PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang

pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe :

1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998). Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Gramineae dan

barley. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. padi gogo. 2004). Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. 2004). pepaya. 2003). sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. karet. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. selada. akan tetapi belum berhasil. tembakau. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. 2. 2004). .Leguminosa umumnya bermikoriza. singkong dan sorgum. kakao. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. 1. pembengkokan inti sel. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. bawang. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. vesikel (vesicle) dan spora. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. pembentukan organ baru. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Arbuskul berperan dua arah. jeruk. teh. palem. apel dan anggur (Rahmawati. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. kapas. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. kopi. kebanyakan berbentuk bulat telur. kacang tunggak. 2004). nenas. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar.

Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. Intraspora. Scutellospora. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. 1981). Schubler et al. Kuklospora. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. Gigaspora-ceae. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. 3. Pacispora. Oleh karena itu. Entrophospora. Dengan bertambahnya umur. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. Walaupun demikian. Diversipora. Mirip dengan cendawan patogen.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). Geosiphon. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. . 1981). Paraglomus. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. Diversisporaceae. 2006). kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. yang memiliki perbedaan tegas. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda.Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. dan Glomus sp. Gigaspora. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Acaulospora. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. CMA tidak memiliki inang yang spesifik.

Abdul Madjid. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Universitas Sriwijaya. Diposkan oleh Dr. tanaman inang. Program Studi Ilmu Tanaman. .blogspot.CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. kepadatan propagula. Indonesia. Program Magister (S2). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Palembang. Palembang. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Program Pascasarjana. 2002). 2009. Http://dasar2ilmutanah. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. 2006). Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Bahan Ajar Online. A. 1991). Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Indonesia. Program Pascasarjana.com.. (Sagin Junior & Da Silva. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Ir.

bahan organik tanah. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Untuk daerah tropika basah. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. 1981).pada tengah hari. Program Pasca Sarjana. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. Program Magister (S2). Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. tanah. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Universitas Sriwijaya.** Program Studi Ilmu Tanaman. pH. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. 1981). Palembang.. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Program Pasca Sarjana. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. Vesser et al. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Palembang. kadar air tanah. Universitas Sriwijaya. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Indonesia. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Program Studi Ilmu Tanaman. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman . logam berat dan fungisida. Indonesia. hal ini menguntungkan. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Program Magister (S2). saat kelembapan air rendah.

Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. 1997). 1984). Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal . vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Serasah tersebut mengandung hifa.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse.ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. air dan udara. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. 1981). tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. 1997). Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA.

fungisida Agrosan.yang tinggi dalam jaringan inang (Anas.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. alumunium dan mangan. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. 1997). Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. 1997). tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui.. Benlate. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. 1982 dalam Anas. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. 1981). Pemakaian fungisida menjadi dilematis. klor. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. 1984 dalam Anas. Plantavax. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit.. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Cendawan pada umumnya . 1984). Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. Al. dan Na yang tinggi (Mosse. 1997).

ameliorasi dengan bahan organik. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. P. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). 1996). dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik.04 menjadi 0.memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. unsur hara dan struktur tanah. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. . cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. jumlah bahan organik yang dihasilkan. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). karena perubahan spesies tanaman. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). Pada tanaman pisang. 1 9% (Gededda et al. 2005). 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. 1995). inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. pembakaran. Dalam budidaya tradisional. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. K. 1995). cropping sistem. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. 1984). 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. 1998). Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida.

8 dan 28 MST. 2009.2% dibandingkan dengan kontrol. Program Pascasarjana. MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Diposkan oleh Dr. .Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Universitas Sriwijaya. jumlah daun pada umur 4.5% dibandingkan dengan kontrol. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Program Pasca Sarjana. 2002). CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. Palembang. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al.com. Program Pasca Sarjana. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. bobot kering tajuk. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. Http://dasar2ilmutanah. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Universitas Sriwijaya. Sawahlunto Sijunjung. Abdul Madjid. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Propinsi Sumatera Selatan. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. Program Magister (S2). manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. Untuk tanaman manggis. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Palembang. sedangkan inokulasi G.masing sebesar 5. Program Magister (S2). Palembang. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Palembang. G. Bahan Ajar Online.blogspot. 1996).7% dibandingkan dengan kontrol. Ir. Universitas Sriwijaya. A. sedangkan inokulasi G. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G.7% dan 4. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.

serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. dan Zn). CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. 3) melindungi dari herbisida. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. 2006). kekeringan. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Di dalam arbuskul. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. Selain daripada membentuk hifa internal. keasaman. Cu. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. salinitas. Fe. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. 1997). Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. serta patogen akar. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke . 1997). Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. pemadatan. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Selain itu. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P.(Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. Zn. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang.

1997). Dengan adanya CMA. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan.tanaman inang. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya . 1994). Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Zn dan Cu meningkat. Pada kedelei. Setelah periode kekurangan air (water stress). tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. 2006). sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. K dan S. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi.

Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. atau lahan terpolusi lainnya. 3. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode.. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. 2. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. 1994).simpan air kecil. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. 2. tailing tambang batubara. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham.1997). Dilain pihak. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. 4. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Infeksi patogen akar terhambat. 1993). kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Interaksi . Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Jika terhadap jasad renik berguna. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen).

atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. sitokinin dan giberalin. Perbaikan Struktur Tanah. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. 1997). maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. 5. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. 1981 dalam Husin dan Marlis. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi . Bila ini benar. 4. dan giberalin. 40% kebutuhan nitrogen. 1997). Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. 1997). maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. citokinin. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. 1981). 3. 2000). Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. patogen akar. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. Pada tanaman tertentu. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas.sebenarnya antara CMA.

Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman.agregat mikro. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. tapi juga bagi tanah. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. 2002). Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. 2002). lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah.. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman.. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Menurut Hakim. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. . Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain.

Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). dan protein. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1.50–90. Besi (Fe++).. B.3. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. 1999). Phytat adalah senyawa phospat komplek. yaitu mencapai 70. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley.33%. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. 2002).1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. japonicum. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. 1987). phosphor bebas dan mineral. Magnesium (Mg++). setelah didahului dengan proses infeksi akar. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. khususnya pada tanah yang miskin P. Prihastuti et al. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas .5. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P.6. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis.2.4. 2006). yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. Seng (Zn++).6 hexakisphospat). 1997).

Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar.tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. baik secara langsung maupun tidak langsung. 7. pH. tipe perakaran tanaman inang. 2004).BK. . Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. Bagi tanaman inang. Secara tidak langsung. Sulawesi dan pulau besar lainnya. tanaman bermikoriza . Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". 3. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. 6. 1995). tanaman inang. Sedangkan secara langsung. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. adanya asosiasi ini. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. 1994). yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). baik untuk tanaman pangan. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. tanaman tanpa mikoriza) / BK. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. kadar air. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. miskin hara dan bahan organik.1. spesies cendawan. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. Kalimantan. temperatur. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. perkebunan. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis.

02 g biji/tanaman menjadi 5. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza.1997). Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol.84 g biji/tanaman menjadi 5. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp.66 mg P/tanaman. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya.kejenuhan Al tinggi. 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam . persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat.13 g biji/tanaman. dan hasil kedelai meningkat dari 2. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian.15 mg P/tanaman. Disamping untuk tanaman pangan. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. 1996) dan pepaya (Cruz et al. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. serta serapan hara NPK. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. 1997). Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. net fotosintesis. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). infiltrasi air hujan rendah.. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0.18 mg P/tanaman menjadi 2.98 g biji/tanaman. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat.13 mg P/tanaman menjadi 2. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang.. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman.

Peneliti lain. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat. 7. Dalam kondisi salinitas tinggi. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. 1995 dalam Aggangan et al. et al. 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar. terhidar dari plasmolisis. jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik. 1994 dan Tam. 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al. meningkatnya tekanan osmotik. Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman.jaringan dan transpirasi yang lebih besar. 2000). Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti. Namun demikian. Zn dan Cu (Al-Kariki. dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach. 3. tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri. meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun. 2001). Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang . Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin.

1993). Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik. maka laju penurunan hasil clover meningkat. gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan. dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. 2000). Oliveira et al. meningkatkan N tanah setelah percobaan. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Menurut Wachjar et al (2002). 12 diantaranya bermikoriza. efisiensi penyerapan P. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti.. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik.. disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa. Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. zat yang melarutkan PAH. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat.berbeda. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan. sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover. (2001) menunjukkan bahwa P. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar. bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. mempercepat umur berbunga tanaman jagung. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman. ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. . dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun. Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi.

Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. Dengan teknologi mikoriza. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. sulit dan cukup mahal transportasinya. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama. dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Selain itu. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis. baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar. mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007). Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007).S. produktivitas. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto. dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman. berharap jati muna yang telah . 2005).

sebesar 38.15 %. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik.Lima hari kemudian.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". bedeng tersebut dapat digunakan. 8. 69. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Untuk mewujudkan harapannya.71. spora dan akar terinfeksi. 2008).72 ppm dan tanah Inceptisol. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27.66 % . Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" .80 % . Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N.5 ppm. diaduk merata.. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Peningkatan kadar P nira. dengan kadar P tersedia "rendah" .40.65 %. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara.90 %.76 % -21.84 % .dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. Tujuannya. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. 2. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. selain untuk meratakan hasil. Inokulasi . Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu.67. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. 3.

4.Pada tiap lubang yang dibuat. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. 3. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Tanaman inang dapat berupa jagung. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. Dalam teknik pemberian mikoriza. Dalam rangka pelaksanaan program ini. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. 6. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. sorgum atau pueraria. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. . Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. 2008). Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. Manfaat 1. 5.

Tablet ini dibuat dari cendawan. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Sebagai pembanding. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. Kalium (K) bertambah 86%.00 gram (Hardiatmi S. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri.00 gram. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam.00. Di IPB. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. satu tablet untuk satu bibit. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya.J.ah takaran 1. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus.500 dan 2. 1. 1. 1. sampai 230%. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul.00. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza . Setelah itu pil dipecah-pecah. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. dan di kebun percobaan kampus Dermaga.00 gram.M. Aturan pakainya sederhana. Setelah diberikan pada bibit tanaman. dan Nitrogen (N) 75%.50. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0. Dengan demikian. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus.7 sentimeter. Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari. 2008) . ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. Kalimantan.Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. Untuk membuat tablet.50 dan 2. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Setelah teruji kemurniannya.

Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). A. Program Magister (S2). Ir. pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Program Magister (S2). penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah. Bahan Ajar Online. Indonesia. Http://dasar2ilmutanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. Program Pascasarjana. Indonesia. Palembang. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pascasarjana. 2009. .com.blogspot.Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Palembang. Diposkan oleh Dr. Abdul Madjid. Palembang. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Palembang. Program Magister (S2). Program Magister (S2).

perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan. jamur yang bersifat patogen.4-13%). Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat. ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------Coklat (kakao) . pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri. Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza. 4. kehutanan. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas. Kawasan PUSPIPTEK Serpong. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. b. Tabel 1. OST dan Simbionriza. sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong. Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian. Rhiphosant. Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. virus. Kamizae. Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1). Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a.1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman.Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman.

2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20.50 33.64 35. Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan). Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza. 4.70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18.Tanpa Mikoriza 28. Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah.12 Dengan Mikoriza 48. Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut. Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem. seperti terlihat pada gambar 2 dan 3. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Bali. Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan. Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman. d.000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung. menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan . Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media.44 Dengan Mikoriza 28.70 ------------------------------------------------------------------c. Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan. Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal.28 34.50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32. Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman.14 Dengan Mikoriza 43.

Setelah itu pil dipecah-pecah. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. dan Nitrogen (N) 75%. Tablet ini dibuat dari cendawan. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. 2008). dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor.7 sentimeter. 4.4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. javanica.M. sampai 230%. Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur. Empat bulan kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir . Setelah teruji kemurniannya. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Setelah diberikan pada bibit tanaman. 4. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang.S. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. dan di kebun percobaan kampus Dermaga.3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. Kalium (K) bertambah 86%. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Aturan pakainya sederhana. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Untuk membuat tablet. Kalimantan. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Di IPB. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. satu tablet untuk satu bibit. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Dengan demikian. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Selain P.pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air.

sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah. Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai. Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang. Pada praktek sebelumnya. berarti dibutuhkan 500 g carrier. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1. Sebelum digunakan. pH tanahnya sangat bervariasi.000 spora. (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam.000 kapsul.000 spora secara merata.5 g carrier. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak. Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman. akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya. (2) Mempermudah penanganannya. tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus. Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target . (3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya. Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman. misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00. Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan. 4. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus. (3) Dapat di produksi secara khusus. Setelah itu. Apabila dikemas dalam bentuk tablet. Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri. setiap kapsul dibutuhkan 0.dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah.

pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar. Beijerinckie. Aeromonas punctata. Bacillus. Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium. R. Anabaena azollae OST Azotobacter. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii. Azzospirillum lipoverum. Azotobacter. Sinorhizobium. (Organic soil treatment) Agrobacterium. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama. Nitrobacter. Azospirillium.D. protein dan humus aktif Biota Bacillus spp. Clostridium pasterianum. Ankia alni. Tabel 3. Nitrosomonas. Lactobacillus spp. Mikrococcus. Rhizobium.luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia. Nostoc muscorum. 2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit. (pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat.M.

Universitas Sriwijaya. Abdul Madjid. Program Magister (S2). Jurusan Tanah. MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. DAFTAR PUSTAKA Anas. Program Pasca Sarjana. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. I. Program Pascasarjana. IPB. 1989. 2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Fakultas Pertanian.blogspot. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. A. Palembang. Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana.Madjid. Palembang. Ir. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Indonesia. Biologi Tanah dalam Praktek. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Http://dasar2ilmutanah. Indonesia. Universitas Sriwijaya. 2009. I. Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. IPB. Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). Palembang. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Diposkan oleh Dr. Laboratorium Biologi Tanah.Bioteknologi Tanah. serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. 3. Indonesia. .com. Bahan Ajar Online. Anas. 1997. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. KESIMPULAN 1. Program Pascasarjana. 2. Indonesia. Program Magister (S2).

(Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo. Azcon. Universitas Lampung. A. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds). Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. 1986. G. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia. Iskandar.com.com Fleibach. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol. M. 26 (9) : 1201 1205. Ika RS dan Saubari MM. Dudi.M. Rusdi Saul. 1997. Reber. 2000. Sutopo Ghani Nugroho. Vol 5. Brundrett. Hakim. Growth response of Afselia africana Sm.. p. Sanon . Dasar-dasar Ilmu Tanah.lunarpages.Adinurani P. 2008. Husnal. 9/2 : 91-95. Hasanudin. Rev. Jakarta.B. Bailey. Soil Biol. Nurhajati. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil. Ba.1. Biochem. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth. Go Ban Hong. E. Prosiding Kongres Nasional VI HITI. Biol. Amin Diha. 12-15 Desmber 1995. H. nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. 1994.G. R. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna. 2004. Ali. Lampung. Lampung.com dalam http://support. INFOTENS. Mulyati M dan Roy H. Mycorrhiza J. Biol. Dexheimer. . M. Husin.M.H.. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Lubis. Soils 24 : 81-86. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. 2008. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis. hal 83-89. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www. Yusuf Nyakpa. 79:473– 495. N. 2007. Fertil. Doponnois.. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. 2007. A. Vol 5. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. and J.google. ISSN 1411-0062. M.F. Faisal T.google. terhubung berkala : www. Diversity and classification of mycorrhizal associations.R.H. K. No. Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May). R. 2002. M. and F. Mahfud. 2007. Biantoro M. Martens and H. Hakim dan Kusli. Universitas Lampung. 2000.M. 1997. El-Atrash. A.

and R. R. 1993. 1994. Mycorrhiza J. E.pdf. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae.V.. Universitas Jember. Leyval. Jordan. 1995. Oliveira. Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian.. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp. Soils 26 : 79-87.G. Bull Manjunath. K.com dalam http://hortikultura. 1997. Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity.. Kim. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity. Bagrayad. Lozano. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense . A. Sekolah Pasca Sarjana. Ress. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul.Lovisolo and A. Azcon. Soil ecology. Biotropia 8 : 39-44. J. A. Mycorrhiza J.Joner. 2000. Terhubung berkala www. D. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal. Castro. from saline soils and Glomus deserticola under salinity.J.. 2001.go. Morte.id. Jember.ae. 2003. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering. Fertil. K. http ://www. 10/4 : 155159. 2008. 10/5 : 241-247.H. JC. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons. D. Khan. IPB. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture. Mycorrhiza J.download/tp/htm-rahmawaty s. Schubert. Bogor. Publ.Y. 24 Januari 2006.. Mosse. A. Khan. Effect of various soil environment stresses on the occurance. Tejoyuwono. Biol. 1984. Pattimahu.litbang deptan. 2004.id. Mycorrhiza 10/3 : 137-143. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains.google. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember. Plant and Soil 78: 147-150. 2000. C. 1998.usu. S. D.library. and C. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi.Tervesia claveryi. Notohadinagoro.No56 : 131-137. Biotrop Spec.. . 2001.S. Rahmawaty. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion. M.. JMR. 10/3 : 115-119. Cambridge University Press. and McDonald. Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi. Killham. 1981. Dodd and PML.

Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans).T. Edisi Kedua.R. J. and C. Diposkan oleh Dr. Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. Buletin Agron. 105(12):1413-1421. Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu. 1994. hal 69-74. and G. 57 : 77-81. N. Mahadevan.B. Thomas. Kapoor.E. 2005. Am. Soc. Unsur hara tanaman. Biol. Publ. Bethlenfalvay. 2002. Dela Cruz. D. Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil. S. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza. Ir. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman. 1991. Singh. IGM. and R.S. Soil Sci. Widodo. Incidence of vesicular . and K. Soils 28 : 139-144. A. A new fungal phylum. S. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. Simangunsong S. 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza.S Subha. Subiksa.Rotwell. Wachjar A. R. J. 1999. Res. dan Marlin. Ninin Y.K. Abdul Madjid. 1995. R.L. Fertil. Biotrop Spec. Franson. M. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Schwarzott. Biotrop Special Publ.No56 : 131-137. A. 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation. Rao. Mycol. Bogor Schubler. Romeida.A. Bengkulu. MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu.. Yadi S.. F. Walker. D. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. Vol 3. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** . Zarate. 2001. Plant and Soil 80-99-104 Rani..arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution. Penerbit Universitas Indonesia. Ragupathy and A. 2002..J. 1984. 2006.

Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. baik di Negara maju maupun Negara berkembang. Program Magister (S2). Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. Palembang. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana.1. Universitas Sriwijaya. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. PENDAHULUAN 1. Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik . Program Pasca Sarjana. Indonesia. Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. Indonesia. Palembang. biologis dan cultural. Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam. Bukit Besar. pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya. Palembang. dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan. Bukit Besar. Bukit Besar.(Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik. termasuk biodiversitas. Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Indonesia. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang. Sumatera Selatan. siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan . Upaya yang mulai .

Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan. 1996): 1. kimia maupun biologi. Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan. Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting. Terutama yang berhubungan dengan pengiriman.2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan. termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif.dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit. Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati). maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar. Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut ( Gunalan. 2002). maka harus diperoleh galur yang dikehendaki. ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. baik kesuburan fisik. karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif. jamur. penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman. Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara. kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil. penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan. Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi. harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono. termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji). Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus. kemasan . Penyedia hara .

Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri. dapat menahan unsur hara di dalam selnya. 3.0 μm. dan P. licheniformis. Perombak persenyawaan agrokimia 1. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel. B.1 1μm x 1. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. polymixa. P. Pseudomonas. Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah. diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine.2. seperti eksudat akar dan sisa tanaman. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana. Pseudomonas terbagi atas grup. jamur dan aktinomisetes. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus. tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae. 2. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. putida. megatherium. P. . bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa.5-0.berbentuk batang lurus atau lengkung. Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) . Pemantap agregat tanah 6. kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1.4. Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah.2. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof . Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu. B. multivorans (Hasanudin. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. B. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. B. B. fluorescent. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel.2003).5. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans. Peningkat ketersediaan hara 3. cereus. Micrococus dan Mycobacterium. Arthrobacter. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri. subtilis. pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. Achromobacter. ukuran tiap sel bakteri 0. Flavobacterium.

Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru. 5. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik. Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. dan gula posfat. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman. kelembaban temperatur dan faktor lain.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis. dan ribosom. nukleotida. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah. Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik. Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah. hewan dan mikrobia. tetapi pada umumnya rendah . asam nukleat. Endospora mengandung sedikit sitoplasma.2005). Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. . materi genetik.terutama yang bersifat heterotrof. Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah.4. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah.tetapi juga dipengaruhi oleh pH . dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. fosfolipid. radiasi cahaya. Semakin tinggi C-organik dan semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. 6. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%. sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik.Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah.3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik. suhu tinggi dan zat kimia. 1. Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya.

Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman.Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P. reductant-P . Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman. diantaranya dalam proses sintesis protein. 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit. FePO42H2O Strengit. ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi. dan mineral P primer. Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya.2007). AlPO42H2O Variscit. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme. melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi. Fe-P dan P tidak aktif. P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas. Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual.pembentukan bunga . namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0. buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit. Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat. aluminium dan hidrat.Mn2+ dan Ca2+. yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen. Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan. Secara geokimia. Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji. Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein.01 – 0. 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit. Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel. yang meliputi occhided-P . 1. pembentukan akar halus dan rambut akar. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit.2002). Dalam bentuk anorganik. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin. karbonat apatit. Al-P. memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah.Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi.2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit. ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme. fosfor merupakan 11 unsur yang . ATP.4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya. Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat.Al3+.

Di dunia. dan kekerasan 5.com. 2009. cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton. Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk. Diposkan oleh Dr. Jika aktivitas manusia (anthropogenic).15.40% P2O5.Cl. Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis. Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat. Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. sedimen. mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5). Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat.sangat melimpah di kerak bumi. Propinsi Sumatera Selatan. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik. Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan. A. seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2).K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}. sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak. Abdul Madjid. Ir.blogspot. Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal. Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F. Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2. dan metamorf.4 . hijau. Sebagai contoh 15-30-15. Bahan Ajar Online. 1992). Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5. Universitas Sriwijaya. Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air. Program S2. Masuknya fosfor ke laut sebesar 3. Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano.5 juta ton endapan guano (0. MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah . krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 . Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik. kilap kaca sampai lemak. Siklus P pada Gambar 21 (Buntan.20. mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata. maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat. Sumber lainnya berasal dari jenis slag. Program Pascasarjana. Http://dasar2ilmutanah. fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis. sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K. Selain sebagai bahan pupuk.beku.15 3.6 x 1011 mol P th .43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9. Seperti halnya nitrogen.H2O). seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan.OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros). yaitu 7. guano. Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk.17 . berat jenis 3.6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 .3 x 1011 mol P th. dan milisit {(Na. Indonesia.

Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat. tartarat dan alfa ketobutirat. Universitas Sriwijaya. yaitu dalam bentuk Ca-P. Bukit Besar. suksinat. Program Studi Ilmu Tanaman. Fospor relatif tidak mudah tercuci. Al-P. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. laktat. Palembang. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca. Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH. Fe-P atau occluded-P. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah . Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan . Program Pasca Sarjana.Penurunan pH juga disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. Bukit Besar. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. fumarat. Sumatera Selatan. glioksalat. oksalat. Indonesia. glutamat. Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya.1. Palembang. Indonesia. Indonesia. Program Pasca Sarjana. PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. malat. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Sumatera Selatan. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Palembang. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. MgP. Universitas Sriwijaya.

sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M. tartarat). asetat dan ptalat). tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam. Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi. demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P.laktat.---> M OH + H2PO4H2PO4 . sedang (malat. Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak. dan lemah (suksinat. diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif . Terdapatnya asam-asam organik sitrat. oksalat. Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat. Hasil penelitian Pramono et al. Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). . Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat. Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam.OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme.2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit.OH + R-COO. asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif. (c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti. beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd). sedangkan asam malonat. oksalat. malonat. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana.(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe. malat. salisilat). tartarat dan malat berefektivitas sedang. sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik . asam amino dan asam fenolik. Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda. karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe. Disamping meningkatkan P tersedia.

alfa ketoglutarat. asetat. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM.0 x 10^5 12 Protozoa 2. Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1. Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1.0 x 10^3 2. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. merupakan bentuk antara (transisi). Tabel 1. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat.2 Ammonifiers 5.0 x 10^6 7 Fungi 1.Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. 1961. glukonat. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan.6 x 10^7 7.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4.2 x 10^9 5. suksinat.7 x 10^4 0.26 x 10^8 1.0 x 10^3 2 Algae 5. Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran. sitrat. Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik .0 x 10^5 125 Denitrifiers 1. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega. oksalat.4 x 10^3 1.0 x 10^8 4.0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson. glikolat. 2007). malat. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik.2 x 10^6 1. 1971.

1 – 3. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat. gliserofosfat. batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P. 13 dan 14%. Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. sedangkan pada tanah bereaksi basa P . Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%.5 ppm menjadi 30. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat. mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium. lesitin. AlPO4. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. 8.ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p. Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro. meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28. Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24. 6. . (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet.6 ppm pada tanah steril. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P.4 ppm menjadi 59.7 ppm menjadi 34. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16. 0. Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 . apatit. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. Ca3(PO4)2. Escherechia freundii dan Escherechia intermedia. Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0. yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. Bacillus substilis. Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus.5 .9 dan 0.3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4.8 ppm.8 – 3.7 ppm pada tanah sterl dan 0. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik.9 ppm.3. (3) tingkat dissosiasi asam organik. Bacillus sp. FePO4.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17.

Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama.2. dan aktinomicetes. dan Vlek (1996). Pada tanaman jagung. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. berat basah akar. berat kering trubus. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi . Isolat diinkubasi selama beberapa hari. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. 1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Misalnya. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Moawad. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam.Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. berat kering akar. (3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. 2. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. berat basah trubus. misalnya: fungi. luas daun serta kadar P trubus. bakteri. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. AlPO4 tidak larut dalam air. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Pada percobaan yang lain P. minimal duplo.

Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang,

Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini

super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu

5 .dikembangkan . Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan. dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp.01 . Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3). Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor. Lactobacillus sp.3. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% .30 (2) Ca3(PO4) 2 1 . Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 .6H2O 0. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia.20 (3) MgCl2. Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud.5 (5) KCl 0. berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan.2 (7) Bromophenol Blue 0. mikroba pelarut P.7H2O 0.01 . Teknologi penyubur tanah dan tanaman.0. . Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai.1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional . 3.5 (6) (NH4)2SO4 0. Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman.025 . Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No.Miza Pluss. Tiens Golden Harvest .05 . Azotobacter sp.20 (4) MgSO4. tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder).

Program Pasca Sarjana. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul . ** Program Studi Ilmu Tanaman. Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P. Propinsi Sumatera Selatan. Palembang. Universitas Sriwijaya. Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula. Universitas Sriwijaya. http://dasar2ilmutanah. bakteri pelarut fosfat. bakteri penambat N. Abdul Madjid. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan. bakteri pelarut fosfat. Program S2.blogspot. N. Diposkan oleh Dr. Indonesia. Ir. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Indonesia. MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Bukit Besar. A.Kemasan : 5 dan 25 kg. 2009. Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. Program Studi Ilmu Tanaman.com. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Bukit Besar. Indonesia. Program Pascasarjana. Indonesia. Bukit Besar. Palembang. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). dan zat pengatur tumbuh tanaman. Program Magister (S2). Sumatera Selatan. Masa simpan : 12 bulan. Sumatera Selatan.Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Palembang. Bahan Ajar Online. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana.

Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. jagung. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat. 3-13. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat. Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. gliserofosfat. lesitin. tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P.puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. 5-21 dan 14%. 3-9.3 . lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7. Circulans pada tanaman kedelai.7 ppm menjadi 34.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. padi.6 ppm pada tanah steril. Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum. . kacang panjang dan tebu. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol.1-3. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24. kubis. Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai.Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%.8 ppm. Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium.3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4. meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4. Intermedia . Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum. sedangkan pada tanah berreaksi basa P.IV.5 ppm menjadi 30. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P. barlei. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP. Ca3(PO4)2. kentang. Bacillus sp.9 dan 0. Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum. Bacillus subtilis . kedelai. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida. Bacterium mycoides dan B. tomat.9 ppm. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0.7 ppm pada tanah non steril dn 0.4 ppm menjadi 59. bit gula. Escherechia freundii dan E. 0.8-3. Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum.

Premono dan Widyastuti. 1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%. glutamat. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan. diantaranya asam sitrat. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman.4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto. 1992). Fe2+. Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. Pada percobaab lain (Buntan. bayam dan kacang panjang).2007). malat. Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh. Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono. suksinat. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al. dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit.Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat. 1992. oksalat. Striata. fumarat. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. glioksilat. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens. 1994). Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau. Mg2+. Pada tanaman jagung. laktat. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk . tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung. Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Puptida dan P. P. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). 1991).

930.42 g atau ada kenaikan 877. Daerah Cikaniki. vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat. Klebsiella aerogenes.3881 ppm dan 280. Chromobacterium lividum. Klebsiella aerogenes. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . Gunung Botol. jumlah biji.63%. dan Chromobacterium sp.5-2. ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai. jumlah polong. umur panen. pH tanah.) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl.22 g.30%. 207. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung..67%. dan B.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. 903. 208. dan 61. Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32.48 g.75%. 575. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). umur pembentukan polong. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc. 354. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot . Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. 203. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Chromobacterium lividum dan B. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. 217. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area. jumlah bunga.81%. Bacillus sp.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai. berat daun segar 4 tanaman per pot. dan 606.5 cm.) di Tanah Marginal. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp. Megaterium sebagai inokulan padat.15 g tanaman-1.tersedia yang dapat diserap oleh tanaman.67%.. Bacillus megaterium. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF.

Program Pascasarjana.blogspot. Indonesia. (2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai amelioran.Fe. Abdul Madjid. Sumatera Selatan.Mn. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bukit Besar. Program Magister (S2). Indonesia. (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan . Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman.Ca dan proses pelapukan yang rendah . Palembang. Indonesia. Sumatera Selatan.kering tanaman kedelai. Ir. Palembang. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Sumatera Selatan. 2009. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Bahan Ajar Online. Universitas Sriwijaya.penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan. Bukit Besar. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Http://dasar2ilmutanah. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Diposkan oleh Dr.com. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Palembang. KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. Bukit Besar. Indonesia. A.

32.E dan Hairiyah. 1982. Fakultas Pertanian USU. Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean. Handayanto. 1997. serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung.2005. 1982.Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol.Soil Sci. Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism. Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol. Escherechia freundii. S. Bacterium mycoides. B. 60:353-364.Indian Soc. Hasanudin dan Ganggo. Bacillus megaterium. Pal. Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.D. Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia. Buletin Agronomi. 2003. Citrobacter intermedium .S and A. Plant Soil 57 : 223-230.S. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop. Majalah Sriwijaya Vol.C.1992. 1980.K. Indian Soc. (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis. Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens. 2004. Bacterium mesenterricus.2007.ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat. Pustaka Adipura. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor.K Jha.30:105-106. Noor A. Escherechia intermedia Pseudomonas putida. Edisi 3.2. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few . Dubey. Plant Soil .Medan Gunalan. Kundu.A. 45: 506-509.J. Gaur . S.Universitas Sriwijaya.Faperta Universitas Bengkulu. dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad. 6(1) : 8-13.J. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. N and K. Elfiati. Hasanudin.K. S.2003. Banik. 1998.Bacillus firmus. Universitas Bengkulu. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 31 (3): 100-106. 1996. Buntan.No.Soil Sci. B.

Yuwono.Disertasi. 2006. C.) di Tanah Marginal. Vega. Tesis.R. serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat. 4(1) : 1-5. Gunung Botol. Diposkan oleh Dr. MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat.2002. 2001.. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake.T. UI Press). Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic. Can.acid tolerant crops. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. and Sinha. Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki. Widawati. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau. Sutanto. Supadi. Ir. Jurnal Nature Indonesia.Agr.Pupuk Hayati .Yogyakarta. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning.Bogor. S. Patten. 2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: . Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung.Biodiversitas. 7(1):1014. 1996.1 Wulandari.R Glick. S dan Suliasih .R. 7(2):109-113. Oxford and IBM Publishing Co. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Soil Microorganisms and Plant Growth.60 no.Widyastuti.N. 1962. Microbiol 42: 207-220. S dan Suliasih . (Terjemahan Susilo. Bandung. Universitas Pajajaran.Medellín vol.Biodiversitas.Kanisus Jakarta. Widawati.Program Pascasarjana IPB. dan Ciptarasa. 1991.J.Bandung Rao. 1998.Penerapan Pertanian Organik.NW. 1992. 2007.H. Setiawati.C.T. Abdul Madjid. S. 2006. Edisi 3.H.W.L and B. 2005. Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam. UGM. N. 198 : 169-177. Premono. Plant Soil. Edisi 2 .

bakteri dan fungi perombak bahan organik. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Dibidang pertanian. Program Pasca Sarjana. Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. aktinomicetes. Universitas Sriwijaya. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik. (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. Program Pasca Sarjana. Indonesia. seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. kimia. serta bakteri yang berperan sebagai . seperti bakteri. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. 1998). dan mendegradasi residu toksik (Sparling. PENDAHULUAN A. protozoa. Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. Indonesia. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Sumatera Selatan. kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. Program Magister (S2). Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian. Palembang. bakteri. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Program Magister (S2). bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. cendawan.* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Palembang. Program Pasca Sarjana. tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot. Sumatera Selatan. tanah yang sehat memiliki kondisi fisik. karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik. dan virus sebagai agensia hayati. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme. bakteri dan fungi pelarut fosfat. fungi. Indonesia. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. Sumatera Selatan. 1998). Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. Bukit Besar. Dalam sejumlah kondisi. alga dan virus. melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. Universitas Sriwijaya.

yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah. Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. 1978). vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah. Bahan Ajar Online. Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat. (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme. Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida. menghemat biaya pupuk. fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba).agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. B. (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman. Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. dan meningkatkan pendapatan petani. (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Saraswati et al. Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan. A. Beberapa mikroorganisme seperti bakteri. Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. kesuburan. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat. Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya. 2009. Fakultas Pertanian Unsri & .

2 mg/kg tanah. unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam. Sumatera Selatan. (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. pemupukan dan mineralisasi P-organik. Program Pasca Sarjana. Cl-. Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 (occluded P). Universitas Sriwijaya. OH. Program Magister (S2).com. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Http://dasar2ilmutanah.Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-. Palembang. Indonesia. Bukit Besar. Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N).atau CO32-. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. Sumatera Selatan. Palembang. yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit. Ir. Palembang. Abdul Madjid. Bukit Besar. Program Magister (S2).blogspot. Universitas Sriwijaya.01-0. . Diposkan oleh Dr. Program Magister (S2). Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2. Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk. misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. Program Pascasarjana. Program Pasca Sarjana. umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman. Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis. MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman.

(b) imobilisasi P-tersedia. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik. 1997). Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut.Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman. asam nukleat. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu. Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al. Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. hewan dan organisme tanah.atau H2PO4-) diserap tanaman. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. Subba Rao. 1989). Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman. sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat. Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah. pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik. fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. fosfolipida. pemupukan. bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark. dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. Pada sistem pola tanam yang terbuka. Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik. hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. nukleotida dan gula-gula fosfat. Bila ion fosfat (HPO42. Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al. Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba. Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah.. Siklus ini berulang terus menerus. Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah. Sisa tanaman. fosfor terdapat dalam dua bentuk. pengembalian melalui residu tanamandan hewan. hewan dan mikroba . karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik. Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat. keseimbangan P dalam tanah terganggu. yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. 1989. Oleh karena itu. memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. 1977). Di alam.

Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme. yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon. Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. temperatur. Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur.yang dikembalikan ke dalam tanah. Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas. Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah. 2. Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen. nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. 1986). variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis. aerasi. Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah . kelembaban. maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi. Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi. dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat. Umumnya. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. 1997). Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik. aerasi. Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat.. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. seperti nukleotida atau fosfolipida. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al. Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah. Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. Selain kandungan fosfat dalam residu. Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah. maka terjadi net mineralisasi ortofosfat. bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi. atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut. Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba. 1.

+ 2H2O ----> AlPO4. 1986). Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut. kalsium dan magnesium fosfat. Al. pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang. H2PO42. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah.2) H2PO42. dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut. Mn. dan PO43-. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-. Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi. Ion Fe. Hal yang sama.lebih mendominasi. dengan melepaskan fosfat. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut. Pada kondisi tergenang. Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4. jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat. Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat. besi. yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya.2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam.+ 2H2O ----> FePO4. Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi. sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa. dan Ca. Fe. 2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4.lebih mendominasi.lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43. hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya. Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza.ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P. Mn. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat. dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson.----> Al(OH)2 H2PO4. Phosphaticum. Al3+ + H2PO4. Nilai kritis C/P adalah 200. yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1. pH tanah. dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi. Pada pH tanah agak masam hingga netral. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam. Selain itu.+ OHCa(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ . H2PO42-. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7. Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al.

Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. asetat. Mn. 2007). Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah. Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah. Palembang. Http://dasar2ilmutanah. selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi. Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat. Program Magister (S2). Fe. Universitas Sriwijaya. Sumatera . Ir. suksinat yang dapat mengikat Al.blogspot. 3. 2009. Program Pasca Sarjana. Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P. A.Didaerah rhizosfer. MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. 2. Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman. Kandungan bahan organik tanah. Program Magister (S2). Bukit Besar. Diposkan oleh Dr. yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik.com. laktat. Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun. pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion. Program Pascasarjana. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Abdul Madjid. selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital). Bahan Ajar Online.

Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter. Program Magister (S2). dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster. dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman. Universitas Sriwijaya. tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. Bukit Besar. Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman. 1995). Sumatera Selatan. 2007). yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes. Sekitar 70. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran.. (Bagian 3 dari 6 Tulisan) III. kadang-kadang berkelompok membentuk miselium. Indonesia. 1970). *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Hawksworth et al. Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5). miselium menghasilkan spora.Selatan. Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im.5 juta (Hawksworth.. Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri (non-motile) disebut zygospora. (1996) dikenal 5 kelas fungi. Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. Universitas Sriwijaya. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman. Palembang. yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru. .000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya. yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah. Indonesia. 1991. Sumatera Selatan. Palembang. membentuk spora dari fusi dua nukleus. Reproduksi secara seksual. berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai.

dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik. seperti selulosa dan lignin dalam kayu. 2007). Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik. dan pengelolaan lahan. CO2 terhambat. siklus hara. Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. bagian tengah. karbon dioksida. Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas.Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat. organisme rhizosfer. Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. beberapa diantaranya bersifat sparofit. Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual. 1993). baik berupa daun maupun kayu. Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat. dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah. (1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. tidak peka. 1993). dan essensial . Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks.. fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat. Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air. Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi). fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah. dan pengendalian penyakit. Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung. Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman. Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan. Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow. Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya. eksudat akar. Bersama-sama dengan bakteri. 1992). Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza. Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah. fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya. bagian bawah. sebagai contoh . menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah.

dan mungkin air) ke tanaman. Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun.niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian. hara mikro. Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya. Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian. untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat. (2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. dan semak. dan kulit (Hawksworth et al. fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat. Namun demikian. tanaman pangan. sayuran. tekstil. Sebagai contoh A. Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman. atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit. Phytium. (3) Patogen atau parasit. Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering. Fungi patogen akar seperti Verticillium.. Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza.parasiticus yang menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon. Selain itu. 1995).dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. nitrogen. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial. Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya. dan Rhizoctonia. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah. 1995). Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim. sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza. cat. dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. . beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik. menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. serta banyak dijumpai dalam tanah. Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda. udara. Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu. 2007). Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun. Seperti bakteri. contohnya A.flavus dan A.

5-9. Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida. nitrogen. . Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson. Karbon dioksida dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung). Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi. sel berbentuk seperti tabung (Perbedy. Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al. 1987). Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya. Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2. 1999). Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan. jaringan hewan dan tanah. tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam. gandum.2. tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam. 3. diantaranya T. Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon. dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol.. selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer. Pada tanaman. 1986). jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe. terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez. 1982). Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase.75-5x 2-6im. Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras.5. 5. Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0. Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im. Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman.koningii (merton dan Brotzman.harzianum dan T. 1983). 1968). hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat. Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin. Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC. Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk. Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman. Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan. 4. termasuk manusia. 1979). Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa. membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni. Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar. dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang. Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga.

dan mineral lainnya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH . Program Pasca Sarjana. Abdul Madjid. Diposkan oleh Dr. Bahan Ajar Online.com. Program Pasca Sarjana. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. 2009.blogspot. MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan.vitamin. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Palembang. Program Magister (S2). Palembang. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Program Magister (S2). Ir. Bukit Besar. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. A. Bukit Besar. Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. Http://dasar2ilmutanah. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasrjana. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Sumatera Selatan. Palembang. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Indonesia.

rendah. FePO4. Penicillum. candidus. apatit. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. Flavobacterium. oksalat. megatherium. jamur dan aktinomisetes. A. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P. 2006). Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. asam amino dan asam fenolik. licheniformis. 2006). Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono.14%.5%. alfa ketoglutarat. B. B. nitrogen (N) sebesar 2. Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri..0-40. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. Arthrobacter. Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao. B. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. Schlerotium & Phialotobus. kalium (K) sebesar 0. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. harus mengandung 8 macam nutrisi. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Pseudomonas. B. Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam.039-1.0%. (3) tingkat dissosiasi asam organik.. Fusarium. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. khususnya fungi jenis Aspergillus niger. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp. sitrat. glikolat.35%. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. subtilis. suksinat. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. B. malat. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa.21% dan C/N ratio .04-0.010. dan Chaetomium sp. Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4. Achromobacter. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Penicillium sp. Trichoderma viridae. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah. glukonat. fosfor (P) sebesar 0. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis.0-2. kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah. Micrococus dan Mycobacterium. asetat. yaitu: karbon (C) sebesar 19. AlPO4. 1994). magnesium (Mg) sebesar 0. merupakan bentuk antara (transisi). polymixa. cereus. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia.

Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. 1977 . Kundu dan Gaur. aktivitas fiksasi N. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah. niger.. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. 1. dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul. DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. margarita. 1957 .0-20% (Gaur. (2001). dan 10 kali. Hutami et al. Subba Rao.4 % dibandingkan kontrol.8 kali. merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat. kanada. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. (4) inokulasi R. yakni lebih dari 10 kali lipat. Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. (2) inokulasi R. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). dan G. AlPO4. 1967). A. Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada . Aspergillus sp. Lestari (1994). Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India. menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. dan serapan N dan P berturut-turut 7. 1986). 1982).3 kali. bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. 1980 . dan serapan N dan P. japonicum. (3) inokulasi R. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. 1978). Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat. jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30. dan mesir. Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk. (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. niger strain NHJ2 1 ml per biji. aktivitas penambatan N. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander. 8 kali. dan FePO4. Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006).sebesar 9.

T. Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al. Tiap kombinasi diulang tiga kali.. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan. Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38. aspergillus niger. Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi). Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar. Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat. Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0). Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat. Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No. dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3). dan Chaetomium sp. bahan organik. Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer.. Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al. Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia. Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. kandungan bahan organik rendah. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. Tanah ini memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1). Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman.. 2000). Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat. Pennicillium digitatum. Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat. kab. Selain daripada itu T. Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41.78 ppm (Baratha. fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2). sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P. Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak. Tanah ini terkenal sangat miskin. Aspergillus niger. Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). (2000). Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. Bogor. Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4). 2004). Trichoderma viridae. tanaman apapun yang . scwanniomycetes occidentalis. Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal.media tumbuh GAGES dan GES. Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. Penicillium sp. Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut. 42. dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar. dan kapasitas tukar kationnya rendah. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung.

Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. Indonesia. pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia. Palembang. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung.Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan. Program Pasca Sarjana. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Bukit Besar. Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol. Indonesia. Program Magister (S2). Program Magister (S2). Program Magister (S2). (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang). Universitas Sriwijaya. Bahan Ajar Online. Program Pascasarjana. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah.ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. . MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Http://dasar2ilmutanah. Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal. A. Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali.blogspot. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Namun demikian. Abdul Madjid. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup. Universitas Sriwijaya. Ir. Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. 2009.Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal. Sumatera Selatan. Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin.com. Program Pasca Sarjana. Palembang. Perlakuan keempat dengan menambahkan T. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. Universitas Sriwijaya. Diposkan oleh Dr. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar.

biakan kering beku. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional. tanah. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit. menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung. mikroorganisme telah lama dimanfaatkan. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung. sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis. pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya. Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen. dapat digunakan bahan organik seperti gambut. biakan cair. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan.Sumatera Selatan. R. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V. disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe. biakan kering. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya. dan kompos. sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman. arang. Di Indonesia. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah. sekam. Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu.760. mempercepat proses pengomposan. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji. atau zeolit.130. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar. dan juga pada minuman. 2008). pelarut. Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. artinya mikroorganisme yang . Namun. selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi. Namun. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak. Indonesia. dan tepung. menekan soil-borne disease. vermikulit.11. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. memperbaiki struktur tanah. atau ketempat pengomposan.

sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas. dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. fumarat. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. Di Indonesia. jenis. Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. Dengan mempertahankan kelembaban. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah. Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase. 2008). 2008). Propionat. seta jenis tanaman yang cocok. baik berupa bakteri maupun jamur. Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. dan Ca. lartrat. perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme. oksalat. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun. Stase. Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-.Suatu teknologi . Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. cara penyimpanan. tetapkan kelembapan bahan pembawa. Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium. 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. Fe-. sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. kematian mikroorganisme dapat dikurangi. Pada pengujian pupuk mikroba. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. Mn-. tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. sitrat. suksinat. Mulai tahun 2004. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. Selain itu. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. glikolat.terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. laktat. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. tanggal kadaluwarsa. 2008). Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. dan ketoglutarat. Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman.

5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P. jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P. Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0.59%). dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp. Grt 3. dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12. tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P.56 ug/m! (pH 6. mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman. 50 kg/ha SP36.ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%. dan meningkatkan serapan P tanaman.irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM).32% dan 16% pada padi.0.28 ugfrnl (pH 2. serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos.0. Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya./ha (23.pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171.85ug/ml (pH 5.0. 50 kg P. . Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28. dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai.9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2. Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I).0. Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P.1).65) hingga 147. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya.60 ug/ml (pH 4. dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya. Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba. Aspergillus niger NHJ2. serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya. BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman.iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar. yaitu mikroba pelarut fosfat. memobilisasi./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P. Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman. Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan. Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale.78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P. mikoriza. Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah. dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman. bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K. Sehingga dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia. Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea. yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi.47) hingga 394. bobol kering tanaman.

Konsentrasi fosfat. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. – 6 s/d 10 ext. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. khususnya isolat fungi. Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri. Moawad. – 8. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. 8. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. dan Vlek (1996). AlPO4 tidak larut dalam air. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. dan actinomicetes. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. 2. 6. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono.Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi. 7. Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. 5. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. 3. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Buat medium agar Pikovskaya. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. bakteri. Ulangi langkah di atas secukupnya. antara lain: 1. sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. 4. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. -4. Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh . Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. minimal duplo.

Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal. 3. Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. Goenadi et al. A. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas.2. fosfatase. pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah. mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. 2000). sehingga dapat diserap tanaman. asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al. dan aktinomicetes. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman. Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik. Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah. Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. Misalnya. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. .. PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas . 1995). bakteri. Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat. mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah. misalnya: fungi. Melalui aplikasi pupuk hayati. Ketebalan agar. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. (2000). efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang. 1995). Kecepatan pertumbuhan mikroba. (Goenadi. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan 12 bulan (Goenadi et al.. 4. dkk. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi.

PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan. (1997). ketersediaan hara di dalam tanah. bobot kering bibit. dan volume akar. Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. penambat nitrogen bebas. Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian. Hasil percobaana Goenadi. menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh Dosis dan kandungan mikroba . dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk. dkk. dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman. B. kedelai.

Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk. Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor.Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha. serapan N dan P tanaman. Rhizobium 108-109. dosis anjuran 50 kg Urea/ha. dan G. serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh. (3) inokulasi R. C.96. niger. japonicum. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria). Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). 1. aktivitas penambatan N. . Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. jumlah bintil akar. diameter batang. Rata-rata bobot kering tanaman. Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia. niger strain NHJ2 1 ml per biji. (4) inokulasi R. 8 kali. pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5.209 me/100g). 100 kg SP-36/ha. dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran. bobot kering akar.5. Al-dd 1. 50 kg KCl). Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai.3 kali. A. pH 3.8 kali. MK 1997. MK 1999. dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa. dan serapan N dan P berturut-turut 7. jumlah polong isi. (2) inokulasi R. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108. 2000). Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P. aktivitas fiksasi N. Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. tinggi tanaman. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol. Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha). (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam. margarita. jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. dan serapan N dan P. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar. dan 10 kali. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. bobot kering total.

mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini .Ir. Mikroba pelarut fosfat3. Cu = 0. Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI). N = 0.92 % . Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan.85 ppm . yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum. Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr.7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman. dan mikroba pendegrasi selulosa. yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini. Azobacter sp2. Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E. Pseudomonas spp = 34. Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan). suatu inokulan campuran yang berbentuk cair.D.23 ppm . C organik = 0. mikroba pelarut P. K = 1700 ppm . Mn = 0.04 % . Azotobacter. Azospirilum sp4. Mikroba Pendegradasi Selulose5. Zn = 3. Cd dan Mikroba Patogen.3 ppm . serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya. yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien. Pb. Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien. Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%. Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As. Fe = 44. Migro Plus Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru. Lactobacillus.Lukman Gunarto MSc.70 ppm . Lactobacillus sp6. Hg. Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1. yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal.

dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik. Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). Menurut penelitian Dr. Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup. bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami. sampai ke tangan konsumen lebih terjamin. juga terdapat mikroba Pseudomonas sp. hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia. Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya. tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. unsur N. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. penambat Nitrogen dari udara. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah. Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar. P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. Lukman Gunarto. daun-daun atau bahan-bahan organik lain. apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. melepaskan P yang terikat di dalam tanah. apabila . populasi mikroba untuk menambatkan N. dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. ada yang berfungsi sebagai penambat N. Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL. pembentukan anakan dan primordial. Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru. Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. yaitu unsur fisik (bajak/cangkul). Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit). sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan. Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. mikroba pelarut P. Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan. Hasil dari pendegradasian tersebut. sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen. sehingga keaslian produk MiG corp.adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. probiotik MiG ternak. menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. akan mendapatkan K dan unsur lain. yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS. dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. Lactobacillus sp. Azotobacter sp. karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah.

Bahan Ajar Online. Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. Ir. Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu. http://dasar2ilmutanah. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Bukit Besar. Abdul Madjid. Sedangkan dari golongan . apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit. candidus. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Schlerotium & Phialotobus. Palembang. A. Diposkan oleh Dr. rusak atau mati. Caranya sangat mudah. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Malahan tanaman menjadi semakin subur. (2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger. Program Magister (S2). 2009. Sumatera Selatan. Fusarium. Bukit Besar. (Bagian 6 dari 6 tulisan) VI. Palembang.blogspot. Program Pascasarjana. telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian. Universitas Sriwijaya. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Magister (S2). Tidak masalah. Palembang. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Sumatera Selatan. A. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman.com. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja.penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia. Indonesia. Indonesia. Penicillum. Universitas Sriwijaya.

DAFTAR PUSTAKA Anas. Dix. Buresh. Orivaldo J. London. C. 2006. 2004. aspergillus niger. New York.W. Eliane M. 1996. Plant soil 60 : 353-364.. SSSA. Bogor. J. Communities of P-solubilizing bacteria.. J. Campello. RJ – Brazil. (4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. PA. (eds).. Premono dan R. P. 1982. R. 1999. fungi and arbuscular mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty. and Hellums. Chonkar and Subba rao. Building soil phospharus capital in Africa. Madison. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae. Widyastuti. and Wicklow. 51. J. Penicillium sp. Blackwell. Philadelphia. Microbial. 13 : 749-752. 111-149. Pusat Antar Universitas IPB. Mims.. Carroll.C. I. John Wiley and Sons.aktinomisetes adalah Streptomyces sp. VII.C. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec. Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules. USA. 334-337. N. 1967. WI. Marcel Deker.T. S.br/scielo. 1997. Rosario Azcón Jose M. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat.php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 . Smithson. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori.T. L. Canadian. 1995.J. scwanniomycetes occidentalis. M. D. and Schweizer. M. G. Fungal Ecology. 868p. 1-44 pp. Baniks. Pennicillium digitatum. S. Introductory Mycology (4th Ed). 1993.. Publ. Dhandhun Baratha. Chapman & Hall. D. J. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman.J.R. R. In.. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism. http://www.. Barea. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam. P.J. Souchie.W. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem. Eduardo F. Inc. Dickinson. Aspergillus niger.C. Alexopoulos. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P. and Webster. Edson L. and M. Saggin. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Trichoderma viridae... New York. R. Buresh et al. E. C. 1992. J.scielo. dan Chaetomium sp.

and Whalley. P. 1995. Fakultas Pertanian. Cadisch (eds). Institut Pertanian Bogor. Siswanto and Sugiarto.Z. Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus.. In. Frankland. Isaac.E.. Badan Litbang pertanian.)..K. . P. 1987. Pennicilium and Acremonium. the fungal dimension of biodiversity: magnitude. Fusarium Species: Their biology and toxicology. M. New York.J.H. significance and conservation. Harvard university Press. The Pennsylvania state University Press. Paul.J.Fertilizer [Biosol-P] www.M. Missouri.. A. Mycology research 95. Goenadi. Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia. Cambridge. Hawksworth. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification. E. Cambridge University Press. R. Sutton. Miller. E.M. E. peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah.indiamart. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung. 1991.E. University of Missouri Columbia Extension Division. Watling. Wallingford. 2000. New York. 1986. Anas. Nelson. Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed. H. 1994. and Pegler. Bio .. Lestari. P.297-312.S. 1979. J. F and Brotzman. J. Riyanti.C. Columbia.N. Jenis pupuk P. Kirk. Giller and G.html Joffe. Puslittanak. S. Hutami. Maningsih. D. Inc. Driven by nature p. D.E. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan.C.I. 1989.com/jayenterprises/fertilizers. Skripsi. B. Plenum Press. Merton. CAB International. University Park. Y. 641-655. The life of yeast. Bogor. Mass. Sunarlim. Saraswati. Soil Science Society of America Journal 64:927932. New York. Aspects of tropical mycology. N and J.L. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey. R. 83-123 pp. U. 616p. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk.A dan Clark. Phaff. 204 pp.W and Mrak. D. G dan I. Perbedy. USA. 588 pp. Hawksworth.L. McColl. Cambridge. N.F. Jakarta (Indonesia). 1968. Inc. A.G. John Willey & Sons. S. 23-30. Bogor (Indonesia). F. 1996.. 1997.. 193 pp. K.. D. 1983. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press.. H. 1993. CAB International. 2000. United Kingdom. 14 : 31-36.Gressel.

sulphur. Institut Pertanian Bogor. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). phosporus. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. New York. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Ramirez. Hara N tersedia melimpah di udara. Pupuk Hayati. Abdul Madjid. Program Pascasarjana. 202-204. W. Palembang. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster. Jasad Renik Pelarut Fosfat.id/] Diposkan oleh Dr. Bogor. Yuwono. M. Sekilas Pupuk Hayati. Palembang. Disertasi. Namun. Program Pasca Sarjana. Tombe. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2. N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. Cambridge university Press. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja. [http://nasih. 1977.S. Introduction to fungi. Cycles of soil carbon. Program Pasca Sarjana. N. John Willey & Sons. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. micronutrients. 2006. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N.staff. J. New York. Elsevier biomedical press. 1970. yaitu Nitrogen (N). Soil Microorganism and Plant Growth. New Delhi.ugm. Cambridge. Universitas Gadjah Mada. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. 1982. sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua . I. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Fosfor (P). Subba Rao. Program Studi Ilmu Tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman.ac. nitrogen. 380 p. E. Ir. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. F. 2008. 1994. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. Oxford and IBH Publishing Co. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. 1986.J. Stevenson. C. N. M. manual and atlas of pennicillia.Premono.

2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Namun. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. karena terikat pada mineral liat tanah. Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Sebaliknya. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li. antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P. Penicillium sp. infeksi ini . Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata. yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. antara lain: Aspergillus sp. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan.jenis tanaman. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. 2008).

Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan. mempening (jenisjenis Fagaceae). lapisan hifa pada permukaan akar tipis. padi. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). Paraglomus. kruing. pinus.antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. rambutrambut akar tidak ada. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. pasang. 2003). Hifa memasuki sel kortek akar. Archaeospora. hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. hingga pohon rambutan. cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas. Gigaspora dan Scutellospora. mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1. 2004). Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. kelapa sawit. sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. bercabang. CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. membentuk chlamydospores (Morton. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks. Entrophospora. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. misalnya jenis-jenis meranti. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett. hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. 2006). mulai dari paku-pakuan. Ektendomikoriza 3. 1997). mangga. karet. hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. Acaulospora. Dilain pihak. jenis rumput-rumputan. dll. kesehatan dan produktivitas tanaman. Ektomikoriza 2. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur . kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae).

karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. 2004). kapas. 2004). tembakau. vesikel (vesicle) dan spora. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. padi gogo. kopi. kacang tunggak. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. barley. merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. 1. pepaya. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. . Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. kebanyakan berbentuk bulat telur. bawang. palem. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. nenas. vesikel intraseluler. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. selada. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. kakao. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. 1998). apel dan anggur (Rahmawati. singkong dan sorgum. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. teh. harus diamati dibawah mikroskop.khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. karet. akan tetapi belum berhasil. tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. jeruk. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. 2003).

pembentukan organ baru. pembengkokan inti sel. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. yang memiliki perbedaan tegas. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Dengan bertambahnya umur. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). 2004). peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. Mirip dengan cendawan patogen. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. 2004). Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. 3. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. 1981). Arbuskul berperan dua arah. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. 2.sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. 2) . hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. 1981). dengan Ascomycota dan Basidiomycota. Schubler et al. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya.

serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. (Sagin Junior & Da Silva. Acaulospora. Walaupun demikian. dan Glomus sp. Intraspora. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Oleh karena itu. Diversisporaceae. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. kepadatan propagula. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. 2006). tanaman inang. 1991). Kuklospora. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Scutellospora. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. . 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman.. Paraglomus. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Pacispora. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Gigaspora. 2006). 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. 2002). seperti agregasi dan stabilisasi tanah. Gigaspora-ceae. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Entrophospora. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Diversipora. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. Geosiphon. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace).Paraglomerales (famili Para-glomerace). Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda.

(5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air . pH. kadar air tanah. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. 1981). Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. tanah. 1981).II. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis.pada tengah hari. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. hal ini menguntungkan. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. logam berat dan fungisida. saat kelembapan air rendah. bahan organik tanah. Vesser et al. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. Untuk daerah tropika basah.. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula.

karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. 1997). Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Serasah tersebut mengandung hifa. air dan udara. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. 1981).. alumunium dan mangan.meningkat (Rotwell. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. 1997). vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap . 1984). Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. 1997). Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. klor.

tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. dicirikan oleh keragaman . tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Plantavax. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. 1984 dalam Anas. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA.. 1981). Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. dan Na yang tinggi (Mosse. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). 1995). Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. 1997). tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. 1982 dalam Anas. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. 1997). 1984). di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Benlate. Al.terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. 1998). fungisida Agrosan.

pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. P. Untuk tanaman manggis. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering.04 menjadi 0. 1996). dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao.spesies yang sangat tinggi. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). . jumlah bahan organik yang dihasilkan. pembakaran. K. Dalam budidaya tradisional. 1 9% (Gededda et al. karena perubahan spesies tanaman. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. 1984). unsur hara dan struktur tanah. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. 1996). 2005). Sawahlunto Sijunjung. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. ameliorasi dengan bahan organik. 2002). Pada tanaman pisang. cropping sistem. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. 1995). pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman.

Di dalam arbuskul. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. G. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang.5% dibandingkan dengan kontrol. 1997). 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. sedangkan inokulasi G. sedangkan inokulasi G.Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G.masing sebesar 5. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. III. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. . Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. kekeringan. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. jumlah daun pada umur 4. 2006). serta patogen akar. 1997). bobot kering tajuk. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. 8 dan 28 MST.2% dibandingkan dengan kontrol. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman.7% dan 4. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. Selain daripada membentuk hifa internal. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul.7% dibandingkan dengan kontrol. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol.

keasaman.2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. 2006). Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Dengan adanya CMA. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori . Pada kedelei. 3) melindungi dari herbisida. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Zn. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Cu. Zn dan Cu meningkat. Selain itu. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. Setelah periode kekurangan air (water stress). dan Zn). Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Fe. 1997). Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. pemadatan. salinitas. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam.

Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. atau lahan terpolusi lainnya. 1994). 4. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. K dan S. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. tailing tambang batubara. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. 2. 1994). Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang.tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik.1997). 2. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. 3. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Dilain pihak. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat . dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Infeksi patogen akar terhambat. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat.

3. dan giberalin. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. 1993). 4. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. Pada tanaman tertentu. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. 1981). Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. 1981 dalam Husin dan Marlis. Jika terhadap jasad renik berguna. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. Interaksi sebenarnya antara CMA.usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. 2000). . dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. citokinin.. 1997). sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). sitokinin dan giberalin. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. 1997). adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. 40% kebutuhan nitrogen. patogen akar. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies.

Perbaikan Struktur Tanah. 1997). yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. 2002). Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain.. tapi juga bagi tanah. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. 5. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara . sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Bila ini benar. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Menurut Hakim. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. 2002). Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit..Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa.

Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. Phytat adalah senyawa phospat komplek. japonicum. 1999). meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. yaitu mencapai 70. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital.6 hexakisphospat). sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. Prihastuti et al. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). Magnesium (Mg++).1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah.33%. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Secara alami mikoriza terdapat secara luas.3. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza.2. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. dan protein. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. 6. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. B. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. phosphor bebas dan mineral.tanah.. 2002). (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. khususnya pada tanah yang miskin P. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik.4. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis.5. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. Besi (Fe++). Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Seng (Zn++). Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P.50–90. setelah didahului dengan proses infeksi akar. namun . Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1.

Sedangkan secara langsung. Secara tidak langsung. . kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. 2006). Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. tipe perakaran tanaman inang. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. spesies cendawan. temperatur. 1997). 1987). meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. baik secara langsung maupun tidak langsung. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. baik untuk tanaman pangan. 1994).BK. tanaman bermikoriza . Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. 1995). cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". tanaman tanpa mikoriza) / BK.sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. perkebunan. tanaman inang. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. 3. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). dan kompetisi antar cendawan mikoriza). pH. 2004). Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. 6. adanya asosiasi ini. Bagi tanaman inang. kadar air.

kejenuhan Al tinggi. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. Kalimantan. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7.18 mg P/tanaman menjadi 2. miskin hara dan bahan organik.1997).1. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak.13 g biji/tanaman. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. 1997). Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp.. . infiltrasi air hujan rendah.98 g biji/tanaman. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat.66 mg P/tanaman. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang.. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza.84 g biji/tanaman menjadi 5. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan.02 g biji/tanaman menjadi 5.13 mg P/tanaman menjadi 2. dan hasil kedelai meningkat dari 2. Sulawesi dan pulau besar lainnya.7. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0.15 mg P/tanaman. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. Disamping untuk tanaman pangan.

Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar

logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005). Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007), tentang peranan mikoriza pada tanaman jati,

Dengan teknologi mikoriza. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Selain itu. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi.66 % . Untuk mewujudkan harapannya.5 ppm.80 % . dengan kadar P tersedia "rendah" . Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1.65 %. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza.misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara.72 ppm dan tanah Inceptisol. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol.40.15 %. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" .71.. Peningkatan kadar P nira.84 % . telah mencapai sekitar 10 sentimeter. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. 8. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa . sebesar 38. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. 2008).76 % -21. Tujuannya.67. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. 69. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N.90 %. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza.

telah diberikan Asosiasi . Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. 3. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. sorgum atau pueraria. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. 4. 3. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Manfaat 1. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. bedeng tersebut dapat digunakan. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. 2. Dalam rangka pelaksanaan program ini. diaduk merata. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering.Lima hari kemudian. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. selain untuk meratakan hasil. Tanaman inang dapat berupa jagung. spora dan akar terinfeksi. 2008). 5. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. 6. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular.campuran tanah. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan.

Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Abdul Madjid. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. yaitu: (1)Parasitik. Setelah itu pil dipecah-pecah. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Setelah teruji kemurniannya. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain. (3) menggunakan miselia cendawan. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. (2)Saprophitik. Dalam teknik pemberian mikoriza. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Ir. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Setelah diberikan pada bibit tanaman. seperti: penyakit bercak akar kapas. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. Tablet ini dibuat dari cendawan.Mycorrhizal Indonesia. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. satu tablet untuk satu bibit. Untuk membuat tablet. Diposkan oleh Dr. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan penyakit pada akar tanaman. Di IPB. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Aturan pakainya sederhana.7 sentimeter. Kalimantan. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. mampu menambah daya tahan akar tanaman. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari . Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain.

dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. yaitu: (1)Endomycorhiza. (4)dll Diposkan oleh Dr. dan rayap). (2)Ektomycorhiza. dan (b)Nematoda. (3)Acaulospora.dekomposisi bahan organik tanah. jangkrik. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. Arachnida (lebah. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. dan kalajengking)dan Insekta (belalang. kutu. dan ciliata. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah). yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas. yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. (3)Simbiotik. Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora. Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. (d)Moluska. flagelata. Abdul Madjid. seperti: omnivorous dan Predaceus. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman. Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. Flora Tanah .akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. seperti: amoeba. seperti: Mycorhiza atau jamur akar. (2)Glomus. Ir. Chilopoda (kelabang). yaitu: (1) Makro Fauna. (c) Arthropoda. MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. dan (3)Ektendomycorhiza. Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. semut. (2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. (b) cacing tanah. Diplopoda (kaki seribu).

. yaitu: (1) Makro Flora. Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF). dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF). Diposkan oleh Dr. (2) Mesobia. dll. (2) Mikro Flora. (c) actinomycetes. Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. Abdul Madjid. bahwa berdasarkan ukuran. dan (d) algae. MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa. yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere. Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas. Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. dll. (b) fungi. Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB). Selain itu. yaitu: (1) Makrobia. 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme. Aspergillus. dan (3) Mikrobia. menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology. yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop. Ir.2 mm s/d 10 mm. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0. Bacillus. Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil.000 bakteri per gram tanah. organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga. Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah yang subur melebihi 100.2 mm.Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah. terdiri dari: (a) bakteri.

Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat. dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah.net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr. yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis. Ir. MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) . Abdul Madjid.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful