Laporan Praktikum Farmasi Fisika

201 3

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMASI FISIKA VISKOSITAS DAN RHEOLOGI

KELOMPOK A5 SHIFT SELASA PAGI (08.00 – 12.00) 1. Ulfa Shafira 2. Winda Oktiwilianti 3. Restianti Mutiara 4. Dini Mayang Sari 5. Putri Andini HARI/TANGGAL PRAKTIKUM HARI/TANGGAL LAPORAN ASISTEN (10060311109) (10060311111) (10060311115) (10060310116) (10060310139) : RABU / 26 MARET 2013 : RABU / 2 APRIL 2013 : Ina Amalia S.Farm

LABORATORIUM FARMASI FISIKA PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2013
Lab. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University1 dari 4

Laporan Praktikum Farmasi Fisika

201 3

Modul 5 VISKOSITAS DAN RHEOLOGI

A. TUJUAN PERCOBAAN Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu, untuk :     Menerangkan arti viskositas dan rheologi Membedakan cairan Newton dan cairan non Newton Menggunakan alat-alat penentuan viskositas dan rheologi Menentukan viskositas dan rheologi cairan Newton dan non Newton

B. LANDASAN TEORI Viskositas adalah ukuran tahanan (resistensi) dari suatu cairan untuk mengalir. Sedangkan, Rheologi adalah ilmu yang mempelajari sifat aliran zat cair atau deformasi zat padat. Rheologi dan viskositas dari suatu produk farmasi dapat berkisar dalam konsistensi dari bentuk cair ke semisolida sampai ke padatan, dapat mempengaruhi penerimaan pasien, stabilitas fisikakimia dan bahkan avaibilitas biologis. Penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasi adalah Sistem Newton dan Sistem Non-Newton. Newton adalah orang pertaman yang mempelajari sifat-sifat aliran dari cairan secara kantitatif. Zat cair diasumsikan terdiri dari lapisan-lapisan molekul yang sejajar satu sama lain. Lapisan terbawah tetap diam, sedangkan lapisan atasnya bergerak dengan kecepatan konstan, sehingga setiap lapisan akan bergerak dengan kecepatan yang berbanding langsung dengan jarakya terhadap lapisan terbawah yang tetap. Perbedaan kecepatan (dv) antara dua palisan yang dipisahan dengan jarak (dx) adalah keceptan geser (dv/dx) atau “Rate of Shear”. Dan gaya (F’) per satua luas (A) atau (F’/A) diperlukan untuk menyebabkan aliran yang disebut “Shearing Stress”. Newton menemukan bahwa semakin besar viskositas suatu cairan, maka semakin besar pula gaya per satuan luas (Shearing Stess) yang diperlukan untuk menghasilkan suatu Rate of Shear tertentu, sehingga Rate of Shear harus berbanding langsung dengan Shearing Stress, atau: [F’/A = ŋ . dv/dx] dimana, [F = F’/A] ; [G = dv/dx] Simbol ŋ adalah koefisien viskositas atau viskositas, atau sering ditulis sebagai: [ŋ = F/G]
Lab. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University2 dari 4

Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 = dyne . suspensi dan sediaan setengah paat tidak mengikuti hukum Newton (cairan non-Nowton). cmˉ¹ . jadi viskositasnya cukup ditentukan pada satu kecepatan geser. sehingga viskositasnya tetap pada suhu dan teanan tertentu dan tidak tergantung kepada kecepatan geser. Cairan yang sifat alirannya tidak dipengaruhi waktu (kurva naik berhimpik dengan kurva turun). yakni: Aliran Tiksotropik Aliran Rheopeksi Aliran Antitiksotropik Aliran Plastis Kurva aliran plastis tidak melalui titik (0. Sistem Non-Newton.detikˉ¹ = Poise (1 Poise = 100 centiPoise) Cairan Newton aalh tipe cairan yang mengikuti hukum newton dimana nilai Shearing Stess sebanding dengan nilai Rate of Share (kecepatan geser). yaitu: a. Cairan yang sifat alirannya dipengaruhi waktu (kurva naik tidak berhimpit dengan kurva turun). Kelompok ini terbagi menjadi tiga jenis. Kelompok ini terbagi atas tiga jenis. U=(F–f) G U adalah viskositas plastis. cm . Lab. cmˉ² . sehingga untuk mengetahui sifat alirannya dilakukan pengukuran pada beberapa kecepatan geser. detik = dyne . Viskositas cairan semacam ini bervariasi pada setiap kecepatan geser. detik = g.cmˉ¹. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University3 dari 4 . cmˉ² . yaitu: Aliran plastik Aliran Pseudoplastik Aliran Dilatan b.0) tapi memotong sumbu shearing stress (atau auakan memotong jika bagian lurus dari kurva tersebut diekstrapolasikan ke sumbu) pada suatu titik tertentu yang dikenal dengan sebagai harga yield. dan f adalah yield value. hampir seluruh sistem dispersi termasuk sediaan-sediaan farmasi yang terbentuk emulsi. cairan non-Newton terbagi menjadi dua kelompok. Berdasarkan grafik sifat alirannya (rheogram).

Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 Aliran Pseudoplastis Aliran pseudoplastis ditunjukkan oleh beberapa bahan farmasi yaitu gom alam dan sisntesis seperti dispersi cair dari tragacanth. Aliran Dilatan Aliran dilatan terjadi pada suspensi yang memiliki presentase zat padat terdispersi dengan konsentrasi tinggi. Aliran pseudoplastis diperlihatkan oleh polimer-polimer dalam larutan. dan natrium karboksimetil selulosa. Pemilihan metode dan alat yang tepat untuk menentukan viskositas dan rheologi sangat penting. Pada keadaaan istirahat. metil selulosa. Terjadi peningkatan daya hambat untuk mengalir (viskositas) dengan meningkatnya rate of shear. partikel-partikel tersebuat tersususn rapat dengan volume antar partikel pada keadaan minimum.0) . tidak ada yield value. hal ini berkebalikan dengan sistem plastis. 3. Viskositas aliran pseudoplastis berkurang dengan meningkatnya rate of shear. yang tersusun dari partikel-partikel tersuspensi dalam emulsi. natrium alginat. dan bukan suatu harga tunggal. Lab. Kurva untuk aliran pseudoplastis dimulai dari (0. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University4 dari 4 .

Rotovisco. b. Alat Penentu Viskositas dan Rheologi Pada percobaan ini akan dilakukan penentuan viskositas dan rheologi dengan menggunakan viskometer bola jatuh. Yang termasuk kedalam jenis viskometer ini adalah viskometer rotasi tipe Stromer. Viskometer satu titik Alat ini bekerja pada rate of shear tunggal. ada dua jenis viskometer. Viskometer bola jatuh Prinsif alat adalah suatu bola gelas atau bola besi jatuh kebawah dalam suatu tabung gelas yang hampir vertikal. plateplastometer. sehingga dapat digunakan untuk cairan Newton yang rate of shear-nya berbanding langsung dengan shearing stress. 2. penetrometer. penetrometer dan viskometer rotasi. sehingga tepat untuk digunakan pada cairan non-Newton. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University5 dari 4 . Metode Penentu Viskositas dan Rheologi Berhasil tidaknya penentuan dan evaluasi sifat-sifat rheologi dari suatu sistem tertentu bergantung pada pemilihan metode peralatan yang tepat. Yang termasuk kedalam jenis ini misalnya viskometer kapiler. Dengan menggunakan alat ini dapat diperoleh rheogram lengkap untuk menentukan karakteristik sifat aliran suatu sistem. Viskometer titik ganda Alat ini bekerja pada berbagai rate of shear. dll. masing-masing adalah: N t Sb Sf B = Viskositas (poise) = Waktu interval dalam detik (lamanya bola jatuh antara dua titik) = Gravitasi jenis dari bola = gravitasi jenis dari cairan = Konstanta untuk bola tertentu (besarnya sudah ada pada pedoman penggunaan alat tersebut) b. dll. bola jatuh. Laju jatuhnya bola yang mempunyai kerapatan dan diameter tertentu adalah kebalikan fungsi viskositas sampel tersebut dapat dihitung dengan rumus: N = t (Sb – Sf). B Dimana.Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 1. Penetrometer Penetrometer adalah alat yang dipergunakan untuk menentukan konsistensi sediaan setengah padat baik dibidang farmasi maupun non farmasi seperti penentuan Lab. a. Brookfield. yaitu: a. mengandung cairan yang diuji pada temperatur konstan.

Rate of shear dalam putaran per menit dinaikan atau diturunkan oleh sebuah dial pemilih dan tarikan kental atau puntiran (shearing stress) yang dihasilkan pada kerucut dibaca pada skala penunjuk. masing-masing adalah: = Viskositas plastis (poise) = Konstanta alat = Puntiran (torque) yang terbaca = Puntiran (torque) pada sumbu shearing stress (diekspoitasi dari bagian linier kurva) = Jumlah putaran per menit (rotate per minute) c. yang berputar adalah silinder pemutarnya Contoh Viskosimeter Jenis Searle adalah Viskosimeter Stormer Dan Brookfield. lamak pelunas. masing-masing adalah: Lab.Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 konsistensi aspal. vaselin. adonan semen. dll. W/rpm] [μ = Kv . Penetrasi dinyatakan dalam satuan sepersepuluh milimeter (1/10 ml) yang merupakan kedalaman kerucut atau jarum standar menembus sampel tegak lurus dalam wadah dan suhu tertentu. yaitu berputar adalah mangkuk silindrisnya Jenis searle. Viskosimeter rotasi terdiri dari dua bagian yaitu mangkuk silindris (cup) dan silindrer pemutar (bob). Berdasarkan pembagian tersebut. T/rpm] [μ = C. T – Tf/rpm] Dimana. Viskositas (poise) dari cairan Newton yang diukur dihitung dengan menggunakan persamaan: Aliran Newton Aliran Plastis μ C T Tf rpm : : [μ = C. malam. Biasanya pengukuran dilakukan pada suhu 25˚C selama 5 detik. Viskometer rotasi Viskometer jenis ini dapat dipergunakan untuk mengukur viskositas dan sifat aliran cairan. Penetrometer termasuk kedalam kelompok viskometer satu titik. dikenal dua jenis viskosimeter rotasi. sampel tersebut di shear antara lempeng yang diam dan kerucut yang brputar. Untuk menghitung viskositas digunakan persamaan berikut Aliran Newton Aliran Plastis : : [μ = Kv . kemudian dinaikan posisinya sampai dibawah kerucut. W – Wf/rpm] Dimana. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University6 dari 4 . sampel ditempatkan ditengah lempeng. Cara kerjanya. yaitu: Jenis couette.

MONOGRAFI ZAT AKTIF 1. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University7 dari 4 .10 Pemerian Cairan seperti sirop. Kelarutan dapat campur dengan air. dan dalam minyak lemak. Usaha dapat dihitung melalui perkalian angka yang terbaca pada skala dengan 7.cmˉ¹ (viskosimeter Brookfield tipe LV). dengan monografi sebagai berikut (Farmakope Indonesia. praktis tidak larut dalam kloroform P dan dalam eter P. III. manis diikuti rasa hangat. jika disimpan lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk massa hablur tidak berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai kurang lebih 20˚.cmˉ¹ (viskosimeter Brookfield tipe RV) dan 673. Higroskopik. Zat aktif yang digunakan pada saat praktikum adalah Gliserin. Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik. diplot kurva antara rpm dengan beban yang diberikan (W). 1979. Khasiat dan penggunaan zat tambahan Lab. C. Untuk mengetahui sifat alirannya. tidak berwarna. Ed. Hal 271) : GLYCEROLUM Gliserol Gliserin CH2OH – CHOH – CH2OH C3H8O3 BM 92.7 dyne.187 dyne.Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 μ Kv W = Viskositas plastis (poise) = Konstanta alat = Beban yang diberikan (gram) Wf = Beban pada yied value (gram) rpm = Jumlah putaran per menit (rotate per minute) Untuk menghitung Kv umumnya digunakan cairan baku pembanding (BP) yang telah diketahui viskositasnya. dan dengan etanol (95%) P. jernih. Untuk mengetahui sifat aliran. dibuat kurva antara rpm denga usaha yang dibutuhkan untuk memutar spindel. tidak berbau.

Ed 1V . 1995 Hal 323) CARBOXYMETHYLCELLULOSUM NATRICUM Lab. sangat mudah larut dalam air mendidih. Kelarutan dapat campur dengan air. Zat aktif yang digunakan pada saat praktikum adalah CMC Na. dan dengan etanol (95%) P. rasa manis. III. Hablur tidak berwarna. dengan monografi sebagai berikut (Farmakope Indonesia. 1979. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University8 dari 4 . Kelarutan. dengan monografi sebagai berikut: ( Farmakope Indonesia . dengan monografi sebagai berikut (Farmakope Indonesia. Ed. tidak dapat campur dengan eter minyak tanah P dan dalam minyak lemak. 4. higroskopik. tidak berwarna. Wadah dan penyimpanan. tidak berbau. 1979. sukar larut dalam etanol. Zat aktif yang digunakan pada saat praktikum adalah Sirupus Simpleks.10 Pemerian Cairan kental. Ed. III. Pemerian. jernih. Mudah larut dalam air.Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 3. Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik. larut dalam etanol mendidih. pelarut 3. Mengandung suatu molekul air hidrat atau anhidrat. serbuk hablur atau serbuk granul putih. Dalam wadah yang tertutup baik. Hal 271) : PROPILENGLIKOL Propilengglikol CH3 – CH(OH) – CH2OH C3H8O2 BM 78. Zat aktif yang digunakan pada saat praktikum adalah Propilenglikol. larut dalam kloroform P dan dalam 6 bagian eter P. rasa agak manis. tidak berbau. Khasiat dan penggunaan zat tambahan . Hal ) : GLUKOSA Dekstrosa adalah suatu gula yang diperoleh dari hidrolisis pati.

tidak berbau. tidak larut dalam etanol. Ed IV. lengket. 5. IdentifikasiAgar dan gom sterkulia. Pemerian Serbuk atau granul.5% dan tidak lebih dari 9. bersifat asam lemah terhadap kertas lakmus biru. dengan monografi sebagai berikut (Farmakope indonesia . dalam eter dan dalam pelarut organic. susut pengeringan. pati dan dekstrin. dan memberikan cairan seperti musilago. agar dan tragakan.5% natrium dihitung dari zat yang telah dikeringkan. putih atau putih kekuningan. tetapi sangat lambat. mengandung tidak kurang dari 6. Zat aktif yang digunakan pada saat praktikum adalah PGA. Kelarutan Mudah terdispersi dalam air membentuk larutan koloidal. sakarosa dan fruktosa. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University9 dari 4 . transparan. putih sampai krem. Hal 781) GOM ARAB SERBUK PGA Pemerian Serbuk. meninggalkan sisa bagian tanaman dalam jumlah sangat sedikit. higroskopik. dilakukan penetapan menggunakan 1. Wadah dan penyimpanan Dalam wadah yang tertutup baik. Batas mikroba Tidak bioleh mengandung Escherichia coli.0 g.1995 .Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 CMC Karboksimetilselulosa natrium adalah garam natriumdari polikarboksimetil eter selulosa. praktis tidak larut dalam etanol dan dalam eter. tannin. tidak berwarna atau kekuningan. Lab. Kelarutan Larut hamper sempuran dalam air. zat tidak larut. Wadah dan penyimpanan Dalam wadah yang tertutup rapat. kental.

Viskometer Hoeppler (Bola Jatuh) Dengan menggunakan viskometer Hoeppler.Stop watch E. PROSEDUR KERJA 1.Stop kontak .PGA 1% .Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 D. Propileglikol dan Sirupus simpleks. dikembalikan bola ke posisi semula dengan cara membalikan tabung.Spindel .Cera alba .Tabung .Propilenglikol .Bola . Tabung yang ada didalam alat diisi dengan cairan yang akan diukur viskositasnya sampai hampir penuh.Gliserin .Piknometer . sehingga tidak terdapat gelembung udara didalam tabung ↓ Apabila bola sudah turun melampaui garis awal.Sirupus simpleks . ditentukan viskometer mutlak dari bermacammacam cairan Newton: Gliserin.Meja penetrometer . ↓ Dimasukan bola yang sesuai ↓ Ditambahkan cairan sampai tabung penuh dan ditutup sedemikian rupa. ↓ Lab.CMC Na 1% . Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University10 dari 4 : Bahan : .Vaselin flavum . ALAT DAN BAHAN Alat .

Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University11 dari 4 . ↓ Dibuat grafik antara rpm dan viskositas. Dipasang spindel pada gantungan spindel ↓ Diturunkan sedemikian rupa.Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 Dicatat waktu tempuh bola melalui tabung mulai garis m1 sampai m3 dalam detik. Sampel yang akan diperiksa sebaiknya dilebur dahulu agar homogen b. 2. Leburan sampel diaduk perlahan-lahan sampai dingin. akan diperoleh viskositas cairan pada berbagai rpm. CMC Na 1%. ↓ Dipasang stop kontak ↓ Dihidupkan motor sambil menekan tombol ↓ Dibiarkan spindel berputar dan dicatat angka viskositas yang tertera pada alat. Oleh karena itu perlu dilakukan bola yang cocok terlebih dahulu. ↓ Dengan mengubah-ubah rpm. kemudian ditentukan tipe aliran dari masing-masing zat. Viskometer Brookfield Ditentukan sifat aliran dari: Gliserin. Permukaan sampel harus datar Lab. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada penggunaan alat: a. sehingga batas spindel tercelup kedalam cairan yang akan diukur viskositasnya. dan PGA 1%. ↓ Dihitung viskositas cairan dengan menggunakan rumus yang sesuai. baru dituangkan kedalam wadah untuk menghindari terjadinya kontraksi volume. ↓ Waktu pengukuran yang terbaik adalah minimum 30 detik dan maksimum 500 detik. ↓ Ditentukan bobot jenis (BJ) cairan dengan menggunakan piknometer. c.

5 x bobot PGA = 1. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University12 dari 4 . maka pengukuran dapat dilakukan tiga kali untuk satu wadah dengan jarak kerucut membentuk sudut 120˚ satu sama lain. Sampel hanya dapat digunakan untuk satu kali penentuan. letakan kerucut ditengah-tengah sampel. HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN 1. 263 k F = 0. Bila angka penetrasi lebih kecil atau sama dengan 200. • • PENIMBANGAN DAN PERHITUNGAN BAHAN Tiap 100 ml Sirupus Simplex mengandung 65 gram gula CMC Na 1 % = 1 gram / 100 ml Dibuat 600 ml CMC Na yang digunakan sebanyak = 1 gram / 100 ml x 600 ml = 6 gram Air panas yang dibutuhkan untuk CMC Na = 20 x bobot CMC Na = 20 x 6 gram = 120 ml • PGA 15 % = 15 gram / 100 ml Dibuat 600 ml PGA yang digunakan sebanyak = 15 gram / 100 ml x 600 ml = 90 gram Air panas yang dibutuhkan untuk PGA = 1.F ᵑ Lab. F. 952 = t (ρ1 – ρ2). 497 = 0. Viskometer Hoeppler (Bola Jatuh) • Gliserin bola 4 t = 232 detik ρ1 = 8. 127 ρ2 = 1.k. Bila angka penetrasi lebih besar dari 200.Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 d. 5 x 90 gram = 135 ml G.

20 gram ᵑ ᵑ W3 = piknometer + gliserin = 50. 219 – 1. 219 ρ2 = 1.k.31gram w3 − w1 w2 − w1 Lab.103)(0. 952 = t (ρ1 – ρ2).103)(0.263)(0.S • Propilen Glikol bola 2 t = 143 detik ρ1 = 2. 094 k F = 0. 238 k F = 0.952) =753.952) =11. 775 mPa. 219 – 1.S Perhitungan BJ • Gliserin W 1 = piknometer kosong W 2 = piknometer + air = 17.497)(0.952) =15. 103 = 0.31gram 43. 094)(0. 952 = t (ρ1 – ρ2).S • Sirupus Simplex bola 2 t = 115 detik ρ1 = 2. 03 gram BJ = = 50.Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 = 232 (8.F = 143 (2. 31 gram = 43. 103 = 0. 062 mPa. 219 ρ2 = 1. 127 – 1.03 gram −17.F = 115 (2.238)(0. 347 mPa.k. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University13 dari 4 .20 gram −17.

03 gram 32.36 gram −17. 2638 gram / cm3 • Propilen Glikol W 1 = piknometer kosong W 2 = piknometer + air = 17.27 gram 43.31gram −17.29 gram 43.47 gram −17. 36 gram BJ = = 49. 238 gram / cm3 • CMC Na W 1 = piknometer kosong W 2 = piknometer + air = 17. 094 gram / cm3 • Sirupus Simplex W 1 = piknometer kosong W 2 = piknometer + air = 17. 27 gram = 43.094 gram / cm3 Jadi.27 gram 28.19 gram −17.72 gram W3 = piknometer + propilenglikol = 45.Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 = 25.2 gram 25.90 gram w3 − w1 w2 − w1 = 1.03 gram −17.31gram −17.27 gram w3 − w1 w2 − w1 Lab. 238 gram / cm3 Jadi. 2638 gram / cm3 Jadi.89 gram = 1. 27 gram = 43. 47 gram BJ = = = 45. 29 gram = 43. 31 gram BJ = = 43.07 gram = 25. BJ Sirupus Simplex = 1. 19 gram W3 = piknometer + sirupus simplex = 49. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University14 dari 4 .76 gram w3 − w1 w2 − w1 = 1. BJ Propilen Glikol = 1.29 gram 32. BJ Gliserin = 1. 20 gram W3 = piknometer + CMC Na= 43.27 gram 43.

93 gram 26. 53 gram BJ = = = 44. Viskometer Brookfield Spindel yang dipakai nomor 61 – 64 Kecepatan 10 – 100 Rpm dan kecepatan 100 – 10 Rpm a.91gram w3 − w1 w2 − w1 = 1. Gliserin Spindel : 63 RPM 10 20 30 50 60 100 b. BJ CMC Na = 1. 27 gram = 43. 18 gram W3 = piknometer + gliserin = 44. 052 gram / cm3 2.27 gram 43.26 gram 25. 004 gram / cm3 • PGA W 1 = piknometer kosong W 2 = piknometer + air = 17. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University15 dari 4 Viskositas 680 714 744 799 818 840 RPM 100 60 50 30 20 10 Viskositas 840 816 809 776 762 730 .04 gram = 1.27 gram 27.Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 = 25. 004 gram / cm3 Jadi. 052 gram / cm3 Jadi.53 gram −17.18 gram −17. BJ PGA = 1. CMC NA1% Spindel : 62 Lab.

5 102. 12 RPM 100 60 50 30 20 10 Viskositas 12. 5 105. PGA 1% Spindel : 61 RPM 10 20 30 50 60 100 Viskositas 69 71 85 102 104. 6 9. 6 8. 4 2. 7 4. 5 109. 24 8. 3 4. 2 7. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University16 dari 4 . 8 RPM 100 60 50 30 20 10 Viskositas 109.Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 RPM 10 20 30 50 60 100 c. 7 12. 8 96 91 81 Viskositas 0 3. 1 0 KURVA GLISERIN Lab.

Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 KURVA CMC Na 1% Lab. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University17 dari 4 .

876 poise dan sirupus simplek = 75. Selain itu.Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 KURVA PGA 1% H. Dalam pengukuran viscometer dengan viscometer bola jatuh menggunakan cairan (larutan ) gliserin.34 dengan diameter 15. B Setelah di lakukan perhitungan viskositas dengan perhitungan di atas didapat nilai viskositas gliserin = 239. semakin besar masa jenis suatu cairan atau larutan maka semakin besar ukuran bola yang digunakan dan semakin cepat waktu yang dibutuhkan bola tersebut untuk melampaui garis awal sampai garis akhir. propilen glikol. Pada viscometer hoeppler ( bola jatuh ) memiliki syarat yaitu bola yang di pakai pada masing-masing cairan pada saat jatuh . dan pada sirupus simplek adalah bola ke 4 dengan waktu 120 detik dan diameter 15. pada praktikum kali ini saat percobaan memakai gliserin bola yang dipakai adalah bola ke 3 dengan waktu 50 detik dan dengan diameter 15. PEMBAHASAN 1.6 .6 .554 poise .Sf) . propilenglikol = 203. dan sirupus simpleks. Viskometer Hoeppler (Bola Jatuh) Dalam pengukuran viscometer dengan metode satu titik. 0114 poise . dengan perhitungan menggunakan rumus adalah Ƞ = t (Sb . Sebaliknya. Hal ini berarti semakin kecil masa jenis suatu cairan atau larutan maka semakin kecil ukuran bola yang digunakan dan semakin lama waktu yang dibutuhkan bola tersebut untuk melampaui garis awal sampai garis akhir. yaitu waktu pengukuran yang terbaik adalah minimum 30 detik dan maksimum 500 detik . pada propilenglikol bola yang dipakai adalah bola ke 4 dengan waktu 41. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University18 dari 4 . dengan mengikuti sistem Newtonyaitu dengan viscometer Hoeppler (bola jatuh). semakin kecil masa jenis suatu Lab.2 .

Pada hukum aliran viskos. maka semakin susah benda padat bergerak didalam zat cair tersebut.Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 cairan maka semakin besar viskositasnya. Jika disesuaikan dengan rumus yang digunakan dalam perhitungan viskometer bola jatuh. 2. Setelahdilakukan perhitungan data diperoleh bahwa viskositas tertinggi hingga terendah berturut-turut adalah larutan gliserin. sehingga bola hanya membutuhkan waktu yang singkat untuk sampai digaris akhir. dan sebaliknya bahan–bahan yang distribusi kecepatan sulit mengalir dikatakan memiliki viskositas yang tinggi. diikuti sirupus simpleks dan propilenglikol. dapat dihitung viskositas dari tiap larut an. Sehingga viskositas gliserin yang paling tinggi dibandingkan larutan lainnya. karena CMC Na memiliki viskositas tidak konstan. Newton menyatakan hubungan antara gaya–gaya mekanika dari suatu aliran viskos sebagai :Geseran dalam (viskositas) fluida Lab. CMC Na dan PGA. maka semakin tinggi nilai bobot jenis. Dan juga untuk pengujian dengan cairan PGA hasilnya adalah non Newton yang dipengaruhi oleh waktu. Viskositas dapat dinyatakan sebagai tahanan yang merupakan gesekan antara molekul–molekul cairan satu dengan yang lain. dapat dikatakan memiliki viskositas yang rendah. Dari hasil percobaan yaitu cairan gliserin merupakan cairan Newton. Viskositas dalam zat cair. Semakin besar massa jenis suatu cairan maka semakin kecil viskositasnya. Sedangkan bobot jenis tertinggi adalah gliserin. semakin tinggi pula viskositasnya. semakin besar viskositas zat cair. Menurut data yang diperoleh dari ketiga jenis larutan tersebut yaitu semakin besar RPM maka semakin besar pula viskositasnya. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University19 dari 4 . Viskositas dalam gas yang berperan adalah gaya akibat tumbukan antar molekul-molekul dalam gas. Pada cairan CMC Na merupakan cairan non Newton di pengaruhi oleh waktu (pseudoplastis). Berdasarkan data yang diperoleh. Suatu jenis cairan yang mudah mengalir. sehingga bola membutuhkan waktu yang lama untuk sampai digaris akhir. Viskometer Brookfield Dalam pengukuran viskometer dengan viskometer Brookfield menggunakan cairan (larutan) gliserin. karena gliserin memiliki viskositas konstan pada suhu dan tekanan konstan. yang berperan adalah gaya kohesi antar partikel zat cair. propilenglikol dan sirupus simpleks.

dapat mengakibatkan kepekatan pada larutan walaupun pada konsentrasi yang rendah. Yang dimana semakin besar nomor spindle makan semakin kecil ukurannya dan digunakan pula untuk larutan yang semakin kental. strain Bacillus yang dapat memproduksi PGA dalam jumlah yang besar telah. PGA pertama kali dideteksi sebagai komponen kapsul sel dari Bacillus anthracis. Bacillus subtilis (B.Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 adalah konstan sehubungan dengan gesekannya. KESIMPULAN • • • • Cairan gliserin merupakan cairan Newton. I. Lab.Hubungan tersebut berlaku untuk fluida Newton. Pada bentuk yang tak terionisasi. PGA diketahui mempunyai afinitas yang tinggi terhadap ion metal karena elektron-elektron sunyi yang dimilikinya. 1993).1-1x106 g/mol dengan derajat polimerisasi 700-7000. Parameter inilah yang disebut dengan viskositas. maka semakin susah benda padat bergerak didalam zat cair Dari 3 jenis larutan yang digunakan bahwa gliserinlah yang lebih kental dan larutan yang paling encer adalah PGA Berdasarkan data pengamatan yang diperoleh yaitu semakin besar nomor spindle makan semakin kecil ukurannya dan digunakan pula untuk larutan yang semakin kental. Dan berdasarkan pengamatan yang didapat juga yaitu diantara 3 macam larutan diatas bahwa gliserinlah yang lebih kental dan larutan yang paling encer adalah PGA. Aliran viskos dapat digambarkan dengan dua buah bidang sejajar yang dilapisi fluida tipis diantara kedua bidang tersebut. CMC menggunakan spindle dengan nomor 63 dan untuk PGA menggunakan spindle dengan nomor 62. (Martin. PGA bersifat larut air dan sangat higroskopis. cairan CMC Na merupakan cairan non Newton Dan juga untuk cairan PGA adalah non Newton Semakin besar viskositas zat cair. dimana perbandingan antara tegangan geser dengan kecepatan gesernya konstan. PGA mempunyai berat molekul antara 0. subtilis) mampu menghasilkan antara 20-50 g/L dari cairan kulturnya. Pada awal abad ke20. PGA mempunyai struktur helix tangan kanan yang distabilkan oleh ikatan hidrogen intramolekuler antara CO dan NH dari setiap 3 ikatan amida. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University20 dari 4 . penggunaan spindle untuk gliserin dengan nomor yang lebih besar yaitu 64. Selanjutnya PGA ditemukan pada strain Gram-positif dari genus Bacillus.

London: Pharmaceutical Press. Lab. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University21 dari 4 . FASTtrack: Pharmaceutics – Dosage Form and Design . London: Pharmaceutical Press. C. D. Surjaningrat. Yogyakarta: Graha Ilmu. W.1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. 2. D. Bandung: Penerbit ITB. Martin. Teknologi Sediaan Farmasi. 2010. Compounding and Dispensing. Jakarta: Universitas Indonesia Press. 2009. 1993. 2006. Y.Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 DAFTAR PUSTAKA 1. FASTtrack: Pharmaceutical Pharmaceutical Press. Agoes. Pengembangan Sediaan Farmasi. FASTtrack: Pharmaceutics . 4. Jones. A et. Kurniawan. 2008. 6. Jakarta: Departemen kesehatan Republik Indonesia.al. Suwardjono. London: 7. 2008. G. 5. Perrie. 3. Langley.Drug Delivery and Targeting . Farmasi Fisika.

Laporan Praktikum Farmasi Fisika 201 3 Bandung. ________________________ ____________________ Lab. 31 Mei 2011 Mengesahkan Asisten Penanggungjawab Kelompok. Nilai Laporan Praktikum. Farmasi Terpadu Unit E – Farmasi Fisika – Department of Pharmacy – Bandung Islamic University22 dari 4 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful