P. 1
Matematika_1

Matematika_1

|Views: 13|Likes:
Published by Ramadhoni Mardi

More info:

Published by: Ramadhoni Mardi on Jun 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2013

pdf

text

original

Ringkasan Materi Soal-soal dan Pembahasan

MATEMATIKA SD Kelas 4, 5, 6
1

Matematika A. Operasi Hitung Bilangan ......................................................................... 3 B. Bilangan Ribuan ....................................................................................... 5 C. Perkalian dan Pembagian Bilangan ..................................................... 6 D. Kelipatan dan Faktor Bilangan . ............................................................. 10 E. Pengukuran .............................................................................................. 13 F. Segitiga dan Jajaran Genjang .............................................................. 16 G. Bilangan Pecahan ................................................................................... 19 H. Bilangan Romawi ..................................................................................... 24 I. Bangun Datar dan Bangun Ruang ........................................................ 26 J. Perhitungan Bilangan Bulat .................................................................... 29 K. Waktu ........................................................................................................ 31 L. Membuat dan mengukur Sudut dengan Penggaris Busur ................. 32 M. Jarak dan Kecepatan ............................................................................. 33 N. Trapesium dan Layang–layang . ............................................................ 35 O. Volume ...................................................................................................... 36 P. Pecahan ................................................................................................... 37 Q. Sifat-sifat Bangun Datar .......................................................................... 39 R. Sifat-sifat bangun ruang . ........................................................................ 40 S. Kesebangunan . ....................................................................................... 41 T. Bilangan Pangkat Tiga ............................................................................ 42 U. Luas Bangun Ruang . ............................................................................... 43 V. Luas Bangun Datar .................................................................................. 45 W. Penyajian Data ........................................................................................ 46 X. Bilangan Kordinat . ................................................................................... 47

2

MATEMATIKA
A. Operasi Hitung Bilangan
1. Sifat Pertukaran (Komutatif) Dalam penjumlahan dan perkalian bilangan berlaku sifat pertukaran atau sifat komutatif, yaitu: a+b=b+a a×b=b×a 2. Sifat Pengelompokan (Asosiatif) Dalam penjumlahan dan perkalian bilangan berlaku sifat pengelompokan atau sifat asosiatif, yaitu: (a + b) + c = a + (b + c) (a × b) × c = a × (b × c)

3

1. Sifat Penyebaran (Distributif) sifat penyebaran atau sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan dan perkalian terhadap pengurangan sebagai berikut. a × (b + c) = (a × b) + (a × c) a × (b – c) = (a × b) – (a × c)

Contoh: a. 210 + 306 = 306 + 210 = 516 (sifat komutatif) b. (4 × 5) × 10 = 4 × (5 × 10) = 4 × 50 = 200 (sifat asosiatif) c. (9 × 13) – (9 × 3) = 9 × (13 – 3) = 9 × 10 = 90 (sifat distributif) d. 25 × 999 = 25 × (1.000 – 1) = (25 × 1.000) – (25 × 1) = 25.000 – 25 = 24.975 (sifat distributif) e. 200 + 416 + 300 = 200 + 300 + 416 (sifat komutatif) = (200 + 300) + 416 (sifat asosiatif) = 500 + 416 = 916

4

Jika sama. B.A. Jika sama. bandingkan angka ratusan. Bilangan Ribuan Bilangan yang terdiri dari 4 angka disebut bilangan ribuan. Membandingkan dan Mengurutkan Bilangan: Bandingkan angka ribuan. Jika sama. maka dua bilangan yang kita bandingkan sama nilainya. bandingkan angka satuan. 5 . Jika keempat angka tersebut sama. bandingkan angka puluhan.

Dengan definisi perkalian sebagai penjumlahan yang berulang. semua kaleng isinya sama. Berapa banyaknya biskuit Nadine pemberian ibu? Banyaknya biskuit Nadine dapat kita cari dengan perkalian bilangan 8 x 20. Menurut ibu. = 20 × 8 = 160 6 .C. Setelah dibuka satu kaleng ternyata berisi 20 biskuit. 1. Dengan perkalian langsung dapat kita tuliskan 8 × 20 = 20 × 8 (sifat komutatif perkalian). Perkalian dan Pembagian Bilangan • Operasi Perkalian Nadine mempunyai 8 kaleng biskuit pemberian ibu. maka bentuk perkalian tersebut dapat kita tuliskan: 8 × 20 = 20 + 20 + 20 + 20 + 20 + 20 + 20 + 20 = 160 2.

Bandingkan dengan pembagian bilangan 21 oleh bilangan 6 berikut ini. Cara membagi bilangan15 dengan 5 adalah dengan mengurangi secara berulang. 3 1 21 : 6 = 3 (sisa 3) = 3 = 3 Bentuk tersebut dinamakan 6 2 pecahan campuran 7 .• Operasi Pembagian Pembagian dikenal sebagai pengurangan yang berulang oleh bilangan pembagi terhadap bilangan yang dibagi. a. Hasil pembagian bersisa dituliskan sebagai berikut. 15 – 5 = 10 10 – 5 = 5 5–5=0 Dalam operasi pembagian dituliskan: 15 : 5 = 3 Pembagian ini dinamakan pembagian tanpa sisa. b. 21 – 6 = 15 15 – 6 = 9 9–6=3 Dalam operasi pembagian dituliskan: 21 : 6 = 3 (sisa 3) Pembagian tersebut dinamakan pembagian bersisa.

Jika dalam operasi hitung campuran terdapat tanda kurung. -. . Urutan pengerjaannya mulai dari kiri. -.750 : 25 = .000 : 20 = 50 8 . . . . maka mempunyai tingkatan yang lebih tinggi.Operasi perkalian dan pembagian adalah setingkat. Contoh : 1) 12 × 10 – 1. Jawab: 12 × 10 – 1. Jawab: (640 + 360) : 20 = 1. maka operasi hitung yang di dalamnya dikerjakan paling awal.Operasi penjumlahan dan pengurangan adalah setingkat. .• Operasi Hitung Campuran -. Sehingga operasi hitung perkalian dan pembagian harus didahulukan daripada penjumlahan dan pengurangan -.750 : 25 = (14 × 10) – (1.Operasi hitung perkalian dan pembagian berasal dari penjumlahan dan pengurangan yang berulang. Urutan pengerjaannya mulai dari kiri.750 : 25) = 120 – 70 = 50 2) (640 + 360) : 20 = . .

9). 3. 2. 4. maka bilangan dibulatkan ke atas (satuan ditambah 1). • Taksiran Atas Taksiran atas dilakukan dengan membulatkan ke atas bilanganbilangan dalam operasi hitung. 7. 8.7 dibulatkan menjadi 9. 9 . Contoh: 4. 8.• Pembulatan dan Penaksiran 1. • Taksiran Bawah Taksiran bawah dilakukan dengan membulatkan ke bawah bilanganbilangan dalam operasi hitung • Taksiran Terbaik Taksiran terbaik dilakukan dengan membulatkan bilangan-bilangan dalam operasi hitung menurut aturan pembulatan.4 kurang dari 5 (dibulatkan ke bawah) Jadi. Jika angka tersebut kurang dari 5 (1. 4). 6. 2.4 dibulatkan menjadi 4 3. Jika angka tersebut paling sedikit 5 (5. Kita perhatikan angka pada persepuluhan (di belakang koma). 7 lebih dari 5 (dibulatkan ke atas) Jadi. maka bilangan dibulatkan ke bawah (dihilangkan). Contoh: 8 .

3. 18. 2. Contoh: kelipatan persekutuan dari 3 dan 6 adalah 6. 8. 10. 4. 6. Kelipatan dan Faktor Bilangan 1. 2. Contoh: 2. dan seterusnya... Faktor adalah pembagi dari suatu bilangan. Contoh: faktor dari bilangan 4 adalah 1. 12. Kelipatan persekutuan dari dua bilangan adalah kelipatan-kelipatan dari dua bilangan tersebut yang bernilai sama. dan 4 10 .. . 3.D. dan seterusnya. Bilangan kelipatan 2 diperoleh dengan menambahkan 2 dari bilangan sebelumnya atau mengalikan 2 dengan bilangan 1. 12. 2. yaitu bilangan yang membagi habis bilangan tersebut.

11 .4. 5. b.. Faktor persekutuan dari dua bilangan adalah faktor-faktor dari dua bilangan tersebut yang bernilai sama. 6. .. Bilangan prima adalah bilangan yang hanya mempunyai 2 faktor. Contoh: KPK dari 8 dan 12 adalah 24. 5. 7.. a. 3. Mencari kelipatan tiap-tiap bilangan. Cara mencari KPK dari beberapa bilangan sebagai berikut. Mengalikan faktor-faktor prima yang berbeda 7. Contoh: faktor persekutuan dari 4 dan 8 adalah 1 dan 2. Contoh: bilangan prima meliputi 1. yaitu bilangan 1 dan bilangan itu sendiri. Kelipatan persekutuan terkecil (KPK) dari dua bilangan adalah kelipatan persekutuan bilangan-bilangan tersebut yang nilainya paling kecil.

2. 12 . Memfaktorkan secara langsung. b.1. Mengalikan faktor prima yang sama dan berpangkat terkecil. Contoh: FPB dari 12 dan 15 adalah 3. a. Kelipatan persekutuan terbesar (FPB) dari dua bilangan adalah faktor persekutuan bilangan-bilangan tersebut yang nilainya paling besar. Cara mencari FPB dari beberapa bilangan sebagai berikut.

13 .E. Pengukuran 1) Mengukur besar suatu sudut dengan sudut lain dapat dilakukan dengan sudut satuan (satuan tak baku) dan busur derajat (satuan baku). 2) Sudut setengah putaran (180°) disebut sudut lurus. 3) Sudut seperempat putaran (90°) disebut sudut siku-siku.

4) Hubungan antar satuan panjang 5) Hubungan antar satuan berat 6) Satuan kuantitas dan hubungannya 1 lusin = 12 buah 1 gros = 12 lusin 1 kodi = 20 lembar 1 rim = 500 lembar 14 .

7) Arah mata angin 8) Macam-macam sudut 15 .

Keliling = AB + BC + CA 16 .F. Segitiga dan Jajaran Genjang 1) Keliling segitiga adalah jumlah panjang sisi-sisinya.

1 1 Luas = AB × BC = alas × tinggi 2 2 3) Keliling jajar genjang adalah jumlah panjang sisi-sisinya. Keliling = AB + BC + CD + DA = 2 × (BC + AB) 17 .2) Luas segitiga adalah setengah dari luas persegi panjang.

18 .1) Luas jajar genjang = alas × tinggi.

G. 19 . Bilangan Pecahan 1) Letak pecahan pada garis bilangan.

Contoh: a. Pecahan paling sederhana diperoleh dengan membagi pembilang dan penyebutnya dengan FPB kedua bilangan tersebut. 2 4 < 1 3 2 3 3) Urutan pecahan dari yang terkecil pada garis bilangan di atas adalah: 1 4 < 1 1 < 2 < 3 2 < 3 3 4 4) Pecahan yang paling sederhana adalah pecahan yang pembilang dan penyebutnya tidak dapat dibagi dengan bilangan yang sama. Contoh: 12 16 20 30 = 12 : 4 = 3 16 : 4 4 = 20 : 10 = 2 30 : 10 3 20 . 1 < 4 b.2) Untuk membandingkan pecahan dapat dilihat letaknya pada garis bilangan.

Samakan penyebutnya dengan KPK kedua bilangan. Kemudian tuliskan hasilnya dalam bentuk paling sederhana.5) Penjumlahan pecahan yang berpenyebut sama. a. Jumlahkan pecahan baru seperti pada penjumlahan pecahan berpenyebut sama. Contoh: 1 1 3 4 3+4 7 + = + = = 4 3 12 12 12 12 7) Pengurangan pecahan yang berpenyebut sama dilakukan dengan mengurangkan pembilang-pembilangnya. sedangkan penyebutnya tetap. Contoh: 5 _ 1 5-1 4 1 = = = 8 8 8 8 2 21 . b. Contoh: 1+3 1 3 = = + 5 5 5 4 5 6) Penjumlahan pecahan yang berpenyebut berbeda dilakukan dengan aturan berikut ini. dilakukan dengan menjumlahkan pembilang-pembilangnya. sedangkan penyebutnya tetap. Kemudian tuliskan hasilnya dalam bentuk paling sederhana.

Pecahan-pecahan yang penyebutnya tidak sama.8) Aturan pengurangan pecahan yang berbeda penyebutnya. tinggal mengurutkan pembilangnya. b. Pecahan-pecahan yang bentuknya tidak sama. d. b. Contoh: 2 _ 1 2x2 _ 1x3 4 _ 3 4x3 1 = = = = 3 2 6 6 6 6 6 6 9) Cara mengurutkan pecahan a. Pecahan-pecahan yang penyebutnya sama. Pecahan-pecahan yang berbentuk desimal dibandingkan menurut nilai tempatnya. a. Kurangkan pecahan baru seperti pada pengurangan pecahan berpenyebut sama. harus disamakan penyebutnya. 22 . harus disamakan bentuknya. c. Samakan penyebut dengan KPK kedua bilangan.

10) Cara menentukan hasil pengerjaan hitung berbagai bentuk pecahan a. Samakan dahulu bentuk pecahannya. 11) Membulatkan sampai dua desimal artinya membulatkan sampai dua angka di belakang tanda koma. 23 . Agar hasil pengerjaannya tepat. b. samakan bentuk pecahan dalam pecahan biasa. 12) Perbandingan dapat dibuat dalam bentuk pecahan dan skala. Misalkan ada pecahan yang pembagian pembilang dengan penyebutnya tidak berakhir. bisa dalam desimal atau pecahan biasa.

I melambangkan bilangan 1 V melambangkan bilangan 5 X melambangkan bilangan 10 L melambangkan bilangan 50 C melambangkan bilangan 100 D melambangkan bilangan 500 M melambangkan bilangan 1.000 24 .H. Bilangan Romawi 1) Lambang bilangan Romawi adalah sebagai berikut.

maka lambang-lambang bilangan Romawi tersebut dijumlahkan. Contoh: IX = X – I = 10 – 1 = 4 4) Aturan gabungan XIV = X + (V – I) = 10 + (5 – 1) = 14 Jadi. 3) Jika lambang yang menyatakan angka lebih kecil terletak di kiri. Pengurangan paling sedikit satu angka. maka lambang-lambang bilangan Romawi tersebut dikurangkan. XIV dibaca 14. Contoh: CXXV = C + X + X + V = 100 + 10 + 10 + 5 = 125 Jadi. Jika lambang yang menyatakan angka lebih kecil terletak di kanan.2) Membaca bilangan Romawi dapat diuraikan dalam bentuk penjumlahan. CXXV dibaca 125. 5) Menuliskan bilangan Romawi Contoh: 74 = 70 + 4 = 50 + 10 + 10 + (5 – 1) = LXXIV 25 .

baik bentuk maupun besarnya.I. 26 . Sedangkan tidak simetris disebut benda asimetris. 2) Garis lipat yang menentukan benda simetris disebut garis simetri atau sumbu simetri. Bangun Datar dan Bangun Ruang 1) Benda simetris adalah benda yang dapat dilipat (dibagi) menjadi dua bagian yang sama persis.

Ada 6 sisi bangun ruang. Bentuk dan ukuran bayangan sama persis dengan benda. Sisi-sisi kubus berbentuk persegi yang berukuran sama. c. b. b. Bayangan dan benda saling berkebalikan sisi (kanan kiri atau depan belakang). a. Jarak bayangan dari cermin sama dengan jarak benda dari cermin. Ada 8 titik pada bangun ruang kubus. d. Ada 12 rusuk. Contoh: 4) Sifat kubus a. c. sehingga dikatakan bayangan simetris dengan benda (cermin sebagai simetri). 27 .3) Sifat bayangan benda yang dibentuk oleh cermin.

7) Balok adalah sebuah benda ruang yang ditutup oleh enam buah persegi yang terdiri dari tiga pasang sisi yang berhadapan. yang panjang rusuk tiap pasangan berbeda dengan pasangan lainnya. 8) Gabungan dari beberapa persegi yang membentuk kubus dinamakan jaring-jaring kubus. 6) Balok adalah sebuah benda ruang yang ditutup oleh enam buah persegi yang terdiri dari tiga pasang sisi yang berhadapan. Jaring-jaring balok adalah gabungan dari beberapa persegi panjang membentuk balok.5) Kubus adalah sebuah benda ruang yang ditutup oleh enam buah persegi yang berukuran sama dan mempunyai panjang rusuk sama. 28 . yang panjang rusuk tiap pasangan berbeda dengan pasangan lainnya.

000 0 -3.J. 7. Perhitungan Bilangan Bulat 1) Penjumlahan bilangan bulat dapat dilakukan dengan bantuan garis bilangan..000 = 7..000 + 7.000 ► ► -3. Contoh: –3.000 + 10.000 + 10.000 29 .000 ► ► ► .

yaitu mengubah pengurangan menjadi penjumlahan dengan lawannya bilangan pengurang.1) Pengurangan bilangan bulat dapat diubah menjadi penjumlahan bilangan bulat. 82 = 64 berarti = √64 8 30 . 2) Kuadrat suatu bilangan diperoleh dengan mengalikan bilangan itu dengan dirinya sendiri. 82 = 8 x 8 = 64 ► disebut bilangan kuadrat ► di baca 8 kuadrat atau 8 pangkat dua 3) Lawan dari kuadrat yaitu akar kuadrat dan dilambangkan .

Dua jam yang lalu pukul (11.00 siang penulisan waktu dilanjutkan pukul 13.00 tengah malam kemudian dilanjutkan pukul 01.00 + 12.00. waktu dimulai pukul 00.K.00.00.00) = pukul 13.00 + 02.00. Dalam satu hari. pukul 14. Dua jam yang akan datang pukul (11. 3) • • • • • • 1 menit = 60 detik 1 jam = 60 menit 1 hari = 24 jam 1 minggu = 7 hari 1 tahun = 365 hari 1 abad = 100 tahun 31 • • • • • • 1 bulan = 4 minggu 1 bulan = 30 hari 1 tahun = 12 bulan 1 tahun = 52 minggu 1 windu = 8 tahun 1 dasawarsa = 10 tahun . Pukul sepuluh malam ditulis pukul (10. Waktu 1) Dalam satu hari ada 24 jam.00) = pukul 09.00 siang.00 – 02. Setelah pukul 12. Contoh: Pukul sepuluh pagi ditulis pukul 10.00.00) = pukul 22.00. dan seterusnya sampai pukul 24. Waktu yang akan datang = waktu sekarang + lama waktu Waktu yang lalu = waktu sekarang – lama waktu Lama waktu = waktu sekarang – waktu yang lalu Contoh: Sekarang pukul 11. 2) Menentukan waktu dan lama waktu.00.00.00 sampai pukul 12.

sehingga skala 0° berimpit dengan kaki OA. • Terlihat besar sudut AOB adalah 60°.L. 32 . Membuat dan Mengukur Sudut dengan Penggaris Busur • Impitkan pusat busur dengan titik sudut. • Bacalah tepi skala pada kaki sudut lainnya (OB). • Impitkan garis alas busur dengan kaki sudut OA.

jika naik satu tangga maka dibagi 10 dan jika turun satu tangga maka dikalikan dengan 10 km hm dam m dm cm mm 33 .M. Jarak dan Kecepatan Urutan dari km hingga mm.

dekameter (dam).1) Jarak sama dengan panjang lintasan yang dilalui. waktu jarak atau Waktu = kecepatan 4) Misal kecepatan = v. jarak Kecepatan = . dan milimeter (mm). dan waktu tempuh = t. desimeter (dm). m/detik. Satuan jarak yaitu: kilometer (km). atau Jarak = kecepatan × waktu. meter (m). jarak yang ditempuh = s. 2) Satuan kecepatan adalah satuan jarak satuan waktu 3) Satuan kecepatan yang biasa digunakan km/jam. dan cm/ detik. hektometer (hm). rumus kecepatan dapat ditulis: v= s t 34 . sentimeter (cm).

Trapesium dan Layang-layang 35 .N.

Volume 1) Kubus yang panjang rusuknya s mempunyai volume: V = s × s × s 2) Balok yang mempunyai panjang = p.O. lebar = l. dan tinggi = t. mempunyai volume: V=p×1×t Menentukan panjang balok: p = v lxt 36 .

Pembagian pecahan desimal dapat dilakukan dengan cara susun. 3) Penjumlahan dan pengurangan pecahan biasa dapat dilakukan apabila penyebutnya disamakan terlebih dahulu. Misalnya 3%. Pecahan 1) Persen berarti per seratus dan dilambangkan dengan %. artinya 3/100 . Pengerjaan hitung pecahan desimal ini dapat dilakukan dengan cara susun. Setelah itu bandingkan pembilangnya. 6) Suatu perbandingan biasa ditulis dalam bentuk pecahan yang paling sederhana. 5) Menentukan hasil pembagian yaitu kalikan bilangan yang dibagi dengan kebalikan pembagi. 37 . caranya yaitu samakan penyebutnya terlebih dahulu.P. Adapun pada perkalian pecahan desimal dapat dilakukan dengan cara susun. 2) Dalam membandingkan pecahan biasa. pembilang dikalikan pembilang dan penyebut dikali penyebut. 4) Pada perkalian dua pecahan biasa. Pada penjumlahan dan pengurangan pecahan desimal harus memperhatikan nilai tempat.

1 : 2500 pembanding paling sederhana selalu ditulis 1 2) Menentukan skala sama dengan membandingkan ukuran gambar dengan ukuran sebenarnya dalam bentuk paling sederhana.1) Skala dapat dijumpai pada peta atau denah. . Skala = jarak pada peta jarak sebenarnya 38 . . . Penulisan skala 1 : .

Trapesium 4. Lingkaran 6. Belah ketupat • Mempunyai tiga sisi • Mempunyai tiga sudut • Mempunyai empat sisi dengan sisi yang sejajar sama panjang. Layanglayang 39 . Persegi panjang 3. Jajar genjang 5. Segitiga 2. dua diantaranya sejajar • Mempunyai empat sudut • Mempunyai empat sisi dengan pasangan sisi yang sejajar sama panjang • Mempunyai empat sudut dengan sudut yang berhadapan sama besar • Keempat sudutnya tidak siku-siku • Jarak setiap titik pada sisi dengan pusat lingkaran selalu sama • Mempunyai empat sisi sama panjang • Kedua diagonalnya berpotongan tegak lurus dan saling membagi dua sama panjang • Mempunyai dua sunbu simetri • Mempunyai empat sisi yaitu dua pasang sisi yang berdekatan sama panjang • Diagonalnya berpotongan tegak lurus dan salah satunya sebagai sum bu simetri Sifat-sifat 7. • Mempunyai empat sudut siku-siku • Mempunyai empat sisi.Q. Sifat-sifat Bangun Datar Nama Bangun 1.

R. yaitu sisi alas. dan selimut Sisi alas dan sisi atas berbentuk lingkaran dengan ukuran sama dan sejajar Sisi alas dan sisi atas sejajar dan mempunyai bentuk dan ukuran sama Sisi-sisi tegak berbentuk persegi panjang Sisi alas berbentuk lingkaran Selimutnya mengerucut ke atas Sisi-sisi tegak berbentuk segitiga Rusuk-rusuk tegak bertemu disatu titik 40 . Prisma 3. Limas Sifat-sifat Mempunyai tiga sisi. Kerucut 4. sisi atas. Sifat-sifat Bangun Ruang Nama Bangun 1. Tabung • • • • • • • • 2.

2) Suatu bangun datar dikatakan mempunyai simetri lipat jika bangun tersebut dilipat maka sisi-sisi lipatannya saling berimpit dengan tepat. Kesebangunan 1) Dua bangun dikatakan sebangun jika perbandingan sisi-sisi yang bersesuaian sama dan sudut-sudut yang bersesuaian sama besar. 41 . Bangun datar tersebut dikatakan mempunyai simetri putar tingkat n. Bekas lipatan tersebut disebut sumbu simetri. berarti bangun tersebut mempunyai n sumbu simetri. 3) Suatu bangun datar dapat dilipat dengan tepat sebanyak n cara.S. 4) Bangun datar diputar satu putaran dapat menempati bingkainya sebanyak n kali.

Bilangan Pangkat Tiga Bilangan Kubik Dasar 13 = 1 23 = 8 3 3 = 27 4 3 = 64 5 3 = 125 3 6 =216 7 3 =343 8 3 =512 9 3 =729 103 =1. 4) Panjang rusuk kubus sama dengan akar pangkat tiga dari volumenya 42 .000 Akar Pangkat Tiga Dari Bilangan Kubik √1 =1 3 =2 √8 3 =3 √27 3 =4 √64 3 √125 = 5 3 √216 = 6 3 √343 = 7 3 √512 = 8 3 √729 = 3 3 √1.T.000 = 10 3 1) Suatu bilangan dipangkatkan tiga berarti bilangan tersebut dikalikan berturut-turut sebanyak tiga kali. 2) Kebalikan dari pangkat tiga yaitu akar pangkat tiga dan dilambangkan 3) Akar pangkat tiga dapat dicari menggunakan faktorisasi prima.

Luas Bangun Ruang 43 .U.

44 .

V. Luas Bangun Datar 45 .

2) Tabel dan diagram berguna untuk memudahkan membaca data yang terlalu banyak. d. Data yang paling banyak muncul. 7) Rata-rata = jumlah data/banyak data. Nilai tertinggi. Penyajian Data 1) Data dapat dikumpulkan dengan wawancara. Membuat tabel sesuai dengan data yang diurutkan. b. Mengurutkan data. diagram batang. 6) Median adalah data yang ada di tengah setelah data diurutkan. c. atau mengambil dari suatu hasil laporan yang telah dibuat. 5) Modus adalah data yang paling sering (paling banyak) muncul. pengukuran. Jumlah data. Ada tiga jenis diagram yaitu diagram garis. 3) Langkah-langkah menyajikan data dalam tabel. Nilai terendah. 46 . a. b.W. dan diagram lingkaran. 4) Dari data yang disajikan dalam tabel/diagram dapat diketahui beberapa hal sebagai berikut: a.

Misalnya: Titik K (2. Misalnya: Letak Gunung Merapi (110°BT – 111°BT. 3) maka absisnya 2 dan ordinatnya 3. y). Bilangan Kordinat 1) Menentukan letak benda pada suatu tempat dibutuhkan suatu titik acuan. 7°LS – 8°LS). 3) Bidang koordinat terdiri atas sumbu tegak (sumbu Y) dan sumbu mendatar (sumbu X). x disebut absis dan y disebut ordinat. 47 . 4) Setiap titik pada bidang koordinat diwakili oleh pasangan bilangan (x. 2) Letak suatu tempat pada peta dinyatakan dengan garis bujur dan garis lintang.X.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->