Pengertian Problem Based Learning ( PBL

)
Model Problem Based Learning adalah model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan keterampilan yang lebih tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri (menurut Arends dalam Abbas, 2000:13). Model ini bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan meningkatkan ketrampilan berfikir kritis dan pemecahan masalah serta mendapatkan pengetahuan konsep- konsep penting, dimana tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai ketrampilan mengarahkan diri. Pembelajaran berbasis masalah penggunaannya di dalam tingkat berfikir yang lebih tinggi, dalam situasi berorientasi pada masalah, termasuk bagaimana belajar. Problem Based Learning atau Pembelajaran berbasis masalah meliputi pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerjasama dan menghasilkan karya serta peragaan. Pembelajaran berbasis masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyakbanyaknya pada siswa. Pembelajaran berbasis masalah antara lain bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan ketrampilan berfikir dan ketrampilan pemecahan masalah (Ibrahim 2002 : 5). Dalam pembelajaran berbasis masalah, perhatian pembelajaran tidak hanya pada perolehan pengetahuan deklaratif, tetapi juga perolehan pengetahuan prosedural. Oleh karena itu penilaian tidak hanya cukup dengan tes. Penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan oleh siswa sebagai hasil pekerjaan mereka dan mendiskusikan hasil pekerjaan secara bersama-sama. Penilaian proses dapat digunakan untuk menilai pekerjaan siswa tersebut, penilaian ini antara lain 7 1. asesmen kerja, asesmen autentik dan portofolio. Penilaian proses bertujuan agar guru dapat melihat bagaimana siswa merencanakan pemecahan masalah, melihat bagaimana siswa menunjukkan pengetahuan dan ketrampilannya. Airasian dalam Diah Eko Nuryenti (2002) menyatakan bahwa penilaian kinerja memungkinkan siswa menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan dalam situasi yang sebenarnya. Sebagian masalah dalam kehidupan nyata bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman dan konteks atau lingkungannya, maka disamping pengembangan kurikulum juga perlu dikembangkan model pembelajaran yang sesuai tujuan kurikulum yang memungkinkan siswa dapat secara aktif mengembangkan kerangka berfikir dalam memecahkan masalah serta kemampuannya untuk bagaimana belajar (learning how to learn). Dengan kemampuan atau kecakapan tersebut diharapkan siswa akan mudah beradaptasi. Dasar pemikiran pengembangan strategi pembelajaran tersebut sesuai dengan pandangan kontruktivis yang menekankan kebutuhan siswa untuk menyelidiki lingkungannya dan membangun pengetahuan secara pribadi pengetahuan bermakna (Ibrahim, 2000:19). Ketika siswa masuk kelas mereka tidak dalam keadaan kosong, melainkan mereka telah memiliki pengetahuan awal. Berdasarkan pemikiran tersebut maka pembelajaran Pekerjaan Dasar Konstruksi Bangunan perlu diawali dengan mengangkat permasalahan yang sesuai dengan

baik siswa sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat masalah. dalam arti tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menyulitkan penyelesaian siswa. yaitu masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami siswa. b. Tahap ini mungkin juga mencakup pengetahuan yang telah dimiliki oleh mereka berkenaan dengan isu-isu khusus. 2000:5-7 dalam Nurhadi. serta membangkitkan motivasi belajar siswa. yaitu masalah yang telah disusun dan dirumuskan haruslah bermanfaat. ruang dan sumber yang tersedia. Selain itu. yaitu masalah harus lebih berakar pada kehidupan dunia nyata siswa dari pada berakar pada prinsip-prinsip disiplin ilmu tertentu. 4) menyusun rencana tindakan.lingkungannya (permasalahan kontekstual). Selain itu masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Autentik. Tahap 2: Penyajian Fakta yang Diketahui (Known Facts) Pada tahap ini. Menurut Arends (dalam Abbas. misalnya pelanggaran kode . Bermanfaat. a. 2) penyajian fakta yang diketahui (known facts). artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu. Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berfikir. yaitu masalah dirumuskan dengan jelas. Menurut Lepinski (2005) tahap-tahap pemecahan masalah sebagai berikut ini. mereka diajak mendata sejumlah fakta pendukung sesuai dengan masalah yang telah diajukan. laporan. Jelas. yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas. 3) mempelajari masalah (learning issues). Tahap ini membantu mengklarifikasi kesulitan yang diangkat dalam masalah. atau masalah yang relevan dengan 9 kurikulum). yaitu: 1) penyampaian ide (ideas). video atau program komputer (Ibrahim & Nur. pertanyaan dan masalah yang diajukan haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut. masalah yang telah disusun tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. c. 2003:56) Pengajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa bekerja sama satu sama lain (paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil). Pebelajar merekam semua daftar masalah (gagasan. Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Mereka kemudian diajak untuk melakukan penelaahan terhadap ide-ide yang dikemukakan atau mengkaji pentingnya relevansi ide berkenaan dengan masalah yang akan dipecahkan (masalah actual. 8 d. model fisik. Produk itu dapat berupa transkip debat. (action plan) dan 5) evaluasi (evaluation). Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir memecahkan masalah siswa. Tahap 1: Penyampaian Ide (Ideas) Pada tahap ini dilakukan secara curah pendapat (brainstorming). 2000:13).ide) yang akan dipecahkan. e. dan menentukan validitas masalah untuk melakukan proses kerja melalui masalah. Pengajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Mudah dipahami.

etik. pebelajar diajak mengembangkan sebuah rencana tindakan yang didasarkan atas hasil temuan mereka. dan 3) bagaimana pebelajar akan menyampaikan pengetahuan hasil pemecahakan masalah atau sebagai bentuk pertanggung jawaban mereka. teknik pemecahan konflik. pada saat para pebelajar menyampaikan masalah-masalah. termasuk kajian literatur). 2) organisasi tugas (proyek). Tahap 3: Mempelajari Masalah ( Learning Issues) Pebelajar diajak menjawab pertanyaan tentang. hal ini dapat menjadi sebuah proses atau tindakan untuk mengeliminasi ide-ide yang tidak dapat dipecahkan atau sebaliknya ide-ide yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah. 6) kreativitas (uraian dan penalaran). misalnya secara lisan atau verbal. Tahap 4: Menyusun Rencana Tindakan (Action Plan) Pada tahap ini. belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian atau respon-respon mereka dalam berbagai bentuk yang beragam. Dengan demikian. Rubrik dipakai sebagai suatu alat pengukuran untuk menilai berdasarkan beberapa kategori. misalnya: 1) batas waktu. “Apa yang perlu kita ketahui untuk memecahkan masalah yang kita hadapi?” Setelah melakukan diskusi dan konsultasi. Suatu alat untuk menilai hasil dapat dipakai sebuah rubrik. 2) bagai-mana mereka menerapkan tahapan PBM untuk bekerja melalui masalah. Evaluator menilai penguasaan bahan-bahan kajian pada tahap tersebut melalui pebelajar. Seringkali. mereka melakukan penelaahan atau penelitian dan mengumpulkan informasi. atau sebagai suatu bentuk penyajian formal lainnya. dan 7) bentuk penampilan penyajian ” Problem Based Learning” Posted by aliwear ⋅ 26 April 2012 BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG MASALAH . Rencana tindakan ini berupa sesuatu (rencana) apa yang mereka akan lakukan atau berupa suatu rekomendasi saransaran untuk memecahkan masalah. telaah. 3) segi (kebakuan) bahasa. Sebagian dari evaluasi memfokuskan pada pemecahan masalah oleh pebelajar maupun dengan cara melakukan proses belajar kolaborasi (bekerja bersama pihak lain). Tahap 5: Evaluasi Tahap evaluasi ini terdiri atas tiga hal: 1) bagaimana pebelajar dan evaluator menilai produk (hasil akhir) proses. 5) kemampuan mencari sumber pendukung (penelitian. 4) kemampuan analisis. laporan 10 tertulis. Pebelajar melihat kembali ide-ide awal untuk menentukan mana yang masih dapat dipakai. dan sebagainya. mereka menemukan cara-cara baru untuk memecahkan masalah.

pengetahuan.Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga Negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan organisasi-organisasi non pemeritahan perlu dikenal. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan Standar isi Pendidikan Kewarganegaraan SMA/SMK/MA : • • • • Memahami hakekat Bangsa dan Negara kesatuan Republik Indonesia Menganalisis sikap positif terhadap penegakan hokum. kecerdasan dan keadilan. Kehidupan yang demokratis didalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga. yang cerdas. Konstitusi Negara Republik Indonesia perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia. Indonesia harus menghindari sistem pemerintahan yang memasung hak-hak asasi manusia. dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. perlu ditingkatkan terus menerus untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara yang baik. akhlak mulia. bahasa. penghormatan serta penegakan HAM baik di Indonesia maupun luar negeri Menganalisis peran dan hak warganegara dan system pemerintahan Negara Kesatuan Repbulik Indonesia . hak-hak warganegara untuk dapat menjalankan prinsip-prinsip demokrasi. Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat. sekolah. pemerintahan. kepribadian. diinternalisasi. dan tindakan anti korupsi Meganalisis pola-pola dan partisipasi aktif dalam pemajuan. usia. berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. kesejahteraan. dan diterapkan demi terwujudnya pelaksanaan prinsip-prinsip demokrasi serta demi peningkatan martabat kemanusian. sosiokultural. terampil. dipahami. khususnya generasi muda sebagai generasi penerus. Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship Education) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama. masyarakat. peradilan nasional. kebahagiaan. dan suku bangsa. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (KBK 2004 dan Standar Isi 2006) ditegaskan bahwa : Tujuan Pendidikan Menengah Kejuruan : Tujuan Pendidikan Menengah Kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan.

kurikulum dan lingkungan. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini. timbulnya konflik internasional. siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar. guru sebagai Pembina kegiatan belajar. Strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan peciptaan suasana yang menyenangkan sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PKn. keterbukaan dan keadilan di Indonesia Mengevaluasi hubungan Internasional dan sistem hokum internasional Mengevaluasi sikap berpolitik dan bermasyarakat madani sesuai dengan pancasila dan UUD 1945 Mengaalisis peran Indonesia dalam politik dan hubungan Internasional. sebagai landasan judul penelitian tindakan kelas ini. penulis memilih butir ketiga yaitu meganalisis pola-pola dan partisipasi aktif dalam pemajuan. Dari Standar Isi dan Standar Kompetensi tersebut diatas. Dalam hal ini penulis memilih model “pembelajaran berbasis masalah (PROBLEM BASED LEARNING) dalam meningkatkan kemampuan memecahkan masalah HAM dalam mata pelajaran PKn. Dari masalah-masalah yang dikemukakan diatas. ranah afektif maupun psikomotorik siswa. Faktor internal antara lain: motivasi belajar. baik dalam ranah kognitif. . regional dan kerjasama Global lainnya Menganalisis sistem hokum internasional. perlu dicari strategi baru dalam pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. sarana dan prasarana. seperti. kebiasan dan rasa percaya diri. konstitusi. dan mahkamah internasional. Disinilah guru dituntut untuk merancang kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan kompetensi. Banyak faktor yang menyebabkan hasil belajar PKn siswa rendah yaitu faktor internal dan eksternal dari siswa. penghormatan serta penegakan HAM baik di Indonesia maupun di luar negeri. Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu proses belajar mengajar didalam kelas dimana siswa terlebih dahulu diminta mengobservasi suatu fenomena. Pembelajaran yang mengutamakan penguasaan kompetensi harus berpusat pada siswa (Focus on Learners). membuktikan asumsi.• • • • • Menganalisis budaya politik demokrasi. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang terdapat di luar siswa. Tugas guru mengarahkan siswa untuk bertanya. Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul. kurang menekankan aspek penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat belajar PKn siswa di sekolah. setelah itu tugas guru adalah merangsang untuk berfikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. intelegensi. memberika pembelajaran dan pengalaman belajar yang relevan dan kontekstual dalam kehidupan nyata (provide relevant and contextualized subject matter) dan mengembangkan mental yang kaya dan kuat pada siswa. kedaulatan Negara. dan mendengarkan persfektif yang berbeda diantara mereka. startegi pembelajaran. Anak cenderug tidak begitu tertarik dengan pelajaran PKn karena selama ini pelajaran PKn dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata.

saat ini sudah berkembang menjadi tiga aspek PKn (Citizenship Education). Implementasiya sangat dibutuhkan guru yang profesional.Menurut E. antara lain : • • • • Kemampuan menguasai bahan ajar Kemampuan dalam mengelola kelas Kemampuan dalam menggunakan metode. yakni aspek akademis. maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut: • • • Apakah pembelajaran model Problen Based Learning dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah HAM dalam masalah PKn? Bagaimana penerapan pembelaran model Problem Based Learning di kelas dalam mata pelajaran PKn? Sejauh manakah pendekatan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa? PEMECAHAN MASALAH PKn sebagai salah satu bidang studi yang memiliki tujuan “How to Develop Better Civics Behaviours” membekali siswa untuk mengembangkan penalarannya disamping aspek nilai dan moral. Berdasarkan uraian diatas maka Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini. Mulyana Pembelajaran aktif dengan menciptakan suatu kondisi dimana siswa dapat berperan aktif. media dan sumber belajar Kemampuan untuk melakukan penilaian baik proses maupun hasil Selanjutnya UNESCO dalam Soedijarto (2004 : 10-18) mencanangkan empat pilar belajar dalam pembelajaran (termasuk model Problem Based Learning) : . aspek kurikuler dan aspek sosial budaya. PKn merupakan salah satu dari lima tradisi pendidikan IPS yakni citizenship transmission. guru yang profesional dituntut menguasai sejumlah kemampuan dan keterampilan. dirancang untuk mengkaji penerapan pembelajaran model “Problem Based Learning” dalam meningkatkan kemampuan memecahkan masalah HAM dalam mata pelajaran PKn PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut diatas. banyak memuat materi sosial. Dalam hal ini pembelajaran dengan Problem Based Learning sebagai salah satu bagian dari pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan guru disekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PKn. Pembelajaran harus dibuat dalam suatu kondisi yang menyenangkan sehingga siswa akan terus termotivasi dari awal sampai akhir kegiatan belajar mengajar (KBM). sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator. Secara akademis PKn dapat didefinisikan sebagai suatu bidang kajian yang memusatkan telaahannya pada seluruh dimensi psikologi dan sosial budaya kewarganegaraan individu dengan menggunakan ilmu politik dan pendidikan sebagai landasan kajiannya.

dari tidak mengerti menjadi mengerti.• • • • Learning to Know ( penguasaan ways of knowing or mode of inquire) Learning to do ( controlling. sehingga terjadi perubahan yang bersifat permanen dan persisten pada dirinya sebagai hasil pengalaman (Learning is a change of behaviour as a result of experience).” BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR KAJIAN TEORI Hakekat Pembelajaran PKn Pengertian belajar Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang melalui penguatan (reinforcement). Mengembangkan kualitas guru dalam mengajarkan pedidikan kewarganegaraan di Sekolah Menengah Kejuruan. megarah kepada kesmpurnaan. Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat progresif dan akumulatif. penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk : • • • • Memperbaiki proses belajar mengajar dalam pelajaran PKn di Sekolah Menengah Kejuruan. MANFAAT HASIL PENELITIAN Secara teoritis dan praktis. Memberikan alterntif kegiatan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan Menciptakan rasa senang belajar Pendidikan Kewarganegaraan selama pelajaran berlangsung dengan adanya “The Involvement of Participaton melalui Problem Based Learning. monitoring. designing. TUJUAN PENELITIAN Tujuan Penelititan Tindakan Kelas ini adalah meningkatkan kemampuan memecahkan masalah HAM dalam mata pelajaran PKn khususnya kelas X xx pada SMKN xxx sehingga pembelajaran PKn menjadi lebih menyenangkan dan menimbulkan kreatifitas. organizing) Learning to live together Learning to be Berdasarkan uraian analisis permasalahan diatas. misalnya dari tidak mampu menjadi mampu. pendekatan model Problem Based Learning apabila diterapkan di kelas akan dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah HAM dalam mata pelajaran PKn. baik mencakup aspek pengetahuan (cognitive domain). salah seorang ahli pendidikan Amerika Serikat dari aliran Behavioural Approach. maintening. demikian pendapat John Dewey. .

Learning to be adalah keberhasilan pembelajaran yang untuk mencapai tingkatan ini diperlukan dukungan keberhasilan dari pilar pertama. Learning to do adalah pembelajaran untuk mencapai kemampuan untuk melaksanakan Controlling. bekerjasama. psokoliogi dan disiplin ilmu lainnya yang digunakan sebagai landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep. Tiga pilar tersebut ditujukan bagi lahirnya siswa yang mampu mencari informasi dan menemukan ilmu pengetahua yang mampu memecahkan masalah. memiliki kemantapan emosional dan intelektual. Bila ketiganya behasil dengan memuaskan akan menumbuhkan percaya diri pada siswa sehingga menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya. antropologi. bertenggang rasa. Pengembangan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warganegara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. watak dan karakter warganegara yang demokratis dan bertanggung jawab. yang disebut emotional intelegence (kecerdasan emosi). yang dapat mengendalikan dirinya dengan konsisten. Kedua : PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik. Monitoring. bekerjasama dengan orang lain serta mengelola dan mengatasi koflik Learning to live together adalah membekali kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi. melainkan juga meliputi kemampuan berkomunikasi. yaitu suatu proses pembelajaran yang memungkinkan siswa menguasai tekhnik menemukan pengetahuan dan bukan semata-mata hanya memperoleh pengetahuan. berkepribadian mantap dan mandiri.aspek afektif (afective domain) maupun aspek psikomotorik (psychomotoric domain). Belajar dengan melakukan sesuatu dalam potensi yang kongkret tidak hanya terbatas pada kemampuan mekanistis. PKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan kecerdasan warga negara (civic intelegence) sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi. nilai dan perilaku demokrasi warganegara. dan toleransi terhadap perbedaan. Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan Ada empat pilar belajar yang dikemukakan oleh UNESCO. Designing. yaitu: ilmu politik. yaitu : • • • • Learning to Know. kedua dan ketiga. hukum. Maintening. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan Pendidikan kewarganegaraan adalah sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan. saling pengertia dan tanpa prasangka. . sosiologi. Organizing. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelajaran PKn dalam rangka “nation and character building” : • • Pertama : PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai disiplin ilmu yang releven.

Penilaian bukan semata-mata dimaksudkan sebagai alat kedali mutu tetapi juga sebagai alat untuk memberikan bantuan belajar bagi siswa sehingga lebih dapat berhasil dimasa depan. Agar hasil belajar PKn meningkat diperlukan situasi. Untuk menfasilitasi pembelajaran PKn yang efektif dikembangkan bahan pembelajaran yang interaktif yang dikemas dalam berbagai paket seperti bahan belajar tercetak. terekam. portofolio. cara dan strategi pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa secara aktif baik pikiran. guru mengutamakan proses daripada hasil. bangsa dan negara serta bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. elektronik. sikap. masyarakat. keragaman keyakinan (agama dan golongan) serta keragaman tingkat kemampuan intelektual dan emosional. bertanggung jawab bagi diri sendir. sikap serta penilaian diri.• • Ketiga : PKn sebagai suatu proses pencerdasan. Guru merancang proses belajar mengajar yang melibatkan siswa secara integratif dan komprehensif pada aspek kognitif. Adapun pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa secara totalitas adalah pembelajaran dengan Problem Based Learning. Hasil belajar PKn adalah hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajara PKn berupa seperangkat pengetahuan. pemahaman sikap dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata melalui ‘mengajar demokrasi” (teaching democracy). dan keterampilan dasar yang berguna bagi siswa untuk kehidupan sosialnya baik untuk masa kini maupun masa yang akan datang yang meliputi: keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia. dalam pembelajarannya harus menarik sehingga siswa termotivasi untuk belajar. tetapi melalui model pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup secara demokrasi (doing democracy). penglihatan. maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan partisipatif dengan menekankan pelatihan penggunaan logika dan pealaran. pendengaran. Pembelajaran dengan model Problem Based Learning adalah suatu model pembelajaran dimana sebelum proses belajar mengajar didalam kelas dimulai. KERANGKA BERPIKIR Meningkatkan hasil belajar PKn melalui model Problem Based Learning Hasil belajar adalah segala kemampuan yang dapat dicapai siswa melalui proses belajar yang berupa pemahaman dan penerapan pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi siswa dalam kehidupannya sehari-hari serta sikap dan cara berpikir kritis dan kreatif dalam rangka mewujudkan manusia yang berkualitas. siswa terlebih dahulu diminta . Hasil belajar didapat baik dari hasil tes (formatif. Keempat: kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. dan bahan belajar yang digali dari ligkungan masyarakat sebagai pengalaman langsung (hand of experience). subsumatif dan sumatif). penugasan (project). dan psikomotor dalam proses belajar mengajar. Diperlukan model pembelajara interaktif dimana guru lebih banyak memberikan peran kepada siswa sebagai subjek belajar. tersiar. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh termasuk portofolio siswa dan evaluasi diri yang lebih berbasis kelas. hasil kerja (product). unjuk kerja (performance). Melalui PKn. afektif dan psikomotorik sehingga tercapai hasil belajar. Untuk meningkatkan hasil belajar PKn.

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN . Dari uraian diatas dapat diduga bahwa pembelajaran dengan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa dibandingkan dengan pendekatan tradisional (metode ceramah). Dari pembahasan diatas dapat diduga bahwa pembelajaran dengan model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar efektif dan kreatif. bisa merefleksikan apa yang diperolehnya antara harapan dengan kenyataan sehingga peningkatan hasil belajar yang didapat bkan hanya sekedar hasil menghapal materi belaka. aktif dan kreatif. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Pendekatan dan penerapan model Problem Based Learning dalam mata pelajaran PKn Pembelajaran model Problem Based Learning berlangung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. menemukan dan mendiskusikan masalah serta mencari pemecahan masalah. Dalam pembelajaran model Problem Based Learning tugas guru mengatur strategi belajar. serta mendiskusikan permasalahan dan mencari pemecahan masalah dari permasalahan tersebut. Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan yang muncul. Pedekatan model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran efektif. tugas guru adalah merangsang untuk berpikir kritis dan kreatif dalam memecahkan masalah yang ada serta mengarahkan siswa untuk bertanya. Setelah itu. dalam status apa mereka. dan bagaimana mencapainya. membuktikan asumsi.mengobservasi suatu fenomena. dan mendengarkan perspektif yang berbeda diantara mereka. bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pngetahuan baru. belajar dari model yang sebenarnya. apa manfaatya. diaman siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya. menemukan sesuatu yang bergua bagi dirinya dan bergumul dengan ide-ide. Siswa terbiasa memecahkan masalah. Siswa megerti apa makna belajar. tetapi lebih pada kegiatan nyata (pemecahan kasus-kasus) yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran (diskusi kelompok dan diskusi kelas) HIPOTESIS TINDAKAN Dengan demikian dapat diduga bahwa: • • Pembelajaran dengan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran PKn siswa kelas X xxxx SMKN xxxxx. kerja kelompok. menemukan pengetahuan dan keterampilannya sendiri melalui proses bertanya. dan memfasilitasi belajar. Anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya.

nilai tugas seta data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa. rekaman tape recorder. catatan lapangan.dan evaluasi. Aspek yang diamati dalam setiap siklusnya adalah kegiatan atau aktifitas siswa saat mata pelajaran PKn dengan pendekatan Problem Based Learning (pembelajaran berbasis masalah) untuk melihat perubahan tingkah laku siswa. antusias siswa. kemampuan atau keberanian siswa dalam melaporkan hasil. melakukan tindakan. Waktu Penelitian Penelitian direncanakan selama 4 (empat) bulan dimulai pada pertengahan bulan xxxx sampai dengan pertengahan bulan xxxxx. catatan siswa. Penelitian dilaksanakan pada saat mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berlangsung dengan pokok bahasan “Peran Serta dalam Penghormatan dan Penegakan HAM”. dengan jumlah siswa xxx orang. Alat pengumpul data yang dipakai dalam penelitian ini antara lain : catatan guru. observasi. yakni perencanaan. yang terdiri dari xxx orang laki-laki dan xxx orang perempuan. Prosedur Penelitian Siklus I Perencanaan . wawancara. Data yang diambil adalah data kuantitatif dari hasil tes. Instrument yang dipakai berbentuk : soal tes. Metode dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (Class Action Research) yaitu suatu penelitian yang dikembangkan bersama sama untuk peneliti dan decision maker tentang variable yang dimanipulasikan dan dapat digunakan untuk melakukan perbaikan. presensi. Prosedur penelitian terdiri dari 4 tahap. observasi. Tempat Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri xxxx pada siswa kelas I xxx. Data yang terkumpul dianalisis untuk mengukur indikator keberhasilan yang sudah dirumuskan. Refleksi dalam tahap siklus dan akan berulang kembali pada siklus-siklus berikutnya.Perencanan Penelitian Desain penelitian Penelitian ini merupakan pengembangan metode dan strategi pembelajaran. untuk mengetahui tingkat kemajuan belajarnya yang akan berpengaruh terhadap hasil belajar dengan alat pengumpul data yang sudah disebutkan diatas. angket dan berbagai dokumen yang terkait dengan siswa. partisipasi dan kerjasama dalam diskusi.

Siswa mengerjakan lembar kerja siswa (LKS). Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi yang terdapat pada buku sumber. Menentukan indikator pencapaian hasil belajar. untuk digunakan pada siklus berikutnya. Menyusun lembar kerja siswa Mengembangkan format evaluasi Mengembangkan format observasi pembelajaran. (PBL). Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi. Memilih bahan pelajaran yang sesuai Menentukan scenario pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dan pembelajaran berbasis masalah. Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi yang dipelajari. Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evalusi tentang scenario pembelajaran dan lembar kerja siswa. Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar. Pengamatan • • Melakukan observasi dengan memakai format observasi yang sudah disiapkan yaitu dengan alat perekam. Siswa membaca materi yang terdapat pada buku sumber. Refleksi • • • Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi evaluasai mutu. Siswa berdiskusi membahas masalah (kasus) yang sudah dipersiapkan oleh guru. catatan anekdot untuk mengumpulkan data. dan alat Bantu yang dibutuhkan. Siklus II Perencanaan • • • Identifikasi masalah yang muncul pada siklus I dan belum teratasi dan penetapan alternative pemecahan masalah. Menlai hasil tindakan dengan menggunakan format lembar kerja siswa (LKS). Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi. bahan. Pengembangan program tindakan II.• • • • • • • • • Identifikasi masalah dan penetapan alternative pemecahan masalah. Tindakan . Tindakan • • • • • • • Menerapkan tindakan yang mengacu pada skenario pembelajaran. jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan. Mempersiapkan sumber.

Kriteria keberhasilan penelitian ini dari sisi proses dan hasil. Menilai hasil tindakan sesuai dengan format yang sudah dikembangkan. sesuai dengan alternative pemecahan maslah yang sudah ditentukan. melakukan diskusi kelompok belajar. Siswa bertanya jawab tentang gambar / foto. Siklus III (bila diperlukan). Siswa mengumpulkan bacaaan dari berbagai sumber. antara lain melalui: • • • • • • • • Guru melakukan appersepsi Siswa yang diperkenalkan dengan materi yang akan dibahas dan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Sisi proses yaitu dengan berhasilnya siswa memecahkan masalah melalui ” Pembelajaran berbasis masalah ” dengan mengadakan diskusi kelompok belajar. khususnya : • • • • • • Hak Hidup (pasal 9 UU no 39/1999) Hak Wanita (pasal 45 – 51 UU no 39/1999 ) Hak Anak (pasal 52 – 66 UU no 39/1999) HAka Berkeluarga dan Melanjutkan Ketuunan ( pasal 10 UU no. Presentasi hasil diskusi. Pengamatan (Observasi) • • Melakukan observasi sesuai dengan format yang sudah disiapkan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung.Pelaksanaan program tindakan II yang mengacu pada identifikasi masalah yang muncul pada siklus I. Refleksi • • • • Melakukan evaluasi terhadap tindakan pada siklus II berdasarkan data yang terkumpul. dimana para siswa dilatih untuk berani mengeluarkan pendapat dan / atau berbeda pendapat tentang masalah Hak Asasi Manusia. Siswa menyelesaikan tugas pada lembar kerja siswa. Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai dengan hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus III Evaluasi tindakan II Indikator keberhasilan yang dicapai pada siklus ini diharapkan mengalami kemajuan minimal 10% dari siklus I. Membahas hasil evaluasi tentang scenario pembelajaran pada siklus II. memahami materi dan menulis hasil diskusi untuk dilaporkan. Siswa mengamati gambar-gambar / foto-foto yang sesuai dengan materi. Siswa menceritakan unsure-usur Hak Asasi Manusia yang ada pada gambar. 39/1999) Hak Mengembangkan Diri (pasal 11 – 16 UU no 39/1999) Hak Memperoleh Keadilam (pasal 17 – 19 UU no 39/1999) .

meningkatkan motivasi / minat siswa. Bila 70% siswa telah berhasil . kerjasama dan partisipasi siswa semakin meningkat. permasalahan kasus-kasus bentuk-bentuk HAM dari pasal 9 uu no 39 tahun 1999 s/d pasal 66 uu no 39 tahun 1999 melalui metode Problem Based Learning.• • • • Hak Atas Kebebasan Pribadi (pasal 20 – 27 UU no 39/1999) Hak Atas Rasa Aman ( pasal 28 – 35 UU no 39/1999) Hak Atas Kesejahteraan (pasal 36 – 42 UU no 39/1999) Hak Turut Serta dalam Pemerintah (pasal 43 – 44 UU no 39/1999) Belajar PKn serasa lebih menyenagkan. maka tindakan tersebut diasumsikan sudah berhasil . serta melalui wawancara tentang sikap siswa terhadap PKn. Hal ini dapat diketahui melalui hasil pengamatan yang terekam dalam catatan anekdot dan jurnal harian.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful