PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang

pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe :

1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998). Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Gramineae dan

Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. 2004). 2003). barley. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. 1. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. palem. vesikel (vesicle) dan spora. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. teh. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. kapas. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. 2004). . akan tetapi belum berhasil. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. jeruk. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. selada. singkong dan sorgum. kacang tunggak. apel dan anggur (Rahmawati. karet. 2. tembakau. bawang. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). pembengkokan inti sel. pembentukan organ baru. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. kebanyakan berbentuk bulat telur. pepaya. 2004). kopi. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. kakao. Arbuskul berperan dua arah. nenas. padi gogo. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. 2004). Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu.Leguminosa umumnya bermikoriza. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai.

Mirip dengan cendawan patogen. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. Oleh karena itu. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). yang memiliki perbedaan tegas. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. . 1981). Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. 3. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Scutellospora. Walaupun demikian. dan Glomus sp. Schubler et al. Gigaspora-ceae.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). Pacispora. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Paraglomus. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar.Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Geosiphon. Diversisporaceae. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Intraspora. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Dengan bertambahnya umur. Kuklospora. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. 2006). 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Entrophospora. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Gigaspora. 1981). 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. Acaulospora. Diversipora.

(Sagin Junior & Da Silva. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah.blogspot. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Abdul Madjid. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. 2002). Bahan Ajar Online. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Palembang. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Program Magister (S2). Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Universitas Sriwijaya. kepadatan propagula. Ir.. 2006). Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). A. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Program Pascasarjana. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Universitas Sriwijaya. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Propinsi Sumatera Selatan. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. . Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Indonesia. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.com. tanaman inang. Http://dasar2ilmutanah. Indonesia.CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Palembang. 2009. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pascasarjana. 1991). Diposkan oleh Dr.

Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. Program Studi Ilmu Tanaman. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Program Pasca Sarjana. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Untuk daerah tropika basah. Universitas Sriwijaya. kadar air tanah. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. tanah. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. Palembang. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. saat kelembapan air rendah. Vesser et al. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2). logam berat dan fungisida. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman . Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse.** Program Studi Ilmu Tanaman. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. Indonesia.. 1981). (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan.pada tengah hari. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Palembang. pH. hal ini menguntungkan. Program Magister (S2). bahan organik tanah. 1981). Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup.

Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. 1997). 1997). Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal . karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. Serasah tersebut mengandung hifa. 1981). 1984). (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah.ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. air dan udara. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA.

dan Na yang tinggi (Mosse. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. alumunium dan mangan. 1982 dalam Anas. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. Benlate. Cendawan pada umumnya . 1984). 1997). Al. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan.yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. 1984 dalam Anas. 1997). Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. fungisida Agrosan. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. 1997)..5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. 1981). Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium.. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. klor. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Plantavax.

Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. . menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. 1984). Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. pembakaran. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. 1998). pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). karena perubahan spesies tanaman. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). 1 9% (Gededda et al. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). K. unsur hara dan struktur tanah. cropping sistem. 1995). Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. 1996). Pada tanaman pisang. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. 2005). ameliorasi dengan bahan organik. jumlah bahan organik yang dihasilkan. Dalam budidaya tradisional. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. P.04 menjadi 0. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza.memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. 1995). Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis.

Program Pasca Sarjana. Ir. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Program Magister (S2). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.5% dibandingkan dengan kontrol. Palembang. Universitas Sriwijaya.masing sebesar 5. 2002). Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. sedangkan inokulasi G. jumlah daun pada umur 4.Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Palembang. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman.7% dibandingkan dengan kontrol. bobot kering tajuk. Indonesia. Program Pascasarjana.2% dibandingkan dengan kontrol. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Sawahlunto Sijunjung. Palembang. MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Palembang. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. 1996). ** Program Studi Ilmu Tanaman. A. Program Studi Ilmu Tanaman. Http://dasar2ilmutanah. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Abdul Madjid. Indonesia. 8 dan 28 MST. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Universitas Sriwijaya. Indonesia. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. Program Magister (S2).com. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Bahan Ajar Online. 2009.blogspot. Diposkan oleh Dr.7% dan 4. . Indonesia. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. sedangkan inokulasi G. G. Untuk tanaman manggis. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol.

Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. dan Zn). Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. Zn. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke . Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. 2006). serta patogen akar. pemadatan. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Cu. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. 1997). Selain daripada membentuk hifa internal. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. Di dalam arbuskul. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. salinitas. Selain itu. 1997). sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat.(Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. Fe. keasaman. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. kekeringan. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. 3) melindungi dari herbisida. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang.

infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. 1997). penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. 1994). Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. K dan S. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. 2006). atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya . Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Zn dan Cu meningkat. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Dengan adanya CMA. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya.tanaman inang. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. Setelah periode kekurangan air (water stress). Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Pada kedelei. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza.

4. 2. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang.simpan air kecil. 1994). Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. Dilain pihak. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. tailing tambang batubara. Infeksi patogen akar terhambat. Jika terhadap jasad renik berguna. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Interaksi . Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen.1997). Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. 1993). kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. 3. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. atau lahan terpolusi lainnya. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman.. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. 2.

Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. 1981). 2000). 1997). Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. 1981 dalam Husin dan Marlis. 5. 1997). dan giberalin. Bila ini benar. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. Perbaikan Struktur Tanah. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi . maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. 1997). Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. 3. Pada tanaman tertentu. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. 40% kebutuhan nitrogen. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai.sebenarnya antara CMA. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. 4. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. citokinin. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. patogen akar. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. sitokinin dan giberalin.

Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Menurut Hakim. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. tapi juga bagi tanah. 2002). karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. . et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida.. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa.agregat mikro. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. 2002). Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro.. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah.

(2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor.2. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi.3. dan protein. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. japonicum. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar.5. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan.6 hexakisphospat). Besi (Fe++). yaitu mencapai 70. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya).6. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. 2002). Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. 1999). Seng (Zn++).33%. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. 1997). Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. khususnya pada tanah yang miskin P. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. 1987). Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. setelah didahului dengan proses infeksi akar. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. B.50–90. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Phytat adalah senyawa phospat komplek. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas . disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N.4. 2006). merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Prihastuti et al.. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. Magnesium (Mg++). meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). phosphor bebas dan mineral.

miskin hara dan bahan organik. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. temperatur.BK. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. tanaman tanpa mikoriza) / BK. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. kadar air. Bagi tanaman inang. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. 7. Kalimantan. tanaman inang. 3. Sulawesi dan pulau besar lainnya. adanya asosiasi ini. Sedangkan secara langsung. 1995). tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam.tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. perkebunan. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. baik untuk tanaman pangan. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. tipe perakaran tanaman inang. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. Secara tidak langsung. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. 2004). baik secara langsung maupun tidak langsung. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. 1994). Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". . 6. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. tanaman bermikoriza . Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis.1. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. pH. spesies cendawan. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya.

13 g biji/tanaman.98 g biji/tanaman. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman. 1996) dan pepaya (Cruz et al.. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim.15 mg P/tanaman. Disamping untuk tanaman pangan. 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam .02 g biji/tanaman menjadi 5. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al.kejenuhan Al tinggi. infiltrasi air hujan rendah. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. dan hasil kedelai meningkat dari 2. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat.18 mg P/tanaman menjadi 2. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya.66 mg P/tanaman. net fotosintesis.1997). Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak.. 1997).84 g biji/tanaman menjadi 5.13 mg P/tanaman menjadi 2. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. serta serapan hara NPK. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat.

Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat. 1994). karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dalam kondisi salinitas tinggi. 3. et al.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri. tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti. Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. 7. Zn dan Cu (Al-Kariki. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. 2000). Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. meningkatnya tekanan osmotik. 2000). 1995 dalam Aggangan et al. dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 2001). Peneliti lain. 1994 dan Tam. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang . Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar.jaringan dan transpirasi yang lebih besar. 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Namun demikian. terhidar dari plasmolisis. jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik.

Menurut Wachjar et al (2002). dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa. 2000). Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman. Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. 12 diantaranya bermikoriza. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan. tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). mempercepat umur berbunga tanaman jagung. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik.berbeda. gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l.. sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. zat yang melarutkan PAH. Oliveira et al. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti. (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. meningkatkan N tanah setelah percobaan. juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. maka laju penurunan hasil clover meningkat. 1993). . bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit. Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza.. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. efisiensi penyerapan P.

Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007). Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis. selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza.tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. telah mencapai sekitar 10 sentimeter.S. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007). Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. Selain itu. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. sulit dan cukup mahal transportasinya. produktivitas. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto. 2005). Dengan teknologi mikoriza. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama. dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. berharap jati muna yang telah . dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm.

Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. selain untuk meratakan hasil.66 % . Tujuannya. spora dan akar terinfeksi. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. Peningkatan kadar P nira.80 % .15 %.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N.. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2.40. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. bedeng tersebut dapat digunakan. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. diaduk merata. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. 3.76 % -21.84 % . Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira.71. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. sebesar 38. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27.90 %. 2008). Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. 2. dengan kadar P tersedia "rendah" . Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1.67. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman.72 ppm dan tanah Inceptisol. Untuk mewujudkan harapannya. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza.Lima hari kemudian.dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. 8. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum.5 ppm. Inokulasi . 69. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik.65 %. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak.

APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Tanaman inang dapat berupa jagung. 4. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. sorgum atau pueraria. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. 6. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. Dalam rangka pelaksanaan program ini. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. 2008). yang akhirnya dikembangkan secara komersil. . Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. Dalam teknik pemberian mikoriza. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. 5. 3. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Manfaat 1.Pada tiap lubang yang dibuat.

00 gram (Hardiatmi S. Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza . dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya.00 gram. Di IPB. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Tablet ini dibuat dari cendawan. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu.50. Setelah teruji kemurniannya.ah takaran 1. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus.Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. satu tablet untuk satu bibit. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. sampai 230%. dan di kebun percobaan kampus Dermaga.7 sentimeter.00.00 gram. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. 2008) . Untuk membuat tablet. Setelah itu pil dipecah-pecah.00. Kalium (K) bertambah 86%. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam. Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2. Sebagai pembanding. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung.500 dan 2. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Setelah diberikan pada bibit tanaman.50 dan 2.J. Kalimantan. Dengan demikian. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. 1. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). Aturan pakainya sederhana. Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman. 1. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat.M. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. dan Nitrogen (N) 75%. 1.

Palembang. MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Pasca Sarjana. Palembang. . Palembang. A. Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. Program Pascasarjana. Program Magister (S2). Ir.com. Palembang. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. Diposkan oleh Dr. pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Http://dasar2ilmutanah. Program Pascasarjana. Program Magister (S2). Program Magister (S2). membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana.blogspot. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut. Indonesia. Indonesia. Program Magister (S2). Abdul Madjid. Bahan Ajar Online. Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik. 2009.

Rhiphosant. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas. Kamizae. Kawasan PUSPIPTEK Serpong. Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek.1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan. Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar.Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal. Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0. Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1). kehutanan. virus. pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a. OST dan Simbionriza. Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. 4. b. jamur yang bersifat patogen. Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza. Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat.4-13%). Tabel 1. ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------Coklat (kakao) .

Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman. Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza.000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung. Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah. Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan. Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan). menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman. 4. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.14 Dengan Mikoriza 43.70 ------------------------------------------------------------------c.50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32. seperti terlihat pada gambar 2 dan 3.70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18. Bali.44 Dengan Mikoriza 28. Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem.64 35. d. Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal.28 34. Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman. Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan .Tanpa Mikoriza 28.12 Dengan Mikoriza 48.2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20.50 33. Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan. Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut.

sampai 230%. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan.3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Dengan demikian. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0.pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. 4. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J. Setelah itu pil dipecah-pecah. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. satu tablet untuk satu bibit. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Aturan pakainya sederhana.4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. 4. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Kalimantan. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Setelah diberikan pada bibit tanaman.7 sentimeter. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Untuk membuat tablet. Selain P. 2008). javanica. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. Kalium (K) bertambah 86%. Tablet ini dibuat dari cendawan. Setelah teruji kemurniannya. Di IPB.S. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. dan Nitrogen (N) 75%.M. Empat bulan kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir . Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman.

Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus. Apabila dikemas dalam bentuk tablet. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1. Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam. pH tanahnya sangat bervariasi. tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak. Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target . akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya. setiap kapsul dibutuhkan 0. Setelah itu. (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00. Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia. 4. Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman. (3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya. berarti dibutuhkan 500 g carrier.dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah. Pada praktek sebelumnya.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman.000 kapsul. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus. Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas.5 g carrier. Sebelum digunakan. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang. (2) Mempermudah penanganannya.000 spora. (3) Dapat di produksi secara khusus.000 spora secara merata. sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai. misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00. Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan.

pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar. Lactobacillus spp. Azzospirillum lipoverum. Nostoc muscorum.D. Azospirillium. Tabel 3. Azotobacter. Bacillus. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii. Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit.luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia.M. Beijerinckie. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama. Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium. Clostridium pasterianum. Nitrosomonas. 2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Ankia alni. R. Mikrococcus. Aeromonas punctata. Rhizobium. Nitrobacter. Sinorhizobium. (pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat. (Organic soil treatment) Agrobacterium. Anabaena azollae OST Azotobacter. protein dan humus aktif Biota Bacillus spp.

Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). Palembang. DAFTAR PUSTAKA Anas. Http://dasar2ilmutanah. Fakultas Pertanian. Laboratorium Biologi Tanah. Universitas Sriwijaya. Jurusan Tanah. Indonesia. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. 2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. 3. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. IPB. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Anas. Palembang. Diposkan oleh Dr. Universitas Sriwijaya. 2. Ir. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.Bioteknologi Tanah. Indonesia.blogspot. I. . Abdul Madjid. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. IPB. 1997. Biologi Tanah dalam Praktek. 2009.com. Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi. Program Pascasarjana. MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin. Program Pasca Sarjana. Indonesia. Palembang. Universitas Sriwijaya. I. 1989. Bahan Ajar Online. Palembang. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. A.Madjid. ** Program Studi Ilmu Tanaman. KESIMPULAN 1. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana.

Fertil. M. 2000. Brundrett. Rusdi Saul. Sutopo Ghani Nugroho.. Rev. (Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo. 79:473– 495.F. Hakim dan Kusli. 2008. 2007. p. 1994. Ika RS dan Saubari MM. and F. 1986. Hakim. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth. Reber. Doponnois. R. Soils 24 : 81-86. Amin Diha. No. Vol 5. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Vol 5. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. . A.lunarpages. 2007. Dexheimer. Biol. ISSN 1411-0062. Lubis. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Azcon. 1997. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. Yusuf Nyakpa. Prosiding Kongres Nasional VI HITI.google. G. A. Biol. Faisal T. Biochem. Husnal. Iskandar.M.google. 9/2 : 91-95..H. Hasanudin. Sanon . A. and J.G. K. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www. Martens and H. Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May). 2008. M. Mahfud.M. Husin. 2007.com Fleibach. M.1. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds). Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge. Universitas Lampung. E.H. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna. Ba. El-Atrash. INFOTENS. Ali. R. 2000. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil.com. 2004. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia. Universitas Lampung. 2002. Dudi. Mulyati M dan Roy H. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Nurhajati.B. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. Jakarta. hal 83-89.com dalam http://support.M. 26 (9) : 1201 1205. M. Go Ban Hong. 12-15 Desmber 1995. Lampung.. Mycorrhiza J. H. Diversity and classification of mycorrhizal associations. Lampung. Bailey. terhubung berkala : www.Adinurani P. Soil Biol.R. N. Growth response of Afselia africana Sm. Biantoro M. 1997.

Mycorrhiza 10/3 : 137-143. Universitas Jember.id. Fertil.. 24 Januari 2006. Plant and Soil 78: 147-150. C. 2008. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember. Mycorrhiza J. Bogor.V. Biol. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp. E. K. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense . Mosse. Killham. and R. Khan. A. Publ..go. JC.ae.No56 : 131-137. Jordan. Soils 26 : 79-87. 1998. Terhubung berkala www.litbang deptan. from saline soils and Glomus deserticola under salinity.Joner. 1995. 2001. 10/5 : 241-247. Azcon.download/tp/htm-rahmawaty s. Tejoyuwono.library. Soil ecology. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal. D.Y. 10/4 : 155159. Mycorrhiza J. 1994. Cambridge University Press. Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian. 1997. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. . Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi.id. http ://www. A. J. 2003. D. Leyval.. Biotrop Spec. Effect of various soil environment stresses on the occurance. M.pdf. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture. S. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains. Bull Manjunath. Oliveira.usu. Ress.com dalam http://hortikultura.google. JMR.Tervesia claveryi. Biotropia 8 : 39-44. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering. Dodd and PML. Khan.. 1993.. A. R. and McDonald. Lozano. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul. Rahmawaty. Castro. Kim.S. D.J. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion. Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity. Jember. Mycorrhiza J. Pattimahu. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae. Sekolah Pasca Sarjana. and C. IPB. Bagrayad. Schubert. 1984. 1981. 2000.. Notohadinagoro. Morte.H. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi. 2004. 10/3 : 115-119..Lovisolo and A. 2000. 2001. K.G.

Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans). Thomas. Publ. Soil Sci. 2006. and R. J. 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza. Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil. Bethlenfalvay.A. Schwarzott. Singh. and C. 105(12):1413-1421. A. F. M. Romeida. D. Vol 3.No56 : 131-137.Rotwell. Biotrop Special Publ.J. Dela Cruz. 1991..R. S.B... A new fungal phylum.L. S. Yadi S. Diposkan oleh Dr. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. Buletin Agron. 2002. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza.arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste. Widodo. Res. IGM. 1995. D. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali. Subiksa. Bengkulu. and G. dan Marlin. Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. 1994. Rao. J. Ninin Y. 2002. Simangunsong S. 1999.S Subha. hal 69-74. Ragupathy and A. Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland. R. 57 : 77-81. 2001. Franson. Incidence of vesicular .K. Abdul Madjid. Kapoor. Unsur hara tanaman. A. Plant and Soil 80-99-104 Rani. N. R. Penerbit Universitas Indonesia. Mycol.. Edisi Kedua. 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation.T. Bogor Schubler. Mahadevan. 1984. Biotrop Spec. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu. Walker. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** . MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu. Fertil. and K.E. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. Ir. Soc.S. Wachjar A. Zarate. Biol. Soils 28 : 139-144. 2005. Am.

Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Upaya yang mulai . Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Palembang. baik di Negara maju maupun Negara berkembang. Bukit Besar. PENDAHULUAN 1. Program Pasca Sarjana. biologis dan cultural. Bukit Besar. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang. Program Pasca Sarjana. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I.(Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Sumatera Selatan. Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Indonesia. termasuk biodiversitas. pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya. Bukit Besar. pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang. Indonesia. Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik. Palembang.1. dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). Sumatera Selatan. seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan . Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik . Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2). Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam. siklus biologi dan aktivitas biologi tanah.

jamur. Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan. Terutama yang berhubungan dengan pengiriman. harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono. bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif. maka harus diperoleh galur yang dikehendaki. Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan. Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. 2002). Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting. Penyedia hara .dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit. ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi. Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati). Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut ( Gunalan. Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan. 1996): 1. Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara. Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan. maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar.2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji). penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif. Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. baik kesuburan fisik. kemasan . Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus. penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman. kimia maupun biologi. kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil.

2. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. dapat menahan unsur hara di dalam selnya. Arthrobacter. licheniformis. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. cereus. bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. B.5.berbentuk batang lurus atau lengkung. B.1 1μm x 1. . kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana. Perombak persenyawaan agrokimia 1. megatherium. B.0 μm.2003). Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel. Achromobacter. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. 3. multivorans (Hasanudin. Pseudomonas terbagi atas grup. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae. tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. P. Peningkat ketersediaan hara 3.Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri. B. B. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. subtilis. Pseudomonas. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof . Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu. polymixa. diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri. seperti eksudat akar dan sisa tanaman.5-0. Pemantap agregat tanah 6. fluorescent. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. Flavobacterium. pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek. P. Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah. dan P.4. Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus. putida.2. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. ukuran tiap sel bakteri 0. Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) . 2. Micrococus dan Mycobacterium. jamur dan aktinomisetes.

Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman. materi genetik. Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah. 1. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis.Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah. dan gula posfat. kelembaban temperatur dan faktor lain. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. radiasi cahaya.3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik. Endospora mengandung sedikit sitoplasma. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis. 6. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah. Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%.2005). Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya. Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru. asam nukleat. nukleotida. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan. Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati. fosfolipid. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. Semakin tinggi C-organik dan semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P.tetapi juga dipengaruhi oleh pH . 5. . sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik. suhu tinggi dan zat kimia.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah.terutama yang bersifat heterotrof. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah. tetapi pada umumnya rendah .4. Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik. hewan dan mikrobia. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. dan ribosom.

Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat.Al3+. 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit. yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen. Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0. aluminium dan hidrat. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. fosfor merupakan 11 unsur yang .2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah.2002). 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit. Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi. yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin. yang meliputi occhided-P . melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme. Fe-P dan P tidak aktif. ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme. ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi. ATP. dan mineral P primer.Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. Al-P. FePO42H2O Strengit. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit. 1.01 – 0. diantaranya dalam proses sintesis protein. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit. Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel.Mn2+ dan Ca2+. Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman.4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan. memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah. gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman. Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya. AlPO42H2O Variscit. Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel. Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual. P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas.2007).Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit. karbonat apatit. buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit. pembentukan akar halus dan rambut akar.pembentukan bunga . Secara geokimia. reductant-P . Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji. Dalam bentuk anorganik.

Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat. Di dunia. Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F. Seperti halnya nitrogen. Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan. seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan.6 x 1011 mol P th . seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2). Abdul Madjid. Program S2.OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros).K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}. Jika aktivitas manusia (anthropogenic). sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak.blogspot.sangat melimpah di kerak bumi. sedimen. dan kekerasan 5.40% P2O5. Sumber lainnya berasal dari jenis slag.15 3. guano.17 . Indonesia. hijau. Masuknya fosfor ke laut sebesar 3. 2009. Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk. Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis.20. kilap kaca sampai lemak. Http://dasar2ilmutanah. mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata. maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat. sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. dan milisit {(Na. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air. Diposkan oleh Dr.beku.com. 1992). Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal. Program Pascasarjana. Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan. A. Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K. Propinsi Sumatera Selatan.H2O). fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton. Bahan Ajar Online.43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9.6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 . Universitas Sriwijaya. Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat.15. mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5). dan metamorf. Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2.3 x 1011 mol P th. Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik.4 . Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk. Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano. Siklus P pada Gambar 21 (Buntan. krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 . yaitu 7. MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah . Selain sebagai bahan pupuk. Ir.5 juta ton endapan guano (0.Cl. berat jenis 3. Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Sebagai contoh 15-30-15.

oksalat. malat. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah . Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat. Sumatera Selatan. Sumatera Selatan. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. yaitu dalam bentuk Ca-P. Fe-P atau occluded-P.BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Al-P. Fospor relatif tidak mudah tercuci. suksinat. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. tartarat dan alfa ketobutirat. Program Studi Ilmu Tanaman. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Program Magister (S2). Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH. Program Pasca Sarjana. laktat. sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca. Indonesia. Bukit Besar. Indonesia. MgP. Bukit Besar. PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2. Universitas Sriwijaya. Indonesia.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. fumarat. Program Pasca Sarjana. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. glioksalat.1. Program Magister (S2). Palembang. Palembang. Palembang.Penurunan pH juga disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. glutamat. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Bukit Besar. Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan .

malat. oksalat. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam).(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe.laktat. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik .---> M OH + H2PO4H2PO4 . Hasil penelitian Pramono et al. salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P. Disamping meningkatkan P tersedia. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. oksalat. dan lemah (suksinat. Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam. asetat dan ptalat). salisilat). Terdapatnya asam-asam organik sitrat.OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme. sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal. beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd).2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit. sedang (malat. diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif . karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe. Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda.OH + R-COO. Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak. Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. sedangkan asam malonat. asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif. (c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti. malonat. tartarat dan malat berefektivitas sedang. Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat. Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi.sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M. Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat. tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam. tartarat). . demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap. asam amino dan asam fenolik. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum).

Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. sitrat. alfa ketoglutarat. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson. glikolat. oksalat. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega.Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat.7 x 10^4 0. 1971.0 x 10^5 125 Denitrifiers 1. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia.0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams.0 x 10^5 12 Protozoa 2. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. suksinat. Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran. Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah.2 x 10^9 5. merupakan bentuk antara (transisi). Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting.26 x 10^8 1.2 x 10^6 1. asetat.0 x 10^6 7 Fungi 1.0 x 10^3 2. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan.0 x 10^3 2 Algae 5.0 x 10^8 4. 1961. Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1.2 Ammonifiers 5. Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik . 2007).4 x 10^3 1. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. malat.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4.6 x 10^7 7. Tabel 1. glukonat.

Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. sedangkan pada tanah bereaksi basa P . Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides. 8. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat. Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0.4 ppm menjadi 59. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P. 13 dan 14%. AlPO4. 6. 0. Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%.5 ppm menjadi 30.6 ppm pada tanah steril. Escherechia freundii dan Escherechia intermedia. lesitin. Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat. Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung. Bacillus sp. Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat.3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah. (3) tingkat dissosiasi asam organik.8 – 3. Bacillus substilis. apatit. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. FePO4. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. gliserofosfat. .7 ppm menjadi 34.9 dan 0. Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer.8 ppm. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28. Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro.7 ppm pada tanah sterl dan 0. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p. Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24.1 – 3.ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet.5 . Ca3(PO4)2. mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium.3.9 ppm. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 . lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4.

bakteri. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi . Moawad. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. 2. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al. berat basah trubus. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Misalnya. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. dan Vlek (1996). (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. AlPO4 tidak larut dalam air. dan aktinomicetes. berat kering akar.2. (3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. misalnya: fungi. berat basah akar. Pada percobaan yang lain P. minimal duplo. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Pada tanaman jagung. 1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%. luas daun serta kadar P trubus. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. berat kering trubus.Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp.

Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang,

Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini

super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu

1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional .3. Teknologi penyubur tanah dan tanaman. . Azotobacter sp. 3. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. Lactobacillus sp.2 (7) Bromophenol Blue 0.5 (6) (NH4)2SO4 0.05 .30 (2) Ca3(PO4) 2 1 .01 . mikroba pelarut P. Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3). berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan.025 . dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor. Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman.Miza Pluss.5 . Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 .01 . penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% . Tiens Golden Harvest . tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder). dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp. Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan. Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai. Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud.7H2O 0. Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost. Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No.0.dikembangkan .6H2O 0.20 (3) MgCl2.5 (5) KCl 0.20 (4) MgSO4.

Universitas Sriwijaya. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. Sumatera Selatan. Palembang. Program Pasca Sarjana. Abdul Madjid. Program Magister (S2). Diposkan oleh Dr. Palembang. Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P. Bukit Besar. Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Propinsi Sumatera Selatan. Program Magister (S2).blogspot. Indonesia.Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik. Program Pasca Sarjana. bakteri pelarut fosfat. Universitas Sriwijaya. Program S2. ** Program Studi Ilmu Tanaman. bakteri penambat N. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Indonesia. Bukit Besar. Sumatera Selatan. bakteri pelarut fosfat. Bukit Besar.Kemasan : 5 dan 25 kg. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul . MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula. Indonesia. Palembang.com. Bahan Ajar Online. Masa simpan : 12 bulan. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. dan zat pengatur tumbuh tanaman. N. Program Pasca Sarjana. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Ir. http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. 2009. A. Program Pascasarjana. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.

7 ppm pada tanah non steril dn 0. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat. Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat.6 ppm pada tanah steril. kentang. Circulans pada tanaman kedelai. Bacillus subtilis . padi.4 ppm menjadi 59.5 ppm menjadi 30. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B. Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum. tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P. jagung. 3-9.8 ppm.puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%.3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4. Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum. barlei. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat.IV. Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium. Bacillus sp. meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28. Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum. bit gula. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. Ca3(PO4)2. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. gliserofosfat.7 ppm menjadi 34. kacang panjang dan tebu.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. 3-13.8-3. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP. . Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum. sedangkan pada tanah berreaksi basa P. Escherechia freundii dan E. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. tomat. Intermedia . tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0.1-3. Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung.Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0.3 . Bacterium mycoides dan B. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida. kedelai. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16. 5-21 dan 14%. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7. 0. lesitin.9 ppm.9 dan 0. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. kubis.

Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. bayam dan kacang panjang). Pada percobaab lain (Buntan. Mg2+. diantaranya asam sitrat. Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Striata. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. P. 1991). Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung.Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat. Puptida dan P. suksinat. 1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%. dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit.2007). terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Fe2+. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk . Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2. glutamat. laktat. fumarat. Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit.4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan. Premono dan Widyastuti. oksalat. 1994). Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. Pada tanaman jagung. 1992. glioksilat. Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. malat. 1992). Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman.

dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. 930. 203. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp.75%. berat daun segar 4 tanaman per pot. 217. jumlah bunga.42 g atau ada kenaikan 877. jumlah biji. Daerah Cikaniki.5-2.. jumlah polong.3881 ppm dan 280. Megaterium sebagai inokulan padat. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin.48 g. yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1. 207. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Chromobacterium lividum.63%. Gunung Botol. dan Chromobacterium sp.67%. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot . Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga. Klebsiella aerogenes. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. umur pembentukan polong.) di Tanah Marginal. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area. dan 61. umur panen.. dan 606. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat. 575. ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai. tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF. Bacillus megaterium.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. Klebsiella aerogenes. 354.22 g.30%.tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah .63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan.) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl. Chromobacterium lividum dan B. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.81%. 208. 903.67%. Bacillus sp.15 g tanaman-1. dan B. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g).5 cm. pH tanah.

(2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai amelioran. Program Pascasarjana. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. Program Studi Ilmu Tanaman. Bahan Ajar Online.Ca dan proses pelapukan yang rendah . Ir. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Palembang. Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman.penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan. Indonesia.blogspot. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Sumatera Selatan. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. A. Indonesia. Sumatera Selatan. Bukit Besar.com. Universitas Sriwijaya. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Diposkan oleh Dr. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Pasca Sarjana. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol.Fe. Palembang. Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.Mn. Program Magister (S2). MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman.kering tanaman kedelai. Program Pasca Sarjana. Palembang. Http://dasar2ilmutanah. KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al. Bukit Besar. (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan . Abdul Madjid. 2009.

31 (3): 100-106. Indian Soc. 1998. Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia. 45: 506-509. N and K. Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens. Plant Soil .K Jha. 60:353-364. Banik. serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung. Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean. Gaur . 2003.Soil Sci.A.J. Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Hasanudin dan Ganggo. S. Handayanto. Edisi 3. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism.D.Soil Sci.S. Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan.Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol.Bacillus firmus. Pal. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 1996. (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis. Citrobacter intermedium . Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol. Universitas Bengkulu. Plant Soil 57 : 223-230. 1997. B. Buletin Agronomi.30:105-106. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop.2005. Bacterium mesenterricus. Elfiati.J. Kundu. S. 1982. Dubey.2007.Faperta Universitas Bengkulu. Bacterium mycoides. 2004. B.C. Pustaka Adipura. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few .32. S. 1980. dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad. 1982. Majalah Sriwijaya Vol.ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat.K.K.S and A. Bacillus megaterium.Indian Soc. Escherechia intermedia Pseudomonas putida. Buntan.E dan Hairiyah.No. Fakultas Pertanian USU. Hasanudin. 6(1) : 8-13.2. Noor A. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat.Medan Gunalan.Universitas Sriwijaya.1992. Escherechia freundii.2003.

S dan Suliasih .Program Pascasarjana IPB.Pupuk Hayati . 7(1):1014. Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic. Diposkan oleh Dr. Vega. 7(2):109-113.R.acid tolerant crops. S. 2007. Tesis. (Terjemahan Susilo. 2006.W. Widawati. UI Press).) di Tanah Marginal.Disertasi.Penerapan Pertanian Organik.R. Bandung. Edisi 2 . Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam.N. Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki. Ir. Oxford and IBM Publishing Co.T.J. serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat. Widawati. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau. Yuwono. Gunung Botol. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning.Bogor.60 no.Yogyakarta. S dan Suliasih . 2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: .C. UGM. C.2002. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake. Setiawati. S. Jurnal Nature Indonesia.L and B.R Glick.. Sutanto. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.Agr. Can. dan Ciptarasa. 198 : 169-177. 1991. Microbiol 42: 207-220.NW. Plant Soil. 1962. Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung.Widyastuti.T. 1998. 2006. Edisi 3. MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat. and Sinha. N. 1996. Premono. Abdul Madjid.Kanisus Jakarta.Medellín vol.Bandung Rao. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman.Biodiversitas. Soil Microorganisms and Plant Growth.H. Supadi. Patten.H. 2001. Universitas Pajajaran. 1992.Biodiversitas. 2005. 4(1) : 1-5.1 Wulandari.

* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. 1998). Program Magister (S2). kimia. Indonesia. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. Sumatera Selatan. Sumatera Selatan. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Indonesia. seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. tanah yang sehat memiliki kondisi fisik. Sumatera Selatan. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. fungi. Program Magister (S2). melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. seperti bakteri. Palembang. bakteri dan fungi pelarut fosfat. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme. alga dan virus. dan mendegradasi residu toksik (Sparling. Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. protozoa. bakteri. Dibidang pertanian. Universitas Sriwijaya. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui. Program Pasca Sarjana. ** Program Studi Ilmu Tanaman. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik. Program Pasca Sarjana. PENDAHULUAN A. Universitas Sriwijaya. kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. cendawan. Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian. bakteri dan fungi perombak bahan organik. serta bakteri yang berperan sebagai . Bukit Besar. tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot. dan virus sebagai agensia hayati. Dalam sejumlah kondisi. aktinomicetes. Palembang. Bukit Besar. serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. 1998).

menghemat biaya pupuk. Beberapa mikroorganisme seperti bakteri. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. A. Bahan Ajar Online. Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Saraswati et al. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat. Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya. dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba). (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman. Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. Fakultas Pertanian Unsri & . 1978). Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat. Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah. 2009. dan meningkatkan pendapatan petani. Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme. Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah. B. (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P. Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida. Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. kesuburan. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah.agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan.

namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Bukit Besar. Ir. Http://dasar2ilmutanah. Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. Universitas Sriwijaya. (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II. Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. Indonesia. Program Magister (S2). Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis.2 mg/kg tanah. Palembang. kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Sumatera Selatan.atau CO32-. (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid.Program Studi Ilmu Tanaman. OH. Program Pasca Sarjana. pemupukan dan mineralisasi P-organik. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Cl-.01-0. Sumatera Selatan. unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut.com. Program Magister (S2). Program Magister (S2). Palembang. Palembang. Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N).blogspot. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Indonesia. Abdul Madjid. Program Pasca Sarjana. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman. umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-. yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit. Bukit Besar. . Diposkan oleh Dr. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 (occluded P). Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk. Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2. Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut. Bukit Besar. MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman.

keseimbangan P dalam tanah terganggu. Subba Rao.Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al. pengembalian melalui residu tanamandan hewan. Oleh karena itu. 1989. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark. nukleotida dan gula-gula fosfat. Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman. pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik. (b) imobilisasi P-tersedia. Siklus ini berulang terus menerus. karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah. fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). fosfor terdapat dalam dua bentuk. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik. sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat. Sisa tanaman. fosfolipida. 1989). Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al. Pada sistem pola tanam yang terbuka. 1997). Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. pemupukan. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat. hewan dan organisme tanah.. Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah. memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman.atau H2PO4-) diserap tanaman. Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. asam nukleat. Bila ion fosfat (HPO42. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba. dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. 1977). Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah. hewan dan mikroba . Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi. Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu. Di alam. Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik.

Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon. bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi. aerasi. Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur. Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah. Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. seperti nukleotida atau fosfolipida. 1986). aerasi. 2. maka terjadi net mineralisasi ortofosfat. Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik. 1. Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah. kelembaban. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan. temperatur. menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al.. maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis. Umumnya. Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol. Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen. nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas. Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat. Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi.yang dikembalikan ke dalam tanah. Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi. atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut. Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah . Selain kandungan fosfat dalam residu. Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat. 1997). dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat.

Mn. keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut. dan PO43-. Selain itu.----> Al(OH)2 H2PO4.+ OHCa(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ . Al3+ + H2PO4. Phosphaticum. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-. kalsium dan magnesium fosfat. Nilai kritis C/P adalah 200. Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza. Ion Fe. yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya.2) H2PO42. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium. dengan melepaskan fosfat.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4. Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al. Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var. Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat. Hal yang sama. pH tanah. sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa. yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1. Mn. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson. Al. 1986). H2PO42-. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam. Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat. Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat. Pada kondisi tergenang. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi. Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut.lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43. dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi. pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang. dan Ca. 2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4.2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam. Pada pH tanah agak masam hingga netral.lebih mendominasi.lebih mendominasi. dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah. H2PO42. Fe.+ 2H2O ----> FePO4. hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya. dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman.+ 2H2O ----> AlPO4. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7. jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat. besi.ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P.

laktat. 2007). suksinat yang dapat mengikat Al.Didaerah rhizosfer. Bahan Ajar Online.blogspot. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Magister (S2). Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah. A. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Fe. 3. Program Magister (S2). Http://dasar2ilmutanah. Mn. Diposkan oleh Dr. Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman. pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion. asetat. Kandungan bahan organik tanah. 2009.com. Ir. Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun. selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi. Palembang. 2. Program Pasca Sarjana. dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah. yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. Sumatera . selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital). Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat. Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi. Program Pascasarjana. MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Abdul Madjid. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.

dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Sekitar 70. Hawksworth et al. Program Pasca Sarjana. miselium menghasilkan spora. ** Program Studi Ilmu Tanaman. 1970). Palembang. membentuk spora dari fusi dua nukleus. Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im. Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman.5 juta (Hawksworth. (1996) dikenal 5 kelas fungi. (Bagian 3 dari 6 Tulisan) III. Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5). Program Magister (S2). Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan. Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya.Selatan. Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. . dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster.. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Indonesia. Bukit Besar. 2007). yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah. Program Pasca Sarjana. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran. Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter..000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. Reproduksi secara seksual. yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru. Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri (non-motile) disebut zygospora. kadang-kadang berkelompok membentuk miselium. 1995). Palembang. Sumatera Selatan. 1991. Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman. berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai. Bukit Besar. yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes.

fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya. Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal. Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah. Bersama-sama dengan bakteri. Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air. Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow. (1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik. bagian bawah. Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks. Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. eksudat akar. tidak peka. dan essensial . Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual. 1993). beberapa diantaranya bersifat sparofit. seperti selulosa dan lignin dalam kayu. fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah. menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah. fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman. 1993). baik berupa daun maupun kayu.Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat. Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas. 2007). Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat. siklus hara. Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung. bagian tengah. karbon dioksida. dan pengelolaan lahan. organisme rhizosfer. Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah.. dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah. Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat. dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik. Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza. Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan. tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi). CO2 terhambat. Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. 1992). dan pengendalian penyakit. Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya. sebagai contoh .

Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza. sayuran. Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun. Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon.flavus dan A. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun. sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial. Namun demikian. untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat.. . Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit. Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim. Sebagai contoh A. fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat.niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng. dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri. Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus. 2007). 1995). atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. Seperti bakteri. dan Rhizoctonia. Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. dan kulit (Hawksworth et al. (3) Patogen atau parasit. fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah. Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda. udara. Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian.dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. dan mungkin air) ke tanaman. Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman. 1995). nitrogen. Phytium. Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering. Fungi patogen akar seperti Verticillium. Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu. contohnya A. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah. tekstil. serta banyak dijumpai dalam tanah. Selain itu. dan semak. Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. (2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. hara mikro. beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik.parasiticus yang menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. cat. tanaman pangan.

hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat.. Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im. Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga. Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin. Karbon dioksida dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung). Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan. Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida. terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez. Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar.5-9. Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi.2. diantaranya T. dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol. jaringan hewan dan tanah. Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2. nitrogen. Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al.75-5x 2-6im. jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe. Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya. tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam. Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa. Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC. 5. sel berbentuk seperti tabung (Perbedy. Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman. 1986). 1983). gandum. 1968).koningii (merton dan Brotzman.harzianum dan T. Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk. Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase. membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni. 3. Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson.5. dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang. termasuk manusia. Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan. selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer. tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam. Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0. 1999). 4. Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras. Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon. 1987). 1979). 1982). Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman. . Pada tanaman.

com. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Bukit Besar. Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Sumatera Selatan. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH . Bahan Ajar Online. Http://dasar2ilmutanah. Program Pasca Sarjana. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. 2009. Ir. A. Sumatera Selatan. Bukit Besar. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Palembang. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Program Pascasrjana. Indonesia. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Universitas Sriwijaya. Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman. Abdul Madjid. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. dan mineral lainnya. Indonesia. Bukit Besar. Palembang. Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2).blogspot. Program Magister (S2). Palembang. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. Program Studi Ilmu Tanaman. Diposkan oleh Dr. Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana.vitamin.

oksalat. malat. kalium (K) sebesar 0. Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. B.35%. asetat. B. alfa ketoglutarat. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. 2006). subtilis. Trichoderma viridae. Micrococus dan Mycobacterium. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. magnesium (Mg) sebesar 0. (3) tingkat dissosiasi asam organik. dan Chaetomium sp. kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. Penicillium sp. glikolat. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam).14%.0-2. suksinat. jamur dan aktinomisetes. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri. Arthrobacter. Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4. polymixa. nitrogen (N) sebesar 2. merupakan bentuk antara (transisi). Schlerotium & Phialotobus. B. Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao. megatherium. B. licheniformis. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. 1994). asam amino dan asam fenolik.0-40. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono.. 2006). Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp.039-1. B. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah.rendah. FePO4. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia.04-0. fosfor (P) sebesar 0. Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger.0%. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. Pseudomonas. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. sitrat. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. apatit. cereus. Flavobacterium. Penicillum. candidus. A.010. harus mengandung 8 macam nutrisi.. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. AlPO4. Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. yaitu: karbon (C) sebesar 19.5%. Fusarium. khususnya fungi jenis Aspergillus niger. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. glukonat.21% dan C/N ratio . Achromobacter.

0-20% (Gaur. Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada . sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P.sebesar 9. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita.8 kali. Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. 8 kali. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2. 1967). (4) inokulasi R. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul. Lestari (1994). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. aktivitas penambatan N. 1982). dan serapan N dan P berturut-turut 7. Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P.3 kali. Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. 1. aktivitas fiksasi N. yakni lebih dari 10 kali lipat. Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk. Kundu dan Gaur. Aspergillus sp. A. niger strain NHJ2 1 ml per biji. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander.4 % dibandingkan kontrol. merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat. Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006). dan mesir. Hutami et al. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah. kanada. 1957 . Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. japonicum. 1986). DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. (2001). bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. AlPO4. 1980 . menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. margarita. dan G. 1978). niger. Subba Rao. Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India. dan serapan N dan P. (3) inokulasi R. Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. dan FePO4. dan 10 kali. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. 1977 . jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2.. sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao. (2) inokulasi R.

Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak. Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P. Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. Tanah ini terkenal sangat miskin. Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia.media tumbuh GAGES dan GES. Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa. Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). Aspergillus niger. Tanah ini memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. bahan organik. Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori.. Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan. Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al. Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41. uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat. Bogor. scwanniomycetes occidentalis. Tiap kombinasi diulang tiga kali. Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. 42. tanaman apapun yang . Trichoderma viridae. Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer. Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar. Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No. Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat.. Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al. dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar. Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38. Pennicillium digitatum. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung.78 ppm (Baratha. dan Chaetomium sp. fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2). Penicillium sp. Selain daripada itu T. Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut. Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). T. dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3). kandungan bahan organik rendah. (2000). 2000). antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi).. Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1). 2004). dan kapasitas tukar kationnya rendah. Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0). Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat. Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat. harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. aspergillus niger. Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4). kab.

Program Magister (S2). Palembang. Palembang. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah. Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Abdul Madjid. Ir. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung. (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang). Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. Program Pasca Sarjana. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. Diposkan oleh Dr. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal. Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. Program Pasca Sarjana. Indonesia. A. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). Program Magister (S2). Program Pascasarjana. Perlakuan keempat dengan menambahkan T. Program Magister (S2). Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali. pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal.blogspot. . Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal. Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. Palembang. Sumatera Selatan. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain. MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Bahan Ajar Online. Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal. Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin.Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Universitas Sriwijaya. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. Http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia.Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan.com. 2009. Universitas Sriwijaya. Namun demikian. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan.

arang. biakan kering beku. sekam. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya. R. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. Namun. vermikulit. 2008). dan juga pada minuman. Namun. memperbaiki struktur tanah. biakan kering. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit. dan kompos. sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis. selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. menekan soil-borne disease. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak. pelarut. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional. dapat digunakan bahan organik seperti gambut.11. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V. pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif.Sumatera Selatan. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji. Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen. disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu.760. dan tepung. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). atau ketempat pengomposan. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. mempercepat proses pengomposan. Indonesia. biakan cair. Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar. menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah. artinya mikroorganisme yang . Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. Di Indonesia.130. mikroorganisme telah lama dimanfaatkan. tanah. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi. atau zeolit. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman.

Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. suksinat. Dengan mempertahankan kelembaban.terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. seta jenis tanaman yang cocok. sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas. lartrat. tetapkan kelembapan bahan pembawa. 2008). 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium. Propionat. karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. kematian mikroorganisme dapat dikurangi. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. Di Indonesia. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. baik berupa bakteri maupun jamur. Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. cara penyimpanan. sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase. jenis. Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. 2008). 2008). sitrat. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. dan Ca. Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe. Mulai tahun 2004. tanggal kadaluwarsa. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. Mn-. Stase. glikolat. Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. Selain itu. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah. oksalat. Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan. dan ketoglutarat. laktat. fumarat. Fe-. sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun. perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme. Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman.Suatu teknologi . dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. Pada pengujian pupuk mikroba. Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe.

Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale. Grt 3. Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan.5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi. Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba.32% dan 16% pada padi.iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar.pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171. yaitu mikroba pelarut fosfat.0. mikoriza. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman. Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P. jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%. tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P.85ug/ml (pH 5.1).0. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P.28 ugfrnl (pH 2.65) hingga 147. dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12. memobilisasi.irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM).56 ug/m! (pH 6. BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan.0. Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah. Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I). Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea. dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp. serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos. Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28. Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0. Sehingga dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia. 50 kg/ha SP36. Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman.0. dan meningkatkan serapan P tanaman./ha (23. Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya. 50 kg P. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya. bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K. dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman.78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P.ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%.47) hingga 394. serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya. mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P. yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi. Aspergillus niger NHJ2. bobol kering tanaman. dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai. .59%). dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya.9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2.60 ug/ml (pH 4.

Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. antara lain: 1. sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Buat medium agar Pikovskaya. 8. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. minimal duplo. Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain.Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi. AlPO4 tidak larut dalam air. Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0. dan actinomicetes. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. 7. -4. – 8. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. khususnya isolat fungi. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. Moawad. 6. Ulangi langkah di atas secukupnya. Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. 5. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. 2. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. 3. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. bakteri. Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Konsentrasi fosfat. Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri. Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh . Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah. 4. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. dan Vlek (1996). sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. – 6 s/d 10 ext.

Melalui aplikasi pupuk hayati. fosfatase. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi. efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang. pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. A. Kecepatan pertumbuhan mikroba. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. 3. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. 1995). sehingga dapat diserap tanaman. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan 12 bulan (Goenadi et al. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas. 4. mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah. asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas. Ketebalan agar.2. Goenadi et al. Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman. 2000). Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Misalnya. Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat.. bakteri. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase. Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik. (2000). . PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas . Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini.. (Goenadi. 1995). Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal. Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE. dkk. misalnya: fungi. dan aktinomicetes.

dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk. kedelai. menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. B. Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun. (1997). dkk. penambat nitrogen bebas.PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. Hasil percobaana Goenadi. dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan. dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh Dosis dan kandungan mikroba . bobot kering bibit. dan volume akar. ketersediaan hara di dalam tanah. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian. Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah.

. 50 kg KCl). dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran. jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. dan 10 kali.5. bobot kering total. MK 1999. C. pH 3.Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha. aktivitas penambatan N. Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. aktivitas fiksasi N. Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor. A. Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha). pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5. tinggi tanaman. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). niger. 8 kali. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. dan serapan N dan P berturut-turut 7. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. dan serapan N dan P. MK 1997. Al-dd 1.3 kali. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol.8 kali. dan G. serapan N dan P tanaman.96. diameter batang. 2000). dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P. dosis anjuran 50 kg Urea/ha. simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa. Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria). 100 kg SP-36/ha. (3) inokulasi R. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger.209 me/100g). niger strain NHJ2 1 ml per biji. Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. (2) inokulasi R. jumlah bintil akar. (4) inokulasi R. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). jumlah polong isi. Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk. japonicum. Rata-rata bobot kering tanaman. bobot kering akar. 1. Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar. Rhizobium 108-109. Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. margarita.

mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. C organik = 0.04 % .3 ppm . Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien. Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI). Cd dan Mikroba Patogen. Azotobacter. Mn = 0. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair.23 ppm . Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%.92 % . yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal. Mikroba Pendegradasi Selulose5. Pb. K = 1700 ppm . serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya. mikroba pelarut P. Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1.Lukman Gunarto MSc. Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan). N = 0. Pseudomonas spp = 34. Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As.85 ppm . dan mikroba pendegrasi selulosa. Mikroba pelarut fosfat3.70 ppm . Hg. Lactobacillus sp6.Ir.7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman. Zn = 3. Fe = 44. yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien. Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr.D. Migro Plus Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru. Lactobacillus. Cu = 0. Azobacter sp2. yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini. Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E. Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan. Azospirilum sp4. Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini .

Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru. unsur N. Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup. Menurut penelitian Dr. Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik. penambat Nitrogen dari udara. Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS. menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah. akan mendapatkan K dan unsur lain. yaitu unsur fisik (bajak/cangkul). Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami. Lactobacillus sp. ada yang berfungsi sebagai penambat N. dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik. tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. sehingga keaslian produk MiG corp. Lukman Gunarto. kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. melepaskan P yang terikat di dalam tanah. Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen. Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. daun-daun atau bahan-bahan organik lain. apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. Azotobacter sp. mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. populasi mikroba untuk menambatkan N. apabila . yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. probiotik MiG ternak. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. Hasil dari pendegradasian tersebut. Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). pembentukan anakan dan primordial. juga terdapat mikroba Pseudomonas sp. dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut.adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit). 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya. hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia. Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar. P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL. mikroba pelarut P. Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan. Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan. sampai ke tangan konsumen lebih terjamin. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah.

Fusarium. 2009. http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. A. Ir. Sumatera Selatan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit. Bahan Ajar Online. cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. Program Pascasarjana. telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian. Program Magister (S2). Sedangkan dari golongan . Diposkan oleh Dr. A. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. rusak atau mati. Program Magister (S2). ** Program Studi Ilmu Tanaman. Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. Caranya sangat mudah. Tidak masalah. Abdul Madjid. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. candidus. Penicillum. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya.com. Malahan tanaman menjadi semakin subur. Universitas Sriwijaya. Palembang. (Bagian 6 dari 6 tulisan) VI. Schlerotium & Phialotobus. (2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger. dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja. Sumatera Selatan.blogspot. Program Pasca Sarjana. Palembang. Program Magister (S2).penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia. Palembang.

Communities of P-solubilizing bacteria. http://www. scwanniomycetes occidentalis.T. Publ. USA. Inc. J. G.W. and Hellums. M. S.php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 . Widyastuti. Buresh et al.W. 1-44 pp. dan Chaetomium sp. Orivaldo J. Mims. John Wiley and Sons. aspergillus niger. E. Pusat Antar Universitas IPB. 1996. J. Fungal Ecology. Blackwell. New York. 51. Dickinson. R. Introductory Mycology (4th Ed). Rosario Azcón Jose M. Campello. 1993. L. 2004. M. Eduardo F. Marcel Deker. RJ – Brazil. Buresh. Souchie.. Canadian. In. Dhandhun Baratha. R. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae. and Webster. WI. SSSA. C.. N. Smithson. 1999. PA. 334-337. 13 : 749-752. 1967. C. Philadelphia. 1982.J. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori.. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. London. Saggin.J.scielo.. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam. P. Chonkar and Subba rao. Chapman & Hall. fungi and arbuscular mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty.. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism. Dix. J. Pennicillium digitatum. and Schweizer. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat. (4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. Microbial. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec.. VII.C. and M. J. 1995. Barea. Premono dan R. Edson L. D. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P. Building soil phospharus capital in Africa. Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules. New York. 1997.aktinomisetes adalah Streptomyces sp. Trichoderma viridae. Madison. R. 111-149. 868p. Eliane M. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Plant soil 60 : 353-364. S.. J.. Penicillium sp. 2006. P. D..R. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem. Baniks. Aspergillus niger.J. and Wicklow. Bogor. I. Carroll. DAFTAR PUSTAKA Anas. (eds).C. 1992.T.C.br/scielo. Alexopoulos.

and Pegler. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification. Anas. CAB International. R. H. Merton. Cambridge. John Willey & Sons. R..L.G.M. Lestari. Riyanti. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung. G dan I.H. Fusarium Species: Their biology and toxicology..html Joffe.Fertilizer [Biosol-P] www.J. Goenadi. Plenum Press. D.A dan Clark.). N. S. Watling. Y. Inc. Bogor (Indonesia). A. Columbia. Bogor. and Whalley.E.. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press. Mycology research 95. Phaff. Puslittanak. M.F. H. Sunarlim. 1989. B. CAB International.. Perbedy. Miller. U. 2000. J. Pennicilium and Acremonium. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah. University Park.. 1991. Maningsih.I. 204 pp. United Kingdom. Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus. 1987.K. N and J. Cadisch (eds). Nelson.S. Fakultas Pertanian.com/jayenterprises/fertilizers. Paul. J. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia. Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review.E.J. K.297-312. 193 pp. 83-123 pp. Sutton. 2000. Aspects of tropical mycology.. New York. Giller and G..N. Kirk. the fungal dimension of biodiversity: magnitude. F and Brotzman. 1996. Hawksworth. D. Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed. 1979. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. McColl.Gressel.. New York. significance and conservation. Cambridge University Press. Frankland. Driven by nature p. Missouri. 14 : 31-36. Hutami. F. Saraswati. Hawksworth. 641-655. Badan Litbang pertanian. 588 pp. The Pennsylvania state University Press. 1983. E. Siswanto and Sugiarto.E. Mass. 1997. P. 1994. Jakarta (Indonesia). E.W and Mrak.C. 1995. 1968. P. USA. Isaac. 616p. D. Cambridge. Skripsi.Z. A. . D. Bio ..C.L. Wallingford. Jenis pupuk P.M. Soil Science Society of America Journal 64:927932. 23-30. Institut Pertanian Bogor. Harvard university Press. E. The life of yeast. Inc. P.indiamart. In. University of Missouri Columbia Extension Division. 1986. 1993. S. New York. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey.

E. sulphur. Program Studi Ilmu Tanaman. Cycles of soil carbon. [http://nasih. 1982. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. N. Cambridge. Ramirez. Fosfor (P). ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Yuwono. Ir. Cambridge university Press. F. phosporus. Universitas Gadjah Mada. Introduction to fungi. Jasad Renik Pelarut Fosfat. C. Universitas Sriwijaya. I. Institut Pertanian Bogor. Program Pasca Sarjana. John Willey & Sons.ac. Tombe. Palembang. Sekilas Pupuk Hayati. J. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster. 1986. New York. Abdul Madjid. sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua . M. M. 1977. Stevenson. yaitu Nitrogen (N).ugm. Namun. 2006. manual and atlas of pennicillia. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Subba Rao. N. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2. Disertasi.staff. New York. W. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Indonesia. Program Pascasarjana.S. Elsevier biomedical press. 1970. Program Studi Ilmu Tanaman.id/] Diposkan oleh Dr. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. micronutrients. 380 p. Pupuk Hayati. nitrogen. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). 1994. Tiga unsur hara penting tanaman. New Delhi.Premono. Program Pasca Sarjana. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Indonesia. 2008. Oxford and IBH Publishing Co. Soil Microorganism and Plant Growth. Palembang. Hara N tersedia melimpah di udara. Universitas Sriwijaya. 202-204.J. Bogor.

Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Penicillium sp. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. 2008). Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar.jenis tanaman. antara lain: Aspergillus sp. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata. karena terikat pada mineral liat tanah. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Sebaliknya. Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer. infeksi ini . Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li. Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Namun.

hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. lapisan hifa pada permukaan akar tipis. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. 1997). kesehatan dan produktivitas tanaman. Hifa memasuki sel kortek akar. pinus. Dilain pihak. 2006). Gigaspora dan Scutellospora. adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett. 2004). famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. dll. sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. 2003). mulai dari paku-pakuan. CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Entrophospora. mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1. mempening (jenisjenis Fagaceae). Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. rambutrambut akar tidak ada. kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae). Archaeospora. jenis rumput-rumputan. cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. bercabang. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks. Ektendomikoriza 3. hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza). kruing. hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. hingga pohon rambutan. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). membentuk chlamydospores (Morton. mangga. kelapa sawit. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. misalnya jenis-jenis meranti. Acaulospora. Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. padi.antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Paraglomus. Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan. Ektomikoriza 2. karet. pasang. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur .

karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. nenas. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. kebanyakan berbentuk bulat telur. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. tembakau. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. selada. 2004). Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. kacang tunggak. harus diamati dibawah mikroskop. . Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. vesikel intraseluler. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. singkong dan sorgum. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. teh. kakao. vesikel (vesicle) dan spora. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. akan tetapi belum berhasil. merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. kopi. kapas. padi gogo. barley. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. bawang. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. 2003). 2004). 1998). Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. palem. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan.khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. 1. karet. hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. apel dan anggur (Rahmawati. pepaya. jeruk. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu.

Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. 2004). Schubler et al.sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. Mirip dengan cendawan patogen. Arbuskul berperan dua arah. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Dengan bertambahnya umur. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). dengan Ascomycota dan Basidiomycota. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. pembengkokan inti sel.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. 2. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. 1981). Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. yang memiliki perbedaan tegas. pembentukan organ baru. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. 1981). yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. 3. 2004). Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. 2) . (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal.

Gigaspora. Diversisporaceae. Gigaspora-ceae. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. tanaman inang. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Walaupun demikian. Intraspora. 2006). Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. kepadatan propagula. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Geosiphon. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. . Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda.. (Sagin Junior & Da Silva. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Acaulospora. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. 2006). Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. Paraglomus. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). Scutellospora. Pacispora. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. 2002). Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Entrophospora. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. Diversipora. dan Glomus sp. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Kuklospora.Paraglomerales (famili Para-glomerace). 1991). Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Oleh karena itu.

Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. Untuk daerah tropika basah. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. tanah. 1981). intensitas cahaya dan ketersediaan hara. kadar air tanah. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA.pada tengah hari. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air . saat kelembapan air rendah. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. hal ini menguntungkan. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Vesser et al. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. bahan organik tanah.II. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. logam berat dan fungisida. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. pH.. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. 1981).

perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. klor. 1984). 1981). Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. alumunium dan mangan. 1997). Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap .meningkat (Rotwell. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Serasah tersebut mengandung hifa. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas..5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. air dan udara. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. 1997). Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. 1997). vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya.

1998). Al. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. Benlate. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. dicirikan oleh keragaman . Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. 1995). Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. 1997). Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). 1982 dalam Anas. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. dan Na yang tinggi (Mosse. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah.. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. fungisida Agrosan. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. 1984 dalam Anas. 1981). Plantavax. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. 1984). tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. 1997). Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya.terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Pemakaian fungisida menjadi dilematis.

Dalam budidaya tradisional. jumlah bahan organik yang dihasilkan. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Untuk tanaman manggis. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. 1984).spesies yang sangat tinggi. P. 2002). 1996). Sawahlunto Sijunjung. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. . dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. pembakaran. 1996). Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. ameliorasi dengan bahan organik. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. K. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. cropping sistem. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. 2005). 1 9% (Gededda et al. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al.04 menjadi 0. 1995). Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. karena perubahan spesies tanaman. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. Pada tanaman pisang. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. unsur hara dan struktur tanah.

7% dibandingkan dengan kontrol. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. kekeringan. bobot kering tajuk. III. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST.masing sebesar 5. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. serta patogen akar. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. G.2% dibandingkan dengan kontrol. Di dalam arbuskul. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. 1997). aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. sedangkan inokulasi G. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. 2006). 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam.5% dibandingkan dengan kontrol.Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. 8 dan 28 MST. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. sedangkan inokulasi G. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. 1997). yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. jumlah daun pada umur 4.7% dan 4. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. Selain daripada membentuk hifa internal. .

pemadatan. 3) melindungi dari herbisida. Dengan adanya CMA. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. Zn. dan Zn). (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Setelah periode kekurangan air (water stress). konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. keasaman. Fe. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Selain itu. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal.2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. salinitas. Pada kedelei. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Zn dan Cu meningkat. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. 1997). Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. 2006). Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. Cu. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori . penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor.

Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. 1994). cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. 4. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. K dan S.1997). Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri.tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat . Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. tailing tambang batubara. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. 3. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. 1994). atau lahan terpolusi lainnya. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. 2. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Dilain pihak. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. 2. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. Infeksi patogen akar terhambat. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi.

dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. Pada tanaman tertentu. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. 2000). adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. 1981). dan giberalin. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. 40% kebutuhan nitrogen. 4. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. Jika terhadap jasad renik berguna. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. 3. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. sitokinin dan giberalin. 1993).. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. . Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. 1997). patogen akar. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. 1981 dalam Husin dan Marlis. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. citokinin. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. 1997). Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. Interaksi sebenarnya antara CMA. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai.usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah.

2002). tapi juga bagi tanah. Perbaikan Struktur Tanah. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro.. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir.. Menurut Hakim. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. 1997). Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. 2002). Sekresi senyawa-senyawa polisakarida.Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara . Bila ini benar. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. 5. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit.

cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. yaitu mencapai 70. namun . Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. setelah didahului dengan proses infeksi akar. Besi (Fe++). Magnesium (Mg++).6 hexakisphospat). B.33%. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman.3. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. khususnya pada tanah yang miskin P. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. 1999). merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar.5. Prihastuti et al. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. phosphor bebas dan mineral. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air.2. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). Seng (Zn++). Phytat adalah senyawa phospat komplek. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. dan protein.tanah. 2002). japonicum.4. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. 6. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah.50–90. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor.. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman.

Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. 1995). pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. tanaman tanpa mikoriza) / BK. 2006). spesies cendawan.BK. tanaman inang. 2004). Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. temperatur. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). Bagi tanaman inang. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. 6. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. perkebunan. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. adanya asosiasi ini. tanaman bermikoriza . Secara tidak langsung. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. 1987). dan kompetisi antar cendawan mikoriza). Sedangkan secara langsung. 3. . Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". baik secara langsung maupun tidak langsung. pH. 1994). tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan.sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. tipe perakaran tanaman inang. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. kadar air. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. baik untuk tanaman pangan. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. 1997).

Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. infiltrasi air hujan rendah.18 mg P/tanaman menjadi 2. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7.1. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. 1997).7. Kalimantan. miskin hara dan bahan organik.13 g biji/tanaman.84 g biji/tanaman menjadi 5. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan.. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. kejenuhan Al tinggi. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat.15 mg P/tanaman.. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. Sulawesi dan pulau besar lainnya.1997).02 g biji/tanaman menjadi 5. . Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. dan hasil kedelai meningkat dari 2. Disamping untuk tanaman pangan.13 mg P/tanaman menjadi 2.66 mg P/tanaman. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya.98 g biji/tanaman. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim.

Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar

logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005). Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007), tentang peranan mikoriza pada tanaman jati,

69. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. sebesar 38. Dengan teknologi mikoriza. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza.. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . dengan kadar P tersedia "rendah" . telah mencapai sekitar 10 sentimeter.misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. 8. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Untuk mewujudkan harapannya. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Tujuannya.80 % . Peningkatan kadar P nira.5 ppm.84 % .76 % -21.90 %. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa . 2008). Selain itu. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1.72 ppm dan tanah Inceptisol.66 % . Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu.65 %. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N.71. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan.67.15 %." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi".40. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza.

Lima hari kemudian. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. 2. 5. Manfaat 1. Dalam rangka pelaksanaan program ini. 3. 6. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. Tanaman inang dapat berupa jagung. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. bedeng tersebut dapat digunakan. selain untuk meratakan hasil. diaduk merata. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. sorgum atau pueraria. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. spora dan akar terinfeksi. 3. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). 2008). juga untuk menguapkan sisa fumigasi. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. telah diberikan Asosiasi . lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. 4. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2.campuran tanah. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan.

racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Ir. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari . Tablet ini dibuat dari cendawan. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar.7 sentimeter. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. seperti: penyakit bercak akar kapas. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. Setelah teruji kemurniannya. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Aturan pakainya sederhana. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain. (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. Kalimantan. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. (3) menggunakan miselia cendawan. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Diposkan oleh Dr. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan penyakit pada akar tanaman. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. mampu menambah daya tahan akar tanaman. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Di IPB. Abdul Madjid. Dalam teknik pemberian mikoriza. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. (2)Saprophitik. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Setelah itu pil dipecah-pecah. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya.Mycorrhizal Indonesia. yaitu: (1)Parasitik. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. satu tablet untuk satu bibit. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Untuk membuat tablet. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman.

flagelata. Chilopoda (kelabang). MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. dan kalajengking)dan Insekta (belalang. dan (b)Nematoda.dekomposisi bahan organik tanah. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman. semut. (b) cacing tanah. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. seperti: Mycorhiza atau jamur akar. Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua. Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. Flora Tanah . (4)dll Diposkan oleh Dr. jangkrik. dan (3)Ektendomycorhiza. Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar. yaitu: (1)Endomycorhiza. (c) Arthropoda. Arachnida (lebah. yaitu: (1) Makro Fauna. seperti: omnivorous dan Predaceus. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas. seperti: amoeba. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. Diplopoda (kaki seribu). dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. Ir. kutu. dan rayap). yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah). (2)Ektomycorhiza. Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora. dan ciliata. (3)Simbiotik. (2)Glomus. (2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. (d)Moluska.akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. (3)Acaulospora. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. Abdul Madjid.

Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas.000 bakteri per gram tanah. bahwa berdasarkan ukuran. dan (3) Mikrobia. dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF). Selain itu. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere. Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah yang subur melebihi 100. Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB). Abdul Madjid. Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah. dll. (2) Mesobia. . Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. yaitu: (1) Makrobia. (2) Mikro Flora. yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop. Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil. terdiri dari: (a) bakteri. (b) fungi. organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga. MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa. Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman.2 mm. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0. yaitu: (1) Makro Flora.2 mm s/d 10 mm.Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF). 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme. Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. dan (d) algae. (c) actinomycetes. Aspergillus. yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. dll. Ir. Bacillus. Diposkan oleh Dr. menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology.

MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) . dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah.Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat. Ir. yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik.net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr. Abdul Madjid. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful