PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang

pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe :

1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998). Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Gramineae dan

pepaya. 2003). 2004). kakao. padi gogo. palem. vesikel (vesicle) dan spora. . 2004). karet. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. pembengkokan inti sel. apel dan anggur (Rahmawati. barley. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. nenas. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. bawang. 1. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. kacang tunggak. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. pembentukan organ baru. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. singkong dan sorgum. selada. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. tembakau. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. 2004). teh. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. kapas. 2004). akan tetapi belum berhasil. Arbuskul berperan dua arah. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. jeruk. kopi.Leguminosa umumnya bermikoriza. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. kebanyakan berbentuk bulat telur. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. 2.

Intraspora. Entrophospora. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. Oleh karena itu. Schubler et al. yang memiliki perbedaan tegas. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. 1981). CMA sekarang menjadi filum tersendiri. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). Mirip dengan cendawan patogen. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. Acaulospora. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Gigaspora-ceae. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae).Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. Kuklospora. Pacispora. Diversipora. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Paraglomus. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. Diversisporaceae. 3. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Walaupun demikian. . 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. 2006). 1981). Gigaspora. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. dan Glomus sp. Geosiphon. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Scutellospora. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Dengan bertambahnya umur.

Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. A. (Sagin Junior & Da Silva. 2006). 2009. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Palembang. Http://dasar2ilmutanah. Program Magister (S2).CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Universitas Sriwijaya. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Bahan Ajar Online. . Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. 1991). Abdul Madjid.. Indonesia. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. tanaman inang.blogspot. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Program Pascasarjana. Diposkan oleh Dr. Program Magister (S2). Palembang. 2002). Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. kepadatan propagula.com. Ir. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al.

1981). kadar air tanah. Program Studi Ilmu Tanaman.** Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. hal ini menguntungkan. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Palembang. Program Pasca Sarjana. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. 1981). Universitas Sriwijaya. saat kelembapan air rendah. logam berat dan fungisida. Indonesia.pada tengah hari. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA.. Vesser et al. tanah. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Program Magister (S2). (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman . Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. pH. Indonesia. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. bahan organik tanah. Untuk daerah tropika basah. Program Pasca Sarjana. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering.

Serasah tersebut mengandung hifa. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal . Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. 1997).5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. 1997). Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. 1984). 1981). Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. air dan udara. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA.ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0.

Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Benlate. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. dan Na yang tinggi (Mosse. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman... 1997). Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. 1997).5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. alumunium dan mangan. 1984). Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Plantavax. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. 1984 dalam Anas. fungisida Agrosan. Al. klor. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. 1981). 1997).yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Cendawan pada umumnya . Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Pemakaian fungisida menjadi dilematis. 1982 dalam Anas. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan.

1995). P.04 menjadi 0. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. Dalam budidaya tradisional. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. 1998). Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. 2005). cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. karena perubahan spesies tanaman. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. K. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. . jumlah bahan organik yang dihasilkan.memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. 1984). khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. Pada tanaman pisang. ameliorasi dengan bahan organik. 1996). Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. unsur hara dan struktur tanah. 1 9% (Gededda et al. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). cropping sistem. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. pembakaran. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. 1995).

Indonesia. 1996). 2002). dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Program Pascasarjana.5% dibandingkan dengan kontrol. Palembang. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Diposkan oleh Dr.com.2% dibandingkan dengan kontrol. Indonesia. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. Universitas Sriwijaya. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Bahan Ajar Online.7% dan 4. Universitas Sriwijaya. 2009. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Indonesia.masing sebesar 5. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing.Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Program Magister (S2). Palembang. . Indonesia. bobot kering tajuk. Http://dasar2ilmutanah. MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. A.7% dibandingkan dengan kontrol. ** Program Studi Ilmu Tanaman. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. Propinsi Sumatera Selatan. G. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.blogspot. Palembang. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. Palembang. Untuk tanaman manggis. 8 dan 28 MST. jumlah daun pada umur 4. Ir. Program Studi Ilmu Tanaman. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Program Magister (S2). sedangkan inokulasi G. sedangkan inokulasi G. Universitas Sriwijaya. Abdul Madjid. Sawahlunto Sijunjung. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST.

akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. Selain daripada membentuk hifa internal. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. pemadatan. 2006). 3) melindungi dari herbisida. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. serta patogen akar. Zn. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke . serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. Di dalam arbuskul.(Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. kekeringan. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. 1997). Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. salinitas. 1997). Selain itu. keasaman. Cu. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. Fe. dan Zn). Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza.

baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat.tanaman inang. Pada kedelei. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. 2006). Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Dengan adanya CMA. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya . Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. Setelah periode kekurangan air (water stress). Zn dan Cu meningkat. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. 1994). Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. K dan S. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. 1997). Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas.

yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. atau lahan terpolusi lainnya. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik.. 2. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. tailing tambang batubara. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. 2.simpan air kecil. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. Infeksi patogen akar terhambat. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. Dilain pihak.1997). sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. 4. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. 3. Jika terhadap jasad renik berguna. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. Interaksi . sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. 1994). Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. 1993). cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri.

citokinin. 1997). 4. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. 40% kebutuhan nitrogen. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. Bila ini benar. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. patogen akar. 1981 dalam Husin dan Marlis. 1981). Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. dan giberalin. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. sitokinin dan giberalin. 5. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi . Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. Perbaikan Struktur Tanah. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan.sebenarnya antara CMA. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. 1997). Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. 3. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. 2000). Pada tanaman tertentu. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. 1997).

karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. tapi juga bagi tanah. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa.. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. . seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. Menurut Hakim. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. 2002). 2002). Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman.. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir.agregat mikro. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro.

maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA.2. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. phosphor bebas dan mineral. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. yaitu mencapai 70. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. Seng (Zn++). Besi (Fe++).33%. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi.5.. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). khususnya pada tanah yang miskin P. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. 2002). 2006). Prihastuti et al. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. dan protein. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis.6 hexakisphospat). Secara alami mikoriza terdapat secara luas. Phytat adalah senyawa phospat komplek. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar.3. 1999). 1987). phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. B. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa.4. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas .50–90. setelah didahului dengan proses infeksi akar. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P.6. Magnesium (Mg++). 1997). Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). japonicum. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono.

1. baik untuk tanaman pangan. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. tanaman inang. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. tipe perakaran tanaman inang. Sedangkan secara langsung. perkebunan. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. 7. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. tanaman bermikoriza . Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. spesies cendawan. temperatur. 1995). Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". 6. baik secara langsung maupun tidak langsung. miskin hara dan bahan organik. 1994). Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. Bagi tanaman inang. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. 3. tanaman tanpa mikoriza) / BK. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. kadar air. Secara tidak langsung. .BK. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7.tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. adanya asosiasi ini. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. pH. Kalimantan. Sulawesi dan pulau besar lainnya. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. 2004). Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4.

sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp.1997). Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman.kejenuhan Al tinggi. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. dan hasil kedelai meningkat dari 2.98 g biji/tanaman. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ).13 mg P/tanaman menjadi 2. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun .. serta serapan hara NPK.. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0.18 mg P/tanaman menjadi 2.15 mg P/tanaman. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. 1996) dan pepaya (Cruz et al. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam . tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al.13 g biji/tanaman.66 mg P/tanaman.84 g biji/tanaman menjadi 5.02 g biji/tanaman menjadi 5. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. net fotosintesis. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. infiltrasi air hujan rendah. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Disamping untuk tanaman pangan. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. 1997).

Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. 2000). 7. meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al. karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun. Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri. et al. 2001). Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah.jaringan dan transpirasi yang lebih besar. Namun demikian. Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. 1994 dan Tam. 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat. 2000). Peneliti lain. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. 3. terhidar dari plasmolisis. Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik. tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. Dalam kondisi salinitas tinggi. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. 1995 dalam Aggangan et al. meningkatnya tekanan osmotik. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar. dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach. Zn dan Cu (Al-Kariki. karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang . 1994).

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar. juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun. Menurut Wachjar et al (2002). Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti. mempercepat umur berbunga tanaman jagung. (2001) menunjukkan bahwa P. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr.. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat.berbeda. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan. dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. maka laju penurunan hasil clover meningkat. Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. Oliveira et al. meningkatkan N tanah setelah percobaan. . disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa.. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. zat yang melarutkan PAH. efisiensi penyerapan P. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover. 1993). ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. 12 diantaranya bermikoriza. 2000).

Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar. dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm. berharap jati muna yang telah . Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007). baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S. sulit dan cukup mahal transportasinya. telah mencapai sekitar 10 sentimeter.tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. 2005)." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. Selain itu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Dengan teknologi mikoriza. selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama.S. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. produktivitas. mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007). dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah.

84 % . sebesar 38. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Inokulasi . Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. Peningkatan kadar P nira. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. dengan kadar P tersedia "rendah" .15 %.80 % . Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol.Lima hari kemudian.65 %. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara.72 ppm dan tanah Inceptisol. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. 2008). Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. Tujuannya.40. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan.76 % -21.67. diaduk merata. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27.66 % . Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. Untuk mewujudkan harapannya. selain untuk meratakan hasil.. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi.dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. bedeng tersebut dapat digunakan. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. 3. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" .90 %. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu.71. 69. spora dan akar terinfeksi.5 ppm. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. 2. 8.

2008). sorgum atau pueraria. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. Dalam rangka pelaksanaan program ini. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. Dalam teknik pemberian mikoriza. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. 3. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut.Pada tiap lubang yang dibuat. 5. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. 4. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. . yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. 6. Manfaat 1. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. Tanaman inang dapat berupa jagung.

penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza . Untuk membuat tablet. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. 1.00 gram. Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Dengan demikian.50 dan 2. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml.500 dan 2. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar.ah takaran 1.00.M. Kalium (K) bertambah 86%. Setelah teruji kemurniannya. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Kalimantan. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. 2008) . Aturan pakainya sederhana.00 gram. satu tablet untuk satu bibit. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. sampai 230%. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri.50. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Tablet ini dibuat dari cendawan. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan.00.Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. 1. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman. Di IPB. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Setelah itu pil dipecah-pecah. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat. Setelah diberikan pada bibit tanaman. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. 1. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara.00 gram (Hardiatmi S. Sebagai pembanding. dan Nitrogen (N) 75%. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza.7 sentimeter. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2.J. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P).

Ir. .com. membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). A. Indonesia. Indonesia. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Palembang. Bahan Ajar Online. Propinsi Sumatera Selatan. Http://dasar2ilmutanah. 2009. MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Abdul Madjid. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Universitas Sriwijaya. Palembang. Program Pasca Sarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. Program Magister (S2). peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. Program Magister (S2). Program Magister (S2). ** Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. Program Pasca Sarjana. pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan. Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik.Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Palembang. Indonesia. Palembang. Diposkan oleh Dr. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2).

Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1). OST dan Simbionriza. b. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong. Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian.1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman. pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas. Rhiphosant. Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri.4-13%). virus. Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a. Kawasan PUSPIPTEK Serpong. kehutanan. Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek.Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Tabel 1. perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal. Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------Coklat (kakao) . Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. jamur yang bersifat patogen. perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan. 4. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. Kamizae.

Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza. Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan). Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut. Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem.70 ------------------------------------------------------------------c. Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media. Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan.50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan . seperti terlihat pada gambar 2 dan 3.64 35. 4.Tanpa Mikoriza 28.14 Dengan Mikoriza 43. Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman. Bali.50 33. Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman. Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah.000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung.28 34.44 Dengan Mikoriza 28.70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18.2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20.12 Dengan Mikoriza 48. Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan. menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman. d.

kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. dan Nitrogen (N) 75%. Setelah teruji kemurniannya. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Kalium (K) bertambah 86%. Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri.M. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. sampai 230%.S. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam. 2008). satu tablet untuk satu bibit. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus.4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. Tablet ini dibuat dari cendawan. Di IPB.pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air. javanica. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Untuk membuat tablet. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Kalimantan. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman.3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. 4. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Empat bulan kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir . ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Setelah itu pil dipecah-pecah. Selain P. Aturan pakainya sederhana. dan di kebun percobaan kampus Dermaga.7 sentimeter. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Dengan demikian. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. 4. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan.

000 kapsul. (3) Dapat di produksi secara khusus. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak. pH tanahnya sangat bervariasi.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang.000 spora secara merata. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus. Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza. (2) Mempermudah penanganannya. Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia. berarti dibutuhkan 500 g carrier. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah. Pada praktek sebelumnya.dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah. Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas. setiap kapsul dibutuhkan 0. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1.000 spora. akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya. tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus. 4. Setelah itu. Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri.5 g carrier. Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan. (3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya. misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00. (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00. Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis. sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna. Apabila dikemas dalam bentuk tablet. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai. Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target . Sebelum digunakan. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus.

Nitrobacter. 2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Rhizobium. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii. Nitrosomonas. Bacillus. Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium. Nostoc muscorum. Aeromonas punctata.D. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama. pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar. R. Lactobacillus spp.M. (Organic soil treatment) Agrobacterium. Tabel 3. Anabaena azollae OST Azotobacter. Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit. Ankia alni. Sinorhizobium. Azotobacter. Beijerinckie. Azzospirillum lipoverum. Clostridium pasterianum. (pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat.luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia. Azospirillium. Mikrococcus. protein dan humus aktif Biota Bacillus spp.

Program Studi Ilmu Tanaman.Bioteknologi Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. 2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Palembang. Fakultas Pertanian. Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi. Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). 2. 1989. Biologi Tanah dalam Praktek. Palembang. Http://dasar2ilmutanah. Program Pasca Sarjana. Bahan Ajar Online. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. IPB. Indonesia. IPB.blogspot. Program Pascasarjana. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. Program Magister (S2). KESIMPULAN 1. Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Indonesia. Indonesia. I. Program Pascasarjana. DAFTAR PUSTAKA Anas. 1997. A. Program Magister (S2). . Abdul Madjid. Palembang. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. Laboratorium Biologi Tanah. Anas. Diposkan oleh Dr. 3. Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. 2009. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan.Madjid. Universitas Sriwijaya. Jurusan Tanah. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin.com. I.

terhubung berkala : www. ISSN 1411-0062. 1986. 2008.1.M. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil. and F. H. 2000. 2007. Reber. A. K. Husnal..F. R. 1997. Hakim dan Kusli. Rusdi Saul. 2004.M. Biantoro M. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna.com dalam http://support. 1994. Husin. E. A. 12-15 Desmber 1995. M. Ika RS dan Saubari MM. Yusuf Nyakpa. Mahfud. nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. R. 9/2 : 91-95. Mycorrhiza J. 2000. Azcon.B. Biol. 2002. A. p. Vol 5. Amin Diha. Brundrett. Vol 5.com. M. Faisal T. Martens and H. Rev. Biochem.com Fleibach. Hakim. INFOTENS. Mulyati M dan Roy H. Sanon . Soil Biol. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol. El-Atrash. No. Prosiding Kongres Nasional VI HITI.. Growth response of Afselia africana Sm. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth. Ali. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis.H. Fertil. Dexheimer. Sutopo Ghani Nugroho. (Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo. G. Soils 24 : 81-86. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia. Dudi. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds). Ba. Lampung. Universitas Lampung.R. 26 (9) : 1201 1205.G. Biol. Bailey. 2007. Diversity and classification of mycorrhizal associations.Adinurani P. . Universitas Lampung.. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www. N. Hasanudin.M. and J. Nurhajati. 2007. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May).H. 1997. Go Ban Hong. Dasar-dasar Ilmu Tanah. hal 83-89. Jakarta.lunarpages. M. Lampung. 2008. M. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge.google. Lubis. Doponnois. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. 79:473– 495.google. Iskandar. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.

library. Mosse. Fertil. D. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture.litbang deptan. 1981.. C. Ress. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae.id.Joner. Mycorrhiza J. 2003. D. Jordan.. 1984. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember. 2004. A. 10/4 : 155159. K. Morte. and McDonald. Leyval. Tejoyuwono. 2000.com dalam http://hortikultura. A..No56 : 131-137. Killham.go. Schubert. Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi. 1995. from saline soils and Glomus deserticola under salinity.download/tp/htm-rahmawaty s. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion.H. Kim. Mycorrhiza J. 10/5 : 241-247. Effect of various soil environment stresses on the occurance. 1993. Rahmawaty.Y. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul. Cambridge University Press. 2001. Notohadinagoro.G. JC. Biol. Dodd and PML. Khan. Soils 26 : 79-87.. 1997. Castro. R. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae.. 10/3 : 115-119. Bogor. D. Sekolah Pasca Sarjana.V. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains. Oliveira. Jember. http ://www.Lovisolo and A. Khan. S. Terhubung berkala www. IPB. Publ. Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity. JMR. Lozano. 1998. 2000.google.pdf. and C. Azcon. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity. E. M. 2008. Bagrayad. Mycorrhiza J. Bull Manjunath. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons. Biotropia 8 : 39-44. Universitas Jember. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense . 2001. and R. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp.ae. 24 Januari 2006. Plant and Soil 78: 147-150. Soil ecology.id. K. A.. Pattimahu. .J. Biotrop Spec. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering. Mycorrhiza 10/3 : 137-143. Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal. 1994. J.. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi.S.Tervesia claveryi.usu.

K. Buletin Agron. Soils 28 : 139-144.L. Rao.T.Rotwell. M. Res. IGM. and C. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali. Am. hal 69-74. 1995. Ninin Y. Bengkulu. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. Zarate. Abdul Madjid. F.. Biotrop Spec. Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil. 2002. Simangunsong S. J. Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans). Walker. 2005. Ir. Biol. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** . Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. S. Vol 3. Fertil. and G. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. D. 1984. Romeida.S Subha.No56 : 131-137.E. Soc.R. Edisi Kedua. Yadi S. R.. dan Marlin. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution. Singh. 2001. and R. 105(12):1413-1421. A new fungal phylum. 2006. Bethlenfalvay. Penerbit Universitas Indonesia. Incidence of vesicular . and K.S. Ragupathy and A. Publ. Wachjar A. Biotrop Special Publ. Unsur hara tanaman.B. Bogor Schubler. A. 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation. Mahadevan. S. D.. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman. A.A.arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste. Plant and Soil 80-99-104 Rani. Thomas. Diposkan oleh Dr. 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza. R. Subiksa. Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland. MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu. Dela Cruz. Schwarzott. 1999. Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. Franson. 2002. Soil Sci.. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza. J. Kapoor. Mycol. Widodo. 1994. N.J. 1991. 57 : 77-81.

Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Indonesia. seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan . Palembang. Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. Palembang. Sumatera Selatan. pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang. Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik . Program Magister (S2). Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. PENDAHULUAN 1. Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik. Bukit Besar. Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam.1. Universitas Sriwijaya. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. Bukit Besar. Palembang. dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. baik di Negara maju maupun Negara berkembang. biologis dan cultural. Sumatera Selatan. Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan. Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Bukit Besar. termasuk biodiversitas. Upaya yang mulai . Sumatera Selatan. pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya. Program Pasca Sarjana. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I.(Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Studi Ilmu Tanaman. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang. Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman.

2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting. Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif. ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan. Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut ( Gunalan. maka harus diperoleh galur yang dikehendaki. jamur. 1996): 1. kemasan . Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus. Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan. penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman. Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan. 2002). karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif. Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono. Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar. Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan. Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati).dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit. Penyedia hara . Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara. kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil. Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi. termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji). baik kesuburan fisik. Terutama yang berhubungan dengan pengiriman. kimia maupun biologi.

Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa. dan P. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. P. putida. Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah. Achromobacter. 2. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana.2003).2. Pseudomonas. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae. B. Pseudomonas terbagi atas grup. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. 3. megatherium. subtilis. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. Peningkat ketersediaan hara 3. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof . diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah. Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) . Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. Micrococus dan Mycobacterium.2. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus.4. B. fluorescent. B. B.Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri. . seperti eksudat akar dan sisa tanaman. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel. kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1. ukuran tiap sel bakteri 0. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri. B. multivorans (Hasanudin.5-0. Pemantap agregat tanah 6. dapat menahan unsur hara di dalam selnya. cereus. Perombak persenyawaan agrokimia 1. Flavobacterium.0 μm.berbentuk batang lurus atau lengkung. polymixa.5. pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek.1 1μm x 1. P. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu. jamur dan aktinomisetes. tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. licheniformis. Arthrobacter. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans. bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir.

Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis. Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. radiasi cahaya. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. suhu tinggi dan zat kimia. 1. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . kelembaban temperatur dan faktor lain. Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati.tetapi juga dipengaruhi oleh pH . dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. 5. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. . Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. Semakin tinggi C-organik dan semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P. sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik. 6. hewan dan mikrobia. asam nukleat. Endospora mengandung sedikit sitoplasma. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah. fosfolipid. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru.4.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah.2005). Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik. tetapi pada umumnya rendah . nukleotida. Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya. dan gula posfat. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan. dan ribosom. Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%.terutama yang bersifat heterotrof.Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah. Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah. materi genetik.3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik.

gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman. Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat. Dalam bentuk anorganik. pembentukan akar halus dan rambut akar. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Al-P.01 – 0. dan mineral P primer.2007). ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi. karbonat apatit.Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P. Fe-P dan P tidak aktif. Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan. ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit. reductant-P .2002). 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit. Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya. 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit.Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit. ATP. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono. Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat. Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi. buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit.4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. 1. FePO42H2O Strengit. yang meliputi occhided-P .pembentukan bunga . fosfor merupakan 11 unsur yang .Al3+. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit.2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah. AlPO42H2O Variscit. Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman.Mn2+ dan Ca2+. yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin. yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel. melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya. memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah. aluminium dan hidrat. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0. Secara geokimia. Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel. Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein. Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual. diantaranya dalam proses sintesis protein. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme. P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas.

6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 . Seperti halnya nitrogen. Indonesia. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. A. fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis. Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal. Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat.beku. Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air. Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk. krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 . Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat. Propinsi Sumatera Selatan. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik. 2009. mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata.20. Selain sebagai bahan pupuk. seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan. Di dunia. kilap kaca sampai lemak. Http://dasar2ilmutanah.17 . yaitu 7. Sebagai contoh 15-30-15. dan milisit {(Na. Program Pascasarjana. Bahan Ajar Online. Abdul Madjid. sedimen. Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik.40% P2O5. hijau. Jika aktivitas manusia (anthropogenic). guano. MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah . sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman.5 juta ton endapan guano (0. Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan. Program S2. Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2.15 3. Universitas Sriwijaya. Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan. Diposkan oleh Dr. seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak. dan metamorf. berat jenis 3. Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk.blogspot.6 x 1011 mol P th .K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}. maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat. Siklus P pada Gambar 21 (Buntan. Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5.OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros). Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K. 1992). Masuknya fosfor ke laut sebesar 3.H2O).Cl. Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis. Sumber lainnya berasal dari jenis slag. Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F. cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton.3 x 1011 mol P th. dan kekerasan 5.15. Ir.4 .sangat melimpah di kerak bumi. Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano.com. mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5).43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9.

Bukit Besar. sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca. Sumatera Selatan. suksinat. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. malat. Palembang. Palembang. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Indonesia. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Bukit Besar. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Fe-P atau occluded-P. Sumatera Selatan. laktat. Fospor relatif tidak mudah tercuci. Program Pasca Sarjana.1. Sumatera Selatan. Al-P. Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH. Bukit Besar. MgP. tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat. glutamat. Program Magister (S2). Palembang. PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2. fumarat. Universitas Sriwijaya. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan . Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Program Pasca Sarjana. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah . Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. tartarat dan alfa ketobutirat. glioksalat. yaitu dalam bentuk Ca-P. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). oksalat.BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman.Penurunan pH juga disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas.

malonat. Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat. salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P. sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal. karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe. beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd). dan lemah (suksinat.sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M. Hasil penelitian Pramono et al. Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam. Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat. asam amino dan asam fenolik. malat. Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak. salisilat). sedang (malat. Disamping meningkatkan P tersedia. diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif . tartarat). tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam. . Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda. oksalat. asetat dan ptalat).(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi. Terdapatnya asam-asam organik sitrat.---> M OH + H2PO4H2PO4 .OH + R-COO. asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif.OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme. tartarat dan malat berefektivitas sedang. (c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti.laktat. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik . oksalat.2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit. sedangkan asam malonat. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap.

2 Ammonifiers 5.4 x 10^3 1. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting.0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams. asetat.0 x 10^3 2 Algae 5. Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1.26 x 10^8 1. glukonat. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. alfa ketoglutarat. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran. merupakan bentuk antara (transisi).2 x 10^9 5. Tabel 1. 2007). Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega.7 x 10^4 0. Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4. Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik . glikolat. 1961.0 x 10^5 125 Denitrifiers 1. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. malat.Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat.2 x 10^6 1.0 x 10^6 7 Fungi 1. 1971. oksalat.0 x 10^8 4.6 x 10^7 7. suksinat.0 x 10^3 2. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. sitrat. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson.0 x 10^5 12 Protozoa 2.

(5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah. 8.4 ppm menjadi 59.8 ppm.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0.9 ppm. Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat.3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p.8 – 3. Bacillus sp.3. Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%.5 .9 dan 0. (3) tingkat dissosiasi asam organik. sedangkan pada tanah bereaksi basa P . (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P.ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida. AlPO4. apatit. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet.7 ppm menjadi 34. FePO4. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung. batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P. Bacillus substilis. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat. meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. lesitin. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16. . Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24. 13 dan 14%. 0.6 ppm pada tanah steril. Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro.1 – 3. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat.7 ppm pada tanah sterl dan 0. 6. mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium. Ca3(PO4)2. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. gliserofosfat. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides. Escherechia freundii dan Escherechia intermedia.5 ppm menjadi 30. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 . Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol.

Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. berat kering akar. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. 2. dan Vlek (1996). Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. misalnya: fungi. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. (3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. berat kering trubus. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. dan aktinomicetes. Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. AlPO4 tidak larut dalam air. bakteri. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi . Pada percobaan yang lain P. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%. Misalnya. berat basah trubus. (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Moawad. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini.2. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. minimal duplo. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat. 1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%. berat basah akar. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp.Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. luas daun serta kadar P trubus. Pada tanaman jagung. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik.

Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang,

Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini

super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu

Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost.5 (5) KCl 0.7H2O 0. Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No. Teknologi penyubur tanah dan tanaman.2 (7) Bromophenol Blue 0. mikroba pelarut P. Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder). Azotobacter sp. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair.05 . Lactobacillus sp. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp.01 . Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 .3.025 .6H2O 0.5 . berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan. . penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% . Tiens Golden Harvest .01 . Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan.20 (3) MgCl2.5 (6) (NH4)2SO4 0.20 (4) MgSO4.30 (2) Ca3(PO4) 2 1 .0. Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3). dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp. dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor.dikembangkan . Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman.1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional . 3. Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai.Miza Pluss.

MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. bakteri penambat N. Diposkan oleh Dr. bakteri pelarut fosfat. Universitas Sriwijaya. Palembang. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman.Kemasan : 5 dan 25 kg. Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Sumatera Selatan. Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul . Bahan Ajar Online. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Indonesia. Program S2. Program Pascasarjana. http://dasar2ilmutanah. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. A. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Indonesia. Ir.com. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid.blogspot. Indonesia. Propinsi Sumatera Selatan. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. dan zat pengatur tumbuh tanaman. Palembang. N. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. Abdul Madjid. Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan.Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik. Palembang. Program Pasca Sarjana. Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. 2009. Masa simpan : 12 bulan. Bukit Besar. Program Magister (S2). ** Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. bakteri pelarut fosfat. Universitas Sriwijaya.

Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium. 0. kedelai.3 . lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7. meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28.7 ppm pada tanah non steril dn 0. Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. 5-21 dan 14%.7 ppm menjadi 34. Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. Circulans pada tanaman kedelai.9 dan 0.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17.9 ppm. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0. lesitin. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. . Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung.4 ppm menjadi 59.8 ppm.puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. kentang. kacang panjang dan tebu. Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum. tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4. Bacillus subtilis . Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai.5 ppm menjadi 30. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum. Bacillus sp.3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP. Intermedia . Bacterium mycoides dan B. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B. 3-9. kubis. gliserofosfat. Escherechia freundii dan E. Ca3(PO4)2. Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida. padi.1-3. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat. barlei.6 ppm pada tanah steril. jagung. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16. sedangkan pada tanah berreaksi basa P. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat.IV. tomat. hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. 3-13.Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus.8-3. bit gula. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro.

Mg2+. diantaranya asam sitrat. Puptida dan P. Pada tanaman jagung. Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan.Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat.4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. 1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%. Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung. Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. oksalat. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. laktat. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al.2007). Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens. glutamat. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan. malat. bayam dan kacang panjang). Striata. P. suksinat. dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit. Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh. fumarat. Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. Pada percobaab lain (Buntan. 1992. glioksilat. 1994). Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. 1992). Fe2+. Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau. 1991). Premono dan Widyastuti. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk .

dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF.5 cm. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. Chromobacterium lividum.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos.67%. pH tanah. 208. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area. jumlah polong.3881 ppm dan 280.) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32.48 g. Megaterium sebagai inokulan padat. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . Chromobacterium lividum dan B. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. umur pembentukan polong. 354.30%. umur panen. Daerah Cikaniki. 903. Bacillus sp. Gunung Botol. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl. Klebsiella aerogenes.67%. 207. Klebsiella aerogenes. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.75%. jumlah biji. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. 930.5-2. dan 606. berat daun segar 4 tanaman per pot.. Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. dan Chromobacterium sp. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.15 g tanaman-1. jumlah bunga. 203. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc.63%. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai. 217. tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF.. vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat.81%. Bacillus megaterium.42 g atau ada kenaikan 877.tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot . megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g).22 g. dan 61. dan B. 575. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.) di Tanah Marginal.

Program Pasca Sarjana. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Palembang. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. Program Magister (S2). (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan . Diposkan oleh Dr. MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. A. Universitas Sriwijaya. (2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai amelioran.kering tanaman kedelai. Ir. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Program Pasca Sarjana. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Bahan Ajar Online. Palembang. Http://dasar2ilmutanah. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Propinsi Sumatera Selatan. Sumatera Selatan. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. Bukit Besar. Indonesia.penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan.com. Bukit Besar. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid.Mn. Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman.Fe.blogspot. Indonesia. KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al. Abdul Madjid. Program Pasca Sarjana. Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman.Ca dan proses pelapukan yang rendah . Indonesia. Sumatera Selatan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Sumatera Selatan. Palembang. 2009. Universitas Sriwijaya.

Dubey.C. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor. Escherechia intermedia Pseudomonas putida. Pal. Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean.Bacillus firmus.K.2007. S.Soil Sci. 1998.S. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. 1980. Hasanudin dan Ganggo. Handayanto. 1982. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Majalah Sriwijaya Vol. 6(1) : 8-13. 1996. Gaur . Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.32. 60:353-364.K.No. Edisi 3. 1982. 45: 506-509. Buletin Agronomi. Buntan.E dan Hairiyah. 2004. 1997. Elfiati. Kundu. S. Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan.2005.J. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism. 2003.30:105-106. Hasanudin. B. Bacillus megaterium.D. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few . Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol.2. Pustaka Adipura. Banik.Medan Gunalan. (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis.A. Fakultas Pertanian USU. Citrobacter intermedium . Plant Soil 57 : 223-230. Indian Soc.S and A. Bacterium mesenterricus.J.Indian Soc.ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat. Escherechia freundii. N and K. Bacterium mycoides. serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung.Faperta Universitas Bengkulu. B. Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman.Soil Sci. Noor A.Universitas Sriwijaya. Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia. Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens.Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol.1992.2003. dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Plant Soil . 31 (3): 100-106. Universitas Bengkulu.K Jha. S.

2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: . 2006. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake. Edisi 3. S.Agr.Medellín vol. 4(1) : 1-5.Disertasi. 2006. Soil Microorganisms and Plant Growth. Tesis. Abdul Madjid.acid tolerant crops. 7(2):109-113.C. Patten. 1962. Ir.H. Diposkan oleh Dr.R Glick. Universitas Pajajaran. UGM.) di Tanah Marginal.60 no.L and B.H.Penerapan Pertanian Organik.Kanisus Jakarta. C. 2005. Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung. 1998. MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat.R.1 Wulandari. Edisi 2 . S dan Suliasih . 7(1):1014.Biodiversitas. Vega.Widyastuti. Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki. Jurnal Nature Indonesia. Oxford and IBM Publishing Co. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau.T. Yuwono. 198 : 169-177. S. Premono. and Sinha. Gunung Botol. (Terjemahan Susilo.Pupuk Hayati . UI Press). Plant Soil. Microbiol 42: 207-220. 2007.T. Bandung. 2001.Bandung Rao.2002. Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam.Yogyakarta. Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic. Supadi. 1992.Biodiversitas. 1996.NW. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Widawati..R. dan Ciptarasa. serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. N. Widawati.Program Pascasarjana IPB.W.J.Bogor. Setiawati.N. Sutanto. 1991. S dan Suliasih . Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning. Can.

Palembang. protozoa. Program Magister (S2). Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. PENDAHULUAN A. tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot. aktinomicetes. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. Dibidang pertanian. Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. Sumatera Selatan. Bukit Besar. Program Studi Ilmu Tanaman. fungi. 1998). bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. Palembang. Program Pasca Sarjana.* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. bakteri dan fungi pelarut fosfat. alga dan virus. Program Pasca Sarjana. Dalam sejumlah kondisi. Sumatera Selatan. Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Palembang. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian. bakteri. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme. bakteri dan fungi perombak bahan organik. melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. Program Magister (S2). Sumatera Selatan. kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. serta bakteri yang berperan sebagai . kimia. Universitas Sriwijaya. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui. cendawan. ** Program Studi Ilmu Tanaman. seperti bakteri. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. dan virus sebagai agensia hayati. Bukit Besar. Indonesia. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik. 1998). (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik. Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. dan mendegradasi residu toksik (Sparling. tanah yang sehat memiliki kondisi fisik. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. Indonesia. Universitas Sriwijaya. seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. Universitas Sriwijaya.

Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan. (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. 2009. Beberapa mikroorganisme seperti bakteri. 1978). (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. Bahan Ajar Online. Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. menghemat biaya pupuk. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat. Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme. dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba). B. Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah. Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya. Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan. Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah. vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. Saraswati et al. Fakultas Pertanian Unsri & . fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P. A. Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. kesuburan. dan meningkatkan pendapatan petani.

yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit. Indonesia. Diposkan oleh Dr. Bukit Besar.com. Bukit Besar. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). . Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman. Ir. (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II.01-0. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Http://dasar2ilmutanah. Palembang. Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. OH. pemupukan dan mineralisasi P-organik. Universitas Sriwijaya. umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-. misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. Program Pasca Sarjana. Cl-. Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. Palembang. unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut. MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2. Palembang.atau CO32-.Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N). Indonesia. Abdul Madjid.blogspot. Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis. Bukit Besar. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 (occluded P). Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut. Program Pascasarjana. kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam. bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman. Universitas Sriwijaya.2 mg/kg tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid. Program Pasca Sarjana.

Di alam. fosfolipida. keseimbangan P dalam tanah terganggu. Siklus ini berulang terus menerus. Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah. (b) imobilisasi P-tersedia. Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al. Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah. hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi. 1977). Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik. Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik. memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman.. asam nukleat. 1989). hewan dan organisme tanah. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. pemupukan. bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark. pengembalian melalui residu tanamandan hewan. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik. Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. Pada sistem pola tanam yang terbuka. hewan dan mikroba . dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah).Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman. Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah. Subba Rao. fosfor terdapat dalam dua bentuk. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. Oleh karena itu. Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Sisa tanaman.atau H2PO4-) diserap tanaman. fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. 1997). 1989. Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu. sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat. nukleotida dan gula-gula fosfat. Bila ion fosfat (HPO42. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat. Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba.

Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. aerasi. nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah. 1. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi. seperti nukleotida atau fosfolipida. Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi. Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme. Umumnya. 2. Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen. variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. 1997).. Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon. maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi. atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut. Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi. Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah. aerasi. temperatur. Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur. Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah . Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat. Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah. Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al. dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. kelembaban. maka terjadi net mineralisasi ortofosfat.yang dikembalikan ke dalam tanah. 1986). menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan. Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol. Selain kandungan fosfat dalam residu.

dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi. H2PO42-. dan Ca.2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam. kalsium dan magnesium fosfat. Pada kondisi tergenang. pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang. besi. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut.ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P.+ 2H2O ----> AlPO4.+ 2H2O ----> FePO4. Al3+ + H2PO4. Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut.lebih mendominasi. Fe. 1986). Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat. Selain itu. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah. dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi. dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0. yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya.lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43. keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium. Ion Fe. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam.2) H2PO42. Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var. Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza.lebih mendominasi. sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa. Pada pH tanah agak masam hingga netral. Mn. Phosphaticum. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat. Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat. Nilai kritis C/P adalah 200.----> Al(OH)2 H2PO4. yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1. hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya. Hal yang sama.+ OHCa(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ . pH tanah. jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat. 2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4. dan PO43-. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson. Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al. Mn. dengan melepaskan fosfat. H2PO42. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi. Al.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4.

dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah. 2009. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Sumatera . Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P. Bahan Ajar Online. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Universitas Sriwijaya. Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat. pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion. Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman. Diposkan oleh Dr. suksinat yang dapat mengikat Al. 2007). Http://dasar2ilmutanah. MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. Abdul Madjid. Fe. selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital). Program Pasca Sarjana. Palembang. Bukit Besar. Mn. Program Magister (S2). Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah. Ir. 3. Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. laktat. asetat. yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Kandungan bahan organik tanah.Didaerah rhizosfer. selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi.com. Program Magister (S2). 2. Program Pascasarjana. A. Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi.

5 juta (Hawksworth. Bukit Besar.. . Program Pasca Sarjana. yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman. Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran.000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. Palembang. (Bagian 3 dari 6 Tulisan) III. 2007). Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter. Sumatera Selatan. Palembang. Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman. Universitas Sriwijaya. dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan. Indonesia. Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya. yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. Program Magister (S2). Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5). yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru. (1996) dikenal 5 kelas fungi. Hawksworth et al. Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri (non-motile) disebut zygospora. 1970). ** Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. 1995). Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat. Reproduksi secara seksual. membentuk spora dari fusi dua nukleus. Sekitar 70. Program Studi Ilmu Tanaman. miselium menghasilkan spora.Selatan. Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman. tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. kadang-kadang berkelompok membentuk miselium. berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai.. Bukit Besar. 1991.

dan pengendalian penyakit. Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. 1992). bagian bawah. tidak peka. beberapa diantaranya bersifat sparofit. dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah. Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas. organisme rhizosfer. Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air. Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat. Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman. tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi). eksudat akar. 2007). dan essensial . fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah. fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. 1993). siklus hara. Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah. dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik. Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung. 1993). Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan. Bersama-sama dengan bakteri. Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal. karbon dioksida. bagian tengah. Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow. Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual.. seperti selulosa dan lignin dalam kayu. Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah. dan pengelolaan lahan. Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks. Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. baik berupa daun maupun kayu. fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya. Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya. sebagai contoh . (1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza.Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat. CO2 terhambat. menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah. Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik.

contohnya A. cat. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda.flavus dan A. Fungi patogen akar seperti Verticillium. nitrogen. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial. Sebagai contoh A. untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat. Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus.parasiticus yang menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. dan semak. Phytium.dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu. Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim. 2007). Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah. tekstil. Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun. Seperti bakteri. Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. . dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. 1995). Namun demikian. serta banyak dijumpai dalam tanah. fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat. Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. hara mikro. fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah. Selain itu. Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza. menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun. dan Rhizoctonia. (3) Patogen atau parasit. (2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian. Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri. udara. beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik. dan mungkin air) ke tanaman. Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya. Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering. sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza.niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng. Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman. Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit. atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. 1995). tanaman pangan. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian. sayuran. dan kulit (Hawksworth et al. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon..

Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk. Karbon dioksida dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung). tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam. termasuk manusia. Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2. Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida.75-5x 2-6im. dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang. 1987).koningii (merton dan Brotzman. Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan. 1983). Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan. Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC. Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im.. terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez. 1999).5. diantaranya T. Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman. jaringan hewan dan tanah. membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni. jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe. Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa. Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin. sel berbentuk seperti tabung (Perbedy. Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon. nitrogen. 1968).harzianum dan T. 1979). tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam. Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase. 4. Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson. Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0. 3. Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar. gandum. selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer. 1982). Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi.5-9. 5.2. Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya. 1986). Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras. Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al. . hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat. Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga. dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol. Pada tanaman. Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman.

dan mineral lainnya. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. Program Pasca Sarjana. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Http://dasar2ilmutanah. Bukit Besar.com. Diposkan oleh Dr. Bahan Ajar Online. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Indonesia.vitamin. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Abdul Madjid. Universitas Sriwijaya. Palembang. Palembang. 2009. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH . atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Palembang. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Indonesia. Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Magister (S2). Program Magister (S2). Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman. Ir. Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC. Sumatera Selatan. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. A. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pasca Sarjana. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasrjana. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. Bukit Besar. Sumatera Selatan.

Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah.010. Trichoderma viridae. (3) tingkat dissosiasi asam organik. Penicillum. merupakan bentuk antara (transisi). dan Chaetomium sp. malat. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). 1994).04-0. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. khususnya fungi jenis Aspergillus niger. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat.. asam amino dan asam fenolik. Micrococus dan Mycobacterium. A. Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri.21% dan C/N ratio .0-40. alfa ketoglutarat. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. B. oksalat. fosfor (P) sebesar 0. asetat. B. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp. Achromobacter. apatit. magnesium (Mg) sebesar 0. Flavobacterium. cereus. Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger. polymixa. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. jamur dan aktinomisetes. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM.0%.rendah.14%. glikolat. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). AlPO4. Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono. 2006). glukonat. FePO4. Fusarium. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. 2006). Schlerotium & Phialotobus. B.0-2. Pseudomonas. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa.. sitrat. Penicillium sp. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4. Arthrobacter. candidus. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam. kalium (K) sebesar 0.5%.039-1. B. nitrogen (N) sebesar 2. harus mengandung 8 macam nutrisi. subtilis. megatherium. Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah. B. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. yaitu: karbon (C) sebesar 19. licheniformis. Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis. suksinat.35%.

Kundu dan Gaur. aktivitas penambatan N. jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2. Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India. 8 kali. 1980 . Subba Rao. yakni lebih dari 10 kali lipat. niger strain NHJ2 1 ml per biji. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander. Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada . dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul. 1978). Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2.4 % dibandingkan kontrol. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. dan FePO4. (2001). japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. 1. dan mesir. aktivitas fiksasi N. AlPO4. dan serapan N dan P berturut-turut 7.0-20% (Gaur. kanada. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. 1977 . Hutami et al. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. 1986).3 kali. Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P. DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. (4) inokulasi R. 1957 . Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk. niger. sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah. dan G. (3) inokulasi R. dan serapan N dan P. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat. Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P. 1982). japonicum. sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao.8 kali. Aspergillus sp. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. A.sebesar 9. Lestari (1994). (2) inokulasi R. Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006).. 1967). margarita. bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. dan 10 kali.

Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1). Tanah ini terkenal sangat miskin. Bogor. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung. tanaman apapun yang . aspergillus niger. Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat. Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut. Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer. (2000). Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4). Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi). kab. Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan. kandungan bahan organik rendah. Trichoderma viridae.. Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat. Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. T. Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al. scwanniomycetes occidentalis. Pennicillium digitatum. fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2). Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P. Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0). antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. dan Chaetomium sp.78 ppm (Baratha. Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat.media tumbuh GAGES dan GES. Aspergillus niger. Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al.. Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No. Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak. Tiap kombinasi diulang tiga kali. Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38. Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. dan kapasitas tukar kationnya rendah. 42. uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3). Selain daripada itu T. Tanah ini memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal. bahan organik. 2000). 2004). Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat.. dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar. populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia. Penicillium sp. Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41. Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa. Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori.

ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain. Bahan Ajar Online.Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan. Program Magister (S2). Bukit Besar. Program Pascasarjana. Perlakuan keempat dengan menambahkan T. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin. Abdul Madjid.com. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung. Program Pasca Sarjana. Indonesia. Diposkan oleh Dr. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya.blogspot. Palembang. Sumatera Selatan. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang). pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal. Palembang. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. A. Program Magister (S2). (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia. Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali. Ir. Program Pasca Sarjana. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah. Http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya.Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. 2009. Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. Palembang. Namun demikian. Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba. Bukit Besar. .

Namun. R. dan kompos. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V. pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya. selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. dan tepung. biakan kering beku.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif. memperbaiki struktur tanah. Indonesia. sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis.760. Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar. tanah. pelarut. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. sekam. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung. Namun. mempercepat proses pengomposan. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah. sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. 2008). Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung. menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. dan juga pada minuman. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah. vermikulit. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya. atau ketempat pengomposan. artinya mikroorganisme yang . atau zeolit. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak. Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). biakan cair. Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman. Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani.Sumatera Selatan. dapat digunakan bahan organik seperti gambut. mikroorganisme telah lama dimanfaatkan. Di Indonesia. disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. arang. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi. biakan kering.130. menekan soil-borne disease.11.

cara penyimpanan. Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas. Mn-. Fe-. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe. suksinat. Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase. sitrat. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. baik berupa bakteri maupun jamur. Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium. karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. Dengan mempertahankan kelembaban. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. dan ketoglutarat. sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. Pada pengujian pupuk mikroba. 2008). maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. laktat. tanggal kadaluwarsa. perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme. Mulai tahun 2004. sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. glikolat. Propionat. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. oksalat. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara.terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. jenis. Selain itu. Di Indonesia. Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. 2008). tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. tetapkan kelembapan bahan pembawa. Stase. dan Ca. Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah.Suatu teknologi . lartrat. seta jenis tanaman yang cocok. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun. fumarat. kematian mikroorganisme dapat dikurangi. sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. 2008). Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan.

tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P.85ug/ml (pH 5. Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba.32% dan 16% pada padi.1).0. 50 kg P. dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman.pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171.0. dan meningkatkan serapan P tanaman. bobol kering tanaman. dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12. dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya. serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya.0. BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan. mikoriza./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P. yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi.5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi.0. Grt 3.28 ugfrnl (pH 2. . Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya. Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman.59%). bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K. Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale. dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai. dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp.47) hingga 394.9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P. Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah. 50 kg/ha SP36. yaitu mikroba pelarut fosfat. memobilisasi. Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P. jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%. serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos.irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM). Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan.60 ug/ml (pH 4.iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar.78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P./ha (23.65) hingga 147. mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman.ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%. Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I). Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0. Aspergillus niger NHJ2. Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28. Sehingga dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia. Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya.56 ug/m! (pH 6.

Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri. sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. dan actinomicetes. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. -4. Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. 5. sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. Buat medium agar Pikovskaya. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. dan Vlek (1996). Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. bakteri. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet.Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh . Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. 4. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. – 6 s/d 10 ext. Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. AlPO4 tidak larut dalam air. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. minimal duplo. Konsentrasi fosfat. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. – 8. Moawad. 8. Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. antara lain: 1. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. khususnya isolat fungi. Ulangi langkah di atas secukupnya. 6. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. 7. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2.

asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase. Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal. (Goenadi. mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah. 4. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. 1995). Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas.. dkk. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas . Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang. . (2000). dan aktinomicetes. Ketebalan agar. Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat. pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah.. Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. 3. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi. 1995). fosfatase. 2000). Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE. A. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Misalnya. bakteri. misalnya: fungi. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Melalui aplikasi pupuk hayati. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Kecepatan pertumbuhan mikroba. sehingga dapat diserap tanaman. Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba.2. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan 12 bulan (Goenadi et al. Goenadi et al. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik.

bobot kering bibit. kedelai. Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan. penambat nitrogen bebas.PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian. B. ketersediaan hara di dalam tanah. (1997). dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh Dosis dan kandungan mikroba . Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. dkk. dan volume akar. Hasil percobaana Goenadi. menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk. Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah. dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman.

serapan N dan P tanaman. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A.Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha. simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar. Rhizobium 108-109. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). niger strain NHJ2 1 ml per biji. Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia. dosis anjuran 50 kg Urea/ha. Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. niger. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. margarita. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P.8 kali. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. diameter batang. Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk. jumlah bintil akar. 2000). Al-dd 1. dan serapan N dan P.209 me/100g). (4) inokulasi R. dan 10 kali. . Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5. A.96. Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria). japonicum. dan serapan N dan P berturut-turut 7. jumlah polong isi. Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol. aktivitas penambatan N. aktivitas fiksasi N. bobot kering akar. (3) inokulasi R. dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran. C. bobot kering total. 8 kali. 1. MK 1997. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. 50 kg KCl). jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. pH 3.5. Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar. Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam. tinggi tanaman.3 kali. serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh. Rata-rata bobot kering tanaman. (2) inokulasi R. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. MK 1999. dan G. 100 kg SP-36/ha. Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha). dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum.

Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E. Mn = 0. yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal. Lactobacillus. Azotobacter. Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini . Azobacter sp2. Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As. Azospirilum sp4.7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman.Ir. dan mikroba pendegrasi selulosa. Mikroba Pendegradasi Selulose5. Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien.04 % .92 % . N = 0. Cu = 0. Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr. Hg. yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini. K = 1700 ppm . mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Pb. Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI).70 ppm . Zn = 3.85 ppm . Mikroba pelarut fosfat3. serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya. Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan).Lukman Gunarto MSc. Pseudomonas spp = 34. Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair.3 ppm . Fe = 44.D. Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%. mikroba pelarut P. C organik = 0. yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien. Migro Plus Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru. Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1. Cd dan Mikroba Patogen. Lactobacillus sp6. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum.23 ppm .

akan mendapatkan K dan unsur lain. melepaskan P yang terikat di dalam tanah. mikroba pelarut P. pembentukan anakan dan primordial. apabila . Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. Hasil dari pendegradasian tersebut. Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. sehingga keaslian produk MiG corp.adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik. sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. juga terdapat mikroba Pseudomonas sp. penambat Nitrogen dari udara. Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru. sampai ke tangan konsumen lebih terjamin. unsur N. mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL. Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan. 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup. yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS. probiotik MiG ternak. Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. Lukman Gunarto. sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan. dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. ada yang berfungsi sebagai penambat N. tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen. Lactobacillus sp. apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah. karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah. dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar. dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. populasi mikroba untuk menambatkan N. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. Azotobacter sp. Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit). Menurut penelitian Dr. Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). yaitu unsur fisik (bajak/cangkul). menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. daun-daun atau bahan-bahan organik lain. hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia. P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut. Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya. tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami.

candidus. Palembang. Palembang. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. ** Program Studi Ilmu Tanaman. rusak atau mati. Bukit Besar. Sedangkan dari golongan . Program Pascasarjana. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. (Bagian 6 dari 6 tulisan) VI. Universitas Sriwijaya. Abdul Madjid. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Tidak masalah. http://dasar2ilmutanah. dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja.blogspot. Program Magister (S2). Caranya sangat mudah. cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu. Indonesia. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Bukit Besar. Sumatera Selatan. A. Indonesia. telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian. Sumatera Selatan. Schlerotium & Phialotobus. Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. Diposkan oleh Dr. Universitas Sriwijaya. A. Ir. Palembang. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. 2009. Program Pasca Sarjana. Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Sumatera Selatan. Indonesia. Bahan Ajar Online. Penicillum. Program Studi Ilmu Tanaman. apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit. Bukit Besar. Malahan tanaman menjadi semakin subur. Fusarium. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. (2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger.com.penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia.

RJ – Brazil.. Orivaldo J.T. Eliane M. Trichoderma viridae.J. 2004. 1-44 pp. Dix. Dhandhun Baratha. C. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem. Buresh et al. In. Madison. Introductory Mycology (4th Ed).C. DAFTAR PUSTAKA Anas.C.J. R. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat. VII. 1982. S... G. M.scielo. Aspergillus niger. dan Chaetomium sp. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. R. and Wicklow. Chapman & Hall. SSSA. 334-337. N. Inc. Blackwell. Communities of P-solubilizing bacteria. J. 13 : 749-752. and Hellums. 1999. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P.. Buresh. I. Saggin. 1996. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam. 51. 1967. Pennicillium digitatum..php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 .R. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae.. Baniks. Chonkar and Subba rao. WI. (eds). Philadelphia. E. 1995. 1997. John Wiley and Sons. Fungal Ecology. J. J. New York. P. 111-149. Premono dan R. aspergillus niger.C. Plant soil 60 : 353-364. and M. New York.J. R. Dickinson. 2006. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. J. Rosario Azcón Jose M. L. Mims.T. C.aktinomisetes adalah Streptomyces sp. Marcel Deker. Widyastuti. (4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. S. scwanniomycetes occidentalis. PA.. Carroll. Penicillium sp. Bogor. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Canadian. Campello. http://www.br/scielo. Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules. London. J. fungi and arbuscular mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty. 1992. USA. Smithson.W. Pusat Antar Universitas IPB. Building soil phospharus capital in Africa.. P. D. Microbial.. Souchie. 868p. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec. 1993. Barea. Eduardo F. D. M. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism. Edson L. Publ.W. and Schweizer. Alexopoulos. and Webster.

P. Maningsih. Anas. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey. Bogor (Indonesia). New York. 1989. A. 1996. Inc. 1993.indiamart. and Whalley. Harvard university Press. F. R. Watling. H. S. CAB International. Merton.C. 1987. 1983. K. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification.E.Gressel. Hawksworth.L. Mycology research 95. Columbia. Cambridge. S. and Pegler. N and J. B.297-312. USA. Nelson.E. New York. P.. Wallingford. 1995. 193 pp. Y. Riyanti. Sutton. United Kingdom. N. 23-30. 14 : 31-36. Cambridge. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. Badan Litbang pertanian.K. University of Missouri Columbia Extension Division. J. .C. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung. New York. Saraswati. E. A. peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah. 616p. D. D. Paul. the fungal dimension of biodiversity: magnitude. Sunarlim. Isaac. Missouri. Cambridge University Press.F. R. Aspects of tropical mycology.. Hutami. Puslittanak. Perbedy. John Willey & Sons. F and Brotzman.N.E. Fusarium Species: Their biology and toxicology.Fertilizer [Biosol-P] www. Bogor.. Giller and G.). Siswanto and Sugiarto. Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review.com/jayenterprises/fertilizers... Inc.I.. 2000. Skripsi. 1968. Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed. Hawksworth. Pennicilium and Acremonium. Miller. E. Frankland. Jakarta (Indonesia).M. H. U.. 204 pp.M.. 1994. The life of yeast. Jenis pupuk P. Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus. Mass. 1997. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia. 83-123 pp. 588 pp. J. D. Driven by nature p. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. 1986.. significance and conservation. CAB International. 1979.J. P. Lestari.H. D. Institut Pertanian Bogor. The Pennsylvania state University Press. M. Bio . 1991. In. McColl. University Park.A dan Clark. Cadisch (eds).Z. 2000. 641-655.W and Mrak.S. Kirk.J. Goenadi. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press. E. Plenum Press. Fakultas Pertanian. Phaff. G dan I.L.G. Soil Science Society of America Journal 64:927932.html Joffe.

Premono. Abdul Madjid. 2006. N. Indonesia. 1970. Universitas Sriwijaya. Palembang. Elsevier biomedical press. Hara N tersedia melimpah di udara. sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua . Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. New York. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Indonesia.staff. 1986. J.ac. Introduction to fungi. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. Universitas Sriwijaya. Palembang. 1982. Sekilas Pupuk Hayati.J. I. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Program Pascasarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. manual and atlas of pennicillia. Namun. [http://nasih. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Universitas Gadjah Mada. M. Bogor. 1977. 1994. sulphur. New Delhi. micronutrients. Institut Pertanian Bogor. 202-204. Disertasi. Jasad Renik Pelarut Fosfat. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2. C. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. John Willey & Sons. Pupuk Hayati. Stevenson. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Cambridge university Press.id/] Diposkan oleh Dr. Ramirez. N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. 2008. F. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster. Subba Rao.S. yaitu Nitrogen (N). PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Soil Microorganism and Plant Growth. W. phosporus. Yuwono. nitrogen. Oxford and IBH Publishing Co. E. Ir. Cycles of soil carbon.ugm. Cambridge. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Tombe. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja. N. M. Program Pasca Sarjana. Tiga unsur hara penting tanaman. New York. Fosfor (P). 380 p.

infeksi ini .jenis tanaman. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. karena terikat pada mineral liat tanah. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P. Sebaliknya. Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P. 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). antara lain: Aspergillus sp. Namun. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Penicillium sp. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman. jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. 2008). antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp.

Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza). Ektendomikoriza 3. misalnya jenis-jenis meranti. Ektomikoriza 2. Entrophospora. membentuk chlamydospores (Morton. dll. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Hifa memasuki sel kortek akar. pasang. Gigaspora dan Scutellospora. 2003). Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). 2006). Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. bercabang. 1997). rambutrambut akar tidak ada. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar. padi. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks. lapisan hifa pada permukaan akar tipis. hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett. mulai dari paku-pakuan. kesehatan dan produktivitas tanaman. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. karet. mempening (jenisjenis Fagaceae). mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1. Dilain pihak. sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. Acaulospora. kruing. Paraglomus. pinus. hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. kelapa sawit. cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas. Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan.antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. mangga. jenis rumput-rumputan. Archaeospora. hingga pohon rambutan. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur . kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae). 2004).

kebanyakan berbentuk bulat telur. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. 1998). harus diamati dibawah mikroskop. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. selada. jeruk. merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. vesikel (vesicle) dan spora. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. kapas. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. akan tetapi belum berhasil. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. apel dan anggur (Rahmawati. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. pepaya. padi gogo. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. vesikel intraseluler. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. . barley. kopi.khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. singkong dan sorgum. nenas. karet. 2004). palem. teh. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. 1. 2003). Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. tembakau. bawang. 2004). Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. kacang tunggak. kakao. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan.

Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. 1981). 2) . Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. pembentukan organ baru. Dengan bertambahnya umur. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. yang memiliki perbedaan tegas. pembengkokan inti sel. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. 2. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. Arbuskul berperan dua arah. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. 3. dengan Ascomycota dan Basidiomycota.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. Schubler et al. Mirip dengan cendawan patogen. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. 1981).sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. 2004). 2004). Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar.

Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Paraglomus. Diversipora. . Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace).. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. (Sagin Junior & Da Silva. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. 2006). jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. 2002). Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. 2006). Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. Acaulospora. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. dan Glomus sp. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri.Paraglomerales (famili Para-glomerace). 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Geosiphon. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Intraspora. Entrophospora. Pacispora. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. tanaman inang. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Oleh karena itu. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. Kuklospora. kepadatan propagula. Gigaspora-ceae. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. 1991). Walaupun demikian. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Scutellospora. Gigaspora. Diversisporaceae.

(5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air . 1981). (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. Untuk daerah tropika basah. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. pH. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. tanah. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. hal ini menguntungkan. logam berat dan fungisida. intensitas cahaya dan ketersediaan hara.. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. bahan organik tanah. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Vesser et al.II. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. kadar air tanah. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. 1981). PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA.pada tengah hari. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. saat kelembapan air rendah.

1997). pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. alumunium dan mangan. air dan udara. 1981). perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Serasah tersebut mengandung hifa.meningkat (Rotwell. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. 1997). Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap . Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. 1984).. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. 1997). Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. klor. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium.

Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. 1997). cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). 1982 dalam Anas. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. 1995). Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. fungisida Agrosan. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Benlate. 1998). Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata.terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. 1984). dicirikan oleh keragaman . Pemakaian fungisida menjadi dilematis. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). 1981). di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Plantavax. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. 1984 dalam Anas.. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). 1997). Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. dan Na yang tinggi (Mosse. Al. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit.

P. K. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). pembakaran. jumlah bahan organik yang dihasilkan. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994).04 menjadi 0. cropping sistem. 2002). 1 9% (Gededda et al. unsur hara dan struktur tanah. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. 1996). Dalam budidaya tradisional. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. . Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman.spesies yang sangat tinggi. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. Pada tanaman pisang. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. ameliorasi dengan bahan organik. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. 2005). dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Untuk tanaman manggis. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. 1996). 1995). Sawahlunto Sijunjung. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. karena perubahan spesies tanaman. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. 1984). Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N.

serta patogen akar. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. 8 dan 28 MST. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. 2006). Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. Di dalam arbuskul. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. G. Selain daripada membentuk hifa internal. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. jumlah daun pada umur 4. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. bobot kering tajuk.masing sebesar 5. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. kekeringan.5% dibandingkan dengan kontrol. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas.7% dibandingkan dengan kontrol.2% dibandingkan dengan kontrol. 1997). aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. III. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. .Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. 1997). bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam.7% dan 4. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. sedangkan inokulasi G. sedangkan inokulasi G. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro.

1997). Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. salinitas. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. 2006). Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. 3) melindungi dari herbisida. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Fe. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori . Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. Selain itu. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. keasaman. Setelah periode kekurangan air (water stress). Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Dengan adanya CMA. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Cu. Pada kedelei. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. pemadatan. dan Zn). Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Zn dan Cu meningkat.2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. Zn. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P.

Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Dilain pihak. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. 2. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. 4. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. 1994). sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. 3. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. 1994). cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan.tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. tailing tambang batubara. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. 2. atau lahan terpolusi lainnya. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. K dan S. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Infeksi patogen akar terhambat. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air.1997). Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat . sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar.

tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. 1993). CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Jika terhadap jasad renik berguna. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Interaksi sebenarnya antara CMA.usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air.. 1981). Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. Pada tanaman tertentu. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. sitokinin dan giberalin. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. 40% kebutuhan nitrogen. citokinin. 1997). dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. 1997). patogen akar. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. 4. dan giberalin. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. 3. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. 2000). dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. 1981 dalam Husin dan Marlis. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. . yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman.

Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. 2002). Perbaikan Struktur Tanah. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. tapi juga bagi tanah. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. 1997). Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza.. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara . Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Bila ini benar. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. 5. Menurut Hakim. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida.Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. 2002). akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah.. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah.

Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. 2002). japonicum. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. khususnya pada tanah yang miskin P. Prihastuti et al. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa.4. namun .1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. dan protein. setelah didahului dengan proses infeksi akar. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. phosphor bebas dan mineral.6 hexakisphospat).33%. 1999).50–90.tanah. Besi (Fe++).5. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. Phytat adalah senyawa phospat komplek. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang.2. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. B. Magnesium (Mg++). merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. yaitu mencapai 70. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N.3. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air.. Seng (Zn++). 6. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar.

meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk.sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. 1994). Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. tipe perakaran tanaman inang. Secara tidak langsung. Bagi tanaman inang. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. 3. 6. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. baik secara langsung maupun tidak langsung. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. Sedangkan secara langsung. pH. baik untuk tanaman pangan. spesies cendawan. temperatur. kadar air. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. tanaman inang. tanaman tanpa mikoriza) / BK. 1997). Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. adanya asosiasi ini. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. perkebunan. tanaman bermikoriza . Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). 1987). yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. . 2004). respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". 2006). Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. 1995). Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK.BK. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik.

Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera.98 g biji/tanaman.18 mg P/tanaman menjadi 2. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut.7. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun .13 g biji/tanaman.1997). Kalimantan. Sulawesi dan pulau besar lainnya. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim.13 mg P/tanaman menjadi 2. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0.66 mg P/tanaman. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam..02 g biji/tanaman menjadi 5. infiltrasi air hujan rendah. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. dan hasil kedelai meningkat dari 2.. 1997).1. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan.15 mg P/tanaman. . Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Disamping untuk tanaman pangan. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al.84 g biji/tanaman menjadi 5. kejenuhan Al tinggi. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. miskin hara dan bahan organik. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya.

Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar

logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005). Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007), tentang peranan mikoriza pada tanaman jati,

Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi.90 %. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman.misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira.72 ppm dan tanah Inceptisol. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. Dengan teknologi mikoriza.76 % -21. 2008). Untuk mewujudkan harapannya. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. Tujuannya. 69. 8. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. dengan kadar P tersedia "rendah" . Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. Selain itu. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya.65 %. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan.80 % .84 % . Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare.40. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. Peningkatan kadar P nira." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. sebesar 38.66 % . Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza.67. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza.. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa .71.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak.15 %.5 ppm. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara.

Tanaman inang dapat berupa jagung. Dalam rangka pelaksanaan program ini. 5.Lima hari kemudian. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. spora dan akar terinfeksi. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Manfaat 1. selain untuk meratakan hasil. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. 2008). diaduk merata. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. bedeng tersebut dapat digunakan. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. 4. 3. 3. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. 2. sorgum atau pueraria. 6. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. telah diberikan Asosiasi .campuran tanah.

(2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. mampu menambah daya tahan akar tanaman. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. satu tablet untuk satu bibit. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus.Mycorrhizal Indonesia. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Abdul Madjid. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Setelah itu pil dipecah-pecah. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Kalimantan. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Diposkan oleh Dr. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Aturan pakainya sederhana. MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu. yaitu: (1)Parasitik. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. (2)Saprophitik. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan penyakit pada akar tanaman. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Untuk membuat tablet. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. Dalam teknik pemberian mikoriza. Setelah teruji kemurniannya. Ir. Di IPB. seperti: penyakit bercak akar kapas. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus.7 sentimeter. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari . Tablet ini dibuat dari cendawan. (3) menggunakan miselia cendawan.

dan ciliata. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar. dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. Diplopoda (kaki seribu). Abdul Madjid. dan (b)Nematoda. seperti: Mycorhiza atau jamur akar. (2)Glomus. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. dan (3)Ektendomycorhiza. Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci. (2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. yaitu: (1)Endomycorhiza.akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. dan kalajengking)dan Insekta (belalang. Flora Tanah . (c) Arthropoda. yaitu: (1) Makro Fauna. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. (b) cacing tanah. yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. Arachnida (lebah. Chilopoda (kelabang). seperti: amoeba. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. (3)Acaulospora. kutu. Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua. jangkrik. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman. dan rayap). (d)Moluska. flagelata. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah).dekomposisi bahan organik tanah. (2)Ektomycorhiza. semut. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas. Ir. Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora. Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. (3)Simbiotik. seperti: omnivorous dan Predaceus. (4)dll Diposkan oleh Dr.

Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB).000 bakteri per gram tanah. yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah yang subur melebihi 100. bahwa berdasarkan ukuran. Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas. yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah. organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga. dll. . Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil. (c) actinomycetes. Aspergillus. (2) Mikro Flora. MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa. Ir.Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. yaitu: (1) Makro Flora. dan (d) algae. yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. terdiri dari: (a) bakteri. dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF). Abdul Madjid. Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. dan (3) Mikrobia. menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology. Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. (b) fungi. Selain itu. Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0. yaitu: (1) Makrobia. (2) Mesobia. Bacillus. Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme.2 mm s/d 10 mm. Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF).2 mm. Diposkan oleh Dr. dll. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere. yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop.

dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah.Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat.net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis. Abdul Madjid. MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) . yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik. Ir.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful