BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ( IPTEK ) yang semakin maju dan semakin canggih, membuat teknologi beton mempunyai potensi yang lebih luas dalam bidang kontruksi. Hal ini menyebabakan beton banyak digunakan untuk konstruksi bangunan gedung, rumah, jalan raya, jalan kereta api, lapangan terbang, pelabuhan, bangunan air, terowongan, bangunan lepas pantai, kapal, dan lain-lain termasuk untuk membuat patungpatung karya seni. Beton merupakan bahan yang dominan karena memiliki durability atau tingkat keawetan yang tinggi dibanding bahan material lain. Dalam konstruksi suatu bangunan, dibutuhkan beton yang bermutu tinggi dimana memiliki kuat tekan yang tinggi, dan dengan kreasi seorang teknik sipil, beton bisa bernilai ekonomis dan memiliki berat yang ringan. Dengan adanya Lomba Beton Nasional XV yang di selenggarakan oleh Universitas Tarumanegara yang bertemakan BETON RINGAN MUTU TINGGI ini , kami sebagai mahasiswa jurusan teknik sipil mencoba untuk berkreasi dalam pembuatan beton, yaitu dengan berkreasi dalam pemilihan agregat dimana agregat merupakan bagian penting dalam beton. Dan kami berharap bisa berperan aktif dalam memajukan dan mengembangkan bidang teknik sipil secara umum. Dalam lomba ini kami mencoba untuk mengembangkan potensi suatu daerah sehingga bisa memberikan pengaruh positif bagi warga masyarakat daerah tersebut dalam segi perekonomian. Yaitu dengan menggunakan batu apung ( Pumice ) sebagai aggregat kasar dan pasir Bangka sebagai aggregat halus, dimana keduanya merupakan hasil alam yang berada di daerah pantai, sehingga beton yang akan kami kembangkan (buat) bisa mengembangkan potensi alam di daerah pantai Bangka.

1

I.2 Tujuan Rancangan Beton

Perencanaan campuran beton ini bertujuan untuk menghasilkan beton dengan sebaik-baiknya, dimana memiliki kriteria sebagai berikut :  Kuat tekan tinggi,  Beratnya ringan,  Biaya produksi ekonomis,  Bersifat inovasi dalam pemilihan bahan, Selain itu tujuan dari penggunaan pumice dan pasir Bangka sebagai aggregat beton yaitu mampu mengembangkan potensi alam di daerah Bangka terutama wilayah pantai Bangka.

I.3 Target Kuat Tekan Beton
Kekuatan tekan beton yang dipersyaratkan adalah kekuatan tekan beton karakteristik 10 N/mm2 pada beton berumur 28 hari sesuai dengan struktur bangunan yang akan di bangun. Struktur bangunan ini meliputi pengerjaan kolom, balok, plat dan dinding. Maka slump ditentukan sebesar 30 - 60 mm diharapkan telah dapat memenuhi workability yang ideal. Tetapi meski demikian kekuatan tekan beton juga masih dipengaruhi oleh antara lain :  Faktor air semen,  Umur beton,  Jenis semen yang digunakan,  Jumlah semen, dan  Sifat aggregat.

I.4 Standar Pengujian
Untuk dapat dinyatakan benar hasilnya, pengujian di laboratorium harus dilakukan sesuai dengan standar tertentu. Sehubungan dengan itu, standar pengujian yang dipakai pada pembuatan ini adalah : ASTM C33 : Standard Spesification or Concrete Aggregates ASTM C40 : Test for Organik Impurites in Sand for Concrete ASTM C142 : Test for Clay Lumps and Friable Particles in Aggregates ASTM C29 : Test for Unit Wight and Voids aggregates ASTM C127 : Test for Specific Gravity and Absorption of Coarse Aggregates ASTM C128 : Test for Specific Gravity and Absorption of Fine Aggregates
2

ASTM C136

: Test for Shieve Gravity and Screen Analysis of Fine & Coarse Aggregates ASTM C129 : Making & Curing Concrete Test Spesimens in the Laboratory ASTM C143 : Test for Slump and Portland Cement Concrete ASTM C39 : Test for Compressive Strength of Silinder Concrete Spesimens BS 882 : Grading Limits for Fine Aggregrate SK SNI 03-2834-2000 : Tata Cara Pembuatan Campuran Beton Normal

I.5 Sistematika Laporan
Sistematika laporan bertujuan untuk mempermudah pengertian kearah pemahaman penulis laporan sesuai dengan tujuan dan ruang lingkup, maka uraian penulisan ini disusun sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini diuraikan hal-hal mengenai latar belakang, tujuan pembuatan atau rancangan beton, target kuat tekan, standar pengujian, dan sistematika laporan. BAB II MIX DESIGN Pada bab ini diuraikan hal-hal tentang alasan pemilihan bahan, dan perhitungan mix design. BAB III METODE PEMBUATAN Pada bab ini dijelaskan tentang metode atau tata cara pembuatan beton. BAB IV URAIAN HASIL UJI Pada bab ini diuraikan tentang hasil uji beton pada umur tertentu disertai grafiknya. BAB V RINCIAN BIAYA PEMBUATAN Pada bab ini dijelaskan tentang rincian biaya pembuatan beton per-m³ dan perbandingan harga denagn harga pasaran. BAB VI PENUTUP Berisi tentang kesimpulan dan saran.

3

BAB II MIX DESIGN
II.1 Alasan Pemiliahan Bahan
1. Aggregat Halus (Pasir Bangka)
Karakteristik kualitas aggregat halus yang digunakan sebagai komponen struktural beton memegang peranan penting dalam menentukan karakteristik kualitas struktur beton yang dihasilkan, sebab aggregat halus mengisi sebagian besar volume beton. Pasir laut sebagai salah satu jenis material aggregat halus memiliki ketersediaan dalam kuantitas yang besar, namun secara kualitas masih perlu diteliti lebih lanjut terhadap struktur beton. Pasir laut umumnya memiliki karakteristik butiran yang halus dan bulat, gradasi (susunan besar butiran) yang seragam serta mengandung garam-garam klorida (Cl) dan sulfat (SO4) merupakan sifat yang sangat tidak menguntungkan bagi beton, sehingga banyak disarankan untuk tidak digunakan dalam pembuatan beton. Butiran yang halus dan bulat serta gradasi yang seragam, dapat mengurangi daya lekat (interlocking) antar butiran dan dapat berpengaruh terhadap kekuatan (strength) dan ketahanan (durability) beton. Sedangkan adanya klorida dalam beton akan memberi risiko berkaratnya baja tulangan dalam beton, yang selanjutnya dapat memecahkan beton. Jika hal seperti itu terjadi, maka tulangan di dalam beton menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Garam sulfat, terutama Mg-sulfat (Mg-SO4) sangat agresif terhadap semen, yang reaksinya dengan semen akan menghasilkan senyawa-senyawa yang volumenya mengembang, lalu sedikit demi sedikit merusak beton (Samekto dan Candra, 2001). Apabila karakteristik butiran pasir laut distabilisasi (diatasi dengan suatu cara atau metode) serta kandungan garam-garamannya direduksi atau apabila pasir laut memiliki karakteristik butiran yang kasar dengan gradasi yang bervariasi serta memiliki kandungan garam-garaman yang tidak melebihi batas yang ditetapkan, maka pasir laut dapat digunakan sebagai komponen struktural beton dan menjadi alternatif yang baik untuk mengatasi keterbatasan material aggregat halus di quarry (tempat penambangan) lain. Indonesia sebagai negara yang mempunyai lebih dari 3700 pulau dan pantai sepanjang 80.000 km atau dua kali keliling bumi melalui garis khatulistiwa, tentunya memiliki keanekaragaman (variety) karakteristik kualitas pasir pantai (laut). Salah satunya diamati pada pasir laut Kepulauan Bangka Belitung yang memiliki karakteristik butiran yang kasar dan gradasi (susunan besar butiran) yang bervariasi serta memiliki kandungan garam4

garaman klorida (Cl) dan sulfat (SO4) yang tidak melebihi batas yang ditetapkan, yakni untuk kandungan garam klorida sebesar 0,038 persen (max. 0,04) BS 1377 part 3 dan untuk garam sulfat sebesar 0,028 persen (max 0,2) BS 1337 part 3 (B4T, Bandung). Selain itu, pasir laut Kepulauan Bangka Belitung memiliki berat jenis yang tinggi dan memiliki ketahanan yang baik terhadap keausan/pelapukan akibat pengaruh iklim/cuaca dan faktor-faktor mekanis. Namun kandungan lumpur (silt) dan lempung (clay) serta kandungan zat organik yang terdapat pada pasir laut Kepulauan Bangka Belitung cukup tinggi, hal ini tentunya akan dapat berpengaruh terhadap karakteristik kualitas beton yang dihasilkan, sehingga menarik minat untuk diteliti terhadap struktur beton, dimana hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh penggunaan pasir laut Kepulauan Bangka Belitung dan karakteristik yang dimilikinya sebagai agregat halus dalam pembuatan beton terhadap karakteristik kualitas beton yang dihasilkan.

2.Aggregat Kasar ( Pumice )
Salah satu usaha untuk memperingan beton adalah dengan cara merekayasa material beton melalui penggunaan aggregat ringan seperti batu apung (pumice). Pumice banyak dijumpai di Indonesia, misalnya: Pulau Sumatera dan Jawa, dan saat ini penggunaan pumice belum optimal.

Pumice sendiri memiliki beberapa kriteria, adapun kriterianya sebagai berikut: Berat jenisnya yang kecil (641) sehingga bahan ini sangat ringan Tahan terhadap panas, koefisien thermalnya 10,3 x 10 -6 oC -1 Sifatnya yang menyatu dengan semen Kuat tekannya rendah

Pada Lomba yang bertema Beton RINGAN mutu tinggi kami tertarik untuk menggunakan pumice sebagai aggregat kasar mengingat pumice mempunyai berat jenis yang kecil.

.
5

3. Bahan Campuran Tambahan (admixtures)
Secara historis, penggunaan bahan admixtures hampir sama tuanya dengan penggunaan beton. Pada zaman dahulu orang-orang Romawi sudah menggunakan lemak hewan, susu, dan darah sebagai bahan campuran dalam beton. Pada pembuatan beton ini, kami menggunakan putih telur sebagai bahan admixtures dengan tujuan sebagai bahan pengikat agregat untuk menghasilkan kuat tekan yang lebih tinggi. Penggunaan putih telur ini terinspirasi dari Masjid Raya Sultan Riau yang dibangun pada tahun 1832, yang masih berdiri kokoh, dimana putih telur sebagai bahan campuran bahan bangunannya ( Sumber : www.visittanjungpinang.com). Juga pada Candi Borobudur dan Candi Perambanan dimana putih telur sebagai bahan perekat batubatu raksasa sebagai bahan penyusun pada kedua candi tersebut ( Sumber :

www.id.wikipedia.org )

6

II.2 Perencanaan Campuran Dan Pembuatan Beton
II.2.1 Perencanaan Campuran
II.2.1.1 Pendahuluan

Pada pembuatan beton diperlukan suatu perencanaan campuran atau lebih dikenal dengan nama mixed design. Tujuan dari perencanaan campuran beton adalah untuk menentukan proporsi semen, aggregat halus, aggregat kasar, serta air yang memenuhi persyaratan berikut: 1. Kekuatan desak. Kuat desak yang dicapai pada 28 hari (atau umur yang ditentukan) harus memenuhi persyaratan yang diberikan oleh perencanaan konstruksinya. 2. Workabilitas. 3. Durabilitas. 4. Penyelesaian akhir dari permukaan beton.

II.2.1.2 Kekuatan Desak

Campuran beton biasanya direncanakan untuk memberikan kuat desak rata-rata 28 hari setelah pencampuran, yang akan memberikan keuntungan dalam karakteristik akan kekuatan minimum persyaratan perencanaannya. Kuat kubus mengikuti suatu distribusi normal, sehingga bila jumlah kubus yang dibuat mencukupi, hanya ada beberapa yang sangat tinggi kekuatannya. Pada konsep “kekuatan minimum” terjadi 1,5% – 2,5% kegagalan atas kekuatan kubus, begitu pula dengan silinder.

7

II.2.1.3 Workabilitas

Istilah workabilitas sulit untuk didefinisikan dengan tepat, dan New Man mengusulkan agar didefinisikan sekurang-kurangnya 3 buah, yaitu: 1. Kompaktibilitas, atau kemudahan dimana beton dapat dipadatkan dan rongga-rongga udara diambil. 2. Mobilitas, atau kemudahan dimana beton dapat mengalir didalam cetakkan di sekitar baja. 3. Stabilitas, atau kemampuan beton untuk tetap sebagai massa yang homogen, koheren, dan stabil selama dikerjakan dan digetarkan tanpa terjadi pemisahan butiran (segregasi).

Pada hal ini dapat ditambahkan kemudahan dimana tercapai penyelesaian akhir yang baik, terutama untuk permukaan vertikal yang dicetak dengan acuan dan pelat lantai, dimana dibutuhkan tenaga untuk menambalnya. Apabila betonnya dibuat untuk beberapa tujuan yang berbeda-beda, maka dalam segi penyederhanaan, maka dalam

merencanakan campuran beton usahakan yang semudah mungkin untuk dikerjakan.

II.2.1.4 Durabilitas

Durabilitas atau sifat awet berhubungan dengan kekuatan desak, pada umumnya semakin besar kekuatan makin awet betonnya. Meskipun demikian, sering terjadi kekuatan yang disyaratkan dapat tercapai dengan campuran yang besar faktor air/semennya dari pada yang dapat memberikan durabilitas yang cukup terhadap lingkungan yang dialami beton. Dalam hal ini faktor air/semen yang sebenarnya dan kepadatan beton merupakan faktor yang menentukan, dan kekuatannya mungkin akan lebih besar daripada yang disyaratkan dengan ketat untuk tujuan strukturil.
8

II.2.1.5 Penyelesaian Akhir dari Permukaan Beton

Kohesi yang kurang baik dapat merupakan salah satu sebab penyelesaian akhir yang kurang baik, apabila beton dicetak pada acuan tegak, seperti goresan pasir dan variasi warna, dapat juga mendatangkan kesulitan dalam menambal bidang horizontal, yang halus dan padat. Agar dapat memenuhi persyaratan ini yaitu dapat membuat beton padat yang perlu untuk perlindungan tulangannya, mutlak diperlukan kandungan butiran halus yang mencukupi. Butiran halus ini terdiri atas pasir maupun pasta semen. Cara-cara perencanaan campuran yang akan diterangkan kemudian akan menghasilkan beton dengan kohesi yang baik,

penyelesaian permukaan yang baik dan terbebas dari keropos dan segregasi.

II.2.2 Prosedur Perbandingan Campuran
Pedoman untuk komposisi spesi beton yang dapat dipegang antara semen, pasir, kerikil harus berupa perbandingan 1:2:3. Satuan pembanding ini dalam volume. Misalkan, berdasarkan semen 50 kg (40 lt) berarti untuk agregat halusnya (pasir) sebanyak 80 lt, sedangkan untuk agregat kasarnya (kerikil) sebanyak 120 lt. Apabila hal ini terencana dengan baik, maka mutu beton yang kita buat akan sesuai dengan mutu beton yang akan kita rencanakan. Agar dapat mencapai perbandingan campuran seperti diatas, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

II.2.2.1 Semen Semen yang digunakan harus mencapai tingkat kehalusan yang baik, semen memenuhi syarat kehalusan apabila : Tertahan saringan no.100 Tertahan saringan no.200 :0% : maksimum 22 %

Semen yang dipakai pada pembuatan beton ini adalah jenis semen portland.
9

II.2.2.2 Pasir Pasir sebaiknya dicuci bersih karena banyaknya kandungan bahan organik yang ada pada pasir dapat menyebabkan pasir tidak homogen. Sehingga dalam pencarian Finnes Modulus tidak didapatkan angka mutlak dimana penimbangan pada saat percobaan analisa saringan, berat dari persentase pasir yang tertahan saringan tersebut tidak mencapai 100%.

II.2.2.3 Kerikil

Kerikil yang dipakai harus dicuci terlebih dahulu.selain itu gradasi yang akan digunakan sebaiknya memiliki ukuran yang rata,yaitu sekitar antara 20-30 mm.Namun pada percobaan ini ukuran aggregat yang dipakai menggunakan ukuran yang maksimun yaitu ukuran 20 mm.

10

II.2.3 Rancangan Campuran Beton
Campuran beton yang direncanakan adalah campuran beton mutu K-150 yang akan digunakan untuk beton di dalam ruang dimana dala keadaan keliling nonkorosif. Dengan contoh benda uji sebanyak 5 buah benda uji yang dibuat sesuai dengan bahan-bahan yang digunakan di lapangan setelah penelitian bahan di laboratorium.

Bahan campuran yang dipakai :

1. Semen PPC Tiga Roda Tipe 1 (Portland Composite Cement). 2. Agregat kasar dari Batu Apung ( Uncrushed ) dengan Gs = 1,593 3. Agregat halus dari Pasir Bangka ( Uncrushed ) dengan Gs = 2,7397 4. Proportion Defective (kehilangan) : 5% 5. Slump rencana : 30 – 60 mm 6. Ukuran agregat maksimum : 40 mm 7. Gradasi agregat Halus : Zone 1 8. Kuat tekan rencana : 150 kg/cm atau K 150 pada umur 28 hari 9. Deviasi standar rencana : 3 N/mm 2 10. Faktor air semen maksimum : 0,60 11. Jumlah semen minimum : 275 kg/m 3 12. Absorpsi air pada aggregat halus 13. Absorpsi air pada aggregat kasar 14. Kadar air pada agggregat halus 15. Kadar air pada aggregat kasar : 7.527 : 76.897 % %

: 13.8100 % : 10.5 %

11

II.2.4 Perencanaan Campuran Beton Silinder
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam perencanaan campuran adalah sebagai berikut : 1. Menentukan kuat tekan yang diisyarakatkan ( Characteristic Strength ) Dalam percobaan ini ditentukan mutu rencana beton K-150 berarti beton dengan kuat tekan karakteristik 150 Kg/cm2 atau 15 N/mm2 pada umur 28 hari dengan jumlah bagian yang cacat (Proportion Defective ) sebesar 5 %. 2. Deviasi Standar Rencana Ditetapkan sebesar 30 Kg/cm2 atau 3 N/mm2. 3. Margin ( Nilai Tambah ) Rumus : Margin = k x d Dimana : d = standar deviasi = 3 N/mm2. k = ketetapan statistik yang nilainya tergantung pada prosentase hasil uji yang lebih rendah dari f’c. Dalam hal ini diambil 5 % dan nilai k = 1,64. Jadi Margin = 1,64 x 3 = 4,92 N/mm2. 4. Kuat tekan rata-rata yang ditargetkan ( Target Mean Strength ) Rumus : Target Mean Strength = Characteristic Strength +Margin = 15 + 4,92 = 19,92 N/mm2 5. Tipe Semen Jenis semen yang digunakan adalah PCC (Portland Composite Cement). 6. Tipe Aggregat Jenis aggregat yang digunakan dalam pembuatan beton ini adalah : - Coarse Aggregate ( Aggregat Kasar ) : Batu Apung( Uncrushed ) - Fine Aggregate ( Aggregat Halus ) : Pasir Bangka ( Uncrushed)

7. Faktor Air Semen Bebas ( Free Water Cement Ratio ) Dari tabel 2.1 ( Perkiraan Kekuatan Tekan Beton dalam N/mm2, pendekatan dengan faktor air semen = 0,60 ), dengan data sebagai berikut : - Tipe Semen : PPC

- Tipe Aggregat Kasar : Uncrushed ( Batu Koral ) - Umur Beton : 28 hari
12

TABEL 2.1 Perkiraan Kuat Desak Beton ( N/mm ) dengan faktor air semen 0,60 dan Jenis Semen Serta Agregat Kasar yang biasa dipakai di Indonesia.

13

GRAFIK 2.1 Hubungan Antara Kuat Tekan dan Faktor Air semen

14

8. Faktor Air Semen Bebas Maksimum Untuk menentukan nilai faktor air bebas maksimum kita dapat menentukaan berdasarkan SK SNI 03-2834-2000.

TABEL 2.2 Persyaratan jumlah semen minimum dan FAS maksimum

15

Dalam percobaan kali ini kami membuat beton untuk di dalam ruang bangunan yang dalam keadaan keliling non korosif. Jadi dengan melihat tabel diatas dapat kita

ketahui bahwa nilai faktor air semen maksimum yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah 0,60. Gunakan nilai terendah antara item 7 dan item 8, yaitu 0,60.

9. Menentukan nilai Slump Ditentukan nilai Slump 30-60 mm. 10. Menentukan agregat maksimum Ditentukan besar butir aggregat maksimum adalah 40 mm. 11. Kadar air bebas (Free Water Content)

Dari Tabel 2.3 (perkiraan kadar air bebas dalam kg/m3 ukuran agregat serta slump ), dengan data sebagai berikut :

untuk berbagai jenis dan

TABEL 2.3 Perkiraan Kadar Air Bebas dalam kg/m3 Untuk Berbagai Jenis dan Ukuran Agregat Serta Slump.

16

Slump : 30 – 60 mm Maximum size of agregate : 40 mm Type of Aggregate : Coarse : Uncrushed : Fine : Uncrushed Didapat nilai free water content untuk : Unrushed Coarse Aggregate : 160 Kg/m3 Uncrushed Fine Aggregate : 160 Kg/m3 Rumus : Free Water Ccontent = (2/3 x Wf) + (1/3 x Wc) Dimana : Wf = kadar air bebas untuk aggregat halus ( Uncrushed ) = 160 Kg/m3 Wc = kadar air bebas untuk aggregat kasar ( Uncrushed ) = 160 Kg/m3 Free water content = (2/3 x 160) + (1/3 x 160) = 160 Kg/m3

12. Kadar semen (Cement Content) *Cement Content = Free Water Content / Free Water Cement Ratio = 160 / 0,60 = 266,67 Kg/m3 13. Kadar semen maksimum (Maximum Cement Content) = 160 / 0,6 = 266,67 Kg/m3 14. Kadar Semen Minimum (Minimum Cement Content) Dapat dilihat pada SK SNI Tabel 2.2 yang menyatakan bahwa untuk beton terlindung jumlah semen minimum = 275 Kg/m3. 15. Faktor air semen yang disesuaikan - Dapat diabaikan apabila syarat umum kadar semen sudah terpenuhi. - Apabila kadar semen minimum lebih besar dari item 12, maka faktor air semen disesuaikan dipakai yang maksimal = 275 Kg/m3. 16. Daerah Gradasi Aggregat Halus Berdasarkan informasi dari Produsen Pasir adalah Zone 1
17

17. Persen Aggregat Halus (Proportion of Fine Aggregate) Dari Grafik 2.2 (grafik untuk menentukan presentase agregat halus yang digunakan), dengan data sebagai berikut : Maximum Aggregate Size : 40 m Slump : 30 – 60 mm

GRAFIK 2.2 Perbandingan jumlah pasir yang dianjurkan untuk daerah susunan butir 1, 2, 3, dan 4.
18

Tarik garis vertikal dari absis yang menyatakan free water / cement ratio sebesar 0,6 sampai berada ditengah-tengah Zone 1, lalu tarik garis horisontal sehingga didapat ordinatnya yang menunjukkan Proportion of Fine Aggregate sebesar 39%.

18. Berat Jenis Relative Aggregat (SSD) Sebelum item ini dikerjakan, harus dihitung dulu item 16 dan 17 untuk menentukan proporsi aggregat halus dan kasar. Dari item 17 diperoleh :  Proportion of Fine Aggregate  Proportion of Coarse Aggregate Dari data percobaan diperoleh :  Gs Pasir Bangka (Fine Aggregate) : 1,593  Gs Batu Apung (Coarse Aggregate) : 2,7397 Maka Asumsi harga Gs adalah :  Gs = (39 % x 1,593 ) + (61 % x 2,7397 ) = 2,3 19. Berat jenis beton ( Concrete Density ) : 39 % : 100 % - 39 % = 61 %

Diperoleh dari Grafik 2.3 (grafik hubungan kadar air bebas, relative density agregate dan kepadatan beton). Buat garis lurus untuk nilai Gs = 2,3 lalu tarik garis vertikal dari absis free water content sebesar 160 kg/m3 memotong garis lurus tadi. Dari titik potong tersebut tarik 3 garis horisontal ke ordinat yang menunjukkan besarnya concrete density , yaitu sebesar 2187,5 kg/m3

19

GRAFIK 2.3 Perkiraan berat jenis beton basah yang dimampatkan secara penuh.

20. Kadar Aggregat Gabungan (Total Aggregate Content) Total Aggregate Content = Concrete Density – Free Water Content – Cement Content =2187,5 – 160 – 275 = 1752,5 Kg/m3 21. Kadar Aggregat Halus (Fine Aggregate Content) Fine Aggregate Content = Proportion of Fine Aggregate x Total Aggregate Content = 39 % x 1752,5 = 683,475 Kg/m3 22. Kadar Aggregat Kasar (Coarse Aggregate Content) Coarse Aggregate Content = Total Aggregate - Fine Aggregate Content = 1752,5 - 683,475 = 1069,025 Kg/m3

20

II.2.5 Koreksi Proporsi Campuran Beton Silinder
Air =B
Ck Ca C 100 Dk Da D 100

= 160 – {(13.81 % -7.527 %) x (683,475 / 100)}{(10.31 % - 76.897%) x (1069,025 / 100) = 160 – 42,94 + 710,55 = 877,61 Kg/ m3 Agregrat halus
C Ck Ca C 100

= 683,475 + {(13,81 % - 7.527 %)}x (683,475 / 100) = 683,475 + 42,94 = 726,415 Kg / m3 Agregat Kasar
D Dk Da D 100

= 1069,025+ {(10.31 % - 76.897%) x ( 1069,025 / 100 ) = 1069,025 – 710,55 = 358, 475 Kg / m3 *dimana : B C D Ca Da Ck Dk n = Jumlah air (kg/m3) = Jumlah aggregat halus (kg/m3) = Jumlah aggregate kasar (kg/m3) = Absorption air pada aggregat halus (%) = Absorption air pada aggregat kasar (%) = Kadar air aggregat halus (%) = Kadar air aggregat kasar (%) = Banyaknya jumlah benda uji

Volume Silinder = π r2 t = (3,14) x (0,075)2 x 0,3 = 0,00529875 m3 Faktor Koreksi = (n x Volume Silinder) + (Proportion Defective x n x Volume Silinder) = (5 x 0,00529875) + (5 % x 5 x 0,00529875 ) = 0,0039 Faktor koreksi untuk Air Content = 0,02535
21

II.2.6 Proporsi Campuran yang dibutuhkan untuk benda uji silinder
Untuk 5 buah benda uji silinder :

Berat Air

= (Koreksi Proporsi Air x Faktor Koreksi ) + (Koreksi Proporsi Air x Faktor koreksi untuk Air Content ) = ( 877,61 x 0,0039 ) + ( 877,61 x 0,02535 ) = 6,5 kg

Berat Semen

= (Koreksi Proporsi Semen x Faktor Koreksi ) + (Koreksi Proporsi Semen x Faktor koreksi untuk Air Content ) = ( 275 x 0,0039 ) + ( 275 x 0,02535 ) = 8 Kg

Berat Aggregat Halus = (Koreksi Proporsi Aggregat Halus x Faktor Koreksi ) + (Koreksi Proporsi Aggregat Halus x Faktor koreksi

untuk Air Content ) = ( 726,415 x 0,0039 ) + ( 726,415 x 0,02535 ) = 21 Kg Berat Aggregat Kasar = (Koreksi Proporsi Aggregat Kasar x Faktor Koreksi ) + (Koreksi Proporsi Aggregat Kasar x Faktor koreksi

untuk Air Content ) = ( 358,475 x 0,0039 ) + ( 358,475 x 0,02535 ) = 10 Kg

22

LABORATORIUM TEKNOLOGI KONSTRUKSI BETON FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS GUNADARMA Jalan Akses UI, Kelapa Dua, Depok

No. 1. 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6

Uraian Kekuatan karakteristik Deviasi standar Kekuatan (margin) Target kekuatan rata-rata Type semen Type agregat : Kasar Halus 1.7 1.8 Faktor air semen Faktor maksimum Slump atau VB Ukuran butir maksimum Kadar air Kadar semen minimum Kadar semen maksimum Kadar semen minimum Modifikasi semen Berat jenis aggregat (jkp) Berat isi beton Kadar total aggregat Gradasi aggregat halus Proporsi aggregat halus Kadar aggregat halus Kadar aggregat kasar faktor air air semen tambahan

Keterangan Ketentuan Diketahui PBI P1 P2 Ditetapkan

Nilai 15 N/mm2, pada umur 28 hari, bagian yang cacat 5 % 3 N/mm2 atau 30 kg/cm2 (k= 1,64) 1,64 x 3 = 4,92 N/mm2 15 + 4,92 = 19,92 N/mm2 PCC (Portland Composite Cement) -Uncrushed (batu apung) -Uncrushed (pasir bangka)

(Tabel…) Ditetapkan atau PBI Ketentuan Ketentuan Tabel… P3 Ketentuan Ketentuan

0,60 (gunakan nilai terendah) 0,60 Slump30-60 mm 40 mm 160 kg/m3 275 kg/m3 275 kg/m3 275 kg/m3 digunakan bila > hasil perhitungan 3.1, hitung 3.4 -

2.

2.1 2.2 2.3

3.

3.1 3.2 3.3

3.4 4. 4.1 4.2 4.3 5. 5.1 5.2 5.3 5.4

Grafik ( di Lampiran ) P4

2,3 diketahui/perkiraan 2187,5 kg/m3 1752,5 kg/m3

Grafik ( di Lampiran ) P3

Zone 1 39 % 39 % x 1752,5 = 683,475 kg/m3 1752,5 – 683,475= 1069,025 kg/m3

Tabel 3.2 Rancangan Campuran Beton Silinder 23

BAB III METODE PEMBUATAN
III.1 Penelitian Bahan
III.1.1 Berat Jenis dan Penyerapan Aggregat Kasar
Maksud: Untuk mengetahui berat jenis aggregat kasar dan kemampuannya menyerap air. Peralatan: 1. Dunagan test set 2. Saringan No. 4 3. Oven 4. Pan

Prosedur Percobaan: 1. 2. Siapkan benda uji yang tertahan saringan No. 4 sebanyak 500 gram. Cuci benda uji tersebut lalu keringkan dalam oven pada suhu 110oC selama 24 jam. 3. Dinginkan dalam ruang terbuka selama 2 jam, lalu rendam dalam air mineral selama 15 atau 24 jam. 4. Buang air rendamannya, lalu tumpahkan di atas kain yang menyerap air. Keringkan masing-masing aggregat yang besar untuk memperoleh kering permukaan (SSD). 5. 6. Timbang agregat yang telah kering permukaan tersebut (A) Segera masukan ke dalam keranjang dunagan kemudian celupkan ke dalam container berisi air. Goyang-goyangkan keranjang tersebut didalam air untuk mengeluarkan gelembung-gelembung udara yang terperangkap. 7. 8. Timbang berat aggregat dalam air (B). Keringkan agregat dalam oven selama 24 jam pada suhu 1100C, setelah didinginkan timbang berat keringnya (C).

24

III.1.2 Perhitungan Berat Jenis dan Penyerapan Aggregat Kasar

Bulk Spesific Gravity

= = = 0,901

SSD

=
= = 1,593

Apparent Spesific Gravity =
=

= 2,929 Absorbtion / Penyerapan = = = 76.897%

Kesimpulan

Berdasarkan data praktikum dan hasil perhitungan yang telah dilakukan, maka dapat diketahui nilai Bulk Spesific Gravity sebesar 0.901 ; SSD sebesar 1.593 ; Apparent Spesific Gravity sebesar 2.929 ; dan Absorbtion (penyerapan) sebesar 76.897 %. Hasil dari perhitungan tersebut digunakan dalam penentuan variabelvariabel pada mixed design.

25

III.1.3 Berat Jenis dan Penyerapan Aggregat Halus
Maksud: Untuk mengetahui berat jenis aggregat halus dan penyerapannya.

Peralatan:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram Labu ukur 500 ml Kerucut kuningan (cone) Penumbuk (tamper) Talam Sendok pengaduk Oven Saringan no. 4

Prosedur Percobaan:

1. 2.

Ambil benda uji yang lolos saringan No. 4 sebanyak 1000 gram. Buat perempat bagian agar contoh dapat mewakili kemudian ambil sebanyak 1000 gram.

3.

Masukkan ke dalam alat pemisah sehingga benda uji tersebut terbagi kedalam dua bagian. Keringkan dalam oven pada suhu 110oC selama 24 jam lalu dinginkan. Rendamlah benda uji tersebut selama 24 jam dalam air. Tebarkan contoh di atas talam lalu aduk-aduk di udara terbuka dengan panas matahari sehingga terjadi proses pengeringan yang merata atau dengan cara dipanaskan di atas kompor.

4. 5. 6.

7.

Apabila suhu contoh sudah sama dengan suhu ruang, masukkan ke dalam kerucut kuningan dan dibagi kedalam 3 bagian, lapis pertama dipadatkan dengan penumbuk sebanyak 8 kali, lapis kedua 8 kali dan lapis ketiga 9 kali,
26

sehingga jumlah keseluruhan tumbukan 25 kali dengan tinggi jatuh 5 mm di atas permukaan contoh secara merata dan jatuh bebas. 8. 9. Bersihkan daerah di sekitar kerucut dari butiran aggregat yang tercecer. Angkat kerucut tersebut dalam arah vertikal secara perlahan-lahan.

10. Amati contoh saat dibuka, apabila masih terletak rapi, maka contoh masih basah. Keringkan kembali contoh tersebut dan apabila jatuh lepas keseluruhan maka contoh terlalu kering, maka lakukan lagi seperti langkah 7 sampai didapat contoh dalam keadaan SSD. 11. Masukkan ke dalam pan dan cover untuk menghindari penguapan. 12. Amati benda uji yang tercetak tersebut, bila masih terdapat lapisan air permukaanya, percobaan diulang lagi setelah diadakan pengeringan

secukupnya. Bila tidak terdapat lapisan air dipermukaannya dan terjadi penurunan pada permukaan benda uji tersebut, berarti benda uji tersebut telah mencapai kering permukaan. 13. Isi labu ukur dengan air suling setengahnya lalu masukkan benda uji tersebut ke dalam labu ukur sebanyak 100 gram, jangan sampai ada butiran yang tertinggal. Tambahkan air suling sampai 90% kapasitas labu. 14. Rendam air hingga suhunya mencapai 25 oC lalu tambahkan air suling sampai tanda batas. 15. Timbang dengan ketelitian 0,1 gram (C). 16. Cari berat kering benda uji tersebut dengan memanaskannya ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 100oC (A). 17. Isi labu ukur tadi dengan air suling sampai tanda batas lalu timbang dengan ketelitian 0,1 gram (B).

27

III.1.4 Perhitungan Berat Jenis dan Penyerapan Aggregat Halus

Bulk Spesific Gravity

= = = 2.548

Bulk Spesific Gravity (SSD) = = = 2.7397 Apparent Spesific Gravity = = = 3.153 Absorbtion / Penyerapan =
= = 7.527 %

Kesimpulan Berdasarkan data praktikum dan hasil perhitungan yang telah dilakukan, dapat diketahui nilai rata-rata dari Bulk Spesific Gravity adalah 1.646 ; Bulk Spesific Gravity (SSD) adalah 2.7397; Apparent Spesific Gravity adalah 3.153; dan nilai Absorbtion adalah 7.527 %.

28

III.2 Persiapan bahan
Maksud : Untuk mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan pada proses pengecoran.

Peralatan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Batu Apung Pasir Bangka Semen PCC Tiga Roda Air PDAM Bestmittle Putih Telur Ayam Ember Timbangan

Penggunaan Alat : 1. Memasukan pasir bangka kedalam oven selama 24 jam dengan suhu 90°C, lalu menyaring pasir bangka dengan Saringan ukuran 8.

2. Timbang pasir bangka dengan berat 20 Kg 3. Membersihkan Batu apung dengan air, kemudian menyortir batu apung dengan ukuran 10mm-40mm dengan bentuk bulat. 4. Timbang batu apung dengan berat 8 kg. 5. Semen PCC Tiga Roda dengan berat 13 Kg. 6. Timbang Putih telur dengan berat 1 Kg. 7. Bestmittle dengan berat 17 gram 8. Air PDAM 6.5 Kg

29

III.3 Pengecoran
III.3.1 Concrete Mixer Test
Maksud : Alat ini digunakan untuk mengaduk campuran beton supaya didapatkan campuran beton yang homogen. Peralatan : 1. Concrete mixer 2. Sekop 3. Talam persegi 4. Ember 5. Talang 6. Gelas ukur

Penggunaan Alat : 1. Membersihkan bagian dalam concrete mixer. 2. Menghubungkan dengan aliran listrik lalu hidupkan. 3. Memasukkan batu apung, pasir bangka, dan semen PCC Tiga Roda yang telah ditimbang sesuai dengan perencanaan, lalu memasukkan air yang telah di campur oleh campuran bestmittle sedikit demi sedikit. 4. Meletakkan talang didepan concrete mixer sedemikian rupa sehingga tumpahan beton dapat jatuh ke talang. 5. Setelah diperoleh campuran yang homogen, membuka pengunci tuas pengungkit lalu gulingkan corong concrete mixer, sehingga campuran beton yang ada di dalamnya tumpah ke dalam talang, adukan siap digunakan.

Perawatan : 1. Lumasi gigi-gigi penggerak dengan stempet. 2. Lindungi motor penggerak dari air. 3. Bersihkan bagian dalam concrete mixer dari sisa-sisa adukan beton.

30

III.3.2 Slump Test
Maksud : Untuk mengukur nilai slump adukan beton segar sehingga dapat diketahui kemudahan untuk mengerjakannya (workability) Peralatan : 1. Corong slump dan Batang pemadat 2. Pelat alas dan Batang pemadat 3. Mistar pengukur, Sendok semen, dan Sekop Prosedur Percobaan : 1. 2. 3. Ambil adukan beton yang baru dikeluarkan dari concrete mixer. Letakkan corong slump di atas alas. Masukan adukan beton kedalam corong kurang lebih 1/3 bagian lalu tusuk-tusuk dengan batang pemadat secara merata sebanyak 25 kali. 4. Lakukan hal yang sama lapisan kedua dan ketiga. Penusukan batang pemadat hanya untuk lapisan yang bersangkutan saja dan mengenai lapisan sebelumnya. 5. 6. Ratakan permukaan atasnya dengan batang pemadat. Angkat corong tersebut dengan hati-hati dalam posisi vertical lalu ukur penurunan yang terjadi (selisih antara tinggi awal dengan tinggi akhir). Besarnya penurunan ini disebut nilai slump. Perawatan :  Bersihkan corong slump segera setelah percobaan.  Ukur corong slump sebelum percobaan dilakukan. Data Praktikum: Nilai slump yang didapatkan untuk beton : Slinder = 35 mm

Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan yang telah di lakukan, didapatkan nilai slump untuk beton silinder sebesar 35 mm, sehingga dapat disimpulkan campuran beton tersebut memenuhi standar slump yang telah ditetapkan pada concrete mixer test.
31

BAB IV URAIAN HASIL UJI
IV.1 Kuat Tekan Beton
Maksud : Untuk mengetahui kekuatan beton pada hari ke-3 dan hari ke-7

Peralatan : 1. Mesin tekan hidrolik 2. Cetakan silinder 3. Capping set

Prosedur Percobaan : 1. Setelah beton mengering (kurang lebih satu hari), membuka cetakkan tersebut lalu beton di jemur di bawah sinar matahari. 2. Memanaskan capping compound dalam melting pot sampai mencair kemudian tuangkan pada alas cetak. Segera letakkan bagian silinder beton yang tidak rata sehingga ujung permukaan benda uji dilapisi capping compound yang mengeras. 3. Meletakkan beton pada hari ke-3 atau ke-7 pada meja penekannan. Memeriksa manometer yang akan digunakan, memutar jarum merahnya sehingga berimpit dengan jarum hitam pada skala nol. 4. 5. Menghidupkan mesin penggeraknya dan handle di stel pada posisi penekanan. Mengamati pergerakan jarum manometer tadi, catat nilai maksimum beban yang dapat ditahan oleh benda uji (sampai benda uji pecah). Setelah dibagi dengan luas penampang benda uji, didapat nilai kuat tekan karakteristik beton tersebut

32

LABORATORIUM TEKNOLOGI KONSTRUKSI BETON FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS GUNADARMA Jalan Akses UI, Kelapa Dua, Depok

Volume Beton
a b

Umur (Hari)

T

Berat (Kg)

Silinder (mm³)

Kuat Tekan Tekanan (N) 80.000 100.000 (MPa) 4.52937 5.661713

1 2

e3 l 7

7,09
7.437

5.298.750 5.298.750

3.4 Uji kuat tekan beton silinder

IV.2 Uraian Hasl Uji
Kuat tekan yang didapat dari hasil pengujian pada hari ke-3 dan hari ke-7 mengalami peningkatan sebesar 20 KN. Berat dari benda uji pun mengalami penurunan atau penyusutan. Penurunan terbesar terjadi pada hari pertama dan kedua. Hal ini menandakan beton mengalami proses hidratasi. Dari data diatas kita bisa memprediksi kuat tekan yang dicapai pada hari ke-14 dan hari ke-28. Dengan menggunakan faktor pembagian kuat tekan kita bisa memprediksikan besarnya kuat tekan pada hari ke-14 , ke-21 dan hari ke-28.

FAKTOR PEMBAGIAN KUAT TEKAN SILINDER umur 3 0.46 7 0.7 14 0.8 21 0.96 28 1

33

umur (H)

beban (kg)

kuat tekan (kg/cm2) 452.937013 566.171267 509.55414

kuat tekan (14 hari) 787.716545 647.052876 717.384711

kuat tekan (21 hari) 945.259854 776.463452 860.861653

kuat tekan (28 hari) 984.645681 808.816095 896.730888

3 7 RATA -RATA

80000 100000 90000

1200 1000 800 600 400 200 Beton 1 Beton 5 Rata-rata

0
14 Hari 21 Hari 28 Hari

Dari grafik diatas diperoleh kuat tekan pada hari ke-28 adalah sebesar 158 KN. Kuat tekan ini memenuhi kriteria dari kuat tekan yang diisyaratkan.

34

Lampiran Foto Hari Ke-3

35

Lampiran Foto Hari Ke-7

36

Dari gambar di atas kita bisa sedikit menganalisa dari warna dalam beton yang masih berlihat hitam, ini menandakan beton masih dalam keadaan basah atau belum kering sempurna. Beton masih dalam proses hidratasi. Dari gambar terlihat bahwa bentuk runtuhan beton mempunyai pola atau ”berbentuk”. Hal ini menunjukan bahwa beton cukup homogen artinya aggregat beton tersebar secara merata di seluruh isi beton. Bisa dilihat pula aggregat kasar yaitu batu apung (pumice) mengalami cracking, hal ini menunjukan bahwa batu apung memang memiliki daya tekan yang rendah. Tetapi batu apung (pumice) juga memiliki daya lekat yang tinggi terlihat pada gambar batu apung tidak ada yang terlepas dari pasta.

37

BAB V RINCIAN DANA
V.1 Anggaran Beton ( Harga Pasar )
Kini, untuk membuat beton tak harus mengandalkan bahan-bahan beton konvensional yakni pasir, kerikil, dan semen. Berkat keuletan sejumlah peneliti, berbagai limbah bisa dimanfaatkan untuk itu. Oleh karena itu harga untuk pembuatan beton bisa ditekan. Berikut kami lampirkan beberapa daftar harga bahan-bahan pembuat beton :
NO Jenis Bahan 1 Semen 2 Batu apung 3 Spilt 4 Pasir Uraian PCC (Tiga roda) ukuran krikil Batu Pecah Bangka Satuan Zak m³ m³ m³ Harga 50000 150000 160000 185000

V.2 Biaya Percobaan
Perbandingan campuran beton :

Semen : Pasir : Apung 4 : 10 : 5

Bahan yang dibutuhkan untuk membuat beton 1 m³ Semen Pasir Apung : 4/19 = 0,21 m³ : 10/19 = 0.54 m³ : 5/19 = 0.26 m³ == Rp 100.000,== Rp 90.000,== Rp 40.000,== Rp 20.000,-

Admixture : telur dan bestmitel

TOTAL

Rp 250.000,38

Harga
310 300 290 280 270 260 250 240 230 220

Harga

pasar

praktik

Grafik perbandingan harga beton pasaran dengan harga beton praktik.

39

BAB VI PENUTUP
VI. 1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil uji yang kami lakukan pada beton hari ke-3 dan ke -7 , menghasilkan kuat tekan masing-masing 80 KN dan 100 KN dan berat masing-masing 7,09 Kg dan 7,437 Kg. Sehingga dalam hal ini penggunaan batu apung ( Pumice ) sebagai aggregat kasar dan pasir Bangka sebagai aggregat halus, merupakan campuran yang lebih menekankan pada beban yang bersifat ringan sedangkan untuk besarnya kuat tekan ” belum ”mempunyai pengaruh terlalu besar. Untuk Putih telur yang merupakan addmixtures pada beton ini mempunyai pengaruh terhadap kuat tekan, walaupun tidak begitu besar. Adapun biaya yang digunakan dalam pembuatan beton ini yaitu lebih murah dari harga atau biaya beton di pasaran. Dan dengan workability yang mudah, biaya pembuatan beton dapat ditekan lagi.

VI. 2 Saran
Bagi mahasiswa ataupun para peneliti lain yang ingin menggunakan Batu Apung ( Pumice ) dan pasir Bangka sebagai pengganti aggregat kasar dan halus, harus lebih fokus terhadap pembuatan mixed design, dan lebih teliti terhadap proses pembuatan atau pengecoran itu sendiri.

40

DAFTAR PUSTAKA
1. 2. 3 Departemen Pekerjaan Umum., Tata Cara Pembuatan Beton Normal, SK SNI T-15-1990-03 Laboratorium Teknologi Bahan Konstruksi., Diktat Praktikum Beton Teknik Sipil, Universitas Gunadarma 2003 Pramono, Didiek; Suryadi HS., Bahan Konstruksi Teknik, Penerbit Universitas Gunadarma, Jakarta, 1998

41

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.