PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang

pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe :

1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998). Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Gramineae dan

. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. singkong dan sorgum. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. pembentukan organ baru. kopi. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. 1. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. 2003). apel dan anggur (Rahmawati. pembengkokan inti sel. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Arbuskul berperan dua arah. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. kacang tunggak. 2004). 2004). Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. 2. vesikel (vesicle) dan spora. selada. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. kapas. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. pepaya. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. bawang. kakao. nenas. kebanyakan berbentuk bulat telur. jeruk. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang.Leguminosa umumnya bermikoriza. akan tetapi belum berhasil. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. karet. 2004). Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. barley. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. padi gogo. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. teh. 2004). tembakau. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. palem. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu.

kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. Oleh karena itu. Kuklospora. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Gigaspora-ceae. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. 2006). Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Schubler et al. Pacispora. 3. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Gigaspora. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. yang memiliki perbedaan tegas. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. . hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. 1981). Acaulospora.Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Dengan bertambahnya umur. Diversisporaceae. Mirip dengan cendawan patogen. Intraspora. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. dan Glomus sp. Scutellospora. Paraglomus. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. Walaupun demikian. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Geosiphon. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Diversipora. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Entrophospora. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. 1981). dengan Ascomycota dan Basidiomycota. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al.

A. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. 2009. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. (Sagin Junior & Da Silva. Propinsi Sumatera Selatan. kepadatan propagula. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda.. Abdul Madjid. Http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. Ir. Palembang. Bahan Ajar Online. 2006). Program Magister (S2). Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. 2002). Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Program Pascasarjana. tanaman inang. . Program Pascasarjana. 1991). Diposkan oleh Dr.CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Palembang. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang.com. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Program Magister (S2). Indonesia. Indonesia. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Universitas Sriwijaya.blogspot.

Untuk daerah tropika basah. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Program Pasca Sarjana. Vesser et al. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Indonesia.. pH. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. Universitas Sriwijaya. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. Palembang. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. Indonesia. Universitas Sriwijaya. hal ini menguntungkan. Program Pasca Sarjana.pada tengah hari. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. 1981). Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. bahan organik tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. saat kelembapan air rendah. 1981). adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. tanah. kadar air tanah. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. Program Magister (S2). Palembang. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan.** Program Studi Ilmu Tanaman. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Program Magister (S2). Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. logam berat dan fungisida. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman . Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse.

Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal . Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. 1981). Serasah tersebut mengandung hifa. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas.ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. 1984). karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. air dan udara. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. 1997). Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. 1997).

Cendawan pada umumnya . 1981).. 1997). Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. alumunium dan mangan. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. 1997). tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. 1982 dalam Anas. dan Na yang tinggi (Mosse. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. klor. Benlate. Al. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. 1997). Pemakaian fungisida menjadi dilematis. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit.yang tinggi dalam jaringan inang (Anas.. 1984). Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Plantavax.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. fungisida Agrosan. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). 1984 dalam Anas.

ameliorasi dengan bahan organik. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. 1996). Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. 1995). cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. 1 9% (Gededda et al. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. K. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM.memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. Pada tanaman pisang. jumlah bahan organik yang dihasilkan. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. 2005). Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. . pembakaran. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. P. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. unsur hara dan struktur tanah.04 menjadi 0. 1984). cropping sistem. Dalam budidaya tradisional. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. karena perubahan spesies tanaman. 1995). Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. 1998).

1996). A.com. Indonesia. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. Program Magister (S2). Untuk tanaman manggis. Abdul Madjid. Universitas Sriwijaya.Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. bobot kering tajuk. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. sedangkan inokulasi G.2% dibandingkan dengan kontrol. . jumlah daun pada umur 4. sedangkan inokulasi G. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Program Magister (S2). Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Ir. Program Magister (S2). Indonesia. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. 2002). Program Magister (S2). MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Sawahlunto Sijunjung.blogspot. Bahan Ajar Online.masing sebesar 5. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. Program Pascasarjana. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Indonesia. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.7% dibandingkan dengan kontrol. Palembang. Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. G. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang.7% dan 4. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. Palembang. Universitas Sriwijaya. Http://dasar2ilmutanah. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. Diposkan oleh Dr. 2009. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Palembang. Palembang. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Studi Ilmu Tanaman. 8 dan 28 MST. Program Pascasarjana. Program Pasca Sarjana.5% dibandingkan dengan kontrol.

Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P.(Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. Selain daripada membentuk hifa internal. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. salinitas. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. pemadatan. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. serta patogen akar. Zn. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. dan Zn). dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. kekeringan. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. keasaman. 2006). Cu. 1997). dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Fe. 3) melindungi dari herbisida. Di dalam arbuskul. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke . Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. 1997). Selain itu.

Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. 2006). masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. K dan S. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Dengan adanya CMA. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Zn dan Cu meningkat. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Pada kedelei. Setelah periode kekurangan air (water stress). Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. 1994). Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya . Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. 1997). Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza.tanaman inang. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza.

Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. tailing tambang batubara. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. 3. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. 4. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. Dilain pihak. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. 2.1997). Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Infeksi patogen akar terhambat. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham.simpan air kecil. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. 2. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. 1994). Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. atau lahan terpolusi lainnya. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. 1993). sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Interaksi . sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya.. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Jika terhadap jasad renik berguna.

dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. 5. 40% kebutuhan nitrogen. 2000). tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. 3.sebenarnya antara CMA. 1981). Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. 1981 dalam Husin dan Marlis. dan giberalin. Pada tanaman tertentu. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. sitokinin dan giberalin. Perbaikan Struktur Tanah. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. 1997). sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi . 1997). Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. 4. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. Bila ini benar. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. 1997). maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. patogen akar. citokinin. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu.

agregat mikro. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Menurut Hakim. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. tapi juga bagi tanah. 2002).. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. 2002). Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. .. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik.

3. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al.6 hexakisphospat). B. khususnya pada tanah yang miskin P. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. Prihastuti et al. 1987). Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular.2. 1999). Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P.6.50–90. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. Besi (Fe++). Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. setelah didahului dengan proses infeksi akar. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah.5. Seng (Zn++).4. dan protein. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. japonicum. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting.33%. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. Phytat adalah senyawa phospat komplek. phosphor bebas dan mineral. 1997). yaitu mencapai 70. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas . merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. 2006). Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA).cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. 2002). Magnesium (Mg++).. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa.

Sulawesi dan pulau besar lainnya. baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. tanaman inang. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. temperatur. tipe perakaran tanaman inang. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. adanya asosiasi ini. perkebunan. 2004). Kalimantan. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. miskin hara dan bahan organik. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. pH. Sedangkan secara langsung. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. 1995). respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. Secara tidak langsung. baik untuk tanaman pangan. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. 6. 1994). 7. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". Bagi tanaman inang. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. kadar air. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2.tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. tanaman tanpa mikoriza) / BK. spesies cendawan. tanaman bermikoriza . cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air.BK.1. 3. .

Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. infiltrasi air hujan rendah. dan hasil kedelai meningkat dari 2. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian.66 mg P/tanaman. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp.kejenuhan Al tinggi.18 mg P/tanaman menjadi 2.02 g biji/tanaman menjadi 5. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam .. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang.13 g biji/tanaman. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. 1996) dan pepaya (Cruz et al. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat.1997). Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Disamping untuk tanaman pangan. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak.98 g biji/tanaman.15 mg P/tanaman.. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. serta serapan hara NPK. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz. 1997). net fotosintesis.13 mg P/tanaman menjadi 2.84 g biji/tanaman menjadi 5.

2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. et al. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri. tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun. karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. 1995 dalam Aggangan et al. kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach. 1994 dan Tam. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Zn dan Cu (Al-Kariki. tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik. Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. 1994). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti. 2001). 2000). karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang . terhidar dari plasmolisis. 7. Namun demikian. Dalam kondisi salinitas tinggi.jaringan dan transpirasi yang lebih besar. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al. 2000). Peneliti lain. meningkatnya tekanan osmotik. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian.

Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. meningkatkan N tanah setelah percobaan. mempercepat umur berbunga tanaman jagung. 1993). disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa. zat yang melarutkan PAH. juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. maka laju penurunan hasil clover meningkat. Oliveira et al. ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover. tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass.. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Menurut Wachjar et al (2002). Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut.. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit. efisiensi penyerapan P.berbeda. . 12 diantaranya bermikoriza. dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. (2001) menunjukkan bahwa P. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan. 2000). Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman.

S. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. sulit dan cukup mahal transportasinya." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis.tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007). berharap jati muna yang telah . Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar. karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. produktivitas. baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. Selain itu. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007). Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman. mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. Dengan teknologi mikoriza. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. 2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA.

selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. 2008). Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. sebesar 38.76 % -21. Inokulasi . 3. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. selain untuk meratakan hasil.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi".72 ppm dan tanah Inceptisol.80 % .67.5 ppm. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu.66 % . diaduk merata. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" .Lima hari kemudian. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al.40. 69. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. bedeng tersebut dapat digunakan. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13.. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2.90 %.84 % . dengan kadar P tersedia "rendah" . Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. spora dan akar terinfeksi. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak. Untuk mewujudkan harapannya. 8. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. Peningkatan kadar P nira. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. 2.dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan.65 %.71. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira.15 %. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. Tujuannya. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman.

Manfaat 1. 4. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. Dalam rangka pelaksanaan program ini. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan. 3. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. 5. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. 6. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. sorgum atau pueraria. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Tanaman inang dapat berupa jagung. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman.Pada tiap lubang yang dibuat. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. Dalam teknik pemberian mikoriza. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. 2008). .

Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif.00 gram.50. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P).Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. dan Nitrogen (N) 75%. Kalimantan. Kalium (K) bertambah 86%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml.500 dan 2. 1. 2008) .00 gram (Hardiatmi S. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Tablet ini dibuat dari cendawan. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Setelah itu pil dipecah-pecah. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Untuk membuat tablet. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Dengan demikian. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. sampai 230%. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Sebagai pembanding. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman.J.ah takaran 1. Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi.M. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Di IPB.00 gram. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. Setelah teruji kemurniannya. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza . Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari.50 dan 2. Aturan pakainya sederhana.00. 1.00. Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. 1.7 sentimeter. satu tablet untuk satu bibit.

Http://dasar2ilmutanah. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut. membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. . Indonesia. Propinsi Sumatera Selatan. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). 2009. Program Pascasarjana. Program Magister (S2). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Bahan Ajar Online. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya.com. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. Palembang. Palembang. MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Diposkan oleh Dr. A. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. Program Pasca Sarjana. Ir. Palembang. Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya.blogspot. pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan. penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah.Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Abdul Madjid. Indonesia. Program Magister (S2). Palembang.

Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas. Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat. Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian. kehutanan.4-13%). ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------Coklat (kakao) . Rhiphosant. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer.Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal. Tabel 1. Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0. OST dan Simbionriza. 4. perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan. pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. Kawasan PUSPIPTEK Serpong. Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza. sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1). Kamizae. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. virus. Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. jamur yang bersifat patogen. b.1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman.

Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut.28 34. seperti terlihat pada gambar 2 dan 3. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman. d. Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media. Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman.Tanpa Mikoriza 28. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan . Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal.44 Dengan Mikoriza 28. Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem.64 35.12 Dengan Mikoriza 48. Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan.50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32.14 Dengan Mikoriza 43. Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza.50 33. Bali. 4.70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18. Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan). Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah. Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan.70 ------------------------------------------------------------------c.2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20. Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman.000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung.

mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Untuk membuat tablet. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0.pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air. Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. satu tablet untuk satu bibit. Aturan pakainya sederhana. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Setelah teruji kemurniannya. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Tablet ini dibuat dari cendawan. Empat bulan kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir . ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara.4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. 2008). jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. javanica. 4. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam.3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. sampai 230%. Setelah diberikan pada bibit tanaman. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri.S. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Di IPB. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung.M.7 sentimeter. Dengan demikian. Setelah itu pil dipecah-pecah. dan Nitrogen (N) 75%. Kalium (K) bertambah 86%. Kalimantan. 4. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J. Selain P.

sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak. Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target . Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri.000 kapsul. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus. (3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1. Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia. setiap kapsul dibutuhkan 0. Pada praktek sebelumnya. berarti dibutuhkan 500 g carrier. Setelah itu. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam. 4. Sebelum digunakan.000 spora. Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas. Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah. (3) Dapat di produksi secara khusus. pH tanahnya sangat bervariasi.5 g carrier.000 spora secara merata.dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah. (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00. akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman. Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang. Apabila dikemas dalam bentuk tablet. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai. (2) Mempermudah penanganannya. Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman. misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00. tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus.

Mikrococcus. (Organic soil treatment) Agrobacterium. Azospirillium. Aeromonas punctata.D. Nitrosomonas. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama.luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia. Azotobacter. 2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Lactobacillus spp. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii. Tabel 3. Clostridium pasterianum. Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit.M. Sinorhizobium. Anabaena azollae OST Azotobacter. Ankia alni. Rhizobium. Nitrobacter. R. Nostoc muscorum. Azzospirillum lipoverum. (pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat. Bacillus. pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar. Beijerinckie. Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium. protein dan humus aktif Biota Bacillus spp.

Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Abdul Madjid. KESIMPULAN 1. Fakultas Pertanian. . Ir. Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). 1989.blogspot. MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin. Indonesia. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. DAFTAR PUSTAKA Anas. I. Program Pasca Sarjana. Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. I. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Program Pasca Sarjana. 2.Bioteknologi Tanah. Universitas Sriwijaya. 3. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Biologi Tanah dalam Praktek. Program Pascasarjana. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. 2009. Indonesia. Jurusan Tanah. Program Pascasarjana. Bahan Ajar Online. 1997. Http://dasar2ilmutanah. Palembang.Madjid. IPB. A. Anas. Palembang. IPB. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Diposkan oleh Dr. 2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi. Indonesia. Palembang. serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan.com. Universitas Sriwijaya. Laboratorium Biologi Tanah.

Soils 24 : 81-86. Brundrett. 2002. M. R.H. 1997. Rusdi Saul.. Lampung. 1997. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www. A. Sutopo Ghani Nugroho. Bailey. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.R.com. Growth response of Afselia africana Sm. Vol 5. M. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. p. 2007. and J. E. and F. 2000. M. 1994. Iskandar. Reber. Universitas Lampung. Sanon . Biol.F. 2008. M. Biochem. Universitas Lampung.com Fleibach. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol. hal 83-89. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis.com dalam http://support. INFOTENS. 2000. terhubung berkala : www. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds).M. Soil Biol. 26 (9) : 1201 1205. Go Ban Hong. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. 2004. Doponnois. Ika RS dan Saubari MM. (Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo. 2007.google. Lampung. Mycorrhiza J. Faisal T. Ba. El-Atrash. Hasanudin. 2008. Ali. Azcon. Husnal. Rev. Biantoro M. Nurhajati.Adinurani P.1.H. Dudi. . Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May). Yusuf Nyakpa.M. A. K. 1986. Hakim. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. Jakarta. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia. 2007. Prosiding Kongres Nasional VI HITI. N. nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. R. Dexheimer. Mahfud. A. Vol 5.B. Hakim dan Kusli..G. 79:473– 495.M. Amin Diha. Husin. 12-15 Desmber 1995.. Mulyati M dan Roy H.lunarpages. No. 9/2 : 91-95. G.google. Diversity and classification of mycorrhizal associations. H. Martens and H. Lubis. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Biol. ISSN 1411-0062. Fertil. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna.

. Bull Manjunath. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi. 2000. Publ.google. Ress.S. J. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae.Lovisolo and A. Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi. Fertil.go. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember. Killham. JMR. 1984.id. Khan. R.Joner. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense . 10/5 : 241-247. Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian. D. Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity.. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity.usu. Effect of various soil environment stresses on the occurance. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul. E. 1994. and R. Plant and Soil 78: 147-150. Bogor. http ://www.. 10/3 : 115-119. 2003. 2000. Mycorrhiza 10/3 : 137-143. 24 Januari 2006. Biotrop Spec.. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture. and C. M. Mycorrhiza J. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons.. Jordan. Biol. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering. . 1997. Mycorrhiza J. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp. Mycorrhiza J. Terhubung berkala www. Castro.com dalam http://hortikultura.. Tejoyuwono. Biotropia 8 : 39-44. Jember. S. Oliveira. Morte. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion. A. 2001. Notohadinagoro. JC.. 1981. Leyval. A. Khan. Kim. Pattimahu. Universitas Jember. 1995. 2008. and McDonald.id. D. 1993.No56 : 131-137. K. Soil ecology. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains.J.G.download/tp/htm-rahmawaty s. Azcon. Lozano. 1998. K.V. Dodd and PML. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal. Sekolah Pasca Sarjana.H.pdf. Bagrayad. 10/4 : 155159.Tervesia claveryi. D. IPB.litbang deptan. 2004. A.Y. 2001. Soils 26 : 79-87. from saline soils and Glomus deserticola under salinity. Mosse.library.ae. C. Cambridge University Press. Rahmawaty. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. Schubert.

Ir. and C. 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation. Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. Biotrop Special Publ. 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza. 105(12):1413-1421. R. Biol.. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. 1995. Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans).Rotwell. Subiksa.E. A.No56 : 131-137. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza. Penerbit Universitas Indonesia.T. 1984. Kapoor. Mahadevan.A.. Unsur hara tanaman. Bethlenfalvay. Edisi Kedua. Soc. Buletin Agron. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** . Biotrop Spec. Simangunsong S.J. 1994. A. Walker. D. Widodo. and K. Ninin Y. J. D.R. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. F. hal 69-74. S. 1999. Wachjar A. 2002.B. Rao. S. N. Diposkan oleh Dr. 2005. Dela Cruz. Thomas. Fertil.S Subha. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali. Mycol. Yadi S. Soils 28 : 139-144. Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil. Singh. M. Publ. Am.K. Romeida.arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste. R. Res. dan Marlin. Vol 3. IGM. Schwarzott. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution. and R. 2002. 2006. Abdul Madjid. 1991. Soil Sci. J. MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu. Zarate. Ragupathy and A.S. 57 : 77-81.. Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland. A new fungal phylum. Plant and Soil 80-99-104 Rani.. Incidence of vesicular . 2001. Bengkulu. Bogor Schubler.L. Franson. and G. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu.

Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang. Program Pasca Sarjana. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. Bukit Besar. Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. Program Magister (S2). baik di Negara maju maupun Negara berkembang. pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya. PENDAHULUAN 1. Sumatera Selatan. Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan. Universitas Sriwijaya. Indonesia. termasuk biodiversitas. Palembang. Universitas Sriwijaya. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang. Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik . Program Pasca Sarjana. Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Indonesia. biologis dan cultural. Palembang. Program Magister (S2). Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam. Palembang.(Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Sumatera Selatan. Upaya yang mulai . Bukit Besar.1. seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan .

Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus.dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit. kimia maupun biologi. Penyedia hara . termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji). kemasan . maka harus diperoleh galur yang dikehendaki. 1996): 1. Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. 2002). maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar. Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi. harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono. penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman.2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil. Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting. Terutama yang berhubungan dengan pengiriman. Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif. Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati). Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan. Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut ( Gunalan. Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara. Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan. Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan. bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. baik kesuburan fisik. Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan. termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif. jamur.

seperti eksudat akar dan sisa tanaman. 3. Micrococus dan Mycobacterium. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans. B. tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. Achromobacter. bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. cereus. Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) . Pseudomonas terbagi atas grup. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. licheniformis. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel.1 1μm x 1. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. jamur dan aktinomisetes.2. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof . P. multivorans (Hasanudin.Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri.4. 2. polymixa. Pseudomonas. Flavobacterium. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4.berbentuk batang lurus atau lengkung. subtilis.5.2. megatherium. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri. Perombak persenyawaan agrokimia 1. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. B. Peningkat ketersediaan hara 3. Pemantap agregat tanah 6. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa.0 μm. ukuran tiap sel bakteri 0.2003). Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek. kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1. Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah. B. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu. dan P. putida. diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine. dapat menahan unsur hara di dalam selnya. P. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana. Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah. fluorescent. B. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus. B.5-0. Arthrobacter. .

sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. Semakin tinggi C-organik dan semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru.2005). Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman. tetapi pada umumnya rendah . Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . asam nukleat. Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. 1. nukleotida. suhu tinggi dan zat kimia. Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik.Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah. dan ribosom. dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. Endospora mengandung sedikit sitoplasma. materi genetik. Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis. 6. 5. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah. radiasi cahaya. Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya.terutama yang bersifat heterotrof. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah.4.tetapi juga dipengaruhi oleh pH . fosfolipid. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. . Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. hewan dan mikrobia. dan gula posfat. kelembaban temperatur dan faktor lain.3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik. Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%.

2002). Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat. Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein. pembentukan akar halus dan rambut akar. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya.4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. fosfor merupakan 11 unsur yang . diantaranya dalam proses sintesis protein. Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya. Al-P. Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme.2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit. ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme. ATP.pembentukan bunga . Secara geokimia. Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit.Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P. memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit. dan mineral P primer. Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat. yang meliputi occhided-P . yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen. 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. Fe-P dan P tidak aktif. 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit.Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit. melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi. Dalam bentuk anorganik. Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono. reductant-P .Mn2+ dan Ca2+. AlPO42H2O Variscit.Al3+. buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit. karbonat apatit. gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman.01 – 0. FePO42H2O Strengit. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. 1. Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman.2007). ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi. Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel. P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas. Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji. aluminium dan hidrat.

com. Masuknya fosfor ke laut sebesar 3. Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5. Seperti halnya nitrogen. Program Pascasarjana. Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk. Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat. mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5). berat jenis 3. Ir. krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 . Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman.OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros). guano. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata. Abdul Madjid. Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan. 2009.4 . Http://dasar2ilmutanah. kilap kaca sampai lemak.5 juta ton endapan guano (0. Di dunia. 1992). Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F. Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk. Jika aktivitas manusia (anthropogenic). seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2). Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal. sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak. Siklus P pada Gambar 21 (Buntan.H2O). sedimen. yaitu 7. Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan.40% P2O5. Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano. Bahan Ajar Online.3 x 1011 mol P th. dan metamorf. sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton. dan milisit {(Na. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K.blogspot.K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}. Sumber lainnya berasal dari jenis slag. hijau. Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik. Universitas Sriwijaya. Diposkan oleh Dr.20. Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2. Indonesia. dan kekerasan 5.15.15 3. Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis.Cl. Propinsi Sumatera Selatan.43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9.6 x 1011 mol P th . maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat. Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik.sangat melimpah di kerak bumi. Program S2. MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah .17 . Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air. fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis. A. Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat. Sebagai contoh 15-30-15.beku.6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 . Selain sebagai bahan pupuk.

yaitu dalam bentuk Ca-P. Palembang. tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Bukit Besar. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH. malat. glutamat. oksalat. fumarat. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan .BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Fospor relatif tidak mudah tercuci. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. Palembang. Indonesia. Universitas Sriwijaya. MgP. Sumatera Selatan. Program Magister (S2). laktat. Al-P. Universitas Sriwijaya. tartarat dan alfa ketobutirat.Penurunan pH juga disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. Indonesia. Program Pasca Sarjana.1. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Sumatera Selatan. Fe-P atau occluded-P. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah . sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca. suksinat. Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat. Bukit Besar. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. glioksalat. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan.

oksalat. tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam. demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap.2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit. Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat. salisilat). Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat. diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif . sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). . sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal. oksalat. salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P.sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M. Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam. (c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti. tartarat dan malat berefektivitas sedang. Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik . asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif. Terdapatnya asam-asam organik sitrat. beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd). asetat dan ptalat).(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe. asam amino dan asam fenolik.laktat. Hasil penelitian Pramono et al. malonat. malat.---> M OH + H2PO4H2PO4 . Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat. sedang (malat. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. dan lemah (suksinat. tartarat). sedangkan asam malonat. karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe.OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme.OH + R-COO. Disamping meningkatkan P tersedia. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi.

0 x 10^8 4. Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik . suksinat. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik.0 x 10^5 12 Protozoa 2.2 x 10^9 5. sitrat. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah.4 x 10^3 1. 1961. Tabel 1. 2007). Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. malat. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. alfa ketoglutarat. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. asetat.6 x 10^7 7.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4. glikolat. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan. Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran.0 x 10^5 125 Denitrifiers 1. 1971. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca.2 Ammonifiers 5. Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1. merupakan bentuk antara (transisi). glukonat.0 x 10^3 2 Algae 5.Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1.26 x 10^8 1. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat.7 x 10^4 0. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia.0 x 10^6 7 Fungi 1.0 x 10^3 2. oksalat.0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams.2 x 10^6 1.

8.5 ppm menjadi 30.5 . Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. sedangkan pada tanah bereaksi basa P . Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16. Bacillus substilis. 6.3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4. (3) tingkat dissosiasi asam organik. mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat.9 ppm.7 ppm pada tanah sterl dan 0. apatit. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0.ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24.6 ppm pada tanah steril.7 ppm menjadi 34. batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p. Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer.8 – 3.9 dan 0. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida. yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0.3. FePO4. lesitin.4 ppm menjadi 59. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. Ca3(PO4)2. . meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28. Escherechia freundii dan Escherechia intermedia. Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 . 0. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. Bacillus sp. 13 dan 14%. AlPO4.1 – 3. gliserofosfat. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat. Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro. Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P.8 ppm.

Moawad. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi . Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. Pada tanaman jagung. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. bakteri. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. berat kering trubus. Pada percobaan yang lain P. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Misalnya. dan Vlek (1996). Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. dan aktinomicetes. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan.2. berat basah trubus. berat kering akar. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. luas daun serta kadar P trubus. (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit. berat basah akar. (3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. 2. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. misalnya: fungi. 1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. AlPO4 tidak larut dalam air. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al. minimal duplo.Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan.

Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang,

Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini

super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu

Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan. penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% .01 . Azotobacter sp. Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No.05 .Miza Pluss. Teknologi penyubur tanah dan tanaman.20 (3) MgCl2. Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 . mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia.3. dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp.30 (2) Ca3(PO4) 2 1 . Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud. Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai.01 . tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder).dikembangkan . Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3).1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional .7H2O 0. . mikroba pelarut P.0. berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair.20 (4) MgSO4.5 (6) (NH4)2SO4 0.2 (7) Bromophenol Blue 0. Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman. 3. dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor. Lactobacillus sp. Tiens Golden Harvest .5 .6H2O 0.025 .5 (5) KCl 0. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost.

N. Universitas Sriwijaya.com. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Palembang. Bahan Ajar Online. Ir. Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. ** Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. Program Pasca Sarjana. Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula. Abdul Madjid. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Program S2. Program Pasca Sarjana. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Palembang. Indonesia. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . http://dasar2ilmutanah. MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. dan zat pengatur tumbuh tanaman. A. Bukit Besar. Diposkan oleh Dr. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P. bakteri pelarut fosfat. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya.Kemasan : 5 dan 25 kg. Indonesia. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Sumatera Selatan. Propinsi Sumatera Selatan. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Masa simpan : 12 bulan. Program Pascasarjana. Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan. bakteri pelarut fosfat. Universitas Sriwijaya. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul . dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman.Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik. Bukit Besar. bakteri penambat N.

tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. Bacillus subtilis . Bacillus sp. 0. kedelai. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0. .9 ppm. padi. 3-13. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7. sedangkan pada tanah berreaksi basa P. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum. Escherechia freundii dan E.5 ppm menjadi 30. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P.9 dan 0. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat. Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum. Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16. Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium. barlei. 3-9. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4.4 ppm menjadi 59. bit gula. meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP. Ca3(PO4)2. Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. Intermedia .3 .1-3. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat.Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. kentang. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. lesitin. kubis. Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai.8-3.8 ppm. gliserofosfat.6 ppm pada tanah steril.7 ppm pada tanah non steril dn 0. jagung. tomat. 5-21 dan 14%. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B.7 ppm menjadi 34.puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%.IV. Circulans pada tanaman kedelai. hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24. kacang panjang dan tebu. Bacterium mycoides dan B. Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum.3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4.

Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau. suksinat. glioksilat. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al. Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. 1991). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. diantaranya asam sitrat. Mg2+. Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. glutamat. Pada tanaman jagung. 1994). Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. fumarat. Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh. Fe2+. P. 1992. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan.Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk . dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit. Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung. malat.2007). 1992). terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens. 1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%. Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono. Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2. Puptida dan P. Pada percobaab lain (Buntan. oksalat. laktat. Premono dan Widyastuti.4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto. bayam dan kacang panjang). Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. Striata.

jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot .48 g. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga. berat daun segar 4 tanaman per pot. jumlah biji. tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF. ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai. yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1. Chromobacterium lividum. Gunung Botol.15 g tanaman-1. Bacillus sp. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp.) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl. dan Chromobacterium sp..63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. 217. vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area. 930. jumlah polong. Megaterium sebagai inokulan padat.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF. Klebsiella aerogenes.67%. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc.) di Tanah Marginal. 575. 354. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). Klebsiella aerogenes. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.5-2.81%. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung.tersedia yang dapat diserap oleh tanaman.75%. Bacillus megaterium. umur panen. 207. dan 61. pH tanah.42 g atau ada kenaikan 877.5 cm. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. 903. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl. Chromobacterium lividum dan B. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. Daerah Cikaniki. 208.22 g.63%. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos.67%.3881 ppm dan 280. jumlah bunga. dan B.30%. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. umur pembentukan polong. 203. dan 606.

Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. Program Pasca Sarjana.kering tanaman kedelai. Bahan Ajar Online.blogspot. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Bukit Besar.com. Sumatera Selatan.Ca dan proses pelapukan yang rendah . Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. Diposkan oleh Dr. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Program Pascasarjana. Sumatera Selatan. Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al. Indonesia. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Http://dasar2ilmutanah. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Palembang. MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan.Fe. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. A.penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan. (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan .Mn. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Indonesia. Ir. 2009. Abdul Madjid. Indonesia. Program Magister (S2). Palembang. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. (2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai amelioran.

Gaur . S. Plant Soil .S and A.No.30:105-106. Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean. (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis. Fakultas Pertanian USU. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop. Pustaka Adipura. Kundu. 1997. 1982.Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol. 1996. Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman.S.2005. 1980. Escherechia intermedia Pseudomonas putida. Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan. Noor A. 45: 506-509.Soil Sci.C. Buletin Agronomi. Escherechia freundii. dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Buntan. B. Dubey. Handayanto. Pal. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few . Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor.2003. S. 2003. 2004.Bacillus firmus. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism.E dan Hairiyah. Bacterium mesenterricus. N and K. Banik. Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia. Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol.2.32.ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat.2007.J. Indian Soc. Majalah Sriwijaya Vol.A. Hasanudin dan Ganggo. B.K. S. serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung. 31 (3): 100-106. Edisi 3. 1982. Hasanudin.Soil Sci.Indian Soc. Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens. Elfiati.K Jha.K. 1998.J.Faperta Universitas Bengkulu. Bacterium mycoides.Medan Gunalan.D. 60:353-364. 6(1) : 8-13.1992. Universitas Bengkulu.Universitas Sriwijaya. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Bacillus megaterium. Plant Soil 57 : 223-230. Citrobacter intermedium .

2005. Yuwono. serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat.C. Setiawati. dan Ciptarasa..2002. Abdul Madjid. UI Press). Microbiol 42: 207-220.R.J. Sutanto.Penerapan Pertanian Organik. 2006. Plant Soil. and Sinha. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning.L and B.Biodiversitas.Pupuk Hayati . 7(2):109-113.NW. Gunung Botol. 4(1) : 1-5. Widawati. Jurnal Nature Indonesia. Supadi.Widyastuti. MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat.Kanisus Jakarta.Biodiversitas. Premono.1 Wulandari.Bogor. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake. Edisi 2 .N. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau. Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung. 198 : 169-177. Patten. Soil Microorganisms and Plant Growth. Ir. Tesis. 1992. Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki. Oxford and IBM Publishing Co.Yogyakarta. Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam. C. Universitas Pajajaran. Edisi 3.H. (Terjemahan Susilo. 2001. Bandung.Bandung Rao.Agr.H.T.T. 1998. 1991.Medellín vol.R. 1996. UGM. Vega. Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic. Widawati.R Glick. 2007.Program Pascasarjana IPB. S.) di Tanah Marginal. Can. Diposkan oleh Dr. 2006. S dan Suliasih . N. 7(1):1014. S.W. 2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: .60 no.Disertasi. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. S dan Suliasih . 1962. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.acid tolerant crops.

1998). Program Pasca Sarjana. bakteri dan fungi pelarut fosfat. Indonesia. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui. dan mendegradasi residu toksik (Sparling. Palembang. Palembang. Bukit Besar. Indonesia. protozoa. Universitas Sriwijaya. karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. Bukit Besar. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme. Bukit Besar. serta bakteri yang berperan sebagai . kimia. Sumatera Selatan. bakteri. Universitas Sriwijaya.* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. bakteri dan fungi perombak bahan organik. Dalam sejumlah kondisi. Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. 1998). alga dan virus. Sumatera Selatan. Indonesia. fungi. Program Magister (S2). melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot. dan virus sebagai agensia hayati. Program Magister (S2). PENDAHULUAN A. seperti bakteri. tanah yang sehat memiliki kondisi fisik. aktinomicetes. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik. cendawan. (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. Palembang. Dibidang pertanian. Universitas Sriwijaya. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut.

dan meningkatkan pendapatan petani. (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman. 1978). Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya. Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. Beberapa mikroorganisme seperti bakteri. Fakultas Pertanian Unsri & . Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah. A. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba). Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. Bahan Ajar Online. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. 2009. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat. vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida. Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan. Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan. B. Saraswati et al. menghemat biaya pupuk. (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah. Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme. fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P. kesuburan. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat. Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah.

Http://dasar2ilmutanah. Indonesia. yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit.2 mg/kg tanah. Palembang. kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam. Program Magister (S2). Abdul Madjid. Bukit Besar. Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. Universitas Sriwijaya. Cl-. Program Pasca Sarjana. Ir. Universitas Sriwijaya. Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk. Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis. Universitas Sriwijaya. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2. Program Magister (S2). Program Magister (S2). umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai. Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. pemupukan dan mineralisasi P-organik. misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut. dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. . MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana. bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 (occluded P). Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. Palembang. (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II. Program Pascasarjana.Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia.com. Program Studi Ilmu Tanaman. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman. (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid.atau CO32-. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. Sumatera Selatan.blogspot. Sumatera Selatan. Diposkan oleh Dr.01-0. OH. Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut. Bukit Besar. Palembang. Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N).

Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba. yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). 1977). Bila ion fosfat (HPO42. pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik. fosfolipida. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. keseimbangan P dalam tanah terganggu. pemupukan. Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat. Oleh karena itu. Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah. pengembalian melalui residu tanamandan hewan. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik. karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik. Siklus ini berulang terus menerus. bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. fosfor terdapat dalam dua bentuk. nukleotida dan gula-gula fosfat. Di alam. asam nukleat. hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. Sisa tanaman. fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. hewan dan organisme tanah. Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah. reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman.Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman. Pada sistem pola tanam yang terbuka. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. hewan dan mikroba . Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik. Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah. 1997).atau H2PO4-) diserap tanaman. 1989). dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. Subba Rao.. 1989. Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al. Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu. Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P. (b) imobilisasi P-tersedia. sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat.

maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi. Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik. Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol. Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah . Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi. Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. seperti nukleotida atau fosfolipida. bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi.yang dikembalikan ke dalam tanah. Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah. maka terjadi net mineralisasi ortofosfat. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan. 1997). aerasi. dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat. Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen. yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba. nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme. aerasi. Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah. Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat. Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah.. Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. Umumnya. Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat. 1986). temperatur. 2. 1. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis. Selain kandungan fosfat dalam residu. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon. kelembaban. variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al. atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas.

2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4. keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut. kalsium dan magnesium fosfat. Selain itu. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah. Mn. Pada kondisi tergenang. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson. hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya.+ OHCa(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ . besi.lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43. pH tanah. 1986). Al3+ + H2PO4. Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var. Ion Fe. dengan melepaskan fosfat.lebih mendominasi.----> Al(OH)2 H2PO4. H2PO42-. Pada pH tanah agak masam hingga netral. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium. Al. dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat. yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7.+ 2H2O ----> AlPO4. Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza. Nilai kritis C/P adalah 200. Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat. Fe. pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang. Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi. Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat.2) H2PO42. jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat. dan PO43-. Mn. Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-. dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi. dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut. Phosphaticum. sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4. dan Ca.lebih mendominasi.+ 2H2O ----> FePO4. yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1. Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut. H2PO42.ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P.2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam. Hal yang sama.

Program Pascasarjana. Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman. Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat. 3. Bukit Besar. pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. 2007). Mn. Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun. selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital). suksinat yang dapat mengikat Al. Bahan Ajar Online. asetat.Didaerah rhizosfer. Program Magister (S2). A. Http://dasar2ilmutanah. Abdul Madjid. Ir. laktat. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Magister (S2). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 2. dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah. Universitas Sriwijaya. Fe. Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah. Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi. Sumatera . 2009. selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi. Universitas Sriwijaya. yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik.blogspot. Diposkan oleh Dr. Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P.com. Kandungan bahan organik tanah.

Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman. Bukit Besar. Indonesia. dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster. Hawksworth et al. Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im. dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. . (1996) dikenal 5 kelas fungi. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5). Sumatera Selatan. 1995).. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman. Program Magister (S2). 1970). 2007). kadang-kadang berkelompok membentuk miselium. miselium menghasilkan spora. Program Pasca Sarjana. Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran. yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes. Universitas Sriwijaya. 1991. Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri (non-motile) disebut zygospora. yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah. Sumatera Selatan.Selatan. tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru. Universitas Sriwijaya..5 juta (Hawksworth. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan. Program Studi Ilmu Tanaman. Sekitar 70. Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman. Reproduksi secara seksual. membentuk spora dari fusi dua nukleus. (Bagian 3 dari 6 Tulisan) III. Palembang. berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai.000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. Palembang. Indonesia. Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya.

(1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman. dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah. menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah. 2007). beberapa diantaranya bersifat sparofit. Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik. organisme rhizosfer. dan essensial . Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan. dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik. Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. bagian bawah. Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat. Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza. Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air.. fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah. fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. 1993). 1993). Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow. dan pengelolaan lahan. seperti selulosa dan lignin dalam kayu. dan pengendalian penyakit. Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya. Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah. 1992). Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas. karbon dioksida. tidak peka. Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks. tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi). Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah. eksudat akar. bagian tengah. siklus hara. baik berupa daun maupun kayu. Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal.Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat. Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual. Bersama-sama dengan bakteri. Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya. CO2 terhambat. sebagai contoh .

. Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit.flavus dan A. Phytium.dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat. atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman. tanaman pangan. Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. Seperti bakteri. Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial. fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah. Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza.parasiticus yang menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat. Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim. Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun. Namun demikian. Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian. Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian. contohnya A. sayuran. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda. dan semak. sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza. nitrogen. serta banyak dijumpai dalam tanah. beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik. menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. Selain itu. tekstil. 1995). hara mikro. Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering. (3) Patogen atau parasit. dan Rhizoctonia. Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus. (2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri. 2007). udara. dan kulit (Hawksworth et al. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun. Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. dan mungkin air) ke tanaman. Fungi patogen akar seperti Verticillium. dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. cat. Sebagai contoh A. 1995). Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya.niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah..

1968). Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga. Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin. diantaranya T. 1986). Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya. Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa. selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer. Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras. 1999). nitrogen. hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat. Karbon dioksida dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung). Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC.harzianum dan T. Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2. 5. Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida. 1987). Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk. Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang. gandum.75-5x 2-6im. jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe. Pada tanaman. jaringan hewan dan tanah. Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al. dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol. terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez. sel berbentuk seperti tabung (Perbedy. Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman. 3. Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan. Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im. termasuk manusia. 1979).5-9.. .2. tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam. Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson. 1982). Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase. 1983). tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam. membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni. Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon. 4. Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0.koningii (merton dan Brotzman. Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar. Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan. Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman.5. Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi.

Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH . yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Indonesia. 2009. Indonesia. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Palembang. Indonesia. Bukit Besar. Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Program Magister (S2).com. Bukit Besar. Bahan Ajar Online. Program Magister (S2). Palembang. Universitas Sriwijaya. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Program Pascasrjana. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Sumatera Selatan. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. Http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Palembang. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. dan mineral lainnya. Bukit Besar. Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. ** Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik.vitamin. Diposkan oleh Dr. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. A. Sumatera Selatan. Abdul Madjid. Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC.

Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah. cereus.rendah. nitrogen (N) sebesar 2. fosfor (P) sebesar 0. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. sitrat. magnesium (Mg) sebesar 0. apatit. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat.0-40. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat.21% dan C/N ratio .14%. Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Arthrobacter. AlPO4. Penicillium sp. B. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. suksinat.. FePO4. dan Chaetomium sp. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4. khususnya fungi jenis Aspergillus niger. jamur dan aktinomisetes. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). oksalat. polymixa. B. 2006). Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao.5%. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. merupakan bentuk antara (transisi). yaitu: karbon (C) sebesar 19. (3) tingkat dissosiasi asam organik. kalium (K) sebesar 0. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). 2006). Fusarium. Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam.0-2. malat. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. B. 1994). megatherium. Achromobacter. harus mengandung 8 macam nutrisi. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. Flavobacterium. Trichoderma viridae. licheniformis. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. glikolat.04-0. alfa ketoglutarat. B.. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. candidus. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P. B. Schlerotium & Phialotobus. glukonat. asam amino dan asam fenolik. A.35%.010. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah.0%. Pseudomonas. Micrococus dan Mycobacterium. Penicillum. Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger. subtilis. asetat. Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis.039-1.

8 kali. 1980 . niger. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2. Subba Rao. (4) inokulasi R. kanada. dan FePO4.sebesar 9. merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. japonicum. jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30. dan serapan N dan P berturut-turut 7. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. dan serapan N dan P. 1986). sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat. Hutami et al. dan mesir. Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada . Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P. sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. dan G. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. 1982). menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. Kundu dan Gaur. dan 10 kali. Aspergillus sp. DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India. Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk. 1978). (3) inokulasi R. AlPO4. Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. Lestari (1994). margarita. Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut. Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006). Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). 1.0-20% (Gaur. 1957 . Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P. aktivitas fiksasi N. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. yakni lebih dari 10 kali lipat.4 % dibandingkan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul. (2) inokulasi R. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. (2001).. 1967). aktivitas penambatan N. A. 1977 . 8 kali.3 kali. niger strain NHJ2 1 ml per biji. Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah.

dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar. fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2). antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Tanah ini terkenal sangat miskin. Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al.. kab. dan kapasitas tukar kationnya rendah. Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al. Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar. bahan organik. Aspergillus niger. dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3).78 ppm (Baratha. kandungan bahan organik rendah. Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. Tanah ini memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. tanaman apapun yang . Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat. Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41. (2000). populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia.. 2004). Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). T. Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut. Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0). sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No. dan Chaetomium sp. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan. Pennicillium digitatum. Tiap kombinasi diulang tiga kali. Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer. Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. aspergillus niger. Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1). Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal. scwanniomycetes occidentalis. Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. Penicillium sp. Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat. Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak. Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi). Trichoderma viridae. Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4). sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P.media tumbuh GAGES dan GES. 42. Selain daripada itu T. Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38. Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung. harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat. 2000). Bogor. uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa..

Palembang. (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang). Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba.Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. 2009. Bukit Besar. Ir. Universitas Sriwijaya. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah. dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. Perlakuan keempat dengan menambahkan T. MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Abdul Madjid. . Palembang. Universitas Sriwijaya. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal. Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Diposkan oleh Dr. Bukit Besar. Bukit Besar. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup. Universitas Sriwijaya. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. A. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal. Program Magister (S2).ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. Indonesia. Sumatera Selatan. Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain.Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.com. (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia. Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung. Namun demikian. Http://dasar2ilmutanah. Program Pasca Sarjana. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). Bahan Ajar Online. pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. Program Pascasarjana. Palembang. Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali. Sumatera Selatan.blogspot.

Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya. mikroorganisme telah lama dimanfaatkan. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar. disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. pelarut. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional. menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat. R. arang. sekam. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman. atau zeolit. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah. memperbaiki struktur tanah. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). dan juga pada minuman. biakan cair. Indonesia.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif. dan tepung. Namun. tanah. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan. Di Indonesia. selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. mempercepat proses pengomposan. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia.11. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. Namun. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit. artinya mikroorganisme yang . atau ketempat pengomposan. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi. menekan soil-borne disease. vermikulit.130. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe. biakan kering beku. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah. Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya.760. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak. sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis. sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung. 2008). dapat digunakan bahan organik seperti gambut. dan kompos. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. biakan kering. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V.Sumatera Selatan. Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen.

kematian mikroorganisme dapat dikurangi. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. fumarat.Suatu teknologi . tanggal kadaluwarsa. Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. Fe-. Mn-. cara penyimpanan. jenis. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium. Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Stase. dan ketoglutarat. Pada pengujian pupuk mikroba. Propionat. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-. baik berupa bakteri maupun jamur. sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. seta jenis tanaman yang cocok. lartrat. dan Ca. tetapkan kelembapan bahan pembawa. 2008). Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan. Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe. 2008). 2008). Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. oksalat. Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. Selain itu. sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme. tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. suksinat. sitrat. Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. laktat. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah. dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun. Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe. glikolat. Di Indonesia. Mulai tahun 2004.terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas. karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. Dengan mempertahankan kelembaban. Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba.

50 kg P.iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar. Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P. Grt 3.65) hingga 147. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya.32% dan 16% pada padi. dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12. dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai.56 ug/m! (pH 6. mikoriza. Aspergillus niger NHJ2. Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya.28 ugfrnl (pH 2.0. BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan.85ug/ml (pH 5. mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman. Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman. bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K. dan meningkatkan serapan P tanaman.9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2. Sehingga dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia.0. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P. Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I). memobilisasi. Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah.59%). Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P. tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P. Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan. Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0. Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman.ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%.5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi. dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman. Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale.47) hingga 394./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P. dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya. 50 kg/ha SP36. bobol kering tanaman.78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P. serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos. Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28.60 ug/ml (pH 4. dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp.pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171.0.0./ha (23. . yaitu mikroba pelarut fosfat. jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%. Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea.1). yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi. serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya.irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM).

MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. 3. – 8. dan actinomicetes. Konsentrasi fosfat. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. Ulangi langkah di atas secukupnya. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. khususnya isolat fungi. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Moawad. bakteri. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. 6. 4. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh . Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. dan Vlek (1996). Buat medium agar Pikovskaya. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. – 6 s/d 10 ext. antara lain: 1. Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri. sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. 8. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. AlPO4 tidak larut dalam air. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0. 7. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. minimal duplo. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. 5. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. -4. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. 2.Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext.

Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al. Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. 4. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah. 1995). mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase. Goenadi et al. dan aktinomicetes. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan 12 bulan (Goenadi et al. efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang. Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi. A. bakteri. sehingga dapat diserap tanaman. Misalnya.. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. . misalnya: fungi. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. 1995). Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik. dkk. (Goenadi. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas. Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat. mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah. 2000).. asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. Melalui aplikasi pupuk hayati. fosfatase. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. (2000). PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas . Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis.2. Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal. Ketebalan agar. Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE. pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah. Kecepatan pertumbuhan mikroba. 3. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman.

Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. kedelai. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian. dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk. (1997). bobot kering bibit. penambat nitrogen bebas. dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh Dosis dan kandungan mikroba . BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan. dkk. dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman. menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah. B. ketersediaan hara di dalam tanah. Hasil percobaana Goenadi. dan volume akar.PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun.

8 kali. dan G.96. serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh. jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P.8 kali.209 me/100g). dan serapan N dan P berturut-turut 7. bobot kering akar. dosis anjuran 50 kg Urea/ha. Rhizobium 108-109. jumlah bintil akar. (4) inokulasi R.3 kali. dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa. (2) inokulasi R.5. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. niger strain NHJ2 1 ml per biji. MK 1999. 50 kg KCl). (3) inokulasi R. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. A. pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. MK 1997. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). jumlah polong isi. simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar. Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha). Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. Rata-rata bobot kering tanaman.Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha. Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk. aktivitas penambatan N. C. dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria). Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor. Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. pH 3. Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol. diameter batang. Al-dd 1. bobot kering total. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108. margarita. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar. dan 10 kali. dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran. serapan N dan P tanaman. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. japonicum. dan serapan N dan P. tinggi tanaman. . 1. 100 kg SP-36/ha. aktivitas fiksasi N. Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. niger. Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam. 2000). Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan.

Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1. Mikroba pelarut fosfat3. Mikroba Pendegradasi Selulose5.70 ppm . yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum. Pb.Lukman Gunarto MSc. Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan). Lactobacillus.23 ppm . Migro Plus Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru. Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As. Fe = 44. Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%.D. Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan.Ir. serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya. Cu = 0.04 % . Lactobacillus sp6. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. N = 0. yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini. yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien. Pseudomonas spp = 34. Zn = 3. Azobacter sp2.7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman. Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E.92 % . suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. C organik = 0. Azospirilum sp4. Mn = 0. Hg. Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr. Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini . K = 1700 ppm . mikroba pelarut P. Azotobacter. Cd dan Mikroba Patogen. Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien. yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal.3 ppm .85 ppm . Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI). dan mikroba pendegrasi selulosa.

yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami. apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. Lukman Gunarto. mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS. ada yang berfungsi sebagai penambat N. sehingga keaslian produk MiG corp. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. yaitu unsur fisik (bajak/cangkul). pembentukan anakan dan primordial. Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah. Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut. sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen. Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru. kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). Hasil dari pendegradasian tersebut. Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. Menurut penelitian Dr. tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. daun-daun atau bahan-bahan organik lain. Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). Lactobacillus sp. Azotobacter sp. Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik. juga terdapat mikroba Pseudomonas sp. sampai ke tangan konsumen lebih terjamin. sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan. probiotik MiG ternak.adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar. apabila . tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit). Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah. mikroba pelarut P. hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia. akan mendapatkan K dan unsur lain. 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup. menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. unsur N. penambat Nitrogen dari udara. dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik. P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL. Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya. melepaskan P yang terikat di dalam tanah. dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. populasi mikroba untuk menambatkan N.

com. Diposkan oleh Dr. (2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger. Indonesia. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja. Bukit Besar. Ir. Program Magister (S2). Program Magister (S2). Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. A.penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia. telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian. Schlerotium & Phialotobus. http://dasar2ilmutanah.blogspot. Palembang. (Bagian 6 dari 6 tulisan) VI. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pasca Sarjana. Penicillum. Program Pasca Sarjana. Caranya sangat mudah. Program Pasca Sarjana. Palembang. Tidak masalah. Indonesia. Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Malahan tanaman menjadi semakin subur. Universitas Sriwijaya. cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Sumatera Selatan. apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit. Universitas Sriwijaya. rusak atau mati. Universitas Sriwijaya. Fusarium. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Sumatera Selatan. 2009. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Bahan Ajar Online. A. Sedangkan dari golongan . Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. Bukit Besar. candidus. Universitas Sriwijaya. Abdul Madjid. Bukit Besar.

Eliane M. P. Publ..php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 . Fungal Ecology. Introductory Mycology (4th Ed). and Wicklow. and Schweizer. C. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism. Trichoderma viridae. Pennicillium digitatum. USA. (4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. M.J. N. VII. Orivaldo J. 1995. Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules. Souchie. Microbial. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. 1-44 pp. Saggin. R.. Inc. 1967.T. J. Chonkar and Subba rao. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae. SSSA. 51. Mims. fungi and arbuscular mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty. Buresh et al. Smithson. (eds). Building soil phospharus capital in Africa. G. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P. 1999. scwanniomycetes occidentalis.. Carroll. R. 1993. Canadian. J. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat. 2004. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec.. 2006.C.. New York.C. Barea. 111-149. J. L. Penicillium sp. Baniks. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Widyastuti. Alexopoulos. Communities of P-solubilizing bacteria.aktinomisetes adalah Streptomyces sp. 868p. 334-337. D. R. Philadelphia. D. Eduardo F. Madison. and Webster. 13 : 749-752. and Hellums. Edson L. John Wiley and Sons. 1992. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. Bogor.J.C. J. 1996.R..scielo. M. C. Dhandhun Baratha. London. Buresh. New York. S. Blackwell. WI. Pusat Antar Universitas IPB. Dix. Dickinson. 1982. dan Chaetomium sp. J. P. Campello. E. RJ – Brazil. Marcel Deker. Rosario Azcón Jose M. Premono dan R... 1997. In.W. aspergillus niger. http://www. and M. I.W.. Plant soil 60 : 353-364.br/scielo. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam. Chapman & Hall. Aspergillus niger. S. DAFTAR PUSTAKA Anas.J.T. PA.

1996. CAB International.. Aspects of tropical mycology. Cambridge.I. peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press. 1968. B. significance and conservation. Jakarta (Indonesia). Sutton. Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed.com/jayenterprises/fertilizers. M. P. Inc. R. Maningsih. In.. Riyanti.. Jenis pupuk P.C. Cambridge. A. Hawksworth. S.G. Merton. University Park. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. Wallingford. K. Paul. and Pegler. New York. Badan Litbang pertanian. Siswanto and Sugiarto. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification. Bogor (Indonesia).E. N and J.. Columbia. 83-123 pp. 1987. 23-30. New York. D. 641-655. Puslittanak. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. 1993. Plenum Press. Bio . 1994. D. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia. 588 pp.Gressel. the fungal dimension of biodiversity: magnitude. Giller and G.indiamart.F. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey. USA. D. Perbedy. 1995. Miller. CAB International. F and Brotzman.Z. The Pennsylvania state University Press. Isaac. McColl. Phaff.). P. Inc. H. E. Watling. University of Missouri Columbia Extension Division..M. Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus. The life of yeast.W and Mrak. Frankland.Fertilizer [Biosol-P] www. Mycology research 95. F. D. Cambridge University Press. A. 1986. H. E. Institut Pertanian Bogor. Hutami. 1979. Lestari. U. 204 pp. John Willey & Sons.J. Soil Science Society of America Journal 64:927932. R. Cadisch (eds). Skripsi.E. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung.C. 2000. 193 pp.html Joffe. N. Harvard university Press. Fakultas Pertanian. Sunarlim. Pennicilium and Acremonium. New York. Bogor. 1983. 1991. 14 : 31-36.K. Kirk. Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review. Missouri.M.297-312. Driven by nature p.S. S. 2000. Fusarium Species: Their biology and toxicology. . P.L. G dan I. Hawksworth.. 616p.E.L.H..A dan Clark.. Goenadi. Mass. 1997.. Nelson. and Whalley.J. J. J. United Kingdom. Anas. Y. Saraswati. 1989. E.N.

John Willey & Sons. Indonesia. Tombe. Cycles of soil carbon. Cambridge university Press. Subba Rao. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. [http://nasih. Cambridge. sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua . Sekilas Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. Ramirez. C. New Delhi.Premono. Program Studi Ilmu Tanaman. Abdul Madjid. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster.S. Program Pascasarjana. Namun.ugm. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Bogor. Elsevier biomedical press. Fosfor (P). 1977. phosporus.id/] Diposkan oleh Dr. New York. micronutrients. Tiga unsur hara penting tanaman. N. Oxford and IBH Publishing Co. M.staff. E.J. Program Pasca Sarjana. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Hara N tersedia melimpah di udara. Institut Pertanian Bogor. Program Pasca Sarjana. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. J. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. 1994. sulphur. Introduction to fungi. I.ac. Universitas Gadjah Mada. 1982. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Jasad Renik Pelarut Fosfat. Soil Microorganism and Plant Growth. Stevenson. Palembang. Yuwono. 1986. Ir. Disertasi. W. Indonesia. F. Program Studi Ilmu Tanaman. N. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Palembang. yaitu Nitrogen (N). New York. nitrogen. 2008. M. Pupuk Hayati. 1970. Universitas Sriwijaya. 2006. manual and atlas of pennicillia. 202-204. N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. 380 p.

2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. infeksi ini . Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P. Penicillium sp. karena terikat pada mineral liat tanah. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Namun. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan. Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer. jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. 2008). antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Sebaliknya. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P. yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan.jenis tanaman. hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. antara lain: Aspergillus sp. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp.

mangga. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks. kesehatan dan produktivitas tanaman. bercabang. kelapa sawit. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. 2004). Gigaspora dan Scutellospora. mulai dari paku-pakuan. hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Dilain pihak. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. 1997). Entrophospora. hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. Ektendomikoriza 3. pasang. misalnya jenis-jenis meranti. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar. Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan. rambutrambut akar tidak ada. padi. membentuk chlamydospores (Morton. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. lapisan hifa pada permukaan akar tipis. Ektomikoriza 2. famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. mempening (jenisjenis Fagaceae). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. karet. kruing. cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas. mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1. Acaulospora.antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. dll. 2006). Paraglomus. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. pinus. kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae). hingga pohon rambutan. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur . CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. Hifa memasuki sel kortek akar. jenis rumput-rumputan. Archaeospora. 2003). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza). adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett.

teh. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. barley.khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. kacang tunggak. selada. akan tetapi belum berhasil. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. jeruk. karet. singkong dan sorgum. apel dan anggur (Rahmawati. vesikel (vesicle) dan spora. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. kopi. harus diamati dibawah mikroskop. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. palem. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. 1998). Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. pepaya. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. 2003). Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. 2004). 1. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. tembakau. karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). padi gogo. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. bawang. 2004). nenas. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. . kebanyakan berbentuk bulat telur. vesikel intraseluler. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. kakao. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. kapas. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur.

Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. 2004). Dengan bertambahnya umur. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. pembentukan organ baru. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). yang memiliki perbedaan tegas. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. 2. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. Schubler et al. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Mirip dengan cendawan patogen. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya.sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. 2004). 1981). 3. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. pembengkokan inti sel. 2) . Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. Arbuskul berperan dua arah. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. 1981).

(Sagin Junior & Da Silva. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Intraspora. Gigaspora-ceae. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Gigaspora. . Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Entrophospora. Paraglomus. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. 2006). Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Pacispora. Scutellospora. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. Kuklospora. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. tanaman inang. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. 2002). dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Diversisporaceae. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. dan Glomus sp. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. 1991). kondisi tanah serta spesies CMA indigen. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Geosiphon. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut.. kepadatan propagula.Paraglomerales (famili Para-glomerace). Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Oleh karena itu. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. Diversipora. 2006). Acaulospora. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. Walaupun demikian.

intensitas cahaya dan ketersediaan hara. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Untuk daerah tropika basah. tanah. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA.II. 1981). daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar.. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. hal ini menguntungkan. bahan organik tanah. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. saat kelembapan air rendah. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. logam berat dan fungisida. Vesser et al. pH. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air . Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering.pada tengah hari. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. 1981). kadar air tanah. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah.

Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. klor. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. air dan udara. Serasah tersebut mengandung hifa. 1984).. 1997). Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA.meningkat (Rotwell. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap . 1981). Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. 1997). Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. 1997). Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. alumunium dan mangan.

5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. 1982 dalam Anas. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. 1995). dicirikan oleh keragaman . fungisida Agrosan. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. 1981). Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. 1997). Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Plantavax. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Al. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah.. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. 1984). Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. 1984 dalam Anas. 1998). Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. 1997). Benlate. dan Na yang tinggi (Mosse.terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel.

Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. 1984). 2005). Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. cropping sistem. 1995). Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. 1996). 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. Sawahlunto Sijunjung. Dalam budidaya tradisional. P. unsur hara dan struktur tanah. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. ameliorasi dengan bahan organik. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. pembakaran. K. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. . CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. Pada tanaman pisang. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. jumlah bahan organik yang dihasilkan. 1 9% (Gededda et al.04 menjadi 0. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. 1996). Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. karena perubahan spesies tanaman. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0.spesies yang sangat tinggi. Untuk tanaman manggis. 2002).

Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing.7% dibandingkan dengan kontrol. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. 2006). Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. serta patogen akar. Selain daripada membentuk hifa internal. 1997).7% dan 4. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8.2% dibandingkan dengan kontrol. sedangkan inokulasi G. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G.Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. kekeringan. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. bobot kering tajuk. 8 dan 28 MST. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. jumlah daun pada umur 4. sedangkan inokulasi G. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora.masing sebesar 5. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. III. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro.5% dibandingkan dengan kontrol. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. G. 1997). Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. . Di dalam arbuskul.

keasaman. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. Selain itu. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori . salinitas. dan Zn). Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Setelah periode kekurangan air (water stress). Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. pemadatan. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Dengan adanya CMA. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Zn dan Cu meningkat. Cu. 2006). Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. 3) melindungi dari herbisida.2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. 1997). penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Zn. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Fe. Pada kedelei.

Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. 3. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham.1997). Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. 1994). yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. atau lahan terpolusi lainnya. Infeksi patogen akar terhambat. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. 2. 1994). Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat . 2. 4. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza.tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Dilain pihak. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. K dan S. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. tailing tambang batubara. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen.

Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. dan giberalin. 4. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas.usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. citokinin. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air.. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. . Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. patogen akar. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. 1997). sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. sitokinin dan giberalin. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. 1981 dalam Husin dan Marlis. 2000). CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. 1993). maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. 40% kebutuhan nitrogen. Jika terhadap jasad renik berguna. 1981). 1997). Interaksi sebenarnya antara CMA. 3. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. Pada tanaman tertentu. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk.

Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas.. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. Bila ini benar. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. Perbaikan Struktur Tanah. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. 1997). namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Menurut Hakim. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. tapi juga bagi tanah. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme.. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro.Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara . Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. 5. 2002). 2002). Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap.

Seng (Zn++). phosphor bebas dan mineral. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif.33%. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. Prihastuti et al. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N.50–90. dan protein.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae.2. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. 2002). Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya).. khususnya pada tanah yang miskin P. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi.tanah. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. yaitu mencapai 70. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik.5. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman.3. Phytat adalah senyawa phospat komplek. 1999). japonicum. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++).6 hexakisphospat). Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. setelah didahului dengan proses infeksi akar. 6.4. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). namun .1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. Magnesium (Mg++). Besi (Fe++). mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. B. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA.

6. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. spesies cendawan. tanaman bermikoriza . Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. Secara tidak langsung. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. adanya asosiasi ini. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan.BK. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. 2004). Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". kadar air. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. 1994). baik untuk tanaman pangan. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. 1987). baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan secara langsung. . 2006). Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. temperatur. tanaman inang. Bagi tanaman inang. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. 1995). Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. 1997). yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. tipe perakaran tanaman inang.sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). pH. 3. perkebunan. tanaman tanpa mikoriza) / BK.

Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Disamping untuk tanaman pangan. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas.1997). serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. miskin hara dan bahan organik. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. .. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Kalimantan. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. kejenuhan Al tinggi. infiltrasi air hujan rendah. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ).02 g biji/tanaman menjadi 5.84 g biji/tanaman menjadi 5. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. 1997). Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut.1.13 g biji/tanaman.18 mg P/tanaman menjadi 2.13 mg P/tanaman menjadi 2.7. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. Sulawesi dan pulau besar lainnya. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan.66 mg P/tanaman. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. dan hasil kedelai meningkat dari 2.98 g biji/tanaman.15 mg P/tanaman. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza..

Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar

logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005). Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007), tentang peranan mikoriza pada tanaman jati,

telah mencapai sekitar 10 sentimeter. dengan kadar P tersedia "rendah" . Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum.misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza.84 % .5 ppm.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". Dengan teknologi mikoriza.90 %.80 % . Peningkatan kadar P nira.66 % . Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. Untuk mewujudkan harapannya. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan.15 %. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa . mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu.65 %. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. 8. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya.76 % -21.40.72 ppm dan tanah Inceptisol. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. sebesar 38. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N.. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. 2008).67. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. 69. Selain itu. Tujuannya.71.

Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. 3. 2008). Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. 5. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. 3. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. bedeng tersebut dapat digunakan.campuran tanah. Manfaat 1.Lima hari kemudian. telah diberikan Asosiasi . spora dan akar terinfeksi. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). sorgum atau pueraria. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Tanaman inang dapat berupa jagung. diaduk merata. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. 2. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. Dalam rangka pelaksanaan program ini. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. 4. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. selain untuk meratakan hasil. 6. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat.

maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. (3) menggunakan miselia cendawan. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Abdul Madjid. Setelah teruji kemurniannya. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. seperti: penyakit bercak akar kapas. Untuk membuat tablet. (2)Saprophitik. Diposkan oleh Dr. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. Ir. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan penyakit pada akar tanaman.7 sentimeter. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. yaitu: (1)Parasitik. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. Setelah diberikan pada bibit tanaman. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Aturan pakainya sederhana. satu tablet untuk satu bibit. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Di IPB. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. mampu menambah daya tahan akar tanaman. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Dalam teknik pemberian mikoriza. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza.Mycorrhizal Indonesia. Setelah itu pil dipecah-pecah. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Kalimantan. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari . Tablet ini dibuat dari cendawan.

dekomposisi bahan organik tanah. (3)Simbiotik. yaitu: (1)Endomycorhiza. (b) cacing tanah. Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar. Arachnida (lebah. Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. (2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. seperti: amoeba. (d)Moluska. Diplopoda (kaki seribu). Flora Tanah . MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. dan (3)Ektendomycorhiza. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah). yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. seperti: Mycorhiza atau jamur akar. Ir. (3)Acaulospora. seperti: omnivorous dan Predaceus. dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. (4)dll Diposkan oleh Dr. (2)Ektomycorhiza. Chilopoda (kelabang). flagelata. (c) Arthropoda. semut. dan ciliata. dan (b)Nematoda. jangkrik. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. dan rayap). kutu. Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci. Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. dan kalajengking)dan Insekta (belalang. yaitu: (1) Makro Fauna. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman.akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora. (2)Glomus. Abdul Madjid.

yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop.2 mm s/d 10 mm.Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB). (2) Mesobia. dan (d) algae. Ir. Abdul Madjid. Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas. Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. dan (3) Mikrobia. Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF). Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. yaitu: (1) Makro Flora. menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology.000 bakteri per gram tanah. terdiri dari: (a) bakteri. . organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga. dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF). Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. bahwa berdasarkan ukuran. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere. dll. yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. yaitu: (1) Makrobia. Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). Diposkan oleh Dr. (c) actinomycetes.2 mm. dll. (2) Mikro Flora. yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah yang subur melebihi 100. (b) fungi. 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme. yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah. Selain itu. Aspergillus. Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil. MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0. Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. Bacillus.

Abdul Madjid.net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis. yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik.Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat. Ir. MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) . dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful