Doc./Modul/Fils. Hk./Univ.

Narotama Surabaya/V/2005

1

Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Hukum tidak hanya rules (logic & rules), tetapi juga ada logika-logika yang lain. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup, tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum,(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM

Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami pengertian filsafat. 2. Memahami pengertian hukum. 3. Mengetahui pengertian filsafat hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. 2. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. 3. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. 4. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana.

1. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. Sehingga untuk dapat berfilsafat, terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

2

filsafat. Sesungguhnya, istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani, yaitu: Filosofia.1 Secara etimologis, kata “filsafat” berasal dari kata majemuk, yakni: filo dan sofia. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin itu, lalu berusaha mencapai yang diingini. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Bijaksana inipun merupakan kata asing, yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. Jadi secara etimologis, filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. Dengan demikian, rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. Dari sudut isinya, terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia, yang tercermin dalam berbagai pepatah, slogan, lambang dan sebagainya. 2 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek, metode, dan sistematika tertentu, terlebih-lebih bersifat universal. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu, yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. Menurut Poedjawijatna, objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua, yakni objek materia dan objek forma. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu, sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu tentang hakikat Tuhan, hakikat alam, dan hakikat manusia. Barangkali, objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya, tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Objek forma filsafat terdapat pada sudut

I.R. Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1990, halaman 1. 2 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995, halaman 4.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

3

pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu, sehingga terdapat kebenaran, jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas.3 Jika ditelaah lebih mendalam, filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok, yaitu: menyeluruh, mendasar, dan spekulatif.4 Menyeluruh, artinya cara berfikir filsafat tidak sempit, dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral), senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. Mendasar, artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. Untuk itu, ciri ketiga dari filsafat yang berperan, yaitu spekulatif. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan, tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas, ada ciri lain yang perlu ditambahkan, yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat.5 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam

(contemplation). Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja, melainkan analisis nilai. Sebab, jika yang dianalisis hanya fakta saja, maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi, dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. Lain halnya, jika yang dianalisis nilai, maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat, antara lain: a. b. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.

I. R. Poedjawijatna, Op. Cit., halaman 6-9. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Penerbit Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1998. 5 Darji Darmodiharjo & Shidarta, Op. Cit., halaman 7.
4

3

Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. Pada agama. agama. Di satu sisi. baik dan buruk. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. Dengan kata lain. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. Narotama Surabaya/V/2005 4 c. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. 1990. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. misalnya: Tuhan. yaitu metafisika. filsafat berdasarkan pikiran belaka. Bandung. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. kebajikan. halaman 5. etika. pikiran belaka. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. Citra Aditya Bakti. d. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. e. Penerbit PT. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. dan sebagainya.Doc. 6 ./Univ. dan antropologi. sedangkan agama berdasarkan wahyu. Hk.6 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Lili Rasjidi. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan./Modul/Fils. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. Di sisi lain. karena agama merupakan sesuatu yang ada.

Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. yang lazim disebut sebagai Theodicea. misalnya sifat-sifatnya. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. Berdasarkan Objek.Doc. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. yaitu: a. Oleh karena itu. Segala sesuatunya itu ada./Univ. Hk. Jadi. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Narotama Surabaya/V/2005 5 2. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. Dengan demikian. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. terdapat bermacam-macam hal. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. Ada menjadi dasar dari segala yang ada. maka harus diselidiki sifat-sifatnya. yang terdiri dari: a) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. b) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. yang dibedakan menjadi dua: 1) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. Dalam realitas. yang hendak dicari . Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar./Modul/Fils. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. dengan kata lain objek filsafat itu ada. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat dari berbagai penjuru sudut pandang. kemampuannya. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. 2) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus).

apa pendorong hidupnya. seperti: apakah manusia itu sebenarnya./Modul/Fils. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. apakah kemampuan-kemampuannya. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. Alam dicari intinya oleh filsafat inti alam itu.Doc. dan lain-lain. apakah isi alam pada umumnya. Hk. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia./Univ. karena ada-nya tidak dengan niscaya. apa sifat-sifat pendorong hidup itu. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur . 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. apakah hubungannya satu sama lain. apakah sebenarnya itu. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak. yaitu: manusia. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada. Narotama Surabaya/V/2005 6 sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia.

seperti: pengertian. dan itu dilakukan oleh subjeknya. yaitu: 1) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya./Univ. b. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha . manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. Hk. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. Namun. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. dalam bekerjanya budi. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. yaitu manusia. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. c)) Filsafat Budi (Logika): Untuk melakukan penyelidikan. serta putusan-putusan. Narotama Surabaya/V/2005 7 yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika)./Modul/Fils. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. jalan pikiran. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain.Doc.

misalnya: ada yang tinggi dan rendah. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. secara garis besar. 2) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. Sehingga. tingkah laku (ethica) . kosmologia) Fils. ada-umum. Jadi. Oleh karena itu. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. Narotama Surabaya/V/2005 8 kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. theodicea. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). theodicea) Alam (filsafat alam. manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak./Modul/Fils. 3) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. kosmologia. Hk./Univ.Doc. baik lawan buruk. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: a. setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. ontologia. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. dan anthropologia). indah lawan jelek. Menurut Objek: Ada-umum (fils. dan sebagainya.

Bandung. Mengenal Hukum. Remaja Rosdakarya. kaedah sopan santun (adat). Apakah Hukum Itu?. dan kesejahteraan. Menurut Subjek: Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan. kaedah kesusilaan. dengan alasan sebagai berikut: Lili Rasjidi. ketertiban. Suatu Pengantar. Penerbit PT.8 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. dan kaedah hukum. Hk. halaman 5. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). Penerbit Liberty. Filsafat Hukum. 8 Sudikno Mertokusumo. Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. Yogyakarta./Univ. 7 . Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. 1991. 1988.7 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. budi (logika mayor & minor) b. halaman 31./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 9 Fils. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba.Doc.

pada Zaman Pertengahan. e. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. d. Dari segi isi. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. Cit. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. yaitu:9 Lex Aeterna. membebani kewajiban dan memberikan hak. Hk. Tentu saja. Ketiga. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. Narotama Surabaya/V/2005 10 a. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai 9 Lili Rasjidi. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. Dari segi asal-usul. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. termasuk mengatur pemerintahan. Sebagai contoh pertama. Op. Lex Naturalis. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut./Modul/Fils./Univ. Dari segi tujuan. berasal dari masyarakat secara resmi. agar jangan sampai jatuh korban. . berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. halaman 29-30.. Lex Divina. misalnya saja Thomas Aquino. untuk ketertiban masyarakat.Doc. Dari segi daya kerja. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum. Kedua. b. pada zaman Romawi. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. Dari segi sanksi. c.

. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies. Cit. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta. Pada masa ini. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. halaman 4. Dengan demikian. Hk. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum./Univ.Doc.10 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat./Modul/Fils. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. halaman 10. Rasionya. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. Dengan kata lain. Jadi. Op. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya. Citra Aditya Bakti. Di samping itu. Penerbit PT. seperti Carl von Savigny dan Puchta. 1988. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi. Narotama Surabaya/V/2005 11 pembentuk hukum. 3. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. 10 . Bandung. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia.

Sedangkan D. Hk. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht). Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu.M. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa. 1997.11 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar Soehardjo Sastrosoehardjo./Modul/Fils. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. halaman 5. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. kebahagiaan. 11 . J. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum. over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum.H. J. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku./Univ.Doc. Semarang. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen.J. Sementara itu. Narotama Surabaya/V/2005 12 definisi dari hukum. dan tata tertib dalam masyarakat.

/Modul/Fils. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Narotama Surabaya/V/2005 13 tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. Jujun S. 1990. Penerbit Pustaka Sinar Harapan./Univ. Lili. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum. Semarang. Mertokusumo. Dengan kata lain. Sudikno. Soehardjo.Doc. Jakarta. Citra Aditya Bakti. Filsafat Hukum. Penerbit PT. Filsafat Ilmu. Penerbit PT. 1997.R. . Penerbit Liberty. Bandung. Bandung. 1998. Jakarta. 1991. Penerbit PT. Poedjawijatna. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Penerbit Rineka Cipta.. Mengenal Hukum.. Remaja Rosdakarya. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. 1995. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Hk. Gramedia Pustaka Utama. Apakah Hukum Itu?. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. 1988. Suatu Pengantar. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. ________________. Darji & Shidarta. Suriasumantri. Yogyakarta. I. 1990. Sebuah Pengantar Populer. Sastrosoehardjo. Universitas Diponegoro. Jakarta. Rasjidi. Pokok-Pokok Filsafat Hukum.

yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo. Plato. Gramedia Pustaka Utama.Doc. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. 2. 1. dan masa depan. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). Herakleitos. 4./Modul/Fils. 1995. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). 3. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. 1 . Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. Jakarta. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. dan Aristoteles. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. halaman 70-71./Univ. Herakleitos (540-475 SM). Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. antara lain: Anaximander. Parmenides. Hk. Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. sekarang. Narotama Surabaya/V/2005 14 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). Penerbit PT. Socrates.

Yogyakarta. Dengan kata lain. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. Dalam mempertahankan pendapatnya. Tetapi jelas baginya. Penerbit Kanisius. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. 1993. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. 2 . ukuran. bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. Logos menciptakan bentuk ./Modul/Fils. Sementara itu. karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada. Narotama Surabaya/V/2005 15 keharusan alam ini. halaman 20). yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. maka timbullah keadilan (dike). Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya./Univ. Apabila hal ini terjadi. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia.Doc. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. dan harmoni yang menghasilkan aturan. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum. Hk. Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati.

yakni undang-undang negara. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. Dari gagasan Aristoteles ini. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). Menurut Aristoteles. Oleh karena itu. Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. karena hubungannya dengan aturan alam. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Hk. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. Menurut Aristoteles. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. Meskipun demikian. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. yakni hukum alam dan hukum positif. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua.Doc. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno). Narotama Surabaya/V/2005 16 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. Aristoteles. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana./Univ. sehingga hukum tidak pernah berubah. lenyap dan berlaku dengan sendirinya. Oleh karena itu. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. Misalnya./Modul/Fils. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. .

Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). Citra Aditya Bakti. Dalam perkembangannya. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic). yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. menurut Stoisisme. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. bukan menurut hukum positif. Hk. Dasar-Dasar Filsafat Hukum./Univ. halaman 13. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. Penerbit PT. 1990. Narotama Surabaya/V/2005 17 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. Dengan kata lain. 2. 3 . Oleh karena itu. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa. Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini./Modul/Fils.Doc. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. Bandung.3 dan mulai berkembangnya agama Islam. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya.

Francis Bacon (1561-1626).J.Doc. 4. Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. Zaman modern ini juga disebut Renaissance. antara lain: William Occam (1290-1350). hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina). lahirnya segala macam ilmu baru. Thomas Hobbes (1588-1679). perkembangan teknologi yang sangat pesat. Rousseau (17121778). Narotama Surabaya/V/2005 18 Tuhan (Lex Aeterna). John Locke (1632-1704). dan sebagainya. Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. Montesquieu (1689-1755). Samuel Pufendorf (1632-1694). Cit. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers.. Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. dan hukum positif (Lex Positivis). Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. dan Immanuel Kant (1724-1804).4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. David Hume (17111776). Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. George Berkeley (1685-1753). Thomasius (1655-1728). ditemukannya dunia-dunia baru. yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). Op. J. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri. Wolf (1679-1754)./Univ. halaman 39. Rene Descartes (1596-1650)./Modul/Fils. Hk. . 3. berdirinya negara-negara baru.

Narotama Surabaya/V/2005 19 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19. Menurut Hegel.W. masih ada beberapa ahli pikir lain. Schelling (1775-1854). Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme./Univ. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya.F.. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern. Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. . juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi.J. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. seperti Hobbes. Namun.Doc. Hk. Menurut teori dialektika Hagel./Modul/Fils. halaman 37. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. seperti J. Op. Di samping Marx dan Engels. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19. Fichte (1762-1814) dan F. Teorinya disebut Dialektika. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. seperti Hegel (1770-1831). ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. yaitu akan menjadi. Karl Marx (18181883). Cit.

Locke von Savigny G. Occam Hegel R. Bacon Wolf Montesquieu J. Hk. Pertengahan Z.Doc. Herakleitos. . Modern Z.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 5. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 4./Univ. Hume F. Rousseau Immanuel Kant 5. Descartes Fichte T. Berkeley D. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Latihan Soal 1. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 3. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah. Hobbes Schelling J. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 2. Op. Narotama Surabaya/V/2005 20 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum.. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 6./Modul/Fils. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. halaman 82. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. Yunani (Kuno) Z.J. Cit.

Bandung.Doc. Yogyakarta./Modul/Fils. Theo. Citra Aditya Bakti. Huijbers. ./Univ. Rasjidi. Darji & Shidarta. 1993. Gramedia Pustaka Utama. 1990. Narotama Surabaya/V/2005 21 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Penerbit PT. Jakarta. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Lili. 1995. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Penerbit Kanisius. Hk. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Penerbit PT.

Aliran Hukum Positif. 1 . b.G. Naturalistic Jurisprudence. yaitu: a. Hk. d. Aliran Legal Realism. Alian Positivisme. Narotama Surabaya/V/2005 22 BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 1. 2./Univ. Pragmatic Legal Realism. e. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab. halaman 26-27. Aliran Sociological Jurisprudence.Doc. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Aliran Utilitarianisme. yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. c.S. Northrop dan Lili Rasjidi./Modul/Fils. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. e. b. 1. f. c. Tujuan Instruksional Khusus: 1. antara lain F. yaitu: a. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. g. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. Aliran Sejarah. Legal Positivism. Penerbit PT. 1990. Citra Aditya Bakti Bandung. Lili Rasjidi.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran. Aliran Hukum Alam. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. d.

Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. Aliran Utilitarianisme.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 23 Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar. c. d. Madzhab Sejarah. 2) Murni. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain./Univ. i. c. g. halaman 1. Sociological Jurisprudence. Universitas Diponegoro. Aliran Sejarah. e. h. f. b. 1997. Aliran Sosiologi Hukum. masing-masing: a. b. Aliran Hukum Alam: 1) Yang Irrasional. yaitu:2 a. Semarang. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Aliran Neo Kantianisme. 2) Yang Rasional. Hk. yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. f. karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum. d. Aliran Hukum Bebas. 2 . e. Aliran Realisme Hukum. Soehardjo Sastrosoehardjo. Aliran Ajaran Hukum Umum. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). Aliran Hukum Positif: 1) Analitis. Pragmatic Legal Realism. Aliran Positivisme./Modul/Fils.

halaman 102. John Salisbury. Penerbit PT. c) Lex Naaturalis. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia.Doc./Univ. hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. Marsilius Padua. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua). aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut. Narotama Surabaya/V/2005 24 Dalam tulisan ini. 3 . bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. Menurut Friedman. Daante. Piere Dubois. b) Lex Divina. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino).3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. d) Lex Posistivis. merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. yaitu: 1) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. 1995. inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. Jakarta./Modul/Fils. hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh Darji Darmodiharjo & Shidarta. Hk. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan. Gramedia Pustaka Utama. dan John Wyclife. penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi. sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi. seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). yaitu: a) Lex Aeterna.

William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Christian Thomasius. sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil. Hk. ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan.Doc. dan Samuel Pufendorf. Penulis lain. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja. yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. buruk atau jahat dan baik atau jujur./Univ. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut. Immanuel Kant. sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 25 keadaan dunia. aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. sehingga rasio . Tokoh-tokohnya. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. b) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. dengan penjelasan sebagai berikut: a) Hukum Universal. manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. c) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. antara lain: Hugo de Groot (Grotius). Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius). 1) Rasional: Sebaliknya. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam.

Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo. Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. tidak dogmatis (trancendental). yaitu cipta. halaman 12. lawan dari filsafat dogmatis. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum./Modul/Fils.4 Metode kritis tidak skeptis. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas).Doc. Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya. Narotama Surabaya/V/2005 26 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan.. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi). Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis. rasa. Op. and feeling)./Univ. Cit. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). volition. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan. Hk. beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze). dan karsa (thinking. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. .

Bagi Hegel. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara./Univ. san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. yaitu Analytical Jurisprudence. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. demikan juga dengan hukum. Jadi. Di Inggris. and what is real is reasonable). Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 27 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist./Modul/Fils. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak.Doc. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. b. das ist vernunftig. berkembang bentuk yang agak lain. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. das ist wirklich ist. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. . Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. antitesa. What is reasonable is real. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. yaitu: a) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. Austin membagi hukum atas 2 hal. 1) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme.

contoh hak wali terhadap perwaliannya. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. seperti: undang-undang. etika. 2) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. peraturan pemerintah. Menurut Austin. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. dan kedaulatan. dalam hukum yang nyata pada point pertama. dan sebagainya. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. kewajiban. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. Idealisme hukum ditolak sama sekali. Hk.Doc. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. dan sebagainya. Narotama Surabaya/V/2005 28 b) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma./Univ. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. sejarah. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. sosiologi. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. di dalamnya terkandung perintah. Menurut ajaran tersebut. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. sanksi. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya./Modul/Fils.

demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. c) Hukum adalah ilmu normatif. bukan masalah apa yang dikehendaki. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik.. seorang murid dari Rudolf von Jhering. . Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal. d) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum./Univ. f) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya./Modul/Fils. bukan karsa dan rasa. halaman 43. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. Narotama Surabaya/V/2005 29 a) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi. e) Teori hukum adalah formal. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu.Doc. Op. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. b) Teori filsaft hukum adalah ilmu. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum. masalah cipta. Hk. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi. Cit. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas. etiika atau agama.

Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). Narotama Surabaya/V/2005 30 norma c. menurut hukum (rechtmatigeheid). berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen.Doc. penundukan hukum. verbinden. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. hukum kodrat gaya baru. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen). Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. mengikat. dan Rudolf von Jhering (1818-1889). Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). secara positif. meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. Hk. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi.q. kekuasaan hukum. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. tidak semata-mata pada bentuk hukumnya. hubungan hukum. c. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht)./Univ. dasar hukum. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. Manusia selalu berusaha . dan melawan hukum. John Stuart Mill (1806-1873).q./Modul/Fils. maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut. tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. yaitu: subjek hukum. objek hukum.

Mill. Dalam mendefinisikan kepentingan./Modul/Fils. ia mengikuti Bentham. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. Bagi Jhering. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. Dengan kata lain. Pada hakekatnya. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. d. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. Oleh karena itu. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 31 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. untuk memelihara kegunaan.Doc. dan positivisme hukum dari John Austin. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). jikas tidak demikian./Univ. ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis.

berupa adat-istiadat. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. 3) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. es wachst mit dem volke vort. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. berkembang bersama dengan rakyat. namun ia akan mati. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. 4) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. . manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 1) Langsung. 2) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja.Doc. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis./Univ. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya./Modul/Fils. Hk. Sedang Puchta. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 1) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. Narotama Surabaya/V/2005 32 dibuat. tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. bilden sich aus mit diesem. di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri.

Doc. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara)./Univ. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis./Modul/Fils. 6 . keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 3) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. e. Lebih lanjut. Menurut Puchta. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. Hk. Di lain pihak. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. Penerbit Kanisius. halaman 120-121. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. Yogyakarta. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. Narotama Surabaya/V/2005 33 2) Melalui undang-undang. 1993. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum.

antara lain: Roscoe Pound. Eugen Ehrlich. Gurvitch dan lain-lain. Sociological jurisprudence./Univ. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. Hk. Kontorowics. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial./Modul/Fils. Op. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. . Aliran ini berkembang di Amerika. halaman 47. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. Cit.Doc.. Narotama Surabaya/V/2005 34 Pendasar aliran ini. Dengan rasio demikian. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. Benjamin Cardozo. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya.

/Modul/Fils. kedua liran tersebut ada kebenarannya./Univ. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. private as well as public interest). Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. Gray. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. William James dan sebagainya. Sementara itu. Narotama Surabaya/V/2005 35 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum.Doc. Maksudnya. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman . maka tiap bagiannya harus . Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. Jerome Frank. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. Hk. f. Oliver Wendell Holmes. Karl Llewellyn. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. 2) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. Sebab.

5) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya./Modul/Fils. 2) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. 3) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. 4) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- . Narotama Surabaya/V/2005 36 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau. Sesuai dengan keyakinan ini. Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. 3) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata.Doc. 4) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya./Univ. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 1) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. Hk.

hanyalah sebatas persamaan nama saja./Modul/Fils. Bagi Frank. yakni wawasan sosiologis.Doc. di samping faktor-faktor lain. Narotama Surabaya/V/2005 37 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. Jakarta. 1997. “The path of Law” berasal dari Holmes. ekonomis. Filsafat Hukum. halaman 77. yaitu: 1) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. 2) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. Penerbit PT. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim./Univ. 8 . prasangka politis. Bagian I. yakni. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). Pradnya Paramita. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). hukum dapat dibagi menjadi dua. simpati maupun antipati pribadi (Frank). Hk. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. dan moril.

Hk./Univ.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. 2. yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. Latihan Soal 9 Ibid. Lundstedt. . grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa. halaman 86./Modul/Fils. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 38 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law). Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. yaitu Oliverscrona. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak.. Menureut Friedman. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme.

/Univ. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr. Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4.Doc./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 39 a. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! . Hk. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b.! f. Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e.

Pradnya Paramita. Filsafat Hukum. Rasjidi. . 1997. Penerbit PT. Soehardjo Sastrosoehardjo. Semarang. 1997. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. halaman. Lili. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Yogyakarta. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Bagian I. Darji & Shidarta. Hk.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 40 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Citra Aditya Bakti Bandung./Modul/Fils. Gramedia Pustaka Utama. 1990. Penerbit PT. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Universitas Diponegoro. Penerbit PT. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Penerbit Kanisius. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Huijbers. 1993./Univ. Soetiksno. 1995. Jakarta. Jakarta.

/Univ. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu. Tujuan Instruksional Khusus: 1. 1 . memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. (Terj. Penerbit Bhratara.) Muhammad radjab. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional./Modul/Fils. 2. maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis.Doc. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. Jakarta. Hk. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang hukum. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1 Roscoe Pound. halaman 28-32. dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. 1996. karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu. Narotama Surabaya/V/2005 41 BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. 3. 1. Pengantar Filsafat Hukum. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern. dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu. 2. karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia.

Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi. c. setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. misalnya undang-undang Nabi Musa. atau undang-undang Hammurabi. mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu. yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. Hk. terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti. . Jalan yang selamat. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif.Doc. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 42 a. persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta. Gagasan ini rapat dengan yang kedua. Sebab manusia primitif. b. yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan. yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam./Modul/Fils. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik. di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. Bhrigu namanya. yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. Pertama. boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia.

dibentuk. Hk. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik. ditafsirkan . g. dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat. satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. dan ditambah oleh yang tigta tadi. konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain. f. yang berbeda dengan yang masih dilakukan. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft. dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. yang menyatakan sifat benda-benda. dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu. Sangat mungkin dengan teori serupa itu. yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi. dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi. persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya.Doc. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum. satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan. Narotama Surabaya/V/2005 43 d. gagasan sarjana hukum Romawi. Sudah sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena./Univ. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini./Modul/Fils. Begitulah konsepsi Thomas . e. harus diukur. Demikianlah. yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia.

Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. Menurut anggapan pada masa itu./Modul/Fils. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot. atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Narotama Surabaya/V/2005 44 Aquino. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. h. i. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya./Univ. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah.Doc. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang. Hk. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif.

j. Di dalam betuk Positivistis-Analistis./Modul/Fils. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . atau pada taraf lain. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. Narotama Surabaya/V/2005 45 yang tak dapat dielakkan lagi. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. Hk. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar. satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri.Doc. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan./Univ. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. k. Di dalam satu bentuk yang idealistis.

Jakarta. dan bukan lagi dasar metafisik. yang dapat ditemukan oleh pengamatan.Doc. l. Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. Gramedia Pustaka Utama. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1995. halaman 129130. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. Narotama Surabaya/V/2005 46 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. Untuk itu. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. yang ditemukan oleh pengamatan. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 1) Kepentingan Umum (Public Interest). Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum./Univ. Hk./Modul/Fils. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Penerbit PT. 2 . Pokok-Pokok Filsafat Hukum.

d) pencegahan pelanggaran hak. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. Kedua. yaitu: Pertama./Modul/Fils. 2. dilihat dari hal tersebut. 2) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): a) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. tujuan hukum yang demikian ini . e) kesejahteraan sosial. Hk. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. b) perlindungan lembaga-lembaga sosial. Oleh karena itu. hakim. Narotama Surabaya/V/2005 47 a) kepentingan negara sebagai badan hukum. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. sehingga membuat pembentuk undng-undang. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. 3) Kepentingan Pribadi (Private Recht): a) kepentingan individu. b) kepentingan keluarga./Univ. pengacara. Dengan kata lain. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. b) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. c) pencegahan kemerosotan akhlak. c) kepentingan hak milik. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya.Doc. a. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar.

Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi. antara orang-orang yang sekutu. Oleh karena itu. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 48 sangat penting artinya bagi masyarakat. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul.Doc./Univ. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat. b. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. yang menilik niat bukan di tempatnya . sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan. hukum dibentuk. Hk. dan penduduk yang bertambah banyak. b. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan. 3. yaitu: a. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. c.

Doc. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam. Hk./Univ. c. 3. Latihan Soal a./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 49 bentuknya. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. timbul pandangan hukum adalah keburukan. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? .

Roscoe./Univ. Gramedia Pustaka Utama. (Terj. . Penerbit PT. Pokok-Pokok Filsafat Hukum.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 50 DAFTAR PUSTAKA Pound. 1996. Darji & Shidarta. Darmodiharjo. Hk. Pengantar Filsafat Hukum./Modul/Fils. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta. Penerbit Bhratara. Jakarta.) Muhammad radjab. 1995.

Soetiksno. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran./Modul/Fils. Memahami bermacam-macam arti keadilan. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. 1 . yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. Jakarta. Filsafat Hukum.Doc.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. Penerbit PT. Bagian I. yaitu sifat baik. 1. Pradnya Paramita. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum. halaman 11. 2. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. 2. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. Dengan perkataan lain. Narotama Surabaya/V/2005 51 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1./Univ. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. Hk. 1997.

3 Theo Huijbers. Jakarta.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta. Darji Darmodiharjo & Shidarta. b. 1995. Op. halaman 155. c. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. halaman 29. 1993. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Keadilan berada di tengah dua ekstrem. halaman 154. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. b. Narotama Surabaya/V/2005 52 Menurut Plato./Modul/Fils.. yaitu: 4 a. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. Yogyakarta. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice). Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. Hk. Penerbit Kanisius. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 2 . Keadilan distributif (Distributive Justice). Cit. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. Gramedia Pustaka Utama. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya.Doc./Univ. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya. Sedang menurut Aristoteles. Dalam menganalisis keadilan. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Penerbit PT.

Selain membagi keadilan menjadi dua. Perbedaannya ialah. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. Hk./Univ. b. Keadilan Khusus. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). Narotama Surabaya/V/2005 53 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. 2) keadilan komutatif. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif.Doc. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. summa lex. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. Kontribusi Aristoteles berikutnya. yang dibedakan lagi menjadi 3. yaitu: a. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. yaitu kepastian hukum. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. summa injuria. membagi keadilan menjadi 2. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. adil atau tidak adil. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan./Modul/Fils. summa crux”. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. Keadialan Umum (Justitia Generali). 3) keadilan vindikatif. yaitu: 1) keadilan distributif.

Cit. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. 3.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. Tujuan keadilan atau finalitas. b. Hk. 5 Theo Huijbers. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. karena ada dasar lain. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. Narotama Surabaya/V/2005 54 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. Menurut Radbruch. c. yaitu dasar hukum sebagai hukum.. yakni nilai keadilan. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula./Modul/Fils. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. hukum diwujudkan dalam satu nilai. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. Op. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. ./Univ. Keadilan dalam arti sempit. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. Kepastian hukum atau legalitas. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. yaitu: a. halaman 162.Doc. aspek ini menentukan isi hukum.

dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya. Bagaimana pendapat Sdr. 1995. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No./Univ. Filsafat Hukum./Modul/Fils. seperti politik. Yogyakarta. Latihan Soal a. halaman 48. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis). kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers. Penerbit Kanisius. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. Narotama Surabaya/V/2005 55 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. 4. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b.Doc. . Hk.

Yogyakarta./Modul/Fils. 1993. Penerbit PT. Filsafat Hukum. 1997. Bagian I. Hk. Yogyakarta. Penerbit PT. Penerbit Kanisius. .Doc. Narotama Surabaya/V/2005 56 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. _________________. Soetiksno. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Gramedia Pustaka Utama. Darji & Shidarta. Pradnya Paramita. Theo. Jakarta. 1995. Jakarta./Univ. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Huijbers. Filsafat Hukum. 1993. Penerbit Kanisius. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia.

halaman 44. Universitas Diponegoro. mahasiswa mampu: 1. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. 2. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. Narotama Surabaya/V/2005 57 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini. Hk. Menjelaskan falsafah hukum nasional./Modul/Fils.Doc. Semarang. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar. 1997. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. yaitu:1 a. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat./Univ. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Soehardjo Sastrosoehardjo. 1. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. 1 . b. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini.

atau keturunan. c. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. Narotama Surabaya/V/2005 58 c. sosial. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. Pancasila harus tetap terbuka . dan sebagainya. agama. Ontologi. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. kekuasaan./Modul/Fils. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. Epistemologi. apa hakekat kebenaran. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan./Univ. Hk. b. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. Aksiologi. Sehubungan dengan itu. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu.Doc. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. Untuk itu. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan.

Hk. kreatif. perlu dikembangkan critical mass. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. 2. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Semarang. 3 Theo Hujibers. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan. Untuk itu./Univ.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern). Yogyakarta. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. radikal. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. Dalam suasana yang demikian. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. dan eksploratif. 1993. Penerbit Kanisius.Doc. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Narotama Surabaya/V/2005 59 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Universitas Diponegoro. 1997. halaman 9. halaman 106. 2 . maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya./Modul/Fils.

Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik. berdasarkan teori causalis. kewarganegaraan. anti tesis. sosial. yaitu: Pertama. Pancasila berdasar adat kebiasaan. Menurut Hegel pula. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. tetapi juga dalam bidang realitas.Doc. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis./Univ./Modul/Fils. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. ekonomi. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. lebih lanjut dikemukakan pula. . Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. ialah anggota BPUPKI. Narotama Surabaya/V/2005 60 disebut “Teori Dialektika”. dan sintesis. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. Hk. kebudayaan. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. Dalam Teorinya. dan sebagainya. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. dilihat dari causa materialis. Causa Formalis Pancasila. Causa Finalis. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. menurut Notonegoro. Sebagai contoh. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia.

Dengan demikian. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. kerakyatan. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. keadilan sosial. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. dan berkeadilans osial. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. Demikian pula sebagai . Narotama Surabaya/V/2005 61 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. dikatakan piramidal. dan Keadilan Sosial. Persatuan Indonesia. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya./Univ. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. karena jika dilihat dari isinya. dalam hal ini PPKI. demikian seterusnya. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. Hk. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. Pancasila sebagai pandangan hidup./Modul/Fils. Dikatakan hirarkis. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. Penjelasan selanjutnya. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan.Doc. berkerakyatan. Kecuali itu. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. Sebaliknya. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. Selanjutnya. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. berpersatuan.

Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. Kepentingan Individu. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. Kepentingan Masyarakat. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. dan dasar negara. Kepentingan Umum. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. maupun penjelasannya. Dengan demikian. Narotama Surabaya/V/2005 62 bangsa Indonesia dan warga negara. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. Pada aliran Positivisme Hukum. ideologi negara. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. batang tubuh. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. 3. yaitu: Positivisme mementingkan logika.Doc. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . yaitu: a. Latihan Soal a. yaitu Sociological Jurisprudence. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak./Modul/Fils. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b./Univ. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. b. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. baik pembukaan. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. c. Hk.

Penerbit Kanisius. 1997. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Hk. 1993 Theo Hujibers. 1993. Penerbit Kanisius./Modul/Fils. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.Doc. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Winandi. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Universitas Diponegoro. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Semarang. Semarang. Soehardjo Sastrosoehardjo. Yogyakarta. Narotama Surabaya/V/2005 63 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. Woro & Sri Hartini./Univ. 1997 . Universitas Diponegoro. Yogyakarta. Theo. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum.

/Univ./Modul/Fils.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 64 . Hk.

Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. Hk. Memahami pengertian filsafat./Univ. tetapi juga ada logika-logika yang lain. Narotama Surabaya/V/2005 65 Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. 6. Sehingga untuk dapat berfilsafat. 1990. halaman 1. 8.(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 4. 4 . Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. Poedjawijatna.R. Hukum tidak hanya rules (logic & rules). Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Penerbit Rineka Cipta. 4. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup. 7. Mengetahui pengertian filsafat hukum. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama./Modul/Fils. Jakarta. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. 5. istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana.4 I. yaitu: Filosofia. Memahami pengertian hukum.Doc. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan filsafat. 6. Sesungguhnya.

Objek forma filsafat terdapat pada sudut pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu. yakni objek materia dan objek forma. yakni: filo dan sofia. yaitu tentang hakikat Tuhan. dan sistematika tertentu. halaman 6-9. objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya. Hk. sistematis. terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Pokok-pokok Filsafat Hukum. Menurut Poedjawijatna. yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. Dengan demikian. Bijaksana inipun merupakan kata asing. Jadi secara etimologis.6 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta. terlebih-lebih bersifat universal. hakikat alam. Op. halaman 4. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya. Dari sudut isinya. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. R. rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. Cit. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu. dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek. dan hakikat manusia. jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas. objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua./Modul/Fils. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. sehingga terdapat kebenaran. Barangkali. lambang dan sebagainya. filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. 1995. tetapi yang membedakan adalah objek formanya.Doc. Poedjawijatna. metode. yaitu ingin dan karena ingin itu. 6 I. slogan. Gramedia Pustaka Utama. yang tercermin dalam berbagai pepatah. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu. 5 . Penerbit PT. sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. kata “filsafat” berasal dari kata majemuk.5 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. Narotama Surabaya/V/2005 66 Secara etimologis. lalu berusaha mencapai yang diingini../Univ. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis. Jakarta.

Penerbit Pustaka Sinar Harapan. senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada.Doc. ciri ketiga dari filsafat yang berperan. antara lain: f. tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral). i. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. g. 7 . maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. Lain halnya. Narotama Surabaya/V/2005 67 Jika ditelaah lebih mendalam. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. 8 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Op. ada ciri lain yang perlu ditambahkan. Mendasar. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. politik. dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. ekonomi./Univ. filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok. yaitu: menyeluruh. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. mendasar. jika yang dianalisis nilai. Sebuah Pengantar Populer. Cit. yaitu spekulatif. mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”../Modul/Fils. 1998. retorika. Sebab. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan. artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah. maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi. Untuk itu. dan estetika. Hk. melainkan analisis nilai.7 Menyeluruh. logika. halaman 7. h. dan spekulatif. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja. Jakarta. artinya cara berfikir filsafat tidak sempit.8 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam (contemplation). etika. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas. Suriasumantri. jika yang dianalisis hanya fakta saja. Filsafat Ilmu. Jujun S.

Penerbit PT.9 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. Di satu sisi./Univ. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. Narotama Surabaya/V/2005 68 j. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. yaitu metafisika. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. Dengan kata lain. Hk. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. filsafat berdasarkan pikiran belaka. dengan kata lain objek filsafat itu ada. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat Lili Rasjidi. Pada agama.Doc. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. agama. pikiran belaka. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. karena agama merupakan sesuatu yang ada. dan antropologi. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. Bandung. Di sisi lain. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak./Modul/Fils. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. 5. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. 1990. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. baik dan buruk. 9 . sedangkan agama berdasarkan wahyu. Citra Aditya Bakti. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. misalnya: Tuhan. etika. kebajikan. halaman 5. dan sebagainya.

4) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus)./Modul/Fils. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. Berdasarkan Objek. Jadi. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum.Doc. Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. yaitu: b. d) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. Dalam realitas. misalnya sifat-sifatnya. yang dibedakan menjadi dua: 3) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. Ada menjadi dasar dari segala yang ada. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. Narotama Surabaya/V/2005 69 dari berbagai penjuru sudut pandang. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. Hk. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. yang lazim disebut sebagai Theodicea. Alam dicari . terdapat bermacam-macam hal. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. Oleh karena itu. maka harus diselidiki sifat-sifatnya. yang hendak dicari sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada./Univ. yang terdiri dari: c) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. Dengan demikian. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. kemampuannya. Segala sesuatunya itu ada.

Doc. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica./Modul/Fils. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada. Narotama Surabaya/V/2005 70 intinya oleh filsafat inti alam itu. seperti: apakah manusia itu sebenarnya. c)) Filsafat Budi (Logika): . apakah sebenarnya itu. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. Hk. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak. apakah hubungannya satu sama lain. apa pendorong hidupnya. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. yaitu: manusia. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. dan lain-lain. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku./Univ. apakah isi alam pada umumnya. karena ada-nya tidak dengan niscaya. apakah kemampuan-kemampuannya. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. apa sifat-sifat pendorong hidup itu.

seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. Narotama Surabaya/V/2005 71 Untuk melakukan penyelidikan. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. Hk. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja . ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. yaitu: 4) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. jalan pikiran. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya./Univ. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal. seperti: pengertian.Doc. Namun. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. yaitu manusia. serta putusan-putusan. dalam bekerjanya budi. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. b. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang./Modul/Fils. dan itu dilakukan oleh subjeknya. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat.

timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. Oleh karena itu. setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. kosmologia. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: g. 6) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. misalnya: ada yang tinggi dan rendah.Doc. Hk. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). theodicea. Menurut Objek: Ada-umum (fils. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. Narotama Surabaya/V/2005 72 semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. Sehingga. ontologia. baik lawan buruk. dan anthropologia)./Univ. Menurut Subjek: . kosmologia) Fils. 5) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. indah lawan jelek. Jadi. ada-umum./Modul/Fils. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. tingkah laku (ethica) Fils. secara garis besar. budi (logika mayor & minor) h. theodicea) Alam (filsafat alam. dan sebagainya.

Penerbit Liberty. 10 . Dari segi tujuan. dengan alasan sebagai berikut: f./Univ. Yogyakarta.11 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. untuk ketertiban masyarakat. halaman 31. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir.Doc. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). Suatu Pengantar. Narotama Surabaya/V/2005 73 Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. kaedah sopan santun (adat). terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan. Mengenal Hukum. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma. g. Dari segi isi. Penerbit PT. halaman 5. Filsafat Hukum. dan kaedah hukum. agar jangan sampai jatuh korban. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. 11 Sudikno Mertokusumo. 1988. Bandung. 1991. Lili Rasjidi. Hk. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba. Remaja Rosdakarya. Apakah Hukum Itu?. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian.10 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. ketertiban. dan kesejahteraan./Modul/Fils. kaedah kesusilaan.

membebani kewajiban dan memberikan hak. misalnya saja Thomas Aquino. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa.. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai pembentuk hukum. termasuk mengatur pemerintahan. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. i. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan./Univ. Op. . halaman 29-30. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. Lex Divina. yaitu:12 Lex Aeterna. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. Dari segi sanksi. 12 Lili Rasjidi. Hk. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. Dari segi daya kerja. Kedua. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi. j. Narotama Surabaya/V/2005 74 h. Pada masa ini. pada zaman Romawi. Lex Naturalis./Modul/Fils. Dari segi asal-usul. Sebagai contoh pertama. Cit. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. pada Zaman Pertengahan. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya. berasal dari masyarakat secara resmi. Ketiga. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum.Doc. Tentu saja. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut.

Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. Bandung. halaman 10. Citra Aditya Bakti. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. Penerbit PT.Doc. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis.13 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. Op. Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan definisi dari hukum. Dengan kata lain.. 6. Narotama Surabaya/V/2005 75 Di samping itu. seperti Carl von Savigny dan Puchta. Rasionya. 13 . 1988. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. halaman 4. Cit./Modul/Fils. Jadi. Hk. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. Dengan demikian. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat. Dasar-Dasar Filsafat Hukum./Univ. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus.

Sedangkan D. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht). van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa.M. J. Sementara itu.J. dan tata tertib dalam masyarakat. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). Semarang. Hk. 14 .14 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan Soehardjo Sastrosoehardjo. 1997. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat.Doc.H. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara./Univ. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu. kebahagiaan./Modul/Fils. halaman 5. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan. Narotama Surabaya/V/2005 76 J.

Hk. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Penerbit Rineka Cipta. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Remaja Rosdakarya.Doc. Filsafat Hukum./Modul/Fils. . Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Darji & Shidarta. 1995.R. ________________. 1988. Soehardjo. Jujun S. Citra Aditya Bakti. 1990. Apakah Hukum Itu?. Dengan kata lain. Penerbit PT. I. 1998. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Bandung../Univ.. Poedjawijatna. Mengenal Hukum. Sastrosoehardjo. Mertokusumo. Suriasumantri. Jakarta. Universitas Diponegoro. Jakarta. Yogyakarta. Rasjidi. Penerbit PT. Sebuah Pengantar Populer. Sudikno. Suatu Pengantar. Bandung. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Jakarta. Narotama Surabaya/V/2005 77 keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. Gramedia Pustaka Utama. Lili. Filsafat Ilmu. Semarang. Penerbit PT. 1991. Penerbit Liberty. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. 1990. 1997. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum.

7. 1995. 1 . antara lain: Anaximander. halaman 70-71. dan Aristoteles. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. Gramedia Pustaka Utama. 6. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. 8. Herakleitos. Plato. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo. yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau.Doc. 6./Modul/Fils. Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. Socrates. sekarang. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. Parmenides. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Herakleitos (540-475 SM)./Univ. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 78 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. Penerbit PT. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini. dan masa depan. Jakarta. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern.

Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum. maka timbullah keadilan (dike). bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah./Univ. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. Sementara itu. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. Hk. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. Dengan kata lain. karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang./Modul/Fils. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. dan harmoni yang menghasilkan aturan. Tetapi jelas baginya.Doc. ukuran. 1993. Dalam mempertahankan pendapatnya. Yogyakarta. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. Logos menciptakan bentuk . Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. Apabila hal ini terjadi. Penerbit Kanisius. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers. halaman 20). dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Narotama Surabaya/V/2005 79 keharusan alam ini. 2 . Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati.

manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme.Doc. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Oleh karena itu. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. Meskipun demikian. Narotama Surabaya/V/2005 80 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. Dari gagasan Aristoteles ini. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. Misalnya. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. yakni undang-undang negara. karena hubungannya dengan aturan alam./Univ. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. Aristoteles. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa./Modul/Fils. . lenyap dan berlaku dengan sendirinya. Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. sehingga hukum tidak pernah berubah. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. Oleh karena itu. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. Hk. Menurut Aristoteles. yakni hukum alam dan hukum positif. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno). Menurut Aristoteles. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu.

pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani./Univ. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. menurut Stoisisme. bukan menurut hukum positif. Dengan kata lain.Doc. Bandung.3 dan mulai berkembangnya agama Islam. halaman 13. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. 3 . 1990. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. 7. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. Dalam perkembangannya. Hk. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic)./Modul/Fils. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. Citra Aditya Bakti. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. Oleh karena itu. Penerbit PT. Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. Narotama Surabaya/V/2005 81 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275).

Thomasius (1655-1728). J. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri. Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. dan Immanuel Kant (1724-1804). hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). perkembangan teknologi yang sangat pesat. Thomas Hobbes (1588-1679). George Berkeley (1685-1753). sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. Wolf (1679-1754). Rene Descartes (1596-1650). hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina). Hk. Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum.4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. Cit. Francis Bacon (1561-1626). John Locke (1632-1704). berdirinya negara-negara baru. 9. dan sebagainya. Zaman modern ini juga disebut Renaissance. . Montesquieu (1689-1755). 8. Op../Modul/Fils. Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. Narotama Surabaya/V/2005 82 Tuhan (Lex Aeterna). Rousseau (17121778).Doc./Univ. lahirnya segala macam ilmu baru. yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. antara lain: William Occam (1290-1350). ditemukannya dunia-dunia baru. halaman 39. Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. dan hukum positif (Lex Positivis). rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan.J. Samuel Pufendorf (1632-1694). David Hume (17111776). Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers.

/Univ.W..Doc. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. seperti Hobbes. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. seperti Hegel (1770-1831). seperti J. yaitu akan menjadi. Hk. Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. Namun. Karl Marx (18181883). setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. halaman 37. Di samping Marx dan Engels./Modul/Fils. Teorinya disebut Dialektika.J. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme. Fichte (1762-1814) dan F. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. Narotama Surabaya/V/2005 83 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. Cit. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman. masih ada beberapa ahli pikir lain. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern. Menurut teori dialektika Hagel.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. Schelling (1775-1854).F. juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. Op. . Menurut Hegel.

Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W./Modul/Fils..Doc. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. halaman 82. Berkeley D. Rousseau Immanuel Kant 10. Hume F. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 10. Op. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Hk. Occam Hegel R.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z./Univ. Locke von Savigny G. Hobbes Schelling J. Modern Z. Narotama Surabaya/V/2005 84 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Yunani (Kuno) Z.J. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 12. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 9. Herakleitos. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah. Pertengahan Z. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 11. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 8. Descartes Fichte T. . Cit. Bacon Wolf Montesquieu J. Latihan Soal 7.

Gramedia Pustaka Utama. Darji & Shidarta. Penerbit Kanisius. Lili./Modul/Fils. Rasjidi. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Penerbit PT. Citra Aditya Bakti. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta. 1995. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. . 1993. Yogyakarta. Theo. Bandung./Univ. 1990.Doc. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 85 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Huijbers. Penerbit PT.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

86

BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 3. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. 4. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: 2. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum, yaitu: a. Aliran Hukum Alam. b. Aliran Hukum Positif. c. Aliran Utilitarianisme. d. Aliran Sejarah. e. Alian Positivisme. f. Aliran Sociological Jurisprudence. g. Aliran Legal Realism.

3. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab, yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana, antara lain F.S.G. Northrop dan Lili Rasjidi.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran, yaitu: f. Legal Positivism. g. Pragmatic Legal Realism. h. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. i. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. j. Naturalistic Jurisprudence.

Lili Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat Hukum, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti Bandung, 1990, halaman 26-27.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

87

Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar, masing-masing: g. Aliran Hukum Alam: 3) Yang Irrasional. 4) Yang Rasional. h. Aliran Hukum Positif: 3) Analitis. 4) Murni. i. Aliran Utilitarianisme. j. Madzhab Sejarah. k. Sociological Jurisprudence. l. Pragmatic Legal Realism. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain, yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab, yaitu:2 j. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. k. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). l. Aliran Neo Kantianisme. m. Aliran Sejarah. n. Aliran Positivisme. o. Aliran Ajaran Hukum Umum. p. Aliran Sosiologi Hukum. q. Aliran Realisme Hukum. r. Aliran Hukum Bebas. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama, karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum.

Soehardjo Sastrosoehardjo, Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum, Program Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang, 1997, halaman 1.

2

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

88

Dalam tulisan ini, penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi, seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran, Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). Menurut Friedman, aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut, sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran, hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: 2) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino), John Salisbury, Daante, Piere Dubois, Marsilius Padua, dan John Wyclife. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan, yaitu: e) Lex Aeterna, merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. f) Lex Divina, bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. g) Lex Naaturalis, inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. h) Lex Posistivis, hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh

Darji Darmodiharjo & Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1995, halaman 102.

3

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

89

keadaan dunia. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Penulis lain, William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum, dengan penjelasan sebagai berikut: d) Hukum Universal, yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. e) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. f) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian, manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut, sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil, buruk atau jahat dan baik atau jujur. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja, sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. 2) Rasional: Sebaliknya, aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. Tokoh-tokohnya, antara lain: Hugo de Groot (Grotius), Christian Thomasius, Immanuel Kant, dan Samuel Pufendorf. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius), ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan, sehingga rasio

dan karsa (thinking. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi). Hk. Narotama Surabaya/V/2005 90 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. lawan dari filsafat dogmatis.. Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. and feeling).Doc. . Cit. Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo./Univ. Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya. Op. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. yaitu cipta. tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze).4 Metode kritis tidak skeptis. Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis. rasa. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). volition. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). tidak dogmatis (trancendental). Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum./Modul/Fils. halaman 12.

berkembang bentuk yang agak lain. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. and what is real is reasonable). sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. demikan juga dengan hukum. das ist wirklich ist. Narotama Surabaya/V/2005 91 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. Jadi. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. Hk. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. Di Inggris. What is reasonable is real. das ist vernunftig. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. 3) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman./Univ. san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. Bagi Hegel. b. yaitu Analytical Jurisprudence. . Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. antitesa. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. yaitu: c) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara. Austin membagi hukum atas 2 hal./Modul/Fils. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang.Doc. Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia.

Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. dan sebagainya. Menurut ajaran tersebut. sanksi. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. contoh hak wali terhadap perwaliannya. kewajiban. etika. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . 4) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. Idealisme hukum ditolak sama sekali. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. Menurut Austin. Hans Kelsen seorang Neo Kantian./Modul/Fils. di dalamnya terkandung perintah. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. sosiologi. yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. Narotama Surabaya/V/2005 92 d) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. dan sebagainya.Doc. peraturan pemerintah. dalam hukum yang nyata pada point pertama. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan./Univ. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. Hk. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). sejarah. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. dan kedaulatan. seperti: undang-undang.

Doc. . i) Hukum adalah ilmu normatif. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi. bukan karsa dan rasa. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik./Modul/Fils. l) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. Cit.. bukan masalah apa yang dikehendaki. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen. masalah cipta. j) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. etiika atau agama. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. k) Teori hukum adalah formal. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. Narotama Surabaya/V/2005 93 g) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. halaman 43. h) Teori filsaft hukum adalah ilmu. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. Op. seorang murid dari Rudolf von Jhering. Hk./Univ. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus.

Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. dan melawan hukum.Doc. secara positif. Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”./Modul/Fils. hukum kodrat gaya baru. meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. John Stuart Mill (1806-1873). menurut hukum (rechtmatigeheid). maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. Narotama Surabaya/V/2005 94 norma c. penundukan hukum. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. hubungan hukum. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. Manusia selalu berusaha . dasar hukum.q. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. dan Rudolf von Jhering (1818-1889). tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. objek hukum. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht).q. i. yaitu: subjek hukum. tidak semata-mata pada bentuk hukumnya. berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen./Univ. Hk. Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. kekuasaan hukum. Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen). mengikat. verbinden.

jikas tidak demikian. Dalam mendefinisikan kepentingan. untuk memelihara kegunaan. Mill. Pada hakekatnya. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. Dengan kata lain. ia mengikuti Bentham. ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham.Doc. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan./Univ. j. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial./Modul/Fils. Hk. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis. Narotama Surabaya/V/2005 95 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. dan positivisme hukum dari John Austin. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). Oleh karena itu. Bagi Jhering. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan.

8) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. 6) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras./Univ. Hk. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. . tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum./Modul/Fils. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 5) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. namun ia akan mati. Sedang Puchta. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 4) Langsung. Narotama Surabaya/V/2005 96 dibuat. berupa adat-istiadat.Doc. berkembang bersama dengan rakyat. 7) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri. bilden sich aus mit diesem. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. es wachst mit dem volke vort.

/Modul/Fils. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. Lebih lanjut. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. Menurut Puchta./Univ. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. Penerbit Kanisius.Doc. halaman 120-121. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Di lain pihak. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). Yogyakarta. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. Hk. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara. Narotama Surabaya/V/2005 97 5) Melalui undang-undang. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis. k. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. 1993. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. 6) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. 6 .

Op. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. Eugen Ehrlich. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat..Doc. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. halaman 47. Kontorowics. Benjamin Cardozo./Modul/Fils. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. Dengan rasio demikian. Cit. . Gurvitch dan lain-lain. Hk. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Narotama Surabaya/V/2005 98 Pendasar aliran ini./Univ. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. Sociological jurisprudence. antara lain: Roscoe Pound. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. Aliran ini berkembang di Amerika. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial.

Jerome Frank. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. William James dan sebagainya. Karl Llewellyn./Univ. kedua liran tersebut ada kebenarannya. private as well as public interest). maka tiap bagiannya harus .Doc. Oliver Wendell Holmes. Maksudnya. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman . 7) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. Sementara itu. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. Narotama Surabaya/V/2005 99 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. Gray. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum./Modul/Fils. Hk. Sebab. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. l. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 6) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab.

maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau. Hk. Sesuai dengan keyakinan ini. 8) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- . Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 5) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. Narotama Surabaya/V/2005 100 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. 9) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya./Modul/Fils. 6) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. 7) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata./Univ. 10) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. 8) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan.Doc.

Bagi Frank. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. “The path of Law” berasal dari Holmes. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). Narotama Surabaya/V/2005 101 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain. hanyalah sebatas persamaan nama saja. ekonomis.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. prasangka politis. simpati maupun antipati pribadi (Frank). Filsafat Hukum. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya./Univ. yakni. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. Penerbit PT. 4) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. yakni wawasan sosiologis. Jakarta. dan moril. halaman 77. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. yaitu: 3) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. di samping faktor-faktor lain. hukum dapat dibagi menjadi dua. 8 . Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. Pradnya Paramita./Modul/Fils. Hk.Doc. Bagian I. 1997. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut.

Lundstedt. yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif. 4. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross. halaman 86./Modul/Fils.Doc. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat. Menureut Friedman./Univ. Latihan Soal 9 Ibid. .9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. Narotama Surabaya/V/2005 102 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law). Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara. Hk. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. yaitu Oliverscrona.. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis.

/Univ. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr.Doc. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c. Narotama Surabaya/V/2005 103 a.! f. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! . Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e. Hk. Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d./Modul/Fils. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b.

Yogyakarta. Huijbers. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Pradnya Paramita. Jakarta. Darji & Shidarta. Semarang. Lili. Soetiksno. Universitas Diponegoro. Filsafat Hukum. Penerbit Kanisius. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Penerbit PT. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Citra Aditya Bakti Bandung./Modul/Fils.Doc. . Hk. 1997. 1993. Gramedia Pustaka Utama. Bagian I. 1995. Jakarta./Univ. Penerbit PT. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. halaman. Soehardjo Sastrosoehardjo. 1990. Rasjidi. Narotama Surabaya/V/2005 104 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Penerbit PT. 1997.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

105

BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. 2. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. 2. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. 3. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern.

2. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological

Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat, memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu, dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu, karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia, dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang

hukum, karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu, maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1

Roscoe Pound, Pengantar Filsafat Hukum, (Terj.) Muhammad radjab, Penerbit Bhratara, Jakarta, 1996, halaman 28-32.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

106

a. Pertama, boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia, misalnya undang-undang Nabi Musa, atau undang-undang Hammurabi, yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun, atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu, Bhrigu namanya, di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. b. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. Sebab manusia primitif, yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam, terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan, dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti, setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat, yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik, boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan, persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta, pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. c. Gagasan ini rapat dengan yang kedua, yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. Jalan yang selamat, atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif, mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

107

d. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft, yang menyatakan sifat benda-benda, dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu.

Demikianlah, gagasan sarjana hukum Romawi, yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi, dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi; dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat, harus diukur, dibentuk, ditafsirkan , dan ditambah oleh yang tigta tadi. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini, konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain, e. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. f. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik, persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum, dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. Sudah

sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. Sangat mungkin dengan teori serupa itu, satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. g. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini; satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan, yang berbeda dengan yang masih dilakukan, yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. Begitulah konsepsi Thomas

bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot. Menurut anggapan pada masa itu. atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah./Modul/Fils. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . Narotama Surabaya/V/2005 108 Aquino. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan.Doc. h. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. i. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif./Univ. Hk.

hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. j. Di dalam betuk Positivistis-Analistis. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. Narotama Surabaya/V/2005 109 yang tak dapat dielakkan lagi./Modul/Fils. atau pada taraf lain. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. Di dalam satu bentuk yang idealistis. k. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. Hk./Univ.Doc. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri.

Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. 2 . tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. dan bukan lagi dasar metafisik. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. yang ditemukan oleh pengamatan. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. yang dapat ditemukan oleh pengamatan. Narotama Surabaya/V/2005 110 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan.Doc. Gramedia Pustaka Utama. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum./Univ. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 4) Kepentingan Umum (Public Interest). Untuk itu. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”. l. 1995. Hk./Modul/Fils. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit PT. halaman 129130. Jakarta. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat.

Dengan kata lain. h) pencegahan kemerosotan akhlak. yaitu: Pertama. sehingga membuat pembentuk undng-undang. tujuan hukum yang demikian ini . Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar.Doc. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. d) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. 6) Kepentingan Pribadi (Private Recht): d) kepentingan individu. 5) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): f) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. Kedua. g) perlindungan lembaga-lembaga sosial. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. pengacara. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. d. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. Narotama Surabaya/V/2005 111 c) kepentingan negara sebagai badan hukum. 2. j) kesejahteraan sosial./Modul/Fils. hakim. Hk. e) kepentingan keluarga. Oleh karena itu. dilihat dari hal tersebut. i) pencegahan pelanggaran hak. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus./Univ. f) kepentingan hak milik.

antara orang-orang yang sekutu. hukum dibentuk. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . Oleh karena itu. f. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya. 3. yang menilik niat bukan di tempatnya . yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan. Hk. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. Narotama Surabaya/V/2005 112 sangat penting artinya bagi masyarakat. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi.Doc./Modul/Fils. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. e. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat. dan penduduk yang bertambah banyak./Univ. e. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. yaitu: d. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja.

Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. timbul pandangan hukum adalah keburukan. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . 3. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam. Narotama Surabaya/V/2005 113 bentuknya./Modul/Fils. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. Latihan Soal a. Hk. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum. f.Doc./Univ.

Penerbit Bhratara. 1996. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Jakarta. Narotama Surabaya/V/2005 114 DAFTAR PUSTAKA Pound. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.Doc. (Terj. Darmodiharjo. Jakarta./Modul/Fils. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia.) Muhammad radjab. Roscoe. Pengantar Filsafat Hukum. Darji & Shidarta. Hk. . 1995./Univ.

Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. Filsafat Hukum. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil./Modul/Fils. Soetiksno. 1997.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. Penerbit PT. 2. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. Memahami bermacam-macam arti keadilan.Doc. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 3. Bagian I./Univ. 1 . Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. halaman 11. yaitu sifat baik. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. 2. Dengan perkataan lain. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. Hk. 4. Pradnya Paramita. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. Jakarta. Narotama Surabaya/V/2005 115 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum.

yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. d. 1993. halaman 29. Cit. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 116 Menurut Plato. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. 3 Theo Huijbers. 2 . Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya./Univ. Sedang menurut Aristoteles. Dalam menganalisis keadilan.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus. Penerbit PT. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. Gramedia Pustaka Utama. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a.. Jakarta. c. Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. halaman 154. halaman 155. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris./Modul/Fils. Keadilan distributif (Distributive Justice). Op. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Keadilan berada di tengah dua ekstrem. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. b. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya.Doc. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice). Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Hk. Yogyakarta. 1995. Penerbit Kanisius. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. Aristoteles membagi keadilan menjadi dua.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu. yaitu: 4 c. Darji Darmodiharjo & Shidarta. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem.

summa injuria. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. d. Narotama Surabaya/V/2005 117 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum./Modul/Fils. membagi keadilan menjadi 2. Keadilan Khusus. yaitu: c. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. Keadialan Umum (Justitia Generali). karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum. 6) keadilan vindikatif. adil atau tidak adil. Selain membagi keadilan menjadi dua. yaitu kepastian hukum. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. Perbedaannya ialah. 5) keadilan komutatif. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. summa crux”.Doc. yang dibedakan lagi menjadi 3. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. yaitu: 4) keadilan distributif. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan. Hk. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. Kontribusi Aristoteles berikutnya. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. summa lex./Univ. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan .

/Modul/Fils. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. Kepastian hukum atau legalitas. hukum diwujudkan dalam satu nilai. 5 Theo Huijbers. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. yaitu dasar hukum sebagai hukum.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. b. aspek ini menentukan isi hukum. Op. Narotama Surabaya/V/2005 118 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. yaitu: a./Univ. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. Keadilan dalam arti sempit.Doc. 3. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. karena ada dasar lain. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. yakni nilai keadilan. c. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. Tujuan keadilan atau finalitas. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. halaman 162. Menurut Radbruch. Cit. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup.. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. Hk. .

Filsafat Hukum./Modul/Fils. Latihan Soal a. 1995. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. 4. . Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis).6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. Penerbit Kanisius. Narotama Surabaya/V/2005 119 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut./Univ. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. Bagaimana pendapat Sdr. Hk. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No. halaman 48. seperti politik.Doc. Yogyakarta.

Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Darji & Shidarta. _________________. Jakarta. Filsafat Hukum. Penerbit PT. Huijbers. Gramedia Pustaka Utama./Univ. Yogyakarta. 1995. Soetiksno. . Yogyakarta. 1997. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Filsafat Hukum. Pradnya Paramita. Jakarta. Penerbit Kanisius. Narotama Surabaya/V/2005 120 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo.Doc. Theo. 1993. Penerbit Kanisius. Penerbit PT. Hk./Modul/Fils. 1993. Bagian I.

Hk. 1997. Semarang. 4. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. mahasiswa mampu: 1. yaitu:1 a. 1 . mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. halaman 44. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. Program Pascasarjana Ilmu Hukum./Modul/Fils. Soehardjo Sastrosoehardjo. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. 2. Menjelaskan falsafah hukum nasional. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. b. Universitas Diponegoro./Univ. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 121 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa.Doc.

membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. apa hakekat kebenaran. Untuk itu. Aksiologi. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. Ontologi. b. Epistemologi. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan./Modul/Fils. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan. sosial. Pancasila harus tetap terbuka . falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. kekuasaan. Narotama Surabaya/V/2005 122 c. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. c. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi ./Univ. dan sebagainya. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. atau keturunan. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila.Doc. Hk. Sehubungan dengan itu. agama. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum.

Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya. Untuk itu. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. 2 . Hk. Penerbit Kanisius.Doc. Universitas Diponegoro. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. 5. dan eksploratif. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. radikal. kreatif. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. Semarang./Modul/Fils. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 123 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. Yogyakarta. perlu dikembangkan critical mass. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. Dalam suasana yang demikian. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern)./Univ. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. halaman 106. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. halaman 9. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan. 1997. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional. 3 Theo Hujibers. 1993.

sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. menurut Notonegoro. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. dan sintesis. sosial. Causa Finalis. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. tetapi juga dalam bidang realitas./Univ. dilihat dari causa materialis. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. kewarganegaraan. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. Hk. Pancasila berdasar adat kebiasaan. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. ekonomi. kebudayaan. Sebagai contoh. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. yaitu: Pertama. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. ialah anggota BPUPKI. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. lebih lanjut dikemukakan pula. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. ./Modul/Fils. anti tesis. Narotama Surabaya/V/2005 124 disebut “Teori Dialektika”. berdasarkan teori causalis. Menurut Hegel pula. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. Causa Formalis Pancasila. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. Dalam Teorinya.Doc. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. dan sebagainya. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik.

berpersatuan. Demikian pula sebagai ./Univ. demikian seterusnya. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. Dikatakan hirarkis. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. Narotama Surabaya/V/2005 125 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. Sebaliknya. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. dan Keadilan Sosial. Kecuali itu. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. Persatuan Indonesia.Doc. kerakyatan. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. dikatakan piramidal. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. dan berkeadilans osial. Hk. berkerakyatan. Pancasila sebagai pandangan hidup. Dengan demikian. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. Penjelasan selanjutnya. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan./Modul/Fils. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. karena jika dilihat dari isinya. Selanjutnya. dalam hal ini PPKI. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. keadilan sosial.

dan dasar negara. 6. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. yaitu: Positivisme mementingkan logika./Modul/Fils. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. baik pembukaan. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. e. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. Hk. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . Kepentingan Individu. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila.Doc. Kepentingan Masyarakat. Latihan Soal a. yaitu: d. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman./Univ. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. Narotama Surabaya/V/2005 126 bangsa Indonesia dan warga negara. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. Pada aliran Positivisme Hukum. ideologi negara. batang tubuh. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. yaitu Sociological Jurisprudence. Dengan demikian. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. Kepentingan Umum. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. f. maupun penjelasannya.

Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah.Doc. Yogyakarta. Soehardjo Sastrosoehardjo. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Semarang. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum./Modul/Fils. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Penerbit Kanisius. Theo. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Woro & Sri Hartini. Yogyakarta. Universitas Diponegoro. Semarang. 1993 Theo Hujibers. 1997. Winandi./Univ. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Narotama Surabaya/V/2005 127 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. 1993. Penerbit Kanisius. Universitas Diponegoro. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1997 . Hk.

Narotama Surabaya/V/2005 128 .Doc./Univ./Modul/Fils. Hk.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful