P. 1
File

File

|Views: 57|Likes:
Published by Asadah Surya Dharma

More info:

Published by: Asadah Surya Dharma on Jun 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/23/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.5. Sistimatika Penulisan
  • 2.1. Kerangka Teoritis
  • 3.1. Metode Pengumpulan Data
  • 3.2. Koefisien Korelasi
  • 3.3. Koefisien Variasi
  • 3.4. Regresi
  • 3.5. Tahapan Dalam Membuat Analisis Regresi
  • 3.6. Data
  • 3.7. Hasil Penelitian Lapangan
  • Tabel 1: Ingredient Content PT FIC
  • Tabel 2: Ingredient Content PT NNT
  • Tabel 3: Realisasi Produksi PT FIC
  • Tabel 4: Realisasi Produksi PT NNT
  • Tabel 5: Realisasi Penjualan PT FIC
  • Tabel 6: Realisasi Penjualan PT NNT
  • Tabel 7: Realisasi Penyetoran Iuran Tetap
  • Tabel 8: Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti
  • Tabel 9: Produksi dan Output PT Smelting Gresik
  • 4.3. Perkiraan Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga
  • Tabel 12: Hasil Run Model 1 - Sulfur
  • Tabel 13: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 - Sulfur
  • Tabel 14: Korelasi Variabel Bebas - Sulfur
  • Tabel 15: Hasil Uji BG Model 1 - Sulfur
  • Tabel 16: Hasil Run Model 2 - Sulfur
  • Tabel 17: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 - Sulfur
  • Tabel 18: Hasil Uji BG Model 2 - Sulfur
  • Tabel 19: Perkiraan Kandungan Sulfur dalam Konsentrat
  • Tabel 20: Hasil Run Model 1 - Besi
  • Tabel 21: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 – Besi
  • Tabel 22: Korelasi Variabel Bebas - Besi
  • Tabel 23: Hasil Uji BG Model 1 – Besi
  • Tabel 24: Hasil Run Model 2 - Besi
  • Tabel 25: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 - Besi
  • Tabel 26: Hasil Uji BG Model 2 - Besi
  • Tabel 27: Perkiraan Kandungan Besi dalam Konsentrat
  • 5.1. Kesimpulan
  • 5.2. Saran

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007

TESIS

JOKO SUDIARTO NPM 0606152604

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA PROGRAM MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK JAKARTA, DESEMBER 2009

Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007

TESIS Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi pada Program Magister Perencanaan Dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia

JOKO SUDIARTO NPM 0606152604

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA PROGRAM MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK JAKARTA, DESEMBER 2009

Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama NPM Tanda tangan Tanggal

: : : :

Joko Sudiarto 0606152604

Desember 2009

ii
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

FE UI... Ditetapkan di Tanggal : : Jakarta Desember 2009 iii Analisis potensi.....2007 Ikutan Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi pada Program Studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik.................... . Ph..... Zainal....D Syarif Syahrial....................... .............HALAMAN PENGESAHAN Tesis ini diajukan oleh Nama NPM Program Studi Judul Tesis : : : : Joko Sudiarto 0606152604 Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Analisis Potensi Royalti dari Mineral Pertambangan Tembaga Tahun 2003 ..... .. 2009.D Arindra A.. ............ Fakultas Ekonomi.. Ph.... JokoSudiarto.... DEWAN PENGUJI Pembimbing Penguji Penguji : : : B..... Universitas Indonesia... Raksaka Mahi.

Fakultas Ekonomi. yang dengan sabar dan penuh perhatian berkenan meluangkan waktu dan pikiran untuk membimbing dan memberi arahan hingga selesainya penyusunan Tesis ini. saran dan perbaikan untuk penyempurnaan materi Tesis ini. Semoga Tesis ini bisa menambah dorongan semangat belajar bagi kalian. 2. Tesis ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam rangka mencapai gelar Magister Ekonomi pada Program Pascasarjana di Universitas Indonesia. Universitas Indonesia. Tak lupa penulis juga ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada : 1. Oleh karena itu. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya. 5.. Semua pihak yang terkait dan telah banyak membantu dalam penyusunan tesis ini. iv Analisis potensi. Istri dan anak-anakku tersayang Nabila. Bapak Raksaka Mahi selaku Pembimbing. Penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Yth. JokoSudiarto. sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Tesis dengan judul “ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007”. dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan adanya kritik. Bapak Direktur PNBP Departemen Keuangan. Jakarta.. Rofif. Hasna dan Ziva yang selalu memberikan motivasi serta doanya. Bapak Ibu Dosen pada Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik. Yth. 4. FE UI. 3.KATA PENGANTAR Segala puji syukur.. Bapak dan Ibu di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral yang sangat membantu dalam penyediaan data. 2009. . Yth.

FE UI.. JokoSudiarto. terutama bagi penulis sendiri... penulis berharap Tesis ini dapat memperluas cakrawala ilmu pengetahuan dan memberi manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Jakarta.Selanjutnya. Desember 2009 Joko Sudiarto v Analisis potensi. 2009. .

. merawat. Dibuat di : Pada Tanggal : Jakarta Desember 2009 Yang menyatakan Joko Sudiarto vi Analisis potensi. menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive RoyaltyFree Right) atas karya ilimiah saya yang berjudul: ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007 beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). mengelola dalam bentuk pangkalan data (database). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan. JokoSudiarto. FE UI. Demikian pernyataan saya buat dengan sebenarnya. mengalihmedia/ formatkan.. dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. . saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama NPM Program Studi Departemen Fakultas Jenis Karya : : : : : : Joko Sudiarto 0606152604 Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Ekonomi Ekonomi Tesis demi pengembangan ilmu pengetahuan.HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia. 2009..

teknik pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan dan hasil survei. 2009. JokoSudiarto.20/1997 tentang PNBP bahwa semua pemanfaatan sumber daya alam harus membayar royalti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cakupan KK pengusahaan pertambangan tembaga.. namun belum dikelola secara optimal. perak dan tembaga sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dikenakan royalti.ABSTRAK Nama Program Studi Judul : Joko Sudiarto : Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik : Analisis Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Pertambangan Tembaga Tahun 2003 . Sesuai dengan prinsip PNBP yang ditegaskan dalam UU No.2007 Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang bersumber dari pertambangan umum merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat potensial. dan untuk memperkirakan besarnya kandungan mineral ikutan yang berada di luar sampel digunakan teknis forecasting menggunakan metode rata-rata dan analisis regresi linier sederhana. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan pendekatan penelitian kualitatif dan kuantitatif.. Demikian juga dengan mineral ikutan pertambangan tembaga sudah semestinya dikenakan royalti.. direkomendasikan untuk merevisi Pasal 13 kontrak karya yang kurang menguntungkan pihak Pemerintah RI. Dalam Kontrak Karya (KK) pengusahaan pertambangan tembaga. Mineral Ikutan Pertambangan tembaga Undang-undang PNBP. Berdasarkan hasil penelitian ini. kontraktor hanya menyetorkan royalti atas mineral emas. Kata Kunci: Royalti. Universitas Indonesia . menentukan alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan pertambangan tembaga dan perkiraan potensi royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga untuk periode 2003 2007. FE UI. Kontrak Karya vii Analisis potensi. Hasil analisis menunjukan bahwa hampir seluruh mineral ikutan pertambangan tembaga dapat dimanfaatkan dan mempunyai nilai jual. dimana cakupan KK mengenai royalti lebih sempit dibandingkan dengan prinsip PNBP tersebut.

and the technique forecasting has been used to estimate of other minerals contained within the copper concentrate. 20/1997 about PNBP. Mineral from Copper Mining Law No. The objective of this research is to evaluate whether the scope of Contract of Work of copper mining could be optimized by evaluating the potential of other minerals contained in the copper concentrate. Base on this research. The result of the analysis to explain the reasons to levy royalty from other minerals. JokoSudiarto. The result shows that most of minerals from the copper mining can be used and sold. which states that the scope of Contract of Work related to royalty is narrower than the principle of that user charges.. it is recommanded to revise the Article 13th in the Contract of Work. it is not optimally managed. According to the principle of user charges as stated in the Law No. Contract of Work viii Analisis potensi.. but not for other minerals contained within the copper concentrate. the technique of collecting data through study of literatures and survey.ABSTRACT Name Study Program Title : Joko Sudiarto : Magister of Public Planning and Public Policy : Analysis of Potential Royalty from Minerals of Copper Mining Year 2003 – 2007. Non Tax Government Revenue (PNBP) from mining is among one of the potential government revenues for Indonesia. and copper. Unfortunately. Universitas Indonesia . all minerals from the copper mining should also be levied to royalty. 20/1997 about PNBP. To achieve those goals. FE UI. the contractor is required only to pay royalty of gold. Key Words: Royalty. silver. the extraction and usage of natural resources must be levied to royalty.. The study employs moving average method and simple linear regression analysis. this study also estimates the potential royalty that could be derived from other minerals of copper mining for year 2003 – 2007. the qualitative and quantitative approaches are used. 2009. The Contract of Work stipulated for copper mining is only stated that. Thus.

DAFTAR ISI

Hal Halaman Judul ................................................................................................... Halaman Pernyataan Orisinalitas ……………………………………………. Halaman Pengesahan ……................................................................................ Kata Pengantar .................................................................................................. Halaman Pernyataan Persetujuan Publikasi …………………………………. Abstrak ............................................................................................................ Abstract ……………………………………………………………………… Daftar Isi ........................................................................................................... Daftar Diagram ................................................................................................. Daftar Tabel ...................................................................................................... Daftar Lampiran ................................................................................................ i ii iii iv vi vii viii ix xi xii xiii

BAB I

PENDAHULUAN ........................................................................ 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. Latar Belakang .................................................................. Rumusan Permasalahan ..................................................... Ruang Lingkup Penelitian……………………………..... Tujuan Penelitian……………………………………….... Sistimatika Penulisan ........................................................

1 1 3 4 4 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA .............................................................. 2.1. Kerangka Teoritis .............................................................. 2.1.1 Konsep Ekonomi Keuangan Publik ......................... 2.1.2 Pengertian dan Konsep Pertambangan ..................... 2.1.3 Teori Ekonometrika .................................................. 2.1.4 Peraturan Perundang-undangan ............................... 2.2. Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah .............. ............

6 6 6 7 12 13 16

ix
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN DAN HASIL PENELITIAN LAPANGAN ................................................................................ 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. 3.6. 3.7. Metode Pengumpulan Data …........................................... Koefisien Korelasi …......................................................... Koefisien Variasi ………………....................................... Regresi ………………....................................................... Tahapan Dalam Membuat Analisis Regresi …………….. Data ……………………………………………………... Hasil Penelitian Lapangan ………………………………. 18 18 18 19 19 21 23 24

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN ............................................. 4.1. Analisis Cakupan Kontrak Karya yang Berlaku Untuk Pengusahaan Pertambangan Tembaga .............................. 4.2. Menentukan Alasan yang Dapat Digunakan Untuk Mengenakan Royalti atas Mineral Ikutan Tembaga ......... 4.3. Perkiraan Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga ..

35

35

47 53

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN ................................................... 5.1. 5.2. Kesimpulan ........................................................................ Saran ..................................................................................

75 75 78

Lampiran-lampiran Daftar Pustaka

x
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

DAFTAR DIAGRAM

Hal Diagram 1 Diagram 2 : : Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah …………. Giagram Alur Proses Produksi Konsentrat Lamp. 5 20

Tembaga ………………………………………….. Diagram 3 : Giagram Alur Proses Peleburan Konsentrat

Tembaga ………………………………………….. Diagram 3 : Giagram Cara Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti …………………………………………….

Lamp. 6

Lamp. 8

xi
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

Sulfur : Korelasi Variabel Bebas .Sulfur : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 . FE UI. JokoSudiarto.Besi Hasil Uji BG Model 2 .Besi : Hasil Uji BG Model 1.Besi 24 24 25 25 25 26 26 27 32 41 44 56 58 59 60 60 62 63 64 65 66 67 68 68 70 71 72 72 72 xii Analisis potensi.Besi : Korelasi Variabel Bebas ... 2009.Sulfur : Hasil Uji BG Model 1 .Sulfur : Perkiraan Potensi Royalti .DAFTAR TABEL Hal Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 Tabel 24 Tabel 25 Tabel 26 Tabel 27 Tabel 28 Tabel 29 : Ingredient Content PT FIC : Ingredient Content PT NNT : Realisasi Produksi PT FIC : Realisasi Produksi PT NNT : Realisasi Penjualan PT FIC : Realisasi Penjualan PT NNT : Realisasi Penyetoran Iuran Tetap : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi (Royalti) : Produksi dan Output PT Smelting : Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT FIC : Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT NNT : Hasil Run Model 1 .Besi Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .Sulfur : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .Besi : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 .Sulfur : Perkiraan Kandungan Sulfur dalam Konsentrat : Hasil Run Model 1 .Besi : Perkiraan Kandungan Besi dalam Konsentrat : Perkiraan Potensi Royalti .Sulfur : Hasil Uji BG Model 2 .Besi : Hasil Run Model 2 .Sulfur : Hasil Run Model 2 . ..

Lampiran 11 : Data Penjualan Emas. 2005.. xiii Analisis potensi. : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti PT FIC. : Diagram Alur Proses Peleburan Konsentrat Tembaga. FE UI. Perak. : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti PT NNT.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 : Perhitungan Iuran Tetap PT FIC.d. JokoSudiarto. : Matrik Resume Pendapatan dari Instansi/Ahli. Lampiran 10 : Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti . : Data Penjualan Emas. Perak. Tembaga dan Sulfur Tahun 2003 s..Besi. Tembaga dan Besi Tahun 2003 s. .Sulfur. : Diagram Cara Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti.d. : Perhitungan Iuran Tetap PT NNT. : Diagram Alur Proses Produksi Konsentrat Tembaga.. 2009. Lampiran 12 : Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti . 2005.

Universitas Indinesia .. keberadaan perusahaan tambang sangat membantu dalam pembangunan nasional dan daerah. FE UI. minyak dan gas bumi. batubara. dan lain-lain. Dari perusahaan tersebut pemerintah juga akan memperoleh penerimaan pajak dan bukan pajak.. pemerintah akan memperoleh bagi hasil berupa royalti sesuai dengan hasil produksinya. Dalam pengusahaan bahan tambang. menampung tenaga kerja. regional. pemerintah dapat melaksanakan sendiri atau menunjuk kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan sendiri oleh instansi pemerintah. baik tenaga kerja lokal. Jumlah perusahaan yang bergerak dan menanamkan investasinya di bidang pertambangan pun sangat banyak.BAB I PENDAHULUAN 1. perak. namun belum dikelola secara optimal. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang kaya akan bahan tambang. diantaranya 11 (sebelas) perusahaan yang telah berproduksi (Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral: 2006). JokoSudiarto. Selama 1 Analisis potensi. 2009. Dampak positif penanaman investasi di bidang pertambangan ini adalah meningkatkan devisa negara dan pendapatan asli daerah. keberadaan perusahaan tambang telah menyerap tenaga kerja. Pengusahaan pertambangan mineral oleh swasta dilaksanakan melalui Kontrak Karya (KK) antara Pemerintah RI dengan perusahaan swasta. nasional maupun internasional. Dari aspek devisa negara dan pendapatan asli daerah. Begitu juga dalam bidang tenaga kerja. tembaga. Terdapat 40 (empat puluh) perusahaan swasta pemegang KK. dan lain-lain. Dari sisi penerimaan bukan pajak (PNBP). Bahan tambang itu meliputi emas. baik dalam rangka Penanaman Modal Asing (PMA) maupun PMDN. Hasil-hasil audit Tim Optimalisasi Penerimaan Negara (OPN) telah mengindikasikan persoalan tersebut..1. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang berasal dari pertambangan umum merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat potensial.

dalam konsentrat tembaga tersebut terkandung didalamnya mineral ikutan emas (Au)..41 dan USD1.. Sehingga royalti hanya diperhitungkan terhadap logam-logam tembaga. PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) PT NNT melakukan kegiatan pertambangan di Nusa Tenggara Barat berdasarkan kontrak karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT NNT tanggal 2 Desember 1986.44.. JokoSudiarto.14 serta terdapat potensi PNBP yang tidak dapat direalisasikan. 2009. emas (Au) dan perak (Ag). FE UI. hanya tembaga.929..93 dan US$4. perak (Ag) dan sejumlah senyawa logam lainnya seperti besi (Fe) dan belerang (S). . emas dan perak yang terkandung dalam konsentrat tembaga yang merupakan produk utama PT FIC.”. antara lain adanya pasal-pasal dalam Kontrak Karya yang kurang menguntungkan pihak Pemerintah RI.246. jumlah royalti yang akan dibayar berkaitan dengan kandungan tembaga yang dibayar dari konsentrat yang dijual oleh perusahaan. Potensi PNBP tidak terealisasi karena terbentur pada beberapa masalah. sehingga tidak dikenakan royalti.366..837. Sedangkan terhadap unsur-unsur besi (Fe) dan belerang (S) walaupun jumlahnya relatif besar PT FIC tidak memperoleh pembayaran.. PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) melakukan kegiatan pertambangan di Tembaga Pura berdasarkan kontrak karya (contract of work) antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991. diantaranya potensi mineral ikutan besi dan sulfur yang terjual dalam konsentrat tembaga minimal tidak terealisasi masing-masing sebesar USD251. Universitas Indonesia Analisis potensi. Hal ini dapat diuraikan berikut ini. dalam hal ini dalam memasarkan konsentrat tembaga kepada pelanggannya PT FIC hanya memperoleh pembayaran untuk logam tembaga (Cu).113.2 periode tahun 1998 sampai dengan tahun 2000 sebanyak empat perusahaan kurang menyetor PNBP sebesar Rp362.286.353. Kegiatan eksplorasi menghasilkan bijih tembaga sulfida yang kemudian diolah menjadi konsentrat tembaga. Dalam setiap penjualan konsentrat oleh PT NNT. Namun dalam perhitungan royalti yang harus dibayar oleh PT FIC sesuai dengan pasal 13 poin 2 Kontrak Karya disebutkan bahwa “dalam hal tembaga tersebut dijual sebagai konsentrat.

3

emas, dan perak yang dibayar oleh pembeli untuk setiap realisasi penjualan ekspor konsentrat, sedangkan material ikutan lainnya seperti: besi (Fe), sulfur (S), silika (SiO2), kapur (Lime), dan Al203 tidak dinilai. Pengenaan tarif royalti tersebut berdasarkan kontrak karyanya yang menyebutkan “Bila terdapat mineral ikutan yang terdapat dalam konsentrat yang dijual diperhitungkan dengan tarif royalti sebagaimana diatur dalam Lampiran “F”. Dalam lampiran F hanya besi (Fe) dan sulfur (S) yang memiliki tarif royalti yaitu masing-masing sebesar US$0.0005/kg dan US$0.002/kg, sementara tiga mineral lainnya tidak ada tarifnya. Walaupun demikian perusahaan tetap tidak membayar royalti dengan alasan mineral ikutan tersebut tidak dibayar oleh pembeli. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP, antara lain menyebutkan jenis dan tarif PNBP. Salah satu jenis PNBP tersebut adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam seperti penerimaan royalti di bidang pertambangan. Tarif atas jenis PNBP tersebut ditetapkan dalam undangundang atau Peraturan Pemerintah (PP) yang menetapkan jenis PNBP. Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah telah mengeluarkan beberapa peraturan yang mengatur tentang tarif royalti di bidang pertambangan, yaitu PP Nomor 58 Tahun 1998; PP Nomor 13 Tahun 2000 dan yang terakhir PP Nomor 45 Tahun 2003. Semua ketentuan tersebut hanya mengatur tentang besarnya tarif PNBP untuk masing-masing mineral dalam satuan logam dan konsentrat. Tidak secara jelas menerangkan cara perhitungan royalti atas mineral ikutan dalam suatu konsentrat, termasuk mineral ikutan dalam konsentrat tembaga.

1.2.

Rumusan Permasalahan Berdasarkan ringkasan permasalahan tersebut di atas, nampak bahwa

terdapat potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga yang belum tergali. Berkaitan dengan permasalahan tersebut, pertanyaan yang timbul adalah: 1. Bagaimana cakupan KK yang berlaku untuk pertambangan tembaga ? 2. Alasan apa yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tambang tembaga? 3. Berapa perkiraan potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga ?
Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

4

1.3.

Ruang Lingkup Penelitian Untuk dapat menjawab beberapa permasalahan tersebut di atas dan agar

pembahasan lebih fokus maka ditentukan ruang lingkup penelitian sebagai berikut: 1. Kontrak Karya pengusahaan pertambangan tembaga antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT beserta perubahannya. 2. Kegiatan usaha pertambangan yang telah dilakukan oleh PT FIC dan PT NNT yang mencakup luas wilayah usaha pertambangan untuk setiap periode tahapan kegiatan tambang, proses produksi konsentrat tembaga, pengangkutan atau pemindahan tembaga mulai dari mulut tambang sampai dengan stock pile, penimbunan dan penjualan konsentrat tembaga untuk periode 2003 sampai dengan 2007. 3. Tata cara perhitungan dan realisasi penyetoran PNBP oleh PT FIC dan PT NNT sebagaimana diatur dalam perjanjian, peraturan perundangan dan ketentuan lain yang terkait.

1.4.

Tujuan Penelitian Tujuan dari analisis dan penelitian ini adalah:

1. Menganalisis cakupan KK yang berlaku untuk pertambangan tembaga. 2. Menentukan alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tambang tembaga. 3. Memperkirakan potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga.

1.5. Bab I

Sistimatika Penulisan Pendahuluan Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, pokok

permasalahan, ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, dan sistimatika penulisan. Bab II Tinjauan Pustaka Bab ini menguraikan tentang konsep ekonomi keuangan publik,

Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

5

pengertian dan konsep pertambangan, teori ekonometrika, peraturan perundang-undangan yang relevan dengan masalah yang dibahas, kerangka berpikir pemecahan masalah. Bab III Metodologi Penelitian dan Hasil Penelitian Lapangan Bab ini akan menjelaskan tentang metode pengumpulan data yang dilakukan, tentang rumus kofesien variasi, pengolahan data dengan regresi, dan tahapan-tahapan dalam membuat analisis regresi. Juga akan dijelaskan tentang data yang dipergunakan dalam melakukan analisis atas potensi royalti dari mineral ikutan tembaga berdasarkan data-data yang diperoleh dari studi pustaka dan penelitian lapangan. Bab IV Hasil Analisis dan Pembahasan Bab ini merupakan pembahasan terhadap hasil analisis kuantitatif atas potensi royalti dari mineral ikutan tembaga. Bab V Kesimpulan dan Saran Bab ini merupakan Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pembahasan pada Bab IV dan saran-saran atau rekomendasi yang akan diberikan penulis dari kesimpulan yang diperoleh.

Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

Budi. Universitas Indonesia . FE UI. Edi. Menurut Robert Eyestone menyatakan secara luas. Gerwin Bell dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 104-107) menguraikan pengertian user charges. Pemerintah harus mempertanggungjawabkan setiap apa yang dilakukan oleh pemerintah berdasarkan pengertian konsep agent dan principal relationship. 6 Analisis potensi.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Yogyakarta.1. kebijakan publik didefinisikan sebagai hubungan suatu unit pemerintah dengan lingkungannya1. Kerangka Teoritis 2. 15.1. Sedangkan Thomas R. Teori dan Proses Kebijakan Publik. Sebagai agen. kebijakan publik adalah pemanfaatan yang strategis terhadap sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah publik atau pemerintah. rakyat merupakan prinsipal yaitu pihak yang mempunyai atau menguasai sumber daya dan mempercayakan pengelolaan sumber daya tersebut kepada pemerintah yang disebut agen. 2002. yakni: 1 2 Winarno. JokoSudiarto. Sedangkan prinsipal mempunyai kewenangan untuk melakukan penilaian atau monitoring atas pelaksanaan pengelolaan tersebut apakah telah sesuai dengan amanah dan kepercayaan yang diberikan oleh rakyat. pemerintah mempunyai kewajiban (bonding) untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya tersebut. Dye menyatakan bahwa kebijakan publik adalah apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan dan tidak dilakukan (whatever governments choose to do or not to do)2. Alfabeta. 44. Lebih jauh James Andersen mengemukakan bahwa kebijakan merupakan arah tindakan yang mempunyai maksud yang ditetapkan oleh seorang aktor dalam mengatasi suatu persoalan. Bandung.. 2005. Analisis Kebijakan Publik.1. Konsep Ekonomi Keuangan Publik Menurut buku Kamus Administrasi Publik.. 2009. hal. Dimana.. hal. Suharto. Media Pressindo.

1. and highway tolls.. JokoSudiarto. sulfide. bismuth. tin. arsenic. coal. nickel. Example of regulatory fees include passport and judicial fees.. zinc. .. Examples include royalties on natural resources.. mercury. thus. emulate the benefit principle in public finance which states that the payment of a tax ought to correspond to the benefits received from taxfinanced goods and services. user charges are efficiently levied on publicly provided goods or services that enhance economic efficiency and have the characteristic that their users may be easily identified and excluded from their consumption. 1950 Latest Amendment In 1962 telah ditemukan pengertian mineral. sulfur.2... .. . “Mineral” in this article and Articles hereinafter shall mean: “the ores of gold. yaitu mineral.. phosphate. the application of user charges allows the costs of goods or service to be distributed according to the benefits received. tungsten. Dalam Article 3 angka 1 Japanese Mining Law No. canal. · Regulatory Fees: There are very much like a tax in that they are solely based on the govermnet’s sovereign power to regulate particular economic agents or activities.. 20 December. molybdenum. 2009.7 User Charges are levied on the use of specific good or service and thereby on the accruing benefits that economic agents receive from such use. cobalt. iron. yang memiliki sifat fisik dan Universitas Indonesia Analisis potensi. antimony. 289. thorium. chromite. patent and copyright fees. manganese. The following typology of user charges is: · User Fees: There are payments on services consumed to yield a direct benefit to the user. 2.” Dalam Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.. Mineral adalah: “senyawa anorganik yang terbentuk di alam. silver. uranium. customs service user fees... . Pengertian dan Konsep Pertambangan Istilah bahan galian berasal dari terjemahan bahasa Inggris. FE UI. copper. In this way. . User charges.. graphite. lead. brigde..

7) kriolit. Bahan galian dapat dibagi menjadi tiga golongan. mineral. FE UI. tembaga. 6) berillium.. 1999: 251). yakni: 1) besi. rtutenium. Sukandarrumidi juga mengemukakan pengertian bahan galian. flourspar. adalah gas alam. yaitu: 1. baik dalam bentuk lepas atau padu”. Penggolongan bahan galian diatur dalam Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian. Dalam pengertian ini. dan lain-lain. molibden. kristal kwarsa. brom. 2) bauksit. bahan galian diklasifikasikan menjadi tiga macam. 2. korundum. adalah minyak bumi dan yodium. 5) yttrium. baik berupa unsur kimia. timbal. 4) arsin. bahan galian yang berbentuk padat. 2.. 3. titan. yaitu: 1. dan logam-logam langka lainnya. Bahan galian strategis ini disebut juga golongan bahan galian A. intan. bahan galian yang berbentuk gas. platina.8 kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan. bahan galian yang berbentuk cair. wolfram. 8) yodium. perak. lempung. zirkon. antimon. bijih ataupun segala mecam batuan” (Sukandarrumidi. Ia berpendapat bahwa bahan galian adalah: “bahan yang dijumpai di dalam.. cerium. 3) emas. barit. air raksa. . 2009. JokoSudiarto. batu gamping. perak. Bahan galian strategis merupakan bahan galian untuk kepentingan pertahanan keamanan serta perkekonomian negara. bismut. Universitas Indonesia Analisis potensi. Bahan galian strategis. dibagi menjadi delapan golongan. seng. klor. adalah emas. Bahan galian vital. Bahan galian ini disebut juga golongan bahan galian B. vanadium. belerang. khrom. Bahan galian vital merupakan bahan galian yang dapat menjamin hajat hidup orang. mangan.

.za) antara lain menyebutkan: PART II: BASIC ROYALTY REGIME Any person (hereinafter referred to as a mineral resource extractor) is subject to a State royalty in respect of a mineral resource once that person extracts and transfers the mineral resource for that person’s own benefit. calcium. . JokoSudiarto.. Universitas Indonesia Analisis potensi.treasury. . minor percentages of oxides of aluminum. pertambangan mineral bukan logam.. Goonan berikut ini: “.gov. 2005: 2)” Departement National Treasury Republic of South Africa: “Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill . Konsentrat tembaga tersebut terdiri dari kandungan mineral tembaga. chalcocite (Cu2S).. besi. other important copper sulfide ore minerals include bornite (Cu5FeS4). Although chalcopyrite (CuFeS2) is the predominant copper sulfide ore processed... Hal ini seperti yang dikemukan oleh Thomas G. Concentrate can contain from 25 to 35 percent copper. Sedangkan dalam Pasal 34 ayat (2) Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. pertambangan batuan. b. dan sulfur (belerang) serta mineral ikutan lainnya... and enargite (Cu3AsS4).. covellite (CuS). similar levels of iron and sulfur. pertambangan mineral logam. Natural ores undergo comminution and separation by flotation at copper mining facilities to produce copper concentrate.. c. and a small balance of trace metals that depend on the ore source.2006” (www.. dan d. pertambangan mineral digolongkan atas: a.9 3. 2009. FE UI. Bahan galian yang tidak termasuk bahan galian strategis dan vital. Bahan galian yang lazim disebut dengan galian C. pertambangan mineral radioaktif.. (dalam Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting. Pengusahaan tambang tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga. and silicon.

L. yakni: “The fiscal arrangements with respect to natural resources need to take into account that the goverment is the landowner or the owner of mineral rights. Royalties secure revenues as soon as production commences. FE UI. that other person is deemed to be a mineral resource extractor to the extent that other person extracted and transferred that mineral resource for that extractor’s benefit. (2) A person is not subject to a State royalty in respect of a transferred mineral resource if the person proves the mineral resource was previously subject to a State royalty. JokoSudiarto. The government should determine what minimum payment it is Universitas Indonesia Analisis potensi. The royalty. Royalties are levied either on the volume or on the value resouces extracted. and ensure that a minimum payment is made by the companies for the resources that they extract.. . David C... Lease bonuses are up-front payment that could be determined by auction or at the government’s discretion. are considerably easier to administer than most other fiscal instruments.. . separate from regular income tax.. if a person extracts and transfers a mineral resource for the benefit of another person.. They mean that the investor bears the risk that the project will not be commercially viable because the return to govenrment is fixed. If a valuable resource is going tobe extracted.. 2009. . as a price for resource extraction. These payments are generally easy to administer. (3) For purposes of this Act.... the goverment should receive a payment for this resource.10 Charging provision (1) The State royalty imposed in respect of a transferred mineral resource equals the mineral resource’s State royalty rate as described in Schedule 1 multiplied by its gross sales value. Nellor dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 238-240) mengemukakan beberapa pengertian pengusahaan mineral. serves a role in determining whether investment should or should not proceed..

. The RRT only provides a return to goverment on those project will yielding above normal rate of return.. kualitas dan sumber daya terukur dari bahan galian.. dimensi.11 willing to accept for the resource recognizing that it has given up its capital once the resource is extracted. 2. pengolahan. The RRT is a high-risk measure for the government gaining a return on resource ownership. termasuk pengangkutan dan penjualan. termasuk analisis mengenai dampak lungkungan serta perencanaan pascatambang. Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi. .PE/1996 tentang Tata Cara Pengajuan Pemrosesan Pemberian Kuasa Pertambangan. FE UI. 3. Penyelidikan Umum adalah tahapan kegiatan pertambangan untuk mengetahui kondisi geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi. . there is also a significant chance that resource development will yield little revenue. JokoSudiarto. Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara telah ditentukan pengertian kontrak karya. Izin Prinsip.. 4.. serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup. bentuk. Kontrak Karya adalah: Universitas Indonesia Analisis potensi. serta sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi kelayakan.K/201/M. Operasi produksi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan yang meliputi konstruksi. Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan ekonomis dan teknis usaha pertambangan.. pemurnian.... Dalam Pasal 1 Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1409.. sebaran. A Resource Rent Tax (RRT) is similar to a cash-flow tax but is imposed only if the accumulated cash flow is positive. Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 menyebutkan bahwa usaha pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi kegiatan berikut ini: 1. penambangan. 2009.. although revenue could be sizable in favorable circumstances..

sesuai dengan jangka waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak” (H. H. 2. 1995: 186). 2009.. . namun juga mengatur tentang obyek kontrak karya.12 “suatu perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan perusahaan swasta asing atau patungan antara asing dengan nasional (dalam rangka PMA) untuk pengusahaan mineral dengan berpedoman kepada Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing serta Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuanketentuan Pokok Pertambangan Umum”. JokoSudiarto.. Salim HS mendefinisikan kontrak karya yang paling lengkap karena di dalam kontrak karya tidak hanya mengatur hubungan hukum antara para pihak. dkk. Anton Hendranata (2004) dalam Buku Ekonometrika Terapan mengemukan pengertian Analisis Regresi Linier Sederhana. antara lain mengemukakan Sifat Dasar Analisis Regresi. Sedangkan menurut Ismail Suny mengartikan kontrak karya sebagai berikut: “Kerja sama modal asing dalam bentuk kontrak karya (contract of work) terjadi apabila penanaman modal asing membentuk satu badan hukum Indonesia dan badan hukum ini mengadakan kerja sama dengan satu badan hukum yang mempergunakan modal nasional” (dalam Erman Rajagukguk. Teori Ekonometrika Buku Ekonometrika Dasar karangan Damodar Gujarati (1978) yang diterjemahkan oleh Sumarno Zain. Model Regresi Dua Variabel... Pengujian Masing-masing Koefesien Universitas Indonesia Analisis potensi. Salim HS. 2005: 130). Metode Kuadrat Terkecil (Ordinary Least Square / OLS). Kontrak karya adalah: “suatu perjanjian yang dibuat antara Pemerintah Indonesia dengan kontraktor asing semata-mata dan/atau merupakan patungan antara badan hukum asing dengan badan hukum domestik untuk melakukan kegiatan eksplorasi maupun eksploitasi dalam bidang pertambangan umum. FE UI.3. Analisis Regresi Dua Variabel.1.

1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing: Pasal 8 ayat (1): Penanaman modal asing di bidang pertambangan didasarkan pada suatu kerja sama dengan pemerintah atas dasar kontrak karya atau bentuk lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2009.. Kewajiban kontraktor (PT FIC dan PT NNT) seperti yang tercantum dalam kontrak karya tersebut antara lain adalah: menyetorkan iuran tetap untuk wilayah kontrak karya atau wilayah pertambangan. Menyunting dan Menampilkan Data. Masalah dalam Analisis Regresi (Heteroskedastisitas. Multikolinear dan Autokorelasi). FE UI. Pasal 8 ayat (2): Sistem kerja sama atas dasar kontrak karya atau dalam bentuk lain dapat dilaksanakan dalam bidang usaha-usaha lain yang akan ditentukan oleh pemerintah. menyetorkan iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan.4. Multikolinear dan Autokorelasi. 2. Kebaikan Suai Model.. Pengujian Model secara Keseluruhan.. Analisis Regresi Linier. antara lain menjelaskan mengenai Mengenal EVIEWS. Wing Wahyu Winarno (2007) dalam Buku Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EVIEWS. JokoSudiarto. menyetorkan iuran eksploitasi/produksi tambahan atas mineral yang diekspor. .13 Regresi secara Parsial. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan Umum: Universitas Indonesia Analisis potensi. Peraturan Perundang-undangan Kontrak Karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991 dan Kontrak Karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) tanggal 2 Desember 1986. Masalah Heteroskedastisitas.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP): Pasal 1 angka 1: Penerimaan Negara Bukan Pajak adalah seluruh penerimaan Pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam... dan aspek keadilan dalam pengenaan beban kepada masyarakat.. Pasal 2 ayat (1): Kelompok Penerimaan Negara Bukan Pajak meliputi: b. Pasal 3 ayat (1): Tarif atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak ditetapkan dengan memperhatikan dampak pengenaan terhadap masyarakat dan kegiatan usahanya. antara lain royalti di bidang perikanan. royalti di bidang kehutanan dan royalti di bidang pertambangan. 2009. FE UI.14 - Pasal 10 ayat (1): Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dilaksanakan sendiri oleh Instansi pemerintah atau Perusahaan Negara yang bersangkutan selaku pemegang kuasa pertambangan. biaya penyelengaraan kegiatan Pemerintah sehubungan dengan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersangkutan. - Pasal 10 ayat (2): Dalam mengadakan perjanjian karya dengan kontraktor seperti yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara harus berpegang pada pedoman-pedoman. Pasal 3 ayat (2): Tarif dan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam Undang-undang atau Peraturan Pemerintah yang menetapkan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersangkutan. petunjukpetunjuk dan syarat-syarat yang diberikan menteri. JokoSudiarto. serta segala sesuatu baik berupa uang maupun Universitas Indonesia Analisis potensi. . Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara: Pasal 1 angka 1: Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang.

Lampiran angka I. cc. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pad Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. m. transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. b. Kontrak Karya (KK) dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B).00% dari harga jual. 2009. Perak: satuan per kg.00% dari harga jual. l. 4: Penerimaan dari Iuran Eksplorasi/Iuran Eksploitasi/Royalty untuk Usaha Pertambangan dalam rangka Kuasa Pertambangan (KP).50% dari harga jual. efisien.75% dari harga jual. Tembaga: satuan per ton. Belerang: satuan per kg. Dana Hasil Produksi Batubara. A. Pasal 3 ayat (1): Keuangan Negara dikelola secara tertib. Besi: satuan per ton. Emas: satuan per kg. tarif 3. ekonomis. taat pada peraturan perundang-undangan. tarif 3.. c.25% dari harga jual. 3. . efektif... Iuran Eksplorasi/Iuran Eksploitasi/Royalty. dengan jenis mineral/bahan galian: h. JokoSudiarto. FE UI. meliputi: Penerimaan Negara. 3. k. d. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral: Pasal 1 ayat (2) Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral berasal dari: a. Iuran Tetap/Landrent.15 berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Pelayanan Jasa Bidang Geologi dan Sumber Daya Mineral. Pasal 2: Keuangan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1. Jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terutang atas jenis Universitas Indonesia Analisis potensi. tarif 4. Pasal 2.

yaitu dimulai dari adanya Kontrak Karya antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT. JokoSudiarto. 13. 2009.16 Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dihitung dengan cara tarif dikalikan jumlah satuan dikalikan harga jual.00 USD 2. Besi: satuan per ton.25% dari harga jual.000 ton > 100. Emas: satuan per kg. Lampiran: 8.00 USD 55.50% dari harga jual. 3. Belerang: satuan per kg.000 kg > 25. tarif 4.00% dari harga jual. Tembaga: satuan per ton. 11. 12. 11. tarif 3...10 USD 2. Jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terutang atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dihitung dengan cara tarif dikalikan jumlah satuan. FE UI. 13. tarif 3.000 kg < 25. .90 USD 225. Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah Penelitian ini diawali dengan kajian terhadap sumber masalah berdasarkan data-data empiris dan landasan teori yang relevan. Lampiran: No. Serta peraturan perundang-undangan yang ada hubungannya dengan KK tersebut.90 USD 2.000 kg > 2. yang merupakan suatu produk hukum yang harus dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait.000 ton < 2.000 ton > 5.2.00 USD 235. 12. 29.00 USD 2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Mineral di Bidang Pertambangan Umum: Pasal 2 ayat (1).75% dari harga jual.00 USD 1. Perak: satuan per kg.00% dari harga jual.20 2. Jenis Mineral/ Bahan Galian Tembaga Besi Emas Perak Belerang Tingkat Produksi < 80.000 ton Satuan Jumlah ton/logam ton/logam kg/logam kg/logam ton/konsentrat Besarnya Tarif USD 45.000 ton < 100..70 USD 2. Universitas Indonesia Analisis potensi. 3.000 kg < 5. 8. 29.000 ton > 80.

2009. Pembayaran royalti berdasarkan jumlah yang diterima dari pembeli. pengangkutan dan penjualan konsentrat tembaga. Berdasarkan teori dan konsep yang telah diuraikan di atas. Kegiatan usaha penambangan. 3.. 1. produksi. Pemenuhan kewajiban PNBP periode 2003-2007. 1. Diagram 1 Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah Fakta: 1. 2. 3. 3. dll tidak dibayar oleh pembeli. ESDM dan perusahaan Analisis Deskriptif Kuantitatif Pembahasan Kesimpulan dan Saran Universitas Indonesia Analisis potensi. Tarif royalti atas mineral ikutan tersebut dinyatakan dengan tegas sehingga tidak merugikan negara. Sumber data Sasaran pengkajian : 1. Adanya potensi royalti yang belum tergali dari mineral ikutan tersebut. KK antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT. FE UI. Menentukan dasar yang dapat digunakan untuk menghitung royalti atas mineral ikutan bahan galian tembaga.. Kondisi Ideal: Seluruh mineral ikutan tambang tembaga dikenakan royalti. KK dan PP yg mengatur tarif royalti tidak menyebutkan secara lengkap dan jelas mineral ikutan tambang tembaga.17 Penelitian ini dimaksudkan untuk menilai atau mengevaluasi apakah PNBP dalam bentuk royalti dari pelaksanaan KK tersebut telah diupayakan secara optimal serta sebab-sebab yang menyebabkan hal tersebut. Evaluasi ini tidak dimaksudkan untuk menguji kebenaran dan keabsahan produk hukum tersebut. Mineral ikutan seperti besi. 2. sulfur. 2. 3. 2. 2. Memperkirakan potensi royalti dari mineral ikutan tembaga. kerangka penelitian ini dapat digambarkan dalam diagram di bawah ini. Gap: Mineral ikutan tambang tembaga tidak dikenakan royalti. JokoSudiarto. PT FIC dan PT NNT perusahaan KK yg menghasilkan konsentrat tembaga. Tujuan Penelitian : Analisis kelebihan dan kelemahan sistem kontrak karya untuk pertambangan tembaga. . 1.. Metode Analisis Dokumen Dep.

. Data yang diperoleh sebagai hasil pengolahan sensus disebut data yang sebenarnya (true value) atau sering disebut dengan parameter.. Universitas Indonesia . Departemen Keuangan. Koefisien Korelasi Digunakan untuk mengukur keeratan hubungan antara variabel tidak bebas Y dengan variabel bebas X. Perusahaan pemegang KK (PT FIC dan PT NNT) dan Biro Pusat Statistik (BPS). Sedangkan sampling adalah cara pengumpulan data dimana yang diselidiki adalah elemen sampel dari populasi. 2009. JokoSudiarto. Jika nilai yang dihitung berdasarkan seluruh elemen populasi disebut parameter maka yang dihitung berdasarkan sampel disebut statistik. 2000). yaitu cara sensus dan cara sampling (Supranto. 3.2. yaitu data dari pelaksanaan KK pengusahaan pertambangan tembaga yang ada di Indonesia. Metode Pengumpulan Data Di dalam statistik dikenal 2 (dua) cara pengumpulan data. adalah cara pengumpulan data dimana seluruh elemen populasi diselidiki satu persatu. pengumpulan data dengan cara sampling membutuhkan biaya yang jauh lebih sedikit. Dibandingkan dengan sensus. maka penulis tidak menggunakan metode pengumpulan data secara sampling. FE UI. Namun yang perlu diperhatikan bahwa cara sensus mahal biayanya serta memerlukan banyak tenaga dan waktu.1. Sensus.. Sehubungan penulis telah memiliki data parameter dan untuk lebih mendekatkan hasil penelitian pada kondisi yang sebenarnya. memerlukan waktu yang lebih cepat. dan dapat menghasilkan cakupan data yang lebih luas serta terperinci.BAB III METODOLOGI PENELITIAN DAN HASIL PENELITIAN LAPANGAN 3. Dalam penelitian ini penulis menggunakan data parameter. Semakin besar nilai koefisien korelasi menunjukkan 18 Analisis potensi. yang bersumber dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. tenaga yang tidak terlalu banyak. Data yang diperoleh dari hasil sampling merupakan data perkiraan (estimate value).

Semakin kecil koefisen variasi dari data yang sedang dianalisis. Perak dan Tembaga untuk menentukan kandungan mineral ikutan Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual . berarti menunjukkan semakin seragam atau variasinya semakin kecil. Koefisien korelasi merupakan akar kuadrat dari koefisien determinasi.19 hubungan semakin erat dan sebaliknya. Koefisien Variasi Analisis koefisien variasi (coefficient of variation) adalah menyatakan persentase deviasi standar dari rata-ratanya. Adapun rumusnya.1. variabel yang menjelaskan Universitas Indonesia Analisis potensi. yaitu: R = √R2 Dalam penelitian ini variabel tidak bebas Y adalah kandungan mineral Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual. 2009.4. Kegunaannya adalah untuk mengukur keseragaman terhadap data yang sedang diteliti.. Perak dan Tembaga terhadap kandungan mineral ikutan Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual. pada satu atau lebih variabel lain. variabel tak bebas.4. 3. Pengertian Analisis regresi berkenaan dengan studi ketergantungan satu variabel.. Oleh sebab itu tolak ukur untuk mengetahui pengaruh tersebut dapat dilihat dari hasil penghitungan nilai koefisien variasi. FE UI. Tujuan analisis adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah penjualan Emas. JokoSudiarto.. . Semakin kecil nilai koefisien variasi yang dihasilkan menunjukkan adanya pengaruh mineral Emas. Regresi 3. sedangkan variabel bebas X adalah sebagai berikut: E P T = = = Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg) Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg) Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton) 3.3.

yaitu: Yi = b 1 + b 2 X2i + b 3 X3i + ui Dimana : Y X2 X3 u i = = = = = Variabel tak bebas (dependent variable) Variabel yang menjelaskan Variabel yang menjelaskan Faktor gangguan (disturbance) Menyatakan observasi (pengamatan) yang ke i. 3. + b kXkn+ un Universitas Indonesia Analisis potensi. …. . …. . ..4... . Yn = b 1 + b 2 X2n + b 3 X3n + b 4 X4n . namun ini tidak berarti hubungan sebab akibat. bagimanapun kuat dan sugestif. . 1995)... Meskipun analisis regresi berurusan dengan ketergantungan satu variabel terhadap variabel lain. Bentuk modelnya secara umum.. FE UI. . 2009. . . . . .2. dengan maksud menaksir dan atau meramalkan nilai ratarata hitung (mean) atau rata-rata (populasi) variabel tak bebas. tidak pernah dapat menetapkan hubungan sebabakibat: gagasan kita mengenai sebab-akibat harus datang dari luar statistik. Jika terdapat N-observasi maka persamaan regresi bergandanya dapat ditulis: Y1 = b 1+ b 2 X21 + b 3 X31 + b 4 X41 … + b k Xk1 + u1 Y2 = b 1+ b 2 X22 + b 3 X32 + b 4 X42 … + b k Xk2 + u2 Y3 = b 1 + b 2 X23 + b 3 X33 + b 4 X43 … + b k Xk3 + u3 . .20 (explanatory variabel). pada akhirnya dari beberapa teori atau lainnya. dipandang dari segi nilai yang diketahui atau tetap (dalam pengambilan sampel berulang) variabel yang menjelaskan (yang belakangan) (Gujarati. Kendall dan Stuart seperti dikutip oleh Gujarati mengatakan: Suatu hubungan statistik. .. Fungsi Regresi Berganda Apabila terdapat 2 (dua) atau lebih variabel maka disebut dengan regresi berganda. . JokoSudiarto.

F dan lain-lain.5. JokoSudiarto. 2009. …. . FE UI. bo . Estimasi koefisien regresi ( b . Cara Pengujian: Membandingkan antara t-statistik dengan t-tabel berdasarkan a tertentu (misalnya 5%). Variabel terbaik harus memenuhi kriteria– kriteria seperti dibawah ini..21 3. Pengujian Signifikansi Parsial atau Individual (uji-t) Adalah untuk menguji apakah suatu variabel bebas (X) berpengaruh atau tidak terhadap variabel tidak bebas (Y). Pembentukan Persamaan Regresi Dalam pembentukan persamaan regresi dibutuhkan kriteria dalam pemilihan variabel terbaik. bk ) Persamaan ini merupakan regresi berganda sehingga perlu melihat Koefisien Determinasi dari nilai Adjusted R-Squared. Universitas Indonesia Analisis potensi. koefisien regresi tidak berbeda nyata dari nol. Tahapan Dalam Membuat Analisis Regresi Adapun tahapan-tahapan dalam membuat analisa regresi berganda adalah sebagai berikut: 1. apakah model mampu menjelaskan Y.. 3. Hipotesis: H0 : b 1 = 0 . Dapat dilihat dengan memperhatikan tanda koefisien hasil pendugaan apakah telah sesuai dengan teori ekonomi yang berlaku. · Uji Statistika: Uji t.. koefisien regresi tidak nol sehingga signifikan. 2. yaitu: · Uji Ekonomi: yaitu arah dan pengaruh. H1 : b 1 ≠ 0 .

≤F ( a /2. JokoSudiarto.22 £ t (a / 2. Pengujian model secara umum (uji-F) Untuk menguji apakah model secara keseluruhan mampu secara signifikan menjelaskan variabel terikat.R 2 ) /( N . FE UI.(N-k). . Berdasarkan taraf nyata a (misalnya 5%) diharapkan H0 ditolak. Hipotesis: H0 : b 1 = b 2 = 0..k ) Tolak H0 dimana: N K = = = = = banyaknya observasi Banyaknya variabel bebas Level of significance Nilai pendugaan koefisien regresi ke-i Standar eror pendugaan koefisien regresi ke-i a bI se b i 4.. Terima H0 t.. Tolak H0 Universitas Indonesia Analisis potensi.1) (1 .statistik = bi se( b i ) ^ ^ > t (a / 2. 2009. H1 :tidak semua b 1 = 0.(N-k).model secara signifikan menjelaskan Y.k )). N . Terima H0 F-statistik= R 2 /(k . Cara Pengujian: Membandingkan antara F-statistik dengan F-tabel berdasarkan a tertentu (misalnya 5%). model tidak signifikan menjelaskan Y. N .k ) > F ( a /2.

Cara Pengujian: R2 = ESS RSS =1TSS TSS SSE / N . 2. Data konsentrat tembaga yang dijual tahun 2003 s. karena nilai R-square sangat dipengaruhi oleh banyaknya variabel bebas (semakin banyak variabel bebas maka semakin tinggi R-square) serta dipengaruhi oleh banyaknya observasi (makin banyak observasi makin kecil R-square).d. harapan R2 = 1. Data Data yang dipergunakan untuk analisis ini berasal dari berbagai bersumber. Nilai R2 berkisar antara 0 dan 1 (0≥ R2 ≥1). .23 Dimana: R2 N K 5. 2007 bersumber dari PT FIC. yaitu: 1. bukan R-square. = = = ESS/TSS banyaknya observasi banyaknya variabel bebas Uji Koefisien Determinasi (Uji R2) Menguji berapa persen model dapat menjelaskan variabel terikat. 2007 bersumber dari PT FIC dan PTNNT. Data penjualan Emas..d. Perak dan Tembaga tahun 2003 s.1 Adjusted-R2 = 1 Di mana : TSS RSS SSE N k = = = = = Total Sum Square (jumlah kuadrat nol) Regression Sum Square (jumlah kuadrat regresi) Sum Square Error (jumlah kuadrat error) banyaknya observasi banyaknya variabel bebas 3. FE UI.k SST / N . Universitas Indonesia Analisis potensi. PT NNT dan Departemen ESDM. JokoSudiarto..6.. 2009. Dalam regresi berganda yang menjadi patokan adalah adjusted R-square.

50 25..50 7. PT NNT dan Hasil Penelitian LPKM ITB 4.15 Satuan % gr/T gr/T % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah). Data ingredient content bersumber dari PT FIC.00 31.00 8. Rata-rata kandungan masing-masing mineral ikutan yang terdapat dalam setiap metric ton konsentrat tembaga yang diproduksi oleh perusahaan sesuai dengan ingredient content disajikan dalam tabel berikut: Tabel 1: Ingredient Content PT FIC No. 4. 5. 3.50 30. 2. 7. Mineral Tembaga (Cu) Emas (Au) Perak (Ag) Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) Kandungan Mineral dalam Konsentrat Range 28-33 28-32 69-92 22-28 28-34 7-9 1. 3. 6.50 24. 7.7. 2005 diperoleh dari rata-rata ingredient content dikalikan jumlah konsentrat tembaga yang dijual. 2009. 3.00 30.00 29.00 2. JokoSudiarto. Universitas Indonesia Analisis potensi. 5. 4. FE UI..7. 6.24 3. Data kandungan mineral Sulfur dan Besi tahun 2003 s.00 80. 1.d. 2.50 1. .50 80. Mineral Tembaga (Cu) Emas (Au) Perak (Ag) Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) Kandungan Mineral dalam Konsentrat Range 25-35 25-34 58-103 18-30 25-36 5-10 1.85 Satuan % gr/T gr/T % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah). Produksi dan Penjualan Proses produksi pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung beberapa mineral ikutan.6-2.1.. Tabel 2: Ingredient Content PT NNT No.3 Rata-rata 30. Hasil Penelitian Lapangan 3.4-2.7 Rata-rata 30. 1.

Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Konsentrat (MT) 2.00 Emas (kg) 99.980.00 17.106. Universitas Indonesia Analisis potensi.007.564. 2.00 224. Tabel 4: Realisasi Produksi PT NNT No 1.00 726.118.00 784.00 581.388.00 Perak (kg) 183. 2.803.00 512.344. 3.448.00 50.00 789.306.200.65 57.099.926.899.00 219.12 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).734. Realisasi penjualan yang dilaporkan oleh perusahaan ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 5: Realisasi Penjualan PT FIC No 1.550.605.009.00 1.00 Perak (kg) 184.320.12 611.00 396.148.00 Emas (kg) 18.948..393.214.00 70.179.287.904.00 2.00 Tembaga (ton) 718.200. 5.00 57.523. 5.688.357. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Emas (kg) 100.00 68.00 83.65 Tembaga (ton) 287.00 22.335.634. 3.492.212.359.00 520.00 167.645.612.00 3.00 270.00 163.00 1.303.203.00 577.567.281.00 2.761.00 320.00 396.00 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).00 793. 3.00 3.287.120.234. .857.505.00 306.307. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Konsentrat (MT) 932.293.931.00 714.209.560.00 161.00 58.242.787.00 47.00 Tembaga (ton) 721.00 221. 5.407.00 108. 4. 2..032.279.698.00 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).00 146.093.685. Realisasi produksi yang dilaporkan oleh perusahaan ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 3: Realisasi Produksi PT FIC No 1.00 1.563.00 94..106.062.00 147.053.00 2.00 4.00 205.00 13. 2009.207.927. JokoSudiarto.778.00 82.00 177.00 48.025.25 Kandungan unsur mineral dalam konsentrat tembaga tersebut merupakan hal yang disyaratkan dalam kontrak penjualan antara penjual dan pembeli.336.00 903. 4.00 886.977.682. 4.00 890.973.347.121. FE UI.988.568.054.00 22.00 11.00 106.00 Perak (kg) 60.

00 311.284.00 871. 2.00 608.53 1.669. 2.849.761.575.00 4.620.257.426.850.00 269.850.00 278.324. Realisasi pembayaran Iuran Tetap/Deadrent yang telah dilakukan oleh perusahaan untuk periode 2003 sampai dengan 2007 adalah sebagai berikut: Tabel 7: Realisasi Penyetoran Iuran Tetap No 1. 4.050..26 Tabel 6: Realisasi Penjualan PT NNT No 1.815.200.200.89 248.52 97.98 65. FE UI.63 262. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Emas (kg) 18. 3.00 22.00 323.52 Perak (kg) 60.857.086.00 48..532.044.215.620.63 871.00 887.850.00 898.00 13.00 289.63 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).00 PT NNT (US$) 289.63 Jumlah (US$) 898.00 3.00 262.7.336.00 19.250.949. Realisasi Penyetoran PNBP Sesuai dengan kontrak karyanya. 5. .00 67.382.050.640.404.00 608.679. 4.446. 3.850. kewajiban kontraktor kepada pemerintah yang digolongkan dalam Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah Iuran Tetap/Deadrent dan Iuran Eskploitasi/Royalty.888. JokoSudiarto.343.2.00 608. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 PT FIC (US$) 608. 2009. 3.00 22.00 608..00 69. 5.05 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).470. Realisasi pembayaran Iuran Eksploitasi/Royalti yang telah dilakukan oleh kedua perusahaan untuk periode tahun 2003 sampai dengan 2007 adalah sebagai berikut: Universitas Indonesia Analisis potensi.98 Tembaga (ton) 287.00 1. rincian disajikan pada Lampiran 1 dan 2.63 194.470.296.442.850.923.

Rangkuman Hasil Wawancara Rangkuman hasil wawancara dengan wakil kedua perusahaan dapat diuraikan sebagai berikut: 1.233.059. .31 23.81 150. baik ke smelter atau trader.743.92 158.13 71.82 47. Perhitungan dan penyetoran kewajiban iuran tetap telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam KK.983.571.190.27 Tabel 8: Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti No 1.335.73 20.539.87 Jumlah (US$) 51. dengan syaratsyarat atau kondisi yang disepakati oleh penjual dan pembeli. 4. Dalam praktik perdagangan konsentrat. JokoSudiarto.526.51 17. perusahaan hanya menyetorkan royalti atas mineral yang dibayar oleh pembeli yaitu tembaga. FE UI. 2009. emas.524.08 16.368.38 578.169. Proses produksi pertambangan tembaga menghasilkan konsentrat tembaga yang akan dijual kepada pembeli. Sesuai dengan perhitungan dan penyetoran royalti. 3.760.419.153.888.84 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah). 4. pembeli hanya bersedia membayar logam yang terkandung di dalam konsentrat yang dapat diproses lebih lanjut secara ekonomis sehingga mendatangkan penghasilan bagi smelter. Hal ini telah sesuai dengan Pasal 13 KK yang menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral hasil produksi.97 PT NNT (US$) 18.315. Universitas Indonesia Analisis potensi. rincian disajikan pada Lampiran 3 dan 4.60 147.332.835.127. yang berisi persentase atau jumlah kandungan masingmasing mineral ikutan dalam konsentrat tembaga.106.632.14 482.865.795.172. dan perak. 2. 2. 3.7.73 134.3.24 96. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. 5.005.370..421.367. Ingredient content merupakan syarat-syarat atau kondisi yang disepakati oleh penjual dan pembeli.87 126.978..584. 5. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 PT FIC (US$) 32. 3..144.829.274.130.894.41 140.

2. Hal ini bukan merupakan upaya untuk mendapatkan nilai ekonomis dari sulfur. besarnya tarif royalti didasarkan pada tingkat produksi yaitu tarif dalam US$ dikalikan dengan jumlah satuan. Beberapa smelter saat ini dapat mengolah sulfur untuk dimanfaatkan oleh perusahaan petrokimia dengan syarat lokasi pengolahan sulfur berdekatan dengan lokasi pabrik petrokimia. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral difokuskan kepada kebijakan tentang penetapan tarif iuran eskploitasi/eksplorasi/royalti khususnya pertambangan tembaga. Perusahaan pemegang Kuasa Pertambangan (KP) dan Kontrak Karya (KK) wajib membayar iuran eksplorasi atau iuran eksploitasi (royalti) untuk hasil produksi bahan galian yang diperoleh dari wilayah kuasa pertambangan atau wilayah Kontrak Karya atau wilayah usaha pertambangan lainnya sesuai dengan tarif iuran yang telah ditetapkan. jika kandungannya melampaui ambang batas. Batubara dan Panas Bumi..28 6. Karena pengenaan tarif dengan harga tertentu dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ekonomi. melainkan merupakan upaya untuk meminimalkan dampak polusi yang diakibatkan oleh buangan sulfur dari pabrik smelting. . Batubara dan Panas Bumi. PP Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. maka dengan PP Nomor 13 Tahun 2000 Universitas Indonesia Analisis potensi. Sedangkan bagi pemegang kontrak karya (KK) pembayaran royalti didasarkan pada ketentuan yang telah diatur dalam KK yang bersangkutan. 3. Rangkuman hasil wawancara adalah sebagai berikut: 1. FE UI. 4.. Dalam konsentrat tembaga terdapat beberapa logam di luar tembaga. Ditjen Mineral. Bagi perusahaan pemegang kuasa pertambangan (KP) besarnya tarif dan dasar pengenaannya diatur dalam peraturan pemerintah. yang sampai dengan saat ini telah terjadi dua kali perubahan. emas dan perak yang berdasarkan teknologi saat ini tidak memiliki nilai ekonomis untuk diolah lebih lanjut. Beberapa logam bahkan dikategorikan sebagai pengotor konsentrat (impurities) sehingga. 7. JokoSudiarto. justru perusahaan dikenakan penalti. 2009. Wawancara dengan Kepala Seksi Mineral pada Direktorat Pembinaan Program Mineral..

dalam hal ini adalah Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. misalnya sekian dollar per metric ton seperti yang tercantum dalam lampiran KK-nya (tarif royalti tambahan). 6. Universitas Indonesia Analisis potensi. sulfur. bisa menggunakan “fixed rate” yaitu tarif tetap atas tonase yang diproduksi. yang berisi antara lain besarnya tarif royalti didasarkan pada persentase (%) dikalikan harga jual dan mencabut PP-PP sebelumnya. Masalah penetapan tarif PNBP merupakan kewenangan departemen teknis. sistem tarif diubah dengan menggunakan sistem persentase (%) dari harga jual. Departemen Keuangan adalah sebagai berikut: 1. sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dibayar oleh pembeli (seperti besi. emas dam perak. Rangkuman hasil wawancara dengan salah satu kepala subdirektorat pada Direktorat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). 9. karena pihak pemerintah belum pernah melakukan pengujian atau penelitian atas proses produksi konsentrat tembaga mulai dari hulu (di mulut tambang) sampai dengan pemurnian atau pengolahan konsentrat tembaga menjadi logam. JokoSudiarto. dll) sehingga tidak dikenakan royalti. Alasan lain mengapa mineral ikutan tersebut tidak dikenakan royalti yakni mineral tersebut tidak mempunyai nilai ekonomis atau nilai jual bahkan dalam kondisi tertentu bisa bersifat sebagai pengotor yang akan mengurangi nilai jual tembaga. 2009. Sangat setuju apabila mineral ikutan lainnya tersebut dikenakan royalti walaupun hal ini sulit untuk dilakukan karena harus menegosiasi ulang klausul-klausul dalam KK. yang antara lain menyebutkan bahwa royalti hanya dikenakan atas mineral ikutan yang dibayar oleh pembeli (tembaga. Selanjutnya pemerintah menerbitkan PP Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. yaitu persentase (%) dikalikan harga jual.. FE UI. emas dan perak. 7.. 8. Cara penghitungan sebagai dasar pengenaan royalti. emas dan perak). Hal ini sesuai dengan KK-nya. . 5. PT FIC dan PT NNT hanya menyetorkan royalti atas mineral tembaga..29 tentang Perubahan atas PP Nomor 58 Tahun 1998. Direktorat Jenderal Anggaran. Sulit sekali untuk membuktikan hal tersebut.

negara telah merendahkan diri dengan memposisikan yang sama dengan pihak kontraktor.. Inilah pangkal permasalahannya. JokoSudiarto. perak dan tembaga) yang berada dalam konsentrat tembaga tidak bisa dikenakan royalti. FE UI. agar mineral ikutan tersebut dapat dikenakan royalti. 6. Dalam hal kontrak karya.4. Sangat setuju apabila mineral ikutan lainnya yang terdapat dalam konsentrat tembaga dikenakan royalti. 2009. karena di dalam klausul-klausul KK menyebutkan demikian. 2. adalah sebagai berikut: Universitas Indonesia Analisis potensi.7. Dari kasus ini nampak bahwa terdapat sebagian kekayaan alam yang telah diambil dari bumi kita. 3. Rangkuman Laporan Terkait Rangkuman Laporan Hasil Pemeriksaan atas Pengelolaan PNBP dari Iuran KK pada Departemen ESDM dan PT Freeport Indonesia Tahun Anggaran 2004 dan 2005 (Badan Pemeriksa Keuangan: 2006).. mineral ikutan lainnya (selain emas. 4. .. 3. seperti yang diamanatkan dalam undang-undang bahwa semua sumber daya alam merupakan kekayaan negara yang harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan sesuai dengan prinsip bahwa PNBP merupakan hak mutlak negara. Demikian juga dengan besarnya PNBP yang terkait dengan kontrak tersebut harus sesuai dengan apa yang telah disepakati. namun demikian baik negara ataupun rakyat tidak menikmatinya. negara harus berani untuk menegosiasi ulang klausul-klausul dalam KK yang bersangkutan. Dengan demikian. Sesuai dengan prinsip PNBP bahwa semua PNBP seharusnya mutlak hak negara artinya negaralah yang mempunyai “bargaining power” lebih besar. sehingga semua pihak yang terkait dengan kontrak tersebut harus mematuhi seluruh klausul dalam kontrak atau perjanjian tersebut.30 Departemen Keuangan khususnya Direktorat PNBP hanya menerima dan mencatat penerimaan PNBP dan secara periodik dilakukan rekonsiliasi dengan departemen teknis yang bersangkutan. 5. Dengan kata lain hanya negara yang berhak menentukan besarnya tarif PNBP bahkan bisa saja tanpa kompromi dengan pihak ketiga. Alasannya.

Akibatnya potensi penerimaan negara dari mineral ikutan belerang untuk TA 2004 dan TA 2005 (semester I) minimal sebesar USD14.256. 5. perusahaan harus membayar suatu royalti tambahan yang dapat berlaku berkenaan dengan mineral yang diekspor yang dibayar kepada perusahaan oleh pembeli. 2009. Dalam proses peleburan konsentrat.. 6.610.. Menurut penjelasan pihak PTFI meskipun belerang masih mempunyai nilai ekonomis namun dalam penjualan konsentrat tidak diperhitungkan sebagai mineral ikutan..00 (3. iuran produksi/royalti.. FE UI..564 ton x 1. 7. namun oleh PT. sedangkan penjualan ke PT Smelting Gresik bukan kategori dimaksud pasal ini.000 kg x USD0. JokoSudiarto. 3. . dan pajak-pajak.”).31 1. Smelting di Gresik pada saat ini 95% dari gas tersebut dapat diproses untuk menghasilkan asam sulfat dan gipsum. 4. Kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak adalah pembayaran atas iuran tetap. belerang ini merupakan bagian gas buang dalam bentuk belerang sulfida (SO2) yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan.004/kg untuk mineral ikutan belerang yang masih dapat dimanfaatkan dan UU No. dengan alasan bahwa sesuai dengan Pasal 13 huruf h KK (“. Rangkuman Laporan Tim Optimalisasi Penerimaan Negara mengenai proses peleburan konsentrat tembaga di PT Smelting Gresik (TOPN: 2007) dapat Universitas Indonesia Analisis potensi. Untuk penjualan dalam negeri salah satu konsumen konsentrat terbesar adalah PT Smelting Gresik yang bergerak di bidang peleburan dan pemurnian tembaga dengan produk sampingan berupa asam sulfat dan gipsum.004/kg) tidak dapat direalisasikan. Hasil pengujian dilakukan sendiri oleh PTFI dan ditegaskan melalui hasil konfirmasi diketahui bahwa dalam konsentrat tersebut masih ada kandungan berbagai mineral lain diantaranya adalah belerang (sulphur) yang kadarnya 2530%. Perhitungan kewajiban perusahaan KK dilaksanakan secara self assessment oleh perusahaan. 42 tahun 2002 tentang pelaksanaan APBN pasal 8 yang menyatakan pihak departemen berkewajiban mengintensifkan penerimaan. 2. Hal tersebut tidak sesuai dengan Lampiran G pada KK yang menetapkan adanya iuran royalti sebesar USD0..442.

Refinery Plant KatodaTembaga (Cu:99.99%) Anoda Slimes (Lumpur Anoda) 3. pirit (FeS2) dan terikat dengan unsur-unsur ikutan lainnya. FE UI. belerang menjadi bagian gas buang sebagai belerang oksida (S02). kovelit (CuS). Gambaran tahapan proses produksi serta output yang dihasilkan pada masing-masing tahapan dapat disajikan sebagai berikut : Tabel 9: Produksi dan Output PT Smelting Gresik Output/Produk Produk Utama Produk Sampingan Anoda Tembaga 1.22%. 5. membentuk terak. kalkosit (CuS). 2. emas dan perak. Pada proses peleburan dan "converting". dan ditemukan dalam senyawa dengan logam tembaga dan belerang. besi teroksidasi membentuk besi oksida (FeO) yang kemudian bersama-sama senyawa silika (SiO2). JokoSudiarto. Pada waktu proses peleburan dan converting. . selenium dan tellurium. kapur (CaO). pada dasarnya meliputi beberapa tahapan kegiatan dengan jenis output/produksi yang berbeda untuk produk utama (main product) dan produk sampingan (by product) pada masingmasing tahapan tersebut. Gypsum 2. Emas 1. Terak yang dihasilkan dijual kepada PT Semen Gresik (Persero) sebagai bahan baku pembuatan semen. 3. Pengolahan Lumpur 1.4%) 2. digenit (CU5S9).. Selenium Anoda 2.. Perak 2. Proses produksi konsentrat menjadi tembaga.70% 30. sulfur (SO2). Tellurium Tahapan Proses Pengolahan 1.32 diuraikan sebagai berikut: 1.95% dan ditemukan dalam mineral kalkopirit (CuFeS2).. Gas buang yang dihasilkan oleh pabrik peleburan tersebut diproses lebih lanjut Universitas Indonesia Analisis potensi. Produk utama dalam proses pengolahan konsentrat adalah katoda tembaga (copper cathode). gipsum. bornit (Cu5FeS4). Sedangkan produk sampingannya adalah terak (molten slag). Smelter Plant Sumber data: Laporan Tim OPN tahun 2007 (diolah).25.93% . 4. magnesia (MgO) alumina (AI2O3) dan lain-lainnya. Terak (Molten Slag) (Cu :99. 2009. Konsentrat tembaga umumnya mengandung besi (Fe) antara 21. Sulfur (SO2) 3. Kandungan belerang di dalam konsentrat tembaga berkisar antara 29.

Namun demikian dalam hal tertentu pemasaran konsentrat tembaga dapat mengikuti ketentuan-ketentuan khusus. Pada proses peleburan konsentrat tembaga. 2009. Rangkuman Laporan Akhir. Pada pabrik peleburan PT Smelting Company di Gresik. Sedangkan pemasaran konsentrat tembaga dilakukan secara langsung antara penjual (seperti PT FIC) dengan para pembeli (smelter) ataupun secara tidak langsung dengan perusahaan dagang (trader). yang didasarkan pada perjanjian yang bersifat umum dan relatif sama. . emas dan perak yang terkandung dalam konsentrat tersebut. Perdagangan logam. unsur besi akan teroksidasi menjadi besi oksida (FeO) yang bersama senyawa-senyawa: silika (SiO2). Commodity Exchange (COMEX) di New York dan London Bullion Market (LBM).. Secara situasional. 3. pada dasarnya mengacu pada harga-harga yang diterbitkan oleh London Metal Exchange (LME). Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Konsentrat Tembaga PT FIC.. magnesia (MgO). 4.. emas (Au). 5. (Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) ITB: 1999). walaupun jumlahnya relatif besar. Kandungan besi dalam terak berkisar antara 30-40% yang relatif rendah dan sulit untuk diekstraksi logam besinya secara menguntungkan. terak tersebut dapat dijadikan bahan baku semen dan dipakai Universitas Indonesia Analisis potensi. Dalam memasarkan konsentrat tembaga. FE UI. Terhadap unsur-unsur besi (Fe) dan belerang (S) yang terkandung dalam konsentrat tembaga. PT FIC juga tidak memperoleh pembayaran bahkan juga tidak dikenakan denda (penalty). yaitu: 1. perak (Ag) dan lainnya. kapur (CaO). JokoSudiarto. PT FIC hanya memperoleh pembayaran untuk logam-logam tembaga. alumina (Al2O3). dan lainnya membentuk terak. seperti tembaga (Cu). 2. 6. Terhadap unsur-unsur ikutan dan senyawa pengotor yang terkandung dalam konsentrat tembaga yang jumlahnya relatif kecil. gas SO2 dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk dan gipsum dan dijual ke PT Petrokimia Gresik.33 untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gypsum (CaS042H2O). PT FIC tidak memperoleh pembayaran sama sekali.

Unsur besi akan menjadi bagian dari terak. emas dan perak yang terdapat dalam kandungan konsentrat tembaga. sedangkan unsur belerang akan menjadi bagian gas buang yang selanjutnya dapat diubah menjadi produk tertentu. Gas tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4). dan lainnya. Baik terak maupun produk tertentu tersebut dapat dijual. gipsum (CaSO4. Universitas Indonesia Analisis potensi.. Sedangkan unsur belerang akan teroksidasi menjadi gas SO2. unsur belerang murni. JokoSudiarto.. FE UI. unsur besi dan belerang yang terdapat dalam konsentrat tembaga akan merupakan bagian limbah proses. PT FIC hanya diwajibkan oleh Pemerintah RI untuk membayar royalti terhadap logam-logam tembaga. 2009.n.H2O). 7. .. SO2 cair. seperti halnya pabrik PT Smelting Company di Gresik.34 sebagai “sand blast”. 6. Dalam pabrik peleburan konsentrat tembaga.

pemerintah dapat melaksanakan sendiri dan/atau menunjuk kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan sendiri oleh pemerintah. Analisis Cakupan Kontrak Karya yang Berlaku Untuk Pertambangan Tembaga Dalam Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945 dan Pasal 4 ayat (1) Undang- undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara disebutkan bahwa mineral dan batubara sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan merupakan kekayaan nasional yang dikuasi oleh negara untuk sebesarbesarnya kesejahteraan rakyat. 38 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. 2) mineral dan batubara tersebut untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.1. mengurus dan mengawasi pengelolaan atau pengusahaan mineral dan batubara. Salah satu bentuk kerja sama itu adalah Kontrak Karya (KK). Hak penguasaan negara berisi wewenang untuk mengatur. 2009. serta berisi kewajiban untuk mempergunakannya sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Dalam pengusahaan mineral dan batubara.BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.. FE UI. Universitas Indonesia .. yaitu: 1) negara menguasai mineral dan batubara sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan. Ada dua implikasi yang dapat diambil dari hal tersebut.. Sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat merupakan tujuan dari setiap pengelolaan dan penggunaan sumber daya alam nasional. JokoSudiarto. Hak negara menguasai atau hak penguasaan negara merupakan konsep yang didasarkan pada organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat. yang merupakan suatu bentuk perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan 35 Analisis potensi. Hal tersebut sesuai dengan pasal 10 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan dan Pasal 37.

JokoSudiarto. tampak bahwa subyek hukum dalam KK itu terdiri dari dua pihak. 2009.36 perusahaan swasta asing atau patungan antara asing dengan nasional (dalam rangka Penanaman Modal Asing) yang perusahaannya berbadan hukum Indonesia (Perseroan Terbatas) untuk melaksanakan usaha pertambangan pengusahaan mineral (tidak termasuk minyak bumi. Satu hal yang pasti adalah antara Pemerintah RI dengan pihak kontraktor terikat dalam perjanjian ikatan hukum. panas bumi. pemerintah menerbitkan surat keputusan tahap kegiatan sesuai dengan yang diminta oleh perusahaan KK yang bersangkutan. konstruksi dan eksploitasi.. Pasal 13 dan Pasal 27 masing-masing KK. Perubahan terhadap terms and conditions kontrak hanya dimungkinkan apabila didasarkan atas kesepakatan para pihak yang kemudian dituangkan secara resmi dalam bentuk amandemen kontrak. sesuai dengan kontrak karya pengusahaan pertambangan tembaga masing-masing. Hak dan kewajiban tersebut diatur dalam Pasal 2. Kedua pihak terkena asas ”penghormatan” terhadap ketentuan dalam kontrak meliputi keseluruhan terms and conditions yang tercantum dalam kontrak. yaitu KK antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991 dan KK antara Pemerintah RI dengan PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) tanggal 2 Desember 1986. radio aktif dan batubara) sesuai dengan jangka waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak. Pemerintah RI diwakili oleh Menteri Pertambangan dan Energi (saat ini Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral) dan pihak kontraktor yaitu PT FIC dan PT NNT.. Hak Pemerintah RI adalah menerima pajak. gas alam. FE UI. Obyek perjanjian dalam kedua KK tersebut adalah pemanfaatan dan pengembangan potensi pertambangan di Indonesia.. . Dalam KK tersebut telah ditentukan hak dan kewajiban para pihak. Setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan. Pemanfaatan dan pengembangan tersebut dimulai dari tahap eksplorasi. Berdasarkan analisis terhadap substansi kedua KK tersebut. dan lain-lain yang Universitas Indonesia Analisis potensi. yaitu Pemerintah RI dan kontraktor. royalti. Jangka waktu masing-masing tahapan kegiatan dalam KK menjadi satu paket dalam kontrak yang bersangkutan. Terdapat dua KK pengusahaan pertambangan tembaga di Indonesia.

dividen. FE UI. bea meterai atas dokumen-dokumen yang sah. 12. pajak penghasilan perorangan. sewa. 9. kecuali ditetapkan lain dalam KK. kewajiban kontraktor (PT FIC dan PT NNT) yang berkaitan dengan penerimaan negara seperti yang tercantum dalam Pasal 13 masing-masing KK. 4. . pembebanan-pembebanan dan bea-bea yang dikenakan oleh pemerintah daerah di Indonesia yang telah disetujui oleh pemerintah pusat. iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan. Sementara itu. yaitu kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan dan kewajiban iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. 7. iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. 10. Dari kewajiban-kewajiban kontraktor seperti diuraikan di atas. 8. pungutan-pungutan administrasi umum dan pembebanan-pembebanan untuk fasilitas atau jasa dan hak-hak khusus yang diberikan oleh pemerintah sepanjang pungutan-pungutan tersebut telah disetujui oleh pemerintah pusat. Selanjutnya diuraikan secara rinci kedua kewajiban Universitas Indonesia Analisis potensi. 2. pajak penghasilan badan atas penghasilan yang diperoleh perusahaan. 11. pungutan-pungutan.. pajak-pajak. kecuali ditetapkan lain dalam KK. Sementara itu. pajak bumi dan bangunan (PBB). JokoSudiarto. adalah sebagai berikut: 1. 6. bea masuk atas barang yang diimpor ke Indonesia.37 merupakan penerimaan negara. dan jasa lainnya. kewajibannya adalah menjaga keamanan dan melindungi investasi yang ditanamkan oleh para investor. 5.. terdapat dua kewajiban kontraktor yang dikelompokan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). 2009. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas pembelian dan penjualan barang kena pajak. menyetorkan pajak atas pemindahan hak kepemilikan kendaraan bermotor dan kapal di Indonesia. jasa teknik. jasa manajemen. pajak penghasilan atas bunga.. 3.

untuk periode 2003 sampai dengan 2007. Dari data-data tersebut. sehingga sering disebut deadrent atau landrent dengan tarif tetap atau ”fixed rate” per Ha sesuai dengan surat keputusan mengenai penetapan luas wilayah masing-masing. Pasal 13 point (i) kedua KK tersebut menyebutkan hal yang sama yaitu bahwa ”Perusahaan harus membayar tiap tahun sebagai iuran tetap yang akan dihitung menurut jumlah hektar yang termasuk data Wilayah Kontrak Karya atau Wilayah Pertambangan pada tanggal 1 Januari dan 1 Juli dari setiap tahun dan pembayaran dilakukan di muka dalam dua kali pembayaran masing–masing dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal-tanggal tersebut selama jangka waktu persetujuan dan dibayarkan sebagaimana ditetapkan dalam lampiran “D” Kontrak Karya”. Selama periode tersebut. Dalam lampiran “D” tersebut ditetapkan bahwa tarif iuran tetap per tahun sebesar US$ 3. tidak terdapat PNBP yang berasal dari penyetoran iuran tetap tersebut yang belum tergali.382. dan Laporan Hasil Audit Tim OPN. Sedangkan PT NNT telah menyetorkan iuran tetap sebesar US$1. PT FIC telah menyetorkan iuran tetap sebesar US$3.63 pada periode yang sama. mudah bagi pihak-pihak terkait untuk melakukan pengecekan atau pengujian apakah pemerintah telah melakukan usaha-usaha yang optimal untuk menggali penerimaan tersebut. Artinya telah dilakukan usaha-usaha yang optimal untuk menggali PNBP tersebut. .38 PNBP tersebut. yaitu iuran tetap tahap operasi sesuai dengan surat keputusan mengenai penetapan luas wilayah dan tahap-tahap usaha pertambangan perusahaan yang bersangkutan. JokoSudiarto. Pertama.00 dengan jumlah per tahun sebesar US$608. Dalam perhitungan tersebut tampak bahwa iuran tetap dapat diartikan sebagai biaya sewa lahan dari pengelola (pihak kontraktor) kepada pemilik lahan (pemerintah).00.250.044. Dengan perhitungan dan cara pembayaran yang sederhana tersebut. 2009. Departemen ESDM.086. kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan..00/Ha. Berdasarkan data-data hasil penelitian lapangan yang berasal dari laporan kedua kontraktor... FE UI. Universitas Indonesia Analisis potensi. diketahui bahwa kedua kontraktor telah melaksanakan kewajiban penyetoran iuran tetap sesuai dengan ketentuan tersebut di atas. Rincian disajikan pada Lampiran 1 dan 2.805.

.50% USD 0. 2009.. PCT = 3.100.5 + (ACP90)/10 Sedangkan logam mulia yang merupakan mineral ikutan dengan tembaga. antara PT FIC dengan PT NNT.900< harga tembaga/pon< USD 1. proses produksi PT FIC Universitas Indonesia Analisis potensi.100. dollar.5% Harga tembaga/pon > USD 1. dijual selama satu triwulan ACP SRFS : : Harga Tembaga Biaya peleburan dan pengolahan. PCT = 1. maupun mata uang lain yang disetujui bersama”. JokoSudiarto. FE UI. pembahasan kewajiban tersebut akan diuraikan sesuai dengan kondisi masing-masing kontraktor sebagai berikut: 1) PT FIC.900. kewajiban iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. Oleh karena itu. Jatuh tempo setiap triwulan. yang diatur sebagai berikut: Harga tembaga/pon ≤ USD 0. pengangkutan dan biaya penjualan lainnya PCT : Persentase.39 Kedua. Dalam hal tembaga dijual dalam bentuk konsentrat. Terdapat perbedaan substansi Pasal 13 KK yang mengatur tata cara perhitungan dan pembayaran kewajiban tersebut. Pasal 13 point (ii) menyebutkan bahwa ”Perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral hasil produksi. PCT = 1. Dibayar dalam mata uang rupiah. jumlah royalti yang dibayar adalah: CR = [ (P x ACP) – SRFS] x PCT P : Jumlah tembaga (pon) yang terkandung dalam konsentrat.. tarif royaltinya adalah 1% dari harga jual. paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah berakhirnya setiap triwulan. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. Berdasarkan hasil penelitian lapangan.. didasarkan kepada harga emas/perak yang berlaku.

misalnya ingredient content mineral tembaga adalah antara 25% s.. JokoSudiarto. sesuai dengan Pasal 13 point (ii) KK tersebut di atas. Kandungan unsur mineral dalam konsentrat tembaga tersebut merupakan hal yang disyaratkan dalam kontrak penjualan antara penjual dan pembeli. Demikian juga unsur mineral-mineral ikutan lainnya..40 menghasilkan konsentrat tembaga. Ingredient content mineral emas adalah antara 25 gr/T s. Royalti Tambahan harus dibayar sepanjang suatu mineral dalam produksi perusahaan yang diekspor adalah satu mineral yang nilainya menurut kebiasaan umum dibayar kepada perusahaan oleh pembeli. sedangkan unsurunsur mineral ikutan lainnya tidak dihitung tonasenya. Di samping itu.35 ton.d. diantaranya adalah Universitas Indonesia Analisis potensi. 34 (gr/T). perak (Ag) dan tembaga (Cu).d.d. sedangkan realiasi penjualan yang dilaporkan oleh PT FIC adalah penjualan ketiga unsur mineral tersebut. Kandungan masing-masing mineral ikutan dalam setiap metric ton konsentrat tembaga yang diproduksi oleh PT FIC sesuai dengan ingredient content. Jumlah tonase mineral yang dihitung dalam kandungan konsentrat tersebut hanya tiga unsur mineral yaitu emas (Au).25 ton s. realisasi produksi yang dilaporkan oleh PT FIC adalah produksi konsentrat tembaga dan ketiga unsur mineral tersebut. Menurut PT FIC. 2009. Oleh karena itu. FE UI. Sehingga. artinya dalam setiap satu metric ton konsentrat tembaga terkandung unsur mineral tembaga sebanyak antara 25% X 1 ton = 0. yang dijual oleh PT FIC kepada para pembeli (smelter dan trader). Tarif royalti tambahan sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran G. 35% X 1 ton = 0. 35%. hanya tiga unsur mineral tersebut yang dibayar oleh pembeli sedangkan mineral ikutan lainnya dianggap sebagai limbah yang tidak ada nilai ekonomisnya. 34 gr. .d. artinya dalam setiap satu metric ton konsentrat tembaga terkandung unsur mineral emas sebanyak antara 25 gr s. PT FIC hanya menghitung dan menyetorkan royalti atas penjualan ketiga unsur mineral tersebut. Di dalam konsentrat tersebut terkandung beberapa mineral ikutan yang tidak dapat dipisahkan dari proses produksi (menyatu dalam konsentrat tembaga tersebut). seperti yang diuraikan pada Pasal 13 huruf h bahwa perusahaan harus membayar suatu Royalti Tambahan yang dapat berlaku berkenaan dengan mineral yang diekspor sebagai bijih yang tidak dapat dimanfaatkan dari Indonesia..

430 ons US$ 5... 2.56 Universitas Indonesia Analisis potensi.00/ton. S. 2009.834. . Namun demikian.242/ons US$ 4. seperti dicantumkan pada tabel berikut ini.85 Satuan % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah)..255 DMT US$ 33.00 30.3 Rata-rata 24.50 1.251/ons 62. 1.A.456 ons US$ 296.573.882.154.838 lbs US$ 0.527. FE UI. terdapat mineral ikutan dalam konsentrat tembaga yang belum dikenakan royalti. Tabel 10: Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT FIC Kandungan Mineral dalam Konsentrat No. 4.4-2. 3. Dengan demikian. Contoh perhitungan kewajiban iuran eksploitasi/royalti dapat disajikan berikut ini. JokoSudiarto.50 7.78844/lbs 57. Mineral Range Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) 18-30 25-36 5-10 1. Data penjualan · · · · · · · · · · Penjual Pembeli Pelabuhan tujuan Invoice Berat konsentrat Nilai Tembaga Berat dalam lbs Harga Emas Berat dalam ons Harga Perak Berat dalam ons Harga TCRC : : : : : : PT FIC Atlantic Copper. PT FIC juga tidak pernah menghitung dan menyetorkan royalti tambahan tersebut dengan alasan perusahaan tidak menerima pembayaran dari pembeli atas mineral belerang tersebut.41 mineral belerang (sulfur) dengan tarif sebesar USD4.378.32 : : : : : : : 25. Spanyol Nomor 1308 F tanggal 20 April 2003 37.

400. 2009.01/DJP/2000 tanggal 24 Februari Universitas Indonesia Analisis potensi.009.536.175.834.. Dalam hal konsentrat atau dore bullion.732. . JokoSudiarto.05 US$ 170.213.58 US$ 401.60 Dalam periode 2003 sampai dengan 2007.456 ons · Perak 1% X US$ 5.42 Perhitungan Iuran Eksploitasi/Royalti · Tembaga US$ 0.12.251 X 57. perhitungan royalti didasarkan pada Surat Direktur Jenderal Pertambangan Umum Nomor 310/20.56 US$ 15. sepanjang setiap Mineral dari hasil produksi itu merupakan Mineral yang nilainya sesuai kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada Perusahaan oleh pembeli. Rincian disajikan pada Lampiran 3.536.633.TCRC 1.47 US$ 227.5% X US$ 15..242 X 62.78844 X 25.430 ons Jumlah Royalti : : : : : : : US$ 20. Dalam hal tembaga. Pasal 13 ayat 2 KK dapat diuraikan secara ringkas bahwa “Perusahaan akan membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral dari hasil produksi (sebagaimana dirumuskan dalam lampiran “F”) pada Wilayah Pertambangan.119. Iuran Eksploitasi/produksi akan dihitung dengan tarip yang ditetapkan dalam Lampiran “F” sebagai berikut: “tonase atau jumlah berat yang digunakan di dalam perhitungan adalah jumlah yang diserahkan bagi pengapalan ekspor atau penjualan dalam negeri..378. 2) PT NNT.175.838 lbs -/. jumlah penyetoran royalti sebesar US$443.47 · Emas 1% X US$ 296.154. FE UI.03 US$ 4. Iuran eksplotasi/produksi akan dibayar dalam Rupiah atau mata uang lain yang disetujui bersama dan akan dibayar pada atau sebelum hari terakhir dari bulan setelah tiap triwulan”.691.97 US$ 3. jumlah berat setiap mineral yang dikenakan iuran eksplotasi/produksi ditetapkan secara tepat dengan metode perhitungan yang dapat diterima secara internasional”.272.

c) Jika harga jual (S) perak adalah diantara US$10-US$15 per troy ounce. iuran yang dikenakan adalah 1% dari harga jual. iuran yang dikenakan adalah {1+(S–10)/5}% dari harga jual. seperti dicantumkan pada tabel berikut ini. Dengan demikian.. b) Jika harga jual perak adalah US$15 per troy ounce atau lebih tinggi. Universitas Indonesia Analisis potensi. Dalam hal emas. Seperti halnya pada PT FIC.. Dalam hal perak. JokoSudiarto. terdapat mineral ikutan lainnya dalam konsentrat tembaga yang tidak dikenakan royalti. iuran yang dikenakan adalah {1+(G–300)/100}% dari harga jual.000 Ton US $ 55. c) Jika harga jual (G) emas adalah diantara US$300 . perhitungan royalti adalah sebagai berikut: a) Jika harga jual emas adalah US$300 per troy ounce atau lebih rendah.K/844/MPE/1992 serta metode teknis perhitungan sesuai dengan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Nomor 514/844/DDJP/1992 tanggal 28 Desember 1992 tarif royalti untuk tembaga ditetapkan sebagai berikut: · Tingkat produksi ≤ 80. 2009. . perak dan tembaga. perhitungan royalti adalah sebagai berikut: a) Jika harga jual perak adalah US$10 per troy ounce atau lebih rendah. maka PT NNT hanya menghitung dan menyetorkan royalti atas mineral emas. iuran yang dikenakan adalah 2% dari harga jual. b) Jika harga jual emas adalah US$400 per troy ounce atau lebih tinggi. dan sesuai dengan Pasal 13 ayat (2) KK tersebut di atas.43 2000 perihal Pembayaran Iuran Eksploitasi/Produksi (Royalti) PT Newmont Nusa Tenggara. FE UI..00/ton. · Tingkat produksi > 80. Surat tersebut terkait dengan pengenaan tarif royalti untuk tembaga yang ditentukan berdasarkan Surat Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Nomor 2817/844/DJP/1996 tanggal 11 Nopember 1996 dengan mengacu pada Surat Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1166.US$400 per troy ounce. iuran yang dikenakan adalah 2% dari harga jual.00/ton.000 Ton US $ 45. iuran yang dikenakan adalah 1% dari harga jual.

.23 ton (68. JokoSudiarto.73 ton (0..6-2.999.09) 5.55 ons (689.09) : : : : : : : PT NNT Mitsubishi Material Corporation Naoshima.737.999.00 31.Grade .53 175.44 Tabel 11: Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT NNT Kandungan Mineral dalam Konsentrat No.Berat dalam ton ..284.Berat dalam ons . 4. 1.05 ton (17.98 X 9.7 Rata-rata 25.Grade .292 2.69 : : : : 17.23/31.98 689. FE UI. 2.Berat dalam ons .00 8.21 Universitas Indonesia Analisis potensi.886. 2009.737.999.00 2.Berat dalam ton · Emas .09 DMT US$ 13. .53 X 9.635. Data penjualan · Penjual · Pembeli · Pelabuhan tujuan · PEB · Invoice · Berat konsentrat · Nilai · Tembaga .292 X 9.701.05/31.75 : : 0.1035) US$ 561. Jepang Nomor 000005 tanggal 20 Januari 2006 Nomor 2006-04-1 tanggal 30 Januari 2006 9.51 ons (175.Harga · Perak . 3.Grade .09) 22.284.919.175.Berat dalam ton .15 Satuan % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah) Contoh perhitungan kewajiban iuran eksploitasi/royalti dapat disajikan berikut ini. Mineral Range Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) 22-28 28-34 7-9 1.1035) US$ 9.999.Harga : : : : 68.

Pembayaran tersebut yaitu: 1) Lease bonuses. yaitu bahwa pemerintah merupakan pemilik lahan atau pemilik sumber daya mineral dimana pemerintah akan menerima pembayaran dari pengusahaan sumber daya tersebut di luar dari pajak penghasilan. Hal tersebut di atas senada dengan pendapat dari David C..571.81 : US$ 63. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Gerwin Bell dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 104-107). Rincian disajikan pada Lampiran 4.635. JokoSudiarto. dimana PNBP tersebut merupakan pembayaran atas pelayanan yang dinikmati langsung oleh pengguna (pihak kontraktor). lease bonuses ini dapat Universitas Indonesia Analisis potensi. Nellor dalam buku yang sama (1995: 238-240) yang mengemukakan beberapa pengertian pengusahaan mineral.75 X 5. selain membayar pajak-pajak sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku.73 ton · Emas 2% X US$ 561...175. Dalam kontrak karya. merupakan pembayaran tetap kepada pemerintah tidak tergantung dari keuntungan atau jumlah yang dihasilkan dari pengusahaan sumber daya mineral tersebut.87.45 Perhitungan Iuran Eksploitasi/Royalti · Tembaga US$ 45.04 US$ 196. Jadi tidak tergantung dari besarnya produksi yang dihasilkan (dalam tonase) maupun besarnya pendapatan atau penjualan (dalam rupiah atau US$). pihak kontraktor yang mengusahakan atau mengolah sumber daya mineral diwajibkan membayar kepada pemerintah sebagai PNBP.00 X 2.51 ons · Perak 1% X US$ 9.55 ons Jumlah Royalti : : US$ 2. jumlah penyetoran royalti oleh PT NNT sebesar US$96.851. 2009.388.69 X 22. FE UI.79 Dalam periode 2003 sampai dengan 2007. Artinya.274. .L. PNBP yang berasal dari iuran tetap dan royalti kontrak karya tersebut dapat digolongkan sebagai user charges dalam kelompok user fees.94 : US$ 131.919.148.314.

pemerintah akan kesulitan mengadministrasikan dan menentukan kewajaran besarnya penerimaan tersebut. 3) Resource Rent Tax (RRT). Artinya. Jadi tidak tergantung apakah sumber daya tersebut bermanfaat atau tidak oleh kontraktor yang bersangkutan. Universitas Indonesia Analisis potensi. FE UI.. JokoSudiarto. Pemerintah harus menetapkan jumlah minimum royalti yang harus dibayar oleh pihak kontraktor atas besarnya volume atau nilai sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor tersebut. Kedua. karena pemerintah tidak akan memperoleh penerimaan sampai dengan proyek atau pengusahaan sumber daya mineral tersebut menguntungkan. sehingga pemerintah perlu melakukan pengawasan yang ketat. Hal ini sangat beresiko bagi pemerintah sebagai pemilik sumber daya mineral. Di sisi lain.L. Dengan demikian royalti hanya dapat dikenakan kepada kontraktor apabila kontraktor tersebut benar-benar telah menerima pembayaran dari pembeli. royalti dibayarkan berdasarkan besarnya volume atau nilai dari sumber daya yang diusahakan. yaitu di dalam Pasal 13 KK disebutkan bahwa royalti dibayarkan atas mineral yang dibayar oleh pembeli. dengan kata lain. Artinya. yaitu Pertama. 2009.. royalti bisa dihitung dari jumlah volume (misalnya metric ton) atau dari nilai sumber daya tersebut (misalnya nilai jual). Semakin tinggi harga atau nilai penjualan mineral maka semakin tinggi tarif royaltinya.46 diartikan sebagai kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan. . RRT tersebut dapat dianalogkan sebagai penerimaan royalti tambahan dari PT FIC dan pengenaan tarif progresif atas royalti. pendapatan yang diperoleh telah melebihi atau di atas nilai investasinya. Ada dua makna dalam pengertian tersebut.. merupakan pajak yang dikenakan apabila terdapat keuntungan atas pengelolaan atau pengusahaan sumber daya mineral. royalti dikenakan atas sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor. RRT hanya dibayarkan oleh kontraktor apabila pengusahaan sumber daya mineral tersebut telah menguntungkan. 2) Royalties. Pengertian tersebut berbeda dengan KK. Nellor tersebut. Jelas di sini bahwa pengertian royalti dalam KK lebih sempit dibandingkan dengan pengertian royalti menurut pendapat David C.

JokoSudiarto. antara lain royalti di bidang pertambangan.. Bahan galian yang diperoleh disebut bijih (ore). Makna atau substansi pasal tersebut yaitu royalti di bidang pertambangan yang merupakan salah satu PNBP.2. Dengan demikian. Artinya pemerintah Indonesia kehilangan kesempatan untuk memperoleh penerimaan yang lebih besar (opportunity loss). Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP menerangkan bahwa salah satu PNBP adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. Artinya. untuk dilakukan penghancuran pada crushing pile dan hasilnya dikumpulkan pada surge pile. Selanjutnya dikirim ke konsentrator plant dengan menggunakan overland conveyor. cakupan royalti dalam KK tersebut belum optimal buat pemerintah Indonesia. · Concentrator Plant. 4. Hal ini bisa dilihat dari uraian di atas bahwa masih terdapat potensi royalti dari mineral ikutan tembaga yang belum tergali. siapapun yang telah mengusahakan pertambangan dan memanfaatkan hasil-hasilnya harus dikenakan royalti. 2009. . ore dikumpulkan dalam coarse ore mill feed stockpile dan didistribusikan ke sag mill untuk dilakukan penggilingan menjadi butiran– Universitas Indonesia Analisis potensi. dikenakan atas pemanfaatan sumber daya alam (dalam hal ini adalah pengusahaan pertambangan). FE UI. Menentukan Alasan yang Dapat Digunakan Untuk Mengenakan Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga Secara ringkas proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan untuk dapat menghasilkan konsentrat tembaga dapat diuraikan sebagai berikut: · Penambangan.47 semakin tinggi harga atau nilai penjualan mineral maka semakin besar pula keuntungan yang diperoleh oleh kontraktor.. sehingga pemerintah pun akan menerima royalti yang semakin besar. penentuan lokasi dari bahan galian yang akan dilakukan penambangan.. Jelas di sini bahwa cakupan royalti dalam KK lebih sempit dibandingkan dengan pengertian konsep PNBP tersebut.

ada dua alasan yang mendasari hal tersebut. Perhitungan dan penyetoran kewajiban iuran eksploitasi (royalti) telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam KK. Menurut kedua kontraktor. emas. Proses ini dilakukan untuk memisahkan dan meningkatkan konsentrat. · Filtration Plant. Dan termasuk di dalam jenis bahan galian vital. Bahan galian ini disebut juga golongan bahan galian B sesuai dengan Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian. selanjutnya melalui pipa dengan tekanan air dikirim ke bagian filtration plant. Pasal 13 KK menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi Universitas Indonesia Analisis potensi. konsentrat bercampur air ditampung dalam discharge tank dan dilakukan pengepresan melalui dua buah filter press sehingga kadar air yang tersisa dalam konsentrat mencapai kadar 9%–12% dari berat konsentrat. Kemudian proses loading dari penyimpanan konsentrat ke kapal dilakukan dengan belt conveyor. yaitu: 1. 2009. . baik menurut Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara maupun Article 3 angka 1 Japanese Mining Law Nomor 289. Berdasarkan data-data hasil penelitian lapangan diketahui bahwa kontraktor (PT FIC dan PT NNT) hanya menyetorkan royalti atas mineral tembaga. FE UI. dan perak sedangkan unsur mineral ikutan lainnya tidak dibayar royaltinya. melalui belt conveyor dikirim ke tempat penyimpanan konsentrat (concentrate stockpile). Dari proses produksi di atas diketahui bahwa hasil produksi perusahaan berupa konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung beberapa mineral ikutan. Diagram alur proses produksi tersebut dicantumkan pada Lampiran 5.48 butiran halus. 20 December. Seluruh unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga di atas termasuk dalam pengertian mineral. 1950 Latest Amendment In 1962.. JokoSudiarto. Sedangkan menurut Pasal 34 ayat (2) Undangundang Nomor 4 Tahun 2009 pengusahaan pertambangan tembaga termasuk dalam pertambangan mineral logam.. yaitu bahan galian yang dapat menjamin hajat hidup orang..

. Beberapa logam bahkan dikategorikan sebagai pengotor konsentrat (impurities) sehingga. Dan perusahaan hanya menerima pembayaran dari pembeli atas tiga mineral ikutan yaitu tembaga. . PT Universitas Indonesia Analisis potensi. Pendapat tersebut diuraikan berikut ini. Hal ini bukan merupakan upaya untuk mendapatkan nilai ekonomis dari sulfur.. smelting yang melakukan upaya ini semestinya mendapatkan insentif karena berhasil menekan tingkat polusi dan bukannya diwajibkan memberikan kompensasi kepada penjual konsentrat. Namun demikian. Simon Sembiring dalam Buku Jalan Baru Untuk Tambang: Mengalirkan Berkah Bagi Anak Bangsa (2009: 149) menguraikan bahwa peleburan dan pemurnian konsentrat tembaga di Indonesia. dilakukan oleh PT Smelting Gresik Copper Smelter & Refinery yang sahamnya 25 % dimiliki PT FIC dan sisanya perusahaan Jepang (Mitsubishi Material Corporation 60. Beberapa smelter saat ini dapat mengolah sulfur untuk dimanfaatkan oleh perusahaan petrokimia dengan syarat lokasi pengolahan sulfur berdekatan dengan lokasi pabrik petrokimia. pembeli hanya bersedia membayar logam yang terkandung di dalam konsentrat yang dapat diproses lebih lanjut secara ekonomis sehingga mendatangkan penghasilan bagi pengolah konsentrat (smelter). Ltd 5%). justru perusahaan dikenakan penalti.49 untuk kadar mineral hasil produksi.5 % dan Nippon Mining & Metals Co. hanya ada di Gresik. jika kandungannya melampaui ambang batas. FE UI. 2. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. Dalam praktik perdagangan konsentrat.5 %. melainkan merupakan upaya untuk meminimalkan dampak polusi yang diakibatkan oleh buangan sulfur dari pabrik smelting.. Mitsubishi Corporation 9. JokoSudiarto. Dengan demikian. dan perak. 2009. Dalam konsentrat tembaga terdapat beberapa logam di luar tembaga. terdapat beberapa pendapat yang mengatakan bahwa hampir semua unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga tersebut dapat dimanfaatkan atau hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga. emas. emas dan perak yang berdasarkan teknologi saat ini tidak memiliki nilai ekonomis untuk diolah lebih lanjut.

Indonesia saat ini hanya menyerap sepertiga konsentrat tembaga yang dihasilkan PT FIC yang sebesar 2. Hal tersebut senada dengan Laporan Tim Optimalisasi Penerimaan Negara Tahun 2007. Sedangkan produk sampingannya adalah terak (molten slag). Pada proses peleburan dan converting.6 juta ton per tahun dan cuma sebagian kecil konsentrat dari PT NNT. FE UI.99%. . dan instalasi pengolahan air limbah.. yakni smelter plant (pabrik peleburan).50 Smelting didirikan pada Februari 1996. Konsentrat tembaga umumnya mengandung besi (Fe) antara 21. acid plant (pabrik asam sulfat).22%. Lalu. yang langsung dijual kepada PT Petrokimia Gresik sebagai bahan baku pembuatan pupuk. Produk sampingan lainnya adalah gypsum dengan kapasitas 20 ribu ton/tahun yang digunakan untuk campuran semen dan dijual ke pasar internasional. Copper slag berupa kerak juga bisa dijual ke industri pembuatan kertas pasir. dimana kadarnya (copper grade) dari 28-30% dinaikkan menjadi 99. sulfur (SO2). refinery plant (pabrik pemurnian). yakni: 1. besi teroksidasi membentuk besi oksida Universitas Indonesia Analisis potensi. terdiri dari empat plant. kerak tembaga (copper slag) dengan kapasitas 530 ribu ton/tahun. 2. Produk utama PT Smelting Gresik adalah katoda tembaga (copper cathode). Dengan demikian. Ini membuktikan bahwa sebenarnya kita bisa mengubah dari raw material menjadi konsentrat dan selanjutnya sampai dengan end product yang dimanfaatkan industri hilir. JokoSudiarto. Ada dua hal penting yang diuraikan dalam buku tersebut. pabrik tersebut mengubah konsentrat menjadi copper cathode. dari smelter ini diperoleh produk sampingan (by-product) berupa belerang (sulfur) dengan kapasitas 700 ribu ton/tahun. Namun sayangnya... 2009. gipsum. Kedua.25. emas dan perak. hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga. 3. yang mengandung bahan substitusi untuk pabrik semen sebagai pengganti sebagaian pasir besi yang merupakan bahan baku pembuatan semen. yang menjelaskan proses produksi pada PT Smelting Gresik. selenium dan tellurium. dan ditemukan dalam senyawa dengan logam tembaga dan belerang. yaitu: Pertama.93% .

membentuk terak. 5. FE UI. dan lainnya. Hal tersebut dapat dilihat pada diagram alur proses peleburan konsentrat tembaga yang dilampirkan pada Lampiran 6. Pada waktu proses peleburan dan converting. bornit (Cu5FeS4). kalsium. 2009. asam sulfat. Terak yang dihasilkan dijual kepada PT Semen Gresik (Persero) sebagai bahan baku pembuatan semen. kapur (CaO). belerang menjadi bagian gas buang sebagai belerang oksida (S02). Geological Survey Open-File Report 2004-1395. magnesia (MgO) alumina (AI2O3) dan lain-lainnya. dalam jumlah yang sama unsur mineral besi dan sulfur. pirit (FeS2) dan terikat dengan unsur-unsur ikutan lainnya. Konsentrat tersebut mengandung 25% – 35% unsur mineral tembaga. Demikian juga pendapat dari Thomas G. Sementara itu Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) ITB dalam Buku Laporan Akhir “Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Universitas Indonesia Analisis potensi. Pada pabrik peleburan PT Smelting Gresik. JokoSudiarto.. gipsum.95% dan ditemukan dalam mineral kalkopirit (CuFeS2). Kandungan belerang di dalam konsentrat tembaga berkisar antara 29. dan silikon. Gas buang yang dihasilkan oleh pabrik peleburan tersebut diproses lebih lanjut untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gypsum (CaS042H2O). kovelit (CuS). digenit (CU5S9). Selanjutnya pada proses peleburan konsentrat tembaga akan menghasilkan beberapa produk yang tidak jauh berbeda dengan hasil produksi PT Smelting Gresik. gas SO2 dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk dan gipsum yang dijual ke PT Petrokimia Gresik.51 (FeO) yang kemudian bersama-sama senyawa silika (SiO2). oleum. yakni seperti slag. 4.S. kalkosit (CuS).70% - 30.. Dari proses tersebut jelas bahwa hampir semua unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga dapat dimanfaatkan.. bahwa pengusahaan pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga. Goonan dalam makalah yang berjudul “Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting” yang diuraikan pada U. . Pada intinya hampir seluruh unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga dapat dimanfaatkan atau hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga. persentase yang lebih kecil unsur aluminium.

Unsur-unsur tersebut adalah logam tembaga (Cu). 2009. antara lain: arsen (As). jelas bahwa mineral ikutan pertambangan tembaga yang layak dikenakan royalti adalah unsur mineral sulfur dan besi karena Universitas Indonesia Analisis potensi. . dan lain-lain. Hal tersebut di atas didukung oleh pendapat instansi atau pihak yang kompeten. seng (Zc). Unsur Unsur-unsur atau senyawa yang tidak dibayar dan tidak dikenakan denda. Dalam buku tersebut disebutkan juga bahwa unsur besi dalam proses peleburan terikat kuat dengan oksida-oksida lainnya di dalam terak. JokoSudiarto.. gipsum dan dijual kepada PT Petrokimia Gresik. walaupun kandungannya besar. Pada pabrik peleburan PT Smelting limbah terak yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan semen dan dijual kepada PT Semen Gresik. Demikian juga dengan unsur belerang. Terdiri dari senyawa ikutan dan unsur-unsur pengotor baik logam maupun non logam. Pada pabrik peleburan PT Smelting gas SO2 yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk. yang akan dikenakan denda apabila melebihi kandungan maksimum yang disepakati. maka unsur-unsur yang ada di dalam konsentrat tembaga tersebut dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok sebagai berikut: 1. Unsur-unsur atau senyawa yang dikenakan denda. bismut (Bi). Departemen Keuangan dan BPK. bahan sand blasting. Sedangkan untuk unsur-unsur pengotor pada umumnya tidak ekonomis lagi untuk diolah lebih lanjut. timbal (Pb).52 Konsentrat Tembaga PT FIC” mengemukakan bahwa ditinjau dari segi pemasaran konsentrat tembaga. logam emas (Au) dan logam perak (Ag).. yaitu Departemen ESDM. Berdasarkan uraian di atas. 3.nH2O). unsur belerang ini menyatu dalam gas buang (SO2) dan apabila diproses lebih lanjut akan menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gipsum(CaSO4. FE UI. 2. Unsur-unsur atau senyawa yang dihargai atau dibayar. dimana mereka menyatakan setuju apabila seluruh mineral ikutan tambang tembaga dikenakan royalti. Unsur-unsur tersebut adalah belerang (S) dan besi (Fe).. yaitu masing-masing berkisar antara 25-30%. Matrik rangkuman pendapat instansi/ahli yang kompeten dilampirkan pada Lampiran 7.

. Cara inilah yang lazim diterapkan sesuai dengan kondisi perusahaan.. antara lain royalti di bidang pertambangan. Dengan kata lain hanya negara yang berhak menentukan besarnya tarif PNBP bahkan bisa saja tanpa kompromi dengan pihak ketiga. yaitu: Pertama. maka royalti tersebut dapat dihitung dengan dua cara. misalnya 3% dari harga jual. siapapun yang telah mengusahakan pertambangan dan memanfaatkan hasilhasilnya harus dikenakan royalti. Sesuai dengan pendapat dari Departemen ESDM sebagai regulator atau instansi yang berwenang menetapkan tarif royalti atas pemanfaatan sumber daya alam. Artinya royalti tersebut tergantung dari apa yang telah Universitas Indonesia Analisis potensi. baik sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan ataupun yang tidak bisa dimanfaatkan tetap harus diwajibkan membayar ke negara sebagai pemilik sumber daya alam tersebut. royalti dihitung berdasarkan persentase tertentu dari harga jual.53 kedua unsur inilah yang dapat diproses lebih lanjut dan dimanfaatkan/dijual. Hal tersebut juga telah ditekankan pada Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP bahwa salah satu PNBP adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. dikenakan atas pemanfaatan sumber daya alam (dalam hal ini adalah pengusahaan pertambangan). Dan sesuai dengan prinsip PNBP bahwa semua PNBP seharusnya mutlak hak negara artinya negaralah yang mempunyai “bargaining power” lebih besar. JokoSudiarto. Siapapun yang mengambil sumber daya alam dari dalam perut bumi Indonesia. FE UI. 2009. . Jelas di sini bahwa makna atau substansi pasal tersebut yaitu royalti di bidang pertambangan yang merupakan salah satu PNBP.3. 4.. berapapun yang diambil dari dalam bumi Indonesia seharusnya dikenakan royalti. langkah selanjutnya adalah menghitung perkiraan royalti tersebut berdasarkan data-data periode 2003-2007. Apalagi dengan mineral ikutan pertambangan tembaga yang jelas-jelas dapat dimanfaatkan dan mempunyai nilai jual. Artinya. Perkiraan Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga Setelah mengetahui alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti dari mineral ikutan tembaga.

demikian juga sebaliknya. Menentukan tarif. Jadi fluktuasi royalti tergantung dari harga jual dan pendapatan perusahaan. Misalnya Sulfur dengan range sebear 25-36% maka IC rata-rata sebesar 30. Royalti = tarif x jumlah satuan Dimana. FE UI. IC rata-rata dari nilai ”range” kandungan mineral yang disepakati oleh penjual dan pembeli. karena harga jual atau nilai ekonomis mineral tersebut sulit sekali diestimasi. JokoSudiarto. .90/ton (PP 58/1998). Artinya setiap 1 ton konsentrat tembaga diperkirakan mengandung unsur mineral Sulfur sebesar 0. harga jual yang diperoleh adalah harga produk jadi hasil proses lanjutan dari mineral tersebut. yaitu untuk mineral sulfur sebesar USD4.. Kedua. royalti dihitung berdasarkan fixed rate dengan formula berikut ini.00/ton (KK . Berat atau jumlah ton atau kg mineral yang dijual. Menghitung jumlah satuan yaitu berat dalam ton atau kg masing-masing mineral ikutan dalam konsentrat yang dijual. IC rata-rata per bulan dari realisasi Universitas Indonesia Analisis potensi. Jadi IC rata-rata ini merupakan nilai perkiraan kandungan masingmasing mineral dalam konsentrat. Ada dua IC yang dapat digunakan.50%.305 ton. Apabila pendapatan perusahaan mengalami kenaikan maka royaltipun akan naik. Kedua. 2. hal ini sangat sulit bahkan tida bisa diterapkan untuk mengestimasi potensi royalti yang hilang atas mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga. Dimana. Dalam hal ini penulis menggunakan tarif yang ada pada Lampiran KK atau PP 58/1998. Langkah-langkah cara perhitungan royalti adalah sebagai berikut: 1. misalnya harga asam sulfat dan gipsum. 2009. Tarif Jumlah satuan : : USD per ton atau per kg. Namun demikian.54 diterima perusahaan atas pemanfaatan sumber daya alam tersebut (pendapatan perusahaan). Dari hasil penelitian lapangan. berat masing-masing mineral diperoleh dari Ingredient Content (IC) dikalikan dengan berat konsentrat yang dijual..Lampiran G) dan untuk mineral besi sebesar USD2. yaitu Pertama..

metode yang digunakan untuk menentukan IC adalah metode rata-rata sederhana. begitu seterusnya. T) : S = a + bE + cP + dT + Є Universitas Indonesia Analisis potensi. sehingga untuk memperkirakan berat masing-masing mineral yang terkandung dalam konsentrat yang dijual. . Misalnya IC triwulan I merupakan rata-rata IC bulan Januari. 2005.d. Dalam hal ini. penulis tidak memperoleh data IC rata-rata per bulan. 2009. yang selanjutnya digunakan untuk mencari IC rata-rata triwulanan pada periode yang bersangkutan. FE UI.. dalam Ton) : S = f (E.. SULFUR Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara jumlah penjualan Emas (dalam Kg). Langkah berikutnya. misalnya penjualan Tembaga sebanyak 1 ton maka kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual sebanyak sekian ton. S : Variabel tidak bebas (kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual. Selanjutnya dikalikan dengan berat konsentrat yang dijual (dalam Ton) untuk memperoleh berat masingmasing mineral yang terkandung dalam konsentrat tersebut. 2005 (Fitted Value). Periode 2006 dan 2007. JokoSudiarto. yang akan diuraikan berikut ini.d. P. Penulis hanya memperoleh data IC rata-rata per bulan untuk periode 2003 s. Fungsi Model Dimana. Februari dan Maret. artinya IC yang digunakan untuk menghitung perkiraan potensi royalti per triwulan adalah IC rata-rata tiga bulan sebelumnya.. mengalikan tarif dengan berat masing-masing mineral untuk memperoleh nilai perkiraan royalti periode 2003 s. Perak (dalam Kg). penulis menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan EVIEWS. dan Tembaga (dalam Ton) dengan kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).55 kandungan masing-masing mineral dalam setiap produksi konsentrat. Diagram cara perhitungan potensi royalti dicantumkan pada Lampiran 8.

Perak (dalam Ton).1214 0.79318 R-squared 0.60203 1204. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta atau intersep dalam suatu model ekonometrika kurang mempunyai makna yang berarti namun demikian apabila dihilangkan model menjadi Universitas Indonesia Analisis potensi.Sulfur Dependent Variable: S Method: Least Squares Date: 11/28/09 Time: 19:40 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std. dan Tembaga (dalam ton) per bulan selama periode 2003 sampai dengan 2005. dalam Kg) Variabel bebas 3 (jumlah penjualan Tembaga. dan kriteria ekonometrika. Hasil run model dengan EVIEWS diuraikan sebagai berikut. c.990396 S. seperti dicantumkan pada Lampiran 9. Selanjutnya.6695 F-statistic Durbin-Watson stat 1.42608 18. kriteria statistik.994901 E -322. .8823 202.39 23497.5765 3.0000 81006.103 0. dependent var S.755876 0.525 2.98 18.0012 0.991219 Mean dependent var Adjusted R-squared 0.555364 T 0.70E+08 Schwarz criterion Log likelihood -327. d : Data-data yang diperoleh adalah data-data kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual (dalam Ton) dan jumlah penjualan Emas (dalam Ton).064094 11.E.851 1514. 0. JokoSudiarto. 2009..56 E P T a Є : : : : : Variabel bebas 1 (jumlah penjualan Emas. Error t-Statistic C 4535.. Tabel 12: Hasil Run Model 1 .0053 0.000000 Evaluasi model di atas adalah sebagai berikut: 1. Untuk menentukan model yang terbaik dilakukan dengan cara cobacoba (try and error) dan setiap model dievaluasi berdasarkan kriteria ekonomi. of regression 2302.. berdasarkan data-data tersebut dilakukan run model dengan EVIEWS.591337 P 883.776507 Prob(F-statistic) Prob. dalam Kg) Variabel bebas 2 (jumlah penjualan Perak. dalam Ton) Konstanta (intersep) Koefisien regresi Error peramalan b.804 Akaike info criterion Sum squared resid 1.9000 -1. FE UI.7799 248.D.

JokoSudiarto. terdapat variabel bebas (E) yang tidak signifikan terhadap variabel tidak bebas (S).591337 lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. Artinya variabel bebas berbanding lurus dengan variabel tidak bebas. Hal ini sesuai dengan reasoning dari model tersebut. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Merupakan ukuran persentase total variasi dalam variabel tidak bebas Universitas Indonesia Analisis potensi. Perak dan Tembaga) sangat signifikan mempengaruhi Sulfur. Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan nilai F-statistik terhadap F-tabel dengan derajat bebas n-2 pada tingkat kepercayaan α tertentu. .204. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial.96. FE UI.96. Dengan demikian variabel bebas secara keseluruhan (Emas.10 jauh lebih besar daripada F-tabel (F-tabel menunjukan angka 4). Sementara itu.535. jika variabel bebas naik maka variabel tidak bebas juga akan naik demikian sebaliknya.85.79 atau lebih besar daripada 1. yaitu dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas dari model.57 kurang bagus dan cara menginterprestasikannya sesuai dengan masalah atau topik dari model tersebut.88.. Untuk model di atas konstanta mempunyai nilai positif sebesar 4. masing-masing t-statistik menunjukkan angka 3. karena t-statistik menunjukkan angka -1. Pengujian Model Secara Keseluruhan. Pada model di atas terdapat koefisien variabel bebas yang tidak sesuai dengan reasoning-nya. yaitu koefisien variabel bebas Emas dengan nilai sebesar -322.. variabel bebas yang lain (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S). bahwa koefisien variabel bebas bernilai positif. Alat uji yang digunakan adalah Fisher Test atau uji F.. 2009. 2.96). Pada tabel 12 di atas. Nilai F-statistik sebesar 1. Koefisien Variabel Bebas Sesuai dengan reasoning dasar. Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan nilai t-hitung atau tstatistik masing-masing variabel bebas terhadap t-tabel dengan derajat bebas n-2 pada tingkat kepercayaan α tertentu (misalnya pada tingkat kepercayaan α=5% maka t-tabel menunjukan angka 1.55 dan 11. Oleh karena itu harus dicoba lagi dengan model baru.

8316000.196935 Adjusted R-squared 0.4583 4713693. sebaliknya jika nilai R2 mendekati 0 berarti model tidak dapat diandalkan..15457 1.004110 R-squared 0. Nilai R2 berkisar mulai dari 0 sampai dengan 1.312635 Std.790130 4140700.4359 0.D. Akibatnya pengujian F dan t cenderung tidak signifikan.185275 0.005468 0.E.329929 0.030784 S. FE UI.2240 0.2399 Durbin-Watson stat 2. 0. -1.751631 Mean dependent var S.784332 2553722.94E+15 Log likelihood -620. 2009. Sum squared resid 1. 34.83 T -347.3907 T^2 0.. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas adalah variasi error peramalan (et) tidak sama untuk semua pengamatan. .Sulfur White Heteroskedasticity Test: F-statistic 1.00 P 3640809. 3.089660 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 01/01/10 Time: 18:38 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -10498772 E -3173309.879274 82601. Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Sulfur dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 99.242621 105952.58 dijelaskan oleh variabel bebas.070894 1052.3865 0.925 -0. Jika nilai R2 mendekati 1 berarti model makin dapat diandalkan.84666 35. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob. Nilai adjusted R2 sebesar 0.04 %.341532 0. of regression 8187001.82 -1.281081 0.7438 0. JokoSudiarto.990396 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Emas.341532 Universitas Indonesia Analisis potensi. E^2 83716. P^2 -88457.185275 Probability Obs*R-squared 7.2930 0. Error t-Statistic 13385616 -0.4392 0.2 0. Heteroskedastisitas akan muncul dalam bentuk et yang semakin besar kalau nilai variabel bebas makin besar/kecil. Tabel 13: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 .. 0. Hasil pengujian heteroskedastisitas dicantumkan pada tabel di bawah ini.

seluruh variabel bebas tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2..975980 0.975980 0.7913%.877059 0.000000 0. Model tersebut di atas tidak ada masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1. Hal ini mengakibatkan nilai t-statistik variabel bebas E yang tidak signifikan. Pengujian Autokorelasi Autokorelasi menyatakan adanya hubungan atau korelasi data-data pengamatan. masalah multikolinieritas tersebut harus diatasi dengan cara mengeluarkan variabel bebas E dari model tersebut. Pengujian Multikolinieritas Multikolinieritas artinya ada hubungan atau korelasi yang cukup kuat antara sesama variabel bebas dalam model.591 masih jauh lebih kecil dari pada nilai t-tabel sebesar 1.8349%. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG menunjukkan tidak ada masalah autokorelasi kedua dan ketiga.888349 0. Model tersebut di atas terdapat masalah multikolinieritas yang ditunjukan pada tabel berikut. Dengan kata lain munculnya suatu data dipengaruhi oleh data sebelumnya. nilai d.000000 0.. Tabel 14: Korelasi Variabel Bebas .Sulfur S E P 1.59 Pada tabel tersebut. karena nilai kuadrat seluruh variabel bebas lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. Universitas Indonesia Analisis potensi.887913 1. 2009. jika nilai d=2 atau mendekati 2 dapat dianggap tidak terdapat masalah autokorelasi.2635% jauh di atas 5%. Di samping itu. dan P dengan T sebesar 96. JokoSudiarto. FE UI.000000 S E P T Dimana hubungan antara variabel bebas E dengan P sebesar 88. Nilai d berkisar antara 0 sampai dengan 4.776507 sudah mendekati 2.993777 0.96 dan probabilitasnya sebesar 31. Oleh karena itu.888349 0. Alat uji yang digunakan adalah statistik Durbin-Watson (DW). menurut Tabel 12 nilai t-statistik variabel bebas E sebesar -1..000000 0.968532 1.8532%. Hal ini ditunjukkan dalam tabel hasil pengujian BG berikut ini.968532 T 0.877059 1. E dengan T sebesar 88.887913 0.993777 0.96 (tingkat kepercayaan α=5%). . Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.

0569 0.68E+08 Schwarz criterion Log likelihood -327.9243 0.189 Akaike info criterion Sum squared resid 1. 0.8007 3.. JokoSudiarto.60 Tabel 15: Hasil Uji BG Model 1 .010180 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.79088 0.857716 0. dependent var S.0000 Universitas Indonesia Analisis potensi. Error t-Statistic C 5730. Dari hasil evaluasi terhadap model di atas.Sulfur Dependent Variable: S Method: Least Squares Date: 11/28/09 Time: 19:45 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std.6100 0.8975 0.50187 Prob.730596 0.129962 P 0.195013 T 0.2568% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi. yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0.368002 lebih kecil daripada 1.063520 11.7155 -9.. .095813 RESID(-1) 0.96.154790 S.159441 E 27.068823 -0. Hasil run model tersebut dicantumkan pada tabel dibawah ini.684 0. of regression 2366.914 1345. Tabel 16: Hasil Run Model 2 . Variable Coefficient Std.421434 RESID(-2) -0.D.6764 0.0002 0.8744 0. 2009.061708 0.072584 0.997208 Pada tabel tersebut. FE UI. 0.205723 0.5313 246.901 18.52696 18.4853 F-statistic Durbin-Watson stat 1.832568 Prob.E.368002 R-squared 0.002740 T -0. Error t-Statistic C 271.154270 Probability Obs*R-squared 0.3186 1701.0031 0.Sulfur Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.739876 270.006594 0..413 4.95E-12 2201.086699 0.9978 0.89122 214. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 83.366480 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 01/01/10 Time: 18:39 Presample missing value lagged residuals set to zero.259593 P 788. dapat disimpulkan bahwa model tersebut harus diubah dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas sehingga model menjadi S = a + bP + cT + Є.421434 dan -0. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan variabel bebas error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID.197239 -0.894822 Prob(F-statistic) 0.

JokoSudiarto.. Pengujian Model Secara Keseluruhan. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0.96. Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut.44669 18. kriteria statistik.724. FE UI. Seluruh variabel bebas (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S). dan kriteria ekonometrika. Hasil evaluasi secara ringkas dapat diuraikan berikut ini.798 0. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 5.91.662 1.39 23497.83E+08 -329. .D.990524 0.99 %. pada model kedua ini pun dilakukan evaluasi model berdasarkan kriteria ekonomi. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t-statistik masing-masing sebesar 3. Nilai F-statistik sebesar 1. 1.000000 Seperti halnya model pertama.730. Universitas Indonesia Analisis potensi. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial.50187 lebih besar daripada 1. Koefisien Variabel Bebas Seluruh koefisien variabel bebas bernilai positif artinya variabel bebas tersebut mempunyai hubungan positif dengan variabel tidak bebas.57865 1724. dengan demikian secara keseluruhan variabel bebas tersebut sangat signifikan mempengaruhi Sulfur.989950 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Sulfur dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98. 2009. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat 0.195013 dan 11..989950 2355. 2.798 jauh lebih besar daripada F-tabel sebesar 4.61 R-squared Adjusted R-squared S.690929 Mean dependent var S.0404 1. Hal ini sudah sesuai dengan reasoning dasarnya.E.. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 81006.98 18.

Error t-Statistic 15884976 -0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas disajikan dalam tabel berikut. 11247839 35. Tabel 17: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .7 -0.0655 T^2 0.. Pengujian Autokorelasi Model di atas tidak mempunyai masalah autokorelasi pertama karena nilai Universitas Indonesia Analisis potensi.923 -0. Probabilitasnya 47.515374 0.743405 1453.096913 Adjusted R-squared -0..62 3.380647 5477628.007570 0. of regression 11357613 Sum squared resid 4.8532%. Namun demikian. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.004411 R-squared 0. 2009.019614 S.441048 108999.273787 0.582711 Mean dependent var S. 0.E.831676 0..45692 35. seluruh kuadrat variabel bebas (P^2 dan T^2) tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2 yang ditunjukkan dengan nilai t-statistik sebesar -0.831676 Probability Obs*R-squared 3.7861 0. FE UI. tidak perlu dilakukan perubahan pada model tersebut karena variabel bebas sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas. Pengujian Multikolinieritas Sama dengan model pertama.Sulfur White Heteroskedasticity Test: F-statistic 0.743405 dan 0.515374 Pada tabel tersebut.67685 0.488867 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 12/30/09 Time: 18:32 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -6046563. baik secara parsial maupun keseluruhan.2246 Durbin-Watson stat 2.5643 5086716.9573% jauh lebih besar daripada 5%.7061 0. JokoSudiarto.D.96.6622 0.061956 0.93 T -398. . P^2 -81030.479573 Std.00E+15 Log likelihood -633. ada masalah multikolinieritas pada model di atas yang ditunjukkan dengan hubungan antara variabel bebas P dengan T sebesar 96.4628 0. 0. P 2415896.582711 lebih kecil daripada ttabel sebesar 1.

5823 1474.E.78E+08 Schwarz criterion Log likelihood -328. Variable Coefficient Std.01% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi.368 18.989950 F-sta = 1.730.384082 R-squared 0.159 0.195013 DW = 1.59407 263. dependent var S.3957 0.9652 0.066725 -0. FE UI.193501 0..658996 0.044000 T -0..798 Persamaan regresi tersebut digunakan untuk mengestimasi jumlah kandungan Universitas Indonesia Analisis potensi.53089 18.Sulfur Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.422699 Probability Obs*R-squared 0.75083 0. dapat ditentukan model yang terbaik yaitu model kedua dengan persamaan regresi sebagai berkiut: S = 5.185783 -0.8007 0. Error t-Statistic C 399.939529 Prob(F-statistic) 0.50187 t-sta 3.099060 S.D.4996 -0. Tabel 18: Hasil Uji BG Model 2 .5313P + 0.63 DW=1.9770 0.384082 jauh lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. berdasarkan evaluasi kedua model di atas.955691 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 12/30/09 Time: 18:30 Presample missing value lagged residuals set to zero.620118 Prob. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 62.861327 dan -0. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG tidak menunjukkan adanya masalah autokorelasi kedua dan ketiga. Dengan demikian.690929 R2 = 0. 246. Hal ini ditunjukan dalam tabel hasil pengujian BG di bawah ini. JokoSudiarto.91 + 788.7881 0. 2009. of regression 2397. Di samping itu. .271058 P -11.690929 sudah dekat dengan 2.986 Akaike info criterion Sum squared resid 1.211350 0.724.730596T Se..026547 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.930158 Pada tabel tersebut.166668 0. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0. 0.53E-12 2287.071356 0.063520 11.001936 0.7035 2.861327 RESID(-2) -0.029010 RESID(-1) 0.96.5561 F-statistic Durbin-Watson stat 1.

89 790. : : B = f (E. c. P. 2004 216. 2007. dalam Ton) E P T a b.98 806.745.382. 2009.524. T) B = a + bE + cP + dT + Є . estimasi tersebut ditampilkan pada tabel berikut.16 4.53 808..00 2. dalam Ton) Konstanta (intersep) Koefisien regresi Error peramalan Universitas Indonesia Analisis potensi. dalam Kg) Variabel bebas 2 (jumlah penjualan Perak.903.273.Periode 2006 – 2007 menggunakan persamaan regresi tersebut (Ekstrapolasi). d Є : : : : : : Variabel bebas 1 (jumlah penjualan Emas. JokoSudiarto. FE UI..283.054.463.74 1.. Fungsi Model Dimana. Tabel 19: Perkiraan Kandungan Sulfur dalam Konsentrat Perak Tembaga No Tahun Kandungan Sulfur (Ton) (Ton) 1.76 5.158.00 830. 2005 289.514.008.Rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10.241.496. dalam Kg) Variabel bebas 3 (jumlah penjualan Tembaga.Periode 2003 – 2005 menggunakan Fitted Value atau data historical.d.073. misalnya penjualan Tembaga sebanyak 1 ton maka kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual sebanyak sekian ton.00 854. .523. 2003 244. .729. Berdasarkan data-data yang diperoleh periode 2003 s. BESI Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara jumlah penjualan Emas (dalam Kg).00 1.202.00 3. Perak (dalam Kg). B : Variabel tidak bebas (kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual.00 836.00 4.98 4.14 Penjelasan: . 2007 226.834.653.247.536.00 1. 2006 226.539.130.218.00 988.38 Jumlah 1. dan Tembaga (dalam Ton) dengan kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).64 Sulfur dalam setiap ton konsentrat yang ditentukan oleh jumlah penjualan Perak dan Tembaga.

0. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 3. seperti dicantumkan pada Lampiran 11.051606 11.40712 R-squared 0. yaitu koefisien variabel bebas Emas dengan nilai sebesar -274. Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut.0015 0.8808 163.D.911684 Prob(F-statistic) Prob.128537 E -274.0037 0.433 Akaike info criterion Sum squared resid 1.519 3.825 0.685340 P 706.E. Perak (dalam Ton). Hasil run model dengan EVIEWS diuraikan pada tabel berikut. Koefisien Variabel Bebas Pada model di atas terdapat koefisien variabel bebas yang tidak sesuai dengan reasoning dasarnya. .8808. Oleh karena itu harus dicoba lagi dengan model baru.588676 0.238. FE UI.72 18.86 18315.0403 203. of regression 1866. yaitu dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas dari model.Besi Dependent Variable: B Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:46 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std.989616 S.1069 3.00588 18..1017 0.11E+08 Schwarz criterion Log likelihood -320.0000 63559. dependent var S.65 Data-data yang diperoleh adalah data-data kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual (dalam Ton) dan jumlah penjualan Emas (dalam Ton).238 1234.. Error t-Statistic C 3862.990506 Mean dependent var Adjusted R-squared 0.000000 Sama dengan model-model sebelumnya. JokoSudiarto.862. Universitas Indonesia Analisis potensi. Tabel 20: Hasil Run Model 1 . 2009.476200 T 0..1059 F-statistic Durbin-Watson stat 1.18183 1112.1010 -1. dan Tembaga (dalam ton) per bulan selama periode 2003 sampai dengan 2005. maka evaluasi model di atas secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Berdasarkan data tersebut akan dilakukan run model dengan cara coba-coba dan evaluasi setiap model agar diperoleh model yang terbaik.

249983 0. FE UI. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0.064877 Probability Probability 0. Sementara itu. 3. karena t-statistik menunjukkan angka -1. Dengan demikian variabel bebas secara keseluruhan (Emas. Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Besi dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98.96... .989616 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Emas.48 dan 11. masing-masing t-statistik menunjukkan angka 3. 2009. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial.685340 lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1.96 %.66 2. Perak dan Tembaga) sangat signifikan mempengaruhi Sulfur. Tabel 21: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 – Besi White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 01/02/10 Time: 05:25 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std. terdapat variabel bebas (E) yang tidak signifikan terhadap variabel tidak bebas (B).112.41 atau lebih besar daripada 1.233389 Universitas Indonesia Analisis potensi.825 jauh lebih besar daripada F-tabel (4). Pada tabel 18 di atas. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas dicantumkan pada tabel di bawah ini. Pengujian Model Secara Keseluruhan. 1.96. Error t-Statistic Prob. variabel bebas yang lain (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S). Nilai F-statistik sebesar 1. JokoSudiarto..395385 8.

JokoSudiarto. -54874.6162 -0.224024 0.78%.197800 65679. Di samping itu.74 2171012. dan P dengan T sebesar 96.15 0.000000 0.887827 0.3183 0.395385 0.Besi B E P 1. 8.993349 0.875783 1. menurut Tabel 18 nilai t-statistik variabel bebas E sebesar -1. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG menunjukkan tidak Universitas Indonesia Analisis potensi. 5506573.002816 0.968532 T 0. .4941 0.887827 0.000000 0. seluruh variabel bebas tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2.975541 0.85%.3356 0.4929 0.4289 0.911684 sudah mendekati 2.003555 0.29577 1. 33. 45484.063478 5328935.975541 0.08%.D.993349 0.E. Pengujian Multikolinieritas Model tersebut di atas terdapat masalah multikolinieritas yang ditunjukan pada tabel berikut.3389% jauh di atas 5%..7816 2. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.4348 3096508. karena nilai kuadrat seluruh variabel bebas lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1.000000 B E P T Dimana hubungan antara variabel bebas E dengan P sebesar 89.685340 masih jauh lebih kecil dari pada nilai t-tabel sebesar 1. -1.694567 1613311.16 -1.24E+14 -604.99 -215.000000 0. -1932425. Hal ini mengakibatkan nilai t-statistik variabel bebas E yang tidak signifikan.015429 684.792070 Mean dependent var S. E dengan T sebesar 88.67 C E E^2 P P^2 T T^2 R-squared Adjusted R-squared S. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat -6060897.96. -0.7554 0.802371 54041. Pengujian Autokorelasi Model tersebut di atas tidak ada masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1.96 dan probabilitasnya sebesar 23. masalah multikolinieritas tersebut harus diatasi dengan cara mengeluarkan variabel bebas E dari model tersebut. 2009... Tabel 22: Korelasi Variabel Bebas .249983 Pada tabel tersebut.2407 0. 0.890851 1. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 0.98787 34.968532 1.875783 0.890851 0. Oleh karena itu. FE UI.692529 2705746.387767 8726156.314535 0.

022729 Probability Obs*R-squared 0.9817 0.68 ada masalah autokorelasi kedua dan ketiga. Hasil run model tersebut dicantumkan pada tabel dibawah ini.055794 -0. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan variabel bebas error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID.012281 0.197226 -0. dapat disimpulkan bahwa model tersebut harus diubah dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas sehingga model menjadi B = a + bP + cT + Є.D.003539 0.001513 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.208301 lebih kecil daripada 1.96.2657 0.0787 F-statistic Durbin-Watson stat 1. 2009.208301 R-squared 0. 0.059704 dan -0. .041082 0.999974 Pada tabel tersebut.185 Akaike info criterion Sum squared resid 1.010015 P 14.11248 1386.009092 0.973134 Prob. dependent var S.023162 E 1.430 -0.E.9951 0..205692 -0..9921 0. FE UI.9498 0.064081 T -0. Tabel 24: Hasil Run Model 2 .11E+08 Schwarz criterion Log likelihood -320.28971 222.054468 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 01/02/10 Time: 05:39 Presample missing value lagged residuals set to zero. of regression 1926.651 18.02E-11 1784. Dari hasil evaluasi terhadap model di atas..Besi Dependent Variable: B Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:52 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Universitas Indonesia Analisis potensi. Hal ini ditunjukkan dalam tabel hasil pengujian BG berikut ini.725232 172.164902 S.063430 RESID(-1) -0.9528 0.37940 0. yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar -0. Error t-Statistic C -32. Variable Coefficient Std. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 97.9493 0.8364 1.3134% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi. JokoSudiarto.059704 RESID(-2) -0. Tabel 23: Hasil Uji BG Model 1 – Besi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.977544 0.900213 Prob(F-statistic) 0.11548 18.

of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 4911.69 Variable C P T R-squared Adjusted R-squared S.6367 1.72 18.718 0. FE UI.E.989037 1917. . Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial.. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 4.D.. Koefisien Variabel Bebas Seluruh koefisien variabel bebas bernilai positif artinya variabel bebas tersebut mempunyai hubungan positif dengan variabel tidak bebas.01170 lebih besar daripada 1.053424 dan 11.829596 Std.16733 1579.0001 0. dengan demikian secara keseluruhan variabel bebas tersebut sangat signifikan mempengaruhi Besi.911.771 1..9232 0.01170 Prob. Nilai F-statistik sebesar 1.61.569439 0.0044 0.316 200.053424 11. 2. 2009.989663 0. 0.718 jauh lebih besar daripada F-tabel sebesar 4. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Hasil evaluasi secara ringkas dapat diuraikan berikut ini. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t-statistik masing-masing sebesar 3. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0.96.614 613.0000 63559.484197 3. Error 1095.86 18315. Seluruh variabel bebas (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S).051712 t-Statistic 4. Hal ini sudah sesuai dengan reasoning dasarnya.000000 Mean dependent var S.03537 18.5036 0.989037 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Perak dan Tembaga Universitas Indonesia Analisis potensi. 1.21E+08 -321. JokoSudiarto. Pengujian Model Secara Keseluruhan.579.

FE UI.96.49 T -250. 7586419.740612 dan 0.445397 Pada tabel tersebut.005069 S. . 3.87485 0. Universitas Indonesia Analisis potensi. 2009.955869 0. P 1505859.79E+15 Log likelihood -618.65492 34.412452 Std.353437 3668092.445397 0.003045 R-squared 0. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.5525 3371359.70 dapat menjelaskan kandungan Besi dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98.2452% jauh lebih besar daripada 5%.4645 0.90 %.257634 0. JokoSudiarto.109796 Adjusted R-squared -0.D.145278 0.63 -0. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas disajikan dalam tabel berikut. Sum squared resid 1..Besi White Heteroskedasticity Test: F-statistic 0.410529 72991.600583 Mean dependent var S.E. Pengujian Multikolinieritas Ada masalah multikolinieritas pada model di atas.740612 973.7984 0. Probabilitasnya 41.955869 Probability Obs*R-squared 3. of regression 7605623.6842 0.. 0..8371 T^2 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob. akan tetapi tidak perlu dilakukan perubahan pada model tersebut karena variabel bebas sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas. baik secara parsial maupun keseluruhan. seluruh kuadrat variabel bebas (P^2 dan T^2) tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2 yang ditunjukkan dengan nilai t-statistik sebesar -0. 0.6195 -0.7262 0. 34. Tabel 25: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .600583 lebih kecil daripada ttabel sebesar 1. Error t-Statistic 10637371 -0.7886 Durbin-Watson stat 2.952653 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:53 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -3759641.005069 0. P^2 -54058.

989037 F-sta = 1.. Error t-Statistic C 142.614 + 613.96.9065 0.055076 -0.718 Universitas Indonesia Analisis potensi.01170 2 t-sta 3.903502 Prob.194172 0.186253 -0.036911 0.579. 2009.35% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi.829596 sudah dekat dengan 2.948770 Prob(F-statistic) 0. berdasarkan evaluasi kedua model di atas.9881 0.911.742 0.71 Pengujian Autokorelasi Model di atas tidak mempunyai masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1.118366 P -3. Di samping itu.172 18.279239 217.016798 RESID(-1) 0.202954 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:53 Presample missing value lagged residuals set to zero.Besi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.198175 R-squared 0.9232 0.015087 T -0.916099 0.051712 11. .8442 1.5349 F-statistic Durbin-Watson stat 1.14083 18.996151 Pada tabel tersebut.5036P + 0.122667 S.36076 0. dapat ditentukan model yang terbaik yaitu model kedua dengan persamaan regresi sebagai berkiut: B = 4.21E+08 Schwarz criterion Log likelihood -321.000925 0.569439T Se.043939 0.9867 0. Hal ini ditunjukan dalam tabel hasil pengujian BG di bawah ini.005638 Mean dependent var Adjusted R-squared -0. Tabel 26: Hasil Uji BG Model 2 . 200. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0.370476 RESID(-2) -0. FE UI.071936 0.8370 1206.21E-11 1862.198175 jauh lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. Dengan demikian.053424 DW = 1. of regression 1973. hasil uji BG tidak menunjukkan adanya masalah autokorelasi kedua dan ketiga. Variable Coefficient Std. JokoSudiarto.829596 R = 0.. 0.D.7135 0.E..3603 -0. dependent var S.370476 dan -0. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 90.087879 Probability Obs*R-squared 0.082 Akaike info criterion Sum squared resid 1.

2007. Tabel 27: Perkiraan Kandungan Besi dalam Konsentrat Perak Tembaga No Tahun Kandungan Besi (Ton) (Ton) 1.616.132.633.233. 2003 244.956.882. 2004 216. Universitas Indonesia Analisis potensi.00 1.954. 2005 289.00 1.454.98 806.514.130.16 1.244.436.90 2.00 3.00 836.00 3. .539.57 1.830.054.86 Jumlah 1.40 2. .Besi Besi (Ton) Tarif (USD/Ton) Perkiraan Royalti (USD) 773.903.35 1.76 5.218. 2006 226. 2006 5. maka langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah perkiraan potensi royalti dari masing-masing unsur mineral. Perkiraan potensi royalti tersebut ditampilkan pada tabel berikut ini. 2009.729.118.76 808.00 773.12 3.04 3.158.082.463.082.633. No Tahun Tabel 28: Perkiraan Potensi Royalti .23 649.16 3.74 846. JokoSudiarto. 2006 5.00 830.90 2.073.453.00 854. rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10. Berdasarkan data-data yang diperoleh periode 2003 s. 2003 2.536.72 Persamaan regresi tersebut digunakan untuk mengestimasi jumlah kandungan Besi dalam setiap ton konsentrat yang ditentukan oleh jumlah penjualan Perak dan Tembaga.Rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 12.058.16 1.90 2.093. 2007 Jumlah Penjelasan: tarif royalti sesuai dengan PP58/1998.40 674.89 649.523. Setelah jumlah kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat yang dijual dapat diperkirakan.417.160.916.456. 2005 4.98 4.363.109.283.38 4.Sulfur Sulfur (Ton) Tarif (USD/Ton) Perkiraan Royalti (USD) 988.00 4.745. No Tahun Tabel 29: Perkiraan Potensi Royalti .00 1.980.14 4.00 4.00 4.36 Penjelasan: .496.Periode 2006 – 2007 menggunakan persamaan regresi tersebut (Ekstrapolasi). estimasi tersebut ditampilkan pada tabel berikut.616.967.76 672. 2007 Jumlah Penjelasan: tarif royalti sesuai dengan KK..53 18. 2004 3.59 10.486.86 3.06 2.00 790.247.12 846. 2005 4.834.653.019.108.949.202. FE UI.292.90 2.36 2.d.241.00 4.00 1. rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 12.00 3..53 672.Periode 2003 – 2005 menggunakan Fitted Value atau data historical.524.00 674. 2003 2..008.019. .830.872.109.273. 2004 3.00 4. 2007 226.340.363.90 2.23 4.382.

358.058.06 USD 37.. Royalti dari mineral ikutan tambang tembaga dapat dikenakan kepada kontraktor.16). Alternatif ini lebih menguntungkan buat Pemerintah RI.397. 2007 diperkirakan sebesar USD28.456 ons · Perak USD5.258.55 USD 747.021.119. Berdasarkan data penjualan tersebut.430 ons Nilai jual (logam) Royalti = 2 % X USD 37.78844 X 25. Pihak smelter. Pihak Kontraktor.57 + USD10.242 X 62. Jika kontraktor menjual hasil tambang berupa logam emas.691.545.d.436. FE UI.346.46 USD 327. dibandingkan tarif royalti menurut KK. yaitu: 1.486.166.346.73 (USD18. Untuk hasil pertambangan tembaga diterapkan dua tarif. perak.251 X 57.. tembaga atau unsur mineral lainnya maka dikenakan royalti dengan tarif 2% dari harga jual produk jadi tersebut.838 lbs · Emas USD296.009. royalti yang dibayar oleh PT FIC sebesar USD401.378. Hal ini dapat dijelaskan dengan contoh perhitungan royalti pada halaman 42.358. 2009..03 USD 17.73 Jadi potensi royalti dari mineral ikutan tembaga (sulfur dan besi) yang belum tergali untuk periode 2003 s.93 2. Tarif yang digunakan dapat mengambil contoh tarif yang berlaku di Negara Afrika Selatan (Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill: 2006).980. JokoSudiarto. .166. Ada dua alternatif pemecahan masalah untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari royalti tersebut.55 : : : : : USD 20.60 (perhitungan pada halaman 42).93 dengan rincian sebagai berikut: · Tembaga USD0.456. Sedangkan royalti menurut tarif di atas sebesar USD747. yaitu apabila kontraktor menjual hasil tambang berupa bijih atau konsentrat tembaga maka dikenakan tarif sebesar 4% dari nilai konsentrat tersebut. Pihak smelter tidak bisa dikenakan royalti karena mereka bukan pihak Universitas Indonesia Analisis potensi.

pihak kontraktor sebagai pemegang KK selain melakukan penambangan juga diwajibkan untuk melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan. agar pihak smelter dapat dikenakan royalti maka smelter tersebut juga harus sebagai pemegang KK (kontraktor). yaitu menerima hasil produk sampingan dari sulfur dan besi. FE UI.. Universitas Indonesia Analisis potensi. Artinya.. JokoSudiarto. Oleh karena itu. .. Hal tersebut sejalan dengan Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menyebutkan bahwa pemegang KK yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan di dalam negeri selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak undang-undang ini diundangkan.74 pemegang KK yang mempunyai hak untuk mengeksplorasi tembaga. 2009. akan tetapi merekalah yang telah menerima manfaat dari mineral ikutan tembaga.

JokoSudiarto. Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa dari proses peleburan konsentrat tembaga. besi. FE UI. dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Sesuai dengan UU No. 3.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. kontraktor menerima pembayaran dari pembeli hanya atas tiga mineral tersebut sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dihargai oleh para pembeli. hampir tidak ada unsur mineral dalam konsentrat tembaga yang 75 Analisis potensi.L.. 2009. tembaga... sulfur. Dari proses produksi pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung unsurunsur mineral seperti emas. perak. Kontraktor hanya membayar royalti dari mineral emas. Pasal 13 KK menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar royalti untuk kadar mineral hasil produksi. royalti yang harus dibayar oleh pihak kontraktor atas besarnya volume atau nilai sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor tersebut. Bahkan menurut David C. dan lain-lain.1. Kandungan masing-masing unsur mineral tersebut ditentukan oleh Ingredient Content (IC) yang merupakan syarat yang disepakati oleh pembeli dan penjual. Cakupan KK mengenai royalti lebih sempit dibandingkan dengan Prinsip PNBP. Universitas Indonesia . perak dan tembaga sedangkan unsur mineral lainnya tidak dibayarkan royalti. Kontrak Karya yang berlaku untuk pengusahaan pertambangan tembaga tidak optimal buat Indonesia. Nellor. 2. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. Hal ini terjadi karena dalam memasarkan konsentrat tembaga. Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya. 20 Tahun 1997 tentang PNBP menyebutkan bahwa salah satu PNPB adalah royalti dari pemanfaatan sumber daya alam di bidang pertambangan.

50187 t-sta 3.d. FE UI. Sesuai dengan prinsip PNBP. Sulfur S = 5. 2005. sehingga untuk memperkirakan jumlah satuan masing-masing mineral ikutan tersebut. Sesuai pendapat Departemen ESDM sebagai regulator dan instansi yang berwenang menetapkan tarif royalti.730. Sulfur dan besi dapat diproses lebih lanjut yang akan menghasilkan produk sampingan berupa asam sulfat. terutama sulfur dan besi. gipsum dan terak. Produk tersebut dapat dijual kepada pabrik pupuk sebagai bahan baku pupuk dan kepada pabrik semen sebagai pengganti sand blasting.5313P + 0..91 + 788.76 tidak dimanfaatkan. penulis menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan program EVIEWS berdasarkan data-data periode 2003 s.730596T Se.. Penulis tidak memperoleh data IC rata-rata per bulan pada periode 2006 – 2007. 246. penulis memperoleh data IC rata-rata per bulan sehingga jumlah satuan masing-masing mineral ikutan langsung dapat dihitung (Fitted Value)..d. JokoSudiarto. 5.063520 11. Dari run model dengan EVIEWS diperoleh hasil bahwa jumlah perak dan tembaga yang dijual (dalam ton) sangat signifikan mempengaruhi kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga yang dijual. Tarif royalti dapat digunakan tarif yang ada pada Lampiran KK atau PP 58/1998. . potensi royalti dari mineral sulfur dan besi dapat dihitung berdasarkan tarif dikalikan jumlah satuan. 2009. Diagram cara perhitungan perkiraan potensi royalti dicantumkan pada Lampiran 8.989950 F-sta = 1.724. Sedangkan jumlah satuan yang merupakan berat masing-masing mineral ikutan. mineral sulfur dan besi seharusnya dapat dikenakan royalti. Artinya jumlah kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga yang dijual dapat diperkirakan dengan persamaan berikut ini. 4. diperoleh dari IC rata-rata per bulan dikalikan dengan jumlah konsentrat tembaga yang dijual.690929 R2 = 0.195013 DW = 1. Periode 2003 s.798 Universitas Indonesia Analisis potensi.8007 0. 2005.

misalnya Afrika Selatan sehingga lebih menguntungkan negara. Potensi masing-masing mineral ikutan disampaikan berikut ini.36 Jumlah Penjelasan: rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10 dan 12. Terdapat dua alternatif pemecahan masalah untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari royalti tersebut. .77 Besi B = 4. 2005 berdasarkan Fitted Value dan untuk periode 2006-2007 berdasarkan Ekstrapolasi.436.14 3..989037 F-sta = 1. Jumlah Satuan (Ton) 4. dimana untuk periode 2003 s.16 28.5036P + 0. mengenakan royalti kepada kontraktor dengan tarif mengacu (best practice) negara lain.053424 DW = 1.569439T Se.058. agar pihak smelter dapat dikenakan royalti maka smelter tersebut juga harus sebagai pemegang KK (kontraktor).436.019.514.d.911.73 7. Mineral Sulfur Besi Tarif (USD/Ton) 4. P T S B 6. : : : : jumlah penjualan Perak (dalam Ton) jumlah penjualan Tembaga (dalam Ton) kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual (dlm Ton) kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual (dlm Ton) Berdasarkan langkah-langkah tersebut di atas.456.616.57 10. FE UI.01170 t-sta 3.. 2009. yaitu: Pertama.73. No.614 + 613..00 2. JokoSudiarto.051712 11. maka potensi royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga diperkirakan sebesar USD28.745.545.90 Perkiraan Royalti (USD) 18.486.980. Kedua.829596 R2 = 0.718 Dimana. pihak kontraktor sebagai pemegang KK selain melakukan penambangan juga diwajibkan untuk melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan. Artinya. 200. Hal ini Universitas Indonesia Analisis potensi. 2.545.579. 1.9232 0.

Melaksanakan amanat Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menyebutkan bahwa pemegang KK yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan di dalam negeri.. serta pengujian jumlah dan kualitas produk yang dihasilkan oleh pabrik pengolah konsentrat tembaga.78 sesuai dengan amanat Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Tarif tersebut dapat mengacu (best practice) negara lain. agar: 1. FE UI. Saran Dari hasil pembahasan dan simpulan di atas. Menetapkan tarif royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga beserta cara-cara perhitungan royaltinya. misalnya Afrika Selatan atau tarif lain berdasarkan hasil penelitian dan pengujian di atas sehingga penerimaan royalti tersebut lebih menguntungkan Pemerintah RI.. oo0oo Universitas Indonesia Analisis potensi. 3.. 2. 5. Melakukan penelitian dan pengujian yang lebih detail dan akurat atas jenis dan kadar mineral ikutan yang terkandung dalam konsentrat tembaga. 3 dapat dilaksanakan.2. JokoSudiarto. . Melakukan negosiasi kepada pihak kontraktor (pemegang KK) untuk merevisi klausul kontrak karya sehingga saran nomor 2 s. 4. penulis menyarankan kepada Pemerintah RI yang dalam hal ini diwakili oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.d. 2009.

MPKP FEUI.. Bandung.treasury.za) Eriyatno dan Sofyar.. Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Konsentrat Tembaga PT Freeport Indonesia Company. Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill – 2006.gov. 1995 Departement National Treasury Republic of South Africa. Jakarta. Washington D. Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting. US Geological Survey Report 2004-1395. Hukum Pertambangan di Indonesia. Tax Policy Hand Book: User Charges. Jakarta. (www. IPB Press. 2007 Goonan. Gerwin.C. Laporan Akhir.DAFTAR PUSTAKA Badan Pemeriksa Keuangan. 2005 Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat ITB. 2004 H Salim HS. Thomas G. Bogor.. Ekonometrika Terapan. FE UI. Virginia. Tax Policy Division Fiscal Affairs Department International Monetary Fund. Analisis Regresi. Ekonometrika Dasar. . Edisi Revisi. Zain. Riset Kebijakan Metode Penelitian Untuk Pascasarjana. Fadjar. 1978 Hendranata. 2005 Gujarati. 2009. JokoSudiarto. Jakarta. Sumarno. Damodar. PT Raja Grafindo Persada. Penerbit Erlangga. Hasil Pemeriksaan atas Pengelolaan PNBP dari Iuran KK pada Departemen ESDM dan PT Freeport Indonesia Tahun Anggaran 2004 dan 2005. Jakarta. 1999 Analisis potensi. 2006 Bell. Anton.

. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif dan Analisis potensi. Jakarta....... 2009 ....... Remaja Rosdakarya.. Penerbit Erlangga.. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. Tax Policy Hand Book: Environmental Taxes..... Edisi Revisi. Edisi Kelima........... 1995 Pemerintah RI.. Jakarta... Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara..... Metode Penelitian Kualitatif.. Richard A and Musgrave...... Washington D...... Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)...L... Undang-undang Republik Indonesia.. 2003 .... Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara...... 2004 Musgrave...... JokoSudiarto......C........... Keuangan Negara Dalam Teori dan Praktek... Bandung.... Jakarta.. 2003 . Jakarta. ........... Jakarta. Lexy J.Moelong.... Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.. David C... FE UI..... 2009.. 1993 Nellor. Undang-undang Republik Indonesia. 1967 ...... Jakarta. Tax Policy Division Fiscal Affairs Department International Monetary Fund... Peggy B.. Undang-undang Republik Indonesia.... Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan Umum..... 1997 . Undang-undang Republik Indonesia..... Jakarta. 2000 .....

. 1980 Sembiring. Yogyakarta.. 2007. Edisi 11. Analisis Kebijakan Publik. Laporan. Jakarta.. Edisi Kedua. Metode Penelitian Administrasi.... 2002 Winarno. Bandung. Jakarta. Teori dan Proses Kebijakan Publik. 2009 Analisis potensi. Budi.. FE UI.. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian. Simon.. Jakarta. Alfabeta... 1998 . JokoSudiarto. Winarno.. 2009 Sugiyono.. . Pemenuhan Kewajiban Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Atas Perusahaan Pelaksana Kontrak Karya (PT Newmont Nusa Tenggara). 2004 Suharto..Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. Edi. Yogyakarta.. Elex Media Komputindo... Media Pressindo... 2005 Tim Optimalisasi Penerimaan Negara.. UPP STIM YKPN. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EVIEWS. Wing Wahyu.. Alfabeta. Bandung.. 2009.. Jalan Baru Untuk Tambang: Mengalirkan Berkah Bagi Anah Bangsa..

89 289.02 692.827.30 54.41 Konstanta 0.911.90 2.14 85.141.157.98 Tembaga (T) Ton 273.620.86 3. 3.650.256.040.36 447.344.d.363.00 58.59 846.829.208.070.90 2.00 277.216.00 244.954.00 51.00 50.922.76 202.539.410.00 836.01 238.949.911.376.044.271. Kandungan Besi dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2003 s.08 366.382.653.071.00 74.PERHITUNGAN ESTIMASI ROYALTI .77 146.02 164.419.97 362.14 168.00 216.060.911.37 210.202.158.80 1.90 2.45 229.397.100.218.61 2.130.24 425.830.261.00 213.296.633. .61 4.00 74.05 118.00 226.420.118.D.61 4.911.155.082.202.57 x T Ton 214.356.812.04 115.436.53 830.461.61 55.59 246.00 70.00 43.00 226..90 2.61 32.332.496.119.00 86.833.742.008.36 2.536.12 154.343.62 223.568.108.90 2.301.98 70.246.95 649.911..08 104.524.90 2.102.925. 2007 Penjualan No.877.48 45.911.00 299.99 42.763.00 202.12 185.16 Penjelasan: 1.352.00 47.09 142.90 2.67 773.00 157.143.863.351.056.71 124.90 2.00 1.96 34.453.82 672.70 666. 2007 60.247.00 588.389.00 289.29 108. 2005 memakai data historical atau Fitted Value 2.58 190.834.900.88 154.59 10. 4.82 59.90 2.08 37.456.713.d.00 1.68 649.572.616.681.024. Estimasi royalti dihitung dengan cara fixed rate (tarif tetap).268.27 1.00 149.523.956..330.BESI PERIODE 2003 S.781.00 68.486.93 94.00 715.61 4.96 1.00 57.53 4.868.89 249.00 247.16 4.00 806.75 126.17 609.767.00 190.855.287.16 301. Periode Perak (P) Kg Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2003 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2004 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2005 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2006 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.74 165.675.358.531.90 USD/Ton 2.882.06 538.600.d.61 4.42 177.020.23 131.941.481.054.454.499.90 2.90 2.386. JokoSudiarto.572.00 290.00 286.911.00 32.90 2.165.83 2. 2009.61 4.996.916.00 230.260.641.82 674.64 163.617.90 2. Tarif royalti berdasarkan Kontrak Karya dan PP tentang tarif royalti.72 488.00 120.290.566.35 381.48 223.00 72.908.40 103.90 2.11 4.700.244.06 472.90 2.90 2. FE UI. 2007 didasarkan pada formula atau Ekstrapolasi .00 207.00 41.496.90 2.019. yaitu tarif royalti dikalikan dengan tonase kandungan besi.651.68 75. Kandungan Besi dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2006 s.313.911.903.183.109.340.050.27 1.108.222.12 515.90 2.07 551.098.63 x P 0.00 59.08 647.634.844. Analisis potensi.95 448.00 52.94 316.61 4.00 186.463.846.22 40.017.90 Lampiran 12 Kandungan Besi Tarif Estimasi Royalti USD 620.133.143.00 183.

097 36.736 43.608 60.084 67. Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton).030 72.582 91.534 77.923 46.112 121.958 71.331 102. 2005 Tahun 2003-1 2003-2 2003-3 2003-4 2003-5 2003-6 2003-7 2003-8 2003-9 2003-10 2003-11 2003-12 2004-1 2004-2 2004-3 2004-4 2004-5 2004-6 2004-7 2004-8 2004-9 2004-10 2004-11 2004-12 2005-1 2005-2 2005-3 2005-4 2005-5 2005-6 2005-7 2005-8 2005-9 2005-10 2005-11 2005-12 B 59..424 83.285 109.495 128. Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg).049 30.695 103.041 110.277 75..981 79.823 55.591 82.093 67. Sumber Data : 1 Laporan ESDM 2 Laporan Perusahaan (PT FIC dan PT NNT) 3 Laporan LPKM ITB Analisis potensi.503 68.838 65.049 68.918 74.895 96.249 53.127 51.D.392 78. TEMBAGA TAHUN 2003 S.339 82.143 84.225 99.915 85.281 62.099 99.000 90.786 37. Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg).500 48.756 61. .370 57.679 56.697 127.530 98.189 78.250 51.. JokoSudiarto.839 70.759 9 10 10 17 19 B E P T Kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).314 87.659 72.733 48. 2009.DATA PENJUALAN EMAS.582 56.437 27.954 54.230 61.457 88.821 E 7 5 14 11 12 15 16 10 14 6 3 7 2 2 4 3 6 8 6 5 8 5 8 13 8 5 10 10 12 7 9 P 19 15 27 23 21 26 28 19 25 13 12 16 8 7 17 12 17 21 20 18 21 17 25 32 17 14 29 25 25 19 23 24 28 22 35 30 Lampiran 11 T 79.000 104. FE UI.955 44.811 78.259 102.928 79.831 47.243 42.937 30.649 85.630 26.447 58.366 66. PERAK.801 63.350 67.535 86.

04 211.218.568.290.00 4.91 5.00 4.00 3.572.00 4.273.99 42.399.82 59.268.08 1.565.218. yaitu tarif royalti dikalikan dengan tonase kandungan besi. 2005 memakai data historical atau Fitted Value 2.PERHITUNGAN ESTIMASI ROYALTI .107.38 4.070.713.283.48 808.900.463.00 72.00 280.630.953. 4.410.132.054.158.133.00 319.00 50.00 Lampiran 10 Kandungan Sulfur Tarif Estimasi Royalti USD 1.514.742.00 70.00 4.904.202.460.218.925.241.730.00 854.954.00 216.85 784.834.382.74 165.875.00 213.d.496.141.00 USD/Ton 4..286.00 1.00 283.202.00 149.98 70.00 836.56 147.00 226.618.600.271.00 304.53 18.00 47.039.46 707.94 185.524. . 2009.00 4.165.00 4.00 4.00 74.152.700.00 57.00 1.102.00 4.730.00 286.903.00 299.762.53 4.91 41.00 207. 2007 didasarkan pada formula atau Ekstrapolasi .730.19 149.246.038.00 250.160.76 243.89 249.00 4.524. 3.143.00 41.144.556.00 167.00 988.00 68.00 86.044.68 75. Periode Perak (P) Kg Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2003 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2004 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2005 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2006 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.79 x P 0.729.48 5.81 139.00 220. 2007 60. FE UI.00 1.785.00 186.98 Tembaga (T) Ton 273.00 806.617.198.362.14 4.00 247.09 181.46 196.00 32.358..139.183.00 4.00 656.136.767.417.00 232.00 284.00 4.292.00 1.00 930.763.247.45 151.130.520.049.00 202.472.49 Konstanta 0.523.996.92 3.SULFUR PERIODE 2003 S.564.332.00 244. JokoSudiarto.916.22 40.91 5.572.D.30 54.844.251.08 37.331.615.397.812.00 4. Analisis potensi.396.922.812.003.d.00 186.78 598.496.218.187.730.00 4.730. 2007 Penjualan No.872.04 974.00 1.301.00 4.980.599.00 226.00 190.539.344.132.562.020.00 670.84 202.91 5. Kandungan Sulfur dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2003 s.093.57 Penjelasan: 1.00 59.954.967.499.941.536.89 289.00 4.726.028.91 5.d.00 4.233.477.00 290.82 34.00 746.313.00 157.00 521.00 183.420.276.687.730.78 742.00 52.46 109.00 1.93 120.11 176. Estimasi royalti dihitung dengan cara fixed rate (tarif tetap).073.00 120.00 289.641.855.38 809.00 164.00 1.00 277.00 4.00 4.00 43.94 316.890.80 1.352.166.33 790.916.650.320.664.745..53 830.008.122.48 45.00 130. Kandungan Sulfur dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2006 s.00 230.00 1.00 51.776.080.73 x T Ton 259.91 5.77 276.730.619.34 3.00 74.058.00 1.91 5.12 133.944.00 4.91 55.112.316.16 5.653.00 880.00 3.730.00 58.050.332. Tarif royalti berdasarkan Kontrak Karya dan PP tentang tarif royalti.

043 46.661 71.706 99.331 102.608 60.. .249 53. Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton).602 71.000 104.485 34.243 42.917 46.189 123.285 109.230 61.743 88.049 30.697 127.143 84.838 65.495 128.041 110. JokoSudiarto.424 83.918 74.000 90.736 43.225 99.645 78.695 103.457 88.D.839 70. TEMBAGA DAN SULFUR TAHUN 2003 S.267 74.281 62.999 100.169 86.971 105.812 56. 2009.706 71.534 77.259 102. FE UI.921 126.582 91.659 72.093 67.860 96.744 69.438 92.119 73.127 85.503 68.225 84.392 78.814 65. Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg). Sumber Data : 1 Laporan ESDM 2 Laporan Perusahaan (PT FIC dan PT NNT) 3 Laporan LPKM ITB Analisis potensi.823 61.DATA PENJUALAN EMAS.629 109.486 80.631 58.668 101.303 61.250 51.530 98.242 105. 2005 Tahun 2003-1 2003-2 2003-3 2003-4 2003-5 2003-6 2003-7 2003-8 2003-9 2003-10 2003-11 2003-12 2004-1 2004-2 2004-3 2004-4 2004-5 2004-6 2004-7 2004-8 2004-9 2004-10 2004-11 2004-12 2005-1 2005-2 2005-3 2005-4 2005-5 2005-6 2005-7 2005-8 2005-9 2005-10 2005-11 2005-12 S 76.884 61..215 91.692 33.759 9 10 10 17 19 S E P T Kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).387 111.937 30..649 85. PERAK.112 121.910 111.197 E 7 5 14 11 12 15 16 10 14 6 3 7 2 2 4 3 6 8 6 5 8 5 8 13 8 5 10 10 12 7 9 P 19 15 27 23 21 26 28 19 25 13 12 16 8 7 17 12 17 21 20 18 21 17 25 32 17 14 29 25 25 19 23 24 28 22 35 30 Lampiran 9 T 79.811 78. Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg).

Perkiraan Potensi Royalti periode 2003-2007 Analisis potensi. periode 2006-2007 Perkiraan Royalti periode 2003-2005 (Fitted Value) Perkiraan Royalti periode 2006-2007 (Ekstrapolasi) Penjelasan: 1...DIAGRAM CARA PERHITUNGAN PERKIRAAN POTENSI ROYALTI Lampiran 8 Tentukan Tarif Menghitung Jumlah Satuan Tentukan IC rata2 per bulan sesuai dg data yg diperoleh periode 2003-2007 Apakah ada IC tsb. Ya Tentukan IC per bulan sesuai data yg diperoleh periode 2003-2005 Tentukan kandungan mineral dlm konsetrat dg regresi berdasarkan data periode 2003-2005 Jumlah konsentrat yg dijual per bulan periode 2003-2005 Tentukan Model Kalikan IC dg jml konsentrat yg dijual periode 2003-2005 Run Model dg Program EVIEWS Kandungan mineral dlm konsentrat th.5%) merupakan angka perkiraan kandungan yg disepakati pembeli & penjual. .2006-2007 Kalikan tarif dg kandungan tsb. ? Tidak Data IC periode 2006-2007 tdk diperoleh. Alasan regresi: data yg digunakan lebih valid dan hasil lebih realistis. 3..2003-2005 Kandungan mineral dlm konsentrat th. kandungan mineral sulfur sebesar 25-36% (rata-rata 30. periode 2003-2005 Kalikan tarif dg kandungan tsb. Sedangkan IC rata-rata perbulan yg digunakan untuk data regresi mrpk rata-rata IC sesuai dg realisasi penjualan konsentrat. Tentukan alternatif lain. FE UI. JokoSudiarto. Misalnya. IC : Ingredient Content 2. 2009. Tarif sesuai dg KK dan PP 58/1998.

tembaga dan mineral ikutan lainnya konsentrat tembaga Unsur yg dibayar (emas. FE UI. perak. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. . perak. tembaga) Unsur yg tdk dibayar dan tdk dikenakan denda (belerang. - - konsentrat tembaga Emas.. konsentrat tembaga Emas.. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. Keu. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. perak. perak. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. perak. perak. JokoSudiarto. 6 Alasan tidak dibayar - Halaman 1 dari 3 Analisis potensi. tembaga dan mineral ikutan lainnya. perak. perak. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. konsentrat tembaga Emas. perak. ESDM belum pernah melakukan penelitian yg mendalam atas kandungan masingmasing mineral tsb. perak. perak. - Emas. 2009.. perak. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian dan mineral ikutan tsb tdk dibayar oleh pembeli. perak. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. ESDM Dep. Jumlah masingmasing mineral ditentukan oleh ingredient content. tembaga dan mineral ikutan lainnya. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. perak. BPK Perusahaan PT Smelting LPKM ITB Main Issues UMUM Hasil pertambangan tembaga Kandungan dlm konsentrat Dep.Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No I 1 2 Lampiran 7. besi) Unsur yg dikenakan denda (mineral ikutan lainnya) 3 4 5 Kewajiban yang termasuk PNBP dlm KK Mineral yang dibayar royalti Mineral yang tidak dibayar royalti Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. tembaga) Unsur tsb tidak dibayar oleh pembeli.

BPK - Main Issues Manfaat mineral ikutan lainnya Dep.. II 1 DASAR PENGENAAN ROYALTI ATAS MINERAL IKUTAN TEMBAGA Seluruh mineral ikutan dikenakan royalti Setuju. . hanya tiga unsur yg dibayar oleh pembeli (emas. tembaga) - 2 Dasar pengenaan royalti atas mineral ikutan lainnya KK. perak. Besarnya royalti ditentukan oleh negara sesuai dg PP. unsur tsb menjadi terak dan gas buang namun dpt dijual. - - 3 Perhitungan royalti atas mineral ikutan lainnya Persentase tertentu dari harga jual. UU ttg PNBP. Prinsip PNBP (user charges). UU ttg PNBP dan PP ttg tarif.Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No 7 Lampiran 7.. 2009. - - - Halaman 2 dari 3 Analisis potensi. - Dep. Lampiran G dlm KK. Bisa juga dg Fixed PNBP mrpk hak mutlak negara. Sesuai dg ketentuan yg ada. Seluruh sumber daya alam yg telah dimanfaatkan hrs dikenakan royalti. Perusahaan Merupakan unsur pengotor yg tdk bernilai ekonomis PT Smelting Dari proses peleburan. JokoSudiarto. PP ttg tarif. Sudah jelas ada sumber daya alam yg dimanfaatkan. Keu. UU ttg PNBP dan PP ttg tarif. hampir seluruh mineral tsb dpt dimanfaatkan dan dpt dijual. hrs dikenakan royalti. FE UI. ESDM ESDM blm pernah melakukan penelitian yg mendalam. namun hal ini sulit dilakukan krn mineral tsb tdk ada harga jualnya. namun hrs dengan addendum KK setuju setuju Tdk setuju krn mineral tsb tdak bernilai ekonomis Kurang tepat krn dlm perdagangan yg lazim. LPKM ITB Dari proses peleburan konsetrat tembaga..

Seluruh mineral ikutan dlm konsentrat tembaga hrs dikenakan royalti Pemerintah hrs melakukan negosiasi KK agar seluruh mineral dpt dikenakan royalti Mineral ikutan lainnya (selain emas. perak. perak. 2009. JokoSudiarto. 4 Simpulan Mineral ikutan lainnya dpt dikenakan royalti. sehingga sulit sekali menentukan nilai ekonomis masing-masing mineral tsb sebagai dasar perhitungan royaltinya. perak. BPK Perusahaan PT Smelting LPKM ITB Dep.. III 1 KELEMAHAN DAN KELEBIHAN Kelemahan · Pemerintah belum pernah melakukan pengujian atas jenis dan kadar mineral ikutan tembaga. Hal ini sulit sekali dilakukan karena pihak kontraktor bisa dipastikan tidak setuju. .Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No Main Issues Dep. ESDM rate (tarif tetap) dikalikan dg tonase. 2 Kelebihan · Perhitungan royalti dengan fixed rate.. · Pihak yang terkait dengan kontrak harus mematuhi seluruh terms and conditions yang tercantum dalam kontrak tsb. krn klausul KK menyebutkan demikian. tembaga) dpt dimanfaatkan dan dijual. FE UI. mudah dilaksanakan dan dapat diterapkan pada seluruh mineral ikutan tembaga. tembaga) tdk dikenakan royalti tetapi dikenakan pajak penghasilan. Mineral ikutan lainnya (selain emas. tembaga) tdk dibayar royalti.. Keu. namun hrs dg addendum KK. semua pihak yang terkait dapat saling mengecek dan menguji kewajaran jumlah royalti. Lampiran 7. Mineral ikutan lainnya (selain emas. sehingga untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tsb harus dengan addendum KK. · Dengan perhitungan yang sederhana. Halaman 3 dari 3 Analisis potensi. · Tidak terdapat potential loss atau royalti yang hilang karena seluruh mineral ikutan tembaga dikenakan royalti.

The data reported in the figure represent the weighted average copper-specific flows for all the smelters studied in this report. The steps----smelting. 2009. The total capacity of the smelters studied was 8... Smelting is a separating and value-adding process. converting. FE UI.Giagram Proses Peleburan Konsentrat Tembaga Lampiran 6 Figure: Copper-specific flow diagram of the smelting process. fire refining. ..3 mt of cast copper product. and casting----are taken together as a single process. Analisis potensi. JokoSudiarto.

Lampiran 5 Analisis potensi.. FE UI. 2009.. JokoSudiarto. ..

08 28 Apr 2005 27 Jul 2005 28 Okt 2005 31 Jan 2006 2.48 7. Jumlah US $ No.114.122.22 4.972.31 30 Apr 2003 31 Jul 2003 30 Okt 2003 29 Jan 2004 3.895.127.242.865.871.335.206.752.332.731.26 6.24 96.76 5.335.788.430.332.78 17.257.PT NEWMONT NUSATENGGARA Lampiran 4 REALISASI PENYETORAN ROYALTI PERIODE 2003 S.128.39 7.43 3.793.81 4.361.68 5.242.788.51 28 Apr 2006 27 Jul 2004 19 Okt 2006 30 Jan 2007 2.749.750.047.40 18.31 Tgl.775.793.127.895.24 96.542.020.731.39 7.78 17.190.059.187.274.22 4.571.010.542.037.81 4.123.997.73 30 Apr 2004 30 Jul 2004 29 Okt 2004 31 Jan 2005 4.380.51 TAHUN 2007 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.749.51 20.274.145.164.997.421.43 3.68 5.51 3.020.361.752.164.380.47 4.47 16. .370.D.47 16.460.451.451..87 24 Apr 2007 27 Jul 2007 30 Okt 2007 30 Jan 2008 - 3.880.218.51 20.22 7.114.22 7.08 TAHUN 2006 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2006 2.73 TAHUN 2005 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2005 2.546.871.50 6.11 4.829.746.40 23.87 Analisis potensi.128.187.865.978.047.978.972. 2007 Royalti Pokok US $ TAHUN 2003 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2003 3.526.257.40 23.010.d.145.750.40 18. 2007 Keterangan: Sumber data: Departemen ESDM dan Laporan PT Newmont Nusatenggara (diolah) 3.88 5.072. Periode TAHUN 2004 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2004 4.421.11 4. 2009.218.380.122.206.641.380. JokoSudiarto.50 6.26 6.430.59 5.460.59 5..037.546.654.571.654.775.76 5.526.059.51 3.641..190.47 4.88 5.829.746.370.48 7.123. FE UI.072.880.

50 7.24 24.93 35.779.115.05 47.953.955.676.460.96 134.840.68 22. Periode TAHUN 2004 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2004 4. 2007 Royalti Pokok US $ TAHUN 2003 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2003 6.997.21 17.41 133.928.96 134. Jumlah US $ No. 2007 Keterangan: Sumber data: Departemen ESDM dan Laporan PT Freeport Indonesia Company (diolah) 39.953.676.760.. JokoSudiarto.12 Analisis potensi.43 23.824.737.252.15 23.778.778.095.363.550.736.50 7.363.509.84 30.177.989.530.350.447..212.PT FREEPORT INDONESIA COMPANY Lampiran 3 REALISASI PENYETORAN ROYALTI PERIODE 2003 S.795.35 22.733.447.256.343.158.21 17.733.10 443.12 30 Mei 2007 27 Agust 2007 20 Nov'2007 28 Feb 2008 - 39.68 11.252.400.05 47.29 TAHUN 2007 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.83 3.83 3.497.15 23.063.922.56 51.343.350.720. 2009.135.795.519.01 Tgl.736.56 51.928.24 24.263.989.67 38.D.260.29 26 Mei 2006 28 Agust 2006 20 Nov'2006 28 Feb 2007 17. 2003 26 Feb 2004 6.249.227.263.315.689.670.760.732.35 22.115.177.41 133.158.19 48.530.135.795.720.732.249.43 23.534.d.315.026.737.46 9.537.85 TAHUN 2006 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2006 17.997.188.188.87 TAHUN 2005 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2005 22.260.534.519.68 11..46 9.605.44 7.85 27 Mei 2005 26 Agust 2005 18 Nop 2005 28 Feb 2006 22.689.497.460.509.063.54 102.779.54 102.537.400.212.19 48.670.095.68 22.93 35.10 443.840.026.01 29 Mei 2003 28 Agust 2003 20 Nov.550.922.87 27 Mei 2004 26 Agust 2004 26 Nov.729.605. FE UI.67 38. .44 7.824.84 30.729.795.256.955. 2004 28 Feb 2005 4.227.

30 Jun 2004 1 Jul 2004 s. 2009.00 Operasi 2004 1 Jan 2004 s.00 131. .600.63 Operasi 2006 1 Jan 2006 s.d.D.00 TOTAL TAHUN 2003 s.d.00 Operasi 2007 1 Jan 2007 s.d.600.d.00 87.540.00 Operasi 2005 1 Jan 2004 s.400.540. 31 Des 2006 31-Jan-06 31-Jul-06 87.086.00 3.400.00 3.482. 30 Jun 2003 1 Jul 2003 s. 14 Agt 2004 15 Agt 2004 s. 31 Des 2004 31-Jan-04 31-Jul-04 96.00 3.00 144. 2007 1.00 182 183 3.d.310..00 182 183 3. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.00 182 183 3.620. 31 Des 2003 31-Jan-03 31-Jul-03 96.200.00 3.600.00 96.600.00 262.540.50 278.310.00 289.400.PT NEWMONT NUSA TENGGARA Lampiran 2 PERHITUNGAN IURAN TETAP/DEADRENT PERIODE 2003 S.620.d.d.00 35.310.400.d. FE UI.63 Sumber Data : Perhitungan Perusahaan dan Laporan Hasil Audit Tim OPN Analisis potensi.d.d.00 96.446.00 131.310.00 144.00 3.. 31 Des 2007 31-Jan-07 31-Jul-07 87. 30 Jun 2007 1 Jul 2007 s.00 182 45 138 3. 2007 KEWAJIBAN IURAN TETAP (US$) TAHAP TAHUN PERIODE TANGGAL JATUH TEMPO LUAS (Ha) HARI TARIF/TH (US$) Operasi 2003 1 Jan 2003 s.13 98..400.540.00 144.00 182 183 3.00 262.540.00 131.200.600.00 289.00 144.00 87. JokoSudiarto. 30 Jun 2006 1 Jul 2006 s. 31 Des 2004 31-Jan-05 31-Jul-05 96.00 96.d.364.00 87.00 131.d.00 144.400.382.00 3.

425.00 304.00 0.950.425.00 608.00 TOTAL TAHUN 2003 s.d. 2009.5 0.00 202. 31 Des 2003 31-Jan-03 31-Jul-03 202.00 3.00 304.d.850.00 202.950. 31 Des 2006 31-Jan-06 31-Jul-06 202.00 304.425.00 0. 2007 3. TARIF/TH (US$) Operasi 2003 1 Jan 2003 s.950.00 608.950.425.00 3. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.00 202. . 30 Jun 2003 1 Jul 2003 s. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.950.5 0.00 0. FE UI.5 3.5 3..d.5 3.00 Operasi 2007 1 Jan 2007 s..00 608.d.00 0.D.00 304.00 3.d.PT FREEPORT INDONESIA COMPANY Lampiran 1 PERHITUNGAN IURAN TETAP/DEADRENT PERIODE 2003 S. 2007 KEWAJIBAN IURAN TETAP (US$) TAHAP TAHUN PERIODE TANGGAL JATUH TEMPO LUAS (Ha) THN.425.00 304.d.00 Sumber Data : Perhitungan Perusahaan dan Laporan Hasil Audit Tim OPN Analisis potensi.00 202.00 Operasi 2005 1 Jan 2004 s.00 Operasi 2006 1 Jan 2006 s. 31 Des 2007 31-Jan-07 31-Jul-07 202.. 30 Jun 2007 1 Jul 2007 s.00 304.00 608.850.950. 31 Des 2004 31-Jan-04 31-Jul-04 202.d. 14 Agt 2004 31-Jan-05 31-Jul-05 202.425.850.5 3.950.425.850.00 608.950.5 0.00 3.00 304.5 0.850.d.250.950.d.425.00 304.950.425.00 202.044.5 0.d.5 3.00 304. JokoSudiarto.00 304.d. 30 Jun 2006 1 Jul 2006 s.00 0.00 3.425.00 Operasi 2004 1 Jan 2004 s.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->