P. 1
BPJS-RUU

BPJS-RUU

|Views: 5|Likes:
SJSN-BPJS-ASURANSI SOSIAL
SJSN-BPJS-ASURANSI SOSIAL

More info:

Published by: Rano Kurnia Sinuraya on Jun 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/24/2014

pdf

text

original

KUMPULAN NASKAH

Pembentukan Peraturan Pelaksanaan UU SJSN

Rancangan Undang-Undang tentang
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(RUU BPJS)


Pembahasan I – IV, 2007 – 2008
(dalam proses pembentukan)



Jokorto, 7 November 2008
Kementerian Koordinator
Bidang Kesejahteraan Rakyat
Republik Indonesia



















DikunpuIkan oIeh:


Kedeputian Bidang Koordinasi PerIindungan 5osiaI dan Perunahan Rakyat
Kenenterian Koordinator Bidang Kesej ahteraan Rakyat

Bekerjasana

GTZ-GVG 5Hl 5UPPORT

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 1dari 158


Da¦tar Da¦tar Da¦tar Da¦tar ls| ls| ls| ls|




Daftar Isi ......................................................................................................................1

1.







2.

3.




4.


5.




6.



7.



8.



9.



Kesepakatan Pertemuan
Tim SJSN Kementerian Koor dinator Bidang Kesejahteraan Rakyat
dengan Biro Hukum Kementeri an/Lembaga &
4 BUMN Penyelenggara Jami nan Sosial
Pembahasan IV (25 Januari 2008)
Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia
Tentang Badan Penyel enggar a Jaminan Sosial ...........................................3

Kronologis Tahapan Penyusunan.................................................................. 13

Konsep Independen:
Usul an Pokok-Pokok Pikiran
Untuk Penyusunan Rancangan Undang- Undang BPJS
(16 Mei 2007) .................................................................................................... 23

Sistematika Rancangan Undang- Undang Republik Indonesi a
Tentang Badan Penyel enggar a Jaminan Sosial ......................................... 51

Rancangan Naskah Akademik
Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia
Tentang Badan Penyel enggar a Jaminan Sosial
(21 Juni 2007) ................................................................................................... 59

Pembahasan I (30- 31 Juli 2007)
Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia
Tentang Badan Penyel enggar a Jaminan Sosial ......................................... 75

Pembahasan II ( 6-7 Agustus 2007)
Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia
Tentang Badan Penyel enggar a Jaminan Sosial .......................................109

Pembahasan III ( 4- 5 September 2007)
Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia
Tentang Badan Penyel enggar a Jaminan Sosial .......................................135

Kesepakatan Pertemuan
Tim SJSN Kementerian Koor dinator Bidang Kesejahteraan Rakyat
dengan PT. (Persero) Askes Indonesi a, PT. (Persero) Jamsostek,
PT. (Perser o) Asabri, PT. (Perser o) Taspen
(19 Desember 2007) ......................................................................................157
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 2dari 158

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 3dari 158
Kesepakatan Pertemuan Kesepakatan Pertemuan Kesepakatan Pertemuan Kesepakatan Pertemuan
T|m SJSN Kementer|an Koord|nator B|dang Kesejahteraan Rakyat T|m SJSN Kementer|an Koord|nator B|dang Kesejahteraan Rakyat T|m SJSN Kementer|an Koord|nator B|dang Kesejahteraan Rakyat T|m SJSN Kementer|an Koord|nator B|dang Kesejahteraan Rakyat
dengan B|ro Hukum Kementer| an/|embaga & dengan B|ro Hukum Kementer| an/|embaga & dengan B|ro Hukum Kementer| an/|embaga & dengan B|ro Hukum Kementer| an/|embaga &
4 BÜMN Penye|enggara Jam|nan Sos|a| 4 BÜMN Penye|enggara Jam|nan Sos|a| 4 BÜMN Penye|enggara Jam|nan Sos|a| 4 BÜMN Penye|enggara Jam|nan Sos|a|
Pembahasan lv (25 Januar| 2008} Pembahasan lv (25 Januar| 2008} Pembahasan lv (25 Januar| 2008} Pembahasan lv (25 Januar| 2008}
Rancangan Ündang Rancangan Ündang Rancangan Ündang Rancangan Ündang- -- -Ündang Rep Ündang Rep Ündang Rep Ündang Repub||k lndones|a ub||k lndones|a ub||k lndones|a ub||k lndones|a
tentang Badan Penye|enggara Jam|nan Sos|a| tentang Badan Penye|enggara Jam|nan Sos|a| tentang Badan Penye|enggara Jam|nan Sos|a| tentang Badan Penye|enggara Jam|nan Sos|a|

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 4dari 158

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 5dari 158

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 6dari 158

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 7dari 158

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 8dari 158
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 9dari 158
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 10 dari 158
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 11 dari 158



























Catatan:
Hasil pembahas an IV, Kamis-Jum’ at, 24-25J anuari 2008 bar u menyelesaik an hingga
Bab III Pas al 2 s. d. Pasal 6, hasil perubahan/koreksi atas kons ep RUU BPJS
Pembahas an III hingga BabII I Pasal 8. Sedangkan RUU BPJS Pembahasan III
hingga Bab XII I Pasal 44 belum dilanjutkan, menunggu kesepakat an politis pemerintah
terhadap status badan hukum BPJS.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 12 dari 158
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 13 dari 158

KRONOLOGIS TAHAPAN PENYUSUNAN
RUU TENTANG BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL
KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG KESRA
Kronologis Penanggung Jawab Kegiatan Keterangan Hasil
Tahap 1 Nenko Kesra (pemrakarsa) Perumusan konsepsi RUU tentang BPJS dengan
konsultasi wajib kepada Nenhum8HAN untuk
pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan
konsepsi



1. Lokakarya Nasional: Penyusunan Desain, Strategi dan
Agenda Penyusunan Peraturan Pelaksanaan UU No.
+0 Tahun 200+ Pasca Putusan Nahkamah Konstitusi
tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
Tanggal
Tempat
Peserta
: 1 - 2 Juni 2006
: Departemen Sosial, Jakarta
: - Kemenko Kesra
- Departemen terkait
- + BUNN Jaminan Sosial
- Calon Anggota DJSN
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)
Konsensus untuk
mempercepat
penyelesaian agenda-
agenda regulasi, antara
lain penyusunan RUU
tentang BPJS sebagai
tindak lanjut NK

2. Rapat Koordinasi Tim dan Pokja Penyusun Peraturan
Perundang-Undangan Untuk Pelaksanaan UU No. +0
Tahun 200+ (SK Nenko Kesra No.
1+AfKRPfNENKOfKESRAfv!f2006)
Tanggal
Tempat
Peserta
: 9 Januari 2007
: Departemen Sosial, Jakarta
: - Tim dan Pokja Penyusun Peraturan
Perundang-Undangan Untuk
Pelaksanaan UU No. +0 Tahun 200+
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)
Penyampaian hasil
Pemetaan dan Telaah
Nendalam Peraturan
Perundangan yang
Berkaitan dengan
Pengimplementasian
UU No. +0 Tahun 200+
tentang SJSN, sebagai
dasar empi ris untuk
perumusan substansi
RUU tentang BPJS
Kementerian Koordi nator
Bidang Kesejahteraan Rakyat
Republik Indonesia
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 14 dari 158
Kronologis Penanggung Jawab Kegiatan Keterangan Hasil
3. Rapat Pokja Harmonisasi Peraturan Perundang-
Undangan (SK Nenko Kesra No.
1+AfKRPfNENKOfKESRAfv!f2006)
Tanggal
Tempat
Peserta
: 25 Januari 2007
: Kemenko Kesra, Jakarta
: - Pokja Harmonisasi Peraturan
Perundang-Undangan
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)
- Pembahasan opsi
pembentukan 1 UU
tentang BPJS untuk
ke-+ BUNN JS atau +
UU tentang BPJS
untuk masing-masing
BUNN JS
- Perencanaan
penyusunan NA RUU
tentang BPJS

+. Rapat Terbatas Pokja Harmonisasi Peraturan
Perundang-Undangan (SK Nenko Kesra No.
1+AfKRPfNENKOfKESRAfv!f2006)
Tanggal
Tempat
Peserta
: 15-16 Februari 2007
: Hotel Salak, Bogor
: - Pokja Harmonisasi Peraturan
Perundang-Undangan
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)
- Kesepakatan
penetapan BUNN JS
menjadi BPJS dengan
UU
- Penyamaan persepsi
bentuk badan hukum
BPJS, opsi fokus
program BPJS
- Persiapan penyusunan
RUU tentang BPJS
(tanggung jawab
Neneg BUNN)

5. Konsultasi Penyusunan Kerangka Konsep Peraturan
Pelaksanaan UU No. +0 Tahun 200+ dan RUU Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial dengan Ahli Peraturan
Perundangan !nternasi onal di Bidang Sosial, The Nax
Planck !nstitute - Germany
Tanggal
Tempat

Peserta
: 26 Naret s.d. 5 April 2007
: The Nax Planck !nstitute - Nuni ch,
Germany
: - Staf Biro hukum (Kemenko Kesra,
Depnakertrans, Depkes)
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)
- Nasukan pokok-pokok
untuk perumusan
RUU tentang BPJS
- Pembahasan opsi -opsi
untuk pengaturan
penyelenggaraan
program JS oleh
BPJS
- Usulan sistematika
dan muatan RUU
tentang BPJS

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 15 dari 158
Kronologis Penanggung Jawab Kegiatan Keterangan Hasil
6. Rapat Koordinasi Tim dan Pokja Penyusun Peraturan
Perundang-Undangan Untuk Pelaksanaan UU No. +0
Tahun 200+ (SK Nenko Kesra No.
1+AfKRPfNENKOfKESRAfv!f2006)
Tanggal
Tempat
Peserta
: 19 April 2007
: Kemenko Kesra, Jakarta
: - Tim dan Pokja Penyusun Peraturan
Perundang-Undangan Untuk
Pelaksanaan UU No. +0 Tahun 200+
- Staf Biro hukum (Kemenko Kesra,
Depnakertrans, Depkes)
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)
- Penyampaian hasil
Konsultasi
Penyusunan
Kerangka Konsep
Peraturan
Pelaksanaan UU No.
+0 Tahun 200+ dan
RUU tentang BPJS
dengan Ahli
Peraturan
Perundangan
!nternasional di
Bidang Sosial, The
Nax Planck !nstitute
- Germany
- Hasil-hasil konsultasi
menjadi salah satu
referensi penyusunan
RUU tentang BPJS




7. Rapat Kerja Pokja Penyusun Peraturan Pelaksanaan
UU SJSN (SK Nenko Kesra No.
1+AfKRPfNENKOfKESRAfv!f2006)
Tanggal
Tempat
Peserta
: 16 Nei 2007
: Hotel Nillenium, Jakarta
: - Pokja Penyusun Peraturan
Pelaksanaan UU SJSN
- PT. Askes !ndonesia (Persero)
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)
- Pembahasan usulan
pokok-pokok
pikiranfsistematika
dan muatan RUU
tentang BPJS
- Penyamaan persepsi
tentang opsi
pembentukan RUU
tentang BPJS




Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 16 dari 158
Kronologis Penanggung Jawab Kegiatan Keterangan Hasil
8. Rapat Terbatas Pokja Penyusun Peraturan
Pelaksanaan UU SJSN (SK Nenko Kesra No.
1+AfKRPfNENKOfKESRAfv!f2006): Substansi
Sistematika RUU BPJS
Tanggal
Tempat
Peserta
: 28 s.d. 29 Nei 2007
: Hotel Salak, Bogor
: - Pokja Penyusun Peraturan
Pelaksanaan UU SJSN
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)



- Pembahasan pokok-
pokok sistematika
dan muatan RUU
tentang BPJS
- Kesepakatan
kebijakan umum
muatan RUU tentang
BPJS


9. Rapat Kerja Pokja Penyusun Peraturan Pelaksanaan
UU SJSN (SK Nenko Kesra No.
1+AfKRPfNENKOfKESRAfv!f2006): Nekanisme
Pelaksanaan SJSN - UU No. +0 Tahun 200+ Pasca NK
Tanggal
Tempat
Peserta
: 20 Juni 2007
: Kantor Kemenko Kesra, Jakarta
: - Pokja Penyusun Peraturan
Pelaksanaan UU SJSN
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)


Pembahasan strukturf
mekanisme
pelaksanaan UU No. +0
Tahun 200+
Tahap 2 Nenko Kesra 8 Nenkum8HAN Koordinasi pembahasan konsep RUU tentang BPJS
bersama Nenko Kesra dan lembaga terkait, berikut ahli
bila diperlukan



10. Rapat Terbatas Pokja Penyusun Peraturan
Pelaksanaan UU SJSN (SK Nenko Kesra No.
1+AfKRPfNENKOfKESRAfv!f2006): Usulan Naskah
Akademik RUU BPJS
Tanggal
Tempat
Peserta
: 21 Juni 2007
: Kantor Nenko Kesra, Jakarta
: - Pokja Penyusun Peraturan
Pelaksanaan UU SJSN
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)


- Pembahasan NA RUU
tentang BPJS
11. Rapat Terbatas Pokja Penyusun Peraturan
Pelaksanaan UU SJSN (SK Nenko Kesra No.
1+AfKRPfNENKOfKESRAfv!f2006): Usulan Naskah
Akademik RUU BPJS
Tanggal
Tempat
Peserta
: 30 s.d. 31 Juli 2007
: Hotel Nanhattan, Jakarta
: - Pokja Penyusun Peraturan
Pelaksanaan UU SJSN
- Depkum 8 HAN
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)

- Pembahasan usulan
NA RUU tentang BPJS
- Perumusan ! substansi
RUU tentang BPJS

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 17 dari 158
Kronologis Penanggung Jawab Kegiatan Keterangan Hasil
12. Rapat Terbatas Pokja Penyusun Peraturan
Pelaksanaan UU SJSN (SK Nenko Kesra No.
1+AfKRPfNENKOfKESRAfv!f2006): Perumusan
Konsep RUU SJSN
Tanggal
Tempat
Peserta
: 6 s.d. 7 Agustus 2007
: Hotel Nenara Penisula Hotel, Jakarta
: - Pokja Penyusun Peraturan
Pelaksanaan UU SJSN
- Depkum 8 HAN
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)


Perumusan !! substansi
RUU tentang BPJS

13. Rapat Koordi nasi Tim dan Pokja Penyusun Peraturan
Perundang-Undangan Untuk Pelaksanaan UU No. +0
Tahun 200+ (SK Nenko Kesra No.
1+AfKRPfNENKOfKESRAfv!f2006)
Tanggal
Tempat
Peserta
: 9 Agustus 2007
: Hotel Aryaduta, Jakarta
: - Tim dan Pokja Penyusun Peraturan
Perundang-Undangan Untuk
Pelaksanaan UU No. +0 Tahun 200+
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)
Penyampaian NA dan
rumusan RUU tentang
BPJS untuk
menghimpun usulan
dan masukan dari
instansifi nstitusi
peserta rapat



1+. Rapat Koordi nasi Tim dan Pokja Penyusun Peraturan
Perundang-Undangan Untuk Pelaksanaan UU No. +0
Tahun 200+ (SK Nenko Kesra No.
1+AfKRPfNENKOfKESRAfv!f2006)
Tanggal
Tempat
Peserta
: 15 Agustus 2007
: Hotel Nillenium, Jakarta
: - Tim dan Pokja Penyusun Peraturan
Perundang-Undangan Untuk
Pelaksanaan UU No. +0 Tahun 200+
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)



Penghimpunan dan
pembahasan usulan
dan masukan dari
instansifi nstitusi
peserta rapat
15. Rapat Terbatas Pokja Penyusun Peraturan
Pelaksanaan UU SJSN (SK Nenko Kesra No.
1+AfKRPfNENKOfKESRAfv!f2006): Pembahasan
Usulan dan Nasukan Rumusan RUU SJSN
Tanggal
Tempat
Peserta
: +-5 September 2007
: Hotel Nanhattan, Jakarta
: - Tim Kecil Pokja Penyusun Peraturan
Perundang-Undangan untuk
Pelaksanaan UU No. +0 Tahun 200+
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)



Perumusan !!!
substansi RUU tentang
BPJS
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 18 dari 158
Kronologis Penanggung Jawab Kegiatan Keterangan Hasil
Nenko Kesra (pemrakarsa) Nengajukan permohonan !zin Prakarsa Penyusunan RUU
BPJS Kepada Presiden R! disertai dengan penyampaian
konsepsi RUU BPJS
Nenko Kesra
mengajukan Surat No.
B-1+1fNENKOfKESRA
f!Xf2007 tanggal 6
September 2007
tentang Permohonan
!zin Prakarsa RUU
tentang BPJS dan
Penyiapan Naskah
Akademis

Tahap 3
Presiden R! Dalam keadaan tertentu dapat mengajukan RUU di luar
Program Legislasi Nasional
Diterbitkannya Surat
Nensesneg No. B-
5+0fN.SesnegfD-
+f10f2007 tanggal 2
Oktober 2007 tentang
Permohonan !zin
Prakarsa RUU tentang
BPJS dan Penyiapan
Naskah Akademis

Tahap 4 Nenko Kesra (pemrakarsa) Pembentukan Panitia Antar Departemen, terdi ri dari
unsur departemen dan lembaga pemerintah non
departemen yang terkait.


Penyusunan RUU sesuai teknik penyusunan peraturan
perundang-undangan

Tahap 5 Nenko Kesra (pemrakarsa)
Kegiatan perancangan RUU BPJS (penyiapan,
pengolahan, dan perumusan RUU yang kemudian
disampaikan kepada Panitia Antar Departemen


Tahap 6 Panitia Antar Departemen
(SK Nenko Kesra)
Pembahasan pengaturan yang bersi fat pri nsipil (objek,
jangkauan, arah pengaturan)



Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 19 dari 158
Kronologis Penanggung Jawab Kegiatan Keterangan Hasil
16. Rapat Harmonisasi Peraturan Perundang-Undangan
Terkait UU SJSN - RUU BPJS
Tanggal
Tempat
Peserta
: 9 November 2007
: Ditjen PP, Depkum 8 HAN, Jakarta
: - Perwakilan Tim 8 Pokja Penyusun
Peraturan Perundang-Undangan
Untuk Pelaksanaan UU No. +0
Tahun 200+
- + BUNN Penyelenggara JS
- Perwakilan Tim Ahli (GTZ-SH!
Project)

Pembahasan Rumusan
!!! RUU tentang BPJS
17. Rapat Harmonisasi Peraturan Perundang-Undangan
Terkait UU SJSN - RUU BPJS
Tanggal
Tempat
Peserta
: 10 Desember 2007
: Ditjen PP, Depkum 8 HAN, Jakarta
: - Perwakilan Tim 8 Pokja Penyusun
Peraturan Perundang-Undangan
Untuk Pelaksanaan UU No. +0
Tahun 200+
- + BUNN Penyelenggara JS
- Perwakilan Tim Ahli (GTZ-SH!
Project)

Pembahasan Rumusan
!!! RUU tentang BPJS
18. Rapat Terbatas Pokja Penyusun Peraturan
Pelaksanaan UU SJSN (SK Nenko Kesra No.
1+AfKRPfNENKOfKESRAfv!f2006)
Tanggal
Tempat
Peserta
: 15 Desember 2007
: Puri Dalem, Sanur, Bali
: - Tim Kecil Pokja Penyusun Peraturan
Perundang-Undangan untuk
Pelaksanaan UU No. +0 Tahun 200+
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)

Penyamaan Persepsi
tentang Badan Hukum
BPJS
19. Rapat Terbatas Pokja Penyusun Peraturan
Pelaksanaan UU SJSN (SK Nenko Kesra No.
1+AfKRPfNENKOfKESRAfv!f2006): Pembahasan
dengan + BUNN Penyelenggara JS
Tanggal
Tempat
Peserta
: 18-19 Desember 2007
: Novotel, Bogor
: - Tim Kecil Pokja Penyusun Peraturan
Perundang-Undangan untuk
Pelaksanaan UU No. +0 Tahun 200+
- + BUNN Penyelenggara JS
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)

- Pembahasan hasi l
Kesepakatan Rapat
Neneg BUNN
- Penyepakatan
bersama tentang Badan
Hukum, Jumlah PBJS,
Sekmentasi Program,
Pemisahan kepmilikan
dana, organ BPJS.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 20 dari 158
Kronologis Penanggung Jawab Kegiatan Keterangan Hasil
20. Rakor Pusat Tanggal
Tempat
Peserta
: 3 Januari 2008
: Sekretariat Wakil Presi den R!
: - Wakil Presi den R!
- Nenko Kesra
- Nenkes
- Nenakertrans
- Nenkeu
- Nenhankam
- Neneg BUNN
- Nenkum 8 HAN
- Perwakilan Tim 8 Pokja Penyusun
Peraturan Perundang-Undangan
Untuk Pelaksanaan UU No. +0
Tahun 200+
Pembahasan:
- Komitmen
implementasi UU
SJSN
- status BUNN
Penyelenggara JS
21. Rapat Harmonisasi Peraturan Perundang-Undangan
Terkait UU SJSN - RUU BPJS
Tanggal
Tempat
Peserta
: 15 Januari 2008
: Ditjen PP, Depkum 8 HAN, Jakarta
: - Perwakilan Tim 8 Pokja Penyusun
Peraturan Perundang-Undangan
Untuk Pelaksanaan UU No. +0
Tahun 200+
- + BUNN Penyelenggara JS
- Perwakilan Tim Ahli (GTZ-SH! Project)

- Pembahasan Hasil
Pertemuan tgl 18-19
Desember 2007 di
BogorBPJS
- Pembahasan Hasil
Rapat Koordinasi
dengan Wakil
Presiden tanggal 3
Januari 2008, tentang
konsep BPJS
22. Rapat Terbatas Pokja Penyusun Peraturan
Pelaksanaan UU SJSN (SK Nenko Kesra No.
1+AfKRPfNENKOfKESRAfv!f2006): Pembahasan
dengan Kementerian Terkait 8 + BUNN
Penyelenggara JS
Tanggal
Tempat
Peserta
: 2+-25 Januari 2008
: Novotel, Bogor
: - Tim Kecil Pokja Penyusun Peraturan
Perundang-Undangan untuk
Pelaksanaan UU No. +0 Tahun 200+
- Biro Hukum Kementerian Terkait
(Depkes, Depnakertrans, Dephan,
Kemeneg BUNN, Kemeneg PAN,
Depkum 8 HAN (BPHN 8 Ditjen
Harmonisasi ))
- + BUNN Penyelenggara JS
- Tim Ahli (GTZ-SH! Proje
- Pembahasan hasi l
Rapat Harmonisasi PP
- Pembahasan Pasal 2
s.d. 8 (dari materi
pembahasan !!!)
menjadi Pasal 2 s.d.
6, dengan perubahan,
penambahan,
pemindahan, dan
penghapusan pasal
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 21 dari 158
Kronologis Penanggung Jawab Kegiatan Keterangan Hasil
23. Rakor Tingkat Nenteri Tanggal
Tempat
Peserta
: 12 Naret 2008
: Sekretariat Wakil Presi den R!
: - Nenko Kesra
- Nenkes
- Nenakertrans
- Nenkeu
- Neneg BUNN
- Perwakilan Tim 8 Pokja Penyusun
Peraturan Perundang-Undangan
Untuk Pelaksanaan UU No. +0
Tahun 200+

Pembahasan:
- Pembentukan BPJS
- Status Badan Hukum
BPJS
2+. Rapat Koordi nasi Tim dan Pokja Penyusun Peraturan
Perundang-Undangan Untuk Pelaksanaan UU No. +0
Tahun 200+ (SK Nenko Kesra No.
1+AfKRPfNENKOfKESRAfv!f2006)
Tanggal
Tempat
Peserta
: 26 Naret 2008
: Hotel Nillenium, Jakarta
: - Tim dan Pokja Penyusun Peraturan
Perundang-Undangan Untuk
Pelaksanaan UU No. +0 Tahun 200+
- Depkum 8 HAN
- Depnakertrans
- Perwakilan Deputi Kesra Setwapres
- Tim Ahli (GTZ-SH! Project)

Pembahasan hasil
Rakor Tingkat Nenteri

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 22 dari 158
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 23 dari 158

| s a | a a
|akak·|akak |ikiraa
|atak |eayasaaaa
kaaraagaa |aáaag·|aáaag |||·














r.|. a l-||- ma.a l»|¦. l-a;asaa l- |.|a|.a l-|. |s. a.. a ll \]\x
I» 1-| :11¯

0Isusun oIeh :

KementerIan KoordInator ßIdang Kesejahreraan Pakyat

bekerjasama dengan

CTZ-CVC SHI SUPPDPT
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 24 dari 158
¡im |eramas



Kementerian Koordinator Bidang Kesejahr eraan Rakyat
1. Deputi Koordinasi Bidang Perumahan Rakyat dan Perli ndungan Sosial – Adang Setiana
2. Asisten Deputi Bidang Jaminan Sosial – Soekamto


SHI SUPPORT
1. Team Leader – M. W. Manicki
2. Senior Advisor – Asih Eka Putri
3. Legal Specialist – A. A. Oka Mahendra
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 25 dari 158

|·|l\\

|akak· |akak |ikiraa
aatak |eayasaaaa k|| |||·


I. PENDAHULUAN
Mengapa RUU tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) perlu segera disusun? Apakah
peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pembentukan Persero Jamsostek, Persero Taspen,
Persero Asabri dan Persero Askes bel um mencukupi untuk dij adikan dasar hukum bagi penyelenggara
program j aminan sosial sebagaimana di atur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang
Sistem Jaminan Sosial Nasional?
Status hukum Persero Jamsostek , Taspen, Asabri dan Askes pasca putusan Mahkamah Konstitusi
tanggal 31 Agustus 2005 terhadap perkara Nomor 007/PUU-III/2005 dalam posisi transisi. Mengapa
dalam posisi transisi? Karena Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3) UU SJSN yang menyatakan ke-4 Persero
tersebut sebagai BPJS menurut UU SJSN dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar
Negara R.I. Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Mahkamah Konstitusi dal am
pertimbangan hukumnya menyatakan antara lai n: “seandai nya pembentuk undang-undang bermaksud
menyatakan bahwa selama ini belum terbentuk BPJS sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) badan-
badan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatas diberi hak untuk bertindak sebagai BPJS, maka hal
itu sudah cukup tertampung dalam Ketentuan Pasal 52 UU SJSN.
1
Selanj utnya Mahkamah Konstitusi
berpendapat bahwa ketentuan Pasal 52 UU SJSN justru dibutuhkan untuk mengisi kekosongan hukum
(rechstsvacuum) dan menjamin kepastian hukum (rechtszckerheid) karena belum adanya badan
penyelenggara jaminan sosial yang memenuhi persyaratan agar UU SJSN dapat dilaksanakan.
2

Lebih lanj ut Mahkamah Kostitusi dal am pertimbangan hukumnya menyatakan bahwa UU SJSN tidak
boleh menutup peluang Pemerintah Daerah untuk ikut juga mengembangkan sistem jaminan sosial.
Perumusan Pasal 5 UU SJSN menurut Mahkamah Konstitusi menutup pel uang Pemeri ntah Daerah
untuk ikut mengembangkan suatu sub sistem jaminan sosial dalam kerangka sistem jaminan sosial
dalam kerangka sistem jaminan sosial nasional sesuai dengan kewenangan yang diturunkan dari
Ketentuan Pasal 18 ayat (2) dan (5) UUD 1945.
3

Selanj utnya Mahkamah Konstitusi menambahkan bahwa dengan adanya Pasal 5 ayat (4) dan dikaitkan
dengan Pasal 5 ayat (1) UU SJSN tidak memungkinkan bagi Pemerintah Daerah untuk membentuk
badan penyel enggara j aminan sosial tingkat daerah. Ol eh karena itu Pasal 5 ayat (4) UU SJSN juga
dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
Bertitik tolak dari uraian di atas dapat dikemukakan 4 al asan yang dij adikan pertimbangan mengapa RUU
BPJS perl u segera disusun:
1. Sebagai pelaksanaan UU SJSN pasca putusan Mahkamah Konstitusi terhadap perkara Nomor
007/PUU-III/2005.

1
Put usan Mahk amah Konstit usi terhadap perkara Nomor 007/ PUU-II I/2005, halaman 198
2
Ibid, hal aman 199
3
Ibid, hal aman 197
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 26 dari 158
2. Untuk memberikan kepastian hukum bagi badan penyelenggara jami nan sosial dalam
melaksanakan program jami nan sosial berdasarkan UU SJSN.
3. Sebagai dasar hukum bagi pembentukan badan penyelenggara jaminan sosial tingkat daerah
yang dapat dibentuk dengan peraturan daerah dengan memenuhi ketentuan tentang sistem
jaminan sosial nasi onal sebagaimana diatur dalam UU SJSN.
4. Untuk meningkatkan kinerja badan penyel enggara j aminan sosial tingkat nasional dan sub
sistemnya pada tingkat daerah melalui peraturan yang jelas mengenai tugas pokok, fungsi,
organisasi yang efektif, mekanisme penyelenggaraan yang sesuai dengan prinsi p-pri nsip good
governance, mekanisme pengawasan, penanganan masa transisi dan persyaratan untuk dapat
membentuk badan penyelenggara jaminan sosial daerah.
Undang-undang tentang BPJS harus sudah ditetapkan pal ing l ambat pada tanggal 19 Oktober 2009,
sesuai dengan ketentuan Pasal 52 ayat (2) UU SJSN. Waktu yang tersedia untuk proses penyusunan
UU BPJS + 2,5 tahun lagi. Dalam waktu yang tersedia tersebut perlu dilakukan langkah-l angkah
terencana untuk penyusunan RUU, harmonisasi RUU, pengajuan kepada Presiden, pengajuan usul agar
RUU BPJS dij adikan prioritas Program Legislasi Nasional, pembahasan di DPR dan pengesahannya
menjadi undang-undang. Jika tidak dikuatirkan batas waktu penetapan UU BPJS yang ditentukan dal am
UU SJSN tidak dapat dipenuhi.

II. DASAR HUKUM
Dalam UU SJSN terdapat beberapa pasal yang menjadi dasar hukum pembentukan BPJS. Pasal 1
angka (6) menentukan : ”BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program
jaminan sosial”. Pasal 4 menentukan SJSN disel enggarakan berdasarkan pada prinsip:
1. kegotong royongan;
2. nirlaba;
3. keterbukaan;
4. kehati-hatian;
5. akuntabilitas;
6. portabilitas;
7. kepesertaan bersifat wajib;
8. dana amanat; dan
9. hasil pengelol aan dana jami nan sosial dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program
dan untuk sebesar-besar kepentingan peserta.
Kemudian Pasal 5 menentukan : ”BPJS harus dibentuk dengan undang-undang”. Selanjutnya Pasal 52
ayat (1) pada intinya menyatakan bahwa pada saat UU SJSN mulai berlaku Persero Jamsostek, Persero
Taspen, Persero Asabri dan Persero Askes tetap berl aku sepanjang belum disesuaikan dengan UU
SJSN. Dalam ayat (2) ditentukan : ”semua ketentuan yang mengatur mengenai BPJS sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan undang-undang ini paling lambat 5 (lima) tahun sejak
undang-undang ini diundangkan”.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 27 dari 158
Pasal-pasal lainnya yang terkait dengan BPJS adal ah :
1. Pasal 47 yang menentukan bahwa Dana Jaminan Sosi al wajib dikel ola dan dikembangkan oleh
BPJS secara optimal dengan mempertimbangkan aspek likuiditas, solvabilitas, kehati-hatian,
keamanan dana dan hasil yang memadai. Tata cara pengel olaan dan pengembangan Dana
Jaminan Sosial sebagaimana tersebut diatas diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.
2. Pasal 48 menentukan bahwa Pemerintah dapat melakukan tindakan – tindakan khusus guna
menjamin terpeliharanya kesehatan keuangan BPJS. Apa, bagaimana, kapan dan konsekuensi
tindakan khusus yang dapat dilakukan oleh Pemeri ntah tidak ada penjel asannya dan juga tidak
ada pendelegasian untuk mengatur lebi h lanjut dal am peraturan pelaksanaan.
3. Pasal 49 yang menentukan BPJS mengelol a pembukuan sesuai dengan standar akuntansi yang
berlaku.
Kemudian ditentukan bahwa subsi di silang antar program dengan membayarkan manfaat suatu
program dari dana program lain tidak diperkenankan. Dalam penjel asan dikemukakan bahwa
subsidi silang yang tidak diperkenankan dalam ketentuan ini misalnya dana pensiun tidak dapat
digunakan untuk mempunyai j aminan kesehatan dan sebaliknya.
Selanj utnya di tentukan bahwa peserta berhak setiap saat memperoleh informasi tentang
akumulasi iuran dan hasil pengembangannya serta manfaat dari j enis Program Jaminan Hari Tua,
Jaminan Pensi un dan Jaminan Kematian.
BPJS wajib memberikan informasi akumulasi iuran berikut hasil pengembangannya kepada setiap
peserta Jaminan Hari Tua. Se-kurang-kurangnya sekali dalam satu tahun.
Sayangnya UU SJSN tidak mengatur secara lebih jel as tentang kewajiban yang harus dipenuhi
oleh BPJS dan hak-hak yang diperoleh oleh peserta. UU SJSN juga tidak mendelegasikan
pengaturan lebih lanjut pelaksanaan teknis dari ketentuan Pasal 49 tersebut. Hal ini perl u
mendapat perhatian dalam penyusunan RUU BPJS agar ketentuan Pasal 49 tersebut dapat
dilaksanakan secara efektif dalam praktek.
4. Pasal 50 menentukan BPJS waj ib membentuk cadangan teknis sesuai dengan standar praktek
aktuaria yang l azim dan berlaku umum. Dalam penjelasan dikemukakan bahwa cadangan teknis
menggambarkan kewajiban BPJS yang timbul dalam rangka memenuhi kewaji ban dimasa depan
kepada peserta.
5. Pasal 51 menentukan pengawasan terhadap pengelolaan keuangan BPJS dilakukan oleh instansi
yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
6. Pasal ini juga tidak jelas menentukan instansi mana yang berwenang untuk melakukan
pengawasan terhadap pengel olaan keuangan BPJS dan tidak juga menunj uk peraturan
perundang-undangan mana yang dimaksud.
Dari uraian di atas dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut :
1. BPJS adalah badan hukum bersifat nirl aba yang harus di bentuk dengan undang-undang untuk
menyelenggarakan program jami nan sosial. Secara teoritis BPJS merupakan badan hukum yang
ingesteld
4
(dibentuk) ol eh open baar gezag (penguasa umum) dal am hal ini oleh pembentuk
undang-undang dengan undang-undang.
2. Sepanjang belum disesuaikan dengan UU SJSN maka pada saat UU SJSN mulai berlaku Persero
JAMSOSTEK, Taspen, Asabri dan Askes tetap berlaku dengan kewaji ban untuk menyesuaikan

4
Chi dir Ali, SH, Badan Hukum, Bandung 1976 halaman 90
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 28 dari 158
semua ketentuan yang mengatur mengenai BPJS tersebut dengan UU SJSN paling lambat 5
(lima) tahun sejak UU SJSN diundangkan.
3. UU SJSN tidak secara tegas menentukan program jaminan sosial yang diselenggarakan oleh
masing-masing BPJS.
4. Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi tanggal 31 Agustus 2005 Pemerintah Daerah dapat
membentuk BPJS Daerah sebagai sub sistem penyelenggaraan program jaminan sosi al
sebagaimana diatur ddalam UU SJSN.
5. Pasal 48, 49 dan Pasal 51 UU SJSN yang terkait dengan BPJS belum j elas definisi
operasionalnya dan tidak ada pendelegasian untuk mengatur lebi h lanjut dal am peraturan
pelaksanaan, karena itu perl u diperhatikan dal am penyusunan RUU BPJS.
6. Ketentuan lebih lanj ut Pasal 47 ayat (1) dan Pasal 50 ayat (1) diatur dal am Peraturan Pemerintah.

Tabel Peraturan Pelaksanaan yang perl u dibuat.
Peraturan pelaksanaan
No Pasal
UU PP PerPres
Perundang
-undangan
Keterangan
1 Pasal 5 jo Pasal
52 ayat (2)
√ - - - Belum ditetapkan. Pal ing
lambat 19-10-09 harus
ditetapkan
2 Pasal 47 ayat (2) - √ - - Belum ditetapkan
3 Pasal 50 ayat (2) - √ - - Idem
4 Pasal 51 - - - √ Tidak disebut peraturan
perundang-undangan
yang dimaksud
Jumlah 1 2 0 1

III. KEADAAN SEKARANG
Berdasarkan Ketentuan Peral ihan UU SJSN Pasal 52 ayat (1), 4 Perusahaaan Perseroan (persero)
yang telah ada pada saat UU SJSN mulai berl aku, dinyatakan tetap berlaku sepanjang bel um
disesuaikan dengan UU SJSN yaitu :
1. Perusahaan Persero (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerj a (JAMSOSTEK) yang dibentuk
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1995 tentang Penetapan Badan Penyelenggara
Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republ ik Indonesia Tahun 1995 Nomor
59), berdasarkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerj a
(Lembaran Negara RI Tahun 1992 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3468);
2. Perusahaan Perseroan (Persero) Dana Tabungan Dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN) yang
dibentuk dengan Peraturan Pemeri ntah Nomor 26 Tahun 1981 tentang Pengalihan Bentuk
Perusahaan Umum Dana Tabungan Asuransi Pegawai Negeri Menjadi Perusahaan Perseroan
(Persero) (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1981 Nomor 38), berdasarkan Undang-
Undang Nomor 11 Tahun 1969 tentang Pensiun Pegawai Dan Pensiun Janda/Duda Pegawai
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 29 dari 158
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 2906), Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok–Pokok Kepegawaian
(Lembaran Negara RI Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3014)
sebagaimana tel ah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 Lembaran Negara RI
Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3890), dan Peraturan Pemerintah
Nomor 25, Tahun 1981 tentang Asuransi Sosial Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1981 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3200);
3. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosi al Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
(ASABRI) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1991 tentang
Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum (Perum) Asuransi Sosial Angkatan Bersenj ata Republik
Indonesia menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran Negara Republ ik Indonesia
Tahun 1991 Nomor 88);
4. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES) yang dibentuk dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1992 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum
(Perum) (Lembaran Negara Republ ik Indonesia Tahun 1992 Nomor 16);
Ketentuan tersebut diatas mengandung makna bahwa pembentuk undang–undang bermaksud
menyatakan selama bel um terbentuk BPJS senagaimana dimaksud Pasal 5 ayat (1) badan-badan
sebagaimana dimaksud pada Pasal 5 ayat (3) diberi hak untuk bertindak sebagai BPJS
5
, sampai semua
ketentuan yang mengatur BPJS tersebut disesuaikan dengan ketentuan UU SJSN pali ng lambat dal am
waktu 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang SJSN diundangkan.
Keempat persero tersebut, masing-masing melaksanakan program jaminan sosial sebagai berikut:
NO Persero Program Peserta Keterangan
1 Jamsostek JK, JKK, JHT,
JKM
Pengusaha dan tenaga kerja
swasta yang melakukan
pekerjaan di dalam
hubungan kerja
Program Jamsostek bagi
tenaga kerja yang
melakukan pekerj aan dil uar
hubungan kerja diatur
dengan PP.
2 TASPEN JP, JHT, JKM PNS, Janda dan Duda PNS,
Pejabat Negara

3 ASABRI JP, JHT, JKM TNI, POLRI, Janda dan Duda
TNI, POLRI

4 ASKES JK PNS, Pensiunan PNS, TNI,
POLRI, Veteran, Peri ntis
Kemerdekaan beserta
keluarganya
TNI, POLRI aktif JK
ditangani oleh Dinas
Kesehatan TNI, POLRI.
Persero ASKES ditugaskan
juga dal am pengelolaan
Program Pemeliharaan
Kesehatan bagi masyarakat
miskin / ASKESKIN
Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap perkara Nomor 007/PUU-III/2005, terbuka peluang bagi
Pemerintah Daerah untuk membentuk BPJS Daerah sebagai sub sistem penyelenggaraan j aminan
sosial berdasarkan UU SJSN.
Perlu dikemukakan bahwa jangkauan kepesertaan program jaminan sosial sampai saat ini masih sangat
terbatas. Perluasan kepesertaan menurut UU SJSN dilakukan secara bertahap, di awali dengan program

5
Opcit
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 30 dari 158
Jaminan Kesehatan (JK) bagi fakir miskin dan orang yang tidak mampu sebagai penerima bantuan
iuran. Pentahapan pendaftaran penerima bantuan iuran sebagi peserta jami nan sosi al akan diatur lebi h
lanjut dengan Peraturan Pemerintah
6
. Demikian pula mengenai persyaratan dan tata cara
penyelenggaraan jami nan sosial tenaga kerja bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan diluar
hubungan kerja diatur dengan Peraturan Pemerintah
7
. Sampai sekarang Peraturan Pemerintah
dimaksud belum ditetapkan.

IV. OPSI UNTUK PEMBENTUKAN RUU BPJS
Muatan-muatan pokok perlu diatur dalam RUU BPJS dan opsi-opsi penyelenggaraan sistem jaminan
sosial nasional ol eh berbagai badan penyel enggara nasi onal dan pengaturan penyelenggaraan sistem
jaminan sosial di daerah.
UU No. 40 Tahun 2004 (UU SJSN) belum mengatur secara tegas dan rinci mekanisme
penyelenggaraan sistem jaminan sosi al dan cakupan program, serta kel ompok masyarakat yang
menjadi tanggung jawab BPJS. Hasil Putusan Mahkamah Konstitusi tidak pula menegaskan
penyelenggaraan jami nan sosial di daerah.
Tujuan merumuskan opsi-opsi BPJS adalah untuk memberikan pertimbangan dalam mentranformasi
keempat BUMN prolaba penyelenggara program j aminan sosi al (PT JAMSOSTEK, PT ASKES, PT
ASABRI, PT TASPEN) menuj u BPJS sesuai dengan mandat UU SJSN Pasal 5 dan Pasal 52 ayat (2)
berikut cakupan program dan cakupan kepesertaannya.
Pilihan yang ditawarkan memisahkan penyel enggaraan program jaminan sosi al bagi TNI dan POLRI
untuk diselenggarakan oleh BPJS tersendiri (BPJS ASABRI).



6
UU Nomor 40 Tahun 2004 t entang SJSN Pasal 17 ayat (6)
7
UU Nomor 3Tahun 1992 tent ang jamsost ek, Pasal 4 ayat ( 3)
Untuk diperhatikan
Perlu ditetapkan pengertian Jaminan Kematian (JKM) merupakan:
1. Program finasial jangka panjang untuk proteksi pendapatan yang hilang akibat
kematian di usia produktif, seperti pada:
Program Jaminan Kematian PT JAMSOSTEK,
Manfaat kepada ahli waris peserta berupa:
Santunan Kematian, Rp. 6.000.000,-
Biaya Pemakaman, Rp. 1.500.000,-
Santunan Berkala,Rp. 200.000,-/bulan (selama 24 bulan).
Atau,
2. Program santunan kematian dan penguburan, seperti pada:
Program Pensiun PT TASPEN,
Manfaat diberikan kepada ahli waris peserta antara lain Uang Duka Wafat
(UDW) sebanyak 3 kali gaji penghasilan terakhir.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 31 dari 158
Setelah mempelajari UU SJSN, Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi, kondisi yang ada sekarang dan
permasalahan yang dihadapi dal am penyelenggaraan jami nan sosi al dan memperhatikan hasil
konsultasi dengan para ahli di Maxplanck Institute Jerman tanggal 26 Maret - 5 April 2007, dapat
dikemukakan 3 opsi untuk pembentukan RUU BPJS sebagai berikut :
1. Opsi ke-1: OPITIMUM
mengatur kembali penyel enggaraan jami nan sosi al ol eh 4 BUMN menj adi satu program
diselenggarakan oleh satu BPJS (merujuk Pasal 18 huruf a-e UU SJSN).
a. BPJS Jaminan Kesehatan bergabung dengan program Jaminan Kematian (Pasal 19 dan
selanjutnya beserta Pasal 43 dan sel anjutnya).
b. BPJS Jaminan Hari Tua dan Pensiun (Pasal 39 dan selanjutnya).
c. BPJS Jaminan Kecelakaan Kerja (Pasal 29 dan selanjutnya).
d. BPJS ABRI dan POLRI untuk seluruh program.
e. BPJS Jaminan pengangguran di dirikan baru.

Kelebi han opsi ini adalah:
a. Penerimaan masyarakat tinggi terutama dalam jangka panjang;
b. Penyelenggaraan berbasis pilar yang jelas akan menciptakan BPJS yang spesialis dan
handal dibidangnya;
c. Penyelenggaraan dengan struktur yang jelas akan mendekatkan pada tujuan
penyelenggaraan yang efisien;
d. Pengorganisasian program dengan adekuat;
e. Terjamin penyelenggaraan program yang seragam dan berskal a nasional sehingga dapat
meningkatkan kekuatan program nasional dibandingkan dengan penyelenggaraan l okal yang
terpilah pil ah

Kekurangan opsi ini adalah:
a. Memerlukan upaya dan investasi yang besar;
b. Mengingat kondisi peraturan perundangan yang belum adekuat dan perekonomian yang
masih labil, opsi ini mungkin terlalu dini untuk disel enggarakan di i ndonesia;
c. Kemungki nan muncul nya resistensi dari struktur penyelenggaraan saat ini yang meliputi
pemerintah dan BUMN sangat besar;
d. Kemungki nan munculnya resistensi dari pengusaha atau pemberi kerj a dal am jangka pendek
sangat besar terutama dari program pensiun dan jaminan hari tua;
e. Kemungki nan munculnya resistensi dari pekerja dalam jangka pendek sangat besar terutama
bila besar iuran ditingkatkan.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 32 dari 158
2. Opsi ke-2 : STATUS QUO Plus
Membagi tanggung j awab penyelenggaraan program j aminan sosial seperti yang diselenggarakan
oleh 4 BUMN saat ini (Status Quo) dengan mengubah status badan penyelenggara menjadi
nirlaba dan memperluas jangkauan pelayanan kepada seluruh kel ompok penduduk.

Kelebi han opsi ini adalah:
a. Melanjutkan penyelenggaraan yang tengah berlangsung
b. Proses transformasi kurang traumatik
c. Proses transformasi dapat dicapai lebih mudah dan lebih cepat

Kelemahan opsi ini adalah:
a. Tidak mudah menjadikan JAMSOSTEK berfungsi bagi seluruh penduduk;
b. Pengorganisasian dan prosedur penyelenggaraan menuntut keunikan masi ng-masing
program sehingga satu BPJS mengel ola 5 program dengan konsekuensi:
Menuntut satu BPJS bekerja dengan berbagai aturan dan regulasi
Memunculkan kesul itan karena satu BPJS mungkin tidak akan mampu menguasai
kondisi semua program SJSN
c. Memerlukan pengaturan yang cermat mengenai:
Apakah kepesertaan wajib boleh memili h JAMSOSTEK atau BPJS daerah;
Hak pilih peserta;
Berbagai kemungkinan yang timbul akibat kompetisi dan perbedaan standar
penyelenggaraan.
d. 2 BPJS (JAMSOSTEK dan ASKES) menyel enggarakan program jaminan kesehatan.
Dicermati isu keadilan dan kordinasi program ;
BPJS melayani peserta berpendapatan rendah sehingga dana yang terkumpul juga
rendah ;
BPJS melayani peserta yang memil iki angka kesakitan tinggi sehingga belanja kesehatan
juga akan tinggi,
Kesinambungan penyelenggaraan perlu dicermati karena ketersediaan dana sedikit
sementara belanja besar.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 33 dari 158

BPJS Program Peserta Keuntungan Kerugian/ masalah/tantangan
JAMSOSTEK
BPJS
• Jaminan
Kesehatan
• Jaminan
Kematian
• Jaminan
Kecelakaan
Kerja
• Jaminan Hari
Tua
• Jaminan
Pensiun
Pekerja
swasta:
• Dalam
Hubungan
Kerja
• Di luar
hubungan
kerja
• Pekerja
mandiri

• Melanjutkan
penyeleng-
garaan yang
tengah
berlang-
sung
• Proses
transforma-
si kurang
traumatik
• Proses
transforma-
si dapat
dicapai lebih
mudah dan
lebih cepat

• Menjadikan JAMSOSTEK
berguna / berfungsi bagi
seluruh penduduk;
• Pengorganisasian dan
prosedur penyelenggaraan
menuntut keunikan masing-
masing program sehingga satu
BPJS mengelola 5 program
akan:
o menuntut satu BPJS bekerja
dengan berbagai aturan dan
regulasi
o memunculkan kesulitan
karena satu BPJS mungkin
tidak akan mampu
menguasai kondi si semua
program SJSN;
• Jangkauan terhadap kompeti si
dengan BPJS Daerah
o perlu diatur lebih lanjut
apakah kepeser taan wajib
boleh memilih JAMSOSTEK
atau BPJS Daerah
o perlu ditetapkan hak pilih
peserta;
o perlu diatur dengan tegas
berbagai kemungkinan yang
timbul akibat kompetisi dan
perbedaan standar
penyelenggaraan


ASKES
BPJS
Jaminan
Kesehatan
• PNS (akti f &
pensiun)
• Pensiun TNI
dan POLRI
• Masyara-kat
Miski n
Lihat
JAMSOSTEK
• 2 BPJS ( JAMSOSTEK dan
ASKES) menyelenggarakan
program jaminan kesehatan,
perlu dicer mati isu keadilan
dan kordinasi program
• BPJS melayani peser ta
berpendapatan rendah
sehingga dana yang ter kumpul
juga rendah
• BPJS melayani peser ta yang
memiliki angka kesakitan tinggi
sehingga belanja kesehatan
juga akan tinggi,
• Kesinambungan
penyelenggaraan perlu
dicermati karena keter sediaan
dana sedi kit sementara belanja
besar.


Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 34 dari 158
BPJS Program Peserta Keuntungan Kerugian/ masalah/tantangan
TASPEN
BPJS
• Jaminan
Pensiun
• Jaminan Hari
Tua

PNS & Pejabat
Negara
Lihat
JAMSOSTEK


ASABRI
BPJS

Jaminan
Pensiun
TNI / POLRI Lihat
JAMSOSTEK


3. Opsi ke-3 : MODERAT
menggabungkan penyelenggaraan program jami nan kesehatan kepada sebuah badan
penyelenggara (BPJS ASKES), menambahkan program pensiun dan program jaminan
pengangguran kepada BPJS JAMSOSTEK dan mendirikan sebuah badan penyelenggara baru
untuk kelompok penduduk di sektor informal dan pekerja mandiri untuk mengelol a seluruh
program jaminan sosial kecuali program kesehatan.

Kelebi han opsi ini adalah:
a. Penerimaan tinggi dari pekerja
b. Satu BPJS bertanggung jawab untuk program kesehatan dan kematian berpengaruh pada :
Pengorganisasian dan prosedur penyelenggaraan adekuat
Dana yang terkumpul lebih besar
Lebih efisien karena kekuatan tawar kontrak terhadap fasilitas pelayanan kesehatan
c. Kelompok masyarakat yang terkait ditangani oleh satu BPJS.

Kekurangan opsi ini adalah:
a. Menjandikan JAMSOSTEK berfungsi bagi seluruh penduduk;
b. Pengorganisasian dan prosedur penyelenggaraan menuntut keunikan masi ng-masing
program sehingga satu BPJS mengel ola 5 program dan konsekuensinya:
Menuntut satu BPJS bekerja dengan berbagai aturan dan regulasi
Memunculkan kesul itan karena satu BPJS mungkin tidak akan mampu menguasai
kondisi semua program SJSN
c. Kompetisi dengan BPJS daerah memerlukan pengaturan yang cermat mengenai :
Apakah kepesertaan wajib boleh memili h Jamsostek atau BPJS Daerah
Hak pilih peserta
Berbagai kemungkinan yang timbul akibat kompetisi dan perbedaan standar
penyelenggaraan
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 35 dari 158
d. Sangat dituntut untuk membangun struktur penyelenggraan yang l ebih adekuat dan canggih :
registrasi, pengumpulan dana, pemberian pelayanan kesehatan secara aktif ;
e. Bahaya dari kekuatan monopsoni :
Mendikte kondisi dan
Penyalahgunaan kekuatan tawar
f. Sangat memerl ukan kontrol pemerintah yang tegas dan adekuat
g. Tantangan untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap krediibilitas BPJS sangat
tinggi.
h. Isu pengorganisasian dan prosedur sangat berbeda antar program.
Pemerintah perlu menentukan pili han yang tepat dan cocok denagn kondisi Indonesia serta
kemungkinan pelaksanaannya secara efektif agar program j aminan sosial betul-betul dirasakan
manfaatnya untuk menjami n terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap
penduduk.

BPJS Program Peserta Keuntungan Kerugian/ masalah/tantangan
JAMSOSTEK
BPJS
• Jaminan
Kecelaka-
an Kerja
• Jaminan
Hari Tua
• Jaminan
Pensiun
• Jaminan
Pengang-
guran
(Kesehatan
dan kematian
dialihkan)

Pekerja swasta
di dalam
hubungan
kerja

Wajib

Penerimaan
tinggi dari
pekerja

• Menjandikan JAMSOSTEK
berguna / berfungsi bagi
seluruh penduduk
• Pengorganisasian dan
prosedur penyelenggaraan
menuntut keunikan masing-
masing program sehingga
satu BPJS mengelola 5
program akan:
o menuntut satu BPJS
bekerja dengan berbagai
aturan dan regulasi
o memunculkan kesulitan
karena satu BPJS mungkin
tidak akan mampu
menguasai kondi si semua
program SJSN;
• Jangkauan terhadap /
Kompetisi dengan BPJS
Daerah

Lihat opsi 2 di atas


ASKES
BPJS
Jaminan
Kesehatan dan
Jaminan
Kematian

ASKES adalah
BPJS nasional
tunggal untuk
kesehatan dan
Kematian
• PNS (aktif &
pension)
• Pensiun TNI
& POLRI
• Masy.
Miskin


• Satu BPJS
bertang-
gung jawab
untuk
program
kesehatan
dan
kematian


• Sangat di tuntut untuk
membangun struktur
penyelenggaraan yang lebih
adekuat dan canggih:
registrasi, pengumpulan
iuran, pengumpulan dana,
pembelian pelayanan
kesehatan secara aktif


Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 36 dari 158
BPJS Program Peserta Keuntungan Kerugian/ masalah/tantangan
• Pekerja
Swasta:
o Dalam
Hubu-
ngan
Kerja
o Di luar
Hubu-
ngan
Kerja
o Pekerja
Mandiri
• Pengorga-
nisasian
adekuat
• Prosedur
penyeleng-
garaan
adekuat
• Dana yang
terkumpul
lebih besar
• Lebih
efisien
karena
kekuatan
tawar
kontrak
terhadap
fasilitas
pelayanan
kesehatan

• Bahaya dari kekuatan
monopsoni :
1) mendikte kondisi dan
2) penyalahgunaan kekuatan
tawar
• Sangat memerlukan kontrol
Pemerintah yang tegas dan
adekuat
• Menjamin terciptanya
transparansi sangat rapuh
• Tantangan untuk membangun
kepercayaan masyarakat
terhadap kredibilitas BPJS
sangat tinggi .

TASPEN
BPJS
• Jaminan
Pensiun
• Jaminan
Hari Tua

PNS dan
Pejabat
Negara
Lihat
JAMSOSTEK


ASABRI
BPJS
Jaminan
Pensiun
TNI dan
POLRI
Lihat
JAMSOSTEK


HARAPAN
BPJS
• Jaminan
Kecelaka-
an Kerja
• Jaminan
Hari Tua
• Jaminan
Pensiun
Pekerja
swasta:
• Di luar
hubungan
kerja
• Pekerja
mandiri
BPJS untuk
kelompok
masyarakat
yang tersuli t

• Biaya penyelenggaraan
sangat tinggi
• Pengelolaan suli t
• Isu pengorganisasian dan
prosedur sangat berbeda
antar program


Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 37 dari 158
V. POKOK-POKOK PI KI RAN RUU BPJS
Sebel um mengemukakan pokok-pokok pikiran mengenai RUU BPJS terlebi h dahulu perlu disampaikan
secara garis besar penyesuaian apa saja yang perlu dilakukan terhadap semua ketentuan yang
mengatur mengenai 4 Persero (Jamsostek, Taspen, ASABRI dan Askes) dengan UU SJSN pasca
putusan Mahkamah Konstitusi.
Ada 8 hal pokok yang perlu disesuaikan yaitu :
1. Jenis peraturan perundang-undangan yang mengaturnya harus dalam bentuk undang-undang.
2. BPJS merupakan badan hukum yang bersifat nirl aba dan dibentuk untuk menyelenggarakan
jaminan sosial.
3. BPJS mengel ola dana amanat milik seluruh peserta yang merupakan himpunan iuran beserta
hasil pengembangannya yang digunakan untuk :
a. Pembayaran manfaat kepada peserta;
b. Pembayaran operasional penyel enggaraan program jaminan sosial
4. Struktur organisasi BPJS yang ramping dan kaya fungsi serta standar operasional dan prosedur
kerja BPJS yang sesuai dengan prinsip-prinsip good governance.
5. Mekanisme pengawasan terhadap BPJS
6. Syarat-syarat bagi Pemerintah Daerah untuk dapat membentuk BPJS Daerah sebagai sub sistem
penyelenggaraan jaminan sosial berdasarkan UU SJSN
8
.
7. Monitoring dan eval uasi penyelenggaraan program j aminan sosial, termasuk tingkat kesehatan
keuangan BPJS dil akukan oleh DJSN.
8. Masa transisi dari BPJS yang profit oriented ke non profit
Ketentuan yang mengatur 4 Persero Peyel enggara jaminan sosial yang ada sekarang yang perl u
disesuaikan dengan UU SJSN Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi.













8
Put usan Mahk amah Konstit usi terhadap perkara Nomor 007/ PUU-II I/2005
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 38 dari 158

No Perihal Keadaan Sekarang
UU SJSN
Pasca Put usan MK
1 Bentuk Peraturan
Perundang-undangan
yang mengatur
Peraturan Pemerintah Undang-Undang BPJS
2 Status BUMN Per sero Badan Hukum
3 Maksud dan Tujuan
serta lapangan usaha
Menyediakan barang dan/atau jasa
yang ber mutu tinggi dan berdaya
saing kuat serta mengejar
keuntungan guna meningkatkan
nilai perusahaan. Lapangan usaha
ditentukan dalam Peraturan
Pemerintah yang mengatur masing-
masing Persero.
Menyelenggarakan program
jaminan sosial dengan prinsip
nirlaba dengan tujuan utama untuk
memenuhi sebesar-besarnya
kepentingan peser ta atau dengan
kata lain menggunakan hasil
pengembangan dana untuk
memberi kan manfaat sebesar-
besarnya bagi seluruh peserta
4 Modal / Dana Berasal dari kekayaan negara yang
dipisahkan
Dana Jaminan Sosial adalah dana
amanat mili k seluruh peserta
5 Organ RUPS, Direksi dan Komi saris Belum di tentukan
6 Pengangkatan dan
pemberhentian Direksi
dan Komi saris
Oleh RUPS Belum di tentukan
7 Ketentuan lebih lanjut
mengenai per syaratan
dan tata cara
pengangkatan dan
pemberhentian anggota
Direksi dan Komi saris
Diatur dengan Keputusan Menteri Belum di tentukan
8 DJSN - Berfungsi merusmuskan kebijakan
umum dan sinkroni sasi
penyelenggaraan SJSN.

Tugas DJSN :
− Melakukan kajian dan penelitian
yang ber kaitan dengan
penyelenggaraan jaminan sosial
− Mengusul kan kebijakan investasi
Dana Jaminan Sosial Nasional,
dan
− Mengusul kan anggaran jaminan
sosial bagi peneri ma bantuan
iuran dan tersedianya anggaran
operasional kepada Pemerintah.

Wewenang DJSN :
− Melakukan monitoring dan
evaluasi penyelenggaraan
program jaminan sosial
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 39 dari 158
No Perihal Keadaan Sekarang
UU SJSN
Pasca Put usan MK
9 Kewajiban BPJS - − Memberi kan nomor identitas
tunggal kepada setiap peser ta
dan anggota keluarganya.
− Memberi kan informasi tentang
hak dan kewajiban kepada
peserta dan mengikuti ketentuan
yang berlaku.
− Memberi kan konpensasi dalam
hal di suatu daerah belum
tersedia fasilitas kesehatan yang
memenuhi syarat guna
memenuhi kebutuhan medik
sejumlah peser ta (diatur lebih
lanjut dengan Per.Pres. untuk JK
dan dengan PP untuk JKK).
− Membayar fasili tas kesehatan
atas pelayanan yang diberikan
kepada peserta paling lambat 15
hari sejak per mintaan
pembayaran diteri ma.
− Mengelola dan mengembangkan
dana jaminan sosial secara
optimal dengan
memper timbangkan aspek
likuiditas, sol vabilitas, kehati-
hatian, keamanan dana dan hasil
yang memadai (diatur lebih lanjut
dengan PP).
− Memberi kan informasi akumulasi
iuran berikut hasil
pengembangannya kepada
setiap peserta JHT sekurang-
kurangnya sekali dalam setahun.
− Membentuk cadangan teknis
sesuai dengan standar praktek
aktuaria yang lazi m danberlaku
umum (diatur lebih lanjut dengan
PP).
10 Hal-hal Penting lainnya
yang perlu dilakukan
BPJS
- − Melakukan kesepakatan dengan
asosiasi fasili tas kesehatan
disuatu wilayah untuk
menetapkan besarnya
pembayaran kepada fasilitas
kesehatan untuk setiap wilayah.
− Mengembangkan sistem
pelayanan kesehatan, si stem
kendali mutu pelayanan
kesehatan untuk meningkatkan
efisiensi dan efekti vitas JK.
− Mengelola pembukuan sesuai
dengan standar akuntansi yang
berlaku.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 40 dari 158
No Perihal Keadaan Sekarang
UU SJSN
Pasca Put usan MK
11 Pengawasan terhadap
pengelolaan keuangan
Pemeriksaan laporan keuangan
Perusahaan dilakukan oleh auditor
eksternal yang di tetapkan oleh
RUPS untuk Per sero BPK
berwenang melakukan pemeriksaan
terhadap BUMN sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Dilakukan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
12 Syarat- syarat bagi
Pemda untuk dapat
membentuk BPJS
Daerah sebagai sub
sistem penyelenggaraan
jaminan sosial
Tidak diatur Pasca Putusan MK, BPJS daerah
dapat dibentuk dengan Perda
dengan memenuhi ketentuan SJSN
sebagainmana diatur dalam UU
SJSN.
13 Transi si dari Persero ke
BPJS
- Perlu diatur dalam UU BPJS antara
lain mengenai hak dan kewajiban
Persero, kekayaan, peserta,
pegawai dan organ.

Pokok-pokok pikiran yang dapat disampaikan sebagai masukan dalam penyusunan RUU BPJS sebagai
berikut:
1. BPJS adalah badan hukum yang dibentuk dengan undang-undang untuk menyelenggarakan
program jaminan sosial. Ada 3 opsi yang dapat dipil ih untuk menentukan lapangan usaha BPJS
yaitu opsi optimum, opsi status quo plus atau opsi moderat dengan segal a kelebi han dan
kekurangannya sebagaimana telah diuraikan dimuka.
2. BPJS bersifat nirlaba dalam pengertian bahwa tujuan utama untuk memenuhi sebesar-besarnya
kepentingan peserta atau dengan kata lain mengutamakan penggunaan hasil pengembangan
dana untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh peserta.
3. Dengan dibentuknya BPJS berdasarkan UU BPJS maka Persero Jamsostek, Taspen, ASABRI
dan ASKES dinyatakan bubar pada saat diundangkannya UU BPJS dengan ketentuan bahwa
segala hak dan kewajiban, kekayaan, peserta yang ada pada saat pembubarannya, berali h
kepada BPJS.
4. BPJS berkedudukan dan berkantor pusat di Jakarta dan dapat membentuk kantor-kantor wilayah /
cabang pada tingkat Provinsi / Kabupaten / Kota.
5. Modal BPJS merupakan dana amanat milik seluruh peserta yang merupakan iuran peserta
beserta hasil pengembangannya yang digunakan untuk :
a. Pembayaran manfaat kepada masyarakat;
b. Pembayaran operasional penyelenggaraan program jaminan sosial
6. BPJS betangggung jawab kepada Presiden melalui DJSN.
7. Organ BPJS terdiri dari :
a. Direksi : Paling banyak 5 orang
b. Dewan Pengawas : Paling banyak 3 orang
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 41 dari 158
8. Pengangkatan dan pemberhentian Direksi dan Dewan Pengawas dil akukan ol eh Presiden atas
usul DJSN.
Calon anggota Direksi dan Dewan Pengawas diusulkan oleh DJSN setelah melalui proses uji
kelayakan dan kepatutan untuk memperoleh calon-calon yang memenuhi persyaratan dari segi
profesional isme dan integritas.
9. Masa jabatan Direksi dan Dewan pengawas adal ah 5 Tahun, dan sesudahnya hanya dapat dipili h
kembali untuk satu kali masa jabatan.
10. Direksi wajib menyusun Rancangan Rencana Jangka Panjang (RJP) sebagai penjabaran
kebijakan umum penyelenggaraan SJSN yang ditetapkan oleh DJSN.
RJP sekurang-kurangnya memuat:
a. Evaluasi pel aksanaan kinerja BPJS
b. Posisi pada saat penyusunan RJP
c. Asumsi-asumsi yang dipergunakan dalam penyusunan RJP
d. Penetapan visi, misi, sasaran, strategi, kebijakan dan program kerja.
e. Kebijakan pengembangan dana.
Rancangan RJP yang telah disetujui Dewan Pengawas disampaikan kepada DJSN untuk
memperol eh persetuj uan.
11. Direksi wajib menyusun Rencana Kerja Tahunan sebagai penjabaran operasional RJP. Untuk
jangka waktu satu tahun RKT sekurang-kurangnya memuat :
a. Program kerja dan kegiatan dalam 1 tahun
b. Anggaran BPJS yang terinci untuk setiap program dan kegi atan
c. Proyeksi keuangan BPJS
12. Direksi wajib menyampaikan l aporan berkala setiap semester kepada Dewan Pengawas dan
laporan tahunan kepada DJSN untuk mendapat pengesahan. Pada akhir masa j abatan Direksi
menyampaikan laporan pelaksanaan RJP kepada DJSN.
13. Pengelolaan pembukuan BPJS dilakukan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.
14. Direksi bertanggung jawab sepenuhnya untuk memenuhi kewajiban BPJS sebagaimana
ditentukan dalam UU SJSN.
15. Laporan Tahunan Direksi dan laporan akhir masa jabatan Direksi terbuka untuk diakses oleh
publik dalam rangka sosial kontrol.
16. Syarat-syarat bagi Pemda untuk dapat membentuk BPJS Daerah antara lai n:
a. Jumlah peserta yang memadai untuk kelangsungan BPJS Daerah
b. Manfaat dan standar pel ayanan yang sama
c. Tersedianya sumber daya manusia yang profesional dan memiliki integritas untuk
penyelenggaraan program jaminan sosial
d. Mempunyai rencana j angka panjang yang disetujui DJSN sebagai penj abaran kebijakan
umum sebagai penjabaran penyelenggaraan program SJSN yang ditetapkan DJSN
e. Kemampuan BPJS daerah untuk menerapkan prinsip-prinsi p SJSN
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 42 dari 158
17. Dalam ketentuan peralihan antara lai n perlu di atur:
a. Status peraturan perundang-undangan mengenai penyelenggaraan program jami nan sosi al
yang berlaku sekarang
b. Status organ Persero yang ada sampai terbentuknya organ BPJS sesuai dengan ketentuan
UU BPJS
c. Status Pegawai Persero yang ada
d. Hak dan kewajiban Persero terhadap Pi hak ke-3
e. Penyelesai an hak-hak peserta yang sedang dalam proses
f. Proses waktu penyesuaian dengan ketentuan UU BPJS

VI. SISTEMATI KA RUU BPJS
BAB SUBSTANSI
Pasal 1 Angka 6 Umum Dasar hukum yang berlaku
Pasal 1 Angka 7 Umum Pengelolaan Dana Jaminan social
Pasal 5 BPJS Badan
(Putusan MK mengenai Pasal 5 BPJS)
Pasal 15 Kepesertaan Nomor identitas
Pasal 16 Kepesertaan Informasi pelaksana-annya
Pasal 23 (1), (2) JK Manfaat yang diberikan, fasilitas,
kerjasama
Pasal 24 (1), (2) JK Mekanisme pembayaran
Pasal 24 (3) JK Sistem kendali mutu dan pengawasan
Pasal 25 JK Daftar nama dan harga obat-obatan
Pasal 29 JKK Administrasi
Pasal 32 JKK Manfaat yang diberikan, fasilitas,
kerjasama
Pasal 35 JHT Administrasi
Pasal 47-51 Pengelolaan Dana
(tidak berhubungan dengan Pasal 47 (2),
Pasal. 50 (2))
Menimbang

MASIH BELUM LENGKAP


1. Badan: BPJS, Pasal 1 Angka 6, Pasal 5 (1) UU No. 40/2004
2. Badan dan kantor
3. Badan Nasional (dengan kantor di tingkat provinsi dan daerah)
4. Badan diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi (dengan kantor di tingkat
wilayah)
Bab I
Istilah dan
Ketentuan Umum

5. Badan di tingkat Pemerintah Wilayah (dengan kantor di tingkat
Kabupaten/Kota)
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 43 dari 158
BAB SUBSTANSI
6. Pendanaan (Opsi pengaturan: pemilahan program vs pemilahan kelompok
penduduk atau dikombinasikan)
(Tidak menggabungkan arus kontribusi /dana antar BPJS)


1. Badan
Nama-nama dan/atau daftarnya
2. Status Hukum --- dasar hukum yang berl aku (Pasal 1 Angka 6)
3. Legal Personality
4. Hukum Perseroan
a. Penandatanganan kontrak
b. Perwakilan → peraturan hubungan keorganisasian
c. Hirarki/jenjang (tingkat nasional, provinsi, wilayah)
5. Independensi
Ke tingkat tertentu sebagaimana Bab ___ dan bentuk pengawasan
6. Nirlaba
7. Tugas-tugas
a. Umum
b. Bagi seluruh bangsa
Ketersediaan pel ayanan di seluruh wilayah Indonesia
8. Pendirian BPJS
Dengan ini di dirikan di tingkat nasional (deklarasi nama BPJS-BPJS), contoh:
a. BPJS JAMSOSTEK
b. BPJS ASKES
c. BPJS TASPEN
d. BPJS ASABRI
e. BPJS HARAPAN
Dimungkinkan di dirikan di tingkat provinsi dan wilayah
a. hanya pada tingkat dan dalam kondisi tertentu sebagaimana UU ini,
dijabarkan pada Bab IX Ketentuan Penutup
b. hanya bila sesuai dengan standar-standar Pengelolaan Dana tertentu
sebagaimana dal am Pasal 47 – 51 UU No. 40/2004
c. hanya bila sesuai dengan Peraturan Pemeri ntah (pada Pengelol aan
Dana Jaminan Sosial), disebutkan dal am Pasal 47 (2), Pasal 50 (2) UU
No. 40/2004
Bab II
Pendirian BPJS

9. Pembatasan dari/hubungannya dengan BPJS




Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 44 dari 158
BAB SUBSTANSI
Bab III
BPJS Nasional

Bagian Pertama
Tanggung jawab
BPJS Nasional
terhadap Program
SJSN



Mohon diingat bahwa HOMOGENITAS antar tingkat nasional dan
provinsi/kabupaten yang dipi lih untuk suatu desain khusus akan
BERPENGARUH/akan diatur dengan memerhatikan konsekuensi-konsekuensi
keorganisasi an di tingkat ini/penolakan dari tingkat di bawahnya.


1. Umum Bagian Kedua
Kerorganisasian
2. Ketentuan-ketentuan BPJS
a. Opsi (2) perbedaan struktur masing-masing BPJS diseversifikasi dalam
kolom ini
b. Opsi (3) persamaan umum (misalnya pengangkatan) struktur/ketentuan+
peraturan tambahan, …

Untuk setiap BPJS, jelaskan dengan rinci hal-hal berikut:
a. Nama BPJS
b. Keanggotaan
c. President/Pimpinan
d. Pengangkatan, penempatan, pensiun
e. Kualifikasi, kompetensi
f. Dewan/representatif
g. Kantor lokal
h. Karyawan
i. Departemen
j. Anggaran
k. Administrasi
l. Peraturan internal


1. Putusan mendasar sesuai konsekuensi dari putusan Mahkamah Konstitusi
2. BPJS Daerah dimungkinkan juga berperan pada program jaminan sosial
yang sama
3. Pertanyaan mendasar: apakah diizinkan adanya persaingan atau diatur
adanya pengharmonisasian dengan BPJS Nasional
4. Ketentuan menaati kondisi-kondisi tertentu sebagaimana di atur dalam UU
SJSN dan UU ini yang disebutkan dal am Bab II UU BPJS (lihat di atas)
5. Standar-standar keorganisasian
Bab IV
BPJS Daerah

Bagian Pertama
Pendirian BPJS di
tingkat Daerah
(Provinsi/
kabupaten/
kota)

6. Bentuk struktur organisasi/hirarki tanggung jawab
Apakah mengikuti struktur BPJS Nasional atau diperbol ehkan berbeda dari
BPJS nasional
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 45 dari 158
BAB SUBSTANSI
7. Besarnya kontribusi (seragam atau bervariasi)
8. Jumlah peserta program daerah (untuk menjamin terciptanya solidaritas
sosial)
a. Tingkat provinsi
b. Tingkat kabupaten/kota
c. Perbedaan antar program SJSN bila diperbolehkan
9. Kondisi-kondisi khusus yang harus dipenuhi untuk penyel enggaraan masing-
masing program SJSN oleh BPJSD
a. Kesehatan (contoh): BPJS Daerah harus menjamin tersedi anya kontrak
kerja dengan jejaring fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah dan
swasta untuk menjamin terselenggaranya program dengan adekuat
b. Hari tua dan pensiun: …..
c. Jaminan kecelakaan kerja: …..
d. Jaminan Kematian:…..
10. Tanggung jawab yang diberikan kepada BPJS Daerah sesuai dengan BPJS
Nasional
Bagian Kedua
Standar-standar
kualitas


Bagian Ketiga
Tanggung jawab
penyelenggaraan
program

Harap selalu diperhatikan homogenitas peraturan perundangan untuk menjamin
terpenuhinya prinsip-pri nsip dasar SJSN

1. Umum
Struktur umum yang harus dipenuhi oleh semua BPJSD
Bagian Keempat
Ketentuan
keorganisasian
2. Ketentuan BPJSD
a. Perbedaan struktur masing-masi ng BPJSD diatur di sini
b. Persamaan umum BPJSD (e.g. pengangkatan) struktur/ + aturan
tambahan lai nnya
Untuk setiap BPJSD, jelaskan dengan rinci hal-hal berikut:
a. Nama BPJSD
b. Keanggotaan
c. President/Pimpinan
d. Pengangkatan, penempatan, pensiun
e. Kualifikasi, kompetensi
f. Dewan/representatif
g. Kantor lokal
h. Karyawan
i. Departemen
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 46 dari 158
BAB SUBSTANSI
j. Anggaran
k. Administrasi
l. Peraturan internal
3. Hak mendirikan Asosiasi BPJSD (?)
a. Tingkat yang diizinkan (BPJS provinsi/kabupaten /kota)
b. Diizinkan untuk BPJSD yang mengelola program yang sama / berbeda /
campur
c. Tujuan pendirian (contoh):
Untuk bertindak bersama-sama misalnya dalam menetapkan kontrak
dengan fasilitas pelayanan kesehatan, dll.


1. Umum
a. Aturan dalam pengambilan keputusan
b. Prinsip-prisip dasar
c. Penyedi aan informasi bagi peserta (ps 15 ayat 2)
d. Penerbitan kartu peserta (pasal 15 ayat 1)
e. Aturan khusus mengenai pemberian kompensasi
f. Telaah internal/penyel esaian kel uhan. (Apakah telaah internal adalah
kondisi untuk dilakukan telaah hukum? jika ya, maka hal ini harus diatur
pada BAB X)
Bab V
Prosedur
administratif

2. Khusus
e.g. penyelenggaraan program (JK, JKK, JP, JHT, JKM)


1. Tugas dan tanggungj awab BPJS Nasional untuk melaporkan, memberi
dokumen/informasi kepada DJSN
2. Tugas dan tanggungj awab BPJS Daerah untuk melaporkan, memberi
dokumen/informasi kepada DJSN
Bab VI
Kerjasama
dengan Dewan
Jaminan Sosial
Nasional
3. Tugas BPJS Nasional dan Daerah untuk melaksanakan rekomendasi /
kebijakan yang ditetapkan oleh DJSN


1. Umum - Kewajiban
Tanggungjawab yang diberikan kepada Departemen-Departemen
Bab VII
Supervisi dan
Kewenangan
Pemerintah

2. Isu-Isu Yang Diawasi
a. Perlu dibedakan:
Pengawasan terhadap keputusan tentang tugas dan kewaji ban
Pengawasan tentang ketaatan atas pel aksanaan peraturan dan
perundangan
b. Umum
Perlu disebutkan bahwa “tidak ada pengawasan langsung terhadap
setiap keputusan / perlunya persetujuan atas tindakan namun……. “.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 47 dari 158
BAB SUBSTANSI
c. Pendirian BPJS Daerah
Pemenuhan persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan pada BAB
IVA
d. Jenis-jenis kegiatan
Anggaran
Penerbitan kontrak dengan fasilitas pelayanan kesehatan
Pembangunan sistem contoh seperti yang diwajibkan dalam Pasa 24
ayat 2 UU SJSN: sistem penyelenggaraan, kontrol kualitas
3. Umum – Instrumen, dll
a. Permintaan informasi kepada BPJS
b. Perubahan permintaan tentang ….
c. Tindakan atas nama BPJS
d. Penggantian karyawan BPJS oleh komisioner (termasuk juga
penyelenggaraan ol eh badan): penyalahgunaan sementara
organisasi tidak adekuat
e. Supervisi aturan internal → persetujuan terhadap penerbitan peraturan
internal
f. Penutupan BPJSD yang tidak memenuhi persyaratan yang tercantum
dalam Bab IVA
4. Ketentutan khusus untuk masing-masing BPJS


1. Kekayaan
a. Pengaturan kekayaan dan kepemilikan dana yang terhimpun oleh BPJS
b. Pengelolaan kekayaan
c. Batasan cadangan teknis program JK
d. Pelaporan
Bab VIII
Kekayaan dan
Investasi
2. Investasi
a. Bentuk-bentuk investasi yang diamanatkan
b. Mekanisme investasi lanilla


1. Ketentuan perpaj akan badan (dibebaskan vs dikenakan) Bab IX
Perpajakan 2. Hal-hal lai n yang menyangkut pajak (contoh: pajak investasi, pajak
pengadaan barang yang berkaitan dengan penyelenggaraan pel ayanan, dll)



Bab X
Penyelesaian
Sengketa Melalui
Pengadilan

1. Ketentuan Umum dan Tindakan Pertama
a. Pengajuan perkara melawan BPJS /pihak yang berwenang / peserta
SJSN/ BPJS
b. Subyek untuk diselesaikan mel alui pengadilan
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 48 dari 158
BAB SUBSTANSI
c. Apakah akan di atur pula sengketa akibat transformasi 4 BUMN menjadi
BPJS ? → perlu merujuk juga pada peraturan perundangan lain yang
terkait
d. Jenis Peradil an → apakah peradilan administratif?
e. Peradilan tingkat I (lokal): tempat peradil an (forum)
f. Peradilan tingkat II
g. Dampak kebijakan otonomi daerah dan desetralisasi pada SJSN dan
BPJSD
h. Prasyarat khusus
i. Batasan waktu
j. Pokok masalah untuk ditelaah secara administratif/internal
2. Laporan Awal
Ditentukan laporan awal dalam kondisi-kondisi khusu seperti apakah
pengajuan tuntutan mendasar, dll?

3. Banding dan Keputusan Akhir


1. Umum
a. Pengakhiran tanggungjawab
b. Pemutusan hak
c. Pengalihan kepesertaan l ama ke BPJS – UU SJSN
d. Keputusan terhadap karyawan
2. Ketentuan Khusus masing-masing BPJS
Bab XI
Konsekuensi
hukum atas
transformasi
BUMN
JAMSOSTEK,
TASPEN,
ASABRI, ASKES
menjadi BPJS

3. Pengawasan Pengadilan apabila terjadi sengketa akibat transformasi

1. Penyesuaian terhadap Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada
pada saat Peraturan Perundang-undangan baru mul ai berlaku
2. Saat suatu peraturan Perundang-undangan di nyatakan mulai berlaku, segala
hubungan hukum yang ada atau tindakan hukum yang terjadi (sebel um, pada
saat/ sesudahnya), tunduk pada ketentuan Peraturan Perundang-undangan
baru
3. Memuat pengaturan tentang penyimpangan sementara atau penundaan
sementara bagi tindakan hukum/hubungan hukum tertentu
4. Penyimpangan sementara juga berlaku bagi ketentuan yang
diberl akusurutkan, yang memuat ketentuan status tindakan hukum yang
terjadi atau hubungan hukum yang ada dalam tenggang waktu antara tanggal
mulai berlaku surut dan tanggal mulai berl aku perundangannya

Penentuan daya laku surut tidak diberlakukan bagi ketentuan pi dana atau
pemidanaan. Serta tidak diadakan bagi perautran perudnangan yang memuat
ketentuan yang memberi beban konkret pada masyarakat
Bab XII
Ketentuan
Peralihan
5. Masa kadaluarsa (terkait UU BPJS tanggal 19 Oktober 2009)


Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 49 dari 158
BAB SUBSTANSI
1. Memuat penunj ukan organ/alat perl engkapan yang mel aksanakan Peraturan
Perundang-Undangan
2. Status Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada
3. Saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan
BAB XIII
Ketentuan
Penutup
4. Harus secara tegas mengatur pencabutan sel uruh atau sebagian materi
Peraturan Perundang-undangan lama
contoh:
”Pada saat Undang-Undang ini mul ai berl aku, Undang-Undang Nomor ...
Tahun ... tentang ... (Lembaran Negara..., Tambahan Lembaran Negara...)
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku”


Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 50 dari 158
hattar ke¡astakaaa

1. Undang-Undang Dasar Negara R.I. Tahun 1945
2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja
3. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN
4. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangan
5. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI
6. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
7. Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap Perkara Nomor 007/PUU-III/2005
8. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1241/Menkes/SK/2004 tentang Penugasan PT. ASKES
(Persero) Dalam Pengelolaan Program Pemeliharaan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin
9. Chidir Ali, Badan Hukum, Bandung 1976
10. Laporan hasil konsultasi dengan para ahli di Maxplanck Institute, Jerman tanggal 26 Maret-5 April
2007
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 51 dari 158




SISTEMATIKA
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
TENTANG BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL
BAB SUBSTANSI
Pasal 1 Angka 6 Umum Dasar hukum yang berlaku
Pasal 1 Angka 7 Umum Pengelolaan Dana Jaminan social
Pasal 5 BPJS Badan
(Putusan MK mengenai Pasal 5 BPJS)
Pasal 15 Kepesertaan Nomor identitas
Pasal 16 Kepesertaan Informasi pelaksana-annya
Pasal 23 (1), (2) JK Manfaat yang diberikan, fasilitas,
kerjasama
Pasal 24 (1), (2) JK Mekanisme pembayaran
Pasal 24 (3) JK Sistem kendali mutu dan pengawasan
Pasal 25 JK Daftar nama dan harga obat-obatan
Pasal 29 JKK Administrasi
Pasal 32 JKK Manfaat yang diberikan, fasilitas,
kerjasama
Pasal 35 JHT Administrasi
Pasal 47-51 Pengelolaan Dana
(tidak berhubungan dengan Pasal 47 (2),
Pasal. 50 (2))
Menimbang

MASIH BELUM LENGKAP


1. Badan: BPJS, Pasal 1 Angka 6, Pasal 5 (1) UU No. 40/2004
2. Badan dan kantor
3. Badan Nasional (dengan kantor di tingkat provinsi dan daerah)
4. Badan diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi (dengan kantor di tingkat
wilayah)
5. Badan di tingkat Pemerintah Wilayah (dengan kantor di tingkat
Kabupaten/Kota)
Bab I
Istilah dan
Ketentuan Umum

6. Pendanaan (Opsi pengaturan: pemilahan program vs pemilahan kelompok
penduduk atau dikombi nasikan)
(Tidak menggabungkan arus kontribusi /dana antar BPJS)



KEMENTERIAN KOORDINATOR
BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 52 dari 158
BAB SUBSTANSI
1. Badan
Nama-nama dan/atau daftarnya
2. Status Hukum --- dasar hukum yang berl aku (Pasal 1 Angka 6)
3. Legal Personality
4. Hukum Perseroan
a. Penandatanganan kontrak
b. Perwakilan → peraturan hubungan keorganisasian
c. Hirarki/jenjang (tingkat nasional, provinsi, wilayah)
5. Independensi
Ke tingkat tertentu sebagaimana Bab ___ dan bentuk pengawasan
6. Nirlaba
7. Tugas-tugas
a. Umum
b. Bagi seluruh bangsa
Ketersediaan pel ayanan di seluruh wilayah Indonesia
8. Pendirian BPJS
Dengan ini di dirikan di tingkat nasional (deklarasi nama BPJS-BPJS),
contoh:
a. BPJS JAMSOSTEK
b. BPJS ASKES
c. BPJS TASPEN
d. BPJS ASABRI
e. BPJS HARAPAN

Dimungkinkan di dirikan di tingkat provinsi dan wilayah
a. hanya pada tingkat dan dalam kondisi tertentu sebagaimana UU ini,
dijabarkan pada Bab IX Ketentuan Penutup
b. hanya bila sesuai dengan standar-standar Pengelolaan Dana tertentu
sebagaimana dal am Pasal 47 – 51 UU No. 40/2004
c. hanya bila sesuai dengan Peraturan Pemerintah (pada Pengelol aan
Dana Jaminan Sosial), disebutkan dal am Pasal 47 (2), Pasal 50 (2) UU
No. 40/2004
Bab II
Pendirian BPJS

9. Pembatasan dari/hubungannya dengan BPJS




Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 53 dari 158
BAB SUBSTANSI
Bab III
BPJS Nasional

Bagian Pertama
Tanggung jawab
BPJS Nasional
terhadap Program
SJSN



Mohon diingat bahwa HOMOGENITAS antar tingkat nasional dan
provinsi/kabupaten yang dipi lih untuk suatu desain khusus akan
BERPENGARUH/akan diatur dengan memerhatikan konsekuensi-konsekuensi
keorganisasi an di tingkat ini/penolakan dari tingkat di bawahnya.

1. Umum Bagian Kedua
Kerorganisasian
2. Ketentuan-ketentuan BPJS
a. Opsi (2) perbedaan struktur masing-masing BPJS diseversifikasi dalam
kolom ini
b. Opsi (3) persamaan umum (misalnya pengangkatan) struktur/ketentuan+
peraturan tambahan, …

Untuk setiap BPJS, jelaskan dengan rinci hal-hal berikut:
a. Nama BPJS
b. Keanggotaan
c. President/Pimpinan
d. Pengangkatan, penempatan, pensiun
e. Kualifikasi, kompetensi
f. Dewan/representatif
g. Kantor lokal
h. Karyawan
i. Departemen
j. Anggaran
k. Administrasi
l. Peraturan internal


1. Putusan mendasar sesuai konsekuensi dari putusan Mahkamah Konstitusi
2. BPJS Daerah dimungkinkan juga berperan pada program jaminan sosial
yang sama
3. Pertanyaan mendasar: apakah diizinkan adanya persaingan atau diatur
adanya pengharmonisasian dengan BPJS Nasional
4. Ketentuan menaati kondisi-kondisi tertentu sebagaimana di atur dalam UU
SJSN dan UU ini yang disebutkan dal am Bab II UU BPJS (lihat di atas)
5. Standar-standar keorganisasian
6. Bentuk struktur organisasi/hirarki tanggung jawab
Apakah mengikuti struktur BPJS Nasional atau diperbol ehkan berbeda dari
BPJS nasional
Bab IV
BPJS Daerah

Bagian Pertama
Pendirian BPJS di
tingkat Daerah
(Provinsi/
kabupaten/
kota)

7. Besarnya kontribusi (seragam atau bervariasi)
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 54 dari 158
BAB SUBSTANSI
8. Jumlah peserta program daerah (untuk menjamin terciptanya solidaritas
sosial)
a. Tingkat provinsi
b. Tingkat kabupaten/kota
c. Perbedaan antar program SJSN bila diperbolehkan
9. Kondisi-kondisi khusus yang harus dipenuhi untuk penyel enggaraan
masing-masing program SJSN oleh BPJSD
a. Kesehatan (contoh): BPJS Daerah harus menjamin tersedi anya
kontrak kerja dengan jejari ng fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah
dan swasta untuk menjamin terselenggaranya program dengan adekuat
b. Hari tua dan pensiun: …..
c. Jaminan kecelakaan kerja: …..
d. Jaminan Kematian:…..
10. Tanggung jawab yang diberikan kepada BPJS Daerah sesuai dengan BPJS
Nasional
Bagian Kedua
Standar-standar
kualitas

Bagian Ketiga
Tanggung jawab
penyelenggaraan
program
Harap selalu di perhatikan homogenitas peraturan perundangan untuk menjamin
terpenuhinya prinsip-pri nsip dasar SJSN

1. Umum
Struktur umum yang harus dipenuhi oleh semua BPJSD
Bagian Keempat
Ketentuan
keorganisasian
2. Ketentuan BPJSD
a. Perbedaan struktur masing-masi ng BPJSD diatur di sini
b. Persamaan umum BPJSD (e.g. pengangkatan) struktur/ + aturan
tambahan lai nnya
Untuk setiap BPJSD, jelaskan dengan rinci hal-hal berikut:
a. Nama BPJSD
b. Keanggotaan
c. President/Pimpinan
d. Pengangkatan, penempatan, pensiun
e. Kualifikasi, kompetensi
f. Dewan/representatif
g. Kantor lokal
h. Karyawan
i. Departemen
j. Anggaran
k. Administrasi
l. Peraturan internal
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 55 dari 158
BAB SUBSTANSI
3. Hak mendirikan Asosiasi BPJSD (?)
a. Tingkat yang diizinkan (BPJS provinsi/kabupaten /kota)
b. Diizinkan untuk BPJSD yang mengelola program yang sama / berbeda /
campur
c. Tujuan pendirian (contoh):
d. Untuk bertindak bersama-sama misalnya dalam menetapkan kontrak
dengan fasilitas pelayanan kesehatan, dll.


1. Umum
a. Aturan dalam pengambilan keputusan
b. Prinsip-prisip dasar
c. Penyedi aan informasi bagi peserta (ps 15 ayat 2)
d. Penerbitan kartu peserta (pasal 15 ayat 1)
e. Aturan khusus mengenai pemberian kompensasi
f. Telaah internal/penyel esaian kel uhan. (Apakah telaah internal adalah
kondisi untuk dilakukan telaah hukum? jika ya, maka hal ini harus diatur
pada BAB X)
Bab V
Prosedur
administratif

2. Khusus
e.g. penyelenggaraan program (JK, JKK, JP, JHT, JKM)


1. Tugas dan tanggungj awab BPJS Nasional untuk melaporkan, memberi
dokumen/informasi kepada DJSN
2. Tugas dan tanggungj awab BPJS Daerah untuk melaporkan, memberi
dokumen/informasi kepada DJSN
Bab VI
Kerjasama
dengan Dewan
Jaminan Sosial
Nasional
3. Tugas BPJS Nasional dan Daerah untuk melaksanakan rekomendasi /
kebijakan yang ditetapkan oleh DJSN


1. Umum - Kewajiban
Tanggungjawab yang diberikan kepada Departemen-Departemen
Bab VII
Supervisi dan
Kewenangan
Pemerintah

2. Isu-Isu Yang Diawasi
a. Perlu dibedakan:
Pengawasan terhadap keputusan tentang tugas dan kewaji ban
Pengawasan tentang ketaatan atas pel aksanaan peraturan dan
perundangan
b. Umum
Perlu disebutkan bahwa “tidak ada pengawasan langsung terhadap
setiap keputusan / perlunya persetujuan atas tindakan namun……. “.
c. Pendirian BPJS Daerah
Pemenuhan persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan pada BAB
IVA

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 56 dari 158
BAB SUBSTANSI
d. Jenis-jenis kegiatan
Anggaran:
Penerbitan kontrak dengan fasilitas pelayanan kesehatan
Pembangunan sistem contoh seperti yang diwajibkan dalam Pasa 24
ayat 2 UU SJSN: sistem penyelenggaraan, kontrol kualitas
3. Umum – Instrumen, dll
a. Permintaan informasi kepada BPJS
b. Perubahan permintaan tentang ….
c. Tindakan atas nama BPJS
d. Penggantian karyawan BPJS oleh komisioner (termasuk juga
penyelenggaraan ol eh badan): penyalahgunaan sementara
organisasi tidak adekuat
e. Supervisi aturan internal → persetujuan terhadap penerbitan peraturan
internal
f. Penutupan BPJSD yang tidak memenuhi persyaratan yang tercantum
dalam Bab IVA
4. Ketentutan khusus untuk masing-masing BPJS


1. Kekayaan
a. Pengaturan kekayaan dan kepemilikan dana yang terhimpun oleh BPJS
b. Pengelolaan kekayaan
c. Batasan cadangan teknis program JK
d. Pelaporan
Bab VIII
Kekayaan dan
Investasi
2. Investasi
a. Bentuk-bentuk investasi yang diamanatkan
b. Mekanisme investasi lanilla


1. Ketentuan perpaj akan badan (di bebaskan vs dikenakan) Bab IX
Perpajakan 2. Hal-hal lain yang menyangkut pajak (contoh: pajak investasi, pajak
pengadaan barang yang berkaitan dengan penyelenggaraan pel ayanan, dll)


Bab X
Penyelesaian
Sengketa Melalui
Pengadilan


1. Ketentuan Umum dan Tindakan Pertama
a. Pengajuan perkara melawan BPJS /pihak yang berwenang / peserta
SJSN/ BPJS
b. Subyek untuk diselesaikan mel alui pengadilan
c. Apakah akan di atur pula sengketa akibat transformasi 4 BUMN menjadi
BPJS ? → perlu merujuk juga pada peraturan perundangan lai n yang
terkait
d. Jenis Peradil an → apakah peradilan administratif?
e. Peradi lan tingkat I (lokal): tempat peradil an (forum)
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 57 dari 158
BAB SUBSTANSI
f. Peradi lan tingkat II
g. Dampak kebijakan otonomi daerah dan desetralisasi pada SJSN dan
BPJSD
h. Prasyarat khusus
i. Batasan waktu
j. Pokok masalah untuk ditelaah secara administratif/internal
2. Laporan Awal
Ditentukan laporan awal dalam kondisi-kondisi khusu seperti apakah
pengajuan tuntutan mendasar, dll?
3. Banding dan Keputusan Akhir


1. Umum
a. Pengakhiran tanggungjawab
b. Pemutusan hak
c. Pengalihan kepesertaan l ama ke BPJS – UU SJSN
d. Keputusan terhadap karyawan
2. Ketentuan Khusus masing-masing BPJS
Bab XI
Konsekuensi
hukum atas
transformasi
BUMN
JAMSOSTEK,
TASPEN,
ASABRI, ASKES
menjadi BPJS

3. Pengawasan Pengadilan apabila terjadi sengketa akibat transformasi


1. Penyesuai an terhadap Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada pada
saat Peraturan Perundang-undangan baru mulai berl aku
2. Saat suatu peraturan Perundang-undangan dinyatakan mulai berlaku, segala
hubungan hukum yang ada atau tindakan hukum yang terjadi (sebel um, pada
saat/ sesudahnya), tunduk pada ketentuan Peraturan Perundang-undangan
baru
3. Memuat pengaturan tentang penyimpangan sementara atau penundaan
sementara bagi tindakan hukum/hubungan hukum tertentu
4. Penyimpangan sementara juga berlaku bagi ketentuan yang
diberl akusurutkan, yang memuat ketentuan status tindakan hukum yang
terjadi atau hubungan hukum yang ada dalam tenggang waktu antara tanggal
mulai berlaku surut dan tanggal mulai berl aku perundangannya
Penentuan daya laku surut tidak diberlakukan bagi ketentuan pi dana atau
pemidanaan. Serta tidak diadakan bagi perautran perudnangan yang memuat
ketentuan yang memberi beban konkret pada masyarakat
Bab XII
Ketentuan
Peralihan
5. Masa kadaluarsa (terkait UU BPJS tanggal 19 Oktober 2009)


1. Memuat penunj ukan organ/alat perlengkapan yang mel aksanakan Peraturan
Perundang-Undangan
2. Status Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada
BAB XIII
Ketentuan
Penutup
3. Saat mulai berl aku Peraturan Perundang-undangan

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 58 dari 158
BAB SUBSTANSI
4. Harus secara tegas mengatur pencabutan sel uruh atau sebagian materi
Peraturan Perundang-undangan lama
contoh:
”Pada saat Undang-Undang ini mulai berl aku, Undang-Undang Nomor ...
Tahun ... tentang ... (Lembaran Negara..., Tambahan Lembaran Negara...)
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku”



Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 59 dari 158



PANCANCAN NASKAH AKA0EhIK

PANCANCAN
UN0ANC-UN0ANC PEPUßLIK IN0DNESIA
TENTANC
ßA0AN PENYELENCCAPA JAhINAN SDSIAL

1. Latar Bel akang

Mengapa RUU tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) perlu segera disusun? Apakah
peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pembentukan Persero Jamsostek, Persero Taspen,
Persero Asabri dan Persero Askes bel um mencukupi untuk dij adikan dasar hukum bagi penyelenggara
program jaminan sosi al sebagaimana diatur dalam UU No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN)?
Status hukum PT. (Persero) Jamsostek, PT. (Persero) Taspen, PT. (Persero) Asabri dan PT. Askes
Indonesia (Persero) pasca Putusan Mahkamah Konstitusi tanggal 31 Agustus 2005 terhadap perkara
Nomor 007/PUU-III/2005 dalam posisi transisi. Mengapa dal am posisi transisi? Karena Pasal 5 ayat (2)
dan ayat (3) UU No. 40 Tahun 2004 yang menyatakan ke-4 (empat) Persero tersebut sebagai BPJS
menurut UU No. 40 Tahun 2004 di nyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara R.I.
Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Mahkamah Konstitusi dalam
pertimbangan hukumnya menyatakan antara lai n: “seandai nya pembentuk undang-undang bermaksud
menyatakan bahwa selama ini belum terbentuk BPJS sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) badan-
badan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatas diberi hak untuk bertindak sebagai BPJS, maka hal
itu sudah cukup tertampung dal am Pasal 52 UU No. 40 Tahun 2004.
9
Selanjutnya Mahkamah Konstitusi
berpendapat bahwa ketentuan Pasal 52 UU No. 40 Tahun 2004 justru dibutuhkan untuk mengisi
kekosongan hukum (rechstsvacuum) dan menjamin kepastian hukum (rechtszckerheid) karena belum
adanya BPJS yang memenuhi persyaratan agar UU No. 40 Tahun 2004 dapat dilaksanakan.
10

Lebih lanj ut Mahkamah Kostitusi dalam pertimbangan hukumnya menyatakan bahwa UU No. 40 Tahun
2004 tidak boleh menutup peluang Pemerintah Daerah untuk ikut juga mengembangkan Sistem
Jaminan Sosi al. Perumusan Pasal 5 UU No. 40 Tahun 2004 menurut Mahkamah Konstitusi menutup
peluang Pemerintah Daerah untuk ikut mengembangkan suatu sub sistem jaminan sosial dal am
kerangka sistem jaminan sosial dalam kerangka sistem jaminan sosial nasional sesuai dengan
kewenangan yang diturunkan dari Ketentuan Pasal 18 ayat (2) dan (5) UUD 1945.
11


9
Put usan Mahk amah Konstit usi terhadap perkara Nomor 007/ PUU-II I/2005, halaman 198
10
Ibid, hal aman 199
11
Ibid, hal aman 197
KEMENTERIAN KOORDINATOR
BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA
Pembahasan |
Kar|s, 21 Jur| 200Z
T|r Kec|| Po|ja Peryusur Peralurar Perurdarg-
urdargar urlu| Pe|a|saraar uuNo. 10 Trr 2001
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 60 dari 158
Selanj utnya Mahkamah Konstitusi menambahkan bahwa dengan adanya Pasal 5 ayat (4) dan dikaitkan
dengan Pasal 5 ayat (1) UU No. 40 Tahun 2004 tidak memungkinkan bagi Pemerintah Daerah untuk
membentuk BPJS tingkat daerah. Oleh karena itu Pasal 5 ayat (4) UU No. 40 Tahun 2004 juga
dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
Bertitik tolak dari urai an diatas dapat dikemukakan 4 (empat) al asan yang dij adikan pertimbangan
mengapa RUU BPJS perlu segera disusun:
1. Sebagai pelaksanaan UU No. 40 Tahun 2004 pasca Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap
perkara Nomor 007/PUU-III/2005.
2. Untuk memberikan kepastian hukum bagi BPJS dal am mel aksanakan program jaminan sosi al
berdasarkan UU No. 40 Tahun 2004.
3. Sebagai dasar hukum bagi pembentukan BPJS tingkat daerah yang dapat di bentuk dengan
peraturan daerah dengan memenuhi ketentuan tentang sistem jaminan sosial nasional
sebagaimana diatur dalam UU No. 40 Tahun 2004.
4. Untuk meningkatkan kinerj a BPJS tingkat nasional dan sub sistemnya pada tingkat daerah melal ui
peraturan yang j elas mengenai tugas pokok, fungsi, organisasi yang efektif, mekanisme
penyelenggaraan yang sesuai dengan prinsip-prinsip good governance, mekanisme pengawasan,
penanganan masa transisi dan persyaratan untuk dapat membentuk BPJS daerah.
Undang-undang tentang BPJS harus sudah ditetapkan pal ing l ambat pada tanggal 19 Oktober 2009,
sesuai dengan ketentuan Pasal 52 ayat (2) UU No. 40 Tahun 2004. Waktu yang tersedia untuk proses
penyusunan UU BPJS + 2,5 tahun lagi. Dalam waktu yang tersedi a tersebut perl u dilakukan langkah-
langkah terencana untuk penyusunan RUU, harmonisasi RUU, pengajuan kepada Presiden, pengajuan
usul agar RUU BPJS dijadikan prioritas Program Legislasi Nasional, pembahasan di DPR dan
pengesahannya menjadi undang-undang. Jika tidak dikuatirkan batas waktu penetapan UU BPJS yang
ditentukan dalam UU No. 40 Tahun 2004 tidak dapat dipenuhi.
Pasal-pasal yang terkait dalam UU No. 40 Tahun 2004 yang menjadi dasar hukum pembentukan BPJS:
1. Pasal 1 angka (6) menentukan : ”BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk
menyelenggarakan program jaminan sosial”
2. Pasal 4 menentukan SJSN diselenggarakan berdasarkan pada pri nsip:
a. kegotong royongan;
b. nirlaba;
c. keterbukaan;
d. kehati-hatian;
e. akuntabilitas;
f. portabilitas;
g. kepesertaan bersifat wajib;
h. dana amanat; dan
i. hasil pengelol aan dana jaminan sosial dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program
dan untuk sebesar-besar kepentingan peserta.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 61 dari 158
3. Pasal 5 menentukan: ”BPJS harus dibentuk dengan undang-undang”. Sel anjutnya Pasal 52 ayat (1)
pada intinya menyatakan bahwa pada saat UU No. 40 Tahun 2004 mul ai berlaku Persero
Jamsostek, Persero Taspen, Persero Asabri dan Persero Askes tetap berlaku sepanjang bel um
disesuaikan dengan UU No. 40 Tahun 2004. Dalam ayat (2) ditentukan: ”semua ketentuan yang
mengatur mengenai BPJS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan undang-
undang ini pali ng lambat 5 (lima) tahun sejak undang-undang ini diundangkan”.
4. Pasal 47 yang menentukan bahwa Dana Jaminan Sosial wajib dikelol a dan dikembangkan oleh
BPJS secara optimal dengan mempertimbangkan aspek likuiditas, solvabilitas, kehati-hatian,
keamanan dana dan hasil yang memadai. Tata cara pengelol aan dan pengembangan Dana
Jaminan Sosial sebagaimana tersebut diatas diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.
5. Pasal 48 menentukan bahwa Pemerintah dapat melakukan tindakan-tindakan khusus guna
menjamin terpeliharanya kesehatan keuangan BPJS. Apa, bagaimana, kapan dan konsekuensi
tindakan khusus yang dapat dilakukan oleh Pemeri ntah tidak ada penjelasannya dan juga tidak ada
pendelegasi an untuk mengatur lebih lanjut dalam peraturan pelaksanaan.
6. Pasal 49 yang menentukan BPJS mengelola pembukuan sesuai dengan standar akuntansi yang
berlaku.
Kemudian ditentukan bahwa subsidi silang antar program dengan membayarkan manfaat suatu
program dari dana program lai n tidak diperkenankan. Dalam penjelasan dikemukakan bahwa
subsidi silang yang tidak diperkenankan dalam ketentuan ini misalnya dana pensiun tidak dapat
digunakan untuk mempunyai Jaminan Kesehatan (JK) dan sebaliknya.
Selanj utnya di tentukan bahwa peserta berhak setiap saat memperoleh informasi tentang akumulasi
iuran dan hasil pengembangannya serta manfaat dari jenis program Jaminan Hari Tua (JHT),
Jaminan Pensi un (JP), dan Jaminan Kematian (JKM).
BPJS wajib memberikan informasi akumul asi iuran berikut hasil pengembangannya kepada setiap
peserta JHT. Se-kurang-kurangnya sekali dalam satu tahun.
Sayangnya UU No. 40 Tahun 2004 tidak mengatur secara lebih jelas tentang kewajiban yang harus
dipenuhi oleh BPJS dan hak-hak yang diperoleh oleh peserta. UU No. 40 Tahun 2004 juga tidak
mendelegasikan pengaturan lebi h lanj ut pelaksanaan teknis dari ketentuan Pasal 49 tersebut. Hal
ini perlu mendapat perhatian dalam penyusunan RUU BPJS agar ketentuan Pasal 49 tersebut dapat
dilaksanakan secara efektif dalam praktek.
7. Pasal 50 menentukan BPJS wajib membentuk cadangan teknis sesuai dengan standar praktek
aktuaria yang lazim dan berlaku umum. Dalam penjelasan dikemukakan bahwa cadangan teknis
menggambarkan kewajiban BPJS yang timbul dal am rangka memenuhi kewaj iban dimasa depan
kepada peserta.
8. Pasal 51 menentukan pengawasan terhadap pengelol aan keuangan BPJS dilakukan oleh instansi
yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
9. Pasal ini juga tidak jelas menentukan instansi mana yang berwenang untuk melakukan pengawasan
terhadap pengelolaan keuangan BPJS dan tidak juga menunjuk peraturan perundang-undangan
mana yang dimaksud.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 62 dari 158
10. Pasal 52 ayat (1), 4 (empat) Perusahaaan Perseroan (persero) yang telah ada pada saat UU No. 40
Tahun 2004 mulai berlaku, dinyatakan tetap berl aku sepanjang belum disesuaikan dengan UU No.
40 Tahun 2004 yaitu :
a. Perusahaan Persero (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) yang dibentuk
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1995 tentang Penetapan Badan
Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1995 Nomor 59), berdasarkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan
Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara RI Tahun 1992 Nomor 14, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3468);
b. Perusahaan Perseroan (Persero) Dana Tabungan Dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN)
yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1981 tentang Pengalihan
Bentuk Perusahaan Umum Dana Tabungan Asuransi Pegawai Negeri Menjadi Perusahaan
Perseroan (Persero) (Lembaran Negara Republik Indonesi a tahun 1981 Nomor 38),
berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1969 tentang Pensiun Pegawai Dan Pensiun
Janda/Duda Pegawai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 42,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 2906), Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang
Pokok–Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara RI Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3014) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43
Tahun 1999 Lembaran Negara RI Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3890), dan Peraturan Pemerintah Nomor 25, Tahun 1981 tentang Asuransi Sosial
Pegawai Negeri Si pil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 37,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3200);
c. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosial Angkatan Bersenj ata Republik Indonesia
(ASABRI) yang di bentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1991 tentang
Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum (Perum) Asuransi Sosial Angkatan Bersenj ata Republik
Indonesia menj adi Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1991 Nomor 88);
d. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES) yang dibentuk
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1992 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan
Umum (Perum) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 16);
Dari uraian di atas dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut :
1. BPJS adalah badan hukum bersifat nirlaba yang harus dibentuk dengan undang-undang untuk
menyelenggarakan program jaminan sosial. Secara teoritis BPJS merupakan badan hukum yang
ingesteld
12
(dibentuk) ol eh open baar gezag (penguasa umum) dalam hal ini oleh pembentuk
undang-undang dengan undang-undang.
2. Sepanjang belum disesuaikan dengan UU No. 40 Tahun 2004 maka pada saat UU No. 40 Tahun
2004 mulai berlaku Persero JAMSOSTEK, Taspen, Asabri dan Askes tetap berlaku dengan
kewajiban untuk menyesuaikan semua ketentuan yang mengatur mengenai BPJS tersebut dengan
UU No. 40 Tahun 2004 paling lambat 5 (lima) tahun sejak UU No. 40 Tahun 2004 diundangkan.
3. UU No. 40 Tahun 2004 tidak secara tegas menentukan program j aminan sosial yang
diselenggarakan oleh masing-masing BPJS.

12
Chi dir Ali, SH, Badan Hukum, Bandung 1976 halaman 90
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 63 dari 158
4. Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi tanggal 31 Agustus 2005 Pemerintah Daerah dapat
membentuk BPJS Daerah sebagai sub sistem penyelenggaraan program jaminan sosi al
sebagaimana diatur ddalam UU No. 40 Tahun 2004.
5. Pasal 48, 49 dan Pasal 51 UU No. 40 Tahun 2004 yang terkait dengan BPJS belum jel as definisi
operasionalnya dan tidak ada pendelegasi an untuk mengatur lebih lanjut dalam peraturan
pelaksanaan, karena itu perlu diperhatikan dal am penyusunan RUU BPJS.
6. Ketentuan lebih lanjut Pasal 47 ayat (1) dan Pasal 50 ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
7. Selama belum terbentuk BPJS senagaimana dimaksud Pasal 5 ayat (1) badan-badan sebagaimana
dimaksud pada Pasal 5 ayat (3) diberi hak untuk bertindak sebagai BPJS
13
, sampai semua
ketentuan yang mengatur BPJS tersebut disesuaikan dengan ketentuan UU No. 40 Tahun 2004
paling lambat dalam waktu 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang SJSN di undangkan.
Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap perkara Nomor 007/PUU-III/2005, terbuka peluang bagi
Pemerintah Daerah untuk membentuk BPJS Daerah sebagai sub sistem penyelenggaraan j aminan
sosial berdasarkan UU No. 40 Tahun 2004.
Perlu dikemukakan bahwa jangkauan kepesertaan program jaminan sosial sampai saat ini masih sangat
terbatas. Perluasan kepesertaan menurut UU No. 40 Tahun 2004 dilakukan secara bertahap, diawali
dengan program Jami nan Kesehatan (JK) bagi fakir miskin dan orang yang tidak mampu sebagai
penerima bantuan iuran. Pentahapan pendaftaran penerima bantuan iuran sebagi peserta j aminan
sosial akan diatur lebih lanj ut dengan Peraturan Pemerintah.
14
Demikian pula mengenai persyaratan dan
tata cara penyelenggaraan j aminan sosial tenaga kerja bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan
diluar hubungan kerj a diatur dengan Peraturan Pemerintah.
15
Sampai sekarang Peraturan Pemeri ntah
dimaksud belum ditetapkan.















13
Opcit
14
UU Nomor 40 Tahun 2004t entang SJSNPasal 17 ayat (6)
15
UU Nomor 3 Tahun 1992 tent ang jamsostek, Pasal 4 ayat ( 3)
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 64 dari 158
2. Tuj uan dan Sasaran yang Ingi n Dicapai

o Untuk meelaksanakan perintah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Pasal 5 ayat (1) jo. Pasal 52 ayat (2).
o Sesuai dengan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 007/PUU-III/2005 bahwa ”pengembangan sistem
jaminan sosial adalah bagian dari pelaksanaan fungsi pel ayanan sosial negara yang kewenangan
untuk menyelenggarakannya berada ditangan pemegang kekuasaan pemerintahan negara, dimana
kewajiban pelaksanaan SJSN tersebut sesuai dengan Pasal 18 ayat (5) UUD 1945 sebagaimana
dijabarkan lebih lanjut dalam Undang-Undang Pemerintah Daerah, khususnya Pasal 22H bukan
hanya menj adi kewenangan Peemerintah Pusat tetapi dapat juga menj adi kewenangan
Pemerintahan Daerah, maka UU No. 40 Tahun 2004 tidak boleh menutup peluang Pemerintah
Daerah untuk ikut juga mengembangkan Sistem Jaminan Sosial”.
o Untuk menyesuaikan kondisi pengaturan penyelenggaraan jami nan sosial yang berlaku sekarang i ni
sesuai dengan pri nsip-prinsip jami nan sosial sebagaimana tercantum pada Pasal 4 UU No. 40
Tahun 2004.
a. kegotong royongan;
b. nirlaba;
c. keterbukaan;
d. kehati-hatian;
e. akuntabilitas;
f. portabilitas;
g. kepesertaan bersifat wajib;
h. dana amanat; dan
i. hasil pengelol aan dana jaminan sosial dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program
dan untuk sebesar-besar kepentingan peserta.
o Untuk adanya kepastian hukum penyelenggaraan program jaminan sosial sebagaimana diatur
dalam UU No. 40 Tahun 2004 secara efektif dan efisien guna menjamin seluruh rakyat agar dapat
memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak.
o Untuk menyusun kembali penyelenggaraan pil ar-pi lar jaminan sosial yang lebih terarah oleh BPJS
sesuai dengan standar kompetensi dan profesionalitas sehingga mampu memperluas cakupan
kepesertaan dan meningkatkan manfaat jami nan sosial sebesar-besarnya bagi terpenuhinya
kebutuhan dasar hidup rakyat yang layak.
o Penyesuai an struktur, organisasi, tata kerja, mekanisme, dan managemen pengelolaan dana BPJS,
untuk memberikan ruang gerak bagi pelaksanaan UU No. 40 Tahun 2004 sesuai dengan prinsip-
prinsip tata kelola publik yang baik (publ ic governance).
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 65 dari 158
3. Ruang Lingkup Pengaturan

1. Untuk mengatur pembentukan, tugas pokok, fungsi, organisasi, dan mekanisme kerj a BPJS
Nasional yang mengel ola dana amanah dan bukan kekayaan negara yang dipisahkan seperti
kekayaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagaimana di atur dal am Undang-Undang No. 19
Tahun 2003 tentang BUMN Pasal 1 angka 1.
2. Mengatur norma standar pembentukan BPJS termasuk badan penyel enggara yang dapat dibentuk
dengan Peraturan Daerah dengan memenuhi ketentuan:
a. Pasal 23A UUD 1945 yang menentukan pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk
keperluan negara diatur dengan Undang-Undang.
b. Pasal 5 UU No. 40 Tahun 2004 tentang SJSN yang mengatur Badan Penyel enggara Jaminan
Sosial.
c. Pasal 157 huruf a angka 3 UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah untuk
memastikan bahwa dana amanah tidak dapat dikatagorikan dal am pendapatan asli daerah yang
berasal dari hasil pengelol aan kekayaan daerah yang dipisahkan.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 66 dari 158
4. Arah Pengaturan RUU BPJS

1. Mentranformasikan Badan Penyel enggara yang ada sekarang yaitu PT. (Persero) Jamsostek, PT.
(Persero) Taspen, PT. (Persero) Asabri dan PT. Askes Indonesia (Persero) menjadi BPJS menurut
Undang-Undang No. 40 Tahun 2004. Untuk itu, pengaturan dalam RUU BPJS diarahkan untuk:
a. Menegaskan pembentukan BPJS Jamsostek, Taspen, Asabri, dan Askes dengan UU ini.
b. Menetapkan status BPJS sebagai badan hukum yang bersifat nirlaba untuk menyelenggarakan
JS dalam memenuhi sebesar-nesarnya kepentingan peserta.
c. Mengatur kembali pi lar-pilar j aminan sosial yang diselenggarakan masing-masi ng BPJS
sebagai berikut:
i. BPJS Jamsostek menyelenggarakan program Jaminan Kecelakaan Kerj a (JKK), Jaminan
Hari Tua (JHT), dan Jaminan Kematian (JKM) untuk seluruh kelompok rakyat;
ii. BPJS Taspen menyel enggarakan program Jaminan Pensiun (JP) seluruh kelompok rakyat;
iii. BPJS Askes menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan (JK) seluruh kelompok
rakyat;
iv. BPJS Asabri menyel enggarakan program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari
Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), dan Jaminan Kematian (JKM) untuk TNI/Polri,
Janda/Duda TNI/Polri.
d. Mengatur kembali pengel olaan dana jami nan sosial sebagai dana amanat milik seluruh peserta
yang dihimpun dari iuran peserta dan hasil pengembangannya untuk:
i. pembayaran manfaat kepada peserta;
ii. pembayaran operasional penyelenggaraan program jaminan social.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 67 dari 158
1.
2. Mekon|sme Fe|oksonoon SJSN - bb No. 40 Iohun 2004 Fosco Futuson MK



BPJS
Daerah

PRESIDEN
DJSN
PEMDA
Dewan
Penasehat
Daerah
UUNo. 40/2004 UU No. 32/2004
PERDA
UU BPJS
Anggaran
Pemerintah
(Pajak)

Kontribusi
Sekretariat
Pusat





BPJS
Jamsostek
BPJS
Taspe n
BPJS
Askes
BPJS
Asabri
BPJSCab
Jamsostek








BPJS Cab
Taspen
BPJS Cab
Askes
BPJS Cab
Asabri
Sekretariat
Cabang
Monev
Monev
Monev
Konsultasi
Regulasi &
Kontribus i
2. Membangun kembali struktur organisasi BPJS yang ramping dan kaya fungsi, serta standar
operasional dan prosedur kerja BPJS yang sesuai dengan pri nsip-pri nsip good (public) governance.

3. Menetapkan mekanisme penyelenggaraan SJSN, dengan mengikutsertakan seluruh tingkat
pemerintahan, DJSN, BPJS di tingkat nasional dan tata kerjanya di tingkat daerah.
4. Memberi kepastian hukum untuk proses transformasi dari penyel enggaraan jaminan sosial oleh
BUMN menuju penyel enggaraan berbasis dana amanah.
5. Menetapkan mekanisme pengawasan pel aksanaan program jaminan sosial dengan memberikan
peranan kepada Pemerintah Daerah melalui Sekretariat DJSN di daerah.
6. Membangun manajemen sistem informasi BPJS yang terkait dengan peran pemangku kepentingan
SJSN.
7. Membangun sistem penyelesaian keluhan dan penyelesaian sengketa dalam penyel enggaraan
program jami nan sosial.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 68 dari 158
5. Sistemati ka RUU BPJS

RUU BPJS disusun dengan sistematika sebagai berikut:
Bab Tentang Muatan
I Ketentuan Umum Pengertian beberapa istilah yang digunakan dalam Rancangan
Undang-Undang ini.

II Prinsip Penyelenggaraan dan
Standar Kompetensi
1. Prinsip-prinsip penyelenggaraan.
2. Standar kompetensi :
a. Input: keuangan dan aset, organisasi, admini strasi,
kepeser taan;
b. Proses: prosedur pemungutan, pengumpulan, dan
pembayaran/ pelayanan;
c. Hasil moni toring dan evaluasi, ser ta manajemen
sistem infor masi .

III Pendirian Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial
1. Pernyataan pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial berikut program jaminan sosial yang di kelolanya.
2. Status hukum sebagai badan hukum.
3. Independensi .

Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Tingkat Nasional
IV
Bagian Pertama
Kewajiban Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial dalam
Penyelenggaraan Program
Jaminan Sosial
1. Memberi kan nomor identitas tunggal kepada setiap
peserta dan anggota keluarganya.
2. Memberi kan informasi tentang hak dan kewajiban kepada
peserta dan mengikuti ketentuan yang berlaku.
3. Memberi kan konpensasi dalam hal di suatu daerah belum
tersedia fasilitas kesehatan yang memenuhi syarat guna
memenuhi kebutuhan medik sejumlah peserta (diatur
lebih lanjut dengan PerPres untuk JK dan dengan PP
untuk JKK) .
4. Membayar fasili tas kesehatan atas pelayanan yang
diberikan kepada peserta paling lambat 15 (li ma belas)
hari sejak per mintaan pembayaran diterima.
5. Mengelola dan mengembangkan dana jaminan sosial
secara opti mal dengan memperti mbangkan aspek
likuiditas, sol vabilitas, kehati-hatian, keamanan dana dan
hasil yang memadai (diatur lebih lanjut dengan PP).
6. Memberi kan informasi akumulasi iuran berikut hasil
pengembangannya kepada setiap peserta JHT sekurang-
kurangnya sekali dalam setahun.
7. Membentuk cadangan teknis sesuai dengan standar
praktek aktuaria yang lazi m danberlaku umum (diatur
lebih lanjut dengan PP).
8. Melakukan kesepakatan dengan asosiasi fasili tas
kesehatan di suatu wilayah untuk menetapkan besarnya
pembayaran kepada fasilitas kesehatan untuk setiap
wilayah.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 69 dari 158
Bab Tentang Muatan
9. Mengembangkan sistem pelayanan kesehatan, sistem
kendali mutu pelayanan kesehatan untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas JK.
10. Mengelola pembukuan sesuai dengan standar akuntansi
yang berlaku.
Bagian Kedua
Hak Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial Dalam
Penyelenggaraan Program
Jaminan Sosial
1. Mengumpul kan iuran peserta jaminan sosial .
2. Memperoleh dana operasional untuk biaya pengelolaan
BPJS.
Bagian Ketiga
Organ Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial
1. Dewan Direksi (Presiden dibantu oleh seorang Deputi
Keuangan dan seorang Deputi Admini strasi, ser ta satu
atau lebih deputi sesuai dengan jumlah program jaminan
sosial yang diselenggarakan).
2. Kualifikasi dan kompetensi.
3. Pengangkatan dan pemberhentian.
4. Tugas dan wewenang Dewan Direksi.
5. Unit-uni t kerja.
6. Kesekretariatan dan sumber daya.
7. Kantor lokal.
8. Peraturan internal (Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga yang ditetapkan oleh Dewan Direksi) .

Pendirian Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial di Tingkat
Daerah

Bagian Kesatu
Pendirian Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial Tingkat Daerah

1. Pernyataan dapat dibentuknya Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial Tingkat Daerah oleh Pemerintah Daerah
dengan Peraturan Daerah.
2. Peraturan Daerah tentang pembentukan Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial Tingkat Daerah dibatasi
untuk penyelenggaraan program jaminan sosial untuk
kelompok masyarakat yang iurannya dibiayai dengan
APBD.
3. Ketentuan untuk memenuhi prinsip penyelenggaraan
program jaminan sosial sebagai mana diatur dalam Pasal
4 UU No. 40 Tahun 2004.
4. Sebagai wadah konsultasi Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial Tingkat Daerah, dibentuk Dewan
Penasehat Daerah oleh masing-masing Pemerintah
Daerah yang beranggotakan unsur-unsur pemangku
kepentingan.
Bagian Kedua
Norma, Standar, dan Prosedur
1. Norma mengenai kepesertaan, besaran iuran, dan
manfaat harus mengacu kepada peraturan perundang-
undangan pelaksanaan UU No. 40 Tahun 2004.
2. Standar kualitas dan kompetensi mengacu pada Bab II.
V
Bagian Ketiga
Organ Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial Daerah
1. Kepala dibantu oleh seorang Wakil Kepala Bidang
Keuangan dan seorang Wakil Kepala Bidang
Administrasi , serta satu atau lebih Wakil Kepala sesuai
dengan jumlah program jaminan sosial yang
diselenggarakan.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 70 dari 158
Bab Tentang Muatan
2. Kualifikasi dan kompetensi.
3. Pengangkatan dan pemberhentian.
4. Tugas dan wewenang pengurus.
5. Unit-uni t kerja.
6. Kesekretariatan dan sumber daya.
Bagian Keempat
Pendirian Asosiasi Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial
Tingkat Daerah
1. Di setiap provinsi dapat dibentuk sebuah Asosiasi Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial Tingkat Daerah dan
mencakup keseluruhan program.
2. Tujuan pendirian sebagai wadah komunikasi untuk
mewakili kepentingan Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Tingkat Daerah dengan Dewan Jaminan Sosial
Nasional , Pemerintah Daerah, dan fasilitas pelayanan
jaminan sosial.

Prosedur Administrat if
Bagian Pertama
Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Nasional

1. Tata cara pengambilan keputusan.
2. Tata cara pelaksanaan kewajiban Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial untuk menyampaikan infor masi tentang:
a. hak dan kewajiban peserta;
b. akumulasi iuran beser ta hasil pengembangan.
3. Tata cara penerbitan kar tu identitas peserta.
VI
Bagian Kedua
Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Tingkat Daerah
Tata cara pengambilan keputusan dan pelaksanaan kewajiban
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tingkat Daerah diatur
dalam Peraturan Daerah pembentukannya.

Pertanggungjawaban Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial
VII
Bagian Pertama
Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Nasional

1. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ber tanggung jawab
mengenai kepesertaan, pengelolaan dan pengembangan
dana mengi kuti prinsip-prinsip dana amanah, serta
kebijakan umum jaminan sosial kepada Presiden melalui
Dewan Jaminan Sosial Nasional.
2. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial wajib melaporkan
dan memberikan dokumen dan infor masi tentang
penyelenggaraan program jaminan sosial kepada Dewan
Jaminan Sosial Nasional secara berkala.
3. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial wajib
menyelenggarakan dan menjalankan kebijakan umum
dan kebijakan investasi, serta rekomendasi yang
ditetapkan oleh Dewan Jaminan Sosial Nasional secara
optimal dengan memper timbangkan aspek likuidi tas,
solvabili tas, kehati-hatian, keamanan dana, dan hasil
yang memadai .
4. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ber tanggung jawab
memberi kan pelayanan yang berkelanjutan dan setara,
sesuai dengan prinsip penyelenggaraan Si stem Jaminan
Sosial Nasional



Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 71 dari 158
Bab Tentang Muatan
Bagian Kedua
Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Tingkat Daerah
1. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tingkat Daerah
bertanggung jawab mengenai kepeser taan, pengelolaan
dan pengembangan dana mengikuti prinsip-prinsip dana
amanah, ser ta kebijakan umum jaminan sosial di daerah
kepada Kepala Daerah dan Dewan Jaminan Sosial
Nasional .
2. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tingkat Daerah
wajib melaporkan dan memberi kan dokumen dan
informasi tentang penyelenggaraan program jaminan
sosial kepada Kepala Daerah dan Dewan Jaminan Sosial
Nasional secara ber kala.
3. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tingkat Daerah
wajib menyelenggarakan dan menjalankan kebijakan
umum dan kebijakan investasi yang di tetapkan oleh
Dewan Jaminan Sosial Nasional secara optimal dengan
memper timbangkan aspek likuidi tas, solvabili tas, kehati-
hatian, keamanan dana, dan hasil yang memadai, ser ta
memperhatikan Kebijakan Daerah.
4. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tingkat Daerah
bertanggung jawab memberi kan pelayanan yang
berkelanjutan dan setara, sesuai dengan prinsip
penyelenggaraan Si stem Jaminan Sosial Nasional.

VIII Kewenangan Pemerintah 1. Pemerintah dapat memperoleh informasi mengenai
pelaksanaan tugas dan kewajiban Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial .
2. Pemerintah berhak melakukan pengawasan preventi f dan
represif terhadap peraturan-peraturan internal yang
ditetapkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
dalam rangka har monisasi dengan peraturan perundang-
undangan yang berkai tan dengan jaminan sosial.
3. Pemerintah berwenang menetapkan norma, standar , dan
mutu si stem pelayanan kesehatan, sistem kendali mutu
pelayanan, dan sistem pembayaran pelayanan kesehatan
yang harus di kembangkan oleh Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial .
4. Batasan kewenangan Pemerintah dalam melakukan
tindakan- tindakan khusus guna menjamin terpeliharanya
tingkat kesehatan keuangan Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial .
5. Kewenangan Pemerintah sebagai mana disebut di atas
dilaksanakan oleh departemen terkait sesuai dengan
lingkup tugas dan wewenangnya.

Kekayaan dan Investasi
Bagian Pertama
Kekayaan
1. Pengelolaan kekayaan masing-masing Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial .
2. Pengaturan penyelenggaraan pembukuan Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial dalam 1 tahun takwim.
IX
Bagian Kedua
Investasi
1. Pengelolaan dan pengembangan dana yang terhi mpun
oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial .
2. Bentuk-bentuk dan mekani sme investasi yang aman.
3. Bentuk-bentuk dan mekani sme investasi lainnya yang
diperbolehkan.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 72 dari 158
Bab Tentang Muatan
X Perpajakan 1. Ketentuan Undang- Undang Perpajakan agar memberikan
fasili tas perpajakan bagi Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial.
2. Hal-hal lain yang menyangkut pajak seperti pajak
investasi , pajak pengadaan barang yang ber kaitan
dengan penyelenggaraan pelayanan, dan lain-lain agar
kondusi f untuk pengembangan Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial .
3. Kebijakan di bidang perpajakan agar diharmoni sasi kan
dengan Rancangan Undang-Undang di bidang
perpajakan yang sedang dibahas di DPR RI.

Penyelesaian Sengketa
Bagian Pertama
Penyelesaian Keluhan
1. Pada tiap- tiap Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
dibentuk satu uni t kerja untuk penyelesaian keluhan.

2. Pihak yang merasa dirugikan dapat mengajukan keluhan
kepada uni t kerja tersebut di atas.
3. Apabila penyelesaian tidak memuaskan, dapat
mengajukan pada instansi setingkat di atasnya.
4. Tata cara dan jangka waktu penyelesaian keluhan.
Bagian Kedua
Penyelesaian Sengketa Melalui
Mediasi
1. Pihak yang merasa dirugikan dapat menyelesai kan
sengketa melalui mekani sme mediasi.
2. Penyelesaian yang dilakukan oleh mediator ber sifat final
dan mengi kat.
3. Mediator terdiri dari 3 (tiga) orang ahli di bidang jaminan
sosial dan hukum dengan ketentuan sebagai beri kut:
a. 1 (satu) orang ditunjuk oleh pihak yang mengajukan
keberatan.
b. 1 (satu) orang ditunjuk oleh pihak Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial .
c. 1 (satu) orang ditunjuk bersama oleh kedua belah
pihak.
4. Tata cara penyelesaian sengketa melalui mediasi
dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
XI
Bagian Ketiga
Penyelesaian Sengketa Melalui
Pengadilan
1. Apabila penyelesaian keluhan tidak dapat diatasi oleh unit
kerja penyelesaian keluhan dan instansi setingkat di
atasnya, atau melalui mekanisme mediasi , maka
sengketa diajukan ke Pengadilan Negeri di wilayah
tempat tinggal pemohon.
2. Proses peradilan dilakukan dua tingkat, yai tu pengadilan
tingkat per tama di Pengadilan Negeri dan pengadilan
banding di Pengadilan Tinggi .
3. Putusan pengadilan tingkat banding bersifat final dan
tidak dapat diajukan upaya hukum di tingkat kasasi .
4. Jangka waktu penyelesaian sengketa di tingkat
Pengadilan Negeri paling lama 90 hari dan di tingkat
Pengadilan Tinggi paling lama 60 hari.


Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 73 dari 158
Bab Tentang Muatan
XII Ketentuan Peralihan 1. Penyesuaian terhadap Peraturan Perundang-Undangan
yang sudah ada pada saat Peraturan Perundang-
undangan baru mulai berlaku.
2. Pengaturan mengenai konsekuensi hukum atas peralihan
Persero Jamsostek, Taspen, Asabri, dan Askes menjadi
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang meliputi
proses pengalihan:
a. Modal Persero yang berasal dari kekayaan negara
yang dipi sahkan statusnya menjadi modal Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial ditetapkan dengan
Peraturan Pemerintah.
b. Kekayaan Persero menjadi kekayaan Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial setelah melalui
proses audit oleh tim audit independen.
c. Kepesertaan program jaminan sosial yang
diselenggarakan oleh Per sero menjadi kepeser taan
program jaminan sosial yang diselenggarakan oleh
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
d. Pengumpulan iuran oleh Per sero menjadi
pengumpulan iuran oleh Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial .
e. Penyelenggaraan pelayanan jaminan sosial yang
dikelola oleh Persero menjadi penyelenggaraan
pelayanan jaminan sosial yang dikelola oleh Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial .
f. Penyelesaian proses pembayaran kewajiban Per sero
kepada peserta dan fasili tas jaminan sosial sebelum
Undang-Undang ini di sahkan menjadi tanggung
jawab Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
g. Organ Persero menjadi organ Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial .
h. Sumber daya Per sero menjadi sumber daya Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial .
3. Jangka waktu proses peralihan selama 1 (satu) tahun
4. Pengawasan pengadilan apabila terjadi sengketa sebagai
akibat peralihan dan jangka waktu penyelesaian
sengketa.

XIII Ketentuan Penutup 1. Pencabutan pasal-pasal yang mengatur mengenai Badan
Penyelenggara dalam Undang-Undang ter kait (Bab VI
Pasal 25 s.d. 28 UU No. 3 Tahun 1992) dan dalam
Peraturan Pemerintah ter kait (Bab VIII Pasal 13 PP No.
25 Tahun 1981, Bab VI Pasal 11 PP No. 67 Tahun 1991,
dan Bab V Pasal 14 s.d. 16 PP No. 69 Tahun 1991) .
2. Ketentuan mulai berlakunya Undang-Undang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial .
3. Perintah untuk pengundangan Undang-Undang dengan
penempatannya dalam Lembaran Negara RI.





Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 74 dari 158
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 75 dari 158
Pembahasan |, 30-31 Ju|| 200Z
T|r Kec|| Po|ja Peryusur Peralurar Perurdarg-
urdargar urlu| Pe|a|saraar uu No. 10 Trr 2001




RANCANGAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
TENTANG
BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
RANCANGAN UNDANG-UNDANG
NOMOR .... TAHUN....
TENTANG
BADAN PENYELENGGARAJAMINAN SOSI AL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


Menimbang:
a. bahwa Sistem Jaminan Sosial Nasional yang
merupakan program negara bertujuan
memberikan kepastian perlindungan dan
kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat;
b. bahwa untuk mewujudkan tujuan Sistem
Jaminan Sosial Nasional perlu dibentuk
badan penyelenggara yang berbentuk badan
hukum dengan prinsip nirlaba guna
mengelola dana amanat untuk sebesar-besar
kepentingan peserta;
c. bahwa badan penyelenggara jaminan sosial
yang ada sekarang ini sudah tidak sesuai lagi
dengan ketentuan Undang-Undang Sistem
Jaminan Sosial Nasional;

KEMENTERIAN KOORDINATOR
BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 76 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
d. bahwa dengan adanya kepastian hukum
mengenai status badan penyelenggara akan
meningkatkan kinerja badan penyelenggara
dalam menyelenggarakan program jami nan
sosial;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan
sebagaimana dimaksud pada huruf a,huruf b,
huruf c dan huruf d, serta untuk
meleksanakan ketentuan Pasal 5 Undang-
Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang
Sistem Jaminan Sosial Nasional perlu
dibentuk Undang-Undang tentang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial;
Mengingat:
1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, Pasal 23A, Pasal
28H ayat (1) ayat (2), ayat (3), dan Pasal 34
ayat (1), ayat (2) Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesi a;
2. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004
tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
(Lembaran Negara Republ ik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 150, dan Tambahan
Lembara Negara Republik Indonesia Nomor
4456;


Catatan:
Penjel asan Umum memuat
mengenai
diperbolehkannya
Pemerintah Daerah
membentuk BPJS di
tingkat daerah dengan
Peraturan Daerah sesuai
dengan pertimbangan
hukum Mahkamah
Konstitusi dalam Putusan
No. 007/PU-III/2005, 31
Agustus 2005.
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK
INDIONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG
BADAN PENYELENGGARA
JAMINAN SOSIAL NASIONAL

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 77 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
I Ketentuan Umum
Pengertian beberapa istilah yang
digunakan dalam Rancangan Undang-
Undang ini.
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud
dengan:
1. Jaminansosial adalahsalah satu bentuk
perlindungansosial untuk menjamin seluruh rakyat
agar dapat memenuhikebutuhan dasar hidupnya
yang layak.
2. Sistem Jaminan Sosial Nasional adal ah suatu
tata cara penyelenggaraan program jaminan
sosial oleh beberapa badan penyelenggara
jaminan sosial.
3. Bantuan iuran adalah iuran yang dibayar oleh
Pemerintah bagi f akir miskin dan orang tidak
mampu sebagai peserta program jaminan
sosial.
4. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial adalah
badan hukum yang dibentuk untuk
menyelenggarakan program jaminan sosial.
5. Dana Jaminan Sosial adal ah dana amanat
milik seluruh peserta yang merupakan
himpunan iuran beserta hasil
pengembangannya yang dikelola oleh Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial untuk
pembayaran manf aat kepada peserta dan
pembiayaan operasional penyelenggaraan
program jami nan sosial.
6. Peserta adal ah setiap orang, termasuk orang
asing yang bekerja paling singkat 6 (enam)
bulan di Indonesia, yang telah membayar
iuran.
7. Manf aat adalah f aedah jami nan sosial yang
menjadi hak peserta dan/atau anggota
keluarganya.
8. Iuran adal ah sejumlah uang yang dibayar
secara teratur oleh peserta, pemberi kerja,
dan/atau Pemerintah.
Pasal 1
Cukup jelas
Def inisi operasional
program jami nan sosial
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 78 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
9. Pekerja adalah setiap orang yang bekerja
dengan menerima gaji, upah, atau imbalan
dalam bentuk lain.
10. Pemberi kerj a adalah orang perseorangan,
pengusaha, badan hukum, atau badan-badan
lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja
atau penyelenggara negara yang
mempekerjakan pegawai negeri dengan
membayar gaji, upah, atau imbalan dalam
bentuk lainnya.
11. Gaji atau upah adal ah hak pekerja yang
diterima dan di nyatakan dalam bentuk uang
sebagai imbalan dari pemberi kerja kepada
pekerja yang ditetapkan dan di bayar menurut
suatu perjanj ian kerja, kesepakatan, atau
peraturan perundang-undangan, termasuk
tunjangan bagi pekerja dan keluarganya atas
suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau
akan dilakukan.
12. Dewan Jaminan Sosi al Nasional adalah
dewan yang berf ungsi untuk membantu
Presiden dalam perumusan kebij akan umum
dan sinkronisasi penyelenggaraan Sistem
Jaminan Sosial Nasional.
13. Dewan Pengawas adalah organ Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial yang bertugas
melakukan pengawasan khusus terhadap
program yang diselenggarakan oleh Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial.








Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 79 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
Pasal 2
(1) BPJS di tingkat nasional berkedudukan di Ibu
Kota Negara.

(2) BPJS di tingkat daerah berkedudukan di Ibu
Kota Provinsi, Kabupaten, atau Kota sesuai
dengan wil ayah administrasinya.
Pasal 2
Ayat (1)
Cukup Jelas.

Ayat (2)
Dalam hal wil ayah adminsitrasi BPJS tingkat
daerah mencakup lebi h dari Provinsi,
Kabupaten, atau Kota, maka yang dimaksud
dengan Ibu Kota Provinsi, Kabupaten, atau
Kota adalah Ibu Kota Provinsi, Kabupaten,
atau Kota di tempat kantor perwakilan/cabang
BPJS berkedudukan.





Batasan wi layah/cakupan
BPJSD untuk mencegah
duplikasi/persaingan di
tingkat Kab/Kota.

II Prinsip Penyelenggaraan
3. Prinsip-prinsip penyelenggaraan.

Pasal 3
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dalam
menyelenggarakan tugasnya berdasarkan pada
prinsip :
a. nirlaba;





b. keterbukaan;
c. kehati-hatian;
d. akuntabilitas;
e. dana amanat; dan
f. hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial
dipergunakan seluruhnya untuk
pengembangan program dan untuk
sebesar-besar kepentingan peserta.




Pasal 3



Huruf a
Yang dimaksud dengan nirlaba adalah seluruh
perolehan surpl us dari penerimaan
ditempatkan dalam bentuk dana cadangan
teknis dalam rangka peningkatan manf aat bagi
peserta.
Huruf b
Huruf c
Huruf d
Huruf e
Huruf f



• Pembebasan pajak
penghasilan badan.
• seluruh dana dan hasil
pengembangan dana
dikembalikan dan
dimanf aatkan sebesar-
besarnya untuk
kepentingan peserta.



Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 80 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
Pasal 4
Di tingkat nasional didirikan BPJS yang
menyelenggarakan program jaminan sosial dasar
sebagaimana diatur dalam UU SJSN secara
nasional dalam rangka menjamin portabilitas
manf aat jaminan sosial yang diterima peserta
dalam wi layah Negara Republik Indonesia.

Pasal 4
Cukup Jelas.

4. Standar kompetensi:
a. Input: keuangan dan aset,
organisasi, administrasi,
kepesertaan;
b. Proses: prosedur
pemungutan, pengumpulan,
dan pembayaran/ pelayanan;
c. Hasil monitoring dan evaluasi,
serta manajemen sistem
informasi.
Pasal 5
Pembentukan BPJS di tingkat nasional didasarkan
pada standar kompetensi yang mencakup
kemampuan dan komitmen untuk:
a. menyelenggarakan program jaminan sosial
secara mandiri baik secara f inansial maupun
manajeri al;
b. mengumpulkan dana amanat dari sebesar-
besarnya jumlah peserta untuk memperkecil
resiko yang dihadapi BPJS sehingga dapat
memberikan pelayanan yang optimal dan
berkesinambungan;
c. mengelola resiko f inansial yang dipercayakan
oleh peserta serta mempertanggungj awabkan
penyelenggaraannya kepada pemangku
kepentingan;
d. menyelenggarakan prinsip-prinsi p jaminan
sosial sebagaimana diatur dalam Undang-
Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional

Pasal 5
Standar kompetensi dalam pasal ini
merupakan bagian dari kebij akan umum
penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial
Nasional yang ditetapkan oleh Dewan Jaminan
Sosial Nasional.

Pasal 6
(1) BPJS dapat membentuk kantor perwakilan
untuk satu atau lebih Provinsi secara
bertahap.
(2) BPJS dapat membentuk kantor cabang untuk
satu atau lebih Kabupaten/Kota sesuai
dengan prinsip ef isiensi.


Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 81 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
Pasal 7
Pada setiap kantor perwakilan di bentuk Dewan
Pengawas Daerah yang diketuai oleh Gubernur di
tempat kedudukan kantor perwakilan dan
mempunyai anggota sebanyak-banyaknya 5 (lima)
orang, termasuk ketua yang terdiri dari unsur
pemerintah, organisasi pemberi kerja, dan
organisasi pekerja.

Alt 1 Pasal 7
(1) Kepal a kantor perwakilan sebagai mana
di maksud Pasal 21 ayat (1) dipilih oleh
suatu timyang dibentuk oleh Gubernur di
tempat kedudukan kantor perwakilan
untuk diusulkan dan diangkat oleh Direksi
BPJS setelah melal ui uji kepatutan dan
kelayakan.
(2) Untuk dapat dicalonkan sebagai kepala
perwakilan, seorang calon harus
memenuhi syarat sebagai mana di maksud
dalam Pasal 12.


Pasal 8
(1) Di tingkat daerah dapat dibentuk BPJS
sebagai penyelenggara program jaminan
sosial yang bersif at tambahan atau pelengkap
dan berl aku untuk daerah yang bersangkutan.










Pasal 8
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan program jaminan
sosial yang bersif at tambahan adalah program
yang memberikan manf aat jaminan sosial
sebagai tambahan yang telah diberikan secara
nasional. Misalnya program JP yang berskala
nasional membayar manf aat sebesar Rp.
1.000.000,00 per bulan, maka BPJS di tingkat
daerah dapat membayar tambahan uang
pensiun untuk peserta setempat misalnya
sebesar Rp. 500.000,00 per bulan sesuai
dengan kemampuan daerah yang
bersangkutan.
Yang dimaksud program jaminan sosial yang

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 82 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan







(2) Program jaminan sosial tambahan atau
pelengkap harus disesuaikan dengan SJSN
dan ketentuan UU ini.

bersifat pelengkap adalah program yang
membayarkan manf aat yang tidak dijamin oleh
BPJS di tingkat nasional. Misalnya dalam
program JK biaya ambulance untuk rujukan
antar daerah tidak dijamin, maka BPJS di
tingkat daerah dapat menjamin bi aya tersebut.

Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 9
(1) Untuk dapat membentuk BPJS di tingkat
daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
ayat (1) harus memenuhi persyaratan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
berdasarkan hasil kajian dan penelitian yang
dilakukan oleh Dewan Jaminan Sosial
Nasional.


(2) Pembentukan BPJS di tingkat daerah
sebagaimana dimaksud pada dalam Pasal 6
ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Daerah.

Pasal 9
Ayat (1)
Pembentukan BPJS di tingkat daerah sebagai
bagian dari Sistem Jaminan Sosi al Nasional
dituntut memiliki standar kompetensi yang
berlaku juga bagi BPJS di tingkat nasional
dengan maksud agar ada persamaan kualitas
pelayanan jaminan sosial yang diberikan
kepada peserta.

Ayat (2)
Cukup jelas.


III Pendirian Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial

1. Pernyataan pembentukan Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial
berikut program jaminan sosial
yang dikelolanya.
2. Status hukum sebagai badan
hukum.
3. Independensi.
Pasal 10
(1) Dengan UU ini pada tingkat nasional di dirikan
BPJS sebagai berikut:
a. Asuransi Sosial TNI/Polri yang
selanjutnya disebut ASABRI;
b. Asuransi Kesehatan Indonesia yang
selanjutnya disebut ASKES;


Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 83 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
c. Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang
selanjutnya disebut JAMSOSTEK;
d. Tabungan Asuransi dan Dana Pensiun
PNS yang selanjutnya disebut TASPEN.
(2) BPJS sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
menerima pengalihan seluruh peserta, hak dan
kewaji ban, kekayaan, serta karyawan dengan
ketentuan sebagai berikut:
a. ASABRI menerima pengalihan dari
Perusahaan Perseroan (Persero)
Asuransi Sosial TNI/Polri;
b. ASKES menerima pengalihan dari
Perusahaan Perseroan (Persero)
Asuransi Kesehatan Indonesia dan
Jaminan Pemel iharaan Kesehatan
Perusahaan Perseroan (Persero)
Jamsostek;
c. JAMSOSTEK menerima pengalihan dari
Perusahaan Perseroan (Persero)
Jaminan Sosial Tenaga Kerja kecuali
Jaminan Pemel iharaan Kesehatan dan
Jaminan Hari Tua dari Perusahaan
Perseroan (Persero) Tabungan Asuransi
dan Dana Pensiun PNS ;
d. TASPEN menerima pengalihan dari
Perusahaan Perseroan (Persero)
Tabungan Asuransi dan Dana Pensiun
PNS kecuali Jaminan Hari Tua.
(3) Perubahan nama BPJS sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan
dengan Peraturan Pemerintah.






Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 84 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
Pasal 11
(1) Maksud dan tujuan pendi rian BPJS pada
tingkat nasional adalah untuk
menyelenggarakan program jaminan sosial
yang efektif dan ef isien bagi seluruh rakyat
secara bertahap.
(2) Untuk mencapai maksud dan tujuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
masing-masing BPJS menyelenggarakan
program jami nan sosial sebagai berikut:
a. ASABRI menyelenggarakan program
Jaminan Kecel akaan Kerja (JKK),
Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan
Pensiun (JP), dan Jaminan Kematian
(JKM) untuk TNI/Polri, Janda/Duda
TNI/Polri.
b. ASKES menyelenggarakan program
Jaminan Kesehatan (JK) seluruh
kelompok rakyat;
c. JAMSOSTEK menyelenggarakan
program Jaminan Kecel akaan Kerja
(JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), dan
Jaminan Kematian (JKM) untuk seluruh
kelompok rakyat;
d. TASPEN menyelenggarakan program
Jaminan Pensi un (JP) seluruh kelompok
rakyat.


IV Tugas dan Wewenang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial
Tingkat Nasional

Bagian Pertama
Tugas Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial dalam
Penyelenggaraan Program Jaminan
Sosial
1. Memberikan nomor identitas
Pasal 12
BPJS di tingkat nasional bertugas
menyelenggarakan program jaminan sosial bagi
penduduk dan warga negara Indonesia sesuai
dengan ketentuan Undang-Undang Sistem
Jaminan Sosial Nasional.
Pasal 12
Cukup jelas.





Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 85 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
tunggal kepada setiap peserta dan
anggota keluarganya.
2. Memberikan informasi tentang hak
dan kewajiban kepada peserta dan
mengikuti ketentuan yang berlaku.
3. Memberikan kompensasi dalam
hal di suatu daerah belum tersedi a
f asilitas kesehatan yang
memenuhi syarat guna memenuhi
kebutuhan medik sejumlah peserta
(diatur lebi h lanjut dengan PerPres
untuk JK dan dengan PP untuk
JKK).
4. Membayar f asilitas kesehatan atas
pelayanan yang diberikan kepada
peserta paling lambat 15 (lima
belas) hari sejak permintaan
pembayaran diterima.
5. Mengelola dan mengembangkan
dana jaminan sosial secara
optimal dengan
mempertimbangkan aspek
likuiditas, solvabilitas, kehati-
hatian, keamanan dana dan hasil
yang memadai (diatur lebi h lanjut
dengan PP).
6. Memberikan informasi akumulasi
iuran berikut hasil
pengembangannya kepada setiap
peserta JHT sekurang-kurangnya
sekali dalam setahun.
7. Membentuk cadangan teknis
sesuai dengan standar praktek
aktuaria yang lazim danberlaku
umum (diatur lebi h lanjut dengan
PP).
8. Mel akukan kesepakatan dengan

Pasal 13
BPJS di tingkat nasional berwenang untuk:
a. Mengelola dana amanat peserta jaminan
sosial berdasarkan prinsip-prinsi p jaminan
sosial yang menjadi tanggung jawabnya;
b. Mel akukan inspeksi dan menghentikan
pelayanan atau pemberian manfaat jaminan
sosial kepada peserta dari pemberi kerja
tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana
diatur dalam UU SJSN.








c. membuat kesepakatan dengan asosiasi
f asilitas kesehatan di tingkat nasional
maupun daerah mengenai besarnya
pembayaran kepada f asilitas kesehatan.
d. Membuat atau menghentikan kontrak kerja
dengan f asilitas kesehatan
e. Mel aporkan pemberi kerja kepada instansi
yang berwenang mengenai ketidakpatuhan
dalam pembayaran iuran dan pendaftaran
tenaga kerja lebih dari 3 (tiga) bulan.

Pasal 14
BPJS di tingkat nasional berkewaji ban untuk:
a. melakukan koordi nasi antar BPJS dalam
pemberi an nomor identitas tunggal bagi
setiap peserta dan anggota keluarganya
yang berlaku untuk semua jenis program
jaminan sosial.

Pasal 13

Huruf a
Cukup jelas

Huruf b
Yang dimaksud dengan nomor identitas
tunggal adalah nomor identitas yang berlaku
seumur hidup bagi peserta jaminan sosial.
Setiap BPJS waji b mengambil langkah-langkah
untuk mencegah kemungkinan terj adinya
nomor identitas ganda bagi setiap peserta.
Selain itu, BPJS wajib memberitahukan
kepada pemberi kerja agar menyampaikan
data akurat tentang pekerj a dan nomor
identitas jaminan sosial yang telah dimiliki
pekerja, baik pekerj a baru, pekerj a pindahan,
maupun pekerja yang telah berhenti.
Huruf c
Cukup jelas


Huruf d
Cukup jelas
Huruf e
Cukup jelas

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 86 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
asosiasi f asilitas kesehatan
disuatu wilayah untuk
menetapkan besarnya
pembayaran kepada f asilitas
kesehatan untuk setiap wil ayah.
9. Mengembangkan sistem
pelayanan kesehatan, sistem
kendali mutu pelayanan kesehatan
untuk meningkatkan ef isiensi dan
ef ektivitas JK.
10. Mengelola pembukuan sesuai
dengan standar akuntansi yang
berlaku.








b. memberikan informasi secara rinci mengenai
manf aat yang menjadi hak setiap peserta
beserta rincian prosedur untuk masing-
masing program jaminan sosial dan dapat
diakses dengan mudah melalui website
BPJS.
c. memberikan informasi saldo JHTdan JP
berikut hasil pengembangannya kepada
setiap peserta sekurang-kurangnya sekali
dalam setahun khusus bagi BPJS
penyelenggara program JHTdan JP.
d. Membentuk cadangan teknis sesuai dengan
standar praktek aktuaria yang lazim dan
berlaku umum.
e. melakukan pembukuan sesuai dengan
standar akuntansi yang berlaku dal am
penyelenggaraan jami nan sosial.
f. melaporkan kinerja keuangan dan
pelaksanaan program secara berkala
sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali
kepada DJSN.

Bagian Kedua
Hak Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Dalam Penyelenggaraan
Program Jaminan Sosial
1. Mengumpulkan iuran peserta
jaminan sosial.
2. Memperol eh dana operasional
untuk biaya pengelolaan BPJS.
Pasal 15
BPJS berhak untuk:
a. Menerima dan mengelola iuran peserta
beserta dana pengembangannya sesuai
dengan program yang menjadi tanggung
jawabnya.
b. Memperol eh dana operasional yang layak
untuk penyelenggaraan program yang
berkualitas, baik yang bersumber dari iuran,
hasil pengembangan dana, atau dari dana
yang dihibahkan Pemerintah.
c. Memperol eh hasil monitori ng dan evaluasi
penyelengaraan program jaminan sosial dari
Dewan Jaminan Sosi al Nasional.


Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 87 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
Bagian Ketiga
Larangan bagi Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial Dalam
Penyelenggaraan Program Jaminan
Sosial
Pasal 16
BPJS dilarang untuk melakukan subsidi silang
antar program.


V Organ Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial

1. Direksi (Presiden dibantu oleh
seorang Deputi Keuangan dan
seorang Deputi Administrasi, serta
satu atau lebih deputi sesuai
dengan jumlah program jaminan
sosial yang diselenggarakan).
2. Kualif ikasi dan kompetensi.
3. Pengangkatan dan
pemberhentian.
4. Tugas dan wewenang Dewan
Direksi.
5. Unit-unit kerja.
6. Kesekretariatan dan sumber daya.
7. Kantor lokal.
8. Peraturan internal (Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga yang ditetapkan oleh
Dewan Direksi).
Pasal 17
(1) Organ BPJS terdiri dari Dewan Pengawas
dan Direksi.

(2) Dewan Pengawas dan Direksi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diangkat dan
diberhentikan oleh Presiden atas usul DJSN
setelah melalui proses uji kepatutan dan
kelayakan.

(3) Dewan Pengawas sebanyak-banyaknya 3
(tiga) orang dan salah seorang di antaranya
diangkat sebagai Ketua Dewan Pengawas.



(4) Direksi sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang
dan salah seorang diantaranya diangkat
sebagai Direktur Utama.

Pasal 17
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Cukup jelas.




Ayat (3)
Keanggotaan Dewan Pengawas yang
dimaksud pada ayat ini adalah tenaga
prof esional yang menguasai bidang jaminan
sosial, keuangan atau investasi, dan aktuaria

Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 18
Untuk dapat diangkat menjadi Dewan Pengawas,
seseorang calon harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
a. Warga Negara Indonesia;
b. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
c. Sehat jasmani dan rohani;
d. Berkelakuan baik;
e. Umur sekurang-kurangnya 40 tahun dan
setinggi-tingginya 60 tahun;

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 88 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
f. Lulusan pendidikan pali ng rendah jenjang
strata 1 (satu);
g. Memiliki keahlian dan pengalaman di bidang
jaminan sosial, keuangan atau investasi, atau
aktuaria
h. Tidak merangkap jabatan struktural di
pemerintahan atau badan hukum lain;
i. Tidak menjabat sebagai pengurus partai
politik;
j. Tidak pernah dipidana berdasarkan
keputusan pengadilan yang telah
memperol eh kekuatan hukum tetap karena
melakukan tindak pidana kejahatan;
k. Tidak pernah menjadi anggota direksi,
komisaris atau dewan pengawas pada suatu
badan hukum yang dinyatakan pailit karena
kesalahan yang bersangkutan.

Pasal 19
Untuk dapat diangkat menjadi Direksi, seseorang
calon harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
a. Warga Negara Indonesia;
b. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
c. Sehat jasmani dan rohani;
d. Berkelakuan baik;
e. Umur sekurang-kurangnya 40 tahun dan
setinggi-tingginya 60 tahun;
f. Lulusan pendidikan pali ng rendah jenjang
strata 1 (satu);
g. Memiliki pengalaman dan kompetensi dalam
bidang jaminan sosial;
h. Memiliki integritas dan kepemimpinan dalam
menyelenggarakan jaminan sosial;
i. Tidak merangkap jabatan struktural di
pemerintahan atau badan hukum lain;
j. Tidak menjabat sebagai pengurus partai
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 89 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
politik;
k. Tidak pernah dipidana berdasarkan
keputusan pengadilan yang telah
memperol eh kekuatan hukum tetap karena
melakukan tindak pidana kejahatan;
l. Tidak pernah menjadi anggota direksi,
komisaris atau dewan pengawas pada suatu
badan hukum yang dinyatakan pailit karena
kesalahan yang bersangkutan.

Pasal 20
Dewan Pengawas dan Direksi diangkat untuk
masa jabatan 5 (lima) tahun dan dapat diangkat
kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan
berikutnya.



Pasal 21
(1) Dewan Pengawas dan Direksi berhenti
karena:
a. Meninggal duni a;
b. Sakit terus-menerus selama 6 (enam)
bulan;
c. Masa jabatan berakhir;
d. Mengundurkan di ri atas permintaan
sendiri;
e. Tidak lagi memenuhi persyaratan;
f. Diberhentikan atas usul DJSN.
(2) DJSN dapat mengusulkan pemberhentian
Dewan Pengawas dan Direksi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf g karena:
a. Melalaikan kewaji ban terus-menerus lebih
dari 3 (tiga) bul an;
b. Merugikan BPJS dan kepentingan
peserta jaminan sosial karena kesalahan
kebijakan yang diambil.



Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 90 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
(3) Dalam hal Dewan Pengawas dan Direksi
berhenti sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), DJSN mengusulkan pengganti nya kepada
Presiden untuk meneruskan masa jabatan
yang digantikan.

Pasal 22
(1) Dewan Pengawas dan Direksi dapat
diberhentikan sementara waktu karena:
a. Sakit terus-menerus lebi h dari 3 (tiga)
bulan;
b. Sedang dalam proses penyidikan,
penuntutan, dan pemeriksaan di
pengadilan;
c. Digugat karena melakukan tindakan yang
merugikan BPJS.

(2) Dalam hal Dewan Pengawas dan Direksi
diberhentikan sementara waktu sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), DJSN menunjuk
pelaksana tugas Dewan Pengawas dan
Direksi yang diberhentikan sementara.


Pasal 23
(1) Dewan Pengawas bertugas:
a. melakukan pengawasan kebijakan teknis
penyelenggaraan program jaminan sosial
yang dilaksanakan oleh masing-masing
BPJS;
b. melaporkan hasil pengawasannya kepada
DJSN.

(2) Dewan Pengawas berwenang:
a. mengevaluasi rencana kerja masing-
masing BPJS;
b. meminta laporan pelaksanaan rencana
kerja kepada masing-masing BPJS;

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 91 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan

c. memberikan saran dan pertimbangan
penyelenggaraan program jaminan sosial
kepada masing-masing BPJS;

Pasal 24
(1) Dewan Pengawas mengadakan rapat setiap
kali dianggap perl u oleh seorang atau lebih
anggota dewan pengawas dengan
menyebutkan hal-hal yang akan dibicarakan.

(2) Rapat Dewan Pengawas diadakan di tempat
kedudukan perusahaan atau di tempat
kedudukan BPJS atau di tempat kegiatan
usaha BPJS atau di tempat lai n di wilayah
Republik Indonesia yang ditetapkan oleh
direksi.

(3) Rapat Dewan Pengawas adalah sah dan
berhak mengambil keputusan apabila dihadiri
lebih dari ½ jumlah anggota Dewan
Pengawas.

(4) Rapat Dewan Pengawas dipimpin oleh Ketua
Dewan Pengawas atau anggota direksi
lainnya apabila Direktur Utama berhalangan
atau apabila Direktur Utama memberikan
tugas khusus untuk memimpin rapat.

Pasal 25
(1) Keputusan Rapat Direksi diambil dengan
musyawarah untuk muf akat.

(2) Dalam hal musyawarah untuk muf akat
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak
tercapai, keputusan diambil dengan suara
terbanyak.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 92 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan

(3) Keputusan dengan suara terbanyak dianggap
sah apabil a disetujui oleh lebih dari ½ jumlah
anggota di reksi yang hadir sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3).

Pasal 26
(1) Direksi bertugas:
a. melaksanakan kebij akan umum
penyelenggaraan program jaminan sosial
yang ditetapkan oleh DJSN;
b. melaksanakan pengurusan program
jaminan sosial yang menjadi tanggung
jawabnya untuk kepentingan peserta;
c. menyusun rencana jangka panjang serta
rencana kerj a dan anggaran BPJS
sebagai penjabaran kebijakan umum
program jami nan sosial.
d. Menyampaikan laporan secara berkala
setiap 3 (tiga) bulan sekali dan laporan
akhir tahun buku kepada DJSN.
e. Memberikan pertanggungj awaban pada
akhir masa tugas kepada Presiden
melalui DJSN.
f. Menjalankan tugas-tugas lai nnya
berdasarkan peraturan perundang-
undangan.

(2) Direksi berwenang:
a. mewakili BPJS di dalam maupun di luar
pengadilan;
b. melakukan segal a tindakan dan
perbuatan mengenai pengel olaan dana
amanat dan mengikat BPJS dengan pihak
lain dan/atau pi hak lain dengan BPJS
dengan pembatasan yang ditetapkan
dalam Undang-Undang ini.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 93 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
c. mengangkat dan memberhentikan
karyawan.

Pasal 27
Tindakan dan perbuatan Direksi yang harus
mendapat persetujuan tertulis dari DJSN adalah:
a. Penempatan dana yang belum diatur dalam
peraturan perundangan SJSN;
b. melakukan investasi jangka panjang dana
amanat.
c. mengagunkan aktiva tetap sebagai agunan
pinjaman jangka menengah atau panj ang;
d. melepaskan dan menghapuskan aktiva tetap
bergerak atau tidak bergerak melebihi nilai
.....;
e. mengadakan perj anjian yang tidak bersifat
operasional dan berdampak signif ikan bagi
keuangan BPJS.
f. Menyewakan aset perusahaan mel ebihi
waktu 6 (enam) tahun;

Pasal 28
Tindakan dan perbuatan Direksi yang harus
mendapat persetujuan tertulis dari Dewan
Pengawas adalah:
a. menerima pi njaman jangka pendek dari bank
atau lembaga keuangan lain atau
memberikan pi njaman jangka pendek yang
tidak bersifat operasional, membeli dan atau
menjual surat berharga kepada pasar modal
atau lembaga keuangan lainnya melebihi
jumlah tertentu yang ditetapkan dalam
rencana kerj a perusahaan;
b. mengagunkan aktiva tetap yang diperlukan
dalam penarikan kredit jangka pendek yang
melebihi ni lai...;


Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 94 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
c. melepaskan dan menghapuskan aktiva tetap
bergerak maupun tidak bergerak melebihi
nilai ....;
d. menetapkan dan menyesuaikan struktur
organisasi sampai 2 (dua) tingkat di bawah
direksi.

Pasal 29
Ketentuan lebih lanj ut mengenai pembatasan
tugas dan wewenang Direksi diatur dalam
Peraturan Pemeri ntah.


Pasal 30
(1) Direksi mengadakan rapat setiap kali
dianggap perlu oleh seorang atau lebih
anggota di reksi atau dewan pengawas
dengan menyebutkan hal-hal yang akan
dibicarakan.

(2) Rapat direksi diadakan di tempat kedudukan
perusahaan atau di tempat kedudukan BPJS
atau di tempat kegiatan usaha BPJS atau di
tempat lain di wil ayah Republik Indonesia
yang ditetapkan oleh direksi.

(3) Rapat direksi adalah sah dan berhak
mengambil keputusan apabila dihadiri l ebih
dari ½ jumlah anggota direksi.

(4) Rapat direksi dipimpin ol eh Direktur Utama
atau anggota direksi lainnya apabil a Direktur
Utama berhalangan atau apabi la Direktur
Utama memberikan tugas khusus untuk
memimpin rapat.




Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 95 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
Pasal 31
(1) Keputusan Rapat Direksi diambil dengan
musyawarah untuk muf akat.

(2) Dalam hal musyawarah untuk muf akat
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak
tercapai, keputusan diambil dengan suara
terbanyak.

(3) Keputusan dengan suara terbanyak dianggap
sah apabil a disetujui oleh lebih dari ½ jumlah
anggota di reksi yang hadir sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3).


Pendirian Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial di Tingkat Daerah
VI
Bagian Kesatu
Pendirian Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial Tingkat Daerah
1. Pernyataan dapat dibentuknya
Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Ti ngkat Daerah ol eh
Pemerintah Daerah dengan
Peraturan Daerah.
2. Peraturan Daerah tentang
pembentukan Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial
Tingkat Daerah dibatasi untuk
penyelenggaraan program jaminan
sosial untuk kelompok masyarakat
yang iurannya dibiayai dengan
APBD.
3. Ketentuan untuk memenuhi pri nsip
penyelenggaraan program jaminan
sosial sebagaimana diatur dalam
Pasal 4 UU No. 40 Tahun 2004.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 96 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
4. Sebagai wadah konsultasi Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial
Tingkat Daerah, dibentuk Dewan
Penasehat Daerah ol eh masing-
masing Pemeri ntah Daerah yang
beranggotakan unsur-unsur
pemangku kepentingan.

Bagian Kedua
Norma, Standar, dan Prosedur
1. Norma mengenai kepesertaan,
besaran iuran, dan manfaat harus
mengacu kepada peraturan
perundang-undangan pelaksanaan
UU No. 40 Tahun 2004.
2. Standar kualitas dan kompetensi
mengacu pada Bab II.


Bagian Ketiga
Organ Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial Daerah
1. Kepal a dibantu ol eh seorang Wakil
Kepal a Bidang Keuangan dan
seorang Wakil Kepala Bi dang
Administrasi, serta satu atau lebih
Wakil Kepala sesuai dengan
jumlah program jaminan sosial
yang diselenggarakan.
2. Kualif ikasi dan kompetensi.
3. Pengangkatan dan
pemberhentian.
4. Tugas dan wewenang pengurus.
5. Unit-unit kerja.
6. Kesekretariatan dan sumber daya.




Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 97 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
Bagian Keempat
Pendirian Asosiasi Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial
Tingkat Daerah
1. Di setiap provinsi dapat dibentuk
sebuah Asosiasi Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial
Tingkat Daerah dan mencakup
keseluruhan program.
2. Tujuan pendirian sebagai wadah
komunikasi untuk mewakili
kepentingan Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial
Tingkat Daerah dengan Dewan
Jaminan Sosial Nasional,
Pemerintah Daerah, dan f asilitas
pelayanan jaminan sosial.



Prosedur Administratif

VI
Bagian Pertama
Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Nasional
Tata cara pengambi lan keputusan.
1. Tata cara pel aksanaan kewajiban
Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial untuk menyampaikan
informasi tentang:
a. hak dan kewajiban peserta;
b. akumulasi iuran beserta hasil
pengembangan.
2. Tata cara penerbitan kartu
identitas peserta.





Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 98 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
Bagian Kedua
Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Tingkat Daerah
Tata cara pengambi lan keputusan dan
pelaksanaan kewajiban Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial Tingkat
Daerah diatur dalam Peraturan Daerah
pembentukannya.



Pertanggungjawaban Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial
VII
Bagian Pertama
Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Nasional
1. Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial bertanggung jawab
mengenai kepesertaan,
pengelolaan dan pengembangan
dana mengikuti prinsip-prinsip
dana amanah, serta kebijakan
umum jaminan sosial kepada
Presiden mel alui Dewan Jaminan
Sosial Nasional.
2. Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial wajib melaporkan dan
memberikan dokumen dan
informasi tentang
penyelenggaraan program jaminan
sosial kepada Dewan Jaminan
Sosial Nasional secara berkala.
3. Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial wajib menyelenggarakan
dan menjalankan kebi jakan umum
dan kebijakan investasi, serta
rekomendasi yang ditetapkan oleh
Dewan Jaminan Sosi al Nasional

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 99 dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
secara optimal dengan
mempertimbangkan aspek
likuiditas, solvabilitas, kehati-
hatian, keamanan dana, dan hasil
yang memadai.
4. Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial bertanggung jawab
memberikan pelayanan yang
berkelanjutan dan setara, sesuai
dengan prinsip penyelenggaraan
Sistem Jaminan Sosial Nasional

Bagian Kedua
Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Tingkat Daerah
1. Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Ti ngkat Daerah
bertanggung jawab mengenai
kepesertaan, pengelol aan dan
pengembangan dana mengikuti
prinsip-prinsip dana amanah, serta
kebijakan umum jami nan sosial di
daerah kepada Kepal a Daerah dan
Dewan Jaminan Sosi al Nasional.
2. Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Ti ngkat Daerah waji b
melaporkan dan memberikan
dokumen dan inf ormasi tentang
penyelenggaraan program jaminan
sosial kepada Kepala Daerah dan
Dewan Jaminan Sosi al Nasional
secara berkala.
3. Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Ti ngkat Daerah waji b
menyelenggarakan dan
menjalankan kebijakan umum dan
kebijakan investasi yang

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 100dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
ditetapkan oleh Dewan Jaminan
Sosial Nasional secara optimal
dengan mempertimbangkan aspek
likuiditas, solvabilitas, kehati-
hatian, keamanan dana, dan hasil
yang memadai, serta
memperhatikan Kebij akan Daerah.
4. Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Ti ngkat Daerah
bertanggung jawab memberikan
pelayanan yang berkelanj utan dan
setara, sesuai dengan prinsip
penyelenggaraan Sistem Jaminan
Sosial Nasional.


VIII Kewenangan Pemerintah

1. Pemerintah dapat memperoleh
inf ormasi mengenai pel aksanaan
tugas dan kewajiban Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial.
2. Pemerintah berhak melakukan
pengawasan preventif dan represif
terhadap peraturan-peraturan
internal yang ditetapkan oleh Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial
dalam rangka harmonisasi dengan
peraturan perundang-undangan
yang berkaitan dengan jaminan
sosial.
3. Pemerintah berwenang menetapkan
norma, standar, dan mutu sistem
pelayanan kesehatan, sistem
kendali mutu pelayanan, dan sistem
pembayaran pelayanan kesehatan
yang harus dikembangkan ol eh
Badan Penyelenggara Jaminan

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 101dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
Sosial.
4. Batasan kewenangan Pemerintah
dalam melakukan tindakan-tindakan
khusus guna menjami n
terpeliharanya tingkat kesehatan
keuangan Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial.
5. Kewenangan Pemerintah
sebagaimana disebut di atas
dilaksanakan ol eh departemen
terkait sesuai dengan lingkup tugas
dan wewenangnya.


Kekayaan dan Investasi

Bagian Pertama
Kekayaan
1. Pengelolaan kekayaan masing-
masing Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial.
2. Pengaturan penyelenggaraan
pembukuan Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial dalam 1 tahun
takwim.


IX
Bagian Kedua
Investasi
1. Pengelolaan dan pengembangan
dana yang terhimpun ol eh Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial.
2. Bentuk-bentuk dan mekanisme
investasi yang aman.
3. Bentuk-bentuk dan mekanisme
investasi lainnya yang
diperbolehkan.



Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 102dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
X Perpajakan

1. Ketentuan Undang-Undang
Perpaj akan agar memberikan
f asilitas perpajakan bagi Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial.
2. Hal-hal lai n yang menyangkut
pajak seperti pajak investasi, pajak
pengadaan barang yang berkaitan
dengan penyelenggaraan
pelayanan, dan lain-lain agar
kondusif untuk pengembangan
Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial.
3. Kebijakan di bidang perpajakan
agar diharmonisasikan dengan
Rancangan Undang-Undang di
bidang perpajakan yang sedang
dibahas di DPR RI.



Penyelesaian Sengketa

XI
Bagian Pertama
Penyelesaian Keluhan
1. Pada tiap-tiap Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial
dibentuk satu unit kerja untuk
penyelesaian keluhan.
2. Pihak yang merasa dirugikan
dapat mengajukan keluhan kepada
unit kerja tersebut di atas.
3. Apabil a penyelesaian tidak
memuaskan, dapat mengajukan
pada instansi setingkat di atasnya.
4. Tata cara dan jangka waktu
penyelesaian keluhan.



Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 103dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
Bagian Kedua
Penyelesaian Sengketa Melalui
Mediasi
1. Pihak yang merasa dirugikan
dapat menyelesaikan sengketa
melalui mekanisme mediasi.
2. Penyelesaian yang dilakukan oleh
mediator bersif at f inal dan
mengikat.
3. Mediator terdiri dari 3 (tiga) orang
ahli di bidang jaminan sosial dan
hukum dengan ketentuan sebagai
berikut:
a. 1 (satu) orang ditunjuk oleh
pihak yang mengajukan
keberatan.
b. 1 (satu) orang ditunjuk oleh
pihak Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial.
c. 1 (satu) orang ditunjuk
bersama oleh kedua belah
pihak.
4. Tata cara penyelesaian sengketa
melalui medi asi dilakukan sesuai
dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.


Bagian Ketiga
Penyelesaian Sengketa Melalui
Pengadilan
1. Apabil a penyelesaian keluhan
tidak dapat diatasi oleh unit kerja
penyelesaian keluhan dan instansi
setingkat di atasnya, atau melalui
mekanisme mediasi, maka
sengketa diajukan ke Pengadilan
Negeri di wilayah tempat tinggal

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 104dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
pemohon.
2. Proses peradilan dilakukan dua
tingkat, yaitu pengadilan tingkat
pertama di Pengadilan Negeri dan
pengadilan bandi ng di Pengadi lan
Tinggi.
3. Putusan pengadil an tingkat
bandi ng bersif at f inal dan tidak
dapat diajukan upaya hukum di
tingkat kasasi.
4. Jangka waktu penyelesaian
sengketa di tingkat Pengadilan
Negeri pali ng lama 90 hari dan di
tingkat Pengadilan Tinggi paling
lama 60 hari.

XII Penggabungan, Pel eburan,
Pengambilali han dan Pembubaran
BPJS
1. BPJS Nasional;
2. BPJS Daerah.

Institusi yang berwenang.

Tindakan-tindakan bagi kepentingan:
a. Pemerintah;
b. BPJS;
c. Peserta;
d. Karyawan;

Tindakan-tindakan khusus yang harus
dan dapat dilakukan oleh Pemeri ntah.
Penyelesaian sengketa akibat
Penggabungan, Pel eburan,
Pengambilali han dan Pembubaran
BPJS
e. Pemerintah;

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 105dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
f. BPJS;
g. Peserta;
h. Karyawan;


XIII Ketentuan Peralihan

1. Penyesuaian terhadap Peraturan
Perundang-Undangan yang sudah
ada pada saat Peraturan
Perundang-undangan baru mulai
berlaku.
2. Pengaturan mengenai
konsekuensi hukum atas perali han
Persero Jamsostek, Taspen,
Asabri, dan Askes menjadi Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial
yang meliputi proses pengalihan:
a. Modal Persero yang berasal
dari kekayaan negara yang
dipisahkan statusnya menjadi
modal Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial ditetapkan
dengan Peraturan Pemerintah.
b. Kekayaan Persero menjadi
kekayaan Badan
Penyelenggara Jaminan
Sosial setelah melalui proses
audit oleh tim audit
independen.
c. Kepesertaan program jaminan
sosial yang diselenggarakan
oleh Persero menjadi
kepesertaan program jami nan
sosial yang diselenggarakan
oleh Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial
d. Pengumpulan iuran ol eh

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 106dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
Persero menj adi pengumpulan
iuran oleh Badan
Penyelenggara Jaminan
Sosial.
e. Penyelenggaraan pelayanan
jaminan sosial yang dikelola
oleh Persero menjadi
penyelenggaraan pelayanan
jaminan sosial yang dikelola
oleh Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial.
f. Penyelesaian proses
pembayaran kewajiban
Persero kepada peserta dan
f asilitas jaminan sosial
sebelum Undang-Undang ini
disahkan menj adi tanggung
jawab Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial.
g. Organ Persero menjadi organ
Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial.
h. Sumber daya Persero menjadi
sumber daya Badan
Penyelenggara Jaminan
Sosial.
3. Jangka waktu proses peralihan
selama 1 (satu) tahun
4. Pengawasan pengadil an apabila
terjadi sengketa sebagai akibat
perali han dan jangka waktu
penyelesaian sengketa.





Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 107dari 158
Bab Muatan Batang Tubuh Penjelasan Pasal Pertanyaan/Catatan
XIV Ketentuan Penutup

1. Pencabutan pasal-pasal yang
mengatur mengenai Badan
Penyelenggara dal am Undang-
Undang terkait (Bab VI Pasal 25
s.d. 28 UU No. 3 Tahun 1992) dan
dalam Peraturan Pemerintah
terkait (Bab VIII Pasal 13 PP No.
25 Tahun 1981, Bab VI Pasal 11
PP No. 67 Tahun 1991, dan Bab V
Pasal 14 s.d. 16 PP No. 69 Tahun
1991).
2. Ketentuan mul ai berlakunya
Undang-Undang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial.
3. Perintah untuk pengundangan
Undang-Undang dengan
penempatannya dalam Lembaran
Negara RI.


Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 108dari 158
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 109dari 158
Pembahasan |||
ê-Z Aguslus 200Z
T|r Kec|| Po|ja Peryusur Peralurar Perurdarg-
urdargar urlu| Pe|a|saraar uu No. 10 Trr 2001





RANCANGAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
TENTANG
BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
UNDANG-UNDANG
NOMOR .... TAHUN....
TENTANG
BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL

DENGAN RAHMAT TUH AN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG
NOMOR .... TAHUN....
TENTANG
BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL

Menimbang : a. bahwa Sistem Jaminan Sosial Nasional yang merupakan program negara
bertujuan memberikan kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial
bagi seluruh rakyat;
b. bahwa untuk mewujudkan tujuan Sistem Jaminan Sosial Nasional perlu
dibentuk badan penyelenggara yang berbentuk badan hukum dengan
prinsip nirlaba guna mengelola dana amanat untuk sebesar-besar
kepentingan peserta;
c. bahwa badan peny elenggara jaminan sosial yang ada sekarang ini sudah
tidak sesuai lagi dengan ketentuan Undang-Undang Sistem Jaminan
Sosial Nasional;
d. bahwa dengan adany a kepastian hukum mengenai status badan
peny elenggara akan meningkatkan kinerja badan peny elenggara dalam
meny elenggarakan program jaminan sosial;
I. UMUM

Salah satu tujuan pembentukan Pemerintah Negara Republik Indonesia adalah untuk
memajukan kesejahteraan umum dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
raky at Indonesia. Sehubungan dengan itu, Pasal 28H ayat 3 Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 menentukan bahwa setiap orang berhak atas jaminan sosial
y ang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermanfaat.
Selanjutny a Pasal 34ay at (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 mengamanatkan NegaramengembangkanSistem Jaminan Sosial bagi seluruhrakyat
dan memberdayakanmasy arakat yanglemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat
kemanusiaan.


KEMENTERIAN KOORDINATOR
BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 110dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf
a,huruf b, huruf c danhuruf d, serta untuk meleksanakanketentuan Pasal
5 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional perlu dibentuk Undang-Undang tentang Badan Peny elenggara
Jaminan Sosial;


Sebagai pelaksanaanUndang-Undang Dasar NegaraRepublik Indonesia Tahun 1945
tersebut, telah ditetapkan Undang-Undang tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dengan
tujuan memberikan kepastian perlindungan dan kesejahteraansosial bagi seluruh rakyat
melalui penyelenggaraan program jaminan sosial oleh beberapa BadanPeny elenggara
Jaminan Sosial.

Berdasarkan Pasal 5ay at (2) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang
Sistem Jaminan Sosial Nasional, badanpeny elenggara yang telahada dan dibentuk dengan
Peraturan Pemerintah dinyatakan sebagai Badan Peny elenggara Jaminan Sosial. Namun
setelah Putusan Mahkamah Konstitusi padaPerkaraNo. 007/PU-III/2005 yang diucapkan
pada tanggal 31 Agustus 2005 meny atakanbahwa Pasal 5 ayat (2), ayat (3) dan ayat (4)
bertentangan denganUndang-Undang Dasar NegaraRepublik Indonesia Tahun 1945 dan
tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, sehingga pembentukan badanpeny elenggara
harus dibentuk dengan Undang-Undang. Berdasarkan Pasal 52 ayat (2) Undang-Undang
Nomor 40 Tahun 2004 tentangSistem Jaminan Sosial Nasional segalaketentuan mengenai
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial harus disesuaikandengan Undang-Undang dimaksud
paling lambat 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem
Jaminan Sosial Nasional diundangkan pada tanggal 19 Oktober 2004.

Selain itu, berdasarkan Putusan MahkamahKonstitusi di atas, Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial tingkat daerahdapat dibentuk dengan Peraturan Daerah dengan memenuhi
ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem JaminanSosial Nasional.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sebagai penyelenggaraprogram jaminansosial pada
hakekatnya melaksanakan pengumpulan dana yang bersif at wajib berdasarkan mekanisme
asuransi sosial dan tabungan wajib untuk kepentingan peserta. Mengingat sifat wajib dalam
pengumpulan dana, maka dalam pelaksanaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial harus
memperhatikan ketentuan Pasal 23A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, dalam arti bahwa pungutan y ang bersifat memaksa tidak boleh diatur dalam
peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang.

Undang-Undang ini pada dasarny amengatur prinsip penyelenggaraan, pembentukan, tugas
dan wewenang, kewajiban dan hak, organ, dan penyelenggaraan program serta
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 111dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat daerah.

Dengan terbentuknya Undang-Undang tentang Badan Peny elenggara Jaminan Sosial, maka
badan penyelenggara memiliki status sebagai badan hukum yang dibentuk dengan Undang-
Undang, sehingga memberi kepastian hukum dalam meny elenggarakan program jaminan
sosial. Dengan demikian, Badan Penyelenggara JaminanSosial dapat melaksanakan
prinsip-prinsip penyelenggaraan Sistem JaminanSosial Nasional sesuai dengan ketentuan
Undang-Undang untuk memberikan pelay anan yang optimal kepada peserta.

Keberhasilan peny elenggaraan program jaminansosial oleh Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial perlu didukung oleh kebijakan Pemerintahdi bidang ketenagakerjaan, perekonomian,
dan kebijakan pelay anan publik y ang kondusif, serta komitmen politik untuk pemberday aan
masy arakat dan memprioritaskan terwujudny a Sistem Jaminan Sosial Nasional bagi seluruh
raky at.
Mengingat : 1. Pasal 5 ay at (1), Pasal 20, Pasal 23A, Pasal 28H ayat (1) ayat (2) dan
ay at (3), danPasal 34 ayat (1) danay at (2) Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia;
2. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150,
dan Tambahan Lembara Negara Republik Indonesia Nomor 4456;

Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDIONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANGBADAN PENYELENGGARA JAMINAN
SOSIAL





Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 112dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
BAB I
KETENTUAN UMUM
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Jaminan sosial adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar
dapat memenuhi kebutuhan dasarhidupnyayanglayak.
2. Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah suatu tata cara peny elenggaraan program
jaminan sosial oleh beberapa Badan Peny elenggara Jaminan Sosial.
3. Bantuan iuran adalah iuran yang dibayar oleh Pemerintah bagi f akir miskin dan orang
tidak mampusebagai peserta program jaminan sosial.
4. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial adalah badan hukum yang dibentuk untuk
meny elenggarakan program jaminan sosial.
5. Dana Jaminan Sosial adalah dana amanat milik seluruh peserta yang merupakan
himpunan iuran beserta hasil pengembangannya yang dikelola oleh Badan
Peny elenggara Jaminan Sosial untuk pembayaran manfaat kepada peserta dan
pembiayaan operasional penyelenggaraan program jaminan sosial.
6. Peserta adalah setiap orang, termasuk orang asing y ang bekerja paling singkat 6
(enam) bulan di Indonesia, y ang telah membay ar iuran.
7. Manf aat adalah faedah jaminan sosial y ang menjadi hak peserta dan/atau anggota
keluargany a.
8. Iuran adalah sejumlah uang yang dibayar secara teratur oleh peserta, pemberi kerja,
dan/atau Pemerintah.
9. Pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima gaji, upah, atau imbalan
dalam bentuk lain.
10. Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-
badan lainnya y ang mempekerjakan tenaga kerja atau penyelenggara negara yang
mempekerjakan pegawai negeri dengan membayar gaji, upah, atau imbalan dalam
bentuk lainnya.
11. Gaji atau upah adalah hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang
sebagai imbalan dari pemberi kerja kepada pekerja yang ditetapkan dan dibay ar
menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan,
termasuk tunjangan bagi pekerja dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa
y ang telah atau akan dilakukan.
Pasal 1
Cukup jelas.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 113dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
12. Dewan Jaminan Sosial Nasional adalah dewan yang berf ungsi untuk membantu
Presiden dalam perumusan kebijakan umum dan sinkronisasi penyelenggaraan Sistem
Jaminan Sosial Nasional.
13. Dewan Pengawas adalah organ Badan Peny elenggara Jaminan Sosial y ang bertugas
melakukan pengawasan khusus terhadap program yang diselenggarakan oleh Badan
Peny elenggara Jaminan Sosial.

Pasal 2
Badan Peny elenggara JaminanSosial dalam menyelenggarakan tugasny a berdasarkan
pada prinsip:
a. nirlaba;




b. keterbukaan;



c. kehati-hatian;



d. akuntabilitas;



e. portabilitas;





Pasal 2


Huruf a
Yang dimaksud dengan nirlaba adalah seluruh perolehan surplus dari penerimaan
ditempatkan dalam dana amanat dan/atau dana cadangan teknis dalam rangka peningkatan
manf aat bagi peserta.

Huruf b
Prinsip keterbukaan dalam ketentuan ini adalah prinsip mempermudah akses informasi yang
lengkap, benar, dan jelas bagi setiap peserta.

Huruf c
Prinsip kehati-hatian dalam ketentuan ini adalah prinsip pengelolaan dana secara cermat,
teliti, aman, dan tertib.

Huruf d
Prinsip akuntabilitas dalam ketentuan ini adalah prinsip pelaksanaan program dan
pengelolaan keuangan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Huruf e
Prinsip portabilitas dalam ketentuan ini adalah prinsip memberikan jaminan yang
berkelanjutan meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilay ah
Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 114dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
f. dana amanat; dan




g. hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial dipergunakanseluruhnya untuk pengembangan
program dan untuk sebesar-besar kepentingan peserta.



Huruf f
Prinsip dana amanat dalam ketentuan ini adalah bahwa iuran dan hasil pengembanganny a
merupakan dana titipan dari peserta untuk digunakan sebesar-besarny a bagi kepentingan
peserta jaminan sosial.

Huruf g
Prinsip hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial Nasional dalam ketentuan ini adalah hasil
berupa div iden dari pemegangsaham yangdikembalikanuntuk kepentingan pesertajaminan
sosial.

BAB II
PEMBENTUKAN
BAD AN PENYELENGGAR A JAMINAN SOSIAL TINGKAT NASIONAL

Pasal 3
Badan Peny elenggara JaminanSosial tingkat nasional berkedudukan di Ibu KotaNegara.


Pasal 3
Cukup Jelas.
Pasal 4
Di tingkat nasional didirikanBadan Penyelenggara Jaminan Sosial yangmenyelenggarakan
program jaminan sosial sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional.

Pasal 4
Cukup Jelas.
Pasal 5
(1) Dengan Undang-Undang ini pada tingkat nasional didirikan Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial sebagai berikut:
a. Asuransi Sosial TNI/Polri y ang selanjutny adisebut ASABRI;
b. Asuransi KesehatanIndonesia yang selanjutnya disebut ASKES;
c. Jaminan Sosial Tenaga Kerjay ang selanjutny adisebut JAMSOSTEK;
d. Tabungan Asuransi dan Dana PensiunPNS y ang selanjutny adisebut TASPEN.
(2) Badan Peny elenggara JaminanSosial tingkat nasional sebagaimana dimaksud pada
ay at (1) menerima pengalihan seluruh peserta, hak dan kewajiban, kekayaan, serta
Pasal 5
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 115dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
karyawan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. ASABRI menerima pengalihan dari Perusahaan Perseroan(Persero) Asuransi
Sosial TNI/Polri;
b. ASKES menerimapengalihan dari Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi
Kesehatan Indonesia dan Jaminan PemeliharaanKesehatan Perusahaan
Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja;
c. JAMSOSTEK menerima pengalihandari Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan
Sosial Tenaga Kerja kecuali Jaminan Pemeliharaan Kesehatandari Perusahaan
Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia dan Jaminan Hari Tua dari
Perusahaan Perseroan (Persero) Tabungan Asuransi dan DanaPensiunPNS;
d. TASPEN menerima pengalihan dari Perusahaan Perseroan (Persero) Tabungan
Asuransi danDana Pensiun PNS kecuali JaminanHari Tua dari Perusahaan
Perseroan (Persero) Tabungan Asuransi danDana Pensiun PNS.
(3) Perubahan nama Badan Peny elenggaraJaminan Sosial tingkat nasional sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukandengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 6
(1) Maksud dan tujuan pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat
nasional adalah untuk menyelenggarakan program jaminan sosial yang menjamin
kegotongroy ongan dan portabilitas manfaat jaminan sosial, serta peny elenggaraan y ang
ef ektif dan efisien bagi seluruh rakyat secara bertahap dalam wilay ah NegaraRepublik
Indonesia.
(2) Untuk mencapai maksud dan tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), masing-
masing Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional meny elenggarakan
program jaminan sosial sebagai berikut:
a. ASABRI meny elenggarakan program Jaminan Kesehatan (JK), Jaminan
Kecelakaan Kerja(JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), JaminanPensiun(JP), dan
Jaminan Kematian (JKM) untuk TNI/Polri, pensiunan TNI/Polri, dan Janda/Duda
TNI/Polri;
b. ASKES menyelenggarakan program JaminanKesehatan (JK) untuk seluruh
kelompok rakyat kecuali untuk TNI/Polri, pensiunan TNI/Polri, dan Janda/Dudanya
TNI/Polri;

Pasal 6
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 116dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
c. JAMSOSTEK meny elenggarakan program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK),
Jaminan Hari Tua (JHT), dan Jaminan Kematian (JKM) untuk seluruh kelompok
rakyat;
d. TASPEN meny elenggarakan program Jaminan Pensiun (JP) untuk seluruh
kelompok rakyat.


BAB III
TUGAS, WEWENANG, HAK, DAN KEWAJIBAN SERTA LAR ANGAN
BAD AN PENYELENGGAR A JAMINAN SOSIAL TINGKAT NASIONAL

Bagian Pertama
Tugas dan Wewenang

Pasal 7
Badan Peny elenggara JaminanSosial tingkat nasional bertugas meny elenggarakan program
jaminan sosial bagi penduduk dan warga negara Indonesia sesuai dengan ketentuan
Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Pasal 7
Cukup jelas.

Pasal 8
Badan Peny elenggara JaminanSosial tingkat nasional berwenang untuk:
a. mengelola dana amanat peserta jaminan sosial berdasarkan prinsip-prinsip jaminan
sosial yang menjadi tanggung jawabny a;
b. menempatkan dana amanat untuk jangka pendek kurang dari 1(satu) tahun paling
sedikit 20% dari dana investasiy ang tersedia;
c. menempatkan dana amanat untuk jangka panjang pada obligasi pemerintah atau yang
dijamin oleh pemerintah paling sedikit 60% dari dana inv estasi yang tersedia;
d. menempatkan dana amanat pada deposito pada bank daerah dan/atau obligasi
Pemerintah Daerah;
e. melakukan inspeksi dan menghentikan pelayanan atau pemberian manfaat jaminan
sosial kepada pesertadari pemberi kerja tidak memenuhi kewajibanny a sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional.
f. membuat kesepakatan denganasosiasi f asilitas kesehatan tingkat nasional maupun
daerah mengenai besarnya pembayaran kepada fasilitas kesehatan.
Pasal 8




Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 117dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
g. membuat atau menghentikan kontrak kerja dengan fasilitas kesehatan
h. melaporkan pemberi kerja kepada instansi yang berwenang mengenai ketidakpatuhan
dalam pembayaran iuran dan pendaftaran tenagakerja lebih dari 3 (tiga) bulan.

Bagian Kedua
Hak dan Kewajiban

Pasal 9
Badan Peny elenggara JaminanSosial tingkat nasional berhak untuk:
a. menerima dan mengelola iuran peserta beserta dana pengembangannya sesuai dengan
program y ang menjadi tanggung jawabny a;
b. memperoleh danaoperasional y anglay ak untuk penyelenggaraan program yang
berkualitas, baik yang bersumber dari iuran, hasil pengembangan dana, atau dari dana
y ang dihibahkan Pemerintah;
c. memperoleh hasil monitoring dan evaluasi peny elengaraan program jaminansosial dari
Dewan Jaminan Sosial Nasional.




Pasal 9
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 118dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Pasal 10
Badan Peny elenggara JaminanSosial tingkat nasional berkewajiban untuk:
a. melakukan koordinasi antar Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dalam pemberian
nomor identitas tunggal bagi setiap peserta dan anggota keluarganya yang berlaku
untuk semuajenis program jaminansosial;






b. memberikan inf ormasi secara rinci mengenai manf aat yang menjadi hak setiap peserta
beserta rincian prosedur untuk masing-masing program jaminan sosial dan dapat
diakses dengan mudah melalui website Badan Peny elenggara Jaminan Sosial;
c. memberikan inf ormasi saldo Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun berikut hasil
pengembangannya kepada setiap peserta sekurang-kurangny asekali dalam setahun
khusus bagi Badan Peny elenggara Jaminan Sosial penyelenggara program Jaminan
Hari Tua dan JaminanPensiun;
d. Membentuk cadangan teknis sesuai dengan standar praktek aktuaria yang lazim dan
berlaku umum;

e. melakukan pembukuan sesuai dengan standar akuntansi yangberlaku dalam
penyelenggaraanjaminan sosial;

f. melaporkan kinerja keuangan dan pelaksanaan program secara berkalasekurang-
kurangnya 3 (tiga) bulan sekali kepada Dewan Jaminan Sosial Nasional.






Pasal 10
Huruf a
Yang dimaksud dengan nomor identitas tunggal adalah nomor identitas yang berlaku seumur
hidup bagi peserta jaminan sosial.
Setiap Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional wajib mengambil langkah-
langkah untuk mencegah kemungkinanterjadinya nomor identitas ganda bagi setiappeserta.
Selain itu, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional wajib memberitahukan
kepada pemberi kerjaagar meny ampaikan data akurat tentang pekerjadan nomor identitas
jaminan sosial yang telah dimiliki pekerja, baik pekerja baru, pekerja pindahan, maupun
pekerja y ang telah berhenti.

Huruf b
Cukup jelas

Huruf c
Cukup jelas


Huruf d
Cukup jelas

Huruf e
Cukup jelas

Huruf f
Cukup jelas
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 119dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Bagian Ketiga
Larangan

Pasal 11
Badan Peny elenggara JaminanSosial tingkat nasional dilarang:
a. melakukan subsidi silang antar program;

b. mendirikan dan/atau memiliki seluruh atau sebagian f asilitas kesehatan;


c. memungut iuran program jaminan sosialy ang memberi manf aat sama sebagaimana
telah diatur dalam peraturan-perundangan.




Pasal 11
Huruf a
Cukup jelas.

Huruf b
Cukup jelas.

Huruf c
Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur Sistem Jaminan
Sosial Nasional.

BAB IV
ORGAN BAD AN PENYELENGGAR A JAMINAN SOSIAL TINGKAT NASIONAL

Pasal 12
(1) Organ Badan Peny elenggara Jaminan Sosial terdiri dari Dewan Pengawas dan Direksi.

(2) Dewan Pengawas dan Direksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat dan
diberhentikan oleh Presiden atas usul Dewan Jaminan Sosial Nasional setelah melalui
proses uji kepatutan dan kelay akan.
(3) Dewan Pengawas sebanyak-banyaknya 3 (tiga) orang dansalah seorang diantaranya
diangkat sebagai Ketua Dewan Pengawas.

(4) Direksi sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang dan salahseorangdiantaranya diangkat
sebagai Direktur Utama.

Pasal 12
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Keanggotaan Dewan Pengawas y ang dimaksudpada ayat ini adalah tenaga prof esional
y ang menguasai bidang jaminan sosial, keuangan atau inv estasi, dan aktuaria
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 13
(1) Badan Peny elenggara JaminanSosial tingkat nasional dapat membentuk kantor
perwakilan untuk satu atau lebih Prov insi secara bertahap.
(2) Badan Peny elenggara JaminanSosial tingkat nasional dapat membentuk kantor cabang
untuk satu atau lebih Kabupaten/Kota sesuai dengan prinsip efisiensi.
Pasal 13

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 120dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Pasal 14
Pada setiap kantor perwakilan dibentuk Dewan Pengawas Daerah yang diketuai oleh
Gubernur di tempat kedudukan kantor perwakilan danmempuny ai anggota sebanyak-
banyaknya 5 (lima) orang termasuk ketua, yang terdiri dari unsur pemerintah, organisasi
pemberi kerja, dan organisasi pekerja.

Pasal 14
Pasal 15
Untuk dapat diangkat menjadi Dewan Pengawas, seseorang calon harus memenuhi
persy aratan sebagai berikut:
a. Warga Negara Indonesia;
b. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
c. sehat jasmani dan rohani;
d. berkelakuan baik;
e. berumur sekurang-kurangnya 40 tahun dan setinggi-tingginy a 50 tahun;
f. lulusan pendidikan paling rendah jenjang strata 1 (satu);
g. memiliki keahlian dan pengalaman di bidang jaminan sosial, keuangan atau investasi,
atau aktuaria;
h. tidak merangkap jabatan struktural di pemerintahan atau badanhukum lain;
i. tidak menjabat sebagai pengurus partai politik;
j. tidak pernah dipidana berdasarkan keputusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatanhukum tetapkarena melakukan tindak pidana kejahatan;
k. tidak pernah menjadi anggota direksi, komisaris atau dewan pengawas pada suatu
badan hukum y ang diny atakan pailit karena kesalahan yang bersangkutan.

Pasal 15
Pasal 16
Untuk dapat diangkat menjadi Direksi, seseorang calon harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
a. Warga Negara Indonesia;
b. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
c. sehat jasmani dan rohani;
d. berkelakuan baik;
e. berumur sekurang-kurangnya 40 tahun dan setinggi-tingginy a 50 tahun;
f. lulusan pendidikan paling rendah jenjang strata 1 (satu);
Pasal 16
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 121dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
g. memiliki pengalaman dan kompetensi dalam bidang jaminan sosial;
h. memiliki integritas dan kepemimpinan dalam meny elenggarakan jaminan sosial;
i. tidak merangkap jabatan struktural di pemerintahan atau badanhukum lain;
j. tidak menjabat sebagai pengurus partai politik;
k. tidak pernah dipidana berdasarkan keputusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatanhukum tetapkarena melakukan tindak pidana kejahatan;
l. tidak pernah menjadi anggota direksi, komisaris atau dewan pengawas pada suatu
badan hukum y ang diny atakan pailit karena kesalahan yang bersangkutan.

Pasal 17
Dewan Pengawas dan Direksi diangkat untuk masa jabatan 5 (lima) tahun dan dapat
diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatanberikutnya.

Pasal 17
Pasal 18
(1) Dewan Pengawas dan Direksi berhenti karena:
a. meninggal dunia;
b. sakit terus-menerus selama 6 (enam) bulan;
c. masa jabatan berakhir;
d. mengundurkan diri atas permintaan sendiri;
e. tidak lagi memenuhi persy aratan;
f. diberhentikan atas usul Dewan Jaminan Sosial Nasional.
(2) Dewan Jaminan Sosial Nasional dapat mengusulkan pemberhentian Dewan Pengawas
dan Direksi sebagaimana dimaksudpada ayat (1) huruf f karena:
a. melalaikan kewajiban terus-menerus lebih dari 3 (tiga) bulan;
b. merugikan BadanPeny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional dan kepentingan
peserta jaminan sosial karena kesalahan kebijakan y ang diambil.
(3) Dalam hal Dewan Pengawas dan Direksi berhenti sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), Dewan Jaminan Sosial Nasional mengusulkan penggantiny a kepada Presiden
untuk meneruskan masa jabatan yang digantikan.




Pasal 18
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 122dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Pasal 19
(1) Dewan Pengawas dan Direksi dapat diberhentikan sementara waktu karena:
a. sakit terus-menerus lebih dari 3(tiga) bulan;
b. sedang dalam proses penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di pengadilan;
c. digugat karena melakukan tindakan yang merugikan Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial tingkat nasional.
(2) Dalam hal Dewan Pengawas dan Direksi diberhentikan sementara waktu sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Dewan Jaminan Sosial Nasional menunjuk pelaksana tugas
Dewan Pengawas dan Direksi yang diberhentikansementara.

Pasal 19
Pasal 20
(1) Dewan Pengawas bertugas:
a. melakukan pengawasan kebijakan teknis penyelenggaraan program jaminan sosial
y angdilaksanakan oleh masing-masing Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
tingkat nasional;
b. melaporkan hasil pengawasanny a kepada Dewan JaminanSosial Nasional.
(2) Dewan Pengawas berwenang:
a. mengev aluasi rencanakerja masing-masing Badan Peny elenggara Jaminan Sosial
tingkat nasional;
b. memintalaporan pelaksanaan rencana kerja kepada masing-masing Badan
Peny elenggara Jaminan Sosial;
c. memberikan saran dan pertimbangan peny elenggaraan program jaminan sosial
kepada masing-masing Badan Penyelenggara Jaminan Sosial;

Pasal 20
Pasal 21
(1) Dewan Pengawas mengadakan rapat setiap kali dianggap perlu oleh seorang atau lebih
anggota dewan pengawas dengan menyebutkan hal-hal yang akandibicarakan.
(2) Rapat Dewan Pengawas diadakan di tempat kedudukan perusahaan atau di tempat
kedudukan BadanPeny elenggara Jaminan Sosial atau di tempat kegiatan usaha Badan
Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional atau di tempat lain di wilay ah Republik
Indonesia yang ditetapkan olehdireksi.
(3) Rapat Dewan Pengawas adalah sah dan berhak mengambil keputusan apabila dihadiri
lebih dari ½ (satu per dua) jumlah anggota Dewan Pengawas.
Pasal 21
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 123dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
(4) Rapat Dewan Pengawas dipimpin oleh KetuaDewan Pengawas atau anggota direksi
lainny a apabila Direktur Utama berhalangan atauapabila Direktur Utama memberikan
tugas khusus untuk memimpin rapat.

Pasal 22
(1) Direksi bertugas:
a. melaksanakan kebijakan umum penyelenggaraan program jaminan sosial y ang
ditetapkan oleh Dewan Jaminan Sosial Nasional;
b. melaksanakan pengurusan program jaminan sosial y ang menjadi tanggung
jawabny a untuk kepentingan peserta;
c. meny usun rencana jangka panjang sertarencanakerja dan anggaran Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional sebagai penjabarankebijakan
umum program jaminan sosial;
d. meny ampaikan laporan secara berkala setiap3 (tiga) bulan sekali dan laporan akhir
tahun buku kepada Dewan JaminanSosial Nasional;
e. memberikan pertanggungjawaban pada akhir masa tugas kepada Presiden melalui
Dewan Jaminan Sosial Nasional;
f. menjalankan tugas-tugas lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan.
(2) Direksi berwenang:
a. mewakili Badan Penyelenggara JaminanSosial tingkat nasionaldi dalam maupundi
luar pengadilan;
b. melakukan segalatindakan danperbuatan mengenai pengelolaan dana amanat
dan mengikat Badan PenyelenggaraJaminan Sosial tingkat nasional denganpihak
lain dan/atau pihak lain denganpembatasan y angditetapkan dalam Undang-
Undang ini;
c. mengangkat dan memberhentikan karyawan.







Pasal 22
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 124dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Pasal 23
Tindakan dan perbuatan Direksi y ang harus mendapat persetujuan tertulis dari Dewan
Jaminan Sosial Nasional adalah:
a. menempatkan dana yang belum diatur dalam peraturan perundangan Sistem Jaminan
Sosial Nasional;
b. melakukan inv estasi jangka panjangdana amanat;
c. melepaskan dan menghapuskan investasi melebihi nilai lebih dari
Rp. 100.000.000.000,00 (seratus milyar rupiah);
d. mengadakan perjanjian y ang tidak bersifat operasional dan berdampak signif ikan bagi
keuangan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional;
e. melakukan inv estasi dalam saham paling banyak 5% (lima prosen) dari total dana
inv estasi;
f. melakukan inv estasi dalam properti paling bany ak 10%(sepuluh prosen) dari total dana
inv estasi;
g. melakukan inv estasi langsung paling bany ak 5% (limaprosen) dari total dana investasi;
h. mengalihkan kekayaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional paling
sedikit Rp. 25.000.000.000,00 (dua puluh lima milyar rupiah).

Pasal 23
Pasal 24
Tindakan dan perbuatan Direksi y ang harus mendapat persetujuan tertulis dari Dewan
Pengawas adalah:
a. menempatkan dana jangkapendek pada satu bank y ang besarnya di atas
Rp. 50.000.000.000, 00 (lima puluh mlyar rupiah) sampai dengan
Rp. 100.000.000.000, 00 (seratus mily ar rupiah) atau melebihi 5% (lima prosen)dari
dana investasi y ang tersedia;
b. melepaskan dan menghapuskan investasi properti y ang bernilai antara
Rp. 25.000.000.000,00 00 (duapuluh lima mily ar rupiah) sampai dengan
Rp. 100.000.000.000,00 (seratus milyar rupiah);
c. mengangkat pejabat setingkat di bawah direksi;
d. menetapkan dan menyesuaikan struktur organisasi sampai 2 (dua) tingkat di bawah
direksi.


Pasal 24
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 125dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Pasal 25
Ketentuan lebih lanjut mengenai penempatan dana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23
dan Pasal 24diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Pasal 25

BAB V
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
BAD AN PENYELENGGAR A JAMINAN SOSIAL TINGKAT NASIONAL

Pasal 26
(1) Setiap keputusanstrategis diambil dalam rapat yang dipimpin oleh Direktur Utama.
(2) Dalam hal Direktur Utama berhalangan, pimpinanrapat diserahkan kepada salah satu
direktur sesuai dengan bidangnya.
(3) Rapat direksi adalah sah dan berhak mengambil keputusan apabiladihadiri lebih dari ½
(satu per dua) jumlah anggota direksi.
(4) Keputusan Rapat Direksi diambil dengan musyawarah untuk muf akat.
(5) Dalam hal musy awarah untuk mufakat sebagaimana dimaksuddalam ayat (4) tidak
tercapai, keputusan diambil dalam rapat direksi yang diperluas dengan mengundang
dewan pengawas.

Pasal 26

BAB VI
PERTANGGUNGJAWAB AN
BAD AN PENYELENGGAR A JAMINAN SOSIAL TINGKAT NASIONAL

Pasal 27
(1) Direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional wajib menyampaikan
pertanggungjawaban tertulis setiap 3 (tiga) bulan kepada Dewan Jaminan Sosial
Nasional.
(2) Direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional wajib menyampaikan
pertanggungjawaban tertulis setiap 6 (enam) bulan sekali dan disertai penjelasan lisan
kepada Dewan Jaminan Sosial Nasional.
(3) Direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional wajib menyampaikan
laporan keuangan setiap tahun sekali yang telah diaudit kepada Dewan Jaminan Sosial
Pasal 27
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 126dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Nasional.
(4) Laporan sebagaimanadimaksud pada ayat (3) dipublikasikan pada sekurang-kurangnya
10 (sepuluh) media cetak nasional palinglambat tanggal 31 Mei tahun berikutny a.

Pasal 28
Direksi dan Dewan Pengawas Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional wajib
menghadiri rapat pertanggungjawaban tahunan yang diselenggarakan oleh Dewan Jaminan
Sosial Nasional.

Pasal 28
Pasal 29
Pada akhir masa jabatan atau dalam hal Direksi Badan Peny elenggara Jaminan Sosial
tingkat nasional tidak lagi memenuhi persy aratan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 16
maka wajib membuat laporan pertanggungjawaban keuangan dan kinerja Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional kepada Dewan Jaminan Sosial Nasional.

Pasal 29

BAB VII
KEKAYAAN D AN BELANJA OPERASIONAL
BAD AN PENYELENGGAR A JAMINAN SOSIAL TINGKAT NASIONAL

Bagian Pertama
Kekayaan

Pasal 30
(1) Kekay aan awal BadanPeny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional adalah seluruh
kekay aan Badan Penyelenggara yang dialihkan.
(2) Penambahan kekay aan berupa aset tetap dapat diambil dari hasil pengembangan dana
paling tinggi 0,2% (nol koma dua perse);.
(3) Untuk program y ang bersifat jangkapendek, penambahan aset dapat dilakukan dengan
menggunakan iuran y ang diterima palingtinggi 1% (satu prosen).
(4) Dalam hal Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional dibubarkandengan
Undang-Undang makakekay aan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional
diserahkan kepada Negara.



Pasal 30
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 127dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
(5) Pengalihan kekayaan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

Bagian Kedua
Belanja Operasional

Pasal 31
(1) Badan Peny elenggara JaminanSosial tingkat nasional y ang mengelola program jangka
panjang dapat menggunakan hasil pengembangan dana investasi paling banyak 15%
(lima belas prosen) untuk belanja operasional tahunan.
(2) Besaran anggaran belanja operasional sebagimana dimaksud ayat (1), lebih dahulu
mendapat persetujuanoleh Dewan Jaminan Sosial Nasional.
(3) Badan Peny elenggara tingkat nasional yang mengelola program jangka pendek
(Jaminan Kesehatan dan Jaminan Kecelakaan Kerja) dapat menggunakan penerimaan
iuran paling bany ak 5%(lima prosen) dari iuran setahun.




Pasal 31
Pasal 32
(1) Dewan Pengawas, Direksi, dan karyawan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat
nasional dapat memperoleh insentif sesuai dengan kinerja Badan Peny elenggara
Jaminan Sosial tingkat nasional yang dibayarkan dari belanja operasional.
(2) Indikator kinerja Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional untuk
perhitungan insentif diatur oleh Dewan Jaminan Sosial Nasional.
(3) Indikator kinerja karyawan Badan Penyelenggara JaminanSosial tingkat nasional diatur
oleh Direksi Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional.

Pasal 32

BAB VIII
BAD AN PENYELENGGAR AJAMINAN SOSIAL TINGKAT D AER AH

Pasal 33
Badan Peny elenggara JaminanSosial tingkat daerah berkedudukandi Ibu Kota Provinsi,
Kabupaten, atau Kota sesuai dengan wilay ahadministrasiny a.

Pasal 33
Wilay ah kerja Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat daerah adalah sama dengan
wilay ah administrasi Provinsi, Kabupaten, atau Kota.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 128dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Pasal 34
(1) Di tingkat daerah dapat dibentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sebagai
penyelenggara program jaminan sosial yang bersif at tambahanataupelengkap dan
berlaku untuk daerah yangbersangkutan.











(2) Program jaminan sosial tambahan atau pelengkap harus disesuaikan dengan Sistem
Jaminan Sosial Nasional dan ketentuan Undang-Undang ini.


Pasal 34
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan program jaminan sosial yang bersif at tambahan adalah program
y ang memberikan manfaat jaminansosial sebagai tambahan yangtelah diberikan secara
nasional. Misalnya program Jaminan Pensiun y ang berskala nasional membayar manf aat
sebesar Rp. 1.000.000,00(satu juta rupiah) per bulan, maka Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial tingkat daerah dapat membayar tambahan uang pensiun untuk peserta setempat
misalnya sebesar Rp. 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) per bulansesuai dengan
kemampuandaerah yang bersangkutan.
Yang dimaksud program jaminan sosial y ang bersifat pelengkap adalah program yang
membay arkan manf aat yang tidak dijamin oleh Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat
nasional. Misalnya dalam program JaminanKesehatan, biay aambulanuntuk rujukan antar
daerah tidak dijamin, maka Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat daerah dapat
menjamin biaya tersebut.

Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 35
PembentukanBadan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat daerah didasarkan pada
standar kompetensi y ang mencakupkemampuandan komitmen untuk:
a. meny elenggarakan program jaminan sosial secara mandiri baik secara finansial maupun
manajerial;
b. mengumpulkan dana amanat dari sebesar-besarny a jumlah peserta untuk memperkecil
resiko yang dihadapi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sehingga dapat
memberikan pelayanan y ang optimal dan berkesinambungan;
c. mengelola resiko finansial y angdipercayakan oleh pesertaserta
mempertanggungjawabkanpeny elenggaraannya kepada pemangku kepentingan;
d. meny elenggarakan prinsip-prinsip jaminan sosial sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan.


Pasal 35
Standar kompetensi dalam pasal ini merupakan bagian dari kebijakan umum
peny elenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional y ang ditetapkanoleh Dewan Jaminan
Sosial Nasional.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 129dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Pasal 36
(1) Untuk dapat membentuk BadanPeny elenggara Jaminan Sosial tingkat daerah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34harus memenuhi persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 35.



(2) Pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat daerah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 35 diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah.

Pasal 36
Ayat (1)
Pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat daerah sebagai bagian dari
Sistem Jaminan Sosial Nasional dituntut memiliki standar kompetensi yang berlaku juga bagi
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional dengan maksud agar ada persamaan
kualitas pelay anan jaminan sosial yang diberikan kepada peserta.

Ayat (2)
Cukup jelas.

BAB IX
PENYELESAI AN SENGKETA
BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL

Bagian Pertama
Penyelesaian Keluhan

Pasal 37
(1) Setiap Badan Penyelenggara Jaminan Sosial wajib membentuk unit pengendali mutu
dan penanganan keluhan peserta.
(2) Frekuensi keluhanpeserta merupakan salah satu indikator kinerja Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial.
(3) Jangka waktu penyelesaian keluhanpaling lambat 15 (lima belas) hari kerja sejak
diterimany a keluhan.




Pasal 37
Bagian Kedua
Penyelesaian Sengketa Melalui Mediasi
(lihat UU tentang Alternatif Penyelesaian Sengketa)

Pasal 38
(1) Pihak y ang merasa dirugikan dapat meny elesaikan sengketa melalui mekanisme
mediasi.
(2) Penyelesaian yang dilakukan oleh mediator bersifat f inal dan mengikat.




Pasal 38
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 130dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
(3) Mediator terdiri dari 3 (tiga) orang ahli di bidang jaminan sosial dan hukum dengan
ketentuan sebagai berikut:
d. 1 (satu) orang ditunjuk oleh pihak yang mengajukan keberatan;
e. 1 (satu) orang ditunjuk oleh pihak Badan PenyelenggaraJaminan Sosial;
f. 1 (satu) orang ditunjuk bersama oleh kedua belah pihak.
(4) Tata cara penyelesaian sengketa melalui mediasi dilakukan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.






Bagian Ketiga
Penyelesaian Sengketa Melalui Pengadilan

Pasal 39
(1) Apabila penyelesaian keluhan tidak dapat diatasi oleh unit kerja penyelesaian keluhan
dan instansi setingkat di atasnya, atau melalui mekanisme mediasi, maka sengketa
diajukan ke Pengadilan Negeri di wilay ah tempat tinggal pemohon.
(2) Proses peradilan dilakukan hanya pada pengadilan tingkat pertamadi Pengadilan
Negeri dan pengadilanbanding di Pengadilan Tinggi.
(3) Putusan pengadilan tingkat banding bersif at final dan tidak dapat diajukan upaya hukum
tingkat kasasi.
(4) Jangka waktu penyelesaian sengketa tingkat Pengadilan Negeri paling lama 90
(sembilan puluh) hari kerja dan tingkat Pengadilan Tinggi palinglama 60 (enam puluh)
hari kerja.








Pasal 39

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 131dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
BAB X
KETENTUAN LAIN

Pasal 40
(1) Pemerintah melalui Dewan Jaminan Sosial Nasional sewaktu-waktudapat meminta
laporan keuangan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional sebagai
pertimbangan kebijakan keuangan yangdiambil Pemerintah.
(2) Dalam hal kebijakan fiskal Pemerintah dapat mempengaruhi tingkat solvabilitas Badan
Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional, maka Pemerintah mengambil kebijakan
khusus berupa:
a. penyuntikan dana; atau
b. perlindungan (?) terhadap kebijakan Pemerintah.
(3) Perlindungan nilai dana amanat terhadap kebijakan fiskal pemerintah y ang berpengaruh
terhadap nilai manf aat dalam jangka panjang(konsultasi Depkeu)

Pasal 40
Pasal 41 (SUBROGRASI)
a. Dalam hal terjadi wabah atau bencana alam, Badan Peny elenggaraJaminan Sosial
tingkat nasional terlebih dahulu membayarkan manfaat program jaminansosial yang
merupakan kewajiban Pemerintah atau pihak lain.
b. Terhadap pembayaran yang dilakukan oleh Badan Peny elenggara Jaminan Sosial
tingkat nasional sebagaimana dimaksud padaay at (1), Pemerintah atau pihak lain
berkewajiban memberikan penggantian atas biaya manfaat dan biaya administrasi
program jaminan sosial.

Pasal 41

BAB XII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 42
(1) Penyelenggaraanprogram jaminan sosial oleh Perusahaan Perseroan (Persero)
Asuransi Sosial TNI/Polri, Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan
Indonesia, Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja, dan
Perusahaan Perseroan (Persero) Tabungan Asuransi dan Dana PensiunPNS
disesuaikan dengan Undang-Undang ini paling lama 1 (satu) tahun sejak Undang-
Pasal 42
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan peny elenggaraan program mencakupkepesertaan, kekayaan, hak
dan kewajiban, serta karyawan.


Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 132dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Undang ini diundangkan.
(2) Sebelum diangkat Dewan Penasehat dan Direksi Badan Penyelenggara JaminanSosial
tingkat nasional, makaDewan Komisaris danDireksi Perusahaan Perseroan(Persero)
Asuransi Sosial TNI/Polri, Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan
Indonesia, Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja, dan
Perusahaan Perseroan (Persero) Tabungan Asuransi dan Dana PensiunPNS masih
menjabat paling lama 1 (satu) tahunsejak Undang-Undangini diundangkan.


Ayat (2)
Cukup jelas.

BAB XIII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 43
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku:
a. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia (ASABRI) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 1991
tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum (Perum) Asuransi Sosial Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran
Negara Republik IndonesiaNomor 88 Tahun 1991);
b. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES) yang
dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1992 tentang Pengalihan
Bentuk Perusahaan Umum Husada Bhakti menjadi Perusahaan Perseroan (Persero)
Asuransi Kesehatan Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 16 Tahun
1992);
c. Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) y ang
dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1995 tentang Penetapan
Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 1995), berdasarkan Undang-Undang Nomor 3
Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 14 Tahun 1992, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3468);
d. Perusahaan Perseroan (Persero) Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri
(TASPEN) y ang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1981 tentang
Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri
Pasal 43
Cukup jelas.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 133dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 38 Tahun 1981), berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1969 tentang
Pensiun Pegawai dan Pensiun Janda/Duda Pegawai (Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 42 Tahun 1969, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 2906), Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok
Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 1974, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3014) sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
169 Tahun 1999, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890), dan
Peraturan Pemerintah RI Nomor 25 Tahun 1981 tentang Asuransi Sosial Pegawai
Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 1981, Tambahan
Lembaran NegaraRepublik Indonesia Nomor 3200);
dicabut dan diny atakan tidak berlaku.
Pasal 44
Undang-Undang ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan undang-undang ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Pasal 44
Cukup jelas.
Disahkan di Jakarta
Pada tanggal ...
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
tanda tangan
DR. H. SUSILOBAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal ...
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA
tanda tangan
ANDI MATTALATTA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN ..... NOMOR ,,,,

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 134dari 158

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 135dari 158
Pembahasan |||
3e|asa-Raou, 1-5 3epleroer 200Z
T|r Kec|| Po|ja Peryusur Peralurar Perurdarg-
urdargar urlu| Pe|a|saraar uu No. 10 Trr 2001





RANCANGAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR .... TAHUN....
TENTANG
BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
UNDANG-UNDANG
NOMOR .... TAHUN....
TENTANG
BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL

DENGAN RAHMAT TUH AN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG
NOMOR .... TAHUN....
TENTANG
BAD AN PENYELENGGAR AJAMINAN SOSIAL

Menimbang : a. bahwa Sistem Jaminan Sosial Nasional yang merupakan program
negara bertujuan memberikan kepastian perlindungan dan kesejahteraan
sosial bagi seluruh rakyat;
b. bahwa untuk mewujudkan tujuan Sistem Jaminan Sosial Nasional perlu
dibentuk badan penyelenggara yang berbentuk badan hukum dengan prinsip
nirlaba guna mengelola dana amanat yang dipergunakan seluruhny a untuk
pengembangan program dan untuk sebesar-besar kepentingan peserta;
c. bahwa badan penyelenggara jaminan sosial y ang ada sekarang ini sudah
tidak sesuai lagi dengan ketentuan Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial
Nasional;
d. bahwa dengan adany a kepastian hukum mengenai status badan
peny elenggara akan meningkatkan kinerja badan penyelenggara dalam
menyelenggarakanprogram jaminan sosial;

I. UMUM

Salah satu tujuan pembentukan Pemerintah Negara Republik Indonesia adalahuntuk
memajukankesejahteraan umum dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
raky at Indonesia. Sehubungan denganitu, Pasal 28H ayat 3 Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 menentukan bahwa setiap orang berhak atas jaminan sosial
y ang memungkinkan pengembangan dirinya secarautuhsebagai manusia yang bermanf aat.
Selanjutny a Pasal 34 ayat (2) Undang-Undang Dasar NegaraRepublik Indonesia Tahun 1945
mengamanatkan Negara mengembangkan Sistem Jaminan Sosial bagi seluruh rakyat dan
memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai denganmartabat
kemanusiaan.
KEMENTERIAN KOORDINATOR
BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 136dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf
a,huruf b, huruf c dan huruf d, serta untuk meleksanakan ketentuan Pasal 5
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional perlu dibentuk Undang-Undang tentang Badan Peny elenggara
Jaminan Sosial;

Sebagai pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
tersebut, telah ditetapkan Undang-UndangNomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional dengan tujuan memberikan kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial
bagi seluruh raky at melalui penyelenggaraan program jaminan sosial oleh beberapaBadan
Peny elenggara Jaminan Sosial.

Berdasarkan Pasal 5 ay at (2) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 40Tahun 2004 tentang
Sistem Jaminan Sosial Nasional, badan peny elenggara yangtelah ada dan dibentuk dengan
Peraturan Pemerintah dinyatakan sebagai Badan Peny elenggaraJaminan Sosial. Namun
setelah PutusanMahkamah Konstitusi pada Perkara No. 007/PU-III/2005 yangdiucapkan
pada tanggal 31Agustus 2005 meny atakan bahwa Pasal 5 ayat (2), ay at (3) dan ayat (4)
bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan
tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, sehingga pembentukan badan peny elenggara
harus dibentuk dengan Undang-Undang. Berdasarkan Pasal 52 ay at (2) Undang-Undang
Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional segala ketentuan mengenai
Badan Peny elenggara Jaminan Sosial harus disesuaikan dengan Undang-Undang dimaksud
paling lambat 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004tentang Sistem
Jaminan Sosial Nasional diundangkanpada tanggal 19 Oktober 2004.

Putusan Mahkamah Konstitusi pada Perkara No. 007/PU-III/2005 meny atakan pula bahwa
Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat daerah juga dapat dibentuk dengan Peraturan
Daerah berdasarkan PutusanMahkamah Konstitusi dengan memenuhi ketentuan Undang-
Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Badan Peny elenggara Jaminan Sosial sebagai penyelenggara program jaminan sosial pada
hakekatnya melaksanakan pengumpulan dana yang bersif at wajib berdasarkanmekanisme
asuransi sosial dan tabungan wajib untuk kepentingan peserta. Mengingat sifat wajib dalam
pengumpulan dana, maka dalam pelaksanaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial harus
memperhatikan ketentuan Pasal 23A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, dalam arti bahwa pungutan yang bersifat memaksa untuk keperluan negara tidak
boleh diatur dalam peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang.

Undang-Undang ini pada dasarnya mengatur prinsip penyelenggaraan, pembentukan, tugas
dan wewenang, kewajiban dan hak, organ, dan penyelenggaraan program serta pembentukan
Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat daerah.

Dengan terbentuknya Undang-Undangtentang Badan Peny elenggaraJaminan Sosial, maka
badan penyelenggara memiliki status sebagai badan hukum y angdibentuk dengan Undang-
Undang, sehingga memberi kepastianhukum dalam meny elenggarakan program jaminan
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 137dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
sosial. Dengan demikian, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dapat melaksanakan prinsip-
prinsip peny elenggaraanSistem Jaminan Sosial Nasional sesuai dengan ketentuanUndang-
Undang untuk memberikan pelayanan yang optimal kepada peserta.

Keberhasilan peny elenggaraan program jaminan sosial oleh Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial perlu didukung oleh kebijakan Pemerintah di bidang ketenagakerjaan, perekonomian,
dan kebijakan pelayananpublik yang kondusif, sertakomitmen politik untuk pemberday aan
masy arakat dan memprioritaskan terwujudny a Sistem Jaminan Sosial Nasional bagi seluruh
raky at.

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, Pasal 23A, Pasal 28H ay at (1) , ay at (2) dan
ay at (3), dan Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara
Republik IndonesiaTahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150,
dan Tambahan Lembara NegaraRepublik Indonesia Nomor 4456;


Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIKINDIONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG BADAN PENYELENGGARA JAMINAN
SOSIAL


BAB I
KETENTUAN UMUM
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Jaminan sosial adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar
dapat memenuhi kebutuhan dasarhidupnyayanglayak.
2. Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah suatu tata cara penyelenggaraan program
jaminan sosial oleh beberapa Badan Peny elenggara Jaminan Sosial.
3. Bantuan iuran adalah iuran y ang dibayar oleh Pemerintah bagi fakir miskin dan orang
tidak mampusebagai peserta program jaminan sosial.

Pasal 1
Cukup jelas.


Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 138dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
4. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial adalah badan hukum y ang dibentuk untuk
meny elenggarakan program jaminan sosial.
5. Dana Jaminan Sosial adalah dana amanat milik seluruh peserta yang merupakan
himpunan iuran beserta hasil pengembanganny a y ang dikelola oleh Badan
Peny elenggara Jaminan Sosial untuk pembay aran manf aat kepada peserta dan
pembiayaan operasional penyelenggaraan program jaminan sosial.
6. Peserta adalah setiaporang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam)
bulan di Indonesia, y ang telah membay ar iuran.
7. Manf aat adalah f aedah jaminan sosial yang menjadi hak peserta dan/atau anggota
keluargany a.
8. Iuran adalah sejumlah uang yang dibay ar secara teratur oleh peserta, pemberi kerja,
dan/atau Pemerintah.
9. Pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima gaji, upah, atau imbalan
dalam bentuk lain.
10. Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan
lainny a yang mempekerjakan tenaga kerja atau penyelenggara negara yang
mempekerjakan pegawai negeri dengan membay ar gaji, upah, atau imbalan dalam
bentuk lainnya.
11. Gaji atau upah adalah hak pekerja y ang diterima dan diny atakan dalam bentuk uang
sebagai imbalan dari pemberi kerja kepada pekerja yang ditetapkan dan dibayar menurut
suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk
tunjangan bagi pekerja dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa y ang telah
atau akan dilakukan.
12. Dewan Jaminan Sosial Nasional adalah dewan yang berf ungsi untuk membantu Presiden
dalam perumusan kebijakan umum dan sinkronisasi peny elenggaraan Sistem Jaminan
Sosial Nasional.
13. Dewan Pengawas adalah organ Badan Peny elenggara Jaminan Sosial yang bertugas
melakukan pengawasan khusus terhadap program yang diselenggarakan oleh Badan
Peny elenggara Jaminan Sosial.
14. Karyawan adalahpegawai Badan Penyelenggara JaminanSosial Nasional

Pasal 2
Badan Peny elenggara Jaminan Sosial dalam menyelenggarakan tugasnya berdasarkan pada
prinsip:
a. nirlaba;




Pasal 2


Huruf a
Yang dimaksud dengan nirlaba adalah seluruh perolehan surplus dari penerimaan
ditempatkan dalam dana amanat dan/atau dana cadangan teknis dalam rangka peningkatan
manf aat bagi peserta.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 139dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
b. keterbukaan;



c. kehati-hatian;



d. akuntabilitas;



e. portabilitas;




f. dana amanat; dan




g. hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan
program dan untuk sebesar-besar kepentingan peserta.


Huruf b
Prinsip keterbukaan dalam ketentuan ini adalah prinsip mempermudah akses informasi y ang
lengkap, benar, danjelas bagi setiap peserta.

Huruf c
Prinsip kehati-hatian dalam ketentuan ini adalah prinsip pengelolaan dana secara cermat,
teliti, aman, dantertib.

Huruf d
Prinsip akuntabilitas dalam ketentuan ini adalah prinsip pelaksanaan program dan
pengelolaan keuangan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Huruf e
Prinsip portabilitas dalam ketentuan ini adalah prinsip memberikan jaminan yang
berkelanjutan meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilay ah
Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Huruf f
Prinsip dana amanat dalam ketentuan ini adalah bahwa iuran dan hasil pengembangannya
merupakan dana titipan dari peserta untuk digunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan
peserta jaminan sosial.

Huruf g
Prinsip hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial Nasional dalam ketentuan ini adalah hasil
berupa dividen dari pemegang saham y ang dikembalikan untuk kepentingan peserta jaminan
sosial.


BAB II
PEMBENTUKAN
BAD AN PENYELENGGAR A JAMINAN SOSIAL TINGKAT NASIONAL


Pasal 3
Badan Peny elenggara JaminanSosial tingkat nasional berkedudukan di Ibu KotaNegara.

Pasal 3
Cukup Jelas.
Pasal 4
Di tingkat nasional didirikan Badan Peny elenggara Jaminan Sosial y ang menyelenggarakan
program jaminan sosial sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional.
Pasal 4
Cukup Jelas.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 140dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Pasal 5
(1) Dengan Undang-Undang ini pada tingkat nasional didirikan Badan Peny elenggara
Jaminan Sosial sebagai berikut:
a. Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia y ang selanjutnya disebut
ASABRI;
b. Asuransi Kesehatan Indonesia yang selanjutnya disebut ASKES;
c. Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang selanjutnya disebut JAMSOSTEK;
d. Tabungan Asuransi dan Dana Pensiun PNS yangselanjutny a disebut TASPEN.
(2) Badan Peny elenggara JaminanSosial tingkat nasional sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) menerima pengalihan seluruh peserta, hak dan kewajiban, kekay aan, serta karyawan
dengan ketentuan sebagai berikut:
a. BPJS ASABRI menerima pengalihan dari PerusahaanPerseroan (Persero) ASABRI;
b. BPJS ASKES menerima pengalihan dari Perusahaan Perseroan (Persero) ASKES
c. BPJS JAMSOSTEK menerima pengalihan dari Perusahaan Perseroan (Persero)
JAMSOSTEK;
d. BPJS TASPEN menerima pengalihan dari Perusahaan Perseroan (Persero)
TASPEN.






(3) Perubahan nama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukandengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 5
Ayat (1)
Cukup jelas.





Ayat (2)
Dalam hal terjadi perubahan program jangka panjang (Tabungan Hari Tua, JaminanHari Tua,
dan Pensiun) yang diselenggarakan oleh suatuBadan UsahaMilik Negara di bidang jaminan
sosial maka selanjutny a akandiselenggarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
y ang terbentuk dengan program yang baru(Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun).
Sementara untuk peserta program yang lama masihmelanjutkan skema program yang lama
sampai denganmasany ahabis. Misalnya PNS yang mengiur Pensiun melalui Taspen
sebelum Undang-Undang ini disahkanakan terus menggunakan skema THT dan Pensiun
lama melalui Taspen. SedangkanPNSy ang masuk sejak Undang-Undangini berlaku akan
mengiur Jaminan Pensiun (JP) ke Taspen danmengiur Jaminan Hari Tua (JHT) ke
Jamsostek.

Untuk program jangka pendek (JKdan JKK) maka peserta program yang lamadan yang baru
dapat langsungmendaftar keBPJS peny elenggara program terkait.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 6
(1) Maksud dan tujuan pembentukan Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional
adalah untuk meny elenggarakan program jaminan sosial y ang menjamin
kegotongroy ongan dan portabilitas manfaat jaminan sosial, serta penyelenggaraan yang
ef ektif dan efisien bagi seluruh rakyat secara bertahap dalam wilay ah Negara Republik
Indonesia.
(2) Prinsip dasar pembagian tugas BPJS berdasarkan program untuk memudahkan peserta
dalam mengurus manfaat jaminan sosial sesuai dengan program y ang diikuti.





Pasal 6
Ayat (1)
Cukup jelas.



Ayat (2)
Dengan pembagiantugas BPJS berdasarkan program, maka siapa pun penduduk Indonesia
akan mendatangi BPJS yang sama untuk program yang sama. Misalny a seluruh penduduk,
baik PNS maupun pegawai swasta y ang mengurus Jaminan Pensiun (JP) akan ke TASPEN,
sedangkan yang mengurus Jaminan Kesehatan (JK) akan ke ASKES, dan yang mengurus
Jaminan Kematian (JKM) akan ke JAMSOSTEK.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 141dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
(3) Untuk mencapai maksud dan tujuan sebagaimana dimaksud pada ay at (1), masing-
masing Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional menyelenggarakan
program jaminan sosial sebagai berikut:
a. BPJS ASABRI menyelenggarakan program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK),
Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), dan Jaminan Kematian (JKM) untuk
prajurit TNI, anggota Polri, Pegawai Negeri Sipil (PNS) Departemen Pertahanan,
Pegawai Negeri Sipil (PNS) TNI, Pegawai Negeri Sipil (PNS) Polri, pensiunan prajurit
TNI, pensiunan anggota Polri, pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Departemen
Pertahanan, dan pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) TNI, pensiunan Pegawai
Negeri Sipil (PNS) Polri, dan Janda/Duda TNI/Polri;
b. BPJS ASKES meny elenggarakan program Jaminan Kesehatan (JK) untuk seluruh
peserta;
c. BPJS JAMSOSTEK menyelenggarakan program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK),
Jaminan Hari Tua (JHT), dan Jaminan Kematian (JKM) untuk seluruh peserta;
d. BPJS TASPEN menyelenggarakan program Jaminan Pensiun (JP) untuk seluruh
peserta.

Ayat (3)
Cukup jelas.



BAB III
TUGAS, WEWENANG, HAK, DAN KEWAJIBAN SERTA LAR ANGAN
BAD AN PENYELENGGAR A JAMINAN SOSIAL TINGKAT NASIONAL


Bagian Pertama
Tugas dan Wewenang

Pasal 7
Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional bertugas meny elenggarakan program
jaminan sosial bagi penduduk secara bertahap sesuai dengan ketentuan Undang-Undang
Sistem Jaminan Sosial Nasional.




Pasal 7
Cukup jelas.

Pasal 8
(1) Badan Peny elenggaraJaminan Sosial tingkat nasional berwenang untuk:
a. mengelola dana amanat peserta jaminan sosial berdasarkan prinsip-prinsip jaminan
sosial yang menjadi tanggung jawabny a;
b. menempatkan dana amanat untuk investasi jangka pendek dan jangka panjang
dengan mempertimbangkan aspek likuiditas, solv abilitas, kehati-hatian, keamanan
dana, dan hasil yang memadai;
c. menempatkan dana amanat pada deposito pada bank daerah dan/atau obligasi
Pemerintah Daerah;
Pasal 8
Cukup jelas.





Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 142dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
d. melakukan inspeksi dan menghentikan pelayanan atau pemberian manf aat jaminan
sosial kepada peserta dari pemberi kerja tidak memenuhi kewajibanny a
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional.
e. membuat kesepakatan dengan asosiasi f asilitas kesehatan tingkat nasional maupun
daerah mengenai besarny apembayaran kepada fasilitas kesehatan;
f. membuat atau menghentikan kontrak kerja dengan fasilitas kesehatan;
g. melaporkan pemberi kerja kepada instansi yang berwenang mengenai
ketidakpatuhan dalam pembayaran iuran dan pendaftaran pekerja lebih dari 3 (tiga)
bulan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penempatan dana amanat sebagaimana dimaksud pada
ay at (1) huruf b dan huruf d diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Bagian Kedua
Hak dan Kewajiban

Pasal 9
Badan Peny elenggara JaminanSosial tingkat nasional berhak untuk:
a. menerima dan mengelola iuran peserta beserta dana pengembangannya sesuai dengan
program y angmenjadi tanggung jawabnya;
b. memperoleh dana operasional yang lay ak untuk peny elenggaraan program yang
berkualitas, baik yang bersumber dari iuran, hasil pengembangan dana, atau dari dana
y angdihibahkan Pemerintah;
c. memperoleh hasil monitoring dan ev aluasi penyelengaraan program jaminan sosial dari
Dewan Jaminan Sosial Nasional.




Pasal 9
Cukup jelas.

Pasal 10
Badan Peny elenggara JaminanSosial tingkat nasional berkewajiban untuk:
a. melakukan koordinasi antar Badan Peny elenggara Jaminan Sosial dalam pemberian
nomor identitas tunggal bagi setiap peserta dan anggota keluargany a yang berlaku untuk
semua jenis program jaminan sosial;









Pasal 10

Huruf a
Yang dimaksud dengan nomor identitas tunggal adalah nomor identitas yang berlaku seumur
hidup bagi peserta jaminan sosial.
Setiap Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional wajib mengambil langkah-
langkah untuk mencegah kemungkinan terjadinya nomor identitas ganda bagi setiap peserta.
Selain itu, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional wajib memberitahukan
kepada pemberi kerja agar menyampaikan data akurat tentang pekerja dan nomor identitas
jaminan sosial yang telah dimiliki pekerja, baik pekerja baru, pekerja pindahan, maupun
pekerja y ang telah berhenti.



Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 143dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
b. memberikan inf ormasi secara rinci mengenai manfaat yang menjadi hak setiap peserta
beserta rincian prosedur untuk masing-masing program jaminan sosial dan dapat diakses
dengan mudah melalui website Badan Peny elenggaraJaminan Sosial;

c. memberikan inf ormasi saldo Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun berikut hasil
pengembangannya kepada setiap peserta sekurang-kurangny a sekali dalam setahun
khusus bagi Badan Peny elenggara Jaminan Sosial penyelenggara program Jaminan Hari
Tua dan Jaminan Pensiun;

d. Membentuk cadangan teknis sesuai dengan standar praktek aktuaria yang lazim dan
berlaku umum;

e. melakukan pembukuan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku dalam
penyelenggaraan jaminan sosial;

f. melaporkan kinerja keuangan dan pelaksanaan program secara berkala sekurang-
kurangnya 3 (tiga) bulan sekali kepada Dewan Jaminan Sosial Nasional.



Huruf b
Cukup jelas


Huruf c
Cukup jelas



Huruf d
Cukup jelas

Huruf e
Cukup jelas

Huruf f
Cukup jelas
Bagian Ketiga
Larangan

Pasal 11
Badan Peny elenggara JaminanSosial tingkat nasional dilarang:
a. melakukan subsidi silang antar program;


b. mendirikan dan/atau memiliki seluruh atau sebagian f asilitas kesehatan;


c. memungut iuran program jaminan sosial yang memberi manf aat sama sebagaimana telah
diatur dalam peraturan-perundangan.




Pasal 11

Huruf a
Cukup jelas.

Huruf b
Cukup jelas.

Huruf c
Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur Sistem Jaminan
Sosial Nasional.





Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 144dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
BAB IV
ORGAN BAD AN PENYELENGGAR A JAMINAN SOSIAL TINGKAT NASIONAL


Pasal 12
(1) Organ Badan Peny elenggara Jaminan Sosial terdiri dari Dewan Pengawas dan Direksi.


(2) Dewan Pengawas dan Direksi sebagaimana dimaksud pada ay at (1) diangkat dan
diberhentikan oleh Presiden atas usul Dewan Jaminan Sosial Nasional setelah melalui
proses uji kepatutan dan kelay akan.

(3) Dewan Pengawas sebanyak-banyakny a 5 (lima) orang dan salah seorang diantarany a
diangkat sebagai Ketua Dewan Pengawas.


(4) Direksi sebany ak-banyakny a 5 (lima) orang dan salah seorang diantaranya diangkat
sebagai Direktur Utama.

Pasal 12
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Cukup jelas.


Ayat (3)
Keanggotaan Dewan Pengawas yang dimaksud pada ayat ini adalah tenaga profesional yang
menguasai bidang jaminan sosial, keuangan atau inv estasi, dan aktuaria.

Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 13
(1) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional dapat membentuk kantor
perwakilan untuk satu atau lebihProv insi secara bertahap.
(2) Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional dapat membentuk kantor cabang
untuk satu atau lebih Kabupaten/Kota sesuai dengan prinsip efisiensi.

Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Pada setiap kantor perwakilan dibentuk Dewan Pengawas Daerah y ang diketuai oleh
Gubernur di tempat kedudukan kantor perwakilan dan mempuny ai anggota sebany ak-
banyaknya 5 (lima) orang termasuk ketua, y ang terdiri dari unsur pemerintah, organisasi
pemberi kerja, dan organisasi pekerja.

Pasal 14
Cukup jelas.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 145dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Pasal 15
Untuk dapat diangkat menjadi Dewan Pengawas, seseorang calon harus memenuhi
persy aratan sebagai berikut:
a. Warga Negara Indonesia;
b. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
c. sehat jasmani dan rohani;
d. berkelakuan baik;
e. berumur setinggi-tingginya 60 tahun;
f. lulusan pendidikanpaling rendah jenjang strata 1 (satu);
g. memiliki keahlian dan pengalaman di bidang jaminan sosial, keuangan atau inv estasi,
atau aktuaria;
h. tidak merangkap jabatan struktural di pemerintahan atau badanhukum lain;
i. tidak menjabat sebagai pengurus partai politik;
j. tidak pernah dipidana berdasarkan keputusan pengadilan y ang telah memperoleh
kekuatanhukum tetap karena melakukantindak pidana kejahatan;
k. tidak pernah menjadi anggota direksi, komisaris atau dewan pengawas pada suatu badan
hukum yang dinyatakan pailit karena kesalahan yang bersangkutan.


Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Untuk dapat diangkat menjadi Direksi, seseorang calon harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
a. Warga Negara Indonesia;
b. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
c. sehat jasmani dan rohani;
d. berkelakuan baik;
e. berumur setinggi-tingginya 60 tahun;
f. lulusan pendidikan paling rendah jenjang strata 1 (satu);
g. memiliki pengalaman dan kompetensi dalam bidang jaminan sosial;
h. memiliki integritas dan kepemimpinan dalam meny elenggarakan jaminan sosial;
i. tidak merangkap jabatan struktural di pemerintahan atau badanhukum lain;
j. tidak menjabat sebagai pengurus partai politik;
k. tidak pernah dipidana berdasarkan keputusan pengadilan y ang telah memperoleh
kekuatanhukum tetapkarena melakukan tindak pidana kejahatan;
l. tidak pernah menjadi anggota direksi, komisaris atau dewan pengawas pada suatu badan
hukum yang dinyatakan pailit karena kesalahan yang bersangkutan.



Pasal 16
Cukup jelas.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 146dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Pasal 17
Dewan Pengawas dan Direksi diangkat untuk masa jabatan 5 (lima) tahun dan dapat diangkat
kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya.

Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
(1) Dewan Pengawas dan Direksi berhenti karena:
a. meninggal dunia;
b. sakit terus-menerus selama 6 (enam) bulan;
c. masa jabatan berakhir;
d. mengundurkan diri atas permintaan sendiri;
e. tidak lagi memenuhi persy aratan;
f. diberhentikan atas usul Dewan Jaminan Sosial Nasional.

(2) Dewan Jaminan Sosial Nasional dapat mengusulkan pemberhentian Dewan Pengawas
dan Direksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f karena:
a. melalaikan kewajiban terus-menerus lebih dari 3 (tiga) bulan;
b. merugikan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional dan kepentingan
peserta jaminan sosial karena kesalahan kebijakan y ang diambil.
(3) Dalam hal Dewan Pengawas dan Direksi berhenti sebagaimana dimaksud pada ay at (1),
Dewan Jaminan Sosial Nasional mengusulkan penggantinya kepada Presiden untuk
meneruskan masa jabatan yang digantikan.

Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
(1) Dewan Pengawas dan Direksi dapat diberhentikan sementara waktukarena:
a. sakit terus-menerus lebih dari 3(tiga) bulan;
b. sedang dalam proses penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di pengadilan;
c. digugat karena melakukan tindakan y ang merugikan Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial tingkat nasional.
(2) Dalam hal Dewan Pengawas dan Direksi diberhentikan sementara waktu sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Dewan Jaminan Sosial Nasional menunjuk pelaksana tugas
Dewan Pengawas dan Direksi yang diberhentikansementara.

Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
(1) Dewan Pengawas bertugas:
a. melakukan pengawasan kebijakan teknis peny elenggaraan program jaminan sosial
y ang dilaksanakan oleh masing-masing Badan Peny elenggara Jaminan Sosial
tingkat nasional;
b. melaporkan hasil pengawasannya kepada Dewan Jaminan Sosial Nasional.

Pasal 20
Cukup jelas.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 147dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
(2) Dewan Pengawas berwenang:
a. mengev aluasi rencana kerja masing-masing Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
tingkat nasional;
b. meminta laporan pelaksanaan rencana kerja kepada masing-masing Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial;
c. memberikan saran dan pertimbangan peny elenggaraan program jaminan sosial
kepada masing-masing Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

Pasal 21
(1) Dewan Pengawas mengadakan rapat setiap kali dianggap perlu oleh seorang atau lebih
anggota dewan pengawas dengan menyebutkan hal-hal y ang akan dibicarakan.
(2) Rapat Dewan Pengawas diadakan di tempat kedudukan perusahaan atau di tempat
kedudukan Badan Peny elenggara Jaminan Sosial atau di tempat kegiatan usaha Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional atau di tempat lain di wilay ah Republik
Indonesia yang ditetapkan oleh direksi.
(3) Rapat Dewan Pengawas adalah sah dan berhak mengambil keputusan apabila dihadiri
lebih dari ½ (satu per dua) jumlah anggota Dewan Pengawas.
(4) Rapat Dewan Pengawas dipimpin oleh Ketua Dewan Pengawas atau anggota direksi
lainny a apabila Direktur Utama berhalangan atau apabila Direktur Utama memberikan
tugas khusus untuk memimpin rapat.

Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
(1) Direksi bertugas:
a. melaksanakan kebijakan umum peny elenggaraan program jaminan sosial yang
ditetapkan oleh Dewan Jaminan Sosial Nasional;
b. melaksanakan pengurusan program jaminan sosial yang menjadi tanggung jawabny a
untuk kepentinganpeserta;
c. menyusun rencana jangka panjang serta rencana kerja dan anggaran Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional sebagai penjabaran kebijakan umum
program jaminan sosial;
d. menyampaikan laporan secara berkala setiap 3 (tiga) bulan sekali dan laporan akhir
tahun buku kepada Dewan JaminanSosial Nasional;
e. memberikan pertanggungjawaban pada akhir masa tugas kepada Presiden melalui
Dewan Jaminan Sosial Nasional;
f. menjalankan tugas-tugas lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan.

(2) Direksi berwenang:
a. mewakili Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasionaldi dalam maupun di
luar pengadilan;
Pasal 22
Cukup jelas.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 148dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
b. melakukan segala tindakan dan perbuatan mengenai pengelolaan dana amanat dan
mengikat Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional dengan pihak lain
dan/atau pihak lain dengan pembatasan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini;
c. mengangkat dan memberhentikan karyawan.



Pasal 23
Tindakan dan perbuatan Direksi y ang harus mendapat persetujuan tertulis dari Dewan
Jaminan Sosial Nasional mengenai besaran dan nilai inv estasi diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Pemerintah sesuai dengan ketentuan dalam UU SJSN.



Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Tindakan dan perbuatan Direksi y ang harus mendapat persetujuan tertulis dari Dewan
Pengawas mengenai besaran dan nilai investasi diatur lebih lanjut dalam Peraturan
Pemerintah sesuai dengan ketentuan dalam UU SJSN.



Pasal 24
Cukup jelas.

BAB V
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
BAD AN PENYELENGGAR A JAMINAN SOSIAL TINGKAT NASIONAL


Pasal 25
(1) Setiap keputusan strategis diambil dalam rapat yang dipimpin oleh Direktur Utama.
(2) Dalam hal Direktur Utama berhalangan, pimpinan rapat diserahkan kepada salah satu
direktur sesuai dengan bidangnya.
(3) Rapat direksi adalah sah dan berhak mengambil keputusan apabila dihadiri lebih dari ½
(satu per dua) jumlah anggota direksi.
(4) Keputusan Rapat Direksi diambil dengan musyawarah untuk muf akat.
(5) Dalam hal musy awarah untuk mufakat sebagaimana dimaksud dalam ay at (4) tidak
tercapai, keputusan diambil dalam rapat direksi yang diperluas dengan mengundang
dewan pengawas.


Pasal 25
Cukup jelas.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 149dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
BAB VI
PERTANGGUNGJAWABAN
BAD AN PENYELENGGAR A JAMINAN SOSIAL TINGKAT NASIONAL


Pasal 26
(1) Direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional wajib menyampaikan
pertanggungjawaban tertulis setiap 3 (tiga) bulan kepada Dewan Jaminan Sosial
Nasional.
(2) Direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional wajib menyampaikan
pertanggungjawaban tertulis setiap 6 (enam) bulan sekali dan disertai penjelasan lisan
kepada Dewan Jaminan Sosial Nasional.
(3) Direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional wajib menyampaikan
laporan keuangan setiap tahun sekali yang telah diaudit kepada Dewan Jaminan Sosial
Nasional.
(4) Laporan sebagaimana dimaksud pada ay at (3) dipublikasikan pada sekurang-kurangnya
10 (sepuluh) media cetak nasional palinglambat tanggal 31 Mei tahun berikutny a.
(5) Direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional bertanggung jawab secara
tanggung renteng atas kerugian f inansial y ang ditimbulkan atas kesalahan pengelolaan
dana amanat.



Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Direksi dan Dewan Pengawas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional wajib
menghadiri rapat pertanggungjawaban tahunan yang diselenggarakan oleh Dewan Jaminan
Sosial Nasional.




Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Pada akhir masa jabatan atau dalam hal Direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat
nasional tidak lagi memenuhi persy aratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 maka wajib
membuat laporan pertanggungjawaban keuangan dankinerja Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial tingkat nasional kepada Dewan Jaminan Sosial Nasional.



Pasal 28
Cukup jelas.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 150dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
BAB VII
KEKAYAAN D AN BELANJA OPER ASIONAL
BAD AN PENYELENGGAR A JAMINAN SOSIAL TINGKAT NASIONAL


Bagian Pertama
Kekayaan

Pasal 29
(1) Kekay aan awal Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional adalah seluruh
kekay aan Badan Penyelenggara yang dialihkan.

(2) Penambahan kekay aan berupa asset tetap dapat diambil dari hasil pengembangan dana
paling tinggi 0,2% (nol koma dua persen).


(3) Untuk program yang bersifat jangka pendek, penambahan asset tetap dapat dilakukan
dengan menggunakaniuran yang diterima paling tinggi 1%(satu prosen).

(4) Dalam hal Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional dibubarkan dengan
Undang-Undang maka kekayaan Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional
diserahkan kepada Negara.

(5) Pengalihan kekayaan sebagaimana dimaksud pada ay at (1) dilaksanakan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.




Pasal 29
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Yang dimaksud penambahan kekayaan berupa asset tetap adalah penambahan gedung dan
kantor dalam rangka fasilitas pelay anan.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.


Ayat (5)
Cukup jelas.

Bagian Kedua
Belanja Operasional

Pasal 30
(1) Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional y ang mengelola program jangka
panjang dapat menggunakan hasil pengembangan dana investasi untuk belanja
operasional tahunan.
(2) Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional y ang mengelola program jangka
pendek (Jaminan Kesehatan dan Jaminan Kecelakaan Kerja) dapat menggunakan
penerimaan iuran untuk biay a operasional tahunan.
(3) Besaran prosentase biaya operasional tahunan diatur lebih lanjut dalam Peraturan
Pemerintah.





Pasal 30
Cukup jelas.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 151dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Pasal 31
(1) Dewan Pengawas, Direksi, dan kary awan Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat
nasional dapat memperoleh insentif sesuai dengan kinerja Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial tingkat nasional yang dibayarkan dari belanja operasional.
(2) Indikator kinerja Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional untuk
perhitungan insentif diatur oleh Dewan Jaminan Sosial Nasional.
(3) Indikator kinerja kary awan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional diatur
oleh Direksi Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional.


Pasal 31
Cukup jelas.


BAB VIII
BAD AN PENYELENGGAR AJAMINAN SOSIAL TINGKAT D AER AH


Pasal 32
Badan Peny elenggara JaminanSosial tingkat daerah berkedudukandi Ibu Kota Provinsi,
Kabupaten, atau Kota sesuai dengan wilay ahadministrasiny a.


Pasal 32
Wilay ah kerja BadanPeny elenggara Jaminan Sosial tingkat daerah adalah sama dengan
wilay ah administrasi Provinsi, Kabupaten, atau Kota.

Pasal 33
(1) Di tingkat daerah dapat dibentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sebagai
penyelenggara program jaminan sosial y ang bersifat tambahan atau pelengkap dan
berlaku untuk daerah yang bersangkutan.











(2) Program jaminan sosial tambahan atau pelengkap harus disesuaikan dengan Sistem
Jaminan Sosial Nasional dan ketentuan Undang-Undang ini.



Pasal 33
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan program jaminan sosial yang bersif at tambahan adalah program yang
memberikan manfaat jaminan sosial sebagai tambahan yang telah diberikan secara nasional.
Misalny a program Jaminan Pensiun yang berskala nasional membayar manfaat sebesar Rp.
1.000.000,00 (satu juta rupiah) per bulan, maka Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat
daerah dapat membay ar tambahan uang pensiun untuk peserta setempat misalnya sebesar
Rp. 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) per bulan sesuai dengan kemampuan daerah yang
bersangkutan.
Yang dimaksud program jaminan sosial yang bersifat pelengkap adalah program yang
membay arkan manfaat yang tidak dijamin oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat
nasional. Misalnya dalam program Jaminan Kesehatan, biaya ambulan untuk rujukan antar
daerah tidak dijamin, maka Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat daerah dapat
menjamin biaya tersebut.

Ayat (2)
Cukup jelas

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 152dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Pasal 34
Pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat daerah didasarkan pada standar
kompetensi yang mencakup kemampuan dankomitmen untuk:
a. menyelenggarakan program jaminan sosial secara mandiri baik secara f inansial maupun
manajerial dan dananya bersumber dari APBD;
b. menyelenggarakan prinsip-prinsip jaminan sosial sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan.



Pasal 34
Standar kompetensi dalam pasal ini merupakan bagian dari kebijakan umum
peny elenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional yang ditetapkan oleh Dewan Jaminan
Sosial Nasional.
Pasal 35
(1) Untuk dapat membentuk Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat daerah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 harus memenuhi persy aratan sebagaimana
dimaksuddalam Pasal 35.



(2) Pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat daerah sebagaimana
dimaksuddalam Pasal 35 diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah.



Pasal 35
Ayat (1)
Pembentukan Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat daerah sebagai bagian dari
Sistem Jaminan Sosial Nasional dituntut memiliki standar kompetensi yang berlaku juga bagi
Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional dengan maksud agar ada persamaan
kualitas pelay anan jaminan sosial yang diberikan kepada peserta.

Ayat (2)
Cukup jelas.

BAB IX
PENYELESAI AN SENGKETA
BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL

Bagian Pertama
Penyelesaian Keluhan

Pasal 36
(1) Setiap Badan Penyelenggara Jaminan Sosial wajib membentuk unit pengendali mutudan
penanganan keluhan peserta.
(2) Frekuensi keluhan peserta merupakan salah satu indikator kinerja Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial.
(3) Jangka waktu penyelesaian keluhan paling lambat 15 (lima belas) hari kerja sejak
diterimany a keluhan.






Pasal 36
Cukup jelas.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 153dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Bagian Kedua
Penyelesaian Sengketa Melalui Mediasi
(lihat UU tentang Alternatif Penyelesaian Sengketa)

Pasal 37
(1) Pihak y ang merasa dirugikan dapat menyelesaikan sengketa melalui mekanisme mediasi.
(2) Penyelesaian yang dilakukan oleh mediator bersifat f inal dan mengikat.
(3) Mediator terdiri dari 3 (tiga) orang ahli di bidang jaminan sosial dan hukum dengan
ketentuan sebagai berikut:
a. 1 (satu) orang ditunjuk oleh pihak yang mengajukan keberatan;
b. 1 (satu) orang ditunjuk oleh pihak BadanPeny elenggara Jaminan Sosial;
c. 1 (satu) orang ditunjuk bersama oleh kedua belah pihak.
(4) Tata cara penyelesaian sengketa melalui mediasi dilakukan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.






Pasal 37
Cukup jelas.
Bagian Ketiga
Penyelesaian Sengketa Melalui Pengadilan

Pasal 38
(1) Apabila penyelesaian keluhan tidak dapat diatasi oleh unit kerja penyelesaian keluhan
dan instansi setingkat di atasnya, atau melalui mekanisme mediasi, maka sengketa
diajukan ke Pengadilan Negeri di wilay ah tempat tinggal pemohon.
(2) Proses peradilan dilakukan hany a pada pengadilan tingkat pertama di Pengadilan Negeri
dan pengadilan banding di Pengadilan Tinggi.
(3) Putusan pengadilan tingkat banding bersif at f inal dan tidak dapat diajukan upaya hukum
tingkat kasasi.
(4) Jangka waktu penyelesaian sengketa tingkat Pengadilan Negeri paling lama 90 (sembilan
puluh) hari kerja dan tingkat Pengadilan Tinggi paling lama 60 (enam puluh) hari kerja.





Pasal 38
Cukup jelas.

BAB X
KETENTUAN LAIN


Pasal 39
(1) Pemerintah melalui Dewan Jaminan Sosial Nasional sewaktu-waktu dapat meminta
laporan keuangan Badan Peny elenggara Jaminan Sosial tingkat nasional sebagai
pertimbangan kebijakan keuangan yang diambil Pemerintah.
Pasal 39
Cukup jelas.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 154dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
(2) Dalam hal kebijakan fiskal dan moneter Pemerintah dapat mempengaruhi tingkat
solvabilitas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat nasional, maka Pemerintah
mengambil kebijakan khusus untuk menjamin kelangsungan program jaminan sosial.

Pasal 40
(1) Dalam hal terjadi wabah atau bencana alam, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
tingkat nasional terlebih dahulu membayarkan manfaat program jaminan sosial yang
merupakan kewajiban Pemerintah atau pihak lain.
(2) Terhadap pembayaran y ang dilakukan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tingkat
nasional sebagaimana dimaksud pada ay at (1), Pemerintah atau pihak lain berkewajiban
memberikan penggantian atas biaya manfaat dan biay a administrasi program jaminan
sosial.

Pasal 40
Cukup jelas.

BAB XII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 41
(1) Penyelenggaraan program jaminan sosial oleh Perusahaan Perseroan (Persero)
Asuransi Sosial TNI/Polri, Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan
Indonesia, Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja, dan
Perusahaan Perseroan (Persero) Tabungan Asuransi dan Dana Pensiun PNS
disesuaikan dengan Undang-Undang ini paling lama 1 (satu) tahun sejak Undang-
Undang ini diundangkan.
(2) Sebelum diangkat Dewan Pengawas dan Direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
tingkat nasional, maka Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan Perseroan (Persero)
Asuransi Sosial TNI/Polri, Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan
Indonesia, Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja, dan
Perusahaan Perseroan (Persero) Tabungan Asuransi dan Dana Pensiun PNS masih
menjabat paling lama 1 (satu) tahunsejak Undang-Undangini diundangkan.

Pasal 41
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan peny elenggaraan program mencakup kepesertaan, kekay aan, hak
dan kewajiban, sertakaryawan.


Ayat (2)
Cukup jelas.

BAB XIII
KETENTUAN PENUTUP


Pasal 42
(1) Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku:
a. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia (ASABRI) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun
Pasal 42
Cukup jelas.
Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 155dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
1991 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum (Perum) Asuransi Sosial
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia menjadi Perusahaan Perseroan (Persero)
(Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 88Tahun 1991);
b. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES) yang
dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1992 tentang Pengalihan
Bentuk Perusahaan Umum Husada Bhakti menjadi Perusahaan Perseroan
(Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 16 Tahun 1992);
c. Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) yang
dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1995 tentang Penetapan
Badan Peny elenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 1995), berdasarkan Undang-Undang Nomor 3
Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 14 Tahun 1992, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3468);
d. Perusahaan Perseroan (Persero) Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri
(TASPEN) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1981
tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum Dana Tabungan dan Asuransi
Pegawai Negeri Menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 1981), berdasarkan Undang-Undang Nomor
11 Tahun 1969 tentang Pensiun Pegawai dan Pensiun Janda/Duda Pegawai
(Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 42Tahun 1969, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 2906), Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974
tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
55 Tahun 1974, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3014)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999
(Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 169 Tahun 1999, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890), dan Peraturan Pemerintah RI
Nomor 25 Tahun 1981 tentang Asuransi Sosial Pegawai Negeri Sipil (Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 1981, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3200);
dicabut dan diny atakan tidak berlaku.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 156dari 158
BATANG TUBUH PENJELASAN PASAL
Pasal 43
Undang-Undang ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan.

Agar setiap orangmengetahuiny a, memerintahkan pengundangan undang-undang ini dengan
penempatanny a dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta
Pada tanggal ...
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

tanda tangan

DR. H. SUSILOBAMBANG
YUDHOYONO


Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal ...
MENTERI HUKUMDAN HAK ASASI
MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA

tanda tangan

ANDI MATTALATTA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN ..... NOMOR .....
Pasal 43
Cukup jelas.

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 157dari 158
Kesepakatan Pertemuan T|m SJSN Kemenko Kesra dengan Kesepakatan Pertemuan T|m SJSN Kemenko Kesra dengan Kesepakatan Pertemuan T|m SJSN Kemenko Kesra dengan Kesepakatan Pertemuan T|m SJSN Kemenko Kesra dengan
PT. (Persero} Askes, PT. (Persero} Jamsostek, PT. (Persero} Askes, PT. (Persero} Jamsostek, PT. (Persero} Askes, PT. (Persero} Jamsostek, PT. (Persero} Askes, PT. (Persero} Jamsostek,
PT. (Persero} Asabr|, PT. (Persero} Taspen PT. (Persero} Asabr|, PT. (Persero} Taspen PT. (Persero} Asabr|, PT. (Persero} Taspen PT. (Persero} Asabr|, PT. (Persero} Taspen
19 Desember 2007 19 Desember 2007 19 Desember 2007 19 Desember 2007

Kementerian Koordinator Bidang Kes ejaht eraan Rakyat Halaman 158dari 158

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->