P. 1
Laporan Praktikum Instrumentasi i

Laporan Praktikum Instrumentasi i

5.0

|Views: 1,658|Likes:
Published by Mutiara Wulan

More info:

Published by: Mutiara Wulan on Jun 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/23/2015

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMENTASI I Mutiara Wulan 1, Desi Puspitasari1, Rida Triani1, Shelly shelviani1, Pera Pebriani1, Eva Fauziah1

,Erick Khistian, S.Si 2, Arina Novilla, S.Pd., M.Si2
1

Mahasiswa Analis Kesehatan, 2Dosen Analis Kesehatan

Part 1 : SENTRIFUGE 1. PENDAHULUAN a. Latar belakang Sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat dalam segala aspek kehidupan, mulai dari bidang pendidikan hingga bidang kesehatan. Salah satunya didalam pemeriksaan darah. Sampel darah dibutuhkan untuk pemeriksaan, dan sebelum di lakukan pemeriksaan perlu di lakukan pemisah dari komponen – komponen darah tersebut yaitu dengan menggunakan centrifuge. Centrifuge adalah alat untuk memutar sampel pada kecepatan tinggi, memaksa partikel yang lebih berat terkumpul ke dasar tabung centrifuge. Pemakaian centrifuge yang paling sering adalah untuk pemisahan komponen sel darah dari cairannya sehingga cairannya bisa dipakai untuk pemeriksaan. b. Bentuk dan fungsi sentrifuge Ada beberapa klasifikasi centrifuge menurut jenisnya, antara lain : a. b. c. d. Horizontal head (swinging bucket) Fixed angle (angle-head) Axial Ultrasentrifugasi

Horizontal sentrifuge 2. KEGUNAAN SENTRIFUGE DALAM BIDANG KESEHATAN Dalam bidang kesehatan sentrifuge digunakan untuk : 1) Memisahkan sel dari darah (plasma / serum) 2) Pengkonsentrasian sel dari sedian biologis untuk pemeriksaan mikroskop 3) Mengurangi presipitat protein dari spesimen 4) Pemisahan antibody-ligan dari ligan pada teknik imunokimia 3. PROSEDUR 1. Pemakaian centrifuge : 1) Sebelum memulai centrifuge, pastikan bahwa tutupnya terpasang dan terkunci. 2) Jangan pernah membuka tutup selama centrifuge berlangsung. 3) Periksa kebersihan ruang centrifuge, segera bersihkan semua tumpahan. 4) Selalu Melakukan Tindakan Pengamanan. 5) Setimbangkan muatan centrifuge sebelum pemakaian. Gunakan shield dan tube yang benar. 6) Amati dan lakukan tindakan yang sesuai jika ada bunyi atau

1

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

getaran yang tidak lazim selama pemakaian. 7) Putar sampel dengan tutup terpasang. 8) Gunakan hanya tube yang diperuntukkan untuk centrifuge tersebut 2. Perawatan Perawatan Centrifuge termasuk harian pembersihan tumpahan atau puing-puing, seperti darah atau kaca, dan memastikan bahwa sentrifus adalah benar seimbang dan bebas dari segala yang berlebihan getaran. Menyeimbangkan beban centrifuge sangat penting. Sentrifuge otomatis akan menurun kecepatannya jika beban tidak seimbang, namun sentrifuge akan mengguncang dan bergetar atau membuat suara keras. Centrifuge perlu diimbangi berdasarkan menyamakan baik volume dan berat distribusi di kepala centrifuge. Penutup centrifuge harus tetap ditutup sampai centrifuge telah berhenti untuk menghindari aerosol kontaminasi. Hal – hal yang perlu diperhatikan adalah : 1) Bersihkan dinding bagian dalam dengan larutan antiseptic setiap minggu atau bila tumpahan atau ada tabung yang pecah. 2) Gunakan tabung dengan ukuran dan type yang sesuai untuk tiap centrifuge. 3) Beban harus dibuat seimbang sebelum centrifuge dijalankan. 4) Pastikan bahwa penutup telah menutup dengan baik dan kencang sebelum centrifuge dijalankan. 5) Periksa bantalan pada wadah tabung. Bila bantalan tidak ada

3.

a)

b)

4.

maka tabung mudah pecah waktu disentrifus karena adanya gaya setrifugal yang kuat menekan tabung kaca ke dasar wadah. Kalibrasi / pengecekan sentrifuge Centrifuge perlu dikalibrasi baik kecepatan putarnya / rpm maupun waktu / timernya, sedangkan pada centrifuge refrigerated selain rpm dan timer perlu pula kalibrasi suhunya. Kalibrasi rpm dapat dilakukan dengan menggunakan : Tachometer mekanik yaitu dengan kabel yang lentur. Cara : 1) Ujung kabel yang satu dikaitkan pada kumparan motor di dalam, sedangkan ujung yang lain dihubungkan dengan alat meter. 2) Set centrifuge pada rpm yang paling sering dipakai, kemudian jalankan. 3) Catat rpm yang ditunjukkan oleh meter pada tachometer. 4) Ulangi beberapa kali. 5) Hitung nilai rata – ratanya. Tachometer elektrikal Cara : 1) Letakkan bagian magnit di sekeliling coil, sehingga menimbulkan aliran listrik bila alat dijalankan. 2) Set centrifuge pada rpm yang paling sering dipakai, kemudian jalankan. 3) Aliran listrik yang timbul akan menggerakkan bagian meter. 4) Ulangi beberapa kali. 5) Hitung nilai rata – ratanya. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Data pengamatan Pengamatan dilakukan pada beberapa sampel, diantaranya : 1) Susu 2) Pasir + air 3) Darah + NaCl fisiologis

2

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

4) Larutan garam 5) Darah (kering) b. Pembahasan Setelah dilakukan sentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm dengan waktu 10 menit pada ke lima sampel tersebut didapat hasil sebagai berikut : 1) Air susu  terpisah, yaitu : air susu dan susu (padat) 2) Pasir  terpisah, yaitu : air keruh dan pasir 3) Darah dan NaCl fisiologis  terjadi dua fase yaitu : a) Fase 1 : supernata (NaCl) b) Fase 2 : darah (eritrosit) 4) Air garam  tidak terpisah antara air dan garam (air bening) 5) Darah (kering)  terjadi dua fase yaitu : a) Fase 1 : serum (bening) b) Fase 2 : darah (eritrosit) Untuk sampel larutan garam tidak terpisah karena garam dan air termasuk kedalam larutan (membentuk zat baru) sehingga tidak dapat dipisahkan dengan sentrifuge. Harus dipisahkan secara destilasi. 5. KESIMPULAN Sentrifuge adalah suatu alat yang dapat memisahkan suatu komponen berdasarkan berat molekul. Materi yang berat molekulnya lebih besar akan menjauh dari titik pusat (pemisahan berdasarkan gravitasi dari material yang berbeda massanya). Setiap sampel dalam pemeriksaan yang menggunakan sentrifuge harus diperhatikan dalam hal kecepatannya. Kecepatan dan waktu harus sebanding sesuai kekuatan sampelnya. Karena saat sentrifuge di oprasikan jika

kelebihan waktu dan kecepatanya berkurang maka komponen tidak terpisah ataupun dapat menyebabkan kerusakan terhadap komponen di dalam tabung tersebut. 6. DAFTAR PUSTAKA 1) Setyawan, Asjik. [online]. Tersediahttp://as6tya.wordp ress.com/2011/06/15/centrif uge/ Diunduh tanggal 2112-2012, hari jum‟at jam 20.54 2) Ridwanna, Surya. Sentrifuge.

3

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

Part 2: MIKROSKOP 1. PENDAHULUAN a. Latar belakang Manusia merupakan bagian dari kehidupan yang tersusun atas organ - organ. Namun organ yang menyusun tubuh manusia ternyata bukan bagian terkecil dari manusia. Bagian yang terkecil dari manusia adalah sel, dimana sel ini memiliki struktur dan fungsional tersendiri dengan ukuran mikroskopik. Didalam mengenal dan mengetahui sel, baik dari fungsi maupun struktursel, diperlukan sebuah alat optic yang mampu membantu mata manusia dalam pengamatannya. Alat optic yang mampu membantu mata untuk memperbesar ukuran mikroskopik adalah “Mikroskop”. Dengan penemuan mikroskop inilah, dunia mikroorganisme terbuka. b. Sejarah Mikroskop (bahasa yunani: Micros = kecil dan scopein = melihat) adalah sebuah alat untuk melihat objek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata kasar. Ilmu yang mempelajari benda kecil dengan menggunakan alat ini disebut mikroskopi, dan kata mikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah terlihat oleh mata. Dalam perkembangannya mikroskop mampu mempelajari organisme hidup yang berukuran sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, sehingga mikroskop memberikan kontribusi penting dalam penemuan mikroorganisme dan perkembangan sejarah

mikrobiologi. Organisme yang sangat kecil ini disebut sebagai mikroorganisme, atau kadangkadang disebut sebagai mikroba, ataupun jasad renik. Dapat di amati dengan mikroskop.Salah satu penemu sejarah mikrobiologi dengan mikroskop adalah Antonie Van Leeuwenhock (1632-1723) tahun 1675 Antonie membuat mikroskop dengan kualitas lensa yang cukup baik, dengan menumpuk lebih banyak lensa sehingga dia bisa mengamati mikroorganisme yang terdapat pada air hujan yang menggenang dan air jambangan bunga, juga dari air laut dan bahan pengorekan gigi. Ia menyebut benda-benda bergerak tadi dengan „animalcule‟. c. Fungsi dan bagian – bagian mikroskop Mikroskop cahaya merupakan alat optic hasil gabungan dari dua lensa yang dapat membantu dalam perbesaran bayangan benda aslinya lebih dari 1500x. Mikroskop berfungsi untuk membantu peneliti dalam melihat detail dari sel dan makromolekular yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang.

4

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

Bagian – bagian dari Mikroskop : 9.

10.

11. 1. Eyepiece / LensaOkuler Berfungsi sebagai pembesaran kedua dan juga memposisikan bayangan menjadi bayangan nyata sehingga dapat tertangkap oleh mata. 2. Revolving nosepiece / PemutarLensa /Revolver Berfungsi untuk merubah / memutar lensa objektif sesuai dengan kebutuhan. 3. Observation Tube Berfungsi sebagai penahan lensa okuler. 4. Stage / Meja Preparat Berfungsi sebagai penyimpan preparat / kaca objek. 5. Condensor Berfungsi untuk memperbesar atau memperkecil celah masuknya sumber cahaya 6. Lensa Objektif Berfungsi sebagai perbesaran pertama dari objek pada kaca objek 7. Brightness Adjustment Knob Berfungsi untuk mengatur hambatan yang masuk kelampu, sehingga dapat mengatur terang gelapnya sumber cahaya. 8. Main Switch

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

Berfungsi untuk mematikan sumber cahaya. Diopter Adjustment ring Berfungsi untuk memfokuskan bayangan hasil lensa objectif agar sesuai dengan kedua mata. Interpupillar Distance Adjustment Knob Berfungsi untuk merubah posisi lensa okuler secara horizontal sehingga kedua lensa okuler tepat di bawah mata. Specimen Holder Berfungsi untuk menjepit objek glass / kaca preparat agar mudah digeser dan tidak berubah – ubah posisi. Illuminator Berfungsi untuk keluarnya cahaya dan penahan filter. Vertical Feed Knob Berfungsi untuk menggeser kaca preparat agar dapat dilihat secara vertical pada lensa okuler. Horizontal Feed Knob Berfungsi untuk menggeser kaca preparat agar dapat dilihat secara horizontal pada lensa okuler. Coarse Focus Knob / Makrometer / Pemutar Kasar Berfungsi untuk menaikkan meja preparat mendekati lensa objektif agar dapat terlihat di lensa okuler. Fine Focus Knob / Mikrometer / Pemutar Halus Berfungsi untuk memperjelas bayangan yang ada di lensa okuler. Observation Tube Securing Knob Berfungsi untuk menahan tubus, dimana tubus ini dapat diputar 360O. Condensor Adjustment Knob Berfungsi untuk memperbesar atau memperkecil diafragma, sehingga banyaknya cahaya yang masuk dapat diatur.

5

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

2. KEGUNAAN MIKROSKOP DALAM BIDANG KESEHATAN Mikroskop di dalam penggunaannya di bidang kesehatan sangat banyak, baik di laboratorium klinik, patologi anatomi maupun biologi moleculer. 3. PROSEDUR Perawatan mikroskop meliputi : a. Cara membawa mikroskop dengan baik adalah : 1. Pegang tangkainya dengan tangan kanan dan letakkan tangan kiri untuk menopangnya. 2. Jangan mengayun, melambungkan, atau menggetarkannya sewaktu meletakkan mikroskop. 3. Jangan mengangkat mikroskop pada tubuh tabungnya, karena akan ada bagian yang lepas atau jatuh apabila hal ini di lakukan. b. Mikroskop merupakan peralatan biologi yang perlu dirawat dengan baik. Dintaranya yaitu dengan : 1. Mikroskop yang telah selesai dipakai harus dibersihkan, 2. pakailah penutup plastik atau masukkan pada kotaknya agar terhindar dari debu, debu dibersihkan dengan meniupkan udara (bisa menggunkan pipet tetes). 3. Simpan pada tempat yang kering dan usahakan dalam lemari yang dilengkapi dengan lampu untuk mengurangi kelembaban. 4. Lensa yang kotor harus dibersihkan dengan kain lembut, kapas pengisap atau kertas lensa yang telah dibasahi dengan alkohol, atau xilol ( gunakan cairan pembersih yang

direkomendasikan pabrik ). Gunakan sedikit mungkin cairan pembersih, jangan mencelupkan lensa kedalam cairan pembersih, gunakan kertas lensa. Lakukan dengan hati-hati karena lensa mudah tergores, yang dapat mengakibatkan pengamatan menjadi kurang jelas.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Data pengamatan Pengamatan dilakukan pada sampel apusan darah untuk melihat sel darah.

6

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

1.

Pengamatan objek perbesaran 4X

pada

2.

Pengamatan objek perbeasaran 10X

pada

3.

Pengamatan objek perbesaran 40X

peada

4.

Pengamatan objek perbesaran 100X.

pada

Pada pernesaran 100X kaca preparat di tetesi oil imersi.

7

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

b. Pembahasan Pada saat melakukan pengamatan dengan perbesaran 4X, 10X,40X, dan 100X diperlukan kehati-hatian, konsentrasi dan ketelitian. Dan untuk perbesaran 100X sebelumnya kaca objek/preparat di tetesi dulu oil imersi. Agar bayangan yang dihasilkan dapat terlihat dengan jelas. 5. KESIMPULAN Berdasarkan praktikum yang dilakukan maka dalam pengamatan mikroskop harus dengan ketelitian dan kosentrasi. Karena pada percobaan perbesaran 4X, 10 X, 40X dan 100X dibutuhkan ketelitian, dan dalam setiap perbesaran yang dilakukan dengan cara yang berbeda. Contohnya pada perbesaran 100X maka preparat menggunakan oil imersi. 6. DAFTAR PUSTAKA 1. Blog Asal usul sejarah. [online]. Tersedia : http://asal-usulmotivasi.blogspot.com/2012/04/as al-usul-sejarah-mikroskopdan.html. Diunduh hari sabtu, tanggal 22 Desember 2012, jam 15 : 58 2. Blog Rien md. [online]. Tersedia : http://rindachie.wen9.com/menu/la bs/mikroskop.html. diunduh hari kamis, tanggal 20 Desember 2012, jam 20:38. 3. Ridwana, Surya. Mikroskop

Part 3: OVEN & AUTOKLAP 1. PENDAHULUN a. Latar belakang Sterilisasi adalah proses kimia atau fisika yang bertujuan membunuh semua bentuk hidup terutama mikroorganisme yang merugikan, sterilisasi secara umum di bagi menjadi 4 bagian yaitu : 1. Sterilisasi Fisik a) Pemanasan basah salah satunya yaitu autoklap adalah alat untuk mensterilkan peralatan dan bahan-bahan dengan melibatkan dengan uap panas dan tekanan udara tertentu sehingga alat dan bahan menjadi steril. b) Pemanasan kering salah satunya yaitu oven dan pembakaran yaitu alat sterlisasi peralatan tanpa melibatkan uap panas atau basah, sehingga hasilnya akan tetap kering. 2. Sterilisasi kimia yaitu desinfektan, larutan alkohol, dll. 3. Sterilisasi mekanik contohnya BSC/filter. 4. Sterilisasi gas contohnya etilen oksida. Dengan uap air bertekanan (Autoklav). Dengan cara pengatur tekanan dalam autoklav, maka dapat dicapai panas yang diinginkan. Cara ini dipakai untuk sterilisasi media yang tahan terhadap pemanasan tinggi. Oven adalah suatu peralatan yang berfungsi untuk memanaskan ataupun

8

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

mengeringkan. Biasanya digunakan untuk mengeringkan peralatan gelas laboratorium, zatzat kimia maupun pelarut organik. b. Bentuk dan fungsi :

Autoklap Fungsi autoklap :Untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas bertekanan.

1. Temperatur berfungsi sebagai pengatur suhu yang ada di dalam oven. 2. Rak oven berfungsi sebagai tempat meletakkan bahan atau alat yang akan di sterilisasi. 3. Pintu oven berfungsi sebagai pembuka dan penutup oven. 4. Aluminium voil, berfungsi sebagai media yang digunakan untuk membungkus alat dan bahan yang akan di sterilkan di dalam alat sterilisasi, serta menjaga dan melindungi bahan yang ada didalam gelas reaksi agar tidak terkontaminasi. 2. KEGUNAAN OVEN & AUTOKLAP DALAM BIDANG KESEHATAN Untuk sterilisasi cara kering pada suhu 160oC-180o C selama 1-2 jam untuk peralatan gelas. Digunakan untuk sterilisasi langsung bahan atau alat yang infeksius dengan menggunakan tekanan uap pada temperatur tinggi, dengan waktu tertentu. 3. PROSEDUR a. Prosedur penggunaan oven : 1. Menghidupkan oven terlebih dahulu. 2. Mengatur temperatur sampai dengan yang diinginkan 160 o C- 180oC selama 1 – 2 jam. 3. Membungkus alat-alat yang akan disterilisasikan menggunakan kertas alumunium. 4. Memasukan alat tersebut kedalam oven yang telah diatur. 5. Meletakkan alat tersebut diatas rak-rak yang telah tersedia.

oven Fungsi oven : alat yang berguna untuk memanaskan atau mengeringkan peralatan laboratorium, oven juga biasanya digunakan untuk mengeringkan peralatan gelas laboratorium, zatzat kimia maupun pelarut organik, dapat pula digunakan untuk kadar air. Fungsi dari bagian-bagian oven yaitu:

9

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

6. Setelah selesai sterilisasi pemanasan di hentikan dan alat-alat dibiarkan mendingin b. Prosedur perawatan 1. Oven harus selalu dalam keadaan bersih. 2. Sebelum oven digunakan bersihkan semua aksesori dan rak tatakan. 3. Selalu pastikan steker oven sudah dicabut dan oven sudah dingin sebelum dibersihkan. 4. Buka pintu oven dan bagian dalam dibersihkan dengan lap lembut dalam air panas atau detergen. Zat abarsif jangan digunakan untuk membersihkan oven. Jangan mengelap elemen pemanas. Bagian luar dapat dibersihkan dengan lap basah. 5. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, tidak diperbolehkan menggunakan alat gelas untuk dimasukkan kedalam oven. Jagalah agar selalu ada jarak minimal 1” antara bagian atas dan bagian elemen pemanas. 6. Jangan sekali-sekali menggunakan oven dalam keadaan pintu terbuka. 7. Hindari seringnya membuka pintu oven saat sedang digunakan, hal ini menimbulkan panas dalam oven berkurang. 8. Selalu gunakan gegep untuk mengambil peralatan dari dalam oven. 9. Hentikan pemakaian oven bila terlihat asap pada kabel listrik, segera cabut steker dari stopkontak. 10. Tidak boleh ada uap

11. Lubang yang ada di atas oven harus dalam keadaan tertutup ketika di matikan c. Prosedur kalibrasi Karena oven media pemanas nya dengan udara, sehingga panas nya menyebar, oleh karena itu hanya dibutuhkan 1 termometer saja untuk pengkalibrasian nya. d. Prosedur penggunaan autoklap : 1. Sebelum melakukan sterilisasi cek dahulu banyaknya air dalam autoklaf. Jika air kurang dari batas yg ditentukan,maka dapat ditambah air sampai batas tersebut. Gunakan air hasil destilasi, untuk menghindari terbentuknya kerak dan karat. 2. Masukkan peralatan dan bahan. Jika mensterilisasi botol bertutup ulir,maka tutup harus dikendorkan. 3. Tutup autoklaf dengan rapat lalu kencangkan baut pengaman agar tidak ada uap yang keluar dari bibir autoklaf. Klep pengaman jangan dikencangkan terlebih dahulu. 4. Nyalakan autoklaf, diatur timer dengan waktu minimal 15 menit pada suhu 121°C. 5. Tunggu sampai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen autoklaf dan terdesak keluar dari klep pengaman. Kemudian klep pengaman ditutup (dikencangkan) dan tunggu sampai selesai. Penghitungan waktu 15' dimulai sejak tekanan mencapai 2 atm.

10

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

6. Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka tunggu tekanan dalam kompartemen turun hingga sama dengan tekanan udara di lingkungan (jarum pada preissure gauge menunjuk ke angka nol). Kemudian klep-klep pengaman dibuka dan keluarkan isi autoklaf dengan hati-hati. e. Prosedur Perawatan Apabila autoklaf telah selesai digunakan, maka air aquadest yang ada di dalam autoklaf sebaiknya dibersihkan atau dikuras bagian dalamnya menggunakan lap kering. Selanjutnya simpan autoklaf pada tempat yang kering dan bersih. f. Prosedur Kalibrasi 1) Autoclave Indicator Tape Cara : a) Rekatkan indicator tape secara melingkar pada kemasan yang akan disterilisasi. Pada Otoklaf yang besar, kemasan diletakkan pada bagian atas dan bagian bawah otoklaf. b) Atur suhu, waktu dan tekanan c) Hidupkan otoklaf d) Setelah selesai, baca indicator tape dengan melihat perubahan warna yang terjadi pada garisgaris diagonal. Bila proses sterilisasi berjalan dengan baik, garis-garis diagonal berubah warna dari putih menjadi coklat kehitamhitaman. 2) Bacillus stearothermophilus

Cara : a) Masukkan Bacillus stearothermophilus dalam bentuk liofilisasi dalam otoklaf b) Atur suhu, waktu dan tekanan c) Hidupkan otoklaf d) Setelah selesai, ambil Bacillus stearothermophilus dan tanam pada agar darah (Bloodagar ) dan inkubasi pada suhu 40̊-60̊ C selama 24-48 jam e) Proses sterilisasi berjalan baik bila tidak ada pertumbuhan Bacillus stearothermophilus 4. DAFTAR PUSTAKA 1) Arnisparida‟s blog.[online]. Tersedia : http://arnisfarida.wordpress.com/ 2010/02/16/oven-alatlaboratorium/ di akses tanggal 01 januari 2013 2) [online]. Tersedia : http://danang-kurangkerjaan.blogspot.com/2011/05/m ikrobiologi.html diakses tanggal 26 Desember 2012 3) [online]. Tersedia: http://fatmanuritalamanaku.blogs pot.com/2012/04/tekniklaboratorium-operasionalalat.html diakses tanggal 07 Januari 2013 4) Muslim, analis. (2011). Autoklaf. [online]. Tersedia : http://analismuslim.blogspot.com /2011/11/autoklaf.html. diunduh 07 januari 2013

11

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

Part 4: WATER BATH (PENANGAS AIR) 1. PENDAHULUAN a. Latar belakang Waterbath adalah suatu alat yang memanfaatkan heater sebagai komponen utamanya dan termostat sebagai komponen utama kontrol sistemnya. Mirip dengan Heating Block, Water Baths juga digunakan untuk keperluan inkubasi dan lain-lain, atau bahkan bisa menggantikan heating block. Bedanya hanya ada media berupa air untuk pemanasan.¨Suatu alat yang berfungsi untuk memanaskan air yang berguna untuk menjaga kestabilan suhu dari cairan yang ada dalam tabung reaksi alat ini tidak di lengkapi dengan Fuse, sehingga kurang aman. Prinsip dari waterbath adalah Pada saat saklar digeser pada posisi on, maka arus listrik dari sumber akan memberi suplly listrik pada heater. Heater yang diberi arus listrik akan memberikan panas pada alat, suhu semakin tinggi. Sensor thermostat yang ditempatkan di daerah pemanasan pada waterbath akan ikut menjadi panas dan memuaikan cairan dalam sensor tersebut. Pada derajat suhu tertentu, dimana pemuaian dari cairan sensor cukup tinggi, maka bertambahnya volume cairan sensor ini akan memberikan tekanan pada kontaktor thermostat sehingga kontaktor terbuka. Dengan tebukanya kontaktor thermostat , heater tidak mendapatkan suplly arus. Suhu berangsur-angsur turun,

tekanan pada sensor thermostat kembali turun sehingga kontaktor kembali tertutup. Terjadi pemanasan kembali. Dan Waterbath merupakan alat pemanas yang menggunakan heater kering. Heater ini dikontrol menggunakan sebuah thermostat. b. Bentuk

c. Fungsi Water bath dapat digunakanuntuk : 1. Pemanasan pada suhu rendah 300C sampai 1000C. 2. Menguapkan zat atau larutan dengan suhu yang tidak terlalu tinggi Water bath menggunakan daya listrik yang rendah sehingga sangat ekonomis dan efisien. 3. Pada laboratorium mikrobiologi, water bath digunakan untuk menginkubasi kultur mikrobiologi. Secara sederhana alat ini menggunakan pemanas pada air yang dipanaskan dengan api maupun dengan listrik atau uap dari air. 2. KEGUNAAN WATER BATH DALAM BIDANG KESEHATAN Waterbath adalah Oven atau bisa disebut juga Penangas air yang fungsi utamanya adalah untuk menciptakan suhu yang konstan dan digunakan untuk inkubasi pada analisis mikrobiologi. Serta digunakan untuk melebur basis,

12

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

menguapkan ekstrak atau tingtur, pemanasan untuk mempercepat kelarutan. Waterbath ini juga termasuk kedalam kategori alat laboratorium. 3. PROSEDUR a. Prosedur penggunaan Sebagai media pemanas digunakan air suling ( jangan menggunakan air sumur, karena menyebabkan korosi ). Selesai digunakan ( jika menggunakan listrik ) matikan arus listrik dan dicabut dari arus listrik. Jika hendak disimpan air ( media pemanas ) dikosongkan. b. Prosedur perawatan Untuk perawatan, bersihkan alat hanya dengan lap bersih yang dibasahi air kemudian lap dengan kain kering setiap selesai menggunakan alat Box kontrol jangan sampai tersiram atau kemasukkan air karena dapat berakibat tersengat tegangan listrik ( berbahaya ) atau alat akan menjadi rusak, cara rutin air dapat diganti atau ditambahi ±2 bulan sekali. c. Prosedur kalibrasi Paling tidak dilakukan dua kali per tahun (2x/tahun), thermometer waterbath harus dicek oleh petugas yang bertanggung jawab untuk hal ini atau seseorang yang diberitugas oleh Kepalala boratorium, dengan menggunakan thermometer terkalibrasi. Interval uji penyimpanan (deviasi) harus di dokumentasikan / dicatat pada buku peralatan. Bila alat teroperasi tanpa mengindahkan suhu yangdiinginkan, prosedur ini tidak perlu dilakukan, alat harus diberi label yang sesuaiuntukini. Dalam kasus terjadinya penyimpangan lebih tinggi atau

lebih rendah ± 50C, yang ditunjukkan oleh thermometer pada alat, harus ditentukan factor koreksi (suhu yang diinginkan/ suhuterukur) dan dicantumkan secara jelas pada alat. Pada kasus lainnya dari deviasi suhu yang diijinkan, harus didokumentasi kanpa dabuku alat. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Pembahasan Kalibarasi water bath yaitu dengan menggunakan 5 termometer yaitu diukur suhunya dari LIMA tempat kanan atas, kanan bawah, kiri atas, kiri bawah dan bagian tengah pada suhu 37°C. Hasil pengukuran : Tempat Hasil pengukuran Suhu Kanan atas Kanan bawah Kiri atas Kiri bawah Tengah 37.02°C 37.03°C 36.09°C 36.01°C 36.01°C

b. Kesimpulan Waterbath adalah Oven atau bisa disebut juga Penangas air yang fungsi utamanya adalah untuk menciptakan suhu yang konstan dan digunakan untuk inkubasi pada analisis mikrobiologi. Dari hasil praktikum waterbath masih dapat digunakan, dan perlu dilakukan

13

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

perawatan dan pengecekan secara berkala. 5. DAFTAR PUSTAKA 1. Analis muslim (2011) waterbathpenangas air. (online). Tersedia:http://analismuslim.blog spot.com/2011/12/waterbathpenangas-air.html( 30 desember 2012) 2. Mikrobiologi dasar (2011) alatalat dalam laboratorium mikrobiologi. (online). Tersedia: http://ekmonsaurus.blogspot.com/2011/07/ba b-1-alat-alat-dalamlaboratorium.html (desember 2012) 3. Rekayasa alat laboratorium (2011) waterbath. (online). Tersedia : http://rekayasaalatlab.wordpress. com/2011/06/20/waterbath/ (desember 2012)

14

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

Part 5: pH METER 1. PENDAHULUAN a. Latar belakang pH meter adalah alat ukur elektronik yang digunakan untuk mengukur kadar pH (keasaman atau alkalinitas) dari sebuah cairan (meski probe khusus kadang digunakan untuk mengukur kadar pH zat setengah padat). Umumnya pH meter terdiri dari probe pengukur khusus (elektroda kaca) yang terhubung dengan meter elektronik yang mengukur dan menampilkan hasil pembacaan pH. b. Sejarah Sejarah pengukuran pH suatu larutan dengan menggunakan pH meter sistem elektrik dimulai pada tahun 1906 ketika Max Cremer dalam sebuah penelitiannya menemukan adanya interaksi dari aktivitas ion hidrogen yang dihubungkan dengan suatu sel akan menghasilkan tegangan listrik. Dia menggunakan gelembung kaca yang tipis yang diisi dengan suatu larutan dan dimasukan kedalam larutan yang lain dan ternyata menghasilkan tegangan listrik. Gagasan ini kemudian dikembangkan oleh Firtz Haber dan Zygmunt Klemsiewcz yang menemukan bahwa tegangan yang dihasilkan oleh gelembung kaca tersebut merupakan suatu fungsi logaritmisi. pH meter untuk penggunaan komersial pertama kali diproduksi oleh Radiometer pada tahun 1936 di Denmark dan Arnold Orville Beckman dari Amerika Serikat. Penemuan

tersebut dilakukan ketika Beckman menjadi asisten professor kimia di California Institute of Technology, dia mengatakan untuk mendapatkan metoda yang cepat dan akurat untuk pengukuran asam dari jus lemon yang diproduksi oleh California Fruit Growers Exchange (Sunkist). Hasil penemuannya tersebut membawa dia untuk mendirikan Beckman Instruments Company (sekarang Beckman Coulter). c. Bentuk

d. Fungsi Sementara pH meter adalah alat yang digunakan untuk mengukur derajat tingkat keasaman atau juga kebasaan (alkali) yang terkandung dalam suatu zat. Skala pH yang diukur oleh alat ukur pH meter dimulai dari nol hingga 14. 2. KEGUNAAN pH METER DALAM BIDANG KESEHATAN Untuk mengukur derajat tingkat keasaman atau pun kebasaan (alkali) yang terkandung dalam darah. Biasanya pH meter sering di gunakan dalam analisis kimia kuantitatif. 3. PROSEDUR a. Prosedur penggunaan Setelah pH meter dikalibrasi maka pH meter tersebut sudah siap digunakan. Biasanya kalibrasi disarankan dilakukan setiap 1 kali sehari sebelum digunakan.

15

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

Cara pengukurannya adalah sebagai berikut: 1. Siapkan sampel larutan yang akan di check pH-nya. 2. Jika larutan panas, biarkan larutan mendingin sampai dengan suhunya sama dengan suhu ketika kalibrasi. Contohnya jika kalibrasi dilakukan pada suhu 20°C maka pengukuran pun dilakukan pada suhu 20°C. 3. Buka penutup plastic elektroda, bilas dengan air DI dan keringkan dengan menggunakan kertas tisu. 4. Nyalakan pH meter dengan menekan tombol ON/OFF. 5. Masukan elektroda kedalam sampel, kumudian putar agar larutan homogeny. 6. Tekan tombol MEAS untuk memulai pengukuran, pada layar akan muncul tulisan HOLD yang kelap kelip. 7. Biarkan sampai tulisan HOLD pada layar berhenti kelap-kelip. 8. Nilai pH yang ditunjukan pada layar adalah nilai pH larutan yang di check. 9. Matikan pH meter dengan menekan kembali tombol ON/OFF. b. Prosedur perawatan pH meter harus dilakukan perawatan berkala untuk menjaga umur pakai dari alat tersebut. Pemeliharaannya meliputi : 1) Batere, penggantian batere dilakukan jika pada layar muncul tulisan low battery. 2) Elektroda, pembersihan elektroda bisa dilakukan berkala setiap minimal satu minggu satu kali. Pembersihannya menggunakan larutan HCL 0.1N (encer) dengan cara direndam selama 30 menit,

kemudian dibersihkan dengan air DI. 3) Penyimpanan, ketika tidak dipakai, elektroda terutama bagian gelembung gelasnya harus selalu berada pada keadaan lembab. Oleh karena itu penyimpanan elektroda disarankan selalu direndam dengan menggunkan air DI atau larutan buffer. Penyimpanan pada posisi kering akan menyebabkan membrane gelas yang terdapat pada gelembung elektroda akan mudah rusak dan pembacaannya tidak akurat. 4) Suhu penyimpan. Ketika disimpan, pH meter tidak boleh berada pada suhu ruangan yang panas karena akan menyebabkan sensor suhu pada alat cepat rusak. c. Prosedur Kalibrasi Urutan kerja kalibrasi pH meter adalah : 1) Siapkan buffer pH 7 dan buffer pH 4 2) Buka penutup plastic elektroda 3) Bilas elektroda dengan air DI (De Ionisasi/ air bebas ion) dan keringkan dengan menggunakan kertas tisu 4) Nyalakan pH meter dengan menekan tombol ON/OFF. 5) Masukan elektroda kedalam larutan buffer pH 7 6) Tekan tombol CAL dua kali, putar elektroda agar larutan buffer homogeny 7) Biarkan beberapa saat sampai nilai yang tertera di disply tidak berubah 8) Tekan tombol CAL satu kali lagi, dan biarkan tulisan CAL pada disply berhenti berkedip

16

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

9) Angkat elektroda dari larutan buffer pH 7, kemudian bilas dengan air DI beberapa kali dan keringkan dengan kertas tisu 10) Masukan elektroda kedalam larutan buffer pH 4 11) Tekan tombol CAL dua kali, putar elektroda agar larutan buffer homogeny 12) Biarkan beberapa saat sampai nilai yang tertera di disply tidak berubah 13) Tekan tombol CAL satu kali lagi, dan biarkan tulisan CAL pada disply berhenti berkedip 14) Angkat elektroda dari larutan buffer pH 4, kemudian bilas dengan air DI beberapa kali dan keringkan dengan kertas tisu 15) Pada layar bagian bawah akan muncul angka 7 dan angka 4 yang menunjukan pH meter tersebut telah dikalibrasi dengan buffer pH 7 dan buffer pH 4 16) pH meter telah siap digunakan. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Pembahasan Kalibrasi pH meter mengugkanan pH 4 dan pH 7. Dan di catat hasilnya. Hasil kalibrasi : NO 1 2 pH 7 6,95 6,96 pH 4 3,72 3,79

5. 1.

2.

3.

Berdasarkan kalibrasi pH meter masih layak digunakan, pengecekan harus dilakukan secara berkala. b. Kesimpulan Jadi pH meter adalah suatu alat yang di gunakan untuk mengukur derajat pH keasaman. Prinsip kerja dari pH meter itu sendiri yaitu semakin banyak electron pada sampel maka akan semakin bernilai asam begitupun sebaliknya , karena batang pada Ph meter berisi larutan elektrolit lemah. Dan pH meter juga banyak di gunakan dalam analisis kimia kuantitatif. Kalibrasi dilakukan dengan mengukur larutan buffer pH 7 dan pH 4, jika hasil pengukuran menunjukan nilai 7 dan 4 maka pH meter sudah terkalibrasi dan dapat digunakan. DAFTAR PUSTAKA Berbagi pengetahuan (2012) Fungsi pH Meter . (online). Tersedia : http://ilmubawang.blogspot.com/201 2/03/fungsi-ph-meter.html (desember 2012). Sabas medical Nusantara (2009) pH Meter. (online). Tersedia : http://www.alatlaboratory.com/2009 /10/ph-meter.html (desember 2012) Teknologi kita (2009) pH Meter. (online). Tersedia : http://cahyateknologikita.blogspot.com/2009/12/ ph-meter.html (desember 2012).

pH meter harus dikalibrasi terlebih dahulu agar hasil pengukuran dapat di pertanggungjawabkan, tujuannya agar dapat mengetahui apakah pH meter tersebut masih layak digunakan atau tidak. Dengan cara seperti yang sudah di jelaskan pada pembahasan sebelumnya.

17

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

Part 6: SPEKTOFOTOMETER, PHOTOMETER & MIKROPIPET 1. PENDAHULUAN a. Latar Belakang Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Spektrofotometer merupakan gabungan dari alat optik dan elektronika serta sifatsifat kimia fisiknya dimana detektor yang digunakan secara langsung dapat mengukur intensitas dari cahaya yang dipancarkan (It) dan secara tidak lansung cahaya yang diabsorbsi (Ia), jadi tergantung pada spektrum elektromagnetik yang diabsorb (serap) oleh benda. Tiap media akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu tergantung pada senyawaan atau warna terbentuk. Kelebihan spektrofotometer dibandingkan dengan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih lebih dapat terseleksi dengan alat pengurai seperti prisma, grating ataupun celah optis. Pada fotometer filter, sinar dengan panjang gelombang yang diinginkan diperoleh dengan berbagai filter dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan trayek panjang gelombang tertentu. Pada fotometer filter, tidak mungkin diperoleh panjang gelombang yang monokromatis, merupakan suatu trayek panjang gelombang 30-40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang gelombang yang bebar-benar terseleksi dapat diperoleh dengan

bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun tersusun dari spektrumtampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorpsi untuk larutan sampel atau blangko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorpsi antara sampel dan blanko ataupun pembanding. (Khopkar SM 1990). Untuk melakukan pemeriksaan larutan sampel, sampel perlu dipindahkan yaitu dengan bantuan mikropipet. Secara umum, pipet digunakan untuk mengambil atau memindahkan suatu larutan sesuai ukuran yang dikehendaki. Dan dalam bidang biotek, para peneliti lebih sering menggunakan Mikropipet. Istilah Mikropipet digunakan karena pipet tersebut digunakan untuk memipet cairan berukuran kurang lebih atau sama dengan 1000 µl (1 ml). Sedangkan pipet untuk ukuran lebih dari 1 ml dikenal dengan istilah Makropipet. Ada 3 jenis dasar mikropipet sesuai ukurannya, yaitu P1000, P200, dan P20. b. Sejarah 1) Spektrofotometer Spektrofotometer pertama diciptakan pada tahun 1920 oleh Gordon Dobson untuk mengukur jumlah ozon. Kini terdapat kurang lebih 80 jenis alat ini untuk digunakan di seluruh dunia dalam mengukur jumlah ozon. Spektrofotometer Dobson mengukur ozon dengan membandingkan jumlah penyinaran pada jarak dua UV. Satu jarak gelombang terlacak kuat dengan ozon manakala

18

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

yang satu lagi tidak. Perbedaan antara jumlah dua sinar secara langsung berhubungan dengan jumlah ozon. c. Bentuk 1) Spektrofotometer UV-Vis

Bagian-bagian Spektrofotometer UV-Vis 1. Sumber cahaya, Sumber cahaya pada spektrofotometer harus memiliki panacaran radiasi yang stabil dan intensitasnya tinggi. Sumber cahaya pada spektrofotometer UV-Vis ada dua macam : a) Lampu Tungsten (Wolfram) Lampu ini digunakan untuk mengukur sampel pada daerah tampak. Bentuk lampu ini mirip dengan bola lampu pijar biasa. Memiliki panjang gelombang antara 375-2500 nm. Spektrum radiasianya berupa garis lengkung. Umumnya memiliki waktu 1000jam pemakaian. b) Lampu Deuterium (Hidrogen) Lampu ini dipakai pada panjang gelombang 180-375 nm. Spektrum energy radiasinya lurus, dan digunakan untuk mengukur sampel yang terletak pada daerah uv. Memiliki waktu 500 jam pemakaian. 2. Monokromator

Monokromator adalah alat yang akan memecah cahaya polikromatis menjadi cahaya tunggal (monokromatis) dengan komponen panjang gelombang tertentu. Bagian bagian monokromator, yaitu : a) Prisma : Prisma akan mendispersikan radiasi elektromagnetik sebesar mungkin supaya di dapatkan resolusi yang baik dari radiasi polikromatis. b) Grating (kisi difraksi) : Kisi difraksi memberi keuntungan lebih bagi proses spektroskopi. Dispersi sinar akan disebarkan merata, dengan pendispersi yang sama, hasil dispersi akan lebih baik. Selain itu kisi difraksi dapat digunakan dalam seluruh jangkauan spektrum. c) Celah optis : Celah ini digunakan untuk mengarahkan sinar monokromatis yang diharapkan dari sumber radiasi. Apabila celah berada pada posisi yang tepat, maka radiasi akan dirotasikan melalui prisma, sehingga diperoleh panjang gelombang yang diharapkan. d) Filter : Berfungsi untuk menyerap warna komplementer sehingga cahaya yang diteruskan merupakan cahaya berwarna yang sesuai dengan panjang gelombang yang dipilih. e) Kompartemen sampel Kompartemen ini digunakan sebagai tempat

19

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

diletakkannya kuvet. kuvet merupakan wadah yang digunakan untuk menaruh sampel yang akan dianalisis. Pada spektrofotometer double beam, terdapat dua tempat kuvet. Satu kuvet digunakan sebagai tempat untuk menaruh sampel, sementara kuvet lain digunakan untuk menaruh blanko. Sementara pada spektrofotometer single beam, hanya terdapat satu kuvet. 3. Detektor Detektor akan menangkap sinar yang diteruskan oleh larutan. Sinar kemudian diubah menjadi sinyal listrik oleh amplifier dan dalam rekorder ditampilkan dalam bentuk angka-angka pada reader (komputer). Sifat detektor : a) Peka b) Perbandingan sinyal dan noise tinggi c) Respon pada panjang gelombang. 4. Kuvet Merupakan tempat menaruhnya sampel. a) Bahan kuarsa untuk daerah UV-Vis b) Bahan plstik untuk daerah visibel c) Dapat meneruskan cahaya d) Ketebalan sama 1cm 5. Visual display Merupakan system baca yang memperagakan besarnya isyarat listrik, menyatakan dalam bentuk % Transmitan maupun Absorbansi.

2) Bentuk Photometer

Photometer 4010 Photometer terdiri dari beberapa bagian, yaitu : a) Selang aspirator : berfungsi sebagai penghisap larutan yang akan diukur b) Pompa peristatik : berfungsi untuk menyedot sampel yang berasal dari kuvet ke saluran pembuangan 3) Bentuk mikropipet

Jenis-jenis Mikropipet a) Adjustable volume pipette : mikropipet yg dapat diatur volume pengambilannya, antara 1µl sampai 20 µl b) Fixed volume pipette : mikropipet yg tidak bisa diatur volumenya, hanya tersedia satu pilihan volume. misalnya mikropipet 5 µl d. Fungsi a) Spektrofotometer : untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. b) Photometer : Photometer merupakan peralatan dasar di laboratorium klinik untuk mengukur intensitas atau kekuatan cahaya suatu larutan.

20

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

c) Mikropipet : digunakan untuk mengambil atau memindahkan suatu larutan sesuai ukuran yang dikehendaki. 2. KEGUNAAN DALAM BIDANG KESEHATAN Pada dasarnya fungsi ketiga instrumen di bodang kesehatan sama dengan fungsi secra umum, seperti yang telah di jelaskan pada pembahasan sebelumnya. Yaitu: a. Spektrofotometer : untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. b. Fotometer : Penggunaan fotometer lebih sering digunakan untuk kebutuhan laboratorium klinis (analisa darah). c. Mikropipet : Untuk memipet spesimen sevolume tertentu secara teliti. 3. PROSEDUR A. Spektrofotometer : 1) Prosedur Kerja Cahaya yang berasal dari lampu deuterium maupun wolfram yang bersifat polikromatis di teruskan melalui lensa menuju ke monokromator pada spektrofotometer dan filter cahaya pada fotometer. Monokromator kemudian akan mengubah cahaya polikromatis menjadi cahaya monokromatis (tunggal). Berkasberkas cahaya dengan panjang tertentu kemudian akan dilewatkan pada sampel yang mengandung suatu zat dalam konsentrasi tertentu. Oleh karena itu, terdapat cahaya yang diserap (diabsorbsi) dan ada pula yang dilewatkan. Cahaya yang dilewatkan ini kemudian di terima oleh detector. Detector kemudian

akan menghitung cahaya yang diterima dan mengetahui cahaya yang diserap oleh sampel. Cahaya yang diserap sebanding dengan konsentrasi zat yang terkandung dalam sampel sehingga akan diketahui konsentrasi zat dalam sampel secara kuantitatif.

2) Cara Perawatan dan Penyimpanan Alat a) Sebelum digunakan, biarkan mesin warming-up selama 1520 menit. b) Spektrofotometer sebisa mungkin tidak terpapar sinar matahari langsung, karena cahaya dari matahari akan dapat mengganggu pengukuran. c) Simpan spektrofotometer di dalam ruangan yang suhunya stabil dan diatas meja yang permanen. d) Pastikan kompartemen sampel bersih dari bekas sampel. e) Saat memasukkan kuvet, pastikan kuvet kering. f) Lakukan kalibrasi panjang gelombang dan absorban secara teratur. Hal-hal yang harus diperhatikan : a. Larutan yang dianalisis merupakan larutan berwarna. Apabila larutan yang akan dianalisis merupakan larutan yang tidak berwarna, maka larutan tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi

21

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

larutan yang berwarna. Kecuali apabila diukur dengan menggunakan lampu UV. b. Panjang gelombang maksimum. Panjang gelombang yang digunakan adalah panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal. Hal ini dikarenakan pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal karena pada panjang gelombang tersebut, perubahan absorbansi untuk tiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar. Selain itu disekitar panjang gelombang maksimal, akan terbentuk kurva absorbansi yang datar sehingga hukum Lambert-Beer dapat terpenuhi. Dan apabila dilakukan pengukuran ulang, tingkat kesalahannya akan kecil sekali. c. Kalibrasi Panjang gelombang dan Absorban. Spektrofotometer digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang dipancarkan dan cahaya yang diabsorbsi. Hal ini bergantung pada spektrum elektromagnetik yang diabsorb oleh benda. Tiap media akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu tergantung pada senyawa yang terbentuk. Oleh karena itu perlu dilakukan kalibrasi panjang gelombang dan absorban pada spektrofotometer agar pengukuran yang di dapatkan lebih teliti. Kalibrasi panjang gelombang :

1) menggunakan filter gelas holium oksida yang mempunyai panjang gelombang acuan (nm) :

2) pasang filter gelas holium oksida pada kompartemen sampel dan kompartemen pembanding dibiarkan kosong (udara) 3) Scan spektrum serapan holium oksida, bandingkan panjang gelombang spektrum yang diperoleh dengan data panjang gelombang acuan. Kalibrasi Absorbans : 1) Buat larutan kalium dikromat 50 + 0,5 mg dalam 1 liter 0,005 mol/L asam sulfat (larutan A) 2) Buat larutan kalium dikromat 100 + 1 mg dalam 1 liter 0,005 mol/L asam sulfat (larutan B) 3) buat larutan 0,005 mol/L asam sulfat sebagai pembanding, lakukan pengukuran dengan spektrofotometer dan bandingkan hasilnya dengan data acuan (± 2%). B. Photometer : 1) Prinsip Kerja Prinsip dasar fotometri adalah pengukuran penyerapan sinar akibat interaksi sinar yang mempunyai panjang gelombang tertentu dengan larutan atau zat warna yang dilewatinya. Kebanyakan photometers mendeteksi cahaya dengan photoresistors, dioda atau photomultipliers. Untuk menganalisis cahaya, fotometer bisa mengukur cahaya setelah

22

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

melalui filter atau melalui monokromator penentuan ditentukan panjang gelombang atau untuk analisis terhadap distribusi spektrum cahaya. 2) Cara Pengoprasian Alat Dipastikan kuvet telah terpasang dan pompa peristaltik telah dilingkari selang. Kabel dihubungkan dengan arus listrik 220 V. Tombol On/Off ditekan untuk menghidupkan alat dan diamkan 10 menit untuk warming up. Sampel disedot dengan menekan tombol aspirator. Metode yang digunakan dipilih pada touch screen. Semua pengaturan yang kemudian diatur. Hasil analisis dicetak dan sampel yang telah diuji dibuang. Selang dari pompa peristaltik dilepas. Alat dibilas dengan aquabides sebanyak 10 kali dan desinfektan 10%. Sisa buangan dikeluarkan dengan mengalirkan udara. Selang dilepas dari pompa, alat dibersihkan dengan menggunakan tisue, tekan tombol On/Off untuk mematikan alat. Kabel dilepas dari sumber arus. Tutp alat agar tidak terkena debu. 3) Cara Perawatan dan Penyimpanan Alat Setiap sesudah digunakan dibilas dengan aquabides serta dihindari dari pelarut yang bersifat korosif. Lampu halogen dimatikan setiap setelah digunakan. Pembersih yang digunakan dapat berupa campuran detergen, alkohol dan air atau

menggunakan sodium hipoklorit. Perawatan alat dilakukan dengan cara alat disimpan pada meja permanen. Tujuannya adalah agar alat tidak terkena guncangan dan mengurangi efektivitas kerja alat. Alat disimpan di tempat yang bersih, tidak boleh terkena cahaya matahari langsung dan hindari kontak atau berdekatan dengan alat yang mengeluarkan gelombang magnetik seperti TV, radio dan handphone. C. Mikropipet : 1) Cara Penggunaan : a) Sebelum digunakan Thumb knob sebaiknya ditekan berkali-kali untuk memastikan lancarnya mikropipet. b) Masukan tip bersih kedalam Nozzle/ujung mikropipet. c) Tekan Thumb knob sampai hambatan pertama/first stop, jangan ditekan lebih kedalam lagi. d) Masukkan tip kedalam cairan sedalam 3-4mm. e) Tahan pipet dalam posisi vertical kemudian lepaskan tekanan dari Thumb Knob maka cairan akan masuk kedalam tip. f) Pindahkan ujung tip ke dalam penampung yang diinginkan. g) Tekan Thum Knob sampai hambatan kedua/second stop atau tekan semaksimal mungkin maka semua cairan akan keluar dari tip. h) Jika ingin melepas tip tekan knob untuk melepas tip, maka tip akan terdorong dengan sendirinya, atau menggunakann

23

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

alat tambahan yang berfungsi mendorong tip keluar. 2) Cara pemipetan ada 2 : a. Forward (1,2) 1. Tekan penyedot hingga batas pertama 2. Masukkan tip kedalam cairan sampel 3. Tahan pipet dalam posisi vertikal 4. Lepaskan dari tubeknob maka cairan akan masuk ke tip 5. Tunggu beberapa saat untuk memastikan seluruh sampel yang d sedot sudah mengisi tip, dan bersihkan cairan yang menempel pada dinding luar tip dengan tissue 6. Pindahkan tip kedalam tempat penampung yang diinginkan dengan menyentuh tip kedinding wadah penempung sampel dan tekan penyedot pada pembatas pertama, kemudian tekan lagi sampai pembatas kedua untuk mengelarkan sisa cairan 7. Jika ingin melepas tip putar tuknob searah jarum jam dan ditekan maka tip akan mendorong keluar dengan sendirinya atau menggunakan alat tambahan yang berfungsi mendorong keluar tip. b. Reverse (2,1) 1. Tekan penyedot hingga batas kedua 2. Masukkan tip ke dalam cairan sampel 3. Tahan pipet dalam posisi vertikal 4. Lepaskan dari tubknob maka cairan akan masuk ke tip 5. Tunggu beberapa saat untuk memastikan seluruh sampel yang disedot sudah mengisi

tip dan bersihkan cairan yang menempel pada dinding luar tip dengan tissue secara perlahan 6. Pindahkan tip kedalam penampung (tabung reaksi) dengan menyentuh tip pada wadah penampung (tabung reaksi) 7. Tekan penyedot sampai batas pertama 8. Ketika ada sisa dalam tip maka bilas tip dengan memasukkan tip kedalam tabung reaksi kemudian tekan bolak-balik sampai larutan didalam tip benar-benar bersih 9. Lepas tip dengan menekan tombol sebelah kiri 10. Masukkan tip kedalam aquadet yang ada dalam gelas kimia. 3) Perawatan a) Mengecek secara rutin kondisi mikro pipet, periksa adakah komponen yang rusak b) Bersihkan mikro pipet setiap sesudah dan sebelum penggunaan dengan alkohol, atau cairan khusus pembersih mikropipet. c) Mensterilkan komponenkomponen mikropipet yang dapat disterilkan (dengan autoklav atau penyinaran UV) d) Jika terdapat tekanan atau kerusakan dan kejanggalan, segera periksa kondisi mikropipet kemanufakturer atau agen penjualnya. 4) Penyimpanan/Pemeliharaan : Disimpan dalam lemari Rak (shelves) 4. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Pembahasan

24

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

1) Spektrofotometer : Mencari panjang gelombang maximum suatu larutan. Kuvet 1 : pelarut (blangko) Kuvet 2 : larutan yang akan di ukur panjang gelombangnya Kuvet 3 : larutan yang akan di ukur panjang gelombangnya Hasil : No λ Absor Absor . bance bance I II 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 300 320 340 360 380 400 420 440 460 2.050 1.962 1.882 1.488 1.573 1.786 1.894 1.868 1.962 2.050 1.962 1.880 1.488 1.573 1.786 1.894 1.851 1.962

konsentrasi albumin dan dapat ditentukan secara fotometri. b. Cara kerja : 1. Pipetkan reaksi

kedalam Sam pel Stan dar -

tabung Blan gko -

Sam pel Stan dar Blan gko

100 0 µl 100 0 µl

1000 µl 1000 1000 µl µl

2. Campur , inkubasi 5 menit dengan suhu 37° C 3. Dibaca pada panjang gelombang (λ) 546, yaitu : a) Larutan blangko terlebih dahulu, tekan zero b) Kemudian larutan sampel, tekan result. Catat hasil yang terbaca. c. Perhitungan
Abs sampel 𝐴𝑏𝑠 𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟

Xkonsentrasistandar

6,000 4,000 2,000 0 123456789 Series2 Series1

*Absorban standar 0,642 *konsentrasi standar 5 i. Kelompok I : Absorban 0,540 = ii.
0,540 0,642

X 5 = 4,205 gr/dL II : Absorban

2) Photometer 4010 : Pemeriksaan Albumin (metode BCG) a. Prinsip : Albumin di tambah BCB (pH 4,2) menghassilkan albuim BCG komplek, intensitas warna biru – hijau sebanding dengan

Kelompok 0,598 =
0,598 0,642

X 5 = 4,657 gr/dL

c. Kelompok III : Absorban 0,478 =
0,478 0,642

25 X 5 = 3,723 gr/dL

d. Kelompok IV : Absorban 0,96

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

=

0,96 0,642

X 5 = 7,726 gr/dL

3) Mikropipet Kalibrasi mikropipet 500 µl yaitu dengan cara : Diambil aquadest dengan mikropipet, aquadest disimpan di kaca arloji kemudian ditimbang menggunakan neraca analitik dan dicatat hasilnya (dilakukan sebnyak 5 x). Dengan persamaan 500µ = 0.5 gr, 1000µ = 1gr. Hasil : No. Mikropipet Berat Aquadest 0.5080 0.5027 0.5008 0.4928 0.5047

1. 2. 3. 4. 5.

500µl 500µl 500µl 500µl 500µl

b. Kesimpulan Percobaan ini mempraktikan cara menggunakan spektrofotometer untuk mencari panjang gelombang maximum, hasil yang didapat yaitu pada panjang gelombang max 460 absorbansi memiliki nial max yaitu 1.962. Photometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang diabsorpsikan. Dari hasil pemeriksaan albumin (metode BCG) kita dapat mengetahui nilai absorbannya. Mikropipet adalah alat yang digunakan untuk mengambil sampel secara teliti.

Pengkalibrasian dapat dilakukan dengan melakukan penimbangan dari sampel yang di ambil oleh mikropipet. Di timbanga pada neraca analitik yang sudah terkalibrasi. 5. DAFTAR PUSTAKA 1) gettol_blogspot(2011).cara menggunakan mikropipet.[online].tersedia : http://gettol.blogspot.com/2011/0 6/cara-menggunakanmikropipet.html [desember 2012] 2) Pangestu_ayu(2011).fotometer dan polarimeter.[online].tersedia : http://pangestuayupangestu.blogspot.com/2011/ 12/fotometer-danpolarimeter.html [desember 2012] 3) Pangestu_ayu(2011).spektrofotometer uv/vis.[online].tersedia : http://pangestuayupangestu.blogspot.com/2011/ 12/spektrofotometer-uv-visdan.html [desember 2012] 4) kesesuaian(2011).peralatan laboratorium kimia.[online].tersedia : http://kesesuaian.blogspot.com/2 011/06/peralatan-laboratoriumkimia.html [desember 2012]

26

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

Part 7: INKUBATOR 1. PENDAHULUAN i. Latar belakang Inkubator adalah alat untuk menginkubasi atau memeram mikroba pada suhu yang terkontrol. Alat ini dilengkapi dengan pengatur suhu dan pengatur waktu. Kisaran suhu untuk inkubator produksi Heraeus B5042 misalnya adalah 10-70oC. Inkubator adalah suatu unit/suatu kabinet yang suhunya dapat diatur untuk menyimpan organisme guna tujuan tertentu. Di dalam laboratorium mikrobiologi digunakan untuk menumbuhkan bakteri pada suhu tertentu, menumbuhkan ragi dan jamur, menyimpan biakan murni mikroorganisme I pada suhu rendah. Inkubator biasanya hanya dapat diatur di atas suhu kamar, sedangkan cooled inkubator dapat diatur baik pada suhu di bawah maupun diatas suhu kamar. Prinsip kerjanya yaitu mengubah energi listrik menjadi energi panas. Kawat nikelin akan menghambat aliran elektron yang mengalir sehingga mengakibatkan peningkatan suhu kawat. b. Bagian-bagian dan fungsi alat Bagian-bagian dari inkubator adalah: 1) Pintu inkubator 2) Tombol panel berfungsi untuk mengatur suhu yang diperlukan 3) Rak inkubator berfungsi sebagai tempat meletakkan bahan yang akan di inkubator

Fungsi inkubator : Alat untuk menginkubasi atau memeram mikroba pada suhu yang terkontrol, tempat menyimpan hasil penanaman mikroba. 2. KEGUNAAN INKUBATOR DALAM BIDANG KESEHATAN Inkubator biasa nya digunakan dalam laboratorium mikrobiologi. Dalam laboratorium mikrobiologi biasanya mempunyai minimal 2 inkubator, satu untuk bakteri dan satu lagi untuk jamur dan kapang. 3. PROSEDUR i. Prosedur penggunaan : 1) Nyalakan incubator dengan menekan tombol ON 2) Set temperature sesuai dengan keinginan 3) Masukan thermometer kedalam untuk mengetahui kestabillan suhu 4) Diamkan selama 1 hari 5) Jika suhu sudah stabil artinya incubator siap di pakai. ii. Prosedur perawatan : 1) Matikan tombol komponen dan cabut steker dari terminal AC sebelum dibersihkan. 2) Bersihkan secara rutin, dengan menggunakan lap kering tiap bagian seperti dinding dalam, kaca dalam

27

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

dan bagian lainnya. Lakukan tiap seminggu sekali atau jika incubator dalam keadaan kotor. c. Kalibrasi Dalam kalibrasi incubator karena medianya udara maka cukup dengan pengkalibrasian menggunakan 1 (satu) thermometer samahalnya dengan kalibrasi oven. 4. DAFTAR PUSTAKA 1) [online]. Tersedia : http://amydahlia.wordpress.com/ 2011/10/18/nama-fungsi-dancara-kerja-alat-alat-laboratoriummikrobiologi/Ami Dahlia diakses tanggal 26 desember 2012 2) [online]. Tersedia: http://danangkurangkerjaan.blogspot.com/2011/05/mi krobiologi.htmldiakses tanggal 26 Desember 2012

Part 8: LAMINAR AIR FLOW 1. PENDAHULUAN a. Latar Belakang Penyinaran (radiasi, Laminar Air Flow). Beberapa macam radiasi mengakibatkan letal terhadap sel-sel jasad renik dan mikroorganisme lain. Jenis radiasi termasuk bagian dari spkterum elektromagnetik, misalnya : sinar ultraviolet, sinar gamma, sinar x dan juga sinar katoda elektro kecepatan tinggi. Didalam laboratorium mikrobiologi digunakan alat yang bekerja secara radiasi salah satunya yaitu Laminar Air Flow. b. Bentuk

Laminar Air Flow Fungsi laminar air flow Laminar Air Flow (LAF) digunakan sebagai ruangan untuk pengerjaan secara eseptis. Prinsip penaseptisan suatu ruangan berdasarkan aliran udara keluar dengan kontaminasi udara dapat diminimalkan. 2. KEGUNAAN LAMINAR AIR FLOW DALAM BIDANG KESEHATAN Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

28

Alat ini digunakan dalam teknik sterilisasi radiasi. Biasanya terdapat pada laboratorium mikrobiologi, alat ini terletak khusus dalam satu ruang yang disebut ruang steril. Penggunaan alat tersebut adalah untuk mensterilkan udara di tempat kerja sehingga kegiatan yang berkaitan dengan pemindahan dan pengairan mikroba dapat dilakukan disekitar laminar air flow. 3. PROSEDUR a) Prosedur penggunaan 1) Hidupkan lampu UV selama 2 jam, selanjutnya matikan segera sebelum mulai bekerja. 2) Pastikan kaca penutup terkunci dan pada posisi terendah. 3) Nyalakan lampu neon dan blower. Biarkan selama 5 menit. 4) Cuci tangan dan lengan dengan sabun gemisidal / alkohol 70 %. 5) Usap permukaan interior LAF/BSC dengan alkohol 70 % atau desinfektan yang cocok dan biarkan menguap. 6) Masukkan alat dan bahan yang akan dikerjakan, jangan terlalu penuh (overload) karena memperbesar resiko kontaminan. 7) Atur alat dan bahan yang telah dimasukan ke LAF/BSC sedemikian rupa sehingga efektif dalam bekerja dan tercipta areal yang benar-benar steril. 8) Jangan menggunakan pembakar Bunsen dengan bahan bakar alkohol tapi gunakan yang berbahan bakar gas. 9) Kerja secara aseptis dan jangan sampai pola aliran udara terganggu olehaktivitas kerja.

10) Setelah selesai bekerja, biarkan 2-3 menit supaya kontaminan tidak keluar dari BSC 11) Usap permukaan interior LAF/BSC dengan alkohol 70 % dan biarkan menguap lalu tangan dibasuh dengan desinfektan. 12) Matikan lampu neon dan blower. b) Prosedur Perawatan Apabila Laminar Air Flow selesai dipergunakan, untuk langkah perawatannya yaitu antara lain : 1) Membersihkan semua sisa potongan eksplan dengan tissue. 2) Bakarlah (pisau scalpel, pinset) dengan menyemprotkan terlebih dahulu dengan alkohol 95% dan tempatkan kembali dalam keadaan siap pakai. 3) Matikan blower dengan memijit tombol “off”. 4) Semprotkan ruang kerja dengan alkohol. 5) Tutup kembali pintu Laminar Air Flow. 6) Matikan lampu TL. 7) Nyalakan kembali lampu UV, 4. DAFTAR PUSTAKA 1) Natuna_myblog (2012) . Laminar Air Flow (LAF). [online]. Tersedia:http://mysainsnatuna.bl ogspot.com/2012/01/laminar-airflor-laf.html. [Desember 2012] 2) LFE Manufaktur (30 Maret 2007). Lampiran: Contoh Laporan Kalibrasi. [online]. Tersedia: http://www.nist.gov/calibrations/ upload/sp250-80-2.pdf [Januari 2013]

29

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

Part 9: NERACA 1. PENDAHULUAN i. Latar Belakang Dalam kehidupan seharihari, massa sering diartikan sebagai berat, tetapi dalam tinjauan fisika kedua besaran tersebut berbeda. Massa tidak dipengaruhi gravitasi, sedangkan berat dipengaruhi oleh gravitasi. Fungsi dari neraca elektrik maupun bukan elektrik secara umum adalah sebagai alat pengukur massa. Kegunaan neraca ini tergantung dari skala dari neraca tersebut misal neraca/timbangan elektrik yang ada di pasar swalayan dengan yang di laboratorium tentu sensitivitas dan skala neracanya jauh berbeda. ii. Bentuk 1) Neraca Analitis Dua Lengan

ketelitian 10 mg. Bahan : Diecasting. Tipe: tiga lengan. cast aluminium body and beam, stainless steal pan and bow. 3) Neraca Analitik

Neraca ini berguna untuk mengukur massa benda, misalnya emas, batu, kristal benda, dan lain-lain. Batas ketelitian neraca analitis dua lengan yaitu 0,1 . 2) Neraca Ohaus/Neraca Teknik

Kapasitas: 311 g, pan tunggal bahan stainless steel,

c. Fungsi Untuk menimbang massa suatu zat. Neraca dengan tingkat ketelitian tinggi, mampu menimbang zat atau benda sampai batas 0,0001 g. 2. KEGUNAAN NERACA DALAM BIDANG KESEHATAN Untuk menimbang specimen yang akan di teliti , dan biasanya menggunakan neraca analitik karena memiliki ketelitian yang tinggi. 3. PROSEDUR a. Perawatan Kebersihan timbangan harus dicek setiap kali selesai digunakan, bagian dalam timbangan harus dibersihkan dengan menggunakan sikat, kain halus atau kertas (tissue) dan membersihkan timbangan secara keseluruhan timbangan harus dimatikan, kemudian piringan (pan) timbangan dapat diangkat dan seluruh timbangan dapat dibersihkan dengan menggunakan pembersih seperti deterjen yang lunak, campurkan air dan etanol/alkohol. Sesudah dibersihkan timbangan dihidupkan dan setelah

30

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

dipanaskan, cek kembali dengan menggunakan anak timbangan. b. Penggunaan Langkah kerja penimbangan dengan neraca analitik meliputi: 1) Pastikan bahwa neraca sudah menyala dan posisi water pass berada di tengah – tengah. 2) Pastikan neraca menunjukkan angka ”nol”( jika tidak perlu di koreksi). 3) Letakakan alas untuk benda (contoh kaca arloji atau kertas perkamen), kemudian nolkan kembali neraca 4) Timbang zat yang massanya akan diukur pada piringan tempat benda. 5) Baca skala yang tertera pada display digital sesuai skala satuan timbangan tersebut. Sedangkan untuk pengukuran yang sensitivitasnya tinggi perlu menunggu 30 menit, karena hanya dapat bekerja pada batas temperatur yang ditetapkan. 6) Ambil zat yang telah di timbang. 7) Nolkan kembali neraca 8) Matikan neraca, dan bersihkan jika ada sisa tumpahan zat. c. Kalibrasi PengontrolanTimbangan/Ner aca: Timbangan/Neraca dikontrol dengan menggunakan anak timbangan yang sudah terpasang atau dengan dua anak timbangan eksternal, misal 10 gr dan 100 gr. Timbangan/Neraca elektronik, harus menunggu 30 menit untuk mengatur temperatur. Jika menggunakan timbangan yang

sangat sensitif, hanya dapat bekerja pada batas temperatur yang ditetapkan. Timbangan harus terhindar dari gerakan (angin) sebelum menimbang angka “nol” harus dicek dan jika perlu lakukan koreksi. Penyimpangan berat dicatat pada lembar/kartu kontrol, dimana pada lembar tersebut tercantum pula berapa kali timbangan harus dicek. Jika timbangan tidak dapat digunakan sama sekali maka timbangan harus diperbaiki oleh suatu agen (supplier). 4. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Pembahasan Pengkalibrasian neraca dilakukan dengan menimbang anak timbangan 10 gr yang sudah terkalibrasi, pada ke lima bagian dari neraca. Dihitung standar deviasinya : 𝑆𝐷 = (𝛴𝑥1 −𝑥 )2 𝑛 − 1

Dengan hasil : Neraca Penimbangan 𝑥1 − 𝑥 Tengah Atas Bawah Kanan Kiri 𝑥 SD 10 gr 10.02 gr 10.01 gr 10 gr 10.02 gr 10.01 0.01 0.02 0 0.01 0.02 0.01581

(𝑥1 – 𝑥 )2 0.0001 0.0004 0 0.0001 0.0004 0.001

b. Kesimpulan Dari hasil praktikum untuk pengkalibrasian neraca. Neraca masih dapat digunakan .

31

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

Dan harus di perhatikan dalam kebersihan dan dilakukan pengecekan secra berkala. 5. DAFTAR PUSTAKA 1) Halim‟s blog (2009).Neraca Analitik. [online]. Tersedia: http://bipasil.blogspot.com/20 09/10/neraca-analitik.html [Januari 2013]

Part 10: LEMARI ASAM / FUME HOOD 1. PENDAHULUAN a. Latar Belakang Laboratorium adalah suatu tempat dimana mahasiswa, dosen, dan peneliti melakukan percobaan. Bekerja di laboratorium kimia tak akan lepas dari kemungkinan bahaya dari berbagai jenis bahan kimia dan peralatan yang ada di dalamnya. Karena itu diperlukan pemahaman dan kesadaran terhadap bahaya di laboratorium. Telah banyak terjadi kecelakaan ataupun menderita luka serta kerusakan fasilitas kerja yang sangat mahal. Semua kejadian ataupun kecelakaan di laboratorium sebenarnya dapat dihindari jika mereka selalu mengikuti prosedur kerja yang aman di laboratorium. Percobaan yang dilakukan menggunakan berbagai bahan kimia, peralatan gelas dan instrumentasi khusus yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan bila dilakukan dengan cara yang tidak tepat. Kecelakaan itu dapat juga terjadi karena kelalaian atau kecerobohan kerja, ini dapat membuat orang tersebut cedera, dan bahkan bagi orang disekitarnya. Keselamatan kerja di laboratorium merupakan dambaan bagi setiap individu yang sadar akan kepentingan kesehatan, keamanan dan kenyamanan kerja. Untuk menghindari percikan zat zat berbahaya saat melakukukan reaksi-reaksi yang

32

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

menghasilkan gas atau bahan kimia lain yang berbahaya maka di perlukan penggunaan lemari asam. b. Bentuk

c. Fungsi Tempat yang digunakan untuk mereaksikan berbagai jenis reaksi kimia, terutama dalam mereaksikan zat-zat yang berbahaya, beracun, maupun dalam mereaksikan zat-zat yang menghasilkan zat lain yang mengeluarkan gas berbahaya, hingga percikan api. 2. KEGUNAAN LEMARI ASAM DALAM BIDNAG KESEHATAN Alat laboratorium yang berguna untuk mengontrol paparan dari uap bahan kimia yang bersifat mudah terbakar atau toksik, gas gas yang kemungkinan ada dan tercipta serta aerosol. Alat ini merupakan metoda utama untuk mengontrol hal hal tersebut. 3. PROSEDUR a. Perawatan Untuk menjaga keamanan pada saat menggunakan lemari asam kita harus menjaga kebersihan lemari asam itu sendiri, baik dari debu, tumpahan zat dan sebagainya. Untuk tumpahan zat, dapat kita lakukan pembersihan dengan cara sebagai berikut: 1) Periksa kebersihan lemari asam 2) Apabila ada tumpahan zat, amati jenis pereaksi (asam / basa)

3) Periksalah menggunakan kertas lakmus 4) Gunakan penetral: a) Jika tumpahan asam, maka larutan penetralnya adalah natrium karbonat b) Jika tumpahan basa, maka larutan penetralnya adalah ammonium klorida 5) Lalu encerkan dengan air, dan lap. Dan lakukan pengecekan secara berkala. 4. DAFTAR PUSTAKA

1) Salma rubiani (12 juni 2012).
dasar teori membersihkan lemari asam. [online]. Tersedia: http://salmarbani.blogspot.com/ 2012/06/dasar-teorimembersihkan-lemariasam.html[januari 2013]

33

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

Part 11: TERMOMETER 1. PENDAHULUAN a. Latar belakang Suhu termasuk suatu besaran pokok. Suhu dapat didefinisikan sebagal besaran yang menyatakan ukuran derajat panas atau dingin suatu benda. Untuk menentukan suhu suatu benda tidak dapat kita gunakan perasaan dengan panca indera (peraba tangan) maka diperlukan suatu alat yang dapat digunakan untuk mengukur suhu dan menyatakannya dengan nilai, alat untuk mengukur suhu disebut termometer. Termometer dibuat berdasarkan prinsip perubahan volume. Termometer yang tabungnya diisi dengan raksa kita sebut terrnometer raksa, sedangkan termometer yang diisi dengan alkohol disebut termometer alkohol. b. Sejarah Istilah thermometer berasal dari bahasa Latin thermo yang berarti panas dan meter yang berarti untuk mengukur. Prinsip kerja thermometer ada bermacam - macam, yang paling umum digunakan adalah termometer air raksa. Secara kualitatif, kita dapat mengetahui bahwa suhu adalah sensasi dingin atau hangatnya sebuah benda yang dirasakan ketika menyentuhnya. Secara kuantitatif, kita dapat mengetahuinya dengan menggunakan termometer. Suhu dapat diukur dengan menggunakan termometer yang

berisi air raksa atau alkohol. Kata thermometer ini diambil dari dua kata yaitu thermo yang artinya panas dan meter yang artinya mengukur. c. Jenis-Jenis termometer Thermometer memiliki keragaman bentuk dan jenis, tergantung dari jenis skalanya, bahan yang akan diukur, dsb. Secara umum, thermometer dapat kita golongkan menurut : Menururt skalanya a. Thermometer berskala Fahrenheit; titikbeku : 32°F dantitikdidih : 212°F b. Thermometer berskala Kelvin; titikbeku : 273 K dantitikdidih : 373 K c. Thermometer berskala celcius; titikbeku : 0°C dantitikdidih : 80°C d. Thermometer berskala Reamur; titikbeku : 0°R dantitikdidih : 80°R Titik beku yaitu suhu dimana es mulai mencair dan titik didih adalah suhu dimana seluruh bagian air menguap. Keduanya pada keadaan standar, yaitu pada tekanan 1 atm. Menurut penggunaannya, dapat dibedakan menjadi : Thermometer ruangan, Thermometer badan, Thermometer rumput Thermometer apung, Thermometer Maksimum Thermometer minimum,dsb 34

a. b. c. d. e. f.

Menurut zat pendeteksi panas,dapat dibedakan menjadi : a) Thermometer cair (liquid inglass thermometer),

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

pendeteksi panasnya adalah zat cair yang berada di dalam tabung kaca . zat cair akan memuai atau menyusut secara teratur sesuai dengan suhu udara dan menunjukkan skala hasil pengukuran. b) Thermometer digital, pendeteksi panasnya adalah sensor yang bias mengirim sinyal elektrik mengenai suhu kemudian sinyal itu diubah menjadi tampilan digital pada layar dan menunjukkan suhu. Menurut zat cair yang digunakan (untuk liquid in-glass thermometer), dapat dibedakan menjadi: a) Thermometer alkhohol b) Thermometer raksa c) Thermometer campuran d. Fungsi Termometer maksimum berfungsi untuk mengukur suhu maksimum yang terjadi dalam 1 hari dan diama di setiap jam 12:00 UTC atau jam 19:00 WIB.Hasil baca suhu maksimum harus lebih tinggi atau serendah-rendahnya sama dengan suhu udara hasil pembacaan dari termometer bola kering yang tertinggi pada hari yang bersangkutan. Termometer minimum berfungsi mengukur suhu minimum yang terjadi dalam 1 hari dan diama tisetiap jam 00:00 UTC atau jam 07:00 WIB. Hasil baca suhu minimum harus lebih rendah atau setinggi-tinggi sama dengan suhu udara hasil pembacaan dari termometer bola kering yang terendah pada hari yang bersangkutan.

e. Bagian-Bagian

2. KEGUNAAN DALAM BIDANG KESEHATAN Termometer adalah alat kedokteran yang dipergunakan untuk mengukur suhu tubuh .Ada dua jenis thermometer yaitu thermometer raksa dan digital. Perbedaannya terletak pada alat pengukurnya. Untuk termometer digital, jika suhu tubuh sudah di dapat maka alat tersebut akan mengeluarkan bunyi dengan sendirinya sedangkan thermometer raksa sendiri deteksinya memakan waktu yang lama, sehingga kurang efisien untuk dipergunakan. Ini salah satu alat yang wajib dimiliki dan tersimpan di kotak P3K Anda. 3. PROSEDUR a. Prosedur penggunaan Karena thermometer yang paling sering digunakan adalah thermometer cair, maka kali ini akan kita bahas cara memakai thermometer cair. Pertama, tempelkan benda yang akan kita ukur dengan ujung thermometer yang berisi cairan thermometer. Jika kita akan mengukur suhu udara, sebagai contoh, cukup letakkan thermometer pada ruangan yang terlindung dari sinar matahari langsung.

35

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

Kemudian perhatikan gerakan zat cair dalam thermometer. Tunggu beberapa saat sampai cairan berhenti bergerak. Bacalah besaran skala yang terlihat tepat tegakl urus dengan thermometer. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai thermometer pecah karena benda yang diukur terlalu panas, sehingga berada diluar batas maksimal thermometer. Dalam mengukur suhu benda, pastikan tangan kita tidak menyentuh thermometer. Hal ini dapat mempengaruhi pembacaan akhir thermometer. Gunakan alat Bantu seperti penjepit kayu atau penjepit statis. Perlu diingat bahwa setelah mengukur benda panas, thermometer jangan langsung dipakai untuk mengukur benda bersuhu dingin. Hal ini untuk menecegah pecahnya thermometer akan perbedaan suhu yang cukup besar. b. Kalibrasi Termometer harus dikontrol dan dipelihara dengan baik agar menghasilkan data dan pembacaan yang benar, maka harus ada pemeliharaan alat yaitu dengan pengawasan dan melakukan pengkalibrasian alat serta membandingkan nya dengan alat yang lain untuk mengetahui alat yang dipakai masih dapat digunakan atau tidak. Alat yang diperlukana dalah Termometer terkalibrasi disertai sertifikat Uji Operasional, Semua alat pengukuran harus dikontrol pada saat pertama beroperasi dan

sesudah digunakan paling sedikit satu kali pertahun dengan menggunakan thermometer terkalibrasi. Pengujian harus dilakukan paling sedikit dengan satu nilai pada rentang temperature dimana alat dioperasikan. Untuk pengukuran pada temperature kamar missal alat tersebut di cek pada 15 – 25c . Suhu yang ditunjukan oleh masing-masing thermometer di cek oleh thermometer terkalibrasi, dimana thermometer termometer tersebut dimasukkan kedalam lemari pendingin atau pemanas air (water bath), sampai temperature yang ditunjukkan oleh masingmasing thermometer stabil paling sedikit dalam satu menit. Untuk pengukuran suhu udara dengan menggunakan termometer, hal berikut dianjurkan untuk memperlambat penunjukan suhu, tempelkan satau kapas /wool pada ujung thermometer dan biarkan thermometer kira-kira 1 (satu) jam untuk mencapai temperature di inginkan. Jika hasil kalibrasi tidak bagus maka termometer perlu dilakukan peneraan ulang, dengan cara menghapus semua skala pada termometer dan membuat skala yang baru. c. Perawatan Agar thermometer yang kita punya tahan lama, diperlukan perawatan khusus. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain: 1) Perhatikan permukaan kaca thermometer. Setelah dipakai, segera bersihkan kaca dari kotoran atau endapan yang

36

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

mungkin menempel dengan kain, Usapkan kain tersebut secara perlahan. 2) Segera simpan thermometer setelah dipakai dalam wadah penyimpanannya. Sebelum disimpan, sebaiknya thermometer didinginkan terlebih dahulu. Simpan thermometer pada lemari penyimpanan yang tertutup. 3) Periksa keadaan thermometer secara berkala, jangan sampai terjadi anomaly pada thermometer tersebut. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Pembahasan Kalibrasi termometer yaitu dengan menggunakan air yang dibekukan terlebih dahulu. Gunakan gelas yang suhunya tidak akan terpengaruh oleh suhu ruangan. Tambahkan air sampai menutupi indikator dari termometer dan tambahkan air yang sudah di bekukan tadi. Aduk termometer selama 5 menit dan catat hasil pengkuranya. Kemudian dihitung nilai simpangannya, jika lebih dari niali simpangn yang ditentukan maka termometer perlu di lakukan kalibrasi ulang. Pengkalibrasian ulang yaitu dengan cara menghapus semua skal termometer, kemudian bekukan termometer untuk mengetahui titik beku termometer setelah itu tandai titik beku. Dan panaskan termometer untuk mengetahiu titih didih termometer setelah itu tanda. Jarak dari titik beku dan titik didih di bagi dua, kemudian tinggal di buat skala baru.

Kemudian dihitung standar deviasinya : 𝑆𝐷 = (𝛴𝑥1−𝑥 )2 𝑛 − 1

Hasil praktikum : 𝑥1 − 𝑥 No Suhu 0.23 0.5 1 0.27 0 2 0.27 0 3 0.23 0.5 4 0.07 0.2 5 0.23 0.5 6 0.07 0.2 7 0.27 0 8 0.27 0 9 0.5 0.23 10 0.27 𝑥 SD 0.171

(𝑥1 − 𝑥 )2 0.0529 0.0729 0.0729 0.0529 0.0049 0.0529 0.0049 0.0729 0.0729 0.0529 0.513

b. Kesimpulan Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suatu suhu, baik suhu tubuh atau untuk mengukur suhu suatu larutan. Termometer memiliki beberapa jenis diantaranya termometer air raksa, termometer alkohol dan lain sebagainya. Pengkalibrasian termometer dapat dilakukan dengan membandingkan dengan termometer yang sudah terkalibrasi. Dari hasil praktikum, termometer yang sudah dikalibrasi masih dapat digunkana. 5. DAFTAR PUSTAKA 1) Sejarah .[online]. Tersedia : http://ilhammawmaw.wordpress.co m/2011/04/17/sejarah-

37

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

termometer/Ilhamelectroboy April 17, 2011 2) Jenis-Jenis , Cara Menggunakan ,Perawatan, Kalibrasi [online]. tersedia : http://kamusmeteorology.blogspot. com/2011/08/thermometer.htmlme teorology instrumentMonday, August 1, 2011 3) Fungsi. [online]. tersedia : http://metkliminstrumen.blogspot.c om/2011/05/termometermaksimum-minimum.html

Part 12: ALAT GELAS 1. PENDAHULUAN a) Latar belakang Sebelum praktikum pilihlah alat-alat yang dibutuhkan selengkapnya sesuai dengan kapasitas, kegunaan, ketelitian yang diperlukan. Ketelitian alat maupun kapasitasnya berbeda – beda, begitupun jenisnya. Pengukuran volume merupakan elemen mendasar dalam laboratorium analisis, karena terdapat banyak jenis analisa yang memerlukan pengenceran tertentu dan penambahan secara terkendali berbagai macam jumlah larutan yang telah disiapkan secara akurat. Untuk itu diperlukan alat pengukuran volume zat cair, salah satunya labu ukur. b) Bentuk alat gelas

38

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

No. 1.

Alat gelas Gelas kimia

Fungsi Untuk mengukur volume yang tidak memerlukan ketelitian yang tinggi. menampung zat kimia, memansakan cairan. Dan pemanas cairan. larutan tingkat Untuk untuk media

2.

Pipet tetes

Untuk mengambil cairan dalam skala terkecil

3.

Corong gelas

Untuk menolong padasaat memasukan cairan ke dalam suatu wadah dengan mulut sempit seperti botol, labu ukur, buret dan lain – lain. Untuk menyimpan dan memanaskan larutan. Untuk menampung hasil filtrasi penyaringan Untuk menampung titran pada proses titrasi Pada pengujian mikrobiologi, digunakan sebagai tempat pembiakan mikroba. Untuk mengukur volume larutan tidak memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi dalam jumlah tertentu.

4.

Elemeyer

5.

Gelas ukur

6.

Bulp

Untuk menghisap larutan yang akan di keluarkan. 39

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

7.

Labu ukur

Untuk membuat larutan dengan konsentrasi tertentu dan mengencerkan larutan dengan ke akurasian yang tinggi.

8.

Corong pisah

Untuk memisahkan larutan yang memiliki kelarutan yang berbeda. Biasanya digunakan dalam proses ekstraksi.

9.

Botol semprot

Tempat menyimpan aqua dm/ untuk membersihkan alat – alat laboratorium dengan cara menyemprotkan aqua dm tersebut.

10.

Buret

Terbuat dari geals mempunyai skala dan kran digunakan untuk melakukan titrasi. zat yang digunakan menitrasi (titran) di tempatkan dalam buret dan dikeluskan sedikit demi dikit melaui kran. Ukuran mulai 5ml sampai 0.05 ml. Untuk mengambil larutan dengan volume tertentu, gunakan bulp atau pipet pump untuk menyedot larutan, dan jangan dihisap dengan mulut. 40

11.

Pipet ukur

12.

Pipet volume

Digunakan untuk mengambil larutan volume tepat sesuai dengan label yang tertera pada bagian yang

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

menggelembung pada bagian tengah pipet. Gunakan pro pipet atau pipet pump untuk menyedot larutan.

13.

Tabung reaksi

Sebagai tempat untuk mereaksikan bahan kimia Wadah untuk tempat pengembang biakan mikroba Untuk melakukan reaksi dalam skala kecil. Untuk pembiakan bakteri dalam laboratorium mikrobiologi. Sebagai tempat untuk menimbang bahan Untuk mengeringkan bahan sample

14.

Cawan petri

41

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

42

2. KEGUNAAN DALAM BIDANG KESEHATAN Digunakan untuk megencerkan zat tertentu hingga batas leher labu ukur. Alat ini biasanya digunakan untuk mendapatkan larutan zat tertentu yang nantinya hanya digunakan dalam ukuran yang terbatas hanya sebagai sampel dengan menggunakan pipet. 3. PROSEDUR a) Prosedur penggunaan Labu ukur atau labu volumetrik adalah sebuah bejana gelas yang beralas datar, berbentuk buah peer, dan berleher panjang yang relatif sempit. Sebuah garis tipis yang dietsa mengelilingi leher labu menunjukkan dengan tepat volume cairan pada suhu tertenru. Labu ukur diberi tanda batas volume tertentu sebagai daya tampungya. Karena batas volume itu dibuat mengelilingi leher labu, akan terhindar kesalahan pembacaan yang disebabkan effek paralaks. Kesalahan pengamatan itu dapat diatasi bila pada pembacaan volume letak mata pengamat dan tanda batas volume berada pada ketinggian yang sama dan tanda batas itu tepat pada bagian bawah meniskus cairan. Leher sebuah labu ukur (dibuat relatif sempit hingga sedikit perubahan volume cairan akan menyebabkan perbedaan ketinggian meniskus cairan. Dengan demikian kesalahan yang dibuat pada penyesuaian meniskus cairan dengan tanda batas volume akan sangat kecil.

Jarak antara tanda batas volume dan mulut labu ukur adalah relatif besar agar masih terdapat cukap ruang untuk mengocok cairan dalam labu itu. Labu ukur dilenkapi dengan tutup yang terbuat dari pegas atau plastik. Ukuan labu yang diperlukan adalah: 50, 100, 250, 500, 1000, dan 2000 ml. Penggunaan labu ukur untuk membuat larutan baku. Jika kita hendak membuat suatu larutan baku dengan konsentrasi tertentu, kita menimbang terlebih dahulu zat padat murni secara teliti. Dengan sebuah corong kita masukkan zat padat ini ke dalam labu ukur. Kemudian labu ini diisi dengan zat pelarut-lazimnya air suling, sampai kira-kira setengah penuh. Singkirkan corong yang digunakan tadi dan goyangkan labu sehingga air di dalannya bergerak memutar sampai zat padat yang ada di dalam labu melarut semuanya. lika masih ada zat padat yang belum melarut, tambahkan lagi air sampai labu itu tiga perempat penuh dan goyangkan lagi labu itu seperti di atas. b) Prosedur perawatan 1) Ruang penyimpanan peralatan harus bertemperatur antara 270 C – 370 C dan diberi tambahan lampu 25 watt. 2) Ruang penyimpanan diberi bahan silicon sebagai zat higroskopis. 3) Debu, keringat, minyak dari telapak tangan mudah menempel pada peralatan berbahan baku gelas. Oleh karena itu setelah digunakan luangkan waktu sejenak untuk

42

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

43

membersihkan permukaan peralatan dengan kain lembut atau dengan kertas tissue khusus. 4) Letakkan peralatan berbahan baku gelas di tempat ketika tidak digunakan. Meletakkan peralatan tidak di tempatnya beresiko merusak kondisi alat karena mungkin saja peralatan tersebut tertindih atau tertekan yang mengakibatkan terjadinya perubahan fisik permanent. c) Prosedur kalirasi B) Hanya labu ukur yang terbuat dari gelas atau plastik / PVC yang mempunyai ketegasan sudah disertifikasi. C) Dalam melakukan uji penegasan gunakan air bebas mineral / aquadest dengan
0

pengujian secara individu, untuk menentukan nilai ratarata atau penyimpangan baku (standard deviation). 4.HASIL DAN PEMBAHASAN a) Pembahasan Kalibrasi dilakukan pada labu ukur 10 ml yaitu dengan menimbang lau ukur yang tei isi aqua dest dapa neraca analitik (5 kali penimbangan). Kemudian dihitung standar deviasinya dengan rumus : 𝑆𝐷 = (𝛴𝑥1−𝑥 )2 𝑛 − 1

Hasil penimbangan Alat gelas 10 ml (in): No. Penimbangan 𝑥1 − 𝑥 0.135 10.01 1 0.135 2 10.01 0.125 3 10.02 0.145 4 10 0.135 5 10.01 0.055 6 10.2 0.155 7 10.3 0.055 8 10.2 0.255 9 10.4 0.155 10 10.3 10.145 𝑥 SD 0.152916 (𝑥1 –𝑥 )2 0.018225 0.018225 0.015625 0.021025 0.018225 0.003025 0.024015 0.003025 0.065025 0.024025 0.21045

temperatur 20 + 2 C , yang diisikan kedalam alat yang akan diuji dan telah ditimbang sampai volume sesuai dengan yang ditinjukkan atau mencapai tanda “tentukan berat alat yang sudah terisi dengan neraca analitik dan hitung berat air / aquadest yang diisikan cari densitas air yang sesuai dengan temperatur ( 1 g/ml untuk 20
0

C). D) Cara kerja ini dapat dimodifikasi dengan menggunakan pelarut organik, (seperti etanol, sikloheksan) sebagai pengganti air / aquadest, untuk kalibrasi dengan mempertimbangkan densitas masing-masing pelarut. E) Pada setiap pengujian, lakukan minimum 5 kali

Hasil penimbangan alat gelas 20 ml (out): No. Penimbangan 1 19.98 2 20.01 3 19.99 4 20.01 5 19.99 6 19.97 7 20.02 𝑥1 − 𝑥 0.017 0.013 0.007 0.013 0.007 0.027 0.023 (𝑥1 –𝑥 )2 0.000289 0.000169 0.000049 0.000169 0.000049 0.000729 0.000529

43

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

44

8 9 10 𝑥 SD

19.98 20 20.01 19.997

0.017 0.003 0.013 0.164992

0.000289 0.000009 0.000169 0.00245

b) Kesimpulan Pada dasarnya alat – alat gelas memiliki ketelitian dan fungsu yang berbeda - beda .oleh karena itu dibutukkan konsentrasi pada saat mengamati atau menggunakan alat – alt gelat agar mendapatkan hasil yang benar

5. DAFTAR PUSTAKA 1) Kimia, jurusan (2011). Penggunaan alat laboratorium. [online]. Tersedia : http://kimia.unp.ac.id/?p=1483. [Desember 2012] 2) Pr kita bersama (2010). Alatalat laboratorium kimia. [online]. Tersedia : http://prkita.wordpress.com/201 0/12/09/alat-alat-laboratoriumkimia/. [Desember 2012]

44

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

45

45

Prodi Analis Kesehatan (D-III) | STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->