UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007

TESIS

JOKO SUDIARTO NPM 0606152604

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA PROGRAM MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK JAKARTA, DESEMBER 2009

Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007

TESIS Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi pada Program Magister Perencanaan Dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia

JOKO SUDIARTO NPM 0606152604

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA PROGRAM MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK JAKARTA, DESEMBER 2009

Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama NPM Tanda tangan Tanggal

: : : :

Joko Sudiarto 0606152604

Desember 2009

ii
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

. . ... Ph....... Ditetapkan di Tanggal : : Jakarta Desember 2009 iii Analisis potensi....... . Raksaka Mahi....D Arindra A..... Zainal...2007 Ikutan Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi pada Program Studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik............ DEWAN PENGUJI Pembimbing Penguji Penguji : : : B............. Ph.....HALAMAN PENGESAHAN Tesis ini diajukan oleh Nama NPM Program Studi Judul Tesis : : : : Joko Sudiarto 0606152604 Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Analisis Potensi Royalti dari Mineral Pertambangan Tembaga Tahun 2003 .......D Syarif Syahrial..... 2009............ Fakultas Ekonomi............. ..... Universitas Indonesia..... FE UI. JokoSudiarto.....

. Bapak dan Ibu di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral yang sangat membantu dalam penyediaan data. Oleh karena itu. 2. 3. Bapak Ibu Dosen pada Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik. Hasna dan Ziva yang selalu memberikan motivasi serta doanya. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Yth. Yth. 2009. iv Analisis potensi. 4. JokoSudiarto. saran dan perbaikan untuk penyempurnaan materi Tesis ini. Fakultas Ekonomi. 5. penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya. Tesis ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam rangka mencapai gelar Magister Ekonomi pada Program Pascasarjana di Universitas Indonesia. dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan adanya kritik. yang dengan sabar dan penuh perhatian berkenan meluangkan waktu dan pikiran untuk membimbing dan memberi arahan hingga selesainya penyusunan Tesis ini. sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Tesis dengan judul “ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007”. Tak lupa penulis juga ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada : 1. Rofif. Bapak Raksaka Mahi selaku Pembimbing. Semoga Tesis ini bisa menambah dorongan semangat belajar bagi kalian.. Jakarta.. Universitas Indonesia.KATA PENGANTAR Segala puji syukur. FE UI. Semua pihak yang terkait dan telah banyak membantu dalam penyusunan tesis ini. Bapak Direktur PNBP Departemen Keuangan. Istri dan anak-anakku tersayang Nabila.. Penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Yth.

. FE UI. penulis berharap Tesis ini dapat memperluas cakrawala ilmu pengetahuan dan memberi manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.. Jakarta. 2009.Selanjutnya. .. JokoSudiarto. Desember 2009 Joko Sudiarto v Analisis potensi. terutama bagi penulis sendiri.

Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan.HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia. menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive RoyaltyFree Right) atas karya ilimiah saya yang berjudul: ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007 beserta perangkat yang ada (jika diperlukan).. FE UI. 2009. mengelola dalam bentuk pangkalan data (database)... . merawat. JokoSudiarto. mengalihmedia/ formatkan. saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama NPM Program Studi Departemen Fakultas Jenis Karya : : : : : : Joko Sudiarto 0606152604 Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Ekonomi Ekonomi Tesis demi pengembangan ilmu pengetahuan. Dibuat di : Pada Tanggal : Jakarta Desember 2009 Yang menyatakan Joko Sudiarto vi Analisis potensi. Demikian pernyataan saya buat dengan sebenarnya. dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Kata Kunci: Royalti. Hasil analisis menunjukan bahwa hampir seluruh mineral ikutan pertambangan tembaga dapat dimanfaatkan dan mempunyai nilai jual.ABSTRAK Nama Program Studi Judul : Joko Sudiarto : Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik : Analisis Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Pertambangan Tembaga Tahun 2003 . direkomendasikan untuk merevisi Pasal 13 kontrak karya yang kurang menguntungkan pihak Pemerintah RI. teknik pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan dan hasil survei. perak dan tembaga sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dikenakan royalti. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan pendekatan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Universitas Indonesia . kontraktor hanya menyetorkan royalti atas mineral emas. dimana cakupan KK mengenai royalti lebih sempit dibandingkan dengan prinsip PNBP tersebut. Dalam Kontrak Karya (KK) pengusahaan pertambangan tembaga. Kontrak Karya vii Analisis potensi. FE UI. Mineral Ikutan Pertambangan tembaga Undang-undang PNBP. Demikian juga dengan mineral ikutan pertambangan tembaga sudah semestinya dikenakan royalti.20/1997 tentang PNBP bahwa semua pemanfaatan sumber daya alam harus membayar royalti. 2009.2007 Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang bersumber dari pertambangan umum merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat potensial.. namun belum dikelola secara optimal. Sesuai dengan prinsip PNBP yang ditegaskan dalam UU No. dan untuk memperkirakan besarnya kandungan mineral ikutan yang berada di luar sampel digunakan teknis forecasting menggunakan metode rata-rata dan analisis regresi linier sederhana. Berdasarkan hasil penelitian ini.. JokoSudiarto. menentukan alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan pertambangan tembaga dan perkiraan potensi royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga untuk periode 2003 2007. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cakupan KK pengusahaan pertambangan tembaga..

2009. The result of the analysis to explain the reasons to levy royalty from other minerals. Contract of Work viii Analisis potensi. The result shows that most of minerals from the copper mining can be used and sold. Non Tax Government Revenue (PNBP) from mining is among one of the potential government revenues for Indonesia. it is recommanded to revise the Article 13th in the Contract of Work. and the technique forecasting has been used to estimate of other minerals contained within the copper concentrate. Universitas Indonesia ... the extraction and usage of natural resources must be levied to royalty. Key Words: Royalty. which states that the scope of Contract of Work related to royalty is narrower than the principle of that user charges. but not for other minerals contained within the copper concentrate. The objective of this research is to evaluate whether the scope of Contract of Work of copper mining could be optimized by evaluating the potential of other minerals contained in the copper concentrate. Base on this research. Mineral from Copper Mining Law No. it is not optimally managed. According to the principle of user charges as stated in the Law No. the technique of collecting data through study of literatures and survey. 20/1997 about PNBP.. To achieve those goals. The Contract of Work stipulated for copper mining is only stated that. FE UI. the qualitative and quantitative approaches are used. silver. this study also estimates the potential royalty that could be derived from other minerals of copper mining for year 2003 – 2007. all minerals from the copper mining should also be levied to royalty. the contractor is required only to pay royalty of gold. Unfortunately.ABSTRACT Name Study Program Title : Joko Sudiarto : Magister of Public Planning and Public Policy : Analysis of Potential Royalty from Minerals of Copper Mining Year 2003 – 2007. and copper. JokoSudiarto. Thus. 20/1997 about PNBP. The study employs moving average method and simple linear regression analysis.

DAFTAR ISI

Hal Halaman Judul ................................................................................................... Halaman Pernyataan Orisinalitas ……………………………………………. Halaman Pengesahan ……................................................................................ Kata Pengantar .................................................................................................. Halaman Pernyataan Persetujuan Publikasi …………………………………. Abstrak ............................................................................................................ Abstract ……………………………………………………………………… Daftar Isi ........................................................................................................... Daftar Diagram ................................................................................................. Daftar Tabel ...................................................................................................... Daftar Lampiran ................................................................................................ i ii iii iv vi vii viii ix xi xii xiii

BAB I

PENDAHULUAN ........................................................................ 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. Latar Belakang .................................................................. Rumusan Permasalahan ..................................................... Ruang Lingkup Penelitian……………………………..... Tujuan Penelitian……………………………………….... Sistimatika Penulisan ........................................................

1 1 3 4 4 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA .............................................................. 2.1. Kerangka Teoritis .............................................................. 2.1.1 Konsep Ekonomi Keuangan Publik ......................... 2.1.2 Pengertian dan Konsep Pertambangan ..................... 2.1.3 Teori Ekonometrika .................................................. 2.1.4 Peraturan Perundang-undangan ............................... 2.2. Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah .............. ............

6 6 6 7 12 13 16

ix
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN DAN HASIL PENELITIAN LAPANGAN ................................................................................ 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. 3.6. 3.7. Metode Pengumpulan Data …........................................... Koefisien Korelasi …......................................................... Koefisien Variasi ………………....................................... Regresi ………………....................................................... Tahapan Dalam Membuat Analisis Regresi …………….. Data ……………………………………………………... Hasil Penelitian Lapangan ………………………………. 18 18 18 19 19 21 23 24

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN ............................................. 4.1. Analisis Cakupan Kontrak Karya yang Berlaku Untuk Pengusahaan Pertambangan Tembaga .............................. 4.2. Menentukan Alasan yang Dapat Digunakan Untuk Mengenakan Royalti atas Mineral Ikutan Tembaga ......... 4.3. Perkiraan Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga ..

35

35

47 53

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN ................................................... 5.1. 5.2. Kesimpulan ........................................................................ Saran ..................................................................................

75 75 78

Lampiran-lampiran Daftar Pustaka

x
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

DAFTAR DIAGRAM

Hal Diagram 1 Diagram 2 : : Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah …………. Giagram Alur Proses Produksi Konsentrat Lamp. 5 20

Tembaga ………………………………………….. Diagram 3 : Giagram Alur Proses Peleburan Konsentrat

Tembaga ………………………………………….. Diagram 3 : Giagram Cara Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti …………………………………………….

Lamp. 6

Lamp. 8

xi
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

..Besi : Perkiraan Kandungan Besi dalam Konsentrat : Perkiraan Potensi Royalti .Sulfur : Hasil Run Model 2 .Besi : Hasil Run Model 2 .Besi : Korelasi Variabel Bebas .DAFTAR TABEL Hal Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 Tabel 24 Tabel 25 Tabel 26 Tabel 27 Tabel 28 Tabel 29 : Ingredient Content PT FIC : Ingredient Content PT NNT : Realisasi Produksi PT FIC : Realisasi Produksi PT NNT : Realisasi Penjualan PT FIC : Realisasi Penjualan PT NNT : Realisasi Penyetoran Iuran Tetap : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi (Royalti) : Produksi dan Output PT Smelting : Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT FIC : Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT NNT : Hasil Run Model 1 .Sulfur : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 . 2009.. JokoSudiarto. FE UI.Besi Hasil Uji BG Model 2 .Sulfur : Perkiraan Potensi Royalti .Sulfur : Hasil Uji BG Model 1 .Sulfur : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .Besi Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 . .Besi 24 24 25 25 25 26 26 27 32 41 44 56 58 59 60 60 62 63 64 65 66 67 68 68 70 71 72 72 72 xii Analisis potensi.Besi : Hasil Uji BG Model 1.Sulfur : Korelasi Variabel Bebas .Sulfur : Perkiraan Kandungan Sulfur dalam Konsentrat : Hasil Run Model 1 .Besi : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 .Sulfur : Hasil Uji BG Model 2 .

. 2009. Tembaga dan Sulfur Tahun 2003 s.. : Diagram Alur Proses Peleburan Konsentrat Tembaga. 2005. Perak. : Perhitungan Iuran Tetap PT NNT.Sulfur.Besi. Lampiran 11 : Data Penjualan Emas. : Matrik Resume Pendapatan dari Instansi/Ahli. : Diagram Alur Proses Produksi Konsentrat Tembaga. Perak.d. : Data Penjualan Emas. : Diagram Cara Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti. JokoSudiarto. Lampiran 12 : Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti .d. : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti PT NNT. Tembaga dan Besi Tahun 2003 s.. FE UI.. 2005. xiii Analisis potensi.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 : Perhitungan Iuran Tetap PT FIC. Lampiran 10 : Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti . : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti PT FIC.

batubara. regional. JokoSudiarto. Selama 1 Analisis potensi. Hasil-hasil audit Tim Optimalisasi Penerimaan Negara (OPN) telah mengindikasikan persoalan tersebut.. baik dalam rangka Penanaman Modal Asing (PMA) maupun PMDN. perak. baik tenaga kerja lokal. pemerintah akan memperoleh bagi hasil berupa royalti sesuai dengan hasil produksinya. tembaga. Dalam pengusahaan bahan tambang. minyak dan gas bumi. Jumlah perusahaan yang bergerak dan menanamkan investasinya di bidang pertambangan pun sangat banyak. Universitas Indinesia . Begitu juga dalam bidang tenaga kerja. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang berasal dari pertambangan umum merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat potensial. Bahan tambang itu meliputi emas. dan lain-lain. menampung tenaga kerja. Dari aspek devisa negara dan pendapatan asli daerah. pemerintah dapat melaksanakan sendiri atau menunjuk kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan sendiri oleh instansi pemerintah. namun belum dikelola secara optimal. keberadaan perusahaan tambang telah menyerap tenaga kerja.. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang kaya akan bahan tambang. nasional maupun internasional. Pengusahaan pertambangan mineral oleh swasta dilaksanakan melalui Kontrak Karya (KK) antara Pemerintah RI dengan perusahaan swasta..BAB I PENDAHULUAN 1. 2009. keberadaan perusahaan tambang sangat membantu dalam pembangunan nasional dan daerah. Dari sisi penerimaan bukan pajak (PNBP). FE UI. Dari perusahaan tersebut pemerintah juga akan memperoleh penerimaan pajak dan bukan pajak. diantaranya 11 (sebelas) perusahaan yang telah berproduksi (Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral: 2006). dan lain-lain.1. Terdapat 40 (empat puluh) perusahaan swasta pemegang KK. Dampak positif penanaman investasi di bidang pertambangan ini adalah meningkatkan devisa negara dan pendapatan asli daerah.

. PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) melakukan kegiatan pertambangan di Tembaga Pura berdasarkan kontrak karya (contract of work) antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991. diantaranya potensi mineral ikutan besi dan sulfur yang terjual dalam konsentrat tembaga minimal tidak terealisasi masing-masing sebesar USD251. dalam konsentrat tembaga tersebut terkandung didalamnya mineral ikutan emas (Au). ..246. Namun dalam perhitungan royalti yang harus dibayar oleh PT FIC sesuai dengan pasal 13 poin 2 Kontrak Karya disebutkan bahwa “dalam hal tembaga tersebut dijual sebagai konsentrat. dalam hal ini dalam memasarkan konsentrat tembaga kepada pelanggannya PT FIC hanya memperoleh pembayaran untuk logam tembaga (Cu).41 dan USD1.93 dan US$4. Hal ini dapat diuraikan berikut ini. Potensi PNBP tidak terealisasi karena terbentur pada beberapa masalah. hanya tembaga.366.44. jumlah royalti yang akan dibayar berkaitan dengan kandungan tembaga yang dibayar dari konsentrat yang dijual oleh perusahaan.. FE UI. emas (Au) dan perak (Ag).113. antara lain adanya pasal-pasal dalam Kontrak Karya yang kurang menguntungkan pihak Pemerintah RI. Universitas Indonesia Analisis potensi..286. emas dan perak yang terkandung dalam konsentrat tembaga yang merupakan produk utama PT FIC.353.929..2 periode tahun 1998 sampai dengan tahun 2000 sebanyak empat perusahaan kurang menyetor PNBP sebesar Rp362.14 serta terdapat potensi PNBP yang tidak dapat direalisasikan. PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) PT NNT melakukan kegiatan pertambangan di Nusa Tenggara Barat berdasarkan kontrak karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT NNT tanggal 2 Desember 1986. Sedangkan terhadap unsur-unsur besi (Fe) dan belerang (S) walaupun jumlahnya relatif besar PT FIC tidak memperoleh pembayaran.”. Sehingga royalti hanya diperhitungkan terhadap logam-logam tembaga. JokoSudiarto. Dalam setiap penjualan konsentrat oleh PT NNT.. sehingga tidak dikenakan royalti. perak (Ag) dan sejumlah senyawa logam lainnya seperti besi (Fe) dan belerang (S).837. 2009. Kegiatan eksplorasi menghasilkan bijih tembaga sulfida yang kemudian diolah menjadi konsentrat tembaga.

3

emas, dan perak yang dibayar oleh pembeli untuk setiap realisasi penjualan ekspor konsentrat, sedangkan material ikutan lainnya seperti: besi (Fe), sulfur (S), silika (SiO2), kapur (Lime), dan Al203 tidak dinilai. Pengenaan tarif royalti tersebut berdasarkan kontrak karyanya yang menyebutkan “Bila terdapat mineral ikutan yang terdapat dalam konsentrat yang dijual diperhitungkan dengan tarif royalti sebagaimana diatur dalam Lampiran “F”. Dalam lampiran F hanya besi (Fe) dan sulfur (S) yang memiliki tarif royalti yaitu masing-masing sebesar US$0.0005/kg dan US$0.002/kg, sementara tiga mineral lainnya tidak ada tarifnya. Walaupun demikian perusahaan tetap tidak membayar royalti dengan alasan mineral ikutan tersebut tidak dibayar oleh pembeli. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP, antara lain menyebutkan jenis dan tarif PNBP. Salah satu jenis PNBP tersebut adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam seperti penerimaan royalti di bidang pertambangan. Tarif atas jenis PNBP tersebut ditetapkan dalam undangundang atau Peraturan Pemerintah (PP) yang menetapkan jenis PNBP. Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah telah mengeluarkan beberapa peraturan yang mengatur tentang tarif royalti di bidang pertambangan, yaitu PP Nomor 58 Tahun 1998; PP Nomor 13 Tahun 2000 dan yang terakhir PP Nomor 45 Tahun 2003. Semua ketentuan tersebut hanya mengatur tentang besarnya tarif PNBP untuk masing-masing mineral dalam satuan logam dan konsentrat. Tidak secara jelas menerangkan cara perhitungan royalti atas mineral ikutan dalam suatu konsentrat, termasuk mineral ikutan dalam konsentrat tembaga.

1.2.

Rumusan Permasalahan Berdasarkan ringkasan permasalahan tersebut di atas, nampak bahwa

terdapat potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga yang belum tergali. Berkaitan dengan permasalahan tersebut, pertanyaan yang timbul adalah: 1. Bagaimana cakupan KK yang berlaku untuk pertambangan tembaga ? 2. Alasan apa yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tambang tembaga? 3. Berapa perkiraan potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga ?
Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

4

1.3.

Ruang Lingkup Penelitian Untuk dapat menjawab beberapa permasalahan tersebut di atas dan agar

pembahasan lebih fokus maka ditentukan ruang lingkup penelitian sebagai berikut: 1. Kontrak Karya pengusahaan pertambangan tembaga antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT beserta perubahannya. 2. Kegiatan usaha pertambangan yang telah dilakukan oleh PT FIC dan PT NNT yang mencakup luas wilayah usaha pertambangan untuk setiap periode tahapan kegiatan tambang, proses produksi konsentrat tembaga, pengangkutan atau pemindahan tembaga mulai dari mulut tambang sampai dengan stock pile, penimbunan dan penjualan konsentrat tembaga untuk periode 2003 sampai dengan 2007. 3. Tata cara perhitungan dan realisasi penyetoran PNBP oleh PT FIC dan PT NNT sebagaimana diatur dalam perjanjian, peraturan perundangan dan ketentuan lain yang terkait.

1.4.

Tujuan Penelitian Tujuan dari analisis dan penelitian ini adalah:

1. Menganalisis cakupan KK yang berlaku untuk pertambangan tembaga. 2. Menentukan alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tambang tembaga. 3. Memperkirakan potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga.

1.5. Bab I

Sistimatika Penulisan Pendahuluan Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, pokok

permasalahan, ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, dan sistimatika penulisan. Bab II Tinjauan Pustaka Bab ini menguraikan tentang konsep ekonomi keuangan publik,

Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

5

pengertian dan konsep pertambangan, teori ekonometrika, peraturan perundang-undangan yang relevan dengan masalah yang dibahas, kerangka berpikir pemecahan masalah. Bab III Metodologi Penelitian dan Hasil Penelitian Lapangan Bab ini akan menjelaskan tentang metode pengumpulan data yang dilakukan, tentang rumus kofesien variasi, pengolahan data dengan regresi, dan tahapan-tahapan dalam membuat analisis regresi. Juga akan dijelaskan tentang data yang dipergunakan dalam melakukan analisis atas potensi royalti dari mineral ikutan tembaga berdasarkan data-data yang diperoleh dari studi pustaka dan penelitian lapangan. Bab IV Hasil Analisis dan Pembahasan Bab ini merupakan pembahasan terhadap hasil analisis kuantitatif atas potensi royalti dari mineral ikutan tembaga. Bab V Kesimpulan dan Saran Bab ini merupakan Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pembahasan pada Bab IV dan saran-saran atau rekomendasi yang akan diberikan penulis dari kesimpulan yang diperoleh.

Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

Lebih jauh James Andersen mengemukakan bahwa kebijakan merupakan arah tindakan yang mempunyai maksud yang ditetapkan oleh seorang aktor dalam mengatasi suatu persoalan. Universitas Indonesia . kebijakan publik adalah pemanfaatan yang strategis terhadap sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah publik atau pemerintah. 2009. Alfabeta.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Sedangkan prinsipal mempunyai kewenangan untuk melakukan penilaian atau monitoring atas pelaksanaan pengelolaan tersebut apakah telah sesuai dengan amanah dan kepercayaan yang diberikan oleh rakyat. Dimana. 2002. 44. Kerangka Teoritis 2.. Dye menyatakan bahwa kebijakan publik adalah apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan dan tidak dilakukan (whatever governments choose to do or not to do)2. pemerintah mempunyai kewajiban (bonding) untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya tersebut. Teori dan Proses Kebijakan Publik. 6 Analisis potensi. hal. kebijakan publik didefinisikan sebagai hubungan suatu unit pemerintah dengan lingkungannya1. rakyat merupakan prinsipal yaitu pihak yang mempunyai atau menguasai sumber daya dan mempercayakan pengelolaan sumber daya tersebut kepada pemerintah yang disebut agen. Suharto.. JokoSudiarto. Edi.1. Media Pressindo. Bandung. Konsep Ekonomi Keuangan Publik Menurut buku Kamus Administrasi Publik. Analisis Kebijakan Publik. FE UI. yakni: 1 2 Winarno.. hal. Pemerintah harus mempertanggungjawabkan setiap apa yang dilakukan oleh pemerintah berdasarkan pengertian konsep agent dan principal relationship. Yogyakarta. Sedangkan Thomas R. 2005. 15. Sebagai agen. Budi.1. Menurut Robert Eyestone menyatakan secara luas.1. Gerwin Bell dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 104-107) menguraikan pengertian user charges.

phosphate. graphite. patent and copyright fees. Example of regulatory fees include passport and judicial fees.2. coal. lead.. sulfur. . nickel...” Dalam Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. . chromite. · Regulatory Fees: There are very much like a tax in that they are solely based on the govermnet’s sovereign power to regulate particular economic agents or activities. iron.. 1950 Latest Amendment In 1962 telah ditemukan pengertian mineral.7 User Charges are levied on the use of specific good or service and thereby on the accruing benefits that economic agents receive from such use. and highway tolls. yang memiliki sifat fisik dan Universitas Indonesia Analisis potensi. thus.1. customs service user fees. bismuth. emulate the benefit principle in public finance which states that the payment of a tax ought to correspond to the benefits received from taxfinanced goods and services. tin... canal.... Mineral adalah: “senyawa anorganik yang terbentuk di alam. uranium. FE UI. user charges are efficiently levied on publicly provided goods or services that enhance economic efficiency and have the characteristic that their users may be easily identified and excluded from their consumption. Pengertian dan Konsep Pertambangan Istilah bahan galian berasal dari terjemahan bahasa Inggris. . 289. In this way.. molybdenum. yaitu mineral. sulfide. antimony. “Mineral” in this article and Articles hereinafter shall mean: “the ores of gold. . mercury. The following typology of user charges is: · User Fees: There are payments on services consumed to yield a direct benefit to the user. zinc. the application of user charges allows the costs of goods or service to be distributed according to the benefits received. silver. Dalam Article 3 angka 1 Japanese Mining Law No. manganese. JokoSudiarto. User charges. . copper. 20 December. brigde. thorium. arsenic. Examples include royalties on natural resources. cobalt... tungsten.. 2009.. 2.

Dalam pengertian ini.. bismut. barit. Bahan galian ini disebut juga golongan bahan galian B. 1999: 251). tembaga. 5) yttrium. vanadium. yakni: 1) besi. zirkon. mangan. adalah gas alam. klor. timbal. molibden. Ia berpendapat bahwa bahan galian adalah: “bahan yang dijumpai di dalam. 6) berillium. dan logam-logam langka lainnya. air raksa. khrom.8 kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan.. kristal kwarsa. Bahan galian dapat dibagi menjadi tiga golongan. 3. baik dalam bentuk lepas atau padu”. baik berupa unsur kimia. dan lain-lain. perak. belerang. flourspar. Penggolongan bahan galian diatur dalam Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian. adalah emas. 2) bauksit.. Universitas Indonesia Analisis potensi. wolfram. yaitu: 1. seng. JokoSudiarto. 2009. Bahan galian strategis merupakan bahan galian untuk kepentingan pertahanan keamanan serta perkekonomian negara. bahan galian yang berbentuk padat. bahan galian yang berbentuk gas. rtutenium. 2. 4) arsin. 8) yodium. Sukandarrumidi juga mengemukakan pengertian bahan galian. Bahan galian strategis ini disebut juga golongan bahan galian A. . adalah minyak bumi dan yodium. FE UI. korundum. mineral. lempung. 2. yaitu: 1. Bahan galian vital. cerium. 3) emas. antimon. bijih ataupun segala mecam batuan” (Sukandarrumidi. platina. Bahan galian vital merupakan bahan galian yang dapat menjamin hajat hidup orang. intan. Bahan galian strategis. brom. 7) kriolit. bahan galian yang berbentuk cair. perak. dibagi menjadi delapan golongan. bahan galian diklasifikasikan menjadi tiga macam. titan. batu gamping.

calcium. Pengusahaan tambang tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga. FE UI. other important copper sulfide ore minerals include bornite (Cu5FeS4). Bahan galian yang tidak termasuk bahan galian strategis dan vital. pertambangan mineral logam.. similar levels of iron and sulfur. Sedangkan dalam Pasal 34 ayat (2) Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. c. besi. . pertambangan mineral digolongkan atas: a. and silicon.. Goonan berikut ini: “.. b. pertambangan batuan. Hal ini seperti yang dikemukan oleh Thomas G.. minor percentages of oxides of aluminum.za) antara lain menyebutkan: PART II: BASIC ROYALTY REGIME Any person (hereinafter referred to as a mineral resource extractor) is subject to a State royalty in respect of a mineral resource once that person extracts and transfers the mineral resource for that person’s own benefit. Concentrate can contain from 25 to 35 percent copper.. 2009.9 3... covellite (CuS). Universitas Indonesia Analisis potensi. Natural ores undergo comminution and separation by flotation at copper mining facilities to produce copper concentrate.. chalcocite (Cu2S). dan d. pertambangan mineral radioaktif. Bahan galian yang lazim disebut dengan galian C. Konsentrat tembaga tersebut terdiri dari kandungan mineral tembaga.treasury. Although chalcopyrite (CuFeS2) is the predominant copper sulfide ore processed. .. (dalam Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting. and a small balance of trace metals that depend on the ore source.. pertambangan mineral bukan logam. JokoSudiarto. dan sulfur (belerang) serta mineral ikutan lainnya.2006” (www.gov.. and enargite (Cu3AsS4). 2005: 2)” Departement National Treasury Republic of South Africa: “Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill ..

.L. yakni: “The fiscal arrangements with respect to natural resources need to take into account that the goverment is the landowner or the owner of mineral rights.... serves a role in determining whether investment should or should not proceed. Royalties are levied either on the volume or on the value resouces extracted. Lease bonuses are up-front payment that could be determined by auction or at the government’s discretion.. ... (2) A person is not subject to a State royalty in respect of a transferred mineral resource if the person proves the mineral resource was previously subject to a State royalty. as a price for resource extraction. JokoSudiarto. 2009.. separate from regular income tax.. These payments are generally easy to administer. If a valuable resource is going tobe extracted. the goverment should receive a payment for this resource. They mean that the investor bears the risk that the project will not be commercially viable because the return to govenrment is fixed. The government should determine what minimum payment it is Universitas Indonesia Analisis potensi. FE UI.. . Nellor dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 238-240) mengemukakan beberapa pengertian pengusahaan mineral. The royalty. that other person is deemed to be a mineral resource extractor to the extent that other person extracted and transferred that mineral resource for that extractor’s benefit. and ensure that a minimum payment is made by the companies for the resources that they extract.. if a person extracts and transfers a mineral resource for the benefit of another person.. David C. Royalties secure revenues as soon as production commences. are considerably easier to administer than most other fiscal instruments.10 Charging provision (1) The State royalty imposed in respect of a transferred mineral resource equals the mineral resource’s State royalty rate as described in Schedule 1 multiplied by its gross sales value. (3) For purposes of this Act.

JokoSudiarto... Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 menyebutkan bahwa usaha pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi kegiatan berikut ini: 1. 2009. Dalam Pasal 1 Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1409... Izin Prinsip. bentuk. 4. termasuk pengangkutan dan penjualan. Operasi produksi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan yang meliputi konstruksi.. . FE UI. pemurnian.11 willing to accept for the resource recognizing that it has given up its capital once the resource is extracted. . A Resource Rent Tax (RRT) is similar to a cash-flow tax but is imposed only if the accumulated cash flow is positive.. . serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup. pengolahan. Kontrak Karya adalah: Universitas Indonesia Analisis potensi. 2. penambangan. there is also a significant chance that resource development will yield little revenue. kualitas dan sumber daya terukur dari bahan galian. Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara telah ditentukan pengertian kontrak karya. dimensi. 3. termasuk analisis mengenai dampak lungkungan serta perencanaan pascatambang. Penyelidikan Umum adalah tahapan kegiatan pertambangan untuk mengetahui kondisi geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi. serta sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi kelayakan.PE/1996 tentang Tata Cara Pengajuan Pemrosesan Pemberian Kuasa Pertambangan..K/201/M. The RRT is a high-risk measure for the government gaining a return on resource ownership. The RRT only provides a return to goverment on those project will yielding above normal rate of return. Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi. Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan ekonomis dan teknis usaha pertambangan. sebaran.. although revenue could be sizable in favorable circumstances....

3. 1995: 186).. Kontrak karya adalah: “suatu perjanjian yang dibuat antara Pemerintah Indonesia dengan kontraktor asing semata-mata dan/atau merupakan patungan antara badan hukum asing dengan badan hukum domestik untuk melakukan kegiatan eksplorasi maupun eksploitasi dalam bidang pertambangan umum. sesuai dengan jangka waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak” (H. Pengujian Masing-masing Koefesien Universitas Indonesia Analisis potensi. 2. Analisis Regresi Dua Variabel. antara lain mengemukakan Sifat Dasar Analisis Regresi. Salim HS mendefinisikan kontrak karya yang paling lengkap karena di dalam kontrak karya tidak hanya mengatur hubungan hukum antara para pihak. Sedangkan menurut Ismail Suny mengartikan kontrak karya sebagai berikut: “Kerja sama modal asing dalam bentuk kontrak karya (contract of work) terjadi apabila penanaman modal asing membentuk satu badan hukum Indonesia dan badan hukum ini mengadakan kerja sama dengan satu badan hukum yang mempergunakan modal nasional” (dalam Erman Rajagukguk.. namun juga mengatur tentang obyek kontrak karya. Anton Hendranata (2004) dalam Buku Ekonometrika Terapan mengemukan pengertian Analisis Regresi Linier Sederhana. 2009. Teori Ekonometrika Buku Ekonometrika Dasar karangan Damodar Gujarati (1978) yang diterjemahkan oleh Sumarno Zain.1. ..12 “suatu perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan perusahaan swasta asing atau patungan antara asing dengan nasional (dalam rangka PMA) untuk pengusahaan mineral dengan berpedoman kepada Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing serta Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuanketentuan Pokok Pertambangan Umum”.. JokoSudiarto. H. Metode Kuadrat Terkecil (Ordinary Least Square / OLS). Salim HS. FE UI. dkk. Model Regresi Dua Variabel. 2005: 130).

Peraturan Perundang-undangan Kontrak Karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991 dan Kontrak Karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) tanggal 2 Desember 1986.. 2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan Umum: Universitas Indonesia Analisis potensi. Wing Wahyu Winarno (2007) dalam Buku Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EVIEWS. JokoSudiarto. 2009. Multikolinear dan Autokorelasi. FE UI.1.13 Regresi secara Parsial. Pengujian Model secara Keseluruhan.. Kewajiban kontraktor (PT FIC dan PT NNT) seperti yang tercantum dalam kontrak karya tersebut antara lain adalah: menyetorkan iuran tetap untuk wilayah kontrak karya atau wilayah pertambangan.. Menyunting dan Menampilkan Data. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing: Pasal 8 ayat (1): Penanaman modal asing di bidang pertambangan didasarkan pada suatu kerja sama dengan pemerintah atas dasar kontrak karya atau bentuk lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.4. Masalah dalam Analisis Regresi (Heteroskedastisitas. . Analisis Regresi Linier. menyetorkan iuran eksploitasi/produksi tambahan atas mineral yang diekspor. Multikolinear dan Autokorelasi). Masalah Heteroskedastisitas. menyetorkan iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. Pasal 8 ayat (2): Sistem kerja sama atas dasar kontrak karya atau dalam bentuk lain dapat dilaksanakan dalam bidang usaha-usaha lain yang akan ditentukan oleh pemerintah. Kebaikan Suai Model. antara lain menjelaskan mengenai Mengenal EVIEWS.

JokoSudiarto. biaya penyelengaraan kegiatan Pemerintah sehubungan dengan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersangkutan.. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP): Pasal 1 angka 1: Penerimaan Negara Bukan Pajak adalah seluruh penerimaan Pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. Pasal 3 ayat (2): Tarif dan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam Undang-undang atau Peraturan Pemerintah yang menetapkan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersangkutan. penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara: Pasal 1 angka 1: Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang. serta segala sesuatu baik berupa uang maupun Universitas Indonesia Analisis potensi. petunjukpetunjuk dan syarat-syarat yang diberikan menteri. 2009. dan aspek keadilan dalam pengenaan beban kepada masyarakat.14 - Pasal 10 ayat (1): Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dilaksanakan sendiri oleh Instansi pemerintah atau Perusahaan Negara yang bersangkutan selaku pemegang kuasa pertambangan. Pasal 3 ayat (1): Tarif atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak ditetapkan dengan memperhatikan dampak pengenaan terhadap masyarakat dan kegiatan usahanya. FE UI. antara lain royalti di bidang perikanan.. royalti di bidang kehutanan dan royalti di bidang pertambangan. Pasal 2 ayat (1): Kelompok Penerimaan Negara Bukan Pajak meliputi: b. .. - Pasal 10 ayat (2): Dalam mengadakan perjanjian karya dengan kontraktor seperti yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara harus berpegang pada pedoman-pedoman.

JokoSudiarto. 4: Penerimaan dari Iuran Eksplorasi/Iuran Eksploitasi/Royalty untuk Usaha Pertambangan dalam rangka Kuasa Pertambangan (KP). Dana Hasil Produksi Batubara. Jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terutang atas jenis Universitas Indonesia Analisis potensi. Belerang: satuan per kg. c. transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. l. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pad Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. k. .25% dari harga jual. Pasal 2. efektif. cc.. dengan jenis mineral/bahan galian: h. 3. Emas: satuan per kg. m.50% dari harga jual. Pelayanan Jasa Bidang Geologi dan Sumber Daya Mineral. A. Iuran Tetap/Landrent. Iuran Eksplorasi/Iuran Eksploitasi/Royalty. Tembaga: satuan per ton.00% dari harga jual. Besi: satuan per ton. tarif 3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral: Pasal 1 ayat (2) Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral berasal dari: a. taat pada peraturan perundang-undangan. d. Perak: satuan per kg.75% dari harga jual. Pasal 3 ayat (1): Keuangan Negara dikelola secara tertib. 3.. Lampiran angka I. Kontrak Karya (KK) dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). ekonomis. efisien.00% dari harga jual. 2009. meliputi: Penerimaan Negara. tarif 3.. FE UI.15 berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. tarif 4. b. Pasal 2: Keuangan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1.

00 USD 1. Emas: satuan per kg.000 kg > 25.10 USD 2. 12. 2009.00 USD 55.000 kg > 2. Jenis Mineral/ Bahan Galian Tembaga Besi Emas Perak Belerang Tingkat Produksi < 80.000 ton > 5.50% dari harga jual. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Mineral di Bidang Pertambangan Umum: Pasal 2 ayat (1).75% dari harga jual.000 ton > 100. 11. Belerang: satuan per kg. Serta peraturan perundang-undangan yang ada hubungannya dengan KK tersebut. 12. Besi: satuan per ton.00 USD 235. Tembaga: satuan per ton. 29.25% dari harga jual. Universitas Indonesia Analisis potensi.90 USD 225. 11.00% dari harga jual.90 USD 2. 8. 3. tarif 3. 13. yaitu dimulai dari adanya Kontrak Karya antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT. Jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terutang atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dihitung dengan cara tarif dikalikan jumlah satuan.70 USD 2. Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah Penelitian ini diawali dengan kajian terhadap sumber masalah berdasarkan data-data empiris dan landasan teori yang relevan.000 ton < 100. yang merupakan suatu produk hukum yang harus dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait. 29.00 USD 2.000 kg < 25. Perak: satuan per kg. 13. JokoSudiarto.000 ton > 80. tarif 4.16 Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dihitung dengan cara tarif dikalikan jumlah satuan dikalikan harga jual. . tarif 3.2. Lampiran: No. FE UI..000 ton Satuan Jumlah ton/logam ton/logam kg/logam kg/logam ton/konsentrat Besarnya Tarif USD 45.000 kg < 5.. 3.000 ton < 2.00 USD 2. Lampiran: 8.00% dari harga jual.20 2..

Pemenuhan kewajiban PNBP periode 2003-2007. PT FIC dan PT NNT perusahaan KK yg menghasilkan konsentrat tembaga. 1. 2009. 1.. Gap: Mineral ikutan tambang tembaga tidak dikenakan royalti. . 2.17 Penelitian ini dimaksudkan untuk menilai atau mengevaluasi apakah PNBP dalam bentuk royalti dari pelaksanaan KK tersebut telah diupayakan secara optimal serta sebab-sebab yang menyebabkan hal tersebut. 3.. ESDM dan perusahaan Analisis Deskriptif Kuantitatif Pembahasan Kesimpulan dan Saran Universitas Indonesia Analisis potensi. Tujuan Penelitian : Analisis kelebihan dan kelemahan sistem kontrak karya untuk pertambangan tembaga. JokoSudiarto. 2. Berdasarkan teori dan konsep yang telah diuraikan di atas. sulfur. FE UI. Sumber data Sasaran pengkajian : 1. Memperkirakan potensi royalti dari mineral ikutan tembaga. pengangkutan dan penjualan konsentrat tembaga. Adanya potensi royalti yang belum tergali dari mineral ikutan tersebut. Pembayaran royalti berdasarkan jumlah yang diterima dari pembeli. 2. Evaluasi ini tidak dimaksudkan untuk menguji kebenaran dan keabsahan produk hukum tersebut. Mineral ikutan seperti besi. KK dan PP yg mengatur tarif royalti tidak menyebutkan secara lengkap dan jelas mineral ikutan tambang tembaga. produksi. 3. 2. 3. 3. Diagram 1 Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah Fakta: 1. Tarif royalti atas mineral ikutan tersebut dinyatakan dengan tegas sehingga tidak merugikan negara. Metode Analisis Dokumen Dep. kerangka penelitian ini dapat digambarkan dalam diagram di bawah ini. dll tidak dibayar oleh pembeli. Kegiatan usaha penambangan.. Kondisi Ideal: Seluruh mineral ikutan tambang tembaga dikenakan royalti. 1. 2. KK antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT. Menentukan dasar yang dapat digunakan untuk menghitung royalti atas mineral ikutan bahan galian tembaga.

Semakin besar nilai koefisien korelasi menunjukkan 18 Analisis potensi. yang bersumber dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. maka penulis tidak menggunakan metode pengumpulan data secara sampling. 2000). Namun yang perlu diperhatikan bahwa cara sensus mahal biayanya serta memerlukan banyak tenaga dan waktu. Metode Pengumpulan Data Di dalam statistik dikenal 2 (dua) cara pengumpulan data. yaitu data dari pelaksanaan KK pengusahaan pertambangan tembaga yang ada di Indonesia. Data yang diperoleh dari hasil sampling merupakan data perkiraan (estimate value). dan dapat menghasilkan cakupan data yang lebih luas serta terperinci. Data yang diperoleh sebagai hasil pengolahan sensus disebut data yang sebenarnya (true value) atau sering disebut dengan parameter.2. Jika nilai yang dihitung berdasarkan seluruh elemen populasi disebut parameter maka yang dihitung berdasarkan sampel disebut statistik. adalah cara pengumpulan data dimana seluruh elemen populasi diselidiki satu persatu. Universitas Indonesia . Sehubungan penulis telah memiliki data parameter dan untuk lebih mendekatkan hasil penelitian pada kondisi yang sebenarnya. memerlukan waktu yang lebih cepat. Dibandingkan dengan sensus. Dalam penelitian ini penulis menggunakan data parameter. tenaga yang tidak terlalu banyak. JokoSudiarto. Sedangkan sampling adalah cara pengumpulan data dimana yang diselidiki adalah elemen sampel dari populasi. FE UI. 2009. pengumpulan data dengan cara sampling membutuhkan biaya yang jauh lebih sedikit. yaitu cara sensus dan cara sampling (Supranto. Sensus.. Koefisien Korelasi Digunakan untuk mengukur keeratan hubungan antara variabel tidak bebas Y dengan variabel bebas X. Departemen Keuangan.1. 3. Perusahaan pemegang KK (PT FIC dan PT NNT) dan Biro Pusat Statistik (BPS)..BAB III METODOLOGI PENELITIAN DAN HASIL PENELITIAN LAPANGAN 3..

3. Semakin kecil koefisen variasi dari data yang sedang dianalisis. pada satu atau lebih variabel lain. variabel yang menjelaskan Universitas Indonesia Analisis potensi.4. .. Pengertian Analisis regresi berkenaan dengan studi ketergantungan satu variabel.. sedangkan variabel bebas X adalah sebagai berikut: E P T = = = Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg) Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg) Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton) 3. FE UI. variabel tak bebas. Tujuan analisis adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah penjualan Emas. JokoSudiarto. Semakin kecil nilai koefisien variasi yang dihasilkan menunjukkan adanya pengaruh mineral Emas. Koefisien Variasi Analisis koefisien variasi (coefficient of variation) adalah menyatakan persentase deviasi standar dari rata-ratanya.19 hubungan semakin erat dan sebaliknya. Perak dan Tembaga untuk menentukan kandungan mineral ikutan Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual . 2009. 3. yaitu: R = √R2 Dalam penelitian ini variabel tidak bebas Y adalah kandungan mineral Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual.1. Adapun rumusnya. Oleh sebab itu tolak ukur untuk mengetahui pengaruh tersebut dapat dilihat dari hasil penghitungan nilai koefisien variasi. Koefisien korelasi merupakan akar kuadrat dari koefisien determinasi.4. Kegunaannya adalah untuk mengukur keseragaman terhadap data yang sedang diteliti. Regresi 3.. berarti menunjukkan semakin seragam atau variasinya semakin kecil. Perak dan Tembaga terhadap kandungan mineral ikutan Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual.

. . . Jika terdapat N-observasi maka persamaan regresi bergandanya dapat ditulis: Y1 = b 1+ b 2 X21 + b 3 X31 + b 4 X41 … + b k Xk1 + u1 Y2 = b 1+ b 2 X22 + b 3 X32 + b 4 X42 … + b k Xk2 + u2 Y3 = b 1 + b 2 X23 + b 3 X33 + b 4 X43 … + b k Xk3 + u3 . Bentuk modelnya secara umum. …. + b kXkn+ un Universitas Indonesia Analisis potensi. .2. dipandang dari segi nilai yang diketahui atau tetap (dalam pengambilan sampel berulang) variabel yang menjelaskan (yang belakangan) (Gujarati. . . . bagimanapun kuat dan sugestif. namun ini tidak berarti hubungan sebab akibat. . Yn = b 1 + b 2 X2n + b 3 X3n + b 4 X4n .. yaitu: Yi = b 1 + b 2 X2i + b 3 X3i + ui Dimana : Y X2 X3 u i = = = = = Variabel tak bebas (dependent variable) Variabel yang menjelaskan Variabel yang menjelaskan Faktor gangguan (disturbance) Menyatakan observasi (pengamatan) yang ke i. . Meskipun analisis regresi berurusan dengan ketergantungan satu variabel terhadap variabel lain.. . . 3. .. ….. . pada akhirnya dari beberapa teori atau lainnya..4. . 1995). tidak pernah dapat menetapkan hubungan sebabakibat: gagasan kita mengenai sebab-akibat harus datang dari luar statistik. Fungsi Regresi Berganda Apabila terdapat 2 (dua) atau lebih variabel maka disebut dengan regresi berganda.. FE UI. Kendall dan Stuart seperti dikutip oleh Gujarati mengatakan: Suatu hubungan statistik. JokoSudiarto. 2009.20 (explanatory variabel). dengan maksud menaksir dan atau meramalkan nilai ratarata hitung (mean) atau rata-rata (populasi) variabel tak bebas..

3. H1 : b 1 ≠ 0 . …. Hipotesis: H0 : b 1 = 0 . Pengujian Signifikansi Parsial atau Individual (uji-t) Adalah untuk menguji apakah suatu variabel bebas (X) berpengaruh atau tidak terhadap variabel tidak bebas (Y).5.. FE UI. · Uji Statistika: Uji t.21 3. apakah model mampu menjelaskan Y.. Pembentukan Persamaan Regresi Dalam pembentukan persamaan regresi dibutuhkan kriteria dalam pemilihan variabel terbaik.. koefisien regresi tidak nol sehingga signifikan. F dan lain-lain. Cara Pengujian: Membandingkan antara t-statistik dengan t-tabel berdasarkan a tertentu (misalnya 5%). JokoSudiarto. 2009. bo . bk ) Persamaan ini merupakan regresi berganda sehingga perlu melihat Koefisien Determinasi dari nilai Adjusted R-Squared. Tahapan Dalam Membuat Analisis Regresi Adapun tahapan-tahapan dalam membuat analisa regresi berganda adalah sebagai berikut: 1. . yaitu: · Uji Ekonomi: yaitu arah dan pengaruh. Universitas Indonesia Analisis potensi. Dapat dilihat dengan memperhatikan tanda koefisien hasil pendugaan apakah telah sesuai dengan teori ekonomi yang berlaku. 2. koefisien regresi tidak berbeda nyata dari nol. Estimasi koefisien regresi ( b . Variabel terbaik harus memenuhi kriteria– kriteria seperti dibawah ini.

N .1) (1 .(N-k)..22 £ t (a / 2. 2009. Berdasarkan taraf nyata a (misalnya 5%) diharapkan H0 ditolak.k )). Cara Pengujian: Membandingkan antara F-statistik dengan F-tabel berdasarkan a tertentu (misalnya 5%). Tolak H0 Universitas Indonesia Analisis potensi. model tidak signifikan menjelaskan Y.k ) Tolak H0 dimana: N K = = = = = banyaknya observasi Banyaknya variabel bebas Level of significance Nilai pendugaan koefisien regresi ke-i Standar eror pendugaan koefisien regresi ke-i a bI se b i 4...k ) > F ( a /2.model secara signifikan menjelaskan Y. JokoSudiarto. Terima H0 F-statistik= R 2 /(k . Hipotesis: H0 : b 1 = b 2 = 0.(N-k). Pengujian model secara umum (uji-F) Untuk menguji apakah model secara keseluruhan mampu secara signifikan menjelaskan variabel terikat.R 2 ) /( N . ≤F ( a /2. N . H1 :tidak semua b 1 = 0. . Terima H0 t. FE UI.statistik = bi se( b i ) ^ ^ > t (a / 2.

Dalam regresi berganda yang menjadi patokan adalah adjusted R-square. harapan R2 = 1. Perak dan Tembaga tahun 2003 s. 2007 bersumber dari PT FIC. 2009. Data konsentrat tembaga yang dijual tahun 2003 s. PT NNT dan Departemen ESDM. Nilai R2 berkisar antara 0 dan 1 (0≥ R2 ≥1).k SST / N .d. yaitu: 1. Universitas Indonesia Analisis potensi. Cara Pengujian: R2 = ESS RSS =1TSS TSS SSE / N ..d.23 Dimana: R2 N K 5. FE UI.. . karena nilai R-square sangat dipengaruhi oleh banyaknya variabel bebas (semakin banyak variabel bebas maka semakin tinggi R-square) serta dipengaruhi oleh banyaknya observasi (makin banyak observasi makin kecil R-square).1 Adjusted-R2 = 1 Di mana : TSS RSS SSE N k = = = = = Total Sum Square (jumlah kuadrat nol) Regression Sum Square (jumlah kuadrat regresi) Sum Square Error (jumlah kuadrat error) banyaknya observasi banyaknya variabel bebas 3.. Data penjualan Emas. Data Data yang dipergunakan untuk analisis ini berasal dari berbagai bersumber. bukan R-square.6. 2007 bersumber dari PT FIC dan PTNNT. JokoSudiarto. 2. = = = ESS/TSS banyaknya observasi banyaknya variabel bebas Uji Koefisien Determinasi (Uji R2) Menguji berapa persen model dapat menjelaskan variabel terikat.

Data kandungan mineral Sulfur dan Besi tahun 2003 s.d.15 Satuan % gr/T gr/T % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah).50 25. 2005 diperoleh dari rata-rata ingredient content dikalikan jumlah konsentrat tembaga yang dijual.00 29.50 24. 2..24 3.00 80. 4.00 31. Produksi dan Penjualan Proses produksi pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung beberapa mineral ikutan.1. PT NNT dan Hasil Penelitian LPKM ITB 4.00 2.6-2. Data ingredient content bersumber dari PT FIC.50 80. 7. Hasil Penelitian Lapangan 3. 1. Universitas Indonesia Analisis potensi. FE UI. 2009. Tabel 2: Ingredient Content PT NNT No. 3. Mineral Tembaga (Cu) Emas (Au) Perak (Ag) Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) Kandungan Mineral dalam Konsentrat Range 25-35 25-34 58-103 18-30 25-36 5-10 1. Rata-rata kandungan masing-masing mineral ikutan yang terdapat dalam setiap metric ton konsentrat tembaga yang diproduksi oleh perusahaan sesuai dengan ingredient content disajikan dalam tabel berikut: Tabel 1: Ingredient Content PT FIC No.3 Rata-rata 30. 5.00 30. JokoSudiarto.00 8. 6. 3.7 Rata-rata 30. 4. 5.4-2.50 1. 7.85 Satuan % gr/T gr/T % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah). 2.50 30.50 7.7. 6.7. .. 1. 3. Mineral Tembaga (Cu) Emas (Au) Perak (Ag) Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) Kandungan Mineral dalam Konsentrat Range 28-33 28-32 69-92 22-28 28-34 7-9 1..

857..118.00 714. Tabel 4: Realisasi Produksi PT NNT No 1.00 146.761.00 224. 5.904.00 784.121.682.00 68.563.234.032.00 106.00 94.00 1.00 789.973.00 11.212.00 47.009.523.200. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Konsentrat (MT) 2. 4.293.00 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).00 2.359. 5.778.926.899.12 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).00 2.209.00 108. 3.977.053.093.242.12 611.00 793.00 Emas (kg) 18.106.00 147.287.320.00 219. 2009.65 Tembaga (ton) 287.344.00 Tembaga (ton) 718.612.00 3.00 82.492. 4.00 70.203.931..00 577.927.00 306.347.00 Perak (kg) 183.287.207.00 903. 4.120.00 221.803.00 270.568.00 1.00 Emas (kg) 99. JokoSudiarto.734.335.634.00 58.688.. . 5.200. 3.00 13.00 520.567.307.388.00 Perak (kg) 60.698.00 512.605.550.00 167. Universitas Indonesia Analisis potensi.00 50.00 161.025.00 581.00 4.00 2.279.00 1.054.00 Tembaga (ton) 721.214.980.00 886.393.407.560.00 396.00 320.00 48.062.787.148.00 177.00 726. 2.645.106. FE UI.25 Kandungan unsur mineral dalam konsentrat tembaga tersebut merupakan hal yang disyaratkan dalam kontrak penjualan antara penjual dan pembeli.448. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Emas (kg) 100.00 396. Realisasi produksi yang dilaporkan oleh perusahaan ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 3: Realisasi Produksi PT FIC No 1.303.281.00 163.00 57.564.306.00 17.007.00 22.505.00 890.357.00 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).00 3.65 57. 3.00 Perak (kg) 184.099. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Konsentrat (MT) 932.00 22. 2.179.00 83.336.948.00 205.685.988. 2. Realisasi penjualan yang dilaporkan oleh perusahaan ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 5: Realisasi Penjualan PT FIC No 1.

rincian disajikan pada Lampiran 1 dan 2.532.336.52 97.2.620.849. FE UI.00 262.98 Tembaga (ton) 287.850.00 898.00 PT NNT (US$) 289.00 608.00 269.949.426.044. JokoSudiarto.63 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).857.00 887.00 22. 4.63 262.050.00 311. Realisasi pembayaran Iuran Tetap/Deadrent yang telah dilakukan oleh perusahaan untuk periode 2003 sampai dengan 2007 adalah sebagai berikut: Tabel 7: Realisasi Penyetoran Iuran Tetap No 1.470.679.200.00 278.200. 3. 2.640. 5.575. 5..53 1.815.00 13.63 871.00 22.050.086. 2009.00 608.620.215.89 248.296.00 4. 4. .250.63 Jumlah (US$) 898. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 PT FIC (US$) 608.63 194. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Emas (kg) 18. Realisasi pembayaran Iuran Eksploitasi/Royalti yang telah dilakukan oleh kedua perusahaan untuk periode tahun 2003 sampai dengan 2007 adalah sebagai berikut: Universitas Indonesia Analisis potensi.00 608.00 19..00 67.923.669.470. 2.05 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).850. 3.. kewajiban kontraktor kepada pemerintah yang digolongkan dalam Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah Iuran Tetap/Deadrent dan Iuran Eskploitasi/Royalty.382.343.257.98 65.26 Tabel 6: Realisasi Penjualan PT NNT No 1. 3.00 871.324.00 289.00 48.00 69.00 3.00 323.888. Realisasi Penyetoran PNBP Sesuai dengan kontrak karyanya.442.7.00 1.284.52 Perak (kg) 60.446.850.00 608.850.404.761.850.

81 150.865.419.172.332.. yang berisi persentase atau jumlah kandungan masingmasing mineral ikutan dalam konsentrat tembaga.370.87 126.130.13 71.84 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).368. 2009.894.7. rincian disajikan pada Lampiran 3 dan 4.38 578.059.978. 4. 2.743.51 17. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. Proses produksi pertambangan tembaga menghasilkan konsentrat tembaga yang akan dijual kepada pembeli.835. Hal ini telah sesuai dengan Pasal 13 KK yang menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral hasil produksi.. Rangkuman Hasil Wawancara Rangkuman hasil wawancara dengan wakil kedua perusahaan dapat diuraikan sebagai berikut: 1.31 23. emas.3. baik ke smelter atau trader.153.24 96. Ingredient content merupakan syarat-syarat atau kondisi yang disepakati oleh penjual dan pembeli.190.87 Jumlah (US$) 51.233.005. 2.08 16.92 158.829.983. FE UI. 3.41 140. Universitas Indonesia Analisis potensi.82 47. 4.539.367.526. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 PT FIC (US$) 32. Dalam praktik perdagangan konsentrat.127.335. 5.760.888.571. 3.144.795.632. 5. dengan syaratsyarat atau kondisi yang disepakati oleh penjual dan pembeli.584.73 20.. JokoSudiarto.524.27 Tabel 8: Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti No 1. . perusahaan hanya menyetorkan royalti atas mineral yang dibayar oleh pembeli yaitu tembaga.73 134.106.97 PT NNT (US$) 18.421.169. dan perak.274.60 147.14 482. 3. Sesuai dengan perhitungan dan penyetoran royalti.315. pembeli hanya bersedia membayar logam yang terkandung di dalam konsentrat yang dapat diproses lebih lanjut secara ekonomis sehingga mendatangkan penghasilan bagi smelter. Perhitungan dan penyetoran kewajiban iuran tetap telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam KK.

. Hal ini bukan merupakan upaya untuk mendapatkan nilai ekonomis dari sulfur. yang sampai dengan saat ini telah terjadi dua kali perubahan. jika kandungannya melampaui ambang batas.. melainkan merupakan upaya untuk meminimalkan dampak polusi yang diakibatkan oleh buangan sulfur dari pabrik smelting. Bagi perusahaan pemegang kuasa pertambangan (KP) besarnya tarif dan dasar pengenaannya diatur dalam peraturan pemerintah. 2009. Sedangkan bagi pemegang kontrak karya (KK) pembayaran royalti didasarkan pada ketentuan yang telah diatur dalam KK yang bersangkutan. JokoSudiarto. Wawancara dengan Kepala Seksi Mineral pada Direktorat Pembinaan Program Mineral. Karena pengenaan tarif dengan harga tertentu dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ekonomi. FE UI.. 2. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral difokuskan kepada kebijakan tentang penetapan tarif iuran eskploitasi/eksplorasi/royalti khususnya pertambangan tembaga. 3. Ditjen Mineral. Perusahaan pemegang Kuasa Pertambangan (KP) dan Kontrak Karya (KK) wajib membayar iuran eksplorasi atau iuran eksploitasi (royalti) untuk hasil produksi bahan galian yang diperoleh dari wilayah kuasa pertambangan atau wilayah Kontrak Karya atau wilayah usaha pertambangan lainnya sesuai dengan tarif iuran yang telah ditetapkan. . Dalam konsentrat tembaga terdapat beberapa logam di luar tembaga. Rangkuman hasil wawancara adalah sebagai berikut: 1.28 6. Batubara dan Panas Bumi. besarnya tarif royalti didasarkan pada tingkat produksi yaitu tarif dalam US$ dikalikan dengan jumlah satuan. 7. Batubara dan Panas Bumi. 4. maka dengan PP Nomor 13 Tahun 2000 Universitas Indonesia Analisis potensi. emas dan perak yang berdasarkan teknologi saat ini tidak memiliki nilai ekonomis untuk diolah lebih lanjut. Beberapa logam bahkan dikategorikan sebagai pengotor konsentrat (impurities) sehingga. justru perusahaan dikenakan penalti. PP Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. Beberapa smelter saat ini dapat mengolah sulfur untuk dimanfaatkan oleh perusahaan petrokimia dengan syarat lokasi pengolahan sulfur berdekatan dengan lokasi pabrik petrokimia.

Rangkuman hasil wawancara dengan salah satu kepala subdirektorat pada Direktorat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). yang berisi antara lain besarnya tarif royalti didasarkan pada persentase (%) dikalikan harga jual dan mencabut PP-PP sebelumnya. misalnya sekian dollar per metric ton seperti yang tercantum dalam lampiran KK-nya (tarif royalti tambahan). Masalah penetapan tarif PNBP merupakan kewenangan departemen teknis. 7. . Direktorat Jenderal Anggaran. dalam hal ini adalah Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. emas dan perak. 2009. emas dam perak... Sangat setuju apabila mineral ikutan lainnya tersebut dikenakan royalti walaupun hal ini sulit untuk dilakukan karena harus menegosiasi ulang klausul-klausul dalam KK. PT FIC dan PT NNT hanya menyetorkan royalti atas mineral tembaga. sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dibayar oleh pembeli (seperti besi. Selanjutnya pemerintah menerbitkan PP Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Departemen Keuangan adalah sebagai berikut: 1. 6.. emas dan perak). Cara penghitungan sebagai dasar pengenaan royalti.29 tentang Perubahan atas PP Nomor 58 Tahun 1998. 9. karena pihak pemerintah belum pernah melakukan pengujian atau penelitian atas proses produksi konsentrat tembaga mulai dari hulu (di mulut tambang) sampai dengan pemurnian atau pengolahan konsentrat tembaga menjadi logam. JokoSudiarto. Universitas Indonesia Analisis potensi. yang antara lain menyebutkan bahwa royalti hanya dikenakan atas mineral ikutan yang dibayar oleh pembeli (tembaga. Sulit sekali untuk membuktikan hal tersebut. 5. sistem tarif diubah dengan menggunakan sistem persentase (%) dari harga jual. FE UI. Hal ini sesuai dengan KK-nya. bisa menggunakan “fixed rate” yaitu tarif tetap atas tonase yang diproduksi. dll) sehingga tidak dikenakan royalti. yaitu persentase (%) dikalikan harga jual. Alasan lain mengapa mineral ikutan tersebut tidak dikenakan royalti yakni mineral tersebut tidak mempunyai nilai ekonomis atau nilai jual bahkan dalam kondisi tertentu bisa bersifat sebagai pengotor yang akan mengurangi nilai jual tembaga. sulfur. 8.

6. Alasannya. 3. negara harus berani untuk menegosiasi ulang klausul-klausul dalam KK yang bersangkutan.. 3. Sangat setuju apabila mineral ikutan lainnya yang terdapat dalam konsentrat tembaga dikenakan royalti. 5. negara telah merendahkan diri dengan memposisikan yang sama dengan pihak kontraktor. 2. perak dan tembaga) yang berada dalam konsentrat tembaga tidak bisa dikenakan royalti. Inilah pangkal permasalahannya. Dengan demikian. Rangkuman Laporan Terkait Rangkuman Laporan Hasil Pemeriksaan atas Pengelolaan PNBP dari Iuran KK pada Departemen ESDM dan PT Freeport Indonesia Tahun Anggaran 2004 dan 2005 (Badan Pemeriksa Keuangan: 2006). karena di dalam klausul-klausul KK menyebutkan demikian. mineral ikutan lainnya (selain emas. . FE UI.30 Departemen Keuangan khususnya Direktorat PNBP hanya menerima dan mencatat penerimaan PNBP dan secara periodik dilakukan rekonsiliasi dengan departemen teknis yang bersangkutan.. Dari kasus ini nampak bahwa terdapat sebagian kekayaan alam yang telah diambil dari bumi kita. JokoSudiarto. Dalam hal kontrak karya. seperti yang diamanatkan dalam undang-undang bahwa semua sumber daya alam merupakan kekayaan negara yang harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan sesuai dengan prinsip bahwa PNBP merupakan hak mutlak negara. Sesuai dengan prinsip PNBP bahwa semua PNBP seharusnya mutlak hak negara artinya negaralah yang mempunyai “bargaining power” lebih besar.4. 2009. Demikian juga dengan besarnya PNBP yang terkait dengan kontrak tersebut harus sesuai dengan apa yang telah disepakati. agar mineral ikutan tersebut dapat dikenakan royalti. Dengan kata lain hanya negara yang berhak menentukan besarnya tarif PNBP bahkan bisa saja tanpa kompromi dengan pihak ketiga. adalah sebagai berikut: Universitas Indonesia Analisis potensi. sehingga semua pihak yang terkait dengan kontrak tersebut harus mematuhi seluruh klausul dalam kontrak atau perjanjian tersebut. 4. namun demikian baik negara ataupun rakyat tidak menikmatinya.7..

000 kg x USD0. namun oleh PT.. Kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak adalah pembayaran atas iuran tetap. Smelting di Gresik pada saat ini 95% dari gas tersebut dapat diproses untuk menghasilkan asam sulfat dan gipsum. sedangkan penjualan ke PT Smelting Gresik bukan kategori dimaksud pasal ini.442. iuran produksi/royalti.004/kg untuk mineral ikutan belerang yang masih dapat dimanfaatkan dan UU No.004/kg) tidak dapat direalisasikan. dan pajak-pajak. 42 tahun 2002 tentang pelaksanaan APBN pasal 8 yang menyatakan pihak departemen berkewajiban mengintensifkan penerimaan. . 7. 6.. 2009. Dalam proses peleburan konsentrat. 2.610..00 (3. FE UI.564 ton x 1. Rangkuman Laporan Tim Optimalisasi Penerimaan Negara mengenai proses peleburan konsentrat tembaga di PT Smelting Gresik (TOPN: 2007) dapat Universitas Indonesia Analisis potensi. belerang ini merupakan bagian gas buang dalam bentuk belerang sulfida (SO2) yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Hasil pengujian dilakukan sendiri oleh PTFI dan ditegaskan melalui hasil konfirmasi diketahui bahwa dalam konsentrat tersebut masih ada kandungan berbagai mineral lain diantaranya adalah belerang (sulphur) yang kadarnya 2530%. Untuk penjualan dalam negeri salah satu konsumen konsentrat terbesar adalah PT Smelting Gresik yang bergerak di bidang peleburan dan pemurnian tembaga dengan produk sampingan berupa asam sulfat dan gipsum. JokoSudiarto.31 1... perusahaan harus membayar suatu royalti tambahan yang dapat berlaku berkenaan dengan mineral yang diekspor yang dibayar kepada perusahaan oleh pembeli. Menurut penjelasan pihak PTFI meskipun belerang masih mempunyai nilai ekonomis namun dalam penjualan konsentrat tidak diperhitungkan sebagai mineral ikutan.”). dengan alasan bahwa sesuai dengan Pasal 13 huruf h KK (“. 3.. 4. Hal tersebut tidak sesuai dengan Lampiran G pada KK yang menetapkan adanya iuran royalti sebesar USD0. Akibatnya potensi penerimaan negara dari mineral ikutan belerang untuk TA 2004 dan TA 2005 (semester I) minimal sebesar USD14. Perhitungan kewajiban perusahaan KK dilaksanakan secara self assessment oleh perusahaan. 5.256.

digenit (CU5S9).. Gypsum 2.25. . Refinery Plant KatodaTembaga (Cu:99.70% 30.32 diuraikan sebagai berikut: 1.. JokoSudiarto. Pada proses peleburan dan "converting". Kandungan belerang di dalam konsentrat tembaga berkisar antara 29. Smelter Plant Sumber data: Laporan Tim OPN tahun 2007 (diolah).95% dan ditemukan dalam mineral kalkopirit (CuFeS2). 5.93% . Terak (Molten Slag) (Cu :99. Gambaran tahapan proses produksi serta output yang dihasilkan pada masing-masing tahapan dapat disajikan sebagai berikut : Tabel 9: Produksi dan Output PT Smelting Gresik Output/Produk Produk Utama Produk Sampingan Anoda Tembaga 1. Perak 2. Sulfur (SO2) 3. Proses produksi konsentrat menjadi tembaga. bornit (Cu5FeS4). FE UI. besi teroksidasi membentuk besi oksida (FeO) yang kemudian bersama-sama senyawa silika (SiO2). Tellurium Tahapan Proses Pengolahan 1. pirit (FeS2) dan terikat dengan unsur-unsur ikutan lainnya. Terak yang dihasilkan dijual kepada PT Semen Gresik (Persero) sebagai bahan baku pembuatan semen.22%. kovelit (CuS). 2. magnesia (MgO) alumina (AI2O3) dan lain-lainnya. pada dasarnya meliputi beberapa tahapan kegiatan dengan jenis output/produksi yang berbeda untuk produk utama (main product) dan produk sampingan (by product) pada masingmasing tahapan tersebut. 4.. sulfur (SO2). 3. membentuk terak. Selenium Anoda 2. emas dan perak. selenium dan tellurium. Produk utama dalam proses pengolahan konsentrat adalah katoda tembaga (copper cathode). kapur (CaO). belerang menjadi bagian gas buang sebagai belerang oksida (S02). Gas buang yang dihasilkan oleh pabrik peleburan tersebut diproses lebih lanjut Universitas Indonesia Analisis potensi. Pengolahan Lumpur 1. Emas 1. gipsum.4%) 2. Konsentrat tembaga umumnya mengandung besi (Fe) antara 21. 2009.99%) Anoda Slimes (Lumpur Anoda) 3. Sedangkan produk sampingannya adalah terak (molten slag). Pada waktu proses peleburan dan converting. dan ditemukan dalam senyawa dengan logam tembaga dan belerang. kalkosit (CuS).

gas SO2 dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk dan gipsum dan dijual ke PT Petrokimia Gresik. 2. Secara situasional. PT FIC hanya memperoleh pembayaran untuk logam-logam tembaga. yaitu: 1. Namun demikian dalam hal tertentu pemasaran konsentrat tembaga dapat mengikuti ketentuan-ketentuan khusus.. alumina (Al2O3). terak tersebut dapat dijadikan bahan baku semen dan dipakai Universitas Indonesia Analisis potensi. Commodity Exchange (COMEX) di New York dan London Bullion Market (LBM). 6. yang didasarkan pada perjanjian yang bersifat umum dan relatif sama. pada dasarnya mengacu pada harga-harga yang diterbitkan oleh London Metal Exchange (LME). Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Konsentrat Tembaga PT FIC.. 3. kapur (CaO). 2009. dan lainnya membentuk terak. walaupun jumlahnya relatif besar.. Terhadap unsur-unsur besi (Fe) dan belerang (S) yang terkandung dalam konsentrat tembaga. 5. magnesia (MgO). Perdagangan logam. FE UI. seperti tembaga (Cu). JokoSudiarto. PT FIC tidak memperoleh pembayaran sama sekali. PT FIC juga tidak memperoleh pembayaran bahkan juga tidak dikenakan denda (penalty). perak (Ag) dan lainnya. . emas (Au). unsur besi akan teroksidasi menjadi besi oksida (FeO) yang bersama senyawa-senyawa: silika (SiO2). emas dan perak yang terkandung dalam konsentrat tersebut. (Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) ITB: 1999). Kandungan besi dalam terak berkisar antara 30-40% yang relatif rendah dan sulit untuk diekstraksi logam besinya secara menguntungkan. Sedangkan pemasaran konsentrat tembaga dilakukan secara langsung antara penjual (seperti PT FIC) dengan para pembeli (smelter) ataupun secara tidak langsung dengan perusahaan dagang (trader). Pada pabrik peleburan PT Smelting Company di Gresik. Terhadap unsur-unsur ikutan dan senyawa pengotor yang terkandung dalam konsentrat tembaga yang jumlahnya relatif kecil.33 untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gypsum (CaS042H2O). 4. Pada proses peleburan konsentrat tembaga. Rangkuman Laporan Akhir. Dalam memasarkan konsentrat tembaga.

7.. 6. unsur besi dan belerang yang terdapat dalam konsentrat tembaga akan merupakan bagian limbah proses. unsur belerang murni. Unsur besi akan menjadi bagian dari terak. PT FIC hanya diwajibkan oleh Pemerintah RI untuk membayar royalti terhadap logam-logam tembaga. Sedangkan unsur belerang akan teroksidasi menjadi gas SO2..H2O). seperti halnya pabrik PT Smelting Company di Gresik. 2009.n. ..34 sebagai “sand blast”. gipsum (CaSO4. Universitas Indonesia Analisis potensi. Dalam pabrik peleburan konsentrat tembaga. FE UI. dan lainnya. sedangkan unsur belerang akan menjadi bagian gas buang yang selanjutnya dapat diubah menjadi produk tertentu. Gas tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4). SO2 cair. emas dan perak yang terdapat dalam kandungan konsentrat tembaga. Baik terak maupun produk tertentu tersebut dapat dijual. JokoSudiarto.

Hak penguasaan negara berisi wewenang untuk mengatur. serta berisi kewajiban untuk mempergunakannya sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Universitas Indonesia .. 2) mineral dan batubara tersebut untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.1. 38 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Analisis Cakupan Kontrak Karya yang Berlaku Untuk Pertambangan Tembaga Dalam Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945 dan Pasal 4 ayat (1) Undang- undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara disebutkan bahwa mineral dan batubara sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan merupakan kekayaan nasional yang dikuasi oleh negara untuk sebesarbesarnya kesejahteraan rakyat.BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.. Salah satu bentuk kerja sama itu adalah Kontrak Karya (KK). mengurus dan mengawasi pengelolaan atau pengusahaan mineral dan batubara. JokoSudiarto. yaitu: 1) negara menguasai mineral dan batubara sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan. yang merupakan suatu bentuk perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan 35 Analisis potensi. pemerintah dapat melaksanakan sendiri dan/atau menunjuk kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan sendiri oleh pemerintah. 2009. Sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat merupakan tujuan dari setiap pengelolaan dan penggunaan sumber daya alam nasional. Dalam pengusahaan mineral dan batubara. Hal tersebut sesuai dengan pasal 10 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan dan Pasal 37. Hak negara menguasai atau hak penguasaan negara merupakan konsep yang didasarkan pada organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat. Ada dua implikasi yang dapat diambil dari hal tersebut.. FE UI.

2009. radio aktif dan batubara) sesuai dengan jangka waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak. tampak bahwa subyek hukum dalam KK itu terdiri dari dua pihak. Berdasarkan analisis terhadap substansi kedua KK tersebut. Hak dan kewajiban tersebut diatur dalam Pasal 2. sesuai dengan kontrak karya pengusahaan pertambangan tembaga masing-masing. yaitu Pemerintah RI dan kontraktor. pemerintah menerbitkan surat keputusan tahap kegiatan sesuai dengan yang diminta oleh perusahaan KK yang bersangkutan. Perubahan terhadap terms and conditions kontrak hanya dimungkinkan apabila didasarkan atas kesepakatan para pihak yang kemudian dituangkan secara resmi dalam bentuk amandemen kontrak. Pasal 13 dan Pasal 27 masing-masing KK. Obyek perjanjian dalam kedua KK tersebut adalah pemanfaatan dan pengembangan potensi pertambangan di Indonesia. yaitu KK antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991 dan KK antara Pemerintah RI dengan PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) tanggal 2 Desember 1986. gas alam. Jangka waktu masing-masing tahapan kegiatan dalam KK menjadi satu paket dalam kontrak yang bersangkutan. Satu hal yang pasti adalah antara Pemerintah RI dengan pihak kontraktor terikat dalam perjanjian ikatan hukum. JokoSudiarto.36 perusahaan swasta asing atau patungan antara asing dengan nasional (dalam rangka Penanaman Modal Asing) yang perusahaannya berbadan hukum Indonesia (Perseroan Terbatas) untuk melaksanakan usaha pertambangan pengusahaan mineral (tidak termasuk minyak bumi. dan lain-lain yang Universitas Indonesia Analisis potensi. Terdapat dua KK pengusahaan pertambangan tembaga di Indonesia. konstruksi dan eksploitasi. . Dalam KK tersebut telah ditentukan hak dan kewajiban para pihak.. Pemerintah RI diwakili oleh Menteri Pertambangan dan Energi (saat ini Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral) dan pihak kontraktor yaitu PT FIC dan PT NNT. Pemanfaatan dan pengembangan tersebut dimulai dari tahap eksplorasi. Kedua pihak terkena asas ”penghormatan” terhadap ketentuan dalam kontrak meliputi keseluruhan terms and conditions yang tercantum dalam kontrak. panas bumi... FE UI. Setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan. royalti. Hak Pemerintah RI adalah menerima pajak.

Selanjutnya diuraikan secara rinci kedua kewajiban Universitas Indonesia Analisis potensi. 6. bea masuk atas barang yang diimpor ke Indonesia.. pajak penghasilan badan atas penghasilan yang diperoleh perusahaan. kecuali ditetapkan lain dalam KK. menyetorkan pajak atas pemindahan hak kepemilikan kendaraan bermotor dan kapal di Indonesia.. 5. pajak penghasilan perorangan. pajak bumi dan bangunan (PBB). iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan. Dari kewajiban-kewajiban kontraktor seperti diuraikan di atas. yaitu kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan dan kewajiban iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. 10. kewajiban kontraktor (PT FIC dan PT NNT) yang berkaitan dengan penerimaan negara seperti yang tercantum dalam Pasal 13 masing-masing KK. kecuali ditetapkan lain dalam KK. terdapat dua kewajiban kontraktor yang dikelompokan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). 2. pembebanan-pembebanan dan bea-bea yang dikenakan oleh pemerintah daerah di Indonesia yang telah disetujui oleh pemerintah pusat. . adalah sebagai berikut: 1. 8. 11. Sementara itu. pajak penghasilan atas bunga.37 merupakan penerimaan negara. jasa manajemen. kewajibannya adalah menjaga keamanan dan melindungi investasi yang ditanamkan oleh para investor. sewa. JokoSudiarto. 2009. iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. pungutan-pungutan.. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas pembelian dan penjualan barang kena pajak. FE UI. bea meterai atas dokumen-dokumen yang sah. dan jasa lainnya. pajak-pajak. 7. 12. jasa teknik. dividen. 9. 3. 4. Sementara itu. pungutan-pungutan administrasi umum dan pembebanan-pembebanan untuk fasilitas atau jasa dan hak-hak khusus yang diberikan oleh pemerintah sepanjang pungutan-pungutan tersebut telah disetujui oleh pemerintah pusat.

PT FIC telah menyetorkan iuran tetap sebesar US$3. tidak terdapat PNBP yang berasal dari penyetoran iuran tetap tersebut yang belum tergali. Rincian disajikan pada Lampiran 1 dan 2. FE UI. diketahui bahwa kedua kontraktor telah melaksanakan kewajiban penyetoran iuran tetap sesuai dengan ketentuan tersebut di atas.63 pada periode yang sama.086. . mudah bagi pihak-pihak terkait untuk melakukan pengecekan atau pengujian apakah pemerintah telah melakukan usaha-usaha yang optimal untuk menggali penerimaan tersebut. Departemen ESDM.00. Berdasarkan data-data hasil penelitian lapangan yang berasal dari laporan kedua kontraktor. Universitas Indonesia Analisis potensi.250.805. Pertama.. dan Laporan Hasil Audit Tim OPN.00 dengan jumlah per tahun sebesar US$608. 2009. kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan. Sedangkan PT NNT telah menyetorkan iuran tetap sebesar US$1.00/Ha.044.. Selama periode tersebut.38 PNBP tersebut. Dengan perhitungan dan cara pembayaran yang sederhana tersebut. Dalam lampiran “D” tersebut ditetapkan bahwa tarif iuran tetap per tahun sebesar US$ 3. Dalam perhitungan tersebut tampak bahwa iuran tetap dapat diartikan sebagai biaya sewa lahan dari pengelola (pihak kontraktor) kepada pemilik lahan (pemerintah).382. untuk periode 2003 sampai dengan 2007. Artinya telah dilakukan usaha-usaha yang optimal untuk menggali PNBP tersebut. Dari data-data tersebut. sehingga sering disebut deadrent atau landrent dengan tarif tetap atau ”fixed rate” per Ha sesuai dengan surat keputusan mengenai penetapan luas wilayah masing-masing. Pasal 13 point (i) kedua KK tersebut menyebutkan hal yang sama yaitu bahwa ”Perusahaan harus membayar tiap tahun sebagai iuran tetap yang akan dihitung menurut jumlah hektar yang termasuk data Wilayah Kontrak Karya atau Wilayah Pertambangan pada tanggal 1 Januari dan 1 Juli dari setiap tahun dan pembayaran dilakukan di muka dalam dua kali pembayaran masing–masing dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal-tanggal tersebut selama jangka waktu persetujuan dan dibayarkan sebagaimana ditetapkan dalam lampiran “D” Kontrak Karya”. JokoSudiarto.. yaitu iuran tetap tahap operasi sesuai dengan surat keputusan mengenai penetapan luas wilayah dan tahap-tahap usaha pertambangan perusahaan yang bersangkutan.

5 + (ACP90)/10 Sedangkan logam mulia yang merupakan mineral ikutan dengan tembaga. yang diatur sebagai berikut: Harga tembaga/pon ≤ USD 0.900< harga tembaga/pon< USD 1.. Jatuh tempo setiap triwulan. Dalam hal tembaga dijual dalam bentuk konsentrat. PCT = 1.. antara PT FIC dengan PT NNT. . jumlah royalti yang dibayar adalah: CR = [ (P x ACP) – SRFS] x PCT P : Jumlah tembaga (pon) yang terkandung dalam konsentrat.5% Harga tembaga/pon > USD 1.. dijual selama satu triwulan ACP SRFS : : Harga Tembaga Biaya peleburan dan pengolahan. PCT = 3.39 Kedua.100. Pasal 13 point (ii) menyebutkan bahwa ”Perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral hasil produksi. PCT = 1. kewajiban iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah berakhirnya setiap triwulan. maupun mata uang lain yang disetujui bersama”. Terdapat perbedaan substansi Pasal 13 KK yang mengatur tata cara perhitungan dan pembayaran kewajiban tersebut. Oleh karena itu.900. pengangkutan dan biaya penjualan lainnya PCT : Persentase. 2009. Dibayar dalam mata uang rupiah. Berdasarkan hasil penelitian lapangan. dollar.100. JokoSudiarto. pembahasan kewajiban tersebut akan diuraikan sesuai dengan kondisi masing-masing kontraktor sebagai berikut: 1) PT FIC. FE UI. tarif royaltinya adalah 1% dari harga jual. proses produksi PT FIC Universitas Indonesia Analisis potensi.50% USD 0. didasarkan kepada harga emas/perak yang berlaku.

40 menghasilkan konsentrat tembaga. seperti yang diuraikan pada Pasal 13 huruf h bahwa perusahaan harus membayar suatu Royalti Tambahan yang dapat berlaku berkenaan dengan mineral yang diekspor sebagai bijih yang tidak dapat dimanfaatkan dari Indonesia. PT FIC hanya menghitung dan menyetorkan royalti atas penjualan ketiga unsur mineral tersebut. Demikian juga unsur mineral-mineral ikutan lainnya. artinya dalam setiap satu metric ton konsentrat tembaga terkandung unsur mineral tembaga sebanyak antara 25% X 1 ton = 0. Di samping itu. hanya tiga unsur mineral tersebut yang dibayar oleh pembeli sedangkan mineral ikutan lainnya dianggap sebagai limbah yang tidak ada nilai ekonomisnya. 2009.35 ton.d. Royalti Tambahan harus dibayar sepanjang suatu mineral dalam produksi perusahaan yang diekspor adalah satu mineral yang nilainya menurut kebiasaan umum dibayar kepada perusahaan oleh pembeli. sedangkan realiasi penjualan yang dilaporkan oleh PT FIC adalah penjualan ketiga unsur mineral tersebut. Jumlah tonase mineral yang dihitung dalam kandungan konsentrat tersebut hanya tiga unsur mineral yaitu emas (Au). sedangkan unsurunsur mineral ikutan lainnya tidak dihitung tonasenya.25 ton s. realisasi produksi yang dilaporkan oleh PT FIC adalah produksi konsentrat tembaga dan ketiga unsur mineral tersebut. diantaranya adalah Universitas Indonesia Analisis potensi.. Menurut PT FIC. misalnya ingredient content mineral tembaga adalah antara 25% s. JokoSudiarto. Sehingga. Ingredient content mineral emas adalah antara 25 gr/T s. Tarif royalti tambahan sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran G.d. FE UI.d. Kandungan masing-masing mineral ikutan dalam setiap metric ton konsentrat tembaga yang diproduksi oleh PT FIC sesuai dengan ingredient content. Kandungan unsur mineral dalam konsentrat tembaga tersebut merupakan hal yang disyaratkan dalam kontrak penjualan antara penjual dan pembeli. 35% X 1 ton = 0... 35%. Oleh karena itu. . perak (Ag) dan tembaga (Cu). 34 (gr/T).d. sesuai dengan Pasal 13 point (ii) KK tersebut di atas. yang dijual oleh PT FIC kepada para pembeli (smelter dan trader). artinya dalam setiap satu metric ton konsentrat tembaga terkandung unsur mineral emas sebanyak antara 25 gr s. Di dalam konsentrat tersebut terkandung beberapa mineral ikutan yang tidak dapat dipisahkan dari proses produksi (menyatu dalam konsentrat tembaga tersebut). 34 gr.

251/ons 62.527.573. Spanyol Nomor 1308 F tanggal 20 April 2003 37.430 ons US$ 5. 3. S. Contoh perhitungan kewajiban iuran eksploitasi/royalti dapat disajikan berikut ini. seperti dicantumkan pada tabel berikut ini. 2009. terdapat mineral ikutan dalam konsentrat tembaga yang belum dikenakan royalti.50 1.32 : : : : : : : 25. Mineral Range Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) 18-30 25-36 5-10 1. Dengan demikian..00 30.378. FE UI.3 Rata-rata 24.41 mineral belerang (sulfur) dengan tarif sebesar USD4. Tabel 10: Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT FIC Kandungan Mineral dalam Konsentrat No.00/ton. Namun demikian..154.A.85 Satuan % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah).242/ons US$ 4.255 DMT US$ 33. 4. JokoSudiarto.56 Universitas Indonesia Analisis potensi.50 7. .4-2.838 lbs US$ 0.78844/lbs 57. PT FIC juga tidak pernah menghitung dan menyetorkan royalti tambahan tersebut dengan alasan perusahaan tidak menerima pembayaran dari pembeli atas mineral belerang tersebut. Data penjualan · · · · · · · · · · Penjual Pembeli Pelabuhan tujuan Invoice Berat konsentrat Nilai Tembaga Berat dalam lbs Harga Emas Berat dalam ons Harga Perak Berat dalam ons Harga TCRC : : : : : : PT FIC Atlantic Copper.882. 2.456 ons US$ 296.. 1.834.

536.47 · Emas 1% X US$ 296. perhitungan royalti didasarkan pada Surat Direktur Jenderal Pertambangan Umum Nomor 310/20.456 ons · Perak 1% X US$ 5. jumlah berat setiap mineral yang dikenakan iuran eksplotasi/produksi ditetapkan secara tepat dengan metode perhitungan yang dapat diterima secara internasional”. .691.42 Perhitungan Iuran Eksploitasi/Royalti · Tembaga US$ 0. jumlah penyetoran royalti sebesar US$443.175.834.633.5% X US$ 15.400.12.119.154.175.03 US$ 4. 2009.58 US$ 401. Iuran eksplotasi/produksi akan dibayar dalam Rupiah atau mata uang lain yang disetujui bersama dan akan dibayar pada atau sebelum hari terakhir dari bulan setelah tiap triwulan”.242 X 62.TCRC 1. Dalam hal tembaga. JokoSudiarto.536.97 US$ 3. Rincian disajikan pada Lampiran 3.05 US$ 170..01/DJP/2000 tanggal 24 Februari Universitas Indonesia Analisis potensi.732. Iuran Eksploitasi/produksi akan dihitung dengan tarip yang ditetapkan dalam Lampiran “F” sebagai berikut: “tonase atau jumlah berat yang digunakan di dalam perhitungan adalah jumlah yang diserahkan bagi pengapalan ekspor atau penjualan dalam negeri.213. FE UI. Pasal 13 ayat 2 KK dapat diuraikan secara ringkas bahwa “Perusahaan akan membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral dari hasil produksi (sebagaimana dirumuskan dalam lampiran “F”) pada Wilayah Pertambangan..251 X 57. 2) PT NNT.430 ons Jumlah Royalti : : : : : : : US$ 20.378.272..47 US$ 227.56 US$ 15. sepanjang setiap Mineral dari hasil produksi itu merupakan Mineral yang nilainya sesuai kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada Perusahaan oleh pembeli.60 Dalam periode 2003 sampai dengan 2007.009.78844 X 25.838 lbs -/. Dalam hal konsentrat atau dore bullion.

terdapat mineral ikutan lainnya dalam konsentrat tembaga yang tidak dikenakan royalti. iuran yang dikenakan adalah 2% dari harga jual. iuran yang dikenakan adalah {1+(G–300)/100}% dari harga jual.. seperti dicantumkan pada tabel berikut ini. 2009.US$400 per troy ounce. Universitas Indonesia Analisis potensi. Dalam hal emas.000 Ton US $ 55. iuran yang dikenakan adalah 2% dari harga jual. c) Jika harga jual (G) emas adalah diantara US$300 .00/ton. Dalam hal perak. perhitungan royalti adalah sebagai berikut: a) Jika harga jual perak adalah US$10 per troy ounce atau lebih rendah. Surat tersebut terkait dengan pengenaan tarif royalti untuk tembaga yang ditentukan berdasarkan Surat Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Nomor 2817/844/DJP/1996 tanggal 11 Nopember 1996 dengan mengacu pada Surat Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1166. iuran yang dikenakan adalah {1+(S–10)/5}% dari harga jual. perak dan tembaga. perhitungan royalti adalah sebagai berikut: a) Jika harga jual emas adalah US$300 per troy ounce atau lebih rendah. FE UI. maka PT NNT hanya menghitung dan menyetorkan royalti atas mineral emas.00/ton.000 Ton US $ 45.. dan sesuai dengan Pasal 13 ayat (2) KK tersebut di atas. · Tingkat produksi > 80. .. b) Jika harga jual perak adalah US$15 per troy ounce atau lebih tinggi. iuran yang dikenakan adalah 1% dari harga jual. iuran yang dikenakan adalah 1% dari harga jual. Seperti halnya pada PT FIC. Dengan demikian. c) Jika harga jual (S) perak adalah diantara US$10-US$15 per troy ounce.43 2000 perihal Pembayaran Iuran Eksploitasi/Produksi (Royalti) PT Newmont Nusa Tenggara. JokoSudiarto. b) Jika harga jual emas adalah US$400 per troy ounce atau lebih tinggi.K/844/MPE/1992 serta metode teknis perhitungan sesuai dengan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Nomor 514/844/DDJP/1992 tanggal 28 Desember 1992 tarif royalti untuk tembaga ditetapkan sebagai berikut: · Tingkat produksi ≤ 80.

292 2.Berat dalam ons .05/31. 2009.09 DMT US$ 13.Harga · Perak .175.Grade .919.23 ton (68.15 Satuan % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah) Contoh perhitungan kewajiban iuran eksploitasi/royalti dapat disajikan berikut ini.09) : : : : : : : PT NNT Mitsubishi Material Corporation Naoshima.737. 3. 1.Grade .51 ons (175.284.Harga : : : : 68.6-2.98 689.999.635.00 2.1035) US$ 9.999.Berat dalam ton · Emas .737..44 Tabel 11: Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT NNT Kandungan Mineral dalam Konsentrat No.00 31.69 : : : : 17.Grade .999.1035) US$ 561.55 ons (689.Berat dalam ton . .284.53 X 9.701. JokoSudiarto.999.75 : : 0.00 8.. Data penjualan · Penjual · Pembeli · Pelabuhan tujuan · PEB · Invoice · Berat konsentrat · Nilai · Tembaga .05 ton (17. Mineral Range Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) 22-28 28-34 7-9 1.21 Universitas Indonesia Analisis potensi. Jepang Nomor 000005 tanggal 20 Januari 2006 Nomor 2006-04-1 tanggal 30 Januari 2006 9. 4.Berat dalam ons .23/31.53 175.292 X 9..886.09) 22.73 ton (0. FE UI.98 X 9.Berat dalam ton .7 Rata-rata 25. 2.09) 5.

87. jumlah penyetoran royalti oleh PT NNT sebesar US$96.. FE UI.79 Dalam periode 2003 sampai dengan 2007. Jadi tidak tergantung dari besarnya produksi yang dihasilkan (dalam tonase) maupun besarnya pendapatan atau penjualan (dalam rupiah atau US$). selain membayar pajak-pajak sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku.75 X 5..274. lease bonuses ini dapat Universitas Indonesia Analisis potensi. pihak kontraktor yang mengusahakan atau mengolah sumber daya mineral diwajibkan membayar kepada pemerintah sebagai PNBP. JokoSudiarto.175.73 ton · Emas 2% X US$ 561.51 ons · Perak 1% X US$ 9.388. Dalam kontrak karya.45 Perhitungan Iuran Eksploitasi/Royalti · Tembaga US$ 45.148. PNBP yang berasal dari iuran tetap dan royalti kontrak karya tersebut dapat digolongkan sebagai user charges dalam kelompok user fees. Pembayaran tersebut yaitu: 1) Lease bonuses.919..00 X 2.571. Artinya. merupakan pembayaran tetap kepada pemerintah tidak tergantung dari keuntungan atau jumlah yang dihasilkan dari pengusahaan sumber daya mineral tersebut. . Rincian disajikan pada Lampiran 4. yaitu bahwa pemerintah merupakan pemilik lahan atau pemilik sumber daya mineral dimana pemerintah akan menerima pembayaran dari pengusahaan sumber daya tersebut di luar dari pajak penghasilan.55 ons Jumlah Royalti : : US$ 2.81 : US$ 63.314. 2009.94 : US$ 131. Hal tersebut di atas senada dengan pendapat dari David C.04 US$ 196.851.L. Nellor dalam buku yang sama (1995: 238-240) yang mengemukakan beberapa pengertian pengusahaan mineral.69 X 22. dimana PNBP tersebut merupakan pembayaran atas pelayanan yang dinikmati langsung oleh pengguna (pihak kontraktor).635. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Gerwin Bell dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 104-107).

royalti bisa dihitung dari jumlah volume (misalnya metric ton) atau dari nilai sumber daya tersebut (misalnya nilai jual). Hal ini sangat beresiko bagi pemerintah sebagai pemilik sumber daya mineral. 3) Resource Rent Tax (RRT). Dengan demikian royalti hanya dapat dikenakan kepada kontraktor apabila kontraktor tersebut benar-benar telah menerima pembayaran dari pembeli. Artinya. FE UI. JokoSudiarto. .. 2009. Jelas di sini bahwa pengertian royalti dalam KK lebih sempit dibandingkan dengan pengertian royalti menurut pendapat David C. Kedua. RRT hanya dibayarkan oleh kontraktor apabila pengusahaan sumber daya mineral tersebut telah menguntungkan. royalti dikenakan atas sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor. Pemerintah harus menetapkan jumlah minimum royalti yang harus dibayar oleh pihak kontraktor atas besarnya volume atau nilai sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor tersebut. dengan kata lain. royalti dibayarkan berdasarkan besarnya volume atau nilai dari sumber daya yang diusahakan. yaitu Pertama.L.46 diartikan sebagai kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan. Universitas Indonesia Analisis potensi. Artinya. pemerintah akan kesulitan mengadministrasikan dan menentukan kewajaran besarnya penerimaan tersebut. karena pemerintah tidak akan memperoleh penerimaan sampai dengan proyek atau pengusahaan sumber daya mineral tersebut menguntungkan. Pengertian tersebut berbeda dengan KK. Semakin tinggi harga atau nilai penjualan mineral maka semakin tinggi tarif royaltinya. Nellor tersebut. pendapatan yang diperoleh telah melebihi atau di atas nilai investasinya. Ada dua makna dalam pengertian tersebut. RRT tersebut dapat dianalogkan sebagai penerimaan royalti tambahan dari PT FIC dan pengenaan tarif progresif atas royalti. sehingga pemerintah perlu melakukan pengawasan yang ketat. Di sisi lain.. 2) Royalties. merupakan pajak yang dikenakan apabila terdapat keuntungan atas pengelolaan atau pengusahaan sumber daya mineral. yaitu di dalam Pasal 13 KK disebutkan bahwa royalti dibayarkan atas mineral yang dibayar oleh pembeli. Jadi tidak tergantung apakah sumber daya tersebut bermanfaat atau tidak oleh kontraktor yang bersangkutan..

Selanjutnya dikirim ke konsentrator plant dengan menggunakan overland conveyor. 2009. untuk dilakukan penghancuran pada crushing pile dan hasilnya dikumpulkan pada surge pile. Hal ini bisa dilihat dari uraian di atas bahwa masih terdapat potensi royalti dari mineral ikutan tembaga yang belum tergali. 4. antara lain royalti di bidang pertambangan.. Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP menerangkan bahwa salah satu PNBP adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. dikenakan atas pemanfaatan sumber daya alam (dalam hal ini adalah pengusahaan pertambangan).2.47 semakin tinggi harga atau nilai penjualan mineral maka semakin besar pula keuntungan yang diperoleh oleh kontraktor. . Bahan galian yang diperoleh disebut bijih (ore).. sehingga pemerintah pun akan menerima royalti yang semakin besar. Dengan demikian. Artinya. FE UI. cakupan royalti dalam KK tersebut belum optimal buat pemerintah Indonesia. Artinya pemerintah Indonesia kehilangan kesempatan untuk memperoleh penerimaan yang lebih besar (opportunity loss). penentuan lokasi dari bahan galian yang akan dilakukan penambangan. Makna atau substansi pasal tersebut yaitu royalti di bidang pertambangan yang merupakan salah satu PNBP. Jelas di sini bahwa cakupan royalti dalam KK lebih sempit dibandingkan dengan pengertian konsep PNBP tersebut. · Concentrator Plant. siapapun yang telah mengusahakan pertambangan dan memanfaatkan hasil-hasilnya harus dikenakan royalti. JokoSudiarto. Menentukan Alasan yang Dapat Digunakan Untuk Mengenakan Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga Secara ringkas proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan untuk dapat menghasilkan konsentrat tembaga dapat diuraikan sebagai berikut: · Penambangan.. ore dikumpulkan dalam coarse ore mill feed stockpile dan didistribusikan ke sag mill untuk dilakukan penggilingan menjadi butiran– Universitas Indonesia Analisis potensi.

Kemudian proses loading dari penyimpanan konsentrat ke kapal dilakukan dengan belt conveyor. selanjutnya melalui pipa dengan tekanan air dikirim ke bagian filtration plant.. yaitu: 1. 20 December. konsentrat bercampur air ditampung dalam discharge tank dan dilakukan pengepresan melalui dua buah filter press sehingga kadar air yang tersisa dalam konsentrat mencapai kadar 9%–12% dari berat konsentrat. 1950 Latest Amendment In 1962. dan perak sedangkan unsur mineral ikutan lainnya tidak dibayar royaltinya. Seluruh unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga di atas termasuk dalam pengertian mineral. ada dua alasan yang mendasari hal tersebut.. Dan termasuk di dalam jenis bahan galian vital. baik menurut Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara maupun Article 3 angka 1 Japanese Mining Law Nomor 289. 2009. yaitu bahan galian yang dapat menjamin hajat hidup orang.48 butiran halus. Proses ini dilakukan untuk memisahkan dan meningkatkan konsentrat. emas. · Filtration Plant. Dari proses produksi di atas diketahui bahwa hasil produksi perusahaan berupa konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung beberapa mineral ikutan. . Diagram alur proses produksi tersebut dicantumkan pada Lampiran 5. Berdasarkan data-data hasil penelitian lapangan diketahui bahwa kontraktor (PT FIC dan PT NNT) hanya menyetorkan royalti atas mineral tembaga. Bahan galian ini disebut juga golongan bahan galian B sesuai dengan Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian.. Pasal 13 KK menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi Universitas Indonesia Analisis potensi. melalui belt conveyor dikirim ke tempat penyimpanan konsentrat (concentrate stockpile). Perhitungan dan penyetoran kewajiban iuran eksploitasi (royalti) telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam KK. JokoSudiarto. Sedangkan menurut Pasal 34 ayat (2) Undangundang Nomor 4 Tahun 2009 pengusahaan pertambangan tembaga termasuk dalam pertambangan mineral logam. FE UI. Menurut kedua kontraktor.

Ltd 5%). Pendapat tersebut diuraikan berikut ini. dilakukan oleh PT Smelting Gresik Copper Smelter & Refinery yang sahamnya 25 % dimiliki PT FIC dan sisanya perusahaan Jepang (Mitsubishi Material Corporation 60. jika kandungannya melampaui ambang batas. . PT Universitas Indonesia Analisis potensi. emas dan perak yang berdasarkan teknologi saat ini tidak memiliki nilai ekonomis untuk diolah lebih lanjut. JokoSudiarto. Namun demikian. melainkan merupakan upaya untuk meminimalkan dampak polusi yang diakibatkan oleh buangan sulfur dari pabrik smelting. dan perak. Mitsubishi Corporation 9. FE UI. Hal ini bukan merupakan upaya untuk mendapatkan nilai ekonomis dari sulfur. pembeli hanya bersedia membayar logam yang terkandung di dalam konsentrat yang dapat diproses lebih lanjut secara ekonomis sehingga mendatangkan penghasilan bagi pengolah konsentrat (smelter). Dan perusahaan hanya menerima pembayaran dari pembeli atas tiga mineral ikutan yaitu tembaga. Dengan demikian. emas.. 2009. Beberapa smelter saat ini dapat mengolah sulfur untuk dimanfaatkan oleh perusahaan petrokimia dengan syarat lokasi pengolahan sulfur berdekatan dengan lokasi pabrik petrokimia. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli..5 % dan Nippon Mining & Metals Co..5 %. Simon Sembiring dalam Buku Jalan Baru Untuk Tambang: Mengalirkan Berkah Bagi Anak Bangsa (2009: 149) menguraikan bahwa peleburan dan pemurnian konsentrat tembaga di Indonesia. Dalam konsentrat tembaga terdapat beberapa logam di luar tembaga. terdapat beberapa pendapat yang mengatakan bahwa hampir semua unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga tersebut dapat dimanfaatkan atau hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga. 2. Beberapa logam bahkan dikategorikan sebagai pengotor konsentrat (impurities) sehingga. justru perusahaan dikenakan penalti.49 untuk kadar mineral hasil produksi. Dalam praktik perdagangan konsentrat. smelting yang melakukan upaya ini semestinya mendapatkan insentif karena berhasil menekan tingkat polusi dan bukannya diwajibkan memberikan kompensasi kepada penjual konsentrat. hanya ada di Gresik.

Pada proses peleburan dan converting. Konsentrat tembaga umumnya mengandung besi (Fe) antara 21.22%. yakni: 1. Hal tersebut senada dengan Laporan Tim Optimalisasi Penerimaan Negara Tahun 2007. Indonesia saat ini hanya menyerap sepertiga konsentrat tembaga yang dihasilkan PT FIC yang sebesar 2. terdiri dari empat plant. 3. Produk sampingan lainnya adalah gypsum dengan kapasitas 20 ribu ton/tahun yang digunakan untuk campuran semen dan dijual ke pasar internasional. 2. . besi teroksidasi membentuk besi oksida Universitas Indonesia Analisis potensi. JokoSudiarto.50 Smelting didirikan pada Februari 1996. 2009.25.. dimana kadarnya (copper grade) dari 28-30% dinaikkan menjadi 99... yang langsung dijual kepada PT Petrokimia Gresik sebagai bahan baku pembuatan pupuk. Sedangkan produk sampingannya adalah terak (molten slag). refinery plant (pabrik pemurnian).99%. Copper slag berupa kerak juga bisa dijual ke industri pembuatan kertas pasir. Namun sayangnya. yaitu: Pertama. yang menjelaskan proses produksi pada PT Smelting Gresik. Ini membuktikan bahwa sebenarnya kita bisa mengubah dari raw material menjadi konsentrat dan selanjutnya sampai dengan end product yang dimanfaatkan industri hilir. yakni smelter plant (pabrik peleburan). pabrik tersebut mengubah konsentrat menjadi copper cathode. selenium dan tellurium. dan instalasi pengolahan air limbah. Lalu.6 juta ton per tahun dan cuma sebagian kecil konsentrat dari PT NNT. Kedua. Produk utama PT Smelting Gresik adalah katoda tembaga (copper cathode). Dengan demikian.93% . hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga. dan ditemukan dalam senyawa dengan logam tembaga dan belerang. kerak tembaga (copper slag) dengan kapasitas 530 ribu ton/tahun. acid plant (pabrik asam sulfat). yang mengandung bahan substitusi untuk pabrik semen sebagai pengganti sebagaian pasir besi yang merupakan bahan baku pembuatan semen. Ada dua hal penting yang diuraikan dalam buku tersebut. FE UI. sulfur (SO2). gipsum. dari smelter ini diperoleh produk sampingan (by-product) berupa belerang (sulfur) dengan kapasitas 700 ribu ton/tahun. emas dan perak.

kalsium.95% dan ditemukan dalam mineral kalkopirit (CuFeS2). kapur (CaO). 4. JokoSudiarto. gas SO2 dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk dan gipsum yang dijual ke PT Petrokimia Gresik. Konsentrat tersebut mengandung 25% – 35% unsur mineral tembaga. Pada pabrik peleburan PT Smelting Gresik. bornit (Cu5FeS4). 5. dalam jumlah yang sama unsur mineral besi dan sulfur. FE UI. Sementara itu Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) ITB dalam Buku Laporan Akhir “Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Universitas Indonesia Analisis potensi. yakni seperti slag. digenit (CU5S9). membentuk terak.S. Kandungan belerang di dalam konsentrat tembaga berkisar antara 29. belerang menjadi bagian gas buang sebagai belerang oksida (S02).70% - 30. kovelit (CuS). Selanjutnya pada proses peleburan konsentrat tembaga akan menghasilkan beberapa produk yang tidak jauh berbeda dengan hasil produksi PT Smelting Gresik.. oleum. 2009. Geological Survey Open-File Report 2004-1395. persentase yang lebih kecil unsur aluminium.. Hal tersebut dapat dilihat pada diagram alur proses peleburan konsentrat tembaga yang dilampirkan pada Lampiran 6. bahwa pengusahaan pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga. . Goonan dalam makalah yang berjudul “Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting” yang diuraikan pada U..51 (FeO) yang kemudian bersama-sama senyawa silika (SiO2). dan lainnya. kalkosit (CuS). gipsum. Terak yang dihasilkan dijual kepada PT Semen Gresik (Persero) sebagai bahan baku pembuatan semen. Demikian juga pendapat dari Thomas G. pirit (FeS2) dan terikat dengan unsur-unsur ikutan lainnya. Pada waktu proses peleburan dan converting. magnesia (MgO) alumina (AI2O3) dan lain-lainnya. Pada intinya hampir seluruh unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga dapat dimanfaatkan atau hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga. asam sulfat. dan silikon. Gas buang yang dihasilkan oleh pabrik peleburan tersebut diproses lebih lanjut untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gypsum (CaS042H2O). Dari proses tersebut jelas bahwa hampir semua unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga dapat dimanfaatkan.

3. yaitu masing-masing berkisar antara 25-30%. . Berdasarkan uraian di atas.. FE UI. unsur belerang ini menyatu dalam gas buang (SO2) dan apabila diproses lebih lanjut akan menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gipsum(CaSO4..nH2O). Departemen Keuangan dan BPK. Pada pabrik peleburan PT Smelting limbah terak yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan semen dan dijual kepada PT Semen Gresik. seng (Zc). Demikian juga dengan unsur belerang. 2. Terdiri dari senyawa ikutan dan unsur-unsur pengotor baik logam maupun non logam. yang akan dikenakan denda apabila melebihi kandungan maksimum yang disepakati. 2009. gipsum dan dijual kepada PT Petrokimia Gresik. Unsur-unsur atau senyawa yang dihargai atau dibayar. Dalam buku tersebut disebutkan juga bahwa unsur besi dalam proses peleburan terikat kuat dengan oksida-oksida lainnya di dalam terak. Unsur Unsur-unsur atau senyawa yang tidak dibayar dan tidak dikenakan denda. jelas bahwa mineral ikutan pertambangan tembaga yang layak dikenakan royalti adalah unsur mineral sulfur dan besi karena Universitas Indonesia Analisis potensi. antara lain: arsen (As). bismut (Bi). Unsur-unsur tersebut adalah belerang (S) dan besi (Fe). Pada pabrik peleburan PT Smelting gas SO2 yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk. timbal (Pb). walaupun kandungannya besar. logam emas (Au) dan logam perak (Ag). yaitu Departemen ESDM. dimana mereka menyatakan setuju apabila seluruh mineral ikutan tambang tembaga dikenakan royalti.. maka unsur-unsur yang ada di dalam konsentrat tembaga tersebut dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok sebagai berikut: 1.52 Konsentrat Tembaga PT FIC” mengemukakan bahwa ditinjau dari segi pemasaran konsentrat tembaga. JokoSudiarto. Matrik rangkuman pendapat instansi/ahli yang kompeten dilampirkan pada Lampiran 7. Hal tersebut di atas didukung oleh pendapat instansi atau pihak yang kompeten. bahan sand blasting. dan lain-lain. Unsur-unsur atau senyawa yang dikenakan denda. Sedangkan untuk unsur-unsur pengotor pada umumnya tidak ekonomis lagi untuk diolah lebih lanjut. Unsur-unsur tersebut adalah logam tembaga (Cu).

2009. siapapun yang telah mengusahakan pertambangan dan memanfaatkan hasilhasilnya harus dikenakan royalti.53 kedua unsur inilah yang dapat diproses lebih lanjut dan dimanfaatkan/dijual.3. Sesuai dengan pendapat dari Departemen ESDM sebagai regulator atau instansi yang berwenang menetapkan tarif royalti atas pemanfaatan sumber daya alam. maka royalti tersebut dapat dihitung dengan dua cara. Hal tersebut juga telah ditekankan pada Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP bahwa salah satu PNBP adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. . antara lain royalti di bidang pertambangan. royalti dihitung berdasarkan persentase tertentu dari harga jual. FE UI. berapapun yang diambil dari dalam bumi Indonesia seharusnya dikenakan royalti. Cara inilah yang lazim diterapkan sesuai dengan kondisi perusahaan. Dan sesuai dengan prinsip PNBP bahwa semua PNBP seharusnya mutlak hak negara artinya negaralah yang mempunyai “bargaining power” lebih besar. misalnya 3% dari harga jual. Perkiraan Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga Setelah mengetahui alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti dari mineral ikutan tembaga. yaitu: Pertama. Artinya. Apalagi dengan mineral ikutan pertambangan tembaga yang jelas-jelas dapat dimanfaatkan dan mempunyai nilai jual. Jelas di sini bahwa makna atau substansi pasal tersebut yaitu royalti di bidang pertambangan yang merupakan salah satu PNBP. baik sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan ataupun yang tidak bisa dimanfaatkan tetap harus diwajibkan membayar ke negara sebagai pemilik sumber daya alam tersebut. Artinya royalti tersebut tergantung dari apa yang telah Universitas Indonesia Analisis potensi. Siapapun yang mengambil sumber daya alam dari dalam perut bumi Indonesia.. 4. dikenakan atas pemanfaatan sumber daya alam (dalam hal ini adalah pengusahaan pertambangan). langkah selanjutnya adalah menghitung perkiraan royalti tersebut berdasarkan data-data periode 2003-2007... JokoSudiarto. Dengan kata lain hanya negara yang berhak menentukan besarnya tarif PNBP bahkan bisa saja tanpa kompromi dengan pihak ketiga.

00/ton (KK .. 2. Kedua. FE UI. Dimana. 2009. Namun demikian. Berat atau jumlah ton atau kg mineral yang dijual. IC rata-rata per bulan dari realisasi Universitas Indonesia Analisis potensi. royalti dihitung berdasarkan fixed rate dengan formula berikut ini. berat masing-masing mineral diperoleh dari Ingredient Content (IC) dikalikan dengan berat konsentrat yang dijual..Lampiran G) dan untuk mineral besi sebesar USD2.90/ton (PP 58/1998). Jadi IC rata-rata ini merupakan nilai perkiraan kandungan masingmasing mineral dalam konsentrat. Tarif Jumlah satuan : : USD per ton atau per kg. yaitu Pertama.54 diterima perusahaan atas pemanfaatan sumber daya alam tersebut (pendapatan perusahaan). demikian juga sebaliknya. Kedua. Artinya setiap 1 ton konsentrat tembaga diperkirakan mengandung unsur mineral Sulfur sebesar 0. misalnya harga asam sulfat dan gipsum. JokoSudiarto. Misalnya Sulfur dengan range sebear 25-36% maka IC rata-rata sebesar 30. yaitu untuk mineral sulfur sebesar USD4. . karena harga jual atau nilai ekonomis mineral tersebut sulit sekali diestimasi. Ada dua IC yang dapat digunakan.50%. Jadi fluktuasi royalti tergantung dari harga jual dan pendapatan perusahaan. Langkah-langkah cara perhitungan royalti adalah sebagai berikut: 1. harga jual yang diperoleh adalah harga produk jadi hasil proses lanjutan dari mineral tersebut.. hal ini sangat sulit bahkan tida bisa diterapkan untuk mengestimasi potensi royalti yang hilang atas mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga. Apabila pendapatan perusahaan mengalami kenaikan maka royaltipun akan naik. Dalam hal ini penulis menggunakan tarif yang ada pada Lampiran KK atau PP 58/1998. Menentukan tarif. Dari hasil penelitian lapangan.305 ton. Royalti = tarif x jumlah satuan Dimana. IC rata-rata dari nilai ”range” kandungan mineral yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Menghitung jumlah satuan yaitu berat dalam ton atau kg masing-masing mineral ikutan dalam konsentrat yang dijual.

dan Tembaga (dalam Ton) dengan kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton). 2005. misalnya penjualan Tembaga sebanyak 1 ton maka kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual sebanyak sekian ton. Februari dan Maret. Langkah berikutnya. Penulis hanya memperoleh data IC rata-rata per bulan untuk periode 2003 s... T) : S = a + bE + cP + dT + Є Universitas Indonesia Analisis potensi. penulis menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan EVIEWS.d. yang akan diuraikan berikut ini. S : Variabel tidak bebas (kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual. SULFUR Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara jumlah penjualan Emas (dalam Kg).d. Dalam hal ini. Fungsi Model Dimana.. P. artinya IC yang digunakan untuk menghitung perkiraan potensi royalti per triwulan adalah IC rata-rata tiga bulan sebelumnya. 2005 (Fitted Value).55 kandungan masing-masing mineral dalam setiap produksi konsentrat. sehingga untuk memperkirakan berat masing-masing mineral yang terkandung dalam konsentrat yang dijual. . yang selanjutnya digunakan untuk mencari IC rata-rata triwulanan pada periode yang bersangkutan. penulis tidak memperoleh data IC rata-rata per bulan. Misalnya IC triwulan I merupakan rata-rata IC bulan Januari. 2009. dalam Ton) : S = f (E. FE UI. mengalikan tarif dengan berat masing-masing mineral untuk memperoleh nilai perkiraan royalti periode 2003 s. Selanjutnya dikalikan dengan berat konsentrat yang dijual (dalam Ton) untuk memperoleh berat masingmasing mineral yang terkandung dalam konsentrat tersebut. JokoSudiarto. begitu seterusnya. Diagram cara perhitungan potensi royalti dicantumkan pada Lampiran 8. Perak (dalam Kg). metode yang digunakan untuk menentukan IC adalah metode rata-rata sederhana. Periode 2006 dan 2007.

1214 0.776507 Prob(F-statistic) Prob.79318 R-squared 0..103 0. Tabel 12: Hasil Run Model 1 . Perak (dalam Ton).E.. dan Tembaga (dalam ton) per bulan selama periode 2003 sampai dengan 2005.994901 E -322.9000 -1. dependent var S. Selanjutnya.6695 F-statistic Durbin-Watson stat 1. JokoSudiarto. d : Data-data yang diperoleh adalah data-data kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual (dalam Ton) dan jumlah penjualan Emas (dalam Ton).98 18.755876 0.70E+08 Schwarz criterion Log likelihood -327. kriteria statistik.591337 P 883. seperti dicantumkan pada Lampiran 9. Hasil run model dengan EVIEWS diuraikan sebagai berikut. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta atau intersep dalam suatu model ekonometrika kurang mempunyai makna yang berarti namun demikian apabila dihilangkan model menjadi Universitas Indonesia Analisis potensi.555364 T 0. Untuk menentukan model yang terbaik dilakukan dengan cara cobacoba (try and error) dan setiap model dievaluasi berdasarkan kriteria ekonomi.0000 81006.D. dan kriteria ekonometrika.0053 0. dalam Kg) Variabel bebas 3 (jumlah penjualan Tembaga. berdasarkan data-data tersebut dilakukan run model dengan EVIEWS.Sulfur Dependent Variable: S Method: Least Squares Date: 11/28/09 Time: 19:40 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std.990396 S.5765 3. Error t-Statistic C 4535. dalam Kg) Variabel bebas 2 (jumlah penjualan Perak.525 2.39 23497. of regression 2302.0012 0.42608 18. .851 1514.991219 Mean dependent var Adjusted R-squared 0. 0. dalam Ton) Konstanta (intersep) Koefisien regresi Error peramalan b. 2009..56 E P T a Є : : : : : Variabel bebas 1 (jumlah penjualan Emas.064094 11.804 Akaike info criterion Sum squared resid 1. FE UI.60203 1204.000000 Evaluasi model di atas adalah sebagai berikut: 1.7799 248. c.8823 202.

Koefisien Variabel Bebas Sesuai dengan reasoning dasar. Pengujian Model Secara Keseluruhan.591337 lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. Sementara itu.. Dengan demikian variabel bebas secara keseluruhan (Emas. jika variabel bebas naik maka variabel tidak bebas juga akan naik demikian sebaliknya.. bahwa koefisien variabel bebas bernilai positif. yaitu koefisien variabel bebas Emas dengan nilai sebesar -322. Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan nilai t-hitung atau tstatistik masing-masing variabel bebas terhadap t-tabel dengan derajat bebas n-2 pada tingkat kepercayaan α tertentu (misalnya pada tingkat kepercayaan α=5% maka t-tabel menunjukan angka 1. masing-masing t-statistik menunjukkan angka 3.88.57 kurang bagus dan cara menginterprestasikannya sesuai dengan masalah atau topik dari model tersebut. yaitu dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas dari model. Hal ini sesuai dengan reasoning dari model tersebut. Untuk model di atas konstanta mempunyai nilai positif sebesar 4. Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan nilai F-statistik terhadap F-tabel dengan derajat bebas n-2 pada tingkat kepercayaan α tertentu. Nilai F-statistik sebesar 1. Oleh karena itu harus dicoba lagi dengan model baru. Alat uji yang digunakan adalah Fisher Test atau uji F. Pada tabel 12 di atas. Perak dan Tembaga) sangat signifikan mempengaruhi Sulfur. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial. Artinya variabel bebas berbanding lurus dengan variabel tidak bebas. Pada model di atas terdapat koefisien variabel bebas yang tidak sesuai dengan reasoning-nya.10 jauh lebih besar daripada F-tabel (F-tabel menunjukan angka 4).535. FE UI. . 2009.85. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Merupakan ukuran persentase total variasi dalam variabel tidak bebas Universitas Indonesia Analisis potensi. JokoSudiarto. variabel bebas yang lain (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S).79 atau lebih besar daripada 1. terdapat variabel bebas (E) yang tidak signifikan terhadap variabel tidak bebas (S).96. karena t-statistik menunjukkan angka -1.96). 2.204..96.55 dan 11.

Jika nilai R2 mendekati 1 berarti model makin dapat diandalkan. 34. 3.58 dijelaskan oleh variabel bebas. . Akibatnya pengujian F dan t cenderung tidak signifikan. Nilai adjusted R2 sebesar 0.2399 Durbin-Watson stat 2.790130 4140700.196935 Adjusted R-squared 0.4392 0.004110 R-squared 0. Nilai R2 berkisar mulai dari 0 sampai dengan 1. E^2 83716. Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Sulfur dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 99. Tabel 13: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 . Hasil pengujian heteroskedastisitas dicantumkan pada tabel di bawah ini.82 -1. 2009.030784 S.925 -0. P^2 -88457. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob.005468 0.281081 0.784332 2553722.185275 0. -1. of regression 8187001.070894 1052.2240 0.341532 0..2930 0.15457 1. Error t-Statistic 13385616 -0.84666 35. 8316000.185275 Probability Obs*R-squared 7.089660 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 01/01/10 Time: 18:38 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -10498772 E -3173309.7438 0. sebaliknya jika nilai R2 mendekati 0 berarti model tidak dapat diandalkan.. JokoSudiarto.00 P 3640809.4583 4713693. FE UI.E.242621 105952. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas adalah variasi error peramalan (et) tidak sama untuk semua pengamatan.4359 0.04 %.3907 T^2 0. 0.329929 0. Sum squared resid 1.D.83 T -347.990396 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Emas.2 0.312635 Std.341532 Universitas Indonesia Analisis potensi.94E+15 Log likelihood -620..3865 0. Heteroskedastisitas akan muncul dalam bentuk et yang semakin besar kalau nilai variabel bebas makin besar/kecil.751631 Mean dependent var S. 0.879274 82601.Sulfur White Heteroskedasticity Test: F-statistic 1.

dan P dengan T sebesar 96.877059 1.96 dan probabilitasnya sebesar 31.887913 1.993777 0. Hal ini mengakibatkan nilai t-statistik variabel bebas E yang tidak signifikan. masalah multikolinieritas tersebut harus diatasi dengan cara mengeluarkan variabel bebas E dari model tersebut. .975980 0.7913%. Model tersebut di atas tidak ada masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1. Tabel 14: Korelasi Variabel Bebas . Pengujian Autokorelasi Autokorelasi menyatakan adanya hubungan atau korelasi data-data pengamatan.8349%.. Universitas Indonesia Analisis potensi.591 masih jauh lebih kecil dari pada nilai t-tabel sebesar 1. JokoSudiarto. Hal ini ditunjukkan dalam tabel hasil pengujian BG berikut ini. Oleh karena itu. jika nilai d=2 atau mendekati 2 dapat dianggap tidak terdapat masalah autokorelasi.888349 0. Dengan kata lain munculnya suatu data dipengaruhi oleh data sebelumnya. seluruh variabel bebas tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2.59 Pada tabel tersebut.968532 1. 2009.000000 0.000000 S E P T Dimana hubungan antara variabel bebas E dengan P sebesar 88. Alat uji yang digunakan adalah statistik Durbin-Watson (DW). Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG menunjukkan tidak ada masalah autokorelasi kedua dan ketiga. Pengujian Multikolinieritas Multikolinieritas artinya ada hubungan atau korelasi yang cukup kuat antara sesama variabel bebas dalam model.877059 0.96 (tingkat kepercayaan α=5%).888349 0. Nilai d berkisar antara 0 sampai dengan 4.Sulfur S E P 1. nilai d. Di samping itu. karena nilai kuadrat seluruh variabel bebas lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. Model tersebut di atas terdapat masalah multikolinieritas yang ditunjukan pada tabel berikut. E dengan T sebesar 88. menurut Tabel 12 nilai t-statistik variabel bebas E sebesar -1.887913 0.2635% jauh di atas 5%.993777 0.000000 0. FE UI...975980 0.776507 sudah mendekati 2.968532 T 0.000000 0.8532%.

of regression 2366. Tabel 16: Hasil Run Model 2 . FE UI. 0.6764 0.195013 T 0..368002 lebih kecil daripada 1. Error t-Statistic C 271.901 18.5313 246.197239 -0.60 Tabel 15: Hasil Uji BG Model 1 ..154790 S.368002 R-squared 0.366480 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 01/01/10 Time: 18:39 Presample missing value lagged residuals set to zero.Sulfur Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.006594 0.129962 P 0.95E-12 2201. Variable Coefficient Std. dependent var S.730596 0. Hasil run model tersebut dicantumkan pada tabel dibawah ini.0000 Universitas Indonesia Analisis potensi. 2009.413 4. Dari hasil evaluasi terhadap model di atas.79088 0.914 1345.3186 1701.Sulfur Dependent Variable: S Method: Least Squares Date: 11/28/09 Time: 19:45 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std.6100 0. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan variabel bebas error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID.002740 T -0.7155 -9.D.8007 3.072584 0.0002 0.96.063520 11.086699 0.189 Akaike info criterion Sum squared resid 1.68E+08 Schwarz criterion Log likelihood -327.684 0.9243 0. 0.8975 0.154270 Probability Obs*R-squared 0.159441 E 27. yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0.E. Error t-Statistic C 5730.739876 270.095813 RESID(-1) 0.068823 -0.832568 Prob.2568% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi.894822 Prob(F-statistic) 0.8744 0.857716 0.52696 18. dapat disimpulkan bahwa model tersebut harus diubah dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas sehingga model menjadi S = a + bP + cT + Є.0031 0. .0569 0.205723 0.. JokoSudiarto. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 83.421434 dan -0.9978 0.010180 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.421434 RESID(-2) -0.061708 0.4853 F-statistic Durbin-Watson stat 1.997208 Pada tabel tersebut.89122 214.259593 P 788.50187 Prob.

Hal ini sudah sesuai dengan reasoning dasarnya.39 23497.662 1. dan kriteria ekonometrika. Seluruh variabel bebas (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S).83E+08 -329. dengan demikian secara keseluruhan variabel bebas tersebut sangat signifikan mempengaruhi Sulfur.0404 1.690929 Mean dependent var S.798 jauh lebih besar daripada F-tabel sebesar 4.000000 Seperti halnya model pertama. FE UI. Pengujian Model Secara Keseluruhan..798 0.50187 lebih besar daripada 1.98 18.99 %.61 R-squared Adjusted R-squared S.195013 dan 11. . pada model kedua ini pun dilakukan evaluasi model berdasarkan kriteria ekonomi. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 81006. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat 0. Nilai F-statistik sebesar 1. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial.91.96.44669 18.57865 1724. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0.D.990524 0. Hasil evaluasi secara ringkas dapat diuraikan berikut ini. Koefisien Variabel Bebas Seluruh koefisien variabel bebas bernilai positif artinya variabel bebas tersebut mempunyai hubungan positif dengan variabel tidak bebas.989950 2355. JokoSudiarto. 2009.. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 5.. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t-statistik masing-masing sebesar 3. 2.989950 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Sulfur dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98. 1. kriteria statistik.724. Universitas Indonesia Analisis potensi.E.730. Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut.

00E+15 Log likelihood -633. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob. seluruh kuadrat variabel bebas (P^2 dan T^2) tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2 yang ditunjukkan dengan nilai t-statistik sebesar -0.273787 0.4628 0.004411 R-squared 0.67685 0.061956 0. P^2 -81030.019614 S.743405 dan 0. baik secara parsial maupun keseluruhan.582711 lebih kecil daripada ttabel sebesar 1. P 2415896. 0. 0.7861 0.96. tidak perlu dilakukan perubahan pada model tersebut karena variabel bebas sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.515374 0.007570 0.62 3. Namun demikian. Probabilitasnya 47..096913 Adjusted R-squared -0.380647 5477628.831676 0..0655 T^2 0.831676 Probability Obs*R-squared 3. 2009.45692 35.9573% jauh lebih besar daripada 5%. FE UI. 11247839 35.Sulfur White Heteroskedasticity Test: F-statistic 0.515374 Pada tabel tersebut. Pengujian Autokorelasi Model di atas tidak mempunyai masalah autokorelasi pertama karena nilai Universitas Indonesia Analisis potensi.D. Tabel 17: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 . ada masalah multikolinieritas pada model di atas yang ditunjukkan dengan hubungan antara variabel bebas P dengan T sebesar 96.488867 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 12/30/09 Time: 18:32 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -6046563. of regression 11357613 Sum squared resid 4.93 T -398.. .923 -0.441048 108999.479573 Std.7 -0.582711 Mean dependent var S.2246 Durbin-Watson stat 2.7061 0.743405 1453. Error t-Statistic 15884976 -0.6622 0.E.8532%. Pengujian Multikolinieritas Sama dengan model pertama.5643 5086716. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas disajikan dalam tabel berikut. JokoSudiarto.

9770 0. Hal ini ditunjukan dalam tabel hasil pengujian BG di bawah ini.422699 Probability Obs*R-squared 0. berdasarkan evaluasi kedua model di atas.026547 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.063520 11.63 DW=1.7035 2.044000 T -0.099060 S.75083 0.D. Variable Coefficient Std.96.955691 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 12/30/09 Time: 18:30 Presample missing value lagged residuals set to zero. FE UI.724.53E-12 2287. JokoSudiarto. 0.5313P + 0.E.4996 -0..066725 -0.5561 F-statistic Durbin-Watson stat 1.384082 R-squared 0.01% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi. 2009.193501 0.53089 18.9652 0. Di samping itu.861327 dan -0.071356 0.159 0.5823 1474.658996 0.730.59407 263.185783 -0.Sulfur Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.91 + 788.78E+08 Schwarz criterion Log likelihood -328.620118 Prob.930158 Pada tabel tersebut. dapat ditentukan model yang terbaik yaitu model kedua dengan persamaan regresi sebagai berkiut: S = 5.7881 0.690929 R2 = 0..861327 RESID(-2) -0. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0. .939529 Prob(F-statistic) 0. dependent var S.690929 sudah dekat dengan 2.195013 DW = 1.986 Akaike info criterion Sum squared resid 1.271058 P -11.50187 t-sta 3. of regression 2397. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG tidak menunjukkan adanya masalah autokorelasi kedua dan ketiga. Tabel 18: Hasil Uji BG Model 2 .384082 jauh lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1.211350 0.166668 0.368 18.3957 0.730596T Se. Error t-Statistic C 399.8007 0.001936 0.989950 F-sta = 1.798 Persamaan regresi tersebut digunakan untuk mengestimasi jumlah kandungan Universitas Indonesia Analisis potensi.029010 RESID(-1) 0. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 62.. 246. Dengan demikian.

00 1. 2007. estimasi tersebut ditampilkan pada tabel berikut.14 Penjelasan: . c.729.834.00 836.745.16 4.53 808.008.00 3.283. misalnya penjualan Tembaga sebanyak 1 ton maka kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual sebanyak sekian ton.d. FE UI.98 806. dalam Ton) E P T a b.00 988. dalam Kg) Variabel bebas 3 (jumlah penjualan Tembaga.382.903. Tabel 19: Perkiraan Kandungan Sulfur dalam Konsentrat Perak Tembaga No Tahun Kandungan Sulfur (Ton) (Ton) 1.496.202. BESI Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara jumlah penjualan Emas (dalam Kg)..073.463. Berdasarkan data-data yang diperoleh periode 2003 s.241. 2007 226.64 Sulfur dalam setiap ton konsentrat yang ditentukan oleh jumlah penjualan Perak dan Tembaga.Periode 2006 – 2007 menggunakan persamaan regresi tersebut (Ekstrapolasi).Periode 2003 – 2005 menggunakan Fitted Value atau data historical.524. 2009.536. 2006 226.89 790.00 2. 2005 289.. JokoSudiarto. . 2003 244. . P.00 1.054.00 830.76 5..74 1. Fungsi Model Dimana.653.00 854. : : B = f (E.273.38 Jumlah 1. Perak (dalam Kg).247.514.130. dalam Kg) Variabel bebas 2 (jumlah penjualan Perak.218. dan Tembaga (dalam Ton) dengan kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).98 4. d Є : : : : : : Variabel bebas 1 (jumlah penjualan Emas. dalam Ton) Konstanta (intersep) Koefisien regresi Error peramalan Universitas Indonesia Analisis potensi.539. B : Variabel tidak bebas (kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual.158.00 4.Rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10. 2004 216. T) B = a + bE + cP + dT + Є .523.

990506 Mean dependent var Adjusted R-squared 0. yaitu koefisien variabel bebas Emas dengan nilai sebesar -274.588676 0. Berdasarkan data tersebut akan dilakukan run model dengan cara coba-coba dan evaluasi setiap model agar diperoleh model yang terbaik.0000 63559.1010 -1. dependent var S. dan Tembaga (dalam ton) per bulan selama periode 2003 sampai dengan 2005.238 1234. Hasil run model dengan EVIEWS diuraikan pada tabel berikut.0015 0.86 18315.72 18.1017 0.00588 18. .18183 1112. Perak (dalam Ton).Besi Dependent Variable: B Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:46 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std. yaitu dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas dari model. Koefisien Variabel Bebas Pada model di atas terdapat koefisien variabel bebas yang tidak sesuai dengan reasoning dasarnya. 2009.E. seperti dicantumkan pada Lampiran 11.. Tabel 20: Hasil Run Model 1 .8808 163.911684 Prob(F-statistic) Prob.128537 E -274. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 3.11E+08 Schwarz criterion Log likelihood -320..0037 0.1059 F-statistic Durbin-Watson stat 1.65 Data-data yang diperoleh adalah data-data kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual (dalam Ton) dan jumlah penjualan Emas (dalam Ton).0403 203.1069 3.825 0.D.519 3.476200 T 0.685340 P 706.433 Akaike info criterion Sum squared resid 1. Error t-Statistic C 3862. 0. Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut. maka evaluasi model di atas secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut: 1. of regression 1866..40712 R-squared 0.8808.989616 S. JokoSudiarto.000000 Sama dengan model-model sebelumnya.862.238. Universitas Indonesia Analisis potensi.051606 11. FE UI. Oleh karena itu harus dicoba lagi dengan model baru.

989616 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Emas.249983 0. Pada tabel 18 di atas. Tabel 21: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 – Besi White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 01/02/10 Time: 05:25 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std.395385 8. Pengujian Model Secara Keseluruhan. Sementara itu. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas dicantumkan pada tabel di bawah ini. 2009. FE UI. Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Besi dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98.96 %..66 2.96.064877 Probability Probability 0.48 dan 11.233389 Universitas Indonesia Analisis potensi. Nilai F-statistik sebesar 1. JokoSudiarto.. masing-masing t-statistik menunjukkan angka 3. variabel bebas yang lain (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S).96. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0.. Error t-Statistic Prob. terdapat variabel bebas (E) yang tidak signifikan terhadap variabel tidak bebas (B). Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial. 3. Perak dan Tembaga) sangat signifikan mempengaruhi Sulfur.112.41 atau lebih besar daripada 1. .825 jauh lebih besar daripada F-tabel (4).685340 lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. 1. Dengan demikian variabel bebas secara keseluruhan (Emas. karena t-statistik menunjukkan angka -1.

masalah multikolinieritas tersebut harus diatasi dengan cara mengeluarkan variabel bebas E dari model tersebut.E..975541 0..96 dan probabilitasnya sebesar 23.08%.67 C E E^2 P P^2 T T^2 R-squared Adjusted R-squared S.890851 0. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG menunjukkan tidak Universitas Indonesia Analisis potensi.96. Hal ini mengakibatkan nilai t-statistik variabel bebas E yang tidak signifikan.875783 0. dan P dengan T sebesar 96.197800 65679. 5506573.063478 5328935.911684 sudah mendekati 2. FE UI.875783 1.78%.16 -1. -1932425. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat -6060897. Pengujian Multikolinieritas Model tersebut di atas terdapat masalah multikolinieritas yang ditunjukan pada tabel berikut.694567 1613311. 0.74 2171012.7554 0. karena nilai kuadrat seluruh variabel bebas lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. Tabel 22: Korelasi Variabel Bebas .993349 0.002816 0. E dengan T sebesar 88.890851 1.Besi B E P 1.692529 2705746.224024 0.3356 0.887827 0.99 -215.975541 0.249983 Pada tabel tersebut.000000 0. -0.387767 8726156.3183 0.003555 0..314535 0.395385 0.792070 Mean dependent var S. 33.7816 2. seluruh variabel bebas tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2.968532 T 0. .887827 0.29577 1.98787 34.15 0. -54874. Pengujian Autokorelasi Model tersebut di atas tidak ada masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1.4348 3096508. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.968532 1.4929 0.993349 0. JokoSudiarto.000000 B E P T Dimana hubungan antara variabel bebas E dengan P sebesar 89.2407 0.D.4289 0.4941 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 0. -1.015429 684.3389% jauh di atas 5%.000000 0.802371 54041.24E+14 -604. 2009.85%.000000 0. menurut Tabel 18 nilai t-statistik variabel bebas E sebesar -1. 8. 45484. Oleh karena itu.6162 -0.685340 masih jauh lebih kecil dari pada nilai t-tabel sebesar 1. Di samping itu.

2657 0.164902 S.023162 E 1. .9817 0. Hal ini ditunjukkan dalam tabel hasil pengujian BG berikut ini.973134 Prob.208301 R-squared 0.059704 RESID(-2) -0.197226 -0. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 97. dependent var S.900213 Prob(F-statistic) 0.D.9528 0.041082 0..001513 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.0787 F-statistic Durbin-Watson stat 1.9951 0.11E+08 Schwarz criterion Log likelihood -320. yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar -0.28971 222. JokoSudiarto.208301 lebih kecil daripada 1.3134% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi.725232 172.E.37940 0.. 0. Dari hasil evaluasi terhadap model di atas.022729 Probability Obs*R-squared 0.02E-11 1784.054468 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 01/02/10 Time: 05:39 Presample missing value lagged residuals set to zero.9921 0. of regression 1926.059704 dan -0.96.8364 1. Tabel 24: Hasil Run Model 2 .9498 0. Error t-Statistic C -32.063430 RESID(-1) -0.010015 P 14.11548 18.651 18.9493 0.11248 1386. FE UI. Tabel 23: Hasil Uji BG Model 1 – Besi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.Besi Dependent Variable: B Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:52 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Universitas Indonesia Analisis potensi.68 ada masalah autokorelasi kedua dan ketiga.003539 0. Variable Coefficient Std.185 Akaike info criterion Sum squared resid 1.064081 T -0. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan variabel bebas error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID.999974 Pada tabel tersebut.205692 -0.009092 0.055794 -0.012281 0.977544 0. Hasil run model tersebut dicantumkan pada tabel dibawah ini.. dapat disimpulkan bahwa model tersebut harus diubah dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas sehingga model menjadi B = a + bP + cT + Є. 2009.430 -0.

051712 t-Statistic 4.6367 1. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t-statistik masing-masing sebesar 3. 1.718 0. 0.053424 11.03537 18. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 4911.579. . Seluruh variabel bebas (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S).5036 0.. 2009. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial. Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut.053424 dan 11. JokoSudiarto.01170 lebih besar daripada 1..989037 1917.829596 Std.484197 3.0000 63559.718 jauh lebih besar daripada F-tabel sebesar 4.569439 0.989037 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Perak dan Tembaga Universitas Indonesia Analisis potensi.01170 Prob. Koefisien Variabel Bebas Seluruh koefisien variabel bebas bernilai positif artinya variabel bebas tersebut mempunyai hubungan positif dengan variabel tidak bebas. Nilai F-statistik sebesar 1.E..16733 1579. Pengujian Model Secara Keseluruhan. Error 1095.21E+08 -321.000000 Mean dependent var S. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 4. 2.911.86 18315.989663 0.D. FE UI. Hal ini sudah sesuai dengan reasoning dasarnya. dengan demikian secara keseluruhan variabel bebas tersebut sangat signifikan mempengaruhi Besi.316 200.771 1.0044 0.614 613.72 18.0001 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Hasil evaluasi secara ringkas dapat diuraikan berikut ini.61.9232 0.96.69 Variable C P T R-squared Adjusted R-squared S.

109796 Adjusted R-squared -0. 0.. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas disajikan dalam tabel berikut.6842 0.445397 0.740612 973.410529 72991.003045 R-squared 0.D. P^2 -54058.6195 -0. baik secara parsial maupun keseluruhan.70 dapat menjelaskan kandungan Besi dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98.90 %. of regression 7605623.65492 34. akan tetapi tidak perlu dilakukan perubahan pada model tersebut karena variabel bebas sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas.600583 lebih kecil daripada ttabel sebesar 1.412452 Std. 0.740612 dan 0. Universitas Indonesia Analisis potensi.7886 Durbin-Watson stat 2.96.79E+15 Log likelihood -618.955869 0. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. 2009. JokoSudiarto.. 7586419.600583 Mean dependent var S.7262 0.955869 Probability Obs*R-squared 3.7984 0.49 T -250. 3.. 34.005069 0. P 1505859. Tabel 25: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .Besi White Heteroskedasticity Test: F-statistic 0.8371 T^2 0.353437 3668092. Pengujian Multikolinieritas Ada masalah multikolinieritas pada model di atas.445397 Pada tabel tersebut.4645 0. FE UI. . seluruh kuadrat variabel bebas (P^2 dan T^2) tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2 yang ditunjukkan dengan nilai t-statistik sebesar -0.145278 0. Error t-Statistic 10637371 -0.E.5525 3371359. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob. Probabilitasnya 41.005069 S.257634 0.87485 0.2452% jauh lebih besar daripada 5%.952653 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:53 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -3759641.63 -0. Sum squared resid 1.

742 0.96. FE UI..7135 0.122667 S.829596 R = 0. Variable Coefficient Std.186253 -0. Tabel 26: Hasil Uji BG Model 2 . 2009.005638 Mean dependent var Adjusted R-squared -0. hasil uji BG tidak menunjukkan adanya masalah autokorelasi kedua dan ketiga.000925 0.5036P + 0. dapat ditentukan model yang terbaik yaitu model kedua dengan persamaan regresi sebagai berkiut: B = 4.053424 DW = 1.996151 Pada tabel tersebut.8370 1206.D.14083 18.370476 dan -0.Besi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.043939 0. 0.948770 Prob(F-statistic) 0.8442 1.569439T Se. Error t-Statistic C 142.3603 -0.5349 F-statistic Durbin-Watson stat 1.35% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi. 200.051712 11.9065 0.202954 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:53 Presample missing value lagged residuals set to zero. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0.903502 Prob.082 Akaike info criterion Sum squared resid 1.989037 F-sta = 1.055076 -0.087879 Probability Obs*R-squared 0..911. JokoSudiarto.71 Pengujian Autokorelasi Model di atas tidak mempunyai masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1.36076 0. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 90.016798 RESID(-1) 0.9867 0.198175 jauh lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1.9881 0.118366 P -3. dependent var S.829596 sudah dekat dengan 2.172 18.21E-11 1862.21E+08 Schwarz criterion Log likelihood -321.916099 0.198175 R-squared 0. berdasarkan evaluasi kedua model di atas.579.015087 T -0. .370476 RESID(-2) -0. Hal ini ditunjukan dalam tabel hasil pengujian BG di bawah ini.194172 0.614 + 613. Di samping itu.718 Universitas Indonesia Analisis potensi..E.9232 0. of regression 1973. Dengan demikian.01170 2 t-sta 3.036911 0.071936 0.279239 217.

04 3.36 Penjelasan: . 2003 244.008.00 790..830. 2007 Jumlah Penjelasan: tarif royalti sesuai dengan PP58/1998.35 1.74 846.616.283. 2004 3. 2007 226. 2007 Jumlah Penjelasan: tarif royalti sesuai dengan KK.158. 2004 3.633.436.118. estimasi tersebut ditampilkan pada tabel berikut. rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10.57 1.00 1.00 773.082.109.949.90 2.00 4.12 846.340.247.054.00 4. ..Periode 2006 – 2007 menggunakan persamaan regresi tersebut (Ekstrapolasi).. .12 3.76 5.72 Persamaan regresi tersebut digunakan untuk mengestimasi jumlah kandungan Besi dalam setiap ton konsentrat yang ditentukan oleh jumlah penjualan Perak dan Tembaga.00 4.653.956.486.019.Periode 2003 – 2005 menggunakan Fitted Value atau data historical. Setelah jumlah kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat yang dijual dapat diperkirakan.745. Tabel 27: Perkiraan Kandungan Besi dalam Konsentrat Perak Tembaga No Tahun Kandungan Besi (Ton) (Ton) 1.00 1.830.00 836.90 2.00 4.00 674. Universitas Indonesia Analisis potensi.86 Jumlah 1.00 854.00 830.98 806.202.Besi Besi (Ton) Tarif (USD/Ton) Perkiraan Royalti (USD) 773.463.90 2.00 1.53 18.132.36 2.40 2.523.40 674.00 3.00 3.954. 2003 2.76 672. No Tahun Tabel 29: Perkiraan Potensi Royalti .616.Sulfur Sulfur (Ton) Tarif (USD/Ton) Perkiraan Royalti (USD) 988.53 672. 2005 289. 2003 2.496. rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 12.90 2.903. 2005 4.967.453.633.058. 2004 216.Rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 12.082.233.363.292.130.536.06 2.14 4.218.98 4.38 4.363. 2005 4.109.729.456.241.59 10.382. 2006 226.16 3.16 1.23 4.16 1.d.244.89 649.073. No Tahun Tabel 28: Perkiraan Potensi Royalti . JokoSudiarto. .76 808.00 1.882.524.980.00 4. 2007.417.019. 2006 5.916.108.093.273. Berdasarkan data-data yang diperoleh periode 2003 s.00 3. 2006 5.90 2.514.454.872. maka langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah perkiraan potensi royalti dari masing-masing unsur mineral.23 649. 2009.539. FE UI.834. Perkiraan potensi royalti tersebut ditampilkan pada tabel berikut ini.160.86 3.

55 : : : : : USD 20. Pihak Kontraktor.430 ons Nilai jual (logam) Royalti = 2 % X USD 37.166.46 USD 327.397..021. Alternatif ini lebih menguntungkan buat Pemerintah RI.16).980. yaitu: 1.346.486.06 USD 37.258. Sedangkan royalti menurut tarif di atas sebesar USD747..119. yaitu apabila kontraktor menjual hasil tambang berupa bijih atau konsentrat tembaga maka dikenakan tarif sebesar 4% dari nilai konsentrat tersebut. perak. Jika kontraktor menjual hasil tambang berupa logam emas.78844 X 25. JokoSudiarto.358.691. dibandingkan tarif royalti menurut KK. Royalti dari mineral ikutan tambang tembaga dapat dikenakan kepada kontraktor.73 Jadi potensi royalti dari mineral ikutan tembaga (sulfur dan besi) yang belum tergali untuk periode 2003 s.378.57 + USD10. Pihak smelter.60 (perhitungan pada halaman 42).456 ons · Perak USD5. royalti yang dibayar oleh PT FIC sebesar USD401. Untuk hasil pertambangan tembaga diterapkan dua tarif.838 lbs · Emas USD296.. Ada dua alternatif pemecahan masalah untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari royalti tersebut.55 USD 747.d.93 2. . FE UI. Tarif yang digunakan dapat mengambil contoh tarif yang berlaku di Negara Afrika Selatan (Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill: 2006). Berdasarkan data penjualan tersebut. Pihak smelter tidak bisa dikenakan royalti karena mereka bukan pihak Universitas Indonesia Analisis potensi.436.346.166.73 (USD18.456. tembaga atau unsur mineral lainnya maka dikenakan royalti dengan tarif 2% dari harga jual produk jadi tersebut. 2009.058.251 X 57.358.009. Hal ini dapat dijelaskan dengan contoh perhitungan royalti pada halaman 42.545.03 USD 17.93 dengan rincian sebagai berikut: · Tembaga USD0.242 X 62. 2007 diperkirakan sebesar USD28.

Oleh karena itu.. pihak kontraktor sebagai pemegang KK selain melakukan penambangan juga diwajibkan untuk melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan.. Hal tersebut sejalan dengan Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menyebutkan bahwa pemegang KK yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan di dalam negeri selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak undang-undang ini diundangkan. agar pihak smelter dapat dikenakan royalti maka smelter tersebut juga harus sebagai pemegang KK (kontraktor).74 pemegang KK yang mempunyai hak untuk mengeksplorasi tembaga. JokoSudiarto. Artinya. FE UI. . yaitu menerima hasil produk sampingan dari sulfur dan besi. akan tetapi merekalah yang telah menerima manfaat dari mineral ikutan tembaga. Universitas Indonesia Analisis potensi. 2009..

JokoSudiarto. Cakupan KK mengenai royalti lebih sempit dibandingkan dengan Prinsip PNBP. Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa dari proses peleburan konsentrat tembaga.L. hampir tidak ada unsur mineral dalam konsentrat tembaga yang 75 Analisis potensi.. Kandungan masing-masing unsur mineral tersebut ditentukan oleh Ingredient Content (IC) yang merupakan syarat yang disepakati oleh pembeli dan penjual. sulfur. besi. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. Kontrak Karya yang berlaku untuk pengusahaan pertambangan tembaga tidak optimal buat Indonesia. Hal ini terjadi karena dalam memasarkan konsentrat tembaga. tembaga. Nellor. kontraktor menerima pembayaran dari pembeli hanya atas tiga mineral tersebut sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dihargai oleh para pembeli. Bahkan menurut David C. Dari proses produksi pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung unsurunsur mineral seperti emas.1. perak. Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya. Universitas Indonesia . 3. 2. Pasal 13 KK menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar royalti untuk kadar mineral hasil produksi.. 20 Tahun 1997 tentang PNBP menyebutkan bahwa salah satu PNPB adalah royalti dari pemanfaatan sumber daya alam di bidang pertambangan. royalti yang harus dibayar oleh pihak kontraktor atas besarnya volume atau nilai sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor tersebut. dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1.. FE UI. dan lain-lain. 2009. Sesuai dengan UU No. perak dan tembaga sedangkan unsur mineral lainnya tidak dibayarkan royalti.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Kontraktor hanya membayar royalti dari mineral emas.

d.063520 11..724. Periode 2003 s. Sedangkan jumlah satuan yang merupakan berat masing-masing mineral ikutan. 2009.798 Universitas Indonesia Analisis potensi. penulis memperoleh data IC rata-rata per bulan sehingga jumlah satuan masing-masing mineral ikutan langsung dapat dihitung (Fitted Value).690929 R2 = 0. Tarif royalti dapat digunakan tarif yang ada pada Lampiran KK atau PP 58/1998.730596T Se. Sesuai pendapat Departemen ESDM sebagai regulator dan instansi yang berwenang menetapkan tarif royalti. Sulfur S = 5. terutama sulfur dan besi. 2005. .50187 t-sta 3. Penulis tidak memperoleh data IC rata-rata per bulan pada periode 2006 – 2007.730. Diagram cara perhitungan perkiraan potensi royalti dicantumkan pada Lampiran 8.5313P + 0.195013 DW = 1. gipsum dan terak.. diperoleh dari IC rata-rata per bulan dikalikan dengan jumlah konsentrat tembaga yang dijual.91 + 788. 2005. 4.989950 F-sta = 1.76 tidak dimanfaatkan.d. 246.8007 0. Artinya jumlah kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga yang dijual dapat diperkirakan dengan persamaan berikut ini. Sesuai dengan prinsip PNBP. sehingga untuk memperkirakan jumlah satuan masing-masing mineral ikutan tersebut. 5. mineral sulfur dan besi seharusnya dapat dikenakan royalti. Dari run model dengan EVIEWS diperoleh hasil bahwa jumlah perak dan tembaga yang dijual (dalam ton) sangat signifikan mempengaruhi kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga yang dijual. FE UI. JokoSudiarto. penulis menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan program EVIEWS berdasarkan data-data periode 2003 s. Sulfur dan besi dapat diproses lebih lanjut yang akan menghasilkan produk sampingan berupa asam sulfat. potensi royalti dari mineral sulfur dan besi dapat dihitung berdasarkan tarif dikalikan jumlah satuan. Produk tersebut dapat dijual kepada pabrik pupuk sebagai bahan baku pupuk dan kepada pabrik semen sebagai pengganti sand blasting..

486.745..911. 2.051712 11..9232 0.579. 2009.73. Artinya. agar pihak smelter dapat dikenakan royalti maka smelter tersebut juga harus sebagai pemegang KK (kontraktor).616.989037 F-sta = 1.829596 R2 = 0.436.514. FE UI..569439T Se.36 Jumlah Penjelasan: rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10 dan 12. 2005 berdasarkan Fitted Value dan untuk periode 2006-2007 berdasarkan Ekstrapolasi.01170 t-sta 3.053424 DW = 1.545.980. misalnya Afrika Selatan sehingga lebih menguntungkan negara. JokoSudiarto. mengenakan royalti kepada kontraktor dengan tarif mengacu (best practice) negara lain.77 Besi B = 4.614 + 613. pihak kontraktor sebagai pemegang KK selain melakukan penambangan juga diwajibkan untuk melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan. Kedua.456.73 7.436. dimana untuk periode 2003 s. : : : : jumlah penjualan Perak (dalam Ton) jumlah penjualan Tembaga (dalam Ton) kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual (dlm Ton) kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual (dlm Ton) Berdasarkan langkah-langkah tersebut di atas.d.90 Perkiraan Royalti (USD) 18. 200. maka potensi royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga diperkirakan sebesar USD28.16 28. Potensi masing-masing mineral ikutan disampaikan berikut ini.718 Dimana.019.57 10. No. .14 3. yaitu: Pertama. P T S B 6.5036P + 0.545. Mineral Sulfur Besi Tarif (USD/Ton) 4. Hal ini Universitas Indonesia Analisis potensi.00 2. Jumlah Satuan (Ton) 4. 1. Terdapat dua alternatif pemecahan masalah untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari royalti tersebut.058.

FE UI. penulis menyarankan kepada Pemerintah RI yang dalam hal ini diwakili oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Melaksanakan amanat Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menyebutkan bahwa pemegang KK yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan di dalam negeri... agar: 1.d. Saran Dari hasil pembahasan dan simpulan di atas.2. Menetapkan tarif royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga beserta cara-cara perhitungan royaltinya. Melakukan penelitian dan pengujian yang lebih detail dan akurat atas jenis dan kadar mineral ikutan yang terkandung dalam konsentrat tembaga. 3. 5. serta pengujian jumlah dan kualitas produk yang dihasilkan oleh pabrik pengolah konsentrat tembaga. 2009. 3 dapat dilaksanakan. Melakukan negosiasi kepada pihak kontraktor (pemegang KK) untuk merevisi klausul kontrak karya sehingga saran nomor 2 s.. JokoSudiarto. oo0oo Universitas Indonesia Analisis potensi. 4. . misalnya Afrika Selatan atau tarif lain berdasarkan hasil penelitian dan pengujian di atas sehingga penerimaan royalti tersebut lebih menguntungkan Pemerintah RI. 2. Tarif tersebut dapat mengacu (best practice) negara lain.78 sesuai dengan amanat Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Jakarta. Bogor. Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting. 1978 Hendranata. Tax Policy Division Fiscal Affairs Department International Monetary Fund.. Fadjar. 1999 Analisis potensi. Anton. Ekonometrika Terapan. 1995 Departement National Treasury Republic of South Africa. Laporan Akhir. Damodar. . Washington D. FE UI.DAFTAR PUSTAKA Badan Pemeriksa Keuangan. Bandung. Gerwin. Analisis Regresi.. US Geological Survey Report 2004-1395. Tax Policy Hand Book: User Charges. 2004 H Salim HS. Ekonometrika Dasar.za) Eriyatno dan Sofyar. 2009.gov. Hasil Pemeriksaan atas Pengelolaan PNBP dari Iuran KK pada Departemen ESDM dan PT Freeport Indonesia Tahun Anggaran 2004 dan 2005. Jakarta. Sumarno. Hukum Pertambangan di Indonesia.treasury. Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill – 2006. IPB Press. 2005 Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat ITB. Jakarta.C. 2007 Goonan. 2005 Gujarati. Zain. JokoSudiarto. Jakarta. Penerbit Erlangga. (www.. Thomas G. PT Raja Grafindo Persada. Virginia. MPKP FEUI. Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Konsentrat Tembaga PT Freeport Indonesia Company. Riset Kebijakan Metode Penelitian Untuk Pascasarjana. 2006 Bell. Edisi Revisi.

...... Keuangan Negara Dalam Teori dan Praktek. ... Jakarta. Peggy B. Edisi Kelima.L..... 2000 .Moelong... Jakarta... Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral....... Jakarta......... 2009 .... Undang-undang Republik Indonesia... 2003 .... FE UI. Penerbit Erlangga......... Tax Policy Hand Book: Environmental Taxes. Jakarta.... Undang-undang Republik Indonesia..... Edisi Revisi. Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara...... David C. Jakarta....... Washington D. Jakarta....... Undang-undang Republik Indonesia. Tax Policy Division Fiscal Affairs Department International Monetary Fund. Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan Umum. 2009. 1995 Pemerintah RI..... Bandung........ Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Lexy J... 1967 ..... Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum.. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta.C. Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.... 2003 ................... 1993 Nellor... JokoSudiarto. Undang-undang Republik Indonesia. Richard A and Musgrave. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif dan Analisis potensi........ 1997 ... Remaja Rosdakarya....... 2004 Musgrave.....

Teori dan Proses Kebijakan Publik. Jakarta... Jakarta.. Jakarta.. Bandung.. Metode Penelitian Administrasi.... Elex Media Komputindo. 2007... Edisi Kedua. Alfabeta. 2009 Analisis potensi. Yogyakarta.. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EVIEWS.. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian. UPP STIM YKPN.... Edisi 11.. Wing Wahyu. JokoSudiarto. Laporan. Jalan Baru Untuk Tambang: Mengalirkan Berkah Bagi Anah Bangsa. 2004 Suharto. 1980 Sembiring. Alfabeta. Edi.. Bandung. FE UI. Pemenuhan Kewajiban Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Atas Perusahaan Pelaksana Kontrak Karya (PT Newmont Nusa Tenggara).. Media Pressindo.. 2009. . Analisis Kebijakan Publik. 2005 Tim Optimalisasi Penerimaan Negara. Budi..Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. Yogyakarta.. 1998 . Winarno. 2009 Sugiyono.... Simon. 2002 Winarno.

23 131.90 2.244.61 2.386.389.054.044.956.89 289.108.301.133.98 Tembaga (T) Ton 273.PERHITUNGAN ESTIMASI ROYALTI .313.24 425.00 286.130.420.287.143.165. FE UI.72 488.d.00 58.00 74.352.00 72.675.830.61 4.00 149.523.90 2.02 164..903.30 54.08 366.524.00 86. JokoSudiarto.14 85.954.290.90 2.600.681.70 666.882.90 2. Analisis potensi.911.742.208.45 229.57 x T Ton 214.90 2. Tarif royalti berdasarkan Kontrak Karya dan PP tentang tarif royalti.98 70.D.82 59.53 830.64 163.700.463.568.00 68.925.539.911.496.00 74.358.024.82 672.376. 4.00 806.00 207.456.496.71 124.12 154.256.00 32.634.566.05 118.00 299.911.108.650. Kandungan Besi dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2006 s.846.00 59.48 223.00 70.90 2.62 223.42 177.340.916.90 2.67 773.80 1.855.76 202.82 674.183.844.90 2.481. 2009.572.16 301.620.863.95 649.12 515.88 154.90 2.949.68 75.118.713.082.29 108.97 362.020.90 2..00 43.344.61 32.271.00 213.222.99 42.436.246.90 2.833.616.499.96 1.16 4.109.868.461.261.d.77 146.911.00 289.00 588.04 115.019.00 41.100. yaitu tarif royalti dikalikan dengan tonase kandungan besi.00 230.572.911.86 3.651.00 247.95 448.58 190.48 45.911.00 226.633.119.641.653.812.40 103. 2007 didasarkan pada formula atau Ekstrapolasi .27 1.53 4.00 202.827.61 55. 2007 Penjualan No.00 1.060.37 210.90 2.008.382.27 1.16 Penjelasan: 1.36 2.296.343.17 609.216.22 40.96 34.268.363.419.157.070.454.330.90 Lampiran 12 Kandungan Besi Tarif Estimasi Royalti USD 620.218.90 2.351.75 126.900. 3.763.94 316.90 2.63 x P 0.01 238.83 2.00 47.00 290.247.00 216.59 246.90 2.14 168.74 165.158.536.90 2.202. Kandungan Besi dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2003 s.BESI PERIODE 2003 S.356.90 2.911. Periode Perak (P) Kg Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2003 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2004 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2005 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2006 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.00 57.202.098.07 551.59 846.35 381.00 244.143.00 51.00 52.102.00 190.00 120.781.996. .141.922..00 50.08 647.68 649.93 94.040.00 183.90 2.00 836.d.911.61 4.056.36 447.06 472.00 715.61 4.90 USD/Ton 2.02 692. 2007 60.41 Konstanta 0.59 10.00 277.09 142.12 185.397. 2005 memakai data historical atau Fitted Value 2.61 4.877.410.071.61 4.00 226.08 37.260.617.486.00 1.08 104.908.00 157.453. Estimasi royalti dihitung dengan cara fixed rate (tarif tetap).00 186.767.941.06 538.829.531.050.834.61 4.11 4.017.155.89 249.332.

447 58.608 60.500 48. Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton).918 74.659 72..530 98.D.189 78.243 42.370 57.503 68.958 71.366 66.756 61.000 104.000 90.786 37.350 67.736 43.801 63.981 79.277 75.695 103.923 46.. Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg).230 61.049 68.437 27.928 79.839 70.733 48.259 102.127 51.955 44.250 51.591 82.697 127. JokoSudiarto.084 67.649 85.093 67.424 83.143 84. .112 121.DATA PENJUALAN EMAS. FE UI.041 110.099 99.457 88.937 30.831 47.759 9 10 10 17 19 B E P T Kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).630 26.582 56.535 86. 2005 Tahun 2003-1 2003-2 2003-3 2003-4 2003-5 2003-6 2003-7 2003-8 2003-9 2003-10 2003-11 2003-12 2004-1 2004-2 2004-3 2004-4 2004-5 2004-6 2004-7 2004-8 2004-9 2004-10 2004-11 2004-12 2005-1 2005-2 2005-3 2005-4 2005-5 2005-6 2005-7 2005-8 2005-9 2005-10 2005-11 2005-12 B 59.314 87. 2009.679 56.281 62.392 78.915 85.049 30.030 72.285 109. Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg). PERAK.954 54..895 96.097 36.331 102.534 77.339 82.838 65.821 E 7 5 14 11 12 15 16 10 14 6 3 7 2 2 4 3 6 8 6 5 8 5 8 13 8 5 10 10 12 7 9 P 19 15 27 23 21 26 28 19 25 13 12 16 8 7 17 12 17 21 20 18 21 17 25 32 17 14 29 25 25 19 23 24 28 22 35 30 Lampiran 11 T 79.225 99.582 91.249 53. TEMBAGA TAHUN 2003 S.823 55.495 128. Sumber Data : 1 Laporan ESDM 2 Laporan Perusahaan (PT FIC dan PT NNT) 3 Laporan LPKM ITB Analisis potensi.811 78.

925.00 1.00 1.763.00 72.00 4.00 4.166.00 57.158.00 280.050.844. yaitu tarif royalti dikalikan dengan tonase kandungan besi.834.650.600.56 147.81 139.730.00 226.165.00 4.218.46 109.00 4.84 202.82 34.397.11 176.99 42. 4.d.499.00 74.073.00 202.514.143.762.160.00 232.d.133.48 45.539. Tarif royalti berdasarkan Kontrak Karya dan PP tentang tarif royalti.12 133.00 86.94 316.618.00 746.80 1.00 74.301.33 790.523.00 670.89 249.00 1.d.233.008.730.93 120.954.00 3.00 220.524.00 68.00 4.136.730.410.00 289.76 243.00 1.316.57 Penjelasan: 1.00 4.358.00 4.038.PERHITUNGAN ESTIMASI ROYALTI .996.556.00 290.872.00 32.00 43.00 930.020.003.144.246.904.044.875.730.14 4.00 4.00 186.617.855.00 213.273.058.08 37.00 247.91 41.00 319.00 304..49 Konstanta 0.730.130.00 51.00 1.00 1.562.890.382.362. Periode Perak (P) Kg Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2003 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2004 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2005 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2006 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.524.00 284.742.45 151.653.00 880.00 186.04 211.070.00 854.900.38 4.34 3.00 4.700.79 x P 0.785.94 185. 2009.536.78 742. FE UI.46 196.00 250.093.247.730.039. 2007 didasarkan pada formula atau Ekstrapolasi .00 806.08 1.74 165. 2007 Penjualan No.745.00 183.767.812.496.53 18.00 4.00 149.00 USD/Ton 4.922.00 244. Estimasi royalti dihitung dengan cara fixed rate (tarif tetap).352.599.776.941.22 40.286.054.313.91 5.290.132.85 784.00 521.572.812.332.944.218.730.00 4.730. 2005 memakai data historical atau Fitted Value 2.00 4.00 4.463.89 289.953.276.46 707.615.19 149.00 1.00 52.080.320.619.91 5.00 216.420.271.91 5.00 Lampiran 10 Kandungan Sulfur Tarif Estimasi Royalti USD 1.903.16 5.00 3.48 808.283.00 226.729.568. 2007 60.102.00 120.049.00 4.564.916.98 Tembaga (T) Ton 273.00 47.00 299.91 5.98 70.09 181.687.396.91 55..241.00 70.68 75.00 207.664.91 5.00 1. Kandungan Sulfur dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2003 s.30 54.152.202.91 5.202.417.00 286.520.53 4.00 190.73 x T Ton 259. Analisis potensi.713.726. JokoSudiarto.141.332.472.00 164.82 59.268.48 5.00 656.00 4.122.218.00 283.00 41.198.SULFUR PERIODE 2003 S. ..187.183.77 276.630.292.00 277.344.218.00 157.00 988.53 830.967.980.00 59.477.139.460.916.00 4.00 1.00 4.331.641.00 58.572. 3.00 50.112.00 167.954.04 974.D.399. Kandungan Sulfur dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2006 s.38 809.92 3.78 598.496.00 836.028.00 230.00 4.00 4.00 130.251.107.565.132.

.743 88.457 88.534 77.697 127.169 86.285 109.486 80. JokoSudiarto.744 69. 2005 Tahun 2003-1 2003-2 2003-3 2003-4 2003-5 2003-6 2003-7 2003-8 2003-9 2003-10 2003-11 2003-12 2004-1 2004-2 2004-3 2004-4 2004-5 2004-6 2004-7 2004-8 2004-9 2004-10 2004-11 2004-12 2005-1 2005-2 2005-3 2005-4 2005-5 2005-6 2005-7 2005-8 2005-9 2005-10 2005-11 2005-12 S 76.838 65.041 110. .424 83.823 61.225 99..645 78.814 65.608 60.392 78.661 71.921 126.281 62.659 72.530 98.736 43.706 71.971 105. 2009.DATA PENJUALAN EMAS.812 56.438 92.706 99.387 111.485 34.331 102.495 128.503 68.918 74.884 61.668 101.692 33.759 9 10 10 17 19 S E P T Kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).112 121.242 105..602 71.649 85.143 84. Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton).860 96.811 78.225 84.249 53.303 61.839 70.629 109.230 61.119 73.043 46. Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg).250 51.189 123.000 90.999 100.695 103.631 58. Sumber Data : 1 Laporan ESDM 2 Laporan Perusahaan (PT FIC dan PT NNT) 3 Laporan LPKM ITB Analisis potensi. PERAK.049 30.000 104. TEMBAGA DAN SULFUR TAHUN 2003 S. Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg).093 67.917 46.259 102.582 91.215 91.197 E 7 5 14 11 12 15 16 10 14 6 3 7 2 2 4 3 6 8 6 5 8 5 8 13 8 5 10 10 12 7 9 P 19 15 27 23 21 26 28 19 25 13 12 16 8 7 17 12 17 21 20 18 21 17 25 32 17 14 29 25 25 19 23 24 28 22 35 30 Lampiran 9 T 79.243 42. FE UI.D.937 30.910 111.127 85.267 74.

periode 2003-2005 Kalikan tarif dg kandungan tsb.2006-2007 Kalikan tarif dg kandungan tsb. JokoSudiarto. periode 2006-2007 Perkiraan Royalti periode 2003-2005 (Fitted Value) Perkiraan Royalti periode 2006-2007 (Ekstrapolasi) Penjelasan: 1.. ? Tidak Data IC periode 2006-2007 tdk diperoleh. Misalnya. . kandungan mineral sulfur sebesar 25-36% (rata-rata 30. Alasan regresi: data yg digunakan lebih valid dan hasil lebih realistis. 2009.. Tentukan alternatif lain. Perkiraan Potensi Royalti periode 2003-2007 Analisis potensi. IC : Ingredient Content 2. Sedangkan IC rata-rata perbulan yg digunakan untuk data regresi mrpk rata-rata IC sesuai dg realisasi penjualan konsentrat. Ya Tentukan IC per bulan sesuai data yg diperoleh periode 2003-2005 Tentukan kandungan mineral dlm konsetrat dg regresi berdasarkan data periode 2003-2005 Jumlah konsentrat yg dijual per bulan periode 2003-2005 Tentukan Model Kalikan IC dg jml konsentrat yg dijual periode 2003-2005 Run Model dg Program EVIEWS Kandungan mineral dlm konsentrat th.DIAGRAM CARA PERHITUNGAN PERKIRAAN POTENSI ROYALTI Lampiran 8 Tentukan Tarif Menghitung Jumlah Satuan Tentukan IC rata2 per bulan sesuai dg data yg diperoleh periode 2003-2007 Apakah ada IC tsb.5%) merupakan angka perkiraan kandungan yg disepakati pembeli & penjual.2003-2005 Kandungan mineral dlm konsentrat th. FE UI.. 3. Tarif sesuai dg KK dan PP 58/1998.

tembaga dan mineral ikutan lainnya konsentrat tembaga Unsur yg dibayar (emas. perak.. Jumlah masingmasing mineral ditentukan oleh ingredient content. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian dan mineral ikutan tsb tdk dibayar oleh pembeli. perak. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. BPK Perusahaan PT Smelting LPKM ITB Main Issues UMUM Hasil pertambangan tembaga Kandungan dlm konsentrat Dep. - Emas. perak. perak. perak. perak. perak. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. perak.. perak. konsentrat tembaga Emas. tembaga) Unsur tsb tidak dibayar oleh pembeli. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. perak.Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No I 1 2 Lampiran 7. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. JokoSudiarto. 2009. ESDM belum pernah melakukan penelitian yg mendalam atas kandungan masingmasing mineral tsb. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. 6 Alasan tidak dibayar - Halaman 1 dari 3 Analisis potensi. perak. tembaga dan mineral ikutan lainnya. . - - konsentrat tembaga Emas. Keu. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. perak. tembaga dan mineral ikutan lainnya. perak. FE UI. tembaga) Unsur yg tdk dibayar dan tdk dikenakan denda (belerang. perak.. besi) Unsur yg dikenakan denda (mineral ikutan lainnya) 3 4 5 Kewajiban yang termasuk PNBP dlm KK Mineral yang dibayar royalti Mineral yang tidak dibayar royalti Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. konsentrat tembaga Emas. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. ESDM Dep.

JokoSudiarto.. Besarnya royalti ditentukan oleh negara sesuai dg PP. ESDM ESDM blm pernah melakukan penelitian yg mendalam.. UU ttg PNBP dan PP ttg tarif. Sesuai dg ketentuan yg ada. UU ttg PNBP dan PP ttg tarif. II 1 DASAR PENGENAAN ROYALTI ATAS MINERAL IKUTAN TEMBAGA Seluruh mineral ikutan dikenakan royalti Setuju. Perusahaan Merupakan unsur pengotor yg tdk bernilai ekonomis PT Smelting Dari proses peleburan.. tembaga) - 2 Dasar pengenaan royalti atas mineral ikutan lainnya KK.Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No 7 Lampiran 7. hrs dikenakan royalti. PP ttg tarif. perak. namun hrs dengan addendum KK setuju setuju Tdk setuju krn mineral tsb tdak bernilai ekonomis Kurang tepat krn dlm perdagangan yg lazim. 2009. Prinsip PNBP (user charges). Seluruh sumber daya alam yg telah dimanfaatkan hrs dikenakan royalti. BPK - Main Issues Manfaat mineral ikutan lainnya Dep. LPKM ITB Dari proses peleburan konsetrat tembaga. Bisa juga dg Fixed PNBP mrpk hak mutlak negara. - - - Halaman 2 dari 3 Analisis potensi. Keu. namun hal ini sulit dilakukan krn mineral tsb tdk ada harga jualnya. - Dep. hanya tiga unsur yg dibayar oleh pembeli (emas. Lampiran G dlm KK. unsur tsb menjadi terak dan gas buang namun dpt dijual. FE UI. - - 3 Perhitungan royalti atas mineral ikutan lainnya Persentase tertentu dari harga jual. UU ttg PNBP. Sudah jelas ada sumber daya alam yg dimanfaatkan. . hampir seluruh mineral tsb dpt dimanfaatkan dan dpt dijual.

perak. perak. FE UI. BPK Perusahaan PT Smelting LPKM ITB Dep. Hal ini sulit sekali dilakukan karena pihak kontraktor bisa dipastikan tidak setuju.. JokoSudiarto. tembaga) tdk dikenakan royalti tetapi dikenakan pajak penghasilan. namun hrs dg addendum KK. 4 Simpulan Mineral ikutan lainnya dpt dikenakan royalti. mudah dilaksanakan dan dapat diterapkan pada seluruh mineral ikutan tembaga. Mineral ikutan lainnya (selain emas. Keu. sehingga untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tsb harus dengan addendum KK. . ESDM rate (tarif tetap) dikalikan dg tonase. perak..Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No Main Issues Dep. 2 Kelebihan · Perhitungan royalti dengan fixed rate. Lampiran 7.. Halaman 3 dari 3 Analisis potensi. 2009. · Pihak yang terkait dengan kontrak harus mematuhi seluruh terms and conditions yang tercantum dalam kontrak tsb. sehingga sulit sekali menentukan nilai ekonomis masing-masing mineral tsb sebagai dasar perhitungan royaltinya. Seluruh mineral ikutan dlm konsentrat tembaga hrs dikenakan royalti Pemerintah hrs melakukan negosiasi KK agar seluruh mineral dpt dikenakan royalti Mineral ikutan lainnya (selain emas. tembaga) dpt dimanfaatkan dan dijual. · Dengan perhitungan yang sederhana. III 1 KELEMAHAN DAN KELEBIHAN Kelemahan · Pemerintah belum pernah melakukan pengujian atas jenis dan kadar mineral ikutan tembaga. · Tidak terdapat potential loss atau royalti yang hilang karena seluruh mineral ikutan tembaga dikenakan royalti. tembaga) tdk dibayar royalti. Mineral ikutan lainnya (selain emas. krn klausul KK menyebutkan demikian. semua pihak yang terkait dapat saling mengecek dan menguji kewajaran jumlah royalti.

JokoSudiarto. Analisis potensi.. 2009. and casting----are taken together as a single process.3 mt of cast copper product. Smelting is a separating and value-adding process.. FE UI. .. The steps----smelting. fire refining.Giagram Proses Peleburan Konsentrat Tembaga Lampiran 6 Figure: Copper-specific flow diagram of the smelting process. converting. The data reported in the figure represent the weighted average copper-specific flows for all the smelters studied in this report. The total capacity of the smelters studied was 8.

.. . FE UI..Lampiran 5 Analisis potensi. JokoSudiarto. 2009.

D.22 7.81 4.526..48 7.460.020.972.40 18.788.39 7.48 7.39 7.PT NEWMONT NUSATENGGARA Lampiran 4 REALISASI PENYETORAN ROYALTI PERIODE 2003 S.08 28 Apr 2005 27 Jul 2005 28 Okt 2005 31 Jan 2006 2.752.542.750.128.997.51 3.370.123.40 23.51 20.164. Periode TAHUN 2004 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2004 4.d.76 5.40 23.775.122.332.51 20.542.81 4.746.08 TAHUN 2006 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2006 2.880.127.145..78 17.430.87 Analisis potensi.997.731.88 5.164.752.114.793.59 5.571.78 17.87 24 Apr 2007 27 Jul 2007 30 Okt 2007 30 Jan 2008 - 3.865.361.122.218.978.047.123.641.380.50 6.127.190.654.43 3.114.380.43 3.190. 2007 Keterangan: Sumber data: Departemen ESDM dan Laporan PT Newmont Nusatenggara (diolah) 3.59 5.072.421.010.257. 2009.145.76 5.24 96.68 5.059.51 3.072.047.750.793.51 28 Apr 2006 27 Jul 2004 19 Okt 2006 30 Jan 2007 2.972.571.451.242.47 4.68 5.47 16.257.978.88 5. JokoSudiarto.451.871.335.037.380.274.460.22 7.865.24 96. 2007 Royalti Pokok US $ TAHUN 2003 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2003 3.749.731.895.010.020.47 16.31 30 Apr 2003 31 Jul 2003 30 Okt 2003 29 Jan 2004 3.73 30 Apr 2004 30 Jul 2004 29 Okt 2004 31 Jan 2005 4.880.31 Tgl.242.895.059.11 4.187.641.22 4.380.775.206.546.361.546.749.40 18.335.47 4.22 4.332.274.430.11 4. FE UI. Jumlah US $ No.51 TAHUN 2007 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.654.50 6..128.037.370.788.421. .26 6.746.218.829.26 6.187.73 TAHUN 2005 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2005 2.871.526.206.829.

676.530.67 38.534.44 7.84 30.35 22.063.158.955.509.537.256.54 102.736.729.260.12 Analisis potensi.249.29 26 Mei 2006 28 Agust 2006 20 Nov'2006 28 Feb 2007 17.84 30.188.989.15 23.497.96 134.778.737.350.263.605.252.733.D.43 23.778.989.953.447.550.115.46 9. 2009.135.PT FREEPORT INDONESIA COMPANY Lampiran 3 REALISASI PENYETORAN ROYALTI PERIODE 2003 S.736.026.177. FE UI.063.96 134. Jumlah US $ No.689.928.363. 2004 28 Feb 2005 4. 2003 26 Feb 2004 6.720.729.928.343. 2007 Royalti Pokok US $ TAHUN 2003 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2003 6.460. 2007 Keterangan: Sumber data: Departemen ESDM dan Laporan PT Freeport Indonesia Company (diolah) 39.212.93 35.212.85 27 Mei 2005 26 Agust 2005 18 Nop 2005 28 Feb 2006 22.24 24. JokoSudiarto.50 7.256.41 133.68 22.343.56 51.670. .824.670.87 27 Mei 2004 26 Agust 2004 26 Nov.21 17.19 48.997.68 11.795.689.d.68 11.733.249.997.534.840.252.519.676.795.177.922.83 3.497.840.35 22.85 TAHUN 2006 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2006 17.779.955.10 443.350.21 17.026.68 22.15 23.530.56 51.363.095.760.43 23.44 7.29 TAHUN 2007 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.315.24 24.158.795.87 TAHUN 2005 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2005 22.953.01 Tgl.400.732..737.760.550..537.54 102.400.93 35.115.519.732.227.12 30 Mei 2007 27 Agust 2007 20 Nov'2007 28 Feb 2008 - 39. Periode TAHUN 2004 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2004 4.922.095.779.188.509.135..41 133.227.01 29 Mei 2003 28 Agust 2003 20 Nov.10 443.50 7.263.46 9.460.05 47.447.260.605.83 3.67 38.795.19 48.824.05 47.315.720.

00 87.00 289. 2009.00 Operasi 2005 1 Jan 2004 s.00 3. .00 144. 2007 KEWAJIBAN IURAN TETAP (US$) TAHAP TAHUN PERIODE TANGGAL JATUH TEMPO LUAS (Ha) HARI TARIF/TH (US$) Operasi 2003 1 Jan 2003 s. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.600.00 182 45 138 3.00 131.d.d.540.310.600. 31 Des 2004 31-Jan-04 31-Jul-04 96.d.540.00 3. 31 Des 2004 31-Jan-05 31-Jul-05 96. 31 Des 2006 31-Jan-06 31-Jul-06 87.400.63 Sumber Data : Perhitungan Perusahaan dan Laporan Hasil Audit Tim OPN Analisis potensi.00 262.00 96.200. JokoSudiarto.00 182 183 3.310.00 131.00 87.620.d.540.00 131.PT NEWMONT NUSA TENGGARA Lampiran 2 PERHITUNGAN IURAN TETAP/DEADRENT PERIODE 2003 S..00 3..00 182 183 3.086. 31 Des 2003 31-Jan-03 31-Jul-03 96. 30 Jun 2007 1 Jul 2007 s..00 262.540. 31 Des 2007 31-Jan-07 31-Jul-07 87. 30 Jun 2006 1 Jul 2006 s.382.600.364.63 Operasi 2006 1 Jan 2006 s.00 289.482.00 Operasi 2004 1 Jan 2004 s. FE UI.00 96.00 182 183 3.00 3.400.13 98.600.00 144.400.d.d.400.D.446.00 87.d.d.00 TOTAL TAHUN 2003 s. 2007 1.400.00 144.620. 30 Jun 2003 1 Jul 2003 s.00 35. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.d.00 3.200.00 182 183 3.d. 14 Agt 2004 15 Agt 2004 s.310.00 131.00 144.00 144.50 278.00 3.310.540.d.600.00 96.00 Operasi 2007 1 Jan 2007 s.d.400.

5 3.850.00 304.950.00 Operasi 2004 1 Jan 2004 s.00 304.00 304.d.425.d.044.425.5 0.425.850.00 0.950.950.d. TARIF/TH (US$) Operasi 2003 1 Jan 2003 s.. 30 Jun 2006 1 Jul 2006 s.5 3.00 304.950.5 0.00 3.425.d.950.425.950. 31 Des 2006 31-Jan-06 31-Jul-06 202. 30 Jun 2003 1 Jul 2003 s.5 3..850.00 0.00 202.d.5 0.250.425.850.00 608.00 608.00 3.d.d.00 3. 2007 KEWAJIBAN IURAN TETAP (US$) TAHAP TAHUN PERIODE TANGGAL JATUH TEMPO LUAS (Ha) THN.00 304. 31 Des 2004 31-Jan-04 31-Jul-04 202.425.00 0.425.00 Operasi 2007 1 Jan 2007 s.425. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.00 202.850.00 0. 30 Jun 2007 1 Jul 2007 s.00 Operasi 2005 1 Jan 2004 s.d.00 304.00 608.00 202. 31 Des 2003 31-Jan-03 31-Jul-03 202.D.950.00 Sumber Data : Perhitungan Perusahaan dan Laporan Hasil Audit Tim OPN Analisis potensi.00 608. 31 Des 2007 31-Jan-07 31-Jul-07 202.425.00 304. JokoSudiarto.00 3.5 3.PT FREEPORT INDONESIA COMPANY Lampiran 1 PERHITUNGAN IURAN TETAP/DEADRENT PERIODE 2003 S.00 304. .00 TOTAL TAHUN 2003 s. 14 Agt 2004 31-Jan-05 31-Jul-05 202.d. 2007 3.5 3.00 3.5 0. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.950.d.00 608.00 304.950.00 304. 2009.5 0.950.00 Operasi 2006 1 Jan 2006 s.d. FE UI.00 0.00 202..00 202.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful