UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007

TESIS

JOKO SUDIARTO NPM 0606152604

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA PROGRAM MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK JAKARTA, DESEMBER 2009

Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007

TESIS Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi pada Program Magister Perencanaan Dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia

JOKO SUDIARTO NPM 0606152604

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA PROGRAM MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK JAKARTA, DESEMBER 2009

Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama NPM Tanda tangan Tanggal

: : : :

Joko Sudiarto 0606152604

Desember 2009

ii
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

..... DEWAN PENGUJI Pembimbing Penguji Penguji : : : B...D Arindra A...D Syarif Syahrial... Ph............ Zainal....... ... ..... JokoSudiarto. Raksaka Mahi......... . 2009..... Fakultas Ekonomi.... Ph..... Ditetapkan di Tanggal : : Jakarta Desember 2009 iii Analisis potensi...HALAMAN PENGESAHAN Tesis ini diajukan oleh Nama NPM Program Studi Judul Tesis : : : : Joko Sudiarto 0606152604 Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Analisis Potensi Royalti dari Mineral Pertambangan Tembaga Tahun 2003 ...... FE UI.........2007 Ikutan Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi pada Program Studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik.......... Universitas Indonesia................. ....

saran dan perbaikan untuk penyempurnaan materi Tesis ini. Istri dan anak-anakku tersayang Nabila. Semua pihak yang terkait dan telah banyak membantu dalam penyusunan tesis ini. penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. iv Analisis potensi.. JokoSudiarto. Tesis ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam rangka mencapai gelar Magister Ekonomi pada Program Pascasarjana di Universitas Indonesia. 4. Bapak Raksaka Mahi selaku Pembimbing. 2009. Rofif. dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan adanya kritik... 3. Tak lupa penulis juga ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada : 1.KATA PENGANTAR Segala puji syukur. Oleh karena itu. Bapak dan Ibu di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral yang sangat membantu dalam penyediaan data. Semoga Tesis ini bisa menambah dorongan semangat belajar bagi kalian. . Universitas Indonesia. Penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Yth. Bapak Direktur PNBP Departemen Keuangan. Jakarta. Yth. Hasna dan Ziva yang selalu memberikan motivasi serta doanya. Fakultas Ekonomi. sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Tesis dengan judul “ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007”. 2. FE UI. Bapak Ibu Dosen pada Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik. Yth. 5. yang dengan sabar dan penuh perhatian berkenan meluangkan waktu dan pikiran untuk membimbing dan memberi arahan hingga selesainya penyusunan Tesis ini.

. Desember 2009 Joko Sudiarto v Analisis potensi. FE UI. 2009. Jakarta.. .Selanjutnya. terutama bagi penulis sendiri.. penulis berharap Tesis ini dapat memperluas cakrawala ilmu pengetahuan dan memberi manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. JokoSudiarto.

. Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan. saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama NPM Program Studi Departemen Fakultas Jenis Karya : : : : : : Joko Sudiarto 0606152604 Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Ekonomi Ekonomi Tesis demi pengembangan ilmu pengetahuan..HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia. menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive RoyaltyFree Right) atas karya ilimiah saya yang berjudul: ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007 beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dibuat di : Pada Tanggal : Jakarta Desember 2009 Yang menyatakan Joko Sudiarto vi Analisis potensi. mengelola dalam bentuk pangkalan data (database). FE UI. mengalihmedia/ formatkan. . dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. 2009.. Demikian pernyataan saya buat dengan sebenarnya. JokoSudiarto. merawat.

Demikian juga dengan mineral ikutan pertambangan tembaga sudah semestinya dikenakan royalti. kontraktor hanya menyetorkan royalti atas mineral emas. namun belum dikelola secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cakupan KK pengusahaan pertambangan tembaga. Berdasarkan hasil penelitian ini. Dalam Kontrak Karya (KK) pengusahaan pertambangan tembaga. Universitas Indonesia . teknik pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan dan hasil survei. direkomendasikan untuk merevisi Pasal 13 kontrak karya yang kurang menguntungkan pihak Pemerintah RI. FE UI. Sesuai dengan prinsip PNBP yang ditegaskan dalam UU No.. Mineral Ikutan Pertambangan tembaga Undang-undang PNBP. Hasil analisis menunjukan bahwa hampir seluruh mineral ikutan pertambangan tembaga dapat dimanfaatkan dan mempunyai nilai jual.ABSTRAK Nama Program Studi Judul : Joko Sudiarto : Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik : Analisis Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Pertambangan Tembaga Tahun 2003 . menentukan alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan pertambangan tembaga dan perkiraan potensi royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga untuk periode 2003 2007.2007 Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang bersumber dari pertambangan umum merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat potensial. dan untuk memperkirakan besarnya kandungan mineral ikutan yang berada di luar sampel digunakan teknis forecasting menggunakan metode rata-rata dan analisis regresi linier sederhana. JokoSudiarto. 2009. Kata Kunci: Royalti. dimana cakupan KK mengenai royalti lebih sempit dibandingkan dengan prinsip PNBP tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan pendekatan penelitian kualitatif dan kuantitatif.20/1997 tentang PNBP bahwa semua pemanfaatan sumber daya alam harus membayar royalti. perak dan tembaga sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dikenakan royalti. Kontrak Karya vii Analisis potensi...

20/1997 about PNBP. the contractor is required only to pay royalty of gold. and copper. all minerals from the copper mining should also be levied to royalty. 2009... The result of the analysis to explain the reasons to levy royalty from other minerals. Thus. JokoSudiarto. silver. According to the principle of user charges as stated in the Law No. Base on this research. it is not optimally managed. but not for other minerals contained within the copper concentrate. and the technique forecasting has been used to estimate of other minerals contained within the copper concentrate. Universitas Indonesia . the extraction and usage of natural resources must be levied to royalty. Non Tax Government Revenue (PNBP) from mining is among one of the potential government revenues for Indonesia. which states that the scope of Contract of Work related to royalty is narrower than the principle of that user charges. it is recommanded to revise the Article 13th in the Contract of Work. The study employs moving average method and simple linear regression analysis. the technique of collecting data through study of literatures and survey. To achieve those goals.. Key Words: Royalty. The result shows that most of minerals from the copper mining can be used and sold. the qualitative and quantitative approaches are used. this study also estimates the potential royalty that could be derived from other minerals of copper mining for year 2003 – 2007. FE UI. The Contract of Work stipulated for copper mining is only stated that.ABSTRACT Name Study Program Title : Joko Sudiarto : Magister of Public Planning and Public Policy : Analysis of Potential Royalty from Minerals of Copper Mining Year 2003 – 2007. The objective of this research is to evaluate whether the scope of Contract of Work of copper mining could be optimized by evaluating the potential of other minerals contained in the copper concentrate. 20/1997 about PNBP. Mineral from Copper Mining Law No. Contract of Work viii Analisis potensi. Unfortunately.

DAFTAR ISI

Hal Halaman Judul ................................................................................................... Halaman Pernyataan Orisinalitas ……………………………………………. Halaman Pengesahan ……................................................................................ Kata Pengantar .................................................................................................. Halaman Pernyataan Persetujuan Publikasi …………………………………. Abstrak ............................................................................................................ Abstract ……………………………………………………………………… Daftar Isi ........................................................................................................... Daftar Diagram ................................................................................................. Daftar Tabel ...................................................................................................... Daftar Lampiran ................................................................................................ i ii iii iv vi vii viii ix xi xii xiii

BAB I

PENDAHULUAN ........................................................................ 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. Latar Belakang .................................................................. Rumusan Permasalahan ..................................................... Ruang Lingkup Penelitian……………………………..... Tujuan Penelitian……………………………………….... Sistimatika Penulisan ........................................................

1 1 3 4 4 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA .............................................................. 2.1. Kerangka Teoritis .............................................................. 2.1.1 Konsep Ekonomi Keuangan Publik ......................... 2.1.2 Pengertian dan Konsep Pertambangan ..................... 2.1.3 Teori Ekonometrika .................................................. 2.1.4 Peraturan Perundang-undangan ............................... 2.2. Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah .............. ............

6 6 6 7 12 13 16

ix
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN DAN HASIL PENELITIAN LAPANGAN ................................................................................ 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. 3.6. 3.7. Metode Pengumpulan Data …........................................... Koefisien Korelasi …......................................................... Koefisien Variasi ………………....................................... Regresi ………………....................................................... Tahapan Dalam Membuat Analisis Regresi …………….. Data ……………………………………………………... Hasil Penelitian Lapangan ………………………………. 18 18 18 19 19 21 23 24

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN ............................................. 4.1. Analisis Cakupan Kontrak Karya yang Berlaku Untuk Pengusahaan Pertambangan Tembaga .............................. 4.2. Menentukan Alasan yang Dapat Digunakan Untuk Mengenakan Royalti atas Mineral Ikutan Tembaga ......... 4.3. Perkiraan Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga ..

35

35

47 53

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN ................................................... 5.1. 5.2. Kesimpulan ........................................................................ Saran ..................................................................................

75 75 78

Lampiran-lampiran Daftar Pustaka

x
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

DAFTAR DIAGRAM

Hal Diagram 1 Diagram 2 : : Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah …………. Giagram Alur Proses Produksi Konsentrat Lamp. 5 20

Tembaga ………………………………………….. Diagram 3 : Giagram Alur Proses Peleburan Konsentrat

Tembaga ………………………………………….. Diagram 3 : Giagram Cara Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti …………………………………………….

Lamp. 6

Lamp. 8

xi
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

FE UI.Sulfur : Hasil Run Model 2 .Sulfur : Hasil Uji BG Model 2 ..Sulfur : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 .Sulfur : Korelasi Variabel Bebas .Besi : Korelasi Variabel Bebas .Besi : Perkiraan Kandungan Besi dalam Konsentrat : Perkiraan Potensi Royalti .Sulfur : Hasil Uji BG Model 1 .Sulfur : Perkiraan Potensi Royalti . JokoSudiarto.DAFTAR TABEL Hal Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 Tabel 24 Tabel 25 Tabel 26 Tabel 27 Tabel 28 Tabel 29 : Ingredient Content PT FIC : Ingredient Content PT NNT : Realisasi Produksi PT FIC : Realisasi Produksi PT NNT : Realisasi Penjualan PT FIC : Realisasi Penjualan PT NNT : Realisasi Penyetoran Iuran Tetap : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi (Royalti) : Produksi dan Output PT Smelting : Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT FIC : Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT NNT : Hasil Run Model 1 .. .Besi Hasil Uji BG Model 2 .Sulfur : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .Besi : Hasil Uji BG Model 1.. 2009.Besi Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .Besi : Hasil Run Model 2 .Besi : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 .Besi 24 24 25 25 25 26 26 27 32 41 44 56 58 59 60 60 62 63 64 65 66 67 68 68 70 71 72 72 72 xii Analisis potensi.Sulfur : Perkiraan Kandungan Sulfur dalam Konsentrat : Hasil Run Model 1 .

. : Data Penjualan Emas. Lampiran 11 : Data Penjualan Emas. : Diagram Cara Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti. : Matrik Resume Pendapatan dari Instansi/Ahli. FE UI. Tembaga dan Sulfur Tahun 2003 s. Lampiran 10 : Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti . 2005. : Diagram Alur Proses Produksi Konsentrat Tembaga. : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti PT NNT.. : Perhitungan Iuran Tetap PT NNT. 2005. : Diagram Alur Proses Peleburan Konsentrat Tembaga. . Perak.Sulfur.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 : Perhitungan Iuran Tetap PT FIC. : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti PT FIC. xiii Analisis potensi. 2009.d. JokoSudiarto. Tembaga dan Besi Tahun 2003 s. Perak.Besi..d. Lampiran 12 : Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti .

Terdapat 40 (empat puluh) perusahaan swasta pemegang KK.BAB I PENDAHULUAN 1.. baik dalam rangka Penanaman Modal Asing (PMA) maupun PMDN. Bahan tambang itu meliputi emas. 2009. baik tenaga kerja lokal. JokoSudiarto. dan lain-lain. pemerintah akan memperoleh bagi hasil berupa royalti sesuai dengan hasil produksinya. Dalam pengusahaan bahan tambang. tembaga.. Dari sisi penerimaan bukan pajak (PNBP). Dari perusahaan tersebut pemerintah juga akan memperoleh penerimaan pajak dan bukan pajak. namun belum dikelola secara optimal. dan lain-lain.1. pemerintah dapat melaksanakan sendiri atau menunjuk kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan sendiri oleh instansi pemerintah. Dampak positif penanaman investasi di bidang pertambangan ini adalah meningkatkan devisa negara dan pendapatan asli daerah. Dari aspek devisa negara dan pendapatan asli daerah.. menampung tenaga kerja. nasional maupun internasional. diantaranya 11 (sebelas) perusahaan yang telah berproduksi (Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral: 2006). Jumlah perusahaan yang bergerak dan menanamkan investasinya di bidang pertambangan pun sangat banyak. Pengusahaan pertambangan mineral oleh swasta dilaksanakan melalui Kontrak Karya (KK) antara Pemerintah RI dengan perusahaan swasta. Hasil-hasil audit Tim Optimalisasi Penerimaan Negara (OPN) telah mengindikasikan persoalan tersebut. keberadaan perusahaan tambang sangat membantu dalam pembangunan nasional dan daerah. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang berasal dari pertambangan umum merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat potensial. batubara. Begitu juga dalam bidang tenaga kerja. keberadaan perusahaan tambang telah menyerap tenaga kerja. perak. regional. minyak dan gas bumi. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang kaya akan bahan tambang. Selama 1 Analisis potensi. FE UI. Universitas Indinesia .

Sedangkan terhadap unsur-unsur besi (Fe) dan belerang (S) walaupun jumlahnya relatif besar PT FIC tidak memperoleh pembayaran. dalam konsentrat tembaga tersebut terkandung didalamnya mineral ikutan emas (Au). perak (Ag) dan sejumlah senyawa logam lainnya seperti besi (Fe) dan belerang (S).929. antara lain adanya pasal-pasal dalam Kontrak Karya yang kurang menguntungkan pihak Pemerintah RI. emas (Au) dan perak (Ag).44. Namun dalam perhitungan royalti yang harus dibayar oleh PT FIC sesuai dengan pasal 13 poin 2 Kontrak Karya disebutkan bahwa “dalam hal tembaga tersebut dijual sebagai konsentrat. dalam hal ini dalam memasarkan konsentrat tembaga kepada pelanggannya PT FIC hanya memperoleh pembayaran untuk logam tembaga (Cu).. sehingga tidak dikenakan royalti.113. Hal ini dapat diuraikan berikut ini. jumlah royalti yang akan dibayar berkaitan dengan kandungan tembaga yang dibayar dari konsentrat yang dijual oleh perusahaan. PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) PT NNT melakukan kegiatan pertambangan di Nusa Tenggara Barat berdasarkan kontrak karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT NNT tanggal 2 Desember 1986..”.286. .2 periode tahun 1998 sampai dengan tahun 2000 sebanyak empat perusahaan kurang menyetor PNBP sebesar Rp362.246. Potensi PNBP tidak terealisasi karena terbentur pada beberapa masalah. Sehingga royalti hanya diperhitungkan terhadap logam-logam tembaga..366.837. Dalam setiap penjualan konsentrat oleh PT NNT. diantaranya potensi mineral ikutan besi dan sulfur yang terjual dalam konsentrat tembaga minimal tidak terealisasi masing-masing sebesar USD251.14 serta terdapat potensi PNBP yang tidak dapat direalisasikan... JokoSudiarto.353. FE UI..93 dan US$4. Kegiatan eksplorasi menghasilkan bijih tembaga sulfida yang kemudian diolah menjadi konsentrat tembaga. hanya tembaga. Universitas Indonesia Analisis potensi. emas dan perak yang terkandung dalam konsentrat tembaga yang merupakan produk utama PT FIC.41 dan USD1. 2009. PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) melakukan kegiatan pertambangan di Tembaga Pura berdasarkan kontrak karya (contract of work) antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991.

3

emas, dan perak yang dibayar oleh pembeli untuk setiap realisasi penjualan ekspor konsentrat, sedangkan material ikutan lainnya seperti: besi (Fe), sulfur (S), silika (SiO2), kapur (Lime), dan Al203 tidak dinilai. Pengenaan tarif royalti tersebut berdasarkan kontrak karyanya yang menyebutkan “Bila terdapat mineral ikutan yang terdapat dalam konsentrat yang dijual diperhitungkan dengan tarif royalti sebagaimana diatur dalam Lampiran “F”. Dalam lampiran F hanya besi (Fe) dan sulfur (S) yang memiliki tarif royalti yaitu masing-masing sebesar US$0.0005/kg dan US$0.002/kg, sementara tiga mineral lainnya tidak ada tarifnya. Walaupun demikian perusahaan tetap tidak membayar royalti dengan alasan mineral ikutan tersebut tidak dibayar oleh pembeli. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP, antara lain menyebutkan jenis dan tarif PNBP. Salah satu jenis PNBP tersebut adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam seperti penerimaan royalti di bidang pertambangan. Tarif atas jenis PNBP tersebut ditetapkan dalam undangundang atau Peraturan Pemerintah (PP) yang menetapkan jenis PNBP. Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah telah mengeluarkan beberapa peraturan yang mengatur tentang tarif royalti di bidang pertambangan, yaitu PP Nomor 58 Tahun 1998; PP Nomor 13 Tahun 2000 dan yang terakhir PP Nomor 45 Tahun 2003. Semua ketentuan tersebut hanya mengatur tentang besarnya tarif PNBP untuk masing-masing mineral dalam satuan logam dan konsentrat. Tidak secara jelas menerangkan cara perhitungan royalti atas mineral ikutan dalam suatu konsentrat, termasuk mineral ikutan dalam konsentrat tembaga.

1.2.

Rumusan Permasalahan Berdasarkan ringkasan permasalahan tersebut di atas, nampak bahwa

terdapat potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga yang belum tergali. Berkaitan dengan permasalahan tersebut, pertanyaan yang timbul adalah: 1. Bagaimana cakupan KK yang berlaku untuk pertambangan tembaga ? 2. Alasan apa yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tambang tembaga? 3. Berapa perkiraan potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga ?
Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

4

1.3.

Ruang Lingkup Penelitian Untuk dapat menjawab beberapa permasalahan tersebut di atas dan agar

pembahasan lebih fokus maka ditentukan ruang lingkup penelitian sebagai berikut: 1. Kontrak Karya pengusahaan pertambangan tembaga antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT beserta perubahannya. 2. Kegiatan usaha pertambangan yang telah dilakukan oleh PT FIC dan PT NNT yang mencakup luas wilayah usaha pertambangan untuk setiap periode tahapan kegiatan tambang, proses produksi konsentrat tembaga, pengangkutan atau pemindahan tembaga mulai dari mulut tambang sampai dengan stock pile, penimbunan dan penjualan konsentrat tembaga untuk periode 2003 sampai dengan 2007. 3. Tata cara perhitungan dan realisasi penyetoran PNBP oleh PT FIC dan PT NNT sebagaimana diatur dalam perjanjian, peraturan perundangan dan ketentuan lain yang terkait.

1.4.

Tujuan Penelitian Tujuan dari analisis dan penelitian ini adalah:

1. Menganalisis cakupan KK yang berlaku untuk pertambangan tembaga. 2. Menentukan alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tambang tembaga. 3. Memperkirakan potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga.

1.5. Bab I

Sistimatika Penulisan Pendahuluan Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, pokok

permasalahan, ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, dan sistimatika penulisan. Bab II Tinjauan Pustaka Bab ini menguraikan tentang konsep ekonomi keuangan publik,

Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

5

pengertian dan konsep pertambangan, teori ekonometrika, peraturan perundang-undangan yang relevan dengan masalah yang dibahas, kerangka berpikir pemecahan masalah. Bab III Metodologi Penelitian dan Hasil Penelitian Lapangan Bab ini akan menjelaskan tentang metode pengumpulan data yang dilakukan, tentang rumus kofesien variasi, pengolahan data dengan regresi, dan tahapan-tahapan dalam membuat analisis regresi. Juga akan dijelaskan tentang data yang dipergunakan dalam melakukan analisis atas potensi royalti dari mineral ikutan tembaga berdasarkan data-data yang diperoleh dari studi pustaka dan penelitian lapangan. Bab IV Hasil Analisis dan Pembahasan Bab ini merupakan pembahasan terhadap hasil analisis kuantitatif atas potensi royalti dari mineral ikutan tembaga. Bab V Kesimpulan dan Saran Bab ini merupakan Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pembahasan pada Bab IV dan saran-saran atau rekomendasi yang akan diberikan penulis dari kesimpulan yang diperoleh.

Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

. 15. FE UI. Media Pressindo. 6 Analisis potensi. 44. Suharto. Analisis Kebijakan Publik. 2002. Konsep Ekonomi Keuangan Publik Menurut buku Kamus Administrasi Publik.1. Edi. Budi. Sedangkan Thomas R. Dye menyatakan bahwa kebijakan publik adalah apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan dan tidak dilakukan (whatever governments choose to do or not to do)2. Lebih jauh James Andersen mengemukakan bahwa kebijakan merupakan arah tindakan yang mempunyai maksud yang ditetapkan oleh seorang aktor dalam mengatasi suatu persoalan. Sedangkan prinsipal mempunyai kewenangan untuk melakukan penilaian atau monitoring atas pelaksanaan pengelolaan tersebut apakah telah sesuai dengan amanah dan kepercayaan yang diberikan oleh rakyat. yakni: 1 2 Winarno. 2005. Bandung. Menurut Robert Eyestone menyatakan secara luas. hal. Sebagai agen. kebijakan publik adalah pemanfaatan yang strategis terhadap sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah publik atau pemerintah. Yogyakarta. kebijakan publik didefinisikan sebagai hubungan suatu unit pemerintah dengan lingkungannya1.. Universitas Indonesia . Alfabeta. Pemerintah harus mempertanggungjawabkan setiap apa yang dilakukan oleh pemerintah berdasarkan pengertian konsep agent dan principal relationship. 2009. Teori dan Proses Kebijakan Publik. JokoSudiarto. hal.1. Dimana.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Gerwin Bell dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 104-107) menguraikan pengertian user charges. pemerintah mempunyai kewajiban (bonding) untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya tersebut. rakyat merupakan prinsipal yaitu pihak yang mempunyai atau menguasai sumber daya dan mempercayakan pengelolaan sumber daya tersebut kepada pemerintah yang disebut agen.. Kerangka Teoritis 2.1.

uranium.. phosphate. tin. sulfur. Dalam Article 3 angka 1 Japanese Mining Law No. ... coal.. sulfide. tungsten. “Mineral” in this article and Articles hereinafter shall mean: “the ores of gold.. copper. . nickel. cobalt. and highway tolls. User charges. chromite.. patent and copyright fees.7 User Charges are levied on the use of specific good or service and thereby on the accruing benefits that economic agents receive from such use. iron. . mercury. Pengertian dan Konsep Pertambangan Istilah bahan galian berasal dari terjemahan bahasa Inggris. customs service user fees.. thorium.. antimony.. . the application of user charges allows the costs of goods or service to be distributed according to the benefits received. 20 December. 289. silver.” Dalam Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.. In this way. canal. yang memiliki sifat fisik dan Universitas Indonesia Analisis potensi. manganese. FE UI. brigde. yaitu mineral. 1950 Latest Amendment In 1962 telah ditemukan pengertian mineral. user charges are efficiently levied on publicly provided goods or services that enhance economic efficiency and have the characteristic that their users may be easily identified and excluded from their consumption.. lead. .. Examples include royalties on natural resources. Mineral adalah: “senyawa anorganik yang terbentuk di alam. · Regulatory Fees: There are very much like a tax in that they are solely based on the govermnet’s sovereign power to regulate particular economic agents or activities. molybdenum. emulate the benefit principle in public finance which states that the payment of a tax ought to correspond to the benefits received from taxfinanced goods and services. zinc.2.. The following typology of user charges is: · User Fees: There are payments on services consumed to yield a direct benefit to the user. bismuth. arsenic. 2009. 2.. graphite. JokoSudiarto. Example of regulatory fees include passport and judicial fees. thus.1.

2. 4) arsin. perak. bismut. 5) yttrium. bijih ataupun segala mecam batuan” (Sukandarrumidi. belerang. 1999: 251). Bahan galian strategis ini disebut juga golongan bahan galian A. Bahan galian vital. adalah minyak bumi dan yodium. mangan. dan logam-logam langka lainnya. tembaga. bahan galian yang berbentuk padat. . flourspar. dibagi menjadi delapan golongan. 3) emas. titan. yaitu: 1. baik dalam bentuk lepas atau padu”. rtutenium. batu gamping. seng. bahan galian yang berbentuk cair. barit. 8) yodium. molibden. cerium. Bahan galian dapat dibagi menjadi tiga golongan. 3. Sukandarrumidi juga mengemukakan pengertian bahan galian. wolfram. Penggolongan bahan galian diatur dalam Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian. khrom. Ia berpendapat bahwa bahan galian adalah: “bahan yang dijumpai di dalam. perak. Bahan galian strategis merupakan bahan galian untuk kepentingan pertahanan keamanan serta perkekonomian negara. lempung. Bahan galian ini disebut juga golongan bahan galian B. timbal. bahan galian diklasifikasikan menjadi tiga macam. 6) berillium. yakni: 1) besi. bahan galian yang berbentuk gas. mineral. Bahan galian vital merupakan bahan galian yang dapat menjamin hajat hidup orang. Dalam pengertian ini. zirkon. JokoSudiarto. yaitu: 1. Bahan galian strategis.. adalah gas alam. air raksa. brom. 2) bauksit.. vanadium. 2. intan. klor.8 kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan. adalah emas. FE UI. korundum. 7) kriolit. kristal kwarsa. baik berupa unsur kimia. dan lain-lain.. antimon. platina. 2009. Universitas Indonesia Analisis potensi.

.. JokoSudiarto.treasury. besi. and silicon. pertambangan mineral digolongkan atas: a. Konsentrat tembaga tersebut terdiri dari kandungan mineral tembaga. 2009. and enargite (Cu3AsS4).. chalcocite (Cu2S). c... pertambangan mineral bukan logam. . Hal ini seperti yang dikemukan oleh Thomas G. Pengusahaan tambang tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga. Universitas Indonesia Analisis potensi. dan d. pertambangan mineral logam.gov. pertambangan mineral radioaktif.9 3. (dalam Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting. and a small balance of trace metals that depend on the ore source. Sedangkan dalam Pasal 34 ayat (2) Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. covellite (CuS).. FE UI.. Although chalcopyrite (CuFeS2) is the predominant copper sulfide ore processed. similar levels of iron and sulfur. Concentrate can contain from 25 to 35 percent copper. Natural ores undergo comminution and separation by flotation at copper mining facilities to produce copper concentrate..za) antara lain menyebutkan: PART II: BASIC ROYALTY REGIME Any person (hereinafter referred to as a mineral resource extractor) is subject to a State royalty in respect of a mineral resource once that person extracts and transfers the mineral resource for that person’s own benefit. Bahan galian yang tidak termasuk bahan galian strategis dan vital. minor percentages of oxides of aluminum. other important copper sulfide ore minerals include bornite (Cu5FeS4).2006” (www.. pertambangan batuan. 2005: 2)” Departement National Treasury Republic of South Africa: “Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill . Goonan berikut ini: “. Bahan galian yang lazim disebut dengan galian C. dan sulfur (belerang) serta mineral ikutan lainnya. calcium. b.....

2009. . serves a role in determining whether investment should or should not proceed. yakni: “The fiscal arrangements with respect to natural resources need to take into account that the goverment is the landowner or the owner of mineral rights. JokoSudiarto. David C... and ensure that a minimum payment is made by the companies for the resources that they extract. Lease bonuses are up-front payment that could be determined by auction or at the government’s discretion. separate from regular income tax. The government should determine what minimum payment it is Universitas Indonesia Analisis potensi. These payments are generally easy to administer. that other person is deemed to be a mineral resource extractor to the extent that other person extracted and transferred that mineral resource for that extractor’s benefit..10 Charging provision (1) The State royalty imposed in respect of a transferred mineral resource equals the mineral resource’s State royalty rate as described in Schedule 1 multiplied by its gross sales value.. (2) A person is not subject to a State royalty in respect of a transferred mineral resource if the person proves the mineral resource was previously subject to a State royalty. the goverment should receive a payment for this resource. .. FE UI.. The royalty..L.. are considerably easier to administer than most other fiscal instruments. (3) For purposes of this Act. Royalties are levied either on the volume or on the value resouces extracted. . if a person extracts and transfers a mineral resource for the benefit of another person.. as a price for resource extraction.. Royalties secure revenues as soon as production commences. If a valuable resource is going tobe extracted. Nellor dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 238-240) mengemukakan beberapa pengertian pengusahaan mineral.. They mean that the investor bears the risk that the project will not be commercially viable because the return to govenrment is fixed.

. termasuk pengangkutan dan penjualan. penambangan. The RRT is a high-risk measure for the government gaining a return on resource ownership. sebaran.11 willing to accept for the resource recognizing that it has given up its capital once the resource is extracted. 4.. FE UI. dimensi. serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup.... Dalam Pasal 1 Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1409. A Resource Rent Tax (RRT) is similar to a cash-flow tax but is imposed only if the accumulated cash flow is positive.. . serta sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi kelayakan. Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara telah ditentukan pengertian kontrak karya. Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan ekonomis dan teknis usaha pertambangan.. JokoSudiarto.. 2009. pemurnian. .K/201/M. there is also a significant chance that resource development will yield little revenue.PE/1996 tentang Tata Cara Pengajuan Pemrosesan Pemberian Kuasa Pertambangan. Penyelidikan Umum adalah tahapan kegiatan pertambangan untuk mengetahui kondisi geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi. Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi. .. Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 menyebutkan bahwa usaha pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi kegiatan berikut ini: 1. termasuk analisis mengenai dampak lungkungan serta perencanaan pascatambang. Kontrak Karya adalah: Universitas Indonesia Analisis potensi. bentuk. kualitas dan sumber daya terukur dari bahan galian. pengolahan. The RRT only provides a return to goverment on those project will yielding above normal rate of return. Izin Prinsip. although revenue could be sizable in favorable circumstances... 3. Operasi produksi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan yang meliputi konstruksi. 2.

. dkk. sesuai dengan jangka waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak” (H.12 “suatu perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan perusahaan swasta asing atau patungan antara asing dengan nasional (dalam rangka PMA) untuk pengusahaan mineral dengan berpedoman kepada Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing serta Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuanketentuan Pokok Pertambangan Umum”. JokoSudiarto.3.1. Sedangkan menurut Ismail Suny mengartikan kontrak karya sebagai berikut: “Kerja sama modal asing dalam bentuk kontrak karya (contract of work) terjadi apabila penanaman modal asing membentuk satu badan hukum Indonesia dan badan hukum ini mengadakan kerja sama dengan satu badan hukum yang mempergunakan modal nasional” (dalam Erman Rajagukguk. Salim HS mendefinisikan kontrak karya yang paling lengkap karena di dalam kontrak karya tidak hanya mengatur hubungan hukum antara para pihak. 2005: 130). antara lain mengemukakan Sifat Dasar Analisis Regresi. Metode Kuadrat Terkecil (Ordinary Least Square / OLS). Anton Hendranata (2004) dalam Buku Ekonometrika Terapan mengemukan pengertian Analisis Regresi Linier Sederhana. 1995: 186)... 2. Salim HS. Teori Ekonometrika Buku Ekonometrika Dasar karangan Damodar Gujarati (1978) yang diterjemahkan oleh Sumarno Zain. namun juga mengatur tentang obyek kontrak karya. FE UI.. Model Regresi Dua Variabel. 2009. H. . Pengujian Masing-masing Koefesien Universitas Indonesia Analisis potensi. Analisis Regresi Dua Variabel. Kontrak karya adalah: “suatu perjanjian yang dibuat antara Pemerintah Indonesia dengan kontraktor asing semata-mata dan/atau merupakan patungan antara badan hukum asing dengan badan hukum domestik untuk melakukan kegiatan eksplorasi maupun eksploitasi dalam bidang pertambangan umum.

2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing: Pasal 8 ayat (1): Penanaman modal asing di bidang pertambangan didasarkan pada suatu kerja sama dengan pemerintah atas dasar kontrak karya atau bentuk lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. FE UI. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan Umum: Universitas Indonesia Analisis potensi.. Kebaikan Suai Model. Multikolinear dan Autokorelasi. Peraturan Perundang-undangan Kontrak Karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991 dan Kontrak Karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) tanggal 2 Desember 1986. Pengujian Model secara Keseluruhan. 2009. . menyetorkan iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. menyetorkan iuran eksploitasi/produksi tambahan atas mineral yang diekspor. Pasal 8 ayat (2): Sistem kerja sama atas dasar kontrak karya atau dalam bentuk lain dapat dilaksanakan dalam bidang usaha-usaha lain yang akan ditentukan oleh pemerintah..13 Regresi secara Parsial. Wing Wahyu Winarno (2007) dalam Buku Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EVIEWS.4. Masalah Heteroskedastisitas. JokoSudiarto. Kewajiban kontraktor (PT FIC dan PT NNT) seperti yang tercantum dalam kontrak karya tersebut antara lain adalah: menyetorkan iuran tetap untuk wilayah kontrak karya atau wilayah pertambangan. antara lain menjelaskan mengenai Mengenal EVIEWS. Menyunting dan Menampilkan Data. Multikolinear dan Autokorelasi).. Masalah dalam Analisis Regresi (Heteroskedastisitas.1. Analisis Regresi Linier.

14 - Pasal 10 ayat (1): Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dilaksanakan sendiri oleh Instansi pemerintah atau Perusahaan Negara yang bersangkutan selaku pemegang kuasa pertambangan. dan aspek keadilan dalam pengenaan beban kepada masyarakat. Pasal 3 ayat (1): Tarif atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak ditetapkan dengan memperhatikan dampak pengenaan terhadap masyarakat dan kegiatan usahanya. 2009. biaya penyelengaraan kegiatan Pemerintah sehubungan dengan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersangkutan. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara: Pasal 1 angka 1: Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang.. royalti di bidang kehutanan dan royalti di bidang pertambangan. Pasal 3 ayat (2): Tarif dan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam Undang-undang atau Peraturan Pemerintah yang menetapkan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersangkutan. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP): Pasal 1 angka 1: Penerimaan Negara Bukan Pajak adalah seluruh penerimaan Pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. JokoSudiarto.. FE UI. serta segala sesuatu baik berupa uang maupun Universitas Indonesia Analisis potensi. - Pasal 10 ayat (2): Dalam mengadakan perjanjian karya dengan kontraktor seperti yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara harus berpegang pada pedoman-pedoman. . penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. Pasal 2 ayat (1): Kelompok Penerimaan Negara Bukan Pajak meliputi: b. antara lain royalti di bidang perikanan.. petunjukpetunjuk dan syarat-syarat yang diberikan menteri.

dengan jenis mineral/bahan galian: h. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pad Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. ekonomis.. Emas: satuan per kg. 3. JokoSudiarto. Pasal 2: Keuangan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1. taat pada peraturan perundang-undangan. Pasal 2. efisien. tarif 3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral: Pasal 1 ayat (2) Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral berasal dari: a. A. tarif 3. Belerang: satuan per kg..15 berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. b. Iuran Tetap/Landrent. Besi: satuan per ton. d. Kontrak Karya (KK) dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Lampiran angka I. k. Perak: satuan per kg. m. Pasal 3 ayat (1): Keuangan Negara dikelola secara tertib.00% dari harga jual. 2009.75% dari harga jual.00% dari harga jual. 4: Penerimaan dari Iuran Eksplorasi/Iuran Eksploitasi/Royalty untuk Usaha Pertambangan dalam rangka Kuasa Pertambangan (KP). Jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terutang atas jenis Universitas Indonesia Analisis potensi. c.. efektif. cc. FE UI. Iuran Eksplorasi/Iuran Eksploitasi/Royalty. Tembaga: satuan per ton. l.25% dari harga jual. Dana Hasil Produksi Batubara. meliputi: Penerimaan Negara. . Pelayanan Jasa Bidang Geologi dan Sumber Daya Mineral. 3. tarif 4.50% dari harga jual.

000 ton > 100.. yaitu dimulai dari adanya Kontrak Karya antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT.00 USD 2.00 USD 2. Emas: satuan per kg.90 USD 2.00 USD 235.00% dari harga jual. Jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terutang atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dihitung dengan cara tarif dikalikan jumlah satuan.50% dari harga jual. Tembaga: satuan per ton. 3.2.00 USD 55. tarif 3. 12.000 ton < 2.16 Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dihitung dengan cara tarif dikalikan jumlah satuan dikalikan harga jual. tarif 4.000 kg > 2.90 USD 225. . 2009. JokoSudiarto.00% dari harga jual. Jenis Mineral/ Bahan Galian Tembaga Besi Emas Perak Belerang Tingkat Produksi < 80. Belerang: satuan per kg.00 USD 1. Besi: satuan per ton.70 USD 2.25% dari harga jual. Perak: satuan per kg. 12.10 USD 2. 29. Serta peraturan perundang-undangan yang ada hubungannya dengan KK tersebut.000 ton Satuan Jumlah ton/logam ton/logam kg/logam kg/logam ton/konsentrat Besarnya Tarif USD 45. 8.. 3.75% dari harga jual. tarif 3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Mineral di Bidang Pertambangan Umum: Pasal 2 ayat (1). yang merupakan suatu produk hukum yang harus dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait.000 kg < 25.20 2.000 ton < 100. Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah Penelitian ini diawali dengan kajian terhadap sumber masalah berdasarkan data-data empiris dan landasan teori yang relevan.000 ton > 5. 11.000 kg < 5. Lampiran: 8. 29.000 kg > 25. FE UI. 13. Universitas Indonesia Analisis potensi. Lampiran: No.000 ton > 80.. 11. 13.

KK antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT. . KK dan PP yg mengatur tarif royalti tidak menyebutkan secara lengkap dan jelas mineral ikutan tambang tembaga. 3. JokoSudiarto. 3. 2. 1. 2. sulfur. 2. Gap: Mineral ikutan tambang tembaga tidak dikenakan royalti. Kondisi Ideal: Seluruh mineral ikutan tambang tembaga dikenakan royalti. Memperkirakan potensi royalti dari mineral ikutan tembaga.. ESDM dan perusahaan Analisis Deskriptif Kuantitatif Pembahasan Kesimpulan dan Saran Universitas Indonesia Analisis potensi. kerangka penelitian ini dapat digambarkan dalam diagram di bawah ini. PT FIC dan PT NNT perusahaan KK yg menghasilkan konsentrat tembaga. dll tidak dibayar oleh pembeli. Diagram 1 Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah Fakta: 1. Evaluasi ini tidak dimaksudkan untuk menguji kebenaran dan keabsahan produk hukum tersebut. pengangkutan dan penjualan konsentrat tembaga. 2. 3. 2. Pembayaran royalti berdasarkan jumlah yang diterima dari pembeli. Tujuan Penelitian : Analisis kelebihan dan kelemahan sistem kontrak karya untuk pertambangan tembaga. Adanya potensi royalti yang belum tergali dari mineral ikutan tersebut...17 Penelitian ini dimaksudkan untuk menilai atau mengevaluasi apakah PNBP dalam bentuk royalti dari pelaksanaan KK tersebut telah diupayakan secara optimal serta sebab-sebab yang menyebabkan hal tersebut. FE UI. Mineral ikutan seperti besi. Menentukan dasar yang dapat digunakan untuk menghitung royalti atas mineral ikutan bahan galian tembaga. Metode Analisis Dokumen Dep. 3. 1. Kegiatan usaha penambangan. produksi. 2009. Sumber data Sasaran pengkajian : 1. Tarif royalti atas mineral ikutan tersebut dinyatakan dengan tegas sehingga tidak merugikan negara. Berdasarkan teori dan konsep yang telah diuraikan di atas. Pemenuhan kewajiban PNBP periode 2003-2007. 1.

Universitas Indonesia . Data yang diperoleh sebagai hasil pengolahan sensus disebut data yang sebenarnya (true value) atau sering disebut dengan parameter.1. Semakin besar nilai koefisien korelasi menunjukkan 18 Analisis potensi. yaitu data dari pelaksanaan KK pengusahaan pertambangan tembaga yang ada di Indonesia. dan dapat menghasilkan cakupan data yang lebih luas serta terperinci. JokoSudiarto. yaitu cara sensus dan cara sampling (Supranto. Dalam penelitian ini penulis menggunakan data parameter. 2009. pengumpulan data dengan cara sampling membutuhkan biaya yang jauh lebih sedikit. Koefisien Korelasi Digunakan untuk mengukur keeratan hubungan antara variabel tidak bebas Y dengan variabel bebas X. Data yang diperoleh dari hasil sampling merupakan data perkiraan (estimate value). Jika nilai yang dihitung berdasarkan seluruh elemen populasi disebut parameter maka yang dihitung berdasarkan sampel disebut statistik. FE UI.BAB III METODOLOGI PENELITIAN DAN HASIL PENELITIAN LAPANGAN 3. Namun yang perlu diperhatikan bahwa cara sensus mahal biayanya serta memerlukan banyak tenaga dan waktu. tenaga yang tidak terlalu banyak. Sehubungan penulis telah memiliki data parameter dan untuk lebih mendekatkan hasil penelitian pada kondisi yang sebenarnya. maka penulis tidak menggunakan metode pengumpulan data secara sampling. adalah cara pengumpulan data dimana seluruh elemen populasi diselidiki satu persatu. Perusahaan pemegang KK (PT FIC dan PT NNT) dan Biro Pusat Statistik (BPS)... Sedangkan sampling adalah cara pengumpulan data dimana yang diselidiki adalah elemen sampel dari populasi.2. 3. 2000). Dibandingkan dengan sensus. memerlukan waktu yang lebih cepat. yang bersumber dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Departemen Keuangan. Sensus.. Metode Pengumpulan Data Di dalam statistik dikenal 2 (dua) cara pengumpulan data.

Tujuan analisis adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah penjualan Emas. variabel yang menjelaskan Universitas Indonesia Analisis potensi.. 3. Perak dan Tembaga untuk menentukan kandungan mineral ikutan Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual .4. Oleh sebab itu tolak ukur untuk mengetahui pengaruh tersebut dapat dilihat dari hasil penghitungan nilai koefisien variasi. . Regresi 3. FE UI. Semakin kecil nilai koefisien variasi yang dihasilkan menunjukkan adanya pengaruh mineral Emas.1.. Koefisien Variasi Analisis koefisien variasi (coefficient of variation) adalah menyatakan persentase deviasi standar dari rata-ratanya. yaitu: R = √R2 Dalam penelitian ini variabel tidak bebas Y adalah kandungan mineral Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual.4. JokoSudiarto.3.19 hubungan semakin erat dan sebaliknya. Kegunaannya adalah untuk mengukur keseragaman terhadap data yang sedang diteliti. Pengertian Analisis regresi berkenaan dengan studi ketergantungan satu variabel. 2009. sedangkan variabel bebas X adalah sebagai berikut: E P T = = = Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg) Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg) Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton) 3.. berarti menunjukkan semakin seragam atau variasinya semakin kecil. Koefisien korelasi merupakan akar kuadrat dari koefisien determinasi. variabel tak bebas. Perak dan Tembaga terhadap kandungan mineral ikutan Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual. Semakin kecil koefisen variasi dari data yang sedang dianalisis. pada satu atau lebih variabel lain. Adapun rumusnya.

. …. ….. Fungsi Regresi Berganda Apabila terdapat 2 (dua) atau lebih variabel maka disebut dengan regresi berganda. . . namun ini tidak berarti hubungan sebab akibat. pada akhirnya dari beberapa teori atau lainnya. .20 (explanatory variabel).2. . . yaitu: Yi = b 1 + b 2 X2i + b 3 X3i + ui Dimana : Y X2 X3 u i = = = = = Variabel tak bebas (dependent variable) Variabel yang menjelaskan Variabel yang menjelaskan Faktor gangguan (disturbance) Menyatakan observasi (pengamatan) yang ke i. . . Kendall dan Stuart seperti dikutip oleh Gujarati mengatakan: Suatu hubungan statistik. .. . bagimanapun kuat dan sugestif. 1995). Meskipun analisis regresi berurusan dengan ketergantungan satu variabel terhadap variabel lain.. JokoSudiarto. Yn = b 1 + b 2 X2n + b 3 X3n + b 4 X4n .4. dipandang dari segi nilai yang diketahui atau tetap (dalam pengambilan sampel berulang) variabel yang menjelaskan (yang belakangan) (Gujarati. 3. dengan maksud menaksir dan atau meramalkan nilai ratarata hitung (mean) atau rata-rata (populasi) variabel tak bebas. 2009. FE UI. . .. tidak pernah dapat menetapkan hubungan sebabakibat: gagasan kita mengenai sebab-akibat harus datang dari luar statistik. . Bentuk modelnya secara umum. Jika terdapat N-observasi maka persamaan regresi bergandanya dapat ditulis: Y1 = b 1+ b 2 X21 + b 3 X31 + b 4 X41 … + b k Xk1 + u1 Y2 = b 1+ b 2 X22 + b 3 X32 + b 4 X42 … + b k Xk2 + u2 Y3 = b 1 + b 2 X23 + b 3 X33 + b 4 X43 … + b k Xk3 + u3 ... + b kXkn+ un Universitas Indonesia Analisis potensi. ..

Pembentukan Persamaan Regresi Dalam pembentukan persamaan regresi dibutuhkan kriteria dalam pemilihan variabel terbaik. Variabel terbaik harus memenuhi kriteria– kriteria seperti dibawah ini. koefisien regresi tidak nol sehingga signifikan. koefisien regresi tidak berbeda nyata dari nol. JokoSudiarto. 2. H1 : b 1 ≠ 0 . Cara Pengujian: Membandingkan antara t-statistik dengan t-tabel berdasarkan a tertentu (misalnya 5%).5. F dan lain-lain. apakah model mampu menjelaskan Y. Estimasi koefisien regresi ( b .. Tahapan Dalam Membuat Analisis Regresi Adapun tahapan-tahapan dalam membuat analisa regresi berganda adalah sebagai berikut: 1.21 3. bo . Pengujian Signifikansi Parsial atau Individual (uji-t) Adalah untuk menguji apakah suatu variabel bebas (X) berpengaruh atau tidak terhadap variabel tidak bebas (Y). …. . 3. Hipotesis: H0 : b 1 = 0 . yaitu: · Uji Ekonomi: yaitu arah dan pengaruh. Dapat dilihat dengan memperhatikan tanda koefisien hasil pendugaan apakah telah sesuai dengan teori ekonomi yang berlaku.. Universitas Indonesia Analisis potensi.. 2009. FE UI. · Uji Statistika: Uji t. bk ) Persamaan ini merupakan regresi berganda sehingga perlu melihat Koefisien Determinasi dari nilai Adjusted R-Squared.

2009.R 2 ) /( N . Cara Pengujian: Membandingkan antara F-statistik dengan F-tabel berdasarkan a tertentu (misalnya 5%).(N-k). Hipotesis: H0 : b 1 = b 2 = 0.(N-k).k ) > F ( a /2.k ) Tolak H0 dimana: N K = = = = = banyaknya observasi Banyaknya variabel bebas Level of significance Nilai pendugaan koefisien regresi ke-i Standar eror pendugaan koefisien regresi ke-i a bI se b i 4.. Terima H0 t..model secara signifikan menjelaskan Y.22 £ t (a / 2.. Tolak H0 Universitas Indonesia Analisis potensi. JokoSudiarto.statistik = bi se( b i ) ^ ^ > t (a / 2. N .k )). Pengujian model secara umum (uji-F) Untuk menguji apakah model secara keseluruhan mampu secara signifikan menjelaskan variabel terikat. ≤F ( a /2. model tidak signifikan menjelaskan Y. FE UI. .1) (1 . Berdasarkan taraf nyata a (misalnya 5%) diharapkan H0 ditolak. N . Terima H0 F-statistik= R 2 /(k . H1 :tidak semua b 1 = 0.

Perak dan Tembaga tahun 2003 s.d. Data penjualan Emas. karena nilai R-square sangat dipengaruhi oleh banyaknya variabel bebas (semakin banyak variabel bebas maka semakin tinggi R-square) serta dipengaruhi oleh banyaknya observasi (makin banyak observasi makin kecil R-square).1 Adjusted-R2 = 1 Di mana : TSS RSS SSE N k = = = = = Total Sum Square (jumlah kuadrat nol) Regression Sum Square (jumlah kuadrat regresi) Sum Square Error (jumlah kuadrat error) banyaknya observasi banyaknya variabel bebas 3.23 Dimana: R2 N K 5. Cara Pengujian: R2 = ESS RSS =1TSS TSS SSE / N . = = = ESS/TSS banyaknya observasi banyaknya variabel bebas Uji Koefisien Determinasi (Uji R2) Menguji berapa persen model dapat menjelaskan variabel terikat. Universitas Indonesia Analisis potensi.6. Nilai R2 berkisar antara 0 dan 1 (0≥ R2 ≥1).. Data Data yang dipergunakan untuk analisis ini berasal dari berbagai bersumber. Data konsentrat tembaga yang dijual tahun 2003 s. 2009.k SST / N . 2.. JokoSudiarto. PT NNT dan Departemen ESDM.. bukan R-square.d. harapan R2 = 1. FE UI. yaitu: 1. 2007 bersumber dari PT FIC. 2007 bersumber dari PT FIC dan PTNNT. . Dalam regresi berganda yang menjadi patokan adalah adjusted R-square.

00 8. Data kandungan mineral Sulfur dan Besi tahun 2003 s. Data ingredient content bersumber dari PT FIC.50 7. 3.00 30. Rata-rata kandungan masing-masing mineral ikutan yang terdapat dalam setiap metric ton konsentrat tembaga yang diproduksi oleh perusahaan sesuai dengan ingredient content disajikan dalam tabel berikut: Tabel 1: Ingredient Content PT FIC No. Mineral Tembaga (Cu) Emas (Au) Perak (Ag) Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) Kandungan Mineral dalam Konsentrat Range 28-33 28-32 69-92 22-28 28-34 7-9 1.3 Rata-rata 30.. 3. Mineral Tembaga (Cu) Emas (Au) Perak (Ag) Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) Kandungan Mineral dalam Konsentrat Range 25-35 25-34 58-103 18-30 25-36 5-10 1.50 24.50 1.00 80.85 Satuan % gr/T gr/T % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah). 1. 4. FE UI.d.50 25. 5.7. 2. Tabel 2: Ingredient Content PT NNT No. 7..00 29.1.15 Satuan % gr/T gr/T % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah).50 80.50 30. 2005 diperoleh dari rata-rata ingredient content dikalikan jumlah konsentrat tembaga yang dijual. 5. 1.7. 6. . 2. 2009.00 2.6-2. 4. 7.7 Rata-rata 30..4-2.24 3. 3. PT NNT dan Hasil Penelitian LPKM ITB 4. Hasil Penelitian Lapangan 3. JokoSudiarto. Produksi dan Penjualan Proses produksi pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung beberapa mineral ikutan. Universitas Indonesia Analisis potensi.00 31. 6.

65 Tembaga (ton) 287.287.00 47.054.899.032. . Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Emas (kg) 100.307. 2.287.523.393.00 512.734.857.00 22.904.927.209.12 611.00 396.00 903.00 13. 3.207.948.279.00 726.682.00 320.00 3.200.120.00 2.118.926.505.00 396.00 886. 2009. 3.00 22.65 57.00 161.634.778. JokoSudiarto.564.00 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).00 270.492.179.00 2.803.099.00 890.. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Konsentrat (MT) 2.00 Emas (kg) 99.00 83.00 793.320.281.00 520.00 221.093.563.148.00 219.357. FE UI.787.00 57.00 224.00 581.335.00 167.00 1.214.200.234.567. 4.062.645.00 70. 5.00 205.007.00 Perak (kg) 60.685.336.00 Perak (kg) 183.00 48.00 714.242.00 82.00 3.121.00 94.00 577.931.00 163.106.00 106. 3.00 4.306..00 68.00 50.612. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Konsentrat (MT) 932.00 2.344.347. Realisasi produksi yang dilaporkan oleh perusahaan ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 3: Realisasi Produksi PT FIC No 1.688. 4.00 Perak (kg) 184. 2. Tabel 4: Realisasi Produksi PT NNT No 1.448.980.00 Tembaga (ton) 718.568.00 11.303. 2.988.00 Tembaga (ton) 721.973. 4.00 177..00 306.00 1. 5.009.560.00 108.00 Emas (kg) 18.025.25 Kandungan unsur mineral dalam konsentrat tembaga tersebut merupakan hal yang disyaratkan dalam kontrak penjualan antara penjual dan pembeli.106.388.293.359.00 17.550.00 1.761.00 146.977.053. 5.605.00 789.12 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah). Realisasi penjualan yang dilaporkan oleh perusahaan ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 5: Realisasi Penjualan PT FIC No 1. Universitas Indonesia Analisis potensi.203.00 147.00 58.698.407.00 784.00 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).212.

52 97.850.949.00 898. 3.00 608.00 289.63 262. 4.00 269.250. 4. 3.00 67. Realisasi Penyetoran PNBP Sesuai dengan kontrak karyanya.923.98 65. Realisasi pembayaran Iuran Eksploitasi/Royalti yang telah dilakukan oleh kedua perusahaan untuk periode tahun 2003 sampai dengan 2007 adalah sebagai berikut: Universitas Indonesia Analisis potensi. FE UI. .00 871..00 887.26 Tabel 6: Realisasi Penjualan PT NNT No 1.888.044.857.00 22.00 608.. 2.00 13. 2009.470.00 4.00 608.426.849.382. kewajiban kontraktor kepada pemerintah yang digolongkan dalam Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah Iuran Tetap/Deadrent dan Iuran Eskploitasi/Royalty.00 22.200.050.200.446.00 311.05 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).343.850.575.00 48.00 19. 3.532.669.63 871. 5.850. 5.761.257.00 1.63 Jumlah (US$) 898.00 69.050.00 262.296.00 278. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Emas (kg) 18.2. rincian disajikan pada Lampiran 1 dan 2.215.470.086.336. JokoSudiarto..00 608.52 Perak (kg) 60.89 248. 2.00 PT NNT (US$) 289.620.815.679.404.640.284.324.63 194.53 1.620.98 Tembaga (ton) 287.00 3.00 323.442.63 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah). Realisasi pembayaran Iuran Tetap/Deadrent yang telah dilakukan oleh perusahaan untuk periode 2003 sampai dengan 2007 adalah sebagai berikut: Tabel 7: Realisasi Penyetoran Iuran Tetap No 1.850. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 PT FIC (US$) 608.850.7.

Hal ini telah sesuai dengan Pasal 13 KK yang menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral hasil produksi.73 20.888.82 47.31 23. baik ke smelter atau trader. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 PT FIC (US$) 32..41 140.419. dengan syaratsyarat atau kondisi yang disepakati oleh penjual dan pembeli.795. Sesuai dengan perhitungan dan penyetoran royalti.005.315. yang berisi persentase atau jumlah kandungan masingmasing mineral ikutan dalam konsentrat tembaga.368. 2009.332.144.526.169.539.190. FE UI.743. Proses produksi pertambangan tembaga menghasilkan konsentrat tembaga yang akan dijual kepada pembeli.7.87 Jumlah (US$) 51. Perhitungan dan penyetoran kewajiban iuran tetap telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam KK.14 482. JokoSudiarto.87 126.08 16. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli.274. 5.829.172.51 17. 2.835.60 147. Ingredient content merupakan syarat-syarat atau kondisi yang disepakati oleh penjual dan pembeli.. 3.894. dan perak..127.335. 4. perusahaan hanya menyetorkan royalti atas mineral yang dibayar oleh pembeli yaitu tembaga.73 134. rincian disajikan pada Lampiran 3 dan 4.81 150.370.233.983.571. Rangkuman Hasil Wawancara Rangkuman hasil wawancara dengan wakil kedua perusahaan dapat diuraikan sebagai berikut: 1. emas.367.760.524. .584.13 71.421.153.92 158.130.27 Tabel 8: Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti No 1. Universitas Indonesia Analisis potensi. 3.059. 4.632. 3. pembeli hanya bersedia membayar logam yang terkandung di dalam konsentrat yang dapat diproses lebih lanjut secara ekonomis sehingga mendatangkan penghasilan bagi smelter. Dalam praktik perdagangan konsentrat.978. 2.24 96.865.3. 5.97 PT NNT (US$) 18.38 578.106.84 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).

Beberapa logam bahkan dikategorikan sebagai pengotor konsentrat (impurities) sehingga. Bagi perusahaan pemegang kuasa pertambangan (KP) besarnya tarif dan dasar pengenaannya diatur dalam peraturan pemerintah. 3. emas dan perak yang berdasarkan teknologi saat ini tidak memiliki nilai ekonomis untuk diolah lebih lanjut. Ditjen Mineral. 7. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral difokuskan kepada kebijakan tentang penetapan tarif iuran eskploitasi/eksplorasi/royalti khususnya pertambangan tembaga. Hal ini bukan merupakan upaya untuk mendapatkan nilai ekonomis dari sulfur. Rangkuman hasil wawancara adalah sebagai berikut: 1. JokoSudiarto. Dalam konsentrat tembaga terdapat beberapa logam di luar tembaga. Sedangkan bagi pemegang kontrak karya (KK) pembayaran royalti didasarkan pada ketentuan yang telah diatur dalam KK yang bersangkutan. Beberapa smelter saat ini dapat mengolah sulfur untuk dimanfaatkan oleh perusahaan petrokimia dengan syarat lokasi pengolahan sulfur berdekatan dengan lokasi pabrik petrokimia.. . yang sampai dengan saat ini telah terjadi dua kali perubahan. Batubara dan Panas Bumi. jika kandungannya melampaui ambang batas. 2009. melainkan merupakan upaya untuk meminimalkan dampak polusi yang diakibatkan oleh buangan sulfur dari pabrik smelting. justru perusahaan dikenakan penalti... maka dengan PP Nomor 13 Tahun 2000 Universitas Indonesia Analisis potensi. Batubara dan Panas Bumi. 2. FE UI. 4. besarnya tarif royalti didasarkan pada tingkat produksi yaitu tarif dalam US$ dikalikan dengan jumlah satuan. PP Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. Wawancara dengan Kepala Seksi Mineral pada Direktorat Pembinaan Program Mineral. Karena pengenaan tarif dengan harga tertentu dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ekonomi.28 6. Perusahaan pemegang Kuasa Pertambangan (KP) dan Kontrak Karya (KK) wajib membayar iuran eksplorasi atau iuran eksploitasi (royalti) untuk hasil produksi bahan galian yang diperoleh dari wilayah kuasa pertambangan atau wilayah Kontrak Karya atau wilayah usaha pertambangan lainnya sesuai dengan tarif iuran yang telah ditetapkan.

7. Masalah penetapan tarif PNBP merupakan kewenangan departemen teknis.. emas dam perak. Direktorat Jenderal Anggaran. 8. dalam hal ini adalah Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Universitas Indonesia Analisis potensi. Hal ini sesuai dengan KK-nya. emas dan perak. karena pihak pemerintah belum pernah melakukan pengujian atau penelitian atas proses produksi konsentrat tembaga mulai dari hulu (di mulut tambang) sampai dengan pemurnian atau pengolahan konsentrat tembaga menjadi logam. misalnya sekian dollar per metric ton seperti yang tercantum dalam lampiran KK-nya (tarif royalti tambahan). bisa menggunakan “fixed rate” yaitu tarif tetap atas tonase yang diproduksi. FE UI. Alasan lain mengapa mineral ikutan tersebut tidak dikenakan royalti yakni mineral tersebut tidak mempunyai nilai ekonomis atau nilai jual bahkan dalam kondisi tertentu bisa bersifat sebagai pengotor yang akan mengurangi nilai jual tembaga. sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dibayar oleh pembeli (seperti besi. JokoSudiarto. 6. sulfur. yang berisi antara lain besarnya tarif royalti didasarkan pada persentase (%) dikalikan harga jual dan mencabut PP-PP sebelumnya. PT FIC dan PT NNT hanya menyetorkan royalti atas mineral tembaga. yang antara lain menyebutkan bahwa royalti hanya dikenakan atas mineral ikutan yang dibayar oleh pembeli (tembaga. Cara penghitungan sebagai dasar pengenaan royalti. 9. Rangkuman hasil wawancara dengan salah satu kepala subdirektorat pada Direktorat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). emas dan perak). yaitu persentase (%) dikalikan harga jual. Sulit sekali untuk membuktikan hal tersebut.. 2009. Sangat setuju apabila mineral ikutan lainnya tersebut dikenakan royalti walaupun hal ini sulit untuk dilakukan karena harus menegosiasi ulang klausul-klausul dalam KK. Selanjutnya pemerintah menerbitkan PP Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. dll) sehingga tidak dikenakan royalti. .29 tentang Perubahan atas PP Nomor 58 Tahun 1998. 5.. Departemen Keuangan adalah sebagai berikut: 1. sistem tarif diubah dengan menggunakan sistem persentase (%) dari harga jual.

Sangat setuju apabila mineral ikutan lainnya yang terdapat dalam konsentrat tembaga dikenakan royalti. Dengan demikian. Inilah pangkal permasalahannya. adalah sebagai berikut: Universitas Indonesia Analisis potensi. 3..4. Demikian juga dengan besarnya PNBP yang terkait dengan kontrak tersebut harus sesuai dengan apa yang telah disepakati. perak dan tembaga) yang berada dalam konsentrat tembaga tidak bisa dikenakan royalti.. seperti yang diamanatkan dalam undang-undang bahwa semua sumber daya alam merupakan kekayaan negara yang harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan sesuai dengan prinsip bahwa PNBP merupakan hak mutlak negara. JokoSudiarto. 3.7. . 4. 2. karena di dalam klausul-klausul KK menyebutkan demikian. FE UI. Dengan kata lain hanya negara yang berhak menentukan besarnya tarif PNBP bahkan bisa saja tanpa kompromi dengan pihak ketiga. Dari kasus ini nampak bahwa terdapat sebagian kekayaan alam yang telah diambil dari bumi kita. Dalam hal kontrak karya.30 Departemen Keuangan khususnya Direktorat PNBP hanya menerima dan mencatat penerimaan PNBP dan secara periodik dilakukan rekonsiliasi dengan departemen teknis yang bersangkutan. Alasannya. 2009. negara telah merendahkan diri dengan memposisikan yang sama dengan pihak kontraktor. 6. agar mineral ikutan tersebut dapat dikenakan royalti. 5. Sesuai dengan prinsip PNBP bahwa semua PNBP seharusnya mutlak hak negara artinya negaralah yang mempunyai “bargaining power” lebih besar. sehingga semua pihak yang terkait dengan kontrak tersebut harus mematuhi seluruh klausul dalam kontrak atau perjanjian tersebut. mineral ikutan lainnya (selain emas. namun demikian baik negara ataupun rakyat tidak menikmatinya. negara harus berani untuk menegosiasi ulang klausul-klausul dalam KK yang bersangkutan.. Rangkuman Laporan Terkait Rangkuman Laporan Hasil Pemeriksaan atas Pengelolaan PNBP dari Iuran KK pada Departemen ESDM dan PT Freeport Indonesia Tahun Anggaran 2004 dan 2005 (Badan Pemeriksa Keuangan: 2006).

dan pajak-pajak. Untuk penjualan dalam negeri salah satu konsumen konsentrat terbesar adalah PT Smelting Gresik yang bergerak di bidang peleburan dan pemurnian tembaga dengan produk sampingan berupa asam sulfat dan gipsum. Akibatnya potensi penerimaan negara dari mineral ikutan belerang untuk TA 2004 dan TA 2005 (semester I) minimal sebesar USD14. Perhitungan kewajiban perusahaan KK dilaksanakan secara self assessment oleh perusahaan..00 (3.004/kg) tidak dapat direalisasikan. 3. Menurut penjelasan pihak PTFI meskipun belerang masih mempunyai nilai ekonomis namun dalam penjualan konsentrat tidak diperhitungkan sebagai mineral ikutan. dengan alasan bahwa sesuai dengan Pasal 13 huruf h KK (“.256. Kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak adalah pembayaran atas iuran tetap. Rangkuman Laporan Tim Optimalisasi Penerimaan Negara mengenai proses peleburan konsentrat tembaga di PT Smelting Gresik (TOPN: 2007) dapat Universitas Indonesia Analisis potensi..610.. 2009. 7. sedangkan penjualan ke PT Smelting Gresik bukan kategori dimaksud pasal ini. iuran produksi/royalti. . Smelting di Gresik pada saat ini 95% dari gas tersebut dapat diproses untuk menghasilkan asam sulfat dan gipsum. 2. namun oleh PT. FE UI. 4. 42 tahun 2002 tentang pelaksanaan APBN pasal 8 yang menyatakan pihak departemen berkewajiban mengintensifkan penerimaan.442.000 kg x USD0.564 ton x 1. belerang ini merupakan bagian gas buang dalam bentuk belerang sulfida (SO2) yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan.. 5. JokoSudiarto.31 1.. Hal tersebut tidak sesuai dengan Lampiran G pada KK yang menetapkan adanya iuran royalti sebesar USD0..”). perusahaan harus membayar suatu royalti tambahan yang dapat berlaku berkenaan dengan mineral yang diekspor yang dibayar kepada perusahaan oleh pembeli. Dalam proses peleburan konsentrat. Hasil pengujian dilakukan sendiri oleh PTFI dan ditegaskan melalui hasil konfirmasi diketahui bahwa dalam konsentrat tersebut masih ada kandungan berbagai mineral lain diantaranya adalah belerang (sulphur) yang kadarnya 2530%. 6.004/kg untuk mineral ikutan belerang yang masih dapat dimanfaatkan dan UU No.

Proses produksi konsentrat menjadi tembaga. gipsum. pirit (FeS2) dan terikat dengan unsur-unsur ikutan lainnya.22%. emas dan perak.. magnesia (MgO) alumina (AI2O3) dan lain-lainnya. besi teroksidasi membentuk besi oksida (FeO) yang kemudian bersama-sama senyawa silika (SiO2). JokoSudiarto. sulfur (SO2). Produk utama dalam proses pengolahan konsentrat adalah katoda tembaga (copper cathode). bornit (Cu5FeS4). Pada proses peleburan dan "converting". selenium dan tellurium.32 diuraikan sebagai berikut: 1. Selenium Anoda 2. 5. Kandungan belerang di dalam konsentrat tembaga berkisar antara 29. Pengolahan Lumpur 1. Gypsum 2. 4. membentuk terak. Sulfur (SO2) 3. FE UI. Perak 2. 2009.4%) 2. Smelter Plant Sumber data: Laporan Tim OPN tahun 2007 (diolah). digenit (CU5S9). kovelit (CuS).93% . Tellurium Tahapan Proses Pengolahan 1. belerang menjadi bagian gas buang sebagai belerang oksida (S02).70% 30. Emas 1. Sedangkan produk sampingannya adalah terak (molten slag). Pada waktu proses peleburan dan converting. . Konsentrat tembaga umumnya mengandung besi (Fe) antara 21.. Refinery Plant KatodaTembaga (Cu:99. Gas buang yang dihasilkan oleh pabrik peleburan tersebut diproses lebih lanjut Universitas Indonesia Analisis potensi. dan ditemukan dalam senyawa dengan logam tembaga dan belerang.25. kapur (CaO). 3. kalkosit (CuS). Terak yang dihasilkan dijual kepada PT Semen Gresik (Persero) sebagai bahan baku pembuatan semen.. pada dasarnya meliputi beberapa tahapan kegiatan dengan jenis output/produksi yang berbeda untuk produk utama (main product) dan produk sampingan (by product) pada masingmasing tahapan tersebut. Gambaran tahapan proses produksi serta output yang dihasilkan pada masing-masing tahapan dapat disajikan sebagai berikut : Tabel 9: Produksi dan Output PT Smelting Gresik Output/Produk Produk Utama Produk Sampingan Anoda Tembaga 1. 2. Terak (Molten Slag) (Cu :99.99%) Anoda Slimes (Lumpur Anoda) 3.95% dan ditemukan dalam mineral kalkopirit (CuFeS2).

Perdagangan logam. 2009. PT FIC juga tidak memperoleh pembayaran bahkan juga tidak dikenakan denda (penalty). Commodity Exchange (COMEX) di New York dan London Bullion Market (LBM). (Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) ITB: 1999). 4. PT FIC hanya memperoleh pembayaran untuk logam-logam tembaga. 3. emas (Au).. FE UI. yaitu: 1. 6. Namun demikian dalam hal tertentu pemasaran konsentrat tembaga dapat mengikuti ketentuan-ketentuan khusus. 5. perak (Ag) dan lainnya. JokoSudiarto. Pada proses peleburan konsentrat tembaga. Rangkuman Laporan Akhir.. Kandungan besi dalam terak berkisar antara 30-40% yang relatif rendah dan sulit untuk diekstraksi logam besinya secara menguntungkan. kapur (CaO). gas SO2 dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk dan gipsum dan dijual ke PT Petrokimia Gresik. pada dasarnya mengacu pada harga-harga yang diterbitkan oleh London Metal Exchange (LME). Dalam memasarkan konsentrat tembaga. Terhadap unsur-unsur ikutan dan senyawa pengotor yang terkandung dalam konsentrat tembaga yang jumlahnya relatif kecil. PT FIC tidak memperoleh pembayaran sama sekali. terak tersebut dapat dijadikan bahan baku semen dan dipakai Universitas Indonesia Analisis potensi. seperti tembaga (Cu). Terhadap unsur-unsur besi (Fe) dan belerang (S) yang terkandung dalam konsentrat tembaga. dan lainnya membentuk terak. Sedangkan pemasaran konsentrat tembaga dilakukan secara langsung antara penjual (seperti PT FIC) dengan para pembeli (smelter) ataupun secara tidak langsung dengan perusahaan dagang (trader). . magnesia (MgO). Secara situasional. Pada pabrik peleburan PT Smelting Company di Gresik. unsur besi akan teroksidasi menjadi besi oksida (FeO) yang bersama senyawa-senyawa: silika (SiO2). yang didasarkan pada perjanjian yang bersifat umum dan relatif sama.33 untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gypsum (CaS042H2O). emas dan perak yang terkandung dalam konsentrat tersebut. 2. Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Konsentrat Tembaga PT FIC.. alumina (Al2O3). walaupun jumlahnya relatif besar.

emas dan perak yang terdapat dalam kandungan konsentrat tembaga. SO2 cair.. unsur besi dan belerang yang terdapat dalam konsentrat tembaga akan merupakan bagian limbah proses. 7. Sedangkan unsur belerang akan teroksidasi menjadi gas SO2.H2O). JokoSudiarto.. . seperti halnya pabrik PT Smelting Company di Gresik. dan lainnya. FE UI. 6. Universitas Indonesia Analisis potensi. 2009.. Dalam pabrik peleburan konsentrat tembaga. PT FIC hanya diwajibkan oleh Pemerintah RI untuk membayar royalti terhadap logam-logam tembaga. Baik terak maupun produk tertentu tersebut dapat dijual. Unsur besi akan menjadi bagian dari terak.n.34 sebagai “sand blast”. gipsum (CaSO4. sedangkan unsur belerang akan menjadi bagian gas buang yang selanjutnya dapat diubah menjadi produk tertentu. unsur belerang murni. Gas tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4).

Dalam pengusahaan mineral dan batubara.BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4. Sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat merupakan tujuan dari setiap pengelolaan dan penggunaan sumber daya alam nasional. Hak negara menguasai atau hak penguasaan negara merupakan konsep yang didasarkan pada organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat.. serta berisi kewajiban untuk mempergunakannya sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. 38 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. yaitu: 1) negara menguasai mineral dan batubara sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan. JokoSudiarto. mengurus dan mengawasi pengelolaan atau pengusahaan mineral dan batubara.. 2) mineral dan batubara tersebut untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.1. yang merupakan suatu bentuk perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan 35 Analisis potensi. Salah satu bentuk kerja sama itu adalah Kontrak Karya (KK). Analisis Cakupan Kontrak Karya yang Berlaku Untuk Pertambangan Tembaga Dalam Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945 dan Pasal 4 ayat (1) Undang- undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara disebutkan bahwa mineral dan batubara sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan merupakan kekayaan nasional yang dikuasi oleh negara untuk sebesarbesarnya kesejahteraan rakyat. Hak penguasaan negara berisi wewenang untuk mengatur.. Ada dua implikasi yang dapat diambil dari hal tersebut. Hal tersebut sesuai dengan pasal 10 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan dan Pasal 37. pemerintah dapat melaksanakan sendiri dan/atau menunjuk kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan sendiri oleh pemerintah. FE UI. 2009. Universitas Indonesia .

dan lain-lain yang Universitas Indonesia Analisis potensi. radio aktif dan batubara) sesuai dengan jangka waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak. Dalam KK tersebut telah ditentukan hak dan kewajiban para pihak. FE UI. Perubahan terhadap terms and conditions kontrak hanya dimungkinkan apabila didasarkan atas kesepakatan para pihak yang kemudian dituangkan secara resmi dalam bentuk amandemen kontrak.. Berdasarkan analisis terhadap substansi kedua KK tersebut. Jangka waktu masing-masing tahapan kegiatan dalam KK menjadi satu paket dalam kontrak yang bersangkutan. Satu hal yang pasti adalah antara Pemerintah RI dengan pihak kontraktor terikat dalam perjanjian ikatan hukum. Obyek perjanjian dalam kedua KK tersebut adalah pemanfaatan dan pengembangan potensi pertambangan di Indonesia. Hak dan kewajiban tersebut diatur dalam Pasal 2. Pemerintah RI diwakili oleh Menteri Pertambangan dan Energi (saat ini Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral) dan pihak kontraktor yaitu PT FIC dan PT NNT.. yaitu Pemerintah RI dan kontraktor. tampak bahwa subyek hukum dalam KK itu terdiri dari dua pihak. yaitu KK antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991 dan KK antara Pemerintah RI dengan PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) tanggal 2 Desember 1986. Setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan. 2009. pemerintah menerbitkan surat keputusan tahap kegiatan sesuai dengan yang diminta oleh perusahaan KK yang bersangkutan. JokoSudiarto. gas alam. Pasal 13 dan Pasal 27 masing-masing KK. Terdapat dua KK pengusahaan pertambangan tembaga di Indonesia. Pemanfaatan dan pengembangan tersebut dimulai dari tahap eksplorasi.36 perusahaan swasta asing atau patungan antara asing dengan nasional (dalam rangka Penanaman Modal Asing) yang perusahaannya berbadan hukum Indonesia (Perseroan Terbatas) untuk melaksanakan usaha pertambangan pengusahaan mineral (tidak termasuk minyak bumi. panas bumi. . royalti. konstruksi dan eksploitasi. Hak Pemerintah RI adalah menerima pajak.. sesuai dengan kontrak karya pengusahaan pertambangan tembaga masing-masing. Kedua pihak terkena asas ”penghormatan” terhadap ketentuan dalam kontrak meliputi keseluruhan terms and conditions yang tercantum dalam kontrak.

JokoSudiarto. kewajiban kontraktor (PT FIC dan PT NNT) yang berkaitan dengan penerimaan negara seperti yang tercantum dalam Pasal 13 masing-masing KK. kecuali ditetapkan lain dalam KK. jasa manajemen. jasa teknik. 10. pungutan-pungutan. terdapat dua kewajiban kontraktor yang dikelompokan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). 8.. dividen. 2. bea masuk atas barang yang diimpor ke Indonesia. pajak penghasilan perorangan. sewa. pajak-pajak. dan jasa lainnya. . Sementara itu. 11. Sementara itu. pungutan-pungutan administrasi umum dan pembebanan-pembebanan untuk fasilitas atau jasa dan hak-hak khusus yang diberikan oleh pemerintah sepanjang pungutan-pungutan tersebut telah disetujui oleh pemerintah pusat.. FE UI. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas pembelian dan penjualan barang kena pajak. 12. menyetorkan pajak atas pemindahan hak kepemilikan kendaraan bermotor dan kapal di Indonesia. kecuali ditetapkan lain dalam KK. pajak penghasilan badan atas penghasilan yang diperoleh perusahaan.37 merupakan penerimaan negara. Dari kewajiban-kewajiban kontraktor seperti diuraikan di atas. Selanjutnya diuraikan secara rinci kedua kewajiban Universitas Indonesia Analisis potensi. yaitu kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan dan kewajiban iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. 5. 6. 9. pajak penghasilan atas bunga. bea meterai atas dokumen-dokumen yang sah. kewajibannya adalah menjaga keamanan dan melindungi investasi yang ditanamkan oleh para investor. pembebanan-pembebanan dan bea-bea yang dikenakan oleh pemerintah daerah di Indonesia yang telah disetujui oleh pemerintah pusat. 3. 7. adalah sebagai berikut: 1. pajak bumi dan bangunan (PBB).. 4. iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan. 2009.

00/Ha.044.38 PNBP tersebut.00 dengan jumlah per tahun sebesar US$608. Departemen ESDM. yaitu iuran tetap tahap operasi sesuai dengan surat keputusan mengenai penetapan luas wilayah dan tahap-tahap usaha pertambangan perusahaan yang bersangkutan. Rincian disajikan pada Lampiran 1 dan 2. PT FIC telah menyetorkan iuran tetap sebesar US$3.. Berdasarkan data-data hasil penelitian lapangan yang berasal dari laporan kedua kontraktor. dan Laporan Hasil Audit Tim OPN. FE UI. Artinya telah dilakukan usaha-usaha yang optimal untuk menggali PNBP tersebut. Dari data-data tersebut. sehingga sering disebut deadrent atau landrent dengan tarif tetap atau ”fixed rate” per Ha sesuai dengan surat keputusan mengenai penetapan luas wilayah masing-masing.63 pada periode yang sama. tidak terdapat PNBP yang berasal dari penyetoran iuran tetap tersebut yang belum tergali. Pertama. kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan. mudah bagi pihak-pihak terkait untuk melakukan pengecekan atau pengujian apakah pemerintah telah melakukan usaha-usaha yang optimal untuk menggali penerimaan tersebut. JokoSudiarto. Selama periode tersebut. diketahui bahwa kedua kontraktor telah melaksanakan kewajiban penyetoran iuran tetap sesuai dengan ketentuan tersebut di atas. Universitas Indonesia Analisis potensi.00. Sedangkan PT NNT telah menyetorkan iuran tetap sebesar US$1. Dalam lampiran “D” tersebut ditetapkan bahwa tarif iuran tetap per tahun sebesar US$ 3. Pasal 13 point (i) kedua KK tersebut menyebutkan hal yang sama yaitu bahwa ”Perusahaan harus membayar tiap tahun sebagai iuran tetap yang akan dihitung menurut jumlah hektar yang termasuk data Wilayah Kontrak Karya atau Wilayah Pertambangan pada tanggal 1 Januari dan 1 Juli dari setiap tahun dan pembayaran dilakukan di muka dalam dua kali pembayaran masing–masing dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal-tanggal tersebut selama jangka waktu persetujuan dan dibayarkan sebagaimana ditetapkan dalam lampiran “D” Kontrak Karya”.250.382.805.086. Dalam perhitungan tersebut tampak bahwa iuran tetap dapat diartikan sebagai biaya sewa lahan dari pengelola (pihak kontraktor) kepada pemilik lahan (pemerintah). Dengan perhitungan dan cara pembayaran yang sederhana tersebut. . untuk periode 2003 sampai dengan 2007.. 2009..

dollar. PCT = 1.39 Kedua. didasarkan kepada harga emas/perak yang berlaku.. Jatuh tempo setiap triwulan. Pasal 13 point (ii) menyebutkan bahwa ”Perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral hasil produksi.. Berdasarkan hasil penelitian lapangan. PCT = 3. pengangkutan dan biaya penjualan lainnya PCT : Persentase. dijual selama satu triwulan ACP SRFS : : Harga Tembaga Biaya peleburan dan pengolahan.5% Harga tembaga/pon > USD 1. 2009.5 + (ACP90)/10 Sedangkan logam mulia yang merupakan mineral ikutan dengan tembaga.900. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. proses produksi PT FIC Universitas Indonesia Analisis potensi. Terdapat perbedaan substansi Pasal 13 KK yang mengatur tata cara perhitungan dan pembayaran kewajiban tersebut. pembahasan kewajiban tersebut akan diuraikan sesuai dengan kondisi masing-masing kontraktor sebagai berikut: 1) PT FIC.. Dalam hal tembaga dijual dalam bentuk konsentrat. antara PT FIC dengan PT NNT. tarif royaltinya adalah 1% dari harga jual. PCT = 1. . paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah berakhirnya setiap triwulan. JokoSudiarto.100. maupun mata uang lain yang disetujui bersama”. kewajiban iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. FE UI. Dibayar dalam mata uang rupiah.100.900< harga tembaga/pon< USD 1. jumlah royalti yang dibayar adalah: CR = [ (P x ACP) – SRFS] x PCT P : Jumlah tembaga (pon) yang terkandung dalam konsentrat. Oleh karena itu. yang diatur sebagai berikut: Harga tembaga/pon ≤ USD 0.50% USD 0.

realisasi produksi yang dilaporkan oleh PT FIC adalah produksi konsentrat tembaga dan ketiga unsur mineral tersebut. sedangkan unsurunsur mineral ikutan lainnya tidak dihitung tonasenya.25 ton s. Tarif royalti tambahan sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran G.. 34 gr. . Demikian juga unsur mineral-mineral ikutan lainnya. hanya tiga unsur mineral tersebut yang dibayar oleh pembeli sedangkan mineral ikutan lainnya dianggap sebagai limbah yang tidak ada nilai ekonomisnya.d. Menurut PT FIC. sedangkan realiasi penjualan yang dilaporkan oleh PT FIC adalah penjualan ketiga unsur mineral tersebut.d. diantaranya adalah Universitas Indonesia Analisis potensi. misalnya ingredient content mineral tembaga adalah antara 25% s. artinya dalam setiap satu metric ton konsentrat tembaga terkandung unsur mineral emas sebanyak antara 25 gr s. Di samping itu.35 ton. seperti yang diuraikan pada Pasal 13 huruf h bahwa perusahaan harus membayar suatu Royalti Tambahan yang dapat berlaku berkenaan dengan mineral yang diekspor sebagai bijih yang tidak dapat dimanfaatkan dari Indonesia. perak (Ag) dan tembaga (Cu). Oleh karena itu. sesuai dengan Pasal 13 point (ii) KK tersebut di atas. Kandungan masing-masing mineral ikutan dalam setiap metric ton konsentrat tembaga yang diproduksi oleh PT FIC sesuai dengan ingredient content.d.d. FE UI. yang dijual oleh PT FIC kepada para pembeli (smelter dan trader). Kandungan unsur mineral dalam konsentrat tembaga tersebut merupakan hal yang disyaratkan dalam kontrak penjualan antara penjual dan pembeli. Sehingga. artinya dalam setiap satu metric ton konsentrat tembaga terkandung unsur mineral tembaga sebanyak antara 25% X 1 ton = 0. Royalti Tambahan harus dibayar sepanjang suatu mineral dalam produksi perusahaan yang diekspor adalah satu mineral yang nilainya menurut kebiasaan umum dibayar kepada perusahaan oleh pembeli. Jumlah tonase mineral yang dihitung dalam kandungan konsentrat tersebut hanya tiga unsur mineral yaitu emas (Au). 35% X 1 ton = 0. Ingredient content mineral emas adalah antara 25 gr/T s.. PT FIC hanya menghitung dan menyetorkan royalti atas penjualan ketiga unsur mineral tersebut.40 menghasilkan konsentrat tembaga. Di dalam konsentrat tersebut terkandung beberapa mineral ikutan yang tidak dapat dipisahkan dari proses produksi (menyatu dalam konsentrat tembaga tersebut).. 35%. 34 (gr/T). JokoSudiarto. 2009.

2009. 2. Spanyol Nomor 1308 F tanggal 20 April 2003 37.527.00/ton..3 Rata-rata 24. 3.834.456 ons US$ 296. JokoSudiarto.882.154.85 Satuan % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah). Tabel 10: Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT FIC Kandungan Mineral dalam Konsentrat No. seperti dicantumkan pada tabel berikut ini.838 lbs US$ 0.00 30.32 : : : : : : : 25.50 1. Contoh perhitungan kewajiban iuran eksploitasi/royalti dapat disajikan berikut ini. FE UI. .573.56 Universitas Indonesia Analisis potensi..251/ons 62. terdapat mineral ikutan dalam konsentrat tembaga yang belum dikenakan royalti.255 DMT US$ 33. S.50 7.78844/lbs 57.378. Data penjualan · · · · · · · · · · Penjual Pembeli Pelabuhan tujuan Invoice Berat konsentrat Nilai Tembaga Berat dalam lbs Harga Emas Berat dalam ons Harga Perak Berat dalam ons Harga TCRC : : : : : : PT FIC Atlantic Copper. Mineral Range Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) 18-30 25-36 5-10 1. 1. Dengan demikian. 4. PT FIC juga tidak pernah menghitung dan menyetorkan royalti tambahan tersebut dengan alasan perusahaan tidak menerima pembayaran dari pembeli atas mineral belerang tersebut.41 mineral belerang (sulfur) dengan tarif sebesar USD4.242/ons US$ 4. Namun demikian..A.4-2.430 ons US$ 5.

430 ons Jumlah Royalti : : : : : : : US$ 20. FE UI.12.154.03 US$ 4. .834.58 US$ 401.536..78844 X 25. Iuran Eksploitasi/produksi akan dihitung dengan tarip yang ditetapkan dalam Lampiran “F” sebagai berikut: “tonase atau jumlah berat yang digunakan di dalam perhitungan adalah jumlah yang diserahkan bagi pengapalan ekspor atau penjualan dalam negeri.47 US$ 227.56 US$ 15. 2) PT NNT.732.01/DJP/2000 tanggal 24 Februari Universitas Indonesia Analisis potensi.536.. Pasal 13 ayat 2 KK dapat diuraikan secara ringkas bahwa “Perusahaan akan membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral dari hasil produksi (sebagaimana dirumuskan dalam lampiran “F”) pada Wilayah Pertambangan.119. Dalam hal tembaga.378.251 X 57. sepanjang setiap Mineral dari hasil produksi itu merupakan Mineral yang nilainya sesuai kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada Perusahaan oleh pembeli. jumlah berat setiap mineral yang dikenakan iuran eksplotasi/produksi ditetapkan secara tepat dengan metode perhitungan yang dapat diterima secara internasional”.456 ons · Perak 1% X US$ 5. jumlah penyetoran royalti sebesar US$443. Rincian disajikan pada Lampiran 3.400.691.47 · Emas 1% X US$ 296.42 Perhitungan Iuran Eksploitasi/Royalti · Tembaga US$ 0.838 lbs -/.175. perhitungan royalti didasarkan pada Surat Direktur Jenderal Pertambangan Umum Nomor 310/20..009.97 US$ 3. Iuran eksplotasi/produksi akan dibayar dalam Rupiah atau mata uang lain yang disetujui bersama dan akan dibayar pada atau sebelum hari terakhir dari bulan setelah tiap triwulan”. 2009. Dalam hal konsentrat atau dore bullion.05 US$ 170.272.60 Dalam periode 2003 sampai dengan 2007. JokoSudiarto.5% X US$ 15.175.242 X 62.213.TCRC 1.633.

. b) Jika harga jual perak adalah US$15 per troy ounce atau lebih tinggi. iuran yang dikenakan adalah 2% dari harga jual. · Tingkat produksi > 80. perhitungan royalti adalah sebagai berikut: a) Jika harga jual perak adalah US$10 per troy ounce atau lebih rendah. c) Jika harga jual (S) perak adalah diantara US$10-US$15 per troy ounce. iuran yang dikenakan adalah 2% dari harga jual.K/844/MPE/1992 serta metode teknis perhitungan sesuai dengan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Nomor 514/844/DDJP/1992 tanggal 28 Desember 1992 tarif royalti untuk tembaga ditetapkan sebagai berikut: · Tingkat produksi ≤ 80. perak dan tembaga. iuran yang dikenakan adalah {1+(S–10)/5}% dari harga jual. Universitas Indonesia Analisis potensi. iuran yang dikenakan adalah {1+(G–300)/100}% dari harga jual. .00/ton. seperti dicantumkan pada tabel berikut ini. Seperti halnya pada PT FIC.00/ton. b) Jika harga jual emas adalah US$400 per troy ounce atau lebih tinggi. Dalam hal perak. dan sesuai dengan Pasal 13 ayat (2) KK tersebut di atas. terdapat mineral ikutan lainnya dalam konsentrat tembaga yang tidak dikenakan royalti. c) Jika harga jual (G) emas adalah diantara US$300 . Surat tersebut terkait dengan pengenaan tarif royalti untuk tembaga yang ditentukan berdasarkan Surat Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Nomor 2817/844/DJP/1996 tanggal 11 Nopember 1996 dengan mengacu pada Surat Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1166.000 Ton US $ 45.US$400 per troy ounce. perhitungan royalti adalah sebagai berikut: a) Jika harga jual emas adalah US$300 per troy ounce atau lebih rendah. iuran yang dikenakan adalah 1% dari harga jual. JokoSudiarto. FE UI..43 2000 perihal Pembayaran Iuran Eksploitasi/Produksi (Royalti) PT Newmont Nusa Tenggara. Dengan demikian. Dalam hal emas.000 Ton US $ 55. iuran yang dikenakan adalah 1% dari harga jual. maka PT NNT hanya menghitung dan menyetorkan royalti atas mineral emas.. 2009.

Jepang Nomor 000005 tanggal 20 Januari 2006 Nomor 2006-04-1 tanggal 30 Januari 2006 9.737.999..Berat dalam ton · Emas . 2009.00 2.Grade .73 ton (0.Berat dalam ton .284.999. 4.51 ons (175.886.09) 5.23 ton (68. 3.Harga · Perak .75 : : 0. Mineral Range Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) 22-28 28-34 7-9 1.44 Tabel 11: Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT NNT Kandungan Mineral dalam Konsentrat No. FE UI.53 X 9.284.292 2.09) : : : : : : : PT NNT Mitsubishi Material Corporation Naoshima.00 31.Harga : : : : 68.09 DMT US$ 13.21 Universitas Indonesia Analisis potensi.69 : : : : 17.98 X 9.00 8.23/31.1035) US$ 9.6-2. 2.05/31.Berat dalam ton .1035) US$ 561.05 ton (17..Berat dalam ons .701.53 175.7 Rata-rata 25.Berat dalam ons .Grade .635.292 X 9.175.09) 22. 1.55 ons (689. Data penjualan · Penjual · Pembeli · Pelabuhan tujuan · PEB · Invoice · Berat konsentrat · Nilai · Tembaga .Grade .737.15 Satuan % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah) Contoh perhitungan kewajiban iuran eksploitasi/royalti dapat disajikan berikut ini.919.98 689. .999. JokoSudiarto.999..

Dalam kontrak karya.635. merupakan pembayaran tetap kepada pemerintah tidak tergantung dari keuntungan atau jumlah yang dihasilkan dari pengusahaan sumber daya mineral tersebut. JokoSudiarto. selain membayar pajak-pajak sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku. FE UI. dimana PNBP tersebut merupakan pembayaran atas pelayanan yang dinikmati langsung oleh pengguna (pihak kontraktor).81 : US$ 63. Hal tersebut di atas senada dengan pendapat dari David C.73 ton · Emas 2% X US$ 561.45 Perhitungan Iuran Eksploitasi/Royalti · Tembaga US$ 45. pihak kontraktor yang mengusahakan atau mengolah sumber daya mineral diwajibkan membayar kepada pemerintah sebagai PNBP.75 X 5.79 Dalam periode 2003 sampai dengan 2007.571. yaitu bahwa pemerintah merupakan pemilik lahan atau pemilik sumber daya mineral dimana pemerintah akan menerima pembayaran dari pengusahaan sumber daya tersebut di luar dari pajak penghasilan. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Gerwin Bell dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 104-107).314..55 ons Jumlah Royalti : : US$ 2.94 : US$ 131. jumlah penyetoran royalti oleh PT NNT sebesar US$96. 2009.388..919. Jadi tidak tergantung dari besarnya produksi yang dihasilkan (dalam tonase) maupun besarnya pendapatan atau penjualan (dalam rupiah atau US$). Rincian disajikan pada Lampiran 4. Artinya. lease bonuses ini dapat Universitas Indonesia Analisis potensi.51 ons · Perak 1% X US$ 9. Nellor dalam buku yang sama (1995: 238-240) yang mengemukakan beberapa pengertian pengusahaan mineral.87.69 X 22.175.148.00 X 2. .274.L.. Pembayaran tersebut yaitu: 1) Lease bonuses.851.04 US$ 196. PNBP yang berasal dari iuran tetap dan royalti kontrak karya tersebut dapat digolongkan sebagai user charges dalam kelompok user fees.

Artinya. . pendapatan yang diperoleh telah melebihi atau di atas nilai investasinya.46 diartikan sebagai kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan. Artinya. Universitas Indonesia Analisis potensi. dengan kata lain. yaitu di dalam Pasal 13 KK disebutkan bahwa royalti dibayarkan atas mineral yang dibayar oleh pembeli. merupakan pajak yang dikenakan apabila terdapat keuntungan atas pengelolaan atau pengusahaan sumber daya mineral. Pemerintah harus menetapkan jumlah minimum royalti yang harus dibayar oleh pihak kontraktor atas besarnya volume atau nilai sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor tersebut. Di sisi lain. Semakin tinggi harga atau nilai penjualan mineral maka semakin tinggi tarif royaltinya. 2) Royalties. royalti dikenakan atas sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor. FE UI. 3) Resource Rent Tax (RRT). royalti bisa dihitung dari jumlah volume (misalnya metric ton) atau dari nilai sumber daya tersebut (misalnya nilai jual). royalti dibayarkan berdasarkan besarnya volume atau nilai dari sumber daya yang diusahakan. karena pemerintah tidak akan memperoleh penerimaan sampai dengan proyek atau pengusahaan sumber daya mineral tersebut menguntungkan. RRT hanya dibayarkan oleh kontraktor apabila pengusahaan sumber daya mineral tersebut telah menguntungkan. yaitu Pertama. pemerintah akan kesulitan mengadministrasikan dan menentukan kewajaran besarnya penerimaan tersebut. sehingga pemerintah perlu melakukan pengawasan yang ketat.. Dengan demikian royalti hanya dapat dikenakan kepada kontraktor apabila kontraktor tersebut benar-benar telah menerima pembayaran dari pembeli.L. Kedua. JokoSudiarto. Hal ini sangat beresiko bagi pemerintah sebagai pemilik sumber daya mineral. RRT tersebut dapat dianalogkan sebagai penerimaan royalti tambahan dari PT FIC dan pengenaan tarif progresif atas royalti. Nellor tersebut. 2009.. Ada dua makna dalam pengertian tersebut. Pengertian tersebut berbeda dengan KK. Jadi tidak tergantung apakah sumber daya tersebut bermanfaat atau tidak oleh kontraktor yang bersangkutan. Jelas di sini bahwa pengertian royalti dalam KK lebih sempit dibandingkan dengan pengertian royalti menurut pendapat David C..

FE UI. Artinya pemerintah Indonesia kehilangan kesempatan untuk memperoleh penerimaan yang lebih besar (opportunity loss). siapapun yang telah mengusahakan pertambangan dan memanfaatkan hasil-hasilnya harus dikenakan royalti. cakupan royalti dalam KK tersebut belum optimal buat pemerintah Indonesia. penentuan lokasi dari bahan galian yang akan dilakukan penambangan. 2009. Bahan galian yang diperoleh disebut bijih (ore). · Concentrator Plant.2. Menentukan Alasan yang Dapat Digunakan Untuk Mengenakan Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga Secara ringkas proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan untuk dapat menghasilkan konsentrat tembaga dapat diuraikan sebagai berikut: · Penambangan. Dengan demikian. sehingga pemerintah pun akan menerima royalti yang semakin besar. JokoSudiarto.. dikenakan atas pemanfaatan sumber daya alam (dalam hal ini adalah pengusahaan pertambangan).. untuk dilakukan penghancuran pada crushing pile dan hasilnya dikumpulkan pada surge pile. Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP menerangkan bahwa salah satu PNBP adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam.47 semakin tinggi harga atau nilai penjualan mineral maka semakin besar pula keuntungan yang diperoleh oleh kontraktor. Selanjutnya dikirim ke konsentrator plant dengan menggunakan overland conveyor. Hal ini bisa dilihat dari uraian di atas bahwa masih terdapat potensi royalti dari mineral ikutan tembaga yang belum tergali. . 4.. Makna atau substansi pasal tersebut yaitu royalti di bidang pertambangan yang merupakan salah satu PNBP. antara lain royalti di bidang pertambangan. ore dikumpulkan dalam coarse ore mill feed stockpile dan didistribusikan ke sag mill untuk dilakukan penggilingan menjadi butiran– Universitas Indonesia Analisis potensi. Artinya. Jelas di sini bahwa cakupan royalti dalam KK lebih sempit dibandingkan dengan pengertian konsep PNBP tersebut.

selanjutnya melalui pipa dengan tekanan air dikirim ke bagian filtration plant. ada dua alasan yang mendasari hal tersebut. 1950 Latest Amendment In 1962. · Filtration Plant.. Perhitungan dan penyetoran kewajiban iuran eksploitasi (royalti) telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam KK. baik menurut Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara maupun Article 3 angka 1 Japanese Mining Law Nomor 289. Dan termasuk di dalam jenis bahan galian vital.48 butiran halus. Proses ini dilakukan untuk memisahkan dan meningkatkan konsentrat. JokoSudiarto. .. melalui belt conveyor dikirim ke tempat penyimpanan konsentrat (concentrate stockpile). Diagram alur proses produksi tersebut dicantumkan pada Lampiran 5. 20 December. Dari proses produksi di atas diketahui bahwa hasil produksi perusahaan berupa konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung beberapa mineral ikutan. Berdasarkan data-data hasil penelitian lapangan diketahui bahwa kontraktor (PT FIC dan PT NNT) hanya menyetorkan royalti atas mineral tembaga. dan perak sedangkan unsur mineral ikutan lainnya tidak dibayar royaltinya. Kemudian proses loading dari penyimpanan konsentrat ke kapal dilakukan dengan belt conveyor. Seluruh unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga di atas termasuk dalam pengertian mineral. Sedangkan menurut Pasal 34 ayat (2) Undangundang Nomor 4 Tahun 2009 pengusahaan pertambangan tembaga termasuk dalam pertambangan mineral logam. emas. yaitu bahan galian yang dapat menjamin hajat hidup orang. Menurut kedua kontraktor. FE UI. Pasal 13 KK menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi Universitas Indonesia Analisis potensi. yaitu: 1. konsentrat bercampur air ditampung dalam discharge tank dan dilakukan pengepresan melalui dua buah filter press sehingga kadar air yang tersisa dalam konsentrat mencapai kadar 9%–12% dari berat konsentrat. Bahan galian ini disebut juga golongan bahan galian B sesuai dengan Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian. 2009..

emas dan perak yang berdasarkan teknologi saat ini tidak memiliki nilai ekonomis untuk diolah lebih lanjut. . Pendapat tersebut diuraikan berikut ini. Hal ini bukan merupakan upaya untuk mendapatkan nilai ekonomis dari sulfur. dilakukan oleh PT Smelting Gresik Copper Smelter & Refinery yang sahamnya 25 % dimiliki PT FIC dan sisanya perusahaan Jepang (Mitsubishi Material Corporation 60.. emas. Beberapa logam bahkan dikategorikan sebagai pengotor konsentrat (impurities) sehingga. melainkan merupakan upaya untuk meminimalkan dampak polusi yang diakibatkan oleh buangan sulfur dari pabrik smelting. 2009. Mitsubishi Corporation 9. Dalam konsentrat tembaga terdapat beberapa logam di luar tembaga. Beberapa smelter saat ini dapat mengolah sulfur untuk dimanfaatkan oleh perusahaan petrokimia dengan syarat lokasi pengolahan sulfur berdekatan dengan lokasi pabrik petrokimia. JokoSudiarto. FE UI. Simon Sembiring dalam Buku Jalan Baru Untuk Tambang: Mengalirkan Berkah Bagi Anak Bangsa (2009: 149) menguraikan bahwa peleburan dan pemurnian konsentrat tembaga di Indonesia. Dalam praktik perdagangan konsentrat. Ltd 5%).. Namun demikian.5 % dan Nippon Mining & Metals Co. smelting yang melakukan upaya ini semestinya mendapatkan insentif karena berhasil menekan tingkat polusi dan bukannya diwajibkan memberikan kompensasi kepada penjual konsentrat. terdapat beberapa pendapat yang mengatakan bahwa hampir semua unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga tersebut dapat dimanfaatkan atau hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga..5 %. Dengan demikian. Dan perusahaan hanya menerima pembayaran dari pembeli atas tiga mineral ikutan yaitu tembaga. pembeli hanya bersedia membayar logam yang terkandung di dalam konsentrat yang dapat diproses lebih lanjut secara ekonomis sehingga mendatangkan penghasilan bagi pengolah konsentrat (smelter). PT Universitas Indonesia Analisis potensi. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. hanya ada di Gresik.49 untuk kadar mineral hasil produksi. jika kandungannya melampaui ambang batas. dan perak. justru perusahaan dikenakan penalti. 2.

22%. yaitu: Pertama. emas dan perak.50 Smelting didirikan pada Februari 1996.93% . dari smelter ini diperoleh produk sampingan (by-product) berupa belerang (sulfur) dengan kapasitas 700 ribu ton/tahun.6 juta ton per tahun dan cuma sebagian kecil konsentrat dari PT NNT. FE UI. Dengan demikian. kerak tembaga (copper slag) dengan kapasitas 530 ribu ton/tahun. Indonesia saat ini hanya menyerap sepertiga konsentrat tembaga yang dihasilkan PT FIC yang sebesar 2. yakni smelter plant (pabrik peleburan). Hal tersebut senada dengan Laporan Tim Optimalisasi Penerimaan Negara Tahun 2007. acid plant (pabrik asam sulfat). Ada dua hal penting yang diuraikan dalam buku tersebut. 2009. Pada proses peleburan dan converting. 3. besi teroksidasi membentuk besi oksida Universitas Indonesia Analisis potensi. yakni: 1. Konsentrat tembaga umumnya mengandung besi (Fe) antara 21. Produk utama PT Smelting Gresik adalah katoda tembaga (copper cathode). refinery plant (pabrik pemurnian).. sulfur (SO2). JokoSudiarto. Namun sayangnya. 2. pabrik tersebut mengubah konsentrat menjadi copper cathode. Kedua. hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga. Ini membuktikan bahwa sebenarnya kita bisa mengubah dari raw material menjadi konsentrat dan selanjutnya sampai dengan end product yang dimanfaatkan industri hilir. yang langsung dijual kepada PT Petrokimia Gresik sebagai bahan baku pembuatan pupuk. dimana kadarnya (copper grade) dari 28-30% dinaikkan menjadi 99. Lalu. selenium dan tellurium.. . terdiri dari empat plant. dan ditemukan dalam senyawa dengan logam tembaga dan belerang. dan instalasi pengolahan air limbah. Produk sampingan lainnya adalah gypsum dengan kapasitas 20 ribu ton/tahun yang digunakan untuk campuran semen dan dijual ke pasar internasional. yang menjelaskan proses produksi pada PT Smelting Gresik..99%. yang mengandung bahan substitusi untuk pabrik semen sebagai pengganti sebagaian pasir besi yang merupakan bahan baku pembuatan semen. gipsum.25. Copper slag berupa kerak juga bisa dijual ke industri pembuatan kertas pasir. Sedangkan produk sampingannya adalah terak (molten slag).

Geological Survey Open-File Report 2004-1395. Terak yang dihasilkan dijual kepada PT Semen Gresik (Persero) sebagai bahan baku pembuatan semen. Hal tersebut dapat dilihat pada diagram alur proses peleburan konsentrat tembaga yang dilampirkan pada Lampiran 6. Pada waktu proses peleburan dan converting.70% - 30. dan silikon. JokoSudiarto. 2009. Dari proses tersebut jelas bahwa hampir semua unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga dapat dimanfaatkan. yakni seperti slag. gipsum.S. Selanjutnya pada proses peleburan konsentrat tembaga akan menghasilkan beberapa produk yang tidak jauh berbeda dengan hasil produksi PT Smelting Gresik. . 5. dan lainnya. 4.95% dan ditemukan dalam mineral kalkopirit (CuFeS2). Goonan dalam makalah yang berjudul “Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting” yang diuraikan pada U. bahwa pengusahaan pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga. kalsium. bornit (Cu5FeS4).. magnesia (MgO) alumina (AI2O3) dan lain-lainnya. Pada intinya hampir seluruh unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga dapat dimanfaatkan atau hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga. kalkosit (CuS). pirit (FeS2) dan terikat dengan unsur-unsur ikutan lainnya. digenit (CU5S9). Sementara itu Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) ITB dalam Buku Laporan Akhir “Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Universitas Indonesia Analisis potensi. membentuk terak. Konsentrat tersebut mengandung 25% – 35% unsur mineral tembaga.. FE UI. asam sulfat. Demikian juga pendapat dari Thomas G. oleum. Gas buang yang dihasilkan oleh pabrik peleburan tersebut diproses lebih lanjut untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gypsum (CaS042H2O).51 (FeO) yang kemudian bersama-sama senyawa silika (SiO2). persentase yang lebih kecil unsur aluminium. gas SO2 dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk dan gipsum yang dijual ke PT Petrokimia Gresik.. Kandungan belerang di dalam konsentrat tembaga berkisar antara 29. kovelit (CuS). Pada pabrik peleburan PT Smelting Gresik. dalam jumlah yang sama unsur mineral besi dan sulfur. belerang menjadi bagian gas buang sebagai belerang oksida (S02). kapur (CaO).

jelas bahwa mineral ikutan pertambangan tembaga yang layak dikenakan royalti adalah unsur mineral sulfur dan besi karena Universitas Indonesia Analisis potensi. dan lain-lain. seng (Zc). Terdiri dari senyawa ikutan dan unsur-unsur pengotor baik logam maupun non logam.. Unsur-unsur atau senyawa yang dikenakan denda. Unsur Unsur-unsur atau senyawa yang tidak dibayar dan tidak dikenakan denda. Matrik rangkuman pendapat instansi/ahli yang kompeten dilampirkan pada Lampiran 7. logam emas (Au) dan logam perak (Ag). gipsum dan dijual kepada PT Petrokimia Gresik..52 Konsentrat Tembaga PT FIC” mengemukakan bahwa ditinjau dari segi pemasaran konsentrat tembaga. 2009. Pada pabrik peleburan PT Smelting gas SO2 yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk. yaitu Departemen ESDM. Unsur-unsur tersebut adalah belerang (S) dan besi (Fe). antara lain: arsen (As). Pada pabrik peleburan PT Smelting limbah terak yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan semen dan dijual kepada PT Semen Gresik. Berdasarkan uraian di atas. Hal tersebut di atas didukung oleh pendapat instansi atau pihak yang kompeten. maka unsur-unsur yang ada di dalam konsentrat tembaga tersebut dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok sebagai berikut: 1. dimana mereka menyatakan setuju apabila seluruh mineral ikutan tambang tembaga dikenakan royalti. timbal (Pb). unsur belerang ini menyatu dalam gas buang (SO2) dan apabila diproses lebih lanjut akan menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gipsum(CaSO4. Departemen Keuangan dan BPK. 2. Dalam buku tersebut disebutkan juga bahwa unsur besi dalam proses peleburan terikat kuat dengan oksida-oksida lainnya di dalam terak. Demikian juga dengan unsur belerang. walaupun kandungannya besar. yaitu masing-masing berkisar antara 25-30%. FE UI. bismut (Bi). 3. Unsur-unsur tersebut adalah logam tembaga (Cu). Sedangkan untuk unsur-unsur pengotor pada umumnya tidak ekonomis lagi untuk diolah lebih lanjut.. bahan sand blasting.nH2O). . Unsur-unsur atau senyawa yang dihargai atau dibayar. JokoSudiarto. yang akan dikenakan denda apabila melebihi kandungan maksimum yang disepakati.

53 kedua unsur inilah yang dapat diproses lebih lanjut dan dimanfaatkan/dijual. Hal tersebut juga telah ditekankan pada Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP bahwa salah satu PNBP adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. Dan sesuai dengan prinsip PNBP bahwa semua PNBP seharusnya mutlak hak negara artinya negaralah yang mempunyai “bargaining power” lebih besar.. siapapun yang telah mengusahakan pertambangan dan memanfaatkan hasilhasilnya harus dikenakan royalti.. Dengan kata lain hanya negara yang berhak menentukan besarnya tarif PNBP bahkan bisa saja tanpa kompromi dengan pihak ketiga.3. berapapun yang diambil dari dalam bumi Indonesia seharusnya dikenakan royalti. misalnya 3% dari harga jual. langkah selanjutnya adalah menghitung perkiraan royalti tersebut berdasarkan data-data periode 2003-2007.. Sesuai dengan pendapat dari Departemen ESDM sebagai regulator atau instansi yang berwenang menetapkan tarif royalti atas pemanfaatan sumber daya alam. 4. Artinya. Perkiraan Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga Setelah mengetahui alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti dari mineral ikutan tembaga. 2009. antara lain royalti di bidang pertambangan. Siapapun yang mengambil sumber daya alam dari dalam perut bumi Indonesia. FE UI. Apalagi dengan mineral ikutan pertambangan tembaga yang jelas-jelas dapat dimanfaatkan dan mempunyai nilai jual. dikenakan atas pemanfaatan sumber daya alam (dalam hal ini adalah pengusahaan pertambangan). yaitu: Pertama. Cara inilah yang lazim diterapkan sesuai dengan kondisi perusahaan. royalti dihitung berdasarkan persentase tertentu dari harga jual. Jelas di sini bahwa makna atau substansi pasal tersebut yaitu royalti di bidang pertambangan yang merupakan salah satu PNBP. maka royalti tersebut dapat dihitung dengan dua cara. JokoSudiarto. . baik sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan ataupun yang tidak bisa dimanfaatkan tetap harus diwajibkan membayar ke negara sebagai pemilik sumber daya alam tersebut. Artinya royalti tersebut tergantung dari apa yang telah Universitas Indonesia Analisis potensi.

royalti dihitung berdasarkan fixed rate dengan formula berikut ini. Dari hasil penelitian lapangan.. yaitu untuk mineral sulfur sebesar USD4. Artinya setiap 1 ton konsentrat tembaga diperkirakan mengandung unsur mineral Sulfur sebesar 0. Berat atau jumlah ton atau kg mineral yang dijual. yaitu Pertama. Kedua.90/ton (PP 58/1998). berat masing-masing mineral diperoleh dari Ingredient Content (IC) dikalikan dengan berat konsentrat yang dijual. Jadi IC rata-rata ini merupakan nilai perkiraan kandungan masingmasing mineral dalam konsentrat. misalnya harga asam sulfat dan gipsum. harga jual yang diperoleh adalah harga produk jadi hasil proses lanjutan dari mineral tersebut. Menentukan tarif.305 ton.00/ton (KK . hal ini sangat sulit bahkan tida bisa diterapkan untuk mengestimasi potensi royalti yang hilang atas mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga.50%. JokoSudiarto. Dalam hal ini penulis menggunakan tarif yang ada pada Lampiran KK atau PP 58/1998. Tarif Jumlah satuan : : USD per ton atau per kg. Kedua. Ada dua IC yang dapat digunakan. FE UI... Langkah-langkah cara perhitungan royalti adalah sebagai berikut: 1. 2009. Menghitung jumlah satuan yaitu berat dalam ton atau kg masing-masing mineral ikutan dalam konsentrat yang dijual. karena harga jual atau nilai ekonomis mineral tersebut sulit sekali diestimasi. Royalti = tarif x jumlah satuan Dimana. IC rata-rata per bulan dari realisasi Universitas Indonesia Analisis potensi.Lampiran G) dan untuk mineral besi sebesar USD2. Apabila pendapatan perusahaan mengalami kenaikan maka royaltipun akan naik. Jadi fluktuasi royalti tergantung dari harga jual dan pendapatan perusahaan. Namun demikian. IC rata-rata dari nilai ”range” kandungan mineral yang disepakati oleh penjual dan pembeli. 2. Dimana. Misalnya Sulfur dengan range sebear 25-36% maka IC rata-rata sebesar 30. demikian juga sebaliknya. .54 diterima perusahaan atas pemanfaatan sumber daya alam tersebut (pendapatan perusahaan).

begitu seterusnya. penulis menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan EVIEWS. sehingga untuk memperkirakan berat masing-masing mineral yang terkandung dalam konsentrat yang dijual. artinya IC yang digunakan untuk menghitung perkiraan potensi royalti per triwulan adalah IC rata-rata tiga bulan sebelumnya. mengalikan tarif dengan berat masing-masing mineral untuk memperoleh nilai perkiraan royalti periode 2003 s. 2009. Dalam hal ini. FE UI. dalam Ton) : S = f (E. JokoSudiarto. yang selanjutnya digunakan untuk mencari IC rata-rata triwulanan pada periode yang bersangkutan. Periode 2006 dan 2007. dan Tembaga (dalam Ton) dengan kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton). . S : Variabel tidak bebas (kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual. misalnya penjualan Tembaga sebanyak 1 ton maka kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual sebanyak sekian ton. penulis tidak memperoleh data IC rata-rata per bulan. 2005. Perak (dalam Kg). T) : S = a + bE + cP + dT + Є Universitas Indonesia Analisis potensi. 2005 (Fitted Value). Fungsi Model Dimana. Misalnya IC triwulan I merupakan rata-rata IC bulan Januari. yang akan diuraikan berikut ini. Februari dan Maret. Selanjutnya dikalikan dengan berat konsentrat yang dijual (dalam Ton) untuk memperoleh berat masingmasing mineral yang terkandung dalam konsentrat tersebut.. Diagram cara perhitungan potensi royalti dicantumkan pada Lampiran 8.55 kandungan masing-masing mineral dalam setiap produksi konsentrat.d.d. SULFUR Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara jumlah penjualan Emas (dalam Kg).. Langkah berikutnya.. Penulis hanya memperoleh data IC rata-rata per bulan untuk periode 2003 s. P. metode yang digunakan untuk menentukan IC adalah metode rata-rata sederhana.

dan Tembaga (dalam ton) per bulan selama periode 2003 sampai dengan 2005.39 23497.851 1514.60203 1204. FE UI.525 2.0053 0. .591337 P 883.D.6695 F-statistic Durbin-Watson stat 1. 2009.79318 R-squared 0. dan kriteria ekonometrika. seperti dicantumkan pada Lampiran 9.5765 3. dalam Kg) Variabel bebas 2 (jumlah penjualan Perak.98 18. d : Data-data yang diperoleh adalah data-data kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual (dalam Ton) dan jumlah penjualan Emas (dalam Ton).755876 0..70E+08 Schwarz criterion Log likelihood -327.804 Akaike info criterion Sum squared resid 1. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta atau intersep dalam suatu model ekonometrika kurang mempunyai makna yang berarti namun demikian apabila dihilangkan model menjadi Universitas Indonesia Analisis potensi. of regression 2302. Tabel 12: Hasil Run Model 1 . kriteria statistik.E.103 0.7799 248.9000 -1.56 E P T a Є : : : : : Variabel bebas 1 (jumlah penjualan Emas.0012 0. c.42608 18.990396 S. dalam Kg) Variabel bebas 3 (jumlah penjualan Tembaga. JokoSudiarto.Sulfur Dependent Variable: S Method: Least Squares Date: 11/28/09 Time: 19:40 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std. Selanjutnya.064094 11. berdasarkan data-data tersebut dilakukan run model dengan EVIEWS. dalam Ton) Konstanta (intersep) Koefisien regresi Error peramalan b.0000 81006.991219 Mean dependent var Adjusted R-squared 0.. 0.776507 Prob(F-statistic) Prob. Perak (dalam Ton). dependent var S.1214 0.994901 E -322. Untuk menentukan model yang terbaik dilakukan dengan cara cobacoba (try and error) dan setiap model dievaluasi berdasarkan kriteria ekonomi.000000 Evaluasi model di atas adalah sebagai berikut: 1. Hasil run model dengan EVIEWS diuraikan sebagai berikut.555364 T 0..8823 202. Error t-Statistic C 4535.

2.204. masing-masing t-statistik menunjukkan angka 3. Sementara itu.591337 lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. Hal ini sesuai dengan reasoning dari model tersebut. Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan nilai t-hitung atau tstatistik masing-masing variabel bebas terhadap t-tabel dengan derajat bebas n-2 pada tingkat kepercayaan α tertentu (misalnya pada tingkat kepercayaan α=5% maka t-tabel menunjukan angka 1.535. karena t-statistik menunjukkan angka -1. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Merupakan ukuran persentase total variasi dalam variabel tidak bebas Universitas Indonesia Analisis potensi. Koefisien Variabel Bebas Sesuai dengan reasoning dasar. jika variabel bebas naik maka variabel tidak bebas juga akan naik demikian sebaliknya. bahwa koefisien variabel bebas bernilai positif. Pengujian Model Secara Keseluruhan. Dengan demikian variabel bebas secara keseluruhan (Emas.10 jauh lebih besar daripada F-tabel (F-tabel menunjukan angka 4).88. Nilai F-statistik sebesar 1. Oleh karena itu harus dicoba lagi dengan model baru. Pada tabel 12 di atas. yaitu dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas dari model. 2009.96.57 kurang bagus dan cara menginterprestasikannya sesuai dengan masalah atau topik dari model tersebut. Untuk model di atas konstanta mempunyai nilai positif sebesar 4. Perak dan Tembaga) sangat signifikan mempengaruhi Sulfur.96. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial. terdapat variabel bebas (E) yang tidak signifikan terhadap variabel tidak bebas (S).. JokoSudiarto.. Pada model di atas terdapat koefisien variabel bebas yang tidak sesuai dengan reasoning-nya. FE UI. Artinya variabel bebas berbanding lurus dengan variabel tidak bebas.85. Alat uji yang digunakan adalah Fisher Test atau uji F. Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan nilai F-statistik terhadap F-tabel dengan derajat bebas n-2 pada tingkat kepercayaan α tertentu.96).79 atau lebih besar daripada 1. variabel bebas yang lain (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S).. .55 dan 11. yaitu koefisien variabel bebas Emas dengan nilai sebesar -322.

04 %. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas adalah variasi error peramalan (et) tidak sama untuk semua pengamatan. Hasil pengujian heteroskedastisitas dicantumkan pada tabel di bawah ini.82 -1..00 P 3640809.281081 0.341532 Universitas Indonesia Analisis potensi.84666 35. Heteroskedastisitas akan muncul dalam bentuk et yang semakin besar kalau nilai variabel bebas makin besar/kecil.790130 4140700.4392 0.341532 0.242621 105952.94E+15 Log likelihood -620..784332 2553722. FE UI.2930 0.004110 R-squared 0. Nilai R2 berkisar mulai dari 0 sampai dengan 1. Akibatnya pengujian F dan t cenderung tidak signifikan.D. 8316000.2 0.030784 S. 34.185275 0.990396 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Emas. JokoSudiarto.15457 1.312635 Std. Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Sulfur dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 99. sebaliknya jika nilai R2 mendekati 0 berarti model tidak dapat diandalkan..879274 82601.3907 T^2 0. 2009.83 T -347. Nilai adjusted R2 sebesar 0.Sulfur White Heteroskedasticity Test: F-statistic 1.7438 0.329929 0. -1. Sum squared resid 1.4583 4713693. Tabel 13: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 . of regression 8187001. . Error t-Statistic 13385616 -0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob.3865 0.185275 Probability Obs*R-squared 7.4359 0.E. E^2 83716. 0.2240 0. Jika nilai R2 mendekati 1 berarti model makin dapat diandalkan.005468 0.58 dijelaskan oleh variabel bebas.070894 1052. 0.089660 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 01/01/10 Time: 18:38 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -10498772 E -3173309. 3. P^2 -88457.751631 Mean dependent var S.196935 Adjusted R-squared 0.925 -0.2399 Durbin-Watson stat 2.

2009. karena nilai kuadrat seluruh variabel bebas lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1.975980 0. Dengan kata lain munculnya suatu data dipengaruhi oleh data sebelumnya.Sulfur S E P 1.59 Pada tabel tersebut.975980 0.993777 0. nilai d. masalah multikolinieritas tersebut harus diatasi dengan cara mengeluarkan variabel bebas E dari model tersebut.7913%. dan P dengan T sebesar 96.000000 S E P T Dimana hubungan antara variabel bebas E dengan P sebesar 88. JokoSudiarto..000000 0. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG menunjukkan tidak ada masalah autokorelasi kedua dan ketiga.591 masih jauh lebih kecil dari pada nilai t-tabel sebesar 1.96 (tingkat kepercayaan α=5%).8532%. E dengan T sebesar 88. .. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. Oleh karena itu. Model tersebut di atas terdapat masalah multikolinieritas yang ditunjukan pada tabel berikut. Alat uji yang digunakan adalah statistik Durbin-Watson (DW).96 dan probabilitasnya sebesar 31. Universitas Indonesia Analisis potensi.888349 0.000000 0. Pengujian Autokorelasi Autokorelasi menyatakan adanya hubungan atau korelasi data-data pengamatan. seluruh variabel bebas tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2.000000 0.. Pengujian Multikolinieritas Multikolinieritas artinya ada hubungan atau korelasi yang cukup kuat antara sesama variabel bebas dalam model.2635% jauh di atas 5%.968532 1. Tabel 14: Korelasi Variabel Bebas .888349 0.887913 1. FE UI. Hal ini mengakibatkan nilai t-statistik variabel bebas E yang tidak signifikan. jika nilai d=2 atau mendekati 2 dapat dianggap tidak terdapat masalah autokorelasi.877059 0. Di samping itu. menurut Tabel 12 nilai t-statistik variabel bebas E sebesar -1.993777 0. Nilai d berkisar antara 0 sampai dengan 4.877059 1. Model tersebut di atas tidak ada masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1.887913 0. Hal ini ditunjukkan dalam tabel hasil pengujian BG berikut ini.968532 T 0.8349%.776507 sudah mendekati 2.

006594 0.0569 0. Tabel 16: Hasil Run Model 2 .0000 Universitas Indonesia Analisis potensi.2568% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi.072584 0.68E+08 Schwarz criterion Log likelihood -327.95E-12 2201. yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0. Error t-Statistic C 271. Error t-Statistic C 5730.6764 0.Sulfur Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.4853 F-statistic Durbin-Watson stat 1.368002 lebih kecil daripada 1.8007 3.901 18.739876 270.857716 0.002740 T -0.368002 R-squared 0. Variable Coefficient Std.421434 RESID(-2) -0.8975 0.068823 -0..50187 Prob.730596 0.89122 214.154790 S.366480 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 01/01/10 Time: 18:39 Presample missing value lagged residuals set to zero.129962 P 0. dependent var S.Sulfur Dependent Variable: S Method: Least Squares Date: 11/28/09 Time: 19:45 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std.063520 11. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan variabel bebas error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID.205723 0.095813 RESID(-1) 0.. 2009.D. Dari hasil evaluasi terhadap model di atas.421434 dan -0.9978 0.60 Tabel 15: Hasil Uji BG Model 1 .197239 -0.195013 T 0.061708 0.086699 0.914 1345.52696 18.5313 246.. 0.7155 -9.E.0002 0. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 83.6100 0.79088 0.9243 0. JokoSudiarto.684 0.997208 Pada tabel tersebut. FE UI.154270 Probability Obs*R-squared 0.413 4.3186 1701.832568 Prob. 0.189 Akaike info criterion Sum squared resid 1.8744 0. . Hasil run model tersebut dicantumkan pada tabel dibawah ini.010180 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.159441 E 27.0031 0.894822 Prob(F-statistic) 0.259593 P 788.96. of regression 2366. dapat disimpulkan bahwa model tersebut harus diubah dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas sehingga model menjadi S = a + bP + cT + Є.

D. 2009.690929 Mean dependent var S.000000 Seperti halnya model pertama. Seluruh variabel bebas (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S).39 23497.195013 dan 11. Koefisien Variabel Bebas Seluruh koefisien variabel bebas bernilai positif artinya variabel bebas tersebut mempunyai hubungan positif dengan variabel tidak bebas. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t-statistik masing-masing sebesar 3. Universitas Indonesia Analisis potensi.990524 0.44669 18. kriteria statistik.83E+08 -329. pada model kedua ini pun dilakukan evaluasi model berdasarkan kriteria ekonomi.. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0.662 1. dan kriteria ekonometrika. dengan demikian secara keseluruhan variabel bebas tersebut sangat signifikan mempengaruhi Sulfur. .57865 1724. Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut.798 0. Hal ini sudah sesuai dengan reasoning dasarnya. FE UI.96.99 %.61 R-squared Adjusted R-squared S. 1.0404 1.989950 2355.798 jauh lebih besar daripada F-tabel sebesar 4.50187 lebih besar daripada 1. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 5.91. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 81006.989950 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Sulfur dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98.98 18..730. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat 0. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial. Nilai F-statistik sebesar 1.. JokoSudiarto.724. Pengujian Model Secara Keseluruhan. 2. Hasil evaluasi secara ringkas dapat diuraikan berikut ini.E.

E. Tabel 17: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .93 T -398. Pengujian Multikolinieritas Sama dengan model pertama. 11247839 35.D.582711 Mean dependent var S.0655 T^2 0.582711 lebih kecil daripada ttabel sebesar 1.488867 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 12/30/09 Time: 18:32 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -6046563. JokoSudiarto. P^2 -81030.831676 Probability Obs*R-squared 3.67685 0. baik secara parsial maupun keseluruhan..831676 0. ada masalah multikolinieritas pada model di atas yang ditunjukkan dengan hubungan antara variabel bebas P dengan T sebesar 96.62 3. Pengujian Autokorelasi Model di atas tidak mempunyai masalah autokorelasi pertama karena nilai Universitas Indonesia Analisis potensi. Namun demikian.4628 0.515374 Pada tabel tersebut.743405 1453..096913 Adjusted R-squared -0.479573 Std. 2009.923 -0.Sulfur White Heteroskedasticity Test: F-statistic 0.007570 0.7 -0.8532%.380647 5477628. Error t-Statistic 15884976 -0.061956 0.2246 Durbin-Watson stat 2. P 2415896.743405 dan 0.273787 0. .5643 5086716.96. of regression 11357613 Sum squared resid 4.6622 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob. FE UI. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.004411 R-squared 0.7061 0. seluruh kuadrat variabel bebas (P^2 dan T^2) tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2 yang ditunjukkan dengan nilai t-statistik sebesar -0. tidak perlu dilakukan perubahan pada model tersebut karena variabel bebas sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas.45692 35. Probabilitasnya 47.7861 0.515374 0.9573% jauh lebih besar daripada 5%. 0. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas disajikan dalam tabel berikut.019614 S. 0.441048 108999..00E+15 Log likelihood -633.

.026547 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.53089 18.071356 0..193501 0. 2009.159 0.3957 0. Variable Coefficient Std. 0.368 18.4996 -0. 246. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG tidak menunjukkan adanya masalah autokorelasi kedua dan ketiga.78E+08 Schwarz criterion Log likelihood -328.59407 263..066725 -0. Hal ini ditunjukan dalam tabel hasil pengujian BG di bawah ini. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0.044000 T -0.620118 Prob.185783 -0.7881 0.8007 0. Tabel 18: Hasil Uji BG Model 2 .384082 jauh lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. dapat ditentukan model yang terbaik yaitu model kedua dengan persamaan regresi sebagai berkiut: S = 5. of regression 2397.001936 0. .271058 P -11.989950 F-sta = 1.96. JokoSudiarto.690929 sudah dekat dengan 2.7035 2.063520 11.029010 RESID(-1) 0.195013 DW = 1.658996 0.730596T Se. Dengan demikian.939529 Prob(F-statistic) 0.E.166668 0.63 DW=1.861327 RESID(-2) -0.75083 0. berdasarkan evaluasi kedua model di atas.211350 0. dependent var S.5313P + 0. Di samping itu.930158 Pada tabel tersebut.9770 0.9652 0.Sulfur Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.D.53E-12 2287.01% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi.384082 R-squared 0.861327 dan -0.724.730. FE UI.5561 F-statistic Durbin-Watson stat 1.5823 1474.986 Akaike info criterion Sum squared resid 1.50187 t-sta 3. Error t-Statistic C 399.690929 R2 = 0.955691 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 12/30/09 Time: 18:30 Presample missing value lagged residuals set to zero.798 Persamaan regresi tersebut digunakan untuk mengestimasi jumlah kandungan Universitas Indonesia Analisis potensi.91 + 788.422699 Probability Obs*R-squared 0. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 62.099060 S.

: : B = f (E. c.00 1.054.00 854. 2004 216. misalnya penjualan Tembaga sebanyak 1 ton maka kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual sebanyak sekian ton.729. .Periode 2003 – 2005 menggunakan Fitted Value atau data historical.d.247..98 806.00 3. B : Variabel tidak bebas (kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual. P.073. d Є : : : : : : Variabel bebas 1 (jumlah penjualan Emas.273. Berdasarkan data-data yang diperoleh periode 2003 s.536. 2007.64 Sulfur dalam setiap ton konsentrat yang ditentukan oleh jumlah penjualan Perak dan Tembaga.14 Penjelasan: . Perak (dalam Kg).130. ..98 4.00 4.16 4.. Tabel 19: Perkiraan Kandungan Sulfur dalam Konsentrat Perak Tembaga No Tahun Kandungan Sulfur (Ton) (Ton) 1.Rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10.382. 2007 226.00 836. 2006 226.523.00 1. estimasi tersebut ditampilkan pada tabel berikut. dalam Kg) Variabel bebas 2 (jumlah penjualan Perak. dalam Ton) Konstanta (intersep) Koefisien regresi Error peramalan Universitas Indonesia Analisis potensi.38 Jumlah 1.496.158. BESI Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara jumlah penjualan Emas (dalam Kg). FE UI. T) B = a + bE + cP + dT + Є .00 988. 2009. JokoSudiarto.00 830. dalam Kg) Variabel bebas 3 (jumlah penjualan Tembaga.202. dan Tembaga (dalam Ton) dengan kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).241.524. 2003 244.74 1.903.653. Fungsi Model Dimana.89 790.463.539.008.218.76 5.Periode 2006 – 2007 menggunakan persamaan regresi tersebut (Ekstrapolasi).53 808. 2005 289.745.514.00 2.834.283. dalam Ton) E P T a b.

8808.051606 11.989616 S. Hasil run model dengan EVIEWS diuraikan pada tabel berikut.911684 Prob(F-statistic) Prob. yaitu dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas dari model..D. JokoSudiarto.86 18315. Perak (dalam Ton).0403 203.1017 0.1010 -1. Berdasarkan data tersebut akan dilakukan run model dengan cara coba-coba dan evaluasi setiap model agar diperoleh model yang terbaik. Error t-Statistic C 3862.8808 163.Besi Dependent Variable: B Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:46 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std.0015 0. maka evaluasi model di atas secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut: 1.72 18.0000 63559.519 3.00588 18.. FE UI.476200 T 0. Koefisien Variabel Bebas Pada model di atas terdapat koefisien variabel bebas yang tidak sesuai dengan reasoning dasarnya..0037 0. Universitas Indonesia Analisis potensi.40712 R-squared 0.1059 F-statistic Durbin-Watson stat 1.11E+08 Schwarz criterion Log likelihood -320. dan Tembaga (dalam ton) per bulan selama periode 2003 sampai dengan 2005.65 Data-data yang diperoleh adalah data-data kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual (dalam Ton) dan jumlah penjualan Emas (dalam Ton). 0.128537 E -274. yaitu koefisien variabel bebas Emas dengan nilai sebesar -274.825 0.E.238.685340 P 706. 2009.588676 0.000000 Sama dengan model-model sebelumnya. of regression 1866. Oleh karena itu harus dicoba lagi dengan model baru.862. .1069 3.238 1234. seperti dicantumkan pada Lampiran 11. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 3.18183 1112.433 Akaike info criterion Sum squared resid 1. Tabel 20: Hasil Run Model 1 . dependent var S.990506 Mean dependent var Adjusted R-squared 0. Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut.

Error t-Statistic Prob.66 2.. Perak dan Tembaga) sangat signifikan mempengaruhi Sulfur. Dengan demikian variabel bebas secara keseluruhan (Emas.064877 Probability Probability 0.395385 8.249983 0. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial.96. Nilai F-statistik sebesar 1.233389 Universitas Indonesia Analisis potensi. Pengujian Model Secara Keseluruhan.989616 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Emas. 3..825 jauh lebih besar daripada F-tabel (4).685340 lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. Sementara itu. . JokoSudiarto.48 dan 11. Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Besi dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98.112. Pada tabel 18 di atas. 1.. FE UI. masing-masing t-statistik menunjukkan angka 3. karena t-statistik menunjukkan angka -1.96 %. terdapat variabel bebas (E) yang tidak signifikan terhadap variabel tidak bebas (B).41 atau lebih besar daripada 1. variabel bebas yang lain (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S). 2009. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas dicantumkan pada tabel di bawah ini.96. Tabel 21: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 – Besi White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 01/02/10 Time: 05:25 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std.

Besi B E P 1.015429 684.685340 masih jauh lebih kecil dari pada nilai t-tabel sebesar 1. 33.99 -215. -54874.000000 B E P T Dimana hubungan antara variabel bebas E dengan P sebesar 89.15 0.993349 0.887827 0. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG menunjukkan tidak Universitas Indonesia Analisis potensi.24E+14 -604. -1. menurut Tabel 18 nilai t-statistik variabel bebas E sebesar -1. 5506573.08%.224024 0.875783 0.314535 0.000000 0.D.887827 0.3389% jauh di atas 5%.4289 0. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat -6060897.96 dan probabilitasnya sebesar 23.387767 8726156.98787 34.993349 0.3356 0. masalah multikolinieritas tersebut harus diatasi dengan cara mengeluarkan variabel bebas E dari model tersebut.3183 0. Oleh karena itu.67 C E E^2 P P^2 T T^2 R-squared Adjusted R-squared S. -0.78%.063478 5328935. Tabel 22: Korelasi Variabel Bebas .85%.694567 1613311.395385 0.792070 Mean dependent var S.. 0.000000 0. JokoSudiarto. Pengujian Multikolinieritas Model tersebut di atas terdapat masalah multikolinieritas yang ditunjukan pada tabel berikut.890851 1. 8. . 2009.197800 65679. Hal ini mengakibatkan nilai t-statistik variabel bebas E yang tidak signifikan. -1932425.975541 0. E dengan T sebesar 88.002816 0..968532 1. Pengujian Autokorelasi Model tersebut di atas tidak ada masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1.96.875783 1. dan P dengan T sebesar 96.2407 0.890851 0. 45484.968532 T 0.4929 0.7816 2.16 -1..E.249983 Pada tabel tersebut.74 2171012.29577 1. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 0.7554 0.003555 0.4941 0. FE UI. Di samping itu.692529 2705746.000000 0.6162 -0. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.802371 54041.4348 3096508. karena nilai kuadrat seluruh variabel bebas lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1.911684 sudah mendekati 2. seluruh variabel bebas tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2.975541 0.

041082 0.725232 172.9493 0. Tabel 24: Hasil Run Model 2 .197226 -0.977544 0.. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan variabel bebas error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID. Hal ini ditunjukkan dalam tabel hasil pengujian BG berikut ini.3134% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi.999974 Pada tabel tersebut.9951 0..185 Akaike info criterion Sum squared resid 1.063430 RESID(-1) -0.023162 E 1. of regression 1926.2657 0.0787 F-statistic Durbin-Watson stat 1.208301 lebih kecil daripada 1.9498 0.064081 T -0.059704 RESID(-2) -0..055794 -0.003539 0. dependent var S. 2009.900213 Prob(F-statistic) 0.11248 1386.11E+08 Schwarz criterion Log likelihood -320.205692 -0.164902 S.9528 0.012281 0. dapat disimpulkan bahwa model tersebut harus diubah dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas sehingga model menjadi B = a + bP + cT + Є.96.430 -0. FE UI.9921 0. 0.8364 1.973134 Prob. .28971 222.009092 0.001513 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.02E-11 1784. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 97.9817 0.022729 Probability Obs*R-squared 0.D.37940 0. JokoSudiarto. yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar -0.68 ada masalah autokorelasi kedua dan ketiga. Variable Coefficient Std.059704 dan -0.010015 P 14. Error t-Statistic C -32. Tabel 23: Hasil Uji BG Model 1 – Besi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.11548 18.208301 R-squared 0. Dari hasil evaluasi terhadap model di atas.651 18.054468 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 01/02/10 Time: 05:39 Presample missing value lagged residuals set to zero. Hasil run model tersebut dicantumkan pada tabel dibawah ini.Besi Dependent Variable: B Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:52 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Universitas Indonesia Analisis potensi.E.

911.6367 1.03537 18.0001 0.053424 dan 11. Error 1095.989663 0.01170 Prob. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 4.053424 11.000000 Mean dependent var S. 0.9232 0.69 Variable C P T R-squared Adjusted R-squared S. 1. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Hasil evaluasi secara ringkas dapat diuraikan berikut ini.316 200.5036 0. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial.E.86 18315.0044 0. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t-statistik masing-masing sebesar 3.96.. Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0. dengan demikian secara keseluruhan variabel bebas tersebut sangat signifikan mempengaruhi Besi.989037 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Perak dan Tembaga Universitas Indonesia Analisis potensi.569439 0.051712 t-Statistic 4.0000 63559.D.771 1. FE UI... Pengujian Model Secara Keseluruhan. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 4911.72 18.484197 3.61. Koefisien Variabel Bebas Seluruh koefisien variabel bebas bernilai positif artinya variabel bebas tersebut mempunyai hubungan positif dengan variabel tidak bebas.829596 Std.718 jauh lebih besar daripada F-tabel sebesar 4.21E+08 -321.989037 1917.01170 lebih besar daripada 1. 2009.579.16733 1579. Hal ini sudah sesuai dengan reasoning dasarnya.718 0. Seluruh variabel bebas (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S).614 613. JokoSudiarto. . 2. Nilai F-statistik sebesar 1.

.6842 0.353437 3668092. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob.003045 R-squared 0. Error t-Statistic 10637371 -0.005069 S.90 %.7984 0.740612 dan 0.5525 3371359. 0. 2009. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. Probabilitasnya 41. Sum squared resid 1.E. Universitas Indonesia Analisis potensi. P 1505859. of regression 7605623. JokoSudiarto.8371 T^2 0.6195 -0.445397 Pada tabel tersebut.. baik secara parsial maupun keseluruhan.145278 0.7886 Durbin-Watson stat 2.109796 Adjusted R-squared -0.96. FE UI.955869 0. 3.445397 0.412452 Std.257634 0. 0.2452% jauh lebih besar daripada 5%.65492 34.63 -0.4645 0. P^2 -54058. 34.. akan tetapi tidak perlu dilakukan perubahan pada model tersebut karena variabel bebas sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas..600583 lebih kecil daripada ttabel sebesar 1. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas disajikan dalam tabel berikut.005069 0.70 dapat menjelaskan kandungan Besi dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98. 7586419.7262 0.740612 973.49 T -250.600583 Mean dependent var S.955869 Probability Obs*R-squared 3. seluruh kuadrat variabel bebas (P^2 dan T^2) tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2 yang ditunjukkan dengan nilai t-statistik sebesar -0.Besi White Heteroskedasticity Test: F-statistic 0.952653 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:53 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -3759641. Pengujian Multikolinieritas Ada masalah multikolinieritas pada model di atas. Tabel 25: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .87485 0.410529 72991.D.79E+15 Log likelihood -618.

569439T Se..370476 RESID(-2) -0. of regression 1973.718 Universitas Indonesia Analisis potensi.21E+08 Schwarz criterion Log likelihood -321.. Error t-Statistic C 142.186253 -0.35% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi.016798 RESID(-1) 0.172 18. Dengan demikian.14083 18.122667 S.087879 Probability Obs*R-squared 0.051712 11.279239 217.96. hasil uji BG tidak menunjukkan adanya masalah autokorelasi kedua dan ketiga. 0. JokoSudiarto.916099 0.829596 R = 0. dependent var S.053424 DW = 1. FE UI.036911 0.614 + 613.996151 Pada tabel tersebut. 200.198175 jauh lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1.D. Hal ini ditunjukan dalam tabel hasil pengujian BG di bawah ini.948770 Prob(F-statistic) 0.055076 -0.082 Akaike info criterion Sum squared resid 1.3603 -0.7135 0.9867 0. 2009.. berdasarkan evaluasi kedua model di atas.5036P + 0.911. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0. Tabel 26: Hasil Uji BG Model 2 .202954 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:53 Presample missing value lagged residuals set to zero.071936 0.742 0.370476 dan -0.198175 R-squared 0.043939 0.9881 0.36076 0. dapat ditentukan model yang terbaik yaitu model kedua dengan persamaan regresi sebagai berkiut: B = 4.21E-11 1862.01170 2 t-sta 3.000925 0.5349 F-statistic Durbin-Watson stat 1.9232 0. .903502 Prob.Besi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0. Variable Coefficient Std. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 90.8370 1206.005638 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.8442 1.118366 P -3.194172 0.E.989037 F-sta = 1.015087 T -0.9065 0.829596 sudah dekat dengan 2.71 Pengujian Autokorelasi Model di atas tidak mempunyai masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1. Di samping itu.579.

539.16 1. 2006 5.496. 2007 Jumlah Penjelasan: tarif royalti sesuai dengan KK.06 2.76 808.00 1.241.363.00 1. Tabel 27: Perkiraan Kandungan Besi dalam Konsentrat Perak Tembaga No Tahun Kandungan Besi (Ton) (Ton) 1.89 649.00 836.524.830.949.729.23 4. maka langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah perkiraan potensi royalti dari masing-masing unsur mineral.72 Persamaan regresi tersebut digunakan untuk mengestimasi jumlah kandungan Besi dalam setiap ton konsentrat yang ditentukan oleh jumlah penjualan Perak dan Tembaga.16 1. 2007 226.082.633.132.616.967. No Tahun Tabel 29: Perkiraan Potensi Royalti .00 4..417.454.76 5.Rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 12.954.956.453.019. 2004 3. 2007.00 4.Sulfur Sulfur (Ton) Tarif (USD/Ton) Perkiraan Royalti (USD) 988.463.00 773. No Tahun Tabel 28: Perkiraan Potensi Royalti .233.59 10.109.486.830.98 806.292. 2005 289.00 3.90 2. Perkiraan potensi royalti tersebut ditampilkan pada tabel berikut ini.14 4.90 2.108.36 Penjelasan: . Setelah jumlah kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat yang dijual dapat diperkirakan.12 3.53 18.86 Jumlah 1. estimasi tersebut ditampilkan pada tabel berikut.273.00 4. Universitas Indonesia Analisis potensi. 2004 3.00 4. Berdasarkan data-data yang diperoleh periode 2003 s. rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10. .00 674.04 3.536.98 4.514.160. 2003 244.158.Periode 2006 – 2007 menggunakan persamaan regresi tersebut (Ekstrapolasi).616.90 2.Periode 2003 – 2005 menggunakan Fitted Value atau data historical.40 674. rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 12.340.202.903.00 3.436. 2006 5. 2003 2.244.653.019.872.745.247.57 1.980.38 4.35 1. 2005 4. 2004 216.130.633. 2005 4..00 1.118. JokoSudiarto. 2006 226.Besi Besi (Ton) Tarif (USD/Ton) Perkiraan Royalti (USD) 773.283.23 649.218.00 3.363.882.53 672.093. .d.456.382.523.12 846.058.00 1. FE UI.00 830.90 2.834.073. 2009.90 2.16 3.109.082.00 4.00 790.86 3.. 2007 Jumlah Penjelasan: tarif royalti sesuai dengan PP58/1998.74 846. .40 2.916.054. 2003 2.00 854.008.76 672.36 2.

.397. tembaga atau unsur mineral lainnya maka dikenakan royalti dengan tarif 2% dari harga jual produk jadi tersebut.430 ons Nilai jual (logam) Royalti = 2 % X USD 37.73 Jadi potensi royalti dari mineral ikutan tembaga (sulfur dan besi) yang belum tergali untuk periode 2003 s.93 dengan rincian sebagai berikut: · Tembaga USD0.03 USD 17. 2007 diperkirakan sebesar USD28.358. dibandingkan tarif royalti menurut KK. .358.60 (perhitungan pada halaman 42). 2009.d.058.242 X 62.55 USD 747. Royalti dari mineral ikutan tambang tembaga dapat dikenakan kepada kontraktor.06 USD 37.436. perak.16).166.346. Pihak smelter. yaitu apabila kontraktor menjual hasil tambang berupa bijih atau konsentrat tembaga maka dikenakan tarif sebesar 4% dari nilai konsentrat tersebut. Sedangkan royalti menurut tarif di atas sebesar USD747.378.346.486.456. yaitu: 1. JokoSudiarto. Berdasarkan data penjualan tersebut. Tarif yang digunakan dapat mengambil contoh tarif yang berlaku di Negara Afrika Selatan (Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill: 2006).251 X 57. Untuk hasil pertambangan tembaga diterapkan dua tarif.57 + USD10. Hal ini dapat dijelaskan dengan contoh perhitungan royalti pada halaman 42.46 USD 327.456 ons · Perak USD5.545.166. Pihak Kontraktor. FE UI. Jika kontraktor menjual hasil tambang berupa logam emas.980..691. Pihak smelter tidak bisa dikenakan royalti karena mereka bukan pihak Universitas Indonesia Analisis potensi. Alternatif ini lebih menguntungkan buat Pemerintah RI.838 lbs · Emas USD296.119.258. Ada dua alternatif pemecahan masalah untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari royalti tersebut.78844 X 25.55 : : : : : USD 20..93 2.73 (USD18.021.009. royalti yang dibayar oleh PT FIC sebesar USD401.

.74 pemegang KK yang mempunyai hak untuk mengeksplorasi tembaga. yaitu menerima hasil produk sampingan dari sulfur dan besi. akan tetapi merekalah yang telah menerima manfaat dari mineral ikutan tembaga. 2009. FE UI.. Universitas Indonesia Analisis potensi. . pihak kontraktor sebagai pemegang KK selain melakukan penambangan juga diwajibkan untuk melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan. agar pihak smelter dapat dikenakan royalti maka smelter tersebut juga harus sebagai pemegang KK (kontraktor).. JokoSudiarto. Hal tersebut sejalan dengan Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menyebutkan bahwa pemegang KK yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan di dalam negeri selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak undang-undang ini diundangkan. Artinya. Oleh karena itu.

.L. JokoSudiarto.. Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa dari proses peleburan konsentrat tembaga. dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Hal ini terjadi karena dalam memasarkan konsentrat tembaga. Kontrak Karya yang berlaku untuk pengusahaan pertambangan tembaga tidak optimal buat Indonesia. Kontraktor hanya membayar royalti dari mineral emas.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. 2009. Nellor. Pasal 13 KK menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar royalti untuk kadar mineral hasil produksi. FE UI. sulfur. 3. hampir tidak ada unsur mineral dalam konsentrat tembaga yang 75 Analisis potensi. perak dan tembaga sedangkan unsur mineral lainnya tidak dibayarkan royalti. perak. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya.. royalti yang harus dibayar oleh pihak kontraktor atas besarnya volume atau nilai sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor tersebut. Universitas Indonesia . tembaga. Bahkan menurut David C.1. Cakupan KK mengenai royalti lebih sempit dibandingkan dengan Prinsip PNBP. Kandungan masing-masing unsur mineral tersebut ditentukan oleh Ingredient Content (IC) yang merupakan syarat yang disepakati oleh pembeli dan penjual. dan lain-lain. besi. 20 Tahun 1997 tentang PNBP menyebutkan bahwa salah satu PNPB adalah royalti dari pemanfaatan sumber daya alam di bidang pertambangan. kontraktor menerima pembayaran dari pembeli hanya atas tiga mineral tersebut sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dihargai oleh para pembeli. Dari proses produksi pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung unsurunsur mineral seperti emas. 2. Sesuai dengan UU No.

690929 R2 = 0. Dari run model dengan EVIEWS diperoleh hasil bahwa jumlah perak dan tembaga yang dijual (dalam ton) sangat signifikan mempengaruhi kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga yang dijual. 2005.730596T Se. Sulfur dan besi dapat diproses lebih lanjut yang akan menghasilkan produk sampingan berupa asam sulfat. Produk tersebut dapat dijual kepada pabrik pupuk sebagai bahan baku pupuk dan kepada pabrik semen sebagai pengganti sand blasting.724.. Sesuai dengan prinsip PNBP. mineral sulfur dan besi seharusnya dapat dikenakan royalti..989950 F-sta = 1. 4. JokoSudiarto. Tarif royalti dapat digunakan tarif yang ada pada Lampiran KK atau PP 58/1998. penulis menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan program EVIEWS berdasarkan data-data periode 2003 s. Diagram cara perhitungan perkiraan potensi royalti dicantumkan pada Lampiran 8.5313P + 0. Penulis tidak memperoleh data IC rata-rata per bulan pada periode 2006 – 2007. FE UI..798 Universitas Indonesia Analisis potensi.730.50187 t-sta 3. Periode 2003 s. Sulfur S = 5. penulis memperoleh data IC rata-rata per bulan sehingga jumlah satuan masing-masing mineral ikutan langsung dapat dihitung (Fitted Value). gipsum dan terak. Artinya jumlah kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga yang dijual dapat diperkirakan dengan persamaan berikut ini. sehingga untuk memperkirakan jumlah satuan masing-masing mineral ikutan tersebut. 5. diperoleh dari IC rata-rata per bulan dikalikan dengan jumlah konsentrat tembaga yang dijual. 2009.063520 11. 2005. 246.195013 DW = 1.d. . Sedangkan jumlah satuan yang merupakan berat masing-masing mineral ikutan. terutama sulfur dan besi.91 + 788.8007 0.d. potensi royalti dari mineral sulfur dan besi dapat dihitung berdasarkan tarif dikalikan jumlah satuan. Sesuai pendapat Departemen ESDM sebagai regulator dan instansi yang berwenang menetapkan tarif royalti.76 tidak dimanfaatkan.

agar pihak smelter dapat dikenakan royalti maka smelter tersebut juga harus sebagai pemegang KK (kontraktor). Potensi masing-masing mineral ikutan disampaikan berikut ini.545.01170 t-sta 3.486.57 10. 200.73 7. .911.614 + 613. Terdapat dua alternatif pemecahan masalah untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari royalti tersebut.980. FE UI. Hal ini Universitas Indonesia Analisis potensi. : : : : jumlah penjualan Perak (dalam Ton) jumlah penjualan Tembaga (dalam Ton) kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual (dlm Ton) kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual (dlm Ton) Berdasarkan langkah-langkah tersebut di atas.16 28.718 Dimana.456.36 Jumlah Penjelasan: rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10 dan 12. 1.14 3. mengenakan royalti kepada kontraktor dengan tarif mengacu (best practice) negara lain.90 Perkiraan Royalti (USD) 18. 2. Artinya.d.. 2009.545.436.829596 R2 = 0.77 Besi B = 4.989037 F-sta = 1. pihak kontraktor sebagai pemegang KK selain melakukan penambangan juga diwajibkan untuk melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan. Jumlah Satuan (Ton) 4. yaitu: Pertama.745.73. JokoSudiarto.019.616.569439T Se.9232 0.053424 DW = 1. No. dimana untuk periode 2003 s. maka potensi royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga diperkirakan sebesar USD28. 2005 berdasarkan Fitted Value dan untuk periode 2006-2007 berdasarkan Ekstrapolasi. Mineral Sulfur Besi Tarif (USD/Ton) 4.051712 11. Kedua. P T S B 6.436.5036P + 0.514...058.579. misalnya Afrika Selatan sehingga lebih menguntungkan negara.00 2.

Saran Dari hasil pembahasan dan simpulan di atas. 4. JokoSudiarto. Tarif tersebut dapat mengacu (best practice) negara lain. Melakukan negosiasi kepada pihak kontraktor (pemegang KK) untuk merevisi klausul kontrak karya sehingga saran nomor 2 s.d. . 3 dapat dilaksanakan. misalnya Afrika Selatan atau tarif lain berdasarkan hasil penelitian dan pengujian di atas sehingga penerimaan royalti tersebut lebih menguntungkan Pemerintah RI. agar: 1.. 5. oo0oo Universitas Indonesia Analisis potensi.. penulis menyarankan kepada Pemerintah RI yang dalam hal ini diwakili oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.2. Menetapkan tarif royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga beserta cara-cara perhitungan royaltinya. 2009. Melaksanakan amanat Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menyebutkan bahwa pemegang KK yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan di dalam negeri. Melakukan penelitian dan pengujian yang lebih detail dan akurat atas jenis dan kadar mineral ikutan yang terkandung dalam konsentrat tembaga.. serta pengujian jumlah dan kualitas produk yang dihasilkan oleh pabrik pengolah konsentrat tembaga.78 sesuai dengan amanat Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. FE UI. 2. 3.

JokoSudiarto. IPB Press. Washington D. Tax Policy Hand Book: User Charges. Thomas G. Hukum Pertambangan di Indonesia. Ekonometrika Dasar. Tax Policy Division Fiscal Affairs Department International Monetary Fund.. 2007 Goonan. .. 2009. Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Konsentrat Tembaga PT Freeport Indonesia Company. Jakarta. Hasil Pemeriksaan atas Pengelolaan PNBP dari Iuran KK pada Departemen ESDM dan PT Freeport Indonesia Tahun Anggaran 2004 dan 2005. Penerbit Erlangga. Zain. Gerwin. 1999 Analisis potensi.gov. Jakarta.C. Analisis Regresi. Anton. 1978 Hendranata. PT Raja Grafindo Persada. Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill – 2006. Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting. Bandung. Jakarta.. Ekonometrika Terapan. Virginia. Jakarta. 2004 H Salim HS. 1995 Departement National Treasury Republic of South Africa. Fadjar. Laporan Akhir. US Geological Survey Report 2004-1395. Bogor.za) Eriyatno dan Sofyar. (www. 2005 Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat ITB. MPKP FEUI. Damodar. 2005 Gujarati.DAFTAR PUSTAKA Badan Pemeriksa Keuangan.treasury. Sumarno. Edisi Revisi. 2006 Bell. Riset Kebijakan Metode Penelitian Untuk Pascasarjana. FE UI.

. Jakarta..C. Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara....... Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Metode Penelitian Kualitatif......... 1997 .............. Edisi Kelima..... Undang-undang Republik Indonesia..........Moelong..... Jakarta.. JokoSudiarto... David C..... 1993 Nellor.. Lexy J.....L. Jakarta. 2000 .... Penerbit Erlangga.... Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan Umum. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. Undang-undang Republik Indonesia... Edisi Revisi..... 1967 ........... 2009 . 2004 Musgrave.... Undang-undang Republik Indonesia... 1995 Pemerintah RI...... Tax Policy Division Fiscal Affairs Department International Monetary Fund... Jakarta. Peggy B. Jakarta. Tax Policy Hand Book: Environmental Taxes. Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Richard A and Musgrave....... 2003 ..... 2003 ... Bandung.. FE UI. Keuangan Negara Dalam Teori dan Praktek. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif dan Analisis potensi. Undang-undang Republik Indonesia.... Jakarta. 2009........ . Washington D...... Remaja Rosdakarya.. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.......... Jakarta.

Jakarta. UPP STIM YKPN.... Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian. Edisi 11. 2002 Winarno.. Jakarta.. 1998 . 2007.. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EVIEWS. 2004 Suharto.Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum.... 2009. JokoSudiarto. Elex Media Komputindo. 2009 Sugiyono.. Yogyakarta.. Pemenuhan Kewajiban Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Atas Perusahaan Pelaksana Kontrak Karya (PT Newmont Nusa Tenggara). Edisi Kedua... Alfabeta. Budi. Analisis Kebijakan Publik.. Metode Penelitian Administrasi... . Yogyakarta. Bandung. 1980 Sembiring. Laporan. Bandung. Jalan Baru Untuk Tambang: Mengalirkan Berkah Bagi Anah Bangsa.. Wing Wahyu. Teori dan Proses Kebijakan Publik. Alfabeta. Media Pressindo.. 2005 Tim Optimalisasi Penerimaan Negara... Edi. FE UI.. Jakarta... 2009 Analisis potensi. Winarno.. Simon.

781.22 40.00 230.37 210.23 131.00 213.00 51.572.812.86 3.29 108.59 846.260.30 54.68 75. 2007 didasarkan pada formula atau Ekstrapolasi .911.330.453.244.855.00 715.90 2.109.67 773.00 289.00 86.00 836.157.108. Kandungan Besi dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2003 s.00 50.90 2.90 2.420.14 168.90 2.99 42.00 58. FE UI. 2009.183.00 186.00 72.454.118.98 70.143.00 286.00 157.57 x T Ton 214.634.829.844.050.96 1.351.524.954.382.00 277.61 4.02 692.76 202.098.216.389.61 32.90 2.77 146. yaitu tarif royalti dikalikan dengan tonase kandungan besi.911.90 2.916.04 115.12 185.531.40 103.82 59.376.617. Kandungan Besi dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2006 s.64 163.633.386.641.09 142.98 Tembaga (T) Ton 273.863.17 609.222.48 223.06 538.90 2.90 USD/Ton 2.41 Konstanta 0.71 124.830.94 316.00 47.00 226.01 238.742.877.00 226.082.12 515.340.536.486.100.675.00 120. Tarif royalti berdasarkan Kontrak Karya dan PP tentang tarif royalti.343.218.00 806.90 2.08 37.681.496.61 4.419.436.017.833.90 2.247.700.301.89 289.911.268.61 2.00 588.600.07 551.653.102.00 202.572.97 362.155.410.070.90 2.290.80 1.08 104.651. 2005 memakai data historical atau Fitted Value 2.882.00 1.908..88 154.75 126.96 34.568.90 2.14 85.261.044. Analisis potensi.713.397.90 2.36 447.903.900.00 290.332.00 216.158.246.827.463.949.00 74.271.202.D.36 2.358.00 190.256.456.108.61 4.93 94.911.70 666.16 301.45 229.08 647.019.996.42 177.539.208.59 10.496.024.89 249.90 2.481.363.16 4.90 2. 3.911.06 472.00 183.16 Penjelasan: 1.48 45.74 165.922.956.90 2. 4.35 381. Periode Perak (P) Kg Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2003 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2004 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2005 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2006 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.61 4.071.83 2.61 4.008.90 Lampiran 12 Kandungan Besi Tarif Estimasi Royalti USD 620..d.499.119.90 2. .846.911. Estimasi royalti dihitung dengan cara fixed rate (tarif tetap). JokoSudiarto.62 223.834.056.95 448.911.90 2.202.00 70.82 674.00 244.054.00 59.82 672.53 4.68 649.d.11 4.00 299.00 207.620.27 1.00 43.61 4. 2007 Penjualan No.00 1.344.296.00 74.763.287.00 68.767.650.941.27 1.461..02 164. 2007 60.00 32.566.523.616.d.53 830.356.90 2.08 366.05 118.130.00 41.020.PERHITUNGAN ESTIMASI ROYALTI .040.313.911.72 488.00 52.63 x P 0.00 149.868.143.59 246.12 154.141.58 190.352.060.925.61 55.00 57.95 649.165.00 247.24 425.BESI PERIODE 2003 S.133.

000 90.915 85.DATA PENJUALAN EMAS.503 68. JokoSudiarto.981 79.811 78.041 110.679 56.955 44.759 9 10 10 17 19 B E P T Kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).084 67.437 27.801 63.923 46. Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton).582 91.D.350 67. Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg).331 102.958 71.500 48.366 66. 2005 Tahun 2003-1 2003-2 2003-3 2003-4 2003-5 2003-6 2003-7 2003-8 2003-9 2003-10 2003-11 2003-12 2004-1 2004-2 2004-3 2004-4 2004-5 2004-6 2004-7 2004-8 2004-9 2004-10 2004-11 2004-12 2005-1 2005-2 2005-3 2005-4 2005-5 2005-6 2005-7 2005-8 2005-9 2005-10 2005-11 2005-12 B 59.249 53.093 67.495 128.918 74.143 84.225 99.314 87.277 75.954 54.928 79.339 82.582 56.049 68.250 51. . 2009.285 109.630 26.112 121.030 72. Sumber Data : 1 Laporan ESDM 2 Laporan Perusahaan (PT FIC dan PT NNT) 3 Laporan LPKM ITB Analisis potensi.608 60.838 65..424 83.534 77.392 78.370 57.831 47. TEMBAGA TAHUN 2003 S.839 70.895 96.733 48.756 61.591 82. PERAK.243 42.530 98.000 104.821 E 7 5 14 11 12 15 16 10 14 6 3 7 2 2 4 3 6 8 6 5 8 5 8 13 8 5 10 10 12 7 9 P 19 15 27 23 21 26 28 19 25 13 12 16 8 7 17 12 17 21 20 18 21 17 25 32 17 14 29 25 25 19 23 24 28 22 35 30 Lampiran 11 T 79.695 103.535 86.937 30..736 43.447 58.259 102.230 61. FE UI.786 37.097 36. Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg).457 88.127 51.189 78..649 85.659 72.697 127.823 55.099 99.049 30.281 62.

00 226.00 202.619.183.00 50.332.980.57 Penjelasan: 1.729.00 4.218. 2005 memakai data historical atau Fitted Value 2.301.91 55.653.726.00 4.00 74.166.028.112.641.218.00 4.003.78 742.352.00 70.536.904.916.77 276.04 974.132.00 59..745.785.00 988.00 277.730.00 806.834.050.776.12 133.00 521.875.89 289.00 Lampiran 10 Kandungan Sulfur Tarif Estimasi Royalti USD 1.80 1.187.00 4.618.996.650.00 1.00 836..320.362.00 220.967.94 316.218.98 Tembaga (T) Ton 273.00 319.130.290.84 202.91 5.812.81 139.00 130.46 109.139.276.292. FE UI.922.08 1.202.141.00 4.33 790.00 4.730.00 746.49 Konstanta 0.247.713.11 176.730.00 207. Tarif royalti berdasarkan Kontrak Karya dan PP tentang tarif royalti.00 164.136.107.89 249.48 808.941.00 1.564.246. Analisis potensi.700.00 4.944.00 1.872.00 226.00 157.562.144. 2007 60.46 196.22 40.410.00 930.00 244.91 5.98 70.82 59.68 75.198.763.74 165.038.D.730.572.00 186.070.38 809.664.46 707.53 18.472.00 304.00 283.00 3.160.054.00 4.00 4.00 880.00 190. Periode Perak (P) Kg Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2003 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2004 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2005 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2006 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.00 290.00 57.91 41.925.00 1.00 47.d.044. 2009.417.00 149.496.844.903.218.00 4.00 854.16 5.00 USD/Ton 4.00 74.00 1.460.00 1.316.524. 3.00 250.572.00 289.00 286.00 1.039.496.730.00 1.730.00 72.093.286.499. Kandungan Sulfur dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2006 s.56 147.00 4.92 3.00 284.91 5.00 1.742.82 34.568.00 43.331.524.38 4.890.00 52.34 3.268.358.283.954.122. 2007 Penjualan No.271.30 54.79 x P 0.91 5.080.00 51.53 830.00 670.00 230.049.954.d. 4.00 3.76 243.020.94 185.53 4.91 5.158.344.00 4.00 183.00 4.556.00 4.00 656.600.85 784.00 68.133. . Kandungan Sulfur dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2003 s.00 232.953. yaitu tarif royalti dikalikan dengan tonase kandungan besi.91 5.916.143.382.399.900.19 149.762.730.00 86.420.241.397.730.523.00 41.008.00 280.00 4.73 x T Ton 259.520.539.00 247.99 42.165.00 120.45 151.00 216. JokoSudiarto.93 120.08 37.565.630.615. Estimasi royalti dihitung dengan cara fixed rate (tarif tetap).152.PERHITUNGAN ESTIMASI ROYALTI .00 32.812.313.599.00 58.00 4.00 167.00 299.00 4. 2007 didasarkan pada formula atau Ekstrapolasi .396.202.617.102.251.687.04 211.132.855.058.09 181.48 45.477.273.463.d.SULFUR PERIODE 2003 S.14 4..00 4.767.233.073.00 4.00 186.332.514.00 213.78 598.48 5.

692 33. TEMBAGA DAN SULFUR TAHUN 2003 S.602 71. Sumber Data : 1 Laporan ESDM 2 Laporan Perusahaan (PT FIC dan PT NNT) 3 Laporan LPKM ITB Analisis potensi.438 92.884 61.D. PERAK.112 121.119 73.736 43.049 30.043 46.811 78. 2009.486 80.495 128.695 103.DATA PENJUALAN EMAS.243 42.331 102.860 96.759 9 10 10 17 19 S E P T Kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).668 101.530 98.457 88.649 85.917 46.812 56.534 77.093 67.744 69.661 71..921 126.143 84.. Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg).918 74.169 86.424 83.971 105.242 105.582 91.608 60.659 72.000 104..823 61.838 65.259 102.645 78. 2005 Tahun 2003-1 2003-2 2003-3 2003-4 2003-5 2003-6 2003-7 2003-8 2003-9 2003-10 2003-11 2003-12 2004-1 2004-2 2004-3 2004-4 2004-5 2004-6 2004-7 2004-8 2004-9 2004-10 2004-11 2004-12 2005-1 2005-2 2005-3 2005-4 2005-5 2005-6 2005-7 2005-8 2005-9 2005-10 2005-11 2005-12 S 76.697 127.706 71.485 34.041 110.303 61.000 90.743 88.629 109.215 91.197 E 7 5 14 11 12 15 16 10 14 6 3 7 2 2 4 3 6 8 6 5 8 5 8 13 8 5 10 10 12 7 9 P 19 15 27 23 21 26 28 19 25 13 12 16 8 7 17 12 17 21 20 18 21 17 25 32 17 14 29 25 25 19 23 24 28 22 35 30 Lampiran 9 T 79.225 84.281 62.839 70.937 30. FE UI.267 74.814 65. JokoSudiarto. .387 111.503 68.230 61.225 99.249 53.250 51.127 85.285 109.631 58. Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg).999 100.910 111.706 99. Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton).189 123.392 78.

periode 2003-2005 Kalikan tarif dg kandungan tsb. ? Tidak Data IC periode 2006-2007 tdk diperoleh. periode 2006-2007 Perkiraan Royalti periode 2003-2005 (Fitted Value) Perkiraan Royalti periode 2006-2007 (Ekstrapolasi) Penjelasan: 1. Ya Tentukan IC per bulan sesuai data yg diperoleh periode 2003-2005 Tentukan kandungan mineral dlm konsetrat dg regresi berdasarkan data periode 2003-2005 Jumlah konsentrat yg dijual per bulan periode 2003-2005 Tentukan Model Kalikan IC dg jml konsentrat yg dijual periode 2003-2005 Run Model dg Program EVIEWS Kandungan mineral dlm konsentrat th.5%) merupakan angka perkiraan kandungan yg disepakati pembeli & penjual. ... Alasan regresi: data yg digunakan lebih valid dan hasil lebih realistis. Tarif sesuai dg KK dan PP 58/1998. FE UI.. Sedangkan IC rata-rata perbulan yg digunakan untuk data regresi mrpk rata-rata IC sesuai dg realisasi penjualan konsentrat. 3. JokoSudiarto.DIAGRAM CARA PERHITUNGAN PERKIRAAN POTENSI ROYALTI Lampiran 8 Tentukan Tarif Menghitung Jumlah Satuan Tentukan IC rata2 per bulan sesuai dg data yg diperoleh periode 2003-2007 Apakah ada IC tsb.2003-2005 Kandungan mineral dlm konsentrat th. Tentukan alternatif lain. IC : Ingredient Content 2.2006-2007 Kalikan tarif dg kandungan tsb. 2009. Perkiraan Potensi Royalti periode 2003-2007 Analisis potensi. kandungan mineral sulfur sebesar 25-36% (rata-rata 30. Misalnya.

ESDM Dep. perak. konsentrat tembaga Emas. . perak. perak. perak.. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. 6 Alasan tidak dibayar - Halaman 1 dari 3 Analisis potensi. - - konsentrat tembaga Emas. JokoSudiarto. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. perak. perak. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. tembaga) Unsur tsb tidak dibayar oleh pembeli. 2009. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. perak. FE UI. perak. perak. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas.. Jumlah masingmasing mineral ditentukan oleh ingredient content.. ESDM belum pernah melakukan penelitian yg mendalam atas kandungan masingmasing mineral tsb. konsentrat tembaga Emas. tembaga dan mineral ikutan lainnya konsentrat tembaga Unsur yg dibayar (emas. tembaga dan mineral ikutan lainnya. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. tembaga) Unsur yg tdk dibayar dan tdk dikenakan denda (belerang. tembaga dan mineral ikutan lainnya. perak. perak. - Emas. BPK Perusahaan PT Smelting LPKM ITB Main Issues UMUM Hasil pertambangan tembaga Kandungan dlm konsentrat Dep. besi) Unsur yg dikenakan denda (mineral ikutan lainnya) 3 4 5 Kewajiban yang termasuk PNBP dlm KK Mineral yang dibayar royalti Mineral yang tidak dibayar royalti Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas.Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No I 1 2 Lampiran 7. Keu. perak. perak. perak. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian dan mineral ikutan tsb tdk dibayar oleh pembeli.

hrs dikenakan royalti. Sesuai dg ketentuan yg ada. Bisa juga dg Fixed PNBP mrpk hak mutlak negara. Besarnya royalti ditentukan oleh negara sesuai dg PP. namun hal ini sulit dilakukan krn mineral tsb tdk ada harga jualnya. hampir seluruh mineral tsb dpt dimanfaatkan dan dpt dijual. UU ttg PNBP. UU ttg PNBP dan PP ttg tarif. 2009. Sudah jelas ada sumber daya alam yg dimanfaatkan. FE UI. Seluruh sumber daya alam yg telah dimanfaatkan hrs dikenakan royalti. - - 3 Perhitungan royalti atas mineral ikutan lainnya Persentase tertentu dari harga jual. unsur tsb menjadi terak dan gas buang namun dpt dijual.. LPKM ITB Dari proses peleburan konsetrat tembaga. tembaga) - 2 Dasar pengenaan royalti atas mineral ikutan lainnya KK. . namun hrs dengan addendum KK setuju setuju Tdk setuju krn mineral tsb tdak bernilai ekonomis Kurang tepat krn dlm perdagangan yg lazim.. ESDM ESDM blm pernah melakukan penelitian yg mendalam.. Perusahaan Merupakan unsur pengotor yg tdk bernilai ekonomis PT Smelting Dari proses peleburan. - - - Halaman 2 dari 3 Analisis potensi. Lampiran G dlm KK. - Dep. Keu. PP ttg tarif. BPK - Main Issues Manfaat mineral ikutan lainnya Dep. UU ttg PNBP dan PP ttg tarif. JokoSudiarto. perak. Prinsip PNBP (user charges). hanya tiga unsur yg dibayar oleh pembeli (emas. II 1 DASAR PENGENAAN ROYALTI ATAS MINERAL IKUTAN TEMBAGA Seluruh mineral ikutan dikenakan royalti Setuju.Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No 7 Lampiran 7.

Mineral ikutan lainnya (selain emas. JokoSudiarto. Hal ini sulit sekali dilakukan karena pihak kontraktor bisa dipastikan tidak setuju.. tembaga) tdk dikenakan royalti tetapi dikenakan pajak penghasilan. · Tidak terdapat potential loss atau royalti yang hilang karena seluruh mineral ikutan tembaga dikenakan royalti. 4 Simpulan Mineral ikutan lainnya dpt dikenakan royalti. perak.Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No Main Issues Dep. perak. FE UI.. sehingga untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tsb harus dengan addendum KK. sehingga sulit sekali menentukan nilai ekonomis masing-masing mineral tsb sebagai dasar perhitungan royaltinya. perak. Mineral ikutan lainnya (selain emas. · Dengan perhitungan yang sederhana. · Pihak yang terkait dengan kontrak harus mematuhi seluruh terms and conditions yang tercantum dalam kontrak tsb. ESDM rate (tarif tetap) dikalikan dg tonase. . tembaga) dpt dimanfaatkan dan dijual. Keu. Seluruh mineral ikutan dlm konsentrat tembaga hrs dikenakan royalti Pemerintah hrs melakukan negosiasi KK agar seluruh mineral dpt dikenakan royalti Mineral ikutan lainnya (selain emas. 2009. 2 Kelebihan · Perhitungan royalti dengan fixed rate. krn klausul KK menyebutkan demikian. mudah dilaksanakan dan dapat diterapkan pada seluruh mineral ikutan tembaga.. BPK Perusahaan PT Smelting LPKM ITB Dep. Lampiran 7. namun hrs dg addendum KK. Halaman 3 dari 3 Analisis potensi. semua pihak yang terkait dapat saling mengecek dan menguji kewajaran jumlah royalti. III 1 KELEMAHAN DAN KELEBIHAN Kelemahan · Pemerintah belum pernah melakukan pengujian atas jenis dan kadar mineral ikutan tembaga. tembaga) tdk dibayar royalti.

converting. Smelting is a separating and value-adding process. JokoSudiarto. 2009. FE UI..3 mt of cast copper product. . The total capacity of the smelters studied was 8. The steps----smelting. and casting----are taken together as a single process.. The data reported in the figure represent the weighted average copper-specific flows for all the smelters studied in this report. Analisis potensi. fire refining..Giagram Proses Peleburan Konsentrat Tembaga Lampiran 6 Figure: Copper-specific flow diagram of the smelting process.

. JokoSudiarto... 2009. .Lampiran 5 Analisis potensi. FE UI.

380.187.871.51 28 Apr 2006 27 Jul 2004 19 Okt 2006 30 Jan 2007 2.128.793.370.865.641. .526.335.775.114.059.542.788..335. 2007 Keterangan: Sumber data: Departemen ESDM dan Laporan PT Newmont Nusatenggara (diolah) 3.332.d.752.361.128.51 3.641.88 5.880.654.010.380.81 4.020.460.978.50 6.571.47 4.114.PT NEWMONT NUSATENGGARA Lampiran 4 REALISASI PENYETORAN ROYALTI PERIODE 2003 S.48 7.206.654.274.020. JokoSudiarto.51 TAHUN 2007 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.370.51 20.865.380.31 Tgl.164.51 3.752.122.39 7.123.22 4.746.47 16.451. 2007 Royalti Pokok US $ TAHUN 2003 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2003 3.037.750.978.072.010.68 5.59 5.24 96. FE UI.88 5.26 6..24 96.829.47 16.40 18.123.39 7.421.749.08 TAHUN 2006 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2006 2.26 6.D.22 7.880.997.206.997.571.76 5.526.749.731.332. Jumlah US $ No.87 24 Apr 2007 27 Jul 2007 30 Okt 2007 30 Jan 2008 - 3.451.037.047.430.072.78 17.145..31 30 Apr 2003 31 Jul 2003 30 Okt 2003 29 Jan 2004 3.731.895.73 TAHUN 2005 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2005 2.972.22 7.11 4.48 7.746.257.59 5.81 4.871.43 3.164.542.68 5.546.122.190.190.127.775.059.40 23.51 20.127.829.242.421.793.187.274.972.08 28 Apr 2005 27 Jul 2005 28 Okt 2005 31 Jan 2006 2.218.43 3.47 4.50 6.750.40 23.380.430.87 Analisis potensi.11 4.218.73 30 Apr 2004 30 Jul 2004 29 Okt 2004 31 Jan 2005 4.895.546.145.361.40 18. 2009. Periode TAHUN 2004 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2004 4.788.76 5.22 4.242.257.047.460.78 17.

676.537.96 134.158.095.d.729.68 11.795.252.29 TAHUN 2007 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.252.249.605.840.05 47.188.29 26 Mei 2006 28 Agust 2006 20 Nov'2006 28 Feb 2007 17.497.760.83 3.732.737.44 7.50 7.188.953.115.212.840.21 17.928.227.720.460.824.46 9.778.922.249.922.989.54 102.509.315.85 27 Mei 2005 26 Agust 2005 18 Nop 2005 28 Feb 2006 22.989.96 134. 2003 26 Feb 2004 6.350.43 23.83 3.824.670.350.363.720.733.12 30 Mei 2007 27 Agust 2007 20 Nov'2007 28 Feb 2008 - 39.736.550. JokoSudiarto.363.05 47.026.400.063. 2009. 2007 Royalti Pokok US $ TAHUN 2003 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2003 6.953.795.41 133.736.PT FREEPORT INDONESIA COMPANY Lampiran 3 REALISASI PENYETORAN ROYALTI PERIODE 2003 S.263.10 443..46 9.24 24.737.43 23.24 24.670.68 22.519.68 22.256.01 Tgl. Periode TAHUN 2004 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2004 4.063.315. 2004 28 Feb 2005 4.84 30.955.93 35.997.177.534.955.D. Jumlah US $ No.343.44 7.67 38.158.227.54 102.095.263.928.85 TAHUN 2006 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2006 17.115.605.135.779.212.778.260.67 38.50 7.41 133..260.19 48.56 51.01 29 Mei 2003 28 Agust 2003 20 Nov..21 17.87 TAHUN 2005 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2005 22.795.689.732.400.447.460.997.689.537.026.550.35 22. 2007 Keterangan: Sumber data: Departemen ESDM dan Laporan PT Freeport Indonesia Company (diolah) 39.84 30.19 48.676. .343.509.93 35.177.10 443. FE UI.256.519.35 22.530.497.15 23.795.729.534.12 Analisis potensi.15 23.530.68 11.779.733.56 51.447.135.87 27 Mei 2004 26 Agust 2004 26 Nov.760.

00 144.d.00 Operasi 2004 1 Jan 2004 s.00 3.310.00 144.13 98.00 96..d.540.d.00 87.00 TOTAL TAHUN 2003 s. 2007 1.00 262.600.482.63 Operasi 2006 1 Jan 2006 s.00 144.400.310. 2009.d.620. JokoSudiarto.D.00 3.310.d.d. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s. 31 Des 2007 31-Jan-07 31-Jul-07 87.63 Sumber Data : Perhitungan Perusahaan dan Laporan Hasil Audit Tim OPN Analisis potensi.00 144.400. 30 Jun 2006 1 Jul 2006 s.540. 2007 KEWAJIBAN IURAN TETAP (US$) TAHAP TAHUN PERIODE TANGGAL JATUH TEMPO LUAS (Ha) HARI TARIF/TH (US$) Operasi 2003 1 Jan 2003 s.00 182 183 3. FE UI.600.540.50 278.540.00 3. 31 Des 2004 31-Jan-04 31-Jul-04 96.400.00 96.400.00 289.00 131.00 182 183 3..600. 30 Jun 2003 1 Jul 2003 s.00 96.d.d.00 3.00 Operasi 2007 1 Jan 2007 s.600.00 131.d.00 87.364. .200.00 131. 31 Des 2006 31-Jan-06 31-Jul-06 87.310. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.400.d.00 182 183 3.00 182 45 138 3.540. 31 Des 2003 31-Jan-03 31-Jul-03 96.00 289.00 35.00 131.00 87.00 3.600. 30 Jun 2007 1 Jul 2007 s.00 3.d.00 144.382.200.00 262. 14 Agt 2004 15 Agt 2004 s.620. 31 Des 2004 31-Jan-05 31-Jul-05 96.400.00 182 183 3.00 Operasi 2005 1 Jan 2004 s.PT NEWMONT NUSA TENGGARA Lampiran 2 PERHITUNGAN IURAN TETAP/DEADRENT PERIODE 2003 S.446..086.d.

5 3.00 304. 31 Des 2006 31-Jan-06 31-Jul-06 202.950.00 Operasi 2007 1 Jan 2007 s. FE UI. . 30 Jun 2006 1 Jul 2006 s.044.5 0.950.5 0.00 304.00 3.5 0.d.00 304.00 202.00 304.00 Sumber Data : Perhitungan Perusahaan dan Laporan Hasil Audit Tim OPN Analisis potensi.00 3. TARIF/TH (US$) Operasi 2003 1 Jan 2003 s.850.950.425.00 202.00 Operasi 2005 1 Jan 2004 s. 2009.850.425.00 Operasi 2006 1 Jan 2006 s.425. 2007 3.950. 31 Des 2004 31-Jan-04 31-Jul-04 202.00 202.425.5 3.00 608.00 304.5 3.d. 14 Agt 2004 31-Jan-05 31-Jul-05 202.5 3..00 0.00 304.00 608.5 3.850.850.00 3.425.D.. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.00 202. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.425.00 TOTAL TAHUN 2003 s.5 0.d.00 0.d.00 608.00 0.00 3. JokoSudiarto.d. 31 Des 2003 31-Jan-03 31-Jul-03 202.950.00 608.425.00 304.00 304.00 0.00 304.d. 30 Jun 2003 1 Jul 2003 s.d.00 202.d.950.00 Operasi 2004 1 Jan 2004 s. 30 Jun 2007 1 Jul 2007 s.00 608.d.425..250.950.950.d.950. 2007 KEWAJIBAN IURAN TETAP (US$) TAHAP TAHUN PERIODE TANGGAL JATUH TEMPO LUAS (Ha) THN.5 0.850.PT FREEPORT INDONESIA COMPANY Lampiran 1 PERHITUNGAN IURAN TETAP/DEADRENT PERIODE 2003 S.425.00 3.00 304.425.d.950. 31 Des 2007 31-Jan-07 31-Jul-07 202.00 0.