P. 1
Pengertian Pelestarian

Pengertian Pelestarian

5.0

|Views: 3,316|Likes:
Published by Sunu Maung
jawa
jawa

More info:

Published by: Sunu Maung on Jun 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/18/2014

pdf

text

original

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1

Pengertian Pelestarian Filosofi pelestarian didasarkan pada kecenderungan manusia untuk

melestarikan nilai-nilai budaya pada masa yang telah lewat namun memiliki arti penting bagi generasi selanjutnya. Namun demikian tindakan pelestarian makin menjadi kompleks jika dihadapkan pada kenyataan sebenarnya. Tindakan pelestarian yang dimaksudkan guna menjaga karya seni sebagai kesaksian sejarah, kerap kali berbenturan dengan kepentingan lain, khususnya dalam kegiatan pembangunan. James Mastron (1982) mengungkapkan bahwa hal ini menggambarkan begitu kompleksnya masalah yang ada dalam aktivitas pelestarian. Lewat kajian historis terhadap peristiwa-peristiwa penting di masa lampau, kita yang hidup sekarang bisa mempelajari pola tingkah laku ( behavioral patterns) manusia dan menganalisisnya demi kepentingan hidup kita sekarang dan masa-masa selanjutnya. Sejarah eksistensi sebuah peradaban tidak hanya dapat ditelusuri lewat historiografi ataupun catatan aktivitas pejuangan masyarakatnya. Selain misalnya memerinci kajian geologis, masih banyak saksi bisu lainnya yang bisa menceritakan perjalanan masa lalu sebuah kota, terutama ketika kota tersebut mengalami masa kejayaan. Salah satu dari saksi bisu itu adalah bangunan-bangunan tua, yang banyak di antaranya menyimpan catatan sejarah autentik. Pelestarian secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu usaha atau kegiatan untuk merawat, melindungi dan mengembangkan objek pelestarian yang memiliki nilai guna untuk dilestarikan. Namun sejauh ini belum terdapat pengertian yang baku yang disepakati bersama. Berbagai pengertian dan istilah pelestarian coba diungkapkan oleh para ahli perkotaan dalam melihat permasalahan yang timbul berdasarkan konsep dan persepsi tersendiri. Berikut pernyataan para ahli :

1.

Nia Kurmasih Pontoh (1992:36), mengemukakan bahwa konsep awal pelestarian adalah konservasi, yaitu upaya melestarikan dan melindungi sekaligus memanfaatkan sumber daya suatu tempat dengan adaptasi terhadap fungsi baru, tanpa menghilangkan makna kehidupan budaya. 12

norma. disepakati istilah konservasi sebagai istilah bagi semua kegiatan pelestarian. 2. mengingat bahwa benda cagar budaya memiliki arti penting bagi pemahaman dan pengembangan sejarah. Artinya. rekontruksi. kepercayaan dan nilai-nilai budaya dari masyarakatnya di masa lalu. yaitu segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultral yang dikandungnya terpelihara dengan baik. sampai dengan revitalisasi yaitu memberikan nafas kehidupan baru. 1990). Dengan pendekatan konservasi. Dalam Piagam Burra Tahun 1981 (Sumargo. Konservasi dapat meliputi segala kegiatan pemeliharaan dan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat dapat pula mencakup preservasi.2. tidak hanya mencakup bangunannya saja tetapi juga lingkungannya (conservation areas) dan bahkan kota bersejarah (histories towns). bertujuan melestarikan dan memanfaatkannya untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia. terbentuknya kota sedikit banyak berdasarkan atas pengetahuan. Eko budihardjo (1994:22). 5 Tahun 1992. upaya pelestarian memerlukan pula pendekatan konservasi yang dinamis. adaptasi dan revitalisasi. 13 . 3. berbagai kegiatan dapat dilakukan. rekonstruksi. 4.2 Manfaat Pelestarian Sebagaimana telah digariskan dalam Undang Undang Republik Indonesia No. Mundardjito (2002) : Terbentuknya suatu kota dalam banyak sisi dapat dilihat sebagai suatu produk dari perkembangan kebudayaan di dalamnya terdapat perwujudan ideologi sosial serta perkembangan teknologi yang membantu mengkonstruksikan suatu daerah menjadi kota yang kita kenal kini. ilmu pengetahuan dan kebudayaan. rehabilitasi. restorasi. upaya preservasi mengandung arti mempertahankan peninggalan arsitektur dan lingkungan tradisional/kuno persis seperti keadaan asli semula. upaya pemugaran (restorasi). perlindungan terhadap benda cagar budaya dan situs. menilai dari inventarisasi bangunan bersejarah kolonial maupun tradisional. Karena sifat prservasi yang stastis.

14 . 3. Pelestarian memperkaya pengalaman visual. 2. 3. Menurut (Gufron. Pada saat perubahan dan pertumbuhan terjadi secara cepat seperti sekarang. Manfaat kebudayaan yaitu sumber-sumber sejarah yang dilestarikan dapat menjadi sumber pendidikan dan memperkaya estetika. Dengan dilestarikannya warisan yang berharga dalam keadaan baik maka generasi yang akan datang dapat belajar dari warisan-warisan tersebut dan menghargainya sebagaimana yang dilakukan pendahulunya. 6. karena pelestarian menjamin kesinambungan nilai-nilai kehidupan dalam proses pembangunan yang dilakukan manusia. b. kelestarian lingkungan lama memberi suasana permanen yang menyegarkan. Kelestarian mewariskan arsitektur. menyalurkan hasrat untuk kontinuitas. Kelestarian lingkungan lama adalah salah satu aset komersial dalam kegiatan wisata internasional. Menurut Shirvani (1985:44-45) terdapat beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari pelestarian bangunan dan kawasan bersejarah di antaranya : 1. Manfaat ekonomi yaitu adanya peningkatan nilai property. Pelestarian memberi keamanan psikologis bagi seseorang untuk dapat melihat menyentuh dan merasakan bukti-bukti fisik sejarah. penanggulangan biaya-biaya relokasi dan peningkatan pada penerima pajak serta pendapatan dari sektor pariwisata. serta memberi pilihan untuk tinggal dan bekerja di samping lingkungan modern.Pelestarian bangunan bersejarah juga merupakan suatu pendekatan yang strategis dalam pembangunan kota. Menurut Budihardjo dalam Thamrin (1988 : 11). peningkatan pada penjualan ritel dan sewa komersil. c. 5. 4. Manfaat pelestarian juga dikemukakan oleh beberapa ahli di bidang pelestarian di antaranya : a. Manfaat sosial dan perencanaan. 1994:21). terdapat beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari pelestarian bangunan dan kawasan bersejarah di antaranya : 1. memberi kaitan yang berarti dengan masa lalu. menyediakan catatan historis tentang masa lalu dan melambangkan keterbatasan masa hidup manusia. Warisan sejarah yang mengganbarkan kebesaran atau peristiwa yang terjadi di zamannya. karena upaya pelestarian dapat menjadi kekuatan yang tepat dalam memulihkan kepercayaan masyarakat. manfaat pelestarian diantaranya : 1. 2.

Adanya bangunan bersejarah dengan bentuk arsitektur yang unik dan menarik dapat dijadikan studi perbandingan oleh para arsitek dan perencana kota dalam mendesain bangunan dan menata lingkungannya. 6. 7. Pelaksanaan upaya pelestarian bangunan bersejarah di beberapa negara telah menunjukan hasil yang tidak terlalu mengecewakan. selain terdapat manfaatnya ada juga berbagai masalah yang di hadapi. Pelestarian bangunan dan kawasan bersejarah dapat dijadikan paket wisata bagi turis asing dan lokal yang ingin mengenang peristiwa masa lalu. 2. terutama yang menyangkut masalah perkotaan.  Para developer dan ekonom memandang pelestarian sebagai suatu yang menghambat pertumbuhan alam dan perubahan dari suatu daerah kehidupan modern. 4. Sebagai bahan kajian yang sangat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan.  Di Inggris pelestarian dianggap menimbulkan destorsi terhadap situasi pasar sehingga mengurangi probabilitas kepentingan umum. 15 . Merupakan bukti hasil prestasi sejarah penataan kota di kota tersebut. Memperkaya seni budaya setempat dan nasional.2.3 Masalah Pelestarian Dalam pelaksanaan pelestarian bangunan dan kawasan bersejarah. 9. yang dapat menggambarkan jati diri bangsa. Beberapa masalah diantaranya:  :Pelestarian sering dianggap penghambat perubahan dan kemajuan baik dari segi material maupun imajinasi. Sebagai orientasi lokasi yang jelas bagi masyarakat sehingga mereka mengetahui di bagian mana mereka berada. Sebagai bukti kelengkapan sejarah perkembangan arsitektur di kota tersebut. 3. 8. Merupakan hasil prestasi sejarah arsitektur di kota tersebut. Banyak negara-negara Eropa yang merasakan keuntungan dari upaya pelestarian dengan mendapat tambahan pendapatan dari sektor pariwisata disamping terjaganya kesinambungan peninggalan sejarah elemen-elemen pembentuk citra dan estetika kota-kotanya. 10. Tetap terjaganya keutuhan elemen pembentuk citra dan estetika kota tersebut. 5.

Sebagai contoh. 2. upaya pelestarian bangunan hanya dianggap sebagai pekerjaan arkeolog dan tidak berkontribusi bagi pembangunan masa depan. maka memelihara warisan sejarah hanya dianggap pemborosan. Masalah Sosial dan Budaya Cara berpikir tentang pelestarian bangunan yang sempit dan naïf. 5. namun masih terdapat kelemahan pada faktor lingkup. pengawasan dan evaluasinya. 2.4 Kriteria Pelestarian 16 . warisan arsitektur lama adalah sumber ilham bagi ilmu pengetahuan untuk kini dan masa depan yang berkarakter dan jati diri yang khas serta selaras dengan lingkungan kultural maupun fisiknya.Menurut Iskandar dalam tulisannya “Problem Pelestarian Warisan Budaya“ (Konstruksi. Padahal. sanksi. Masalah Teknologi dan Sumber Daya Pelestarian bangunan khususnya untuk bangunan-bangunan monumental yang sudah tua membutuhkan anggaran dan teknologi yang tinggi. konservasi bangunan kolonial dinilai merendahkan martabat bangsa karena mengingat bahwa kita pernah dijajah. Upaya pelestarian bangunan bersejarah seolah berbenturan dengan orientasi mencari keuntungan ekonomi. 4. Masalah Historis Secara historis. sejarah dianggap masa lalu yang tidak memiliki makna apa-apa. Banyaknya pelanggaran terjadi dan peraturan serta sanksinya tidak memadai atau tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya untuk menangani pelanggaran itu. Mei 1996) mengemukakan beberapa masalah dalam pelestarian warisan budaya yang dapat diidentifikasi diantaranya : 1. kadangkadang diakibatkan oleh prasangka negatif dalam aspek sosial budaya atau bahkan religi. Masalah Hukum dan Peraturan Pemerintah Meskipun sudah ada peraturan menyangkut pelestarian lingkungan dan bangunan bersejarah. 3. Dalam kultur modern yang beriorentasi ke masa depan. Masalah Ekonomi Pelestarian bangunan bersejarah dianggap tidak efektif terhadap anggaran yang dikeluarkaan dan terlihat mewah.

Tolak ukur kelangkaan yang digunakan adalah bangunan dengan langgam arsitektur yang masih asli sesuai dengan asalnya. Penilaian estetika suatu bangunan sangat tergantung dari perasaan. dan benda bersejarah lainnya termasuk dalam obyek yang perlu dilestarikan. bagus . Dalam hal ini ragam/lagam yang spesifik yang pada arsitektur bangunan-bangunan bersejarah (Ellisa. Kriteria Umum Estetika Bangunan Istilah estetika dapat digunakan untuk mengganti pengertian indah.  Langgam arsitektur Kolonial tropis (langgam arsitektur Klasik yang telah diadaptasi dengan iklim tropis di Indonesia).4. situs. artefak. wajah bangunan dan tampak bangunan yang kita lihat dengan mata sebelum dirasakan kesan estetisnya dalam perasaan. Dalam menilai estetika suatu bangunan.Dalam menentukan apakah suatu bangunan. atau India. Contoh dari gaya/langgam arsitekutur tertentu (kejamakan) Kejamakan suatu bangunan dinilai dari seberapa jauh karya arsitetur tersebut mewakili suatu ragam atau jenis khusus yang spesifik. 1996) : 17 . mewakili kurun waktu sekurang-kurangnya 50 tahun. 1996) :  Langgam arsitektur Klasik/Kolonial (Neoklasik/ Art Deco/ Gothic/ Renaisans/ Romanik. pikiran. digunakan kriteriakriteria pelestarian. pengaruh lingkugan dan norma yang bekerja pada diri pengamat. 1990 : 96). Yang termasuk kategori langgam arsitektur yang masih asli (Ellisa. kawasan. Estetika suatu bangunan sangat terkait erat dengan penampilan bangunan. menarik atau mempesona (Lubis. Islam.  Langgam arsitektur Eklektik/Indisch Style (langgam arsitektur Klasik/Kolonial tropis yang mengandung unsur tradisional Melayu atau daerah lainnya di Indonesia). atau campuran diantaranya) Kelangkaan Kriteria kelangkaan menyangkut jumlah dari jenis bangunan peninggalan sejarah dari langgam tertentu.  3.1 1. Langgam arsitektur campuran (Klasik/Kolonial dengan Cina. Berikut terdapat kriteria-kriteria pelestarian diantaranya : 2. 2.

dalam hal ini arsitek yang berperan dalam perkembangan arsitektur di Indonesia pada masa Kolonial. 2. sehingga manusia akan merasakan keagungan dalam ruangan. Keistimewaan/Keluarbiasaan Tolak ukur yang digunakan untuk menilai keitimewaan/keluarbiasaan suatu bangunan adalah bangunan yang memiliki sifat keistimewaan tertentu sehingga memberikan kesan monumental. 5 Peranan sejarah Tolak ukur yang digunakan untuk menilai bangunan yang memilki peranan sejarah adalah :  Bangunan atau lokasi yang berhubungan dengan masa lalu kota dan bangsa. baik sejarah Kota Bandung. Gereja pertama.  6. tetapi bukannya merasa takut karena merasa kecil dan rapuh. Langgam arsitektur Malaka (Melayu-Cina) 6. dll). maupun sejarah perkembangan kota . Pengertian skala dalam arsitektur adalah suatu kualitas yang menghubungkan banguna atau ruang dengan kemampuan manusia dalam memahami bangunan atau ruang tersebut. Langgam arsitektur Klasik/Kolonial (Neoklasik/ Art Deco/ Gothic/ Renaisans/Romanik.1. Langgam arsitektur India 5.  Bangunan atau lokasi yang berhubungan dengan orang terkenal atau tokoh penting. Langgam arsitektur Cina 3. atau merupakan bangunan yang pertama didirikan untuk fungsi tertentu (misalnya Mesjid pertama. Sedangkan yang dimaksud dengan skala menumental adalah suatu skala ruang yang besar dengan suatu obyeknya yang mempunyai nilai tertentu. merupakan suatu peristiwa sejarah. Bangunan hasil pekerjaan seorang arsitek tertentu. Dengan melihat bangunan yang memiliki skala menumental diharapkan pengamat akan merasa terkesan (impressed) dan kagum. Nasional. Sekolah pertama. Penguat kawasan disekitarnya sejarah 18 . Langgam arsitektur Islam 4. Langgam arsitektur melayu 4. Kesan monumental suatu bangunan dinilai dari skala monumental yang dimiliki bangunan tersebut.

keindahannya. Kelangkaan : kelangkaan suatu jenis karya yang merupakan sisa warisan peninggalan terahir dari gaya tertentu yang mewakili jamannya dan tidak dimiliki daerah lain. Kejamakan : obyek yang akan dilestarikan mewakili kelas dan jenis khusus. struktur. meliputi bentuk.  Bentuknya istimewa karena besarnya. 4. 5. dimana kehadiran bangunan tersebut dapat meningkatkan mutu/kualitas dan citra lingkungan sekitarnya.  Sejarah perkembangannya yaitu semakin besar peristiwa sejarah yang terkait terhadapnya maka semakin mudah pula pengenalan terhadapnya. 1992 : 36). tinggi dan besar. 2. suatu peristiwa yang mencatat peran ikatan simbolis suatu rangkaian sejarah.Tolak ukur yang digunakan adalah bangunan yang menjadi landmark bagi lingkungannya. mewakili prestasi khusus atau gaya sejarah tertentu. Kriteria Menurut Para Ahli Menurut Catanese (dalam Pontoh. tata kota. panjangnya. 1992 : 79-83) :  Bangunan yang terletak disuatu tempat yang strategis dari segi visual. atau karena keunikan bentuk. yaitu di persimpangan jalan utama atau pada posisi “tusuk sate” dari suatu pertigaan jalan. 19 . ketinggiannya. semakin banyak orang yang menggunakannya maka akan semakin mudah pula pengenalan terhadapnya. Estetika : berkaitan dengan nilai arsitektural.  Jenis penggunaannya. dan babak perkembangan suatu kota. Tolak ukur kejamakan ditentukan oleh bentuk suatu ragam atau jenis khusus yang spesifik. gaya. Peranan sejarah : lingkungan kota atau bangunan yang memiliki nilai sejarah.2 1. 2. 3. kriteria yang perlu diperhatikan dalam menentukan obyek pelestarian mencakup : 1.4. Keistimewan memberi tanda atau ciri kawasan tertentu. Keluarbiasaan : suatu obyek konservasi yang memiliki bentuk menonjol. Beberapa keadaan yang dapat memudahkan pengenalan terhadap suatu bangunan sehingga dapat menjadi ciri dari suatu landmark antara lain adalah (lynch.

Memperkuat kawasan : kehadiran suatu obyek atau karya akan mempengaruhi kawasan-kawasan sekitarnya dan bermakna untuk meningkatkan mutu dan citra lingkungannya. Obyek juga merupakan tengeran 20 . 2. 4. Fungsi obyek dalam lingkungan kota. memiliki "mutu" cukup tinggi (master piece) dan mewakili gaya corak-bentuk seni arsitektur yang langka. 2. Sesuai dengan "Monumenten Ondonantie" tahun 1931. Kesejarahan (lokasi Peristiwa bersejarah yang penting). 2. Snyder dan Catanese (1979) Sebagai pengkajian suatu kawasan/bangunan kuno/bersejarah guna dikonservasi memiliki 6 (enam) tolak ukur yaitu dilihat dari segi : 1. Ditinjau dari segi estetika dan seni bangunan. 3. Superlativitas (tertua. yaitu bangunan yang sudah berumur 50 tahun atau lebih. Menurut Haryoto Kunto dalam buku "Wajah Bandoeng Tempo Doloe" 1. Monumen/Bangunan mempunyai anti dan kaitan sejarah dengan Kota Bandung. Suatu obyek yang unik dan karya yang mewakili gaya zaman tertentu. maupun peristiwa nasional/internasional.6. mewakili suatu jenis atau ragam bangunan tertentu). Nilai (value) dari obyek. dapat digunkan sebagai contoh suatu obyek konservasi. yang "kekunoannya" (antiquity) dan "keasliannya" telah teruji. terpanjang). 3. tidak memiliki oleh daerah lain). Estetika (memiliki keindahan bentuk. mencakup nilai estetik yang didasarkan pada kualitas bentuk maupun detilnya. Kejamakan (karya yang tipikal. tertinggi. Kelangkaan (karya sangat langka. struktur. Bangunan atau monumen. Kualitas Pengaruh (keberadaannya akan meningkatkan citra lingkungan sekitarnya). atau ornament). 3. 4. 2. yang representetif mewakili jamannya. 4. berkaitan dengan kualitas lingkungan secara menyeluruh. obyek merupakan bagian dari kawasan bersejarah dan sangat berharga bagi kota. Pontoh (1992 :37) Kriteria dalam memperimbangkan obyek yang akan dikonservasi dapat pula dikategorikan sebagai berikut 1.

meningkatkan vitalitas bahkan menghidupkan kembali keberadaannya yang memudar. 2. Karena menurut sejarah patut diperhatikan : bangunan yang memiliki kaitan dengan peristiwa atau tokoh sejarah tertentu. 3. cara kehidupan dan cara melakukan sesuatu pada sesuatu tempat dan suatu waktu tertentu. Karena tipikal : bangunan yang melambangkan tradisi kebudayaan. disamping memiliki proses pembentukan waktu yang lama atau keteraturan dan kebanggaan (elegance). Kriteria Arsitektural : suatu kota atau kawasan yang akan dipreservasikan atau konservasikan memiliki kriteria kualitas arsitektur yang tinggi. Kriteria Historis : kawasan yang dikonservasikan memiliki nilai historis dan kelangkaan yang memberikan inspirasi dan referensi bagi kehadiran bangunan baru. Attoe (dalam Catanese & Snyder 1992 : 423-424) Perbedaan kualitas dan tingkat pentingnya dalam menentukan obyek pelestarian didasarkan pada lima pertimbangan sebagai berikut : 1. Sesuatu obyek akan berkaitan erat dengan fase perkembangan wujud budaya tersebut. Kriteria Simbolis : kawasan yang memiliki makna simbolis paling efektif bagi pembentukan citra suatu kota. 2. Fungsi lingkungan dan budaya : penetapan kriteria konservasi tidak terlepas dari keunikan pola hidup suatu lingkungan social tertentu yang memiliki tradisi kuat. 3. dan lain-lain. yaitu mencerminkan kedaan sebenarnya. 4. bangunan bertingkat pertama. 3. Karena patut dicontoh : bangunan yang merupakan hasil karya besar dengan prestasi khusus untuk golongannya dan karena keistimewaannya ini patut dicontoh. Karena dianggap yang pertama : bangunan yang dianggap sebagai bangunan yang pertama dibangun. yaitu bagian kota atau wilayah. misalnya gereja pertama.(landmark) yang memperkuat karakter kota yang memiliki keterkaitan emosional dengan warga setempat. 21 . Untuk skala yang lebih luas. kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan obyek pelestarian adalah (Pontoh. 5. 1992 : 37) : 1.

2. fasade bangunan. daerah pertanian hutan. 3. Kota dan desa Garis langit (sky line) dan koridor pandang (view corridor). Lingkungan alami seperti kawasan pesisir. 2.5 Lingkup Kegiatan Pelestarian Lingkup kegiatan pelestarian mencakup objek-objek yang dianggap sesuatu yang patut dijaga karena terdapat nilai-nilai ilmu pengetahuan dan manfaat lain bagi kehidupan umat manusia sehingga ditetapkan sebagai objek pelestarian. kawasan arkeologi dan sebagainya. trem listrik. 4. 4. 7. 6. mengklasifikasikan objek pelestarian secara lebih bervariasi. kereta kabel. 22 . bagian tembok kota. Kota dan Desa (Town and Villages) seperti Williamsburg. melainkan mencakup : 1. dan sebagainya. Kawasan (Districts) seperti kawasan yang mewakili gaya tradisi tertentu yang dilindungi terhadap kehancuran dan penambahan figure-figur baru. Deerfield. Kawasan yang mewakili gaya tradisi tertentu dan patut dilindungi. Lingkup pelestarian tidak hanya terbatas pada bangunan. Garis cakrawala dan koridor pandang (Skylines and View Corridor) seperti pengendalian terhadap ketinggian bangunan dan pengarahan pandangan terhadap ‘view’ dan ‘vista’ yang baik. 3. daerah pesisir. Lingkungan alami (Natural Area) . Berikut lingkup kegiatan pelestarian diantara : 1. Attoe (1986).5. daerah archeologis dan lain-lain. Benda dan penggalan seperti puing-puing akibat ledakan. 2. kehutanan. Bangunan (Buildings) merupakan obyek pelestarian yang paling tua dan paling lazim. Karena langka : bangunan yang unik dan langka dan merupakan warisan terahir dari suau tipe bangunan. 5. dan Nantucket di USA atau west Wycmbe dan Lacock di Inggris. Wajah jalan (Street-Scapes) seperti pelestarian fasade bangunan-bangunan dan perlengkapan jalan.

Benda seperti puing sejarah. Bangunan tua yang memenuhi kriteria untuk dilestarikan.5. 7. Wajah jalan (streetscape) seperti pelestarian fasade bangunan dan kelengkapan jalan. 6. 23 . kereta kabel dan sebagainya yang memiliki arti penting. trem listrik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->