PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang

pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe :

1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998). Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Gramineae dan

pembentukan organ baru. padi gogo. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. 2004). yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. 2003). teh. Arbuskul berperan dua arah. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. jeruk. singkong dan sorgum. 2. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. . 2004). barley. kebanyakan berbentuk bulat telur. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. palem. apel dan anggur (Rahmawati. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. kakao. 1. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). tembakau. kapas. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. bawang. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. karet. akan tetapi belum berhasil. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. selada. vesikel (vesicle) dan spora. pembengkokan inti sel. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. kopi. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. kacang tunggak.Leguminosa umumnya bermikoriza. 2004). nenas. pepaya. 2004). tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul.

Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Paraglomus. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Kuklospora. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. 1981). kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Dengan bertambahnya umur. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). Diversipora. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Acaulospora. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Intraspora. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. Diversisporaceae. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. . Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Scutellospora. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al.Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Schubler et al. 1981). Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. yang memiliki perbedaan tegas. dan Glomus sp. 2006). Gigaspora. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. Gigaspora-ceae. Entrophospora. Pacispora. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. 3. Walaupun demikian. Geosiphon. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Mirip dengan cendawan patogen. Oleh karena itu.

Program Pascasarjana. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. tanaman inang. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Ir. (Sagin Junior & Da Silva. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Diposkan oleh Dr. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. 2002).blogspot. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. A.. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al.CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Abdul Madjid. Propinsi Sumatera Selatan. 2006). Universitas Sriwijaya. Palembang. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm.com. Indonesia. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. 2009. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Indonesia. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. kepadatan propagula. Http://dasar2ilmutanah. 1991). Program Magister (S2). . Program Pascasarjana. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Bahan Ajar Online. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding.

Universitas Sriwijaya. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan.** Program Studi Ilmu Tanaman. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. Indonesia. Program Magister (S2). 1981). Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar.. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman . logam berat dan fungisida. Program Studi Ilmu Tanaman. kadar air tanah. hal ini menguntungkan. Universitas Sriwijaya. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. Program Pasca Sarjana. saat kelembapan air rendah. Palembang. Untuk daerah tropika basah. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. intensitas cahaya dan ketersediaan hara.pada tengah hari. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. Program Pasca Sarjana. tanah. 1981). Vesser et al. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. Indonesia. pH. bahan organik tanah. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Palembang. Program Magister (S2).

perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. 1984). Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. Serasah tersebut mengandung hifa. 1997). 1981). air dan udara. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. 1997).5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya.ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal . Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun.

Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Benlate. 1997). fungisida Agrosan.. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn).5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. 1984).yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. 1997). Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. 1997). 1981). Cendawan pada umumnya . tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Al. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. alumunium dan mangan. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah.. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. klor. Plantavax. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. dan Na yang tinggi (Mosse. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. 1984 dalam Anas. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. 1982 dalam Anas.

unsur hara dan struktur tanah. 1995). ameliorasi dengan bahan organik. 1 9% (Gededda et al. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. 1995). cropping sistem. P. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. karena perubahan spesies tanaman. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao.memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. 2005). pembakaran. 1984). jumlah bahan organik yang dihasilkan. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. Dalam budidaya tradisional. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. 1996). pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz.04 menjadi 0. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. . 1998). Pada tanaman pisang. K. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida.

jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. G. Untuk tanaman manggis. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. sedangkan inokulasi G. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G.Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Program Pasca Sarjana. sedangkan inokulasi G. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman.7% dan 4. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol.blogspot. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Http://dasar2ilmutanah. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Palembang. Palembang. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya. Palembang. Bahan Ajar Online. MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. A. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. 1996). Program Magister (S2). . Propinsi Sumatera Selatan. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Universitas Sriwijaya. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. jumlah daun pada umur 4. Diposkan oleh Dr. Program Magister (S2).masing sebesar 5. Abdul Madjid. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Indonesia. Program Pasca Sarjana.5% dibandingkan dengan kontrol.7% dibandingkan dengan kontrol. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. Universitas Sriwijaya. 8 dan 28 MST. bobot kering tajuk. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. Indonesia. 2009. Ir. Palembang.2% dibandingkan dengan kontrol. Program Pascasarjana. 2002). Sawahlunto Sijunjung. Program Studi Ilmu Tanaman.com. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Magister (S2).

2006). Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. dan Zn). Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Cu. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke . 1997). kekeringan. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. Di dalam arbuskul. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. Selain daripada membentuk hifa internal. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. 1997). pemadatan.(Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. 3) melindungi dari herbisida. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. salinitas. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. serta patogen akar. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Fe. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. keasaman. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Selain itu. Zn.

Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. 2006). Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. 1997). infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air.tanaman inang. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Zn dan Cu meningkat. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. K dan S. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Pada kedelei. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Dengan adanya CMA. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. 1994). Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. Setelah periode kekurangan air (water stress). Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya . sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N.

. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. 3. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. 2. 4. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. 1994). tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. 1993). Interaksi . atau lahan terpolusi lainnya. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman.simpan air kecil. Jika terhadap jasad renik berguna. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. 2. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. tailing tambang batubara. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Infeksi patogen akar terhambat. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan.1997). Dilain pihak. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik.

atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. 1997). sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. 1997). 3. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. Perbaikan Struktur Tanah. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi . Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Bila ini benar. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. 1981 dalam Husin dan Marlis. 1981). maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas.sebenarnya antara CMA. citokinin. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. patogen akar. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. 1997). Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. 40% kebutuhan nitrogen. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. sitokinin dan giberalin. dan giberalin. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. 2000). 4. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. Pada tanaman tertentu. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. 5.

lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro.agregat mikro. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza... lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. 2002). Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Menurut Hakim. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. 2002). Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. tapi juga bagi tanah. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. .

Seng (Zn++). (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. khususnya pada tanah yang miskin P. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. 1997). Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas . Prihastuti et al. phosphor bebas dan mineral. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. Besi (Fe++). Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar.2. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. Phytat adalah senyawa phospat komplek. dan protein. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. japonicum. setelah didahului dengan proses infeksi akar.33%. yaitu mencapai 70.5. B. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++)..6 hexakisphospat).3. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. 1999).6. 2006). meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N.4. 1987). Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza.50–90. 2002). Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. Magnesium (Mg++). disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air.

Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan.1. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. temperatur. Sedangkan secara langsung. . Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. tipe perakaran tanaman inang. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. pH. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. 3. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. tanaman tanpa mikoriza) / BK. Sulawesi dan pulau besar lainnya. tanaman inang. 6. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). perkebunan.BK. 2004). spesies cendawan. tanaman bermikoriza . Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. baik untuk tanaman pangan. 7. baik secara langsung maupun tidak langsung. Kalimantan.tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. Bagi tanaman inang. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. 1995). Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. 1994). dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. miskin hara dan bahan organik. kadar air. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. Secara tidak langsung. adanya asosiasi ini. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara.

1996) dan pepaya (Cruz et al.66 mg P/tanaman. serta serapan hara NPK. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan.02 g biji/tanaman menjadi 5. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya.13 mg P/tanaman menjadi 2. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim.1997).98 g biji/tanaman. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol.13 g biji/tanaman. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak.84 g biji/tanaman menjadi 5. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman. Disamping untuk tanaman pangan. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz.. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian.15 mg P/tanaman. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan.kejenuhan Al tinggi. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat.. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al.18 mg P/tanaman menjadi 2. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam . Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. 1997). net fotosintesis. dan hasil kedelai meningkat dari 2. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. infiltrasi air hujan rendah. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang.

karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. terhidar dari plasmolisis. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. 3. 1994 dan Tam. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. 7. 2000). dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach. Zn dan Cu (Al-Kariki. Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al. et al. tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun. 1995 dalam Aggangan et al. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti. Dalam kondisi salinitas tinggi. 1994). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar. jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri. meningkatnya tekanan osmotik. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. 2000).jaringan dan transpirasi yang lebih besar. meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Namun demikian. tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Peneliti lain. kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang . 2001). Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin.

Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). zat yang melarutkan PAH. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. 12 diantaranya bermikoriza. efisiensi penyerapan P. dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan. maka laju penurunan hasil clover meningkat. mempercepat umur berbunga tanaman jagung. disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa.. ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. . gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. (2001) menunjukkan bahwa P. Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut. Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik. 1993). Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun. bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit. meningkatkan N tanah setelah percobaan. juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Menurut Wachjar et al (2002). Oliveira et al.. sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover.berbeda. 2000). Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar.

Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. berharap jati muna yang telah . tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman. dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama. Selain itu. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. 2005). Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Dengan teknologi mikoriza. sulit dan cukup mahal transportasinya. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis. Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007). Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar.S. produktivitas. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007).tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran.

sebesar 38. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2.Lima hari kemudian. dengan kadar P tersedia "rendah" . bedeng tersebut dapat digunakan.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. spora dan akar terinfeksi. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" .72 ppm dan tanah Inceptisol. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N.71.84 % . juga untuk menguapkan sisa fumigasi.65 %.15 %.5 ppm. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. Inokulasi . diaduk merata. Tujuannya.67. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. Untuk mewujudkan harapannya. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi.. 2008).dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. 8. Peningkatan kadar P nira. 69. 3. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar.76 % -21. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al.90 %. 2. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman.80 % .40. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. selain untuk meratakan hasil. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman.66 % . Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna.

dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. sorgum atau pueraria. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Manfaat 1. 2008). APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. Dalam rangka pelaksanaan program ini. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. 3. 6. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. 5. Tanaman inang dapat berupa jagung. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman.Pada tiap lubang yang dibuat. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. 4. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). . Dalam teknik pemberian mikoriza. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan.

Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2.M. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Di IPB.7 sentimeter.50 dan 2. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam. Sebagai pembanding. Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari. Dengan demikian. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya.50.00 gram (Hardiatmi S. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar.00 gram. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza . 1. 2008) . Kalimantan.500 dan 2. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. Setelah itu pil dipecah-pecah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml. 1. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. 1.Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Aturan pakainya sederhana. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Kalium (K) bertambah 86%.00 gram.J. Untuk membuat tablet. Tablet ini dibuat dari cendawan. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor.00. Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. sampai 230%.00. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0. satu tablet untuk satu bibit. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. dan Nitrogen (N) 75%. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Setelah teruji kemurniannya. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul.ah takaran 1. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P).

Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik. Universitas Sriwijaya. Indonesia.com. Ir. Palembang. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. . Universitas Sriwijaya. Palembang. pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan.blogspot. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Palembang. Indonesia. Abdul Madjid. Program Magister (S2). Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2). A. penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Magister (S2). 2009. Program Pasca Sarjana. Bahan Ajar Online. daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. Palembang. Program Pascasarjana. Program Pascasarjana. membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. Http://dasar2ilmutanah. Diposkan oleh Dr. Indonesia. Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman.Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Program Pasca Sarjana. MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.

b. jamur yang bersifat patogen. sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian. Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1). Tabel 1. Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri. Kamizae. Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat. OST dan Simbionriza. Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0.1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas. Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a. Kawasan PUSPIPTEK Serpong. Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek. Rhiphosant. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. 4. ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------Coklat (kakao) . virus. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. kehutanan. perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal.Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan.4-13%).

Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan.70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18.50 33. seperti terlihat pada gambar 2 dan 3.64 35. Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media. Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan.70 ------------------------------------------------------------------c.2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20. Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza. Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah. Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman. Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut.12 Dengan Mikoriza 48. Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman. Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan). 4. Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal.000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung.50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan . menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman.28 34.14 Dengan Mikoriza 43.Tanpa Mikoriza 28. d.44 Dengan Mikoriza 28. Bali.

4. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. satu tablet untuk satu bibit. Kalimantan.S. Untuk membuat tablet. Dengan demikian. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Selain P. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Tablet ini dibuat dari cendawan. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. 2008). Setelah itu pil dipecah-pecah. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur.4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. 4. dan Nitrogen (N) 75%. Kalium (K) bertambah 86%. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Empat bulan kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir . biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Setelah diberikan pada bibit tanaman.pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air. Aturan pakainya sederhana. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0.7 sentimeter. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara.3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Di IPB. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Setelah teruji kemurniannya. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. sampai 230%. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya.M. javanica.

(3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya. Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang. 4. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus. tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus.000 spora. (2) Mempermudah penanganannya. (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00. Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri. Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas. Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis. Sebelum digunakan. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus. Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target .000 spora secara merata. Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah. Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia. setiap kapsul dibutuhkan 0. Pada praktek sebelumnya. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai. Apabila dikemas dalam bentuk tablet.dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman. sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna. Setelah itu. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam. pH tanahnya sangat bervariasi. (3) Dapat di produksi secara khusus. akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya.000 kapsul. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1.5 g carrier. berarti dibutuhkan 500 g carrier. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman. misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00.

Nostoc muscorum. Rhizobium. (Organic soil treatment) Agrobacterium. Beijerinckie. Nitrobacter. Azotobacter. Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit. 2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . protein dan humus aktif Biota Bacillus spp. Nitrosomonas. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii.luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia. Ankia alni. R. Clostridium pasterianum. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama. Lactobacillus spp. Azzospirillum lipoverum.D. Anabaena azollae OST Azotobacter. Mikrococcus.M. Aeromonas punctata. Bacillus. Tabel 3. Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium. Azospirillium. pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar. Sinorhizobium. (pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat.

Program Pasca Sarjana. DAFTAR PUSTAKA Anas. A. Laboratorium Biologi Tanah. Indonesia. Palembang. Http://dasar2ilmutanah. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Bahan Ajar Online. Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). 1997. serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. I. Abdul Madjid. Anas. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Sriwijaya.com. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi. Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya.blogspot. Diposkan oleh Dr.Madjid. IPB. 2. Biologi Tanah dalam Praktek. Fakultas Pertanian. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pascasarjana. IPB. Ir. 2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pasca Sarjana. I. Indonesia. Palembang. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. 1989. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Program Magister (S2). Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Palembang. Program Magister (S2). 3. KESIMPULAN 1. Propinsi Sumatera Selatan. MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin. Program Pascasarjana. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. .Bioteknologi Tanah. Jurusan Tanah. Universitas Sriwijaya. Palembang.

2002. Husnal. Husin. A. Universitas Lampung. p. Soil Biol. Lampung. Universitas Lampung. M. K. Iskandar. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Mahfud. Sutopo Ghani Nugroho.. R. Rusdi Saul. A.Adinurani P. 2000. Bailey. Doponnois. G. terhubung berkala : www. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth.lunarpages. Go Ban Hong. Ali. Mycorrhiza J. Biantoro M. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Diversity and classification of mycorrhizal associations. Lampung. 2007. Vol 5. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis. Martens and H. Mulyati M dan Roy H. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds).G. Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May). INFOTENS. Hakim.M. A. Brundrett. (Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo. 2007. Hasanudin. Dasar-dasar Ilmu Tanah. and F. nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. Dexheimer. Prosiding Kongres Nasional VI HITI.M. Lubis. M. hal 83-89.H. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge. Biochem. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P.. 79:473– 495. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil. Biol.com. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol. 2008. 1997. Ika RS dan Saubari MM. N. 1997. Jakarta.H.. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. and J. R. No.B. 9/2 : 91-95. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna. Soils 24 : 81-86. Rev. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. 2004. Dudi.com dalam http://support. ISSN 1411-0062. Sanon . Hakim dan Kusli. Nurhajati. M. Growth response of Afselia africana Sm. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia. Reber. El-Atrash. Biol. M. 2000. 2007. E. 26 (9) : 1201 1205. .M.R. 1994.com Fleibach. Ba. 2008.google. Amin Diha. Faisal T. 1986. Yusuf Nyakpa. Azcon.F.google. H. Fertil. 12-15 Desmber 1995. Vol 5.1.

Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity. 10/4 : 155159.H. and McDonald.download/tp/htm-rahmawaty s. from saline soils and Glomus deserticola under salinity. Leyval. 2000. 1998.Y.. 2004. 1981. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi. . and C. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons.id. Castro. Soil ecology. Cambridge University Press. 1994. Sekolah Pasca Sarjana.J. IPB. Tejoyuwono. A. Terhubung berkala www.Tervesia claveryi. 2001. 10/3 : 115-119.. 2000. 2001. 1993. A. Publ. K. Lozano. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp. R. Jordan.go. Biotropia 8 : 39-44. Killham.. 2008.V. Bogor. Mosse.S. Biotrop Spec... JMR. Khan.pdf.G. Schubert. Fertil. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense . Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember. D. 1997. 24 Januari 2006.library. 1984. D.. K.usu.google. Dodd and PML. M. Universitas Jember. Mycorrhiza J.Joner. Mycorrhiza J. Plant and Soil 78: 147-150. http ://www. Jember. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion. Bull Manjunath.com dalam http://hortikultura. Khan. C. Mycorrhiza 10/3 : 137-143. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul. 1995. Rahmawaty. Morte.id. Ress. Mycorrhiza J. Soils 26 : 79-87. S.Lovisolo and A. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal. 2003..No56 : 131-137. E. Notohadinagoro. Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi. Azcon. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering. J. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity. Oliveira. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae. Biol. and R. 10/5 : 241-247. Effect of various soil environment stresses on the occurance. Kim. Bagrayad. D. Pattimahu. A. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture.ae. JC.litbang deptan.

Fertil.. Edisi Kedua. Soil Sci. Subiksa. Zarate. F. and C. D. Biotrop Spec. Vol 3. Am. Franson. Bengkulu. 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation. A. S. Biotrop Special Publ. MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman. and G.R. 1995. Walker. Romeida. Mahadevan. 1991. Thomas. Simangunsong S. N. 2002. Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland.J. Schwarzott. J. Buletin Agron. J. Biol. Singh. IGM.B. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution. Publ.. Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza. Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans). Bogor Schubler. Diposkan oleh Dr.No56 : 131-137. M. Penerbit Universitas Indonesia. dan Marlin. Bethlenfalvay. Dela Cruz. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. and R. D. and K... 2002. Incidence of vesicular .Rotwell. Plant and Soil 80-99-104 Rani. Wachjar A. Ninin Y.A.S Subha. Ir.E. 2006. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali. R. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** . A. S. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu. R. Res. 105(12):1413-1421. hal 69-74.T. Soils 28 : 139-144. Ragupathy and A. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. Rao. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza. 2001. Yadi S. Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil.L.arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste. 1999. Widodo. A new fungal phylum. 1994.S. Abdul Madjid. 2005. Unsur hara tanaman. 1984. Kapoor. 57 : 77-81. Soc. Mycol.K. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan. Bukit Besar. baik di Negara maju maupun Negara berkembang. Program Magister (S2). Sumatera Selatan. Upaya yang mulai . Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam. Palembang. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.1. Bukit Besar. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang. pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang. PENDAHULUAN 1. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. Indonesia. Indonesia. Sumatera Selatan. Program Magister (S2). pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya. Program Studi Ilmu Tanaman. seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan . Universitas Sriwijaya. siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Palembang. Universitas Sriwijaya.(Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Sumatera Selatan. Palembang. Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik. biologis dan cultural. Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik . Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. termasuk biodiversitas.

termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif. kimia maupun biologi. 2002). Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan. Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut ( Gunalan. maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar. 1996): 1. bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting. ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara. Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus. baik kesuburan fisik. harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono. Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman. Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif.dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit. Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. kemasan . Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi. penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. maka harus diperoleh galur yang dikehendaki. Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati). Penyedia hara . jamur. Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan. kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil. Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan. Terutama yang berhubungan dengan pengiriman. Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan.2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji).

dan P. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof . Peningkat ketersediaan hara 3. jamur dan aktinomisetes. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel. seperti eksudat akar dan sisa tanaman. B.0 μm. Perombak persenyawaan agrokimia 1. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans. . Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa. licheniformis. Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) .4. Pemantap agregat tanah 6. Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah. B. bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. ukuran tiap sel bakteri 0.1 1μm x 1. 2. Pseudomonas. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus.Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri. B. Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah. B. Achromobacter. polymixa. B. Arthrobacter.2003). tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1. multivorans (Hasanudin. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana. pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek.5-0. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri. P. megatherium. subtilis.2. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. dapat menahan unsur hara di dalam selnya. cereus. 3. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae. fluorescent.2. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus. P.5.berbentuk batang lurus atau lengkung. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu. Flavobacterium. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. Micrococus dan Mycobacterium. Pseudomonas terbagi atas grup. putida.

Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah.terutama yang bersifat heterotrof. materi genetik. dan ribosom. . Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis.3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman.2005). Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%. 5. asam nukleat. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati. 6. Endospora mengandung sedikit sitoplasma. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis.4. tetapi pada umumnya rendah . Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan. kelembaban temperatur dan faktor lain. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru. Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik.tetapi juga dipengaruhi oleh pH . nukleotida. dan gula posfat. Semakin tinggi C-organik dan semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P. suhu tinggi dan zat kimia. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. 1. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah. Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah.Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah. fosfolipid. Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya. radiasi cahaya. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik. hewan dan mikrobia. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik. dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik.

pembentukan bunga .2002). ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme.Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit. 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit.2007). FePO42H2O Strengit. Dalam bentuk anorganik. yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen. karbonat apatit. Fe-P dan P tidak aktif. ATP.2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah. Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan. yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin. AlPO42H2O Variscit. buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit.Al3+. reductant-P . Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat. Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi. Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme.01 – 0.Mn2+ dan Ca2+. Al-P. P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas. 1. Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel. gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman. melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono.Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P. diantaranya dalam proses sintesis protein. fosfor merupakan 11 unsur yang . memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah. aluminium dan hidrat. 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit. Secara geokimia. Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein. Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. dan mineral P primer. Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel. yang meliputi occhided-P . Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman.4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi. pembentukan akar halus dan rambut akar.

Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman.sangat melimpah di kerak bumi. Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan.OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros). seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan.4 . Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk. Abdul Madjid.40% P2O5. krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 . sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan. Propinsi Sumatera Selatan. berat jenis 3. fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis. Sebagai contoh 15-30-15. cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton. Masuknya fosfor ke laut sebesar 3. Program Pascasarjana.6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 . Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik. mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5). MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah . sedimen. Ir. Universitas Sriwijaya. hijau. Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano.20. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Seperti halnya nitrogen. Diposkan oleh Dr. Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk. kilap kaca sampai lemak.6 x 1011 mol P th . Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K. Jika aktivitas manusia (anthropogenic).3 x 1011 mol P th.blogspot. Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air. Program S2.Cl. Sumber lainnya berasal dari jenis slag. dan kekerasan 5. seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2). guano. Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat. Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat. Di dunia. Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2.17 . 2009. Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5.43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9.H2O).com. Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal. Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis. maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat. dan metamorf. A. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F.K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}. Bahan Ajar Online. Http://dasar2ilmutanah. Siklus P pada Gambar 21 (Buntan. yaitu 7. mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata. Selain sebagai bahan pupuk. dan milisit {(Na. sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak.15.15 3. Indonesia. 1992).5 juta ton endapan guano (0. Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik.beku.

yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Program Magister (S2).Penurunan pH juga disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan.BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Al-P. Indonesia. Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan . Bukit Besar. Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH. tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. Indonesia. glutamat. Bukit Besar. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah . Program Magister (S2). Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. oksalat. Sumatera Selatan. PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2. Fe-P atau occluded-P.1. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. fumarat. Palembang. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Sumatera Selatan. Palembang. Fospor relatif tidak mudah tercuci. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Indonesia. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca. malat. Bukit Besar. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. laktat. yaitu dalam bentuk Ca-P. tartarat dan alfa ketobutirat. glioksalat. MgP. suksinat. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pasca Sarjana.

(c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik . Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat. Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat. demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap.sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. tartarat dan malat berefektivitas sedang. asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif. karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe. Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi.---> M OH + H2PO4H2PO4 . malat. malonat.OH + R-COO. asetat dan ptalat). Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda.(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe. Terdapatnya asam-asam organik sitrat.laktat. tartarat).OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme. Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak. salisilat). beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd). sedang (malat. dan lemah (suksinat. sedangkan asam malonat. salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P. oksalat. oksalat. . Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam.2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit. Hasil penelitian Pramono et al. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal. Disamping meningkatkan P tersedia. asam amino dan asam fenolik. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam. diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif .

Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson. 2007). Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca.0 x 10^3 2 Algae 5. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan.6 x 10^7 7.2 x 10^9 5. suksinat.2 Ammonifiers 5.0 x 10^5 12 Protozoa 2. oksalat. sitrat. Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1. glukonat.26 x 10^8 1. alfa ketoglutarat. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia.0 x 10^8 4.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4.4 x 10^3 1.0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams. Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran. Tabel 1. malat. asetat.0 x 10^3 2. Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik . Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. 1961. merupakan bentuk antara (transisi).0 x 10^6 7 Fungi 1.0 x 10^5 125 Denitrifiers 1.2 x 10^6 1.Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. glikolat. 1971.7 x 10^4 0.

Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides. Escherechia freundii dan Escherechia intermedia.6 ppm pada tanah steril. (3) tingkat dissosiasi asam organik. Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat. Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. 13 dan 14%. Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat.5 ppm menjadi 30. 6.1 – 3. sedangkan pada tanah bereaksi basa P . Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. FePO4. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p.7 ppm menjadi 34. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%.9 ppm. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 . .8 ppm. Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2.5 .3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4. meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. gliserofosfat.9 dan 0. Ca3(PO4)2. Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer.3.4 ppm menjadi 59. lesitin. Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung. apatit. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16. AlPO4. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida. 0. mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro.8 – 3. Bacillus substilis. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P. Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat.ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. Bacillus sp. yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. 8.7 ppm pada tanah sterl dan 0.

(3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. bakteri.Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. berat basah trubus. 1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat. Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. misalnya: fungi. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi . Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. dan aktinomicetes. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. Moawad. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. minimal duplo. berat kering akar. AlPO4 tidak larut dalam air. dan Vlek (1996). Pada percobaan yang lain P.2. luas daun serta kadar P trubus. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al. berat basah akar. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. berat kering trubus. Pada tanaman jagung. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. 2. Misalnya. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp.

Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang,

Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini

super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu

mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia.3. . tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder). Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 .Miza Pluss. Lactobacillus sp. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair.20 (4) MgSO4. dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor. Teknologi penyubur tanah dan tanaman.dikembangkan .6H2O 0.5 (6) (NH4)2SO4 0. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp.01 . penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% .05 . Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan. Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No.20 (3) MgCl2.30 (2) Ca3(PO4) 2 1 .025 . berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan.5 . Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost. mikroba pelarut P. Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3). Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai.5 (5) KCl 0. Azotobacter sp. Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud.01 .2 (7) Bromophenol Blue 0.0.1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional .7H2O 0. dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp. Tiens Golden Harvest . Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman. 3.

Bahan Ajar Online. Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula. Indonesia. MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . Diposkan oleh Dr. Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan. Program Magister (S2). dan zat pengatur tumbuh tanaman. Program Pasca Sarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid.blogspot. Palembang. Universitas Sriwijaya. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul . *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. bakteri pelarut fosfat.Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik. Bukit Besar. Indonesia. Abdul Madjid.Kemasan : 5 dan 25 kg. Program Pasca Sarjana. Program S2. 2009. Ir. Bukit Besar. Sumatera Selatan. Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P. Sumatera Selatan. Masa simpan : 12 bulan. Universitas Sriwijaya. Palembang. Palembang.com. Sumatera Selatan. Propinsi Sumatera Selatan. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. N. Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. Bukit Besar. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. A. Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. http://dasar2ilmutanah. bakteri penambat N. bakteri pelarut fosfat.

3 . Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P.IV. Circulans pada tanaman kedelai. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16. meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28. Ca3(PO4)2. Escherechia freundii dan E. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP. Intermedia . Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4.7 ppm pada tanah non steril dn 0. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B.Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P. kacang panjang dan tebu. Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum. tomat. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. lesitin.9 ppm. Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum. Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium.4 ppm menjadi 59. gliserofosfat. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P. Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0. Bacillus subtilis . Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida. kentang.8-3. kedelai. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7. barlei. 3-13. Bacterium mycoides dan B.6 ppm pada tanah steril.7 ppm menjadi 34.9 dan 0. Bacillus sp.1-3.puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. . hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. 3-9. jagung. padi. bit gula. Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum.5 ppm menjadi 30.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4. Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung.3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4. 0. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. 5-21 dan 14%. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat.8 ppm. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat. sedangkan pada tanah berreaksi basa P. kubis. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24.

1994). Puptida dan P. Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau.2007). oksalat. Pada tanaman jagung. suksinat. 1991). Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh. Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk . 1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. Striata. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. 1992). Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung. Pada percobaab lain (Buntan. Mg2+. bayam dan kacang panjang). Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono. Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). diantaranya asam sitrat. Premono dan Widyastuti. fumarat. Fe2+. glutamat. terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens. 1992. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al. Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. glioksilat. laktat.Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan. P. malat.4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto.

jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot . tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF. Klebsiella aerogenes. berat daun segar 4 tanaman per pot. Bacillus sp.. 575.tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. Megaterium sebagai inokulan padat. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . Bacillus megaterium. dan B. 354.5-2.) di Tanah Marginal. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp. umur panen. Chromobacterium lividum. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF.75%. 903. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai. pH tanah. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. 930. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin.30%. jumlah bunga.) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl. Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga. Chromobacterium lividum dan B. jumlah biji.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. dan 61.. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. umur pembentukan polong. 203. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Gunung Botol. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai. dan Chromobacterium sp. 207. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc.3881 ppm dan 280. 217.15 g tanaman-1. Klebsiella aerogenes.63%.81%. dan 606.48 g. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.22 g. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl. jumlah polong.5 cm. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. Daerah Cikaniki. yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area. 208.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan.67%. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung.42 g atau ada kenaikan 877.67%. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.

Bukit Besar. Indonesia.kering tanaman kedelai. Program Pascasarjana. Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Ir. Universitas Sriwijaya. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. Bahan Ajar Online. Program Magister (S2).com. A. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. Indonesia. Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan.Fe. MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Universitas Sriwijaya.Mn.Ca dan proses pelapukan yang rendah . Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. Palembang. Program Magister (S2). (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan . 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Indonesia. Palembang. (2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai amelioran. Bukit Besar. Abdul Madjid.blogspot.penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan. Sumatera Selatan. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. 2009. Http://dasar2ilmutanah. Indonesia. Diposkan oleh Dr. Program Pasca Sarjana. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.

Elfiati.K Jha.C. Hasanudin dan Ganggo. Escherechia freundii. Pal.No. Buntan.ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat. Edisi 3. Plant Soil 57 : 223-230. (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis. B.D. 2004. 1996. Kundu. 60:353-364.2003.2005. 6(1) : 8-13. dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Bacillus megaterium.Faperta Universitas Bengkulu. Bacterium mycoides. Gaur .Universitas Sriwijaya. 1998. 1982.Soil Sci. Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan.1992.Soil Sci. 31 (3): 100-106. Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman. B.Indian Soc. Citrobacter intermedium . Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia. Dubey. Noor A. Handayanto. Plant Soil .Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol.S.J.A.E dan Hairiyah. Majalah Sriwijaya Vol. Fakultas Pertanian USU. 2003. N and K.32. 45: 506-509. Banik. Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat.J. Indian Soc. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism. Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean.2.30:105-106. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few . Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. S. Escherechia intermedia Pseudomonas putida.K. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor. serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung.S and A. Universitas Bengkulu.Bacillus firmus. 1980.Medan Gunalan.2007. Hasanudin.K. S. 1982. Bacterium mesenterricus. 1997. Pustaka Adipura. S. Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol. Buletin Agronomi.

Tesis.Penerapan Pertanian Organik.J. Microbiol 42: 207-220. S. Patten.H. Abdul Madjid.T. 198 : 169-177. Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam. Bandung.W. 4(1) : 1-5. Ir. Yuwono.acid tolerant crops.2002. 1992. Sutanto.Bogor.N. dan Ciptarasa.T. N. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake.) di Tanah Marginal. UI Press). Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman.NW. Widawati. 1991. Supadi.R. S dan Suliasih . Jurnal Nature Indonesia. 1996.Biodiversitas.Widyastuti. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning. serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat. Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. 7(2):109-113. Premono. Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung. C. Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic. 1962. 1998. Vega. Soil Microorganisms and Plant Growth. Edisi 2 . 2007.Program Pascasarjana IPB.Pupuk Hayati .L and B. 2005. 2006.Yogyakarta. 2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: .Biodiversitas. and Sinha.H.Medellín vol.Kanisus Jakarta.60 no. 7(1):1014. Setiawati. S dan Suliasih . (Terjemahan Susilo. Plant Soil. Edisi 3. UGM.C. S. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau.. 2001. Diposkan oleh Dr. Can. Widawati.1 Wulandari.R. Universitas Pajajaran. Oxford and IBM Publishing Co.Agr.R Glick. MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat. Gunung Botol.Bandung Rao.Disertasi. 2006.

dan mendegradasi residu toksik (Sparling. Sumatera Selatan. bakteri. Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. fungi. Program Magister (S2). Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik. Program Pasca Sarjana. bakteri dan fungi pelarut fosfat. Palembang. seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. kimia. Indonesia. Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. Sumatera Selatan. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. 1998). Universitas Sriwijaya. Indonesia. Program Magister (S2). tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot. PENDAHULUAN A.* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. Palembang. Dibidang pertanian. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. ** Program Studi Ilmu Tanaman. seperti bakteri. alga dan virus. Program Pasca Sarjana. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. cendawan. Indonesia. Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian. Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. serta bakteri yang berperan sebagai . tanah yang sehat memiliki kondisi fisik. dan virus sebagai agensia hayati. protozoa. aktinomicetes. 1998). Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Dalam sejumlah kondisi. Bukit Besar. Palembang. Universitas Sriwijaya. kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. bakteri dan fungi perombak bahan organik. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui. melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik.

2009.agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P. Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan. Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat. kesuburan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah. (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. B. (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. Saraswati et al. 1978). Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme. A. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat. menghemat biaya pupuk. yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah. Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah. dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba). Fakultas Pertanian Unsri & . Bahan Ajar Online. Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya. (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman. Beberapa mikroorganisme seperti bakteri. dan meningkatkan pendapatan petani. Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.

kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam. MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. Program Pascasarjana. Indonesia. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N). Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut. Sumatera Selatan. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Cl-. Diposkan oleh Dr. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 (occluded P). Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Palembang.01-0. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. Indonesia. . dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-.2 mg/kg tanah.blogspot. umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai. unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut. Bukit Besar. Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk. yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit. Palembang. Sumatera Selatan. Program Magister (S2). (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Ir. pemupukan dan mineralisasi P-organik.atau CO32-. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak.com. Program Magister (S2). Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2. Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid. Bukit Besar. Palembang. bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman.Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. OH. Http://dasar2ilmutanah. Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis. Abdul Madjid.

Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah. nukleotida dan gula-gula fosfat. keseimbangan P dalam tanah terganggu. sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat. asam nukleat. pengembalian melalui residu tanamandan hewan. Sisa tanaman. Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Pada sistem pola tanam yang terbuka. Subba Rao. pemupukan. Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik. Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P. Siklus ini berulang terus menerus. 1997). yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark. Oleh karena itu. reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al. dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba. 1977).atau H2PO4-) diserap tanaman. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat. hewan dan mikroba . Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. fosfolipida. hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi.. Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah. Di alam. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut.Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman. karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik. Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu. Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah. Bila ion fosfat (HPO42. 1989). fosfor terdapat dalam dua bentuk. (b) imobilisasi P-tersedia. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. hewan dan organisme tanah. 1989.

aerasi. Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur. variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen.. nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas. 1. Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat. Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan. atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut.yang dikembalikan ke dalam tanah. menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. maka terjadi net mineralisasi ortofosfat. seperti nukleotida atau fosfolipida. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. aerasi. Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba. Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al. Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi. 1997). Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah. Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon. Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi. temperatur. yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. 1986). Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah . Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme. Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat. Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik. Selain kandungan fosfat dalam residu. Umumnya. 2. kelembaban. Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi. maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi. Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol.

Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi. Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4. Selain itu.2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam.+ OHCa(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ . H2PO42. Pada pH tanah agak masam hingga netral. Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var. Mn. pH tanah.+ 2H2O ----> FePO4. dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0. keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut. Nilai kritis C/P adalah 200.lebih mendominasi. pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7.ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P. dengan melepaskan fosfat. dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi. 1986). jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat.lebih mendominasi. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah. Al. yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1. dan PO43-. 2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-. Hal yang sama. Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat.lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43. Phosphaticum. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam. Al3+ + H2PO4. Mn. sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa. Pada kondisi tergenang. H2PO42-. hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya. Fe.+ 2H2O ----> AlPO4.----> Al(OH)2 H2PO4. Ion Fe. yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya. Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat. kalsium dan magnesium fosfat. dan Ca. besi. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat.2) H2PO42. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson. Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi. dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al.

MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman.com. pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion. Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman.blogspot. Abdul Madjid. Universitas Sriwijaya. Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun. Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat. yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. 3. Ir. Kandungan bahan organik tanah. Bukit Besar. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. 2007). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P. Program Magister (S2). Palembang. laktat. asetat. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah. Fe. Http://dasar2ilmutanah. Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah. Diposkan oleh Dr. A. 2009. Mn. selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi. selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital). Bahan Ajar Online. Sumatera . 2. Program Magister (S2). Program Pascasarjana.Didaerah rhizosfer. Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi. Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. suksinat yang dapat mengikat Al.

Sumatera Selatan. . Program Studi Ilmu Tanaman. berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai. (1996) dikenal 5 kelas fungi. Indonesia.5 juta (Hawksworth. Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im. yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru. Universitas Sriwijaya. Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat. 1995). tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman. 1991. Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman. kadang-kadang berkelompok membentuk miselium. yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah. yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes. miselium menghasilkan spora. Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5). Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya. Palembang.000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter. Universitas Sriwijaya. Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan. Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri (non-motile) disebut zygospora. Bukit Besar.. Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman. Program Magister (S2). Reproduksi secara seksual. membentuk spora dari fusi dua nukleus. Palembang. Indonesia. dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster.Selatan. Sekitar 70. 1970). ** Program Studi Ilmu Tanaman. Hawksworth et al. dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. Bukit Besar. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. (Bagian 3 dari 6 Tulisan) III. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. 2007). *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pasca Sarjana. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran. Indonesia..

baik berupa daun maupun kayu. beberapa diantaranya bersifat sparofit. 1993). dan pengendalian penyakit. Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal. dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik. seperti selulosa dan lignin dalam kayu. Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks. bagian bawah. Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung. organisme rhizosfer. Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow. 1992). dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah. Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat. siklus hara. Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah. 2007). Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. tidak peka. Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air. tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi). Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman. Bersama-sama dengan bakteri. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza.. 1993). Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah. fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. dan pengelolaan lahan. CO2 terhambat. Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik. (1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan. Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat. karbon dioksida. dan essensial . eksudat akar. fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya. Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. sebagai contoh . Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya. Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas. bagian tengah. fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah. menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah.Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat.

Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering. tanaman pangan. 1995). Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah. Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu. Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian. sayuran. tekstil. atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun. nitrogen. dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik. 1995). dan kulit (Hawksworth et al. Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman. 2007). Seperti bakteri. Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri. Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda. fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah. sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza. dan mungkin air) ke tanaman. Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza..flavus dan A. hara mikro. cat. (3) Patogen atau parasit. (2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus. Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya. Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun. Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. Selain itu. dan Rhizoctonia. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial. Namun demikian. Sebagai contoh A. udara.parasiticus yang menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat. .niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng. untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat. serta banyak dijumpai dalam tanah. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon. Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim. Fungi patogen akar seperti Verticillium. Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit. dan semak.dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. Phytium. contohnya A.

gandum. 5. terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez. Karbon dioksida dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung). Pada tanaman. Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase.. Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman. Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan.5. . dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang. nitrogen. Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson. 1983). Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman. Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im. Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al. diantaranya T. jaringan hewan dan tanah. Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya. 1999).harzianum dan T.5-9. Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan. Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras.koningii (merton dan Brotzman. Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi.2. tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam. Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa. termasuk manusia. 1986). Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon. dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol. jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe. Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida. Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga. 1968). Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0. tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam. Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin. hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat. selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer. 4. 1987). Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar. sel berbentuk seperti tabung (Perbedy. 1979). Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk.75-5x 2-6im. 1982). Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2. membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni. Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC. 3.

Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik.vitamin. Indonesia. MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. 2009. Sumatera Selatan. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Bukit Besar. Sumatera Selatan. Bukit Besar. Bahan Ajar Online. Indonesia. Palembang. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan.com.blogspot. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC. Indonesia. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Ir. Sumatera Selatan. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Magister (S2). Abdul Madjid. Http://dasar2ilmutanah. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. ** Program Studi Ilmu Tanaman. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Palembang. dan mineral lainnya. Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Universitas Sriwijaya. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH . Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Palembang. A. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Program Pasca Sarjana. Diposkan oleh Dr. Program Pascasrjana. Program Pasca Sarjana. Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman.

Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. asam amino dan asam fenolik. Trichoderma viridae. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah.. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. malat. harus mengandung 8 macam nutrisi. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. asetat. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. B. suksinat. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao. 2006). Arthrobacter. magnesium (Mg) sebesar 0. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono. Flavobacterium.14%. Penicillium sp. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp.rendah. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. Pseudomonas. Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis.04-0. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. 1994). polymixa.039-1. (3) tingkat dissosiasi asam organik. glikolat.0-40. dan Chaetomium sp. Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam. B.21% dan C/N ratio . Achromobacter.0-2. AlPO4. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). yaitu: karbon (C) sebesar 19. B. Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). kalium (K) sebesar 0. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P. nitrogen (N) sebesar 2.35%. subtilis..010. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. merupakan bentuk antara (transisi). B. jamur dan aktinomisetes. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah. Fusarium. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. khususnya fungi jenis Aspergillus niger. Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah. FePO4. megatherium. B. fosfor (P) sebesar 0. Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri. 2006). Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. sitrat. apatit. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. A. Penicillum. Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4. glukonat. Micrococus dan Mycobacterium. licheniformis. oksalat.0%. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. Schlerotium & Phialotobus. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. candidus. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting.5%. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. cereus. alfa ketoglutarat.

Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk. AlPO4. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. dan mesir. DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. dan 10 kali.3 kali..sebesar 9. yakni lebih dari 10 kali lipat. menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. Subba Rao. kanada. Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada . Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander. aktivitas penambatan N. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. 1982). japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Aspergillus sp. 1986).8 kali. margarita. Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul. 1967). Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah. 1980 . 1. (3) inokulasi R. Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30. (4) inokulasi R. (2) inokulasi R. dan FePO4.0-20% (Gaur. jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. A. 1957 . Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. 1977 . sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao. Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India. niger strain NHJ2 1 ml per biji. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P. Kundu dan Gaur. dan serapan N dan P. dan serapan N dan P berturut-turut 7. merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat. Hutami et al. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. 1978). japonicum.4 % dibandingkan kontrol. Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006). dan G. (2001). Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. aktivitas fiksasi N. Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut. niger. Lestari (1994). 8 kali. Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P.

tanaman apapun yang . (2000). Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak. Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38. fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2). sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P. uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat... Bogor. Trichoderma viridae. Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi). kandungan bahan organik rendah. dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3). dan Chaetomium sp.78 ppm (Baratha. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung. Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer. Aspergillus niger. Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Tanah ini memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1). Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4). harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut. Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal. 2004). Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia. Tanah ini terkenal sangat miskin. Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). Penicillium sp. Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa. Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. dan kapasitas tukar kationnya rendah.. Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0). Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al. Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al. T. Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar. Tiap kombinasi diulang tiga kali. Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan. scwanniomycetes occidentalis. 2000). bahan organik. dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar.media tumbuh GAGES dan GES. kab. Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41. Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat. Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat. 42. Pennicillium digitatum. Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). aspergillus niger. Selain daripada itu T.

MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol. Universitas Sriwijaya.ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. Bukit Besar. Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali. 2009. Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba. Indonesia. Abdul Madjid. dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. Perlakuan keempat dengan menambahkan T. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. Sumatera Selatan. (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia. Bukit Besar. Indonesia. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain. Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Diposkan oleh Dr. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah.Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.com. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. Namun demikian. Http://dasar2ilmutanah. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup. Bahan Ajar Online. A. Palembang. Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang). Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal. Program Magister (S2).Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan.blogspot. . Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal. Palembang. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Pasca Sarjana. Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. Palembang. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Sumatera Selatan. Bukit Besar. Program Studi Ilmu Tanaman. Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal.

Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah. pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia.11. sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya.130. R. biakan kering beku. dapat digunakan bahan organik seperti gambut.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif. Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. dan tepung. biakan cair. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit. selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. tanah. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak. Indonesia. sekam. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji. dan kompos. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. atau ketempat pengomposan. pelarut. arang.Sumatera Selatan. 2008). Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung. Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar. vermikulit. memperbaiki struktur tanah. Di Indonesia. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe. mempercepat proses pengomposan. mikroorganisme telah lama dimanfaatkan. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya. atau zeolit. menekan soil-borne disease. Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. Namun.760. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan. Namun. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). artinya mikroorganisme yang . sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman. menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat. biakan kering. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi. dan juga pada minuman. disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam.

sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. dan Ca. baik berupa bakteri maupun jamur. sitrat. Selain itu.Suatu teknologi . Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba. Propionat. Fe-. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase.terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. kematian mikroorganisme dapat dikurangi. glikolat. perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. tetapkan kelembapan bahan pembawa. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah. Stase. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. jenis. karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe. Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. Di Indonesia. maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. fumarat. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. tanggal kadaluwarsa. Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. Dengan mempertahankan kelembaban. Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. Pada pengujian pupuk mikroba. oksalat. sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Mn-. sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. laktat. 2008). Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan. 2008). Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-. dan ketoglutarat. lartrat. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe. seta jenis tanaman yang cocok. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun. sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. Mulai tahun 2004. suksinat. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. cara penyimpanan. 2008).

32% dan 16% pada padi. Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28.iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar.5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi. BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan.78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P. dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai.irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM).0. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya. Aspergillus niger NHJ2.56 ug/m! (pH 6. dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman.28 ugfrnl (pH 2. Sehingga dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia. dan meningkatkan serapan P tanaman. Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman.9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2. dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya.59%).65) hingga 147.ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%. bobol kering tanaman. tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P. jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%. serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos. Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0. Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea. . Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale.0.pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171. Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba. 50 kg/ha SP36.47) hingga 394. Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I). Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P. Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan. dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12. dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp.0. serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya. Grt 3. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P.0. 50 kg P.60 ug/ml (pH 4./ha (23. memobilisasi. Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah. bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman. Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya. mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman.85ug/ml (pH 5. mikoriza. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P. yaitu mikroba pelarut fosfat.1). yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi.

khususnya isolat fungi. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. 7. 2. 4. Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. Buat medium agar Pikovskaya. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. Ulangi langkah di atas secukupnya. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. 5. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. AlPO4 tidak larut dalam air. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. Konsentrasi fosfat. antara lain: 1. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. 6. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. 3. 8. – 8. – 6 s/d 10 ext. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. -4. Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain.Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. dan Vlek (1996). Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. minimal duplo. Moawad. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh . dan actinomicetes. Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah. bakteri.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam.

Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. (2000). 3. Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik. bakteri. dkk. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. (Goenadi. efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. 4. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan 12 bulan (Goenadi et al. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis.. Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal. Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat. dan aktinomicetes. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. A. Misalnya. 2000). Kecepatan pertumbuhan mikroba. sehingga dapat diserap tanaman. Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas. mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah. Ketebalan agar. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman.. fosfatase. Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE. PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas . 1995).2. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Melalui aplikasi pupuk hayati. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah. . Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al. misalnya: fungi. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. Goenadi et al. mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi. 1995).

dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman. dkk. penambat nitrogen bebas.PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah. bobot kering bibit. Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun. B. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian. Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan. Hasil percobaana Goenadi. kedelai. dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh Dosis dan kandungan mikroba . dan volume akar. menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk. (1997). ketersediaan hara di dalam tanah.

pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. dan serapan N dan P berturut-turut 7. jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. (2) inokulasi R. Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. 2000).8 kali. Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol.5. dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P. 1. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108. diameter batang. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar. dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. niger strain NHJ2 1 ml per biji. 100 kg SP-36/ha. serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh. simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam. dan serapan N dan P. A. dan 10 kali. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha).Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha. bobot kering akar.209 me/100g). bobot kering total. niger.96. 8 kali. (3) inokulasi R. serapan N dan P tanaman. Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia. C. MK 1999. jumlah polong isi. Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. Rata-rata bobot kering tanaman. Al-dd 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. aktivitas fiksasi N. tinggi tanaman. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). dan G. pH 3. dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria). Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk. (4) inokulasi R. dosis anjuran 50 kg Urea/ha. Rhizobium 108-109. jumlah bintil akar. 50 kg KCl).3 kali. MK 1997. margarita. Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor. . (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. japonicum. dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran. aktivitas penambatan N.

Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr. Mn = 0. Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI). Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum.85 ppm . Lactobacillus sp6. Azotobacter.Lukman Gunarto MSc. serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya. yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini.92 % . Migro Plus Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru. Fe = 44. Pseudomonas spp = 34.04 % . yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal. mikroba pelarut P. C organik = 0. Azospirilum sp4. yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien. N = 0. Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini . mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Pb. Zn = 3. Mikroba Pendegradasi Selulose5. Cd dan Mikroba Patogen. Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1. K = 1700 ppm .D.7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman. Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan. Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan). suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. Cu = 0. Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%.Ir.70 ppm .3 ppm . Hg.23 ppm . Mikroba pelarut fosfat3. Lactobacillus. Azobacter sp2. dan mikroba pendegrasi selulosa. Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien. Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E.

Azotobacter sp. Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. populasi mikroba untuk menambatkan N. Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru. Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah. Lactobacillus sp. P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut. penambat Nitrogen dari udara. P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL. menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. probiotik MiG ternak. dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik. bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami. sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. Menurut penelitian Dr. karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. Hasil dari pendegradasian tersebut. 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. sampai ke tangan konsumen lebih terjamin. sehingga keaslian produk MiG corp. dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan. melepaskan P yang terikat di dalam tanah. Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. daun-daun atau bahan-bahan organik lain. Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya.adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik. Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit). akan mendapatkan K dan unsur lain. ada yang berfungsi sebagai penambat N. apabila . kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. mikroba pelarut P. sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan. yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS. mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen. dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. Lukman Gunarto. yaitu unsur fisik (bajak/cangkul). Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup. unsur N. Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia. Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. pembentukan anakan dan primordial. juga terdapat mikroba Pseudomonas sp.

telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian.penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia.com. rusak atau mati. Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Ir. Tidak masalah. Bukit Besar. Bahan Ajar Online. Fusarium. A. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. candidus. Penicillum. Universitas Sriwijaya. Palembang. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Abdul Madjid. Malahan tanaman menjadi semakin subur. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. 2009. Diposkan oleh Dr. Indonesia.blogspot. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu. Sumatera Selatan. A. Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. (2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger. Program Pasca Sarjana. (Bagian 6 dari 6 tulisan) VI. Bukit Besar. Sedangkan dari golongan . MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. http://dasar2ilmutanah. Palembang. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Caranya sangat mudah. Sumatera Selatan. apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit. Schlerotium & Phialotobus. Program Pascasarjana. Sumatera Selatan. dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Palembang. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman.

1993. Communities of P-solubilizing bacteria. Blackwell. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem. P. Trichoderma viridae. Pennicillium digitatum.php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 . D. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dickinson. 13 : 749-752. Premono dan R. London. R. Inc. Orivaldo J. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae. J. 1982. R. Eduardo F. and M. D. DAFTAR PUSTAKA Anas. M. Saggin. Buresh. I. In. 1992.J. Canadian. 1997. and Schweizer.. 51. G. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec..W.J. J. J. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. J. VII.scielo. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat. P. Chonkar and Subba rao. Buresh et al. Eliane M... (4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. M. SSSA. Publ. Mims. Madison. and Wicklow. Penicillium sp. C. Dix. Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam.. scwanniomycetes occidentalis.C. Edson L. Philadelphia. fungi and arbuscular mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty. 2006. 1967. Baniks. New York. Introductory Mycology (4th Ed).C. J.. Pusat Antar Universitas IPB.R.aktinomisetes adalah Streptomyces sp. aspergillus niger. Dhandhun Baratha. and Webster. 1999.W. L. Chapman & Hall. E.. 868p.br/scielo. 1-44 pp. Microbial. S. John Wiley and Sons. Widyastuti. Alexopoulos. dan Chaetomium sp. 334-337. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. WI. Bogor. 1996.. C. Smithson. 1995. Aspergillus niger. 2004. PA. New York. Souchie. and Hellums. http://www.C. Fungal Ecology.J. Rosario Azcón Jose M. Carroll. 111-149. R. S. (eds). Campello.T. N.T.. RJ – Brazil. Marcel Deker. Plant soil 60 : 353-364. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism. Barea. Building soil phospharus capital in Africa. USA. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P.

297-312.K.W and Mrak.. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia. 616p.L. A. Cambridge. Sutton. H. Inc. Frankland. Watling.. Fusarium Species: Their biology and toxicology. N. Merton.J. Riyanti. R. Cambridge University Press. 1968. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. E. Sunarlim. The Pennsylvania state University Press. 588 pp. Jenis pupuk P.. 1979.M. 1983. B. University of Missouri Columbia Extension Division. Puslittanak. Plenum Press. 83-123 pp.Z. J. Hutami. Jakarta (Indonesia). CAB International. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung. Hawksworth. Maningsih. Goenadi. 1993.com/jayenterprises/fertilizers. 1994.E. S. USA. Bogor. 2000. Inc. 641-655. 14 : 31-36. In. peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah. 1997. and Whalley. Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed. Soil Science Society of America Journal 64:927932. A.. 1986. N and J. Lestari.C. Paul. Badan Litbang pertanian. U. Skripsi.G. The life of yeast. Wallingford. Mass.E. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. Nelson. E. 2000. S. Y. Fakultas Pertanian. D.. Pennicilium and Acremonium. 204 pp. New York. 1996. Mycology research 95. D.A dan Clark. Isaac. P. Cadisch (eds). D. Institut Pertanian Bogor. Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review.. F. F and Brotzman.J.S. Giller and G. University Park. CAB International. Aspects of tropical mycology. and Pegler. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification. Miller.. John Willey & Sons. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press. Anas.. K. Columbia. Cambridge.L. D.indiamart. New York. significance and conservation. the fungal dimension of biodiversity: magnitude. Perbedy.)..N. Missouri. E. 1995. Bogor (Indonesia). 23-30. R. J.C. United Kingdom. P. McColl.Fertilizer [Biosol-P] www. Hawksworth. Driven by nature p. Siswanto and Sugiarto. Bio .E. 1989. M. 1991.html Joffe.H. Saraswati.M. G dan I. . 193 pp. H. 1987. New York.I. P. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey.F. Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus. Harvard university Press.Gressel. Phaff. Kirk.

sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua . Sekilas Pupuk Hayati. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. New Delhi.ugm. 1982. Abdul Madjid.id/] Diposkan oleh Dr. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. [http://nasih. Program Pascasarjana. Indonesia. 1977. Fosfor (P). E. 1986. Disertasi. Palembang. Namun. phosporus. J. Program Pasca Sarjana. Hara N tersedia melimpah di udara. F. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Institut Pertanian Bogor.S.Premono. N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. 2008. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster. nitrogen. Cambridge. 202-204. Jasad Renik Pelarut Fosfat. 380 p. Ir. Universitas Gadjah Mada. New York. Soil Microorganism and Plant Growth. Tombe. Stevenson. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Elsevier biomedical press. Subba Rao. 2006. yaitu Nitrogen (N). Introduction to fungi. Yuwono. Cambridge university Press. manual and atlas of pennicillia. 1994. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. Universitas Sriwijaya. Pupuk Hayati.J. N. N. Program Studi Ilmu Tanaman. Bogor. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. micronutrients. M. Tiga unsur hara penting tanaman.ac. Palembang. John Willey & Sons. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. M. Ramirez. Program Studi Ilmu Tanaman. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2. Cycles of soil carbon. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja. Oxford and IBH Publishing Co. sulphur. W. Indonesia.staff. New York. 1970. C. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). I.

Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Namun. Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer.jenis tanaman. Penicillium sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. infeksi ini . Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya. yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P. antara lain: Aspergillus sp. karena terikat pada mineral liat tanah. 2008). Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li. jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan.

Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. 2006). Archaeospora. karet. kruing. 1997). sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. Dilain pihak. hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq.antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. kesehatan dan produktivitas tanaman. Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur . cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. Paraglomus. CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. lapisan hifa pada permukaan akar tipis. mangga. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. mempening (jenisjenis Fagaceae). Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. kelapa sawit. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. padi. jenis rumput-rumputan. mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1. Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan. famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. pinus. rambutrambut akar tidak ada. Ektomikoriza 2. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. dll. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks. Hifa memasuki sel kortek akar. Ektendomikoriza 3. kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza). adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett. Gigaspora dan Scutellospora. hingga pohon rambutan. hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. membentuk chlamydospores (Morton. 2004). Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). Entrophospora. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. pasang. 2003). Acaulospora. misalnya jenis-jenis meranti. mulai dari paku-pakuan. bercabang.

Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza.khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. 1. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. bawang. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. karet. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. vesikel (vesicle) dan spora. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. 2004). padi gogo. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. palem. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. . vesikel intraseluler. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. 2004). 1998). Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). singkong dan sorgum. kopi. selada. apel dan anggur (Rahmawati. kacang tunggak. barley. kakao. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. harus diamati dibawah mikroskop. 2003). Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. nenas. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. kebanyakan berbentuk bulat telur. merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. tembakau. akan tetapi belum berhasil. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. teh. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. pepaya. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. jeruk. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. kapas.

CMA sekarang menjadi filum tersendiri. 2. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. 2004). 1981). Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. pembentukan organ baru. Schubler et al. yang memiliki perbedaan tegas. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. Dengan bertambahnya umur. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. Mirip dengan cendawan patogen. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular.sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. 1981). Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. 3. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. 2004). Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. 2) . Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. pembengkokan inti sel. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Arbuskul berperan dua arah. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu.

Geosiphon. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. 2002). Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. (Sagin Junior & Da Silva. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Gigaspora. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Walaupun demikian. Kuklospora. tanaman inang. Oleh karena itu. 1991). seperti agregasi dan stabilisasi tanah. Diversisporaceae. Acaulospora. Gigaspora-ceae. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. kepadatan propagula. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Scutellospora. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. . serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Entrophospora. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Diversipora. 2006). Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Intraspora.. dan Glomus sp. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Pacispora. Paraglomus.Paraglomerales (famili Para-glomerace). 2006).

(2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. 1981). Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air . Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. saat kelembapan air rendah. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. Vesser et al. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA.pada tengah hari. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA.. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. logam berat dan fungisida. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. kadar air tanah. hal ini menguntungkan. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. bahan organik tanah. tanah.II. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. 1981). pH. Untuk daerah tropika basah.

Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. alumunium dan mangan. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. 1997). Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. 1997). Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. 1981). Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap . Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Serasah tersebut mengandung hifa.. klor.meningkat (Rotwell. air dan udara. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. 1997). Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. 1984). Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya.

Plantavax.terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. 1995). 1997). Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. fungisida Agrosan. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. 1984 dalam Anas. Benlate. 1982 dalam Anas. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. 1981). 1984). Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. Al. 1997).. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. 1998). Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. dicirikan oleh keragaman . Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). dan Na yang tinggi (Mosse. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata.

Sawahlunto Sijunjung. P. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. Untuk tanaman manggis. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. 1996). Pada tanaman pisang. Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. cropping sistem. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. 1 9% (Gededda et al. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. ameliorasi dengan bahan organik. karena perubahan spesies tanaman. 2002). Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. 1984). Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. jumlah bahan organik yang dihasilkan. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. 2005). pembakaran. 1995). Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller.04 menjadi 0. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Dalam budidaya tradisional. .spesies yang sangat tinggi. 1996). K. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. unsur hara dan struktur tanah. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N.

kekeringan. sedangkan inokulasi G. 1997). . 2006). bobot kering tajuk. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. serta patogen akar. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. 8 dan 28 MST.7% dan 4. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Selain daripada membentuk hifa internal. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. jumlah daun pada umur 4. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Di dalam arbuskul.7% dibandingkan dengan kontrol. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat.2% dibandingkan dengan kontrol.5% dibandingkan dengan kontrol. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G.Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST.masing sebesar 5. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. sedangkan inokulasi G. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. 1997). Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. G. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. III. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam.

dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Cu. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Selain itu. salinitas. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. Setelah periode kekurangan air (water stress). pemadatan. keasaman. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori . Fe. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. 1997). serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. 3) melindungi dari herbisida. Zn. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Dengan adanya CMA. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al.2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. Zn dan Cu meningkat. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Pada kedelei. dan Zn). Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. 2006).

3. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. Infeksi patogen akar terhambat. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. 2. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah.1997). 1994). atau lahan terpolusi lainnya. K dan S. 4. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Dilain pihak. 1994). 2. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat . sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. tailing tambang batubara. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang.tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar.

Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. 4. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. 1981). 3. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. dan giberalin. 40% kebutuhan nitrogen. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. Jika terhadap jasad renik berguna. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. 1997). .. Pada tanaman tertentu.usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. 2000). Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. sitokinin dan giberalin. 1981 dalam Husin dan Marlis. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. 1997). Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. citokinin. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. patogen akar. 1993). Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. Interaksi sebenarnya antara CMA. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk.

Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Perbaikan Struktur Tanah. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik.. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. 2002). Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa.Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. 2002).. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Bila ini benar. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. 1997). "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. tapi juga bagi tanah. 5. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara . Menurut Hakim. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro.

Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. phosphor bebas dan mineral. Magnesium (Mg++). 1999). lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. japonicum. Seng (Zn++).2. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P.5. Prihastuti et al. namun . Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA.50–90.. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis.tanah. yaitu mencapai 70.6 hexakisphospat). hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. 2002). Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. dan protein. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. 6. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. khususnya pada tanah yang miskin P. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting.33%. Phytat adalah senyawa phospat komplek. B. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++).cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. setelah didahului dengan proses infeksi akar. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. Besi (Fe++). yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa.3.4. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif.

pH. . baik secara langsung maupun tidak langsung. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. 6. temperatur. 1994). Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan.sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis).BK. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. kadar air. tipe perakaran tanaman inang. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). tanaman bermikoriza . Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. adanya asosiasi ini. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. 3. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. baik untuk tanaman pangan. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. spesies cendawan. 1995). tanaman tanpa mikoriza) / BK. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. 2004). cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. tanaman inang. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. 2006). Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. 1997). Bagi tanaman inang. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. Secara tidak langsung. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Sedangkan secara langsung. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. 1987). perkebunan. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley.

Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. kejenuhan Al tinggi. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan.7. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. Kalimantan. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza.. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya.98 g biji/tanaman. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air.13 mg P/tanaman menjadi 2. dan hasil kedelai meningkat dari 2. . Disamping untuk tanaman pangan.66 mg P/tanaman. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. miskin hara dan bahan organik. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). infiltrasi air hujan rendah.18 mg P/tanaman menjadi 2. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. 1997).02 g biji/tanaman menjadi 5. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan.. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0.1. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Sulawesi dan pulau besar lainnya.13 g biji/tanaman. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas.1997).84 g biji/tanaman menjadi 5. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0.15 mg P/tanaman.

Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar

logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005). Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007), tentang peranan mikoriza pada tanaman jati,

69. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman.66 % .90 %. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa .11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi".65 %.5 ppm. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. 8. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter.67. Dengan teknologi mikoriza. Selain itu. sebesar 38. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare.misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar.76 % -21. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . dengan kadar P tersedia "rendah" . Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27.71. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Tujuannya. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol.80 % . Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. Peningkatan kadar P nira.40. 2008). Untuk mewujudkan harapannya.72 ppm dan tanah Inceptisol." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun.. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak. telah mencapai sekitar 10 sentimeter.15 %.84 % . Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya.

Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. 2. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam.campuran tanah. 6. Manfaat 1. 3. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. Dalam rangka pelaksanaan program ini. diaduk merata. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. Tanaman inang dapat berupa jagung. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. telah diberikan Asosiasi . 3. selain untuk meratakan hasil. 5. bedeng tersebut dapat digunakan. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. spora dan akar terinfeksi. sorgum atau pueraria.Lima hari kemudian. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. 4. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. 2008). diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering.

Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus.7 sentimeter. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. mampu menambah daya tahan akar tanaman. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. (2)Saprophitik. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Ir. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. Untuk membuat tablet. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Di IPB. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. yaitu: (1)Parasitik. MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu.Mycorrhizal Indonesia. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Setelah teruji kemurniannya. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. (3) menggunakan miselia cendawan. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan penyakit pada akar tanaman. Kalimantan. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. satu tablet untuk satu bibit. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain. Dalam teknik pemberian mikoriza. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. seperti: penyakit bercak akar kapas. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari . Setelah itu pil dipecah-pecah. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Tablet ini dibuat dari cendawan. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. Diposkan oleh Dr. Abdul Madjid. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. Aturan pakainya sederhana. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar.

yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. Arachnida (lebah. dan (3)Ektendomycorhiza. Chilopoda (kelabang).akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. dan (b)Nematoda. (2)Ektomycorhiza. flagelata. (4)dll Diposkan oleh Dr. (d)Moluska. Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar. Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. (2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. jangkrik. Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. kutu. dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. dan rayap). seperti: omnivorous dan Predaceus. semut. dan kalajengking)dan Insekta (belalang. yaitu: (1) Makro Fauna. dan ciliata. Flora Tanah . seperti: amoeba. seperti: Mycorhiza atau jamur akar. Diplopoda (kaki seribu). Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas. yaitu: (1)Endomycorhiza. (b) cacing tanah. (3)Simbiotik. (2)Glomus. Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora.dekomposisi bahan organik tanah. MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. Abdul Madjid. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah). (c) Arthropoda. (3)Acaulospora. Ir.

000 bakteri per gram tanah. dan (d) algae. Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. (b) fungi. dan (3) Mikrobia. Aspergillus. 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme. . yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah. dll. dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF). Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas. Abdul Madjid. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0. Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF). Ir. yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. (2) Mikro Flora.2 mm. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere. Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB).Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. (c) actinomycetes. Bacillus. dll. yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop. terdiri dari: (a) bakteri. yaitu: (1) Makrobia.2 mm s/d 10 mm. Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. Diposkan oleh Dr. Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa. Selain itu. Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil. bahwa berdasarkan ukuran. Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah yang subur melebihi 100. yaitu: (1) Makro Flora. organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga. menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology. (2) Mesobia.

Ir. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis. dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah. Abdul Madjid.net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr.Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat. yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik. MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) .