UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007

TESIS

JOKO SUDIARTO NPM 0606152604

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA PROGRAM MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK JAKARTA, DESEMBER 2009

Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007

TESIS Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi pada Program Magister Perencanaan Dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia

JOKO SUDIARTO NPM 0606152604

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA PROGRAM MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK JAKARTA, DESEMBER 2009

Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama NPM Tanda tangan Tanggal

: : : :

Joko Sudiarto 0606152604

Desember 2009

ii
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

Ph........ JokoSudiarto..... ................HALAMAN PENGESAHAN Tesis ini diajukan oleh Nama NPM Program Studi Judul Tesis : : : : Joko Sudiarto 0606152604 Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Analisis Potensi Royalti dari Mineral Pertambangan Tembaga Tahun 2003 .........2007 Ikutan Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi pada Program Studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik....... Raksaka Mahi. Zainal.... Ditetapkan di Tanggal : : Jakarta Desember 2009 iii Analisis potensi..... Ph................. FE UI... Fakultas Ekonomi... Universitas Indonesia.... ..... ....... DEWAN PENGUJI Pembimbing Penguji Penguji : : : B......D Arindra A.D Syarif Syahrial.. 2009.... ........

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Rofif. saran dan perbaikan untuk penyempurnaan materi Tesis ini. . Universitas Indonesia. Yth. Yth. dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan adanya kritik. Semoga Tesis ini bisa menambah dorongan semangat belajar bagi kalian. FE UI. 5. JokoSudiarto. Bapak Direktur PNBP Departemen Keuangan. Istri dan anak-anakku tersayang Nabila. Tak lupa penulis juga ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada : 1. Bapak Ibu Dosen pada Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik.. 4.KATA PENGANTAR Segala puji syukur. Bapak dan Ibu di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral yang sangat membantu dalam penyediaan data.. Semua pihak yang terkait dan telah banyak membantu dalam penyusunan tesis ini. yang dengan sabar dan penuh perhatian berkenan meluangkan waktu dan pikiran untuk membimbing dan memberi arahan hingga selesainya penyusunan Tesis ini. 2009. iv Analisis potensi. Hasna dan Ziva yang selalu memberikan motivasi serta doanya. 3. sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Tesis dengan judul “ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007”. Fakultas Ekonomi. Oleh karena itu. penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya. 2.. Tesis ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam rangka mencapai gelar Magister Ekonomi pada Program Pascasarjana di Universitas Indonesia. Penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Yth. Bapak Raksaka Mahi selaku Pembimbing. Jakarta.

terutama bagi penulis sendiri. Jakarta.. 2009.Selanjutnya. penulis berharap Tesis ini dapat memperluas cakrawala ilmu pengetahuan dan memberi manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. FE UI.. Desember 2009 Joko Sudiarto v Analisis potensi.. JokoSudiarto. .

mengelola dalam bentuk pangkalan data (database). 2009. mengalihmedia/ formatkan. merawat.. Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan. FE UI. menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive RoyaltyFree Right) atas karya ilimiah saya yang berjudul: ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007 beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). JokoSudiarto.. dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. Dibuat di : Pada Tanggal : Jakarta Desember 2009 Yang menyatakan Joko Sudiarto vi Analisis potensi.HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia.. saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama NPM Program Studi Departemen Fakultas Jenis Karya : : : : : : Joko Sudiarto 0606152604 Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Ekonomi Ekonomi Tesis demi pengembangan ilmu pengetahuan. . Demikian pernyataan saya buat dengan sebenarnya.

. Sesuai dengan prinsip PNBP yang ditegaskan dalam UU No.ABSTRAK Nama Program Studi Judul : Joko Sudiarto : Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik : Analisis Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Pertambangan Tembaga Tahun 2003 . dan untuk memperkirakan besarnya kandungan mineral ikutan yang berada di luar sampel digunakan teknis forecasting menggunakan metode rata-rata dan analisis regresi linier sederhana. Dalam Kontrak Karya (KK) pengusahaan pertambangan tembaga. Universitas Indonesia . menentukan alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan pertambangan tembaga dan perkiraan potensi royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga untuk periode 2003 2007. teknik pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan dan hasil survei. Mineral Ikutan Pertambangan tembaga Undang-undang PNBP. direkomendasikan untuk merevisi Pasal 13 kontrak karya yang kurang menguntungkan pihak Pemerintah RI. dimana cakupan KK mengenai royalti lebih sempit dibandingkan dengan prinsip PNBP tersebut. 2009. perak dan tembaga sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dikenakan royalti.20/1997 tentang PNBP bahwa semua pemanfaatan sumber daya alam harus membayar royalti. Demikian juga dengan mineral ikutan pertambangan tembaga sudah semestinya dikenakan royalti. kontraktor hanya menyetorkan royalti atas mineral emas. Kata Kunci: Royalti. Hasil analisis menunjukan bahwa hampir seluruh mineral ikutan pertambangan tembaga dapat dimanfaatkan dan mempunyai nilai jual.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cakupan KK pengusahaan pertambangan tembaga. namun belum dikelola secara optimal.2007 Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang bersumber dari pertambangan umum merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat potensial. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan pendekatan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kontrak Karya vii Analisis potensi.. JokoSudiarto. FE UI. Berdasarkan hasil penelitian ini.

the technique of collecting data through study of literatures and survey. the qualitative and quantitative approaches are used. To achieve those goals. 20/1997 about PNBP. Base on this research. The result shows that most of minerals from the copper mining can be used and sold. which states that the scope of Contract of Work related to royalty is narrower than the principle of that user charges. Unfortunately. it is not optimally managed. Thus. 20/1997 about PNBP. the extraction and usage of natural resources must be levied to royalty. Contract of Work viii Analisis potensi. all minerals from the copper mining should also be levied to royalty. Universitas Indonesia . 2009. Non Tax Government Revenue (PNBP) from mining is among one of the potential government revenues for Indonesia. this study also estimates the potential royalty that could be derived from other minerals of copper mining for year 2003 – 2007. Key Words: Royalty. and the technique forecasting has been used to estimate of other minerals contained within the copper concentrate. Mineral from Copper Mining Law No.. The Contract of Work stipulated for copper mining is only stated that. the contractor is required only to pay royalty of gold. The study employs moving average method and simple linear regression analysis. it is recommanded to revise the Article 13th in the Contract of Work. According to the principle of user charges as stated in the Law No. but not for other minerals contained within the copper concentrate.ABSTRACT Name Study Program Title : Joko Sudiarto : Magister of Public Planning and Public Policy : Analysis of Potential Royalty from Minerals of Copper Mining Year 2003 – 2007.. silver. and copper. FE UI. JokoSudiarto. The objective of this research is to evaluate whether the scope of Contract of Work of copper mining could be optimized by evaluating the potential of other minerals contained in the copper concentrate. The result of the analysis to explain the reasons to levy royalty from other minerals..

DAFTAR ISI

Hal Halaman Judul ................................................................................................... Halaman Pernyataan Orisinalitas ……………………………………………. Halaman Pengesahan ……................................................................................ Kata Pengantar .................................................................................................. Halaman Pernyataan Persetujuan Publikasi …………………………………. Abstrak ............................................................................................................ Abstract ……………………………………………………………………… Daftar Isi ........................................................................................................... Daftar Diagram ................................................................................................. Daftar Tabel ...................................................................................................... Daftar Lampiran ................................................................................................ i ii iii iv vi vii viii ix xi xii xiii

BAB I

PENDAHULUAN ........................................................................ 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. Latar Belakang .................................................................. Rumusan Permasalahan ..................................................... Ruang Lingkup Penelitian……………………………..... Tujuan Penelitian……………………………………….... Sistimatika Penulisan ........................................................

1 1 3 4 4 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA .............................................................. 2.1. Kerangka Teoritis .............................................................. 2.1.1 Konsep Ekonomi Keuangan Publik ......................... 2.1.2 Pengertian dan Konsep Pertambangan ..................... 2.1.3 Teori Ekonometrika .................................................. 2.1.4 Peraturan Perundang-undangan ............................... 2.2. Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah .............. ............

6 6 6 7 12 13 16

ix
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN DAN HASIL PENELITIAN LAPANGAN ................................................................................ 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. 3.6. 3.7. Metode Pengumpulan Data …........................................... Koefisien Korelasi …......................................................... Koefisien Variasi ………………....................................... Regresi ………………....................................................... Tahapan Dalam Membuat Analisis Regresi …………….. Data ……………………………………………………... Hasil Penelitian Lapangan ………………………………. 18 18 18 19 19 21 23 24

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN ............................................. 4.1. Analisis Cakupan Kontrak Karya yang Berlaku Untuk Pengusahaan Pertambangan Tembaga .............................. 4.2. Menentukan Alasan yang Dapat Digunakan Untuk Mengenakan Royalti atas Mineral Ikutan Tembaga ......... 4.3. Perkiraan Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga ..

35

35

47 53

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN ................................................... 5.1. 5.2. Kesimpulan ........................................................................ Saran ..................................................................................

75 75 78

Lampiran-lampiran Daftar Pustaka

x
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

DAFTAR DIAGRAM

Hal Diagram 1 Diagram 2 : : Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah …………. Giagram Alur Proses Produksi Konsentrat Lamp. 5 20

Tembaga ………………………………………….. Diagram 3 : Giagram Alur Proses Peleburan Konsentrat

Tembaga ………………………………………….. Diagram 3 : Giagram Cara Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti …………………………………………….

Lamp. 6

Lamp. 8

xi
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

Sulfur : Hasil Uji BG Model 1 . 2009.DAFTAR TABEL Hal Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 Tabel 24 Tabel 25 Tabel 26 Tabel 27 Tabel 28 Tabel 29 : Ingredient Content PT FIC : Ingredient Content PT NNT : Realisasi Produksi PT FIC : Realisasi Produksi PT NNT : Realisasi Penjualan PT FIC : Realisasi Penjualan PT NNT : Realisasi Penyetoran Iuran Tetap : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi (Royalti) : Produksi dan Output PT Smelting : Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT FIC : Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT NNT : Hasil Run Model 1 ..Besi Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .Besi : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 .Besi : Hasil Run Model 2 .Besi : Korelasi Variabel Bebas .Besi Hasil Uji BG Model 2 .Sulfur : Korelasi Variabel Bebas . JokoSudiarto.Besi : Hasil Uji BG Model 1.Sulfur : Perkiraan Potensi Royalti .Sulfur : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 .Besi : Perkiraan Kandungan Besi dalam Konsentrat : Perkiraan Potensi Royalti ..Sulfur : Perkiraan Kandungan Sulfur dalam Konsentrat : Hasil Run Model 1 .Besi 24 24 25 25 25 26 26 27 32 41 44 56 58 59 60 60 62 63 64 65 66 67 68 68 70 71 72 72 72 xii Analisis potensi.Sulfur : Hasil Uji BG Model 2 ..Sulfur : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .Sulfur : Hasil Run Model 2 . FE UI. .

Lampiran 10 : Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti . Perak. Lampiran 12 : Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti . : Diagram Alur Proses Peleburan Konsentrat Tembaga.. Tembaga dan Besi Tahun 2003 s. Perak. : Matrik Resume Pendapatan dari Instansi/Ahli. : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti PT NNT.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 : Perhitungan Iuran Tetap PT FIC. Tembaga dan Sulfur Tahun 2003 s. . xiii Analisis potensi.d. : Perhitungan Iuran Tetap PT NNT.d.. : Data Penjualan Emas. : Diagram Cara Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti. 2005. 2005.Besi. Lampiran 11 : Data Penjualan Emas.. FE UI. : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti PT FIC. JokoSudiarto. : Diagram Alur Proses Produksi Konsentrat Tembaga.Sulfur. 2009.

. baik dalam rangka Penanaman Modal Asing (PMA) maupun PMDN. Pengusahaan pertambangan mineral oleh swasta dilaksanakan melalui Kontrak Karya (KK) antara Pemerintah RI dengan perusahaan swasta. batubara. menampung tenaga kerja. diantaranya 11 (sebelas) perusahaan yang telah berproduksi (Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral: 2006). Dari sisi penerimaan bukan pajak (PNBP). JokoSudiarto. dan lain-lain. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang berasal dari pertambangan umum merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat potensial. Dalam pengusahaan bahan tambang. FE UI. Hasil-hasil audit Tim Optimalisasi Penerimaan Negara (OPN) telah mengindikasikan persoalan tersebut.1. Selama 1 Analisis potensi. baik tenaga kerja lokal. Dari perusahaan tersebut pemerintah juga akan memperoleh penerimaan pajak dan bukan pajak.. namun belum dikelola secara optimal. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang kaya akan bahan tambang. dan lain-lain. minyak dan gas bumi. Dari aspek devisa negara dan pendapatan asli daerah. Terdapat 40 (empat puluh) perusahaan swasta pemegang KK. 2009. pemerintah dapat melaksanakan sendiri atau menunjuk kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan sendiri oleh instansi pemerintah. pemerintah akan memperoleh bagi hasil berupa royalti sesuai dengan hasil produksinya. keberadaan perusahaan tambang sangat membantu dalam pembangunan nasional dan daerah. nasional maupun internasional. Universitas Indinesia . Jumlah perusahaan yang bergerak dan menanamkan investasinya di bidang pertambangan pun sangat banyak. regional.. Dampak positif penanaman investasi di bidang pertambangan ini adalah meningkatkan devisa negara dan pendapatan asli daerah. tembaga. Bahan tambang itu meliputi emas.BAB I PENDAHULUAN 1. perak. keberadaan perusahaan tambang telah menyerap tenaga kerja. Begitu juga dalam bidang tenaga kerja.

diantaranya potensi mineral ikutan besi dan sulfur yang terjual dalam konsentrat tembaga minimal tidak terealisasi masing-masing sebesar USD251. Namun dalam perhitungan royalti yang harus dibayar oleh PT FIC sesuai dengan pasal 13 poin 2 Kontrak Karya disebutkan bahwa “dalam hal tembaga tersebut dijual sebagai konsentrat.246. Universitas Indonesia Analisis potensi. Sehingga royalti hanya diperhitungkan terhadap logam-logam tembaga. 2009..41 dan USD1. emas dan perak yang terkandung dalam konsentrat tembaga yang merupakan produk utama PT FIC. Kegiatan eksplorasi menghasilkan bijih tembaga sulfida yang kemudian diolah menjadi konsentrat tembaga.. .44. JokoSudiarto.286. dalam konsentrat tembaga tersebut terkandung didalamnya mineral ikutan emas (Au). emas (Au) dan perak (Ag).113. sehingga tidak dikenakan royalti.”. Sedangkan terhadap unsur-unsur besi (Fe) dan belerang (S) walaupun jumlahnya relatif besar PT FIC tidak memperoleh pembayaran. jumlah royalti yang akan dibayar berkaitan dengan kandungan tembaga yang dibayar dari konsentrat yang dijual oleh perusahaan.353. dalam hal ini dalam memasarkan konsentrat tembaga kepada pelanggannya PT FIC hanya memperoleh pembayaran untuk logam tembaga (Cu).366. antara lain adanya pasal-pasal dalam Kontrak Karya yang kurang menguntungkan pihak Pemerintah RI.929. Potensi PNBP tidak terealisasi karena terbentur pada beberapa masalah. PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) melakukan kegiatan pertambangan di Tembaga Pura berdasarkan kontrak karya (contract of work) antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991.14 serta terdapat potensi PNBP yang tidak dapat direalisasikan. PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) PT NNT melakukan kegiatan pertambangan di Nusa Tenggara Barat berdasarkan kontrak karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT NNT tanggal 2 Desember 1986. Dalam setiap penjualan konsentrat oleh PT NNT....2 periode tahun 1998 sampai dengan tahun 2000 sebanyak empat perusahaan kurang menyetor PNBP sebesar Rp362. FE UI. hanya tembaga..93 dan US$4.837. perak (Ag) dan sejumlah senyawa logam lainnya seperti besi (Fe) dan belerang (S). Hal ini dapat diuraikan berikut ini.

3

emas, dan perak yang dibayar oleh pembeli untuk setiap realisasi penjualan ekspor konsentrat, sedangkan material ikutan lainnya seperti: besi (Fe), sulfur (S), silika (SiO2), kapur (Lime), dan Al203 tidak dinilai. Pengenaan tarif royalti tersebut berdasarkan kontrak karyanya yang menyebutkan “Bila terdapat mineral ikutan yang terdapat dalam konsentrat yang dijual diperhitungkan dengan tarif royalti sebagaimana diatur dalam Lampiran “F”. Dalam lampiran F hanya besi (Fe) dan sulfur (S) yang memiliki tarif royalti yaitu masing-masing sebesar US$0.0005/kg dan US$0.002/kg, sementara tiga mineral lainnya tidak ada tarifnya. Walaupun demikian perusahaan tetap tidak membayar royalti dengan alasan mineral ikutan tersebut tidak dibayar oleh pembeli. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP, antara lain menyebutkan jenis dan tarif PNBP. Salah satu jenis PNBP tersebut adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam seperti penerimaan royalti di bidang pertambangan. Tarif atas jenis PNBP tersebut ditetapkan dalam undangundang atau Peraturan Pemerintah (PP) yang menetapkan jenis PNBP. Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah telah mengeluarkan beberapa peraturan yang mengatur tentang tarif royalti di bidang pertambangan, yaitu PP Nomor 58 Tahun 1998; PP Nomor 13 Tahun 2000 dan yang terakhir PP Nomor 45 Tahun 2003. Semua ketentuan tersebut hanya mengatur tentang besarnya tarif PNBP untuk masing-masing mineral dalam satuan logam dan konsentrat. Tidak secara jelas menerangkan cara perhitungan royalti atas mineral ikutan dalam suatu konsentrat, termasuk mineral ikutan dalam konsentrat tembaga.

1.2.

Rumusan Permasalahan Berdasarkan ringkasan permasalahan tersebut di atas, nampak bahwa

terdapat potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga yang belum tergali. Berkaitan dengan permasalahan tersebut, pertanyaan yang timbul adalah: 1. Bagaimana cakupan KK yang berlaku untuk pertambangan tembaga ? 2. Alasan apa yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tambang tembaga? 3. Berapa perkiraan potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga ?
Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

4

1.3.

Ruang Lingkup Penelitian Untuk dapat menjawab beberapa permasalahan tersebut di atas dan agar

pembahasan lebih fokus maka ditentukan ruang lingkup penelitian sebagai berikut: 1. Kontrak Karya pengusahaan pertambangan tembaga antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT beserta perubahannya. 2. Kegiatan usaha pertambangan yang telah dilakukan oleh PT FIC dan PT NNT yang mencakup luas wilayah usaha pertambangan untuk setiap periode tahapan kegiatan tambang, proses produksi konsentrat tembaga, pengangkutan atau pemindahan tembaga mulai dari mulut tambang sampai dengan stock pile, penimbunan dan penjualan konsentrat tembaga untuk periode 2003 sampai dengan 2007. 3. Tata cara perhitungan dan realisasi penyetoran PNBP oleh PT FIC dan PT NNT sebagaimana diatur dalam perjanjian, peraturan perundangan dan ketentuan lain yang terkait.

1.4.

Tujuan Penelitian Tujuan dari analisis dan penelitian ini adalah:

1. Menganalisis cakupan KK yang berlaku untuk pertambangan tembaga. 2. Menentukan alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tambang tembaga. 3. Memperkirakan potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga.

1.5. Bab I

Sistimatika Penulisan Pendahuluan Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, pokok

permasalahan, ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, dan sistimatika penulisan. Bab II Tinjauan Pustaka Bab ini menguraikan tentang konsep ekonomi keuangan publik,

Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

5

pengertian dan konsep pertambangan, teori ekonometrika, peraturan perundang-undangan yang relevan dengan masalah yang dibahas, kerangka berpikir pemecahan masalah. Bab III Metodologi Penelitian dan Hasil Penelitian Lapangan Bab ini akan menjelaskan tentang metode pengumpulan data yang dilakukan, tentang rumus kofesien variasi, pengolahan data dengan regresi, dan tahapan-tahapan dalam membuat analisis regresi. Juga akan dijelaskan tentang data yang dipergunakan dalam melakukan analisis atas potensi royalti dari mineral ikutan tembaga berdasarkan data-data yang diperoleh dari studi pustaka dan penelitian lapangan. Bab IV Hasil Analisis dan Pembahasan Bab ini merupakan pembahasan terhadap hasil analisis kuantitatif atas potensi royalti dari mineral ikutan tembaga. Bab V Kesimpulan dan Saran Bab ini merupakan Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pembahasan pada Bab IV dan saran-saran atau rekomendasi yang akan diberikan penulis dari kesimpulan yang diperoleh.

Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

Bandung. hal. Sebagai agen. Konsep Ekonomi Keuangan Publik Menurut buku Kamus Administrasi Publik. kebijakan publik didefinisikan sebagai hubungan suatu unit pemerintah dengan lingkungannya1. Kerangka Teoritis 2. Suharto. Analisis Kebijakan Publik. 2002. Teori dan Proses Kebijakan Publik. kebijakan publik adalah pemanfaatan yang strategis terhadap sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah publik atau pemerintah. Yogyakarta. Media Pressindo. 2009. 15. Dye menyatakan bahwa kebijakan publik adalah apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan dan tidak dilakukan (whatever governments choose to do or not to do)2. Alfabeta. hal. FE UI. 2005. 6 Analisis potensi. pemerintah mempunyai kewajiban (bonding) untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya tersebut..1. Menurut Robert Eyestone menyatakan secara luas.1. Dimana. yakni: 1 2 Winarno.. Universitas Indonesia . Pemerintah harus mempertanggungjawabkan setiap apa yang dilakukan oleh pemerintah berdasarkan pengertian konsep agent dan principal relationship. Sedangkan prinsipal mempunyai kewenangan untuk melakukan penilaian atau monitoring atas pelaksanaan pengelolaan tersebut apakah telah sesuai dengan amanah dan kepercayaan yang diberikan oleh rakyat.. JokoSudiarto. 44. Budi.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Edi.1. Lebih jauh James Andersen mengemukakan bahwa kebijakan merupakan arah tindakan yang mempunyai maksud yang ditetapkan oleh seorang aktor dalam mengatasi suatu persoalan. Sedangkan Thomas R. rakyat merupakan prinsipal yaitu pihak yang mempunyai atau menguasai sumber daya dan mempercayakan pengelolaan sumber daya tersebut kepada pemerintah yang disebut agen. Gerwin Bell dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 104-107) menguraikan pengertian user charges.

and highway tolls. 289. JokoSudiarto. sulfur..1. User charges. FE UI. uranium.. . Mineral adalah: “senyawa anorganik yang terbentuk di alam.... thus. patent and copyright fees. · Regulatory Fees: There are very much like a tax in that they are solely based on the govermnet’s sovereign power to regulate particular economic agents or activities. In this way. user charges are efficiently levied on publicly provided goods or services that enhance economic efficiency and have the characteristic that their users may be easily identified and excluded from their consumption. canal.. chromite. Pengertian dan Konsep Pertambangan Istilah bahan galian berasal dari terjemahan bahasa Inggris. tin. coal.. copper. manganese. sulfide. 2. silver.. zinc. arsenic. Example of regulatory fees include passport and judicial fees. brigde. yang memiliki sifat fisik dan Universitas Indonesia Analisis potensi. ... nickel. 1950 Latest Amendment In 1962 telah ditemukan pengertian mineral. The following typology of user charges is: · User Fees: There are payments on services consumed to yield a direct benefit to the user. 2009.2.. thorium. lead. “Mineral” in this article and Articles hereinafter shall mean: “the ores of gold. antimony. . Examples include royalties on natural resources. iron. molybdenum. 20 December. .. phosphate. mercury. graphite. tungsten.” Dalam Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. customs service user fees. Dalam Article 3 angka 1 Japanese Mining Law No..7 User Charges are levied on the use of specific good or service and thereby on the accruing benefits that economic agents receive from such use. bismuth. cobalt. .. yaitu mineral. emulate the benefit principle in public finance which states that the payment of a tax ought to correspond to the benefits received from taxfinanced goods and services. the application of user charges allows the costs of goods or service to be distributed according to the benefits received.

yakni: 1) besi. batu gamping. tembaga. bijih ataupun segala mecam batuan” (Sukandarrumidi. lempung. baik berupa unsur kimia. yaitu: 1. molibden. timbal. kristal kwarsa. Bahan galian strategis merupakan bahan galian untuk kepentingan pertahanan keamanan serta perkekonomian negara. brom. belerang. yaitu: 1. bahan galian yang berbentuk gas. 2. platina. Bahan galian vital.. 2. Bahan galian strategis ini disebut juga golongan bahan galian A. 3) emas. Universitas Indonesia Analisis potensi. rtutenium. titan. korundum. air raksa. mangan.8 kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan. bahan galian yang berbentuk cair. perak.. cerium. 1999: 251). Penggolongan bahan galian diatur dalam Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian. 3. wolfram. JokoSudiarto. 5) yttrium. vanadium. Sukandarrumidi juga mengemukakan pengertian bahan galian. bahan galian diklasifikasikan menjadi tiga macam. perak. 2) bauksit. 2009. Dalam pengertian ini. mineral. adalah gas alam. barit. dibagi menjadi delapan golongan. seng. 6) berillium. Bahan galian vital merupakan bahan galian yang dapat menjamin hajat hidup orang. baik dalam bentuk lepas atau padu”. khrom. 7) kriolit. adalah emas.. . Ia berpendapat bahwa bahan galian adalah: “bahan yang dijumpai di dalam. Bahan galian strategis. 4) arsin. bahan galian yang berbentuk padat. klor. bismut. Bahan galian dapat dibagi menjadi tiga golongan. dan logam-logam langka lainnya. FE UI. Bahan galian ini disebut juga golongan bahan galian B. intan. zirkon. dan lain-lain. antimon. 8) yodium. flourspar. adalah minyak bumi dan yodium.

. Natural ores undergo comminution and separation by flotation at copper mining facilities to produce copper concentrate. FE UI.. and a small balance of trace metals that depend on the ore source.. and enargite (Cu3AsS4). Although chalcopyrite (CuFeS2) is the predominant copper sulfide ore processed. (dalam Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting. JokoSudiarto. Universitas Indonesia Analisis potensi. dan sulfur (belerang) serta mineral ikutan lainnya. pertambangan mineral digolongkan atas: a. Bahan galian yang lazim disebut dengan galian C. calcium. pertambangan mineral bukan logam. minor percentages of oxides of aluminum. Bahan galian yang tidak termasuk bahan galian strategis dan vital. c. Goonan berikut ini: “.. Concentrate can contain from 25 to 35 percent copper.. . b. Konsentrat tembaga tersebut terdiri dari kandungan mineral tembaga. pertambangan batuan. pertambangan mineral logam.. covellite (CuS).9 3..za) antara lain menyebutkan: PART II: BASIC ROYALTY REGIME Any person (hereinafter referred to as a mineral resource extractor) is subject to a State royalty in respect of a mineral resource once that person extracts and transfers the mineral resource for that person’s own benefit. 2009.. and silicon.. Sedangkan dalam Pasal 34 ayat (2) Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.. Hal ini seperti yang dikemukan oleh Thomas G. chalcocite (Cu2S). besi. similar levels of iron and sulfur..2006” (www. other important copper sulfide ore minerals include bornite (Cu5FeS4). . pertambangan mineral radioaktif.treasury. dan d.gov.. Pengusahaan tambang tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga. 2005: 2)” Departement National Treasury Republic of South Africa: “Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill .

the goverment should receive a payment for this resource. JokoSudiarto. as a price for resource extraction. and ensure that a minimum payment is made by the companies for the resources that they extract. .. (3) For purposes of this Act.. . These payments are generally easy to administer.. .. are considerably easier to administer than most other fiscal instruments. (2) A person is not subject to a State royalty in respect of a transferred mineral resource if the person proves the mineral resource was previously subject to a State royalty.10 Charging provision (1) The State royalty imposed in respect of a transferred mineral resource equals the mineral resource’s State royalty rate as described in Schedule 1 multiplied by its gross sales value. The government should determine what minimum payment it is Universitas Indonesia Analisis potensi. if a person extracts and transfers a mineral resource for the benefit of another person. serves a role in determining whether investment should or should not proceed. Lease bonuses are up-front payment that could be determined by auction or at the government’s discretion. separate from regular income tax. that other person is deemed to be a mineral resource extractor to the extent that other person extracted and transferred that mineral resource for that extractor’s benefit.L. Nellor dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 238-240) mengemukakan beberapa pengertian pengusahaan mineral. yakni: “The fiscal arrangements with respect to natural resources need to take into account that the goverment is the landowner or the owner of mineral rights. Royalties secure revenues as soon as production commences. Royalties are levied either on the volume or on the value resouces extracted.. David C.. If a valuable resource is going tobe extracted.. They mean that the investor bears the risk that the project will not be commercially viable because the return to govenrment is fixed. FE UI... The royalty.. 2009..

2009. there is also a significant chance that resource development will yield little revenue... The RRT only provides a return to goverment on those project will yielding above normal rate of return. 4.. A Resource Rent Tax (RRT) is similar to a cash-flow tax but is imposed only if the accumulated cash flow is positive. termasuk analisis mengenai dampak lungkungan serta perencanaan pascatambang. The RRT is a high-risk measure for the government gaining a return on resource ownership. Penyelidikan Umum adalah tahapan kegiatan pertambangan untuk mengetahui kondisi geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi. Kontrak Karya adalah: Universitas Indonesia Analisis potensi. pemurnian.. kualitas dan sumber daya terukur dari bahan galian.. bentuk..11 willing to accept for the resource recognizing that it has given up its capital once the resource is extracted. serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup. serta sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi kelayakan. JokoSudiarto. termasuk pengangkutan dan penjualan..K/201/M. FE UI. Izin Prinsip.... Dalam Pasal 1 Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1409. dimensi. although revenue could be sizable in favorable circumstances. Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara telah ditentukan pengertian kontrak karya. penambangan. . 2. Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan ekonomis dan teknis usaha pertambangan. .. Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 menyebutkan bahwa usaha pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi kegiatan berikut ini: 1.PE/1996 tentang Tata Cara Pengajuan Pemrosesan Pemberian Kuasa Pertambangan. pengolahan. Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi. sebaran. Operasi produksi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan yang meliputi konstruksi. 3. .

.. 2009. H. Teori Ekonometrika Buku Ekonometrika Dasar karangan Damodar Gujarati (1978) yang diterjemahkan oleh Sumarno Zain.. Analisis Regresi Dua Variabel. 2005: 130). Pengujian Masing-masing Koefesien Universitas Indonesia Analisis potensi. JokoSudiarto.1. Salim HS mendefinisikan kontrak karya yang paling lengkap karena di dalam kontrak karya tidak hanya mengatur hubungan hukum antara para pihak. Salim HS. 1995: 186). sesuai dengan jangka waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak” (H. antara lain mengemukakan Sifat Dasar Analisis Regresi. dkk.3.12 “suatu perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan perusahaan swasta asing atau patungan antara asing dengan nasional (dalam rangka PMA) untuk pengusahaan mineral dengan berpedoman kepada Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing serta Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuanketentuan Pokok Pertambangan Umum”. Sedangkan menurut Ismail Suny mengartikan kontrak karya sebagai berikut: “Kerja sama modal asing dalam bentuk kontrak karya (contract of work) terjadi apabila penanaman modal asing membentuk satu badan hukum Indonesia dan badan hukum ini mengadakan kerja sama dengan satu badan hukum yang mempergunakan modal nasional” (dalam Erman Rajagukguk. . namun juga mengatur tentang obyek kontrak karya. Kontrak karya adalah: “suatu perjanjian yang dibuat antara Pemerintah Indonesia dengan kontraktor asing semata-mata dan/atau merupakan patungan antara badan hukum asing dengan badan hukum domestik untuk melakukan kegiatan eksplorasi maupun eksploitasi dalam bidang pertambangan umum. 2. Anton Hendranata (2004) dalam Buku Ekonometrika Terapan mengemukan pengertian Analisis Regresi Linier Sederhana. FE UI.. Model Regresi Dua Variabel. Metode Kuadrat Terkecil (Ordinary Least Square / OLS).

Analisis Regresi Linier. Pengujian Model secara Keseluruhan. menyetorkan iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan Umum: Universitas Indonesia Analisis potensi. FE UI. . Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing: Pasal 8 ayat (1): Penanaman modal asing di bidang pertambangan didasarkan pada suatu kerja sama dengan pemerintah atas dasar kontrak karya atau bentuk lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 8 ayat (2): Sistem kerja sama atas dasar kontrak karya atau dalam bentuk lain dapat dilaksanakan dalam bidang usaha-usaha lain yang akan ditentukan oleh pemerintah. Multikolinear dan Autokorelasi. Multikolinear dan Autokorelasi). 2.. Kebaikan Suai Model. Menyunting dan Menampilkan Data. Wing Wahyu Winarno (2007) dalam Buku Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EVIEWS. menyetorkan iuran eksploitasi/produksi tambahan atas mineral yang diekspor. Masalah Heteroskedastisitas. antara lain menjelaskan mengenai Mengenal EVIEWS.4. Masalah dalam Analisis Regresi (Heteroskedastisitas.1. 2009. Peraturan Perundang-undangan Kontrak Karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991 dan Kontrak Karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) tanggal 2 Desember 1986. JokoSudiarto... Kewajiban kontraktor (PT FIC dan PT NNT) seperti yang tercantum dalam kontrak karya tersebut antara lain adalah: menyetorkan iuran tetap untuk wilayah kontrak karya atau wilayah pertambangan.13 Regresi secara Parsial.

petunjukpetunjuk dan syarat-syarat yang diberikan menteri. biaya penyelengaraan kegiatan Pemerintah sehubungan dengan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersangkutan. Pasal 2 ayat (1): Kelompok Penerimaan Negara Bukan Pajak meliputi: b.. 2009. Pasal 3 ayat (2): Tarif dan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam Undang-undang atau Peraturan Pemerintah yang menetapkan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersangkutan. JokoSudiarto. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara: Pasal 1 angka 1: Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang.. royalti di bidang kehutanan dan royalti di bidang pertambangan. Pasal 3 ayat (1): Tarif atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak ditetapkan dengan memperhatikan dampak pengenaan terhadap masyarakat dan kegiatan usahanya.. - Pasal 10 ayat (2): Dalam mengadakan perjanjian karya dengan kontraktor seperti yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara harus berpegang pada pedoman-pedoman.14 - Pasal 10 ayat (1): Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dilaksanakan sendiri oleh Instansi pemerintah atau Perusahaan Negara yang bersangkutan selaku pemegang kuasa pertambangan. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP): Pasal 1 angka 1: Penerimaan Negara Bukan Pajak adalah seluruh penerimaan Pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. antara lain royalti di bidang perikanan. dan aspek keadilan dalam pengenaan beban kepada masyarakat. . serta segala sesuatu baik berupa uang maupun Universitas Indonesia Analisis potensi. penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. FE UI.

75% dari harga jual. Tembaga: satuan per ton. A. m.00% dari harga jual. cc. Besi: satuan per ton. 4: Penerimaan dari Iuran Eksplorasi/Iuran Eksploitasi/Royalty untuk Usaha Pertambangan dalam rangka Kuasa Pertambangan (KP). transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pad Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. d. efisien. b. tarif 4. Emas: satuan per kg. 3. Pelayanan Jasa Bidang Geologi dan Sumber Daya Mineral. taat pada peraturan perundang-undangan. FE UI.. c. Pasal 3 ayat (1): Keuangan Negara dikelola secara tertib. 3. tarif 3. ekonomis. meliputi: Penerimaan Negara. k.. Kontrak Karya (KK) dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). l. Perak: satuan per kg.50% dari harga jual. ..00% dari harga jual. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral: Pasal 1 ayat (2) Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral berasal dari: a. Jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terutang atas jenis Universitas Indonesia Analisis potensi.25% dari harga jual. Belerang: satuan per kg. Iuran Eksplorasi/Iuran Eksploitasi/Royalty. tarif 3. Lampiran angka I. efektif. Dana Hasil Produksi Batubara. Pasal 2: Keuangan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1. JokoSudiarto. dengan jenis mineral/bahan galian: h. 2009. Pasal 2. Iuran Tetap/Landrent.15 berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.

Perak: satuan per kg. tarif 3. Tembaga: satuan per ton. Besi: satuan per ton.000 kg < 5. . 13. 2009. Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah Penelitian ini diawali dengan kajian terhadap sumber masalah berdasarkan data-data empiris dan landasan teori yang relevan.70 USD 2. 12. JokoSudiarto. Emas: satuan per kg.00 USD 235.25% dari harga jual. yaitu dimulai dari adanya Kontrak Karya antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT. Serta peraturan perundang-undangan yang ada hubungannya dengan KK tersebut. 3. Belerang: satuan per kg. tarif 3.000 kg > 2. Lampiran: No. Jenis Mineral/ Bahan Galian Tembaga Besi Emas Perak Belerang Tingkat Produksi < 80. 13. Universitas Indonesia Analisis potensi. 8. 29.000 kg < 25. 11.50% dari harga jual.16 Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dihitung dengan cara tarif dikalikan jumlah satuan dikalikan harga jual. 3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Mineral di Bidang Pertambangan Umum: Pasal 2 ayat (1).000 ton > 80.00% dari harga jual.75% dari harga jual.000 ton Satuan Jumlah ton/logam ton/logam kg/logam kg/logam ton/konsentrat Besarnya Tarif USD 45. 12.. tarif 4. yang merupakan suatu produk hukum yang harus dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait.00 USD 2.00 USD 55..00 USD 2. 29.2.000 ton > 100. 11.000 ton > 5.00% dari harga jual. Jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terutang atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dihitung dengan cara tarif dikalikan jumlah satuan.90 USD 225..10 USD 2.20 2.000 ton < 100.000 ton < 2. FE UI. Lampiran: 8.00 USD 1.90 USD 2.000 kg > 25.

PT FIC dan PT NNT perusahaan KK yg menghasilkan konsentrat tembaga. 2. FE UI. Kondisi Ideal: Seluruh mineral ikutan tambang tembaga dikenakan royalti. 2009.17 Penelitian ini dimaksudkan untuk menilai atau mengevaluasi apakah PNBP dalam bentuk royalti dari pelaksanaan KK tersebut telah diupayakan secara optimal serta sebab-sebab yang menyebabkan hal tersebut. 3. 2. Berdasarkan teori dan konsep yang telah diuraikan di atas. 3. sulfur. KK antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT. Gap: Mineral ikutan tambang tembaga tidak dikenakan royalti. Diagram 1 Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah Fakta: 1.. JokoSudiarto. dll tidak dibayar oleh pembeli. ESDM dan perusahaan Analisis Deskriptif Kuantitatif Pembahasan Kesimpulan dan Saran Universitas Indonesia Analisis potensi.. Evaluasi ini tidak dimaksudkan untuk menguji kebenaran dan keabsahan produk hukum tersebut. Adanya potensi royalti yang belum tergali dari mineral ikutan tersebut. KK dan PP yg mengatur tarif royalti tidak menyebutkan secara lengkap dan jelas mineral ikutan tambang tembaga. 1. 3. Sumber data Sasaran pengkajian : 1. 2. Pemenuhan kewajiban PNBP periode 2003-2007. 3. . kerangka penelitian ini dapat digambarkan dalam diagram di bawah ini. Metode Analisis Dokumen Dep. Tarif royalti atas mineral ikutan tersebut dinyatakan dengan tegas sehingga tidak merugikan negara. 2. 1. 1. produksi. Memperkirakan potensi royalti dari mineral ikutan tembaga. Pembayaran royalti berdasarkan jumlah yang diterima dari pembeli. Menentukan dasar yang dapat digunakan untuk menghitung royalti atas mineral ikutan bahan galian tembaga. Tujuan Penelitian : Analisis kelebihan dan kelemahan sistem kontrak karya untuk pertambangan tembaga. Mineral ikutan seperti besi. 2.. Kegiatan usaha penambangan. pengangkutan dan penjualan konsentrat tembaga.

maka penulis tidak menggunakan metode pengumpulan data secara sampling. Data yang diperoleh dari hasil sampling merupakan data perkiraan (estimate value). Koefisien Korelasi Digunakan untuk mengukur keeratan hubungan antara variabel tidak bebas Y dengan variabel bebas X. Sensus. Sehubungan penulis telah memiliki data parameter dan untuk lebih mendekatkan hasil penelitian pada kondisi yang sebenarnya. Metode Pengumpulan Data Di dalam statistik dikenal 2 (dua) cara pengumpulan data. 2000). Departemen Keuangan.. 3. adalah cara pengumpulan data dimana seluruh elemen populasi diselidiki satu persatu. dan dapat menghasilkan cakupan data yang lebih luas serta terperinci.. Semakin besar nilai koefisien korelasi menunjukkan 18 Analisis potensi. Namun yang perlu diperhatikan bahwa cara sensus mahal biayanya serta memerlukan banyak tenaga dan waktu. Sedangkan sampling adalah cara pengumpulan data dimana yang diselidiki adalah elemen sampel dari populasi. Dibandingkan dengan sensus. Perusahaan pemegang KK (PT FIC dan PT NNT) dan Biro Pusat Statistik (BPS). Data yang diperoleh sebagai hasil pengolahan sensus disebut data yang sebenarnya (true value) atau sering disebut dengan parameter. yang bersumber dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.1. Jika nilai yang dihitung berdasarkan seluruh elemen populasi disebut parameter maka yang dihitung berdasarkan sampel disebut statistik. yaitu data dari pelaksanaan KK pengusahaan pertambangan tembaga yang ada di Indonesia. Dalam penelitian ini penulis menggunakan data parameter. pengumpulan data dengan cara sampling membutuhkan biaya yang jauh lebih sedikit. JokoSudiarto.. yaitu cara sensus dan cara sampling (Supranto.BAB III METODOLOGI PENELITIAN DAN HASIL PENELITIAN LAPANGAN 3. Universitas Indonesia . memerlukan waktu yang lebih cepat. FE UI. 2009.2. tenaga yang tidak terlalu banyak.

1. variabel tak bebas. . Adapun rumusnya. berarti menunjukkan semakin seragam atau variasinya semakin kecil. Oleh sebab itu tolak ukur untuk mengetahui pengaruh tersebut dapat dilihat dari hasil penghitungan nilai koefisien variasi.3. Perak dan Tembaga terhadap kandungan mineral ikutan Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual. Kegunaannya adalah untuk mengukur keseragaman terhadap data yang sedang diteliti. Semakin kecil koefisen variasi dari data yang sedang dianalisis.4. JokoSudiarto. variabel yang menjelaskan Universitas Indonesia Analisis potensi.. Koefisien korelasi merupakan akar kuadrat dari koefisien determinasi. Tujuan analisis adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah penjualan Emas. 2009. Pengertian Analisis regresi berkenaan dengan studi ketergantungan satu variabel.. yaitu: R = √R2 Dalam penelitian ini variabel tidak bebas Y adalah kandungan mineral Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual.19 hubungan semakin erat dan sebaliknya. sedangkan variabel bebas X adalah sebagai berikut: E P T = = = Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg) Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg) Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton) 3. Perak dan Tembaga untuk menentukan kandungan mineral ikutan Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual . 3. Regresi 3.4.. FE UI. Koefisien Variasi Analisis koefisien variasi (coefficient of variation) adalah menyatakan persentase deviasi standar dari rata-ratanya. pada satu atau lebih variabel lain. Semakin kecil nilai koefisien variasi yang dihasilkan menunjukkan adanya pengaruh mineral Emas.

…. . JokoSudiarto. dipandang dari segi nilai yang diketahui atau tetap (dalam pengambilan sampel berulang) variabel yang menjelaskan (yang belakangan) (Gujarati. .. . . .. yaitu: Yi = b 1 + b 2 X2i + b 3 X3i + ui Dimana : Y X2 X3 u i = = = = = Variabel tak bebas (dependent variable) Variabel yang menjelaskan Variabel yang menjelaskan Faktor gangguan (disturbance) Menyatakan observasi (pengamatan) yang ke i. . Meskipun analisis regresi berurusan dengan ketergantungan satu variabel terhadap variabel lain. 2009. …. tidak pernah dapat menetapkan hubungan sebabakibat: gagasan kita mengenai sebab-akibat harus datang dari luar statistik. .. 1995). Yn = b 1 + b 2 X2n + b 3 X3n + b 4 X4n .. .20 (explanatory variabel). + b kXkn+ un Universitas Indonesia Analisis potensi. dengan maksud menaksir dan atau meramalkan nilai ratarata hitung (mean) atau rata-rata (populasi) variabel tak bebas. Fungsi Regresi Berganda Apabila terdapat 2 (dua) atau lebih variabel maka disebut dengan regresi berganda. bagimanapun kuat dan sugestif. FE UI. Bentuk modelnya secara umum. Jika terdapat N-observasi maka persamaan regresi bergandanya dapat ditulis: Y1 = b 1+ b 2 X21 + b 3 X31 + b 4 X41 … + b k Xk1 + u1 Y2 = b 1+ b 2 X22 + b 3 X32 + b 4 X42 … + b k Xk2 + u2 Y3 = b 1 + b 2 X23 + b 3 X33 + b 4 X43 … + b k Xk3 + u3 .4. . .. namun ini tidak berarti hubungan sebab akibat. .2. . pada akhirnya dari beberapa teori atau lainnya. 3. . Kendall dan Stuart seperti dikutip oleh Gujarati mengatakan: Suatu hubungan statistik. ...

Tahapan Dalam Membuat Analisis Regresi Adapun tahapan-tahapan dalam membuat analisa regresi berganda adalah sebagai berikut: 1. Universitas Indonesia Analisis potensi. . Cara Pengujian: Membandingkan antara t-statistik dengan t-tabel berdasarkan a tertentu (misalnya 5%). Estimasi koefisien regresi ( b . JokoSudiarto.21 3.5. Dapat dilihat dengan memperhatikan tanda koefisien hasil pendugaan apakah telah sesuai dengan teori ekonomi yang berlaku. F dan lain-lain. Variabel terbaik harus memenuhi kriteria– kriteria seperti dibawah ini.. koefisien regresi tidak berbeda nyata dari nol.. 2009.. koefisien regresi tidak nol sehingga signifikan. Pembentukan Persamaan Regresi Dalam pembentukan persamaan regresi dibutuhkan kriteria dalam pemilihan variabel terbaik. Pengujian Signifikansi Parsial atau Individual (uji-t) Adalah untuk menguji apakah suatu variabel bebas (X) berpengaruh atau tidak terhadap variabel tidak bebas (Y). FE UI. …. apakah model mampu menjelaskan Y. · Uji Statistika: Uji t. 3. yaitu: · Uji Ekonomi: yaitu arah dan pengaruh. Hipotesis: H0 : b 1 = 0 . H1 : b 1 ≠ 0 . 2. bo . bk ) Persamaan ini merupakan regresi berganda sehingga perlu melihat Koefisien Determinasi dari nilai Adjusted R-Squared.

. N .. JokoSudiarto. Cara Pengujian: Membandingkan antara F-statistik dengan F-tabel berdasarkan a tertentu (misalnya 5%).1) (1 . FE UI. N .k ) > F ( a /2. Tolak H0 Universitas Indonesia Analisis potensi..22 £ t (a / 2. ≤F ( a /2.statistik = bi se( b i ) ^ ^ > t (a / 2. Pengujian model secara umum (uji-F) Untuk menguji apakah model secara keseluruhan mampu secara signifikan menjelaskan variabel terikat. Hipotesis: H0 : b 1 = b 2 = 0. . 2009.(N-k).k ) Tolak H0 dimana: N K = = = = = banyaknya observasi Banyaknya variabel bebas Level of significance Nilai pendugaan koefisien regresi ke-i Standar eror pendugaan koefisien regresi ke-i a bI se b i 4. H1 :tidak semua b 1 = 0.k )). model tidak signifikan menjelaskan Y.model secara signifikan menjelaskan Y.R 2 ) /( N .(N-k). Terima H0 F-statistik= R 2 /(k . Terima H0 t. Berdasarkan taraf nyata a (misalnya 5%) diharapkan H0 ditolak.

1 Adjusted-R2 = 1 Di mana : TSS RSS SSE N k = = = = = Total Sum Square (jumlah kuadrat nol) Regression Sum Square (jumlah kuadrat regresi) Sum Square Error (jumlah kuadrat error) banyaknya observasi banyaknya variabel bebas 3.d. 2007 bersumber dari PT FIC. PT NNT dan Departemen ESDM.. FE UI. harapan R2 = 1. Cara Pengujian: R2 = ESS RSS =1TSS TSS SSE / N . 2009.. Perak dan Tembaga tahun 2003 s.d. . Universitas Indonesia Analisis potensi. 2. yaitu: 1.6.. karena nilai R-square sangat dipengaruhi oleh banyaknya variabel bebas (semakin banyak variabel bebas maka semakin tinggi R-square) serta dipengaruhi oleh banyaknya observasi (makin banyak observasi makin kecil R-square). 2007 bersumber dari PT FIC dan PTNNT.k SST / N . bukan R-square. JokoSudiarto. Dalam regresi berganda yang menjadi patokan adalah adjusted R-square. Data penjualan Emas.23 Dimana: R2 N K 5. = = = ESS/TSS banyaknya observasi banyaknya variabel bebas Uji Koefisien Determinasi (Uji R2) Menguji berapa persen model dapat menjelaskan variabel terikat. Nilai R2 berkisar antara 0 dan 1 (0≥ R2 ≥1). Data konsentrat tembaga yang dijual tahun 2003 s. Data Data yang dipergunakan untuk analisis ini berasal dari berbagai bersumber.

4-2.00 2. 5. 4. 4.6-2. JokoSudiarto. 3. Data kandungan mineral Sulfur dan Besi tahun 2003 s. 2.85 Satuan % gr/T gr/T % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah). 1. Tabel 2: Ingredient Content PT NNT No.50 25.50 30.7 Rata-rata 30.00 29. 2005 diperoleh dari rata-rata ingredient content dikalikan jumlah konsentrat tembaga yang dijual. 7. . 3. 3.00 30.00 8. Data ingredient content bersumber dari PT FIC. 5. 2009. FE UI.24 3.50 7.50 80..7.15 Satuan % gr/T gr/T % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah). Produksi dan Penjualan Proses produksi pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung beberapa mineral ikutan.00 31.50 24. PT NNT dan Hasil Penelitian LPKM ITB 4.1.00 80. 6. Mineral Tembaga (Cu) Emas (Au) Perak (Ag) Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) Kandungan Mineral dalam Konsentrat Range 28-33 28-32 69-92 22-28 28-34 7-9 1. Rata-rata kandungan masing-masing mineral ikutan yang terdapat dalam setiap metric ton konsentrat tembaga yang diproduksi oleh perusahaan sesuai dengan ingredient content disajikan dalam tabel berikut: Tabel 1: Ingredient Content PT FIC No. 7.3 Rata-rata 30.. Hasil Penelitian Lapangan 3.. Universitas Indonesia Analisis potensi. 6. 2. 1. Mineral Tembaga (Cu) Emas (Au) Perak (Ag) Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) Kandungan Mineral dalam Konsentrat Range 25-35 25-34 58-103 18-30 25-36 5-10 1.7.d.50 1.

5.612.306.106.25 Kandungan unsur mineral dalam konsentrat tembaga tersebut merupakan hal yang disyaratkan dalam kontrak penjualan antara penjual dan pembeli.564. 4.00 57..00 726.00 70. 2.00 Perak (kg) 184.00 1.200.904.00 47. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Emas (kg) 100.00 146. 5.00 Perak (kg) 60.65 57.00 48.560.00 396.032.120.899. Tabel 4: Realisasi Produksi PT NNT No 1.787.00 22.00 Emas (kg) 99..778. 2.00 221.00 714.857.242. FE UI.00 11.214.00 Perak (kg) 183.00 147.927.00 94.00 177.148. .568.303.307.567.00 167.336. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Konsentrat (MT) 2.00 205.00 4.00 50. 3. 5.099.00 784.12 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).605.00 Emas (kg) 18.062.093.734.00 3.645.287. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Konsentrat (MT) 932.698.053.281..00 Tembaga (ton) 721. 2.106.977.207.234.00 219.118.121.550.00 68. Realisasi produksi yang dilaporkan oleh perusahaan ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 3: Realisasi Produksi PT FIC No 1. JokoSudiarto.359.00 2.00 789.00 512.287.00 890.00 396.00 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).344. 3.523.209.00 13.00 2.973.009.00 Tembaga (ton) 718.007.688.00 17.948.357.203.931.00 577. 4.388.279.682.335.492.320.347.00 224.761.00 58.00 3.00 2.926.212.054.00 1.00 793. 2009.505.179.00 163.00 886.00 82.293.00 1.00 581.448.803.393.980.685. Universitas Indonesia Analisis potensi.00 270. Realisasi penjualan yang dilaporkan oleh perusahaan ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 5: Realisasi Penjualan PT FIC No 1.00 320.00 106.00 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).65 Tembaga (ton) 287.00 108.00 161.00 306.200.00 83. 4.988.407.00 22.12 611.563.025.634.00 903.00 520. 3.

404.05 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).446.63 194. 4.00 311. JokoSudiarto.470.63 Jumlah (US$) 898.00 269. 2009.296.044.620.086.00 1.2.679.00 898.426.850.00 608.00 22.00 48.63 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).284.63 262. 5.442.620.850.00 19.53 1.7. 3.00 278.00 4.050.850.00 3.849.200.850..00 69. kewajiban kontraktor kepada pemerintah yang digolongkan dalam Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah Iuran Tetap/Deadrent dan Iuran Eskploitasi/Royalty. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Emas (kg) 18. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 PT FIC (US$) 608.00 608.00 289.00 67.949.669.324.761.850.640.00 871.215.857.470.532.00 608.52 97.63 871.00 PT NNT (US$) 289. 3.00 262.. 4.00 13.. rincian disajikan pada Lampiran 1 dan 2.343.250.98 Tembaga (ton) 287.923. 2. Realisasi pembayaran Iuran Tetap/Deadrent yang telah dilakukan oleh perusahaan untuk periode 2003 sampai dengan 2007 adalah sebagai berikut: Tabel 7: Realisasi Penyetoran Iuran Tetap No 1. 2.382. FE UI.52 Perak (kg) 60.00 323.00 22. .200.26 Tabel 6: Realisasi Penjualan PT NNT No 1.815. 3. 5.050.257.89 248.888. Realisasi pembayaran Iuran Eksploitasi/Royalti yang telah dilakukan oleh kedua perusahaan untuk periode tahun 2003 sampai dengan 2007 adalah sebagai berikut: Universitas Indonesia Analisis potensi.00 608.98 65.336.00 887. Realisasi Penyetoran PNBP Sesuai dengan kontrak karyanya.575.

539. JokoSudiarto.978.84 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah). emas. 2009.760.73 134. 5.829. 2.14 482.524.795. 3.82 47.172.38 578.368.894.632.106.983. perusahaan hanya menyetorkan royalti atas mineral yang dibayar oleh pembeli yaitu tembaga. rincian disajikan pada Lampiran 3 dan 4. yang berisi persentase atau jumlah kandungan masingmasing mineral ikutan dalam konsentrat tembaga. Rangkuman Hasil Wawancara Rangkuman hasil wawancara dengan wakil kedua perusahaan dapat diuraikan sebagai berikut: 1.130.41 140.888. 5.835.24 96. baik ke smelter atau trader.315. dan perak. 4.87 Jumlah (US$) 51.3.233.865.27 Tabel 8: Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti No 1. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 PT FIC (US$) 32.73 20.190. Hal ini telah sesuai dengan Pasal 13 KK yang menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral hasil produksi.421. pembeli hanya bersedia membayar logam yang terkandung di dalam konsentrat yang dapat diproses lebih lanjut secara ekonomis sehingga mendatangkan penghasilan bagi smelter.. Sesuai dengan perhitungan dan penyetoran royalti.. Ingredient content merupakan syarat-syarat atau kondisi yang disepakati oleh penjual dan pembeli. 4.584. Proses produksi pertambangan tembaga menghasilkan konsentrat tembaga yang akan dijual kepada pembeli.08 16.97 PT NNT (US$) 18.92 158. dengan syaratsyarat atau kondisi yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Perhitungan dan penyetoran kewajiban iuran tetap telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam KK.81 150.7.51 17.127. 3.526.274.335. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. Universitas Indonesia Analisis potensi.370.419.144.13 71.743. 3.31 23.87 126.60 147.367.169.059.. Dalam praktik perdagangan konsentrat. FE UI.332.153. 2.571. .005.

Batubara dan Panas Bumi. yang sampai dengan saat ini telah terjadi dua kali perubahan. 4. Perusahaan pemegang Kuasa Pertambangan (KP) dan Kontrak Karya (KK) wajib membayar iuran eksplorasi atau iuran eksploitasi (royalti) untuk hasil produksi bahan galian yang diperoleh dari wilayah kuasa pertambangan atau wilayah Kontrak Karya atau wilayah usaha pertambangan lainnya sesuai dengan tarif iuran yang telah ditetapkan. Rangkuman hasil wawancara adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. Beberapa smelter saat ini dapat mengolah sulfur untuk dimanfaatkan oleh perusahaan petrokimia dengan syarat lokasi pengolahan sulfur berdekatan dengan lokasi pabrik petrokimia. emas dan perak yang berdasarkan teknologi saat ini tidak memiliki nilai ekonomis untuk diolah lebih lanjut. Beberapa logam bahkan dikategorikan sebagai pengotor konsentrat (impurities) sehingga. Hal ini bukan merupakan upaya untuk mendapatkan nilai ekonomis dari sulfur. PP Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. 7. Ditjen Mineral. Wawancara dengan Kepala Seksi Mineral pada Direktorat Pembinaan Program Mineral. Sedangkan bagi pemegang kontrak karya (KK) pembayaran royalti didasarkan pada ketentuan yang telah diatur dalam KK yang bersangkutan. . Karena pengenaan tarif dengan harga tertentu dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ekonomi. justru perusahaan dikenakan penalti. maka dengan PP Nomor 13 Tahun 2000 Universitas Indonesia Analisis potensi. JokoSudiarto. Batubara dan Panas Bumi.. Dalam konsentrat tembaga terdapat beberapa logam di luar tembaga. besarnya tarif royalti didasarkan pada tingkat produksi yaitu tarif dalam US$ dikalikan dengan jumlah satuan.28 6.. Bagi perusahaan pemegang kuasa pertambangan (KP) besarnya tarif dan dasar pengenaannya diatur dalam peraturan pemerintah. FE UI. 2009. melainkan merupakan upaya untuk meminimalkan dampak polusi yang diakibatkan oleh buangan sulfur dari pabrik smelting. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral difokuskan kepada kebijakan tentang penetapan tarif iuran eskploitasi/eksplorasi/royalti khususnya pertambangan tembaga.. jika kandungannya melampaui ambang batas.

Universitas Indonesia Analisis potensi.. 9. . emas dan perak). JokoSudiarto. karena pihak pemerintah belum pernah melakukan pengujian atau penelitian atas proses produksi konsentrat tembaga mulai dari hulu (di mulut tambang) sampai dengan pemurnian atau pengolahan konsentrat tembaga menjadi logam. misalnya sekian dollar per metric ton seperti yang tercantum dalam lampiran KK-nya (tarif royalti tambahan). yaitu persentase (%) dikalikan harga jual. bisa menggunakan “fixed rate” yaitu tarif tetap atas tonase yang diproduksi. Selanjutnya pemerintah menerbitkan PP Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. emas dam perak. sulfur. 6. dll) sehingga tidak dikenakan royalti. emas dan perak. dalam hal ini adalah Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Sulit sekali untuk membuktikan hal tersebut. PT FIC dan PT NNT hanya menyetorkan royalti atas mineral tembaga. yang antara lain menyebutkan bahwa royalti hanya dikenakan atas mineral ikutan yang dibayar oleh pembeli (tembaga. 2009. FE UI. 7. Sangat setuju apabila mineral ikutan lainnya tersebut dikenakan royalti walaupun hal ini sulit untuk dilakukan karena harus menegosiasi ulang klausul-klausul dalam KK. Rangkuman hasil wawancara dengan salah satu kepala subdirektorat pada Direktorat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). yang berisi antara lain besarnya tarif royalti didasarkan pada persentase (%) dikalikan harga jual dan mencabut PP-PP sebelumnya.. Hal ini sesuai dengan KK-nya. Masalah penetapan tarif PNBP merupakan kewenangan departemen teknis. Departemen Keuangan adalah sebagai berikut: 1. 5. Direktorat Jenderal Anggaran. 8.. Alasan lain mengapa mineral ikutan tersebut tidak dikenakan royalti yakni mineral tersebut tidak mempunyai nilai ekonomis atau nilai jual bahkan dalam kondisi tertentu bisa bersifat sebagai pengotor yang akan mengurangi nilai jual tembaga. sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dibayar oleh pembeli (seperti besi. Cara penghitungan sebagai dasar pengenaan royalti. sistem tarif diubah dengan menggunakan sistem persentase (%) dari harga jual.29 tentang Perubahan atas PP Nomor 58 Tahun 1998.

namun demikian baik negara ataupun rakyat tidak menikmatinya. 3. Dari kasus ini nampak bahwa terdapat sebagian kekayaan alam yang telah diambil dari bumi kita. agar mineral ikutan tersebut dapat dikenakan royalti.. 2. Rangkuman Laporan Terkait Rangkuman Laporan Hasil Pemeriksaan atas Pengelolaan PNBP dari Iuran KK pada Departemen ESDM dan PT Freeport Indonesia Tahun Anggaran 2004 dan 2005 (Badan Pemeriksa Keuangan: 2006). Dengan demikian. Dalam hal kontrak karya. 4.30 Departemen Keuangan khususnya Direktorat PNBP hanya menerima dan mencatat penerimaan PNBP dan secara periodik dilakukan rekonsiliasi dengan departemen teknis yang bersangkutan. 5. 3. adalah sebagai berikut: Universitas Indonesia Analisis potensi. JokoSudiarto. 6. . perak dan tembaga) yang berada dalam konsentrat tembaga tidak bisa dikenakan royalti..7. negara harus berani untuk menegosiasi ulang klausul-klausul dalam KK yang bersangkutan. karena di dalam klausul-klausul KK menyebutkan demikian. mineral ikutan lainnya (selain emas. sehingga semua pihak yang terkait dengan kontrak tersebut harus mematuhi seluruh klausul dalam kontrak atau perjanjian tersebut. seperti yang diamanatkan dalam undang-undang bahwa semua sumber daya alam merupakan kekayaan negara yang harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan sesuai dengan prinsip bahwa PNBP merupakan hak mutlak negara. Sesuai dengan prinsip PNBP bahwa semua PNBP seharusnya mutlak hak negara artinya negaralah yang mempunyai “bargaining power” lebih besar. Demikian juga dengan besarnya PNBP yang terkait dengan kontrak tersebut harus sesuai dengan apa yang telah disepakati. Alasannya.. Dengan kata lain hanya negara yang berhak menentukan besarnya tarif PNBP bahkan bisa saja tanpa kompromi dengan pihak ketiga. Sangat setuju apabila mineral ikutan lainnya yang terdapat dalam konsentrat tembaga dikenakan royalti. negara telah merendahkan diri dengan memposisikan yang sama dengan pihak kontraktor. 2009. Inilah pangkal permasalahannya.4. FE UI.

4. Hal tersebut tidak sesuai dengan Lampiran G pada KK yang menetapkan adanya iuran royalti sebesar USD0.610.. Untuk penjualan dalam negeri salah satu konsumen konsentrat terbesar adalah PT Smelting Gresik yang bergerak di bidang peleburan dan pemurnian tembaga dengan produk sampingan berupa asam sulfat dan gipsum. Menurut penjelasan pihak PTFI meskipun belerang masih mempunyai nilai ekonomis namun dalam penjualan konsentrat tidak diperhitungkan sebagai mineral ikutan.00 (3. 2. dengan alasan bahwa sesuai dengan Pasal 13 huruf h KK (“. Hasil pengujian dilakukan sendiri oleh PTFI dan ditegaskan melalui hasil konfirmasi diketahui bahwa dalam konsentrat tersebut masih ada kandungan berbagai mineral lain diantaranya adalah belerang (sulphur) yang kadarnya 2530%.. 3. perusahaan harus membayar suatu royalti tambahan yang dapat berlaku berkenaan dengan mineral yang diekspor yang dibayar kepada perusahaan oleh pembeli. FE UI. JokoSudiarto. 42 tahun 2002 tentang pelaksanaan APBN pasal 8 yang menyatakan pihak departemen berkewajiban mengintensifkan penerimaan.. Perhitungan kewajiban perusahaan KK dilaksanakan secara self assessment oleh perusahaan. belerang ini merupakan bagian gas buang dalam bentuk belerang sulfida (SO2) yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Rangkuman Laporan Tim Optimalisasi Penerimaan Negara mengenai proses peleburan konsentrat tembaga di PT Smelting Gresik (TOPN: 2007) dapat Universitas Indonesia Analisis potensi. 5. 7. namun oleh PT. .31 1.. 2009. Dalam proses peleburan konsentrat..442.256.. Smelting di Gresik pada saat ini 95% dari gas tersebut dapat diproses untuk menghasilkan asam sulfat dan gipsum.564 ton x 1.004/kg) tidak dapat direalisasikan. sedangkan penjualan ke PT Smelting Gresik bukan kategori dimaksud pasal ini. Akibatnya potensi penerimaan negara dari mineral ikutan belerang untuk TA 2004 dan TA 2005 (semester I) minimal sebesar USD14.000 kg x USD0.”). dan pajak-pajak. Kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak adalah pembayaran atas iuran tetap. iuran produksi/royalti. 6.004/kg untuk mineral ikutan belerang yang masih dapat dimanfaatkan dan UU No.

sulfur (SO2). 3. Gas buang yang dihasilkan oleh pabrik peleburan tersebut diproses lebih lanjut Universitas Indonesia Analisis potensi. Gypsum 2. Emas 1. 5. membentuk terak. Sedangkan produk sampingannya adalah terak (molten slag)..93% . .99%) Anoda Slimes (Lumpur Anoda) 3. Pada proses peleburan dan "converting". kapur (CaO). gipsum. pirit (FeS2) dan terikat dengan unsur-unsur ikutan lainnya..70% 30.25. Pada waktu proses peleburan dan converting. Perak 2. JokoSudiarto. dan ditemukan dalam senyawa dengan logam tembaga dan belerang. emas dan perak. magnesia (MgO) alumina (AI2O3) dan lain-lainnya. kovelit (CuS). Proses produksi konsentrat menjadi tembaga. Selenium Anoda 2. Terak yang dihasilkan dijual kepada PT Semen Gresik (Persero) sebagai bahan baku pembuatan semen. Tellurium Tahapan Proses Pengolahan 1. belerang menjadi bagian gas buang sebagai belerang oksida (S02).32 diuraikan sebagai berikut: 1. selenium dan tellurium. pada dasarnya meliputi beberapa tahapan kegiatan dengan jenis output/produksi yang berbeda untuk produk utama (main product) dan produk sampingan (by product) pada masingmasing tahapan tersebut. Produk utama dalam proses pengolahan konsentrat adalah katoda tembaga (copper cathode). Terak (Molten Slag) (Cu :99. 4.95% dan ditemukan dalam mineral kalkopirit (CuFeS2).. 2009. FE UI. kalkosit (CuS). Smelter Plant Sumber data: Laporan Tim OPN tahun 2007 (diolah). Gambaran tahapan proses produksi serta output yang dihasilkan pada masing-masing tahapan dapat disajikan sebagai berikut : Tabel 9: Produksi dan Output PT Smelting Gresik Output/Produk Produk Utama Produk Sampingan Anoda Tembaga 1. Konsentrat tembaga umumnya mengandung besi (Fe) antara 21. digenit (CU5S9).22%. bornit (Cu5FeS4). 2. Refinery Plant KatodaTembaga (Cu:99. besi teroksidasi membentuk besi oksida (FeO) yang kemudian bersama-sama senyawa silika (SiO2).4%) 2. Pengolahan Lumpur 1. Kandungan belerang di dalam konsentrat tembaga berkisar antara 29. Sulfur (SO2) 3.

Perdagangan logam. 4. Terhadap unsur-unsur ikutan dan senyawa pengotor yang terkandung dalam konsentrat tembaga yang jumlahnya relatif kecil. JokoSudiarto. 2009. unsur besi akan teroksidasi menjadi besi oksida (FeO) yang bersama senyawa-senyawa: silika (SiO2).. . gas SO2 dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk dan gipsum dan dijual ke PT Petrokimia Gresik. terak tersebut dapat dijadikan bahan baku semen dan dipakai Universitas Indonesia Analisis potensi. yang didasarkan pada perjanjian yang bersifat umum dan relatif sama. Dalam memasarkan konsentrat tembaga. (Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) ITB: 1999). perak (Ag) dan lainnya.. Terhadap unsur-unsur besi (Fe) dan belerang (S) yang terkandung dalam konsentrat tembaga. magnesia (MgO).33 untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gypsum (CaS042H2O). FE UI. Commodity Exchange (COMEX) di New York dan London Bullion Market (LBM). Namun demikian dalam hal tertentu pemasaran konsentrat tembaga dapat mengikuti ketentuan-ketentuan khusus. emas dan perak yang terkandung dalam konsentrat tersebut. Rangkuman Laporan Akhir. alumina (Al2O3). Secara situasional. pada dasarnya mengacu pada harga-harga yang diterbitkan oleh London Metal Exchange (LME). PT FIC juga tidak memperoleh pembayaran bahkan juga tidak dikenakan denda (penalty). Kandungan besi dalam terak berkisar antara 30-40% yang relatif rendah dan sulit untuk diekstraksi logam besinya secara menguntungkan. seperti tembaga (Cu). emas (Au). 3. yaitu: 1. PT FIC tidak memperoleh pembayaran sama sekali. Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Konsentrat Tembaga PT FIC. walaupun jumlahnya relatif besar. Pada pabrik peleburan PT Smelting Company di Gresik. dan lainnya membentuk terak. Pada proses peleburan konsentrat tembaga. 2. kapur (CaO). Sedangkan pemasaran konsentrat tembaga dilakukan secara langsung antara penjual (seperti PT FIC) dengan para pembeli (smelter) ataupun secara tidak langsung dengan perusahaan dagang (trader). PT FIC hanya memperoleh pembayaran untuk logam-logam tembaga. 5. 6..

Dalam pabrik peleburan konsentrat tembaga. Baik terak maupun produk tertentu tersebut dapat dijual. dan lainnya. gipsum (CaSO4. Gas tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4).H2O). unsur belerang murni..n. SO2 cair. sedangkan unsur belerang akan menjadi bagian gas buang yang selanjutnya dapat diubah menjadi produk tertentu. FE UI. PT FIC hanya diwajibkan oleh Pemerintah RI untuk membayar royalti terhadap logam-logam tembaga. 6. .. unsur besi dan belerang yang terdapat dalam konsentrat tembaga akan merupakan bagian limbah proses. emas dan perak yang terdapat dalam kandungan konsentrat tembaga. Universitas Indonesia Analisis potensi.34 sebagai “sand blast”. seperti halnya pabrik PT Smelting Company di Gresik. 7. Unsur besi akan menjadi bagian dari terak. JokoSudiarto. 2009.. Sedangkan unsur belerang akan teroksidasi menjadi gas SO2.

Analisis Cakupan Kontrak Karya yang Berlaku Untuk Pertambangan Tembaga Dalam Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945 dan Pasal 4 ayat (1) Undang- undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara disebutkan bahwa mineral dan batubara sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan merupakan kekayaan nasional yang dikuasi oleh negara untuk sebesarbesarnya kesejahteraan rakyat.1. 2) mineral dan batubara tersebut untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. serta berisi kewajiban untuk mempergunakannya sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.. Universitas Indonesia . FE UI. yaitu: 1) negara menguasai mineral dan batubara sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan. 2009. Hak negara menguasai atau hak penguasaan negara merupakan konsep yang didasarkan pada organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat. Ada dua implikasi yang dapat diambil dari hal tersebut. pemerintah dapat melaksanakan sendiri dan/atau menunjuk kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan sendiri oleh pemerintah. JokoSudiarto. Hak penguasaan negara berisi wewenang untuk mengatur. mengurus dan mengawasi pengelolaan atau pengusahaan mineral dan batubara. yang merupakan suatu bentuk perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan 35 Analisis potensi. Hal tersebut sesuai dengan pasal 10 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan dan Pasal 37. Dalam pengusahaan mineral dan batubara.. 38 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Salah satu bentuk kerja sama itu adalah Kontrak Karya (KK).. Sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat merupakan tujuan dari setiap pengelolaan dan penggunaan sumber daya alam nasional.BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.

Satu hal yang pasti adalah antara Pemerintah RI dengan pihak kontraktor terikat dalam perjanjian ikatan hukum. .. Berdasarkan analisis terhadap substansi kedua KK tersebut.. tampak bahwa subyek hukum dalam KK itu terdiri dari dua pihak. yaitu Pemerintah RI dan kontraktor. dan lain-lain yang Universitas Indonesia Analisis potensi. panas bumi. 2009.. sesuai dengan kontrak karya pengusahaan pertambangan tembaga masing-masing. Pasal 13 dan Pasal 27 masing-masing KK. Hak Pemerintah RI adalah menerima pajak. Kedua pihak terkena asas ”penghormatan” terhadap ketentuan dalam kontrak meliputi keseluruhan terms and conditions yang tercantum dalam kontrak. radio aktif dan batubara) sesuai dengan jangka waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak. gas alam.36 perusahaan swasta asing atau patungan antara asing dengan nasional (dalam rangka Penanaman Modal Asing) yang perusahaannya berbadan hukum Indonesia (Perseroan Terbatas) untuk melaksanakan usaha pertambangan pengusahaan mineral (tidak termasuk minyak bumi. Jangka waktu masing-masing tahapan kegiatan dalam KK menjadi satu paket dalam kontrak yang bersangkutan. Obyek perjanjian dalam kedua KK tersebut adalah pemanfaatan dan pengembangan potensi pertambangan di Indonesia. FE UI. Terdapat dua KK pengusahaan pertambangan tembaga di Indonesia. Perubahan terhadap terms and conditions kontrak hanya dimungkinkan apabila didasarkan atas kesepakatan para pihak yang kemudian dituangkan secara resmi dalam bentuk amandemen kontrak. yaitu KK antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991 dan KK antara Pemerintah RI dengan PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) tanggal 2 Desember 1986. pemerintah menerbitkan surat keputusan tahap kegiatan sesuai dengan yang diminta oleh perusahaan KK yang bersangkutan. Dalam KK tersebut telah ditentukan hak dan kewajiban para pihak. Pemerintah RI diwakili oleh Menteri Pertambangan dan Energi (saat ini Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral) dan pihak kontraktor yaitu PT FIC dan PT NNT. royalti. Setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan. Pemanfaatan dan pengembangan tersebut dimulai dari tahap eksplorasi. konstruksi dan eksploitasi. JokoSudiarto. Hak dan kewajiban tersebut diatur dalam Pasal 2.

pungutan-pungutan. pajak penghasilan atas bunga. FE UI. terdapat dua kewajiban kontraktor yang dikelompokan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). pembebanan-pembebanan dan bea-bea yang dikenakan oleh pemerintah daerah di Indonesia yang telah disetujui oleh pemerintah pusat. yaitu kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan dan kewajiban iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. kewajiban kontraktor (PT FIC dan PT NNT) yang berkaitan dengan penerimaan negara seperti yang tercantum dalam Pasal 13 masing-masing KK.37 merupakan penerimaan negara. menyetorkan pajak atas pemindahan hak kepemilikan kendaraan bermotor dan kapal di Indonesia. 3. iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. sewa. bea meterai atas dokumen-dokumen yang sah. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas pembelian dan penjualan barang kena pajak. kecuali ditetapkan lain dalam KK. 2. bea masuk atas barang yang diimpor ke Indonesia.. kecuali ditetapkan lain dalam KK. pajak penghasilan perorangan.. dan jasa lainnya. 5. pungutan-pungutan administrasi umum dan pembebanan-pembebanan untuk fasilitas atau jasa dan hak-hak khusus yang diberikan oleh pemerintah sepanjang pungutan-pungutan tersebut telah disetujui oleh pemerintah pusat. 10. iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan. . Sementara itu. Dari kewajiban-kewajiban kontraktor seperti diuraikan di atas. dividen. adalah sebagai berikut: 1. jasa manajemen. 2009. 11. 8. 12. 6. 7. Sementara itu. pajak bumi dan bangunan (PBB). jasa teknik. kewajibannya adalah menjaga keamanan dan melindungi investasi yang ditanamkan oleh para investor. 4. Selanjutnya diuraikan secara rinci kedua kewajiban Universitas Indonesia Analisis potensi. JokoSudiarto. 9. pajak-pajak.. pajak penghasilan badan atas penghasilan yang diperoleh perusahaan.

805.044. Sedangkan PT NNT telah menyetorkan iuran tetap sebesar US$1.382. mudah bagi pihak-pihak terkait untuk melakukan pengecekan atau pengujian apakah pemerintah telah melakukan usaha-usaha yang optimal untuk menggali penerimaan tersebut. diketahui bahwa kedua kontraktor telah melaksanakan kewajiban penyetoran iuran tetap sesuai dengan ketentuan tersebut di atas. Dengan perhitungan dan cara pembayaran yang sederhana tersebut. tidak terdapat PNBP yang berasal dari penyetoran iuran tetap tersebut yang belum tergali.63 pada periode yang sama. dan Laporan Hasil Audit Tim OPN. sehingga sering disebut deadrent atau landrent dengan tarif tetap atau ”fixed rate” per Ha sesuai dengan surat keputusan mengenai penetapan luas wilayah masing-masing.00/Ha. Dalam lampiran “D” tersebut ditetapkan bahwa tarif iuran tetap per tahun sebesar US$ 3. Dari data-data tersebut. 2009. Selama periode tersebut. Berdasarkan data-data hasil penelitian lapangan yang berasal dari laporan kedua kontraktor... kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan.. Dalam perhitungan tersebut tampak bahwa iuran tetap dapat diartikan sebagai biaya sewa lahan dari pengelola (pihak kontraktor) kepada pemilik lahan (pemerintah). JokoSudiarto. FE UI. Artinya telah dilakukan usaha-usaha yang optimal untuk menggali PNBP tersebut.250. PT FIC telah menyetorkan iuran tetap sebesar US$3. Rincian disajikan pada Lampiran 1 dan 2. . Pasal 13 point (i) kedua KK tersebut menyebutkan hal yang sama yaitu bahwa ”Perusahaan harus membayar tiap tahun sebagai iuran tetap yang akan dihitung menurut jumlah hektar yang termasuk data Wilayah Kontrak Karya atau Wilayah Pertambangan pada tanggal 1 Januari dan 1 Juli dari setiap tahun dan pembayaran dilakukan di muka dalam dua kali pembayaran masing–masing dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal-tanggal tersebut selama jangka waktu persetujuan dan dibayarkan sebagaimana ditetapkan dalam lampiran “D” Kontrak Karya”.00.00 dengan jumlah per tahun sebesar US$608. Pertama. untuk periode 2003 sampai dengan 2007.086. Universitas Indonesia Analisis potensi.38 PNBP tersebut. Departemen ESDM. yaitu iuran tetap tahap operasi sesuai dengan surat keputusan mengenai penetapan luas wilayah dan tahap-tahap usaha pertambangan perusahaan yang bersangkutan.

tarif royaltinya adalah 1% dari harga jual.900< harga tembaga/pon< USD 1.100.100. didasarkan kepada harga emas/perak yang berlaku. Dalam hal tembaga dijual dalam bentuk konsentrat. maupun mata uang lain yang disetujui bersama”. pembahasan kewajiban tersebut akan diuraikan sesuai dengan kondisi masing-masing kontraktor sebagai berikut: 1) PT FIC. Terdapat perbedaan substansi Pasal 13 KK yang mengatur tata cara perhitungan dan pembayaran kewajiban tersebut.. Jatuh tempo setiap triwulan. Oleh karena itu.900. yang diatur sebagai berikut: Harga tembaga/pon ≤ USD 0. FE UI. dijual selama satu triwulan ACP SRFS : : Harga Tembaga Biaya peleburan dan pengolahan. paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah berakhirnya setiap triwulan.. PCT = 3.. proses produksi PT FIC Universitas Indonesia Analisis potensi. dollar. Pasal 13 point (ii) menyebutkan bahwa ”Perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral hasil produksi. kewajiban iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. jumlah royalti yang dibayar adalah: CR = [ (P x ACP) – SRFS] x PCT P : Jumlah tembaga (pon) yang terkandung dalam konsentrat. PCT = 1.39 Kedua. 2009.5 + (ACP90)/10 Sedangkan logam mulia yang merupakan mineral ikutan dengan tembaga. antara PT FIC dengan PT NNT. JokoSudiarto.50% USD 0.5% Harga tembaga/pon > USD 1. pengangkutan dan biaya penjualan lainnya PCT : Persentase. Dibayar dalam mata uang rupiah. Berdasarkan hasil penelitian lapangan. PCT = 1. . sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli.

Sehingga. 35% X 1 ton = 0. sedangkan realiasi penjualan yang dilaporkan oleh PT FIC adalah penjualan ketiga unsur mineral tersebut. Royalti Tambahan harus dibayar sepanjang suatu mineral dalam produksi perusahaan yang diekspor adalah satu mineral yang nilainya menurut kebiasaan umum dibayar kepada perusahaan oleh pembeli. realisasi produksi yang dilaporkan oleh PT FIC adalah produksi konsentrat tembaga dan ketiga unsur mineral tersebut. misalnya ingredient content mineral tembaga adalah antara 25% s.d. 34 (gr/T).. JokoSudiarto.. 35%. . Di dalam konsentrat tersebut terkandung beberapa mineral ikutan yang tidak dapat dipisahkan dari proses produksi (menyatu dalam konsentrat tembaga tersebut). Jumlah tonase mineral yang dihitung dalam kandungan konsentrat tersebut hanya tiga unsur mineral yaitu emas (Au). FE UI. Demikian juga unsur mineral-mineral ikutan lainnya. artinya dalam setiap satu metric ton konsentrat tembaga terkandung unsur mineral emas sebanyak antara 25 gr s. Oleh karena itu. 2009.. Kandungan unsur mineral dalam konsentrat tembaga tersebut merupakan hal yang disyaratkan dalam kontrak penjualan antara penjual dan pembeli. diantaranya adalah Universitas Indonesia Analisis potensi. Tarif royalti tambahan sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran G. Ingredient content mineral emas adalah antara 25 gr/T s. 34 gr. perak (Ag) dan tembaga (Cu). Menurut PT FIC. seperti yang diuraikan pada Pasal 13 huruf h bahwa perusahaan harus membayar suatu Royalti Tambahan yang dapat berlaku berkenaan dengan mineral yang diekspor sebagai bijih yang tidak dapat dimanfaatkan dari Indonesia. Di samping itu.40 menghasilkan konsentrat tembaga. sedangkan unsurunsur mineral ikutan lainnya tidak dihitung tonasenya. yang dijual oleh PT FIC kepada para pembeli (smelter dan trader). PT FIC hanya menghitung dan menyetorkan royalti atas penjualan ketiga unsur mineral tersebut.35 ton. artinya dalam setiap satu metric ton konsentrat tembaga terkandung unsur mineral tembaga sebanyak antara 25% X 1 ton = 0. hanya tiga unsur mineral tersebut yang dibayar oleh pembeli sedangkan mineral ikutan lainnya dianggap sebagai limbah yang tidak ada nilai ekonomisnya. Kandungan masing-masing mineral ikutan dalam setiap metric ton konsentrat tembaga yang diproduksi oleh PT FIC sesuai dengan ingredient content. sesuai dengan Pasal 13 point (ii) KK tersebut di atas.25 ton s.d.d.d.

85 Satuan % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah).. Spanyol Nomor 1308 F tanggal 20 April 2003 37.4-2.251/ons 62.50 1.378. terdapat mineral ikutan dalam konsentrat tembaga yang belum dikenakan royalti. seperti dicantumkan pada tabel berikut ini.456 ons US$ 296. Tabel 10: Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT FIC Kandungan Mineral dalam Konsentrat No.56 Universitas Indonesia Analisis potensi.00 30. 3. 2009.255 DMT US$ 33. Dengan demikian.430 ons US$ 5. Mineral Range Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) 18-30 25-36 5-10 1.. Contoh perhitungan kewajiban iuran eksploitasi/royalti dapat disajikan berikut ini..41 mineral belerang (sulfur) dengan tarif sebesar USD4. 1.50 7.00/ton.3 Rata-rata 24. 2. .154.838 lbs US$ 0. FE UI.78844/lbs 57.882.527. JokoSudiarto. PT FIC juga tidak pernah menghitung dan menyetorkan royalti tambahan tersebut dengan alasan perusahaan tidak menerima pembayaran dari pembeli atas mineral belerang tersebut. S.834.32 : : : : : : : 25.242/ons US$ 4. 4.573. Data penjualan · · · · · · · · · · Penjual Pembeli Pelabuhan tujuan Invoice Berat konsentrat Nilai Tembaga Berat dalam lbs Harga Emas Berat dalam ons Harga Perak Berat dalam ons Harga TCRC : : : : : : PT FIC Atlantic Copper.A. Namun demikian.

. Pasal 13 ayat 2 KK dapat diuraikan secara ringkas bahwa “Perusahaan akan membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral dari hasil produksi (sebagaimana dirumuskan dalam lampiran “F”) pada Wilayah Pertambangan.58 US$ 401.536. sepanjang setiap Mineral dari hasil produksi itu merupakan Mineral yang nilainya sesuai kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada Perusahaan oleh pembeli.691.119. .78844 X 25. jumlah berat setiap mineral yang dikenakan iuran eksplotasi/produksi ditetapkan secara tepat dengan metode perhitungan yang dapat diterima secara internasional”..60 Dalam periode 2003 sampai dengan 2007.47 US$ 227. JokoSudiarto.42 Perhitungan Iuran Eksploitasi/Royalti · Tembaga US$ 0. FE UI.175.175. Iuran eksplotasi/produksi akan dibayar dalam Rupiah atau mata uang lain yang disetujui bersama dan akan dibayar pada atau sebelum hari terakhir dari bulan setelah tiap triwulan”.97 US$ 3.01/DJP/2000 tanggal 24 Februari Universitas Indonesia Analisis potensi.378.251 X 57. 2) PT NNT.05 US$ 170. Dalam hal konsentrat atau dore bullion. Rincian disajikan pada Lampiran 3.838 lbs -/. perhitungan royalti didasarkan pada Surat Direktur Jenderal Pertambangan Umum Nomor 310/20.009.242 X 62.456 ons · Perak 1% X US$ 5.5% X US$ 15.272.213.732.430 ons Jumlah Royalti : : : : : : : US$ 20.03 US$ 4. jumlah penyetoran royalti sebesar US$443.56 US$ 15. Dalam hal tembaga.TCRC 1..47 · Emas 1% X US$ 296.834.633. Iuran Eksploitasi/produksi akan dihitung dengan tarip yang ditetapkan dalam Lampiran “F” sebagai berikut: “tonase atau jumlah berat yang digunakan di dalam perhitungan adalah jumlah yang diserahkan bagi pengapalan ekspor atau penjualan dalam negeri.12. 2009.154.536.400.

b) Jika harga jual emas adalah US$400 per troy ounce atau lebih tinggi. Dalam hal emas. dan sesuai dengan Pasal 13 ayat (2) KK tersebut di atas. Dalam hal perak.. c) Jika harga jual (G) emas adalah diantara US$300 . perak dan tembaga. iuran yang dikenakan adalah {1+(G–300)/100}% dari harga jual. Universitas Indonesia Analisis potensi. iuran yang dikenakan adalah {1+(S–10)/5}% dari harga jual. iuran yang dikenakan adalah 2% dari harga jual. terdapat mineral ikutan lainnya dalam konsentrat tembaga yang tidak dikenakan royalti. seperti dicantumkan pada tabel berikut ini.000 Ton US $ 45.000 Ton US $ 55. . iuran yang dikenakan adalah 2% dari harga jual. · Tingkat produksi > 80.US$400 per troy ounce.K/844/MPE/1992 serta metode teknis perhitungan sesuai dengan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Nomor 514/844/DDJP/1992 tanggal 28 Desember 1992 tarif royalti untuk tembaga ditetapkan sebagai berikut: · Tingkat produksi ≤ 80.43 2000 perihal Pembayaran Iuran Eksploitasi/Produksi (Royalti) PT Newmont Nusa Tenggara. perhitungan royalti adalah sebagai berikut: a) Jika harga jual perak adalah US$10 per troy ounce atau lebih rendah. 2009. FE UI. c) Jika harga jual (S) perak adalah diantara US$10-US$15 per troy ounce..00/ton.. JokoSudiarto. iuran yang dikenakan adalah 1% dari harga jual.00/ton. Surat tersebut terkait dengan pengenaan tarif royalti untuk tembaga yang ditentukan berdasarkan Surat Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Nomor 2817/844/DJP/1996 tanggal 11 Nopember 1996 dengan mengacu pada Surat Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1166. iuran yang dikenakan adalah 1% dari harga jual. perhitungan royalti adalah sebagai berikut: a) Jika harga jual emas adalah US$300 per troy ounce atau lebih rendah. maka PT NNT hanya menghitung dan menyetorkan royalti atas mineral emas. Dengan demikian. b) Jika harga jual perak adalah US$15 per troy ounce atau lebih tinggi. Seperti halnya pada PT FIC.

292 X 9.Berat dalam ons .53 175.Berat dalam ons .Harga : : : : 68.00 2.51 ons (175.98 689.Grade .09 DMT US$ 13.737.999.09) 5.292 2.73 ton (0.Berat dalam ton .Berat dalam ton .23/31.23 ton (68. .. Mineral Range Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) 22-28 28-34 7-9 1..Harga · Perak .Berat dalam ton · Emas .05/31.. 1.55 ons (689.Grade .635.Grade .999.701. JokoSudiarto.44 Tabel 11: Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT NNT Kandungan Mineral dalam Konsentrat No.175. FE UI.737.999.886.15 Satuan % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah) Contoh perhitungan kewajiban iuran eksploitasi/royalti dapat disajikan berikut ini.05 ton (17.75 : : 0.53 X 9. 2. 2009.6-2. 3.00 8. 4.284. Jepang Nomor 000005 tanggal 20 Januari 2006 Nomor 2006-04-1 tanggal 30 Januari 2006 9.999.69 : : : : 17.284.09) : : : : : : : PT NNT Mitsubishi Material Corporation Naoshima.98 X 9. Data penjualan · Penjual · Pembeli · Pelabuhan tujuan · PEB · Invoice · Berat konsentrat · Nilai · Tembaga .919.00 31.09) 22.1035) US$ 561.7 Rata-rata 25.21 Universitas Indonesia Analisis potensi.1035) US$ 9.

55 ons Jumlah Royalti : : US$ 2.175. JokoSudiarto. Pembayaran tersebut yaitu: 1) Lease bonuses. lease bonuses ini dapat Universitas Indonesia Analisis potensi.571.388. yaitu bahwa pemerintah merupakan pemilik lahan atau pemilik sumber daya mineral dimana pemerintah akan menerima pembayaran dari pengusahaan sumber daya tersebut di luar dari pajak penghasilan.635. Artinya.148. FE UI.94 : US$ 131. PNBP yang berasal dari iuran tetap dan royalti kontrak karya tersebut dapat digolongkan sebagai user charges dalam kelompok user fees. Nellor dalam buku yang sama (1995: 238-240) yang mengemukakan beberapa pengertian pengusahaan mineral. merupakan pembayaran tetap kepada pemerintah tidak tergantung dari keuntungan atau jumlah yang dihasilkan dari pengusahaan sumber daya mineral tersebut.. selain membayar pajak-pajak sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku.45 Perhitungan Iuran Eksploitasi/Royalti · Tembaga US$ 45.851. Dalam kontrak karya. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Gerwin Bell dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 104-107). pihak kontraktor yang mengusahakan atau mengolah sumber daya mineral diwajibkan membayar kepada pemerintah sebagai PNBP.69 X 22.75 X 5..274.51 ons · Perak 1% X US$ 9.81 : US$ 63.79 Dalam periode 2003 sampai dengan 2007.73 ton · Emas 2% X US$ 561.314.919. Hal tersebut di atas senada dengan pendapat dari David C. Jadi tidak tergantung dari besarnya produksi yang dihasilkan (dalam tonase) maupun besarnya pendapatan atau penjualan (dalam rupiah atau US$). Rincian disajikan pada Lampiran 4. . 2009. dimana PNBP tersebut merupakan pembayaran atas pelayanan yang dinikmati langsung oleh pengguna (pihak kontraktor).87.00 X 2.04 US$ 196..L. jumlah penyetoran royalti oleh PT NNT sebesar US$96.

yaitu di dalam Pasal 13 KK disebutkan bahwa royalti dibayarkan atas mineral yang dibayar oleh pembeli. karena pemerintah tidak akan memperoleh penerimaan sampai dengan proyek atau pengusahaan sumber daya mineral tersebut menguntungkan. royalti bisa dihitung dari jumlah volume (misalnya metric ton) atau dari nilai sumber daya tersebut (misalnya nilai jual). Pengertian tersebut berbeda dengan KK. Universitas Indonesia Analisis potensi. Hal ini sangat beresiko bagi pemerintah sebagai pemilik sumber daya mineral. pemerintah akan kesulitan mengadministrasikan dan menentukan kewajaran besarnya penerimaan tersebut. 2009. sehingga pemerintah perlu melakukan pengawasan yang ketat.. JokoSudiarto. Kedua. RRT tersebut dapat dianalogkan sebagai penerimaan royalti tambahan dari PT FIC dan pengenaan tarif progresif atas royalti. Dengan demikian royalti hanya dapat dikenakan kepada kontraktor apabila kontraktor tersebut benar-benar telah menerima pembayaran dari pembeli. Semakin tinggi harga atau nilai penjualan mineral maka semakin tinggi tarif royaltinya. Jadi tidak tergantung apakah sumber daya tersebut bermanfaat atau tidak oleh kontraktor yang bersangkutan. FE UI.46 diartikan sebagai kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan.L. yaitu Pertama. Nellor tersebut. Artinya. merupakan pajak yang dikenakan apabila terdapat keuntungan atas pengelolaan atau pengusahaan sumber daya mineral. Jelas di sini bahwa pengertian royalti dalam KK lebih sempit dibandingkan dengan pengertian royalti menurut pendapat David C. dengan kata lain. 3) Resource Rent Tax (RRT). royalti dibayarkan berdasarkan besarnya volume atau nilai dari sumber daya yang diusahakan.. royalti dikenakan atas sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor. 2) Royalties.. . Ada dua makna dalam pengertian tersebut. Pemerintah harus menetapkan jumlah minimum royalti yang harus dibayar oleh pihak kontraktor atas besarnya volume atau nilai sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor tersebut. RRT hanya dibayarkan oleh kontraktor apabila pengusahaan sumber daya mineral tersebut telah menguntungkan. pendapatan yang diperoleh telah melebihi atau di atas nilai investasinya. Di sisi lain. Artinya.

siapapun yang telah mengusahakan pertambangan dan memanfaatkan hasil-hasilnya harus dikenakan royalti. Jelas di sini bahwa cakupan royalti dalam KK lebih sempit dibandingkan dengan pengertian konsep PNBP tersebut. cakupan royalti dalam KK tersebut belum optimal buat pemerintah Indonesia.. Makna atau substansi pasal tersebut yaitu royalti di bidang pertambangan yang merupakan salah satu PNBP. sehingga pemerintah pun akan menerima royalti yang semakin besar. untuk dilakukan penghancuran pada crushing pile dan hasilnya dikumpulkan pada surge pile. . · Concentrator Plant. Hal ini bisa dilihat dari uraian di atas bahwa masih terdapat potensi royalti dari mineral ikutan tembaga yang belum tergali. Menentukan Alasan yang Dapat Digunakan Untuk Mengenakan Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga Secara ringkas proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan untuk dapat menghasilkan konsentrat tembaga dapat diuraikan sebagai berikut: · Penambangan.2. Bahan galian yang diperoleh disebut bijih (ore). FE UI.. 2009.. Artinya. JokoSudiarto. dikenakan atas pemanfaatan sumber daya alam (dalam hal ini adalah pengusahaan pertambangan). 4. ore dikumpulkan dalam coarse ore mill feed stockpile dan didistribusikan ke sag mill untuk dilakukan penggilingan menjadi butiran– Universitas Indonesia Analisis potensi. Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP menerangkan bahwa salah satu PNBP adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. penentuan lokasi dari bahan galian yang akan dilakukan penambangan. Artinya pemerintah Indonesia kehilangan kesempatan untuk memperoleh penerimaan yang lebih besar (opportunity loss). Dengan demikian. antara lain royalti di bidang pertambangan.47 semakin tinggi harga atau nilai penjualan mineral maka semakin besar pula keuntungan yang diperoleh oleh kontraktor. Selanjutnya dikirim ke konsentrator plant dengan menggunakan overland conveyor.

melalui belt conveyor dikirim ke tempat penyimpanan konsentrat (concentrate stockpile). Kemudian proses loading dari penyimpanan konsentrat ke kapal dilakukan dengan belt conveyor. Menurut kedua kontraktor.. Diagram alur proses produksi tersebut dicantumkan pada Lampiran 5. ada dua alasan yang mendasari hal tersebut. yaitu: 1. Perhitungan dan penyetoran kewajiban iuran eksploitasi (royalti) telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam KK. emas. Dari proses produksi di atas diketahui bahwa hasil produksi perusahaan berupa konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung beberapa mineral ikutan. Sedangkan menurut Pasal 34 ayat (2) Undangundang Nomor 4 Tahun 2009 pengusahaan pertambangan tembaga termasuk dalam pertambangan mineral logam. Seluruh unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga di atas termasuk dalam pengertian mineral. FE UI. selanjutnya melalui pipa dengan tekanan air dikirim ke bagian filtration plant. 20 December.48 butiran halus. · Filtration Plant. Dan termasuk di dalam jenis bahan galian vital. Berdasarkan data-data hasil penelitian lapangan diketahui bahwa kontraktor (PT FIC dan PT NNT) hanya menyetorkan royalti atas mineral tembaga. konsentrat bercampur air ditampung dalam discharge tank dan dilakukan pengepresan melalui dua buah filter press sehingga kadar air yang tersisa dalam konsentrat mencapai kadar 9%–12% dari berat konsentrat. yaitu bahan galian yang dapat menjamin hajat hidup orang. dan perak sedangkan unsur mineral ikutan lainnya tidak dibayar royaltinya. JokoSudiarto.. Proses ini dilakukan untuk memisahkan dan meningkatkan konsentrat. Bahan galian ini disebut juga golongan bahan galian B sesuai dengan Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian. baik menurut Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara maupun Article 3 angka 1 Japanese Mining Law Nomor 289.. 2009. 1950 Latest Amendment In 1962. Pasal 13 KK menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi Universitas Indonesia Analisis potensi. .

49 untuk kadar mineral hasil produksi. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. 2.5 %.. Simon Sembiring dalam Buku Jalan Baru Untuk Tambang: Mengalirkan Berkah Bagi Anak Bangsa (2009: 149) menguraikan bahwa peleburan dan pemurnian konsentrat tembaga di Indonesia.. melainkan merupakan upaya untuk meminimalkan dampak polusi yang diakibatkan oleh buangan sulfur dari pabrik smelting. Dan perusahaan hanya menerima pembayaran dari pembeli atas tiga mineral ikutan yaitu tembaga. pembeli hanya bersedia membayar logam yang terkandung di dalam konsentrat yang dapat diproses lebih lanjut secara ekonomis sehingga mendatangkan penghasilan bagi pengolah konsentrat (smelter). Beberapa smelter saat ini dapat mengolah sulfur untuk dimanfaatkan oleh perusahaan petrokimia dengan syarat lokasi pengolahan sulfur berdekatan dengan lokasi pabrik petrokimia. smelting yang melakukan upaya ini semestinya mendapatkan insentif karena berhasil menekan tingkat polusi dan bukannya diwajibkan memberikan kompensasi kepada penjual konsentrat. emas dan perak yang berdasarkan teknologi saat ini tidak memiliki nilai ekonomis untuk diolah lebih lanjut. Ltd 5%). terdapat beberapa pendapat yang mengatakan bahwa hampir semua unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga tersebut dapat dimanfaatkan atau hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga.. dilakukan oleh PT Smelting Gresik Copper Smelter & Refinery yang sahamnya 25 % dimiliki PT FIC dan sisanya perusahaan Jepang (Mitsubishi Material Corporation 60.5 % dan Nippon Mining & Metals Co. JokoSudiarto. jika kandungannya melampaui ambang batas. Hal ini bukan merupakan upaya untuk mendapatkan nilai ekonomis dari sulfur. justru perusahaan dikenakan penalti. Dalam konsentrat tembaga terdapat beberapa logam di luar tembaga. emas. Beberapa logam bahkan dikategorikan sebagai pengotor konsentrat (impurities) sehingga. Dalam praktik perdagangan konsentrat. dan perak. FE UI. Mitsubishi Corporation 9. Dengan demikian. Namun demikian. PT Universitas Indonesia Analisis potensi. Pendapat tersebut diuraikan berikut ini. hanya ada di Gresik. 2009. .

yakni smelter plant (pabrik peleburan). kerak tembaga (copper slag) dengan kapasitas 530 ribu ton/tahun.22%. dari smelter ini diperoleh produk sampingan (by-product) berupa belerang (sulfur) dengan kapasitas 700 ribu ton/tahun. besi teroksidasi membentuk besi oksida Universitas Indonesia Analisis potensi.93% . Konsentrat tembaga umumnya mengandung besi (Fe) antara 21.6 juta ton per tahun dan cuma sebagian kecil konsentrat dari PT NNT.. Dengan demikian. acid plant (pabrik asam sulfat). Namun sayangnya. Hal tersebut senada dengan Laporan Tim Optimalisasi Penerimaan Negara Tahun 2007. Sedangkan produk sampingannya adalah terak (molten slag). Kedua. yang menjelaskan proses produksi pada PT Smelting Gresik.99%. 2009. terdiri dari empat plant. Ini membuktikan bahwa sebenarnya kita bisa mengubah dari raw material menjadi konsentrat dan selanjutnya sampai dengan end product yang dimanfaatkan industri hilir. dan instalasi pengolahan air limbah. 2. Indonesia saat ini hanya menyerap sepertiga konsentrat tembaga yang dihasilkan PT FIC yang sebesar 2. hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga.25. 3. Copper slag berupa kerak juga bisa dijual ke industri pembuatan kertas pasir.50 Smelting didirikan pada Februari 1996. Produk utama PT Smelting Gresik adalah katoda tembaga (copper cathode). JokoSudiarto. yang mengandung bahan substitusi untuk pabrik semen sebagai pengganti sebagaian pasir besi yang merupakan bahan baku pembuatan semen. Pada proses peleburan dan converting. Produk sampingan lainnya adalah gypsum dengan kapasitas 20 ribu ton/tahun yang digunakan untuk campuran semen dan dijual ke pasar internasional. Ada dua hal penting yang diuraikan dalam buku tersebut. emas dan perak. .. Lalu. FE UI. refinery plant (pabrik pemurnian). dimana kadarnya (copper grade) dari 28-30% dinaikkan menjadi 99. pabrik tersebut mengubah konsentrat menjadi copper cathode. gipsum. yakni: 1. yaitu: Pertama. yang langsung dijual kepada PT Petrokimia Gresik sebagai bahan baku pembuatan pupuk. dan ditemukan dalam senyawa dengan logam tembaga dan belerang. sulfur (SO2). selenium dan tellurium..

Sementara itu Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) ITB dalam Buku Laporan Akhir “Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Universitas Indonesia Analisis potensi.70% - 30. Hal tersebut dapat dilihat pada diagram alur proses peleburan konsentrat tembaga yang dilampirkan pada Lampiran 6. yakni seperti slag. FE UI.. kalkosit (CuS). Geological Survey Open-File Report 2004-1395. dalam jumlah yang sama unsur mineral besi dan sulfur.. dan silikon. Selanjutnya pada proses peleburan konsentrat tembaga akan menghasilkan beberapa produk yang tidak jauh berbeda dengan hasil produksi PT Smelting Gresik. Pada waktu proses peleburan dan converting. kapur (CaO). kalsium.95% dan ditemukan dalam mineral kalkopirit (CuFeS2). bornit (Cu5FeS4). Terak yang dihasilkan dijual kepada PT Semen Gresik (Persero) sebagai bahan baku pembuatan semen. 2009. . kovelit (CuS). asam sulfat. digenit (CU5S9). Pada pabrik peleburan PT Smelting Gresik. magnesia (MgO) alumina (AI2O3) dan lain-lainnya. Demikian juga pendapat dari Thomas G. membentuk terak. Dari proses tersebut jelas bahwa hampir semua unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga dapat dimanfaatkan. gipsum. Konsentrat tersebut mengandung 25% – 35% unsur mineral tembaga. gas SO2 dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk dan gipsum yang dijual ke PT Petrokimia Gresik. oleum. Pada intinya hampir seluruh unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga dapat dimanfaatkan atau hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga. Goonan dalam makalah yang berjudul “Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting” yang diuraikan pada U. JokoSudiarto. belerang menjadi bagian gas buang sebagai belerang oksida (S02). persentase yang lebih kecil unsur aluminium. pirit (FeS2) dan terikat dengan unsur-unsur ikutan lainnya. 5.. dan lainnya. bahwa pengusahaan pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga.S.51 (FeO) yang kemudian bersama-sama senyawa silika (SiO2). Kandungan belerang di dalam konsentrat tembaga berkisar antara 29. Gas buang yang dihasilkan oleh pabrik peleburan tersebut diproses lebih lanjut untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gypsum (CaS042H2O). 4.

dimana mereka menyatakan setuju apabila seluruh mineral ikutan tambang tembaga dikenakan royalti. JokoSudiarto.. . yang akan dikenakan denda apabila melebihi kandungan maksimum yang disepakati. dan lain-lain. logam emas (Au) dan logam perak (Ag). gipsum dan dijual kepada PT Petrokimia Gresik. Unsur Unsur-unsur atau senyawa yang tidak dibayar dan tidak dikenakan denda. 2.52 Konsentrat Tembaga PT FIC” mengemukakan bahwa ditinjau dari segi pemasaran konsentrat tembaga. Berdasarkan uraian di atas. Departemen Keuangan dan BPK. Hal tersebut di atas didukung oleh pendapat instansi atau pihak yang kompeten. Demikian juga dengan unsur belerang. Pada pabrik peleburan PT Smelting gas SO2 yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk. Sedangkan untuk unsur-unsur pengotor pada umumnya tidak ekonomis lagi untuk diolah lebih lanjut. timbal (Pb). Unsur-unsur tersebut adalah logam tembaga (Cu). Matrik rangkuman pendapat instansi/ahli yang kompeten dilampirkan pada Lampiran 7.. maka unsur-unsur yang ada di dalam konsentrat tembaga tersebut dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok sebagai berikut: 1. jelas bahwa mineral ikutan pertambangan tembaga yang layak dikenakan royalti adalah unsur mineral sulfur dan besi karena Universitas Indonesia Analisis potensi. unsur belerang ini menyatu dalam gas buang (SO2) dan apabila diproses lebih lanjut akan menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gipsum(CaSO4. FE UI. Pada pabrik peleburan PT Smelting limbah terak yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan semen dan dijual kepada PT Semen Gresik.. antara lain: arsen (As). seng (Zc). Unsur-unsur tersebut adalah belerang (S) dan besi (Fe). bahan sand blasting. yaitu Departemen ESDM. walaupun kandungannya besar. yaitu masing-masing berkisar antara 25-30%. Dalam buku tersebut disebutkan juga bahwa unsur besi dalam proses peleburan terikat kuat dengan oksida-oksida lainnya di dalam terak. Terdiri dari senyawa ikutan dan unsur-unsur pengotor baik logam maupun non logam. Unsur-unsur atau senyawa yang dikenakan denda. Unsur-unsur atau senyawa yang dihargai atau dibayar. bismut (Bi). 3.nH2O). 2009.

3. FE UI. maka royalti tersebut dapat dihitung dengan dua cara. royalti dihitung berdasarkan persentase tertentu dari harga jual.53 kedua unsur inilah yang dapat diproses lebih lanjut dan dimanfaatkan/dijual. Hal tersebut juga telah ditekankan pada Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP bahwa salah satu PNBP adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. Dan sesuai dengan prinsip PNBP bahwa semua PNBP seharusnya mutlak hak negara artinya negaralah yang mempunyai “bargaining power” lebih besar. dikenakan atas pemanfaatan sumber daya alam (dalam hal ini adalah pengusahaan pertambangan).. langkah selanjutnya adalah menghitung perkiraan royalti tersebut berdasarkan data-data periode 2003-2007. Dengan kata lain hanya negara yang berhak menentukan besarnya tarif PNBP bahkan bisa saja tanpa kompromi dengan pihak ketiga. siapapun yang telah mengusahakan pertambangan dan memanfaatkan hasilhasilnya harus dikenakan royalti. berapapun yang diambil dari dalam bumi Indonesia seharusnya dikenakan royalti. Perkiraan Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga Setelah mengetahui alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti dari mineral ikutan tembaga.. Artinya. misalnya 3% dari harga jual. Jelas di sini bahwa makna atau substansi pasal tersebut yaitu royalti di bidang pertambangan yang merupakan salah satu PNBP. antara lain royalti di bidang pertambangan. JokoSudiarto. Artinya royalti tersebut tergantung dari apa yang telah Universitas Indonesia Analisis potensi. yaitu: Pertama. baik sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan ataupun yang tidak bisa dimanfaatkan tetap harus diwajibkan membayar ke negara sebagai pemilik sumber daya alam tersebut. . Apalagi dengan mineral ikutan pertambangan tembaga yang jelas-jelas dapat dimanfaatkan dan mempunyai nilai jual. Sesuai dengan pendapat dari Departemen ESDM sebagai regulator atau instansi yang berwenang menetapkan tarif royalti atas pemanfaatan sumber daya alam. 4.. 2009. Siapapun yang mengambil sumber daya alam dari dalam perut bumi Indonesia. Cara inilah yang lazim diterapkan sesuai dengan kondisi perusahaan.

Kedua.. Dari hasil penelitian lapangan. royalti dihitung berdasarkan fixed rate dengan formula berikut ini. demikian juga sebaliknya.90/ton (PP 58/1998). yaitu Pertama. 2009. 2. IC rata-rata per bulan dari realisasi Universitas Indonesia Analisis potensi. Langkah-langkah cara perhitungan royalti adalah sebagai berikut: 1. Jadi fluktuasi royalti tergantung dari harga jual dan pendapatan perusahaan. Dalam hal ini penulis menggunakan tarif yang ada pada Lampiran KK atau PP 58/1998. Royalti = tarif x jumlah satuan Dimana. JokoSudiarto. Apabila pendapatan perusahaan mengalami kenaikan maka royaltipun akan naik. Kedua. Jadi IC rata-rata ini merupakan nilai perkiraan kandungan masingmasing mineral dalam konsentrat.305 ton. .50%. Tarif Jumlah satuan : : USD per ton atau per kg.54 diterima perusahaan atas pemanfaatan sumber daya alam tersebut (pendapatan perusahaan). FE UI. Artinya setiap 1 ton konsentrat tembaga diperkirakan mengandung unsur mineral Sulfur sebesar 0. Namun demikian. IC rata-rata dari nilai ”range” kandungan mineral yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Ada dua IC yang dapat digunakan. Berat atau jumlah ton atau kg mineral yang dijual..00/ton (KK .. harga jual yang diperoleh adalah harga produk jadi hasil proses lanjutan dari mineral tersebut. hal ini sangat sulit bahkan tida bisa diterapkan untuk mengestimasi potensi royalti yang hilang atas mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga. yaitu untuk mineral sulfur sebesar USD4. karena harga jual atau nilai ekonomis mineral tersebut sulit sekali diestimasi. Dimana. Misalnya Sulfur dengan range sebear 25-36% maka IC rata-rata sebesar 30. misalnya harga asam sulfat dan gipsum. Menentukan tarif. berat masing-masing mineral diperoleh dari Ingredient Content (IC) dikalikan dengan berat konsentrat yang dijual.Lampiran G) dan untuk mineral besi sebesar USD2. Menghitung jumlah satuan yaitu berat dalam ton atau kg masing-masing mineral ikutan dalam konsentrat yang dijual.

sehingga untuk memperkirakan berat masing-masing mineral yang terkandung dalam konsentrat yang dijual. Diagram cara perhitungan potensi royalti dicantumkan pada Lampiran 8.. FE UI. penulis menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan EVIEWS.. S : Variabel tidak bebas (kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual. Langkah berikutnya. SULFUR Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara jumlah penjualan Emas (dalam Kg). Perak (dalam Kg). dan Tembaga (dalam Ton) dengan kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).. Dalam hal ini. penulis tidak memperoleh data IC rata-rata per bulan. Penulis hanya memperoleh data IC rata-rata per bulan untuk periode 2003 s. Misalnya IC triwulan I merupakan rata-rata IC bulan Januari. yang akan diuraikan berikut ini. Fungsi Model Dimana. begitu seterusnya. Selanjutnya dikalikan dengan berat konsentrat yang dijual (dalam Ton) untuk memperoleh berat masingmasing mineral yang terkandung dalam konsentrat tersebut. Periode 2006 dan 2007. Februari dan Maret. artinya IC yang digunakan untuk menghitung perkiraan potensi royalti per triwulan adalah IC rata-rata tiga bulan sebelumnya. P.d. yang selanjutnya digunakan untuk mencari IC rata-rata triwulanan pada periode yang bersangkutan. 2005. mengalikan tarif dengan berat masing-masing mineral untuk memperoleh nilai perkiraan royalti periode 2003 s.55 kandungan masing-masing mineral dalam setiap produksi konsentrat. JokoSudiarto. metode yang digunakan untuk menentukan IC adalah metode rata-rata sederhana. misalnya penjualan Tembaga sebanyak 1 ton maka kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual sebanyak sekian ton. . T) : S = a + bE + cP + dT + Є Universitas Indonesia Analisis potensi.d. dalam Ton) : S = f (E. 2005 (Fitted Value). 2009.

c. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta atau intersep dalam suatu model ekonometrika kurang mempunyai makna yang berarti namun demikian apabila dihilangkan model menjadi Universitas Indonesia Analisis potensi.776507 Prob(F-statistic) Prob.804 Akaike info criterion Sum squared resid 1.991219 Mean dependent var Adjusted R-squared 0.79318 R-squared 0. dalam Kg) Variabel bebas 3 (jumlah penjualan Tembaga.70E+08 Schwarz criterion Log likelihood -327. Perak (dalam Ton).7799 248..000000 Evaluasi model di atas adalah sebagai berikut: 1.755876 0.103 0. Selanjutnya. JokoSudiarto.9000 -1.990396 S.39 23497.8823 202.E. .5765 3. of regression 2302. dan kriteria ekonometrika.994901 E -322. dependent var S. 0.98 18.0012 0. seperti dicantumkan pada Lampiran 9.1214 0. berdasarkan data-data tersebut dilakukan run model dengan EVIEWS. Untuk menentukan model yang terbaik dilakukan dengan cara cobacoba (try and error) dan setiap model dievaluasi berdasarkan kriteria ekonomi. dalam Kg) Variabel bebas 2 (jumlah penjualan Perak.525 2.0053 0.56 E P T a Є : : : : : Variabel bebas 1 (jumlah penjualan Emas. FE UI..D. dan Tembaga (dalam ton) per bulan selama periode 2003 sampai dengan 2005.. Error t-Statistic C 4535.591337 P 883.064094 11. Tabel 12: Hasil Run Model 1 .42608 18. d : Data-data yang diperoleh adalah data-data kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual (dalam Ton) dan jumlah penjualan Emas (dalam Ton).60203 1204. 2009. dalam Ton) Konstanta (intersep) Koefisien regresi Error peramalan b.0000 81006.555364 T 0.851 1514.6695 F-statistic Durbin-Watson stat 1. Hasil run model dengan EVIEWS diuraikan sebagai berikut. kriteria statistik.Sulfur Dependent Variable: S Method: Least Squares Date: 11/28/09 Time: 19:40 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std.

2. karena t-statistik menunjukkan angka -1. yaitu koefisien variabel bebas Emas dengan nilai sebesar -322. Sementara itu. masing-masing t-statistik menunjukkan angka 3.55 dan 11. Koefisien Variabel Bebas Sesuai dengan reasoning dasar.204. Hal ini sesuai dengan reasoning dari model tersebut. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial. Nilai F-statistik sebesar 1.535. variabel bebas yang lain (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S). Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan nilai F-statistik terhadap F-tabel dengan derajat bebas n-2 pada tingkat kepercayaan α tertentu. Pada model di atas terdapat koefisien variabel bebas yang tidak sesuai dengan reasoning-nya. yaitu dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas dari model.57 kurang bagus dan cara menginterprestasikannya sesuai dengan masalah atau topik dari model tersebut. terdapat variabel bebas (E) yang tidak signifikan terhadap variabel tidak bebas (S).96). Oleh karena itu harus dicoba lagi dengan model baru.10 jauh lebih besar daripada F-tabel (F-tabel menunjukan angka 4). jika variabel bebas naik maka variabel tidak bebas juga akan naik demikian sebaliknya.79 atau lebih besar daripada 1. FE UI.96. Pengujian Model Secara Keseluruhan. Dengan demikian variabel bebas secara keseluruhan (Emas. Alat uji yang digunakan adalah Fisher Test atau uji F. . Pada tabel 12 di atas. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Merupakan ukuran persentase total variasi dalam variabel tidak bebas Universitas Indonesia Analisis potensi. Perak dan Tembaga) sangat signifikan mempengaruhi Sulfur.85. Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan nilai t-hitung atau tstatistik masing-masing variabel bebas terhadap t-tabel dengan derajat bebas n-2 pada tingkat kepercayaan α tertentu (misalnya pada tingkat kepercayaan α=5% maka t-tabel menunjukan angka 1. JokoSudiarto..96..591337 lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. Artinya variabel bebas berbanding lurus dengan variabel tidak bebas.88. Untuk model di atas konstanta mempunyai nilai positif sebesar 4.. bahwa koefisien variabel bebas bernilai positif. 2009.

281081 0.7438 0.185275 Probability Obs*R-squared 7. Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Sulfur dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 99.3865 0. 0.94E+15 Log likelihood -620.312635 Std.790130 4140700..196935 Adjusted R-squared 0. Tabel 13: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 ..82 -1. 8316000.2240 0.2930 0. P^2 -88457. .3907 T^2 0.15457 1. of regression 8187001. Akibatnya pengujian F dan t cenderung tidak signifikan. FE UI. JokoSudiarto. Heteroskedastisitas akan muncul dalam bentuk et yang semakin besar kalau nilai variabel bebas makin besar/kecil.070894 1052.04 %. 0. 3. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas adalah variasi error peramalan (et) tidak sama untuk semua pengamatan.030784 S.83 T -347.00 P 3640809.D.341532 0. Jika nilai R2 mendekati 1 berarti model makin dapat diandalkan.84666 35. Nilai adjusted R2 sebesar 0.Sulfur White Heteroskedasticity Test: F-statistic 1.990396 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Emas.784332 2553722.329929 0. sebaliknya jika nilai R2 mendekati 0 berarti model tidak dapat diandalkan.004110 R-squared 0.4392 0. 34.E.242621 105952.4359 0.185275 0.879274 82601.4583 4713693. 2009. E^2 83716.. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob.751631 Mean dependent var S. Error t-Statistic 13385616 -0.925 -0.089660 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 01/01/10 Time: 18:38 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -10498772 E -3173309. Sum squared resid 1.341532 Universitas Indonesia Analisis potensi.58 dijelaskan oleh variabel bebas. Hasil pengujian heteroskedastisitas dicantumkan pada tabel di bawah ini.2399 Durbin-Watson stat 2.2 0.005468 0. -1. Nilai R2 berkisar mulai dari 0 sampai dengan 1.

968532 1. Alat uji yang digunakan adalah statistik Durbin-Watson (DW). Model tersebut di atas terdapat masalah multikolinieritas yang ditunjukan pada tabel berikut.968532 T 0..000000 0. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG menunjukkan tidak ada masalah autokorelasi kedua dan ketiga. dan P dengan T sebesar 96. Hal ini ditunjukkan dalam tabel hasil pengujian BG berikut ini. seluruh variabel bebas tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2. Hal ini mengakibatkan nilai t-statistik variabel bebas E yang tidak signifikan.591 masih jauh lebih kecil dari pada nilai t-tabel sebesar 1.993777 0. karena nilai kuadrat seluruh variabel bebas lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. Model tersebut di atas tidak ada masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1. Dengan kata lain munculnya suatu data dipengaruhi oleh data sebelumnya.887913 0. Oleh karena itu. Tabel 14: Korelasi Variabel Bebas .8349%. Pengujian Autokorelasi Autokorelasi menyatakan adanya hubungan atau korelasi data-data pengamatan. . E dengan T sebesar 88.000000 0.993777 0.887913 1.776507 sudah mendekati 2.96 dan probabilitasnya sebesar 31. nilai d. Universitas Indonesia Analisis potensi. Pengujian Multikolinieritas Multikolinieritas artinya ada hubungan atau korelasi yang cukup kuat antara sesama variabel bebas dalam model.888349 0.888349 0. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas..7913%. Di samping itu.59 Pada tabel tersebut. JokoSudiarto.Sulfur S E P 1..877059 1. Nilai d berkisar antara 0 sampai dengan 4.8532%.877059 0. masalah multikolinieritas tersebut harus diatasi dengan cara mengeluarkan variabel bebas E dari model tersebut.96 (tingkat kepercayaan α=5%). menurut Tabel 12 nilai t-statistik variabel bebas E sebesar -1.975980 0. jika nilai d=2 atau mendekati 2 dapat dianggap tidak terdapat masalah autokorelasi.000000 S E P T Dimana hubungan antara variabel bebas E dengan P sebesar 88.975980 0.000000 0. FE UI.2635% jauh di atas 5%. 2009.

006594 0. .0569 0..E.368002 lebih kecil daripada 1.D. Error t-Statistic C 5730.154790 S.894822 Prob(F-statistic) 0. of regression 2366. Dari hasil evaluasi terhadap model di atas. Tabel 16: Hasil Run Model 2 .901 18.129962 P 0. Hasil run model tersebut dicantumkan pada tabel dibawah ini.095813 RESID(-1) 0.072584 0.159441 E 27.6100 0.421434 RESID(-2) -0. 0.730596 0. FE UI.0031 0.96.061708 0. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 83.997208 Pada tabel tersebut.914 1345.857716 0. dependent var S.7155 -9.189 Akaike info criterion Sum squared resid 1.366480 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 01/01/10 Time: 18:39 Presample missing value lagged residuals set to zero.684 0. JokoSudiarto. Error t-Statistic C 271.259593 P 788.Sulfur Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.89122 214. Variable Coefficient Std.95E-12 2201.4853 F-statistic Durbin-Watson stat 1.6764 0.3186 1701.2568% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi.832568 Prob.9978 0.8975 0.002740 T -0.010180 Mean dependent var Adjusted R-squared -0. yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0.0002 0.50187 Prob.154270 Probability Obs*R-squared 0.9243 0.8007 3.0000 Universitas Indonesia Analisis potensi.79088 0.086699 0.068823 -0.197239 -0.413 4. 2009..60 Tabel 15: Hasil Uji BG Model 1 .368002 R-squared 0.52696 18.Sulfur Dependent Variable: S Method: Least Squares Date: 11/28/09 Time: 19:45 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std.063520 11.205723 0. dapat disimpulkan bahwa model tersebut harus diubah dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas sehingga model menjadi S = a + bP + cT + Є. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan variabel bebas error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID.421434 dan -0.. 0.5313 246.195013 T 0.739876 270.68E+08 Schwarz criterion Log likelihood -327.8744 0.

39 23497.724.98 18. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t-statistik masing-masing sebesar 3. Nilai F-statistik sebesar 1.D. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 5.57865 1724.. . 2.990524 0. Koefisien Variabel Bebas Seluruh koefisien variabel bebas bernilai positif artinya variabel bebas tersebut mempunyai hubungan positif dengan variabel tidak bebas..195013 dan 11. Seluruh variabel bebas (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S). Hal ini sudah sesuai dengan reasoning dasarnya.91.50187 lebih besar daripada 1. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 81006. Hasil evaluasi secara ringkas dapat diuraikan berikut ini.83E+08 -329. kriteria statistik. 2009.0404 1. JokoSudiarto.798 0. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat 0. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial. 1. dengan demikian secara keseluruhan variabel bebas tersebut sangat signifikan mempengaruhi Sulfur. FE UI.000000 Seperti halnya model pertama.730. Pengujian Model Secara Keseluruhan. dan kriteria ekonometrika. Universitas Indonesia Analisis potensi.989950 2355.96.61 R-squared Adjusted R-squared S..662 1.690929 Mean dependent var S.989950 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Sulfur dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98.99 %.798 jauh lebih besar daripada F-tabel sebesar 4.44669 18.E. pada model kedua ini pun dilakukan evaluasi model berdasarkan kriteria ekonomi. Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0.

67685 0. Namun demikian. baik secara parsial maupun keseluruhan.4628 0. P 2415896..441048 108999.007570 0. P^2 -81030.2246 Durbin-Watson stat 2.E. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.515374 0.582711 Mean dependent var S. tidak perlu dilakukan perubahan pada model tersebut karena variabel bebas sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas.004411 R-squared 0. ada masalah multikolinieritas pada model di atas yang ditunjukkan dengan hubungan antara variabel bebas P dengan T sebesar 96.380647 5477628.096913 Adjusted R-squared -0. Tabel 17: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .515374 Pada tabel tersebut.743405 1453.488867 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 12/30/09 Time: 18:32 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -6046563.831676 0. of regression 11357613 Sum squared resid 4. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas disajikan dalam tabel berikut.D.479573 Std. 2009. Pengujian Autokorelasi Model di atas tidak mempunyai masalah autokorelasi pertama karena nilai Universitas Indonesia Analisis potensi. Probabilitasnya 47. 11247839 35.8532%.00E+15 Log likelihood -633.923 -0.061956 0.Sulfur White Heteroskedasticity Test: F-statistic 0. 0.9573% jauh lebih besar daripada 5%. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob. 0. Error t-Statistic 15884976 -0. ...743405 dan 0.7061 0.45692 35.6622 0. FE UI.96.7861 0.7 -0. seluruh kuadrat variabel bebas (P^2 dan T^2) tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2 yang ditunjukkan dengan nilai t-statistik sebesar -0.62 3.019614 S. Pengujian Multikolinieritas Sama dengan model pertama. JokoSudiarto.5643 5086716.93 T -398.0655 T^2 0.582711 lebih kecil daripada ttabel sebesar 1.831676 Probability Obs*R-squared 3.273787 0.

FE UI. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 62. 246. dapat ditentukan model yang terbaik yaitu model kedua dengan persamaan regresi sebagai berkiut: S = 5.620118 Prob.53089 18.75083 0.026547 Mean dependent var Adjusted R-squared -0. 0.071356 0.193501 0.4996 -0. dependent var S.53E-12 2287.. Dengan demikian.384082 R-squared 0.658996 0.7035 2. of regression 2397.798 Persamaan regresi tersebut digunakan untuk mengestimasi jumlah kandungan Universitas Indonesia Analisis potensi.D.8007 0.986 Akaike info criterion Sum squared resid 1.099060 S.271058 P -11.96.989950 F-sta = 1.63 DW=1.955691 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 12/30/09 Time: 18:30 Presample missing value lagged residuals set to zero.939529 Prob(F-statistic) 0.066725 -0.5313P + 0.9770 0.211350 0.7881 0.730.422699 Probability Obs*R-squared 0.384082 jauh lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG tidak menunjukkan adanya masalah autokorelasi kedua dan ketiga.930158 Pada tabel tersebut. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0.01% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi. Error t-Statistic C 399.724.166668 0.730596T Se.Sulfur Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0. .861327 dan -0.3957 0..91 + 788.. JokoSudiarto.001936 0.59407 263.185783 -0.159 0.195013 DW = 1.368 18.029010 RESID(-1) 0.063520 11.690929 R2 = 0. Tabel 18: Hasil Uji BG Model 2 . Hal ini ditunjukan dalam tabel hasil pengujian BG di bawah ini.78E+08 Schwarz criterion Log likelihood -328. berdasarkan evaluasi kedua model di atas. 2009.50187 t-sta 3. Di samping itu.690929 sudah dekat dengan 2. Variable Coefficient Std.5561 F-statistic Durbin-Watson stat 1.9652 0.E.5823 1474.861327 RESID(-2) -0.044000 T -0.

c.00 2.158.00 1.539.00 854.98 4.247.463.496.64 Sulfur dalam setiap ton konsentrat yang ditentukan oleh jumlah penjualan Perak dan Tembaga.524. 2007.523.98 806.74 1. 2007 226. dalam Ton) E P T a b.653. estimasi tersebut ditampilkan pada tabel berikut. Berdasarkan data-data yang diperoleh periode 2003 s. 2009.00 988. . P.745.. B : Variabel tidak bebas (kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual.16 4. Fungsi Model Dimana. dalam Kg) Variabel bebas 2 (jumlah penjualan Perak. 2004 216.273.Periode 2006 – 2007 menggunakan persamaan regresi tersebut (Ekstrapolasi).38 Jumlah 1. 2006 226.241. dan Tembaga (dalam Ton) dengan kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).76 5. : : B = f (E.054.834. 2003 244. misalnya penjualan Tembaga sebanyak 1 ton maka kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual sebanyak sekian ton.53 808.Rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10.903. FE UI.14 Penjelasan: . Perak (dalam Kg). .00 4.202.Periode 2003 – 2005 menggunakan Fitted Value atau data historical.073.536. dalam Ton) Konstanta (intersep) Koefisien regresi Error peramalan Universitas Indonesia Analisis potensi.283.514.008.89 790.. d Є : : : : : : Variabel bebas 1 (jumlah penjualan Emas. BESI Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara jumlah penjualan Emas (dalam Kg).130.00 830.382.00 1.. T) B = a + bE + cP + dT + Є .218. dalam Kg) Variabel bebas 3 (jumlah penjualan Tembaga. Tabel 19: Perkiraan Kandungan Sulfur dalam Konsentrat Perak Tembaga No Tahun Kandungan Sulfur (Ton) (Ton) 1.729.00 836. 2005 289. JokoSudiarto.00 3.d.

825 0.588676 0. of regression 1866.86 18315.8808 163. Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut.238 1234. Universitas Indonesia Analisis potensi.E.72 18.1069 3.238. dan Tembaga (dalam ton) per bulan selama periode 2003 sampai dengan 2005..D.0037 0.000000 Sama dengan model-model sebelumnya.862. Error t-Statistic C 3862.Besi Dependent Variable: B Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:46 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std..18183 1112. Oleh karena itu harus dicoba lagi dengan model baru..989616 S. Hasil run model dengan EVIEWS diuraikan pada tabel berikut.1059 F-statistic Durbin-Watson stat 1. FE UI. dependent var S.0403 203. JokoSudiarto.128537 E -274.0000 63559. 2009. .8808. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 3. yaitu dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas dari model.911684 Prob(F-statistic) Prob.990506 Mean dependent var Adjusted R-squared 0. Koefisien Variabel Bebas Pada model di atas terdapat koefisien variabel bebas yang tidak sesuai dengan reasoning dasarnya. Perak (dalam Ton).65 Data-data yang diperoleh adalah data-data kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual (dalam Ton) dan jumlah penjualan Emas (dalam Ton).519 3.1017 0. Tabel 20: Hasil Run Model 1 .00588 18.685340 P 706. seperti dicantumkan pada Lampiran 11.476200 T 0. maka evaluasi model di atas secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut: 1.051606 11.0015 0.11E+08 Schwarz criterion Log likelihood -320. Berdasarkan data tersebut akan dilakukan run model dengan cara coba-coba dan evaluasi setiap model agar diperoleh model yang terbaik.433 Akaike info criterion Sum squared resid 1. 0.40712 R-squared 0. yaitu koefisien variabel bebas Emas dengan nilai sebesar -274.1010 -1.

terdapat variabel bebas (E) yang tidak signifikan terhadap variabel tidak bebas (B).41 atau lebih besar daripada 1. 3.96.96 %. Pada tabel 18 di atas. variabel bebas yang lain (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S). Pengujian Model Secara Keseluruhan.064877 Probability Probability 0.112. 1.66 2. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0. masing-masing t-statistik menunjukkan angka 3. karena t-statistik menunjukkan angka -1. Perak dan Tembaga) sangat signifikan mempengaruhi Sulfur. Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Besi dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98.685340 lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1... Dengan demikian variabel bebas secara keseluruhan (Emas. Tabel 21: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 – Besi White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 01/02/10 Time: 05:25 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std.825 jauh lebih besar daripada F-tabel (4).233389 Universitas Indonesia Analisis potensi.48 dan 11.249983 0. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas dicantumkan pada tabel di bawah ini. Sementara itu.96. . FE UI. 2009.989616 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Emas. Nilai F-statistik sebesar 1.. Error t-Statistic Prob. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial. JokoSudiarto.395385 8.

993349 0.395385 0. -1932425.78%. 8.968532 T 0.4289 0.387767 8726156.7816 2.3183 0.993349 0. 2009.15 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 0.85%.7554 0..694567 1613311.3356 0.16 -1.875783 1. menurut Tabel 18 nilai t-statistik variabel bebas E sebesar -1. 45484.015429 684. 33. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat -6060897.890851 0.29577 1.08%. dan P dengan T sebesar 96. .692529 2705746.224024 0. Oleh karena itu..24E+14 -604.67 C E E^2 P P^2 T T^2 R-squared Adjusted R-squared S.887827 0.74 2171012.792070 Mean dependent var S. -1.000000 0.890851 1.249983 Pada tabel tersebut. FE UI. Hal ini mengakibatkan nilai t-statistik variabel bebas E yang tidak signifikan.4348 3096508. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG menunjukkan tidak Universitas Indonesia Analisis potensi.98787 34.002816 0. E dengan T sebesar 88.875783 0. Pengujian Autokorelasi Model tersebut di atas tidak ada masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1.4929 0.Besi B E P 1. Tabel 22: Korelasi Variabel Bebas .000000 B E P T Dimana hubungan antara variabel bebas E dengan P sebesar 89. -54874.000000 0.314535 0. 5506573.99 -215. Di samping itu.197800 65679.975541 0. Pengujian Multikolinieritas Model tersebut di atas terdapat masalah multikolinieritas yang ditunjukan pada tabel berikut. seluruh variabel bebas tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2.975541 0. -0.968532 1.2407 0.D.911684 sudah mendekati 2.685340 masih jauh lebih kecil dari pada nilai t-tabel sebesar 1. 0. karena nilai kuadrat seluruh variabel bebas lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1.4941 0.3389% jauh di atas 5%.887827 0.802371 54041. JokoSudiarto.063478 5328935. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.96.E.000000 0.6162 -0. masalah multikolinieritas tersebut harus diatasi dengan cara mengeluarkan variabel bebas E dari model tersebut.96 dan probabilitasnya sebesar 23.003555 0..

yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar -0. .197226 -0.9921 0.055794 -0.0787 F-statistic Durbin-Watson stat 1.208301 R-squared 0.208301 lebih kecil daripada 1.059704 RESID(-2) -0.022729 Probability Obs*R-squared 0.28971 222.185 Akaike info criterion Sum squared resid 1.37940 0.012281 0. Dari hasil evaluasi terhadap model di atas. Variable Coefficient Std.9528 0.11E+08 Schwarz criterion Log likelihood -320. Tabel 24: Hasil Run Model 2 .2657 0.Besi Dependent Variable: B Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:52 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Universitas Indonesia Analisis potensi. FE UI.003539 0.8364 1.001513 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.064081 T -0.3134% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi.164902 S. of regression 1926.D..010015 P 14. 0.02E-11 1784.11248 1386. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 97.041082 0. 2009.9498 0. Tabel 23: Hasil Uji BG Model 1 – Besi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.96.E.977544 0..205692 -0. dapat disimpulkan bahwa model tersebut harus diubah dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas sehingga model menjadi B = a + bP + cT + Є.430 -0.900213 Prob(F-statistic) 0.9951 0.054468 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 01/02/10 Time: 05:39 Presample missing value lagged residuals set to zero.. Error t-Statistic C -32.023162 E 1. Hasil run model tersebut dicantumkan pada tabel dibawah ini.999974 Pada tabel tersebut.063430 RESID(-1) -0.68 ada masalah autokorelasi kedua dan ketiga.973134 Prob.9817 0.059704 dan -0. JokoSudiarto.9493 0.009092 0.651 18.725232 172.11548 18. dependent var S. Hal ini ditunjukkan dalam tabel hasil pengujian BG berikut ini. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan variabel bebas error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID.

053424 11.01170 Prob.21E+08 -321.D.718 0. Koefisien Variabel Bebas Seluruh koefisien variabel bebas bernilai positif artinya variabel bebas tersebut mempunyai hubungan positif dengan variabel tidak bebas.03537 18.69 Variable C P T R-squared Adjusted R-squared S.16733 1579..989037 1917. 0.5036 0. Error 1095.989037 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Perak dan Tembaga Universitas Indonesia Analisis potensi.569439 0. 1. 2009.484197 3..718 jauh lebih besar daripada F-tabel sebesar 4. Hal ini sudah sesuai dengan reasoning dasarnya. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 4911. Seluruh variabel bebas (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S). JokoSudiarto.771 1. Nilai F-statistik sebesar 1. FE UI.9232 0.316 200.96. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t-statistik masing-masing sebesar 3.614 613.911.0044 0.61. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 4.000000 Mean dependent var S. dengan demikian secara keseluruhan variabel bebas tersebut sangat signifikan mempengaruhi Besi.E. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Hasil evaluasi secara ringkas dapat diuraikan berikut ini.0001 0.6367 1.0000 63559.053424 dan 11. .579.051712 t-Statistic 4.829596 Std.01170 lebih besar daripada 1.. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0. Pengujian Model Secara Keseluruhan.989663 0.86 18315.72 18. 2. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial. Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut.

109796 Adjusted R-squared -0. 34.353437 3668092.955869 Probability Obs*R-squared 3.87485 0.D.257634 0. Tabel 25: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .410529 72991. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas disajikan dalam tabel berikut. 2009..8371 T^2 0.Besi White Heteroskedasticity Test: F-statistic 0.005069 0.5525 3371359. 0. baik secara parsial maupun keseluruhan.7984 0. Sum squared resid 1.7886 Durbin-Watson stat 2.600583 lebih kecil daripada ttabel sebesar 1.63 -0.445397 Pada tabel tersebut.65492 34. .70 dapat menjelaskan kandungan Besi dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob. 7586419.4645 0.003045 R-squared 0. seluruh kuadrat variabel bebas (P^2 dan T^2) tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2 yang ditunjukkan dengan nilai t-statistik sebesar -0.49 T -250. Error t-Statistic 10637371 -0. Probabilitasnya 41.6842 0. Universitas Indonesia Analisis potensi. akan tetapi tidak perlu dilakukan perubahan pada model tersebut karena variabel bebas sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas.6195 -0. 3.445397 0.79E+15 Log likelihood -618. 0. JokoSudiarto. P 1505859.005069 S.7262 0.740612 dan 0.. Pengujian Multikolinieritas Ada masalah multikolinieritas pada model di atas.96.600583 Mean dependent var S. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. of regression 7605623.412452 Std.952653 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:53 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -3759641.90 %.955869 0. FE UI. P^2 -54058.E.145278 0.2452% jauh lebih besar daripada 5%..740612 973.

948770 Prob(F-statistic) 0.9232 0.055076 -0.989037 F-sta = 1.21E-11 1862.E. .. JokoSudiarto.742 0.016798 RESID(-1) 0.829596 R = 0.5036P + 0.569439T Se.903502 Prob.8442 1.015087 T -0.194172 0.122667 S. hasil uji BG tidak menunjukkan adanya masalah autokorelasi kedua dan ketiga. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0. Hal ini ditunjukan dalam tabel hasil pengujian BG di bawah ini. 2009.8370 1206.9881 0.911.370476 RESID(-2) -0. FE UI. Error t-Statistic C 142.370476 dan -0.3603 -0..000925 0.36076 0.202954 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:53 Presample missing value lagged residuals set to zero.5349 F-statistic Durbin-Watson stat 1.35% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi.053424 DW = 1.7135 0.Besi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.9867 0. Di samping itu.043939 0. Dengan demikian.14083 18. of regression 1973.829596 sudah dekat dengan 2.71 Pengujian Autokorelasi Model di atas tidak mempunyai masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1.198175 R-squared 0.005638 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.21E+08 Schwarz criterion Log likelihood -321.198175 jauh lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1.579. Tabel 26: Hasil Uji BG Model 2 .036911 0.. dapat ditentukan model yang terbaik yaitu model kedua dengan persamaan regresi sebagai berkiut: B = 4. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 90.D.172 18.01170 2 t-sta 3.718 Universitas Indonesia Analisis potensi. dependent var S.614 + 613.082 Akaike info criterion Sum squared resid 1. Variable Coefficient Std.051712 11.96.9065 0.186253 -0. berdasarkan evaluasi kedua model di atas.916099 0.087879 Probability Obs*R-squared 0. 0.071936 0.279239 217.118366 P -3. 200.996151 Pada tabel tersebut.

2007.202.073.00 3.633.454.130.00 4.539.90 2.16 3. No Tahun Tabel 28: Perkiraan Potensi Royalti . Setelah jumlah kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat yang dijual dapat diperkirakan.98 806.292.949.118.523.616.00 1.109. 2006 5. 2005 289..956.486. Universitas Indonesia Analisis potensi.12 3. rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 12.160.76 808.90 2.06 2.00 1.90 2.058.23 4.53 672.16 1. rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10.363. estimasi tersebut ditampilkan pada tabel berikut. 2007 Jumlah Penjelasan: tarif royalti sesuai dengan KK.436.40 674.12 846. 2006 5. No Tahun Tabel 29: Perkiraan Potensi Royalti .616.008.40 2.90 2.093.247.382.14 4.363. 2003 2. .496.00 3.76 672.244.d.108.Rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 12.86 Jumlah 1.72 Persamaan regresi tersebut digunakan untuk mengestimasi jumlah kandungan Besi dalam setiap ton konsentrat yang ditentukan oleh jumlah penjualan Perak dan Tembaga.. 2009.082.00 790. 2006 226. JokoSudiarto.514. Tabel 27: Perkiraan Kandungan Besi dalam Konsentrat Perak Tembaga No Tahun Kandungan Besi (Ton) (Ton) 1.980.90 2.830.89 649.283.463.00 4.00 674. Perkiraan potensi royalti tersebut ditampilkan pada tabel berikut ini.36 Penjelasan: . Berdasarkan data-data yang diperoleh periode 2003 s. 2007 226.00 830. FE UI.834. maka langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah perkiraan potensi royalti dari masing-masing unsur mineral.745.524. . 2004 3.Besi Besi (Ton) Tarif (USD/Ton) Perkiraan Royalti (USD) 773.00 1.00 836.35 1. 2005 4..218.019.233.082. 2004 3. 2005 4.653.109.74 846.882.38 4.158.456.53 18.967.59 10.00 4.16 1.916.954.00 4. 2003 244. 2007 Jumlah Penjelasan: tarif royalti sesuai dengan PP58/1998.00 1.98 4.453.Sulfur Sulfur (Ton) Tarif (USD/Ton) Perkiraan Royalti (USD) 988.00 773.76 5.872.00 4.241.054.903.Periode 2003 – 2005 menggunakan Fitted Value atau data historical.Periode 2006 – 2007 menggunakan persamaan regresi tersebut (Ekstrapolasi).536. 2004 216. 2003 2.36 2.04 3.830.417.132. .633.273.019.340.86 3.00 854.57 1.729.00 3.23 649.

yaitu: 1.57 + USD10. Tarif yang digunakan dapat mengambil contoh tarif yang berlaku di Negara Afrika Selatan (Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill: 2006).545. 2009.980.397.78844 X 25.73 Jadi potensi royalti dari mineral ikutan tembaga (sulfur dan besi) yang belum tergali untuk periode 2003 s. royalti yang dibayar oleh PT FIC sebesar USD401. yaitu apabila kontraktor menjual hasil tambang berupa bijih atau konsentrat tembaga maka dikenakan tarif sebesar 4% dari nilai konsentrat tersebut.119.03 USD 17.430 ons Nilai jual (logam) Royalti = 2 % X USD 37. Pihak smelter tidak bisa dikenakan royalti karena mereka bukan pihak Universitas Indonesia Analisis potensi.346.436.166.058. Berdasarkan data penjualan tersebut.46 USD 327.021. 2007 diperkirakan sebesar USD28.. Jika kontraktor menjual hasil tambang berupa logam emas.486.60 (perhitungan pada halaman 42).. Royalti dari mineral ikutan tambang tembaga dapat dikenakan kepada kontraktor.691.258.55 USD 747.. Ada dua alternatif pemecahan masalah untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari royalti tersebut.378.166.93 dengan rincian sebagai berikut: · Tembaga USD0. Untuk hasil pertambangan tembaga diterapkan dua tarif.93 2.456 ons · Perak USD5. Alternatif ini lebih menguntungkan buat Pemerintah RI. Pihak Kontraktor.16). Hal ini dapat dijelaskan dengan contoh perhitungan royalti pada halaman 42.d.06 USD 37. .358.838 lbs · Emas USD296.242 X 62. Pihak smelter.358.456. tembaga atau unsur mineral lainnya maka dikenakan royalti dengan tarif 2% dari harga jual produk jadi tersebut.73 (USD18. FE UI.251 X 57. Sedangkan royalti menurut tarif di atas sebesar USD747.55 : : : : : USD 20. dibandingkan tarif royalti menurut KK.009.346. JokoSudiarto. perak.

. Oleh karena itu. JokoSudiarto.74 pemegang KK yang mempunyai hak untuk mengeksplorasi tembaga.. 2009.. Artinya. Universitas Indonesia Analisis potensi. yaitu menerima hasil produk sampingan dari sulfur dan besi. agar pihak smelter dapat dikenakan royalti maka smelter tersebut juga harus sebagai pemegang KK (kontraktor). FE UI. akan tetapi merekalah yang telah menerima manfaat dari mineral ikutan tembaga. pihak kontraktor sebagai pemegang KK selain melakukan penambangan juga diwajibkan untuk melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan. . Hal tersebut sejalan dengan Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menyebutkan bahwa pemegang KK yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan di dalam negeri selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak undang-undang ini diundangkan.

dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1.. kontraktor menerima pembayaran dari pembeli hanya atas tiga mineral tersebut sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dihargai oleh para pembeli. 20 Tahun 1997 tentang PNBP menyebutkan bahwa salah satu PNPB adalah royalti dari pemanfaatan sumber daya alam di bidang pertambangan. 2009. hampir tidak ada unsur mineral dalam konsentrat tembaga yang 75 Analisis potensi. Cakupan KK mengenai royalti lebih sempit dibandingkan dengan Prinsip PNBP. Kontrak Karya yang berlaku untuk pengusahaan pertambangan tembaga tidak optimal buat Indonesia. Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa dari proses peleburan konsentrat tembaga. Sesuai dengan UU No. Nellor. perak. Hal ini terjadi karena dalam memasarkan konsentrat tembaga. FE UI. Pasal 13 KK menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar royalti untuk kadar mineral hasil produksi. royalti yang harus dibayar oleh pihak kontraktor atas besarnya volume atau nilai sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor tersebut. dan lain-lain. perak dan tembaga sedangkan unsur mineral lainnya tidak dibayarkan royalti.. sulfur.. 3. Kandungan masing-masing unsur mineral tersebut ditentukan oleh Ingredient Content (IC) yang merupakan syarat yang disepakati oleh pembeli dan penjual. Kontraktor hanya membayar royalti dari mineral emas. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. JokoSudiarto. Bahkan menurut David C. Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya. Universitas Indonesia . 2. besi. tembaga.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Dari proses produksi pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung unsurunsur mineral seperti emas.L.1.

690929 R2 = 0. penulis menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan program EVIEWS berdasarkan data-data periode 2003 s. Sesuai pendapat Departemen ESDM sebagai regulator dan instansi yang berwenang menetapkan tarif royalti. Artinya jumlah kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga yang dijual dapat diperkirakan dengan persamaan berikut ini.730. Periode 2003 s. Sedangkan jumlah satuan yang merupakan berat masing-masing mineral ikutan. Sulfur S = 5. terutama sulfur dan besi.8007 0.724. Sesuai dengan prinsip PNBP. .5313P + 0. Dari run model dengan EVIEWS diperoleh hasil bahwa jumlah perak dan tembaga yang dijual (dalam ton) sangat signifikan mempengaruhi kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga yang dijual.d.989950 F-sta = 1. diperoleh dari IC rata-rata per bulan dikalikan dengan jumlah konsentrat tembaga yang dijual.91 + 788. penulis memperoleh data IC rata-rata per bulan sehingga jumlah satuan masing-masing mineral ikutan langsung dapat dihitung (Fitted Value). 4.76 tidak dimanfaatkan. Tarif royalti dapat digunakan tarif yang ada pada Lampiran KK atau PP 58/1998. 2005. JokoSudiarto. 2005. 2009. Penulis tidak memperoleh data IC rata-rata per bulan pada periode 2006 – 2007. sehingga untuk memperkirakan jumlah satuan masing-masing mineral ikutan tersebut. 5. 246.50187 t-sta 3.730596T Se. mineral sulfur dan besi seharusnya dapat dikenakan royalti. potensi royalti dari mineral sulfur dan besi dapat dihitung berdasarkan tarif dikalikan jumlah satuan. FE UI. gipsum dan terak.d.195013 DW = 1. Sulfur dan besi dapat diproses lebih lanjut yang akan menghasilkan produk sampingan berupa asam sulfat.063520 11.. Produk tersebut dapat dijual kepada pabrik pupuk sebagai bahan baku pupuk dan kepada pabrik semen sebagai pengganti sand blasting.798 Universitas Indonesia Analisis potensi. Diagram cara perhitungan perkiraan potensi royalti dicantumkan pada Lampiran 8...

73. dimana untuk periode 2003 s.019.01170 t-sta 3.053424 DW = 1.9232 0. 1. Terdapat dua alternatif pemecahan masalah untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari royalti tersebut.545. Kedua. 2009.980. Hal ini Universitas Indonesia Analisis potensi.73 7. pihak kontraktor sebagai pemegang KK selain melakukan penambangan juga diwajibkan untuk melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan. : : : : jumlah penjualan Perak (dalam Ton) jumlah penjualan Tembaga (dalam Ton) kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual (dlm Ton) kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual (dlm Ton) Berdasarkan langkah-langkah tersebut di atas. No.436.514.16 28.. P T S B 6. yaitu: Pertama.. agar pihak smelter dapat dikenakan royalti maka smelter tersebut juga harus sebagai pemegang KK (kontraktor).14 3.911. maka potensi royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga diperkirakan sebesar USD28. Mineral Sulfur Besi Tarif (USD/Ton) 4.456.569439T Se.579. . 2005 berdasarkan Fitted Value dan untuk periode 2006-2007 berdasarkan Ekstrapolasi.57 10. misalnya Afrika Selatan sehingga lebih menguntungkan negara. 200.36 Jumlah Penjelasan: rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10 dan 12.051712 11.545.d.718 Dimana.5036P + 0.616. Potensi masing-masing mineral ikutan disampaikan berikut ini. FE UI.614 + 613.989037 F-sta = 1. mengenakan royalti kepada kontraktor dengan tarif mengacu (best practice) negara lain..00 2. 2.90 Perkiraan Royalti (USD) 18.058.745.77 Besi B = 4.829596 R2 = 0. Artinya.436. Jumlah Satuan (Ton) 4. JokoSudiarto.486.

2. 2. Tarif tersebut dapat mengacu (best practice) negara lain. . 3. FE UI. 2009... Melakukan penelitian dan pengujian yang lebih detail dan akurat atas jenis dan kadar mineral ikutan yang terkandung dalam konsentrat tembaga. JokoSudiarto. 3 dapat dilaksanakan. serta pengujian jumlah dan kualitas produk yang dihasilkan oleh pabrik pengolah konsentrat tembaga.78 sesuai dengan amanat Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.. Melaksanakan amanat Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menyebutkan bahwa pemegang KK yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan di dalam negeri. penulis menyarankan kepada Pemerintah RI yang dalam hal ini diwakili oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Melakukan negosiasi kepada pihak kontraktor (pemegang KK) untuk merevisi klausul kontrak karya sehingga saran nomor 2 s. Saran Dari hasil pembahasan dan simpulan di atas. oo0oo Universitas Indonesia Analisis potensi.d. 5. 4. agar: 1. Menetapkan tarif royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga beserta cara-cara perhitungan royaltinya. misalnya Afrika Selatan atau tarif lain berdasarkan hasil penelitian dan pengujian di atas sehingga penerimaan royalti tersebut lebih menguntungkan Pemerintah RI.

IPB Press. (www. FE UI. 2009. Thomas G. Ekonometrika Dasar. Laporan Akhir. Analisis Regresi. Damodar. Fadjar.treasury. 2005 Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat ITB. 1995 Departement National Treasury Republic of South Africa. Tax Policy Division Fiscal Affairs Department International Monetary Fund.. Tax Policy Hand Book: User Charges. Gerwin. 1999 Analisis potensi. US Geological Survey Report 2004-1395. Anton. Hukum Pertambangan di Indonesia. Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill – 2006.DAFTAR PUSTAKA Badan Pemeriksa Keuangan. Zain.. Riset Kebijakan Metode Penelitian Untuk Pascasarjana. MPKP FEUI. 1978 Hendranata.za) Eriyatno dan Sofyar. JokoSudiarto. Jakarta. 2007 Goonan. PT Raja Grafindo Persada. Bandung. Ekonometrika Terapan. Hasil Pemeriksaan atas Pengelolaan PNBP dari Iuran KK pada Departemen ESDM dan PT Freeport Indonesia Tahun Anggaran 2004 dan 2005. Bogor. Virginia. Penerbit Erlangga. . Sumarno.C.gov. 2004 H Salim HS.. Jakarta. 2005 Gujarati. 2006 Bell. Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Konsentrat Tembaga PT Freeport Indonesia Company. Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting. Jakarta. Edisi Revisi. Jakarta. Washington D.

........ Jakarta... 2000 . Jakarta.. 2003 ..... Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara... Edisi Kelima.. Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.. .. 1967 ..... Tax Policy Division Fiscal Affairs Department International Monetary Fund.. FE UI... Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif dan Analisis potensi.. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Jakarta.C.. Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan Umum..... Bandung... Remaja Rosdakarya. Undang-undang Republik Indonesia.... Keuangan Negara Dalam Teori dan Praktek.. 2003 .... Jakarta.... Metode Penelitian Kualitatif. Penerbit Erlangga...... Lexy J... David C..... JokoSudiarto. 2004 Musgrave. 1997 ... Jakarta. 1993 Nellor..... Undang-undang Republik Indonesia.. Richard A and Musgrave. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum.... Tax Policy Hand Book: Environmental Taxes............. 1995 Pemerintah RI...L. Undang-undang Republik Indonesia........ Jakarta.. Washington D.......Moelong....... Undang-undang Republik Indonesia. Edisi Revisi. Jakarta... 2009 .. Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). 2009.... Peggy B.........................

..... Edisi Kedua.. Alfabeta.Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. Alfabeta. 2009 Analisis potensi. 2005 Tim Optimalisasi Penerimaan Negara.. Edi. 2009 Sugiyono. Edisi 11.. Yogyakarta. FE UI. Media Pressindo.... UPP STIM YKPN.. Wing Wahyu..... Metode Penelitian Administrasi. 1998 . . Analisis Kebijakan Publik. Laporan. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian. Jakarta. Pemenuhan Kewajiban Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Atas Perusahaan Pelaksana Kontrak Karya (PT Newmont Nusa Tenggara). Teori dan Proses Kebijakan Publik.. 2002 Winarno. Simon.. 2009. Winarno. Yogyakarta. 2007. Jakarta. 2004 Suharto. 1980 Sembiring. JokoSudiarto. Bandung.. Budi... Jakarta. Bandung. Jalan Baru Untuk Tambang: Mengalirkan Berkah Bagi Anah Bangsa. Elex Media Komputindo.... Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EVIEWS.

08 647.40 103.d.118. 4.855.916.600.343.00 58.781.00 806.90 2.45 229.61 55.133.376.568.00 183.23 131..681.330.00 41.290. FE UI.767.00 157.922.07 551.700. 2009.61 4.61 4.90 2.420.877.572.90 2.53 830.019.539.61 4.98 Tembaga (T) Ton 273.617.268.141.742.04 115.352.00 32.454.53 4.296.218.00 50.61 4.911.82 674.77 146.12 515.24 425.08 37.90 2.386.90 Lampiran 12 Kandungan Besi Tarif Estimasi Royalti USD 620.436. Kandungan Besi dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2003 s.58 190.59 246.616.00 216. Periode Perak (P) Kg Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2003 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2004 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2005 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2006 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.499.216.812.397.827.76 202.911.14 85.90 2.060.00 86.00 68.09 142.900. Estimasi royalti dihitung dengan cara fixed rate (tarif tetap).90 2.00 1.863.02 164.30 54.00 43.143.00 588.14 168.00 299.313.911.713.68 649.956.36 2.020.208.02 692.082.16 Penjelasan: 1.00 59.00 74. Tarif royalti berdasarkan Kontrak Karya dan PP tentang tarif royalti.382.260.PERHITUNGAN ESTIMASI ROYALTI .202.00 186.05 118.00 74.41 Konstanta 0.903.36 447.90 2.00 72.90 2.64 163. .68 75.566.27 1.00 226.572.00 836.67 773.75 126.911.908.00 289.763.71 124.941.536.61 2. 3.261.844.00 190. yaitu tarif royalti dikalikan dengan tonase kandungan besi.61 4.00 52.463.00 213.949.143.071.80 1.833.00 207.01 238.340.157.202.96 1.486.D.830.06 472.00 51.098.044.996.89 289.90 2.389.882.925.08 366.22 40.620.650.829.00 277..94 316.119.868.48 223.017.00 57.00 47.954.301.00 230.90 2.244.834.97 362.93 94.88 154.332.95 448.256.846.911.90 2.35 381.62 223.222.633.108.16 4.90 2.183.00 1.356.363.BESI PERIODE 2003 S. Kandungan Besi dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2006 s. 2005 memakai data historical atau Fitted Value 2.158.90 2.531.651.247.72 488.63 x P 0.024.246.17 609.06 538.70 666.08 104.271.287. Analisis potensi.29 108.83 2.90 2.054.911.00 290.524.419.00 286.16 301.61 32. 2007 Penjualan No.98 70.00 715.00 226.90 2.358.00 244.351.42 177. 2007 didasarkan pada formula atau Ekstrapolasi .070.456.82 672.12 154.008.410.523.57 x T Ton 214.99 42.130.496.61 4.86 3.00 70..344.634.165.155.90 2.90 2.109.90 2. JokoSudiarto.59 10.461.102.90 USD/Ton 2.100.050.82 59.641.d.453.00 247.48 45.11 4.d.12 185.481.056.911.108.911.00 149. 2007 60.00 120.27 1.675.95 649.74 165.00 202.96 34.37 210.89 249.496.653.040.59 846.

.928 79.097 36.756 61.DATA PENJUALAN EMAS.895 96.437 27.954 54.370 57.679 56.447 58.649 85.918 74.099 99.D.243 42. Sumber Data : 1 Laporan ESDM 2 Laporan Perusahaan (PT FIC dan PT NNT) 3 Laporan LPKM ITB Analisis potensi.127 51.250 51..955 44.811 78.424 83. 2005 Tahun 2003-1 2003-2 2003-3 2003-4 2003-5 2003-6 2003-7 2003-8 2003-9 2003-10 2003-11 2003-12 2004-1 2004-2 2004-3 2004-4 2004-5 2004-6 2004-7 2004-8 2004-9 2004-10 2004-11 2004-12 2005-1 2005-2 2005-3 2005-4 2005-5 2005-6 2005-7 2005-8 2005-9 2005-10 2005-11 2005-12 B 59.249 53. FE UI.937 30.112 121.823 55.366 66.582 91.591 82.314 87. .981 79.503 68.630 26.495 128.697 127.915 85. Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton).759 9 10 10 17 19 B E P T Kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).049 68.281 62.000 104.000 90.093 67.350 67.695 103. 2009.277 75.189 78. JokoSudiarto.659 72.285 109.831 47.457 88.821 E 7 5 14 11 12 15 16 10 14 6 3 7 2 2 4 3 6 8 6 5 8 5 8 13 8 5 10 10 12 7 9 P 19 15 27 23 21 26 28 19 25 13 12 16 8 7 17 12 17 21 20 18 21 17 25 32 17 14 29 25 25 19 23 24 28 22 35 30 Lampiran 11 T 79. PERAK.049 30.534 77.608 60.801 63.030 72.259 102.230 61.838 65. Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg).225 99.530 98.923 46.582 56.143 84.041 110.786 37. Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg).733 48.839 70.339 82.535 86.736 43.500 48..392 78.331 102.084 67. TEMBAGA TAHUN 2003 S.958 71.

85 784.00 130.00 Lampiran 10 Kandungan Sulfur Tarif Estimasi Royalti USD 1.00 72.301.00 4.00 4.33 790.313. Kandungan Sulfur dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2006 s.247.00 183.618.00 319.00 1.. 2007 didasarkan pada formula atau Ekstrapolasi .94 316.420.14 4.46 707.00 47.080.785.241.160.900. 2007 Penjualan No.00 656.980.615.539.008.276.763.91 5.132.80 1.00 4.SULFUR PERIODE 2003 S.875.00 164.496.89 249.273.73 x T Ton 259.922.049.499.00 4.00 58.82 34.91 55.53 830.130.00 280.78 742.00 304.397.92 3.48 45.536.996.00 74.286.08 37.00 70.11 176.332.565.572.812.944.00 521.700..352.00 43.53 18. 3.730.00 4.523.218.650.57 Penjelasan: 1.568.514.050.91 5.730.102.107.00 930.246.00 1.00 52.600.562.68 75.572. Periode Perak (P) Kg Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2003 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2004 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2005 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2006 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.332.91 41.198.165.00 232.844.00 1.46 196.00 226.028. 2009.79 x P 0.00 220.183.00 74.74 165.524.762.070.56 147. 4.058.187.91 5.460.81 139.00 1.664.039.158.04 211. FE UI.76 243.954.776. .112.073.00 186.00 1.34 3.00 86.410.00 4.855.044.00 244.463. Analisis potensi.30 54.04 974.904.152.556.00 216.524.00 51.00 854.00 286.00 68.98 Tembaga (T) Ton 273.730.00 3.00 4.143.144.d.00 988.038..599.136.84 202.362.00 USD/Ton 4.344.38 4.417.953.91 5.316.967.872.00 806. 2005 memakai data historical atau Fitted Value 2.19 149.00 190.78 598. 2007 60.396.619. yaitu tarif royalti dikalikan dengan tonase kandungan besi.49 Konstanta 0.202.726.218.141.48 5.767.730. Tarif royalti berdasarkan Kontrak Karya dan PP tentang tarif royalti.954.520.91 5.00 4.133.916.00 226.00 32.925.48 808.251.00 4.653.00 1.641.00 207.00 50.12 133.00 213.00 59.331.46 109.916.218.00 4.054.003.890.122.93 120.713.020.00 57.77 276.812.283.00 4.98 70.82 59.00 149.09 181.00 230.617.271.00 4.00 4.00 277.745.093.00 120.358.00 4.94 185.687.00 167. JokoSudiarto.730.00 283.00 186.00 284.730.399.00 4.166.496.941.00 746.382.630.564.290.00 836.16 5.89 289.22 40.202.PERHITUNGAN ESTIMASI ROYALTI .730.00 289.91 5.00 4.132.00 4.00 3.d.477.730.99 42.00 880.53 4.00 290.d.00 670.742.00 1.00 247.00 299.08 1.218.320.00 4.00 4.292.00 41.38 809.472.00 202.233.00 250.00 157.268.729.00 1.45 151.834.00 1.903. Kandungan Sulfur dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2003 s.D. Estimasi royalti dihitung dengan cara fixed rate (tarif tetap).139.

424 83.495 128.921 126. Sumber Data : 1 Laporan ESDM 2 Laporan Perusahaan (PT FIC dan PT NNT) 3 Laporan LPKM ITB Analisis potensi.303 61.631 58.197 E 7 5 14 11 12 15 16 10 14 6 3 7 2 2 4 3 6 8 6 5 8 5 8 13 8 5 10 10 12 7 9 P 19 15 27 23 21 26 28 19 25 13 12 16 8 7 17 12 17 21 20 18 21 17 25 32 17 14 29 25 25 19 23 24 28 22 35 30 Lampiran 9 T 79.917 46. JokoSudiarto.230 61.387 111. .839 70.DATA PENJUALAN EMAS.811 78.971 105.629 109.503 68.D.999 100.000 90. 2005 Tahun 2003-1 2003-2 2003-3 2003-4 2003-5 2003-6 2003-7 2003-8 2003-9 2003-10 2003-11 2003-12 2004-1 2004-2 2004-3 2004-4 2004-5 2004-6 2004-7 2004-8 2004-9 2004-10 2004-11 2004-12 2005-1 2005-2 2005-3 2005-4 2005-5 2005-6 2005-7 2005-8 2005-9 2005-10 2005-11 2005-12 S 76.534 77.127 85.225 99.043 46.695 103.582 91.602 71.249 53.659 72.392 78.884 61.668 101.692 33.225 84. PERAK. Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg).259 102.331 102.041 110. FE UI.169 86.645 78.457 88.697 127.759 9 10 10 17 19 S E P T Kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).649 85. TEMBAGA DAN SULFUR TAHUN 2003 S.608 60.706 99.143 84.243 42.215 91...000 104.049 30.119 73.285 109.814 65.743 88.093 67.242 105.910 111. Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton).918 74..744 69.937 30.812 56.838 65.530 98.112 121.860 96. Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg).281 62.485 34. 2009.267 74.823 61.661 71.706 71.250 51.189 123.486 80.438 92.736 43.

IC : Ingredient Content 2.2006-2007 Kalikan tarif dg kandungan tsb.DIAGRAM CARA PERHITUNGAN PERKIRAAN POTENSI ROYALTI Lampiran 8 Tentukan Tarif Menghitung Jumlah Satuan Tentukan IC rata2 per bulan sesuai dg data yg diperoleh periode 2003-2007 Apakah ada IC tsb. Alasan regresi: data yg digunakan lebih valid dan hasil lebih realistis... Tarif sesuai dg KK dan PP 58/1998. Ya Tentukan IC per bulan sesuai data yg diperoleh periode 2003-2005 Tentukan kandungan mineral dlm konsetrat dg regresi berdasarkan data periode 2003-2005 Jumlah konsentrat yg dijual per bulan periode 2003-2005 Tentukan Model Kalikan IC dg jml konsentrat yg dijual periode 2003-2005 Run Model dg Program EVIEWS Kandungan mineral dlm konsentrat th.5%) merupakan angka perkiraan kandungan yg disepakati pembeli & penjual. kandungan mineral sulfur sebesar 25-36% (rata-rata 30. 2009. 3.. Perkiraan Potensi Royalti periode 2003-2007 Analisis potensi. Misalnya. ? Tidak Data IC periode 2006-2007 tdk diperoleh.2003-2005 Kandungan mineral dlm konsentrat th. JokoSudiarto. . FE UI. periode 2003-2005 Kalikan tarif dg kandungan tsb. periode 2006-2007 Perkiraan Royalti periode 2003-2005 (Fitted Value) Perkiraan Royalti periode 2006-2007 (Ekstrapolasi) Penjelasan: 1. Tentukan alternatif lain. Sedangkan IC rata-rata perbulan yg digunakan untuk data regresi mrpk rata-rata IC sesuai dg realisasi penjualan konsentrat.

perak. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. 2009. perak. besi) Unsur yg dikenakan denda (mineral ikutan lainnya) 3 4 5 Kewajiban yang termasuk PNBP dlm KK Mineral yang dibayar royalti Mineral yang tidak dibayar royalti Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. 6 Alasan tidak dibayar - Halaman 1 dari 3 Analisis potensi. ESDM Dep. perak. BPK Perusahaan PT Smelting LPKM ITB Main Issues UMUM Hasil pertambangan tembaga Kandungan dlm konsentrat Dep. perak. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. Keu.. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. perak. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. perak. perak. konsentrat tembaga Emas.. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. tembaga) Unsur tsb tidak dibayar oleh pembeli. - - konsentrat tembaga Emas.Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No I 1 2 Lampiran 7. JokoSudiarto. perak. FE UI. perak. perak. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian dan mineral ikutan tsb tdk dibayar oleh pembeli. - Emas. Jumlah masingmasing mineral ditentukan oleh ingredient content. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. perak. perak. konsentrat tembaga Emas. tembaga dan mineral ikutan lainnya. tembaga dan mineral ikutan lainnya. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. perak. tembaga) Unsur yg tdk dibayar dan tdk dikenakan denda (belerang. perak. .. ESDM belum pernah melakukan penelitian yg mendalam atas kandungan masingmasing mineral tsb. tembaga dan mineral ikutan lainnya konsentrat tembaga Unsur yg dibayar (emas.

JokoSudiarto. 2009. LPKM ITB Dari proses peleburan konsetrat tembaga. Keu. namun hrs dengan addendum KK setuju setuju Tdk setuju krn mineral tsb tdak bernilai ekonomis Kurang tepat krn dlm perdagangan yg lazim. namun hal ini sulit dilakukan krn mineral tsb tdk ada harga jualnya. hampir seluruh mineral tsb dpt dimanfaatkan dan dpt dijual. - - 3 Perhitungan royalti atas mineral ikutan lainnya Persentase tertentu dari harga jual. Seluruh sumber daya alam yg telah dimanfaatkan hrs dikenakan royalti. FE UI. unsur tsb menjadi terak dan gas buang namun dpt dijual. BPK - Main Issues Manfaat mineral ikutan lainnya Dep. Perusahaan Merupakan unsur pengotor yg tdk bernilai ekonomis PT Smelting Dari proses peleburan. - - - Halaman 2 dari 3 Analisis potensi. Besarnya royalti ditentukan oleh negara sesuai dg PP. perak. Sesuai dg ketentuan yg ada. UU ttg PNBP dan PP ttg tarif. - Dep.. Sudah jelas ada sumber daya alam yg dimanfaatkan. ESDM ESDM blm pernah melakukan penelitian yg mendalam..Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No 7 Lampiran 7. Prinsip PNBP (user charges). hrs dikenakan royalti. II 1 DASAR PENGENAAN ROYALTI ATAS MINERAL IKUTAN TEMBAGA Seluruh mineral ikutan dikenakan royalti Setuju. tembaga) - 2 Dasar pengenaan royalti atas mineral ikutan lainnya KK. Bisa juga dg Fixed PNBP mrpk hak mutlak negara. UU ttg PNBP dan PP ttg tarif.. UU ttg PNBP. hanya tiga unsur yg dibayar oleh pembeli (emas. PP ttg tarif. . Lampiran G dlm KK.

III 1 KELEMAHAN DAN KELEBIHAN Kelemahan · Pemerintah belum pernah melakukan pengujian atas jenis dan kadar mineral ikutan tembaga. perak..Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No Main Issues Dep. BPK Perusahaan PT Smelting LPKM ITB Dep. · Dengan perhitungan yang sederhana. semua pihak yang terkait dapat saling mengecek dan menguji kewajaran jumlah royalti. Seluruh mineral ikutan dlm konsentrat tembaga hrs dikenakan royalti Pemerintah hrs melakukan negosiasi KK agar seluruh mineral dpt dikenakan royalti Mineral ikutan lainnya (selain emas. sehingga untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tsb harus dengan addendum KK. tembaga) tdk dikenakan royalti tetapi dikenakan pajak penghasilan. · Pihak yang terkait dengan kontrak harus mematuhi seluruh terms and conditions yang tercantum dalam kontrak tsb. mudah dilaksanakan dan dapat diterapkan pada seluruh mineral ikutan tembaga. 4 Simpulan Mineral ikutan lainnya dpt dikenakan royalti. Mineral ikutan lainnya (selain emas.. JokoSudiarto. 2 Kelebihan · Perhitungan royalti dengan fixed rate. Keu. krn klausul KK menyebutkan demikian. perak. . · Tidak terdapat potential loss atau royalti yang hilang karena seluruh mineral ikutan tembaga dikenakan royalti. Hal ini sulit sekali dilakukan karena pihak kontraktor bisa dipastikan tidak setuju. ESDM rate (tarif tetap) dikalikan dg tonase. tembaga) dpt dimanfaatkan dan dijual. namun hrs dg addendum KK. Mineral ikutan lainnya (selain emas. 2009. tembaga) tdk dibayar royalti.. FE UI. perak. Halaman 3 dari 3 Analisis potensi. sehingga sulit sekali menentukan nilai ekonomis masing-masing mineral tsb sebagai dasar perhitungan royaltinya. Lampiran 7.

converting. Analisis potensi..3 mt of cast copper product.. 2009.Giagram Proses Peleburan Konsentrat Tembaga Lampiran 6 Figure: Copper-specific flow diagram of the smelting process.. The steps----smelting. fire refining. FE UI. The total capacity of the smelters studied was 8. JokoSudiarto. Smelting is a separating and value-adding process. The data reported in the figure represent the weighted average copper-specific flows for all the smelters studied in this report. . and casting----are taken together as a single process.

FE UI.Lampiran 5 Analisis potensi... . 2009.. JokoSudiarto.

047.08 TAHUN 2006 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2006 2.51 TAHUN 2007 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.218.242.641.40 18.997.972.010.654.460.11 4.257. 2009.47 16.87 24 Apr 2007 27 Jul 2007 30 Okt 2007 30 Jan 2008 - 3.788.380.127.47 16.68 5.335.571.865.871.257.059.037.978.242.73 30 Apr 2004 30 Jul 2004 29 Okt 2004 31 Jan 2005 4. .78 17.50 6.526.749.775.546.641.51 20.145.39 7.43 3.48 7.88 5.81 4.072.274.421.793.380.752.542.51 3.73 TAHUN 2005 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2005 2.08 28 Apr 2005 27 Jul 2005 28 Okt 2005 31 Jan 2006 2.87 Analisis potensi.59 5.51 3.829.68 5.190.749.D.788.997.451.880.31 Tgl.274.380.880.526.31 30 Apr 2003 31 Jul 2003 30 Okt 2003 29 Jan 2004 3.451.072.114.370.775. FE UI.187.164.895.51 20.40 23.114.332.43 3.22 4.d.430.26 6.871.361.47 4.88 5.978.47 4.010. 2007 Keterangan: Sumber data: Departemen ESDM dan Laporan PT Newmont Nusatenggara (diolah) 3.332.731.59 5.145. Periode TAHUN 2004 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2004 4.11 4.40 18. 2007 Royalti Pokok US $ TAHUN 2003 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2003 3.380..370.895.746.51 28 Apr 2006 27 Jul 2004 19 Okt 2006 30 Jan 2007 2. Jumlah US $ No.421.206.26 6.22 7.020.190..127.76 5.123.361.22 7.829.020..750.571.81 4.746.793.78 17.218.460.546.037.PT NEWMONT NUSATENGGARA Lampiran 4 REALISASI PENYETORAN ROYALTI PERIODE 2003 S.122.047.128.24 96.335.48 7. JokoSudiarto.39 7.128.865.654.24 96.22 4.430.750.40 23.542.123.972.752.206.76 5.122.059.731.187.164.50 6.

737.760.720.256.67 38.29 TAHUN 2007 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.50 7.363.550.35 22.87 27 Mei 2004 26 Agust 2004 26 Nov.260.68 22.779.67 38.46 9.989.260.54 102.12 30 Mei 2007 27 Agust 2007 20 Nov'2007 28 Feb 2008 - 39.720.955.85 27 Mei 2005 26 Agust 2005 18 Nop 2005 28 Feb 2006 22.10 443.922.953.01 Tgl.115. FE UI.68 11.760.534.997..05 47.87 TAHUN 2005 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2005 22.19 48.343.15 23.519.188.83 3.115.177.50 7.689.68 22.12 Analisis potensi.953.24 24.519.795.350.96 134.85 TAHUN 2006 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2006 17.263.732.026.676.095.676.509.537.249.41 133.315.158.605.350.534.135.497.537.227.670. .343.212.177.PT FREEPORT INDONESIA COMPANY Lampiran 3 REALISASI PENYETORAN ROYALTI PERIODE 2003 S.733.840.997.84 30.989.05 47.840.928.670.21 17.447.56 51.689.212. JokoSudiarto.509.43 23.21 17.736.252.778.497.10 443.733.447.530.530.729.400.955.922.46 9.44 7.93 35.d.84 30..68 11.54 102.824.93 35. 2003 26 Feb 2004 6.928.158.605.737.135.15 23. 2007 Keterangan: Sumber data: Departemen ESDM dan Laporan PT Freeport Indonesia Company (diolah) 39.729.252.01 29 Mei 2003 28 Agust 2003 20 Nov..41 133.063.D.363.795.824.063. 2004 28 Feb 2005 4.736. Periode TAHUN 2004 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2004 4. Jumlah US $ No.263.460.56 51.44 7.19 48.29 26 Mei 2006 28 Agust 2006 20 Nov'2006 28 Feb 2007 17.795.256.249.227.35 22.24 24.095.96 134.43 23.315.460.795.732. 2007 Royalti Pokok US $ TAHUN 2003 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2003 6.400.026.188.779.778.83 3.550. 2009.

310.63 Sumber Data : Perhitungan Perusahaan dan Laporan Hasil Audit Tim OPN Analisis potensi.310.00 3. 31 Des 2004 31-Jan-05 31-Jul-05 96.540.086. 31 Des 2003 31-Jan-03 31-Jul-03 96.364. 31 Des 2007 31-Jan-07 31-Jul-07 87.d. 2007 1.540.00 87. 14 Agt 2004 15 Agt 2004 s.600.00 35.400.00 3.d. FE UI.00 131.00 96.00 262.310.00 96.600.540.d.400. . JokoSudiarto.00 144.00 3.d.00 131. 30 Jun 2007 1 Jul 2007 s. 31 Des 2006 31-Jan-06 31-Jul-06 87.200.620.00 131..00 TOTAL TAHUN 2003 s.d.50 278.540.382.00 182 45 138 3.00 Operasi 2004 1 Jan 2004 s.13 98.00 144.540.. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s. 31 Des 2004 31-Jan-04 31-Jul-04 96.00 144.00 289.400.400.310.d.00 262.600.00 182 183 3.d.600.00 87.400.d. 2009.d.00 87.00 96.00 144.PT NEWMONT NUSA TENGGARA Lampiran 2 PERHITUNGAN IURAN TETAP/DEADRENT PERIODE 2003 S. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.00 131.00 144.00 3.620.00 182 183 3.00 Operasi 2005 1 Jan 2004 s.00 3. 30 Jun 2006 1 Jul 2006 s.200.446.00 289.00 182 183 3.d.482.600.d.d.00 182 183 3. 30 Jun 2003 1 Jul 2003 s..63 Operasi 2006 1 Jan 2006 s.00 Operasi 2007 1 Jan 2007 s.D.00 3. 2007 KEWAJIBAN IURAN TETAP (US$) TAHAP TAHUN PERIODE TANGGAL JATUH TEMPO LUAS (Ha) HARI TARIF/TH (US$) Operasi 2003 1 Jan 2003 s.400.

425.00 202..00 Operasi 2004 1 Jan 2004 s.00 608.850. 31 Des 2007 31-Jan-07 31-Jul-07 202.950.5 3.00 304. 30 Jun 2003 1 Jul 2003 s.950.5 0.950.00 304.d.d.00 608. 2009.5 3.00 TOTAL TAHUN 2003 s.00 304.d.D.00 3.00 Sumber Data : Perhitungan Perusahaan dan Laporan Hasil Audit Tim OPN Analisis potensi.00 0.00 3.00 304..00 Operasi 2005 1 Jan 2004 s.00 304.00 3.950. 31 Des 2006 31-Jan-06 31-Jul-06 202.425.00 Operasi 2007 1 Jan 2007 s.00 202.425. 2007 3. JokoSudiarto.d.d. 31 Des 2004 31-Jan-04 31-Jul-04 202.PT FREEPORT INDONESIA COMPANY Lampiran 1 PERHITUNGAN IURAN TETAP/DEADRENT PERIODE 2003 S.5 0.425.5 3.00 0.00 0. 30 Jun 2007 1 Jul 2007 s.425.425.5 0.950.d. 14 Agt 2004 31-Jan-05 31-Jul-05 202.d.850.00 0.d.00 304. FE UI.00 202.850.425.00 3.00 304.00 304. 2007 KEWAJIBAN IURAN TETAP (US$) TAHAP TAHUN PERIODE TANGGAL JATUH TEMPO LUAS (Ha) THN.00 608.d.950.d.00 608..00 608.950. 31 Des 2003 31-Jan-03 31-Jul-03 202.5 0.950.850.044. .00 202.00 3.425. 30 Jun 2006 1 Jul 2006 s.00 304. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.425.d.950.425.00 Operasi 2006 1 Jan 2006 s.850.00 202.00 304.5 3.00 0.5 0.5 3.250. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s. TARIF/TH (US$) Operasi 2003 1 Jan 2003 s.950.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful