P. 1
Sumber Pendanaan Jangka Panjang

Sumber Pendanaan Jangka Panjang

|Views: 309|Likes:
Published by dian indriani
manajemen keuangan
manajemen keuangan

More info:

Published by: dian indriani on Jun 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/23/2015

pdf

text

original

Pendanaan Jangka Panjang

1

BAB I
PENDAHULUAN


Terdapat berbagai jenis sumber dana jangka panjang yang tersedia bagi perusahaan
seperti misalnya long-term debt, saham preferen dan saham biasa. Hutang jangka panjang ini
dapat diperoleh melalui pinjaman di bank atau dengan cara menjual obligasi. Obligasi dan saham
preferen merupakan jenis pendanaan dengan beban tetap atau fixed income securities.

Keduanya memberikan pendapatan dengan jumlah yang tetap kepada pemiliknya.
Sementara itu perusahaan dapat pula memperoleh dana jangka panjang dengan menjual saham
biasa atau go public. Saham biasa merupakan surat berharga dengan penghasilan tidak tetap atau
variable income security karena pemegang saham biasa hanya akan memperoleh pendapatan
apabila perusahaan mendapatkan laba dan membagikannya sebagai dividen. Besar kecilnya
dividen sangat tergantung atas laba yang diperoleh dan dividen payout ratio. Saham biasa juga
berbeda dengan obligasi dan saham preferen dalam harga pasar, di mana harga saham biasa
cenderung berfluktuasi sementara obligasi dan saham preferen relative lebil stabil.

Dari pihak perusahaan, penggunaan obligasi dan saham preferen memberikan manfaat
berupa perlindungan pajak. Hal ini disebabkan karena pembayaran bunga dan dividen untuk
saham preferen yang kumulatif merupakan pengurang pajak. Dilihat dari segi kepemilikannya,
pemegang obligasi disebut juga sebagai kreditur sedangkan pemegang saham biasa maupun
saham preferen disebut juga sebagai pemilik perusahaan. Ciri lain adalah bahwa obligasi
memiliki jatuh tempo sedangkan saham biasa dan saham preferen tidak memiliki jatuh tempo.
Konsekuensi lain penggunaan obligasi ini adalah bahwa ketidakmampuan membayar bunga
dapat mengakibatkan kebangkrutan sedangkan ketidakmampuan membayar dividen tidak
berakibat apa-apa.



Pendanaan Jangka Panjang

2

BAB II
PEMBAHASAN

Karakteristik Pendanaan Hutang Jangka Panjang
Pendanaan jangka panjang adalah pendanaan > satu tahun. Bentuknya hutang jangka
panjang (istilah „Loan”) yang dinegosiasi dari lembaga keuangan atau melalui penjualan obligasi
(bond).
Instrumen Hutang Jangka Panjang
Terdapat beberapa alternatif hutang jangka panjang seperti: hutang bank, obligasi hutang
dengan dan tanpa jaminan, dan hutang jangka panjang yang dpat diperjualbelikan.
Hutang jangka panjang atau long term loan adalah satu bentuk perjanjian antara
peminjam dengan kreditur di mana kreditur bersedia memberikan pinjaman sejumlah tertentu
dan peminjam bersedia untuk membayar secara preiodik yang mencakup bunga dan pokok
pinjaman. Hutang jangka panjang ini dapat diperoleh melalui bank, perusahaan asuransi, atau
dapat juga kepension fund. Hutang jangka panjang ini mempunyai tiga karakteristik yaitu: cepat,
fleksibel dan biaya yang rendah. Ini disebabkan karena pinjaman ini dinegosiasikan langsung
antara peminjam dengan kreditur. Biaya administrasi menjadi relatif kecil dan tidka diperlukan
adanya persetujuan dengan pengawas pasar modal seperti halnya jika perusahaan mengeluarkan
obligasi.

I. Ketentuan Standar Hutang.
Standar perjanjian hutang jangka panjang bagi peminjam:
a. Wajib mempertahankan pencatatan akuntansi sesuai dg GAAP
b. Wajib menyampaikan laporan keuangan yang telah diaudit
c. Wajib membayar pajak dan kewajiban lain pada saat jatuh tempo
d. Wajib mempertahankan seluruh fasilitas agar tetap dalam kondisi yang baik

Pendanaan Jangka Panjang

3

II. Ketentuan Pembatas Hutang.
Secara umum perjanjian pembatas ini mencakup:
a. Debitur wajib mempertahankan tingkat modal kerja bersih minimum.
b. Debitur dilarang untuk menjual piutang dagang (account receivables)
c. Kreditur membatasi aset tetap pada perusahaan.
d. Debitur dibatasi menambah pinjaman jangka panjang
e. Debitur dilarang untuk mengadakan leases
f. Debitur dilarang melakukan melakukan kondolidasi, merger atau penggabungan dengan
perusahaan lain
g. Debitur dilarang membayar gaji yang besar, pemberi pinjaman atau membatasi kenaikan gaji
bagi pegawai tertentu.
h. Manajemen wajib mempertahankan ”tenaga kerja inti” tertentu,
i. Debitur dilarang melakukan alternatif investasi.
j. Debitur wajib menggunakan dana pinjaman sesuai tujuan
k. Debitur dibatasi dalam pembayaran dividen tunai dengan nilai maksimum 50 persen sampai
70 persen dari laba bersih.

III. Biaya Hutang Jangka Panjang.
Biaya hutang jangka panjang > hutang jangka pendek. Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya
atau tingkat bunga dari hutang jangka panjang:
1. Jatuh tempo.
2. Besar pinjaman.
3. Risiko penerima pinjaman.
4. Biaya pokok uang.

Pinjaman Jangka Panjang (Long Term Loan)
I. Karakteristik perjanjian pinjaman berjangka (Term Loan).

Pendanaan Jangka Panjang

4

Hal-hal yang dimasukkan dalam dokumen perjanjian pinjaman berjangka adalah:
1. Jumlah dan jatuh tempo pinjaman
2. Tanggal pembayaran
3. Tingkat bunga
4. Ketentuan standar dan pembatas
5. Kolateral
6. Tujuan pinjaman
7. Tindakan yang diambil jika terjadi pelanggaran dalam perjanjian
8. Waran pembelian saham (stock purchase warrants)

II. Pemberi pinjaman berjangka
Lembaga keuangan utama yang memberikan pinjaman berjangka kepada perusahaan adalah:
1. Bank komersial
2. Perusahaan asuransi
3. Lembaga dana pensiun
4. Perusahaan pengembangan regional
5. Lembaga pembiayaan usaha kecil
6. Perusahaan investasi usaha kecil
7. Perusahaan keuangan komersial


A. OBLIGASI

I. Pengertian Obligasi
Obligasi yaitu surat tanda hutang yang dikeluarkan oleh perusahaan sejumlah tertentu dan
akan jatuh tempo pada waktu tertentu dan memberikan pendapatan sebesar bunga
tertentu. Jatuh tempo obligasi umumnya antara 10 sampai 30 tahun, tetapi ada juga
obligasi yang jatuh tempo antara 7 sampai 10 tahun. Obligasi sebenarnya sama dengan
hutang jangka panjang yang diperoleh melalui bank. Hanya saja obligasi ini penjualannya
dipublikasikan dan dijual kepada investor langsung. Tingkat bunga obligasi biasanya
tetap dan dibayarkan satu tahun sekali atau dua kali dalam satu tahun.
Pendanaan Jangka Panjang

5



II. Karakteristik Obligasi
Sekuritas yang diperdagangkan di bursa efek pada dasarnya bisa dibagi menjadi dua,
yaitu sekuritas yang menunjukkan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan, yaitu dalam
bentuk saham, dan yang menunjukkan surat tanda hutang dari emiten yang menerbitkan
sekuritas tersebut. Bentuk yang kedua ini disebut sebagai obligasi. Jadi kalau emiten
menerbitkan obligasi, maka ini berarti bahwa emiten tersebut mengakui berhutang
kepada pembeli atau pemilik obligasi tersebut.
Jangka waktu suatu obligasi bervariasi, tetapi umumnya berjangka waktu 5 tahun.
Bagi perusahaan, penerbitan obligasi merupakan suatu cara untk memotong biaya
intermediasi keuangan. Apabila perusahaan meminjam dari bank, peusahaan mungkin
harus membayar bunga 18% per tahun. Apabila perusahaan dapat menerbitkan obligasi
dengan coupon rate hanya sebesar 15% per tahun, dan terjual dengan harga sama dengan
nilai nominal, maka perusahaan dapat menghemat biaya dana (cost of debt) sebesar 3%.
Kalaupun dalam emisi tersebut perusahaan menanggung biaya emisi sekitar 5%, maka
biaya tersebut dapat diamortisasi selama 5 tahun (sesuai usia obligasi), sehingga biaya
emisi per tahun hanya 1%. Dengan demikian masih bisa dihemat biaya dana sebesar 2%.

III. Jenis-jenis Obligasi
Dalam prakteknya terdapat berbagai jenis obligasi dan masing-masing jenis
obligasi tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda. Berikut ini akan dibahas
berbagai jenis obligasi yang biasa diperdagangkan dipasar modal, beserta beberapa
karakteristiknya :
1. Obligasi dengan tingkat bunga tetap ( fixed rate bond ).
Jenis obligasi yang sederhana adalah obligasi yang menawarkan bunga, disebut
sebagai coupon, tetap selama jangka waktu obligasi tersebut. Bunga yang dibayarkan
mungkin dilakukan setahun sekali, tetapi mungkin juga dilakukan setiap semester,
atau setiap triwulan. Dengan demikian kalau suatu obligasi menawarkan coupon rate
sebesar 18% per tahun, dibayarkan setiap tahun dengan nilai nominal Rp. 1.000.000,-
dan berjangka waktu 5 tahun, maka bagi pembeli obligasi tersebut akan menerima
Pendanaan Jangka Panjang

6

Rp. 180.000,- setiap tahun, mulai tahun pertama sampai dengan tahun kelima. Pada
tahun kelima pemilik obligasi disamping menerima bunga, juga akan memperoleh
pelunasan nilai nominal sebesar Rp.1.000.000,-.
2. Obligasi dengan tingkat bunga mengambang (floating rate bond).
Obligasi yang menawarkan suku bunga mengambang biasanya ditawarkan sebesar
persentase tertentu di atas suku bunga deposito. Mungkin juga dilakukan kombinasi
dengan suku bunga tetap (fixed rate). Misalnya pada tahun pertama menawarkan
suku bunga 19%, tetapi pada tahun-tahun berikutnya menawarkan suku bunga
mengambang.
3. Obligasi dengan tingkat bunga nol (zero coupon bonds atau pure discount bond).
Obligasi jenis ini dijual dengan diskon pada awal periode, dan kemudian dilunasi
penuh sesuai dengan nilai nominal, pada akhir periode.
4. Obligasi konversi (convertible bonds)..
Merupakan obligasi yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk
mengkonversikan obligasi tersebut dengan sejumlah saham perusahaan pada harga
yang telah ditetapkan, sehingga pemegang obligasi mempunyai kesempatan untuk
memperoleh capital gain. Disisi lain perusahaan emiten akan memperoleh keuntungan
karena umumnya obligasi konversi memberikan tingkat kupon yang relative lebih
rendah disbanding obligasi biasa.
5. Obligasi dengan jaminan ( mortgage bonds ).
Adalah obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan dengan menggunakan jaminan
suatu asset riil. Sehingga jika perusahaan gagal memenuhi kewajibannya, maka
pemegang obligasi berhak untuk mengambil alih asset tersebut. Perusahaan juga bisa
menerbitkan obligasi yunior atau second mortgage bond, yaitu obligasi dengan
menggunakan jaminan asset riil yang sama dengan obligasi yang telah disebutkan
sebelumnya. Jika terjadi likuidasi maka pemegang obligasi yang kedua akan
mempunyai hak atas jaminan tersebut setelah hak pemegang obligasi pertama
terpenuhi.
6. Obligasi tanpa jaminan (debentures atau unsecured bond )
Adalah obligasi yang diterbitkan tanpa menggunakan jaminan asset riil tertentu. Sama
halnya dengan mortgage bond, perusahaan juga bisa menerbitkan obligasi tanpa
Pendanaan Jangka Panjang

7

jaminan lagi setelah obligasi tanpa jaminan diterbitkan, yang disebut sebagai
subordinated ( yunior ) debentures.
7. Obligasi yang disertai warrant.
Dengan adanya warrant maka pemegang obligasi mempunyai hak untuk membeli
saham perusahaan pada harga yang telah ditentukan. Sama halnya dengan obligasi
konversi, pemegang obligasi dengan warrant akan mempunyai kesempatan untuk
mendapatkan capital gainjika harga saham mengalami kenaikan. Emiten juga akan
memperoleh keuntungan dengan memberikan tingkat kupon yang lebih rendah,
karena pada umumnya obligasi konversi dan obligasi dengan warrant memberikan
tingkat bunga kupon yang lebih rendah dibandingkan dengan obligasi biasa.
8. Putable bond
Adalah obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk menerima
pelunasan obligasi sesuai dengan nilai pari sebelum waktu jatuh tempo. Putable bond
akan melindungi pemegang obligasi terhadap fluktuasi tingkat bunga yang terjadi.
Jika tingkat bunga pasar mengalami kenaikan dan harga obligasi akan mengalami
penurunan maka pemegang obligasi mempunyai hak untuk meminta pelunasan
perusahaan, sehingga pemegang obligasi tersebut dapat menginvestasikan kembali
dananya pada tingkat bunga yang sesuai dengan tingkat bunga pasar yang berlaku.
9. Junk bond
Adalah obligasi yang memberikan tingkat keuntungan (kupon ) yang tinggi, tetapi
juga mengandung resiko yang sanagt tinggi pula. Junk bond biasanya diterbitkan oleh
perusahaan yang beresiko tinggi atau oleh perusahaan yang mempunyai rencana
merger atau akuisisi.

IV. Yield Obligasi

Dalam obligasi ada dua istilah yang terkait denga karakteristik pendapatan suatu obligasi
yaitu :
1. Bunga obligasi ( bond interest rate )
Bunga obligasi dapat diartikan sebagi harga atau imbalan yang dibayarkan oleh pihak
yang meminjam dana ( dalam hal ini adalah emiten) kepada pihak yang meminjamkan
Pendanaan Jangka Panjang

8

dana, atau investor obligasi sebagai kompensasi atas kesediaan investor meminjamkan
dananya kepada perusahaan emiten. Besar bunga obligasi biasanya sudah ditentukan pada
saat obligasi tersebut diterbitkan dan jumlahnya tetap hingga obligasi tersebut jatuh
tempo.
2. Yield Obligasi
Adalah ukuran pendapatan obligasi yang akan diterima inverstor, yang cenderung bersifat
tidak tetap, mengapa ? karena yield obligasi akan sanagt terkait dengan tingkat bunga
yang diisyaratkan oleh investor.

Ada beberapa ukuran yield obligasi yang dipergunakana oleh investor yaitu .
1. Nominal yield
Adalah tingkat bunga yang diberikan obligasi dan besarnya sama dengan bunga kupon.
Jika suatu obligasi memberikan bunga kupon sebesar 18% maka obligasi tersebut
dinyatakan memiliki nominal yield sebesar 18%.
2. Current yield
Adalah rasio tingkat bunga obligasi terhadap harga pasar dari obligasi tersebut. Current
yield dapat digunakan dengan menggunakan rumus berikut ini :
CY = C
i
/ P
m

Dimana :
CY = current yield obligasi
C
i
= pembayaran kupon pertahun untuk obligasi i
P
m
= harga pasar obligasi

Current yield biasanya dilaporkan secara harian di media masa ( misalnya : Wall Street
Journal ). Informasi current yield akan lebih berguna bagi in
vestor, dibanding informasi yang berupa bunga kupon obligasi biasa, karena current yield
memberikan gambaran perbandingan kupon obligasi dengan harga pasar obligasi.
Meskipun demikian tidak bisa dianggap sebagi return sesungguhnya dari obligasi karena
tidak dapat menggambarkan perbedaaan antara harga obligasi pada saat dibeli dan harga
obligasi pada saat dijual.
Contoh :
Pendanaan Jangka Panjang

9

Apabila suatu obligasi membayar bunga pertahun sebesar Rp. 150.000 dan harganya
Rp.900.000, maka current yield nya adalah 16,67%.

3. Yield to maturity ( YTM )
Tingkat bunga ini merupakan internal rate of return (IRR) yang diperoleh oleh pemodal
dengan memiliki obligasi sampai dengan jatuh tempo. Misalkan suatu obligasi
membayarkan bunga sebesar Rp.160.000 per tahun dengan jangka waktu selama 5 tahun.
Apabila obligasi tersebut mempunyai nilai nominal (pelunasan) Rp. 1.000.000 dan saat
ini mempunyai harga pasar sebesar Rp.937.000, maka IRR nya bisa dihitung dengan
menggunkan persamaan sebagai berikut :
937 = [160/(1 + i)] + [160/(1 + i)
2
] + … + [(160 + 1.000)/(1 + i)
5
]+1.000.000 / (1+i)5
Karena itu kita akan memperoleh i ≈ 18%. Perhatikan bahwa IRR tidak lain merupakan
tingkat bunga yang menyamakan sisi kiri persamaan (yaitu present value kas keluar)
dengan sisi kanan persamaan (yaitu present value kas masuk). Untuk perhitungan secara
manual diperlukan trial and error untuk bisa menemukan angka yang tepat.
Yield to maturity pada umumnya bukanlah tingkat keuntungan yang diperoleh apabila
obligasi tersebut dijual sebelum jatuh tempo. Sedangkan yield to maturity untuk zero
coupon bond merupakan spot rate.

4. Yield to call (YTC)
Adalah yield yang diperoleh pada obligasi yang bisa dibeli kembali (callable ) sebelum
jatuh tempo. Bagaimana cara menghitung yield untuk obligasi yang belum jatuh tempo ?.,
berikut rumus yang dapat kita gunakan :
c
c
t
t
i
YTC
P
YTC
C
P
2
20
1
2
1
2
1
2
|
.
|

\
|
+
+
|
.
|

\
|
+
=
¿
=

dimana :
P = harga pasar obligasi saat ini
YTC = Yield to cal
C
i
= pendapatan kupon pertahun
C = periode sampai dengan saat obligasi dilunasi
Pendanaan Jangka Panjang

10

1.P
c
= call price obligasi
Disamping itu, untuk menghitung nilai YTC yang mendekati, dapat juga digunakan
persamaan berikut ini :

YTC* =
2
P P
n
P P
C
c
c
i
+
÷
+

Dimana :
YTC* = nilai YTC yang mendekati
P = harga obligasi pada saat ini (t=0)
n = jumlah tahun sampai dengan yield to call yang terdekat
C
i
= pendapatan kupon per tahun
P
c
= call price obligasi

Contoh : Sebuah obligasi yang callable jatuh tempo 20 tahun lagi dank upon yang
diberikan adalah 18%. Nilai par obligasi tersebut adalah Rp. 1.000 dan saat ini dijua;
pada harga Rp. 1.419,5. Kemungkinan obligasi tersebut akan dilunasi oleh emiten 5
tahun lagi dengan call price sebesar Rp.1.180, sehingga YTC untuk obligasi adalah :


10
10
1
2
1
180 . 1
2
1
90
5 , 419 . 1
|
.
|

\
| +
+
|
.
|

\
| +
=
¿
= YTC YTC t
t

1.419,5 = 90 (present value of annuity, 5% untuk 10 periode) + 1.180 (present value
factor, 5% untuk 10 periode)
1.419,5 = 90(7,722) + 1.180(0,64)
1.419,5 = 1.419,5

Dari hasil perhitungan tersebut diketahui bahwa YTC dari obligasi tersebut adalah 10%.
Sedangkan jika menggunakan persamaan lainnya, maka YTC nya adalah sebagai berikut

Pendanaan Jangka Panjang

11

YTC
*
=
75 , 299 . 1
) 9 , 47 ( 180
2
5 , 419 . 1 180 . 1
5
5 , 419 . 1 180 . 1
180
÷ +
=
+
÷
+


YTC
*
= 10,19%

Pada obligasi yang dijual pada harga premi (di atas par) maka sebaiknya dalam menilai
obligasi lebih baik digunakan yield to call daripada yield to maturity.

5. Realized (horizon) yield, atau yield yang terealisasi (horizon)
adalah tingkat return yang diharapkan investor dari sebuah obligasi, jika obligasi tersebut
dijual kembali oleh investor sebelum waktu jatuh temponya. Disamping itu, yield yang
trealisasi (horizon) dapat juga digunakan untuk mengestimasi tingkat return yang dapat
diperoleh investor dengan menggunakan strategi perdagangan tertentu. Perhitungan yang
harus dilakukan dalam menentukan yield horizon ini memerlukan beberapa estimasi yang
sebelumnya tidak digunakan pada ukuran yield lainnya. Estimasi yang harus dilakukan
investor antara lain adalah estimasi harga jual obligasi pada akhir periode investasi yang
diharapkan dan estimasi tingkat reinvestasi untuk pendapatan kupon yang diperoleh.
Dengan menggunakan estimasi tingkat reinvestasi dan harga jual obligasi, investor dapat
menghitung return horizon yang akan diperoleh jika estimasi tersebut terealisasi. Untuk
menghitung yield yang terealisasi (RY) dapat dipergunakan persamaan berikut ini .
h
f
h
t
t
i
RY
P
RY
C
P
2
2
1
2
1
2
1
2
|
.
|

\
| +
+
|
.
|

\
| +
=
¿
=

P = harga pasar obligasi saat ini
RY = Yield yang terealisasi
C
i
= pendapatan kupon pertahun
C = periode investasi obligasi
P
f
= harga jual obligasi dimasa yang akan datang

Disamping itu, untuk menghitung nilai RY yang mendekati dapat juga digunakan
perhitungan seperti persamaan berikut :

Pendanaan Jangka Panjang

12

RY
*
=
2
P P
h
P P
C
f
f
i
+
÷
+

dimana,
RY* = nilai yield yang terealisasi (horizon) yang mendekati
P = harga obligasi pada saat ini (t=0)
h = periode investasi obligasi (dalam tahun)
C
i
= pendapatan kupon obligasi per tahun
P
f
= harga jual obligasi di masa yang akan datang

Contoh : Sebuah obligasi, nominal Rp.1.000, umur 20 tahun dan kupon 16%, dijual pada
harga Rp.750. Investor mengestimasi bahwa dalam dua tahun mendatang suku bunga
yang berlaku akan turun, sehingga diperkirakan harga obligasi akan naik. Estimasi harga
obligasi pada dua tahun mendatang pada saat suku bunga turun adalah Rp.900, sehingga
yield yang terealisasi dari obligasi tersebut diperkirakan sebesar :

RY
*
=
825
75 160
2
750 900
2
750 900
160
+
=
+
÷
+


RY
*
= 28,48%


Tabel Kegunaan Masing-Masing Ukuran Yield Obligasi

Ukuran Yield Kegunaan

Nominal yield Mengukur tingkat kupon

Current yield Mengukur tingkat pendapatan sekarang

Yield to maturity (YTM) Mengukur tingkat return yang diharapkan jika
obligasi disimpan sampai waktu jatuh temponya

Yield to call (YTC) Mengukur tingkat return yang diharapkan jika
obligasi dilunasi (call) sebelum jatuh tempo

Realized (horizon) yield Mengukur tingkat return yang diharapkan untuk
obligasi yang akan dijual sebelum jatuh tempo.
Yield ini dihitung dengan menggunakan asumsi
tingkat reinventasi dan harga jual obligasi.
Pendanaan Jangka Panjang

13

Berbagai ukuran yield tersebut dapat digunakan untuk menentukan nilai suatu obligasi. Hasil
penilaian obligasi tersebut akan sangat mempengaruhi harga pasar obligasi.

Secara umum berbagai jenis hutang jangka panjang tersebut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
bond indenture, call feature, maturity dan sinking fund. Bond indenture adalah dokumen legal
yang digunakan untuk melindungi pemegang obligasi. Ini dimaksudkan karena begitu obligasi
telah dikeluarkan, misalnya untuk jangka waktu 30 tahun, maka manajer dapat bertindak untuk
menggunakan dana tersebut untuk memaksimumkan kemakmuran pemegang saham. Dengan
demikian pemegang obligasi khawatir jangan-jangan kepentingan dia terkorbankan hanya karena
manajer ingin memaksimukan kemakmuran pemegang saham. Oleh karena itu dalam bond
indenture ini dimuat secara spesifik tentang jenis hutang, cara pembayaran, dan berbagai batasan
atau persyaratan yang diajukan oleh pemegang obligasi atau kreditur.


B. SAHAM

Salah satu efek yang pasar umumnya dijual di pasar modal (bursa efek) adalah saham. Saham
adalah tanda penyertaan modal pada suatu Perseroan Terbatas (PT).

Manfaat yang diperoleh dari pemilikan saham adalah sebagai berikut :
1. Deviden : bagian dari keuntungan yang dibagikan kepada pemilik saham.
2. Capital gain : keuntungan yang diperoleh dari selisih positif harga beli dan harga jual saham.
3. Manfaat nonfinansial, yaitu mempunyai hak suara dalam aktivitas perusahaan.

Saham yang diterbitkan emiten ada 2 macam, yaitu saham biasa (common stock) dan saham
istimewa (preffered stock). Perbedaan saham ini berdasarkan pada hak yang melekat pada saham
tersebut. Hak ini meliputi hak atas menerima deviden, memperoleh bagian kekayaan jika
perusahaan dilikuidasi setelah dikurangi semua kewajiban-kewajiban perusahaan.
Pada suatu saham terdapat 3 (tiga) macam nilai :
• Nilai nominal adalah nilai yang tercantum pada saham tersebut.
• Nilai efektif adalah nilai yang tercantum pada kurs resmi kalau saham tersebut
Pendanaan Jangka Panjang

14

diperdagangkan di bursa, sedangkan
• Nilai instrinsik adalah nilai saham pada saat diperdagangkan.


Perbedaan yang lain mengenai saham adalah :

• Saham atas nama (register stocks) adalah yang berhak atas nilai saham sesuai dengan nama
yang tercantum dalam saham tersebut.
• Saham unjuk (bearer stocks) adalah orang yang memiliki (memegang) saham tersebut.
Saham unjuk relatif lebih mudah dipindahtangankan dibandingkan dengan saham atas
nama.

1. Saham Preferen (Preferred Stock)

Sebagai sumber modal jangka panjang perusahaan, saham preferen menduduki posisi antara long
term debt dengan saham biasa. Seperti halnya saham biasa, saham preferen juga merupakan
bagian dari modal sendiri. Seperti halnya long term debt, saham preferen juga memberikan
pendapatan yang relatif konstan di samping itu biaya modal saham preferen cenderung lebih
tinggi dari biaya hutang, karena risiko yang dihadapi pemegang saham preferen lebih besar dari
risiko pemegang obligasi, Pemegang saham preferen memiliki preferensi atau prioritas dalam
pembayaran dividen. Terdapat dua jenis saham preferen yaitu saham preferen yang komulatif
dan tidak komulatif. Saham preferen yang komulatif selalu diperhitungkan kewajiban
pembayaran dividen sebelum membayar dividen kepada pemegang saham biasa. Jadi misalkan
pada satu tahun tertentu perusahaan tidak mampu membayar dividen kepada pemegang saham
preferen komulatif ini, maka perusahaan berarti memiliki hutang dan wajib membayarkannya
tahun yang akan datang sebelum membagikan dividen kepada pemegang saham biasa.

Dalam proses likuidasi, pemegang saham preferen juga didahulukan pembayaran hak-haknya
sebelum pemenuhan kewajiban kepada pemegang saham biasa. Saham preferen memiliki
beberapa ciri khusus di antaranya adalah: pertama, saham preferen selalu dijual dengan harga
Pendanaan Jangka Panjang

15

pari. Kedua, saham preferen memberikan hak suara kepada pemegang saham preferen untuk
memilih manajer perusahaan jika pada waktu tertentu perusahaan tidak membagikan dividen.

Dengan demikian manajer dipaksa untuk berusahaa selalu membayar dividen kepada pemgang
saham preferen. Selanjutnya saham preferen juga di back up oleh sinking fund yang cukup, dan
karenanya memiliki jatuh tempo. Saham preferen juga dapat ditarik kembali sebelum jatuh
temponya dengan harga yang telah ditentukan sebelumnya. Biasanya call price lebih besar dari
nilai pari plus dividen selama satu tahun.

Ciri-ciri saham istimewa (preferen) adalah :
1. Hak utama atas deviden, artinya saham istimewa mempunyai hak terlebih dahulu dalam hal
menerima deviden.
2. Hak utama atas aktiva perusahaan, artinya dalam hal likuidasi berhak menerima pembayaran
maksimum sebesar nilai nominal saham istimewa setelah semua kewajiban perusahan dilunasi.
3. Penghasilan tetap, artinya pemegang saham istimewa memperoleh penghasilan dalam jumlah
yang tetap.
4. Jangka waktu yang tidak terbatas, artinya saham istimewa yang diterbitkan mempunyai jangka
waktu yang tidak terbatas, akan tetapi dengan syarat bahwa perusahaan mempunyai hak untuk
membeli kembali saham istimewa tersebut dengan harga tertentu.
5. Tidak mempunyai hak suara, artinya pemegang saham istimewa tidak mempunyai suara dalam
RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham).
6. Saham istimewa kumulatif, artinya deviden yang tidak dibayarkan oleh perusa-haan kepada
pemegang saham tetap menjadi hak pemegang saham istimewa tersebut. Jika suatu saat
perusahaan tidak membagikan deviden, maka pada periode yang lain jika perusahaan tersebut
membagikan deviden, maka perusahaan harus membayarkan deviden terutang tersebut sebelum
membagikannya kepada pemegang saham biasa.

Kelebihan Saham Preferen
1. Pembayaran dividen atas saham preferen relative lebih fleksibel dibandingkan dengan
bunga hutang. Ketidakmampuan pembayaran dividen kepada pemegang saham preferen
Pendanaan Jangka Panjang

16

tidak berakibat terlalu buruk dibandingkan dengan ketidakmampuan membayar bunga
hutang yang dapat diancam kebangkrutan.
2. Penggunaan saham preferen akan dapat meningkatkan degree of financial leverage.

Kelemahan Saham Preferen
1. Biaya modal setelah pajak yang tinggi dibandingkan dengan biaya modal dari hutang,
karena dividen saham preferen dibayar setelah pajak atau tidak dapat dipergunakan
sebagai pengurang pajak.
2. Dari sudut pandang investor kelemahannya adalah saham preferen tidak memiliki hak
untuk memaksakan pembayaran dividen. Oleh karena itu pembayaran dividen saham
preferen bukan merupakan pengurang pajak.


2. Saham Biasa (Common Stock)

Pemegang saham biasa merupakan pemilik perusahaan yang sebenarnya. Saham biasa
merupakan sumber dana yang permanen, karena akan tertanam dalam perusahaan untuk jangka
waktu yang tidak terbatas selama perusahaan masih menjalankan kegiatan operasi. Tidak seperti
halnya obligasi maupun saham preferen, pemegang saham biasa akan menikmati kenaikan laba
yang diperoleh perusahaan. Hak-hak pemegang saham biasa adalah:
1. Hak suara dalam rapat umum pemegang saham. Dengan hak tersebut, pemegang saham
memiliki hak untuk memilih direksi untuk mengendalikan perusahaan.
2. Hak memperoleh pembayaran dividen atas dasar per lembar saham yang dimiliki dan
menentukan dividen payout ratio.
3. Hak untuk membeli tambahan saham baru dikeluarkan perusahaan secara proporsional.
Jadi setiap emisi saham baru maka pemegang saham lama mempunyai hak untuk
membeli sejumlah saham tertentu sebelum dijual ke publik.
4. Hak atas aktiva setelah pembayaran hak yang lebih senior dalam likuidasi. Dengan
demikian menerima bagian paling akhir.

Kelebihan Saham Biasa
Pendanaan Jangka Panjang

17

1. Tidak adanya kewajiban tetap untuk membayar dividen kepada pemegang saham biasa.
2. Saham biasa tidak memiliki jatuh tempo.
3. Saham biasa kurang berisiko bagi perusahaan disbanding dengan sumber dana lain.
4. Penggunaan saham biasa akan memperbaiki struktur modal perusahaan dengan demikian
risiko secara keseluruhan akan turun dengan asumsi dividen seluruhnya dibagikan kepada
pemegang saham biasa. Dari segi investor saham biasa memiliki tingkat risiko yang lebih
tinggi dari hutang. Dengan demikian investor akan meminta tingkat keuntungan yang
lebih besar daripada tingkat keuntungan obligasi maupun saham preferen. Ini berarti
biaya modal saham biasa adalah paling tinggi dibandingkan dengan sumber dana jangka
panjang lainnya.
5. Memungkinkan untuk diversifikasi usaha
6. Meningkatkan likuiditas,
7. Mendapat tambahan kas dan lebih mudah dalam mengukur nilai perusahaan.

Kelemahan Saham Biasa
Apabila saham biasa dijual akan timbul kerugian seperti:
1. Berkurangnya pengendalian perusahaan
2. Timbulnya agency problem dan agency cost karena adanya konflik antar agen
3. Menurunnya laba per lembar saham sebagai akibat bertambahnya jumlah lembar saham
yang beredar
4. Perusahaan menjadi semakin transparan dan semakin banyak pihak yang mengamati
kegiatan perusahaan karena dengan menjual sahamnya ke public berarti perusahaan
tersebut menjadi milik publik.

3. Private Placement

Private Placement adalah penjualan saham secara pribadi dapat dilakukan kepada lembaga-
lembaga keuangan (seperti kepada perusahaan asuransi) atau kepada nasabah perusahaan efek,
namun kebanyakan adalah kepada investor lembaga.

Penambahan ekuiti baru dengan cara ini mempunyai tiga keuntungan:
Pendanaan Jangka Panjang

18

1. Penjualan dapat dilaksanakan jauh lebih cepat dibanding rights issue. Private placement dapat
dilaksanakan dalam beberapa hari sedangkan rights issue paling tidak membutuhkan dua
bulan.
2. Harga saham baru yang diterima perusahaan dari private placement biasanya lebih tinggi dari
harga rights issue.
3. Saham dapat ditempatkan pada investor lembaga secara bersahabat, sehingga mengurangi
risiko pengambilalihan.

Kerugian utama private placement adalah bahwa pemegang saham lama akan menderita dilusi
keuntungan perusahaan di masa yang akan datang. Sebab menurut peraturan Bursa Efek
Australia, biasanya private placement kurang dari 10 persen jumlah saham perusahaan. Biasanya
pasar menganggap pivate placement merupakan pertanda perusahaan sedang berusaha mengatasi
kesulitan keuangan yang sedang dihadapi perusahaan, walaupun tidak selalu harus demikian.

4. Right Issue

Rights issue adalah penawaran saham baru yang terbatas kepada para pemegang saham lama
(pemegang saham yang sudah ada, sebab sebelumnya perusahaan telah pernah melakukan IPO).
Sebagai pemilik, pemilik right memiliki hak beli atau call option atas saham perusahan pada
harga tertentu, selama periode tertentu dimasa yang akan datang. Biasanya besarnya adalah
proporsi tertentu dari jumlah saham yang dimiliki pemegang saham lama, misalnya satu saham
untuk lima rights. Didalam rights sebagai sunnah diatur secara pasti syarat-syarat berupa harga
exercise, tanggal jatuh tempo (maturity date), dan apakah rights boleh diperdagangkan atau
dialihkan pada pihak lain. Oleh karena itu pemegang saham lama boleh saja menjual rights tidak
harus membeli saham baru yang ditawarkan perusahaan untuk menambah modal. Dengan
membeli rights, berarti si pembeli ini memiliki hak untuk membeli saham baru dengan harga
strike (strike price).

Beberapa alasan perusahaan menerbitkan right issue di Bursa Efek Jakarta antara lain adalah :
1. Right issue merupakan solusi yang cepat untuk memperoleh dana yang murah dan dengan
proses yang mudah dan hampir tanpa resiko.
Pendanaan Jangka Panjang

19

2. Right issue jauh lebih aman dibandingkan dengan jalan lain, baik dengan pinjaman
langsung atau dengan penerbitan surat hutang. Dengan right, dana masuk sebagai modal
sehingga tidak membebani perusahaan sama sekali. Sedangkan jika dana diperoleh dari
pinjaman, maka perusahaan harus menanggung beban bunga.
3. Minat emiten untuk melakukan right issue didorong oleh keinginan untuk memanfaatkan
situasi pasar modal yang dalam tahun-tahun ini berkembang pesat.
4. Dengan melakukan right issue maka jumlah lembar saham akan bertambah dan
diharapkan dengan bertambahnya jumlah lembar saham akan dapat meningkatkan
likuiditas saham.

Manfaat dari Bukti Right:
(a) Investor memiliki hak istimewa untuk membeli saham baru pada harga yang telah ditetapkan
dengan menukarkan Bukti Right yang dimilikinya. Hal ini memungkinkan investor untuk
memperoleh keuntungan dengan membeli saham baru dengan harga yang lebih murah.
Contoh: Jika seorang investor membeli Bukti Right di Pasar Sekunder pada harga Rp 200,
dengan harga pelaksanaan (exercise price) Rp 1.500. Pada tanggal pelaksanaan harga saham
perusahaan X diasumsikan melonjak hingga Rp 2.000 per lembar. Ia dapat membeli saham PT.
X hanya dengan membayar Rp 1.700, yaitu Rp 1.500 (harga pelaksanaan) + Rp 200 (harga
Right). Kemudian investor tersebut akan memperoleh keuntungan Rp 300 yang berasal dari Rp
2.000 – Rp 1.700.
(b) Bukti Right dapat diperdagangkan pada Pasar Sekunder, sehingga investor dapat menikmati
Capital Gain, ketika harga jual dari Bukti Right tersebut lebih besar dari harga belinya.

Risiko memiliki Bukti Right:
(a) Jika harga saham pada periode pelaksanaan jatuh dan menjadi lebih rendah dari harga
pelaksanaan, maka investor tidak akan mengkonversikan Bukti Right tersebut, sementara
itu investor akan mengalami kerugian atas harga beli Right. Contoh: Seorang investor
membeli Bukti Right di Pasar Sekunder pada harga Rp 200 dengan harga pelaksanaan Rp
1.500. Kemudian pada periode pelaksanaan, harga saham turun menjadi Rp. 1,200 per
saham. Investor tersebut tentunya tidak akan menukarkan Bukti Right yang dimilikinya,
karena jika ia melakukannya, maka ia harus membayar Rp 1.700 (Rp 1.500 harga
Pendanaan Jangka Panjang

20

pelaksanaan + Rp 200 harga right). Sementara itu jika ia tidak menukarkan Bukti Right
yang dimilikinya, maka ia mengalami kerugian Rp 200 ata s harga Right tersebut. (b).
Bukti Right dapat diperdagangkan pada pasar sekunder, sehingga investor dapat
mengalami kerugian (Capital Loss), ketika harga jual dari Bukti Right tersebut lebih
rendah dari harga belinya.

5. Pengenceran (Dilution)

Dilution terjadi disebabkan oleh beberapa hal :
1. Karena penambahan jumlah saham yang beredar, sehingga untuk nilai saham yang sama
sekarang harus dibagi dengan jumlah lembar saham yang lebih besar.
2. Hilangnya nilai pemegang saham yang ada. Atau pengurangan hasil/hak surat berharga
karena jumlah yang dikeluarkan melebihi jumlah yang semestinya, atau karena adanya
pemberian hak opsi untuk memperoleh surat berharga tersebut
3. Pengaruh atas pendapatan per lembar saham jika semua surat berharga yang konvertibel
dikonversikan atau semua hak beli saham dilaksanakan.

Terdapat beberapa jenis pengenceran yaitu:
1. Pengenceran kepemilikan
2. Pengenceran nilai pasar
3. Pengenceran laba dan nilai buku, seperti dalam emisi warrant dan surat berharga
konversi.

6. Going Public dan Going Private

Penawaran Umum atau sering pula disebut Go Public adalah kegiatan penawaran saham
atau efek lainnya yang dilakukan oleh emiten (perusahaan yang go public) kepada masyarakat
berdasarkan tata cara yang diatur oleh UU Pasar Modal dan Peraturan Pelaksanaannya.
Pasar modal merupakan alternatif pembiayaan perusahaan yang tepat dan sangat
potensial. Pasar modal adalah salah satu wadah yang dapat digunakan untuk menghimpun dana
jangka panjang. Melalui pasar modal, suatu perusahaan akan menjual sahamnya kepada
Pendanaan Jangka Panjang

21

masyarakat umum (go public) dengan diharuskan memenuhi ketentuan yang berlaku dalam
perundang-undangan beserta aturan pelaksanaan yang mengikutinya, di antaranya yaitu
melampirkan laporan keuangan selama tiga tahun terakhir di dalam prospektus, disertai dengan
informasi tentang perusahaan dimana informasi-informasi tersebut juga mencerminkan apakah
perusahaan tersebut mampu untuk memaksimalkan aktiva yang ada, dan sumber dana yang
tersedia di dalam perusahaan untuk mencapai tingkat efisiensi yang baik. Karena perusahaan
yang mempunyai tingkat efisiensi baik maka pastinya akan mampu meningkatkan kesejahteraan
perusahaan tersebut. Perusahaan publik harus memenuhi kewajiban akan keterbukaan informasi
baik untuk masa sebelum maupun sesudah go public. Keterbukaan informasi sebelum go public
dilakukan dalam bentuk pemenuhan atas syarat-syarat yang ditetapkan untuk itu. Informasi
tersebut kemudian dipaparkan melalui prospektus, sedangkan keterbukaan informasi sesudah go
public yang diatur oleh otoritas pasar modal yang harus dipenuhi selama menjadi perusahaan
publik. Masyarakat, khususnya kalangan pemodal, mengharapkan agar setiap perusahaan yang
telah menjadi perusahaan publik dapat meningkatkan kinerjanya. Karena kinerja perusahaan
sesudah menjadi perusahaan publik bisa saja mengalami penurunan.
Hal tersebut bisa saja dikarenakan perusahaan telah menetapkan target kinerja yang
cukup tinggi sebelum menjadi perusahaan publik, akibatnya kinerja perusahaan tersebut
mengalami penurunan setelah menjadi perusahaan publik. Harapan masyarakat dan kalangan
pemodal itu wajar mengingat bahwa mereka bersedia menanamkan modalnya dengan membeli
saham karena janji-janji emiten dalam prospektus yang diyakini baik. Secara umum tersimpulkan
bahwa penetapan harga saham pada saat penawaran perdana cenderung mengalami fenomena
underpricing (harga kerendahan) sehingga memberikan return awal (initial return) rata-rata yang
positif bagi pemodal.

Going private merupakan aksi korporasi yang merupakan kebalikan dari tindakan going
public. Pada tindakan going public, suatu perusahaan menjual sahamnya kepada publik sehingga
menjadi perusahaan terbuka. Sebaliknya, pada tindakan going private perusahaan terbuka
berubah statusnya menjadi perusahaan tertutup. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Foley & Lardner LLP, alasan suatu perusahaan terbuka melakukan go private adalah karena
merasa terbebani oleh biaya-biaya yang harus dikeluarkan dan kewajiban-kewajiban sebagai
perusahaan terbuka.
Pendanaan Jangka Panjang

22

Adapun biaya dan kewajiban tersebut antara lain adalah tingginya biaya konsultan hukum
dan akuntansi, biaya penyelenggaraan RUPS, kewajiban memenuhi peraturan pasar modal,
kesibukan melayani analis surat berharga, dan keterbatasan untuk melakukan transaksi dengan
pihak afiliasi. Beberapa dari alasan tersebut tentunya mengundang perdebatan karena justru hal-
hal itulah yang merupakan penunjang pelaksanaan prinsip good corporate governance.

Perusahaan yang melakukan going private di pasar modal Amerika Serikat pada tahun
1993/1994 mencapai 70 perusahaan. Di Indonesia, tindakan go private pertama kali dilakukan
pada tahun 1996, yaitu pada tindakan going private PT Praxair Indonesia Tbk. Setelah PT
Praxair Indonesia Tbk, beberapa perusahaan terbuka lain yang melakukan going private antara
lain adalah PT Pfizer Indonesia Tbk. (2002), PT Miwon Indonesia Tbk. (2002), PT
Indocopper Investama Tbk. (2002), PT Bayer Indonesia Tbk. (2003), PT Singer Industries
Indonesia Tbk. (2003), PT Central Proteinaprima Tbk. (2004), PT Surya Hidup Satwa Tbk.
(2004), PT Indosiar Visual Mandiri Tbk. (2004), PT Multi Agro Persada Tbk. (2005), dan
PT Komatsu Indonesia Tbk. (2005)

Sebagaimana pada aksi korporasi lainnya, perhatian Bapepam dalam proses going private
terletak pada perlindungan kepentingan pemegang saham publik. Pada proses going private,
disamping berusaha memastikan bahwa tidak terdapat informasi yang disembunyikan
perusahaan, Bapepam juga mempersyaratkan adanya persetujuan pemegang saham independen
dan dilakukannya penawaran tender atas saham yang dimiliki pemegang saham publik.


C. LEASING

Leasing diartikan sebagai suatu kegiatan pembiayaan dalam penyediaan barang-barang modal
atau aktiva yang disusutkan lainnya (depreciable assets) dan tidak selalu berakhir dengan
pemilikan barang oleh si penyewa (hak pilih/opsi) dan adanya pembayaran secara berkala.
Namun demikian dengan ditetapkannya keputusan Menteri Keuangan No. 125/KMK.O13/1988
tanggal 20 Desember 1988, jenis kegiatan sewa guna usaha telah diperluaskan sebagai mana
tersirat dalam pasal 1 keputusan tersebut yang menampung definisi-definisi sebagai berikut :
Pendanaan Jangka Panjang

23


1 Perusahaan sewa guna usaha (Leasing Company) adalah badan usaha yang melakukan kegiatan
pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal secara financial lease maupun operating
lease untuk digunakan oleh penyewa guna usaha selama jangka waktu tertentu berdasarkan
pembayaran secara berkala.
2. Financial lease adalah akhir masa kontrak mempunyai hak opsi untuk membeli objek sewa
guna usaha berdasarkan nilai sisa yang disepakati bersama.
3. Operating lease adalah kegiatan sewa guna usaha, dimana penyewa guna usaha tidak
mempnyai hak opsi untuk membeli objek sewa guna usaha.
4. Penyewa guna usaha (leassee) adalah perusahaan ataupun perorangan yang menggunakan
barang modal dengan pembiayaan dari pihak perusahaan sewa guna usaha.

Berdasarkan definisi tersebut diatas maka dapat disimpulkan beberapa unsur yang harus terdapat
dalam leasing yaitu :
1. Lessor yaitu pihak yang menyewakan aktiva atau barang-barang modal antara lain
perusahaan-perusahaan yang mendapat izin dari Departemen Keuangan.
2. Lessee yaitu pihak penyewa aktiva atau pihak-pihak yang membutuhkan/memakai barang-
barang modal.
3. Objek leasing yaitu barang-barang yang menjadi objek perjanjian leasing yang meliputi segala
macam barang modal mulai dari yang berteknologi tinggi hingga teknologi menengah ataupun
keperluan kantor.
4. Pembayaran Uang sewa yaitu secara berkala dalam jangka waktu tertentu yang bisa dilakukan
setiap bulan, setiap kuartal, atau setiap setengah tahun sekali. Pembayaran sewa leasing dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu: payment in advance (pembayaran di muka) dan payment in
arrears (pembayaran di belakang). Formula untuk pembayaran sewa perbulan berdasarkan
metode pembayaran di muka adalah sebagai berikut:
S= [(b - r)(1 + i)
t-1
]i
(1 + i)
t
– 1
Di mana S= besarnya sewa
b= nilai barang modal
r= nilai sisa
Pendanaan Jangka Panjang

24

i= tingkat bunga
t=jumlah periode

Contoh perhitungan pembayaran sewa guna dengan cara pembayaran di muka dapat dilihat
sebagai berikut:
Nilai barang modal Rp 400 juta, nilai sisa Rp 40 juta, simpanan jaminan (10% dari nilai
barang) Rp 40 juta, tingkat bunga pertahun 24% (per bulan 2%), jangka waktu 12 bulan,
masa kontrak 1 Januari 1996 s.d. 31 Desember 1996. Dengan menggunakan formula diatas,
dapat dihitung besarnya sewa per bulan sebagai berikut:
S = [(400.000.000 – 40.000)(1 + 0,02)
12-1
]0,02
(1 + 0,02)
12
– 1

=[(360.000.000)(1,02)
11
]0,02
(1,02)
12
– 1
= 33.373.978

Menurut metode pembayaran di belakang, formulanya adalah sebagai berikut:
S= [(b - r)(1 + i)
t
]i
(1 + i)
t
– 1
Di mana S= besarnya sewa
b= nilai barang modal
r= nilai sisa
i= tingkat bunga
t=jumlah periode

S = [(400.000.000 – 40.000)(1 + 0,02)
12
]0,02
(1 + 0,02)
12
– 1

=[(360.000.000)(1,02)
12
]0,02
(1,02)
12
– 1
= 34.041.455
Pendanaan Jangka Panjang

25

5. Nilai sisa yang ditentukan sebelum kontrak dimulai.
6. Adanya hak opsi bagi lessee pada akhir masa leasing dimana lesseemempunyai hak untuk
menentukan apakah ia ingin membeli barang tersebut dengan harga sebesar nilai sisa atau
mengembalikan pada lessor.
7. Lease Term adalah suatu periode kontak sewa.

Klasifikasi Leasing

Secara garis besar Financial Accounting Standard Board membagi leasing atas dua jenis yaitu
Capital lease dan Operating lease. Sedangkan International Accounting Standard Committee
membagi leasing atas dua jenis juga tetapi dengan istilah berbeda yaitu Financial lease dan
Operating lease, perbedaanya hanya pada istilah saja.
Financial Accounting Standard Board (FASB) dalam Statement No. 13 pada “Acounting for
Leases” membagi lease dalam dua grup yaitu :

Dari Sudut Lessee:
A. Capital Lease yaitu lease yang memenuhi satu atau lebih dari syarat-syarat berikut ini :
1. The lease transfer of ownership of the property to the lessee by the end of the lese term.
2. The lese contains a bargain purchase optin.
3. The lese term is equal to 75 percent or more of the estimated economic life of lesed
property.
4. The peresent value at the beginning of the lese term of the minimum lese payment,
excluding that portion of the payment reprenting executory cost such as insurance,
maintennace, and taxes to be pad by lessor including anya profit there on, equalis or exceed
90 percent of the excess of the fair value of the lese property to the lessor.

Dari kriteria -kriteria yang diberikan oleh FASB tersebut diatas, terdapat istilah yang perlu
dijelaskan lebih lanjut, yaitu :

a. Lease term : Jangka waktu yang tetap dan tidak dapat dibatalkan termasuk :
1. Periode yang mencakup hak opsi untuk memperbaharui kontrak lease;
Pendanaan Jangka Panjang

26

2. Periode yang mencakup digunakannya hak opsi untuk membeli aktiva yang dilease;
3. Periode yaitu lessor mempunyai hak untuk memperbaharui atau memperpanjang masa
lease;
4. Periode yaitu denda dikenakan bagi lessee atas kegagalannya untuk memperbaharui lease
dan jumlah denda tersebut dijamin pada permulaan lease;
5. Periode yang mencakup hak opsi pembaharuan yang biasa yaitu diberikan jaminan oleh
lessee atas hutang lessor yang mungkin terjadi.

b. Bargian Purchase Option: Hak opsi yang diberikan kepada lessee untuk membeli atau
menolak "lease asset" setelah habis masa kontrak, yang biasanya dinilai sebesar residu.

c. Ececutory Cost: biaya yang terjadi pada lessor selama masa lease, misalnya biaya
pemeliharaan, biaya asuransi dan pajak. Umumnya executory coxt ini ditanggung lessee
dibayar kepada lessor secara periodek bersamaan dengan pembayaran berkala, merupakan
"Periode Cost"

d. Bargian Renewal Option:Hak pilih (opsi) yang diberikan kepada lessee untuk
memperbaharui lease dengan pembayaran sewa yang lebih rendah daripada sewa wajar yang
ditaksir untuk biaya yang bersangkutan pada saat hak pilih tersebut digunakan dan
penggunaan hak pilih tersebut dijamin secara layak permulaan masa lease

e. Estimated Residual Value of Leased Property: Taksiran nilai wajar aktiva yang dilease
pada akhir masa lease, biasanya sebesar sepuluh persen dari harga pembelian.

f. Fair Value of Lease Property: Taksiran nilai wajar aktiva yang dapat dijual atas dasar
transaksi yang normal diantara pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa (arms
length transaction).

g. Estimated Economic Life of Leased Property: Taksiran umur ekonomis dari barang yang
dapat digunakan oleh satu atau lebih pemakai (user) dengan pemeliharaan/perbaikan dan
Pendanaan Jangka Panjang

27

dengan tujuan perggunaan sebagai mana ditentukan pada tanggal penandatanganan kontrak
leasing.

Operating Lease, adalah seperti transaksi sewa menyewa biasa dan jangka waktu sewanya lebih
pendek dari pada umur ekonomis propertinya. Lessee biasanya tidak mempunyai hak membeli
pada waktu kontrak lease berakhir sehingga tidak terjadi perpindahan hak milik barang. Kontrak
sewa ini bersifat cancelable yaitu dapat diputuskan pihak lessee sewaktu-waktu atau sebelum
masa kontrak berakhir. Untuk lebih jelas, apabila jenis lease yang tidak dapat memenuhi salah
satu kriteria yang tersebut diatas pada financiallease digolongkan sebagai operating lease.

Dari Sudut Lessor
Terdapat beberapa jenis leasing yang disesuaikan dengan kebutuhan dan luas bidang lease, yang
anta lain adalah:
1. Sales Type Leases
Sales type leases merupakan finacial lease, tetapi dalam hal ini leased property pada saat
permulaan lease mempunyai nilai yang berbeda dengan cost yang ditanggung lessor.
Lessor dalam hal ini bisa mempakan suatu fabrikan atau dealer yang memakai metode
leasing sebagsai salah satu jalur pmasarannya.
2. Direct Financing Leases
Direct Financing leases adalah salah satu bentuk financial leasing yang dibiayai
langsung oleh lessor. Ditinjau mengenai tarifnya, tiap pembayaran leasse terdiri dari
bagian pengembalian investasi lessor dalam lease terdiri dari bagian pengambilan
investasi lessor dalam leased property tersebut ditambah dengan komponen income
(keuntungan) yang diharapkan. Metode ini sering disebut full payout leasing, yaitu
menunjukkan bahwa lessor membiayai sepenuhnya (100%) dari lease peroperty yang
bersangkutan.
Baik Sales Type maupun Direct Financial Lease harus memenuhi syarat yang tersebut
pada persyaratan-persyaratan capital lease, ditambah dengan kedua syarat yang
tercantum dibwah ini,
a. Coooectibilitias pembayaran lease yang minimum dapat diramalkan secara wajar
(reasonable).
Pendanaan Jangka Panjang

28

b. Tidak ada faktor uncertainties besar yang mempengaruhi jumlah unreimbursable cost,
yang hams dibayar oleh lessor sehubungan dengan lease yang bersangkutan.
3. Leverage Leases
Leverage leases adalah financial lease dalam bentuk yang lebih kompleks sebab
melibatkan sekurangnya tiga pihak yng berdiri sendiri. Jadi disamping lessor dan lessee
ada pula credit proveder atau debt perticipatnt yang membiayai sebagaian besar leased
property. Dalam hal leverage leases, si lessee mempunyai equipment dan melakukan
penawaran harga; sama halnya dengan non leverage leases. Tetapi dalam hal ini si
lessor hanya menanggung sebagian kecil saja dari pembiayaan leased property (sekitar
20% -40%) sedangkan sisanya ditanggung oleh pihak ketiga (debt participant).
Biasanya metode ini dipergunakan untuk pembelian /pembiayaan barang modal yang
nilainya sangat besar, sehingga tidak mungkin dipikul sendiri oleh lessor.

4. Operating Lease
Operating lease adalah suatu kontrak dimana barang leasenya tidak diamortisir sampai
babis selama primary leade period dan lessor tidak mengharpkan profit semata-mata
dari rental lease tersebut tetapi mengharpkan adanya recovery dari hasil penjualan
barang atau dengan menyewakan kembali barang itu kepada pihak berikutnya.

Untuk memahami klasifikasi lease, berikut ini disajikan flow chart kalisfikasi lease yang ditinjau
dari segi lessee dan segi lessor:

Pendanaan Jangka Panjang

29

Selain klasifikasi lease yang diuraikan sebelumnya masih ada lagi jenis lease lainnya yang perlu
diketahui yaitu :
a. Penjualan dan Lease Kembali (Sales and Leasebask)
Sesuai dengan namanya, dalam transaksi ini lessee menjual barang yang dimilikinya
kepada lessor. Atas barang yang sama ini kemudian dilakukan suatu kontrak antara
lessee dan lessor. Transaksi ini biasanya timbul karena lessee membutuhkan kas untuk
modal kerja atau keperluan lainnya.
b. Sub Leases
Sub leases adalah sewa guna usaha dimana aktiva yang disewa oleh lessee disewakan
kembali kepada pihak ketiga. Transaksi sub lease ada dua macam yaitu:
1. Aktiva yang disewa oleh lessee pertama disewakan kepada lessee yang baru
dimana perjanjian leasing antara lessee pertama dengan lessor masih tetap berlaku.
2. Lessee yang baru menggantikan kedudukan lessee yang pertama dalam perjanjian
leasing. Lessee yang baru menjadi penanggung jawab pertama dalam perjanjian
leasing dan lessee yang lama bisa menjadi penanggung jawab kedua atau tidak
bertanggung jawab sama sekali.
c. Cross Border Leases
Jenis ini leasing ini merupakan lease yang dilakukan antar negara. Adanya suatu
transaksi cross boerder murni untuk Indonesia saat ini belum diperbolehkan. Dengan
melakukan international leasing maka dapat memberikan tambahan keuntungan bagi
negara dalam rangka memungkinakan investor lokal untuk melakukan investasi dalam
peralatan milik asing untuk memperoduksi barang dengan kualitas yang lebih tinggi
untuk memenuhi permintaan lokal maupun ekspor. Biasanya suatu perusahaan leasing
melakukan transaksi leasing di luar negaranya melalui perusahaan yang dimiliki oleh
suatu group yang sama.
d. Sewa Guna Usaha Sindikasi (Syndicated Lease)
Jenis leasing ini melibatkan beberapa perusahaan sewa guna usaha secara bersamaan
melakukan transaksi sewa guna usaha dengan satu penyewa guna usaha, biasanya
dilakukan karena nilai transaksi yang terlampau besar atau karena faktor lain. Salah
satu perusahaan sewa guna usaha ditunjuk sebagai koordinator sehingga penyewa guna
usaha cukup berkomunikasi dengan perushaan ini, untuk melaksanakan segala sesuatu
Pendanaan Jangka Panjang

30

yang menyangkut transaksi sewa guna usaha. Pelaksanaan transaksi ini dapat dilakukan
baik melalui sewa guna usaha langsung maupun penjualan dan penyewaaan kembali.

Keuntungan dan Kerugian Leasing
Situasi dari masing-masing perusahaan yang berbeda-beda menyebabkan faktor-faktor yang
menunjang pada suatu kasus tidaklah dapat diterapkan pada kasus lain. Salah satu keuntungan
berikut ini mungkin akan menjelaskan lebih lanjut sehingga menyebabkan kontrak lease akan
menjadi aternatif yang menarik untuk penyediaan modal/biaya(financing) pada situasi tertentu.
Diantara keuntungan tersebut adalah :
1. Penghematan modal, yaitu tidak perlu menyediakan dana yang besar, maksimum
hanya untuk "down payment" yang jumlahnya biasanya tidak besar. Hal ini merupakan
penghematan modal bagi lessee, sehingga lessee dapat menggunakan modal yang
tersedia untuk keperluan lainnya, karena leasing umumnya membiayai 100% barang
modal yang dibutuhkan.
2. Sangat Fleksibel, yaitu bersifat sangat luas yang merupakan ciri utama bagi kelebihan
leasing dibanding dengan kredit dari bank. Fleksibelitas meliputi struktur kontaknya,
besarnya pembayaran renta, jangka waktu pembayaran serta nilai sisanya.
3. Sebagai Sumber Dana, Leasing merupakan salah satu sumber dana bagi perusahan-
perusahaan industri maupun perusahaan komersil lainnya. Mekanisme untuk
memperoleh dana yaitu dengan melalui sales dan leaseback atas asset yang sudah
dimiliki oleh lessee. Sementara itu credit line atau fasilitas kredit yang sudah ada dari
bank masih tetap tidak terganggu dan siap digunakan setiap saat.
4. On atau Off Balance Sheet, Leasing sesuai dengan kebutuhannya bisa dibukukan
dengan menggunakan on atau off balance sheet. Di Indonesia, untuk keperluan
perhitungan pajak digunakan off balance sheet.
5. Menguntungkan cash flow, fleksibelitas dari penentuan besarnya rental sangat
menguntungkan cash flow. Untuk suatu investasi dimana pendapat penjualan
diperoleh secara musiman atau juga dimana keuntungan baru bisa diperoleh pada
masa-masa akhir investasi maka besarnya rental juga bisa disesuaikan dengan
kemampuan cash flow yang ada. Pengaturan seperti ini bisa mencegah timbulnya
gejolak-gejolak kekosongan dana di dalam kas perusahaan. Dilain pihak jika keadaan
Pendanaan Jangka Panjang

31

keuangan cukup longgar maka besarnya rental bisa diperbesar untuk mempercepat
amotisasi principalnya. Ini semua bisa diatur dengan menyusun struktur rental yang
baik disesuaikan dengan proyeksi cash flownya.
6. Menahan pengaruh inflasi,dalam keadaan inflasi, lessee mengeluarkan biaya rental
yang sama. Dengan demikian nilai riil dari rental tersebut telah berkurang. Atau bisa
dikatakan bahwa lessee membayar hari ini dengan perhitungan nilai mata uang
kemarin.
7. Sarana Kredit Jangka menengah dan jangka Panjang. Melalui sales and leaseback maka
lessee akan bisa mendapatkan dana yang diperlukan dengan masa pengembalian jangka
menengah atau jangka panjang. Bahkan leasing juga bisa melakukan bullet repayment
seperti pada longterm bank loan dimana rental yang dilakukan tiap bulan hanyalah
merupakan pembayaran interest saja.
8. Dokumentasinya sangat sederhana, biasanya sudah standard sehingga lebih simpel bagi
lesse untuk memperpanjang transaksi leasing daripada merundingkan perjanjian baru
dengan pihak bank.

Tentunya disamping keuntungan-keuntungan tersebut diatas, leasing juga mempunyai
kerugian/kelemahan antara lain sebagai berikut :
1. Pembiayaan secara leasing merupakan sumber pembiayaan yang relatif mahal bila
dibandingkan dengan kredit investasi dari bank. Hal ini terjadi karena sumber dana
lessor pada umumnya dari bank atau lembaga keuangan bukan bank.
2. Barang modal yang dilease tidak dapat dicantumkan sebagai unsur aktiva lesee untuk
tujuan "Collateral Credit" dari Bank, yaitu "Trade Creditor" mungkin akan menilai
perusahaan tersebut memiliki posisi keuangan yang lemah.
3. Bagi para perusahaan tertentu kadang-kadang timbul masalah prestise antara memiliki
barang modal sendiri atau lease.
4. Resiko yang lebih besar pada lessor, artinya adanya tanggung jawab yang menuntut
pihak ketiga jika terjadi kecelakaan atau kerusakan atas barang orang lain yang
disebabkan oleh "lease property" tersebut, dan juga lessor belum tentu yakin bahwa
barang lease tersebut bebas dari berbagai ikatan seperti "liens".(gadai) "preferences",
"priorities", charges" atau kepentingan-kepentingan lainnya
Pendanaan Jangka Panjang

32

BAB III
KESIMPULAN

Pendanaan jangka panjang adalah pendanaan > satu tahun. Bentuknya hutang jangka
panjang (istilah „Loan”) yang dinegosiasi dari lembaga keuangan atau melalui penjualan obligasi
(bond). Obligasi perusahaan adalah suatu sertifikat yang menunjukkan bahwa suatu perusahaan
telah meminjam sejumlah uang dari suatu lembaga atau individu dan berjanji untuk
membayar/melunasi pada waktu yang akan datang dalam kondisi yang
Telah disepakati/ditetapkan.

Surat perjanjian obligasi (Bond indenture) adalah dokumen resmi yang lengkap dan
panjang yang menjelaskan kondisi suatu obligasi diterbitkan. Wali amanat (trustee) adalah pihak
ketiga yang terlibat dalam perjanjian obligasi. Wali amanat dapat berupa perorangan atau yang
paling sering departemen .trust bank komersial.
Penebitan obligasi memiliki 3 karakteristik utama:
1. Karakteristik konversi (conversion feature)
2. Karakteristik penebusan (call feature)
3. Waran pembelian saham (stock purchase warrant)
Tingkat risiko penerbitan obligasi yang diperdagangkan secara publik biasanya dinilai oleh agen
independen seperti Moody‟s, Standard & Poor‟s, Moody's Indonesia, dan PT Pefindo.
Obigasi memiliki berbagai jenis dan dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai dasar
penggolongan.
1. Berdasarkan penerbit obligasi (lembaga yang menerbitkan obligasi)
- Lembaga internasional seperti Bank Investasi Eropa (European Investment Bank) atau
Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank).
- Pemerintah adalah pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga pemerintah
- Perusahaan.
2. Berdasarkan variasi obligasi
- Obligasi suku bunga tetap
- Obligasi suku bunga
- Obligasi berimbal hasil tinggi (Junk bond).
- Obligasi tanpa bunga (zero coupon bond)
- Obligasi inflasi (Inflation linked bond)
- Surat utang berbasis ekuitas (equity linked note) dan obligasi yang mengacu pada indeks.
Pendanaan Jangka Panjang

33

- Efek Beragun Aset .
- Obligasi subordinasi obligasi (subordinated debentures)
- Obligasi abadi.
- Obligasi atas unjuk (unregistered bond)
- Obligasi tercatat (registered bond) t.
- Obligasi daerah (municipal bond)
- Obligasi tanpa warkat (Book-entry bond)
- Obligasi lotere (Lottery bond)
- Obligasi perang (War bond)
3. Berdasarkan penerbitan oleh pemerintah Indonesia
- Obligasi Rekap
- Surat Utang Negara (SUN) adalah
- Obligasi Ritel Indonesia (ORI)
- Surat Berharga Syariah Negara (obligasi syariah atau obligasi sukuk).














Initial Investment:

1. Call premium
2. Flotation cost of new
bond
3. Overlapping interest
4. Unamortized discount
on old bond
5. Unamortized flotation
cost of old bond
The Annual Cash Flow Saving:

1. Interest cost of old bold
2. Amortization of discount on old bond
3. Amortization of flotation costs on old bond
4. Interest cost of new bold
5. Amortization of flotation costs on new bond
PRESENT
VALUE OF THE
Annual Cash
Flow Saving
Compare the
Initial
Investment to
PRESENT
VALUE OF
THE Annual
Cash Flow

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->