P. 1
Besaran Dan Satuan

Besaran Dan Satuan

|Views: 55|Likes:
Published by Eli Noverma

More info:

Published by: Eli Noverma on Jun 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/29/2013

pdf

text

original

Bab 1

Besaran, Satuan dan
Prinsip Pengukuran
Tujuan
1. Menyadari keteraturan alam semesta dan penciptaannya
2. Mengetahui kemajuan peradaban Islam terdahulu di bidang sains
3. Dapat Menjelaskan hakikat besaran fsika beserta klasifkasinya
4. Dapat membedakan besaran pokok dengan besaran turunan dan satuannya
5. Dapat memahami cara mengukur besaran Fisika
6. Dapat melakukan operasi matematika dasar vektor
“Dalam setiap generasi dan
setiap bangsa,
terdapat beberapa golongan
yang memiliki keinginan
untuk mempelajari cara
alam bekerja.
Seandainya mereka tidak
ada,
maka bangsa-bangsa pun
akan binasa”
Al-Jahiz, Kitab Al-Hayaawan/The
Book of Animals
(Ahli Biologi, zoologi, bahasa
Arab dll)
Z
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
F 0 l 8 k 0 ß 8 0 ¢
Ketauhidan
Keteraturan Alam
Semesta
Memberi dampak
pada
Kesadaran Pada
Kemajuan Peradaban
Islam Terdahulu
Besaran Fisika
Alat ukur
Pengukuran
Prinsip
Ketidakpastian
Presisi & Akurasi
Kesalahan
Pengukur
Sistem Satuan
Besaran Pokok
Besaran
Turunan
Vektor Skalar
Perkalian Penjumlahan
Silang Titik Jajarangenjang Poligon Poligon
Memberi dampak
pada
Jejak kontribusi
ilmuan Muslim
Diperoleh
melalui
Melibatkan
aspek
Diperoleh
melalui
Pentingnya
pengukuran dalam
Fisika dijelaskan
melalui
Dibagi menurut cara
mendapatkannya
Dibagi menurut
sifatnya
Menghasilkan
Dioperasikan melalui
Dibagi atas perkalian
Diselesaikan dengan
metoda
J
Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
ß. $l8l0M F0߶0k0f8ß
1. $0008ß8ll80 80l8¢8 0808¶8l߶8 ßl8M $0M08l8,
0l¢l88ß ßll80 ¶8߶ 10f8l0f 08ß 10f0k0f
Renungkanlah alam semesta ini sejenak; mari lupakan kesibukan
sehari-hari; permainan dan senda gurau yang mungkin sedang kita lakukan;
jangan hiraukan sebentar saja kebisingan yang ada di sekitar kita. Perhatikan
lebih saksama, ciptaan Allah yang ada di sekeliling kita. Perhatikanlah sejenak
saja sang surya, ciptaan Allah yang dahsyat namun seringkali kita lupakan.
Mungkin karena ia setiap hari terbit dan tenggelam mengisi hari-hari kita,
seakan-akan ia benda yang tidak bermanfaat yang muncul di atas langit, seperti
sudah seharusnya. Begitu matahari tenggelam, dan saat malam menjelang,
ciptaan Allah yang lain yaitu bulan mulai menerangi malam kita, dengan
cahayanya yang temaram. Rembulan nan mempesona ini pun sangat jarang
kita hiraukan.
Mengapa tak pernah kita perhatikanlah hujan lebih saksama? Tak
pernahkah kita sadari bahwa hujan jatuh dari langit dengan kecepatan
yang terukur? dan sama sekali tidak membahayakan manusia saat jatuh
menghunjam bumi? Ya, air hujan meluncur dalam tetesan-tetesan kecil,
yang lalu meresap ke dalam tanah, diserap benih lalu menumbuhkan
dan menyuburkan tanaman, tumbuhan, bunga, biji dan buah-buahan.
Mekanisme alam yang mencengangkan !
Perhatikan pula angin. Tidaklah sia-sia Allah menciptakan angin. Angin
yang rasanya jarang kita renungkan keberadaannya, ternyata berembus
membawa benih-benih tumbuhan; mengarak awan yang membawa butiran
hujan. Perhatikan juga gunung-gunung yang menusuk langit menjangkau
awan, dan dasarnya menghunjam menjadi pasak bagi bumi? Apakah kita
Selaksa
Makna
Lihatlah penuh kesungguhan
Lihatlah alam dengan bijaksana
Ia akan mengajarimu tentang
kerendahan hati
Lihatlah bintang dengan hatimu
Ia akan mengajari tentang ketulusan
kasih sayang
Lihatlah matahari
Ia akan mengajarimu kesungguhan
Lihatlah lautan penuh perhatian
Ia akan mengajarimu tentang
kebesaran jiwa
Lihatlah gunung lebih seksama
Ia akan mengajarimu kesabaran
Lihatlah ke dalam dirimu
Ia akan mengajarimu tentang kebaikan
Lihatlah pepohonan, kali ini dengan
jiwamu
Ia mengajarimu empati dan kepedulian
Lihatlah hewan-hewan
Ia mengajarimu persahabatan
Lihatlah Jagat Raya
Kamu akan “melihat” Tuhan
F 0 l 8 k 0 ß 8 0 ¢
4
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
berpikir bahwa semua itu sia-sia dan terjadi begitu saja?
Atau mungkin kita lebih takjub pada kecanggihan teknologi yang
dibuat manusia? Tentang ponsel misalnya, alat komunikasi ajaib ini memang
amatlah menakjubkan. Betapa tidak? Tulisan yang kita susun melalui
teknologi SMS, ternyata dapat secepat kilat diterima oleh saudara kita nun
jauh di lain negara, mengarungi samudera dan menjelajah benua hanya
hitungan detik saja. Pikirkan hal lain, misalnya tentang gambar-gambar
dalam televisi bisa terkirim melalui ”udara”, dan kemudian disaksikan oleh
saudara kita hingga pelosok desa terpencil. Jika kita pernah menggunakan
teknologi internet, tidakkah menakjubkan? saat jutaan buku, jutaan
gambar, jutaan lagu, dapat bersama-sama dinikmati oleh berjuta orang
dalam waktu yang sama. Semua kecanggihan teknologi, ternyata tidak
bisa terlepas dari keberadaan alam ini, melalui pemanfaatan ionosfer,
gelombang elektromagnetik, barang tambang, minyak dan gas di perut
bumi. Tanpa alam yang demikian terrencana, berbagai kemajuan teknologi
tersebut tak akan pernah ada. Bahkan kehidupan pun tak kan berlangsung
lama. Jika saja kita mau sejenak merenung, alam raya dan seisinya adalah
sesuatu yang amat dahsyat dan luar biasa.
Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan
manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS:40:57)
Sepanjang kita menikmati keindahan dan keteraturan alam semesta melalui
buku ini, akan kita rasakan, betapa banyak bukti bahwa alam semesta ini begitu
teratur, sehingga mustahil jika ia tidak diciptakan, atau terjadi begitu saja.
Seandainya kita menemukan sebuah mobil mewah dan super canggih
di atas pegunungan, yang jauh dari kehidupan masyarakat dan keramaian
kota, apakah mungkin jika ada yang mengatakan bahwa mobil tersebut ada
begitu saja? dan terbentuk dari ranting pepohonan hutan secara kebetulan?
Ah, Tentu saja itu pernyataan yang sangat menggelikan dan tidak masuk
akal bukan? Nah, begitu juga alam semesta. Alam semesta jauh lebih
canggih dan jauh lebih rumit dari sebuah mobil mewah dan canggih
yang pernah ada sekalipun. Lalu, apakah mungkin jika keluarbiasaan alam
semesta ini ada begitu saja dan tidak ada yang menciptakannya? Tentu saja
tidak mungkin, dan tidak masuk akal. Pastilah ada yang menciptakannya,
yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Tuhan pemelihara semesta alam.
Menurut seorang ahli fsika, Paul Davies, terjadinya alam semesta
berawal dari sebuah ledakan besar (big-bang). Dari ledakan besar ini lalu
muncul keteraturan dan kehidupan. Hal ini adalah sebuah keajaiban yang
hanya mungkin terjadi karena perencanaan, “penyetelan”, perhitungan
dan pengukuran yang sangat cermat. Ledakan ini hanya mungkin jika
dilakukan dengan perencanaan yang sangat teliti, karena kemungkinan
keberhasilannya hanyalah 1:1.000.000.000. Artinya, teramat sangat
kecil kemungkinannya alam semesta terjadi secara kebetulan atau tanpa
perencanaan.
Hal yang serupa juga disimpulkan oleh fsikawan terkenal lainnya,
Roger Penrose. Beliau mengatakan bahwa kemungkinan terjadinya alam
semesta seperti sekarang ini hampir mustahil tanpa suatu kesengajaan dan
Selaksa
Makna
Seandainya kita menemukan
sebuah mobil mewah dan super
canggih di atas pegunungan yang
jauh dari kehidupan masyarakat
dan keramaian kota, apakah
mungkin jika ada yang mengatakan
mobil tersebut ada begitu saja dan
terbentuk dari ranting pepohonan
hutan secara kebetulan?
â
Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
oleh karena itu, pastilah diciptakan oleh yang maha kuasa.
Dari pengalaman kita sehari-hari, dapat kita rasakan bahwa hampir
seluruh benda yang pecah atau meledak, akan menjadi hancur berantakan,
selalu menghasilkan ketidakeraturan serta kekacauan. Namun, alam
semesta tidak demikian. Meskipun bermula dari sebuah ledakan yang tak
terbayangkan dahsyatnya, justru hasilnya adalah keteraturan dan kehidupan
yang kita saksikan saat ini.
Hal yang sama juga dikatakan oleh ilmuwan fsika terkemuka yang lain,
yaitu Stephen Hawking. Dalam bukunya A Brief History of Time, beliau
menyatakan bahwa jika saja kecepatan penyebaran alam semesta setelah
ledakan besar 1 detik saja lebih cepat atau lebih lambat, maka alam semesta
tidak akan menjadi seperti yang kita saksikan sekarang, melainkan akan
hancur berkeping-keping. Subhanallah, betapa menakjubkannya.
Banyak bukti ilmiah lain yang ditemukan para ilmuwan modern bahwa
alam semesta diciptakan dengan sangat teratur dan terencana. Misalnya,
dalam penciptaan bumi sebagai tempat tinggal kita. Betapa Allah SWT
telah mempersiapkannya, ”mengukurnya”, ”menghitungnya” sebaik
mungkin sehingga dapat kita diami seperti saat ini. Sebagai contoh,
jarak rata-rata bumi yang kita diami terhadap matahari adalah 150 juta
kilometer. Seandainya planet bumi lebih dekat ke matahari, maka pastilah
planet yang kita diami ini akan sangat panas, atau mungkin menjadi planet-
hangus seperti halnya merkurius. Sebaliknya, jika jarak bumi ke matahari
lebih jauh dari saat ini, maka temperatur bumi akan menjadi sangat dingin.
Lapisan es akan menyelimuti bumi kita dan mungkin tidak pernah ada
kehidupan di atasnya. Terjaganya temperatur yang kita rasakan di bumi ini
juga berkaitan dengan jumlah panas yang dipancarkan matahari. Menurut
perhitungan para ahli, jika 10% saja dari panas yang dipancarkan matahari
berkurang, maka hal itu akan membuat permukaan bumi ditutupi es
setebal beberapa meter. Sebaliknya, jika panas yang dipancarkan matahari
naik sedikit saja, seluruh makhluk hidup yang ada di bumi akan hangus
dan mati. Kita perhatikan juga bahwa bumi mengelilingi matahari dengan
sumbu yang miring sebesar 23
o
27’. Kemiringan ini mencegah panas yang
berlebihan pada atmosfer di wilayah antara kutub dan khatulistiwa. Hal ini
membuat temperatur di bumi menjadi sedang (moderat). Jika kemiringan
ini tidak ada, perubahan temperatur antara kutub dan khatulistiwa akan
jauh lebih tinggi, dan daerah bertemperatur sedang tidak akan ada di bumi
kita.
68M08f 1.1
Paul Davies, Stephen Hawking
dan Roger Penrose. Tiga Fisikawan
terkemuka
Selaksa
Makna
Alam semesta berawal dari
sebuah ledakan besar (big-
bang). Dari ledakan besar ini
lalu muncul keteraturan dan
kehidupan. Hal ini adalah sebuah
keajaiban yang hanya mungkin
terjadi karena perencanaan,
“penyetelan”, perhitungan dan
pengukuran yang sangat cermat.
ë
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
Kecepatan perputaran bumi pada sumbunya juga menjaga panas di
permukaan menjadi seimbang dan lebih merata. Keadaan di bumi berbeda
dengan keadaan di planet merkurius. Di merkurius, perbedaan temperatur
antara siang dan malam hampir mencapai 1.000
o
C. Masya Allah, betapa
mengerikannya. Hal ini karena waktu siang lamanya lebih
dari setahun menurut waktu bumi. Penyebab lain, misalnya
karena tidak adanya atmosfer yang melindungi merkurius.
Selain jaraknya yang telah dipersiapkan, Allah SWT
juga melindungi bumi dengan berbagai perisai dan
pelindung. Diciptakan-Nya atmosfer untuk melindungi
bumi dari radiasi cahaya ultraviolet (UV) matahari. Cahaya
UV ini berbahaya bagi kesehatan manusia. Penyinaran sinar
ultraviolet yang berlebihan akan menyebabkan kanker yang
akibatnya sangat mengerikan pada kulit kita.
Selain itu, diciptakan-Nya pula semacam sabuk pelindung
yang terbuat dari medan magnetik di sekitar bumi. Tujuannya
agar planet kita terlindung dari terpaan dan hantaman angin
matahari serta lontaran sejumlah gas yang berasal dari korona matahari (Coronal
Mass Ejection/CME). Sabuk yang tidak bisa kita lihat dengan mata biasa ini
dikenal sebagai sabuk Van Allen.
68M08f 1.J
Angin matahari (atas) dan CME
(bawah). Bulatan hitam pada
gambar CME adalah matahari
yang ditutup agar semburan CME
dapat terlihat jelas.
68M08f 1.Z
Kanker kulit karena radiasi
ultraviolet.
Angin matahari berasal dari ledakan di permukaan matahari. Angin ini
melemparkan berton-ton gas yang sangat panas dan memiliki kandungan
listrik yang sangat besar. Angin matahari ini sebagian besar dapat ditangkal
oleh sabuk Van Allen sehingga tidak sampai ke permukaan bumi. Angin
ini kemudian disalurkan ke kutub-kutub magnetik utara dan selatan bumi
sehingga bertumbukan dengan atmosfer bumi di bagian kutub. Tumbukan
ini menghasilkan cahaya yang sangat indah, berpendar di daerah kutub
utara dan selatan dengan warna yang beraneka ragam bergantung pada
komposisi udara di atmosfer.
¡
Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
Cahaya indah berwarna-warni inilah yang dikenal sebagai aurora.
Sayang sekali, kita yang tinggal di daerah khatulistiwa tidak pernah
melihatnya secara langsung. Aurora hanya dapat dinikmati di daerah yang
dekat dengan kutub utara dan kutub selatan saja. Bayangkan apa yang
terjadi seandainya sabuk Van Allen ini tidak disiapkan Allah? Seluruh
peralatan yang terbuat dari logam pastilah akan mencair karena panas dan
arus listrik yang diterima bumi akan sangat besar. Pusat pembangkit tenaga
listrik akan mungkin akan meledak karena kelebihan beban listrik. Kulit
kita akan terbakar, sarana komunikasi akan putus, bencana dan kekacauan
dahsyat akan terjadi.
68M08f 1.4
Beraneka warna Aurora di Kutub
Utara. Perbedaan warna ini
bergantung pada kandungan
kimiawi atmosfer yang ditumbuk.
68M08f 1.ë
Ilustrasi “serangan” angin matahari pada bumi. Berjuta ton gas panas yang sangat
berbahaya sebagian dibelokkan dan sebagian ditangkal serta disalurkan oleh sabuk
Van Allen ke kutub-kutub bumi sehingga membentur atmosfer dan terbentuklah
Aurora Borealis di Kutub Utara dan Aurora Australis di Kutub Selatan.
68M08f 1.â
Ilustrasi Sabuk Van Allen, garis-garis
biru-kuning di sekitar bumi menunjukan
pelindung magnetik.
Banyak juga hewan seperti beberapa jenis burung yang menggunakan
arah magnet bumi sebagai penunjuk jalan. Seandainya magnet bumi tiba-
tiba hilang, mereka tak akan mampu mengarungi samudera, dan menjelajah
benua. Mereka akan tersesat dan kehilangan arah.
8
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
68M08f 1.¡
Bentuk tetesan hujan memung-
kinkan kecepatannya cukup
rendah saat tiba di bumi. Bentuk
tetesan hujan ini sekarang ditiru
oleh manusia dalam pembuatan
parasut.
Allah juga mengatur kandungan udara yang kita hirup, dengan
perbandingan yang sangat penuh perhitungan. Jika saja kandungan
oksigen di udara lebih tinggi, maka udara akan sangat mudah terbakar.
Sebaliknya, jika oksigen terlalu sedikit, maka manusia akan keracunan dan
sulit bernafas. Tidak hanya itu, Allah juga mengatur bentuk tetesan hujan
sehingga dapat jatuh dengan kecepatan yang tidak membahayakan saat
tiba di bumi dari awan mendung setinggi 1.500 meter. Padahal, kalau saja
kita hitung benda lain yang jatuh dari ketinggian yang sama, maka benda
tersebut akan tiba di Bumi dengan kecepatan ratusan km/jam, yang tentu
saja sangat berbahaya. Bahkan, benda kecil yang menabrak kita dengan
kecepatan sebesar itu akan memiliki daya rusak yang cukup besar.
Bentuk tetesan hujan pun dirancang sangat unik. Diameternya kira-kira
berukuran 2 mm. Hal ini memungkinkan tetesan air hujan untuk jatuh bebas
hanya dengan kecepatan 2-6 m/s. Hal ini karena bentuk tetesan hujan membuat
kecepatan akhirnya (sering disebut kecepatan terminal) menjadi lebih rendah.
”Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami
jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar
berkuasa menghilangkannya”. (23:18)
Sesungguhnya, masih sangat banyak bukti ilmiah lain yang menunjuk-
kan bahwa kehidupan di alam semesta sedemikian teraturnya, sehingga
mustahil jika tidak ada yang menciptakannya. Allah SWT sendiri menyatakan
bahwa alam semesta ini diciptakan menurut ukuran sebagaimana dinyatakan
Allah dalam banyak ayat, di antaranya
“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-
gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.”
(QS 15:19)
“Allah telah menurunkan air dari langit, maka mengalirlah air di lembah-
lembah menurut ukurannya...” (QS 13:17)
Jelaslah sekarang bahwa alam semesta ini memang dirancang oleh
Allah SWT dengan ukuran-ukuran tertentu. Dengan demikian, melalui
pengukuran pulalah kita dapat memahami kebesaran ciptaan-Nya secara
lebih baik. Seorang pelukis memang dapat mengagumi alam raya melalui
keindahan seni. Seorang penyair mengungkapkannya melalui bait-bait
puisi, atau seorang biduan melalui lagu dan nyanyian. Namun, hanya
melalui seorang ilmuwanlah alam semesta dapat diungkap jauh lebih
dalam dan terperinci. Melalui para ilmuwan pula keteraturan alam dapat
dibuktikan dan jejak penciptaan Allah dapat dibaca. Melalui ilmuwan, kita
dapat menyelidiki cara jagat raya ini tercipta atau cara manusia terlahir dari
rahim ibunya. Melalui ilmuwan pula dapat dijelaskan sebab planet, bintang,
dan galaksi dapat “tergantung” di luar angkasa padahal tidak ada tali yang
mengikatnya dan tidak ada pula tiang yang menyangganya. Ilmuwan juga
yang berhasil memecahkan teka-teki mengapa gunung dapat bergerak dan
bagaimana benua menjadi seperti saat ini. Para ilmuwanlah yang berhasil
menjawab “teka-teki” Allah SWT melalui ayatnya:
Selaksa
Makna
Seorang pelukis memang
dapat mengagumi alam raya
melalui keindahan seni. Seorang
penyair mengungkapkannya
melalui bait-bait puisi atau
seorang biduan melalui lagu dan
nyanyian. Namun, hanya melalui
seorang ilmuwanlah alam
semesta dapat diungkap jauh
lebih dalam dan terperinci.
9
Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia
meletakkan gunung-gunung bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan
kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang.
Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya
segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (QS 31:10)
Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat, kemudian
Dia bersemayam di atas ’Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan.
Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur
urusan, menjelaskan tanda-tanda, supaya kamu meyakini pertemuan dengan
Tuhanmu. (QS 13:2)
Dengan demikian, tujuan utama dari seorang ilmuwan (juga kita sebagai
pelajar) yang mempelajari alam semesta, adalah menambah keyakinan kita
pada Pencipta alam raya ini. Selain itu, dengan memiliki pengetahuan tentang
alam, kita dapat menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi lingkungan,
masyarakat, dan dunia pada umumnya. Tidak bisa dipungkiri, bahwa hampir
seluruh kemajuan teknologi saat ini berasal dari konsep-konsep ilmiah yang
disusun para ilmuwan, terlebih khusus lagi ilmu fsika. Sejarah kemajuan
tekonologi menunjukkan bahwa ilmu fsika adalah dasar utama dan paling
penting dalam kemajuan teknologi. Ilmu fsika juga yang telah melahirkan dua
revolusi penting dunia, yaitu revolusi industri sejak dibangunnya mesin uap
oleh James Watt dan revolusi informasi sejak diciptakannya semikonduktor
sebagai bagian terpenting dari prosesor dalam komputer. Bahkan, konsep
internet pun sesungguhnya dirintis pertama kali bukan oleh DARPA (Defense
Advanced Research Projects Agency) Amerika seperti yang selama ini dikenal,
tetapi oleh laboratorium fsika nuklir CERN (Conseil Europeen pour la Recherche
Nucleaire) di Geneva Swis (kunjungi www.cern.ch). Hampir seluruh komponen
elektronika dan konsepnya dirintis oleh para ahli fsika: Ohm, Coulomb,
Ampere, Volt, Tesla, Maxwell, Gauss, Hertz dll. Sedangkan mesin-mesin,
kontruksi, pemanfaatan gelombang tidak bisa lepas dari dinamika gerak yang
disusun oleh Galileo, Newton, Pascal, Leibniz, Otto, Carnot, dll.
Tidak berlebihan seandainya dikatakan bahwa ilmu fsika adalah jantung
dari kemajuan teknologi saat ini. Oleh karena itu, mengingat pentingnya
ilmu fsika dalam kemajuan kehidupan umat manusia, dapat disimpulkan
bahwa dengan mempelajari ilmu fsika akan membuka peluang kita untuk
ikut membantu memajukan bangsa, ini dan membantu saudara-saudara
kita yang lain. Dengan demikian, mempelajari fsika dapat menjadi bentuk
ibadah juga, sebab Rasulullah SAW pernah bersabda:
”Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”.
Z. llM0 fl8lk8 ll0 ߢ8F
Fisika merupakan ilmu Allah juga. Fisika adalah ilmu yang secara luas
mengkaji ayat-ayat Allah, yang terbentang di alam semesta. Para ulama
sering menyebutnya ayat kauniyah. Dengan demikian, jika kita mempelajari
Selaksa
Makna
Dengan demikian, tujuan utama dari
seorang ilmuan, juga kita sebagai
pelajar, yang mempelajari alam
semesta, adalah menambah keyakinan
kita pada pencipta alam raya ini. Selain
itu, dengan memiliki pengetahuan
tentang alam, kita dapat menjadi
manusia yang lebih bermanfaat bagi
lingkungan, masyarakat dan dunia
pada umumnya.
Alam semesta ini dirancang
oleh Allah SWT dengan
ukuran-ukuran tertentu,
dengan demikian maka
melalui pengukuran pulalah
kita dapat memahami
kebesaran ciptaan-Nya secara
lebih baik.
0
l 8 8 8
l
ß

k
8
8
10
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
68M08f 1.8
Para Ilmuwan Muslim terdahulu
tengah melakukan penelitian
dengan alat-alat ukur.
fsika, sesungguhnya kita juga sedang membaca ayat-ayat Allah. Bahkan
dalam ilmu Islam, fsika disebut sebagai ilmu ath-thabi’ah. Ath-thabi’ah
salah satunya bermakna “jejak” atau “tanda”. Dengan demikian dalam
pandangan Islam, ilmu fsika memiliki arti yang sangat dekat dengan sang
Pencipta alam. Lebih dari itu istilah ‘ilmu, ‘alam, ‘aalamat (tanda), dan ‘aamal,
memiliki keterkaitan yang jelas dalam bahasa arab.
Sains artinya penyelidikan tentang alam untuk menemukan kebenaran
tentang cara alam ini bekerja dan lebih jauh lagi menemukan hukum-
hukum yang mengaturnya. Fisika adalah bagian terbesar dari sains, selain
kimia, biologi, dan ilmu-ilmu pasti lainnya.
Para ilmuwan muslim sejak dulu telah menggunakan alat-alat
ukur untuk menemukan keteraturan ciptaan Allah SWT. Bagi mereka,
menemukan keteraturan alam juga merupakan bentuk ibadah yang setara
dengan ibadah-ibadah ghair-mahdah lainnya. Hal inilah yang membuat para
ilmuwan muslim terdahulu selain shalih dalam beribadah, juga begitu gigih
dan tekun dalam meneliti alam semesta.
Banyak sekali alat ukur yang telah dibuat oleh ilmuwan muslim
terdahulu, seperti yang terlihat dalam gambar 1.9. Namun, sebagian besar
dari kita mungkin belum pernah mendengar bahkan melihatnya. Alat-alat
ukur tersebut terdiri dari pengukur waktu, pengukur ketinggian, pengukur
arah (kompas), dan lain-lain.
Alat ukur waktu atau jam yang dibuat oleh para ilmuwan muslim terdiri
dari berbagai jenis, seperti jam matahari, jam pasir, jam mesin, dan jam air.
Gambar 1.10 menunjukkan replika dari jam matahari. Jenis jam lain yang
dibuat oleh ilmuwan muslim adalah jam air. Al-Khazini adalah salah
satu ilmuwan yang berhasil membuat jam air. Selain itu, seorang ilmuwan
muslim lainnya, bernama Taqiyyuddin, yang merupakan ahli astronomi
Selaksa
Makna
Fisika merupakan ilmu Allah juga.
Fisika adalah ilmu yang secara luas
mengkaji ayat-ayat Allah, yang
terbentang di alam semesta. Para
ulama sering menyebutnya ayat
kauniyah. Dengan demikian, jika kita
mempelajari Fisika, sesungguhnya kita
juga sedang membaca ayat-ayat Allah.
Bagi mereka, menemukan keteraturan
alam juga merupakan bentuk ibadah
yang setara dengan ibadah-ibadah
ghair-mahdah lainnya. Hal inilah
yang membuat para ilmuwan Muslim
terdahulu begitu gigih dan tekun
dalam meneliti alam semesta.
11
Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
pada tahun 966 H, telah berhasil membuat jam mekanik di Istambul Turki.
Alat ukur penunjuk arah atau kita kenal sebagai kompas juga banyak dibuat
oleh para ilmuwan Muslim. Salah satu fungsinya adalah sebagai penunjuk
arah shalat. Selain itu, kompas juga digunakan sebagai penunjuk arah
saat berlayar. Christoper Colombus juga ternyata menggunakan kompas
yang dibuat oleh para ilmuwan Muslim Spanyol saat menemukan benua
Amerika. Tanpa kompas tersebut, kita tidak tahu apakah benua Amerika
68M08f 1.9
Beberapa jenis alat ukur
ketinggian yang dibuat para
ilmuwan Muslim. Belum
diketahui persis siapa nama
pembuat alat-alat ini. Namun,
skala penunjuknya dibuat dalam
bahasa Arab.
68M08f 1.10
Model jam matahari ini dibuat
oleh ilmuwan Muslim bernama
Zainaddin Abdarrahman ibn
Muhammad ibn al-Muhallabi
al-Miqati, seorang ahli astronomi
masjid (muwaqqit - penetap
waktu) Mesir. Dan yang paling
kanan adalah model al-
Marrakushi.
1Z
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
bisa ditemukan saat itu. Beberapa model alat ukur lainnya seperti astrolab,
alat pengukur kedudukan, dan model-model jam lainnya dapat dilihat di
situs http://www.putera.com/tamadun/
Pada umumnya, motivasi yang mendorong para ilmuwan muslim
tersebut untuk membuat alat-alat ukur adalah sebagai alat bantu ibadah,
seperti penunjuk arah kiblat. Selain itu, juga untuk mempermudah
masyarakat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Semangat inilah
yang harus kita tiru saat ini, yaitu bahwa motivasi kita dalam belajar adalah
ibadah dan sebagai bentuk ”pengabdian” kepada masyarakat umum.
Tanpa semangat yang menyala dan motivasi yang benar dalam mencari
ilmu, kegemilangan peradaban tak akan pernah diraih.
Kita dapat mengamati dan menganalisa alam semesta melalui
pengukuran-pengukuran. Namun, tidak cukup hanya dengan pengukuran.
Lebih jauh dari itu, kita harus dapat menyatakan pengukuran tersebut ke
dalam angka-angka yang dapat dihitung.
Ilmu fsika pada dasarnya selalu berhubungan dengan pengukuran,
baik pengukuran secara langsung, seperti mengukur waktu, panjang, dan
68M08f 1.1Z
Model kompas yang dibuat
oleh beberapa ilmuwan, seperti
pelaut Ahmad bin Majid pada
kurun ke-9 H./15 M, berdasarkan
kitab beliau, “Al-Fawa’id”. Model
lainnya adalah kompas Bani
‘Uthmaniyyah pada kurun
ke-19 M. Kompas yang asli
disimpan di Rautenstrsuch-Joest-
Museum fuer Volkerkunde.
68M08f 1.11
Gambar di kiri:
Rancangan jam air buatan Al-
Khazani.
Gambar di kanan:
Model ini dihasilkan
berdasarkan bentuk dan
keterangan Taqiyyuddin dalam
kitabnya tentang jam.
1J
Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
massa, ataupun pengukuran secara tidak langsung, seperti mengukur
energi, gaya, dan kecepatan. Dalam fsika, pengukuran saja tidak cukup,
pada tahap selanjutnya pengukuran tersebut haruslah menghasilkan angka-
angka yang dapat dihitung, dan akhirnya diinterpretasikan (ditafsirkan).
Semua hal yang bisa diukur dan dinyatakan dalam angka, dalam ilmu fsika
disebut dengan istilah quantity atau BESARAN (besaran fsika).
J. F0߶0fll8ß N0߶0k0f, 8088f8ß 08ß $8l08ß
Ilmu fsika banyak melibatkan angka dan perhitungan. Angka dan
perhitungan ini pada umumnya diperoleh dari hasil pengukuran dan
percobaan (baik percobaan yang dilakukan dengan peralatan ataupun
percobaan yang ada dalam pikiran). Dapat kita katakan, bahwa matematika
merupakan suatu “alat” atau “bahasa” yang digunakan dalam ilmu fsika.
Cara, aturan, atau sistem untuk menyatakan sebuah besaran fsika ke
dalam angka, dinamakan sistem satuan. Sistem satuan juga menunjukkan
cara sebuah besaran diukur atau dibandingkan dengan besaran sejenis
lain. Contoh sederhana misalnya kita bisa mengukur panjang sebuah
meja dengan menjengkalnya. Kita peroleh bahwa panjangnya ternyata 20
jengkal. Artinya, panjang meja diukur dengan membandingkannya terhadap
jengkal tangan kita. Hasil dari perbandingan tersebut adalah panjang meja
sebanding dengan 20 jengkal tangan kita.
Jika kita lakukan menggunakan hasta, misalkan kita dapatkan hasil
4 hasta. Artinya kita mengukur meja dengan cara membandingkannya
terhadap hasta tangan kita dan hasilnya panjang meja sebanding dengan 4
hasta tangan kita.
Sangat menarik bahwa ketika Allah SWT menjelaskan pengukuran
waktu menurut pandangan Allah, Allah SWT pun “mengukurnya” dengan
cara membandingkannya dengan waktu menurut ukuran kita sebagai
manusia:
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian itu naik kepadaNya
dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu
(QS: 32:5)
Namun demikian, tidaklah akurat mengukur benda dengan jengkal
atau hasta, sebab jengkal dan hasta setiap orang tidaklah sama panjangnya
dan sangat mungkin berubah menurut usia. Bahkan di beberapa daerah,
satuan yang digunakan mungkin saja tidak dapat dimengerti oleh bangsa
lainnya, seperti satuan tumbak yang digunakan masyarakat Jawa Barat
untuk mengukur luas tanah; demikian juga jeungkal dan depa. Satuan mayam
di daerah Sumatera Utara digunakan untuk mengukur “berat” (maksudnya
massa). Segantang di Sumatera Barat kira-kira menunjukan volume.
Di dalam hadits Nabi SAW, ada juga beberapa satuan yang hanya
dimengerti oleh masyarakat Arab seperti satuan Sha’ untuk “berat” zakat yang
harus dibayar (“berat” di sini maksudnya massa dan kadang disamakan dengan
volume), farsakh, burud dan marhalah untuk satuan jarak musafr, dan lain-lain.
Supaya satuan ini bisa diterima secara luas, perlu dibuat alat pembanding,
Semua hal yang dapat diukur
dan dinyatakan dalam angka
dalam ilmu Fisika disebut
dengan istilah BESARAN.
0
l 8 8 8
l
ß

k
8
8
Mengukur adalah
membandingkan sebuah
besaran dengan besaran lain
yang sejenis.
0
l 8 8 8
l
ß

k
8
8
14
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
atau alat pengukur yang standar dan berlaku secara internasional. Alat
pembanding atau alat pengukur ini harus relatif tidak berubah menurut
waktu, dan juga dapat bertahan terhadap perubahan cuaca, serta keadaan
lingkungannya. Dengan demikian, kita memerlukan suatu lembaga atau
organisasi yang mengatur dan menentukan alat ukur, atau sistem satuan
yang dapat digunakan dan dimengerti secara internasional.
Salah satu badan internasional yang mengatur sistem satuan ini adalah
International Bureau of Weights and Measures di Paris. Salah satu tugas lembaga
ini adalah membuat standardisasi untuk panjang (meter), waktu (detik),
dan massa (kilogram). Seluruh dunia mengacu pada standar ini, sehingga
disebut juga dengan sistem internasional (SI atau MKS).
Untuk satuan panjang, satuan meter disepakati sebagai satuan standar
internasional. Meter berasal dari bahasa Yunani metron, yang berarti ukuran.
Pada awalnya, yang digunakan sebagai patokan 1 meter adalah panjang
tali dari suatu pendulum dengan perioda ayunan ½ detik. Kemudian
pada tahun 1791, acuan ini diubah. Acuan panjang satu meter kemudian
diperoleh dari jarak antara kutub utara dan khatulistiwa, melalui kota Paris,
yakni 10
7
meter. Sehingga, satu meter adalah jarak tersebut dibagi dengan
10
7
. Namun ternyata, cara seperti ini selain tidak praktis juga berubah,
karena acuan yang didasarkan pada jarak tersebut dipengaruhi oleh faktor
gravitasi yang mengubah permukaan bumi. Pada tahun 1927, setelah melalui
berbagai perubahan, International Bureau of Weights and Measures membuat
sebuah batang besi terbuat dari logam platina–iridium sebagai patokan
1 meter dan 1 kilogram. Pada tahun 1960, standardisasi ini diubah agar
lebih teliti dengan mengacu pada 1.650.763,73 kali panjang gelombang
68M08f 1.1J
Jarak dari Kutub Utara ke Khatulistiwa
melalui kota Paris pernah dijadikan
acuan untuk panjang 1 meter.
68M08f 1.14
Batang yang dijadikan kilogram standar terbuat
dari platina-iridium. Jika ditimbang batang ini mas-
sanya akan tepat 1 kg, dan panjangnya 1 meter
cahaya dalam vakum, dan akhirnya versi terakhir yang lebih akurat adalah
mengacu pada kecepatan cahaya. Satu meter adalah jarak yang ditempuh
cahaya selama 1/299.792.458 detik.
Selain itu, terdapat pula sistem satuan lain yang dikenal dengan
singkatan cgs (centimeter, gram dan sekon/detik) atau fps (feet, pound
dan sekon).

Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
1800l 1.1 Beberapa Sistem Satuan
Besaran
Sistem Satuan
SI (MKS) cgs British Unit (fps)
Panjang Meter Centimeter Feet
Massa Kilogram Gram Pound
Waktu Detik (Sekon) Detik (Sekon) Detik (Sekon)
Dalam beberapa hal, satuan khusus
diperlukan untuk mempermudah perhi-
tungan. Misalnya, dalam ilmu astronomi
dikenal satuan khusus yang disebut ”tahun-
cahaya”. Tahun-cahaya adalah jarak yang
ditempuh oleh cahaya selama 1 tahun. Artinya,
1 tahun (365×24×60×60 detik) dikalikan
dengan kecepatan cahaya kira-kira 3 × 10
8

m/s, hasilnya adalah 9.460.800.000.000.000
meter. Mengingat jarak dalam dunia
astronomi sangatlah jauh, satuan khusus
semacam ini sangat diperlukan. Seandainya dalam dunia astronomi
digunakan satuan meter, maka akan sangat merepotkan dan tidak praktis.
Misalnya, untuk menyatakan diameter dari galaksi bima sakti yang jaraknya
100.000 tahun-cahaya, maka harus dituliskan 900.460.800.000.000.000.000
meter!!
Sebaliknya dalam ilmu kristal, yakni kristalograf yang berurusan
dengan hal-hal yang sangat kecil, satuan yang lebih kecil diperlukan, yaitu
angstrom (Å) Di mana 1Å adalah 0,0000000001 meter. Sehingga untuk
menyatakan panjang ikatan tunggal karbon sepanjang 0,000000000154
meter cukup ditulis dengan 1,54 Å saja. Lebih praktis bukan?
Dalam fsika, dikenal beberapa besaran yang disebut dengan besaran
pokok. Besaran pokok, adalah besaran yang tidak diperoleh dari besaran
lainnya, dan pada umumnya diperoleh dari hasil pengukuran langsung, atau
didefnisikan oleh si pengukur. Besaran-besaran pokok tersebut meliputi
7 jenis, yaitu:
1800l 1.Z Tujuh Besaran Pokok
Besaran Pokok Satuan (SI)
Panjang meter (m)
Massa kilogram (kg)
Waktu detik (sekon)
Kuat Arus Listrik (Arus) Ampere (A)
Temperatur (Suhu) Kelvin (K)
Intensitas Cahaya Kandela (Cd)
Jumlah Zat Mol
Besaran-besaran lain selain ketujuh besaran pokok di atas, diistilahkan
sebagai besaran turunan. Besaran turunan adalah besaran yang diturunkan
68M08f 1.1â
Panjang diameter galaksi
Bimasakti sekitar 100.000 tahun-
cahaya.
Satuan menggambarkan cara
mengukur sebuah besaran.
Misalnya, panjang meja 2
meter dapat diartikan bahwa
kita mengukur meja dengan
cara membandingkannya
terhadap 1 meter.
0
l 8 8 8
l
ß

k
8
8

fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
atau dihasilkan dari penggabungan besaran-besaran pokok. Misalnya,
kecepatan dalam SI memiliki satuan m/s. Gaya dalam SI memiliki satuan
kg.m/s
2
(satuan gaya juga diberi nama newton atau disingkat N). Lihatlah
bahwa satuan-satuan tersebut merupakan gabungan dari satuan-satuan
dari besaran pokok.
4. ßl8l·ßl8l 0k0f 08ß k0l0llll8ß IFf08l8ll 80fl8 k0l0¢8l8ß
Ißk0f88ll 888ll F0߶0k0f8ß
8. 08l8M F0߶0k0f8ß 8l80 F0f00088ß $0l8l0 10f08¢8l k0ll08k¢88ll8ß
Dalam setiap pengukuran atau percobaan, ketidakpastian dan ketidaktelitian
selalu ada. Banyak penyebab ketidakpastian dalam pengukuran ini. Hal ini
karena baik si pengukur (manusia) maupun alat ukur memiliki kelemahan.
Penyebab dari ketidakpastian ini dapat dibagi menjadi tiga golongan,
yaitu karena lingkungan, karena alat ukur, dan karena si pengukur.
Kesalahan Lingungan:
• Kesalahan dapat diakibatkan faktor lingkungan saat kita melakukan
pengukuran, yakni saat keadaan lingkungan tidak mendukung (kondusif).
Misalnya angin yang bertiup saat mengayunkan bandul, adanya gesekan
saat kita mengukur kecepatan benda jatuh, gangguan getaran dari alat-
alat berat dan kendaraan bermotor saat mengukur gelombang seismik di
tanah, dan temperatur yang terlalu panas saat kita mengukur hambatan,
dan lain-lain.
Kesalahan Alat Ukur:
• Alat ukur yang sudah tidak bekerja dengan baik. Penyebabnya mungkin
disebabkan beberapa pegas yang sudah rusak di dalam alat ukur, atau
memuai karena pengaruh cuaca dan lingkungan.
• Alat ukur yang tidak mampu mengukur dengan ketelitian tinggi.
Misalnya menggunakan mistar menggunakan baut atau sekrup.
• Alat ukur tidak benar dalam pen-skalaan dan kalibrasi. Seringkali
terdapat beberapa alat ukur yang skalanya dibuat secara sembarangan
dan tidak memenuhi ketentuan. Dalam beberapa hal, kesalahan ini
disengaja untuk mencurangi pembeli, misalnya memberati timbangan,
”mencurangi” meteran listrik, meteran POM bensin dan lain-lain.
Untuk itulah diperlukan lembaga pemerintah yang memeriksa setiap
meteran tersebut. Lembaga ini disebut Badan Metrologi (bukan
meteorologi).
Kesalahan Si Pengukur:
• Kesalahan manusia dalam penglihatan, penyebabnya bisa karena
beberapa hal:
• Kelemahan mata kita yang pada umumnya tidak bisa melihat secara
baik skala atau benda yang lebih kecil dari 1 mm.
• Pengaruh paralaks. Paralaks adalah pebedaan hasil pengukuran
karena kita melihat pada sudut yang berbeda. Dengan demikian,
Besaran pokok adalah
besaran yang tidak diperoleh
dari besaran lainnya dan pada
umumnya diperoleh dari hasil
pengukuran langsung.
Besaran pokok meliputi 7
jenis, yaitu panjang (m),
massa (kg), waktu (s), arus
listrik (A), temperatur (K),
intensitas cahaya (Cd) dan
jumlah zat (mol).
0
l 8
8

8
l
ß

k
8 8

Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
68M08f 1.1ë
Pengukuran balok kecil
menggunakan penggaris dapat
menimbulkan perbedaan
pengukuran. Hal ini mungkin
terjadi apabila kita melihat balok
dari sisi kiri balok, tepat di muka
balok atau dari sisi kanan balok,
seperti pada gambar
jika kita hendak mengukur usahakan mata kita sejajar dan tegak
lurus dengan benda yang diukur
• Pengaruh mensikus pada tabung. Mensikus terjadi jika kita
mengukur air dalam gelas ukur. Mensikus ditunjukkan dengan
melengkungnya permukaan air pada pinggir wadah seperti pada
gambar sehingga ketika membaca skala dari atas mungkin akan
terbaca A dan jika tepat sejajar maka terbaca B. Pembacaan yang
lebih benar adalah B.
• Kesalahan dalam perhitungan dan pengolahan data hasil pengukuran.
Hal ini biasanya disebabkan pembulatan atau memang salah melakukan
penghitungan atau pemasukan data.
b. AngkaPenting(SignifcantDigitsatauSignifcantFigures)
Jika ada seseorang mengatakan kepada kita, bahwa ia telah berlari sejauh
628,3185307 meter, apa yang kita pikirkan ? Apakah kita akan percaya ? Jika
kita simak baik-baik, sebetulnya ada yang aneh pada angka 628,3185307 meter
tersebut. Hal ini karena adanya tujuh angka berderet di belakang koma, yaitu
3185307. Kita akan merasa bingung dengan banyaknya angka di belakang
68M08f 1.1¡
Mensikus pada gelas ukur dapat
mengakibatkan kesalahan
pembacaan skala.
18
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
koma tersebut. Kira-kira, apakah alat ukur yang digunakan sehingga dapat
mengukur dengan ketelitian sehebat itu? Orang yang menyebut angka
tersebut mungkin tidak berbohong, namun kurang tepat dalam melaporkan
hasil. Ia mungkin memperoleh hasil tersebut dari rumus keliling lingkaran
2πr, karena jari-jari lingkaran r dari lintasan lari yang berbentuk lingkaran
adalah 100 meter, maka ketika dihitung menggunakan kalkulator, dengan
π bernilai 3,141592654, maka dihasilkanlah nilai 628,3185307 meter.
Di sinilah perlunya aturan dalam melaporkan hasil penghitungan dan
pengukuran. Dalam melaporkan hasil penghitungan atau pengukuran,
kita tidak harus melaporkan dan menuliskan seluruh angka. Dalam kasus
di atas, mungkin cukup tulis dengan 628 meter saja. Sedangkan sisanya,
kita sebut angka meragukan. Angka yang dilaporkan inilah yang disebut
Angka Penting (AP) yang harus dilaporkan. Sedangkan sisanya, bukanlah
angka penting yang perlu dilaporkan. Mari kita perhatikan hal ini yang
berhubungan dengan pengukuran.
Meskipun memiliki alat ukur, seringkali kita masih harus memper-
kirakan hasil pengukuran. Hal ini disebabkan keterbatasan alat ukur
yang kita miliki. Misalnya, kita akan mengukur temperatur air yang
sedang mendidih. Oleh karena skala terkecil adalah 1
o
C, maka mungkin
sekali terjadi pengukuran yang harus kita perkirakan hasilnya. Misalnya
68M08f 1.18
Penunjukan skala temperatur
dari sebuah termometer. Nilai
yang terbaca adalah lebih dari
87
o
C namun kurang dari 88
o
C.
Lalu berapa? Kita perkirakan
saja bahwa hasil pengukurannya
adalah 87,5
o
C.
termometer menunjukan skala pada gambar 1.18.
Pada gambar 1.18, skala termometer menunjukkan pengukuran
temperatur lebih dari 87
o
C namun kurang dari 88
o
C. Skala dalam
termometer tidak dapat memastikan hasil pengukurannya, maka kita
perkirakan saja hasilnya adalah 87,5
o
C, atau terserah pada pendapat
masing-masing. Angka 87 dalam pengukuran ini disebut Angka Pasti
(Angka Eksak), karena bukan dari hasil perkiraan dan siapa pun yang
melihat skala pada gambar 1.18 pasti mengatakan hal yang sama. Namun,
angka 0,5 adalah hasil perkiraan, dan setiap orang dapat berbeda dalam
menyebutkan perkiraannya, sehingga disebut Angka Diragukan. Namun,
baik angka pasti maupun angka diragukan merupakan Angka Penting
(AP), sehingga dalam 87,5
o
C terdapat 3 AP. Angka Penting adalah
angka yang penting dan harus atau perlu dilaporkan dalam penghitungan
atau pengukuran. Banyaknya AP yang ditunjukkan dalam sebuah hasil
pengukuran menunjukkan ketelitian alat ukur. Semakin banyak angka
penting dituliskan, maka semakin teliti alat ukur yang digunakan.
19
Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
Dalam banyak buku fsika terdapat aturan yang menunjukkan berapa
banyak AP dalam sebuah bilangan. Aturan tersebut adalah:
1. Seluruh angka bukan 0 termasuk AP
Contoh 1.1
Pada 3245 terdapat 4 AP yaitu 3, 2, 4, dan 5
Pada 42,5 terdapat 3 AP yaitu 4, 2, dan 5
Pada 1,9685 terdapat 5 AP yaitu 1, 9, 6, 8, dan 5
2. Angka 0 atau deretan angka 0 termasuk AP jika diapit di antara angka
bukan 0
Contoh 1.2
Pada 305 terdapat 3 AP termasuk 0 karena diapit oleh 3, dan 5
Pada 42,005 terdapat 5 AP, yaitu 4, 2, 0, 0, dan 5
Pada 10,096 terdapat 5 AP yaitu 1, 0, 0, 9, dan 6
3. Angka 0 atau deretan angka 0 termasuk AP jika berada di sebelah
kanan angka bukan 0
Contoh 1.3
Pada 300 terdapat 3 AP termasuk 0 karena berada di kanan angka 3
Pada 42,500 terdapat 5 AP, yaitu 4, 2, 5, 0, dan 0
Pada 0,0960 terdapat 3 AP yaitu 9, 6, dan 0 yang terakhir
4. Jika terdapat angka yang diberi tanda khusus (biasanya berupa garis
bawah), maka angka setelahnya bukan AP
Contoh 1.4
Pada 305 terdapat 2 AP yaitu 3 dan 0 saja
Pada 42,005 terdapat 4 AP, yaitu 4, 2, 0, 0
Pada 10,096 terdapat 4 AP yaitu 1, 0, 0, dan 9
Namun sebetulnya kita bisa membuat aturan ini lebih sederhana seperti
ini: “seluruh angka adalah angka penting (AP), kecuali angka 0 yang dipakai
untuk menempatkan angka di belakang koma, seperti 0,00000258”. Dalam
angka tersebut 6 buah 0 bukan angka penting, karena gunanya hanya untuk
menempatkan 258 di belakang koma. Sebab 0,00000258 sebetulnya bisa
dituliskan sebagai 2,58 x10
-6
seperti yang akan kita pelajari nanti.
0. 80l88l llMl80 08ß ßl0f8ß F0M00l8l8ß
Aturan notasi ilmiah adalah aturan dalam menuliskan suatu bilangan.
Mengapa cara menuliskan bilangan harus diatur? Karena dalam pengukuran
atau penghitungan, kita sering berhadapan dengan bilangan yang sangat
besar, atau sangat kecil. Untuk tujuan inilah notasi ilmiah diperkenalkan.
Dalam notasi ilmiah, sebuah bilangan harus dinyatakan dalam satuan
dikalikan dengan 10 pangkat bilangan bulat. Misalnya, 1.100.000 ditulis dalam
Seluruh angka adalah
angka penting (AP) kecuali
angka 0 yang dipakai untuk
menempatkan angka di
belakang koma, seperti angka
0 pada bilangan 0,00000258
bukan termasuk AP.
0
l 8 8 8
l
ß

k
8
8
Z0
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
notasi ilmiah sebagai 1,1 × 10
6
. 1,1 merupakan satuan, dan bilangan 6 pada
pangkat 10 dinamakan eksponen. Contoh lain 0,000124 dapat ditulis 1,24 ×
10
-4
.
Ada beberapa istilah untuk menyingkat jumlah 0 yang berderet. Beberapa
istilah ini mungkin sudah biasa kita gunakan. Misalnya, saat membeli beras
kita katakan massa beras 15 kilogram. Kata kilo dalam kilogram sebetulnya
adalah untuk menyingkat tiga buah angka 0 dalam 15.000 gram. Contoh lain
saat kita menyatakan panjang kain. Kita katakan bahwa panjang kain 150
sentimeter. Kata ”senti” sebetulnya menyingkat 0,01.
Demikian juga saat menyebut besarnya memori hardisk pada
komputer, kita sering menggunakan istilah megabyte. Kata mega dalam
megabyte adalah untuk menyingkat 1.000.000 (meskipun dalam dunia
komputer mega tidak persis 1.000.000, tetapi hasil pembulatan dari
1.048.576). Kata mega dalam megawatt adalah 1.000.000 watt. Begitu juga
dalam menggunakan obat tetes, kita mungkin pernah mengenal istilah
mililiter. kata mili menunjukkan perkalian dengan 0,001. Banyak istilah
yang bisa dipergunakan selain kilo dan mega untuk menyingkat jumlah
nol. Selengkapnya bisa dilihat pada tabel 1.3.
1800l 1.J Istilah yang Digunakan untuk Menyingkat Jumlah 0
Perkalian dengan
(dalam desimal)
Perkalian
dengan (dalam
pangkat)
Istilah Simbol Contoh
0,000.000.000.001 10
–12
piko p 12 pF = 12 × 10
–12
F
0,000.000.001 10
–9
nano n 2 nm = 2 ×10
–9
m
0,000.001 10
–6
mikro μ 5 μC = 5 ×10
–6
C
0,001 10
–3
mili m 2 mg = 2 × 10
–3
g
0,01 10
–2
centi c 2 cm = 2 × 10
–2
m
0,1 10
–1
desi d 4 dm = 4 × 10
–1
m
1 10
0
-
-
10 10
1
deka da 2 dm = 2 × 10
1
m
100 10
2
hekto h 2 hm = 2 ×10
2
m
1.000 10
3
kilo k 9 kg = 9 × 10
3
g
1.000.000 10
6
mega M 2 MW = 2 × 10
6
W
1.000.000.000 10
9
giga G 3 GJ = 3 × 10
9
J
1.000.000.000.000 10
12
tera T 6 TJ = 6 × 10
12
J
Contoh 1.5
Tuliskan dalam notasi ilmiah hasil kali dari 4,55 × 10
7
dengan 2,77 × 10
5
.
Jawab:
(4,55 × 10
7
) × (2,77 × 10
5
) = (4,55 × 2,77)(10
7
× 10
5
) = (12,6035) × 10
12
= 1,26035 × 10
13
yang dapat disingkat menjadi 12,60 Tera.
Karena ilmu fsika seringkali berhubungan dengan bilangan hasil
pengukuran, dan pada umumnya data hasil pengukuran tidak dalam bentuk
bilangan bulat, bahkan bilangan desimal dengan digit yang sangat banyak,
maka diperlukan sebuah aturan pembulatan untuk menyingkat laporan
pengukuran hingga digit yang diperlukan saja. Misalnya, jika kita peroleh
Sal ah
Kaprah
Dalam ilmu komputer
dikenal satuan kilobyte.
Nilainya bukanlah 1.000
byte, namun 1.024 byte.
Bilangan 1.024 kemudian
”dianggap” mendekati
1.000 dan disebut kilo.
Demikian juga megabyte,
nilai sesungguhnya adalah
1.048.576 byte yang
”dianggap” mendekati 1 juta
dan disebut mega.
Z1
Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
panjang meja 2,7435 meter, bukankah cukup melaporkannya hingga satu
digit di belakang koma saja menjadi 2,7 meter?
Aturan pembulatan terkadang sangat penting ketika kita berhadapan
dengan bilangan pecahan dengan jumlah desimal yang banyak. Pada
dasarnya terdapat tiga aturan pembulatan.
ßl0f8ß l .
Jika setelah angka terakhir yang ingin dituliskan kurang dari 5, maka
hilangkan angka tersebut dan semua angka di belakangnya. Misalnya,
kita ingin membulatkan 5,3467 menjadi 1 angka di belakang koma. Oleh
karena angka terakhir setelah angka 3 adalah 4, dan 4 kurang dari 5, maka
kita hilangkan seluruh angka dibelakang 3 tersebut menjadi 5,3.
Contoh 1.6
Bulatkanlah 3,3423 menjadi sampai dua digit di belakang koma
Jawab:
Hasil pembulatannya 3,34 karena setelah digit kedua bernilai di bawah 5
(yakni angka dua dalam 3,3423)
ßl0f8ß ll .
Jika setelah angka terakhir yang ingin dituliskan lebih dari 5, maka tambahkan
angka terakhir dengan 1 dan hilangkan angka setelahnya. Misalnya, kita ingin
membulatkan 6,3867 menjadi 1 angka di belakang koma. Oleh karena setelah
angka 3 adalah 8, dan 8 lebih dari 5, maka tambahkan 3 dengan 1 dan hilangkan
seluruh angka di belakang 3 tersebut sehingga diperoleh 6,4.
Contoh 1.7
Bulatkanlah 4,3473 menjadi sampai dua digit di belakang koma
Jawab:
Hasil pembulatannya 4,35 karena setelah digit kedua bernilai di atas 5 (yakni
angka 7 dalam 4,3473)

ßl0f8ß lll .
Jika angka di belakang angka terakhir yang ingin dituliskan sama dengan 5,
maka jadikanlah digit terakhir menjadi bilangan genap terdekat. Misalnya,
jika kita bulatkan angka 5,3567 menjadi 1 digit di belakang koma, maka
karena di belakang 3 adalah 5, dan 3 adalah bilangan ganjil, genapkanlah
menjadi 4 (bukan 2, karena 4 lebih dekat) menjadi 5,4. Contoh lain, jika
kita bulatkan angka 5,6567 menjadi 1 digit di belakang koma, maka karena
di belakang 6 adalah 5, dan 6 adalah bilangan genap maka genapkanlah
menjadi 6 (bukan 8 atau 4, karena 6 lebih dekat) menjadi 5,6.
Contoh 1.8
Tulislah dalam notasi ilmiah dan bulatkanlah menjadi 1 digit di belakang
koma hasil perhitungan berikut: 0,0000016534.
Jawab:
1,6534 × 10
-6
dibulatkan menjadi 1,6 × 10
-6
.
ZZ
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
Mungkin kita bertanya, berapa angkakah yang harus kita bulatkan dalam
melaporkan pengukuran atau penghitungan? Jawabannya berkaitan dengan
jumlah angka AP yang digunakan. Hal ini bertujuan untuk menghindari
”keanehan” penulisan hasil pengukuran seperti dalam contoh kasus pada
awal pembahasan AP sebelumnya. Secara umum, angka hasil pengukuran
atau penghitungan yang dilaporkan adalah mengikuti AP paling sedikit
yang terlibat dalam penghitungan. Tujuan utama dari pembulatan adalah
supaya penulisan akhir menunjukan ketelitian sebenarnya dari alat ukur.
Contoh 1.9
Dengan menggunakan jangka sorong kita dapatkan panjang pelat besi adalah
3,350 cm dan lebarnya diukur menggunakan mistar yang hasilnya 2,55 cm,
hitunglah luas dari pelat
Jawab:
3,350 memiliki 4 AP
2,55 memiliki 3 AP
Luas adalah panjang dikali lebar.
L = P × L = 3,350 cm × 2,55 cm = 8,5425 cm
2
Jika kita tulis luas pelat apa adanya sebesar 8,5425 cm
2
, pembaca bertanya-tanya
apakah betul alat ukur yang kita gunakan setetliti itu sehingga dapat mengukur
4 angka di belakang koma? Tentu saja tidak sehingga yang dilaporkan cukup
3 AP mengikuti AP terkecil yang terlibat dalam penghitungan (yaitu yang
dimiliki 2,55). Dengan demikian, kita bulatkan luasnya menjadi 8,54 cm
2
.
Karena kita menyadari begitu banyak penyebab kesalahan dari sebuah
pengukuran, maka dalam penulisan data hasil pengukuran seringkali dituliskan
juga angka ketidakpastiannnya, yang ditunjukan tanda plus-minus. Misalnya, hasil
pengukuran panjang adalah 2,50 cm. Namun, karena terdapat ketidakpastian,
maka ketidakpastian ini dituliskan di belakang hasil pengukuran
2,50 cm ± 0,05 cm
Makna dari pengukuran ini adalah bahwa hasil pengukuran kita
berkisar antara 2,50 – 0,05 = 2,45 cm sampai 2,50 + 0,05 = 2,55 cm,
namun nilainya tidak bisa dipastikan karena keterbatasan alat ukur.
Kita mungkin menduga, seandainya ada alat ukur yang sangat teliti dan
canggih, maka ketidakpastian ini akan hilang.
Sungguh menarik bahwa ketidaktelitian
atau ketidakpastian ini tetap ada meskipun
sangat kecil ketidakpastiannya. Hal ini
karena manusia dan alat ukur memiliki
keterbatasan dan kelemahan yang tidak
mungkin dihilangkan. Seorang ahli fsika
bernama Heisenberg membuktikan hal ini,
beliau mengatakan bahwa tidak mungkin
kita mengukur sesuatu dengan ketelitian
tanpa batas. Kita menjadi paham apa yang
disebutkan Allah SWT ketika memerintahkan
untuk meneliti alam semesta.
68M08f 1.19
Heisenberg menemukan bahwa
kita tidak bisa mengukur 2
besaran Fisika berkaitan sekaligus
dengan ketelitian sangat
tinggi. Misalnya, jika kita ingin
mengetahui letak elektron, maka
kita harus menyinarinya dengan
cahaya. Akan tetapi, begitu
elektron disinari cahaya, ia sudah
berpindah karena ”terbentur”.
Selaksa
Makna
Hal ini karena manusia dan alat
ukur memiliki keterbatasan dan
kelemahan yang tidak mungkin
dihilangkan. Seorang ahli Fisika
Heisenberg membuktikan hal ini.
Beliau mengatakan bahwa tidak
mungkin kita mengukur sesuatu
dengan ketelitian tanpa batas.
Tujuan utama dalam
pembulatan adalah supaya
penulisan akhir menunjukan
ketelitian sebenarnya dari alat
ukur.
0
l 8
8

8
l
ß

k
8 8
ZJ
Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
”Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali
kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun
dalam keadaan payah” (QS 67:4).
0. ßl8l·ßl8l 0k0f 0888f
Tanpa kita sadari, mungkin saja banyak alat ukur yang sudah kita
kenal untuk mengukur besaran-besaran pokok. Khususnya, tiga besaran
pokok yang sering sekali digunakan, yaitu massa, panjang, dan waktu.
Ketika mengukur tinggi badan atau menggambar garis dengan sebuah
mistar, kita menggunakan alat ukur untuk mengukur besaran pokok
panjang, yaitu mistar atau meteran. Saat kita membeli gula pasir atau beras,
atau mungkin saat kita menimbang tepung untuk membuat adonan kue,
alat yang kita gunakan tidak lain adalah alat ukur massa. Demikian pula saat
menyetel jam weker untuk bangun shalat subuh, atau memakai stopwatch
untuk lomba lari, kita gunakan alat ukur waktu. Ya, ternyata banyak sekali
alat ukur besaran fsika yang kita sudah kenal.
Untuk beberapa keperluan ilmiah, alat-alat seperti jam weker, mistar,
meteran atau timbangan tepung tidak bisa lagi digunakan. Hal ini karena benda
yang diukur mungkin sangat kecil sehingga tidak bisa terukur oleh alat ukur
tersebut, atau kita memang memerlukan ketelitian yang lebih baik.
Alat Ukur Panjang: Jangka-Sorong dan Mikrometer-Sekrup
68M08f 1.Z0
Jangka-sorong (kiri) dan
mikrometer-sekrup (kanan)
Ambillah uang logam Rp 500, dan cobalah ukur ketebalan koin tesebut
menggunakan mistar. Bisakah kita peroleh hasil pengukuran yang tepat? Tentu
kita akan mendapatkan kesulitan untuk menentukan hasil pengukuran yang
tepat, karena sekeping uang logam terlalu tipis untuk diukur menggunakan
mistar. Sekeping uang mungkin tidak akan menjadi masalah jika dibuat
dengan ketebalan yang tidak tepat sama. Namun, jika yang tidak tepat
ukurannya adalah sebuah baut atau sekrup, maka akibatnya akan sangat
besar. Industri pembuat sekrup dan baut akan merugi jika barang yang
dihasilkannya tidak tepat ukurannya, hal ini disebabkan pihak pembeli
akan menolaknya. Sekrup dan baut yang tidak tepat bisa menyebabkan
mesin-mesin yang memerlukannya rusak atau bahkan menyebabkan
kecelakaan jika digunakan dalam kendaraan atau alat transportasi. Jadi,
dalam kehidupan sehari-hari, sangat diperlukan alat ukur yang lebih baik
dari mistar.
Z4
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur panjang selain mistar
adalah jangka-sorong dan mikrometer-sekrup. Kedua alat ini lebih baik
dari mistar biasa. Letak kehebatan dari jangka-sorong dan mikrometer-
sekrup adalah keduanya dapat mengukur benda yang lebih kecil dari 1
milimeter (atau dikatakan ketelitiannya kurang dari 1 milimeter). Jika
kita gunakan mistar, tentu saja akan sangat sulit mengukur benda yang
ukurannya lebih kecil dari 1 mm, atau dengan ketelitian di bawah 1 mm.
Sebagian besar dari kita mungkin belum pernah menggunakan jangka-
sorong atau mikrometer-sekrup. Bahkan mungkin, melihat atau memegang
bendanya pun belum pernah. Memang kedua alat ini tidak umum dipakai
sehari-hari. Biasanya, alat-alat ukur ini hanya digunakan di laboratorium
atau industri suku cadang kendaraan, seperti pembuatan baut, sekrup, dan
ring sekrup. Untuk dapat menggunakan kedua alat ukur ini, agak sulit jika
hanya membaca petunjuk dalam buku. Bagaimanapun, kita harus langsung
menggunakannya. Jika sekolah kita memiliki fasilitas laboratorium fsika,
biasanya disediakan kedua alat ukur tersebut. Jadi, tidak ada salahnya untuk
mengunjungi laboratorium agar dapat mencobanya secara langsung sambil
membaca petunjuk dalam buku ini.
Seperti juga mistar, baik jangka-sorong maupun mikrometer-sekrup
memiliki skala. Uniknya, dalam jangka-sorong dan mikrometer-sekrup
terdapat dua macam skala yang digunakan sekaligus. Kedua skala tersebut
yaitu skala utama (SU) dan skala nonius (SN). SN inilah yang membuat
jangka-sorong dan mikrometer-sekrup menjadi lebih teliti dari mistar.
Cara membaca SU sebetulnya tidak berbeda dengan cara membaca skala
yang ada pada mistar biasa. Namun, untuk membaca SN terdapat cara dan
aturan tersendiri.
Berikut cara mengukur menggunakan jangka sorong secara singkat.
Jika gambar jangka-sorong diperbesar, maka kira-kira akan diperoleh
gambaran pada gambar 1.21. Namun, yang lebih penting adalah cara
membaca skalanya sehingga gambar bagian skala akan kita perbesar.
68M08f 1.Z1
Jangka-sorong dan contoh peng-
ukuran menggunakan jangka
sorong.
1. Jepitlah benda yang akan diukur pada rahang jangka-sorong A-B.
Kemudian, bacalah skalanya.

Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
2. Lihat letak titik 0 dari SN di SU. Dalam gambar terlihat titik 0 SN
terletak di antara 2,1 cm dan 2,2 cm pada SU. Hal ini berarti, benda
yang diukur memiliki panjang lebih dari 2,1 cm. Namun, panjang
benda kurang dari 2,2 cm. Kita ambil 2,1 cm kemudian kita hitung
kelebihannya (kita tidak mengambil 2,2 cm karena yang kita hitung
adalah lebihannya dan bukan kurangnya).
3. Carilah SN yang berimpit tepat dengan SU untuk menghitung
lebihannya. Dalam gambar terlihat SN yang berimpit adalah skala 6.
Dengan demikian, lebihannya adalah 6 dibagi 100 (angka 100 muncul
dari perbandingan skala. Untuk sementara anggaplah angka 100 ini
sebagai ketentuan saja).
4. Maka hasil pengukuran pada gambar adalah
2,1 cm + 0,06 cm = 2,160 cm
Kita lihat betapa telitinya hasil pengukuran ini, subhanallah.
Pada mikrometer-sekrup, prinsip yang dipakai pada dasarnya sama
saja. Perbedaannya hanyalah terletak pada bentuk alat ukurnya. Langkah
pengukurannya adalah sebagai berikut.
68M08f 1.ZZ
Mikrometer-sekrup dan
contoh pembacaan skala
pada mikrometer-sekrup.
1. Jepitlah benda yang akan diukur pada penjepit milimeter-sekrup A-B
dengan memutar pemutar skala seperti memutar sekrup. Kemudian,
bacalah skalanya.
2. Lihat angka terakhir yang terbaca pada SU. Dalam contoh gambar
1.17, angka terakhir SU yang muncul adalah 3,5 mm.
3. Carilah SN yang berimpit tepat dengan garis melintang pada SU
untuk menghitung lebihannya. Dalam gambar terlihat bahwa SN
yang berimpit adalah skala 10. Dengan demikian, lebihannya adalah
10 dibagi 100 (angka 100 muncul dari perbandingan skala, untuk
sementara anggaplah angka 100 ini sebagai ketentuan saja).
4. Maka hasil pengukuran pada gambar di atas adalah
3,5 mm + 0,10 mm = 3,60 mm = 0,360 cm
Seperti halnya jangka-sorong, hasil pengukuran milimeter-sekrup juga
sangat teliti.

fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
Alat Ukur Massa: Timbangan atau Neraca
Massa benda dapat dikur dengan mengunakan timbangan.
Namun, untuk beberapa benda yang memerlukan ketelitian yang baik atau
benda yang sangat kecil massanya, diperlukan timbangan yang khusus.
Timbangan khusus ini diantaranya adalah ”neraca teknis”, atau bisa juga
disebut timbangan emas. Timbangan emas yang baik, dapat mengukur
sampai massa hingga 0,1 mg.
Terdapat berbagai jenis dan bentuk neraca teknis. Cara membaca
skalanya pun berbeda. Namun, prinsip penggunaannya sebetulnya tidak
jauh berbeda. Dalam setiap neraca atau timbangan selalu terdapat tempat
untuk menaruh benda yang akan ditimbang dan sebagai pengimbang
terdapat wadah atau alat mengatur anak timbangan (atau biasa disebut
”kiloan”). Gambar 1.23 menunjukkan salah satu jenis timbangan dan cara
menimbangnya.
68M08f 1.ZJ
Skema neraca teknis. Terdiri dari
dua lengan . Salahsatunya untuk
meletakan benda yang akan
ditimbang, dan yang lain untuk
meletakkan anak timbangan
sebagai pengimbang
Nama dan fungsi dari tiap bagian neraca adalah:
B – Lengan neraca
C – Sekrup untuk men-set jarum skala D pada titik 0
D – Skala penunjuk keseimbangan
E – Bandul penunjuk kemiringan alas neraca
F – Tempat menaruh benda yang akan ditimbang dan anak timbangan
G – Dudukan neraca teknis
H – Tombol pemutar untuk menaikkan lengan B neraca agar siap
menimbang
I – Pengatur agar neraca datar dan seimbang
Dari gambar, tampaknya penggunaan neraca teknis ini rumit. Namun,
sebetulnya sangat mudah dan sederhana. Jika kita dapat menimbang benda dengan
timbangan biasa, maka kita insya Allah dapat menggunakan neraca teknis.
Sebagian besar komponen neraca teknis di atas, digunakan untuk
menyiapkan neraca. Jika belum mahir, kita bisa meminta bantuan guru
atau petugas laboratorium untuk mengaturnya. Dalam menimbang, yang
harus diperhatikan hanya bagian D, F dan H saja. Berikut cara menyiapkan
dan menimbang menggunakan neraca teknis.

Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
• Mempersiapkan Neraca Teknis
1. Bandul keseimbangan harus berimpit dengan pasangannya, yaitu
dengan mengatur sekrup pengatur meja alas I.
2. Angkatlah lengan neraca dengan memutar H dan seimbangkan
lengan neraca dengan memperhatikan jarum penunjuk keseim-
bangan. Apabila jarak ayunan ke kiri kira-kira sama dengan jarak
ayunan ke kanan, ini berarti lengan neraca sudah seimbang. Jika
belum, aturlah dengan memutar sekrup C.
3. Jika langkah 1 dan langkah 2 sudah tercapai, putar kembali sekrup
H agar lengan neraca turun. Sekarang, neraca siap dipakai.
• Cara menggunakan:
1. Letakkan benda yang akan ditimbang pada salah satu piringan F
dan anak timbangan yang kira-kira sama beratnya, pada piringan
lainnya
2. Angkat lengan neraca dengan memutar H. Jika sudah seimbang, ini
berarti massa benda sama dengan massa anak timbangan. Apabila
belum seimbang, turunkan lengan neraca dengan memutar H dan
tambah atau kurangi anak timbangan sampai setimbang.
0. F0߶0fll8ß Ff08l8l 08ß ßk0f88l 08l8M F0߶0k0f8ß
Dalam hal yang berhubungan dengan pengukuran dan alat ukur,
ada dua istilah yang seringkali digunakan, yaitu istilah untuk menilai apakah
alat tersebut baik atau tidak, yaitu presisi (teliti) dan akurasi (tepat).
Pengertian kedua istilah ini sebetulnya berbeda, namun banyak masyarakat
menyamakan keduanya karena ketidakmengertian. Presisi berkaitan
dengan seberapa teliti alat ukur dapat mengukur sebuah besaran. Namun,
hasil yang diperoleh belum tentu benar. Alat yang memiliki presisi tinggi
bisa ditunjukan dengan hasil pengukuran yang memiliki jumlah angka di
belakang koma yang lebih banyak. Misalnya, jangka sorong disebut lebih
presisi dari mistar. Mengapa? Hal ini karena ketika mengukur sebuah
benda menggunakan jangka sorong, misalnya diperoleh hasil 2,345 cm,
ada tiga angka di belakang koma. Namun, jika dibandingkan dengan mistar,
hasil yang diperoleh mungkin 2,3 cm, yang hanya memiliki satu angka di
belakang koma. Meskipun sebuah jangka-sorong rusak (misalnya skalanya
sudah tidak benar), ia masih tetap bisa disebut lebih presisi dari sebuah
penggaris yang masih baik.
Akurasi menunjukan seberapa dekat suatu hasil pengukuran dengan nilai
yang sebenarnya. Misalnya, jika diketahui pengukuran percepatan gravitasi bumi
seharusnya adalah 9,8 m/s
2
, maka jika hasil pengukuran yang diperoleh oleh
Ahmad, Badru, dan Cicih adalah masing-masing 9,7 m/s
2
, 11 m/s
2
dan 12 m/s
2
,
pengukuran Ahmad lebih akurat dari pengukuran Badru dan Cicih. Mengapa?
Hal ini karena hasil pengukuran Ahmad lebih dekat ke 9,8 m/s
2
.
Alat ukur yang kita harapkan adalah alat ukur dengan tingkat presisi dan akurasi
yang baik. Dalam gambar 1.24 berikut diilustrasikan perbedaan arti presisi dan
akurasi melalui sebuah permainan melempar anak panah pada sasaran (Darts).
Selaksa
Makna
Meskipun sebuah jangka-sorong
rusak (misalnya skalanya sudah
tidak benar), ia masih tetap bisa
disebut lebih presisi dari sebuah
penggaris yang masih baik.
Z8
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
68M08f 1.Z4
Perbedaan pengertian presisi
dan akurasi digambarkan melalui
sebuah permainan lempar anak
panah pada sasaran.
â. N0߶0080 $8l08ß 08ß f8kl0f k0ß90f8l
Seringkali kita harus mengubah hasil pengukuran ke dalam sistem satuan
lain yang mungkin lebih cocok atau lebih praktis. Misalnya, dari cgs ke MKS atau
sebaliknya. Jika kita perhatikan speedometer pada dashboard mobil, sistem satuan
yang digunakan dalam mengukur laju mobil adalah km/jam. Satuan ini ternyata
tidak mengikuti SI ataupun cgs, namun dirasa lebih praktis untuk digunakan.
Karena itu, dalam kehidupan sehari-hari seringkali faktor kepraktisan lebih
diutamakan daripada harus mengikuti suatu sistem satuan tertentu.
Dalam memakai satuan ”berat” (sebetulnya yang dimaksud massa)
dan volume, seringkali orang-orang yang berurusan dengan perdagangan
tidak memakai satuan-satuan ilmiah seperti kilogram, gram, atau meter
kubik. Namun, mereka lebih merasa praktis memakai satuan ons, metrik-
ton, barel, dan lain-lain. Demikian pula dalam menggunakan satuan
kecepatan, seringkali yang digunakan bukan m/s atau km/jam, tetapi
satuan yang disebut mach. Dalam besaran-besaran lain, seringkali satuan
yang digunakan bukanlah sistem satuan ilmiah seperti MKS atau cgs, tapi
yang digunakan di daerah dan masyarakat tertentu atau dalam ilmu tertentu
yang berhubungan dengan hukum, seperti ilmu fqih. Misalnya:

1 tumbak (daerah sunda) = ± 14 m
2
1 jengkal = ± 10-20 cm
1 depa = ± 60-100 cm
1 marhalah (hadits Nabi) = ± 44,35 km
1 burud (hadits) = ± 22 km
1 farsakh (hadits Nabi) = ± 4 mil = 4,4 km
1 sha’ (hadits Nabi) = ± 2,5 - 3 kg
1 mud (hadits Nabi) = 5/6 liter
Meskipun satuan-satuan tersebut tentu saja tidak akan kita gunakan dalam
mempelajari fsika, namun penting juga untuk mengetahui cara mengubah
atau mengkonversi satuan-satuan tersebut ke dalam satuan standar ilmiah
a. Presisi tapi tidak akurat,
panah yang tertancap
cukup kecil dan dapat
menancap sasaran
dalam daerah yang
lebih sempit. Namun
seluruh panah cukup
jauh dari pusat sasaran
yang diharapkan
b. Akurat namun tidak
presisi, anak panah
cukup dekat dengan
pusat lingkaran yang
diharapkan namun
terlalu besar sehingga
tidak bisa menancap
pada daerah yang kecil
c. Presisi dan akurat,
anak panah tepat
mengenai sasaran pusat
lingkaran dan cukup
kecil sehingga dapat
menancap pada daerah
yang sempit.Inilah yang
paling diharapkan
Z9
Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
seperti SI atau cgs. Hal ini karena mungkin suatu saat, kita akan berhubungan
dengan masyarakat yang menggunakan satuan-satuan tersebut. Kita bisa
mengkonversi (mengubah) hasil pangukuran kita ke dalam sistem satuan
yang berbeda, misalnya dari meter ke centimeter. Contoh sederhana,
misalnya tinggi seorang mahasiswa 1,7 meter dapat dikonversi dalam
satuan lain menjadi 170 centimeter. Perhatikan contoh-contoh berikut.
Contoh 1.10
Misalnya kita akan mengonversikan 4 km/jam ke sistem satuan SI m/s. Untuk
itu, masing-masing satuan harus kita konversikan, kilometer ke meter dan jam
ke detik, yaitu sebagai berikut.
Contoh 1.11
Konversikan percepatan gravitasi bumi 10·m/s
2
ke dalam satuan cgs
Contoh 1.12
Konversikan 5 kg m/s
2
ke g cm/s
2
, maka
8. 8088f8ß $k8l8f 08ß ¥0kl0f
Jika kita membaca sebuah selebaran yang ditempel di dinding
sekolah, yang memberitahukan bahwa terdapat harta karun 100 meter
dari gedung sekolah. Coba pikirkan, kira-kira apakah kita bisa mencarinya
hanya dengan petunjuk tersebut? Jika tidak, mengapa demikian? Atau
contoh lain, jika guru kita meminta kita mendorong meja dengan kalimat,
“Tolong dorong meja ini“, apakah perintah tersebut sudah jelas? Jika
belum, apa kira-kira yang kurang dari kedua informasi tersebut? Ya, arah!
Arah dalam beberapa hal, diperlukan sebagai keterangan. Petunjuk tentang
harta karun, akan lebih jelas jika selebaran tersebut berbunyi: “Pada 100
meter arah timur dari sekolah terdapat harta karun”. Demikian juga jika pak
guru tadi menyuruh dengan kalimat, “Tolong dorong meja ini ke dekat
pintu”, maka kita akan lebih mengerti maksudnya.
Namun demikian, ada juga beberapa informasi yang tidak memerlukan
arah. Misalnya, massa dari sekarung beras adalah 50 kg. Dalam informasi
ini, keterangan arah tidak diperlukan sama sekali. Dengan demikian, kita
mengetahui ada beberapa besaran yang memilki arah, dan ada juga yang
tidak. Besaran yang memilki arah inilah yang dikenal dengan vektor.
Adapun besaran yang tidak memiliki arah dinamakan skalar.
J0
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
Seperti yang sudah disebutkan di atas, besaran dibagi dalam dua jenis
(kategori). Pertama, besaran skalar, yaitu besaran yang hanya mempunyai
nilai/besar saja. Kedua, besaran vektor, yaitu besaran fsika yang selain memiliki
nilai juga bergantung pada arah. Lebih lengkap lagi pengertian vektor adalah
“besaran yang memiliki nilai dan arah serta dapat memenuhi aturan-aturan operasi
matematika vektor”. Aturan-aturan operasi matematika untuk vektor seperti
penjumlahan dan perkalian vektor akan dijelaskan dalam bagian berikutnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, volume air, massa benda, temperatur,
jumlah mahasiswa, waktu, dan temperatur, merupakan contoh-contoh
besaran skalar yang tidak bergantung arah dan hanya memiliki nilai/besar
(magnitude). Artinya, dari arah mana pun kita mengukurnya, nilainya tetap
sama. Adapun hal-hal seperti kecepatan aliran sungai, gaya gravitasi, dan
medan listrik, adalah beberapa besaran yang tidak hanya mempunyai nilai,
tapi juga bergantung pada arah. Maksud dari bergantung pada arah adalah
bahwa nilai dari besaran tadi dapat berubah pada arah yang berbeda.
Dibandingkan dengan besaran skalar, besaran vektor memiliki banyak
keunikan dalam sifatnya, sehingga memerlukan pembahasan tersendiri.
1. $ll8l ¥0kl0f 08ß 08f8 N0߶8l8k8ß߶8
Sebuah vektor dilukiskan sebagai sebuah anak panah yang pangkalnya disebut
titik tangkap vektor, dan ujung lainnya (mata panah) menunjukan arah vektor.
Panjang anak panah tersebut mewakili nilai atau besarnya vektor (magnitude).
Artinya, jika sebuah vektor memiliki panjang anak panah lebih besar dari yang
lain, maka hal tersebut menunjukan nilai vektor tersebut lebih besar. Adapun
arah sebuah vektor ditunjukan oleh ke arah mana vektor tersebut menunjuk.
Hal ini dapat kita lihat dari ujung anak panah.
68M08f 1.Zâ
Penggambaran vektor
menggunakan anak panah
dengan titik tangkap (pangkal) A
dan ujung B.

Dua vektor dapat disebut ”sama”, syaratnya jika: berjenis sama, berarah
sama dan nilainya sama, walaupun letaknya berpindah. Maksud dari berjenis sama
adalah, dua vektor yang besar dan arahnya sama tidak dikatakan sama, jika
memiliki dimensi atau satuan yang berbeda. Misalnya, vektor gaya yang
besar dan arahnya 2 N dan 45° berbeda dengan vektor kecepatan yang
besarnya 2 m/s dan arahnya 45°.
Sebuah vektor dapat dituliskan dengan salah satu cara berikut.
• Huruf bercetak tebal, misalnya F, r.
• Huruf dengan tanda panah, misalnya
• Dua huruf yang mewakili pangkal dan ujung vektor, misal AB


A
X
B
Y
Ujung
Titik
tangkap
J1
Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
68M08f 1.Zë
Sebuah vektor dikatakan sama
jika arah dan besarnya sama,
meskipun posisinya berpindah
• Diuraikan dalam komponen-komponen basisnya, seperti
Vektor basis î dan ĵ adalah vektor–vektor yang arahnya sesuai dengan
arah sumbu koordinat dan nilainya 1. Tanda topi (^) di atas huruf i dan j
menujukkan bahwa vektor tersebut adalah vektor basis. Untuk kemudahan
penulisan dalam buku ini, vektor basis dituliskan dengan menggunakan
huruf i, j, dan k, yang bercetak tebal (i, j, k). Adapun vektornya tidak
ditulis menggunakan panah di atasnya. Namun, ditulis dengan cetak tebal,
misalnya F, v, x.
Perhatikan sebuah vektor gaya 3 dimensi yang diuraikan dalam vektor-
68M08f 1.Z¡
Vektor F yang diuraikan dalam
komponen-komponennya.
vektor basisnya.
Vektor pada umumnya dituliskan dalam bentuk komponen vektor yang
merupakan kelipatan dari vektor basisnya. Misalnya, vektor kecepatan v =
2i +3j. Besar dari vektor v tersebut dapat diketahui dari hubungan segitiga
Phytagoras berikut:
, maka
Jika kita ingin mengetahui arah dari vektor tersebut, maka dapat
ditentukan melalui hubungan
Y
X
JZ
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
68M08f 1.Z8
Besar dan arah resultan gaya
Sudut θ merupakan sudut vektor terhadap sumbu x positif sehingga
Z. 0¢0f88l N8l0M8llk8 ¢808 ¥0kl0f
Kita dapat dengan mudah menjumlahkan atau mengalikan besaran
skalar. Misalnya, 2 buah apel ditambah 2 buah apel sama dengan 4 buah apel.
Contoh lain misalnya, 2 dikali Rp 500, hasilnya adalah Rp 1000. Penjumlahan
atau perkalian seperti ini sudah kita kenali sejak sekolah dasar. Namun, untuk
besaran vektor tidaklah demikian. Dalam menjumlahkan besaran vektor, 2 +
2, hasilnya belum tentu sama dengan 4. Bisa saja hasilnya 0, mungkin juga 4
atau berapa pun bergantung pada arah dari vektor. Demikian juga 2 dikali 500
belum tentu 1000. Sebetulnya ini tidak aneh.
Mari kita perhatikan contoh berikut: dua kelompok anak-anak sedang
bermain tarik-tambang. Masing-masing kelompok terdiri dari dua orang, yang
kita anggap memiliki kekuatan yang sama dalam menarik tali tambang. Dalam
perlombaan tarik tambang, tentu saja masing-masing kelompok menarik
pada arah berlawanan. Dalam kasus ini, 2 anak yang menarik tali ke arah kiri
ditambah 2 anak yang menarik tali ke arah kanan akan menghasilkan nol. Hal
ini ditunjukkan oleh tali yang tidak bergerak ke kiri maupun ke kanan. Hal ini
karena tarikan (yang nanti akan kita sebut sebagai gaya) adalah besaran vektor
dan bukan skalar. Dalam cerita lain, dua kelompok yang sama mendorong
mobil yang sedang mogok. Oleh karena dua kelompok ini mendorong mobil
pada arah yang sama, maka hasilnya adalah empat dorongan anak. Jadi jelaslah
bahwa dalam vektor, penjumlahan bergantung pada arahnya. Demikian juga
operasi pengurangan, perkalian dan pembagian.
Dalam bagian berikutnya akan dijelaskan cara menjumlah dan
mengalikan vektor.
8. F0ß(0Ml808ß ¥0kl0f
Penjumlahan vektor biasanya dilakukan antarbesaran yang sejenis. Misalnya,
panjang dengan lebar (untuk menghitung keliling) dan gaya dengan gaya.
Selain itu, kita hanya bisa menjumlahkan vektor dengan vektor, tidak bisa
dengan skalar.
Ada tiga metode yang bisa dilakukan dalam menjumlahkan vektor.
JJ
Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
• Metode Jajaran Genjang
Dalam metode jajaran genjang, titik pangkal dua vektor yang akan
68M08f 1.Z9
Penjumlahan vektor A dan B
dengan metode jajaran genjang.
dijumlahkan diletakkan pada titik yang sama sehingga berimpit. Perhatikan
Gambar 1.29.
Dalam menjumlahkan vektor A dan vektor B, pangkal A
diletakkan pada pangkal B. Vektor hasil penjumlahannya adalah C seperti
terlihat dalam gambar. Besarnya vektor hasil penjumlahan C (atau resultan
vektornya) dapat diperoleh melalui persamaan (ingat bahwa persamaan ini
baru menghitung besarnya saja, sedangkan arahnya belum)
dengan:
C = besar vektor hasil penjumlahan
A = besar vektor pertama yang akan dijumlahkan
B = besar vektor kedua yang akan dijumlahkan
θ = sudut terkecil antara vektor A dan B
Arah dari vektor hasil penjumlahan dapat kita cari dengan mengguna-
kan hukum sinus. Hukum kesamaan sinus mengatakan bahwa jika
kita memiliki segitiga dengan sudut α (alpha), β (beta) dan γ (gamma)
dengan masing-masing sudut menghadap pada sisi A, B dan C seperti
pada gambar, maka berlaku persamaan yang disebut oleh Al-Biruni
sebagai ”Hukum Mas’udi” atau dalam istilah saat ini disebut kesamaan
sinus berikut:
Dengan A, B, C dan a, b, g seperti pada gambar berikut:
68M08f 1.J0
Dalam buku “Islamic Science”,
S.H. Nasr menyebutkan bahwa
persamaan:
pertama kali ditunjukkan oleh
Abu Rayhan Al-Biruni sebagai
“Mas’udic Canon” atau Hukum
Mas’udi.
J4
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
Contoh 1.13
Diketahui dua buah vektor yang besarnya masing-masing A = 3 dan B = 4.
Keduanya mengapit sudut sebesar 60°. Berapakah hasil penjumlahan kedua
vektor tersebut?
Besarnya vektor hasil penjumlahan C adalah:
Arahnya dapat kita tentukan melalui hubungan sinus
dari hubungan sinus
atau
Arah dari vektor C adalah 25,28
o
terhadap sumbu x+.
Cara menjumlahkan dengan metoda jajaran-genjang seperti di atas,
akan kurang praktis jika kita menjumlahkan lebih dari dua vektor. Hal ini
disebabkan metode ini digunakan untuk menjumlahkan dua vektor. Dengan
demikian, untuk menjumlahkan 3 vektor kita harus melakukan dua kali
penjumlahan, dan tentu saja hal ini tidaklah praktis.
• Metode Poligon
Metode poligon (poli=banyak, gon=bentuk/sisi) dilakukan dengan
cara menghubungkan ujung suatu vektor dengan pangkal vektor yang lain.
Hasil akhirnya (vektor resultan) adalah dengan menarik garis (anak panah)
dari titik pangkal vektor pertama ke ujung vektor terakhir.

Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
Gambar 1.31 menunjukkan contoh penjumlahan tiga vektor yang
masing-masing besarnya 20 m, 25 m, dan 15 m dengan arah terhadap
sumbu x positif seperti terlihat dalam gambar. Hasil dari penjumlahan
adalah vektor yang menghubungkan pangkal vektor pertama dengan ujung
vektor ketiga. Cara seperti ini tentu saja kurang praktis ketika berhadapan
dengan persoalan vektor 3 dimensi. Hal ini disebabkan vektor 3 dimensi
harus digambarkan dalam suatu ruang dan cukup sulit ketika harus
menghitung resultannya.
68M08f 1.J1
Metode poligon dillakukan
dengan menghubungkan ujung
vektor dengan pangkal vektor
yang lain.
68M08f 1.JZ
Vektor A diuraikan dalam
komponen x (Ax) dan komponen
y (Ay).
• Metode Analitik (2 dimensi)
Metoda analitik dilakukan dengan menguraikan vektor dalam
komponen-komponennya. Sebuah vektor dapat diuraikan dalam
komponen-komponennya menurut sistem koordinat yang dipergunakan.
Misalnya, pada sistem koordinat kartesius 2D (dua dimensi, artinya hanya
ada dua sumbu yakni x dan y), suatu vektor A dapat diuraikan dalam
komponen x (searah sumbu x) yaitu A
x
dan komponen yang searah sumbu
y, yaitu A
y
.
Jika beberapa vektor hendak dijumlahkan secara analitik, maka
vektor-vektor tersebut diuraikan dalam komponen-komponennya.
Misalkan, untuk komponen x, jumlahnya R
x
dan untuk komponen y hasil
penjumlahannya R
y
. Selanjutnya, jumlahkan komponen-komponen yang
searah. Besar vektor resultannya dihitung melalui hubungan berikut:
dengan:
R = besar vektor resultan
R
x
= Jumlah total komponen vektor dalam arah x
R
y
= Jumlah total komponen vektor dalam arah y
dan arahnya:
= sudut yang dibentuk antara sumbu x dengan vektor resultan
Mari kita lihat sebuah contoh soal.
y
A
y
A
A
x
x
300°
15 m
25 m
20 m
45° m
210° m
Resultan
22 m, 310 °

fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
Contoh 1.14
Diketahui tiga vektor A, B, dan C yang besarnya 2, 3 dan 5 dalam koordinat
kartesius yang arahnya seperti pada gambar. Dengan menggunakan metode
analitik, tentukanlah reultan vektornya.
Jawab:
Langkah pertama adalah menggambarkan vektor dan uraian komponen-
komponennya dalam koordinat kartesius sebagai berikut.
Kemudian, kita uraikan masing-masing vektor dalam komponen x dan y-nya
(dengan pembulatan).
Komponen x:
A
x
= A cos 60° = 2 (0,5) = 1
B
x
= B cos 135° = 3 (-0,707) = -2,121
C
x
= C cos 270° = 0
Komponen y :
A
y
= A sin 60° = 2 (0,866) = 1,732
B
y
= B sin 135° = 3 (0,707) = 2,121
C
y
= C sin 270° = 5 (-1) = -5
Langkah kedua, jumlahkan komponen-komponen yang sejenis.
Komponen x : R
x
= A
x
+B
x
+ C
x
= 1 - 2,121 + 0 = -1,121
Komponen y : R
y
= A
y
+B
y
+ C
y
= 1,732 + 2,121 - 5 = -1,147
Untuk menghitung besar vektor resultan-nya
Arah dari vektor resultan:
0. F0fk8ll8ß ¥0kl0f
Kita mengenal dan sering menggunakan dua simbol dalam
perkalian. Kadang kita menggunakan tanda silang × atau kita juga
menggunakan tanda titik •. Dalam besaran skalar kedua tanda tersebut

Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
tidak memiliki perbedaan. Misalnya, 2 × Rp500 sama hasilnya dengan 2
• Rp 500, yakni Rp1000. Namun dalam besaran vektor, kedua tanda ini
berbeda artinya dan akan menghasilkan nilai yang berbeda seperti yang
akan kita lihat nanti.Untuk membahas aturan perkalian dalam vektor, kita
bagi pembahasannya dalam dua bagian. Pertama, perkalian skalar dengan
vektor. Selanjutnya kedua, perkalian vektor dengan vektor. Perkalian vektor
dengan vektor ini terbagi dalam perkalian silang dan perkalian titik.
• Perkalian skalar dengan vektor
Jika sebuah vektor A = A
x
i + A
y
j + A
z
k dikalikan dengan suatu skalar b,
maka hasilnya adalah sebuah vektor baru C.
C = bA
x
i +bA
y
j +bA
z
k
Contoh 1.15
Diketahui A = 2i +3j – 5k dan b = –2, hitunglah b dikalikan A.
Jawab:
Dalam mengalikan vektor dengan skalar atau sebaliknya, sama saja jika kita
gunakan tanda silang ataupun titik.
C = bA = (-2)( 2i + 3j – 5k) = -4i – 6j +10k
• Perkalian antara Dua Vektor
Jika kita mengalikan dua vektor, maka terdapat perbedaan antara
perkalian silang dengan titik. Mari kita perhatikan penjelasan berikut.
(1) Perkalian titik antara dua vektor (dot product), dilambangkan
dengan tanda titik •.
Pada perkalian vektor ada ketentuan:
• Komponen vektor yang sejenis (searah), misalnya i dengan i,
j dengan j dan k dengan k menghasilkan nilai 1.
• Komponen yang tidak sejenis (tegak lurus), misalnya j dengan
k menghasilkan nilai 0.
Hal ini diperoleh dari pengertian (defnisi) perkalian titik
antara vektor A dengan B, yakni:

Jika kita gunakan vektor satuan dan mengingat bahwa dua
vektor sejenis (searah) membentuk sudut 0
o
, kita dapatkan

(ingat besarnya vektor satuan adalah 1)
Sedangkan jika vektor satuan tidak sejenis, sudut yang
dibentuk adalah tegak-lurus atau 90
o
sehingga

J8
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
Contoh 1.16
Diketahui dua vektor gaya
F
1
= 2i + 4j – 3k
F
2
= -i + 2j – 2k
Berapakah perkalian titik antara kedua vektor gaya di atas?
Jawab:
F1 • F2 = (2i + 4j – 3k) • (-i + 2j – 2k)
= -2 + 8 + 6
= 12 N
(2) Pekalian silang (cross product), dilambangkan dengan ×
Jika vektor sejenis (searah) dikalikan silang, i × i, j × j dan k × k,
hasilnya adalah nol. Hal ini didapat dari pengertian (defnisi) perkalian
silang antara A dengan B.

Jika vektor yang sejenis(searah) dikalikan silang maka sudut θ
adalah nol, sehingga sinus 0
o
juga 0.
Jika tidak sejenis (searah), maka terdapat ketentuan
i × j = k j × i = - k
j × k = i k × j = - i
k × i = j i × k = - i
Contoh 1.17
Diketahui dua buah vektor:
V
1
= 2i + 4j – 2k
V
2
= i + 2j + 5k
Berapakah perkalian silang antara kedua vektor di atas (V
3
)?
Jawab:
V
3
= (2i + 4j – 2k) × (i + 2j + 5k)
= (2i × i) + (2i × 2j) + (2i × 5k) + (4j × i ) + (4j × 2j) + (4j × 5k)
+ (-2k × i) + (-2k × 2j) + (-2k × 5k)
Menurut aturan perkalian silang, maka akan dihasilkan
= 4k – 10i – 4k + 20i – 2j + 4i
= 14i – 2j
Kita tidak harus mengingat-ingat aturan perkalian silang ini. Untuk
mendapatkan hasil perkalian, cara di bawah ini dapat digunakan dengan
mudah.
Perkalian dengan urutan sesuai siklus (putaran) i-j-k hasilnya vektor
satuan berikutnya dan bernilai positif. Contoh,
i × j = k (sesuai urutan i-j-k)
j × k = i (sesuai siklus i-j-k kembali ke i)
k × i = j (seuai siklus i-j-k-i-j) dan seterusnya.
Jika urutan perkalian berlawanan dengan siklus maka hasilnya negatif.
j × i = - k (berlawanan dengan siklus i-j-k)
k × j = - i (berlawanan dengan siklus i-j-k)
i × k = - j (berlawanan dengan siklus i-j-k)
J9
Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
J. 00ßl00 F0M8k8l8ß ¥0kl0f. F0f808l8ß k000¢8l8ß 80l8lll
Persoalan klasik tentang penjumlahan vektor adalah kasus riverboat yang
menyeberangi sungai, seperti yang dijelaskan di bawah.
68M08f 1.JJ
Aliran arus menyebabkan arah
perahu membelok
Sebuah riverboat hendak menyeberangi sungai selebar 10 m, yang
bergerak dengan kecepatan relatif terhadap bumi 8 m/s. Laju aliran sungai
relatif terhadap bumi 6 m/s. Berapakah kelajuan riverboat relatif terhadap
sungai?
Pemecahan kasus seperti ini tentu saja harus menggunakan aturan
operasi matematika vektor, karena kita tahu bahwa kecepatan merupakan
besaran vektor. Jika kita sederhanakan gambar 1.33 menjadi vektor-vektor
kecepatan dengan v
p
= kecepatan perahu terhadap bumi, v
s
= kecepatan
arus sungai terhadap bumi dan v
p
’ = kecepatan perahu terhadap arus
sungai, maka didapatkan bahwa v
p
’ bisa didapatkan dengan menjumlahkan
v
p
secara vektor dengan v
s
dengan menggunakan metoda jajaran genjang.
arahnya dapat dihitung dengan θ =tan
-1
(v
s
/v
p
) = tan
-1
(6/8) ≈ 38,87°
40
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
Evaluasi Akhir Bab 1
Kerjakanlah di buku latihan Anda.
1. Besaran-besaran berikut yang termasuk ke dalam
kelompok besaran pokok adalah…
A. massa jenis, massa, temperatur
B. panjang, kecepatan, temperatur
C. panjang, waktu, massa
D. momentum, percepatan, massa
E. panjang, berat, waktu
2. Pada tabel berikut terdapat pasangan besaran
pokok dan satuannya.
No Besaran Pokok Satuan
1. Temperatur Ampere
2. Kuat arus listrik Candela
3. Kuat (Intensitas) Cahaya Kelvin
4. Jumlah Zat Mol
Dari tabel di atas, pasangan besaran pokok dan
satuannya yang benar adalah…
A. 1 saja D. 1 dan 3
B. 1 dan 2 E. 1, 3 dan 4
C. 1, 2 dan 3
3. Berikut ini yang merupakan satuan dari besaran
pokok dalam SI adalah…
A. Ampere D. Newton
B. Pascal E. Joule
C. Watt
4. Berikut ini yang termasuk besaran turunan
adalah…
A. Panjang, Massa Jenis, Waktu
B. Temperatur, Kecepatan, Berat
C. Luas, Volume, Panjang
D. Percepatan, Kecepatan, Berat
E. Massa, Temperatur, Luas
5. Berikut ini merupakan satuan tekanan menurut SI,
kecuali ...
A. N m
-2
D. Atm
B. kg m
-1
s
-2
E. kg m
2
s
-2
C. Pascal
6. Perhatikan satuan-satuan di bawah ini.
1) Joule 3) kWh
2) Kalori 4) kg m
2
s
-2

Satuan untuk energi menurut SI adalah...
A. 1, 2 dan 3 D. 2 dan 4
B. 1 dan 3 E. 1, 2, 3 dan 4
C. 1 dan 4
7. Satuan untuk tekanan udara dalam SI adalah...
A. N/m D. Torr
B. N/m
2
E. Atm
C. ca Hg
8. Jika x dalam meter, t dalam sekon, v dalam m/s dan
a dalam m/s
2
, maka satuan SI dari v
3
/x adalah…
A. s
2
D. m/s
2
B. m
2
E. m
2
/s
3
C. m
3
/s
9. Berapa m/s kah kecepatan mobil sebesar 90 km/
jam ?
A. 120 D. 25
B. 45 E. 2,5
C. 50
10. Jika F adalah gaya, ρ adalah massa persatuan
panjang, dan V = F
x
ρ
y
, maka nilai x dan y berturut-
turut adalah…
A. ½ dan ½ D. -½ dan ½
B. ½ dan 1 E. ½ dan -½
C. 1 dan ½
11. Pasangan besaran berikut yang mempunyai satuan
yang sama adalah
A. gaya dan usaha
B. usaha dan tekanan
C. daya dan gaya
D. usaha dan energi
E. impuls dan daya
12. Jumlah angka penting dan orde dari bilangan:
0,00000000010 m; 0,0008 kg; 5600 m dan
3600800 kg adalah…
A. 1 dan 10
-10
; 8 dan 10
-5
; 5,6 dan 10
-3
; 36008
dan 10
2

B. 1 dan 10
-10
; 8 dan 10
-4
; 5,6 dan 10
3
; 3,6008
dan 10
6

C. 1 dan 10
-10
; 8 dan 10
-4
; 5,6 dan 10
3
; 3,6008
dan 10
5

D. 1 dan 10
-9
; 8 dan 10
-4
; 56 dan 10
2
; 3,6 dan
10
6

E. 1 dan 10
-9
; 8 dan 10
-4
; 56 dan 10
2
; 3,601 dan
10
4

41
Besaran, Satuan dan Prinsip Pengukuran
13. Penulisan notasi ilmiah yang tepat untuk bilangan
0,142985 adalah…
A. 0,142985 × 10
1
D. 1, 4298 × 10
-3
B. 1, 42985 × 10
-3
E. 1, 4299 × 10
-1
C. 1, 42985 × 10
-1

14. Hasil operasi dari (5 × 10
8
) (5 × 10
-6
) dalam notasi
ilmiah yang benar adalah…
A. 2,5 × 10
3

B. 2,5 × 10
2

C. 25 × 10
2

D. 2,5 × 10
3

E. 0,25 × 10
4

15. Sesuai dengan aturan pembulatan, bilangan 3,5798
akan dibulatkan hingga satu angka di belakang
koma menjadi…
A. 3,4 D. 3,7
B. 3,5 E. 3,8
C. 3,6
16. Sesuai dengan aturan pembulatan, bilangan 3,5598
akan dibulatkan hingga satu angka di belakang
koma menjadi…
A. 3,4 D. 3,7
B. 3,5 E. 3,8
C. 3,6
17. Sesuai dengan aturan pembulatan, bilangan 3,6598
akan dibulatkan hingga satu angka di belakang
koma menjadi…
A. 3,4 D. 3,7
B. 3,5 E. 3,8
C. 3,6
18. Bilangan 0,000012 dan 1,90 × 10
4
mempunyai
angka penting sebanyak…
A. dua, tiga D. enam, enam
B. tiga, tiga E. tujuh, tujuh
C. empat, dua
19. Hasil dari penjumlahan bilangan 23,458 dan 3,7 ×
10
2
adalah…
A. 393, 458 D. 394
B. 393,46 E. 393
C. 393,5
20. Hasil dari pembagian bilangan 71,012 dan 4,0
adalah…
A. 17,753 D. 17
B. 17,75 E. 18
C. 17,8
21. Panjang dan lebar sebuah meja terbuat dari kayu
adalah 1,250 m dan 0,48 m. Dibutuhkan 8 meja
berukuran sejenis untuk suatu acara. Luas kayu
yang dibutuhkan untuk membuat meja tersebut
adalah… m
2
.
A. 0,48 D. 480
B. 4,8 E. 4800
C. 48
22. Ketelitian mikrometer sekrup dalam SI adalah...
A. 10
-3
m D. 10
-6
m
B. 10
-2
m E. 10
-5
m
C. 10
-4
m
23. Hasil pengukuran panjang dengan menggunakan
mikrometer sekrup pada gambar berikut ini adalah
(dalam mm)
A. 8,38 D. 8,58
B. 8,39 E. 8,68
C. 8,50
24. Dari gambar di bawah, berapakah hasil pengukuran
dari balok menggunakan jangka sorong pada skala
yang ditunjukan (dalam cm)?
A. 1,220 D. 1,325
B. 1,225 E. 1,250
C. 1,320
25. Suatu pengukuran panjang benda menggunakan
penggaris sebanyak 5 kali menghasilkan pembacaan
sebagai berikut: 10,8 cm; 10,6 cm; 12,2 cm; 11,8
cm; 11,2 cm. Berapa banyak angka penting yang
diperoleh dari ketidakpastian relatif pengukuran
tersebut?
4Z
fl8lk8 Madrasah Aliyah dan SMA Islam 1A
A. 1 D. 4
B. 2 E. 5
C. 3
A. 2,542 D. 2,463
B. 2,461 E. 2,466
C. 2,462
27. Perhatikan data pengukuran berikut.
Pengukuran ke-i 1 2 3 4 5
Nilai yang diukur (xi) 100 99 102 101 104
Data di atas merupakan hasil pengukuran yang
dilakukan berulang sebanyak lima kali untuk
menentukan hambatan listrik dari sebuah resistor.
Nilai rata-rata dari pengukuran adalah
A. 101,2 ohm D. 102,1 ohm
B. 101,2 ohm E. 102,2 ohm
C. 101,2 ohm
26. Dari gambar di bawah, berapakah hasil pengukuran
dari balok menggunakan jangka sorong pada skala
yang ditunjukan (dalam cm)?

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->