P. 1
Binder Makalah Oseanografi

Binder Makalah Oseanografi

5.0

|Views: 11,125|Likes:
Published by Wahyu
Makalah Oseanografi, pesisir, ekologi dan lain-lain
Makalah Oseanografi, pesisir, ekologi dan lain-lain

More info:

Published by: Wahyu on May 02, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2013

pdf

text

original

WORK G PAP W KING PER B DER BIND

OS SEAN GRA NOG APHY Y
Lectur rer
Bagus SetyoBudi Wiwoho M.S Si

COLLECTE BY: C ED

Wa ahyu Wardan W ni 10 0635140 00649

STATE UN S NIVERSIT OF MAL TY ALANG FACULTY OF MATE F Y TEMATICS AND NAT TURAL SC CINCES GEOG GRAPHY PROGRA P AM DESEMBER 2008 D R

MY M CUR RRICUL LUM VITAE

Nama Tempat Ta anggal Lahir Agama Jenis Kelamin Status Anak ke Saudara Ka andung E-mail/Blog Alamat Asal Alamat di Malang No. Telp/H HP Riwaya Pen ndidikan

: : : : : : : : : : : :

Motto

:

Wa ahyu Wardan ni Bak kau, 28 Okto ober 1989 Isla am Lak ki-laki Ma ahasiswa 1 (P Pertama) 3o orang w41_4ks@yaho oo.co.id/http p:\\kaselabo oy.blogspot.com\ Bak kau Rt. 1/1 Kecamatan Pamukan Utara, Kot n tabaru Kalimantan Selatan Jl Sumbersar Gg. V No. 485 C Ma ri alang Jawa Timur T Kod depos 65145 5 085 5259387847 - SD Bakau 1 lulus tahun 2 DN 2001 - SMP Negeri 1 Pamukan Uta lulus tahun 2004 P P ara - SMA Negeri 1 Kotabaru lulus tahun 20 A K 006 - Mah hasiswa UM sampai seka arang - Zik Pikir, Ikh kir, htiar (ZiPiIk kh) - Ses sulit apapun pekerjaan i pasti ada jalan kelua itu a ar ser hikmah dilbalik semu pekerjaan tersebut. rta d ua n - Don Think To Be The Bes But Think To Do The Best on’t o st k e

ISI BINDER

BENUA DAN PAPARAN BENUA SEDIMEN LAUT KARAKTERISTIK AIR LAUT GELOMBANG SIRKULASI UDARA DI ATMOSFER KEHIDUPAN LAUT WILAYAH PESISIR DAN PROSES EKOLOGI ESTUARINE ESTUARINE AND INTERTIDAL ECOLOGY KOMUNITAS PELAGIK ORGANISME BENTHIC

OSEANOGRAFI BENUA DAN PAPARAN BENUA BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Oseanografi (berasal dari bahasa Yunani oceanos yang berarti laut dan γράφειν atau graphos yang berarti gambaran atau deskripsi juga disebut oseanologi atau ilmu kelautan) adalah cabang dari ilmu bumi yang mempelajari segala aspek dari samudera dan lautan. Secara sederhana oseanografi dapat diartikan sebagai gambaran atau deskripsi tentang laut. Dalam bahasa lain yang lebih lengkap, oseanografi dapat diartikan sebagai studi dan penjelajahan (eksplorasi) ilmiah mengenai laut dan segala fenomenanya. Laut sendiri adalah bagian dari hidrosfer. Seperti diketahui bahwa bumi terdiri dari bagian padat yang disebut litosfer, bagian cair yang disebut hidrosfer dan bagian gas yang disebut atmosfer. Sementara itu bagian yang berkaitan dengan sistem ekologi seluruh makhluk hidup penghuni planet Bumi dikelompokkan ke dalam biosfer. Para ahli oseanografi mempelajari berbagai topik, termasuk organisme laut dan dinamika ekosistem; arus samudera, ombak, dan dinamika fluida geofisika; tektonik lempeng dan geologi dasar laut; dan aliran berbagai zat kimia dan sifat fisik didalam samudera dan pada batas-batasnya. Topik beragam ini menunjukkan berbagai disiplin yang digabungkan oleh ahli oceanografi untuk memperluas pengetahuan mengenai samudera dan memahami proses di dalamnya: biologi, kimia, geologi, meteorologi, dan fisika. Beberapa sumber lain berpendapat bahwa ada perbedaan mendasar yang membedakan antara oseanografi dan oseanologi. Oseanologi terdiri dari dua kata (dalam bahasa Yunani) yaitu oceanos (laut) dan logos (ilmu) yang secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang laut. Dalam arti yang lebih lengkap, oseanologi adalah studi ilmiah mengenai laut dengan

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi UNIVERSITAS NEGERI MALANG

1

OSEANOGRAFI BENUA DAN PAPARAN BENUA cara menerapkan ilmu-ilmu pengetahuan tradisional seperti fisika, kimia, matematika, dan lain-lain ke dalam segala aspek mengenai laut. Oseanografi adalah bagian dari ilmu kebumian atau earth sciences yang mempelajari laut,samudra beserta isi dan apa yang berada di dalamnya hingga ke kerak samuderanya. Secara umum, oseanografi dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) bidang ilmu utama yaitu: geologi oseanografi yang mempelajari lantai samudera atau litosfer di bawah laut; fisika oseanografi yang mempelajari masalah-masalah fisis laut seperti arus, gelombang, pasang surut dan temperatur air laut; kimia oseanografi yang mempelajari masalahmasalah kimiawi di laut, dan yang terakhir biologi oseanografi yang mempelajari masalah-masalah yang berkaitan dengan flora dan fauna atau biota di laut. Laut merupakan gambaran nyata mengenai permukaan bumi dan sekiitarnya 70% dari permukaan bumi merupakan air, dimana permukaan air terdapat endapan pasir laut, dasar lembah yang masing-masing memiliki cirriciri topografi yang berbeda. Laut merupakan suatu bagian yang saling memiliki proses yang lebih variatif, tergantung pada lokasi yang ada di sekelilingnya disamping proses pergerakan aliran secara global. Oleh karena itu dalam mempelajari laut diperlukan berbagai disiplin ilmu yaitu fisika oseanografi, geologi oseanografi, kimia oseanigrafi dan biologi oseanografi. Untuk lebih jelas dapat dijelaskan sebagai berikut: Ilmu oceanografi dapat dibagi menjadi beberapa cabang: 1. Biologi laut atau oceanografi biologi, ilmu mengenai tumbuhan, binatang dan mikrobe (biota) samudera dan interaksi ekologi mereka; 2. Oceanografi kimia atau kimia laut, ilmu mengenai kimia samudera dan interaksi kimianya dengan atmosfer; 3. Geologi laut atau oceanografi geologi, ilmu mengenai geologi dasar laut termasuk tektonik lempeng; 4. Oceanografi fisika ilmu mengenai ciri fisik samudera termasuk struktur suhu-salinitas, pencampuran, ombak, pasang, dan arus;

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi UNIVERSITAS NEGERI MALANG

2

OSEANOGRAFI BENUA DAN PAPARAN BENUA 5. Rekayasa laut mencakup disain dan membangun anjungan minyak, kapal, pelabuhan, dan struktur lainnya sehingga memungkinkan kita untuk menggunakan samudera dengan bijaksana. Cabang-cabang tersebut menunjukkan bahwa banyak ahli oceanografi pada awalnya mendapat pendidikan ilmu pasti atau matematika dan kemudian menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan interdisipliner mereka untuk oceanografi. Beberapa konsep penting dalam oseanografi adalah masa jenis, temperature dan kadar garam.percampuran antara masa daratan

mengakibatkan terjadinya kolisi yaitu pergerakan relative masa daratan terhadap masa lautan yang cukup lambat sehingga dapat dikatakan lempeng tektonik mengalami pergerakan, sehingga seolah-olah dasar laut dan daratan bergerak. Benua adalah daratan yang sangat luas; (kontinen). Pada awalnya bumi terbentuk seluruh benua merupakan satu daratan yang amat luas, belum terbagi-bagi oleh pergeseran kerak bumi; daratan tersebut disebut Pangæan supercontinent, pada masa mesozoic terbagi atas dua bagian besar yaitu gondwana dibelahan bumi selatan dan laurasia dibelahan bumi utara. 1.2 Rumusan masalah 1.2.1 1.2.2 1.2.3 Bagaimana formasi dan struktur bumi? Bagaimana topografi lepas pantai? Bagaimana keadaan lempeng tektonik?

1.3 Tujuan 1.3.1 1.3.2 1.3.3 untuk mengetahui formasi dan struktur bumi untuk mengetahui topografi lepas pantai untuk mengetahui keadaan lempeng tektonik

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi UNIVERSITAS NEGERI MALANG

3

OSEANOGRAFI BENUA DAN PAPARAN BENUA BAB II PEMBAHASAN

FORMASI DAN STRUKTUR BUMI Bumi atau sering disebut dunia yang kita diami merupakan salah satu planet dalam gugus tatasurya. Para ahli memperkirakan usia bumi telah mencapai 4.6 milyar tahun. Bias dikatakan betapa bumi telah demikian tua. Bila dibandingkan dengan usia manusia rata-rata 60 tahun, maka usia bumi setara dengan 76.666.666 generasi. Bumi yang memiliki diameter 12.756 ini mempunyai masa seberat 59.760 milyar ton itu tersusun atas lapisan-lapisan pembentuk. Secara umum susunan bagian dalam bumi dibagi menjadi tiga bagian, dari permukaan hingga lapisan terdalam bumi, yaitu; lapisan kerak, mantel dan inti bumi. Dalam perkembangan selanjutnya atas bantuan penelitian seismic yang makin maju, para akhli mengemukakan keterangan-keterangan bagian dalam bumi yang lebih memuaskan dan menyusun gambaran struktur bumi sebagai berikut;

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi UNIVERSITAS NEGERI MALANG

4

OSEANOGRAFI BENUA DAN PAPARAN BENUA 1. Kerak bumi Lapisan ini menempati bagian paling luar dengan tebal berkisar 6-50 km. tebal lapisan ini tidak sama setempat, disekitar benua sekitar 20-50 km sedang di dasar laut 0-5 km atau bersama air laut yang berada di atasnya sekitar 10-12 km, yang tersusun atas materi-materi padat terutama yang kaya silisium dan aluminium. Lapisan kerak dibedaka atas dua lapisan materi, yaitu; a. Lapisan Granitis tersusun atas batuan granites. Kecepatan gelombang

longitudinal di lapisan ini sekitar 6,5 km/detik. b. Lapisan Basaltis lapisan yang terletak di bawah lapisan granites dan

kebanyakan materi basalt. Kecepatan gelombang 6,5-8 km/detik 2. Selimut Bumi (Mantel) Lapisan ini terletak dibawah kerak bumi dan pada umumnya dibedakan menjadi 3 lapisan, antara lain; a. Lithosfer aluminium b. Asthenosfer lapisan yang letaknya dibawah Lithosfer. Yang lapisan yang berwujud padat dan kaya akan silisium dan

wujudnya agak kental, kaya akan silisium, aluminium dan magnesium c. Mesosfer lapisan yang lebih tebal dan lebih berat, kaya dengan

silisium dan magnesium 2. Inti bumi (Core) Lapisan ini menempati bagian paling dalam dan dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu; a. Inti bagian Luar diduga bagian ini berwujud cair sebab lapisan ini

tidak dilalui oleh gelombang transversal. b. Inti Bagian dalam terjadi perubahan kecepatan gelombang

longitudinal dari rendah ke tinggi, diduga inti ini berwujud padat.

TOPOGRAFI LEPAS PANTAI Daerah pantai merupakan daerah yang dinamis dengan segala kerumitan fisik yang terjadi sehingga menampakkan ciri khas pantai tersebut. Ditinjau dari aspek geografis perairan di selat Lirung sangat potensial untuk By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi UNIVERSITAS NEGERI MALANG 5

OSEANOGRAFI BENUA DAN PAPARAN BENUA pengembangan di bidang ilmu dan teknologi kelautan. Oleh karena itu salah satu kajian dalam bidang ilmu dan teknologi kelautan yaitu survei dan pemetaan dasar taut (batimetri) merupakan faktor yang sangat penting untuk menunjang pengembangan wilayah pantai dan pesisir. Keadaan topografi pantai lirung menampakkan keunikan tersendiri. Hasil penelitian menunjukan bahwa umumnya pada setiap lajur pengukuran kedalaman terdapat penurunan topografi yang cukup tajam dengan perubahan kedalaman sekitar 7 - 15 meter pada jarak yang tidak terlalu jauh dengan garis pantai ke arah taut sehingga pada lokasi-lokasi tersebut topografinya curam. Bentuk lahan pantai yang berada dilorong laut atau selat cenderung mengalami preubahan sebagai akibat bekerjanya proses geomorfik. Sebagai salah satu lahan pantai, gisik yang secara umum dipaharni sebagai akumulasi sedimen pantai berupa pasir dan kerikil, merupakan suatu ruang yang digunakan manusia sebagai tempat rekreasi karena hamparan pasirnya yang indah dan dapat memberikan potensi yang besar dalam aspek keparwisataan. Sehubungan dengan aspek kepariwisataan tersebut, keberadaan lahan gisik di Selat Lembeh bagiab Barat dipandang penting untuk diungkapkan mengingat kurangnya informasi mengenai daerah tersebut. Berdasarkan hal tersebut, serangkaian proses belajar dalam bentuk penelitian telah dilakukan untuk menyediakan jawaban terhadap masalah bagaimana peranan faktor

hidrooseanografi, morfometri lahan, dan distribusi granulometri sediment terhadap pembentukan lahan gisik. Topografi lepas pantai dapat dibedakan menjadi; a. Paparan benua (Continental shelf) Paparan benua memiliki kemiringan lereng yang mengarah keperairan dalam dan lebar dari paparan benua bervariasi berdasarkan kenampakan bentuk pantai. Apabila suatu pantai yang landai maka topografi paparan dan lereng benua akan landai juga, tetapi apabila bentuk pantai cliff maka topografi paparan dan lereng benua akan sangat terjal. b. Lereng benua (Continental slope)

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi UNIVERSITAS NEGERI MALANG

6

OSEANOGRAFI BENUA DAN PAPARAN BENUA Lereng benua terbentuk akibat proses erosi dalam paparan benua, akumulasi ombak dan gelombang yang active bekerja menyebabkan garis paparan benua mengalami degradasi sehingga terbentuk lereng benua c. Kaki benua (Continental Rise) Kaki benua dapat dibedakan menjadi dua yaitu; 1. Passive Continental margins dapat terjadi apabila suatu proses

geologi tidak terjadi di dasar lautan sehingga kanampakan pada paparan benua, lereng benua, kaki benua hanya berupa suatu tutupan endapan yang berasal dari erosi. 2. Active Continental margins dapat terjadi jika suatu proses

geologi di dasar lautan, yaitu akibat dari pergerakan lempeng tektonik sehingga lempeng laut seolah-olah menunjam menuju pada lempeng benua sehingga disebut terjadi suatu subduksi yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu lembah yang panjang dan dalam yang dihasilkan oleh aktivitas gunung api. Contoh: penunjaman antara lempeng Indian Australia dengan lempeng Eurasian yang terjadi di pegunungan selatan d. Perairan dalam (Deep Osean Basin) Pada perairan dalam, yang membedakan diantara yang lain adalah stratifikasi dasar laut dan pola sirkulasi oksegen didalam perairan dalam. Perairan dalam cenderung banyak memngandung sulfur, dengan kadar Oksigen sangat rendah. Pola arus di perairan dalam tidak stabil seperti pola arus yang ada di permukaan, hal ini dikarenakan sedikitnya organisme yang berada di perairan dalam dan pola gelombang yang tidak teratur.

LEMPENG TEKTONIK Tektonik lempeng adalah suatu teori yang menerangkan proses dinamika bumi tentang pembentukan jalur pegunungan, jalur gunung api, jalur gempa bumi, dan cekungan endapan di muka bumi yang diakibatkan oleh pergerakan lempeng.

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi UNIVERSITAS NEGERI MALANG

7

OSEANOGRAFI BENUA DAN PAPARAN BENUA Teori Tektonik Lempeng (bahasa Inggris: Plate Tectonics) adalah sebuah teori dalam bidang geologi yang dikembangkan untuk memberi penjelasan terhadap adanya bukti-bukti pergerakan skala besar yang dilakukan oleh litosfer bumi. Teori ini telah mencakup dan juga menggantikan Teori Continental Drift yang lebih dahulu dikemukakan pada paruh pertama abad ke-20 dan konsep seafloor spreading yang dikembangkan pada tahun 1960-an.

Bagian terluar dari interior bumi terbentuk dari dua lapisan. Di bagian atas terdapat litosfer yang terdiri atas kerak dan bagian teratas mantel bumi yang kaku dan padat. Di bawah lapisan litosfer terdapat astenosfer yang berbentuk padat tetapi bisa mengalir seperti cairan dengan sangat lambat dan dalam skala waktu geologis yang sangat lama karena viskositas dan kekuatan geser (shear strength) yang rendah. Lebih dalam lagi, bagian mantel di bawah astenosfer sifatnya menjadi lebih kaku lagi. Penyebabnya bukanlah suhu yang lebih dingin, melainkan tekanan yang tinggi. Lapisan litosfer dibagi menjadi lempeng-lempeng tektonik (tectonic plates). Di bumi, terdapat tujuh lempeng utama dan banyak lempeng-lempeng yang lebih kecil. Lempeng-lempeng litosfer ini menumpang di atas astenosfer. By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi UNIVERSITAS NEGERI MALANG 8

OSEANOGRAFI BENUA DAN PAPARAN BENUA Mereka bergerak relatif satu dengan yang lainnya di batas-batas lempeng, baik divergen (menjauh), konvergen (bertumbukan), ataupun transform

(menyamping). Gempa bumi, aktivitas vulkanik, pembentukan gunung, dan pembentukan palung samudera semuanya umumnya terjadi di daerah sepanjang batas lempeng. Pergerakan lateral lempeng lazimnya berkecepatan 50-100 mm/a.

Gambar A = Antara Lempeng Samudera dengan Lempeng Samudera

Gambar B = Antara Lempeng Samudera dengan Lempeng Benua

Gambar C = Antara Lempeng Benua dengan Lempeng Benua. Tidak terbentuk gunung api. By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi UNIVERSITAS NEGERI MALANG 9

OSEANOGRAFI BENUA DAN PAPARAN BENUA Bagian luar interior bumi dibagi menjadi litosfer dan astenosfer berdasarkan perbedaan mekanis dan cara terjadinya perpindahan panas. Litosfer lebih dingin dan kaku, sedangkan astenosfer lebih panas dan secara mekanik lemah. Selain itu, litosfer kehilangan panasnya melalui proses konduksi, sedangkan astenosfer juga memindahkan panas melalui konveksi dan memiliki gradien suhu yang hampir adiabatik. Pembagian ini sangat berbeda dengan pembagian bumi secara kimia menjadi inti, mantel, dan kerak. Litosfer sendiri mencakup kerak dan juga sebagian dari mantel. Suatu bagian mantel bisa saja menjadi bagian dari litosfer atau astenosfer pada waktu yang berbeda, tergantung dari suhu, tekanan, dan kekuatan gesernya. Prinsip kunci tektonik lempeng adalah bahwa litosfer terpisah menjadi lempeng-lempeng tektonik yang berbeda-beda. Lempeng ini bergerak menumpang di atas astenosfer yang mempunyai viskoelastisitas sehingga bersifat seperti fluida. Pergerakan lempeng biasanya bisa mencapai 10-40 mm/a (secepat pertumbuhan kuku jari) seperti di Mid-Atlantic Ridge, ataupun mencapai 160 mm/a (secepat pertumbuhan rambut) seperti di Lempeng Nazca. Lempenglempeng ini tebalnya sekitar 100 km dan terdiri atas mantel litosferik yang di atasnya dilapisi dengan hamparan salah satu dari dua jenis material kerak. Yang pertama adalah kerak samudera atau yang sering disebut dengan "sima", gabungan dari silikon dan magnesium. Jenis yang kedua yaitu kerak benua yang sering disebut "sial", gabungan dari silikon danaluminium. Kedua jenis kerak ini berbeda dari segi ketebalan di mana kerak benua memiliki ketebalan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kerak samudera. Ketebalan kerak benua mencapai 30-50 km sedangkan kerak samudera hanya 5-10 km. Dua lempeng akan bertemu di sepanjang batas lempeng (plate boundary), yaitu daerah di mana aktivitas geologis umumnya terjadi seperti gempa bumi dan pembentukan kenampakan topografis seperti gunung, gunung berapi, dan palung samudera. Kebanyakan gunung berapi yang aktif di dunia berada di atas batas lempeng, seperti Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) di Lempeng Pasifik yang paling aktif dan dikenal luas.

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi UNIVERSITAS NEGERI MALANG

10

OSEANOGRAFI BENUA DAN PAPARAN BENUA

Lempeng tektonik bisa merupakan kerak benua atau samudera, tetapi biasanya satu lempeng terdiri atas keduanya. Misalnya, Lempeng Afrika mencakup benua itu sendiri dan sebagian dasar Samudera Atlantik dan Hindia. Perbedaan antara kerak benua dan samudera ialah berdasarkan kepadatan material pembentuknya. Kerak samudera lebih padat daripada kerak benua dikarenakan perbedaan perbandingan jumlah berbagai elemen, khususnya silikon. Kerak samudera lebih padat karena komposisinya yang mengandung lebih sedikit silikon dan lebih banyak materi yang berat. Dalam hal ini, kerak samudera dikatakan lebih bersifat mafik ketimbang felsik. Maka, kerak samudera umumnya berada di bawah permukaan laut seperti sebagian besar Lempeng Pasifik, sedangkan kerak benua timbul ke atas permukaan laut, mengikuti sebuah prinsip yang dikenal dengan isostasi. Ada tiga jenis batas lempeng yang berbeda dari cara lempengan tersebut bergerak relatif terhadap satu sama lain. Tiga jenis ini masing-masing berhubungan dengan fenomena yang berbeda di permukaan. Tiga jenis batas lempeng tersebut adalah: 1. Batas transform (transform boundaries) terjadi jika lempeng bergerak dan mengalami gesekan satu sama lain secara menyamping di sepanjang sesar transform (transform fault). Gerakan relatif kedua lempeng bisa sinistral (ke kiri di sisi yang berlawanan dengan pengamat) ataupun

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi UNIVERSITAS NEGERI MALANG

11

OSEANOGRAFI BENUA DAN PAPARAN BENUA dekstral (ke kanan di sisi yang berlawanan dengan pengamat). Contoh sesar jenis ini adalah Sesar San Andreas di California.

2. Batas divergen/konstruktif (divergent/constructive boundaries) terjadi ketika dua lempeng bergerak menjauh satu sama lain. Mid-oceanic ridge dan zona retakan (rifting) yang aktif adalah contoh batas divergen.

3. Batas konvergen/destruktif (convergent/destructive boundaries) terjadi jika dua lempeng bergesekan mendekati satu sama lain sehingga membentuk zona subduksi jika salah satu lempeng bergerak di bawah yang lain, atau tabrakan benua (continental collision) jika kedua lempeng mengandung kerak benua. Palung laut yang dalam biasanya berada di zona subduksi, di mana potongan lempeng yang terhunjam mengandung banyak bersifat hidrat (mengandung air), sehingga kandungan air ini dilepaskan saat pemanasan terjadi bercampur dengan mantel dan menyebabkan By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi UNIVERSITAS NEGERI MALANG 12

OSEANOGRAFI BENUA DAN PAPARAN BENUA pencairan sehingga menyebabkan aktivitas vulkanik. Contoh kasus ini dapat kita lihat di Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan busur pulau Jepang (Japanese island arc).

Pergerakan lempeng tektonik bisa terjadi karena kepadatan relatif litosfer samudera dan karakter astenosfer yang relatif lemah. Pelesapan panas dari mantel telah didapati sebagai sumber asli dari energi yang menggerakkan tektonik lempeng. Pandangan yang disetujui sekarang, meskipun masih cukup diperdebatkan, adalah bahwa kelebihan kepadatan litosfer samudera yang membuatnya menyusup ke bawah di zona subduksi adalah sumber terkuat pergerakan lempeng. Pada waktu pembentukannya di mid ocean ridge, litosfer samudera pada mulanya memiliki kepadatan yang lebih rendah dari astenosfer di sekitarnya, tetapi kepadatan ini meningkat seiring dengan penuaan karena terjadinya pendinginan dan penebalan.

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi UNIVERSITAS NEGERI MALANG

13

OSEANOGRAFI BENUA DAN PAPARAN BENUA Besarnya kepadatan litosfer yang lama relatif terhadap astenosfer di bawahnya memungkinkan terjadinya penyusupan ke mantel yang dalam di zona subduksi sehingga menjadi sumber sebagian besar kekuatan penggerak pergerakan lempeng. Kelemahan astenosfer memungkinkan lempeng untuk bergerak secara mudah menuju ke arah zona subduksi. Meskipun subduksi dipercaya sebagai kekuatan terkuat penggerak pergerakan lempeng, masih ada gaya penggerak lain yang dibuktikan dengan adanya lempeng seperti lempeng Amerika Utara, juga lempeng Eurasia yang bergerak tetapi tidak mengalami subduksi di manapun. Sumber penggerak ini masih menjadi topik penelitian intensif dan diskusi di kalangan ilmuwan ilmu bumi. Pencitraan dua dan tiga dimensi interior bumi (tomografi seismik) menunjukkan adanya distribusi kepadatan yang heterogen secara lateral di seluruh mantel. Variasi dalam kepadatan ini bisa bersifat material (dari kimia batuan), mineral (dari variasi struktur mineral), atau termal (melalui ekspansi dan kontraksi termal dari energi panas). Manifestasi dari keheterogenan kepadatan secara lateral adalah konveksi mantel dari gaya apung (buoyancy forces) Bagaimana konveksi mantel berhubungan secara langsung dan tidak dengan pergerakan planet masih menjadi bidang yang sedang dipelajari dan dibincangkan dalam geodinamika. Dengan satu atau lain cara, energi ini harus dipindahkan ke litosfer supaya lempeng tektonik bisa bergerak. Ada dua jenis gaya yang utama dalam pengaruhnya ke pergerakan planet, yaitu friksi dan gravitasi.Lempeng-lempeng tektonik utama yaitu: 1. Lempeng Afrika, meliputi Afrika - Lempeng benua 2. Lempeng Antarktika, meliputi Antarktika - Lempeng benua 3. Lempeng Australia, meliputi Australia (tergabung dengan Lempeng India antara 50 sampai 55 juta tahun yang lalu)- Lempeng benua 4. Lempeng Eurasia, meliputi Asia dan Eropa - Lempeng benua 5. Lempeng Amerika Utara, meliputi Amerika Utara dan Siberia timur laut – Lempeng benua 6. Lempeng Amerika Selatan, meliputi Amerika Selatan - Lempeng benua 7. Lempeng Pasifik, meliputi Samudera Pasifik - Lempeng samudera By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi UNIVERSITAS NEGERI MALANG 14

OSEANOGRAFI BENUA DAN PAPARAN BENUA Lempeng-lempeng penting lain yang lebih kecil mencakup Lempeng India, Lempeng Arabia, Lempeng Karibia, Lempeng Juan de Fuca, Lempeng Cocos, Lempeng Nazca, Lempeng Filipina, dan Lempeng Scotia. Pergerakan lempeng telah menyebabkan pembentukan dan pemecahan benua seiring berjalannya waktu, termasuk juga pembentukan superkontinen yang mencakup hampir semua atau semua benua. Superkontinen Rodinia diperkirakan terbentuk 1 miliar tahun yang lalu dan mencakup hampir semua atau semua benua di Bumi dan terpecah menjadi delapan benua sekitar 600 juta tahun yang lalu. Delapan benua ini selanjutnya tersusun kembali menjadi superkontinen lain yang disebut Pangaea yang pada akhirnya juga terpecah menjadi Laurasia (yang menjadi Amerika Utara dan Eurasia), dan Gondwana (yang menjadi benua sisanya)

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi UNIVERSITAS NEGERI MALANG

15

OSEANOGRAFI BENUA DAN PAPARAN BENUA BAB III PENUTUP

KESIMPULAN

Paparan benua memiliki kemiringan lereng yang mengarah keperairan dalam dan lebar dari paparan benua bervariasi berdasarkan kenampakan bentuk pantai. Apabila suatu pantai yang landai maka topografi paparan dan lereng benua akan landai juga, tetapi apabila bentuk pantai cliff maka topografi paparan dan lereng benua akan sangat terjal.

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi UNIVERSITAS NEGERI MALANG

16

SEDIMEN LAUT

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Oceanografi yang Dibina Oleh Bpk. Bagus Setiabudi Wiwoho,S.Si

oleh: Taufikurohman Tahir (106351400…) Linda Ranita (106351400695)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN GEOGRAFI September,2008

Sedimen Laut.

Sedimentasi adalah masuknya muatan sedimen ke dalam suatu lingkungan perairan tertentu melalui media air dan diendapkan di dalam lingkungan tersebut. Sedimentasi membawa material hasil dari pengikisan dan pelapukan oleh Air, angin atau gletser ke suatu wilayah yang kemudian diendapkan. Sedimentasi yang terjadi di lingkungan pantai menjadi persoalan bila terjadi di lokasi-lokasi yang terdapat aktifitas manusia yang membutuhkan kondisi perairan yang dalam seperti pelabuhan, dan aluralur pelayaran, atau yang membutuhkan kondisi perairan yang jernih seperti tempat wisata, ekosistem terumbu karang atau padang lamun. Untuk daerah-daerah yang tidak terdapat kepentingan seperti itu, sedimentasi memberikan keuntungan, karena sedimentasi menghasilkan pertambahan lahan pesisir ke arah laut. Seluruh permukaan lautan ditutupi oleh partikel-partikel sedimen yang telah diendapkan secara perlahan-lahan dalam jangka waktu berjuta-juta tahun. Secara relatif ketebalan lapisan sedimen yang terdapat dibanyak bagian lautan, mempunyai variasi kedalaman yang berbeda-beda . partikel-partikel sedimen berasal yang berasal dari hasil pembongkaran batu-batuan dan potongan-potongan kulit (shell) serta sisa rangka–rangka dari organisme laut. Besarnya endapan laut yang dapat didistribusikan merupakan suatu fungsi dari kecepatan dan ukuran butir. Beberapa endapan laut dapat dijumpai suatu struktur yang tersortasi baik dan ada pula struktur dengan sortasi buruk. Sortasi baik apabila susunan dari atas kebawah breturut-turut disusun oleh material halus sampai material kasar. Hal ini disebabkan proses pengendapan berlangsung secara alami tanpa ada pengaruh dari luar. Sortasi buruk apabila material tercampur secara merata sehingga tidak ada sortasi yang baik. Proses pengendapan berlangsung secara tiba-tiba sehingga material tidak smpat melakukan pemilihan berdasarkan ukuran butir dan beratnya. Ada 4 jenis struktur endapan yang dominan yaitu: a. Cross bedding Perlapisan endapan ini disebabkan karena adanya dua atau lebih proses yang berpengaruh secara bergantian sehingga memberikan kanampakan adanya lingkaran

pengaruh pada masing-masing proses. Setiap perlapisan tidak memiliki suatu sortasi yang baik. b. Laminer bedding Perlapisan endapan ini terjadi disebabkan oleh adanya suatu proses yang dicirikan dengan endapan yang memiliki ukuran ataupun jenis material yang berbeda-beda pada setiap perlapisan.setiap perlapisan tidak memiliki suatu sortasi yang baik. c. Graded bedding Perlapisan endapan ini memiliki siatu sortasi yangb angat baik karena pada saat pengendapan terjadi suatu pemilihan ukuran butir dan berat secar alami sehingga material yang kasar berada dibawah dan material yang halus berada diatas. d. Massive bedding Perlapisan ini tidak memiliki sortasi yang baik, pendinginan berlangsung secara cepat sehingga material yang kasar dan halus tercampur secara merata. Endapan laut dapat diklasifikasikan berdasarkan asal usulnya, ukuran dan lokasi pengendapan. 1. Klasifikasi berdasarkan asal-asulnya. (a) Lithogenous Endapan ini memiliki material yang berasal dari batuan yang ada di daratan maupun lautan. Endapan ini dihasilkan karena adanya suatu proses pelapukan kimia maupun mekanik. Aliran sungai akan membawa ssedimen dari daratan ke dalam lautan dan distribusinya ditentukan oleh besar kecilnya ukuran partikel. Sumber material sedimen banyak ditemukan di wilayah arid dan semi arid, dimana curah hujan sangat kecil untuk dapat menumbuhkan vegetasi sebagi pencegah terjadinya erosi. Erosi angin juga memgang peranan peranan penting dalam transportasi material terutama material yang memiliki diameter butiran sangat kecil. Persebaran sedimen di lautan ditentukan terutama oleh sifat-sifat fisik dari pertikel-partikelm itunsendiri khususnya oleh lamnya mereka tinggal melyang-layng di lepisan airn. Partikel dengan ukuran besar cenderung untuk lebih cepat tenggelam dan menetap dari yang berukuran lebih kecil. Contoh penyebaransedimen lautan hindia, jenis sediemn lithogenous cenderung untuk diendapkan pada daerah yang letaknya dekat dengan massa daratan.

(b) Biogenous Material yang berasal dari tumbuhan dan hewan. Sisa-sisa rangka dari organisme hidup juga akan membentuk endapan partikel halus yang dinamakan ooze. Sedimen ini dapat dijumpai pada daerah perairan lereng benua bersama-sama dengan material lithogenous yang diendapkan oleh aliran bawah air. Sedimen ini digolongkan dalam dua tipe utama yaitu: ▪ Tipe calcerous Globeregina Ooze merupakan salah satu grup dari organisme yang bersel tunggal yang mempunyai kulit yang mengandung calcium carbonat atau zat kapur. Mereka membentuk Ooze yang menutup 35% bagian permukaan dasar laut yang relatif kebanyakan di jumpai di daerah panas dunia. Peteropod Ooze merupakan golongan molusca yang bersifat sebagai planktondimana tubuh mereka mempunyai kulit yang mengandung zat kapur. Sedimen ini menutupi permukaan dasar laut hanya berjumlah 1% saja, walaupun kadang bercampur dengan Ooze dari jenis lain. ▪ Tipe siliceous Diatum Ooze merupakan golongan tumbuh-tumbuhan yang bersel tunggal yang mempuynayi kulit mengandung silica. Ooze ini menutupi 9% permukaan dasar laut dan banyak dijumpai di daerah-daerah yang lebih dingin yang bersalinitas rendah. Radiolaria Ooze merupakan golongan protozoa bersel satu dimana bentuk endapannya menutupi 1-2% permukaan dasar laut. Red clay Ooze memunayi kandungan silica yang tinggi, endapan ini banyak dijumpai di bagian timur laut india. (c) Hydrogenous Sedimen yang berasal dari reaksi kimia yang tercampur dalam air laut. Reaksi kimia ini menyebabkan material akan terlarut, baik material yang terbawa oleh aliran sungai maupun air hujan. (d) Cosmogenous

Material berasal dari luar angkasa dan tercampur bersama paertikel meteorit maupun asteoit. Material ini banyak mengandung unsur besi. 2. Klasifikasi berdasarkan ukuran butir. Dapat dibagi menjadi 7 tipe sedimen: ▪ Boulders, memiliki ukuran butir > 256 mm ▪ Cobbles, memiliki ukuran butir 64-256 mm ▪ Pebbles, memiliki ukuran butir 4-64 mm ▪ Granules, memiliki ukuran butir 2-4 mm ▪ Sand, memiliki ukuran butir 0.062-2 mm ▪ Silt, memilki ukuran butir 0.004-0.62 mm ▪ Clay, memiliki ukuran butir < 0.004 mm 3. Klasifikasi berdasarkan lokasi. Dapat dibagi menjadi 2 tipe sedimen yaitu: a. Neritik sedimen, yang tersebar pada paparan benua, lereng benua kaki benua yang memiliki sumber material dari lithogenous, biogenous, hidrogeous dan kosmogenous. Komposisi utamanya berasal dari material terrigenous yang dibawa kelaut dengan aliran sungai maupun aliran permukaan. Ukuran butirnya yang besar sehingga dapat dijumpai endapan dari yang berbutir kasar sampai yang terhalus. b. Pelagik sdimen yang tersebar pada perairan laut dalam dengan memiliki sumber material dai lithogeous, biogenous, hidrogeous dan kosmogenous. Variasi ukuran butirnya sangat kecil sehingga hanya dapat dijumpai material yang berbuitir halus dan tersebar secara merata pada perairan laut dalam. c. Bathyal, sedimen yang tersebar pada perairan dengan kedalaman 200-3700 m dengan sumber material sumber matarial berasal dari terrigenous, biogenous hydrogenous dan cosmogenous. d. Abyssal, sedimen yang berada pada kedalaman 3700-6000 m dengan sumber matarial yang berasal dari terrigenous, biogenous, hydrogenous dan cosmogenous. e. Hadal, sedimen yang berada pada kedalaman 6000 m dengan sumber material yang berupa lempung dan debu.

Berbagai sifat fisik sedimen ditelaah sesuai dengan tujuan dan kegunaannya. Diantaranya adalah tekstur sedimen yang meliputi ukuran butir (grain size), bentuk butir ( partikel shape), dan hubungan antar butir (fabrik), struktur sedimen, komposisi mineral, serta kandungan biota. Dari berbagai sifat fisik tersebut ukuran butur menjadi sangat penting karena umumnya menjadi dasar dalam penamaan sedimen yang bersangkutan serta membantu analisa proses pengendapan karena ukuran butir berhubungan erat dengan dinamika transfortasi dan deposisi (Krumbein dan Sloss (1983)). Berkaitan denga sedimentasi mekanik ukuran butir akan mencerminkan resistensi butiran sedimen terhadap proses pelapukan erosi/abrasi serta mencerminkan kemampuan dalam menentukan transfortasi dan deposisi. Dengan melihat cara transfor sedimen dapat dilihat melalui : 1. Transfor Sedimen pada Pantai Pettijohn (1975), Selley (1988) dan Richard (1992) menyatakan bahwa cara transfortasi sedimen dalam aliran air dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu : - Sedimen merayap (bed load) yaitu material yang terangkut secara menggeser atau menggelinding di dasar aliran. Sedimen loncat (saltation load) yaitu material yang meloncat-loncat bertumpu pada dasar aliran. - Sedimen layang (suspended load) yaitu material yang terbawa arus dengan cara melayang-layang dalam air. 2. Transfor Sedimen Sepanjang Pantai Transfor sedimen sepanjang pantai merupakan gerakan sedimen di daerah pantai yang disebabkan oleh gelombang dan arus yang dibangkitkannya (Komar : 1983). Transfor sedimen ini terjadi di daerah antara gelombang pecah dan garis pantai akibat sedimen yang dibawanya (Carter, 1993). Menurut Triatmojo (1999) transfor sedimen sepanjang pantai terdiri dari dua komponen utama yaitu transfor sedimen dalam bentuk mata gergaji di garis pantai dan transfor sedimen sepanjang pantai di surf zone. Transfor sedimen pantai banyak menimbulkan fenomena perubahan dasar perairan seperti pendangkalan muara sungai erosi pantai perubahan garis pantai dan sebagainya (Yuwono, 1994). Fenomena ini biasanya merupakan permasalahan terutama pada daerah pelabuhan sehingga prediksinya sangat diperlukan dalam perencanaan ataupun penentuan

metode penanggulangan. Menurut Triatmojo (1999) beberapa cara yang biasanya digunakan antara lain adalah : a. Melakukan pengukuran debit sedimen pada setiap titik yang ditinjau, sehingga secra berantai akan dapat diketahui transfor sedimen yang terjadi. b. Menggunakan peta/ foto udara atau pengukuran yang menunjukan perubahan elevasi dasar perairan dalam suatu periode tertentu. Cara ini akan memberikan hasil yang baik jika di daerah pengukuran terdapat bangunan yang mampu menangkap sedimen seperti training jetty, groin, dan sebagainya. c. Rumus empiris yang didasarkan pada kondisi gelombang dan sedimen pada daerah yang di tinjau. 3. Sedimentasi Pada Muara Sungai Muara sungai dapat dibedakan dalam tiga kelompok yang tergantung pada faktor domonan yang mempengaruhi. Yaitu didominasi faktor gelombang, debit sungai atau pasang surut. Pada kenyataannya ketiga sungai tersebut akan bekerja secra simultan, walaupun salah satunya akan terlihat lebih dominan pada daerah muara dimana gelombang lebih dominan biasanya akan mengakibatkan tertutupnya muara sungai akibat transfor sedimen sepanjang pantai yang dibawanya masuk ke alur sungai.

KARAKTERISTIK AIR LAUT
Makalah

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Oceanografi yang dibina oleh Bapak Bagus Setia Budi

Disusun oleh: Chandra Ningrat Tuti Mutia (1063514006) (106351400692)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATERMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN GEOGRAFI Oktober, 2008

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Oceanografi, ilmu tentang kelautan, adalah sebuah disiplin ilmu yang di dalamnya menyangkut berbagai bidang ilmu yang lain. (yang berhubungan dengan kelautan). Kemajuan dalam ilmu kelautan oseanografi cukup laut, sampai pada abad 19 hingga kemudian perkembangan yang penting adalah penggabungan untuk hal-hal yang berhubungan dengan perdagangan dari pada untuk ilmu tentang kelautan itu sendiri. Oseanografi sekarang adalah sebuah penetapan yang bagus dan pertumbuhan ilmu yang cukup cepat. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan Negara kepulauanterbesar di dunia, yang memiliki ± 18.110 pulau dengan garis pantai sepanjang 108.000 km. Berdasarkan Konvensi Hukum Laut (UNCLOS) 1982, Indonesia memiliki kedaulatan atas wilayah perairan seluas 3,2 juta km2 yang terdiri dari perairan kepulauan seluas 2,9 juta km2 dan laut teritorial seluas 0,3 juta km2. Selain itu Indonesia juga mempunyai hak eksklusif untuk memanfaatkan sumber daya kelautan dan berbagai kepentingan terkait seluas 2,7 km2 pada perairan ZEE (sampai dengan 200 mil dari garis pangkal). Sebagai negara kepulauan, laut dan wilayah pesisir memiliki nilai strategis dengan berbagai keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya sehingga berpotensi menjadi prime mover pengembangan wilayah nasional. Bahkan secara historis menunjukan bahwa wilayah pesisir ini telah berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat karena berbagai keunggulan fisik dan geografis yang dimilikinya. Untuk mengoptimalkan nilai manfaat sumberdaya laut dan pesisir bagi pengembangan wilayah secara berkelanjutan dan menjamin kepentingan umum secara luas (public interest), diperlukan intervensi kebijakan dan penanganan khusus oleh Pemerintah untuk pengelolaan wilayah laut dan pesisir.

Hal ini seiring dengan agenda Kabinet Gotong Royong untuk menormalisasi kehidupan ekonomi dan memperkuat dasar bagi kehidupan perekonomian rakyat melalui upaya pembangunan yang didasarkan atas sumber daya setempat (resourcebased development), dimana sumberdaya pesisir dan lautan saat ini didorong pemanfaatannya, sebagai salah satu andalan bagi pemulihan perekonomian nasional, disamping sumberdaya alam darat. Agar pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir dapat terselenggara secara optimal, diperlukan upaya penataan ruang sebagai salah satu bentuk intervensi kebijakan dan penanganan khusus dari pemerintah dengan memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya. Selain itu, implementasi penataan ruang perlu didukung oleh programprogram sektoral baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat, termasuk dunia usaha. Makalah ini bertujuan untuk memberikan diskriptif tentang karakteristik laut seperti zona pesisir dan laut serta morfologi laut dan kualitas air laut.

1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakng di atas dapat diatrik rumusan masalah yaitu bagaimana karakteristik air laut, yang terdiri dari: 1. Bagaimana genesa dan tipologi pantai? 2. Bagaimana jenis-jenis laut? 3. Bagaimana permukaan dasar (morfologi) laut dan pantai? 4. Apa saja yang merupakan kualitas air laut? 1.3 Tujuan “Mengetahui karakteristik air laut” yang terdiri dari: 1. Mengetahui batas antara pantai, pesisir, dan laut 2. Mengetahui permukaan dasar (morfologi) laut 3. Mengetahui apa saja yang termasuk kualitas air laut

BAB II ANALISIS DAN PEMBAHASAN

2.1 Genesa Dan Tipologi Pantai Kepulauan Indonesia terbentuk oleh proses (endogen) rumit geologi dari gejala konvergensi lempeng (litosfer) menghasilkan bentang alam (fisiografi) yang sangat kompleks. Demikian halnya dengan pantai pulau-pulaunya, terbentuk seiring evolusi geologi dengan ciri masing-masing berdasar proses dan mandala geologinya, yang kemudian terlihat pada keragaman jenis batuan, struktur dan kelurusan, lereng pantai dan perairan bentuk muara sungai dan lain-lain bagian bentang pantai. Kondisi iklim/cuava (atmosfer) dan laut (biosfer) mengiringi evolusi tersebut memberi pengaruh (eksogen) pada proses pembentukan bentang alam. Kegiatan manusia (biosfer) mulai ikut berpengaruh pada proses evolusi mengubah bentang alam melalui upaya (anthropogenic) mengubah lingkungan untuk kepentingannya sejak zaman Anthroposen. Berdasar kenyataan demikian, klasifikasi wilayah pesisir dan pantai di Indonesia akan lebih sempurna bila didasarkan atas beberapa hal yang menyangkut proses pembentukan (genesa) dan perubahannya yang melibatkan unsur-unsur di atas. Berdasar klasifikasi ini, dapat lebih mudah mengenali sifat dan potensi hingga kerawanan yang dimilikinya, yang bermanfaat sebagai dasar dalam upaya pengelolaannya berdasar keseimbangan dan kelestarian, di masa yang akan datang. Suatu pengkelasan pantai berdasar genesa, morfologi serta kondisi perairannya diusulkan sebagai berikut, mengikuti kriteria-kriteria: 2. 1.1 Tektonik: Proses tektonik akibat konvergensi gerak lempeng dan kerak adalah sebagai kendali utama proses yang menghasilkan geologi dan bentang alam pesisir dan pantai saat ini. a. Penunjaman (Subduction): Gerak relatif kerak Samudra Hindia dan benua Australia ke utara menghasilkan penunjaman di bawah Sumatra, Jawa dan sebagian Sunda Kecil

(NTB). Penunjamann dicirikan oleh palung dalam samudra, lereng depan curam, jalur busur luar dan jalur volkanik. Pesisir dan pantai jalur ini umumnya dibentuk oleh perbukitan terjal dengan tebing lereng depan curam tanpa tutupan tumbuhan. Pantai umumnya menerima langsung hempasan gelombang dan erosi, sementara teluk terbentuk dikontrol oleh struktur geologi yang rumit dan batas antar litologi. Pasir pantai terbentuk di dataran sempit hasil akumulasi sedimen sungai. Terumbu karang tumbuh di perairan yang terlindung di pantai pulau utama dan pulau-pulau kecil. Ciri morfologi pantai dan pesisir lainnya adalah: Tebing curam perbukitan pantai Erosi dan abrasi kuat pada tebing curam Pantai datar berpasir relatif lurus dengan asupan sedimen dari sungai kadang membentuk bukit pasir (sand dune) dengan selingan rawa. Pola aliran sungai hampir tegak lurus pantai dengan gradient tebing curam lambah sungai Kegempaan kuat dan sering kejadiannya, adakalanya diikuti tsunami Penenggelaman bergantian dengan pengangkatan pantai atau terumbu karang mengiringi proses penunjaman Curah hujan tinggi dan gejala geologi di kawasan ini memberikan bentang alam dengan tebing dan lereng curam. Contoh kota pantai di jalur ini adalah: Sibolga, Padang, Bnegkulu, Cilacap, dll. b. Tumbukan (collision): Gerak lempeng yang saling bertumbukan menghasilkan batuan yang tercampur aduk (chaotic) yang terkerat kuat oleh struktur geologi patahan dan rekahan. Proses tumbukan dapat diamati hasilnya di kawasan antara Flores hingga Wetar sebagai sisa jalur volkanik dengan ciri pantai kaki volkanik dengan tutupan batu gamping terangkat, Sumba sebagai busur luarnya dengan morfologi pantai teras terumbu terangkat, dan jalur Sabu-Rote dan Timor sebagai jalur tumbukan dengan ciri pantai curam serta singkapan batu gamping terangkat dengan terobosan lumpur endapan tua. Contoh kota di jalur ini adalah: Kupang, Waingapu, Baa, dll c. Gerakan Lateral :

Jenis konvergensi yang menghasilkan batas pertemuan dari lempeng yang saling geser ini di Indonesia tidak begitu mudah dilihat gejalanya di daratan, kecuali di kepala burung Irian Jaya yang menghasilkan sesar geser Sorong dengan pegunungan terjal menghadap langsung ke laut membentuk pantai curam berbukit. Patahan dan rekahan menandai jalur ini menyebabkan batuan pantai bertebing curam bertambah rentan longsor dan terabrasi. Pantai di jalur ini umumnya sangat labil dan rawan bencana, mengingat kegempaan juga relatif tinggi (gempa dan tsunami di. P Biak). Contoh kota di mandala ini: Biak, Manokwari, Sorong d. Kraton Stabil : Inti atau kraton di Indonesia ditandai oleh hampir absennya kegempaan, sebagaimana dicatat di Kalimantan (barat dan selatan) yang dianggap sebagai kraton dari busur kepulauan Indonesia saat ini. Stabilnya kawasan ini dari kerjaan gejala geologi menyebabkan gaya eksogen (cuaca, dll) mengontrol lebih jauh dengan gejala denudasi atau pendataran (peneplain) dari bentang alam pegunungan tua menghasilkan wilayah pesisir sangat luas yang ditempati rawa dataran (lahan) basah (wet land) dari bentang alam hilir yang telah lanjut. Dataran basah ditutupi rawa atau hutan tropis basah. Estuari terbentuk lebar di bagian yang memiliki beda pasang tinggi, yang pasang naiknya dapat dirasakan di pedalaman jauh dari muara. Rataan tebal bakau menutup pantai, menahan gempuran gelombang dan menangkap sedimen dari muara yang menyebar, menghasilkan akresi pantai. Contoh kota di jalur ini adalah: Pontianak, Banjarmasin e. Pantai terangkat dan tenggelam : Jenis pantai yang mengalami pengangkatan dan penuruan dapat ditemukan di berbagai pulau di kawasan yang saat ini berada pada jalur aktif tektonik yang menghasilkan gerak tegak, di jalur tumbukan atau penunjaman. Di darat, gejala ini terlihat di pantai yang bertutupan tumbuhan adalah tenggelamnya sebagian tumbuhan (Cassuarina sp, mangrove, dll) atau bentuk khusus terumbu karang yang menandai gejala ini (out side stepping) dan gejala erosi pantai. Adanya pengangkatan dapat terlihat dari bentuk undak teras pantai dan adanya akresi pantai sementara munculnya terumbu karang

membentuk daratan merupakan tanda di bagian perairan. Penurunan daratan dapat diakibatkan oleh adamya kompaksi endapan di pesisir, atau memang ada gejala kenaikan permukaan air laut. Contoh kota di pulau ini adalah: Waingapu (Sumba), Tuah Pejat (Mentawai) f. Volkanik: Jalur gunung api menempati suatu kelurusan, yang di pulau besar seperti Sumatra dan Jawa, hasil kegiatannya membentuk kerucut yang kakinya tidak mencapai pesisir (kecuali beberapa: Muria, Rajabasa, dll), namun di Sunda Kecil, pulau volkanik relatif kecil dan memiliki gugusan gunung api yang muntahan kegiatannya mencapai pesisir dan masuk ke laut (Bali-Flores, Alor). Batuan padat dan keras hasil kegiatan volkanik membentuk tebing curam pantai pulau gunung api, diseling lereng landai kaki gunung berbatuan lepas dan pasir membentuk pantai sempit datar. Aliran lava atau lahar seringkali langsung masuk ke laut, membentuk lereng dasar laut dengan kemiringan dan jenis batuannya tergantung dari komposisi magmanya. Pantai sempit landai dengan sungai kecil disekitarnya memungkinkan bakau tumbuh, adakalanya bersisian atau menumpang di atas substrat pasiran dan terumbu karang. Kota-kota pantai di mintakat ini antara lain: Jepara, Denpasar, Larantuka, dll. 2. 1.2 Pantai dan pesisir berdasar fisiografi kepulauan: a. Pulau/daratan menghadap ke arah samudera lepas : Pantai dan pesisir yang menghadap ke arah laut/samudera lepas ditandai oleh tebing perbukitan curam, pantai berbentang alam kasar, berbukit terjal menerima hempasan kuat gelombang. Pantai datar berpasir adakalanya menyelingi pesisir ini, terbentuk oleh endapan sedimen sungai. Jalur ini umumnya erat kaitannya dengan jalur tumbukan atau penunjaman. Gelombang besar merupakan bagian dari sistim gelombang samudra, namun tsunami adakalanya terjadi menyusul gempa kuat yang sering terjadi di jalur ini. Contoh kota di pesisir ini antara lain: Sibolga, Padang, Bengkulu, Cilacap, dst. b. Pantai – pesisir yang menghadap cekungan belakang (tepian paparan)

Cekungan belakang dari jalur konvergensi tektonik ditandai oleh paparan landai luas dengan alur sungai (dendritic) panjang dan dataran tangkapan hujan luas, mengalir berkelok-kelok melalui rawa dan dataran limpahan banjir, ke pantai berawa dan ber tutupan tebal bakau membentuk muara delta luas dengan pulau pulau delta di depannya. Jenis pesisir ini dijumpai di perairan timur Sumatra utara Jawa dan selatan Irian. Contoh kota yang mewakili dan berada di mintakat ini adalah: Lhokseumawe, Palembang, Jakarta, Semarang, dll. c. Pesisir menghadap tepian kontinen. Indonesia memiliki dua tepian kontinen, Sunda dan Sahul yang ke arah mana beberapa pulau menghadapnya dengan ciri pantai landai dan sangat stabil dari gejala geologi. Dua paparan tersebut menyisakan bentang alam dataran saat sempat kering ketika susut laut hingga –145 m dari muka laut sekarang. Bentang alam saat susut laut memiliki kemiripan dengan bentang pesisir sekarang, ditandai oleh daerah limpahan banjir, rataan terumbu karang dan bakau serta endapan pasir pantai. Beberapa sisa bentang alam tinggian masih terlihat berupa pulau pulau di perairan ini (Senayang-Lingga-BangkaNatuna-Karimata dll). Landai dan dangkalnya perairan seringkali menyebabkan kekeruhan akibat agitasi laut saat musim barat sulit hilang. Rataan tipis bakau menutup pesisir perairan. Sisa pematang pantai purba membentuk rataan tipis oleh endapan pasir kuarsa. Terumbu karang kurang pertumbuhannya di perairan ini yang umumnya ditandai oleh air keruh siltasi sedimen agitasi gelombang. Kota-kota yang mewakili antara lain: Tanjung Pinang, Pangkal Pinang, dll d. Jalur pulau busur luar: Jalur pulau non volkanik busur luar terbentuk hampir menerus di barat dari pulau Sumatra menghadap ke lepas Samudra Hindia. Di bagian timur busur Sunda, busur luar terbentuk kembali sebagai pulau Sumba dan Sabu. Pulau-pulau tersebut terbentuk dari terangkatnya sedimen laut oleh proses penunjaman dan tumbukan lepeng, dicirikan oleh lapisan batuan yang terlipat membentuk perbukitan dan terpotong patahan. Adakalanya batu gamping terumbu karang ikut terangkat keluar membentuk perbukitan di pantai

bertebing curam. Teluk terbentuk oleh struktur geologi, umumnya padanya bermuara sungai membentuk endapan pasir disekelilingnya atau tutupan bakau. Dangkalan akibat terangkatnya batuan, ditumbuhi terumbu karang yang di atasnya seringkali kemudian tumbuh bakau. Sedimen lepas atau keras terkomkakan dari endapan karbonat di pantai terbentuk dari hasil rombakan terumbu karang. Pulau-pulau di barat Sumatra mengalami gerak pengangkatan mengiringi kegempaan yang adakalanya diikuti tsunami, namun ditengarai pula adanya penurunan. Di Sumba dan Sabu, pengangkatan lebih dominan dan menerus menghasilkan undak teras. Kota-kota yang mewakili, antara lain: Muara Siberut, Waingapu, Seba, Baa, dll e. Pulau gunung api: Pantai pulau ini dicirikan oleh endapan bahan volkanik yang dimuntahkan hingga ke perairan membentuk pesisir pantai landai di bagian mana sering ditumbuhi bakau dan terumbu karang di perairannya. Endapan lahar atau lava sering mencapai rataan bakau dan terumbu, namun dapat segera tumbuh pulih kembali setelah 5-6 tahun kemudian. Pulau-pulau ini membentuk jajaran dari Bali hingga Flores. Pantai curam terbentuk oleh terobosan batuan volkanik atau batuan tufa lelehan dan lahar konglomeratan yang tersemenkan. Lembah sungai dalam di hulu berakhir pada muara yang berpantai landai pada pesisir datar, namun sering berupa muara sempit. Contoh kota yang mewakili mintakat ini antara lain: Denpasar, Mataram, Bima, Banda, Maumere, dll f. Pulau kecil di laut dalam: Guyot dan kerucut gunung api aktif banyak ditemukan di perairan Laut Banda, membubung naik dari kedalaman membentuk pulau yang terisolasi. Pulau-pulau ini dicirikan oleh lereng perairan curam, namun lereng atas dekat permukaannya sering dikelilingi oleh terumbu karang yang menempel pada batuan volkanik. Terumbu karang adakalanya terangkat membentuk undak sempit batu gamping karang dengan takik ombak, sebagai bukti adanya pengangkatan. Pantai sempit landai adakalanya ditumbuhi bakau. Contoh kota yang mewakili pemukiman di pulau ini antara lain adalah Banda g. Pulau-pulau kecil di paparan tepian kontinen.

Pulau terbentuk oleh tinggian batuan yang resistan dari kerjaan cuaca di kawasan geologi yang stabil bagian dari paparan kontinen. Perubahan paras muka laut lebih mengontrol evolusi morfologi perairan ini membentuk alur perairan dangkal yang ditutupi endapan pantai dan sungai purba. Dangkalnya perairan menyebabkan kekeruhan tidak mudah hilang, menyebabkan kualitas terumbu karang kurang baik namun endapan pantai di perairan tenang mengalasi rataan tebal bakau. Pantai purba sempit terbentuk di pesisir yang menghadap ke periaran bebas yang bergelombang kuat yang membantu pembentukan endapan pasir kuarsa putih. Contoh kota yang menempati gugusan pulau ini adalah: Pangkal Pinang, Tanjung Pinang, dll. h. Pulau Delta: Pulau-pulau delta terbentuk di bagian perairan landai di muara sungai yang mengalir jauh dari pedalaman mengangkut sedimen yang diendapkan dan membentuk pulau-pulau ini. Hampir seluruh pulau umumnya ditutupi bakau atau hutan tropis dataran basah pada kisaran supra tidal atau intertidal. Kota-kota di pesisir timur Sumatra dari Riau hingga Jambi menempati kawasan ini (Rumbai, dst). Daerah peralihan antara daratn dan lautan sering ditandai dengan adnya suatu perubahan kedalaman. Ada tiga daerah untuk membedakan kedalaman, yaitu sebagai berikut. a. Continental Shelf Continental Shelf adalah suatu daerah yang mempunyai lereng yang landai (kemiringan kira-kira sebesar 0,4 %) dan berbatasan langsung dengan daerah daratan. Daerah ini biasanya mempunyai lebar antara 50-70 km dan kedalam maksimum dari lautan yang ada di atasnya tidak lebih besar di antara 100-200 m. b. Continental Slope Continental Slope mempunyai lereng yang lebih terjal dari Continental Shel di mana kemiringannya bervariasi antara 3 % dan 6 %. c. Continental Rise Daerah ini merupakan daerah yang mempunyai lereng yang kemudian perlahan-lahan menjadi datar pada dasar lautan.

Masih ada lagi istilah di kawasan pantai, yaitu lepas pantai (offshore), tepi laut depan (foreshore), dan tepi laut belakng (backshore). Adapun rincian penjelannya yaitu: a. kawasan lepas pantai (offshore) adalah daerah yang ada di luar lintasan gelombang laut b. kawasan tepi laut depan (foreshore) dibatasi dari zona pasang rendah hingga pasang tinggi. c. Kawasan tepi laut belakang (backshore) adalah kawasan yang tidak tergenang laut pada waktu pasang tinggi, tetapi hanya terbenam bila ada gelombang ataupasang yang sangat besar. Adapun kenampakan yang terkait dengan pantai yaitu: a. Laguna (haff) atau danau pantai atau pantai berdanau, yaitu bagian laut yang ada di tepi pantai yang terpisah sebagian atau seluruhnya akibat adanya lidah tanah atau kubus pesisir (nehrung) b. Estuarium adalah sebagian lembah yang sudah tenggelam di sebuah pantai rendah. Estuarium terjadi karena di tempat itu terdapat perbedaan besarantara tingginya air laut pada waktu pasang naik dan pasang surut. Estuarium berbentuk corong agak jauh kea rah darat. c. Delta adalah daratan yang rendah sekali di muara sebuah sungai, yang terjadi karena pengendapan hasil erosi d. Fyord adalah lembah-lembah gletser pada zaman es yang digenangi kembali oleh air laut setelah berakhirnya zaman es e. Ria adalah genangan air laut yang terdapat pada lembah sungai yang mengalami penurunan. f. Teluk adalah laut yang menjorok ke darat. 2.1.3 Pantai dengan pengaruh kegiatan manusia: a. Pemukiman Tradisional: Pantai dan pesisir telah terubah dari bentang dan bentuk semula oleh kebutuhan manusia yang dibangun sepanjang pantai atau pesisir. Pemukiman dan pelabuhan merupakan perubahan yang paling awal dilakukan di pantai. Diatas perairan: Manusia yang kehidupannya tergantung pada laut merasa nyaman tinggal dan membangun pemukimannya di atas air (Suku Bajo, Orang Laut,

dll). Pemukiman dibangun dan disangga oleh tiang kayu di atas batas pasut tertinggi. Diatas pematang pantai : Pemukiman dapat juga dibangun diatas rataan pasir pantai yang terbebas dari pasang tertinggi, di tempat mana manusia dapat memperoleh air tawar dari sumber atau dengan membuat sumur. Kegiatan meramu hutan dan bercocok ringan mulai dilakukan. b.Pemukiman baru Pembangunan pemukiman baru dilakukan di pesisir dengan memperkuat pantai, membuat perlindungan dari erosi dan limpasan gelombang. Pembuatan turap pelindung mengubah sama sekali bentang pantai. Bakau dihilangkan untuk memperoleh pandangan ke laut lepas. c.Pelabuhan Tempat berlabuh memerlukan perairan tenang terbebas setiap saat dari kesulitan sandar dan memrlukan perairan dalam. Perluasan pelabuhan untuk ukuran kapal lebih besar mengubah bentang alam, yang semula hanya terbuat dari dermaga kayu sederhana menjadi demikian masif terbuat dari bangunan beton dengan turap. Pembangunan pelabuhan mengubah bentang pantai. d.Kota Besar Pesisir Pembangunan pemukiman berskala besar dari perluasan kota cenderung berdampak pada terubahnya bentang alam wilayah pesisir menjadi blok-blok perumahan yang penataannya lebih didasarkan pada efisiensi ruang semaksimal mungkin. Kondisi demikian tidak lagi mengindahkan keperluan keseimbangan estetika mupun daya dukung lingkungan. Adakalanya pengelolaan limbah pemukiman juga terabaikan dengan dampak semakin buruknya kualitas pantai dan perairan. e.Pantai Reklamasi: Reklamasi pantai demi memperoleh lahan lebih luas merupakan kegiatan palingburuk yang mengubah bentang alam asli pantai dan wilayah pesisir.Penataan ruang bentang alam yang diperoleh harus dilakukan dengan perhitungan dan perencanaan yang matang sehingga ruang baru dapat menyatu dengan bentang alam asli disekelilingnya.

f.Tambak (ponds): Tambak dibangun diperairan intertidal dengan membuka tutupan lahan asli berupa bakau dan lahan rawa. Kegiatan ini mengubah bentang alam dalam skala luas di pesisir datar dengan kisaran pasut tidak terlalu kuat. Seringkali tambak dibuat langsung di perairan pinggir laut, namun seringkali menyisakan rataan tipis bakau sebagai pelindung dan penangkap sedimen. Pertambakan luas dikembangkan di perairan tepian kontinen. g. Hunian wisata: Beberapa tempat terpilih sebagai kegiatan hunian wisata, dalam format besar dan modern maupun kecil bernuansa ekowisata. Bentang alam umumnya terubah pada hunian wisata masif dan modern berupa hotel atau bungalow, sementara nuansa asli seringkali justru dipertahankan pada hunian ekowisata.

2. 2 Laut Laut adalah bagian dari permukaan bumi yang digenangi oleh air dan mempunyai kadar garam yang cukup tinggi. Ilmu yang mempelajari laut adalah oseanografi. Indonesia adalah Negara maritime, luas laut territorial sebesar 3,1 juta km2 atau kira-kira 63 % dari seluruh wilayah Indonesia. • Jenis-jenis laut

Laut dapat dikelompokkan menurut letak, kedalaman, dan terjadinya. 1. menurut letaknya, laut dapat di bedakan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut. a. laut tepi adalah laut yang terletak di tepi benua, seakan-akan terpisah oleh sederetan pulau-pulau atau jajazirah, seperti laut cina selatan. b. Laut pertengahan adalah laut yang terletak di antara benua, seperti laut tengah yang berada di antara benua eropa, benua afrika dan benua asia. c. Laut pedalaman adalah laut yang berada di tengah-tengah benua atau laut yang dikelilingi oleh daratan, seperti laut mati, laut hitam, dan laut kaspia. 2. menurut kedalamanya, laut dapat dibedakan menjadi empat, yaitu sebagi berikut. a. zona litoral (zona pesisir), yaitu laut yang terletak di antara garis pasang dan garis surut.

b. Zona neritios, yaitu laut yang mempunyai kedalaman dari 0 m - 200 m. wilayah ini memiliki cirri-ciri: 1. sinar matahari masih tembus sampai dasar laut 2. kedalaman 200 m 3. tempat ikan dan tumbuhan laut, seperti yang terdapat di laut jawa, selat malaka, dan laut arafuru c. zona bathyal, yaitu laut dengan kedalaman 200 m – 1000 m. wilayah ini memiliki cirri-ciri: 1. sinar matahari tidak bisa mencapai dasar laut 2. ikan dan tumbuhan yang dihidup di wilayah ini mulai berkurang d. zona abyssal, yaitu laut yang mempunyai kedalaman 1000 m – sampai 6000 m. wilayah ini memiliki cirri-ciri: 1. sinar matahari tidak ada lagi 2. suhu sangat rendah hingga mencapai titik beku 3. tumbuhan dan binatang yang ada sangat terbatas.

3. menurut terjadinya, laut dapat dibedakan menjadi dua, yaitu a. laut trangresi (laut genangan), yaitu laut yang terjadi setelah zaman es berakhir, dengan kedalaman kurang dari 200 m. contoh, laut transgresi adalah laut yang memisahkan pulau-pulau di Indonesia. b. laut ingresi (laut tanah turun), yaitu laut yang terjadi akibat tanah longsor, patahan atau pelipatan kulit bumi dan biasanya sangat dalam. Contohnya, laut banda

2.3 Morfologi Laut Dan Pantai Pada mulanya dipercaya bahwa permukaan dasar lautan itu adalah datar dan tidak mempunyai bentuk. Namun, ilmu-ilmu modern sekarang telah membuktikan bahwa topografi laut kompleks seperti daratan. Dasar laut hamper sama dengan permukaan bumi, ada yang datar, rata, lereng, ngarai, lembah, dan ada juga dataran rendah, dataran tinggi, dan gunung berapi. • Relief dasar laut

a. daerah jeluk (abisal)

daerah atau kawasan ini relative datar terletak di bagian laut dalam. Kawasan abisal luasnya mencakup hingga dua pertiga luas dasar lautan. b. Trench Palung memanjang adalah ngarai dasar laut sempit yang dalam dan panjang. Bagian laut yang terdalam adalah berbentuk seperti saluran yang seolah-olah terpisah sangat dalam yang terdapat di perbatasan antara benua dengan kepulauan. Contohnya palung jawa. Palung ini ada yang mencapai kedalaman 7700 m. c. Seamount Gunung laut adalah gunung yang ada di dasar laut. Gunung tersebut merupakan gunung-gunung berapi yang muncul dari dasar lautan, tetapi tidak dapat mencapai permukaan laut. Seamount mempunyai lereng yang curam, berpuncak runcing dan kemungkinan mempunyai tinggi 1 km. d. pulau gunung api pulau gunung api adalah gunung api laut yang tersembul hingga permukaan laut. e. punggung laut atau pematang tengah samudera pematang tengah samudera adalah pegunungan besar dan sangat panjang yang ada di tengah samudera. Panjangnya hingga puluhan ribu kilometer. Contohnya. Pematang tengah samudera pasifik dan pematang tengah samudera atlantik. f. atol-atol daerah ini terdiri dari kumpulan pulau-pulau yang sebagaian tenggelam di bawah permukaan air. Batu-batuan yang terdapat di sini ditandai oleh adanya terumbu karang yang terbentuk seperti cincin. Adapun Pantai yaitu terdiri dari beberapa kelompok yaitu: a.Pantai curam singkapan batuan : Jenis pantai ini umumnya ditemukan di pesisir yang menghadap laut lepas dan merupakan bagian jalur tunjaman/tumbukan, berupa pantai curam singkapan batuan volkanik, terobosan, malihan atau sedimen. Jenis pantai ditemukan pantai barat Sumatra, Pulau Simeuleule hingga Enggano, Pantai Selatan Jawa, Nusa Dua-Bali, Pantai selatan Lombok - Flores, Sumba,

Sabu, Rote, Timor, Solor - Wetar, Pantai timur Tanimbar, Pantai utara Ceram Irian Jaya. b.Pantai landai atau datar: Pesisir datar hingga landai menempati bagian mintakat kraton stabil atau cekungan belakang. Absennya gejala geologi berupa pengangkatan dan perlipatan atau volkanisme, pembentukan pantai dikendalikan oleh proses eksogen cuaca dan hidrologi. Estuari lebar menandai muara dengan tutupan tebal bakau. Bagian pesisir dalam ditandai dataran rawa atau lahan basah. Sedimentasi kuat terjadi di perairan bila di hulu mengalami erosi. Progradasi pantai atau pembentukan delta sangat lazim. Kompaksi sedimen diiringi penurunan permukaan tanah, sementara air tanah tawar sulit ditemukan. c.Pantai dengan bukit atau paparan pasir: Pantai menghadap perairan bergelombang dan angin kuat dengan asupan sedimen sungai cukup, umumnya membentuk rataan dan perbukitan pasir. Kondisi kering dan berangin kuat dapat membentuk perbukitan pasir. Air tanah seringkali terkumpul dari air meteorik yang terjebak. Sementasi sedimen terbentuk bila terdapat cukup kelembaban dari air laut (spray) dan terik matahari. Jenis pantai ini berkembang baik di perairan yang menghadap samudra Hindia (Sumatra pantai barat, Jawa, dst.). Paparan pasir juga terbentuk di perairan yang menghadap cekungan dalam di pulau kecil atau gunung api sejauh cukup landai lereng pantai dan sedimen sungai serta agitasi gelombangnya. d. Pantai lurus dan panjang dari pesisir datar: Pantai tepian samudra dengan agitasi kuat gelombang serta memiliki sejumlah muara sungai kecil berjajar padanya dengan asupan sedimen, dapat membentuk garis lurus dan panjang pantai berpasir. Erosi terjadi bila terjadi ketidak seimbangan lereng dasar perairan dan asupan sedimen. e. Pantai berbukit dan tebing terjal: Bentang pantai ini ditemukan di berbagai mintakat berbeda, yaitu di jalur tumbukan/tunjaman, jalur volkanik, pulau-pulau sisa tinggian di paparan tepi kontinen, jalur busur luar atau jalur tektonik geser. Batuan keras yang terkerat patahan dan rekahan umun dijumpai di kawasan yang gejala tektoniknya kuat.

Batuan terobosan atau bekuan tufa dapat membentuk tebing terjal di pantai pulau volkanik. Di kawasan dengan proses pengangkatan dan pelipatan, kecuraman lereng pantai atau bukit adakalanya tergantung arah lipatan dan kemiringan perlapisan dan kekerasan maupun kestabilan batuannya. Terjalnya tebing pantai dan kuatnya agitasi gelombang meniadakan peluang terumbu karang tumbuh, demikian halnya dengan bakau. Tutupan tumbuhan masih mampu tumbuh di lapukan batuan, terutama di kawasan dengan curah hujan memadai. f. Pantai erosi Terjadinya erosi terhadap pantai disebabkan oleh adanya: batuan atau endapan yang mudah tererosi, agen erosi berupa air oleh berbagai bentuk gerak air. Gerak air dalam hal ini bisa berupa arus yang mengikis endapan atau agitasi gelombang yang menyebabkan abrasi pada batuan. Erosi tidak hanya berlangsung di permukaan, namun juga yang terjadi di permukaan sedimen dasar perairan. Erosi maksimum terjadi bila enersi dari agen erosi mencapai titik paling lemah materi tererosi. Pada sedimen lepas di pantai, arus sejajar pantai oleh adanya gelombang atau arus pasang surut sudah mampu menjadi penyebab erosi. Erosi yang terjadi pada dasar perairan akan mengubah lereng yang berdampak pada perubahan posisi jatuhnya enersi gelombang pada pantai. Berikutnya, agitasi gelombang dapat merusak titik terlemah dari apapun yang ditemukan dengan enersi maksimal. Pencapaian titik terlemah dapat terjadi bila saat badai dengan gelombang kuat terjadi bersamaan dengan posisi paras muka laut jatuh pada sisi paling lemah, yaitu permukaan rataan pasir pantai. Erosi diperparah bila sedimen sungai yang menjadi penyeimbang tidak cukup mengganti sedimen yang tererosi. Jenis pantai dengan ancaman seperti ini terdapat di pesisir barat Sumatra, selatan Jawa dan beberapa tempat yang menghadap perairan dengan agitasi gelombang kuat. Pada tebing pantai batuan keras, abrasi terjadi pula namun memerlukan waktu lama untuk menghasilkan dampak yang terlihat. Takik pada batuan di ketinggian tertentu diakibatkan kerjaan abrasi ini, bila takik terlalu dalam dan beban tidak dapat tertahan lagi, bagian atas tebing runtuh.

Pada beberapa kejadian, takik juga dipercepat dalamnya oleh kegiatan pelubangan biota. g. Pantai akresi: Proses akresi terjadi di pesisir yang menerima asupan sedimen lebih dari jumlah yang kemudian dierosi oleh laut. Dengan demikian, akresi merupakan kebalikan dari proses erosi. Keseimbangan yang menyebabkan dua proses tersebut berlangsung bergantian adalah kondisi: berubahnya paras muka laut, perubahan enersi agen erosi, perubahan jumlah sedimen yang tersedia, dan lereng dari dasar perairan. Akresi pantai oleh sedimen halus sering diikuti tumbuhnya bakau yang berfungsi kemudian sebagai penguat endapan baru dari erosi atau longsor. Kecepatan akresi di beberapa pantai dikendalikan oleh intensifnya sedimentasi hasil erosi di hulu. 2.4 kualitas Air • Salinitas Salinitas adalah material yang terlarut dalam air dalam I kg air. air laut mengandung garam. Kandungan unsure kimia paling besar dalam air laut selain air adalah Natrium Chlorida (NaCl) atau garam. Setiap satu kilometer kubik air laut mengandung sekitar 969 juta ton oksigen, 122 juta ton hydrogen, 21,5 juta ton khlor, dan 12 juta ton natrium. Banyak sedikitnya garam berpengaruh terhadap kegaraman atau salinitas air laut. Di dekat khatulistiwa, salinitas mempunyai nilai rendah. Salinitas tertinggi terdapt di daerah lintang 20˚ LU dan 20˚ LS, kemudian menurun kembali pada daerah lintang yang lebih tinggi. Keadaan salinitas yang rendah pada daerah sekitar ekuator disebabkan oleh tingginya curah hujan. Di daerah subtropics,terutama yang beriklim kering ,penguapan lebih tinggi daripada curah hujan sehingga salinitas dapat mencapai 45 ‰.Contohnya,di Laut Merah dan Lagoon yang ada di texas,Amerika Serikat. Besar kecilnya salinitas sangat di pengaruhi oleh bentang laut dan iklim. a. Pengaruh Bentang Laut terhadap Salinitas Bentang lautadalah posisi laut terhadap daratan.Bentang laut ada yang tertutup dan ada yang terbuka.Pada laut yang tertutup dan ada yang terbuka.Pada laut yang tertutup airnya tidak mudah

tercampur dengan air laut atau air tawar lainnya.Oleh karena itu,bentang laut yang tertutup biasanya memiliki salinitas yang tinggi.Contohnya,Laut Hitam,Laut Tengah,Laut Kaspia,dan Laut Mati.Laut tersebut dalam sehingga hanya sedikit pertambahan air tawarnya. b. Pengaruh Iklim terhadap Salinitas Laut yang terletak di wilayah subtropis cenderung memiliki salinitas lebih tinggi.Mengapa? Karena di wilayah subtropis kondisi atmosfer cenderung terdapat sedikit awan sehingga mata hari bersinar terus sepanjang hari.Akibatnya,terjadi penguapan yang sangat besar.Penguapan tinggi berakibat kadar garam air yang tertinggal semakin besar.Hal itu berbeda dengan wilayah tropis seperti Indonesia,terutama Indonesia bagian barat.Di wilayah ini setidaknya enam bulan setiap tahun.Matahari bersinar tidak satu hari penuh karena sering ada awa.Hal itu menyebabkan penguapan air laut tidak setinggi penguapan di wilayah subtropis.Akibatnya salinitas di wilayah ini cenderung rendah.Salinitasnya kurang dari 30‰.Berbeda dengan wilayah Laut Tengah dan Laut Mati yang salinitasnya bisa mencapai lebih dari 40‰ (per mil) • Suhu Air Laut Suhu air laut.terutama permukaan air laut,di tentukan oleh pemanasan matahari Intensitas pemanasan matahari senantiasa beruba sehingga suhu air laut akan berubah sesuai dengan perubahan intensitas penyinaran matahari.Perubahan suhu ini dapat terjadi secara harian,musiman,tahunan dan jangka panjang. Panas air laut berasal dari sinar matahari.Semakin dalam laut semakin sedikit menerima sinar matahari.Oleh karena itu,semakin ke bawah semakin dingin.Demikian pula semakin mendekati kutub.suhunya semakin dingin.Suhu air laut bervariasi antara-2˚C HINGGA 32˚ c.Separuh air laut memiliki suhu di bawa 10˚ C.Suhu air laut -2˚ Cterjadi di wilayah iklim

dingin.sedangkan suhu air laut 32˚ C terjadi diwilayah subtropics ketika musim panas. Suhu air laut berkisar antara -2˚ C sampai 40˚ C.Hal ini tergantung musim dan letak pada garis lintang.Fluktuasi suhu permukaan air laut pada umumnya tidak lebih dari 1˚ C setiap harinya,sedangkan suhu maksimum di lautan terbuka tidak akan lebih dari 30˚ C. • .Kecerahan Air Laut Cahaya matahari yang sampai di permukaan air laut akan di serap dan diseleksi oleh air laut sehingga cahaya dengan gelombang yang panjang seperti cahaya merah,ungu dan kuning akan hilang lebih dahulu.Cahaya dengan panjang gelombang yang pendek mampu menembus permukaan yang lebih dalam.Banyaknya sinar matahari yang masuk ke dalam laut berubah-ubah tergantung pada intensitas cahaya,banyaknya pemantulan di permukaan,sudut datang,dan transparansi air laut. Perubahan intensitas cahaya di permukaan laut bervariasi berdasarkan musim.Penurunan intensitas cahaya dan absorbsi akan berkurang karena di pengaruhi oleh kedalaman.Cahaya dapat menembus lapisan perairan hinga mencapai kedalaman 200 m. Dengan adanya cahaya tersebut menyebabkan air laut berwarna.Warna air laut bermacam-macam.Hal ini disebabkan karena beberapa factor,seperti: a.warna biru karena pengaruh warna langit; b.Warna kuning disebabkan karena warna lumpur yang berwarna kuning; c.warna hitam karena adanya Lumpur yang berada di dasar laut; d.wana hijau karena endapan dekat pantai yang memantulkan warna hijau; e.warna merah karena pengaruh warna plankton merah yang terdapat di laut; f.warna putih bila laut tersebut ditutupi oleh lapisan es.

BAB III PENUTUP

1. Bentang alam wilayah pesisir dan pantai dibentuk oleh gejala endogen geologi. Tiga gejala utama tektonik yang mengontrol awal bentang alam adalah tunjaman dan tumbukan lempeng, gerak geser antar lempeng, gunung api dengan komponen gerak tegaknya. Cekungan belakang busur ditandai oleh penurunan yang membentuk sedimen tebal. Jenis batuan menentukan kestabilan pantai dan kemampuan bertahan dari kerjaan laut dan cuaca. 2. Di perairan stabil tanpa gejala geologi (endogen), di bagian yang mengalami pengaruh kuat perubahan paras muka laut, di pesisir dan di pantai, selanjutnya pembentukan bentang alam lebih dipengaruhi oleh gejala cuaca (erosi) dan laut (erosi, sedimentasi). 3. Pantai yang menghadap perairan terbuka dengan agitasi kuat memiliki kota pantai yang berkembang di rataan pasir pantai, berawal dari pemukiman dan pelabuhan sebagai bandar niaga di muara sungai. Pemilihan muara di bentang manapun sebagai awal pemukiman sangat umum dijumpai di Indonesia, di dataran alluvial, di kaki gunung pulau volkanik, di pesisir perairan paparan tepian kontinen atau di pantai dataran limpah banjir. 4. Kota pantai tumbuh dan berkembang sesuai status dan fungsinya dari saat ke saat melalui beberapa perioda masa penjajahan dan kemudian masa setelah kemerdekaan. Perkembangan dan perluasan kota yang berstatus kota pusat pemerintahan terlihat lebih pesat. 5. Perluasan kota untuk pemukiman mulai terasa sejak 30 tahun terakhir. Demikian halnya dengan pembangunan sarana pelabuhan dan transportasi lain. 6. Sejumlah besar kota pantai berkembang pesat oleh peningkatan usaha ekonomi perniagaan, pertanian/perkebunan dan industri, sementara marikultur dan industri hilirnya hanya berkembang di beberapa kota pantai saja atau hanya sebagai suplemen kecil usaha ekonomi. Perlu peningkatan

usaha ekonomi kelautan di segala lini (industri rekayasa, budidaya dan tangkap, pengolahan, wisata, dll) 7. Pertumbuhan kota-kota pantai di akhir abad 20 an cenderung mangabaikan daya dukung lingkungan di sekelilingnya serta ancaman bencana yang berpotensi merusak. Keterbatasan ruang yang layak dikembangkan menyebabkan perluasan merambah lingkungan yang seharusnya dipertahankan sebagai penyangga, antara lain yang berada di hulu, hilir, pantai dan perairan dengan pulau-pulau di depannya. 8. Cuaca, kondisi laut dan tektonik merupakan gejala-gejala yang mengontrol bentang alam dari awal pembentukan hingga bentuk saat ini. Mengingat demikian kuat pengaruhnya hingga saat ini seiring perkembangan kota, maka gejala tersbut harus diperhitungkan sebagai potensi alam dalam upaya mempertahankan kelestarian lingkungan kota pantai. 9. Jenis ancaman bencana pada kota-kota pantai beragam tergantung pada gejala alam apa saja yang mengontrolnya. Namun secara regional, ancaman kenaikan muka air laut estatik - walaupun akan dirasakan hampir semua kota pantai dengan besaran dampak berbeda tergantung bentang alam dan gelogi di atas mana kota dibangun. Kota pantai berbukit hampir tidak terpengaruh oleh gejala ini sementara kota di pesisir delta atau pulau kecil, akan merasakan akibat gejala ini dengan ancaman sangat serius pada kerusakan langsung pada pantai oleh erosi dan penenggelaman.

DAFTAR RUJUKAN

-Hantoro W.S. 2001. Low stand sea level and landform changes: climatic changes consequence to epicontinental shelf and fauna migration through Indonesian.Archipelago. In Preceeding of: “The environmental and Cultural History and Dynamics of the Australian-Southeast Asian Region” seminar, Melbourne, December 10-12, 1996. -www.goole.com

GELOMBANG

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Oseanografi Yang dibina Oleh Bpk Bagus SetyoBudi Wiwoho M.Si

Oleh: 1. Siti Nurhasanah (106351400626) 2. Evy Agustina R (106351400629)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN GEOGRAFI Oktober, 2008

GELOMBANG

-

Pengertian Gelombang Gelombang adalah pergerakan naik dan turunnya air dengan arah tegak

lurus permukaan air laut yang membentuk kurva/ grafik sinusoidal. Gelombang laut disebabkan oleh angin. Angin di atas lautan mentransfer energinya ke perairan, menyebabkan riak-riak, alun/ bukit, dan berubah menjadi apa yang kita sebut sebagai gelombang. Gelombang adalah suatu variabel dan corak di permukaan laut. Gelombang dapat mencakup dari ukuran riak yang paling kecil pada dinding air yang sangat besar yang diproduksi oleh gangguan kulit keras/ karang yang berhubungan dengan laut. Gelombang dipermukaan laut selalu berubah-ubah dan bersifat dinamis. Gelombang tersebut berukuran dari riakan air kecil sampai yang tersebar yang membentuk dinding air. Proses pembentukan gelombang dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: angin, gravitasi, dan gempa. Ketika gelombang bergerak naik dan turun dengan suatu gerakan kecil dari sisi satu kembali ke sisi semula. Seperti contohnya pada pelampung yang sebenarnya bergerak dalam suatu lingkaran (orbital). Gerakan pelampung memberi gambaran suatu bentuk gelombang. Pelampung yang mengapung di air pindah ke pola yang sama, naik turun di suatu lingkaran yang lambat, yang dibawa oleh pergerakan air. Di bawah permukaan, gerakan berputar gelombang itu semakin mengecil. Ada gerak orbital yang mengecil seiring dengan kedalaman air, sehingga kemudian di dasar hanya akan meninggalkan suatu gerakan kecil mendatar dari sisi ke sisi yang disebut surge. Bentuk ideal dari suatu gelombang akan mengikuti gerak sinosoide. Selain radiasi elektromagnetik, dan mungkin radiasi gravitasional, yang bisa berjalan lewat vakum, gelombang juga terdapat pada medium yang karena perubahan bentuk dapat menghasilkan gaya yang lentur dimana dapat juga berjalan dan dapat memindahkan energi dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengakibatkan partikel medium yang berpindah secara permanent, yaitu tidak ada perpindahan secara masal. Dan setiap titik khusus berosilasi di sekitar satu posisi tertentu. Suatu medium disebut linier jika gelombang yang berbeda disemua titik tertentu di medium bisa di jumlahkan, terbatas jika terbatas, selain itu disebut tak

terbatas, seragam jika cirri fisiknya tidak berubah pada titik yang berbeda, isotoprik jika ciri fisiknya sama pada arah yang berbeda. Pengaruh Gelombang Gelombang dapat mempengaruhi kondisi sesungguhnya di alam, pergerakan orbital di perairan dangkal (shallow water) dekat dengan kawasan pantai. Dan ketinggian serta periode gelombang tergantung kepada panjang fetch pembangkitnya. Fetch adalah jarak perjalanan tempuh gelombang dari awal pembangkitannya. Fetch ini dibatasi oleh bentuk daratan yang mengelilingi laut. Semakin panjang jarak fetchnya, ketinggian gelombangnya akan semakin besar. Angin juga mempunyai pengaruh yang penting pada ketinggian gelombang. Angin yang lebih kuat akan menghasilkan gelombang yang lebih besar. Gelombang yang menjalar dari laut dalam (deep water) menuju kepantai akan mengalami perubahan bentuk karena adanya perubahan kedalaman laut. Apabila gelombang bergerak mendekati pantai, pergerakan gelombang di bagian bawah yang berbatasan dengan dasar laut akan melambat. Ini adalah akibat dari friksi atau gesekan antara air dan dasar pantai. Sementara itu, bagian atas gelombang di permukaan air akan terus melaju. Semakin menuju kepantai, puncak gelombang akan semakin tajam dan lembahnya akan semakin datar. Fenomena ini yang menyebabkan gelombang tersebut kemudian pecah. Pengaruh gelombang terhadap dasar laut sangat sedikit. Bila gelombang bergerak ke continental shelf dan memasuki wilayah pantai dangkal gelombang mulai terpengaruh oleh dasar laut. Dasar laut dangkal akan mengakibatkan kecepatan, bentuk dan gerakan gelombang menjadi berubah. Efek gelombang jelas nyata dan utama diamati di sepanjang potongan pantai didalam zona antar tinggi - dan rendah- level pasang gelombang berada di area ini membentuk lepas pantai yang jauh, dengan cepat mengeluarkan energi yang disimpan sebagai gelombang pecah, atas garis pantai itu. Energi ini digunakan untuk membawa sediment dari pantai zone gelombang yang memecah gelombang. Sebagian besar sediment dimulai sebagai hasil erosi benua yang bersebelahan oleh adanya tindakan atau dipindahkan kelaut dengan arus sungai atau permukaan run off selama hujan badai dan kejadian lainya.

Di musim panas angin badai dan gelombang lebih lembut dan permukaan pantai yang jarang menjadi penuh. Ketika gelombang musim panas lebih kecil banyak orang bepergian ke arah pantai, mereka memindahkan pasir yang sangat lembut dari bar dan masuk surfing. Ketika retakan gelombang ini menghalau air karam masuk ke dalam permukaan pantai yang tak terbungkus dan kembali ke lepas pantai seperti arus di bawah permukaan tanah. Pasir terbawa dari bar kemudian terendap dan tinggal pada permukaan pantai. Ketika gelombang membentur pantai, bentuk gelombang akan memecah pada suatu penjuru/sudut. Jika gelombang sedang mendekati pantai dari arah kiri, gelombang akan pecah pada suatu penjuru, mengambil pasir dan

memindahkannya dengan gerakan yang secara langsung di lepas pantai ke dalam zone gelombang yang memecah. Pasir akan diterbangkan dari pantai oleh gelombang sebelumnya. Sediment segera disimpan dan dipindahkan oleh gelombang lainnya,, dan disimpan kembali sedikit lebih jauh, di sepanjang pantai yang menggantikan butir pasir yang telah dipindahkan sebelumnya. Selanjutnya gerakan sediment akan pindah pada sepanjang pantai dan suatu gerakan yang berliku-liku. Ukuran sediment yang dibawa oleh arus longsor tergantung atas energi gelombang yang membentur pantai pada waktu tertentu.

-

Karakteristik Gelombang Gelombang yang terjadi di lautan diklasifikasikan menjadi beberapa

macam tergantung kepada gaya pembangkitnya. Pembangkit gelombang laut dapat disebabkan oleh angin (gelombang angin), gaya tarik menarik bumi- bulanmatahari (gelombang tsunami), ataupun gelombang yang disebabkan oleh gerakan kapal. Gelombang yang sehari-hari terjadi dan diperhitungkan dalam bidang teknik pantai adalah gelombang angin dan pasang-surut (pasut). Gelombang dapat membentuk dan merusak pantai dan berpengaruh pada bangunan-bangunan pantai. Energi gelombang akan membangkitkan arus dan mempengaruhi pergerakan sediment dalam arah tegak lurus pantai (cross-shore) dan sejajar pantai (longshore). Pada perencanan teknis bidang teknik pantai, gelombang merupakan faktor utama yang diperhitungkan karena menyebabkan gaya-gaya yang bekerja pada bangunan pantai.

Ada dua tipe gelombang, bila dipandang dari sifat-sifatnya yaitu:: Gelombang pembangunan/ pembentuk pantai (Constructive wave) dan Gelombang perusak pantai (Destructive wave).

Yang termasuk gelombang pembentuk pantai, bercirikan mempunyai ketinggian kecil dan kecepatan rambatnya rendah. Sehingga saat gelombang tersebut pecah di pantai akan mengangkut sediment (material pantai). Material pantai akan tertinggal di pantai (deposit) ketika aliran balik dari gelombang pecah meresap kedalam pasir atau pelan-pelan mengalir kembali ke laut. Sedangkan gelombang perusak pantai biasanya mempunyai ketinggian dan kecepatan rambat yang besar (sangat tinggi). Air yang kembali berputar mempunyai lebih sedikit waktu untuk meresap ke dalam pasir. Ketika gelombang dating kembali menghantam pantai akan ada banyak volume air yang terkumpul dan mengangkut material pantai menuju ke tengah laut atau ke tempat lain. Setiap gelombang akan mempunyai puncak dan lembah, sehingga ciri-ciri yang dipunyai gelombang adalah tinggi gelombang, jarak gelombang dan periode gelombang. Puncak gelombang adalah ujung yang paling tinggi dari gelombang. Puncak gelombang adalah jarak ke atas dari lembah sampai puncak gelombang, sedangkan jarak gelombang adalah jarak horizontal antar kedua puncak lembah gelombang adalah titik dasar gelombang. Serangkaian jalannya gelombang dari arah yang sama disebut deretan gelombang. Gelombang memiliki tipe berdasarkan periodenya, yaitu: 1. Ripples (riak gelombang), memiliki periode 1 detik 2. Fully developed seas, memiliki periode 5-12 detik 3. Swell (gelombang besar), memilki periode 6-16 detik 4. Surf, memiliki periode 1-3 menit 5. Tsunami, memiliki periode 10-20 menit 6. Tides (pasang-surut), memilki periode 12-24 jam. Pada umumnya sebagian besar daerah pantai dihantam gelombang pasang setiap hari selama pasang. Gelombang pasang ini terbentuk akibat pangaruh gaya gravitasi bumi yaitu adanya gaya tarik-menarik antara bulan dan matahari terhadap air laut, waktu terjadinya kira-kira 12 atau 21 jam tergantung pada letak

lintang suatu daerah. Gelombang Tsunami merupakan gelombang yang salah satunya dihasilkan oleh gempa bumi. Gelombang mempunyai ketidaksamaan pada kedalaman dan kedangkalan airnya, sehingga sering dipisahkan sebagai gelombang air dalam dan gelombang air dangkal. Suatu gelombang yang dapat dianggap sebagai: a. gelombang air dalam jika rasio dari kedalaman dengan panjang gelombang lebih dari 1: 2, b. gelombang air dangkal jika rasio dari kedalaman dengan panjang gelombang kurang dari 1: 25, c. gelombang intermediet jika rasio dari kedalaman dan panjang gelombang antara 1: 2 dan 1: 25. Pengklasifikasian ini tergantung kedalaman air juga panjang gelombang. Dalam kedalaman air yang sam maka panjang satu gelombang mungkin dapat digolongkan sebagai gelombang dalam walaupun dengan panjang yang lain. Gelombang yang sangat panjang mungkin diklasifikasikan sebagai gelombang air dangkal. Sebagai contoh gelombang dengan tinggi 3 meter dari permukaan air rata-rata dan panjangnya kurang dari 1 meter dianggap sebagai gelombang air dalam, pada kedalam yang sama tsunami dengan panjang gelombang 75 km akan termasuk dalam gelombang air dangkal. Bentuk yang nyata dari suatu coastline akan mempengaruhi karakteristik gelombang. Suatu contoh klasik adalah peningkatan pasang di (dalam) Teluk Fundy. Di dalam area ini coastline Maine, Brunswick Baru, dan Nova Scotia mengubah bentuk [dari;ttg] perairan ini untuk menciptakan suatu perbedaan besar antara pasang tinggi dan rendah. Permukaan laut memberikan suatu pola teladan bagi gelombang dari ukuran, bentuk, kecepatan bergerak dan arah yang berbeda. Untuk mencoba didalam mengikuti kemajuan gelombang atau rangkaian gelombang tertentu bahkan untuk suatu jangka waktu yang pendek hampir

mustahil. Oceanographer biasanya mulai mempelajari gelombang di bawah kondisi-kondisi yang dikendalikan. Mereka melakukan ini di dalam suatu

laboratorium, dan jika mereka membuat dan mengamati gelombang di dalam suatu tangki/tank gelombang atau saluran gelombang. Suatu saluran gelombang selalu menggunakan tangki/tank dengan sisi gelas/kaca. Gelombang dihasilkan

oleh suatu pedal yang digerakkan oleh mesin. Suatu alat penahan goncangan atau pantai tiruan dapat mencegah dari air di sekeliling saluran mem-backup dan memproduksi gelombang yang kacau. Pantai dapat menjadi bagian dari eksperimen yang nyata jika berbagai keinginan untuk mengamati gelombang dapat dipecahkan. Jika suatu gelombang yang spesifik di pilih dan diikuti, akan ditemukan bahwa gelombang akan membantu melewati rentet gelombang dengan cepat. Seperti melanjut untuk maju melalui rentet gelombang, dan secara berangsurangsur akan hilang energi dan tingginya akan menurun. Ketika menjangkau medan, gelombang akan menghilang lenyap dan digantikan oleh gelombang lainnya, gelombang dibentuk naik pada tingkat dari kerak. Penghilangan gelombang yang terkenuka dalam kaitan dengan tenaga/energi akan pindah dan bergerak ke air yang tenang dan lenyap, dan penyebabnya adalah energi yang sedikit / kecil. Faktanya bahwa tanpa alternative dapat terjadi dari masing-masing gelombang tertentu di dalam suatu tran yang benar-benar bergerak lebih cepat dari kelompok gelombang. Pengamatan yang diulangi menunjukkkan bahwa dalam kesukaran tenaga getaran kelompok adalh separuh energi dari suatu gelombang individu. Gerakan air dalam gelombang: Gerakan partikel muka air sedikit

hubungannya dengan jumlah gelombang channel. Muka air sedikit berpindah dengan tiap-tiap gelombang yang berlalu. Sebagai akibatnya air menunjukkan orbit gerakan gelombang yang lewat. Gerakan ke atas dan masing-masing ujun, bawah dan punggung dalam tiap lembah sangat sedikit permukaan yang bergerak, karena orbitnya tidak nenyeluruh. Pergerakan yang sedikit dari air dinamakan dengan Mass Transport The Surf Zone merupakan suatu area dimana gelombang mulai masuk dalam perairan laut dangkal untuk pertama kali sehingga terdapat suatu kenampakan gelombang yang bergulung-gulung menuju ke arah daratan dan selanjutnya menuju pada daerah pecah gelombang. The Swash Zone merupakan zone dimana air bergerak secara laminar kea rah daratan, karena gelombang sudah pecah sehingga hanya merupakan suatu aliran yang mirip dengan limpasan permukaan.

-

Gelombang Angin: Ketika angin mulai berhembus melintasi hamparan

pantai, energi dari angina ditransfer ke air dalam bentuk gelombang. Ini memeng sifat dari angin, yang menimbulkan pergeseran seperti gerakan lintasan air. Pergeseran ini menekan melawan air dan jika energinya sangat akan membentuk riakan, jika anginnya sangat keras akan membentuk gelombang besar dari riakan tersebut. Gelombang permukaan laut : gelombang dihasilkan oleh angina yang

berubah dalam jumlah besar. Gelombang ini berjalan dari tempat yang berbeda, akan bertemu dengan sudut yang tidak sama. Angin jarang berhembus dalam arah yang tetap pada kecepatan yang tetap. Oleh karena itu setiap perubahan gelombang dihasilkan pada daerah terbuka dan gelombang yang terdiri dari beberapa ketidaksamaan ukuran, kecepatan dan bentuk: rip currents, longshore currents. Rip currents adalah gelombang yang bergerak di dalam permukaan laut dan menyusur pada dasar laut di perairan dangkal terutama pada paparan benua. Longshore currents adalah gelombang yang gerakannya menyusur garis

pantai. Gelombang ini disebabkan karena adanya sudut dating gelombang datang dan waktu datangnya gelombang yang tidak sama. Gelombang yang datang dengan membentuk sudut terhadap pantai akan dipantulkan kembali tegak lurus terhadap pantai yang kemudian pada zone surf, gelombang pantul ini akan dibawah kea rah pantai kembali oleh gelombang yang datang pada waktu berikutnya yang membentuk sudut terhadap pantai. Hal ini berlangsung sepanjang pantai sehingga gerakan gelombang seolah-olah menyusur garis pantai. Pantulan, Pembiasan, Pembelokan Gelombang Jika gelombang bertemu dengan benda-benda yang tak bergerak aliran air yang curam, jurang vertical, atau pemecah gelombang, gelombang mungkin akan dipantulkan, dibiaskan atau dibelokkan. Jika deretan gelombang dipantulkan, bentuk energi yang pindah didorong juga olehnya sampai tambahan puncak dengan lembah bertemu. Sebagai contoh jika gelombang bertabrakan dengan pembelah ombak akan dipantulkan kembali.

-

Refleksi Reflaksi yaitu gelombang akan dipantulkan apabila menemui bentuk

pantai yang memiliki topografi Cliff atau biasa disebut pantai Cliff ataupun suatu barier/ penghalang, karena memiliki bidang pantul yang relatif tegak lurus terhadap arah gelombang dating. Gelomabng yang dating akan dipantulkan kembali menuju kea rah di mana gelombang itu tadi berasal, hanya pada saat puncak gelombang menyentuh dinding pantai cliff, maka pantulan yang terjadi dimulai dalam bentuk lembah gelombang. Refraksi Refraksi yaitu gelombang akan dibelokkan menuju suatu pusat sehingga tampak gelombang yang dating akan menuju pada suatu titik. Terjadi pada pantai yang memiliki suatu tanjung atau headland, sehingga gelombang akan mengarah pada tanjung ataupun headlandstersebut, karena arah gelombang akan mengikuti garis kontur yang bentuknya mirip dengan kenampakan topografi pantai tersebut. Difraksi Difraksi yaitu gelombang akan dibelokkan menuju ke segala arah sehingga tamp[ak gelombang akan menyebar pada seluruh garis pantai. Hal ini biasanya terjadi apabila gelombang air memasuki pantai yang memiliki teluk (masa lautan masuk kea rah daratan) sehingga gelombang akan di distribusikan secara merata dan menyebar ke segala garis pantai. - Tenaga Pembentuk Gelombang Semua gelombang dipengaruhi atau dihasilkan oleh salah satu dari 3 faktor atau mekanisme dasar yaitu angin, gravitasi, dan gempa. Ketika gelombang

terbentuk, gelombang mampu bergerak sepanjang laut interlokal dengan tenaga yang kecil. Ketika gelombang bergerak ke atas kerak samudera, kebanyakan gelombang hanya mempunyai sedikit interaksi dengan kerak. Ketika bergerak naik ke landas kontinen, terutama ketika masuk ke kawasan pantai dangkal, gelombang mulai berhubungan dengan kerak. Hasilnya adalah suatu perubahan dalam bentuk kecepatan gelombang. Di dalam air dangkal gelombang akan secepatnya dimodifikasi menjadi gelombang yang memecah pada suatu garis pantai dan melepaskan suatu jumlah energi yang dapat diperhitungkan.

Gelombang dapat juga dibelokkan, dibiaskan dan dipantulkan oleh dermaga, pulau dan berbagai hal lainnya. Kondisi topografi dasar laut dan keadaan angin. Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa keadaan gelombang tertinggi terjadi pada periode bulan desember sampai februari (musim barat), ketinggian gelombang mencapai 1,5 m – 2 m. Sedangkan pada bulan lainnya tinggi gelombang yang tercatat kurang dari 1,5 meter (Nurjaya,1993). Penyebab utama terjadinya gelombang adalah angin. Gelombang dipengaruhi oleh kecepatan angin, lamanya angin bertiup, dan jarak tanpa rintangan saat angin bertiup (fetch). Gelombang terdiri dari panjang gelombang, tinggi gelombang, periode gelombang, kemiringan gelombang dan frekuensi gelombang. Panjang gelombang adalah jarak berturut-turut antara dua puncak atau dua buah lembah. Tinggi gelombang adalah jarak vertikal antara puncak dan lembah gelombang. Periode gelombang adalah waktu yang dibutuhkan gelombang untuk kembali pada titik semula. Kemiringan gelombang adalah perbandingan antara tinggi dan panjang gelombang. Frekuensi gelombang adalah jumlah gelombang yang terjadi dalam satu satuan waktu. Pada hakikatnya, gelombang yang terbentuk oleh hembusan angin akan merambat lebih jauh dari daerah yang menimbulkan angin tersebut. Hal ini yang menyebabkan daerah di pantai selatan Pulau Jawa memiliki gelombang yang besar meskipun angin setempat tidak begitu besar. Gelombang besar yang datang itu bisa merupakan gelombang kiriman yang berasal dari badai yang terjadi jauh dibagian selatan Samudera Hindia

DAFTAR RUJUKAN

Setiabudi, Bagus W. 1999. Pengantar Oseanografi. Malang: Universitas Negeri Malang. Triatmadja, R. 1999. Teknik Pantai. (Online) {http://elisa.ugm.ac.id/} diakses tanggal 18 September 2008. Triatmodjo, B. 1999. Pantai. (Online) {http://www.reefnews.com/} diakses tanggal 18 September 2008. (Online) http://www.geography.learnonthe internet.co.uk/ diakses tanggal 18 September 2008. Nontji, Anugerah. 1986. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan.

SIRKULASI UDARA DI ATMOSFER

Makalah Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Oseanografi Yang Dibimbing Oleh Bpk. Bagus Setiabudi Wiwoho

Oleh : Dita Kusumaningtyas (106351400638) Wahyu Setiyawan (106351400662)

   

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN GEOGRAFI Ok tober, 2008

SIRKULASI UDARA DI ATMOSFER

A. Atmosfer Atmosfer adalah lapisan gas yang melingkupi sebuah planet, termasuk bumi, dari permukaan planet tersebut sampai jauh di luar angkasa. Di bumi, atmosfer terdapat dari ketinggian 0 km di atas permukaan tanah, sampai dengan sekitar 560 km dari atas permukaan bumi. Atmosfer tersusun atas beberapa lapisan, yang dinamai menurut fenomena yang terjadi di lapisan tersebut. Transisi antara lapisan yang satu dengan yang lain berlangsung bertahap. Studi tentang atmosfer mula-mula dilakukan untuk memecahkan masalah cuaca, fenomena pembiasan sinar matahari saat terbit dan tenggelam, serta kelap-kelipnya bintang. Dengan peralatan yang sensitif yang dipasang di wahana luar angkasa, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang atmosfer berikut fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya. Atmosfer Bumi terdiri atas nitrogen (78.17%) dan oksigen (20.97%), dengan sedikit argon (0.9%), karbondioksida (variabel, tetapi sekitar 0.0357%), uap air, dan gas lainnya. Atmosfer melindungi kehidupan di bumi dengan menyerap radiasi sinar ultraviolet dari matahari dan mengurangi suhu ekstrem di antara siang dan malam. 75% dari atmosfer ada dalam 11 km dari permukaan planet. Atmosfer tidak mempunyai batas mendadak, tetapi agak menipis lambat laun dengan menambah ketinggian, tidak ada batas pasti antara atmosfer dan angkasa luar. Atmosfer juga berfungsi sebagai payung atau pelindung kehidupan di bumi dari radiasi matahari yang kuat pada siang hari dan mencegah hilangnya panas keruang angkasa pada malam hari. Atmosfer juga merupakan penghambat bagi benda-benda angkasa yang bergerak melaluinya sehingga sebagian meteor yang melalui atmosfer akan menjadi panas dan hancur sebelum mencapai permukaan bumi. Lapisan atmosfer merupakan campuran dari gas yang tidak tampak dan tidak berwarna. Empat gas utama dalam udara kering meliputi (lihat tabel 1.1).

Tabel 1.1. Gas Utama dalam Udara Kering. Macam gas Nitrogen Oksigen Argon Karbondioksida Total keseluruhan Volume % 78,088 20,049 0,930 0,030 99,097 Massa% 75,527 23,143 1,282 0,045 99,097

Kondisi dan manfaat gas dalam atmosfer antara lain: 1. Nitrogen (N2) jumlahnya paling banyak, meliputi 78 bagian. Nitrogen tidak langsung bergabung dengan unsur lain, tapi merupakan bagian dari senyawa organik. 2. Oksigen (O2) sangat penting bagi kehidupan, yaitu untuk mengubah zat makanan menjadi energi hidup. 3. Karbon dioksida (CO2) menyebabkan efek rumah kaca (greenhouse) transparan terhadap radiasi gelombang pendek dan menyerap radiasi gelombang panjang. Dengan demikian kenaikan kosentrasi CO2 di dalam atmosfer akan menyebabkan kenaikan suhu di bumi. 4. Ozon (O3) adalah gas yang sangat aktif dan merupakan bentuk lain dari oksigen. Gas ini terdapat pada ketinggian antara 20 hingga 30 km. Ozon dapat menyerap radiasi ultra violet yang mempunyai energi besar dan berbahaya bagi tubuh manusia.

Salah satu unsur yang penting dalam atmosfer adalah uap air. Uap air (H2O) sangat penting dalam proses cuaca atau iklim, karena dapatmerubah fase (wujud) menjadi fase cair, atau fase padat melalui kondensasidan deposisi. Perubahan fase air, dapat dilukiskan pada gambar 1.

Gambar 1. Perubahan Fase Air.

Uap air merupakan senyawa kimia udara dalam jumlah besar yang tersusun dari dua bagian hidrogen dan satu bagian oksigen. Uap air yang terdapat di atmosfer merupakan hasil penguapan dari laut, danau, kolam, sungai dan transpirasi tanaman. Atmosfer selalu dikotori oleh debu. Debu adalah istilah yang dipakai untuk benda yang sangat kecil sehingga tidak tampak kecuali dengan mikroskop. Jumlah debu berubahubah tergantung pada tempat. Sumber debu beraneka ragam, yaitu asap, abu vulkanik, pembakaran bahan bakar, kebakaran hutan, smog dan lainnya. Smog singkatan dari smoke and fog adalah kabut tebal yang sering dijumpai di daerah industri yang lembab. Debu dapat menyerap, memantulkan, dan menghamburkan radiasi matahari. Debu atmosferik dapat disapu turun ke permukaan bumi oleh curah hujan, tetapi kemudian atmosfer dapat terisi partikel debu kembali. Debu atmosfer adalah kotoran yang terdapat di atmosfer.

B. Struktur Vertikal Atmosfer Dengan memakai suhu sebagai dasar pembagian atmosfer, maka atmosfer terdiri dari lapisan troposfer, stratosfer, mesosfer dan thermosfer. Lihat gambar 2.

Gambar 2. Pembagian lapisan atmosfer berdasarkan suhu.

a. Lapisan Troposfer Gejala cuaca (awan, petir, topan, badai dan hujan) terjadi di lapisan troposfer.Pada lapisan ini terdapat penurunan suhu yang terjadi karena sangatsedikitnya troposfer menyerap radiasi gelombang pendek dari matahari,sebaliknya permukaan tanah memberikan panas pada lapisan troposfer yangterletak di atasnya; melalui konduksi,

konveksi, kondensasi dan sublimasiyang dilepaskan oleh uap air atmosfer.Konduksi adalah proses pemanasan secara merambat.Konveksi adalah proses pemanasan secara mengalir.Kondensasi adalah proses pendinginan yang mengubah wujud uap air menjadiair.Sublimasi adalah proses perubahan wujud es menjadi uap air.Pertukaran panas banyak terjadi pada troposfer bawah, karena itu suhu turundengan bertambahnya ketinggian pada situasi meteorologi (ilmu tentangcuaca). Nilainya berkisar antara 0,5 dan 1oC tiap 100 meter dengan nilai rata-rata 0,65o C tiap 100 meter. Udara troposfer atas sangat dingin dengan demikian lebih berat dibandingkan dengan udara diatas tropopause sehingga udara troposfer tidak dapat menembus tropopause. Ketinggian tropopause lebih besar di ekuator daripada di daerah kutub. Di ekuator, tropopause terletak pada ketinggian 18 km dengan suhu - 80o C, sedangkan di kutub tropopause hanya mencapai ketinggian 6 km dengan suhu - 40o C. Tropopause adalah lapisan udara yang terdapat diantara troposfer dengan stratosfer. b. Lapisan Stratosfer Lapisan atmosfer diatas tropopause merupakan lapisan inversi, artinya suhu udara bertambah tinggi (panas) seiring dengan naiknya ketinggian. Disebut juga lapisan Isothermis. Kenaikan suhu ini disebabkan oleh lapisan ozonosfer yang menyerap radiasi ultra violet dari matahari. Bagian atas stratosfer dibatasi oleh permukaan diskontinuitas suhu yang disebut stratopause. Stratopause terletak pada ketinggian 60 km dengan suhu 0o C. c. Lapisan Mesosfer Lapisan mesosfer ditandai dengan penurunan orde suhu 0,4o C setiap 100 meter, karena lapisan ini mempunyai keseimbangan radiasi yang negatif. Bagian atas mesosfer dibatasi oleh mesopause yaitu lapisan di dalam atmosfer yang mempunyai suhu paling rendah, kira-kira -100o C. Ketinggian sekitar 85 km. d. Lapisan Thermosfer Lapisan ini terletak pada ketinggian 85 dan 300 km yang ditandai dengan kenaikan suhu dari -100o C sampai ratusan bahkan ribuan derajat. Lihat gambar 3.

Gambar 3. Lapisan Thermosfer.

Bagian atas lapisan atmosfer dibatasi oleh termopause yang meluas dari ketinggian 300 km sampai pada ketinggian 1000 km. Suhu termopause adalah konstant terhadap ketinggian, tetapi berubah dengan waktu, yaitu dengan insolasi (incoming solar radiation). Suhu pada malam hari berkisar antara 300 dan 1200o C dan pada siang hari antara 700 dan 1700o C. Densitas termopause sangat kecil, kirakira 10 kali densitas atmosfer permukaan tanah. B. Efek Koriolis Gaya koriolis, gaya ini timbul ini timbul karena rotasi bumi yang kadang-kadang disebut gaya semu. Gaya koriolis adalah gaya fiktif yang dimunculkan pada sistem koordinat yang tidak inersial. Pada system koordinat tidak inersial berlaku berlaku hokum newton I. salah satu contoh system koordinat ti tidak inersial adalah system koordinat yang ikut berotasi dengan bumi, seperti garis lintang dan garis bujur. Efek coriolis adalah "gaya semu" yang dirasakan oleh benda yang berada pada sebuah piringan yang bergerak. Nah, tapi harus diingat, kerangka inersia (diam) harus ikut bergerak bersama piringan sehingga piringan dianggap diam (tak bergerak). Benda tersebut akan merasa terlempar keluar karena adanya gaya sentrifugal yang arah gayanya tak linier. Penerapannya yang paling berpengaruh digunakan adalah untuk "melempar" roket ke luar angkasa. Itulah alasannya kenapa daerah sekitar equator sangat diperebutkan negara-negara maju sebagai basis peluncuran roketnya. Karena efek coriolis yuang besar di sekita

khatulistiwa akibat rotasi bumi, penghematan bahan bakar dapat digunakan untuk meluncurkan benda yang laebih berat ke antariksa. • Efek koriolis Jika benda melakukan gerakan di sistem K' (permukaan bumi), percepatan Coriolis akan ikut berbicara karena adanya vektor kecepatan v'. Arah percepatan ini sudah kita ketahui selalu tegak lurus terhadap arah kecepatan benda di sistem K', sehingga arahnya tergantung pada arah kecepatan v'. Kita tinjau misalnya gerak benda jatuh bebas. Pada awal geraknya arah kecepatan v' adalah vertikal ke bawah. Jika kejadiannya itu di Surabaya yang terletak pada lintang 7° LS, gambar 6 akan menunjukkan pada kita arah percepatan Coriolis yang terjadi. Percepatan ini akan menyebabkan lintasan benda menyimpang dari arah vertikal. Dapat diduga bahwa simpangan yang terjadi cukup kecil, kecuali kalau laju gerak bendanya besar sekali, sehingga arah kecepatannya setiap saat dapat didekati dengan arah vertikal. Untuknya mudahnya gesekan udara kita abaikan dan arah vertikal kita impitkan dengan arah radial, efek sentrifugalnya juga kita abaikan. Efek Coriolis tampak paling jelas jika kita mengamati pola aliran arus laut dan arah angin pasat sepanjang tahun. Pada semester Maret-September matahari berada di belahan utara mengakibatkan atmosfir di belahan selatan mempunyaikelebihan tekanan. Udara dari belahan selatan akan bergerak menyeberangi khatulistiwa ke belahan utara. Gerakan massa udara ke utara ini akan dibelokkan arahnya oleh percepatan Coriolis. Kita lihat dulu di belahan selatan percepatan Coriolis yang diderita udara arahnya ke barat sehingga angin akan berbelok ke barat laut. Angin ini adalah angin tenggara pada musim kemarau di pulau Jawa. setelah menyeberangi khatulistiwa percepatan Coriolis berbalik ke arah timur, sehingga angin berbelok ke arah timur laut . Pada semester September-Maret yang terjadi adalah sebaliknya. Angin ke selatan terkena percepatan Coriolis ke barat di belahan utara dan ke timur di belahan selatan. Anda periksa sendiri arah-arahnya. Angin ini adalah angin barat laut pada musim penghujan di pulau Jawa. Secara ringkas efek Coriolis menyebabkan gerakan angin akan menyimpang ke kiri di belahan selatan dan menyimpang ke kanan di belahan utara. Hal ini dapat mengakibatkan berputarnya gerakan udara searah jarum jam di belahan utara dan berlawanan dengan arah jarum jam di belahan selatan, angin yang berputar ini bisa disebut angin siklon.

C. Pola Pergerakan Udara Pergerakan udara pada umumnya disebabkan oleh pemanasan terhadap udara dalam bentuk persebaran panas. Pemanasan atau persebaran panas dibagi atas pemanasan langsung dan tidak langsung. Pemanasan langsung merupakan absorpsi atau penyerapan panas oleh udara sedangkan pemanasan tidak langsung terjadi pada lapisan udara paling bawah, panas yang berasal dari bumi (setelah diterima bumi dari matahari) lalu disebarkan secara vertikal dan horizontal. Berdasarkan pemanasan atau persebaran panas tersebut, maka pola gerakan udara dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu konduksi, konveksi, adveksi, dan turbulensi. a. Konduksi, yaitu pemanasan secara kontak atau bersinggungan. Pemanasan ini terjadi karena molekul-molekul yang dekat dengan permukaan bumi akan menjadi panas karena bersinggungan dengan bumi yang menerima panas langsung dari matahari. Molekulmolekul udara yang sudah panas bersinggungan dengan molekul-molekul udara yang belum panas; lalu saling memberikan panas sehingga menjadi sama- sama panas. b. Koveksi, yaitu pemanasan atau penyebaran panas yang terjadi akibat adanya gerakan udara secara vertikal, sehingga udara di atas yang belum panas menjadi panas karena pengaruh udara di bawahnya yang sudah panas. c. Adveksi, yaitu pemanasan atau persebaran panas yang terjadi sebagai akibat gerakan udara panas secara horizontal atau mendatar dan menyebabkan udara di sekitarnya juga menjadi panas. Perhatikan gambar bagan terjadinya peristiwa adveksi di bawah ini. d. Turbulensi, yaitu persebaran udara panas secara tak teratur, berputar-putar. Hal ini akan menyebabkan udara yang sudah panas bercampur dengan udara yang belum panas, sehingga udara yang belum panas akan ikut menjadi panas. Untuk lebih jelasnya, silakan Anda perhatikan gambar berikut.

D. Angin Angin adalah udara yang bergerak. Ada tiga hal penting yang menyangkut sifat angin yaitu: kekuatan angin, arah angin, kecepatan angin. a. Kekuatan Angin Menurut hukum Stevenson, kekuatan angin berbanding lurus dengan gradient barometriknya. Gradient baromatrik ialah angka yang menunjukkan perbedaan tekanan udara dari dua isobar pada tiap jarak 15 meridian (111 km).

b. Arah Angin Satuan yang digunakan untuk besaran arah angin biasanya adalah derajat. 1 derajat untuk angin arah dari Utara. 90 derajat untuk angin arah dari Timur. 180 derajat untuk angin arah dari Selatan. 270 derajat untuk angin arah dari Barat.

Angin menunjukkan dari mana datangnya angin dan bukan ke mana angin itu bergerak. Menurut hukum Buys Ballot, udara bergerak dari daerah yang bertekanan tinggi (maksimum) ke daerah bertekanan rendah (minimum), di belahan bumi utara berbelok ke kanan sedangkan di belahan bumi selatan berbelok ke kiri. Arah angin dipengaruhi oleh tiga faktor: 1. Gradient barometrik 2. Rotasi bumi 3. Kekuatan yang menahan (rintangan) Makin besar gradient barometrik, makin besar pula kekuatannya. Angin yang besar kekuatannya makin sulit berbelok arah. Rotasi bumi, dengan bentuk bumi yang bulat, menyebabkan pembelokan arah angin. Pembelokan angin di ekuator sama dengan 0 (nol). Makin ke arah kutub pembelokannya makin besar. Pembelokan angin yang mencapai 90o sehingga sejajar dengan garis isobar disebut angin geotropik. Hal ini banyak terjadi di daerah beriklim sedang di atas samudra. Kekuatan yang menahan dapat membelokan arah angin. Sebagai contoh, pada saat melalui gunung, angin akan berbelok ke arah kiri, ke kanan atau ke atas. c. Kecepatan angin Atmosfer ikut berotasi dengan bumi. Molekul-molekul udara mempunyai kecepatan gerak ke arah timur, sesuai dengan arah rotasi bumi. Kecepatan gerak tersebut disebut kecepatan linier. Bentuk bumi yng bulat ini menyebabkan kecepatan linier makin kecil jika makin dekat ke arah kutub. Lihat tabel 3. Alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan angin disebut anemometer. Tabel 3. Hubungan antara lintang tempat dan kecepatan linier Lintang Tempat 0o(ekuator) Kecepatan Linier 461 meter/detik

30o 60o 90o(kutub)

402 meter/detik 232 meter/detik 0 meter/detik

E. Jenis-jenis Angin 1. Angin Siklon dan Anti Siklon a. Angin siklon Angin siklon adalah angin yang gerakannya berputar ke dalam, mengelilingi daerah tekanan minimum. Tentu Anda masih ingat dengan Hukum Buys Ballot bahwa antara lain di belahan bumi selatan angin berbias ke kiri. Gerakan angin siklun mengikuti hukum ini, yaitu: • • Di belahan bumi utara perputarannya berlawanan dengan arah perputaran jarum jam. Di belahan bumi selatan sesuai dengan arah putaran jarum jam. Perhatikan

Berdasarkan bergeraknya, siklon dibedakan atas siklon tropik, siklon ekstra tropik, dan tornado. Siklon-siklon tersebut dapat terjadi: a) Siklon tropik Siklon tropik terjadi di daerah tropis, yaitu antara 10( - 20( LU dan 10( - 20( LS. Sering terjadi di wilayah lautan daripada di daratan, misalnya di Indonesia pernah terjadi di sekitar Pulau Timor 11(LS). Di beberapa negara badai siklon diberi nama-nama khusus sesuai dengan bahasa negara masing-masing, dan umumnya menggunakan nama wanita, antara lain: o Di Samudera Atlantik dan Pasifik Timur dinamai Hurricanes artinya Dewa Kehancuran. o Di Samudera Atlantik Barat , masyarakat Jepang menyebutnya Typhoon. o Di Filipina disebut Begieros (nama satu kota). o Di Australia disebut Willy-Willies. o Di Samudera Hindia disebut Siklon Tropik Lena (nama wanita).

o Di beberapa tempat lain diberi nama Siklon Anna, Dora, Corrie, Diana, Elly dan sebagainya. b) Siklon Ekstra Tropik Siklon ekstra tropik terjadi di daerah sedang pada lintang 35o- 65oLU dan 35o65oLS, yaitu di sekitar wilayah front. Tempat bertemunya massa angin barat yang panas dan angin timur yang dingin. Misalnya, Amerika Serikat dan Eropa. Tekanan udara 15 mb dan kecepatannya 30 km/jam. c) Tornado Angin siklon tornado merupakan jenis angin yang paling cepat dan paling merusak. Tornado sering terjadi di Amerika Serikat. Diameter angin siklon tor nado antara 100-500 km, panjang lintasannya mencapai 100 km. Kecepatannya mencapai 700 km/jam.

b. Angin Anti Siklon Angin anti siklon adalah angin yang gerakannya berputar ke luar, dengan tekanan maksimum di pusatnya. Arah pergerakannya adalah sebagai berikut: Di belahan bumi utara, putarannya searah dengan jarum jam. Di belahan bumi selatan, putarannya berlawanan dengan arah jarum jam.

2. Angin Monsun Asia-Australia Angin monsun di Asia dan Australia adalah sistem yang unik yang bergerak dari Kutub Utara sampai Kutub Selatan dalam satu musim dan kemudian membalik arah pada musim berikutnya. Sistem angin monsun tersebut tidak bersamaan dengan pola atmosfer global yang umum dan itulah sebabnya sifatnya unik. Penelitian ilmiah dewasa ini menunjukkan bahwa gelombang angin kutub yang dingin mengawali siklus angin monsun dalam dua jalur yang sudah tertentu, sebagaimana dibahas di bawah ini. Angin monsun di bulan Juni sampai dengan bulan September. Selama periode ini, di belahan bumi selatan adalah musim dingin dan gelombang angin dingin bergerak di atas Australia dan di samudera sekitarnya. Terjadi sel tekanan tinggi di atas Australia dan angin berhembus ke arah khatulistiwa. Angin ini mengumpulkan kelembaban dan panas

pada saat berhembus melewati samudera. Di Asia musimnya adalah musim panas dan kawasan (zona) antartropis bergerak ke sebelah utara India, melalui Cina Selatan, ke Filipina Utara. Kawasan panas maksimum (kira-kira 40°C) merentang dari bagian baratlaut sub-benua India ke Timur Tengah. Suatu sel tekanan rendah berkembang di sebelah utara India. Pada Garis Khatulistiwa, angin yang berada di bawah pengaruh Efek Koriolis, berhembus ke kanan dan tertarik ke arah sel tekanan rendah dan menjadi angin monsun barat-daya yang kuat dan yang membawa hujan deras ke selatan, ke Asia Tenggara dan Timur pada saat angin itu bergerak ke arah utara. Di dekat Jepang, angin tersebut berayun ke arah timur laut dan bergerak ke arah kawasan kutub. Angin monsun bulan November sampai Februari. Saat itu musim dingin di Asia Utara dan kawasan yang sangat dingin sekali (di bawah -40°C) berkisar di Siberia. Massa udara kutub yang dingin dan sel tekanan tinggi merentang di atas sebagian besar Asia (sampai ke Pegunungan Himalaya dan sebagian besar Cina). Angin barat laut bertiup dalam gelombang udara dingin dari Siberia ke arah Jepang, di mana angin tersebut berputar dan menjadi angin monsun timur laut, yang berhembus ke arah khatulistiwa. Di sana, Efek Koriolis menangkis angin yang bergerak dari barat laut ke arah Australia. Angin monsun ini diterima di Asia bagian timur dan selatan serta di Australia Utara. Di Australia terjadi musim panas, yang dalam suatu kawasan panas maksimum (di atas 40°C) berkembang bersama-sama dengan sel tekanan rendah yang berkisar di Gurun Australia. Angin monsun berhembus ke arah sel tersebut dan membawa hujan, kadang-kadang termasuk angin topan tropis, ke arah Australia bagian utara. Angin monsun yang kuat juga mempengaruhi arus samudera. Jadi, angin baratdaya menyebabkan arus yang kuat di Lautan Arab dan Teluk Benggali, yang mengakibatkan arus samudera bergerak searah jarum jam selama bulan Juni sampai dengan bulan September sedangkan angin timur laut menyebabkan gerak berlawanan dengan arah jarum jam di samudera ini selama bulan November sampai Pebruari. Arus yang mengalir antara Korea dan Jepang mengalir ke arah utara selama angin monsun panas dan berbalik arah pada musim dingin.

3. Angin Pasat dan Angin Anti Pasat
 

Angin pasat Angin passat adalah angin bertiup tetap sepanjang tahun dari daerah subtropik menuju ke daerah ekuator (khatulistiwa). Lihat gambar 6: a) Angin Passat Timur Laut bertiup di belahan bumi Utara. b) Angin Passat Tenggara bertiup di belahan bumi Selatan. Di sekitar khatulistiwa, kedua angin passat ini bertemu. Karena temperatur di daerah tropis selalu tinggi, maka massa udara tersebut dipaksa naik secara vertikal (konveksi). Daerah pertemuan kedua angin passat tersebut dinamakan Daerah Konvergensi Antar Tropik (DKAT). DKAT ditandai dengan temperatur yang selalu tinggi. Akibat kenaikan massa udara ini, wilayah DKAT terbebas dari adanya angin topan. Akibatnya daerah ini dinamakan daerah doldrum (wilayah tenang).

Angin anti pasat Udara di atas daerah ekuator yang mengalir ke daerah kutub dan turun di daerah maksimum subtropik merupakan angin Anti Passat. Di belahan bumi Utara disebut Angin Anti Passat Barat Daya dan di belahan bumi Selatan disebut Angin Anti Passat Barat Laut. Pada daerah sekitar lintang 20o - 30o LU dan LS, angin anti passat kembali turun

secara vertikal sebagai angin yang kering. Angin kering ini menyerap uap air di udara dan permukaan daratan. Akibatnya, terbentuk gurun di muka bumi, misalnya gurun di Saudi Arabia, Gurun Sahara (Afrika), dan gurun di Australia. Di daerah Subtropik (30o – 40o LU/LS) terdapat daerah “teduh subtropik” yang udaranya tenang, turun dari atas, dan tidak ada angin. Sedangkan di daerah ekuator antara 10o LU – 10o LS terdapat juga daerah tenang yang disebut daerah “teduh ekuator” atau “daerah doldrum”

4. Angin Lokal Selain angin muson barat dan timur juga terdapat angin lokal. Angin ini bertiup setiap hari, seperti angin darat, angin laut, angin lembah dan angin gunung. 1) Angin Darat dan Angin Laut Angin ini terjadi di daerah pantai yang diakibatkan adanya perbedaan sifat daratan dan lautan. Pada malam hari daratan lebih dingin daripada lautan sehingga di daratan merupakan daerah maksimum yang menyebabkan terjadinya angin darat. Sebaliknya, pada siang hari terjadi angin laut. Perhatikan gambar 20. Kedua angin ini banyak dimanfaatkan oleh para nelayan tradisional untuk menangkap ikan di laut. Pada malam hari saat bertiupnya angin darat, para nelayan pergi menangkap ikan di laut.

Sebaliknya pada siang hari saat bertiupnya angin laut, para nelayan pulang dari penangkapannya.

2) Angin Lembah dan Angin Gunung Pada siang hari puncak gunung lebih cepat menerima panas daripada lembah yang dalam keadaan tertutup. Puncak gunung tekanan udaranya minimum dan lembah tekanan udaranya maksimum. Karena keadaan ini maka udara bergerak dari lembah menyusur lereng menuju ke puncak gunung. Angin dari lembah ini disebut angin lembah. Pada malam hari puncak gunung lebih cepat mengeluarkan panas daripada lembah. Akibatnya di puncak gunung bertekanan lebih tinggi (maksimum) dibandingkan dengan di lembah (minimum) sehingga angin bertiup dari puncak gunung menuruni lereng menuju ke lembah. Angin dari puncak gunung ini disebut angin gunung 3) Angin Jatuh yang sifatnya kering dan panas Angin jatuh atau Fohn ialah angin jatuh bersifatnya kering dan panas terdapat di lereng pegunungan Alpine. Sejenis angin ini banyak terdapat di Indonesia dengan nama angin Bahorok (Deli), angin Kumbang (Cirebon), angin Gending di Pasuruan (Jawa Timur), dan Angin Brubu di Sulawesi Selatan).

.

Daftar Pustaka http://elcom.umy.ac.id/elschool/muallimin_muhammadiyah/file.php/1/materi/Geografi/AT MOSFER%20(Cuaca%20dan%20Iklim).pdf http://ft.unsada.ac.id/wp-content/uploads/2008/04/bab6a-tm1.pdf http://id.wikipedia.org/wiki/Oseanografi http://portal.bppt.go.id/berita/index.php?id=605] http://www.geocities.com/dmipa/article/sp/Rotasi.PDF http://www.puslittan.bogor.net/berkas_PDF/IPTEK/2006/Nomor-2/01-GatotIrianto.pdf

LINGKUNGAN DAN KEHIDUPAN DI LAUT

Disusun untuk memenuhi tugas Matakuliah Oceanografi Yang dibimbing oleh Bapak Bagus Setiabudi Wiwoho

Oleh: Nailul Maram Miftakul Janah Muhammad Syaifudin (206351403553) (106351403454) (106351403446)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN GEOGRAFI S1 PENDIDIKAN GEOGRAFI AGUSTUS 2008

KATA PENGANTAR Alhamdulillah berkat ridho dan karunia-Nyalah makalah yang berjudul “Kehidupan di Laut” dapat kami selesaikan dengan baik. Terima kasih kepada Bapak Bagus Setiabudi Wiwoho sebagai dosen pembimbing Matakuliah Oceanografi, teman-teman yang mengikuti matakuliah tersebut yang telah ikut mendukung, memotivasi, dan memberikan masukan dalam selesainya makalah ini, serta kepada semua pihak yang telah membantu dalam terselesainya makalah ini. Kami menyadari makalah ini mengandung banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun sistematika. Oleh karena itu, kami sangat berterima kasih apabila ada kritik dan saran untuk perbaikan dan kemaslahatan makalah ini.

Malang, 15 Nopember 2008,

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Laut adalah bagian dari bumi kita yang tertutup oleh air asin. Kata laut sudah dikenal sejak dulu kala oleh bangsa kita dan bahkan oleh bangsa-bangsa dibeberapa Negara di Asia Tenggara seperti Filipina, malaisia, Thailand, singapura dan mungkin beberapa suku bangsa di kawasan ini. Laut lepas yang luas yang dibatasi oleh benua-benua kita kenal sebagai samudera. Bangsa Eropa mempunyai cerita tersendiri tentang asal-usul kata samudera ini. Mereka menamakan The ocean yang berasal dari kata Yunani kuno Oceanus. Dipermukaan bumi kita terdapat tiga samudera yakni atlantik, pasifik, dan hindia (India). Kehidupan biota laut baik tumbuh-tumbuhan, hewan maupun mikroba, dimanapun ia terdapat selalu dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan. Factorfaktor tersebut dapat berpengaruh bersama-sama dan sederajat, atau satu faktor yang lebih menonjol pengaruhnya daripada faktor yang lain. Seperti pada muara sungai, faktor salinitas lebih menonjol pengaruhnya daripada faktor-faktor lain dalam kaitannya dengan sebaran biota dari sungai ke laut dan selanjutnya. Lingkungan laut selalu berubah atau dinamik. Kadang-kadnag perubahan ini lambat seperti datangnya jaman es yang memakan waktu ribuan tahun. Kadang-kadang cepat seperti datangnya hujan badai yang menumpahkan air tawar dan mengalirkan endapan Lumpur dari darat ke laut. Cepat atau lambatnya perubahan itu sama-sama mempunyai pengaruh, yaitu kedua sifat perubahan tersebut akan mengubah intensitas faktor-faktor lingkungan tersebut. Perubahan apapun yang terjadi akan baik bagi suatu kehidupan dan buruk bagi kehidupan yang lain. Karena dinamika atau terus berubahnya lingkungan ini, makhluk hidup akan juga berubah. Oleh karena itu, pada makalah ini, kami akan membahas tentang biota yang terdapat di laut.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari makalah ini antara lain: 1. Apa sajakah lingkungan yang ada di laut berdasarkan zonasinya? 2. Bagaimana keberadaan makhluk hidup yang ada di lingkungan laut?

C. Tujuan 1. Mengetahui apa sajakah lingkungan yang ada di laut berdasarkan zonasinya 2. Mengetahui bagaimana keberadaan makhluk hidup yang ada di lingkungan laut

BAB II PEMBAHASAN

ZONASI ATAU PEMINTAKAN LINGKUNGAN LAUT Lingkungan laut sangat luas cakupannnya dan sangat majemuk sifatnya. Karena luasnya dan majemuknya lingkungan tersebut, tiada satu kelompok biota laut pun yang mampu hidup di semua bagian lingkungan laut tersebut dan di segala kondisi lingkungan yang majemuk. Mereka dikelompok-kelompokan oleh pengaruh sifat-sifat lingkungan yang berbeda-beda ke dalam lingkungan yang berbeda-beda pula. Para ahli oceanologi membagi-bagi lingkungan laut menjadi zona-zona atau mintakat-mintakat menurut kriteria yang berbeda. Karena lingkungan laut terdiri dari dasar laut dan kolam air diatasnya maka lingkungan ini dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yakni bagian pelagic meliputi seluruh kolom air dimana tumbuh-tumbuhan dan hewan mengapung atau berenang dan bagian dasar laut atau bentik yang meliputi semua lingkungan dasar laut dimana biota laut hidup melata, memendamkan diri atau meliang, mulai dari pantai sampai ke dasar laut terdalam.

A. Lingkungan Pelagik Semua biota yang hidup di lingkungan laut tetapi tidak hidup di dasar laut dinamakan biota pelagic. Lingkungan ini mencakup kolom air mulai dari permukaan dasar laut sampai paras laut. Lingkungan pelagic mempunyai batas wilayah atau mintakat yang meluas dari garis pantai sampai wilayah laut terdalam. Dalam pemintakatan lingkungan pelagik, dasar yang dipakai untuk membagi-bagi lingkungan yang lebih kecil lagi adalah berdasar pada tingkat kedalaman. Tetapi ada juga pembagian mintakat yang sifatnya fisiografik, seperti mintakat neritik dan oceanografik. 1. Mintakat neritik Perbedaan mintakat neritik yang berada di paparan benua dihuni oleh masyarakat biota laut dengan mintakat oseanik: a. Kandungan zat hara di mintakat neritik melimpah.

b.

Sifat kimia perairan neritik berbeda dengan perairan oseanik karena berbeda-bedanya zat-zat terlarut yang dibawa ke laut dari daratan.

c.

Perairan neritik sangat berubah-ubah, baik dalam waktu maupun dalam ruang, jika dibandingkan dengan perairan oseanik. Hal ini dapat terjadi karena dekatnya mintakat ini dengan daratan dan adanya tumpahan berbagai zat terlarut dari darat ke laut.

d. Penembusan cahaya, kandungan sediment dan energi fisik dalam kolom air berbeda antara mintakat neritik dan oseanik. 2. Mintakat oseanik Kolom air di mintakat oseanik biasanya dibagi menjadi empat lapisan perairan. Masing-masing lapisan dapat dianggap sebagai satu lingkungan perairan dan luasnya sebagai satu mintakat. Keempat lingkungan perairan atau mintakat itu adalah: a. Mintakat Pelagik Yaitu perairan oseanik atas yang meluas dari permukaan laut sampai kedalaman 200 m. b. Mintakat Pesopelagik Yaitu terdapat dibawah mintakat epipelagik. Mintakat mesopelagik meluas sampai ke kedalaman 1000 m, jadi lingkungan ini terletak antara kedalaman 200 m dan 1000 m. Lapisan perairan ini bertepatan dengan mintakat terjadinya perubahan-perubahan suhu yang besar dan tempat terjadinya termoklin. Karena letaknya dibawah mintakat fotik (Cahaya) maka tidak terdapat kegiatan yang menghasilkan produksi primer. Mintakat ini terutama dihuni oleh konsumen primer yang memanfaatkan detritus yang turun dari lapisan yang lebih dangkal. 1) Mintakat batipelagik meluas dari kedalaman 100 m sampai kedalaman 4000 m itu sama dengan kedalaman dasar laut dalam. Sifat-sifat fisiknya seragam. 2) Mintakat abisopelagik meluas ke bagian-bagian terdalam dari samudera atau mudahnya disebut mintakat palung. Biota laut yang hidup di mintakat ini mengalami kegelapan, karena tiada cahaya, suhu dingin dan tekanan air yang tinggi. Mintakat ini merupakan

lingkungan hidup atau habitat yang paling sederhana, artinya berubah-berubahnya factor-faktor lingkungan terkecil di mintakat ini. Di perairan abisal ini tidak ada cahaya kecuali cahaya yang berasal dari hewan-hewan laut yang hidup di mintakat ini atau bioluminesensi atau biopendar cahaya. Di mintakat ini tidak terjadi fotosintesis dan tumbuhan yang hidup sangat sedikit atau tidak ada sama sekali. Perubahan suhu, salinitas dan kondisi srupa tidak terjadi atau kalu ada sangat kecil sehingga dapat diabaikan dilihat dari segi ekologik.

B. Lingkungan Bentik Lebih sederhana dari lingkungan pelagic, lingkungan bentik dibagi menjadi mintakat litoral yang meluas mulai dari garis pasang tertinggi sampai ke pinggiran paparan benua, dan mintakat dasar laut dalam yang meluas mulai dari pinggir paparan benua sampai ke dasaar laut terdalam dari samudera. Garis pembatas antara litoral dan laut jeluk biasanya terletak pada kedalaman 200 m dan secara kasar merupakan kedalaman dengan sinar matahari masih dapat menembus dasar laut. 1. Mintakat Litoral Pantai yang secara berkala mengalami perendaman dan pengeringan akibat terjadinya proses pasang surut seperti yang diterangkan di bab sebelumnya oleh para ilmuwan dibagi-bagi menurut berbagai sudut pandang. Mintakat litoral atau mintakat pasut adalah bentangan pantai yang terletak antara paras air tertinggi dari pasut purnama ke arh daratan dan paras air terendah dari pasut purnama. 2. Mintakat Abisal Lingkungan dasar laut abisal dalam banyak hal menyerupai dasar lumpur yang terdapat pada dasar perairan yang lebih dangkal dan dapat dianggap menimbulkan masalah bagi penghuninya. Benda-benda keras seperti batu yang dapat digunakan untuk menempel bagi hewan-hewan tertentu jarang sekali terdapat. Hewan-hewan bercangkang seperti keong dan kerang biasanya tipis cangkangnya dan jika mati cangkangnya cepat terlarut. Plankton yang mati yang

jutaan jumlahnya, sebelum mencapai dasar abisal sudah dimakan oleh hewan atau sudah terurai saat melewati lapisan air yang lebih dangkal.

KEHIDUPAN DI LAUT Jumlah dan keanekaragaman jenis biota yang hidup di laut sangat menakjubkan. Walaupun sudah banyak sekali diketahui jenis-jenis tersebut, ilmuwan masih saja menemukan penghuni-penghuni baru, terutama di daerahdaerah terpencil dan di lingkungan laut yang dulunya tak pernah dijangkau orang. Perbedaan keadaan berbagai lingkungan di laut sangat besar dan penghuninya pun beraneka ragam. Namun demikian ada keteraturan dalam penyebaran makhlukmakhluk laut tersebut. Di laut terdapat makhluk-makhluk mulai dari yang berupa jasad-jasad hidup bersel satu yang sangat kecil sampai yang berupa jasad-jasad hidup yang berukuran yang sangat besar seperti ikan paus yang panjangnya lebih dari 10 m. Ratusan ribu jenis biota laut yang saling berinteraksi, tetapi di beberapa wilayah perairan yang lain hanya terdapat beberapa jenis biota laut yang hidup dan berinteraksi karena kendala makanan khususnya dan Kendal lingkungan umumnya.

Berbagai Bentuk Kehidupan Laut Meskipun di laut terdapat kehidupan yang sangat beraneka ragam, tetapi lazimnya biota laut hanya dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama, yakni plankton, nekton dan bentos. Pengelompokan ini tidak ada kaitannya dengan jenis menurut klasifikasi ilmiah, ukuran atau apakah mereka tumbuh-tumbuhan atau hewan, tetapi hanya didasarkan pada kebiasaan hidup mereka secara umum, seperti gerakan berjalan, pola hidup dan sebaran menurut ekologi. Plankton adalah biota yang hidup di mintakat pelagic dan mengapung, menghanyut atau berenang sangat lemah, artinya mereka tak dapat melawan arus. Plankton terdiri dari fitoplankton atau plankton tumbuh-tumbuhan dan zooplankton atau plankton hewan. Sedangkan Nekton adalah biota yang berenang-renag yang hanya terdiri dari hewan. Bentos (Benthos) adalah biota

yang hidup di atas atau di dalam dasar laut, baik itu tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Plankton merupakan biota laut yang teramat beraneka ragam dan terdapat di laut, menyusul kemudian bentos. Banyak biota laut yang dalam daur hidupnya menempuh lebih dari satu cara hidup. Pada saat mereka menjadi larva atau juwana, mereka hidup sebagai plankton dan kemudian menjadi nekton atau bentos pada saat dewasa.

A. Plankton Biota yang mengapung ini mencakup sejumlah besar biota laut baik ditinjau dari jumlah jenisnya maupun kepadatannya. Produsen primer (fitoplankton), herbivore, konsumen tingkat pertama, larva dan juwana planktonik dari hewan lain, digabung menjadi satu membentuk volume biota laut yang luar biasa besarnya. Mereka hidup terbatas di lapisan perairan laut beberapa ratus meter dari permukaan laut. Ukuran plankton sangat beraneka ragam, dar yang terkecil yang disebut ultraplankton berukuran <0.005 mm, termasuk di sini bakteri dan diatom kecil sampai nanoplankton berukuran 60-70 mikron, yang terlalu kecil untuk diumpulkan dengan jarring plankton biasa dan hanya dapat dikumpulkan dengan cara mengambil sejumlah besar air laut. 1. Fitoplankton Meskipun fitoplanton membentuk sejumlah besar biomassa di laut, kelompok ini hanya diwakili oleh beberapa filum saja. Sebagian bersel satu dan mikroskopik, dan mereka termasuk filum Chrysophyta, yaitu alga kuning hijau yang meliputi diatom dan kokolitofor. Selain terdapat beberapa jenis alga biruhijau, alga coklat, dan satu kelompok besar dari Dinoflagellata.

2. Zooplankton Zooplankton membentuk kelompok yang lebih beraneka ragam, meskipun jumlah jenis dan kepadatannya lebih rendah daripada fitoplankton. Setidaknya ada Sembilan filum yang mewakili kelompok zooplankton ini, dan ukurannya sangat beragam, dari yang sangat kecil samapi dengan garis besarnya lebih dari 1 m.

sebagian hidup sebagai meroplankton, dan sebagian pula sebagai holoplankton. Hampir semua hewan laut menghabiskan sebagian hidupnya dalam bentuk plankton.

B. Nekton Hewan-hewan perenang di laut sudah lama menjadi perhatian manusia, karena nilai ekonomiknya yang besar sebagai sumber makanan. Kelompok ini kurang beraneka ragam dibandingkan dengan dua kelompok yang lain, yaitu planton dan bentos. Kelompok yang termasuk dalam nekton ini adalah ikan bertulang belakang rawan, ikan bertulang keras, penyu, ular, dan hewan menyusui laut yang termasuk vertebrata. Sotong, dan cumi-cumi yang termasuk mollusca juga termasuk nekton. Tidak ada tumbuh-tumbuhan yang mampu berenang, sehingga tidak ada tumbuhan yang termasuk nekton ini.

C. Bentos Bentos mencakup biota menempel, merayap, dan meliang di dasar laut. Kelompok biota ini hidup di dasar perairan mulai dari garis pasang-surut sampai dasar abasial. Contoh biota menempel, yaitu sepon, teritip, dan tiram. Kemudian yang merayap, yaitu kepiting, dan udang karang, dan biota meliang yaitu jenis karang tertentu, dan cacing. Selain pembagian seperti yang tersebut di atas, biota laut juga dapat dibagi menurut cara makannya. Mereka yang dapat menghasilkan makanannya sendiri dinamakan autotrof. Termasuk di dalam golongan ini adalah tumbuhtumbuhan. Mereka dapat menghasilkan makanannya sendiri tanpa tergantung pada biota lain dengan berfotosintesis. Mereka yang tidak dapat menghasilkan makanan sendiri dinamakan biota heterotrof.

BAB III PENUTUP

A. Ringkasan • lingkungan laut ini dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yakni bagian pelagic meliputi seluruh kolom air dimana tumbuh-tumbuhan dan hewan mengapung atau berenang dan bagian dasar laut atau bentik yang meliputi semua lingkungan dasar laut dimana biota laut hidup melata, memendamkan diri atau meliang, mulai dari pantai sampai ke dasar laut terdalam • Plankton adalah biota yang hidup di mintakat pelagic dan mengapung, menghanyut atau berenang sangat lemah, artinya mereka tak dapat melawan arus • • Nekton adalah biota yang berenang-renag yang hanya terdiri dari hewan Bentos (Benthos) adalah biota yang hidup di atas atau di dalam dasar laut, baik itu tumbuh-tumbuhan maupun hewan

Daftar Pustaka

Romimohtarto Kasijan, dan Juwana, Sri. 2001. Biota Laut: Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Djakarta: Djambatan

WILAYAH PESISIR DAN PROSES

PAPER

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Oseanografi yang dibimbing oleh Bapak Bagus Setiabudi Wiwoho

oleh : Wahyu Wardani Antis RR Diniy 106351400649 106351400659

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN GEOGRAFI November 2008

A. Wilayah Pesisir Wilayah pesisir adalah daerah pertemuan antara darat dan laut, dengan batas ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air yang masih mendapat pengaruh sifat-sifat laut seperti angin laut, pasang surut, perembesan air laut (intrusi) yang dicirikan oleh vegetasinya yang khas, sedangkan batas wilayah pesisir ke arah laut mencakup bagian atau batas terluar daripada daerah paparan benua (continental shelf), dimana ciri-ciri perairan ini masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun proses yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran (Bengen, 2002). Wilayah pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut; ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan ke arah laut meliputi bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran (Soegiarto, 1976; Dahuri et al, 2001). Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP.10/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu, Wilayah Pesisir didefinisikan sebagai wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang saling berinteraksi, dimana ke arah laut 12 mil dari garis pantai untuk propinsi dan sepertiga dari wilayah laut itu (kewenangan propinsi) untuk kabupaten/kota dan ke arah darat batas administrasi

kabupaten/kota. Berdasarkan batasan tersebut di atas, beberapa ekosistem wilayah pesisir yang khas seperti estuaria, delta, laguna, terumbu karang (coral reef), padang lamun (seagrass), hutan mangrove, hutan rawa, dan bukit pasir (sand dune) tercakup dalam wilayah ini. Luas suatu wilayah pesisir sangat tergantung pada struktur geologi yang dicirikan oleh topografi dari wilayah yang membentuk tipetipe wilayah pesisir tersebut. Wilayah pesisir yang berhubungan dengan tepi benua yang meluas (trailing edge) mempunyai konfigurasi yang landai dan luas. Ke arah darat dari garis pantai terbentang ekosistem payau yang landai dan ke

arah laut terdapat paparan benua yang luas. Bagi wilayah pesisir yang berhubungan dengan tepi benua patahan atau tubrukan (collision edge), dataran pesisirnya sempit, curam dan berbukit-bukit, sementara jangkauan paparan benuanya ke arah laut juga sempit. Mendasarkan pada batasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa wilayah pesisir merupakan wilayah peralihan (interface) antara daratan dan laut. Oleh karena itu, wilayah pesisir merupakan ekosistem khas yang kaya akan sumberdaya alam baik sumberdaya alam dapat pulih (renewable resources) seperti ikan, terumbu karang, hutan mangrove, dan sumberdaya tak dapat pulih (non-renewable resources) seperti minyak dan gas bumi, bahan tambang dan mineral lainnya. Selain itu diwilayah pesisir juga terdapat berbagai macam proses yang sangat khas pula, seperti gelombang, erosi dan pengedapan, dan proses lainnya yang dapat membentuk wilayah pesisir menjadi lebih komplit. Ekosistem alami di wilayah pesisir antara lain adalah terumbu karang (coral reefs), hutan mangrove, padang lamun (sea grass), pantai berpasir (sandy beach), pantai berbatu (rocky beach), formasi pescaprea, formasi baringtonia, estuaria, laguna, delta dan ekosistem pulau kecil. Sedangkan ekosistem buatan dapat berupa tambak, pemukiman, pelabuhan, kawasan industri, pariwisata dan sebagainya.

B. Pembagian Zone Wilayah Pesisir Setiap zone perairan dipesisir mengalami proses mengahasilkan struktur sedimen yang khas dan berbeda satu sama lainnya.Berdasarkan hal ini zone pesisir dibagi menjadi backshore, foreshore, shoreface, dan offshore. 1. Backshore terletak diantara batas bawah gumuk pasir (sand dune) hingga ke garis air pasang paling tinggi (mean high water line). Jadi Backshore terdapat di amabang pantai (beach bar). 2. Foreshore yaitu zone pasang surut, kawasan yang terletak di antara batas atas dan bawah pasang air laut disebut. Backshore dan foreshore

merupkan bagian atas dari pesisir pantai. Dikawasan ini terdapat zone pemecah, zone swash dan arus sepanjang pantai (longshore current).

Sehingga kawasan ini menerima tenaga aliran yang kuat. Sedimensedimen yang ada diwilayah ini kebanyakan terdiri dari material pasir. 3. Shoreface yaitu zone yang berbatasan dengan zone peralihan. Batas

bawah shoreface bergantung pada rata-rata dasar gelombang maksimal (average maximum wave base). Di kawasan shoreface sedimennya terdiri dari pasir bersih, dibagian atas shoreface terdapat arus pesisir pantai. Pada saat cuaca buruk arus ini akan bertambah kuat dan akan mengkikis bagian atas shoreface dan mengendapkannya semula di bagian bawah shoreface atau membawanya kearah daratan seperti laguna. Jadi dibagian shoreface sedimennya makin kasar kearah daratan dan riak simetri berubak menjadi tak simetri dan gumuk (Clifton, 1967). Bagian bawah shoreface terdiri dari lapisan dan percampuran antara lumpur dan pasir, tetapi pada saat cuaca buruk bagian bawahnya mengalami tindakan gelombang dan akibatnya endapan pasir akan percampuran lumpur dan pasir akan terbentuk di kawasan ini. 4. Offshore merupakan zone lepas pantaiyang mengarah kelaut.

Gambar B.1 Pembagian Zone Pesisir Berdasarkan Strukturnya

Selain pembagian diatas wilayah pesisir juga dapat dibagi berdasarkan kedalamannya, yaitu: 1. Zona Lithoral, adalah wilayah pantai atau pesisir atau “shore”. Di wilayahini pada saat air pasang tergenang air dan pada saat air laut surut berubahmenjadi daratan. Oleh karena itu wilayah ini sering disebut juga wilayah pasang surut. 2. Zona Meritic (wilayah laut dangkal), yaitu dari batas wilayah pasang surut hingga kedalaman 150 m. Pada zona ini masih dapat ditembus oleh sinar matahari sehingga wilayah ini paling banyak terdapat berbagai jenis

kehidupan baik hewan maupun tumbuhan-tumbuhan, contoh Jaut Jawa, Laut Natuna, Selat Malaka dan laut-laut disekitar kepulauan Riau. 3. Zona Bathyal (wilayah laut dalam), adalah wilayah laut yang memiliki kedalaman antara 150 hingga 1800 meter. Wilayah ini tidak dapat ditembus sinar matahari, oleh karena itu kehidupan organismenya tidak sebanyak yang terdapat di zona meritic. 4. Zona Abysal (wilayah laut sangat dalam), yaitu wilayah laut yang memiliki kedalaman lebih dari 1800 m. Di wilayah ini suhunya sangat dingin dan tidak ada tumbuh-tumbuhan, jenis hewan yang hidup di wilayah ini sangat terbatas.

Gambar B.2 Pembagian Zone Pesisir Berdasarkan Kedalamannya

C. Proses yang Terjadi di Wilayah Pesisir Daerah pesisir merupakan daerah yang selalu mengalami perubahan, karena daerah tersebut menjadi tempat bertemunya dua kekuatan, yaitu berasal dari daratan dan lautan. Perubahan lingkungan pesisir dapat terjadi secara lambat hingga sangat cepat, tergantung pada imbang daya antara topografi, batuan dan sifat-sifatnya dengan gelombang, pasang surut dan angin. Perubahan pesisir terjadi apabila proses geomorfologi yang terjadi pada suatu segmen pesisir melebihi proses yang biasa terjadi. Perubahan proses geomorfologi tersebut sebagai akibat dari sejumlah faktor lingkungan seperti faktor geologi, geomorfologi, iklim, biotik, pasang surut, gelombang, arus laut, dan salinitas (Sutikno, 1993 dalam Johanson D. Putinella, 2002). Iklim mempengaruhi

gelombang dan juga aktivitas biologi serta proses-proses kimia di permukaan atau dekat dengan permukaan seperti evaporation, penyemian dan lain-lain. Menurut Dahuri (1996) dalam Johanson. D. Putinella (2002), ombak merupakan salah satu penyebab yang berperan besar dalam pembentukan pesisir. Ombak yang terjadi di laut dalam pada umumnya tidak berpengaruh terhadap dasar laut dan sedimen yang terdapat di dalamnya. Sebaliknya ombak yang terdapat di dekat pesisir, terutama di daerah pecahan ombak mempunyai energi besar dan sangat berperan dalam pembentukan morfologi pesisir, seperti menyeret sedimen (umumnya pasir dan kerikil) yang ada di dasar laut untuk ditumpuk dalam bentuk gosong pasir. Di samping mengangkut sedimen dasar, ombak berperan sangat dominan dalam menghancurkan daratan (erosi laut). Daya penghancur ombak terhadap daratan atau batuan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain keterjalan garis pesisir, kekerasan batuan, rekahan pada batuan, , , kedalaman laut di depan pesisir, bentuk pesisir, terdapat , penghalang di muka pesisir dan sebagainya. Berbeda dengan ombak yang bergerak maju ke arah pesisir, arus laut, terutama yang mengalir sepanjang pesisir merupakan penyebab utama yang lain dalam membentuk morfologi pesisir. Arus laut terbentuk oleh angin yang bertiup dalam selang waktu yang lama, dapat pula terjadi karena ombak yang membentur pesisir secara miring. Berbeda dengan peran ombak yang mengangkut sedimen tegaklurus terhadap arah ombak, arus laut mampu membawa sedimen yang mengapung maupun yang terdapat di dasar laut. Pergerakan sedimen searah dengan arah pergerakan arus, umumnya menyebar sepanjang garis pesisir. Bentuk morfologi spit, tombolo, beach ridge atau akumulasi sedimen di sekitar jetty (dermaga atau tembok laut) dan tanggul pantai menunjukkan hasil kerja arus laut. Dalam hal tertentu arus laut dapat pula berfungsi sebagai penyebab terjadinya abrasi pesisir. Keseimbangan antara sedimen yang dibawa sungai dengan kecepatan pengangkutan sedimen di muara sungai akan menentukan berkembangnya dataran pesisir. Apabila jumlah sedimen yang dibawa ke laut dapat segera diangkut oleh ombak dan arus laut, maka pantai akan dalam keadaan stabil. Sebaliknya apabila jumlah sedimen melebihi kemampuan ombak dan arus laut dalam atau tidaknya

pengangkutannya, maka dataran pesisir akan bertambah. Selain itu aktivitas manusia yang memanfaatkan wilayah pesisir untuk berbagai kepentingan juga dapat merubah morfologi pesisir menjadi rusak apabila pengelolaannya tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Proses-proses lainnya yang terjadi di wilayah pesisir antara lain: • Proses Fisika yaitu proses-proses fisik yang mempengaruhi pembentukan pesisir seperti gelombang, rombakan arus (rip current), arus pasang surut, pasang surut dan sebagainya. Gelombang merupakan parameter utama dalam proses erosi atau sedimentasi . • Erosi dan atau abrasi merupakan proses pengikisan batuan yang diakibatkan oleh tenaga eksogen seperti air, angin, ombak, dan lainlainnya. • Sedimentasi yang dibawa melalui sungai, arus sepanjang tepi pantai (longshore drift), dan arus pasang surut. Sedimen ini terbentuk dari lumpur, pasir, hingga kerikil. Sedimen bertekstur kasar terdapat di kawasan bertenaga tinggi. • Arus laut pasang surut yang disebabkan oleh pasang surut air laut (subsidence) adalah proses naik turunnya muka laut secara hampir periodik karena gaya tarik benda-benda angkasa, terutama bulan dan matahari. Naik turunnya muka laut dapat terjadi sehari sekali (pasang surut tunggal), atau dua kali sehari (pasang surut ganda). Ketika pasang surut terbentuk dilautan luas merambat sebagai gelombang menuju lereng benua (continental slope) dan paparan benua (continental shelf), gelombang tersebut akan mengalami proses perubahan karena nakin dangkalnya perairan.

D. Geomorfologi Wilayah Pesisir Bentuk/morfologi wilayah pesisir, seperti pantai terjal atau landai, ditentukan oleh kekerasan (resestivity) batuan, pola morfologi dan tahapan proses tektoniknya. Relief/topografi dasar laut perairan nusantara terdiri dari berbagai tipe mulai dari paparan (shelf) yang dangkal, palung llaut, gunung bawah laut, terumbu karang dan sebagainya.

Kondisi oseanografi fisik di kawasan pesisir dan lautan ditentukan oleh fenomena pasang surut, arus, gelombang, kondisi suhu, salinitas serta angin. Fenomena-fenomena tersebut memberikan kekhasan karakteristik pada kawasan pesisir dan lautan. Proses-proses utama yang sering terjadi di wilayah pesisir meliputi: sirkulasi massa air, percampuran (terutama antara dua massa air yang berbeda), sedimentasi dan abrasi serta upwelling. Bentukan-bentukan yang umum terdapat diwilayah pesisir adalah sebagai berikut: 1. Pesisir Pantai (Beach) adalah yaitu pesisir diantara garis pasang naik dan pasang surut. 2. Laguna adalah air laut dangkal yang memiliki luas beberapa mil, sering merupakan teluk atau danau yang terletak diantara pulau penghalang dengan pantai. 3. Pulau Penghalang (Barrier Island) adalah gosong pasir yang tersembul dipantai yang dipisahkan dari pantai oleh laguna. Pulau penghalang ini bias tebentuk sebagai spit atau gumuk pasir yang dibentuk oleh angin atau air. 4. Delta adalah deposit lumpur, pasir, atau kerikil (endapan alluvium) yang mengendap di muara suatu sungai. Delta dibagi menjadi tiga berdasarkan bentuknya, yaitu Delta Arcuate (Berbentuk kipas), Delta Cuspate (Berbentuk gigi tajam), Delta Estuarine (Berbentuk estuarine). 5. Goa Laut (Sea Cave) merupakan goa yang terbentuk pada terbing terjal (cliff) atau tanjung (headland) sebagai akibat erosi dari hantaman gelombang dan arus. 6. Sea Arch merupakn sea cave yang telah tereosi sangat berat akibat dari hantaman ombak. 7. Sea Stack merupakan tiang-tiang batu yang terpisah dari daratan yang tersusun dari batuan yang resisten sehingga masih bertahan dari hantaman gelombang. 8. Rawa Air Asin (Salt Marsh) merupakan rawa yang terbentuk akibat genangan air laut di dinggir pantai.

9. Head Land yaitu batuan daratan resisten yang menjorok kelaut sebagai akibat erosi gelombang. 10. Bar yaitu gosong pasir dan kerikil yang terletak pada dasar laut dipinggir pantai yang terjadi oleh pengerjaan arus laut dan gelombang. Kadanngkadang terbenam seluruhnya oleh air laut. Beberapa jenis bar antara lain: • Spit yaitu yang salah satu ujunganya terikat pada daratan, sedangkan yang lainnya tidak. Bentuknya kebanyakan lurus sejajar dengan pantai, tetepai oleh pengaruh arus yang membelok ke arah darat atau oleh pengaruh pasang naik yang besar, spit itupun membelok pula ke arah darat yang disebut Hook atau Recurved Spit (Spit Bengkok). • Baymouth Bar adalah spit yang kedua ujungnya terikat pada daratan yang menyeberang dibagian muka teluk. • Tombolo adalah spit yang menghubungkan pulau dengan daratan induk atau dengan pulau lain, contohnya daratan antara Pulau Pananjung dengan daratan induknya Pulau Jawa.

Gambar D.1. Bentukan Wilayah Pesisir

Gambar D.2. Jenis Bar

Gambar D.3. Barrier Island

Gambar D.4. Padre Island dan Pesisir Laguna Belize

DAFTAR RUJUKAN Herlambang, Sudarno. 2004. Dasar-dasar Geomorfologi. Malang: Universitas Negeri Malang (UM). McNeill, Leon.___. Geologic Explorations GeoDe II. United States: Tasa Graphics Art, Inc. Mustofa, Bisri, dkk. 2008. Kamus Lengkap Geogafi. Yogyakarta. Panji Pustaka. Pariwono, John I. 1992. Proses-proses Fisik di Wilayah Perairan Pantai. Bogor: Institut Pertanian Bogor (IPB). Puttinella, Johanson D. 2002. Permasalahan dan Dinamika Pantai Pada Daerah Wisata Pantai Baron dan Krakal Yogyakarta. Jogjakarta: Universitas Gajah Mada (UGM) (Laporan Penelitian) Microsoft Corporation. 1993-2004. Microsoft Encarta Reference Library 2005. All rights reserved. http://www.pdf-search-engine.com/pesisir-pdf.html http://www.ebook-search-engine.com/pantai-ebook-all.html

ESTUARIN
TUGAS Yang disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Oceanografi Yang dibina Oleh Bapak Bagus Setyabudi Wiwoho

Disusun Oleh: Ari Setya Sukarsih 103351465201

Eva Selvia Handayani 103351465197

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PENDIDIKAN GEOGRAFI Desember, 2004

ESTUARIN

Semua Organisme berpengaruh langsung terhadap lingkungan, baik lingkungan biotik, maupun abiotik,organime ini akan bersaing dalam

memperebutkan kebutuhan hidupnya, seperti makanan, tempat tinggal, organisme akan hidup dan berkembangbiak dalam suatu wilayah jika kondisinya cocok, jika tidak maka akan punah. Suatu populasi itu akan dikatakan baik jika interaksi antara hewan dan tumbuhan seimbang juga didukung oleh lingkungan biotik.

Prinsip Ekologi Ekologi adalah ilmu biologi yang berhubungan dengan faktor lingkungan biotik dan lingkungan abiotik. Komponen botik mempelajari ekologi tentang organisme, populasi, komunitas, dan ekosistem. Kumpulan organisme yang hidup bersama-sama dalam suatu wilayah perlu memperhatikan populasinya, semua populasi yang hidup dalam suatu wilayah saling berinteraksi dengan kondisi biotik. Komunitas adalah kumpulan populasi tumbuhan dan hewan yang hidup dalam suatu wilayah. Ekosistem laut antara yang di utara dengan Atlantik subtropis memiliki sedikit perbedaan seperti, salinitas, suhu. Ekosistem dapat diartikan sebagai wilayah geografi yang luas yang terdiri dari beberapa komunitas. Spesies dapat diartikan sebagai dasar penggambaran suatu populasi. Spesies memiliki peranan penting dam perkembangbiakan untuk memperoleh keturunan yang baru dalam suatu kumpulan organisme.

Habitat (Tempat Hidup) dan Niche (Cara Hidup) Habitat adalah tempat suatu organisme yang ada di suatu wilayah tertentu, sedangkan Niche adalah Suatu cara bagaimana suatu organisme itu biasa hidup di wilayah tersebut.

Hubungan Antara Interspesifik dan Intraspesifik Organisme merupakan bagian dari populasi yang saling bersaing untuk memperoleh kebutuhan seperti, makanan, tempat tinggal, dan pasangan. Persaingan ini disebut kompetisi intraspesifik karena dilakukan oleh organisme yang spesiesnya sama. Organisme yang menang dalam persaingan tentu akan mendapatkan makanan dan tempat hidup yang baik. Organisme unggul diperoleh dari pasangan organisme yang unggul juga. Organisme dari keturunan yang unggul prosentasenya akan lebih banyak jika dibandingkan dengan organisme yang kurang unggul karena kalah bersaing. Keturunan yang unggul akan

memperoleh keturunan yang unggul juga. Hal ini terjadi secara berulang-ulang. Di dalam komunitas tentunya terdapat spesies yang berbeda yang bersaing untuk memperoleh makanan, tempat hidup, tempat berkembangbiak. Kompetisi ini dilakukan oleh spesies yang berbeda yang disebut kompetisi Interspesifik. Dengan adanya kompetisi interspesifik akan menyebabkan spesies yang dapat menyesuaikan diri sehingga dominan dalam suatu komunitas, sebaliknya spesies yang kurang unggul akan tersaingi dan jumlah keturunannya akan berkurang. Akibat dari kompetisi ini organisme yang unggul akan terus hidup karena mendapatkan kebutuhan yang diperlukan. Didalam kehidupan sepanjang waktu suatu organisme pasti mengalami kelahiran dan kematian, persaingan spesifik menyebabkan suatu populasi akan melakukan migrasi Perluasan tempat menyebabkan jumlah populasi semakin banyak di daerah itu karena dapat menyesuaikan diri. Tetapi didalam suatu habitat yang spesiesnya berbeda dan cara hidup yang sama, kompetisi interspesifik akan semakin meningkat menyebabkan tempat dan cara hidup akan semakin berkurang karena spesiesnya yang lemah. Spesies akan mudah punah karena di daerah yang sama terdapat spesies dengan cara hidup yang berbeda.

Faktor Abiotik 1. Temperatur Efek geografi yang sangat luas dari temperatur pada distribusi mahluk hidup sangat nyata sepanjang pantai timur Amerika. Oleh karenanya disetiap wilayah pasti memiliki perbedaan mahluk hidup. Suhu dapat dikatakan stabil jika temperatur dalam masa air perbedaannya rendah dan jika perbedaan temperaturnya tinggi maka dikatakan tidak stabil. Pada skala lokal yang lebih luas efek temperaturnya adalah faktor abiotik di muara Estuarin, sedangkan dalam skala yang lebih kecil adalah daerah zone intertidal. Estuarin mengandung volume air yang lebih kecil dari pada daerah perbatasan pantai. Sistem temperatur pada air tawar membawa air dingin ke muara pada saat musim dingin dan membawa air panas pada musim panas. Ketika masa jenis air tawar lebih kecil dari pada air laut maka air muara akan naik kepermukaan.

2. Salinitas / kadar garam Perbedaan kadar garam mempunyai pengaruh bagi distribusi hewan dan tumbuhan terutama di sekitar esruarin dan zone intertidal. Klasifikasi estuarin pada dasarnya terdiri dari pola susunan salinitas dan efek variasi salinitas yang terdapat penyebaran organisme estuarin.. Efek Coriolis dan temperatur dapat mempengaruhi pola susunan salinitas estuarin. Pada muara yang memiliki pasang surut tinggi akan membawa air laut jauh kedalam muara. saat pasang tinggi, dan air bawah tanah akan menuju ke laut pada saat surut. Pada daerah maksimum salinitas befluktuasi, yang tersusun diatas 6-12 jam periode pasang surut yang melampaui susunan salinitas terhadap muara. Efek Corilos yaitu pembelokan air yang bergerak berotasi ke bawah. Yang menyebabkan air bergerak ke kanan menuju belahan bumi utara dan bergerak ke kiri menuju belahan bumi selatan. Pada pengamatan estuarin, air laut akan bergerak ke kanan dan air tawar akan bergerak ke kiri. Kadar garam air dibelahan bumi utara bergerak menuju estuarin yaitu ke kanan.yang berlawanan dengan garis pantai.

Pasang Surut Air Laut Terdapat tiga jenis pasang surut air laut berdasarkan waktu yaitu: lama pasang surut, waktu utama pasang surut dan aliran balik pasang surut. Lama pengaturan pasang surut tergantung pada cuaca pada langit Waktu terjadinya pasang surut adalah pada siang hari dan pada malam hari. Pada siang hari pasang surut lebih rendah dari pada pasang surut yang terjadi pada mala hari.

Lapisan Bawah Hubungan Komunitas Di dalam lingkungan terdapat adanya faktor biotik dan abiotik yang akan membentuk adanya suatu komunitas yang saling berhubungan, sebagai contoh pada rumput dalam rumput terdapat adanya komunitas hewan dan tumbuhan hewan yang hidup pada zone ini adalah berupa kerang yang lunak dan cacing pita sedangkan tumbuhan yang dapat hidup adalah tanaman bakau. hewan juga dapat hidup dengan sempurna pada lapisan ini, organisme seperti kulit kerang juga dapat membantu dalam proses sedimentasi.

Pantai Berkarang Pada zone pantai berkarang terdapat wilayah pasang surut yang hebat. Daerah ini terbentuk akibat adanya hempasan energi gelombang yang tinggi.Pada daerah ini juga terdapat banyak tanaman alga. Jenis alga yang terbanyak yaitu alga hijau dan alga biru. Organisme pada daerah ini membentuk suatu simbiosis Pada musim panas, air pada daerah payau pasang surut bisa mencapai suhu udara yang tinggi yang dapat merusak, sedangkan pada musim dingin suhunya turun sangat rendah atau juga membeku. Saat air pasang, daerah ini dibanjiri dengan air laut dengan suhu udara yang berbeda. Untuk mempertahankan hidupnya biota air payau pasang surut harus bisa melawan variasi suhu udara yang meluas dan perubahan suhu udara yang cepat. Daerah payau pasang surut mencapai suhu udara yang tinggi pada musim panas sehingga evaporasi dipercepat. Pada musim dingin es terbentuk pada daerah payau pasang surut sehingga hal ini menyebabkan percepatan evaporasi, sehingga salinitas juga berubah-ubah. Oleh karena itu biota daerah pasang surut harus bisa

melawan perubahan salinitas yang cepat dan meluas. Spesies yang terdapat pada daerah pasang surut adalah alga hijau, anemon, kerang-kerangan, dan siput.

Pantai Berpasir Pada daerah ini lapisan tanah tidak tetap tetapi mudah berubah akibat arus dan ombak. Perubahan tersebut menyebabkan populasi tumbuhan dan hewan yang hidup di garis pantai berbatu. Persebaran tumbuhan dan hewan pada garis pantai dipengaruhi oleh faktor abiotik. Lapisan tanah ini sering berubah-ubah sehingga adaptasi hewan pada kondisi ini sangat besar. Contohnya organisme Psimodan siput “Olive” di pantai pasifik membuat lubang sangat dalam untuk dijadikan tempat tinggal, sehingga tidak terpengaruh oleh ombak dan arus air. Pada komunitas pantai berpasir tidak terdapat populasi predator, hal ini disebabkan biota yang hidup berada di dalam tanah

Hamparan Lumpur Hamparan lumpur tersusun oleh endapan lumpur dan partikel yang berukuran tanah liat. Hamparan lumpur hanya berkembang pada daerah yang terlindungi dari gelombang dan arus laut. Hamparan lumpur memiliki topografi datar dan terdiri dari sedimen yang sangat halus. Karakteristik daerah hamparan lumpur adalah ketersediaan oksigennya sedikit atau daerah anaerob. Spesies yang hidup pada daerah hamparan lumpur adalah siput dan cacing.

Vegetasi Pantai Unkonsolidasi Vegetasi yang terdapat pada zone pasang yaitu rumput rawa pada daerah sub tropis dan hutan bakau pada daerah tropis. Kedua jenis vegetasi ini tumbuh pada daerah yang terlindungi dari ombak dan arus pantai terutama daerah hamparan lumpur. Rawa garam terdiri dari dua tanaman utama yaitu rumput tali atau Spartina alterniflora dan rumput jerami rawa asin atau Spartina patens. Rumput tali berkembak biak secara cepat pada daerah ini, Rumput tali menghalangi air sehingga pada waktu pasang sedimen tersuspensi di dasar rumput tali sehingga rawa garam semakin tinggi.

Hutan bakau atau hutan mangrove berada di daerah tropis dan subtropis. Hutan mangrove merupakan pohon darat yang berada pada zone pasang. Tiga spesies pohon bakau sering ditemukan di mangrove dimana keberadaannya ditentukan oleh tingkat genangan air pasang. Pohon bakau merah terdapat di tepi air pasang rendah, pohon bakau hitam terdapat di daerah pasang sedang, dan pohon bakau putih terdapat pada daerah air pasang tinggi. Organisme yang ditemukan pada hutan bakau biasanya adalah kepiting fidller dan kepiting hantu.

Pantai Penghalang Pantai penghalang bukan bagian dari daerah pesisir tetapi merupakan komponen penting dari daerah pantai. Vegetasi yang hidup pada pantai penghalang harus dapat mengatasi hembusan angin yang menghembuskan bijibijian sebelum biji-biji tersebut bertunas. Ketinggian pantai penghalang dipengaruhi oleh vegetasi yang hidup pada tempat tersebut. Vegetasi ini dapat berkembang biak secara seksual dengan biji dan berkembang biak secara aseksual dengan rizoma. Tetapi karena

perkembangbiakan dengan biji sering terhambat, maka perkembangbiakan yang paling utama terjadi secara aseksual dengan rizoma. Sebagaimana rumput yang tumbuh pada gumuk pasir atau gandum pantai, vegetasi pada pantai pengahalang menjadi perangkap sedimen yang terbawa oleh angin sehingga mempengaruhi ketinggian pantai. Vegetasi penghalang tumbuh menjadi semak belukar. Semak belukar sepertu prem laut berkembang biak dengan biji dan menghasilkan buah, sehingga menarik perhatian burung-burung. Kotoran burung dan daun-daunan yang jatuh ke air terdekomposisi dan menutupi substrat pasir. Substrat pasir berkembang menjadi tanah. Tanah ini berkembang terus menerus menjadi lebih subur dan akhirnya tumbuhlah beberapa vegetasi separti pinus dan cedar merah. Tumbuhan ini menjadi pohon perintis yang membangun kesuburan tanah sehingga tumbuhan lain seperti oak dapat tumbuh di daerah ini. Setelah waktu yang lama dan adanya interaksi abiotik dan biotik menyebakan pantai pasir penghalang berubah menjadi hutan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Laut merupakan gambaran nyata mengenai permukaan bumi dan sekitarnya, 70% dari permukaan bumi merupakan air, dimana permukaan air terdapat endapan pasir laut, dasar lembah yang masing-masing memiliki cirri-ciri topografi yang berbeda. Laut merupakan suatu bagian yang saling memiliki proses yang lebih variatif, tergantung pada lokasi yang ada di sekelilingnya disamping proses pergerakan aliran secara global. Oleh karena itu dalam mempelajari laut diperlukan berbagai disiplin ilmu yaitu fisika oseanografi, geologi oseanografi, kimia oseanografi dan biologi oseanografi. Estuaria sebagai bagian dari laut merupakan suatu wilayah yang memiliki keunikan tersendiri dari lingkungan perairan laut. Kombinasi pengaruh air laut dan air tawar akan menghasilkan suatu komunitas yang khas, dengan lingkungan yang bervariasi. Ekologi sebagai salah satu ilmu yang mengkaji hubungan antara lingkungan hidup dengan manusia akan mengkaji peranan ekosistem estuaria terhadap kehidupan manusia. Banyak sekali manfaat yang diberikan ekosistem estuaria bagi kehidupan umat manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kawasan estuaria berdasarkan karakteristik geomorfologinya memiliki banyak variasi. Setiap jenis memiliki ekosistem yang berbeda dengan komponen penyusun yang berbeda pula. Keunikan dan peranan kawasan estuaria yang beraneka ragam tersebut, akan dikemukakan dalam makalah yang singkat ini. Selain itu dalam makalah ini akan dikemukakan juga tinjauan ekologis kawasan estuaria. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah, yaitu: 1. Apakah yang dimaksud dengan Ekologi? 2. Apa yang dimaksud dengan Estuaria? 3. Apa saja komponen abiotik daerah Estuaria? 4. Bagaimakah ekosistem Estuaria? 5. Apa saja tipe-tipe Estuaria berdasarkan karakteristik geomorfologi?

1

6. Bagaimanakah produktifitas dan peran ekologi Estuaria? 7. Apa saja jenis-jenis pantai? 8. Bagaimanakah vegetasi kawasan pasang surut ? C. Tujuan Penulisan Sesuai dengan rumusan masalah di atas, penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui: 1. Pengetian ekologi 2. Pengertian Estuaria 3. Komponen abiotik estuaria 4. Ekosistem Estuaria 5. Tipe-tipe Estuaria berdasarkan karakteristik geomorfologinya 6. Produktifitas dan peran ekologi Estuaria 7. Jenis-jenis pantai 8. Vegetasi pasang surut

2

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Ekologi Inti permasalahan ekologi adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya disebut ekologi. Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Enerst Haeckel, seorang ahli biologi bangsa Jerman. Ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Oikos yang berarti rumah dan logos yang berarti ilmu/telaah. Oleh karena itu ekologi berarti ilmu tentang rumah (tempat tinggal) makhluk hidup. Dengan demikian ekologi biasanya diartinya sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Berdasarkan arti harfiah dari asal katanya ekologi dan ekonomi sama. Ekologi (oikos dan logos) sedang ekonomi (oikos dan nomos) sehingga kedua ilmu itu banyak persamaannya. Namun dalam ekologi, mata uang yang dipakai dalam transaksi bukan rupiah atau dolar, melainkan materi, energi, dan informasi. Arus materi, energi, dan informasi dalam suatu komunitas atau beberapa komunitas mendapat perhatian utama dalam ekologi, seperti uang dalam ekonomi. Oleh karena itu transaksi dalam ekologi berbentuk materi, energi, dan informasi. 1. Habitat dan Relung Habitat dan relung, dua istilah tentang kehidupan organisme. Habitat adalah tempat hidup suatu organisme. Habitat suatu organisme dapat juga disebut “alamat”. Relung (niche atau nicia) adalah profesi atau status suatu organisme dalam suatu komunitas dan ekosistem tertentu, sebagai akibat adaptasi struktural, tanggal fisiologis serta perilaku spesifik organisme itu. Penyesuaian diri secara umum disebut adaptasi. Kemampuan adaptasi mempunyai nilai untuk kelangsungan hidup. Makin besar kemampuan adaptasi makin besar kementakan kelangsungan hidup organisme. 2. Hubungan Intra dan Interspesifik Organisme merupakan bagian dari populasi yang saling bersaing untuk memperoleh kebutuhan seperti, makanan, tempat tinggal, dan pasangan. Persaingan ini

3

disebut kompetisi intraspesifik karena dilakukan oleh organisme yang spesiesnya sama. Organisme yang menang dalam persaingan tentu akan mendapatkan makanan dan tempat hidup yang baik. Organisme unggul diperoleh dari pasangan organisme yang unggul juga. Organisme dari keturunan yang unggul prosentasenya akan lebih banyak jika dibandingkan dengan organisme yang kurang unggul karena kalah bersaing. Keturunan yang unggul akan memperoleh keturunan yang unggul juga. Hal ini terjadi secara berulang-ulang. Di dalam komunitas tentunya terdapat spesies yang berbeda yang bersaing untuk memperoleh makanan, tempat hidup, tempat berkembangbiak. Kompetisi ini dilakukan oleh spesies yang berbeda yang disebut kompetisi Interspesifik. Dengan adanya kompetisi interspesifik akan menyebabkan spesies yang dapat menyesuaikan diri sehingga dominan dalam suatu komunitas, sebaliknya spesies yang kurang unggul akan tersaingi dan jumlah keturunannya akan berkurang. Akibat dari kompetisi ini organisme yang unggul akan terus hidup karena mendapatkan kebutuhan yang diperlukan. Didalam kehidupan sepanjang waktu suatu organisme pasti mengalami kelahiran dan kematian, persaingan spesifik menyebabkan suatu populasi akan melakukan migrasi Perluasan tempat menyebabkan jumlah populasi semakin banyak di daerah itu karena dapat menyesuaikan diri. Tetapi didalam suatu habitat yang spesiesnya berbeda dan cara hidup yang sama, kompetisi interspesifik akan semakin meningkat menyebabkan tempat dan cara hidup akan semakin berkurang karena spesiesnya yang lemah. Spesies akan mudah punah karena di daerah yang sama terdapat spesies dengan cara hidup yang berbeda. 3. Ekosistem Suatu konsep sentral dalam ekologi adalah ekosistem sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Oleh karena itu ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan yang saling mempengaruhi. Berdasarkan pengertian di atas, suatu sistem terdiri dari komponenkomponen yang bekerja secara teratur sebagai suatu kesatuan. Ekosistem terbentuk oleh komponen hidup (biotik) dan tak hidup (abiotik) yang berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur.

4

Keteraturan itu terjadi karena adanya arus materi dan energi, yang terkendali oleh arus informasi antara komponen dalam ekosistem. Masing-masing komponen mempunyai fungsi (relung). Selama masing-masing komponen tetap melakukan fungsinya dan bekerjasama dengan baik, keteraturan ekosistem tetap terjaga. B. Pengertian Estuaria Estuaria adalah suatu perairan semi tertutup yang terdapat di hilir sungai dan masih berhubungan dengan laut, sehingga memungkinkan terjadinya percampuran air laut dan air tawar dari sungai atau drainase yang berasal dari muara sungai, teluk, rawa pasang surut. Estuaria merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut. Estuaria sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam. Salinitas air berubah secara bertahap mulai dari daerah air tawar ke laut. Salinitas ini juga dipengaruhi oleh siklus harian dengan pasang surut aimya. Nutrien dari sungai memperkaya estuari. Bentuk estuaria bervariasi dan sangat bergantung pada besar kecilnya air sungai, kisaran pasang surut, dan bentuk garis pantai. Kebanyakan estuaria didominasi subtrat Lumpur yang berasal dari endapan yang dibawa oleh air tawar maupun air laut. Karena partikel yang mengendap kebanyakan bersifat organik, subtrat dasar estuaria biasanya kaya akan bahan organik. Bahan organic ini menjadi cadangan makanan utama bagi organisme estuaria. C. Komponen Abiotik Daerah Estuaria 1. Temperatur Efek geografi yang sangat luas dari temperatur pada distribusi mahluk hidup sangat nyata sepanjang pantai timur Amerika. Oleh karenanya disetiap wilayah pasti memiliki perbedaan mahluk hidup. Suhu dapat dikatakan stabil jika temperatur dalam masa air perbedaannya rendah dan jika perbedaan temperaturnya tinggi maka dikatakan tidak stabil. Pada skala lokal yang lebih luas efek temperaturnya adalah faktor abiotik di muara Estuaria, sedangkan dalam skala yang lebih kecil adalah daerah zone intertidal. Estuaria mengandung volume air yang lebih kecil dari pada daerah perbatasan pantai.

5

Sistem temperatur pada air tawar membawa air dingin ke muara pada saat musim dingin dan membawa air panas pada musim panas. Ketika masa jenis air tawar lebih kecil dari pada air laut maka air muara akan naik kepermukaan. 2. Salinitas Perbedaan kadar garam mempunyai pengaruh bagi distribusi hewan dan tumbuhan terutama di sekitar esruarin dan zone intertidal. Klasifikasi estuaria pada dasarnya terdiri dari pola susunan salinitas dan efek variasi salinitas yang terdapat penyebaran organisme estuaria.. Efek Coriolis dan temperatur dapat mempengaruhi pola susunan salinitas estuaria. Pada muara yang memiliki pasang surut tinggi akan membawa air laut jauh kedalam muara. saat pasang tinggi, dan air bawah tanah akan menuju ke laut pada saat surut. Pada daerah maksimum salinitas befluktuasi, yang tersusun diatas 6-12 jam periode pasang surut yang melampaui susunan salinitas terhadap muara. Efek Corilos yaitu pembelokan air yang bergerak berotasi ke bawah. Yang menyebabkan air bergerak ke kanan menuju belahan bumi utara dan bergerak ke kiri menuju belahan bumi selatan. Pada pengamatan estuaria, air laut akan bergerak ke kanan dan air tawar akan bergerak ke kiri. Kadar garam air dibelahan bumi utara bergerak menuju estuaria yaitu ke kanan.yang berlawanan dengan garis pantai. 3. Pasang Surut Air Laut Terdapat tiga jenis pasang surut air laut berdasarkan waktu yaitu: lama pasang surut, waktu utama pasang surut dan aliran balik pasang surut. Lama pengaturan pasang surut tergantung pada cuaca pada langit Waktu terjadinya pasang surut adalah pada siang hari dan pada malam hari. Pada siang hari pasang surut lebih rendah dari pada pasang surut yang terjadi pada mala hari. 4. Substrat Hamparan lumpur tersusun oleh endapan lumpur dan partikel yang berukuran tanah liat. Hamparan lumpur hanya berkembang pada daerah yang terlindungi dari gelombang dan arus laut. Hamparan lumpur memiliki topografi

6

datar dan terdiri dari sedimen yang sangat halus. Karakteristik daerah hamparan lumpur adalah ketersediaan oksigennya sedikit atau daerah anaerob. Spesies yang hidup pada daerah hamparan lumpur adalah siput dan cacing D. Ekosistem Estuaria Kombinasi pengaruh air laut dan air tawar akan menghasilkan suatu komunitas yang khas dan lingkungan yang bervariasi, antara lain: 1. Tempat bertemunya arus air dengan arus pasang-surut, yang berlawanan menyebabkan suatu pengaruh yang kuat pada sedimentasi, pencampuran air, dan cirri-ciri fisika lainnya, serta membawa pengaruh besar pada biotanya. 2. Pencampuran kedua macam air tersebut menghasilkan suatu sifat fisika lingkungan khusus yang tidak sama dengan sifat air sungai maupun sifat air laut. 3. Perubahan yang terjadi akibat adanya pasang-surut mengharuskan komunitas mengadakan penyesuaian secara fisiologis dengan lingkungan sekelilingnya; dan 4. Tingkat kadar garam di daerah estuaria tergantung pada pasang-surut air laut, banyaknya aliran air tawar dan arus-arus lainnya, serta topografi daerah estuaria tersebut. Perbedaan salinitas di wilayah estuaria menciptakan suatu stratifikasi salinitas yang unik, perbedaan salinitas itu setidaknya menciptakan 3 stratifikasi air pada wilayah estuaria, yaitu: 1. Estuari berstartifikasi nyata atau estuaria baji garam, yang dicirikan oleh adanya batas yang jelas antara air tawar dan air asin. Estuaria ini banyak ditemukan di daerah dimana alir air tawar dari daratan (biasanya melalui sungai besar) lebih dominan ketimbang penyusupan (intrusi) air asin dari laut yang dipengaruhi oleh pasang surut. 2. Estuaria campuran sempurna atau estuaria homogen vertikal, banyak dipengaruhi oleh pasang surut sehingga tercampur sempurna dan tidak terdapat stratifikasi.

7

3. Estuaria berstratifikasi sebagian/parsial atau estuaria berstratifikasi moderat. Paling umum dijumpai, biasanya aliran air tawar seimbang dengan masuknya air laut lewat arus pasang. Percampuran air teruatama oleh karena adanya aksi pasang surut secara terus-menerus, dan akan tercipta pola lapisan air dan massa air yang kompleks. Variasi salinitas di daerah estuaria menentukan kehidupan organisme laut/payau. Hewan-hewan yang hidup di perairan payau (salinitas 0,5 - 30¡ë), hipersaline (salinitas 40 - 80¡ë), atau air garam (salinitas > 80¡ë), biasanya mempunyai toleransi terhadap kisaran salinitas yang lebih besar dibandingkan dengan organisme yang hidup di air laut atau air tawar. Organisme yang dapat tahan terhadap konsentrasi garam mulai dari air berkristal dalam kondisi kehidupan latent (benih, spora, cysta), dan mulai dari air destilata sampai salinitas hampir mencapai 300¡ë dalam kondisi kehidupan yang aktif. Terdapat beberapa spesies yang dapat bertahan hidup pada salinitas di atas 200¡ë seperti brine shrimp, Artemia salina dan larva dipteran, Ephydra. Pada estuaria Laguna Madre, terdapat paling sedikit 25 spesies hewan yang tahan pada salinitas sekitar 75 - 80¡ë. Beberapa diantara spesies tersebut seperti Nemopsis bacheri, Acartia tonsa, Balanus eburneus, dan beberapa jenis ikan juga dijumpai pada salinitas serendah 15 ¡ë. Hewan-hewan yang toleran pada kisaran salinitas yang luas disebut euryhaline, sedangkan yang toleran pada kisaran salinitas yang sempit disebut stenohaline. Pengaruh salinitas terhadap organisme dapat terjadi melalui perubahan-perubahan total osmocon-sentration, relatif proporsi kandungan garam, koefisien absorpsi dan saturation gas-gas terlarut, densitas dan viskositas, dan kemungkinan juga melalui absorpsi radiasi, transmisi suara, dan konduktivitas listrik. Jumlah spesies organisme yang mendiami estuaria jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan organisme yang hidup di perairan tawar dan laut. Sedikitnya jumlah spesies ini terutama disebabkan oleh fluktuasi kondisi lingkungan, sehingga hanya spesies yang memiliki kekhususan fisiologis yang mampu bertahan hidup di estuaria. Selain miskin dalam jumlah spesies fauna, estuaria juga miskin akan flora. Keruhnya perairan estuaria menyebabkan hanya tumbuhan mencuat yang dapat tumbuh mendominasi. Rendahnya produktivitas primer di kolom air, sedikitnya herbivora dan terdapatnya sejumlah besar detritus menunjukkan bahwa rantai makanan pada

8

ekosistem estuaria merupakan rantai makanan detritus. Detritus membentuk substrat untuk pertumbuhan bakteri dan algae yang kemudian menjadi sumber makanan penting bagi organisme pemakan suspensi dan detritus. Suatu penumpukan bahan makanan yang dimanfaatkan oleh organisme estuaria merupakan produksi bersih dari detritus ini. Fauna di estuaria, seperti ikan, kepiting, kerang, dan berbagai jenis cacing berproduksi dan saling terkait melalui suatu rantai makanan yang kompleks. E. Tipe-tipe Estuaria Estuaria dapat dikelompokkan atas empat tipe, berdasarkan karakteristik geomorfologinya, sebagai berikut: 1. Estuaria daratan pesisir, paling umum dijumpai, dimana pembentukannya terjadi akibat penaikan permukaan air laut yang menggenangi sungai di bagian pantai yang landai; 2. Laguna (Gobah) atau teluk semi tertutup, terbentuk oleh adanya beting pasir yang terletak sejajar dengan garis pantai sehingga menghalangi interaksi langsung dan terbuka dengan perairan laut; 3. Fjords, merupakan estuaria yang dalam, terbentuk oleh aktivitas glesier yang mengakibatkan tergenangnya lembah es oleh air laut; 4. Estuaria tektonik, terbentuk akibat aktivitas tektonik (gempa bumi atau letusan gunung berapi) yang mengakibatkan turunnya permukaan tanah yang kemudian digenangi oleh air laut pada saat pasang.

F. Produktifitas dan Peran Ekologi Estuaria Ada bebrapa penyebab sehingga produktivitas hayati daerah estuaria sangat baik yaitu: 1. estuaria berperan sebagai penjebak zat hara. Dimana ada tiga cara ekosistim estuaria menyuburkan diri yaitu: • • dipertahankan dan cepat di daur-ulang zat-zat hara oleh hewan-hewan yang hidup di dasar estuaria seperti bermacam kerang dan cacing. Produksi detritus, yaitu partikel-partikel sersah daun tumbuhan akuatik makro seperti lamun, yang kemudian di makan olh bermacam ikan dan udang pemakan detritus.

9

Pemanfaatan zat hara yang terpendam jauh dalam dasar lewat aktivitas mikroba (organisme renik seperti bakteri) lewat akar tumbuhan yang masuk jauh kedalam dasar estuaria, atau lewat hewan penggali liang di dasar estuaria seperti bermacam cacing.

2. Di daerah tropik estuaria memperoleh manfaat besar dari kenyataan bahwa tetumbuhan terdiri dari bermacam tipe yang komposisinya demikian rupa sehingga proses fotosintesis terjadi sepanjang tahun. 3. arti penting pasang surut dalam menciptakan suatu ekosistim akuatik yang permukaan airnya berfluktuasi. Peran Ekologis Estuaria. Secara singkat dapat dikatakan bahwa peran ekologis estuaria yang penting ialah: 1. merupakan sumber zat hara dan bahan organik bagi bagian estuaria yang jauh dari garis pantai maupun yang berdekatan dengannya, lewat diangkutnya zat hara dan bahan organik tersebut oleh sirkulasi pasang surut (tidal circulation); 2. menyediakan habitat bagi sejumlah spesies ikan yang ekonomis penting yang bergantung pada dasar estuaria sebagai tempat berlindung dan tempat mencari makanan (feeding ground); dan 3. memenuhi kebutuhan bermacam spesies ikan dan udang yang hidup di lepas pantai, tetapi yang bermigrasi ke perairan yang dangkal dan terlindung untuk bereproduksi dan /atau sebagai tempat tumbuh besar (nursery ground) anak mereka. G. Jenis-jenis Pantai 1. Pantai Berkarang Pada zone pantai berkarang terdapat wilayah pasang surut yang hebat. Daerah ini terbentuk akibat adanya hempasan energi gelombang yang tinggi.Pada daerah ini juga terdapat banyak tanaman alga. Jenis alga yang terbanyak yaitu alga hijau dan alga biru. Organisme pada daerah ini membentuk suatu simbiosis Pada musim panas, air pada daerah payau pasang surut bisa mencapai suhu udara yang tinggi yang dapat merusak, sedangkan pada musim dingin suhunya turun sangat rendah atau juga membeku. Saat air pasang, daerah ini dibanjiri dengan air laut dengan suhu udara yang berbeda. Untuk

10

mempertahankan hidupnya biota air payau pasang surut harus bisa melawan variasi suhu udara yang meluas dan perubahan suhu udara yang cepat. Daerah payau pasang surut mencapai suhu udara yang tinggi pada musim panas sehingga evaporasi dipercepat. Pada musim dingin es terbentuk pada daerah payau pasang surut sehingga hal ini menyebabkan percepatan evaporasi, sehingga salinitas juga berubah-ubah. Oleh karena itu biota daerah pasang surut harus bisa melawan perubahan salinitas yang cepat dan meluas. Spesies yang terdapat pada daerah pasang surut adalah alga hijau, anemon, kerang-kerangan, dan siput. 2. Pantai Berpasir Pada daerah ini lapisan tanah tidak tetap tetapi mudah berubah akibat arus dan ombak. Perubahan tersebut menyebabkan populasi tumbuhan dan hewan yang hidup di garis pantai berbatu. Persebaran tumbuhan dan hewan pada garis pantai dipengaruhi oleh faktor abiotik. Lapisan tanah ini sering berubahubah sehingga adaptasi hewan pada kondisi ini sangat besar. Contohnya organisme Psimodan siput “Olive” di pantai pasifik membuat lubang sangat dalam untuk dijadikan tempat tinggal, sehingga tidak terpengaruh oleh ombak dan arus air. Pada komunitas pantai berpasir tidak terdapat populasi predator, hal ini disebabkan biota yang hidup berada di dalam tanah

H. Vegetasi Zona Pasang Surut 1. Hutan Mangrove Mangrove merupakan sekumpulan tumbuhan berkayu maupun berupa semak belukar yang mampu tumbuh dan berkembang dengan baik di daerah peralihan antara darat dan laut yang secara periodic masih terkena bahkan tergenangi air pasang. Tumbuhan-tumbuhan mangrove sering dikenal dengan istilah ‘vegetasi mangrove’, sedangkan habitat mangrove lebih dikenal dengan istilah ‘mangal’. Vegatasi mangrove tidak akan kita jumpai di habitat lain, mereka hanya dapat ditemukan di habitatnya, yaitu daerah intertidal atau daerah antara darat dan laut. Hal inilah yang menjadikan mangrove sebagai komunitas yang menarik sebagai objek penelitian. Seorang scientist mangrove bernama Tomlinson membagi komponen penyusun vegetasi mangrove

11

menjadi tida komponen besar, yaitu komponen mayor (major component), komponen minor (minor component), dan komponen asosiasi (Associate component). Komponen mayor merupakan komponen penyusun ekosistem mangrove yang keberadaannya melimpah dan mampu membentuk tegakan murni, namun tidak pernah meluas sampai ke dalam komunitas daratan. Ada sekitar tiga puluh spesies dalam sembilan genera dari lima famili yang tercatat sebagai komponen mayor. Sedangkan komponen minor keberadaannya tidak begitu mencolok dan jarang membentuk tegakan murni. Tidak kurang dari dua puluh sepesies dari sebelas genera yang tercatat sebagai komponen minor. Sedangkan komponen asosiasi merupakan komponen yang mampu tumbuh dengan baik di ekosistem mangrove atau keberadaannya selalu mengikuti ekosistem mangrove namun jarang ditemukan. Ekosistem mangrove mempunyai fungsi ekologis antara lain sebagai tempat untuk mencari makan (feeding ground), bukan hanya untuk biota namun juga untuk manusia. Berbagai invertebrata menggantungkan hidupnya pada produktivitas mangrove baik langsung maupun tidak langsung. Beberapa spesies memakan langsung daun maupun propagul mangrove, sedangkan lainnya mencerna partikel organik halus, baik yang tersuspensi dalam kolom air sebagai “filter feeder” maupun yang telah terendapkan di dasar lumpur. Ada pula spesies predator ataupun pemakan sisa-sisa tumbuhan dan pemangsa hewan lain. Selain itu ekosistem mangrove juga berperan sebagai tempat pemijahan (spawning ground), tempat pembesaran (nursery ground) bagi berbagai jenis hewan seperti ikan, udang dan kepiting dan sebagai tempat bersarang (nesting ground) oleh banyak satwa. 2. Rawa Rumput (marsh grass) Vegetasi yang terdapat pada zone pasang yaitu rawa rumput pada daerah sub tropis. Jenis vegetasi ini tumbuh pada daerah yang terlindungi dari ombak dan arus pantai terutama daerah hamparan lumpur. Rawa garam terdiri dari dua tanaman utama yaitu rumput tali atau Spartina alterniflora dan rumput jerami rawa asin atau Spartina patens. Rumput tali berkembak biak secara cepat pada daerah ini, Rumput tali menghalangi air sehingga pada waktu pasang sedimen tersuspensi di dasar rumput tali sehingga rawa garam semakin tinggi.

12

BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari uraian panjang lebar tentang ekosistem estuaria dan perananannya dalam kehidupan, jelaslah bahwa ekosistem estuaria tidak bisa dikesampingkan peranannya bagi kehidupan, khususnya kehidupan manusia. Ekosistem estuaria, salah satunya hutan mangrove memegang peranan penting dalam kelestarian kehidupan laut. Sebagai feeding ground, spawning ground, dan nursery ground, kelestarian hutan mangrove adalah harga mati bagi kelestarian kehidupan laut dimana laut merupakan salah satu sumber pemenuhan kebutuhan protein umat manusia. Selain itu, secara umum ekosistem estuaria memiliki peran ekologis estuaria yang penting. Estauria merupakan penyedia sumber zat hara dan bahan organik bagi bagian estuaria yang jauh dari garis pantai maupun yang berdekatan dengannya, lewat diangkutnya zat hara dan bahan organik tersebut oleh sirkulasi pasang surut (tidal circulation). Kawasan estuaria juga berperan sebagai penyedia habitat bagi sejumlah spesies ikan yang ekonomis penting yang bergantung pada dasar estuaria sebagai tempat berlindung dan tempat mencari makanan. Selain itu bagi beberapa spesies kawaan estuaria juga dijadikan sebagai tempat pengasuhan bagi anak-anak mereka. Mengingat besarnya peranan kawasan estuaria terhadap kehidupan kita, sudah semestinya ekosistem ini terus kita jaga kelestariannya. Kesadaran untuk melestarikan alam bukan hanya tumbuh karena alam yang kita lestarikan memberikan manfaat bagi kehidupan kita, tetapi alam dilestarikan karena mereka memiliki nilai pada dirinya sendiri.

13

DAFTAR PUSTAKA Sunarto, 2002. Hand out kuliah Ekosistem Pantai. Laboratorium Geomorfologi Terapan, Jurusan Geofisik, Fakultas Geografi UGM. Zuidam, van, 1986. Aerial photo. Interpretation in Terrain Analysis in Geomorphologic Mapping, Smith Publisher, The Hague Netherland. Black, John A. 1986. Ocean and Coast An Introduction to Oceanography. New York: United State of America. Setiabudi Wiwoho, Bagus. 1999. Pengantar Oseanografi. Malang: Jurusan Geografi UM

14

13. EKOLOGI MUARA DAN INTERTIDAL

Kata kunci Penghalang biotik Penghalang abiotik Komunitas Prinsip eksklusif kompetitif Rata – rata reproduksi diferensial Ekosistem Prinsip Gause Habitat Kompetisi interspesifik Perairan interstitial Kompetisi intraspesifik Batasan kematian Mortalitas Natalitas Ceruk Organisme Populasi Stabil secara termal Tak stabil secara termal

Semua organisme dipengaruhi dan, sebaliknya, mempengaruhi lingkungan terdekatnya, yang terdiri dari komponen hidup, atau biotik dan tak hidup atau abiotik. Ketika organisme dengan kebutuhan yang sama berhadapan satu sama lain, mereka akan secara umum berkompetisi demi beragam sumber daya alam, seperti makanan dan tempat tinggal. Satu kelompok organisme akan sukses dan akan berkembang biak dan menjadi mudah ditemukan pada area tersebut; yang lain akan menjadi langka dan mungkin musnah dari area tersebut. Kemampuan hewan dan tanaman untuk secara sukses berinteraksi di antara mereka sendiri, dengan hewan dan tanaman lainnya, dan dengan lingkungan biotiknya dicerminkan oleh besarnya populasi mereka, rata – rata kematian dan kelahiran, dan faktor – faktor lainnya. Organisme dan distribusi organisme ini sepanjang garis pantai adalah hasil akhir interaksi ini. Prinsip ekologis Ekologi adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari hubungan faktor biotik dan abiotik yang keduanya mencakup lingkungan. Komponen biotik yang dipelajari oleh ahli ekologi adalah organisme, populasi, komunitas dan ekosistem.

Dengan pengecualian plankton bersel satu dan bakteri, sebuah organisme adalah sesuatu yang dianggap sebagai individu tunggal dari spesies tertentu yang terdiri dari sel, organ dan sistem organ yang berfungsi bersama – sama sebagai entitas biologis. Kelompok organisme dari spesies yang sama yang hidup bersama di area tertentu dianggap sebagai sebuah populasi. Sebagai contoh, sekelompok bintang laut yang menghuni teluk tertentu sepanjang pesisir maine adalah sebuah populasi spesies bintang laut tersebut. Kelompok laun dari organisme ini yang menghuni zona intertidal di belakang barisan bay-mouth di cape god, massachusetts, akan membentuk populasi spesies yang sama lainnya. Sepertinya akan terdapat spesies lain yang menghuni area ini. sebagai contoh, Secara umum siput periwinkle biasanya juga ditemukan di daerah seperti ini. Semua populasi yang hidup di area yang sama berinteraksi satu dengan lainnya dan dengan lingkungan biotik untuk membentuk sebuah komunitas. Komunitas dapat didefinisikan sebagai beragam populasi tanaman dan hewan yang menghuni area tertentu. Beberapa komunitas yang berlokasi di sepanjang garis pantai tertentu dianggap sebagai sebuah ekosistem. Sebagai contoh, pesisir utara long island, new York, dan garis pantai sebelah selatan connecticut penuh dengan teluk – teluk, masing – masing teluk dapat dianggap sebagai sebuah komunitas, karena dihuni oleh beragam populasi. Semua populasi ini berinteraksi di dalam dirinya sendiri dan dengan yang lainnya, dan semua dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan abiotiknya. Masing – masing teluk ini berinterkoneksi dengan perairan laut lepas long island sound, dan perairan yang lebih dalam ini juga mengandung beragam populasi dan komunitas. Semua komponen biotik dan biotik ini berinteraksi untuk membentuk ekosistem long island sound. ekosistem long island sound, sebaliknya, berinterkoneksi dengan, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh ekosistem zona sedang mid-atlantik. Ekosistem kelautan ini cukup berbeda dalam hal salinitas (kadar garam), temperatur, substrat (landasan) pesisir, dan sebagainya, untuk membedakannya dari atlantik utara maupun subtropis. Ekosistem dapat didefinisikan sebagai area geografis yang lebih luas yang mencakup beberapa komunitas gbr 13.1. Spesies adalah unit dasar yang digunakan untuk menguraikan populasi. Sebuah spesies dapat dianggap sebagai sebuah kelompok organisme yang secara nyata dan potensial mampu berkembang biak dan memproduksi keturunan yang viabel, subur. Keturunan –

keturunan ini juga harus mampu bereproduksi dalam rangka melestarikan spesies tersebut. Kuda dan keledai, dua spesies yang berbeda, mampu kawin dan mereproduksi keturunan yang viabel, tetapi para biologis menganggap mereka sebagi dua spesies yang berbeda. Hal ini dikarenakan hasil dari perkawinan mereka – seekor bagal – tidaklah subur dan tidak mampu bereproduksi. Sebuah populasi periwinkle dari spesies L littores, yang menghuni garis pantai tertentu sepanjang pesisir maine, dianggap sebagai spesies yang sama dengan periwinkle yang menghuni pantai sepanjang long island sound. Meskipun populasi maine sebenarnya tidak dapat berkembang biak dengan populasi long islang sound, tetapi potensi reproduksi tetap ada; jika populasi maine dibawa ke perairan long island, reproduksi dapat terjadi. Oleh karena itu, kedua populasi ini dianggap sebagai spesies yang sama.

Habitat dan ceruk Akan lebih mudah jika kita membahas populasi dalam hal habitat dan ceruknya. Habitat didefinisikan sebagi sebuah area di mana organisme tertentu sering ditemukan. Sebagai contoh, habitat periwinkle adalah zona intertidal dari garis pantai berbatu. Habitat memberitahukan di mana organisme tersebut tinggal dan sedikit hal lainnya. Ceruk adalah konsep yang jauh lebih bernilai dan dapat didefinisikan sebagi peran fungsional dari sebuah populasi di dalam komunitasnya. Dalam rangka menjelaskan ceruk secara lengkap, segala aspek dari gaya hidup sebuah organisme harus dipertimbangkan. Sebagai contoh, penting untuk memperjelas apa yang dimakan dan memakan organisme tersebut, model reproduksinya, jumlah organisme muda yang diproduksi, tipe substrat yang lebih dipilihnya, tipe substrat yang dapat di toleransi dan sebagainya.

Hubungan intra dan interspesifik Organisme yang terdiri dari populasi yang ada saling berkompetisi dalam dirinya sendiri demi beragam faktor, seperti makanan, tempat tinggal fisik, dan dalam beberapa kasus, pasangan. Hal ini dinamakan kompetisi intraspesifik, karena hal ini terjadi di antara spesies yang sama. Organisme yang berada di dalam populasi yang merupakan pesaing yang lebih baik akan mendapatkan makanan paling banyak, tempat tinggal yang

diinginkan, dst. Organisme superior ini disebut sebagai yang paling layak, dan oleh karena itu mereka ia, dalam kebanyakan, akan mulai berkembang biak lebih cepat dengan individu superior lain, memproduksi lebih banyak keturunan daripada anggota populasi yang kurang layak. Sebagai tambahan, terdapat probabilitas tinggi bahwa sejumlah besar keturunan ini akan menjadi superior dan sehingga memiliki rata – rata daya tahan lebih tinggi daripada keturunan dari perkawinan individu yang kurang layak. Keturunan superior ini juga akan mulai berkembang naik lebih cepat dan akan kawin dengan individu superior yang lain untuk memproduksi keturunan yang superior; dan siklus ini akan berulang – ulang. Oleh karena itu, dalam jangka waktu yang lama, garis keturunan organisme superior akan memiliki keuntungan numerik dan juga fisik dan/ atau psikologis dan akan menyingkirkan individu yang kurang layak dalam populasi. Secara esensial, ini adalah contoh dari seleksi alam Charles Darwin, yang terjadi sebagai hasil dari rata – rata reproduksi diferensial di mana organisme yang paling layak memproduksi sebagian besar garis keturunan, yang paling banyak dari mereka akan bertahan untuk secara penuh mendominasi populasi tersebut. Individu yang lebih lemah akan mati atau jika mampu bergerak, mungkin berpindah ke lokasi lain di mana kompetisi intraspesifiknya kurang kejam. Seluruh proses ini berujung pada perkembangan kontinu populasi. Proses ini cenderung pasif, jarang, jika ada, membuat organisme terlibat dalam pertarungan fisik aktif. Di dalam komunitas, individu dari spesies yang berbeda dapat berkompetisi satu sama lainnya demi makanan, tempat tinggal, dan pada kasus tertentu, area berkembang biak. jika terjadi, kompetisi antara spesies yang berbeda dinamakan kompetisi interspesifik. Ketika spesies berkompetisi secara interspesifik, populasi yang kurang layak akan tersingkir, rata –rata reproduksinya akan jatuh dan spesies yang lebih layak akan berkembang biak dan mendominasi komunitas tersebut. Individual yang termasuk populasi yang kurang layak akan menurun jumlahnya ataupun mati. Jika dapat bergerak, populasi tersebut mungkin pindah ke tempat dengan sedikit kompetisi. Kompetisi intra maupun interspesifik berujung pada organisme yang paling layak menjadi lebih efisien dalam mendapatkan sumber daya alam yang mereka butuhkan dalam menjalankan siklus hidupnya. Jika organisme yang kurang layak mampu menemukan dan berpindah ke area lain, mereka akan dipaksa melakukan strategi

pemangsaan yang berbeda mengadopsi suplai makanan alternatif, dll. Sehingga, organisme superior dapat menjadi lebih terspesialisasi dalam hal makanan, sementara organisme yang kurang layak dapat menjadi lebih serba bisa. Spesialisasi eksesif sebenarnya dapat menjadi kerugian bagi spesies tersebut. Sebagai contoh, spesies burung, alap – alap everglades, telah mengembangkan paruh yang sangat spesial yang membuatnya mampu secara eksklusif memangsa siput yang menghuni everglades di florida. Saat everglades menjadi berkembang , populasi siput turun drastis, berujung pada penurunan dramatis dalam populasi alap – alap sehingga banyak orang khawatir akan punah. Seperti yang diilustrasikan contoh ini, ketika sebuah spesies termodifikasi sebagai respons terhadap faktor alam, adaptasi menguntungkan yang menakjubkan mungkin terjadi. Akan tetapi, manusia sering mengubah kondisi dengan sangat cepat sehingga sebuah spesies tidak mampu mengikutinya. Pada 1932, biologis Argentina tak jelas, angel cabrera, menghubungkan ceruk dengan kompetisi yang sekarang dikenal sebagai prinsip ekslusi kompetitif. Prinsip ini percaya bahwa tidak ada dua spesies yang dapat menempati ceruk yang sama pada waktu yang sama dalam komunitas yang sama tanpa memicu kompetisi. Ketika spesies mulai berkompetisi, salah satu dari tiga hal harus terjadi; kompetitor yang lebih lemah dipaksa keluar komunitas, menjadi mati atau salah satu dari dua spesies yang berkompetisi mampu memodifikasi gaya hidupnya sampai pada derajat yang cukup untuk menghindari kompetisi. Jika yang terakhir terjadi, masing – masing spesies atau yang lebih lemah, akan memakai ceruk yang lebih terbatas. Sebagai contoh, kompetisi dapat memaksa spesies yang lebih lemah untuk hanya mengonsumsi satu spesies mangsa. Sementara dalam ketiadaan kompetisi beragam spesies mangsa yang berbeda mungkin telah dikonsumsi. Dalam sebagian besar komunitas penyusutan ceruk secara umum adalah hasil akhir kompetisi interspesifik. Sepertinya, hanya kompetitor yang paling lemah yang mati atau tersingkir dari area tersebut. Akan tetapi, kompetitor superior akan memiliki rata – rata reproduksi yang lebih tinggi dan mendominasi komunitas tersebut. Prinsip ekslusi interpsesifik sering disebut sebagai prinsip Gause, diambil dari nama GF Gause, yang membuta korelasi secara independen tetapi setelah carbera. Karya Gause lebih tersebar luas dan menjadi lebih dikenal. Akan tetapi cabrera tidak hanya

mendahului Gause tetapi juga menyatakan prinsip tersebut dengan lebih jelas dan ringkas. Ketika kompetisi interspesifik seringnya mengarah pada penyusustan ceruk dalam populasi yang kurang layak, sebaliknya kompetisi intraspesifik, dengan menaikkan rata – rata reproduksi di antara individu yang lebih layak dalam sebuah populasi, sering menyebabkan populasi tesebut memperluas lingkupnya. Awal dari ekspansi lingkup dapat diamati dengan baik ketika sedikit individu pindah ke area yang belum pernah ditempati sebelumnya yang mengandung semua sumber daya alam yang dibutuhkan spesies tersebut. Jika terjadi populasi secara awal akan mulai meningkat dari angka rendah saat individu membiasakan diri mereka dengan sekitarnya. Setelah periode ini, rata – rata pertumbuhan populasi akan meningkat secara dramatis dan kemudian akhirnya berlevel stabil gbr 13.2. Jika rata – rata kelahiran dan kematian, masing – masing disebut sebagai natalitas dan mortalitas, tetap sama sepanjang masa, hal ini mengikuti bahwa beberapa individu harus meninggalkan area tersebut. Migrasi pada populasi yang bergerak umumnya terjadi sebagai hasil dari kompetisi intrasepesifik. Hewan muda dan tua umumnya merupakan kompetitor yang lebih lemah dan dipaksa bergerak menuju area lain dalam mencari makanan dan kebutuhan yang lain. Ketika hal ini terjadi, populasi tersebut telah memperluas jangkauannya gbr 13.3 Ekspansi jangkauan akan berlanjut sampai terhenti oleh penghalang biotik dan biotik. Sebagai contoh, siput periwinkle membutuhkan substrat berbatuan; suplai makanannya, beragam spesies alga, ditemukan menempel pada batuan. Sehingga, periwinkle hanya bisa memperluas jangkauannya sepanjang garis pantai berbatu, karena suplai makanannya terbatas pada daerah ini saja. Jika periwnkle berniat berkoloni di garis pantai berlumpur dan mengonsumsi suplai makanan lain, periwinkle akan berkompetisi interspesifik dengan siput lumpur. Spesies ini, sebagai hasil dari kompetisi intraspesifik kontinu-nya sendiri, telah beradaptasi dengan baik terhadap area berlumpur ini dan akan, sepertinya, dengan mudah menyingkirkan periwinkle. Dalam banyak kasus, sebuah populasi yang menjalani ekspansi jangkauan akan memasuki area yang cocok tetapi telah dihuni oleh spesies lain dengan kebutuhan ceruk

yang sama. Jika hal ini terjadi, maka kompetisi interspesifik akan muncul dan spesies yang lebih lemah akan dipaksa menyusutkan jangkauan ataupun ceruknya. Adalah penting untuk memperhatikan bahwa penyusutan ceruk membuat spesies yang lebih lemah mampu bertahan dalam area yang sama. Penyusutan jangkauan, sebaliknya, terjadi ketika sebuah organisme dipaksa dari sebuah area oleh kompetisi interspesifik. Secara umum, ekspansi jangkauan adalah hasil dari kompetisi intraspesifik, sementara kompetisi interspesifik mengarah pada penyusutan jangkauan ataupun ceruknya. Penghalang biotik terhadap ekspansi jangkauan, ketiadaan suplai makanan yang mencukupi atau kehadiran spesies lain yang memperluas populasi yang mungkin berkompetisi dengannya. Penghalang biotik yang paling umum bagai ekspansi jangkauan adalah tipe substrat, jangkauan pasang surut, temperatur dan salinitas. Dari beberapa ini, substrat, jangkauan pasang surut dan salinitas adalah penting secara lokal, sementara temperatur membatasi jangkauan organisme dalam area geografis yang luas. Efek temperatur juga penting secara lokal di area muara, dan juga dalam zona intertidal. Faktor abiotik Temperatur Efek geografi skala luas temperatur pada distribusi biologis sangatlah tegas sepanjang pesisir timur Amerika serikat. Ini adalah bukti dalam keaneka ragaman biologis yang banyak area tersebut. Samudra atlantik sedang antara nova scotia dan cape hatteras, carolina utara gbr 13.4, meliputi hanya 9’ latitude, tetapi memiliki komponen biotik dari atlantik kutub maupun tropis. Keragaman yang luas dalam bentuk kehidupan dikarenakan jalur Gulf Stream bab 10, yang bergerak sebagai aliran pesisir sepanjang pantai florida, Georgia, carolina utara dan bagian selatan carolina utara. Di cape hatteras Gulf stream bergerak ke laut dan terus menuju utara sebagai aliran lepas pantai. Sebagai hasilnya perairan pantai selatan cape hatteras menjadi hangat dan menunjukkan lingkup temperatur hanya 10’ C18; F antara panasnya musim panas dan dinginnya musim dingin. Perairan pantai dari cape hatteras sampai cape god, massachusetts, sebaliknya, mengalami fluktuasi temperatur yang lebar dan beragam sebesar 20 C 36 F pertahunnya. Perairan pantai utara cape god bergerak menuju selatan dari laut utara yang lebih dingin. Perairan dari nova scotia sampai cape god biasanya dingin, tetapi seperti imbangannya di cape hatteras, menunjukkan jangkauan temperatur yang sempit 10 C.

Masa air menunjukkan jangkauan temperatur yang kecil disebut sebagai stabil secara termal; sedangkan yang memiliki variasi temperatur lebar disebut tak stabil secara termal. Sehingga, dapat dikatakan bahwa perairan dari cape hattteras sampai cape god tak stabil secara termal dan berlokasi antar dua masa air stabil secara termal, satu dingin dan tang lainnya hangat. Daerah temperatur yang berbeda ini memiliki implikasi biotik penting dan menyebabkan perairan cape god dan cape hatteras berlaku sebagai penghalang termal yang mencegah ekspansi jangkauan permanen spesies selatan menuju utara dan spesies selatan menuju utara. Sebagai contoh, di musim dingin perairan dari cape god sampai cape hatteras menjadi dingin sapai pada derajat diaman spesies utara, seperti ikan cod, mampu bermigrasi ke selatan. Plankton utara juga terbawa ke selatan oleh aliran air dingin, tetapi migrasi mereka pasif. Ketik air menjadi hangat pada akhir musim semi, ikan cod bergeak lagi ke utara; planktonnya, karena tidak mampu bertahan di air yang lebih hangat, akan mati. Hal yang sebaliknya terjadi di musim dingin ketika air hangat menembus ke utara cape hatteras. Spesies air hangat mampu bermigrasi ke utara sejauh cape god. Penngahalang termal air dingin secara umum mencegah migrasi lebih jauh ke utara, meskipun kadang – kadang beberapa spesies selatan ditemukan di teluk maine. Ketika perairannya mendingin di musim gugur, ikan tersebut akan bergerak ke selatan, sementara planktonnya, beradaptasi dengan air hangat akan mati. Karena perubahan temperatur musiman di cape hatteras dan cape god mencegah ekspansi jangkaun permanen dari spesies utara dan selatan, cape ini dianggap sebagai titik perubahan biogeografis. akan tetapi, Perbatasan biogeografis ini tidaklah absolut; tetapi lebih berlaku sebagai filter selektif. Sebagi contoh propinsi Virginia bab 10 memiliki beberapa spesies asli tetapi paling utama terdiri dari komponen yang lebih berasa dari utara dan selatan. Propinsi ini dikatakan menjadi miskin, yang berarti bahwa hanya terdapat sedikit penghuni dari selatan dan utara di dalamnya. Pada kenyataannya propinsi Virginia adalah area transisional antara propinsi carolina yang lebih stabil secara termal dengan daerah selatan dan yang lebih utara atau boreal. Pada skala yang lebih lokal, efek temperatur adalah faktor biotik penting di area muara dan, masih pada skala yang lebih kecil, di zona intertidal. Muara terdiri dari volume air

yang lebih sedikit daripada laut lepas pantaui terdekat. Karena volume yang lebih kecil air menghangat dan mendingin lebih cepat sebagai respons terhadap temperatur atmosferik, temperatur air muara beragam menurut musimnya. Jangkauan temperatur ini diubah oleh input air tawar dari sungai, arus dan pengikisan permukaan. Karena temperatur sistem air tawar ini mendekati temperatur atmosferik, mereka membawa air dingin ke muara di musim dingin dan air hangat di musim panas. Hal ini memperkuat perbedaan temperatur antar perairan muara dan laut pesisir. Lebih – lebih sungai, arus dst. Masuk sepanjang sisi menuju daratan muara, sementara air yang lebih asin masuk melewati jalan masuk dan mengadilkan jangkauan temperatur rendah di porsi menuju laut muara dan jangkauan temperatur luas menuju porsi daratan. Dikarenakan air tawar kurang padat daripada aiar laut maupun air muara, maka ia cenderung melapisi di permukaan. Stratifikasi tipe ini bertanggung jawab terhadap distribusi vertikal temperatur di beberapa muara. Semua faktor ini menyebabkan muara menjadi lebih hangat di musim panas dan lebih dingin di musim dingin daripada perairan pesisir terdekat. Temperatur juga memainkan peranan penting dalam zona intertdal. Area ini secara periodik tertutupi oleh air pada saat pasang dan terekspos ke atmosfer selama air surut. Karena udara memiliki jangkauan temperatur harian dan tahunan yang lebih luas daripada air dengan pana latennya bab 6 organisme intertidal terekspos terhadap variasi temperatur yang luas. Bahwasanya jangkauan temperatur udara sering melewati batasan lethal bagi organisme kelautan. Jika organisme intertidal terekspos pas saat air surut, ketika temperatur udara pada batas maksimum atau minimumnya, batasan lethal mungkin terlampaui dan organisme tersebut akan mati. Bahkan jika batasan lethal tidak tercapai, temperatur udara mungkin menjadi rendah atau tinggi sehingga melemahkan organisme tersebut dan mereka akan mati karena penyebab lainnya, seperti kurangnya suplai makanan dst. Salinitas kadar garam Variasi salinitas juga memiliki efek mendalam pada distribusi tanaman dan hewan, khususnya di muara dan zona intertidal. Klasifikasi muara berdasarkan pada pola salinitas dan efek variasi salinitas pada distribusi organisme muara dibahas pada bab 11. sebagai tambahan terhadap efek yang relatif berskala besar, jangkauan tidal, efek coriolis dan hujan musiman dan daerah temperatur juga mempengaruhi pola salinitas muara.

Di muatra yang memiliki jangkau tidal yang luas, air laut akan terbawa jauh ke dalam muara pada saat air pasang, sementara pada air surut, air tawar subpermukaan dapat menembus jarak yang lumayan menuju laut. Dalam kasus ini, daerah tertentu muara akan memiliki daerah salinitas yang temperatur dengan peruangan pasang – surut dari salinitas tinggi sampai hampir air tawar. Dalam area seperti fluktuasi salinitas maksimum ini, salinitas berkisar lebih dari enam sampai duabelas periode tidal dapat melampaui kisaran salinitas tahunan bagi seluruh muara. Populasi hewan bergerak mungkin terdiri dari spesies air tawar selama air surut dan spesies laut selam air pasang. Organisme sessiel, jika ada, pastinya adalah euryhaline bab 11. Efek coriolis adalah pembiasan perairan yang bergerak karena rotasi bumi. Hal ini akan diingat bahwa perairan ini terbiaskan ke sebelah kanannya di hemisphere selatan dan ke kirinya di hemisphere utara. Di hemispheree utara ketika air asin menuju ke dalam muara, ia dibiaskan ke kanan; air tawar yang bergerak menuju laut juga dibiaskan ke kanan – sepanjang garis pantai yang berlawanan gbr 13.5. bagi para pengamat yang menghadap muara air laut akan dibiaskan ke kanan mereka dan air tawar dibiaskan ke kiri mereka. Sebagai hasil dari efek coriolis, terdapat dua titik pada garis pantai berlawanan dari muara yang akan memilik salinitas yang berbeda gbr 13.6. area ini mungkin ditandai dengan populasi hewan dan tanaman yang berbeda juga. Di hemisphere selatan pembiasan air asin dan tawar akan terbalik gbr 13.7, seperti titik – itik salinitas tinggi dan rendah sepanjang garis pantai berlawanan – air laut yang datang akan dibiaskan ke sebelah kiri pengamat. Perubahan musiman dalam salinitas muara secara umum dikorelasikan dengan perubahan musiman dalam temperatur dan/ atau aliran sungai. Dalam zona sedang temperatur musim panas yang lebih hangat mengarahkan pada rata – rata penguapan yang lebih tinggi dan oleh karena itu salinitas muara yang lebih tinggi di musim panas. Yang sama di area di mana aliran sungai dan pengikisan permukaan berubah musiman karena pola precipiasi, salinitas muara akan meningkat selama periode kering dan menurun selama periode hujan deras. Variasi salinitas juga mempengaruhi distribusi organisme penggali. Sedimen zona subtidal dan intertidal dari garis pantai tak berkonsolidasi paling sering terdiri dari lumpur dan/ atau pasir. Air yang diketahui sebagai air interstitial menjenuhkan ruang,

atau celah di antara sedimen – sedimen ini. Yang sama, organisme penggali yang menghuni ruang interstitial ini dianggap sebagai organisme interstitial. Air interstitial berasal dari pelapisan air laut yang secara permanen menutupi sedimen subtidal atau bahwa banjir periodik zona intertidal pada saat air pasang. Karena air yang lebih asin secara umum lebih padat daripada air dengan salinitas rendah, air yangpaling asin akan ditemukan secara cepat di bawah dasar. Adalah air asin ini yang merembes menjadi sedimen dan membentuk air interstitial. Sebagai hasilnya organisme penggali dasar dari zona subtidal dan intertidal akan tetap terekspos pada air asin gbr 13.8. Akan tetapi terdapat dua pengecualian; muara yang didominasi tidal dan yang merupakan area sub dan intertidal yang menerima masukan air tanah signifikan. Seperti yang dibahas sebelumnya muara yang didominasi tidal menunjukkan fluktuasi salinitas maksimum, menyebabkan variasi luas dalam salinitas air interstitial. Sepanjang banyak air tanah garis pantai, terbentuk oleh air hujan yang merembes ke dalam sedimen terestrial, bergerak horizontal dan menyilang permukaan bumi pada zona intertidal dan subtidal. Jika hal ini terjadi air tanah yang kurang padat akan naik ke atas air interstitial asin yang lebih padat. Organisme penggali mungkin akan terekspos pada aliran kontinu air tanah yang naik. Reduksi salinitas ini pada air interstitial mungkin pas untuk menghilangkan organisme penggali dasar di area sepeti itu gbr 13.9. Di dalam porsi yang lebih atas, sedimen intertidal dibanjiri hanya pada saat air pasang, ketika air pantai yang lebih asin terbawa naik menuju porsi daratan pada saat air pasang. Sebaliknya lebih banyak porsi menuju laut dari zona intertidal yang tertutup oleh air dengan salinitas yang lebih rendah, dikarenakan naiknya jumlah air sungai yang mengalir ke muara pada saat air surut. Sebagai hasilnya salinitas interstitialnya lebih tinggi pada horizon air surut, yang sering membuat organisme laut intersttial menembus jauh lebih ke atas pada saat horizon air pasang daripada yang terjadi saat horizon air surut. Salinitas air interstitial juga memainkan peranan penting dalam distribusi organisme penggali intertidal pada pantai penghalang. Pantai – pantai ini berkembang pada sisi menuju laut dari muara, secara umum jauh dari input air tawar sungai. Karena jarang terekspos atmosfer dan tertutup oleh air laut, dapat diduga bahwa organisme yang hidup di pantai – pantai ini adalah stenohaline bab 11 dan mampu bertahan hanya pada air yang lumayan asin saja. Agaknya organisme ini, khususnya yang tinggal di atau menjorok ke

permukaan sedimen, adalah euryhaline dan dapat dengan sukses tahan akan variasi salinitas air 15 0/00. meskipun organisme ini terekspos pada air yang lumayan asin pada saat air pasang, ia juga terkena air tawar pada periode hujan kedua air surut. Karena air tawar kurang padat dibanding dengan air laut interstitial, air tawar tidak akan tenggelam di bawah air laut interstitial. Sebagai hasilnya hanya sedimen dekat dengan permukaan yang mengandung air interstitial yang benar – benar tawar atau berkurang besar salinitasnya. Di bawah pertemuan air laut – air tawar, salinitas air interstitial tetap sama seperti air yang melapisi sedimen selama air pasang. Karena perbedaan dalam salinitas air interstitial ini, organisme euryhalin ditemukan pada permukaan dan dalam sedimen terdekat dengan permukaan pantai penghalang intertidal, sementara organisme stenohaline ditemukan dalam sedimen yang lebih dalam. Tidal pasang surut Terdapat tiga efek tidal utama yang dialami oleh hewan dan tanaman yang hidup di zona intertidal; durasi tidal, hari di mana tidal tertentu terjadi, dan periodisitas ritmis tidal. Durasi tidal menurut; jumlah waktu dimana organisme intertidal akan terekspos pada atmosfer. Sebagai contoh hewan dari horizon air surut mengalami waktu ekspos yang sangat berbeda daripada yag dialami hewan horizon air pasang. periode waktu di mana organisme ini terekspos yang mereka mudah terpengaruh terhadap kekeringan dan atmospherik lethal. Semakin lama periode ekspos, semakin besar probabilitas organisme tersebut menjadi kekeringan atau mengalami temperatur tinggi atau rendah yang mematikan. Naiknya ekspos waktu mungkin juga melemahkan organisme ini sampai pada derajat dimana ia akan mati karena penyebab lain. Sebagai tambahan sebagian besar organisme laut sessile hanya dapat makan ketika mereka tergenang air. Sebagai hasilnya hewan sessile dari horizon air surut memiliki kesempatan makan lebih besar, jika dibandingkan dengan yang berada di horizon air pasang. Hal ini umum tercermin dari ukuran distribusi populasi yang hidup seluruh zona intertidal. Organisme yang menghuni horizon air surut secara umum lebih besar daripada reknnya yang berada di horizon air pasang. Fenomena ini umum diamati pada populasi berangas; yang berada di horizon air surut lebih besar daripada yang berada di horizon air pasang. Hari dimana terjadinya tidal tertentu juga penting, ketika dianggap berhubungan dengan kemungkinan bahwa organisme mengalami temperatur yang mematikan. Terdapat

probabilitas yang lebih tinggi bahwa organisme intertida tropis mengalami temperatur atmosfer yang secara mematikan tinggi jika air surut terjadi pada siang hari daripada jika terjadi pada tengah malam. Hal yang sebaliknya akan terjadi pada daerah kutub, dimana akan terdapat kemungkinan yang lebih besar jika sebuah organisme akan mengalami temperatur rendah yang memetikan jika terekspos pada tegah malam daripada siang hari. Dalam daerah dingin sedang, temperatur mematikan kebanyakan terjadi ketika organisme tersebut terekspos selama siang di musim panas dan malam hari di musim dingin. Selama musim tersebut, temperatur tinggi dan rendah yang mematikan sepertinya sering terjadi. Pada akhirnya, kemampuan prediksi siklus tidal nampak memiliki ritme biologis terinduksi pada banyak organisme laut. Seperti yang telah dicatat banyak hewan intertidal sessile mampu makan hanya pada saat mereka tergenang di air. Lebih – lebih banyak dari organisme ini, kalau tidak semua, hidup di zona intertidal menjadi diam ketika terekspos ke udara dan kembali ke aktivitas normal hanya ketika habitatnya tergenangi. Lebih jauh beberapa hewan seperti grunion, ikan yang hidup di perairan pesisir samudra pasifik, mengukur waktu bertelurnya berbarengan dengan tidal musim panas dan semi bab 4. Substrat landasan Mungkin tidak ada faktor abiotik lainnya yang memainkan peranan jelas dalam mengontrol distribusi organisme laut seperti yang dilakukan sedimen. Dalam menggambarkan habitat, semua sedimen dapat dibagi menjadi tipe sendimen berkonsolidasi dan tak terkonsolodasi. Habitat yang terdiri dari substrat terkonslidasi termasuk garis pantai bergletser seperti nova scotia di mana lapisan batuan dasar telah terekspos dan karena laut pada zona intertidal, sama seperti garis pantai berbatu di maine. Pada area seperti itu sedimen yang baik , berkisar dari pasir kasar sampai endapan umumnya terbawa ke perairan yang lebih dalam dan menutupi lapisan batuan lepas pantai. Dermaga batu, pelindung pantai dan pemecah ombak bab 12 adalah contoh habitat berkonsolidasi buatan, karya manusia. Karena strukturnya dibangun untuk menstabilkan garis pantai tak terjkonsoliasi, mereka mampu mempuat organisme mendapatkan subtrat berkonsolidasi untuk berpopulasi di garis pantai dimana biasanya tidak akan terjadi secara normal. Substrat tak berkonsolidasi biasanya ditemukan sepanjang garis pesisir nongletser. Substrat ini terdiri dari material yang dipindahkan oleh ombak dan aliran normal yang

terjadi di area yang ada. Sehingga, sedimen yang berkisar dari batu kali sampai lempung dan endapan mencakup substrat tak berkonsolidasi. Sedimen memainkan peranan penting dalam distribusi biotik sehingga komunitas sering terdisain oleh tipe sedimen dominan yang ada. Interaksi substrat – komunitas Ahli ekologi sering menggambarkan dan mendeskripsikan komunitas dengan menamainya dari faktor biotik dan biotiknya yang paling jelas. Dengan menggunakan metode ini, juga memungkinkan untuk menduga tipe organisme yang mungkin hadir dalam komunitas yang ada. Sebagai contoh, dataran berlumpur dibelakang tepi baymouth sering menjadi fitur yang sangat jelas. Area ini dapat disebut sebagai komunitas dalarn lumpur, menamakannya karena fitur abiotik yang paling terbukti. Nama komunitas daratan lumpur mengindikasikan bahwa sedimennya sangat baik dan bahwa organsime seperti berangas, yang menempekan diri pada substrat, tidak mungkin ada. Agaknya hewan penggali yang memungkinkan menjadi penghuninya, bersama dengan siput lumpur. Hal yang sama, garis pantai berbatu adalah fitur yang umum dan jelas sepanjang pesisir yang tersapu ombak dengan aliran yang kuat. Di area seperti ini ombak dan aliran pemecah menghilangkan pasir yang baik, lempung dan endapan. Garis pantai berbatu mengindikasikan sebuah area dimana sejumlah besar energi ombak dilepaskan; area ini sering disebut sebagai komunitas pantai-berbatu. Komunitas pantai berbatu terdiri dari organisme yang beradaptasi dengan menempel pada batuan dengan maksud mencegah agar tidak tersapu ombak. Berangas, bintang laut, periwinkle dan ganggang laut yang menempel kuat adalah populasi yang umum pada komunitas pantai berbatu. Komunitas ini juga dinamakan dari fitur yang paling mencolok, substrat abiotik. Ujung tepi bay-mouth adalah area dimana aliran pantai panjang mengendapkan sejumlah banyak pasir kasar ketika menuju teluk. Area seperti ini memiliki rata – rata sedimen tinggi dan organisme yang hidup pada dasarnya terancam terkubur. Organisme yang hidup di komunitas pantai pasir ini harus mampu dengan cepat menggali menembus substrat agar bertahan dengan sedimentasi yang cepat. Populasi khas yang ditemukan pada komunitas pantai pasir adalah kerang cangkang halus dan cacing pita.

Seperti yang ditulis di bab 10, komunitas daratan lumpur mungkin dengan cepat diinvasi oleh vegetasi yang mampu bertahan pada zona intertidal. Ketik daratan lumpur mencapai ketinggian tertentu, vegetasi ini berpindah dan mengaburkan daratan lumpur. Ketika hal ini terjadi fitur yang paling jelas adalah vegetasi tersebut, dalam zona sedang, hal ini adalah rumput payau, dan kalau di daerah tropis adalah bakau. Oleh karena itu, dalam zona sedang adalah umum untuk mendapatkan komunitas payau , sedangkan di zona tropis adalah komunitas bakau yang berkembang. Komunitas ini dinamakan berdasarkan himpunan biotik yang paling jelas, vegetasi. Pada banyak kasus garis pantai berbatu memberikan titik penempelan bagi remis biru ataupun barangas. Seringnya hewan ini tumbuh dengan sangat padat pada batuan sehingga mereka menjadi fitur yang paling jelas. Komunitas seperti ini akan dinamakan komunitas remis biru atau barangas, karena hewan inilah yang menjadi fitur yang paling jelas. Seringnya kesuksesan sebuah populasi dalam area yang ada menyebabkan perubahan tajam pada tipe substrat. Sebagai contoh, ketika remis biru pindah ke substrat berbatu agak curam, ia seringnya berkembang dengan baik dan menutupi batuan tersebut. Cangkang remis yang telah ada sebelumnya kemudian berfungsi sebagai substrat bagi remis lain, dan kemudian remis diatas remis di atas remis akan menyebabkan air yang membawa sedimen baik untuk melambat pada derajat tertentu sehingga sedimen ini terendap dan menutupi populasi remis. Garis pesisir berbatu, dalam kasus ini, telah berubah menjadi daratan lumpur, dan komunitasnya seringnya akan diinvasi oleh vegetasi dan menjadi komunitas payau. Ini adalah contoh yang sempurna dari lingkungan abiotik yang membimbing komponen biotik tertentu, yang kemudian mengubah area tersebut menjadi tipe substrat yang berbeda yang, pada waktunya membawa komunitas yang benar – benar berbeda. Karena substrat menentukan tipe organisme yang akan muncul di sepanjang garis pesisir yang ada, sering nyaman untuk membagi area ini berdasarkan tipe substrat. Pada dasarnya, terdapat hanya dua tipe substrat; berkonsolidasi dan tak berkonsolidasi. Seperti yang telah dicatat, garis pesisir berkonsolidasi dapat terdiri dari batuan dasar, batubesar atau batuan – materi yang tidak berpindah karena ombak dan aliran normal. Garis pesisir tak berkonsolidasi terdiri dari beragam pasir, juga lempung dan endapan. Pantai yang

terdiri dai batuan kali adalah kasus uni, karena ia memberikan titik penempelan bagi organisme khas pesisir berbatu tetapi sering berpindah karena ombak dan aliran normal seperti substrat berpasir dan berlumpur. Pantai berbatu Fitur yang paling jelas dari garis pantai berbatu adalah zonasi beragam populasi hewan dan tanaman. Hal ini dikarenakan distribusi populasi tertentu dalam horizon air pasang, tengah dan surut. Horizon air pasang adalah sebuah area dengan kondisi yang sangat penuh stres. Ia terekspos atmosfer dalang periode waktu yang lama, menyebabkan temperatur pada zona ini fluktuatif secara luas. Sebagai tambahan nutrisi tanaman larut jarang ada dan hanya tersedia ketika area ini tergenangi selama air pasang. Dikarenakan kondisi yang payah ini, horizon air pasang jarang dihuni. Memproduksi utama dalam area ini adalah beragam spesies alga hijau dan biru-hijau dan sejenis lumut berwarna kehitam – hitaman. Lumut berasosiasi dengan jamur dan alga bersel satu. Jamur memberikan titik pelekatan bagi alga, sementara alga, lewat fotosintesis memproduksi nutrisi bagi jamur. Dengan cara seperti ini kedua organisme memberikan keuntungan dari hubungannya, yang disebut berbagai simbiosis. Populasi plankton bersifat sementara dan ada hanya ketika zona tersebut tertutup air. Pemakan tanaman yang dominan, hanya memakan alga dan lumut adalah periwnkle dan limper. Tepat di bawah alga adalah menonjol dihuni oleh berangas. Karena area ini adalah pemakan berfilter, mereka mampu makan hanya ketika air pasang terjadi dan plankton muncul. Ketika sebuah area terekspos ke atmospher, berangar akan mengunci dirinya di dalam tempurungku dalam cangkang mereka dan melindungi mereka dari kekeringan. Horizon tengah lebih sering tertutup air, temperaturnya karang bervariasi dan nutrisinya lebih banyak. Sebagai hasilnya area ini berpopulasi lebih padat daripada horizon air pasang. Pertumbuhan padat alga makroskopis hijau, merah dan cokelat terdapat di sini dan memberikan makanan bagi pemakan tanaman, yang terdiri populasi remis. Limpet dan chiton. Hewan dominan dari horizon air tengah adalah remis, pemakan berfilter. Hewan ini menempel pada substrat dengan benang byssal elastis karena benang ini elastis, membuat mereka mampu menyimpan airnya ke dalam derajat yang terbatas di dalam kolom,

membuat kita mampu pada level yang berbeda Membuatnya harus yang memberi remis keuntungan kompetitif selama tiga generasi. Seperti berangas yang menempel pada substrat dan tidak dapat mengubah posisinya remis dapat mengubah posisinya dan serinya terlalu banyak tumbuh dan menyingkirkan berangas yang tidak bergerak, karena remis secara ekstensif di mangsa oleh bintang laut, yang juga hadir di substrat beratu. Sebagai tambahan remis dalam zona sedang sering menderita mortalitas tinggi selama musim dingin ketika mereka terlepas dari substrat karena es laut. Semakin kencang berangas tertempel, sepertinya ia tidak menderita mortalitas yang tinggi seperti itu. Secara jelas faktor biotik maupun abiotik berfungsi membatasi populasi remis dalam horizon air tengah. Horizon air surut sering tertutup oleh tidal, dengan akibat bahwa nutrisi tanaman, nitrat dan phosphat seecara konsisten selalu tersedia. Akibatnya terdapat populasi alga mikroskopik hijau merah dan cokelat yang tinggi dalam area ini. Lebih – lebih karena horizon air surut sering tergenang air laut, plankton umumnya tersedia disini. Sehingga makanan bagi pemakan tanaman melimpah dan jumlah hewan ini juga predator populasinya, sering tinggi. Karena melimpahnya makanan dan stabilitas temperatur dan daerah salinitas, bukan faktor biotik maupun abiotik yang sepertinya membatasi populasi dari organisme horizon air surut. Lebih jauh, kompetisi interspesifik, aman sebagai tempat tinggal, secara umum tidak signifikan; sehingga tak satu spesiespun yang mendominasi horizon air surut. Akan tetapi, seperti pada horizon air tengah, pemangsaan akan menjadi faktor utama dalam membatasi jumlah beberapa spesies. Secara umum, faktor biotik berfungsi membatasi kesuksesan populasi dalam horizon air surut, sementara faktor abiotik, utamanya salinitas dan variasi temperatur, bersifat penting dalam Horison air surut. Kombinasi dari kedua faktor biotik daun abiotik mempengaruhi populasi dalam horizon air tengah. Kolam tidal adalah tipe khusus dari habitat yang sering ditemukan pada substrat berbatu. Meskipun dapat ditemukan dalam zona intertidal manapun, yang ditemukan di horizon air surut adalah yang paling sering digenangi. Sebagai hasilnya biotanya mirip, jika tidak identik, dengan tanaman daun hewan sekitar horizon air surut. Kolam tidak dari horizon air pasang dan tengah, sebaliknya tidak sering digenangi, sehingga terekspos terhadap udara dalam periode yang lebih lama. Eksposur ini mengarah pada daerah dan hasil

abiotik yang sangat berbeda dalam biota yang mengalami level temperatur, salinitas dan oksigen yang berfluktuasi secara luas. Sedikit volume air dalam kolam tidal dan ketika tidal hilang, air ini menghangat dan mendingin jauh lebih cepat daripada laut sekitar. Pada musimpanas, air dalam kolam tidal mungkin mencapai temperatur tinggi mematikan, sementara pada musin dingin bisa jatuh ke temperatur rendah yang mematikan – atau bahkan benar – benar membeku. Ketika tidal datang, kolam tidal dibanjiri dengan air laut dari temperatur yang sangat berbeda – pada musim panas dengan air yang lebih dingin dan pada musim dingin dengan air yang lebih hangat. Dalam rangka untuk bertahan kolam tidal harus mampu tahan variasi temperatur luas maupun perubahan temperatur yang cepat. Situasi yang mirip terjadi dalam hal salinitas. Karena terekspos, kolam tidal mencapai temperatur tinggi di musim panas, penguapan terjadi. Seperti yang dibahas di bab 7, hanya air yang menguap, meninggalkan garam larut ke dalam solusi, keadaan yang dapat menaikkan salinitas dengan drastis. Di musim dingin es mungkin terbentuk di kolam penampungan. Hal ini juga menaikkan salinitas, karena zat padat larut tidak termasuk dalam kristal es. Ketika air naik, air laut dari salinitas dibawa menuju kolam. Tidal yang terekspos mungkin juga mengalami penurunan besar salinitas selama periode hujan, sehingga dapat meningkatkan salinitas secara cepat ketika kolam tidal tergenangi air pasang. Sehingga biota alam tidal haru mampu bertahan fluktuasi dan salinitas besar dan cepat. Level oksigen juga beragam pada kolam tidal. Level oksigen larut bergantung pada temperatur, bab 7, dan ketika temperatur air naik peningkatan serempak dalam gerakan molekul akan mengganggu kekuatan intermolekular yang menjaga oksigen tetap dalam larutan. Karena alasan ini ketika temperatur alam tidal meningkat, level oksigen menurun. Hal ini berujung pada pengurasan oksigen parah selama musim panas. Kolam tidal mengandung populasi besar tanaman yang secara menakjubkan lemah terhadap kekurangan oksigen berani menghadapi malam – malam musim dingin yang hangat. Meskipun tanaman melakukan fotosintesis dan meproduksi oksigen, fotosintesis terjadi hanya selama siang hari. Pada malam hari tanaman tidak mampu melaksanakan fotosintesis, tetapi mereka menghirup oksigen bersama – sama alam ketiadaan

fotosintesis., seringnya benar – benar mengurangi kolam air pasang kolam tidal oksigen larut. Ketika air pasang,kolam air tersebut sekali lagi digenangi air laut kaya oksigen. Meskipun kolam tidal di horizon tengah dan pasang menyimpan air dan melindungi biota dari kekeringan, mereka mengalami kondisi parah yang lain. Sebagai hasilnya, hanya organisme yang mampu bertahan dalam kondisi ini ditemukan dalam kolam tidal; alga hijau, anemon, landak laut, barangas, kerang laut besar, dst. Pantai berpasir Garis pantai berpasir menawarkam kontras yang jelas dengan pantai berbatuan. Alam area ini substrat tidaklah tetap, tetapi mudah pindah oleh ombak dan aliran. Hal ini menciptakan lingkungan yang terus berganti yang menawarkan beberapa titik penempelan bagi populasi hewan dan tanaman yang merupakan karakteristik garis pantai berbatuan. Sebagai akibat dari substrat yang konstan berganti, organisme penggali adalah penghuni pantai berpasir; permukaan sedimen sering nampak sebagai dan seringnya memang, kosong akan kehidupan. Faktor abiotiks utama yang mengontrol distribusi tanaman dan hewan pada garis pantai berpasir adalah ukuran sedimennya. Ukuran sedimen secara langsung mempengaruhi jumlah air interstitial yang tersimpan oleh sedimen. Pasir yang baik, dengan jalan yang banyak dan berliku – liku, mampu menyimpan sejumlah besar air interstitial. Sebagai akibatnya sub permukaan sedimen jarang kekeringan, bahkan jika terletak di horizon air pasang. Sedimen kasar, sebaliknya, benar – benar kering dan sedimen sub permukaannya cenderung cepat kering sebentar setelah air surut. Akibatnya organisme penggalinya yang menghuni substrat yang terdiri dari pasir baik jarang lemak terhadap kekeringan. Lebih jauh sedimen lapisan memberikan banyak sekat; oleh karena itu; perairan interstitial yang mengelilingi organisme ini jarang mencapai temperatur rendah dan tinggi yang mematikan. Meskipun substratnya secara konstan berganti pada pantai berpasir, organisme yang menghuni area ini terekspos pada kondisi yang kurang keras daripada yang berada di garis pantai berbatuan. Karena substratnya terus menerus berganti, organisme penggalinya telah mengembangkan satu dari dua adaptasi utama yang membuat mereka bisa bertahan di bawah kondisi seperti ini. Organisme seperti kerang pismo dab siput “zaitun” pesisir pasifik menggali dengan sangat dalam di substrat sehingga mereka jarang terpengaruh

oleh substrat yang berganti sebagai respons terhadap kegiatan ombak dan aliran normal. Organisme ini juga mengembangkan cangkang yang sangat berat yang membantu menanamkan mereka dalam substrat. Organisme lain yang hidup dekat dengan permukaan dan mampir secara kontinu terekspos ketika ombak dan aliran mengikis lapisan substrat. Sebagai akibatnya organisme ini mampu dengan cepat menguburkan diri mereka kembali.kerang razor dari pesisir timur dan kerang donax dari pesisir Gulf adalah contoh penggali cepat pantai berpasir. Karena alga makroskopis dari garis pantai berbatu tidak ada di substrat berpasir, maka populasi pemakan tanaman yang signifikan juga tidak ada. Organisme yang menghuni pantai berpasir adalah detritus ataupun pemangsa sementara bab 8. sedikit hewan penghuni permukaan melakukan gaya hidup pemulung, memangsa detritus – partikel baik ringan tanaman dan hewan yang terbawa ke pantai oleh ombak.. kerang razor, kerang surf dan donax adalah semua pemangsa sementara dan plankton filter dari air selama air pasang. Komunitas pantai pasir, tidak seperti pantai berbatu, tidak memiliki populasi predator. Hal ini dikarenakan keberadaan subteranean dari banyak biota, yang mengurangi pemangsaan dan hadirnya predator. Daratan lumpur Meskipun daratan lumpur hanyalah jenis garis pantai takterkosolidasi, terdiri dari partikel endapan dan / atau lempung, terdapat cukup perbedaan biotik dan abiotik dalam membahas area ini secara terpisah.karena lempung dan endapan terendap hanya di area dengan pergesaran air minimal, daratan lumpur berkembang hanya di area yang secara signifikan terlindung dari kegiatan ombak dan aliran. Karena kegiatan ombaknya yang minimal, kecuraman area ini lebih rendah daripada kecuraman di pantai berpasir dan secara tempat disebut daratan lumpur. Karena topografi yang datar dan ukuran sendimen yang bagus, daratan lumpur jarang kering dan air interstitialnya tersimpan dalam periode waktu yang lama. Sebagai tambahan area ini memiliki populasi bakteri interstitial yang tinggi. Kehadiran bakteria ini, dalam hubungan dengan waktu huni yang lama dari air interstitial, sering berujung pada hilangnya oksigen dalam air interstitial. Sehingga, kondisi non-oksigen atau anaerob adalah karakteristik daratan lumpur.

Populasi besar dari siput lumpur penghuni permukaan, sama seperti hewan penggali, hadir dalam komunitas daratan lumpur. Siput lumpur tidak perlu menghadapi kondisi anaeorob, karena mereka tinggal di permukaan sendimen. Hewan ini mengonsumsi detritus yang melimpah yang berada dan di antara partikel lempung dan endapan dan mungkin juga memakan bakteri penghuni permukaan. Akan tetapi Organisme penggali harus melawan kondisi anaerob permukaan sendimen. Sebagian besar mampu bertahan di bawah kondisi seperti ini dengan membuat lubang yang memiliki pintu permanen pada permukaan daratan lumpur, membuat udara bergerak ke dalam lubang. Mayoritas lubang yang diamati di daratan lumpur, berbentuk seperti itu. Organisme penggali adalah pengonsumsi endapan ataupun sementara. Sebagian besar cacing dan beberapa spesies kerang ditemukan di daratan lumpur adalah pengonsumsi endapan dan mendapatkan makananya dengan memakan substrat, menggunakan makanan yang terkandung di dalamnya dan mengeluarkan sendimen yang tak berguna. Pemakan sementara, spesies kerang dan kepiting lain, menyaring dan memakan plankton di air. Sama dengan di pantai berpasir, gaya hidup penggali dari mayoritas penghuni darat lumpur mencegah perkembangan populasi predator. Vegetasi garis pantai tak berkonsolidasi Dengan pengecualian ganggang laut yang menempel di pantai berbatu, kebanyakan vegetasi zona intertidal adalah rumput rawa pada zona sedang dan bakau pada zona tropis. Kedua tipe vegetasi ini berkembang di garis pantai tak terlindungi, tak terkosolidasi, biasanya di daratan lumpur. Area payau terdiri dari dua tanaman dominan; rumput cord payau atau spartina alterniflora dan rumput kuning payau atau spartina patens. Ketika area terakumulasi cukup sendimen untuk diekspos terhadap atmosfer setidaknya selama satu hari tidal dan ketinggian air pasang sebesar ukuran dari 2 meter, rumput cord akan dengan cepat berkoloni di area tersebut. Meskipun spesies dikatakan lebih memilih lingkungan air tawar, ia tersingkir dari area ini keran spesies l;ain dan terbatas pada zona intertidal yang terbatas, dimana tanaman lain tidak dapat tahan luapan tidal. Rumput cord mampu tahan banyak perendapan di air muara oleh karena itu ia berkoloni do horizon air surut, dimana kompetisi interspesifik benar – benar tidak ada. Ketika rumput cord berpindah ke area ini, ia membentuk penghalang efektif dan memperlambat

air pada tidal selanjutnya. Pengurangan kecepatan air ini menyebabkan sendimen turun suspensi dan berdeposit di dasar rumput cord. Sebagai hasilnya rawa tersebut menjadi lebih tinggi, periode pengenangan tidal berkurang dan rawa menerima air yang kurang pada air pasang. Hal ini membentuk penghalang yang bahkan lebih efektif terhadap luapan air dan sendimenya berdeposit pada angkat yang semakin naik, menjorok keluar menuju tepi laut tumpuan rumput cord. Secara bertahap, porsi menuju laut ini menjadi cukup tinggi untuk digenangi hanya pada saat air pasang saja. Ketika ini terjadi rumput cord berpindah dan berkoloni ke daerah intertidal baru ini. Dengan cara seperti ini, air payau bergerak menuju lautan melewati batas pada perairan terbuka oleh kombinasi deposit fisik sendimen dan pertumbuhan rumput cord. Secara bertahap, porsi menuju daratan rawa yang awalnya diamati rumput cord akan naik ke ketinggian tertentu sehingga tidak akan lagi digenangi dua kali sehari. Meskipun rawa tinggi ini memberikan habitat yang cocok bagi rumput, mereka secara cepat diinvasi oleh spesies spatina yang lebih kecil – rumput kuning asin. Spesies ini hanya dapat bertahan dari sejumlah kecil genangan tidal yang terjadi dua bulan sekali, ketika porsi yang lebih tinggi payau digenangi oleh tidal musim semi bab 4. rumput kuning, yang menjadi kompetitor superior, cenderung menyingkirkan rumput cord dari rawa tinggi. Sehingga rumput cord secara efektif terbatas pada posi rawa yang digenangi setiap hari dan oleh karena itu bukanlah habitat yang cocok bagi rumput kuning asin. Telah diperkirakan bahwa hanya 20 persen spatina yang langsung dikonsumsi oleh pemakan tanaman. Agaknya, dalam daerah yang lebih dingin, tanaman ini terdiri dari tumbuhan yang tinggi besar yang cukup kuat pada musim gugur. Di musim dingin tanaman ini turun bawah di mana es terdorong naik ke rawa. Vegetasi yang terpangkas es ini kemudian terbawa ke muara, khususnya pada tidal musim semi yang mengenangi sebagian besar rawa. Beragam rumput rawa yang tenggelam dalam teluk atau terbawa arus ke laut lepas. Pada dua kasus tersebut mereka dibawa ombak dan aliran normal dan akhirnya berkurang menuju detritus dan memasuki rantai makanan pemulung. Rawa payau lumayan umum sepanjang pesisir timur dan Gulf di Amerika serikat. Area ini memiliki dataran pesisir melereng rendah yang luas, beragam pantaui penghalang dan muara yang bersinambungan, batas benua dan jumlah terbatas lembah bawah laut. Semua

faktor ini, yang sendiri – sendiri maupun yang berhubungan dengan yang lainnya, adalah kondusif untuk formasi rawa payau. Pesisir barat, sebaliknya, memiliki pegunungan pesisir yang curam yang berujung pada garis pantai. Akibatnya sedikit air yang memiliki muara sempit yang dengan keras membatasi derajat lingkungan kemuaraan. Lebih – lebih batas benua yang sempit menyilang dengan bermacam – macam, lembah bawah laut yang berfungsi mengeringkan sedimen pesisir dan membawanya jauh ke lepas pantai bab 2,3. hasilnya adalah bahwa terdapat sedikit pantai penghalang sepanjang garis pesisir barat dan sehingga juga sedikit rawa payau. Hutan bakau atau mangal adalah imbangan rawa payau di daerah tropris dan subtropis pada zona sedang. Istilah bakau merujuk pada satu individu tanaman, sementara mangal merujuk pada semua komunitas. Bakau sebenarnya tanaman yang terestrial yang telah menginvasi ulang zona intertidal. Mereka menginvasi garis pantai terlindungi ketika sedimentasi normal telah menaikannya pada ketinggian yang cukup untuk mengekspos seluruhnya pada air surut. Proses yang mirip seperti yang digambarkan bagi rawa payau; bakau berfungsi untuk menjebak sendimen tambahan dan oleh karena itu menjalankan proses pendepositoan dan perkembagnan mangal. Tiga spesies bakau yang sering ditemukan di mangal, posisi mereka dijelaskan oleh tingkat genangan tidal. Bakau merah ditemukan di horizon air surut dan oleh karena itu dapat tahan jumlah besar genangan tidal. Bakau hitam menempati horizon air tengah dan dapat bertahan dari sedikit genangan. Dan bakau putih ditemukan di atas horizon air pasang dan tidak dapat menoleransi genangan minimum. Mangal menjebak sejumlah besar sedimen dan detritus. Oleh karena itu organisme yang hidup di permukaan biasa ditemukan di area ini, seperti kepiting fiddler dan kepiting ghost, adalah pemakan detritus. Kedua spesies ini hidup dalam lubang, yang berfungsi membawa oksigen ke dalam sedimen yang lebih dalam, mengurangi kondisi anaerob yang cenderung muncul. Pantai penghalang Meskipun pantai penghalang bukanlah, menurut definisi, bagian dari garis pantai bab 12, mereka adalah komponen penting zona pesisir. Vegetasi pantai penghalang adalah penting karena ia menstabilkan membangun pantai. Pantai penghalang dan khususnya

pulau penghalang, dengan tumpuan vegetasi signifikan sepertinya tidak terlanggar dan/ atau tersapu habis. Tanaman pantai penghalang harus menghadapi dua faktor utama. Pantai penghalang sering tersapu angin, dan angin umumnya membawa pasir yang cenderung menggesek tanaman dan kalau tidak mengubur maka menerbangkan bibit sebelum mereka sempat bertunas. Sebagai tambahan substrat pasir pantai penghalang benar – benar kering dan mempunyai sedikit air sehingga terdapat sangat sedikit air yang tersedia bagi tanaman. Ketika pantai penghalang secara permanen muncul dari bawah laut, air hujan mengguyur garam dari sedimen, membuatnya cocok untuk invasi oleh rumput bukit pasir di zona sedang dan gandum laut di zona tropis dan subtropis. Kedua tanaman ini secara menakjubkan beradaptasi dengan baik pada pantai penghalang yang gersang tertiup angin. Tanaman ini memproses daun yang fleksibel berlilin yang membengkok dan memberi sedikit perlawanan terhadap angin. Akan tetapi daunnya memperlambat angin normal secara cukup agar menyebabkan pasir yang tertiup angin berdeposit pada dasar tanaman, sehingga menambah ketinggian pantai. Tanaman ini mampu mereproduksi secara seksual, dengan memproduksi biji, mampu secara aseksual, dengan menyebarkan sulur yang seperti akar yang dinamakan rhizoma. Karena biji pasti terkubur atau tertiup angin, maka bentuk dominan reproduksi adalah yang terakhir. Rhizoma juga berfungsi lain; karena mereka menjangkau cukup ke dalam tanah , ia mapu mencapai sedikit air dari besarnya posi lautan. Akan tetapi, sulur tersebut harus tertutup beberapa inchi di dalam pasir sebelum mereka mampu mengembangkan tunas baru. Ini adalah kerugian yang jelas pada banyak pantai, karena lalu lalang manusia memindahkan sedimen dan mencegah tanaman bereproduksi. Ketika rumput bukit pasi atau gandum laut menjebak sedimen yang tertiup angin dan menaikkan ketinggian pantai, porsi daratan pantai penghalang mendapatkan perlindungan dari angin. Perlindungan ini secara umum cukup untuk membuat semak mulai menginvasi area ini. Semak cenderung mengalahkan rumput bukit pasir atau gandum laut dan menyingkirkan demi cahaya. Juga semak seperti plum pantai bereproduksi dengan membentuk biji dan buah , yang cenderung menarik burung. Kombinasi kotoran burung dan dekomposisi daun yang jatuh pada dasar semak mengubah substrat pasir menjadi pasir bertanah. Tipe substrat ini mampu menyimpan sejumlah besar air hujan.

Substrat tersebut mulai mengembangkan lebih banyak tanah, membuatnya mampu menyimpan jumlah air interstitial yang meningkat. Secara bertahap mengembangkan pohon seperti cedar merah dan pinus untuk mulai menguasai dan pada akhirnya menyingkirkan tahap semak. Dengan cara ini lebih banyak posi terlindung dari pulau penghalang yang menjadi hutan. Pohon awal yang menginvasi area seperti ini sering disebut sebagai pohon pioner. Spesies pioner juga memodifikasi dan membangun tanah, sehingga membuat substrat tersebut cocok untuk menyokong spesies pohon lain, secara umum beragam spesies oak. Pohon ini berpindah he area tersebut, menyingkirkan pohon pioner dan mengubah area terebut menjadi hutan oak. Dalam jangka waktu yang lama kombinasi interaksi biotik dan abiotik berfungsi mengubah pantai penghalang berpasir yang gersang menjadi hutan.

KOMUNITAS PELAGIK

Oleh: Nurria Susanti Titien Mayasari (106351400665) (106351400683)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN GEOGRFI Desember, 2008

KOMUNITAS PELAGIK

Sistem pelagik terdiridari hewan dan tumbuh-tumbuhan yang hidupnya berenang dan melayang-layang di lauatan terbuka. Sistem pelagik dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu plankton dan nekton.

Gambar Bio Oseanogarfi

PLANKTON Plankton yaitu, organisme-organisme yang berukuran kecil (mikroskopik) yang jumlahnya sangat banyak dan mereka ini tidak cukup kuat untuk menahan gerakan gelombang air yang begitu besar. Banyak di antara kelompok hewan ini yang merupakan golongan perenang aktif walalupun demikian mereka tetap terombang-ambing oleh arus lautan. Plankton merupakan salah satu komponen utama dalam sistem mata rantai makanan ( food chain ) dan jaring makanan ( food web ). Mereka menjadi pakan bagi sejumlah konsumen dalam sistem mata rantai makanan dan jaring makanan ini. Plankton terdiri dari golongan binatang (zooplankton) dan golongna tumbauhan (fitoplankton). Plankton, baik itu Plankton Hewani ( ZooPlankton ) maupun Plankton Nabati ( PhytoPlankton ) merupakan pakan alami bagi ikan dan koral yang hidup

didalamnya. Mereka tergolong pakan yang memiliki nilai gizi yang tinggi, memiliki bentuk dan ukuran yang sesuai dengan mulut ikan dan koral, isi sel-nya padat, dinding sel-nya tipis, serta tidak beracun.Plankton juga mempunyai kemampuan berkembangbiak dengan cepat, dan dapat dengan mudah

dibudidayakan secara massal, sehingga tidak perlu dikwatirkan mereka akan punah. Fitoplankton adalah tumbuh-tumbuhan air yang berukuran sangat kecil yang terdiri dari sejumlah besar klas (phylum) yang berbeda. Phylum Cyanophyceae Chryosophyceae Nama Umum Blue-green algae Yellow-brown algae termasuk silicoflagellates Haptophyceae Yellow-brown algae termasuk coocolithophores Bacillariophyceae Diatoms, biasanya berwarna yellow- Biddulphia brown Chlorophyceae Prasinophyceae Euglenophyceae Cryptophyceae Dinophyceae Green algae, green flagellates Green flagellates Green flagellates Alga berbagai warna Dinoflagellates, biasanya yellowbrown Dunaliella Halosphaera Euglena Cryptomonas Ceratium Coccolithus Contoh Trichodesmium Dictyocha

Fitoplankton mempunyai peranan penting seperti halnya tumbuhan tingkat tinggi di dataratan. Mereka adalah produsen utama (primary producer) zat-zat organik. Plankton membuat ikatan iakatan organik yang kompleks dari bahan anorganik sederhana (melakukan fotosintesa). Proses ini dilakukan dengan bantuan sinar matahari sebagai sumber energinya, sehingga fitoplankton hanya dapat hidup dengan baik di tempat-tempat yang mendapatkan cukup sinar matahari. Akibatnya fitoplankton hanya dapat dijumpai di lapisan permukaanlaut saja. Mereka juga

akan lebih banyak dijumpai pada tempat-tempat yang terletak di daerah continental shelf dan sepanjang pantai dimana terdapat proses upwelling. Fungsi ekologisnya sebagai produser primer dan awal mata rantai dalam jaringan

makanan menyebabkan fitoplankton sering dijadikan skala ukuran kesuburan suatu ekosistim. Namun fitoplankton tertentu mempunyai peran menurunkan kualitas perairan laut apabila jumlahnya berlebihan. Contoh kelas dinoflgellata tubuhnya memiliki kromatopora yang menghasilkan toksin (racun), dalam keadaan blooming dapat mematikan ikan. Dewasa ini fitoplankton laut telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia antara lain: 1) Bidang perikanan Sebagai makanan larva ikan, dilakukan melalui isolasi untuk mendapatkan satu spesis tertentu, misalnya Skeletonema. Kemudian dibudidayakan pada bak-bak terkontrol pada usaha pembibitan ikan untuk keperluan makanan larva ikan. 2) Industri farmasi dan makanan suplemen Fitoplankton yang mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi digunakan sebagai makanan suplemen bagi penderita gangguan pencernaan dan yang membutuhkan energi tinggi. Contoh produk yang beredar dari jenis Chlorella. 3) Pengolahan limbha logam berat Dalam pengolahan limbah logam berat fitoplankton dapat digunakan untuk mengikat logam dari badan air dan mengendapkannya pada dasar kolam. Sehingga logam dalam air menjadi berkurang. 4) Memperlambat pemanasan bumi Karena rentan terhadap sinar ultraviolet, plankton mencoba melindungi diri dengan menghasilkan zat dimethylsulfoniopropionate (DMSP) yang berfungsi untuk menguatkan dinding sel mereka. Zat ini jika terurai ke air akan menjadi zat dimethylsulfide (DMS). DMS kemudian terlepas dengan sendirinya dari permukaan laut ke udara. Di atmosfer, DMS bereaksi dengan oksigen sehingga membentuk sejenis komponen sulfur. Komponen sulfur DMS itu kemudian saling melekat dan membentuk partikel kecil seperti

debu. Partikel-partikel kecil tersebut kemudian memudahkan uap air dari laut untuk berkondensasi dan membentuk awan.Awan yang disebabkan oleh plankton ini, dipercaya dapat memperlambat proses pemanasan bumi, serta memiliki efek besar tehadap iklim bumi. Berdasarkan struktur tropik level , pada kebanyakan ekosistim fitoplankton terutama dikomsumsi oleh zooplankton disamping larva hewan tingkat tinggi lainnya. Fitoplankton dan zooplankton memiliki kedekatan hubungan ekologis yaitu pemangsaan (grazing), selanjutnya zooplankton dikomsumsi oleh

konsumner yang lebih tinggi seperti larva dan hewan muda dari berbagai organisme.

Contoh Zooplankton Beberapa organisme zooplankton ada yang bersifat plankton untuk seluruh masa hidupnya, contohnya: copepoda. Selainitu, juga ada hewan yang bersifat plankton hanya pada sebagian hidupnya saja, contoh kepiting adalah anggota dari hewan yang bentik pada waktu dewasa, tetapi larva mereka bersifat sebagai plankton. Mereka kemunginan akan berada pada fase pelagik (sebagai plankton) selama beberapa minggu atau bulan sebelum mengalamiproses metamorfosis untuk berubah dewasa dan berubah menjadi bentos. Zooplankton tidak dapat memproduksi zat-zat organik dari zat-zat organik,

oleh karena itu mereka harus mendapat tambahan bahan-bahan organik dari makanannya. Hal ini dapat mereka peroleh baik secara langsung maupun tidak langsung. Zooplankton yang besirfat herbivora akan memakan fitoplankton secara langsung, sedangkan golongan carnivora memanfaatkan mereka secara tidak langsung dengan memakan golongan herbivora atau carnivora yang lain.

NEKTON Nekton terdiri dari hewan-hewan yang berukuran lebih besar yang mempunyai kemampuan untuk bergerak sendiri yang membuat gerakan merekatidak tergantung pada kekuatan arus. Ikan adalah golonganyang paling banyak dijumpai dalam kelompok ini, termasuk cumi-cumi, ular laut, dugong, dan ikan paus. Semua ikan adalah predator. Golongan pelagik kebanyakan memakan plankton atau anggota nekton yang berukuran kecil. Beberapa jenis ikan tertentu hidup di lautan yang sangat dalam. Pada kedalaman ini sudah tentu tidak dijumpai cahaya dan oleh karen ituhewan-hewan yang hidup di daerah ini kebanyakan mempunyai organ dalam tubuhnya yang dapat mengeluarkan cahaya. Ikan paus merupakan anggota nekton yang mempunyai ukuran yang paling besar, walaupun demikian mereka kebanyakan pemakan plankton. Jenis ikan paus biru, yiatu yang mempunyai ukuran paling besar, paling banyak memangsa krill yaitu salah satu jenis crustaceayang berukuran kecil yang dikenal sebagai euphausiid. Ikan pus mempunyai sebuah sistem alat penyaring yang dapat dikontrol yang letaknya di bagian dalam mulut. Alat ini cukup kuat untuk menangkap krill yang dibutuhkan dari air laut. Jenis ikan paus pemakan plankton umumnya bersifat lebih tenang bila dibandingkan ikan lain yang sebagi predator aktif sepert lumba-lumba.

Contoh beberapa jenis dari Nekton

SISTEM RANTAI MAKANAN Nutrisi dari Air Laut Energi dari Cahaya Matahari

PRODUSEN UTAMA Fitoplankton

KONSUMEN PRIMER Zooplankton Herbivora

KONSUMEN SEKUNDER Zooplankton Karnivora Ikan Pemangsa

KONSUMEN TINGKAT LANJUT Hewan-hewan herbivora yangmendapat bahan organik dengan memakanan fitoplankton merupakan konsumen pertama atau juga ada yang menyebut sebagai produsen kedua di dalam rantai makanan. Begitu seterusnya sampai pada tingkat konsumen tingkat lanjut, yaitu bisa berupa ikan yang lebih besar lagi atau makhluk hidup lain seperti burung, manusia atau komunitas bentos. Perpindahan ikatan organik dari satu tingkatan ke tingkat berikutnya merupakan suatu proses yang relatif tidak efisien. Sebagai contoh, di lautan bebas dan banyak temapt di daratan efisiensi perpindahannya dari satu tingkat ke tingkat berikutnya dipercaya hanya sebesar kira-kira 10%. itu berarti bahwa dari 100 unit bahan organik yang diproduksi oleh produsen pertama hanya 10 unit yang dapat

dimanfaatkann oleh produsen kedua, i unit oleh produsen ketigaatau konsumen kedua, dan begitu seterusnya. Makin pendek rantai makanan akan menghasilkan produksi ikan yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena mereka dapt menghindari kehilangan bahan-bahan organik yang seharusnya dipergunakan untuk menambah setiap kenaikan tingkatan pada sistem rantai makanan yang lebih besar. Akibatnya semakin besar jumlah bahan-bahan produksi yang dihasilkan oleh produsen utama yang menjadi terikat ke dalam jaringan tubuh ikan.

DAFTAR RUJUKAN

Anonim. 2008. Makhluk Mungil Si Penentu Kehidupan. (Oneline), (http://www.koran-jakarta.com/details.php?cid=1&id=3926, diakses 01 Desember 2008).
HU UH UH

Farid Samawi Muhammad. ______. Peranan Plankton Bagi Kehidupan. (Oneline), (http://tumoutou.net/702_05123/m_farid.htm, diakses 17 Nopember 2008).
HU UH UH

Haris

Julian. 2006. Plankton dan Pemanasan Global. (Oneline), (http://sekrehijau.blogwae.com/archives/60 , diakses 17 Nopember 2008).
HU UH

Hutabarat Sahala. 1985. Pengantar Oseanografi. Jakarta: UI-Press. Ika. 2008. Plankton Dapat Memperlambat Proses Pemanasan Bumi. (Oneline), (http://ikanmania.wordpress.com/2008/03/02/plankton-dapatmemperlambat-proses-pemanasan-bumi/, diakses 17 Nopember 2008).
HU UH UH

Norma. 2008. Ringkasan: Kehidupan di dalam air. (Oneline), (http://norma1087.wordpress.com/2008/01/13/kehidupan-di-dalam-air/, diakses 01 Desember 2008).
HU UH UH

Wikipedia. 2008. Fitoplankton. (Oneline), (http://id.wikipedia.org/wiki/Fitoplankton , diakses 17 Nopember 2008).
HU UH

Wikipedia. 2008. Plankton. (Oneline), (http://id.wikipedia.org/wiki/Plankton, diakses 17 Nopember 2008).
HU UH UH

Wikipedia. 2008. Zooplankton. (Oneline), (http://id.wikipedia.org/wiki/Zooplankton , diakses 17 Nopember 2008).
HU UH

ORGANISME BENTHIC
Makalah

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Oceanografi yang dibina oleh Bapak Bagus Setia Budi

Disusun oleh: Nevy Farista Aristin Lusiana Rusiati (106351400678) (1063514006 )

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATERMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN GEOGRAFI Desember 2008

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Oceanografi adalah suatu ilmu yang mempelajari lautan. Laut merupakan gambaran nyata yang mengenai permukaan bumi, dan sekitar 70% dari permukaan bumi berupa air, dimana permukaan air terdapat endapan pasir laut, dasar lembah yang masing-masing memiliki topografi yang berbeda. Laut merupakan suatu bagian yang saling berhubungan sehingga memiliki proses yang lebih variatif, tergantung pada lokasi yang ada di sekelilingnya di samping proses pergerakan aliran air secara global. Dalam mempelajari oseanografi ada 3 hal penting yang sangat berpengaruh terhadap lautan, yaitu a. Massa jenis, ini berupa massa jenis air yang menyebabkan pergerakan yang berupa faktor pengontrol aliran yang bergerak di bawah permukaan air laut. Selain itu, mengenai massa jenis material yang menyusun dasar laut dan benua b. Kadar garam, didefinisikan sebagai jumlah total sari persentase material. Ini akan mempengaruhi pergerakan dan posisi massa air, kadar garam juga mempengaruhi dalam menentukan distribusi organisme laut. c. Suhu laut, merupakan faktor penting dalam distribusi organisme laut. Pada skala besar suhu laut sangat dipengaruhi oleh aliran permukaan yang melewati bagian utara dan selatan equator dan aliran permukaan air lebih cepat daripada air di laut dalam. Dari ketiga faktor di atas sangatlah mempengaruhi organisme yang hidup di lautan,mulai dari bagian atas hingga dasar permukaan. Sehingga setiap organisme mempunyai cara tersendiri untuk beradaptasi terhadap lingkungan sekitarnya untuk mempertahankan diri. Dan setiap bagian lautan,akan dihuni organisme yang berbeda-beda. Dan di makalah ini,

kelompok kami akan membahas organisme yang berada di wilayah benthic yaitu benthos, organisme yang hidup di dasar lautan. Sehingga kami mengangkat judul “ORGANISME BENTHIC”.

1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang tersebut maka dapat ditarik permasalahan yaitu Jenis-jenis organisme apa saja yang ada di wilayah benthic?

1.3 Tujuan Untuk mengetahui jenis-jenis organisme yang ada di Benthic

BAB II PEMBAHASAN

Bentos adalah organisme yang hidup di bagian dasar lautan. Dalam hal ini, maka akan dibahas persebaran baik hewan maupun tumbuhan yang ada di daerah Bentik. 1. Batas penyebaran Tumbuh-tumbuhan Dasar (Benthic Plants) Penyebaran tumbuh-tumbuhan hijau dibatasi oleh daerah litoral dan daerah sublitoral dimana masih terdapat sinar yang cukup untuk dapat berlangsungnya proses fotosintesis. Tiga macam tumbuh-tumbuhan yang terdapat di daerah ini ialah: a. Tanaman air yang bersel tunggal yang umumnya hidup di bagian permukaan pasir dan lumpur b. Tanaman air yang berukuran besar, seaweed, yang cenderung dijumpai di segala tempat yang cocok untuk tempat yang menempel. Sebagai contoh, daerah pantai yang terdiri dari batu-batuan (rocky shore) adalah tempat yang cocok bagi kehidupan mereka, sehingga kita sering menjumpai banyaknya tanaman seaweed yang hidup di daerah ini. Semua tumbuhan yang mengandung klorofil sehingga dapat

melangsungkan proses fotosintesis. Contoh: Chlcrophyceae yang berklorofil hijau, Rhodophyceae berklorofil merah, dan Phaeophyceae berwarna coklat. c. Beberapa tanaman berbunga (angiosperm) seperti rumput laut Zostera dan beberapa pohon da semak yang hidup di mangrove swamp terdapat di daerah litoral.

2. Batas Penyebaran Hewan-Hewan Dasar (Benthic Animals) Bermacam-macam jenis hewan invertebrata, banyak dijumpai di dalam benthos, seperti di bawah ini: phylum Cnidaria Subgrup dan nama umum Hydrozoa (hydroid coelenterata)

Anthozoa (anemones, corals) Plathyhelminthes Aschelminthes Annelida Turbellaria (flatworms) Nematoda (roundworms) Polychaeta lugworms) Mollusca Gastropoda (snails dan sea-glugs) Lamellibranchiata (biyalves) Cephalophoda (cuttlefish and squids) Anthropoda Crustacea copepods, malacostracans) Echinodermata Crinoidea (sea-lilies) Holothuroidea (sea-cucumber) Echinoidea (sea-urchins) Asteroidea (starfish) Ophiuroidea (brittle stars) Hemichordata chordata Enteropneusta(2 corn-worms) Urochordata(sea-squirts) Cephalochordata(amphioxus) (especially ostracods, cirripedes, (bristle worms,

Mereka mempunyai kisaran

ukuran yang sangat luas yaitu dari yang

berukuran sebesar protozoa hingga sebesar crustacea dan mollusca. Ukuran ini kadang-kadang dipakai sebagai dasar klasifikasi. 1. Microfauna Istilah ini dipakai untuk menerangkan hewan-hewan yang mempunyai ukuran <0.1 mm. Contoh: seluruh protozoa 2. Meiofauna Adalah golongan hewan-hewan yang mempunyai ukuran antara 0.1 mm sampai 1.0 mm. Ini termasuk golongan protozoa yang berukuran besar. Contoh: Cnidaria, cacing-cacing yang berukuran, dan beberapa crustacea yang berukuran sangat kecil.

3. Macrofauna Meliputi hewan-hewan yang mempunyai ukuran >1.0 mm. Contoh: Echinodermata, crustacea, annelida, mollusca, dan anggota beberapa phylum lainnya. Cara lain untuk mengklasifikasikan hewan dasar adalah dengan melihat hubungan mereka dengan tempat hidupnya. Semua hewan yang hidup di atas permukaan dasr laut dikenal sebagai epifauna, contoh: kepiting berduri, siput laut, bintang laut, dan siput; dan yang hidupnya dengan cara menggali lubang pada dasr lauttan dikenal sebagai infauna. Contoh: cacing (lugworm),tiram, macoma, remis.

3. Masyarakat Hewan Yang Hidup di Dasar (Benthic Communities)

Keadaan lingkungan seperti tipe sedimen, salinitas, dan kedalaman di bawah permukaan memberi variasi yang amat besar dari satu daerah dasar lautan ke daerah lautan yang lain. Sehingga hal ini menyebabkan berbedanya jenis-jenis hewan pada daerah yang berbeda. Pada kenyataannya, hewan-hewan benthic dikenal sebagai communities (masyarakat). Hal ini berhubungan dengan kondisi lingkungan hidup yang spesifik. Communities biasanya didominasi oleh satu atau dua jenis hewan (species) darimana mereka dikenal, yang disertai dengan organisme yang bersifat subdominan. Contoh: 1). masyarakat Venus, banyak dijumpai di lingkungan pasir di lepas pantai didominasi oleh bivalve mollusca Venus striatula. Juga banyak dijumpai bersama-sama dengan sea-urchin Echinorcardium cordatum, cacing polychaete dan amphipod crustacean. 2).masyarakat Brissopsis/Amphiura yang

dijumpai lingkungan lumpur di lepas pantai, mempunyai dua spesies yaitu bristle star Brissopsis lyrifera dan Amphiura chiajei. Hewan subdominan yang hidup bersama-sama mereka adalah beberapa golongan bivalve mollusca dan polychaete. Masyarakat hewan tertentu sering dijumpai tersebar luas asalkan kondisi lingkungan hidupnya cocok, walaupun letak geografi mereka berbeda. Sebagai contoh: bivalve Macoma, yang terdapat di perairan dangkal dan bersalinitas rendah pada kedalaman 10-60 meter di beberapa bagian dunia. Yang hidup bersamanya adalah kerang-kerangan Mya, Cardium, dan cacing polychaete Arenicola. Kenyataan spesies Macoma dan hewan-hewan yang lainnya yang hidup bersama-sama, dibedakan dalam daerah geografi yang berbeda: 1. Macoma naguta adalah anggota dari masyarakat Macoma yang dominan terdapat di daerah lepas pantai Pasifik di amerika Utara. Disertai dengan hewan-hewan Mya arenaria, Cardium Corbis, dan Arenicola claparedei. 2. Macoma calcarea mendominasi daerah lauta Arktik yang disertai dengan jenis hewan Mya truncatum dan Cardium citiatum 3. Macoma balthica memegang peranan dalam mendominasi masyarakat hewan yang ada di bagian utara Lautan Atlantik Timur. Hewan subdominan yang menyertai mereka adalah Mya arenoria, Cardium adule, dan Arenicola marina.

4. Produksi Benthos Primary production hanya terjadi pada daerah dangkal di perairan pantai di mana terdapat cukup sinar matahari bagi tumbuh-tumbuhan untuk melangsungkan proses fotosintesis. Contoh: fitoplankton yang akan produksi tinggi apabila di daerah yang kaya akan bahan-bahan organik seperti di daerah estuarin. Primari production akan turun secara cepat sesuai semakin dalamnya perairan dimana tidak ada tumbuh-tumbuhannya. Primary production kemudian sama sekali tidak terjadi pada peraiaran yang mempunyai kedalaman berkisar antara 30100 meter. Di daerah benthic yang dalam juga terdapat hewan-hewan herbivora seperti surgeon fish Acanthurus lineolatus dan parrot fish leptoscatrus coeruleopuncatus, tetapi sumber makanan didapat dari bahan tumbuh-tumbuhan mati atau yang mengalami pembusukan dari sumber lainnya. Sumber-sumber terbentuknya dendritus antara lain: a. Sisa-sisa tumbuhan atau hewan benthic yang hancur pada amasa hidupnya yang tinggal di daerah perairan yang dangkal. b. Sisa-sisa tubuh organisme pelagik c. Kotoran-kotoran (faeces) binatang yang hidup di daerah pelagik. Contoh: beberapa golongan copepoda.

Hewan-hewan benthic dapat memanfaatkan sisa kotoran mengalami suatu masalah khusus, tetapi dapat diatasi dengan dua cara, antara lain: a. Suspension feeders, yaitu dengan cara menyaring partikel-partikel dendritus yang masih melayang-melayang di air yang ada disekitarnya. Contoh: 1.cacing polychaete Chaetopterus, mendorong arus air untuk masuk ke dalam saluran pipanya dengan cara memompa dari kipas-kipasnya. Dendritus yang ada di dalam arus akan terperangkap pada jaringan mucus yang dikeluarkan oleh cacing. Secara periodik cacing akan memakan jaringan ini bersama-sama dengan makanan yang terperangkap di dalamnya dan kemudian akan memproduksi jaringan mucus lagi. 2.Cacing kipas (fan worm) Sabella, mempunyai alat yang dapat menyaring partikel-partikel dari air yang ada disekitarnya dengan mempergunakan tentakel yang berbentuk seperti cincin. b. Deposit feeders, yang mengumpulkan dendritus yang telah menetap di dasar. Contoh: jenis polychaete Arenicola dan Amphitrite. Arenicola hidup pada sebuah lubang galian yang berbentuk seperti huruf L dan semata-mata hanya memakan tanah pasir pada bagian ujung galian yang berbatasan dengan mulutnya. Disana terdapat sejumlah besar bahan makanan yang tidak dapat dicernakan dan pada waktu yang bersamaan cacing memproduksi kotoran. Hewan ini akan merangkak ke arah belakang di sepanjang lubang galiannya pada waktu-waktu tertentu dan menumpuk sisa kotorannya pada permukaan pasir. Amphitrite mengumpulkan dendritus dari permukaan media dengan mempergunakan tentakel mereka yang berbentuk seperti mahkota (crown of tentakles)

Dedritus yang dapat sampai dasar lautan pada laut-laut yang sangat dalam hanya berjumlah kecil. Karena bahan-bahan organik yang tersedia didaerah ini menjadi kurang. Data di bawah ini menunjukkan bagaiaman biomass menurun secara menyolok dengan makin dalamnya kedalaman laut.

Kedalaman (m)

Jumlah rata-rata biomass (berat hewan (gram)/m2 permukaan sedimen)

0 – 200 200 – 3000 3000

200 20 0.2

Beberapa contoh bentos antara lain kerang, bulu babi, bintang laut,cambuk laut, terumbu karang dan lain-lain.Tubuh bentos banyak mengandung mineral kapur. Batu-batu karang yang biasa kita lihat di pantai merupakan sisa-sisa rumah atau kerangka bentos. Jika timbunannya sangat banyak rumah-rumah binatang karang ini akan membentuk Gosong Karang,yaitu dataran di pantai yangterdiri dari batu karang. Selain Gosong Karang ada juga Atol, yaitu pulau karang yang berbentuk cincin atau bulan sabit.Batu-batu karang yang dihasilkan oleh bentos dapat dimanfaatkan untuk keperluan penelitian, rekreasi, sebagai bahan bangunan dan lain-lain. Sedangkan zat kimia yang terkandung dalam tubuh bentos bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk permbuatan obat dan kosmetika.

BAB III PENUTUP

Bentos adalah organisme yang hidup di dasar laut baik yang menempel pada pasir maupun lumpur. 1. Batas penyebaran Tumbuh-tumbuhan Dasar (Benthic Plants) Tiga macam tumbuh-tumbuhan yang terdapat di daerah ini ialah: a. Tanaman air yang bersel tunggal yang umumnya hidup di bagian permukaan pasir dan lumpur b. Tanaman air yang berukuran besar, seaweed, yang cenderung dijumpai di segala tempat yang cocok untuk tempat yang menempel c. Beberapa tanaman berbunga (angiosperm) 2. Batas Penyebaran Hewan-Hewan Dasar (Benthic Animals) phylum Cnidaria Subgrup dan nama umum Hydrozoa (hydroid coelenterata) Anthozoa (anemones, corals) Plathyhelminthes Aschelminthes Annelida Turbellaria (flatworms) Nematoda (roundworms) Polychaeta lugworms) Mollusca Gastropoda (snails dan sea-glugs) Lamellibranchiata (biyalves) Cephalophoda (cuttlefish and squids) Anthropoda Crustacea copepods, malacostracans) Echinodermata Crinoidea (sea-lilies) Holothuroidea (sea-cucumber) Echinoidea (sea-urchins) Asteroidea (starfish) Ophiuroidea (brittle stars) Hemichordata Enteropneusta(2 corn-worms) (especially ostracods, cirripedes, (bristle worms,

chordata

Urochordata(sea-squirts) Cephalochordata(amphioxus)

3. Masyarakat Hewan Yang Hidup di Dasar (Benthic Communities) Keadaan lingkungan seperti tipe sedimen, salinitas, dan kedalaman di bawah permukaan memberi variasi yang amat besar dari satu daerah dasar lautan ke daerah lautan yang lain. Sehingga hal ini menyebabkan berbedanya jenis-jenis hewan pada daerah yang berbeda. 4. Produksi Benthos Sumber-sumber terbentuknya dendritus antara lain: a. Sisa-sisa tumbuhan atau hewan benthic yang hancur pada amasa hidupnya yang tinggal di daerah perairan yang dangkal. b. Sisa-sisa tubuh organisme pelagik c. Kotoran-kotoran (faeces) binatang yang hidup di daerah pelagik. Contoh: beberapa golongan copepoda.

DAFTAR RUJUKAN

Hantoro W.S. 2001. Low stand sea level and landform changes: climatic changes consequence to epicontinental shelf and fauna migration through Indonesian.Archipelago. In Preceeding of: “The environmental and Cultural History and Dynamics of the Australian-Southeast Asian Region” seminar, Melbourne, December 10-12, 1996.

Hutabarat, Sanala dan Stewart M.Evans. 1986. Pengantar Oseanografi. Jakarta: UI Press.

Setiabudi, Bagus Wiwoho. 1999. Pengantar Oseanografi. Malang: UM Press

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->