P. 1
biologi_tanah

biologi_tanah

|Views: 67|Likes:
Published by Yuliani Afitasari

More info:

Published by: Yuliani Afitasari on Jun 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/17/2014

pdf

text

original

Sections

  • 1.1. Pupuk Hayati
  • 1.2. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF)
  • 1.3 Senyawa Fosfat Tanah
  • 1.4 Peranan Fosfat pada Tanaman
  • 2.1. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P
  • 2.2. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman
  • 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri
  • 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi
  • 3.3. Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat
  • 4. Trichoderma
  • 5. Perbaikan Struktur Tanah
  • 6. Meningkatkan Serapan Hara P
  • 7.1. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang
  • 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi

PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang

pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe :

1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998). Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Gramineae dan

kacang tunggak. 2. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. kopi. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. 2004). kapas. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. 1. Arbuskul berperan dua arah. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. pembengkokan inti sel. singkong dan sorgum. apel dan anggur (Rahmawati. palem. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. akan tetapi belum berhasil. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). jeruk. pembentukan organ baru. vesikel (vesicle) dan spora. kakao. padi gogo. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. selada. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. tembakau. kebanyakan berbentuk bulat telur. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. nenas. barley. . 2003). Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang.Leguminosa umumnya bermikoriza. pepaya. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. 2004). teh. bawang. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. 2004). Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. karet. 2004). Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai.

1981). dan Glomus sp. Scutellospora.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Geosiphon. Gigaspora. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. Schubler et al. 3. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. 2006). (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Kuklospora. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Acaulospora. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. . Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis.Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. 1981). seperti agregasi dan stabilisasi tanah. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Diversipora. Walaupun demikian. Diversisporaceae. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Oleh karena itu. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. yang memiliki perbedaan tegas. Entrophospora. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Mirip dengan cendawan patogen. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. Intraspora. Gigaspora-ceae. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Dengan bertambahnya umur. Paraglomus. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. Pacispora.

Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 2002). Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Program Pascasarjana. Http://dasar2ilmutanah. Abdul Madjid. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. tanaman inang.blogspot. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. (Sagin Junior & Da Silva. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. .com. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. A. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. Propinsi Sumatera Selatan. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. 2009. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. 2006). Bahan Ajar Online. kepadatan propagula. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Indonesia. Indonesia. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Program Pascasarjana. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Diposkan oleh Dr. Universitas Sriwijaya. Palembang.CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman.. Program Magister (S2). 1991). Palembang.

Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. 1981). Faktor-faktor tersebut antar lain suhu.pada tengah hari. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman . tanah. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. 1981). Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). pH. kadar air tanah. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA.. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. bahan organik tanah. Palembang.** Program Studi Ilmu Tanaman. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. Palembang. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. logam berat dan fungisida. hal ini menguntungkan. saat kelembapan air rendah. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. Vesser et al. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Untuk daerah tropika basah. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. Program Magister (S2). penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman.

Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal . Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. 1981). Serasah tersebut mengandung hifa. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya.ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. air dan udara. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. 1997). Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. 1997). perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. 1984).

meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2.yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Plantavax. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. alumunium dan mangan. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. 1982 dalam Anas. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. fungisida Agrosan. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. Al. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan.. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Benlate. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. 1997). 1997). Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. klor. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. Pemakaian fungisida menjadi dilematis.. 1981). Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). 1984). Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. dan Na yang tinggi (Mosse. 1997). Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Cendawan pada umumnya . 1984 dalam Anas. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman.

04 menjadi 0. 1995). 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. jumlah bahan organik yang dihasilkan. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. Dalam budidaya tradisional. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. . 1996). karena perubahan spesies tanaman. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). 1995). Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. unsur hara dan struktur tanah. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. cropping sistem. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. 2005). Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. 1984). Penelitian McGonigle dan Miller (1993). Pada tanaman pisang. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. 1998). Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah.memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. P. 1 9% (Gededda et al. K. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. ameliorasi dengan bahan organik. pembakaran.

Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya.masing sebesar 5. Propinsi Sumatera Selatan. Sawahlunto Sijunjung.7% dan 4. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. Program Magister (S2). jumlah daun pada umur 4. Program Magister (S2). Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. Indonesia. 2002). 2009. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Palembang.blogspot. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Program Magister (S2). Abdul Madjid. Program Pascasarjana. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Untuk tanaman manggis. Program Pasca Sarjana. Indonesia. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Palembang. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. A. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. Http://dasar2ilmutanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. 1996). ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Palembang. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37.Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Palembang. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. bobot kering tajuk. Program Pasca Sarjana. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran.5% dibandingkan dengan kontrol. sedangkan inokulasi G. sedangkan inokulasi G. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. G. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. Diposkan oleh Dr.com. Bahan Ajar Online. Indonesia. 8 dan 28 MST. . Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. Program Magister (S2).2% dibandingkan dengan kontrol.7% dibandingkan dengan kontrol.

dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke . Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. Cu. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. serta patogen akar. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. keasaman. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. 2006). Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. salinitas. Selain daripada membentuk hifa internal. Fe. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. 1997). Di dalam arbuskul. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. 1997). kekeringan. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. Selain itu. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. dan Zn). Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara.(Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Zn. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. pemadatan. 3) melindungi dari herbisida. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al.

penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. 2006). infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. 1994). Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. 1997). Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Setelah periode kekurangan air (water stress). Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Dengan adanya CMA. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Pada kedelei. Zn dan Cu meningkat. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. K dan S.tanaman inang. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya . Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan.

Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. Jika terhadap jasad renik berguna. Infeksi patogen akar terhambat. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. 2. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza.1997). Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Interaksi . Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. atau lahan terpolusi lainnya.. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. 2. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. 3. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. tailing tambang batubara. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. 4. 1993).simpan air kecil. Dilain pihak. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. 1994).

citokinin. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. 40% kebutuhan nitrogen. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi . Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. Pada tanaman tertentu. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. sitokinin dan giberalin. 1981 dalam Husin dan Marlis. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. dan giberalin. 3. 1997). yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. Bila ini benar. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai.sebenarnya antara CMA. 4. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. 1997). Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. patogen akar. 1981). sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. Perbaikan Struktur Tanah. 5. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. 2000). 1997). Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan.

2002). akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. 2002). namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar.. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme.agregat mikro. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Menurut Hakim. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah.. tapi juga bagi tanah. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. . sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida.

Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). 1997). Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. 2002). Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas . Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. Prihastuti et al. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. 1987). Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. Secara alami mikoriza terdapat secara luas.6. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi.6 hexakisphospat). Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. dan protein.3.33%. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. Seng (Zn++). phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. Magnesium (Mg++). Besi (Fe++). Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. yaitu mencapai 70. 2006). Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). phosphor bebas dan mineral. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). khususnya pada tanah yang miskin P. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif.5. setelah didahului dengan proses infeksi akar.2. japonicum.4.50–90. Phytat adalah senyawa phospat komplek.. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. B. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. 1999). hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P.

Sedangkan secara langsung. Bagi tanaman inang.BK. tanaman inang. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. . cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. 1995). tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. 3. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. 7. temperatur. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. tanaman bermikoriza . 2004). baik untuk tanaman pangan. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. Secara tidak langsung. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. miskin hara dan bahan organik. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. Kalimantan.1. tipe perakaran tanaman inang. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. 1994). adanya asosiasi ini. Sulawesi dan pulau besar lainnya. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). pH. 6. baik secara langsung maupun tidak langsung. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham.tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. tanaman tanpa mikoriza) / BK. spesies cendawan. kadar air. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. perkebunan. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar.

15 mg P/tanaman. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat.13 mg P/tanaman menjadi 2.84 g biji/tanaman menjadi 5. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. dan hasil kedelai meningkat dari 2. net fotosintesis. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat.18 mg P/tanaman menjadi 2. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut.66 mg P/tanaman. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. infiltrasi air hujan rendah. 1996) dan pepaya (Cruz et al. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya.. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. serta serapan hara NPK. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam . Disamping untuk tanaman pangan. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ).. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang.13 g biji/tanaman. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz.kejenuhan Al tinggi. 1997). sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0.1997). tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian.98 g biji/tanaman.02 g biji/tanaman menjadi 5. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan.

Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik. 1995 dalam Aggangan et al. tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun. terhidar dari plasmolisis. Dalam kondisi salinitas tinggi. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar. meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. 7. Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. et al. 2000). karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 1994). meningkatnya tekanan osmotik. Zn dan Cu (Al-Kariki. karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang . Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat. Peneliti lain. karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. 2000). Namun demikian. Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. 1994 dan Tam. Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. 2001). kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. 3. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri.jaringan dan transpirasi yang lebih besar.

Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut. (2001) menunjukkan bahwa P. Oliveira et al. 12 diantaranya bermikoriza. sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Menurut Wachjar et al (2002). 2000). maka laju penurunan hasil clover meningkat.berbeda. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover. juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan. tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. mempercepat umur berbunga tanaman jagung. . Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. meningkatkan N tanah setelah percobaan. ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. efisiensi penyerapan P. 1993). Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman. dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun. Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya).. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan. zat yang melarutkan PAH. bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti..

Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. produktivitas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S. berharap jati muna yang telah .tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. sulit dan cukup mahal transportasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007).S. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007). Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Selain itu. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar. dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm. Dengan teknologi mikoriza. karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. 2005). Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto. baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis. tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare.

mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al.5 ppm. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. Tujuannya. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. Untuk mewujudkan harapannya.. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. selain untuk meratakan hasil. sebesar 38. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. Peningkatan kadar P nira. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik.40. 2.72 ppm dan tanah Inceptisol.71. Inokulasi . 2008). Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. 8. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara.67. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi".66 % . dengan kadar P tersedia "rendah" .65 %. spora dan akar terinfeksi. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. 3. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2.84 % . Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. bedeng tersebut dapat digunakan.90 %.80 % .dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan.76 % -21. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27.Lima hari kemudian. diaduk merata. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. 69.15 %. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N.

5. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. Tanaman inang dapat berupa jagung. 4. 3. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan. sorgum atau pueraria. Dalam rangka pelaksanaan program ini. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. Dalam teknik pemberian mikoriza. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. Manfaat 1. 2008). Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. .Pada tiap lubang yang dibuat. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. 6.

dan Nitrogen (N) 75%.ah takaran 1. Dengan demikian. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza . biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu.50. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan.Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. 2008) . 1. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Tablet ini dibuat dari cendawan. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. Aturan pakainya sederhana. satu tablet untuk satu bibit. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman.00. Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2. 1. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Sebagai pembanding. sampai 230%. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus.00 gram. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Setelah teruji kemurniannya. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0.M. Untuk membuat tablet. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat. Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. 1. Kalimantan. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman.00. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Di IPB.00 gram. dan di kebun percobaan kampus Dermaga.7 sentimeter.J. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. Kalium (K) bertambah 86%. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. Setelah itu pil dipecah-pecah. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil.500 dan 2. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain.00 gram (Hardiatmi S. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri.50 dan 2.

TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut. . daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). Indonesia.com. Program Studi Ilmu Tanaman.Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Pascasarjana. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. Bahan Ajar Online. Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik. Ir. MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. Program Pasca Sarjana. penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah. Universitas Sriwijaya. A. Abdul Madjid. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana.blogspot. peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Palembang. Program Magister (S2). Palembang. Program Magister (S2). Indonesia. Diposkan oleh Dr. Universitas Sriwijaya. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Palembang. Palembang. 2009. pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. Indonesia.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza. 4. Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek. Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a. Rhiphosant. perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan. virus. Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri. perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal. Kawasan PUSPIPTEK Serpong. ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------Coklat (kakao) .Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman.1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman. kehutanan. Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat. pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas. Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1).4-13%). Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. Kamizae. Tabel 1. b. OST dan Simbionriza. sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong. jamur yang bersifat patogen.

64 35. Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan.14 Dengan Mikoriza 43.12 Dengan Mikoriza 48.50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32.44 Dengan Mikoriza 28. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan . Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman. Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan). Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman. d. menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman. 4. Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan.28 34.Tanpa Mikoriza 28.2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20.50 33. Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem. Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza.70 ------------------------------------------------------------------c. Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal.70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18.000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung. Bali. Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah. Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media. seperti terlihat pada gambar 2 dan 3.

Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0.M. 4. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus.S. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. dan Nitrogen (N) 75%. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman.pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air. Setelah itu pil dipecah-pecah. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Selain P. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. satu tablet untuk satu bibit. Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Kalimantan. Di IPB. Tablet ini dibuat dari cendawan. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Empat bulan kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir . Setelah teruji kemurniannya. 2008). Untuk membuat tablet. Dengan demikian. javanica.3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. 4. sampai 230%. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya.7 sentimeter.4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Kalium (K) bertambah 86%. Aturan pakainya sederhana. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya.

000 spora. Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia. (2) Mempermudah penanganannya.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak. Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target .dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam. tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang. Apabila dikemas dalam bentuk tablet. Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza. Sebelum digunakan. (3) Dapat di produksi secara khusus. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus. setiap kapsul dibutuhkan 0. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai. Pada praktek sebelumnya. (3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya. Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri. pH tanahnya sangat bervariasi.000 kapsul. Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus. (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00. akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya. berarti dibutuhkan 500 g carrier. misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1. sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna.5 g carrier. Setelah itu. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman.000 spora secara merata. Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah. 4. Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan.

2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Nitrosomonas.D. Sinorhizobium. Clostridium pasterianum.luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia. Bacillus. Mikrococcus. Nostoc muscorum. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii. pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar. (pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat. Azzospirillum lipoverum. Nitrobacter. Beijerinckie. Ankia alni. Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit. Azospirillium. (Organic soil treatment) Agrobacterium.M. Lactobacillus spp. Aeromonas punctata. Rhizobium. Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium. protein dan humus aktif Biota Bacillus spp. Anabaena azollae OST Azotobacter. R. Azotobacter. Tabel 3.

2009. serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. Palembang. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. I. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Palembang. Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. Diposkan oleh Dr. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi. A. Indonesia. 1997. I. IPB. Fakultas Pertanian. Program Pasca Sarjana. Ir. 3. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Abdul Madjid. DAFTAR PUSTAKA Anas. Anas. 1989. Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). 2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Laboratorium Biologi Tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. IPB.blogspot. Palembang. Bahan Ajar Online. Indonesia. Program Pasca Sarjana. ** Program Studi Ilmu Tanaman. MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin. . Dasar-Dasar Ilmu Tanah. KESIMPULAN 1. 2. Jurusan Tanah. Program Pascasarjana. Palembang.com. Indonesia. Universitas Sriwijaya.Bioteknologi Tanah. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman.Madjid. Biologi Tanah dalam Praktek. Http://dasar2ilmutanah. Propinsi Sumatera Selatan.

H. Faisal T. Martens and H. Mycorrhiza J. 2008. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www. Universitas Lampung. Bailey. M.R. Hakim dan Kusli. Sutopo Ghani Nugroho. E. 2007. Sanon . 1997.google. Mahfud. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis. Rev. El-Atrash. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Hakim. Iskandar. Dasar-dasar Ilmu Tanah. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds). Lampung.B. Dudi.com dalam http://support. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. N. Go Ban Hong. Ali. and J. Biantoro M. No. Universitas Lampung. 2004.lunarpages. 2002. nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. Soil Biol. Vol 5.google. Dexheimer. Growth response of Afselia africana Sm. Biol. Hasanudin. ISSN 1411-0062. Ba. M. 2008. Husin. 79:473– 495. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil. M. K. terhubung berkala : www.G. 2000. Azcon. 26 (9) : 1201 1205. Rusdi Saul. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia. 9/2 : 91-95. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge. p. 2007. H. Biol. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. 12-15 Desmber 1995. hal 83-89.M. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth. and F. Vol 5. INFOTENS. A. Nurhajati. . Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May).com Fleibach. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Biochem.H. Husnal. (Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna. 1986.. 1997. Lampung.1. Lubis.M. Reber. Ika RS dan Saubari MM. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol.. Prosiding Kongres Nasional VI HITI.com. R. 2007. Yusuf Nyakpa. A. Brundrett.. Amin Diha. Fertil. Mulyati M dan Roy H. 1994. Doponnois. 2000. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. A. G.M.F. R. Diversity and classification of mycorrhizal associations. Soils 24 : 81-86.Adinurani P. Jakarta. M.

Killham.. Mycorrhiza 10/3 : 137-143. S. Bagrayad. Leyval. M. and McDonald.go. IPB.No56 : 131-137. Bull Manjunath. and C. 24 Januari 2006. K. 2000. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae. 10/4 : 155159.. 2000. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering.Tervesia claveryi.J. A. D. Jordan.id.H. A. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi. D. Sekolah Pasca Sarjana. Morte.. 1993. Notohadinagoro. Tejoyuwono. 1998. Jember. 1984. Biol. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains. Rahmawaty. E.com dalam http://hortikultura. 2003. Biotrop Spec. Bogor. Pattimahu.. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. Cambridge University Press. JMR.S.pdf. Effect of various soil environment stresses on the occurance. Castro.download/tp/htm-rahmawaty s. Khan. Publ.G.. Plant and Soil 78: 147-150. Soils 26 : 79-87.ae. 2004. Khan. Soil ecology. 1995. 1994. from saline soils and Glomus deserticola under salinity. 10/5 : 241-247. JC. Schubert. 2001. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture. Terhubung berkala www. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul. Mosse. J.library.google. Dodd and PML. Fertil. Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi. 1981. . and R. R. http ://www.. Mycorrhiza J. C. Mycorrhiza J.Y. Azcon. Universitas Jember. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense . Oliveira.Lovisolo and A. K.V. Biotropia 8 : 39-44.Joner. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember. Lozano. 1997. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons. Mycorrhiza J.. 2008. Ress.id.usu. Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity.litbang deptan. 10/3 : 115-119. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity. A. Kim. Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian. 2001. D. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion.

D.A. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. 2001. MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu. 2002. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman. A. Biotrop Spec. D. Walker. Ir.K. F. Dela Cruz. 57 : 77-81.L. Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. Soils 28 : 139-144. and K. Wachjar A.No56 : 131-137. Unsur hara tanaman. 1994. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. R. Simangunsong S. Vol 3. R. dan Marlin. Ragupathy and A. Soil Sci. Buletin Agron. Romeida. Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans). hal 69-74. Singh. A new fungal phylum. Subiksa. Mahadevan. Incidence of vesicular . Biotrop Special Publ. Franson. Bethlenfalvay.Rotwell. Fertil. Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland. Edisi Kedua. 1995.E. and G. Diposkan oleh Dr. Widodo. Am. Ninin Y. Thomas. Abdul Madjid.. Bengkulu.B.. Rao. Mycol. and R. J. Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil.T.J. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. M. 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation. Soc. Res. Biol. and C. Zarate. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali. S.arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste. 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza. Publ. N. Schwarzott. 1999. Penerbit Universitas Indonesia. J. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution. 2002. IGM. Plant and Soil 80-99-104 Rani.. A. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** .S Subha. Yadi S. 2005. Bogor Schubler. 2006. S.S. 1984.R. 1991. Kapoor. 105(12):1413-1421..

Program Magister (S2). Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang. Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik. Indonesia. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. ** Program Studi Ilmu Tanaman. dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan . Program Pasca Sarjana. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang. siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Program Pasca Sarjana. Indonesia. Bukit Besar. biologis dan cultural. Palembang. Upaya yang mulai . pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya.(Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman.1. Palembang. termasuk biodiversitas. Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Bukit Besar. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. PENDAHULUAN 1. Universitas Sriwijaya. Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. Universitas Sriwijaya. Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik . Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan. Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam. Indonesia. baik di Negara maju maupun Negara berkembang. Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Palembang.

1996): 1. kemasan .dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit. Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan. maka harus diperoleh galur yang dikehendaki. jamur. Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi. kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil. Penyedia hara . ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. kimia maupun biologi. maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar. Terutama yang berhubungan dengan pengiriman. bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan. Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan. 2002). Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting. penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman. Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus. karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif. Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif. Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati). Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. baik kesuburan fisik. harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono. Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut ( Gunalan. Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara. Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji). Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan.

Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) . dapat menahan unsur hara di dalam selnya. seperti eksudat akar dan sisa tanaman.2003). bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir.4. kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1. B. Arthrobacter. 2. Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. subtilis. B. P. B. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel. 3. putida. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. P.5. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae.5-0. polymixa. tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. multivorans (Hasanudin. Achromobacter. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri. ukuran tiap sel bakteri 0. fluorescent. Micrococus dan Mycobacterium. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah.0 μm. diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine. licheniformis. B. Peningkat ketersediaan hara 3. dan P.berbentuk batang lurus atau lengkung. megatherium. cereus. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. . B. Pseudomonas.2. Flavobacterium. jamur dan aktinomisetes. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana. Perombak persenyawaan agrokimia 1. Pseudomonas terbagi atas grup. pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof . Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans.Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri.1 1μm x 1.2. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa. Pemantap agregat tanah 6. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus.

Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik. Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya. radiasi cahaya. nukleotida. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah. 6. Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah. suhu tinggi dan zat kimia. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . 5. fosfolipid. sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati. dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. dan ribosom. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. . Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%. Semakin tinggi C-organik dan semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan.2005). Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. 1.3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik. Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. dan gula posfat.tetapi juga dipengaruhi oleh pH . tetapi pada umumnya rendah . hewan dan mikrobia.4. materi genetik. Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah.Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. Endospora mengandung sedikit sitoplasma. kelembaban temperatur dan faktor lain. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. asam nukleat.terutama yang bersifat heterotrof.

aluminium dan hidrat. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0. reductant-P . Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman.2007). Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein. Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya. 1. buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit.2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah. Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit.01 – 0.Mn2+ dan Ca2+. yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin. diantaranya dalam proses sintesis protein. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme.Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P. Secara geokimia.4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel. P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas. dan mineral P primer.Al3+. FePO42H2O Strengit. Dalam bentuk anorganik. Al-P. Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat. 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit.2002). yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen. Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual. 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit. memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah. fosfor merupakan 11 unsur yang . pembentukan akar halus dan rambut akar. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya. ATP. Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono. gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman. Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi. Fe-P dan P tidak aktif.Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit. ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme. yang meliputi occhided-P .pembentukan bunga . karbonat apatit. melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi. AlPO42H2O Variscit.

krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 . kilap kaca sampai lemak. Ir. maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat. Siklus P pada Gambar 21 (Buntan. hijau.4 . Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik. guano. Jika aktivitas manusia (anthropogenic). Abdul Madjid.3 x 1011 mol P th.6 x 1011 mol P th . Diposkan oleh Dr. Program Pascasarjana. Masuknya fosfor ke laut sebesar 3. Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5.6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 .sangat melimpah di kerak bumi. sedimen. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Http://dasar2ilmutanah. Selain sebagai bahan pupuk. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat. Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat. Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano. sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak.com. dan milisit {(Na.17 . seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2). Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F. Seperti halnya nitrogen. Universitas Sriwijaya. Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis. cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton.40% P2O5.H2O). Sebagai contoh 15-30-15.K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}. dan metamorf. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Program S2. mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata. 1992).20. Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk. Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air. yaitu 7. Sumber lainnya berasal dari jenis slag. Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan. Propinsi Sumatera Selatan. Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk.OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros). seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan. Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik. dan kekerasan 5. A. Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal.43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9. Indonesia. berat jenis 3.15 3. Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan. 2009.Cl. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K.blogspot.beku. fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis. Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2. sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5).15. Di dunia.5 juta ton endapan guano (0. MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah .

tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Palembang. Bukit Besar. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. laktat. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah . Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Universitas Sriwijaya. Palembang. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. oksalat. suksinat. Sumatera Selatan. yaitu dalam bentuk Ca-P. Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan . Bukit Besar. tartarat dan alfa ketobutirat. glutamat.BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca. Indonesia. Palembang. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2. Universitas Sriwijaya. glioksalat. MgP. Fe-P atau occluded-P.1. fumarat. Bukit Besar.Penurunan pH juga disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. malat. Al-P. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat. Fospor relatif tidak mudah tercuci. Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Indonesia. Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH. Indonesia.

OH + R-COO. oksalat. asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif. Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal. . diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif . dan lemah (suksinat. oksalat. Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat. Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat. malonat.OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi. salisilat). Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak. Terdapatnya asam-asam organik sitrat. asetat dan ptalat). asam amino dan asam fenolik. sedang (malat. karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe.---> M OH + H2PO4H2PO4 . beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd). (c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti. tartarat). tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam. Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda.laktat. Hasil penelitian Pramono et al.sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M. malat. Disamping meningkatkan P tersedia. sedangkan asam malonat.(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe. demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik . salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. tartarat dan malat berefektivitas sedang. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam.2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit.

0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. 2007).0 x 10^6 7 Fungi 1.0 x 10^3 2. sitrat. Tabel 1. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4. 1961.2 x 10^9 5.2 x 10^6 1.0 x 10^5 125 Denitrifiers 1. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. glikolat.0 x 10^3 2 Algae 5. asetat. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. glukonat. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. malat. Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia.Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik.7 x 10^4 0.0 x 10^5 12 Protozoa 2.4 x 10^3 1.2 Ammonifiers 5. Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1.0 x 10^8 4.26 x 10^8 1. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson. oksalat.6 x 10^7 7. alfa ketoglutarat. 1971. merupakan bentuk antara (transisi). suksinat. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik . Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran.

Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer. mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium. 0. 8. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro. Bacillus sp. Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%.3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4.5 ppm menjadi 30.3. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. gliserofosfat.ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik.7 ppm pada tanah sterl dan 0. apatit. FePO4. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. lesitin.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P. AlPO4.8 – 3. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p. 6.9 dan 0. meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28.8 ppm.6 ppm pada tanah steril. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24.9 ppm. Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0. 13 dan 14%. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. (3) tingkat dissosiasi asam organik. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16. Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. sedangkan pada tanah bereaksi basa P .5 . (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. Ca3(PO4)2. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat. Escherechia freundii dan Escherechia intermedia. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 . yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0.7 ppm menjadi 34.1 – 3.4 ppm menjadi 59. Bacillus substilis. . Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung.

tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. minimal duplo. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat. berat kering trubus. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. Isolat diinkubasi selama beberapa hari.2. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. 2. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Moawad. Pada tanaman jagung. berat basah akar. misalnya: fungi. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%. luas daun serta kadar P trubus. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. dan Vlek (1996). bakteri. Misalnya. (3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. AlPO4 tidak larut dalam air. berat basah trubus. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al. dan aktinomicetes. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi .Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. berat kering akar. Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit. 1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Pada percobaan yang lain P. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat.

Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang,

Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini

super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu

Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3).20 (3) MgCl2. Azotobacter sp.2 (7) Bromophenol Blue 0.5 (5) KCl 0.3.dikembangkan .20 (4) MgSO4. Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 .05 . Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan. Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud.1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional .5 . Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan. Lactobacillus sp. tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder).7H2O 0.Miza Pluss. Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman.6H2O 0. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% . Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No.01 .0. Tiens Golden Harvest . dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor. 3. dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp. mikroba pelarut P.025 .01 . Teknologi penyubur tanah dan tanaman. Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai.30 (2) Ca3(PO4) 2 1 . .5 (6) (NH4)2SO4 0.

Palembang. ** Program Studi Ilmu Tanaman. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. Bahan Ajar Online. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan. Indonesia. Ir. bakteri pelarut fosfat.blogspot. Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. Sumatera Selatan. A. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. bakteri pelarut fosfat. Program Pasca Sarjana. Abdul Madjid. Bukit Besar. Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P. Bukit Besar. http://dasar2ilmutanah. dan zat pengatur tumbuh tanaman. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Universitas Sriwijaya.com. Masa simpan : 12 bulan. Program Magister (S2). Bukit Besar. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul . N. Universitas Sriwijaya. MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Program Pasca Sarjana.Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Diposkan oleh Dr. bakteri penambat N. Indonesia. Indonesia. Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program S2. Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Palembang. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya.Kemasan : 5 dan 25 kg. Program Pascasarjana. 2009. Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan.

1-3. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16. bit gula.7 ppm menjadi 34.Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. barlei. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. Bacillus sp. 0.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17.5 ppm menjadi 30. tomat. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida. kedelai.6 ppm pada tanah steril. kubis. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4.3 . Escherechia freundii dan E.9 ppm. 5-21 dan 14%. Bacillus subtilis . Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat.4 ppm menjadi 59.8-3. kacang panjang dan tebu. Ca3(PO4)2.puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0. Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium.3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4.7 ppm pada tanah non steril dn 0. meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28. jagung.8 ppm.IV. . Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum. Bacterium mycoides dan B. Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai. 3-13. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. sedangkan pada tanah berreaksi basa P. Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum. Intermedia . kentang. padi. gliserofosfat. tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung.9 dan 0. lesitin. Circulans pada tanaman kedelai. Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP. Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum. Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. 3-9.

Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. malat. Pada tanaman jagung. Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh. 1992). laktat. 1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%. 1992. Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau. Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. suksinat. Striata. Pada percobaab lain (Buntan. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2.Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat. Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). glioksilat. Mg2+. fumarat. 1991). Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. Premono dan Widyastuti. Puptida dan P. Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. diantaranya asam sitrat. oksalat. bayam dan kacang panjang). dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk .4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto.2007). Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan. Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung. terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens. Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al. Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. 1994). dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit. glutamat. Fe2+. P.

575. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139.30%. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Klebsiella aerogenes. Klebsiella aerogenes. 208.42 g atau ada kenaikan 877. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Bacillus sp. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. jumlah polong. jumlah bunga. umur panen. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1. Bacillus megaterium. dan 61.) di Tanah Marginal.3881 ppm dan 280. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot .) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl. Chromobacterium lividum. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. 203. Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga. 903.75%. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai.15 g tanaman-1. dan 606.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. berat daun segar 4 tanaman per pot. Megaterium sebagai inokulan padat.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah .67%.5-2.. 207. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. 217.81%..67%. umur pembentukan polong.tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. Gunung Botol. vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat.22 g. pH tanah. 930. jumlah biji.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF.5 cm.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. dan Chromobacterium sp. tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp. 354. dan B. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin.48 g. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc. Daerah Cikaniki.63%. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Chromobacterium lividum dan B.

penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan. Sumatera Selatan. KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Palembang.blogspot. Sumatera Selatan. Diposkan oleh Dr. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Pasca Sarjana. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Palembang.Fe. Bukit Besar. Http://dasar2ilmutanah.com. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan . Program Magister (S2). MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. Program Pascasarjana. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). A. Bukit Besar. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Bahan Ajar Online. Indonesia. Bukit Besar. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Palembang. Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman.Ca dan proses pelapukan yang rendah . Program Studi Ilmu Tanaman. (2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai amelioran.kering tanaman kedelai. Program Pasca Sarjana. Ir. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Abdul Madjid. 2009. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol.Mn.

30:105-106. Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol. Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens. Noor A. Banik.2003. Bacillus megaterium. 1980.E dan Hairiyah.Indian Soc.Soil Sci. Hasanudin. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. 6(1) : 8-13. Buntan. Plant Soil 57 : 223-230.2007. Edisi 3.No. S.Soil Sci. Bacterium mycoides. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop. Universitas Bengkulu. Buletin Agronomi. 1997.2005. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few . serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung. Elfiati. 1998.32.Universitas Sriwijaya.C. B. N and K. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Escherechia intermedia Pseudomonas putida. Handayanto.Bacillus firmus.J.K Jha. Bacterium mesenterricus. dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad.ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat. 31 (3): 100-106.S. Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean. 1982. Dubey. Indian Soc. Fakultas Pertanian USU. Plant Soil . S. 1996. Gaur .J.Faperta Universitas Bengkulu.A. 2003. Citrobacter intermedium . 45: 506-509.K.K. Kundu. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism.Medan Gunalan. B. Escherechia freundii. 1982.2. (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis. Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman. Pal. Majalah Sriwijaya Vol. Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan. Pustaka Adipura. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor.1992. Hasanudin dan Ganggo. S.S and A. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat.D. 2004.Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol. 60:353-364. Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia.

Supadi. Widawati. Setiawati.Pupuk Hayati .H. Widawati. 2006. Ir. Jurnal Nature Indonesia. Gunung Botol.2002.Penerapan Pertanian Organik. Vega.NW.L and B.. and Sinha. 2006. Premono.J. N.C. Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung. dan Ciptarasa. S. 1992.Disertasi. 1998. Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki. Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam. 2007. 1962.1 Wulandari. 7(2):109-113.acid tolerant crops.Bogor.Biodiversitas. Yuwono. S. Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic.Biodiversitas. MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat.Bandung Rao.Kanisus Jakarta. 1991. UI Press). Abdul Madjid. UGM. 2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: . 4(1) : 1-5. Soil Microorganisms and Plant Growth.H.W. 2005. S dan Suliasih . Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning. Edisi 2 . Oxford and IBM Publishing Co. Universitas Pajajaran. S dan Suliasih . Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Edisi 3. Can. 7(1):1014. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau.T.T.R. 2001. Tesis. Plant Soil. 1996.) di Tanah Marginal. Bandung.Yogyakarta. serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat.Agr. Diposkan oleh Dr. 198 : 169-177. Microbiol 42: 207-220.N.Widyastuti.R. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman.Program Pascasarjana IPB. (Terjemahan Susilo.R Glick. Patten.Medellín vol.60 no. Sutanto. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake. C.

seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian. Dalam sejumlah kondisi. protozoa. serta bakteri yang berperan sebagai . *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. bakteri dan fungi perombak bahan organik. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme. Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. Bukit Besar. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. PENDAHULUAN A. Indonesia. Sumatera Selatan. Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. kimia. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik. aktinomicetes. cendawan. Indonesia. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Dibidang pertanian. (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. Program Pasca Sarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. Palembang. dan virus sebagai agensia hayati. fungi. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik. Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. seperti bakteri. bakteri. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Bukit Besar. melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. Bukit Besar. Program Magister (S2).* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. bakteri dan fungi pelarut fosfat. Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. alga dan virus. Program Magister (S2). Sumatera Selatan. serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. dan mendegradasi residu toksik (Sparling. 1998). kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. Palembang. 1998). tanah yang sehat memiliki kondisi fisik.

Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba). (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme. A. 2009. (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. Beberapa mikroorganisme seperti bakteri. yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah. Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah. Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. dan meningkatkan pendapatan petani. B. vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. Fakultas Pertanian Unsri & . Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan.agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. 1978). (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman. Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah. menghemat biaya pupuk. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat. Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya. Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan. Bahan Ajar Online. Saraswati et al. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat. fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida. kesuburan.

Palembang. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 (occluded P). Abdul Madjid. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N). (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid. misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. Indonesia. kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam. umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai. Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis. bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman. Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. Universitas Sriwijaya.blogspot.Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit. dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-. OH. unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut.01-0. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk. Bukit Besar. Indonesia. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. Indonesia. Universitas Sriwijaya. (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II. Ir. . pemupukan dan mineralisasi P-organik. Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2. Sumatera Selatan. Palembang. Diposkan oleh Dr. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut.atau CO32-. Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. Palembang. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Http://dasar2ilmutanah. Program Magister (S2).2 mg/kg tanah. Universitas Sriwijaya. MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman.com. Sumatera Selatan. Cl-. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.

1989. Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al.Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman.atau H2PO4-) diserap tanaman. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik. hewan dan mikroba . Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Di alam. Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. (b) imobilisasi P-tersedia. hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi. 1989). pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik. 1977). reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al. nukleotida dan gula-gula fosfat. Oleh karena itu. pemupukan. keseimbangan P dalam tanah terganggu. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba. Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. Sisa tanaman. 1997). fosfolipida. yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah).. Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu. pengembalian melalui residu tanamandan hewan. hewan dan organisme tanah. Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark. Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah. asam nukleat. dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. Bila ion fosfat (HPO42. Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman. fosfor terdapat dalam dua bentuk. Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah. karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik. Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P. fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat. Subba Rao. Pada sistem pola tanam yang terbuka. Siklus ini berulang terus menerus.

dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat. Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan. Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah. nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas. aerasi. Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur. Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah. bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi. 1986). Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba. Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. Selain kandungan fosfat dalam residu. Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen. 2. variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat. 1997). yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. aerasi. Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik. maka terjadi net mineralisasi ortofosfat. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis. temperatur. 1. maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol.. Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat. kelembaban.yang dikembalikan ke dalam tanah. seperti nukleotida atau fosfolipida. menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme. atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut. Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon. Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah . Umumnya. Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah.

H2PO42-. Fe. Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut. keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut. Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat. Hal yang sama. pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang. dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0. Phosphaticum. 2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4. pH tanah.+ 2H2O ----> AlPO4. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-. 1986).2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah.ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P. Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat. Pada kondisi tergenang. Al. Mn. Selain itu. kalsium dan magnesium fosfat. sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa. H2PO42. besi. dengan melepaskan fosfat.lebih mendominasi. dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi. Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var.----> Al(OH)2 H2PO4. dan Ca. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7. Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4.lebih mendominasi. dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. Pada pH tanah agak masam hingga netral. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat. Nilai kritis C/P adalah 200.+ 2H2O ----> FePO4. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam. yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1. dan PO43-. Mn. hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya. Al3+ + H2PO4. Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium. Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut. jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat.+ OHCa(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ . yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya.lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson. Ion Fe.2) H2PO42.

Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. Bukit Besar. Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun. Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman. Bahan Ajar Online. Ir. 2007).com. Kandungan bahan organik tanah. Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Mn. selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital). Program Magister (S2). Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat.blogspot. Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi. 2. MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah. Fe. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. 3. Diposkan oleh Dr. Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P. dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah. laktat. selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi. yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik.Didaerah rhizosfer. suksinat yang dapat mengikat Al. Http://dasar2ilmutanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Abdul Madjid. Program Pascasarjana. pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion. A. Program Magister (S2). Sumatera . Palembang. Universitas Sriwijaya. 2009. Program Pasca Sarjana. asetat.

*** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. Indonesia. yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes. Program Pasca Sarjana. Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman. Universitas Sriwijaya. dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. 1970). 1995). dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai.. Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im. Reproduksi secara seksual.5 juta (Hawksworth. Program Studi Ilmu Tanaman. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran. (1996) dikenal 5 kelas fungi. 2007). . membentuk spora dari fusi dua nukleus. Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5). Indonesia. (Bagian 3 dari 6 Tulisan) III. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. Hawksworth et al. Program Magister (S2). Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat.Selatan. yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru. Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri (non-motile) disebut zygospora.. Sekitar 70. Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter. Program Pasca Sarjana. tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar.000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. Bukit Besar. Palembang. miselium menghasilkan spora. Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman. 1991. Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya. Palembang. Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan. kadang-kadang berkelompok membentuk miselium. Sumatera Selatan. yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah.

Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air. Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat. Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya. fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah. Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal. Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik. Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik. 1993). karbon dioksida. (1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah. dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah. Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza. Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. baik berupa daun maupun kayu. fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya. tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi). dan essensial . bagian tengah. seperti selulosa dan lignin dalam kayu. dan pengelolaan lahan. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman.. 2007).Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat. 1993). Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual. siklus hara. sebagai contoh . dan pengendalian penyakit. organisme rhizosfer. Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung. Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan. 1992). tidak peka. Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks. CO2 terhambat. Bersama-sama dengan bakteri. Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah. bagian bawah. fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah. beberapa diantaranya bersifat sparofit. Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas. eksudat akar. Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow.

1995). dan Rhizoctonia. contohnya A. tekstil. Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu. Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya. Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim. Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri. Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun. sayuran. Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering. fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah. Sebagai contoh A. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda. menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah. untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat. Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman. cat. atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit. Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza. serta banyak dijumpai dalam tanah. sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza. Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya. (2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon.. 2007). 1995). Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun.dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. udara. Selain itu. (3) Patogen atau parasit. beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik. dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian. dan mungkin air) ke tanaman.niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng. hara mikro. Namun demikian. . dan semak.flavus dan A. dan kulit (Hawksworth et al. fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat. Fungi patogen akar seperti Verticillium. Phytium. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial.parasiticus yang menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. nitrogen. tanaman pangan. Seperti bakteri. Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus.

termasuk manusia. .75-5x 2-6im. gandum. Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar. Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk. Pada tanaman. tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam. Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan. Karbon dioksida dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung).koningii (merton dan Brotzman. 1986). Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson. Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa. Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras. Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin. Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im. terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez.5-9. membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni. 3. 1982). Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida. Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan. Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya. diantaranya T. Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2. sel berbentuk seperti tabung (Perbedy. Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC. jaringan hewan dan tanah.5. jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe. 1968). tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam. Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al.harzianum dan T. Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase. dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol. hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat. Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi. Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga. Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon.. Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman. 1999). 5. selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer. 1987). Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman. 4. nitrogen. Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang. 1983).2. 1979). Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0.

Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC. Ir. Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Sumatera Selatan. Abdul Madjid. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam.vitamin. Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH . Program Magister (S2). MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Http://dasar2ilmutanah. Program Pasca Sarjana. Palembang. Program Magister (S2). ** Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Sumatera Selatan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Sriwijaya.blogspot. Palembang. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Program Pasca Sarjana. Diposkan oleh Dr. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. 2009. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Program Pascasrjana. Indonesia. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. Palembang.com. dan mineral lainnya. Bukit Besar. Bahan Ajar Online. Universitas Sriwijaya. A. Indonesia. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik.

Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. magnesium (Mg) sebesar 0. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp. jamur dan aktinomisetes. sitrat. Penicillium sp. suksinat. Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger.0-40. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4. asam amino dan asam fenolik. AlPO4. 2006). candidus. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. B. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM.rendah. Fusarium. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. B.35%. malat. polymixa. cereus. Pseudomonas. Arthrobacter. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P.. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet.14%. Achromobacter. Flavobacterium. fosfor (P) sebesar 0. nitrogen (N) sebesar 2. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat.5%. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia.010.0%. Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah. Trichoderma viridae.. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. harus mengandung 8 macam nutrisi.039-1. kalium (K) sebesar 0. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono. (3) tingkat dissosiasi asam organik. yaitu: karbon (C) sebesar 19. oksalat. Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis. subtilis. 1994). namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting.04-0. B. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. khususnya fungi jenis Aspergillus niger. FePO4. B. B. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. alfa ketoglutarat. Penicillum. merupakan bentuk antara (transisi). Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri. 2006). Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam. Schlerotium & Phialotobus. kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah. A. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat.0-2. licheniformis. Micrococus dan Mycobacterium. asetat. glukonat. dan Chaetomium sp. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. glikolat. megatherium.21% dan C/N ratio . apatit.

dan serapan N dan P. (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. A. dan 10 kali. Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India. merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat. Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai.0-20% (Gaur. (4) inokulasi R. kanada. 1957 . menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada . Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk. dan FePO4. aktivitas penambatan N. dan mesir. Lestari (1994). Subba Rao. niger. sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat. 1977 . (2) inokulasi R. Kundu dan Gaur. (2001). 1967). Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006). 1980 . japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. japonicum. AlPO4. yakni lebih dari 10 kali lipat. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. margarita. Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. dan serapan N dan P berturut-turut 7. aktivitas fiksasi N. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Hutami et al. bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2. Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30. DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan.sebesar 9. sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao.8 kali. jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A.3 kali. Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah. 1. niger strain NHJ2 1 ml per biji. (3) inokulasi R.. 1982). 1986).4 % dibandingkan kontrol. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P. 8 kali. Aspergillus sp. dan G. dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul. 1978). Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996.

bahan organik. dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar. Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al. dan kapasitas tukar kationnya rendah. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal. 42. populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia.. Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori.media tumbuh GAGES dan GES. Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2). uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut. Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat. Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1). Tanah ini terkenal sangat miskin. Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38. 2004). dan Chaetomium sp. Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al. Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. T. Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41. Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer. Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat. Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4). harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar. kab. Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung. Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. aspergillus niger. tanaman apapun yang . Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat. Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat. scwanniomycetes occidentalis.78 ppm (Baratha. Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. kandungan bahan organik rendah. 2000).. Bogor. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan. Trichoderma viridae. Selain daripada itu T. Penicillium sp. Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No. Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Aspergillus niger. Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi).. dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3). Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0). Tanah ini memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. (2000). Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P. Tiap kombinasi diulang tiga kali. Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. Pennicillium digitatum.

Program Pasca Sarjana. Namun demikian.ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. Bukit Besar. Palembang. Sumatera Selatan. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal. Palembang. Universitas Sriwijaya. 2009. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. Program Pascasarjana. Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). Http://dasar2ilmutanah. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Diposkan oleh Dr. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah.blogspot. MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. A. dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. Universitas Sriwijaya. Abdul Madjid. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung. Indonesia. Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali. Bukit Besar. Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain. Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin. (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia. Palembang. Perlakuan keempat dengan menambahkan T. Ir.Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan. Program Magister (S2). Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal. ** Program Studi Ilmu Tanaman. . Sumatera Selatan. Indonesia. Bahan Ajar Online. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Sriwijaya. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal. (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang).Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.com.

Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen. sekam. 2008). Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. Indonesia. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji. vermikulit. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. Namun. disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). biakan kering beku. Di Indonesia. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe. dan tepung. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya. atau zeolit. memperbaiki struktur tanah. artinya mikroorganisme yang . sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi. arang. pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya. tanah. sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis.11. selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah. pelarut. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. atau ketempat pengomposan.130. R. mikroorganisme telah lama dimanfaatkan. Namun.Sumatera Selatan. dan juga pada minuman. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak.760. dapat digunakan bahan organik seperti gambut. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V. Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar. menekan soil-borne disease. mempercepat proses pengomposan. Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. biakan kering. dan kompos. biakan cair. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan.

sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas.Suatu teknologi . glikolat. Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba. tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase. 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. Selain itu. Mn-. Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun. 2008). Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium. Fe-. maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. Mulai tahun 2004. Dengan mempertahankan kelembaban. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah. cara penyimpanan. jenis. Pada pengujian pupuk mikroba. sitrat. kematian mikroorganisme dapat dikurangi. sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. Propionat. Stase. seta jenis tanaman yang cocok. Di Indonesia. perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe.terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. dan Ca. tanggal kadaluwarsa. Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. dan ketoglutarat. laktat. Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. 2008). Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. 2008). sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. fumarat. dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. suksinat. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan. baik berupa bakteri maupun jamur. oksalat. tetapkan kelembapan bahan pembawa. lartrat. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-.

dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12.78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P. dan meningkatkan serapan P tanaman.59%).47) hingga 394. Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea. serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos.0./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P. dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp. yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P. Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba.1). Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P.56 ug/m! (pH 6. dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai. bobol kering tanaman.5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi. 50 kg P. Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya. Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan.0. Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale.85ug/ml (pH 5.iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar. Grt 3.32% dan 16% pada padi. dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman. 50 kg/ha SP36. tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P.0. Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0. memobilisasi. . serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya. mikoriza.60 ug/ml (pH 4. Sehingga dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia.irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM). yaitu mikroba pelarut fosfat.pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171. Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P. Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman.9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya.ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%. bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K.0.28 ugfrnl (pH 2. Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I).65) hingga 147. jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%. Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah. mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman. dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya. Aspergillus niger NHJ2./ha (23. BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman.

Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. bakteri. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. 3. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. – 8. Buat medium agar Pikovskaya. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh . Moawad. 5. Ulangi langkah di atas secukupnya. 4. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah. 7. dan Vlek (1996). Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. – 6 s/d 10 ext. 2. antara lain: 1. Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. -4. Konsentrasi fosfat. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. minimal duplo. sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. dan actinomicetes. 8. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. AlPO4 tidak larut dalam air. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. 6. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias.Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi. khususnya isolat fungi. Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat.

2. mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah. asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. sehingga dapat diserap tanaman. efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang. Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. 2000). Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas. Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik. bakteri.. dkk. 1995). dan aktinomicetes. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Melalui aplikasi pupuk hayati. Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al. Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal. Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi. mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah. Ketebalan agar. Kecepatan pertumbuhan mikroba. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. 3. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan 12 bulan (Goenadi et al.. Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE. A. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. 1995). Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. . pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah. Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat. Goenadi et al. (2000). misalnya: fungi. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas . fosfatase. 4. (Goenadi. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Misalnya.

Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. dan volume akar. ketersediaan hara di dalam tanah. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian. kedelai. B. Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun. Hasil percobaana Goenadi. dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan. (1997). menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah.PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. penambat nitrogen bebas. dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk. dkk. dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh Dosis dan kandungan mikroba . bobot kering bibit.

jumlah polong isi. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. MK 1999. dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa. margarita. diameter batang. 2000). dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria). pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5. . serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. dosis anjuran 50 kg Urea/ha. 100 kg SP-36/ha. dan serapan N dan P berturut-turut 7. bobot kering akar. Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk.209 me/100g). dan 10 kali. Rata-rata bobot kering tanaman. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. jumlah bintil akar. niger.5. aktivitas fiksasi N. Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar. Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol.Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha. 1. pH 3. Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia. dan G. Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha). Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. Al-dd 1.8 kali. 8 kali. (4) inokulasi R. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. bobot kering total. Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). A. simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar. (2) inokulasi R. serapan N dan P tanaman. jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. aktivitas penambatan N.3 kali. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108. dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran. C. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. dan serapan N dan P. MK 1997. japonicum. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. 50 kg KCl). Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam. Rhizobium 108-109.96. (3) inokulasi R. niger strain NHJ2 1 ml per biji. tinggi tanaman.

92 % . N = 0. yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien. Lactobacillus sp6. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum. Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien. Azotobacter. Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI). Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%. Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As.85 ppm . serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya. Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr. Zn = 3. Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E. Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini . Azospirilum sp4.7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman. Migro Plus Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru. Pb.70 ppm . Cd dan Mikroba Patogen. Mikroba Pendegradasi Selulose5. C organik = 0.23 ppm .04 % .3 ppm . mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia.Lukman Gunarto MSc.D.Ir. Mikroba pelarut fosfat3. Azobacter sp2. Mn = 0. yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. Hg. Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan). dan mikroba pendegrasi selulosa. Pseudomonas spp = 34. mikroba pelarut P. Lactobacillus. Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1. Cu = 0. Fe = 44. yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal. K = 1700 ppm . Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan.

adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen. bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami. yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS. juga terdapat mikroba Pseudomonas sp. P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut. Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar. Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. unsur N. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. Menurut penelitian Dr. pembentukan anakan dan primordial. Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup. Lactobacillus sp. Hasil dari pendegradasian tersebut. Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya. yaitu unsur fisik (bajak/cangkul). karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah. sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan. sehingga keaslian produk MiG corp. Azotobacter sp. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. mikroba pelarut P. sampai ke tangan konsumen lebih terjamin. tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL. dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. melepaskan P yang terikat di dalam tanah. probiotik MiG ternak. apabila . Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit). Lukman Gunarto. hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia. Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik. akan mendapatkan K dan unsur lain. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. daun-daun atau bahan-bahan organik lain. penambat Nitrogen dari udara. Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru. ada yang berfungsi sebagai penambat N. apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. populasi mikroba untuk menambatkan N. dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik.

Tidak masalah. Sumatera Selatan. Ir. Fusarium. Universitas Sriwijaya. (Bagian 6 dari 6 tulisan) VI. rusak atau mati.penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia. Program Pasca Sarjana.blogspot. Diposkan oleh Dr. Bukit Besar. Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja. Bahan Ajar Online. A. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Malahan tanaman menjadi semakin subur. Indonesia.com. Bukit Besar. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Palembang. 2009. Palembang. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. candidus. http://dasar2ilmutanah. Schlerotium & Phialotobus. Indonesia. Penicillum. Palembang. A. Abdul Madjid. Bukit Besar. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian. Caranya sangat mudah. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. (2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger. Program Magister (S2). Sumatera Selatan. cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu. Program Pasca Sarjana. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Sedangkan dari golongan . dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit. Program Pascasarjana.

(4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara.. G. 868p.. In. Philadelphia. Trichoderma viridae. M. Edson L. 1-44 pp. Carroll. John Wiley and Sons. 2004. 1982. Madison. (eds).W. 1996. Buresh et al.T.. Widyastuti.. New York. Premono dan R. Smithson. 1992. and Schweizer.scielo. E. 334-337. Souchie. D. 1997. Dix. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam. SSSA. N. 111-149. Communities of P-solubilizing bacteria. dan Chaetomium sp. 1995. 13 : 749-752. Canadian. USA. Barea. Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules. J.br/scielo.. DAFTAR PUSTAKA Anas. Microbial. RJ – Brazil. Eliane M. Orivaldo J. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.C. L. M. PA. 1967. Fungal Ecology. Bogor. WI. Dickinson. S. 51.W. 1993. Campello. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat. Rosario Azcón Jose M.R. Saggin. Introductory Mycology (4th Ed). C..C. VII.J. and Webster. R. Marcel Deker. J. Mims.J. Chapman & Hall. Buresh. 1999. Dhandhun Baratha. J. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem. Eduardo F. Penicillium sp. C. Aspergillus niger.. London. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec. scwanniomycetes occidentalis. Chonkar and Subba rao. http://www. R.J.aktinomisetes adalah Streptomyces sp. S. D.T. Pusat Antar Universitas IPB. 2006. and Wicklow. Alexopoulos.C. fungi and arbuscular mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism. and M.php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 . J. J. New York.. Plant soil 60 : 353-364. Pennicillium digitatum. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P.. aspergillus niger. Building soil phospharus capital in Africa. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae. Publ. R. I. P. Baniks. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. P. Blackwell. Inc. and Hellums.

E. Perbedy. S. 1993. A. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press. Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed.S. R. Skripsi.J. Fusarium Species: Their biology and toxicology. 2000. 1979.I. Pennicilium and Acremonium. Badan Litbang pertanian. A. Sutton.C. and Whalley.H. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification.. B. 1986. J. the fungal dimension of biodiversity: magnitude.). Anas.E. Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review. N and J. New York.Fertilizer [Biosol-P] www. 1995. Riyanti. Bogor. K. Inc. Goenadi. Watling.K. Missouri. Isaac. D. McColl. CAB International. Driven by nature p.A dan Clark.N. Giller and G. Aspects of tropical mycology. Cambridge. 1997. Miller. 616p. University of Missouri Columbia Extension Division. P. D. CAB International. 1987. U.G. Inc. 193 pp.297-312. Y. Maningsih. 1983. M. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. In. Harvard university Press.M. F and Brotzman. Paul. United Kingdom. F. New York. S. D. D.M. Plenum Press. E. R. 1968. John Willey & Sons.Z. Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus. 1991. Kirk. 204 pp. significance and conservation. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia.C. Saraswati. Hawksworth.indiamart. Institut Pertanian Bogor. Jakarta (Indonesia). peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah.L. Bogor (Indonesia). 588 pp. Nelson.Gressel. E. Jenis pupuk P.L.com/jayenterprises/fertilizers. Siswanto and Sugiarto. 641-655. Wallingford.. P. 1996. 14 : 31-36. Bio .. 1994. Mass. The life of yeast.F. N. USA. E. Merton. Frankland. H.. 83-123 pp. 2000. Cambridge University Press. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. . Cambridge. Soil Science Society of America Journal 64:927932. Phaff. 1989. J.html Joffe. Fakultas Pertanian... The Pennsylvania state University Press.. Lestari.J. and Pegler. G dan I. Cadisch (eds).. Hutami. Mycology research 95. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey. H. New York. Columbia. Puslittanak.. P.W and Mrak. Hawksworth.E. Sunarlim. University Park. 23-30.

Abdul Madjid. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. F. sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua . Pupuk Hayati. 1986. Introduction to fungi. Tombe. 380 p. Universitas Gadjah Mada.ac. Fosfor (P). sulphur. Yuwono. Institut Pertanian Bogor. Tiga unsur hara penting tanaman. Bogor.ugm. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. 2006. 1994. Universitas Sriwijaya. Ramirez. Program Studi Ilmu Tanaman. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. M. Cycles of soil carbon. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. C. 1970. Cambridge university Press. nitrogen. Elsevier biomedical press. Program Pascasarjana. Ir. Jasad Renik Pelarut Fosfat. Namun. New York. Palembang.Premono.J. manual and atlas of pennicillia.id/] Diposkan oleh Dr. W. New York. John Willey & Sons. yaitu Nitrogen (N). Soil Microorganism and Plant Growth. 1977. 202-204. I. Sekilas Pupuk Hayati. Indonesia. micronutrients. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). [http://nasih. Subba Rao.staff. Stevenson. N. N. Disertasi. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2. Oxford and IBH Publishing Co. Cambridge.S. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster. Universitas Sriwijaya. 2008. Program Pasca Sarjana. phosporus. Program Pasca Sarjana. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. M. New Delhi. Palembang. E. Indonesia. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. J. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. 1982.

Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. antara lain: Aspergillus sp. umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata. antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). infeksi ini . 2008). Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Sebaliknya. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan. Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Namun. meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Penicillium sp. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp.jenis tanaman. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li. karena terikat pada mineral liat tanah. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P.

Dilain pihak. kruing. Ektendomikoriza 3. sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. mulai dari paku-pakuan. dll. Gigaspora dan Scutellospora. mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1. 2003). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza). Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. lapisan hifa pada permukaan akar tipis. pinus. Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan. Acaulospora. pasang. 2006). cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas. famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. kesehatan dan produktivitas tanaman. Archaeospora. 1997). membentuk chlamydospores (Morton. kelapa sawit. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur . Ektomikoriza 2. CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. Paraglomus. bercabang. kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae). Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett. mempening (jenisjenis Fagaceae). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. 2004). misalnya jenis-jenis meranti. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. jenis rumput-rumputan. hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks. hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. rambutrambut akar tidak ada. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. hingga pohon rambutan. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. Entrophospora.antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. mangga. Hifa memasuki sel kortek akar. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. padi. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). karet. hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar.

kapas. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. kopi. apel dan anggur (Rahmawati. 2004). Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. barley. palem. karet.khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. harus diamati dibawah mikroskop. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. 2004). Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. 1. kakao. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. bawang. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. selada. jeruk. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. akan tetapi belum berhasil. padi gogo. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. . singkong dan sorgum. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. vesikel intraseluler. nenas. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. pepaya. kacang tunggak. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. vesikel (vesicle) dan spora. 1998). Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. kebanyakan berbentuk bulat telur. teh. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. 2003). tembakau.

Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. 3. Dengan bertambahnya umur. Schubler et al. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. 2004). Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. 2004). Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. Mirip dengan cendawan patogen. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. 1981). 2) . Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. yang memiliki perbedaan tegas. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. pembentukan organ baru. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. 1981). Arbuskul berperan dua arah. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. 2. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse.sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. pembengkokan inti sel. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma.

2006). Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. Scutellospora. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Kuklospora. Walaupun demikian. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. 2002). Diversipora. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. Acaulospora. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. dan Glomus sp. tanaman inang. kondisi tanah serta spesies CMA indigen.. kepadatan propagula. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. Pacispora.Paraglomerales (famili Para-glomerace). serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. (Sagin Junior & Da Silva. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Gigaspora. Oleh karena itu. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Gigaspora-ceae. 1991). 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Diversisporaceae. Geosiphon. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. . 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Paraglomus. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Intraspora. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. 2006). Entrophospora.

Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. 1981). pH.pada tengah hari. logam berat dan fungisida. kadar air tanah. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. 1981). intensitas cahaya dan ketersediaan hara. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. bahan organik tanah. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. tanah. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. hal ini menguntungkan. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. saat kelembapan air rendah. Untuk daerah tropika basah.II. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat.. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air . Vesser et al. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA.

Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. klor. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. alumunium dan mangan. 1997). Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. 1981). Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Serasah tersebut mengandung hifa. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. air dan udara. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA.meningkat (Rotwell. 1997). Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. 1984). Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap . Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. 1997)..

1995). Benlate. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. 1984). Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Al. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al.terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. 1982 dalam Anas. 1998). fungisida Agrosan. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. 1997). Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. dan Na yang tinggi (Mosse. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. 1984 dalam Anas. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. dicirikan oleh keragaman . Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. Plantavax. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak.. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. 1981). tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. 1997). di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar.

dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). 1995). pembakaran. Penelitian McGonigle dan Miller (1993).spesies yang sangat tinggi. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. Untuk tanaman manggis. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. unsur hara dan struktur tanah. cropping sistem. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. K. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. 1996). karena perubahan spesies tanaman. 1 9% (Gededda et al. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Pada tanaman pisang.04 menjadi 0. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. 1996). jumlah bahan organik yang dihasilkan. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. . 2002). Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. 2005). ameliorasi dengan bahan organik. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. 1984). inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. Dalam budidaya tradisional. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. P. Sawahlunto Sijunjung. Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao.

Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing.Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST.7% dan 4. 1997). yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. III. sedangkan inokulasi G. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. G. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. Selain daripada membentuk hifa internal. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. 2006). mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal.masing sebesar 5. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. 1997). bobot kering tajuk. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. . kekeringan.2% dibandingkan dengan kontrol. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang.5% dibandingkan dengan kontrol. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. sedangkan inokulasi G. serta patogen akar.7% dibandingkan dengan kontrol. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. jumlah daun pada umur 4. Di dalam arbuskul. 8 dan 28 MST.

2006). Setelah periode kekurangan air (water stress). dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. dan Zn). Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori . masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Selain itu. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. Zn dan Cu meningkat. Zn. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. keasaman. Dengan adanya CMA. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Cu. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Pada kedelei. pemadatan. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. salinitas. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Fe.2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. 3) melindungi dari herbisida. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. 1997). Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P.

Infeksi patogen akar terhambat. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. K dan S. tailing tambang batubara. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. 4. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. 3. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. atau lahan terpolusi lainnya. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat.1997). kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat . Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. 2. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. 1994). sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. 1994). Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas.tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Dilain pihak. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. 2. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi.

. 1981). CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. sitokinin dan giberalin. 1997). Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. 40% kebutuhan nitrogen. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. dan giberalin. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar.. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. 2000). Jika terhadap jasad renik berguna. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. 4. patogen akar. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. Interaksi sebenarnya antara CMA. 1993). tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. 1981 dalam Husin dan Marlis. citokinin. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang.usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. 1997). adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. 3. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. Pada tanaman tertentu. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah.

Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman.. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. 1997). 2002). Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. 2002). Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Menurut Hakim. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara . asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro.Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. tapi juga bagi tanah. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. Bila ini benar. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. 5. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit.. Perbaikan Struktur Tanah. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir.

yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Prihastuti et al. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P.50–90. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). yaitu mencapai 70. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. Besi (Fe++). japonicum. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. 6. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1.2. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae.6 hexakisphospat). setelah didahului dengan proses infeksi akar.tanah. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif.3. 1999). namun . khususnya pada tanah yang miskin P. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman..5.4. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al.33%. B. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan).1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. Magnesium (Mg++). Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. phosphor bebas dan mineral. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. Phytat adalah senyawa phospat komplek. Seng (Zn++). sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. 2002). Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. dan protein. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik.

2006). kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. . adanya asosiasi ini. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. tipe perakaran tanaman inang. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). tanaman inang. Secara tidak langsung. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. tanaman tanpa mikoriza) / BK. 1997). dan kompetisi antar cendawan mikoriza). temperatur. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. baik untuk tanaman pangan. tanaman bermikoriza . Sedangkan secara langsung.BK. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. baik secara langsung maupun tidak langsung. 1995). cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. pH. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan.sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. spesies cendawan. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. perkebunan. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. 2004). Bagi tanaman inang. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". 1987). Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. 3. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. kadar air. 1994). 6. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan.

Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza.98 g biji/tanaman. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0.66 mg P/tanaman. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat.. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan.1. . Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun .15 mg P/tanaman. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. 1997). Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air.02 g biji/tanaman menjadi 5. Sulawesi dan pulau besar lainnya.1997). serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. infiltrasi air hujan rendah. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut.13 mg P/tanaman menjadi 2. kejenuhan Al tinggi. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Kalimantan. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. dan hasil kedelai meningkat dari 2.. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan.13 g biji/tanaman. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera.7.84 g biji/tanaman menjadi 5. miskin hara dan bahan organik. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. Disamping untuk tanaman pangan. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam.18 mg P/tanaman menjadi 2.

Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar

logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005). Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007), tentang peranan mikoriza pada tanaman jati,

diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare.76 % -21. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa . 8. Peningkatan kadar P nira. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. dengan kadar P tersedia "rendah" . Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. 69. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". Untuk mewujudkan harapannya.90 %. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N.. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan.66 % . Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" .80 % .67. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. Selain itu." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna.72 ppm dan tanah Inceptisol.15 %. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna.40. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13.84 % . Dengan teknologi mikoriza. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. Tujuannya.5 ppm. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara.65 %.71. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. 2008). sebesar 38. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun.misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza.

Tanaman inang dapat berupa jagung. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. Dalam rangka pelaksanaan program ini. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. telah diberikan Asosiasi .Lima hari kemudian.campuran tanah. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. diaduk merata. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. sorgum atau pueraria. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. selain untuk meratakan hasil. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. 6. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. 5. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. 2008). Manfaat 1. bedeng tersebut dapat digunakan. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. spora dan akar terinfeksi. 3. 3. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. 4. 2. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2.

dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Aturan pakainya sederhana. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Setelah teruji kemurniannya. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. Untuk membuat tablet. seperti: penyakit bercak akar kapas. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. (2)Saprophitik. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain.Mycorrhizal Indonesia. Kalimantan. yaitu: (1)Parasitik. Setelah itu pil dipecah-pecah. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. mampu menambah daya tahan akar tanaman. Di IPB. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. Ir. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. Tablet ini dibuat dari cendawan. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. (3) menggunakan miselia cendawan. Diposkan oleh Dr. Setelah diberikan pada bibit tanaman. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan penyakit pada akar tanaman. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Abdul Madjid. satu tablet untuk satu bibit. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari . Dalam teknik pemberian mikoriza.7 sentimeter. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi.

Diplopoda (kaki seribu). meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah). yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas. (c) Arthropoda. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman.akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci. (3)Simbiotik. (d)Moluska. (2)Glomus. Ir. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. dan ciliata. (2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar. dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. (4)dll Diposkan oleh Dr. seperti: omnivorous dan Predaceus. Chilopoda (kelabang). Arachnida (lebah. seperti: amoeba. kutu. Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua. Abdul Madjid.dekomposisi bahan organik tanah. jangkrik. flagelata. (2)Ektomycorhiza. yaitu: (1) Makro Fauna. dan rayap). semut. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. Flora Tanah . Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. dan (b)Nematoda. dan kalajengking)dan Insekta (belalang. (b) cacing tanah. yaitu: (1)Endomycorhiza. dan (3)Ektendomycorhiza. (3)Acaulospora. seperti: Mycorhiza atau jamur akar. Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora.

(2) Mesobia. MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa. Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil. yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF). yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah. Ir.2 mm s/d 10 mm. bahwa berdasarkan ukuran. Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). . yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop. (2) Mikro Flora. dan (d) algae. dll. Aspergillus.000 bakteri per gram tanah. Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF). Diposkan oleh Dr. Bacillus. Abdul Madjid. (b) fungi. Selain itu. yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere. yaitu: (1) Makrobia. dan (3) Mikrobia. Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB). Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman.2 mm. Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah yang subur melebihi 100.Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0. organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga. Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. dll. 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme. (c) actinomycetes. menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology. Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas. yaitu: (1) Makro Flora. terdiri dari: (a) bakteri.

Abdul Madjid.net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr.Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis. MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) . yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik. dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah. Ir.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->