P. 1
Eksistensi Dan Konstruksi Ilmu Kalam Sebagai Disiplin Keilmuan Islam

Eksistensi Dan Konstruksi Ilmu Kalam Sebagai Disiplin Keilmuan Islam

|Views: 406|Likes:
Published by Fuad Mahbub Siraj

Al-‘Ilm al- Kâlam is discussing the fundamental aspects (principal) in Islam, even this science also become a foundation for the establishment of the Islamic amaliyah. Thus, this science is not only important but should be used as a guideline in conducting Islamic studies. Al-‘Ilm al-Kâlam is the science that discussing the divine and its relationship with nature and human by adhering to the principle teaching in the Qur'an and Hadith. Essentially, what is offered by al-‘Ilm al-Kâlam is not just a metaphysical aspect – transcendental oriented - normative, without faced to the future, but an attitude of openness and rational thinking and Islamic studies are expected to inherit both of these attitudes. Al-‘Ilm al-Kâlam is necessary to be reconstructed, so this discipline is not rigid. We need the radically efforts to this direction and also the courage to redevelop about what happened and what is practiced by the scholars of Kâlam in the past. In other words, it is needed to make a new "ijtihad", because the “ijtihad” of the scholars in the past is considered until now as a standard in the Islamic thought. The need of the new ijtihad is the ijtihad that referring to the Islam's mission, that give the benefit to the people and also suitable to the time condition today, we also do not want to lose the historical continuity of this al-‘Ilm al-Kâlam.


Al-‘Ilm al- Kâlam is discussing the fundamental aspects (principal) in Islam, even this science also become a foundation for the establishment of the Islamic amaliyah. Thus, this science is not only important but should be used as a guideline in conducting Islamic studies. Al-‘Ilm al-Kâlam is the science that discussing the divine and its relationship with nature and human by adhering to the principle teaching in the Qur'an and Hadith. Essentially, what is offered by al-‘Ilm al-Kâlam is not just a metaphysical aspect – transcendental oriented - normative, without faced to the future, but an attitude of openness and rational thinking and Islamic studies are expected to inherit both of these attitudes. Al-‘Ilm al-Kâlam is necessary to be reconstructed, so this discipline is not rigid. We need the radically efforts to this direction and also the courage to redevelop about what happened and what is practiced by the scholars of Kâlam in the past. In other words, it is needed to make a new "ijtihad", because the “ijtihad” of the scholars in the past is considered until now as a standard in the Islamic thought. The need of the new ijtihad is the ijtihad that referring to the Islam's mission, that give the benefit to the people and also suitable to the time condition today, we also do not want to lose the historical continuity of this al-‘Ilm al-Kâlam.

More info:

Published by: Fuad Mahbub Siraj on Jun 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial
List Price: $0.99 Buy Now

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

01/21/2015

$0.99

USD

pdf

text

original

EKSISTENSI DAN KONSTRUKSI ILMU KALAM SEBAGAI DISIPLIN KEILMUAN ISLAM

Oleh: Fuad Mahbub Siraj Abstract Al-‘Ilm al- Kâlam is discussing the fundamental aspects (principal) in Islam, even this science also become a foundation for the establishment of the Islamic amaliyah. Thus, this science is not only important but should be used as a guideline in conducting Islamic studies. Al-‘Ilm al-Kâlam is the science that discussing the divine and its relationship with nature and human by adhering to the principle teaching in the Qur'an and Hadith. Essentially, what is offered by al-‘Ilm al-Kâlam is not just a metaphysical aspect – transcendental oriented - normative, without faced to the future, but an attitude of openness and rational thinking and Islamic studies are expected to inherit both of these attitudes. Al-‘Ilm al-Kâlam is necessary to be reconstructed, so this discipline is not rigid. We need the radically efforts to this direction and also the courage to redevelop about what happened and what is practiced by the scholars of Kâlam in the past. In other words, it is needed to make a new "ijtihad", because the “ijtihad” of the scholars in the past is considered until now as a standard in the Islamic thought. The need of the new ijtihad is the ijtihad that referring to the Islam's mission, that give the benefit to the people and also suitable to the time condition today, we also do not want to lose the historical continuity of this al-‘Ilm al-Kâlam. Keywords: Al-‘Ilm al-Kâlam, Islam, Ijtihad. Pendahuluan Prodi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina, serta Fakultas Ushuluddin jurusan Aqidah Filsafat IAIN dan UIN, yang salah satu mayor keilmuannya adalah ilmu kalam (al-Kalâm), sudah seyogyanya mengangkat bidang ini dalam ruang-ruang ilmiah. Bidang yang utama dalam Islam ini, masih banyak yang dipertanyakan tidak hanya segi penamaannya tetapi juga eksistensinya. Kesan yang serupa pernah dilontarkan oleh Tarmizi Taher (ketika itu Menteri Agama RI) bahwa Fakultas Ushuluddin akan dihapuskan dari IAIN. Berat dugaan hal ini ia maksudkan karena Fakultas Ushuluddin tidak relevan dengan program pembangunan

1

1936). Gagasan yang sama pernah pula diluncurkan oleh Prof. (Jakarta: Universitas Indonesia.bangsa Indonesia secara keseluruhannya. Esensi Ilmu Kalam dan penamaannya Ilmu Kalam sebagai disiplin ilmu keislaman yang berdiri sendiri. MA (ketika itu Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI) bahwa kajian ilmu kalam mengawangawang.1 Atas dasar itulah penulis ingin urung rembuk tentang ini dalam usaha mendasarkan teologi sebagai landasan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Dhuhâ al-Islâm. yang dimaksudkan dengan kalam adalah firman Allah (al-Qur’an). Kesan ini dapat diartikan bahwa kajian ilmu kalam sebagai mayor Fakultas ini akan berakhir hidupnya.1972). kalam ialah kata-kata yang tersusun dalam suatu kalimat yang mempunyai arti. 3 Ahmad Amin. yang diidentikkan dengan inquisition dengan arti test of faith (ujian keyakinan). Dalam ilmu kebahasaan. iv dan 79. h. h.2 Ilmu Kalam adalah ilmu yang membahas masalah ketuhanan dan hubungannya dengan alam dan manusia. Adapun yang dimaksud dengan aspek asasi itu ialah soal ketuhanan dengan memakai akal dan naqal. Sementara dalam ilmu agama. 2 . Qadry Aziziy. 5 Juni 2003. Teologi Islam. apakah kadim atau hadis. Jilid III. (Kairo: Maktabat al-Nahdat. 34-35. Dalam Islam hal ini dilakukan di bawah semacam “rasionalisme” Islam atau kebebasan berpikir yang 1 Hal ini sering ia lontarkan dalam berbagai pertemuan termasuk pertemuan dengan dosen-dosen IAIN Imam Bonjol Padang.3 Kiranya Nurcholish Madjid ada benarnya ketika ia mengatakan bahwa mihnah dalam Islam ini harus dibedakan dengan inquisition Barat. Dr. Kalam dalam bahasa Arab dapat diartikan dengan perkataan dan ucapan. 2 Harun Nasution. Peristiwa ini dikenal dengan mihnah. membahas aspek yang asasi atau ajaran-ajaran dasar dalam Islam. A. Karenanya ke depan tidak diperlukan ilmu seperti ini. Sebab penamaannya dengan ilmu kalam karena masalah yang paling menonjol yang dipolemikkan pada abad ke-9 dan ke-10 Masehi adalah kalam Allah (al-Qur’an) sebagai salah satu sifat-Nya.

al-Falsafat al-Islâmiyyat. Ia juga disebut dengan ilmu Ushuluddin. 6 Yunan Yusuf. Jilid I. ilmu yang mampu membuktikan kebenaran akidah Islam dan menghilangkan kebimbangan dengan menggunakan argumentasi. Muqaddimah al-Allamah Ibn Khaldûn. Sedangkan inquisition di Barat atas nama paham agama yang fundamentalistik dan sempit melawan pikiran bebas yang menjadi paham para saintis dan para filosof yang belajar banyak dari warisan Islam. hal. keyakinan). maka ilmu ini disebut dengan ilmu kalam. 20. (Kairo:al-Ta’rif al-Tarjamah wa al-Nasyr. (Beirut: Alam al-Kutub. karena tugas pokoknya adalah mengokohkan kemahaesaan Allah. 18.4 Kalam juga dapat berarti kata-kata manusia. h. h. 5 Harun Nasution. 8 Abd al-Rahman ibn Ahmad al-Iji. ia juga disebut dengan ilmu aqâ’id (akidah. Selain itu. Makalah Paramadina Serie KKA 20/Tahun II/199. 3 . Corak Pemikiran Kalam Tafsir al-Azhar. h.t). iv. Teologi Islam. l962).7 Al-Iji menegaskan. 580. Pendefinisian ilmu ini sangat bervariasi..6 Nama lain dari ilmu kalam ialah tauhid. (Beirut: Dâr al-Fikr. karena kaum mutakallimin bersilat kata-kata dalam mempertahankan pendapat dan pindirian masing-masing. h. Penulis-penulis Barat dan juga sudah biasa digunakan di Indonesia mengistilahkan dengan teologi Islam. (Jakarta: Panjimas. 7 Ahmad Fu’âd al-Ahwani.9 Abduh yang menyebutnya dengan ilmu tauhid 4 Nurcholish Madjid. 9 Ibnu Khaldun. karena bidang yang dibahasnya masalah ketuhanan. ilmu yang mengandung argumentasi rasional untuk membela akidah-akidah imaniyah dan mengandung penolakan terhadap golongan bid’ah yang dalam akidah-akidahnya menyimpang dari salaf dan ahlussunnah. melawan mereka yang menganggap menghalangi kebebasan itu. l990). karena topik pembahasannya berkaitan dengan pokok-pokok agama. Disiplin Keilmuwan Tradisional Islam: Ilmu Kalam. 2.7. karena yang dibahasnya berhubungan dengan keyakinan agama Islam.t.5 Sedangkan penggunaan istilah kalam sebagai disiplin ilmu keislaman pertama kali diciptakan oleh kaum Mu’tazilah pada masa Khalifah al-Makmun (813-833) dari Daulah Bani Abbas.8 Ibnu Khaldun mengatakan. l98l).menjadi paham Mu’tazilah. h. Al-Ahwani mendefinisikan sebagai ilmu yang memperkuat akidah-akidah agama dengan mengunakan argumentasi rasional. al-Mawâqif fi Ilmu Kalâm.

dan antara rasional dan tradisional. yakni Mu’tazilah. h. Jakarta. Akal mempunyai kedudukan yang tinggi. fungsi wahyu. Risâlat al-Tawhîd. Manusia tidak bebas dalam berbuat dan berkehendak dalam menggunakan daya ciptaan Allah (lebih dekat pada paham Jabariah atau fatalisme). dan apa yang wajib ada pada mereka serta apa yang boleh dan terlarang dihubungkan kepada mereka. ilmu yang membahas tentang wujud Allah. 10 11 Muhammad Abduh. sifat-sifat wajib yang boleh ditetapkan bagi-Nya dan apa yang wajib dinegasikan dari pada-Nya. melihat Allah di akhirat dan ayat antropomorphis. 2-3 dan 15-16.7. h. seperti masalah sifat-sifat. Adapun ciri-ciri ilmu kalam rasional ialah: a. Keadilan Allah.10 Kendatipun pendefinisiannya bervariatif. memahami wahyu cenderung mengambil arti majazi. (Kairo: Dâr al-Manâr. perbuatan-perbuatan Allah. Hasil rumusan dari ilmu kalam ini melahirkan tiga sistem ilmu kalam: rasional.11 Sedangkan ciri ilmu kalam yang ketiga adalah tengah-tengah antara ciri rasional dan tradisional. iman dan kufur. 1366 H). c. keadilan Allah kekuasaan dan kehendak mutlak Allah. tradisional. 4 . untuk membuktikan kebenaran tugas kerasulan mereka. kalam Allah. namun inti bahasan dalam ilmu ini adalah masalah ketuhanan yang berkisar sekitar mentauhidkan Allah. Kekuasaan dan kehendak mutlak Allah. Akal mempunyai kedudukan rendah. b. Makalah Falsafat Islam Pasca Ibn Rusyd. serta membahas juga tentang rasul-rasul. Manusia bebas dalam berbuat dan berkehendak dalam menggunakan daya ciptaan Allah (paham Qadariyah. Yayasan Muthahari/Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF).mengungkapkan. b. c. 12-13 Agustus 1989. yakni Maturidiyah. kedudukan akal. yang di Barat disebut free will and free act). dengan ‘âdat (kebiasaan) alam. Falsafat Islam. dengan sunatullah ciptaan Allah di alam ini. Lihat Harun Nasution. Sementara ciri-ciri ilmu kalam tradisional ialah: a. yakni Asy’ariyah. memahami wahyu cenderung mengambil arti lafal.

Reaktualisasi Nilai-Nilai Kultural dan Spiritual Dalam Proses Transformasi Masyarakat: Masalah Penyajian Kembali Islam Sebagai Sumber Keinsafan Makna Hidup di Indonesia Modern. sedang dan intelektual). sangat menguntungkan bagi umat Islam. Karenanya. Dengan istilah terjemahan ini menunjukkan segi perbedaan amat mendasar antara ilmu kalam yang tidak dogmatis dengan teologi lainnya yang bersifat dogmatis. dan lain-lainnya. Hal-hal seperti ini dalam Islam masuk bidang al-muhkamât. yakni kelompok ajaran Islam yang bersifat absolut. tidaklah menyebabkan ia keluar dari Islam (ateis). Jadi. Malang 6-8 Desember 1990. yang disebut dengan al-muhtasyâbihât. Speculative Theology. sehingga dalam bahasa Barat (baca: Inggris) ia diterjemahkan sebagai Dialectical Theology. Kiranya di sinilah bedanya antara ilmu kalam dengan teologi non-Islam. alam masih butuh kepada Allah atau tidak. dan tidak akan ada pada non Islam. 5 . Natural Theology. Pada hakikatnya ilmu ini tidak mempunyai padanan dalam pertumbuhan pemikiran agama lain. Indikasi inilah. dan Philosophical Theisme. Ketiga sistem ilmu kalam itu tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran dasar Islam. Jumlah ajaran nya amat sedikit dan yang terbanyak adalah kelompok ajaran Islam yang relatif. mana saja sistem ilmu kalam yang diinginkannya atau ia ciptakan ilmu kalam yang baru yang sesuai dengan prinsip di atas. Makalah Simposium Nasional Cendikiawan muslim. ilmu kalam seperti dideskripsikan di atas hanya khusus ada dalam Islam saja.Dengan adanya tiga sistem ilmu kalam di atas. yang sesuai dengan tingkatan kemampuan daya nalar mereka (awam. 12 12 Nurcholish Madjid. h. karena yang dibicarakannya bukanlah tentang eksistensi Allah (ada atau tidak). kekal dan tidak berubah dan tidak boleh diubah. 7. karena tidak cocok dengan zaman. yang bidang pembicaraannya adalah eksistensi Tuhan (ada atau tidak) dapat membawa seseorang menjadi ateis. menurut Nurcholish Madjid. bisa berubah dan bisa diubah. universal. bahkan kadang-kadang harus diubah. Allah pencipta atau tidak. pembicaraan dalam ilmu kalam adalah kelompok ajaran Islam yang kedua ini.

14 Sedangkan fungsi beliau sebagai nabi yang menerima wahyu dari Allah. (Chicago: Aldine Publishing Company. E. Classical Islam. (Padang: IAIN-Press. Kelahiran ilmu kalam. Bagi mereka ilmu kalam adalah ilmu tentang perdebatan ahl al-ahwâ’ wa al-bidâ’ (pengikut hawa nafsu dan bid’ah) dalam bidang agama Islam. sebagai sebuah ilmu keislaman diawali oleh peristiwa politik. tidak dapat digantikan. Andaikan ada suatu persoalan. h. 25. Bagi mereka ilmu kalam adalah ilmu tentang pembicaraan para mutakallimin dalam rangka merumuskan. Shaban. 57. 6 . Philip K.. Hal ini terjadi ketika Rasulullah SAW wafat (632 M). timbul perselisihan di kalangan kaum muslimin di Medinah tentang siapa yang berhak menggantikan Nabi Muhammad SAW sebagai kepala negara. menjelaskan. M. h. Hal ini lebih mengingatkan kita betapa keras usaha mutakallimin pada masa lalu dalam merumuskan dan membela keilmuan bidang akidah Islam ini. yang hidup pada abad-abad pertama hijrah. membela akidah Islam. h. 2001).13 Betapapun demikian nama ilmu kalam tetap eksis sampai hari ini seperti ilmu tauhid dan lainnya. Terdapat perbedaan penamaan ilmu ini. Sejarah Lahirnya Ilmu Kalam Telah dimaklumi bahwa pada masa Rasulullah masalah akidah belum lagi dipersoalkan.A. Akan tetapi kaum rasional Islam tidak membedakan penamaan ini. 1970). 139. Teologi dan Akidah Dalam Islam. Umat Islam di masa itu semata-mata mengikuti kitab Allah dan Sunah Rasul. Pengganti beliau sebagai kepala negara disebut 13 14 Abdul Aziz Dahlan. Ahl al-Hadis. mereka langsung menanyakan kepada Rasulullah SAW. (London: The Macmilan. tidak senang dengan penamaan ilmu kalam.Sebenarnya isu pokok dalam ilmu kalam: 1. usaha pemahaman yang dilakukan para ulama (ahli kalam) dalam akidah Islam yang terkandung dalam al-Qur’an dan hadis. 55. 2. tujuan untuk menetapkan dan membela akidah Islam dan menolak akidah yang salah atau bertentangan dengan akidah Islam. Hitti. Lihat: Grunebaum. Von G. History of the Arabs. 1974).

yang di Barat diintroduksikan sebagai Commander of the Faithful. timbul kembali pertentangan politik antara Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah rasyidin yang keempat di Kufah di satu pihak dan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan di Damaskus. h.t. yang dalam ketatanegaraan Islam sebagai pemimpin tertinggi umat Islam. dan Zubair. Istilah khalifah Rasul Allah pertama kali muncul dalam Islam ketika pengangkatan Abu Bakar. Perdebatan politik yang terjadi di Saqifah Bani Sa’idah dapat diatasi atas kebijakan Umar ibn Khaththab dengan dibai’atnya Abu Bakar Shiddiq menjadi khalifah Rasyidin yang pertama. (Bandung: Mizan. 16 Lihat: Harun Nasution. 110. Târîkh al-Islam al-Siyâs wa al-Dîn wa al-Sakafi wa al-Ijtimâ’iy . Konflik ini dipicu oleh politik nepotisme Usman ibn Affan. Sedangkan sejak Umar ibn Khaththab gelar yang dipakai Amîr al-Mu’minîn (pemimpin pemerintah orang-orang yang beriman). Sementara tantangan dari Mu’awiyah ibn Abi Sufyan dalam pertempuran yang terjadi di Siffin tidak dapat diselesaikan Ali. Abû A’la al-Maududi. al-Imamat wa al-Siyasat. t.t. (Kairo: Maktabat al-Nahdiyyat.).). h. yang tidak mampu membendung ambisi kaum keluarganya yang kaya dan berpengaruh. I. juru runding di pihak Mu’awiyah secara licik dengan cara melanggar konsensus yang telah disepakati semula. Kelompok ini yang semula pengikut Ali ibn Abi Thalib. kemudian membentuk 15 golongan tersendiri dan Abû Muhammad ‘Abd Allah ibn Muslim ibn Qutaibat. ibid. hal.16 Telah dimaklumi bahwa kelompok Zubair. Muhammad al-Baqir. yakni menyetujui penjatuhan Ali dan menolak penjatuhan Mu’awiyah. Thalhah dan Aisyah di Mekah di pihak lain. h. 12-16. yang menyebabkan lahirnya kaum Khawarij. (Kairo: Mu’assasat al-Halani. h. Jalal al-Din Abd. Lihat: Harun Nasution. t. 2-4.. t. Târîkh al-Khulafâ’. Hasan Ibrahim Hasan. I.17 Sejarah mencatat.khalifah. 1984). Gelar ini tekanannya pada bidang politik dan bukan pada bidang keagamaan. 207. juz. Talhah dan Aisyah dapat dipatahkan Ali ibn Thalib dalam perang yang terjadi di Irak. (Kairo: Dâr al-Nahdat Mishr. ternyata upaya arbitrasi berjalan tidak adil.).t. 17 Abu Musa al-Asy’ari juru runding di pihak Ali ibn Abi Thalib dikalahkan oleh Amr ibn al-‘Ash. Teologi Islam. Namun tugas seorang khalifah termasuk sebagai pengatur dan penyebar ajaran Islam. yang akhirnya berujung dengan arbitrasi (tahkîm). Terj. al-Khilâfat wa al-Mulk. 5. 408. Al-Rahman al-Suyuthi. 7 . juz.15 Kemudian ketika Usman ibnu Affan sebagai khalifah rasyidin yang ketiga mati terbunuh (656 M). h.

(Kairo: Maktabat al-Nahdat.290-291. Fajr al Islâm. (Kairo: Muhammad Ali Sabhi.t. 1965). Ada juga kemungkinan penyebabnya al-Qur’an sendiri. Ahmad Amin.18 Persoalan politik inilah yang akhirnya membawa timbulnya persoalan-persoalan kalam. tetapi posisi antara kafir Khawarij dan mukmin Murji’ah ( al-manzilat bain almanzilatain. 22 lihat: Harun Nasution. Nama lainnya ialah al-Haruriyah. yang sesuai dengan semboyan mereka Iâ hukma illa lillah (tiada hukum selain hukum Allah). Aliran Khawarij berpendapat bahwa pendosa besar adalah kafir. Lihat: Ibid. yaitu Khawarij. 20 Lihat: Ibid. dan dosanya diserahkan sepenuhnya kepada Allah. h. 22-23. h. Menurut Abduh para ulama pada abad-abad pertama mempolemikkan tentang al-Qur’an sebagai kalam Allah yang dibaca. apakah qadîm (tak terciptakan.22 Kemudian barulah muncul aliran lain seperti al-Asy’ariah. hal.menentang Ali. 8 . Menurut mereka Ali telah bersalah (berdosa) menerima arbitrase. h. apakah akan diampuni-Nya atau tidak diampuni-Nya? Sedangkan aliran Mu’tazilah21 berkesimpulan bahwa pembuat dosa besar bukan kafir mutlak dan bukan pula mukmin mutlak. Murji’ah dan Mu’tazilah. dalam arti keluar dari Islam dan wajib dibunuh. t. ataukah hâdits (terciptakan. al-Maturidiah dan lain-lainnya. Mereka juga dinamakan dengan al-Muhakkimah. Jadi.. 19 Dari kasus ini pula timbul tiga aliran kalam. 264-265. Teologi Islam. dengan sebutan muslim fasik. menurut mereka. h. Teologi Islam. karena menjadi satu dengan zat Allah). 279. yang dihubungkan dengan nama desa Harura dekat Kaufah sebagai tempat berkumpul mereka. Târîkh al-Firaq al-Islâmiyyat.). Harun Nasution.. 6. posisi di antara dua posisi). yakni dalam menetapkan persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir dalam arti siapa yang telah keluar dari Islam dan siapa yang masih tetap dalam Islam. 21 Mu’tazilah didirikan oleh Washil ibnu ‘Atha dan Amr ibnu Ubaid yang rasionalis setelah terjadi silang pendapat dengan gurunya Hasan al-Bashri yang tekstualis di Bashrah tentang hukum pendosa besar. karena berbentuk suara yang dinyatakan dalam huruf dan bahasa 18 19 Ali Mustafa al-Ghurabi. h. Sementara aliran Murji’ah 20 berkesimpulan bahwa pendosa besar tetap mukmin dan bukan kafir. Kemudian keduanya memisahkan diri dari pengajian gurunya. 6-7. orang-orang yang terlibat dalam arbitrase tidaklah sah dan satusatunya hukum yang boleh diterima ialah hukum al-Qur’an.

hal ini dapat disaksikan dalam buku-buku ilmu tauhid yang selalu pertama 23 24 Muhammad Abduh. di antara kaum muslimin ada yang memandang bahwa untuk menghadapi lawannya perlu dipergunakan pula filsafat dan logika. Selain itu. Karenanya. Sebaliknya yang lain mentakwikan ayat seperti ini agar Allah suci dari keserupaan dengan makhluk. 25 Bandingkan dengan Harun Nasution.t. h. h. Kemungkinan yang lainnya ayat-ayat mutasyâbihât dalam al-Qur’an (Ali Imran/3:7). sebelum mereka menerima tawaran tersebut terlebih dahulu mengajak kaum muslimin berdebat dan menyerang Islam dengan senjata filsafat dan logika. Falsafah Islam. Memang ada umat Islam yang tidak mau mengambil arti majazi ayat ini.Arab). h. 24 Sedangkan yang lain menerima arti zahir ayat tanpa mempersoalankannya. al-iman bihi wâjib wa alsu’al ‘anh bid’ah” Artinya kata-kata sejenis ini ia serahkan hakikatnya kepada Allah.). al-Falsafat alIslâmiyyat. Jilid XII. maka umat Islam mengajak penduduk yang ditaklukkan masuk Islam. Kemudian dengan senjata ini pula mereka gunakan untuk membahas dan merumuskan akidah Islam. Tafsîr al-Manâr. t. neraka dan lainnya. Ayat ini.25 Ternyata warisan ini masih lestari sampai sekarang. Ahmad Fu’ad al-Ahwani. Risâlat al-Tawhîd. namun mereka tidak mau menyamakan Allah dengan selain-Nya. Penduduk setempat. (Beirut: Dar al-Fikr. telah memeluk beragam agama dan kebudayaan yang tinggi serta telah mengenal logika dan filsafat. seperti ungkapan Imam Malik:“al-Istiwâ’ ma’lûm wa al-Kaif majhûl. h. 7 Lihat Muhammad Rasyid Ridha. 35-38. 9 . 2.23 Pada masa pemerintahan Khalifah al-Makmun (198-218 H/813-833 M). karena meluasnya kekuasaan Islam. yang menganut paham Mu’tazilah melakukan kekerasan kepada siapa saja yang menolak khalq al-Qur’an sebagai doktrin kalam. 16. Serangan ini tidak mungkin dijawab oleh umat Islam dengan hanya mengandalkan dalil naql saja. ialah ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sudah diselidiki secara mendalam atau ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat yang berhubungan dengan yang ghaib.

Begitu pula terjemahan ayat-ayat tersebut ke dalam bahasa lain dan juga penafsirannya baik yang berbahasa Arab maupun tidak. di antara pemeluk Islam yang sebelumnya berasal dari pemukapemuka agama Yahudi. kemudian baru diperkuat dengan naql atau argumen wahyu. berusaha menyelusupkan ajaranajaran agama mereka yang lama ke dalam ajaran tauhid dalam Islam. karena menghambat kedinamisannya. melainkan adalah penafsiran dan hasil pemikiran manusia yang bersifat relatif. melainkan merupakan penafsiran. Jika agama yang berfungsi mengatur hidup manusia tidak bersifat dinamis. Dengan sebab demikian. yang disebut dengan kalâm Allah. atau diubah susunan katanya. Karenanya teks Arab al-Qur’an jika diganti dengan teks Arab sinonimnya.dikemukakan dalil akal atau penalaran rasional. maka agama seperti ini akan ditinggalkan manusia. bukanlah lagi ia dinamakan wahyu yang bersifat absolut. maka pemuka-pemuka Islam berusaha pula untuk menjelaskan dan mempertahankan pokok-pokok keyakinan Islam agar jangan dikelirukan oleh ajaran-ajaran agama lain. maka teks Arab penggantinya atau perubahan susunan kata itu bukanlah wahyu yang bersifat absolut. Yang dimaksudkan wahyu di sini ialah al-Qur’an dalam teks Arabnya. Nasrani dan lainnya. melainkan seutuhnya dari Allah. Ini berarti teks Arabnya bukanlah berasal atau pilihan dari Nabi sendiri. Kemungkinan lain. hasil buatan manusia yang bersifat relatif dan ia 10 . Islam cocok dengan kedinamikaan dan kerasionalan manusia. Eksistensi Ilmu Kalam Islam agama rasional dan dinamis. Islam agama wahyu. Majusi.

ia langsung mendapat teguran Allah.9. Karenanya amat tepat soal-soal hidup kemasyarakatan atau soal-soal keduniaan diserahkan Allah pada akal manusia untuk mengaturnya. 11 . Beliau terpelihara dari kesalahan dan menjadi ma’shûm. Kendatipun demikian.27 Adapun ayat-ayat seperti disebutkan di atas hanya datang dalam bentuk prinsip-prinsip pokok dan garis-garis besar saja tanpa penjelasan lebih lanjut tentang maksud. tidak berarti Islam yang dipahami sebagai agama yang memiliki totalitas. no. 1996. Semuanya itu bukanlah wahyu tetapi hadis. 38-41. apabila ada ucapan dan perbuatan Nabi yang salah. maka dinamika manusia yang diatur oleh sistem tersebut akan menjadi terikat dan perkembangan manusia akan menjadi terhambat. Hadis pada umumnya mengandung ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad SAW. sedangkan wahyu (ayat) dalam teks Arab itulah yang mengikat bagi manusia. Ternyata bentuk-bentuk ayat seperti ini serasi dengan kedinamikaan manusia.termasuk kebudayaan. penafsiran dan terjemahan itu tidak mengikat bagi manusia. 27 Lihat: Sirajuddin Zar. Kalau tidak mendapat teguran berarti ucapan dan perbuatan beliau itu benar. “Islam dan Kepemimpinan di Indonesia” dalam al-Turas. yaitu hadis yang ide atau arti yang dimasukkan ke dalam hati Nabi. h. sebagai sumber kedua bukanlah wahyu dalam arti di atas. hadis.26 Berbeda dengan sifat dasar al-Qur’an sebagai sumber pertama dari ajaran Islam. Rasionalisme dan Tradisionalisme Dalam Berijtihad Serta Implikasinya Terhadap Perubahan Zaman. h. Ia pada dasarnya berfungsi sebagai penjelas tentang isi al-Qur’an. 1. Selain itu. rincian dan cara pelaksanaannya. Oktober 1995Januari 1996. Adapun hadis yang sama kuat dengan al-Qur’an dalam keabsolutan dan kebenaran mutlaknya adalah hadis mutawatir. Dengan kata lain. ada pula hadis qudsi. Sekiranya ayat-ayat absolut dimaksud berjumlah banyak dan rinci. Dengan kata lain. dalam pengertian meliputi seluruh aspek kehidupan manusia tidak 26 Sirajuddin Zar. Manusia bersifat dinamis yang selalu mengalami perubahan dan berkembang menurut kemajuan zaman. yang kemudian Nabi langsung mengungkapkan ide atau arti itu dengan kata-katanya sendiri. Makalah Seminar regional Fakultas Syari’ah Padang. yang jumlahnya sangat sedikit.

sistem ekonomi Islam. Ajaran Islam yang bersifat absolut. yaitu ayat-ayat yang artinya tidak pasti dan masih dapat ditafsirkan. bentuk sistem apa saja yang dilahirkan akal manusia selama ia sesuai dengan alQur’an. sistem pemerintahan Islam dan lainnya. Dalam al-Qur’an yang terbanyak adalah ayat-ayat mutasyâbihât dan dari ayatayat bentuk inilah terjadi proses perkembangan ajaran Islam dalam berbagai bidang. maka ia dapat berubah dan diubah. Kelompok muhkmât. Hanya dalam perubahan tersebut yang tidak boleh diubah dan berubah ialah prinsip-prinsip dasar atau ayat yang tercantum dalam al-Qur’an. sebagai terdapat dalam al-Qur’an dengan teks Arabnya dan dalam hadis mutawatir. yaitu ayatayat yang artinya pasti sebagai yang diberikan teks dan tidak dapat ditafsirkan lagi. Perlu dikemukakan bahwa al-Qur’an tidak memerintahkan membentuk sistem tertentu dari sistem-sistem di atas dan al-Qur’an hanya menawarkan prinsip-prinsip pokok saja. Ayat-ayat serupa inilah yang menjadi pegangan umat Islam sejak periode Rasulullah SAW sampai akhir zaman. kekal. Ajaran Islam yang bersifat relatif. bahkan kadang-kadang harus diubah karena tidak cocok lagi dengan zaman. Akan tetapi sistem-sistem tersebut dipahami oleh akal manusia dari ayat-ayat al-Qur’an yang datang dalam bentuk prinsip-prinsip dasar saja. 2. bisa berubah. Karena itu. Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ajaran Islam terdiri dari dua kelompok: 1. Kelompok mutasyâbihât. 12 .mengandung sistem-sistem seperti sistem keuangan Islam. bisa diubah. Karena sistem itu hasil produk manusia. tidak berubah dan tak dapat diubah. Jadi ayat al-Qur’an dapat dibagi pada dua kelompok. Ajaran Islam dalam kelompok kedua ini adalah ajaran Islam hasil ijtihad dan kewewenangan manusia dalam menjabarkannya. universal. maka ia dapat dikatakan islami tetapi bukan Qur’ani.

filsafat Islam. melainkan sikap terbuka dan berpikir rasional. akan tetapi yang dibicarakan adalah hal-hal yang tidak tegas disebutkan dalam ayat dan hadis (al-mutâsyibihât). Mengembalikan masa sekarang dan masa depan pada masa lalu merupakan suatu kemustahilan. Karenanya ilmu ini tidak hanya penting dan juga harus dijadikan pedoman dalam melakukan kajian-kajian keislaman. Dengan kata lain. ilmu kalam membahas aspek yang asasi (pokok) dalam Islam. maka 13 . Ilmu kalam sering dikesankan bahwa fokus bahasannya terletak pada wilayah metafisis-transedental-normatif. ilmu kalam yang dimiliki seseorang akan menentukan statis dan dinamisnya seseorang dalam hidupnya. pembaharuan dalam Islam dan lainnya. bahkan ia sebagai pondasi untuk tegaknya amaliyah dalam Islam. Sebenarnya yang ditawarkan oleh ilmu kalam bukanlah seperti kesan di atas. Jadi ilmu kalam adalah hasil ijtihad ulama kalam dalam bidang akidah. Pada pihak lain.Perlu disebutkan. umpamanya. Padahal hasil pemikiran masa lalu betapapun canggihnya tidaklah sakral dan belum tentu cocok dengan masa sesudahnya. Apabila ilmu kalam rasional yang dianutnya. yang ia adalah hasil ijtihad ulama fikih dalam bidang hukum. tanpa dihadapkan pada masa depan. yang bahkan kadang-kadang harus berubah dan diubah. sama halnya mengingkari kedinamisan manusia itu sendiri. Ia ingin agar studi-studi Islam mewarisi kedua sikap ini dengan berpegang pada ajaran-ajaran dasar yang dikandung al-Qur’an dan hadis. sama halnya dengan fikih. tasawuf. yang dalam istilah agama disebut ijtihad. kajian ilmu kalam masih berorientasi pada masa lalu dan tidak menyentuh masa sekarang dan masa depan. seperti fikih. Dengan demikian ilmu kalam tetap eksis sampai sekarang sama halnya dengan eksistensi ilmu-ilmu keislaman lainnya. sepertinya masa sekarang dan masa depan bisa dikembalikan pada masa lalu. Dengan kata lain mereka hanya menjabarkan atau menafsirkan masalah-masalah yang pokok. Ilmu-ilmu ini tidak membicarakan masalah yang pokok dalam Islam (al-muhkamât).

Teologi Sosial. Sebagai hasil ijtihad dalam Islam bagaimanapun canggihnya tidak sakral. yang dalam Islam disebut bidang pranata sosial. Ilmu dalam Islam tetap dapat disentuh oleh “tangan” manusia dan ia tidak stagnasi. karena tidak cocok dengan zaman. begitulah sebaliknya apabila ilmu kalam tradisional yang dipeganginya. Sedangkan ilmu kalam sebagai hasil ijtihad mutakallim tentang akidah Islam bukanlah sebuah doktrin yang tidak boleh berubah dan diubah. Pengembangan keilmuan dalam Islam berasal dari dialogis sesama umat Islam. Ilmu ini tentu berbeda dengan al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam Islam. ilmu kalam adalah sebuah ilmu keislaman hasil produk pemikiran ulama kalam masa-masa awal Islam dalam bidang akidah Islam. Telah disebutkan bahwa ilmu kalam dalam Islam merupakan spesifik. Karenanya beberapa istilah kalam/teologi yang diperkenalkan di Indonesia pada era dasawarsa 70-an dan 80-an. kadang-kadang mesti diubah. yang hanya ada dalam Islam saja. Rekonstruksi Ilmu Kalam Telah dideskripsikan. Sedangkan ilmu kalam dalam Islam bidang pembicaraannya adalah keyakinan (akidah) Islam. seperti Teologi Perempuan. Dengan kata lain teks al-Qur’an itu keberadaannya sudah final dan tidak dapat diganggu gugat lagi. Ilmu kalam (juga ilmu-ilmu keislaman lainnya) dalam Islam sangat berkembang. Apabila tidak demikian maka ilmu kalam sangat bertentangan dengan prinsip agama yang cocok dengan semua tempat dan zaman (al-Shâlih li kulli zamân wa makân). dapat berubah dan diubah.kehidupan yang dilakoninya adalah kehidupan yang dinamis. Sehingganya 14 . yang disepakati teksnya pasti datang dari Allah. Teologi Pembangunan. maka kehidupan yang dilakukannya adalah kehidupan yang statis. Teologi Transformasi dan lain-lainnya tidak sah dan tidak dapat diterima. Pada umumnya istilah teologi yang dikemukakan ini berbicara dalam bidang.

21. Usaha mereka tempo dulu bukan salah tetapi tidak cocok dengan kondisi zaman. Dengan kata lain diperlukan membuat “ijtihad” baru yang selama ini dianggap “barang yang sudah baku”. tentu kita tidak ingin kehilangan kontinuitas historis dari ilmu kalam ini. Menurut A. Pada sisi lain dapat pula digunakan pendekatan ilmu bantu yang digunakan dalam ilmu sosial tentu dengan catatan ilmu bantu yang cocok dengan arah ilmu kalam. h. Kemudian bidang-bidang ilmu kalam difilter sesuai dengan kemanfaatan kekinian. Hal ini dimaksudkan untuk membuktikan bahwa Islam adalah rahmat li al-‘âlamîn (al-Anbiya’/ 21: 107). (Jakarta: Dirjen Pendis. agar disiplin ilmu ini tidak kaku. 56. Hal ini bukan hanya mereka tidak beriman dan juga karena mereka tidak ada niat untuk mengamalkannya. Usaha-usaha ke arah ini perlu dilakukan secara radikal dan keberanian untuk mengembangkan kembali tentang apa yang terjadi dan apa yang dipraktekkan oleh ulama kalam tempo dulu. Sebenarnya pendekatan kritis sudah pula dilakukan oleh ulama klasik yang lalu.28 Atas dasar itulah menurut penulis. Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman. Qadri Azizi.terkenal ungkapan Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i: Hum rijâl wa nahnu rijâl (mereka ahli dibidangnya dan kita juga ahli di bidang kita). juga kritik Ibnu Rusyd terhadap kritikan alGhazali tersebut dalam bukunya¨Tahâfut al-Tahâfut.29 Dalam merekonstruksi ilmu kalam bisa digunakan metode filsafat dengan pendekatan analitis-kritis yang radikal. Qodri Azizi di sinilah letak perbedaan antara kajian yang dilakukan oleh sarjana Islam dan para orientalis. Ibid.. 28 29 A. the only permanent aspect of science is research. 15 . ilmu kalam ini perlu direkonstruksi kembali. Ijtihad yang diinginkan tentu disesuaikan dengan kebutuhan zaman yang mengacu kepada misi Islam yakni kemaslahatan umat. karenanya para orientalis tidak akan menyandang gelar mujtahid. 2003). Pada pihak lain. seperti kritik al-Ghazali terhadap al-Farabi dan Ibnu Sina dalam bukunya: Tahâfut al-Falâsifat. h.

Kairo:al-Ta’rif al-Tarjamah wa al-Nasyr. Daftar Pustaka Azizi. Apabila tidak kita sahuti secara arif. paling tidak menyampaikan saran-saran. (2003). A. yang mesti kita dukung bersama. gurita dan lain.Penutup Ilmu kalam sebagai ilmu keislaman diharapkan dapat membumi dan sesuai dengan kondisi kekinian. Qadri. Kejadian akhir-akhir ini amat menakutkan. seperti Piala Eropa 2012 umpamanya. al-Ahwani. seperti gajah. Wadah ini perpanjangan tangan kita bersama yang akan mencari rekonstruksi seperti yang kita inginkan. Ahmad Fu’âd. Hal ini sesuai dengan prinsip Islam sebagai ajaran rahmatan li al-‘âlamîn juga bermanfaat untuk umat. al-Falsafat al-Islâmiyyat. Langkah yang utama untuk melakukan “proyek besar” ini terkait dengan niat kita bersama dan untuk melahirkan model ini diperlukan suatu wadah dalam bidang ilmu kalam. orang meminta ramalan tentang score pada hewan. Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman. yang semua ini bertentangan dengan ilmu ini. 16 . Kita semua terlibat didalamnya. Sebenarnya inilah mimpi yang indah dari prodi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina dan jurusan Akidah Filsafat Fakultas Ushuluddin di IAIN dan UIN. babi. Padahal ilmu keislaman yang pokok atau utama dalam Islam ini sangat penting bagi pedoman hidup umat manusia. maka ilmu kalam ini akan mati suri. yang menurut saya yang kemestiannya sudah setingkat dengan hukum fardhu ‘ain. Jakarta: Dirjen Pendis. (1962).

Al-Rahman. Kairo: Maktabat al-Nahdat. Harun. Jakarta: Universitas Indonesia.. (1990). . (1936). (t. Padang: IAIN-Press.. Makalah Simposium Nasional Cendikiawan muslim.. al-Mawâqif fi Ilmu Kalâm. Falsafat Islam.. Beirut: Dar al-Fikr. (1972). London: The Macmilan. . (t. Von G. juz. Hasan. Terj.Amin.. Nurcholish. Dhuhâ al-Islâm. Jakarta: Universitas Indonesia. (1965)..... Muhammad Rasyid.Jakarta: Panjimas. al-Ghurabi. Chicago: Aldine Publishing Company. Teologi Islam.9 Oktober 1995-Januari 1996. (1990). Abû Muhammad. Beirut: Dâr al-Fikr. (1974). Hitti.. Kairo: Maktabat al-Nahdat.. Teologi dan Akidah Dalam Islam. Sirajuddin...t). Fajr Islâm. Zar. Ridha... Muhammad al-Baqir. E. Makalah Paramadina Serie KKA 20/Tahun II/199.. Beirut: Alam al-Kutub. Ibrahim Hasan.Kairo: Dâr al-Nahdat Mishr.. (2001). Abd al-Rahman ibn Ahmad.t). Kairo: Dâr al-Manâr. Muhammad... (t. al-Khilâfat wa al-Mulk.. Yusuf.. Dahlan. History of the Arabs. Disiplin Keilmuwan Tradisional Islam: Ilmu Kalam. Makalah Filsafat Islam Pasca Ibn Rusyd. (1366 H). . no. al-Suyuthi. “Islam dan Kepemimpinan di Indonesia” dalam al-Turas. Classical Islam.. Abdul Aziz. ‘Abd Allah ibn Muslim ibn Qutaibat. (1984).. Yunan.t). Makalah Seminar regional Fakultas Syari’ah Padang..... (1970).. Yayasan Muthahari/Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF). 1996. . Tafsîr al-Manâr. Kairo: Mu’assasat al-Halani. Abû A’la. I. Jilid III.. (1981). (1983)..t)..t). Philip K. Jilid XII. Ibnu Khaldun. juz.. (t.... Nasution... (t.. al-Maududi.t). Jakarta 12-13 Agustus 1989. Ali Mustafa. 17 . . al-Imamat wa al-Siyasat.. Rasionalisme dan Tradisionalisme Dalam Berijtihad Serta Implikasinya Terhadap Perubahan Zaman.. Târîkh al-Islam al-Siyâs wa al-Dîn wa al-Sakafi wa alIjtimâ’iy. Târîkh al-Firaq al-Islâmiyyat. Ahmad. Jalal al-Din Abd. Akal dan Wahyu Dalam Islam. Abduh. Kairo: Maktabat al-Nahdiyyat.. Corak Pemikiran Kalam Tafsir al-Azhar. Kairo: Muhammad Ali Sabhi. Malang 6-8 Desember. Muqaddimah al-Allamah Ibn Khaldûn. Reaktualisasi Nilai-Nilai Kultural dan Spiritual Dalam Proses Transformasi Masyarakat: Masalah Penyajian Kembali Islam Sebagai Sumber Keinsafan Makna Hidup di Indonesia Modern.. I.. Jilid I. Târîkh al-Khulafâ’.. Bandung: Mizan.. Risâlat al-Tawhîd. al-Iji. Grunebaum. Madjid. (t.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->