UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007

TESIS

JOKO SUDIARTO NPM 0606152604

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA PROGRAM MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK JAKARTA, DESEMBER 2009

Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007

TESIS Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi pada Program Magister Perencanaan Dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia

JOKO SUDIARTO NPM 0606152604

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA PROGRAM MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK JAKARTA, DESEMBER 2009

Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama NPM Tanda tangan Tanggal

: : : :

Joko Sudiarto 0606152604

Desember 2009

ii
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

...HALAMAN PENGESAHAN Tesis ini diajukan oleh Nama NPM Program Studi Judul Tesis : : : : Joko Sudiarto 0606152604 Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Analisis Potensi Royalti dari Mineral Pertambangan Tembaga Tahun 2003 . Fakultas Ekonomi....D Arindra A...... Ph.. Raksaka Mahi.............. 2009...... DEWAN PENGUJI Pembimbing Penguji Penguji : : : B.... Ditetapkan di Tanggal : : Jakarta Desember 2009 iii Analisis potensi.........................D Syarif Syahrial... .... .. . Ph...... Zainal................... Universitas Indonesia.. . JokoSudiarto...... FE UI.....2007 Ikutan Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi pada Program Studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik.

KATA PENGANTAR Segala puji syukur. Tesis ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam rangka mencapai gelar Magister Ekonomi pada Program Pascasarjana di Universitas Indonesia. FE UI.. Universitas Indonesia. Semoga Tesis ini bisa menambah dorongan semangat belajar bagi kalian. dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan adanya kritik. Istri dan anak-anakku tersayang Nabila. Jakarta. JokoSudiarto. Bapak Ibu Dosen pada Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik. Semua pihak yang terkait dan telah banyak membantu dalam penyusunan tesis ini. Fakultas Ekonomi. Yth. iv Analisis potensi. sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Tesis dengan judul “ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007”. Penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Yth. 5. Tak lupa penulis juga ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada : 1. yang dengan sabar dan penuh perhatian berkenan meluangkan waktu dan pikiran untuk membimbing dan memberi arahan hingga selesainya penyusunan Tesis ini. Hasna dan Ziva yang selalu memberikan motivasi serta doanya.. 4.. Yth. 2009. Rofif. Bapak dan Ibu di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral yang sangat membantu dalam penyediaan data. saran dan perbaikan untuk penyempurnaan materi Tesis ini. Bapak Direktur PNBP Departemen Keuangan. 3. 2. penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya. . Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu. Bapak Raksaka Mahi selaku Pembimbing.

. Jakarta.. JokoSudiarto. FE UI.Selanjutnya. terutama bagi penulis sendiri. penulis berharap Tesis ini dapat memperluas cakrawala ilmu pengetahuan dan memberi manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. 2009. . Desember 2009 Joko Sudiarto v Analisis potensi..

. menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive RoyaltyFree Right) atas karya ilimiah saya yang berjudul: ANALISIS POTENSI ROYALTI DARI MINERAL IKUTAN PERTAMBANGAN TEMBAGA TAHUN 2003-2007 beserta perangkat yang ada (jika diperlukan).. mengalihmedia/ formatkan. saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama NPM Program Studi Departemen Fakultas Jenis Karya : : : : : : Joko Sudiarto 0606152604 Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Ekonomi Ekonomi Tesis demi pengembangan ilmu pengetahuan. 2009.. merawat.HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia. Dibuat di : Pada Tanggal : Jakarta Desember 2009 Yang menyatakan Joko Sudiarto vi Analisis potensi. Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan. JokoSudiarto. . dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. mengelola dalam bentuk pangkalan data (database). Demikian pernyataan saya buat dengan sebenarnya. FE UI.

FE UI. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan pendekatan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Sesuai dengan prinsip PNBP yang ditegaskan dalam UU No. Kata Kunci: Royalti.20/1997 tentang PNBP bahwa semua pemanfaatan sumber daya alam harus membayar royalti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cakupan KK pengusahaan pertambangan tembaga. dan untuk memperkirakan besarnya kandungan mineral ikutan yang berada di luar sampel digunakan teknis forecasting menggunakan metode rata-rata dan analisis regresi linier sederhana.2007 Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang bersumber dari pertambangan umum merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat potensial... Berdasarkan hasil penelitian ini. Universitas Indonesia .ABSTRAK Nama Program Studi Judul : Joko Sudiarto : Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik : Analisis Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Pertambangan Tembaga Tahun 2003 . kontraktor hanya menyetorkan royalti atas mineral emas. menentukan alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan pertambangan tembaga dan perkiraan potensi royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga untuk periode 2003 2007. Dalam Kontrak Karya (KK) pengusahaan pertambangan tembaga. 2009.. JokoSudiarto. teknik pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan dan hasil survei. perak dan tembaga sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dikenakan royalti. namun belum dikelola secara optimal. Kontrak Karya vii Analisis potensi. Demikian juga dengan mineral ikutan pertambangan tembaga sudah semestinya dikenakan royalti. Mineral Ikutan Pertambangan tembaga Undang-undang PNBP. Hasil analisis menunjukan bahwa hampir seluruh mineral ikutan pertambangan tembaga dapat dimanfaatkan dan mempunyai nilai jual. dimana cakupan KK mengenai royalti lebih sempit dibandingkan dengan prinsip PNBP tersebut. direkomendasikan untuk merevisi Pasal 13 kontrak karya yang kurang menguntungkan pihak Pemerintah RI.

this study also estimates the potential royalty that could be derived from other minerals of copper mining for year 2003 – 2007. and the technique forecasting has been used to estimate of other minerals contained within the copper concentrate. 2009. Thus. Contract of Work viii Analisis potensi. Universitas Indonesia . it is not optimally managed. Unfortunately. but not for other minerals contained within the copper concentrate. and copper. it is recommanded to revise the Article 13th in the Contract of Work. the extraction and usage of natural resources must be levied to royalty.. The objective of this research is to evaluate whether the scope of Contract of Work of copper mining could be optimized by evaluating the potential of other minerals contained in the copper concentrate. the qualitative and quantitative approaches are used. the technique of collecting data through study of literatures and survey. silver. the contractor is required only to pay royalty of gold. FE UI. To achieve those goals.ABSTRACT Name Study Program Title : Joko Sudiarto : Magister of Public Planning and Public Policy : Analysis of Potential Royalty from Minerals of Copper Mining Year 2003 – 2007. Non Tax Government Revenue (PNBP) from mining is among one of the potential government revenues for Indonesia. The result shows that most of minerals from the copper mining can be used and sold. The result of the analysis to explain the reasons to levy royalty from other minerals. all minerals from the copper mining should also be levied to royalty... 20/1997 about PNBP. Base on this research. which states that the scope of Contract of Work related to royalty is narrower than the principle of that user charges. Key Words: Royalty. According to the principle of user charges as stated in the Law No. 20/1997 about PNBP. The study employs moving average method and simple linear regression analysis. The Contract of Work stipulated for copper mining is only stated that. Mineral from Copper Mining Law No. JokoSudiarto.

DAFTAR ISI

Hal Halaman Judul ................................................................................................... Halaman Pernyataan Orisinalitas ……………………………………………. Halaman Pengesahan ……................................................................................ Kata Pengantar .................................................................................................. Halaman Pernyataan Persetujuan Publikasi …………………………………. Abstrak ............................................................................................................ Abstract ……………………………………………………………………… Daftar Isi ........................................................................................................... Daftar Diagram ................................................................................................. Daftar Tabel ...................................................................................................... Daftar Lampiran ................................................................................................ i ii iii iv vi vii viii ix xi xii xiii

BAB I

PENDAHULUAN ........................................................................ 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. Latar Belakang .................................................................. Rumusan Permasalahan ..................................................... Ruang Lingkup Penelitian……………………………..... Tujuan Penelitian……………………………………….... Sistimatika Penulisan ........................................................

1 1 3 4 4 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA .............................................................. 2.1. Kerangka Teoritis .............................................................. 2.1.1 Konsep Ekonomi Keuangan Publik ......................... 2.1.2 Pengertian dan Konsep Pertambangan ..................... 2.1.3 Teori Ekonometrika .................................................. 2.1.4 Peraturan Perundang-undangan ............................... 2.2. Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah .............. ............

6 6 6 7 12 13 16

ix
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN DAN HASIL PENELITIAN LAPANGAN ................................................................................ 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. 3.6. 3.7. Metode Pengumpulan Data …........................................... Koefisien Korelasi …......................................................... Koefisien Variasi ………………....................................... Regresi ………………....................................................... Tahapan Dalam Membuat Analisis Regresi …………….. Data ……………………………………………………... Hasil Penelitian Lapangan ………………………………. 18 18 18 19 19 21 23 24

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN ............................................. 4.1. Analisis Cakupan Kontrak Karya yang Berlaku Untuk Pengusahaan Pertambangan Tembaga .............................. 4.2. Menentukan Alasan yang Dapat Digunakan Untuk Mengenakan Royalti atas Mineral Ikutan Tembaga ......... 4.3. Perkiraan Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga ..

35

35

47 53

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN ................................................... 5.1. 5.2. Kesimpulan ........................................................................ Saran ..................................................................................

75 75 78

Lampiran-lampiran Daftar Pustaka

x
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

DAFTAR DIAGRAM

Hal Diagram 1 Diagram 2 : : Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah …………. Giagram Alur Proses Produksi Konsentrat Lamp. 5 20

Tembaga ………………………………………….. Diagram 3 : Giagram Alur Proses Peleburan Konsentrat

Tembaga ………………………………………….. Diagram 3 : Giagram Cara Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti …………………………………………….

Lamp. 6

Lamp. 8

xi
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

Besi : Hasil Run Model 2 .Besi Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .Sulfur : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 .Sulfur : Hasil Run Model 2 .Besi : Korelasi Variabel Bebas . . 2009. FE UI.Besi : Perkiraan Kandungan Besi dalam Konsentrat : Perkiraan Potensi Royalti .Sulfur : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .Besi 24 24 25 25 25 26 26 27 32 41 44 56 58 59 60 60 62 63 64 65 66 67 68 68 70 71 72 72 72 xii Analisis potensi...Sulfur : Hasil Uji BG Model 2 .DAFTAR TABEL Hal Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 Tabel 24 Tabel 25 Tabel 26 Tabel 27 Tabel 28 Tabel 29 : Ingredient Content PT FIC : Ingredient Content PT NNT : Realisasi Produksi PT FIC : Realisasi Produksi PT NNT : Realisasi Penjualan PT FIC : Realisasi Penjualan PT NNT : Realisasi Penyetoran Iuran Tetap : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi (Royalti) : Produksi dan Output PT Smelting : Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT FIC : Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT NNT : Hasil Run Model 1 .Besi : Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 . JokoSudiarto.Sulfur : Perkiraan Kandungan Sulfur dalam Konsentrat : Hasil Run Model 1 .Besi : Hasil Uji BG Model 1.Sulfur : Korelasi Variabel Bebas .Sulfur : Hasil Uji BG Model 1 ..Besi Hasil Uji BG Model 2 .Sulfur : Perkiraan Potensi Royalti .

. FE UI.d. : Matrik Resume Pendapatan dari Instansi/Ahli.Sulfur. Perak.d. Perak. 2005. : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti PT NNT.. JokoSudiarto.Besi. Lampiran 10 : Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti . : Diagram Alur Proses Peleburan Konsentrat Tembaga.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 : Perhitungan Iuran Tetap PT FIC. Lampiran 11 : Data Penjualan Emas.. Tembaga dan Sulfur Tahun 2003 s. : Data Penjualan Emas. : Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti PT FIC. Lampiran 12 : Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti .. 2009. : Perhitungan Iuran Tetap PT NNT. : Diagram Alur Proses Produksi Konsentrat Tembaga. 2005. Tembaga dan Besi Tahun 2003 s. : Diagram Cara Perhitungan Perkiraan Potensi Royalti. xiii Analisis potensi.

Pengusahaan pertambangan mineral oleh swasta dilaksanakan melalui Kontrak Karya (KK) antara Pemerintah RI dengan perusahaan swasta. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang kaya akan bahan tambang. tembaga. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang berasal dari pertambangan umum merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat potensial.1. Begitu juga dalam bidang tenaga kerja. Dari sisi penerimaan bukan pajak (PNBP).. keberadaan perusahaan tambang telah menyerap tenaga kerja. Universitas Indinesia . keberadaan perusahaan tambang sangat membantu dalam pembangunan nasional dan daerah. 2009. FE UI. minyak dan gas bumi. Hasil-hasil audit Tim Optimalisasi Penerimaan Negara (OPN) telah mengindikasikan persoalan tersebut. JokoSudiarto. Dalam pengusahaan bahan tambang. Dari perusahaan tersebut pemerintah juga akan memperoleh penerimaan pajak dan bukan pajak. Dari aspek devisa negara dan pendapatan asli daerah. nasional maupun internasional. regional. Terdapat 40 (empat puluh) perusahaan swasta pemegang KK. diantaranya 11 (sebelas) perusahaan yang telah berproduksi (Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral: 2006). dan lain-lain. Bahan tambang itu meliputi emas. perak. Dampak positif penanaman investasi di bidang pertambangan ini adalah meningkatkan devisa negara dan pendapatan asli daerah. Jumlah perusahaan yang bergerak dan menanamkan investasinya di bidang pertambangan pun sangat banyak. Selama 1 Analisis potensi.. batubara. pemerintah dapat melaksanakan sendiri atau menunjuk kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan sendiri oleh instansi pemerintah. baik tenaga kerja lokal. namun belum dikelola secara optimal. pemerintah akan memperoleh bagi hasil berupa royalti sesuai dengan hasil produksinya. menampung tenaga kerja.BAB I PENDAHULUAN 1. dan lain-lain. baik dalam rangka Penanaman Modal Asing (PMA) maupun PMDN..

14 serta terdapat potensi PNBP yang tidak dapat direalisasikan. Dalam setiap penjualan konsentrat oleh PT NNT.. dalam konsentrat tembaga tersebut terkandung didalamnya mineral ikutan emas (Au). antara lain adanya pasal-pasal dalam Kontrak Karya yang kurang menguntungkan pihak Pemerintah RI.837.113. Universitas Indonesia Analisis potensi. Potensi PNBP tidak terealisasi karena terbentur pada beberapa masalah. sehingga tidak dikenakan royalti. 2009. jumlah royalti yang akan dibayar berkaitan dengan kandungan tembaga yang dibayar dari konsentrat yang dijual oleh perusahaan....366.2 periode tahun 1998 sampai dengan tahun 2000 sebanyak empat perusahaan kurang menyetor PNBP sebesar Rp362. emas dan perak yang terkandung dalam konsentrat tembaga yang merupakan produk utama PT FIC.. Namun dalam perhitungan royalti yang harus dibayar oleh PT FIC sesuai dengan pasal 13 poin 2 Kontrak Karya disebutkan bahwa “dalam hal tembaga tersebut dijual sebagai konsentrat.246. dalam hal ini dalam memasarkan konsentrat tembaga kepada pelanggannya PT FIC hanya memperoleh pembayaran untuk logam tembaga (Cu). . PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) melakukan kegiatan pertambangan di Tembaga Pura berdasarkan kontrak karya (contract of work) antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991. PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) PT NNT melakukan kegiatan pertambangan di Nusa Tenggara Barat berdasarkan kontrak karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT NNT tanggal 2 Desember 1986.353.286. emas (Au) dan perak (Ag).93 dan US$4.929.44.”. Kegiatan eksplorasi menghasilkan bijih tembaga sulfida yang kemudian diolah menjadi konsentrat tembaga.41 dan USD1. Sedangkan terhadap unsur-unsur besi (Fe) dan belerang (S) walaupun jumlahnya relatif besar PT FIC tidak memperoleh pembayaran. perak (Ag) dan sejumlah senyawa logam lainnya seperti besi (Fe) dan belerang (S). Hal ini dapat diuraikan berikut ini.. hanya tembaga. FE UI. JokoSudiarto. Sehingga royalti hanya diperhitungkan terhadap logam-logam tembaga. diantaranya potensi mineral ikutan besi dan sulfur yang terjual dalam konsentrat tembaga minimal tidak terealisasi masing-masing sebesar USD251.

3

emas, dan perak yang dibayar oleh pembeli untuk setiap realisasi penjualan ekspor konsentrat, sedangkan material ikutan lainnya seperti: besi (Fe), sulfur (S), silika (SiO2), kapur (Lime), dan Al203 tidak dinilai. Pengenaan tarif royalti tersebut berdasarkan kontrak karyanya yang menyebutkan “Bila terdapat mineral ikutan yang terdapat dalam konsentrat yang dijual diperhitungkan dengan tarif royalti sebagaimana diatur dalam Lampiran “F”. Dalam lampiran F hanya besi (Fe) dan sulfur (S) yang memiliki tarif royalti yaitu masing-masing sebesar US$0.0005/kg dan US$0.002/kg, sementara tiga mineral lainnya tidak ada tarifnya. Walaupun demikian perusahaan tetap tidak membayar royalti dengan alasan mineral ikutan tersebut tidak dibayar oleh pembeli. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP, antara lain menyebutkan jenis dan tarif PNBP. Salah satu jenis PNBP tersebut adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam seperti penerimaan royalti di bidang pertambangan. Tarif atas jenis PNBP tersebut ditetapkan dalam undangundang atau Peraturan Pemerintah (PP) yang menetapkan jenis PNBP. Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah telah mengeluarkan beberapa peraturan yang mengatur tentang tarif royalti di bidang pertambangan, yaitu PP Nomor 58 Tahun 1998; PP Nomor 13 Tahun 2000 dan yang terakhir PP Nomor 45 Tahun 2003. Semua ketentuan tersebut hanya mengatur tentang besarnya tarif PNBP untuk masing-masing mineral dalam satuan logam dan konsentrat. Tidak secara jelas menerangkan cara perhitungan royalti atas mineral ikutan dalam suatu konsentrat, termasuk mineral ikutan dalam konsentrat tembaga.

1.2.

Rumusan Permasalahan Berdasarkan ringkasan permasalahan tersebut di atas, nampak bahwa

terdapat potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga yang belum tergali. Berkaitan dengan permasalahan tersebut, pertanyaan yang timbul adalah: 1. Bagaimana cakupan KK yang berlaku untuk pertambangan tembaga ? 2. Alasan apa yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tambang tembaga? 3. Berapa perkiraan potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga ?
Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

4

1.3.

Ruang Lingkup Penelitian Untuk dapat menjawab beberapa permasalahan tersebut di atas dan agar

pembahasan lebih fokus maka ditentukan ruang lingkup penelitian sebagai berikut: 1. Kontrak Karya pengusahaan pertambangan tembaga antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT beserta perubahannya. 2. Kegiatan usaha pertambangan yang telah dilakukan oleh PT FIC dan PT NNT yang mencakup luas wilayah usaha pertambangan untuk setiap periode tahapan kegiatan tambang, proses produksi konsentrat tembaga, pengangkutan atau pemindahan tembaga mulai dari mulut tambang sampai dengan stock pile, penimbunan dan penjualan konsentrat tembaga untuk periode 2003 sampai dengan 2007. 3. Tata cara perhitungan dan realisasi penyetoran PNBP oleh PT FIC dan PT NNT sebagaimana diatur dalam perjanjian, peraturan perundangan dan ketentuan lain yang terkait.

1.4.

Tujuan Penelitian Tujuan dari analisis dan penelitian ini adalah:

1. Menganalisis cakupan KK yang berlaku untuk pertambangan tembaga. 2. Menentukan alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tambang tembaga. 3. Memperkirakan potensi royalti dari mineral ikutan tambang tembaga.

1.5. Bab I

Sistimatika Penulisan Pendahuluan Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, pokok

permasalahan, ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, dan sistimatika penulisan. Bab II Tinjauan Pustaka Bab ini menguraikan tentang konsep ekonomi keuangan publik,

Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

5

pengertian dan konsep pertambangan, teori ekonometrika, peraturan perundang-undangan yang relevan dengan masalah yang dibahas, kerangka berpikir pemecahan masalah. Bab III Metodologi Penelitian dan Hasil Penelitian Lapangan Bab ini akan menjelaskan tentang metode pengumpulan data yang dilakukan, tentang rumus kofesien variasi, pengolahan data dengan regresi, dan tahapan-tahapan dalam membuat analisis regresi. Juga akan dijelaskan tentang data yang dipergunakan dalam melakukan analisis atas potensi royalti dari mineral ikutan tembaga berdasarkan data-data yang diperoleh dari studi pustaka dan penelitian lapangan. Bab IV Hasil Analisis dan Pembahasan Bab ini merupakan pembahasan terhadap hasil analisis kuantitatif atas potensi royalti dari mineral ikutan tembaga. Bab V Kesimpulan dan Saran Bab ini merupakan Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pembahasan pada Bab IV dan saran-saran atau rekomendasi yang akan diberikan penulis dari kesimpulan yang diperoleh.

Universitas Indonesia
Analisis potensi..., JokoSudiarto, FE UI, 2009.

6 Analisis potensi.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Alfabeta. rakyat merupakan prinsipal yaitu pihak yang mempunyai atau menguasai sumber daya dan mempercayakan pengelolaan sumber daya tersebut kepada pemerintah yang disebut agen.. Analisis Kebijakan Publik. Gerwin Bell dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 104-107) menguraikan pengertian user charges. yakni: 1 2 Winarno. FE UI. Bandung. 2005. Teori dan Proses Kebijakan Publik. Edi. Lebih jauh James Andersen mengemukakan bahwa kebijakan merupakan arah tindakan yang mempunyai maksud yang ditetapkan oleh seorang aktor dalam mengatasi suatu persoalan. Budi.1.1. kebijakan publik didefinisikan sebagai hubungan suatu unit pemerintah dengan lingkungannya1. Konsep Ekonomi Keuangan Publik Menurut buku Kamus Administrasi Publik. Dye menyatakan bahwa kebijakan publik adalah apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan dan tidak dilakukan (whatever governments choose to do or not to do)2.. Suharto. Universitas Indonesia . Pemerintah harus mempertanggungjawabkan setiap apa yang dilakukan oleh pemerintah berdasarkan pengertian konsep agent dan principal relationship. Sedangkan Thomas R. Sedangkan prinsipal mempunyai kewenangan untuk melakukan penilaian atau monitoring atas pelaksanaan pengelolaan tersebut apakah telah sesuai dengan amanah dan kepercayaan yang diberikan oleh rakyat.. Sebagai agen. Media Pressindo. 2002. Kerangka Teoritis 2. 15. Yogyakarta.1. JokoSudiarto. Dimana. 44. Menurut Robert Eyestone menyatakan secara luas. kebijakan publik adalah pemanfaatan yang strategis terhadap sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah publik atau pemerintah. hal. 2009. pemerintah mempunyai kewajiban (bonding) untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya tersebut. hal.

yang memiliki sifat fisik dan Universitas Indonesia Analisis potensi. thorium. cobalt. . thus. emulate the benefit principle in public finance which states that the payment of a tax ought to correspond to the benefits received from taxfinanced goods and services. mercury. “Mineral” in this article and Articles hereinafter shall mean: “the ores of gold. In this way. Example of regulatory fees include passport and judicial fees. the application of user charges allows the costs of goods or service to be distributed according to the benefits received. graphite.1. . The following typology of user charges is: · User Fees: There are payments on services consumed to yield a direct benefit to the user.. .. molybdenum. tin. Examples include royalties on natural resources. manganese. JokoSudiarto. Mineral adalah: “senyawa anorganik yang terbentuk di alam. User charges... iron. · Regulatory Fees: There are very much like a tax in that they are solely based on the govermnet’s sovereign power to regulate particular economic agents or activities. FE UI. arsenic. sulfur. 20 December. Pengertian dan Konsep Pertambangan Istilah bahan galian berasal dari terjemahan bahasa Inggris. chromite. uranium.. coal. tungsten. patent and copyright fees. canal.. zinc. and highway tolls. nickel.2. copper. user charges are efficiently levied on publicly provided goods or services that enhance economic efficiency and have the characteristic that their users may be easily identified and excluded from their consumption. antimony. .. 2009. silver. 2. yaitu mineral.. . lead. Dalam Article 3 angka 1 Japanese Mining Law No.. customs service user fees.. bismuth.. brigde... 1950 Latest Amendment In 1962 telah ditemukan pengertian mineral..” Dalam Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. phosphate. 289. sulfide.7 User Charges are levied on the use of specific good or service and thereby on the accruing benefits that economic agents receive from such use.

7) kriolit. yakni: 1) besi. Bahan galian vital merupakan bahan galian yang dapat menjamin hajat hidup orang. lempung. batu gamping. adalah minyak bumi dan yodium. Penggolongan bahan galian diatur dalam Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian.. seng. mineral. adalah gas alam. FE UI. Bahan galian dapat dibagi menjadi tiga golongan. belerang. perak. mangan. molibden. klor. 5) yttrium. yaitu: 1. bahan galian yang berbentuk gas. 6) berillium.. timbal. Dalam pengertian ini. titan. kristal kwarsa. Bahan galian strategis. bijih ataupun segala mecam batuan” (Sukandarrumidi. 1999: 251). air raksa. dibagi menjadi delapan golongan. baik berupa unsur kimia. korundum. brom. 3. 2009. antimon.8 kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan. adalah emas. Bahan galian strategis ini disebut juga golongan bahan galian A. bahan galian yang berbentuk cair. yaitu: 1. cerium. . platina. flourspar. bahan galian yang berbentuk padat. rtutenium. barit. 2. tembaga.. Bahan galian strategis merupakan bahan galian untuk kepentingan pertahanan keamanan serta perkekonomian negara. Sukandarrumidi juga mengemukakan pengertian bahan galian. Universitas Indonesia Analisis potensi. 8) yodium. Bahan galian ini disebut juga golongan bahan galian B. bahan galian diklasifikasikan menjadi tiga macam. bismut. vanadium. dan lain-lain. 4) arsin. 3) emas. JokoSudiarto. 2. 2) bauksit. baik dalam bentuk lepas atau padu”. wolfram. dan logam-logam langka lainnya. Bahan galian vital. Ia berpendapat bahwa bahan galian adalah: “bahan yang dijumpai di dalam. perak. intan. khrom. zirkon.

. 2009. Pengusahaan tambang tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga. JokoSudiarto. pertambangan mineral bukan logam.treasury. minor percentages of oxides of aluminum.gov. Universitas Indonesia Analisis potensi.. chalcocite (Cu2S). pertambangan mineral digolongkan atas: a.za) antara lain menyebutkan: PART II: BASIC ROYALTY REGIME Any person (hereinafter referred to as a mineral resource extractor) is subject to a State royalty in respect of a mineral resource once that person extracts and transfers the mineral resource for that person’s own benefit. Konsentrat tembaga tersebut terdiri dari kandungan mineral tembaga. . dan sulfur (belerang) serta mineral ikutan lainnya.. 2005: 2)” Departement National Treasury Republic of South Africa: “Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill .. Concentrate can contain from 25 to 35 percent copper.. Bahan galian yang lazim disebut dengan galian C. pertambangan batuan. and enargite (Cu3AsS4). FE UI. dan d.2006” (www. (dalam Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting. besi. similar levels of iron and sulfur. Natural ores undergo comminution and separation by flotation at copper mining facilities to produce copper concentrate.. pertambangan mineral logam. Sedangkan dalam Pasal 34 ayat (2) Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.. calcium. c. Goonan berikut ini: “. covellite (CuS).. b... pertambangan mineral radioaktif. .. and silicon. other important copper sulfide ore minerals include bornite (Cu5FeS4)..9 3. Hal ini seperti yang dikemukan oleh Thomas G. Bahan galian yang tidak termasuk bahan galian strategis dan vital. and a small balance of trace metals that depend on the ore source. Although chalcopyrite (CuFeS2) is the predominant copper sulfide ore processed.

The royalty. FE UI.. Lease bonuses are up-front payment that could be determined by auction or at the government’s discretion.. the goverment should receive a payment for this resource.. as a price for resource extraction. JokoSudiarto. separate from regular income tax. (3) For purposes of this Act.. Nellor dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 238-240) mengemukakan beberapa pengertian pengusahaan mineral. They mean that the investor bears the risk that the project will not be commercially viable because the return to govenrment is fixed. serves a role in determining whether investment should or should not proceed. If a valuable resource is going tobe extracted. .. Royalties are levied either on the volume or on the value resouces extracted. yakni: “The fiscal arrangements with respect to natural resources need to take into account that the goverment is the landowner or the owner of mineral rights.. David C.. 2009. . and ensure that a minimum payment is made by the companies for the resources that they extract. (2) A person is not subject to a State royalty in respect of a transferred mineral resource if the person proves the mineral resource was previously subject to a State royalty. that other person is deemed to be a mineral resource extractor to the extent that other person extracted and transferred that mineral resource for that extractor’s benefit. Royalties secure revenues as soon as production commences.L. The government should determine what minimum payment it is Universitas Indonesia Analisis potensi.. are considerably easier to administer than most other fiscal instruments. if a person extracts and transfers a mineral resource for the benefit of another person... .. These payments are generally easy to administer.10 Charging provision (1) The State royalty imposed in respect of a transferred mineral resource equals the mineral resource’s State royalty rate as described in Schedule 1 multiplied by its gross sales value.

3.K/201/M. serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup.. . 2.. dimensi. Kontrak Karya adalah: Universitas Indonesia Analisis potensi. termasuk pengangkutan dan penjualan. there is also a significant chance that resource development will yield little revenue. serta sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi kelayakan.. Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan ekonomis dan teknis usaha pertambangan. 4.. FE UI. The RRT only provides a return to goverment on those project will yielding above normal rate of return.. penambangan. sebaran. JokoSudiarto. pemurnian.. Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 menyebutkan bahwa usaha pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi kegiatan berikut ini: 1. Dalam Pasal 1 Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1409.. although revenue could be sizable in favorable circumstances..11 willing to accept for the resource recognizing that it has given up its capital once the resource is extracted. The RRT is a high-risk measure for the government gaining a return on resource ownership. pengolahan. Izin Prinsip. bentuk. kualitas dan sumber daya terukur dari bahan galian. Operasi produksi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan yang meliputi konstruksi. 2009.PE/1996 tentang Tata Cara Pengajuan Pemrosesan Pemberian Kuasa Pertambangan. termasuk analisis mengenai dampak lungkungan serta perencanaan pascatambang. Penyelidikan Umum adalah tahapan kegiatan pertambangan untuk mengetahui kondisi geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi. .. A Resource Rent Tax (RRT) is similar to a cash-flow tax but is imposed only if the accumulated cash flow is positive.. . Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi.. Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara telah ditentukan pengertian kontrak karya.

1. Salim HS. JokoSudiarto. 2. 1995: 186). 2005: 130).. antara lain mengemukakan Sifat Dasar Analisis Regresi.. Metode Kuadrat Terkecil (Ordinary Least Square / OLS). . dkk. Salim HS mendefinisikan kontrak karya yang paling lengkap karena di dalam kontrak karya tidak hanya mengatur hubungan hukum antara para pihak. Teori Ekonometrika Buku Ekonometrika Dasar karangan Damodar Gujarati (1978) yang diterjemahkan oleh Sumarno Zain.12 “suatu perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan perusahaan swasta asing atau patungan antara asing dengan nasional (dalam rangka PMA) untuk pengusahaan mineral dengan berpedoman kepada Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing serta Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuanketentuan Pokok Pertambangan Umum”. Model Regresi Dua Variabel. namun juga mengatur tentang obyek kontrak karya.. Analisis Regresi Dua Variabel. Kontrak karya adalah: “suatu perjanjian yang dibuat antara Pemerintah Indonesia dengan kontraktor asing semata-mata dan/atau merupakan patungan antara badan hukum asing dengan badan hukum domestik untuk melakukan kegiatan eksplorasi maupun eksploitasi dalam bidang pertambangan umum. 2009. sesuai dengan jangka waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak” (H. Sedangkan menurut Ismail Suny mengartikan kontrak karya sebagai berikut: “Kerja sama modal asing dalam bentuk kontrak karya (contract of work) terjadi apabila penanaman modal asing membentuk satu badan hukum Indonesia dan badan hukum ini mengadakan kerja sama dengan satu badan hukum yang mempergunakan modal nasional” (dalam Erman Rajagukguk. FE UI.. Pengujian Masing-masing Koefesien Universitas Indonesia Analisis potensi. H. Anton Hendranata (2004) dalam Buku Ekonometrika Terapan mengemukan pengertian Analisis Regresi Linier Sederhana.3.

4..1. menyetorkan iuran eksploitasi/produksi tambahan atas mineral yang diekspor. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan Umum: Universitas Indonesia Analisis potensi. Multikolinear dan Autokorelasi.. antara lain menjelaskan mengenai Mengenal EVIEWS. Pengujian Model secara Keseluruhan. Analisis Regresi Linier. Multikolinear dan Autokorelasi). Pasal 8 ayat (2): Sistem kerja sama atas dasar kontrak karya atau dalam bentuk lain dapat dilaksanakan dalam bidang usaha-usaha lain yang akan ditentukan oleh pemerintah. Masalah Heteroskedastisitas. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing: Pasal 8 ayat (1): Penanaman modal asing di bidang pertambangan didasarkan pada suatu kerja sama dengan pemerintah atas dasar kontrak karya atau bentuk lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Peraturan Perundang-undangan Kontrak Karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991 dan Kontrak Karya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) tanggal 2 Desember 1986.. FE UI. menyetorkan iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. 2009. 2. . JokoSudiarto.13 Regresi secara Parsial. Kewajiban kontraktor (PT FIC dan PT NNT) seperti yang tercantum dalam kontrak karya tersebut antara lain adalah: menyetorkan iuran tetap untuk wilayah kontrak karya atau wilayah pertambangan. Menyunting dan Menampilkan Data. Kebaikan Suai Model. Masalah dalam Analisis Regresi (Heteroskedastisitas. Wing Wahyu Winarno (2007) dalam Buku Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EVIEWS.

14 - Pasal 10 ayat (1): Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dilaksanakan sendiri oleh Instansi pemerintah atau Perusahaan Negara yang bersangkutan selaku pemegang kuasa pertambangan. petunjukpetunjuk dan syarat-syarat yang diberikan menteri. dan aspek keadilan dalam pengenaan beban kepada masyarakat. antara lain royalti di bidang perikanan. 2009. Pasal 3 ayat (1): Tarif atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak ditetapkan dengan memperhatikan dampak pengenaan terhadap masyarakat dan kegiatan usahanya. royalti di bidang kehutanan dan royalti di bidang pertambangan. . Pasal 3 ayat (2): Tarif dan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam Undang-undang atau Peraturan Pemerintah yang menetapkan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersangkutan. JokoSudiarto. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara: Pasal 1 angka 1: Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang. serta segala sesuatu baik berupa uang maupun Universitas Indonesia Analisis potensi.. - Pasal 10 ayat (2): Dalam mengadakan perjanjian karya dengan kontraktor seperti yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara harus berpegang pada pedoman-pedoman. penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. biaya penyelengaraan kegiatan Pemerintah sehubungan dengan jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang bersangkutan. Pasal 2 ayat (1): Kelompok Penerimaan Negara Bukan Pajak meliputi: b... FE UI. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP): Pasal 1 angka 1: Penerimaan Negara Bukan Pajak adalah seluruh penerimaan Pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan.

A.00% dari harga jual. efektif. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral: Pasal 1 ayat (2) Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral berasal dari: a.15 berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. 2009. dengan jenis mineral/bahan galian: h. . Emas: satuan per kg. Lampiran angka I. JokoSudiarto. efisien.. Pasal 2.25% dari harga jual. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pad Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. taat pada peraturan perundang-undangan. Belerang: satuan per kg. Pasal 2: Keuangan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1. tarif 4. meliputi: Penerimaan Negara. cc. tarif 3. ekonomis.. Besi: satuan per ton. l. Iuran Tetap/Landrent.50% dari harga jual. transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Pasal 3 ayat (1): Keuangan Negara dikelola secara tertib. 3. Dana Hasil Produksi Batubara. d. Tembaga: satuan per ton. Iuran Eksplorasi/Iuran Eksploitasi/Royalty.. FE UI. Perak: satuan per kg.00% dari harga jual. tarif 3. 3. Pelayanan Jasa Bidang Geologi dan Sumber Daya Mineral. Jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terutang atas jenis Universitas Indonesia Analisis potensi. b. m. k.75% dari harga jual. Kontrak Karya (KK) dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). c. 4: Penerimaan dari Iuran Eksplorasi/Iuran Eksploitasi/Royalty untuk Usaha Pertambangan dalam rangka Kuasa Pertambangan (KP).

000 ton Satuan Jumlah ton/logam ton/logam kg/logam kg/logam ton/konsentrat Besarnya Tarif USD 45.000 ton > 5.000 ton < 2. 11.00 USD 1. 12.000 kg > 2.20 2. Perak: satuan per kg. Jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terutang atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dihitung dengan cara tarif dikalikan jumlah satuan. 29. yaitu dimulai dari adanya Kontrak Karya antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT.00 USD 2. JokoSudiarto. 8. Emas: satuan per kg.90 USD 225.000 kg > 25. tarif 4. tarif 3.10 USD 2. Tembaga: satuan per ton. 13. 2009.50% dari harga jual..00 USD 2.00% dari harga jual.000 ton > 100.. Lampiran: No.25% dari harga jual.000 kg < 5. Serta peraturan perundang-undangan yang ada hubungannya dengan KK tersebut. Besi: satuan per ton. Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah Penelitian ini diawali dengan kajian terhadap sumber masalah berdasarkan data-data empiris dan landasan teori yang relevan.90 USD 2.000 ton > 80.00 USD 235. FE UI. 3. tarif 3. 12. . Universitas Indonesia Analisis potensi.00 USD 55.16 Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dihitung dengan cara tarif dikalikan jumlah satuan dikalikan harga jual. 13.75% dari harga jual. Jenis Mineral/ Bahan Galian Tembaga Besi Emas Perak Belerang Tingkat Produksi < 80.. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Mineral di Bidang Pertambangan Umum: Pasal 2 ayat (1).000 kg < 25.70 USD 2.00% dari harga jual. 29. Lampiran: 8. 3. 11.000 ton < 100.2. yang merupakan suatu produk hukum yang harus dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait. Belerang: satuan per kg.

Kegiatan usaha penambangan. Pemenuhan kewajiban PNBP periode 2003-2007.17 Penelitian ini dimaksudkan untuk menilai atau mengevaluasi apakah PNBP dalam bentuk royalti dari pelaksanaan KK tersebut telah diupayakan secara optimal serta sebab-sebab yang menyebabkan hal tersebut.. ESDM dan perusahaan Analisis Deskriptif Kuantitatif Pembahasan Kesimpulan dan Saran Universitas Indonesia Analisis potensi. 1. Diagram 1 Kerangka Berpikir Pemecahan Masalah Fakta: 1. Menentukan dasar yang dapat digunakan untuk menghitung royalti atas mineral ikutan bahan galian tembaga. JokoSudiarto. 2. 2. Tujuan Penelitian : Analisis kelebihan dan kelemahan sistem kontrak karya untuk pertambangan tembaga. Berdasarkan teori dan konsep yang telah diuraikan di atas. KK antara Pemerintah RI dengan PT FIC dan PT NNT. Sumber data Sasaran pengkajian : 1. 2. 3. produksi. 1. 2. Mineral ikutan seperti besi. Tarif royalti atas mineral ikutan tersebut dinyatakan dengan tegas sehingga tidak merugikan negara.. FE UI. Pembayaran royalti berdasarkan jumlah yang diterima dari pembeli. Adanya potensi royalti yang belum tergali dari mineral ikutan tersebut. dll tidak dibayar oleh pembeli. PT FIC dan PT NNT perusahaan KK yg menghasilkan konsentrat tembaga. Gap: Mineral ikutan tambang tembaga tidak dikenakan royalti. 2009. 1. kerangka penelitian ini dapat digambarkan dalam diagram di bawah ini. 2. KK dan PP yg mengatur tarif royalti tidak menyebutkan secara lengkap dan jelas mineral ikutan tambang tembaga.. Kondisi Ideal: Seluruh mineral ikutan tambang tembaga dikenakan royalti. Metode Analisis Dokumen Dep. 3. sulfur. 3. Evaluasi ini tidak dimaksudkan untuk menguji kebenaran dan keabsahan produk hukum tersebut. . Memperkirakan potensi royalti dari mineral ikutan tembaga. pengangkutan dan penjualan konsentrat tembaga. 3.

3. 2009.. Sedangkan sampling adalah cara pengumpulan data dimana yang diselidiki adalah elemen sampel dari populasi.2. Departemen Keuangan. Data yang diperoleh sebagai hasil pengolahan sensus disebut data yang sebenarnya (true value) atau sering disebut dengan parameter. yaitu cara sensus dan cara sampling (Supranto. Dalam penelitian ini penulis menggunakan data parameter. Namun yang perlu diperhatikan bahwa cara sensus mahal biayanya serta memerlukan banyak tenaga dan waktu. Sensus. adalah cara pengumpulan data dimana seluruh elemen populasi diselidiki satu persatu.. yaitu data dari pelaksanaan KK pengusahaan pertambangan tembaga yang ada di Indonesia.BAB III METODOLOGI PENELITIAN DAN HASIL PENELITIAN LAPANGAN 3. maka penulis tidak menggunakan metode pengumpulan data secara sampling.1. tenaga yang tidak terlalu banyak. Koefisien Korelasi Digunakan untuk mengukur keeratan hubungan antara variabel tidak bebas Y dengan variabel bebas X. dan dapat menghasilkan cakupan data yang lebih luas serta terperinci. JokoSudiarto. Universitas Indonesia . Dibandingkan dengan sensus. Metode Pengumpulan Data Di dalam statistik dikenal 2 (dua) cara pengumpulan data. Semakin besar nilai koefisien korelasi menunjukkan 18 Analisis potensi. Perusahaan pemegang KK (PT FIC dan PT NNT) dan Biro Pusat Statistik (BPS). pengumpulan data dengan cara sampling membutuhkan biaya yang jauh lebih sedikit. memerlukan waktu yang lebih cepat. Sehubungan penulis telah memiliki data parameter dan untuk lebih mendekatkan hasil penelitian pada kondisi yang sebenarnya. 2000). Data yang diperoleh dari hasil sampling merupakan data perkiraan (estimate value).. yang bersumber dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. FE UI. Jika nilai yang dihitung berdasarkan seluruh elemen populasi disebut parameter maka yang dihitung berdasarkan sampel disebut statistik.

4.3.. Oleh sebab itu tolak ukur untuk mengetahui pengaruh tersebut dapat dilihat dari hasil penghitungan nilai koefisien variasi. Koefisien Variasi Analisis koefisien variasi (coefficient of variation) adalah menyatakan persentase deviasi standar dari rata-ratanya. Perak dan Tembaga untuk menentukan kandungan mineral ikutan Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual .19 hubungan semakin erat dan sebaliknya. Semakin kecil nilai koefisien variasi yang dihasilkan menunjukkan adanya pengaruh mineral Emas. Kegunaannya adalah untuk mengukur keseragaman terhadap data yang sedang diteliti. Perak dan Tembaga terhadap kandungan mineral ikutan Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual.. yaitu: R = √R2 Dalam penelitian ini variabel tidak bebas Y adalah kandungan mineral Sulfur dan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual. JokoSudiarto.1. FE UI. variabel yang menjelaskan Universitas Indonesia Analisis potensi.4.. Adapun rumusnya. . variabel tak bebas. Semakin kecil koefisen variasi dari data yang sedang dianalisis. sedangkan variabel bebas X adalah sebagai berikut: E P T = = = Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg) Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg) Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton) 3. Pengertian Analisis regresi berkenaan dengan studi ketergantungan satu variabel. pada satu atau lebih variabel lain. 3. 2009. Regresi 3. Koefisien korelasi merupakan akar kuadrat dari koefisien determinasi. Tujuan analisis adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah penjualan Emas. berarti menunjukkan semakin seragam atau variasinya semakin kecil.

. . dengan maksud menaksir dan atau meramalkan nilai ratarata hitung (mean) atau rata-rata (populasi) variabel tak bebas. . yaitu: Yi = b 1 + b 2 X2i + b 3 X3i + ui Dimana : Y X2 X3 u i = = = = = Variabel tak bebas (dependent variable) Variabel yang menjelaskan Variabel yang menjelaskan Faktor gangguan (disturbance) Menyatakan observasi (pengamatan) yang ke i.. bagimanapun kuat dan sugestif. . namun ini tidak berarti hubungan sebab akibat.. Yn = b 1 + b 2 X2n + b 3 X3n + b 4 X4n . tidak pernah dapat menetapkan hubungan sebabakibat: gagasan kita mengenai sebab-akibat harus datang dari luar statistik. dipandang dari segi nilai yang diketahui atau tetap (dalam pengambilan sampel berulang) variabel yang menjelaskan (yang belakangan) (Gujarati.20 (explanatory variabel). Kendall dan Stuart seperti dikutip oleh Gujarati mengatakan: Suatu hubungan statistik. Jika terdapat N-observasi maka persamaan regresi bergandanya dapat ditulis: Y1 = b 1+ b 2 X21 + b 3 X31 + b 4 X41 … + b k Xk1 + u1 Y2 = b 1+ b 2 X22 + b 3 X32 + b 4 X42 … + b k Xk2 + u2 Y3 = b 1 + b 2 X23 + b 3 X33 + b 4 X43 … + b k Xk3 + u3 .2. . …. JokoSudiarto. .4. . . Bentuk modelnya secara umum. .. …. . . . 1995). pada akhirnya dari beberapa teori atau lainnya.. 3.. Meskipun analisis regresi berurusan dengan ketergantungan satu variabel terhadap variabel lain. . Fungsi Regresi Berganda Apabila terdapat 2 (dua) atau lebih variabel maka disebut dengan regresi berganda. 2009... + b kXkn+ un Universitas Indonesia Analisis potensi. . FE UI.

. yaitu: · Uji Ekonomi: yaitu arah dan pengaruh. apakah model mampu menjelaskan Y. Variabel terbaik harus memenuhi kriteria– kriteria seperti dibawah ini. F dan lain-lain. Cara Pengujian: Membandingkan antara t-statistik dengan t-tabel berdasarkan a tertentu (misalnya 5%). koefisien regresi tidak nol sehingga signifikan. 2. bo . koefisien regresi tidak berbeda nyata dari nol. Dapat dilihat dengan memperhatikan tanda koefisien hasil pendugaan apakah telah sesuai dengan teori ekonomi yang berlaku. Hipotesis: H0 : b 1 = 0 . JokoSudiarto. bk ) Persamaan ini merupakan regresi berganda sehingga perlu melihat Koefisien Determinasi dari nilai Adjusted R-Squared. · Uji Statistika: Uji t.21 3. Tahapan Dalam Membuat Analisis Regresi Adapun tahapan-tahapan dalam membuat analisa regresi berganda adalah sebagai berikut: 1.. Pengujian Signifikansi Parsial atau Individual (uji-t) Adalah untuk menguji apakah suatu variabel bebas (X) berpengaruh atau tidak terhadap variabel tidak bebas (Y). Pembentukan Persamaan Regresi Dalam pembentukan persamaan regresi dibutuhkan kriteria dalam pemilihan variabel terbaik. 3. Universitas Indonesia Analisis potensi. H1 : b 1 ≠ 0 . Estimasi koefisien regresi ( b ..5. …. 2009. FE UI. .

≤F ( a /2.1) (1 .. . Hipotesis: H0 : b 1 = b 2 = 0. Pengujian model secara umum (uji-F) Untuk menguji apakah model secara keseluruhan mampu secara signifikan menjelaskan variabel terikat. 2009. model tidak signifikan menjelaskan Y.model secara signifikan menjelaskan Y. Berdasarkan taraf nyata a (misalnya 5%) diharapkan H0 ditolak. FE UI. Terima H0 F-statistik= R 2 /(k ... N .(N-k). Terima H0 t. JokoSudiarto.k )).statistik = bi se( b i ) ^ ^ > t (a / 2. H1 :tidak semua b 1 = 0.R 2 ) /( N . N .22 £ t (a / 2. Tolak H0 Universitas Indonesia Analisis potensi.(N-k). Cara Pengujian: Membandingkan antara F-statistik dengan F-tabel berdasarkan a tertentu (misalnya 5%).k ) Tolak H0 dimana: N K = = = = = banyaknya observasi Banyaknya variabel bebas Level of significance Nilai pendugaan koefisien regresi ke-i Standar eror pendugaan koefisien regresi ke-i a bI se b i 4.k ) > F ( a /2.

Universitas Indonesia Analisis potensi. harapan R2 = 1. Dalam regresi berganda yang menjadi patokan adalah adjusted R-square. bukan R-square. yaitu: 1.. Nilai R2 berkisar antara 0 dan 1 (0≥ R2 ≥1). = = = ESS/TSS banyaknya observasi banyaknya variabel bebas Uji Koefisien Determinasi (Uji R2) Menguji berapa persen model dapat menjelaskan variabel terikat.d.. karena nilai R-square sangat dipengaruhi oleh banyaknya variabel bebas (semakin banyak variabel bebas maka semakin tinggi R-square) serta dipengaruhi oleh banyaknya observasi (makin banyak observasi makin kecil R-square). . 2007 bersumber dari PT FIC.23 Dimana: R2 N K 5. Data Data yang dipergunakan untuk analisis ini berasal dari berbagai bersumber.6. Data penjualan Emas..d. Perak dan Tembaga tahun 2003 s. Cara Pengujian: R2 = ESS RSS =1TSS TSS SSE / N . 2009. JokoSudiarto. 2007 bersumber dari PT FIC dan PTNNT. 2.1 Adjusted-R2 = 1 Di mana : TSS RSS SSE N k = = = = = Total Sum Square (jumlah kuadrat nol) Regression Sum Square (jumlah kuadrat regresi) Sum Square Error (jumlah kuadrat error) banyaknya observasi banyaknya variabel bebas 3.k SST / N . FE UI. Data konsentrat tembaga yang dijual tahun 2003 s. PT NNT dan Departemen ESDM.

7.85 Satuan % gr/T gr/T % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah).. Hasil Penelitian Lapangan 3.00 2.15 Satuan % gr/T gr/T % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah). Tabel 2: Ingredient Content PT NNT No. PT NNT dan Hasil Penelitian LPKM ITB 4.7 Rata-rata 30. 2005 diperoleh dari rata-rata ingredient content dikalikan jumlah konsentrat tembaga yang dijual.1.d. 7. Data kandungan mineral Sulfur dan Besi tahun 2003 s. 2. Produksi dan Penjualan Proses produksi pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung beberapa mineral ikutan. 3.24 3.6-2.00 8. 4.00 80. Data ingredient content bersumber dari PT FIC.50 24.. 6.50 25. 5. 3.00 31.50 80.3 Rata-rata 30. 2.7.00 29.4-2. 2009. Rata-rata kandungan masing-masing mineral ikutan yang terdapat dalam setiap metric ton konsentrat tembaga yang diproduksi oleh perusahaan sesuai dengan ingredient content disajikan dalam tabel berikut: Tabel 1: Ingredient Content PT FIC No.50 30. 1. FE UI. . 1. JokoSudiarto.00 30. 4. Mineral Tembaga (Cu) Emas (Au) Perak (Ag) Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) Kandungan Mineral dalam Konsentrat Range 25-35 25-34 58-103 18-30 25-36 5-10 1. Universitas Indonesia Analisis potensi.50 7. Mineral Tembaga (Cu) Emas (Au) Perak (Ag) Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) Kandungan Mineral dalam Konsentrat Range 28-33 28-32 69-92 22-28 28-34 7-9 1.. 6.50 1. 7. 3. 5.

857.00 3.359.200.00 57.287.988.00 83. Realisasi produksi yang dilaporkan oleh perusahaan ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 3: Realisasi Produksi PT FIC No 1.00 512. . 5.335. 5. 3.212.492.448.106.407.980.803.118.00 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).12 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).00 Tembaga (ton) 718.207.336.306.00 2.106.00 163.00 270.926.281. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Konsentrat (MT) 2.053.054.00 177.00 22. 4.00 146.977.00 2.612.948. 4.00 58.778.007.505. Universitas Indonesia Analisis potensi.357. JokoSudiarto.00 70.00 581. 5.203.287.560. Realisasi penjualan yang dilaporkan oleh perusahaan ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 5: Realisasi Penjualan PT FIC No 1.00 68.00 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).00 3.00 890.00 13. 3.12 611.523. 2.00 22.00 Tembaga (ton) 721.761.393.00 396.734. 4..303.899..00 Perak (kg) 184.00 48.550.214. Tabel 4: Realisasi Produksi PT NNT No 1.00 161.279.00 82.032.00 Emas (kg) 18.00 Perak (kg) 60.567.645.634.099.234.00 726.00 1.347.00 789.179.344.698. 2009.25 Kandungan unsur mineral dalam konsentrat tembaga tersebut merupakan hal yang disyaratkan dalam kontrak penjualan antara penjual dan pembeli.121.00 50.00 903.388.293.00 224. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Emas (kg) 100.927.062.00 147.200. FE UI.00 793.307.00 47.242. 2.025.00 886.00 108.320.00 106.65 Tembaga (ton) 287.00 396.973.568.00 11.093.00 306.605.563.00 205.00 17..00 577.931.009.00 714. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Konsentrat (MT) 932.564.00 320.65 57.00 Emas (kg) 99.148.209.685.00 1.00 167. 3.00 4.787.00 520.904.00 2. 2.00 94.120.00 1.682.00 Perak (kg) 183.00 219.00 221.688.00 784.

3.284. 4.98 65.470. Realisasi Penyetoran PNBP Sesuai dengan kontrak karyanya.00 323..343.00 48.086.00 278. . Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Emas (kg) 18. 3..00 311.00 608.761.00 608.7.63 871. kewajiban kontraktor kepada pemerintah yang digolongkan dalam Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah Iuran Tetap/Deadrent dan Iuran Eskploitasi/Royalty.050.850. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 PT FIC (US$) 608.2.850. 3.00 4.857.850.00 289.257.620.640.336.850.00 898. 2.00 67.215.52 Perak (kg) 60.63 262.00 PT NNT (US$) 289. 2.850.00 69.200.53 1.442.00 608.00 871. JokoSudiarto.296.575.815. 4.05 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).044.00 22.426.849.00 19.00 608.00 1.888.63 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).00 13.52 97.679..050.63 194. rincian disajikan pada Lampiran 1 dan 2.470.00 262.00 269.00 3. Realisasi pembayaran Iuran Tetap/Deadrent yang telah dilakukan oleh perusahaan untuk periode 2003 sampai dengan 2007 adalah sebagai berikut: Tabel 7: Realisasi Penyetoran Iuran Tetap No 1.949.446.324.669.382. 5.00 22. FE UI.200.26 Tabel 6: Realisasi Penjualan PT NNT No 1.98 Tembaga (ton) 287. 2009.404.63 Jumlah (US$) 898.620.89 248.923.00 887. 5.250. Realisasi pembayaran Iuran Eksploitasi/Royalti yang telah dilakukan oleh kedua perusahaan untuk periode tahun 2003 sampai dengan 2007 adalah sebagai berikut: Universitas Indonesia Analisis potensi.532.

31 23. 4. Dalam praktik perdagangan konsentrat.743.983..153. Rangkuman Hasil Wawancara Rangkuman hasil wawancara dengan wakil kedua perusahaan dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 PT FIC (US$) 32. rincian disajikan pada Lampiran 3 dan 4.335. Hal ini telah sesuai dengan Pasal 13 KK yang menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral hasil produksi.97 PT NNT (US$) 18.370.38 578.795.41 140.190.584.059.3. dengan syaratsyarat atau kondisi yang disepakati oleh penjual dan pembeli. emas.233.. Proses produksi pertambangan tembaga menghasilkan konsentrat tembaga yang akan dijual kepada pembeli.760.315. Sesuai dengan perhitungan dan penyetoran royalti.172.894.978.526. 5. Perhitungan dan penyetoran kewajiban iuran tetap telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam KK. yang berisi persentase atau jumlah kandungan masingmasing mineral ikutan dalam konsentrat tembaga. 5.. 4.92 158. Ingredient content merupakan syarat-syarat atau kondisi yang disepakati oleh penjual dan pembeli.14 482. perusahaan hanya menyetorkan royalti atas mineral yang dibayar oleh pembeli yaitu tembaga.539.829. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli.73 20.169. dan perak.524.274. 2009. baik ke smelter atau trader.82 47.51 17.106.367.421. pembeli hanya bersedia membayar logam yang terkandung di dalam konsentrat yang dapat diproses lebih lanjut secara ekonomis sehingga mendatangkan penghasilan bagi smelter. Universitas Indonesia Analisis potensi.60 147.835.888.368.81 150. 3.7.13 71.865.87 126. FE UI. .24 96.87 Jumlah (US$) 51. 3.08 16.130. 2. JokoSudiarto.27 Tabel 8: Realisasi Penyetoran Iuran Eksploitasi/Royalti No 1.73 134.632.84 Jumlah Sumber data: Departemen ESDM dan laporan perusahaan (diolah).332.419. 3.127.571.005.144. 2.

. Dalam konsentrat tembaga terdapat beberapa logam di luar tembaga. Beberapa smelter saat ini dapat mengolah sulfur untuk dimanfaatkan oleh perusahaan petrokimia dengan syarat lokasi pengolahan sulfur berdekatan dengan lokasi pabrik petrokimia. jika kandungannya melampaui ambang batas. 3. maka dengan PP Nomor 13 Tahun 2000 Universitas Indonesia Analisis potensi. 2009. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral difokuskan kepada kebijakan tentang penetapan tarif iuran eskploitasi/eksplorasi/royalti khususnya pertambangan tembaga. melainkan merupakan upaya untuk meminimalkan dampak polusi yang diakibatkan oleh buangan sulfur dari pabrik smelting. justru perusahaan dikenakan penalti. Sedangkan bagi pemegang kontrak karya (KK) pembayaran royalti didasarkan pada ketentuan yang telah diatur dalam KK yang bersangkutan. FE UI. Perusahaan pemegang Kuasa Pertambangan (KP) dan Kontrak Karya (KK) wajib membayar iuran eksplorasi atau iuran eksploitasi (royalti) untuk hasil produksi bahan galian yang diperoleh dari wilayah kuasa pertambangan atau wilayah Kontrak Karya atau wilayah usaha pertambangan lainnya sesuai dengan tarif iuran yang telah ditetapkan. Wawancara dengan Kepala Seksi Mineral pada Direktorat Pembinaan Program Mineral. PP Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. emas dan perak yang berdasarkan teknologi saat ini tidak memiliki nilai ekonomis untuk diolah lebih lanjut.. JokoSudiarto. Bagi perusahaan pemegang kuasa pertambangan (KP) besarnya tarif dan dasar pengenaannya diatur dalam peraturan pemerintah. 4. besarnya tarif royalti didasarkan pada tingkat produksi yaitu tarif dalam US$ dikalikan dengan jumlah satuan.28 6. Beberapa logam bahkan dikategorikan sebagai pengotor konsentrat (impurities) sehingga. Karena pengenaan tarif dengan harga tertentu dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ekonomi. Hal ini bukan merupakan upaya untuk mendapatkan nilai ekonomis dari sulfur. Rangkuman hasil wawancara adalah sebagai berikut: 1. . Batubara dan Panas Bumi. 7. yang sampai dengan saat ini telah terjadi dua kali perubahan. Ditjen Mineral. 2.. Batubara dan Panas Bumi.

sulfur. 5. 7. . dalam hal ini adalah Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. yang antara lain menyebutkan bahwa royalti hanya dikenakan atas mineral ikutan yang dibayar oleh pembeli (tembaga. Rangkuman hasil wawancara dengan salah satu kepala subdirektorat pada Direktorat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). karena pihak pemerintah belum pernah melakukan pengujian atau penelitian atas proses produksi konsentrat tembaga mulai dari hulu (di mulut tambang) sampai dengan pemurnian atau pengolahan konsentrat tembaga menjadi logam. yaitu persentase (%) dikalikan harga jual. Masalah penetapan tarif PNBP merupakan kewenangan departemen teknis.. 9.. PT FIC dan PT NNT hanya menyetorkan royalti atas mineral tembaga. Sangat setuju apabila mineral ikutan lainnya tersebut dikenakan royalti walaupun hal ini sulit untuk dilakukan karena harus menegosiasi ulang klausul-klausul dalam KK. Alasan lain mengapa mineral ikutan tersebut tidak dikenakan royalti yakni mineral tersebut tidak mempunyai nilai ekonomis atau nilai jual bahkan dalam kondisi tertentu bisa bersifat sebagai pengotor yang akan mengurangi nilai jual tembaga. dll) sehingga tidak dikenakan royalti. emas dan perak). misalnya sekian dollar per metric ton seperti yang tercantum dalam lampiran KK-nya (tarif royalti tambahan). emas dam perak. 2009. sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dibayar oleh pembeli (seperti besi. Universitas Indonesia Analisis potensi. Sulit sekali untuk membuktikan hal tersebut. Departemen Keuangan adalah sebagai berikut: 1. JokoSudiarto. Cara penghitungan sebagai dasar pengenaan royalti. Direktorat Jenderal Anggaran. Selanjutnya pemerintah menerbitkan PP Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.29 tentang Perubahan atas PP Nomor 58 Tahun 1998.. emas dan perak. FE UI. Hal ini sesuai dengan KK-nya. 6. sistem tarif diubah dengan menggunakan sistem persentase (%) dari harga jual. 8. yang berisi antara lain besarnya tarif royalti didasarkan pada persentase (%) dikalikan harga jual dan mencabut PP-PP sebelumnya. bisa menggunakan “fixed rate” yaitu tarif tetap atas tonase yang diproduksi.

Dalam hal kontrak karya. karena di dalam klausul-klausul KK menyebutkan demikian.30 Departemen Keuangan khususnya Direktorat PNBP hanya menerima dan mencatat penerimaan PNBP dan secara periodik dilakukan rekonsiliasi dengan departemen teknis yang bersangkutan. JokoSudiarto. Rangkuman Laporan Terkait Rangkuman Laporan Hasil Pemeriksaan atas Pengelolaan PNBP dari Iuran KK pada Departemen ESDM dan PT Freeport Indonesia Tahun Anggaran 2004 dan 2005 (Badan Pemeriksa Keuangan: 2006). FE UI. Inilah pangkal permasalahannya. namun demikian baik negara ataupun rakyat tidak menikmatinya. Dengan demikian. Dengan kata lain hanya negara yang berhak menentukan besarnya tarif PNBP bahkan bisa saja tanpa kompromi dengan pihak ketiga. negara harus berani untuk menegosiasi ulang klausul-klausul dalam KK yang bersangkutan.. Sesuai dengan prinsip PNBP bahwa semua PNBP seharusnya mutlak hak negara artinya negaralah yang mempunyai “bargaining power” lebih besar. Sangat setuju apabila mineral ikutan lainnya yang terdapat dalam konsentrat tembaga dikenakan royalti. mineral ikutan lainnya (selain emas. negara telah merendahkan diri dengan memposisikan yang sama dengan pihak kontraktor.. 2009. 6. 2. 3. agar mineral ikutan tersebut dapat dikenakan royalti.7. 4. perak dan tembaga) yang berada dalam konsentrat tembaga tidak bisa dikenakan royalti. adalah sebagai berikut: Universitas Indonesia Analisis potensi. sehingga semua pihak yang terkait dengan kontrak tersebut harus mematuhi seluruh klausul dalam kontrak atau perjanjian tersebut. 3. Alasannya. seperti yang diamanatkan dalam undang-undang bahwa semua sumber daya alam merupakan kekayaan negara yang harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan sesuai dengan prinsip bahwa PNBP merupakan hak mutlak negara.4. . Demikian juga dengan besarnya PNBP yang terkait dengan kontrak tersebut harus sesuai dengan apa yang telah disepakati.. Dari kasus ini nampak bahwa terdapat sebagian kekayaan alam yang telah diambil dari bumi kita. 5.

. Akibatnya potensi penerimaan negara dari mineral ikutan belerang untuk TA 2004 dan TA 2005 (semester I) minimal sebesar USD14. 3. perusahaan harus membayar suatu royalti tambahan yang dapat berlaku berkenaan dengan mineral yang diekspor yang dibayar kepada perusahaan oleh pembeli.004/kg) tidak dapat direalisasikan. Hasil pengujian dilakukan sendiri oleh PTFI dan ditegaskan melalui hasil konfirmasi diketahui bahwa dalam konsentrat tersebut masih ada kandungan berbagai mineral lain diantaranya adalah belerang (sulphur) yang kadarnya 2530%. Untuk penjualan dalam negeri salah satu konsumen konsentrat terbesar adalah PT Smelting Gresik yang bergerak di bidang peleburan dan pemurnian tembaga dengan produk sampingan berupa asam sulfat dan gipsum. iuran produksi/royalti.256... belerang ini merupakan bagian gas buang dalam bentuk belerang sulfida (SO2) yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan.564 ton x 1.”). Dalam proses peleburan konsentrat. 2009.004/kg untuk mineral ikutan belerang yang masih dapat dimanfaatkan dan UU No. FE UI.. Smelting di Gresik pada saat ini 95% dari gas tersebut dapat diproses untuk menghasilkan asam sulfat dan gipsum.000 kg x USD0. 4. namun oleh PT. 6. Perhitungan kewajiban perusahaan KK dilaksanakan secara self assessment oleh perusahaan. JokoSudiarto. 7. Hal tersebut tidak sesuai dengan Lampiran G pada KK yang menetapkan adanya iuran royalti sebesar USD0. Rangkuman Laporan Tim Optimalisasi Penerimaan Negara mengenai proses peleburan konsentrat tembaga di PT Smelting Gresik (TOPN: 2007) dapat Universitas Indonesia Analisis potensi.31 1..00 (3. sedangkan penjualan ke PT Smelting Gresik bukan kategori dimaksud pasal ini. Kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak adalah pembayaran atas iuran tetap.. 5.442. dan pajak-pajak. dengan alasan bahwa sesuai dengan Pasal 13 huruf h KK (“. 42 tahun 2002 tentang pelaksanaan APBN pasal 8 yang menyatakan pihak departemen berkewajiban mengintensifkan penerimaan.. 2. Menurut penjelasan pihak PTFI meskipun belerang masih mempunyai nilai ekonomis namun dalam penjualan konsentrat tidak diperhitungkan sebagai mineral ikutan.610.

2009. Perak 2. belerang menjadi bagian gas buang sebagai belerang oksida (S02). Produk utama dalam proses pengolahan konsentrat adalah katoda tembaga (copper cathode). Smelter Plant Sumber data: Laporan Tim OPN tahun 2007 (diolah).32 diuraikan sebagai berikut: 1. 3. pirit (FeS2) dan terikat dengan unsur-unsur ikutan lainnya. selenium dan tellurium.93% . Refinery Plant KatodaTembaga (Cu:99.. kapur (CaO). sulfur (SO2). Selenium Anoda 2. bornit (Cu5FeS4). Kandungan belerang di dalam konsentrat tembaga berkisar antara 29. Terak yang dihasilkan dijual kepada PT Semen Gresik (Persero) sebagai bahan baku pembuatan semen. gipsum. 5. Proses produksi konsentrat menjadi tembaga. besi teroksidasi membentuk besi oksida (FeO) yang kemudian bersama-sama senyawa silika (SiO2). pada dasarnya meliputi beberapa tahapan kegiatan dengan jenis output/produksi yang berbeda untuk produk utama (main product) dan produk sampingan (by product) pada masingmasing tahapan tersebut. 2. . 4.99%) Anoda Slimes (Lumpur Anoda) 3.. Terak (Molten Slag) (Cu :99. Tellurium Tahapan Proses Pengolahan 1.25. digenit (CU5S9). dan ditemukan dalam senyawa dengan logam tembaga dan belerang. Pengolahan Lumpur 1. JokoSudiarto. FE UI.95% dan ditemukan dalam mineral kalkopirit (CuFeS2). Sedangkan produk sampingannya adalah terak (molten slag). kalkosit (CuS). membentuk terak. Gypsum 2. Gambaran tahapan proses produksi serta output yang dihasilkan pada masing-masing tahapan dapat disajikan sebagai berikut : Tabel 9: Produksi dan Output PT Smelting Gresik Output/Produk Produk Utama Produk Sampingan Anoda Tembaga 1. emas dan perak. Pada waktu proses peleburan dan converting. Pada proses peleburan dan "converting". kovelit (CuS). Sulfur (SO2) 3.4%) 2. magnesia (MgO) alumina (AI2O3) dan lain-lainnya..22%. Gas buang yang dihasilkan oleh pabrik peleburan tersebut diproses lebih lanjut Universitas Indonesia Analisis potensi. Emas 1.70% 30. Konsentrat tembaga umumnya mengandung besi (Fe) antara 21.

kapur (CaO). Rangkuman Laporan Akhir. Pada proses peleburan konsentrat tembaga. walaupun jumlahnya relatif besar. PT FIC hanya memperoleh pembayaran untuk logam-logam tembaga.. terak tersebut dapat dijadikan bahan baku semen dan dipakai Universitas Indonesia Analisis potensi. 5. . yaitu: 1. 3. Terhadap unsur-unsur ikutan dan senyawa pengotor yang terkandung dalam konsentrat tembaga yang jumlahnya relatif kecil. PT FIC juga tidak memperoleh pembayaran bahkan juga tidak dikenakan denda (penalty). Secara situasional. alumina (Al2O3). Dalam memasarkan konsentrat tembaga. 2009. JokoSudiarto. 4.. perak (Ag) dan lainnya. unsur besi akan teroksidasi menjadi besi oksida (FeO) yang bersama senyawa-senyawa: silika (SiO2). Pada pabrik peleburan PT Smelting Company di Gresik. gas SO2 dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk dan gipsum dan dijual ke PT Petrokimia Gresik. dan lainnya membentuk terak. Namun demikian dalam hal tertentu pemasaran konsentrat tembaga dapat mengikuti ketentuan-ketentuan khusus. emas dan perak yang terkandung dalam konsentrat tersebut. emas (Au).. Perdagangan logam. magnesia (MgO).33 untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gypsum (CaS042H2O). 6. PT FIC tidak memperoleh pembayaran sama sekali. pada dasarnya mengacu pada harga-harga yang diterbitkan oleh London Metal Exchange (LME). Sedangkan pemasaran konsentrat tembaga dilakukan secara langsung antara penjual (seperti PT FIC) dengan para pembeli (smelter) ataupun secara tidak langsung dengan perusahaan dagang (trader). Kandungan besi dalam terak berkisar antara 30-40% yang relatif rendah dan sulit untuk diekstraksi logam besinya secara menguntungkan. Commodity Exchange (COMEX) di New York dan London Bullion Market (LBM). Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Konsentrat Tembaga PT FIC. 2. yang didasarkan pada perjanjian yang bersifat umum dan relatif sama. seperti tembaga (Cu). (Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) ITB: 1999). FE UI. Terhadap unsur-unsur besi (Fe) dan belerang (S) yang terkandung dalam konsentrat tembaga.

7. . Universitas Indonesia Analisis potensi. unsur belerang murni. Sedangkan unsur belerang akan teroksidasi menjadi gas SO2. Baik terak maupun produk tertentu tersebut dapat dijual.34 sebagai “sand blast”.. seperti halnya pabrik PT Smelting Company di Gresik. emas dan perak yang terdapat dalam kandungan konsentrat tembaga. 2009.H2O). unsur besi dan belerang yang terdapat dalam konsentrat tembaga akan merupakan bagian limbah proses. Unsur besi akan menjadi bagian dari terak. sedangkan unsur belerang akan menjadi bagian gas buang yang selanjutnya dapat diubah menjadi produk tertentu. PT FIC hanya diwajibkan oleh Pemerintah RI untuk membayar royalti terhadap logam-logam tembaga. SO2 cair. 6. JokoSudiarto.. FE UI. gipsum (CaSO4. dan lainnya. Gas tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4).n.. Dalam pabrik peleburan konsentrat tembaga.

1. Sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat merupakan tujuan dari setiap pengelolaan dan penggunaan sumber daya alam nasional.. Hak penguasaan negara berisi wewenang untuk mengatur. yaitu: 1) negara menguasai mineral dan batubara sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan. Analisis Cakupan Kontrak Karya yang Berlaku Untuk Pertambangan Tembaga Dalam Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945 dan Pasal 4 ayat (1) Undang- undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara disebutkan bahwa mineral dan batubara sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan merupakan kekayaan nasional yang dikuasi oleh negara untuk sebesarbesarnya kesejahteraan rakyat. Ada dua implikasi yang dapat diambil dari hal tersebut. Hak negara menguasai atau hak penguasaan negara merupakan konsep yang didasarkan pada organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat.BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4. Universitas Indonesia . yang merupakan suatu bentuk perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan 35 Analisis potensi. JokoSudiarto.. 2009. Dalam pengusahaan mineral dan batubara. 2) mineral dan batubara tersebut untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. FE UI. pemerintah dapat melaksanakan sendiri dan/atau menunjuk kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan sendiri oleh pemerintah. Salah satu bentuk kerja sama itu adalah Kontrak Karya (KK).. Hal tersebut sesuai dengan pasal 10 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan dan Pasal 37. 38 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. serta berisi kewajiban untuk mempergunakannya sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. mengurus dan mengawasi pengelolaan atau pengusahaan mineral dan batubara.

Hak dan kewajiban tersebut diatur dalam Pasal 2.. FE UI. Dalam KK tersebut telah ditentukan hak dan kewajiban para pihak. gas alam. Pasal 13 dan Pasal 27 masing-masing KK. JokoSudiarto. yaitu Pemerintah RI dan kontraktor. Terdapat dua KK pengusahaan pertambangan tembaga di Indonesia. sesuai dengan kontrak karya pengusahaan pertambangan tembaga masing-masing. konstruksi dan eksploitasi. Hak Pemerintah RI adalah menerima pajak. Berdasarkan analisis terhadap substansi kedua KK tersebut. dan lain-lain yang Universitas Indonesia Analisis potensi. Pemanfaatan dan pengembangan tersebut dimulai dari tahap eksplorasi. royalti. Kedua pihak terkena asas ”penghormatan” terhadap ketentuan dalam kontrak meliputi keseluruhan terms and conditions yang tercantum dalam kontrak. Obyek perjanjian dalam kedua KK tersebut adalah pemanfaatan dan pengembangan potensi pertambangan di Indonesia. Perubahan terhadap terms and conditions kontrak hanya dimungkinkan apabila didasarkan atas kesepakatan para pihak yang kemudian dituangkan secara resmi dalam bentuk amandemen kontrak. tampak bahwa subyek hukum dalam KK itu terdiri dari dua pihak.. radio aktif dan batubara) sesuai dengan jangka waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak.36 perusahaan swasta asing atau patungan antara asing dengan nasional (dalam rangka Penanaman Modal Asing) yang perusahaannya berbadan hukum Indonesia (Perseroan Terbatas) untuk melaksanakan usaha pertambangan pengusahaan mineral (tidak termasuk minyak bumi. Setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan. pemerintah menerbitkan surat keputusan tahap kegiatan sesuai dengan yang diminta oleh perusahaan KK yang bersangkutan. 2009. Satu hal yang pasti adalah antara Pemerintah RI dengan pihak kontraktor terikat dalam perjanjian ikatan hukum. Jangka waktu masing-masing tahapan kegiatan dalam KK menjadi satu paket dalam kontrak yang bersangkutan. yaitu KK antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT Freeport Indonesia Company (PT FIC) tanggal 7 April 1967 yang telah diganti dengan kontrak tanggal 30 Desember 1991 dan KK antara Pemerintah RI dengan PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) tanggal 2 Desember 1986.. panas bumi. Pemerintah RI diwakili oleh Menteri Pertambangan dan Energi (saat ini Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral) dan pihak kontraktor yaitu PT FIC dan PT NNT. .

kewajiban kontraktor (PT FIC dan PT NNT) yang berkaitan dengan penerimaan negara seperti yang tercantum dalam Pasal 13 masing-masing KK.. Dari kewajiban-kewajiban kontraktor seperti diuraikan di atas. pajak penghasilan badan atas penghasilan yang diperoleh perusahaan. pajak bumi dan bangunan (PBB). pembebanan-pembebanan dan bea-bea yang dikenakan oleh pemerintah daerah di Indonesia yang telah disetujui oleh pemerintah pusat. bea masuk atas barang yang diimpor ke Indonesia.. sewa. iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan. yaitu kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan dan kewajiban iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. 6. pungutan-pungutan. pajak penghasilan atas bunga. 7. 3.. 11. bea meterai atas dokumen-dokumen yang sah. kecuali ditetapkan lain dalam KK. iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. menyetorkan pajak atas pemindahan hak kepemilikan kendaraan bermotor dan kapal di Indonesia. Selanjutnya diuraikan secara rinci kedua kewajiban Universitas Indonesia Analisis potensi. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas pembelian dan penjualan barang kena pajak. 2. pajak penghasilan perorangan. dan jasa lainnya. Sementara itu. 12. kecuali ditetapkan lain dalam KK. FE UI. 5. 9. 10. pungutan-pungutan administrasi umum dan pembebanan-pembebanan untuk fasilitas atau jasa dan hak-hak khusus yang diberikan oleh pemerintah sepanjang pungutan-pungutan tersebut telah disetujui oleh pemerintah pusat. Sementara itu. 2009. kewajibannya adalah menjaga keamanan dan melindungi investasi yang ditanamkan oleh para investor. terdapat dua kewajiban kontraktor yang dikelompokan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). pajak-pajak. dividen.37 merupakan penerimaan negara. jasa teknik. 8. 4. JokoSudiarto. jasa manajemen. . adalah sebagai berikut: 1.

tidak terdapat PNBP yang berasal dari penyetoran iuran tetap tersebut yang belum tergali.086. Dalam lampiran “D” tersebut ditetapkan bahwa tarif iuran tetap per tahun sebesar US$ 3. PT FIC telah menyetorkan iuran tetap sebesar US$3.. FE UI. kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan.00/Ha. Dengan perhitungan dan cara pembayaran yang sederhana tersebut. Universitas Indonesia Analisis potensi.. Rincian disajikan pada Lampiran 1 dan 2. yaitu iuran tetap tahap operasi sesuai dengan surat keputusan mengenai penetapan luas wilayah dan tahap-tahap usaha pertambangan perusahaan yang bersangkutan. Dalam perhitungan tersebut tampak bahwa iuran tetap dapat diartikan sebagai biaya sewa lahan dari pengelola (pihak kontraktor) kepada pemilik lahan (pemerintah).382.. Berdasarkan data-data hasil penelitian lapangan yang berasal dari laporan kedua kontraktor. Departemen ESDM. JokoSudiarto. Pasal 13 point (i) kedua KK tersebut menyebutkan hal yang sama yaitu bahwa ”Perusahaan harus membayar tiap tahun sebagai iuran tetap yang akan dihitung menurut jumlah hektar yang termasuk data Wilayah Kontrak Karya atau Wilayah Pertambangan pada tanggal 1 Januari dan 1 Juli dari setiap tahun dan pembayaran dilakukan di muka dalam dua kali pembayaran masing–masing dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal-tanggal tersebut selama jangka waktu persetujuan dan dibayarkan sebagaimana ditetapkan dalam lampiran “D” Kontrak Karya”. dan Laporan Hasil Audit Tim OPN. sehingga sering disebut deadrent atau landrent dengan tarif tetap atau ”fixed rate” per Ha sesuai dengan surat keputusan mengenai penetapan luas wilayah masing-masing. Selama periode tersebut. . Pertama. Artinya telah dilakukan usaha-usaha yang optimal untuk menggali PNBP tersebut. mudah bagi pihak-pihak terkait untuk melakukan pengecekan atau pengujian apakah pemerintah telah melakukan usaha-usaha yang optimal untuk menggali penerimaan tersebut.250.805. diketahui bahwa kedua kontraktor telah melaksanakan kewajiban penyetoran iuran tetap sesuai dengan ketentuan tersebut di atas. 2009. Sedangkan PT NNT telah menyetorkan iuran tetap sebesar US$1. Dari data-data tersebut.00 dengan jumlah per tahun sebesar US$608.044. untuk periode 2003 sampai dengan 2007.38 PNBP tersebut.63 pada periode yang sama.00.

pembahasan kewajiban tersebut akan diuraikan sesuai dengan kondisi masing-masing kontraktor sebagai berikut: 1) PT FIC. Berdasarkan hasil penelitian lapangan.5 + (ACP90)/10 Sedangkan logam mulia yang merupakan mineral ikutan dengan tembaga.5% Harga tembaga/pon > USD 1. 2009.900< harga tembaga/pon< USD 1. dollar. dijual selama satu triwulan ACP SRFS : : Harga Tembaga Biaya peleburan dan pengolahan. tarif royaltinya adalah 1% dari harga jual. proses produksi PT FIC Universitas Indonesia Analisis potensi. PCT = 1. pengangkutan dan biaya penjualan lainnya PCT : Persentase. Jatuh tempo setiap triwulan. PCT = 3. Terdapat perbedaan substansi Pasal 13 KK yang mengatur tata cara perhitungan dan pembayaran kewajiban tersebut.. antara PT FIC dengan PT NNT. didasarkan kepada harga emas/perak yang berlaku. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. PCT = 1.100. Dalam hal tembaga dijual dalam bentuk konsentrat. kewajiban iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan. FE UI.100. yang diatur sebagai berikut: Harga tembaga/pon ≤ USD 0.50% USD 0.900. JokoSudiarto.. .39 Kedua. Dibayar dalam mata uang rupiah.. Pasal 13 point (ii) menyebutkan bahwa ”Perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral hasil produksi. maupun mata uang lain yang disetujui bersama”. paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah berakhirnya setiap triwulan. jumlah royalti yang dibayar adalah: CR = [ (P x ACP) – SRFS] x PCT P : Jumlah tembaga (pon) yang terkandung dalam konsentrat. Oleh karena itu.

sedangkan unsurunsur mineral ikutan lainnya tidak dihitung tonasenya. sesuai dengan Pasal 13 point (ii) KK tersebut di atas. sedangkan realiasi penjualan yang dilaporkan oleh PT FIC adalah penjualan ketiga unsur mineral tersebut..d. misalnya ingredient content mineral tembaga adalah antara 25% s. Oleh karena itu. artinya dalam setiap satu metric ton konsentrat tembaga terkandung unsur mineral tembaga sebanyak antara 25% X 1 ton = 0. Demikian juga unsur mineral-mineral ikutan lainnya. FE UI. diantaranya adalah Universitas Indonesia Analisis potensi. hanya tiga unsur mineral tersebut yang dibayar oleh pembeli sedangkan mineral ikutan lainnya dianggap sebagai limbah yang tidak ada nilai ekonomisnya. PT FIC hanya menghitung dan menyetorkan royalti atas penjualan ketiga unsur mineral tersebut. Kandungan unsur mineral dalam konsentrat tembaga tersebut merupakan hal yang disyaratkan dalam kontrak penjualan antara penjual dan pembeli.d. perak (Ag) dan tembaga (Cu). Di samping itu. Jumlah tonase mineral yang dihitung dalam kandungan konsentrat tersebut hanya tiga unsur mineral yaitu emas (Au). yang dijual oleh PT FIC kepada para pembeli (smelter dan trader). 35%. 34 gr.. Royalti Tambahan harus dibayar sepanjang suatu mineral dalam produksi perusahaan yang diekspor adalah satu mineral yang nilainya menurut kebiasaan umum dibayar kepada perusahaan oleh pembeli.40 menghasilkan konsentrat tembaga. artinya dalam setiap satu metric ton konsentrat tembaga terkandung unsur mineral emas sebanyak antara 25 gr s. seperti yang diuraikan pada Pasal 13 huruf h bahwa perusahaan harus membayar suatu Royalti Tambahan yang dapat berlaku berkenaan dengan mineral yang diekspor sebagai bijih yang tidak dapat dimanfaatkan dari Indonesia. Sehingga.25 ton s. Ingredient content mineral emas adalah antara 25 gr/T s. Menurut PT FIC. 35% X 1 ton = 0. Di dalam konsentrat tersebut terkandung beberapa mineral ikutan yang tidak dapat dipisahkan dari proses produksi (menyatu dalam konsentrat tembaga tersebut). 34 (gr/T)..d. JokoSudiarto.35 ton. realisasi produksi yang dilaporkan oleh PT FIC adalah produksi konsentrat tembaga dan ketiga unsur mineral tersebut. Kandungan masing-masing mineral ikutan dalam setiap metric ton konsentrat tembaga yang diproduksi oleh PT FIC sesuai dengan ingredient content.d. 2009. Tarif royalti tambahan sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran G. .

2.00 30.56 Universitas Indonesia Analisis potensi.41 mineral belerang (sulfur) dengan tarif sebesar USD4.882.456 ons US$ 296.A.527. S. Data penjualan · · · · · · · · · · Penjual Pembeli Pelabuhan tujuan Invoice Berat konsentrat Nilai Tembaga Berat dalam lbs Harga Emas Berat dalam ons Harga Perak Berat dalam ons Harga TCRC : : : : : : PT FIC Atlantic Copper.838 lbs US$ 0.154.50 7. 3.378. Dengan demikian..573. JokoSudiarto. Tabel 10: Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT FIC Kandungan Mineral dalam Konsentrat No. PT FIC juga tidak pernah menghitung dan menyetorkan royalti tambahan tersebut dengan alasan perusahaan tidak menerima pembayaran dari pembeli atas mineral belerang tersebut.. 1.430 ons US$ 5. Spanyol Nomor 1308 F tanggal 20 April 2003 37.255 DMT US$ 33..4-2.85 Satuan % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah). 4. FE UI.251/ons 62. Namun demikian.242/ons US$ 4.78844/lbs 57.32 : : : : : : : 25.834. . Contoh perhitungan kewajiban iuran eksploitasi/royalti dapat disajikan berikut ini.50 1. 2009.3 Rata-rata 24. terdapat mineral ikutan dalam konsentrat tembaga yang belum dikenakan royalti.00/ton. seperti dicantumkan pada tabel berikut ini. Mineral Range Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) 18-30 25-36 5-10 1.

JokoSudiarto.42 Perhitungan Iuran Eksploitasi/Royalti · Tembaga US$ 0.154.838 lbs -/.TCRC 1. . sepanjang setiap Mineral dari hasil produksi itu merupakan Mineral yang nilainya sesuai kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada Perusahaan oleh pembeli..56 US$ 15.213.47 US$ 227.536.5% X US$ 15. Iuran eksplotasi/produksi akan dibayar dalam Rupiah atau mata uang lain yang disetujui bersama dan akan dibayar pada atau sebelum hari terakhir dari bulan setelah tiap triwulan”.430 ons Jumlah Royalti : : : : : : : US$ 20. Iuran Eksploitasi/produksi akan dihitung dengan tarip yang ditetapkan dalam Lampiran “F” sebagai berikut: “tonase atau jumlah berat yang digunakan di dalam perhitungan adalah jumlah yang diserahkan bagi pengapalan ekspor atau penjualan dalam negeri.119. Pasal 13 ayat 2 KK dapat diuraikan secara ringkas bahwa “Perusahaan akan membayar iuran eksploitasi/produksi untuk kadar mineral dari hasil produksi (sebagaimana dirumuskan dalam lampiran “F”) pada Wilayah Pertambangan.58 US$ 401.175.272..633.175. Dalam hal tembaga.536.78844 X 25. FE UI.691. Dalam hal konsentrat atau dore bullion.456 ons · Perak 1% X US$ 5.12.47 · Emas 1% X US$ 296.03 US$ 4.01/DJP/2000 tanggal 24 Februari Universitas Indonesia Analisis potensi.242 X 62. Rincian disajikan pada Lampiran 3. 2) PT NNT.97 US$ 3.009.834..05 US$ 170. jumlah berat setiap mineral yang dikenakan iuran eksplotasi/produksi ditetapkan secara tepat dengan metode perhitungan yang dapat diterima secara internasional”. jumlah penyetoran royalti sebesar US$443. 2009.732.400.251 X 57. perhitungan royalti didasarkan pada Surat Direktur Jenderal Pertambangan Umum Nomor 310/20.378.60 Dalam periode 2003 sampai dengan 2007.

b) Jika harga jual emas adalah US$400 per troy ounce atau lebih tinggi. iuran yang dikenakan adalah 1% dari harga jual.000 Ton US $ 45. iuran yang dikenakan adalah 2% dari harga jual. c) Jika harga jual (S) perak adalah diantara US$10-US$15 per troy ounce. b) Jika harga jual perak adalah US$15 per troy ounce atau lebih tinggi.US$400 per troy ounce.00/ton. 2009. perhitungan royalti adalah sebagai berikut: a) Jika harga jual perak adalah US$10 per troy ounce atau lebih rendah. Seperti halnya pada PT FIC. maka PT NNT hanya menghitung dan menyetorkan royalti atas mineral emas. Dalam hal perak. iuran yang dikenakan adalah 1% dari harga jual. dan sesuai dengan Pasal 13 ayat (2) KK tersebut di atas.K/844/MPE/1992 serta metode teknis perhitungan sesuai dengan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Nomor 514/844/DDJP/1992 tanggal 28 Desember 1992 tarif royalti untuk tembaga ditetapkan sebagai berikut: · Tingkat produksi ≤ 80. JokoSudiarto. Surat tersebut terkait dengan pengenaan tarif royalti untuk tembaga yang ditentukan berdasarkan Surat Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Nomor 2817/844/DJP/1996 tanggal 11 Nopember 1996 dengan mengacu pada Surat Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1166. terdapat mineral ikutan lainnya dalam konsentrat tembaga yang tidak dikenakan royalti.000 Ton US $ 55.. iuran yang dikenakan adalah {1+(G–300)/100}% dari harga jual. .. iuran yang dikenakan adalah {1+(S–10)/5}% dari harga jual. perhitungan royalti adalah sebagai berikut: a) Jika harga jual emas adalah US$300 per troy ounce atau lebih rendah. Dalam hal emas. seperti dicantumkan pada tabel berikut ini. iuran yang dikenakan adalah 2% dari harga jual. Universitas Indonesia Analisis potensi.00/ton. Dengan demikian. · Tingkat produksi > 80. c) Jika harga jual (G) emas adalah diantara US$300 ..43 2000 perihal Pembayaran Iuran Eksploitasi/Produksi (Royalti) PT Newmont Nusa Tenggara. perak dan tembaga. FE UI.

999.Grade .701. Data penjualan · Penjual · Pembeli · Pelabuhan tujuan · PEB · Invoice · Berat konsentrat · Nilai · Tembaga .53 X 9.737. 2. JokoSudiarto.44 Tabel 11: Mineral Ikutan Tembaga yang Tidak Dikenakan Royalti – PT NNT Kandungan Mineral dalam Konsentrat No.05/31.999.6-2.05 ton (17.73 ton (0. . 1.53 175.Berat dalam ons .00 8.69 : : : : 17.919.999. 4.284.Harga : : : : 68.Berat dalam ons .00 31.09) 22. 2009. Jepang Nomor 000005 tanggal 20 Januari 2006 Nomor 2006-04-1 tanggal 30 Januari 2006 9.23/31.98 689..15 Satuan % % % % Sumber data: data perusahaan (diolah) Contoh perhitungan kewajiban iuran eksploitasi/royalti dapat disajikan berikut ini.75 : : 0.09) 5.Berat dalam ton · Emas .Berat dalam ton .09 DMT US$ 13.Berat dalam ton .737.175.Harga · Perak .23 ton (68..635. 3.Grade .1035) US$ 9..284.98 X 9.292 2. FE UI.999.7 Rata-rata 25.1035) US$ 561.292 X 9.51 ons (175.55 ons (689.886.21 Universitas Indonesia Analisis potensi. Mineral Range Besi (Fe) Belerang (S) Silica (SiO2) Alumina (Al2O3) 22-28 28-34 7-9 1.Grade .00 2.09) : : : : : : : PT NNT Mitsubishi Material Corporation Naoshima.

. PNBP yang berasal dari iuran tetap dan royalti kontrak karya tersebut dapat digolongkan sebagai user charges dalam kelompok user fees. Artinya. FE UI.175. Dalam kontrak karya. 2009. . jumlah penyetoran royalti oleh PT NNT sebesar US$96. Hal tersebut di atas senada dengan pendapat dari David C.. Rincian disajikan pada Lampiran 4.79 Dalam periode 2003 sampai dengan 2007.04 US$ 196.851.635. Jadi tidak tergantung dari besarnya produksi yang dihasilkan (dalam tonase) maupun besarnya pendapatan atau penjualan (dalam rupiah atau US$).75 X 5.69 X 22. JokoSudiarto. pihak kontraktor yang mengusahakan atau mengolah sumber daya mineral diwajibkan membayar kepada pemerintah sebagai PNBP.L.148.274.94 : US$ 131. dimana PNBP tersebut merupakan pembayaran atas pelayanan yang dinikmati langsung oleh pengguna (pihak kontraktor). merupakan pembayaran tetap kepada pemerintah tidak tergantung dari keuntungan atau jumlah yang dihasilkan dari pengusahaan sumber daya mineral tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Gerwin Bell dalam Buku Tax Policy Handbook: Tax Policy Division Fiscal Affairs Departement International Monetary Fund (1995: 104-107)..55 ons Jumlah Royalti : : US$ 2.388.45 Perhitungan Iuran Eksploitasi/Royalti · Tembaga US$ 45. Nellor dalam buku yang sama (1995: 238-240) yang mengemukakan beberapa pengertian pengusahaan mineral. yaitu bahwa pemerintah merupakan pemilik lahan atau pemilik sumber daya mineral dimana pemerintah akan menerima pembayaran dari pengusahaan sumber daya tersebut di luar dari pajak penghasilan.314. selain membayar pajak-pajak sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku.51 ons · Perak 1% X US$ 9.81 : US$ 63.87.73 ton · Emas 2% X US$ 561.00 X 2. lease bonuses ini dapat Universitas Indonesia Analisis potensi.571. Pembayaran tersebut yaitu: 1) Lease bonuses.919.

royalti bisa dihitung dari jumlah volume (misalnya metric ton) atau dari nilai sumber daya tersebut (misalnya nilai jual). 3) Resource Rent Tax (RRT). Artinya. Semakin tinggi harga atau nilai penjualan mineral maka semakin tinggi tarif royaltinya. yaitu di dalam Pasal 13 KK disebutkan bahwa royalti dibayarkan atas mineral yang dibayar oleh pembeli. Jelas di sini bahwa pengertian royalti dalam KK lebih sempit dibandingkan dengan pengertian royalti menurut pendapat David C. pendapatan yang diperoleh telah melebihi atau di atas nilai investasinya.L. RRT hanya dibayarkan oleh kontraktor apabila pengusahaan sumber daya mineral tersebut telah menguntungkan. Artinya. 2009. JokoSudiarto.. Jadi tidak tergantung apakah sumber daya tersebut bermanfaat atau tidak oleh kontraktor yang bersangkutan. Di sisi lain. karena pemerintah tidak akan memperoleh penerimaan sampai dengan proyek atau pengusahaan sumber daya mineral tersebut menguntungkan. Pemerintah harus menetapkan jumlah minimum royalti yang harus dibayar oleh pihak kontraktor atas besarnya volume atau nilai sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor tersebut. Universitas Indonesia Analisis potensi. 2) Royalties. yaitu Pertama. . Kedua. merupakan pajak yang dikenakan apabila terdapat keuntungan atas pengelolaan atau pengusahaan sumber daya mineral.46 diartikan sebagai kewajiban iuran tetap untuk wilayah KK atau wilayah pertambangan.. FE UI. Nellor tersebut. RRT tersebut dapat dianalogkan sebagai penerimaan royalti tambahan dari PT FIC dan pengenaan tarif progresif atas royalti. dengan kata lain. pemerintah akan kesulitan mengadministrasikan dan menentukan kewajaran besarnya penerimaan tersebut.. Ada dua makna dalam pengertian tersebut. sehingga pemerintah perlu melakukan pengawasan yang ketat. Pengertian tersebut berbeda dengan KK. royalti dikenakan atas sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor. Dengan demikian royalti hanya dapat dikenakan kepada kontraktor apabila kontraktor tersebut benar-benar telah menerima pembayaran dari pembeli. royalti dibayarkan berdasarkan besarnya volume atau nilai dari sumber daya yang diusahakan. Hal ini sangat beresiko bagi pemerintah sebagai pemilik sumber daya mineral.

Artinya pemerintah Indonesia kehilangan kesempatan untuk memperoleh penerimaan yang lebih besar (opportunity loss). Makna atau substansi pasal tersebut yaitu royalti di bidang pertambangan yang merupakan salah satu PNBP. untuk dilakukan penghancuran pada crushing pile dan hasilnya dikumpulkan pada surge pile. Dengan demikian. Artinya. ore dikumpulkan dalam coarse ore mill feed stockpile dan didistribusikan ke sag mill untuk dilakukan penggilingan menjadi butiran– Universitas Indonesia Analisis potensi.. Selanjutnya dikirim ke konsentrator plant dengan menggunakan overland conveyor. antara lain royalti di bidang pertambangan. Bahan galian yang diperoleh disebut bijih (ore). dikenakan atas pemanfaatan sumber daya alam (dalam hal ini adalah pengusahaan pertambangan).. Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP menerangkan bahwa salah satu PNBP adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. siapapun yang telah mengusahakan pertambangan dan memanfaatkan hasil-hasilnya harus dikenakan royalti. Jelas di sini bahwa cakupan royalti dalam KK lebih sempit dibandingkan dengan pengertian konsep PNBP tersebut. JokoSudiarto. penentuan lokasi dari bahan galian yang akan dilakukan penambangan. FE UI.2. Hal ini bisa dilihat dari uraian di atas bahwa masih terdapat potensi royalti dari mineral ikutan tembaga yang belum tergali. · Concentrator Plant.. Menentukan Alasan yang Dapat Digunakan Untuk Mengenakan Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga Secara ringkas proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan untuk dapat menghasilkan konsentrat tembaga dapat diuraikan sebagai berikut: · Penambangan.47 semakin tinggi harga atau nilai penjualan mineral maka semakin besar pula keuntungan yang diperoleh oleh kontraktor. 2009. cakupan royalti dalam KK tersebut belum optimal buat pemerintah Indonesia. . 4. sehingga pemerintah pun akan menerima royalti yang semakin besar.

yaitu: 1. Dan termasuk di dalam jenis bahan galian vital. 20 December. Diagram alur proses produksi tersebut dicantumkan pada Lampiran 5. FE UI. Menurut kedua kontraktor.. ada dua alasan yang mendasari hal tersebut. Bahan galian ini disebut juga golongan bahan galian B sesuai dengan Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian.. Dari proses produksi di atas diketahui bahwa hasil produksi perusahaan berupa konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung beberapa mineral ikutan. Seluruh unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga di atas termasuk dalam pengertian mineral. Berdasarkan data-data hasil penelitian lapangan diketahui bahwa kontraktor (PT FIC dan PT NNT) hanya menyetorkan royalti atas mineral tembaga. Proses ini dilakukan untuk memisahkan dan meningkatkan konsentrat.48 butiran halus. yaitu bahan galian yang dapat menjamin hajat hidup orang. dan perak sedangkan unsur mineral ikutan lainnya tidak dibayar royaltinya. konsentrat bercampur air ditampung dalam discharge tank dan dilakukan pengepresan melalui dua buah filter press sehingga kadar air yang tersisa dalam konsentrat mencapai kadar 9%–12% dari berat konsentrat. baik menurut Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara maupun Article 3 angka 1 Japanese Mining Law Nomor 289. 1950 Latest Amendment In 1962. JokoSudiarto. Kemudian proses loading dari penyimpanan konsentrat ke kapal dilakukan dengan belt conveyor. emas. . selanjutnya melalui pipa dengan tekanan air dikirim ke bagian filtration plant. Sedangkan menurut Pasal 34 ayat (2) Undangundang Nomor 4 Tahun 2009 pengusahaan pertambangan tembaga termasuk dalam pertambangan mineral logam. Perhitungan dan penyetoran kewajiban iuran eksploitasi (royalti) telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam KK.. melalui belt conveyor dikirim ke tempat penyimpanan konsentrat (concentrate stockpile). Pasal 13 KK menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar iuran eksploitasi/produksi Universitas Indonesia Analisis potensi. · Filtration Plant. 2009.

jika kandungannya melampaui ambang batas. Hal ini bukan merupakan upaya untuk mendapatkan nilai ekonomis dari sulfur. . Beberapa logam bahkan dikategorikan sebagai pengotor konsentrat (impurities) sehingga. JokoSudiarto. Beberapa smelter saat ini dapat mengolah sulfur untuk dimanfaatkan oleh perusahaan petrokimia dengan syarat lokasi pengolahan sulfur berdekatan dengan lokasi pabrik petrokimia. Ltd 5%). Dalam konsentrat tembaga terdapat beberapa logam di luar tembaga. FE UI. 2009. terdapat beberapa pendapat yang mengatakan bahwa hampir semua unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga tersebut dapat dimanfaatkan atau hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga. Mitsubishi Corporation 9.. Dalam praktik perdagangan konsentrat. sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. emas. dilakukan oleh PT Smelting Gresik Copper Smelter & Refinery yang sahamnya 25 % dimiliki PT FIC dan sisanya perusahaan Jepang (Mitsubishi Material Corporation 60. Simon Sembiring dalam Buku Jalan Baru Untuk Tambang: Mengalirkan Berkah Bagi Anak Bangsa (2009: 149) menguraikan bahwa peleburan dan pemurnian konsentrat tembaga di Indonesia. melainkan merupakan upaya untuk meminimalkan dampak polusi yang diakibatkan oleh buangan sulfur dari pabrik smelting. dan perak.. Dengan demikian. Dan perusahaan hanya menerima pembayaran dari pembeli atas tiga mineral ikutan yaitu tembaga.49 untuk kadar mineral hasil produksi. emas dan perak yang berdasarkan teknologi saat ini tidak memiliki nilai ekonomis untuk diolah lebih lanjut. Pendapat tersebut diuraikan berikut ini. PT Universitas Indonesia Analisis potensi.5 %. hanya ada di Gresik.. 2.5 % dan Nippon Mining & Metals Co. Namun demikian. justru perusahaan dikenakan penalti. pembeli hanya bersedia membayar logam yang terkandung di dalam konsentrat yang dapat diproses lebih lanjut secara ekonomis sehingga mendatangkan penghasilan bagi pengolah konsentrat (smelter). smelting yang melakukan upaya ini semestinya mendapatkan insentif karena berhasil menekan tingkat polusi dan bukannya diwajibkan memberikan kompensasi kepada penjual konsentrat.

sulfur (SO2).. Pada proses peleburan dan converting. Konsentrat tembaga umumnya mengandung besi (Fe) antara 21. acid plant (pabrik asam sulfat).. Dengan demikian. 3. Ini membuktikan bahwa sebenarnya kita bisa mengubah dari raw material menjadi konsentrat dan selanjutnya sampai dengan end product yang dimanfaatkan industri hilir. Ada dua hal penting yang diuraikan dalam buku tersebut. yang menjelaskan proses produksi pada PT Smelting Gresik. dimana kadarnya (copper grade) dari 28-30% dinaikkan menjadi 99. Copper slag berupa kerak juga bisa dijual ke industri pembuatan kertas pasir. selenium dan tellurium. refinery plant (pabrik pemurnian). Produk utama PT Smelting Gresik adalah katoda tembaga (copper cathode). yakni: 1. Namun sayangnya. pabrik tersebut mengubah konsentrat menjadi copper cathode. gipsum. FE UI. yaitu: Pertama. yang langsung dijual kepada PT Petrokimia Gresik sebagai bahan baku pembuatan pupuk. Sedangkan produk sampingannya adalah terak (molten slag). dan instalasi pengolahan air limbah. JokoSudiarto. 2009. Produk sampingan lainnya adalah gypsum dengan kapasitas 20 ribu ton/tahun yang digunakan untuk campuran semen dan dijual ke pasar internasional..93% . hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga.99%. besi teroksidasi membentuk besi oksida Universitas Indonesia Analisis potensi.22%. emas dan perak.25. yakni smelter plant (pabrik peleburan). Kedua. dari smelter ini diperoleh produk sampingan (by-product) berupa belerang (sulfur) dengan kapasitas 700 ribu ton/tahun. dan ditemukan dalam senyawa dengan logam tembaga dan belerang. terdiri dari empat plant. Hal tersebut senada dengan Laporan Tim Optimalisasi Penerimaan Negara Tahun 2007. 2. .6 juta ton per tahun dan cuma sebagian kecil konsentrat dari PT NNT. Indonesia saat ini hanya menyerap sepertiga konsentrat tembaga yang dihasilkan PT FIC yang sebesar 2. kerak tembaga (copper slag) dengan kapasitas 530 ribu ton/tahun.50 Smelting didirikan pada Februari 1996. yang mengandung bahan substitusi untuk pabrik semen sebagai pengganti sebagaian pasir besi yang merupakan bahan baku pembuatan semen. Lalu.

Pada pabrik peleburan PT Smelting Gresik. .70% - 30. magnesia (MgO) alumina (AI2O3) dan lain-lainnya. dalam jumlah yang sama unsur mineral besi dan sulfur. kalsium. Dari proses tersebut jelas bahwa hampir semua unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga dapat dimanfaatkan. membentuk terak. Goonan dalam makalah yang berjudul “Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting” yang diuraikan pada U. pirit (FeS2) dan terikat dengan unsur-unsur ikutan lainnya. Demikian juga pendapat dari Thomas G. kovelit (CuS). dan silikon. Sementara itu Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) ITB dalam Buku Laporan Akhir “Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Universitas Indonesia Analisis potensi. 5. persentase yang lebih kecil unsur aluminium. dan lainnya. Pada intinya hampir seluruh unsur mineral ikutan dalam konsentrat tembaga dapat dimanfaatkan atau hampir tidak ada material yang terbuang dari konsentrat tembaga. yakni seperti slag. Selanjutnya pada proses peleburan konsentrat tembaga akan menghasilkan beberapa produk yang tidak jauh berbeda dengan hasil produksi PT Smelting Gresik.95% dan ditemukan dalam mineral kalkopirit (CuFeS2). JokoSudiarto.S. Hal tersebut dapat dilihat pada diagram alur proses peleburan konsentrat tembaga yang dilampirkan pada Lampiran 6. belerang menjadi bagian gas buang sebagai belerang oksida (S02). kalkosit (CuS). 4. Kandungan belerang di dalam konsentrat tembaga berkisar antara 29.. bahwa pengusahaan pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga. asam sulfat. Konsentrat tersebut mengandung 25% – 35% unsur mineral tembaga. Geological Survey Open-File Report 2004-1395.. Gas buang yang dihasilkan oleh pabrik peleburan tersebut diproses lebih lanjut untuk menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gypsum (CaS042H2O). Pada waktu proses peleburan dan converting. Terak yang dihasilkan dijual kepada PT Semen Gresik (Persero) sebagai bahan baku pembuatan semen. FE UI.51 (FeO) yang kemudian bersama-sama senyawa silika (SiO2). 2009.. oleum. bornit (Cu5FeS4). digenit (CU5S9). kapur (CaO). gipsum. gas SO2 dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk dan gipsum yang dijual ke PT Petrokimia Gresik.

2. maka unsur-unsur yang ada di dalam konsentrat tembaga tersebut dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok sebagai berikut: 1. unsur belerang ini menyatu dalam gas buang (SO2) dan apabila diproses lebih lanjut akan menghasilkan asam sulfat (H2SO4) dan gipsum(CaSO4. jelas bahwa mineral ikutan pertambangan tembaga yang layak dikenakan royalti adalah unsur mineral sulfur dan besi karena Universitas Indonesia Analisis potensi. 2009. . Pada pabrik peleburan PT Smelting gas SO2 yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk. Unsur-unsur atau senyawa yang dikenakan denda. walaupun kandungannya besar. Hal tersebut di atas didukung oleh pendapat instansi atau pihak yang kompeten. JokoSudiarto.52 Konsentrat Tembaga PT FIC” mengemukakan bahwa ditinjau dari segi pemasaran konsentrat tembaga. Matrik rangkuman pendapat instansi/ahli yang kompeten dilampirkan pada Lampiran 7.. yaitu masing-masing berkisar antara 25-30%.. bismut (Bi). yang akan dikenakan denda apabila melebihi kandungan maksimum yang disepakati. Departemen Keuangan dan BPK. Terdiri dari senyawa ikutan dan unsur-unsur pengotor baik logam maupun non logam.. Unsur-unsur tersebut adalah logam tembaga (Cu). 3. Unsur-unsur atau senyawa yang dihargai atau dibayar. Sedangkan untuk unsur-unsur pengotor pada umumnya tidak ekonomis lagi untuk diolah lebih lanjut. timbal (Pb). Pada pabrik peleburan PT Smelting limbah terak yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan semen dan dijual kepada PT Semen Gresik. gipsum dan dijual kepada PT Petrokimia Gresik. dimana mereka menyatakan setuju apabila seluruh mineral ikutan tambang tembaga dikenakan royalti. Unsur Unsur-unsur atau senyawa yang tidak dibayar dan tidak dikenakan denda. bahan sand blasting. Demikian juga dengan unsur belerang. antara lain: arsen (As). yaitu Departemen ESDM. Berdasarkan uraian di atas. seng (Zc). Dalam buku tersebut disebutkan juga bahwa unsur besi dalam proses peleburan terikat kuat dengan oksida-oksida lainnya di dalam terak. FE UI. logam emas (Au) dan logam perak (Ag). Unsur-unsur tersebut adalah belerang (S) dan besi (Fe).nH2O). dan lain-lain.

Jelas di sini bahwa makna atau substansi pasal tersebut yaitu royalti di bidang pertambangan yang merupakan salah satu PNBP. langkah selanjutnya adalah menghitung perkiraan royalti tersebut berdasarkan data-data periode 2003-2007. Siapapun yang mengambil sumber daya alam dari dalam perut bumi Indonesia. Dan sesuai dengan prinsip PNBP bahwa semua PNBP seharusnya mutlak hak negara artinya negaralah yang mempunyai “bargaining power” lebih besar. Hal tersebut juga telah ditekankan pada Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP bahwa salah satu PNBP adalah penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. Artinya royalti tersebut tergantung dari apa yang telah Universitas Indonesia Analisis potensi. yaitu: Pertama. baik sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan ataupun yang tidak bisa dimanfaatkan tetap harus diwajibkan membayar ke negara sebagai pemilik sumber daya alam tersebut.. Cara inilah yang lazim diterapkan sesuai dengan kondisi perusahaan. 2009. 4. Sesuai dengan pendapat dari Departemen ESDM sebagai regulator atau instansi yang berwenang menetapkan tarif royalti atas pemanfaatan sumber daya alam.53 kedua unsur inilah yang dapat diproses lebih lanjut dan dimanfaatkan/dijual. . misalnya 3% dari harga jual. royalti dihitung berdasarkan persentase tertentu dari harga jual. FE UI. JokoSudiarto.. dikenakan atas pemanfaatan sumber daya alam (dalam hal ini adalah pengusahaan pertambangan). Apalagi dengan mineral ikutan pertambangan tembaga yang jelas-jelas dapat dimanfaatkan dan mempunyai nilai jual. Dengan kata lain hanya negara yang berhak menentukan besarnya tarif PNBP bahkan bisa saja tanpa kompromi dengan pihak ketiga. Perkiraan Potensi Royalti dari Mineral Ikutan Tembaga Setelah mengetahui alasan yang dapat digunakan untuk mengenakan royalti dari mineral ikutan tembaga.3. antara lain royalti di bidang pertambangan. berapapun yang diambil dari dalam bumi Indonesia seharusnya dikenakan royalti.. maka royalti tersebut dapat dihitung dengan dua cara. siapapun yang telah mengusahakan pertambangan dan memanfaatkan hasilhasilnya harus dikenakan royalti. Artinya.

Menghitung jumlah satuan yaitu berat dalam ton atau kg masing-masing mineral ikutan dalam konsentrat yang dijual.54 diterima perusahaan atas pemanfaatan sumber daya alam tersebut (pendapatan perusahaan). Menentukan tarif. Kedua. Namun demikian.. 2009. Apabila pendapatan perusahaan mengalami kenaikan maka royaltipun akan naik. Dari hasil penelitian lapangan. Kedua. IC rata-rata per bulan dari realisasi Universitas Indonesia Analisis potensi. yaitu Pertama. JokoSudiarto. Berat atau jumlah ton atau kg mineral yang dijual.00/ton (KK . Dimana..90/ton (PP 58/1998). FE UI. demikian juga sebaliknya. . misalnya harga asam sulfat dan gipsum. Jadi IC rata-rata ini merupakan nilai perkiraan kandungan masingmasing mineral dalam konsentrat.305 ton. Royalti = tarif x jumlah satuan Dimana. yaitu untuk mineral sulfur sebesar USD4. IC rata-rata dari nilai ”range” kandungan mineral yang disepakati oleh penjual dan pembeli. karena harga jual atau nilai ekonomis mineral tersebut sulit sekali diestimasi. royalti dihitung berdasarkan fixed rate dengan formula berikut ini.Lampiran G) dan untuk mineral besi sebesar USD2. harga jual yang diperoleh adalah harga produk jadi hasil proses lanjutan dari mineral tersebut. 2. Misalnya Sulfur dengan range sebear 25-36% maka IC rata-rata sebesar 30..50%. Tarif Jumlah satuan : : USD per ton atau per kg. Dalam hal ini penulis menggunakan tarif yang ada pada Lampiran KK atau PP 58/1998. Ada dua IC yang dapat digunakan. Artinya setiap 1 ton konsentrat tembaga diperkirakan mengandung unsur mineral Sulfur sebesar 0. Jadi fluktuasi royalti tergantung dari harga jual dan pendapatan perusahaan. Langkah-langkah cara perhitungan royalti adalah sebagai berikut: 1. hal ini sangat sulit bahkan tida bisa diterapkan untuk mengestimasi potensi royalti yang hilang atas mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga. berat masing-masing mineral diperoleh dari Ingredient Content (IC) dikalikan dengan berat konsentrat yang dijual.

. SULFUR Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara jumlah penjualan Emas (dalam Kg).d. Dalam hal ini. Fungsi Model Dimana. Langkah berikutnya. Selanjutnya dikalikan dengan berat konsentrat yang dijual (dalam Ton) untuk memperoleh berat masingmasing mineral yang terkandung dalam konsentrat tersebut. penulis menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan EVIEWS. penulis tidak memperoleh data IC rata-rata per bulan. mengalikan tarif dengan berat masing-masing mineral untuk memperoleh nilai perkiraan royalti periode 2003 s.d.55 kandungan masing-masing mineral dalam setiap produksi konsentrat.. Perak (dalam Kg). JokoSudiarto. sehingga untuk memperkirakan berat masing-masing mineral yang terkandung dalam konsentrat yang dijual. 2009. misalnya penjualan Tembaga sebanyak 1 ton maka kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual sebanyak sekian ton. . S : Variabel tidak bebas (kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual. Misalnya IC triwulan I merupakan rata-rata IC bulan Januari. metode yang digunakan untuk menentukan IC adalah metode rata-rata sederhana. begitu seterusnya. FE UI. artinya IC yang digunakan untuk menghitung perkiraan potensi royalti per triwulan adalah IC rata-rata tiga bulan sebelumnya. dalam Ton) : S = f (E. 2005. Diagram cara perhitungan potensi royalti dicantumkan pada Lampiran 8. T) : S = a + bE + cP + dT + Є Universitas Indonesia Analisis potensi.. P. yang selanjutnya digunakan untuk mencari IC rata-rata triwulanan pada periode yang bersangkutan. dan Tembaga (dalam Ton) dengan kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton). yang akan diuraikan berikut ini. 2005 (Fitted Value). Periode 2006 dan 2007. Penulis hanya memperoleh data IC rata-rata per bulan untuk periode 2003 s. Februari dan Maret.

c. Error t-Statistic C 4535.. Selanjutnya. Untuk menentukan model yang terbaik dilakukan dengan cara cobacoba (try and error) dan setiap model dievaluasi berdasarkan kriteria ekonomi.6695 F-statistic Durbin-Watson stat 1. .8823 202.0000 81006.591337 P 883.42608 18. dependent var S. Tabel 12: Hasil Run Model 1 .60203 1204.98 18. Perak (dalam Ton).991219 Mean dependent var Adjusted R-squared 0.064094 11.. dalam Kg) Variabel bebas 2 (jumlah penjualan Perak. 0. dan kriteria ekonometrika. of regression 2302.7799 248.776507 Prob(F-statistic) Prob.990396 S.0053 0.103 0.5765 3. kriteria statistik.000000 Evaluasi model di atas adalah sebagai berikut: 1.9000 -1.1214 0. dalam Kg) Variabel bebas 3 (jumlah penjualan Tembaga.. berdasarkan data-data tersebut dilakukan run model dengan EVIEWS. dan Tembaga (dalam ton) per bulan selama periode 2003 sampai dengan 2005.525 2.56 E P T a Є : : : : : Variabel bebas 1 (jumlah penjualan Emas. 2009.E. d : Data-data yang diperoleh adalah data-data kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual (dalam Ton) dan jumlah penjualan Emas (dalam Ton). Hasil run model dengan EVIEWS diuraikan sebagai berikut. JokoSudiarto. FE UI.804 Akaike info criterion Sum squared resid 1.994901 E -322. seperti dicantumkan pada Lampiran 9.755876 0.Sulfur Dependent Variable: S Method: Least Squares Date: 11/28/09 Time: 19:40 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta atau intersep dalam suatu model ekonometrika kurang mempunyai makna yang berarti namun demikian apabila dihilangkan model menjadi Universitas Indonesia Analisis potensi. dalam Ton) Konstanta (intersep) Koefisien regresi Error peramalan b.555364 T 0.D.79318 R-squared 0.70E+08 Schwarz criterion Log likelihood -327.851 1514.39 23497.0012 0.

JokoSudiarto.57 kurang bagus dan cara menginterprestasikannya sesuai dengan masalah atau topik dari model tersebut. yaitu koefisien variabel bebas Emas dengan nilai sebesar -322. Perak dan Tembaga) sangat signifikan mempengaruhi Sulfur. Hal ini sesuai dengan reasoning dari model tersebut. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial.. variabel bebas yang lain (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S). Pengujian Model Secara Keseluruhan. Alat uji yang digunakan adalah Fisher Test atau uji F. Koefisien Variabel Bebas Sesuai dengan reasoning dasar. bahwa koefisien variabel bebas bernilai positif. masing-masing t-statistik menunjukkan angka 3.535. 2. Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan nilai F-statistik terhadap F-tabel dengan derajat bebas n-2 pada tingkat kepercayaan α tertentu.96).96.204. Dengan demikian variabel bebas secara keseluruhan (Emas.55 dan 11. Nilai F-statistik sebesar 1. 2009..10 jauh lebih besar daripada F-tabel (F-tabel menunjukan angka 4).. Artinya variabel bebas berbanding lurus dengan variabel tidak bebas. Untuk model di atas konstanta mempunyai nilai positif sebesar 4.79 atau lebih besar daripada 1. Oleh karena itu harus dicoba lagi dengan model baru. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Merupakan ukuran persentase total variasi dalam variabel tidak bebas Universitas Indonesia Analisis potensi.85.591337 lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. jika variabel bebas naik maka variabel tidak bebas juga akan naik demikian sebaliknya. Pada model di atas terdapat koefisien variabel bebas yang tidak sesuai dengan reasoning-nya. karena t-statistik menunjukkan angka -1.96.88. FE UI. yaitu dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas dari model. . Pada tabel 12 di atas. Sementara itu. terdapat variabel bebas (E) yang tidak signifikan terhadap variabel tidak bebas (S). Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan nilai t-hitung atau tstatistik masing-masing variabel bebas terhadap t-tabel dengan derajat bebas n-2 pada tingkat kepercayaan α tertentu (misalnya pada tingkat kepercayaan α=5% maka t-tabel menunjukan angka 1.

0. 8316000.4359 0.242621 105952. Tabel 13: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 . FE UI.185275 Probability Obs*R-squared 7.004110 R-squared 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob.070894 1052.4392 0.2930 0. Nilai R2 berkisar mulai dari 0 sampai dengan 1. Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Sulfur dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 99..089660 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 01/01/10 Time: 18:38 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -10498772 E -3173309. Akibatnya pengujian F dan t cenderung tidak signifikan.82 -1.005468 0.196935 Adjusted R-squared 0. Hasil pengujian heteroskedastisitas dicantumkan pada tabel di bawah ini.925 -0.030784 S.312635 Std.879274 82601..D.3865 0.83 T -347.990396 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Emas. .84666 35.185275 0. 2009. -1.4583 4713693.94E+15 Log likelihood -620. E^2 83716.04 %.2 0.58 dijelaskan oleh variabel bebas.281081 0.329929 0.15457 1.2240 0.Sulfur White Heteroskedasticity Test: F-statistic 1. Jika nilai R2 mendekati 1 berarti model makin dapat diandalkan.00 P 3640809.751631 Mean dependent var S. Error t-Statistic 13385616 -0. Sum squared resid 1.7438 0.. JokoSudiarto. 3. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas adalah variasi error peramalan (et) tidak sama untuk semua pengamatan.E. Heteroskedastisitas akan muncul dalam bentuk et yang semakin besar kalau nilai variabel bebas makin besar/kecil. 0.341532 0.2399 Durbin-Watson stat 2. sebaliknya jika nilai R2 mendekati 0 berarti model tidak dapat diandalkan. of regression 8187001. Nilai adjusted R2 sebesar 0. P^2 -88457.790130 4140700.784332 2553722.341532 Universitas Indonesia Analisis potensi. 34.3907 T^2 0.

.000000 0.975980 0. dan P dengan T sebesar 96.96 (tingkat kepercayaan α=5%).8532%.993777 0. Nilai d berkisar antara 0 sampai dengan 4.96 dan probabilitasnya sebesar 31.000000 0.975980 0. E dengan T sebesar 88.993777 0.968532 1. .. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. Hal ini mengakibatkan nilai t-statistik variabel bebas E yang tidak signifikan. Model tersebut di atas tidak ada masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1. Alat uji yang digunakan adalah statistik Durbin-Watson (DW).877059 1.2635% jauh di atas 5%.888349 0. seluruh variabel bebas tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2.7913%. Dengan kata lain munculnya suatu data dipengaruhi oleh data sebelumnya. 2009.. FE UI.877059 0.887913 0. Hal ini ditunjukkan dalam tabel hasil pengujian BG berikut ini. nilai d.968532 T 0.591 masih jauh lebih kecil dari pada nilai t-tabel sebesar 1.Sulfur S E P 1. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG menunjukkan tidak ada masalah autokorelasi kedua dan ketiga.000000 S E P T Dimana hubungan antara variabel bebas E dengan P sebesar 88.888349 0.59 Pada tabel tersebut. menurut Tabel 12 nilai t-statistik variabel bebas E sebesar -1. Di samping itu.887913 1. JokoSudiarto. masalah multikolinieritas tersebut harus diatasi dengan cara mengeluarkan variabel bebas E dari model tersebut. Oleh karena itu.776507 sudah mendekati 2. karena nilai kuadrat seluruh variabel bebas lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1.8349%. Tabel 14: Korelasi Variabel Bebas .000000 0. Model tersebut di atas terdapat masalah multikolinieritas yang ditunjukan pada tabel berikut. Pengujian Autokorelasi Autokorelasi menyatakan adanya hubungan atau korelasi data-data pengamatan. Pengujian Multikolinieritas Multikolinieritas artinya ada hubungan atau korelasi yang cukup kuat antara sesama variabel bebas dalam model. jika nilai d=2 atau mendekati 2 dapat dianggap tidak terdapat masalah autokorelasi. Universitas Indonesia Analisis potensi.

857716 0.366480 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 01/01/10 Time: 18:39 Presample missing value lagged residuals set to zero.D. of regression 2366. dapat disimpulkan bahwa model tersebut harus diubah dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas sehingga model menjadi S = a + bP + cT + Є.8744 0. 0.6100 0.914 1345.010180 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.068823 -0. FE UI.368002 R-squared 0..195013 T 0.684 0.Sulfur Dependent Variable: S Method: Least Squares Date: 11/28/09 Time: 19:45 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std.79088 0.95E-12 2201.421434 RESID(-2) -0.Sulfur Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.901 18. yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0.4853 F-statistic Durbin-Watson stat 1.061708 0. dependent var S.063520 11.368002 lebih kecil daripada 1.894822 Prob(F-statistic) 0.159441 E 27.. 2009. Hasil run model tersebut dicantumkan pada tabel dibawah ini.205723 0.50187 Prob.9243 0. Dari hasil evaluasi terhadap model di atas.0031 0.189 Akaike info criterion Sum squared resid 1. JokoSudiarto.072584 0.6764 0.3186 1701. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 83.0569 0.259593 P 788.5313 246.. .89122 214.96.002740 T -0.9978 0.832568 Prob. 0.0002 0.197239 -0.8975 0.086699 0.095813 RESID(-1) 0. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan variabel bebas error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID.154270 Probability Obs*R-squared 0.154790 S. Variable Coefficient Std.413 4.68E+08 Schwarz criterion Log likelihood -327.52696 18.7155 -9.421434 dan -0.60 Tabel 15: Hasil Uji BG Model 1 .2568% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi.006594 0.730596 0.129962 P 0.0000 Universitas Indonesia Analisis potensi.739876 270. Error t-Statistic C 5730.8007 3.E.997208 Pada tabel tersebut. Tabel 16: Hasil Run Model 2 . Error t-Statistic C 271.

44669 18. JokoSudiarto.99 %. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t-statistik masing-masing sebesar 3.91. kriteria statistik. Nilai F-statistik sebesar 1.50187 lebih besar daripada 1. Hal ini sudah sesuai dengan reasoning dasarnya. Seluruh variabel bebas (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S).989950 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Sulfur dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98.730. Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut.990524 0. 2.724. pada model kedua ini pun dilakukan evaluasi model berdasarkan kriteria ekonomi.989950 2355..57865 1724. Pengujian Model Secara Keseluruhan.96. Koefisien Variabel Bebas Seluruh koefisien variabel bebas bernilai positif artinya variabel bebas tersebut mempunyai hubungan positif dengan variabel tidak bebas.662 1. 2009.E.D.98 18.. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 81006.690929 Mean dependent var S.83E+08 -329.61 R-squared Adjusted R-squared S. dan kriteria ekonometrika.0404 1.. Hasil evaluasi secara ringkas dapat diuraikan berikut ini. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat 0.39 23497.195013 dan 11.798 0.000000 Seperti halnya model pertama. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 5. Universitas Indonesia Analisis potensi. . dengan demikian secara keseluruhan variabel bebas tersebut sangat signifikan mempengaruhi Sulfur.798 jauh lebih besar daripada F-tabel sebesar 4. FE UI. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial. 1.

9573% jauh lebih besar daripada 5%.831676 0. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.0655 T^2 0.273787 0.6622 0. of regression 11357613 Sum squared resid 4.8532%.7861 0.7 -0. P^2 -81030.096913 Adjusted R-squared -0.441048 108999. 2009. Pengujian Multikolinieritas Sama dengan model pertama. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob.4628 0.019614 S. FE UI. Error t-Statistic 15884976 -0.. P 2415896. 0.831676 Probability Obs*R-squared 3. ada masalah multikolinieritas pada model di atas yang ditunjukkan dengan hubungan antara variabel bebas P dengan T sebesar 96..923 -0. JokoSudiarto.62 3.45692 35.93 T -398.515374 0.E.743405 dan 0. Probabilitasnya 47.004411 R-squared 0. tidak perlu dilakukan perubahan pada model tersebut karena variabel bebas sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas.D.582711 lebih kecil daripada ttabel sebesar 1.582711 Mean dependent var S. seluruh kuadrat variabel bebas (P^2 dan T^2) tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2 yang ditunjukkan dengan nilai t-statistik sebesar -0. Tabel 17: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 . 0.96.743405 1453. Pengujian Autokorelasi Model di atas tidak mempunyai masalah autokorelasi pertama karena nilai Universitas Indonesia Analisis potensi.479573 Std.Sulfur White Heteroskedasticity Test: F-statistic 0.488867 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 12/30/09 Time: 18:32 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -6046563.2246 Durbin-Watson stat 2.007570 0.5643 5086716.380647 5477628.67685 0. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas disajikan dalam tabel berikut.515374 Pada tabel tersebut.00E+15 Log likelihood -633. .061956 0. baik secara parsial maupun keseluruhan. 11247839 35..7061 0. Namun demikian.

96. Hal ini ditunjukan dalam tabel hasil pengujian BG di bawah ini.026547 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.53089 18.8007 0.3957 0.955691 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 12/30/09 Time: 18:30 Presample missing value lagged residuals set to zero.5561 F-statistic Durbin-Watson stat 1. berdasarkan evaluasi kedua model di atas.166668 0.989950 F-sta = 1.D.690929 R2 = 0.78E+08 Schwarz criterion Log likelihood -328.384082 jauh lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1.Sulfur Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.9770 0. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 62. Tabel 18: Hasil Uji BG Model 2 .195013 DW = 1.620118 Prob. of regression 2397. 2009.E.271058 P -11.422699 Probability Obs*R-squared 0.986 Akaike info criterion Sum squared resid 1. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0.724.. JokoSudiarto.099060 S.50187 t-sta 3.730.368 18. dependent var S.029010 RESID(-1) 0. .063520 11.63 DW=1. Dengan demikian. FE UI. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG tidak menunjukkan adanya masalah autokorelasi kedua dan ketiga.193501 0. Error t-Statistic C 399. 246..071356 0.044000 T -0.9652 0. dapat ditentukan model yang terbaik yaitu model kedua dengan persamaan regresi sebagai berkiut: S = 5.4996 -0.185783 -0.798 Persamaan regresi tersebut digunakan untuk mengestimasi jumlah kandungan Universitas Indonesia Analisis potensi.066725 -0.75083 0..658996 0. Di samping itu.5823 1474.690929 sudah dekat dengan 2.7881 0.001936 0.01% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi.59407 263.861327 dan -0.91 + 788.211350 0.53E-12 2287.939529 Prob(F-statistic) 0.861327 RESID(-2) -0.930158 Pada tabel tersebut. Variable Coefficient Std.730596T Se.384082 R-squared 0.159 0.5313P + 0.7035 2. 0.

dan Tembaga (dalam Ton) dengan kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).054.00 1. Berdasarkan data-data yang diperoleh periode 2003 s. 2007. Perak (dalam Kg). 2009. .98 806.523. estimasi tersebut ditampilkan pada tabel berikut. c.283.00 854. 2005 289.008.98 4. FE UI.514.d. 2006 226.Rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10.130.00 830. dalam Ton) E P T a b.00 836.76 5.382.53 808.539. 2007 226.00 1. dalam Ton) Konstanta (intersep) Koefisien regresi Error peramalan Universitas Indonesia Analisis potensi.729. 2004 216.903.00 2.073. misalnya penjualan Tembaga sebanyak 1 ton maka kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual sebanyak sekian ton. Tabel 19: Perkiraan Kandungan Sulfur dalam Konsentrat Perak Tembaga No Tahun Kandungan Sulfur (Ton) (Ton) 1.745.16 4.653.273. .89 790..64 Sulfur dalam setiap ton konsentrat yang ditentukan oleh jumlah penjualan Perak dan Tembaga..38 Jumlah 1.241. P.524.Periode 2003 – 2005 menggunakan Fitted Value atau data historical.Periode 2006 – 2007 menggunakan persamaan regresi tersebut (Ekstrapolasi). d Є : : : : : : Variabel bebas 1 (jumlah penjualan Emas. 2003 244. JokoSudiarto.202.00 4. BESI Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara jumlah penjualan Emas (dalam Kg).74 1..14 Penjelasan: .00 988. dalam Kg) Variabel bebas 3 (jumlah penjualan Tembaga.218.834. B : Variabel tidak bebas (kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual.158.00 3.463.496. T) B = a + bE + cP + dT + Є .536. dalam Kg) Variabel bebas 2 (jumlah penjualan Perak. : : B = f (E. Fungsi Model Dimana.247.

685340 P 706..238 1234.825 0.519 3.1017 0.989616 S. Hasil run model dengan EVIEWS diuraikan pada tabel berikut.433 Akaike info criterion Sum squared resid 1. Tabel 20: Hasil Run Model 1 .. JokoSudiarto. dependent var S.476200 T 0. of regression 1866. maka evaluasi model di atas secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut: 1. FE UI.238.Besi Dependent Variable: B Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:46 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std.65 Data-data yang diperoleh adalah data-data kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual (dalam Ton) dan jumlah penjualan Emas (dalam Ton).128537 E -274.1059 F-statistic Durbin-Watson stat 1.0037 0.0000 63559. dan Tembaga (dalam ton) per bulan selama periode 2003 sampai dengan 2005.40712 R-squared 0. Oleh karena itu harus dicoba lagi dengan model baru.0015 0.862.D.990506 Mean dependent var Adjusted R-squared 0.1010 -1.051606 11.0403 203. Universitas Indonesia Analisis potensi. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 3.8808 163. Error t-Statistic C 3862.588676 0. yaitu dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas dari model.911684 Prob(F-statistic) Prob. Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut. seperti dicantumkan pada Lampiran 11.11E+08 Schwarz criterion Log likelihood -320.. 2009.8808.E.18183 1112.1069 3. Berdasarkan data tersebut akan dilakukan run model dengan cara coba-coba dan evaluasi setiap model agar diperoleh model yang terbaik. yaitu koefisien variabel bebas Emas dengan nilai sebesar -274.86 18315. . Perak (dalam Ton).72 18. Koefisien Variabel Bebas Pada model di atas terdapat koefisien variabel bebas yang tidak sesuai dengan reasoning dasarnya.000000 Sama dengan model-model sebelumnya.00588 18. 0.

233389 Universitas Indonesia Analisis potensi. Sementara itu. terdapat variabel bebas (E) yang tidak signifikan terhadap variabel tidak bebas (B).. Nilai F-statistik sebesar 1.41 atau lebih besar daripada 1.48 dan 11..96. FE UI. Tabel 21: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 1 – Besi White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 01/02/10 Time: 05:25 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient Std. 1. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial. Pada tabel 18 di atas. Perak dan Tembaga dapat menjelaskan kandungan Besi dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98. masing-masing t-statistik menunjukkan angka 3.96.989616 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Emas. variabel bebas yang lain (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S). Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0. karena t-statistik menunjukkan angka -1.249983 0.66 2.96 %.825 jauh lebih besar daripada F-tabel (4). 3. 2009..064877 Probability Probability 0. JokoSudiarto. Perak dan Tembaga) sangat signifikan mempengaruhi Sulfur. Error t-Statistic Prob. Pengujian Model Secara Keseluruhan. .685340 lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas dicantumkan pada tabel di bawah ini. Dengan demikian variabel bebas secara keseluruhan (Emas.112.395385 8.

875783 0.224024 0. -54874.890851 1.000000 0. 33..4929 0.3183 0.4941 0.249983 Pada tabel tersebut.395385 0.74 2171012. seluruh variabel bebas tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2. Oleh karena itu.197800 65679.063478 5328935.875783 1. Tabel 22: Korelasi Variabel Bebas . Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. dan P dengan T sebesar 96.29577 1.96 dan probabilitasnya sebesar 23. FE UI. masalah multikolinieritas tersebut harus diatasi dengan cara mengeluarkan variabel bebas E dari model tersebut.3389% jauh di atas 5%.6162 -0.7816 2.314535 0.08%.. karena nilai kuadrat seluruh variabel bebas lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. E dengan T sebesar 88.4348 3096508.78%. 0. hasil pengujian dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test atau uji BG menunjukkan tidak Universitas Indonesia Analisis potensi.. -1932425.692529 2705746.015429 684.2407 0.694567 1613311.802371 54041.968532 1.993349 0.7554 0.792070 Mean dependent var S.24E+14 -604.3356 0.000000 B E P T Dimana hubungan antara variabel bebas E dengan P sebesar 89.968532 T 0.99 -215.387767 8726156. -1.16 -1.E. . 8. Pengujian Multikolinieritas Model tersebut di atas terdapat masalah multikolinieritas yang ditunjukan pada tabel berikut.003555 0.4289 0.000000 0.975541 0. Di samping itu. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat -6060897. menurut Tabel 18 nilai t-statistik variabel bebas E sebesar -1.67 C E E^2 P P^2 T T^2 R-squared Adjusted R-squared S.890851 0.887827 0. Pengujian Autokorelasi Model tersebut di atas tidak ada masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1. -0.98787 34. 45484.000000 0. Hal ini mengakibatkan nilai t-statistik variabel bebas E yang tidak signifikan.Besi B E P 1.911684 sudah mendekati 2.993349 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 0.685340 masih jauh lebih kecil dari pada nilai t-tabel sebesar 1. 2009.002816 0.D. JokoSudiarto.85%. 5506573.887827 0.15 0.975541 0.96.

11548 18.9498 0.973134 Prob.9528 0.9951 0. Tabel 24: Hasil Run Model 2 . JokoSudiarto. 0. Dari hasil evaluasi terhadap model di atas.208301 lebih kecil daripada 1.054468 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 01/02/10 Time: 05:39 Presample missing value lagged residuals set to zero.010015 P 14.11E+08 Schwarz criterion Log likelihood -320.9817 0.208301 R-squared 0.9493 0.003539 0.009092 0.. 2009.059704 RESID(-2) -0.900213 Prob(F-statistic) 0. dependent var S. yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar -0.012281 0.8364 1. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 97.D.999974 Pada tabel tersebut. of regression 1926.164902 S..197226 -0.. dapat disimpulkan bahwa model tersebut harus diubah dengan cara mengeluarkan variabel bebas Emas sehingga model menjadi B = a + bP + cT + Є.0787 F-statistic Durbin-Watson stat 1.28971 222.E.96.11248 1386.37940 0. Hal ini ditunjukkan dalam tabel hasil pengujian BG berikut ini.064081 T -0. FE UI.001513 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.68 ada masalah autokorelasi kedua dan ketiga.185 Akaike info criterion Sum squared resid 1.059704 dan -0. Hasil run model tersebut dicantumkan pada tabel dibawah ini.205692 -0.055794 -0.Besi Dependent Variable: B Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:52 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Universitas Indonesia Analisis potensi. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan variabel bebas error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID.977544 0.02E-11 1784.9921 0.063430 RESID(-1) -0. Tabel 23: Hasil Uji BG Model 1 – Besi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0.023162 E 1.2657 0.022729 Probability Obs*R-squared 0. Variable Coefficient Std.651 18.430 -0.725232 172.041082 0.3134% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi. Error t-Statistic C -32. .

Koefisien Variabel Bebas Seluruh koefisien variabel bebas bernilai positif artinya variabel bebas tersebut mempunyai hubungan positif dengan variabel tidak bebas.051712 t-Statistic 4.72 18.989037 1917.01170 lebih besar daripada 1.053424 11.771 1. 1.0000 63559.0044 0. JokoSudiarto.6367 1.. FE UI.569439 0.316 200. Nilai F-statistik sebesar 1. 2009.9232 0.614 613.69 Variable C P T R-squared Adjusted R-squared S. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 4911.5036 0.911.484197 3. Hal ini sudah sesuai dengan reasoning dasarnya. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonomi Konstanta (Intersep) Konstanta pada model di atas mempunyai nilai positif sebesar 4.718 0.96.03537 18. 0.61. Error 1095. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Hasil evaluasi secara ringkas dapat diuraikan berikut ini.01170 Prob. .989037 mendekati 1 dengan demikian model tersebut dapat diandalkan artinya jumlah tonase penjualan Perak dan Tembaga Universitas Indonesia Analisis potensi.579.829596 Std. 2.D. Seluruh variabel bebas (P dan T) sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (S).16733 1579.000000 Mean dependent var S. dengan demikian secara keseluruhan variabel bebas tersebut sangat signifikan mempengaruhi Besi. Evaluasi Terhadap Kriteria Statistik Pengujian Koefisien Regresi Secara Parsial. Hal ini sesuai dengan reasoning dasar dari model tersebut.718 jauh lebih besar daripada F-tabel sebesar 4.. Pengujian Model Secara Keseluruhan.989663 0.86 18315. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t-statistik masing-masing sebesar 3..21E+08 -321.0001 0.053424 dan 11. Kebaikan Suai Model/Goodness of Fit (R2) Nilai adjusted R2 sebesar 0.E.

E.955869 0. 3.4645 0. 7586419.740612 973.600583 lebih kecil daripada ttabel sebesar 1. 34.005069 S.96.79E+15 Log likelihood -618. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob.90 %. ..5525 3371359. FE UI..65492 34.70 dapat menjelaskan kandungan Besi dalam konsentrat dengan tingkat keyakinan sebesar 98.Besi White Heteroskedasticity Test: F-statistic 0. 2009.7262 0.600583 Mean dependent var S. baik secara parsial maupun keseluruhan. akan tetapi tidak perlu dilakukan perubahan pada model tersebut karena variabel bebas sangat signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas.6842 0.49 T -250..7984 0. P 1505859.955869 Probability Obs*R-squared 3. Probabilitasnya 41.8371 T^2 0. Pengujian Multikolinieritas Ada masalah multikolinieritas pada model di atas.2452% jauh lebih besar daripada 5%. 0. P^2 -54058. Dengan demikian model tersebut tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.109796 Adjusted R-squared -0.952653 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:53 Sample: 2003:01 2005:12 Included observations: 36 Variable Coefficient C -3759641.412452 Std. 0.005069 0.6195 -0. seluruh kuadrat variabel bebas (P^2 dan T^2) tidak signifikan terhadap kuadrat error peramalan atau RESID^2 yang ditunjukkan dengan nilai t-statistik sebesar -0.257634 0. Sum squared resid 1.445397 Pada tabel tersebut. Tabel 25: Hasil Uji Heteroskedastisitas Model 2 .740612 dan 0. JokoSudiarto. of regression 7605623.003045 R-squared 0.353437 3668092.145278 0. Universitas Indonesia Analisis potensi.D.87485 0.63 -0. Error t-Statistic 10637371 -0.410529 72991.7886 Durbin-Watson stat 2.445397 0. Evaluasi Terhadap Kriteria Ekonometrika Pengujian Heteroskedastisitas Hasil pengujian heteroskedastisitas disajikan dalam tabel berikut.

.370476 RESID(-2) -0.043939 0.579.8442 1.279239 217.911. Dengan demikian. berdasarkan evaluasi kedua model di atas. Variable Coefficient Std.051712 11.989037 F-sta = 1. 2009.118366 P -3.96.948770 Prob(F-statistic) 0.D.122667 S..9232 0.7135 0. Probabilitas hasil uji BG juga sangat besar yaitu sebesar 90.036911 0.829596 sudah dekat dengan 2.198175 R-squared 0.916099 0. .35% artinya terima Ho yang beranggapan tidak terjadi masalah autokorelasi.5349 F-statistic Durbin-Watson stat 1. dapat ditentukan model yang terbaik yaitu model kedua dengan persamaan regresi sebagai berkiut: B = 4.000925 0.005638 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.01170 2 t-sta 3..9065 0.071936 0.569439T Se.9881 0.9867 0.202954 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 12/31/09 Time: 09:53 Presample missing value lagged residuals set to zero.21E+08 Schwarz criterion Log likelihood -321.016798 RESID(-1) 0.082 Akaike info criterion Sum squared resid 1.186253 -0.172 18.053424 DW = 1. hasil uji BG tidak menunjukkan adanya masalah autokorelasi kedua dan ketiga.718 Universitas Indonesia Analisis potensi.614 + 613.194172 0. Hal ini ditunjukan dalam tabel hasil pengujian BG di bawah ini.3603 -0. JokoSudiarto.742 0.829596 R = 0. 200. variabel bebas error peramalan pertama atau RESID(-1) dan error peramalan kedua atau RESID(-2) tidak signifikan terhadap error peramalan atau RESID yang ditunjukan dengan nilai t-statistik sebesar 0. Di samping itu.14083 18.903502 Prob.Besi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 0. Error t-Statistic C 142.8370 1206. dependent var S.71 Pengujian Autokorelasi Model di atas tidak mempunyai masalah autokorelasi pertama karena nilai DW=1.E. Tabel 26: Hasil Uji BG Model 2 .21E-11 1862.370476 dan -0.055076 -0. of regression 1973.36076 0.996151 Pada tabel tersebut. FE UI.087879 Probability Obs*R-squared 0.015087 T -0.198175 jauh lebih kecil daripada t-tabel sebesar 1. 0.5036P + 0.

74 846.486.76 5.76 808. 2007 Jumlah Penjelasan: tarif royalti sesuai dengan PP58/1998.363.57 1.244.72 Persamaan regresi tersebut digunakan untuk mengestimasi jumlah kandungan Besi dalam setiap ton konsentrat yang ditentukan oleh jumlah penjualan Perak dan Tembaga.834.218.523.949.292. Perkiraan potensi royalti tersebut ditampilkan pada tabel berikut ini.496.23 4.082. Universitas Indonesia Analisis potensi.00 674.093.340.14 4. 2009.058.729.453.00 3.956.12 3.00 854.90 2. estimasi tersebut ditampilkan pada tabel berikut.00 4.980.76 672.00 4. 2003 2.382. No Tahun Tabel 28: Perkiraan Potensi Royalti . 2006 5. maka langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah perkiraan potensi royalti dari masing-masing unsur mineral.830.16 3. 2005 4. Berdasarkan data-data yang diperoleh periode 2003 s.90 2..00 1.633.616.00 3.456.241.514. No Tahun Tabel 29: Perkiraan Potensi Royalti .536. JokoSudiarto.954.36 2.130.89 649.916.436. .247.40 2.98 806.882.363. 2003 244.524.d.35 1.Rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 12.00 773.53 18.00 830.00 4.06 2.616. 2004 216. Tabel 27: Perkiraan Kandungan Besi dalam Konsentrat Perak Tembaga No Tahun Kandungan Besi (Ton) (Ton) 1.872.019.108.019. 2007.008.082. 2004 3.23 649. .00 1.04 3.36 Penjelasan: .90 2.283.160.86 Jumlah 1.16 1.90 2.417.653.633.12 846. .00 836. 2007 Jumlah Penjelasan: tarif royalti sesuai dengan KK.00 4. 2007 226. 2004 3. rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 12..98 4.00 4.454.109. 2006 226.233.Sulfur Sulfur (Ton) Tarif (USD/Ton) Perkiraan Royalti (USD) 988.53 672. 2005 289.40 674.Periode 2003 – 2005 menggunakan Fitted Value atau data historical.Periode 2006 – 2007 menggunakan persamaan regresi tersebut (Ekstrapolasi).539.59 10. 2005 4. FE UI.00 1.00 3.463.073.109. 2006 5..Besi Besi (Ton) Tarif (USD/Ton) Perkiraan Royalti (USD) 773.38 4. rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10.118.86 3.00 790.158.967.903.132.16 1.054.90 2.830.745.273.00 1.202. Setelah jumlah kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat yang dijual dapat diperkirakan. 2003 2.

242 X 62.486.46 USD 327.73 Jadi potensi royalti dari mineral ikutan tembaga (sulfur dan besi) yang belum tergali untuk periode 2003 s. Alternatif ini lebih menguntungkan buat Pemerintah RI.166. 2009.251 X 57. Pihak Kontraktor. tembaga atau unsur mineral lainnya maka dikenakan royalti dengan tarif 2% dari harga jual produk jadi tersebut.55 USD 747. Tarif yang digunakan dapat mengambil contoh tarif yang berlaku di Negara Afrika Selatan (Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill: 2006).346. Royalti dari mineral ikutan tambang tembaga dapat dikenakan kepada kontraktor. dibandingkan tarif royalti menurut KK. Pihak smelter. perak.93 2..258.57 + USD10.456 ons · Perak USD5.16).838 lbs · Emas USD296. yaitu apabila kontraktor menjual hasil tambang berupa bijih atau konsentrat tembaga maka dikenakan tarif sebesar 4% dari nilai konsentrat tersebut. JokoSudiarto.456.436.55 : : : : : USD 20.93 dengan rincian sebagai berikut: · Tembaga USD0.60 (perhitungan pada halaman 42).691..78844 X 25.009.058.73 (USD18.d. yaitu: 1. . Jika kontraktor menjual hasil tambang berupa logam emas.980. Hal ini dapat dijelaskan dengan contoh perhitungan royalti pada halaman 42. Berdasarkan data penjualan tersebut.166. 2007 diperkirakan sebesar USD28. royalti yang dibayar oleh PT FIC sebesar USD401.358.346. FE UI.358.378.119.397. Sedangkan royalti menurut tarif di atas sebesar USD747.545.06 USD 37.03 USD 17. Pihak smelter tidak bisa dikenakan royalti karena mereka bukan pihak Universitas Indonesia Analisis potensi.021. Untuk hasil pertambangan tembaga diterapkan dua tarif. Ada dua alternatif pemecahan masalah untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari royalti tersebut..430 ons Nilai jual (logam) Royalti = 2 % X USD 37.

yaitu menerima hasil produk sampingan dari sulfur dan besi. . Universitas Indonesia Analisis potensi.. Oleh karena itu.. agar pihak smelter dapat dikenakan royalti maka smelter tersebut juga harus sebagai pemegang KK (kontraktor). JokoSudiarto.. akan tetapi merekalah yang telah menerima manfaat dari mineral ikutan tembaga. 2009. FE UI. pihak kontraktor sebagai pemegang KK selain melakukan penambangan juga diwajibkan untuk melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan. Artinya. Hal tersebut sejalan dengan Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menyebutkan bahwa pemegang KK yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan di dalam negeri selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak undang-undang ini diundangkan.74 pemegang KK yang mempunyai hak untuk mengeksplorasi tembaga.

Sesuai dengan UU No. Dari proses produksi pertambangan tembaga akan menghasilkan konsentrat tembaga yang didalamnya terkandung unsurunsur mineral seperti emas. Universitas Indonesia . sepanjang setiap mineral dari produksi itu merupakan mineral yang sesuai dengan kebiasaan umum dibayar atau dibayarkan kepada perusahaan oleh pembeli. besi.1. FE UI. 2. kontraktor menerima pembayaran dari pembeli hanya atas tiga mineral tersebut sedangkan mineral ikutan lainnya tidak dihargai oleh para pembeli. Bahkan menurut David C. tembaga.. sulfur. perak dan tembaga sedangkan unsur mineral lainnya tidak dibayarkan royalti. Kontraktor hanya membayar royalti dari mineral emas. Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa dari proses peleburan konsentrat tembaga..L.. Nellor. hampir tidak ada unsur mineral dalam konsentrat tembaga yang 75 Analisis potensi. Kontrak Karya yang berlaku untuk pengusahaan pertambangan tembaga tidak optimal buat Indonesia. JokoSudiarto. 2009. Pasal 13 KK menyebutkan bahwa perusahaan harus membayar royalti untuk kadar mineral hasil produksi. Hal ini terjadi karena dalam memasarkan konsentrat tembaga. dan lain-lain. royalti yang harus dibayar oleh pihak kontraktor atas besarnya volume atau nilai sumber daya yang telah diambil atau diusahakan oleh kontraktor tersebut. Cakupan KK mengenai royalti lebih sempit dibandingkan dengan Prinsip PNBP.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. 20 Tahun 1997 tentang PNBP menyebutkan bahwa salah satu PNPB adalah royalti dari pemanfaatan sumber daya alam di bidang pertambangan. 3. Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya. perak. Kandungan masing-masing unsur mineral tersebut ditentukan oleh Ingredient Content (IC) yang merupakan syarat yang disepakati oleh pembeli dan penjual.

mineral sulfur dan besi seharusnya dapat dikenakan royalti. Produk tersebut dapat dijual kepada pabrik pupuk sebagai bahan baku pupuk dan kepada pabrik semen sebagai pengganti sand blasting. 246. penulis memperoleh data IC rata-rata per bulan sehingga jumlah satuan masing-masing mineral ikutan langsung dapat dihitung (Fitted Value). . Sesuai dengan prinsip PNBP. Penulis tidak memperoleh data IC rata-rata per bulan pada periode 2006 – 2007. 2005. Dari run model dengan EVIEWS diperoleh hasil bahwa jumlah perak dan tembaga yang dijual (dalam ton) sangat signifikan mempengaruhi kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga yang dijual.91 + 788.730. JokoSudiarto.d. terutama sulfur dan besi.5313P + 0. 2009. Sesuai pendapat Departemen ESDM sebagai regulator dan instansi yang berwenang menetapkan tarif royalti.195013 DW = 1. diperoleh dari IC rata-rata per bulan dikalikan dengan jumlah konsentrat tembaga yang dijual. FE UI. gipsum dan terak. Tarif royalti dapat digunakan tarif yang ada pada Lampiran KK atau PP 58/1998.989950 F-sta = 1.50187 t-sta 3.. penulis menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan program EVIEWS berdasarkan data-data periode 2003 s. potensi royalti dari mineral sulfur dan besi dapat dihitung berdasarkan tarif dikalikan jumlah satuan. Diagram cara perhitungan perkiraan potensi royalti dicantumkan pada Lampiran 8. 5.d.730596T Se. 4. 2005. Artinya jumlah kandungan mineral sulfur dan besi dalam konsentrat tembaga yang dijual dapat diperkirakan dengan persamaan berikut ini. sehingga untuk memperkirakan jumlah satuan masing-masing mineral ikutan tersebut.76 tidak dimanfaatkan.690929 R2 = 0.. Periode 2003 s.063520 11.798 Universitas Indonesia Analisis potensi. Sulfur dan besi dapat diproses lebih lanjut yang akan menghasilkan produk sampingan berupa asam sulfat. Sulfur S = 5. Sedangkan jumlah satuan yang merupakan berat masing-masing mineral ikutan..8007 0.724.

Kedua. dimana untuk periode 2003 s. FE UI. maka potensi royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga diperkirakan sebesar USD28.051712 11.980.14 3.053424 DW = 1. Mineral Sulfur Besi Tarif (USD/Ton) 4.545..718 Dimana.77 Besi B = 4. yaitu: Pertama. Jumlah Satuan (Ton) 4. misalnya Afrika Selatan sehingga lebih menguntungkan negara. .01170 t-sta 3.058.9232 0.16 28.745. 200. 2009. 1.57 10.456. Terdapat dua alternatif pemecahan masalah untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari royalti tersebut.486.911.616.989037 F-sta = 1.. pihak kontraktor sebagai pemegang KK selain melakukan penambangan juga diwajibkan untuk melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan. Hal ini Universitas Indonesia Analisis potensi.90 Perkiraan Royalti (USD) 18. No.436. agar pihak smelter dapat dikenakan royalti maka smelter tersebut juga harus sebagai pemegang KK (kontraktor).. Potensi masing-masing mineral ikutan disampaikan berikut ini.569439T Se. mengenakan royalti kepada kontraktor dengan tarif mengacu (best practice) negara lain.019. : : : : jumlah penjualan Perak (dalam Ton) jumlah penjualan Tembaga (dalam Ton) kandungan Sulfur dalam konsentrat tembaga yang dijual (dlm Ton) kandungan Besi dalam konsentrat tembaga yang dijual (dlm Ton) Berdasarkan langkah-langkah tersebut di atas.829596 R2 = 0. P T S B 6.545. 2.00 2.73 7.614 + 613. Artinya.36 Jumlah Penjelasan: rincian perhitungan dicantumkan pada Lampiran 10 dan 12.d.5036P + 0.514. JokoSudiarto. 2005 berdasarkan Fitted Value dan untuk periode 2006-2007 berdasarkan Ekstrapolasi.73.579.436.

oo0oo Universitas Indonesia Analisis potensi. Melakukan negosiasi kepada pihak kontraktor (pemegang KK) untuk merevisi klausul kontrak karya sehingga saran nomor 2 s. agar: 1.. penulis menyarankan kepada Pemerintah RI yang dalam hal ini diwakili oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Tarif tersebut dapat mengacu (best practice) negara lain. 4..2. 5. Melaksanakan amanat Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menyebutkan bahwa pemegang KK yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian dan pengolahan hasil penambangan di dalam negeri.. 2.d. Melakukan penelitian dan pengujian yang lebih detail dan akurat atas jenis dan kadar mineral ikutan yang terkandung dalam konsentrat tembaga.78 sesuai dengan amanat Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. FE UI. 3 dapat dilaksanakan. Menetapkan tarif royalti dari mineral ikutan pertambangan tembaga beserta cara-cara perhitungan royaltinya. . misalnya Afrika Selatan atau tarif lain berdasarkan hasil penelitian dan pengujian di atas sehingga penerimaan royalti tersebut lebih menguntungkan Pemerintah RI. Saran Dari hasil pembahasan dan simpulan di atas. 3. 2009. serta pengujian jumlah dan kualitas produk yang dihasilkan oleh pabrik pengolah konsentrat tembaga. JokoSudiarto.

Jakarta. US Geological Survey Report 2004-1395. Anton. Bogor.. 1995 Departement National Treasury Republic of South Africa. Mineral and Petroleum Resources Royalty Bill – 2006. Zain. Tax Policy Hand Book: User Charges. (www.za) Eriyatno dan Sofyar. MPKP FEUI. 2004 H Salim HS. . FE UI. Fadjar. Gerwin. Tax Policy Division Fiscal Affairs Department International Monetary Fund.gov.DAFTAR PUSTAKA Badan Pemeriksa Keuangan. 2007 Goonan. Thomas G. Analisis Regresi.treasury.C. Hasil Pemeriksaan atas Pengelolaan PNBP dari Iuran KK pada Departemen ESDM dan PT Freeport Indonesia Tahun Anggaran 2004 dan 2005. Hukum Pertambangan di Indonesia. 2005 Gujarati. Penerbit Erlangga. Jakarta. JokoSudiarto. 1978 Hendranata. 2009. Jakarta. IPB Press. 2005 Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat ITB. Riset Kebijakan Metode Penelitian Untuk Pascasarjana. Virginia. 1999 Analisis potensi. Flows of Selected Materials Associated with World Copper Smelting. Sumarno. Edisi Revisi. Ekonometrika Dasar. PT Raja Grafindo Persada. Bandung. Washington D. Kajian Karakteristik Pengolahan dan Pemasaran Konsentrat Tembaga PT Freeport Indonesia Company. Jakarta... 2006 Bell. Damodar. Ekonometrika Terapan. Laporan Akhir.

......... 2004 Musgrave............ Remaja Rosdakarya. Undang-undang Republik Indonesia..........L. FE UI. 2009....... Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum.. Jakarta......... Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral... 2003 ...... Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)..C... Jakarta.. Penerbit Erlangga...... Keuangan Negara Dalam Teori dan Praktek. Tax Policy Hand Book: Environmental Taxes... 2009 . Jakarta.. 2000 ...... Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1998 tentang Tarif dan Analisis potensi.... David C. Jakarta. Undang-undang Republik Indonesia.. Jakarta... Edisi Revisi. Bandung. Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.... Edisi Kelima. JokoSudiarto.... Washington D.... 1997 .. Metode Penelitian Kualitatif. Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.... Richard A and Musgrave... 2003 .. Tax Policy Division Fiscal Affairs Department International Monetary Fund........ Lexy J.. Jakarta..... Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan Umum..... 1995 Pemerintah RI........... ............ Jakarta. 1967 . Undang-undang Republik Indonesia. Peggy B.. 1993 Nellor.Moelong... Undang-undang Republik Indonesia.

Elex Media Komputindo. 2009 Analisis potensi.. Jalan Baru Untuk Tambang: Mengalirkan Berkah Bagi Anah Bangsa...Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pertambangan dan Energi di Bidang Pertambangan Umum. 2009 Sugiyono.. Edisi 11. Yogyakarta. . Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian.. Media Pressindo.. Teori dan Proses Kebijakan Publik. Edisi Kedua...... Jakarta.. Bandung. UPP STIM YKPN. Bandung. FE UI. 2004 Suharto.. Metode Penelitian Administrasi. 2009.. Alfabeta. Yogyakarta. Pemenuhan Kewajiban Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Atas Perusahaan Pelaksana Kontrak Karya (PT Newmont Nusa Tenggara). Jakarta. 2005 Tim Optimalisasi Penerimaan Negara.. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EVIEWS.. Analisis Kebijakan Publik.. 2007. Winarno.. Simon. Budi. 2002 Winarno. 1980 Sembiring. JokoSudiarto. Jakarta. Edi.. Laporan... Alfabeta. Wing Wahyu.. 1998 ...

06 538.157.996.922.90 2.675.911. yaitu tarif royalti dikalikan dengan tonase kandungan besi.017.90 2.61 4.00 86. 2009.830. 2007 Penjualan No.222.04 115.14 85.12 154.12 185.11 4.53 4.68 75.218.90 Lampiran 12 Kandungan Besi Tarif Estimasi Royalti USD 620. 3.22 40.536.00 715. JokoSudiarto.141.268.834.00 277. 2007 didasarkan pada formula atau Ekstrapolasi .67 773.00 74.00 588.89 289.00 74.12 515.108. Kandungan Besi dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2006 s.27 1.054.00 58.00 157.382.829.119.82 672.523.90 2.296.620.61 55.00 59.056.82 674.89 249.00 202.956.08 366.343.290.208.463.27 1.454.00 68.40 103.82 59.63 x P 0.00 213.332.90 2.651.00 149.90 2.044.01 238.70 666. FE UI.742.681.812.23 131..02 692.88 154.74 165.060.260.100.07 551. 2005 memakai data historical atau Fitted Value 2.00 51.461.040.00 244.16 Penjelasan: 1.098.313.633.00 286.008.96 34.90 USD/Ton 2.617.650.08 104.d.00 1.183.911.844.539.641.781.00 41.90 2.00 226.082.572.070.499.00 70.019.386.D.90 2.863.102.36 447.58 190.846.90 2.95 649.90 2.00 806.57 x T Ton 214.75 126.356.BESI PERIODE 2003 S. 2007 60.83 2.96 1.653.48 223.24 425.524.97 362.d.572.90 2.68 649.882.PERHITUNGAN ESTIMASI ROYALTI . 4.90 2.00 226.93 94.71 124.351.261.00 57..35 381.45 229.481.767.202.00 289.713.90 2.071.397.911.08 647.00 190.00 186.453.389.00 52.024.72 488.16 301.00 72.436.158.00 43.00 836.566.00 290.244.06 472.486.496.376.410.877.700. Analisis potensi.37 210.02 164.419.908.330.344.90 2. Kandungan Besi dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2003 s.14 168.247.954.00 247.62 223.00 216.531.911.363.16 4.61 4.95 448.634.833.287.90 2.61 32.61 4.36 2.59 846.00 1.340.246.94 316.256.64 163.90 2.143.09 142.61 4.61 4.98 70.216.925.00 50.827.41 Konstanta 0. .00 183.90 2.61 2.202.949.143.00 299..358.855.155. Tarif royalti berdasarkan Kontrak Karya dan PP tentang tarif royalti.130.420. Estimasi royalti dihitung dengan cara fixed rate (tarif tetap).133.59 246.08 37.42 177.30 54.48 45.911.911.271.616.99 42.86 3.911.600.00 207.456.77 146.900.61 4.05 118.020.165.53 830.76 202.00 120.903.59 10.00 230. Periode Perak (P) Kg Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2003 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2004 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2005 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2006 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.98 Tembaga (T) Ton 273.80 1.916.90 2.763.00 47.352.17 609.496.90 2.108.941.868.00 32.050.d.29 108.568.301.911.109.118.

370 57.591 82.918 74. TEMBAGA TAHUN 2003 S.331 102.659 72.630 26.915 85.225 99.127 51.143 84.981 79.958 71.733 48. .DATA PENJUALAN EMAS..392 78.285 109.503 68.831 47.500 48.250 51.756 61.608 60.249 53. Sumber Data : 1 Laporan ESDM 2 Laporan Perusahaan (PT FIC dan PT NNT) 3 Laporan LPKM ITB Analisis potensi.823 55.786 37.437 27.339 82.811 78.281 62.099 99.189 78.530 98.350 67.821 E 7 5 14 11 12 15 16 10 14 6 3 7 2 2 4 3 6 8 6 5 8 5 8 13 8 5 10 10 12 7 9 P 19 15 27 23 21 26 28 19 25 13 12 16 8 7 17 12 17 21 20 18 21 17 25 32 17 14 29 25 25 19 23 24 28 22 35 30 Lampiran 11 T 79. FE UI.112 121. Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg).314 87.895 96. 2009.923 46. 2005 Tahun 2003-1 2003-2 2003-3 2003-4 2003-5 2003-6 2003-7 2003-8 2003-9 2003-10 2003-11 2003-12 2004-1 2004-2 2004-3 2004-4 2004-5 2004-6 2004-7 2004-8 2004-9 2004-10 2004-11 2004-12 2005-1 2005-2 2005-3 2005-4 2005-5 2005-6 2005-7 2005-8 2005-9 2005-10 2005-11 2005-12 B 59.277 75.457 88.093 67.954 54.049 68.447 58.838 65.000 104.495 128.937 30.084 67.697 127.582 56.582 91.928 79.424 83.366 66.736 43.955 44.030 72.D.049 30.534 77.801 63. Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg). JokoSudiarto.649 85.679 56.759 9 10 10 17 19 B E P T Kandungan mineral Besi dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).230 61.097 36. Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton).000 90. PERAK.259 102.535 86.695 103.243 42.041 110...839 70.

00 521.107.00 USD/Ton 4.198.00 319.202.82 34.00 4.48 808.903.00 3.08 1.00 72.00 4.00 806.91 5.875.218.73 x T Ton 259. Tarif royalti berdasarkan Kontrak Karya dan PP tentang tarif royalti.91 41.D.d.91 5.00 1.00 1.79 x P 0.872.68 75.730.91 55.82 59.00 32.158.00 157. 2009. Kandungan Sulfur dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2006 s.251.496.290.268.202.12 133.00 186.91 5.080.112.313.564.650.653.00 880.00 207.358.855.00 4.34 3.152.00 86.00 47.514.730.99 42.98 70.00 244.922.46 196.742.396.730.00 247.664.00 4.044.00 1.00 930.00 41.160.46 707.536.PERHITUNGAN ESTIMASI ROYALTI .85 784.00 1.499.00 4.916.00 4.283.477.054.00 226.954. Analisis potensi.00 4.00 284.00 120.292..00 4.00 4.11 176.53 4.91 5.00 226.058.344.286.619.524.d.139.00 74.980.00 59.420.944.132.22 40.78 742.730.130.565.74 165.763.SULFUR PERIODE 2003 S.399.00 183.320.730.91 5.00 854.00 988.600.572.00 70.599.00 836.630.94 316.38 809.730.028.247.417.38 4.76 243.460.762.00 43.48 45.00 232.900.80 1.039. Periode Perak (P) Kg Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2003 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2004 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2005 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2006 Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.726.122.92 3.241.00 3.070.89 289. Estimasi royalti dihitung dengan cara fixed rate (tarif tetap). 3.953.136.472. JokoSudiarto.00 190.730.812.246.00 670.141.700.45 151.00 280.745.04 974.143.00 304.524.166.94 185.09 181.276. 2007 Penjualan No.144.00 1.00 4.89 249.57 Penjelasan: 1.00 299.78 598.16 5.00 52.00 290. .56 147.00 4.00 1. 2007 60.916.073.00 277.33 790.382.641.767.331.038.520.187.003.539.618..463.19 149.00 213.d.730.523.00 4.562.00 746.00 186.00 250.834.00 202.332.53 18.133.617.00 4. 4.165.08 37. 2005 memakai data historical atau Fitted Value 2.98 Tembaga (T) Ton 273.050.00 74.008.218.00 4.00 1.48 5.132.233.183.00 51. yaitu tarif royalti dikalikan dengan tonase kandungan besi.273. Kandungan Sulfur dalam konsentrat yang dijual untuk periode 2003 s.049.556.00 4.496.84 202.00 Lampiran 10 Kandungan Sulfur Tarif Estimasi Royalti USD 1.410.102.14 4.996.00 4. 2007 didasarkan pada formula atau Ekstrapolasi .00 283.00 58.00 286.301.00 130.020.362.46 109.00 68.397.30 54.271.77 276.713.352.00 220.844.904.53 830.00 4.812.954. FE UI.00 167.00 149.00 656.218.00 50.316.00 1.00 4.729.218.785.00 289.00 164.00 230.093.967..776.568.941.04 211.00 4.615.925.687.00 216.00 1.00 57.890.572.81 139.91 5.93 120.49 Konstanta 0.332.

249 53.744 69.921 126.127 85.495 128. 2009.242 105.041 110.D.119 73. FE UI.387 111.285 109.839 70.971 105.503 68.661 71. Sumber Data : 1 Laporan ESDM 2 Laporan Perusahaan (PT FIC dan PT NNT) 3 Laporan LPKM ITB Analisis potensi.485 34.189 123.243 42.438 92.267 74.043 46. Jumlah Perak yang dijual (dalam Kg).143 84.629 109.049 30.093 67.692 33. .649 85. PERAK.000 90.112 121.838 65.608 60.812 56.910 111.169 86.706 71.582 91..736 43.706 99.860 96.759 9 10 10 17 19 S E P T Kandungan mineral Sulfur dalam konsentrat yang dijual (dalam Ton).884 61.259 102.215 91.424 83.918 74.937 30.486 80.695 103.917 46.645 78.392 78.457 88.197 E 7 5 14 11 12 15 16 10 14 6 3 7 2 2 4 3 6 8 6 5 8 5 8 13 8 5 10 10 12 7 9 P 19 15 27 23 21 26 28 19 25 13 12 16 8 7 17 12 17 21 20 18 21 17 25 32 17 14 29 25 25 19 23 24 28 22 35 30 Lampiran 9 T 79.823 61.230 61.DATA PENJUALAN EMAS.631 58..602 71.000 104.250 51. Jumlah Tembaga yang dijual (dalam Ton). Jumlah Emas yang dijual (dalam Kg).225 84.530 98.743 88.303 61. TEMBAGA DAN SULFUR TAHUN 2003 S.281 62. JokoSudiarto.668 101.999 100.814 65.811 78..659 72. 2005 Tahun 2003-1 2003-2 2003-3 2003-4 2003-5 2003-6 2003-7 2003-8 2003-9 2003-10 2003-11 2003-12 2004-1 2004-2 2004-3 2004-4 2004-5 2004-6 2004-7 2004-8 2004-9 2004-10 2004-11 2004-12 2005-1 2005-2 2005-3 2005-4 2005-5 2005-6 2005-7 2005-8 2005-9 2005-10 2005-11 2005-12 S 76.534 77.225 99.697 127.331 102.

FE UI. Misalnya.2006-2007 Kalikan tarif dg kandungan tsb. Tentukan alternatif lain. IC : Ingredient Content 2.2003-2005 Kandungan mineral dlm konsentrat th. 3.. Ya Tentukan IC per bulan sesuai data yg diperoleh periode 2003-2005 Tentukan kandungan mineral dlm konsetrat dg regresi berdasarkan data periode 2003-2005 Jumlah konsentrat yg dijual per bulan periode 2003-2005 Tentukan Model Kalikan IC dg jml konsentrat yg dijual periode 2003-2005 Run Model dg Program EVIEWS Kandungan mineral dlm konsentrat th.DIAGRAM CARA PERHITUNGAN PERKIRAAN POTENSI ROYALTI Lampiran 8 Tentukan Tarif Menghitung Jumlah Satuan Tentukan IC rata2 per bulan sesuai dg data yg diperoleh periode 2003-2007 Apakah ada IC tsb. JokoSudiarto. kandungan mineral sulfur sebesar 25-36% (rata-rata 30. periode 2006-2007 Perkiraan Royalti periode 2003-2005 (Fitted Value) Perkiraan Royalti periode 2006-2007 (Ekstrapolasi) Penjelasan: 1.. periode 2003-2005 Kalikan tarif dg kandungan tsb. Perkiraan Potensi Royalti periode 2003-2007 Analisis potensi. Tarif sesuai dg KK dan PP 58/1998.5%) merupakan angka perkiraan kandungan yg disepakati pembeli & penjual. Sedangkan IC rata-rata perbulan yg digunakan untuk data regresi mrpk rata-rata IC sesuai dg realisasi penjualan konsentrat. ? Tidak Data IC periode 2006-2007 tdk diperoleh. Alasan regresi: data yg digunakan lebih valid dan hasil lebih realistis.. 2009. .

FE UI.. konsentrat tembaga Emas. perak. - Emas. tembaga dan mineral ikutan lainnya konsentrat tembaga Unsur yg dibayar (emas. 2009. perak. tembaga dan mineral ikutan lainnya. perak. ESDM Dep. 6 Alasan tidak dibayar - Halaman 1 dari 3 Analisis potensi. Jumlah masingmasing mineral ditentukan oleh ingredient content. ESDM belum pernah melakukan penelitian yg mendalam atas kandungan masingmasing mineral tsb. JokoSudiarto. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. . tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. perak. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. perak. perak. perak. perak. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. tembaga dan mineral ikutan lainnya. Keu. - - konsentrat tembaga Emas. perak. tembaga) Pasal dlm KK menyebutkan demikian dan mineral ikutan tsb tdk dibayar oleh pembeli. BPK Perusahaan PT Smelting LPKM ITB Main Issues UMUM Hasil pertambangan tembaga Kandungan dlm konsentrat Dep. perak. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas.. tembaga) Unsur yg tdk dibayar dan tdk dikenakan denda (belerang. perak. perak. perak..Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No I 1 2 Lampiran 7. tembaga) Unsur tsb tidak dibayar oleh pembeli. tembaga Mineral ikutan lainnya (selain emas. besi) Unsur yg dikenakan denda (mineral ikutan lainnya) 3 4 5 Kewajiban yang termasuk PNBP dlm KK Mineral yang dibayar royalti Mineral yang tidak dibayar royalti Iuran tetap dan iuran eksploitasi (royalti) Emas. perak. konsentrat tembaga Emas.

. UU ttg PNBP dan PP ttg tarif. Sesuai dg ketentuan yg ada. LPKM ITB Dari proses peleburan konsetrat tembaga. Sudah jelas ada sumber daya alam yg dimanfaatkan. hrs dikenakan royalti. - - 3 Perhitungan royalti atas mineral ikutan lainnya Persentase tertentu dari harga jual.Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No 7 Lampiran 7. JokoSudiarto. Keu... BPK - Main Issues Manfaat mineral ikutan lainnya Dep. Seluruh sumber daya alam yg telah dimanfaatkan hrs dikenakan royalti. Perusahaan Merupakan unsur pengotor yg tdk bernilai ekonomis PT Smelting Dari proses peleburan. Bisa juga dg Fixed PNBP mrpk hak mutlak negara. - Dep. hampir seluruh mineral tsb dpt dimanfaatkan dan dpt dijual. ESDM ESDM blm pernah melakukan penelitian yg mendalam. PP ttg tarif. . perak. tembaga) - 2 Dasar pengenaan royalti atas mineral ikutan lainnya KK. FE UI. Lampiran G dlm KK. UU ttg PNBP dan PP ttg tarif. II 1 DASAR PENGENAAN ROYALTI ATAS MINERAL IKUTAN TEMBAGA Seluruh mineral ikutan dikenakan royalti Setuju. 2009. namun hal ini sulit dilakukan krn mineral tsb tdk ada harga jualnya. - - - Halaman 2 dari 3 Analisis potensi. UU ttg PNBP. unsur tsb menjadi terak dan gas buang namun dpt dijual. Prinsip PNBP (user charges). Besarnya royalti ditentukan oleh negara sesuai dg PP. namun hrs dengan addendum KK setuju setuju Tdk setuju krn mineral tsb tdak bernilai ekonomis Kurang tepat krn dlm perdagangan yg lazim. hanya tiga unsur yg dibayar oleh pembeli (emas.

perak. · Tidak terdapat potential loss atau royalti yang hilang karena seluruh mineral ikutan tembaga dikenakan royalti. FE UI. mudah dilaksanakan dan dapat diterapkan pada seluruh mineral ikutan tembaga. tembaga) tdk dikenakan royalti tetapi dikenakan pajak penghasilan. Lampiran 7. sehingga sulit sekali menentukan nilai ekonomis masing-masing mineral tsb sebagai dasar perhitungan royaltinya. Mineral ikutan lainnya (selain emas.. Seluruh mineral ikutan dlm konsentrat tembaga hrs dikenakan royalti Pemerintah hrs melakukan negosiasi KK agar seluruh mineral dpt dikenakan royalti Mineral ikutan lainnya (selain emas. · Dengan perhitungan yang sederhana. perak. Halaman 3 dari 3 Analisis potensi. 2 Kelebihan · Perhitungan royalti dengan fixed rate. JokoSudiarto. perak. tembaga) dpt dimanfaatkan dan dijual. 2009. 4 Simpulan Mineral ikutan lainnya dpt dikenakan royalti. . semua pihak yang terkait dapat saling mengecek dan menguji kewajaran jumlah royalti. III 1 KELEMAHAN DAN KELEBIHAN Kelemahan · Pemerintah belum pernah melakukan pengujian atas jenis dan kadar mineral ikutan tembaga. BPK Perusahaan PT Smelting LPKM ITB Dep.. Mineral ikutan lainnya (selain emas. sehingga untuk mengenakan royalti atas mineral ikutan tsb harus dengan addendum KK. namun hrs dg addendum KK.Matrik Rangkuman Pendapat Instansi Terkait No Main Issues Dep. Hal ini sulit sekali dilakukan karena pihak kontraktor bisa dipastikan tidak setuju. tembaga) tdk dibayar royalti. · Pihak yang terkait dengan kontrak harus mematuhi seluruh terms and conditions yang tercantum dalam kontrak tsb.. Keu. ESDM rate (tarif tetap) dikalikan dg tonase. krn klausul KK menyebutkan demikian.

2009. The total capacity of the smelters studied was 8. converting. and casting----are taken together as a single process. . fire refining..3 mt of cast copper product.. Analisis potensi. The data reported in the figure represent the weighted average copper-specific flows for all the smelters studied in this report. JokoSudiarto.. Smelting is a separating and value-adding process. FE UI.Giagram Proses Peleburan Konsentrat Tembaga Lampiran 6 Figure: Copper-specific flow diagram of the smelting process. The steps----smelting.

...Lampiran 5 Analisis potensi. JokoSudiarto. . 2009. FE UI.

76 5.370.114.793.775. 2009.526.750.430.190.114.59 5.793.571.752.81 4.76 5. 2007 Royalti Pokok US $ TAHUN 2003 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2003 3.047.451. .775.361.68 5.865.880.871.127.972.43 3.59 5.654.122.542.257.78 17.020.87 24 Apr 2007 27 Jul 2007 30 Okt 2007 30 Jan 2008 - 3.972.641.47 16. 2007 Keterangan: Sumber data: Departemen ESDM dan Laporan PT Newmont Nusatenggara (diolah) 3.242.D.370.752.51 28 Apr 2006 27 Jul 2004 19 Okt 2006 30 Jan 2007 2.11 4.22 4.037.22 7.48 7.335.50 6.190.047.895.978.22 7.829..51 20.542.010.037.43 3.788.788.072.274.460. Jumlah US $ No.257.978.51 TAHUN 2007 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.059.218.206.51 20.242.335.380.40 23.380..47 4.26 6.380.059.746.68 5.40 23.546.128.750.380.40 18.47 4. JokoSudiarto.010.31 30 Apr 2003 31 Jul 2003 30 Okt 2003 29 Jan 2004 3.73 TAHUN 2005 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2005 2.206.164.164.274.145.08 TAHUN 2006 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2006 2.546.332.746.81 4..87 Analisis potensi.571.73 30 Apr 2004 30 Jul 2004 29 Okt 2004 31 Jan 2005 4.421.50 6.31 Tgl.451.526.871.24 96.24 96.895.997.40 18.123.PT NEWMONT NUSATENGGARA Lampiran 4 REALISASI PENYETORAN ROYALTI PERIODE 2003 S.731.39 7.020.88 5. FE UI.641.88 5.865.187.51 3.08 28 Apr 2005 27 Jul 2005 28 Okt 2005 31 Jan 2006 2.127.072.654.128.d.145.187.880.829.749.26 6. Periode TAHUN 2004 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2004 4.48 7.997.361.332.460.731.430.51 3.78 17.123.39 7.749.47 16.218.122.421.11 4.22 4.

24 24.D.93 35.676.550.922.537.29 26 Mei 2006 28 Agust 2006 20 Nov'2006 28 Feb 2007 17.732.87 27 Mei 2004 26 Agust 2004 26 Nov.778.56 51. FE UI.676..737.928.67 38.19 48.249.227.605.05 47.252.534.96 134.840.85 TAHUN 2006 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2006 17.343.605.35 22.350. JokoSudiarto.54 102.779.997. 2003 26 Feb 2004 6.263.158.989.720.795.537.447. 2007 Keterangan: Sumber data: Departemen ESDM dan Laporan PT Freeport Indonesia Company (diolah) 39.063.56 51.095.68 11.21 17. .15 23.733.41 133.760.260.158.84 30.115.824.01 29 Mei 2003 28 Agust 2003 20 Nov.35 22.534..955.84 30.460.05 47.519.01 Tgl.44 7. Jumlah US $ No.689.824.363.530.29 TAHUN 2007 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2007 Jumlah 2003 s.519.PT FREEPORT INDONESIA COMPANY Lampiran 3 REALISASI PENYETORAN ROYALTI PERIODE 2003 S.10 443.46 9.095.732.68 11.252.177.15 23.922.315.509.d.315. 2004 28 Feb 2005 4.263.670.989.670. 2009.737.955.260.227.54 102.953.115.689.795.760.343.12 30 Mei 2007 27 Agust 2007 20 Nov'2007 28 Feb 2008 - 39.779.840.135.249.795.46 9.400.21 17.68 22.256.67 38.256.509.550.363.026.188.733.50 7.41 133.212.93 35..729.24 24. 2007 Royalti Pokok US $ TAHUN 2003 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2003 6.135.212.96 134.350.953.497.400.736.87 TAHUN 2005 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2005 22.83 3.50 7.997.795.43 23.188.026.928.447.19 48.460.43 23. Periode TAHUN 2004 1 Triwulan I 2 Triwulan II 3 Triwulan III 4 Triwulan IV Sub Jumlah 2004 4.44 7.720.83 3.10 443.497.063.729.12 Analisis potensi.85 27 Mei 2005 26 Agust 2005 18 Nop 2005 28 Feb 2006 22.530.736.68 22.778.177.

30 Jun 2003 1 Jul 2003 s.d. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.00 144.540.00 131..382.086.00 96.600.400. 30 Jun 2007 1 Jul 2007 s.00 3. 31 Des 2004 31-Jan-05 31-Jul-05 96.540.400.00 182 183 3.600. 31 Des 2007 31-Jan-07 31-Jul-07 87.00 289.d.D.00 3.00 35.00 87.310.13 98.400.00 3.540.00 144. 2007 1.600.540.620.400...00 96.d.d.00 Operasi 2004 1 Jan 2004 s.00 96. 31 Des 2003 31-Jan-03 31-Jul-03 96.310. FE UI. 2007 KEWAJIBAN IURAN TETAP (US$) TAHAP TAHUN PERIODE TANGGAL JATUH TEMPO LUAS (Ha) HARI TARIF/TH (US$) Operasi 2003 1 Jan 2003 s.00 144.d.00 Operasi 2005 1 Jan 2004 s.540.00 182 183 3.PT NEWMONT NUSA TENGGARA Lampiran 2 PERHITUNGAN IURAN TETAP/DEADRENT PERIODE 2003 S. 31 Des 2004 31-Jan-04 31-Jul-04 96. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.364.00 144.600.63 Sumber Data : Perhitungan Perusahaan dan Laporan Hasil Audit Tim OPN Analisis potensi. 31 Des 2006 31-Jan-06 31-Jul-06 87.d.00 289.00 3.00 262.d. .d. 30 Jun 2006 1 Jul 2006 s.00 144.446.00 182 183 3.d.200.00 182 45 138 3. 14 Agt 2004 15 Agt 2004 s.d. 2009.00 87. JokoSudiarto.d.400.310.200.00 131.00 TOTAL TAHUN 2003 s.482.d.400.00 131.00 182 183 3.00 3.00 87.600.00 131.50 278.620.310.00 Operasi 2007 1 Jan 2007 s.00 3.00 262.63 Operasi 2006 1 Jan 2006 s.

425.00 304.00 608.d.00 TOTAL TAHUN 2003 s. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.950.850.5 0. 30 Jun 2006 1 Jul 2006 s.d.d.00 Operasi 2005 1 Jan 2004 s.950. 2007 3.00 304. TARIF/TH (US$) Operasi 2003 1 Jan 2003 s.00 304.00 0.950. JokoSudiarto.00 304.00 608.d.d.5 0.00 304.00 Operasi 2007 1 Jan 2007 s.00 0.425.00 Operasi 2004 1 Jan 2004 s.00 304.00 0.044.. 31 Des 2003 31-Jan-03 31-Jul-03 202.00 0. 30 Jun 2007 1 Jul 2007 s.950.5 3. 2007 KEWAJIBAN IURAN TETAP (US$) TAHAP TAHUN PERIODE TANGGAL JATUH TEMPO LUAS (Ha) THN.5 3.d.5 3.00 3.00 Operasi 2006 1 Jan 2006 s.850.00 3.00 202.425.00 608.00 202.850.425. 30 Jun 2003 1 Jul 2003 s..850.950.850.5 0.425.00 202.250. .00 202.D. FE UI. 2009.5 0.5 3.d.950.00 3. 31 Des 2004 31-Jan-04 31-Jul-04 202.d.425.d. 31 Des 2006 31-Jan-06 31-Jul-06 202.425.5 0.00 304.425.PT FREEPORT INDONESIA COMPANY Lampiran 1 PERHITUNGAN IURAN TETAP/DEADRENT PERIODE 2003 S.00 608.d..425. 14 Agt 2004 31-Jan-05 31-Jul-05 202.00 304.00 304.00 0.00 608.5 3. 31 Des 2007 31-Jan-07 31-Jul-07 202.950.00 Sumber Data : Perhitungan Perusahaan dan Laporan Hasil Audit Tim OPN Analisis potensi.950.00 304.d.00 202.00 3.950.425.00 3.950. 30 Jun 2004 1 Jul 2004 s.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful