Doc./Modul/Fils. Hk./Univ.

Narotama Surabaya/V/2005

1

Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Hukum tidak hanya rules (logic & rules), tetapi juga ada logika-logika yang lain. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup, tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum,(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM

Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami pengertian filsafat. 2. Memahami pengertian hukum. 3. Mengetahui pengertian filsafat hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. 2. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. 3. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. 4. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana.

1. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. Sehingga untuk dapat berfilsafat, terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

2

filsafat. Sesungguhnya, istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani, yaitu: Filosofia.1 Secara etimologis, kata “filsafat” berasal dari kata majemuk, yakni: filo dan sofia. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin itu, lalu berusaha mencapai yang diingini. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Bijaksana inipun merupakan kata asing, yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. Jadi secara etimologis, filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. Dengan demikian, rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. Dari sudut isinya, terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia, yang tercermin dalam berbagai pepatah, slogan, lambang dan sebagainya. 2 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek, metode, dan sistematika tertentu, terlebih-lebih bersifat universal. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu, yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. Menurut Poedjawijatna, objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua, yakni objek materia dan objek forma. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu, sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu tentang hakikat Tuhan, hakikat alam, dan hakikat manusia. Barangkali, objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya, tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Objek forma filsafat terdapat pada sudut

I.R. Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1990, halaman 1. 2 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995, halaman 4.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

3

pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu, sehingga terdapat kebenaran, jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas.3 Jika ditelaah lebih mendalam, filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok, yaitu: menyeluruh, mendasar, dan spekulatif.4 Menyeluruh, artinya cara berfikir filsafat tidak sempit, dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral), senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. Mendasar, artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. Untuk itu, ciri ketiga dari filsafat yang berperan, yaitu spekulatif. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan, tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas, ada ciri lain yang perlu ditambahkan, yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat.5 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam

(contemplation). Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja, melainkan analisis nilai. Sebab, jika yang dianalisis hanya fakta saja, maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi, dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. Lain halnya, jika yang dianalisis nilai, maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat, antara lain: a. b. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.

I. R. Poedjawijatna, Op. Cit., halaman 6-9. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Penerbit Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1998. 5 Darji Darmodiharjo & Shidarta, Op. Cit., halaman 7.
4

3

Narotama Surabaya/V/2005 4 c. Pada agama. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. etika. kebajikan. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. Hk. Penerbit PT. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. Dengan kata lain. dan sebagainya./Univ. Di sisi lain./Modul/Fils. d. halaman 5.6 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. 1990. misalnya: Tuhan. filsafat berdasarkan pikiran belaka. pikiran belaka. sedangkan agama berdasarkan wahyu. dan antropologi. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Bandung. baik dan buruk. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. agama. 6 . e. Lili Rasjidi. yaitu metafisika. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. Citra Aditya Bakti. Di satu sisi.Doc. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. karena agama merupakan sesuatu yang ada. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan.

Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat dari berbagai penjuru sudut pandang. yang terdiri dari: a) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. yang lazim disebut sebagai Theodicea. dengan kata lain objek filsafat itu ada. kemampuannya.Doc. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis./Univ. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. Oleh karena itu. Jadi. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. Ada menjadi dasar dari segala yang ada. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. Narotama Surabaya/V/2005 5 2. terdapat bermacam-macam hal. yaitu: a. yang dibedakan menjadi dua: 1) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. yang hendak dicari ./Modul/Fils. Hk. maka harus diselidiki sifat-sifatnya. b) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. 2) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. Berdasarkan Objek. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. Segala sesuatunya itu ada. misalnya sifat-sifatnya. Dengan demikian. Dalam realitas. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya.

apa pendorong hidupnya. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica. apakah sebenarnya itu. dan lain-lain. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur . karena ada-nya tidak dengan niscaya. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada. seperti: apakah manusia itu sebenarnya. apakah isi alam pada umumnya. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. apa sifat-sifat pendorong hidup itu. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. Narotama Surabaya/V/2005 6 sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya. apakah kemampuan-kemampuannya. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. yaitu: manusia./Univ. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. Hk. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak./Modul/Fils. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak.Doc. Alam dicari intinya oleh filsafat inti alam itu. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. apakah hubungannya satu sama lain.

dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal./Univ. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. b. dalam bekerjanya budi. serta putusan-putusan.Doc. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. Namun. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. yaitu: 1) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. jalan pikiran. Narotama Surabaya/V/2005 7 yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. dan itu dilakukan oleh subjeknya. Hk. seperti: pengertian. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha . seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. c)) Filsafat Budi (Logika): Untuk melakukan penyelidikan. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. yaitu manusia. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain./Modul/Fils. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada.

manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. theodicea) Alam (filsafat alam. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. Hk./Modul/Fils. 2) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. misalnya: ada yang tinggi dan rendah. Jadi. baik lawan buruk. Narotama Surabaya/V/2005 8 kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia.Doc. Sehingga. ontologia./Univ. indah lawan jelek. setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. ada-umum. kosmologia. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. Oleh karena itu. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. 3) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. secara garis besar. dan anthropologia). theodicea. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: a. kosmologia) Fils. Menurut Objek: Ada-umum (fils. dan sebagainya. tingkah laku (ethica) .

Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum./Modul/Fils. halaman 31. Hk. 1988. Remaja Rosdakarya. Filsafat Hukum. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan.8 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. 7 . dan kaedah hukum. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba. kaedah sopan santun (adat). dengan alasan sebagai berikut: Lili Rasjidi./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 9 Fils. Penerbit Liberty. budi (logika mayor & minor) b. Suatu Pengantar. ketertiban. halaman 5. Penerbit PT.7 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat.Doc. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). Apakah Hukum Itu?. Menurut Subjek: Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. Bandung. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. 1991. Yogyakarta. 8 Sudikno Mertokusumo. Mengenal Hukum. dan kesejahteraan. kaedah kesusilaan.

Hk. halaman 29-30.Doc. untuk ketertiban masyarakat. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai 9 Lili Rasjidi. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. Dari segi asal-usul. berasal dari masyarakat secara resmi. pada zaman Romawi. pada Zaman Pertengahan. Dari segi isi. termasuk mengatur pemerintahan. c. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. . Ketiga. Lex Divina. yaitu:9 Lex Aeterna. Sebagai contoh pertama. Dari segi daya kerja. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. d. Op../Modul/Fils./Univ. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. Lex Naturalis. Narotama Surabaya/V/2005 10 a. Tentu saja. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. e. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. agar jangan sampai jatuh korban. Cit. Dari segi tujuan. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. membebani kewajiban dan memberikan hak. Dari segi sanksi. misalnya saja Thomas Aquino. Kedua. b.

. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta. Dengan kata lain. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. Pada masa ini. Jadi. Dasar-Dasar Filsafat Hukum./Univ. halaman 10. Dengan demikian. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. 10 . terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat. yaitu etika mempelajari hakikat hukum./Modul/Fils. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. halaman 4. seperti Carl von Savigny dan Puchta. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. 3.10 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. Op. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 11 pembentuk hukum. Di samping itu.Doc. Bandung. Rasionya. Penerbit PT. 1988. Citra Aditya Bakti. Cit.

Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht). Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 12 definisi dari hukum. kebahagiaan. Sedangkan D. dan tata tertib dalam masyarakat. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku.Doc. J.H. Semarang. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. 11 . 1997. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu./Modul/Fils. Sementara itu. halaman 5. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum.J./Univ. over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee).11 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar Soehardjo Sastrosoehardjo.M. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa. J. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara.

Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1988. Mengenal Hukum. Filsafat Ilmu. Bandung. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Penerbit PT. Penerbit PT. Soehardjo. . 1991. Jakarta. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. 1998./Modul/Fils. Filsafat Hukum. Jujun S. Program Pascasarjana Ilmu Hukum.Doc.R. Bandung. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. Narotama Surabaya/V/2005 13 tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. Sudikno. Lili. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Poedjawijatna. Penerbit PT. Jakarta. Yogyakarta./Univ. Suriasumantri. Rasjidi. I. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Sebuah Pengantar Populer. Jakarta. ________________. Citra Aditya Bakti. 1990. Universitas Diponegoro. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. 1990. Mertokusumo. 1997. Hk. Penerbit Pustaka Sinar Harapan.. Suatu Pengantar. 1995. Gramedia Pustaka Utama. Sastrosoehardjo. Semarang. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum.. Apakah Hukum Itu?. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum. Remaja Rosdakarya. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. Penerbit Liberty. Darji & Shidarta. Penerbit Rineka Cipta. Dengan kata lain.

Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. Hk. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. 2. antara lain: Anaximander. 1995. Narotama Surabaya/V/2005 14 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. Herakleitos./Modul/Fils. 3. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). 1 . Herakleitos (540-475 SM). 4.Doc. Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. dan masa depan. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1./Univ. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu. Plato.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). Penerbit PT. Parmenides. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. Jakarta. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). sekarang. Gramedia Pustaka Utama. halaman 70-71. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. dan Aristoteles. yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Socrates.

yang ada hanyalah kebenaran subjektif. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. Dengan kata lain. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos.Doc. Yogyakarta. Penerbit Kanisius. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. dan harmoni yang menghasilkan aturan. Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. ukuran. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang. maka timbullah keadilan (dike). karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. halaman 20). Sementara itu. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. 1993./Modul/Fils. Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. Logos menciptakan bentuk ./Univ. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. Hk. 2 . Narotama Surabaya/V/2005 15 keharusan alam ini. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. Dalam mempertahankan pendapatnya. Tetapi jelas baginya. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. Apabila hal ini terjadi.

Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. Menurut Aristoteles. sehingga hukum tidak pernah berubah./Modul/Fils. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. Meskipun demikian. . Menurut Aristoteles. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. Dari gagasan Aristoteles ini. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. yakni undang-undang negara. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. Oleh karena itu. lenyap dan berlaku dengan sendirinya. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa./Univ. Aristoteles. Narotama Surabaya/V/2005 16 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. yakni hukum alam dan hukum positif.Doc. karena hubungannya dengan aturan alam. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). Oleh karena itu. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. Hk. hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. Misalnya. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno).

Dasar-Dasar Filsafat Hukum. bukan menurut hukum positif. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. 1990. Dalam perkembangannya. Penerbit PT. 2. menurut Stoisisme. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia.3 dan mulai berkembangnya agama Islam. Narotama Surabaya/V/2005 17 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat.Doc. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. Citra Aditya Bakti. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. Hk./Univ. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. Dengan kata lain./Modul/Fils. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. halaman 13. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic). Oleh karena itu. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). Bandung. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. 3 . Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa.

/Univ. dan hukum positif (Lex Positivis). hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina). Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. J./Modul/Fils. halaman 39. John Locke (1632-1704). Montesquieu (1689-1755).Doc. sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. antara lain: William Occam (1290-1350). Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. 3. Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. 4. David Hume (17111776). Rousseau (17121778). Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. perkembangan teknologi yang sangat pesat. Rene Descartes (1596-1650). lahirnya segala macam ilmu baru. Samuel Pufendorf (1632-1694). Narotama Surabaya/V/2005 18 Tuhan (Lex Aeterna). Thomasius (1655-1728). . yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. Thomas Hobbes (1588-1679).. Francis Bacon (1561-1626). dan Immanuel Kant (1724-1804). Zaman modern ini juga disebut Renaissance. Cit. berdirinya negara-negara baru. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri. Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum.4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini.J. Wolf (1679-1754). dan sebagainya. Hk. George Berkeley (1685-1753). hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. ditemukannya dunia-dunia baru. rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. Op.

Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman./Univ. seperti Hegel (1770-1831). juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat.Doc. Karl Marx (18181883).W. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. Op. Menurut teori dialektika Hagel. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. seperti Hobbes. Schelling (1775-1854). Cit. seperti J. Hk. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. halaman 37. yaitu akan menjadi. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern. masih ada beberapa ahli pikir lain. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. Narotama Surabaya/V/2005 19 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19.. ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. . aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19.F.J. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. Namun.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. Fichte (1762-1814) dan F. Teorinya disebut Dialektika. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. Di samping Marx dan Engels. Menurut Hegel./Modul/Fils. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah.

Doc./Univ. Berkeley D. Latihan Soal 1. Herakleitos. Pertengahan Z. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. Hobbes Schelling J.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Descartes Fichte T. Op. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. Cit. Hume F. halaman 82. Rousseau Immanuel Kant 5. Locke von Savigny G. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 3. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 2. Bacon Wolf Montesquieu J./Modul/Fils. . Narotama Surabaya/V/2005 20 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Yunani (Kuno) Z. Hk. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 5. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 6.J. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 4.. Modern Z. Occam Hegel R. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah.

Gramedia Pustaka Utama. Penerbit Kanisius. Rasjidi. Lili. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Darji & Shidarta./Univ. Bandung. Pokok-Pokok Filsafat Hukum./Modul/Fils. . 1990. Yogyakarta. Narotama Surabaya/V/2005 21 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Citra Aditya Bakti. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Huijbers. Theo. Penerbit PT. 1995. Hk. Jakarta. 1993.Doc. Penerbit PT. Dasar-Dasar Filsafat Hukum.

Pragmatic Legal Realism. halaman 26-27. antara lain F. Hk. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab. b. c. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. yaitu: a. b. c. Aliran Hukum Alam. Aliran Sociological Jurisprudence. f.Doc./Modul/Fils. yaitu: a. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. Tujuan Instruksional Khusus: 1. e. 2. 1990. Aliran Legal Realism. e. 1 .G. Aliran Utilitarianisme. Aliran Sejarah. Naturalistic Jurisprudence. Lili Rasjidi. Alian Positivisme. 1. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Aliran Hukum Positif. Northrop dan Lili Rasjidi. Citra Aditya Bakti Bandung. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran. Penerbit PT. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. d. g. Legal Positivism. d./Univ.S. Narotama Surabaya/V/2005 22 BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 1.

Aliran Sejarah. 2 . 1997. halaman 1. masing-masing: a. Aliran Ajaran Hukum Umum. b. d. f. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. b. Pragmatic Legal Realism. i. h. yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab. karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum. g. Semarang. f. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. yaitu:2 a.Doc./Univ. c. Aliran Hukum Bebas. Aliran Positivisme. Aliran Neo Kantianisme. Aliran Sosiologi Hukum. Madzhab Sejarah. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). 2) Yang Rasional. Hk. Sociological Jurisprudence. Universitas Diponegoro. e. Aliran Hukum Positif: 1) Analitis. Aliran Utilitarianisme. Narotama Surabaya/V/2005 23 Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar. c. d. Aliran Realisme Hukum./Modul/Fils. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain. 2) Murni. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama. e. Aliran Hukum Alam: 1) Yang Irrasional. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. Soehardjo Sastrosoehardjo.

/Modul/Fils. d) Lex Posistivis. hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh Darji Darmodiharjo & Shidarta. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino)./Univ.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta. Daante. Piere Dubois. Penerbit PT.Doc. 3 . Marsilius Padua. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. yaitu: 1) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. Menurut Friedman. bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua). b) Lex Divina. Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. dan John Wyclife. penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi. yaitu: a) Lex Aeterna. Narotama Surabaya/V/2005 24 Dalam tulisan ini. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. c) Lex Naaturalis. inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. Gramedia Pustaka Utama. Hk. 1995. aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut. halaman 102. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi. John Salisbury.

Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja. b) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian. Hk. Christian Thomasius. William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum. ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut. yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam./Univ. c) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. 1) Rasional: Sebaliknya. Penulis lain. antara lain: Hugo de Groot (Grotius). Immanuel Kant. sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil./Modul/Fils. dan Samuel Pufendorf. sehingga rasio . Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu.Doc. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. Tokoh-tokohnya. dengan penjelasan sebagai berikut: a) Hukum Universal. manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius). buruk atau jahat dan baik atau jujur. Narotama Surabaya/V/2005 25 keadaan dunia.

Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis. volition. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi).. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan.Doc./Univ. Cit. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. lawan dari filsafat dogmatis. Op. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. tidak dogmatis (trancendental). . Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. Narotama Surabaya/V/2005 26 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. halaman 12. yaitu cipta. beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze). dan karsa (thinking. Hk. tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo.4 Metode kritis tidak skeptis./Modul/Fils. and feeling). rasa. Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya.

Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. yaitu: a) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. berkembang bentuk yang agak lain. Austin membagi hukum atas 2 hal. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. demikan juga dengan hukum. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. das ist wirklich ist. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. das ist vernunftig. 1) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. antitesa. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. . Jadi. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. Bagi Hegel. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin./Modul/Fils. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. yaitu Analytical Jurisprudence. and what is real is reasonable). Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa./Univ. b. Di Inggris. What is reasonable is real.Doc. Hk. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara. Narotama Surabaya/V/2005 27 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan.

seperti: undang-undang. Idealisme hukum ditolak sama sekali. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. dan sebagainya./Univ. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. sosiologi. dalam hukum yang nyata pada point pertama. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. kewajiban. Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. Hk. contoh hak wali terhadap perwaliannya. Narotama Surabaya/V/2005 28 b) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. etika. dan kedaulatan. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. Menurut ajaran tersebut. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: ./Modul/Fils. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. 2) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme.Doc. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. sejarah. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. sanksi. peraturan pemerintah. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. Menurut Austin. dan sebagainya. di dalamnya terkandung perintah.

c) Hukum adalah ilmu normatif. . yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. Hk.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen.Doc./Univ. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak./Modul/Fils. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum. etiika atau agama. Op. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas. f) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. masalah cipta. halaman 43. Cit. bukan karsa dan rasa. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal. d) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik. Narotama Surabaya/V/2005 29 a) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi. b) Teori filsaft hukum adalah ilmu. seorang murid dari Rudolf von Jhering. bukan masalah apa yang dikehendaki. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi.. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. e) Teori hukum adalah formal. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu.

/Modul/Fils. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. dan Rudolf von Jhering (1818-1889).q.Doc. hukum kodrat gaya baru. Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. objek hukum. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. Narotama Surabaya/V/2005 30 norma c. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen). yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht). meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. penundukan hukum. dan melawan hukum. berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. secara positif.q. dasar hukum. menurut hukum (rechtmatigeheid). Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. Manusia selalu berusaha ./Univ. Hk. Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). hubungan hukum. tidak semata-mata pada bentuk hukumnya. maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut. kekuasaan hukum. yaitu: subjek hukum. Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). c. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. verbinden. mengikat. tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. John Stuart Mill (1806-1873).

untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. Dengan kata lain. Narotama Surabaya/V/2005 31 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. untuk memelihara kegunaan.Doc. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. Hk. Dalam mendefinisikan kepentingan. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. ia mengikuti Bentham. Bagi Jhering. dan positivisme hukum dari John Austin. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. d./Modul/Fils. jikas tidak demikian. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846)./Univ. Oleh karena itu. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial. Mill. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis. Pada hakekatnya. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham.

tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. es wachst mit dem volke vort. .Doc. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 1) Langsung. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 1) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. 3) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat./Univ. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. Hk. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). bilden sich aus mit diesem. 4) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . berkembang bersama dengan rakyat. karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya. Narotama Surabaya/V/2005 32 dibuat. Sedang Puchta./Modul/Fils. 2) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. berupa adat-istiadat. namun ia akan mati.

Lebih lanjut. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). Yogyakarta. e. 1993. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. Penerbit Kanisius. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 33 2) Melalui undang-undang.Doc./Modul/Fils. Menurut Puchta. halaman 120-121. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara. 3) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. 6 . Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. Di lain pihak. Hk. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.

Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. Benjamin Cardozo. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat.. halaman 47. . Op. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. Eugen Ehrlich. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. antara lain: Roscoe Pound. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. Gurvitch dan lain-lain. Kontorowics. Cit./Univ. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. Aliran ini berkembang di Amerika. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya./Modul/Fils. Hk. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung).Doc. Dengan rasio demikian. Narotama Surabaya/V/2005 34 Pendasar aliran ini. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. Sociological jurisprudence.

Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. kedua liran tersebut ada kebenarannya. Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. Jerome Frank. Narotama Surabaya/V/2005 35 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. William James dan sebagainya./Univ. Gray. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. Sementara itu. Karl Llewellyn. Maksudnya. 2) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. Hk.Doc. Oliver Wendell Holmes. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman . Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. Sebab./Modul/Fils. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. maka tiap bagiannya harus . f. private as well as public interest).

/Modul/Fils. 3) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. Narotama Surabaya/V/2005 36 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. Sesuai dengan keyakinan ini. 4) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya./Univ. 3) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata. 2) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau. Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. 5) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya.Doc. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 1) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. 4) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- . Hk.

Pradnya Paramita. 1997. dan moril. Narotama Surabaya/V/2005 37 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain./Modul/Fils./Univ. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. hukum dapat dibagi menjadi dua. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. hanyalah sebatas persamaan nama saja.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. ekonomis. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. Bagian I. yakni wawasan sosiologis. simpati maupun antipati pribadi (Frank). “The path of Law” berasal dari Holmes. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. 8 .Doc. di samping faktor-faktor lain. halaman 77. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. Bagi Frank. yakni. Filsafat Hukum. prasangka politis. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). yaitu: 1) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. Penerbit PT. 2) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. Jakarta. Hk.

9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara. Menureut Friedman. Hk. . Narotama Surabaya/V/2005 38 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law).Doc. Latihan Soal 9 Ibid. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak. Lundstedt. yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah./Univ. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan./Modul/Fils. yaitu Oliverscrona. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross. 2. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat. halaman 86..

Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4.! f. Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e./Modul/Fils. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 39 a./Univ. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d.Doc. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! .

Bagian I. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Semarang. Jakarta. Rasjidi. Lili. Penerbit PT. Penerbit PT. halaman. Darji & Shidarta. Yogyakarta. Filsafat Hukum. 1990.Doc. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Soehardjo Sastrosoehardjo. 1995. Universitas Diponegoro. Narotama Surabaya/V/2005 40 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Citra Aditya Bakti Bandung. Gramedia Pustaka Utama./Univ. Penerbit PT. 1997. Huijbers. 1997. Hk. Pradnya Paramita. 1993. . Jakarta. Dasar-Dasar Filsafat Hukum./Modul/Fils. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit Kanisius. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Soetiksno.

Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang hukum. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat. (Terj. 1996. dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat.Doc. karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia. 3. Pengantar Filsafat Hukum. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1 Roscoe Pound. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. Tujuan Instruksional Khusus: 1. halaman 28-32. Narotama Surabaya/V/2005 41 BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu. 2. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu. Jakarta. 1./Modul/Fils. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern.) Muhammad radjab./Univ. 1 . maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu. 2. Hk. Penerbit Bhratara.

boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan. Jalan yang selamat. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia.Doc. mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi./Modul/Fils. misalnya undang-undang Nabi Musa. atau undang-undang Hammurabi. atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu. dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti. setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat. Bhrigu namanya. yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta. atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. b. yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam. di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. Narotama Surabaya/V/2005 42 a. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan. Gagasan ini rapat dengan yang kedua. Hk. yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik. c. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif. . yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun./Univ. Sebab manusia primitif. pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. Pertama.

e. yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi. dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft. harus diukur.Doc. dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu. dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat. ditafsirkan . Sudah sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan. persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. Begitulah konsepsi Thomas . yang berbeda dengan yang masih dilakukan. dan ditambah oleh yang tigta tadi. Sangat mungkin dengan teori serupa itu. satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. dibentuk. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini. f. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik. yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 43 d. dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum. Demikianlah. g./Univ. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini. konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain. yang menyatakan sifat benda-benda. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. gagasan sarjana hukum Romawi./Modul/Fils.

atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan.Doc. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. Narotama Surabaya/V/2005 44 Aquino. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. Hk. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. h. Menurut anggapan pada masa itu. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang. i. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu./Univ. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17./Modul/Fils. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu.

Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad./Modul/Fils. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. Narotama Surabaya/V/2005 45 yang tak dapat dielakkan lagi. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian. j. Di dalam satu bentuk yang idealistis. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. Di dalam betuk Positivistis-Analistis.Doc. atau pada taraf lain. Hk. k. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa./Univ.

Narotama Surabaya/V/2005 46 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. l. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan./Univ. yang dapat ditemukan oleh pengamatan. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19./Modul/Fils. Gramedia Pustaka Utama. Penerbit PT. Hk. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial.Doc. Jakarta. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. 1995. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. dan bukan lagi dasar metafisik. yang ditemukan oleh pengamatan. 2 . Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”. halaman 129130. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Untuk itu. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 1) Kepentingan Umum (Public Interest). mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat.

/Modul/Fils. tujuan hukum yang demikian ini . Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. hakim. dilihat dari hal tersebut. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. d) pencegahan pelanggaran hak. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. sehingga membuat pembentuk undng-undang. 2. c) kepentingan hak milik. b) perlindungan lembaga-lembaga sosial./Univ. b) kepentingan keluarga. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. 2) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): a) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. 3) Kepentingan Pribadi (Private Recht): a) kepentingan individu. b) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. pengacara. e) kesejahteraan sosial. Narotama Surabaya/V/2005 47 a) kepentingan negara sebagai badan hukum. Dengan kata lain.Doc. Kedua. Hk. yaitu: Pertama. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. a. c) pencegahan kemerosotan akhlak. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. Oleh karena itu.

semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi./Univ. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat. Oleh karena itu. hukum dibentuk. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan. b. Hk. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. b. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. dan penduduk yang bertambah banyak. c.Doc. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . antara orang-orang yang sekutu. yaitu: a./Modul/Fils. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. yang menilik niat bukan di tempatnya . sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. 3. Narotama Surabaya/V/2005 48 sangat penting artinya bagi masyarakat.

Latihan Soal a. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b.Doc./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 49 bentuknya. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. Hk. timbul pandangan hukum adalah keburukan. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. 3. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam./Modul/Fils. c. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya.

Pengantar Filsafat Hukum. Penerbit PT. Penerbit Bhratara.) Muhammad radjab.Doc. (Terj./Modul/Fils. Roscoe. . Gramedia Pustaka Utama. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 50 DAFTAR PUSTAKA Pound./Univ. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta. Jakarta. Darmodiharjo. Darji & Shidarta. 1995. 1996.

keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. Filsafat Hukum. 1. Bagian I. 1 . sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. 2. Dengan perkataan lain. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil.Doc. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. Hk./Univ. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Jakarta. Narotama Surabaya/V/2005 51 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1. yaitu sifat baik. 2./Modul/Fils. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. 1997. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. Memahami bermacam-macam arti keadilan. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. Penerbit PT. Pradnya Paramita.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. halaman 11. Soetiksno.

Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. Op.Doc. b./Univ. 2 . c. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. Keadilan distributif (Distributive Justice). Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. Hk.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus. yaitu: 4 a. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. Jakarta. halaman 154. halaman 29. Narotama Surabaya/V/2005 52 Menurut Plato. 1995. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. Sedang menurut Aristoteles. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice). Gramedia Pustaka Utama. Darji Darmodiharjo & Shidarta. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. b. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Dalam menganalisis keadilan. 1993.. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta. Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. halaman 155.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. Yogyakarta. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia./Modul/Fils. Penerbit PT. 3 Theo Huijbers. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. Cit. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem. Penerbit Kanisius. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya. Keadilan berada di tengah dua ekstrem.

yaitu: a. Selain membagi keadilan menjadi dua. yaitu kepastian hukum. Keadilan Khusus. summa injuria.Doc./Modul/Fils. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . adil atau tidak adil./Univ. Hk. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. summa lex. yaitu: 1) keadilan distributif. b. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. yang dibedakan lagi menjadi 3. 3) keadilan vindikatif. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. Kontribusi Aristoteles berikutnya. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. Keadialan Umum (Justitia Generali). hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. membagi keadilan menjadi 2. summa crux”. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. Narotama Surabaya/V/2005 53 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. Perbedaannya ialah. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. 2) keadilan komutatif.

Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. aspek ini menentukan isi hukum. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. Cit. yaitu: a. Narotama Surabaya/V/2005 54 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. Menurut Radbruch.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. 3. . halaman 162. Op./Univ. Keadilan dalam arti sempit. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. karena ada dasar lain. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. c. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. yakni nilai keadilan. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan.. b. Tujuan keadilan atau finalitas. yaitu dasar hukum sebagai hukum. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. Kepastian hukum atau legalitas./Modul/Fils. Hk. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. 5 Theo Huijbers. hukum diwujudkan dalam satu nilai.Doc. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam.

Doc. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis). maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. Bagaimana pendapat Sdr. Narotama Surabaya/V/2005 55 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut. Yogyakarta. halaman 48. seperti politik. . Latihan Soal a./Modul/Fils. Filsafat Hukum. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya. 4. 1995. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No./Univ. Hk. Penerbit Kanisius.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers.

Yogyakarta. Theo. 1997. . Penerbit Kanisius. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Hk. Filsafat Hukum. Bagian I. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Soetiksno. Darji & Shidarta. Filsafat Hukum. Huijbers. Narotama Surabaya/V/2005 56 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Jakarta./Modul/Fils. Penerbit PT. Jakarta.Doc. 1993. Penerbit Kanisius./Univ. 1995. _________________. Penerbit PT. 1993. Gramedia Pustaka Utama. Yogyakarta. Pradnya Paramita.

Semarang. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. mahasiswa mampu: 1. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. b. 1 . 1997. 2.Doc./Univ. Menjelaskan falsafah hukum nasional. 1. Soehardjo Sastrosoehardjo. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. yaitu:1 a. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. Universitas Diponegoro. Hk. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 57 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. halaman 44.

Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan. Epistemologi. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. atau keturunan. Untuk itu. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. Hk. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. apa hakekat kebenaran./Modul/Fils. kekuasaan.Doc. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. Narotama Surabaya/V/2005 58 c. c. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. dan sebagainya./Univ. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. Pancasila harus tetap terbuka . agama. Aksiologi. Sehubungan dengan itu. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. Ontologi. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . b. sosial. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan.

/Modul/Fils. Hk. 2 . Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. perlu dikembangkan critical mass. 1997. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. 2. 1993. dan eksploratif. kreatif. Dalam suasana yang demikian. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Universitas Diponegoro. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. Penerbit Kanisius. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. Semarang. 3 Theo Hujibers. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern). radikal. halaman 106./Univ. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. halaman 9. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. Narotama Surabaya/V/2005 59 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. Untuk itu. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum.Doc. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya. Yogyakarta.

Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. sosial. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. dan sebagainya. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. ekonomi. Hk. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. Sebagai contoh. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. menurut Notonegoro./Univ. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. kewarganegaraan. Narotama Surabaya/V/2005 60 disebut “Teori Dialektika”. ialah anggota BPUPKI. Pancasila berdasar adat kebiasaan. Causa Formalis Pancasila. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. .Doc. lebih lanjut dikemukakan pula. Causa Finalis. Menurut Hegel pula. yaitu: Pertama. dan sintesis. dilihat dari causa materialis. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. berdasarkan teori causalis. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. Dalam Teorinya. kebudayaan. anti tesis. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik. tetapi juga dalam bidang realitas. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”./Modul/Fils. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia.

/Modul/Fils. dan berkeadilans osial. Narotama Surabaya/V/2005 61 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. Kecuali itu. karena jika dilihat dari isinya. kerakyatan. Dikatakan hirarkis. berkerakyatan. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. Pancasila sebagai pandangan hidup. Selanjutnya. Demikian pula sebagai . dalam hal ini PPKI. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. Hk. dan Keadilan Sosial. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. Persatuan Indonesia. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. berpersatuan. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. keadilan sosial. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya./Univ. Sebaliknya. demikian seterusnya. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. Dengan demikian. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan.Doc. dikatakan piramidal. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. Penjelasan selanjutnya. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan.

karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. c. dan dasar negara. maupun penjelasannya. Kepentingan Umum. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. Kepentingan Masyarakat. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. ideologi negara.Doc. batang tubuh. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. b. yaitu Sociological Jurisprudence. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . yaitu: Positivisme mementingkan logika. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. baik pembukaan./Modul/Fils. Latihan Soal a. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. Kepentingan Individu. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. yaitu: a. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa./Univ. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. 3. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. Hk. Dengan demikian. Pada aliran Positivisme Hukum. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. Narotama Surabaya/V/2005 62 bangsa Indonesia dan warga negara.

Universitas Diponegoro. Narotama Surabaya/V/2005 63 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. Penerbit Kanisius. Universitas Diponegoro. Semarang. Winandi. 1997. Yogyakarta. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Woro & Sri Hartini. 1993 Theo Hujibers. Yogyakarta. Program Pascasarjana Ilmu Hukum./Univ. 1997 ./Modul/Fils. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Penerbit Kanisius. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas.Doc. Semarang. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. 1993. Soehardjo Sastrosoehardjo. Theo. Hk.

Doc./Univ./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 64 . Hk.

tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial.4 I. Hukum tidak hanya rules (logic & rules). Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama./Univ. Sehingga untuk dapat berfilsafat. Hk.(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 4. Poedjawijatna. tetapi juga ada logika-logika yang lain. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. 6. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. Mengetahui pengertian filsafat hukum. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum./Modul/Fils. 4 . terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan filsafat. 4. 1990. Memahami pengertian hukum. yaitu: Filosofia. halaman 1.Doc. Memahami pengertian filsafat. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup. 6. 7. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta. 8. Sesungguhnya. 5. Narotama Surabaya/V/2005 65 Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana.R.

6 I. Op. metode. sehingga terdapat kebenaran. tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia.. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis. Poedjawijatna. lambang dan sebagainya. dan sistematika tertentu. yaitu tentang hakikat Tuhan. Pokok-pokok Filsafat Hukum. Barangkali. sistematis. R. Menurut Poedjawijatna. dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek.Doc. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Objek forma filsafat terdapat pada sudut pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu.5 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. halaman 6-9. yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. Jakarta. Cit. hakikat alam. Narotama Surabaya/V/2005 66 Secara etimologis. objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya. Dari sudut isinya. yaitu ingin dan karena ingin itu. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada./Univ. filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. dan hakikat manusia. Penerbit PT.6 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya. yang tercermin dalam berbagai pepatah. kata “filsafat” berasal dari kata majemuk. terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. 1995. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam. Jadi secara etimologis. rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua. yakni: filo dan sofia. yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia. halaman 4. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu. terlebih-lebih bersifat universal. slogan. jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas. Gramedia Pustaka Utama. 5 ./Modul/Fils. lalu berusaha mencapai yang diingini. Dengan demikian. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu. sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. Bijaksana inipun merupakan kata asing. Hk. yakni objek materia dan objek forma.

dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral). mendasar./Modul/Fils. logika. 8 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Jujun S. etika. jika yang dianalisis nilai. Lain halnya. politik. Sebuah Pengantar Populer. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas. g. Cit. ekonomi. maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi. yaitu spekulatif.. ciri ketiga dari filsafat yang berperan. dan spekulatif. Filsafat Ilmu. 7 . h. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Suriasumantri. Hk. yaitu: menyeluruh. artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah. artinya cara berfikir filsafat tidak sempit. maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. i. senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada.7 Menyeluruh. tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. retorika. Op. jika yang dianalisis hanya fakta saja. dan estetika. Untuk itu. halaman 7. melainkan analisis nilai. Narotama Surabaya/V/2005 67 Jika ditelaah lebih mendalam. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika. 1998. Mendasar.8 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam (contemplation). filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok.Doc./Univ. dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. ada ciri lain yang perlu ditambahkan. antara lain: f. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. Jakarta. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat. Sebab.

halaman 5. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. karena agama merupakan sesuatu yang ada. yaitu metafisika. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. baik dan buruk. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. Di sisi lain. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. 5. dengan kata lain objek filsafat itu ada. Di satu sisi. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat Lili Rasjidi./Univ. dan antropologi. 9 . kebajikan. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. agama. Narotama Surabaya/V/2005 68 j. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. Bandung. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. sedangkan agama berdasarkan wahyu. Dengan kata lain. misalnya: Tuhan. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan./Modul/Fils. 1990. pikiran belaka. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. etika. Penerbit PT. Hk. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat.9 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. dan sebagainya. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. Citra Aditya Bakti.Doc. filsafat berdasarkan pikiran belaka. Pada agama. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu.

Alam dicari . ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. Oleh karena itu. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. Dalam realitas. yang dibedakan menjadi dua: 3) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum./Modul/Fils. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. yang lazim disebut sebagai Theodicea. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. yang terdiri dari: c) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. d) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. 4) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. Segala sesuatunya itu ada. misalnya sifat-sifatnya. kemampuannya. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. Ada menjadi dasar dari segala yang ada. Narotama Surabaya/V/2005 69 dari berbagai penjuru sudut pandang. apabila nanti terdapat ada yang mutlak.Doc. terdapat bermacam-macam hal. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. Dengan demikian. Berdasarkan Objek. Hk. yang hendak dicari sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya. maka harus diselidiki sifat-sifatnya. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. yaitu: b. Jadi./Univ. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum.

apa sifat-sifat pendorong hidup itu. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia./Univ. apakah kemampuan-kemampuannya. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. c)) Filsafat Budi (Logika): . apa pendorong hidupnya. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. yaitu: manusia. seperti: apakah manusia itu sebenarnya. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. apakah hubungannya satu sama lain. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. dan lain-lain./Modul/Fils. Hk.Doc. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. karena ada-nya tidak dengan niscaya. apakah isi alam pada umumnya. apakah sebenarnya itu. Narotama Surabaya/V/2005 70 intinya oleh filsafat inti alam itu. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada.

manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja . sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. dalam bekerjanya budi. jalan pikiran. Hk./Modul/Fils. dan itu dilakukan oleh subjeknya.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 71 Untuk melakukan penyelidikan. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. b. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. yaitu manusia. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. Namun. seperti: pengertian. serta putusan-putusan. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. yaitu: 4) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam./Univ. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal.

theodicea) Alam (filsafat alam. setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. Menurut Subjek: . Jadi. tingkah laku (ethica) Fils. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. 6) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: g. Hk. indah lawan jelek./Univ. dan anthropologia). jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. misalnya: ada yang tinggi dan rendah. 5) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. ada-umum. kosmologia.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 72 semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. baik lawan buruk. budi (logika mayor & minor) h./Modul/Fils. dan sebagainya. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. Sehingga. manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. ontologia. kosmologia) Fils. Oleh karena itu. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). Menurut Objek: Ada-umum (fils. secara garis besar. theodicea.

Bandung. Filsafat Hukum. g. Penerbit Liberty. kaedah kesusilaan. dengan alasan sebagai berikut: f. 11 Sudikno Mertokusumo. Narotama Surabaya/V/2005 73 Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. Suatu Pengantar. Dari segi isi. 1991. ketertiban. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma.Doc. Apakah Hukum Itu?. 1988. Penerbit PT. halaman 5./Modul/Fils. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. agar jangan sampai jatuh korban. Mengenal Hukum./Univ. Hk. Dari segi tujuan. dan kaedah hukum. Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. untuk ketertiban masyarakat. halaman 31. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba.10 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. 10 . dan kesejahteraan. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian.11 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. Yogyakarta. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). Remaja Rosdakarya. Lili Rasjidi. kaedah sopan santun (adat). terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan.

i. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. Cit. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum. pada Zaman Pertengahan. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya. Ketiga. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum.Doc./Univ.. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. Op. halaman 29-30. . 12 Lili Rasjidi. berasal dari masyarakat secara resmi./Modul/Fils. Lex Divina. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai pembentuk hukum. membebani kewajiban dan memberikan hak. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. Narotama Surabaya/V/2005 74 h. pada zaman Romawi. Kedua. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. Lex Naturalis. Tentu saja. Dari segi asal-usul. misalnya saja Thomas Aquino. Hk. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. Pada masa ini. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. Dari segi daya kerja. yaitu:12 Lex Aeterna. termasuk mengatur pemerintahan. Dari segi sanksi. Sebagai contoh pertama. j.

Rasionya. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi. Penerbit PT. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. Dengan kata lain. Citra Aditya Bakti. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. seperti Carl von Savigny dan Puchta. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan definisi dari hukum. halaman 4..Doc. 1988. Dengan demikian. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 75 Di samping itu. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta./Univ. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. halaman 10. Cit. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. 13 . Hk. Jadi. Op. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. 6. Bandung.13 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku.

Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku./Modul/Fils. Sedangkan D. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. 1997. Narotama Surabaya/V/2005 76 J. kebahagiaan. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu.14 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan Soehardjo Sastrosoehardjo.M.J. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat.Doc. J. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. dan tata tertib dalam masyarakat. Sementara itu. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht).H. 14 . halaman 5. Hk. over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara./Univ. Semarang.

Pokok-Pokok Filsafat Hukum. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. 1990. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Hk. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. 1990. . 1997. Soehardjo.. Jujun S. Semarang. Remaja Rosdakarya. Jakarta. Darji & Shidarta. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Universitas Diponegoro. 1995. Bandung. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 1998. I. Jakarta. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum./Univ. Mengenal Hukum. Poedjawijatna. Bandung. Narotama Surabaya/V/2005 77 keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum.Doc. Yogyakarta. Citra Aditya Bakti. Sudikno. Penerbit PT. Mertokusumo. Filsafat Hukum./Modul/Fils. Sebuah Pengantar Populer. Sastrosoehardjo. Apakah Hukum Itu?. Suriasumantri. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Penerbit Rineka Cipta. ________________. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. 1988.R. Lili.. Rasjidi. Penerbit PT. 1991. Dengan kata lain. Penerbit PT. Filsafat Ilmu. Suatu Pengantar. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Penerbit Liberty.

Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. Narotama Surabaya/V/2005 78 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. 6. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. Gramedia Pustaka Utama. sekarang. Socrates. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini. 8. yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. 1995. 1 . Plato. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). dan Aristoteles. Parmenides. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo. Herakleitos (540-475 SM). 6. 7./Modul/Fils. Penerbit PT. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. Jakarta. halaman 70-71. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah./Univ. Hk. antara lain: Anaximander. dan masa depan.Doc. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. Herakleitos.

Narotama Surabaya/V/2005 79 keharusan alam ini. bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). yang ada hanyalah kebenaran subjektif. 2 . Dengan kata lain. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. maka timbullah keadilan (dike). Hk. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. ukuran. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati./Univ. 1993. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya. Tetapi jelas baginya. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. Dalam mempertahankan pendapatnya. halaman 20). Sementara itu.Doc. karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. dan harmoni yang menghasilkan aturan. Logos menciptakan bentuk . Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. Apabila hal ini terjadi./Modul/Fils. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. Penerbit Kanisius. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. Yogyakarta. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap.

yakni hukum alam dan hukum positif. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno)./Univ. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Oleh karena itu. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. Menurut Aristoteles. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri./Modul/Fils. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. sehingga hukum tidak pernah berubah. Menurut Aristoteles. Meskipun demikian. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa. Narotama Surabaya/V/2005 80 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. Oleh karena itu. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). . lenyap dan berlaku dengan sendirinya. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. yakni undang-undang negara. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. Hk. Dari gagasan Aristoteles ini. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. karena hubungannya dengan aturan alam. Misalnya. Aristoteles. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif.Doc.

yang selanjutnya diartikan sebagai rasio.Doc. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. 1990. bukan menurut hukum positif. Citra Aditya Bakti. 7. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. Penerbit PT. Dengan kata lain. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos)./Modul/Fils. Bandung. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. halaman 13. 3 . pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. Oleh karena itu. Narotama Surabaya/V/2005 81 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos./Univ. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. menurut Stoisisme. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). Dalam perkembangannya. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic). sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa.3 dan mulai berkembangnya agama Islam. Hk.

berdirinya negara-negara baru. hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina). 8. Samuel Pufendorf (1632-1694). George Berkeley (1685-1753). rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. . Narotama Surabaya/V/2005 82 Tuhan (Lex Aeterna). Thomasius (1655-1728). Zaman modern ini juga disebut Renaissance. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. dan hukum positif (Lex Positivis). halaman 39. Wolf (1679-1754). Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri./Univ. yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan.Doc. John Locke (1632-1704). Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. Cit./Modul/Fils. ditemukannya dunia-dunia baru..4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. perkembangan teknologi yang sangat pesat. Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. Hk. Francis Bacon (1561-1626). lahirnya segala macam ilmu baru. Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. Montesquieu (1689-1755). Thomas Hobbes (1588-1679). 9. Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini.J. David Hume (17111776). dan Immanuel Kant (1724-1804). antara lain: William Occam (1290-1350). sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. dan sebagainya. Op. Rene Descartes (1596-1650). Rousseau (17121778). J.

Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern./Univ. Menurut Hegel. seperti J. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. Karl Marx (18181883). maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. Schelling (1775-1854). halaman 37. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19. Fichte (1762-1814) dan F. seperti Hobbes.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel.. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme. ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. Hk. Namun. yaitu akan menjadi. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat. Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. seperti Hegel (1770-1831). Menurut teori dialektika Hagel. juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. Narotama Surabaya/V/2005 83 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman.J. Op. Di samping Marx dan Engels. Teorinya disebut Dialektika. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah./Modul/Fils. masih ada beberapa ahli pikir lain.Doc. .F. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. Cit.W.

Descartes Fichte T. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. Latihan Soal 7. . Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. Berkeley D. Yunani (Kuno) Z. Modern Z. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 11. Cit. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 9. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta./Modul/Fils. Bacon Wolf Montesquieu J. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 8.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Herakleitos.Doc.J. Hobbes Schelling J. Hume F. Pertengahan Z. Narotama Surabaya/V/2005 84 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Occam Hegel R. halaman 82. Op./Univ. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 12. Hk.. Rousseau Immanuel Kant 10. Locke von Savigny G. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 10.

Hk. Gramedia Pustaka Utama./Modul/Fils. . Theo. Penerbit PT. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Rasjidi. Narotama Surabaya/V/2005 85 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Jakarta. 1993. 1995. Penerbit Kanisius. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Citra Aditya Bakti. 1990./Univ.Doc. Darji & Shidarta. Yogyakarta. Lili. Penerbit PT. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Bandung. Huijbers.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

86

BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 3. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. 4. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: 2. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum, yaitu: a. Aliran Hukum Alam. b. Aliran Hukum Positif. c. Aliran Utilitarianisme. d. Aliran Sejarah. e. Alian Positivisme. f. Aliran Sociological Jurisprudence. g. Aliran Legal Realism.

3. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab, yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana, antara lain F.S.G. Northrop dan Lili Rasjidi.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran, yaitu: f. Legal Positivism. g. Pragmatic Legal Realism. h. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. i. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. j. Naturalistic Jurisprudence.

Lili Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat Hukum, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti Bandung, 1990, halaman 26-27.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

87

Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar, masing-masing: g. Aliran Hukum Alam: 3) Yang Irrasional. 4) Yang Rasional. h. Aliran Hukum Positif: 3) Analitis. 4) Murni. i. Aliran Utilitarianisme. j. Madzhab Sejarah. k. Sociological Jurisprudence. l. Pragmatic Legal Realism. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain, yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab, yaitu:2 j. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. k. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). l. Aliran Neo Kantianisme. m. Aliran Sejarah. n. Aliran Positivisme. o. Aliran Ajaran Hukum Umum. p. Aliran Sosiologi Hukum. q. Aliran Realisme Hukum. r. Aliran Hukum Bebas. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama, karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum.

Soehardjo Sastrosoehardjo, Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum, Program Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang, 1997, halaman 1.

2

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

88

Dalam tulisan ini, penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi, seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran, Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). Menurut Friedman, aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut, sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran, hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: 2) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino), John Salisbury, Daante, Piere Dubois, Marsilius Padua, dan John Wyclife. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan, yaitu: e) Lex Aeterna, merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. f) Lex Divina, bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. g) Lex Naaturalis, inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. h) Lex Posistivis, hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh

Darji Darmodiharjo & Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1995, halaman 102.

3

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

89

keadaan dunia. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Penulis lain, William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum, dengan penjelasan sebagai berikut: d) Hukum Universal, yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. e) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. f) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian, manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut, sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil, buruk atau jahat dan baik atau jujur. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja, sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. 2) Rasional: Sebaliknya, aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. Tokoh-tokohnya, antara lain: Hugo de Groot (Grotius), Christian Thomasius, Immanuel Kant, dan Samuel Pufendorf. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius), ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan, sehingga rasio

/Univ. Op. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis.Doc. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi). beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze). Hk. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. tidak dogmatis (trancendental). Narotama Surabaya/V/2005 90 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. volition. yaitu cipta. rasa. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. Cit. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. lawan dari filsafat dogmatis. Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis.4 Metode kritis tidak skeptis. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). ../Modul/Fils. dan karsa (thinking. and feeling). Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan. halaman 12.

Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia. yaitu: c) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. . Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin./Univ. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. das ist vernunftig. b. san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. Bagi Hegel. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. Di Inggris. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. das ist wirklich ist. Narotama Surabaya/V/2005 91 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. yaitu Analytical Jurisprudence. Hk. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. demikan juga dengan hukum. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman./Modul/Fils. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. berkembang bentuk yang agak lain. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. antitesa. Jadi.Doc. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara. Austin membagi hukum atas 2 hal. 3) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. and what is real is reasonable). What is reasonable is real.

dan kedaulatan. dalam hukum yang nyata pada point pertama. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. seperti: undang-undang. sosiologi. Idealisme hukum ditolak sama sekali. Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. contoh hak wali terhadap perwaliannya. sanksi. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. etika. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum./Modul/Fils. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. Hk. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. dan sebagainya. Narotama Surabaya/V/2005 92 d) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. sejarah. 4) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. kewajiban. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam./Univ. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. di dalamnya terkandung perintah. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . Menurut ajaran tersebut. Menurut Austin. dan sebagainya.Doc. peraturan pemerintah.

Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. bukan masalah apa yang dikehendaki. h) Teori filsaft hukum adalah ilmu.Doc. bukan karsa dan rasa. Cit. i) Hukum adalah ilmu normatif. Narotama Surabaya/V/2005 93 g) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal. Op. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. seorang murid dari Rudolf von Jhering. etiika atau agama.. . l) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi./Univ. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus./Modul/Fils. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik. masalah cipta. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum. j) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. Hk. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. k) Teori hukum adalah formal. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas. halaman 43.

Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832).q. John Stuart Mill (1806-1873). Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. penundukan hukum. objek hukum. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht).Doc. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut.q. hubungan hukum. dan Rudolf von Jhering (1818-1889). yaitu: subjek hukum. verbinden. menurut hukum (rechtmatigeheid). selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). mengikat. dan melawan hukum./Univ. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan./Modul/Fils. i. Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. hukum kodrat gaya baru. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. kekuasaan hukum. Narotama Surabaya/V/2005 94 norma c. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen). Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. Manusia selalu berusaha . tidak semata-mata pada bentuk hukumnya. secara positif. Hk. dasar hukum.

dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. Pada hakekatnya. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . Dengan kata lain. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. untuk memelihara kegunaan. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. Bagi Jhering. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. j. jikas tidak demikian. Oleh karena itu. Dalam mendefinisikan kepentingan. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. ia mengikuti Bentham. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846)./Modul/Fils. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. Narotama Surabaya/V/2005 95 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. Mill. dan positivisme hukum dari John Austin. ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual.Doc. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain)./Univ. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. Hk.

Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. namun ia akan mati. di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri. 7) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. berkembang bersama dengan rakyat. Hk./Univ. tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. 6) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. . Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . 8) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah./Modul/Fils. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. bilden sich aus mit diesem. Sedang Puchta. Narotama Surabaya/V/2005 96 dibuat.Doc. berupa adat-istiadat. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 4) Langsung. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 5) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya. es wachst mit dem volke vort. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert).

Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara.Doc. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. 6 . Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). 6) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. Lebih lanjut. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. Penerbit Kanisius. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. Yogyakarta. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. Menurut Puchta. Narotama Surabaya/V/2005 97 5) Melalui undang-undang. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht./Univ./Modul/Fils. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. halaman 120-121. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. k. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. Hk. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis. 1993. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. Di lain pihak.

Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum.Doc./Modul/Fils. Hk. Dengan rasio demikian. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. Aliran ini berkembang di Amerika. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. Cit. . Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). Eugen Ehrlich. Kontorowics. Op. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. Gurvitch dan lain-lain. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. Benjamin Cardozo. Sociological jurisprudence.. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. halaman 47. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. Narotama Surabaya/V/2005 98 Pendasar aliran ini./Univ. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. antara lain: Roscoe Pound. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial.

Oliver Wendell Holmes. private as well as public interest). Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. kedua liran tersebut ada kebenarannya. Maksudnya. 7) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. William James dan sebagainya. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 6) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. Sementara itu. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. Narotama Surabaya/V/2005 99 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. Jerome Frank. Karl Llewellyn. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum./Univ. Hk. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman ./Modul/Fils. maka tiap bagiannya harus . Gray. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus.Doc. l. Sebab.

maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau./Univ. 8) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. 7) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata.Doc. 10) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. 6) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. Hk. 8) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- . Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum./Modul/Fils. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 5) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. Narotama Surabaya/V/2005 100 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. Sesuai dengan keyakinan ini. 9) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya.

Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. Penerbit PT. dan moril. hanyalah sebatas persamaan nama saja. yakni wawasan sosiologis. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. Bagi Frank. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). 1997. halaman 77. 8 . yaitu: 3) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat./Modul/Fils. Pradnya Paramita./Univ. “The path of Law” berasal dari Holmes. Jakarta. Bagian I. yakni. ekonomis. simpati maupun antipati pribadi (Frank). Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut.Doc. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. hukum dapat dibagi menjadi dua. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). prasangka politis. Filsafat Hukum. 4) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. Hk. di samping faktor-faktor lain. Narotama Surabaya/V/2005 101 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain.

Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis. halaman 86. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. Latihan Soal 9 Ibid. yaitu Oliverscrona. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak. Narotama Surabaya/V/2005 102 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law). Hk. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah./Univ. . 4. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara.Doc. Lundstedt.. Menureut Friedman. yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross./Modul/Fils. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum.

Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e./Modul/Fils.! f.Doc. Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr. Narotama Surabaya/V/2005 103 a. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b. Hk./Univ. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! .

Soehardjo Sastrosoehardjo. Jakarta. Soetiksno. 1997./Univ. Penerbit Kanisius. Citra Aditya Bakti Bandung. 1993. Darji & Shidarta. Narotama Surabaya/V/2005 104 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Yogyakarta. 1990. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Lili. Rasjidi. Gramedia Pustaka Utama. Pradnya Paramita. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1997. .Doc. halaman. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Bagian I. 1995. Penerbit PT./Modul/Fils. Hk. Semarang. Huijbers. Penerbit PT. Universitas Diponegoro. Penerbit PT. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Filsafat Hukum. Jakarta.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

105

BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. 2. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. 2. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. 3. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern.

2. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological

Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat, memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu, dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu, karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia, dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang

hukum, karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu, maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1

Roscoe Pound, Pengantar Filsafat Hukum, (Terj.) Muhammad radjab, Penerbit Bhratara, Jakarta, 1996, halaman 28-32.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

106

a. Pertama, boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia, misalnya undang-undang Nabi Musa, atau undang-undang Hammurabi, yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun, atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu, Bhrigu namanya, di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. b. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. Sebab manusia primitif, yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam, terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan, dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti, setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat, yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik, boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan, persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta, pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. c. Gagasan ini rapat dengan yang kedua, yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. Jalan yang selamat, atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif, mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

107

d. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft, yang menyatakan sifat benda-benda, dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu.

Demikianlah, gagasan sarjana hukum Romawi, yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi, dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi; dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat, harus diukur, dibentuk, ditafsirkan , dan ditambah oleh yang tigta tadi. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini, konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain, e. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. f. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik, persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum, dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. Sudah

sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. Sangat mungkin dengan teori serupa itu, satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. g. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini; satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan, yang berbeda dengan yang masih dilakukan, yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. Begitulah konsepsi Thomas

rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu./Univ. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. i. atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. h./Modul/Fils. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang. Narotama Surabaya/V/2005 108 Aquino. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. Hk. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif. Menurut anggapan pada masa itu. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain.Doc. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu.

Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar./Univ. j. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. Hk. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan./Modul/Fils. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. atau pada taraf lain. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian.Doc. Di dalam satu bentuk yang idealistis. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. Di dalam betuk Positivistis-Analistis. Narotama Surabaya/V/2005 109 yang tak dapat dielakkan lagi. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. k. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad.

Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 4) Kepentingan Umum (Public Interest). Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. Narotama Surabaya/V/2005 110 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. Untuk itu. yang ditemukan oleh pengamatan. 2 . Penerbit PT./Modul/Fils. yang dapat ditemukan oleh pengamatan. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. dan bukan lagi dasar metafisik. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. halaman 129130. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”./Univ. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Gramedia Pustaka Utama. 1995. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi.Doc. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. Hk. l.

g) perlindungan lembaga-lembaga sosial. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. sehingga membuat pembentuk undng-undang. yaitu: Pertama. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. f) kepentingan hak milik. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu./Modul/Fils. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. h) pencegahan kemerosotan akhlak. e) kepentingan keluarga. 5) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): f) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. tujuan hukum yang demikian ini . dilihat dari hal tersebut. i) pencegahan pelanggaran hak./Univ. pengacara. d) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. Kedua. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. 6) Kepentingan Pribadi (Private Recht): d) kepentingan individu. d. Hk. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. Dengan kata lain. Oleh karena itu. 2. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. hakim.Doc. j) kesejahteraan sosial. Narotama Surabaya/V/2005 111 c) kepentingan negara sebagai badan hukum.

yang menilik niat bukan di tempatnya . antara orang-orang yang sekutu. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. Hk. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. yaitu: d./Univ. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan. e. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. f. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. 3. e./Modul/Fils. Oleh karena itu. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . Narotama Surabaya/V/2005 112 sangat penting artinya bagi masyarakat. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi.Doc. hukum dibentuk. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. dan penduduk yang bertambah banyak. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya.

timbul pandangan hukum adalah keburukan. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c. Latihan Soal a. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum./Univ.Doc. f. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . Narotama Surabaya/V/2005 113 bentuknya. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b. 3. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam./Modul/Fils. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. Hk. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang.

Roscoe. Narotama Surabaya/V/2005 114 DAFTAR PUSTAKA Pound. Pengantar Filsafat Hukum./Univ. 1995.) Muhammad radjab. Penerbit PT. . Penerbit Bhratara. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Jakarta. Hk. 1996. Darmodiharjo./Modul/Fils. Jakarta. Darji & Shidarta.Doc. (Terj. Gramedia Pustaka Utama. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia.

Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. Penerbit PT. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. 1 . Soetiksno. 1997. halaman 11. 4./Modul/Fils. 2. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum.Doc. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. 2. Dengan perkataan lain./Univ. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. Hk. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. Bagian I. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. yaitu sifat baik. Memahami bermacam-macam arti keadilan. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 3. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. Filsafat Hukum. Jakarta. Pradnya Paramita. Narotama Surabaya/V/2005 115 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1.

terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum./Modul/Fils. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. Hk. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. 3 Theo Huijbers. halaman 29. Cit. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus. Op. Pokok-Pokok Filsafat Hukum.Doc. yaitu: 4 c. Darji Darmodiharjo & Shidarta. Yogyakarta. halaman 155. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu./Univ. Keadilan distributif (Distributive Justice). 2 . Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Dalam menganalisis keadilan. Keadilan berada di tengah dua ekstrem. Jakarta. 1995. halaman 154. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice). Sedang menurut Aristoteles. Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. Narotama Surabaya/V/2005 116 Menurut Plato. Penerbit Kanisius. d. Gramedia Pustaka Utama. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. Penerbit PT. b. c. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya. 1993. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain.. Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem.

yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. Keadilan Khusus. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. Narotama Surabaya/V/2005 117 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. summa injuria. 5) keadilan komutatif. Hk. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. summa lex. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. 6) keadilan vindikatif./Modul/Fils. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. yaitu: 4) keadilan distributif. Kontribusi Aristoteles berikutnya. yang dibedakan lagi menjadi 3. yaitu kepastian hukum. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. yaitu: c. summa crux”. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. Keadialan Umum (Justitia Generali). Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. d. adil atau tidak adil. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . Perbedaannya ialah. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity)./Univ. membagi keadilan menjadi 2. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. Selain membagi keadilan menjadi dua.Doc.

3./Univ. aspek ini menentukan isi hukum. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. b. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. hukum diwujudkan dalam satu nilai. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. Hk. 5 Theo Huijbers. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. c. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. yaitu: a. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 118 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. yakni nilai keadilan.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. . Cit. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. karena ada dasar lain. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. Menurut Radbruch.. Kepastian hukum atau legalitas. Op. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. yaitu dasar hukum sebagai hukum. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. Keadilan dalam arti sempit. Tujuan keadilan atau finalitas. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga./Modul/Fils. halaman 162. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan.

kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. 1995. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. . Narotama Surabaya/V/2005 119 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No. halaman 48./Univ. 4. Hk. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. Yogyakarta. Filsafat Hukum. Penerbit Kanisius. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis). Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. Bagaimana pendapat Sdr. dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya./Modul/Fils. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. seperti politik. Latihan Soal a.Doc.

Filsafat Hukum. _________________. Theo. 1995. Yogyakarta. Soetiksno.Doc. . Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Darji & Shidarta. Penerbit PT. Bagian I. Yogyakarta. Filsafat Hukum./Univ. 1997. Jakarta. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Pradnya Paramita. 1993. Huijbers. Narotama Surabaya/V/2005 120 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo./Modul/Fils. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Penerbit Kanisius. Jakarta. 1993. Penerbit Kanisius. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Hk.

4. Universitas Diponegoro. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. mahasiswa mampu: 1. halaman 44. Hk. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. Semarang. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. Soehardjo Sastrosoehardjo. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. 1997. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. yaitu:1 a. Narotama Surabaya/V/2005 121 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini. 1 . Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila.Doc. Menjelaskan falsafah hukum nasional./Modul/Fils. b. 2./Univ. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa.

meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. Pancasila harus tetap terbuka . melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. Epistemologi.Doc. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. Untuk itu. c. agama. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan./Univ./Modul/Fils. Sehubungan dengan itu. apa hakekat kebenaran. atau keturunan. dan sebagainya. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. kekuasaan. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Hk. Ontologi. b. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . sosial. Narotama Surabaya/V/2005 122 c. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. Aksiologi. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum.

Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. Semarang./Modul/Fils. dan eksploratif. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. halaman 106. Narotama Surabaya/V/2005 123 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. halaman 9.Doc. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Universitas Diponegoro.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern). Penerbit Kanisius. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional. radikal. 5. Dalam suasana yang demikian. 2 . Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Program Pascasarjana Ilmu Hukum.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. 1993. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. Hk. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. Yogyakarta. perlu dikembangkan critical mass. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis./Univ. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. Untuk itu. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. 1997. kreatif. 3 Theo Hujibers.

/Modul/Fils. lebih lanjut dikemukakan pula. Menurut Hegel pula. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. ekonomi. . yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. Causa Finalis. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik. kewarganegaraan. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. Narotama Surabaya/V/2005 124 disebut “Teori Dialektika”. Hk. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. dilihat dari causa materialis. kebudayaan. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. dan sebagainya. sosial. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi./Univ. Pancasila berdasar adat kebiasaan. yaitu: Pertama. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. Sebagai contoh. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. berdasarkan teori causalis. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. anti tesis. dan sintesis. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. menurut Notonegoro. tetapi juga dalam bidang realitas. Causa Formalis Pancasila. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia.Doc. Dalam Teorinya. ialah anggota BPUPKI.

Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. dalam hal ini PPKI. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. berkerakyatan. kerakyatan. Demikian pula sebagai . Narotama Surabaya/V/2005 125 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. Pancasila sebagai pandangan hidup. karena jika dilihat dari isinya. dan Keadilan Sosial. dikatakan piramidal. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. berpersatuan. Kecuali itu. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan.Doc. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. Penjelasan selanjutnya. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal./Univ. dan berkeadilans osial. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. Dengan demikian. Hk./Modul/Fils. Persatuan Indonesia. Dikatakan hirarkis. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. Selanjutnya. Sebaliknya. keadilan sosial. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. demikian seterusnya. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan.

batang tubuh. Latihan Soal a. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah. Hk. 6. ideologi negara. yaitu Sociological Jurisprudence. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. baik pembukaan. f. e. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. Narotama Surabaya/V/2005 126 bangsa Indonesia dan warga negara. Pada aliran Positivisme Hukum. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa./Modul/Fils. maupun penjelasannya. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. Kepentingan Masyarakat. dan dasar negara.Doc. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. yaitu: Positivisme mementingkan logika. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. yaitu: d. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur./Univ. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. Dengan demikian. Kepentingan Umum. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. Kepentingan Individu.

/Univ. Theo. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. 1993. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Soehardjo Sastrosoehardjo. Narotama Surabaya/V/2005 127 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. Semarang. Universitas Diponegoro. 1993 Theo Hujibers. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. 1997 . 1997. Universitas Diponegoro.Doc. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Semarang. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Winandi. Yogyakarta./Modul/Fils. Woro & Sri Hartini. Hk. Penerbit Kanisius.

Doc. Narotama Surabaya/V/2005 128 ./Univ./Modul/Fils. Hk.