Evaluasi Sistem 2012 Pengendalian Internal

Kelompok V DIV Kurikulum Khusus : Hery Jhonatan Sembiring (14) I Wayan Murlanda Wangsa (15) Jonathan M Sibarani (18) Rio Eryco Vebriadi (23) Yasinta Widya Paramitha (30)

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA

BAB I Pendahuluan
Sebagaimana tersirat dalam Standar Pemeriksaan Keuangan Negara dan Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) mengharuskan pemeriksa untuk memahami, menilai dan mengevaluasi Sistem Pengendalian Internal (SPI) auditee sebagai bagian dalam pemeriksaan keuangn. Tujuan dari pemahaman, penilaian dan pengevaluasian akan efektivitas Sistem Pengendalian Internal adalah untuk mengidentifikasi penilaian dan kemungkinan pengevaluasian salah Sistem saji, mengenali faktor-faktor yang untuk mempengaruhi risiko salah saji, dan merancang pengujian substantif. Pemahaman, Pengendalian Internaldilakukan merencanakan pemeriksaan, yaitu dalam menentukan sifat, saat dan lingkup pemeriksaan. Penilaian tersebut merupakan ukuran atas harapan pemeriksa bahwa pengendalian internal akan mencegah terjadinya salah saji material atau mendeteksi dan mengoreksinya, jika hal tersebut terjadi. Penilaian atas efektivitas Sistem Pengendalian Internal dilakukan dengan melakukan pengujian atas desain dan implementasi Sistem Pengendalian Internal entitas. Pemahaman dan Pngujian SPI dilaksanakan pada tahap perencanaan pemeriksaan sebagaimana tercantum pada Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Pemeriksaan Keuangan. Pada Juknis Sistem Pengendalian Internal, memberikan gambaran umum tentang pedoman teknis pemahaman dan pengujian/evaluasi Sistem Pengendalian Internaluntuk pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat/Daerah, Kementerian/Lembaga, BUMN/D dan entitas lain yang diperiksa oleh BPK. Pemahaman Sistem Pengendalian Internal meliputi pemahaman atas desain serta implementasi Sistem Pengendalian Internal entitas dan penilaian awal atas risiko pengendalian. Pemeriksa melakukan penilaian awal atas risiko pengendalian untuk setiap siklus transaksi berisiko yang teridentifikasi dari hasil analisis risiko bisnis sebagaimana didokumentasikan dalam Matriks Risiko Bisnis entitas. Pengujian Sistem Pengendalian Internal dilakukan untuk memperoleh keyakinan atas efektivitas Sistem Pengendalian Internal berdasarkan nilai awal risiko pengendalian Pemahaman Sistem Pengendalian Internal tingkat entitas dilakukan dengan menggunakan kerangka pengendalian internal baik yangdiatur dalam Peraturan 2

BAB II Evaluasi Sistem Pengendalian Internal I. 2. pengendalian internal terdiri dari 5 (lima) komponen. Sistem Pengendalian Internal Sistem Pengendalian Internal (SPI) artinya adalah suatu proses integral yang didesain dan diimplementasikan oleH pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan yang memadai terhadap pencapaian tujuan entitas terkait dengan efektivitas dan efisiensi operasi. Penilaian resiko (risk assessment) 3. Lingkungan pengendalian menjadi dasar dari empat komponen pengendalian internal lainnya. Aktivitas pengendalian (control activities) 4. Lingkungan pengendalian menciptakan budaya organisasi dan mempengaruhi kesadaran pegawai atas pengendalian internal. Pemantauan (monitoring). ebrdasarkan kerangka pengendalian internal yang dikembangkan oleh Commite of Sponsoring Organization.Pemerintah maupun peraturan lain yang berlaku bagi entitas. ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. dan 5. Filosofi dan gaya kepemimpinan manajemen 3 . SPI terdiri dari komponen-komponen yang dikembangkan oleh COSO. Penegakan integritas dan nilai etika Seluruh komponen dari entitas berperan untuk menegakkan standar nilainilai integritas dan etika organisasi. Faktor-faktor yang dapat membentuk lingkungan pengendalian. Informasi dan komunikasi (information and communication). Menurut Juknis SPI ini. Komitmen terhadap kompetensi Manajemen menentukan tingkat kompetensi atas suatu pekerjaan dan mendefenisikan bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan untuk mencapai tujuan entitas. keandalan dari laporan keuangan. dan pengamanan aset. Lingkungan pengendalian (control environment) 2. yaitu: 1. 3. yaitu: 1.

Struktur organisasi Struktur organisasi merupakan kerangka yang menggambarkan kegiatan perekonomian. Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab Pemberian tanggung jawab. 5. 7. dan keteladanan. Dewan Direksi atau Komite Audit Dewan Direksi atau Komite Audit yang aktif dan efektif merupakan fungsi supervisi yang penting demi tercapainya pengendalian internal yang efektif. Tujuan pada tingkat entitas Untuk mencapai pengendalian yang efektif.Pimpinan entitas harus memiliki komitmen terhadap pengendalian internal. 4. Pimpinan entitas menetapkan kode etik. pelaksanaan. Kebijakan sumber daya manusia dan penerapannya Kebijakan sumber daya manusia merupakan titik sentral dalam merekrut dan mempertahankan pegawai yang kompeten untuk mencapai tujuan entitas. Risiko Proses penilaian risiko entitas harus mengidentifikasi risiko baik yang berasal dari internal maupun eksternal serta mempertimbangkan implikasinya terhadap pencapaian tujuan baik pada tingkat entitas maupun aktivitas. entitas harus memiliki tujuan yang ingin dicapai serta strategi yang dapat mendukung tercapainya tujuan. pendelegasian wewenang. 3. Faktor-faktor yang harus dipahami dan dilakukan dalam penilaian risiko adalah: 1. 6. nilai-nilai dasar. konseling. sebagai dasar untuk menentukan langkah dalam menangani risiko tersebut. menjelaskan wewenang dan tanggung jawab. 4 . dan penilaian kinerja yang mendukung tujuan pengendalian internal. dan penyusunan kebijakannya memberikan dasar akuntabilitas dan pengendalian serta membangun peran individual terkait dengan tugas yang diberikan. Struktur organisasi yang memadai antara lain harus mampu menyediakan arus informasi-informasi penting. dan pemantauan untuk mencapai tujuan entitas. kompetensi. Tujuan pada tingkat aktivitas Tujuan dan strategi entitas secara keseluruhan harus memiliki hubungan yang jelas dan konsisten dengan tujuan pada tingkat aktivitas. serta etika profesi. Penilaian resiko adalah identifikasi dan analisis atas risiko-risiko pencapaian tujuan. pengendalian. serta hubungan pelaporan dalam organisasi. 2. Penilaian risiko harus meliputi analisis dan pengelolaan risiko.

(authorization). dan tepat waktu kepada semua pegawai entitas yang terlibat dalam 5 . penilaian kinerja yang independen ( independent checks on performance). dan pemisahan tugas (segregation of duties). diperoleh. rekonsiliasi (reconciliation). dan perubahan sistem teknologi informasi akuntansi yang digunakan. dan 4. Mengelola perubahan yang berpengaruh pada entitas Mekanisme identifikasi dan penanganan diperlukan atas terjadinya perubahan-perubahan yang berasal baik dari eksternal maupun internal entitas. verifikasi (verification). Pembangunan sistem informasi dan perbaikannya harus didasarkan pada rencana strategis sistem informasi yang sesuai dengan rencana strategis entitas. Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang menjamin bahwa arahan pimpinan entitas dilaksanakan. Komunikasi meliputi penyediaan dan penyampaian informasi secara jelas. 3. seragam. otorisasi Aktivitas tersebut meliputi aktivitas persetujuan (approvals). misalnya perubahan ekonomi. dan dilaporkan oleh sistem informasi. penggunaan prosedur akuntansi baru. jelas. Dukungan pimpinan entitas terhadap pembangunan sistem informasi yang diperlukan ditunjukkan dengan komitmen penyediaan sumber daya manusia dan dana. Sumber informasi dapat berasal dari internal dan eksternal. perubahan standar akuntansi. Informasi disampaikan kepada pegawai secara rinci.4. serta responsif terhadap pencapaian tujuan entitas dan aktivitas. kecukupan dokumen dan catatan/data ( adequate documents and records). pelaksanaan aktivitas pengendalian. Perubahan antara yang lain langsung berpengaruh keuangan. dan tepat waktu agar mereka dapat menjalankan kewajibannya secara efektif dan efisien. Informasi diidentifikasi. Informasi yang relevan dengan tujuan entitas yang bersumber dari internal dan eksternal disampaikan kepada manajemen. Faktor yang dipertimbangkan kebijakan dan dalam menilai aktivitas pengendalian aktivitas adalah dan keberadaan efektivitas prosedur yang tepat atas entitas. diproses. Hal yang harus dilakukan terkait dengan informasi adalah: 1. 2. industri. dan perubahan atas berkembangnya terhadap aktivitas pelaporan entitas. peraturan.

pedoman akuntansi dan pelaporan keuangan. Belanja dan pengeluaran kas (expenditures and cash payment) c. Pendanaan (capital acquisition and repayment). Pembelian dan pengeluaran kas (acquisition and payment) c. yaitu: a. evaluasi terpisah (separate evaluation). Pembiayaan (financing) d. Penggajian (payroll and personnel) d. Jenis siklus transaksi suatu badan usaha umumnya. Pemantauan yang efektif biasanya meliputi pemantauan berkelanjutan (ongoing monitoring). yaitu: 6 . Jenis siklus transaksi entitas pemerintah pada umumnya adalah sebagai berikut: a. II. Sistem Pengendalian Internal dan Siklus Transaksi Pemahaman dan pengujian SPI dilakukan atas siklus transaksi atau ativitas entitas dengan melihat komponen SPI yang relevan. Persediaan dan penyimpanan (inventory and warehousing). Pendapatan dan penerimaan kas (revenues and cash receipts) b. Kebijakan akuntansi. Penjualan dan penerimaan kas (sales and collection) b. daftar akun. termasuk melaporkan terjadinya penyimpangan melalui mekanisme whistle blowing.pelaporan keuangan. Keterbatasan Sistem Pengendalian Internal Manajemen mendesain dan mengimplementasikan pengendalian internal dengan mempertimbangkan 2 (dua) konsep mendasar sebagai suatu keterbatasan SPI. Pemantauan adalah proses penilaian kualitas kinerja pengendalian internal sepanjang waktu. Komunikasi tersebut bertujuan untuk menjamin bahwa semua pegawai yang terkait akan saling memahamii peran dan aktivitasnya. dan e. meliputi penilaian atas desain dan implementasi pengendalian. Pengendalian internal harus dipantau dan jika perlu dibenahi agar kualitasnya tetap bisa dipertahankan bahkan ditingkatkan. Perolehan dan penghapusan (acquisition and disposal) III. dan e. dan pelaporan kelemahan kepada komite audit dan atau aparat pengawasan internal. Aset tetap (fixed asset). dan memo juga merupakan bagian dari komponen informasi dan komunikasi dalam pengendalian internal.

Efektivitas desain pengendalian internal diukur dari kemampuan desain tersebut dalam mencegah dan mendeteksi salah saji material dalam laporan keuangan. Biaya dan manfaat (cost and benefit) Biaya suatu pengendalian internal entitas seharusnya tidak boleh melebihi manfaat yang diharapkan. Setiap SPI yang dirancang dan diselenggarakan entitas masih memiliki keterbatasan bawaan yang melekat dalam setiap pengendalian. yaitu: a.1. Perhatian manajemen ditujukan kepada pengedalian untuk 7 . tidak hati-hati. Kolusi Tindakan bersama yang dilakukan untuk melakukan kecurangan ( fraud) yang tidak terdeteksi selalui SPI yang telah dirancang dengan baik d. waktu. atau karena kelelahan. Gangguan fungsi pengendalian (breakdowns) Pengendalian yang sudah mapan dapat terganggu jika pegawai salah memahami instruksi. atau prosedur lain. Pelanggaran Manajemen (management override) Manajemen terkadang melanggar kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan untuk tujuan yang tidak sah dalam rangka menguntungkan diri sendiri atau meningkatkan performa laporan keuangan atau performa atas kepatuhan terhadap peraturan dan perundang-undangan. Efektivitas SPI meliputi efektivitas desain dan efektivitas implementasi. lalai. bukan keyakinan yang absolute atau mutlak akan terjadinya salah saji material yang tidak mampu dicegah atau dideteksi oleh pengendalian internal. b. Keyakinan yang memadai (reasonable assurance). yang dijelaskan di bawah ini: a. Kesalahan dalam penilaian (mistakes in judgement) Kadangkala manajemen memberikan penilaian yang salah dalam pengambilan keputusan atau dalam melaksanakan pekerjaan rutin yang disebabkan informasi. Perubahan sistem dan prosedur atau pergantian pegawai baik sementara atau permanen juga dapat mengkibatkan gangguan. yaitu bahwa pengendalian internal tidak akan sempurna. Keterbatasan bawaan (inherent limitations). 2. e. c.

iii. Metodologi Pemahaman dan Pengujian Sistem Pengendalian Internal Memperoleh serta menelaah data dan informasi SPI Mendokumentasikan hasil pemahaman SPI Mengevaluasi implementasi SPI 8 Metodologi pemahaman SPI: . Pemeriksa melakukan pemeriksaan dalam rangka menilai keandalan laporan keuangan berdasarkan suatu asersi manajemen Tujuan pemeriksaan terkait kelas transaksi meliputi:  Keterjadian (occurence)  Kelengkapan (completeness)  Akurasi (accuracy)  Pembukuan dan ihktisar (posting and summarisation)  Pengklasifikasian (classification)  Waktu (timing) V. Pemahaman dan pengujian SPI dilakukan pemeriksa pada pengendalian internal atas kelas-kelas transaksi bukan pada kelas akun dengan pertimbangan akurasi pada saldo akun akan dipengaruhi oleh akurasi transaksi. IV. Efektivitas implementasi pengendalian internal diukur dari kesesuaiannya dengan desain serta pegawai yang mengoperasikan pengendalian melakukan otorisasi dan penelaahan yang diperlukan. i. ii. b. Asersi manajemen diklasifikasikan dalam tiga kategori: Asersi-asersi mengenai kelas-kelas transaksi dan kejadian selama periode laporan yang diperiksa Asersi-asersi mengenai saldo akun pada akhir periode laporan keuangan yang diperiksa Asersi-asersi mengenai penyajian dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Asersi Manajemen dan Tujuan Pemeriksaan Asersi Manajemen merupakan kriteria bagi manajemen untuk merekam dan mengungkapkan informasi akuntansi dalam laporan keuangan.menangani risiko pada semua asersi terkait. untuk semua akun dan pengungkapan yang signifikan pada laporan keuangan.

Mengidentifikasi pengendalian yang ada Mengidentifikasi adanya kelemahan pengendalian Menentukan tingkat kelemahan pengendalian Menentukan nilai awal resiko pengendalian Merancang uji pengendalian Menguji pengendalian Mengevaluasi hasil pengujian Mendokumentasikan hasil Menentukan risiko tingkat pengendalian siklus Menyusun temuan sementara atas efektivitas SpI entitas jika ada Pengujian SPI: Pemahaman Sistem Pengendalian Internal Temuan hasil pemeriksaan sebelumnya dapat membantu pemeriksa dalam memberi gambaran mengenai kondisi SPI dan mengidentifikasi Risiko Pengendalian (RP). ii. Memperoleh serta Menelaah Data dan Informasi Sistem Pengendalian Internal Langkah pertama dalam pemahaman SPI adalah memperoleh serta menelaah data dan informasi entitas.iv. Mengevaluasi implementasi SPI d. Mengidentifikasi pengendalian yang ada e. iv. begitu juga sebaliknya. Pemeriksa dapat mempertimbangkan bahwa RP rendah jika tindak lanjut telah selesai. vi. Data yang harus diperoleh dan ditelaah oleh pemeriksa antara lain: 1. vi. v. Memperoleh serta menelaah data dan informasi SPI b. iii. Menentukan nilai awal RP VII. Mengidentifikasi kelemahan pengendalian f. meliputi: a. vii. Mendokumentasikan hasil pemahaman SPI c. VI. Struktur organisasi 9 . Apabila tidak ada temuan maka pada umumnya RP adalah rendah (SPI adalah efektif). Menentukan tingkat kelemahan pengendalian g. Pemahaman SPI dalam pemeriksaan keuangan dimulai dari perolehan data dan dokumen sampai dengan memberikan nilai awal RP. begitu juga sebaliknya. i. v.

Laporan pertanggungjawaban 8. Dalam menyiapkan SPI siklus transaksi. Kebijakan akuntansi 5. dan pemantauan. Pemeriksa harus menyiapkan kuesioner pada level siklus transaksi sesuai dengan aktivitas pada masing-masing siklus tersebut. aktivitas pengendalian. pemeriksa berusaha memperoleh informasi yang berkaitan dengan 6 tujuan pemeriksaan terkait transaksi (asersi). Laporan. Prosedur standar operasi 4.2. Pertanyaan yang disampaikan harus relevan dengan kondisi instansi yang diaudit. Kebijakan pengambilan keputusan penting yang ditetapkan oleh pimpinan entitas 6. informasi dan komunikasi. Dari jawaban pada kuesioner tersebut kita dapat menemukan adaya indikasi kelemahan pengendalian internal. Pemeriksa membuat simpulan efektifitas SPI bedasarkan simpulan atas 5 (lima) komponen yang diperoleh.Informasi dan data lain yang relevan. Tujuan dari kuesioner pengendalian 10 . Kuesioner SPI pada level entitas bermanfaat untuk memperoleh dan meningkatkan pengentahuan pemeriksa atas SPI entitas serta memperoleh indikasi adanya kelemahan SPI entitas. Alat yang digunakan untuik memperoleh data dan informasi sistem pengendalian internal antara lain berupa kuesioner SPI yaitu kuesioner pada tingkat entitas dan kuesioner pada tingkat siklus transaksi/aktivitas. dan disampaikan kepada pejabat yang berwenang hingga pelaksana yang terkait. Anggaran tahunan 7. Peraturan perundang-undangan yang berpengaruh terhadap pelaporan keuangan entitas 10. pemeriksa harus memperhatikan hasil dan simpulan atas 5 (lima) komponen SPI yang diperoleh dari kuesioner level entitas. Kuesioner SPI level entitas berisi pertanyaan-pertanyaan untuk mengidentifikasi kelemahankelemahan pengendalian. penilaian resiko. lingkungan pengendalian. Kuesioner SPI pada tingkat entitas meliputi 5 (lima) komponen pengendalian yang dikembangkan oleh COSO yaitu. kertas kerja. dan program pengawasan internal 9. Dalam kuesioner level siklus transaksi. pengawasan internal. Seluruh uraian pekerjaan terkait pelaporan keuangan 3.

dan sebagainya. IX. Bagan alir yang didokumentasikan di sini adalah bagan alir hasil pemahaman pemeriksa. Narasi yang baik dapat menjelaskan sekurang-kurangnya: a. Narasi merupakan uraian tertulis mengenai pengendalian internal suatu siklus transaksi entitas. dan c) Kuesione SPI. Sumber dokumen dan pencatatan ke dalam sistem. otorisasi dan pengesahan. Mengevaluasi Implementasi Sistem Pengendalian Internal 11 b. Pemeriksa hanya perlu melakukan penyesuaian atau pemuktahiran terhadap data dan informasi sesuai dengan perubahan yang terjadi pada periode tahun pemeriksaan. d. Bagan alir adalah diagram yang menggambarkan arus dokumen dan urutan proses suatu siklus transaksi. atas pengendalian yang relevan dengan penilaian risiko pengendalian. bukan bagan alir yang diperoleh langsung dari entitas. pemeriksa perlu memperoleh dan menelaah data mengenai tindak lanjut pemeriksaan atas laporan keuangan tahun sebelumnya. Selain itu. Indikasi . c. Bagan alir memiliki 2 (dua) keunggulan dibanding dengan narasi yaitu mudah dibaca dan dimuktahirkan. biasanya meliputi pemisahan tugas (seperti pemisahan antara pencatat kas dengan pemegang kas). b) Bagan alir (flowchart) siklus transaksi.untuk mengidentifikasi pengendalian yang ada dan kelemahan pengendalian paa siklur tersebut. Semua pemrosesan yang terkait dengan transaksi. Bagan alir yang memadai sekurang-kurangnya memuat 4 (empat) hal seperti dalam pembuatan narasi. Mendokumentasikan Hasil Pemahaman Sistem Pengendalian Internal Pemeriksa harus mendokumentasikan hasil pemeriksaan SPI dalam bentuk: a) Narasi siklus transaksi. Narasi dan bagan alir memberikan informasi yang sama sehingga pemeriksa dapat memilih dokumentasi sistem akuntansi dalam bentuk narasi atau bagan alir. Apabila entitas pernah diperiksa sebelumnya dan telah dilakukan pemahaman atas SPI maka pemeriksa dapat menggunakan KPP hasil pemahaman SPI tersebut. VIII. Disposisi atas semua dokumen dan catatan.

Wawancara. Penggunaan MRP untuk menentukan risiko pengendalian. MRP dibuat untuk tiap siklus transaksi.Dalam melakukan pemahaman SPI. kelemahan pengendalian. 12 . asersi terkait siklus transaksi. serta nilai dari risiko pengendalian. b. pemeriksa diharapkan mampu mengevaluasi apakah informasi yang digambarkan dalam bagan alir dan/atau narasi telah diimplementasikan. pemeriksa melakukan pengamatan suatu kegiatan transaksi mulaii dari awal hingga selesai. Hasil pemahaman pemeriksa atas implementasi SPI suatu siklus transaksi entitas didokumentasikan dalam kertas kerja pemeriksaan. Menelaan dokumen dan catatan. MRP memuat pengendalian yang ada. Melalui analisis terhadap dokumen dan catatan transaksi baik cetak maupun elektronis. c. Beberapa teknik yang dapat digunakan dalam evaluasi implementasi SPI adalah: a. pemeriksa menggukan alat yang disebut Control Risk Matrix (CRM) atau matriks Risiko Pengendalian (MRP). tingkat kelemahan pengendalian. Melakukan obeservasi dan walkthrough atas siklus transaksi. dan Wawancara dilakukan terhadap pimpinan entitas untuk memastikan bahwa mereka melakukan pengawasan atas setiap pekerjaan di unit yang mereka pimpin. Mengidentifikasi Pengendalian yang Ada Dalam melakukan tahapan-tahapan pemahaman SPI. Pengawasan tersebut antara lain melakukan reviu atas pekerjaan dan menyediakan saluran komunikasi yang atas elevan pemasalahan. SPI dibandingkan dengan desainnya berdasarkan penilaian X. Dalam praktik seringkali pemahaman desain dan evaluasi atas implementasi dilakukan secara bersama-sama. pemeriksa melakukan evaluasi apakah desai pengendalian internal yang dirancang oleh entitas telah diimplementasikan. untuk Wawancara juga dilakukan mereka kepada pelasakana mengevaluasi apakah memahami pekerjaannya dan melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan sesuai tupoksi. Dokumentasi memuat informasi perbedaan antara implementasi dengan desain SPI serta efektivitas implementasi pemeriksa. Dalam melakukan walkthrough.

signifikan. auditor menghubungkannya dengan asersi pada siklus transaksi yang ada.Dalam mengidentifikasi pengendalian yang ada. pemeriksa mengidentifikasi pengendalian yang memberikan dampak besar terhadap tujuan pemeriksaan (asersi) terkait siklus transaksi. TINGKAT PENGARUH Material 13 . desain dan impelemntasi SOI tidak memungkinkan manajemen atau pegawai mencegah atau mendeteksi salah saji secara tepat waktu. Kelemahan ini terjadi jika ditemukan kondisi tidak terdapat pengendalian kunci ( key control) atau pengendalian yang ada dtidak memadai dalam mencegah terjadinya salah saji material dalam laporan keuangan. atau tidak berdampak. Mengidentifikasi adanya kelemahan pengendalian Kelemahan pengendalian terjadi apabila dalam situasi normal. Tingkat kelemahan tersebut dikategorian sebagai material. Dalam menentukan tingkat kelemahan pengendalian pemeriksa perlu mempertimbangkan keberadaan pengendalian pengganti dan dua faktor di atas. Kemudian setelah identifikasi dilakukan maka. Identifikasi pengendalian-pengendalian yang terdapat dalam sistem membantu pemeriksa melakukan tahap selanjutnya yaitu identifikasi kelemahan pengendalian. yaitu kemungkinan keterjadian dan pengaruh kesalahan penyajian pada laporan keuangan. Setelah pengendalian yang ada teridentifikasi. pemeriksa menghubungkannya dengan asersi pada siklus transaksi (menganalisis asersi mana yang dipenuhi oleh pengendalian tersebut). Dalam menentukan tingkat kelemahan pengendalian. pemeriksa harus menganalisis kelemahan terseut dalam dua dimensi yaitu kemungkinan keterjadiannya (likeliyhood) dan tingkat pengaruhnya pada salah saji dalam laporan keuangan (magnitude). XI. pengendalian ini disebut pengendalian kunci ( key control).

menguji pengendalian. Pengujian Sistem Pengendalian Internal Hasil akhir dari tahapan pemahaman pengendalian internal adalah nilai awal risiko pengendalian sebagiamana diterangkan di atas. Nilai awal ini mengambarkan keyakinan pemeriksa atas SPI entitas dalam mencegah kesalahan saji material dalam laporan keuangan. Tingkat Kelemahan Pengendalian Tidak Berdampak Signifikan Material Nilai Risiko Awal Rendah Sedang Tinggi Jenis Pengujian Pengujian SPI Pengujian SPI Pengujian Substantif mendalam XII. Ini didasarkan atas analsisi identifikasi sebelumnya yang telah dilakukan. saat. Pengujian SPI meliputi kegiatan-kegiatan merancang uji pengendalian. menentukan tingkat risiko pengendalian siklus dan menyusun temuan sementara atas efektivitas SPI entitas jika ada. dan lingkup pengujian substantif. Secara singkat risiko pengendalian dapat dijabarkan sebagai berikut. Terdapat beberapa persamaan langkah dalam 14 . mendokumentasikan hasil.KETERJADIAN SIGNIFIKAN Kec il TIDAK BERDAM PAK Tidak MATERIAL Bes SIGNIFI KAN ar Material Ilustrasi Penentuan tingkat kelemahan SPI Setelah kita mengidentifikasikan tingkat kelemahan SPI yang ada maka pemeriksa akan menetukan nilai awal risiko pengendalian. Jenis pengujian substantif juga perlu mempertimbangkan risiko bawaan dan risiko pemeriksaan. melakukan evaluasi hasil pengujian. Risiko Pengendalian digunakan untuk menentukan sifat.

mengukur kecukupan bukti pemeriksaan yang diperoleh dan mengevaluasi hasi sampel secara kuantitatif. pada tahap pengujian pengendalian hanya dilakukan pada pengendalian dengan risiko rendah dan/atau sedang Prosedur pemahaman dilakukan anya pada satu atau beberapa transaksi (dalam observasi petik pemeriksaan. c) Mendefinisikan populasi dan unit sampel.pengujian pengendalian dan pemahaman SPI antara lain wawancara. Sebaliknya pada uji petik non statistika kedua manfaat tadi tidak dapat dilakukan oleh pemeriksa. Sedangkan perbedaan antara pemahaman dan pengujian SPI adalah: • Dalam pemahaman prosedur untuk memperoleh pemahaman dilakukan pada semua pengendalian pada siklus yang teridentifikasi berisiko dari hasil analisis • MRB. Dalam merancang pengujian pengendalian dengan uji petik secara statistik pemeriksa melakukan langkah-langkah sebagai berikut : a) Menentukan asersi dan pengendalian yang akan diuji. Uji petik secara statistik mampu membantu pemeriksa untuk mendesain sampel secara efisien. Pengujian ini juga memungkinkan pemeriksa untuk mengkuantifikasikan risiko uji petik dan meproyeksikan hasil pengujian atas sampel terhadap populasi. Merancang Uji Pengendalian Dalam melakukan uji pengendalian seringkali pemeriksa tidak dapat menguji seluruh dokumen. b) Menentukan atribut pengendalian yang akan diuji dan kondisi deviasi. sementara. pengujian dokumen dan data serta observasi. XIII. Kondisi deviasi adalah kondisi dimana terjadi penyimpangan (tidak sesuai dengan kondisi yang diharapkan). pemeriksa perlu melakukan uji petik dalam menguji pengendalian untuk menghemat waktu dan biaya. 15 dapat diyakini kebenarannya. Oleh karena itu. sebaliknya pada pengujian pengendalian dilakukan pada sampel yang lebih banyak dengan menggunakan teknik uji . Pemeriksa memutuskan untuk menggunakan uji petik statistika atau non statistika berdasarkan asas manfaat dan dokumen). Sampel yang diambil dalam uji petik harus merepresentasikan populasi sehingga kesimpulan yang dihasilkan biaya.

Jika pemeriksa menetapkan audit risk sebesar 5 % maka tingkat reliabilitas yang digunakan sebesar 95 %.d) Menentukan tingkat reliabilitas atau tingkat keandalan atau keyakinan atas kesimpulan yang diperoleh dari hasil pengujian pengendalian. Pemeriksa harus tepat dalam menggunakan metode untuk menetukan jumlah sample. Secara ringkas memilih metode uji petik atribut dapat dilihat pada tabel di bawah ini Metode Uji Petik Atribut No 1 Metode Fixed size • • • • Keterangan Sample • Jika nilai awal risiko pengendalian ( ekspektasi tingkat deviasi/penyimpangan) rendah (SPI entitas adalah efektif) dan 2 Sequential Ekspektasi tingkat deviasi dapat diketahui Jika nilai awal risiko pengendalian relatif lebih rendah (SPI entitas sangat efektif) dan/atau 3 Discovery Jika tingkat ekspektasi deviasi tidak diketahui Jika nilai awal risiko pengendalian sangat rendah (mendekati nol) g) Menentukan teknik pemilihan sampel Setelah menentukan jumlah sampel. pemeriksa melakukan pengambilan atau pemiliha sampel. systemic selection. 16 . UPL ditentukan pemeriksa berdasarkan hasil penilaian awal risiko pengendalian. Umumnya pemeriksaan menggunakan UPL sebesar 5 % untuk nilai awal risiko pengendalian rendah. Nilai Awal Risiko Pengendalian Rendah Sedang Tinggi/Maksimum Tolerable Rate (Acceptence UPL) 2–7% 6 – 12 % Tidak dilakukan uji pengendalian f) Menentukan metode uji petik atribut yang digunakan untuk menetukan jumlah sampel. Dalam uji petik secara statistika pemilihan sampel harus dengan metode probabilistik antara metode random. Reliability atau confidence level terkati dengan audit risk yaitu berbanding terbalik. e) Menetapkan tingkat toleransi atau Acceptence Upper Precision Limit (UPL).

Jika asersi/pengendalian yang diuji memiliki lebih dari satu atribut pengendalian maka suatu sampel disimpulkan merupakan suatu deviasi walaupun hanya satu atribut yang tidak dipenuhi oleh sampel tersebut. probability-proportional-in-size. maupun statified selection. Jika uji pengendalian dilakukan pada pemeriksaan iterim. XV. atau block XIV. Sedangkan uji petik secara non statistika dapat menggunakan baik pemiliha sample secara probalistik maupun non probabilistik maupun non probabilistik sampling).random systemic selection. banyak atau tidak mengambil sampel. Langkah-langkah pengujian non statistika sama dengan langkah-langkan pengujian pengendalian uji petik statitstika. pemeriksa harus mempertimbangkan bukti tambahan atas sisa periode akuntansi (periode akuntansi yang belum termasuk dalam pemeriksaan interim). maka suatu sampel disimpulkan merupakan suatu deviasi walaupun hanya satu atribut yang tidak dipenuhi oleh sampel tersebut. Jika asersi yang diuji memiliki lebih dari satu atribut pengendalian. Dalam mengevaluasi deviasi pemeriksa harus mempertimbangkan : 17 . professional judgement. pemeriksa menguji dokumen atau bukti transaksi serta dokumen pendukungnya untuk menilai apakah dokumen atau bukti transaksi tersebut sesuai dengan atribut pengendalian yang diuji atau tidak (merupakan deviasi/penyimpangan atribut pengendalian atau tidak). pemeriksa harus mengevaluasi jumlah deviasi (penyimpangan) yang ditemukan. Perbedaan terjadi pada penentuan jumalh sampel dan ukuran kualitatif seperti sedikit. sedang. Menguji Pengendalian Dalam menguji pengendalian. Mengevaluasi hasil pengujian pengendalian Setelah dilakukan uji pengendalian. quoto. (haphazard. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemeriksa dalam menentukan bukti tambahan atas sisa periode akuntansi antara lain : • • • Signifikasi dari asersi yang uji Adanya perubahan pengendalian dalam sisa periode akuntansi dibandingkan periode interim dan Pajangnya sisa periode akuntansi yang belum diperiksa.

memberikan skor risiko pengendalian tiap asersi yang diuji serta total skor risiko pengendalian dan c. sifat dan penyebab. e. definisi kondisi deviasi g. sampel-sampel terpilih i. menentukan tingkat risiko pengendalian siklus secara kualitatif dan kuantitatif 18 . pemeriksa perlu mencermati lebih lanjut karena hal tersebut dapat merupakan indikator adanya fraud. Menentukan tingkat risiko pengendalian siklus Setelah melakukan pengujian pengendalian. j. deskripsi bagaimana prosedur sampel dilaksanakan evaluasi hasil pengujian sampel dan kesimpulannya Pemeriksa wajib mendokumentasikans etiap langkah dalam melakukan pengujian pengendalian termasuk pertimbangan profesional yang digunakan. Dokumentasi uji pengendalian meliputi a. Evaluasi atas hasil pengujian dijelaskan dalam juknis uji petik pemeriksaan. dan b. c. Deskripsi dari pengendalian yang diuji definisi populasi dan unit sampel tingkat keyakinan (confidence level) metode penentuan jumlah sampel b. efeknya terhadap prosedur pemeriksaan Jika dokumen yang menjadi sampel tidak ditemukan. Mendokumentasikan hasil pengujian pengendalian Pemeriksa harus mendokumentasikan hasil pengujian pengendalian sebagai kertas kerja pemeriksaan. pemeriksa menentukan tingkat risiko pengendalian siklus dengan ukuran kualitatif maupun kuantitatif. tujuan pengendalian. apakah deviasi disebabkan oleh eror atau fraud. metode pemilihan atau pengambilan sampel h. XVI. f.a. termasuk asersi-asersi yang relevan d. Penggunaan profesional judgement harus didasari oleh pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan XVII. Langkah-langkah dalam menentukan risiko pengendalian siklus adalah : a. memutakhirkan risiko pengendalian setiap asersi yang diuji jika tingkat risiko pengendalian hasil uji pengendalian berbeda dengan nilai awal risiko pengendalian b.

Skor Risiko Pengendalian diberikan secara kuantitatif untuk setiap asersi pada siklus yang dapat dilihat pada tabel berikut Tabel Skor Risiko Pengendalian Tingkat Risiko Pengendalian Skor Risiko Pengendali an Rendah 1 Sedang 2 Tinggi 3 Sedangkan total skor Risiko Pengendalian siklus merupakan jumlahan dari seluruh skor Risiko Pengendalian tiap asersi. Risiko Pengendalian siklus ditentukan secara kualitatif maupun kuantitatif . Total Skor 6-9 10-13 14-18 Risiko Pengendalian Kualitatif Kuantitatif Rendah 30% Sedang 70% Tinggi 100% Jika hasil dari pemahaman dan pengujian SPI menunjukkan bahwa Risiko Pengendapian atas suatu silus transaksi adalah tinggi maka pemeriksa mempertimbangkan untuk melakukan pengujian substantif mendalam atas akunakun terkait sebaliknya jika hasilnya adalah Risiko Pengendalian tetap rendah maka pemeriksa mempertimbangkan untuk melakukan pengujian substantif terbatas XVIII. Pedoman yang digunakan dalam menentukan Risiko Pengendalian siklus tersebut dapat dilihat pada tabel berikut. Walaupun Menyusun temuan dan sementara pengujian atas efektivitas Pengendalian sistem Internal pengendalian internal entitas pemahaman Sistem merupakan bagian dari tahap perencanaan pemeriksaan akan tetapi pemeriksa 19 .Pemeriksa harus memutakhirkan tingkat risiko pengendalian tiap asersi yang diuji berdasarkan hasil uji pengendalian .

pemeriksa dapat sekaligus melakukan pengujian substantif. Pengendalian umum Pengendalian umum adalah pengendalian yang dioperasikan secara menyeluruh untuk meyakinkan bahwa sisem komputer yang digunakan entitas stabil dan dikelola dengn baik sehingga diperoleh tingkat keyakinan yang memadai 20 . Pengujian substantif dilakukan untuk meyakini asersi-asersi manajemen atas laporan keuangan entitas. Pengujian susbtantif yang dilakukan secara bersamaan saat melakukan pengujian atas pengendalian internal sering dinamakan pengujian dengan tujuan ganda atau dual purpose test. yaitu melakukan penilaian atas dokumen dan catatan. Pengujian dengan tujuan ganda (Dual-Purpose Tests) Dalam praktik seringkali saat pemeriksa melakukan pengujian atas pengendalian.dapat menyusun sementara temuan-temuan yang terkait dengan efektivitas Sistem Pengendalian Intern entitas. yaitu prosedur yang dilakukan untuk menguji adanya salah saji yang dapat mempengaruhi ketepatan laporan keuangan. terutama jika disimpulkan bahwa tingkat Risiko Pengendalian adalah sedang atau tinggi. Temuan-temuan tersebut tidak lain adalah kelemahan-kelemahan material pengendalian yang teridentifikasi selama pemeriksa melakukan pemahaman dan pengujian atas SPI. XX. Pengendalian dalam lingkungan teknologi informasi Penggunaan Teknologi Informasi (TI ) dalam sistem akuntansi entitas mampu meningkatkan pengendalian internal entitas . pemeriksa menyebutkan dampak kelemahan pengendalian terhadap salah saji laporan keuangan. Dampak dari kelemahan pengendalian akan dapat teridentifikasi setelah pemeriksa melakukan pengujian substantif yang dilakukan pada tahap pelaksanaan pemeriksaan. XIX. Pengendalian terkait penggunaan Teknologi Informasi dibagi menjadi dua yaitu pengendalian umum (general control) dan pengendalian aplikasi (application control) 1. namun disisi lain penggunaan Teknologi Informasi dapat pula meningkatkan risikop pengendalian entitas. Dalam laporan hasil pemeriksaan atas efektivitas Sistem Pengendalian Internal entitas. terutama pada kelemahan-kelemahan pengendalian (deficiencies) yang teridentifikasi.

bahwa tujuan pengendalian internal secara keseluruhan dapat tercapai. Rencana cadangan (backup) dan kontijensi Pencadangan data tidak hanya bertujuan untuk mencegah kehilangan atau rusaknya data. Pemeriksa mengevaluasi pengendalian aplikasi untuk setiap siklus transaksi yang dinilai. Terdapat enam kategori pengendalian umum : a. akan tetapi memungkinkan entitas tetap beroperasi jika suatu saat sistem informasi terganggu f. Pengendalian masukan (input controls) 21 . perangkat lunak. Pemisahan tugas Teknologi Informasi Pemisahan tugas diterapkan untuk memitigasi risiko penyalahgunaan atau kecurangan dalam mengoperasikan sistem informasi c. Terdapat tiga pengendalian aplikasi. Pengendalian Aplikasi (Application Control) Pengendali aplikasi diterapkan pada proses transaksi. Pengendalian perangkat keras pengendalian perangkat keras dalam komputer biasanya disediakan oleh [pembuat komputer untuk mendeteksi dan melaporkan adanya kegagalan sistem dalam komputer 2. yaitu a. Keamanan fisik dan online Pengendalian fisik atas komputer (termasuk perangkat keras. Pengembangan sistem Adanya pengembangan sistem memungkinakan adanya perubahan dalam pengoperasian sistem informasi yang digunakan. Administrasi dari fungsi Teknologi Informasi Pandangan dan pemahaman pimpinan entitas mengenai Teknologi Informasi berpengaruh terhadap efektivitas Teknologi Informasi yang dioperasikan oleh entitas b. file data cadangan dan media penyimpanan data) serta pembatasan akses atas perangkat lunak online dan data terkait mampu memitigasi risiko adanya pihak yang tidak berwenang mengakses dan atau mengubah program dan file data e. Pengendaliana tas perubahan yang terjadi diperlukan untuk memastikan bahwa sistem dapat beroperasi secara efektif d.

Pengendalian keluaran (output controls) Pengendalian keluaran fokus pada pendeteksian eror setelah proses selesai.Pengendalian masukan didesain untuk meyakinkan bahwa informasi yang dimasukkan dalam komputer adalah akurat lengkap dan telah diotorisasi b. pemeriksa juga harus mengidentifikasi pengendalian dan kelemahan pengendalian terkait dengan penggunaan Teknologi Informasi dalam sistem akuntansi entitas. Pengendalian ini bukan merupakan tindakan pencegahan Dalam menilai risiko pengendalian. Pengendalian Proses (Processing Control) Pengendalian proses mencegah dan mendeteksi eror pada saat data transaksi diproses c. Pengendalian dan kelemahan pengendalian yang teridentifikasi juga harus dianalisis hubungannya dengan asersi dan didokumentasikan dalam matriks risiko pengendalian. BAB III Penutup 22 .

Sistem Pengendalian Internal merupakan salah satu unsur penting dalam pengelolaan organisasi. Namun. serta observasi. banyak entitas yang telah membangun Sistem Pengendalian Internalnya namun dalam implementasinya tidak berjalan dengan lancar. antara lain wawancara. mengevaluasi hasil pengujian. Dengan melakukan hal ini auditor dapat mengetahui seberapa hebat internal kontrol entitas tersebut. DAFTAR PUSTAKA 23 . maka manajemen akan memperoleh peringatan yang lebih awal bila ada risiko yang akan menghalangi tercapainya tujuan organisasi. menentukan tingkar Risiko Pengendalian Siklus dan menyusun temuan sementara atas efektivitas Sistem Pengendalian Internal entitas jika ada. Oleh karena itu keberadaan pengendalian internal merupakan suatu keharusan bagi suatu entitas. Untuk itulah sudah menjadi tugas auditor untuk melakukan pemahaman dan evaluasi Sistem Pengendalian Internal sebagai bagian dari proses pemeriksaan keuangan. Terdapat beberapa persamaan tahapan dalam melakukan pengujian Sistem Pengendalian Internal dengan pemahaman Sistem Pengendalian Internal. Auditor juga dapat mengetahui kemungkinan salah saji dan juga faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dengan pengendalian internal. mendokumentasikan hasil. menguji pengendalian. pengujian dokumen dan data . Pengujian Sistem Pengendalian Internal meliputi beberapa tahapan antara lain dengan merancang uji pengendalian.

1 April 2005. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara.Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2007. Jakarta Peraturan Jakarta. Pengaruh Kompetensi dan Independensi Terhadap Opini Audit Going Concern (Studi Kuasieksperimen pada Auditor dan Mahasiswa). 2004. Auditing dan Informasi Vol. Tinjauan Terhadap Kompetensi dan Independensi Akuntan Publik : Refleksi Atas Skandal Keuangan. 24 . Semarang Sri Lastanti.PAN/03/2008. Tesis tidak dipublikasikan. Semarang. Media Riset Akuntansi. Universitas Diponegoro. Hexana. 2005. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara nomor PER/05/M. Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah .5 No. Saifuddin.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.