P. 1
DISPEPSIA

DISPEPSIA

|Views: 62|Likes:
Published by Kenzo Adhi Wiranata
waw
waw

More info:

Published by: Kenzo Adhi Wiranata on Jun 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/22/2013

pdf

text

original

DISPEPSIA

2.1 Definisi Dispepsia Menurut Konsensus Roma II tahun 2000, dispepsia didefinisikan sebagai rasa sakit atau ketidaknyamanan yang berpusat pada perut bagian atas( dyspepsia refers to pain or discomfort centered in the upper abdomen). ( Djojoningrat,2006) Seperti dikemukakan bahwa kasus dyspepsia setelah eksplorasi penunjang dianostik, akan terbukti apakah disebabkan gangguan patologis organik. atau bersifat fungsional. Dalam konsensus Roma II yang khusus membicarakan tentang kelainan gastrointestinal fungsional, dispepsia fungsional didefinisikan sebagai dispepsia yang berlangsung: ( Djojoningrat,2006) Setidaknya 12 minggu, tidak perlu berurutan, dalam 12 bulan sebelumnya: 1. Dyspepsia persisten atau berulang (nyeri atau ketidaknyamanan berpusat pada perut bagian atas). 2. Tidak ada bukti penyakit organik (termasuki endoskopi bagian atas yang mungkin untuk menjelaskan gejala-gejala). 3. Tidak ada bukti bahwa dispepsia secara eksklusif sembuh dengan buang air besar atau berhubungan dengan timbulnya perubahan dalam frekuensi tinja atau bentuk tinja. Definisi dispepsia sampai saat ini disepakati oleh para pakar dibidang gastroenterologi adalah kumpulan keluhan/gejala klinis (sindrom) rasa tidak nyaman atau nyeri yang dirasakan di daerah abdomen bagian atas yang disertai dengan keluhan lain yaitu perasaan panas di dada dan perut, regurgitas, kembung, perut terasa penuh, cepat kenyang, sendawa, anoreksia, mual, muntah dan banyak mengeluarkan gas asam dari mulut. Sindroma dispepsia ini biasanya diderita selama beberapa minggu/bulan yang sifatnya hilang timbul atau terus-menerus.( Djojoningrat,2006) 2.2 Epidemiologi Dispepsia 2.2.1 Distribusi Frekuensi a. Manusia a.1. Umur

lebih tinggi pada kelompok kulit hitam dibandingkan kelompok kulit putih. Mandailing 1 orang (4.5 Penelitian yang dilakukan Tarigan di RSUP. b. Di kalangan Aborigin frekuensi infeksi Helicobacter pylori lebih rendah dibandingkan kelompok kulit putih. Di negara berkembang diperkirakan 10% anak berusia 2-8 tahun terinfeksi setiaptahunnya sedangkan di negara maju kurang dari 1%.5%).2%). Penelitian yang dilakukan di Inggris ditemukan frekuensi anti Helicobacter pylori pada anak-anak di bawah 15 tahun kira-kira 5% dan meningkat bertahap antara 50%-75% pada populasi di atas umur 50 tahun. a.6%). Di Indonesia.1%). Golongan Darah Golongan darah yang paling tinggi beresiko adalah golongan darah O yang berkaitan dengan terinfeksi bakteri Helicobacter pylori. suku Batak 16 orang (72.7%).5%).3.2. diperoleh proporsi dispepsia fungsional pada suku Batak 10 orang (45. sosioekonomi yang rendah dan banyak terjadi pada negara yang sedang berkembang dibandingkan pada negara maju. diperoleh penderita dispepsia fungsional laki-laki sebanyak 9 orang (40.5%) dan Cina 1 orang (4. Karo 3 orang (13. prevalensi dispepsia meningkat dengan bertambahnya usia.5%). Etnik Di Amerika. Jenis Kelamin Kejadian dispepsia lebih banyak diderita perempuan daripada laki-laki. Adam Malik tahun 2001.4. Adam Malik Medan tahun 2001.5%) dan Melayu 1 orang (4. a. walaupun kondisi hygiene dan sanitasi jelek. Penelitian yang dilakukan Tarigan di Poliklinik penyakit dalam sub bagian gastroenterology RSUPH.Dispepsia terdapat pada semua golongan umur dan yang paling beresiko adalah diatas umur 45 tahun. Karo 6 orang (27. Nias 1 orang (4.3%). prevalensi Helicobacter pylori pada orang dewasa antara lain di Jakarta 40-57% dan di Mataram 51%-66%. Perbandingan insidennya 2:1. a. Jawa 4 orang (18.9%) dan perempuan sebanyak 13 orang (59. . Tempat Penyebaran dispepsia pada umumnya pada lingkungan yang padat penduduknya. Pada kelompok dispepsia organik.

a.2. Host/Penjamu Penjamu adalah keadaan manusia yang sedemikian rupa sehingga menjadi faktor resiko untuk terjadinya penyakit. Penelitian yang dilakukan Mudjadid dan Manan mendapatkan 40% kasus dispepsia disertai dengan gangguan kejiwaan dalam bentuk anxietas. Soetomo Surabaya tahun 2001 diperoleh penderita dispepsia terbanyak pada usia 30 sampai 50 tahun. b. Perbandingan insidennya 2:1. Kejadian dispepsia lebih banyak diderita perempuan daripada laki-laki. (Harahap. Stress dan Faktor Psikososial Stres dan faktor psikososial diduga berperan pada kelainan fungsional saluran cerna menimbulkan perubahan sekresi dan vaskularisasi. a.2 Determinan a. depresi atau kombinasi keduanya. Penelitian di Paris tahun 1994 yang melibatkan 13 sukarelawan yang melaksanakan ibadah puasa membuktikan adanya peningkatan asam lambung dan pengeluaran pepsin selama berpuasa dan kembali ke kadar normal setelah puasa ramadhan selesai. Dispepsia non ulser sebagai suatu kelainan fungsional dapat dipengaruhi emosi sehingga dikenal dengan istilah dispepsia nervosa.2.c. Penelitian di Turki pada tahun 1994. Umur dan Jenis kelamin Berdasarkan penelitian yang dilakukan Eddy Bagus di Unit Endoskopi Gastroenterologi RSUD Dr. Waktu Penyakit dispepsia paling sering ditemukan pada bulan Ramadhan bagi yang memjalankan puasa. Agent Agent sebagai faktor penyebab penyakit dapat berupa unsur hidup atau mati yang terdapat dalam jumlah yang berlebih atau kekurangan.1. Helicobacter Pylori . b. 2010) 2.1. ditemukan terjadi peningkatan kasus dengan komplikasi tukak selama bulan ramadhan dibandingkan bulan lain.

1. Kerusakan ini disebabkan ammonia. Faktor lingkungan dapat berupa lingkungan fisik. makanan pedas.3. lingkungan biologis dan lingkungan sosial ekonomi. c. aspirin. c. minuman alkohol yang berlebihan. minum kopi dalam jumlah banyak dan makan makanan yang mengandung asam.2. diperoleh bahwa intensitas kebisingan di tempat kerja berpengaruh sangat signifikan terhadap jumlah penderita dispepsia pada tenaga kerja di PT tersebut. Helicobacter pylori dapat menginfeksi dan merusak mukosa lambung.2. makanan berlemak dan kopi. alkohol. Mekanisme oleh makanan yang menimbulkan dispepsia termasuk kelebihan makan. Misalnya NSAIDs. b.4. b. Lingkungan Sosial Ekonomi Berdasarkan penelitian yang dilakukan Hatono di PT. Environment Lingkungan merupakan faktor yang menunjang terjadinya penyakit. diantaranya adalah jeruk. Lingkungan Fisik Penyebaran dispepsia pada umumnya terdapat di lingkungan yang padat penduduknya. c. mual dan nyeri di ulu hati. iritasi dan mukosa lambung.Agent yang dapat menimbulkan dispepsia adalah Helicobacter pylori. Faktor ini disebut sebagai faktor ekstrinsik. potassium supplemen dan obat lainnya. kegagalan pengosongan gastrik. cytotosin dan zat lain yang dihasilkan oleh bakteri ini dan bersifat merusak mukosa lambung. b. hal ini . soioekonomi yang rendah dan banyak terjadi pada negara yang sedang berkembang dibandingkan dengan negara maju. Ketidaktoleransian Pada Makanan Sejumlah makanan dapat menimbulkan dispepsia. Kusumahadi Santosa Karanganyar tahun 2001-2002. Obat-Obatan Sejumlah obat-obatan dapat menyebabkan beberapa iritasi gastrointestinal sehingga mengakibatkan mual. Gaya Hidup Pada umumnya pasien yang menderita dispepsia adalah pengkonsumsi rokok.

3.karena pengaruh bising yang dihasilkan mesin pabrik kepada stress pekerja. b. Dengan melihat. Hal ini terjadi karena faktor nervus vagus. Dispepsia dengan gejala seperti dismotilitas (dysmotility-like dyspepsia) dengan gejala: mudah kenyang. normal atau hiposekresi. 2010) a.5 Etiologi Beberapa hal yang dianggap menyebabkan dispepsia fungsional antara lain : (Harahap. Dismotilitas Gastrointestinal Yaitu perlambatan dari masa pengosongan lambung dan gangguan motilitas lain. mencium bau atau membayangkan sesuatu makanan saja sudah terbentuk asam lambung yang banyak mengandung HCL dan pepsin. kembung. Dispepsia non spesifik (tidak ada gejala seperti kedua tipe di atas). Diet dan Faktor Lingkungan Intoleransi makanan dilaporkan lebih sering terjadi pada kasus dispepsia fungsional. Sekresi Asam Lambung Kasus dengan dispepsia fungsional. 2010) 1. 2010) 2. 2. Pada berbagai studi dilaporkan dispepsia fungsional terjadi perlambatan pengosongan lambung dan hipomotilitas antrum hingga 50% kasus.4 Klasifikasi Dispepsia Klasifikasi klinis praktis didasarkan atas keluhan/gejala yang dominan membagi dispepsia menjadi tiga tipe : (Harahap. Nervus vagus . c. (Harahap. dimana ada hubungannya dengan faal saluran cerna pada proses pencernaan. Dispepsia dengan keluhan seperti ulkus (Ulkus-like dyspepsia) dengan gejala: nyeri ulu hati yang dominan dan disertai nyeri pada malam hari. muntah dan rasa tidak nyaman bertambah saat makan. umumnya mempunyai tingkat sekresi asam lambung baik sekresi basal maupun dengan stimulasi pentagastrin dapat dijumpai kadarnya meninggi. mual. 2.

baik sekresi basal maupun dengan stimulasi gastrin yang rata-rata normal. makanan yang terlalu asam. Diduga adanya sensitivitas mukosa lambung terhadap asam yang menimbulkan rasa tidak enak di perut. 2. bersoda (softdrink). Penjelasannya antara lain: a. maka lambung akan lebih banyak memproduksi asam. d. Dilaporkan adanya penurunan kontraktilitas lambung yang mendahului keluhan mual setelah stimulus stress sentral.6 Patofisiologi Proses patofisisologi dyspepsia fungsional yang sering dibicarakan orang adalah berkaitan dengan sekresi asam lambung. Sehingga apabila tidak sarapan. gorengan. sayur dan buah yang mengandung gas seperti kol. f. juga naproxen. e. ibuprofen. infeksi Helicobacter pylori. Karena itu setiap penderita diharapkan untuk membuat daftar makanan pemicu dispepsia untuk diri sendiri. Jenis makanan tersebut tidak mutlak sama reaksinya untuk setiap individu. kopi karena bisa mengiritasi dan mengikis permukaan lambung. nangka dan kedondong. sawi. Sekresi asam lambung Kasus dyspepsia fungsional umumnya mempunyai tingkatan sekresi asam lambung. dan hipersensitivitas visceral. Di pagi hari kebutuhan kalori seseorang cukup banyak. Psikologik Stress akut dapat mempengaruhi fungsi gastrointestinal dan mencetuskan keluhan pada orang sehat. Obat penghilang nyeri Terlalu sering menggunakan obat penghilang rasa nyeri seperti Nonsteroidal Anti Inflamatory Drugs (NSAIDs) misalnya aspirin. . Pola makan Jarang sarapan dipgi hari juga berisiko terserang dyspepsia. Makanan yang perlu dihindari seperti makanan berlemak. dismotilitas GI. Mengkonsumsi makanan atau minuman yang bisa memicu terjadinya dispepsia seperti minuman beralkohol. Lalu sedapat mugkin menghindari makanan tersebut.tidak hanya merangsang sel parietal secara langsung tetapi efek dari antral gastrin dan rangsangan lain sel parietal.

Ambang Rangsang Persepsi . 2010) c. Mulai ada kecenderungan utuk melakukan eradikasi Hp pada dyspepsia fungsional dengan Hp positif yang gagal dengan pengobatan konservatif. Dismotilitas GI Berbagai studi melaporkan bahwa pada dispesia fungsional terjadi perlambatan pengosongan lambung dan adanya hipomotilitas antrum. d. Helicobacter pylori (Hp) Peran infeksi Hp pada dyspepsia fungsional belum sepenuhnya dimengarti dan diterima. Dari berbagai laporan. tetap harus dimengerti bahwa proses motilitas GI merupakan proses yang sangat kompleks. sehingga gangguan pengosongan lambung tidak dapat mutlak mewakili hal tersebut.b. Gambar 4: Helicobacter Pylori(Harahap. kekerapan Hp pada dyspepsia fungsional sekitar 50% dan tidak berbeda bermakna dengan angka kekerapan Hp pada kelompok orang sehat.

progesterone. tapi bersifat inkonsisten. Dilaporkan adanya penurunan kadar hormon motilin yang menyebabkan gangguan motilitas antroduodenal. estradiol. f. Adanya neuropati vagal juga diduga berperan dalam kegagalan relaksasi bagian proksimal lambung waktu menerima makanan. sehingga menimbulkan gangguan akomodasi lamung dan rasa cepat kenyang. Adanya intoleransi makanan dilaporkan lebih sering terjadi pada kasus dyspepsia fungsional dibandingkan kasus control. g. h. dan prolactin. Psikologis . e. Berdasarkan studi tampaknya hipersensitivitas visceral terhadap distensi balon digaster atau duodenum. Hormonal Peran hormonal belum jelas dalam pathogenesis dyspepsia fungsional. Diet dan Faktor Lingkungan. Penelitian dengan menggunakan balon intragastrik mendapatkan hasil pada 50% populasi dengan dyspepsia fungsional sudah timbul rasa nyeri atau tidak nyaman diperut pada inflasi balon dengan volume yang menimbulkan rasa nyeri pada populasi control. masih belum dipahami. mekanik dan nosiseptor. Disfungsi Autonom Disfungsi persarafan vagal diduga berperan dalam hipersensitivitas GI pada kasus dyspepsia fungsional. Aktivitas Mioelektrik Lambung Adanya disrtmia pada pemeriksaan elektrogastrografi dilaporkan terjadi pada beberapa kasus dispesia fungsional.Dinding usus mempunyai reseptor. Dalam beberapa percobaan. mempengaruhi kontraktilitas otot polos dan memperlambat waktu transit GI. Bagaimana mekanismenya. termasuk reseptor kimiawi. i.

disamping pengamatan fisik perlu dilakukan pemeriksaan yaitu : . Evaluasi klinik meliputi anamnese yang teliti.mual . Masih belum ada kejelasan tentang faktor ini dan masih kontroversial. 2010) 1.nyeri ulu hati yang dominan . Bila seorang penderita baru datang.Stress dapat mempengaruhi fungsi GI. 2. laboratorik serta pemeriksaan penunjang yang diperlukan. misalnya endoskopi atau ultrasonografi.7 Manifestasi Klinis Klasifikasi klinis praktis didasarkan atas keluhan/gejala yang dominan membagi dispepsia menjadi tiga tipe : (Harahap.nyeri hilang setelah makan atau pamberian antsid .rasa tidak nyaman bertambah saat makan.muntah . 2006) 2. Dilaporkan adanya penurunan kontraktilitas lambung yang mendahului keluhan mual setelah stimulus stress sentral.kembung . Dispepsia dengan gejala seperti dismotilitas (dysmotility-like dyspepsia) dengan gejala: . Untuk memastikan penyakitnya.nyeri pada malam hari. Dispepsia dengan keluhan seperti ulkus (Ulkus-like dyspepsia) dengan gejala: .nyeri saat lapar . (Djojoningrat.8 Pemeriksaan Penunjang Setiap penderita dispepsia sebaiknya diperiksa dengan cermat.mudah kenyang . penurunan berat badan dan usia lebih dari 40 tahun. pemeriksaan lengkap dianjurkan bila terdapat keluhan yang berat. pemeriksaan fisik. . 3. Dispepsia non spesifik (tidak ada gejala seperti kedua tipe di atas).nyeri episodik 2. muntah-muntah telah berlangsung lebih dari 4 minggu.

tumor jinak atau ganas. (Harahap. Laboratorium Pemeriksaan labortorium perlu dilakukan. lambung maupun duodenum maka dapat dibuat diagnosis dispepsia tukak. Bila di dalam serum sampel terdapat anti Helicobacter pylori . jika cairan tampak cair berlendir atau banyak mengandung lemak berarti kemungkinan menderita malabsorbsi. Pada endoskopi ditemukan tukak baik di esophagus. Yang perlu diperhatikan warna mukosa. 2010) 4. dengan cara menempelkan antigen pada permukaan sel darah merah sehingga terjadi proses aglutinasi yang dapat diamati secara mikroskopik. Bentuk niche dari tukak yang jinak umumnya regular. dimana cairan tersebut diambil dan ditumbuhkan dalam media Helicobacter pylori. lambung atau usus halus dapat dilakukan pada orang yang mengalami kesulitan menelan atau muntah. setidak-tidaknya perlu diperiksa darah. Pemeriksaan antibodi terhadap infeksi Helicobacter pylori dikerjakan dengan metode Passive Haem Aglutination (PHA). tinja secara rutin. jika ditemukan adanya perubahan warna normal urine maka dapat disimpulkan terjadi gangguan ginjal. semisirkuler. dasarnya licin. bentuk dari lambung berubah. 2010) 2. 2007) 3. Dari hasil pemeriksaan darah bila ditemukan lekositosis berarti ada tanda-tanda infeksi. Seorang yang diduga menderita dispepsia tukak. urine. Barium enema Untuk memeriksa kerongkongan. Kanker di lambung secara radiologist akan tampak massa yang irregular. Pada pemeriksaan ini juga dapat mengidentifikasi ada tidaknya bakteri Helicobacter pylori. Pada pemeriksaan tinja.1. Sedangkan bila ditemukan tukak tetapi hanya ada peradangan maka dapat dibuat diagnosis dispepsia bukan tukak. sebaiknya diperiksa asam lambungnya. penurunan berat badan atau mengalami nyeri yang membaik atau memburuk bila penderita makan (Mansjoer et al. tidak terlihat peristaltik di daerah kanker. (Harahap. Radiologis Pada tukak di lambung akan terlihat gambar yang disebut niche yaitu suatu kawah dari tukak yang terisi kontras media. Dan pada pemeriksaan urine. lesi. Endoskopi Pemeriksaan endoskopi sangat membantu dalam diagnosis.

kelainan di tiroid. dapat digunakan setiap saat dan pada kondisi pasien yang berat pun dapat dimanfaatkan. (Harahap. bahkan juga ada dugaan tumor di esophagus dan lambung. 2010) 2. Ultrasonografi (USG) Ultrasonografi (USG) merupakan saran diagnostik yang tidak invasif. Pasien dinasehati untuk menghindari makanan yang dapat mencetuskan serangan keluhan. merupakan langkah awal yang penting. Perlu dijelaskan sejauh mungkin tentang patogenesis penyakit yang dideritanya. pankreas. System rujukan yang baik akan berdampak positif bagi perjalanan penyakit pada kasus dyspepsia fungsional.(Djojodiningrat. akhir-akhir ini banyak dimanfaatkan untuk membantu menetukan diagnostik dari suatu penyakit. Pemanfaatan alat USG pada pasien dispepsia terutama bila dugaan kearah kelainan di traktus biliaris. Apalagi alat ini tidak menimbulkan efek samping. 2006) . 2010) 5. (Harahap. Latar belakang faktor psikologis perlu dievaluasi. Diagnosis klinis dan evaluasi bahwa tidak ada penyakit serius atau fatal yang mengancam dilakukan.9 Penatalaksanaan Penjelasan dan reassurance kepada pasien mengenai latar belakang keluhan yang dialaminya.maka akan terjadi aglutinasi dan dinyatakan positif terinfeksi Helicobacter pylori.

radiologi. alkohol. stress)relevan dengan terjadinya refluks. hematemesis. . berat badan. Faktor gaya hidup( rokok. Adanya (Patrick davey.9. 2006) disfagia dan penurunan berat badan merupakan indikasi untuk dilakukannya pemeriksaan penunjang segera. 2006) 2. penurunan berat badan. Insiden kanker meningkat dengan bertambahnya usia dan signifikan hanya pada usia >45 tahu. USG) Penyebab organic teridentifikasi tidak teridentifikasi penyebab Organic/biokimiawi Terapi definitive Dispepsia fungsional Gambar 5: Alur tatalaksana ringkas diagnosis pada kasus dyspepsia( Mansjoer et al. melena dsb) Gagal(-) (+) Terapi empiric eksplorasi diagnostic(endoskopi.Dispepsia Alarm Symptoms (anemia.1 Anamnesis Gejala biasanya telah berlangsung selama bertahun-tahun.

2006) 2. Prinsip dasar menghindari makanan pencetus serangan merupakan pegangan yang lebih bermanfaat. Mg triksilat dapat dipakai dalam waktu lebih lama.9.2. namun dalam dosis besar akan menyebabkan diare karena terbentuk senyawa MgCl2. tinggi lemak. Antasid 20-150 ml/hari Golongan obat ini mudah didapat dan murah. juga berkhasiat sebagai adsorben sehingga bersifat nontoksik. Makanan yang merangsang seperti pedas. asam. untuk mengurangi rasa nyeri. Pemberian antasid jangan terusmenerus. Antasid biasanya mengandung Na bikarbonat. Obat yang agak selektif yaitu pirenzepin bekerja sebagai anti reseptor muskarinik yang dapat menekan seksresi asam lambung sekitar 28-43%. Obat yang termasuk golongan antagonis respetor H2 antara lain simetidin. Antasid akan menetralisir sekresi asam lambung. dan famotidin. roksatidin. yaitu: 1.2 Dietetik Tidak ada dietetik baku yang menghasilkan penyembuhan keluhan secara bermakna. 4. Al(OH)3. Antagonis reseptor H2 Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia organik atau esensial seperti tukak peptik.3 Medikamentosa Pengobatan dispepsia mengenal beberapa golongan obat. Mg(OH)2. Antikolinergik Perlu diperhatikan. 2. sifatnya hanya simtomatis. 3. Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI) .9. Pirenzepin juga memiliki efek sitoprotektif. dan Mg triksilat. (Djojodiningrat. sebaiknya dipakai sebagai pegangan umum secara proporsional dan jangan sampai menurunkan atau mempengaruhi kualitas hidup pasien. ranitidin. karena kerja obat ini tidak spesifik.

dan metoklopramid. meningkatkan produksi mukus dan meningkatkan sekresi bikarbonat mukosa. pada tampaknya kasus behavioral lain therapy seperti memperlihatkan dibandingkan manfaatnya terapi baku. juga menekan sekresi asam lambung oleh sel parietal.9. Sitoprotektif Prostoglandin sintetik seperti misoprostol (PGE1) dan enprostil (PGE2). 2001). 2006) 2. Golongan ini cukup efektif untuk mengobati dispepsia fungsional dan refluks esofagitis dengan mencegah refluks dan memperbaiki bersihan asam lambung (acid clearance) (Mansjoer et al.5 Pencegahan Pencegahan terhadap penyakit dispepsia ini adalah sebagai berikut : a. yang selanjutnya memperbaiki mikrosirkulasi. dan pantoprazol. walaupun belum sistematis untuk dyspepsia fungsional. gastric electrical stimulation pernah dicoba untuk kasus dyspepsia. domperidon. Obat-obat yang termasuk golongan PPI adalah omeperazol. (Djojodiningrat. dyspepsia fungsional Modalitas pengobatan acupuncture. 2. Selain bersifat sitoprotektif. acustimulation.9. Pencegahan Primer (Primary Prevention) Tujuan pencegahan primer adalah mencegah timbulnya faktor resiko dispepsia bagi individu yang belum ataupun mempunyai . serta membentuk lapisan protektif (site protective). 6.4 Psikoterapi Dalam beberapa studi terbatas. Sukralfat berfungsi meningkatkan sekresi prostoglandin endogen. 5.Golongan obat ini mengatur sekresi asam lambung pada stadium akhir dari proses sekresi asam lambung. acupressure. yaitu sisaprid. yang bersenyawa dengan protein sekitar lesi mukosa saluran cerna bagian atas (SCBA). lansoprazol. Golongan prokinetik Obat yang termasuk golongan ini.

perbaikan sosioekonomi dan gizi dan penyediaan air bersih. 2006) . perlu diperhatikan pemberian makanan. Modifikasi pola hidup dimana perlu diberi penjelasan bagaimana mengenali dan menghindari keadaan yang potensial mencetuskan serangan dispepsia. Mengurangi makan makanan yang pedas. 2.10 Prognosis Dyspepsia fungsional yang ditegakkan setelah pemeriksaan klinis dan penunjang yang akurat. Menjaga sanitasi lingkungan agar tetap bersih. b.faktor resiko dengan melaksanakan pola hidup sehat. Susu yang diberikan juga diperhatikan porsi pemberiannya. Makanan yang diberikan harus diperhatikan porsinya sesuai dengan umur bayi. (Djojodiningrat. kopi serta merokok. mempunyai prognosis yang baik. 2. Pencegahan Sekunder (Secondary Prevention) Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan diagnosis dini dan pengobatan segera (Early Diagmosis and Prompt Treatment). Khusus untuk bayi. 4. asam dan minuman yang beralkohol. 3. promosi kesehatan (Health Promotion) kepada masyarakat mengenai : 1.

Djojoningrat. Setiowulan W. Jilid I. 3. Dispepsia. Edisi IV. Gangguan lambung & duodenum. Konsep klinis proses penyakit.pdf 7. Dispepsia Fungsional. 2001. Gastroenterologi from http://renjana552. 2. At a glance medicine. 4.PEA. Hal 417-36. Penerbit EGC. Jilid I. Jakarta. 31 / 1994. Tinjauan Pustaka Dispepsia 2010 from http://repository. 1994. Dispepsia Fungsional. Hal 488-91. Savitri R. Hal 352-54.com/2010/01/25/gastroenterologi/ . Davey P. Harahap. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Sylvia A. Wardhani WI.ac.DAFTAR PUSTAKA 1. Media Aesculapius. Hal 42-43. Last upate 14 maret 2011. 6.id/bitstream/123456789/20335/4/Chapter%20II. 5. Jakarta. Blogspot. Buletin Ilmiah Tarumanegara. Penerbit Erlangga. 8.usu. vol 1. Jakarta. Dispepsia fungsional from http://drlizakedokteran. Triyanti K. Edisi 6. Edisi 4. SH. D. Gastroenterologi. 9 / No. Jakarta. Kapita Selekta Kedokteran. 2006.blogdetik. Penerbit FKUI.com/2007/12/dispepsia-fungsional.blogspot. 2006. Edisi Ketiga. Th. Penerbit FKUI. Price. 2003. Pangalila. Mansjoer A.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->