PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang

pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe :

1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998). Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Gramineae dan

nenas. . peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. karet. pepaya. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. kebanyakan berbentuk bulat telur. selada. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. kapas. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. barley. kacang tunggak. vesikel (vesicle) dan spora. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul.Leguminosa umumnya bermikoriza. teh. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. tembakau. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). 2003). bawang. jeruk. 2004). kopi. pembengkokan inti sel. akan tetapi belum berhasil. 2004). palem. singkong dan sorgum. kakao. pembentukan organ baru. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. Arbuskul berperan dua arah. 2004). Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. 2004). dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. apel dan anggur (Rahmawati. 1. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. padi gogo. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. 2.

baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Schubler et al. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Intraspora. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. Pacispora. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. 1981). Dengan bertambahnya umur. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium.Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Scutellospora. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. seperti agregasi dan stabilisasi tanah.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. Oleh karena itu. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Gigaspora. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. Mirip dengan cendawan patogen. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. . dan Glomus sp. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. Paraglomus. Gigaspora-ceae. Diversisporaceae. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. Kuklospora. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). 1981). Walaupun demikian. yang memiliki perbedaan tegas. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Acaulospora. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). Entrophospora. 3. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. Diversipora. 2006). tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. Geosiphon.

Program Studi Ilmu Tanaman. Abdul Madjid. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri.com. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. (Sagin Junior & Da Silva. 2002). Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Http://dasar2ilmutanah. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang.blogspot. 2006). Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Indonesia. 2009. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. kepadatan propagula. Palembang.. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Propinsi Sumatera Selatan. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Indonesia. A. Diposkan oleh Dr. Program Magister (S2). Ir. Program Pascasarjana. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Bahan Ajar Online. tanaman inang. . Program Pascasarjana. 1991). Universitas Sriwijaya. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. Palembang.

Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. Universitas Sriwijaya. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. Program Pasca Sarjana. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. Program Pasca Sarjana. Vesser et al. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. pH. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Universitas Sriwijaya. 1981). Palembang.. Program Studi Ilmu Tanaman. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. Indonesia. Program Magister (S2). Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.** Program Studi Ilmu Tanaman. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Palembang. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman . tanah. Program Magister (S2). (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. hal ini menguntungkan. logam berat dan fungisida. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Indonesia.pada tengah hari. kadar air tanah. 1981). PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. bahan organik tanah. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. Untuk daerah tropika basah. saat kelembapan air rendah. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan.

Serasah tersebut mengandung hifa. 1984). Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA.ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. 1981). 1997). Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal . (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. 1997). air dan udara. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik.

Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. fungisida Agrosan. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. klor..5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. 1981). Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. 1982 dalam Anas. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Cendawan pada umumnya . Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). 1997). Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. 1984). tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. dan Na yang tinggi (Mosse. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. 1984 dalam Anas. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Al.yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. 1997). Benlate. alumunium dan mangan.. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Plantavax. 1997). Pemakaian fungisida menjadi dilematis.

1996). 1995).memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar.04 menjadi 0. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. jumlah bahan organik yang dihasilkan. ameliorasi dengan bahan organik. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). P. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. . pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. 1995). Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. pembakaran. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. 1 9% (Gededda et al. karena perubahan spesies tanaman. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. cropping sistem. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. 1984). dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. K. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. 1998). Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). Dalam budidaya tradisional. Pada tanaman pisang. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. unsur hara dan struktur tanah. 2005). Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional.

Bahan Ajar Online. Untuk tanaman manggis. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. jumlah daun pada umur 4. Indonesia.blogspot. Indonesia. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. 1996). Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Sawahlunto Sijunjung.2% dibandingkan dengan kontrol. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang.5% dibandingkan dengan kontrol.com. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Program Studi Ilmu Tanaman.7% dibandingkan dengan kontrol. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. Palembang. Universitas Sriwijaya. Palembang. 2009. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. Universitas Sriwijaya. A. 8 dan 28 MST. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. Ir. Palembang. Http://dasar2ilmutanah. Program Magister (S2). Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. sedangkan inokulasi G. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya. Indonesia. sedangkan inokulasi G. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. ** Program Studi Ilmu Tanaman.Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan.masing sebesar 5. . Program Pasca Sarjana. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. 2002). manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. G. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Pascasarjana. Abdul Madjid. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Palembang. Program Pasca Sarjana. bobot kering tajuk.7% dan 4. Diposkan oleh Dr. Program Magister (S2). MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.

Selain daripada membentuk hifa internal. Selain itu.(Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. serta patogen akar. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. kekeringan. pemadatan. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. keasaman. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. salinitas. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. dan Zn). 2006). Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. Cu. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke . 1997). Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Di dalam arbuskul. Fe. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. 3) melindungi dari herbisida. 1997). Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. Zn.

Setelah periode kekurangan air (water stress). sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. 2006). Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Pada kedelei. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1.tanaman inang. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. 1997). masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. K dan S. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya . Dengan adanya CMA. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Zn dan Cu meningkat. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. 1994). Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya.

Jika terhadap jasad renik berguna. Infeksi patogen akar terhambat. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. 2. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. Dilain pihak. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang.simpan air kecil. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. 4. Interaksi . sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit.1997). sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). 3. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen.. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. 1994). yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. 1993). Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. 2. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. atau lahan terpolusi lainnya. tailing tambang batubara.

2000). yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. 1981 dalam Husin dan Marlis. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. Bila ini benar. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. sitokinin dan giberalin. 1981). Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air.sebenarnya antara CMA. 3. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. 40% kebutuhan nitrogen. Perbaikan Struktur Tanah. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. 5. 1997). dan giberalin. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. 4. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi . Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. 1997). yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. patogen akar. citokinin. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. 1997). Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. Pada tanaman tertentu. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen.

Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah.. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. 2002). yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman.. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. . Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. tapi juga bagi tanah. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. Menurut Hakim. 2002). Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza.agregat mikro.

setelah didahului dengan proses infeksi akar. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. Magnesium (Mg++). Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas .5. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). Secara alami mikoriza terdapat secara luas. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. yaitu mencapai 70. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. Seng (Zn++). Besi (Fe++). Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air.6 hexakisphospat). Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. khususnya pada tanah yang miskin P.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1.. japonicum. 1997). Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting.33%.3.2. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. dan protein. 1987). 2002). Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. B.50–90. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Prihastuti et al. Phytat adalah senyawa phospat komplek. 1999). 2006).1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N.4. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. phosphor bebas dan mineral.6. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi.

tanaman inang. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. . Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4.tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. 1994). Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. tanaman bermikoriza . 1995).1. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. spesies cendawan. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. temperatur. perkebunan. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. kadar air. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. 7. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". baik untuk tanaman pangan. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. 2004). 6. Kalimantan. tanaman tanpa mikoriza) / BK. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. baik secara langsung maupun tidak langsung. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. Sulawesi dan pulau besar lainnya. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. miskin hara dan bahan organik. Sedangkan secara langsung. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. pH. 3. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara.BK. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). tipe perakaran tanaman inang. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. adanya asosiasi ini. Secara tidak langsung. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. Bagi tanaman inang. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin.

dan hasil kedelai meningkat dari 2. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ).. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Disamping untuk tanaman pangan. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam .15 mg P/tanaman. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat.84 g biji/tanaman menjadi 5. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. serta serapan hara NPK. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman.66 mg P/tanaman.02 g biji/tanaman menjadi 5. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak.1997). tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0.13 mg P/tanaman menjadi 2. infiltrasi air hujan rendah.13 g biji/tanaman. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut.98 g biji/tanaman. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. 1997).18 mg P/tanaman menjadi 2. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza..kejenuhan Al tinggi. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . net fotosintesis. 1996) dan pepaya (Cruz et al.

Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar. karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti. 1994). jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik. Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. 1994 dan Tam. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat. kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. 2000). Zn dan Cu (Al-Kariki. Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun. tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. 2001). Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. 1995 dalam Aggangan et al. karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang . Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. 7. Dalam kondisi salinitas tinggi. meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al. 3. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. Namun demikian. meningkatnya tekanan osmotik. et al. terhidar dari plasmolisis. Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin.jaringan dan transpirasi yang lebih besar. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. 2000). Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Peneliti lain.

Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut.. maka laju penurunan hasil clover meningkat. dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). 1993). ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. 12 diantaranya bermikoriza. disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa. bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit.. 2000). meningkatkan N tanah setelah percobaan. efisiensi penyerapan P. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan. Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Menurut Wachjar et al (2002). zat yang melarutkan PAH. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek.berbeda. Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Oliveira et al. juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover. mempercepat umur berbunga tanaman jagung. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. . Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. (2001) menunjukkan bahwa P.

misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S. mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Dengan teknologi mikoriza. dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm. berharap jati muna yang telah .tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama. produktivitas. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007). Selain itu. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007). karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. 2005). Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran.S. sulit dan cukup mahal transportasinya. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman. baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran.

lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. Peningkatan kadar P nira. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. 69. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. diaduk merata. 8.72 ppm dan tanah Inceptisol.71.66 % .5 ppm.Lima hari kemudian. dengan kadar P tersedia "rendah" .15 %.67. 2.80 % . Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu.65 %. Inokulasi . diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. Untuk mewujudkan harapannya. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah.84 % .90 %. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol.40. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. 2008). Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. selain untuk meratakan hasil. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" .dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. 3. Tujuannya. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. bedeng tersebut dapat digunakan. spora dan akar terinfeksi. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman..76 % -21. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. sebesar 38.

Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. 4. Dalam rangka pelaksanaan program ini. 2008). Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. 5. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. 3. 6. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam.Pada tiap lubang yang dibuat. Tanaman inang dapat berupa jagung. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Dalam teknik pemberian mikoriza. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. . dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. sorgum atau pueraria. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. Manfaat 1.

cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman.J. 2008) . Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari. sampai 230%. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain.00 gram (Hardiatmi S. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri.00 gram.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml.00 gram. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman.50 dan 2. 1. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. Dengan demikian. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya.50.00. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam.M. Setelah itu pil dipecah-pecah. Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0.ah takaran 1. 1. dan Nitrogen (N) 75%. Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman. Kalimantan. Di IPB. Sebagai pembanding. Setelah diberikan pada bibit tanaman. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza .00. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). 1. satu tablet untuk satu bibit. Setelah teruji kemurniannya. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Tablet ini dibuat dari cendawan. Aturan pakainya sederhana. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul.7 sentimeter. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Untuk membuat tablet.Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Kalium (K) bertambah 86%. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat.500 dan 2. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan.

Palembang. Indonesia. Indonesia. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. Program Magister (S2). TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Diposkan oleh Dr. Indonesia. 2009. Universitas Sriwijaya.blogspot. pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan. Ir. Program Pasca Sarjana. A. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Program Magister (S2). . Program Magister (S2).com. Program Pascasarjana.Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. Program Magister (S2). Palembang. Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. Propinsi Sumatera Selatan. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Bahan Ajar Online. Universitas Sriwijaya. MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Abdul Madjid. Http://dasar2ilmutanah. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Palembang. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah.

Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat. jamur yang bersifat patogen. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0. Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian.4-13%). b. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. 4. Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza. Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri. Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1). Rhiphosant. kehutanan. ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------Coklat (kakao) . sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong.Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. Kamizae. Tabel 1.1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. Kawasan PUSPIPTEK Serpong. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan. Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a. OST dan Simbionriza. virus. Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek. perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal.

Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman. Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah. d.2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20.28 34.64 35.70 ------------------------------------------------------------------c. Bali. menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman. Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan). Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal. Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan . Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan. Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut.50 33. 4. Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem. seperti terlihat pada gambar 2 dan 3.000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.44 Dengan Mikoriza 28.70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18. Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media. Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza.14 Dengan Mikoriza 43.Tanpa Mikoriza 28.12 Dengan Mikoriza 48. Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan.50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32.

javanica. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Dengan demikian.pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Aturan pakainya sederhana.7 sentimeter. 2008). dan di kebun percobaan kampus Dermaga.M. Empat bulan kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir . Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. sampai 230%. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Di IPB.S. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam. Setelah teruji kemurniannya. Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Setelah itu pil dipecah-pecah. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. satu tablet untuk satu bibit. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Kalimantan. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. 4. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Untuk membuat tablet. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Selain P. Tablet ini dibuat dari cendawan. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. dan Nitrogen (N) 75%. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. 4.4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Kalium (K) bertambah 86%. Setelah diberikan pada bibit tanaman.3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan.

000 spora secara merata. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang. Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia. (3) Dapat di produksi secara khusus. Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target . Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan. Pada praktek sebelumnya. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus. (3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya. Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza. Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis. akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam.5 g carrier. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak.000 kapsul. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1.dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah. setiap kapsul dibutuhkan 0. Apabila dikemas dalam bentuk tablet. Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas. pH tanahnya sangat bervariasi. Setelah itu. Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri. (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00. Sebelum digunakan. sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna.000 spora. 4. (2) Mempermudah penanganannya. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai. tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman. misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00. berarti dibutuhkan 500 g carrier.

(pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat. Anabaena azollae OST Azotobacter. Azotobacter. (Organic soil treatment) Agrobacterium. Beijerinckie. Clostridium pasterianum. Ankia alni. Mikrococcus. Nitrobacter. R. Bacillus. Sinorhizobium.D. protein dan humus aktif Biota Bacillus spp. Nitrosomonas. Lactobacillus spp. pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar.luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama. Azospirillium. Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit. Aeromonas punctata. Nostoc muscorum. Rhizobium.M. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii. Azzospirillum lipoverum. 2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium. Tabel 3.

Laboratorium Biologi Tanah. Program Pascasarjana. Diposkan oleh Dr. 2009. . Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. IPB. Program Magister (S2). DAFTAR PUSTAKA Anas. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Palembang. Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi. A.com.Madjid. IPB. Program Pasca Sarjana. Bahan Ajar Online. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Biologi Tanah dalam Praktek. 1989. Http://dasar2ilmutanah. 1997. I. Palembang. Fakultas Pertanian. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi.Bioteknologi Tanah. MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin. Program Pasca Sarjana. 2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Palembang. Indonesia. KESIMPULAN 1. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Jurusan Tanah. 2. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. Ir. Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. I.blogspot. Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Program Magister (S2). serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Anas. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. 3. Abdul Madjid.

12-15 Desmber 1995. Ali.M. ISSN 1411-0062. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna.H. No. Dudi.. terhubung berkala : www. hal 83-89. Rusdi Saul. Biochem.B. Universitas Lampung. 2000.. Rev. Prosiding Kongres Nasional VI HITI. 9/2 : 91-95.Adinurani P. Sanon . Azcon. Husnal.com.F. . 1994.M.1. 1997. Mahfud.G..com Fleibach. G. R. Ika RS dan Saubari MM. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds). INFOTENS. Reber.R. M. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis.com dalam http://support. Brundrett. Vol 5. Universitas Lampung.H. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. M. Growth response of Afselia africana Sm. A. Doponnois. Yusuf Nyakpa. Ba. E. 1997. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia. and J. Sutopo Ghani Nugroho. p. H.lunarpages. Fertil. 2007. 2007. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil. Mycorrhiza J. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge. 79:473– 495. 26 (9) : 1201 1205. Lampung. Husin. (Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth. Mulyati M dan Roy H. Soils 24 : 81-86. Lampung. K. nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. Hakim. 2004. 2007. Biol. 2002. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. 2008. 2000. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. Bailey. Hasanudin. A. Faisal T. N. 1986. A. Diversity and classification of mycorrhizal associations. Nurhajati. Go Ban Hong. Vol 5. Biantoro M.M. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www. Soil Biol.google. and F. Martens and H. Dexheimer. Hakim dan Kusli. Iskandar. Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May). Jakarta. El-Atrash. R. M. 2008. Biol. Amin Diha. Lubis. M.google.

Killham. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal. 1981. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering.google. Biotrop Spec. Soils 26 : 79-87. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense . Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi.. 1997. K.com dalam http://hortikultura. Terhubung berkala www.library.Tervesia claveryi. Lozano.id. Biotropia 8 : 39-44.id. 2000.ae.litbang deptan. Dodd and PML. Castro. 10/3 : 115-119. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains.pdf.V. and R.usu. Universitas Jember. Rahmawaty.Lovisolo and A. 2008. 1993. J. A. 2001. Notohadinagoro. Schubert. Mycorrhiza J. A. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion. from saline soils and Glomus deserticola under salinity..Joner. Fertil. 1995. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae. Biol. Bagrayad. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture. Pattimahu. Oliveira. Sekolah Pasca Sarjana. R. Jordan. 2004. Mycorrhiza J.J. and C. S. Effect of various soil environment stresses on the occurance. Jember. Mycorrhiza J.go. M. 2003. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons.Y.G. 1994.. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity. Bogor. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember. 10/4 : 155159. D. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp. Mycorrhiza 10/3 : 137-143.H. . Morte. Plant and Soil 78: 147-150. D. D.S. and McDonald. Ress. Publ. JMR. 2000. Khan. Khan. http ://www. Bull Manjunath. K. Azcon.download/tp/htm-rahmawaty s. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul. 24 Januari 2006. JC. Tejoyuwono.. 2001. Kim. IPB. 1998.. Mosse. E.. C. 10/5 : 241-247. Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian. Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi.No56 : 131-137. Leyval.. 1984. A. Cambridge University Press. Soil ecology.

J. F. Widodo. Am.A. S. 1984. and G. Rao. Incidence of vesicular . Publ. Vol 3. 1994.S Subha. Walker. Wachjar A. N. Soils 28 : 139-144. Edisi Kedua.L. 2006.B. A new fungal phylum. IGM. Soc. Soil Sci. Diposkan oleh Dr.J. A. Thomas.No56 : 131-137. Ragupathy and A. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** . D. 105(12):1413-1421. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution. Biol.arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste. and R. D. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu. Ninin Y. Mycol. 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation. Abdul Madjid. and K. MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali. Franson. S. Dela Cruz. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. Romeida. Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil. R.R. 57 : 77-81.T. J. Simangunsong S. Ir.Rotwell. M. Biotrop Spec. Buletin Agron. Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. 1991. Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland. 1995. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Biotrop Special Publ. dan Marlin. Unsur hara tanaman. Subiksa. Schwarzott. Yadi S. Bogor Schubler. 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza. 2001. A..S. Zarate.K. and C. Kapoor. Penerbit Universitas Indonesia. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman. Singh. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman.. Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans). Mahadevan. Bengkulu. Bethlenfalvay. Plant and Soil 80-99-104 Rani. 2002.. hal 69-74. Res. R. 2002.E.. 2005. Fertil. 1999.

Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. Palembang. Sumatera Selatan. PENDAHULUAN 1.(Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya. Bukit Besar. pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang. Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2). Sumatera Selatan. Bukit Besar. Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. Upaya yang mulai . Program Pasca Sarjana. Palembang. Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya.1. Universitas Sriwijaya. termasuk biodiversitas. baik di Negara maju maupun Negara berkembang. Program Pasca Sarjana. Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan. Universitas Sriwijaya. seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan . Program Magister (S2). biologis dan cultural. Indonesia. Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. Indonesia. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. Bukit Besar. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik . ** Program Studi Ilmu Tanaman. Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam. Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik.

2002). baik kesuburan fisik. Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan.2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif. ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati). Penyedia hara . Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan. Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut ( Gunalan. Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan. Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi. maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar. karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif. Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. maka harus diperoleh galur yang dikehendaki. Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting. penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman. Terutama yang berhubungan dengan pengiriman.dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit. Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus. kemasan . 1996): 1. termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji). harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono. kimia maupun biologi. Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. jamur. kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil. penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan. Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara.

dapat menahan unsur hara di dalam selnya. diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine. Pseudomonas. putida. multivorans (Hasanudin.Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof .5-0. licheniformis. Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) . jamur dan aktinomisetes. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu.2. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana.4. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans. B.0 μm. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1. Micrococus dan Mycobacterium. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. B. Flavobacterium. .5. B. dan P. pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek. P. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. megatherium. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri. Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel. Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah. tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. cereus. B. B. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus.2. seperti eksudat akar dan sisa tanaman. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. fluorescent.2003). 3.berbentuk batang lurus atau lengkung.1 1μm x 1. Pseudomonas terbagi atas grup. ukuran tiap sel bakteri 0. 2. Peningkat ketersediaan hara 3. P. Perombak persenyawaan agrokimia 1. subtilis. polymixa. bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. Arthrobacter. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae. Pemantap agregat tanah 6. Achromobacter.

suhu tinggi dan zat kimia. sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah.terutama yang bersifat heterotrof.tetapi juga dipengaruhi oleh pH . . Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. radiasi cahaya.Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah. tetapi pada umumnya rendah . Semakin tinggi C-organik dan semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P. Endospora mengandung sedikit sitoplasma. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. 6. dan ribosom. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%. Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah. hewan dan mikrobia. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati.3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik. 5. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru.4. materi genetik. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman. asam nukleat.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah. dan gula posfat. nukleotida.2005). fosfolipid. 1. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah. kelembaban temperatur dan faktor lain. dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya.

karbonat apatit. P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas. Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel.Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi. Secara geokimia.4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.Al3+. 1. Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat. Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme. Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0. melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi. yang meliputi occhided-P . Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman. Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel. reductant-P .pembentukan bunga . buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit. Al-P. Dalam bentuk anorganik. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit.Mn2+ dan Ca2+.Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit. yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin. memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah. gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman.2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah. pembentukan akar halus dan rambut akar. AlPO42H2O Variscit. Fe-P dan P tidak aktif. fosfor merupakan 11 unsur yang . dan mineral P primer.01 – 0. FePO42H2O Strengit. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. diantaranya dalam proses sintesis protein. yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen. ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme. 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono. 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit.2007). ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi. aluminium dan hidrat. Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein. Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat.2002). ATP. Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji. Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit.

Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan. berat jenis 3. dan kekerasan 5. sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. dan milisit {(Na. Seperti halnya nitrogen. A. Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik. Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5. mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata. Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan. Program S2. sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak. kilap kaca sampai lemak. Diposkan oleh Dr. mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5). fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis. Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano. hijau.Cl. Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk. seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2).5 juta ton endapan guano (0.43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9.H2O). Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat. MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah . Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik. Sumber lainnya berasal dari jenis slag. Program Pascasarjana. Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal.3 x 1011 mol P th. seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan. yaitu 7.K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}. maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat. cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton. Sebagai contoh 15-30-15. Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2. krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 . Abdul Madjid.40% P2O5. guano.17 . dan metamorf.beku. Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk. Jika aktivitas manusia (anthropogenic). Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis.6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 .20. sedimen. Ir. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K. Http://dasar2ilmutanah. Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F. Masuknya fosfor ke laut sebesar 3. 2009. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air. Universitas Sriwijaya. Siklus P pada Gambar 21 (Buntan. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman.OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros). Di dunia.6 x 1011 mol P th . Propinsi Sumatera Selatan.blogspot. Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat.4 . Selain sebagai bahan pupuk.15.com. 1992).sangat melimpah di kerak bumi.15 3. Bahan Ajar Online. Indonesia.

Program Pasca Sarjana. glioksalat. Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan . Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah . Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana. Indonesia. MgP. Program Pasca Sarjana.Penurunan pH juga disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. oksalat. Al-P. Sumatera Selatan.BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. glutamat. Indonesia. Program Magister (S2). hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. Fe-P atau occluded-P. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat. Sumatera Selatan. Bukit Besar. laktat. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Palembang. Fospor relatif tidak mudah tercuci. PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2. yaitu dalam bentuk Ca-P. malat.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Indonesia. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca.1. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. tartarat dan alfa ketobutirat. fumarat. Palembang. Palembang. Universitas Sriwijaya. suksinat. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat.

demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap.laktat. tartarat). asam amino dan asam fenolik. karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe. sedangkan asam malonat.---> M OH + H2PO4H2PO4 . . (c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat. Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi. Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat. malonat. Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik .OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme. asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif. Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak. dan lemah (suksinat.OH + R-COO. sedang (malat.sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M.(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe. beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd).2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit. diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif . tartarat dan malat berefektivitas sedang. asetat dan ptalat). oksalat. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. salisilat). sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal. Disamping meningkatkan P tersedia. salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P. Terdapatnya asam-asam organik sitrat. malat. tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam. oksalat. Hasil penelitian Pramono et al. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat.

4 x 10^3 1. oksalat. Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1.7 x 10^4 0. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan.0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams. 1961.2 Ammonifiers 5. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar.0 x 10^5 125 Denitrifiers 1. 2007). Tabel 1.0 x 10^5 12 Protozoa 2. sitrat. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. merupakan bentuk antara (transisi). glikolat.0 x 10^8 4. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson.0 x 10^3 2. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1. glukonat. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat.2 x 10^6 1.2 x 10^9 5. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. asetat. alfa ketoglutarat.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4.26 x 10^8 1.0 x 10^6 7 Fungi 1. Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik . namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting.6 x 10^7 7. Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran.Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. suksinat.0 x 10^3 2 Algae 5. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega. malat. 1971.

meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16.7 ppm menjadi 34. AlPO4. Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. lesitin. Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4. . Bacillus substilis. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. 6. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 . 8. batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P.9 dan 0.3. Bacillus sp. Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat.8 – 3. Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro.1 – 3.5 ppm menjadi 30. FePO4. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat. gliserofosfat.6 ppm pada tanah steril. Escherechia freundii dan Escherechia intermedia. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p.8 ppm. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. (3) tingkat dissosiasi asam organik. Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer. Ca3(PO4)2.4 ppm menjadi 59. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro.5 . Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung.7 ppm pada tanah sterl dan 0. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah.9 ppm. Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. apatit. sedangkan pada tanah bereaksi basa P . Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida. 13 dan 14%. mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P.ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides.3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4. 0.

berat kering trubus. misalnya: fungi. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. minimal duplo. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Pada percobaan yang lain P. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Misalnya. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. 1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%. (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. berat basah trubus. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. (3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Moawad. Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%. dan Vlek (1996). Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. dan aktinomicetes. berat kering akar. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. AlPO4 tidak larut dalam air.Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. 2. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi . Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat.2. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. berat basah akar. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. bakteri. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. luas daun serta kadar P trubus. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Pada tanaman jagung.

Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang,

Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini

super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu

3.0.30 (2) Ca3(PO4) 2 1 .5 .1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional . Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 . yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. Tiens Golden Harvest . Azotobacter sp. . Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No.05 . suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai. mikroba pelarut P.5 (5) KCl 0.2 (7) Bromophenol Blue 0.dikembangkan . dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor. Teknologi penyubur tanah dan tanaman. tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder). Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman.01 .20 (3) MgCl2.3.7H2O 0. Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud.5 (6) (NH4)2SO4 0. Lactobacillus sp.6H2O 0. Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost.01 . Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan. Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3). penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% . mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia.Miza Pluss.025 .20 (4) MgSO4. berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan. dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp.

bakteri pelarut fosfat. http://dasar2ilmutanah. Sumatera Selatan. N. A. Indonesia. Masa simpan : 12 bulan. Ir. Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. Propinsi Sumatera Selatan. Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula.Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik. Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Diposkan oleh Dr. Program Magister (S2). (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. Palembang. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Palembang. Program Pasca Sarjana. Indonesia. Indonesia. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Bukit Besar. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Abdul Madjid. Sumatera Selatan. Palembang. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul . *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Bahan Ajar Online.blogspot. MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Indonesia.Kemasan : 5 dan 25 kg. Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan.com. Bukit Besar. 2009. Universitas Sriwijaya. bakteri pelarut fosfat. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. bakteri penambat N. Program Pasca Sarjana. Program S2. dan zat pengatur tumbuh tanaman. Universitas Sriwijaya.

Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0. . Intermedia . tetapi tidak mampu melarutkan FePO4.7 ppm pada tanah non steril dn 0. Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium.IV.8 ppm. Bacillus subtilis . 5-21 dan 14%. tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P. Circulans pada tanaman kedelai.7 ppm menjadi 34. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P. lesitin. Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16. 0.5 ppm menjadi 30. Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum. padi.puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%.6 ppm pada tanah steril.9 dan 0. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung. Bacillus sp. kacang panjang dan tebu.4 ppm menjadi 59. barlei.8-3.3 . Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat. Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. kentang. kedelai. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P.9 ppm. Bacterium mycoides dan B. tomat. Escherechia freundii dan E. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B. gliserofosfat. 3-9. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat. 3-13. Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum. Ca3(PO4)2. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24.Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. kubis. hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida. bit gula. sedangkan pada tanah berreaksi basa P. Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum. jagung. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7. meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28.3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4.1-3. Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai.

Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono.Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat. Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. diantaranya asam sitrat. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan. Pada percobaab lain (Buntan. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk . Puptida dan P. suksinat. Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau. Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2. Striata. malat. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al. Premono dan Widyastuti. oksalat. Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. Mg2+.4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto. Fe2+. Pada tanaman jagung. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. laktat. bayam dan kacang panjang). dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit. fumarat. 1992. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. 1994). P. 1992). 1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. 1991). terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens. glioksilat. Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh. glutamat. Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit.2007). Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3).

5-2. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.3881 ppm dan 280. dan Chromobacterium sp. dan 606.tersedia yang dapat diserap oleh tanaman.15 g tanaman-1. Chromobacterium lividum. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area. umur pembentukan polong. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. 207. pH tanah..48 g. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc. Bacillus sp. Klebsiella aerogenes.) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl.81%. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. jumlah bunga. 217. Bacillus megaterium.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF.30%.22 g.5 cm. Chromobacterium lividum dan B. 903. 575. ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. 354. Daerah Cikaniki. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp.) di Tanah Marginal. 203.42 g atau ada kenaikan 877. dan B. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . Gunung Botol. umur panen. jumlah biji. 208.67%..63%. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot . vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat. jumlah polong. dan 61. 930. Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.75%. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai. Megaterium sebagai inokulan padat. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0.67%. Klebsiella aerogenes. berat daun segar 4 tanaman per pot. tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139.

Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana.Mn. Program Pasca Sarjana. Palembang. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Abdul Madjid. Bahan Ajar Online. ** Program Studi Ilmu Tanaman. A. Diposkan oleh Dr. Propinsi Sumatera Selatan. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%.Ca dan proses pelapukan yang rendah .blogspot. Program Magister (S2). Indonesia. Ir. Universitas Sriwijaya. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Http://dasar2ilmutanah. MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Palembang. 2009. Bukit Besar. Sumatera Selatan. Sumatera Selatan. Indonesia.penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Program Pascasarjana. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Universitas Sriwijaya. (2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai amelioran.kering tanaman kedelai.Fe. Program Magister (S2).com. Indonesia. Bukit Besar. (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan . Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman. KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al.

Elfiati. 1982. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop. 6(1) : 8-13. Buletin Agronomi. Dubey. Gaur . 1982. Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Plant Soil .C. B. Bacterium mycoides.A.Soil Sci. Bacterium mesenterricus. Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol. 1998. Universitas Bengkulu.2.No. Handayanto.K Jha. Fakultas Pertanian USU. Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat.Indian Soc. Plant Soil 57 : 223-230.S and A. S. Hasanudin dan Ganggo.Universitas Sriwijaya.2007. Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens. S. dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad. S.Bacillus firmus. 60:353-364.Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol. Majalah Sriwijaya Vol.D.2003.K.K. N and K. Hasanudin. Indian Soc.Faperta Universitas Bengkulu. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor. Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman. 2003. Kundu. serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism. Pustaka Adipura. Escherechia intermedia Pseudomonas putida.32.J.Medan Gunalan. 1980. 31 (3): 100-106. Edisi 3. 2004. Pal.2005. 1997. Buntan. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia.ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat.Soil Sci.S.J.30:105-106. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few . Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan. 45: 506-509. 1996.1992. Bacillus megaterium. Citrobacter intermedium . Escherechia freundii.E dan Hairiyah. Noor A. (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis. Banik. B.

T.Bogor.1 Wulandari. serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat. 2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: . C.60 no.Pupuk Hayati .N.J. dan Ciptarasa. Edisi 2 . 2005. Setiawati. 1998. 1962. 7(1):1014. Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic. 2006. Yuwono.W. Jurnal Nature Indonesia. Ir. UGM.Kanisus Jakarta. S.R. Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki.T.R Glick. Premono.R.Disertasi. S. Can. (Terjemahan Susilo. Oxford and IBM Publishing Co.Bandung Rao.Agr. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.Widyastuti.2002. MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat. 1996.Yogyakarta. S dan Suliasih . 1992. Supadi.H.NW. Plant Soil. 7(2):109-113. and Sinha. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. 2001.H. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning. Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung.acid tolerant crops. S dan Suliasih . Widawati. UI Press). Universitas Pajajaran.Penerapan Pertanian Organik. Patten. 2006.) di Tanah Marginal.C. 198 : 169-177.. Microbiol 42: 207-220. Soil Microorganisms and Plant Growth. Abdul Madjid.Program Pascasarjana IPB. Widawati. Vega.L and B. 2007. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau. Edisi 3. 4(1) : 1-5. Bandung. Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam.Medellín vol. Gunung Botol. 1991.Biodiversitas. N. Tesis. Sutanto.Biodiversitas. Diposkan oleh Dr. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake.

Indonesia. Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2). Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. protozoa. Palembang. dan virus sebagai agensia hayati. Program Magister (S2). Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. fungi. (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. Universitas Sriwijaya. 1998). Bukit Besar. bakteri. alga dan virus. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik. Palembang. Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. ** Program Studi Ilmu Tanaman. dan mendegradasi residu toksik (Sparling. Dibidang pertanian. Palembang. Universitas Sriwijaya. bakteri dan fungi pelarut fosfat. kimia. cendawan. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme.* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. Program Pasca Sarjana. karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. Sumatera Selatan. Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. tanah yang sehat memiliki kondisi fisik. bakteri dan fungi perombak bahan organik. Dalam sejumlah kondisi. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot. Program Pasca Sarjana. serta bakteri yang berperan sebagai . Bukit Besar. Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian. aktinomicetes. kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. Indonesia. 1998). Sumatera Selatan. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. seperti bakteri. Program Studi Ilmu Tanaman. seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. PENDAHULUAN A. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui.

Fakultas Pertanian Unsri & . Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah. 1978). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan. Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. B. Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah. yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan. dan meningkatkan pendapatan petani. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Beberapa mikroorganisme seperti bakteri. Bahan Ajar Online. (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. menghemat biaya pupuk. fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P. Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya. vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. 2009. Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida.agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. Saraswati et al. (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman. Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat. kesuburan. A. dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba).

Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk. Program Pascasarjana.atau CO32-. (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II. Abdul Madjid. Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. . bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-. Universitas Sriwijaya. Palembang. Program Magister (S2). *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 (occluded P). Sumatera Selatan. kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam. Program Magister (S2).com.Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. Palembang. Indonesia. Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N). misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. OH. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman. Ir. Program Pasca Sarjana. Indonesia. Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut. Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit. Program Magister (S2). pemupukan dan mineralisasi P-organik.2 mg/kg tanah. Indonesia. (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Palembang.01-0. Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2. Diposkan oleh Dr. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Http://dasar2ilmutanah.blogspot. Cl-. Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis. MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut.

yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah..Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman. fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Oleh karena itu. sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat. fosfolipida. Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman. Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah. Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al. 1977). (b) imobilisasi P-tersedia. Bila ion fosfat (HPO42. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu. keseimbangan P dalam tanah terganggu. Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah. 1989). Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik.atau H2PO4-) diserap tanaman. Di alam. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik. asam nukleat. Pada sistem pola tanam yang terbuka. hewan dan mikroba . Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. 1989. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba. bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark. pemupukan. hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi. hewan dan organisme tanah. Siklus ini berulang terus menerus. 1997). pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik. nukleotida dan gula-gula fosfat. pengembalian melalui residu tanamandan hewan. fosfor terdapat dalam dua bentuk. dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. Subba Rao. reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik. Sisa tanaman.

yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah. variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut. aerasi. menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan. 2. maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme. Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah. maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi. seperti nukleotida atau fosfolipida. Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol. temperatur. bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi. Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur. Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat. Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba.yang dikembalikan ke dalam tanah. Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat. Selain kandungan fosfat dalam residu.. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. maka terjadi net mineralisasi ortofosfat. aerasi. kelembaban. Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik. Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen. Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi. 1997). Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. 1. Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. 1986). Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al. Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis. Umumnya. Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah . Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat.

2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4. Nilai kritis C/P adalah 200. hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya. 1986). jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat. Fe. pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang.lebih mendominasi. dan Ca. Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam. Phosphaticum. Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut.----> Al(OH)2 H2PO4. sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa. Hal yang sama. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-. Mn. yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1.2) H2PO42.+ 2H2O ----> AlPO4.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi. dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi. Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat. dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0. keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut. H2PO42. Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al. Pada kondisi tergenang. dengan melepaskan fosfat. Al. Ion Fe. Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut.+ 2H2O ----> FePO4. dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. H2PO42-. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7. Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza.2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam. Mn.ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson.lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43. Al3+ + H2PO4. Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat. yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya. besi. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium.lebih mendominasi. Selain itu. kalsium dan magnesium fosfat. dan PO43-. pH tanah. Pada pH tanah agak masam hingga netral.+ OHCa(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ .

Bukit Besar. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. asetat. Universitas Sriwijaya. Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah. Http://dasar2ilmutanah. dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah. laktat. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Mn. Program Pasca Sarjana. Diposkan oleh Dr. MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. 2009. Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi. Fe. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P.com. Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman. Kandungan bahan organik tanah. Universitas Sriwijaya. 2. Abdul Madjid.blogspot. Program Pascasarjana. yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik.Didaerah rhizosfer. Sumatera . Bahan Ajar Online. Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat. 3. Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun. 2007). pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion. suksinat yang dapat mengikat Al. Ir. A. Palembang. Program Magister (S2). selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital). selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi. Program Magister (S2).

(Bagian 3 dari 6 Tulisan) III. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. kadang-kadang berkelompok membentuk miselium. Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri (non-motile) disebut zygospora. yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes. miselium menghasilkan spora. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat. tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. 1991. Indonesia. membentuk spora dari fusi dua nukleus. berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Reproduksi secara seksual. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman. 1995).. 1970). Palembang..5 juta (Hawksworth. 2007). Sumatera Selatan. Sumatera Selatan. dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster. Program Studi Ilmu Tanaman. (1996) dikenal 5 kelas fungi. Program Pasca Sarjana. Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im. Hawksworth et al. Palembang. Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5). . Indonesia. Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman. Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman.000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. Sekitar 70. Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan.Selatan. yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru. yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah.

Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. dan essensial . dan pengendalian penyakit. karbon dioksida. Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza. tidak peka. 2007). Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. 1992). Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air. beberapa diantaranya bersifat sparofit.. Bersama-sama dengan bakteri. Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah. (1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan. menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah. Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual. Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat.Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat. dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik. baik berupa daun maupun kayu. Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah. Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik. Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung. Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat. Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal. dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah. bagian bawah. dan pengelolaan lahan. Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow. Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks. fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. 1993). sebagai contoh . tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi). siklus hara. fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah. organisme rhizosfer. bagian tengah. CO2 terhambat. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman. 1993). seperti selulosa dan lignin dalam kayu. eksudat akar. Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas. fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya.

udara. (2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. sayuran. serta banyak dijumpai dalam tanah. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian. dan semak. dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. dan kulit (Hawksworth et al. Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun. 1995). tanaman pangan. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun. Seperti bakteri. . fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat. menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian. Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus. 2007). Fungi patogen akar seperti Verticillium. Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya. Phytium. contohnya A. Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering.parasiticus yang menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. (3) Patogen atau parasit. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon. untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda. cat. hara mikro. fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah. Selain itu.niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng.dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu. nitrogen. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial. Namun demikian..flavus dan A. atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. tekstil. Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim. Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. dan Rhizoctonia. Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza. Sebagai contoh A. Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit. 1995). Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman. beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik. dan mungkin air) ke tanaman. Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza. Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri. Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya.

3. dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang. nitrogen. hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat. Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al. Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon. 4.koningii (merton dan Brotzman. dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol. 5. Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan.harzianum dan T. 1987). Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida. Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0. Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar. Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa. tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam. Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman.5-9. . 1979). membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni. diantaranya T. Pada tanaman.5. jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe. jaringan hewan dan tanah. 1999). Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase. Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin. Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk. gandum. Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras. selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer. Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan. 1968). Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman. tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam. Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi. 1986). 1982). Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im.75-5x 2-6im. terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez.2. Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga. Karbon dioksida dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung). sel berbentuk seperti tabung (Perbedy. Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya. termasuk manusia. 1983). Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson. Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC. Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2..

Universitas Sriwijaya.com. dan mineral lainnya. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Http://dasar2ilmutanah. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. Bukit Besar. Program Studi Ilmu Tanaman. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Universitas Sriwijaya. Abdul Madjid. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 2009. Sumatera Selatan.blogspot. Program Magister (S2). Palembang. Program Magister (S2). Sumatera Selatan. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang.vitamin. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. Diposkan oleh Dr. Indonesia. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman. Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Program Pasca Sarjana. Ir. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Indonesia. Bukit Besar. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. Program Pascasrjana. MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Bahan Ajar Online. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Palembang. A. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH .

Pseudomonas. B. harus mengandung 8 macam nutrisi. sitrat. 1994).. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. FePO4. 2006). Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono. glukonat. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. B. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. oksalat. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp. Fusarium. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4. Penicillium sp. Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah. polymixa. Micrococus dan Mycobacterium. licheniformis. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. suksinat. Trichoderma viridae. kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P. alfa ketoglutarat. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. Schlerotium & Phialotobus. Penicillum. Arthrobacter.010. Achromobacter. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. jamur dan aktinomisetes. (3) tingkat dissosiasi asam organik. magnesium (Mg) sebesar 0. Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger. megatherium. AlPO4. subtilis.14%. B.0%. yaitu: karbon (C) sebesar 19. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. fosfor (P) sebesar 0.21% dan C/N ratio . (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. candidus. malat. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM.0-40. A. cereus. Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam. kalium (K) sebesar 0. khususnya fungi jenis Aspergillus niger. nitrogen (N) sebesar 2.039-1. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum).04-0. apatit. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah.0-2.35%. asetat. dan Chaetomium sp.. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. asam amino dan asam fenolik. Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri. glikolat. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. B. merupakan bentuk antara (transisi).rendah. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao.5%. Flavobacterium. B. 2006).

1967). Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. AlPO4. Aspergillus sp. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. (4) inokulasi R. Subba Rao. 1986). aktivitas fiksasi N. 1. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P. Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30. Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah. Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut.sebesar 9. 1982). menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. dan serapan N dan P. niger strain NHJ2 1 ml per biji. dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul. DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. 8 kali. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander.8 kali. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. 1957 . (3) inokulasi R. (2) inokulasi R. Hutami et al. 1977 . dan FePO4. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao. Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2. Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk.3 kali.4 % dibandingkan kontrol. jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2. Kundu dan Gaur. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada . dan G. japonicum. 1980 . sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat. margarita. kanada. dan mesir. A. aktivitas penambatan N. 1978). bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. dan serapan N dan P berturut-turut 7.0-20% (Gaur. (2001). Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India.. merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat. Lestari (1994). yakni lebih dari 10 kali lipat. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. niger. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). dan 10 kali.

Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No. T. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P. Tanah ini terkenal sangat miskin. Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal. Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak. Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat. dan kapasitas tukar kationnya rendah. Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat. Selain daripada itu T. Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa. Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut. aspergillus niger. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung. populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia. Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat. Tanah ini memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4). 2000). 2004). Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. Penicillium sp. Trichoderma viridae. fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2).. uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. Tiap kombinasi diulang tiga kali. Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al. dan Chaetomium sp.media tumbuh GAGES dan GES. Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). (2000). kandungan bahan organik rendah.. scwanniomycetes occidentalis. kab. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan.78 ppm (Baratha. dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar. Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar. dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3). Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. Pennicillium digitatum. Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer. Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi). Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat. tanaman apapun yang . Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0).. harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. bahan organik. Bogor. Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38. 42. Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al. Aspergillus niger. Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1).

Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Abdul Madjid. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain. Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal. Program Pascasarjana. Bukit Besar. Namun demikian. Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal. Indonesia.blogspot. 2009. Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol. Sumatera Selatan. Ir. Palembang. . Universitas Sriwijaya.ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. Bahan Ajar Online. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. Program Magister (S2). ** Program Studi Ilmu Tanaman.Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Diposkan oleh Dr. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). Universitas Sriwijaya. (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang). Universitas Sriwijaya. Indonesia. Http://dasar2ilmutanah. Program Magister (S2).com. Program Pasca Sarjana.Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan. Palembang. A. Program Studi Ilmu Tanaman. Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin. MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia. Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Bukit Besar. Palembang. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung. Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Perlakuan keempat dengan menambahkan T. Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2).

Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah. artinya mikroorganisme yang . atau ketempat pengomposan. biakan kering. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. dan juga pada minuman. Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen. atau zeolit. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. R. mikroorganisme telah lama dimanfaatkan. pelarut. 2008). Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit. menekan soil-borne disease. Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar.130. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung. dan tepung. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan. tanah. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional. vermikulit. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat. selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier).11. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi. Namun. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya.Sumatera Selatan. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe. Indonesia. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak. mempercepat proses pengomposan. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. dapat digunakan bahan organik seperti gambut. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung. Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. arang. biakan cair. dan kompos. Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya. sekam.760. memperbaiki struktur tanah. Namun. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji. Di Indonesia. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman. biakan kering beku.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif.

cara penyimpanan.terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. Mulai tahun 2004.Suatu teknologi . kematian mikroorganisme dapat dikurangi. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. oksalat. Dengan mempertahankan kelembaban. Selain itu. fumarat. 2008). sitrat. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. Mn-. seta jenis tanaman yang cocok. Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan. glikolat. Pada pengujian pupuk mikroba. 2008). 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe. Propionat. dan Ca. tanggal kadaluwarsa. suksinat. Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. baik berupa bakteri maupun jamur. laktat. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe. Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. tetapkan kelembapan bahan pembawa. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun. Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba. sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas. Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah. Stase. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-. lartrat. Di Indonesia. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. 2008). tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. jenis. Fe-. dan ketoglutarat. karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme.

50 kg P. . dan meningkatkan serapan P tanaman. dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman. Sehingga dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia.78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P. serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya.32% dan 16% pada padi. Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman. Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28. dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya. serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos. Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale.47) hingga 394./ha (23. Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I). Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P. 50 kg/ha SP36.irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM). Aspergillus niger NHJ2.0. mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman. BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan.59%). dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman.56 ug/m! (pH 6.0. yaitu mikroba pelarut fosfat.iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P.0. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P.60 ug/ml (pH 4.65) hingga 147.0. Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba.85ug/ml (pH 5.5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi.pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171. bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K. Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0. mikoriza. tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P. Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya. memobilisasi. jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%. Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P. Grt 3. dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12. dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai. Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah.28 ugfrnl (pH 2. Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan. Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea.9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2. yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi. bobol kering tanaman.ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%.1).

Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. 7. Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. khususnya isolat fungi. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Ulangi langkah di atas secukupnya. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh . Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah. 6. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. 8. Moawad. Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0. 2. – 8. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. -4. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. antara lain: 1. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. minimal duplo. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. – 6 s/d 10 ext. bakteri.Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi. dan Vlek (1996). dan actinomicetes. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri. Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. 3. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. 4. Buat medium agar Pikovskaya. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. AlPO4 tidak larut dalam air. 5. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. Konsentrasi fosfat.

tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. 2000). dan aktinomicetes. misalnya: fungi. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. bakteri. 1995). Kecepatan pertumbuhan mikroba. Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat. Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al.2. 3. 1995). Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini.. Goenadi et al. fosfatase. Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi. Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. 4. PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas . pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah. mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah. dkk. asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. Misalnya.. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah. . Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Ketebalan agar. mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase. Melalui aplikasi pupuk hayati. (Goenadi. sehingga dapat diserap tanaman. efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal. (2000). Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. A. Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan 12 bulan (Goenadi et al. Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik.

penambat nitrogen bebas. Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun. bobot kering bibit.PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian. dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh Dosis dan kandungan mikroba . menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. dkk. kedelai. Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah. (1997). Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk. B. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan. Hasil percobaana Goenadi. ketersediaan hara di dalam tanah. dan volume akar. dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman.

serapan N dan P tanaman. pH 3. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk. 8 kali. dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria). tinggi tanaman. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. Rhizobium 108-109. dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P. aktivitas fiksasi N. dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa.96. dosis anjuran 50 kg Urea/ha.8 kali. 1. Rata-rata bobot kering tanaman. A. dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran. dan serapan N dan P berturut-turut 7. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5. Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar. japonicum. 100 kg SP-36/ha. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). jumlah bintil akar. dan 10 kali. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. niger. Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa.209 me/100g). Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. margarita. simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar. (2) inokulasi R. . niger strain NHJ2 1 ml per biji. bobot kering total. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. aktivitas penambatan N. (4) inokulasi R. C. dan serapan N dan P.5. Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam. serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh. 50 kg KCl). dan G. 2000). Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha). bobot kering akar. MK 1997. diameter batang. Al-dd 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A.Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha. MK 1999. jumlah polong isi. Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia. (3) inokulasi R. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum.3 kali.

Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1. N = 0.D. Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien. Lactobacillus. Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI). yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal.23 ppm . Azotobacter.92 % . Pb. mikroba pelarut P.7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman. Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E. dan mikroba pendegrasi selulosa. Pseudomonas spp = 34. Fe = 44. C organik = 0.70 ppm . Azobacter sp2. Zn = 3. yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini. Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%. Mn = 0.Ir. yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien. Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia.Lukman Gunarto MSc.85 ppm . serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya. Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan). suatu inokulan campuran yang berbentuk cair.04 % . Mikroba Pendegradasi Selulose5. Migro Plus Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru. Mikroba pelarut fosfat3. Lactobacillus sp6. Azospirilum sp4. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum. Cd dan Mikroba Patogen. Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As.3 ppm . Cu = 0. Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini . Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr. Hg. K = 1700 ppm .

tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar. mikroba pelarut P. dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik. sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen. kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya. yaitu unsur fisik (bajak/cangkul). yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami. Hasil dari pendegradasian tersebut. sehingga keaslian produk MiG corp. Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit). melepaskan P yang terikat di dalam tanah. dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL. Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan. Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru. 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah.adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. Lukman Gunarto. Azotobacter sp. Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. Lactobacillus sp. probiotik MiG ternak. pembentukan anakan dan primordial. penambat Nitrogen dari udara. apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. ada yang berfungsi sebagai penambat N. sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan. Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. daun-daun atau bahan-bahan organik lain. tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS. populasi mikroba untuk menambatkan N. Menurut penelitian Dr. Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup. unsur N. Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik. juga terdapat mikroba Pseudomonas sp. akan mendapatkan K dan unsur lain. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah. apabila . Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut. sampai ke tangan konsumen lebih terjamin.

Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Palembang. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja. A. Fusarium. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Bahan Ajar Online. Sumatera Selatan. Caranya sangat mudah. A. http://dasar2ilmutanah. Sedangkan dari golongan . Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Indonesia.com. Palembang. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Malahan tanaman menjadi semakin subur. dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Diposkan oleh Dr. 2009. Bukit Besar. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. Program Pascasarjana. Bukit Besar. Indonesia.penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia. cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu.blogspot. (2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger. Penicillum. Sumatera Selatan. Abdul Madjid. candidus. Ir. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian. Tidak masalah. apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit. (Bagian 6 dari 6 tulisan) VI. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Schlerotium & Phialotobus. Universitas Sriwijaya. rusak atau mati. Program Magister (S2).

Rosario Azcón Jose M.J. Chonkar and Subba rao. Madison. 51. Souchie. Aspergillus niger. Introductory Mycology (4th Ed). Marcel Deker. Pennicillium digitatum. Chapman & Hall.. Canadian. Fungal Ecology. J. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec.. RJ – Brazil. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae. I.C.br/scielo.T. Communities of P-solubilizing bacteria.J. L.. Premono dan R. 1993. SSSA. Smithson. 1995. E. Edson L. J. New York. N. Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules.C. 334-337.R. 1992. In. VII. Philadelphia. Publ. Buresh et al. http://www. Baniks. Trichoderma viridae. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Blackwell. Plant soil 60 : 353-364.. (eds). S. Building soil phospharus capital in Africa. John Wiley and Sons. Bogor. J.php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 . New York. Carroll. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism. and Webster. J. S.... Inc. 1967. C. Widyastuti. M. and M. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam. PA. M.aktinomisetes adalah Streptomyces sp. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat. D. 1-44 pp. Barea. and Hellums. WI. 1997.J. scwanniomycetes occidentalis. 1996.scielo. Pusat Antar Universitas IPB. C. Campello. 1999.W. Eduardo F. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. Microbial. dan Chaetomium sp. Saggin. Mims. Dhandhun Baratha. R. 868p. and Wicklow.. aspergillus niger. (4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. 1982. P. 111-149. R. Buresh. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem. Alexopoulos. Dix. 2004.W. 13 : 749-752. G.T. Orivaldo J. Dickinson. 2006. Eliane M.. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P. DAFTAR PUSTAKA Anas. and Schweizer. R. Penicillium sp. J. London. D. P.C. USA. fungi and arbuscular mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty.

1979.M. Merton. Jakarta (Indonesia). Saraswati. D. M. D. H. 204 pp. Harvard university Press. A. 641-655. Phaff. Puslittanak. R. John Willey & Sons. Perbedy. N and J.J. Jenis pupuk P. Bogor. S.Fertilizer [Biosol-P] www. E. Anas.html Joffe. Sunarlim. Miller. 83-123 pp. Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review.K.H. Mycology research 95. and Whalley. Cambridge. Mass. Kirk. 1983. Wallingford. Frankland. 1996.L. Maningsih. 588 pp.. Giller and G. F and Brotzman. P. U. 193 pp.E.C. Pennicilium and Acremonium. N. Y. .. Soil Science Society of America Journal 64:927932.J. 2000. 1987.297-312. 2000. P. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification. USA. 23-30. Inc. Driven by nature p. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. 1995. J. 1997. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk.I. R.G.F. CAB International. J. Aspects of tropical mycology. and Pegler. Watling. The life of yeast. E.Z. Siswanto and Sugiarto. F. Hawksworth.). Columbia. In. Badan Litbang pertanian.S. Isaac. K. significance and conservation. New York. 1986. Inc.. Cadisch (eds). Institut Pertanian Bogor.indiamart. Riyanti.. Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus. University of Missouri Columbia Extension Division. Fusarium Species: Their biology and toxicology.. D. 1991.A dan Clark. Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed. New York.E. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia. G dan I. Cambridge. Missouri. H. E.L. Bogor (Indonesia). A.com/jayenterprises/fertilizers. Sutton. 1994. 616p. 1968. peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah. D. 1993. New York.C. S.E. Cambridge University Press. Paul. Nelson. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press. Skripsi. Plenum Press. The Pennsylvania state University Press. Goenadi... Lestari. Bio . B. the fungal dimension of biodiversity: magnitude.W and Mrak. CAB International. United Kingdom. Fakultas Pertanian. 1989.. McColl. University Park. Hawksworth. P.. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung. 14 : 31-36.M. Hutami.Gressel. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey.N.

1986. Hara N tersedia melimpah di udara. 2008. Elsevier biomedical press. Subba Rao. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Abdul Madjid. C. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. New York. Indonesia. Program Pasca Sarjana. sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua . Bogor. phosporus. Institut Pertanian Bogor. Cambridge university Press. sulphur.staff. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster. Palembang. 2006. M. Sekilas Pupuk Hayati. New York. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). 1970. New Delhi.Premono. manual and atlas of pennicillia. Disertasi. 380 p. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja.ac. Stevenson. N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. M. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2. Pupuk Hayati. Soil Microorganism and Plant Growth. yaitu Nitrogen (N). Tombe. Universitas Gadjah Mada. Universitas Sriwijaya. W. Program Studi Ilmu Tanaman. Ramirez.ugm. Oxford and IBH Publishing Co. E. Palembang. Ir. Yuwono. Namun. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. micronutrients. N. 1994. nitrogen. Cambridge. I. Program Pasca Sarjana. Introduction to fungi. Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. J. John Willey & Sons. Jasad Renik Pelarut Fosfat.J. Program Studi Ilmu Tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Fosfor (P). 202-204. F. Tiga unsur hara penting tanaman. 1982. [http://nasih.id/] Diposkan oleh Dr. N.S. Cycles of soil carbon. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. 1977. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. Indonesia.

Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Sebaliknya. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. 2008). Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman.jenis tanaman. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Namun. infeksi ini . Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). karena terikat pada mineral liat tanah. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. antara lain: Aspergillus sp. yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Penicillium sp. Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P.

Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. Acaulospora. adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett. pasang. 2003). famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks. sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. padi. 1997). jenis rumput-rumputan. mempening (jenisjenis Fagaceae). hingga pohon rambutan. kelapa sawit. Ektomikoriza 2. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). karet. mangga. hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. 2006). Archaeospora. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur . lapisan hifa pada permukaan akar tipis. Ektendomikoriza 3. membentuk chlamydospores (Morton. Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Gigaspora dan Scutellospora. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. pinus. Entrophospora. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae). Dilain pihak. bercabang. cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas.antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. kesehatan dan produktivitas tanaman. mulai dari paku-pakuan. Hifa memasuki sel kortek akar. Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza). Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. rambutrambut akar tidak ada. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. 2004). mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1. Paraglomus. kruing. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. dll. misalnya jenis-jenis meranti. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain.

vesikel (vesicle) dan spora. harus diamati dibawah mikroskop. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. apel dan anggur (Rahmawati. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. vesikel intraseluler. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. kacang tunggak. selada. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. 1. tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. jeruk. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). bawang. hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. tembakau. 1998). karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. nenas. kakao. singkong dan sorgum. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. 2003). Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. barley. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. teh. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. pepaya. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. kapas. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. 2004). . akan tetapi belum berhasil. palem. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya.khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. kopi. padi gogo. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. kebanyakan berbentuk bulat telur. 2004). Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. karet. merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai.

Mirip dengan cendawan patogen. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. 3. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. pembentukan organ baru. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Arbuskul berperan dua arah. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. 2. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. 2004). berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. yang memiliki perbedaan tegas. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. 1981). 1981). Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. 2) . Dengan bertambahnya umur. Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Schubler et al.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. pembengkokan inti sel. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. 2004).sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu.

Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Intraspora. 2006). Geosiphon. Gigaspora-ceae. 2002). Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Diversisporaceae. 2006). (Sagin Junior & Da Silva. Entrophospora. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Diversipora. kepadatan propagula. dan Glomus sp. Pacispora. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Scutellospora. Paraglomus. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang.. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. . 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Gigaspora. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). seperti agregasi dan stabilisasi tanah. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Oleh karena itu. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. tanaman inang. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. Walaupun demikian. Acaulospora. Kuklospora. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. 1991). Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae.Paraglomerales (famili Para-glomerace). 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan.

Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan.II. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. 1981). intensitas cahaya dan ketersediaan hara. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. 1981).. Untuk daerah tropika basah. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. hal ini menguntungkan. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. Vesser et al. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. logam berat dan fungisida. kadar air tanah. saat kelembapan air rendah. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula.pada tengah hari. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. bahan organik tanah. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. pH. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air . tanah.

air dan udara.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas.meningkat (Rotwell. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. klor. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA.. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap . Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. alumunium dan mangan. Serasah tersebut mengandung hifa. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. 1997). 1981). 1997). 1984). 1997). Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah.

Plantavax.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. 1998). Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. 1982 dalam Anas. 1997). dicirikan oleh keragaman . Benlate. 1995). Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. 1984). Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. fungisida Agrosan. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca).terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. 1984 dalam Anas. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. dan Na yang tinggi (Mosse. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. Al. 1981). Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. 1997).. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak.

Sawahlunto Sijunjung. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. 1996). 1 9% (Gededda et al. . 1996). Pada tanaman pisang. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. K. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. karena perubahan spesies tanaman. unsur hara dan struktur tanah. ameliorasi dengan bahan organik. 2005). jumlah bahan organik yang dihasilkan.04 menjadi 0. pembakaran. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman.spesies yang sangat tinggi. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). P. 1984). Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. Dalam budidaya tradisional. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). 1995). menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. 2002). cropping sistem. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. Untuk tanaman manggis. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0.

2% dibandingkan dengan kontrol. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. bobot kering tajuk.7% dan 4. serta patogen akar. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. sedangkan inokulasi G. III. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. 8 dan 28 MST. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. 1997). mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza.5% dibandingkan dengan kontrol. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. 1997). Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing.Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. jumlah daun pada umur 4. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam.7% dibandingkan dengan kontrol. sedangkan inokulasi G. Di dalam arbuskul. . Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Selain daripada membentuk hifa internal. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. G.masing sebesar 5. 2006). Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. kekeringan. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit.

akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Zn dan Cu meningkat. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori . Selain itu. 1997). sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Pada kedelei. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. dan Zn). Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Dengan adanya CMA. pemadatan. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Cu. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. 2006).2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Setelah periode kekurangan air (water stress). masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. salinitas. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. 3) melindungi dari herbisida. Fe. Zn. keasaman. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P.

2. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. 1994). Dilain pihak. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. atau lahan terpolusi lainnya. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat . Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. K dan S. 3. 1994). sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. 4.1997). menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. 2. tailing tambang batubara. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil.tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Infeksi patogen akar terhambat. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat.

Interaksi sebenarnya antara CMA. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat.usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik.. citokinin. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. 1981). maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. 1997). Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. 40% kebutuhan nitrogen. Jika terhadap jasad renik berguna. 1981 dalam Husin dan Marlis. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. . 2000). dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. 1997). tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. patogen akar. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. sitokinin dan giberalin. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. 3. dan giberalin. 1993). CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Pada tanaman tertentu. 4. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode.

2002). Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro.. 2002). Menurut Hakim. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur.. 1997). Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara . Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Perbaikan Struktur Tanah. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. tapi juga bagi tanah. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Bila ini benar. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. 5. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya.Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu.

Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Prihastuti et al.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1.4. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman.2.6 hexakisphospat). Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. 2002). dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. Phytat adalah senyawa phospat komplek.3. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. 6. Magnesium (Mg++). japonicum.. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular.50–90. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. khususnya pada tanah yang miskin P. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). Besi (Fe++). Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. namun . hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Seng (Zn++). B. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik.5. phosphor bebas dan mineral. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. dan protein. 1999). Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. yaitu mencapai 70. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. setelah didahului dengan proses infeksi akar. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan).33%. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif.tanah.

tanaman tanpa mikoriza) / BK. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. adanya asosiasi ini. 1995). Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. spesies cendawan. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. 2006). baik untuk tanaman pangan. Secara tidak langsung. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. Bagi tanaman inang. Sedangkan secara langsung. temperatur. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. perkebunan. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". pH. baik secara langsung maupun tidak langsung. 1987). Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. tipe perakaran tanaman inang. . kadar air. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. 6. 2004). Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2.BK. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. 1994). 1997). cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. 3. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. tanaman inang. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. tanaman bermikoriza .sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara.

Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. miskin hara dan bahan organik. kejenuhan Al tinggi. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. Sulawesi dan pulau besar lainnya.. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian.66 mg P/tanaman. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0.1. dan hasil kedelai meningkat dari 2. infiltrasi air hujan rendah. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp.84 g biji/tanaman menjadi 5. Kalimantan. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. . sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan..13 mg P/tanaman menjadi 2.18 mg P/tanaman menjadi 2. Disamping untuk tanaman pangan. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al.7. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun .1997).15 mg P/tanaman. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya.98 g biji/tanaman. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. 1997). Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim.02 g biji/tanaman menjadi 5. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air.13 g biji/tanaman. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam.

Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar

logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005). Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007), tentang peranan mikoriza pada tanaman jati,

15 %. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al.71.76 % -21.. Dengan teknologi mikoriza. 2008). Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. Tujuannya.66 % . berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. 69." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. dengan kadar P tersedia "rendah" . Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. Untuk mewujudkan harapannya. sebesar 38.72 ppm dan tanah Inceptisol. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa .90 %. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare.40. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira.65 %. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. Selain itu.80 % . "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum.misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak.84 % . Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. 8.67. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . Peningkatan kadar P nira.5 ppm. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N.

Tanaman inang dapat berupa jagung. Manfaat 1. selain untuk meratakan hasil. 2. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering.campuran tanah. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. 6. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). 2008). 5. spora dan akar terinfeksi.Lima hari kemudian. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. 4. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. 3. sorgum atau pueraria. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. diaduk merata. Dalam rangka pelaksanaan program ini. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. bedeng tersebut dapat digunakan. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. telah diberikan Asosiasi . Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. 3. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman.

Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB.Mycorrhizal Indonesia. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari . dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. satu tablet untuk satu bibit. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan penyakit pada akar tanaman. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. Setelah teruji kemurniannya. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Tablet ini dibuat dari cendawan. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. Setelah diberikan pada bibit tanaman. MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu. Di IPB. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. seperti: penyakit bercak akar kapas. mampu menambah daya tahan akar tanaman. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul.7 sentimeter. Abdul Madjid. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. (3) menggunakan miselia cendawan. Untuk membuat tablet. Setelah itu pil dipecah-pecah. yaitu: (1)Parasitik. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. (2)Saprophitik. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. Diposkan oleh Dr. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Aturan pakainya sederhana. Kalimantan. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Dalam teknik pemberian mikoriza. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. Ir.

(2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. Chilopoda (kelabang). yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. kutu. (b) cacing tanah. dan (3)Ektendomycorhiza. dan kalajengking)dan Insekta (belalang. Abdul Madjid. (d)Moluska. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. Flora Tanah . Ir. Diplopoda (kaki seribu). Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora. Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci. dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah). yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. seperti: amoeba. seperti: omnivorous dan Predaceus. (3)Acaulospora. dan ciliata. yaitu: (1)Endomycorhiza. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas. Arachnida (lebah. (c) Arthropoda. MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. yaitu: (1) Makro Fauna. (2)Ektomycorhiza. Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar.akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. (2)Glomus. seperti: Mycorhiza atau jamur akar. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman. semut. (3)Simbiotik. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. dan rayap). flagelata. dan (b)Nematoda. Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua. (4)dll Diposkan oleh Dr. jangkrik.dekomposisi bahan organik tanah.

yaitu: (1) Makrobia.000 bakteri per gram tanah. yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. Diposkan oleh Dr.Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop. Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB). dll.2 mm. Abdul Madjid. Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF). Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. bahwa berdasarkan ukuran. dan (3) Mikrobia. terdiri dari: (a) bakteri. Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF). Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). dll. yaitu: (1) Makro Flora.2 mm s/d 10 mm. yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah. Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil. Ir. menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology. yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. dan (d) algae. MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0. Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah yang subur melebihi 100. Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas. . Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. (c) actinomycetes. Aspergillus. 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme. (b) fungi. (2) Mesobia. Selain itu. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere. organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga. Bacillus. (2) Mikro Flora.

yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik. dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah. Ir. MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) .Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis.net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr. Abdul Madjid.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful