Beberapa contoh kasus pelanggaran etika akuntan (http://keluarmaenmaen.blogspot.

com/2010/11/beberapa-contoh-kasuspelanggaran-etika.html)
Dalam kode etik yang telah disebutkan pada Etika profesi akuntan telah diatur bagaimana seharusnya para akuntan bertindak. Akan tetapi pada kenyataannya, selalu ada penyimpangan- penyimpangan yang dilakukan oleh para akuntan. Penyimpangan- penyimpangan ini tentunya berdampak kurang baik terhadap kredibilitas maupun nama baik akuntan di mata masyarakat. Beberapa contoh kasus pelanggaran etika oleh akuntan antara lain:

1. Kasus Mulyana W Kusuma.
Kasus ini terjadi sekitar tahun 2004. Mulyana W Kusuma sebagai seorang anggota KPU diduga menyuap anggota BPK yang saat itu akan melakukan audit keuangan berkaitan dengan pengadaan logistic pemilu. Logistic untuk pemilu yang dimaksud yaitu kotak suara, surat suara, amplop suara, tinta, dan teknologi informasi. Setelah dilakukan pemeriksaan, badan dan BPK meminta dilakukan penyempurnaan laporan. Setelah dilakukan penyempurnaan laporan, BPK sepakat bahwa laporan tersebut lebih baik daripada sebeumnya, kecuali untuk teknologi informasi. Untuk itu, maka disepakati bahwa laporan akan diperiksa kembali satu bulan setelahnya. Setelah lewat satu bulan, ternyata laporan tersebut belum selesai dan disepakati pemberian waktu tambahan. Di saat inilah terdengar kabar penangkapan Mulyana W Kusuma. Mulyana ditangkap karena dituduh hendak melakukan penyuapan kepada anggota tim auditor BPK, yakni Salman Khairiansyah. Dalam penangkapan tersebut, tim intelijen KPK bekerjasama dengan auditor BPK. Menurut versi Khairiansyah ia bekerja sama dengan KPK memerangkap upaya penyuapan oleh saudara Mulyana dengan menggunakan alat perekam gambar pada dua kali pertemuan mereka. Penangkapan ini menimbulkan pro dan kontra. Salah satu pihak berpendapat auditor yang bersangkutan, yakni Salman telah berjasa mengungkap kasus ini, sedangkan pihak lain berpendapat bahwa Salman tidak seharusnya melakukan perbuatan tersebut karena hal tersebut telah melanggar kode etik akuntan. PEMBAHASAN: Berdasarkan kode etik akuntan, kami lebih setuju dengan pendapat yang kedua, yaitu bahwa Salman tidak seharusnya melakukan perbuatan tersebut, meskipun pada dasarnya tujuannya dapat dikatakan mulia. Perbuatan tersebut tidak dapat dibenarkan karena beberapa alasan, antara lain bahwa auditor tidak seharusnya melakukan komunikasi atau pertemuan dengan pihak yang sedang diperiksanya. Tujuan yang mulia seperti menguak kecurangan yang dapat berpotensi merugikan negara tidak seharusnya dilakukan dengan cara- cara yang tidak etis. Tujuan yang baik harus dilakukan dengan cara-cara, teknik, dan prosedur profesi yang menjaga, menjunjung, menjalankan dan mendasarkan pada etika profesi. Auditor dalam hal ini tampak sangat tidak bertanggung jawab karena telah menggunakan jebakan uang untuk menjalankan tugasnya sebagai auditor.

H & R.Indonesia Corruption Watch (ICW) meminta pihak kepolisian mengusut sembilan Kantor Akuntan Publik. auditor telah memihak salah satu pihak dengan berpendapat telah ada kecurangan. Kesembilan KAP tersebut adalah AI & R. mengungkapkan.” ujarnya. Kita mengharapkan ada tindakan administratif dari Departemen Keuangan misalnya mencabut izin kantor akuntan publik itu. sembilan dari sepuluh KAP yang melakukan audit terhadap sekitar 36 bank bermasalah ternyata tidak melakukan pemeriksaan sesuai dengan standar audit. Ini merugikan masyarakat. Karena itu. Ketika prinsip objektivitas ditiadakan. kesembilan KAP itu telah menyalahi etika profesi. SD & R. Menurut Tetan. Jakarta. JM & R. hasil laporan KAP itu bukan sekadar “human error” atau kesalahan dalam penulisan laporan keuangan yang tidak disengaja. Auditor dianggap tidak mampu mempertahankan pengetahuan dan keterampilan professional sampai dia harus melakukan upaya penjebakan untuk membuktikan kecurangan yang terjadi. Selain itu. Hasil audit tersebut ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya sehingga akibatnya mayoritas bankbank yang diaudit tersebut termasuk di antara bank-bank yang dibekukan kegiatan usahanya oleh pemerintah sekitar tahun 1999. diduga telah melakukan kolusi dengan pihak bank yang pernah diauditnya antara tahun 1995-1997. berdasarkan temuan BPKP. ICW dalam waktu dekat akan memberikan laporan kepada pihak kepolisian untuk melakukan pengusutan mengenai adanya tindak kriminal yang dilakukan kantor akuntan publik dengan pihak perbankan. “Dengan kata lain. misalnya mereka memberi laporan bank tersebut sehat ternyata dalam waktu singkat bangkrut. ICW juga sudah melaporkan tindakan dari kesembilan KAP tersebut kepada Majelis Kehormatan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan sekaligus meminta supaya dilakukan tindakan etis terhadap anggotanya yang melanggar kode etik profesi akuntan. maka kinerja auditor tersebut sangat pantas diragukan. dan RBT & R. Pada kasus ini. 2. HT & M. kesembilan KAP itu telah melanggar standar audit sehingga menghasilkan laporan yang menyesatkan masyarakat. Teten juga menyayangkan Dirjen Lembaga Keuangan tidak melakukan tindakan administratif meskipun pihak BPKP telah menyampaikan laporannya. yang berdasarkan laporan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). auditor juga telah melanggar prinsip keempat. Kemungkinan ada kolusi antara kantor akuntan publik dengan bank yang diperiksa untuk memoles laporannya sehingga memberikan laporan palsu. ICW menduga. ini jelas suatu kejahatan. tetapi kemungkinan ada berbagai penyimpangan dan pelanggaran yang dicoba ditutupi dengan melakukan rekayasa akuntansi.Berdasarkan etika profesi. 19 April 2001 .hatian professional. PU & R. S & S. yaitu prinsip objektivitas. Koordinator ICW Teten Masduki kepada wartawan di Jakarta.” tegasnya. auditor juga telah melanggar prinsip kelima yaitu prinsip kompetensi dan kehati. “Kami mencurigai. karena itu kemudian ICW mengambil inisiatif untuk mengekspos laporan BPKP ini karena kesalahan sembilan KAP itu tidak ringan. Kamis. Kasus Sembilan KAP yang diduga melakukan kolusi dengan kliennya. RY. .

unsoed. menjeratnya dengan Foreign Corrupt Practices Act. http://praptapa.2 juta menjadi hanya US$ 270 ribu. Baker melaporkan secara suka rela kasus ini dan memecat eksekutifnya. Akuntan yang telah berusaha menyuap untuk kepentingan klien seperti pada kasus di atas dapat dikatakan tidak jujur dan tidak adil dalam melaksanakan tugasnya.PEMBAHASAN: Dalam kasus tersebut. hampir saja Baker dan KPMG terseret ke pengadilan distrik Texas. Di sini terihat bahwa ia telah berat sebelah dalam memenuhi kewajiban profesionalnya. STAN 2010-2011 yang juga bersumber dari: 1. prinsip.net/?p=286 .. serta bebas dari benturan kepentingan pihak lain. KPMG-Siddharta Siddharta & Harsono harus menanggung malu. Securities & Exchange Commission. mereka telah bertindak berat sebelah yaitu mengutamakan kepentingan klien dan mereka tidak dapat memberikan penilaian yang adil. Badan pengawas pasar modal AS. akuntan juga telah melanggar prinsip objektif hingga ia bersedia melaukan kecurangan. Akibatnya. Kode etik pertama yang dilanggar yaitu prinsip pertama tentang tanggung jawab profesi. Maka. Berkat aksi sogok ini. Namun.pdf 3. Sumber: Tulisan kelas 3B Spesialisasi Akuntansi Pemerintahan. http://uwiiii. karena Baker mohon ampun. Penasihat Anti Suap Baker rupanya was-was dengan polah anak perusahaannya. http://eprints. ketimbang menanggung risiko lebih besar. tidak memihak. kasus ini akhirnya diselesaikan di luar pengadilan. undang-undang anti korupsi buat perusahaan Amerika di luar negeri. maka akuntan telah menyalahi kepercayaan yang diberikan masyarakat kepada mereka selaku orang yang dianggap dapat dipercaya dalam penyajian laporan keuangan. Pada kasus ketiga ini.prinsip yan dilanggar yaitu antara lain prinsip tentang integritas. anak perusahaan Baker Hughes Inc. yang tercatat di bursa New York. diterbitkan faktur palsu untuk biaya jasa profesional KPMG yang harus dibayar kliennya PT Easman Christensen. Kode etik kedua yang dilanggar yaitu kepentingan public dan objektivitas. KPMG pun terselamatan. kasus ketiga juga melibatkan kantor akuntan public yang dinilai terlalu memihak kepada kliennya. akuntan yang bersangkutan banyak melanggar kode etik profesi akuntan.. Dalam hal ini. Dengan menerbitkan laporan palsu. Dari semula US$ 3. Prinsip ini mengandung makna bahwa akuntan sebagai pemberi jasa professional memiliki tanggung jawab kepada semua pemakai jasa mereka termasuk masyarakat dan juga pemegang saham. September tahun 2001. PEMBAHASAN: Hampir serupa dengan kasus sebelumnya.ac.undip. kewajiban pajak Easman memang susut drastis.com/2009/11/14/ 2. 3. Namun.wordpress. Selain prinsip tersebut. Kasus KPMG-Siddharta Siddharta & Harsono yang diduga menyuap pajak. Para akuntan dianggap telah menyesatkan public dengan penyajian laporan keuangan yang direkayasa dan mereka dianggap tidak objective dalam menjalankan tugas.id/22994/2/SKRIPSI. Sebagai siasat. Kantor akuntan publik ternama ini terbukti menyogok aparat pajak di Indonesia sebesar US$ 75 ribu.

http://gadingmahendradata. anak perusahaan Baker Hughes Inc. Enron. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat saya tarik mengenai ke empat contoh kasus diatas adalah pihak-pihak yang terkait pada kasus diatas pada umumnya sudah jelas melanggar kode etik akuntan.com/doc/11460206/Resiko-Etika-Dan-Manajemen-Resiko-Etika 5.com/msg00614. yang menjabat sebagai sebagai seorang anggota KPU diduga menyuap anggota BPK yang saat itu akan melakukan audit keuangan berkaitan dengan pengadaan logistic pemilu. 2011 • Related • Filed Under (http://wartawarga. http://www. Enron dan KAP Andersen dituduh telah melakukan kriminal dalam bentuk penghancuran dokumen yang berkaitan dengan investigasi atas kebangkrutan Enron.com/akhi@yahoogroups. Pada contoh kasus diatas. Namun karena Baker memohon kebijakan dari Badan pengawas pasar modal AS dan Securities and Exchange Commission.wordpress.2 milyar. Kasus Enron terdapat manipulasi laporan keuangan dengan mencatat keuntungan $600 juta padahal perusahaan rugi. akhirnya kasus ini diselesaikan di luar pengadilan dan KPMG pun terselamatkan. Dalam hal ini kesembilan KAP itu telah melanggar standar audit sehingga menghasilkan laporan yang menyesatkan masyarakat. suatu perusahaan yang menduduki ranking tujuh dari lima ratus perusahaan terkemuka di Amerika Serikat dan merupakan perusahaan energi terbesar di AS jatuh bangkrut dengan meninggalkan hutang hampir sebesar US $ 31.mail-archive. http://www.com/2009/11/30/kasus-arthur-andersen-praktik-akuntansi-yang-dipertanyakan/ CONTOH KASUS PELANGGARAN ETIKA PROFESI AKUNTANSI November 7th. Kasus Mulyana W Kusuma tahun 2004.4. karena mereka memberi laporan bank tersebut sehat ternyata dalam waktu singkat bank tersebut bangkrut. Kasus Enron terungkap pada Desember 2001 dan terus berkembang tahun 2002. Hasil audit tersebut ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya sehingga akibatnya mayoritas bank-bank yang diaudit tersebut termasuk di antara bank-bank yang dibekukan kegiatan usahanya oleh pemerintah sekitar tahun 1999. KAP Andersen diberhentikan sebagai auditor Enron. Kasus KPMG-Siddharta dan Harsono yang diduga menyuap pajak telah terbukti menyogok aparat pajak di Indonesia sebesar US$ 75 ribu. diterbitkanlah faktur palsu untuk biaya jasa profesional KPMG yang harus dibayar kliennya PT Easman Christensen.gunadarma.html 6. dengan tujuan agar investor tetap tertarik pada saham Enron.ac. Kode etik yang dilanggar yaitu kepentingan Public and Objectivity dan . Sebagai siasat.scribd. Dalam kasus ini ICW melaporkan tindakan Mulyana W Kusuma kepada Majelis Kehormatan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan sekaligus meminta supaya dilakukan tindakan etis terhadap anggotanya yang melanggar kode etik profesi akuntan. yang tercatat di bursa New York.id/2011/11/contoh-kasus-pelanggaran-etika-profesi-akuntansi/) Kasus sembilan dari sepuluh KAP yang melakukan audit terhadap sekitar 36 bank bermasalah ternyata tidak melakukan pemeriksaan sesuai dengan standar audit. Hampir saja Baker dan KPMG terseret ke pengadilan distrik Texas karena telah melanggar undang-undang anti korupsi buat perusahaan Amerika di luar negeri. Kode etik akuntan dibuat bertujuan untuk dijadikan pedoman dalam melaksanakan tugas akuntan.

id/22994/2/SKRIPSI…pdf 2.mail-archive. http://uwiiii. Dalam hal ini akuntan/auditor dianggap telah menyesatkan publik dengan penyajian laporan keuangan yang direkayasa dan mereka dianggap tidak objektive dalam menjalankan tugas. Akibat berbagai moral hazard ini. Referensi : 1. seperti pelanggaran BMPK.ac. dalam bentuk timbulnya biaya semacam berupa BLBI dan biaya penyehatan perbankan yang sangat tinggi. maka kinerja tersebut sangat pantas diragukan.multiply. http://www. 2 Mei 2001 Agam Fatchurrochman Ketua Divisi Investigasi Indonesia Corruption Watch Salah satu penyebab krisis ekonomi yang sampai sekarang belum selesai adalah ambruknya sektor perbankan. tidak terpenuhinya indikator kesehatan.undip. laporan keuangan yang direkayasa.scribd. http://www. Robohnya sektor perbankan ini sebenarnya dapat diduga akan terjadi jika melihat begitu banyak penyimpangan yang dilakukan oleh sektor perbankan didiamkan begitu saja oleh BI sebagai pengawas perbankan. Berbagai penyimpangan.blogspot.hatian professional.com/msg00614. Jakarta. kolusi dalam pemberian kredit. Karena telah melanggar prinsip kompetensi dan kehati. Tetapi apakah semuanya merupakan kesalahan dari pemilik dan manajemen bank serta BI? Apakah tidak ada aktor lain yang sebenarnya mampu untuk melihat berbagai kelemahan sistem .html 5.html 4.Principle of Objectivity.com/akhi@yahoogroups. banyaknya kredit fiktif.com/2009/12/etika-profesi-akuntansi-kasusenron-bab. http://eprints.com/reviews/item/8?&show_interstitial=1&u=%2Frevi semuan ews%2Fitem : Agam's Multiply Site) ya Kategori: Lainnya Melanggar Standar atau Kejahatan Profesi? Hasil Peer Review BPKP atas Kertas Kerja Auditor Bank-Bank Bermasalah Diskusi KAP Bermasalah Majalah Media Akuntansi-IAI.com/doc/11460206/Resiko-Etika-Dan-Manajemen-Resiko-Etika 3. http://agustinus-etikaprofesiakuntansi. sektor perbankan menjadi beban yang sangat berat bagi perekonomian nasional.wordpress. dan berujung pada mengucurnya BLBI ratusan triliun untuk tujuan yang tidak jelas.com/2009/11/14 Melanggar Standar atau Kejahatan Profesi? Hasil Peer Review BPKP atas Kertas Kerja Auditor Bank-Bank Bermasalah Jul 5. Jika prinsip objektivitas akuntansi profesi ditiadakan. '05 4:43 PM untuk (http://agamfat. hampir semuanya berasal dari kesengajaan pengelola bank dan kelemahan sistem pengawasan perbankan BI.

Sektor perbankan adalah pengerah dana masyarakat. Jasa profesional inilah yang dilakukan oleh auditor independen. Etika Profesional Auditor dan Standar Profesional Akuntan Publik Etika profesional diperlukan setiap profesi karena kebutuhan profesi tersebut akan kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa yang diserahkan. Atau dapat juga disebut sebagai ukuran baku atas mutu jasa auditing. Begitu juga terhadap profesi akuntan publik. Karena manajemen dalam menyajikan laporan keuangan mempunyai tujuan tertentu. maka dana masyarakat akan mengalir ke bank tersebut. Standar auditing terdiri dari 10 standar dan semua Pernyataan . maka bank tersebut justru menjadi beban bagi perekonomian. Informasi keuangan tersebut dapat mengandung kekeliruan (error). jika bank telah masuk bursa.perbankan nasional dan rekayasa keuangan yang dilakukan pengelola bank? Pertanyaan semacam ini sebenarnya akan terjawab jika kita melihat hasil peer review BPKP atas kertas kerja auditor yang mengaudit 37 bank. Informasi keuangan memang disajikan oleh manajemen bank. Tetapi yang sering terjadi justru terdapat ketidakberesan (irregularities). Tetapi karena secara fundamental tidak sehat. kepercayaan masyarakat terhadap mutu audit akan menjadi lebih tinggi jika profesi akuntan publik menerapkan standar mutu yang tinggi terhadap pelaksanaan pekerjaan audit. yang pada ujungnya menyebabkan tidak dapat menemukan error dan irregularities serta akhirnya memberikan pendapat yang misleading tentang laporan bank yang diauditnya. Anggota IAI yang berpraktik sebagai akuntan publik bertanggung jawab mematuhi pasal-pasal yang tercantum dalam Kode Etik Akuntan Indonesia. Tetapi bagaimana kalau jasa yang diberikan auditor itu tidak profesional dan tidak secara konsisten menerapkan kualitas dalam perencanaan dan pekerjaan lapangan dan pelaporan? Kemungkinan terbesarnya adalah auditor tidak menerapkan standar mutu yang tinggi terhadap pelaksanaan pekerjaan auditnya. bank bahkan menarik dana masyarakat dalam bentuk penanaman modal. partner. Masyarakat akan menaruh dananya dalam berbagai bentuk jika bank menunjukkan kondisi keuangan yang sehat. etika profesional semacam ini dikenal dengan nama Kode Etik Akuntan Indonesia. termasuk juga semua orang yang bekerja dalam praktik profesi akuntan publik. tidak sepenuhnya mematuhi etika profesionalitasnya. seperti karyawan. diantaranya beberapa bank mendapatkan kucuran BLBI. karena masyarakat merasa terjamin akan memperoleh jasa yang dapat diandalkan. atau berbagai pelanggaran dan penyimpangan yang dicoba ditutupi dengan rekayasa akuntansi. Sedangkan Standar Auditing adalah suatu ukuran pelaksanaan tindakan yang merupakan pedoman umum bagi auditor dalam melaksanakan audit. Jika manajemen bank berhasil mengelabui masyarakat dengan menyajikan laporan keuangan yang seolah-olah mengambarkan keberhasilan perusahaan secara keuangan. tanggung jawabnya juga berada pada pundak pengelola bank. siapapun orangnya. Bagi profesi akuntan. dan staf. Masyarakat akan menghargai profesi yang menerapkan standar mutu tinggi terhadap pelaksanaan pekerjaan anggota profesinya. maka diperlukan jasa profesional untuk menilai kewajaran informasi keuangan yang disajikan manajemen. yaitu salah saji dalam laporan keuangan yang disengaja. yaitu salah saji dalam laporan keuangan yang tidak disengaja. Tidak hanya melalui tabungan.

pengajuan pertanyaan. 4. Standar Pekerjaan Lapangan 1. dan Standar Pelaporan memberikan panduan auditor dalam mengkomunikasikan hasil auditnya melalui laporan audit kepada pemakai laporan keuangan. 3. Laporan audit harus menunjukkan keadaan yang di dalamnya prinsip akuntansi tidak secara konsisten diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dalam hubungannya dengan prinsip akuntansi yang diterapkan dalam periode sebelumnya. 2. laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan auditor. Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis cukup sebagai auditor. 2. b.Standar Auditing yang berlaku. dan Standar Pelaporan.beranggotakan kalangan akuntan publik di Kompartemen Akuntan Publik yang diusulkan dan diangkat oleh Rapat Anggota Kompartemen. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya. saat. Dalam semua hal yang berhubungan dengan penugasan. Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. Standar Umum 1. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan. Laporan audit harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Standar Umum mengatur syarat-syarat diri auditor. auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama. independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor. 3. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai. Bahan bukti kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi. kecuali dinyatakan lain dalam laporan audit. Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat. c. dan lingkup pengujian yang akan dilakukan. Dalam semua hal yang nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan. Standar Pekerjaan Lapangan mengatur mutu pelaksanaan auditing. Sepuluh standar itu terbagi atas Standar Umum. Pengawasan kepatuhan dan penilaian pelaksanaan kode etik serta SPAP oleh akuntan publik dilaksanakan oleh Badan Pengawas Profesi di tingkat Kompartemen Akuntan Publik dan Dewan Pertimbangan Profesi di tingkat IAI. 2. Badan Pengawas Profesi --yang sekarang bernama Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik (BP2AP) dan berfungsi sebagai lembaga peradilan tingkat I ini-. 3. Standar Auditing a. Standar Pelaporan 1. Standar Pekerjaan Lapangan. jika ada. maka alasannya harus dinyatakan. pengamatan. Sedang Dewan Pertimbangan Profesi yang sekarang bernama Majelis Kehormatan beranggotakan tokoh-tokoh profesi yang dihormati dari . dan tingkat tanggung jawab yang dipikulnya. dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit. Standar Auditing dan beberapa standar serta pernyataan lainnya dikodifikasi dalam buku Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) sejak Agustus 1994. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya.

Kemudian jika menemukan pelanggaran Kode Etik Akuntan Indonesia SPAP. Majelis ini berwewenang untuk menangani semua kasus pelanggaran kode etik atau SPAP pada tingkat banding dan menetapkan sanksi yang bersifat final. Hal ini disebut juga peer review. 1996. Badan ini juga menangani pengaduan dari masyarakat menyangkut pelanggaran akuntan publik terhadap Kode Etik Akuntan Indonesia atau SPAP. Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan. Kecurigaaan masyarakat ini sebenarnya ditangkap oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan ditindaklanjuti dengan keinginan pada bulan April 1999 untuk membentuk tim di bidang penegakan disiplin. Tim ini akan meneliti kertas kerja kantor akuntan publik (KAP) yang mengaudit laporan keuangan 38 bank beku usaha (BBKU). Badan ini berwenang untuk menetapkan sanksi kepada akuntan publik yang melanggar. berupa pernyataan Standar Pengendalian Mutu. yaitu BPKP sejak tahun 1983. dan tokoh masyarakat. pejabat Pemerintah. menjalankan kode etik dan SPAP. Departemen Keuangan pada Oktober 1999 meminta BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) untuk menggantikan niat IAI dan melakukan peer review terhadap kertas kerja auditor bank bermasalah untuk tahun buku 1995. Hal ini dilakukan berdasarkan SK Menteri Keuangan No. Selin itu dalam rangka pengendalian mutu kantor akuntan publik. IAI menyusun Sistem Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik. masyarakat mencurigai kalau banyak auditor sebenarnya mempunyai kontribusi terhadap ambruknya dunia perbankan.472/KMK. maka kasus ini kemudian ditangani oleh lembaga banding. Peer Review BPKP Atas Kertas Kerja Auditor Dalam konteks krisis. kalangan pemakai jasa akuntan. ketika banyak bank-bank yang ambruk padahal laporan keuangannya menunjukkan prestasi bagus dan sehat.01. karena IAI sampai beberapa saat tidak mewujudkan niatnya tersebut. 1997. Fungsi dari Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik ini secara garis besar adalah mengawasi kepatuhan dan melakukan penilaian pelaksanaan Kode Etik Akuntan Indonesia dan SPAP oleh akuntan publik. Dalam sistem tersebut. Tetapi Majelis ini bertindak atas dasar pengaduan tertulis mengenai pelanggaran kode etik oleh anggota IAI atau atas permintaan pengurus IAI. pekerjaan seorang akuntan publik dapat direview oleh akuntan publik lain atau institusi yang berwenang. Tetapi sayangnya niat tersebut tidak terlaksana.berbagai kalangan akuntan. Karena itu Direktorat Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai. Majelis ini dapat mengenakan sanksi berupa pemberhentian keanggotaan sementara atau tetap. Selain itu Badan ini juga dapat mengajukan usul dan saran mengenai pengembangan kode etik akuntan kepada Komite Kode Etik. yaitu Majelis Kehormatan IAI. Hal ini juga ditujukan agar auditor lebih menjaga kualitas pekerjaan.017/1999 . yang nantinya berujung agar para bankir tidak lagi melakukan rekayasa laporan keuangan. Majelis ini diangkat oleh Kongres IAI dan bertanggung jawab kepada kongres tersebut. Tetapi jika terdapat akuntan publik yang mengajukan banding atas keputusan sanksi yang dijatuhkan. yaitu BPKP. Dalam review ini setiap anggota IAI tidak boleh menghalangi atau menghindari pelaksanaan review dari anggota lainnya yang ditunjuk IAI atau instansi yang ditunjuk untuk itu.

yaitu bukti audit telah diperoleh. Kertas Kerja ini dapat dikelompokkan ke dalam 5 tipe. karena tujuan pembuatan kertas kerja ini adalah untuk mendukung pendapat auditor atas laporan keuangan auditan. (3) Ringkasan Jurnal Adjustment. Pada umumnya dokumentasi audit kurang memadai (70%). b. Telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan pertama. dan kesimpulan yang dibuatnya sehubungan dengan auditnya. Menurut Standar Auditing Seksi 339 Kertas Kerja paragraf 03. prosedur audit telah diterapkan. Terdapat auditor yang tidak memahami peraturan perbankan tetapi menerima penugasan audit . (2) Working Trial Balance. yaitu (1) Program Audit. 3. mengkoordinasi dan mengorganisasi semua tahap audit. serta memberikan pedoman dalam audit berikutnya. maka BPKP dapat melihat kualitas pekerjaan auditor. pengujian yang dilakukannya. Jadi peer review ini dilakukan BPKP dengan memeriksa kertas kerja yang dibuat auditor dalam mengaudit bank-bank tersebut. bukan melakukan audit lagi terhadap bank-bank tersebut. kertas kerja adalah catatan-catatan yang diselenggarakan oleh auditor mengenai prosedur audit yang ditempuhnya. saat. (4) Lead Schedule atau Top Schedule. Telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan ketiga. Hampir semua KAP tidak melakukan pengujian yang memadai atas suatu account. informasi yang diperolehnya. Kertas kerja ini biasanya harus berisi dokumentasi yang memperlihatkan: a. yaitu pemeriksaan telah direncanakan dan disupervisi dengan baik. 2. dan lingkup pengujian yang telah dilakukan. Peer review ini dilakukan dengan memeriksa kertas kerja yang dibuat auditor ketika mengaudit bank-bank tersebut untuk melihat bagaimana pelaksanaan SPAP dipatuhi.tanggal 4 Oktober 1999 tentang Pembentukan Tim Evaluasi terhadap Auditor yang Mengaudit Bank-Bank Bermasalah. yaitu pemahaman memadai atas struktur pengendalian intern telah diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat. Dengan memeriksa kertas kerja. dan pengujian telah dilaksanakan. Kemudian Standar Auditing Sksi 339 Kertas Kerja paragraf 05 menyatakan bahwa kertas kerja harus cukup memperlihatkan bahwa catatan akuntansi cocok dengan laporan keuangan atau informasi lain yang dilaporkan serta standar auditing yang dapat diterapkan dan dilaksanakan oleh auditor. Peer review yang dilakukan atas kertas kerja 10 KAP (ada 17 auditor yang menjabat sebagai partner) yang mengaudit 37 bank bermasalah memperlihatkan bahwa: 1. menguatkan kesimpulan-kesimpulan auditor dan kompetensi auditnya. Tujuan dari peer review ini adalah untuk melaksanakan tugas Direktorat Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai Departemen Keuangan sebagai pembina profesi akuntan dan juga untuk menjawab kecurigan masyarakat berkaitan dengan kualitas pekerjaan auditor bank-bank tersebut. c. yang memberikan bukti kompeten yang cukup sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan Tetapi sayangnya hasil peer review BPKP atas kertas kerja auditor bank-bank bermasalah ternyata menunjukkan bahwa banyak auditor tersebut yang melanggar SPAP. Telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan kedua. dan (5) Supporting Schedule.

Melanggar Standar atau Kejahatan Profesi? Hasil peer review tersebut sebenarnya secara gamblang menggambarkan bahwa banyak auditor yang tidak menjaga mutu pekerjaan auditnya. Apakah akibat ketika audit melanggar Standar Auditing seperti yang terdapat dalam peer review BPKP? Kemungkinan terbesarnya adalah auditor tidak dapat menemukan error dan irregularities serta akhirnya memberikan pendapat yang misleading tentang laporan bank yang diauditnya. Pengungkapan yang tidak memadai di dalam laporan audit (80%). Merupakan tugas bagi kita semua untuk mendiskusikan apakah masalah diatas hanyalah melanggar standar atau jangan-jangan merupakan kejahatan profesi? Kata kunci: auditing Sebelumnya: The Jakarta Post-Integrity and independence of state auditors Selanjutnya : Hukumonline-Melembagakan Lin Che Wei . Hasil peer review ini oleh BPKP telah disampaikan ke Departemen Keuangan tahun 2000. hanya satu KAP yang menurut BPKP tidak terdapat temuan penyimpangan dari Standar Auditing. Masih terdapat auditor yang tidak mengetahui laporan dan opini audit yang sesuai dengan standar. Namun sampai saat ini belum ada tindakan apapun dari Departemen Keuangan. Sedangkan IAI sebagai organisasi profesi akuntan tidak melakukan tindakan apapun atas hasil peer review ini.terhadap bank (1 auditor). REKAPITULASI HASIL PEER REVIEW BPKP TERHADAP KERTAS KERJA AUDITOR 37 BANK BERMASALAH Ketentuan Standar Uraian Pelanggaran Jumlah KAP Standar Pekerjaan Lapangan Tidak melakukan pengujian yang memadai atas suatu account 9 Dokumentasi audit tidak memadai 7 Tidak melakukan kontrol hubungan 5 Tidak melakukan uji ketaatan terhadap peraturan 4 Tidak membuat simpulan audit 4 Tidak melakukan perencanaan sampel audit 3 Tidak melakukan pengujian fisik 2 Tidak melakukan pengkajian terhadap resiko audit dan materialitas 2 Tidak memahami dan mempelajari peraturan perbankan 1 Audit program yang tidak sesuai dengan karakteristik bisnis klien 1 Standar Pelaporan Pengungkapan yang tidak memadai 8 Opini audit yang tidak sesuai dengan standar 1 Kesalahan pengklasifikasian suatu transaksi 1 Laporan audit yang tidak sesuai dengan standar 1 Jadi dari keseluruhan kertas kerja auditor yang direview. 4. 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful