P. 1
Landasan Kependidikan [Pendidikan Karakter]

Landasan Kependidikan [Pendidikan Karakter]

|Views: 233|Likes:
Published by Edy Prasetyo

More info:

Published by: Edy Prasetyo on Jun 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/10/2015

pdf

text

original

PENDIDIKAN KARAKTER

A. Konsep Pendidikan Karakter. 1. Menurut Pusat Bahasa Depdikbud, pengertian karakter adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku,personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak. 2. Berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. 3. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behavior), motivasi (motivation), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dgn kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.

Lanjutan...
4. Menurut David Elkind & Freddy Sweet (2004), pendidikan karakter dimaksud sebagai “ character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what in right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from winthin”. Selanjunya pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru toleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

Lanjutan...
5. Menurut T. Ramli, pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dgn pendidikan moral dan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Karena itu hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.

6. Dimuat dalam “Funderstanding” , pendidikan karakter didefinisikan sebagai pendidikan yang mengembangkan karakter yang mulia (good character) dari peserta didik dgn mempraktikkan dan mengajarkan nilai-nilai moral dan pengambilan keputusan yang beradab dlm hubungan dgn sesama manusia maupun dlm hubungannya dgn Tuhannya. 7. Departemen Pendidikan AS, mendefinisikan pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan berpikir dan kebiasaan berbuat yang dapat membantu orang-orang hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga, sahabat, tetangga, masyarakat, dan bangsa. 8. Dalam Character Education brochure, menyatakan bahwa: adalah pendidikan karakter suatu proses pembelajaran yang memberdayakan siswa dan orang dewasa di dalam komunitas sekolah untuk memahami, peduli tentang dan berbuat berlandaskan nilai-nilai etik seperti respek, keadilan, kebajikan warga (civic virtue) dan kewarganegaraan (citizenship) dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun kepada oarng lain.

Lanjutan...

Lanjutan...
9. Wikipedia, dalam modifikasi terakhir 27 januari 2011, mendefinisikan pendidikan karakter sebagai istilah payung (umbrella term) yang acap kali digunakan dalam mendeskripsikan pembelajaran anak-anak dgn sesuatu cara yang dapat membantu mereka mengembangkan berbagai hal terkait moral, kewargaan, sikap tidak suka memalak, menunjukkan kebaikan, sopan-santun dan etika, perilaku, bersikap sehat, kritis, keberhasilan, menjunjung nilai tradasional, serta menjadi makhluk yang memenuhi norma-norma sosial dan dapat diterima secara sosial. 10. Lickona (1991) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai upaya yang sungguh-sungguh utk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dgn landasan inti nilai-nilai etis.

Lanjutan...

Lanjutan...
13. Anne Lockwood (1997) mendefinisikan pend. Karakter sebagai aktivitas berbasis sekolah yang mengungkap secara sistematis bentuk perilaku dari siswa seperti ternyata dalam perkataannya: pendidikan karakter didefinisikan sebagai setiap rencana sekolah, yang dirancang bersama lembaga masyarakat yang lain, utk membentuk secara langsung dan sistematis perilaku orang muda dgn memengaruhi secara eksplisit nilai-nilai kepercayaan nonrelativistik (diterima luas), yang dilakukan secara langsung menerapkan nilai-nilai tersebut. Jadi (a) pend. Karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam demensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Pend. Karakter dpt dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik utk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.

Lanjutan...
(b) Pend. Karakter dapat dimaknai sebagai upaya yang terncana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli, dan menginternalkan niali-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil. (c) Pend. Karakter juga dapat dimaknai sebagai suatu sistem penanaman niali-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan utk melaksanakan niali-nilai tersebut baik terhadap Tuhan YME, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. (d) Penanaman nilai kepada warga sekolah maknanya bahwa pend. Karakter baru akan efektif jika tidak hanya siswa, tetapi juga para guru, kepala sekolah dan tenaga non-pendidik di sekolah semua harus terlibat dalam pendidikan karakter.

• LICKONA (2007) menyatakan: ada 11 prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan efektif: 1. Kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai fondasi 2. Definisikan “karakter” secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku 3. Gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif 4. Ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian 5. Beri siswa kesempatan utk melakukan tindakan moral 6. buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa utk berhasil 7. Usahakan mendorong motivasi diri siswa 8. Libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral, 9. tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral 10. Libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra,dan 11. Evaluasi karakter sekolah, fungsi stafsekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang baik.

B. NILAI-NILAI KARAKTER

Lanjutan...
• Berdasarkan kajian nilai-nilai agama, norma-norma soaial, peraturan/hukum, etika akademik, dan prinsipprinsip HAM, telah teridentifikasikan butir-butir nilai yang dikelompokkan menjadi 5 (lima) nilai utama, yaitu: 1. Nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dgn Tuhan YME, 2. diri sendiri, 3. sesama manusia, dan 4. lingkungan, serta 5. kebangsaan

Daftar Nilai-Nilai Utama Karakter
1.
2.

Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan YME. a. Religius : pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/atau ajaran agamanya. Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri a. Jujur: perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain. b. Bertanggung jawab: sikap dan perilaku seseorang utk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya di lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya) negara dan Tuhan YME. c. Bergaya Hidup Sehat: segala upaya utk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. d. Disiplin: tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan

Lanjutan...
e. Kerja Keras: perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya. f. Percaya Diri: sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya. g. Berjiwa Wirausaha: sikap dan perilaku yang mandiri dan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi utk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya. h. Berpikir Logis, Kritis, Kreatif, dan Inovatif: berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika utk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki. i. Mandiri: sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. j. Ingin Tahu: sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat,dan didengar. k. Cinta Ilmu: cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan.

Lanjutan...
3. Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan Sesama, meliputi: a. Sadar akan Hak dan Kewajiban Diri dan Orang lain: sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain. b. Patuh pada Aturan-Aturan Sosial: sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan umum. c. Menghargai Karya dan Prestasi Orang lain: sikap dan tindakan yang mendorong dirinya utk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain. d. Santun : sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang. e. Demokratis: cara berpikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

Lanjutan...
4. Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan Lingkungan. a. Peduli Sosial dan Lingkungan: sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya utk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi dan selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. 5. Nilai Kebangsaan. a. Nasionalis: cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya. b. Menghargai Keberagaman: sikap memberikan respek/ hormat terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku dan agama.

C. PENGEMBANGAN KARAKTER
Pendidikan karakter dapat dilakukan melalui tiga desain: 1. desain berbasis kelas, yaitu yang berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik. 2. desain berbasis kultur sekolah, yaitu yang berusaha membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dgn bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa. 3. desain berbasis komunitas. Tujuan pendidikan karakter pada dasarnya adalah mendorong lahirnya anak-anak yang baik (insan kamil)

Tahap Pengembangan Karakter
Tahap pengetahuan (knowing) dan kebiasaan (habit), seseorang yang memiliki pengetahuan kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai dengan pengetahuannya, jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan utk melakukan kebaikan tersebut. Dengan demikian diperlukan 3tiga komponen karakter (components of good character) yang baik: 1. moral knowing (pengetahuan tentang moral) 2. moral feeling (perasaan/penguasaan emosi tentang moral 3. moral action (mengamalkan/menghayati, mengerjakan).

Lanjutan...
• Dimensi-dimensi yang termasuk dalam moral knowing akan mengisi ranah kognitif yaitu: kesadaran moral (moral awareness), pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral value), penentuan sudut pandang (perspective taking), logika moral (moral reasoning), keberanian mengambil sikap (decision making), dan pengenalan diri (self knowledge). Moral feeling merupakan penguatan aspek emosi peserta didik untuk menjadi manusia berkarakter. • Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh peserta didik, yaitu kesadaran akan jati diri (conscience), percaya diri (self esteem), kepekaan terhadap derita orang lain (emphaty), cinta kebenaran (loving the good), pengendalian diri ( self control) kerendahan hati (humility). • Moral action merupakan perbuatan atau tindakan moral yang merupakan hasil dari dua komponen karakter lainnya. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilaihat dari tiga aspek lain dari karakter yaitu kompetensi (competence), keinginan (will), dan kebiasaan (habit)

Lanjutan...
• Dalam pendidikan karakter diperlukan juga aspek perasaan (domain affection/ emotion). Komponen ini dalam pendidikan karakter disebut dengan “desiring the good” atau keinginan untuk berbuat kebaikan. • Jadi pendidikan karakter yang baik harus melihat bukan saja aspek knowing the good, tetapi juga “desiring the good” atau “loving the good” (moral feeling) dan “acting the good” (moral action). • Jadi karakter dikembangkan melalui tiga langkah, yakni: mengembangkan moral knowing, kemudian moral feeling, dan moral action. Dengan kata lain makin lengkap komponen moral dimiliki manusia, maka akan makin membentuk karakter yang baik atau unggul/tangguh.

• Strategi yang umum diimplementasikan di negara Barat, antara lain: 1. Strategi Cheerleading, dalam strategi ini setiap bulan ditempel poster-poster, dipasang spandukspanduk, serta ditempel di papan khusus buletin, papan pengumuman tentang berbagai nilai kebajikan yang selalu berganti-ganti. Juga dimungkinkan pemasangan baliho atau spanduk misalnya dalam sajian malam kesenian, tontonan panggung di udara terbuka (opened air)yang bersponsor, yang dipenuhi slogan-slogan atau motto tentang karakter atau nilai.

D. STRATEGI DAN METODOLOGI PENDIDIKAN KARAKTER.

Lanjutan...
2. Strategi Pujian dan Hadiah berlandaskan pada pemikiran yang positif (positive thinking), dan menerapkan penguatan positif (positive reinforcement). Strategi ini justru ingin menunjukkan anak sedang berbuat baik (catching students being good). Sayangnya strategi semacam ini tidak dapat berlangsung lama, karena jika semula yang terpilih adalah benar-benar anak yang tulus ingin berbuat baik kemudian mendapat pujian dan hadiah, pada perkembangan selanjutnya banyak anak yang sengaja ingin terpilih berbuat baik semata-mata ingin mendapatkan pujian dan hadiah.

Lanjutan...
3. Strategi define-and-drill, yaitu meminta para siswa untuk mengingat-ingat sederet nilai-nilai kebaikan dan mendefinikannya. Setiap siswa mencoba mengingatingat apa definisi atau makna nilai tersebut sesuai dengan tahap perkembangan kognitifnya dan terkait dengan keputusan moralnya. 4. Strategi forced formality, pada prinsipnya ingin menegakkan disiplin dan melakukan pembiasaan (habituasi) kepada siswa untuk secara rutin melakukan sesuatu yang bernilai moral. Misalnya mengucapkan salam kepada guru, kepala sekolah, pegawai sekolah bahkan kepada sesama teman yang dijumpai. Di Indonesia ada sekolah sekolah swasta Islam yang memiliki slogan 4-S ( senyum, sapa, salam, salim).

Lanjutan...
5. Strategi traits of the month, pada halekatnya menyerupai strategi cheerleading, tetapi tidak hanya mengandalkan poster-poster, spandu, juga menggunakan segala sesuatu terkait dengan pendidikan karakter, misalnya pelatihan, introduksi oleh guru dalam kelas, sambutan Kapala Sekolah pada upacara, dan sebagainya, yang difokuskan pada pengauatan perangai tunggal yang telah disepakati. 6. Strategi keaktifan guru BK sebagai pendidik karakter. Namun hal ini mempersyaratkan setiap guru BK adalah seorang psikolog yang tidak sekedar psikolog biasa, tetapi juga benar-benar seorang model hidup, uswatun hasanah yang dapat dicontoh oleh setiap siswa segala tindak tanduknya. Bertindak sebagai seorang pamong pengganti orangtua di sekolah, menyayangi anak-anak tanpa pernah membedakan, dan dapat dekat dgn setiap anak karena ia memang kompeten dalam bidangnya.

Lanjutan...
7. Sesuai dengan Desain Induk Pendidikan Karakter yang dirancang Kemendiknas (2010), strategi pengembangan pendidikan karakter yang akan diterapkan di Indonesia antra lain melalui tranformasi budaya sekolah ( school culture) dan habituasi melalui kegiatan ekstrakurikuler. Strategi habituasi pendidikan karakter melalui budaya sekolah ini, agaknya sejalan pemikiran Berkowitz. Berkowitz mengatakan” effective character education is nota adding a program or set of programs to a school. Rather it is a transformation of the culture and life of the school.” Jadi implementasi pendidikan karakter melalui transformasi budaya dan perikehidupan sekolah, dirasakan lebih efektif daripada mengubah kurikulum dengan menambahkan materi pendidikan karakter ke dalam muatan kurikulum.

Lanjutan..
• Puskur Kemendiknas (2011) dalam kaitan pengemb. Budaya sekolah dilaksanakan dalam kaitan pengembangan diri, menyarankan 4 hal, berikut: a. Kegiatan rutin, merupakan kegiatan yang dilaksanakan peserta didik secara terus-menerus dan konsisten setiap saat. Misalnya upacara bendera setiap hari, budaya 4S, piket kelas, berbaris saat masuk kelas, dll. b. Kegiatan spontan, saat ini juga, pada waktu terjadi keadaan tertentu, misalnya mengumpulkan sumbangan bagi korban bencana, mengunjungi teman yang sakit atau sedang tertimpa misibah, dll.

Lanjutan...
c. Keteladanan, timbulnya sikap dan perilaku PD karena meniru perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan di sekolah bahkan perilaku seluruh warga sekolah yang dewasa lainnya sebagai model, termasuk misalnya petugas kantin, satpam sekolah, penjaga sekolah dan sebagainya. Dalam hal ini akan dicontoh, misalnya kerapian baju para pengajar, kebiasaan para warga sekolah untuk disiplin, dll. d. Pengkondisian, penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter, misalnya kondisi meja guru dan kepala sekolah yang rapi, kondisi toilet yang bersih, disediakan tempat sampah yang cukup, halaman sekolah yang hijau penuh pepohonan, dll.

Lanjutan...
• Untuk kegiatan ekstrakurikuler, bergantung kekhasan jenis dan tujuan kegiatan ekstrakurikuler tersebut, selalu ada nilai-nilai karakter yang dikembangkan. Misalnya dalam tim olah raga maka nilai sportivitas, mengikuti aturan main, kerja sama, keriangan, keberanian dan kekompakan selalu muncul. Dalam klub Kelompok Ilmiah Remaja dipupuk jiwa kuriositas (kepenasaran intelektual), kreatif, kritis, inovatif. Dalam klub Palang Merah Remaja dipupuk nilai kepedulian sosial, empati, dan keberanian dsb.

METODOLOGI PENDIDIKAN KARAKTER
• • • • • • • • Metode Bercerita, Mendongeng (Telling Story) Metode diskusi dan Berbagai Variannya Metode Buzz Group Panel dan diskusi Panel Kelompok sindikat (syndicate group) Curah Pendapat (brainstorming) Model Mangkuk ikan, model akuarium (fish bowl) Metode Simulasi ( bermain Peran/Role playing dan Sosiodrama) • Metode dan model Pembelajaran Kooperatif.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->