Doc./Modul/Fils. Hk./Univ.

Narotama Surabaya/V/2005

1

Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Hukum tidak hanya rules (logic & rules), tetapi juga ada logika-logika yang lain. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup, tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum,(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM

Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami pengertian filsafat. 2. Memahami pengertian hukum. 3. Mengetahui pengertian filsafat hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. 2. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. 3. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. 4. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana.

1. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. Sehingga untuk dapat berfilsafat, terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

2

filsafat. Sesungguhnya, istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani, yaitu: Filosofia.1 Secara etimologis, kata “filsafat” berasal dari kata majemuk, yakni: filo dan sofia. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin itu, lalu berusaha mencapai yang diingini. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Bijaksana inipun merupakan kata asing, yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. Jadi secara etimologis, filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. Dengan demikian, rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. Dari sudut isinya, terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia, yang tercermin dalam berbagai pepatah, slogan, lambang dan sebagainya. 2 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek, metode, dan sistematika tertentu, terlebih-lebih bersifat universal. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu, yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. Menurut Poedjawijatna, objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua, yakni objek materia dan objek forma. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu, sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu tentang hakikat Tuhan, hakikat alam, dan hakikat manusia. Barangkali, objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya, tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Objek forma filsafat terdapat pada sudut

I.R. Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1990, halaman 1. 2 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995, halaman 4.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

3

pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu, sehingga terdapat kebenaran, jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas.3 Jika ditelaah lebih mendalam, filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok, yaitu: menyeluruh, mendasar, dan spekulatif.4 Menyeluruh, artinya cara berfikir filsafat tidak sempit, dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral), senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. Mendasar, artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. Untuk itu, ciri ketiga dari filsafat yang berperan, yaitu spekulatif. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan, tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas, ada ciri lain yang perlu ditambahkan, yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat.5 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam

(contemplation). Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja, melainkan analisis nilai. Sebab, jika yang dianalisis hanya fakta saja, maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi, dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. Lain halnya, jika yang dianalisis nilai, maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat, antara lain: a. b. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.

I. R. Poedjawijatna, Op. Cit., halaman 6-9. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Penerbit Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1998. 5 Darji Darmodiharjo & Shidarta, Op. Cit., halaman 7.
4

3

Dengan kata lain. 1990. Narotama Surabaya/V/2005 4 c. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. yaitu metafisika. d. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. Bandung. Lili Rasjidi. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. e. halaman 5. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. Pada agama. Citra Aditya Bakti. Penerbit PT. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. dan antropologi. etika. misalnya: Tuhan. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. kebajikan. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya.6 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu.Doc. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. karena agama merupakan sesuatu yang ada. baik dan buruk. sedangkan agama berdasarkan wahyu. 6 . filsafat berdasarkan pikiran belaka. agama. Hk./Modul/Fils. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. Di sisi lain. dan sebagainya. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. pikiran belaka./Univ. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. Di satu sisi. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. Dasar-Dasar Filsafat Hukum.

dengan kata lain objek filsafat itu ada. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. Hk. kemampuannya. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. Berdasarkan Objek. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. yang dibedakan menjadi dua: 1) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. yang hendak dicari . Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat dari berbagai penjuru sudut pandang. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum./Univ. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. Narotama Surabaya/V/2005 5 2. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Dengan demikian./Modul/Fils. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. maka harus diselidiki sifat-sifatnya. terdapat bermacam-macam hal.Doc. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. Dalam realitas. yang lazim disebut sebagai Theodicea. Jadi. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. Segala sesuatunya itu ada. misalnya sifat-sifatnya. Oleh karena itu. yaitu: a. b) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. yang terdiri dari: a) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. 2) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). Ada menjadi dasar dari segala yang ada.

yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. yaitu: manusia. Hk. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur . apakah kemampuan-kemampuannya. apakah sebenarnya itu. Narotama Surabaya/V/2005 6 sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya./Univ. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada.Doc. seperti: apakah manusia itu sebenarnya. karena ada-nya tidak dengan niscaya. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia./Modul/Fils. apa sifat-sifat pendorong hidup itu. Alam dicari intinya oleh filsafat inti alam itu. dan lain-lain. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica. apakah isi alam pada umumnya. apa pendorong hidupnya. apakah hubungannya satu sama lain.

b. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. Narotama Surabaya/V/2005 7 yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal.Doc. Hk. seperti: pengertian. yaitu manusia. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain. serta putusan-putusan. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha . dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika)./Modul/Fils. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor./Univ. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. c)) Filsafat Budi (Logika): Untuk melakukan penyelidikan. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. dalam bekerjanya budi. jalan pikiran. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya. yaitu: 1) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. dan itu dilakukan oleh subjeknya. Namun.

ontologia. theodicea) Alam (filsafat alam. dan anthropologia). dan sebagainya. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. kosmologia. theodicea. indah lawan jelek. Oleh karena itu. baik lawan buruk. 2) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: a. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan.Doc. Hk. tingkah laku (ethica) . apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. Jadi. 3) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. ada-umum. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. Menurut Objek: Ada-umum (fils. Sehingga. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir./Univ. kosmologia) Fils. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. secara garis besar. manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. Narotama Surabaya/V/2005 8 kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu./Modul/Fils. misalnya: ada yang tinggi dan rendah.

/Univ. budi (logika mayor & minor) b. kaedah sopan santun (adat). kaedah kesusilaan. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). 1988. Suatu Pengantar. Menurut Subjek: Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian.Doc. Remaja Rosdakarya. Hk. dan kaedah hukum. 8 Sudikno Mertokusumo. dengan alasan sebagai berikut: Lili Rasjidi. Filsafat Hukum. dan kesejahteraan. 1991.8 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. Narotama Surabaya/V/2005 9 Fils. halaman 5. Yogyakarta. ketertiban. Bandung. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba. halaman 31./Modul/Fils. Mengenal Hukum. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma. Penerbit PT. 7 . Penerbit Liberty.7 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. Apakah Hukum Itu?. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan. Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum.

halaman 29-30. berasal dari masyarakat secara resmi. untuk ketertiban masyarakat. Dari segi sanksi. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. Dari segi isi. e. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. Lex Divina. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai 9 Lili Rasjidi. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. Lex Naturalis. Ketiga. termasuk mengatur pemerintahan. Narotama Surabaya/V/2005 10 a. Kedua. Cit. Dari segi asal-usul. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. b. Hk. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja./Univ. Dari segi daya kerja. membebani kewajiban dan memberikan hak. Op. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. Tentu saja. agar jangan sampai jatuh korban.. yaitu:9 Lex Aeterna. Sebagai contoh pertama. c. pada Zaman Pertengahan. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. d. misalnya saja Thomas Aquino. pada zaman Romawi. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. .Doc./Modul/Fils. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum. Dari segi tujuan.

halaman 10. Rasionya. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. Dengan demikian. 1988. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. Citra Aditya Bakti. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. Dasar-Dasar Filsafat Hukum.10 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia.. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. Cit. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. 3. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. Pada masa ini. Bandung. Op. Dengan kata lain. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku./Univ. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. Penerbit PT. 10 . Narotama Surabaya/V/2005 11 pembentuk hukum. halaman 4. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. Hk. Jadi.Doc. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi. Di samping itu./Modul/Fils. seperti Carl von Savigny dan Puchta. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta.

Doc. Sedangkan D.11 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar Soehardjo Sastrosoehardjo. Hk. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. Narotama Surabaya/V/2005 12 definisi dari hukum. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan.M. 1997. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum.J. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht). Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. kebahagiaan. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu. halaman 5. J. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen. J. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. 11 . Semarang. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil. Sementara itu. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa.H. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. dan tata tertib dalam masyarakat./Univ. over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini./Modul/Fils.

Darji & Shidarta. Suriasumantri. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Semarang. 1990.. Penerbit PT. Filsafat Hukum. Poedjawijatna. Mengenal Hukum. Dengan kata lain. Penerbit Liberty. Filsafat Ilmu. Jakarta. Apakah Hukum Itu?. Bandung. . Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Suatu Pengantar. 1995. Remaja Rosdakarya. Jujun S. Bandung. Gramedia Pustaka Utama.Doc. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. 1997. Mertokusumo. Citra Aditya Bakti. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. 1990. Jakarta. Hk. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Jakarta. Sudikno. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 1998./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 13 tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. Penerbit PT. Sastrosoehardjo. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum./Modul/Fils. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebuah Pengantar Populer. Penerbit PT. Yogyakarta. Penerbit Rineka Cipta. I. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Soehardjo. ________________. Lili.. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 1991. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. 1988.R. Rasjidi. Universitas Diponegoro.

Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. Herakleitos. Herakleitos (540-475 SM).Doc. halaman 70-71. Penerbit PT. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu. 1 . 4. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo. antara lain: Anaximander. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. Parmenides. Narotama Surabaya/V/2005 14 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). 3. Plato. Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. sekarang. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Jakarta. 1995. dan masa depan. yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau./Univ. Socrates./Modul/Fils. Gramedia Pustaka Utama. dan Aristoteles. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. 2. Hk.

Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. Tetapi jelas baginya. 2 . karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang. Yogyakarta. maka timbullah keadilan (dike). Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. ukuran. Dalam mempertahankan pendapatnya. 1993. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum. halaman 20). Hk. Logos menciptakan bentuk . dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. dan harmoni yang menghasilkan aturan. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. Dengan kata lain. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. Apabila hal ini terjadi. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). Sementara itu. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. Narotama Surabaya/V/2005 15 keharusan alam ini. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. Penerbit Kanisius. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati.Doc./Univ. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya./Modul/Fils. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati. Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada.

hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. yakni undang-undang negara. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno). Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. Meskipun demikian. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). Aristoteles. Menurut Aristoteles. Menurut Aristoteles. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. lenyap dan berlaku dengan sendirinya. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua.Doc. . Dari gagasan Aristoteles ini. Misalnya./Univ. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. Narotama Surabaya/V/2005 16 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. Hk. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. Oleh karena itu. yakni hukum alam dan hukum positif. Oleh karena itu. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri./Modul/Fils. sehingga hukum tidak pernah berubah. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. karena hubungannya dengan aturan alam.

tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). bukan menurut hukum positif. Hk./Univ. 3 . Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic). Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. Narotama Surabaya/V/2005 17 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa. Citra Aditya Bakti. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. Dalam perkembangannya. Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. Dengan kata lain. Oleh karena itu. 1990. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini.Doc. menurut Stoisisme.3 dan mulai berkembangnya agama Islam. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Bandung./Modul/Fils. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. halaman 13. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. Penerbit PT. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). 2.

dan Immanuel Kant (1724-1804). David Hume (17111776). rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. dan sebagainya. hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina). Hk. Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. Rousseau (17121778). George Berkeley (1685-1753). Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri.4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. 3. Op. John Locke (1632-1704). Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum.J. perkembangan teknologi yang sangat pesat. antara lain: William Occam (1290-1350). Francis Bacon (1561-1626).Doc. berdirinya negara-negara baru. Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. J. halaman 39. Thomasius (1655-1728)./Modul/Fils. Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. Samuel Pufendorf (1632-1694).. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers./Univ. . Wolf (1679-1754). Narotama Surabaya/V/2005 18 Tuhan (Lex Aeterna). Cit. ditemukannya dunia-dunia baru. Montesquieu (1689-1755). Thomas Hobbes (1588-1679). hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. Zaman modern ini juga disebut Renaissance. lahirnya segala macam ilmu baru. Rene Descartes (1596-1650). 4. dan hukum positif (Lex Positivis). Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia.

juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru.. . juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah./Modul/Fils. yaitu akan menjadi. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. halaman 37. Karl Marx (18181883).F. seperti Hobbes. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19. Hk.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. Namun. masih ada beberapa ahli pikir lain. Op. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. Cit. Narotama Surabaya/V/2005 19 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern. Teorinya disebut Dialektika. Menurut teori dialektika Hagel. Schelling (1775-1854). seperti J. Fichte (1762-1814) dan F. ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. Di samping Marx dan Engels.W. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat. seperti Hegel (1770-1831). Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri.Doc. Menurut Hegel.J./Univ. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme.

Hume F.Doc. Latihan Soal 1. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah. Pertengahan Z. Herakleitos. Occam Hegel R. Descartes Fichte T. Narotama Surabaya/V/2005 20 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. Hk.. Locke von Savigny G. Modern Z. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. Berkeley D. Op. . Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 5. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 6./Modul/Fils. Hobbes Schelling J. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 2. Cit.J. halaman 82. Rousseau Immanuel Kant 5. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 4./Univ.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Yunani (Kuno) Z. Bacon Wolf Montesquieu J. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 3.

Penerbit Kanisius. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Gramedia Pustaka Utama. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Penerbit PT. Huijbers. 1990. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. . Lili./Modul/Fils. Citra Aditya Bakti. Rasjidi. Bandung. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Theo.Doc. Yogyakarta. Darji & Shidarta. Hk. Penerbit PT./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 21 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Jakarta. 1993. 1995.

Pragmatic Legal Realism. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Aliran Sejarah. Aliran Utilitarianisme./Univ. e. c. Aliran Legal Realism. 1. Penerbit PT. Aliran Hukum Alam. yaitu: a. b. Alian Positivisme.Doc. Legal Positivism.S. Naturalistic Jurisprudence. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum./Modul/Fils.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 22 BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 1. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. 1 . yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana. Aliran Hukum Positif.G. f. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. antara lain F. d. d. 1990. b. Northrop dan Lili Rasjidi. Lili Rasjidi. 2. e. Hk. halaman 26-27. Aliran Sociological Jurisprudence. yaitu: a. g. Citra Aditya Bakti Bandung. c. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence.

Sociological Jurisprudence. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. d. h. b. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain. Aliran Ajaran Hukum Umum. 2) Yang Rasional. 1997. Aliran Sosiologi Hukum./Modul/Fils. 2 . Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). Madzhab Sejarah. Semarang. karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum. e. i. d. Aliran Hukum Alam: 1) Yang Irrasional. Hk. Aliran Hukum Positif: 1) Analitis. Aliran Neo Kantianisme. b. g. Pragmatic Legal Realism. Aliran Hukum Bebas. Universitas Diponegoro. Aliran Utilitarianisme. Narotama Surabaya/V/2005 23 Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar. Aliran Realisme Hukum. e./Univ. f. c. c. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama. 2) Murni. masing-masing: a. f. Aliran Sejarah. Soehardjo Sastrosoehardjo. yaitu:2 a.Doc. Aliran Positivisme. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. halaman 1.

hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh Darji Darmodiharjo & Shidarta. Piere Dubois. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua)./Modul/Fils. sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi. merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. Penerbit PT. Marsilius Padua. inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. Narotama Surabaya/V/2005 24 Dalam tulisan ini. seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran. b) Lex Divina. Gramedia Pustaka Utama. c) Lex Naaturalis. dan John Wyclife. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. Daante. Menurut Friedman. d) Lex Posistivis. bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). Jakarta. penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi./Univ.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. 1995. yaitu: 1) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. 3 . Hk. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino). hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia.Doc. halaman 102. John Salisbury. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan. aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut. yaitu: a) Lex Aeterna.

William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum. Immanuel Kant. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut. sehingga rasio . Penulis lain. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian. dan Samuel Pufendorf. b) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. c) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam./Modul/Fils. antara lain: Hugo de Groot (Grotius). Tokoh-tokohnya. 1) Rasional: Sebaliknya. dengan penjelasan sebagai berikut: a) Hukum Universal. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius).Doc. Narotama Surabaya/V/2005 25 keadaan dunia. yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja. sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil. Christian Thomasius. ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan. aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia./Univ. Hk. buruk atau jahat dan baik atau jujur.

beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze). Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. Narotama Surabaya/V/2005 26 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi). dan karsa (thinking. Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). . yaitu cipta. Cit. tidak dogmatis (trancendental). rasa. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. volition. Op. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar.Doc. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). Hk./Univ. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. lawan dari filsafat dogmatis./Modul/Fils. Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan.4 Metode kritis tidak skeptis. Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis. and feeling).. Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo. halaman 12. Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya.

/Modul/Fils. antitesa. . san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. Jadi. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak./Univ. What is reasonable is real. b. Bagi Hegel. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia. and what is real is reasonable). Di Inggris. das ist vernunftig. yaitu: a) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. demikan juga dengan hukum. berkembang bentuk yang agak lain. Hk. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. 1) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. das ist wirklich ist. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. Austin membagi hukum atas 2 hal. Narotama Surabaya/V/2005 27 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika.Doc. yaitu Analytical Jurisprudence. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya.

karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. seperti: undang-undang. Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. sanksi. Narotama Surabaya/V/2005 28 b) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. Idealisme hukum ditolak sama sekali. di dalamnya terkandung perintah. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. dan sebagainya. Menurut ajaran tersebut. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. dan kedaulatan. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). Hk. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum./Modul/Fils. sejarah. kewajiban. dan sebagainya. 2) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. sosiologi. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. Menurut Austin. dalam hukum yang nyata pada point pertama. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin./Univ. etika. contoh hak wali terhadap perwaliannya.Doc. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. peraturan pemerintah. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan.

demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas. f) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. bukan karsa dan rasa. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. Narotama Surabaya/V/2005 29 a) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. . d) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. etiika atau agama. Cit. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). halaman 43. Op./Univ. e) Teori hukum adalah formal./Modul/Fils. masalah cipta. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus. Hk.. seorang murid dari Rudolf von Jhering. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. bukan masalah apa yang dikehendaki. b) Teori filsaft hukum adalah ilmu. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal.Doc. c) Hukum adalah ilmu normatif. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi.

Narotama Surabaya/V/2005 30 norma c. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum./Modul/Fils. secara positif. Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832).q. c. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). hukum kodrat gaya baru.Doc. kekuasaan hukum. dan melawan hukum. maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht).q. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. mengikat. Manusia selalu berusaha ./Univ. menurut hukum (rechtmatigeheid). John Stuart Mill (1806-1873). dan Rudolf von Jhering (1818-1889). tidak semata-mata pada bentuk hukumnya. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen). Hk. Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. hubungan hukum. Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. penundukan hukum. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. verbinden. yaitu: subjek hukum. berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. dasar hukum. objek hukum.

/Univ. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. Oleh karena itu. d. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. Hk. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. Dengan kata lain. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial.Doc. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. untuk memelihara kegunaan. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial. Bagi Jhering. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. Narotama Surabaya/V/2005 31 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual./Modul/Fils. dan positivisme hukum dari John Austin. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. Dalam mendefinisikan kepentingan. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . ia mengikuti Bentham. jikas tidak demikian. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. Mill. Pada hakekatnya. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis.

2) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. namun ia akan mati. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 1) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. Narotama Surabaya/V/2005 32 dibuat. Sedang Puchta. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 1) Langsung. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras./Univ. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. bilden sich aus mit diesem. berupa adat-istiadat. karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya. 4) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. berkembang bersama dengan rakyat. 3) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. es wachst mit dem volke vort. Hk. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert).Doc./Modul/Fils. . di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri.

Hk. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis./Univ. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. Lebih lanjut. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. Menurut Puchta. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. Penerbit Kanisius. Di lain pihak. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. 1993. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.Doc. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. Narotama Surabaya/V/2005 33 2) Melalui undang-undang. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. halaman 120-121. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. 3) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. e. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. Yogyakarta./Modul/Fils. 6 . pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara).

/Modul/Fils. Hk. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. Op. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. Benjamin Cardozo. Narotama Surabaya/V/2005 34 Pendasar aliran ini. antara lain: Roscoe Pound. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial. . pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. Gurvitch dan lain-lain.. halaman 47. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). Cit. Dengan rasio demikian. Eugen Ehrlich. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum.Doc. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. Aliran ini berkembang di Amerika. Kontorowics. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. Sociological jurisprudence. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence./Univ. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat.

Sementara itu. Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. maka tiap bagiannya harus . kedua liran tersebut ada kebenarannya. Gray. Maksudnya. William James dan sebagainya. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. Oliver Wendell Holmes. 2) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. f. Sebab. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. Hk. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence./Univ./Modul/Fils. Jerome Frank.Doc. Karl Llewellyn. private as well as public interest). Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. Narotama Surabaya/V/2005 35 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman .

/Univ./Modul/Fils. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau. 5) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya.Doc. 3) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. Narotama Surabaya/V/2005 36 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. Hk. 4) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- . Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 1) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. 2) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. 4) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya. 3) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata. Sesuai dengan keyakinan ini. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan.

di samping faktor-faktor lain. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain.Doc. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. Filsafat Hukum. ekonomis. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage).8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim./Modul/Fils. hanyalah sebatas persamaan nama saja. Jakarta. dan moril. “The path of Law” berasal dari Holmes. Bagi Frank. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. 2) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. Bagian I. Penerbit PT. yaitu: 1) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. hukum dapat dibagi menjadi dua. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. 1997. halaman 77. yakni wawasan sosiologis. 8 . Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. simpati maupun antipati pribadi (Frank). yakni./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 37 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain. Hk. prasangka politis. Pradnya Paramita.

Narotama Surabaya/V/2005 38 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law). Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa. 2. ./Modul/Fils. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross.Doc. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah. yaitu Oliverscrona. Hk. halaman 86. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak./Univ. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis.. yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. Lundstedt.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara. Latihan Soal 9 Ibid. Menureut Friedman.

Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! ./Univ. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 39 a. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b.Doc./Modul/Fils. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c.! f. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d. Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4.

. 1997. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Hk. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Yogyakarta. Pradnya Paramita. Soetiksno. halaman. Darji & Shidarta. Universitas Diponegoro./Modul/Fils. 1993. Narotama Surabaya/V/2005 40 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Lili. Huijbers. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Soehardjo Sastrosoehardjo. Penerbit PT. 1997. Penerbit PT. Filsafat Hukum. Jakarta. Penerbit Kanisius.Doc. 1995. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Rasjidi. Jakarta. Penerbit PT./Univ. 1990. Bagian I. Citra Aditya Bakti Bandung. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Semarang. Gramedia Pustaka Utama.

Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. (Terj. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang hukum. 1 .Doc. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 41 BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Pengantar Filsafat Hukum. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. 1. 3. Penerbit Bhratara. 2. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1 Roscoe Pound. 2./Univ. maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis.) Muhammad radjab. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. 1996. dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu. halaman 28-32. Jakarta. karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu. memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern. karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia./Modul/Fils. dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat.

pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. atau undang-undang Hammurabi. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik. yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam. Sebab manusia primitif. mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi. b. Hk. setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. Narotama Surabaya/V/2005 42 a. Gagasan ini rapat dengan yang kedua./Modul/Fils. boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan. Pertama. di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan. misalnya undang-undang Nabi Musa. yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib./Univ. yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia. c. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat. dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti. atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun. Bhrigu namanya. .Doc. persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta. Jalan yang selamat.

gagasan sarjana hukum Romawi. harus diukur. satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini. Sudah sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. e. dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik. f. dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat. Begitulah konsepsi Thomas . satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan. Narotama Surabaya/V/2005 43 d. dan ditambah oleh yang tigta tadi. dibentuk. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum. konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain./Univ. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini. Demikianlah. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. g. yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi. ditafsirkan . dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi. yang berbeda dengan yang masih dilakukan. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft. persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. Sangat mungkin dengan teori serupa itu./Modul/Fils.Doc. dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. yang menyatakan sifat benda-benda. Hk.

h. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. Hk. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot./Modul/Fils. i. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang.Doc./Univ. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. Menurut anggapan pada masa itu. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. Narotama Surabaya/V/2005 44 Aquino. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara .

satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. Hk. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. Di dalam betuk Positivistis-Analistis. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan./Univ. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. j. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian. Di dalam satu bentuk yang idealistis. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal./Modul/Fils. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan.Doc. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. k. atau pada taraf lain. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. Narotama Surabaya/V/2005 45 yang tak dapat dielakkan lagi. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad.

Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. Gramedia Pustaka Utama. Untuk itu. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 2 . yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. yang ditemukan oleh pengamatan. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. Hk. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Penerbit PT. 1995.Doc. dan bukan lagi dasar metafisik./Univ. Jakarta. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. halaman 129130. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 1) Kepentingan Umum (Public Interest). Narotama Surabaya/V/2005 46 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. yang dapat ditemukan oleh pengamatan. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan./Modul/Fils. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. l. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum.

Oleh karena itu. b) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. sehingga membuat pembentuk undng-undang. b) kepentingan keluarga. tujuan hukum yang demikian ini . kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. a. b) perlindungan lembaga-lembaga sosial. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. e) kesejahteraan sosial. dilihat dari hal tersebut. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya./Modul/Fils. hakim. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham./Univ. Dengan kata lain. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. 3) Kepentingan Pribadi (Private Recht): a) kepentingan individu. 2.Doc. Kedua. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. Hk. 2) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): a) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. pengacara. yaitu: Pertama. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. d) pencegahan pelanggaran hak. c) pencegahan kemerosotan akhlak. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. c) kepentingan hak milik. Narotama Surabaya/V/2005 47 a) kepentingan negara sebagai badan hukum.

b. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. b. Narotama Surabaya/V/2005 48 sangat penting artinya bagi masyarakat./Univ. Oleh karena itu. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. antara orang-orang yang sekutu. Hk. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. hukum dibentuk.Doc. 3. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan. c./Modul/Fils. dan penduduk yang bertambah banyak. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. yaitu: a. yang menilik niat bukan di tempatnya . alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat.

Doc. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam. 3. timbul pandangan hukum adalah keburukan. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum. Latihan Soal a. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d./Univ. c. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang./Modul/Fils. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . Narotama Surabaya/V/2005 49 bentuknya. Hk.

Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Roscoe. 1996. Narotama Surabaya/V/2005 50 DAFTAR PUSTAKA Pound. Darmodiharjo. Gramedia Pustaka Utama. 1995.) Muhammad radjab. (Terj. Hk. Jakarta. Penerbit PT./Modul/Fils.Doc. Penerbit Bhratara. Jakarta. Pengantar Filsafat Hukum./Univ. Darji & Shidarta. .

Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. Bagian I. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum. 2.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. 1997. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. Narotama Surabaya/V/2005 51 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1. 1. halaman 11. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. 1 . Filsafat Hukum. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. yaitu sifat baik. Penerbit PT./Modul/Fils. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. Dengan perkataan lain. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu.Doc./Univ. Jakarta. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. 2. Pradnya Paramita. Memahami bermacam-macam arti keadilan. Hk. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. Soetiksno.

Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. Jakarta. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum./Univ. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. c. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. 3 Theo Huijbers. halaman 155. Keadilan distributif (Distributive Justice). Sedang menurut Aristoteles. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu. Yogyakarta. Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. 2 . Darji Darmodiharjo & Shidarta./Modul/Fils. Keadilan berada di tengah dua ekstrem.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. Dalam menganalisis keadilan. halaman 29.. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. Gramedia Pustaka Utama. Penerbit PT. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice). Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. b. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya.Doc. Penerbit Kanisius.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Op. 1995. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 52 Menurut Plato. 1993. Cit. halaman 154. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. Hk. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta. b. yaitu: 4 a.

Doc. Keadialan Umum (Justitia Generali). yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. adil atau tidak adil. membagi keadilan menjadi 2. Kontribusi Aristoteles berikutnya. Keadilan Khusus. yaitu: a./Modul/Fils. summa crux”. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). yaitu: 1) keadilan distributif. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . yang dibedakan lagi menjadi 3. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif./Univ. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. Narotama Surabaya/V/2005 53 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. Perbedaannya ialah. b. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. 3) keadilan vindikatif. Hk. summa injuria. 2) keadilan komutatif. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. summa lex. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. Selain membagi keadilan menjadi dua. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan. yaitu kepastian hukum.

yaitu dasar hukum sebagai hukum. yakni nilai keadilan. hukum diwujudkan dalam satu nilai. c. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum./Modul/Fils. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. . namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. yaitu: a. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. 5 Theo Huijbers. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. karena ada dasar lain. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. Op. Kepastian hukum atau legalitas. Hk. Tujuan keadilan atau finalitas. Keadilan dalam arti sempit. Cit.Doc.. halaman 162. b. Narotama Surabaya/V/2005 54 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. aspek ini menentukan isi hukum. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. 3./Univ. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. Menurut Radbruch.

./Univ. Penerbit Kanisius. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No. halaman 48. Bagaimana pendapat Sdr. Narotama Surabaya/V/2005 55 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. Yogyakarta.Doc./Modul/Fils. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. Filsafat Hukum. 1995. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. Latihan Soal a. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. 4. Hk. dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya. seperti politik. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis).

Jakarta. Filsafat Hukum.Doc. Jakarta. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Gramedia Pustaka Utama. Huijbers. 1993. _________________. Pradnya Paramita. Hk. Filsafat Hukum. 1995. Soetiksno. Penerbit PT. . Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1993. Theo. Bagian I./Modul/Fils. Darji & Shidarta. Yogyakarta./Univ. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 1997. Penerbit Kanisius. Narotama Surabaya/V/2005 56 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Penerbit PT.

Menjelaskan falsafah hukum nasional. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. halaman 44. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa. 1997. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. Soehardjo Sastrosoehardjo. mahasiswa mampu: 1. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. Hk. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 1 . Universitas Diponegoro.Doc. b. Narotama Surabaya/V/2005 57 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini./Univ. 2. Semarang. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. 1. yaitu:1 a./Modul/Fils. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar.

Untuk itu. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan.Doc. Hk. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. sosial./Univ. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. Narotama Surabaya/V/2005 58 c. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi ./Modul/Fils. b. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. kekuasaan. atau keturunan. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. agama. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Sehubungan dengan itu. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan. apa hakekat kebenaran. dan sebagainya. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. Pancasila harus tetap terbuka . c. Epistemologi. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. Aksiologi. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. Ontologi.

Penerbit Kanisius. 3 Theo Hujibers. kreatif. Yogyakarta. dapat dipergunakan pendekatan filosofis.Doc./Univ. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. radikal. 1993./Modul/Fils. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. Untuk itu. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. Hk. perlu dikembangkan critical mass. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. dan eksploratif. halaman 9. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan. Narotama Surabaya/V/2005 59 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. Semarang. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. 2 . maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. 2. 1997. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Universitas Diponegoro. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern). Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. halaman 106. Dalam suasana yang demikian. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional.

Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. Hk. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. ekonomi. Causa Formalis Pancasila. menurut Notonegoro. dilihat dari causa materialis. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. anti tesis. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika./Modul/Fils. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. yaitu: Pertama. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik. berdasarkan teori causalis. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. Causa Finalis. Menurut Hegel pula. Sebagai contoh. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. lebih lanjut dikemukakan pula. Pancasila berdasar adat kebiasaan.Doc. sosial. dan sebagainya. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. Dalam Teorinya. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. dan sintesis. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. tetapi juga dalam bidang realitas. Narotama Surabaya/V/2005 60 disebut “Teori Dialektika”. ialah anggota BPUPKI./Univ. kebudayaan. kewarganegaraan. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. .

dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. Dikatakan hirarkis. Hk. keadilan sosial. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. Kecuali itu. Penjelasan selanjutnya. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. dalam hal ini PPKI. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan./Modul/Fils. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. Narotama Surabaya/V/2005 61 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. dan berkeadilans osial. dikatakan piramidal. Demikian pula sebagai . Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. berkerakyatan. Sebaliknya. dan Keadilan Sosial. demikian seterusnya. Persatuan Indonesia. karena jika dilihat dari isinya. kerakyatan. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara./Univ. berpersatuan.Doc. Pancasila sebagai pandangan hidup. Selanjutnya. Dengan demikian.

Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. yaitu Sociological Jurisprudence. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. Hk. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. dan dasar negara./Univ. yaitu: Positivisme mementingkan logika. Pada aliran Positivisme Hukum. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b./Modul/Fils. b. c. Kepentingan Masyarakat. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. maupun penjelasannya. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah. batang tubuh. Latihan Soal a. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. Dengan demikian. yaitu: a. baik pembukaan. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. 3. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! .Doc. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. ideologi negara. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. Kepentingan Umum. Kepentingan Individu. Narotama Surabaya/V/2005 62 bangsa Indonesia dan warga negara. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup.

/Univ. Soehardjo Sastrosoehardjo. Semarang. Winandi. 1993 Theo Hujibers. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 63 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. 1997 ./Modul/Fils. Semarang. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Penerbit Kanisius. 1997. Universitas Diponegoro. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Woro & Sri Hartini.Doc. 1993. Penerbit Kanisius. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Theo. Yogyakarta. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Yogyakarta. Universitas Diponegoro.

Narotama Surabaya/V/2005 64 ./Univ./Modul/Fils. Hk.Doc.

Memahami pengertian filsafat./Univ. 6. 6. 7./Modul/Fils. terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan filsafat.R. 1990. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum. Hukum tidak hanya rules (logic & rules). tetapi juga ada logika-logika yang lain. Hk. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Penerbit Rineka Cipta. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5.4 I. Sehingga untuk dapat berfilsafat. 4 . istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani.(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 4. Poedjawijatna. Sesungguhnya. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. halaman 1. Memahami pengertian hukum. 8. Mengetahui pengertian filsafat hukum. Narotama Surabaya/V/2005 65 Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat.Doc. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup. yaitu: Filosofia. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. Jakarta. 5. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. 4.

R. Barangkali.5 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. Hk. tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Narotama Surabaya/V/2005 66 Secara etimologis. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu. terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas. terlebih-lebih bersifat universal. hakikat alam. Jadi secara etimologis. yang tercermin dalam berbagai pepatah. sehingga terdapat kebenaran. objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya. dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek. kata “filsafat” berasal dari kata majemuk. halaman 6-9. yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. dan sistematika tertentu.6 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta. 1995. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. Menurut Poedjawijatna. lalu berusaha mencapai yang diingini. filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”.. yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. halaman 4. lambang dan sebagainya. Gramedia Pustaka Utama./Modul/Fils. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia. Poedjawijatna. yaitu ingin dan karena ingin itu. Penerbit PT. slogan. 6 I. yaitu tentang hakikat Tuhan. sistematis. Objek forma filsafat terdapat pada sudut pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu. Op./Univ. yakni objek materia dan objek forma. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam. dan hakikat manusia. Dengan demikian. objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua. sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. 5 . rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. Cit. metode. yakni: filo dan sofia. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis. Jakarta.Doc. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya. Pokok-pokok Filsafat Hukum. Dari sudut isinya. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Bijaksana inipun merupakan kata asing.

filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok. Suriasumantri. melainkan analisis nilai. retorika. yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat. senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. h. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat. dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral). Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas. i. Filsafat Ilmu. jika yang dianalisis nilai. yaitu: menyeluruh.Doc. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. logika. Op. artinya cara berfikir filsafat tidak sempit. mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah. dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. Cit. ciri ketiga dari filsafat yang berperan. dan estetika. 1998. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. Mendasar. Sebab.. Sebuah Pengantar Populer. Untuk itu. maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi. dan spekulatif. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan. Hk. tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jakarta. halaman 7. Narotama Surabaya/V/2005 67 Jika ditelaah lebih mendalam. 7 . ada ciri lain yang perlu ditambahkan. ekonomi./Univ. mendasar. etika. Jujun S.7 Menyeluruh. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. yaitu spekulatif. antara lain: f. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika. Lain halnya. g. jika yang dianalisis hanya fakta saja.8 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam (contemplation). Penerbit Pustaka Sinar Harapan. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan./Modul/Fils. 8 Darji Darmodiharjo & Shidarta. politik.

agama. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. Bandung. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. Dengan kata lain. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. 1990. pikiran belaka.9 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. kebajikan. Pada agama. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. etika. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. yaitu metafisika. Hk. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. sedangkan agama berdasarkan wahyu. dan antropologi. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. dan sebagainya. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan.Doc. 9 . 5. Citra Aditya Bakti. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat./Univ. halaman 5. baik dan buruk. Narotama Surabaya/V/2005 68 j. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. Penerbit PT. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat Lili Rasjidi. Di sisi lain./Modul/Fils. Di satu sisi. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. karena agama merupakan sesuatu yang ada. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. filsafat berdasarkan pikiran belaka. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. dengan kata lain objek filsafat itu ada. misalnya: Tuhan.

/Univ. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. 4) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). Segala sesuatunya itu ada. maka harus diselidiki sifat-sifatnya. Alam dicari . sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula./Modul/Fils. d) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. Jadi. Dalam realitas. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. Oleh karena itu. Narotama Surabaya/V/2005 69 dari berbagai penjuru sudut pandang. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. yang lazim disebut sebagai Theodicea. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. kemampuannya. Berdasarkan Objek. Hk. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. misalnya sifat-sifatnya. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. Dengan demikian. yang hendak dicari sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. yang dibedakan menjadi dua: 3) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum.Doc. terdapat bermacam-macam hal. yaitu: b. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. yang terdiri dari: c) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. Ada menjadi dasar dari segala yang ada.

/Modul/Fils. c)) Filsafat Budi (Logika): .Doc. apakah isi alam pada umumnya. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada. apakah sebenarnya itu. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. dan lain-lain. apakah kemampuan-kemampuannya. apa sifat-sifat pendorong hidup itu. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. apa pendorong hidupnya. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica. Narotama Surabaya/V/2005 70 intinya oleh filsafat inti alam itu. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia./Univ. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. apakah hubungannya satu sama lain. karena ada-nya tidak dengan niscaya. seperti: apakah manusia itu sebenarnya. yaitu: manusia. Hk.

Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja . Namun. yaitu manusia. jalan pikiran. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. serta putusan-putusan. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. seperti: pengertian. yaitu: 4) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. dan itu dilakukan oleh subjeknya. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal. Narotama Surabaya/V/2005 71 Untuk melakukan penyelidikan. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi./Modul/Fils. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. Hk. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. dalam bekerjanya budi. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam.Doc. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya./Univ. b. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang.

Jadi. Hk. indah lawan jelek. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. 6) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils./Univ. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica./Modul/Fils. ontologia. dan anthropologia). kosmologia. Sehingga. Narotama Surabaya/V/2005 72 semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. Menurut Subjek: . theodicea. Menurut Objek: Ada-umum (fils. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). ada-umum. 5) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. budi (logika mayor & minor) h. setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. tingkah laku (ethica) Fils. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: g.Doc. misalnya: ada yang tinggi dan rendah. theodicea) Alam (filsafat alam. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. baik lawan buruk. kosmologia) Fils. secara garis besar. Oleh karena itu. dan sebagainya.

Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. Dari segi tujuan. 1991. dan kaedah hukum. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma. Penerbit PT. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. Narotama Surabaya/V/2005 73 Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3./Univ.11 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. halaman 5. dengan alasan sebagai berikut: f. Apakah Hukum Itu?. 11 Sudikno Mertokusumo. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). g. 10 . dan kesejahteraan. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. Suatu Pengantar. kaedah kesusilaan.10 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba. ketertiban. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan. 1988. Yogyakarta. kaedah sopan santun (adat)./Modul/Fils. untuk ketertiban masyarakat. Dari segi isi. Filsafat Hukum. Bandung.Doc. agar jangan sampai jatuh korban. Hk. Remaja Rosdakarya. Mengenal Hukum. Penerbit Liberty. Lili Rasjidi. halaman 31.

pada Zaman Pertengahan./Modul/Fils. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. berasal dari masyarakat secara resmi. Lex Divina. halaman 29-30. membebani kewajiban dan memberikan hak. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi.Doc. termasuk mengatur pemerintahan. j. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. Dari segi daya kerja. Pada masa ini. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai pembentuk hukum./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 74 h. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya. misalnya saja Thomas Aquino. Dari segi sanksi. Dari segi asal-usul. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. . Hk. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. Op. Cit. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. pada zaman Romawi. Lex Naturalis. yaitu:12 Lex Aeterna. 12 Lili Rasjidi. Tentu saja. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. Kedua. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. i. Sebagai contoh pertama.. Ketiga.

1988. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. Rasionya. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. Penerbit PT. halaman 4. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Cit. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies. Op. 13 . Dengan kata lain. Bandung. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat./Modul/Fils. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan definisi dari hukum. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. Dengan demikian. 6. Citra Aditya Bakti. Jadi./Univ. halaman 10.. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. seperti Carl von Savigny dan Puchta.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 75 Di samping itu. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. Hk. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis.13 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi.

sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan. Sedangkan D.14 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan Soehardjo Sastrosoehardjo. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu. dan tata tertib dalam masyarakat.J. halaman 5. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht). Semarang. Narotama Surabaya/V/2005 76 J. Hk. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. 14 . Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen./Modul/Fils. Sementara itu./Univ. 1997. over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee).M. J. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum.H. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum.Doc. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. kebahagiaan.

Lili. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Penerbit PT. 1997. Citra Aditya Bakti. Yogyakarta. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Penerbit PT. Soehardjo./Univ.R. Sudikno. Sebuah Pengantar Populer. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Remaja Rosdakarya. Filsafat Hukum. Jujun S. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum.. 1995. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Filsafat Ilmu. Gramedia Pustaka Utama. Sastrosoehardjo. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hk. Suriasumantri. Poedjawijatna. Darji & Shidarta. . Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum.Doc. 1998. Mengenal Hukum. Suatu Pengantar. Rasjidi. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Penerbit PT. Apakah Hukum Itu?. Bandung. I. Mertokusumo.. Bandung. Semarang. 1988. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. 1991. ________________. Narotama Surabaya/V/2005 77 keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. Penerbit Liberty. 1990. Jakarta. Dengan kata lain. Jakarta. 1990. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum. Universitas Diponegoro. Penerbit Rineka Cipta./Modul/Fils. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo.

Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo. halaman 70-71. Pokok-Pokok Filsafat Hukum.Doc. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. Jakarta. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. Socrates. Herakleitos. Parmenides. Hk. 6. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. 6. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. 1 . Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). Narotama Surabaya/V/2005 78 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). Gramedia Pustaka Utama. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. antara lain: Anaximander. sekarang. dan Aristoteles. Herakleitos (540-475 SM). Plato./Univ. 1995. dan masa depan. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu. 8. 7. Penerbit PT./Modul/Fils.

ukuran. 1993. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. 2 . dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati./Univ. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. Logos menciptakan bentuk . Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. Tetapi jelas baginya.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. maka timbullah keadilan (dike). Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum. karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang. Sementara itu. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. Hk. bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. Penerbit Kanisius. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi./Modul/Fils.Doc. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). Apabila hal ini terjadi. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). Narotama Surabaya/V/2005 79 keharusan alam ini. Dengan kata lain. Yogyakarta. Dalam mempertahankan pendapatnya. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. halaman 20). Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. dan harmoni yang menghasilkan aturan. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos.

Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri./Univ. Hk. Menurut Aristoteles. Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. Dari gagasan Aristoteles ini. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). Meskipun demikian. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. yakni hukum alam dan hukum positif. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno).Doc. Menurut Aristoteles. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. yakni undang-undang negara. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. Oleh karena itu. Aristoteles./Modul/Fils. lenyap dan berlaku dengan sendirinya. . hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. Oleh karena itu. Misalnya. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. karena hubungannya dengan aturan alam. sehingga hukum tidak pernah berubah. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. Narotama Surabaya/V/2005 80 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa.

Doc. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 81 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. Dasar-Dasar Filsafat Hukum./Modul/Fils. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. Penerbit PT. bukan menurut hukum positif. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. Oleh karena itu. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic). 1990. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. halaman 13. Citra Aditya Bakti. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi./Univ. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa. yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. 7. Dalam perkembangannya. menurut Stoisisme. 3 . Dengan kata lain. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos).3 dan mulai berkembangnya agama Islam. Bandung. Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275).

Samuel Pufendorf (1632-1694)./Univ./Modul/Fils. Cit. Wolf (1679-1754). berdirinya negara-negara baru. Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum.Doc.. Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. George Berkeley (1685-1753).J. J. yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. Zaman modern ini juga disebut Renaissance. halaman 39. Thomas Hobbes (1588-1679). Narotama Surabaya/V/2005 82 Tuhan (Lex Aeterna). perkembangan teknologi yang sangat pesat. Thomasius (1655-1728). Rene Descartes (1596-1650). Op.4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). David Hume (17111776). Hk. Rousseau (17121778). Montesquieu (1689-1755). lahirnya segala macam ilmu baru. Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. ditemukannya dunia-dunia baru. dan Immanuel Kant (1724-1804). antara lain: William Occam (1290-1350). dan hukum positif (Lex Positivis). 9. Francis Bacon (1561-1626). Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina). sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. John Locke (1632-1704). . Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. 8. dan sebagainya. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri.

Menurut Hegel./Modul/Fils. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel.W. yaitu akan menjadi. seperti J. Op. Fichte (1762-1814) dan F. halaman 37. Namun. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat. . ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. Schelling (1775-1854). masih ada beberapa ahli pikir lain.Doc. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah.F. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman. Di samping Marx dan Engels. juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. Karl Marx (18181883). sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. Teorinya disebut Dialektika. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern. Menurut teori dialektika Hagel. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. Narotama Surabaya/V/2005 83 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19. Cit. seperti Hobbes. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya./Univ.J. seperti Hegel (1770-1831).. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. Hk.

Occam Hegel R. Modern Z../Modul/Fils. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. Narotama Surabaya/V/2005 84 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Berkeley D. halaman 82. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 10.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Hobbes Schelling J. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Pertengahan Z. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 12. Yunani (Kuno) Z. Rousseau Immanuel Kant 10. Cit.J. Locke von Savigny G. Herakleitos. Bacon Wolf Montesquieu J. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 8. . Op. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah.Doc. Descartes Fichte T. Hume F. Latihan Soal 7./Univ. Hk. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 9. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 11.

Bandung. Gramedia Pustaka Utama. Narotama Surabaya/V/2005 85 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Lili. Rasjidi. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit Kanisius.Doc. Jakarta. Penerbit PT. Yogyakarta./Modul/Fils. Theo. Citra Aditya Bakti. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Penerbit PT. 1995. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Hk./Univ. Huijbers. Darji & Shidarta. 1993. . 1990. Dasar-Dasar Filsafat Hukum.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

86

BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 3. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. 4. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: 2. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum, yaitu: a. Aliran Hukum Alam. b. Aliran Hukum Positif. c. Aliran Utilitarianisme. d. Aliran Sejarah. e. Alian Positivisme. f. Aliran Sociological Jurisprudence. g. Aliran Legal Realism.

3. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab, yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana, antara lain F.S.G. Northrop dan Lili Rasjidi.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran, yaitu: f. Legal Positivism. g. Pragmatic Legal Realism. h. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. i. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. j. Naturalistic Jurisprudence.

Lili Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat Hukum, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti Bandung, 1990, halaman 26-27.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

87

Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar, masing-masing: g. Aliran Hukum Alam: 3) Yang Irrasional. 4) Yang Rasional. h. Aliran Hukum Positif: 3) Analitis. 4) Murni. i. Aliran Utilitarianisme. j. Madzhab Sejarah. k. Sociological Jurisprudence. l. Pragmatic Legal Realism. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain, yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab, yaitu:2 j. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. k. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). l. Aliran Neo Kantianisme. m. Aliran Sejarah. n. Aliran Positivisme. o. Aliran Ajaran Hukum Umum. p. Aliran Sosiologi Hukum. q. Aliran Realisme Hukum. r. Aliran Hukum Bebas. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama, karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum.

Soehardjo Sastrosoehardjo, Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum, Program Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang, 1997, halaman 1.

2

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

88

Dalam tulisan ini, penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi, seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran, Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). Menurut Friedman, aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut, sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran, hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: 2) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino), John Salisbury, Daante, Piere Dubois, Marsilius Padua, dan John Wyclife. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan, yaitu: e) Lex Aeterna, merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. f) Lex Divina, bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. g) Lex Naaturalis, inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. h) Lex Posistivis, hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh

Darji Darmodiharjo & Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1995, halaman 102.

3

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

89

keadaan dunia. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Penulis lain, William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum, dengan penjelasan sebagai berikut: d) Hukum Universal, yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. e) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. f) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian, manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut, sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil, buruk atau jahat dan baik atau jujur. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja, sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. 2) Rasional: Sebaliknya, aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. Tokoh-tokohnya, antara lain: Hugo de Groot (Grotius), Christian Thomasius, Immanuel Kant, dan Samuel Pufendorf. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius), ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan, sehingga rasio

volition. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). and feeling). Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo. yaitu cipta. Hk. Op. rasa. tidak dogmatis (trancendental). Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya. lawan dari filsafat dogmatis. beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze). dan karsa (thinking. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan.Doc./Univ. Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan.. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). halaman 12. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. . Narotama Surabaya/V/2005 90 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi). Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut.4 Metode kritis tidak skeptis. Cit. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia./Modul/Fils. Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis.

. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. Narotama Surabaya/V/2005 91 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. Jadi. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. Austin membagi hukum atas 2 hal. yaitu: c) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia./Univ. b. Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia.Doc. berkembang bentuk yang agak lain. What is reasonable is real. antitesa. yaitu Analytical Jurisprudence. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. Bagi Hegel. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara. san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. and what is real is reasonable). dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. demikan juga dengan hukum./Modul/Fils. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. 3) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. das ist wirklich ist. Di Inggris. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. das ist vernunftig. Hk.

Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. Hk. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . dan sebagainya. sosiologi. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. kewajiban. sanksi.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 92 d) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. Idealisme hukum ditolak sama sekali. peraturan pemerintah. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. sejarah. dan kedaulatan. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. Menurut ajaran tersebut. dan sebagainya. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. etika. dalam hukum yang nyata pada point pertama. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler./Univ. di dalamnya terkandung perintah. Menurut Austin./Modul/Fils. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. contoh hak wali terhadap perwaliannya. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. seperti: undang-undang. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. 4) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme.

Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. halaman 43. l) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal.Doc. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik.. Narotama Surabaya/V/2005 93 g) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi. Cit. bukan masalah apa yang dikehendaki. Op. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi. masalah cipta. etiika atau agama. h) Teori filsaft hukum adalah ilmu./Univ. seorang murid dari Rudolf von Jhering. Hk. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. i) Hukum adalah ilmu normatif. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus. . j) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas./Modul/Fils. bukan karsa dan rasa. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi. k) Teori hukum adalah formal.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen.

tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. mengikat. maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut. kekuasaan hukum. Manusia selalu berusaha . Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c.Doc. hukum kodrat gaya baru. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. objek hukum. yaitu: subjek hukum. meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht). berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. secara positif. verbinden. Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. menurut hukum (rechtmatigeheid). Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. i. Hk. dan melawan hukum./Modul/Fils. dasar hukum. Narotama Surabaya/V/2005 94 norma c. hubungan hukum. dan Rudolf von Jhering (1818-1889). selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen). penundukan hukum. tidak semata-mata pada bentuk hukumnya. Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”.q. John Stuart Mill (1806-1873)./Univ.q. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan.

untuk memelihara kegunaan. ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. ia mengikuti Bentham. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). Narotama Surabaya/V/2005 95 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya.Doc. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. Dalam mendefinisikan kepentingan. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial./Univ. Dengan kata lain. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. Mill. dan positivisme hukum dari John Austin. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. Hk. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. Oleh karena itu. Bagi Jhering. j. jikas tidak demikian. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan./Modul/Fils. Pada hakekatnya. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan.

tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. namun ia akan mati. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. es wachst mit dem volke vort. Narotama Surabaya/V/2005 96 dibuat. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri.Doc. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 4) Langsung. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . berkembang bersama dengan rakyat. karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya./Modul/Fils. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. . berupa adat-istiadat. 7) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 5) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. Sedang Puchta. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. Hk./Univ. 6) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. bilden sich aus mit diesem. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. 8) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah.

/Modul/Fils. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. Yogyakarta. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara.Doc. k. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. 6) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. Penerbit Kanisius. Menurut Puchta. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. 1993. Hk. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 97 5) Melalui undang-undang. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. 6 . menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. Di lain pihak. Lebih lanjut. halaman 120-121. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini.

7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. Dengan rasio demikian. antara lain: Roscoe Pound. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat.Doc. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat./Modul/Fils. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum. Benjamin Cardozo. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). Op./Univ. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. Cit. Aliran ini berkembang di Amerika. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. Eugen Ehrlich. halaman 47. Kontorowics. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. Sociological jurisprudence. Gurvitch dan lain-lain. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial. Narotama Surabaya/V/2005 98 Pendasar aliran ini. .. Hk.

Maksudnya. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. Sebab. Jerome Frank. 7) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. Hk. Karl Llewellyn. Oliver Wendell Holmes./Modul/Fils. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. maka tiap bagiannya harus . Sementara itu. l. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. William James dan sebagainya. private as well as public interest). pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum.Doc. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman . Narotama Surabaya/V/2005 99 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 6) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman./Univ. kedua liran tersebut ada kebenarannya. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. Gray.

Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. 8) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- ./Modul/Fils. 6) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut.Doc./Univ. 8) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. Narotama Surabaya/V/2005 100 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. 9) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya. 7) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata. Hk. Sesuai dengan keyakinan ini. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 5) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. 10) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya.

Hk. Filsafat Hukum. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. 4) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. Bagi Frank. “The path of Law” berasal dari Holmes. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank./Univ.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. ekonomis. prasangka politis. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. yakni wawasan sosiologis. 8 .Doc. di samping faktor-faktor lain. Narotama Surabaya/V/2005 101 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain. dan moril. Penerbit PT. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. simpati maupun antipati pribadi (Frank). 1997. yaitu: 3) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. yakni. hukum dapat dibagi menjadi dua. Bagian I. hanyalah sebatas persamaan nama saja. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). Pradnya Paramita. Jakarta. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. halaman 77. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage)./Modul/Fils. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain.

pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. Hk. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. halaman 86. Menureut Friedman. yaitu Oliverscrona.Doc. . yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif.. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum./Modul/Fils. Latihan Soal 9 Ibid. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis. Lundstedt. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak. Narotama Surabaya/V/2005 102 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law). 4. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat./Univ. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa.

Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e.! f. Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 103 a. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d./Univ. Hk. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c.Doc. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! .

1997. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Penerbit PT. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Citra Aditya Bakti Bandung.Doc. Soehardjo Sastrosoehardjo. Lili. Filsafat Hukum. 1995. Darji & Shidarta. . 1993. Gramedia Pustaka Utama. Bagian I. Soetiksno. 1997. Penerbit PT. 1990./Modul/Fils. Jakarta. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Yogyakarta. Semarang. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Penerbit Kanisius. Pradnya Paramita. Narotama Surabaya/V/2005 104 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo./Univ. Rasjidi. Jakarta. halaman. Hk. Penerbit PT. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Huijbers. Universitas Diponegoro.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

105

BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. 2. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. 2. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. 3. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern.

2. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological

Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat, memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu, dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu, karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia, dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang

hukum, karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu, maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1

Roscoe Pound, Pengantar Filsafat Hukum, (Terj.) Muhammad radjab, Penerbit Bhratara, Jakarta, 1996, halaman 28-32.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

106

a. Pertama, boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia, misalnya undang-undang Nabi Musa, atau undang-undang Hammurabi, yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun, atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu, Bhrigu namanya, di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. b. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. Sebab manusia primitif, yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam, terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan, dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti, setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat, yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik, boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan, persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta, pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. c. Gagasan ini rapat dengan yang kedua, yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. Jalan yang selamat, atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif, mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

107

d. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft, yang menyatakan sifat benda-benda, dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu.

Demikianlah, gagasan sarjana hukum Romawi, yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi, dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi; dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat, harus diukur, dibentuk, ditafsirkan , dan ditambah oleh yang tigta tadi. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini, konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain, e. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. f. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik, persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum, dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. Sudah

sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. Sangat mungkin dengan teori serupa itu, satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. g. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini; satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan, yang berbeda dengan yang masih dilakukan, yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. Begitulah konsepsi Thomas

yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. i. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif. atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. Menurut anggapan pada masa itu. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17./Modul/Fils. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. h. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 108 Aquino. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan.Doc. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang./Univ. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara .

yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. Narotama Surabaya/V/2005 109 yang tak dapat dielakkan lagi. j. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar.Doc. atau pada taraf lain. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu./Modul/Fils. Di dalam betuk Positivistis-Analistis. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. k. Hk. satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia./Univ. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. Di dalam satu bentuk yang idealistis. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan.

Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”./Modul/Fils. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. Jakarta. yang dapat ditemukan oleh pengamatan. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. 1995. Penerbit PT. Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. l. yang ditemukan oleh pengamatan. Narotama Surabaya/V/2005 110 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia./Univ. 2 . Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 4) Kepentingan Umum (Public Interest).Doc. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Gramedia Pustaka Utama. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Hk. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. dan bukan lagi dasar metafisik. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. Untuk itu. halaman 129130. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum.

Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. h) pencegahan kemerosotan akhlak. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu./Univ. Hk. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. Dengan kata lain. sehingga membuat pembentuk undng-undang. 5) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): f) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. Oleh karena itu.Doc. 6) Kepentingan Pribadi (Private Recht): d) kepentingan individu. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. j) kesejahteraan sosial. g) perlindungan lembaga-lembaga sosial. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. Kedua./Modul/Fils. d. e) kepentingan keluarga. hakim. pengacara. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. yaitu: Pertama. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. 2. i) pencegahan pelanggaran hak. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. Narotama Surabaya/V/2005 111 c) kepentingan negara sebagai badan hukum. d) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. f) kepentingan hak milik. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. tujuan hukum yang demikian ini . dilihat dari hal tersebut.

yaitu: d. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. yang menilik niat bukan di tempatnya . semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. f. Narotama Surabaya/V/2005 112 sangat penting artinya bagi masyarakat. dan penduduk yang bertambah banyak. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. hukum dibentuk. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial./Modul/Fils. Hk. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. Oleh karena itu. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan.Doc. e. antara orang-orang yang sekutu. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. e. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan./Univ. 3. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya.

Narotama Surabaya/V/2005 113 bentuknya. 3. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum./Univ. timbul pandangan hukum adalah keburukan. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. Hk. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum./Modul/Fils. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c.Doc. Latihan Soal a. f. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya.

Pokok-Pokok Filsafat Hukum./Modul/Fils. Hk.) Muhammad radjab. . Narotama Surabaya/V/2005 114 DAFTAR PUSTAKA Pound. Darmodiharjo. Roscoe. Jakarta. Pengantar Filsafat Hukum. (Terj. Penerbit Bhratara./Univ. Penerbit PT. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Darji & Shidarta. Gramedia Pustaka Utama. 1996.Doc. Jakarta. 1995.

Penerbit PT. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. 4. 1997. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. halaman 11. Dengan perkataan lain. 2. Narotama Surabaya/V/2005 115 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum. Pradnya Paramita. Memahami bermacam-macam arti keadilan. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. Jakarta./Univ. Hk. Soetiksno.Doc. 1 . yaitu sifat baik. Bagian I. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 3. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. Filsafat Hukum. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran./Modul/Fils. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. 2. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno.

harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. halaman 29./Univ. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. Keadilan distributif (Distributive Justice). 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya. 1995. Dalam menganalisis keadilan. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. Gramedia Pustaka Utama. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima.Doc. Keadilan berada di tengah dua ekstrem. Darji Darmodiharjo & Shidarta. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Narotama Surabaya/V/2005 116 Menurut Plato. 2 . Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice). yaitu: 4 c. Penerbit PT. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. Cit. Jakarta. c. halaman 155. Penerbit Kanisius.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. Op.. b. 3 Theo Huijbers. Sedang menurut Aristoteles. Aristoteles membagi keadilan menjadi dua./Modul/Fils. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. d. Hk. Yogyakarta. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu. halaman 154. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya. 1993.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus.

summa crux”. yang dibedakan lagi menjadi 3./Univ. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. yaitu kepastian hukum. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. adil atau tidak adil. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan .Doc. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus./Modul/Fils. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. summa lex. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. 6) keadilan vindikatif. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. yaitu: 4) keadilan distributif. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). Kontribusi Aristoteles berikutnya. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan. Narotama Surabaya/V/2005 117 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. summa injuria. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. Hk. Keadilan Khusus. Keadialan Umum (Justitia Generali). Selain membagi keadilan menjadi dua. d. 5) keadilan komutatif. yaitu: c. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. membagi keadilan menjadi 2. Perbedaannya ialah. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang.

aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. b. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. . namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. Hk. hukum diwujudkan dalam satu nilai. Keadilan dalam arti sempit. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran.Doc. karena ada dasar lain. Tujuan keadilan atau finalitas. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. 3. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. Menurut Radbruch./Univ. yaitu: a. c. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. Kepastian hukum atau legalitas. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. yakni nilai keadilan. Cit. Op. aspek ini menentukan isi hukum. Narotama Surabaya/V/2005 118 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. halaman 162. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. 5 Theo Huijbers.. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. yaitu dasar hukum sebagai hukum./Modul/Fils. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut.

kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya. Yogyakarta. Bagaimana pendapat Sdr. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. Narotama Surabaya/V/2005 119 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut. 4.Doc. 1995./Modul/Fils. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis). seperti politik. Penerbit Kanisius.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. halaman 48. Latihan Soal a. . maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. Filsafat Hukum./Univ. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. Hk.

Huijbers. Bagian I. Filsafat Hukum. Jakarta./Modul/Fils. Gramedia Pustaka Utama. Penerbit PT. Theo. Penerbit PT. Jakarta. 1995./Univ. 1993. Yogyakarta. _________________. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Yogyakarta. . Penerbit Kanisius. Darji & Shidarta. Soetiksno. Narotama Surabaya/V/2005 120 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo.Doc. Pradnya Paramita. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1993. 1997. Penerbit Kanisius. Hk. Filsafat Hukum. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.

Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. Menjelaskan falsafah hukum nasional. Hk. 1 . 4. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh./Modul/Fils. 1997. Soehardjo Sastrosoehardjo. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. Narotama Surabaya/V/2005 121 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. yaitu:1 a. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar. Universitas Diponegoro. halaman 44.Doc. Semarang. mahasiswa mampu: 1. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. b. Program Pascasarjana Ilmu Hukum./Univ. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa. 2.

Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. Ontologi. sosial. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. Hk./Univ. Untuk itu. atau keturunan. Aksiologi. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. agama. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a./Modul/Fils. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. dan sebagainya. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. kekuasaan. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Epistemologi.Doc. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. b. apa hakekat kebenaran. Sehubungan dengan itu. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. Pancasila harus tetap terbuka . c. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. Narotama Surabaya/V/2005 122 c.

kreatif. Yogyakarta. 5. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. Dalam suasana yang demikian. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. 3 Theo Hujibers. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. Semarang. halaman 106. Narotama Surabaya/V/2005 123 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. Untuk itu. 1997. radikal.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan. 2 . Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut./Univ.Doc. halaman 9. Hk. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. perlu dikembangkan critical mass. dan eksploratif. Universitas Diponegoro. 1993. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern)./Modul/Fils. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. Penerbit Kanisius.

tetapi juga dalam bidang realitas. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru./Modul/Fils./Univ. Causa Formalis Pancasila. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. ekonomi. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara.Doc. Causa Finalis. . kewarganegaraan. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. menurut Notonegoro. sosial. dilihat dari causa materialis. kebudayaan. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. berdasarkan teori causalis. dan sebagainya. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. Dalam Teorinya. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. Narotama Surabaya/V/2005 124 disebut “Teori Dialektika”. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. Menurut Hegel pula. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. Pancasila berdasar adat kebiasaan. anti tesis. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. yaitu: Pertama. lebih lanjut dikemukakan pula. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. ialah anggota BPUPKI. dan sintesis. Sebagai contoh. Hk. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah.

causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. berkerakyatan. dan berkeadilans osial. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. karena jika dilihat dari isinya. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. Selanjutnya. keadilan sosial. Kecuali itu. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. berpersatuan. kerakyatan.Doc. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Dikatakan hirarkis./Modul/Fils. dikatakan piramidal. Demikian pula sebagai . ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan./Univ. dan Keadilan Sosial. Dengan demikian. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. Persatuan Indonesia. Pancasila sebagai pandangan hidup. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. demikian seterusnya. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. Hk. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. dalam hal ini PPKI. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. Narotama Surabaya/V/2005 125 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. Penjelasan selanjutnya. Sebaliknya. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya.

pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. maupun penjelasannya. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. yaitu: Positivisme mementingkan logika.Doc. Hk. yaitu Sociological Jurisprudence. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah. f./Modul/Fils. Latihan Soal a. e. Pada aliran Positivisme Hukum. ideologi negara. batang tubuh. yaitu: d. baik pembukaan. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. 6. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. dan dasar negara. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. Kepentingan Individu. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. Kepentingan Masyarakat. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. Narotama Surabaya/V/2005 126 bangsa Indonesia dan warga negara. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa./Univ. Dengan demikian. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. Kepentingan Umum. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak.

1993 Theo Hujibers. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Woro & Sri Hartini. Universitas Diponegoro. Semarang. Winandi. Hk.Doc. Program Pascasarjana Ilmu Hukum./Modul/Fils. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Penerbit Kanisius. 1997. Yogyakarta. Universitas Diponegoro. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Penerbit Kanisius. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Yogyakarta. Theo. Narotama Surabaya/V/2005 127 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. Semarang. 1997 . Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah./Univ. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Soehardjo Sastrosoehardjo. 1993.

Narotama Surabaya/V/2005 128 . Hk./Univ./Modul/Fils.Doc.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful