1

STATUS PASIEN A. Identitas Pasien Anamesa Pribadi  Nama  Umur  Jenis Kelamin  Status Perkawinan  Agama  Pekerjaan  Alamat  Tanggal MRS  No. RM B. Anamnese Anamnese Penyakit  Keluhan Utama  Telaah : Mata kanan kabur : OS datang ke Rumah Sakit Haji Medan dengan : Nurhayati : 64 tahun : Perempuan : Menikah : Islam : Ibu Rumah Tangga : Jalan Nuri 13 No.495 P. Mandala : 13 April 2013 : 19.81.42

keluhan penglihatan kabur pada mata sebelah kanan. OS mengatakan keluhan ini sudah dialami OS ± 6 tahun yang lalu. OS juga mengeluh sering silau.Nyeri(-),Demam(-) BAK/BAB normal.  RPT  RPO  RPK C. Pemeriksaan Fisik 1. Status present Keadaan umum Tekanan darah Nadi : Compos Mentis : 110/70 mmHg : 74 x/mnt reguler :(-) :(-) :(-)

2

RR Suhu Berat Badan Tinggi Badan

: 18 x/mnt : 37,5˚C : 50 kg : 162 cm

2. Pemeriksaan Fisik Umum  B1 (Breath)  Airway  RR  SP  ST  B2 (Blood)  Akral  TD  HR  Pulse  Temp  B3 (Brain)  Sensorium  Pupil  RC : Compos mentis : Isokor kanan dan kiri, diameter 3mm : +/+ : H/M/K : 110/70 mmHg : 74 x/i, reguler : T/V = Kuat/Cukup : 37.5˚C : Clear, snoring, gurgling, crowing (-/-/-) : 18 x/i : Vesikuler : Ronkhi (-), wheezing (-),

 Riwayat kejang : -

 B4 (Bladder)  UOP  Warna  Volume  B5 (Bowel)  Abdomen  RT : Soepel, Peristaltik (+) Normal : Tidak dilakukan pemeriksaan : (+) : kuning : tidak bisa dinilai

3

 B6 (Bone) Oedem (-) 3. Pemeriksaan Fisik Khusus OD 1/300 Normal Tenang Jernih Normal Reguler, RP(+) IOL, Keruh D. Pemeriksaan Penunjang Hasil Laboratorium Tanggal 10 April 2013 Darah Rutin  HB  HT  Leukosit  Trombosit  LED E. Diagnosis  Diagnosa : Katarak Grade III OD F. Rencana Tindakan  Tindakan  Anestesi  PS-ASA : ECCE + IOL Implant OD : GA-ETT : ASA I : 15,0 g/dL : 42,7 % : 8400 /uL : 195.000 /uL : 46 mm/jam Kornea Kamera Okuli Anterior Iris/pupil Lensa Visus Palpebra Konjungtiva Jernih Normal Reguler,RP(+) IOL, Jernih OS 2/60 Normal Tenang

4

 Posisi  Pernafasan

: Supine : Dikontrol dengan ventilator O2.

G. Teknik anestesi Premedikasi  Midazolam 5 mg (0,1-0,3 mg/kgBB)
 Fentanyl 100 µg (1-3 µg/kgBB)

Induksi
 Propofol 100 mg (2-2,5 mg/kgBB)  Pre Oksigenasi  Rocuronium 50 mg (0.6-1,2 mg)  Intubasi ETT no.7  SP : kanan dan kiri, cuff (+), fiksasi  Maintenance Isoflurane 0,5-1%

 O2 : N2O = 2,5 : 2,5 L/menit BB = 50 kg VT = (8-10 ml/kgBB) = 50 x (8-10 ml)  400-500 ml MV = VT x RR = (400-500) x 14 = 5600- 7000 ml MV = FGF (Close system)
Maintenance cairan dengan RL BB = 50 kg Kebutuhan cairan per jam berdasar rumus Holiday Segar yaitu 4:2:1, (10 kg pertama BB x 4, 10 kg kedua x 2, dan x 1 setiap penambahan BB di atas 20 kg)  didapat 90 cc/jam (30 tts makro/menit).

H. Diskusi Penatalaksanaan

dokter anastesi yang bertanggung jawab mengunjungi pasien yang akan di operasi guna mengetahui kondisi terakhir pasien 2) Durante operatif  Dijumpai katarak pada mata sebelah kanan  Dilakukan ECCE dan IOL impkant pada mata sebelah kanan  Selesai  Lama Anestesi  Lama Operasi  Jumlah cairan 50 x (2) = 100 cc/ jam 32 tts/ mnt PO DO : RL 200 cc : RL 100 cc : Tidak bisa dinilai (kateter tdk terpasang) : :: 15.45 (1 jam 5 menit) : 16.10 .40 – 16.16.40 : Maintenance operasi :  Produksi Urin  Perdarahan  Kasa basah  Kasa ½ basah : 1 cc x 4 = 4 cc  Suction  EBV : (65) x BB = 65 x 50 kg = 3250  EBL (Estimated Blood Lose) 10 %  325 ml perdarahan  EBL  EBL 20%  650 ml perdarahan 30%  975 ml perdarahan :- .5 1) Pre-Operatif  Persiapan di ruangan OK telah siap malam sebelumnya. yaitu tanggal 12 April 2013  Dan pada pagi tanggal 13 April 2013.

gurgling.6 3) Post Operatif  B1 (Breath)  Airway  RR  SP  ST  SpO2  B2 (Blood)  Akral  TD  HR  Pulse  Temp  B3 (Brain)  Sensorium  Pupil  RC  B4 (Blader)  UOP  Warna  Volume  B5 (Bowel)  Abdomen : Soepel  Peristaltik : (+) Normal  B6 (Bone) Oedem (-) Perawatan pasien post operasi dilakukan di RR. serta vital sign stabil pasien : (+) : Kuning : Tidak bisa dinilai : Compos mentis : Isokor kanan dan kiri. wheezing (-) : 97-100% . snoring. crowing (-/-/-) : 18 x/i : Vesikuler : Ronkhi (-). kesadaran. setelah dipastikan pasien pulih dari anestesi dan keadaan umum. diameter 3mm : +/+ : H/M/K : 100/60 mmHg : 88 x/i : T/V = Kuat/Cukup : 37˚C : Clear.

dengan anjuran untuk bed rest. tetap diawasi vital sign selama 24 jam post operasi.7 dipindahkan ke bangsal.  Bed rest  IVFD RL 30 gtt/i makro  Asam Mefenamat oral 3 x500 mg  Amoxicillin oral 3x500 mg  Ranitidine oral 2 x150 mg  Acc pindah ruangan bila Aldrete score ≥ 9 .

2% penyebab kebutaan adalah katarak. sedangkan prevalensi kebutaan unilateral adalah 2.8 BAB I PENDAHULUAN 1. Menurut survei Depkes RI tahun 1982 pada 8 Propinsi. Katarak ialah setiap kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan lensa) lensa.1% dari seluruh penduduk. Inggris (Cataract ). Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh.2% dari seluruh penduduk. denaturasi protein lensa atau akibat keduaduanya. Sedangakan untuk negara maju sekitar 1. dan Latin (Cataracta) yang berarti air terjun.1 Latar Belakang Katarak berasal dari bahasa Yunani (Katarrhakies ). Menurut WHO di negara berkembang 1-3% penduduk mengalami kebutaaan dan 50% penyebabnya adalah katarak. Katarak kerap disebut-sebut sebagai penyebab kebutaan nomor satu di Indonesia. . prevalensi kebutaan bilateral adalah 1.

. Katarak juga dapat terjadi setelah trauma. Katarak terjadi karena faktor usia.1 Definisi Katarak Katarak termasuk golongan kebutaan yang tidak dapat dicegah tetapi dapat disembuhkan. 2. namun juga dapat terjadi pada anak-anak yang lahir dengan kondisi tersebut.2 Anatomi Lensa Anatomi lensa menurut AAO (1997-1998):Lensa berbentuk bikonveks dan transparan. sedangkan equator merupakan garis khayal yang mengelilingi lensa. Lensa merupakan struktur yang tidak memiliki pembuluh darah dan tidak memiliki pembuluh limfe.yaitu usia diatas 50 tahun. korteks dan epitel lensa. inflamasi atau penyakit lainnya. 2. Serat zonula tersebut menempel dan menyatu dengan lensa pada bagian anterior dan posterior dari kapsul lensa. Kutub anterior dan posterior lensa dihubungkan oleh garis khayal yang disebut axis.9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut. Definisi katarak menurut WHO adalah kekeruhan yang terjadi pada lensa mata. Lensa menyumbang kekuatan refraksi sebanyak 15-20 dioptri dalam penglihatan. Di dalam mata. yang menghalangi sinar masuk ke dalam mata. Kapsul ini merupakan membran dasar yang melindungi nukleus. lensa terfiksir pada serat zonula yang berasal dari badan silier.

Sel-sel tersebut juga dapatmembentuk ATP untuk memenuhi kebutuhan energi lensa. RNA. 2. 3.10 1. lalu serat baru akan terbentuk dan akanmenekan serat-serat lama untuk berkumpul di bagian tengah lensa. Epitel Lensa Tepat di belakang kapsul anterior lensa terdapat satu lapis sel-sel epitel. Kapsul ini mengandung isi lensa serta mempertahankan bentuk lensa pada saat akomodasi. Serat-serat zonula ini menyatu dengan lensa pada bagian anterior dan psterior kapsul lensa. Serat-serat yang baru akanmembentuk korteks dari lensa. Sel-sel epitel yang baru terbentuk akan menuju equator lalu berdiferensiasi menjadi serat lensa. Untuk mempertahankan kejernihannya. protein dan lipid.3 Fisiologi Lensa Fisiologi lensa menurut AAO (1997-1998):Lensa tidak memiliki pembuluh darah maupun sistem saraf. seperti sintesis DNA. Sel-sel epitel ini dapat melakukan aktivitas seperti yang dilakukan sel-sel lainnya. Nukleus dan Korteks Sel-sel berubah menjadi serat. Serat-serat paling tua yang terbentuk merupakan lensa fetus yang diproduksi pada fase embrionik dan masih menetap hingga sekarang. 4. 2. Serat Zonula Lensa terfiksir oleh serat zonula yang berasal dari lamina basal pars planadan pars plikata badan silier. .Bagian paling tebal kapsul berada di bagian anterior dan posterior zona pre-equator dan bagian paling tipis berada di bagian tengah kutub posterior. Kapsul Kapsul lensa merupakan membran dasar yang elastis dan transparan tersusun dari kolagen tipe IV yang berasal dari sel-sel epitel lensa.

Inhibisi Na+. sedangkan di luar lensa adalah sekitar 2µM. Oleh karena itu. Asam amino aktif masuk ke dalam lensa melalui pompa sodium yang berada di sel epitel. Hilangnya keseimbangan kalsium ini dapat protein menyebabkan depresi metabolisme aktivasi glukosa. Perbedaan konsentrasi kalsium ini diatur sepenuhnya oleh pompa kalsium Ca2+ -ATPase. Konsentrasi kalsium di dalam sel yang normal adalah 30µM. Na+. K+ -ATPase. 1. Setelah . sel-sel yang berada di tengah lensa membangun jalur komunikasi terhadap lingkungan luar lensa dengan membangun low-resistance gap junction antar sel. protease pembentukan high-molecular-weight dan destruktif. Sekitar 5% dari air di dalam lensa berada di ruangan ekstrasel. 2. Keseimbangan Elektrolit dan Air Dalam Lensa Lensa normal mengandung 65% air. Konsentrasi sodium di luar lensa lebih tinggi yaitu sekitar 150µM dan potasium sekitar 5µM. Akomodasi terjadi akibat perubahan lensa olehaksi badan silier terhadap serat-serat zonula. tidak langsung seperti sistem transport aktif. Akomodasi Lensa Mekanisme yang dilakukan mata untuk merubah fokus dari benda jauh kebenda dekat disebut akomodasi. Keseimbangan kalsium juga sangat penting bagi lensa. Keseimbangan elektrolit antara lingkungan dalam dan luar lensa sangat tergantung dari permeabilitas membran sel lensa dan aktivitas pompa sodium. Transpor membran dan permeabilitas sangat penting untuk kebutuhan nutrisi lensa.11 lensa harus menggunakan aqueous humor sebagai penyedia nutrisi dan sebagai tempat pembuangan produknya. dan jumlah ini tidak banyak berubah seiring bertambahnya usia. Konsentrasi sodium di dalam lensa adalah sekitar 20µM dan potasium sekitar 120µM. Namun hanya sisi anterior lensa saja yang terkena aqueous humor. K+ -ATPase dapat mengakibatkan hilangnya keseimbangan elektrolit dan meningkatnya air di dalam lensa. Glukosa memasuki lensa secara difusi terfasilitasi.

. Terdapat beberapa teori konsep penuaan sebagai berikut: . Ketika otot silier berkontraksi. dan terjadi akomodasi.4 Etiologi dan Patofisiologi Penyebab terjadinya katarak senilis hingga saat ini belum diketahui secara pasti. ketebalan axial lensa meningkat. kekakuanyang terjadi di nukleus lensa secara klinis mengurangi daya akomodasi. . . lensa lebih pipih dan kekuatan dioptri menurun. serat zonular menegang.Imunologis.Teori putaran biologik (“ A biologic clock”).Terori ” A free radical” .Jaringan embrio manusia dapat membelah diri 50 kali → mati. kekuatan dioptri meningkat. .Teori mutasi spontan. dengan bertambah usia akan bertambah cacat imunologik yangmengakibatkan kerusakan sel. Tabel 1.Saat otot silier berkontraksi. Obat-obatan yang menyebabkan relaksasi otot silier disebut cycloplegik 2.Perubahan yang terjadi pada saat akomodasi. sedangkan obat-obat parasimpatolitik (atropine) memblok akomodasi.12 umur 30 tahun. Obat-obat parasimpatomimetik (pilokarpin) memicu akomodasi. Otot silier Ketegangan serat zonular Bentuk lensa Tebal axial lensa Dioptri lensa Akomodasi Kontraksi Menurun Lebih cembung Meningkat Meningkat Tanpa Akomodasi Relaksasi Meningkat Lebih pipih Menurun Menurun Terjadinya akomodasi dipersarafi oleh saraf simpatik cabang nervus III(okulomotorius). Saat otot silier relaksasi. serat zonular relaksasi mengakibatkan lensamenjadi lebih cembung.

Terlihat bahan granular 2.13 ·Free radical terbentuk bila terjadi reaksi intermediate reaktif kuat. ·Free radical dapat dinetralisasi oleh antioksidan dan vitamin E. sinar ultraviolet lama kelamaan merubah proteinnukleus (histidin. .Lebih iregular .Epitel → makin tipis . ·Free radical dengan molekul normal mengakibatkan degenerasi.Bengakak dan fakuolisasi mitokondria yang nyata 3.Pada korteks jelas kerusakan serat sel .Mulai presbiopia.Korteks tidak berwarna karena: ·Kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi fotooksidasi.Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur.Menebal dan kurang elastis (1/4 dibanding anak) . triptofan. Kapsul . Perubahan lensa pada usia lanjut: 1. metionin. sistein dan tirosin) lensa. Serat lensa: . Ahli biokimia mengatakan terjadi pengikatan bersilang asam nukleat dan molekul protein sehingga mengganggu fungsi. sedang warnacoklet protein lensa nukleus mengandung histidin dan triptofan dibanding normal.Teori “A Cross-link”. .Sel epitel (germinatif) pada ekuator bertambah besar dan berat .Brown sclerotic nucleus. .

2.intumesen. imatur. matur dan hipermatur . Kekeruhan ini dapat menimbulkan polipia oleh karena indeks refraksi yangtidak sama pada semua bagian lensa. 2. Tabel 2. Katarak Insipien Pada katarak stadium insipien terjadi kekeruhan mulai dari tepi ekuator menuju korteks anterior dan posterior (katarak kortikal).14 ·Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda.Kekeruhan lensa dengan nukleus yang mengeras akibat usia lanjut biasanyamulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun. Pada katarak subkapsular posterior. Insipien Ringan Normal Normal Normal Normal Negatif Imatur Sebagian Bertambah Terdorong Dangkal Sempit Positif Glaukoma Matur Seluiruh Normal Normal Normal Normal Negatif Hipermatur Measif Berkurang Tremulans Dalam Terbuka Pseudopos Uveitis glaukoma + Kekeruhan Cairan lensa Iris Bilik mata depan Sudut bilik mata Iris shadow test Penyulit 1.5 Klasifikasi Katarak Senilis Katarak senilis secara klinik dikenal dalam empat stadium yaitu insipien. Katarak Intumesen. Bentuk ini kadangkadang menetap untuk waktuyang lama. Vakuol mulai terlihat didalam korteks. . celah terbentuk antara serat lensa dan korteks berisi jaringan degeneratif (benda Morgagni) pada katarak isnipien. kekeruhan mulai terlihat anterior subkapsular posterior.Perbedaan stadium katarak senilis.

sehingga uji bayangan iris negatif 5.Masuknya air ke dalam celah lensa mengakibatkan lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal dibandingdengan keadaan normal. tidak terdapat bayangan iris pada lensa yangkeruh. Masa lensa yang berdegenerasi kelur darikapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil. Pencembungan lensa ini akan dapat memberikan penyulitglaukoma. 4. Katarak Hipermatur Pada katarak stadium hipermatur terjadi proses degenerasi lanjut. Bilakatarak imatur atau intumesen tidak dikeluarkan maka cairan lensa akan keluar. Padapemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul lensa. berwarna kuning dan kering. Akan terjadi kekeruhan seluruhlensa yang bila lama akan mengakibatkan kalsifikasi lensa. yang memberikanmiopisasi. dapatmenjadi keras atau lembek dan mencair. Katarak Imatur Pada katarak senilis stadium imatur sebagian lensa keruh atau katarak yangbelum mengenai seluruh lapis lensa. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi kortekshingga lensa akan mencembung dan daya biasnya akan bertambah. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil. Kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Bilik mata depan akanberukuran kedalaman normal kembali.15 Pada katarak intumesen terjadi kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensaakibat lensa yang degeneratif menyerap air. sehingga terjadi glaukoma sekunder. 3. Pada katarak imatur akan dapat bertambahvolume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif. Katarak intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat danmengakibatkan mipopia lentikular. Kadang-kadangpengkerutan berjalan .sehingga lensa kembali pada ukuran yang normal.Pada pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat lensa. Katarak Matur Pada katarak senilis stadium matur kekeruhan telah mengenai seluruh masalensa.

hipertensi. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu. 2. Pemeriksaan laboratorium preoperasi dilakukan untuk mendeteksi adanya penyakitpenyakit yang menyertai (contoh: diabetes melitus.dan .7 Diagnosis Diagnosis katarak senilis dibuat berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. seperti terdapat kabut menghalangi objek.Pada pasien katarak sebaiknya dilakukan pemeriksaan visus untuk mengetahui kemampuan melihat pasien.6 Manifestasi Klinis Gejala katarak senilis biasanya berupa keluhan penurunan tajam penglihatansecara progresif (seperti rabun jauh memburuk secara progresif). Penyakit seperti diabetes militus dapat menyebabkan perdarahan perioperatif sehingga perlu dideteksi secara dini sehingga bisa dikontrol sebelum operasi. . Dapat terjadi penglihatan ganda pada satu mata. Penglihatan seakan-akan melihat asap/kabut dan pupil mata tampak berwarna keputihan. 2.16 terus sehingga hubungan dengan zonula Zinn menjadi kendor. 3. Penglihatan tidak jelas. Pada pemeriksaan slit lamp biasanya dijumpai keadaan palpebra. Visus pasien dengan katarak subkapsuler posterior dapat membaik dengan dilatasi pupil. 5. Apabila katarak telah mencapai stadium matur lensa akan keruh secara menyeluruh sehingga pupilakan benar-benar tampak putih. maka korteks akan memperlihatkanbentuk sebagai sekantong susu disertai dengan nukleus yang terbenam di dalamkorteks lensa karena lebih berat. 2. Memerlukan pencahayaan yang baik untuk dapat membaca. cardiac anomalies). Peka terhadap sinar atau cahaya. 4. Keadaan ini disebut sebagai katarak Morgagni.Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul yang tebal maka korteksyang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar. Gejala umum gangguan katarak meliputi: 1. konjungtiva.

Tajam penglihatandikaitkan dengan tugas sehari-hari penderita. didapatkan lensa keruh. pupil. stereoscopic fundus examination. Pada lensa pasien katarak. Extracapsular Cataract Extraction (ECCE) atau ekstraksi ekstrakapsular . pasien dapat dirawat sebagai kasus perawatan sehari dan tidak memerlukan perawatan rumah sakit. 2.17 kornea dalam keadaan normal. Lalu. Ada juga pemeriksaan-pemeriksaan lainnya seperti biomikroskopi.pemeriksaan lapang pandang dan pengukuran TIO. b. Jika keadaan sosial memungkinkan.8 Penatalaksanaan Pengobatan pada katarak adalah pembedahan. Saat ini pembedahan semakin banyak dilakukan dengan anestesi lokal daripada anestesi umum. Untuk menentukan kapan katarak dapat dibedah ditentukan oleh keadaan tajam penglihatan. Anestesi lokal diinfiltrasikan di sekitar bola mata dan kelopak mata atau diberikan secara topikal. Pembedahan Katarak Operasi katarak terdiri dari pengangkatan sebagian besar lensa dan penggantian lensa dengan implan plastik. melalui insisi limbus superior 140 hingga 160 derajat . Pengangkatan lensa Ada 2 macam pembedahan yang bisa digunakan untuk mengangkat lensa: a. yakni mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsulnya. dan COA terlihat normal. Operasi ini dapat dilakukan dengan: 1. Intracapsular Cataract Extraction (ICCE) atau ekstraksi intrakapsular Jenis pembedahan yang sudah jarang dilakukan ini adalah mengangkat lensa in toto. Pada ekstraksi ini tidak akan terjadi katarak sekunder. Iris. dilakukan pemeriksaan shadow test untuk menentukan stadium pada penyakit katarak senilis. Pembedahan ini dapat dilakukan pada zonula Zinn yang telah rapuh atau berdegenerasi dan mudah putus.

Jenis pembedahan ini sejak beberapa tahun silam telah menjadi operasi pembedahan katarak yang palijg sering dilakukan karena apabila kapsul posterior utuh. Insidensi komplikasi pasca operatif lebih kecil terjadi jika kapsul posteriornya utuh. maka lensa intraokuler dapat dimasukkan ke dalam kamera posterior. Untuk melindungi mata dari cedera. selama beberapa minggu setelah pembedahan diberikan tetes mata atau salep. Operasi katarak sering dilakukan dan biasanya aman. Fakoemulsifikasi Fakoemulsifikasi dengan irigasi atau aspirasi (atau keduanya) adalah teknik ekstrakapsular yang menggunakan getaran-getaran ultrasonik untuk mengangkat nukleus dan korteks melalui insisi limbus yang kecil (2-5 mm). Penanaman Lensa Baru Penderita yang telah menjalani pembedahan katarak biasanya akan mendapatkan lensa buatan sebagai pengganti lensa yang telah diangkat. mengurangi peradangan dan mempercepat penyembuhan. sehingga mempermudah penyembuhan luka pasca operasi 2. Setelah pembedahan jarang sekali terjadi infeksi atau perdarahan pada mata yang bisa menyebabkan gangguan penglihatan yang serius. biasanya lensa intraokular dimasukkan ke dalam kapsul lensa di dalam mata. c. Untuk mencegah infeksi . penderita sebaiknya menggunakan .18 Ekstraksi ini adalah tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dan korteks lensa dapat keluar melalui robekan tersebut. Lensa buatan ini merupakan lempengan plastik yang disebut lensa intraokular.

Gambar 1. 2007). ketika bekas insisi telah sembuh.19 kaca mata atau pelindung mata yang terbuat dari logam sampai luka pembedahan benar-benar sembuh. Karena pasien tidak dapat berakomodasi maka pasien . Pascaoperasi pasien diberikan tetes mata steroid dan antibiotik jangka pendek.Kacamata baru dapat diresepkan setelah beberapa minggu. Rehabilitasi visual dan peresepan kacamata baru dapat dilakukan lebih cepat dengan metode fakoemulsifikasi.Pembedahan katarak (Harvard Health Publications.

Dapat sembuh seiring berjalannya waktu. Hilangnya vitreous. Saat ini digunakan lensa intraokular multifokal. Prolaps iris. penempatan lukamemungkinkan koreksi astigmatisma yang telah ada sebelumnya. e. pengumpulan sel darah putih di bilik mata depan (hipopion).20 membutuhkan kacamata untuk pekerjaan jarak dekat meski tidak dibutuhkan kacamata untuk jarak jauh. Makula menjadi edema setelah pembedahan. penurunan tajam penglihatan. c. Komplikasi Pembedahan Katarak a. 2. Astigmatisma pasca operasi.dengan pasien duduk di depan slit lamp. d. Ini dilakukan sebelum melakukan pengukuran kacamata baru namun setelah luka insisi sembuh dan tetes matasteroid dihentikan. Edema makular sistoid. terutama bila disertai dengan hilangnya vitreous. Komplikasi infektif ekstraksi katarak yang serius namun jarang terjadi (<0. Jika kapsul posterior mengalami kerusakan selama operasi maka gel vitreousnya dapat masuk ke dalam bilik mata depan yang merupakan resiko terjadinya glaukoma atau traksi pada retina. Kelengkungan kornea yang berlebih dapat terjadi pada garis jahitan bila jahitan terlalu erat.3%). Selain itu.namun dapat menyebabkan penurunan tajam penglihatan yang berat. Jahitan yang longgar harus diangkatuntuk mencegah infeksi namun mungkin diperlukan jahitan kembali jikapenyembuhan lokasi insisi tidak sempurna. Pupil mengalami distorsi. . pasien datang dengan mata merah yang terasa nyeri. Endoftalmitis. Pengangkatan jahitan biasanya menyelesaikanmasalah ini dan bisa dilakukan dengan mudah di klinik dengan anastesi lokal. b. lensa intraokular yang dapat berakomodasi sedang dalam tahap pengembangan. Iris dapat mengalami protus melalui insisi bedah pada periode paska operasi dini. Fakoemulsifikasi tanpa jahitan melalui insisi yang kecil menghindarkan komplikasi ini. Mungkin diperlukan pengangkatan jahitan kornea untuk mengurangi astigmatisma kornea.

Penglihatan menjadi kabur dan mungkin didapatkan rasa silau. Penelitian yang ditujukan pada pengurangan komplikasi ini menunjukkan bahwa bahan yang digunakan untuk membuat lensa. Tingkat komplikasi ini bertambah bila terdapat kehilangan vitreous. g. bentuk tepi lensa. Opasifikasi kapsul posterior. Terdapat risiko kecil edema makular sistoid atau terlepasnya retina setelah kapsulotomiYAG. Dapat dibuat satu lubang kecil pada kapsul dengan laser( neodymium yttrum ( ndYAG) laser ) sebagai prosedur klinis rawat jalan. Ablasio retina. kejernihan kapsul posteriorberkurang pada beberapa bulan setelah pembedahan ketika sel epitel residu bermigrasi melalui permukaannya. Teknik-teknik modern dalam ekstraksi katarak dihubungkandengan rendahnya tingkat komplikasi ini. 2. Pada sekitar 20% pasien.9 Komplikasi Apabila dibiarkan katarak akan menimbulkan gangguan penglihatan dan komplikasi seperti glaukoma.21 f. uveitis dan kerusakan retina. . dan tumpang tindih lensa intraokular dengan sebagian kecil cincin kapsul anterior penting dalam mencegah opasifikasi kapsul posterior.

relaxasi otot tanpa menimbulkan resiko yang tidak diinginkan dari pasien. analgesia. kemampuan untuk merasa"). Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846.Analgesia (bebas dari nyeri) . secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. yaitu : . berasal dari bahasa Yunani an-"tidak. akan diperoleh triad (trias) anestesia.Hipnosis (tidur) . "persepsi.relaksasi otot Anestesi yang digunakan adalah anestesi umum dengan teknik perlindungan jalan nafas. Anamnesis . Penilaian dan Persiapan Praanestesia 1. Pulse oxymeter dianjurkan sebagai alat monitoring. Anestesi umum yang sempurna menghasilkan ketidaksadaran. tanpa" dan aesthētos.22 PENGERTIAN ANESTESI Anestesi (pembiusan. Anestesi Umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat irreversible. Dengan anestesi umum. Pemantauan ditujukan atas fungsi nafas dan sirkulasi.

misalnya alergi. Klasifikasi Status anestesia Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik seseoran ialah yang berasal dari The American Society of Anesthesiologist (ASA). sebaliknya pada operasi sito penundaan tidak perlu harus dihindari. Pada usia pasien diatas 40 tahun ada anjuran EKG dan foto thoraks. 4. Leher pendek dan kaku juga akan menyulitkan laringoskopi intubasi. Banyak fasilitas kesehatan yang mengharuskan uji laboratorium secara rutin walaupun pada pasien sehat untuk bedah minor. fisiologik. Praktek-praktek semacam ini harus dikaji ulang mengingat biaya yang harus dikeluarkan dan mamfaat minimal uji-uji semacam ini. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan gigi geligi. nyeri otot. karena dampak samping anestesia tidak dapat dipisahkan dari dampak samping pembedahan. 3.23 Riwayat apakah pasien pernah mendapat anesthesia sebelumnya sangatlah penting untuk mengetahui apakah ada hal-hal yang perlu mendapat perhatian khusus. 2. Kelas 3 : Pasien dengan penyakit sistemik berat. biokimia. lidah relative besar sangat penting untuk diketahui apakah akan menyulitkan tindakan laringoskopi intubasi. sehingga aktivitas rutin terbatas. sehingga dapat dirancang anesthesia berikutnya dengan lebih baik. Pemeriksaan Laboratorium Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan dugaan penyakit yang sedang dicurigai. Kebugaran untuk anesthesia Pembedahan elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk menyiapkan agar pasien dalam keadaan bugar. tindakan buka mulut. misalnya pemeriksaan darah kecil ( Hb. Kelas 1 : Pasien sehat organik. leukosit. psikiatrik. gatal-gatal atau sesak nafas pasca bedah. masa perdarahan dan masa pembekuan) dan urinalisis. . Klasifikasi fisik ini bukan alat prakiraan risiko anestesia. 5. mual-muntah. Kelas 2 : Pasien dengan penyakit sistemikringan atau sedang.

2. Masukan Oral Refleks laring mengalami penurunan selama anesthesia. Untuk meminimalkan resiko tersebut. dan bangun dari anestesi diantaranya: 1. 3. Meredakan kecemasan dan ketakutan. 5. 7. Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam. Menciptakan amnesia. semua pasien yang dijadwalkan untuk operasi elektif dengan anesthesia harus dipantangkan dari masukan oral (puasa) selama periode tertentu sebelum induksi anestesia. Kelas 5: Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan. Mengurangi isi cairan lambung. Memperlancar induksi anestesi. PREMEDIKASI Premedikasi adalah pemberian obat sebelum induksi anesthesia dengan tujuan untuk melancarkan induksi. Pada pembedahan cito atau emergency biasanya dicantumkan huruf E 6. 8.24 Kelas 4 : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukanaktivitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman kehidupan setiap saat. Regurgitasi isi lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan nafas merupakan resiko utama pada pasien yang menjalani anesthesia. air putih. Mengurangi refleks yang membahayakan Obat-obat yang sering digunakan sebagai premedikasi adalah: A. teh manis sampai 3 jam dan untuk keperluan minum obat air putih dalam jumlah terbatas diperbolehkan 1 jam sebelum induksi anestesia. Minuman bening. dan pada bayi 3-4 jam. 4. Mengurangi mual muntah pasca bedah. anak kecil 4-6 jam. 6. Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus. Obat Golongan Antikholinergik . Meminimalkan jumlah obat anestetik. rumatan.

Kemasan dan sifat fisik . saluran cerna. diberikan 5-10 sebelum induksi Kontra indikasi Alkaloid belladona ini tidak diberikan pada pasien yang menderita: demam. Mencegah bradikardi 4. otot polos dan otot jantung. korpus silliare dan kelenjar. Intramuscular. Mengurangi motalitas usus 5. glukoma dan tirotoksikasis. 2. Skopolamin Mekanisme Kerja Menghambat mekanisme kerja asetil kholin pada organ yang diinervasi oleh serabut otonom para simpatis atau serabut saraf yang mempunyai neurotransmitter asetil kolin.25 Obat golongan antikholinergik adalah obat-obatan yang berkhasiat menekan/menghambat aktivitas kholinergik atau parasimpatis. Alkaloid belladonna menghambat muskarinik secara kompetitif yang ditimbulkan oleh asetil kholin pada sel efektor organ terutama pada kelenjar eksokrin. Cara pemberian dan dosis 1. sedangkan skolopamin lebih dominan pada iris.005 mg/kg BB. Intravena.01 mg/kg BB. yang turunanny adalah. dan saluran nafas. Sulfas atropine 2. takikardi. Mencegah spasme laring dan bronkus 3. 2. Khasiat sulfas atropine lebih dominan pada otot jantung. dengan dosis 0. Tujuan utama pemberian obat golongan antikholinergik untuk premedikasi adalah: 1. usus dan bronkus. Melawan efek depresi narkotik terhadap pusat nafas. diberikan 30-45 menit sebelum induksi. Obat golongan antikholinergik yang digunakan dalam praktik anesthesia adalah preparat Alkaloid Belladona. 1. Mengurangi sekresi kelenjar: saliva. dosis 0.

Antihistamin 1. Tujuan pemberian obat golongan ini adalah untuk memberikan suasana nyaman bagi pasien prabedah. Obat Golongan Sedatif/ Trankuilizer.50 mg. cara pemberian dan dosis: 1. Untuk keperluan ini. Derivat benzodiazepine . B. Obat ini pada mulanya digunakan sebagai antihistamin. Intramuscular dosis 1 mg/kg BB dan diberikan 30-45 menit sebelum induksi 2. tidak berwarna dan larut dalam air. Derivate butirofenon 4. obat golongan sedatif/trankuilizer yang sering digunakan adalah: 1. Derivate fenothiazin Derivate fenothiazin yang banyak digunakan untuk premedikasi adalah prometazin.5 mg/kg BB diberikan 5-10 menit sebelum induksi. Tidak berwarna dan larut dalam air. sehingga pasien menjadi tidak peduli dengan lingkunganny. Obat golongan sedatif adalah obat-obat yang berkhasiat anti cemas dan menimbulkan rasa kantuk.26 Dikemas dalam bentuk ampul 1ml mengandung 0. Derivate barbiturate 5. Derivate fenothiazin 2.25 dan 0. Derivate benzodiazepine 3. dengan dosis 0. Kemasan dan sifat fisik Dikemas dalam bentuk ampul 2 ml mengandung 50 mg. 2. bebas dari rasa cemas dan takut. Intravena.

disamping itu ada kemasan suppositoria atau pipa rectal (rectal tube) yang diberikan pada anak-anak.27 Derivat benzodiazepine yang banyak digunakan untuk premedikasi adalah diazepam dan midazolam. Pemberian intramuscular kurang disenangi oleh karena menimbulkan rasa nyeri pada daerah suntikan. tetanus dan eklamsi 2. diberikan intravena 4. Induksi. nitrazepam dan oksazepam. Penggunaan lainnya adalah: 1. Sedasi pada analgesia regional. Penggunaan klinis Dalam praktik anesthesia obat ini digunakan sebagai: 1. sukar larut dalam air dan bersifat asam. Jalur vena yang dipilih sebaiknya melalui vena-vena besar untuk mencegah flebitis. Sedasi pada tindakan kardioversi dan endoskopi Pada pemberian intramuscular atau intravena. diberikan intramuscular dengan dosis 0. Kemasan oral dalam bentuk 2 mg dan 5 mg. Derivat butirofenon .2-0. obat ini tidak bias dicampur dengan obat lain karena bias terjadi presipitasi. Premedikasi. Derivat yang lain adalah klordizepoksid.6 mg/kg BB 3.2 mg/kg BB atau peroral dengan dosis 5-10 mg. Sedasi pasien rawat inap 3. 2. 3. mudah larut dalam air dan kemasan dalam ampul (3 dan 5 ml) yang mengandung 5 mg/ml. Antikejang pada kasus-kasus epilepsy. Sedangkan midazolam yang ada dipasaran adalah hanya dalam bentuk larutan tidak berwarna. Menghilangkan halusinasi pada pemberian ketamin 5. Kemasan Kemasan injeksi berbentuk larutan emulsi dalam ampul 2 ml yang mengandung 10 mg. berwarna kuning. diberikan intravena dengan dosis 0.

anelgetik narkotik atau opioid dibedakan menjadi 3 kelompok: 1. Anti hipertensi 4. C. sedangkan efek sampingnya adalah hipotensi yang sifatnya ringan. karena sering digunakan sebagai neroleptik.1 mg/kg/bb 2. dosis 0.Preparat antihistamin Obat golongan ini yang sering digunakan sebagai premedikasi adalah derivat defenhidramin. Premedikasi. Pada dosis lazim. Anti muntah 5. 5. Alkaloid opium (natural): morfin dan kodein . mengandung 2.28 Derivate ini disebut juga sebagai obat golongan neroleptika. Sebagai premedikasi diberikan intramuskular dengan dosis 2 mg/kgBB atau peroral. Penggunaan Klinik 1. Suplemen anestesia Kemasan Dalam bentuk ampul 2 ml dan 10 ml. menimbulkan depresi ringan pada respirasi dan sirkulasi.Derivat barbiturat Derivat barbiturat yang sering digunakan sebagai obat premedikasi adalah pentobarbital dan sekobarbital. terutama pada anak-anak. diberikan itramuskular. Golongan Analgetik Narkotik atau Opioid Berdasarkan struktur kimia.5 mg/ml. Derivate butiroferon yang sering digunakan sebagai obat premedikasi adalah dehidhobenzperidol tau disebut DHBP. Digunakan sebagai sedasi dan penenang prabedah. Sedasi untuk tindakan endoskopi dan analgesia regional 3. 4. antimuntah ringan dan antipiretik. Khasiat yang diharapkan adalah: sedatif. Tidak berwarna dan bisa dicampur dengan obat lain.

Morfin Sedangkan fentanil digunakan sebagai suplemen anestesia. euforia dan depresi respirasi. Morfin bekerja pada reseptor ini. rasa segar. Reseptor Mu Morfin bekerja secara agonis pada reseptor ini.sulfafentanil dan alfentanil Benzmorfans : pentazosin. Diduga meperkuat reseptor Mu. sedasi dan anestesia.29 2. 3. halusinasi. hidromorfin. Penggunaan klinik . 4. Petidin 2. Golongan narkotik yang sering digunakan sebagai obat premedikasi adalah: 1. Reseptor Delta Pada manusia peran reseptor ini belum diketahui dengan jelas. hidrokodon dan oksikodon. Stimulasi reseptor ini akan menimbulkan analgesia. Reseptor Sigma Stimulasi reseptor ini menimbulkan perasaan disforia. pupil midriasis dan stimulasi respirasi. opioid bekerja secara sentral pada reseptor-reseptor opioid yang diketahui ada 4 reseptor. yaitu: 1. oksimorfon. fentanil. Reseptor Kappa Stimulasi reseptor ini menimbulkan analgesia. fenazosin dan siklazosin Morfinans Propionanilides Tramadol : lavorvanol : metadon Sebagai analgetik. Derivat semisintetik: diasetilmorfin (heroin). 3. 2. Derivat sintetik • • • • • Fenilpiperidine : petidin.

pasien asma dan penderita penyakit hati. sedangkan fentanil 100kali dari dosis petidin. Spasme bronkus pada pasien penderita asma akibat morfin 5. Mual muntah dan hipersalivasi 7. Depresi pusat nafas sehingga pasien bisa berhenti nafas 3. Analgetik untuk pasien menderita nyeri akut/kronis. Gatal-gatal seluruh tubuh Penanggulangan efek samping ini dilakukan dengan jalan memberikan bantuan hidup dasar dan segera memberikan obat penawar. diberikan sistemik atau regional intratekal/epidural 3. Tidak boleh diberikan pada pasien yang mendapat preparat penghambat monoamin oksidase. Pupil miosis 4. Memperpanjang masa pulih anestesia 2. Efek samping atau tanda-tanda intoksikasi 1. Analgetik pada tindakan endoskopi atau diagnostik lain. Kolik abdomen akibat spasme sfinter kantung empedu 6. Suplemen anestesia atau analgesia 4. Premedikasi: petidin diberikan IM dengan dosis 1 mg/kgBB atau IV 0.30 Morfin mempunyai kekuatan 10x dibandingkan petidin. Petidin dalam bentuk ampul 2 ml yang mengandung 50 mg/ml tidak berwarna . sedangkan morfin sepersepuluh dari petidin. Suplemen sedasi dan analgetik di Unit Terapi Intensif Kontra Indikasi Pemberian narkotik harus hati-hati pada pasien orangtua atau bayi dan keadaan umum yang buruk. ini berarti bahwa dosis morfin sepersepuluh dari dosis petidin. 5. sedangkan fentanil seperseratus dari petidin.5 mg/kgBB. 2. Analgetik narkotik digunakan sebagai: 1. Kemasan 1.

sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan pembedahan. sehingga seandainya terjadi keadaan gawat dapat diatasi dengan lebih cepat dan lebih baik. Untuk persiapan induksi anesthesia sebaiknya kita ingat kata STATICS : S= Scope Stetoskop. Setelah pasien tidur akibat induksi anesthesia langsung dilanjutkan dengan pemeliharaan anesthesia sampai tindakan pembedahan selesai. Pilih sesuia usia. T= Tube A= Airway Pipa trakea.31 2. keadaan ini tidak mengenakkan pasien. pasien akan disuntik sebanyak tiga kali. tidak berwarna dan bisa dicampur dengan obat lain. Usia < 5 tahun tanpa balon ( cuffed) dan >5 tahun dengan balon (cuffed) Pipa mulut-faring (Guedel. untuk mendengarkan suara paru dan jantung . Fentanil dikemas steril dalam bentuk ampul 2 dan 10 ml tiap ml mengandung 50 µg 3. Lampu harus cukup terang. Pipa ini untuk menahan lidah saat pasien tidak sadar untuk menjaga supaya lidah tidak menyumbat jalan napas. intramuscular atau rektai. Pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan usia pasien. dan disuntikkan secara IM. . Apabila diberikan terpisah. Sebelum memulai induksianestesia selayaknya disiapkan peralatan dan obat-obatan yang diperlukan. 2. Pemberian cara ini dimaksudkan mengurangi suntikan berulang. LaringoSkop. orotracheal airway) atau pipa hidungfaring ( naso-trachealairway). Morfin dalam bentuk ampul 1 ml yang mengandung 10 atau 20 mg. ketiga jenis obat-obat premedikasi ini dicampur dalam satu spuit kecuali diazepam. Induksi anestesi dapat dikerjakan dengan secara intravena. T=Tape : Plester untuk fiksasi pipa supaya pipa tidak terdorong atau tercabut. Dalam aplikasinya.5 Induksi Anestesi Umum Induksi adalah tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar.

pada populasi umum walaupun regional anestesi dikatakan lebih aman daripada general anestesi. apalagi sudah terpasang jalur vena. Selama induksi anestesia. . Tidak satupun obat anestesi dapat memberikan efek samping yang sangat minimal. Setelah berada didalam pembuluh darah vena. Induksi intravena hendaknya dikerjakan dengan hati-hati. Selain itu batas keamanan pemakaian harus cukup lebar dengan efek samping yang sangat minimal. ludah dan lain-lainnya. Pemilihan teknik anestesi merupakan hal yang sangat penting. sehingga penentuan teknik anestesi menjadi sangat penting. baik obat yang berkhasiat hipnotik atau analgetik maupun pelumpuh otot. lembut dan terkendali. 1. pernapasan pasien. C=Connector Penyambung antara pipa dan peralatan anestesia S=Suction Penyedot lendir. nadi dan tekanan darah harus diawasi dan selau diberikan oksigen. Anestesi yang ideal akan bekerja secara cepat dan baik serta mengembalikan kesadaran dengan cepat segera sesudah pemberian dihentikan. bila diberikan secara tunggal. selanjutnya akan menuju target organ masing–masing dan akhirnya diekskresikan sesuai dengan farmakodinamiknya masing-masing. pelahan-lahan. Tidak satupun obat anestesi dapat memberikan efek yang diharapkan tanpa efek samping. karena cepat dan menyenangkan. Obat anestesi intravena adalah obat anestesi yang diberikan melalui jalur intravena. membutuhkan pertimbangan yang sangat matang dari pasien dan faktor pembedahan yang akan dilaksanakan. Induksi ini dikerjakan pada pasien yang kooperatif.32 I=Introducer Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastik (kabel) yang mudah dibengkokkan untuk pemandu supaya pipa trakea mudah dimasukkan. obat – obat ini akan diedarkan ke seluruh jaringan tubuh melalui sirkulasi umum. tetapi tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa teknik yang satu lebih baik dari yang lain. Induksi Intravena Induksi intravena paling banyak dikerjakan dan digemari.

6 – diisopropylphenol ) Merupakan derivat fenol yang banyak digunakan sebagai anastesia intravena dan lebih dikenal dengan nama dagang Diprivan. induksi anestesi seperti misalnya tiopenton yang juga digunakan sebagai pemeliharaan dan juga sebagai tambahan pada tindakan analgesia regional. obat-obat tersebut digunakan untuk premedikasi seperti diazepam dan analgetik narkotik. Penemuan obat – obat ini masih terus berlangsung sampai sekarang. namun obat anestesi intravena yang ideal belum bisa ditemukan. Jenis Obat Anesthesi Dalam perkembangan selanjutnya terdapat beberapa jenis obat – obat anestesi dan yang digunakan di indonesia hanya beberapa jenis obat saja seperti. tujuh tahun kemudian.33 Pemahaman tentang sirkulasi darah sangatlah penting sebelum obat dapat diberikan secara langsung ke dalam aliran darah. Elisabeth Brendenfeld dari Swiss melaporkan penggunaan morfin dan skopolamin secara intravena. Berikut ini akan dijelaskan lebih jauh mengenai obat – obat anestesi intravena tersebut. Sejak diperkenalkan di klinis pada tahun 1934. pertama kali menggunakan obat anestesi dietil eter untuk menghilangkan nyeri selama operasi. tahun 1846 di Boston . . Pertama kali digunakan dalam praktek anestesi pada tahun 1977 sebagai obat induksi. Thiopental menjadi “Gold Standard” dari obat – obat anestesi lainnya. Propofol ( 2. Fentanil. melakukan pembiusan dengan menggunakan kloroform dan ether melalui intravena. Di jerman tahun 1909. William Morton . Ketamin dan Propofol. A. 1. Tiopenton. Ludwig Burkhardt. berbagai jenis obat-obat hipnotik tersedia dalam bentuk intavena. Degidrobenzperidol. kedua hal tersebut yang menjadi dasar pemikiran sebelum akhirnya anestesi intravena berhasil ditemukan. Diazepam . B. Teknik Anestesi Teknik anestesia merupakan suatu teknik pembiusan dengan memasukkan obat langsung ke dalam pembuluh darah secara parenteral.

V melaui vena yang besar. Efek Samping Dapat menyebabkan nyeri selama pemberian pada 50% sampai 75%. b) Sedasi : 25 to 75 µg/kg/min dengan I.0 sampai 2. sehingga harus berada dalam lingkungan yang steril dan hindari profofol dalam kondisi sudah terbuka lebih dari 6 jam untuk mencegah kontaminasi dari bakteri. Obat ini dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonik dengan kepekatan 1 % (1 ml = 10 mg). Propofol merupakan emulsi lemak sehingga . e) Dapat dilarutkan dengan Dextrosa 5 % untuk mendapatkan konsentrasi yangminimal 0. pada pasien dewasa dan pasien anak – anak usia lebih dari 3 tahun. Dosis dan penggunaan a) Induksi : 2. berikan secara I. sedangkan pertumbuhan kuman dihambat oleh adanya asam etilendiamintetraasetat atau sulfat. Gejala mual dan muntah juga sering sekali ditemui pada pasien setelah operasi menggunakan propofol. hal tersebut sangat tergantung pada pabrik pembuat obatnya.5 mg/kg IV.2% f) Profofol mendukung perkembangan bakteri. glycerol dan minyak soybean. nyeri pada pemberian propofol dapat dihilangkan dengan menggunakan lidocain (0. Nyeri ini bisa muncul akibat iritasi pembuluh darah vena.tapi diperkirakan efek primernya berlangsung di reseptor GABA – A (Gamma Amino Butired Acid). d) Turunkan dosis pada orang tua atau gangguan hemodinamik atau apabila digabung penggunaanya dengan obat anastesi yang lain.5 mg/kg) dan jika mungkin dapat diberikan 1 sampai 2 menit dengan pemasangan torniquet pada bagian proksimal tempat suntikan. Mengandung lecitin. Mekanisme kerja Mekanisme kerjanya sampai saat ini masih kurang diketahui .34 Propofol digunakan untuk induksi dan pemeliharaan dalam anastesia umum.V infuse c) Dosis pemeliharaan pada anastesi umum : 100 – 150 µg/kg/min IV ( titrate to effect).

karena barbiturat akan menginduksi enzim d-aminoleuvulinic acid sintetase. Mekanisme kerja Barbiturat terutama bekerja pada reseptor GABA dimana barbiturat akan menyebabkan hambatan pada reseptor GABA pada sistem saraf pusat.V. Mekanisme spesifik diantaranya dengan pelepasan transmitter (presinap) dan interaksi selektif dengan reseptor (postsinap). hal ini dapat diatasi dengan pemberian heparin dan dilakukan blok regional simpatis.Ketamin Ketamine (Ketalar or Ketaject) merupakan arylcyclohexylamine yang memiliki struktur mirip dengan phencyclidine. suatu jaringan polisinap komplek dari saraf dan pusat regulasi. Barbiturat menekan transmisi neurotransmitter inhibitor seperti asam gamma aminobutirik (GABA). Dosis Dosis yang biasanya diberikan berkisar antara 3-5 mg/kg. Efek samping Efek samping yang dapat ditimbulkan seperti alergi. Pada konsentrasi klinis. sebab hal ini dapat menyebabkan terjadinya reaksi anafilaksis yang jarang terjadi. sehingga jangan memberikan obat ini kepada pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap barbiturat. yang beberapa terletak dibatang otak yang mampu mengontrol beberapa fungsi vital termasuk kesadaran. 3. barbiturat secara khusus lebih berpengaruh pada sinap saraf dari pada akson. dimana awalnya obat ini disintesis untuk menggantikan obat anestetik .35 pemberiannya harus hati – hati pada pasien dengan gangguan metabolisme lemak seperti hiperlipidemia dan pankreatitis. barbiturat menekan sistem aktivasi retikuler. barbiturat juga kontraindikasi pada pasien dengan porfiria akut. dan dapat memicu terjadinya serangan akut. Untuk menghindarkan efek negatif dari tiopental tadi sering diberikan dosis kecil dulu 50-75 mg sambil menunggu reaksi pasien. Ketamin pertama kali disintesis tahun 1962. Iritasi vena dan kerusakan jaringan akan menyebakan nyeri pada saat pemberian melalui I.

36 yang lama (phencyclidine) yang lebih sering menyebabkan halusinasi dan kejang. ilusi sensoris dan persepsi dan mimpi gembira yang mengikuti anesthesia. hipertensi .M . Efek samping . Untuk pemeliharaan dapat diberikan secara intermitten atau kontinyu.V atau 5 – 10 mg/Kgbb I. pasca anasthesi dapat menimbulkan muntah – muntah . Ketamin kurang digemari untuk induksi anastesia. Ketamin bersifat larut air sehingga dapat diberikan secara I. nyeri kepala. dosis induksi adalah 1 – 2 mg/KgBB secara I. dan sering disebut dengan emergence phenomena. Emberian secara intermitten diulang setiap 10 – 15 menitdengan dosis setengah dari dosis awal sampai operasi selesai. Mekanisme kerja Beberapa kepustakaan menyebutkan bahwa blok terhadap reseptor opiat dalam otak dan medulla spinalis yang memberikan efek analgesik. Ketalar sebagai nama dagang yang pertama kali diperkenalkan oleh Domino dan Carson tahun 1965 yang digunakan sebagai anestesi umum. karena sering menimbulkan takikardi. Obat ini pertama kali diberikan pada tentara amerika selama perang Vietnam.2 mg/KgBB dan harus dititrasi untuk mendapatkan efek yang diinginkan.M.V atau I. merupakan “rapid acting non barbiturate general anesthesia”. pandangan kabur dan mimpi buruk. untuk dosis sedatif lebih rendah yaitu 0. sedangkan interaksi terhadap reseptor metilaspartat dapat menyebakan anastesi umum dan juga efek analgesik. Dosis dan pemberian Ketamin merupakan obat yang dapat diberikan secara intramuskular apabila akses pembuluh darah sulit didapat contohnya pada anak – anak. hipersalivasi . Ketamin hidroklorida adalah golongan fenil sikloheksilamin. Ketamin juga sering menebabkan terjadinya disorientasi.

Pada pasien yang menderita penyakit sistemik penggunaanya harus dipertimbangkan seperti tekanan intrakranial yang meningkat. seperti . alfentanil. maka penggunaannya terbatas pada pasien normal saja.δ. hipertensi tirotoksikosis. Diabetes militus . Morphine. tumor otak dan operasi intrakranial. halusinasi dan mimpi buruk juga terjadi pasca operasi. efek utamanya adalah analgetik. Kontra indikasi Mengingat efek farmakodinamiknya yang relative kompleks seperti yang telah disebutkan diatas. Walaupun opioid menimbulkan sedikit efek sedasi. misalnya pada trauma kepala. Pasien yang menderita penyakit sistemik yang sensitif terhadap obat – obat simpatomimetik. Mekanisme kerja Opioid berikatan pada reseptor spesifik yang terletak pada system saraf pusat dan jaringan lain. and remifentanil merupakan golongan opioid yang sering digunakan dalam general anestesi. meperidine. tekanan intraokuler meningkat. pada otot dapat menimbulkan efek mioklonus pada otot rangka selain itu ketamin juga dapat meningkatkan tekanan intracranial. sufentanil. Opioid berbeda dalam potensi.Opioid Opioid telah digunakkan dalam penatalaksanaan nyeri selama ratusan tahun. Aktivasi reseptor opiat . Obat opium didapat dari ekstrak biji buah poppy papaverum somniferum. afinitas ikatan dan apakah reseptornya aktif.37 Dapat menyebabkan efek samping berupa peningkatan sekresi air liur pada mulut.selain itu dapat menimbulkan agitasi dan perasaan lelah . opioid lebih efektif sebagai analgesia. misalnya pada penyakit glaukoma dan pada operasi intraokuler. Pada mata dapat menyebabkan terjadinya nistagmus dan diplopia. Empat tipe mayor reseptor opioid yaitu μ. fentanyl. PJK dll.σ. dan kata “opium “ berasal dari bahasa yunani yang berarti getah. Dalam dosis yang besar opioid kadang digunakan dalam operasi kardiak. Farmakodinamik dari spesifik opioid tergantung ikatannya dengan reseptor.Ќ. farmakokinetik dan efek samping. 4. Opium mengandung lebih dari 20 alkaloid opioids.

Diazepam memiliki waktu paruh yang panjang bisa sampai 30 jam kebalikannya midazolam memiliki onset yang lebih cepat dan durasi yang lebih singkat. Induksi Inhalasi . • • • Untuk sedasi 0.2 mg/kg/ iv Untuk induksi anestesi 0. Diazepam tersedia dalam sediaan emulsi lemak (Diazemuls atau Dizac). 5. sedangakan morfin sepersepuluh dari petidin dan fentanil seperseratus dari petidin. yang tidak menyebakan nyeri atau tromboplebitis tetapi hal itu berhubungan bioaviabilitasnya yang rendah.5 mg/Kgbb.. Premedikasi petidin diberikan I.4 mg/ kg/ iv Menghilangkan halusinasi pada pemberian ketamin.5. Sementara midazolam memiliki konsentrasi plasma puncak dalam waktu 30 menit.1-0. Lorazepam (Ativan) dan Midazolam (Versed).Benzodiazepin Golongan benzodiazepine yang sering digunakan oleh anestesiologi adalah Diazepam (valium).04-0.M dengan dosis 1 mg/kgbb atau intravena 0. Dosis Dosis midazolam bervariasi tergantung dari pasien itu sendiri. diazepam dan lorazepam tidak larut dalam air dan kandungannya berupa propylene glycol.38 menghambat Dosis pelepasan presinaptik dan respon postsinaptik terhadap neurotransmitter eksitatori (seperti asetilkolin) dari neuron nosiseptif. midazolam merupakan benzodiazepin yang larut air yang tersedia dalam larutan dengan PH 3. Diazepam larut dalam lemak dan lebih cepat penetrasi ke sawar darah otak sedangkan midazolam larut dalam air dan sehingga tidak menimbulkan nyeri pada saat penyuntikan. 2 . Diazepam memiliki konsentrasi puncak dalam plasma 6-12 jam setelah pemberian.

Sayang sekali sebagian besar agen-agen anestetik yang telah disebutkan tadi telah ditarik dari pasaran. asam oksalat. halotan. etilen. dewasa ini baik metoksifluran maupun enfluran penggunaannya telah dibatasi. dan bebrapa komponen lain yang bersifat nefrotoksik. Lebih lanjut. Kloroform juga kini dihindari karena toksik terhadap jantung dan hepar. Selama anestesia. Metoksifluran dan enfluran termasuk agen anestetik generasi baru yang sempat digunakan bertahun-tahun tetapi jarang digunakan lagi karena toksisitas dan efikasinya. sebagian metoksifluran dimetabolisme oleh sitokrom P-450 menghasilkan florida bebas (F–). sevofluran masih menjadi obat induksi pilihan untuk pasien . Anestetik inhalasi paling banyak dipakai untuk induksi pada pediatri yang mana sulit dimulai dengan jalur intravena.39 Nitrous oksida (N2O). desfluran. eter juga mempunyai beberapa kerugian yang tidak disenangi para anestetis seperti berbau menyengat dan menimbulkan sekresi bronkus berlebih. eter sudah tidak digunakan secara luas karena mudah tersulut api dan berisiko mengakibatkan kerusakan hepar. dan sevofluran. isofluran. dengan zat yang terakhir cukup digemari pada saat itu karena induksinya yang singkat dan pemulihannya yang cepat tanpa disertai delirium. Sebagai contoh. Metoksifluran adalah anestetik inhalasi yang paling poten. dan siklopropan pun tidak lagi digunakan sebagai anestetik. Di samping itu. Etil klorida. kini terdapat lima agen inhalasi yang masih digunakan dalam praktik anestesi yakni nitrous oksida. etilen. Meskipun demikian. Dengan ditariknya berbagai zat anestetik dari peredaran seperti yang dikemukakan di atas. bagi pasien dewasa biasanya dokter anestesi lebih menyukai induksi cepat dengan agen intravena. dan eter adalah agen pembiusan umum pertama yang diterima secara universal. Etil klorida. enfluran mengurangi kontraksi myokardial dan meningkatkan sekresi likuor serebrospinal (CSF). kloroform. enfluran menginduksi perubahan elektroensefalograf yang dapat berprogresi pada pola spike-and-wave yang biasa ditemukan pada kejang tonik-klonik. Di sisi lain. Oleh karena itulah. baik karena toksik ataupun mudah terbakar. tetapi induksi dan pemulihannya relatif lambat. dan siklopropan kemudian menyusul. Sementara itu.

Gas ini merupakan agen anestestik inhalasi paling murah. sedangkan studi mengenai mekanisme aksi obat. serta tidak mudah terbakar dan meledak (kecuali jika dikombinasikan dengan zat anestetik yang mudah terbakar seperti eter). serta relatif lebih murah dibanding agen anestetik inhalasi lain. dan karena keamanannya hingga kini tetap digunakan di dunia. Studi mengenai kaitan antara dosis obat. akan dibahas farmakologi klinis dari masing-masing agen. konsentrasi jaringan. Botol berwarna amber dan pengawet timol berguna untuk menghambat dekomposisi oksidatif spontan. disebut farmakodinamik (bagaimana obat memengaruhi tubuh). di mana induksi dan tahapan anestesia dilalui dengan mulus. 2.40 dewasa.Halotan Merupakan alkana terhalogenisasi dengan ikatan karbon-florida sehingga bersifat tidak mudah terbakar atau meledak (meski dicampur oksigen).Isofluran Merupakan eter berhalogen yang tidak mudah terbakar. 3. Halotan berbentuk cairan tidak berwarna dan berbau enak. Halotan merupakan anestetik kuat dengan efek analgesia lemah. Nitrous Oksida (N2O) Merupakan gas yang tidak berbau. agen inhalasi juga sering digunakan dalam praktik anestesiologi untuk rumatan. termasuk respons toksik. tidak berasa. isofluran berbeda secara farmakologis dengan . lebih berat dari udara. Setelah penjelasan secara umum tentang farmakokinetik dan dinamik anestetik inhalasi. Farmakologi Klinik Anestesi Inhalasi 1. dan waktu kerja obat disebut sebagai farmakokinetik (bagaimana tubuh memengaruhi obat). Selain induksi. mengingat baunya tidak menyengat dan onsetnya segera. Gas ini dapat disimpan dalam bentuk cair dalam tekanan tertentu. bahkan pasien akan segera bangun setelah anestetik dihentikan. tidak berwarna. Memiliki struktur kimia yang mirip dengan enfluran.

41 enfluran. sehingga tidak digunakan untuk induksi. Tanda untuk mengamati kedalaman anestesia adalah penurunan tekanan darah. sehingga kelarutan desfluran lebih rendah (mendekati N2O) dengan potensi yang juga lebih rendah sehingga memberikan induksi dan pemulihan yang lebih cepat dibandingkan isofluran (5-10 menit setelah obat dihentikan. di mana umumnya digunakan barbiturat intravena untuk mempercepat induksi. sevofluran terhalogenisasi dengan fluorin. Desfluran bersifat iritatif sehingga menimbulkan batuk. serta peningkatan frekuensi denyut jantung. induksi dicapai dalam kurang dari 10 menit. bersifat absorben dan tidak korosif untuk logam. Isofluran berbau tajam. hanya saja atom klorin pada isofluran diganti oleh fluorin pada desfluran. Setelah premedikasi.Sevofluran Sama halnya dengan desfluran. pasien sudah respons terhadap rangsang verbal). Dengan struktur yang mirip isofluran. kadar obat yang tinggi dalam udara inspirasi menyebabkan pasien menahan napas dan batuk. 4. volume dan frekuensi napas.Desfluran Merupakan cairan yang mudah terbakar tapi tidak mudah meledak. spasme laring. Desfluran bersifat ¼ kali lebih poten dibanding agen anestetik inhalasi lain. Peningkatan kadar alveolar yang cepat membuatnya menajdi pilihan yang tepat untuk induksi inhalasi yang cepat dan mulus untuk pasien anak maupun dewasa. tapi 17 kali lebih poten dibanding N2O. dibutuhkan vaporiser khusus untuk desfluran. Karena sukar menguap. Desfluran lebih digunakan untuk prosedur bedah singkat atau bedah rawat jalan. Kontraindikasi dan Interaksi Obat . 5. Induksi inhalasi 4-8% sevofluran dalam 50% kombinasi N2O dan oksigen dapat dicapai dalam 1-3 menit. sesak napas.

obat ini memiliki onset yang cepat (30-60 detik) dan duration of action yang pendek (kurang dari 10 menit). sebagian besar dimetabolisme oleh pseudokolinesterase menjadi suksinilmonokolin. Ketika suksinilkolin memasuki sirkulasi. Pada beberapa orang juga ditemukan gen pseudokolinesterase abnormal yang menyebabkan blokade yang memanjang. Termasuk golongan ini adalah suksinilkolin ( diasetil-kolin) dan dekametonium. dapat meningkatkan kerja pelumpuh otot. 1. Duration of action akan memanjang pada dosis besar atau dengan metabolisme abnormal. Obat anti kolinesterase a. gagal ginjal dan beberapa terapi obat. Pengertian Obat pelumpuh otot adalah obat yang dapat digunakan selama intubasi dan pembedahan untuk memudahkan pelaksanaan anestesi dan memfasilitas intubasi. hipertermia maligna. Pelumpuh Otot Depolarisasi Pelumpuh otot depolarisasi bekerja seperti asetilkolin. Obat Pelumpuh Otot A. sehingga hanya fraksi kecil dari dosis yang dinjeksikan yang mencapai neuromuscular junction.42 Sevofluran dikontraindikasikan pada hipovolemik berat. seperti hipotermia atau rendanya level pseudokolinesterase. . leptokurare) dan nondepolarisasi (kompetitif. Didalam vena. Rendahnya level pseudokolinesterase ini ditemukan pada kehamilan. tetapi di celah sinaps tidak dirusak dengan asetilkolinesterase sehingga bertahan cukup lama menyebabkan terjadinya depolarisasi yang ditandai dengan fasikulasi yang diikuti relaksasi otot lurik. Suksinilkolin (diasetilkolin. Proses ini sangat efisien. takikurare).pseudokolinesterase menjadi suksinil-monokolin. (prostigmin) dikontraindikasikan pseudokolinesterase. dan hipertensi intrakranial. suksinil kolin karena dimetabolisme menghambat oleh kerja kolinesterase plasma. Sevofluran juga sama seperti agen anestetik inhalasi lainnya. Obat pelumpuh otot dibagi menjadi dua kelas yaitu pelumpuh otot depolarisasi (nonkompetitif. penyakit hati. suxamethonium) Suksinilkolin terdiri dari 2 molekul asetilkolin yang bergabung.

Dosis yang dapat diberikan adalah 1 mg/kg IV. a. Efek samping dari suksinilkolin adalah : • • • • • • • • 2. Mulai kerja pada menit kedua-ketiga untuk selama 30-40 menit. Dosis awal untuk relaksasi otot 0. rabdomiolisis dan cardiac arrest pada anak dengan miopati tak terdiagnosis. Memiliki efek akumulasi pada pemberian berulang sehingga dosis rumatan harus dikurangi dan selamg waktu diperpanjang. banyak dokter yang percaya bahwa suksinilkolin masih merupakan pilihan yang baik untu intubasi rutin pada dewasa. ia juga akan menghambat pseudokolinesterase. maka jumlah asetilkolin akan semakin banyak. Dosis Karena onsetnya yang cepat dan duration of action yang pendek. Selain itu.43 Interaksi obat Kolinesterase inhibitor Kolinesterase inhibitor memperpanjang fase I block pelumpuh otot depolarisasi dengan 2 mekanisme yaitu dengan menghambat kolinesterase.08 mg/kgBB intravena . Efek samping dan pertimbangan klinis Karena risiko hiperkalemia. maka depolarisasi akan meningkatkan depolarisasi. suksinilkolin masih dikontraindikasikan pada penanganan rutin anak dan remaja. Nyeri otot pasca pemberian Peningkatan tekanan intraokular Peningkatan tekakana intrakranial Peningkatan tekakanan intragastrik Peningkatan kadar kalium plasma Aritmia jantung Salivasi Alergi dan anafilaksis Obat pelumpuh otot nondepolarisasi Pavulon Pavulon merupakan steroid sintetis yang banyak digunakan.

Dosis 0. Keunggulannya adalah metabolisme terjadi di dalam darah. Efek samping dan pertimbangan klinis Histamine release pada dosis diatas 0. Infuse 5-10 mcg/kg/menit efektif menggantikan bolus. Kemasan ampul 2 ml berisi 4 mg pavulon. Dosis rumatan setengah dosis awal. Dosis Intubasi trakea 0. tidak bergantung pada fungsi hati dan ginjal.1 mg/kg setiap 10-20 menit. Drip 1 – 2 mcg/kg/menit.08 – 0. 30-60 menit untuk intubasi. disimpan dalam suhu 2-8OC. laly 0. Lebih cepat durasinya pada anak dibandingkan dewasa.44 pada dewasa. Digunakan dalam 14 hari bila terpapar suhu ruangan.5 mg/kg c.5 mg/kg iv.15 mg/kgBB intravena.12 mg/kg. potensinya hilang 5-10 % tiap bulan bila disimpan pada suhu ruangan. b. Struktur fisik Struktur fisik .25 mg/kg initial. Atracurium Atracurium mempunyai struktur benzilisoquinolin yang berasal dari tanaman Leontice Leontopeltalum. Relaksasi intraoperative 0.04 mg/kg diikuti 0.01 mg/kg setiap 15 – 20 menit. Tersedia dengan sediaan cairan 10 mg/cc. Vekuronium Vekuronium merupakan homolog pankuronium bromida yang berkekuatan lebih besar dan lama kerjanya singkat Zat anestetik ini tidak mempunyai efek akumulasi pada pemberian berulang dan tidak menyebabkan perubahan fungsi kardiovaskuler yang bermakna. tidak mempunyai efek akumulasi pada pemberian berulan Dosis 0. Dosis Dosis intubasi 0.

Tapi tidak sampai 3 – 6 menit dapat kembali sampai 1 jam. d. Dosis Potensi lebih kecil dibandingkan relaksant steroid lainnya. Rocuronium (0. Untuk drip 5 – 12 mcg/kg/menit.1 mg/kg) cepat 90 detik dan efektif untuk prekurasisasi sebelum suksinilkolin. sedangkan kerugiannya adalah terjadi gangguan fungsi hati dan efek kerja yang lebih lama. 2 mg/kg untuk anak kecil) adekuat pita suara dan paralisis diafragma untuk intubasi. Karena gangguan pada hepatic blood flow. Im ( 1 mg/kg untuk infant . Ada tendensi vagalitik. Pemilihan Pelumpuh Otot Karakteristik pelumpuh otot ideal : 1. Rokuronium Zat ini merupakan analog vekuronium dengan awal kerja lebih cepat.15 mg/kg bolus untuk rumatan. Keuntungannya adalah tidak mengganggu fungsi ginjal. Diberikan 20 detik sebelum propofol dan thiopental. 0. Sediaan 10 mg serbuk. Efek samping dan manifestasi klinis Onset cepat hampir mendekati suksinilkolin tapi harganya mahal. Dosis kecil 0.9 mg / kg iv untuk intubasi dan 0.4 mg/kg dapat pulih 25 menit setelah intubasi. Struktur Fisik . tidak mengakumulasi dan dapat diantagoniskan dengan obat tertentu 4. Dapat memanjang pada pasien orang tua.45 Umur tidak mempengaruhi dosis. Sifat tidak berubah oleh gangguan ginjal maupun hati dan metabolit tidak memiliki aksi farmakologi. Duration of action dapat diprediksi. Tidak menginduksi pengeluaran histamin 5. Onset cepat 3. Dicampur cairan sebelumnya.45 – 0. Dapat memanjang durasi pada pasien post partum. Potensi 6. Nondepolarisasi 2.

4 mg/kg) dan edrophonium (dosis 0. contoh : suxamethonium 2. Dinding perut kaku 3. Pada stabilitas gagal ginjal hemodinamika dan (contoh pada hipovolemia atau penyakit jantung parah)-vecuronium hati-atracurium.01-0. cisatracurium ataumivacurium 4. Penawar pelumpuh otot bersifat muskarinik sehingga menyebabkan hipersalivasi. Short duration. Intermediate cisatracurium 4. Antikolinesterase yang paling sering digunakan adalah neostigmin (dosis 0. rocuronium.46 Durasi pembedahan mempengaruhi pemilihan pelumpuh otot : 1. doxacurium. Ultra-short acting. Contoh: pancuronium. Long duration.03 mg/kg). piridostigmin (dosis 0. vecuronium. Miastenia gravis: jika dibutuhkan dosis 1/10 atrakurium 5. atau apabila dikontraindikasikan dapat dipakai rocuronium 2.5-1. Contoh: mivacurium 3.08 mg/kg). kejang .1-0. pipecuronium. Penawar Pelumpuh Otot Antikolinesterase bekerja dengan menghambat kolinesterase sehingga asetilkolin dapat bekerja.0 mg/kg). Cegukan (hiccup) 2. bradikardi. Untuk induksi yang cepat-suxamethonium. Contoh: atracurium. Kasus obstetric: semua dapat diberkan kecuali gallamin duration. keringatan.04-0. Untuk 3. Pelumpuh otot yang disarankan : 1. dan fisostigmin yang hanya untuk penggunaan oral (dosis 0. D-tubocurarine. Ada tahanan pada inflasi paru. vekuronium. Tanda-tanda kekurangan pelumpuh otot : 1.

yaitu usia diatas 50 tahun.3 mg pada dewasa BAB III PENUTUP 3.47 bronkus. trauma serta paparan sinar ultraviolet. matur dan hipermatur. hipermotilitas usus dan pandangan kabur sehingga pemberiannya harus disertai vagolitik seperti atropine (dosis 0. Selain ituk atarak senilis juga dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti adanya penyakit metabolisme.1 Kesimpulan Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut. Penyebab terjadinya katarak senilis ialah karena proses degeneratif.01 mg/kg sampai 0. peka terhadap sinar atau .005-0.02mg/kg) atau glikopirolat (dosis 0.2-0. Katarak senilis secara klinis dikenal dalam empat stadium. Gejala umum gangguan katarak meliputi penglihatan tidak jelas seperti terdapat kabut menghalangi objek.01-0. yaitu stadium insipien. imatur.

Apabila dibiarkan katarak akan menimbulkan gangguan penglihatan dan komplikasi seperti glaukoma. Untuk menentukan kapan katarak dapat dibedah ditentukan oleh keadaan tajam penglihatan. 2002 2. Katarak senilis tidak dapat dicegah karena penyebab terjadinya katarak senilis ialah disebabkan oleh faktor usia. Indeks. Tajam penglihatan dikaitkan dengan tugas sehari-hari penderita.48 cahaya. Clinical of Anesthesiology. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Anestesia umum http//. .Edisi kedua. 2006.scrib. Lafief SA. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Dachlan MR. Pengobatan pada katarak adalah pembedahan. FKUI. Suryadi KA. Pemberian intake antioksidan (seperti asam vitamin A. mencegah paparan langsung terhadap sinar ultraviolet dengan menggunakan kaca mata gelap dan sebagainya.www. namun dapat dilakukan pencegahan terhadap hal-hal yang memperberat seperti mengontrol penyakit metabolik. C dan E) secara teori bermanfaat.2010 3. Apabila pada proses pematangan katarak dilakukan penanganan yang tepat sehingga tidak menimbulkan komplikasi serta dilakukan tindakan pembedahan pada saat yang tepat maka prognosis pada katarak senilis umumnya baik. dapat terjadi penglihatan ganda pada satu mata memerlukan pencahayaan yang baik untuk dapat membaca.com diakses 27 januari 2013 4. lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu. Mangku G. Senapathi TGA. 4th Edition. uveitis dan kerusakan retina. Morgan GE. DAFTAR PUSTAKA 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful