Doc./Modul/Fils. Hk./Univ.

Narotama Surabaya/V/2005

1

Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan. Hukum tidak hanya rules (logic & rules), tetapi juga ada logika-logika yang lain. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup, tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum,(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM

Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami pengertian filsafat. 2. Memahami pengertian hukum. 3. Mengetahui pengertian filsafat hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. 2. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. 3. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. 4. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana.

1. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. Sehingga untuk dapat berfilsafat, terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

2

filsafat. Sesungguhnya, istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani, yaitu: Filosofia.1 Secara etimologis, kata “filsafat” berasal dari kata majemuk, yakni: filo dan sofia. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin itu, lalu berusaha mencapai yang diingini. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Bijaksana inipun merupakan kata asing, yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. Jadi secara etimologis, filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. Dengan demikian, rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. Dari sudut isinya, terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia, yang tercermin dalam berbagai pepatah, slogan, lambang dan sebagainya. 2 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek, metode, dan sistematika tertentu, terlebih-lebih bersifat universal. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu, yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat. Menurut Poedjawijatna, objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua, yakni objek materia dan objek forma. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu, sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu tentang hakikat Tuhan, hakikat alam, dan hakikat manusia. Barangkali, objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya, tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Objek forma filsafat terdapat pada sudut

I.R. Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1990, halaman 1. 2 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995, halaman 4.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

3

pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu, sehingga terdapat kebenaran, jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas.3 Jika ditelaah lebih mendalam, filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok, yaitu: menyeluruh, mendasar, dan spekulatif.4 Menyeluruh, artinya cara berfikir filsafat tidak sempit, dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral), senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. Mendasar, artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. Untuk itu, ciri ketiga dari filsafat yang berperan, yaitu spekulatif. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan, tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas, ada ciri lain yang perlu ditambahkan, yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat.5 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam

(contemplation). Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja, melainkan analisis nilai. Sebab, jika yang dianalisis hanya fakta saja, maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi, dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. Lain halnya, jika yang dianalisis nilai, maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat, antara lain: a. b. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.

I. R. Poedjawijatna, Op. Cit., halaman 6-9. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Penerbit Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1998. 5 Darji Darmodiharjo & Shidarta, Op. Cit., halaman 7.
4

3

meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. Dengan kata lain. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. Lili Rasjidi.Doc. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. filsafat berdasarkan pikiran belaka. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. Bandung. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. Hk. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. halaman 5. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama.6 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. Citra Aditya Bakti. 6 . Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. etika. Di sisi lain. yaitu metafisika. e. 1990. Di satu sisi. dan sebagainya. baik dan buruk. kebajikan. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. agama. d. Penerbit PT. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya./Univ. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri./Modul/Fils. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama. Pada agama. sedangkan agama berdasarkan wahyu. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. pikiran belaka. karena agama merupakan sesuatu yang ada. Narotama Surabaya/V/2005 4 c. misalnya: Tuhan. dan antropologi. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu.

Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. misalnya sifat-sifatnya. 2) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). Dalam realitas./Univ. Hk. yang lazim disebut sebagai Theodicea. yang terdiri dari: a) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. Berdasarkan Objek. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. Dengan demikian. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada.Doc. kemampuannya. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. Narotama Surabaya/V/2005 5 2. b) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak./Modul/Fils. yang hendak dicari . dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat dari berbagai penjuru sudut pandang. maka harus diselidiki sifat-sifatnya. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. Segala sesuatunya itu ada. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. yang dibedakan menjadi dua: 1) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum. yaitu: a. Ada menjadi dasar dari segala yang ada. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. Oleh karena itu. Jadi. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. dengan kata lain objek filsafat itu ada. terdapat bermacam-macam hal.

/Modul/Fils. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada. apa pendorong hidupnya./Univ. apakah sebenarnya itu. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur . yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya. Narotama Surabaya/V/2005 6 sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. apakah hubungannya satu sama lain. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak. apakah kemampuan-kemampuannya. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia. apakah isi alam pada umumnya. seperti: apakah manusia itu sebenarnya.Doc. dan lain-lain. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. Hk. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. Alam dicari intinya oleh filsafat inti alam itu. karena ada-nya tidak dengan niscaya. yaitu: manusia. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. apa sifat-sifat pendorong hidup itu.

karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. Namun./Univ. dan itu dilakukan oleh subjeknya. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. c)) Filsafat Budi (Logika): Untuk melakukan penyelidikan. serta putusan-putusan. seperti: pengertian. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha . Narotama Surabaya/V/2005 7 yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku. b. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal. yaitu: 1) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor./Modul/Fils. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). Hk. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya. dalam bekerjanya budi. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. yaitu manusia. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. jalan pikiran.Doc.

Menurut Objek: Ada-umum (fils. kosmologia. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. theodicea) Alam (filsafat alam. dan anthropologia). manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. theodicea. Oleh karena itu. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia. 2) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: a. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. 3) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan. secara garis besar. baik lawan buruk. Hk. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. ontologia.Doc. Jadi. kosmologia) Fils. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. tingkah laku (ethica) . metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak./Univ. Sehingga. dan sebagainya. misalnya: ada yang tinggi dan rendah. indah lawan jelek. ada-umum. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 8 kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir.

dan kesejahteraan. Penerbit PT. budi (logika mayor & minor) b. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 9 Fils. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan. dan kaedah hukum. 7 . halaman 5.8 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut./Univ.Doc. Filsafat Hukum. Bandung. Mengenal Hukum. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). 1988.7 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. kaedah sopan santun (adat). Yogyakarta. ketertiban. Suatu Pengantar. Apakah Hukum Itu?. kaedah kesusilaan. 1991. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba. Penerbit Liberty. Remaja Rosdakarya. halaman 31. Menurut Subjek: Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. 8 Sudikno Mertokusumo. dengan alasan sebagai berikut: Lili Rasjidi./Modul/Fils. Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum.

pada zaman Romawi. berasal dari masyarakat secara resmi. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai 9 Lili Rasjidi. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. Dari segi sanksi. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi.Doc. Sebagai contoh pertama. termasuk mengatur pemerintahan. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir.. Cit. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. Lex Naturalis. Dari segi isi./Univ. pada Zaman Pertengahan. yaitu:9 Lex Aeterna. Dari segi asal-usul. agar jangan sampai jatuh korban. Lex Divina. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. d. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum. . Op. Kedua. Dari segi daya kerja. Hk. rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum. untuk ketertiban masyarakat. b. membebani kewajiban dan memberikan hak. Ketiga. e. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. Narotama Surabaya/V/2005 10 a. halaman 29-30. misalnya saja Thomas Aquino. Dari segi tujuan. Tentu saja. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan./Modul/Fils. c.

pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. Op. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. Rasionya.. seperti Carl von Savigny dan Puchta. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta. Citra Aditya Bakti. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi. Penerbit PT. 1988./Univ. 3. Narotama Surabaya/V/2005 11 pembentuk hukum. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies.10 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. Dengan demikian. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. Hk. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. Dengan kata lain. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. Cit. halaman 4.Doc. Jadi. halaman 10./Modul/Fils. 10 . Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. Pada masa ini. Di samping itu. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. Bandung. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya.

over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). halaman 5. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa. dan tata tertib dalam masyarakat.H. J. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum.M.Doc. Sedangkan D. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen. Narotama Surabaya/V/2005 12 definisi dari hukum./Modul/Fils. Hk. kebahagiaan./Univ.11 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar Soehardjo Sastrosoehardjo. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. 1997. Sementara itu. Semarang. Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu. J.J. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. 11 . Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht).

Bandung. . dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. Rasjidi. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Darji & Shidarta. Remaja Rosdakarya. Citra Aditya Bakti. 1995.. Filsafat Ilmu. 1990. 1990. Sebuah Pengantar Populer. Bandung. Filsafat Hukum. Gramedia Pustaka Utama. Hk. 1998. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Penerbit PT. I. Penerbit PT. ________________. Jakarta. Penerbit Liberty. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum.. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta. Dasar-Dasar Filsafat Hukum.Doc. Semarang. Sastrosoehardjo. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 13 tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. Universitas Diponegoro.R. Mertokusumo. Suatu Pengantar. Dengan kata lain./Modul/Fils. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1997. Poedjawijatna. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum. Suriasumantri. Yogyakarta. 1991. 1988. Soehardjo. Penerbit PT. Mengenal Hukum. Jakarta. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Lili. Pokok-Pokok Filsafat Hukum./Univ. Apakah Hukum Itu?. Jujun S. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Sudikno.

Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern. Jakarta. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. 3. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu. 4. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. Plato. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah.Doc. Socrates./Univ.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo./Modul/Fils. 2. Gramedia Pustaka Utama. Narotama Surabaya/V/2005 14 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. 1995. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 1 . 1. dan masa depan. Hk. Parmenides. sekarang. antara lain: Anaximander. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. Herakleitos. halaman 70-71. Herakleitos (540-475 SM). Penerbit PT. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. dan Aristoteles.

Dengan kata lain. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. dan harmoni yang menghasilkan aturan. maka timbullah keadilan (dike). bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum./Univ. Apabila hal ini terjadi. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. 2 . Narotama Surabaya/V/2005 15 keharusan alam ini. 1993. Tetapi jelas baginya. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. Hk. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). Dalam mempertahankan pendapatnya. Logos menciptakan bentuk . karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya. halaman 20). Yogyakarta. ukuran. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). Penerbit Kanisius.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam./Modul/Fils. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Sementara itu. Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers.Doc.

Menurut Aristoteles. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis. lenyap dan berlaku dengan sendirinya. yakni undang-undang negara. Narotama Surabaya/V/2005 16 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya. Oleh karena itu. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon)./Univ. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda./Modul/Fils. Misalnya. Oleh karena itu. sehingga hukum tidak pernah berubah. yakni hukum alam dan hukum positif. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia.Doc. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. Meskipun demikian. hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. Dari gagasan Aristoteles ini. Menurut Aristoteles. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. . Aristoteles. Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno). Hk. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. karena hubungannya dengan aturan alam. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis.

Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic). 2./Univ. Bandung. Hk. Citra Aditya Bakti. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. Dengan kata lain. yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. Narotama Surabaya/V/2005 17 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat.Doc. bukan menurut hukum positif. Oleh karena itu. 3 . 1990. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap. Dalam perkembangannya. halaman 13. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). Dasar-Dasar Filsafat Hukum. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. Penerbit PT. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. menurut Stoisisme.3 dan mulai berkembangnya agama Islam./Modul/Fils. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa. tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum.

J. perkembangan teknologi yang sangat pesat. halaman 39. Thomasius (1655-1728). ./Univ. Samuel Pufendorf (1632-1694). hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). dan hukum positif (Lex Positivis). yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan. hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina). dan Immanuel Kant (1724-1804). Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. Thomas Hobbes (1588-1679). Wolf (1679-1754). George Berkeley (1685-1753).Doc. Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. Zaman modern ini juga disebut Renaissance. 4. John Locke (1632-1704). J. Montesquieu (1689-1755). Op. Francis Bacon (1561-1626). lahirnya segala macam ilmu baru.4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini. 3. dan sebagainya.. Rousseau (17121778). Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum./Modul/Fils. Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. Hk. Rene Descartes (1596-1650). ditemukannya dunia-dunia baru. antara lain: William Occam (1290-1350). Cit. David Hume (17111776). Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. Narotama Surabaya/V/2005 18 Tuhan (Lex Aeterna). berdirinya negara-negara baru. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri.

artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. . Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern.Doc. ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. seperti Hobbes. juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah. setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya. Fichte (1762-1814) dan F.. Di samping Marx dan Engels. seperti J. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. Hk. yaitu akan menjadi. Menurut Hegel. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme./Univ. seperti Hegel (1770-1831). masih ada beberapa ahli pikir lain. halaman 37. Teorinya disebut Dialektika. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya. Menurut teori dialektika Hagel. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. Narotama Surabaya/V/2005 19 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19.W./Modul/Fils.F. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese.J. Op. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. Karl Marx (18181883). Cit. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. Schelling (1775-1854). Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. Namun.

Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 3. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 6.J. Latihan Soal 1. Hk. Rousseau Immanuel Kant 5. Hobbes Schelling J. halaman 82./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 20 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Modern Z.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Herakleitos.. Cit. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 2. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 5. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 4. Descartes Fichte T. Locke von Savigny G. Bacon Wolf Montesquieu J. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah.Doc. Pertengahan Z./Modul/Fils. Occam Hegel R. Yunani (Kuno) Z. Berkeley D. . Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Hume F. Op.

Penerbit Kanisius. Darji & Shidarta. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Yogyakarta. 1995. . Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Bandung. 1993. Penerbit PT. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Huijbers. Citra Aditya Bakti. Narotama Surabaya/V/2005 21 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. 1990. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Hk./Univ.Doc. Lili./Modul/Fils. Jakarta. Theo. Rasjidi. Gramedia Pustaka Utama. Penerbit PT.

Tujuan Instruksional Khusus: 1. Narotama Surabaya/V/2005 22 BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 1. yaitu: a. b. yaitu: a.Doc. antara lain F.G. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran. Aliran Sejarah. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab. c. e. d. Naturalistic Jurisprudence. Penerbit PT. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana. g. e. c. 1990. 1 . Aliran Sociological Jurisprudence. Legal Positivism. 1. d. b. Alian Positivisme. Aliran Utilitarianisme. Citra Aditya Bakti Bandung. halaman 26-27./Univ. 2. Pragmatic Legal Realism. Northrop dan Lili Rasjidi. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Lili Rasjidi. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. Aliran Hukum Alam./Modul/Fils. Aliran Legal Realism.S. Aliran Hukum Positif. Hk. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. f.

Universitas Diponegoro./Univ. Aliran Realisme Hukum. yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab. c. Aliran Hukum Alam: 1) Yang Irrasional. Aliran Neo Kantianisme. f./Modul/Fils. e. karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum. Madzhab Sejarah. Aliran Sejarah. Sociological Jurisprudence. 2 . c. 2) Murni. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama. Narotama Surabaya/V/2005 23 Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar. d. b. h. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Semarang. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). 2) Yang Rasional. b. Pragmatic Legal Realism. i. f. d. e. Aliran Sosiologi Hukum. Hk. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam.Doc. Aliran Hukum Positif: 1) Analitis. yaitu:2 a. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain. Aliran Hukum Bebas. g. Aliran Ajaran Hukum Umum. Aliran Utilitarianisme. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 1997. Aliran Positivisme. Soehardjo Sastrosoehardjo. halaman 1. masing-masing: a.

Gramedia Pustaka Utama. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua). Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino). Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. halaman 102./Univ. d) Lex Posistivis. Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi. b) Lex Divina. bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh Darji Darmodiharjo & Shidarta. dan John Wyclife. Jakarta. inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. Penerbit PT. c) Lex Naaturalis.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum).Doc. penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. John Salisbury. Marsilius Padua. 1995. seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran. merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. Narotama Surabaya/V/2005 24 Dalam tulisan ini. Hk. Piere Dubois. 3 . Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan. yaitu: a) Lex Aeterna. Menurut Friedman. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut. yaitu: 1) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung./Modul/Fils. Daante.

Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. Christian Thomasius. Hk. sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut. 1) Rasional: Sebaliknya. Narotama Surabaya/V/2005 25 keadaan dunia. Tokoh-tokohnya.Doc. Immanuel Kant. buruk atau jahat dan baik atau jujur./Univ./Modul/Fils. aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. b) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian. William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum. manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. dan Samuel Pufendorf. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. dengan penjelasan sebagai berikut: a) Hukum Universal. c) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. Penulis lain. antara lain: Hugo de Groot (Grotius). ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius). sehingga rasio . Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja.

beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze). Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya. Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. tidak dogmatis (trancendental)./Modul/Fils. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni). Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. Narotama Surabaya/V/2005 26 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. Cit. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi). Op. volition.. rasa.4 Metode kritis tidak skeptis. Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar. Hk. . lawan dari filsafat dogmatis. dan karsa (thinking. yaitu cipta. Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis.Doc. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. halaman 12. and feeling)./Univ.

demikan juga dengan hukum. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang. antitesa. das ist vernunftig. yaitu: a) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. Austin membagi hukum atas 2 hal. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman./Univ. Bagi Hegel. seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. das ist wirklich ist. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. Di Inggris. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. Hk. berkembang bentuk yang agak lain. Jadi. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. Narotama Surabaya/V/2005 27 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan. b. yaitu Analytical Jurisprudence. What is reasonable is real. . Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara. 1) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman.Doc. and what is real is reasonable). san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa./Modul/Fils.

peraturan pemerintah. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. dan kedaulatan. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. Idealisme hukum ditolak sama sekali. Hk. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. etika. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. sanksi. dalam hukum yang nyata pada point pertama. sejarah. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. dan sebagainya. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum./Univ. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). Narotama Surabaya/V/2005 28 b) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia./Modul/Fils. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. Menurut Austin. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. di dalamnya terkandung perintah. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. contoh hak wali terhadap perwaliannya. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. sosiologi. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. kewajiban.Doc. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. Menurut ajaran tersebut. Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam. dan sebagainya. 2) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. seperti: undang-undang.

bukan karsa dan rasa. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik. masalah cipta./Univ. f) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. bukan masalah apa yang dikehendaki. Cit. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. b) Teori filsaft hukum adalah ilmu. Op. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi. Narotama Surabaya/V/2005 29 a) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi./Modul/Fils. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. Hk. halaman 43..5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen.Doc. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan. d) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum. seorang murid dari Rudolf von Jhering. e) Teori hukum adalah formal. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu. . Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum. c) Hukum adalah ilmu normatif. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas. etiika atau agama. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896).

yaitu: subjek hukum. mengikat. Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). dasar hukum. tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. objek hukum. Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. Narotama Surabaya/V/2005 30 norma c. Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. verbinden. tidak semata-mata pada bentuk hukumnya./Univ./Modul/Fils. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi.q. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen).Doc. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. dan Rudolf von Jhering (1818-1889). Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. c. hubungan hukum. Manusia selalu berusaha . maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. penundukan hukum. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht). Hk. kekuasaan hukum. secara positif. Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit).q. Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum. menurut hukum (rechtmatigeheid). hukum kodrat gaya baru. dan melawan hukum. John Stuart Mill (1806-1873).

/Modul/Fils. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. d. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan. Bagi Jhering. perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 31 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. Dengan kata lain. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis.Doc. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. Mill. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). Dalam mendefinisikan kepentingan. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak . Hk. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. Oleh karena itu. Pada hakekatnya. ia mengikuti Bentham. jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). dan positivisme hukum dari John Austin. jikas tidak demikian. ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. untuk memelihara kegunaan.

termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 1) Langsung. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 1) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. namun ia akan mati. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. Sedang Puchta. berkembang bersama dengan rakyat. 3) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian. Narotama Surabaya/V/2005 32 dibuat. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum./Modul/Fils. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat.Doc. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . bilden sich aus mit diesem. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya./Univ. Hk. es wachst mit dem volke vort. . 4) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. 2) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. berupa adat-istiadat. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri.

yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Lebih lanjut.Doc./Univ. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara. Menurut Puchta. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. 6 . 3) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. e. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. Penerbit Kanisius. Narotama Surabaya/V/2005 33 2) Melalui undang-undang./Modul/Fils. Yogyakarta. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. Hk. halaman 120-121. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis. Di lain pihak. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. 1993.

Dengan rasio demikian. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Cit. halaman 47.. . Gurvitch dan lain-lain. Kontorowics./Univ. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. Eugen Ehrlich. atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. Sociological jurisprudence.Doc./Modul/Fils. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). Narotama Surabaya/V/2005 34 Pendasar aliran ini. Op. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. Aliran ini berkembang di Amerika. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat. Hk. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum. antara lain: Roscoe Pound. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Benjamin Cardozo.

Oliver Wendell Holmes. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman . f. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman./Modul/Fils./Univ. maka tiap bagiannya harus . Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. Karl Llewellyn. private as well as public interest). Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. Sementara itu. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. Hk. Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. kedua liran tersebut ada kebenarannya. Narotama Surabaya/V/2005 35 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. 2) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. Gray.Doc. William James dan sebagainya. Jerome Frank. Maksudnya. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. Sebab.

Hk. 5) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya.Doc. 4) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- . 3) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. 4) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya./Modul/Fils. Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 1) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. 2) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. Sesuai dengan keyakinan ini. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau. maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. Narotama Surabaya/V/2005 36 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. 3) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan./Univ.

8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). yaitu: 1) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. ekonomis.Doc./Modul/Fils. Hk. 8 . Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. Jakarta. Bagi Frank./Univ. Penerbit PT. “The path of Law” berasal dari Holmes. Pradnya Paramita. Filsafat Hukum. hanyalah sebatas persamaan nama saja. Bagian I. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. hukum dapat dibagi menjadi dua. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. di samping faktor-faktor lain. 2) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia. Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. yakni. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. Narotama Surabaya/V/2005 37 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain. halaman 77. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. dan moril. 1997. prasangka politis. yakni wawasan sosiologis. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage). Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank. simpati maupun antipati pribadi (Frank). yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat.

pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara. yaitu Oliverscrona. halaman 86. . yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. Menureut Friedman. Latihan Soal 9 Ibid. Narotama Surabaya/V/2005 38 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law). 2. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis./Univ. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross. Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa. Lundstedt. Hk./Modul/Fils. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah..Doc. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan.

Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005 39 a. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! ./Modul/Fils. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b.! f. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c.Doc. Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4. Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr.

halaman.Doc. Penerbit Kanisius. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 1990./Modul/Fils. Filsafat Hukum. Huijbers. Penerbit PT. Bagian I./Univ. Soehardjo Sastrosoehardjo. 1997. Yogyakarta. Darji & Shidarta. Penerbit PT. Universitas Diponegoro. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Soetiksno. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Gramedia Pustaka Utama. 1995. Hk. Jakarta. Jakarta. Narotama Surabaya/V/2005 40 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1993. Penerbit PT. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Rasjidi. Lili. Pradnya Paramita. 1997. Citra Aditya Bakti Bandung. . Semarang.

Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Penerbit Bhratara. 2. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu. (Terj. dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. 1996.Doc. halaman 28-32. 3. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang hukum. 2. Hk./Modul/Fils. 1. maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis./Univ.) Muhammad radjab. karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. Narotama Surabaya/V/2005 41 BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Jakarta. 1 . Pengantar Filsafat Hukum. Tujuan Instruksional Khusus: 1. memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1 Roscoe Pound. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat. karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia.

pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. Gagasan ini rapat dengan yang kedua. b. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan.Doc. atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu. misalnya undang-undang Nabi Musa. persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik. Narotama Surabaya/V/2005 42 a. c./Univ. boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia. atau undang-undang Hammurabi. Jalan yang selamat. yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. Bhrigu namanya. dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti. yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun. . Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya./Modul/Fils. mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan. setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. Sebab manusia primitif. yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam. Hk. Pertama.

Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft. dan ditambah oleh yang tigta tadi./Modul/Fils. Hk. ditafsirkan . yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi. gagasan sarjana hukum Romawi. Begitulah konsepsi Thomas . satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan. dibentuk. Narotama Surabaya/V/2005 43 d.Doc. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik. yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum. Sangat mungkin dengan teori serupa itu. satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat./Univ. Demikianlah. dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat. dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu. g. Sudah sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. yang berbeda dengan yang masih dilakukan. dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi. e. yang menyatakan sifat benda-benda. dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini. konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain. f. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. harus diukur. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini.

telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan.Doc./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 44 Aquino. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot. h. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. Hk. i. Menurut anggapan pada masa itu. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula./Univ. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif.

/Univ. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. k. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . Di dalam satu bentuk yang idealistis. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian. Di dalam betuk Positivistis-Analistis. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya.Doc. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad. Narotama Surabaya/V/2005 45 yang tak dapat dielakkan lagi. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. j. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia. tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis./Modul/Fils. Hk. atau pada taraf lain. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan.

dan bukan lagi dasar metafisik. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. halaman 129130. yang dapat ditemukan oleh pengamatan. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 1) Kepentingan Umum (Public Interest). Jakarta. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika./Univ./Modul/Fils. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. Hk. Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Untuk itu. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. 1995. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. Penerbit PT. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”. l. yang ditemukan oleh pengamatan. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19.Doc. Gramedia Pustaka Utama. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. 2 . Narotama Surabaya/V/2005 46 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru.

b) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. yaitu: Pertama. pengacara. c) kepentingan hak milik. e) kesejahteraan sosial. 3) Kepentingan Pribadi (Private Recht): a) kepentingan individu. Kedua. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial.Doc. hakim. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. 2. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. Dengan kata lain. Narotama Surabaya/V/2005 47 a) kepentingan negara sebagai badan hukum. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. dilihat dari hal tersebut. b) perlindungan lembaga-lembaga sosial. sehingga membuat pembentuk undng-undang. 2) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): a) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. tujuan hukum yang demikian ini . b) kepentingan keluarga. Oleh karena itu. d) pencegahan pelanggaran hak./Univ. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. Hk. a./Modul/Fils. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting. c) pencegahan kemerosotan akhlak. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya.

Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. b. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. antara orang-orang yang sekutu./Univ. dan penduduk yang bertambah banyak. hukum dibentuk. Hk. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi. b. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. Narotama Surabaya/V/2005 48 sangat penting artinya bagi masyarakat. Oleh karena itu. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. yang menilik niat bukan di tempatnya . sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. 3. Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. c. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan.Doc. yaitu: a. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat./Modul/Fils.

3.Doc./Modul/Fils. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c. Latihan Soal a. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. Narotama Surabaya/V/2005 49 bentuknya. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? . Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam. Hk. timbul pandangan hukum adalah keburukan. c./Univ.

Doc. Penerbit Bhratara. (Terj. Darmodiharjo./Univ. Jakarta. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 50 DAFTAR PUSTAKA Pound. 1996. . Gramedia Pustaka Utama. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Darji & Shidarta. Pengantar Filsafat Hukum. Roscoe. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Penerbit PT. Jakarta.) Muhammad radjab. 1995./Modul/Fils.

Bagian I. Penerbit PT. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. Filsafat Hukum. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. Dengan perkataan lain.Doc. yaitu sifat baik. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. Memahami bermacam-macam arti keadilan. 1 . Jakarta. 1997. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya.1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. Pradnya Paramita. Narotama Surabaya/V/2005 51 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue./Modul/Fils. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. Hk. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 1. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil./Univ. halaman 11. 2. 2. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum. 1. Soetiksno.

Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice). c. 2 . Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. b. Hk./Modul/Fils. b. 3 Theo Huijbers. Jakarta. Dalam menganalisis keadilan. Narotama Surabaya/V/2005 52 Menurut Plato.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya. Keadilan berada di tengah dua ekstrem. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 1995. Keadilan distributif (Distributive Justice). Cit. 1993. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. yaitu: 4 a. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. Yogyakarta. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem. Darji Darmodiharjo & Shidarta. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. Gramedia Pustaka Utama. halaman 155.Doc. halaman 154. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu./Univ. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta. Penerbit PT. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. Op. Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding. halaman 29. Penerbit Kanisius. Sedang menurut Aristoteles..

Keadialan Umum (Justitia Generali). Perbedaannya ialah. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. Keadilan Khusus./Modul/Fils. summa lex. yaitu kepastian hukum. yaitu: a. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. adil atau tidak adil. summa injuria. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. 2) keadilan komutatif. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya.Doc. membagi keadilan menjadi 2. Hk. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. yang dibedakan lagi menjadi 3. Kontribusi Aristoteles berikutnya. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan./Univ. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. summa crux”. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang. 3) keadilan vindikatif. yaitu: 1) keadilan distributif. b. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. Narotama Surabaya/V/2005 53 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. Selain membagi keadilan menjadi dua. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum.

Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. Cit. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. . sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. Op. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. yaitu: a.Doc. yaitu dasar hukum sebagai hukum. yakni nilai keadilan. bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. Menurut Radbruch. karena ada dasar lain. Hk. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. Keadilan dalam arti sempit. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. aspek ini menentukan isi hukum. 5 Theo Huijbers. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. 3. Narotama Surabaya/V/2005 54 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya./Univ./Modul/Fils. c. Tujuan keadilan atau finalitas. b. Kepastian hukum atau legalitas.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. hukum diwujudkan dalam satu nilai. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. halaman 162.

Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. halaman 48. Hk. . kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers. Bagaimana pendapat Sdr. seperti politik. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk.Doc. Penerbit Kanisius. Filsafat Hukum./Modul/Fils. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis). Narotama Surabaya/V/2005 55 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No. dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. 1995. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. 4.6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. Yogyakarta. Latihan Soal a./Univ.

/Modul/Fils. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Penerbit PT. Filsafat Hukum./Univ. Theo. Yogyakarta. Penerbit Kanisius. Jakarta. Soetiksno. Huijbers. 1993. Darji & Shidarta. Filsafat Hukum. Gramedia Pustaka Utama. Bagian I. Hk. Penerbit Kanisius. Pradnya Paramita. Narotama Surabaya/V/2005 56 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1995.Doc. _________________. 1993. Penerbit PT. Yogyakarta. Jakarta. . Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1997.

Soehardjo Sastrosoehardjo. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. Program Pascasarjana Ilmu Hukum./Modul/Fils. 2. 1997. 1 . Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar. Semarang. Universitas Diponegoro.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 57 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini./Univ. Menjelaskan falsafah hukum nasional. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa. halaman 44. serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. yaitu:1 a. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. Hk. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. b. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. mahasiswa mampu: 1. 1.

agama./Univ. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. c. apa hakekat kebenaran. sosial. Untuk itu. Pancasila harus tetap terbuka . mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan. Aksiologi. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri.Doc. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. Sehubungan dengan itu. kekuasaan. Hk. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. Ontologi./Modul/Fils. Epistemologi. atau keturunan. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. Narotama Surabaya/V/2005 58 c. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. b. dan sebagainya. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan. Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum.

1997. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern)./Univ./Modul/Fils. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. halaman 106. halaman 9. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. Untuk itu. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 59 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. radikal. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional. Yogyakarta. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. Semarang.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. 2. dan eksploratif. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. 2 . yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. kreatif. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya. 1993. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. Dalam suasana yang demikian. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Penerbit Kanisius. Universitas Diponegoro.Doc. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. perlu dikembangkan critical mass. 3 Theo Hujibers.

akan tetapi belum ada secara menyeluruh. Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. Pancasila berdasar adat kebiasaan. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik./Modul/Fils. dan sintesis. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag. Causa Finalis. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. sosial. Causa Formalis Pancasila. lebih lanjut dikemukakan pula. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. . Hk./Univ. menurut Notonegoro. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. ekonomi. Narotama Surabaya/V/2005 60 disebut “Teori Dialektika”. Sebagai contoh. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. kebudayaan. Dalam Teorinya. yaitu: Pertama. Menurut Hegel pula. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. berdasarkan teori causalis. tetapi juga dalam bidang realitas. kewarganegaraan.Doc. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. ialah anggota BPUPKI. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. dan sebagainya. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. anti tesis. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. dilihat dari causa materialis.

Doc. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. Dikatakan hirarkis. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. Dengan demikian. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal./Univ. Kecuali itu. Penjelasan selanjutnya. dan berkeadilans osial. Hk. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. Pancasila sebagai pandangan hidup. Selanjutnya. Narotama Surabaya/V/2005 61 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. dikatakan piramidal. dan Keadilan Sosial. dalam hal ini PPKI. kerakyatan. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. berkerakyatan. karena jika dilihat dari isinya. demikian seterusnya. Demikian pula sebagai . Persatuan Indonesia. keadilan sosial. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. berpersatuan./Modul/Fils. Sebaliknya. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan.

yaitu: a./Modul/Fils. baik pembukaan. maupun penjelasannya. Narotama Surabaya/V/2005 62 bangsa Indonesia dan warga negara. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. yaitu: Positivisme mementingkan logika. sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. Kepentingan Umum. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. batang tubuh. c. 3. Kepentingan Individu. ideologi negara. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup.Doc. b. Hk. dan dasar negara. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. Pada aliran Positivisme Hukum. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya./Univ. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . yaitu Sociological Jurisprudence. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. Dengan demikian. Kepentingan Masyarakat. Latihan Soal a. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan.

Soehardjo Sastrosoehardjo./Modul/Fils. Universitas Diponegoro. Woro & Sri Hartini. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 63 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. 1993. Penerbit Kanisius. 1997 . Yogyakarta. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Winandi. Hk. Semarang. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Semarang.Doc. 1997. Penerbit Kanisius. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Yogyakarta./Univ. Theo. Universitas Diponegoro. 1993 Theo Hujibers.

Hk.Doc./Univ./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 64 .

4.R. Memahami pengertian filsafat. Sesungguhnya.(nonet) BAB I PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 4. Bahwa memberlakukan jurisprudence saja tidak cukup. 4 . tetapi penegakan hukum harus diperkaya dengan ilmu-ilmu sosial. Menyebutkan pengertian hukum dari berbagai sarjana. Sehingga untuk dapat berfilsafat. Teori ini berpandangan bahwa hukum merupakan cara mencapai tujuan.4 I. yaitu: Filosofia. Dan ini merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum. Membedakan pengertian Ilmu Filsafat dan Agama. Jakarta. Hukum tidak hanya rules (logic & rules). Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. terlebih dahulu orang harus mengetahui apa yang disebut dengan filsafat. 7./Univ. Poedjawijatna. Pengertian Filsafat dan Agama Adakalanya orang mengatakan bahwa orang harus berfilsafat. 5. tetapi juga ada logika-logika yang lain. 1990. 8.Doc. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. Penerbit Rineka Cipta. 6. Menyebutkan ruang lingkup Ilmu Filsafat. istilah “filsafat” merupakan suatu istilah dari bahasa Arab yang terkait dengan istilah dari bahasa Yunani. Narotama Surabaya/V/2005 65 Teori hukum responsif adalah teori hukum yang memuat pandangan kritis. Memahami pengertian hukum./Modul/Fils. Mengetahui pengertian Filsafat Hukum dari berbagai sarjana. 6. Hk. halaman 1. Mengetahui pengertian filsafat hukum.

Dikatakan sebagai ilmu karena filsafat adalah pengetahuan yang metodis. sehingga terdapat kebenaran.Doc. dan hakikat manusia. tetapi yang membedakan adalah objek formanya. Objek materia adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu. Objek materia filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. Jadi secara etimologis. Dengan demikian. lalu berusaha mencapai yang diingini. sistematis. Cit. Menurut Poedjawijatna. hakikat alam. Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup manusia. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Penerbit PT. dan sistematika tertentu. jika filsafat dikatakan sebagai ilmu tanpa batas. kata “filsafat” berasal dari kata majemuk. Hk. objek materia filsafat sama dengan objek ilmu lainnya. Barangkali. objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi dua. Pada intinya objek materia filsafat dapat dibedakan menjadi tiga macam. slogan. Filo artinya „cinta‟ dalam arti yang seluas-luasnya. yaitu tentang hakikat Tuhan./Univ. Poedjawijatna. 6 I. yang tercermin dalam berbagai pepatah. terdapat banyak perumusan yang dikemukakan para penulis filsafat. dan koheren tentang seluruh kenyataan dengan kata lain filsafat memiliki objek. Sedangkan Sofia artinya „kebijaksanaan‟. Objek forma filsafat terdapat pada sudut pandangnya yang tidak membatasi diri dan hendak mencari keterangan sampai sedalam-dalamnya atau sampai kepada hakikat sesuatu.6 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta. Dari sudut isinya. metode. 5 . Bijaksana inipun merupakan kata asing. filsafat dapat dimaknakan: “Ingin mengerti dengan mendalam” atau “cinta kepada kebijaksanaan”. Narotama Surabaya/V/2005 66 Secara etimologis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Dalam kaitannya dengan salah satu unsur yang dipenuhi filsafat sebagai suatu ilmu.5 Filsafat dapat juga diartikan sebagai ilmu. rumusan tersebut di atas dapat disebut sebagai suatu definisi atau pembatasan yang semata-mata berdasarkan atas keterangan nama atau pembatasan nama. halaman 6-9. halaman 4. yakni: filo dan sofia.. R. yaitu ingin dan karena ingin itu. yakni objek materia dan objek forma./Modul/Fils. sedangkan objek forma adalah sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu. lambang dan sebagainya. yang artinya ialah „pandai‟: mengerti dengan mendalam. terlebih-lebih bersifat universal. Pokok-pokok Filsafat Hukum. Op. 1995. yaitu adanya objek tertentu yang dimiliki filsafat.

senantiasa melihat persoalan dari tiap sudut yang ada. g./Modul/Fils. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh lagi dan dilakukan secara terus-menerus. dan hasilnya ialah gejala-gejala semata. yaitu sifat refleksif kritis dari filsafat. dan estetika.Doc. jika yang dianalisis hanya fakta saja. 1998. Filsafat Ilmu. alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. tetapi harus memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kritis berarti analisis yang dibuat filsafat tidak berhenti pada fakta saja. artinya cara berfikir filsafat tidak sempit. maka subjek (manusia) tersebut baru melakukan observasi. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Plato : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan. Untuk itu. Sebuah Pengantar Populer. dari sudut pandang ilmu itu sendiri (fragmentaris atau sektoral). dan spekulatif. Lain halnya. mendasar. Mendasar. Hk. Cit. i. Aristoteles : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmuilmu matematika. Al Farabi : Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekat yang sebenarnya. logika.8 Refleksi berarti pengendapan dari pemikiran yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendalam (contemplation). 7 . yaitu: menyeluruh. ada ciri lain yang perlu ditambahkan. Op. retorika. melainkan analisis nilai. politik. antara lain: f.7 Menyeluruh. halaman 7. artinya bahwa untuk dapat menganalisa suatu persoalan bukanlah pekerjaan yang mudah. filsafat memiliki sedikitnya tiga sifat pokok. h. Sebab. Narotama Surabaya/V/2005 67 Jika ditelaah lebih mendalam. Ada beberapa sarjana penulis filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang filsafat. Jujun S. maka hasilnya bukan gejala-gejala melainkan hakikat. etika. yaitu spekulatif. 8 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Di samping ketiga ciri filsafat tersebut di atas.. Suriasumantri. jika yang dianalisis nilai. Jakarta. ciri ketiga dari filsafat yang berperan. mengingat pertanyaan-pertanyaan yang dibahas berada di luar jangkauan “ilmu biasa”. ekonomi./Univ. Langkahlangkah spekulatif yang dijalankan oleh filsafat tidak boleh sembarangan.

Dengan kata lain.9 Dari perumusan filsafat sebagaimana dikemukakan oleh para penulis filsafat tersebut dapat ditarik intisarinya bahwa filsafat merupakan karya manusia tentang hakikat sesuatu. dari sini muncul apa yang dinamakan filsafat agama. misalnya: Tuhan. 9 . yaitu metafisika. Adapun ada ini dapat ditinjau atau dilihat Lili Rasjidi. Narotama Surabaya/V/2005 68 j. Di sisi lain. Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalam empat persoalan. dan sebagainya. halaman 5./Modul/Fils. kebenaran diterima oleh filsafat bukan karena kepercayaan. Tentu saja perbedaan itu tidak berlaku pada kedudukan filsafat dengan agama.Doc. oleh akrena itu agama ada dan disebut kepercayaan. etika. karena perbedaan itu terletak pada obyek formanya. kebenaran tergantung kepada diwahyukan atau tidak. Di satu sisi. sudut pandang penyelidikan agama didasarkan atas wahyu Tuhan atau firman Tuhan. dengan kata lain objek filsafat itu ada. agama. Penerbit PT. Pada agama. Pada uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa filsafat dapat diartikan sebagai ilmu. karena agama merupakan sesuatu yang ada. sehingga agama juga masuk ke dalam lingkungan filsafat. filsafat berdasarkan pikiran belaka. Bandung. sedangkan agama berdasarkan wahyu. Citra Aditya Bakti. 1990. Dalam agama ada beberapa hal penting yang diselidiki oleh filsafat. Hk. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu. baik dan buruk. melainkan diterima dengan penyelidikan sendiri. karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada. dan antropologi./Univ. Ruang Lingkup Ilmu Filsafat Objek materia filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. namun antara filsafat dan agama memiliki dasar penyelidikan yang berbeda. Yang diwahyukan Tuhan harus dipercayai. pikiran belaka. 5. meskipun demikian antara filsafat dengan keseluruhan ilmu yang bertemu pada obyek materia (segala yang ada dan mungkin ada) tetap berbeda. tetapi tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. kebajikan.

misalnya sifat-sifatnya. Ada menjadi dasar dari segala yang ada. yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam: 1)) Filsafat Alam (Cosmologia): Alam semesta dan isinya merupakan ada yang tidak harus ada. Narotama Surabaya/V/2005 69 dari berbagai penjuru sudut pandang. yang hendak dicari sebabnya yang terakhir atau sebab yang sedalam-dalamnya./Univ. terdapat ada yang bermacam-macam dan ada-umum. Dalam realitas. ada dipandang dari sudut pandang tertentu yang lain dari umum. 4) Filsafat Khusus (Ada-Khusus): Dalam filsafat khusus (ada-khusus). Pada ada-tidak mutlak terdapat banyak macamnya ke golongan ini yang harus diselidiki oleh filsafat darti sudut pandang tertentu. kemampuannya. Alam dicari . d) Ada-Tidak-Mutlak: Di samping ada-mutlak terdapat ada-tidak mutlak. Dengan demikian. Oleh karena itu sudut pandang tersebut banyak macamnya. yang lazim disebut sebagai Theodicea. sehingga filsafat ada-umum disebut Ontologia atau Metaphysica generalis. sehingga muncul bermacam-macam bagian filsafat. filsafat yang mempersoalkan ada-mutlak disebut filsafat ada-mutlak. dan hubungannya dengan ada-khusus-tak mutlak. apabila nanti terdapat ada yang mutlak. Berdasarkan Objek.Doc. yang terdiri dari: c) Theodicea (Ada-Mutlak): Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. Oleh karena itu. maka harus diselidiki sifat-sifatnya. sehingga dapat disebut sebagai ada-tidak mutlak. Padahal di dunia terdapat ada yang tidak mutlak. Segala sesuatunya itu ada. yang semuanya mungkin ditangkap dalam adanya./Modul/Fils. yaitu: b. sehingga memunculkan filsaft bagian yang bermacammacam pula. Hk. ada mungkin dipandang dari sudut keumumannya. Jadi. Pembagian filsafat dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. terdapat bermacam-macam hal. yang dibedakan menjadi dua: 3) Filsafat Umum (Ada-Umum): Pada filsafat umum.

karena ada-nya tidak dengan niscaya. seperti: apakah manusia itu sebenarnya. Narotama Surabaya/V/2005 70 intinya oleh filsafat inti alam itu. dengan demikian filsafat alam disebut kosmologia. dan lain-lain. apakah isi alam pada umumnya. Tindakan manusia sendiri dapat dibedakan lagi menjadi tindakan yang baik atau buruk sehingga untuk menilai tindakan tersebut diperlukan tolok ukur yang terdiri dari norma (aturan) subyektif maupun yang obyektif (terlepas dari subyek yang menilai) dan ini dilakukan dalam ethica atau filsafat tingkah laku./Univ. apakah kemampuan-kemampuannya. yaitu: manusia. kekhususan ada-tidak mutlak merupakan manusia yang mempunyai kemanusiaan yang tercakup di dalamnya soal-soal tentang manusia.Doc. yang terdorong oleh kehendaknya dan diternagi budinya. apakah hubungannya satu sama lain. dan apakah hubungannya satu dengan yang lain serta hubungannya dengan ada-mutlak. 2)) Manusia: Alam merupakan ada-tidak mutlak. Hk. Segala isi alam mungkin lenyap dan pernah tidak ada. apa sifat-sifat pendorong hidup itu. Sehingga filsafatnya disebut filsafat manusia atau anthropologia metphysica. c)) Filsafat Budi (Logika): . apakah sebenarnya itu./Modul/Fils. yang dapat dibagi lagi ke dalam tiga kelompok sebagaimana diuraikan dalam uraian di bawah ini: a)) Filsafat Manusia (Anthropologia-Metaphysika): Dengan sendirinya. b)) Filsafat Tingkah Laku (Ethica): Pada filsafat tingkah laku (ethica) yang diselidiki adalah tindakan-tindakan manusia. apa pendorong hidupnya. namun alam mempunyai kedudukan yang istimewa yang menyelidiki semuanya.

jalan pikiran. seluruh kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Dengan kata lain. dalam filsafat juga dikenal pembagian filsafat berdasarkan subjek. Dari sini timbul persoalan menganai: bagaimanakah cara mencapai pengetahuan itu? Adakah bawaan yang dibekalkan kepada manusia waktu lahir ataukah itu hasil dari usaha kemampuan yang ada padanya dan merupakan pengambilan dari objek yang dikenalnya itu. b. yang terdiri dari 3 (tiga) bidang. yang tidak beruba-ubah dan tetap satu macam. Oleh karena itu dicari jawabannya mengenai persoalan-persoalan sebagai berikut: adakah manusia mempunyai budi dan akal.Doc. ia harus mentaati aturan-aturan yang ada. sampai di mana kebenaran itu dapat dicapai budi./Univ./Modul/Fils. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berfikir merupakan bagian dari logika dan disebut logika minor. manusia memerlukan alat penyelidikan yang disebut budi yang harus diselidiki. karena dalam filsafat tentu ada yang berfilsafat. dan itu dilakukan oleh subjeknya. Pembagian filsafat berdasarkan Subjek: Selain pembagian filsafat berdasarkan objek. Narotama Surabaya/V/2005 71 Untuk melakukan penyelidikan. yaitu: 4) Soal Tahu (Pengetahuan): Soal pengetahuan ada 2 macam menurut sifatnya. Mungkinkah itu hanya gambaran samar-samar atau namanama belaka yang tidak ada hubungannya dengan realitas? Tentu saja . sehingga perlu dikenali pembagian filsafat menurut subjeknya. dapatkah budi mencapai kebenaran? Dari sini timbul persoalan baru: apakah kebenaran itu. dalam bekerjanya budi. yaitu pengetahuan bermacam-macam yang tidak tetap dan pengeatahuan yang berlaku umum. Namun. Sedangkan penyelidikan terhadap isi berfikir disebut logika mayor. seperti: pengertian. seluruh isi budi diselidiki oleh filsafat yang disebut filsafat budi (logika). Hk. sebab tanpa budi tidak akan ada penyelidikan. yaitu manusia. serta putusan-putusan.

budi (logika mayor & minor) h. 5) Soal Ada: Orang berfikir tentu ada. ontologia.Doc. metaphysica generalis) Ada Ada-khusus Ada-mutlak (filsafat ada-mutlak. timbul pertanyaan-pertanyaan tentang ada yang memiliki bermacam-macam sudut pandang. secara garis besar. sehingga timbul pertanyaan seperti: apakah sebetulnya nilai itu dan lebihlebih dalam tingkah laku manusia. misalnya: ada yang tinggi dan rendah. Oleh karena itu./Univ. dan sebagainya. manusia (anthropologia) Tidak-ada mutlak Manusia Fils. Menurut Subjek: . kosmologia) Fils. Narotama Surabaya/V/2005 72 semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebagian oleh Logika dan sebagian oleh Anthropologia. jika ia tidak ada maka dia tidak berfikir. tingkah laku (ethica) Fils. Tentu saja untuk melakukan pernilaian harus ada tolok ukurnya (kriteria). Menurut Objek: Ada-umum (fils. baik lawan buruk. pembagian filsafat menurut obyek dan subyek dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: g. ada-umum. theodicea) Alam (filsafat alam. indah lawan jelek. theodicea. apakah yang dipakai ukuran untuk menentukan baik buruknya? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ethica. kosmologia. Jadi. dan anthropologia). setiap orang akan memiliki pernialaian yang berbeda dan saling bertentangan. Sehingga. Hk. dan ini dijawab oleh filsafat tentang ada (ontologia./Modul/Fils. 6) Soal Pernilaian: Dalam berfikir dan mengadakan putusan.

10 Kaidah/norma sengaja diciptakan agar tidak terjadi benturan-benturan dalam masyarakat. Bandung. untuk ketertiban masyarakat. 1988. terutama anatara kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan. halaman 31. kaedah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit. ketertiban./Modul/Fils.Doc. Remaja Rosdakarya. Penerbit Liberty. Suatu Pengantar. Yogyakarta. Dari segi isi. Mengenal Hukum. terciptalah 4 (empat) kaedah/norma. 10 . g. agar jangan sampai jatuh korban. Hk. halaman 5. yaitu: kaedah kepercayaan (keagamaan). MacIver menggambarkan masyarakat sebagai sarang laba-laba. dan kaedah hukum. dan kesejahteraan. Narotama Surabaya/V/2005 73 Logika Mayor & Minor Soal Pengetahuan Anthropologia Ontologia Theodicea Soal Ada Kosmologia Anthropologia Soal Penilaian Ethica 3. 1991. Dengan adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dan saling berlawanan.11 Dari ke-4 kaedah/norma tersebut hanya kaedah hukum-lah yang lebih melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang sudah dan belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut. kaedah sopan santun (adat). Apakah Hukum Itu?. 11 Sudikno Mertokusumo. kaedah kesusilaan. kaedah hukum ditujukan kepada sikap lahir. Dari segi tujuan. Lili Rasjidi. dengan alasan sebagai berikut: f. Pengertian Hukum Bagi mahasiswa yang baru belajar tentang hukum tentu sangat bermanfaat jika disodori definisi atau pengertian hukum sebelum mengetahui dan mempelajari filsafat hukum./Univ. Filsafat Hukum. karena di dalamnya terdapat berbagai kaidah yang mengatur hubungan antarindividu yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian. Penerbit PT.

i. pemikiran dari John Austin dan Hans Kelsen sangat berpengaruh pada dunia ilmu maupun teori hukum. karena memang tidak ada satu pun sarjana yang dapat membuat pengertian atau definisi hukum secara sempurna. Dari segi sanksi. j. baik pada masa tersebut maupun sesudahnya./Univ. Op. Sebagai contoh pertama. yaitu:12 Lex Aeterna. pada Zaman Pertengahan. pada abad ke-19 hukum dipengaruhi oleh perkembangan dunia ekonomi yang dibarengi dengan kedudukan negara yang semakin kuat dan kukuh dalam hal melakukan kontrol dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendakinya. sehingga pada masa ini lahirlah aliran positivisme (analitis maupun murni) yang menekankan pentingnya kedudukan negara sebagai pembentuk hukum. Cit. berasal dari masyarakat secara resmi. Tentu saja./Modul/Fils. Lex Naturalis. Dengan melihat gambaran mengenai kaedah hukum sebagaimana telah diuraikan tersebut. Pada masa ini. halaman 29-30. berasal dari kekuasaan luar yang memaksa. kekuasaan gereja sedemikian besar sehingga turut melakukan intervensi ke dalam masalah duniawi. sehingga hukum yang dihasilkan pada waktu itu bernafaskan keagamaan dengan mengaitkan inti pemikiran hukum dengan ajaran-ajaran gereja. Narotama Surabaya/V/2005 74 h. misalnya saja Thomas Aquino. pada zaman Romawi. Dari segi asal-usul. Dari segi daya kerja. 12 Lili Rasjidi. Lex Divina. membebani kewajiban dan memberikan hak. termasuk mengatur pemerintahan. Kedua. Ketiga. dan Lex Positivis yang nantinya akan dikupas dalam bagian lain dari tulisan ini mengenai berbagai aliran dalam filsafat hukum.Doc. untuk mendefinisikan hukum bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini terkait dengan perkembangan sejarah hukum dan aliran-aliran dalam filsafat hukum yang tentunya dapat mempengaruhi pengertian dari hukum. yang membagi hukum ke dalam 4 (empat) golongan. para pemikir hukum lebih banyak dituntut untuk memberikan sumbangan pemikiran ke arah pembentukan hukum yang dapat diberlakukan secara luas di semua wilayah Romawi.. Hk. . rasanya masih terlalu sulit untuk mendefinisikan hukum.

/Modul/Fils.Doc. yaitu etika mempelajari hakikat hukum. Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum terkait dengan tingkah laku/perilaku manusia. Bandung. Hakikat dari hukum dapat dijelaskan dengan jalan memberikan definisi dari hukum. Op. Jadi. Narotama Surabaya/V/2005 75 Di samping itu. Rasionya. 6. filsafat hukum adalah hukum dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya yang disebut hakikat. terutama untuk mengatur perilaku manusia agar tidak terjadi kekacauan. dapat disimpulkan bahwa filsafat hukum adalah sub dari cabang filsafat manusia yang disebut dengan etika atau filsafat tingkah laku. juga yang lainnya yang nantinya akan dibahas dalam madzab filsafat hukum. 13 . Dasar-Dasar Filsafat Hukum. masih banyak pendapat dari pemikir-pemikir hukum lain. halaman 4. Lihat Darji Darmodiharjo & Shidarta. seperti Carl von Savigny dan Puchta./Univ. halaman 10. Citra Aditya Bakti. Dengan demikian. terlebih dahulu kita harus mengetahui di mana letak filsafat hukum dalam filsafat. Penerbit PT. Hk. 1988. filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. Bandingkan juga dengan Lili Rasjidi. Pengertian Filsafat Hukum Untuk mengupas pengertian filsafat hukum. Dengan kata lain. Definisi hukum sangat bervariasi tergantung dari sudut pandang para ahli hukum melihatnya seperti yang dikemukakan oleh beberapa sarjana dalam uraian di bawah ini. tepat dikatakan bahwa filsafat manusia berkedudukan sebagai genus. Cit.13 Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini: Umum Ada Ada Khusus Ada Tidak Mutlak Manusia Ada Mutlak Alam Anthropologia Etika Filsafat Hukum Logika Filsafat hukum sebagai sub dari cabang filsafat manusia. etika sebagai species dan filsafat hukum sebagai subspecies..

Doc. Sementara itu Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana orang harus berperilaku. Definisi-definisi hukum tersebut menunjukkan betapa luasnya hukum itu. over de werkelijkheid van het recht als de realisatie van de rechtsidee). 14 . Hk.J. sedangkan satusatunya tujuan dari hukum ialah menjamin keselamatan. Meuwissen berpendapat bahwa filsafat hukum adalah pemikiran sistematis tentang masalahmasalah fundamental dan perbatasan yang berhubungan dengan fenomena hukum. Sedangkan D. Pendapat ini senada dengan pendapat Rudolf von Jhering yang menyatakan bahwa hukum adalah keseluruhan norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara. Pendapat tersebut didukung oleh salah seorang ahli hukum Indonesia Wirjono Prodjodikoro yang menyatakan hukum adalah serangkaian peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. Sementara itu. 1997.14 Uraian lainnya tentang definisi dari filsafat hukum dikemukakan oleh Kusumadi Pudjosewojo yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang hukum yang tidak bisa dijawab oleh ilmu hukum mengenai pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: Apakah tujuan dari hukum itu? Apakah semua syarat keadilan? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hubungannya antara hukum dan Soehardjo Sastrosoehardjo. J./Univ.H. Uraian tentang definisi filsafat hukum dikemukakan oleh Rudolf Stammler yang menyatakan bahwa definisi filsafat hukum adalah ilmu dan ajaran tentang hukum yang adil. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. halaman 5. Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. Semarang. Von Schid menyatakan filsafat hukum merupakan suatu perenungan metodis mengenai hakekat dari hukum (Metodische bebezinning over het wezen van he recht). Dengan mengetahui definisi hukum yang luas tersebut kita dapat menguraikan definisi dari filsafat hukum./Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 76 J.M. dan tata tertib dalam masyarakat. van Kan mendefinisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan yang bersifat memaksa. yang melindungi kepentingan-kepentingan orang dalam masyarakat. kebahagiaan. dan/atau hakekat kenyataan hukum sebagai realisasi dari cita hukum (het systematisch nadenken over alle fundamentele kwesties en grensproblemen het verschijnsel recht samenhangen.

R. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Sebuah Pengantar Populer. Penerbit Liberty. Suriasumantri. Sastrosoehardjo. Citra Aditya Bakti. Filsafat Hukum. Mengenal Hukum. Apakah Hukum Itu?./Univ. dan pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Darji & Shidarta. Gramedia Pustaka Utama. 1988. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. I. Jakarta. Universitas Diponegoro... Penerbit PT. filsafat hukum berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu hukum. Sudikno. Mertokusumo. orang sudah menginjakkan kakinya ke lapangan filsafat hukum. Dengan kata lain./Modul/Fils. Jakarta. Filsafat Ilmu. 1990. Lili. dengan sendirinya orang melewati batas-batas jangkauan ilmu hukum. Yogyakarta. Bandung. 1991. Narotama Surabaya/V/2005 77 keadilan? Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Bandung. 1998. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Semarang. 1995. Soehardjo. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Jakarta. Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Penerbit Rineka Cipta. .Doc. Remaja Rosdakarya. Hk. Rasjidi. Suatu Pengantar. Penerbit PT. ________________. Penerbit PT. Jujun S. Poedjawijatna. 1990. 1997.

karena waktu yang sangat menentukan terjadinya sejarah. Hal ini berlaku juga pada saat membicarakan sejarah perkembangan filsafat hukum yang diawali dengan zaman Yunani (Kuno). Plato. Jakarta. Herakleitos. Kaum sofis inilah yang berperan dalam perkembangan sejarah filsaft hukum pada zaman Yunani. Herakleitos (540-475 SM)./Univ. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Yunani (Kuno) Berbicara sejarah tidak akan terlepas dari dimensi waktu. 6. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman pertengahan. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman sekarang. 1995. Socrates.Doc. Pada zaman Yunani hiduplah kaum bijak yang disebut atau dikenal dengan sebutan kaum Sofis. Penerbit PT. Parmenides. dan Parmenides (540-475 SM) tetap meyakini adanya Darji Darmodiharjo. Hk. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 5. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman Yunani (Kuno). Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 6.1 Para filsuf alam yang bernama Anaximander (610-547 SM). 7. sekarang. Narotama Surabaya/V/2005 78 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat membedakan sejarah perkembangan filsafat hukum dari zaman Yunani sampai dengan abad dewasa ini. Gramedia Pustaka Utama. 8. dan Aristoteles. antara lain: Anaximander. Mengetahui dan menjelaskan Sejarah Filsafat Hukum pada zaman modern./Modul/Fils. dan masa depan. 1 . yaitu dimensi waktu yang terdiri waktu pada masa lampau. halaman 70-71. Tokoh-tokoh penting yang hidup pada zaman ini.

Logos menciptakan bentuk . Yogyakarta. Ia tidak menginginkan terjadinya anarkisme. Kondisi masyarakat pada saat kaum sofis ini hidup sudah terkonsentrasi ke dalam polis-polis. yang ada hanyalah kebenaran subjektif. karena dalam negara demokrasi peranan warga negara sangat besar pengaruhnya dalam membentuk undang-undang.2 Anaximander berpendapat bahwa keharusan alam dan hidup kurang dimengerti manusia. Hk. Penerbit Kanisius.Doc. Herakleitos berpandangan bahwa hidup manusia harus sesuai dengan keteraturan alamiah. tetapi dalam hidup manusia telah digabungkan dengan pengertian-pengertian yang berasal dari logos. Ia berpendapat bahwa logos membimbing arus alam. Tetapi Socrates tidak setuju dengan pendapat yang demikian ini. Socrates menyatakan bahwa untuk dapat memahami kebenaran objektif orang harus memiliki pengetahuan (theoria). Untuk itu diperlukan keteraturan dan keadilan yang hanya dapat diperoleh dengan nomos yang tidak bersumber pada dewa tetapi logos (rasio). 2 . Sementara itu. maka timbullah keadilan (dike). kaum sofis tersebut berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak ada. karena manusialah yang menjadi ukuran untuk segala-galanya. Socrates berpendapat bahwa hukum dari penguasa (hukum negara) harus ditaati. 1993. yakni ketidakpercayaan terhadap hukum. Narotama Surabaya/V/2005 79 keharusan alam ini. dari sini mulai dikenal pengertian demokrasi. Kaum sofis tersebut menyatakan bahwa rakyat yang berhak menentukan isi hukum. halaman 20). Ini terbukti dari kesediaannya untuk dihukum mati. Sedangkan Parmenides sudah melangkah lebih jauh lagi. ukuran. Pendapat ini dikembangkan oleh Plato murid dari Socrates. sehingga alam dan hidup mendapat suatu keteraturan yang terang dan tetap. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Aturan ini terwujud dalam polis di mana warga-warga polis memberi bentuk kepada hidupya sesuai dengan logos (Theo Huijbers./Modul/Fils. dan harmoni yang menghasilkan aturan. Dengan kata lain. sekalipun ia meyakini bahwa hukum negara itu salah. Apabila hal ini terjadi. Dalam mempertahankan pendapatnya./Univ. Tetapi jelas baginya. terlepas dari hukum itu memiliki kebenaran objektif atau tidak. bahwa keteraturan hidup bersama harus disesuaikan dengan keharusan alamiah.

Kedua aliran ini menekankan filsafatnya pada bidang etika. hukum alam menuntut sumbangan warga negara bagi kepentingan umum. . Oleh karena itu. yakni undang-undang negara. Pemikiran Plato inilah yang menjadi cerminan bayangan dari hukum dan negara yang ideal. Tujuannya tidak lain agar penguasa tidak menafsirkan hukum sesuai kepentingannya sendiri. yakni hukum alam dan hukum positif. Hukum yang harus ditaati dabagi menjadi dua. kedua hukum tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Oleh karena itu. yaitu puncak keemasan kebudayaan Yunani yang dipelopori oleh aliran Epikurisme (berasal dari nama filsuf Epikuros) dan Stoisisme (berasal dari kata Stoa yang dicetuskan oleh Zeno). karena hubungannya dengan aturan alam. sehingga hukum tidak pernah berubah. sehingga hukum ditafsirkan menurut selera dan kepentingan penguasa. Hukum alam berbeda dengan hukum positif yang seluruhnya tergantung pada ketentuan manusia. pengertian hukum alam dan hukum positif muncul. Pada zaman Yunani (Kuno) muncul masa Hellenisme. Aristoteles. murid dari Plato tidak sependapat dengan Plato. dari Epikurisme muncul konsep penting tentang undang-undang (hukum posistif) yang mengakomodasi kepentingan individu sebagai perjanjian antar individu. perlu ketaatan terhadap hukum yang dibuat penguasa polis. Meskipun demikian. Aristoteles berpendapat bahwa hakikat dari sesuatu ada pada benda itu sendiri. manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah mahkluk yang bermasyarakat (zoon politikon). hukum alam ditanggapi sebagai suatu hukum yang selalu berlaku dan di mana-mana. jenis dan besarnya sumbangan ditentukan oleh hukum positif. Narotama Surabaya/V/2005 80 Plato berpendapat bahwa penguasa tidak memiliki theoria sehingga tidak dapat memahami hukum yang ideal bagi rakyatnya./Modul/Fils. Dari gagasan Aristoteles ini. Menurut Aristoteles. Menurut Aristoteles. yang baru berlaku setelah ditetapkan dan diresmikan isinya oleh instansi yang berwibawa. Misalnya. Plato menyarankan agar dalam setiap undang-undang dicantumkan dasar (landasan) filosofisnya. Pemikiran Aristoteles sudah membawa kepada hukum yang realistis.Doc. Hk. lenyap dan berlaku dengan sendirinya./Univ.

Penerbit PT. telah timbul keterikatan antara manusia dengan logos. Dalam perkembangannya. pemikiran para filsuf di zaman pertengahan tidak terlepas dari pengaruh filsuf pada zaman Yunani. Dengan kata lain. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. menurut Stoisisme. Sebelum ada zaman pertengahan terdapat suatu fase yang disebut dengan Masa Gelap. Tokoh-tokoh filsafat hukum yang hidup di zaman ini. halaman 13. bukan menurut hukum positif. Ide dasar aliran ini terletak pada kesatuan yang teratur (kosmos) yang bersumber dari jiwa dunia (logos). yakni Budi Ilahi yang menjiwai segalanya. sehingga masa ini dikenal sebagai masa gelap.Doc. sehingga tidak ada satupun peninggalan peradaban bangsa Romawi yang tersisa.3 dan mulai berkembangnya agama Islam./Modul/Fils. Citra Aditya Bakti. 1990. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Pertengahan Perkembangan sejarah filsafat hukum pada zaman pertengahan dimulai sejak runtuhnya kekuasaan kekaisaran Romawi pada abad ke-5 SM (masa gelap/the dark ages) yang ditandai dengan kejayaan agama Kristen di Eropa (masa scholastic)./Univ. Bandung. 3 . tujuan hukum adalah keadilan menurut logos. 7. Narotama Surabaya/V/2005 81 sehingga pemikiran dari penganut Epikurisme merupakan embrio dari teori perjanjian masyarakat. Sedangkan Thomas Aquinas sebagai seorang rohaniwan Katolik telah meletakkan perbedaan secara tegas antara hukum-hukum yang berasal dari wahyu Lihat Lili Rasjidi. Sehingga ketaatan menurut hukum positif baru dapat dilakukan sepanjang hukum positif sesuai dengan hukum alam. antara lain Augustinus (354-430) dan Thomas Aquino/Thomas Aquinas (1225-1275). terjadi pada saat Kekaisaran Romawi runtuh dihancurkan oleh suku-suku Germania. Oleh karena itu. Tentu saja pemikiran Augustinus bersumber dari Tuhan atau Budi Allah yang diketemukan dalam jiwa manusia. Stoisisme mencoba meletakkan prinsip-prinsip kesederajatan manusia dalam hukum. yang selanjutnya diartikan sebagai rasio. Hk. misalnya saja Augustinus mendapat pengaruh dari Plato tentang hubungan antara ide-ide abadi dengan benda-benda duniawi.

Tentu saja zaman Renaissance membawa dampak perubahan yang tajam dalam segi kehidupan manusia. John Locke (1632-1704). Wolf (1679-1754). halaman 39. ditemukannya dunia-dunia baru. Terlepasnya alam pikiran manusia dari ikatan-ikatan keagamaan menandai lahirnya zaman ini. Op. dan Immanuel Kant (1724-1804). hukum yang dijangkau akal budi manusia (Lex Divina). Rousseau (17121778). Hk. sehingga rasio manusia sama sekali terlepas dari ketertiban ketuhanan. 9. George Berkeley (1685-1753).. hukum yang berdasarkan akal budi manusia (Lex Naturalis). rasio manusia tidak lagi dapat dilihat sebagai penjelmaan dari rasio Tuhan. Samuel Pufendorf (1632-1694). Narotama Surabaya/V/2005 82 Tuhan (Lex Aeterna)./Modul/Fils. dan hukum positif (Lex Positivis). perkembangan teknologi yang sangat pesat.4 Pembagian hukum atas keempat jenis hukum yang dilakukan oleh Thomas Aquinas nantinya akan dibahas dalam pelbagai aliran filsafat hukum pada bagian lain dari tulisan ini.J. lahirnya segala macam ilmu baru. Cit. Montesquieu (1689-1755). Demikian juga terhadap dunia pemikiran hukum. 8. Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Modern Pada zaman ini para filsuf telah meletakkan dasar bagi hukum yang mandiri. Thomasius (1655-1728). Francis Bacon (1561-1626). antara lain: William Occam (1290-1350). Pandangan ini jelas dikumandangkan oleh para penganut hukum alam yang rasionalistis dan para penganut faham positivisme hukum. J. . Rene Descartes (1596-1650). Sejarah Filsafat Hukum Pada Zaman Sekarang 4 Lihat Theo Huijbers. Rasio manusia ini dipandang sebagai satu-satunya sumber hukum. berdirinya negara-negara baru. Tokoh-tokoh yang berperan sangat penting pada abad pertengahan ini. dan sebagainya. yang terlepas sama sekali dari hukum abadi yang berasal dari Tuhan.Doc./Univ. David Hume (17111776). Zaman modern ini juga disebut Renaissance. Thomas Hobbes (1588-1679).

Cit. Op. Filsafat hukum yang berkembang di zaman modern berbeda dengan filsafat hukum yang berkembang pada zaman modern. . setiap fase dalam perkembangan dunia merupakan rentetan dari fase berikutnya.. Hegel merupakan tokoh utama dalam idealisme Jerman. juga von Savigny sebagai pelopor mazhab sejarah. masih ada beberapa ahli pikir lain.W. artinya setiap pengertian mengandung lawan dari pengertian itu sendiri. halaman 37. Fichte (1762-1814) dan F. rasio tidak hanya rasio individual melainkan juga rasio Keilahian. aliran ini berkembang pesat pada abad ke-19. ia merupakan penerus rasionalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant. Menurut teori dialektika Hagel.Doc. Hk.F. yang popularitasnya mengalahkah ahli pikir di zamannya.5 Teori dialektika Hegel ini dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut ini: Ada Tidak Ada Negara diktator Negara Anarkhis Ide Menjadi Negara demokratis konstitusional Selain Hegel. juga von Savigny yang menyatakan bahwa hukum tidak dibuat tetapi tumbuh bersama-sama dengan perkembangan masyarakat./Modul/Fils. Menurut Hegel. Tritunggal tersebut terdiri dari these-antithese-synthese. Perkembangan dari yang ada kepada yang tidak ada atau sebaliknya mengandung katagori yang ketiga. Teorinya disebut Dialektika. maka pada zaman sekarang rasionalisme yang berkembang dilengkapi dengan empirisme. Jika pada zaman modern berkembang rsionalisme. Schelling (1775-1854). Di samping Marx dan Engels. Narotama Surabaya/V/2005 83 Yang dimaksud dengan zaman sekarang dimulai pada abad ke-19.J. seperti Hobbes. yang pada akhirnya dari setiap synthese merupakan titik tolak dari tritunggal yang baru. seperti Hegel (1770-1831). seperti Karl Marx dan Engels yang menyatakan bahwa hukum dipandang sebagai pernyataan hidup dalam masyarakat. Pandangan Savigny ini telah memasukkan faktor sejarah ke dalam 5 Lili Rasjidi. sehingga faktor sejarah juga mendapat perhatian dari para pemikir hukum pada waktu itu. Karl Marx (18181883). seperti J./Univ. yaitu akan menjadi. Namun.

/Univ. Pertengahan Z. Bacon Wolf Montesquieu J. Yunani (Kuno) Z. halaman 82.. Occam Hegel R. Sekarang Masa Gelap Anaximander Herakleitos Parmenides Socrates Plato Aristoteles Augustinus Thomas Aquino W. Modern Z.6 Dari beberapa fase perkembangan filsafat hukum yang diawali sejak zaman Yunani (Kuno) dapat digambarkan dalam suatu ikhtisar berikut ini: Z. Hobbes Schelling J. Mengapa Hegel dikatakan sebagai penerus Immanuel Kant? 12. Rousseau Immanuel Kant 10. Di mana letak pengaruh pemikiran filsuf zaman Yunani terhadap pemikiran para filsuf di zaman pertengahan? Bagaimana pula Thomas Aquinas membagi hukum? 10. Herakleitos. Mengapa Socrates tidak percaya terhadap kebenaran subjektif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Sofis? 9. Mengapa kaum Sofis (Anaximander. Berkeley D. dan Parmenides) berpendapat untuk dapat menciptakan keteraturan dan keadilan diperlukan nomos yang bersumber pada logos (rasio)? 8. .J. Mengapa zaman modern dikatakan sebagai zaman Renaissance? Jelaskan! 11. Hume F. Op.Doc. Sehingga pandangan dari Savigny melahirkan Mazhab Sejarah. Narotama Surabaya/V/2005 84 pemikiran hukum yang selanjutnya melahirkan pandangan relatif terhadap hukum. Jelaskan teori dialektika Hegel? 6 Darji Darmodiharjo & Shidarta. Latihan Soal 7. Descartes Fichte T. Cit./Modul/Fils. Locke von Savigny G. Hk.

Jakarta. 1993. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah./Univ. Lili. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1995. Penerbit PT. . Rasjidi. Darji & Shidarta. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Gramedia Pustaka Utama. Penerbit Kanisius. Penerbit PT.Doc. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 85 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. 1990./Modul/Fils. Huijbers. Yogyakarta. Theo. Citra Aditya Bakti. Bandung.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

86

BAB III ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM Tujuan Instruksional Umum: 3. Mahasiswa dapat memahami berbagai aliran dalam Filsafat Hukum. 4. Mahasiswa dapat membandingkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum.

Tujuan Instruksional Khusus: 2. Mahasiswa dapat menyebutkan berbagai aliran dalam Filsafat Hukum, yaitu: a. Aliran Hukum Alam. b. Aliran Hukum Positif. c. Aliran Utilitarianisme. d. Aliran Sejarah. e. Alian Positivisme. f. Aliran Sociological Jurisprudence. g. Aliran Legal Realism.

3. Berbagai Aliran Dalam Filsafat Hukum dan Perbedaannya Dalam filsafat hukum dikenal pembagian pelbagai aliran atau mazhab, yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana, antara lain F.S.G. Northrop dan Lili Rasjidi.1 Northrop membagi aliran atau madzhab filsafat hukum ke dalam 5 (lima) aliran, yaitu: f. Legal Positivism. g. Pragmatic Legal Realism. h. Neo Kantian and Kelsenian Ethical Jurisprudence. i. Functional Anthropological or Sociological Jurisprudence. j. Naturalistic Jurisprudence.

Lili Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat Hukum, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti Bandung, 1990, halaman 26-27.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

87

Sedangkan Lili Rasjidi membagi aliran/madzhab filsafat hukum ke dalam 6 (enam) aliran besar, masing-masing: g. Aliran Hukum Alam: 3) Yang Irrasional. 4) Yang Rasional. h. Aliran Hukum Positif: 3) Analitis. 4) Murni. i. Aliran Utilitarianisme. j. Madzhab Sejarah. k. Sociological Jurisprudence. l. Pragmatic Legal Realism. Selain kedua orang tokoh tersebut ada juga sarjana lain, yaitu Soehardjo Sastrosoehardjo yang membagi filsafat hukum ke dalam 9 (sembilan) aliran atau madzhab, yaitu:2 j. Aliran Hukum Kodrat/Hukum Alam. k. Aliran Idealisme Transendental (Kantianisme). l. Aliran Neo Kantianisme. m. Aliran Sejarah. n. Aliran Positivisme. o. Aliran Ajaran Hukum Umum. p. Aliran Sosiologi Hukum. q. Aliran Realisme Hukum. r. Aliran Hukum Bebas. Ketiga sarjana tersebut dalam membagi-bagi aliran dalam filsafat hukum tidak sama, karena memang tergantung pada penafsiran masing-masing orang dalam memilah-milahkan aliran dalam filsafat hukum.

Soehardjo Sastrosoehardjo, Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum, Program Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang, 1997, halaman 1.

2

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

88

Dalam tulisan ini, penulis menggunakan pembagian aliran/madzhab filsafat hukum menurut pendapat dari Lili Rasjidi, seorang guru besar imu hukum dari Universitas Padjadjaran, Bandung dengan penjelasan sebagai berikut: a. Aliran Hukum Alam: Aliran ini berpendapat bahwa hukum berlaku universal (umum). Menurut Friedman, aliran ini timbul karena kegagalan manusia dalam mencari keadilan yang absolut, sehingga hukum alam dipandang sebagai hukum yang berlaku secara universal dan abadi.3 Gagasan mengenai hukum alam didasarkan pada asumsi bahwa melalui penalaran, hakikat mahkluk hidup akan dapat diketahui dan pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi tertib sosial serta tertib hukum eksistensi manusia. Hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia. Aliran hukum alam ini dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: 2) Irrasional: Aliran ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan abadi bersumber dari Tuhan secara langsung. Pendukung aliran ini antara lain: Thomas Aquinas (Aquino), John Salisbury, Daante, Piere Dubois, Marsilius Padua, dan John Wyclife. Thomas Aquinas membagi hukum ke dalam 4 golongan, yaitu: e) Lex Aeterna, merupakan rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala hal dan merupakan sumber dari segala hukum. Rasio ini tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. f) Lex Divina, bagia dari rasio Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia berdasarkan waktu yang diterimanya. g) Lex Naaturalis, inilah yang dikenal sebagai hukum alam dan merupakan penjelmaan dari rasio manusia. h) Lex Posistivis, hukum yang berlaku merupakan pelaksanaan hukum alam oleh manusia berhubung dengan syarat khusus yang diperlukan oleh

Darji Darmodiharjo & Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1995, halaman 102.

3

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

89

keadaan dunia. Hukum ini diwujudkan ke dalam kitab-kitab suci dan hukum positif buatan manusia. Penulis lain, William Occam dari Inggris mengemukakn adanya hirarkis hukum, dengan penjelasan sebagai berikut: d) Hukum Universal, yaitu hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang bersumber dari rasio alam. e) Apa yang disebut sebagai hukum yang mengikat masyarakat berasal dari alam. f) Hukum yang juga bersumber dari prinsip-prinsip alam tetapi dapat diubah oleh penguasa. Occam juga berpendapat bahwa hukum identik dengan kehendak mutlak Tuhan Sementara itu Fransisco Suarez dari Spanyol berpendapat demikian, manusia yang bersusila dalam pergaulan hidupnya diatur oleh suatu peraturan umum yang harus memuat unsusr-unsur kemauan dan akal. Tuhan adalah pencipta hukum alam yang berlaku di semua tempat dan waktu. Berdasarkan akalnya manusia dapat menerima hukum alam tersebut, sehingga manusia dapat membedakan antara yang adil dan tidak adil, buruk atau jahat dan baik atau jujur. Hukum alam yang dapat diterima oleh manusia adalah sebagian saja, sedang selebihnya adalah hasil dari akal (rasio) manusia. 2) Rasional: Sebaliknya, aliran ini mengatakan bahwa sumber dari hukum yang universal dan abadi adalah rasio manusia. Pandangan ini muncul setelah zaman Renaissance (pada saat rasio manusia dipandang terlepas dari tertib ketuhanan/lepas dari rasio Tuhan) yang berpendapat bahwa hukum alam muncul dari pikiran (rasio) manusia tentang apa yang baik dan buruk penilaiannya diserahkan kepada kesusilaan (moral) alam. Tokoh-tokohnya, antara lain: Hugo de Groot (Grotius), Christian Thomasius, Immanuel Kant, dan Samuel Pufendorf. Pendasar hukum alam yang rasional adalah Hugo de Groot (Grotius), ia menekankan adanya peranan rasio manusia dalam garis depan, sehingga rasio

Oleh karena itu rasio manusialah sebagai satu-satunya sumber hukum. Tokoh penting lainnya dalam aliran ini ialah Immanuel Kant. halaman 12. Salah satu karya Kant yang berjudul Metaphysische Anfangsgruende der Rechtslehre (Dasar Permulaan Metafisika Ajaran Hukum merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Metaphysik der Sitten) pokok pikirannya ialah bahwa manusia menurut darma kesusilaannya mempunyai hak untuk berjuang bagi kebebasan lahiriahnya untuk menghadirkan dan melaksanakan kesusilaan. tetapi justru pada manusia ideala berkepribadian humanistis. yaitu: Kritik Akal Budi Manusia (kritik der reinen Vernunft yang terkait dengan persepsi). Ajaran Kant dimuat dalam tiga buah karya besar./Modul/Fils. Hk. Katagori imperatif Kant mewajibkan semua anggota masyarakat tetap mentaati hukum positif negara sekalipun di dalam hukum terebut terdapat 4 Soehardjo Sastrosoehardjo.. and feeling). beserta corak berfikir yang bersifat teoritis keilmuan alamiah (natuurweten schappelijke denkwijze).4 Metode kritis tidak skeptis. . Op. Kritik Daya Adirasa (kritik der Urteilskraft yang terkait dengan estetika dan harmoni)./Univ. Hakekat hukum bagi Kant adalah bahwa hukum itu merupakan keseluruhan kondisi-kondisi di mana kehendak sendiri dari seseorang dapat digabungkan dengan kehendak orang lain di bawah hukum kebebasan umum yang meliputi kesemuanya. yaitu cipta. tetapi pada kebebasan jiwa susila manusia yang mampu secara mandiri menciptakan hukum kesusilaan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. volition. Cit. Yang penting bukan manusia ideal berilmu atau ilmuwan.Doc. Kritik Akal Budi Praktis (kritik der praktischen Vernunft yang terkait dengan moralitas). Dan hukum berfungsi untuk menciptakan situasi kondisi guna mendukung perjuangan tersebut. lawan dari filsafat dogmatis. dan karsa (thinking. Hakekat manusia (homo noumenon) tidak terletak pada akalnya. rasa. Narotama Surabaya/V/2005 90 manusia sama sekali terlepas dari Tuhan. Ajaran Kant tersebut ada korelasinya dengan tiga macam aspek jiwa manusia. Filsafat dari Kant dikenal sebagai filsafat kritis. tidak dogmatis (trancendental).

yaitu Analytical Jurisprudence. Hk. Tidak ada antimoni antara nalar/akal dengan kenyataan atau realitas. das ist wirklich ist. berkembang bentuk yang agak lain. Di Inggris. and what is real is reasonable). seluruh kenyataan kodrat alam dan kejiwaan merupakan proses perkembangan sejarah secara dialektis dari roh/cita/spirit mutlak yang senantiasa maju dan berkembang. antitesa. Austin membagi hukum atas 2 hal. di sini sudah terdapat larangan mutlak bagi perilaku yang tergolong melawan penguasa negara. Pertumbuhan dan perkembangan dialektis melalui tesa. . 3) Analitis Pemikiran ini berkembang di Inggris namun sedikit ada perbedaan dari tempat asal kelahiran Legisme di Jerman. telah berkembang suatu pemikiran dalam ilmu hukum yang disebut dengan Legisme yang memandang tidak ada hukum di luar undangundang./Univ./Modul/Fils. What is reasonable is real. Jiwa mutlak mengandung dan mencakup seluruh tahap-tahap perkembangan sebelumnya jadi merupakan permulaan dan kelahiran segala sesuatu. Jadi. demikan juga dengan hukum. yang dikenal dengan ajaran Positivisme Hukum dari John Austin. Negara merupakan perwujudan jiwa mutlak. dan apa yang nyata adalah menurut nalar (Was vernunftig ist. Yang dijadikan motto oleh Hegel ialah: Apa yang nyata menurut nalar adalah nyata. das ist vernunftig. penampilan dan esensinya juga dikuasai oleh hukum dialektika. dalam hal ini satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang. yaitu: c) Hukum yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. Pendapat Kant ini diikuti oleh Fichte yang mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber dari rasio manusia.Doc. b. san sintesa yang berlangsung secara berulang-ulang dan terus-menerus. Bagi Hegel. Filsafat hukum dalam bentuk maupun isinya. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah Hegel dari Jerman. Aliran Hukum Positif Sebelum aliran ini lahir. sehingga dengan katagori imperatif ini ajaran dari Immanuel Kant juga dapat digolongkan ke dalam aliran positivisme. Narotama Surabaya/V/2005 91 unsur-unsur yang bertentangan dengan dasar-dasar kemanusiaan.

Jenis ini disebut sebagai hukum positif yang terdiri dari hukum yang dibuat penguasa. Hukum dalam arti yang tidak sebenarnya. Idealisme hukum ditolak sama sekali. contoh: ketentuan-ketentuan dalam organisasi atau perkumpulan-perkumpulan. peraturan pemerintah. dan sebagainya. hukum yang dibuat atau disusun rakyat secara individuil yang dipergunakan untuk melaksanakan hakhaknya. Hans Kelsen seorang Neo Kantian. Ajaran tersebut dikenal dengan nama Reine Rechtslehre atau ajaran hukum murni. Sedang Hans Kelsen secara tegas mengatakan tidak menganut berlakunya suatu hukum alam. Sehingga ketentuan yang tidak memenuhi keempat unsur tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hukum. Ilmu (hukum) adalah susunan formal tata urutan/hirarki norma-norma. dalam hukum yang nyata pada point pertama. Menurut Austin. namun pemikirannya sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Rudolf Stammler. dan sebagainya. seperti: undang-undang. 4) Murni Ajaran hukum murni dikatagorikan ke dalam aliran positivisme. kewajiban. Menurut ajaran tersebut. sosiologi./Univ. etika. Perbedaannya terletak pada penggunaan hukum alam./Modul/Fils. sanksi.Doc. Adapun pokok-pokok ajaran Kelsen adalah sebagai berikut: . yang terdiri dari: hukum dalam arti yang sebenarnya. dalam arti hukum yang tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum. Narotama Surabaya/V/2005 92 d) Hukum yang disusun dan dibuat oleh manusia. Ajaran Kelsen juga dapat dikatakan mewakili aliran positivisme kritis (aliran Wina). sejarah. contoh hak wali terhadap perwaliannya. dan kedaulatan. Stanmmler masih menerima dan menganut berlakunya suatu hukum alam walaupun ajaran hukum alamnya dibatasi oleh ruang dan waktu. karena hal-hal ini oleh Kelsen dianggap tidak ilmiah. Hk. walaupun Kelsen mengemukakan adanya asas-asas hukum umum sebagaimana tercermin dalam Grundnorm/Ursprungnormnya. hukum harus dibersihkan dari dan/atau tidak boleh dicampuri oleh politik. karena pandangan-pandangannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Auistin. di dalamnya terkandung perintah.

l) Hubungan kedudukan antara tori hukum dengan sistem hukum positif tertentu adalah hubungan antara hukum yang serba mungkin dan hukum yang senyatanya. demikian seterusnya hingga sampai pada suatu Grundnorm. Yang disebut belakangan adalah tugas ilmum politik. Narotama Surabaya/V/2005 93 g) Tujuan teori ilmu hukum sama halnya dengan ilmu-ulmu yang lain adalah meringkas dan merumuskan bahan-bahan yang serba kacau dan keserbanekaragaman menjadi sesuatu yang serasi. h) Teori filsaft hukum adalah ilmu. Op. Teori konkretisasi hukum menganggap suatu sistem hukum sebagai atau susunan yang piramidal. etiika atau agama. yang berfungsi sebagai dasar terakhir/tertinggi bagi berlakunya keseluruhan hukum positif yang bersangkutan.Doc. bukan ilmu ke-alaman (natuurwetenschap) yang dikuasai oleh hukum kausalitas. yaitu dalil yang secara transendental menentukan bahwa norma dasar terakhir/tertinggi secara logis harus ada lebih dahulu../Univ. teori tentang ara atau jalannya mengatur perubahan-perubahan dalam hukum secara khusus. masalah cipta. Hk. Kekuatan berlakunya hukum tertentu tergantung pada norma hukum yang lebih tinggi.5 yang kemudian diambil alih oleh Hans Kelsen./Modul/Fils. seorang murid dari Rudolf von Jhering. Fungsi teori hukum ilah menjelaskan hubungan antara norma-norma dasar dan norma-norma lebih rendah dari hukum. . halaman 43. tetapi sebagai suatu Transcendental Logische Voraussetzung. yang sekaligus berfungsi sebagai penjelasan atau pembenaran ilmiah bahwa keseluruhan norma- 5 Bandingkan dengan Lili Rasjidi. i) Hukum adalah ilmu normatif. k) Teori hukum adalah formal. Cit. Fungsi hukum tersebut bukan dalam arti hukum kodrat. tetapi tidak menentukan apakah norma dasar itu baik atau tidak. Stufentheorie diciptakan pertama kali oleh Adolf Merkl (1836-1896). bukan masalah apa yang dikehendaki. bukan karsa dan rasa. j) Teori/filsafat hukum adalah teori yang tidak bersangkut paut dengan kegunaaan atau efektivitas norma-norma hukum.

objek hukum. Dari hakekat ini lebih lanjut ditarik 8 (delapan) macam kategori hukum. Aliran Utilitarianisme Aliran ini dipelopori oleh Jeremy Bentham (1748-1832). Pengertian dasar atau kategori hukum itu berupa metode pikiran formil yang adanya tidak ditentukan oleh atau digantungkan pada isi atau aturan hukum. kekuasaan hukum.q. berkuasa atas diri dan tidak bisa diganggu (wollen. meneliti secara transendental kritis (metode yang berasal dari Kant) bentuk-bentuk kesadaran manusia hingga menerobos sampai pada landasan/dasar transendental logis penghayatan hukum yang berujud hakekat pengertian hukum.Doc. Hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi syarat atau tertentu “social-ideal”. Narotama Surabaya/V/2005 94 norma c. John Stuart Mill (1806-1873). Penulis lain bernama Rudolf Stammler (1856-1938) merupakan tokoh kebangkitan kembali filsafat c. Apabila ilmu hukum meneliti dan mengkaji. Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan kesusahan. penundukan hukum. Hk. hukum kodrat gaya baru. i. Asasasas hukum umum yang menentukan kebaikan isi atuan hukum. yakni ujud dari manusia dalam kehidupan masyarakat yang memiliki kehendak bebas (Gemeinschaft frei wollender Menschen). secara positif. tidak termasuk pengertian hukum tetapi tergolong pada cita hukum. peraturan-peraturan dalam hukum positif yang bersangkutan itu pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang serasi. Manusia selalu berusaha . Hakekat pengertian hukum atau pengertian hukum yang transendental ini mempunyai unsur-unsur: kehendak/karsa. dan Rudolf von Jhering (1818-1889). dasar hukum.q. verbinden. yaitu hukum kodrat yang senantiasa berubah yang mengajarkan bahwa filsafat hukum adalah ilmu/ajaran tentang hukum yang adil (die lehre vom richtigen recht)./Univ. selbstherrlichkeit unverletzbarkeit). mengikat./Modul/Fils. menurut hukum (rechtmatigeheid). maka tugas dan fungsi filsafat hukum ialah dengan abstraksi bahan-bahan variabel tersebut. yaitu: subjek hukum. tidak semata-mata pada bentuk hukumnya. Cita hukum yang sosial ini berfungsi regulatif terhadap sistem hukum positif. hubungan hukum. dan melawan hukum.

jadi merupakan gabungan antara teori yang dikemukakan oleh Bentham. maka akan terjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain). Sebagian dari pokok ajarannya ialah bahwa hukum itu tidak .Doc. Aliran Sejarah Tokoh-tokohnya antara lain Friedrich Carl von Savigny (1778-1861) dan Puchta (1789-1846). perasaan individu akan keadilan dapat membuat individu itu menyesal dan ingin membalas dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. untuk itu perlu ada batasan yang diwujudkan dalam hukum. Mill juga menolak pandangan Kant yang mengajarkan bahwa individu harus bersimpati pada kepentingan umum. Pendapat lain dilontarkan Rudolf von Jhering yang menggabungkan antara utilitarianisme yang individual maupun yang sosial./Univ. Keberadaan hukum diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan kepentingan individu dalam mengejar kebahagiaan yang sebesar-besarnya. Oleh karena itu. Pada hakekatnya. Penulis lain yang tidak kalah pentingnya ialah John Stuart Mill yang lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis. j. Dengan kata lain. Dalam mendefinisikan kepentingan. Tugas hukum adalah memelihara kebaikan dan mencegah kejahatan. Bagi Jhering. tujuan hukum adalah untuk melindungi kepentingankepentingan. jikas tidak demikian. Manusia berusaha memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal yang membangkitkan nafsunya. ia mengikuti Bentham. Mill. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 95 memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahannya. dan positivisme hukum dari John Austin./Modul/Fils. Kemudian Mill lalu menganalisis hubungan antara kegunaan dan keadilan. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia ialah kebahagiaan. untuk memelihara kegunaan. dengan melukiskannya sebagai pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan tetapi kepentingan individu dijadikan bagian dari tujuan sosial dengan menghubungkan tujuan pribadi seseorang dengan kepentingan-kepentingan orang lain. ajaran Bentham dikenal sebagai utilitarianisme yang individual. karena Jhering dikenal sebagai pandangan utilitarianisme yang bersifat sosial. Kebaikan adalah kebahagiaan dan kejahatan adalah kesusahan.

/Univ. karena walaupun volksgeist itu dapat menjadi bahan kasarnya./Modul/Fils. berkembang bersama dengan rakyat. bilden sich aus mit diesem. namun ia akan mati. berupa adat-istiadat. Paton memberikan sejumlah catatan terhadap pemikiran Savigny sebagai berikut: 5) Jangan sampai kepentingan dari golongan masyarakat tertentu dinyatakan sebagai volksgeist dari masyarakat secara keseluruhannya. 6) Tidak selamanya peraturan perundang-undangan timbul begitu saja. 8) Dalam banyak kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar daripada yang diakui oleh penganut Mazhab Sejarah. Tantangan von Savigny terhadap kodifikasi Perancis itu telah menyebabkan hampir satu abad lamanya Jerman tidak memiliki kodifikasi hukum perdata. tetap saja perlu ada yang menyusunnya kembali untuk diproses menjadi bentuk hukum. Sedang Puchta. karena dalam kenyataannya banyak ketentuan mengenai serikat kerja di Inggris yang tidak akan terbentuk tanpa perjuangan keras. Von Savigny berkeinginan agar hukum Jerman itu berkembang menjadi hukum nasional Jerman. und strirbt endlich ab sowie das volk seineen eigentuum lichkeit verliert). tetapi pada hakekatnya lahir dan tumbuh dari dan dengan rakyat. Sumber hukum intinya adalah hukum kebiasaan adalah volksgeist jiwa bangsa atau jiwa rakyat. Banyak bangsa yang dengan sadar mengambil alih Hukum Romawi dan mendapat pengaruh dari Hukum Perancis. di samping itu juga hendak memberi tempat yang terhormat bagi hukum rakyat Jerman yang asli di negara Jerman sendiri. Pengaruh pandangan von Savigny juga terasa sampai jauh ke luar batas negeri Jerman. 7) Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak mendapat perhatian.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 96 dibuat. es wachst mit dem volke vort. manakala rakyat kehilangan kepribadiannya (das recht wirdnicht gemacht. Hk. termasuk penganut aliran sejarah dan sebagai murid von Savigny berpendapat bahwa hukum dapat berbentuk: 4) Langsung. Tulisan von Savigny sebenarnya merupakan reaksi langsung terhadap Thibaut . .

halaman 120-121. Yogyakarta. Menurut Puchta.Doc. k. pikiran-pikiran mereka tentang hukum memerlukan pengesahan negara supaya berlaku sebagai hukum. Di lain pihak. Puchta mengutamakan pembentukan hukum dalam negara sedemikian rupa. Hk./Modul/Fils. sedangkan “bangsa alam” memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. yang berkuasa dalam negara tidak membutuhkan dukungan apapun. Adapun yang memiliki hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional (negara). yaitu bangsa dalam pengertian etnis yang disebut “bangsa alam” dan bangsa dalam arti nasional sebagai kesatuan organis yang membentuk satu negara. Namun ketika pembentukan hukum tersebut masih berhubungan erat dengan jiwa bangsa (volksgeist) yang bersangkutan. Dengan adanya pemikiran dan pandangan puchta yang demikian ini. Ia berhak membentuk undang-undang tanpa bantuan kaum yuris. sehingga akhirnya tidak ada tempat lagi bagi sumber-sumber hukum lainnya. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Penerbit Kanisius. Narotama Surabaya/V/2005 97 5) Melalui undang-undang. Adat-istadat bangsa hanya berlaku sebagai hukum sesudah disahkan oleh negara.6 Buku Puchta yang terkenal berjudul Gewohnheitsrecht. 6 . tanpa menghiraukan apa yang hidup dalam jiwa orang dan dipraktikkan sebagai adatistiadat. menurut Theo Huijbers dikatakan tidak jauh berbeda dengan Teori Absolutisme negara dan Positivisme Yuridis. Puchta membedakan pengertian “bangsa” ke dalam dua jenis./Univ. Aliran Sociological Jurisprudence Theo Huijbers. yakni praktik hukum dalam adat-istiadat bangsa dan pengolahan ilmiah hukum oleh ahli-ahli hukum. 6) Melalui ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum. Lebih lanjut. Sama halnya dengan pengolahan hukum oleh kaum Yuris. keyakinan hukum yang hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum masyarakat yang terorganisasi dalam negara. 1993. Negera mengesahkan hukum itu dengan membentuk undang-undang.

Doc. Aliran Sociological Jurisprudence berbeda dengan Sosiologi Hukum. Eugen Ehrlich. Benjamin Cardozo. Sosiologi hukum sebagai cabang sosiologi yang mempelajari pengaruh masyarakat kepada hukum dan dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam masyarakat dapat mempengaruhi hukum di samping juga diselidiki juga pengaruh sebaliknya. . Gurvitch dan lain-lain. Dari 2 (dua) hal tersebut di atas (sociological jurisprudence dan sosiologi hukum) dapat dibedakan cara pendekatannya. pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa yang dilakukan oleh penguasa negara. antara lain: Roscoe Pound. Kontorowics./Univ. Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mempelajari hukum sebagai gejala sosial. Cit. halaman 47. Narotama Surabaya/V/2005 98 Pendasar aliran ini. Op. Hk. Sociological jurisprudence. sedang Sociological Jurisprudence merupakan suatu mazhab dalam filsafat hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan sebaliknya. Dengan rasio demikian. Pendapat/pandangan dari Roscoe Pound ini banyak persamaannya dengan aliran Interessen Jurisprudence. Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. sedang sosiologi hukum cara pendekatannya bertolak dari masyarakat kepada hukum. Primat logika dalam hukum digantikan dengan primat “pengkajian dan penilaian terhadap kehidupan manusia (Lebens forschung und Lebens bewertung). atau secara konkritnya lebih memikirkan keseimbangan 7 Lili Rasjidi./Modul/Fils. Aliran ini berkembang di Amerika. Keadilan adalah lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan anggota masyarakat yang bersangkutan. yaitu pengaruh hukum terhadap masyarakat.. 7 Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat.

Oliver Wendell Holmes. Hukum adalah pengalaman yang diatur dan dikembangkan oleh akal. Jerome Frank. Sebab. 7) Realisme adalah suatu konsep mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial. l. Narotama Surabaya/V/2005 99 kepentingan-kepentingan (balancing of interest. pangkal pikir dari aliran ini bersumber pada pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum. William James dan sebagainya. kedua liran tersebut ada kebenarannya. Karl Llewellyn. yang diumumkan dengan wibawa oleh badan-badan yang membuat undangundang atau mensahkan undang-undang dalam masyarakat yang berorganisasi politik dibantu oleh kekuasaan masyarakat itu. maka tiap bagiannya harus . Hanya hukum yang sanggup menghadapi ujian akal agar dapat hidup terus. Pendasar mazhab/aliran ini ialah John Chipman. Hal ini disebabkan oleh pendapat atau pandangan Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum itu adalah a tool of social engineering. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan sendiri di dalam sistem hukum. Gray. Realisme adalah suatu gerakan dalam cara berpikir dan cara bekerja tentang hukum. Sementara itu. Roscoe Pound juga berpendapat bahwa living law merupakan synthese dari these positivisme hukum dan antithese mazhab sejarah./Modul/Fils. Maksudnya. Llewellyn berpendapat bahwa Pragmatic Legal Realism bukan aliran tapi suatu gerakan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 6) Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab. private as well as public interest). Pragmatic Legal Realism Salah seorang sarjana bernama Friedman membahas aliran ini dalam kaitannya sebagai salah satu subaliran dari positivisme hukum. Pengalaman dikembangkan oleh akal dan akal diuji oleh pengalaman .Doc. Yang menjadi unsur-unsur kekal dalam hukum itu hanyalah pernyataan-pernyataan akal yang terdiri dari atas pengalaman dan diuji oleh pengalaman. Friedman juga berpendapat bahwa Roscoe Pound juga dapat digolongkan ke dalam Pragmatic Legal Realism di samping masuk ke dalam Sociological Jurisprudence./Univ. Hk.

Hal ini berarti bahwa keadaan sosial lebih cepat mengalami perubahan daripada hukum. maka realisme menciptakan penggolongan-penggolongan perkara dan keadaan-keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada jumlah penggolongan-penggolongan yang ada pada masa lampau./Univ./Modul/Fils.Doc. Sesuai dengan keyakinan ini. 10) Gerakan realisme menekankan pada perkembangan setiap bagian hukum haruslah diperhatikan dengan seksama mengenai akibatnya. 8) Cara pendekatan seperti tersebut di atas mencakup juga penyelidikan tentang faktor-faktor/unsur-unsur yang bersifat perseornagan maupun umum dengan penelitian atas kepribadian sang hakim dengan disertai data- . maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai dan observasi terhadap nilai-nilai itu haruslah seumum mungkin dan tidak boleh dipenuhi oleh kehendak observer maupun tujuan-tujuan kesusilaan. Hk. Untuk itu dirumuskan definisidefinisi dalam peraturan-peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oelh pengadilan-pengadilan. 9) Realisme telah mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisional oleh karena realisme bermaksud melukiskan apa yang sebenarnya oleh pengadilan-pengadilan dan orang-orangnya. Narotama Surabaya/V/2005 100 diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya. 6) Mengadakan perbedaan antara peraturan-peraturan dengan memperhatikan relativitas makna peraturan-peraturan tersebut. Pendekatan yang harus dilakukan oleh gerakan realisme untuk mewujudkan program tersebut di atas telah digariskan sebagai berikut: 5) Keterampilan diperlukan bagi seseorang dalam memberikan argumentasinya yang logis atas putusan-putusan yang telah diambilnya bukan hanya sekedar argumen-argumen yang diajukan oleh ahli hukum yang nilainya tidak berbobot. 8) Realisme mendasarkan ajarannya atas pemisahan sementara antara sollen dan sein untuk keperluan suatu penyelidikan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan. 7) Menggantikan katagori-katagori hukum yang bersifat umum dengan hubungan-hubungan khsusus dari keadaan-keadaan yang nyata.

Terhadap sikap yang agak ekstrim dari kedua tokoh tersebut. simpati maupun antipati pribadi (Frank). “The path of Law” berasal dari Holmes. dan moril. Walaupun istilah realisme sering dipergunakan untuk gerakan cara berfikir di Skandinavia akan tetapi persamaan nama dengan gerakan cara berfikir di Amerika Serikat. Penerbit PT. hanyalah sebatas persamaan nama saja. Filsafat Hukum. Jakarta. yaitu: 3) Aliran Realisme Hukum Amerika Tokoh-tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes dan Jerome Frank. Hk. yakni wawasan sosiologis. yaitu hukum yang senyatanya dan hukum yang mungkin (actual law and probable law). prasangka politis. Pradnya Paramita. yakni Roscoe Pound dan benjamin Cardozo dalam bukunya yang berjudul “The nature of the juridical process” mengambil pendirian yang lebih moderat. Realisme Skandinavia adalah dasar-dasar filsafat yang memberikan kritik-kritik terhadap dasar-dasar metafisika hukum (Skandinavian Soetiksno. 4) Aliran Realisme Skandinavia Di Skandinavia./Modul/Fils. halaman 77. Narotama Surabaya/V/2005 101 data statistik tentang ramalan-ramalan apa yang akan diperbuat oloeh pengadilan dan lain-lain. para sarjana hukum modern mengembangkan cara berfikir tentang hukum yang memiliki ciri khas ala Skandinavia yang tidak ada persamaannya di negara-negara lain. Peraturan-peraturan hukum dan asas-asas hukum tidak lain adalah semacam stimuli yang mempengaruhi perilaku hakim yang dapat dilihat dalam putusan-putusan hakim. 1997.Doc. ekonomis.8 Mengenai aliran Pragmatic Legal Realism yang berkembang pada waktu itu dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. di samping faktor-faktor lain. sedang “Law in the modern mind” berasal dari Jerome Frank./Univ. hukum dapat dibagi menjadi dua. Bagi Frank. yakni. Hukum pada hakekatnya adalah berupa pola perilaku/tindakan (pattern of behaviour) nyata dari hakim dan petugas/pejabat hukum (law officials) lainnya. 8 . Bagian I. Sifat normatif hukum agak dikesampingkan. Pendorong utama perilaku Hakim atau pejabat-pejabat hukum segarusnya berpijak pada moral positif dan kemaslahatan masyarakat (social advanrage).

Mengenai nilai-nilai hukum gerakan realisme Skandinaviamempunyai pendirian yang sama dengan filsafat relativisme.Doc. Latihan Soal 9 Ibid./Univ. Hk. Para ahli hukum tersebut di atas menolak adanya pengertian-pengertian mutlak tentang keadilan yang menguasai dan yang memberi pedoman pada sistem-sistem hukum positif.. Adanya persamaan cara pendekatan antara penganut-penganut gerakan relaisme Skandinavia diusebabkan oleh pengaruh dari Axel Hagestrom terhadap tokoh-tokoh gerakan realisme Skandinavia pada waktu itu.9 keberadaan realisme Skandinavia telah memberikan sumbangan yang amat besar kepada teori hukum. yaitu tentang penggunaan pengertian kehendak kolektif./Modul/Fils. sekalipun pengaruh Axel tidak sebesar Ross. Gerakan ini menolak cara pendekatan yang dipergunakan oleh kaum realis Amerika Serikat yang mempunyai nilai rendah. Dalam caranya memberi kritik dan pengupasan prinsip-prinsip pertama yang seringkali sangat abstrak. Narotama Surabaya/V/2005 102 realism is essentialy a philosophical critique of the metaphysical foundations law). Lundstedt. dan cara mereka membuktikan legitimitas (dasar hukum) kekuasaan negara tersebut menurut Hargerstrom dan kawan-kawan adalah pada dasarnya sama dengan cara-cara yang dipergunakan filsafat hukum kodrat. satu kehendak umum atau kehendak negara (a collective or general will or of the state) oleh ilmu hukum analitis. halaman 86. grakan realis mempunyai ciri-ciri yang mirip sekali dengan ciri-ciri Filsafat Hukum Eropa. Menurut Hargerstrom dan kawan-kawan. pengertian-pengertian tersebut adalah semacam satu pengertian gaib yang dipergunakan mereka untuk memberi dasar hukum pada kemahakuasaan orang-orang yang memegang perintah negara. 4. mereka menolak pendirian yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan tentang hukum dapat disalurkan secara memaksa dari prinsip-prinsip tentang keadilan yang tidak adapat diubah. Menureut Friedman. yaitu Oliverscrona. .

Siapakah pendasar aliran Utilitarianisme dan bagaimana pula pendapat atau pandangan para ahli hukum penganut aliran Utilitarianisme terhadap hukum? Sebut dan jelaskan! e. Narotama Surabaya/V/2005 103 a. Mengapa dalam aliran hukum positif timbul aliran analitis dan murni dan bagaimana pula perbedaan yang menonjol antara dua liran tersebut? Jelaskan! d. Ada berapa pandangan realisme hukum? Di manakah pertama kali realisme hukum itu timbul? Jelaskan perbedaannya masing-masing! ./Modul/Fils./Univ. Adakah perbedaan pendapat antara Karl von Savigny dan Puchta? Jelaskan jawaban Sdr.! f. Mengapa hukum alam dianggap lebih tinggi dari hukum yang sengaja dibentuk oleh manusia? Jelaskan! b. serta sebutkan dan jelaskan ke-4 hukum menurut Thomas Aquinas? c. Hk. Apa yang melatarbelakangi Thomas Aquinas membagi hukum menjadi 4.Doc.

Soehardjo Sastrosoehardjo. Rasjidi. Hk. Penerbit PT. Penerbit PT. Narotama Surabaya/V/2005 104 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. Gramedia Pustaka Utama. Universitas Diponegoro. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 1993. Jakarta. 1990. Pradnya Paramita. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. Bagian I. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Penerbit PT. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Yogyakarta.Doc. Lili. Semarang. Filsafat Hukum./Univ. halaman. Penerbit Kanisius. 1997. 1997. ./Modul/Fils. Soetiksno. Theo Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Darji & Shidarta. Citra Aditya Bakti Bandung. 1995. Huijbers. Jakarta. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

105

BAB IV PENGERTIAN DAN TUJUAN HUKUM SECARA FILOSOFIS Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat: 1. Memahami berbagai pengertian hukum secara filosofis. 2. Memahami berbagai tujuan hukum secara filosofis. Tujuan Instruksional Khusus: 1. Menyebutkan dan menjelaskan konsepsi hukum menurut Roscoe Pound. 2. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara tradisional. 3. Menyebutkan dan menjelaskan tujuan hukum secara modern.

2. Konsepsi Hukum Menurut Roscoe Pound Roscoe Pound sebagai salah seorang pendasar aliran Sociological

Jurisprudence yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat, memiliki 12 (dua belas) konsepsi tentang hukum. Kedua belas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Pound tersebut dipergunakan untuk menjelaskan gagasan tentang hak-hak asasi yang sebenarnya berguna untuk menerangkan untuk apa sebenarnya hukum itu, dan menunjukkan bahwa seberapa mungkin harruslah sedikit hukum itu, karena hukum merupakan satu kekangan terhadap kebebasan manusia, dan kekangan itu walaupun hanya sedikit menuntut pembenaran yang kuat. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya 12 konsepsi Pound tentang

hukum, karena gagasan untuk apa hukum itu terkandung sebagian besarnya di dalam gagasan tentang apa hukum itu, maka satu tinjauan pendek mengenai gagasan tentang sifat hukum dipandang dari pendirian ini akan sangat berguna dalam mepelajari tujuan hukum dari segi filososfis. Adapun ke-12 konsepsi Pound tentang hukum tersebut terdiri dari:1

Roscoe Pound, Pengantar Filsafat Hukum, (Terj.) Muhammad radjab, Penerbit Bhratara, Jakarta, 1996, halaman 28-32.

1

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

106

a. Pertama, boleh kita kemukakan gagasan tentang satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan manusia, misalnya undang-undang Nabi Musa, atau undang-undang Hammurabi, yang diturunkan oleh Dewa Matahari setelah selesai disusun, atau undang-undang Manu yang didiktekan kepada para budiman oleh putra Manu, Bhrigu namanya, di depan Manu sendiri dan atas petunjuknya. b. Ada satu gagasan tentang hukum sebagai satu tradisi dari kebiasaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewa-dewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. Sebab manusia primitif, yang menganggap dirinya dilingkungi oleh kekuatan gaib di dalam alam yang banyak tingkah dan suka membalas dendam, terus-menerus dalam ketakutan kalau-kalau ia melanggar sesuatu yang dilarang oleh mahkluk gaib. Dengan demikian ia dan orang sekampungnya akan dimarahi oleh mahkluk gaib tersebut. Kesalahan umum menuntut supaya orang melakukan hanya apa yang diperbolehkan, dan melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang sudah lama dituruti, setidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi oleh dewa-dewa. Hukum adalah himpunan perintah yang tradisional akan dicatat, yang di alam kebiasaan itu dipelihara dan dinyatakan. Bilamana kita menjumpai sehimpunan hukum primitif yang merupakan tradisi golongan dipunyai oleh satu oligarchi politik, boleh jadi ia akan dianggap sebagai tradisi golongan, persis seperti sehimpunan tradisi yang sama tetapi dipelihara oleh ulama atau pendeta, pasti akan dipandang sebagai yang telah diwahyukan oleh Tuhan. c. Gagasan ini rapat dengan yang kedua, yakni memahamkan hukum sebagai kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu yang telah dipelajari. Jalan yang selamat, atau jalan kelakuan manusia yang disetujui oleh Tuhan. Apabila satu kebiasaan tradisional dari keputusan dan kebiasaan tindakan telah dituliskan dalam kitab undang-undang primitif, mungkin dia akan dianggap sebagai hukum. Demosthenes yang hidup dalam abad kekempat sebelum Masehi dapat melukiskan hukum Athena dengan katakata tadi.

Doc./Modul/Fils. Hk./Univ. Narotama Surabaya/V/2005

107

d. Hukum dapat dipahamkan sebagai satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filasaft, yang menyatakan sifat benda-benda, dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu.

Demikianlah, gagasan sarjana hukum Romawi, yang sebenarnya merupakan cangkokan dari gagasan kedua dan ketiga tadi, dan dari satu teori politik tentang hukum sebagai perintah dari bangsa Romawi; dan semuanya dirukunkan dengan memahamkan tradisi dan kebijaksanaan yang tercatat dan perintah bangsa-bangsa yang semata-mata sebagai pernyataan atau pencerminan dari asas-asas yang dicari kepastiannya secara filsafat, harus diukur, dibentuk, ditafsirkan , dan ditambah oleh yang tigta tadi. Setelah diolah oleh ahli-ahli filsafat ini, konsepsi yang tersebut tadi kerapkali mendapat bentuk lain, e. Sehingga kelima hukum dipandang sebagai satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah. f. Ada satu gagasan mengenai hukum sebagai satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat yang diatur secara politik, persetujuan yang mengatur hubungan antara yang seorang dengan yang lainnya. Ini adalah suatu pandangan demokratis tentang identifikasi hukum dengan kaidah hukum, dan karena itu dengan pengundangan dekrit dari negara kota yang diperbincangkan di dalam buku Minos dari Plato. Sudah

sewajarnyalah Demosthenes menganjurkan kepada satu juri di Athena. Sangat mungkin dengan teori serupa itu, satu gagasan filsafat akan menyokong gagasan politik dan kewajiban moril yang melekat pada suatu janji akan dipergunakan untuk menunjukkan mengapa orang harus menepati persetujuan yang mereka buat di dalam majelis rakyat. g. Hukum dipikirkan sebagai satu pencerminan dari akal Illahi yang menguatkan alam semesta ini; satu pencerminan dari bagian yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai satuan yang berkesusilaan, yang berbeda dengan yang masih dilakukan, yang ditujukan kepada mahkluk lain selain manusia. Begitulah konsepsi Thomas

h.Doc. yang mempunyai penganut banyak sampai abad ke-17 dan semenjak itu masih besar pengaruhnya. Satu gagasan yang menganggap hukum sebagai satu sistem pemerintah. bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan serupa itu pula. ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan. Menurut anggapan pada masa itu. pengalaman manusia yang menemukan prinsip hukum ditentukan dengan sesuatu cara . atau sebagai pengganti Raja Perancis pada waktu Revolusi Perancis. rakyat dianggap sebagai pengganti parlemen untuk memegang kedaulatan pada waktu Revolusi Amerika. Rupanya dia sesuai dengan keadaan di sekitar kekuasaan tertinggi Parlemen di tanah Inggris sesudah tahun 1688 dan menjadi teori hukum Inggris yang kolot. Cara berfikir serupa itu cocok dengan pikiranpikiran ahli-ahli hukum yang giat menyokong kekuasaan raja dalam memusatkan kerajaan Perancis pada abad ke-16 dan ke-17. Demikianlah anggapan-anggapan sarjana-sarjana Romawi pada masa republik dan masa klasik mengenai hukum positif. dan hal in terjadi hampir di sepanjang abad yang lalu. Narotama Surabaya/V/2005 108 Aquino. Demikianlah dia dicocokkan dengan satu teori politik tentang kedaulatan rakyat yang menurut teori itu. dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang dari yang berdaulat. Dan karena Kaisar memegang kedaulatan rakyat Romawi yang diserahkan kepada baginda./Modul/Fils. i. dan dengan perantaraan ahli-ahli hukum itu masuklah cara berfikir itu ke dalam hukum publik. telah membagi ksetiaan sarjana hukum kepada teori hukum sebagai perintah dari pemegang kedaulatan./Univ. Hk. yang diberikan kepada kemauan orang-orang lain. Gagasan ini yang dianut dalam salah satu bentuk oleh mazhab sejarah. Hukum telah dipahamkan sebagai satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan. maka Institutiones dari Kaisar Justinianus dapat menetapkan bahawa kemauan kaisar mempunyai keuatan satu undang-undang. tentang bagaimana orang harus bertindak di dalam masyarakat itu.

satu gagasan tentang kebebasan yang mewujudkan dirinya di dalam pelaksanaan peradilan oleh manusia.Doc. Hk. hukum dipandang sebagai perintah dari pemegang kedaulatan. dan filsafat diminta untuk memberikan satu terhadap kritik susunan sistematik dan perkembangan detail. Prosesnya ditentukan oleh pengembangan suatu gagasan mengenai hak dan keadilan. Cara berfikir ini muncul pada abad ke-19 sesudah ditinggalkan teori hukum alam dalam bentuk yang mempengaruhi pikiran hukum selama dua abad. atau oleh kerja-kerja hukum yang biologis atau psikologis atau tentang sifat-sifat jenis bangsa. Hukum dipahamkan sebagai sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara buat memajukan kepentingan kelas itu sendiri. atau pada taraf lain. pikirannya dihadapkan pada perjuangan kelas atau satu perjuangan untuk hidup di lapangan perekonomian. dan hukum adalah akibat dari pekerjaan tenaga atau hukum yang terlibat atau menentukan perjuangan serupa itu. yang dengan perantaraan tulisan dan putusan itu kehidupan lahir manusia diukur oleh akal./Modul/Fils./Univ. k. baik dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. Di dalam satu bentuk yang idealistis. yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan pengadilan. yang dipikirkannya adalah pengembangan satu gagasan ekonomi yang tak dapat dihindarkan. pada gilirannya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. Di dalam satu bentuk sosiologis mekanis. j. Semua bentuk ini terdapat dalam masa . tetapi perintah itu seperti yang ditentukan isi ekonomisnya oleh kemauan kelas yang berkuasa. Interpretasi ekonomis dari hukum ini banyak bentuknya. Ini bukanlah soal daya upaya manusia yang dilakukannya dengan sadar. Narotama Surabaya/V/2005 109 yang tak dapat dielakkan lagi. yang kemudian menghasilkan sistem hukum daru suatu masa dan suatu bangsa yang bersangkutan. dengan tulisan dan putusan itu kemauan tiap orang yang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain. Di dalam betuk Positivistis-Analistis. Orang menganggap hukum itu sebagai satu sistem asas-asas.

Keduabelas konsepsi tentang hukum tersebut terkait dengan teorinya yang dikenal dengan “Law as a tool of social engineering”. Ini adalah akibat lagi dari suatu kecenderungan dalam tahun mutakhir yang hendak mempersatukan ilmu-ilmu sosial. yang ditemukan oleh perenungan filsafat. Satu bentuk lain menemukan satu kenyataan sosial yang terakhir dengan pengamatan dan mengembangkan kesmpulan yang logis dari kenyataan itu. Narotama Surabaya/V/2005 110 peralihan dari stabilitas kematangan hukum ke satu masa pertumbuhan baru. mirip seperti yang dilakukan oleh sarjana hukum metafisika. yang ditemukan oleh pengamatan. dan satu percobaan hendak membentuk satu teori tentang pembuatan undang-undang oleh badan legislatif dianggap memberikan uraian tentang semua hukum. tatkala orang mulai mencari dasar fisik dan biologis. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. yang lebih besar kepada teori-teori sosiologi. yang dapat ditemukan oleh pengamatan.Doc. Pound membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut:2 4) Kepentingan Umum (Public Interest). Jakarta. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Teori type ini terdapat pada akhir abad ke-19. l. Gramedia Pustaka Utama. terdiri dari: Darji Darmodiharjo & Shidarta. Akhirnya ada satu gagasan tentang hukum sebagai perintah dari undangundang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak-tanduk manusia di dalam masyarakat. dan bukan lagi dasar metafisik./Univ. Tambahan lagi pada masa undang-undang banyak dibuat peraturan perundang-undangan yang dundangkan mudah dianggap orang sebagai type darimperintah hukum. dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan./Modul/Fils. halaman 129130. yang lebih dulu menonjol ialah hubungan dengan ilmu ekonomi. Penerbit PT. 1995. dan orang mulai mencoba menghubungkan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Untuk itu. Apabila gagasan bahwa hukum dapat mencukupkan keperluan sendiri telah ditinggalkan. 2 . Hk.

yaitu: Pertama. 5) Kepentingan Masyarakat (Social Interest): f) kepentingan akan kedamaian dan ketertiban. dan pengajar hukum menyadari prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus. 2./Modul/Fils. yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai ke arah tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial. Tujuan Hukum Secara Tradisional Tujuan hukum sudah timbul di dalam pemikiran yang sadar. 6) Kepentingan Pribadi (Private Recht): d) kepentingan individu. i) pencegahan pelanggaran hak. Kedua. Penggolongan kepentingan tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang telah dilakukan Jhering. pengacara. kita mengenal tiga gagasan dalam sejarah hukum. Ketertiban Hukum Tujuan hukum yang paling sederhana ialah hukum diadakan supaya terjaga ketenteraman dalam masyarakat tertentu. d) kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. g) perlindungan lembaga-lembaga sosial.Doc. klasifikasi tersebut membantu menghubungkan antara prinsip hukum dan praktiknya. e) kepentingan keluarga. d. Dengan kata lain. dilihat dari hal tersebut. j) kesejahteraan sosial. hakim. Narotama Surabaya/V/2005 111 c) kepentingan negara sebagai badan hukum. sehingga membuat pembentuk undng-undang. h) pencegahan kemerosotan akhlak. Oleh karena itu. tujuan hukum yang demikian ini . Pound dapat pula digolongkan ke dalam alairan Utilitarianisme dalam kapasitasnya sebagai penerus Jhering dan Bentham. Dari klasifikasi tersebut dapat ditarik dua hal penting./Univ. Pound mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham. klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum. f) kepentingan hak milik. Hk.

Menjaga Perdamaian: Tujuan hukum ialah untuk menjga perdamaian dalam keadaan bagaimana saja. yang acapkali di dalamnya terjadi benturanbenturan kepentingan sehingga timbul perselisihan. Tujuan Penyingkiran Pembatasan Kegiatan Ekonomi yang Bebas: Hukum ditujukan untuk menyingkirkan pembatasan terhadap kegiatan ekonomi yang bebas. hukum dibentuk. e. Oleh karena itu. Narotama Surabaya/V/2005 112 sangat penting artinya bagi masyarakat. Sehingga dimungkinkan terjadi benturan-benturan kepentingan. yang bertumpuk-tumpuk selama jaman pertengahan sebagai insiden dari sistem kewajiban di dalam hubungan antar manusia dan sebagai pengucapan dari gagasan tentang penetapan orang masing-masing di dalam suatu masyarakat yang statis. yang menilik niat bukan di tempatnya . Hal ini disebabkan sistem kekerabatan semakin hilang dan digeser oleh orang-orang yang kehilangan kekerabatan serta para pendatang. dan dipelihara dengan mengorbankan apa saja. Tujuan Konstruktif: Tujuan ini berkembang pada saat hukum dagang memberikan efek kepada apa yang dilakukan orang menurut kehendaknya. yaitu: d./Modul/Fils. f. Hk. antara orang-orang yang sekutu. alasannya ialah bahwa perdamaian antara kekerabatan yang satu dengan kekerabatan lain . Mencegah Pergeseran dalam Masyarakat: Tujuan hukum ketiga ini timbul. Pengertian hukum yang demikian ini disebut sebagai hukum yang primitif. semakin terasa akan adanya perlindungan hukum untuk kegiatan yang terkait ekonomi. karena dalam masyarakat yang disusun dalam suatu kekerabatan. sementara itu orang-orang yang memiliki kekerabatan masih berkuasa. untuk mencegah pergeseran anatar sesama masyarakat.Doc. dan penduduk yang bertambah banyak. sehingga gagasan mengenai tujuan hukum ketiga dapat juga disebut untuk menjaga ketertiban sosial. e./Univ. 3. Tujuan Hukum Secara Modern Seiring dengan perkembangan ekonomi dalam masyarakat.

/Univ. timbul pandangan hukum adalah keburukan. Oleh karena itu pada akhir abad ke-19 gagasan hukum yang ada dipergunakan untuk mencapai kebebasan secara maksimum. sehingga para sarjana hukum dan pembuat undang-undang dengan senang hati membiarkan masyarakat melakukan kemauannya untuk mencapai kesenangannya maupun kesengsaraannya. Hk. f. karena pada hakekatnya hukum mengekang kebebasan orang. Narotama Surabaya/V/2005 113 bentuknya. 3. Latihan Soal a. yang menafsirkan keamanan umum sebagai keamanan bagi transaksi dan mencoba melaksanakan kemauan tiap orang untuk menciptakan akibat hukum. Ada berapa konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound? b. Menjaga Kestabilan: Pada akhir abad ke-19. Mengapa Roscoe Pound juga digolongkan ke dalam tokoh aliran Utilitarianisme? Jelaskan! d. Tujuan konstruktif ini dikembangkan dari hukum Romawi dan kebiasaan saudagar dengan perantaraan teori hukum mengenai hukum alam.Doc. Sebut dan jelaskan secara singkat keduabelas konsepsi hukum yang dikemukakan oleh Roscoe Pound! c. Di mana letak perbedaan tujuan hukum yang tradisional dan yang modern? ./Modul/Fils.

/Modul/Fils. Narotama Surabaya/V/2005 114 DAFTAR PUSTAKA Pound. Pengantar Filsafat Hukum. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. (Terj. Roscoe. Penerbit Bhratara. Hk. . Jakarta.) Muhammad radjab. 1996. Darmodiharjo. Darji & Shidarta. 1995./Univ. Penerbit PT.Doc. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

2. 1 .1 Plato mencoba mengemukakan konsepsinya tentang keadilan dari “inspirasi”. yaitu sifat baik. Pradnya Paramita./Univ. 4. Concept of virtue inilah yang menghadirkan pengertian keimbangan (balance) dan harmoni sebagai suatu ukuran pada masyarakat maupun perorangan yang adil. Penerbit PT. Hk. Arti Keadilan Membicarakan hukum tidak lepas dari kata “keadilan” yang sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. Masalah keadilan sudah mulai disinggung pada saat Plato dan Aristoteles melontarkan pemikiran-pemikirannya yang menjadi latar belakang perenungan tentang keadilan yang menguasai filsafat hukum.Doc. Filsafat Hukum. Memahami bermacam-macam arti keadilan. yang meliputi suatu pengertian yang sudah mencakup segala-galanya dan darimana keadilan merupakan suatu bagiannya. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini mahasiswa mampu: 3. 2. Menyebutkan kriteria hukum yang benar dan adil. Dengan perkataan lain. Menyebutkan bermacam-macam arti keadilan. sedang Aristoteles mencoba mendekatinya dan menganalisis berdsarkan ilmu dan prinsip-prinsip rasional dengan latar belakang type masyarakat politik dan peraturan-peraturan hukum yang ada pada waktu itu. Jakarta. Narotama Surabaya/V/2005 115 BAB V KEADILAN DAN HUKUM YANG BENAR DAN ADIL Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat : 1. Bagian I. 1997. sehingga dari sini tidak jarang pula antara keimbangan dan harmoni terpisah jalan keadilannya. halaman 11. Memahami pengertian hukum yang benar dan adil./Modul/Fils. Hal yang menghubungkan mereka adalah concept of virtue. Soetiksno. keadilan merupakan pengertian yang tercipta pada perpaduan antara keimbangan dan harmoni sebagai suatu ukuran.

Kata adil dapat berarti menurut hukum dan apa yang sebanding./Modul/Fils. 2 . Penerbit PT. yang menentukan sikap manusia pada bidang tertentu. Dalam menganalisis keadilan. Op. halaman 154. Sedang menurut Aristoteles. Jakarta. harmoni adalah suatu keadaan dari dalam yang tidak dapat dianalisis dengan akal. Darji Darmodiharjo & Shidarta. Aristoteles membagi keadilan menjadi dua. harmoni adalah suatu yang ada di tengah-tengah antara dua keadaan yang ekstrem./Univ. halaman 29. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. oleh karena itu keadilan menurut hukum dikatakan sebagai keadilan umum. Demikian pula kata tidak adil dapat ditujukan kepada orang yang mengabaikan hukum. Untuk mengutamakan dimanakah letak keseimbangan yang tepat antara orang-orang digunakan ukuran kesamaan yang dihitung secara aritmetis dan geometris. Penerbit Kanisius. Pertanyaan tentang apa keadilan mulai dijawab oleh Ulpianus (200 M) yang mengatakan bahwa keadilan adalah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya.2 Keadilan dapat pula diartikan sebagai keutamaan moral khusus. Hk. Narotama Surabaya/V/2005 116 Menurut Plato. yaitu memberi petunjuk tentang pembagian barang-barang dan kehormatan pada masing-masing orang menurut tempatnya. c.. halaman 155. Keadilan distributif (Distributive Justice). yang ditandai dengan sifat-sifat berikut ini:3 a. Yogyakarta. Keadilan menentukan bagaimanakah hubungan yang baik antara orangorang yang satu dengan yang lain. b. Hal senada juga dikatakan oleh Aristoteles bahwa seorang dikatakan berlaku tidak adil apabila orang tersebut mengambil lebih dari bagian yang semestinya ia terima. 4 Bandingkan dengan Darji Darmodiharjo & Shidarta.terutama untuk ukuran prinsip-prinsip teknis yang mengatur administrasi hukum. Cit. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Keadilan berada di tengah dua ekstrem. 3 Theo Huijbers. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. 1993. yaitu: 4 c. Keadilan Korektif (Corrective Justice/Commutative Justice).Doc. 1995. yaitu diusahakan supaya dalam mengejar keuntungan tercipta keseimbangan antara dua belah pihak. d.

Ungkapan tersebut berawal dari ketidakpercayaan . adlah keadilan menurut kehendak masing-masing yang harus ditunaikan menurut kepentingan umum. Perbedaannya ialah. Hukum kodrat mendasrkan kekuatannya pada pembawaan manusia yang sama di manapun juga dan untuk waktu kapanpun. 5) keadilan komutatif. Pemikir aliran hukum alam lainnya ialah Thomas Aquino. summa injuria. memberi penjelasan adanya bermacam-macam hukum positif. Aristoteles juga memberikan kontribusi lain. yatu membuat perbedaan antara keadilan menurut hukum kodrat dan hukum poisitif. dan seringkali bertindak kejam terhadap soal-soal perseorangan. yaitu keadilan atas dasar kesamaan. Kaum Positivis (aliran Positivisme) memandang keadilan sebagai tujuan hukum. yaitu: 4) keadilan distributif. Narotama Surabaya/V/2005 117 untuk itu harus ada ukuran umum guna memperbaiki akibat-akibat tindakan tanpa memperhatikan siapa orangnya yang berkepentingan. Keadilan Khusus. Keadialan Umum (Justitia Generali)./Univ. karana hal ini adalah masalah keabadian dari filsafat hukum./Modul/Fils. summa crux”. Sedang hukum positif mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum. Namun relativitas keadilan sering mengaburkan tujuan hukum lain. d. membagi keadilan menjadi 2. yaitu: c. 6) keadilan vindikatif. Selain membagi keadilan menjadi dua. hukum terpaksa membuat aturanaturan yang berlaku umum. yang dibedakan lagi menjadi 3. Hal ini sesuai dengan adagium “Summun jus. Kontribusi Aristoteles berikutnya. ialah pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan (equity). summa lex. yaitu hukum yang keras akan dalam melukai kecuali keadilan dapat menolongnya. adil atau tidak adil. Hk.Doc. Oleh karena itu tindakan-tindakan tersebut harus diukur dengan ukuran yang obyektif. yaitu kepastian hukum. Sedang equity melunakkan kekerasan dengan memperhatikan halhal yang benar tentang sesuatu undang-undang.

Menurut Radbruch. namun tolok ukur tersebut belumlah cukup. Tujuan keadilan atau finalitas. Sedangkan tolok ukur adil atau tidak adilnya tata hukum dibentuk dalam masyarakat. tetapi menggabungkan kedua bidang itu juga. karena keadilan yang tertinggi adalah ketidakadilannyang tertinggi pula. Hk.. maka seperti unsur-unsur kebudayaan lain. 3. hukum diwujudkan dalam satu nilai. Dalam mewujudkan adanya hukum yang benar dan adil ini. 5 Theo Huijbers./Univ.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 118 kaum positivis terhadap keadilan yang sebenarnya. yakni nilai keadilan. Sehingga hukum merupakan perwujudan dari keadilan. b. karena ada dasar lain. sebab kebudayaan merupakan perwujudan dari nilai-nilai realitas alam. yaitu dasar hukum sebagai hukum. yaitu: a. sedikitnya merupakan usaha ke arah terwujudnya keadilan. Hukum Yang Adil dan Benar Gambaran mengenai hukum yang adil dan benar dapat diketemukan dalam pemikiran yang dikemukakan oleh Gustav Radbruch. Keadilan dalam arti sempit. aspek ini menjamin bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. aspek ini menentukan isi hukum. seorang politikus dan sarjana hukum dari Jerman. . bidang kebudayaan tidak hanya terletak di antara dua bidang tersebut. halaman 162. Kepastian hukum atau legalitas. dan Radbruch hendak menerapkan teori ini pada hukum. sebab isi hukum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Cit. c./Modul/Fils. artinya keadilan merupakan persamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. Op.5 Alasan yang dipergunakan Radbruch ialah bahwa hukum merupakan unsur kebudayaan. Radbruch membagi keadilan menjadi 3 (tiga) aspek. Ia berusaha menyeberangi jurang bidang “ada” (sein) dan bidang “harus” (sollen) dengan menerima bahwa suatu bidang terkandung kedua bidang tersebut untuk mencapai apa yang disebut dengan kebenaran.

dan tetap berlaku dan mewajibkan masyarakat untuk mentaatinya. maka suatu peraturan yang tidak adil tetap merupakan hukum walaupun buruk. Hk. Filsafat Hukum.Doc. Tentang suatu hukum yang adil dan benar? Bagaimana pula kaitannya dengan keberadaan UU No./Univ. seperti politik. maka suatu peraturan tidak adil bukan hanya hukum yang buruk. 4. halaman 48. Sebaliknya apabila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum. Sebutkan pengertian keadilan menurut para penganut aliran hukum alam dan positivisme ! b. Penerbit Kanisius. 1995. .6 Apabila adil merupakan unsur konstitutif hukum. kita dapat mengetahui bahwa suatu hukum yang adil haruskah hukum memenuhi unsur konstitutif hukum atau hanya unsur regulatif sebagimana dikatakan oleh Huijbers. 23 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia jika dikaitkan dengan teori tentang hukum yang benar dan adil? Jelaskan! 6 Theo Huijbers. Yogyakarta. Latihan Soal a. Narotama Surabaya/V/2005 119 Dengan adanya pembagian keadilan ke dalam tiga aspek tersebut./Modul/Fils. Bagaimana pendapat Sdr. tetapi karena faktor non hukum (non yuridis).

Huijbers./Modul/Fils./Univ. _________________. Jakarta. Yogyakarta. Soetiksno. Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. 1995. 1993. Filsafat Hukum. Penerbit PT. Filsafat Hukum.Doc. Penerbit PT. Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Theo. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1993. Pradnya Paramita. Yogyakarta. Hk. Gramedia Pustaka Utama. 1997. Penerbit Kanisius. Narotama Surabaya/V/2005 120 DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo. . Bagian I. Darji & Shidarta. Penerbit Kanisius. Jakarta.

serta sebagai sarana penunjang perkembangan modernisasi dan pembangunan yang menyeluruh. b. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. halaman 44. 1997. mahasiswa dapat memahami filsafat hukum berdasarkan Pancasila. 1 . Falsafah Hukum Nasional Usaha pengembangan falsafah hukum nasional di Indonesia bertumpu kepada 3 konsep dasar./Univ. Menjelaskan filsafat hukum dan Pancasila. Narotama Surabaya/V/2005 121 BAB VI FILSAFAT HUKUM BERDASARKAN PANCASILA Tujuan Instruksional Umum: Setelah mempelajari pokok bahasan ini. 2.Doc. Universitas Diponegoro. Tujuan hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang sekaligus juga merupakan perwujudan sila-sila Pancasila. yaitu:1 a. Menjelaskan falsafah hukum nasional. 4. Soehardjo Sastrosoehardjo. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. mahasiswa mampu: 1./Modul/Fils. tetapi juga meliputi lembaga-lembaga dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan berlakunya hukum itu. Pemahaman ukum yang bersifat normatif sosiologis yang melihat huku tidak hanya sekumpulan kaidah dan asas yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. Semarang. Hk. Tujuan Instruksional Khusus: Setelah mempelajari bahasan ini. Sejalan dengan konsep tersebut maka fungsi hukum dalam masyarakat adalah untuk terwujudnya ketertiban dan kepastian sebagai prasarana yang harus ditujukan ke arah peningkatan pembinaan kesatuan bangsa.

membina dan mengembangkan falsafah hukum yang konsisten dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. kekuasaan tunduk pada hukum sebagai kunci kestabilan politik yang berkesinambungan. Pengembangan filsafat hukum nasional harus diarahkan menjadi falsafah hukum Pancasila. Ontologi. maka falsafah Pancasila melalui tafsiran falsafatinya harus dikembangkan agar mampu menunjukkan nilai-nilai yang aktual dan relevan dengan kemajuan dan mengarahkan kemajuan itu sesuai dengan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri.Doc. sosial. dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan./Modul/Fils./Univ. atau keturunan. dan sebagainya. falsafah hukum mempunyai peranan penting dalam memberikan dasar dan arahan melalui aspek-aspek: a. Setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mendapatkan bantuan dan melakukan pembelaan di muka pengadilan. 2) Persamaan kedudukan setiap orang di hadapan hukum menentukan bahwa hukum tidak membeda-bedakan antara orang berdasarkan status. Cita-cita falsafah yang telah dirumuskan oleh para pendiri Kenegaraan dalam Konsep Indonesia adalah Negara Hukum dan setiap orang sama di depan hukum. kekuasaan. agama. Epistemologi. Sehubungan dengan itu. mengandung arti: 1) Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menentukan bahwa dalam hubungan antara hukum dan kekuasaan. melainkan sekaligus juga menjadi acuan dalam penyusunan. Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan dasar falsafah hukum nasional mempunyai sifat imperatif yang tidak saja dijadikan dasar dan arah pengembanganfalsafah hukum nasional kita. b. apa hakekat kebenaran. Untuk itu. Aksiologi. meliputi permasalahan apa hakekat ilmu. tidak difahami secara doktriner dan dogmatis tanpa kehilangan substansi . c. Hk. meliputi nilai-nilai normatif parameter bagi apa yang disebut kebenaran atau kenyataan dalam konteks dunia simbolik. meliputi berbagai sarana dan tata cara dan sumber pengetahuan untuk mencapai kebenaran atau kenyataan. Narotama Surabaya/V/2005 122 c. Pancasila harus tetap terbuka . Dalam pengembangan hukum dan ilmu hukum.

Penerbit Kanisius. dan eksploratif. Adapun pendekatan filosofis yang digunakan ialah metode dialektis dan analitis. Hk. 3 Theo Hujibers. Hukum dan kekuasaan dalam kenyataan masih sering tidak saling melengkapi antara satu dengan yang lain. 2 . Untuk itu. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Dalam hubungan dengan perkembangan filsafat hukum nasional./Modul/Fils. Yogyakarta. Semarang. Universitas Diponegoro. 5. Mengenai asas persamaan kedudukan di muka hukum ada yang melihat bahwa pembinaan perlakuan yang sama dalam kondisi yang berbeda adalah sebuah ketidakadilan. sehingga untuk hal-hal tertentu adanya berbagais tudi masih sangat diperlukan. 1993. kreatif./Univ.3 mengemukakan teorinya yang Woro Winandi & Sri Hartini. perlu dikembangkan kondisi yang makin kondusif untuk mengembangkan falsafah hukum Pancasila tersebut. 1997. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. dapat dipergunakan pendekatan filosofis. Narotama Surabaya/V/2005 123 falsafahnya ditafsirkan secara kreatif dan dinamis dalam perspektif ke masa kini dan masa depan. perlu dipahami mengenai hakekat dari Pancasila sampai sedalamdalamnya. radikal. maka nilainilai falsafati universal perlu digali untuk menentukan unsur-unsur yang relevan bagi sumber hukum pada umumnya dan falsafah hukum pada khususnya. Di dalam mengupas hakekat Pancasila sampai kedalamannya. Sistem hukum nasional yang juga merupakan sistem hukum Pancasila harus merupakan penjabaran dari seluruh sila-sila Pancasila secara keseluruhan.Doc. halaman 9. perlu dikembangkan critical mass. yaitu suatu masyarakat akademik yang mau dan mampu menukik ke dalam masalah-masalah yang bersifat falsafati untuk bersikap kritis. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Filsafat Hukum dan Pancasila Untuk mengetahui keterkaitan antara Pancasila dengan berbagai aliran dalam filsafat hukum. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas.2 Metode deduktif paralel dengan metode sintesis sebagaimana dikemukakan oleh Hegel pada abad XIX (zaman Modern). Dalam suasana yang demikian. halaman 106.

Pancasila juga dapat dipahami secara mendalam. lebih lanjut dikemukakan pula. sebab Pembukaan UUD 1945 yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI dimaksudkan sebagai dasar filsafat negara. Pancasila berdasar adat kebiasaan. Sebagai contoh.Doc. Hegel berpendapat bahwa proses perkembangan rohani berjalan dialektis. ide tadi berawal daru suatu yang “ada”. Adat kebiasaan di sini ialah adat kebiasaan dalam arti luas yang meliputi adat kebiasaan politik. anti tesis. ialah anggota BPUPKI. kebudayaan. teori dialektis berlaku tidak hanya bidang logika. Dalam Teorinya. dan yang paling banyak adalah bidang sejarah. yaitu Soekarno dan Hatta yang kemudian disebut sebagai pembentuk negara. ekonomi. sosial. yakni ide “menjadi” mempunyai pikiran melalui tesei. akan tetapi belum ada secara menyeluruh. Causa Finalis. yang menurut Hegel ide-ide saling berlawanan dan sekalian rohani melemah untuk menjadi kesatuan dalam suatu ide baru. Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Causa Finalis Pancasila ialah dasar filsafat negara. yaitu: Pertama. yang merangkap kebenaran yang terkandung dalam dua ide tadi. tetapi juga dalam bidang realitas. dan sintesis. Hal ini berlangsung secara terus-menerus. menurut Notonegoro. Hal ini dapat juga disebutkan untuk Pancasila dalam Piagam Jakarta yang ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 yang selanjutnya dipakai sebagai Pembukaan UUD 1945. Pancasila adalah calon dasar filsafat negara. Teori ini mengatakan bahwa semua yang ada mempunyai sebab. Narotama Surabaya/V/2005 124 disebut “Teori Dialektika”. . Hk. dan agama yang dianut oleh bangsa Indonesia./Univ. dilihat dari causa materialis. Causa Formalis Pancasila. kewarganegaraan. berdasarkan teori causalis./Modul/Fils. Menurut Hegel pula. Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Notonegoro yang menggunakan teori Causalis untuk menyelesaikan Pancasila. kemudian diperkirakan sesuatu yang ada. sehingga cara berfikir yang demikian ini disebut dialektis. dan sebagainya. Hal ini tertuang dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa tujuan dari pidatonya tentang Pancasila ialah untuk merumuskan dasar Indonesia merdeka yang disebut sebagai Filosofische Grondslag.

Kecuali itu. Ideologi Nasional dan Dasar Negara pada esensinya adalah perwujudan dari pelaksanaan hak dan kewajiban individu sebagai anggota masyarakat untuk mengejawantahkan pola perilaku sebagaimana tercermin dalam masing-masing kelima sila tersebut. karena jika dilihat dari isinya. Penjelasan selanjutnya. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berperikemanusiaan. Selanjutnya. Namun mengenai bentuk piramid dapat dijelaskan bahwa tiap-tiap sila yang berada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila-sila yang ada di depannya. keadilan sosial. Dikatakan hirarkis. dan Keadilan Sosial. Dengan demikian.Doc. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari Kemanusiaan. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. berpersatuan. Sehingga tiap-tiap sila yang ada di dalamnya terkandung sila-sila lainnya. dan nilai kerakyatan lebih tinggi daripada nilai keadilan sosial. Hk. dan berkeadilans osial. Pancasila merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dijungkirbalikkan tanpa mengubah inti dari isinya. Jadi kalau diterapkan dalam sila-sila pada Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: Bahwa sila kemanusiaan merupakan pengkhususan dari sila Ketuhanan. Demikian pula sebagai . Narotama Surabaya/V/2005 125 Causa Efficient Pancasila ialah PPKI./Univ. karena PPKI secara resmi menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang berintikan Pancasila sebagai dasar filsafat negara. sila kerakyatan merupakan pengkhususan dari sila persatuan Indonesia dan sila keadilan sosial merupakan pengkhususan dari sila kerakyatan. berkerakyatan. dikatakan piramidal. causa efficient Pancasila sebagai dasar filasafat negara ialah pembentuk negara Indonesia. Pancasila sebagai pandangan hidup. nilai kemanusiaan lebih tinggi daripada nilai kerakyatan. kerakyatan. ditegaskan bahwa sila ketuhanan dan kemanusiaan meliputi seluruh hidup manusia dan menjadi dasar dari sila-sila persatuan. demikian seterusnya. Sebaliknya. karena tiap-tiap sila yang ada di belakang sila lainnya merupakan pengkhususan dari sila/sisla-sila yang ada di depannya. karena susunan Pancasila berbentuk hirarkis piramidal. urut-urutan lima sila tersebut menunjukkan satu rangkaian tingkatan dalam luas dan isinya. dalam hal ini PPKI./Modul/Fils. Mengenai susunan hirarki Pancasila bahwa nilai-nilai Ketuhanan lebih tinggi dari nilai kemanusiaan. Persatuan Indonesia.

sedang mazhab Sejarah mengutamakan pengalaman. dan ini tercermin dalam kelima sila dari Pancasila. Narotama Surabaya/V/2005 126 bangsa Indonesia dan warga negara. yaitu: Positivisme mementingkan logika. batang tubuh./Modul/Fils. ideologi negara. e. maupun penjelasannya. Mengapa Pancasila disebut sebagai dasar falsafah negara? Jelaskan! b. f. Jelaskan pula tentang teori causalis untuk mendalami Pancaila! . Seperti yang dikatakan Roscoe Pound yang menganggap hukum sebagai alat untuk rekayasa sosial/masyarakat. Pada aliran Positivisme Hukum. sebaliknya Mazhab Sejarah menyatakan hukum timbul dan berkembang bersama masyarakat.Doc. Kepentingan Umum. karena adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapainya. yang oleh Roscoe Pound dikatakan terdapat 3 kepentingan hukum yang perlu mendapat perlindungan. dan dasar negara. Pancasila dengan dimensinya pada hakekatnya selaras dengan aliran dalam filsafat hukum. pencerminan kedua aliran tersebut terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung di dalam UUD 1945. Aliran Sociological Jurisprudence timbuld ari proses dialektika antara positivisme hukum dan mazhab sejarah./Univ. yang di dalamnya terkandung cita-cita untuk mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. Namun Sociological Jurisprudence mementingkan keduanya. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup. Latihan Soal a. baik pembukaan. terdapat kesamaan dengan mazhab Sociological Jurisprudence. 6. yaitu Sociological Jurisprudence. Kepentingan Masyarakat. Hk. Mengapa ada keterkaitan antara Pancasila dengan mazhab sejarah dan dialektika Hegel? Jelaskan! c. Kedua mazhab tersebut dapat dilihat pada kepentingannya. Dengan demikian. sebagaimana keinginan dan tujuan dari tiga dimensi Pancasila yang bertujuan menciptakan harmoni berupa keserasian pelaksanaan hak dan kewajiban sehingga secra optimal kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat dapat terpenuhi secara tidak memihak. Kepentingan Individu. memandang tidak ada hukum kecuali perintah yang diberikan penguasa. yaitu: d.

/Univ. Yogyakarta. Makalah disampaikan dalam diskusi kelas. 1997. Hk. Yogyakarta. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 1993. Soehardjo Sastrosoehardjo. Program Pascasarjana Ilmu Hukum./Modul/Fils. Dialektika Hegel dan Sociological Jurisprudence Dalam Filsafat Hukum dan Pancasila. Universitas Diponegoro. Program Pascasarjana Ilmu Hukum. Narotama Surabaya/V/2005 127 DAFTAR PUSTAKA Hujibers. 1993 Theo Hujibers. Theo. Penerbit Kanisius. Woro & Sri Hartini. Penerbit Kanisius. Semarang. Universitas Diponegoro. Winandi. Silabus Mata Kuliah Filsafat Hukum. 1997 .Doc. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Semarang.

/Modul/Fils.Doc. Narotama Surabaya/V/2005 128 ./Univ. Hk.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful