Doc./Modul/Fils. Hk./Univ.

Narotama Surabaya/V/2005

1

Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Hukum tidak hanya rules (logic & rules), tetapi juga ada logika-logika yang lain. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup, tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum,(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM

Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami pengertian filsafat. 2. Memahami pengertian hukum. 3. Mengetahui pengertian filsafat hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. 2. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. 3. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. 4. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana.

1. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. Sehingga untuk dapat berfilsafat, terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

2

filsafat. Sesungguhnya, istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani, yaitu: Filosofia.1 Secara etimologis, kata “filsafat” berasal dari kata majemuk, yakni: filo dan sofia. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin itu, lalu berusaha mencapai yang diingini. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Bijaksana inipun merupakan kata asing, yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. Jadi secara etimologis, filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. Dengan demikian, rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. Dari sudut isinya, terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia, yang tercermin dalam berbagai pepatah, slogan, lambang dan sebagainya. 2 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek, metode, dan sistematika tertentu, terlebih-lebih bersifat universal. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu, yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. Menurut Poedjawijatna, objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua, yakni objek materia dan objek forma. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu, sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu tentang hakikat Tuhan, hakikat alam, dan hakikat manusia. Barangkali, objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya, tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Objek forma filsafat terdapat pada sudut

I.R. Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1990, halaman 1. 2 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995, halaman 4.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

3

pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu, sehingga terdapat kebenaran, jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas.3 Jika ditelaah lebih mendalam, filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok, yaitu: menyeluruh, mendasar, dan spekulatif.4 Menyeluruh, artinya cara berfikir filsafat tidak sempit, dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral), senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. Mendasar, artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. Untuk itu, ciri ketiga dari filsafat yang berperan, yaitu spekulatif. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan, tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas, ada ciri lain yang perlu ditambahkan, yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat.5 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam

(contemplation). Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja, melainkan analisis nilai. Sebab, jika yang dianalisis hanya fakta saja, maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi, dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. Lain halnya, jika yang dianalisis nilai, maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat, antara lain: a. b. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.

I. R. Poedjawijatna, Op. Cit., halaman 6-9. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Penerbit Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1998. 5 Darji Darmodiharjo & Shidarta, Op. Cit., halaman 7.
4

3

Bandung. Lili Rasjidi. karena agama merupakan sesuatu yang ada. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. Dasar-Dasar Filsafat Hukum.Doc. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. yaitu metafisika. etika. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. 1990. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. sedangkan agama berdasarkan wahyu. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. agama. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. Citra Aditya Bakti. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. Dengan kata lain. e. dan sebagainya. d. filsafat berdasarkan pikiran belaka. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. baik dan buruk. Narotama Surabaya/V/2005 4 c. Pada agama./Modul/Fils. Hk. kebajikan.6 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. misalnya: Tuhan. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. halaman 5. Di sisi lain. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. pikiran belaka. Di satu sisi. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. 6 . meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda./Univ. dan antropologi. Penerbit PT.

terdapat bermacam-macam hal. yang lazim disebut sebagai Theodicea. Segala sesuatunya itu ada. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. b) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. Narotama Surabaya/V/2005 5 2. yaitu: a. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. dengan kata lain objek filsafat itu ada. Dengan demikian. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat dari berbagai penjuru sudut pandang. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. Oleh karena itu. Dalam realitas.Doc. Jadi. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. 2) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). maka harus diselidiki sifat-sifatnya. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. Ada menjadi dasar dari segala yang ada. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis./Modul/Fils. kemampuannya./Univ. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. yang hendak dicari . misalnya sifat-sifatnya. Hk. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. Berdasarkan Objek. yang terdiri dari: a) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. yang dibedakan menjadi dua: 1) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum.

Hk. dan lain-lain. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica. karena ada-nya tidak dengan niscaya. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada. apakah hubungannya satu sama lain. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. yaitu: manusia. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. apakah sebenarnya itu. Alam dicari intinya oleh filsafat inti alam itu. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak.Doc. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. apa pendorong hidupnya. seperti: apakah manusia itu sebenarnya. apakah kemampuan-kemampuannya. Narotama Surabaya/V/2005 6 sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. apa sifat-sifat pendorong hidup itu. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. apakah isi alam pada umumnya. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur ./Modul/Fils. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak./Univ.

sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal./Modul/Fils. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). seperti: pengertian. yaitu manusia. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. b. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki./Univ. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha . dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. dalam bekerjanya budi. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. Namun. serta putusan-putusan. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. c)) Filsafat Budi (Logika): Untuk melakukan penyelidikan. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. dan itu dilakukan oleh subjeknya.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 7 yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. jalan pikiran. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. Hk. yaitu: 1) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya.

kosmologia) Fils. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. misalnya: ada yang tinggi dan rendah. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. 2) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. baik lawan buruk. Sehingga. indah lawan jelek. setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. theodicea. dan anthropologia). timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. ontologia. Oleh karena itu. Narotama Surabaya/V/2005 8 kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. dan sebagainya. secara garis besar. tingkah laku (ethica) . Hk. kosmologia./Modul/Fils. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: a. 3) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. Jadi. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. ada-umum.Doc. manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. theodicea) Alam (filsafat alam. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria)./Univ. Menurut Objek: Ada-umum (fils. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica.

budi (logika mayor & minor) b. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba. Remaja Rosdakarya. halaman 5. Narotama Surabaya/V/2005 9 Fils. 7 . halaman 31. 1988./Modul/Fils. dan kesejahteraan. Menurut Subjek: Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. Yogyakarta. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan. Hk. Mengenal Hukum.7 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. kaedah kesusilaan. Suatu Pengantar. Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). 1991./Univ.8 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut.Doc. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. ketertiban. Penerbit Liberty. dengan alasan sebagai berikut: Lili Rasjidi. kaedah sopan santun (adat). Bandung. Apakah Hukum Itu?. dan kaedah hukum. Penerbit PT. 8 Sudikno Mertokusumo. Filsafat Hukum.

para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. berasal dari masyarakat secara resmi. e. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. b. misalnya saja Thomas Aquino. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai 9 Lili Rasjidi. Op. Lex Naturalis. Narotama Surabaya/V/2005 10 a. Dari segi tujuan. Ketiga. pada zaman Romawi. Dari segi daya kerja. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. pada Zaman Pertengahan. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum.Doc. Sebagai contoh pertama./Univ. termasuk mengatur pemerintahan. untuk ketertiban masyarakat. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. d. Cit. halaman 29-30. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. . Lex Divina. Kedua. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. membebani kewajiban dan memberikan hak. yaitu:9 Lex Aeterna. Tentu saja.. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. agar jangan sampai jatuh korban. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. c. Dari segi sanksi./Modul/Fils. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. Dari segi asal-usul. Dari segi isi. Hk.

juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. Bandung. 3. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. Cit. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies. halaman 10. Dengan demikian. Jadi. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. Pada masa ini.Doc./Univ. 10 . Dengan kata lain.. Rasionya. seperti Carl von Savigny dan Puchta. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat. Penerbit PT. Citra Aditya Bakti. Op. Di samping itu./Modul/Fils. 1988. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta. halaman 4. Hk. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. Narotama Surabaya/V/2005 11 pembentuk hukum.10 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis.

Narotama Surabaya/V/2005 12 definisi dari hukum. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). halaman 5. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. 1997. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht). dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen. J. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. J./Univ. dan tata tertib dalam masyarakat.J./Modul/Fils. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum.H. Semarang. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. 11 . Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu.M. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. Hk. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil.Doc. kebahagiaan.11 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar Soehardjo Sastrosoehardjo. Sementara itu. Sedangkan D.

Program Pascasarjana Ilmu Hukum... orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum. Penerbit PT. Sastrosoehardjo. 1997. Jakarta. Suatu Pengantar. Mertokusumo. . Yogyakarta. Filsafat Hukum. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta. Penerbit Liberty. Penerbit Rineka Cipta. Bandung. 1995. Universitas Diponegoro. Narotama Surabaya/V/2005 13 tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Apakah Hukum Itu?. Soehardjo./Modul/Fils. Jujun S.Doc. Jakarta. Penerbit PT. Filsafat Ilmu. Semarang. Citra Aditya Bakti. Gramedia Pustaka Utama. 1991. 1990. Mengenal Hukum. Rasjidi./Univ. Dengan kata lain. Suriasumantri. Sudikno. 1990. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. ________________. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Darji & Shidarta. 1998. Hk. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. Sebuah Pengantar Populer. 1988. Lili. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Remaja Rosdakarya.R. Bandung. Penerbit PT. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. I. Poedjawijatna.

Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. halaman 70-71. 1 . Jakarta. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). Penerbit PT. Hk. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu. 2. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. dan Aristoteles. 3. Gramedia Pustaka Utama. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini. 1. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. sekarang./Modul/Fils. Herakleitos (540-475 SM).Doc. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. Socrates. 1995. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Herakleitos. dan masa depan. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). 4. antara lain: Anaximander. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno)./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 14 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. Plato. Parmenides. yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau.

dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. Sementara itu. bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini./Univ. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Yogyakarta. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. maka timbullah keadilan (dike). Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum.Doc. Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. ukuran. dan harmoni yang menghasilkan aturan. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. Narotama Surabaya/V/2005 15 keharusan alam ini. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya. 1993. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. Penerbit Kanisius. Tetapi jelas baginya.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia./Modul/Fils. Hk. Dengan kata lain. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. Dalam mempertahankan pendapatnya. karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang. Logos menciptakan bentuk . Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati. 2 . Apabila hal ini terjadi. halaman 20). Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi.

Oleh karena itu. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. sehingga hukum tidak pernah berubah. Menurut Aristoteles. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa. hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. lenyap dan berlaku dengan sendirinya. Narotama Surabaya/V/2005 16 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. Dari gagasan Aristoteles ini. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif.Doc. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). Meskipun demikian./Modul/Fils. . Oleh karena itu. yakni hukum alam dan hukum positif. karena hubungannya dengan aturan alam. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. Aristoteles. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. Misalnya./Univ. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. Hk. Menurut Aristoteles. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. yakni undang-undang negara. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno).

2. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic). Hk./Modul/Fils. Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. Dalam perkembangannya. bukan menurut hukum positif. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia.Doc./Univ. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. Narotama Surabaya/V/2005 17 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. halaman 13. Oleh karena itu. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. 3 . Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Penerbit PT.3 dan mulai berkembangnya agama Islam. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. 1990. Bandung. Citra Aditya Bakti. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. Dengan kata lain. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). menurut Stoisisme. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania.

Rousseau (17121778). Thomas Hobbes (1588-1679). lahirnya segala macam ilmu baru. Zaman modern ini juga disebut Renaissance. rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. berdirinya negara-negara baru. perkembangan teknologi yang sangat pesat. Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. George Berkeley (1685-1753). Op. 4. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri. Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. John Locke (1632-1704). Thomasius (1655-1728). Rene Descartes (1596-1650). antara lain: William Occam (1290-1350). Wolf (1679-1754).J. Cit. Hk. ditemukannya dunia-dunia baru. Montesquieu (1689-1755). Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. Samuel Pufendorf (1632-1694). sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. dan hukum positif (Lex Positivis). Francis Bacon (1561-1626). Narotama Surabaya/V/2005 18 Tuhan (Lex Aeterna). dan Immanuel Kant (1724-1804). 3./Modul/Fils. . halaman 39. J.Doc./Univ. hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina).4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. dan sebagainya.. Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). David Hume (17111776).

Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern. Narotama Surabaya/V/2005 19 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19.F. Menurut teori dialektika Hagel. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. Teorinya disebut Dialektika. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. Menurut Hegel. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. seperti J. juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. Fichte (1762-1814) dan F. Cit. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. Op./Modul/Fils. yaitu akan menjadi. . Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. Schelling (1775-1854). setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme. Namun. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. Di samping Marx dan Engels. seperti Hegel (1770-1831)./Univ. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah. Karl Marx (18181883). Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman. masih ada beberapa ahli pikir lain. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19.Doc.J. Hk. ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. seperti Hobbes.W.. halaman 37. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel.

Bacon Wolf Montesquieu J. halaman 82./Univ. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 6. Modern Z. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. Hume F. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 5. Rousseau Immanuel Kant 5. Occam Hegel R. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah. . Herakleitos. Descartes Fichte T. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 2. Berkeley D.Doc. Op.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Narotama Surabaya/V/2005 20 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Yunani (Kuno) Z../Modul/Fils. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 4.J. Hobbes Schelling J. Locke von Savigny G. Latihan Soal 1. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 3. Hk. Cit. Pertengahan Z.

/Univ. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Jakarta. Citra Aditya Bakti. Darji & Shidarta. Rasjidi. Huijbers. Bandung. Penerbit PT. Hk. Yogyakarta. Lili. Narotama Surabaya/V/2005 21 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Theo. ./Modul/Fils.Doc. Penerbit PT. Penerbit Kanisius. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1990. 1995. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Gramedia Pustaka Utama. 1993.

Citra Aditya Bakti Bandung. g. b. Alian Positivisme. e./Univ. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. Hk. c. Narotama Surabaya/V/2005 22 BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 1.G. antara lain F. Aliran Sociological Jurisprudence. c./Modul/Fils. 1990. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana. e. Aliran Sejarah. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. Naturalistic Jurisprudence. Legal Positivism. Northrop dan Lili Rasjidi. 1 . b. yaitu: a. Penerbit PT. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab. Lili Rasjidi. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. halaman 26-27. Pragmatic Legal Realism. f. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran.S. Aliran Hukum Positif. Aliran Utilitarianisme. 2. yaitu: a.Doc. 1. d. Aliran Hukum Alam. Aliran Legal Realism. d.

2 . b. e. karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum. c. yaitu:2 a. Aliran Utilitarianisme. Pragmatic Legal Realism. h. Aliran Realisme Hukum. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. f./Univ. Aliran Sejarah. masing-masing: a. f.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 23 Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar./Modul/Fils. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. d. Sociological Jurisprudence. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain. g. Semarang. i. halaman 1. yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab. 1997. Aliran Ajaran Hukum Umum. b. c. Aliran Hukum Positif: 1) Analitis. Aliran Neo Kantianisme. 2) Murni. Soehardjo Sastrosoehardjo. Universitas Diponegoro. Aliran Positivisme. e. d. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama. Hk. Aliran Sosiologi Hukum. Aliran Hukum Bebas. Aliran Hukum Alam: 1) Yang Irrasional. 2) Yang Rasional. Madzhab Sejarah.

Doc./Univ. Gramedia Pustaka Utama. 3 . yaitu: a) Lex Aeterna. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. Penerbit PT. merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. Daante. dan John Wyclife. hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh Darji Darmodiharjo & Shidarta. Narotama Surabaya/V/2005 24 Dalam tulisan ini. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi. seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua). Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. halaman 102. penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. b) Lex Divina. Marsilius Padua.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan. Jakarta. aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut. c) Lex Naaturalis./Modul/Fils. d) Lex Posistivis. John Salisbury. bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. Menurut Friedman. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino). 1995. inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. yaitu: 1) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. Hk. Piere Dubois. hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia.

b) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. buruk atau jahat dan baik atau jujur./Univ. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian. dengan penjelasan sebagai berikut: a) Hukum Universal. manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. Narotama Surabaya/V/2005 25 keadaan dunia. Penulis lain. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. Christian Thomasius. yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius). sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil. ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan. sehingga rasio .Doc. Immanuel Kant. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut. Hk. c) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. 1) Rasional: Sebaliknya./Modul/Fils. antara lain: Hugo de Groot (Grotius). dan Samuel Pufendorf. Tokoh-tokohnya.

Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. yaitu cipta./Modul/Fils. halaman 12. . Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis.Doc. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). Op. Narotama Surabaya/V/2005 26 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut./Univ. and feeling). tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. tidak dogmatis (trancendental). beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze). Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya. dan karsa (thinking. Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis. lawan dari filsafat dogmatis. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi).4 Metode kritis tidak skeptis. Hk. rasa.. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. Cit. volition. Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo.

penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika./Univ. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 27 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. das ist vernunftig. antitesa. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. das ist wirklich ist. Austin membagi hukum atas 2 hal. What is reasonable is real. berkembang bentuk yang agak lain. b. yaitu Analytical Jurisprudence. demikan juga dengan hukum. . Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. Di Inggris. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. Jadi. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. 1) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. Hk. and what is real is reasonable). san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata./Modul/Fils. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. yaitu: a) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. Bagi Hegel. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang.

/Modul/Fils.Doc. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. 2) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. Menurut ajaran tersebut. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. kewajiban. Hk. peraturan pemerintah. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. dalam hukum yang nyata pada point pertama. sosiologi. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. contoh hak wali terhadap perwaliannya. etika. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. sejarah. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). dan sebagainya. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. di dalamnya terkandung perintah. Narotama Surabaya/V/2005 28 b) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. dan sebagainya. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. seperti: undang-undang. sanksi. Idealisme hukum ditolak sama sekali. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. Menurut Austin./Univ. dan kedaulatan.

5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. Narotama Surabaya/V/2005 29 a) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. masalah cipta. seorang murid dari Rudolf von Jhering. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi. Hk. c) Hukum adalah ilmu normatif. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi./Modul/Fils. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. d) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. b) Teori filsaft hukum adalah ilmu./Univ. bukan karsa dan rasa. etiika atau agama.Doc. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus. e) Teori hukum adalah formal. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum. f) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. .. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. bukan masalah apa yang dikehendaki. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. halaman 43. Op. Cit. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal.

/Modul/Fils. mengikat. Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. penundukan hukum. secara positif. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht). berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. verbinden. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen). Hk. tidak semata-mata pada bentuk hukumnya. dan melawan hukum. kekuasaan hukum.q. John Stuart Mill (1806-1873). meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. menurut hukum (rechtmatigeheid). c. dan Rudolf von Jhering (1818-1889)./Univ. Manusia selalu berusaha . Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. Narotama Surabaya/V/2005 30 norma c. objek hukum.Doc.q. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. yaitu: subjek hukum. Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut. dasar hukum. tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. hukum kodrat gaya baru. hubungan hukum.

dan positivisme hukum dari John Austin. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis. Hk. d. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. Bagi Jhering. Mill. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. Pada hakekatnya. Dalam mendefinisikan kepentingan./Modul/Fils. untuk memelihara kegunaan. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. jikas tidak demikian. Dengan kata lain. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial./Univ. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. ia mengikuti Bentham. ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual.Doc. Oleh karena itu. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). Narotama Surabaya/V/2005 31 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya.

termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 1) Langsung. 2) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. berupa adat-istiadat. Hk. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya. 4) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. Narotama Surabaya/V/2005 32 dibuat. Sedang Puchta./Univ. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 1) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. bilden sich aus mit diesem. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . . berkembang bersama dengan rakyat. 3) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian.Doc./Modul/Fils. es wachst mit dem volke vort. namun ia akan mati.

menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis. Di lain pihak. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 3) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. Yogyakarta.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht.Doc. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 33 2) Melalui undang-undang. Lebih lanjut. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara. Menurut Puchta./Univ. Hk. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. halaman 120-121. Penerbit Kanisius. 1993. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. e. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. 6 .

Op. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial. Narotama Surabaya/V/2005 34 Pendasar aliran ini. Hk. Gurvitch dan lain-lain. Cit. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). . Aliran ini berkembang di Amerika./Univ. Benjamin Cardozo. Eugen Ehrlich. Dengan rasio demikian. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. halaman 47. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya.. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. antara lain: Roscoe Pound. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. Kontorowics. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Sociological jurisprudence. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum./Modul/Fils.Doc.

Sementara itu. Hk. Karl Llewellyn. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu.Doc. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. Narotama Surabaya/V/2005 35 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman . Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. f. Sebab. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. Jerome Frank. William James dan sebagainya. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. maka tiap bagiannya harus . Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. Oliver Wendell Holmes. 2) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial./Modul/Fils. private as well as public interest). Gray. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. kedua liran tersebut ada kebenarannya. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. Maksudnya./Univ.

5) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. 3) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata.Doc. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau. 4) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- . Hk. Narotama Surabaya/V/2005 36 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya./Modul/Fils./Univ. 4) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya. Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. 3) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 1) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. Sesuai dengan keyakinan ini. 2) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut.

yakni wawasan sosiologis. yakni. “The path of Law” berasal dari Holmes. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. Pradnya Paramita. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. 2) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. Filsafat Hukum. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. dan moril.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. simpati maupun antipati pribadi (Frank)./Modul/Fils. hukum dapat dibagi menjadi dua.Doc. yaitu: 1) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. hanyalah sebatas persamaan nama saja. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. 8 . halaman 77. di samping faktor-faktor lain. Narotama Surabaya/V/2005 37 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain. 1997. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. Penerbit PT. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). ekonomis. Bagian I. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. prasangka politis. Hk./Univ. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). Jakarta. Bagi Frank.

Menureut Friedman. Hk. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. Lundstedt. . 2./Univ. yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah.. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa./Modul/Fils. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. halaman 86. yaitu Oliverscrona.Doc. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara. Latihan Soal 9 Ibid. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme. Narotama Surabaya/V/2005 38 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law). Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan.

Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4.! f. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d. Narotama Surabaya/V/2005 39 a. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b.Doc./Modul/Fils. Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e./Univ. Hk. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! . serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c.

Jakarta. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Penerbit PT. 1997. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 1995. Huijbers. Semarang.Doc. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Soehardjo Sastrosoehardjo. Jakarta./Modul/Fils. Hk. Lili. 1990./Univ. 1997. Bagian I. Soetiksno. Darji & Shidarta. Penerbit PT. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Penerbit PT. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Citra Aditya Bakti Bandung. Rasjidi. Universitas Diponegoro. Filsafat Hukum. 1993. Gramedia Pustaka Utama. Pradnya Paramita. halaman. . Narotama Surabaya/V/2005 40 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo.

2. Jakarta. dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu. memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. Pengantar Filsafat Hukum. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang hukum./Modul/Fils. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu. Narotama Surabaya/V/2005 41 BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1 Roscoe Pound. 1. 1996. (Terj. halaman 28-32. maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat. Tujuan Instruksional Khusus: 1. 3. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu. Hk./Univ. 1 .) Muhammad radjab. karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia. Penerbit Bhratara.Doc. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. 2. dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat.

Bhrigu namanya. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. b. yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam. atau undang-undang Hammurabi. persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi. c. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan. . Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 42 a. yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik. terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. misalnya undang-undang Nabi Musa. atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu. Pertama. setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif. atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan./Modul/Fils. boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia. Gagasan ini rapat dengan yang kedua. pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan.Doc. Sebab manusia primitif. yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun. Jalan yang selamat. dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti. boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan. mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari.

Hk. satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan. persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. Sudah sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. yang menyatakan sifat benda-benda. yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi. konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain. ditafsirkan . e. yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. Narotama Surabaya/V/2005 43 d. Demikianlah. dibentuk. Sangat mungkin dengan teori serupa itu. Begitulah konsepsi Thomas . Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik. dan ditambah oleh yang tigta tadi. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini. dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat. dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu. yang berbeda dengan yang masih dilakukan./Modul/Fils. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft. dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. f. dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi. g. harus diukur. gagasan sarjana hukum Romawi. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini./Univ.Doc. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum.

Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. h. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain./Univ. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang./Modul/Fils. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya. Menurut anggapan pada masa itu. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat.Doc. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. Narotama Surabaya/V/2005 44 Aquino. Hk. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot. i. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan.

Di dalam betuk Positivistis-Analistis. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. Di dalam satu bentuk yang idealistis. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. j. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. atau pada taraf lain. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan./Univ. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri./Modul/Fils. k. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad. Hk. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan.Doc. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. Narotama Surabaya/V/2005 45 yang tak dapat dielakkan lagi. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar.

/Modul/Fils. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. yang ditemukan oleh pengamatan. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya./Univ. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. 1995. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. l. yang dapat ditemukan oleh pengamatan. halaman 129130.Doc. 2 . Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 1) Kepentingan Umum (Public Interest). Jakarta. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. Penerbit PT. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. Narotama Surabaya/V/2005 46 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. Untuk itu. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. dan bukan lagi dasar metafisik. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. Gramedia Pustaka Utama. Hk. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial.

e) kesejahteraan sosial. a. b) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. Hk. tujuan hukum yang demikian ini . kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. pengacara. Kedua. sehingga membuat pembentuk undng-undang. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. yaitu: Pertama. Dengan kata lain. b) kepentingan keluarga.Doc. b) perlindungan lembaga-lembaga sosial. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. c) kepentingan hak milik./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 47 a) kepentingan negara sebagai badan hukum. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. 2. c) pencegahan kemerosotan akhlak. d) pencegahan pelanggaran hak. 3) Kepentingan Pribadi (Private Recht): a) kepentingan individu. Oleh karena itu. 2) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): a) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. dilihat dari hal tersebut./Modul/Fils. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. hakim. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum.

Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. yaitu: a. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat.Doc. hukum dibentuk. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya./Modul/Fils. Oleh karena itu. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan. b. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. c. 3. Hk. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi. dan penduduk yang bertambah banyak./Univ. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. yang menilik niat bukan di tempatnya . antara orang-orang yang sekutu. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . Narotama Surabaya/V/2005 48 sangat penting artinya bagi masyarakat. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. b. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja.

karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. timbul pandangan hukum adalah keburukan. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c./Modul/Fils. Hk./Univ. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya. Narotama Surabaya/V/2005 49 bentuknya.Doc. c. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b. Latihan Soal a. 3. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum.

1996. Jakarta. Pengantar Filsafat Hukum. Darji & Shidarta./Univ. Darmodiharjo. .) Muhammad radjab. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit PT. Jakarta. (Terj.Doc. Hk. Penerbit Bhratara./Modul/Fils. Roscoe. Narotama Surabaya/V/2005 50 DAFTAR PUSTAKA Pound. 1995.

halaman 11. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. Soetiksno. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. 2. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. Jakarta. 1997. 1.Doc. Dengan perkataan lain. 1 . sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. Hk. 2. Filsafat Hukum. Pradnya Paramita. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. Penerbit PT. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. Memahami bermacam-macam arti keadilan. yaitu sifat baik. Narotama Surabaya/V/2005 51 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran./Univ./Modul/Fils. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum. Bagian I. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil.

Penerbit Kanisius. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. yaitu: 4 a. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. Op. b. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. Darji Darmodiharjo & Shidarta. Yogyakarta. 1993. b. 1995. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. Hk. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. Cit.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus. Sedang menurut Aristoteles. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice). Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya./Univ. Penerbit PT. halaman 154. halaman 29.. Keadilan distributif (Distributive Justice).Doc. c. Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. 2 . Keadilan berada di tengah dua ekstrem. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta./Modul/Fils.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. Narotama Surabaya/V/2005 52 Menurut Plato. Dalam menganalisis keadilan. Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. 3 Theo Huijbers. halaman 155.

memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif./Univ. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan./Modul/Fils. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. 3) keadilan vindikatif. Perbedaannya ialah. Keadialan Umum (Justitia Generali). Selain membagi keadilan menjadi dua. yaitu kepastian hukum. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. summa crux”. membagi keadilan menjadi 2. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. yaitu: a. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. yang dibedakan lagi menjadi 3. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. adil atau tidak adil. Kontribusi Aristoteles berikutnya. summa lex.Doc. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. b. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. yaitu: 1) keadilan distributif. Keadilan Khusus. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. Hk. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . 2) keadilan komutatif. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. summa injuria. Narotama Surabaya/V/2005 53 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan.

dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam./Modul/Fils. 3. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. Tujuan keadilan atau finalitas. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan.. Op. c. karena ada dasar lain. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. .5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. yaitu dasar hukum sebagai hukum. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. 5 Theo Huijbers. Narotama Surabaya/V/2005 54 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. Kepastian hukum atau legalitas. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula./Univ. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Cit.Doc. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. hukum diwujudkan dalam satu nilai. halaman 162. b. Menurut Radbruch. Keadilan dalam arti sempit. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. aspek ini menentukan isi hukum. Hk. yaitu: a. yakni nilai keadilan.

Hk. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No. Penerbit Kanisius. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. Latihan Soal a.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis).Doc./Univ. 1995. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. Filsafat Hukum. halaman 48. Yogyakarta. seperti politik. . maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk./Modul/Fils. 4. Narotama Surabaya/V/2005 55 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers. Bagaimana pendapat Sdr. dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya.

Doc. Theo. Penerbit PT. Hk. _________________. 1993. Jakarta. Pradnya Paramita. Penerbit Kanisius. Filsafat Hukum. Darji & Shidarta. Soetiksno./Univ. Huijbers. Filsafat Hukum. Yogyakarta. 1995. 1997. Penerbit Kanisius. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1993. Yogyakarta./Modul/Fils. Jakarta. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Gramedia Pustaka Utama. . Narotama Surabaya/V/2005 56 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Penerbit PT. Bagian I.

Menjelaskan falsafah hukum nasional. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. Semarang. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. halaman 44. Hk./Univ./Modul/Fils. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. mahasiswa mampu: 1. 1 . 1. Soehardjo Sastrosoehardjo. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. yaitu:1 a. Universitas Diponegoro. Narotama Surabaya/V/2005 57 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini. b. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. 1997. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila.Doc. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar. 2.

2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status.Doc. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. Ontologi. c. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. Epistemologi. Aksiologi. b./Modul/Fils. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . Hk. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. Untuk itu. Pancasila harus tetap terbuka . dan sebagainya. sosial. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. agama. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. apa hakekat kebenaran. atau keturunan. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. Sehubungan dengan itu. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan./Univ. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. Narotama Surabaya/V/2005 58 c. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. kekuasaan.

Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Semarang. radikal./Modul/Fils./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 59 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. perlu dikembangkan critical mass.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. 1997. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. Dalam suasana yang demikian. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. Untuk itu. kreatif. Yogyakarta. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. Penerbit Kanisius. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan. Universitas Diponegoro. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. 2 . sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. dan eksploratif. halaman 9. 2. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. halaman 106. Hk.Doc.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern). perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya. 3 Theo Hujibers. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. 1993.

kewarganegaraan. dilihat dari causa materialis. Narotama Surabaya/V/2005 60 disebut “Teori Dialektika”. Menurut Hegel pula. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. dan sintesis. Causa Finalis. sosial. anti tesis. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. Sebagai contoh. menurut Notonegoro./Univ. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. Dalam Teorinya. Causa Formalis Pancasila. dan sebagainya. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. Pancasila berdasar adat kebiasaan. berdasarkan teori causalis. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. ekonomi. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. lebih lanjut dikemukakan pula. akan tetapi belum ada secara menyeluruh.Doc. . tetapi juga dalam bidang realitas./Modul/Fils. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. ialah anggota BPUPKI. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. yaitu: Pertama. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. kebudayaan. Hk.

dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan.Doc. Selanjutnya. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. berpersatuan. dan berkeadilans osial. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. dalam hal ini PPKI. demikian seterusnya. Dengan demikian. Demikian pula sebagai . Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. dan Keadilan Sosial. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal./Univ. dikatakan piramidal. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Persatuan Indonesia. Penjelasan selanjutnya. keadilan sosial. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. karena jika dilihat dari isinya. Hk. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. kerakyatan. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. Dikatakan hirarkis./Modul/Fils. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. Sebaliknya. Narotama Surabaya/V/2005 61 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. berkerakyatan. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. Kecuali itu. Pancasila sebagai pandangan hidup.

baik pembukaan.Doc. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. Kepentingan Umum. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. Dengan demikian. maupun penjelasannya. ideologi negara. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. yaitu: Positivisme mementingkan logika. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah./Univ. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. c. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. batang tubuh. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. Hk. yaitu Sociological Jurisprudence. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. Pada aliran Positivisme Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 62 bangsa Indonesia dan warga negara. dan dasar negara. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. 3. Kepentingan Masyarakat. Latihan Soal a. yaitu: a. Kepentingan Individu. b. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya./Modul/Fils.

Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. 1997 . Yogyakarta./Univ. Semarang. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Universitas Diponegoro. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 63 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. 1993. Woro & Sri Hartini. 1993 Theo Hujibers. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum.Doc./Modul/Fils. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Universitas Diponegoro. Soehardjo Sastrosoehardjo. Semarang. Winandi. Theo. 1997. Penerbit Kanisius.

Hk./Univ.Doc./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 64 .

Hk. Hukum tidak hanya rules (logic & rules). Sesungguhnya. 7. yaitu: Filosofia./Univ. 1990.R. Jakarta. Memahami pengertian hukum. 6. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. Penerbit Rineka Cipta.Doc. terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan filsafat. tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Mengetahui pengertian filsafat hukum. halaman 1./Modul/Fils. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum. tetapi juga ada logika-logika yang lain. Narotama Surabaya/V/2005 65 Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. 4 . Memahami pengertian filsafat. 8. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana.4 I. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. 6. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. 4. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. Sehingga untuk dapat berfilsafat. istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana.(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 4. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. 5. Poedjawijatna. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup.

Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu. 6 I. lambang dan sebagainya.. Jadi secara etimologis. Dari sudut isinya. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam. R. Narotama Surabaya/V/2005 66 Secara etimologis. Pokok-pokok Filsafat Hukum./Modul/Fils. kata “filsafat” berasal dari kata majemuk. yang tercermin dalam berbagai pepatah. halaman 6-9. yakni objek materia dan objek forma. objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya. Penerbit PT. Dengan demikian. Gramedia Pustaka Utama. Bijaksana inipun merupakan kata asing. rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. sistematis. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. 5 . Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya. metode. yaitu tentang hakikat Tuhan. yaitu ingin dan karena ingin itu. yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. slogan. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia. halaman 4. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu. jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas. Hk. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis. filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. Poedjawijatna. terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. dan sistematika tertentu. tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Op. objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. hakikat alam. 1995. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟.5 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. lalu berusaha mencapai yang diingini. yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. Cit. dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek. Objek forma filsafat terdapat pada sudut pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu./Univ. Menurut Poedjawijatna. terlebih-lebih bersifat universal. Jakarta.Doc.6 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta. dan hakikat manusia. sehingga terdapat kebenaran. yakni: filo dan sofia. Barangkali.

alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. ciri ketiga dari filsafat yang berperan. jika yang dianalisis hanya fakta saja. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan. ada ciri lain yang perlu ditambahkan. Untuk itu.8 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam (contemplation). Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja. politik./Univ. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika. halaman 7. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas. melainkan analisis nilai. artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah. 8 Darji Darmodiharjo & Shidarta. h. Sebuah Pengantar Populer. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. ekonomi. retorika. Jakarta. antara lain: f. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat. dan spekulatif. Narotama Surabaya/V/2005 67 Jika ditelaah lebih mendalam. Mendasar. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok. jika yang dianalisis nilai.7 Menyeluruh. yaitu spekulatif. Lain halnya. g. etika. maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. i.. senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. mendasar./Modul/Fils. tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi. 1998. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. Filsafat Ilmu. dan estetika. yaitu: menyeluruh. Hk. Jujun S. dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral). Suriasumantri. logika. Op. mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. 7 . yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat. artinya cara berfikir filsafat tidak sempit. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Cit. Sebab.Doc. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus.

Pada agama. agama.Doc. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. Hk. pikiran belaka. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. kebajikan. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. dengan kata lain objek filsafat itu ada. dan antropologi. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. yaitu metafisika. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. etika. halaman 5. 9 . karena agama merupakan sesuatu yang ada. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama.9 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. Bandung. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. 1990. baik dan buruk. Di satu sisi. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. Dengan kata lain. dan sebagainya. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. sedangkan agama berdasarkan wahyu. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. Narotama Surabaya/V/2005 68 j. Citra Aditya Bakti. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. Di sisi lain. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. misalnya: Tuhan./Modul/Fils./Univ. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat Lili Rasjidi. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. 5. filsafat berdasarkan pikiran belaka. Penerbit PT.

misalnya sifat-sifatnya.Doc. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. 4) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). Oleh karena itu. Dengan demikian. Segala sesuatunya itu ada. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. kemampuannya. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. yang hendak dicari sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya. Narotama Surabaya/V/2005 69 dari berbagai penjuru sudut pandang. yang terdiri dari: c) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. Dalam realitas./Modul/Fils. terdapat bermacam-macam hal. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. yang dibedakan menjadi dua: 3) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. Hk. yang lazim disebut sebagai Theodicea. yaitu: b. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. Berdasarkan Objek. Jadi. d) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar./Univ. Alam dicari . yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. Ada menjadi dasar dari segala yang ada. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. maka harus diselidiki sifat-sifatnya.

yaitu: manusia. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak./Univ. apa sifat-sifat pendorong hidup itu. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia.Doc. c)) Filsafat Budi (Logika): . Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. apa pendorong hidupnya. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. seperti: apakah manusia itu sebenarnya. apakah hubungannya satu sama lain. Narotama Surabaya/V/2005 70 intinya oleh filsafat inti alam itu. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. apakah kemampuan-kemampuannya. karena ada-nya tidak dengan niscaya. apakah sebenarnya itu. apakah isi alam pada umumnya. dan lain-lain. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. Hk./Modul/Fils.

yaitu manusia. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. Narotama Surabaya/V/2005 71 Untuk melakukan penyelidikan. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat.Doc. dalam bekerjanya budi./Modul/Fils. dan itu dilakukan oleh subjeknya. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. jalan pikiran. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja . Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. serta putusan-putusan. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. Namun. yaitu: 4) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. seperti: pengertian. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. b./Univ. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. Hk. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya.

metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. theodicea./Univ. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. Jadi. tingkah laku (ethica) Fils. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. dan sebagainya. setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. kosmologia. indah lawan jelek. budi (logika mayor & minor) h. Narotama Surabaya/V/2005 72 semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. Menurut Subjek: . Oleh karena itu. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. baik lawan buruk. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: g./Modul/Fils. Menurut Objek: Ada-umum (fils. 5) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). Sehingga. misalnya: ada yang tinggi dan rendah. secara garis besar. 6) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. ontologia. Hk. kosmologia) Fils. theodicea) Alam (filsafat alam. dan anthropologia). ada-umum. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang.Doc.

dan kesejahteraan. Penerbit PT. Mengenal Hukum. Hk.10 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. Filsafat Hukum.11 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. kaedah kesusilaan. Bandung. Remaja Rosdakarya. g. dan kaedah hukum. agar jangan sampai jatuh korban. Narotama Surabaya/V/2005 73 Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. halaman 31. Suatu Pengantar. halaman 5. 1991. ketertiban. Lili Rasjidi. kaedah sopan santun (adat). terciptalah 4 (empat) kaedah/norma./Univ. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. untuk ketertiban masyarakat. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan.Doc. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. Apakah Hukum Itu?. 10 . Penerbit Liberty. Dari segi isi. 1988. Dari segi tujuan. dengan alasan sebagai berikut: f./Modul/Fils. Yogyakarta. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. 11 Sudikno Mertokusumo.

kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi.Doc./Modul/Fils. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai pembentuk hukum. berasal dari masyarakat secara resmi. Sebagai contoh pertama. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut.. Op. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. yaitu:12 Lex Aeterna. membebani kewajiban dan memberikan hak. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum. . pada Zaman Pertengahan. Dari segi sanksi. Cit. Dari segi daya kerja. Hk. Kedua. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. Dari segi asal-usul. Tentu saja. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya. Lex Divina. Narotama Surabaya/V/2005 74 h. i. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. Ketiga. Lex Naturalis. 12 Lili Rasjidi. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. j. termasuk mengatur pemerintahan. pada zaman Romawi. misalnya saja Thomas Aquino./Univ. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. Pada masa ini. halaman 29-30. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna.

halaman 4. Narotama Surabaya/V/2005 75 Di samping itu. seperti Carl von Savigny dan Puchta. Dengan kata lain. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta.Doc. 6. Op. Hk. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. Bandung.. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain.13 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. Dasar-Dasar Filsafat Hukum./Univ. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. Cit. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan definisi dari hukum. Jadi. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. Citra Aditya Bakti. Dengan demikian. 13 . halaman 10. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. 1988./Modul/Fils. Penerbit PT. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi. Rasionya. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat.

H.Doc.J. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku.14 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan Soehardjo Sastrosoehardjo. Sedangkan D./Univ. dan tata tertib dalam masyarakat. kebahagiaan. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen./Modul/Fils. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil.M. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu. Sementara itu. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht). Hk. J. 14 . halaman 5. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. Narotama Surabaya/V/2005 76 J. 1997. Semarang.

Sebuah Pengantar Populer. Mertokusumo.. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Suatu Pengantar. Jakarta. Bandung. Bandung. 1997. 1995. 1991. 1998. I. 1990. 1990. Yogyakarta. Dengan kata lain. Soehardjo. Narotama Surabaya/V/2005 77 keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. Rasjidi. Apakah Hukum Itu?./Modul/Fils. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum. Semarang. 1988. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum./Univ. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Penerbit PT. . dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Filsafat Ilmu. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia.R. Penerbit PT. Sudikno. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.Doc. ________________. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. Jujun S. Sastrosoehardjo. Jakarta. Penerbit PT. Filsafat Hukum. Universitas Diponegoro. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Citra Aditya Bakti. Suriasumantri. Penerbit Rineka Cipta. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Penerbit Liberty. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Remaja Rosdakarya.. Darji & Shidarta. Mengenal Hukum. Hk. Lili. Poedjawijatna.

Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. 8. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini. yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. Penerbit PT. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. dan Aristoteles. Gramedia Pustaka Utama. sekarang. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo. 6. 6. Hk. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). antara lain: Anaximander. Herakleitos (540-475 SM). 1 ./Univ. 1995. dan masa depan. Socrates. Herakleitos. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. Jakarta. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). halaman 70-71. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). Parmenides. Narotama Surabaya/V/2005 78 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. Plato.Doc./Modul/Fils. 7. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani.

maka timbullah keadilan (dike). yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. Yogyakarta. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. Hk. Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya. ukuran. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati./Univ. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. 1993. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. Narotama Surabaya/V/2005 79 keharusan alam ini. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. dan harmoni yang menghasilkan aturan. Logos menciptakan bentuk . Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum. Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. halaman 20). Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. Penerbit Kanisius. karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang. Dengan kata lain. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. Dalam mempertahankan pendapatnya. 2 . Sementara itu. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). Tetapi jelas baginya. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada.Doc./Modul/Fils. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. Apabila hal ini terjadi.

Narotama Surabaya/V/2005 80 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. Dari gagasan Aristoteles ini. Hk. Oleh karena itu. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. Aristoteles. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. sehingga hukum tidak pernah berubah. Menurut Aristoteles. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno). Menurut Aristoteles. Meskipun demikian. lenyap dan berlaku dengan sendirinya. Oleh karena itu. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. Misalnya. yakni undang-undang negara./Modul/Fils. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. yakni hukum alam dan hukum positif. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. karena hubungannya dengan aturan alam. ./Univ. Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis.Doc. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana.

Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. halaman 13. 3 . Oleh karena itu. Penerbit PT. Hk. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic). Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. Bandung. 1990. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. 7. bukan menurut hukum positif. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi./Univ.3 dan mulai berkembangnya agama Islam. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos.Doc. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. Citra Aditya Bakti. Narotama Surabaya/V/2005 81 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa. yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. menurut Stoisisme. Dalam perkembangannya./Modul/Fils. Dengan kata lain. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi.

perkembangan teknologi yang sangat pesat. lahirnya segala macam ilmu baru. Thomasius (1655-1728). 8. J. Op. Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. dan hukum positif (Lex Positivis). Wolf (1679-1754). 9.. hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis)./Modul/Fils. Montesquieu (1689-1755). halaman 39. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. Samuel Pufendorf (1632-1694). dan sebagainya. ditemukannya dunia-dunia baru. Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. berdirinya negara-negara baru.4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. David Hume (17111776)./Univ. sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. Thomas Hobbes (1588-1679). Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. antara lain: William Occam (1290-1350). Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini.J. Rousseau (17121778). Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri. dan Immanuel Kant (1724-1804). Hk. Rene Descartes (1596-1650).Doc. hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina). Narotama Surabaya/V/2005 82 Tuhan (Lex Aeterna). John Locke (1632-1704). . George Berkeley (1685-1753). Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. Zaman modern ini juga disebut Renaissance. Francis Bacon (1561-1626). Cit.

Menurut Hegel. Menurut teori dialektika Hagel. halaman 37. . sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. Narotama Surabaya/V/2005 83 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19. ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat. masih ada beberapa ahli pikir lain. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. Op. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah. Fichte (1762-1814) dan F.Doc. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. Karl Marx (18181883). Teorinya disebut Dialektika. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme. Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga.J. juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat./Modul/Fils. Cit. Di samping Marx dan Engels. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman.F./Univ. Namun. yaitu akan menjadi.. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. Hk.W. seperti J. seperti Hobbes. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. Schelling (1775-1854). seperti Hegel (1770-1831).

Modern Z. Pertengahan Z. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah.. Yunani (Kuno) Z. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 8. Locke von Savigny G. . Cit. Berkeley D. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 12./Univ. Occam Hegel R. Herakleitos. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 10. Hume F. Hk.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Rousseau Immanuel Kant 10.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 84 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Latihan Soal 7. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 11. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 9. Op. Descartes Fichte T. Hobbes Schelling J. halaman 82./Modul/Fils. Bacon Wolf Montesquieu J.J.

Hk. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Penerbit PT. Jakarta. Rasjidi. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. ./Modul/Fils. Theo. 1990. Lili./Univ. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Huijbers. Penerbit Kanisius. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.Doc. Bandung. Yogyakarta. 1993. 1995. Narotama Surabaya/V/2005 85 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Darji & Shidarta. Citra Aditya Bakti. Pokok-Pokok Filsafat Hukum.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

86

BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 3. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. 4. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: 2. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum, yaitu: a. Aliran Hukum Alam. b. Aliran Hukum Positif. c. Aliran Utilitarianisme. d. Aliran Sejarah. e. Alian Positivisme. f. Aliran Sociological Jurisprudence. g. Aliran Legal Realism.

3. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab, yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana, antara lain F.S.G. Northrop dan Lili Rasjidi.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran, yaitu: f. Legal Positivism. g. Pragmatic Legal Realism. h. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. i. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. j. Naturalistic Jurisprudence.

Lili Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat Hukum, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti Bandung, 1990, halaman 26-27.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

87

Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar, masing-masing: g. Aliran Hukum Alam: 3) Yang Irrasional. 4) Yang Rasional. h. Aliran Hukum Positif: 3) Analitis. 4) Murni. i. Aliran Utilitarianisme. j. Madzhab Sejarah. k. Sociological Jurisprudence. l. Pragmatic Legal Realism. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain, yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab, yaitu:2 j. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. k. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). l. Aliran Neo Kantianisme. m. Aliran Sejarah. n. Aliran Positivisme. o. Aliran Ajaran Hukum Umum. p. Aliran Sosiologi Hukum. q. Aliran Realisme Hukum. r. Aliran Hukum Bebas. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama, karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum.

Soehardjo Sastrosoehardjo, Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum, Program Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang, 1997, halaman 1.

2

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

88

Dalam tulisan ini, penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi, seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran, Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). Menurut Friedman, aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut, sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran, hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: 2) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino), John Salisbury, Daante, Piere Dubois, Marsilius Padua, dan John Wyclife. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan, yaitu: e) Lex Aeterna, merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. f) Lex Divina, bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. g) Lex Naaturalis, inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. h) Lex Posistivis, hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh

Darji Darmodiharjo & Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1995, halaman 102.

3

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

89

keadaan dunia. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Penulis lain, William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum, dengan penjelasan sebagai berikut: d) Hukum Universal, yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. e) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. f) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian, manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut, sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil, buruk atau jahat dan baik atau jujur. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja, sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. 2) Rasional: Sebaliknya, aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. Tokoh-tokohnya, antara lain: Hugo de Groot (Grotius), Christian Thomasius, Immanuel Kant, dan Samuel Pufendorf. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius), ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan, sehingga rasio

dan karsa (thinking. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. halaman 12. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya. Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan. yaitu cipta. Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. Narotama Surabaya/V/2005 90 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. volition. Op. tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain.Doc. beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze)./Modul/Fils. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi). and feeling).4 Metode kritis tidak skeptis. Hk. lawan dari filsafat dogmatis. tidak dogmatis (trancendental).. rasa./Univ. . Cit.

Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. berkembang bentuk yang agak lain. das ist wirklich ist. yaitu: c) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. . Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. das ist vernunftig.Doc./Univ. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang./Modul/Fils. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. Di Inggris. antitesa. Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia. yaitu Analytical Jurisprudence. and what is real is reasonable). Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. Narotama Surabaya/V/2005 91 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. Bagi Hegel. b. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. 3) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. Jadi. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. Austin membagi hukum atas 2 hal. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara. demikan juga dengan hukum. Hk. What is reasonable is real.

karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu./Univ. dan kedaulatan. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. dalam hukum yang nyata pada point pertama. sejarah. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. dan sebagainya./Modul/Fils. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. kewajiban. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. 4) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. sosiologi. sanksi. contoh hak wali terhadap perwaliannya. Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. dan sebagainya. Menurut ajaran tersebut. Hk. etika. peraturan pemerintah. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. Menurut Austin. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik.Doc. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. seperti: undang-undang. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . Narotama Surabaya/V/2005 92 d) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. di dalamnya terkandung perintah. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). Idealisme hukum ditolak sama sekali. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah.

bukan masalah apa yang dikehendaki. Cit. etiika atau agama. Narotama Surabaya/V/2005 93 g) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. h) Teori filsaft hukum adalah ilmu. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi. seorang murid dari Rudolf von Jhering. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). bukan karsa dan rasa. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik. Op. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu.. halaman 43.Doc. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. masalah cipta./Modul/Fils.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. i) Hukum adalah ilmu normatif. Hk. k) Teori hukum adalah formal./Univ. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi. l) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. j) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. .

meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum.Doc. tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. dan Rudolf von Jhering (1818-1889). dasar hukum. tidak semata-mata pada bentuk hukumnya.q. Hk. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). verbinden. Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. yaitu: subjek hukum. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. hukum kodrat gaya baru. Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut. secara positif. Narotama Surabaya/V/2005 94 norma c./Modul/Fils. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht). Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. mengikat. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi./Univ. objek hukum. kekuasaan hukum. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. Manusia selalu berusaha . menurut hukum (rechtmatigeheid). penundukan hukum. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. i. berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. dan melawan hukum. John Stuart Mill (1806-1873). Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. hubungan hukum. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen).q.

Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya.Doc. Mill. Pada hakekatnya./Univ. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). Bagi Jhering. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. jikas tidak demikian. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. untuk memelihara kegunaan. Oleh karena itu. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . dan positivisme hukum dari John Austin./Modul/Fils. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. Narotama Surabaya/V/2005 95 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. j. Dengan kata lain. Dalam mendefinisikan kepentingan. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. ia mengikuti Bentham. Hk. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan.

berupa adat-istiadat.Doc./Modul/Fils. tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. 8) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. . tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. berkembang bersama dengan rakyat./Univ. 7) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 5) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. es wachst mit dem volke vort. karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya. namun ia akan mati. bilden sich aus mit diesem. 6) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. Narotama Surabaya/V/2005 96 dibuat. Sedang Puchta. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 4) Langsung. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. Hk. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut .

Doc. 6 . Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. halaman 120-121. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers./Modul/Fils. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. 6) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis. 1993. Penerbit Kanisius. Menurut Puchta. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. Narotama Surabaya/V/2005 97 5) Melalui undang-undang. Yogyakarta. Di lain pihak. k. Hk./Univ.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. Lebih lanjut.

Op. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum. Cit. Dengan rasio demikian. antara lain: Roscoe Pound. Gurvitch dan lain-lain. Hk. Sociological jurisprudence. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara./Modul/Fils. halaman 47.. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). Narotama Surabaya/V/2005 98 Pendasar aliran ini. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. Kontorowics. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. Eugen Ehrlich. Aliran ini berkembang di Amerika. . Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya./Univ. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya.Doc. Benjamin Cardozo. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum.

Gray. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. Karl Llewellyn./Univ. Jerome Frank. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. Hk. kedua liran tersebut ada kebenarannya./Modul/Fils. l. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. private as well as public interest). Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman .Doc. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 6) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. Narotama Surabaya/V/2005 99 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. Sementara itu. Sebab. Maksudnya. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. William James dan sebagainya. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. Oliver Wendell Holmes. 7) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. maka tiap bagiannya harus .

Hk. 8) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau. Sesuai dengan keyakinan ini. 6) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. Narotama Surabaya/V/2005 100 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. 9) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. 8) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- . 7) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan./Modul/Fils.Doc./Univ. Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. 10) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 5) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot.

Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. di samping faktor-faktor lain. Filsafat Hukum. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). Sifat normatif hukum agak dikesampingkan.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. 1997. Bagian I. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. simpati maupun antipati pribadi (Frank). halaman 77. Pradnya Paramita. yakni. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. Narotama Surabaya/V/2005 101 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain. 4) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. hanyalah sebatas persamaan nama saja./Modul/Fils. “The path of Law” berasal dari Holmes. prasangka politis. yakni wawasan sosiologis. yaitu: 3) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. ekonomis. Hk. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. hukum dapat dibagi menjadi dua.Doc. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. Bagi Frank. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). 8 . dan moril. Penerbit PT. Jakarta./Univ.

4./Modul/Fils. yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif. yaitu Oliverscrona. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah./Univ. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak. halaman 86. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. Latihan Soal 9 Ibid. Hk. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah. Lundstedt. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat.. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme.Doc. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. Narotama Surabaya/V/2005 102 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law). sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross. . Menureut Friedman. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa.

! f. Hk. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! .Doc. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c./Modul/Fils./Univ. Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b. Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4. Narotama Surabaya/V/2005 103 a.

Penerbit Kanisius. 1995. Soetiksno. Darji & Shidarta. 1993. Huijbers./Univ. Citra Aditya Bakti Bandung.Doc. Penerbit PT./Modul/Fils. 1997. halaman. 1990. Soehardjo Sastrosoehardjo. Hk. Jakarta. Filsafat Hukum. Yogyakarta. Gramedia Pustaka Utama. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Semarang. Pradnya Paramita. Universitas Diponegoro. Bagian I. . Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 104 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit PT. Rasjidi. 1997. Lili. Jakarta. Penerbit PT.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

105

BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. 2. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. 2. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. 3. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern.

2. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological

Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat, memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu, dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu, karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia, dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang

hukum, karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu, maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1

Roscoe Pound, Pengantar Filsafat Hukum, (Terj.) Muhammad radjab, Penerbit Bhratara, Jakarta, 1996, halaman 28-32.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

106

a. Pertama, boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia, misalnya undang-undang Nabi Musa, atau undang-undang Hammurabi, yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun, atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu, Bhrigu namanya, di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. b. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. Sebab manusia primitif, yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam, terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan, dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti, setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat, yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik, boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan, persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta, pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. c. Gagasan ini rapat dengan yang kedua, yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. Jalan yang selamat, atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif, mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

107

d. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft, yang menyatakan sifat benda-benda, dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu.

Demikianlah, gagasan sarjana hukum Romawi, yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi, dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi; dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat, harus diukur, dibentuk, ditafsirkan , dan ditambah oleh yang tigta tadi. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini, konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain, e. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. f. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik, persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum, dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. Sudah

sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. Sangat mungkin dengan teori serupa itu, satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. g. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini; satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan, yang berbeda dengan yang masih dilakukan, yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. Begitulah konsepsi Thomas

atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. Menurut anggapan pada masa itu. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. i. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. h. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. Hk. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif./Univ. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan./Modul/Fils.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 108 Aquino. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang.

tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . Narotama Surabaya/V/2005 109 yang tak dapat dielakkan lagi. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu.Doc. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar./Modul/Fils./Univ. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. Di dalam betuk Positivistis-Analistis. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. atau pada taraf lain. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. Di dalam satu bentuk yang idealistis. j. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan. Hk. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. k.

dan bukan lagi dasar metafisik.Doc./Univ. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. Untuk itu. 1995. halaman 129130. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 4) Kepentingan Umum (Public Interest). Jakarta. l. Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. Hk. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. 2 . Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. yang dapat ditemukan oleh pengamatan./Modul/Fils. Gramedia Pustaka Utama. yang ditemukan oleh pengamatan. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. Penerbit PT. Narotama Surabaya/V/2005 110 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”.

Dengan kata lain. yaitu: Pertama. Kedua./Modul/Fils. hakim. h) pencegahan kemerosotan akhlak. g) perlindungan lembaga-lembaga sosial./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 111 c) kepentingan negara sebagai badan hukum. dilihat dari hal tersebut.Doc. 5) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): f) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. tujuan hukum yang demikian ini . sehingga membuat pembentuk undng-undang. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. e) kepentingan keluarga. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. d. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. j) kesejahteraan sosial. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. Hk. f) kepentingan hak milik. pengacara. 2. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. d) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. i) pencegahan pelanggaran hak. Oleh karena itu. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. 6) Kepentingan Pribadi (Private Recht): d) kepentingan individu. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum.

antara orang-orang yang sekutu. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. dan penduduk yang bertambah banyak. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. yang menilik niat bukan di tempatnya . untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan. Oleh karena itu. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. e. e. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. Hk. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi. Narotama Surabaya/V/2005 112 sangat penting artinya bagi masyarakat. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. f. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat./Modul/Fils. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan./Univ. 3.Doc. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. yaitu: d. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. hukum dibentuk.

Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum.Doc. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya. f. Narotama Surabaya/V/2005 113 bentuknya. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b. Hk. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam./Univ. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum. 3. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d./Modul/Fils. timbul pandangan hukum adalah keburukan. Latihan Soal a.

Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Narotama Surabaya/V/2005 114 DAFTAR PUSTAKA Pound. Hk.) Muhammad radjab. Roscoe. (Terj.Doc. Gramedia Pustaka Utama. . Penerbit PT. 1995./Univ. Penerbit Bhratara. Darji & Shidarta. Pengantar Filsafat Hukum. Jakarta. 1996. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Jakarta./Modul/Fils. Darmodiharjo.

1 .Doc. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran. 2. Bagian I./Univ. Jakarta. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. Filsafat Hukum. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. Hk. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. Pradnya Paramita. Soetiksno. Dengan perkataan lain.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. 4. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. 2. yaitu sifat baik. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 3./Modul/Fils. halaman 11. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. Narotama Surabaya/V/2005 115 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1. 1997. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. Memahami bermacam-macam arti keadilan. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum. Penerbit PT. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil.

Cit. d. Op./Modul/Fils. Gramedia Pustaka Utama. Darji Darmodiharjo & Shidarta. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. Yogyakarta. Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. 2 . yaitu: 4 c. 3 Theo Huijbers. Penerbit Kanisius.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus. halaman 155. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. Sedang menurut Aristoteles. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. Keadilan berada di tengah dua ekstrem. 1993.. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice). Narotama Surabaya/V/2005 116 Menurut Plato.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. Hk. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia.Doc. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem. Jakarta. 1995. Dalam menganalisis keadilan. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. c. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya. Pokok-Pokok Filsafat Hukum./Univ. Penerbit PT. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya. Keadilan distributif (Distributive Justice). yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. halaman 29. halaman 154. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta. b.

Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. yaitu: c./Univ. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. yaitu kepastian hukum. adil atau tidak adil. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . yaitu: 4) keadilan distributif. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan. Selain membagi keadilan menjadi dua. 5) keadilan komutatif. summa injuria. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. Keadialan Umum (Justitia Generali). yang dibedakan lagi menjadi 3. Hk. summa lex. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. Kontribusi Aristoteles berikutnya. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. yaitu keadilan atas dasar kesamaan./Modul/Fils. summa crux”. Perbedaannya ialah. d. 6) keadilan vindikatif. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. membagi keadilan menjadi 2. Narotama Surabaya/V/2005 117 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. Keadilan Khusus. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity).Doc. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino.

Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. c. . dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. Menurut Radbruch. Cit. yaitu dasar hukum sebagai hukum.. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. hukum diwujudkan dalam satu nilai. b. karena ada dasar lain. aspek ini menentukan isi hukum. halaman 162. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup.Doc. Hk. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. Op. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. Narotama Surabaya/V/2005 118 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya./Univ. yakni nilai keadilan. Kepastian hukum atau legalitas. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga./Modul/Fils. Tujuan keadilan atau finalitas. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. 5 Theo Huijbers. yaitu: a. 3. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. Keadilan dalam arti sempit.

dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk./Modul/Fils. Latihan Soal a. seperti politik. Filsafat Hukum. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. . Yogyakarta./Univ. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. Bagaimana pendapat Sdr. halaman 48. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No. 1995. 4. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum.Doc. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis). Penerbit Kanisius. Hk.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. Narotama Surabaya/V/2005 119 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut.

Jakarta. Penerbit PT. Narotama Surabaya/V/2005 120 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Yogyakarta. Filsafat Hukum. 1997. Hk. _________________./Modul/Fils. Bagian I. Darji & Shidarta./Univ. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Pradnya Paramita. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Theo. 1993. Penerbit PT. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Soetiksno. . 1993. Filsafat Hukum. 1995. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.Doc. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Huijbers. Penerbit Kanisius.

Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa. Hk. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. halaman 44. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. 2. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. yaitu:1 a. Universitas Diponegoro. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini.Doc. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar. 1997./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 121 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini. Menjelaskan falsafah hukum nasional. Soehardjo Sastrosoehardjo. mahasiswa mampu: 1. 4. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. b. Semarang. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 1 ./Univ.

kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. Pancasila harus tetap terbuka ./Modul/Fils. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Sehubungan dengan itu. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. atau keturunan. agama. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. Aksiologi. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan.Doc. c. kekuasaan. Hk. sosial. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. Ontologi. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . Narotama Surabaya/V/2005 122 c. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan. apa hakekat kebenaran. Untuk itu./Univ. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. dan sebagainya. Epistemologi. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. b.

Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. Hk. dan eksploratif. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. kreatif. 2 . Penerbit Kanisius. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya. 5. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. radikal. Dalam suasana yang demikian. Universitas Diponegoro. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. Semarang. halaman 106.Doc./Modul/Fils. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan. Narotama Surabaya/V/2005 123 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Yogyakarta. halaman 9. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. Untuk itu. 3 Theo Hujibers. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. 1997.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern). perlu dikembangkan critical mass./Univ. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. 1993.

Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. kewarganegaraan. dilihat dari causa materialis. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. berdasarkan teori causalis. Sebagai contoh./Modul/Fils. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”./Univ. . Hk. Causa Formalis Pancasila. dan sintesis.Doc. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. Pancasila berdasar adat kebiasaan. ialah anggota BPUPKI. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. anti tesis. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. ekonomi. yaitu: Pertama. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. lebih lanjut dikemukakan pula. menurut Notonegoro. tetapi juga dalam bidang realitas. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. Narotama Surabaya/V/2005 124 disebut “Teori Dialektika”. kebudayaan. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. Causa Finalis. Dalam Teorinya. sosial. dan sebagainya. Menurut Hegel pula.

dalam hal ini PPKI. dan Keadilan Sosial. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. kerakyatan. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. demikian seterusnya. dan berkeadilans osial. Kecuali itu./Univ. Pancasila sebagai pandangan hidup. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. keadilan sosial. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. Dengan demikian. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. berpersatuan. karena jika dilihat dari isinya. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut.Doc. Hk. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. dikatakan piramidal. Narotama Surabaya/V/2005 125 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. Selanjutnya. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. Persatuan Indonesia. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. berkerakyatan. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Dikatakan hirarkis. Demikian pula sebagai . urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya./Modul/Fils. Sebaliknya. Penjelasan selanjutnya. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial.

sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. dan dasar negara. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. Latihan Soal a. batang tubuh. Kepentingan Individu. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. Narotama Surabaya/V/2005 126 bangsa Indonesia dan warga negara. Kepentingan Masyarakat.Doc. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. yaitu: d. e. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. Kepentingan Umum. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. yaitu: Positivisme mementingkan logika. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. Hk. baik pembukaan. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. 6./Modul/Fils. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. Pada aliran Positivisme Hukum. Dengan demikian. f. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. ideologi negara./Univ. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. yaitu Sociological Jurisprudence. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . maupun penjelasannya. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat.

Yogyakarta. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Semarang. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Universitas Diponegoro. Soehardjo Sastrosoehardjo. Penerbit Kanisius. 1997 . 1993 Theo Hujibers.Doc. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Universitas Diponegoro. Semarang./Univ. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Winandi. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Woro & Sri Hartini./Modul/Fils. 1993. Theo. Yogyakarta. Penerbit Kanisius. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Hk. 1997. Narotama Surabaya/V/2005 127 DAFTAR PUSTAKA Hujibers.

Narotama Surabaya/V/2005 128 .Doc./Univ. Hk./Modul/Fils.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful