UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007

TESIS

JOKO SUDIARTO NPM 0606152604

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA PROGRAM MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK JAKARTA, DESEMBER 2009

Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007

TESIS Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi pada Program Magister Perencanaan Dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia

JOKO SUDIARTO NPM 0606152604

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA PROGRAM MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK JAKARTA, DESEMBER 2009

Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama NPM Tanda tangan Tanggal

: : : :

Joko Sudiarto 0606152604

Desember 2009

ii
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

... Ph............ Fakultas Ekonomi......... JokoSudiarto....... Ph.. Ditetapkan di Tanggal : : Jakarta Desember 2009 iii Analisis potensi........... Zainal... ....... DEWAN PENGUJI Pembimbing Penguji Penguji : : : B.. ...................... Universitas Indonesia...... ....2007 Ikutan Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi pada Program Studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik..HALAMAN PENGESAHAN Tesis ini diajukan oleh Nama NPM Program Studi Judul Tesis : : : : Joko Sudiarto 0606152604 Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Analisis Potensi Royalti dari Mineral Pertambangan Tembaga Tahun 2003 ... Raksaka Mahi..D Arindra A.. 2009........D Syarif Syahrial..... FE UI.... .

Bapak dan Ibu di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral yang sangat membantu dalam penyediaan data. Rofif. Jakarta. Semua pihak yang terkait dan telah banyak membantu dalam penyusunan tesis ini. FE UI. Tak lupa penulis juga ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada : 1. 2009. iv Analisis potensi. Oleh karena itu. Yth. Universitas Indonesia. Fakultas Ekonomi. Bapak Raksaka Mahi selaku Pembimbing. saran dan perbaikan untuk penyempurnaan materi Tesis ini. .. Istri dan anak-anakku tersayang Nabila. Penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Yth. Hasna dan Ziva yang selalu memberikan motivasi serta doanya. dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan adanya kritik. yang dengan sabar dan penuh perhatian berkenan meluangkan waktu dan pikiran untuk membimbing dan memberi arahan hingga selesainya penyusunan Tesis ini. penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya. 2. 5. Yth.KATA PENGANTAR Segala puji syukur. JokoSudiarto.. 4. Semoga Tesis ini bisa menambah dorongan semangat belajar bagi kalian.. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Tesis dengan judul “ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007”. Bapak Ibu Dosen pada Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik. Tesis ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam rangka mencapai gelar Magister Ekonomi pada Program Pascasarjana di Universitas Indonesia. Bapak Direktur PNBP Departemen Keuangan. 3.

. . Desember 2009 Joko Sudiarto v Analisis potensi. FE UI... terutama bagi penulis sendiri. Jakarta. penulis berharap Tesis ini dapat memperluas cakrawala ilmu pengetahuan dan memberi manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.Selanjutnya. 2009. JokoSudiarto.

Dibuat di : Pada Tanggal : Jakarta Desember 2009 Yang menyatakan Joko Sudiarto vi Analisis potensi.. Demikian pernyataan saya buat dengan sebenarnya. dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. merawat. FE UI. Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan.. mengelola dalam bentuk pangkalan data (database).. . mengalihmedia/ formatkan. saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama NPM Program Studi Departemen Fakultas Jenis Karya : : : : : : Joko Sudiarto 0606152604 Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Ekonomi Ekonomi Tesis demi pengembangan ilmu pengetahuan. 2009.HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia. menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive RoyaltyFree Right) atas karya ilimiah saya yang berjudul: ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007 beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). JokoSudiarto.

Demikian juga dengan mineral ikutan pertambangan tembaga sudah semestinya dikenakan royalti. perak dan tembaga sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dikenakan royalti. teknik pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan dan hasil survei..ABSTRAK Nama Program Studi Judul : Joko Sudiarto : Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik : Analisis Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Pertambangan Tembaga Tahun 2003 . Universitas Indonesia . dan untuk memperkirakan besarnya kandungan mineral ikutan yang berada di luar sampel digunakan teknis forecasting menggunakan metode rata-rata dan analisis regresi linier sederhana.2007 Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang bersumber dari pertambangan umum merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat potensial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cakupan KK pengusahaan pertambangan tembaga.. dimana cakupan KK mengenai royalti lebih sempit dibandingkan dengan prinsip PNBP tersebut. Mineral Ikutan Pertambangan tembaga Undang-undang PNBP. JokoSudiarto. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan pendekatan penelitian kualitatif dan kuantitatif. menentukan alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan pertambangan tembaga dan perkiraan potensi royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga untuk periode 2003 2007. kontraktor hanya menyetorkan royalti atas mineral emas. direkomendasikan untuk merevisi Pasal 13 kontrak karya yang kurang menguntungkan pihak Pemerintah RI. Berdasarkan hasil penelitian ini. Hasil analisis menunjukan bahwa hampir seluruh mineral ikutan pertambangan tembaga dapat dimanfaatkan dan mempunyai nilai jual. Kontrak Karya vii Analisis potensi. 2009. Dalam Kontrak Karya (KK) pengusahaan pertambangan tembaga. namun belum dikelola secara optimal.20/1997 tentang PNBP bahwa semua pemanfaatan sumber daya alam harus membayar royalti.. FE UI. Kata Kunci: Royalti. Sesuai dengan prinsip PNBP yang ditegaskan dalam UU No.

Mineral from Copper Mining Law No. Thus. it is recommanded to revise the Article 13th in the Contract of Work. To achieve those goals. and copper. The study employs moving average method and simple linear regression analysis. Contract of Work viii Analisis potensi.. Universitas Indonesia . 20/1997 about PNBP.ABSTRACT Name Study Program Title : Joko Sudiarto : Magister of Public Planning and Public Policy : Analysis of Potential Royalty from Minerals of Copper Mining Year 2003 – 2007. The result shows that most of minerals from the copper mining can be used and sold. Base on this research. The Contract of Work stipulated for copper mining is only stated that. the qualitative and quantitative approaches are used. Unfortunately. the contractor is required only to pay royalty of gold.. 20/1997 about PNBP. Key Words: Royalty. all minerals from the copper mining should also be levied to royalty. and the technique forecasting has been used to estimate of other minerals contained within the copper concentrate. this study also estimates the potential royalty that could be derived from other minerals of copper mining for year 2003 – 2007. silver. it is not optimally managed. FE UI. JokoSudiarto.. the technique of collecting data through study of literatures and survey. but not for other minerals contained within the copper concentrate. 2009. The objective of this research is to evaluate whether the scope of Contract of Work of copper mining could be optimized by evaluating the potential of other minerals contained in the copper concentrate. According to the principle of user charges as stated in the Law No. the extraction and usage of natural resources must be levied to royalty. Non Tax Government Revenue (PNBP) from mining is among one of the potential government revenues for Indonesia. The result of the analysis to explain the reasons to levy royalty from other minerals. which states that the scope of Contract of Work related to royalty is narrower than the principle of that user charges.

DAFTAR ISI

Hal Halaman Judul ................................................................................................... Halaman Pernyataan Orisinalitas ……………………………………………. Halaman Pengesahan ……................................................................................ Kata Pengantar .................................................................................................. Halaman Pernyataan Persetujuan Publikasi …………………………………. Abstrak ............................................................................................................ Abstract ……………………………………………………………………… Daftar Isi ........................................................................................................... Daftar Diagram ................................................................................................. Daftar Tabel ...................................................................................................... Daftar Lampiran ................................................................................................ i ii iii iv vi vii viii ix xi xii xiii

BAB I

PENDAHULUAN ........................................................................ 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. Latar Belakang .................................................................. Rumusan Permasalahan ..................................................... Ruang Lingkup Penelitian……………………………..... Tujuan Penelitian……………………………………….... Sistimatika Penulisan ........................................................

1 1 3 4 4 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA .............................................................. 2.1. Kerangka Teoritis .............................................................. 2.1.1 Konsep Ekonomi Keuangan Publik ......................... 2.1.2 Pengertian dan Konsep Pertambangan ..................... 2.1.3 Teori Ekonometrika .................................................. 2.1.4 Peraturan Perundang-undangan ............................... 2.2. Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah .............. ............

6 6 6 7 12 13 16

ix
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN DAN HASIL PENELITIAN LAPANGAN ................................................................................ 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. 3.6. 3.7. Metode Pengumpulan Data …........................................... Koefisien Korelasi …......................................................... Koefisien Variasi ………………....................................... Regresi ………………....................................................... Tahapan Dalam Membuat Analisis Regresi …………….. Data ……………………………………………………... Hasil Penelitian Lapangan ………………………………. 18 18 18 19 19 21 23 24

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN ............................................. 4.1. Analisis Cakupan Kontrak Karya yang Berlaku Untuk Pengusahaan Pertambangan Tembaga .............................. 4.2. Menentukan Alasan yang Dapat Digunakan Untuk Mengenakan Royalti atas Mineral Ikutan Tembaga ......... 4.3. Perkiraan Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga ..

35

35

47 53

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN ................................................... 5.1. 5.2. Kesimpulan ........................................................................ Saran ..................................................................................

75 75 78

Lampiran-lampiran Daftar Pustaka

x
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

DAFTAR DIAGRAM

Hal Diagram 1 Diagram 2 : : Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah …………. Giagram Alur Proses Produksi Konsentrat Lamp. 5 20

Tembaga ………………………………………….. Diagram 3 : Giagram Alur Proses Peleburan Konsentrat

Tembaga ………………………………………….. Diagram 3 : Giagram Cara Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti …………………………………………….

Lamp. 6

Lamp. 8

xi
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

2009. JokoSudiarto.Sulfur : Perkiraan Kandungan Sulfur dalam Konsentrat : Hasil Run Model 1 .Sulfur : Hasil Run Model 2 .Besi : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 .Besi : Hasil Uji BG Model 1.Besi Hasil Uji BG Model 2 .Sulfur : Hasil Uji BG Model 1 .DAFTAR TABEL Hal Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 Tabel 24 Tabel 25 Tabel 26 Tabel 27 Tabel 28 Tabel 29 : Ingredient Content PT FIC : Ingredient Content PT NNT : Realisasi Produksi PT FIC : Realisasi Produksi PT NNT : Realisasi Penjualan PT FIC : Realisasi Penjualan PT NNT : Realisasi Penyetoran Iuran Tetap : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi (Royalti) : Produksi dan Output PT Smelting : Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT FIC : Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT NNT : Hasil Run Model 1 .Besi : Korelasi Variabel Bebas .Sulfur : Perkiraan Potensi Royalti .Besi 24 24 25 25 25 26 26 27 32 41 44 56 58 59 60 60 62 63 64 65 66 67 68 68 70 71 72 72 72 xii Analisis potensi. ..Sulfur : Korelasi Variabel Bebas .Besi : Perkiraan Kandungan Besi dalam Konsentrat : Perkiraan Potensi Royalti .Besi : Hasil Run Model 2 ...Sulfur : Hasil Uji BG Model 2 .Sulfur : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 .Sulfur : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 . FE UI.Besi Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .

2009. Perak.Sulfur. Lampiran 10 : Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti .. Lampiran 12 : Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti . : Matrik Resume Pendapatan dari Instansi/Ahli. Tembaga dan Besi Tahun 2003 s. . Perak. Tembaga dan Sulfur Tahun 2003 s. 2005. Lampiran 11 : Data Penjualan Emas.. : Perhitungan Iuran Tetap PT NNT.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 : Perhitungan Iuran Tetap PT FIC. : Diagram Alur Proses Peleburan Konsentrat Tembaga. xiii Analisis potensi. JokoSudiarto.d.d.. : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti PT NNT. : Data Penjualan Emas. : Diagram Cara Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti. 2005. FE UI. : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti PT FIC.Besi. : Diagram Alur Proses Produksi Konsentrat Tembaga.

pemerintah dapat melaksanakan sendiri atau menunjuk kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan sendiri oleh instansi pemerintah. regional.. baik tenaga kerja lokal. tembaga. nasional maupun internasional. minyak dan gas bumi. Dampak positif penanaman investasi di bidang pertambangan ini adalah meningkatkan devisa negara dan pendapatan asli daerah. Terdapat 40 (empat puluh) perusahaan swasta pemegang KK. namun belum dikelola secara optimal. Bahan tambang itu meliputi emas. Selama 1 Analisis potensi. batubara. dan lain-lain. pemerintah akan memperoleh bagi hasil berupa royalti sesuai dengan hasil produksinya. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang berasal dari pertambangan umum merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat potensial. Jumlah perusahaan yang bergerak dan menanamkan investasinya di bidang pertambangan pun sangat banyak.BAB I PENDAHULUAN 1. keberadaan perusahaan tambang sangat membantu dalam pembangunan nasional dan daerah. Pengusahaan pertambangan mineral oleh swasta dilaksanakan melalui Kontrak Karya (KK) antara Pemerintah RI dengan perusahaan swasta. perak. Dari perusahaan tersebut pemerintah juga akan memperoleh penerimaan pajak dan bukan pajak. Dalam pengusahaan bahan tambang. JokoSudiarto. Universitas Indinesia .. 2009. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang kaya akan bahan tambang. Hasil-hasil audit Tim Optimalisasi Penerimaan Negara (OPN) telah mengindikasikan persoalan tersebut. FE UI. Dari sisi penerimaan bukan pajak (PNBP). diantaranya 11 (sebelas) perusahaan yang telah berproduksi (Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral: 2006). keberadaan perusahaan tambang telah menyerap tenaga kerja..1. Begitu juga dalam bidang tenaga kerja. Dari aspek devisa negara dan pendapatan asli daerah. dan lain-lain. baik dalam rangka Penanaman Modal Asing (PMA) maupun PMDN. menampung tenaga kerja.

JokoSudiarto.837. Hal ini dapat diuraikan berikut ini. Dalam setiap penjualan konsentrat oleh PT NNT. PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) PT NNT melakukan kegiatan pertambangan di Nusa Tenggara Barat berdasarkan kontrak karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT NNT tanggal 2 Desember 1986.41 dan USD1. FE UI.2 periode tahun 1998 sampai dengan tahun 2000 sebanyak empat perusahaan kurang menyetor PNBP sebesar Rp362. emas dan perak yang terkandung dalam konsentrat tembaga yang merupakan produk utama PT FIC.. hanya tembaga. jumlah royalti yang akan dibayar berkaitan dengan kandungan tembaga yang dibayar dari konsentrat yang dijual oleh perusahaan. . Kegiatan eksplorasi menghasilkan bijih tembaga sulfida yang kemudian diolah menjadi konsentrat tembaga. Sedangkan terhadap unsur-unsur besi (Fe) dan belerang (S) walaupun jumlahnya relatif besar PT FIC tidak memperoleh pembayaran. antara lain adanya pasal-pasal dalam Kontrak Karya yang kurang menguntungkan pihak Pemerintah RI.93 dan US$4. Universitas Indonesia Analisis potensi. PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) melakukan kegiatan pertambangan di Tembaga Pura berdasarkan kontrak karya (contract of work) antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991. perak (Ag) dan sejumlah senyawa logam lainnya seperti besi (Fe) dan belerang (S). 2009.929..”.44.. sehingga tidak dikenakan royalti. dalam hal ini dalam memasarkan konsentrat tembaga kepada pelanggannya PT FIC hanya memperoleh pembayaran untuk logam tembaga (Cu).113. Namun dalam perhitungan royalti yang harus dibayar oleh PT FIC sesuai dengan pasal 13 poin 2 Kontrak Karya disebutkan bahwa “dalam hal tembaga tersebut dijual sebagai konsentrat. emas (Au) dan perak (Ag)... Sehingga royalti hanya diperhitungkan terhadap logam-logam tembaga. diantaranya potensi mineral ikutan besi dan sulfur yang terjual dalam konsentrat tembaga minimal tidak terealisasi masing-masing sebesar USD251. dalam konsentrat tembaga tersebut terkandung didalamnya mineral ikutan emas (Au).353.246..14 serta terdapat potensi PNBP yang tidak dapat direalisasikan.286.366. Potensi PNBP tidak terealisasi karena terbentur pada beberapa masalah.

3

emas, dan perak yang dibayar oleh pembeli untuk setiap realisasi penjualan ekspor konsentrat, sedangkan material ikutan lainnya seperti: besi (Fe), sulfur (S), silika (SiO2), kapur (Lime), dan Al203 tidak dinilai. Pengenaan tarif royalti tersebut berdasarkan kontrak karyanya yang menyebutkan “Bila terdapat mineral ikutan yang terdapat dalam konsentrat yang dijual diperhitungkan dengan tarif royalti sebagaimana diatur dalam Lampiran “F”. Dalam lampiran F hanya besi (Fe) dan sulfur (S) yang memiliki tarif royalti yaitu masing-masing sebesar US$0.0005/kg dan US$0.002/kg, sementara tiga mineral lainnya tidak ada tarifnya. Walaupun demikian perusahaan tetap tidak membayar royalti dengan alasan mineral ikutan tersebut tidak dibayar oleh pembeli. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP, antara lain menyebutkan jenis dan tarif PNBP. Salah satu jenis PNBP tersebut adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam seperti penerimaan royalti di bidang pertambangan. Tarif atas jenis PNBP tersebut ditetapkan dalam undangundang atau Peraturan Pemerintah (PP) yang menetapkan jenis PNBP. Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah telah mengeluarkan beberapa peraturan yang mengatur tentang tarif royalti di bidang pertambangan, yaitu PP Nomor 58 Tahun 1998; PP Nomor 13 Tahun 2000 dan yang terakhir PP Nomor 45 Tahun 2003. Semua ketentuan tersebut hanya mengatur tentang besarnya tarif PNBP untuk masing-masing mineral dalam satuan logam dan konsentrat. Tidak secara jelas menerangkan cara perhitungan royalti atas mineral ikutan dalam suatu konsentrat, termasuk mineral ikutan dalam konsentrat tembaga.

1.2.

Rumusan Permasalahan Berdasarkan ringkasan permasalahan tersebut di atas, nampak bahwa

terdapat potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga yang belum tergali. Berkaitan dengan permasalahan tersebut, pertanyaan yang timbul adalah: 1. Bagaimana cakupan KK yang berlaku untuk pertambangan tembaga ? 2. Alasan apa yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tambang tembaga? 3. Berapa perkiraan potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga ?
Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

4

1.3.

Ruang Lingkup Penelitian Untuk dapat menjawab beberapa permasalahan tersebut di atas dan agar

pembahasan lebih fokus maka ditentukan ruang lingkup penelitian sebagai berikut: 1. Kontrak Karya pengusahaan pertambangan tembaga antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT beserta perubahannya. 2. Kegiatan usaha pertambangan yang telah dilakukan oleh PT FIC dan PT NNT yang mencakup luas wilayah usaha pertambangan untuk setiap periode tahapan kegiatan tambang, proses produksi konsentrat tembaga, pengangkutan atau pemindahan tembaga mulai dari mulut tambang sampai dengan stock pile, penimbunan dan penjualan konsentrat tembaga untuk periode 2003 sampai dengan 2007. 3. Tata cara perhitungan dan realisasi penyetoran PNBP oleh PT FIC dan PT NNT sebagaimana diatur dalam perjanjian, peraturan perundangan dan ketentuan lain yang terkait.

1.4.

Tujuan Penelitian Tujuan dari analisis dan penelitian ini adalah:

1. Menganalisis cakupan KK yang berlaku untuk pertambangan tembaga. 2. Menentukan alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tambang tembaga. 3. Memperkirakan potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga.

1.5. Bab I

Sistimatika Penulisan Pendahuluan Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, pokok

permasalahan, ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, dan sistimatika penulisan. Bab II Tinjauan Pustaka Bab ini menguraikan tentang konsep ekonomi keuangan publik,

Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

5

pengertian dan konsep pertambangan, teori ekonometrika, peraturan perundang-undangan yang relevan dengan masalah yang dibahas, kerangka berpikir pemecahan masalah. Bab III Metodologi Penelitian dan Hasil Penelitian Lapangan Bab ini akan menjelaskan tentang metode pengumpulan data yang dilakukan, tentang rumus kofesien variasi, pengolahan data dengan regresi, dan tahapan-tahapan dalam membuat analisis regresi. Juga akan dijelaskan tentang data yang dipergunakan dalam melakukan analisis atas potensi royalti dari mineral ikutan tembaga berdasarkan data-data yang diperoleh dari studi pustaka dan penelitian lapangan. Bab IV Hasil Analisis dan Pembahasan Bab ini merupakan pembahasan terhadap hasil analisis kuantitatif atas potensi royalti dari mineral ikutan tembaga. Bab V Kesimpulan dan Saran Bab ini merupakan Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pembahasan pada Bab IV dan saran-saran atau rekomendasi yang akan diberikan penulis dari kesimpulan yang diperoleh.

Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

Yogyakarta..1. hal. kebijakan publik adalah pemanfaatan yang strategis terhadap sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah publik atau pemerintah. Dimana. Sedangkan prinsipal mempunyai kewenangan untuk melakukan penilaian atau monitoring atas pelaksanaan pengelolaan tersebut apakah telah sesuai dengan amanah dan kepercayaan yang diberikan oleh rakyat. yakni: 1 2 Winarno. pemerintah mempunyai kewajiban (bonding) untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya tersebut. 2002. 2005. 15.1.. Teori dan Proses Kebijakan Publik. Edi. Dye menyatakan bahwa kebijakan publik adalah apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan dan tidak dilakukan (whatever governments choose to do or not to do)2. Sebagai agen. rakyat merupakan prinsipal yaitu pihak yang mempunyai atau menguasai sumber daya dan mempercayakan pengelolaan sumber daya tersebut kepada pemerintah yang disebut agen. Menurut Robert Eyestone menyatakan secara luas. Gerwin Bell dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 104-107) menguraikan pengertian user charges.1. Budi. FE UI. Bandung. Sedangkan Thomas R. Kerangka Teoritis 2. Media Pressindo. hal. Suharto. Pemerintah harus mempertanggungjawabkan setiap apa yang dilakukan oleh pemerintah berdasarkan pengertian konsep agent dan principal relationship. Alfabeta. JokoSudiarto.. Konsep Ekonomi Keuangan Publik Menurut buku Kamus Administrasi Publik. Analisis Kebijakan Publik.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Universitas Indonesia . 6 Analisis potensi. 2009. Lebih jauh James Andersen mengemukakan bahwa kebijakan merupakan arah tindakan yang mempunyai maksud yang ditetapkan oleh seorang aktor dalam mengatasi suatu persoalan. 44. kebijakan publik didefinisikan sebagai hubungan suatu unit pemerintah dengan lingkungannya1.

. “Mineral” in this article and Articles hereinafter shall mean: “the ores of gold. The following typology of user charges is: · User Fees: There are payments on services consumed to yield a direct benefit to the user.” Dalam Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.. emulate the benefit principle in public finance which states that the payment of a tax ought to correspond to the benefits received from taxfinanced goods and services.. sulfur. sulfide. Example of regulatory fees include passport and judicial fees..7 User Charges are levied on the use of specific good or service and thereby on the accruing benefits that economic agents receive from such use.. cobalt. User charges. Pengertian dan Konsep Pertambangan Istilah bahan galian berasal dari terjemahan bahasa Inggris. manganese. Examples include royalties on natural resources. arsenic. 20 December. uranium. yaitu mineral. brigde. . In this way. zinc... 289. silver. the application of user charges allows the costs of goods or service to be distributed according to the benefits received. antimony.. chromite. Dalam Article 3 angka 1 Japanese Mining Law No.. tungsten. . Mineral adalah: “senyawa anorganik yang terbentuk di alam. yang memiliki sifat fisik dan Universitas Indonesia Analisis potensi. copper. tin. FE UI. nickel. and highway tolls.2. 2.. iron. thorium. customs service user fees. coal. user charges are efficiently levied on publicly provided goods or services that enhance economic efficiency and have the characteristic that their users may be easily identified and excluded from their consumption.. .. patent and copyright fees.1. · Regulatory Fees: There are very much like a tax in that they are solely based on the govermnet’s sovereign power to regulate particular economic agents or activities. 1950 Latest Amendment In 1962 telah ditemukan pengertian mineral. .. thus. bismuth. mercury. molybdenum. JokoSudiarto.. graphite. lead. canal. 2009. phosphate..

molibden.. dibagi menjadi delapan golongan. rtutenium. . Ia berpendapat bahwa bahan galian adalah: “bahan yang dijumpai di dalam. Bahan galian vital merupakan bahan galian yang dapat menjamin hajat hidup orang. platina. wolfram. 3) emas. Bahan galian dapat dibagi menjadi tiga golongan. antimon. cerium.8 kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan. air raksa. korundum. bahan galian yang berbentuk cair. Dalam pengertian ini. 2. flourspar. dan lain-lain. perak. belerang. 6) berillium. lempung. Universitas Indonesia Analisis potensi. Bahan galian vital. vanadium. bijih ataupun segala mecam batuan” (Sukandarrumidi. bahan galian diklasifikasikan menjadi tiga macam. adalah emas. FE UI. 4) arsin.. 7) kriolit. adalah gas alam. 2. titan. perak. 3. zirkon. seng. adalah minyak bumi dan yodium. tembaga. 1999: 251). khrom. 5) yttrium. yakni: 1) besi. bahan galian yang berbentuk padat. Bahan galian strategis ini disebut juga golongan bahan galian A. kristal kwarsa. intan. bismut. Bahan galian ini disebut juga golongan bahan galian B. bahan galian yang berbentuk gas. Sukandarrumidi juga mengemukakan pengertian bahan galian. mangan. barit. yaitu: 1. klor. baik dalam bentuk lepas atau padu”. 8) yodium. batu gamping. brom. dan logam-logam langka lainnya. Bahan galian strategis merupakan bahan galian untuk kepentingan pertahanan keamanan serta perkekonomian negara.. timbal. Penggolongan bahan galian diatur dalam Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian. 2) bauksit. yaitu: 1. mineral. Bahan galian strategis. baik berupa unsur kimia. 2009. JokoSudiarto.

FE UI. Pengusahaan tambang tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga. Sedangkan dalam Pasal 34 ayat (2) Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.treasury.9 3.za) antara lain menyebutkan: PART II: BASIC ROYALTY REGIME Any person (hereinafter referred to as a mineral resource extractor) is subject to a State royalty in respect of a mineral resource once that person extracts and transfers the mineral resource for that person’s own benefit... b. Although chalcopyrite (CuFeS2) is the predominant copper sulfide ore processed. ... Goonan berikut ini: “. pertambangan mineral digolongkan atas: a. and a small balance of trace metals that depend on the ore source. dan sulfur (belerang) serta mineral ikutan lainnya. Universitas Indonesia Analisis potensi. JokoSudiarto. dan d. Bahan galian yang tidak termasuk bahan galian strategis dan vital. chalcocite (Cu2S).gov.. pertambangan mineral radioaktif. Hal ini seperti yang dikemukan oleh Thomas G. Concentrate can contain from 25 to 35 percent copper. 2005: 2)” Departement National Treasury Republic of South Africa: “Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill . pertambangan batuan.. Konsentrat tembaga tersebut terdiri dari kandungan mineral tembaga. pertambangan mineral logam. and enargite (Cu3AsS4). 2009.. besi... minor percentages of oxides of aluminum.. calcium.. (dalam Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting. . similar levels of iron and sulfur. and silicon.2006” (www. pertambangan mineral bukan logam. Bahan galian yang lazim disebut dengan galian C. other important copper sulfide ore minerals include bornite (Cu5FeS4). Natural ores undergo comminution and separation by flotation at copper mining facilities to produce copper concentrate.. covellite (CuS). c.

2009.L. .. if a person extracts and transfers a mineral resource for the benefit of another person. and ensure that a minimum payment is made by the companies for the resources that they extract.. If a valuable resource is going tobe extracted. Royalties secure revenues as soon as production commences. They mean that the investor bears the risk that the project will not be commercially viable because the return to govenrment is fixed. David C. yakni: “The fiscal arrangements with respect to natural resources need to take into account that the goverment is the landowner or the owner of mineral rights.. are considerably easier to administer than most other fiscal instruments.. Nellor dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 238-240) mengemukakan beberapa pengertian pengusahaan mineral. separate from regular income tax.. (3) For purposes of this Act.. These payments are generally easy to administer... as a price for resource extraction.10 Charging provision (1) The State royalty imposed in respect of a transferred mineral resource equals the mineral resource’s State royalty rate as described in Schedule 1 multiplied by its gross sales value. . the goverment should receive a payment for this resource. The royalty. FE UI... Royalties are levied either on the volume or on the value resouces extracted. Lease bonuses are up-front payment that could be determined by auction or at the government’s discretion. that other person is deemed to be a mineral resource extractor to the extent that other person extracted and transferred that mineral resource for that extractor’s benefit. JokoSudiarto.. serves a role in determining whether investment should or should not proceed. . The government should determine what minimum payment it is Universitas Indonesia Analisis potensi. (2) A person is not subject to a State royalty in respect of a transferred mineral resource if the person proves the mineral resource was previously subject to a State royalty.

. .. penambangan. FE UI.K/201/M. Kontrak Karya adalah: Universitas Indonesia Analisis potensi. 2009.. Operasi produksi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan yang meliputi konstruksi. Penyelidikan Umum adalah tahapan kegiatan pertambangan untuk mengetahui kondisi geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi. . 4. A Resource Rent Tax (RRT) is similar to a cash-flow tax but is imposed only if the accumulated cash flow is positive.. kualitas dan sumber daya terukur dari bahan galian. 3. Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan ekonomis dan teknis usaha pertambangan.. pengolahan.. The RRT only provides a return to goverment on those project will yielding above normal rate of return.. pemurnian. there is also a significant chance that resource development will yield little revenue. . Izin Prinsip. Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara telah ditentukan pengertian kontrak karya. termasuk analisis mengenai dampak lungkungan serta perencanaan pascatambang. Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 menyebutkan bahwa usaha pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi kegiatan berikut ini: 1. serta sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi kelayakan. termasuk pengangkutan dan penjualan.11 willing to accept for the resource recognizing that it has given up its capital once the resource is extracted... although revenue could be sizable in favorable circumstances.. dimensi. sebaran. Dalam Pasal 1 Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1409. Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi. 2. JokoSudiarto. serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup. bentuk. The RRT is a high-risk measure for the government gaining a return on resource ownership.PE/1996 tentang Tata Cara Pengajuan Pemrosesan Pemberian Kuasa Pertambangan..

. . 2005: 130). 2009. 1995: 186).. H. Salim HS mendefinisikan kontrak karya yang paling lengkap karena di dalam kontrak karya tidak hanya mengatur hubungan hukum antara para pihak. Teori Ekonometrika Buku Ekonometrika Dasar karangan Damodar Gujarati (1978) yang diterjemahkan oleh Sumarno Zain. 2. FE UI. Analisis Regresi Dua Variabel. Salim HS. Anton Hendranata (2004) dalam Buku Ekonometrika Terapan mengemukan pengertian Analisis Regresi Linier Sederhana. sesuai dengan jangka waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak” (H. antara lain mengemukakan Sifat Dasar Analisis Regresi. JokoSudiarto. namun juga mengatur tentang obyek kontrak karya. Pengujian Masing-masing Koefesien Universitas Indonesia Analisis potensi. Model Regresi Dua Variabel.3. Sedangkan menurut Ismail Suny mengartikan kontrak karya sebagai berikut: “Kerja sama modal asing dalam bentuk kontrak karya (contract of work) terjadi apabila penanaman modal asing membentuk satu badan hukum Indonesia dan badan hukum ini mengadakan kerja sama dengan satu badan hukum yang mempergunakan modal nasional” (dalam Erman Rajagukguk. dkk. Metode Kuadrat Terkecil (Ordinary Least Square / OLS).12 “suatu perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan perusahaan swasta asing atau patungan antara asing dengan nasional (dalam rangka PMA) untuk pengusahaan mineral dengan berpedoman kepada Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing serta Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuanketentuan Pokok Pertambangan Umum”. Kontrak karya adalah: “suatu perjanjian yang dibuat antara Pemerintah Indonesia dengan kontraktor asing semata-mata dan/atau merupakan patungan antara badan hukum asing dengan badan hukum domestik untuk melakukan kegiatan eksplorasi maupun eksploitasi dalam bidang pertambangan umum..1..

menyetorkan iuran eksploitasi/produksi tambahan atas mineral yang diekspor. menyetorkan iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. Peraturan Perundang-undangan Kontrak Karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991 dan Kontrak Karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) tanggal 2 Desember 1986.. 2. Kewajiban kontraktor (PT FIC dan PT NNT) seperti yang tercantum dalam kontrak karya tersebut antara lain adalah: menyetorkan iuran tetap untuk wilayah kontrak karya atau wilayah pertambangan.13 Regresi secara Parsial. Multikolinear dan Autokorelasi). JokoSudiarto. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan Umum: Universitas Indonesia Analisis potensi. Analisis Regresi Linier. Masalah dalam Analisis Regresi (Heteroskedastisitas. Masalah Heteroskedastisitas.1. antara lain menjelaskan mengenai Mengenal EVIEWS.4. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing: Pasal 8 ayat (1): Penanaman modal asing di bidang pertambangan didasarkan pada suatu kerja sama dengan pemerintah atas dasar kontrak karya atau bentuk lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.. Pengujian Model secara Keseluruhan. Menyunting dan Menampilkan Data. Wing Wahyu Winarno (2007) dalam Buku Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EVIEWS. Kebaikan Suai Model.. FE UI. 2009. . Multikolinear dan Autokorelasi. Pasal 8 ayat (2): Sistem kerja sama atas dasar kontrak karya atau dalam bentuk lain dapat dilaksanakan dalam bidang usaha-usaha lain yang akan ditentukan oleh pemerintah.

Pasal 2 ayat (1): Kelompok Penerimaan Negara Bukan Pajak meliputi: b. royalti di bidang kehutanan dan royalti di bidang pertambangan. Pasal 3 ayat (1): Tarif atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak ditetapkan dengan memperhatikan dampak pengenaan terhadap masyarakat dan kegiatan usahanya. penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam.. JokoSudiarto. 2009. . dan aspek keadilan dalam pengenaan beban kepada masyarakat. serta segala sesuatu baik berupa uang maupun Universitas Indonesia Analisis potensi. FE UI. Pasal 3 ayat (2): Tarif dan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam Undang-undang atau Peraturan Pemerintah yang menetapkan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersangkutan.14 - Pasal 10 ayat (1): Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dilaksanakan sendiri oleh Instansi pemerintah atau Perusahaan Negara yang bersangkutan selaku pemegang kuasa pertambangan. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara: Pasal 1 angka 1: Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP): Pasal 1 angka 1: Penerimaan Negara Bukan Pajak adalah seluruh penerimaan Pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan.. antara lain royalti di bidang perikanan. biaya penyelengaraan kegiatan Pemerintah sehubungan dengan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersangkutan.. petunjukpetunjuk dan syarat-syarat yang diberikan menteri. - Pasal 10 ayat (2): Dalam mengadakan perjanjian karya dengan kontraktor seperti yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara harus berpegang pada pedoman-pedoman.

25% dari harga jual. 3. efisien. . Iuran Eksplorasi/Iuran Eksploitasi/Royalty. Perak: satuan per kg. JokoSudiarto. tarif 4. 4: Penerimaan dari Iuran Eksplorasi/Iuran Eksploitasi/Royalty untuk Usaha Pertambangan dalam rangka Kuasa Pertambangan (KP). m. 2009. transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Belerang: satuan per kg. Kontrak Karya (KK) dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B).. Pelayanan Jasa Bidang Geologi dan Sumber Daya Mineral. Pasal 2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pad Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. tarif 3. 3. efektif. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral: Pasal 1 ayat (2) Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral berasal dari: a. Emas: satuan per kg.. FE UI.00% dari harga jual. Besi: satuan per ton. Pasal 3 ayat (1): Keuangan Negara dikelola secara tertib. dengan jenis mineral/bahan galian: h. d. Iuran Tetap/Landrent.75% dari harga jual. tarif 3. c. ekonomis. Pasal 2: Keuangan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1. Tembaga: satuan per ton. k.50% dari harga jual. b. taat pada peraturan perundang-undangan. l. Dana Hasil Produksi Batubara. Jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terutang atas jenis Universitas Indonesia Analisis potensi.15 berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Lampiran angka I. meliputi: Penerimaan Negara..00% dari harga jual. cc. A.

000 kg < 25. 8.000 ton > 5.00% dari harga jual. Besi: satuan per ton. 13. Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah Penelitian ini diawali dengan kajian terhadap sumber masalah berdasarkan data-data empiris dan landasan teori yang relevan. Jenis Mineral/ Bahan Galian Tembaga Besi Emas Perak Belerang Tingkat Produksi < 80. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Mineral di Bidang Pertambangan Umum: Pasal 2 ayat (1). Lampiran: 8. tarif 3. 12.00% dari harga jual. Universitas Indonesia Analisis potensi..00 USD 55. 11. 11.000 kg < 5.2. . 3.00 USD 2..90 USD 2. tarif 3.000 ton > 80. Emas: satuan per kg.000 ton < 2. 29. Jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terutang atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dihitung dengan cara tarif dikalikan jumlah satuan.000 ton < 100. Lampiran: No.90 USD 225. Serta peraturan perundang-undangan yang ada hubungannya dengan KK tersebut. JokoSudiarto.000 ton Satuan Jumlah ton/logam ton/logam kg/logam kg/logam ton/konsentrat Besarnya Tarif USD 45. Tembaga: satuan per ton. yang merupakan suatu produk hukum yang harus dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait.00 USD 1.000 kg > 25.16 Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dihitung dengan cara tarif dikalikan jumlah satuan dikalikan harga jual..00 USD 2.000 kg > 2. 13. Perak: satuan per kg.000 ton > 100.75% dari harga jual. yaitu dimulai dari adanya Kontrak Karya antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT. FE UI. 29. Belerang: satuan per kg.20 2. tarif 4. 12.10 USD 2.70 USD 2. 3.25% dari harga jual.00 USD 235. 2009.50% dari harga jual.

dll tidak dibayar oleh pembeli. Evaluasi ini tidak dimaksudkan untuk menguji kebenaran dan keabsahan produk hukum tersebut. Adanya potensi royalti yang belum tergali dari mineral ikutan tersebut. Berdasarkan teori dan konsep yang telah diuraikan di atas. KK dan PP yg mengatur tarif royalti tidak menyebutkan secara lengkap dan jelas mineral ikutan tambang tembaga. Menentukan dasar yang dapat digunakan untuk menghitung royalti atas mineral ikutan bahan galian tembaga. 3.. 3. Gap: Mineral ikutan tambang tembaga tidak dikenakan royalti.. 3. Kondisi Ideal: Seluruh mineral ikutan tambang tembaga dikenakan royalti. FE UI. PT FIC dan PT NNT perusahaan KK yg menghasilkan konsentrat tembaga. Diagram 1 Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah Fakta: 1. Kegiatan usaha penambangan. ESDM dan perusahaan Analisis Deskriptif Kuantitatif Pembahasan Kesimpulan dan Saran Universitas Indonesia Analisis potensi. pengangkutan dan penjualan konsentrat tembaga. Pemenuhan kewajiban PNBP periode 2003-2007. Tujuan Penelitian : Analisis kelebihan dan kelemahan sistem kontrak karya untuk pertambangan tembaga. Memperkirakan potensi royalti dari mineral ikutan tembaga. produksi. 1. . 2. 1.17 Penelitian ini dimaksudkan untuk menilai atau mengevaluasi apakah PNBP dalam bentuk royalti dari pelaksanaan KK tersebut telah diupayakan secara optimal serta sebab-sebab yang menyebabkan hal tersebut. Sumber data Sasaran pengkajian : 1. Metode Analisis Dokumen Dep. Tarif royalti atas mineral ikutan tersebut dinyatakan dengan tegas sehingga tidak merugikan negara. kerangka penelitian ini dapat digambarkan dalam diagram di bawah ini. 3. 2. 2. KK antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT. 1. Mineral ikutan seperti besi. JokoSudiarto.. 2. sulfur. 2. 2009. Pembayaran royalti berdasarkan jumlah yang diterima dari pembeli.

Sehubungan penulis telah memiliki data parameter dan untuk lebih mendekatkan hasil penelitian pada kondisi yang sebenarnya. 3. Semakin besar nilai koefisien korelasi menunjukkan 18 Analisis potensi. yang bersumber dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. tenaga yang tidak terlalu banyak. memerlukan waktu yang lebih cepat. Dibandingkan dengan sensus.2. yaitu cara sensus dan cara sampling (Supranto. pengumpulan data dengan cara sampling membutuhkan biaya yang jauh lebih sedikit. yaitu data dari pelaksanaan KK pengusahaan pertambangan tembaga yang ada di Indonesia. Departemen Keuangan. Universitas Indonesia .. dan dapat menghasilkan cakupan data yang lebih luas serta terperinci. Sensus. Data yang diperoleh dari hasil sampling merupakan data perkiraan (estimate value). adalah cara pengumpulan data dimana seluruh elemen populasi diselidiki satu persatu. Metode Pengumpulan Data Di dalam statistik dikenal 2 (dua) cara pengumpulan data.. maka penulis tidak menggunakan metode pengumpulan data secara sampling. 2000). Perusahaan pemegang KK (PT FIC dan PT NNT) dan Biro Pusat Statistik (BPS).BAB III METODOLOGI PENELITIAN DAN HASIL PENELITIAN LAPANGAN 3.. Data yang diperoleh sebagai hasil pengolahan sensus disebut data yang sebenarnya (true value) atau sering disebut dengan parameter. Namun yang perlu diperhatikan bahwa cara sensus mahal biayanya serta memerlukan banyak tenaga dan waktu. JokoSudiarto. FE UI.1. Koefisien Korelasi Digunakan untuk mengukur keeratan hubungan antara variabel tidak bebas Y dengan variabel bebas X. Dalam penelitian ini penulis menggunakan data parameter. Sedangkan sampling adalah cara pengumpulan data dimana yang diselidiki adalah elemen sampel dari populasi. Jika nilai yang dihitung berdasarkan seluruh elemen populasi disebut parameter maka yang dihitung berdasarkan sampel disebut statistik. 2009.

. Kegunaannya adalah untuk mengukur keseragaman terhadap data yang sedang diteliti. Oleh sebab itu tolak ukur untuk mengetahui pengaruh tersebut dapat dilihat dari hasil penghitungan nilai koefisien variasi. Regresi 3. FE UI. sedangkan variabel bebas X adalah sebagai berikut: E P T = = = Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg) Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg) Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton) 3. variabel yang menjelaskan Universitas Indonesia Analisis potensi.19 hubungan semakin erat dan sebaliknya. Adapun rumusnya. Pengertian Analisis regresi berkenaan dengan studi ketergantungan satu variabel.. Perak dan Tembaga terhadap kandungan mineral ikutan Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual. pada satu atau lebih variabel lain.3. . variabel tak bebas. berarti menunjukkan semakin seragam atau variasinya semakin kecil.1. 2009. Semakin kecil koefisen variasi dari data yang sedang dianalisis. Koefisien korelasi merupakan akar kuadrat dari koefisien determinasi. 3. Semakin kecil nilai koefisien variasi yang dihasilkan menunjukkan adanya pengaruh mineral Emas. yaitu: R = √R2 Dalam penelitian ini variabel tidak bebas Y adalah kandungan mineral Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual.. Perak dan Tembaga untuk menentukan kandungan mineral ikutan Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual . Koefisien Variasi Analisis koefisien variasi (coefficient of variation) adalah menyatakan persentase deviasi standar dari rata-ratanya. JokoSudiarto. Tujuan analisis adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah penjualan Emas.4.4.

pada akhirnya dari beberapa teori atau lainnya. tidak pernah dapat menetapkan hubungan sebabakibat: gagasan kita mengenai sebab-akibat harus datang dari luar statistik. . . 2009. Kendall dan Stuart seperti dikutip oleh Gujarati mengatakan: Suatu hubungan statistik. . . . Jika terdapat N-observasi maka persamaan regresi bergandanya dapat ditulis: Y1 = b 1+ b 2 X21 + b 3 X31 + b 4 X41 … + b k Xk1 + u1 Y2 = b 1+ b 2 X22 + b 3 X32 + b 4 X42 … + b k Xk2 + u2 Y3 = b 1 + b 2 X23 + b 3 X33 + b 4 X43 … + b k Xk3 + u3 . .4. dengan maksud menaksir dan atau meramalkan nilai ratarata hitung (mean) atau rata-rata (populasi) variabel tak bebas. . Meskipun analisis regresi berurusan dengan ketergantungan satu variabel terhadap variabel lain. bagimanapun kuat dan sugestif. namun ini tidak berarti hubungan sebab akibat. .2. 1995).. JokoSudiarto. …. . Bentuk modelnya secara umum. yaitu: Yi = b 1 + b 2 X2i + b 3 X3i + ui Dimana : Y X2 X3 u i = = = = = Variabel tak bebas (dependent variable) Variabel yang menjelaskan Variabel yang menjelaskan Faktor gangguan (disturbance) Menyatakan observasi (pengamatan) yang ke i.. . . Fungsi Regresi Berganda Apabila terdapat 2 (dua) atau lebih variabel maka disebut dengan regresi berganda. dipandang dari segi nilai yang diketahui atau tetap (dalam pengambilan sampel berulang) variabel yang menjelaskan (yang belakangan) (Gujarati.. Yn = b 1 + b 2 X2n + b 3 X3n + b 4 X4n . . . + b kXkn+ un Universitas Indonesia Analisis potensi.. …. FE UI. 3..20 (explanatory variabel).. ..

. koefisien regresi tidak nol sehingga signifikan. Pembentukan Persamaan Regresi Dalam pembentukan persamaan regresi dibutuhkan kriteria dalam pemilihan variabel terbaik. Universitas Indonesia Analisis potensi. FE UI.5. JokoSudiarto. Cara Pengujian: Membandingkan antara t-statistik dengan t-tabel berdasarkan a tertentu (misalnya 5%). apakah model mampu menjelaskan Y. Dapat dilihat dengan memperhatikan tanda koefisien hasil pendugaan apakah telah sesuai dengan teori ekonomi yang berlaku. bk ) Persamaan ini merupakan regresi berganda sehingga perlu melihat Koefisien Determinasi dari nilai Adjusted R-Squared. Hipotesis: H0 : b 1 = 0 . yaitu: · Uji Ekonomi: yaitu arah dan pengaruh. H1 : b 1 ≠ 0 . 2009. koefisien regresi tidak berbeda nyata dari nol... ….. Tahapan Dalam Membuat Analisis Regresi Adapun tahapan-tahapan dalam membuat analisa regresi berganda adalah sebagai berikut: 1. Estimasi koefisien regresi ( b . · Uji Statistika: Uji t. Variabel terbaik harus memenuhi kriteria– kriteria seperti dibawah ini. Pengujian Signifikansi Parsial atau Individual (uji-t) Adalah untuk menguji apakah suatu variabel bebas (X) berpengaruh atau tidak terhadap variabel tidak bebas (Y).21 3. F dan lain-lain. bo . 3. 2.

Terima H0 t.k ) > F ( a /2.1) (1 . Pengujian model secara umum (uji-F) Untuk menguji apakah model secara keseluruhan mampu secara signifikan menjelaskan variabel terikat. 2009.R 2 ) /( N . model tidak signifikan menjelaskan Y..k ) Tolak H0 dimana: N K = = = = = banyaknya observasi Banyaknya variabel bebas Level of significance Nilai pendugaan koefisien regresi ke-i Standar eror pendugaan koefisien regresi ke-i a bI se b i 4. . Terima H0 F-statistik= R 2 /(k . N . Berdasarkan taraf nyata a (misalnya 5%) diharapkan H0 ditolak.k )). Tolak H0 Universitas Indonesia Analisis potensi. ≤F ( a /2.22 £ t (a / 2. Cara Pengujian: Membandingkan antara F-statistik dengan F-tabel berdasarkan a tertentu (misalnya 5%). Hipotesis: H0 : b 1 = b 2 = 0. N . JokoSudiarto..(N-k).statistik = bi se( b i ) ^ ^ > t (a / 2. H1 :tidak semua b 1 = 0.(N-k). FE UI..model secara signifikan menjelaskan Y.

FE UI.k SST / N . JokoSudiarto.d. Cara Pengujian: R2 = ESS RSS =1TSS TSS SSE / N . ... PT NNT dan Departemen ESDM.23 Dimana: R2 N K 5. = = = ESS/TSS banyaknya observasi banyaknya variabel bebas Uji Koefisien Determinasi (Uji R2) Menguji berapa persen model dapat menjelaskan variabel terikat. karena nilai R-square sangat dipengaruhi oleh banyaknya variabel bebas (semakin banyak variabel bebas maka semakin tinggi R-square) serta dipengaruhi oleh banyaknya observasi (makin banyak observasi makin kecil R-square). bukan R-square. 2009. Data konsentrat tembaga yang dijual tahun 2003 s. Dalam regresi berganda yang menjadi patokan adalah adjusted R-square.. Nilai R2 berkisar antara 0 dan 1 (0≥ R2 ≥1). harapan R2 = 1. Data penjualan Emas. 2007 bersumber dari PT FIC dan PTNNT.d. 2007 bersumber dari PT FIC. Universitas Indonesia Analisis potensi.6. Perak dan Tembaga tahun 2003 s.1 Adjusted-R2 = 1 Di mana : TSS RSS SSE N k = = = = = Total Sum Square (jumlah kuadrat nol) Regression Sum Square (jumlah kuadrat regresi) Sum Square Error (jumlah kuadrat error) banyaknya observasi banyaknya variabel bebas 3. 2. Data Data yang dipergunakan untuk analisis ini berasal dari berbagai bersumber. yaitu: 1.

.50 80.50 24.00 80.7 Rata-rata 30. Hasil Penelitian Lapangan 3. 6. JokoSudiarto. Data kandungan mineral Sulfur dan Besi tahun 2003 s.85 Satuan % gr/T gr/T % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah). PT NNT dan Hasil Penelitian LPKM ITB 4. 6. 3. Mineral Tembaga (Cu) Emas (Au) Perak (Ag) Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) Kandungan Mineral dalam Konsentrat Range 28-33 28-32 69-92 22-28 28-34 7-9 1. 4. 3..00 8. 5. 1. 7.24 3.1. Rata-rata kandungan masing-masing mineral ikutan yang terdapat dalam setiap metric ton konsentrat tembaga yang diproduksi oleh perusahaan sesuai dengan ingredient content disajikan dalam tabel berikut: Tabel 1: Ingredient Content PT FIC No.3 Rata-rata 30. FE UI.7. Data ingredient content bersumber dari PT FIC.50 25.50 30.50 7. 2009.15 Satuan % gr/T gr/T % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah). 5. 1.. 2.00 30. 2005 diperoleh dari rata-rata ingredient content dikalikan jumlah konsentrat tembaga yang dijual. Produksi dan Penjualan Proses produksi pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung beberapa mineral ikutan. 2. . 7. 4.4-2.6-2. 3.7.00 2. Mineral Tembaga (Cu) Emas (Au) Perak (Ag) Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) Kandungan Mineral dalam Konsentrat Range 25-35 25-34 58-103 18-30 25-36 5-10 1.00 29.50 1. Universitas Indonesia Analisis potensi.00 31. Tabel 2: Ingredient Content PT NNT No.d.

65 Tembaga (ton) 287.698.00 177.212.12 611.560.803. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Emas (kg) 100.00 22.00 320. 4.00 48.00 161.118.106.00 396..00 57.563.567.00 512.. 4.523.200.303.00 577.778.00 Perak (kg) 183. 5.203.00 2.605.00 11.009.00 219.685.734.00 581.00 886.007.00 146.00 789.00 903.492.00 50.634.25 Kandungan unsur mineral dalam konsentrat tembaga tersebut merupakan hal yang disyaratkan dalam kontrak penjualan antara penjual dan pembeli.00 3.00 221..564.00 17.00 1.388.00 224.00 68.148.287.00 726. . Realisasi penjualan yang dilaporkan oleh perusahaan ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 5: Realisasi Penjualan PT FIC No 1.306.973.761.099.00 83.00 13.00 205. 5.293. 4.00 2.393. 2.200.053.65 57.344. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Konsentrat (MT) 2.00 306.407.025.279. 3.00 1.242.214.00 396.347.062.00 Emas (kg) 99. 2.179.904.320.977.00 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).787.568.00 3.281.612.121. FE UI.00 108.357.12 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).00 106.688. 2009.931.448. 3.335.307.682.00 4.054.00 82.106.00 Perak (kg) 60. Realisasi produksi yang dilaporkan oleh perusahaan ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 3: Realisasi Produksi PT FIC No 1.980.207.209.00 784.927. JokoSudiarto.948. Tabel 4: Realisasi Produksi PT NNT No 1. 3.00 1.00 520.00 793.287.359.093.00 147.00 Tembaga (ton) 718.00 Perak (kg) 184.00 890.00 270.032.00 58.00 163.00 22.00 Tembaga (ton) 721.926.505.645. 2.00 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).550.00 2.120. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Konsentrat (MT) 932.00 70.00 Emas (kg) 18.899.857.00 94. Universitas Indonesia Analisis potensi. 5.00 47.00 714.988.336.00 167.234.

00 PT NNT (US$) 289.00 4.98 65. 4.640.200.250.00 19.850.7.89 248.343.00 13.00 269.761. 4.532.850.620.63 262. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 PT FIC (US$) 608.00 887.669.284.850.296.679. kewajiban kontraktor kepada pemerintah yang digolongkan dalam Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah Iuran Tetap/Deadrent dan Iuran Eskploitasi/Royalty.26 Tabel 6: Realisasi Penjualan PT NNT No 1. .00 3.63 Jumlah (US$) 898.620. Realisasi Penyetoran PNBP Sesuai dengan kontrak karyanya.336. 5..00 898..470.215.00 69.200.426.00 67..00 311. 3. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Emas (kg) 18.00 289.324.815. 5.00 323.00 22.850. 3.00 1.00 48. 3.575. rincian disajikan pada Lampiran 1 dan 2.050.63 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).446.05 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).00 22.98 Tembaga (ton) 287.63 871.849.53 1.52 97.2.00 608.00 608.850.257. 2009.470.044.086. JokoSudiarto.888.00 608.382.00 278. 2.00 871.857.949. Realisasi pembayaran Iuran Eksploitasi/Royalti yang telah dilakukan oleh kedua perusahaan untuk periode tahun 2003 sampai dengan 2007 adalah sebagai berikut: Universitas Indonesia Analisis potensi.404.050. Realisasi pembayaran Iuran Tetap/Deadrent yang telah dilakukan oleh perusahaan untuk periode 2003 sampai dengan 2007 adalah sebagai berikut: Tabel 7: Realisasi Penyetoran Iuran Tetap No 1.923.00 262. FE UI.00 608. 2.442.52 Perak (kg) 60.63 194.

.14 482.419..632.41 140. 4.421.865.315. Hal ini telah sesuai dengan Pasal 13 KK yang menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral hasil produksi.127.38 578.367. baik ke smelter atau trader. 5. 2.829. FE UI. JokoSudiarto.059.24 96.335.760.370.332. pembeli hanya bersedia membayar logam yang terkandung di dalam konsentrat yang dapat diproses lebih lanjut secara ekonomis sehingga mendatangkan penghasilan bagi smelter. 5.97 PT NNT (US$) 18.172.526.92 158. Ingredient content merupakan syarat-syarat atau kondisi yang disepakati oleh penjual dan pembeli.795. 3.7.73 134. rincian disajikan pada Lampiran 3 dan 4. perusahaan hanya menyetorkan royalti atas mineral yang dibayar oleh pembeli yaitu tembaga. 3.983.584.368. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 PT FIC (US$) 32.524.3. Proses produksi pertambangan tembaga menghasilkan konsentrat tembaga yang akan dijual kepada pembeli.190. Rangkuman Hasil Wawancara Rangkuman hasil wawancara dengan wakil kedua perusahaan dapat diuraikan sebagai berikut: 1.73 20.233. dengan syaratsyarat atau kondisi yang disepakati oleh penjual dan pembeli.130.51 17.08 16. 2009.144. 4. .274.31 23.005.169.835.. Sesuai dengan perhitungan dan penyetoran royalti.27 Tabel 8: Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti No 1.87 Jumlah (US$) 51.13 71. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. 3.82 47.81 150.571.60 147.87 126.894.978.539.106. Dalam praktik perdagangan konsentrat. emas.84 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah). Universitas Indonesia Analisis potensi. yang berisi persentase atau jumlah kandungan masingmasing mineral ikutan dalam konsentrat tembaga. dan perak.888.743. 2. Perhitungan dan penyetoran kewajiban iuran tetap telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam KK.153.

maka dengan PP Nomor 13 Tahun 2000 Universitas Indonesia Analisis potensi. 7. 3. Wawancara dengan Kepala Seksi Mineral pada Direktorat Pembinaan Program Mineral. Beberapa logam bahkan dikategorikan sebagai pengotor konsentrat (impurities) sehingga. PP Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. Batubara dan Panas Bumi. Dalam konsentrat tembaga terdapat beberapa logam di luar tembaga. Bagi perusahaan pemegang kuasa pertambangan (KP) besarnya tarif dan dasar pengenaannya diatur dalam peraturan pemerintah. Beberapa smelter saat ini dapat mengolah sulfur untuk dimanfaatkan oleh perusahaan petrokimia dengan syarat lokasi pengolahan sulfur berdekatan dengan lokasi pabrik petrokimia. 2. emas dan perak yang berdasarkan teknologi saat ini tidak memiliki nilai ekonomis untuk diolah lebih lanjut. Sedangkan bagi pemegang kontrak karya (KK) pembayaran royalti didasarkan pada ketentuan yang telah diatur dalam KK yang bersangkutan. melainkan merupakan upaya untuk meminimalkan dampak polusi yang diakibatkan oleh buangan sulfur dari pabrik smelting. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral difokuskan kepada kebijakan tentang penetapan tarif iuran eskploitasi/eksplorasi/royalti khususnya pertambangan tembaga. FE UI.. besarnya tarif royalti didasarkan pada tingkat produksi yaitu tarif dalam US$ dikalikan dengan jumlah satuan. . JokoSudiarto. Ditjen Mineral. Perusahaan pemegang Kuasa Pertambangan (KP) dan Kontrak Karya (KK) wajib membayar iuran eksplorasi atau iuran eksploitasi (royalti) untuk hasil produksi bahan galian yang diperoleh dari wilayah kuasa pertambangan atau wilayah Kontrak Karya atau wilayah usaha pertambangan lainnya sesuai dengan tarif iuran yang telah ditetapkan. Batubara dan Panas Bumi. 4. justru perusahaan dikenakan penalti.. Rangkuman hasil wawancara adalah sebagai berikut: 1. Karena pengenaan tarif dengan harga tertentu dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ekonomi. 2009. Hal ini bukan merupakan upaya untuk mendapatkan nilai ekonomis dari sulfur. yang sampai dengan saat ini telah terjadi dua kali perubahan.. jika kandungannya melampaui ambang batas.28 6.

Departemen Keuangan adalah sebagai berikut: 1. . 2009. emas dam perak... sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dibayar oleh pembeli (seperti besi. sistem tarif diubah dengan menggunakan sistem persentase (%) dari harga jual. 9. sulfur. Masalah penetapan tarif PNBP merupakan kewenangan departemen teknis. Cara penghitungan sebagai dasar pengenaan royalti. emas dan perak. bisa menggunakan “fixed rate” yaitu tarif tetap atas tonase yang diproduksi. Hal ini sesuai dengan KK-nya. Direktorat Jenderal Anggaran. 8. karena pihak pemerintah belum pernah melakukan pengujian atau penelitian atas proses produksi konsentrat tembaga mulai dari hulu (di mulut tambang) sampai dengan pemurnian atau pengolahan konsentrat tembaga menjadi logam.. 6. dll) sehingga tidak dikenakan royalti. yang antara lain menyebutkan bahwa royalti hanya dikenakan atas mineral ikutan yang dibayar oleh pembeli (tembaga. 7. yaitu persentase (%) dikalikan harga jual. Rangkuman hasil wawancara dengan salah satu kepala subdirektorat pada Direktorat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). FE UI. Selanjutnya pemerintah menerbitkan PP Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. yang berisi antara lain besarnya tarif royalti didasarkan pada persentase (%) dikalikan harga jual dan mencabut PP-PP sebelumnya. emas dan perak). Universitas Indonesia Analisis potensi. JokoSudiarto. 5. PT FIC dan PT NNT hanya menyetorkan royalti atas mineral tembaga. Sulit sekali untuk membuktikan hal tersebut.29 tentang Perubahan atas PP Nomor 58 Tahun 1998. Alasan lain mengapa mineral ikutan tersebut tidak dikenakan royalti yakni mineral tersebut tidak mempunyai nilai ekonomis atau nilai jual bahkan dalam kondisi tertentu bisa bersifat sebagai pengotor yang akan mengurangi nilai jual tembaga. dalam hal ini adalah Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Sangat setuju apabila mineral ikutan lainnya tersebut dikenakan royalti walaupun hal ini sulit untuk dilakukan karena harus menegosiasi ulang klausul-klausul dalam KK. misalnya sekian dollar per metric ton seperti yang tercantum dalam lampiran KK-nya (tarif royalti tambahan).

Demikian juga dengan besarnya PNBP yang terkait dengan kontrak tersebut harus sesuai dengan apa yang telah disepakati.30 Departemen Keuangan khususnya Direktorat PNBP hanya menerima dan mencatat penerimaan PNBP dan secara periodik dilakukan rekonsiliasi dengan departemen teknis yang bersangkutan. 2. 5. Dari kasus ini nampak bahwa terdapat sebagian kekayaan alam yang telah diambil dari bumi kita.. 6. negara telah merendahkan diri dengan memposisikan yang sama dengan pihak kontraktor. sehingga semua pihak yang terkait dengan kontrak tersebut harus mematuhi seluruh klausul dalam kontrak atau perjanjian tersebut. negara harus berani untuk menegosiasi ulang klausul-klausul dalam KK yang bersangkutan. 4. seperti yang diamanatkan dalam undang-undang bahwa semua sumber daya alam merupakan kekayaan negara yang harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan sesuai dengan prinsip bahwa PNBP merupakan hak mutlak negara. . Dengan demikian... Rangkuman Laporan Terkait Rangkuman Laporan Hasil Pemeriksaan atas Pengelolaan PNBP dari Iuran KK pada Departemen ESDM dan PT Freeport Indonesia Tahun Anggaran 2004 dan 2005 (Badan Pemeriksa Keuangan: 2006). namun demikian baik negara ataupun rakyat tidak menikmatinya.4. Dalam hal kontrak karya. 2009. adalah sebagai berikut: Universitas Indonesia Analisis potensi.7. JokoSudiarto. perak dan tembaga) yang berada dalam konsentrat tembaga tidak bisa dikenakan royalti. Alasannya. Dengan kata lain hanya negara yang berhak menentukan besarnya tarif PNBP bahkan bisa saja tanpa kompromi dengan pihak ketiga. 3. karena di dalam klausul-klausul KK menyebutkan demikian. Inilah pangkal permasalahannya. Sangat setuju apabila mineral ikutan lainnya yang terdapat dalam konsentrat tembaga dikenakan royalti. 3. agar mineral ikutan tersebut dapat dikenakan royalti. FE UI. mineral ikutan lainnya (selain emas. Sesuai dengan prinsip PNBP bahwa semua PNBP seharusnya mutlak hak negara artinya negaralah yang mempunyai “bargaining power” lebih besar.

6..000 kg x USD0.004/kg) tidak dapat direalisasikan. JokoSudiarto.256. 7. dan pajak-pajak. Kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak adalah pembayaran atas iuran tetap. perusahaan harus membayar suatu royalti tambahan yang dapat berlaku berkenaan dengan mineral yang diekspor yang dibayar kepada perusahaan oleh pembeli.442. Smelting di Gresik pada saat ini 95% dari gas tersebut dapat diproses untuk menghasilkan asam sulfat dan gipsum... 3. Hasil pengujian dilakukan sendiri oleh PTFI dan ditegaskan melalui hasil konfirmasi diketahui bahwa dalam konsentrat tersebut masih ada kandungan berbagai mineral lain diantaranya adalah belerang (sulphur) yang kadarnya 2530%. 4. Rangkuman Laporan Tim Optimalisasi Penerimaan Negara mengenai proses peleburan konsentrat tembaga di PT Smelting Gresik (TOPN: 2007) dapat Universitas Indonesia Analisis potensi. Dalam proses peleburan konsentrat.564 ton x 1.00 (3. 2. belerang ini merupakan bagian gas buang dalam bentuk belerang sulfida (SO2) yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan.”). Perhitungan kewajiban perusahaan KK dilaksanakan secara self assessment oleh perusahaan. namun oleh PT. iuran produksi/royalti. .610. sedangkan penjualan ke PT Smelting Gresik bukan kategori dimaksud pasal ini. Akibatnya potensi penerimaan negara dari mineral ikutan belerang untuk TA 2004 dan TA 2005 (semester I) minimal sebesar USD14.004/kg untuk mineral ikutan belerang yang masih dapat dimanfaatkan dan UU No. Menurut penjelasan pihak PTFI meskipun belerang masih mempunyai nilai ekonomis namun dalam penjualan konsentrat tidak diperhitungkan sebagai mineral ikutan. dengan alasan bahwa sesuai dengan Pasal 13 huruf h KK (“.. 42 tahun 2002 tentang pelaksanaan APBN pasal 8 yang menyatakan pihak departemen berkewajiban mengintensifkan penerimaan... Hal tersebut tidak sesuai dengan Lampiran G pada KK yang menetapkan adanya iuran royalti sebesar USD0. 2009. 5. FE UI.31 1. Untuk penjualan dalam negeri salah satu konsumen konsentrat terbesar adalah PT Smelting Gresik yang bergerak di bidang peleburan dan pemurnian tembaga dengan produk sampingan berupa asam sulfat dan gipsum.

4.22%.4%) 2. Terak yang dihasilkan dijual kepada PT Semen Gresik (Persero) sebagai bahan baku pembuatan semen. pirit (FeS2) dan terikat dengan unsur-unsur ikutan lainnya. Produk utama dalam proses pengolahan konsentrat adalah katoda tembaga (copper cathode). emas dan perak.. 3. Kandungan belerang di dalam konsentrat tembaga berkisar antara 29. magnesia (MgO) alumina (AI2O3) dan lain-lainnya. besi teroksidasi membentuk besi oksida (FeO) yang kemudian bersama-sama senyawa silika (SiO2). Smelter Plant Sumber data: Laporan Tim OPN tahun 2007 (diolah). kalkosit (CuS). Pengolahan Lumpur 1. 2009. kovelit (CuS).. JokoSudiarto. sulfur (SO2).32 diuraikan sebagai berikut: 1. Pada proses peleburan dan "converting". Konsentrat tembaga umumnya mengandung besi (Fe) antara 21.25.70% 30. Sedangkan produk sampingannya adalah terak (molten slag). Selenium Anoda 2.95% dan ditemukan dalam mineral kalkopirit (CuFeS2). Refinery Plant KatodaTembaga (Cu:99. Gambaran tahapan proses produksi serta output yang dihasilkan pada masing-masing tahapan dapat disajikan sebagai berikut : Tabel 9: Produksi dan Output PT Smelting Gresik Output/Produk Produk Utama Produk Sampingan Anoda Tembaga 1. selenium dan tellurium. Tellurium Tahapan Proses Pengolahan 1. bornit (Cu5FeS4). kapur (CaO). Perak 2.. membentuk terak. 2. dan ditemukan dalam senyawa dengan logam tembaga dan belerang. . Gas buang yang dihasilkan oleh pabrik peleburan tersebut diproses lebih lanjut Universitas Indonesia Analisis potensi. belerang menjadi bagian gas buang sebagai belerang oksida (S02). digenit (CU5S9). Pada waktu proses peleburan dan converting. Proses produksi konsentrat menjadi tembaga. pada dasarnya meliputi beberapa tahapan kegiatan dengan jenis output/produksi yang berbeda untuk produk utama (main product) dan produk sampingan (by product) pada masingmasing tahapan tersebut. Sulfur (SO2) 3. 5. Gypsum 2. gipsum. FE UI.93% . Emas 1.99%) Anoda Slimes (Lumpur Anoda) 3. Terak (Molten Slag) (Cu :99.

perak (Ag) dan lainnya. FE UI. dan lainnya membentuk terak. emas (Au). Sedangkan pemasaran konsentrat tembaga dilakukan secara langsung antara penjual (seperti PT FIC) dengan para pembeli (smelter) ataupun secara tidak langsung dengan perusahaan dagang (trader).. Dalam memasarkan konsentrat tembaga. magnesia (MgO). Namun demikian dalam hal tertentu pemasaran konsentrat tembaga dapat mengikuti ketentuan-ketentuan khusus. PT FIC juga tidak memperoleh pembayaran bahkan juga tidak dikenakan denda (penalty). emas dan perak yang terkandung dalam konsentrat tersebut. gas SO2 dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk dan gipsum dan dijual ke PT Petrokimia Gresik. Pada proses peleburan konsentrat tembaga. Commodity Exchange (COMEX) di New York dan London Bullion Market (LBM).. walaupun jumlahnya relatif besar. Kandungan besi dalam terak berkisar antara 30-40% yang relatif rendah dan sulit untuk diekstraksi logam besinya secara menguntungkan. . Pada pabrik peleburan PT Smelting Company di Gresik. unsur besi akan teroksidasi menjadi besi oksida (FeO) yang bersama senyawa-senyawa: silika (SiO2). 5. Terhadap unsur-unsur ikutan dan senyawa pengotor yang terkandung dalam konsentrat tembaga yang jumlahnya relatif kecil. 4. alumina (Al2O3). 2009. Rangkuman Laporan Akhir. 3. yaitu: 1. JokoSudiarto.33 untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gypsum (CaS042H2O). seperti tembaga (Cu).. Secara situasional. Terhadap unsur-unsur besi (Fe) dan belerang (S) yang terkandung dalam konsentrat tembaga. kapur (CaO). Perdagangan logam. terak tersebut dapat dijadikan bahan baku semen dan dipakai Universitas Indonesia Analisis potensi. Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Konsentrat Tembaga PT FIC. yang didasarkan pada perjanjian yang bersifat umum dan relatif sama. (Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) ITB: 1999). 6. PT FIC hanya memperoleh pembayaran untuk logam-logam tembaga. 2. PT FIC tidak memperoleh pembayaran sama sekali. pada dasarnya mengacu pada harga-harga yang diterbitkan oleh London Metal Exchange (LME).

unsur belerang murni. dan lainnya.. sedangkan unsur belerang akan menjadi bagian gas buang yang selanjutnya dapat diubah menjadi produk tertentu. Dalam pabrik peleburan konsentrat tembaga. SO2 cair.. 2009. emas dan perak yang terdapat dalam kandungan konsentrat tembaga. Sedangkan unsur belerang akan teroksidasi menjadi gas SO2. 6. Unsur besi akan menjadi bagian dari terak..n. seperti halnya pabrik PT Smelting Company di Gresik. unsur besi dan belerang yang terdapat dalam konsentrat tembaga akan merupakan bagian limbah proses. PT FIC hanya diwajibkan oleh Pemerintah RI untuk membayar royalti terhadap logam-logam tembaga.34 sebagai “sand blast”. Gas tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4). . FE UI. Universitas Indonesia Analisis potensi. Baik terak maupun produk tertentu tersebut dapat dijual. 7. JokoSudiarto. gipsum (CaSO4.H2O).

Ada dua implikasi yang dapat diambil dari hal tersebut. Analisis Cakupan Kontrak Karya yang Berlaku Untuk Pertambangan Tembaga Dalam Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945 dan Pasal 4 ayat (1) Undang- undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara disebutkan bahwa mineral dan batubara sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan merupakan kekayaan nasional yang dikuasi oleh negara untuk sebesarbesarnya kesejahteraan rakyat. JokoSudiarto. Universitas Indonesia .1. Salah satu bentuk kerja sama itu adalah Kontrak Karya (KK). 38 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.. Hak penguasaan negara berisi wewenang untuk mengatur. serta berisi kewajiban untuk mempergunakannya sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. mengurus dan mengawasi pengelolaan atau pengusahaan mineral dan batubara.. Dalam pengusahaan mineral dan batubara.BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4. Hal tersebut sesuai dengan pasal 10 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan dan Pasal 37. FE UI. 2009. yang merupakan suatu bentuk perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan 35 Analisis potensi. Hak negara menguasai atau hak penguasaan negara merupakan konsep yang didasarkan pada organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat. Sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat merupakan tujuan dari setiap pengelolaan dan penggunaan sumber daya alam nasional. 2) mineral dan batubara tersebut untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. pemerintah dapat melaksanakan sendiri dan/atau menunjuk kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan sendiri oleh pemerintah. yaitu: 1) negara menguasai mineral dan batubara sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan..

panas bumi. 2009. Dalam KK tersebut telah ditentukan hak dan kewajiban para pihak. . Hak Pemerintah RI adalah menerima pajak.36 perusahaan swasta asing atau patungan antara asing dengan nasional (dalam rangka Penanaman Modal Asing) yang perusahaannya berbadan hukum Indonesia (Perseroan Terbatas) untuk melaksanakan usaha pertambangan pengusahaan mineral (tidak termasuk minyak bumi. Perubahan terhadap terms and conditions kontrak hanya dimungkinkan apabila didasarkan atas kesepakatan para pihak yang kemudian dituangkan secara resmi dalam bentuk amandemen kontrak. Terdapat dua KK pengusahaan pertambangan tembaga di Indonesia.. Berdasarkan analisis terhadap substansi kedua KK tersebut. Setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan. Pasal 13 dan Pasal 27 masing-masing KK. Obyek perjanjian dalam kedua KK tersebut adalah pemanfaatan dan pengembangan potensi pertambangan di Indonesia. tampak bahwa subyek hukum dalam KK itu terdiri dari dua pihak. Satu hal yang pasti adalah antara Pemerintah RI dengan pihak kontraktor terikat dalam perjanjian ikatan hukum. Jangka waktu masing-masing tahapan kegiatan dalam KK menjadi satu paket dalam kontrak yang bersangkutan. Pemerintah RI diwakili oleh Menteri Pertambangan dan Energi (saat ini Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral) dan pihak kontraktor yaitu PT FIC dan PT NNT. Hak dan kewajiban tersebut diatur dalam Pasal 2.. Pemanfaatan dan pengembangan tersebut dimulai dari tahap eksplorasi. yaitu KK antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991 dan KK antara Pemerintah RI dengan PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) tanggal 2 Desember 1986. JokoSudiarto. gas alam. FE UI. yaitu Pemerintah RI dan kontraktor. sesuai dengan kontrak karya pengusahaan pertambangan tembaga masing-masing. Kedua pihak terkena asas ”penghormatan” terhadap ketentuan dalam kontrak meliputi keseluruhan terms and conditions yang tercantum dalam kontrak. konstruksi dan eksploitasi. royalti. pemerintah menerbitkan surat keputusan tahap kegiatan sesuai dengan yang diminta oleh perusahaan KK yang bersangkutan. dan lain-lain yang Universitas Indonesia Analisis potensi.. radio aktif dan batubara) sesuai dengan jangka waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas pembelian dan penjualan barang kena pajak. pungutan-pungutan.37 merupakan penerimaan negara. kewajibannya adalah menjaga keamanan dan melindungi investasi yang ditanamkan oleh para investor. 2. . jasa teknik.. pajak penghasilan atas bunga. iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan. pajak-pajak. pungutan-pungutan administrasi umum dan pembebanan-pembebanan untuk fasilitas atau jasa dan hak-hak khusus yang diberikan oleh pemerintah sepanjang pungutan-pungutan tersebut telah disetujui oleh pemerintah pusat. 6. JokoSudiarto. adalah sebagai berikut: 1. yaitu kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan dan kewajiban iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. dividen. menyetorkan pajak atas pemindahan hak kepemilikan kendaraan bermotor dan kapal di Indonesia. Dari kewajiban-kewajiban kontraktor seperti diuraikan di atas. kecuali ditetapkan lain dalam KK. 4. dan jasa lainnya. FE UI. terdapat dua kewajiban kontraktor yang dikelompokan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Sementara itu. 12. pajak penghasilan badan atas penghasilan yang diperoleh perusahaan. pajak bumi dan bangunan (PBB). 9. 7. bea meterai atas dokumen-dokumen yang sah. 8.. Selanjutnya diuraikan secara rinci kedua kewajiban Universitas Indonesia Analisis potensi. Sementara itu. 11. jasa manajemen. 3. 10. kecuali ditetapkan lain dalam KK. pajak penghasilan perorangan. pembebanan-pembebanan dan bea-bea yang dikenakan oleh pemerintah daerah di Indonesia yang telah disetujui oleh pemerintah pusat. 5. iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. sewa. 2009. bea masuk atas barang yang diimpor ke Indonesia. kewajiban kontraktor (PT FIC dan PT NNT) yang berkaitan dengan penerimaan negara seperti yang tercantum dalam Pasal 13 masing-masing KK..

Dalam perhitungan tersebut tampak bahwa iuran tetap dapat diartikan sebagai biaya sewa lahan dari pengelola (pihak kontraktor) kepada pemilik lahan (pemerintah).. Artinya telah dilakukan usaha-usaha yang optimal untuk menggali PNBP tersebut.00. Sedangkan PT NNT telah menyetorkan iuran tetap sebesar US$1.63 pada periode yang sama. Universitas Indonesia Analisis potensi.086. FE UI. yaitu iuran tetap tahap operasi sesuai dengan surat keputusan mengenai penetapan luas wilayah dan tahap-tahap usaha pertambangan perusahaan yang bersangkutan. kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan. dan Laporan Hasil Audit Tim OPN.805. mudah bagi pihak-pihak terkait untuk melakukan pengecekan atau pengujian apakah pemerintah telah melakukan usaha-usaha yang optimal untuk menggali penerimaan tersebut. 2009.00/Ha. PT FIC telah menyetorkan iuran tetap sebesar US$3. Pertama. Dalam lampiran “D” tersebut ditetapkan bahwa tarif iuran tetap per tahun sebesar US$ 3.250.382. tidak terdapat PNBP yang berasal dari penyetoran iuran tetap tersebut yang belum tergali. Departemen ESDM.. diketahui bahwa kedua kontraktor telah melaksanakan kewajiban penyetoran iuran tetap sesuai dengan ketentuan tersebut di atas. sehingga sering disebut deadrent atau landrent dengan tarif tetap atau ”fixed rate” per Ha sesuai dengan surat keputusan mengenai penetapan luas wilayah masing-masing.044. Berdasarkan data-data hasil penelitian lapangan yang berasal dari laporan kedua kontraktor. Selama periode tersebut. . Pasal 13 point (i) kedua KK tersebut menyebutkan hal yang sama yaitu bahwa ”Perusahaan harus membayar tiap tahun sebagai iuran tetap yang akan dihitung menurut jumlah hektar yang termasuk data Wilayah Kontrak Karya atau Wilayah Pertambangan pada tanggal 1 Januari dan 1 Juli dari setiap tahun dan pembayaran dilakukan di muka dalam dua kali pembayaran masing–masing dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal-tanggal tersebut selama jangka waktu persetujuan dan dibayarkan sebagaimana ditetapkan dalam lampiran “D” Kontrak Karya”.. untuk periode 2003 sampai dengan 2007.00 dengan jumlah per tahun sebesar US$608. Dari data-data tersebut.38 PNBP tersebut. Dengan perhitungan dan cara pembayaran yang sederhana tersebut. JokoSudiarto. Rincian disajikan pada Lampiran 1 dan 2.

JokoSudiarto. 2009. Dibayar dalam mata uang rupiah. PCT = 1. proses produksi PT FIC Universitas Indonesia Analisis potensi.100. jumlah royalti yang dibayar adalah: CR = [ (P x ACP) – SRFS] x PCT P : Jumlah tembaga (pon) yang terkandung dalam konsentrat. dollar.100. yang diatur sebagai berikut: Harga tembaga/pon ≤ USD 0. PCT = 3. maupun mata uang lain yang disetujui bersama”.5% Harga tembaga/pon > USD 1. Pasal 13 point (ii) menyebutkan bahwa ”Perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral hasil produksi.900< harga tembaga/pon< USD 1. Dalam hal tembaga dijual dalam bentuk konsentrat. FE UI. tarif royaltinya adalah 1% dari harga jual. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli.. paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah berakhirnya setiap triwulan.900. Oleh karena itu.. PCT = 1. .39 Kedua..50% USD 0. Terdapat perbedaan substansi Pasal 13 KK yang mengatur tata cara perhitungan dan pembayaran kewajiban tersebut. Jatuh tempo setiap triwulan. pembahasan kewajiban tersebut akan diuraikan sesuai dengan kondisi masing-masing kontraktor sebagai berikut: 1) PT FIC. antara PT FIC dengan PT NNT. pengangkutan dan biaya penjualan lainnya PCT : Persentase. kewajiban iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan.5 + (ACP90)/10 Sedangkan logam mulia yang merupakan mineral ikutan dengan tembaga. dijual selama satu triwulan ACP SRFS : : Harga Tembaga Biaya peleburan dan pengolahan. Berdasarkan hasil penelitian lapangan. didasarkan kepada harga emas/perak yang berlaku.

Kandungan unsur mineral dalam konsentrat tembaga tersebut merupakan hal yang disyaratkan dalam kontrak penjualan antara penjual dan pembeli. Menurut PT FIC. artinya dalam setiap satu metric ton konsentrat tembaga terkandung unsur mineral tembaga sebanyak antara 25% X 1 ton = 0. artinya dalam setiap satu metric ton konsentrat tembaga terkandung unsur mineral emas sebanyak antara 25 gr s. Jumlah tonase mineral yang dihitung dalam kandungan konsentrat tersebut hanya tiga unsur mineral yaitu emas (Au). Tarif royalti tambahan sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran G. FE UI. Di dalam konsentrat tersebut terkandung beberapa mineral ikutan yang tidak dapat dipisahkan dari proses produksi (menyatu dalam konsentrat tembaga tersebut).. yang dijual oleh PT FIC kepada para pembeli (smelter dan trader). 34 gr. perak (Ag) dan tembaga (Cu). misalnya ingredient content mineral tembaga adalah antara 25% s. Di samping itu.40 menghasilkan konsentrat tembaga. Sehingga. 35%. realisasi produksi yang dilaporkan oleh PT FIC adalah produksi konsentrat tembaga dan ketiga unsur mineral tersebut. diantaranya adalah Universitas Indonesia Analisis potensi. Oleh karena itu.. . 35% X 1 ton = 0. sedangkan realiasi penjualan yang dilaporkan oleh PT FIC adalah penjualan ketiga unsur mineral tersebut. sedangkan unsurunsur mineral ikutan lainnya tidak dihitung tonasenya..35 ton. hanya tiga unsur mineral tersebut yang dibayar oleh pembeli sedangkan mineral ikutan lainnya dianggap sebagai limbah yang tidak ada nilai ekonomisnya. Demikian juga unsur mineral-mineral ikutan lainnya. Royalti Tambahan harus dibayar sepanjang suatu mineral dalam produksi perusahaan yang diekspor adalah satu mineral yang nilainya menurut kebiasaan umum dibayar kepada perusahaan oleh pembeli. seperti yang diuraikan pada Pasal 13 huruf h bahwa perusahaan harus membayar suatu Royalti Tambahan yang dapat berlaku berkenaan dengan mineral yang diekspor sebagai bijih yang tidak dapat dimanfaatkan dari Indonesia.d. sesuai dengan Pasal 13 point (ii) KK tersebut di atas. 34 (gr/T). Kandungan masing-masing mineral ikutan dalam setiap metric ton konsentrat tembaga yang diproduksi oleh PT FIC sesuai dengan ingredient content.25 ton s. Ingredient content mineral emas adalah antara 25 gr/T s. PT FIC hanya menghitung dan menyetorkan royalti atas penjualan ketiga unsur mineral tersebut.d.d. JokoSudiarto. 2009.d.

PT FIC juga tidak pernah menghitung dan menyetorkan royalti tambahan tersebut dengan alasan perusahaan tidak menerima pembayaran dari pembeli atas mineral belerang tersebut.00 30.4-2.242/ons US$ 4.456 ons US$ 296.154.50 7. 4.838 lbs US$ 0.41 mineral belerang (sulfur) dengan tarif sebesar USD4.00/ton.85 Satuan % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah). 3.430 ons US$ 5.. . Data penjualan · · · · · · · · · · Penjual Pembeli Pelabuhan tujuan Invoice Berat konsentrat Nilai Tembaga Berat dalam lbs Harga Emas Berat dalam ons Harga Perak Berat dalam ons Harga TCRC : : : : : : PT FIC Atlantic Copper.32 : : : : : : : 25. S. terdapat mineral ikutan dalam konsentrat tembaga yang belum dikenakan royalti.3 Rata-rata 24. Tabel 10: Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT FIC Kandungan Mineral dalam Konsentrat No.78844/lbs 57.834.50 1.251/ons 62. 2009. Namun demikian.255 DMT US$ 33.378.882.. Spanyol Nomor 1308 F tanggal 20 April 2003 37.. Dengan demikian. Mineral Range Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) 18-30 25-36 5-10 1. 2. FE UI.A. JokoSudiarto. 1.527. Contoh perhitungan kewajiban iuran eksploitasi/royalti dapat disajikan berikut ini.56 Universitas Indonesia Analisis potensi. seperti dicantumkan pada tabel berikut ini.573.

56 US$ 15.01/DJP/2000 tanggal 24 Februari Universitas Indonesia Analisis potensi. Dalam hal tembaga.05 US$ 170.400.60 Dalam periode 2003 sampai dengan 2007.633. Iuran Eksploitasi/produksi akan dihitung dengan tarip yang ditetapkan dalam Lampiran “F” sebagai berikut: “tonase atau jumlah berat yang digunakan di dalam perhitungan adalah jumlah yang diserahkan bagi pengapalan ekspor atau penjualan dalam negeri.47 · Emas 1% X US$ 296.175. jumlah penyetoran royalti sebesar US$443.251 X 57.12.378.834. Iuran eksplotasi/produksi akan dibayar dalam Rupiah atau mata uang lain yang disetujui bersama dan akan dibayar pada atau sebelum hari terakhir dari bulan setelah tiap triwulan”.732.691. JokoSudiarto.536. 2) PT NNT. Pasal 13 ayat 2 KK dapat diuraikan secara ringkas bahwa “Perusahaan akan membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral dari hasil produksi (sebagaimana dirumuskan dalam lampiran “F”) pada Wilayah Pertambangan.242 X 62.154. FE UI.TCRC 1. .430 ons Jumlah Royalti : : : : : : : US$ 20.. jumlah berat setiap mineral yang dikenakan iuran eksplotasi/produksi ditetapkan secara tepat dengan metode perhitungan yang dapat diterima secara internasional”. sepanjang setiap Mineral dari hasil produksi itu merupakan Mineral yang nilainya sesuai kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada Perusahaan oleh pembeli.213.175.272.78844 X 25..03 US$ 4. perhitungan royalti didasarkan pada Surat Direktur Jenderal Pertambangan Umum Nomor 310/20.58 US$ 401. 2009. Dalam hal konsentrat atau dore bullion.456 ons · Perak 1% X US$ 5.47 US$ 227.536.5% X US$ 15.838 lbs -/.009.. Rincian disajikan pada Lampiran 3.97 US$ 3.119.42 Perhitungan Iuran Eksploitasi/Royalti · Tembaga US$ 0.

b) Jika harga jual emas adalah US$400 per troy ounce atau lebih tinggi.00/ton. iuran yang dikenakan adalah {1+(S–10)/5}% dari harga jual...US$400 per troy ounce.K/844/MPE/1992 serta metode teknis perhitungan sesuai dengan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Nomor 514/844/DDJP/1992 tanggal 28 Desember 1992 tarif royalti untuk tembaga ditetapkan sebagai berikut: · Tingkat produksi ≤ 80. Universitas Indonesia Analisis potensi. iuran yang dikenakan adalah {1+(G–300)/100}% dari harga jual. perak dan tembaga.00/ton. b) Jika harga jual perak adalah US$15 per troy ounce atau lebih tinggi.000 Ton US $ 45. c) Jika harga jual (S) perak adalah diantara US$10-US$15 per troy ounce. Seperti halnya pada PT FIC. perhitungan royalti adalah sebagai berikut: a) Jika harga jual emas adalah US$300 per troy ounce atau lebih rendah. FE UI. iuran yang dikenakan adalah 2% dari harga jual.43 2000 perihal Pembayaran Iuran Eksploitasi/Produksi (Royalti) PT Newmont Nusa Tenggara. maka PT NNT hanya menghitung dan menyetorkan royalti atas mineral emas.000 Ton US $ 55.. . Dalam hal perak. Dengan demikian. seperti dicantumkan pada tabel berikut ini. JokoSudiarto. dan sesuai dengan Pasal 13 ayat (2) KK tersebut di atas. c) Jika harga jual (G) emas adalah diantara US$300 . Surat tersebut terkait dengan pengenaan tarif royalti untuk tembaga yang ditentukan berdasarkan Surat Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Nomor 2817/844/DJP/1996 tanggal 11 Nopember 1996 dengan mengacu pada Surat Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1166. iuran yang dikenakan adalah 2% dari harga jual. perhitungan royalti adalah sebagai berikut: a) Jika harga jual perak adalah US$10 per troy ounce atau lebih rendah. terdapat mineral ikutan lainnya dalam konsentrat tembaga yang tidak dikenakan royalti. iuran yang dikenakan adalah 1% dari harga jual. · Tingkat produksi > 80. iuran yang dikenakan adalah 1% dari harga jual. 2009. Dalam hal emas.

09) 5.919.98 X 9.999.05 ton (17.15 Satuan % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah) Contoh perhitungan kewajiban iuran eksploitasi/royalti dapat disajikan berikut ini. 2009.53 X 9. Jepang Nomor 000005 tanggal 20 Januari 2006 Nomor 2006-04-1 tanggal 30 Januari 2006 9. 3.Berat dalam ons .44 Tabel 11: Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT NNT Kandungan Mineral dalam Konsentrat No.09) : : : : : : : PT NNT Mitsubishi Material Corporation Naoshima.53 175.Grade .73 ton (0. 1.21 Universitas Indonesia Analisis potensi.737.00 2.23 ton (68.292 X 9.737.Grade .284.09) 22.09 DMT US$ 13.23/31.1035) US$ 9..55 ons (689.1035) US$ 561.Berat dalam ton .Harga : : : : 68.635..00 8.284. JokoSudiarto. .999.175. Data penjualan · Penjual · Pembeli · Pelabuhan tujuan · PEB · Invoice · Berat konsentrat · Nilai · Tembaga .Harga · Perak .69 : : : : 17.999..Berat dalam ons .292 2.98 689.6-2.701.Berat dalam ton .00 31.999.51 ons (175.05/31.Grade .Berat dalam ton · Emas . Mineral Range Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) 22-28 28-34 7-9 1.75 : : 0.7 Rata-rata 25. 2. 4.886. FE UI.

45 Perhitungan Iuran Eksploitasi/Royalti · Tembaga US$ 45. JokoSudiarto.75 X 5. Artinya.87. jumlah penyetoran royalti oleh PT NNT sebesar US$96..148.571. Rincian disajikan pada Lampiran 4. Nellor dalam buku yang sama (1995: 238-240) yang mengemukakan beberapa pengertian pengusahaan mineral.388. Jadi tidak tergantung dari besarnya produksi yang dihasilkan (dalam tonase) maupun besarnya pendapatan atau penjualan (dalam rupiah atau US$).81 : US$ 63.274. dimana PNBP tersebut merupakan pembayaran atas pelayanan yang dinikmati langsung oleh pengguna (pihak kontraktor)..635.851. Hal tersebut di atas senada dengan pendapat dari David C.. Pembayaran tersebut yaitu: 1) Lease bonuses. merupakan pembayaran tetap kepada pemerintah tidak tergantung dari keuntungan atau jumlah yang dihasilkan dari pengusahaan sumber daya mineral tersebut. PNBP yang berasal dari iuran tetap dan royalti kontrak karya tersebut dapat digolongkan sebagai user charges dalam kelompok user fees. FE UI. Dalam kontrak karya. selain membayar pajak-pajak sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku. lease bonuses ini dapat Universitas Indonesia Analisis potensi.919.51 ons · Perak 1% X US$ 9.00 X 2. 2009.69 X 22. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Gerwin Bell dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 104-107). pihak kontraktor yang mengusahakan atau mengolah sumber daya mineral diwajibkan membayar kepada pemerintah sebagai PNBP.L.94 : US$ 131. yaitu bahwa pemerintah merupakan pemilik lahan atau pemilik sumber daya mineral dimana pemerintah akan menerima pembayaran dari pengusahaan sumber daya tersebut di luar dari pajak penghasilan.314.55 ons Jumlah Royalti : : US$ 2.73 ton · Emas 2% X US$ 561. .175.04 US$ 196.79 Dalam periode 2003 sampai dengan 2007.

.46 diartikan sebagai kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan. Semakin tinggi harga atau nilai penjualan mineral maka semakin tinggi tarif royaltinya. 3) Resource Rent Tax (RRT). Ada dua makna dalam pengertian tersebut. dengan kata lain. Jadi tidak tergantung apakah sumber daya tersebut bermanfaat atau tidak oleh kontraktor yang bersangkutan.. Jelas di sini bahwa pengertian royalti dalam KK lebih sempit dibandingkan dengan pengertian royalti menurut pendapat David C. Artinya. Pengertian tersebut berbeda dengan KK. FE UI. Hal ini sangat beresiko bagi pemerintah sebagai pemilik sumber daya mineral. 2) Royalties. Kedua. merupakan pajak yang dikenakan apabila terdapat keuntungan atas pengelolaan atau pengusahaan sumber daya mineral. Nellor tersebut. Dengan demikian royalti hanya dapat dikenakan kepada kontraktor apabila kontraktor tersebut benar-benar telah menerima pembayaran dari pembeli.. royalti dikenakan atas sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor.L. Artinya. Di sisi lain. pemerintah akan kesulitan mengadministrasikan dan menentukan kewajaran besarnya penerimaan tersebut. karena pemerintah tidak akan memperoleh penerimaan sampai dengan proyek atau pengusahaan sumber daya mineral tersebut menguntungkan. sehingga pemerintah perlu melakukan pengawasan yang ketat. yaitu Pertama. yaitu di dalam Pasal 13 KK disebutkan bahwa royalti dibayarkan atas mineral yang dibayar oleh pembeli. royalti dibayarkan berdasarkan besarnya volume atau nilai dari sumber daya yang diusahakan. 2009. royalti bisa dihitung dari jumlah volume (misalnya metric ton) atau dari nilai sumber daya tersebut (misalnya nilai jual). RRT hanya dibayarkan oleh kontraktor apabila pengusahaan sumber daya mineral tersebut telah menguntungkan. pendapatan yang diperoleh telah melebihi atau di atas nilai investasinya.. Pemerintah harus menetapkan jumlah minimum royalti yang harus dibayar oleh pihak kontraktor atas besarnya volume atau nilai sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor tersebut. RRT tersebut dapat dianalogkan sebagai penerimaan royalti tambahan dari PT FIC dan pengenaan tarif progresif atas royalti. Universitas Indonesia Analisis potensi. JokoSudiarto.

Dengan demikian.. Jelas di sini bahwa cakupan royalti dalam KK lebih sempit dibandingkan dengan pengertian konsep PNBP tersebut.47 semakin tinggi harga atau nilai penjualan mineral maka semakin besar pula keuntungan yang diperoleh oleh kontraktor. untuk dilakukan penghancuran pada crushing pile dan hasilnya dikumpulkan pada surge pile. cakupan royalti dalam KK tersebut belum optimal buat pemerintah Indonesia.2. dikenakan atas pemanfaatan sumber daya alam (dalam hal ini adalah pengusahaan pertambangan). FE UI. Makna atau substansi pasal tersebut yaitu royalti di bidang pertambangan yang merupakan salah satu PNBP.. Artinya pemerintah Indonesia kehilangan kesempatan untuk memperoleh penerimaan yang lebih besar (opportunity loss). JokoSudiarto. · Concentrator Plant. Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP menerangkan bahwa salah satu PNBP adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. penentuan lokasi dari bahan galian yang akan dilakukan penambangan. ore dikumpulkan dalam coarse ore mill feed stockpile dan didistribusikan ke sag mill untuk dilakukan penggilingan menjadi butiran– Universitas Indonesia Analisis potensi. . siapapun yang telah mengusahakan pertambangan dan memanfaatkan hasil-hasilnya harus dikenakan royalti. Hal ini bisa dilihat dari uraian di atas bahwa masih terdapat potensi royalti dari mineral ikutan tembaga yang belum tergali. Selanjutnya dikirim ke konsentrator plant dengan menggunakan overland conveyor. sehingga pemerintah pun akan menerima royalti yang semakin besar. Menentukan Alasan yang Dapat Digunakan Untuk Mengenakan Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga Secara ringkas proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan untuk dapat menghasilkan konsentrat tembaga dapat diuraikan sebagai berikut: · Penambangan.. 4. antara lain royalti di bidang pertambangan. Artinya. 2009. Bahan galian yang diperoleh disebut bijih (ore).

· Filtration Plant. . Bahan galian ini disebut juga golongan bahan galian B sesuai dengan Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian. melalui belt conveyor dikirim ke tempat penyimpanan konsentrat (concentrate stockpile). yaitu: 1.. Dari proses produksi di atas diketahui bahwa hasil produksi perusahaan berupa konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung beberapa mineral ikutan. JokoSudiarto. Diagram alur proses produksi tersebut dicantumkan pada Lampiran 5. Seluruh unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga di atas termasuk dalam pengertian mineral. FE UI. baik menurut Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara maupun Article 3 angka 1 Japanese Mining Law Nomor 289.. 20 December. konsentrat bercampur air ditampung dalam discharge tank dan dilakukan pengepresan melalui dua buah filter press sehingga kadar air yang tersisa dalam konsentrat mencapai kadar 9%–12% dari berat konsentrat. Perhitungan dan penyetoran kewajiban iuran eksploitasi (royalti) telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam KK. Berdasarkan data-data hasil penelitian lapangan diketahui bahwa kontraktor (PT FIC dan PT NNT) hanya menyetorkan royalti atas mineral tembaga. Proses ini dilakukan untuk memisahkan dan meningkatkan konsentrat. 2009. 1950 Latest Amendment In 1962. Sedangkan menurut Pasal 34 ayat (2) Undangundang Nomor 4 Tahun 2009 pengusahaan pertambangan tembaga termasuk dalam pertambangan mineral logam. Dan termasuk di dalam jenis bahan galian vital. Pasal 13 KK menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi Universitas Indonesia Analisis potensi. dan perak sedangkan unsur mineral ikutan lainnya tidak dibayar royaltinya. Menurut kedua kontraktor. selanjutnya melalui pipa dengan tekanan air dikirim ke bagian filtration plant. Kemudian proses loading dari penyimpanan konsentrat ke kapal dilakukan dengan belt conveyor.. ada dua alasan yang mendasari hal tersebut.48 butiran halus. emas. yaitu bahan galian yang dapat menjamin hajat hidup orang.

PT Universitas Indonesia Analisis potensi. pembeli hanya bersedia membayar logam yang terkandung di dalam konsentrat yang dapat diproses lebih lanjut secara ekonomis sehingga mendatangkan penghasilan bagi pengolah konsentrat (smelter). melainkan merupakan upaya untuk meminimalkan dampak polusi yang diakibatkan oleh buangan sulfur dari pabrik smelting. Ltd 5%). smelting yang melakukan upaya ini semestinya mendapatkan insentif karena berhasil menekan tingkat polusi dan bukannya diwajibkan memberikan kompensasi kepada penjual konsentrat. 2009. dan perak. dilakukan oleh PT Smelting Gresik Copper Smelter & Refinery yang sahamnya 25 % dimiliki PT FIC dan sisanya perusahaan Jepang (Mitsubishi Material Corporation 60. Hal ini bukan merupakan upaya untuk mendapatkan nilai ekonomis dari sulfur.49 untuk kadar mineral hasil produksi. emas dan perak yang berdasarkan teknologi saat ini tidak memiliki nilai ekonomis untuk diolah lebih lanjut. Dan perusahaan hanya menerima pembayaran dari pembeli atas tiga mineral ikutan yaitu tembaga. Namun demikian. Dengan demikian. FE UI. . Pendapat tersebut diuraikan berikut ini. hanya ada di Gresik. Dalam praktik perdagangan konsentrat.5 % dan Nippon Mining & Metals Co. Mitsubishi Corporation 9. 2. Beberapa smelter saat ini dapat mengolah sulfur untuk dimanfaatkan oleh perusahaan petrokimia dengan syarat lokasi pengolahan sulfur berdekatan dengan lokasi pabrik petrokimia. JokoSudiarto.. justru perusahaan dikenakan penalti. Simon Sembiring dalam Buku Jalan Baru Untuk Tambang: Mengalirkan Berkah Bagi Anak Bangsa (2009: 149) menguraikan bahwa peleburan dan pemurnian konsentrat tembaga di Indonesia. jika kandungannya melampaui ambang batas.. Dalam konsentrat tembaga terdapat beberapa logam di luar tembaga. Beberapa logam bahkan dikategorikan sebagai pengotor konsentrat (impurities) sehingga. emas.5 %. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli.. terdapat beberapa pendapat yang mengatakan bahwa hampir semua unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga tersebut dapat dimanfaatkan atau hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga.

dan instalasi pengolahan air limbah. dari smelter ini diperoleh produk sampingan (by-product) berupa belerang (sulfur) dengan kapasitas 700 ribu ton/tahun. . Produk utama PT Smelting Gresik adalah katoda tembaga (copper cathode). 2009. Copper slag berupa kerak juga bisa dijual ke industri pembuatan kertas pasir. emas dan perak. FE UI. yaitu: Pertama. hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga.22%. besi teroksidasi membentuk besi oksida Universitas Indonesia Analisis potensi. yang mengandung bahan substitusi untuk pabrik semen sebagai pengganti sebagaian pasir besi yang merupakan bahan baku pembuatan semen.25. refinery plant (pabrik pemurnian). yang langsung dijual kepada PT Petrokimia Gresik sebagai bahan baku pembuatan pupuk. 2. pabrik tersebut mengubah konsentrat menjadi copper cathode.99%. yakni: 1.. JokoSudiarto. selenium dan tellurium. acid plant (pabrik asam sulfat).93% . Hal tersebut senada dengan Laporan Tim Optimalisasi Penerimaan Negara Tahun 2007.. Sedangkan produk sampingannya adalah terak (molten slag). gipsum. kerak tembaga (copper slag) dengan kapasitas 530 ribu ton/tahun.6 juta ton per tahun dan cuma sebagian kecil konsentrat dari PT NNT. Namun sayangnya. Dengan demikian. dimana kadarnya (copper grade) dari 28-30% dinaikkan menjadi 99. Lalu. Ini membuktikan bahwa sebenarnya kita bisa mengubah dari raw material menjadi konsentrat dan selanjutnya sampai dengan end product yang dimanfaatkan industri hilir.50 Smelting didirikan pada Februari 1996. Konsentrat tembaga umumnya mengandung besi (Fe) antara 21. 3. terdiri dari empat plant. Indonesia saat ini hanya menyerap sepertiga konsentrat tembaga yang dihasilkan PT FIC yang sebesar 2. Ada dua hal penting yang diuraikan dalam buku tersebut. Pada proses peleburan dan converting. yakni smelter plant (pabrik peleburan). dan ditemukan dalam senyawa dengan logam tembaga dan belerang.. sulfur (SO2). Kedua. yang menjelaskan proses produksi pada PT Smelting Gresik. Produk sampingan lainnya adalah gypsum dengan kapasitas 20 ribu ton/tahun yang digunakan untuk campuran semen dan dijual ke pasar internasional.

kalsium.95% dan ditemukan dalam mineral kalkopirit (CuFeS2). belerang menjadi bagian gas buang sebagai belerang oksida (S02). 4. . dan silikon. gas SO2 dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk dan gipsum yang dijual ke PT Petrokimia Gresik. Geological Survey Open-File Report 2004-1395. 5. Pada intinya hampir seluruh unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga dapat dimanfaatkan atau hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga. membentuk terak. gipsum. bahwa pengusahaan pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga. kovelit (CuS).. Gas buang yang dihasilkan oleh pabrik peleburan tersebut diproses lebih lanjut untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gypsum (CaS042H2O). asam sulfat. Terak yang dihasilkan dijual kepada PT Semen Gresik (Persero) sebagai bahan baku pembuatan semen.. 2009. Konsentrat tersebut mengandung 25% – 35% unsur mineral tembaga. dalam jumlah yang sama unsur mineral besi dan sulfur. kalkosit (CuS).70% - 30. JokoSudiarto. pirit (FeS2) dan terikat dengan unsur-unsur ikutan lainnya. Pada pabrik peleburan PT Smelting Gresik. Demikian juga pendapat dari Thomas G. digenit (CU5S9). Kandungan belerang di dalam konsentrat tembaga berkisar antara 29. Dari proses tersebut jelas bahwa hampir semua unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga dapat dimanfaatkan. yakni seperti slag. Selanjutnya pada proses peleburan konsentrat tembaga akan menghasilkan beberapa produk yang tidak jauh berbeda dengan hasil produksi PT Smelting Gresik. bornit (Cu5FeS4). Hal tersebut dapat dilihat pada diagram alur proses peleburan konsentrat tembaga yang dilampirkan pada Lampiran 6. FE UI.51 (FeO) yang kemudian bersama-sama senyawa silika (SiO2).. dan lainnya.S. Goonan dalam makalah yang berjudul “Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting” yang diuraikan pada U. kapur (CaO). Sementara itu Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) ITB dalam Buku Laporan Akhir “Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Universitas Indonesia Analisis potensi. Pada waktu proses peleburan dan converting. oleum. magnesia (MgO) alumina (AI2O3) dan lain-lainnya. persentase yang lebih kecil unsur aluminium.

timbal (Pb). jelas bahwa mineral ikutan pertambangan tembaga yang layak dikenakan royalti adalah unsur mineral sulfur dan besi karena Universitas Indonesia Analisis potensi. Departemen Keuangan dan BPK. seng (Zc). yaitu Departemen ESDM. JokoSudiarto. maka unsur-unsur yang ada di dalam konsentrat tembaga tersebut dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok sebagai berikut: 1. Unsur-unsur atau senyawa yang dihargai atau dibayar. 2. 3. walaupun kandungannya besar. Berdasarkan uraian di atas. dimana mereka menyatakan setuju apabila seluruh mineral ikutan tambang tembaga dikenakan royalti. Matrik rangkuman pendapat instansi/ahli yang kompeten dilampirkan pada Lampiran 7. yang akan dikenakan denda apabila melebihi kandungan maksimum yang disepakati. . Dalam buku tersebut disebutkan juga bahwa unsur besi dalam proses peleburan terikat kuat dengan oksida-oksida lainnya di dalam terak. Unsur-unsur atau senyawa yang dikenakan denda.. Demikian juga dengan unsur belerang. Unsur-unsur tersebut adalah logam tembaga (Cu).. Pada pabrik peleburan PT Smelting gas SO2 yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk. Terdiri dari senyawa ikutan dan unsur-unsur pengotor baik logam maupun non logam. Unsur Unsur-unsur atau senyawa yang tidak dibayar dan tidak dikenakan denda.. Pada pabrik peleburan PT Smelting limbah terak yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan semen dan dijual kepada PT Semen Gresik. bismut (Bi). FE UI. bahan sand blasting. antara lain: arsen (As).nH2O). 2009. logam emas (Au) dan logam perak (Ag). Unsur-unsur tersebut adalah belerang (S) dan besi (Fe). Hal tersebut di atas didukung oleh pendapat instansi atau pihak yang kompeten. gipsum dan dijual kepada PT Petrokimia Gresik. Sedangkan untuk unsur-unsur pengotor pada umumnya tidak ekonomis lagi untuk diolah lebih lanjut. yaitu masing-masing berkisar antara 25-30%. unsur belerang ini menyatu dalam gas buang (SO2) dan apabila diproses lebih lanjut akan menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gipsum(CaSO4. dan lain-lain.52 Konsentrat Tembaga PT FIC” mengemukakan bahwa ditinjau dari segi pemasaran konsentrat tembaga.

Artinya royalti tersebut tergantung dari apa yang telah Universitas Indonesia Analisis potensi. dikenakan atas pemanfaatan sumber daya alam (dalam hal ini adalah pengusahaan pertambangan). Hal tersebut juga telah ditekankan pada Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP bahwa salah satu PNBP adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam.. Siapapun yang mengambil sumber daya alam dari dalam perut bumi Indonesia. antara lain royalti di bidang pertambangan. Sesuai dengan pendapat dari Departemen ESDM sebagai regulator atau instansi yang berwenang menetapkan tarif royalti atas pemanfaatan sumber daya alam. baik sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan ataupun yang tidak bisa dimanfaatkan tetap harus diwajibkan membayar ke negara sebagai pemilik sumber daya alam tersebut. Perkiraan Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga Setelah mengetahui alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti dari mineral ikutan tembaga.. FE UI. 2009. yaitu: Pertama. . Jelas di sini bahwa makna atau substansi pasal tersebut yaitu royalti di bidang pertambangan yang merupakan salah satu PNBP. berapapun yang diambil dari dalam bumi Indonesia seharusnya dikenakan royalti. Artinya. royalti dihitung berdasarkan persentase tertentu dari harga jual. Dengan kata lain hanya negara yang berhak menentukan besarnya tarif PNBP bahkan bisa saja tanpa kompromi dengan pihak ketiga. siapapun yang telah mengusahakan pertambangan dan memanfaatkan hasilhasilnya harus dikenakan royalti.3. misalnya 3% dari harga jual. maka royalti tersebut dapat dihitung dengan dua cara.53 kedua unsur inilah yang dapat diproses lebih lanjut dan dimanfaatkan/dijual.. Apalagi dengan mineral ikutan pertambangan tembaga yang jelas-jelas dapat dimanfaatkan dan mempunyai nilai jual. langkah selanjutnya adalah menghitung perkiraan royalti tersebut berdasarkan data-data periode 2003-2007. JokoSudiarto. Dan sesuai dengan prinsip PNBP bahwa semua PNBP seharusnya mutlak hak negara artinya negaralah yang mempunyai “bargaining power” lebih besar. Cara inilah yang lazim diterapkan sesuai dengan kondisi perusahaan. 4.

IC rata-rata dari nilai ”range” kandungan mineral yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Royalti = tarif x jumlah satuan Dimana. harga jual yang diperoleh adalah harga produk jadi hasil proses lanjutan dari mineral tersebut. karena harga jual atau nilai ekonomis mineral tersebut sulit sekali diestimasi. . hal ini sangat sulit bahkan tida bisa diterapkan untuk mengestimasi potensi royalti yang hilang atas mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga. misalnya harga asam sulfat dan gipsum. Ada dua IC yang dapat digunakan.Lampiran G) dan untuk mineral besi sebesar USD2.54 diterima perusahaan atas pemanfaatan sumber daya alam tersebut (pendapatan perusahaan).50%. Dimana. Menghitung jumlah satuan yaitu berat dalam ton atau kg masing-masing mineral ikutan dalam konsentrat yang dijual.. JokoSudiarto. Langkah-langkah cara perhitungan royalti adalah sebagai berikut: 1. Menentukan tarif. Misalnya Sulfur dengan range sebear 25-36% maka IC rata-rata sebesar 30. 2009.00/ton (KK . 2. Tarif Jumlah satuan : : USD per ton atau per kg. Namun demikian.. FE UI. Jadi fluktuasi royalti tergantung dari harga jual dan pendapatan perusahaan.. IC rata-rata per bulan dari realisasi Universitas Indonesia Analisis potensi. Apabila pendapatan perusahaan mengalami kenaikan maka royaltipun akan naik. Artinya setiap 1 ton konsentrat tembaga diperkirakan mengandung unsur mineral Sulfur sebesar 0. Dari hasil penelitian lapangan. royalti dihitung berdasarkan fixed rate dengan formula berikut ini. demikian juga sebaliknya.90/ton (PP 58/1998). Kedua.305 ton. Kedua. Berat atau jumlah ton atau kg mineral yang dijual. Dalam hal ini penulis menggunakan tarif yang ada pada Lampiran KK atau PP 58/1998. Jadi IC rata-rata ini merupakan nilai perkiraan kandungan masingmasing mineral dalam konsentrat. berat masing-masing mineral diperoleh dari Ingredient Content (IC) dikalikan dengan berat konsentrat yang dijual. yaitu Pertama. yaitu untuk mineral sulfur sebesar USD4.

artinya IC yang digunakan untuk menghitung perkiraan potensi royalti per triwulan adalah IC rata-rata tiga bulan sebelumnya... JokoSudiarto.d. SULFUR Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara jumlah penjualan Emas (dalam Kg). penulis tidak memperoleh data IC rata-rata per bulan. Penulis hanya memperoleh data IC rata-rata per bulan untuk periode 2003 s. mengalikan tarif dengan berat masing-masing mineral untuk memperoleh nilai perkiraan royalti periode 2003 s. Periode 2006 dan 2007. Fungsi Model Dimana. FE UI. begitu seterusnya. penulis menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan EVIEWS. yang selanjutnya digunakan untuk mencari IC rata-rata triwulanan pada periode yang bersangkutan. 2005 (Fitted Value).d. . P. sehingga untuk memperkirakan berat masing-masing mineral yang terkandung dalam konsentrat yang dijual. dalam Ton) : S = f (E. misalnya penjualan Tembaga sebanyak 1 ton maka kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual sebanyak sekian ton. 2009. Diagram cara perhitungan potensi royalti dicantumkan pada Lampiran 8.55 kandungan masing-masing mineral dalam setiap produksi konsentrat. dan Tembaga (dalam Ton) dengan kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton). yang akan diuraikan berikut ini. Selanjutnya dikalikan dengan berat konsentrat yang dijual (dalam Ton) untuk memperoleh berat masingmasing mineral yang terkandung dalam konsentrat tersebut. metode yang digunakan untuk menentukan IC adalah metode rata-rata sederhana. Langkah berikutnya. Perak (dalam Kg). Februari dan Maret.. T) : S = a + bE + cP + dT + Є Universitas Indonesia Analisis potensi. 2005. S : Variabel tidak bebas (kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual. Misalnya IC triwulan I merupakan rata-rata IC bulan Januari. Dalam hal ini.

7799 248. Untuk menentukan model yang terbaik dilakukan dengan cara cobacoba (try and error) dan setiap model dievaluasi berdasarkan kriteria ekonomi. c. JokoSudiarto. dan Tembaga (dalam ton) per bulan selama periode 2003 sampai dengan 2005. seperti dicantumkan pada Lampiran 9.9000 -1.E.525 2. berdasarkan data-data tersebut dilakukan run model dengan EVIEWS.990396 S. .Sulfur Dependent Variable: S Method: Least Squares Date: 11/28/09 Time: 19:40 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std. Selanjutnya.851 1514.0000 81006. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta atau intersep dalam suatu model ekonometrika kurang mempunyai makna yang berarti namun demikian apabila dihilangkan model menjadi Universitas Indonesia Analisis potensi. kriteria statistik. Hasil run model dengan EVIEWS diuraikan sebagai berikut. 0.103 0.0012 0. Tabel 12: Hasil Run Model 1 .98 18.555364 T 0.8823 202. Error t-Statistic C 4535.804 Akaike info criterion Sum squared resid 1.. FE UI.000000 Evaluasi model di atas adalah sebagai berikut: 1..60203 1204.6695 F-statistic Durbin-Watson stat 1. dalam Kg) Variabel bebas 2 (jumlah penjualan Perak.0053 0.39 23497.5765 3. dependent var S.064094 11.755876 0.79318 R-squared 0. dan kriteria ekonometrika. dalam Ton) Konstanta (intersep) Koefisien regresi Error peramalan b.1214 0. of regression 2302. dalam Kg) Variabel bebas 3 (jumlah penjualan Tembaga.D.994901 E -322.991219 Mean dependent var Adjusted R-squared 0.56 E P T a Є : : : : : Variabel bebas 1 (jumlah penjualan Emas. d : Data-data yang diperoleh adalah data-data kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual (dalam Ton) dan jumlah penjualan Emas (dalam Ton).591337 P 883..776507 Prob(F-statistic) Prob.70E+08 Schwarz criterion Log likelihood -327. Perak (dalam Ton).42608 18. 2009.

204. Pada model di atas terdapat koefisien variabel bebas yang tidak sesuai dengan reasoning-nya. . Perak dan Tembaga) sangat signifikan mempengaruhi Sulfur. Untuk model di atas konstanta mempunyai nilai positif sebesar 4.. variabel bebas yang lain (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S).85. masing-masing t-statistik menunjukkan angka 3. Sementara itu. Hal ini sesuai dengan reasoning dari model tersebut. Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan nilai t-hitung atau tstatistik masing-masing variabel bebas terhadap t-tabel dengan derajat bebas n-2 pada tingkat kepercayaan α tertentu (misalnya pada tingkat kepercayaan α=5% maka t-tabel menunjukan angka 1.55 dan 11. Pada tabel 12 di atas. terdapat variabel bebas (E) yang tidak signifikan terhadap variabel tidak bebas (S). yaitu koefisien variabel bebas Emas dengan nilai sebesar -322.96).96. 2. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial. JokoSudiarto.79 atau lebih besar daripada 1.57 kurang bagus dan cara menginterprestasikannya sesuai dengan masalah atau topik dari model tersebut. Dengan demikian variabel bebas secara keseluruhan (Emas. yaitu dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas dari model.591337 lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. Koefisien Variabel Bebas Sesuai dengan reasoning dasar. Alat uji yang digunakan adalah Fisher Test atau uji F.96.. Artinya variabel bebas berbanding lurus dengan variabel tidak bebas. Nilai F-statistik sebesar 1. karena t-statistik menunjukkan angka -1. FE UI. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Merupakan ukuran persentase total variasi dalam variabel tidak bebas Universitas Indonesia Analisis potensi. 2009. Pengujian Model Secara Keseluruhan. Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan nilai F-statistik terhadap F-tabel dengan derajat bebas n-2 pada tingkat kepercayaan α tertentu. bahwa koefisien variabel bebas bernilai positif.88. Oleh karena itu harus dicoba lagi dengan model baru.10 jauh lebih besar daripada F-tabel (F-tabel menunjukan angka 4).535. jika variabel bebas naik maka variabel tidak bebas juga akan naik demikian sebaliknya..

2240 0.312635 Std.15457 1. Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Sulfur dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 99. Nilai adjusted R2 sebesar 0..281081 0. 0..00 P 3640809. FE UI. Sum squared resid 1.925 -0. Tabel 13: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 . Error t-Statistic 13385616 -0. 34.3865 0.E.784332 2553722.94E+15 Log likelihood -620.329929 0. Heteroskedastisitas akan muncul dalam bentuk et yang semakin besar kalau nilai variabel bebas makin besar/kecil. 8316000.Sulfur White Heteroskedasticity Test: F-statistic 1.751631 Mean dependent var S. of regression 8187001.879274 82601.84666 35.2 0. 0. Akibatnya pengujian F dan t cenderung tidak signifikan.2930 0.341532 Universitas Indonesia Analisis potensi. 3.341532 0.089660 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 01/01/10 Time: 18:38 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -10498772 E -3173309.070894 1052.2399 Durbin-Watson stat 2.4583 4713693. Nilai R2 berkisar mulai dari 0 sampai dengan 1. 2009. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob.D. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas adalah variasi error peramalan (et) tidak sama untuk semua pengamatan.3907 T^2 0. -1.185275 Probability Obs*R-squared 7. .4392 0.. Hasil pengujian heteroskedastisitas dicantumkan pada tabel di bawah ini.58 dijelaskan oleh variabel bebas.005468 0.04 %. Jika nilai R2 mendekati 1 berarti model makin dapat diandalkan.82 -1.004110 R-squared 0.7438 0.242621 105952. E^2 83716.4359 0. JokoSudiarto.196935 Adjusted R-squared 0.185275 0.790130 4140700.990396 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Emas. P^2 -88457. sebaliknya jika nilai R2 mendekati 0 berarti model tidak dapat diandalkan.030784 S.83 T -347.

Oleh karena itu. Model tersebut di atas terdapat masalah multikolinieritas yang ditunjukan pada tabel berikut.000000 S E P T Dimana hubungan antara variabel bebas E dengan P sebesar 88.59 Pada tabel tersebut. seluruh variabel bebas tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2.975980 0. FE UI. 2009. menurut Tabel 12 nilai t-statistik variabel bebas E sebesar -1.877059 0.888349 0. Hal ini mengakibatkan nilai t-statistik variabel bebas E yang tidak signifikan. Pengujian Autokorelasi Autokorelasi menyatakan adanya hubungan atau korelasi data-data pengamatan.887913 1.968532 1.96 dan probabilitasnya sebesar 31. masalah multikolinieritas tersebut harus diatasi dengan cara mengeluarkan variabel bebas E dari model tersebut. E dengan T sebesar 88.888349 0.2635% jauh di atas 5%..975980 0..000000 0. Nilai d berkisar antara 0 sampai dengan 4. .887913 0.. Hal ini ditunjukkan dalam tabel hasil pengujian BG berikut ini.591 masih jauh lebih kecil dari pada nilai t-tabel sebesar 1. JokoSudiarto.Sulfur S E P 1.993777 0. Tabel 14: Korelasi Variabel Bebas .000000 0.993777 0.7913%. Model tersebut di atas tidak ada masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1. Dengan kata lain munculnya suatu data dipengaruhi oleh data sebelumnya.877059 1. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. dan P dengan T sebesar 96.776507 sudah mendekati 2.8349%.968532 T 0. karena nilai kuadrat seluruh variabel bebas lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. Pengujian Multikolinieritas Multikolinieritas artinya ada hubungan atau korelasi yang cukup kuat antara sesama variabel bebas dalam model.8532%.96 (tingkat kepercayaan α=5%). Universitas Indonesia Analisis potensi. jika nilai d=2 atau mendekati 2 dapat dianggap tidak terdapat masalah autokorelasi.000000 0. nilai d. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG menunjukkan tidak ada masalah autokorelasi kedua dan ketiga. Alat uji yang digunakan adalah statistik Durbin-Watson (DW). Di samping itu.

5313 246.96.Sulfur Dependent Variable: S Method: Least Squares Date: 11/28/09 Time: 19:45 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std.730596 0.368002 lebih kecil daripada 1.6100 0.197239 -0. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan variabel bebas error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID.129962 P 0. 0. Variable Coefficient Std.Sulfur Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.997208 Pada tabel tersebut.366480 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 01/01/10 Time: 18:39 Presample missing value lagged residuals set to zero.60 Tabel 15: Hasil Uji BG Model 1 . Error t-Statistic C 271..0569 0.0002 0.095813 RESID(-1) 0. 0.894822 Prob(F-statistic) 0.7155 -9.79088 0.95E-12 2201. yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0.086699 0.0031 0.154790 S..189 Akaike info criterion Sum squared resid 1.061708 0.739876 270.8744 0.413 4. FE UI.8975 0.E.4853 F-statistic Durbin-Watson stat 1.002740 T -0.072584 0.068823 -0.857716 0.421434 dan -0.2568% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi. .684 0.3186 1701. dapat disimpulkan bahwa model tersebut harus diubah dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas sehingga model menjadi S = a + bP + cT + Є.50187 Prob. Error t-Statistic C 5730.8007 3.914 1345.205723 0. dependent var S. of regression 2366.010180 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.68E+08 Schwarz criterion Log likelihood -327..421434 RESID(-2) -0.0000 Universitas Indonesia Analisis potensi.159441 E 27.154270 Probability Obs*R-squared 0. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 83.901 18.52696 18.9978 0. Hasil run model tersebut dicantumkan pada tabel dibawah ini.063520 11. 2009.259593 P 788.89122 214.6764 0. Dari hasil evaluasi terhadap model di atas.D.9243 0.006594 0. Tabel 16: Hasil Run Model 2 .368002 R-squared 0. JokoSudiarto.832568 Prob.195013 T 0.

dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 81006.E.39 23497. Universitas Indonesia Analisis potensi. 2009.000000 Seperti halnya model pertama. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial. Hasil evaluasi secara ringkas dapat diuraikan berikut ini. pada model kedua ini pun dilakukan evaluasi model berdasarkan kriteria ekonomi. dan kriteria ekonometrika.662 1. dengan demikian secara keseluruhan variabel bebas tersebut sangat signifikan mempengaruhi Sulfur.99 %. FE UI.61 R-squared Adjusted R-squared S.98 18.50187 lebih besar daripada 1.. kriteria statistik. .96.730.91.D. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 5. Seluruh variabel bebas (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S). Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0.989950 2355.83E+08 -329.57865 1724.798 0. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t-statistik masing-masing sebesar 3. 1.724.195013 dan 11. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat 0.798 jauh lebih besar daripada F-tabel sebesar 4. JokoSudiarto.989950 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Sulfur dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98. 2. Koefisien Variabel Bebas Seluruh koefisien variabel bebas bernilai positif artinya variabel bebas tersebut mempunyai hubungan positif dengan variabel tidak bebas.690929 Mean dependent var S..0404 1. Pengujian Model Secara Keseluruhan. Nilai F-statistik sebesar 1.44669 18..990524 0. Hal ini sudah sesuai dengan reasoning dasarnya.

582711 lebih kecil daripada ttabel sebesar 1. Tabel 17: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 . Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas disajikan dalam tabel berikut.45692 35.E. .6622 0.4628 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob. 2009.7861 0. 11247839 35.004411 R-squared 0.831676 Probability Obs*R-squared 3..007570 0.D.380647 5477628. P 2415896. Pengujian Multikolinieritas Sama dengan model pertama.515374 0.5643 5086716. P^2 -81030. 0. seluruh kuadrat variabel bebas (P^2 dan T^2) tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2 yang ditunjukkan dengan nilai t-statistik sebesar -0..93 T -398.831676 0. ada masalah multikolinieritas pada model di atas yang ditunjukkan dengan hubungan antara variabel bebas P dengan T sebesar 96. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. Error t-Statistic 15884976 -0. Probabilitasnya 47.00E+15 Log likelihood -633. JokoSudiarto.582711 Mean dependent var S.7061 0.479573 Std.441048 108999. Pengujian Autokorelasi Model di atas tidak mempunyai masalah autokorelasi pertama karena nilai Universitas Indonesia Analisis potensi.96.743405 1453.743405 dan 0.2246 Durbin-Watson stat 2. of regression 11357613 Sum squared resid 4.019614 S.488867 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 12/30/09 Time: 18:32 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -6046563.67685 0.62 3..0655 T^2 0. baik secara parsial maupun keseluruhan.9573% jauh lebih besar daripada 5%. 0. tidak perlu dilakukan perubahan pada model tersebut karena variabel bebas sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas.923 -0. Namun demikian.273787 0. FE UI.061956 0.Sulfur White Heteroskedasticity Test: F-statistic 0.7 -0.096913 Adjusted R-squared -0.515374 Pada tabel tersebut.8532%.

3957 0.166668 0.9652 0.730596T Se. Dengan demikian. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0.75083 0.5313P + 0.026547 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.53E-12 2287.384082 jauh lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1.185783 -0. berdasarkan evaluasi kedua model di atas.620118 Prob.989950 F-sta = 1.96. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG tidak menunjukkan adanya masalah autokorelasi kedua dan ketiga.Sulfur Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0..939529 Prob(F-statistic) 0.930158 Pada tabel tersebut.7035 2.91 + 788. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 62. 2009. .53089 18. Di samping itu.4996 -0.159 0.861327 RESID(-2) -0.271058 P -11.071356 0.099060 S..063520 11. Tabel 18: Hasil Uji BG Model 2 . JokoSudiarto. Hal ini ditunjukan dalam tabel hasil pengujian BG di bawah ini.195013 DW = 1.63 DW=1.368 18.724. Error t-Statistic C 399. dapat ditentukan model yang terbaik yaitu model kedua dengan persamaan regresi sebagai berkiut: S = 5. Variable Coefficient Std.193501 0. 246.50187 t-sta 3.E.422699 Probability Obs*R-squared 0.658996 0.861327 dan -0.066725 -0.044000 T -0.798 Persamaan regresi tersebut digunakan untuk mengestimasi jumlah kandungan Universitas Indonesia Analisis potensi.. of regression 2397.8007 0.7881 0.001936 0.5823 1474. dependent var S. 0.5561 F-statistic Durbin-Watson stat 1.690929 R2 = 0. FE UI.730.986 Akaike info criterion Sum squared resid 1.384082 R-squared 0.955691 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 12/30/09 Time: 18:30 Presample missing value lagged residuals set to zero.029010 RESID(-1) 0.01% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi.211350 0.690929 sudah dekat dengan 2.D.59407 263.78E+08 Schwarz criterion Log likelihood -328.9770 0.

745.00 3.054.463.729.273. .00 830.00 836.64 Sulfur dalam setiap ton konsentrat yang ditentukan oleh jumlah penjualan Perak dan Tembaga.536.00 4.16 4. 2007..Periode 2003 – 2005 menggunakan Fitted Value atau data historical.00 2.524. dalam Kg) Variabel bebas 3 (jumlah penjualan Tembaga. 2005 289. 2004 216.834. estimasi tersebut ditampilkan pada tabel berikut. misalnya penjualan Tembaga sebanyak 1 ton maka kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual sebanyak sekian ton.514. Perak (dalam Kg).Periode 2006 – 2007 menggunakan persamaan regresi tersebut (Ekstrapolasi). dalam Kg) Variabel bebas 2 (jumlah penjualan Perak.903.00 988.523. . dalam Ton) Konstanta (intersep) Koefisien regresi Error peramalan Universitas Indonesia Analisis potensi. 2003 244.98 4.539.53 808.14 Penjelasan: . Tabel 19: Perkiraan Kandungan Sulfur dalam Konsentrat Perak Tembaga No Tahun Kandungan Sulfur (Ton) (Ton) 1.130. T) B = a + bE + cP + dT + Є .00 854.74 1.247.d. P.283. Berdasarkan data-data yang diperoleh periode 2003 s.073..218.241. : : B = f (E. dan Tembaga (dalam Ton) dengan kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).. c.008.98 806. d Є : : : : : : Variabel bebas 1 (jumlah penjualan Emas. dalam Ton) E P T a b. Fungsi Model Dimana. FE UI. 2007 226.76 5.00 1. 2006 226.382.89 790.38 Jumlah 1.Rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10.202.496.653.158. BESI Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara jumlah penjualan Emas (dalam Kg).00 1. JokoSudiarto. B : Variabel tidak bebas (kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual. 2009.

Error t-Statistic C 3862..11E+08 Schwarz criterion Log likelihood -320.86 18315.519 3.862.1069 3. FE UI.685340 P 706.8808. 2009. JokoSudiarto. seperti dicantumkan pada Lampiran 11. dependent var S..825 0.476200 T 0.238.000000 Sama dengan model-model sebelumnya. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 3.D.E. yaitu koefisien variabel bebas Emas dengan nilai sebesar -274.1010 -1.1017 0.00588 18.0403 203. dan Tembaga (dalam ton) per bulan selama periode 2003 sampai dengan 2005. Universitas Indonesia Analisis potensi.911684 Prob(F-statistic) Prob.588676 0. Koefisien Variabel Bebas Pada model di atas terdapat koefisien variabel bebas yang tidak sesuai dengan reasoning dasarnya. 0.72 18.65 Data-data yang diperoleh adalah data-data kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual (dalam Ton) dan jumlah penjualan Emas (dalam Ton). yaitu dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas dari model.8808 163. Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut.0000 63559. of regression 1866.0037 0. Berdasarkan data tersebut akan dilakukan run model dengan cara coba-coba dan evaluasi setiap model agar diperoleh model yang terbaik.1059 F-statistic Durbin-Watson stat 1.Besi Dependent Variable: B Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:46 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std.051606 11. Perak (dalam Ton). .128537 E -274.989616 S..990506 Mean dependent var Adjusted R-squared 0.238 1234.40712 R-squared 0. Oleh karena itu harus dicoba lagi dengan model baru.18183 1112. Hasil run model dengan EVIEWS diuraikan pada tabel berikut.433 Akaike info criterion Sum squared resid 1. maka evaluasi model di atas secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Tabel 20: Hasil Run Model 1 .0015 0.

Tabel 21: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 – Besi White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 01/02/10 Time: 05:25 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std. terdapat variabel bebas (E) yang tidak signifikan terhadap variabel tidak bebas (B). masing-masing t-statistik menunjukkan angka 3.249983 0.064877 Probability Probability 0.41 atau lebih besar daripada 1.96 %. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0.112.96. variabel bebas yang lain (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S).96.. JokoSudiarto..395385 8. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas dicantumkan pada tabel di bawah ini. Sementara itu. Dengan demikian variabel bebas secara keseluruhan (Emas. Error t-Statistic Prob. 1.685340 lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. Nilai F-statistik sebesar 1. Perak dan Tembaga) sangat signifikan mempengaruhi Sulfur. FE UI.233389 Universitas Indonesia Analisis potensi.48 dan 11.825 jauh lebih besar daripada F-tabel (4). Pengujian Model Secara Keseluruhan. Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Besi dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98. 3. . 2009.66 2. karena t-statistik menunjukkan angka -1. Pada tabel 18 di atas. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial.989616 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Emas..

45484.67 C E E^2 P P^2 T T^2 R-squared Adjusted R-squared S.Besi B E P 1.4348 3096508.890851 1. karena nilai kuadrat seluruh variabel bebas lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. dan P dengan T sebesar 96.74 2171012. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG menunjukkan tidak Universitas Indonesia Analisis potensi. seluruh variabel bebas tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2.24E+14 -604. Hal ini mengakibatkan nilai t-statistik variabel bebas E yang tidak signifikan.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat -6060897.000000 0.7554 0.002816 0. -0. FE UI.387767 8726156.3183 0.000000 0.887827 0. Di samping itu.692529 2705746. Tabel 22: Korelasi Variabel Bebas .96.D. Pengujian Autokorelasi Model tersebut di atas tidak ada masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1..993349 0.395385 0.197800 65679.911684 sudah mendekati 2. 33. Oleh karena itu.802371 54041.2407 0.3356 0. Pengujian Multikolinieritas Model tersebut di atas terdapat masalah multikolinieritas yang ditunjukan pada tabel berikut.16 -1.000000 B E P T Dimana hubungan antara variabel bebas E dengan P sebesar 89. 8.887827 0.249983 Pada tabel tersebut.975541 0. -1932425.78%.08%.063478 5328935.85%.99 -215. -1.975541 0.890851 0.7816 2.29577 1.96 dan probabilitasnya sebesar 23. -54874..4289 0. masalah multikolinieritas tersebut harus diatasi dengan cara mengeluarkan variabel bebas E dari model tersebut.685340 masih jauh lebih kecil dari pada nilai t-tabel sebesar 1.875783 1.98787 34.4941 0.792070 Mean dependent var S.314535 0.6162 -0.3389% jauh di atas 5%.224024 0.4929 0. E dengan T sebesar 88. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.968532 1. 2009.000000 0..875783 0.993349 0.15 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 0. menurut Tabel 18 nilai t-statistik variabel bebas E sebesar -1. JokoSudiarto. 0.694567 1613311.003555 0.968532 T 0.015429 684. 5506573. .

11548 18. of regression 1926. Hal ini ditunjukkan dalam tabel hasil pengujian BG berikut ini.164902 S.37940 0.010015 P 14.059704 RESID(-2) -0.11E+08 Schwarz criterion Log likelihood -320.9817 0. 2009. Tabel 24: Hasil Run Model 2 .8364 1. Error t-Statistic C -32.022729 Probability Obs*R-squared 0.999974 Pada tabel tersebut. Tabel 23: Hasil Uji BG Model 1 – Besi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.055794 -0.9493 0.064081 T -0.208301 lebih kecil daripada 1. 0.96. Variable Coefficient Std..001513 Mean dependent var Adjusted R-squared -0..Besi Dependent Variable: B Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:52 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Universitas Indonesia Analisis potensi. Dari hasil evaluasi terhadap model di atas.009092 0.68 ada masalah autokorelasi kedua dan ketiga.063430 RESID(-1) -0.059704 dan -0.3134% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi. FE UI.11248 1386.651 18. yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar -0.9498 0.725232 172.E.2657 0. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan variabel bebas error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID.. JokoSudiarto.0787 F-statistic Durbin-Watson stat 1.9528 0. Hasil run model tersebut dicantumkan pada tabel dibawah ini.023162 E 1.28971 222. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 97.977544 0. dependent var S. .9951 0.208301 R-squared 0.003539 0.185 Akaike info criterion Sum squared resid 1.430 -0.973134 Prob.900213 Prob(F-statistic) 0.197226 -0.9921 0.012281 0.054468 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 01/02/10 Time: 05:39 Presample missing value lagged residuals set to zero.205692 -0.02E-11 1784.D. dapat disimpulkan bahwa model tersebut harus diubah dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas sehingga model menjadi B = a + bP + cT + Є.041082 0.

Nilai F-statistik sebesar 1.21E+08 -321. 0.989663 0.771 1.96..316 200.72 18. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Hasil evaluasi secara ringkas dapat diuraikan berikut ini.86 18315. Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut. JokoSudiarto. . Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 4. Seluruh variabel bebas (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S).0000 63559.989037 1917.E.051712 t-Statistic 4.829596 Std. 1.69 Variable C P T R-squared Adjusted R-squared S. Koefisien Variabel Bebas Seluruh koefisien variabel bebas bernilai positif artinya variabel bebas tersebut mempunyai hubungan positif dengan variabel tidak bebas. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial.579.61.614 613.0001 0. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 4911. FE UI.053424 dan 11.16733 1579.9232 0. 2009.01170 Prob.911. 2.484197 3.03537 18.. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0.989037 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Perak dan Tembaga Universitas Indonesia Analisis potensi. Error 1095.000000 Mean dependent var S. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t-statistik masing-masing sebesar 3. dengan demikian secara keseluruhan variabel bebas tersebut sangat signifikan mempengaruhi Besi.053424 11.569439 0.D.01170 lebih besar daripada 1.718 jauh lebih besar daripada F-tabel sebesar 4. Pengujian Model Secara Keseluruhan.718 0. Hal ini sudah sesuai dengan reasoning dasarnya..6367 1.5036 0.0044 0.

P^2 -54058.96. of regression 7605623.7886 Durbin-Watson stat 2. seluruh kuadrat variabel bebas (P^2 dan T^2) tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2 yang ditunjukkan dengan nilai t-statistik sebesar -0...5525 3371359.353437 3668092.109796 Adjusted R-squared -0.412452 Std. 7586419.005069 S. akan tetapi tidak perlu dilakukan perubahan pada model tersebut karena variabel bebas sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas.D.6195 -0. .005069 0.63 -0. P 1505859.257634 0.145278 0. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas disajikan dalam tabel berikut.2452% jauh lebih besar daripada 5%. Probabilitasnya 41.4645 0.955869 0.8371 T^2 0.600583 lebih kecil daripada ttabel sebesar 1. 0.952653 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:53 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -3759641.79E+15 Log likelihood -618.65492 34. FE UI. 2009.445397 Pada tabel tersebut.740612 dan 0.410529 72991.955869 Probability Obs*R-squared 3.740612 973.. JokoSudiarto. Pengujian Multikolinieritas Ada masalah multikolinieritas pada model di atas.87485 0. Tabel 25: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .445397 0.6842 0.E.7984 0.7262 0. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob. 34. baik secara parsial maupun keseluruhan. Universitas Indonesia Analisis potensi.003045 R-squared 0.70 dapat menjelaskan kandungan Besi dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98. 0. Error t-Statistic 10637371 -0.600583 Mean dependent var S.49 T -250. Sum squared resid 1. 3.90 %.Besi White Heteroskedasticity Test: F-statistic 0.

996151 Pada tabel tersebut.194172 0. 2009.9065 0..916099 0. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0.21E-11 1862.829596 sudah dekat dengan 2. of regression 1973. Dengan demikian. .9232 0.36076 0.5349 F-statistic Durbin-Watson stat 1.087879 Probability Obs*R-squared 0. JokoSudiarto.71 Pengujian Autokorelasi Model di atas tidak mempunyai masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1.579. dapat ditentukan model yang terbaik yaitu model kedua dengan persamaan regresi sebagai berkiut: B = 4.989037 F-sta = 1.614 + 613.911.9881 0. dependent var S.Besi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.122667 S.118366 P -3.015087 T -0.000925 0.053424 DW = 1.3603 -0. Variable Coefficient Std.172 18.D.202954 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:53 Presample missing value lagged residuals set to zero.903502 Prob. 200.005638 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.96. Tabel 26: Hasil Uji BG Model 2 .5036P + 0. hasil uji BG tidak menunjukkan adanya masalah autokorelasi kedua dan ketiga.01170 2 t-sta 3. berdasarkan evaluasi kedua model di atas. Di samping itu.370476 RESID(-2) -0.E.198175 R-squared 0.569439T Se.043939 0..35% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi.279239 217.051712 11. Hal ini ditunjukan dalam tabel hasil pengujian BG di bawah ini.9867 0.21E+08 Schwarz criterion Log likelihood -321.082 Akaike info criterion Sum squared resid 1.718 Universitas Indonesia Analisis potensi.8370 1206..370476 dan -0.14083 18. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 90.186253 -0.016798 RESID(-1) 0. FE UI.8442 1.7135 0.071936 0.198175 jauh lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1.055076 -0.036911 0. Error t-Statistic C 142.948770 Prob(F-statistic) 0.742 0. 0.829596 R = 0.

454.514.956.90 2.019. Universitas Indonesia Analisis potensi. maka langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah perkiraan potensi royalti dari masing-masing unsur mineral.00 830.Besi Besi (Ton) Tarif (USD/Ton) Perkiraan Royalti (USD) 773.158.729.340.980.054.202. 2004 3.218.436. No Tahun Tabel 29: Perkiraan Potensi Royalti .882.12 846.244.382.093. 2005 289.72 Persamaan regresi tersebut digunakan untuk mengestimasi jumlah kandungan Besi dalam setiap ton konsentrat yang ditentukan oleh jumlah penjualan Perak dan Tembaga.130. 2007.283. Setelah jumlah kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat yang dijual dapat diperkirakan.496. 2009.35 1. rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 12. 2006 226.16 1.90 2.273.872.058.949.00 3.36 2.76 5.06 2.00 3.633.23 4.247.916.86 Jumlah 1.00 4.486.90 2.Rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 12.082.00 4. Perkiraan potensi royalti tersebut ditampilkan pada tabel berikut ini.04 3.653.53 18. 2003 2..233.d.98 4.073.00 3.40 2.830. .12 3.456.539.00 854.. 2007 Jumlah Penjelasan: tarif royalti sesuai dengan PP58/1998.903. 2005 4. .523..Sulfur Sulfur (Ton) Tarif (USD/Ton) Perkiraan Royalti (USD) 988.14 4.633.00 773.00 4. 2006 5. No Tahun Tabel 28: Perkiraan Potensi Royalti . 2007 Jumlah Penjelasan: tarif royalti sesuai dengan KK. Berdasarkan data-data yang diperoleh periode 2003 s.108.363.00 1.Periode 2006 – 2007 menggunakan persamaan regresi tersebut (Ekstrapolasi).00 1. estimasi tersebut ditampilkan pada tabel berikut.74 846.616. .082.Periode 2003 – 2005 menggunakan Fitted Value atau data historical.109.98 806. 2007 226.292.89 649. 2003 2.76 808.00 790.38 4.160.00 674. FE UI.536. Tabel 27: Perkiraan Kandungan Besi dalam Konsentrat Perak Tembaga No Tahun Kandungan Besi (Ton) (Ton) 1.00 4.118.36 Penjelasan: .363.16 1.524.00 1.008. rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10. 2004 216.59 10.834.109. 2005 4.90 2.16 3. 2006 5.616.57 1.019.53 672.463.241.417.830.453. 2004 3.90 2. 2003 244. JokoSudiarto.40 674.86 3.00 4.23 649.954.00 836.745.00 1.967.76 672.132.

258. Jika kontraktor menjual hasil tambang berupa logam emas.242 X 62. 2007 diperkirakan sebesar USD28. .009.358.166.d.73 (USD18.73 Jadi potensi royalti dari mineral ikutan tembaga (sulfur dan besi) yang belum tergali untuk periode 2003 s. 2009.346.55 : : : : : USD 20.57 + USD10.486. FE UI. Royalti dari mineral ikutan tambang tembaga dapat dikenakan kepada kontraktor.838 lbs · Emas USD296. yaitu: 1. Untuk hasil pertambangan tembaga diterapkan dua tarif. Pihak Kontraktor. tembaga atau unsur mineral lainnya maka dikenakan royalti dengan tarif 2% dari harga jual produk jadi tersebut.397. Sedangkan royalti menurut tarif di atas sebesar USD747.06 USD 37.436.346. Pihak smelter tidak bisa dikenakan royalti karena mereka bukan pihak Universitas Indonesia Analisis potensi.119.93 dengan rincian sebagai berikut: · Tembaga USD0.021..358. yaitu apabila kontraktor menjual hasil tambang berupa bijih atau konsentrat tembaga maka dikenakan tarif sebesar 4% dari nilai konsentrat tersebut.166.93 2.60 (perhitungan pada halaman 42).378. Hal ini dapat dijelaskan dengan contoh perhitungan royalti pada halaman 42.545.251 X 57. royalti yang dibayar oleh PT FIC sebesar USD401. Ada dua alternatif pemecahan masalah untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari royalti tersebut.16). JokoSudiarto. Alternatif ini lebih menguntungkan buat Pemerintah RI.456 ons · Perak USD5.456.03 USD 17. dibandingkan tarif royalti menurut KK. Tarif yang digunakan dapat mengambil contoh tarif yang berlaku di Negara Afrika Selatan (Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill: 2006).980.78844 X 25.058. Pihak smelter..430 ons Nilai jual (logam) Royalti = 2 % X USD 37. Berdasarkan data penjualan tersebut..46 USD 327. perak.691.55 USD 747.

. Hal tersebut sejalan dengan Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menyebutkan bahwa pemegang KK yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan di dalam negeri selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak undang-undang ini diundangkan.. yaitu menerima hasil produk sampingan dari sulfur dan besi. . akan tetapi merekalah yang telah menerima manfaat dari mineral ikutan tembaga. JokoSudiarto..74 pemegang KK yang mempunyai hak untuk mengeksplorasi tembaga. agar pihak smelter dapat dikenakan royalti maka smelter tersebut juga harus sebagai pemegang KK (kontraktor). Oleh karena itu. pihak kontraktor sebagai pemegang KK selain melakukan penambangan juga diwajibkan untuk melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan. Universitas Indonesia Analisis potensi. Artinya. 2009. FE UI.

3. dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Kontraktor hanya membayar royalti dari mineral emas. Pasal 13 KK menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar royalti untuk kadar mineral hasil produksi. FE UI.. Bahkan menurut David C. 20 Tahun 1997 tentang PNBP menyebutkan bahwa salah satu PNPB adalah royalti dari pemanfaatan sumber daya alam di bidang pertambangan.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Nellor... Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya. perak. sulfur. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. JokoSudiarto. dan lain-lain. Dari proses produksi pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung unsurunsur mineral seperti emas. besi. 2. perak dan tembaga sedangkan unsur mineral lainnya tidak dibayarkan royalti. Cakupan KK mengenai royalti lebih sempit dibandingkan dengan Prinsip PNBP. tembaga. hampir tidak ada unsur mineral dalam konsentrat tembaga yang 75 Analisis potensi. Universitas Indonesia . Sesuai dengan UU No. Hal ini terjadi karena dalam memasarkan konsentrat tembaga. Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa dari proses peleburan konsentrat tembaga. royalti yang harus dibayar oleh pihak kontraktor atas besarnya volume atau nilai sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor tersebut. Kandungan masing-masing unsur mineral tersebut ditentukan oleh Ingredient Content (IC) yang merupakan syarat yang disepakati oleh pembeli dan penjual.1. Kontrak Karya yang berlaku untuk pengusahaan pertambangan tembaga tidak optimal buat Indonesia. 2009. kontraktor menerima pembayaran dari pembeli hanya atas tiga mineral tersebut sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dihargai oleh para pembeli.L.

.91 + 788. terutama sulfur dan besi. Penulis tidak memperoleh data IC rata-rata per bulan pada periode 2006 – 2007. JokoSudiarto.690929 R2 = 0.50187 t-sta 3. potensi royalti dari mineral sulfur dan besi dapat dihitung berdasarkan tarif dikalikan jumlah satuan. mineral sulfur dan besi seharusnya dapat dikenakan royalti.8007 0.989950 F-sta = 1. Produk tersebut dapat dijual kepada pabrik pupuk sebagai bahan baku pupuk dan kepada pabrik semen sebagai pengganti sand blasting. 5. Diagram cara perhitungan perkiraan potensi royalti dicantumkan pada Lampiran 8. penulis menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan program EVIEWS berdasarkan data-data periode 2003 s. Tarif royalti dapat digunakan tarif yang ada pada Lampiran KK atau PP 58/1998.798 Universitas Indonesia Analisis potensi. 2005. sehingga untuk memperkirakan jumlah satuan masing-masing mineral ikutan tersebut. Sedangkan jumlah satuan yang merupakan berat masing-masing mineral ikutan.724. 2005. Sulfur S = 5. diperoleh dari IC rata-rata per bulan dikalikan dengan jumlah konsentrat tembaga yang dijual. Sesuai dengan prinsip PNBP. Sulfur dan besi dapat diproses lebih lanjut yang akan menghasilkan produk sampingan berupa asam sulfat..063520 11.5313P + 0.195013 DW = 1.. . Sesuai pendapat Departemen ESDM sebagai regulator dan instansi yang berwenang menetapkan tarif royalti. 246. Periode 2003 s. Artinya jumlah kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga yang dijual dapat diperkirakan dengan persamaan berikut ini.76 tidak dimanfaatkan. 4.d.d.730. 2009. FE UI. Dari run model dengan EVIEWS diperoleh hasil bahwa jumlah perak dan tembaga yang dijual (dalam ton) sangat signifikan mempengaruhi kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga yang dijual. gipsum dan terak. penulis memperoleh data IC rata-rata per bulan sehingga jumlah satuan masing-masing mineral ikutan langsung dapat dihitung (Fitted Value).730596T Se.

57 10. JokoSudiarto.77 Besi B = 4. FE UI. yaitu: Pertama. agar pihak smelter dapat dikenakan royalti maka smelter tersebut juga harus sebagai pemegang KK (kontraktor). Artinya. Hal ini Universitas Indonesia Analisis potensi.545. Kedua. misalnya Afrika Selatan sehingga lebih menguntungkan negara. 2005 berdasarkan Fitted Value dan untuk periode 2006-2007 berdasarkan Ekstrapolasi. pihak kontraktor sebagai pemegang KK selain melakukan penambangan juga diwajibkan untuk melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan..16 28.514.00 2.911. : : : : jumlah penjualan Perak (dalam Ton) jumlah penjualan Tembaga (dalam Ton) kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual (dlm Ton) kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual (dlm Ton) Berdasarkan langkah-langkah tersebut di atas..616.980.569439T Se.486. dimana untuk periode 2003 s. 2009.14 3. 200.614 + 613.73 7.058. 2.579. Terdapat dua alternatif pemecahan masalah untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari royalti tersebut.989037 F-sta = 1.436. maka potensi royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga diperkirakan sebesar USD28. Mineral Sulfur Besi Tarif (USD/Ton) 4. mengenakan royalti kepada kontraktor dengan tarif mengacu (best practice) negara lain.745. P T S B 6.053424 DW = 1. Potensi masing-masing mineral ikutan disampaikan berikut ini.051712 11.545.5036P + 0..36 Jumlah Penjelasan: rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10 dan 12. .829596 R2 = 0.01170 t-sta 3.d.019.718 Dimana. No.436.73. 1. Jumlah Satuan (Ton) 4.456.90 Perkiraan Royalti (USD) 18.9232 0.

Tarif tersebut dapat mengacu (best practice) negara lain. Saran Dari hasil pembahasan dan simpulan di atas.. oo0oo Universitas Indonesia Analisis potensi.. Melakukan penelitian dan pengujian yang lebih detail dan akurat atas jenis dan kadar mineral ikutan yang terkandung dalam konsentrat tembaga. 2. serta pengujian jumlah dan kualitas produk yang dihasilkan oleh pabrik pengolah konsentrat tembaga. misalnya Afrika Selatan atau tarif lain berdasarkan hasil penelitian dan pengujian di atas sehingga penerimaan royalti tersebut lebih menguntungkan Pemerintah RI.78 sesuai dengan amanat Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. . Melaksanakan amanat Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menyebutkan bahwa pemegang KK yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan di dalam negeri.2. FE UI. 3. 2009..d. 5. 4. Melakukan negosiasi kepada pihak kontraktor (pemegang KK) untuk merevisi klausul kontrak karya sehingga saran nomor 2 s. 3 dapat dilaksanakan. agar: 1. Menetapkan tarif royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga beserta cara-cara perhitungan royaltinya. JokoSudiarto. penulis menyarankan kepada Pemerintah RI yang dalam hal ini diwakili oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

PT Raja Grafindo Persada. MPKP FEUI. Tax Policy Hand Book: User Charges. 1978 Hendranata. Gerwin. (www. Ekonometrika Terapan. 1999 Analisis potensi. IPB Press. US Geological Survey Report 2004-1395. 2004 H Salim HS. Zain. Hasil Pemeriksaan atas Pengelolaan PNBP dari Iuran KK pada Departemen ESDM dan PT Freeport Indonesia Tahun Anggaran 2004 dan 2005. Sumarno. Bogor. 2007 Goonan. Ekonometrika Dasar. Penerbit Erlangga.treasury. Hukum Pertambangan di Indonesia. JokoSudiarto. Analisis Regresi. Jakarta. . Thomas G.DAFTAR PUSTAKA Badan Pemeriksa Keuangan. Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting. Virginia.. FE UI. Jakarta.C. 2005 Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat ITB.za) Eriyatno dan Sofyar. Edisi Revisi. Tax Policy Division Fiscal Affairs Department International Monetary Fund. 2005 Gujarati.. Damodar. 2009. Bandung. Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill – 2006. Jakarta. Washington D.gov. 2006 Bell.. 1995 Departement National Treasury Republic of South Africa. Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Konsentrat Tembaga PT Freeport Indonesia Company. Laporan Akhir. Anton. Fadjar. Jakarta. Riset Kebijakan Metode Penelitian Untuk Pascasarjana.

... Edisi Kelima.. Undang-undang Republik Indonesia............. Bandung... Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral... Peggy B. 2003 .. 1997 ...... 2009. 2004 Musgrave. Jakarta. Remaja Rosdakarya......C. Washington D. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif dan Analisis potensi. Edisi Revisi... Jakarta.... Penerbit Erlangga................ FE UI.Moelong....... 2003 .... Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)... Tax Policy Hand Book: Environmental Taxes..... Undang-undang Republik Indonesia..... Tax Policy Division Fiscal Affairs Department International Monetary Fund. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum.. David C. 2000 ... 1995 Pemerintah RI... Jakarta........ Metode Penelitian Kualitatif.. .... Jakarta.... 1993 Nellor. Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara..... Richard A and Musgrave... JokoSudiarto... Keuangan Negara Dalam Teori dan Praktek... Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara......... 1967 . Undang-undang Republik Indonesia.. Jakarta. Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan Umum. Jakarta.....L........ 2009 ...... Jakarta.. Undang-undang Republik Indonesia...... Lexy J.

. Edisi Kedua. 2005 Tim Optimalisasi Penerimaan Negara.. Edi.. 2009. Metode Penelitian Administrasi. Elex Media Komputindo. Alfabeta... Jakarta.. FE UI. 2009 Analisis potensi. Laporan.. Edisi 11. 2007. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EVIEWS.. Pemenuhan Kewajiban Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Atas Perusahaan Pelaksana Kontrak Karya (PT Newmont Nusa Tenggara). 1980 Sembiring.. UPP STIM YKPN.. 2002 Winarno.... Teori dan Proses Kebijakan Publik. Budi.. Analisis Kebijakan Publik. 2009 Sugiyono. .. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian.. JokoSudiarto. Simon. Jalan Baru Untuk Tambang: Mengalirkan Berkah Bagi Anah Bangsa. Wing Wahyu. Jakarta. Alfabeta. Bandung. Jakarta.Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. Yogyakarta. 1998 . Media Pressindo....... Winarno. Yogyakarta. Bandung.. 2004 Suharto..

008.539.356.14 168.568.89 249.24 425.017.00 86.454.119.296.93 94.713.00 51.247.256.911.00 47.216.58 190.86 3.90 2.996.12 154.00 186. Kandungan Besi dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2003 s. yaitu tarif royalti dikalikan dengan tonase kandungan besi.09 142.681.641.88 154.01 238.99 42.90 USD/Ton 2.61 55.846.d.949.301.42 177.90 2.496.00 230.00 806.00 41.261.90 2..45 229.36 447. 2005 memakai data historical atau Fitted Value 2.00 52.882.82 674.908.389.420. 2007 Penjualan No.397.056.911.523.00 244.653.00 190.410.90 2.382.00 277. 2007 didasarkan pada formula atau Ekstrapolasi .024.59 10.911.453.700.00 290.90 2.496.044.911.12 515.07 551.61 4.109.98 70.00 289.260. Estimasi royalti dihitung dengan cara fixed rate (tarif tetap).82 59.53 830.90 2.61 4.877.90 2.290.572.53 4.499.00 183.90 2.72 488.060.340.633.436. 2007 60.386.208.90 2.08 37.76 202.071.143.833.67 773.922.00 715.343.27 1.61 2.419.165.05 118.95 448.461.61 4.00 72.100.00 58. 3.29 108.352.351.00 157.834.202. Periode Perak (P) Kg Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2003 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2004 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2005 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2006 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.531.763.925.00 226.83 2.96 34.23 131.41 Konstanta 0.651.61 4.481.11 4.74 165.57 x T Ton 214.108.00 202.133.903.48 45. JokoSudiarto.463.00 247.344.90 2.863.22 40.566.00 43.00 50.90 2.00 74.767.00 836.04 115..00 207.96 1.68 75.536.650.141.742.00 149.098.02 164.98 Tembaga (T) Ton 273.90 2. FE UI.600.02 692.827.954. 4.202.d.90 2.781.157.94 316.082.63 x P 0.911.27 1.12 185.358.90 Lampiran 12 Kandungan Besi Tarif Estimasi Royalti USD 620.61 4.102. Kandungan Besi dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2006 s.90 2.020.D.61 32.00 1.90 2.00 68.572.143.95 649.00 1.019.222.287.246.00 59.830.956.16 Penjelasan: 1.00 286..218.80 1.90 2.37 210.00 226.911.89 289.59 246.363.06 472.271.456.62 223.77 146.BESI PERIODE 2003 S.d.332.108.118.48 223.97 362.30 54.68 649.911.00 32. 2009.158.313.00 70.75 126.617.040.050.36 2.620.16 301.130.08 366.90 2.70 666.64 163.941.911.00 213.183.829.844.00 216.855.59 846.PERHITUNGAN ESTIMASI ROYALTI .376.070.00 299.00 588.61 4.00 120.634.16 4.486.08 104.06 538.900. Tarif royalti berdasarkan Kontrak Karya dan PP tentang tarif royalti.17 609.40 103.00 74. .00 57.82 672.616.155.14 85.90 2.675.244.524.812.35 381.268. Analisis potensi.054.916.868.71 124.330.08 647.

Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg).112 121.097 36. Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg). TEMBAGA TAHUN 2003 S.530 98. Sumber Data : 1 Laporan ESDM 2 Laporan Perusahaan (PT FIC dan PT NNT) 3 Laporan LPKM ITB Analisis potensi.099 99.250 51.733 48.679 56.981 79.608 60.630 26..392 78.831 47.759 9 10 10 17 19 B E P T Kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton). .259 102.786 37.495 128.811 78.838 65.277 75.895 96.447 58.649 85.535 86.339 82.331 102.500 48.695 103.143 84.049 30.370 57.918 74.314 87.582 56..285 109.437 27.230 61..534 77.366 66.424 83.225 99.659 72.D.839 70.955 44.736 43.954 54.582 91.049 68.000 104.801 63. JokoSudiarto.823 55.756 61.084 67.928 79. 2005 Tahun 2003-1 2003-2 2003-3 2003-4 2003-5 2003-6 2003-7 2003-8 2003-9 2003-10 2003-11 2003-12 2004-1 2004-2 2004-3 2004-4 2004-5 2004-6 2004-7 2004-8 2004-9 2004-10 2004-11 2004-12 2005-1 2005-2 2005-3 2005-4 2005-5 2005-6 2005-7 2005-8 2005-9 2005-10 2005-11 2005-12 B 59.821 E 7 5 14 11 12 15 16 10 14 6 3 7 2 2 4 3 6 8 6 5 8 5 8 13 8 5 10 10 12 7 9 P 19 15 27 23 21 26 28 19 25 13 12 16 8 7 17 12 17 21 20 18 21 17 25 32 17 14 29 25 25 19 23 24 28 22 35 30 Lampiran 11 T 79.281 62. FE UI.350 67.DATA PENJUALAN EMAS.697 127. 2009.041 110.000 90.923 46.958 71. Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton).937 30.457 88.127 51. PERAK.093 67.030 72.243 42.189 78.591 82.915 85.249 53.503 68.

00 226.218.00 220.12 133.143.00 207.925.56 147.14 4.762.46 109.53 4.290.399.158.91 41.00 57.00 216.00 319.687.00 746.77 276.352.00 1.d.152.417.38 809.382.00 68.102.664.68 75.00 70.247.619. Kandungan Sulfur dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2003 s.00 59.91 5.729.00 4.00 58.218..922.98 70.00 43.00 3.980.00 247.903.313.499.112. yaitu tarif royalti dikalikan dengan tonase kandungan besi.81 139.726.00 670.890.94 185.397. FE UI.19 149.91 5.00 4.730.82 59.00 4.46 707.320.00 4.00 USD/Ton 4.568.875. Tarif royalti berdasarkan Kontrak Karya dan PP tentang tarif royalti. Analisis potensi.00 74.00 250.00 230.767.92 3.073.358.904.617.22 40.713.286.241.94 316.00 806.00 232.38 4. JokoSudiarto.00 299.763..273.79 x P 0.900.160.144.202.572.00 521.d.00 286.11 176.944.09 181.420.141.166.00 167.730.00 130.730.91 5.00 4.283.941..89 249.04 974.472.00 4.00 3.98 Tembaga (T) Ton 273.344.00 283.049.058.34 3.53 18.00 277.53 830.730.00 656.996.00 854.556.460.246.122.00 164.00 186.536.562.271.80 1.48 808.00 47.183.165.218.130.650.48 5.49 Konstanta 0.233.785.600.08 37. Kandungan Sulfur dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2006 s. .00 284.76 243.953.00 1.463.00 4.054.00 72.00 183.00 4.00 50.872.745.812.33 790.91 55. 2007 Penjualan No.93 120.00 41.539.00 190.133.362.524.268.00 930.46 196.396.00 4.496.91 5. 2007 didasarkan pada formula atau Ekstrapolasi .954.08 1. 4.91 5.73 x T Ton 259.136.730.653.00 4.020.00 244.003.00 290.00 4.618.332.187.044.599.48 45.16 5.00 226.d.038.070.D.00 4.30 54.477.107.00 157.700.198.332.524.00 32.85 784.514.00 1.331.74 165.00 289.730.523.84 202.89 289.00 120.00 186.008.520.00 1.218.00 4.615.496.730.954.00 880.301.132.834.410.080.45 151.00 Lampiran 10 Kandungan Sulfur Tarif Estimasi Royalti USD 1.572.00 1.99 42.00 1.844.730.292.SULFUR PERIODE 2003 S.132.00 1.00 149.04 211. Estimasi royalti dihitung dengan cara fixed rate (tarif tetap).00 51.00 280.00 4.776.00 4.00 213.00 4.916.916.00 1.139.00 4.039.82 34.00 52.050.00 74.564.00 836. 3. 2007 60.00 1.812.202.093.00 4.316. 2005 memakai data historical atau Fitted Value 2.028.91 5.00 202.630.251. 2009.57 Penjelasan: 1.00 988.565.00 4.78 742.641. Periode Perak (P) Kg Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2003 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2004 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2005 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2006 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.967.742.00 304.276.855.78 598.00 86.PERHITUNGAN ESTIMASI ROYALTI .

387 111.706 71.839 70.743 88.093 67.631 58. Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg).169 86.331 102.281 62.225 99.921 126. 2009.043 46.457 88.706 99.668 101.000 104.424 83.971 105.215 91.495 128.937 30.645 78.119 73.736 43.243 42.860 96..811 78.692 33.242 105. Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg).503 68. 2005 Tahun 2003-1 2003-2 2003-3 2003-4 2003-5 2003-6 2003-7 2003-8 2003-9 2003-10 2003-11 2003-12 2004-1 2004-2 2004-3 2004-4 2004-5 2004-6 2004-7 2004-8 2004-9 2004-10 2004-11 2004-12 2005-1 2005-2 2005-3 2005-4 2005-5 2005-6 2005-7 2005-8 2005-9 2005-10 2005-11 2005-12 S 76.534 77.918 74.250 51. .112 121.823 61.917 46.D.999 100.485 34.695 103.814 65.530 98.189 123.143 84.267 74. JokoSudiarto..697 127. PERAK.629 109.759 9 10 10 17 19 S E P T Kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton). FE UI.649 85.127 85.744 69. Sumber Data : 1 Laporan ESDM 2 Laporan Perusahaan (PT FIC dan PT NNT) 3 Laporan LPKM ITB Analisis potensi.438 92.041 110.812 56.000 90.661 71.259 102.582 91.285 109..392 78.303 61.486 80.838 65.659 72.602 71.DATA PENJUALAN EMAS. TEMBAGA DAN SULFUR TAHUN 2003 S.225 84.910 111.884 61.608 60.230 61.249 53. Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton).049 30.197 E 7 5 14 11 12 15 16 10 14 6 3 7 2 2 4 3 6 8 6 5 8 5 8 13 8 5 10 10 12 7 9 P 19 15 27 23 21 26 28 19 25 13 12 16 8 7 17 12 17 21 20 18 21 17 25 32 17 14 29 25 25 19 23 24 28 22 35 30 Lampiran 9 T 79.

DIAGRAM CARA PERHITUNGAN PERKIRAAN POTENSI ROYALTI Lampiran 8 Tentukan Tarif Menghitung Jumlah Satuan Tentukan IC rata2 per bulan sesuai dg data yg diperoleh periode 2003-2007 Apakah ada IC tsb. Tentukan alternatif lain. Perkiraan Potensi Royalti periode 2003-2007 Analisis potensi. Alasan regresi: data yg digunakan lebih valid dan hasil lebih realistis. 2009. periode 2003-2005 Kalikan tarif dg kandungan tsb.. Misalnya. periode 2006-2007 Perkiraan Royalti periode 2003-2005 (Fitted Value) Perkiraan Royalti periode 2006-2007 (Ekstrapolasi) Penjelasan: 1.2003-2005 Kandungan mineral dlm konsentrat th. 3. JokoSudiarto. Tarif sesuai dg KK dan PP 58/1998. FE UI. kandungan mineral sulfur sebesar 25-36% (rata-rata 30. IC : Ingredient Content 2. .. Sedangkan IC rata-rata perbulan yg digunakan untuk data regresi mrpk rata-rata IC sesuai dg realisasi penjualan konsentrat.2006-2007 Kalikan tarif dg kandungan tsb.5%) merupakan angka perkiraan kandungan yg disepakati pembeli & penjual. ? Tidak Data IC periode 2006-2007 tdk diperoleh. Ya Tentukan IC per bulan sesuai data yg diperoleh periode 2003-2005 Tentukan kandungan mineral dlm konsetrat dg regresi berdasarkan data periode 2003-2005 Jumlah konsentrat yg dijual per bulan periode 2003-2005 Tentukan Model Kalikan IC dg jml konsentrat yg dijual periode 2003-2005 Run Model dg Program EVIEWS Kandungan mineral dlm konsentrat th..

besi) Unsur yg dikenakan denda (mineral ikutan lainnya) 3 4 5 Kewajiban yang termasuk PNBP dlm KK Mineral yang dibayar royalti Mineral yang tidak dibayar royalti Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. BPK Perusahaan PT Smelting LPKM ITB Main Issues UMUM Hasil pertambangan tembaga Kandungan dlm konsentrat Dep. 6 Alasan tidak dibayar - Halaman 1 dari 3 Analisis potensi. tembaga) Unsur yg tdk dibayar dan tdk dikenakan denda (belerang. Jumlah masingmasing mineral ditentukan oleh ingredient content. . tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. tembaga dan mineral ikutan lainnya. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. perak. perak. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. perak. perak. tembaga dan mineral ikutan lainnya. perak. 2009. perak. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. Keu. konsentrat tembaga Emas. konsentrat tembaga Emas. - Emas. JokoSudiarto.Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No I 1 2 Lampiran 7. tembaga) Unsur tsb tidak dibayar oleh pembeli. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas.. perak. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas.. perak. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. ESDM belum pernah melakukan penelitian yg mendalam atas kandungan masingmasing mineral tsb. perak. tembaga dan mineral ikutan lainnya konsentrat tembaga Unsur yg dibayar (emas. perak. FE UI.. perak. ESDM Dep. perak. perak. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian dan mineral ikutan tsb tdk dibayar oleh pembeli. perak. - - konsentrat tembaga Emas.

Lampiran G dlm KK. hrs dikenakan royalti. ESDM ESDM blm pernah melakukan penelitian yg mendalam. . tembaga) - 2 Dasar pengenaan royalti atas mineral ikutan lainnya KK.. namun hrs dengan addendum KK setuju setuju Tdk setuju krn mineral tsb tdak bernilai ekonomis Kurang tepat krn dlm perdagangan yg lazim. - - 3 Perhitungan royalti atas mineral ikutan lainnya Persentase tertentu dari harga jual. BPK - Main Issues Manfaat mineral ikutan lainnya Dep. II 1 DASAR PENGENAAN ROYALTI ATAS MINERAL IKUTAN TEMBAGA Seluruh mineral ikutan dikenakan royalti Setuju. 2009. FE UI. unsur tsb menjadi terak dan gas buang namun dpt dijual. LPKM ITB Dari proses peleburan konsetrat tembaga. Prinsip PNBP (user charges). JokoSudiarto. perak. Seluruh sumber daya alam yg telah dimanfaatkan hrs dikenakan royalti. - Dep. hampir seluruh mineral tsb dpt dimanfaatkan dan dpt dijual. PP ttg tarif. UU ttg PNBP. Besarnya royalti ditentukan oleh negara sesuai dg PP. hanya tiga unsur yg dibayar oleh pembeli (emas. Bisa juga dg Fixed PNBP mrpk hak mutlak negara. Sesuai dg ketentuan yg ada. Perusahaan Merupakan unsur pengotor yg tdk bernilai ekonomis PT Smelting Dari proses peleburan. namun hal ini sulit dilakukan krn mineral tsb tdk ada harga jualnya.Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No 7 Lampiran 7. Sudah jelas ada sumber daya alam yg dimanfaatkan. UU ttg PNBP dan PP ttg tarif. - - - Halaman 2 dari 3 Analisis potensi. UU ttg PNBP dan PP ttg tarif.. Keu..

tembaga) dpt dimanfaatkan dan dijual. semua pihak yang terkait dapat saling mengecek dan menguji kewajaran jumlah royalti.. · Dengan perhitungan yang sederhana. FE UI. · Pihak yang terkait dengan kontrak harus mematuhi seluruh terms and conditions yang tercantum dalam kontrak tsb. Lampiran 7. sehingga untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tsb harus dengan addendum KK. ESDM rate (tarif tetap) dikalikan dg tonase. JokoSudiarto. Seluruh mineral ikutan dlm konsentrat tembaga hrs dikenakan royalti Pemerintah hrs melakukan negosiasi KK agar seluruh mineral dpt dikenakan royalti Mineral ikutan lainnya (selain emas. Mineral ikutan lainnya (selain emas.. perak.. sehingga sulit sekali menentukan nilai ekonomis masing-masing mineral tsb sebagai dasar perhitungan royaltinya. 2009. Mineral ikutan lainnya (selain emas. III 1 KELEMAHAN DAN KELEBIHAN Kelemahan · Pemerintah belum pernah melakukan pengujian atas jenis dan kadar mineral ikutan tembaga. mudah dilaksanakan dan dapat diterapkan pada seluruh mineral ikutan tembaga. · Tidak terdapat potential loss atau royalti yang hilang karena seluruh mineral ikutan tembaga dikenakan royalti. perak. BPK Perusahaan PT Smelting LPKM ITB Dep. Keu. Hal ini sulit sekali dilakukan karena pihak kontraktor bisa dipastikan tidak setuju.Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No Main Issues Dep. tembaga) tdk dikenakan royalti tetapi dikenakan pajak penghasilan. . perak. krn klausul KK menyebutkan demikian. Halaman 3 dari 3 Analisis potensi. 4 Simpulan Mineral ikutan lainnya dpt dikenakan royalti. namun hrs dg addendum KK. tembaga) tdk dibayar royalti. 2 Kelebihan · Perhitungan royalti dengan fixed rate.

FE UI. Analisis potensi. and casting----are taken together as a single process. Smelting is a separating and value-adding process...3 mt of cast copper product. JokoSudiarto.Giagram Proses Peleburan Konsentrat Tembaga Lampiran 6 Figure: Copper-specific flow diagram of the smelting process. The total capacity of the smelters studied was 8. The steps----smelting. . converting. The data reported in the figure represent the weighted average copper-specific flows for all the smelters studied in this report. 2009. fire refining..

..Lampiran 5 Analisis potensi. FE UI. . JokoSudiarto.. 2009.

47 4..127.654.48 7.571.829.361.PT NEWMONT NUSATENGGARA Lampiran 4 REALISASI PENYETORAN ROYALTI PERIODE 2003 S.731.51 3.31 Tgl.40 23.47 4.332.51 20.380.370.451.752.164.793.370.997. FE UI.380.122.190.571.526.788.127.122.037.526. Periode TAHUN 2004 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2004 4.218.68 5.752.78 17.87 Analisis potensi.274.380.81 4.11 4.24 96.59 5.190.08 TAHUN 2006 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2006 2.206.76 5. JokoSudiarto.39 7.242.47 16.749.731..421.39 7.020.51 20. 2007 Royalti Pokok US $ TAHUN 2003 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2003 3.047.26 6.641.978.871.51 3.40 23.775.880.40 18.114.978.380.22 7.546.31 30 Apr 2003 31 Jul 2003 30 Okt 2003 29 Jan 2004 3.114.542.546.257.47 16.829.81 4.871.187.451.865.51 28 Apr 2006 27 Jul 2004 19 Okt 2006 30 Jan 2007 2.76 5.750.43 3.750.242.895.73 TAHUN 2005 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2005 2.059.895.788. Jumlah US $ No.73 30 Apr 2004 30 Jul 2004 29 Okt 2004 31 Jan 2005 4.654.187.332.22 7.43 3.D.24 96.020.793.430.26 6.51 TAHUN 2007 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.010.746.22 4.972. 2007 Keterangan: Sumber data: Departemen ESDM dan Laporan PT Newmont Nusatenggara (diolah) 3.361.87 24 Apr 2007 27 Jul 2007 30 Okt 2007 30 Jan 2008 - 3.059.010.335.865.072.123.48 7.421.206.68 5.218.40 18.88 5.047..22 4.037.128.072.78 17.641.460.145.746.335.749.128. .542.274.997. 2009.50 6.257.123.972.59 5.08 28 Apr 2005 27 Jul 2005 28 Okt 2005 31 Jan 2006 2.88 5.460.11 4.775.164.145.50 6.430.d.880.

550.363.447. 2009.779.795.256.93 35.188.670.955.15 23.530.50 7.D.41 133.158.460.188.50 7.68 11.12 Analisis potensi. 2007 Royalti Pokok US $ TAHUN 2003 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2003 6.063.01 Tgl.227.953.537.256.PT FREEPORT INDONESIA COMPANY Lampiran 3 REALISASI PENYETORAN ROYALTI PERIODE 2003 S.737.550.d.778.84 30.83 3.263.989.12 30 Mei 2007 27 Agust 2007 20 Nov'2007 28 Feb 2008 - 39.343.135.212.063.54 102.67 38.44 7.35 22.85 27 Mei 2005 26 Agust 2005 18 Nop 2005 28 Feb 2006 22.15 23. 2003 26 Feb 2004 6.497.29 TAHUN 2007 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.54 102.350.315.263.363.997.840.928. Periode TAHUN 2004 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2004 4.43 23.534.227.737. FE UI.93 35.824.96 134.400.315.534..509.026..68 11.736.249.83 3.733.96 134.605.720.19 48.736.400.760.24 24. 2007 Keterangan: Sumber data: Departemen ESDM dan Laporan PT Freeport Indonesia Company (diolah) 39.519.509.922.05 47.05 47.955.10 443.989.928.350.795.115.44 7.46 9.21 17.779.497.095.343.85 TAHUN 2006 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2006 17.87 27 Mei 2004 26 Agust 2004 26 Nov.24 24.29 26 Mei 2006 28 Agust 2006 20 Nov'2006 28 Feb 2007 17.01 29 Mei 2003 28 Agust 2003 20 Nov.997. JokoSudiarto..252.778.46 9.720.824.795.530.676.732. .689.676. Jumlah US $ No.795.249.670.21 17.733.026.252.19 48.840.84 30.68 22.729.56 51.460.922.115.760. 2004 28 Feb 2005 4.605.732.41 133.095.519.177.135.56 51.689.67 38.43 23.10 443.212.158.729.447.953.537.68 22.35 22.260.87 TAHUN 2005 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2005 22.177.260.

31 Des 2004 31-Jan-05 31-Jul-05 96.600.d.D.d. 31 Des 2003 31-Jan-03 31-Jul-03 96.00 3.d.400.364.620.00 131.540.00 87.00 3.400. . 14 Agt 2004 15 Agt 2004 s.600.00 87.540. 2007 1.00 TOTAL TAHUN 2003 s..00 Operasi 2004 1 Jan 2004 s.00 3.540.63 Operasi 2006 1 Jan 2006 s. 31 Des 2006 31-Jan-06 31-Jul-06 87.PT NEWMONT NUSA TENGGARA Lampiran 2 PERHITUNGAN IURAN TETAP/DEADRENT PERIODE 2003 S.00 182 183 3.00 131..00 144. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.00 131.200.310.00 3. 31 Des 2004 31-Jan-04 31-Jul-04 96.086.d.382.00 262.310.d.00 3. 30 Jun 2007 1 Jul 2007 s. FE UI.63 Sumber Data : Perhitungan Perusahaan dan Laporan Hasil Audit Tim OPN Analisis potensi.00 96.00 289.400.620.540. 31 Des 2007 31-Jan-07 31-Jul-07 87. 30 Jun 2003 1 Jul 2003 s.00 144. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.00 3. JokoSudiarto.600.00 182 183 3.d.310.. 2009.d.600.200.50 278.00 96.400.00 131.d.446.d.00 144.d.400.d.00 96.00 144. 30 Jun 2006 1 Jul 2006 s.540.482.00 144.00 87.00 Operasi 2007 1 Jan 2007 s.00 182 183 3.d.13 98.00 Operasi 2005 1 Jan 2004 s. 2007 KEWAJIBAN IURAN TETAP (US$) TAHAP TAHUN PERIODE TANGGAL JATUH TEMPO LUAS (Ha) HARI TARIF/TH (US$) Operasi 2003 1 Jan 2003 s.400.310.00 182 183 3.00 262.00 182 45 138 3.00 289.600.00 35.

250.950.425.00 202.950.425.425.00 Sumber Data : Perhitungan Perusahaan dan Laporan Hasil Audit Tim OPN Analisis potensi.5 3.5 3.00 202.00 TOTAL TAHUN 2003 s.5 3.00 304.425.5 3.00 304.850.950. 30 Jun 2007 1 Jul 2007 s.00 3. 2007 3.00 608.00 608.5 0.00 3.950.d.950.00 Operasi 2007 1 Jan 2007 s.00 608. .00 0.425.00 3.00 304.d.d.00 3. 31 Des 2003 31-Jan-03 31-Jul-03 202. 30 Jun 2003 1 Jul 2003 s.5 0.00 0. 31 Des 2006 31-Jan-06 31-Jul-06 202.5 0.00 304.. 2009.D.00 304. 31 Des 2004 31-Jan-04 31-Jul-04 202. 14 Agt 2004 31-Jan-05 31-Jul-05 202.5 3.d.00 304.044.d.00 304.00 3.950.425.850.00 0.425.00 202.00 0. 30 Jun 2006 1 Jul 2006 s.. FE UI.425.PT FREEPORT INDONESIA COMPANY Lampiran 1 PERHITUNGAN IURAN TETAP/DEADRENT PERIODE 2003 S.00 202.5 0. 2007 KEWAJIBAN IURAN TETAP (US$) TAHAP TAHUN PERIODE TANGGAL JATUH TEMPO LUAS (Ha) THN.00 202. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s. 31 Des 2007 31-Jan-07 31-Jul-07 202.950.00 608.d.950.00 0.00 Operasi 2005 1 Jan 2004 s.00 304.. JokoSudiarto.00 608.5 0.950.00 304.00 Operasi 2006 1 Jan 2006 s.00 Operasi 2004 1 Jan 2004 s.d.d.d.950.850.850.850.425.d.d. TARIF/TH (US$) Operasi 2003 1 Jan 2003 s.00 304.425. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful