Doc./Modul/Fils. Hk./Univ.

Narotama Surabaya/V/2005

1

Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Hukum tidak hanya rules (logic & rules), tetapi juga ada logika-logika yang lain. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup, tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum,(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM

Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami pengertian filsafat. 2. Memahami pengertian hukum. 3. Mengetahui pengertian filsafat hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. 2. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. 3. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. 4. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana.

1. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. Sehingga untuk dapat berfilsafat, terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

2

filsafat. Sesungguhnya, istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani, yaitu: Filosofia.1 Secara etimologis, kata “filsafat” berasal dari kata majemuk, yakni: filo dan sofia. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin itu, lalu berusaha mencapai yang diingini. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Bijaksana inipun merupakan kata asing, yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. Jadi secara etimologis, filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. Dengan demikian, rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. Dari sudut isinya, terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia, yang tercermin dalam berbagai pepatah, slogan, lambang dan sebagainya. 2 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek, metode, dan sistematika tertentu, terlebih-lebih bersifat universal. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu, yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. Menurut Poedjawijatna, objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua, yakni objek materia dan objek forma. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu, sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu tentang hakikat Tuhan, hakikat alam, dan hakikat manusia. Barangkali, objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya, tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Objek forma filsafat terdapat pada sudut

I.R. Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1990, halaman 1. 2 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995, halaman 4.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

3

pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu, sehingga terdapat kebenaran, jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas.3 Jika ditelaah lebih mendalam, filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok, yaitu: menyeluruh, mendasar, dan spekulatif.4 Menyeluruh, artinya cara berfikir filsafat tidak sempit, dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral), senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. Mendasar, artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. Untuk itu, ciri ketiga dari filsafat yang berperan, yaitu spekulatif. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan, tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas, ada ciri lain yang perlu ditambahkan, yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat.5 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam

(contemplation). Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja, melainkan analisis nilai. Sebab, jika yang dianalisis hanya fakta saja, maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi, dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. Lain halnya, jika yang dianalisis nilai, maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat, antara lain: a. b. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.

I. R. Poedjawijatna, Op. Cit., halaman 6-9. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Penerbit Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1998. 5 Darji Darmodiharjo & Shidarta, Op. Cit., halaman 7.
4

3

e. 1990. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Lili Rasjidi. misalnya: Tuhan. Penerbit PT. halaman 5. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. Citra Aditya Bakti. sedangkan agama berdasarkan wahyu. filsafat berdasarkan pikiran belaka. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak.6 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. etika. Pada agama. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. Bandung./Univ. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. d. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya.Doc. Dengan kata lain. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. Di sisi lain. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. Di satu sisi. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. dan sebagainya. karena agama merupakan sesuatu yang ada. 6 . karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. yaitu metafisika. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. agama. dan antropologi. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. Narotama Surabaya/V/2005 4 c. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. pikiran belaka. kebajikan. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. Hk. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan./Modul/Fils. baik dan buruk.

Berdasarkan Objek. 2) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. misalnya sifat-sifatnya. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. Jadi. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat dari berbagai penjuru sudut pandang. yang lazim disebut sebagai Theodicea. Narotama Surabaya/V/2005 5 2. dengan kata lain objek filsafat itu ada. b) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. kemampuannya. yaitu: a. Dengan demikian. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum.Doc. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. Ada menjadi dasar dari segala yang ada. yang terdiri dari: a) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. Dalam realitas. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Segala sesuatunya itu ada. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. terdapat bermacam-macam hal. Hk. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat./Univ. yang hendak dicari . maka harus diselidiki sifat-sifatnya. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis./Modul/Fils. yang dibedakan menjadi dua: 1) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. Oleh karena itu.

Narotama Surabaya/V/2005 6 sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada./Univ. apakah sebenarnya itu. Hk.Doc. yaitu: manusia. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. apakah isi alam pada umumnya. apa sifat-sifat pendorong hidup itu. Alam dicari intinya oleh filsafat inti alam itu. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. apa pendorong hidupnya. seperti: apakah manusia itu sebenarnya./Modul/Fils. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica. apakah kemampuan-kemampuannya. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. dan lain-lain. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. karena ada-nya tidak dengan niscaya. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. apakah hubungannya satu sama lain. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur .

Doc. dan itu dilakukan oleh subjeknya. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat./Modul/Fils. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. seperti: pengertian. yaitu: 1) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha . sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya. b. c)) Filsafat Budi (Logika): Untuk melakukan penyelidikan. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. jalan pikiran. yaitu manusia. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. Narotama Surabaya/V/2005 7 yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. Hk. dalam bekerjanya budi./Univ. Namun. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. serta putusan-putusan. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain.

metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. ada-umum. baik lawan buruk. Hk. Sehingga. kosmologia) Fils./Univ. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia.Doc. dan anthropologia). setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: a. manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. ontologia. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. dan sebagainya. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. Narotama Surabaya/V/2005 8 kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. Oleh karena itu. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria)./Modul/Fils. Jadi. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. indah lawan jelek. misalnya: ada yang tinggi dan rendah. kosmologia. tingkah laku (ethica) . theodicea. 2) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. secara garis besar. 3) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. Menurut Objek: Ada-umum (fils. theodicea) Alam (filsafat alam.

Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. halaman 31. dengan alasan sebagai berikut: Lili Rasjidi. Hk. Mengenal Hukum. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). ketertiban. dan kesejahteraan. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan. Bandung.7 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat./Modul/Fils. Suatu Pengantar.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 9 Fils. Penerbit PT. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba. 1988. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. budi (logika mayor & minor) b. Apakah Hukum Itu?. Filsafat Hukum. kaedah kesusilaan. 1991.8 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. Yogyakarta. kaedah sopan santun (adat). Menurut Subjek: Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. 7 . Penerbit Liberty. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma. halaman 5. dan kaedah hukum. Remaja Rosdakarya. 8 Sudikno Mertokusumo./Univ.

para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi./Univ. halaman 29-30. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. c. Lex Divina. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. Cit. Hk. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. yaitu:9 Lex Aeterna. Dari segi tujuan. Dari segi asal-usul. Kedua. Sebagai contoh pertama. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. Lex Naturalis. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. Dari segi isi. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. termasuk mengatur pemerintahan.. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. agar jangan sampai jatuh korban. misalnya saja Thomas Aquino. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum.Doc. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. b. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. Tentu saja. e. untuk ketertiban masyarakat. . dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. pada zaman Romawi. Ketiga. Dari segi sanksi. berasal dari masyarakat secara resmi. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai 9 Lili Rasjidi. d. membebani kewajiban dan memberikan hak. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. Narotama Surabaya/V/2005 10 a. pada Zaman Pertengahan. Dari segi daya kerja./Modul/Fils. Op.

seperti Carl von Savigny dan Puchta. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies./Univ. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum.10 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. halaman 4. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat./Modul/Fils. Rasionya. 10 . Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. 3. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. Cit. halaman 10. Penerbit PT. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. Bandung. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. Dengan demikian.Doc. Op. Di samping itu. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat. Narotama Surabaya/V/2005 11 pembentuk hukum.. Pada masa ini. Citra Aditya Bakti. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. Jadi. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. 1988. Dengan kata lain. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta. Hk.

Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum. Sementara itu.J. Semarang.11 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar Soehardjo Sastrosoehardjo. Sedangkan D. dan tata tertib dalam masyarakat. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. kebahagiaan.Doc. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht)./Univ. J. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro./Modul/Fils. J.M. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. 1997. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa. Hk. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen. 11 . over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil.H. Narotama Surabaya/V/2005 12 definisi dari hukum. halaman 5. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat.

. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Poedjawijatna. 1988. Semarang. 1997. Mertokusumo./Modul/Fils. Universitas Diponegoro. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum.R. 1990. Suriasumantri. Penerbit PT.Doc. Dengan kata lain. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Citra Aditya Bakti. Suatu Pengantar. Apakah Hukum Itu?. Narotama Surabaya/V/2005 13 tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. Darji & Shidarta. Jakarta. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Penerbit PT. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. I. Rasjidi. Filsafat Hukum. 1991. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Filsafat Ilmu. 1995. Lili. Penerbit Liberty. Sebuah Pengantar Populer. ________________. Bandung. Bandung./Univ. Jakarta. Penerbit Rineka Cipta. Remaja Rosdakarya. Jakarta. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Jujun S. Soehardjo. . Gramedia Pustaka Utama. Yogyakarta. 1990. Hk. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Sudikno. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. 1998. Mengenal Hukum. Penerbit PT. Penerbit Pustaka Sinar Harapan.. Sastrosoehardjo. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum.

2.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). Herakleitos. dan masa depan. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini. Hk. 4. sekarang. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1995. Parmenides. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. Penerbit PT. halaman 70-71. Plato. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. dan Aristoteles. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. 1. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). Gramedia Pustaka Utama.Doc. 3. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu. 1 . Narotama Surabaya/V/2005 14 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. antara lain: Anaximander. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. Socrates./Modul/Fils. Herakleitos (540-475 SM). Jakarta. Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo./Univ.

2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya.Doc./Univ. Sementara itu. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). Narotama Surabaya/V/2005 15 keharusan alam ini. ukuran. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. Dalam mempertahankan pendapatnya. Dengan kata lain. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati. Logos menciptakan bentuk . Hk. karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. dan harmoni yang menghasilkan aturan. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. 1993. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi./Modul/Fils. Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. Tetapi jelas baginya. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada. Apabila hal ini terjadi. bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. Yogyakarta. maka timbullah keadilan (dike). halaman 20). Penerbit Kanisius. Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. 2 . Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers.

Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno). Oleh karena itu. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). . pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. lenyap dan berlaku dengan sendirinya. yakni hukum alam dan hukum positif. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. Aristoteles. Menurut Aristoteles. karena hubungannya dengan aturan alam. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. Narotama Surabaya/V/2005 16 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. Hk. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. sehingga hukum tidak pernah berubah. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. Misalnya. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. Dari gagasan Aristoteles ini. Oleh karena itu. Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. Menurut Aristoteles. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya./Univ./Modul/Fils. yakni undang-undang negara. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum.Doc. Meskipun demikian.

menurut Stoisisme.Doc. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. 1990. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic). yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. Bandung./Modul/Fils. Hk. Dalam perkembangannya. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). yang selanjutnya diartikan sebagai rasio.3 dan mulai berkembangnya agama Islam. Penerbit PT./Univ. Citra Aditya Bakti. 2. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. bukan menurut hukum positif. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. Narotama Surabaya/V/2005 17 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. Dengan kata lain. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. halaman 13. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. 3 . Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. Oleh karena itu. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam.

dan sebagainya. . hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). Hk./Modul/Fils. dan Immanuel Kant (1724-1804). Zaman modern ini juga disebut Renaissance. David Hume (17111776). Cit. Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. ditemukannya dunia-dunia baru. perkembangan teknologi yang sangat pesat. Op. Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. Francis Bacon (1561-1626). berdirinya negara-negara baru. Narotama Surabaya/V/2005 18 Tuhan (Lex Aeterna). George Berkeley (1685-1753). Samuel Pufendorf (1632-1694)./Univ.J. Montesquieu (1689-1755). hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina). dan hukum positif (Lex Positivis). J..4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. Thomasius (1655-1728).Doc. Rene Descartes (1596-1650). yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. lahirnya segala macam ilmu baru. Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. Wolf (1679-1754). John Locke (1632-1704). Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. Thomas Hobbes (1588-1679). 4. rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. Rousseau (17121778). antara lain: William Occam (1290-1350). Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. 3. Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri. halaman 39.

aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19. Karl Marx (18181883). Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. Menurut Hegel. halaman 37. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri.. Hk. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman. ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. yaitu akan menjadi. Di samping Marx dan Engels.W. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat. Fichte (1762-1814) dan F.F. seperti Hobbes.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. Teorinya disebut Dialektika. juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. . Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. Narotama Surabaya/V/2005 19 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19.J. seperti Hegel (1770-1831). Op./Univ. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme. seperti J. Namun. Schelling (1775-1854). Cit./Modul/Fils. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. Menurut teori dialektika Hagel. masih ada beberapa ahli pikir lain.Doc.

/Univ. Descartes Fichte T. Occam Hegel R. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 2. Hk./Modul/Fils. . Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 4. Berkeley D. halaman 82. Hobbes Schelling J.. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Yunani (Kuno) Z. Modern Z. Herakleitos.Doc. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 5. Narotama Surabaya/V/2005 20 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 6. Op. Cit.J. Latihan Soal 1. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. Locke von Savigny G. Pertengahan Z.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Bacon Wolf Montesquieu J. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 3. Rousseau Immanuel Kant 5. Hume F.

1995. Gramedia Pustaka Utama. Bandung. Huijbers. Theo. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Penerbit PT. Penerbit Kanisius. . Pokok-Pokok Filsafat Hukum./Modul/Fils. 1990. Citra Aditya Bakti. Darji & Shidarta. Narotama Surabaya/V/2005 21 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta. Lili. Hk. 1993.Doc. Rasjidi. Yogyakarta. Penerbit PT./Univ.

Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab. Tujuan Instruksional Khusus: 1. 2. Legal Positivism.Doc. antara lain F. f. 1. 1990. Aliran Hukum Positif. c. Hk. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. Aliran Hukum Alam. Lili Rasjidi. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. e. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. d. Aliran Legal Realism. Northrop dan Lili Rasjidi. e.S./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 22 BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 1. yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. Pragmatic Legal Realism. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Naturalistic Jurisprudence. g. Aliran Utilitarianisme. yaitu: a. c.G. yaitu: a. halaman 26-27. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum./Modul/Fils. b. d. 1 . b. Aliran Sociological Jurisprudence. Aliran Sejarah. Penerbit PT. Alian Positivisme. Citra Aditya Bakti Bandung.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran.

halaman 1. Pragmatic Legal Realism. Semarang. b. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. c. 1997. Aliran Hukum Positif: 1) Analitis. h. Sociological Jurisprudence. Universitas Diponegoro. f. c. karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama. f. Aliran Ajaran Hukum Umum. Aliran Hukum Alam: 1) Yang Irrasional. Aliran Realisme Hukum. e./Modul/Fils. Aliran Utilitarianisme. Hk. Madzhab Sejarah.Doc. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. yaitu:2 a. Soehardjo Sastrosoehardjo. g. Aliran Sejarah. yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab. Aliran Sosiologi Hukum. Aliran Positivisme. 2) Murni. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain. d. Aliran Neo Kantianisme. b. e. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). Program Pascasarjana Ilmu Hukum. i. 2 . 2) Yang Rasional. Narotama Surabaya/V/2005 23 Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar. masing-masing: a. Aliran Hukum Bebas. d./Univ.

Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia./Univ. Marsilius Padua. b) Lex Divina. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua). John Salisbury. dan John Wyclife. Gramedia Pustaka Utama. merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum.Doc. seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran. yaitu: a) Lex Aeterna. halaman 102. c) Lex Naaturalis. 1995. Menurut Friedman. Daante.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi. Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. Hk. Penerbit PT. 3 ./Modul/Fils. inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. Narotama Surabaya/V/2005 24 Dalam tulisan ini. d) Lex Posistivis. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino). hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh Darji Darmodiharjo & Shidarta. Jakarta. bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. yaitu: 1) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut. penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan. Piere Dubois. hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. Pokok-Pokok Filsafat Hukum.

Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja. yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut. William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum. Immanuel Kant. Tokoh-tokohnya. c) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. sehingga rasio . b) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. 1) Rasional: Sebaliknya. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. buruk atau jahat dan baik atau jujur. manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. dengan penjelasan sebagai berikut: a) Hukum Universal./Univ. dan Samuel Pufendorf. antara lain: Hugo de Groot (Grotius)./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 25 keadaan dunia. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius). Christian Thomasius. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan. sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil. Penulis lain. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian. Hk.Doc.

Doc. Cit. dan karsa (thinking. halaman 12. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. lawan dari filsafat dogmatis. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant./Modul/Fils. Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan.. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). tidak dogmatis (trancendental). Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi)./Univ. volition. tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze). Op.4 Metode kritis tidak skeptis. Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya. rasa. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). . Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis. Narotama Surabaya/V/2005 26 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. and feeling). Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo. yaitu cipta. Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. Hk.

Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. Austin membagi hukum atas 2 hal. yaitu: a) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. das ist wirklich ist. berkembang bentuk yang agak lain.Doc. san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. demikan juga dengan hukum. 1) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. yaitu Analytical Jurisprudence. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. Di Inggris. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. Jadi. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. Narotama Surabaya/V/2005 27 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. What is reasonable is real. Hk. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. . antitesa. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. das ist vernunftig. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. b. Bagi Hegel. Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia./Modul/Fils./Univ. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. and what is real is reasonable).

namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . etika. sanksi. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. sosiologi. Menurut Austin. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. seperti: undang-undang. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. contoh hak wali terhadap perwaliannya. Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. kewajiban. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam.Doc. Menurut ajaran tersebut./Modul/Fils. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. dan sebagainya. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. Idealisme hukum ditolak sama sekali. Narotama Surabaya/V/2005 28 b) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. dan kedaulatan. dan sebagainya. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). sejarah. di dalamnya terkandung perintah. 2) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme./Univ. dalam hukum yang nyata pada point pertama. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. peraturan pemerintah. Hk.

tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. halaman 43. Cit./Modul/Fils. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal. Hk. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi. seorang murid dari Rudolf von Jhering. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. bukan karsa dan rasa. . Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. c) Hukum adalah ilmu normatif. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm./Univ. Op. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum.. etiika atau agama. d) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. f) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya.Doc. bukan masalah apa yang dikehendaki. b) Teori filsaft hukum adalah ilmu.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas. masalah cipta. e) Teori hukum adalah formal. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. Narotama Surabaya/V/2005 29 a) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi.

yaitu: subjek hukum. dan Rudolf von Jhering (1818-1889). John Stuart Mill (1806-1873). hukum kodrat gaya baru. Hk. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. tidak semata-mata pada bentuk hukumnya. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. c. tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. secara positif. berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). menurut hukum (rechtmatigeheid). objek hukum.q. dasar hukum. dan melawan hukum. meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa.Doc. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. penundukan hukum.q. mengikat. kekuasaan hukum. Narotama Surabaya/V/2005 30 norma c. verbinden. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen). Manusia selalu berusaha ./Univ. Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832)./Modul/Fils. Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht). Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. hubungan hukum. maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut.

/Univ. d. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. Oleh karena itu. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial./Modul/Fils. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. Dengan kata lain. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain.Doc. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. Hk. Bagi Jhering. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). Dalam mendefinisikan kepentingan. Narotama Surabaya/V/2005 31 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. jikas tidak demikian. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. Mill. ia mengikuti Bentham. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. Pada hakekatnya. dan positivisme hukum dari John Austin. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. untuk memelihara kegunaan.

namun ia akan mati. es wachst mit dem volke vort. 3) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. . Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. berupa adat-istiadat. Hk. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). 2) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 1) Langsung. Narotama Surabaya/V/2005 32 dibuat./Univ. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . Sedang Puchta. berkembang bersama dengan rakyat. tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. bilden sich aus mit diesem. 4) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 1) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat.Doc./Modul/Fils. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman.

sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. Di lain pihak. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. halaman 120-121. Menurut Puchta. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris./Modul/Fils. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. Yogyakarta. Narotama Surabaya/V/2005 33 2) Melalui undang-undang. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. Penerbit Kanisius. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. e. Hk./Univ. 6 . 3) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1993. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. Lebih lanjut. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang.Doc. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis.

7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat./Univ. antara lain: Roscoe Pound.. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). Cit./Modul/Fils. Gurvitch dan lain-lain. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. Sociological jurisprudence. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. Op. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. Narotama Surabaya/V/2005 34 Pendasar aliran ini. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum. . halaman 47. Hk. Kontorowics. Dengan rasio demikian. Benjamin Cardozo.Doc. Eugen Ehrlich. Aliran ini berkembang di Amerika.

Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. Gray. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering.Doc. private as well as public interest). Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman . maka tiap bagiannya harus . Oliver Wendell Holmes. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. f. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. Karl Llewellyn. William James dan sebagainya. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. Jerome Frank. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. Sebab. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. Narotama Surabaya/V/2005 35 kepentingan-kepentingan (balancing of interest./Modul/Fils. 2) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. Sementara itu. Hk. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. Maksudnya. kedua liran tersebut ada kebenarannya./Univ.

5) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau. 4) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- .Doc. Narotama Surabaya/V/2005 36 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya./Modul/Fils./Univ. 2) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. Hk. 3) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 1) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. 4) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya. 3) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata. Sesuai dengan keyakinan ini.

simpati maupun antipati pribadi (Frank). Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. ekonomis. 8 . Penerbit PT. Narotama Surabaya/V/2005 37 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain./Modul/Fils. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. Jakarta. prasangka politis.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. 2) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. yakni. di samping faktor-faktor lain. hanyalah sebatas persamaan nama saja. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. Pradnya Paramita. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law).Doc. Bagi Frank./Univ. yaitu: 1) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. Filsafat Hukum. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. halaman 77. 1997. dan moril. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. Bagian I. “The path of Law” berasal dari Holmes. hukum dapat dibagi menjadi dua. Hk. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). yakni wawasan sosiologis. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya.

. 2. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa.Doc./Modul/Fils. yaitu Oliverscrona. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross. Narotama Surabaya/V/2005 38 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law).9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah. halaman 86. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. Latihan Soal 9 Ibid. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. Menureut Friedman. . Hk. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme./Univ. Lundstedt. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara.

Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! . Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e. Hk. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d. Narotama Surabaya/V/2005 39 a. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr.! f. Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4./Modul/Fils.Doc./Univ. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c.

Jakarta. . Gramedia Pustaka Utama. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Penerbit PT./Univ. Penerbit PT. 1993. 1997./Modul/Fils. Penerbit PT. Bagian I. Narotama Surabaya/V/2005 40 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo.Doc. 1990. 1995. Rasjidi. Huijbers. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Soetiksno. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Yogyakarta. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Filsafat Hukum. halaman. Hk. 1997. Lili. Darji & Shidarta. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Citra Aditya Bakti Bandung. Jakarta. Pradnya Paramita. Universitas Diponegoro. Penerbit Kanisius. Semarang. Soehardjo Sastrosoehardjo.

2. Hk. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang hukum. Pengantar Filsafat Hukum. karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern. dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu. Penerbit Bhratara. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1 Roscoe Pound./Modul/Fils. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu. 1996. dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat.Doc. 1. maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. Jakarta. 3. 1 . Narotama Surabaya/V/2005 41 BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Tujuan Instruksional Khusus: 1. memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. halaman 28-32. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia. (Terj.) Muhammad radjab. 2./Univ.

boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia. setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. c. yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam./Univ. Pertama. mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik. b. Sebab manusia primitif. Jalan yang selamat. . Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi. yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. Hk. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti. persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta. Narotama Surabaya/V/2005 42 a./Modul/Fils. yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat. atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan. Gagasan ini rapat dengan yang kedua. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif.Doc. misalnya undang-undang Nabi Musa. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. Bhrigu namanya. atau undang-undang Hammurabi. terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan. di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan.

Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft. e. yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi. dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain. Sudah sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. Hk. Sangat mungkin dengan teori serupa itu. ditafsirkan . dibentuk. f. dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum. satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik./Modul/Fils. yang berbeda dengan yang masih dilakukan. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. yang menyatakan sifat benda-benda.Doc. dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini. gagasan sarjana hukum Romawi. persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat. Demikianlah. dan ditambah oleh yang tigta tadi. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini. yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. g. harus diukur. Begitulah konsepsi Thomas . Narotama Surabaya/V/2005 43 d./Univ. satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat.

tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu./Univ.Doc. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis./Modul/Fils. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. Menurut anggapan pada masa itu. Narotama Surabaya/V/2005 44 Aquino. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. Hk. i. h.

Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan.Doc. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. k. j. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. Narotama Surabaya/V/2005 45 yang tak dapat dielakkan lagi./Modul/Fils. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. atau pada taraf lain. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. Di dalam betuk Positivistis-Analistis./Univ. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan. Di dalam satu bentuk yang idealistis. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu. Hk. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian.

dan bukan lagi dasar metafisik. halaman 129130. Hk.Doc. yang ditemukan oleh perenungan filsafat./Modul/Fils. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. l. 1995. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”. Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. Jakarta. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. Narotama Surabaya/V/2005 46 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru./Univ. Gramedia Pustaka Utama. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. Untuk itu. yang ditemukan oleh pengamatan. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 1) Kepentingan Umum (Public Interest). yang dapat ditemukan oleh pengamatan. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Penerbit PT. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. 2 .

Hk. b) kepentingan keluarga. Oleh karena itu.Doc. yaitu: Pertama. sehingga membuat pembentuk undng-undang. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. tujuan hukum yang demikian ini . b) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. hakim./Univ. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. dilihat dari hal tersebut. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. 3) Kepentingan Pribadi (Private Recht): a) kepentingan individu. e) kesejahteraan sosial. Narotama Surabaya/V/2005 47 a) kepentingan negara sebagai badan hukum. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. d) pencegahan pelanggaran hak. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. 2. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. Kedua./Modul/Fils. Dengan kata lain. pengacara. b) perlindungan lembaga-lembaga sosial. c) kepentingan hak milik. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. 2) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): a) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. c) pencegahan kemerosotan akhlak. a.

sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. hukum dibentuk.Doc. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. yaitu: a. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. Oleh karena itu. b. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. yang menilik niat bukan di tempatnya . alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain ./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 48 sangat penting artinya bagi masyarakat. b. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. 3. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya./Univ. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. dan penduduk yang bertambah banyak. c. antara orang-orang yang sekutu. Hk.

Narotama Surabaya/V/2005 49 bentuknya. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. Hk. Latihan Soal a. 3./Modul/Fils. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. c. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya.Doc. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c./Univ. timbul pandangan hukum adalah keburukan. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam.

) Muhammad radjab. Darji & Shidarta./Modul/Fils. Jakarta. 1995. Gramedia Pustaka Utama./Univ. Darmodiharjo. . Pengantar Filsafat Hukum. Jakarta. Roscoe. 1996. Narotama Surabaya/V/2005 50 DAFTAR PUSTAKA Pound. Pokok-Pokok Filsafat Hukum.Doc. Penerbit PT. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. (Terj. Hk. Penerbit Bhratara.

Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum.Doc. halaman 11. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. Memahami bermacam-macam arti keadilan. Narotama Surabaya/V/2005 51 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1. Filsafat Hukum. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. 1997. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. Jakarta. 2. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Penerbit PT. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran. 1 . Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. yaitu sifat baik./Modul/Fils. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. Dengan perkataan lain.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. 2. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. Soetiksno. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. Pradnya Paramita. Hk. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue./Univ. Bagian I. 1.

yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. 1993. Dalam menganalisis keadilan. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice). harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus. Darji Darmodiharjo & Shidarta. Penerbit Kanisius. Gramedia Pustaka Utama. Yogyakarta. Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. Jakarta. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem. Penerbit PT. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. 3 Theo Huijbers./Modul/Fils.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. Keadilan distributif (Distributive Justice).Doc. b. Sedang menurut Aristoteles. halaman 155. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. Cit. halaman 154. b. 2 . yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu.. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. c. Op. Narotama Surabaya/V/2005 52 Menurut Plato. Keadilan berada di tengah dua ekstrem. halaman 29. Hk. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. yaitu: 4 a. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya./Univ. 1995. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum.

summa lex. Perbedaannya ialah. yaitu kepastian hukum. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. Selain membagi keadilan menjadi dua. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan. yang dibedakan lagi menjadi 3. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. Keadilan Khusus./Univ. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. summa crux”. summa injuria./Modul/Fils. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. adil atau tidak adil. Keadialan Umum (Justitia Generali). membagi keadilan menjadi 2.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 53 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. yaitu: a. 2) keadilan komutatif. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . yaitu keadilan atas dasar kesamaan. yaitu: 1) keadilan distributif. 3) keadilan vindikatif. Kontribusi Aristoteles berikutnya. Hk. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. b.

yaitu: a. aspek ini menentukan isi hukum. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. 5 Theo Huijbers. Menurut Radbruch. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 54 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya.Doc./Univ. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. b. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. Kepastian hukum atau legalitas. yakni nilai keadilan. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. c. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. . karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. halaman 162. 3. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. Op. karena ada dasar lain. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. Cit. Keadilan dalam arti sempit.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. yaitu dasar hukum sebagai hukum. hukum diwujudkan dalam satu nilai. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. Tujuan keadilan atau finalitas. Hk. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan..

Filsafat Hukum. 1995. Narotama Surabaya/V/2005 55 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut. seperti politik. . dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. Penerbit Kanisius. Hk./Univ. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. halaman 48. Yogyakarta.Doc.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. 4. Bagaimana pendapat Sdr. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis)./Modul/Fils. Latihan Soal a. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No.

_________________. Hk. Jakarta. . Filsafat Hukum. 1993. Penerbit Kanisius. Penerbit PT. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Filsafat Hukum. Pradnya Paramita./Univ. Theo. Jakarta. 1997. Gramedia Pustaka Utama. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Yogyakarta./Modul/Fils. 1995. Penerbit PT. Soetiksno. Penerbit Kanisius. Narotama Surabaya/V/2005 56 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Yogyakarta. Bagian I. Darji & Shidarta. 1993.Doc. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Huijbers.

serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. Menjelaskan falsafah hukum nasional. 2. 1 . yaitu:1 a. b.Doc. Semarang. Narotama Surabaya/V/2005 57 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini./Univ. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. halaman 44. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. 1. Program Pascasarjana Ilmu Hukum./Modul/Fils. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa. Soehardjo Sastrosoehardjo. mahasiswa mampu: 1. Hk. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. 1997. Universitas Diponegoro.

meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. c. b. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. dan sebagainya. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . Untuk itu./Modul/Fils. Ontologi. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan.Doc. Sehubungan dengan itu. kekuasaan. sosial. agama. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. Epistemologi. atau keturunan. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. apa hakekat kebenaran. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. Narotama Surabaya/V/2005 58 c. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum./Univ. Pancasila harus tetap terbuka . Aksiologi. Hk. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan.

halaman 106. Dalam suasana yang demikian. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. Yogyakarta. 3 Theo Hujibers. Universitas Diponegoro.Doc. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. perlu dikembangkan critical mass. Semarang./Univ. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. Narotama Surabaya/V/2005 59 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. radikal. Hk. 2 . Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. dan eksploratif. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah./Modul/Fils. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional. kreatif. 2. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. 1997. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Untuk itu. halaman 9. 1993. Penerbit Kanisius. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern). maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya.

Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. berdasarkan teori causalis. Sebagai contoh. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. Dalam Teorinya. sosial. menurut Notonegoro. lebih lanjut dikemukakan pula./Modul/Fils. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. yaitu: Pertama. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. Hk. Causa Formalis Pancasila. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. Causa Finalis. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. anti tesis. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. ekonomi. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. tetapi juga dalam bidang realitas. Narotama Surabaya/V/2005 60 disebut “Teori Dialektika”. dan sebagainya. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei.Doc. kewarganegaraan. . sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara./Univ. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. kebudayaan. dan sintesis. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. dilihat dari causa materialis. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. Pancasila berdasar adat kebiasaan. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. Menurut Hegel pula. ialah anggota BPUPKI. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika.

Narotama Surabaya/V/2005 61 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. dan Keadilan Sosial. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya./Modul/Fils. keadilan sosial. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. Persatuan Indonesia.Doc. karena jika dilihat dari isinya. Kecuali itu. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. dan berkeadilans osial. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. Dengan demikian. Pancasila sebagai pandangan hidup. demikian seterusnya. Demikian pula sebagai . Dikatakan hirarkis. dalam hal ini PPKI. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. kerakyatan. Selanjutnya. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. dikatakan piramidal. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. Penjelasan selanjutnya. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. berkerakyatan. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. berpersatuan. Hk. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan./Univ. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. Sebaliknya.

batang tubuh. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. 3. Kepentingan Umum.Doc. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. yaitu Sociological Jurisprudence. Hk. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah. c. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. ideologi negara. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. baik pembukaan. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. yaitu: a. Kepentingan Masyarakat. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. Pada aliran Positivisme Hukum. yaitu: Positivisme mementingkan logika. Latihan Soal a. Dengan demikian. b. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. dan dasar negara. Kepentingan Individu. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 62 bangsa Indonesia dan warga negara. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya./Modul/Fils. maupun penjelasannya.

Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1997. Semarang. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Universitas Diponegoro. Narotama Surabaya/V/2005 63 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. 1993 Theo Hujibers. 1997 . Universitas Diponegoro. Theo./Modul/Fils. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Semarang. Program Pascasarjana Ilmu Hukum.Doc. 1993. Penerbit Kanisius. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Hk. Yogyakarta. Woro & Sri Hartini. Winandi. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Penerbit Kanisius./Univ. Yogyakarta. Soehardjo Sastrosoehardjo.

/Univ.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 64 ./Modul/Fils. Hk.

1990. 6. Memahami pengertian hukum. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup.4 I. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. tetapi juga ada logika-logika yang lain. terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan filsafat. tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. Penerbit Rineka Cipta. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. 4. Hk.(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 4. halaman 1. Jakarta. Sehingga untuk dapat berfilsafat.Doc.R. istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. Poedjawijatna. 4 . 8. 7. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Narotama Surabaya/V/2005 65 Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis./Modul/Fils. 5. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana./Univ. Memahami pengertian filsafat. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Mengetahui pengertian filsafat hukum. yaitu: Filosofia. 6. Hukum tidak hanya rules (logic & rules). Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum. Sesungguhnya.

Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu. dan sistematika tertentu. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. slogan. halaman 4. lambang dan sebagainya. yang tercermin dalam berbagai pepatah. Hk. Pokok-pokok Filsafat Hukum. 1995. Gramedia Pustaka Utama. kata “filsafat” berasal dari kata majemuk. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. 6 I. Menurut Poedjawijatna. sehingga terdapat kebenaran. yakni objek materia dan objek forma. Objek forma filsafat terdapat pada sudut pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu. hakikat alam. sistematis. Barangkali. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis. dan hakikat manusia. lalu berusaha mencapai yang diingini./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 66 Secara etimologis. Op. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam. tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Penerbit PT. yaitu tentang hakikat Tuhan. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya.6 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta. yaitu ingin dan karena ingin itu. R. 5 . Dengan demikian. objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua. Bijaksana inipun merupakan kata asing. sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. metode. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia. Jadi secara etimologis. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu. halaman 6-9. Dari sudut isinya.Doc./Univ. Cit. yakni: filo dan sofia.5 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu.. yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. Poedjawijatna. objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya. yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. terlebih-lebih bersifat universal. jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas. terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek. filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. Jakarta.

Sebuah Pengantar Populer. yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat. dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral). artinya cara berfikir filsafat tidak sempit./Modul/Fils. politik. Hk. Jakarta.. Cit.8 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam (contemplation). 1998. yaitu spekulatif. etika.7 Menyeluruh. logika. h. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan. ciri ketiga dari filsafat yang berperan. Jujun S. melainkan analisis nilai. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. ekonomi. mendasar. halaman 7. i. 8 Darji Darmodiharjo & Shidarta. jika yang dianalisis hanya fakta saja./Univ. jika yang dianalisis nilai. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya.Doc. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah. retorika. 7 . Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat. mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. Narotama Surabaya/V/2005 67 Jika ditelaah lebih mendalam. tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Op. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Mendasar. dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. dan estetika. Suriasumantri. Sebab. g. Untuk itu. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja. Filsafat Ilmu. filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas. dan spekulatif. Lain halnya. ada ciri lain yang perlu ditambahkan. maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi. yaitu: menyeluruh. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. antara lain: f.

karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 68 j. etika. pikiran belaka. dengan kata lain objek filsafat itu ada. yaitu metafisika. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri.Doc. kebajikan. Dengan kata lain. agama. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. Hk. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. dan sebagainya. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. halaman 5. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama.9 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Di satu sisi. baik dan buruk. Bandung. Citra Aditya Bakti. Penerbit PT. sedangkan agama berdasarkan wahyu. karena agama merupakan sesuatu yang ada. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu./Univ. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat Lili Rasjidi. Di sisi lain. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. misalnya: Tuhan. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. dan antropologi. 9 . sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. 1990. filsafat berdasarkan pikiran belaka. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. 5. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. Pada agama.

yaitu: b. maka harus diselidiki sifat-sifatnya. yang hendak dicari sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya. yang dibedakan menjadi dua: 3) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. Narotama Surabaya/V/2005 69 dari berbagai penjuru sudut pandang. Dalam realitas. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. d) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. Jadi. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. misalnya sifat-sifatnya. Alam dicari ./Univ. kemampuannya. terdapat bermacam-macam hal.Doc. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. Hk. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. 4) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). Ada menjadi dasar dari segala yang ada. Berdasarkan Objek. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. Oleh karena itu./Modul/Fils. Dengan demikian. yang lazim disebut sebagai Theodicea. Segala sesuatunya itu ada. yang terdiri dari: c) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya.

seperti: apakah manusia itu sebenarnya. karena ada-nya tidak dengan niscaya. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. apa sifat-sifat pendorong hidup itu. c)) Filsafat Budi (Logika): . apakah isi alam pada umumnya. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. Hk. apakah kemampuan-kemampuannya. apakah sebenarnya itu. apa pendorong hidupnya./Univ. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku./Modul/Fils. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. apakah hubungannya satu sama lain. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. yaitu: manusia. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 70 intinya oleh filsafat inti alam itu. dan lain-lain. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada.

Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja . seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat./Univ. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan.Doc. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. seperti: pengertian. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. Namun./Modul/Fils. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal. Hk. jalan pikiran. dalam bekerjanya budi. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. Narotama Surabaya/V/2005 71 Untuk melakukan penyelidikan. b. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. yaitu manusia. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya. yaitu: 4) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. serta putusan-putusan. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. dan itu dilakukan oleh subjeknya.

setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. kosmologia) Fils. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). kosmologia. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. Menurut Objek: Ada-umum (fils. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. theodicea) Alam (filsafat alam./Univ. Hk. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. ada-umum. secara garis besar. Sehingga. 6) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. dan sebagainya. dan anthropologia).Doc. 5) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada./Modul/Fils. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. Menurut Subjek: . apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. indah lawan jelek. theodicea. baik lawan buruk. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. misalnya: ada yang tinggi dan rendah. Jadi. manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. budi (logika mayor & minor) h. Oleh karena itu. Narotama Surabaya/V/2005 72 semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. tingkah laku (ethica) Fils. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: g. ontologia.

Doc. Hk. dengan alasan sebagai berikut: f. dan kesejahteraan. Remaja Rosdakarya. Yogyakarta. Bandung./Univ. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba. halaman 5. Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. Penerbit PT. 10 . g. halaman 31. kaedah sopan santun (adat). yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). Penerbit Liberty. Dari segi tujuan. Suatu Pengantar. agar jangan sampai jatuh korban. ketertiban. 1988. 11 Sudikno Mertokusumo. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. Dari segi isi. kaedah kesusilaan. untuk ketertiban masyarakat. Apakah Hukum Itu?. Mengenal Hukum. Lili Rasjidi./Modul/Fils. 1991. Narotama Surabaya/V/2005 73 Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. Filsafat Hukum. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma.11 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan.10 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. dan kaedah hukum. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian.

Op. Ketiga. pada zaman Romawi. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. misalnya saja Thomas Aquino. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. Lex Divina. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. Cit.. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. j. Dari segi daya kerja. membebani kewajiban dan memberikan hak. termasuk mengatur pemerintahan. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya. . Pada masa ini. Tentu saja. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. Sebagai contoh pertama. yaitu:12 Lex Aeterna.Doc. 12 Lili Rasjidi./Univ. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai pembentuk hukum. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. pada Zaman Pertengahan. Lex Naturalis. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum./Modul/Fils. Hk. Dari segi sanksi. berasal dari masyarakat secara resmi. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. Kedua. Narotama Surabaya/V/2005 74 h. halaman 29-30. Dari segi asal-usul. i.

halaman 4. Dengan demikian. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat. 1988. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. 6. Cit. Dengan kata lain. 13 ./Modul/Fils. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. Narotama Surabaya/V/2005 75 Di samping itu. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. Hk./Univ. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies. seperti Carl von Savigny dan Puchta.13 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. Citra Aditya Bakti. Jadi. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan.Doc. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. halaman 10. Op. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan definisi dari hukum. Rasionya. Penerbit PT.. Bandung.

kebahagiaan. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht).H.Doc. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). Narotama Surabaya/V/2005 76 J.M. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. Semarang. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. J. dan tata tertib dalam masyarakat.14 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan Soehardjo Sastrosoehardjo./Modul/Fils.J. Sedangkan D. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan. 14 . Hk. Sementara itu. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro./Univ. halaman 5. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu. 1997. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen.

1995. Apakah Hukum Itu?. Jakarta. ________________.R. Penerbit PT. Mengenal Hukum. Sebuah Pengantar Populer. Bandung. Remaja Rosdakarya. Penerbit Rineka Cipta.. Suriasumantri. Soehardjo. Suatu Pengantar. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Citra Aditya Bakti. Hk. Rasjidi. Narotama Surabaya/V/2005 77 keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Bandung. Yogyakarta. Penerbit PT. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. 1998. Universitas Diponegoro. 1990. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. Lili. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Sastrosoehardjo. 1990./Univ.. Penerbit Liberty. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Filsafat Ilmu. Penerbit PT.Doc. Semarang. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum. . Dengan kata lain. Darji & Shidarta. Jakarta./Modul/Fils. Jujun S. Filsafat Hukum. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. I. Mertokusumo. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 1988. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Sudikno. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 1997. 1991. Poedjawijatna.

1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). Hk. 7. 6. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit PT. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). Gramedia Pustaka Utama. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. 1 . dan masa depan. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu. Parmenides. 1995. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. Plato. Jakarta. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang./Modul/Fils. sekarang. antara lain: Anaximander. Herakleitos. dan Aristoteles.Doc. halaman 70-71./Univ. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. Herakleitos (540-475 SM). Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. 8. 6. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini. Narotama Surabaya/V/2005 78 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. Socrates. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo.

Tetapi jelas baginya. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. maka timbullah keadilan (dike). karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. 2 . sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. 1993. Sementara itu. Penerbit Kanisius. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. Apabila hal ini terjadi. dan harmoni yang menghasilkan aturan. Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. ukuran. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada./Modul/Fils. halaman 20). Narotama Surabaya/V/2005 79 keharusan alam ini. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya. Logos menciptakan bentuk . yang ada hanyalah kebenaran subjektif. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. Hk. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati. Dengan kata lain. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). Dalam mempertahankan pendapatnya. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. Yogyakarta. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum.Doc. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah./Univ. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria).2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia.

./Univ./Modul/Fils. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa.Doc. Oleh karena itu. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno). Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Oleh karena itu. hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. sehingga hukum tidak pernah berubah. Menurut Aristoteles. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. Hk. Menurut Aristoteles. Meskipun demikian. yakni hukum alam dan hukum positif. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. Narotama Surabaya/V/2005 80 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. lenyap dan berlaku dengan sendirinya. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. karena hubungannya dengan aturan alam. Dari gagasan Aristoteles ini. Misalnya. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. yakni undang-undang negara. Aristoteles. Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia.

menurut Stoisisme. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa.Doc. 1990. Hk. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi./Univ. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. Dengan kata lain. yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. Dalam perkembangannya. Narotama Surabaya/V/2005 81 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. Penerbit PT. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini.3 dan mulai berkembangnya agama Islam. Citra Aditya Bakti. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. Bandung. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. halaman 13. Oleh karena itu. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). 3 . Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic). bukan menurut hukum positif./Modul/Fils. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). 7.

antara lain: William Occam (1290-1350). hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina). Wolf (1679-1754). Thomasius (1655-1728). Cit. Samuel Pufendorf (1632-1694). Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. Francis Bacon (1561-1626). Zaman modern ini juga disebut Renaissance. halaman 39. dan Immanuel Kant (1724-1804). Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini.J. George Berkeley (1685-1753). lahirnya segala macam ilmu baru. David Hume (17111776). Rousseau (17121778). Hk. Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. ./Modul/Fils./Univ. J. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri.. Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. Montesquieu (1689-1755). John Locke (1632-1704). sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. Thomas Hobbes (1588-1679). dan sebagainya. Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. 9. perkembangan teknologi yang sangat pesat. dan hukum positif (Lex Positivis). Rene Descartes (1596-1650). hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). 8. ditemukannya dunia-dunia baru.Doc. yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. Narotama Surabaya/V/2005 82 Tuhan (Lex Aeterna). rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. berdirinya negara-negara baru. Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. Op.4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini.

seperti J. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat.F. Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. Op./Modul/Fils./Univ. Menurut teori dialektika Hagel.J. ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. seperti Hobbes. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. Schelling (1775-1854). artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern.W.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. Teorinya disebut Dialektika.Doc. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme.. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman. seperti Hegel (1770-1831). Hk. masih ada beberapa ahli pikir lain. . juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. Di samping Marx dan Engels. Namun. Menurut Hegel. yaitu akan menjadi. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. Karl Marx (18181883). halaman 37. Fichte (1762-1814) dan F. Cit. Narotama Surabaya/V/2005 83 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu.

Latihan Soal 7.Doc. Op./Univ./Modul/Fils. Descartes Fichte T. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 10. Yunani (Kuno) Z. Herakleitos. Bacon Wolf Montesquieu J. Modern Z. Hume F. Locke von Savigny G. Rousseau Immanuel Kant 10. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. Occam Hegel R. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 9. Hobbes Schelling J. Narotama Surabaya/V/2005 84 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. halaman 82. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 12.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah. Berkeley D.. Pertengahan Z. .J. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 11. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 8. Cit. Hk.

Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Penerbit PT.Doc. Huijbers. Narotama Surabaya/V/2005 85 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Theo. Hk. . 1990. Citra Aditya Bakti. Yogyakarta./Univ. Rasjidi. Bandung./Modul/Fils. Penerbit PT. Darji & Shidarta. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Jakarta. 1995. 1993. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Gramedia Pustaka Utama. Lili. Penerbit Kanisius. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

86

BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 3. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. 4. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: 2. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum, yaitu: a. Aliran Hukum Alam. b. Aliran Hukum Positif. c. Aliran Utilitarianisme. d. Aliran Sejarah. e. Alian Positivisme. f. Aliran Sociological Jurisprudence. g. Aliran Legal Realism.

3. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab, yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana, antara lain F.S.G. Northrop dan Lili Rasjidi.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran, yaitu: f. Legal Positivism. g. Pragmatic Legal Realism. h. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. i. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. j. Naturalistic Jurisprudence.

Lili Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat Hukum, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti Bandung, 1990, halaman 26-27.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

87

Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar, masing-masing: g. Aliran Hukum Alam: 3) Yang Irrasional. 4) Yang Rasional. h. Aliran Hukum Positif: 3) Analitis. 4) Murni. i. Aliran Utilitarianisme. j. Madzhab Sejarah. k. Sociological Jurisprudence. l. Pragmatic Legal Realism. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain, yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab, yaitu:2 j. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. k. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). l. Aliran Neo Kantianisme. m. Aliran Sejarah. n. Aliran Positivisme. o. Aliran Ajaran Hukum Umum. p. Aliran Sosiologi Hukum. q. Aliran Realisme Hukum. r. Aliran Hukum Bebas. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama, karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum.

Soehardjo Sastrosoehardjo, Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum, Program Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang, 1997, halaman 1.

2

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

88

Dalam tulisan ini, penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi, seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran, Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). Menurut Friedman, aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut, sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran, hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: 2) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino), John Salisbury, Daante, Piere Dubois, Marsilius Padua, dan John Wyclife. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan, yaitu: e) Lex Aeterna, merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. f) Lex Divina, bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. g) Lex Naaturalis, inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. h) Lex Posistivis, hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh

Darji Darmodiharjo & Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1995, halaman 102.

3

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

89

keadaan dunia. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Penulis lain, William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum, dengan penjelasan sebagai berikut: d) Hukum Universal, yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. e) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. f) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian, manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut, sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil, buruk atau jahat dan baik atau jujur. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja, sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. 2) Rasional: Sebaliknya, aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. Tokoh-tokohnya, antara lain: Hugo de Groot (Grotius), Christian Thomasius, Immanuel Kant, dan Samuel Pufendorf. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius), ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan, sehingga rasio

halaman 12. Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya.. . tidak dogmatis (trancendental). and feeling).Doc. rasa. beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze). Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. dan karsa (thinking. volition. Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis. Narotama Surabaya/V/2005 90 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. Hk. Cit. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi). lawan dari filsafat dogmatis. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan. Op.4 Metode kritis tidak skeptis. Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. yaitu cipta./Modul/Fils. tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo./Univ.

b. Jadi. das ist vernunftig. What is reasonable is real. yaitu: c) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. 3) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. Bagi Hegel. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. and what is real is reasonable)./Modul/Fils. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. antitesa. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 91 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. das ist wirklich ist. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. yaitu Analytical Jurisprudence. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. Hk. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. Di Inggris. berkembang bentuk yang agak lain. Austin membagi hukum atas 2 hal./Univ. demikan juga dengan hukum. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara. . Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman.

hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. 4) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. etika. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . sosiologi. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. Narotama Surabaya/V/2005 92 d) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. Menurut ajaran tersebut. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. di dalamnya terkandung perintah. peraturan pemerintah. Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. contoh hak wali terhadap perwaliannya. dalam hukum yang nyata pada point pertama. dan kedaulatan. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. dan sebagainya. Menurut Austin. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. Hk. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). Idealisme hukum ditolak sama sekali./Univ. dan sebagainya. sanksi. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. seperti: undang-undang./Modul/Fils. kewajiban.Doc. sejarah.

etiika atau agama. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). bukan karsa dan rasa. i) Hukum adalah ilmu normatif. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi. h) Teori filsaft hukum adalah ilmu. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi./Univ. bukan masalah apa yang dikehendaki. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. seorang murid dari Rudolf von Jhering. Cit. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik./Modul/Fils. . l) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. j) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas.. halaman 43. Narotama Surabaya/V/2005 93 g) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi.Doc. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. masalah cipta. k) Teori hukum adalah formal. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. Op. Hk. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus.

penundukan hukum. objek hukum. dan melawan hukum./Univ. menurut hukum (rechtmatigeheid). secara positif. Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. dasar hukum. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. John Stuart Mill (1806-1873). kekuasaan hukum. maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut. hubungan hukum. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. verbinden. berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. Narotama Surabaya/V/2005 94 norma c. Hk./Modul/Fils.Doc. Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht). dan Rudolf von Jhering (1818-1889). tidak semata-mata pada bentuk hukumnya. Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). yaitu: subjek hukum. i. mengikat. Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). Manusia selalu berusaha . peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. hukum kodrat gaya baru. tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa.q.q. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen).

Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. Pada hakekatnya. Dalam mendefinisikan kepentingan. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum.Doc. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. jikas tidak demikian. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. Narotama Surabaya/V/2005 95 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. Mill. ia mengikuti Bentham. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. Oleh karena itu. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak ./Univ. untuk memelihara kegunaan. dan positivisme hukum dari John Austin. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. Bagi Jhering. Hk. Dengan kata lain./Modul/Fils. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. j. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya.

Narotama Surabaya/V/2005 96 dibuat. 7) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. berkembang bersama dengan rakyat. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. es wachst mit dem volke vort. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 4) Langsung.Doc. berupa adat-istiadat./Modul/Fils. Hk. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. Sedang Puchta. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 5) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. namun ia akan mati. 8) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . . tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. 6) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. bilden sich aus mit diesem./Univ. di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri.

Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. Yogyakarta. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. 6 . Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. 6) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. halaman 120-121./Modul/Fils. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun./Univ. 1993. Hk.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht.Doc. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. Lebih lanjut. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. Penerbit Kanisius. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. Di lain pihak. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. Narotama Surabaya/V/2005 97 5) Melalui undang-undang. k. Menurut Puchta. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang.

cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. Narotama Surabaya/V/2005 98 Pendasar aliran ini. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). Sociological jurisprudence. halaman 47. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. . Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. Benjamin Cardozo. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. antara lain: Roscoe Pound. Hk. Cit. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum.. Kontorowics.Doc. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Op. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial./Univ. Dengan rasio demikian. Aliran ini berkembang di Amerika. Gurvitch dan lain-lain./Modul/Fils. Eugen Ehrlich.

Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. Oliver Wendell Holmes. Gray. kedua liran tersebut ada kebenarannya. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. Sebab. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman . maka tiap bagiannya harus . pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. William James dan sebagainya. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. 7) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial.Doc. Sementara itu. Narotama Surabaya/V/2005 99 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. Hk./Univ. Karl Llewellyn. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. Jerome Frank. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 6) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. l. Maksudnya. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum./Modul/Fils. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. private as well as public interest). Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum.

Narotama Surabaya/V/2005 100 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya.Doc. 9) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 5) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. Hk./Modul/Fils. 8) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum./Univ. Sesuai dengan keyakinan ini. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau. 7) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. 6) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. 10) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya. 8) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- . Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan.

prasangka politis. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. hukum dapat dibagi menjadi dua. Jakarta.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. Bagi Frank. 8 . yakni wawasan sosiologis.Doc. Bagian I. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). 4) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. dan moril. yakni. Penerbit PT. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. Filsafat Hukum. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. di samping faktor-faktor lain. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. Pradnya Paramita. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. “The path of Law” berasal dari Holmes. 1997. ekonomis. simpati maupun antipati pribadi (Frank). Hk. halaman 77. hanyalah sebatas persamaan nama saja./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 101 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain./Univ. yaitu: 3) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain.

halaman 86.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa.Doc. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak. Lundstedt./Modul/Fils. 4. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross. yaitu Oliverscrona. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. Latihan Soal 9 Ibid. Hk. Menureut Friedman. yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif./Univ. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah.. . dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat. Narotama Surabaya/V/2005 102 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law).

Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! . Narotama Surabaya/V/2005 103 a./Modul/Fils. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr. Hk.Doc. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c.! f./Univ. Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4. Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e.

Huijbers. Jakarta. Bagian I. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. halaman. Filsafat Hukum. Citra Aditya Bakti Bandung. Soehardjo Sastrosoehardjo. Lili. Penerbit PT. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Penerbit Kanisius. 1995. Rasjidi. Pradnya Paramita. Penerbit PT./Univ. Program Pascasarjana Ilmu Hukum./Modul/Fils. 1997. 1997. Darji & Shidarta. Soetiksno. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit PT. Jakarta. 1990. Yogyakarta. Universitas Diponegoro. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.Doc. Semarang. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 104 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Gramedia Pustaka Utama. . 1993.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

105

BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. 2. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. 2. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. 3. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern.

2. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological

Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat, memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu, dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu, karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia, dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang

hukum, karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu, maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1

Roscoe Pound, Pengantar Filsafat Hukum, (Terj.) Muhammad radjab, Penerbit Bhratara, Jakarta, 1996, halaman 28-32.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

106

a. Pertama, boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia, misalnya undang-undang Nabi Musa, atau undang-undang Hammurabi, yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun, atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu, Bhrigu namanya, di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. b. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. Sebab manusia primitif, yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam, terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan, dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti, setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat, yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik, boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan, persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta, pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. c. Gagasan ini rapat dengan yang kedua, yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. Jalan yang selamat, atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif, mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

107

d. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft, yang menyatakan sifat benda-benda, dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu.

Demikianlah, gagasan sarjana hukum Romawi, yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi, dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi; dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat, harus diukur, dibentuk, ditafsirkan , dan ditambah oleh yang tigta tadi. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini, konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain, e. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. f. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik, persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum, dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. Sudah

sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. Sangat mungkin dengan teori serupa itu, satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. g. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini; satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan, yang berbeda dengan yang masih dilakukan, yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. Begitulah konsepsi Thomas

/Univ. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. Narotama Surabaya/V/2005 108 Aquino. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. i. h.Doc. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. Menurut anggapan pada masa itu. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . Hk. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis./Modul/Fils. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain.

Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. j. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. Di dalam betuk Positivistis-Analistis. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. Di dalam satu bentuk yang idealistis. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu./Univ. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. Narotama Surabaya/V/2005 109 yang tak dapat dielakkan lagi. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. Hk. k. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . atau pada taraf lain. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail.Doc. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad./Modul/Fils. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar.

Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. Hk./Modul/Fils. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. halaman 129130. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. dan bukan lagi dasar metafisik.Doc. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. Untuk itu. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. yang dapat ditemukan oleh pengamatan. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. yang ditemukan oleh pengamatan. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Jakarta. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 4) Kepentingan Umum (Public Interest)./Univ. 1995. Gramedia Pustaka Utama. Narotama Surabaya/V/2005 110 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. l. 2 . dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. Penerbit PT. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”.

Oleh karena itu. Kedua. dilihat dari hal tersebut. 2.Doc. sehingga membuat pembentuk undng-undang. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. pengacara. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. d) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. tujuan hukum yang demikian ini . Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. Dengan kata lain. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. h) pencegahan kemerosotan akhlak. i) pencegahan pelanggaran hak./Univ. e) kepentingan keluarga. f) kepentingan hak milik. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. 5) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): f) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. yaitu: Pertama. 6) Kepentingan Pribadi (Private Recht): d) kepentingan individu. hakim. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 111 c) kepentingan negara sebagai badan hukum. j) kesejahteraan sosial. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. g) perlindungan lembaga-lembaga sosial. d. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering./Modul/Fils.

untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. yaitu: d. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan./Univ. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. f. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 112 sangat penting artinya bagi masyarakat. 3. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat.Doc. e./Modul/Fils. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . e. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. dan penduduk yang bertambah banyak. yang menilik niat bukan di tempatnya . Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya. hukum dibentuk. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. antara orang-orang yang sekutu. Oleh karena itu.

f. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum. Narotama Surabaya/V/2005 113 bentuknya. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . Latihan Soal a. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c. timbul pandangan hukum adalah keburukan.Doc. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b. Hk. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam. 3./Univ./Modul/Fils.

/Univ. (Terj.Doc. Pengantar Filsafat Hukum.) Muhammad radjab. Hk. Penerbit Bhratara. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit PT. Roscoe. Darji & Shidarta. Jakarta. ./Modul/Fils. 1996. 1995. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Narotama Surabaya/V/2005 114 DAFTAR PUSTAKA Pound. Jakarta. Darmodiharjo.

Bagian I. Memahami bermacam-macam arti keadilan. halaman 11. 1997. Dengan perkataan lain. Hk./Univ. Soetiksno. Pradnya Paramita. 2. 4. 1 . sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. yaitu sifat baik. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. Penerbit PT. 2.Doc. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 3. Filsafat Hukum. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. Jakarta./Modul/Fils. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. Narotama Surabaya/V/2005 115 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1.

yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu. Hk. Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. Penerbit Kanisius. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. b. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. Keadilan berada di tengah dua ekstrem. d./Modul/Fils. Darji Darmodiharjo & Shidarta. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. Yogyakarta. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1995. Cit. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice). Sedang menurut Aristoteles. Dalam menganalisis keadilan. halaman 154. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. Keadilan distributif (Distributive Justice). Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. halaman 155.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya. Penerbit PT. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. c.Doc. 3 Theo Huijbers. halaman 29../Univ. 2 . Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. Narotama Surabaya/V/2005 116 Menurut Plato. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem. yaitu: 4 c. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 1993. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Op. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain.

yaitu keadilan atas dasar kesamaan. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. yaitu: 4) keadilan distributif. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. d.Doc. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). Keadialan Umum (Justitia Generali). Kontribusi Aristoteles berikutnya. yaitu kepastian hukum. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. Keadilan Khusus. adil atau tidak adil. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. Perbedaannya ialah. 6) keadilan vindikatif. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. membagi keadilan menjadi 2. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. summa lex. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. yang dibedakan lagi menjadi 3. yaitu: c. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. summa crux”. Hk. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. Selain membagi keadilan menjadi dua./Univ. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. Narotama Surabaya/V/2005 117 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. 5) keadilan komutatif. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. summa injuria. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum./Modul/Fils.

Op. halaman 162. Narotama Surabaya/V/2005 118 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. aspek ini menentukan isi hukum. Hk. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. . Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. Tujuan keadilan atau finalitas.Doc. Kepastian hukum atau legalitas./Univ. 3. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. yakni nilai keadilan. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. yaitu: a. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. karena ada dasar lain. 5 Theo Huijbers. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati./Modul/Fils. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. Menurut Radbruch. Cit. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. yaitu dasar hukum sebagai hukum. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. c. b. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. Keadilan dalam arti sempit. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. hukum diwujudkan dalam satu nilai..

halaman 48. Filsafat Hukum.Doc. . Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. Yogyakarta. 4. seperti politik. dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers. Narotama Surabaya/V/2005 119 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. Latihan Soal a. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No. Bagaimana pendapat Sdr. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. Penerbit Kanisius./Univ. 1995. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis)./Modul/Fils. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. Hk.

Gramedia Pustaka Utama. Yogyakarta. Penerbit Kanisius. Soetiksno./Modul/Fils. Jakarta. 1995. Filsafat Hukum. Penerbit Kanisius. 1993. Theo. Pradnya Paramita. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia./Univ. Bagian I. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Narotama Surabaya/V/2005 120 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Jakarta. Filsafat Hukum. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 1997. Penerbit PT. Yogyakarta. Darji & Shidarta. _________________. Penerbit PT. . 1993.Doc. Hk. Huijbers.

Menjelaskan falsafah hukum nasional. mahasiswa mampu: 1. yaitu:1 a. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar./Modul/Fils. Hk. b. Soehardjo Sastrosoehardjo. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. halaman 44. 4. 2. 1997. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat./Univ.Doc. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Semarang. Narotama Surabaya/V/2005 121 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini. Universitas Diponegoro. 1 . Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila.

Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. Epistemologi. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan. Untuk itu. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. Narotama Surabaya/V/2005 122 c. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. kekuasaan. sosial. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. Aksiologi. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. Ontologi. Hk. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. apa hakekat kebenaran. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi ./Univ. c. atau keturunan. Sehubungan dengan itu. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan./Modul/Fils. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik.Doc. b. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. agama. Pancasila harus tetap terbuka . Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. dan sebagainya.

3 Theo Hujibers. dan eksploratif. Untuk itu. 1993. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Yogyakarta. Penerbit Kanisius. kreatif. radikal.Doc. Dalam suasana yang demikian. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. Universitas Diponegoro. 1997. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. Narotama Surabaya/V/2005 123 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya./Modul/Fils.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern)./Univ. perlu dikembangkan critical mass. halaman 106. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. 2 . Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. Hk. Semarang. 5. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. halaman 9.

menurut Notonegoro. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. lebih lanjut dikemukakan pula./Univ. Pancasila berdasar adat kebiasaan. Sebagai contoh. ekonomi. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia./Modul/Fils. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. berdasarkan teori causalis. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. sosial. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. Menurut Hegel pula. Hk. ialah anggota BPUPKI. Causa Finalis. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. Narotama Surabaya/V/2005 124 disebut “Teori Dialektika”. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. Dalam Teorinya. Causa Formalis Pancasila. dan sintesis. dilihat dari causa materialis. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. kewarganegaraan. tetapi juga dalam bidang realitas.Doc. . kebudayaan. yaitu: Pertama. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. dan sebagainya. anti tesis. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara.

sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. Penjelasan selanjutnya. kerakyatan. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. Pancasila sebagai pandangan hidup. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. dan Keadilan Sosial. Dikatakan hirarkis. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. karena jika dilihat dari isinya. Demikian pula sebagai . dalam hal ini PPKI. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. dikatakan piramidal. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. keadilan sosial. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. dan berkeadilans osial. Hk. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. Persatuan Indonesia.Doc. Selanjutnya. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. demikian seterusnya. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya./Modul/Fils. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan./Univ. Sebaliknya. berkerakyatan. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. berpersatuan. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. Dengan demikian. Narotama Surabaya/V/2005 125 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. Kecuali itu.

Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. baik pembukaan.Doc. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. ideologi negara. Kepentingan Individu. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. f. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. batang tubuh. maupun penjelasannya. Kepentingan Umum. e. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . Pada aliran Positivisme Hukum./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 126 bangsa Indonesia dan warga negara. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. Dengan demikian. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. yaitu: Positivisme mementingkan logika. 6. Latihan Soal a. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. yaitu Sociological Jurisprudence. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. Kepentingan Masyarakat. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. dan dasar negara. yaitu: d. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah./Modul/Fils. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. Hk.

Penerbit Kanisius. Universitas Diponegoro. Woro & Sri Hartini./Modul/Fils. Soehardjo Sastrosoehardjo. Semarang./Univ. Semarang. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Yogyakarta. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Universitas Diponegoro. Penerbit Kanisius. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1993. Yogyakarta. Hk. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Winandi. 1997. 1997 . Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Theo. 1993 Theo Hujibers. Narotama Surabaya/V/2005 127 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. Program Pascasarjana Ilmu Hukum.Doc.

Doc./Modul/Fils./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 128 . Hk.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful