OPTIMALISASI PELAKSANAAN PROYEK DENGAN METODE PERT DAN CPM

(Studi Kasus Twin Tower Building Pasca Sarjana Undip) EKA DANNYANTI Dosen Pembimbing : Drs. Budi Sudaryanto, MT Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro

ABSTRACT
PERT-CPM method can be utilized to manage project working time become more efficient and effective. In order to reduce the impact of the project delay and cost overruns, three alternatives methods can be drawn; (i) additional workforces/labours, (ii) working overtime, and (iii) subcontracting. Acceleration of duration is done on the activities at the critical path and total days that given on each alternative is equaled. Result showed that subcontracting alternative figured out the optimal time to finish the project which is 150 days with projects total cost Rp21.086.217.636,83.

Keywords : planning, controlling, project management, PERT-CPM method, crashing

2

PENDAHULUAN Proyek pada umumnya memiliki batas waktu (deadline), artinya proyek harus diselesaikan sebelum atau tepat pada waktu yang telah ditentukan. Berkaitan dengan masalah proyek ini maka keberhasilan pelaksanaan sebuah proyek tepat pada waktunya merupakan tujuan yang penting baik bagi pemilik proyek maupun kontraktor. Demi kelancaran jalannya sebuah proyek dibutuhkan manajemen

yang akan mengelola proyek dari awal hingga proyek berakhir, yakni manajemen proyek. Manajemen proyek mempunyai sifat istimewa, dimana waktu kerja manajemen dibatasi oleh jadwal yang telah ditentukan (Hartawan, n.d). Perubahan kondisi yang begitu cepat menuntut setiap pimpinan yang terlibat dalam proyek untuk dapat mengantisipasi keadaan, serta menyusun bentuk tindakan yang diperlukan. .Aktivitas proyek pembangunan Twin Tower Building (TTB) Pasca Sarjana Universitas Diponegoro meliputi empat aktivitas besar, yakni kegiatan persiapan, pekerjaan struktur, pekerjaan arsitektur, dan pekerjaan mekanikal elektrikal. PT. Hutama Karya merupakan perusahaan jasa kontraktor yang mengerjakan proyek pembangunan gedung pasca sarjana Universitas Diponegoro. Proyek pembangunan Twin Tower Building Pasca Sarjana Undip direncanakan selesai pada tanggal 23 Juli 2010 dengan 175 hari kerja (PT. Hutama Karya (Persero), 2010), namun dalam pelaksanaannya proyek mengalami keterlambatan. Pada tanggal 23 Juli 2010 penyelesaian proyek baru mencapai 85%, dimana pekerjaan arsitektur dan pekerjaan mekanikal elektrikal gedung belum selesai sepenuhnya (PT. Hutama Karya (Persero), 2010). Pada bulan

Bagaimana bentuk jaringan kerja atau network proyek pembangunan Twin Tower Building (TTB) pasca sarjana Universitas Diponegoro? b. pekerjaan proyek dinyatakan selesai dan dilakukan peresmian gedung. dan pengecatan. Berapa durasi optimal proyek Twin Tower Building (TTB) Pasca Sarjana Universitas Diponegoro? c. h.2) : .Metode Jalur Kritis). RUMUSAN MASALAH Permasalahan yang dihadapi antara lain : a. plumbing. Oleh karena itu diperlukan analisis optimalisasi durasi proyek sehingga dapat diketahui berapa lama suatu proyek tersebut diselesaikan dan mencari adanya kemungkinan percepatan waktu pelaksanaan proyek dengan metode PERT (Project Evaluation and Review Technique) dan CPM (Critical Path Method . namun masih banyak perbaikan di sana sini. yakni perbaikan elektrikal. Berapa total biaya proyek Twin Tower Building (TTB) Pasca Sarjana Universitas Diponegoro dengan durasi proyek optimal? LANDASAN TEORI Proyek Menurut Soeharto (1999.3 Agustus 2010. Untuk mengembalikan tingkat kemajuan proyek ke rencana semula diperlukan suatu upaya percepatan durasi proyek walaupun akan diikuti meningkatnya biaya proyek.

dengan memanfaatkan sumber daya manusia maupun non sumber daya manusia. yaitu lingkup. dan biaya. mengemukakan definisi manajemen proyek sebagai berikut : Manajemen proyek adalah ilmu dan seni yang berkaitan dengan memimpin dan mengkoordinir sumber daya yang terdiri dari manusia dan material dengan menggunakan tehnik pengelolaan modern untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. melihat dari wawasan manajemen. PMI (Project Management Institute) (dikutip oleh Soeharto. dan mengendalikan sumber daya perusahaan untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah ditentukan. mutu. Kerzner (dikutip oleh Soeharto. 1999).CPM). bahwa manajemen proyek adalah merencanakan. Munawaroh (2003) menyatakan proyek merupakan bagian dari program kerja suatu organisasi yang sifatnya temporer untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi. metode Jalur Kritis (Critical Path Method . Berbeda dengan definisi H. 1999). memimpin. mengorganisir. jadwal. yakni metode untuk merencanakan dan mengawasi proyekproyek merupakan sistem yang paling banyak dipergunakan diantara semua . Kerzner (dikutip oleh Soeharto. 1999) menyatakan.4 Kegiatan proyek dapat diartikan sebagai satu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas. CPM Menurut Levin dan Kirkpatrick (1972). dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk menghasilkan produk atau deliverable yang kriteria mutunya telah digariskan dengan jelas. Manajemen Proyek H. serta memenuhi keinginan para stake holder.

Lintasan Kritis Heizer dan Render (2005) menjelaskan bahwa dalam dalam melakukan analisis jalur kritis. CPM merupakan analisa jaringan kerja yang berusaha mengoptimalkan biaya total proyek melalui pengurangan atau percepatan waktu penyelesaian total proyek yang bersangkutan. lintasan kritis adalah lintasan yang paling menentukan waktu . yaitu jalur yang memiliki rangkaian komponen-komponen kegiatan dengan total jumlah waktu terlama.5 sistem lain yang memakai prinsip pembentukan jaringan.Metode Jalur Kritis) dikenal dengan adanya jalur kritis. sehingga dapat dijadikan dasar untuk melakukan pekerjaan selanjutnya dan dapat dilihat pula bahwa suatu pekerjaan belum dapat dimulai apabila kegiatan sebelumnya belum selesai dikerjakan. terdiri atas forward pass dan backward pass. Jaringan Kerja Network planning (Jaringan Kerja) pada prinsipnya adalah hubungan ketergantungan antara bagian-bagian pekerjaan yang digambarkan atau divisualisasikan dalam diagram network. 1999). Dengan demikian dapat dikemukakan bagian-bagian pekerjaan yang harus didahulukan. Jadi. Lintasan kritis (Critical Path) melalui aktivitas-aktivitas yang jumlah waktu pelaksanaannya paling lama. digunakan dua proses two-pass. Dalam metode CPM (Critical Path Method . dimulai dari kegiatan pertama sampai pada kegiatan terakhir proyek (Soeharto. Jalur kritis terdiri dari rangkaian kegiatan kritis.

Proyek dapat dipercepat penyelesaiannya. Penundaan pekerjaan pada lintasan kritis menyebabkan seluruh pekerjaan proyek tertunda penyelesaiannya.6 penyelesaian proyek secara keseluruhan. Time slack atau kelonggaran waktu terdapat pada pekerjaan yang tidak melalui lintasan kritis. dan biaya ke pekerjaan-pekerjaan di lintasan kritis agar efektif dan efisien. bila pekerjaan-pekerjaan yang ada pada lintasan kritis dapat dipercepat. b. alat. 2007). Menurut Badri (1997). digambar dengan anak panah tebal (Badri.1997). Ini memungkinkan bagi manajer/pimpro untuk memindahkan tenaga kerja. d. PERT PERT atau Project Evaluation and Review Technique adalah sebuah model Management Science untuk perencanaan dan pengendalian sebuah proyek (Siswanto. Pengawasan atau kontrol dapat dikontrol melalui penyelesaian jalur kritis yang tepat dalam penyelesaiannya dan kemungkinan di trade off (pertukaran waktu dengan biaya yang efisien) dan crash program (diselesaikan dengan waktu yang optimum dipercepat dengan biaya yang bertambah pula) atau dipersingkat waktunya dengan tambahan biaya lembur. c. Bila CPM memperkirakan waktu komponen kegiatan proyek dengan pendekatan deterministik satu angka yang mencerminkan adanya . manfaat yang didapat jika mengetahui lintasan kritis adalah sebagai berikut : a.

serta keterampilan tenaga kerja yang melaksanakan pekerjaan proyek. dan waktu realistis. waktu pesimis . keadaan lapangan.7 kepastian. PENELITIAN TERDAHULU . dalam PERT digunakan distribusi peluang berdasarkan tiga perkiraan waktu untuk setiap kegiatan. analisis optimasi diartikan sebagai suatu proses penguraian durasi proyek untuk mendapatkan percepatan durasi yang paling baik (optimal) dengan menggunakan berbagai alternatif ditinjau dari segi biaya. 2006). Proses memperpendek waktu kegiatan dalam jaringan kerja untuk mengurangi waktu pada jalur kritis. sehingga waktu penyelesaian total dapat dikurangi disebut sebagai crashing proyek (Heizer dan Render. Analisis Optimasi Dalam penelitian ini. maka PERT direkayasa untuk menghadapi situasi dengan kadar ketidakpastian (uncertainty) yang tinggi pada aspek kurun waktu kegiatan (Soeharto. Maharany dan Fajarwati (2006) menjelaskan bahwa faktor yang berpengaruh dalam menentukan durasi pekerjaan adalah volume pekerjaan. antara lain waktu optimis . Durasi Proyek Durasi proyek adalah jumlah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan proyek (Maharany dan Fajarwati. 2005). metode kerja ( construction method). 1999). Menurut Heizer dan Render (2005).

000.837. dilakukan oleh Ari Sandyavitri (2008) dalam ”Pengendalian Dampak Perubahan Desain Terhadap Waktu dan Biaya Pekerjaan Konstruksi”.02.82 atau 1. Berdasarkan hasil analisis.605. Metode pemendekan durasi dilakukan pada kegiatan-kegiatan di lintasan kritis. menemukan waktu optimal penyelesaian proyek fly over selama 184 hari dengan biaya Rp 700. dan dengan pemindahan sebagian tenaga kerja dari kegiatan lain.86 dan durasi optimal 125 hari untuk lembur 4 jam dan 133 hari untuk lembur 2 jam dengan biaya proyek minimal Rp 1. Setelah dilakukan percepatan waktu dengan menggunakan jaringan kerja.838. Penelitian terdahulu terhadap studi waktu optimal dilakukan oleh Leny Maharany dan Fajawati (2006) yang berjudul ”Analisis Optimasi Percepatan Durasi Proyek dengan Metode Least Cost Analysis”.612.118.370.-. yaitu dengan cara lembur. . Penelitian dengan metode PERT dan CPM. Pemendekan durasi dilakukan dengan empat alternatif cara.375. Penelitian ini hanya membahas pembangunan gedung laboratorium saja yang berdasarkan hasil analisis biaya total proyek minimalnya sebesar Rp 1. Percepatan waktu ini membuat umur proyek menjadi lebih efisien. umur proyek berkurang selama 43 hari. penambahan tenaga kerja baru. kerja bergantian.688.583. dapat diketahui bahwa percepatan durasi pada pembangunan gedung laboratorium SD Model Kabupaten Kuningan adalah 42 hari atau 24% dari durasi normal dengan pengurangan total biaya proyek sebesar Rp 22.8 Metode analisis pada penelitian ini merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Anggara Hayun (2005) dalam “Perencanaan dan Pengendalian Proyek dengan Metode PERT-CPM : Studi Kasus Fly Over Ahmad Yani.20% dari total biaya proyek normal. Karawang”.

2010 . didapatkan peningkatan biaya sebesar Rp 65.akibat pemendekan durasi pelaksanaan pekerjaan dari 68 hari menjadi 53 hari dengan alternatif kerja bergantian (shift)..9 Berdasarkan hasil perhitungan.509. KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis Sumber : Dikembangkan untuk penelitian.817.

10 METODE PENELITIAN Sumber Data Dalam penelitian ini. observasi. Salah satu cara untuk mempercepat durasi proyek dalam istilah asingnya adalah crashing. Menurut Kusumah dan Wardhani (2008). Umur rencana proyek biasanya lebih pendek daripada umur pelaksanaan proyek. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah wawancara. penelitian dilakukan pada proyek pembangunan Twin Tower Building (TTB) 6 Lantai Pasca Sarjana Universitas Diponegoro dan mengambil bahan penelitian dari schedule (jadwal) pelaksanaan proyek dan rencana anggaran biaya (RAB) proyek. dan studi pustaka Metode Analisis Keadaan yang dihadapi disini adalah adanya perbedaan umur pelaksanaan proyek dengan umur rencana proyek yang telah ditetapkan. Optimalisasi waktu dan biaya yang akan dilakukan adalah mempercepat durasi proyek dengan penambahan biaya yang seminimal mungkin. Data tersebut diperoleh dari kontraktor pelaksana. terminologi proses crashing adalah dengan mereduksi durasi suatu pekerjaan yang akan berpengaruh terhadap waktu .

Tehnik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan PERT dan CPM. Melaksanakan kerja lembur c. Ada beberapa cara untuk mempercepat suatu kegiatan.11 penyelesaian proyek. Menambah sumber daya manusia b. sehingga didapat alternatif terbaik sesuai dengan kondisi kontraktor pelaksana. prinsip penyusunan jaringan kerja pada metode PERT dan CPM adalah sama. Menurut Agustini dan Rahmadi (2004). Penambahan biaya ini akan memberikan suatu besaran perbedaan biaya akibat percepatan waktu sesuai dengan banyak waktu percepatannya. Cara-cara tersebut antara lain : a. namun terdapat perbedaan mendasar antara keduanya. Metode CPM Sistematika dari proses penyusunan jaringan kerja ( network) adalah sebagai berikut (Soeharto. dalam hal ini optimalisasi waktu dibatasi oleh peningkatan biaya maksimal 1% dari total biaya pembangunan Twin Tower Building (TTB) 6 Lantai Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Proses crashing dipusatkan pada kegiatan yang berada pada lintasan kritis. 1999) : . Subkontrak Hal tersebut tentunya akan menambah biaya. yaitu terletak pada konsep biaya yang dikandung CPM yang tidak ada di dalam metode PERT.

. Usahakan agar tidak terjadi penambahan atau pemindahan jalur kritis apabila diadakan percepatan durasi pada salah satu kegiatan. c. Menyusun kembali komponen-komponen pada butir 1. Menentukan waktu percepatan dan menghitung biaya tambahan untuk percepatan setiap kegiatan. maka waktu penyelesaian keseluruhan tidak akan berkurang. d. memecahkannya menjadi kegiatan-kegiatan atau kelompok kegiatan yang merupakan komponen proyek. b. d. Mengidentifikasi jalur kritis (critical path) dan float pada jaringan kerja. Mengkaji dan mengidentifikasi lingkup proyek. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : a. Mempercepat waktu penyelesaian proyek dengan mengutamakan kegiatan kritis yang memiliki slope biaya terendah. b. menguraikan. Setelah jalur kritis diketahui. Memberikan perkiraan kurun waktu bagi masing-masing kegiatan yang dihasilkan dari penguraian lingkup proyek. menjadi mata rantai dengan urutan yang sesuai logika ketergantungan. Apabila terdapat lebih dari satu lintasan kritis. Susun kembali jaringan kerjanya. Ulangi langkah kedua dan berhenti melakukan upaya percepatan apabila terjadi pertambahan lintasan kritis. langkah selanjutnya adalah melakukan percepatan proyek. c.12 a. maka upaya percepatan dilakukan serentak pada semua aktivitas yang berada pada lintasan kritis. Apabila upaya percepatan dilakukan pada aktivitas-aktivitas yang tidak berada pada lintasan kritis.

(3. PERT menggunakan unsur probability. menggunakan taksiran-taksiran waktu untuk menentukan waktu penyelesaian suatu kegiatan agar lebih realistik. Hitung biaya keseluruhan akibat percepatan untuk mengetahui total biaya proyek yang dikeluarkan. PERT mengatasi masalah variabilitas waktu aktivitas saat melakukan penjadwalan proyek. f. Kemudian diasumsikan pendekatan dari durasi rata-rata yang disebut expected return (te) dengan rumus sebagai berikut : Te  a  4m  b 6 ………………………………………. Menurut Handoko (1999). Upaya percepatan dihentikan apabila aktivitas-aktivitas pada lintasan kritis telah jenuh seluruhnya (tidak mungkin ditekan lagi).2) . Dalam Siswanto (2007).. Metode PERT Dalam Heizer dan Render (2006). dirumuskan sebagai berikut : Deviasi standar kegiatan : S  1 b  a  6 ……………………………………… (3. tetapi juga digunakan untuk memperbaiki efisiensi pengerjaan proyek-proyek segala ukuran. melalui distribusi beta. penekanan diarahkan kepada usaha mendapatkan kurun waktu yang paling baik (ke arah yang lebih akurat).13 e. PERT bukan hanya berguna untuk proyek-proyek raksasa yang memerlukan waktu tahunan dan ribuan pekerja. disebutkan bahwa PERT.1) Besarnya ketidakpastian tergantung pada besarnya angka a dan b. Pada PERT.

..3) Untuk mengetahui kemungkinan mencapai target jadwal dapat dilakukan dengan menghubungkan antara waktu yang diharapkan ( TE) dengan target T(d) yang dinyatakan dengan rumus : z T (d )  TE S . SH No....…………………………………............ 5 Semarang..4) HASIL DAN PEMBAHASAN Objek Penelitian Objek pada penelitian ini adalah sebuah proyek pembangunan Twin Tower Building Pasca Sarjana Universitas Diponegoro..14 Varians kegiatan : V (te)  S  2 ba 6 2 …......... Lokasi pembangunan Twin Tower Building Pasca Sarjana Undip terletak di tengah kota..... tepatnya jalan Imam Barjo..............(3... Jawa Tengah..... Penyusunan Jaringan Kerja (Network Planning) ........ (3... Analisis Data Penelitian ini menganalisis optimalisasi durasi percepatan proyek dengan menggunakan berbagai alternatif percepatan proyek yang memberikan kontribusi biaya paling rendah dengan waktu penyelesaian tercepat....

650.003.074.48 55 20 25 20 20 20 20 10 5 5 10 Rp 3.328.00 Rp 781.00 Rp 1.567. Durasi.206.00 Rp 919.500.519.00 Rp 711. Listplank Balok Kanopi Penutup Atap PEKERJAAN ARSITEKTUR Pekerjaan pasangan & plesteran Pekerjaan Lantai/pelapis dinding Pekerjaan Kosen.050. durasi.429.00 Rp 781.562.00 Rp 163.939.00 .758.796.069. dan Biaya Proyek N0.596.944.544.490.904.153. Talang.dll Pekerjaan Plafond Pekerjaan Cat Pekerjaan Sanitair Pekerjaan Lain-lain 75 55 70 65 40 40 80 Rp 866.692.00 DURASI (HARI) 175 BIAYA Rp 72. Parapet.258.115.951.penggantung.00 Rp 937.980.100.dan biaya proyek. Daftar Aktivitas Utama.00 Rp 281. I II A B C D E F G H I J K III A B C D E F G AKTIVITAS UTAMA PEKERJAAN PERSIAPAN PEKERJAAN STRUKTUR Pondasi Struktur Lantai 01 Struktur Lantai 02 Struktur Lantai 03 Struktur Lantai 04 Struktur Lantai 05 Struktur Lantai 06 Atap Beton/Dak Ring Balok.938.714.694.50 Rp 43.50 Rp 725. tabel 4.417.536.408.663.320.23 Rp 346.826.00 Rp 345.200.884.1 di bawah ini menunjukkan daftar aktivitas utama.596.00 Rp 250.00 Rp 1.00 Rp 397.408.15 Aktivitas proyek pembangunan Twin Tower Building sangat banyak.073.00 Rp 560.

840. PERT (Program Evaluation and Review Technique) .400.00 Rp 30. Menurut laporan rencana anggaran biaya yang dibuat oleh kontraktor. 21.00 Rp 56. Sebelumnya aktivitas utama proyek harus dipecah menjadi komponenkomponen kerja yang rinci untuk keperluan analisis jalur kritis.39.636. 2010.217.16 IV A B C D E F G H I J K L PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL Pekerjaan Elektrikal Pekerjaan Fire alarm Pekerjaan Sound system Pekerjaan CCTV Pekerjaan Telepon Pekerjaan Kabel data Pekerjaan Penangkal Petir Pekerjaan Pengadaan dan Pemasangan Elevator Pekerjaan AC Pekerjaan Air bersih Pekerjaan Air kotor Pekerjaan Hydrant TOTAL 80 50 50 50 50 50 35 43 60 70 70 70 Rp 1. 83. sedangkan biaya total proyek yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah Rp. biaya total proyek adalah Rp.054.086.700.260.612. tujuan memecah lingkup proyek menjadi komponen-komponennya antara lain untuk meningkatkan akurasi perkiraan kurun waktu penyelesaian proyek. Biaya total setelah pajak sebesar Rp. Menurut Soeharto (1999).514.610.006.00 Rp 60.120. 21. Total waktu pengerjaan proyek adalah 175 hari dengan total biaya proyek sebesar Rp.71.00 Rp 125.526. 21.500.00 Rp 63.476.959.182.272.086.679.00 Rp 984.00 Rp 19.054.022.006.71 Sumber : Data primer yang diolah. 83.00 Rp 601.170.00 Rp 67.00 Rp 879. Total biaya tersebut belum termasuk pajak 10% dan pajak IMB sebesar 6 ‰.990.844.810.441.410.217. 19.959.00 Rp 185.636.00 Rp 97.620.060.466.125.480. hal ini disebabkan perhitungan pembulatan dua angka di belakang koma oleh software Microsoft Project 2007.658.819.

00 0.00 0.83 21. Listplank Balok Kanopi Penutup Atap PEKERJAAN ARSITEKTUR Pekerjaan pasangan & plesteran Pekerjaan Lantai/pelapis dinding Pekerjaan Kosen.17 1.00 1.00 1. waktu pesimistis.00 .36 2.83 0.11 21.67 1. Standar Deviasi.17 21 20.67 2.67 70 40.83 1.33 5. Parapet.67 5.11 9.00 23.5 71.33 21.33 2.17 Pada PERT digunakan konsep “probability” dengan memberikan perkiraan rentang waktu yang lebih besar yaitu tiga angka estimasi untuk suatu kegiatan.00 1.44 8. Waktu Optimis.83 5.67 3. Daftar Aktivitas Utama.00 2. Talang. dan waktu paling mungkin. Paling Mungkin.33 11 5.78 a 150 m 175 b 234 te 180.penggantung. dan Waktu Pesimis. waktu optimistis.dll Pekerjaan Plafond Pekerjaan Cat Pekerjaan Sanitair Pekerjaan Lain-lain 63 42 70 65 40 40 79 75 55 70 65 40 40 80 93 71 80 95 45 42 107 76 55.83 3.33 18.00 V(te) 196.83 11 4.69 0.78 5.11 7.83 40.33 4.00 2. dan Varians Kegiatan WAKTU N0.67 S 14.33 21 26.03 9.00 4.78 1.33 84.33 2.78 44 16 22 16 16 16 15 8 5 4 9 55 20 25 20 20 20 20 10 5 5 10 70 30 39 34 32 32 33 18 11 11 17 55.00 7. I II A B C D E F G H I J K III A B C D E F G URAIAN AKTIVITAS UTAMA PEKERJAAN PERSIAPAN PEKERJAAN STRUKTUR Pondasi Struktur Lantai 01 Struktur Lantai 02 Struktur Lantai 03 Struktur Lantai 04 Struktur Lantai 05 Struktur Lantai 06 Atap Beton/Dak Ring Balok.36 1.78 25.67 25.

11 25.83 50.waktu penyelesaian yang diharapkan)/ deviasi standar proyek Z= (175 .83 0.00 1.83 0.69 1.80 17.83 0.18 IV A B C D E F G H I J K L PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL Pekerjaan Elektrikal Pekerjaan Fire alarm Pekerjaan Sound system Pekerjaan CCTV Pekerjaan Telepon Pekerjaan Kabel data Pekerjaan Penangkal Petir Pekerjaan Pengadaan dan Pemasangan Elevator Pekerjaan AC Pekerjaan Air bersih Pekerjaan Air kotor Pekerjaan Hydrant 80 50 50 50 50 50 35 43 60 70 70 70 80 50 50 50 50 50 35 43 60 70 70 70 85 55 55 55 55 55 40 50 90 76 94 100 80.00 Sumber : Data primer yang diolah.78 5.78 25.69 0.83 0.69 0.69 0.36 25.02 .69 0.69 0.17 65 71 74 75 0.00 2.00 5.00 0.83 50.83 1.69 0.83 50.150)/17.00 16.69 289.83 50.00 18.00 4. 2010 Varians dan Deviasi Standar Proyek Keseluruhan N0.00 7.83 0.00 1.83 50.00 25.83 44.00 0. 2010 Z = (batas waktu .44 9.83 0.17 5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 AKTIVITAS PADA LINTASAN KRITIS Pekerjaan Persiapan Pondasi Struktur Lantai 01 Struktur Lantai 03 Struktur Lantai 04 Pekerjaan pasangan & plesteran Pekerjaan Kosen.dll Pekerjaan Plafond Pekerjaan Cat ∑ V(te) V(te) 196.02 Varians Proyek Deviasi Standar Proyek Sumber : Data primer yang diolah.penggantung.83 35.

Daftar Aktivitas Utama pada Lintasan Kritis URAIAN AKTIVITAS UTAMA PEKERJAAN PERSIAPAN Pondasi Struktur Lantai 01 Struktur Lantai 03 Struktur Lantai 04 Pekerjaan pasangan & plesteran Pekerjaan Kosen. digunakan tiga alternatif percepatan durasi proyek yaitu dengan penambahan tenaga kerja. Lintasan Kritis (Critical Path) Lintasan kritis adalah lintasan yang terdiri dari kegiatan kritis. dan pengalihan pekerjaan kepada perusahaan subkontrak. . nilai Z atau peluang 1.46 Merujuk pada Kurva Distribusi Normal.19 Z= 1.dll Pekerjaan Plafond Pekerjaan Cat FREE SLACK 0 days 0 days 0 days 0 days 0 days 0 days 0 days 0 days 0 days TOTAL SLACK 0 days 0 days 0 days 0 days 0 days 0 days 0 days 0 days 0 days KETERANGAN KRITIS KRITIS KRITIS KRITIS KRITIS KRITIS KRITIS KRITIS KRITIS Sumber : Data Primer yang Diolah.78% penyelesaian proyek dapat dicapai pada 150 hari. penambahan jam kerja (lembur). 2010 Percepatan Durasi Proyek atau Project Crashing Dalam penelitian ini.penggantung.46 berarti ada peluang 92.

352.68 Rp93.00 Tukang Rp40.71 Rp19.16.682. Akibat crashing dengan penambahan jam kerja (lembur) Perhitungan upah lembur mengacu pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Kep.771.71 Sumber : Data primer yang diolah.586.017.506.670.000.959.000.20 313231.670.352.20. Akibat crashing dengan penambahan tenaga kerja Perbandingan Keadaan Sebelum dan Sesudah Crashing dengan Alternatif Penambahan Tenaga Kerja Keadaan sebelum Keadaan sesudah Keterangan Crashing Crashing Hari 175 150 Jam Kerja 311996. 102/MEN/VI/2004 Tentang Waktu kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur.10 Rp43.53 Rp34.071.50 Rp72. Perhitungan Upah Lembur No.346.50 3 Upah harian + upah lembur Sumber : Data primer yang diolah.00 Pekerja Rp35.63 Rp83.63 Rp7.80 Rp37.10 Rp43.63 Rp8.17.4 Biaya Rp19.34 Rp39.933.682.70 Rp30.20 Perhitungan biaya proyek akibat percepatan durasi proyek dilihat dari masing-masing alternatif yang digunakan antara lain : a.000.00 (3 jam) total upah lembur Rp9. 2010 .00 .00 (1 jam) 17.68 Rp8.933. 1 Keterangan Upah harian 08.006.00 .771.352.34 Rp48.352.00 .054.183.754.000.53 Rp34.00 Mandor Rp40.63 Rp83. 2010 b.00 (8 jam) Kepala Tukang Rp45.00 2 Upah lembur 16.

22 Sumber : Data primer yang diolah.538.054. Pekerjaan-pekerjaan pada jalur kritis dilimpahkan kepada perusahaan subkontrak yang terpilih melalui proses lelang. Dalam proses lelang.087.006.71 Rp19. 2010 c. 2010 Interpretasi Hasil . Akibat crashing dengan pengalihan pekerjaan kepada perusahaan subkontrak Percepatan penyelesaian proyek dapat dilakukan dengan cara melimpahkan pekerjaan-pekerjaan tertentu kepada perusahaan subkontrak.006. Perbandingan Keadaan Sebelum dan Sesudah Crashing dengan Subkontrak Keadaan sebelum Keadaan setelah Keterangan Crashing Crashing Hari 175 150 Jam Kerja 311996.71 Rp19.959.054.20 Biaya Rp19.582.959.006.20 288654.21 Perbandingan Keadaan Sebelum dan Sesudah Crashing dengan Alternatif Jam Kerja Lembur Keadaan sebelum Keadaan setelah Keterangan Crashing Crashing Hari 175 150 Jam Kerja 311996.2 Biaya Rp19.054.959. dimungkinkan penawaran harga yang lebih rendah atau maksimal sama dengan rencana anggaran biaya dan durasi yang dipercepat.20 311616.71 Sumber : Data primer yang diolah.

086.636. Percepatan durasi proyek biasanya dilakukan dengan menambah sumber daya pada kegiatan kritis.22 Metode PERT dalam penelitian ini ditujukan untuk mencari peluang dan probabilitas penyelesaian proyek.636.086. dengan menentukan nilai Z dapat diketahui peluang pencapaian target penyelesaian proyek.83 Rp21. Untuk alternatif subkontrak tidak mengalami kenaikan biaya bila dibandingkan dengan alternatif penambahan tenaga kerja dan alternatif kerja . 2010 Berdasarkan tabel dapat dilihat terjadinya peningkatan biaya akibat pemendekkan durasi pelaksanaan pekerjaan dari 175 hari kerja menjadi 150 hari kerja.217. Nilai Z atau peluang yang didapat sebesar 1.171.086.46 berarti ada peluang 92.83 Sumber : Data primer yang diolah.636. 2005).668.83 Rp21.217.270. karenanya sangat logis biaya crash sebuah kegiatan lebih mahal dari biaya normalnya (Heizer dan Render. Batas waktu penyelesaian proyek adalah 175 hari.122.10 Rp21. Perbandingan Keadaan Sebelum dan Sesudah Crashing dengan Berbagai Alternatif Durasi (hari) Alternatif Penambahan tenaga kerja Kerja lembur Subkontrak Normal 175 175 175 Crashing 150 150 150 Normal Rp21.086.195.104.217. Beberapa alternatif percepatan durasi proyek dilakukan untuk mencari waktu dan biaya optimal.636.53 Rp21.78% (berdasarkan kurva distribusi normal) penyelesaian proyek dapat dicapai pada 150 hari. kemudian dilakukan percepatan durasi 150 hari.217.83 Biaya (Rupiah) Crashing Rp21.

sedangkan biaya proyek dengan kerja lembur adalah Rp21.122. Kenaikan biaya akibat penambahan tenaga kerja sebesar . maka dapat disimpulkan bahwa durasi optimal proyek adalah 150 hari dengan biaya total proyek sebesar Rp21. namun menghasilkan kenaikan biaya yang berbeda. yaitu penambahan tenaga kerja.217.636.086. Total biaya proyek dengan penambahan tenaga kerja adalah Rp 21. dan subkontrak.46). kerja lembur.104.1 pada durasi 150 hari kerja.171. Ditinjau dari segi waktu dan biaya serta kelebihan dan kelemahan masing-masing alternatif. b.53 pada durasi 150 hari kerja. Peluang pencapaian target waktu penyelesaian proyek yang diharapkan yaitu 150 hari adalah 92. c. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa percepatan durasi dari kedua alternatif tersebut adalah 25 hari kerja atau 14% dari durasi normal.668. Dengan menggunakan analisis jaringan kerja dengan metode PERT dan CPM dapat dilakukan upaya percepatan durasi proyek dengan mempercepat pekerjaan-pekerjaan yang berada pada lintasan kritis. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya maka kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Percepatan durasi proyek dilakukan dengan menggunakan tiga alternatif.23 lembur.270.78% (nilai Z atau peluang 1.83 pada alternatif subkontrak.195.

636.086.08% dari total biaya proyek normal. maka beberapa saran berikut ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan : a. . kerja lembur.575. d. 83 dengan menggunakan alternatif subkontrak. Saran Berdasarkan hasil penelitian.579. 83 dan pada durasi percepatan yang sama yaitu 150 hari kerja.217.500. Durasi dan biaya proyek optimal untuk menyelesaikan proyek pembangunan Twin Tower Building adalah selama 150 hari kerja dan biaya sebesar Rp21.00 atau 0. bagi penelitian sejenis berikutnya sebaiknya tidak hanya menggunakan alternatif penambahan tenaga kerja.636. misalnya alternatif kerja shift atau penambahan dan penggantian peralatan.24 Rp 16.15% dari total biaya proyek normal. Selain itu. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya diperluas lagi dengan menggunakan metode percepatan durasi proyek yang lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini.086. sedangkan kerja lembur menghasilkan kenaikan biaya sebesar Rp 32. b.217.50 atau 0. Total biaya proyek pada alternatif subkontrak sama dengan rencana anggaran biaya atau tidak mengalami kenaikan yaitu sebesar Rp 21. sehingga dapat dijadikan bahan pembanding untuk mendapatkan kombinasi metode percepatan yang optimal. tetapi juga menggunakan alternatif percepatan proyek yang lainnya. dan subkontrak.224.

Jurnal Tehnik Sipil. 1997. 1999.jsp?id=80787. .d. 2006. Jakarta : Erlangga. Levin. 1. Karawang. “Analisis Optimasi Percepatan Durasi Proyek dengan Metode Least Cost Analysis. Harry. 6. Soeharto. Jakarta : Bhratara.H. 1972. 1995. dari PDF Search Engine. h.ui.. Manajemen Proyek : Dari Konseptual Sampai Operasional. n. Heizer. Jakarta : Salemba Empat. “Pengendalian Dampak Perubahan Desain Terhadap Waktu dan Biaya Pekerjaan Konstruksi”. 113-130. T. 155-174. 14.ac. Iman. “Perencanaan dan Pengendalian Proyek dengan Metode PERT-CPM : Studi Kasus Fly Over Ahmad Yani.” Utilitas. http://www. h. Diakses tanggal 6 Mei 2010.25 DAFTAR PUSTAKA Badri. Edisi Pertama. Jakarta : Erlangga. No. Manajemen Proyek : Dari Konseptual Sampai Operasional. Perentjanaan dan Pengawasan Dengan PERT dan CPM. Hartawan. www. Iman. 2005. Diakses 9 Februari 2010. Vol. 2005. Maharany. Soeharto.2. Leny dan Fajarwati.google. dan Charles A Kirkpatrick. 1999.” Journal The Winners. Handoko. Hayun. S.com. Jakarta : PT Rika Cipta. h.57-70. Anggara. 2008. “Analisis Keterlibatan Manajemen Proyek dalamProses Perencanaan dan Pengendalian Proyek Selama Pelaksanaan Konstruksi” . Dasar-dasar Network Planing. Dasar-dasar Manajemen Produksi Dan Operasi. Operations Management : Manajemen Operasi. No. BPFE : Yogyakarta.id/opac/themes/libri2/detail. Ari. Vol. Sandyavitri. Jay dan Barry Render. Richard I.digilib.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful