di dalam tubuh. Selain itu dapat mengenai tulang dan dapat terjadi revral vaskuler yang menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik terganggau. 1993 : 199 ). patologik yang terjadi itu terbuka atau tertutup. Pergerakan abnormal. biasanya disebabkan oleh trauma gangguan metabolik. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur didaerah yang berdekatan. Pada umumnya pada pasien fraktur terbuka maupun tertutup akan dilakukan immobilitas yang bertujuan untuk mempertahankan fragmen yang telah dihubungkan tetap pada tempatnya sampai sembuh. Echimosis dari perdarahan Subculaneous. Deformitas Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti : a. 5. 10. Baik fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut syaraf yang dapat menimbulkan gangguan rasa nyaman nyeri. 8. Krepitasi (Black.

dan sindrom kompartemen. Reposisi dapat dalam anestesi umum atau lokal. (Smeltzer. Tindakan pada fraktur terbuka harus dilakukan secepat mungkin. pelvis. PENATALAKSANAAN Penatalaksaan pada klien dengan fraktur tertutup adalah sebagai berikut : 1. Terapi ini dengan reposisi anatomi diikuti dengan fiksasi internal. .komplikasi lainnya adalah infeksi. emboli lemak. Syok hipovolemik atau traumatik. 2. b. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips. KOMPLIKASI Komplikasi awal setelah fraktur adalah syok yang berakibat fatal dalam beberapa jam setelah cedera. Lakukan pemeriksaan kultur dan resistensi kuman dari dasar luka fraktur terbuka. terdiri dari : a. anti tetanus serum (ATS) / tetanus hama globidin. misalnya pemasangan gips pada fraktur inkomplet dan fraktur tanpa kedudukan baik. Reposisi terbuka. b. Waktu yang optimal untuk bertindak sebelum 6-7 jam berikan toksoid.khususnya pada fraktur femur pelvis. c. Mobilisasi saja tanpa reposisi. Berikan antibiotik untuk kuman gram positif dan negatif dengan dosis tinggi. H. maka dapaler terjadi kehilangan darah dalam jumlah yang besar sebagai akibat trauma. akibat pendarahan (baik kehilangan dara eksterna maupun tak kelihatan ) dan kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak dapat terjadi pada fraktur ekstremitas. 2001).dan vertebra karena tulang merupakan organ yang sangat vaskuler. penundaan waktu dapat mengakibatkan komplikasi. Reposisi tertutup kontrol radiologi diikuti interial. toraks. tromboemboli yang dapat menyebabkan kematian beberapa minggu setelah cedera dan koagulopati intravaskuler diseminata (KID). Traksi. yang berakibat kehilangan fungsi ekstremitas permanent jika tidak ditangani segera. Proteksi. untuk fraktur dengan kedudukan baik. fiksasi eksternal. Terapi non farmakologi. untuk reposisi secara berlebihan. yang dapat terjadi dalam 48 jam atau lebih. Terapi farmakologi.G. terdiri dari : a.

paru. Pengkajian Pasien Post Operasi Fraktur ( Doenges.fraktur multiple. kondisi yang kronis/batuk. dan pireksia. makanan. malnutrisi (termasuk obesitas) . memasang pembebatan yang memadai. takikardia. hubungan. dan melindungi pasien dari cedera lebih lanjut. PENGKAJIAN FOKUS Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono. dan larutan . marah. Pernapasan Gejala : infeksi. stimulasi simpatis. apatis . e. gaya hidup. penyakit vascular perifer atau Statis vascular (peningkatan resiko pembentu kan thrombus ). khususnya pada dewasa muda 20-30th pria pada saat terjadi fraktur globula lemat dapat termasuk ke dalam darah karma tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karma katekolamin yang di lepaskan oleh reaksi setres pasien akan memobilitasi asam lemak dan memudahkan terjadiya globula lemak dalam aliran darah. edema pulmononal. 1994: 10). . misalnya financial. peningkatan ketegangan/peka rangsang . 1999) meliputi : a. ginjal dan organ lain awitan dan gejalanya. membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi). (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) . Setelah terjadi fraktur panjang atau pelvis. yang kemudian menyumbat pembuluh darah kecil yang memasok otak. faktor-faktor stress multiple. Defisiensi immune (peningkatan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) .Penanganan meliputi mempertahankan volume darah. Globula lemak akan bergabung dengan trombosit membentuk emboli. GJK. dapat terjadi dari beberapa jam sampai satu minggu setelah cidera gambaran khansya berupa hipoksia. yang sangat cepat. Tanda : tidak dapat istirahat. Sindrom Emboli Lemak. c. Makanan / Cairan Gejala : insufisiensi pankreas/DM.atau cidera remuk dapat terjadi emboli lemak.mengurangi nyeri yang diderita pasien. plester. I. merokok. Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi . Munculnya kanker / terapi kanker terbaru . d. Keamanan Gejala : alergi/sensitive terhadap obat. takut. Gejala Sirkulasi Gejala : Riwayat masalah jantung. Integritas Ego Gejala : perasaan cemas. takipnea. b.

Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op fraktur Wilkinson. trauma obat. yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia. posterior lateral. antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas. antihipertensi. kardiotonik glokosid. dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi). diuretic. f. FOKUS INTERVENSI DAN RASIONAL 1. antidisritmia. dekongestan. analgesic. fomogram MRI Untuk melihat dengan jelas daerah yang mengalami kerusakan. antibiotic. 3) Arteriogram (bila terjadi kerusakan vasculer) 4) Hitung darah kapiler  HT mungkin meningkat (hema konsentrasi) meningkat atau menurun. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang. g. Riwayat transfusi darah / reaksi transfusi. steroid.  Kreatinin meningkat. 2.  Kadar Ca kalsium. 2006 meliputi : 1. Pemeriksaan Penunjang : 1) Pemeriksaan Rongent Menentukan luas atau lokasi minimal 2 kali proyeksi. Penggunaan alkohol (risiko akan kerusakan ginjal. K. atau obat-obatan rekreasional. 1994 : 17). anti inflamasi. anterior. Hb. Resiko infeksi berhubungan dengan luka terbuka.Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) . Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan . demam. bronchodilator. 2) CT Scan tulang. Penyuluhan / Pembelajaran Gejala : penggunaan antikoagulasi. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal. keratin pada ginjal meningkat. J. 3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang .

Setelah latihan dan aktifitas kaji respon pasien R/ menjaga kemungkinan adanya –menjaga kemungkinan adanya abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan. Observasi tanda-tanda vital R/ Untuk mengetahui perkembangan klien e. 3. Lakukan pendekatan pada klien & keluarga R/ hubungan yang baik membuat klien & keluarga kooperatif b. Berikan latihan aktifitas secara bertahap R/ tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktifitas secara perlahan dengan menghemat tenaga tujuan yang tepat. tulang dan anggota gerak lainnya baik. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan R/ Mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali d. luka a. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgetik R/ Merupakan tindakan dependent perawat. Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri R/ Memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri d.Tujuan dan kriteria hasil:  Nyeri dapat berkurang / hilang  Pasien tampak tenang a. Kaji tingkat intensitas & frekuensi nyeri R/ Tingkat intensitas nyeri & frekuensi menunjukkan skala nyeri c. Resiko infeksi berhubungan dengan luka terbuka . mobilisasi dini c. Tujuan dan Kriteria Hasil:  Pasien memiliki cukup energi untuk beraktifias  Perilaku menampakkan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri  Pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktifitas tanpa dibantu  Koordinasi otot. Rencanakan periode istirahat yang cukup R/ mengurangi aktifitas dan energi yang tidak terpakai b. dimana analgetik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri 2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal.

d. Pemberian obat-obatan : antibiotika R/ Mempercepat proses penyembuhan luka dan dan penyegahan peningkatan infeksi. keterbatasan gerak.an infeksi silang. rubor.nya: edema. Pemeriksaan darah : leokosit R/ Lekosit yang meningkat artinya sudah terjadi proses infeksi f. c. Merawat luka dengan menggunakan tehnik aseptik R/ Mencegah kontami.nasi dan kemungkin. R/ Meminimalkan terjadinya kontaminasi. edema lokal. R/ Merupakan indikasi adanya osteomilitis.dadak. eritema pada daerah luka. Mewaspadai adanya keluhan nyeri men. R/ Untuk mengetahui tanda-tanda infeksi b.Tujuan dan Kriteria Hasil:  Tidak terjadi infeksi  Tidak ada tanda-tanda infeksi a. dolor. . Anjurkan pasien untuk tidak memegang bagian yang luka. e. kalor. Kaji keadaan luka (kontinuitas dari kulit) terhadap ada. fungsi laesa.

Bila hal ini tidak diatasi. paha medial dan fossa popliteal adalah daerah yang berisiko tinggi jika mengalami cedera vaskular. dan tidak diikuti oleh pertambahan luas/volume kompartemen itu sendiri. 2. lengan atas anterior dan medial serta fossa antecubital adalah daerah yang berisiko tinggi. di mana terjadi peningkatan tekanan intrakompartemen sehingga terjadi iskemia jaringan. Sindroma Kompartemen Sindroma kompartemen adalah suatu sindrom yang terjadi karena beberapa hal. yang menyebabkan edema sehingga tekanan intrakompartemen tersebut akan semakin meningkat. terutama cedera arteri merupakan konsekuensi berbahaya dari fraktur yang dapat mengancam jaringan dan nyawa. Hal ini akan memicu terjadinya iskemia jaringan. bisa disebabkan oleh fraktur. Pembuluh darah dapat mengalami cedera di mana saja. akan menyebabkan aliran darah yang seyogyanya mensuplai oksigen dan nutrisi ke jaringan menjadi tidak adekuat (kolaps). yaitu gangguan pada saraf sensorik  Paralisis. Cairan tersebut dapat berupa darah atau edema yang disebabkan oleh fraktur. Secara umum terdapat beberapa tanda (sign) untuk sindroma kompartemen. sedangkan di ekstremitas bawah.M. yaitu kehilangan denyut arteri Cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan teknik fasciotomi. daerah inguinal. Dengan meningkatnya tekanan intrakompartemen (interstitial) yang melampaui tekanan perfusi kapiler (pembuluh darah). yaitu pucat pada kulit akibat berkurangnya suplai darah  Pulselessness. Pada . yang sering ditemukan dan terjadi di awal sindrom  Parestesia. bagian aksila. yaitu gangguan motorik yang ditemukan setelah beberapa waktu  Pallor. Di ekstremitas atas. suatu tindakan operatif untuk membebaskan cairan yang terperangkap di dalam kompartemen. namun ada tempat-tempat tertentu yang sangat rentan terhadap cedera vaskular. yang pada akhirnya dapat mengancam nyawa. maka iskemia yang terjadi akan menimbulkan kematian jaringan dan nekrosis. Cedera Vaskular Cedera vaskular. yang disingkat menjadi 5P:  Pain (nyeri). Peningkatan tekanan ini disebabkan oleh terisinya cairan ke dalam kompartemen (fascia). KOMPLIKASI FRAKTUR 1.

dan iliaka) Perdarahan intraabdominal (visceral dan intraabdominal mayor) Perdarahan melalui luka terbuka . Fraktur Femur) Fraktur dengan kehilangan darah (major blood loss) paling sering terjadi pada fraktur pelvis dan fraktur femur.tibial anterior. apabila terjadi cedera vaskular pada arteri tunggal ini menyebabkan iskemia yang luas pada jaringan yang lebih distal. Osteonekrosis paling sering terjadi di tulang panggul. Arteri tunggal ini nantinya akan bercabang menjadi dua di ekstremitas atas (a. Osteonekrosis Osteonekrosis (nekrosis avaskular) adalah keadaan yang terjadi di mana tulang kehilangan suplai darah untuk waktu yang lama/permanen. penekanan (namun tidak menggunakan torniket).tibial posterior. obturator. Dengan demikian. hanya terdapat satu arteri tunggal yang berjalan sepanjang daerah tertentu sebelum bercabang (furcatio) di daerah yang lebih distal. terdapat beberapa lokasi yang sangat rentan terjadinya perdarahan setelah fraktur: a. serta tindakan operatif.radialis dan a. 3.ulnaris setelah fossa cubiti) dan tiga di ekstremitas bawah (a. Penanganan tersebut meliputi imobilisasi ekstremitas. di mana risiko iskemia jaringan tidak seluas yang ditimbulkan oleh cedera arteri tunggal. b. Tanpa suplai darah.fibular/peroneal setelah fossa popliteal). Hal ini disebabkan vaskularisasi yang ekstensif pada kedua daerah tersebut. c. dan takikardia. Hal ini akan berbeda jika cedera vaskular terjadi di daerah yang lebih distal setelah percabangan. pudendal. a. Koval et al mengemukakan bahwa sepuluh persen pasien dislokasi panggul anterior mengalami osteonekrosis. Perdarahan intraosseus (periosteal. terutama pada dislokasi panggul posterior disertai fraktur kepala femur. hipotensi. jaringan tulang akan mati dan menjadi nekrotik. intramuscular) Perdarahan intrapelvis (a. Apabila terjadi perdarahan secara signifikan (lebih dari 1 liter) dapat berakibat secara sistemik. Braten et al mengemukakan bahwa penanganan cedera vaskular paling baik dalam jangka waktu 6 jam setelah terjadinya fraktur. 4. kapsular. d. dan a. Setelah itu disarankan untuk dilakukan fasciotomi demi mencegah terjadinya sindroma kompartemen.gluteus superior.femoralis akan bercabang menjadi a. brachialis bercabang menjadi a.daerah-daerah tersebut. Sekitar 40 persen pasien dengan fraktur pelvis mengalami perdarahan intraabdominal yang dapat berujung pada kematian. Pada fraktur pelvis. Major Blood Loss (Fraktur Pelvis. seperti shock.

fraktur femur juga dapat menyebabkan kehilangan darah yang sangat masif karena strukturnya yang sangat vaskular. Beberapa contoh cedera saraf perifer antara lain: a. yaitu kehilangan fungsi dari sel saraf namun tidak disertai oleh kelainan struktur. dan regenerasinya. Fraktur dapat menyebabkan cedera saraf perifer melalui beberapa mekanisme. regenerasi aksonal dapat mengembalikan fungsi yang hilang. Neurapraxia.Pada fraktur yang disertai dengan rotasi eksternal pelvis. yang berhubungan dengan fraktur dan dislokasi di daerah siku. memperbaiki deformitas. 5. c.276 cc. menyambung (ligasi) pembuluh darah serta resusitasi. cedera saraf dapat dibagi menjadi beberapa golongan: a. Carpal tunnel syndrome (CTS). Kompresi n.peroneal (fibula) ditandai dengan kelemahan motorik seperti dorsofleksi dan eversi kaki. c. b. Saraf yang rentan mengalami cedera adalah saraf yang letaknya di dekat tulang/fascia. b. medianus. Peroneal nerve palsy. Ditandai dengan kesulitan untuk memisahkan jari-jari dan kelemahan pada jari 4-5. yaitu cedera saraf yang lebih berat dari neurapraxia dan axonometsis. Pada neurotmesis. fungsi. Hal ini dapat diminimalisasi dengan cara mengimobilisasi tulang yang mengalami fraktur. Gejala ini bertambah di malam hari. selubung myelin dan jaringan konektif sehingga penyembuhan menghasilkan jaringan parut yang menghambat regenerasi akson. Berdasarkan struktur. misalnya dengan terpotong atau melalui penggunaan torniket.ulnaris. Yang pertama adalah trauma mekanik secara langsung. di mana terjadi robekan ligamen pelvis. terjadi kehilangn fungsi disertai cedera aksonal. Cedera Saraf Perifer (Peripheral Nerve Injury) Cedera saraf perifer merupakan komplikasi lain dari fraktur. namun struktur inti beserta selubung dan sel Schwann masih utuh. yang pada . Neurotmesis. dapat terjadi pengumpulan darah dalam jumlah besar di ruang retroperitoneal dan dapat berekstravasasi ke sekitar pelvis. yaitu kehilangan fungsi dari sel saraf dan disertai oleh cedera akson. Mekanisme berikutnya adalah melalui kompresi/tekanan. Pada cedera ini. Axonotmesis. Lieurance et al mengemukakan bahwa sekitar 40 persen penderita fraktur femur mengalami kehilangan darah rata-rata sebanyak 1. Hampir sama dengan fraktur pelvis. yang disebabkan oleh kompresi pada n. yaitu sindroma yang ditandai dengan nyeri atau mati rasa pada jari 1-3 yang disebabkan oleh cedera pada n.

Mekanisme terjadinya cedera pada vertebra antara lain meliputi kontusio. tarikan (stretching) dan laserasi. yang pada prinsipnya merupakan penyambungan saraf yang cedera. Apabila refleks bulbocavernosus sudah kembali namun tidak diikuti oleh kembalinya kemampuan sensorik dan motorik lain. Penyembuhan akan terjadi dengan kecepatan sekitar 1 mm/hari. Karena vertebra merupakan tulang yang melindungi medula spinalis (sistem saraf pusat). yang ditandai dengan adanya fungsi sensorik/motorik yang tersisa di bawah level spinal yang mengalami cedera. Refleks bulbocavernosus bisa menghilang atau tetap. Selain itu. Pada cedera spinal komplit. Jika refleks bulbocavernosus menghilang. yang ditandai dengan kehilangan fungsi sensoris atau motoris di bawah level spinal yang mengalami cedera. b. Iskemia yang dihasilkan oleh sindroma kompartemen juga dapat mencederai sel saraf. kompresi. dapat dilakukan tindakan operatif. Cedera neurologis yang ditimbulkan dapat dibagi menjadi: a. Sel saraf yang cedera dapat mengalami penyembuhan apabila cedera tersebut tidak mengenai struktur keseluruhan sel saraf. maka cedera yang terjadi adalah cedera spinal komplit. Fraktur vertebra terjadi 4 kali lebih banyak pada pria dan sering terjadi di usia lanjut (>75 tahun). maka cedera pada vertebra dapat memberi dampak secara neurologis. Cedera spinal komplit. cedera spinal yang diakibatkan oleh cedera vertebra dapat berakibat spesifik sesuai dengan daerah yang dipersarafinya. Fraktur Vertebra Dan Instabilitas Disertai Defisit Neurologis Memburuk Atau Inkomplit Vertebra merupakan salah satu bagian rangka aksial pada manusia. Beberapa contoh antara lain:  Segmen servikal C1-C3 : gangguan fungsi diafragma (untuk pernapasan) C4 : gangguan fungsi biceps dan lengan atas C5 : gangguan fungsi tangan dan pergelangan tangan C6 : gangguan fungsi tangan secara komplit C7 dan T1 : gangguan fungsi jari tangan . mungkin terjadi kehilangan refleks bulbocavernosus (refleks sfingter anus) yang diatur di segmen S2-S4 dan akan kembali dalam waktu sekitar 24 jam setelah cedera. Cedera spinal inkomplit. 6.fraktur dapat disebabkan oleh tulang atau sindroma kompartemen. maka salah satu ciri cedera spinal inkomplit adalah kembalinya fungsi-fungsi sensorik dan motoris lain setelah refleks bulbocavernosus kembali. Selain itu.

8. atau 3 bulan untuk bagian leher tulang femur. Sebaiknya dilakukan analisis mikroorganisme sebelum pemberian antibiotik. di mana terbentuk kalus tulang namun tidak terbentuk penulangan antara tulang yang fraktur. nutrisi yang kurang baik/adekuat. efek penggunaan steroid. sistem saluran kemih dan anus. di mana bakteri dibawa oleh aliran darah  Infeksi pasca operasi Infeksi pada fraktur dapat dibagi menjadi infeksi luar (superfisial) dan infeksi dalam. maka drainase pus. Non-union bisa dibagi menjadi beberapa tipe:  Hypertropic non-union. . Infeksi Pada fraktur. seperti usia. cedera vertebra dapat berakibat lain seperti spastisitas atau atrofi otot. di mana tidak terbentuk kalus tulang untuk penyatuan namun keadaan lain seperti vaskular membaik. Malunion. Non-Union. namun tidak semua antibiotik memiliki spektrum yang tepat. Selain itu gangguan fungsi sensoris dan motoris. Non-union bisa disebabkan oleh beberapa faktor. di mana normalnya tulang tersebut seharusnya sudah menyatu. suplai darah yang tidak adekuat. Sebagai contoh untuk tulang panjang dikatakan non-union jika setelah 6 bulan tidak ada penyatuan. gangguan stabilitas tubuh T9-T12 : kehilangan parsial fungsi otot abdominal dan batang tubuh  Segmen lumbar dan sakral Cedera pada segmen lumbar dan sakral dapat mengganggu pengendalian tungkai. penanganan dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik dan pembersihan serta mengelola luka dengan baik. Pada infeksi luar. pembersihan jaringan nekrotik dan mengelola luka merupakan penanganan yang baik. Pemberian antibiotik juga dapat dilakukan. 7. infeksi dapat terjadi melalui 3 jalur:  Fraktur terbuka yang disertai luka yang terpajan ke lingkungan luar  Fraktur yang disertai hematoma. Jika infeksi terjadi di dalam. terapi radiasi. infeksi.  Oligotropic non-union. atau imobilisasi yang kurang benar. Delayed Union Non-union adalah suatu kondisi di mana tidak terjadi penyatuan (penyembuhan) tulang yang mengalami fraktur setelah beberapa waktu. Segmen torakal T1-T8 : gangguan fungsi pengendalian otot abdominal.

dan paling sering terjadi sebagai komplikasi fraktur tulang phalangs. dan pemendekan (shortening). Beberapa penyebab delayed union antara lain infeksi dan suplai darah yang inadekuat. Malunion dapat menyebabkan gangguan fungsional dan estetik. Biasanya disebabkan oleh penanganan yang kurang adekuat.  Gap non-union. Atropic non-union. angulasi. di mana penyatuan tidak terjadi akibat terpotongnya pusat penulangan (diafisis) pada saat fraktur. Delayed union adalah keterlambatan penyembuhan/penyatuan fraktur. Beberapa contoh malunion adalah malrotasi (terjadi pada fraktur spiral atau oblik). . Malunion adalah penyembuhan fraktur dalam posisi yang tidak anatomis (abnormal). di mana tidak terbentuk kalus tulang dan keadaan lain seperti vaskular tidak membaik. Tidak ada batasan waktu yang jelas kapan suatu penyembuhan fraktur dikatakan delayed union.

Louis. F.A.E. Philadelpia.DAFTAR PUSTAKA Doenges M. (1989) Nursing Care Plan. Mosby Company . Long. Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). BC and Phipps WJ (1985) Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach St. Davis Company. Cv.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful