Tugas Perencanaan Penggunaan Tanah Fachmi Zain (1006678835

)

Mencari Tahu Mengenai Pasal 14, 15, 52 Dan 6 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria

PASAL 14 (1) Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam pasal 2 ayat (2) dan (3) , pasal 9

ayat (2) serta pasal 10 ayat (1) dan (2) Pemerintah dalam rangka sosialisme Indonesia, membuat suatu rencana umum mengenai persediaan, peruntukan dan penggunaan bumi, air dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya: a. b. untuk keperluan Negara, untuk keperluan peribadatan dan keperluan suci lainnya, sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa; c. untuk keperluan pusat-pusat kehidupan masyarakat, sosial, kebudayaan dan lain-lain kesejahteraan; d. untuk keperluan memperkembangkan produksi pertanian, peternakan dan perikanan serta sejalan dengan itu; e. . (2) Berdasarkan rencana umum tersebut pada ayat (1) pasal ini dan mengingat untuk keperluan memperkembangkan industri, transmigrasi dan pertambangan

peraturan-peraturan yang bersangkutan, Pemerintah Daerah mengatur persediaan, peruntukan dan penggunaan bumi, air serta ruang angkasa untuk daerahnya, sesuai dengan keadaan daerah masing-masing.

(3)

Peraturan Pemerintah Daerah yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini berlaku

setelah mendapat pengesahan, mengenai Daerah Tingkat I dari Presiden, Daerah

Disini disampaikan bahwa pemerintah merupakan pihak yang merencanakan atau mengatur persediaan. Dalam pasal ini diatur soal perencanaan persediaan. Ini juga menunjukan hirarki kegiatan perencanaan dimana pengesahan peraturan Pemerintah Daerah harus dilakukan dalam rangka rencana umum yang dibuat oleh Pemerintah Pusat dan sesuai dengan kebijaksanaan Pusat. badan hukum atau instansi yang mempunyai . air dan ruang angkasa.Tingkat II dari. Untuk pengelolaannya perlu dilakukan dengan sesuai yaitu secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam suatu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup sesuai dengan pembangunan berwawasan lingkungan. Gubernur/Kepala Daerah yang bersangkutan dan Daerah Tingkat III dari Bupati/Walikota/Kepala Daerah yang bersangkutan. Mengenai Pasal 14 : Pasal ini berkaitan mengenai asas tata guna tanah. PASAL 15 Memelihara tanah. Dengan adanya rencana-rencana tersebut maka penggunaan tanah diharapkan dapat dilakukan secara terpimpin dan teratur sehingga dapat membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi negara dan rakyat. air dan ruang angkasa untuk berbagai kepentingan hidup rakyat dan negara. termasuk menambah kesuburannya serta mencegah kerusakannya adalah kewajiban tiap-tiap orang. peruntukan dan penggunaan bumi. peruntukan dan penggunaan bumi. yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. Dalam pasal ini juga memberitahu kita mengenai skala wilayah perencanaan mulai dari Rencana Umum (National Planning) meliputi seluruh wilayah Indonesia yang kemudian diperinci menjadi rencana-rencana khusus (Regional Planning) dari tiap-tiap daerah.

akan berdampak pada terjadinya pelanggaran hukum (agraria). 48. ayat (1). 24.000. Berkaitan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah. 22. Dapat dikatakan bahwa dalam menggunakan dan memanfaatkan tanah harus dipelihara dengan sebaik-baiknya. 46. dalam menggunakan dan memanfaatkan tanah. Mengenai Pasal 15 : Pasal ini menyinggung tentang tanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup pada lahan agrarian. PASAL 52 (1) Barangsiapa dengan sengaja melanggar ketentuan dalam pasal 15 dipidana dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 bulan dan/atau denda setinggi-tingginya Rp. badan hukum dan instansi pemerintah maupun swasta yang apabila tidak mengurus baik-baik tanah yang menjadi haknya. yang dijabarkan lebih lanjut oleh Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kondisi wilayah masingmasing. namun tidak seccara tegas mengaturm engenai tata cara bagaimana menjaga kelestariannya. Kesesuaian penggunaan dan pemanfaatan tanah terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah tersebut ditentukan berdasarkan pedoman. dengan memperhatikan pihak yang ekonomis lemah. Dalam pasal ini disampaikan bahwa secara hukum setiap orang atau badan hukum atau instansi pemerintah atau swasta yang memiliki tanah mempunyai kewajiban untuk memelihara dan mencegah tanah tersebut dari kerusakannya. jika melakukan pengerusakan terhadap tanah maka terjadi pelanggaran terhadap hukum agraria. 10. 47.standar dan kriteria teknis yang ditetapkan oleh Pemerintah.hubungan hukum dengan tanah itu. ayat (3) dan 50 ayat (2) dapat memberikan . 26. serta memelihara tanah dan mencegah kerusakan tanah.(2) Peraturan Pemerintah dan peraturan perundangan yang dimaksud dalam pasal 19. Kata kewajiban dalam pasal ini memberi konsekuensi kepada setiap orang. pemegang hak atas tanah wajib menyesuaikan penggunaan dan pemanfaatannya dengan Rencana Tata Ruang Wilayah. 49.

sanksi tersebut relatif sangat ringan dan tidak dapat memberikan perlindungan hukum yang kuat terhadap kelestarian lingkungan hidup. Maka karena adanya kekurangan UUPA dalam hal pelestarian ingkungan hidup. ditambah pertauran perundangan lain yang lebih spesifik yaitu UU tentang AMDAL. PASAL 6 Semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial. Dilihat dari ancaman hukumannya.000. apalagi kalau hal itu menimbulkan kerugian bagi masyarakat. (3) Tindak pidana dalam ayat (1) dan (2) pasal ini adalah pelanggaran. Penggunaan tanah harus disesuaikan dengan keadaannya dan sifat daripada haknya.-. bahwa tanahnya itu akan dipergunakan (atau tidak dipergunakan) semata mata untuk kepentingan pribadinya. Negara menerbitkan peraturan perundangan lain yang menutup kelemahan UUPA diantaranya perundangan terkait lingkungan hidup diantaranya UU No. dsb. Mengenai Pasal 52 Untuk menjamin pelaksanaan yang sebaik-baiknya daripada peraturan-peraturan serta tindakan-tindakan yang merupakan pelaksanaan dari Undang-undang Pokok Agraria maka diperlukan adanya sangsi pidana sebagai yang ditentukan dalam pasal ini. 4 tahun1982 tentang lingkungan hidup (UULH). UU No. bahwa kepentingan perseorangan akan terdesak sama sekali oleh kepentingan umum (masyarakat). bahwa hak atas tanah apapun yang ada pada seseorang. pembalakan liar.ancaman pidana atas pelanggaran peraturannya dengan hukuman kurungan selamalamanya 3 bulan dan/atau denda setinggi-tingginya Rp. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH) yang kemudian diganti UU No. tidaklah dapat dibenarkan. 10. Tetapi dalam pada itu ketentuan tersebut tidak berarti. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH). kehutanan. Mengenai Pasal 6 Ini berarti. Undang-Undang Pokok Agraria . hingga bermanfaat baik bagi kesejahteraan dan kebahagiaan yang mempunyainya maupun bermanfaat bagi masyarakat dan Negara.

memperhatikan pula kepentingan-kepentingan perseorangan. keadilan dan kebahagiaan bagi rakyat seluruhnya Maka dengan landasan pasal 6 (bersama dengan pasal 12. Namun ternyata implementasi tersebut masih belum berjalan baik di Indonesia. air. 13. dan 14) Negara dapat mengesampingkan kepemilikan pribadi masyarakat bagi bumi. hingga pada akhirnya akan tercapailah tujuan pokok : kemakmuran. dan ruang angkasa yang akan digunakan bagi kepentingan umum. Kepentingan masyarakat dan kepentingan perseorangan haruslah saling mengimbangi. karena kendala pembebasan lahan yang dimiliki masyarakat masih menjadi penghambat utama pembangunan infrastruktur .

Untuk Pengelolaannya perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam suatu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara . Dengan adanya planning itu maka penggunaan tanah dapat dilakukan secara terpimpin dan teratur sehingga dapat membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi negara dan rakyat. penggunaan dan persediaan bumi. penggunaan dan persediaan bumi. air dan ruang angkasa untuk pelbagai kepentingan hidup rakyat dan negara: Rencana Umum (national planning) yang meliputi seluruh wilayah Indonesia. yang kemudian diperinci menjadi rencana-rencana khusus (regional planning) dari tiap-tiap daerah (pasal 14). Berdasarkan ketentuan dari pasal tersebut diatas maka Pemerintah membuat suatu rencana untuk peruntukkan.Akhirnya untuk mencapai apa yang menjadi cita-cita bangsa dan negara di atas dalam bidang agraria. air dan ruang angkasa untuk pelbagai kepentingan hidup rakyat dan negara. perlu adanya suatu rencana (planning) mengenai peruntukkan.

pemegang hak atas tanah wajib menyesuaikan penggunaan dan pemanfaatannya dengan Rencana Tata Ruang Wilayah. 9 Kesesuaian penggunaan dan pemanfaatan tanah terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah tersebut ditentukan berdasarkan pedoman. yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. Kata kewajiban dalam pasal ini memberi konsekuensi kepada setiap orang. yang dijabarkan Asas Tata Guna Tanah . serta memelihara tanah dan mencegah kerusakan tanah. Di dalam menggunakan dan memanfaatkan tanah. jika melakukan pengerusakan terhadap tanah maka terjadi pelanggaran terhadap hukum agraria. 8 Dapat dikatakan bahwa dalam menggunakan dan memanfaatkan tanah harus dipelihara dengan sebaik-baiknya. 7 Menurut ketentuan Pasal 15 UUPA. standar dan kriteria teknis yang ditetapkan oleh Pemerintah.kelestarian kemampuan lingkungan hidup sesuai dengan pembangunan berwawasan lingkungan. akan berdampak pada terjadinya pelanggaran hukum (agraria). secara hukum setiap orang atau badan hukum atau instansi pemerintah atau swasta yang memiliki tanah mempunyai kewajiban untuk memelihara dan mencegah tanah tersebut dari kerusakannya. badan hukum dan instansi pemerintah maupun swasta yang apabila tidak mengurus baik-baik tanah yang menjadi haknya.

Pengesahan peraturan Pemerintah Daerah harus dilakukan dalam rangka rencana umum yang dibuat oleh Pemerintah Pusat dan sesuai dengan kebijaksanaan Pusat. agar bertambah kesuburannya serta dicegah kerusakannya. pula keperluan untuk industri dan pertambangan (ayat 1 huruf d dan e). persediaan. industri dan pertambangan. PASAL 52 . perikanan. Mengingat akan corak perekonomian Negara dikemudian hari dimana industri dan pertambangan akan mempunyai peranan yang penting. Dalam melaksanakan ketentuan ini akan diperhatikan kepentingan fihak yang ekonomis lemah. air dan ruang angkasa sebagai yang telah dikemukakan dalam penjelasan umum (II angka 8). melainkan menjadi beban pula dari setiap orang. badan hukum atau instansi yang mempunyai hubungan hukum dengan tanah itu. yaitu dipelihara menurut cara-cara yang lazim dikerjakan didaerah yang bersangkutan. Berhubung dengan fungsi sosialnya. penggunaan. tetapi juga ditujukan untuk memajukannya. sesuai dengan petunjukpetunjuk dari Jawatan-Jawatan yang bersangkutan. dan pemeliharaan tanah PASAL 15 Asas Tata Guna Tanah Memelihara tanah. dengan memperhatikan pihak yang ekonomis lemah. badan-hukum atau instansi yang mempunyai suatu hubungan hukum dengan tanah itu (pasal 15). Tanah wajib dipelihara dengan baik. maka adalah suatu hal yang sewajarnya bahwa tanah itu harus dipelihara baik-baik. Kewajiban memelihara tanah ini tidak saja dibebankan kepada pemiliknya atau pemegang haknya yang bersangkutan. peternakan. termasuk menambah kesuburannya serta mencegah kerusakannya adalah kewajiban tiap-tiap orang. maka disamping perencanaan untuk pertanian perlu diperhatikan. Perencanaan itu tidak saja bermaksud menyediakan tanah untuk pertanian.Pasal ini mengatur soal perencanaan persediaan. peruntukan dan penggunaan bumi. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukkan.

10.000. (3) Tindak pidana dalam ayat (1) dan (2) pasal ini adalah pelanggaran.-. 24. 10. 48. . 46.(2) Peraturan Pemerintah dan peraturan perundangan yang dimaksud dalam pasal 19. 26. 22. 47. ayat (1). 49. ayat (3) dan 50 ayat (2) dapat memberikan ancaman pidana atas pelanggaran peraturannya dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 bulan dan/atau denda setinggi-tingginya Rp.000.(1) Barangsiapa dengan sengaja melanggar ketentuan dalam pasal 15 dipidana dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 bulan dan/atau denda setinggi-tingginya Rp. Untuk menjamin pelaksanaan yang sebaik-baiknya daripada peraturanperaturan serta tindakan-tindakan yang merupakan pelaksanaan dari Undang-undang Pokok Agraria maka diperlukan adanya sangsi pidana sebagai yang ditentukan dalam pasal ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful