P. 1
METODE PEMISAHAN

METODE PEMISAHAN

|Views: 97|Likes:
Published by lestari_utami_1
hajf
hajf

More info:

Published by: lestari_utami_1 on Jun 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/08/2013

pdf

text

original

Yoga W.

Wardhana
Tujuan Pemisahan
Metode pemisahan bertujuan untuk mendapatkan zat
murni atau beberapa zat murni dari suatu campuran,
sering disebut sebagai pemurnian dan juga untuk
mengetahui keberadaan suatu zat dalam suatu sampel
(analisis laboratorium).
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam
pemisahan antara lain :

• Keadaan zat yang diinginkan terhadap campuran, apakah zat ada di
dalam sel makhluk hidup, apakah bahan terikat secara kimia, dan
sebagainya.
• Kadar zat yang diinginkan terhadap campurannya, apakah kadarnya kecil
atau besar.
• Sifat khusus dari zat yang diinginkan dan campurannya, misalnya zat
tidak tahan panas, mudah menguap, kelarutan terhadap pelarut
tertentu, titik didih, dan sebagainya.
• Standar kemurnian yang diinginkan. Kemurnian 100% memerlukan
tahap yang berbeda dengan 96%.
• Zat pencemar dan campurannya yang mengotori beserta sifatnya.
• Nilai guna zat yang diinginkan, harga, dan biaya proses pemisahan.

Dasar-Dasar Pemisahan
METODE PEMISAHAN
Filtrasi
Destilasi
Kromatografi Sublimasi
Kristalisasi
Adsorpsi Ekstraksi
Sedimentasi
FILTRASI
Dasar pemisahan metode ini adalah perbedaan
ukuran partikel antara pelarut dan zat
terlarutnya.
 Tanpa Tekanan
 Dengan Tekanan
SEDIMENTASI / Presipitasi
Jika dalam suatu campuran mengandung satu atau beberapa
zat dengan densitas dan kecepatan pengendapan yang ber-
beda, kita dapat memisahkan salah satu zat dengan metode
sedimentasi atau sentrifugasi. Namun jika dalam campuran
mengandung lebih dari satu zat yang akan kita inginkan,
maka digunakan metode presipitasi. Metode presipitasi
biasanya dikombinasi dengan metode filtrasi.
Kalsiferol (Vit.D)
Tokoferol (Vit.E)
Riboflavin (Vit.B6)
Vitamin K2
Vitamin C
Retinol (Vitamin A)
Thiamin (Vit.B1)
Asam Folat


















































KRISTALISASI
Prinsip re-kristalisasi adalah perbedaan kelarutan antara zat yang
akan dimurnikan dengan kelarutan zat pencampur/ pence-
marnya. Larutan yang terjadi dipisahkan satu sama lain,
kemudian larutan zat yang diinginkan dikristalkan dengan cara
menjenuhkannya.

Perhatian dalam re-kristalisasi:
1. Kelarutan material yang akan dimurnikan harus memiliki
ketergantungan yang besar pada suhu.
2. Kristal tidak harus mengendap dari larutan jenuh dengan
pendinginan karena mungkin terbentuk super jenuh.
3. Untuk mencegah reaksi kimia antara pelarut dan zat
terlarut, penggunaan pelarut non-polar lebih disarankan.
4. Pelarut dengan titik didih rendah umumnya lebih
diinginkan.
KRISTALISASI
SUBLIMASI
Prinsip kerja didasarkan pada sifat zat yang bercampur lebih dapat
menyublim (berubah dari wujud padat ke wujud gas), sedangkan zat
yang lainnya tidak dapat menyublim. Misalnya, pada proses pemurnian
Yodium kotor, kamfer dll

Destilasi
Dasar pemisahan adalah perbedaan titik didih.

JENIS-JENIS DESTILASI
Destilasi Sederhana
Destilasi Bertingkat
Destilasi Uap
Destilasi Vakum
Destilasi Azeotrop
Alat Destilasi Sederhana
 Berikut adalah susunan rangkaian alat
distilasi sederhana:
1. wadah air
2. labu distilasi
3. sambungan
4. termometer
5. kondensor
6. aliran masuk air dingin
7. aliran keluar air dingin
8. labu distilat
9. lubang udara
10. tempat keluarnya distilat
13. penangas
14. air penangas
15. larutan zat
16. wadah labu distilat

Destilasi Vakum
 Digunakan jika senyawa yang ingin
didistilasi tidak stabil, dengan
pengertian dapat terdekomposisi
sebelum atau mendekati titik
didihnya atau campuran yang
memiliki titik didih di atas 150 °C.

 Tidak dapat digunakan pada pelarut
dengan titik didih yang rendah jika
kondensornya menggunakan air
dingin, karena komponen yang
menguap tidak dapat dikondensasi
oleh air.

Destilasi Uap
 Digunakan untuk memisahkan zat senyawa cair yang
tidak larut dalam air dan titik didihnya cukup tinggi
sedangkan zat cair tersebut mencapai titik didihnya,
zat cair sudah terurai, teroksidasi atau mengalami
reaksi pengubahan (rearrangement).
 Merupakan destilasi campuran air dengan senyawa
yang tidak larut dalam air.

Destilasi Azeotrop
 Memisahkan campuran azeotrop (campuran dua atau
lebih komponen yang sulit di pisahkan)
 Biasanya dalam prosesnya digunakan senyawa lain
yang dapat memecah ikatan azeotrop tersebut, atau
dengan menggunakan tekanan tinggi.

 Merupakan proses pemurnian
zat/senyawa cair dimana zat
pencampurnya berupa senya-
wa cair yang titik didihnya
rendah dan tidak berbeda
jauh dengan titik didih senya-
wa yang akan dimurnikan.
 Bertujuan untuk memisahkan
senyawa-senyawa dari suatu
campuran yang komponen-
komponennya memiliki per-
bedaan titik didih relatif kecil.
Destilasi Bertingkat
EKSTRAKSI
Proses pemisahan suatu zat berdasarkan
koefisien distribusi / partisi dari zat di dalam
dua cairan yang tidak saling bercampur.

Hukum Distribusi Nernst : bila suatu zat
terlarut terdistribusi antara dua pelarut yang tidak
dapat campur, maka pada suatu temperatur yang
konstan untuk setiap spesi molekul terdapat angka
banding distribusi yang konstan antara kedua pelarut
itu, dan angka banding distribusi ini tidak tergantung
pada spesi molekul lain apapun yang mungkin ada.
Harga perbandingan berubah dengan sifat dasar
pelarut, sifat dasar zat terlarut, dan temperatur.
Faktor yang mempengaruhi KD
1. Temperatur yang digunakan.
Semakin tinggi suhu maka reaksi semakin cepat sehingga volume titrasi
menjadi kecil, akibatnya berpengaruh terhadap nilai K
D
2. Jenis pelarut.
Apabila pelarut yang digunakan adalah zat yang mudah menguap maka
akan sangat mempengaruhi volume titrasi, akibatnya berpengaruh
pada perhitungan nilai K
D
.
3. Jenisterlarut.
Apabila zat akan dilarutkan adalah zat yang mudah menguap atau higros-
kopis, maka akan mempengaruhi normalitas (konsentrasi zat tersebut),
akibatnya mempengaruhi harga K
D
.
4. Konsentrasi
Makin besar konsentrasi zat terlarut makin besar pula harga K
D

Perbandingan distribusi??
Istilah perbandingan distribusi (D)
memperhitungkan konsentrasi total zat
di dalam kedua fase. Perbandingan
distribusi dinyatakan sebagai berikut :
D = Konsentrasi total zat pada fase organik
Konsentrasi total zat pada fase air
Jika tidak terjadi asosiasi, disosiasi atau
polimerisasi pada fase-fase tersebut dan
keadaan yang kita punyai adalah
ideal, maka harga K
D
= D.
EKSTRAKSI
Jika pada fase-fase yang tercampurkan terjadi
disosiasi/asosiasi maka besar perbandingan distribusi:
| |
+
+
=
H
K
K
D
a
D
1
EKSTRAKSI
K
D
atau D = persen ekstraksi??
Agar lebih mudah, harga K
D
atau D, lebih sering
digunakan istilah persen ekstraksi (E). Ini
berhubungan dengan perbandingan distribusi dalam
persamaan :
Dimana:
Vw = volume fasa air
Vo = volume fasa organik


Bila volume fasa organik dan air sama, yaitu Vo = Vw ,
D diubah menjadi :
( ) E
E
V
V
D
o
w
÷
|
|
.
|

\
|
=
100
.
E
E
D
÷
=
100
EKSTRAKSI
Pelarut yang baik untuk
ekstraksi adalah pelarut
yang mempunyai daya
melarutkan yang tinggi
terhadap zat yang
diekstraksi. Daya
melarutkan yang tinggi ini
berhubungan dengan
kepolaran pelarut dan
kepolaran senyawa yang
diekstraksi. Terdapat
kecenderungan kuat bagi
senyawa polar larut dalam
pelarut polar dan sebaliknya.

Berikut adalah beberapa
syarat suatu pelarut :



Selektivitas, pelarut hanya boleh
melarutkan ekstrak yang
diinginkan.
Kelarutan, pelarut sedapat
mungkin memiliki kemampuan
melarutkan ekstrak yang besar.
Kerapatan, sedapat mungkin
terdapat perbedaan kerapatan
yang besar antara pelarut dengan
bahan ekstraksi.
Kemampuan tidak saling
bercampur, pada ekstraksi cair,
pelarut tidak boleh larut dalam
bahan ekstraksi.
EKSTRAKSI
Metode Ekstraksi
BERDASARKAN PERBEDAAN FASE
1.Ekstraksi padat-cair : pemisahan zat murni dari suatu
padatan dengan menggunakan sistem pelarut. Jenis
ekstraksi padat-cair:
a.Maserasi
b.Perkolasi
2.Ekstraksi cair-cair : pemisahan zat murni dalam suatu
larutan/campuran dengan menggunakan sistem pelarut.
Jenis ekstraksi cair-cair:
a.Ekstraksi bertahap
b.Ekstraksi kontinu
c.Ekstraksi counter current
1. Cara Dingin
a. Maserasi
adalah ekstraksi menggunakan pelarut dengan beberapa kali penga-
dukan pada suhu kamar. Remaserasi berarti dilakukan pengulangan
penambahan pelarut setelah dilakukan ekstraksi maserat pertama dan
seterusnya
b. Perkolasi
adalah ekstraksi pelarut yang selalu baru sampai sempurna yang
umumnya pada suhu ruang.

Metode Ekstraksi
BERDASARKAN PERBEDAAN SUHU
Metode Ekstraksi
BERDASARKAN PERBEDAAN SUHU
2. Cara Panas
 Reflux, adalah ekstraksi pelarut pada suhu didihnya selama waktu
tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya
pendingin balik
 Soxhlet, adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru
menggunakan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan
jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
 Digesti, adalah maserasi kinetik pada temperatur lebih tinggi dari
temperature kamar sekitar 40-50 C
 Destilasi uap, adalah ekstraksi zat kandungan menguap dari bahan
dengan uap air berdasarkan peristiwa tekanan parsial.
 Infuse, adalah ekstraksi pelarut air pada temperature penangas air 96-
98
o
C selama 15-20 menit


ADSORPSI
Prinsip pemisahan dapat terjadi akibat :

 Perbedaan ukuran partikel
 Perbedaan bentuk partikel dan daerah ikatan /Ligand
 Perbedaan polaritas molekul adsorbat dengan
adsorben
 Muatan elektrostatik antara adsorbat & adsorben

Aplikasi Pemisahan dalam Farmasi
berdasarkan Adsorpsi
 Protein Fraksionasi
• Industri enzim
• Protein terapeutik
• Protein nutrisi
 Pemurnian Asam Nukleat
• Pemurnian Plasmid
• Pemurnian RNA / DNA
 Pemurnian Antibiotik : Bacitracin, Streptomycin
 Analisa Biomedik
 Kromatograsi pulsa atau elutriasi
Mekanisme Adsorpsi
 Gaya van der waals
 Ikatan hidrogen
 Interaksi elektrostatik
 Interaksi hidrofobik
 Partisi
suatu teknik pemisahan molekul
berdasarkan perbedaan pola
pergerakan antara fase gerak dan
fase diam untuk memisahkan
komponen (berupa molekul) yang
berada pada larutan.
Molekul yang terlarut dalam fase gerak,
akan melewati kolom yang merupakan
fase diam.

Molekul yang memiliki ikatan
yang kuat dengan kolom akan cenderung
bergerak lebih lambat dibanding molekul
yang berikatan lemah.
B
A
Garis depan
Titik awal
Rf = A / B
Berdasarkan fase gerak, yang berupa zat cair atau gas:
1. Kromatografi Cair
2. Kromatografi Gas

Berdasarkan fase diam, yang berupa zat cair atau padat:
1. Kromatografi Partisi
2. Kromatografi Jerap

Dibedakan berdasarkan fase
Jenis Pendukung Tipe Kromatografi
Kertas Kromatografi Kertas
(KKt)
Kaca/Lempeng logam
tipis
Kromatografi Lapis
Tipis (KLT)
Kolom Kromatografi Kolom
Pembagian kromatografi berdasarkan jenis
pendukungnya :
Dibedakan berdasarkan materi pendukung :
A. Kromatografi adsorpsi
Fase diam : adsorban padat yang berpori dengan luas permukaan
yang besar, misalnya silika dan alumina

B. Kromatografi partisi
- Pemisahan : partisi analit dalam dua cairan yang tak
bercampur yaitu fase gerak cair dan fase diam
cair yang terikat pada penyangga kolom
- perbedaan kelarutan komponen sampel dalam dua fase
tersebut. Dua jenis teknik kromatografi partisi:
1. Kromatografi fase normal
Fase gerak bersifat non polar
Fase diam bersifat polar
Sampel yang kurang polar akan terelusi lebih awal
2. Kromatografi fase balik
Fase gerak bersifat polar
Fase diam bersipfat non polar
sampel yang sangat polar akan terelusi lebih awal
Dibedakan berdasarkan mekanisme kerja :
C. Kromatografi pertukaran ion
Fase diam: permukaan yang bermuatan berlawanan dengan muatan
dari sampel
Fase gerak : larutan elektrolit dalam air (dapar) yang mendukung
ionisasi sampel
Digunakan untuk sampel yang bersifat ionik atau dapat terionkan.

D. Kromatografi eksklusi ukuran
Kolom diisi dengan bahan yang mempunyai ukuran pori-pori
tertentu misal agarosa
Pemisahan bergantung pada perbedaan kemampuan komponen
sampel untuk memasuki pori-pori pada gel.
Fase gerak dilewatkan melalui kolom gel tersebut dan komponen
dalam sampel difilter berdasarkan perbedaan ukuran molekulnya.
Molekul yang berukuran besar akan ditahan secara lemah dan
terelusi lebih awal.
Gas Chromatography
Name of GC Method Type of Stationary Phase
Gas-solid chromatography solid, underivatized support
Gas-liquid chromatography liquid-coated support
Bonded-phase gas chromatography chemically-derivatized support
Liquid Chromatography
Name of LC Method Type of Stationary Phase
Adsorption chromatography solid, underivatized support
Partition chromatography liquid-coated or derivatized support
Ion-exchange chromatography support containing fixed charges
Size exclusion chromatography porous support
Affinity chromatography support with immobilized ligand
Pada Kromatografi dibedakan istilah:
1. Pengembangan digunakan untuk kromatografi
datar yang fasa geraknya berjalan melalui fasa
diam tanpa terjadi pengeluaran senyawa dari fasa
diamnya (digunakan pada KKt dan KLT)
2. Elusi digunakan pada kromatografi yang fasa
geraknya melalui fasa diam sambil membawa
senyawa keluar dari fasa diam (digunakan pada
Kromatografi Kolom)
Parameter yang dihitung:
 KKt dan KLT : Nilai Rf (Retention faktor) → ukuran
relatif letak suatu bercak senyawa dalam kromatogram
terhadap garis akhir pergerakan fase gerak
Rf = jarak yang ditempuh senyawa
jarak yang ditempuh fase gerak

 HPLC : t
R
(waktu retensi = waktu yang dibutuhkan
setelah penyuntikan sampel untuk memunculkan suatu
puncak analit) → analisis kualitatif
AUC → analisis kuantitatif
W
h
W
b
Where:
t
R
= retention time
t
M
= void time
W
b
= baseline width of the peak in time units
W
h
= half-height width of the peak in time units
Inject
Retention on a given column pertain to the particulars of that system:
- size of the column
- flow rate of the mobile phase





Capacity factor (k’) : more universal measure of retention, determined from t
R
or V
R.


k’ = (t
R
–t
M
)/t
M


or

k’ = (V
R
–V
M
)/V
M


capacity factor is useful for comparing results obtained on different systems since it is
independent on column length and flow-rate.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->