P. 1
Lapkas Katarak I

Lapkas Katarak I

|Views: 128|Likes:
Published by whitecleck7676
katarak
katarak

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: whitecleck7676 on Jun 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/30/2014

pdf

text

original

Sections

  • STATUS PASIEN
  • A.Identitas Pasien Anamesa Pribadi
  • B.Anamnese Anamnese Penyakit
  • C.Pemeriksaan Fisik 1.Status present
  • 2.Pemeriksaan Fisik Umum
  • 3.Pemeriksaan Fisik Khusus
  • D.Pemeriksaan Penunjang
  • E.Diagnosis
  • F.Rencana Tindakan
  • G.Teknik anestesi Premedikasi
  • Induksi
  • 3)Post Operatif
  • BAB I
  • PENDAHULUAN
  • 1.1Latar Belakang
  • BAB II
  • TINJAUAN PUSTAKA
  • 2.1Definisi Katarak
  • 2.2Anatomi Lensa
  • 2.3Fisiologi Lensa
  • Tabel 1.Perubahan yang terjadi pada saat akomodasi
  • Akomodasi Tanpa Akomodasi
  • 2.4Etiologi dan Patofisiologi
  • 2.5Klasifikasi Katarak Senilis
  • Tabel 2.Perbedaan stadium katarak senilis
  • Insipien Imatur Matur Hipermatur
  • 2.6Manifestasi Klinis
  • 2.7Diagnosis
  • 2.8Penatalaksanaan
  • 2.9Komplikasi
  • PENGERTIAN ANESTESI
  • Penilaian dan Persiapan Praanestesia
  • PREMEDIKASI
  • A. Obat Golongan Antikholinergik
  • Mekanisme Kerja
  • Cara pemberian dan dosis
  • Kontra indikasi
  • B. Obat Golongan Sedatif/ Trankuilizer,
  • 1.Derivate fenothiazin
  • cara pemberian dan dosis:
  • Kemasan dan sifat fisik
  • Penggunaan klinis
  • Penggunaan Klinik
  • 4.Derivat barbiturat
  • 5.Preparat antihistamin
  • C. Golongan Analgetik Narkotik atau Opioid
  • Kontra Indikasi
  • Kemasan
  • 2.5 Induksi Anestesi Umum
  • 1.Induksi Intravena
  • A. Teknik Anestesi
  • B. Jenis Obat Anesthesi
  • 1. Propofol ( 2,6 – diisopropylphenol )
  • Mekanisme kerja
  • Dosis dan penggunaan
  • Efek Samping
  • Dosis
  • Efek samping
  • 3.Ketamin
  • Dosis dan pemberian
  • 4.Opioid
  • 5.Benzodiazepin
  • Farmakologi Klinik Anestesi Inhalasi
  • 1. Nitrous Oksida (N2O)
  • 2.Halotan
  • 3.Isofluran
  • 4.Desfluran
  • 5.Sevofluran
  • Obat Pelumpuh Otot A. Pengertian
  • 1. Pelumpuh Otot Depolarisasi
  • Interaksi obat Kolinesterase inhibitor
  • Efek samping dan pertimbangan klinis
  • 2. Obat pelumpuh otot nondepolarisasi a. Pavulon
  • Efek samping dan manifestasi klinis
  • Pemilihan Pelumpuh Otot
  • Penawar Pelumpuh Otot
  • BAB III
  • PENUTUP
  • 3.1Kesimpulan
  • DAFTAR PUSTAKA

1

STATUS PASIEN A. Identitas Pasien Anamesa Pribadi  Nama  Umur  Jenis Kelamin  Status Perkawinan  Agama  Pekerjaan  Alamat  Tanggal MRS  No. RM B. Anamnese Anamnese Penyakit  Keluhan Utama  Telaah : Mata kanan kabur : OS datang ke Rumah Sakit Haji Medan dengan : Nurhayati : 64 tahun : Perempuan : Menikah : Islam : Ibu Rumah Tangga : Jalan Nuri 13 No.495 P. Mandala : 13 April 2013 : 19.81.42

keluhan penglihatan kabur pada mata sebelah kanan. OS mengatakan keluhan ini sudah dialami OS ± 6 tahun yang lalu. OS juga mengeluh sering silau.Nyeri(-),Demam(-) BAK/BAB normal.  RPT  RPO  RPK C. Pemeriksaan Fisik 1. Status present Keadaan umum Tekanan darah Nadi : Compos Mentis : 110/70 mmHg : 74 x/mnt reguler :(-) :(-) :(-)

2

RR Suhu Berat Badan Tinggi Badan

: 18 x/mnt : 37,5˚C : 50 kg : 162 cm

2. Pemeriksaan Fisik Umum  B1 (Breath)  Airway  RR  SP  ST  B2 (Blood)  Akral  TD  HR  Pulse  Temp  B3 (Brain)  Sensorium  Pupil  RC : Compos mentis : Isokor kanan dan kiri, diameter 3mm : +/+ : H/M/K : 110/70 mmHg : 74 x/i, reguler : T/V = Kuat/Cukup : 37.5˚C : Clear, snoring, gurgling, crowing (-/-/-) : 18 x/i : Vesikuler : Ronkhi (-), wheezing (-),

 Riwayat kejang : -

 B4 (Bladder)  UOP  Warna  Volume  B5 (Bowel)  Abdomen  RT : Soepel, Peristaltik (+) Normal : Tidak dilakukan pemeriksaan : (+) : kuning : tidak bisa dinilai

3

 B6 (Bone) Oedem (-) 3. Pemeriksaan Fisik Khusus OD 1/300 Normal Tenang Jernih Normal Reguler, RP(+) IOL, Keruh D. Pemeriksaan Penunjang Hasil Laboratorium Tanggal 10 April 2013 Darah Rutin  HB  HT  Leukosit  Trombosit  LED E. Diagnosis  Diagnosa : Katarak Grade III OD F. Rencana Tindakan  Tindakan  Anestesi  PS-ASA : ECCE + IOL Implant OD : GA-ETT : ASA I : 15,0 g/dL : 42,7 % : 8400 /uL : 195.000 /uL : 46 mm/jam Kornea Kamera Okuli Anterior Iris/pupil Lensa Visus Palpebra Konjungtiva Jernih Normal Reguler,RP(+) IOL, Jernih OS 2/60 Normal Tenang

4

 Posisi  Pernafasan

: Supine : Dikontrol dengan ventilator O2.

G. Teknik anestesi Premedikasi  Midazolam 5 mg (0,1-0,3 mg/kgBB)
 Fentanyl 100 µg (1-3 µg/kgBB)

Induksi
 Propofol 100 mg (2-2,5 mg/kgBB)  Pre Oksigenasi  Rocuronium 50 mg (0.6-1,2 mg)  Intubasi ETT no.7  SP : kanan dan kiri, cuff (+), fiksasi  Maintenance Isoflurane 0,5-1%

 O2 : N2O = 2,5 : 2,5 L/menit BB = 50 kg VT = (8-10 ml/kgBB) = 50 x (8-10 ml)  400-500 ml MV = VT x RR = (400-500) x 14 = 5600- 7000 ml MV = FGF (Close system)
Maintenance cairan dengan RL BB = 50 kg Kebutuhan cairan per jam berdasar rumus Holiday Segar yaitu 4:2:1, (10 kg pertama BB x 4, 10 kg kedua x 2, dan x 1 setiap penambahan BB di atas 20 kg)  didapat 90 cc/jam (30 tts makro/menit).

H. Diskusi Penatalaksanaan

40 – 16. yaitu tanggal 12 April 2013  Dan pada pagi tanggal 13 April 2013.45 (1 jam 5 menit) : 16.5 1) Pre-Operatif  Persiapan di ruangan OK telah siap malam sebelumnya. dokter anastesi yang bertanggung jawab mengunjungi pasien yang akan di operasi guna mengetahui kondisi terakhir pasien 2) Durante operatif  Dijumpai katarak pada mata sebelah kanan  Dilakukan ECCE dan IOL impkant pada mata sebelah kanan  Selesai  Lama Anestesi  Lama Operasi  Jumlah cairan 50 x (2) = 100 cc/ jam 32 tts/ mnt PO DO : RL 200 cc : RL 100 cc : Tidak bisa dinilai (kateter tdk terpasang) : :: 15.16.40 : Maintenance operasi :  Produksi Urin  Perdarahan  Kasa basah  Kasa ½ basah : 1 cc x 4 = 4 cc  Suction  EBV : (65) x BB = 65 x 50 kg = 3250  EBL (Estimated Blood Lose) 10 %  325 ml perdarahan  EBL  EBL 20%  650 ml perdarahan 30%  975 ml perdarahan :- .10 .

snoring. diameter 3mm : +/+ : H/M/K : 100/60 mmHg : 88 x/i : T/V = Kuat/Cukup : 37˚C : Clear. wheezing (-) : 97-100% . serta vital sign stabil pasien : (+) : Kuning : Tidak bisa dinilai : Compos mentis : Isokor kanan dan kiri. crowing (-/-/-) : 18 x/i : Vesikuler : Ronkhi (-). kesadaran. setelah dipastikan pasien pulih dari anestesi dan keadaan umum. gurgling.6 3) Post Operatif  B1 (Breath)  Airway  RR  SP  ST  SpO2  B2 (Blood)  Akral  TD  HR  Pulse  Temp  B3 (Brain)  Sensorium  Pupil  RC  B4 (Blader)  UOP  Warna  Volume  B5 (Bowel)  Abdomen : Soepel  Peristaltik : (+) Normal  B6 (Bone) Oedem (-) Perawatan pasien post operasi dilakukan di RR.

 Bed rest  IVFD RL 30 gtt/i makro  Asam Mefenamat oral 3 x500 mg  Amoxicillin oral 3x500 mg  Ranitidine oral 2 x150 mg  Acc pindah ruangan bila Aldrete score ≥ 9 . tetap diawasi vital sign selama 24 jam post operasi.7 dipindahkan ke bangsal. dengan anjuran untuk bed rest.

denaturasi protein lensa atau akibat keduaduanya. .1% dari seluruh penduduk. Katarak kerap disebut-sebut sebagai penyebab kebutaan nomor satu di Indonesia.2% dari seluruh penduduk.2% penyebab kebutaan adalah katarak. sedangkan prevalensi kebutaan unilateral adalah 2. dan Latin (Cataracta) yang berarti air terjun. Sedangakan untuk negara maju sekitar 1. Menurut survei Depkes RI tahun 1982 pada 8 Propinsi. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh.1 Latar Belakang Katarak berasal dari bahasa Yunani (Katarrhakies ). prevalensi kebutaan bilateral adalah 1. Katarak ialah setiap kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan lensa) lensa.8 BAB I PENDAHULUAN 1. Inggris (Cataract ). Menurut WHO di negara berkembang 1-3% penduduk mengalami kebutaaan dan 50% penyebabnya adalah katarak.

namun juga dapat terjadi pada anak-anak yang lahir dengan kondisi tersebut.9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA. korteks dan epitel lensa. inflamasi atau penyakit lainnya. . Katarak terjadi karena faktor usia. Lensa menyumbang kekuatan refraksi sebanyak 15-20 dioptri dalam penglihatan. sedangkan equator merupakan garis khayal yang mengelilingi lensa. Definisi katarak menurut WHO adalah kekeruhan yang terjadi pada lensa mata.yaitu usia diatas 50 tahun.2 Anatomi Lensa Anatomi lensa menurut AAO (1997-1998):Lensa berbentuk bikonveks dan transparan. lensa terfiksir pada serat zonula yang berasal dari badan silier. Katarak juga dapat terjadi setelah trauma. 2. Serat zonula tersebut menempel dan menyatu dengan lensa pada bagian anterior dan posterior dari kapsul lensa. Lensa merupakan struktur yang tidak memiliki pembuluh darah dan tidak memiliki pembuluh limfe. 2. Kapsul ini merupakan membran dasar yang melindungi nukleus. Kutub anterior dan posterior lensa dihubungkan oleh garis khayal yang disebut axis.1 Definisi Katarak Katarak termasuk golongan kebutaan yang tidak dapat dicegah tetapi dapat disembuhkan. Di dalam mata. Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut. yang menghalangi sinar masuk ke dalam mata.

Untuk mempertahankan kejernihannya. lalu serat baru akan terbentuk dan akanmenekan serat-serat lama untuk berkumpul di bagian tengah lensa. Serat-serat paling tua yang terbentuk merupakan lensa fetus yang diproduksi pada fase embrionik dan masih menetap hingga sekarang. Serat-serat zonula ini menyatu dengan lensa pada bagian anterior dan psterior kapsul lensa. 3. . 4. RNA. protein dan lipid.Bagian paling tebal kapsul berada di bagian anterior dan posterior zona pre-equator dan bagian paling tipis berada di bagian tengah kutub posterior. Kapsul ini mengandung isi lensa serta mempertahankan bentuk lensa pada saat akomodasi. Sel-sel epitel ini dapat melakukan aktivitas seperti yang dilakukan sel-sel lainnya. seperti sintesis DNA. Epitel Lensa Tepat di belakang kapsul anterior lensa terdapat satu lapis sel-sel epitel.10 1. Nukleus dan Korteks Sel-sel berubah menjadi serat. Sel-sel epitel yang baru terbentuk akan menuju equator lalu berdiferensiasi menjadi serat lensa. Serat Zonula Lensa terfiksir oleh serat zonula yang berasal dari lamina basal pars planadan pars plikata badan silier. 2. Sel-sel tersebut juga dapatmembentuk ATP untuk memenuhi kebutuhan energi lensa. Serat-serat yang baru akanmembentuk korteks dari lensa. 2. Kapsul Kapsul lensa merupakan membran dasar yang elastis dan transparan tersusun dari kolagen tipe IV yang berasal dari sel-sel epitel lensa.3 Fisiologi Lensa Fisiologi lensa menurut AAO (1997-1998):Lensa tidak memiliki pembuluh darah maupun sistem saraf.

Glukosa memasuki lensa secara difusi terfasilitasi. Namun hanya sisi anterior lensa saja yang terkena aqueous humor. Transpor membran dan permeabilitas sangat penting untuk kebutuhan nutrisi lensa. Konsentrasi kalsium di dalam sel yang normal adalah 30µM. Konsentrasi sodium di dalam lensa adalah sekitar 20µM dan potasium sekitar 120µM. Oleh karena itu.11 lensa harus menggunakan aqueous humor sebagai penyedia nutrisi dan sebagai tempat pembuangan produknya. Asam amino aktif masuk ke dalam lensa melalui pompa sodium yang berada di sel epitel. Akomodasi terjadi akibat perubahan lensa olehaksi badan silier terhadap serat-serat zonula. sedangkan di luar lensa adalah sekitar 2µM. protease pembentukan high-molecular-weight dan destruktif. Keseimbangan Elektrolit dan Air Dalam Lensa Lensa normal mengandung 65% air. Hilangnya keseimbangan kalsium ini dapat protein menyebabkan depresi metabolisme aktivasi glukosa. Perbedaan konsentrasi kalsium ini diatur sepenuhnya oleh pompa kalsium Ca2+ -ATPase. Keseimbangan elektrolit antara lingkungan dalam dan luar lensa sangat tergantung dari permeabilitas membran sel lensa dan aktivitas pompa sodium. Keseimbangan kalsium juga sangat penting bagi lensa. Akomodasi Lensa Mekanisme yang dilakukan mata untuk merubah fokus dari benda jauh kebenda dekat disebut akomodasi. K+ -ATPase dapat mengakibatkan hilangnya keseimbangan elektrolit dan meningkatnya air di dalam lensa. sel-sel yang berada di tengah lensa membangun jalur komunikasi terhadap lingkungan luar lensa dengan membangun low-resistance gap junction antar sel. Inhibisi Na+. 1. tidak langsung seperti sistem transport aktif. Konsentrasi sodium di luar lensa lebih tinggi yaitu sekitar 150µM dan potasium sekitar 5µM. Setelah . dan jumlah ini tidak banyak berubah seiring bertambahnya usia. Na+. K+ -ATPase. Sekitar 5% dari air di dalam lensa berada di ruangan ekstrasel. 2.

. . dengan bertambah usia akan bertambah cacat imunologik yangmengakibatkan kerusakan sel.Saat otot silier berkontraksi. Obat-obat parasimpatomimetik (pilokarpin) memicu akomodasi. Obat-obatan yang menyebabkan relaksasi otot silier disebut cycloplegik 2. serat zonular relaksasi mengakibatkan lensamenjadi lebih cembung.Teori putaran biologik (“ A biologic clock”). . Otot silier Ketegangan serat zonular Bentuk lensa Tebal axial lensa Dioptri lensa Akomodasi Kontraksi Menurun Lebih cembung Meningkat Meningkat Tanpa Akomodasi Relaksasi Meningkat Lebih pipih Menurun Menurun Terjadinya akomodasi dipersarafi oleh saraf simpatik cabang nervus III(okulomotorius). serat zonular menegang.4 Etiologi dan Patofisiologi Penyebab terjadinya katarak senilis hingga saat ini belum diketahui secara pasti. kekuatan dioptri meningkat.Terori ” A free radical” . ketebalan axial lensa meningkat.Perubahan yang terjadi pada saat akomodasi. kekakuanyang terjadi di nukleus lensa secara klinis mengurangi daya akomodasi.Imunologis.12 umur 30 tahun. sedangkan obat-obat parasimpatolitik (atropine) memblok akomodasi. Saat otot silier relaksasi. Terdapat beberapa teori konsep penuaan sebagai berikut: . Tabel 1. dan terjadi akomodasi. .Teori mutasi spontan. lensa lebih pipih dan kekuatan dioptri menurun.Jaringan embrio manusia dapat membelah diri 50 kali → mati. Ketika otot silier berkontraksi.

.Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur.Terlihat bahan granular 2.Epitel → makin tipis . triptofan.Brown sclerotic nucleus. Ahli biokimia mengatakan terjadi pengikatan bersilang asam nukleat dan molekul protein sehingga mengganggu fungsi. Kapsul .Bengakak dan fakuolisasi mitokondria yang nyata 3. .Pada korteks jelas kerusakan serat sel .Lebih iregular . . ·Free radical dapat dinetralisasi oleh antioksidan dan vitamin E. metionin. ·Free radical dengan molekul normal mengakibatkan degenerasi. Serat lensa: . sedang warnacoklet protein lensa nukleus mengandung histidin dan triptofan dibanding normal. sinar ultraviolet lama kelamaan merubah proteinnukleus (histidin.Menebal dan kurang elastis (1/4 dibanding anak) .Korteks tidak berwarna karena: ·Kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi fotooksidasi. sistein dan tirosin) lensa. Perubahan lensa pada usia lanjut: 1.13 ·Free radical terbentuk bila terjadi reaksi intermediate reaktif kuat.Mulai presbiopia.Sel epitel (germinatif) pada ekuator bertambah besar dan berat .Teori “A Cross-link”.

14 ·Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda. celah terbentuk antara serat lensa dan korteks berisi jaringan degeneratif (benda Morgagni) pada katarak isnipien. Tabel 2. 2.5 Klasifikasi Katarak Senilis Katarak senilis secara klinik dikenal dalam empat stadium yaitu insipien. kekeruhan mulai terlihat anterior subkapsular posterior.Perbedaan stadium katarak senilis. Katarak Intumesen. Bentuk ini kadangkadang menetap untuk waktuyang lama.Kekeruhan lensa dengan nukleus yang mengeras akibat usia lanjut biasanyamulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun. imatur. . Insipien Ringan Normal Normal Normal Normal Negatif Imatur Sebagian Bertambah Terdorong Dangkal Sempit Positif Glaukoma Matur Seluiruh Normal Normal Normal Normal Negatif Hipermatur Measif Berkurang Tremulans Dalam Terbuka Pseudopos Uveitis glaukoma + Kekeruhan Cairan lensa Iris Bilik mata depan Sudut bilik mata Iris shadow test Penyulit 1. Pada katarak subkapsular posterior. Vakuol mulai terlihat didalam korteks.intumesen. 2. Kekeruhan ini dapat menimbulkan polipia oleh karena indeks refraksi yangtidak sama pada semua bagian lensa. Katarak Insipien Pada katarak stadium insipien terjadi kekeruhan mulai dari tepi ekuator menuju korteks anterior dan posterior (katarak kortikal). matur dan hipermatur .

Katarak intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat danmengakibatkan mipopia lentikular.Pada pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat lensa. Kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Katarak Imatur Pada katarak senilis stadium imatur sebagian lensa keruh atau katarak yangbelum mengenai seluruh lapis lensa. Masa lensa yang berdegenerasi kelur darikapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil. Padapemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul lensa. 4. yang memberikanmiopisasi. dapatmenjadi keras atau lembek dan mencair. Katarak Matur Pada katarak senilis stadium matur kekeruhan telah mengenai seluruh masalensa. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil. berwarna kuning dan kering. Akan terjadi kekeruhan seluruhlensa yang bila lama akan mengakibatkan kalsifikasi lensa. Bilakatarak imatur atau intumesen tidak dikeluarkan maka cairan lensa akan keluar.15 Pada katarak intumesen terjadi kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensaakibat lensa yang degeneratif menyerap air. sehingga uji bayangan iris negatif 5. Kadang-kadangpengkerutan berjalan .Masuknya air ke dalam celah lensa mengakibatkan lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal dibandingdengan keadaan normal. Katarak Hipermatur Pada katarak stadium hipermatur terjadi proses degenerasi lanjut. Pada katarak imatur akan dapat bertambahvolume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif. 3. Pencembungan lensa ini akan dapat memberikan penyulitglaukoma. sehingga terjadi glaukoma sekunder. tidak terdapat bayangan iris pada lensa yangkeruh.sehingga lensa kembali pada ukuran yang normal. Bilik mata depan akanberukuran kedalaman normal kembali. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi kortekshingga lensa akan mencembung dan daya biasnya akan bertambah.

seperti terdapat kabut menghalangi objek.dan .Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul yang tebal maka korteksyang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar. Penglihatan tidak jelas. Memerlukan pencahayaan yang baik untuk dapat membaca. 4. Penyakit seperti diabetes militus dapat menyebabkan perdarahan perioperatif sehingga perlu dideteksi secara dini sehingga bisa dikontrol sebelum operasi. . 3. Visus pasien dengan katarak subkapsuler posterior dapat membaik dengan dilatasi pupil. cardiac anomalies). Pemeriksaan laboratorium preoperasi dilakukan untuk mendeteksi adanya penyakitpenyakit yang menyertai (contoh: diabetes melitus. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu. hipertensi. 2.6 Manifestasi Klinis Gejala katarak senilis biasanya berupa keluhan penurunan tajam penglihatansecara progresif (seperti rabun jauh memburuk secara progresif). Dapat terjadi penglihatan ganda pada satu mata. 2. Keadaan ini disebut sebagai katarak Morgagni.7 Diagnosis Diagnosis katarak senilis dibuat berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. maka korteks akan memperlihatkanbentuk sebagai sekantong susu disertai dengan nukleus yang terbenam di dalamkorteks lensa karena lebih berat. konjungtiva.16 terus sehingga hubungan dengan zonula Zinn menjadi kendor. 2. Pada pemeriksaan slit lamp biasanya dijumpai keadaan palpebra. Peka terhadap sinar atau cahaya. Gejala umum gangguan katarak meliputi: 1. 5. Penglihatan seakan-akan melihat asap/kabut dan pupil mata tampak berwarna keputihan.Pada pasien katarak sebaiknya dilakukan pemeriksaan visus untuk mengetahui kemampuan melihat pasien. Apabila katarak telah mencapai stadium matur lensa akan keruh secara menyeluruh sehingga pupilakan benar-benar tampak putih.

Ada juga pemeriksaan-pemeriksaan lainnya seperti biomikroskopi. Jika keadaan sosial memungkinkan. Pada lensa pasien katarak. stereoscopic fundus examination. didapatkan lensa keruh. Iris. Pada ekstraksi ini tidak akan terjadi katarak sekunder. Untuk menentukan kapan katarak dapat dibedah ditentukan oleh keadaan tajam penglihatan. pupil. Operasi ini dapat dilakukan dengan: 1. Lalu. 2. dilakukan pemeriksaan shadow test untuk menentukan stadium pada penyakit katarak senilis. yakni mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsulnya.17 kornea dalam keadaan normal. Extracapsular Cataract Extraction (ECCE) atau ekstraksi ekstrakapsular .8 Penatalaksanaan Pengobatan pada katarak adalah pembedahan. Tajam penglihatandikaitkan dengan tugas sehari-hari penderita. Pengangkatan lensa Ada 2 macam pembedahan yang bisa digunakan untuk mengangkat lensa: a. pasien dapat dirawat sebagai kasus perawatan sehari dan tidak memerlukan perawatan rumah sakit. melalui insisi limbus superior 140 hingga 160 derajat . dan COA terlihat normal. Pembedahan Katarak Operasi katarak terdiri dari pengangkatan sebagian besar lensa dan penggantian lensa dengan implan plastik. b. Anestesi lokal diinfiltrasikan di sekitar bola mata dan kelopak mata atau diberikan secara topikal. Pembedahan ini dapat dilakukan pada zonula Zinn yang telah rapuh atau berdegenerasi dan mudah putus.pemeriksaan lapang pandang dan pengukuran TIO. Saat ini pembedahan semakin banyak dilakukan dengan anestesi lokal daripada anestesi umum. Intracapsular Cataract Extraction (ICCE) atau ekstraksi intrakapsular Jenis pembedahan yang sudah jarang dilakukan ini adalah mengangkat lensa in toto.

maka lensa intraokuler dapat dimasukkan ke dalam kamera posterior. c. Jenis pembedahan ini sejak beberapa tahun silam telah menjadi operasi pembedahan katarak yang palijg sering dilakukan karena apabila kapsul posterior utuh. Untuk mencegah infeksi . selama beberapa minggu setelah pembedahan diberikan tetes mata atau salep. Fakoemulsifikasi Fakoemulsifikasi dengan irigasi atau aspirasi (atau keduanya) adalah teknik ekstrakapsular yang menggunakan getaran-getaran ultrasonik untuk mengangkat nukleus dan korteks melalui insisi limbus yang kecil (2-5 mm). Operasi katarak sering dilakukan dan biasanya aman. Untuk melindungi mata dari cedera. Penanaman Lensa Baru Penderita yang telah menjalani pembedahan katarak biasanya akan mendapatkan lensa buatan sebagai pengganti lensa yang telah diangkat. sehingga mempermudah penyembuhan luka pasca operasi 2. Setelah pembedahan jarang sekali terjadi infeksi atau perdarahan pada mata yang bisa menyebabkan gangguan penglihatan yang serius. Lensa buatan ini merupakan lempengan plastik yang disebut lensa intraokular. mengurangi peradangan dan mempercepat penyembuhan. Insidensi komplikasi pasca operatif lebih kecil terjadi jika kapsul posteriornya utuh.18 Ekstraksi ini adalah tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dan korteks lensa dapat keluar melalui robekan tersebut. biasanya lensa intraokular dimasukkan ke dalam kapsul lensa di dalam mata. penderita sebaiknya menggunakan .

Karena pasien tidak dapat berakomodasi maka pasien .Pembedahan katarak (Harvard Health Publications. Rehabilitasi visual dan peresepan kacamata baru dapat dilakukan lebih cepat dengan metode fakoemulsifikasi. 2007). Gambar 1.Kacamata baru dapat diresepkan setelah beberapa minggu.19 kaca mata atau pelindung mata yang terbuat dari logam sampai luka pembedahan benar-benar sembuh. Pascaoperasi pasien diberikan tetes mata steroid dan antibiotik jangka pendek. ketika bekas insisi telah sembuh.

namun dapat menyebabkan penurunan tajam penglihatan yang berat. Endoftalmitis. 2. Fakoemulsifikasi tanpa jahitan melalui insisi yang kecil menghindarkan komplikasi ini. Komplikasi Pembedahan Katarak a. Saat ini digunakan lensa intraokular multifokal. Edema makular sistoid. Hilangnya vitreous.20 membutuhkan kacamata untuk pekerjaan jarak dekat meski tidak dibutuhkan kacamata untuk jarak jauh. Ini dilakukan sebelum melakukan pengukuran kacamata baru namun setelah luka insisi sembuh dan tetes matasteroid dihentikan.3%). Pengangkatan jahitan biasanya menyelesaikanmasalah ini dan bisa dilakukan dengan mudah di klinik dengan anastesi lokal. Komplikasi infektif ekstraksi katarak yang serius namun jarang terjadi (<0. d. Jika kapsul posterior mengalami kerusakan selama operasi maka gel vitreousnya dapat masuk ke dalam bilik mata depan yang merupakan resiko terjadinya glaukoma atau traksi pada retina. Dapat sembuh seiring berjalannya waktu. e. Prolaps iris. Kelengkungan kornea yang berlebih dapat terjadi pada garis jahitan bila jahitan terlalu erat. pengumpulan sel darah putih di bilik mata depan (hipopion). Mungkin diperlukan pengangkatan jahitan kornea untuk mengurangi astigmatisma kornea. Astigmatisma pasca operasi. b. penurunan tajam penglihatan. c.dengan pasien duduk di depan slit lamp. Makula menjadi edema setelah pembedahan. penempatan lukamemungkinkan koreksi astigmatisma yang telah ada sebelumnya. . Selain itu. lensa intraokular yang dapat berakomodasi sedang dalam tahap pengembangan. terutama bila disertai dengan hilangnya vitreous. Pupil mengalami distorsi. Jahitan yang longgar harus diangkatuntuk mencegah infeksi namun mungkin diperlukan jahitan kembali jikapenyembuhan lokasi insisi tidak sempurna. Iris dapat mengalami protus melalui insisi bedah pada periode paska operasi dini. pasien datang dengan mata merah yang terasa nyeri.

21 f. . g. Teknik-teknik modern dalam ekstraksi katarak dihubungkandengan rendahnya tingkat komplikasi ini. Penglihatan menjadi kabur dan mungkin didapatkan rasa silau. kejernihan kapsul posteriorberkurang pada beberapa bulan setelah pembedahan ketika sel epitel residu bermigrasi melalui permukaannya. 2. dan tumpang tindih lensa intraokular dengan sebagian kecil cincin kapsul anterior penting dalam mencegah opasifikasi kapsul posterior. Tingkat komplikasi ini bertambah bila terdapat kehilangan vitreous. Dapat dibuat satu lubang kecil pada kapsul dengan laser( neodymium yttrum ( ndYAG) laser ) sebagai prosedur klinis rawat jalan. Ablasio retina. Penelitian yang ditujukan pada pengurangan komplikasi ini menunjukkan bahwa bahan yang digunakan untuk membuat lensa. Opasifikasi kapsul posterior. bentuk tepi lensa. Pada sekitar 20% pasien. uveitis dan kerusakan retina. Terdapat risiko kecil edema makular sistoid atau terlepasnya retina setelah kapsulotomiYAG.9 Komplikasi Apabila dibiarkan katarak akan menimbulkan gangguan penglihatan dan komplikasi seperti glaukoma.

relaxasi otot tanpa menimbulkan resiko yang tidak diinginkan dari pasien. Penilaian dan Persiapan Praanestesia 1. tanpa" dan aesthētos.relaksasi otot Anestesi yang digunakan adalah anestesi umum dengan teknik perlindungan jalan nafas.Analgesia (bebas dari nyeri) . Anestesi Umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat irreversible. Pemantauan ditujukan atas fungsi nafas dan sirkulasi. Anamnesis . akan diperoleh triad (trias) anestesia. Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846. Pulse oxymeter dianjurkan sebagai alat monitoring.22 PENGERTIAN ANESTESI Anestesi (pembiusan. "persepsi.Hipnosis (tidur) . Dengan anestesi umum. analgesia. yaitu : . berasal dari bahasa Yunani an-"tidak. secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. kemampuan untuk merasa"). Anestesi umum yang sempurna menghasilkan ketidaksadaran.

Klasifikasi fisik ini bukan alat prakiraan risiko anestesia. Pemeriksaan Laboratorium Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan dugaan penyakit yang sedang dicurigai. leukosit. Kebugaran untuk anesthesia Pembedahan elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk menyiapkan agar pasien dalam keadaan bugar. 2. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan gigi geligi. Kelas 1 : Pasien sehat organik. 3. Pada usia pasien diatas 40 tahun ada anjuran EKG dan foto thoraks. . misalnya alergi. sebaliknya pada operasi sito penundaan tidak perlu harus dihindari. masa perdarahan dan masa pembekuan) dan urinalisis. psikiatrik. Kelas 3 : Pasien dengan penyakit sistemik berat. biokimia. sehingga dapat dirancang anesthesia berikutnya dengan lebih baik.23 Riwayat apakah pasien pernah mendapat anesthesia sebelumnya sangatlah penting untuk mengetahui apakah ada hal-hal yang perlu mendapat perhatian khusus. karena dampak samping anestesia tidak dapat dipisahkan dari dampak samping pembedahan. fisiologik. nyeri otot. Kelas 2 : Pasien dengan penyakit sistemikringan atau sedang. Banyak fasilitas kesehatan yang mengharuskan uji laboratorium secara rutin walaupun pada pasien sehat untuk bedah minor. mual-muntah. gatal-gatal atau sesak nafas pasca bedah. 5. tindakan buka mulut. Klasifikasi Status anestesia Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik seseoran ialah yang berasal dari The American Society of Anesthesiologist (ASA). Leher pendek dan kaku juga akan menyulitkan laringoskopi intubasi. sehingga aktivitas rutin terbatas. lidah relative besar sangat penting untuk diketahui apakah akan menyulitkan tindakan laringoskopi intubasi. misalnya pemeriksaan darah kecil ( Hb. 4. Praktek-praktek semacam ini harus dikaji ulang mengingat biaya yang harus dikeluarkan dan mamfaat minimal uji-uji semacam ini.

4. 7. Mengurangi mual muntah pasca bedah. dan pada bayi 3-4 jam. Kelas 5: Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan. 6. 2. PREMEDIKASI Premedikasi adalah pemberian obat sebelum induksi anesthesia dengan tujuan untuk melancarkan induksi. 3. Regurgitasi isi lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan nafas merupakan resiko utama pada pasien yang menjalani anesthesia. Menciptakan amnesia. dan bangun dari anestesi diantaranya: 1. Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus. semua pasien yang dijadwalkan untuk operasi elektif dengan anesthesia harus dipantangkan dari masukan oral (puasa) selama periode tertentu sebelum induksi anestesia. Meminimalkan jumlah obat anestetik. Pada pembedahan cito atau emergency biasanya dicantumkan huruf E 6. Memperlancar induksi anestesi. rumatan. Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam. Untuk meminimalkan resiko tersebut. air putih. 5. Mengurangi isi cairan lambung. Minuman bening. Obat Golongan Antikholinergik . Masukan Oral Refleks laring mengalami penurunan selama anesthesia.24 Kelas 4 : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukanaktivitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman kehidupan setiap saat. Meredakan kecemasan dan ketakutan. anak kecil 4-6 jam. Mengurangi refleks yang membahayakan Obat-obat yang sering digunakan sebagai premedikasi adalah: A. 8. teh manis sampai 3 jam dan untuk keperluan minum obat air putih dalam jumlah terbatas diperbolehkan 1 jam sebelum induksi anestesia.

Obat golongan antikholinergik yang digunakan dalam praktik anesthesia adalah preparat Alkaloid Belladona. diberikan 30-45 menit sebelum induksi. 1. Sulfas atropine 2. glukoma dan tirotoksikasis. Alkaloid belladonna menghambat muskarinik secara kompetitif yang ditimbulkan oleh asetil kholin pada sel efektor organ terutama pada kelenjar eksokrin. Cara pemberian dan dosis 1. Mengurangi motalitas usus 5.005 mg/kg BB. 2. Kemasan dan sifat fisik . 2. Melawan efek depresi narkotik terhadap pusat nafas. sedangkan skolopamin lebih dominan pada iris. dan saluran nafas. diberikan 5-10 sebelum induksi Kontra indikasi Alkaloid belladona ini tidak diberikan pada pasien yang menderita: demam. Intravena. dengan dosis 0. Skopolamin Mekanisme Kerja Menghambat mekanisme kerja asetil kholin pada organ yang diinervasi oleh serabut otonom para simpatis atau serabut saraf yang mempunyai neurotransmitter asetil kolin. Intramuscular. dosis 0. Mencegah bradikardi 4. usus dan bronkus. Mencegah spasme laring dan bronkus 3. takikardi.01 mg/kg BB. otot polos dan otot jantung. Mengurangi sekresi kelenjar: saliva. korpus silliare dan kelenjar. Tujuan utama pemberian obat golongan antikholinergik untuk premedikasi adalah: 1. Khasiat sulfas atropine lebih dominan pada otot jantung. saluran cerna.25 Obat golongan antikholinergik adalah obat-obatan yang berkhasiat menekan/menghambat aktivitas kholinergik atau parasimpatis. yang turunanny adalah.

B.26 Dikemas dalam bentuk ampul 1ml mengandung 0. Intramuscular dosis 1 mg/kg BB dan diberikan 30-45 menit sebelum induksi 2. Kemasan dan sifat fisik Dikemas dalam bentuk ampul 2 ml mengandung 50 mg.50 mg. Obat ini pada mulanya digunakan sebagai antihistamin. Antihistamin 1. Tujuan pemberian obat golongan ini adalah untuk memberikan suasana nyaman bagi pasien prabedah. Derivat benzodiazepine . Derivate fenothiazin 2. tidak berwarna dan larut dalam air. Derivate butirofenon 4. sehingga pasien menjadi tidak peduli dengan lingkunganny. cara pemberian dan dosis: 1. Untuk keperluan ini. obat golongan sedatif/trankuilizer yang sering digunakan adalah: 1. Derivate benzodiazepine 3. Intravena. bebas dari rasa cemas dan takut. Tidak berwarna dan larut dalam air. 2.25 dan 0. Obat Golongan Sedatif/ Trankuilizer.5 mg/kg BB diberikan 5-10 menit sebelum induksi. Obat golongan sedatif adalah obat-obat yang berkhasiat anti cemas dan menimbulkan rasa kantuk. Derivate barbiturate 5. Derivate fenothiazin Derivate fenothiazin yang banyak digunakan untuk premedikasi adalah prometazin. dengan dosis 0.

tetanus dan eklamsi 2. berwarna kuning. Premedikasi. Penggunaan lainnya adalah: 1.27 Derivat benzodiazepine yang banyak digunakan untuk premedikasi adalah diazepam dan midazolam. 3. Jalur vena yang dipilih sebaiknya melalui vena-vena besar untuk mencegah flebitis. nitrazepam dan oksazepam. obat ini tidak bias dicampur dengan obat lain karena bias terjadi presipitasi.2 mg/kg BB atau peroral dengan dosis 5-10 mg. diberikan intravena 4. mudah larut dalam air dan kemasan dalam ampul (3 dan 5 ml) yang mengandung 5 mg/ml. disamping itu ada kemasan suppositoria atau pipa rectal (rectal tube) yang diberikan pada anak-anak. Induksi. diberikan intravena dengan dosis 0. Derivat butirofenon . Derivat yang lain adalah klordizepoksid. Sedasi pada tindakan kardioversi dan endoskopi Pada pemberian intramuscular atau intravena.2-0.6 mg/kg BB 3. Penggunaan klinis Dalam praktik anesthesia obat ini digunakan sebagai: 1. Kemasan Kemasan injeksi berbentuk larutan emulsi dalam ampul 2 ml yang mengandung 10 mg. Kemasan oral dalam bentuk 2 mg dan 5 mg. diberikan intramuscular dengan dosis 0. Menghilangkan halusinasi pada pemberian ketamin 5. Pemberian intramuscular kurang disenangi oleh karena menimbulkan rasa nyeri pada daerah suntikan. Sedasi pasien rawat inap 3. sukar larut dalam air dan bersifat asam. Antikejang pada kasus-kasus epilepsy. 2. Sedasi pada analgesia regional. Sedangkan midazolam yang ada dipasaran adalah hanya dalam bentuk larutan tidak berwarna.

5. Alkaloid opium (natural): morfin dan kodein . C. Suplemen anestesia Kemasan Dalam bentuk ampul 2 ml dan 10 ml. mengandung 2. menimbulkan depresi ringan pada respirasi dan sirkulasi. Golongan Analgetik Narkotik atau Opioid Berdasarkan struktur kimia. Anti muntah 5. anelgetik narkotik atau opioid dibedakan menjadi 3 kelompok: 1. diberikan itramuskular. Pada dosis lazim. terutama pada anak-anak.28 Derivate ini disebut juga sebagai obat golongan neroleptika. sedangkan efek sampingnya adalah hipotensi yang sifatnya ringan. Anti hipertensi 4.5 mg/ml. Tidak berwarna dan bisa dicampur dengan obat lain.1 mg/kg/bb 2. antimuntah ringan dan antipiretik. 4. Khasiat yang diharapkan adalah: sedatif. karena sering digunakan sebagai neroleptik.Derivat barbiturat Derivat barbiturat yang sering digunakan sebagai obat premedikasi adalah pentobarbital dan sekobarbital. dosis 0. Penggunaan Klinik 1. Sedasi untuk tindakan endoskopi dan analgesia regional 3.Preparat antihistamin Obat golongan ini yang sering digunakan sebagai premedikasi adalah derivat defenhidramin. Sebagai premedikasi diberikan intramuskular dengan dosis 2 mg/kgBB atau peroral. Derivate butiroferon yang sering digunakan sebagai obat premedikasi adalah dehidhobenzperidol tau disebut DHBP. Premedikasi. Digunakan sebagai sedasi dan penenang prabedah.

2. sedasi dan anestesia. Reseptor Sigma Stimulasi reseptor ini menimbulkan perasaan disforia. yaitu: 1. fentanil. Golongan narkotik yang sering digunakan sebagai obat premedikasi adalah: 1. 3. 4. Morfin bekerja pada reseptor ini. oksimorfon. euforia dan depresi respirasi. Morfin Sedangkan fentanil digunakan sebagai suplemen anestesia. Diduga meperkuat reseptor Mu.29 2. hidrokodon dan oksikodon. Reseptor Delta Pada manusia peran reseptor ini belum diketahui dengan jelas. Penggunaan klinik . pupil midriasis dan stimulasi respirasi. Reseptor Kappa Stimulasi reseptor ini menimbulkan analgesia. rasa segar. halusinasi. Reseptor Mu Morfin bekerja secara agonis pada reseptor ini. 3. Derivat sintetik • • • • • Fenilpiperidine : petidin.sulfafentanil dan alfentanil Benzmorfans : pentazosin. Petidin 2. hidromorfin. opioid bekerja secara sentral pada reseptor-reseptor opioid yang diketahui ada 4 reseptor. Derivat semisintetik: diasetilmorfin (heroin). Stimulasi reseptor ini akan menimbulkan analgesia. fenazosin dan siklazosin Morfinans Propionanilides Tramadol : lavorvanol : metadon Sebagai analgetik.

2. Gatal-gatal seluruh tubuh Penanggulangan efek samping ini dilakukan dengan jalan memberikan bantuan hidup dasar dan segera memberikan obat penawar. Petidin dalam bentuk ampul 2 ml yang mengandung 50 mg/ml tidak berwarna . Depresi pusat nafas sehingga pasien bisa berhenti nafas 3. sedangkan morfin sepersepuluh dari petidin. Kemasan 1. sedangkan fentanil 100kali dari dosis petidin. Analgetik untuk pasien menderita nyeri akut/kronis. ini berarti bahwa dosis morfin sepersepuluh dari dosis petidin. Memperpanjang masa pulih anestesia 2. Analgetik narkotik digunakan sebagai: 1. Spasme bronkus pada pasien penderita asma akibat morfin 5. Analgetik pada tindakan endoskopi atau diagnostik lain. Kolik abdomen akibat spasme sfinter kantung empedu 6. Efek samping atau tanda-tanda intoksikasi 1.5 mg/kgBB. Premedikasi: petidin diberikan IM dengan dosis 1 mg/kgBB atau IV 0.30 Morfin mempunyai kekuatan 10x dibandingkan petidin. diberikan sistemik atau regional intratekal/epidural 3. Pupil miosis 4. Tidak boleh diberikan pada pasien yang mendapat preparat penghambat monoamin oksidase. 5. Suplemen sedasi dan analgetik di Unit Terapi Intensif Kontra Indikasi Pemberian narkotik harus hati-hati pada pasien orangtua atau bayi dan keadaan umum yang buruk. Suplemen anestesia atau analgesia 4. sedangkan fentanil seperseratus dari petidin. pasien asma dan penderita penyakit hati. Mual muntah dan hipersalivasi 7.

Pilih sesuia usia.5 Induksi Anestesi Umum Induksi adalah tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar. intramuscular atau rektai. Sebelum memulai induksianestesia selayaknya disiapkan peralatan dan obat-obatan yang diperlukan.31 2. dan disuntikkan secara IM. sehingga seandainya terjadi keadaan gawat dapat diatasi dengan lebih cepat dan lebih baik. . Pipa ini untuk menahan lidah saat pasien tidak sadar untuk menjaga supaya lidah tidak menyumbat jalan napas. orotracheal airway) atau pipa hidungfaring ( naso-trachealairway). keadaan ini tidak mengenakkan pasien. pasien akan disuntik sebanyak tiga kali. Fentanil dikemas steril dalam bentuk ampul 2 dan 10 ml tiap ml mengandung 50 µg 3. Morfin dalam bentuk ampul 1 ml yang mengandung 10 atau 20 mg. T= Tube A= Airway Pipa trakea. Induksi anestesi dapat dikerjakan dengan secara intravena. Pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan usia pasien. Usia < 5 tahun tanpa balon ( cuffed) dan >5 tahun dengan balon (cuffed) Pipa mulut-faring (Guedel. Apabila diberikan terpisah. Pemberian cara ini dimaksudkan mengurangi suntikan berulang. tidak berwarna dan bisa dicampur dengan obat lain. ketiga jenis obat-obat premedikasi ini dicampur dalam satu spuit kecuali diazepam. Setelah pasien tidur akibat induksi anesthesia langsung dilanjutkan dengan pemeliharaan anesthesia sampai tindakan pembedahan selesai. sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan pembedahan. T=Tape : Plester untuk fiksasi pipa supaya pipa tidak terdorong atau tercabut. Lampu harus cukup terang. untuk mendengarkan suara paru dan jantung . Dalam aplikasinya. 2. LaringoSkop. Untuk persiapan induksi anesthesia sebaiknya kita ingat kata STATICS : S= Scope Stetoskop.

pelahan-lahan. Obat anestesi intravena adalah obat anestesi yang diberikan melalui jalur intravena. Induksi intravena hendaknya dikerjakan dengan hati-hati. Tidak satupun obat anestesi dapat memberikan efek yang diharapkan tanpa efek samping. Anestesi yang ideal akan bekerja secara cepat dan baik serta mengembalikan kesadaran dengan cepat segera sesudah pemberian dihentikan. lembut dan terkendali. pada populasi umum walaupun regional anestesi dikatakan lebih aman daripada general anestesi. Selama induksi anestesia. Selain itu batas keamanan pemakaian harus cukup lebar dengan efek samping yang sangat minimal. baik obat yang berkhasiat hipnotik atau analgetik maupun pelumpuh otot. Pemilihan teknik anestesi merupakan hal yang sangat penting. . nadi dan tekanan darah harus diawasi dan selau diberikan oksigen. Induksi Intravena Induksi intravena paling banyak dikerjakan dan digemari. bila diberikan secara tunggal.32 I=Introducer Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastik (kabel) yang mudah dibengkokkan untuk pemandu supaya pipa trakea mudah dimasukkan. sehingga penentuan teknik anestesi menjadi sangat penting. karena cepat dan menyenangkan. ludah dan lain-lainnya. obat – obat ini akan diedarkan ke seluruh jaringan tubuh melalui sirkulasi umum. C=Connector Penyambung antara pipa dan peralatan anestesia S=Suction Penyedot lendir. selanjutnya akan menuju target organ masing–masing dan akhirnya diekskresikan sesuai dengan farmakodinamiknya masing-masing. tetapi tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa teknik yang satu lebih baik dari yang lain. 1. apalagi sudah terpasang jalur vena. pernapasan pasien. Setelah berada didalam pembuluh darah vena. Tidak satupun obat anestesi dapat memberikan efek samping yang sangat minimal. membutuhkan pertimbangan yang sangat matang dari pasien dan faktor pembedahan yang akan dilaksanakan. Induksi ini dikerjakan pada pasien yang kooperatif.

William Morton . berbagai jenis obat-obat hipnotik tersedia dalam bentuk intavena. Ludwig Burkhardt. melakukan pembiusan dengan menggunakan kloroform dan ether melalui intravena. Pertama kali digunakan dalam praktek anestesi pada tahun 1977 sebagai obat induksi. Ketamin dan Propofol. Teknik Anestesi Teknik anestesia merupakan suatu teknik pembiusan dengan memasukkan obat langsung ke dalam pembuluh darah secara parenteral. Elisabeth Brendenfeld dari Swiss melaporkan penggunaan morfin dan skopolamin secara intravena. A. Fentanil. Di jerman tahun 1909.6 – diisopropylphenol ) Merupakan derivat fenol yang banyak digunakan sebagai anastesia intravena dan lebih dikenal dengan nama dagang Diprivan. 1. namun obat anestesi intravena yang ideal belum bisa ditemukan. Thiopental menjadi “Gold Standard” dari obat – obat anestesi lainnya. Sejak diperkenalkan di klinis pada tahun 1934. Degidrobenzperidol. kedua hal tersebut yang menjadi dasar pemikiran sebelum akhirnya anestesi intravena berhasil ditemukan. Penemuan obat – obat ini masih terus berlangsung sampai sekarang. Tiopenton. tahun 1846 di Boston . Berikut ini akan dijelaskan lebih jauh mengenai obat – obat anestesi intravena tersebut.33 Pemahaman tentang sirkulasi darah sangatlah penting sebelum obat dapat diberikan secara langsung ke dalam aliran darah. tujuh tahun kemudian. . pertama kali menggunakan obat anestesi dietil eter untuk menghilangkan nyeri selama operasi. Propofol ( 2. induksi anestesi seperti misalnya tiopenton yang juga digunakan sebagai pemeliharaan dan juga sebagai tambahan pada tindakan analgesia regional. B. obat-obat tersebut digunakan untuk premedikasi seperti diazepam dan analgetik narkotik. Jenis Obat Anesthesi Dalam perkembangan selanjutnya terdapat beberapa jenis obat – obat anestesi dan yang digunakan di indonesia hanya beberapa jenis obat saja seperti. Diazepam .

Dosis dan penggunaan a) Induksi : 2. hal tersebut sangat tergantung pada pabrik pembuat obatnya.34 Propofol digunakan untuk induksi dan pemeliharaan dalam anastesia umum.0 sampai 2. b) Sedasi : 25 to 75 µg/kg/min dengan I.5 mg/kg IV.V infuse c) Dosis pemeliharaan pada anastesi umum : 100 – 150 µg/kg/min IV ( titrate to effect). glycerol dan minyak soybean.V melaui vena yang besar. Mekanisme kerja Mekanisme kerjanya sampai saat ini masih kurang diketahui . berikan secara I.2% f) Profofol mendukung perkembangan bakteri. Obat ini dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonik dengan kepekatan 1 % (1 ml = 10 mg). sehingga harus berada dalam lingkungan yang steril dan hindari profofol dalam kondisi sudah terbuka lebih dari 6 jam untuk mencegah kontaminasi dari bakteri.tapi diperkirakan efek primernya berlangsung di reseptor GABA – A (Gamma Amino Butired Acid). e) Dapat dilarutkan dengan Dextrosa 5 % untuk mendapatkan konsentrasi yangminimal 0. Propofol merupakan emulsi lemak sehingga . nyeri pada pemberian propofol dapat dihilangkan dengan menggunakan lidocain (0. pada pasien dewasa dan pasien anak – anak usia lebih dari 3 tahun. Nyeri ini bisa muncul akibat iritasi pembuluh darah vena. Gejala mual dan muntah juga sering sekali ditemui pada pasien setelah operasi menggunakan propofol.5 mg/kg) dan jika mungkin dapat diberikan 1 sampai 2 menit dengan pemasangan torniquet pada bagian proksimal tempat suntikan. d) Turunkan dosis pada orang tua atau gangguan hemodinamik atau apabila digabung penggunaanya dengan obat anastesi yang lain. Mengandung lecitin. Efek Samping Dapat menyebabkan nyeri selama pemberian pada 50% sampai 75%. sedangkan pertumbuhan kuman dihambat oleh adanya asam etilendiamintetraasetat atau sulfat.

Pada konsentrasi klinis. 3.Ketamin Ketamine (Ketalar or Ketaject) merupakan arylcyclohexylamine yang memiliki struktur mirip dengan phencyclidine. Mekanisme kerja Barbiturat terutama bekerja pada reseptor GABA dimana barbiturat akan menyebabkan hambatan pada reseptor GABA pada sistem saraf pusat. Dosis Dosis yang biasanya diberikan berkisar antara 3-5 mg/kg. sehingga jangan memberikan obat ini kepada pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap barbiturat. dan dapat memicu terjadinya serangan akut.V. Untuk menghindarkan efek negatif dari tiopental tadi sering diberikan dosis kecil dulu 50-75 mg sambil menunggu reaksi pasien. yang beberapa terletak dibatang otak yang mampu mengontrol beberapa fungsi vital termasuk kesadaran. barbiturat menekan sistem aktivasi retikuler. barbiturat secara khusus lebih berpengaruh pada sinap saraf dari pada akson. suatu jaringan polisinap komplek dari saraf dan pusat regulasi. sebab hal ini dapat menyebabkan terjadinya reaksi anafilaksis yang jarang terjadi. karena barbiturat akan menginduksi enzim d-aminoleuvulinic acid sintetase. Ketamin pertama kali disintesis tahun 1962. Iritasi vena dan kerusakan jaringan akan menyebakan nyeri pada saat pemberian melalui I. Mekanisme spesifik diantaranya dengan pelepasan transmitter (presinap) dan interaksi selektif dengan reseptor (postsinap).35 pemberiannya harus hati – hati pada pasien dengan gangguan metabolisme lemak seperti hiperlipidemia dan pankreatitis. dimana awalnya obat ini disintesis untuk menggantikan obat anestetik . Efek samping Efek samping yang dapat ditimbulkan seperti alergi. Barbiturat menekan transmisi neurotransmitter inhibitor seperti asam gamma aminobutirik (GABA). hal ini dapat diatasi dengan pemberian heparin dan dilakukan blok regional simpatis. barbiturat juga kontraindikasi pada pasien dengan porfiria akut.

Ketamin hidroklorida adalah golongan fenil sikloheksilamin. Ketamin kurang digemari untuk induksi anastesia.V atau 5 – 10 mg/Kgbb I. Ketamin juga sering menebabkan terjadinya disorientasi. Untuk pemeliharaan dapat diberikan secara intermitten atau kontinyu. karena sering menimbulkan takikardi. dosis induksi adalah 1 – 2 mg/KgBB secara I. sedangkan interaksi terhadap reseptor metilaspartat dapat menyebakan anastesi umum dan juga efek analgesik. Mekanisme kerja Beberapa kepustakaan menyebutkan bahwa blok terhadap reseptor opiat dalam otak dan medulla spinalis yang memberikan efek analgesik.M . Ketalar sebagai nama dagang yang pertama kali diperkenalkan oleh Domino dan Carson tahun 1965 yang digunakan sebagai anestesi umum. nyeri kepala. untuk dosis sedatif lebih rendah yaitu 0.36 yang lama (phencyclidine) yang lebih sering menyebabkan halusinasi dan kejang. Efek samping .V atau I. Ketamin bersifat larut air sehingga dapat diberikan secara I. ilusi sensoris dan persepsi dan mimpi gembira yang mengikuti anesthesia. dan sering disebut dengan emergence phenomena.M. Obat ini pertama kali diberikan pada tentara amerika selama perang Vietnam. pandangan kabur dan mimpi buruk. Emberian secara intermitten diulang setiap 10 – 15 menitdengan dosis setengah dari dosis awal sampai operasi selesai.2 mg/KgBB dan harus dititrasi untuk mendapatkan efek yang diinginkan. merupakan “rapid acting non barbiturate general anesthesia”. hipersalivasi . hipertensi . pasca anasthesi dapat menimbulkan muntah – muntah . Dosis dan pemberian Ketamin merupakan obat yang dapat diberikan secara intramuskular apabila akses pembuluh darah sulit didapat contohnya pada anak – anak.

seperti . maka penggunaannya terbatas pada pasien normal saja. tumor otak dan operasi intrakranial. 4. Mekanisme kerja Opioid berikatan pada reseptor spesifik yang terletak pada system saraf pusat dan jaringan lain. misalnya pada trauma kepala. sufentanil. farmakokinetik dan efek samping. and remifentanil merupakan golongan opioid yang sering digunakan dalam general anestesi. opioid lebih efektif sebagai analgesia. Obat opium didapat dari ekstrak biji buah poppy papaverum somniferum. Pasien yang menderita penyakit sistemik yang sensitif terhadap obat – obat simpatomimetik. Aktivasi reseptor opiat . Walaupun opioid menimbulkan sedikit efek sedasi.Opioid Opioid telah digunakkan dalam penatalaksanaan nyeri selama ratusan tahun. misalnya pada penyakit glaukoma dan pada operasi intraokuler. Opioid berbeda dalam potensi. meperidine. Opium mengandung lebih dari 20 alkaloid opioids. Farmakodinamik dari spesifik opioid tergantung ikatannya dengan reseptor.37 Dapat menyebabkan efek samping berupa peningkatan sekresi air liur pada mulut. PJK dll. hipertensi tirotoksikosis. tekanan intraokuler meningkat. fentanyl. Kontra indikasi Mengingat efek farmakodinamiknya yang relative kompleks seperti yang telah disebutkan diatas. Morphine. pada otot dapat menimbulkan efek mioklonus pada otot rangka selain itu ketamin juga dapat meningkatkan tekanan intracranial. afinitas ikatan dan apakah reseptornya aktif.selain itu dapat menimbulkan agitasi dan perasaan lelah . efek utamanya adalah analgetik. halusinasi dan mimpi buruk juga terjadi pasca operasi. Dalam dosis yang besar opioid kadang digunakan dalam operasi kardiak. Diabetes militus . Empat tipe mayor reseptor opioid yaitu μ.Ќ. Pada pasien yang menderita penyakit sistemik penggunaanya harus dipertimbangkan seperti tekanan intrakranial yang meningkat. alfentanil.σ. dan kata “opium “ berasal dari bahasa yunani yang berarti getah. Pada mata dapat menyebabkan terjadinya nistagmus dan diplopia.δ.

Lorazepam (Ativan) dan Midazolam (Versed).M dengan dosis 1 mg/kgbb atau intravena 0. Diazepam memiliki konsentrasi puncak dalam plasma 6-12 jam setelah pemberian.Benzodiazepin Golongan benzodiazepine yang sering digunakan oleh anestesiologi adalah Diazepam (valium).5 mg/Kgbb.2 mg/kg/ iv Untuk induksi anestesi 0.. Diazepam memiliki waktu paruh yang panjang bisa sampai 30 jam kebalikannya midazolam memiliki onset yang lebih cepat dan durasi yang lebih singkat. sedangakan morfin sepersepuluh dari petidin dan fentanil seperseratus dari petidin. 5.38 menghambat Dosis pelepasan presinaptik dan respon postsinaptik terhadap neurotransmitter eksitatori (seperti asetilkolin) dari neuron nosiseptif. Induksi Inhalasi . • • • Untuk sedasi 0. Dosis Dosis midazolam bervariasi tergantung dari pasien itu sendiri.1-0.04-0. Premedikasi petidin diberikan I. 2 . Sementara midazolam memiliki konsentrasi plasma puncak dalam waktu 30 menit.5.4 mg/ kg/ iv Menghilangkan halusinasi pada pemberian ketamin. yang tidak menyebakan nyeri atau tromboplebitis tetapi hal itu berhubungan bioaviabilitasnya yang rendah. midazolam merupakan benzodiazepin yang larut air yang tersedia dalam larutan dengan PH 3. Diazepam tersedia dalam sediaan emulsi lemak (Diazemuls atau Dizac). diazepam dan lorazepam tidak larut dalam air dan kandungannya berupa propylene glycol. Diazepam larut dalam lemak dan lebih cepat penetrasi ke sawar darah otak sedangkan midazolam larut dalam air dan sehingga tidak menimbulkan nyeri pada saat penyuntikan.

Selama anestesia. dan eter adalah agen pembiusan umum pertama yang diterima secara universal. Metoksifluran adalah anestetik inhalasi yang paling poten. baik karena toksik ataupun mudah terbakar. Lebih lanjut. eter sudah tidak digunakan secara luas karena mudah tersulut api dan berisiko mengakibatkan kerusakan hepar. Sementara itu. Oleh karena itulah. tetapi induksi dan pemulihannya relatif lambat. eter juga mempunyai beberapa kerugian yang tidak disenangi para anestetis seperti berbau menyengat dan menimbulkan sekresi bronkus berlebih. Di samping itu. Meskipun demikian. isofluran. bagi pasien dewasa biasanya dokter anestesi lebih menyukai induksi cepat dengan agen intravena. desfluran. dewasa ini baik metoksifluran maupun enfluran penggunaannya telah dibatasi. Etil klorida. asam oksalat. sebagian metoksifluran dimetabolisme oleh sitokrom P-450 menghasilkan florida bebas (F–). Kloroform juga kini dihindari karena toksik terhadap jantung dan hepar. Di sisi lain. halotan. Dengan ditariknya berbagai zat anestetik dari peredaran seperti yang dikemukakan di atas. dan sevofluran. Sayang sekali sebagian besar agen-agen anestetik yang telah disebutkan tadi telah ditarik dari pasaran. dan siklopropan pun tidak lagi digunakan sebagai anestetik. etilen. Etil klorida. enfluran mengurangi kontraksi myokardial dan meningkatkan sekresi likuor serebrospinal (CSF). Metoksifluran dan enfluran termasuk agen anestetik generasi baru yang sempat digunakan bertahun-tahun tetapi jarang digunakan lagi karena toksisitas dan efikasinya. sevofluran masih menjadi obat induksi pilihan untuk pasien . kini terdapat lima agen inhalasi yang masih digunakan dalam praktik anestesi yakni nitrous oksida. dan siklopropan kemudian menyusul. dan bebrapa komponen lain yang bersifat nefrotoksik. enfluran menginduksi perubahan elektroensefalograf yang dapat berprogresi pada pola spike-and-wave yang biasa ditemukan pada kejang tonik-klonik. Anestetik inhalasi paling banyak dipakai untuk induksi pada pediatri yang mana sulit dimulai dengan jalur intravena. Sebagai contoh. dengan zat yang terakhir cukup digemari pada saat itu karena induksinya yang singkat dan pemulihannya yang cepat tanpa disertai delirium.39 Nitrous oksida (N2O). etilen. kloroform.

Gas ini dapat disimpan dalam bentuk cair dalam tekanan tertentu. konsentrasi jaringan.Halotan Merupakan alkana terhalogenisasi dengan ikatan karbon-florida sehingga bersifat tidak mudah terbakar atau meledak (meski dicampur oksigen). Gas ini merupakan agen anestestik inhalasi paling murah. di mana induksi dan tahapan anestesia dilalui dengan mulus. Halotan berbentuk cairan tidak berwarna dan berbau enak. dan karena keamanannya hingga kini tetap digunakan di dunia. bahkan pasien akan segera bangun setelah anestetik dihentikan. isofluran berbeda secara farmakologis dengan . serta tidak mudah terbakar dan meledak (kecuali jika dikombinasikan dengan zat anestetik yang mudah terbakar seperti eter). Farmakologi Klinik Anestesi Inhalasi 1. Nitrous Oksida (N2O) Merupakan gas yang tidak berbau. Memiliki struktur kimia yang mirip dengan enfluran. mengingat baunya tidak menyengat dan onsetnya segera. akan dibahas farmakologi klinis dari masing-masing agen. 3. Halotan merupakan anestetik kuat dengan efek analgesia lemah. tidak berasa. Selain induksi. 2. Studi mengenai kaitan antara dosis obat.40 dewasa. termasuk respons toksik. agen inhalasi juga sering digunakan dalam praktik anestesiologi untuk rumatan. dan waktu kerja obat disebut sebagai farmakokinetik (bagaimana tubuh memengaruhi obat). sedangkan studi mengenai mekanisme aksi obat. Setelah penjelasan secara umum tentang farmakokinetik dan dinamik anestetik inhalasi. Botol berwarna amber dan pengawet timol berguna untuk menghambat dekomposisi oksidatif spontan. tidak berwarna. lebih berat dari udara.Isofluran Merupakan eter berhalogen yang tidak mudah terbakar. disebut farmakodinamik (bagaimana obat memengaruhi tubuh). serta relatif lebih murah dibanding agen anestetik inhalasi lain.

bersifat absorben dan tidak korosif untuk logam. sevofluran terhalogenisasi dengan fluorin. kadar obat yang tinggi dalam udara inspirasi menyebabkan pasien menahan napas dan batuk. Karena sukar menguap. hanya saja atom klorin pada isofluran diganti oleh fluorin pada desfluran.Sevofluran Sama halnya dengan desfluran. spasme laring.41 enfluran. induksi dicapai dalam kurang dari 10 menit.Desfluran Merupakan cairan yang mudah terbakar tapi tidak mudah meledak. pasien sudah respons terhadap rangsang verbal). sehingga kelarutan desfluran lebih rendah (mendekati N2O) dengan potensi yang juga lebih rendah sehingga memberikan induksi dan pemulihan yang lebih cepat dibandingkan isofluran (5-10 menit setelah obat dihentikan. Desfluran bersifat ¼ kali lebih poten dibanding agen anestetik inhalasi lain. Desfluran lebih digunakan untuk prosedur bedah singkat atau bedah rawat jalan. serta peningkatan frekuensi denyut jantung. Isofluran berbau tajam. sesak napas. di mana umumnya digunakan barbiturat intravena untuk mempercepat induksi. Setelah premedikasi. Kontraindikasi dan Interaksi Obat . Tanda untuk mengamati kedalaman anestesia adalah penurunan tekanan darah. tapi 17 kali lebih poten dibanding N2O. Induksi inhalasi 4-8% sevofluran dalam 50% kombinasi N2O dan oksigen dapat dicapai dalam 1-3 menit. 5. Desfluran bersifat iritatif sehingga menimbulkan batuk. dibutuhkan vaporiser khusus untuk desfluran. 4. Dengan struktur yang mirip isofluran. Peningkatan kadar alveolar yang cepat membuatnya menajdi pilihan yang tepat untuk induksi inhalasi yang cepat dan mulus untuk pasien anak maupun dewasa. sehingga tidak digunakan untuk induksi. volume dan frekuensi napas.

Suksinilkolin (diasetilkolin. dapat meningkatkan kerja pelumpuh otot. Proses ini sangat efisien. (prostigmin) dikontraindikasikan pseudokolinesterase. Termasuk golongan ini adalah suksinilkolin ( diasetil-kolin) dan dekametonium. dan hipertensi intrakranial. suksinil kolin karena dimetabolisme menghambat oleh kerja kolinesterase plasma. obat ini memiliki onset yang cepat (30-60 detik) dan duration of action yang pendek (kurang dari 10 menit). Sevofluran juga sama seperti agen anestetik inhalasi lainnya. penyakit hati. sehingga hanya fraksi kecil dari dosis yang dinjeksikan yang mencapai neuromuscular junction. Obat Pelumpuh Otot A. Didalam vena. Duration of action akan memanjang pada dosis besar atau dengan metabolisme abnormal. seperti hipotermia atau rendanya level pseudokolinesterase.pseudokolinesterase menjadi suksinil-monokolin. Obat anti kolinesterase a. sebagian besar dimetabolisme oleh pseudokolinesterase menjadi suksinilmonokolin. tetapi di celah sinaps tidak dirusak dengan asetilkolinesterase sehingga bertahan cukup lama menyebabkan terjadinya depolarisasi yang ditandai dengan fasikulasi yang diikuti relaksasi otot lurik.42 Sevofluran dikontraindikasikan pada hipovolemik berat. 1. gagal ginjal dan beberapa terapi obat. hipertermia maligna. leptokurare) dan nondepolarisasi (kompetitif. Pengertian Obat pelumpuh otot adalah obat yang dapat digunakan selama intubasi dan pembedahan untuk memudahkan pelaksanaan anestesi dan memfasilitas intubasi. Ketika suksinilkolin memasuki sirkulasi. Obat pelumpuh otot dibagi menjadi dua kelas yaitu pelumpuh otot depolarisasi (nonkompetitif. Pada beberapa orang juga ditemukan gen pseudokolinesterase abnormal yang menyebabkan blokade yang memanjang. Rendahnya level pseudokolinesterase ini ditemukan pada kehamilan. suxamethonium) Suksinilkolin terdiri dari 2 molekul asetilkolin yang bergabung. . Pelumpuh Otot Depolarisasi Pelumpuh otot depolarisasi bekerja seperti asetilkolin. takikurare).

Selain itu.43 Interaksi obat Kolinesterase inhibitor Kolinesterase inhibitor memperpanjang fase I block pelumpuh otot depolarisasi dengan 2 mekanisme yaitu dengan menghambat kolinesterase. Dosis Karena onsetnya yang cepat dan duration of action yang pendek. suksinilkolin masih dikontraindikasikan pada penanganan rutin anak dan remaja. Dosis awal untuk relaksasi otot 0. Efek samping dan pertimbangan klinis Karena risiko hiperkalemia. maka depolarisasi akan meningkatkan depolarisasi.08 mg/kgBB intravena . a. Nyeri otot pasca pemberian Peningkatan tekanan intraokular Peningkatan tekakana intrakranial Peningkatan tekakanan intragastrik Peningkatan kadar kalium plasma Aritmia jantung Salivasi Alergi dan anafilaksis Obat pelumpuh otot nondepolarisasi Pavulon Pavulon merupakan steroid sintetis yang banyak digunakan. Efek samping dari suksinilkolin adalah : • • • • • • • • 2. Memiliki efek akumulasi pada pemberian berulang sehingga dosis rumatan harus dikurangi dan selamg waktu diperpanjang. rabdomiolisis dan cardiac arrest pada anak dengan miopati tak terdiagnosis. ia juga akan menghambat pseudokolinesterase. Mulai kerja pada menit kedua-ketiga untuk selama 30-40 menit. maka jumlah asetilkolin akan semakin banyak. Dosis yang dapat diberikan adalah 1 mg/kg IV. banyak dokter yang percaya bahwa suksinilkolin masih merupakan pilihan yang baik untu intubasi rutin pada dewasa.

Struktur fisik Struktur fisik . 30-60 menit untuk intubasi. Kemasan ampul 2 ml berisi 4 mg pavulon.08 – 0. tidak bergantung pada fungsi hati dan ginjal. b. Keunggulannya adalah metabolisme terjadi di dalam darah. Vekuronium Vekuronium merupakan homolog pankuronium bromida yang berkekuatan lebih besar dan lama kerjanya singkat Zat anestetik ini tidak mempunyai efek akumulasi pada pemberian berulang dan tidak menyebabkan perubahan fungsi kardiovaskuler yang bermakna. Dosis Intubasi trakea 0. Lebih cepat durasinya pada anak dibandingkan dewasa. Tersedia dengan sediaan cairan 10 mg/cc.04 mg/kg diikuti 0.5 mg/kg c. Atracurium Atracurium mempunyai struktur benzilisoquinolin yang berasal dari tanaman Leontice Leontopeltalum. Dosis Dosis intubasi 0. Relaksasi intraoperative 0.5 mg/kg iv. potensinya hilang 5-10 % tiap bulan bila disimpan pada suhu ruangan. Dosis rumatan setengah dosis awal.01 mg/kg setiap 15 – 20 menit. Efek samping dan pertimbangan klinis Histamine release pada dosis diatas 0.1 mg/kg setiap 10-20 menit.25 mg/kg initial. Digunakan dalam 14 hari bila terpapar suhu ruangan.12 mg/kg.15 mg/kgBB intravena. Infuse 5-10 mcg/kg/menit efektif menggantikan bolus. laly 0. Drip 1 – 2 mcg/kg/menit.44 pada dewasa. tidak mempunyai efek akumulasi pada pemberian berulan Dosis 0. disimpan dalam suhu 2-8OC. Dosis 0.

Onset cepat 3. Sediaan 10 mg serbuk. Duration of action dapat diprediksi. Diberikan 20 detik sebelum propofol dan thiopental. Struktur Fisik . Im ( 1 mg/kg untuk infant .4 mg/kg dapat pulih 25 menit setelah intubasi. Dapat memanjang durasi pada pasien post partum. Tidak menginduksi pengeluaran histamin 5. Rocuronium (0. Potensi 6. Keuntungannya adalah tidak mengganggu fungsi ginjal.15 mg/kg bolus untuk rumatan. Nondepolarisasi 2. Tapi tidak sampai 3 – 6 menit dapat kembali sampai 1 jam.45 Umur tidak mempengaruhi dosis. Dosis kecil 0. Dicampur cairan sebelumnya. tidak mengakumulasi dan dapat diantagoniskan dengan obat tertentu 4. Untuk drip 5 – 12 mcg/kg/menit. d. sedangkan kerugiannya adalah terjadi gangguan fungsi hati dan efek kerja yang lebih lama.45 – 0.1 mg/kg) cepat 90 detik dan efektif untuk prekurasisasi sebelum suksinilkolin. 0. Karena gangguan pada hepatic blood flow. Dapat memanjang pada pasien orang tua. Efek samping dan manifestasi klinis Onset cepat hampir mendekati suksinilkolin tapi harganya mahal. Dosis Potensi lebih kecil dibandingkan relaksant steroid lainnya. Rokuronium Zat ini merupakan analog vekuronium dengan awal kerja lebih cepat.9 mg / kg iv untuk intubasi dan 0. 2 mg/kg untuk anak kecil) adekuat pita suara dan paralisis diafragma untuk intubasi. Ada tendensi vagalitik. Pemilihan Pelumpuh Otot Karakteristik pelumpuh otot ideal : 1. Sifat tidak berubah oleh gangguan ginjal maupun hati dan metabolit tidak memiliki aksi farmakologi.

cisatracurium ataumivacurium 4. Contoh: pancuronium. vekuronium.01-0. Contoh: mivacurium 3. Untuk 3. Dinding perut kaku 3. bradikardi. Pada stabilitas gagal ginjal hemodinamika dan (contoh pada hipovolemia atau penyakit jantung parah)-vecuronium hati-atracurium.46 Durasi pembedahan mempengaruhi pemilihan pelumpuh otot : 1. rocuronium.08 mg/kg). Kasus obstetric: semua dapat diberkan kecuali gallamin duration. dan fisostigmin yang hanya untuk penggunaan oral (dosis 0.0 mg/kg). Ultra-short acting. Ada tahanan pada inflasi paru.03 mg/kg). Antikolinesterase yang paling sering digunakan adalah neostigmin (dosis 0. Cegukan (hiccup) 2. Untuk induksi yang cepat-suxamethonium. keringatan. Short duration. D-tubocurarine. Penawar pelumpuh otot bersifat muskarinik sehingga menyebabkan hipersalivasi. kejang .1-0. pipecuronium. Pelumpuh otot yang disarankan : 1. Tanda-tanda kekurangan pelumpuh otot : 1. Long duration.5-1. Miastenia gravis: jika dibutuhkan dosis 1/10 atrakurium 5. Intermediate cisatracurium 4. Contoh: atracurium. Penawar Pelumpuh Otot Antikolinesterase bekerja dengan menghambat kolinesterase sehingga asetilkolin dapat bekerja.04-0. piridostigmin (dosis 0. atau apabila dikontraindikasikan dapat dipakai rocuronium 2. vecuronium. doxacurium.4 mg/kg) dan edrophonium (dosis 0. contoh : suxamethonium 2.

01-0. Selain ituk atarak senilis juga dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti adanya penyakit metabolisme. peka terhadap sinar atau . matur dan hipermatur.47 bronkus.yaitu usia diatas 50 tahun.3 mg pada dewasa BAB III PENUTUP 3. Katarak senilis secara klinis dikenal dalam empat stadium.01 mg/kg sampai 0. Penyebab terjadinya katarak senilis ialah karena proses degeneratif. imatur.1 Kesimpulan Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut. yaitu stadium insipien.02mg/kg) atau glikopirolat (dosis 0.2-0.005-0. trauma serta paparan sinar ultraviolet. hipermotilitas usus dan pandangan kabur sehingga pemberiannya harus disertai vagolitik seperti atropine (dosis 0. Gejala umum gangguan katarak meliputi penglihatan tidak jelas seperti terdapat kabut menghalangi objek.

DAFTAR PUSTAKA 1. Katarak senilis tidak dapat dicegah karena penyebab terjadinya katarak senilis ialah disebabkan oleh faktor usia. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. namun dapat dilakukan pencegahan terhadap hal-hal yang memperberat seperti mengontrol penyakit metabolik. 2006. FKUI.com diakses 27 januari 2013 4.48 cahaya. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Clinical of Anesthesiology. dapat terjadi penglihatan ganda pada satu mata memerlukan pencahayaan yang baik untuk dapat membaca. uveitis dan kerusakan retina.2010 3. Anestesia umum http//. Apabila pada proses pematangan katarak dilakukan penanganan yang tepat sehingga tidak menimbulkan komplikasi serta dilakukan tindakan pembedahan pada saat yang tepat maka prognosis pada katarak senilis umumnya baik. 4th Edition.Edisi kedua.scrib. Morgan GE. Suryadi KA. Pemberian intake antioksidan (seperti asam vitamin A. Dachlan MR. C dan E) secara teori bermanfaat. lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu. Mangku G. . mencegah paparan langsung terhadap sinar ultraviolet dengan menggunakan kaca mata gelap dan sebagainya. Lafief SA. 2002 2. Senapathi TGA. Pengobatan pada katarak adalah pembedahan. Tajam penglihatan dikaitkan dengan tugas sehari-hari penderita. Apabila dibiarkan katarak akan menimbulkan gangguan penglihatan dan komplikasi seperti glaukoma.www. Indeks. Untuk menentukan kapan katarak dapat dibedah ditentukan oleh keadaan tajam penglihatan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->