PERAN GURU TERHADAP KESIAPSIAGAAN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR DI KELURAHAN SEWU KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Geografi

Diajukan Oleh : IMAM BASHORI A 610080001

Kepada : FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA TAHUN 2013

PERSETUJUAN PERAN GURU TERHADAP KESIAPSIAGAAN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR DI KELURAHAN SEWU KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA

Diajukan Oleh : IMAM BASHORI A 610080001

Disetujui Untuk Dipertahankan Dihadapan Dewan Penguji Skripsi Sarjana Strata - 1

Mengetahui, Pembimbing,

Drs. Dahroni, M.Si. NIK.146 Tanggal, 10 April 2013

ii

SKRIPSI PERAN GURU TERHADAP KESIAPSIAGAAN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR DI KELURAHAN SEWU KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA

Yang dipersiapkan dan disusun oleh: Imam Bashori A.610080001 Telah dipertahankan di depan dewan penguji Pada tanggal, 10 Mei 2013 dan dinyatakan telah memenuhu syarat,

1. Drs. Dahroni, M.Si 2. Drs. Suharjo, M.S 3. M. Amin Sunarhadi, S.Si.MP

( ( (

) ) )

Surakarta, 11 Juni 2013 Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dekan,

iii

PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka Apabila ternyata kelak terbukti ada ketidak benaran dalam pernyataan saya diatas, maka saya akan bertanggung jawab sepenuhnya.

Surakarta, 7 April 2013

IMAM BASHORI A.610080001

iv

MOTTO

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu selesai dari suatu urusan kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah kamu berharap. (Q.s.Al-Insyiroh : 6-8)

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. ( QS. Ar-Ra’d : 11 )

Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan, jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah sekitar anda dengan penuh kesadaran. (James Thurber)

Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah. (Thomas Alva Edison)

Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh. (Confusius)

Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, hidup ditepi jalan dan dilempari orang dengan batu, tetapi dibalas dengan buah. (Abu Bakar Sibli)

Dalam hidup manusia hanya memiliki dua pilahan yang harus diambil, yaitu hidup sebagai pengikut atau hidup sebagai pemimpin. (Penulis)

v

PERSEMBAHAN

Dengan

mengucapkan rasa syukur kehadirat

Allah SWT,

akan

kupersembahkan skripsi ini dengan tulus kepada : 1. 2. Bapak dan ibuku tercinta (Parno & Juariyah). Kedua saudaraku yang selalu memberikan inspirasi dan semangat (Anshori & M. Azuar Anas). 3. 4. Dosen dan guru yang kuhormati. Kawan-kawan angkatan 2008 Pendidikan Geografi yang selalu bersamasama dalam suka dan duka (Rouf, Intan, Tari dan Vuri). 5. Almameter UMS yang kubanggakan.

vi

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, Alkhamdulillah, dengan ridho Allah SWT penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Peran Guru Terhadap Kesiapsiagaan Sekolah Dalam Menghadapi Bencana Banjir Di Kelurahan Sewu Kecamatan Jebres Kota Surakarta”. Penyusunan skripsi ini bukan hanya usaha dan doa penulis semata, namun tidak lepas dari bantuan berbagai pihak guna menyelesaikan penelitian ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Ibu Dra. N. Setyaningsih, M.Si, selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta yang telah berkenan memberikan izinnya kepada penulis dalam melakukan penelitian. 2. Bapak Drs. Suharjo, M.S. selaku Kaprogdi Pendidikan Geografi, terima kasih atas tuntunan dan bimbingann akademis yang selama ini diberikan. 3. Bapak Drs. Dahroni, M.Si selaku pembimbing, terima kasih atas kesabaran dalam membimbing penulis hingga terselesaikannya skripsi ini. 4. Bapak M Amin Sunarhadi, S.Si, M.P selaku Sekretaris Progdi Pendidikan Geografi, terimakasih atas saran dan motivasinya selama penyususunan skripsi ini. 5. Seluruh dosen Pendidikan Geografi yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terimakasih atas semua ilmu yang diberikan selama ini.

vii

6. Yth. Bapak dan Ibu guru di SD N Kampung Sewu 25, SD N Karengan 124 dan SMP MIS Surakarta yang telah memberikan izin dan membantu pelaksanaan penelitian ini. 7. Ayahanda dan Ibunda yang telah memberikan semangat do'a, moril maupun materiil yang sangat berharga. 8. Orang-orang yang selalu ada dalam setiap kesempatan untuk membagi waktu dan senyum (Nia & Fitri). 9. Teman-teman seperjuangan di Program Studi Pendidikan Geografi FKIP UMS khususnya Angkatan 2008. 10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang membantu dan memberikan semangat selama penyusunan karya tulis ilmiah. Penulis menyadari masih banyak kekurangan, meskipun telah berusaha semaksimal untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga laporan penelitian ini bermanfaat dan sumbangan pikiran untuk masa yang akan datang. Akhirnya, penulis hanya mengharapkan semoga Allah SWT memberikan balasan atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Wassalamu’alaikumWr.Wb

Surakarta, 7 April 2013

Penulis

viii

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................... HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................... HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... PERNYATAAN .......................................................................................... MOTTO ...................................................................................................... PERSEMBAHAN ...................................................................................... KATA PENGANTAAR .............................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................... DAFTAR TABEL ....................................................................................... DAFTAR GAMBAR ................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... ABSTRAK .................................................................................................. BAB I. PENDAHULUAN .................................................................... A. Latar Belakang Masalah ........................................................ B. Identifikasi Masalah .............................................................. C. Pembatasan Masalah ............................................................. D. Perumusan Masalah .............................................................. E. Tujuan Penelitian .................................................................. F. Manfaat Penelitian ................................................................ BAB II. LANDASAN TEORI .............................................................. A. Tinjauan Pustaka ................................................................... B. Kerangka Penelitian .............................................................. i ii iii iv v vi vii ix xi xii xiii xiv 1 1 5 6 6 6 7 8 8 21

ix

C. Hipotesis ............................................................................... BAB III. METODE PENELITIAN ..................................................... A. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................. B. Populasi, Sampel, dan Sampling ............................................. C. Variabel Penelitian ................................................................. D. Teknik Pengumpulan Data ..................................................... E. Teknik Uji Persyaratan Analisis ............................................. F. Teknik Analisi Data ............................................................... BAB IV. HASIL PENELITIAN .......................................................... A. Deskripsi Data........................................................................ B. Pengujian Persyaratan Analisis ............................................... C. Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ................................... D. Pembahasan Hasil Analisis Data ............................................ BAB V. KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ........................ A. Kesimpulan ............................................................................ B. Implikasi ................................................................................ C. Saran ...................................................................................... DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. LAMPIRAN

23 24 24 24 24 27 30 33 34 34 37 42 43 54 54 55 57 58

x

DAFTAR TABEL Tabel 1. Hasil Pengelompokan Pengetahuan Dasar Guru Terhadap Bencana. .............................................................. Tabel 2. Hasil Pengelompokan Kemampuan Guru Dalam Mengkaji Potensi Bencana. .................................................. Tabel 3. Hasil Pengelompokan Sikap Guru Dalam Merespon Bencana. .............................................................................. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 8. Tabel 9. Hasil Uji Validitas Soal Pilihan Ganda ................................. Hasil Uji Validitas Soal Pernyataan ..................................... Hasil Uji Normalitas Pengetahuan dan Sikap ....................... Hasil Uji Homogenitas Pengetahuan dan Sikap .................... Tahap Reflektif Tentang Kebencanaan Banjir ...................... Tahap Intepretatif Tentang Kebencanaan Banjir ................... 37 39 40 41 42 46 47 48 50 51 53 36 35

Tabel 10. Tahap Decision Tentang Kebencanaan Banjir ...................... Tabel 11. Kebijakan Sekolah ............................................................... Tabel 12. Rencana Tanggap Darurat .................................................... Tabel 13. Mobilitas Sumberdaya .........................................................

xi

DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Peta Administrasi Kecamatan Jebres. ................................... Gambar 2. Peta Rawan Banjir Kota Surakarta Th 2007. ........................ Gambar 3. Diagram Siklus Pengelolaan Bencana. ................................. Gambar 4. Kerangka Penelitian ............................................................. Gambar 5. Grafik Histogram Pengetahuan Dasar Kebencanaan Guru............................................................... Gambar 6. Grafik Histogram Kemampuan Guru Dalam Mengkaji Potensi Bencana ................................................... Gambar 7. Grafik Histogram Sikap Guru Dalam Merespon Bencana..... 36 37 35 2 4 20 23

xii

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Surat Izin Validasi Riset .................................................... Lampiran 2. Surat Izin Riset .................................................................. Lampiran 3. Surat Keterangan Pemberian Izin Riset MIS ...................... Lampiran 4. Profile Sekolah .................................................................. Lampiran 5. Data Guru dan Karyawan SMP MIS .................................. Lempiran 6. Kuisoner ........................................................................... Lampiran 7. Form Observasi dan Wawancara ....................................... Lampiran 8. Uji Validitas Kuisoner Pengetahuan .................................. Lampiran 9. Uji Reliabilitas Kuisoner Pengetahuan .............................. Lampiran 10. Uji Validitas Kuisoner Sikap ........................................... Lampiran 11. Uji Reliabilitas Kuisoner Sikap ....................................... Lampiran 12. Uji Normalitas dan Homogenitas ...................................... Lampiran 13. Peta Administrasi Kec. Jebres ......................................... Lampiran 14. Peta Administrasi Kel. Sewu ........................................... Lampiran 15. Peta Banjir Kota Surakarta .............................................. Lampiran 16. Peta Topografi Kota Surakarta ......................................... Lampiran 17. Citra Kel. Sewu ............................................................... Lampiran 18. Foto Banjir Kel. Sewu Th 2007 ....................................... Lampiran 19. Foto Banjir dan Puting Beliung Kel. Sewu Th 2013 ........ 59 61 64 65 66 70 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86

xiii

PERAN GURU TERHADAP KESIAPSIAGAAN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR DI KELURAHAN SEWU KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA

Imam Bashori A.610080001, Program Studi Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2013, xiv+86 (Termasuk Lampiran).

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kemampuan guru dalam mengkaji potensi bencana dan kesiapan sekolah dalam menghadapi bencana. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif yang didukung data kualitatif dengan menggunakan guru yang mengajar di daerah rawan bencana sebagai populasi. Penggalian data dilakukan dengan observasi, kuesioner dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan metode deskriptif kuantitatif, yang sebelumnya dilakukan uji prasyarat analisis yang menggunakan metode Kolmogorov Smirnov untuk uji normalitas dan metode Levene Test untuk uji homogenitas. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa 1) Secara umum kemampuan guru dalam menghadapi bencana yang diukur melalui pengetahuan dan tindakan guru terhadap bencana sudah cukup baik hal ini ditunjukkan dengan rata-rata nilai tentang pengetahuan dasar kebencanaan sebesar 7,5, kemampuan mengkaji potensi bencana sebesar 7,2 dan sikap dalam menghadapi bencana sebesar 7,1, 2) Kesiapsiagaan sekolah ditinjau dari indikator kebijakan, rencana kesiapsiagaan sekolah dan mobilitas sumberdaya maka didapatkan, Kebijakan sekolah tentang kebencanaan belum diterapkan secara utuh, rencana kesiapsiagaan yang disusun hanya sebatas pengalaman bencana masa lalu tanpa dilakukan identifikasi ulang kemungkinan bencana yang akan terjadi dimasa yang akan datang sehingga penanggulangan bencana hanya bersifat reaksional dan spontanitas, Mobilitas sumberdaya yang telah dilakukan oleh sekolah baru berkaitan kerjasama penanggulangan bencana dengan pihak luar sekolah sedangkan untuk mobilitas sumberdaya dalam internal sekolah masih belum terlaksanakan. Kata kunci : Bencana, Pengetahuan dan Sikap, Kesiapsiagaan

xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dinamika alam sangat memberikan dampak bagi kehidupan manusia, baik bersifat menguntungkan maupun merugikan. Sifat merugikan inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan bencana. Upaya meminimalisasi resiko atau kerugian bagi manusia diperlukan pengetahuan, pemahaman,

keterampilan kesiapsiagaan untuk mencegah, mendeteksi dan mengantisipasi secara lebih dini tentang berbagai macam bencana atau lebih dikenal dengan istilah mitigasi bencana. Kelurahan Sewu berada di wilayah Kecamatan Jebres Kota Surakarta. Luas wilayah Kelurahan Sewu adalah 48,5 Ha dan terbagi menjadi 9 Dukuh, 9 RW dan 35 RT dengan jumlah penduduk 8.389 jiwa. Kelurahan Sewu merupakan dataran rendah yang memiliki ketinggian tempat 70-90 M diatas permukaan laut, dan memiliki kemiringan tanah antara 0-10% sehingga dapat digolongkan sebagai daerah yang memiliki topografi landai. Keadaan sosial ekonomi masyarakat Kelurahan Sewu merupakan kelurahan termiskin di Kecamatan Jebres, yaitu dengan angka kemiskinan 21% dari total penduduk dan sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai buruh yang mencapai 70%. Kemiskinan di Kelurahan Sewu terpusat di daerah sekitar bantaran Sungai Bengawan Solo yang setiap tahun terkena banjir (sumber: Kecamatan Jebres Dalam Angka, 2010. BPS).

1

2

Gambar 1. Peta Administrasi Kecamatan Jebres

3

Terjadinya hujan dengan intensitas tinggi di Sub DAS Bengawan Solo Hulu dan Kali Madiun Pada tanggal 25 Desember 2007 berdampak pada terjadinya banjir besar di seluruh DAS Bengawan Solo. Hal ini menimbulkan dampak seperti tergenangnya perumahan, fasilitas umum, kantor, tempat ibadah, sawah/tegalan, dan jalan. Banjir besar tersebut melanda

kabupaten/kota di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo. Banjir Bengawan Solo menyebabkan terendamnya sejumlah sekolah yang terdapat di Kota Solo. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Solo, Jumat 28 Desember 2007 (dalam

http://solopeduli.blogspot.com/2007/12/jumlah-sekolah-yang-terendambertambah.html), menyebutkan jumlah sekolah terendam bertambah dari 20 menjadi 33 sekolah. Dari ke-33 sekolah tersebut yaitu: SMP MIS Surakarta, SD N Kampung Sewu 25, dan SD N Karengan 124 yang menjadi lokasi penelitian turut terendam banjir sehingga aktifitas belajar mengajar di sekolah dihentikan untuk sementara waktu sampai banjir surut dan hal ini sangat merugikan sekolah terutama berkaitan dengan proses belajar mengajar. Pendidikan formal yang secara operasional dinyatakan dalam bentuk pembelajaran di sekolah, maka penyikapan terhadap bencana tersebut sudah semestinya direspon oleh guru. Guru memiliki peran yang sangat penting dan krusial dalam membekali siswa dengan pengetahuan tentang kebencanaan melalui pembelajaran di sekolah, terlebih sekolah terletak pada zona yang cukup rawan terhadap ancaman bahaya bencana yang diakibatkan oleh Sungai Bengawan Solo.

4

Gambar 2. Peta Rawan Banjir Kota Surakarta Th 2007

5

Ancaman utama yang diakibatkan oleh Sungai Bengawan Solo yang memberi dampak cukup serius pada sekolah adalah banjir. Banjir hampir setiap tahun menjadi ancaman bencana yang harus dihadapi, maka dalam pembelajaran di kelas guru harus mampu membekali siswa dengan

pengetahuan secara teoritis dan pengetahuan praktis untuk menggunakan gejala geosfer sebagai sistem peringatan dini (early warning system) mengenai tentang kebencanaan banjir sehingga, pengetahuan dan ketrampilan pendidikan mitigasi bencana penting dikuasai oleh guru.

Permasalahannya apakah pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh guru dalam menghadapi bencana sudah cukup, sehingga dapat menanamkan budaya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana kepada siswa melalui pembelajaran di kelas. Berdasarkan latar belakang masalah, maka penulis melakukan penelitian terhadap masalah tersebut dengan mengambil judul “PERAN GURU TERHADAP KESIAPSIAGAAN BANJIR DI SEKOLAH KELURAHAN DALAM SEWU

MENGHADAPI

BENCANA

KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA”. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang dapat diidentifikasi berbagai masalah yang dihadapi guru : 1. Masih lemahnya peran guru dalam pendidikan mitigasi bencana disebabkan karena kurangnya pemahaman dan ketrampilan yang dimiliki guru tentang kebencanaan.

6

2. Sulit ditanamkannya budaya kesiapsiagaan bencana di sekolah karena belum tersusunya kebijakan yang berkaitan dengan kesiapsiagaan bencana. C. Pembatasan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah dapat diungkap, bahwa kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana sangat ditentukan oleh tingkat pengetahuan dan ketrampilan guru dalam menyikapi setiap resiko bencana yang didukung kebijakan kebencanaan sekolah. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah dan pembatasan masalah maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : 1. Bagaimana kemampuan guru dalam menghadapi bencana yang terjadi pada lingkungan sekolah?. 2. Bagaimana kesiapsiagaan sekolah, di kompleks sekolah Kelurahan Sewu dalam menghadapi bencana?. E. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui kemampuan guru dalam menghadapi bencana yang terdapat pada lingkungan sekolah. 2. Mengetahui kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana.

7

F. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah 1. Manfaat Teoritis a. Bertambahnya kazanah ilmu pengetahuan pendidikan mitigasi bencana pada sekolah tempat dilaksanakannya penelitian dan di lingkungan Universitas Muhammadiyah Surakarta. b. Masukan kepada sekolah yang digunakan sebagai lokasi penelitian, agar meningkatkan kesiapsiagaan dari ancaman bencana yang terdapat pada lingkungan sekolah. 2. Manfaat Praktis a. Bagi guru Meningkatkan kesadaran, kepedulian, kemampuan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi resiko bencana dengan tujuan untuk mengurangi dampak bencana. b. Bagi peneliti Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai pendidikan mitigasi yang sesuai untuk diterapkan di sekolah.

BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Pendidikan a. Hakikat Pendidikan Dedy Mulyasana (2011:2) mengemukakan bahwa pendidikan adalah proses menjadikan seseorang menjadi dirinya sendiri yang

tumbuh sejalan dengan bakat, watak, kemampuan, dan hati nuraninya secara utuh. Pendidikan tidak boleh menjadikan manusia asing terhadap dirinya dan asing terhadap hati nuraninya, sehingga pendidikan tidak boleh melahirkan sikap, pemikiran dan perilaku semu. Pendidikan berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan, batin), pikiran (intellect), dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakat (Kihajar Dewantoro. Dalam Dedy Mulyasana, 2011:3). Berdasarkan definisi dari para ahli dapat disimpulkan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah proses pematangan kualitas hidup. Melalui proses tersebut diharapkan manusia dapat memahami apa arti dan hakikat hidup, serta untuk apa dan bagaimana menjalankan tugas hidup dan kehidupan secara benar.

8

9

b. Hakikat Pembelajaran Pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan oleh seorang guru atau pendidik untuk membelajarkan siswa yang belajar (Tim pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran UPI, 2011:128). Pendidikan formal (sekolah), pembelajaran merupakan tugas yang dibebankan kepada guru, karena guru merupakan tenaga profesional. Pembelajaran merupakan aktifitas yang dilakukan oleh guru dalam rangka untuk memberikan ilmu dan pengetahuan kepada siswa sehingga siswa menjadi trampil dan mampu dalam menghadapi masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari, seperti tindakan apa saja yang harus dilakukan dalam menghadapi bencana baik sebelum, saat terjadinya bencana, maupun setelah terjadinya bencana. c. Kemampuan Guru Dalam Menghadapi Bencana Kemampuan/kompetensi adalah kemampuan bersikap, berfikir dan bertindak secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang dimilikinya (Tim pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran UPI, 2011:78). Sedangkan yang dimaksud dengan kemampuan guru dalam menghadapi bencana adalah kesanggupan atau kecakapan guru dalam menganalisis, mengidentifikasi dan menyikapi setiap ancaman bencana yang berpotensi terjadi di lingkungan sekitarnya. Pembahasan kemampuan guru dalam penelitian ini adalah sebatas pengetahuan

10

dasar guru dalam menghadapi bencana, kemampuan guru dalam mengkaji potensi bencana dan sikap guru dalam merespon bencana. Mekanisme pikiran, tanggapan dan respon terhadap bencana diharapkan dapat menjadi indikator kemampuan secara cermat dan utuh dalam arti seberapa tingkat kesadaran akan resiko bencana

maupun respon serta mitigasi yang menjadi pengetahuan dan perspektifnya. Keutuhan dalam berpikir untuk memahami bencana atau khususnya resiko bencana melalui dinamika berpikir dan bertindak dalam ORID (Objektif, Reflektif, Intepretatif dan Decision). Indikator tersebut diungkap dengan pertanyaan-pertanyaan pada proses mengingat kembali : a) Sejauh mana tingkat kemampuan dan sensivitas guru dalam merespon bencana melalui kemampuan sensorinya (O). b) Sejauh mana tingkat reflektif guru dalam menghayati pengalaman bencana mereka sebelum dan sesudah terjadi bencana, ketakutan dan mungkin pengalaman positif guru (R). c) Sejauh mana kesadaran realitas yang dialami guru, ini membutuhkan pengaruh kemampuan maupun intepretatif tidak guru sehingga terhadap

langsung

langsung

masyarakat, keluarga dan masa depan menjadi penting untuk diungkap (I). d) Tahap-tahap pikiran dan respon yang dialami pada 1-3, kemudian guru akan membangun komitmen untuk menghadapi

11

bencana dan adaptasi terhadap berbagai perubahan yang dialami oleh masing-masing guru sebagai keputusan

pribadinya (D). d. Sekolah Siaga Bencana Definisi sekolah siaga bencana dalam buku Kerangka Kerja Sekolah Siaga Bencana (Konsorsium Pendidikan Bencana Indonesia, 2011:8) adalah sekolah yang memiliki kemampuan untuk mengelolah resiko bencana di lingkungannya, kemampuan tersebut diukur dengan dimilikinya perencanaan penanggulangan bencana (sebelum, sesaat dan sesudah bencana), ketersediaan logistik, keamanan dan

kenyamanan di lingkungan pendidikan, infrastruktur, serta sistem kedaruratan, yang didukung dengan adanya pengetahuan dan sikap, prosedur tetap (standar oprasional prosedur), dan sistem peringatan dini. e. Tujuan Sekolah Siaga Bencana Konsorsium Sekolah Siaga Bencana Indonesia (2011:9) menyatakan tujuan sekolah siaga bencana adalah membangun budaya siaga dan budaya aman di sekolah, serta membangun ketahanan dalam mengahadapi bencana oleh warga sekolah. Budaya siapsiaga bencana merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan terbangunnya Sekolah Siaga Bencana (SSB). Budaya tersebut akan terbentuk apabila ada sistem yang mendukung, proses,

12

perencanaan, pengadaan dan prawatan sarana-prasarana sekolah yang baik. f. Parameter Sekolah Siaga Bencana Untuk mengukur upaya yang dilakukan sekolah dalam membangun Sekolah Siaga Bencana (SSB) perlu ditetapkan parameter. Parameter adalah standar minimum yang bersifat kualitatif dan menentukan tingkat minimum yang harus dicapai dalam pemberian respon pendidikan. Parameter kesiapsiagaan sekolah berdasarkan buku Kerangka Kerja Sekolah Siaga Bencana (Konsorsium Pendidikan Bencana Indonesia, 2011:10) diidentifikasi menjadi empat faktor, yaitu: 1) Pengetahuan dan Sikap Dasar dari setiap pengetahuan dan sikap manusia adalah adanya persepsi, pengetahuan dan ketrampilan yang dimilikinya. SSB ingin membangun kemampuan seluruh warga sekolah, baik individu maupun warga sekolah secara kolektif, untuk menghadapi bencana secara cepat dan tepat guna. 2) Kebijakan Sekolah Kebijakan sekolah adalah keputusan yang dibuat secara formal oleh sekolah mengenai hal-hal yang perlu didukung dalam pelaksanaan Pengurangan Resiko Bencana (PRB) di sekolah, baik secara khusus maupun terpadu. Keputusan tersebut bersifat mengikat. Praktiknya kebijakan sekolah merupakan landasan,

13

panduan, arahan pelaksanaan kegiatan terkait dengan PRB di sekolah. 3) Perencanaan Kesiapsiagaan Kesiapsiagaan bertujuan untuk menjamin adanya tindakan cepat dan tepat guna pada saat terjadi bencana dengan memadukan dan mempertimbangkan sistem penanggulangan bencana di daerah dan disesuaikan kondisi wilayah setempat. Bentuk atau produk dari perencanaan ini adalah dokumendokumen, seperti protap kesiapsiagaan, rencana

kedaruratan/kontijensi, dan dokumen pendukung terkait, termasuk sistem peringatan dini yang disusun dengan mempertimbangankan akurasi dan kontekstualitas lokal. 4) Mobilitas Sumberdaya Sekolah harus menyiapkan sumberdaya manusia, sarana dan prasarana, serta finansial dalam pengelolaan untuk menjamin kesiapsiagaan bencana di sekolah. Mobilitas sumberdaya

didasarkan pada kemampuan sekolah dan pemangku sekolah. Mobilitas ini juga terbuka bagi peluang partisipasi dari para pemangku kepentingan lainnya. Keempat parameter di atas adalah perangkat pengukur kesiapsiagaan bencana di sekolah. Pengukuran, masing-masing

parameter itu tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait satu sama lainnya. Ukuran yang didapat dari sekolah yang terkait, dapat

14

diketahui mengenai tingkat ketahanan sekolah terhadap ancaman bencana tertentu. Keempat parameter tersebut murupakan dasar dari variabel dalam penelitian ini, sehingga peran guru dalam

kesiapsiagaan menghadapi bencana mengacu pada keempat parameter tersebut. 2. Pengelolaan Bencana a. Pengertiaan Bencana Definisi bencana dalam buku Disaster Management – A Disaster Manager’s Handbook (Carter,1991. Dalam Robert J.Kodoatie &Roestam Sjarief, 2006:68) adalah suatu kejadian, alam atau buatan manusia, tiba-tiba atau progresive, yang menimbulkan dampak yang dahsyat (hebat) sehingga komunitas (masyarakat) yang terkena atau terpengaruh harus merespon dengan tindakan-tindakan luar biasa dalam pengelolaan bencana terpadu, suatu masyarakat sehingga tidak menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan yang melampaui kemampuan masyarakat tersebut untuk mengatasi dengan menggunakan

sumberdaya mereka sendiri. Bencana dengan kata lain dapat didefinisikan suatu kondisi yang tidak normal yang terjadi pada masyarakat dan mempunyai kecenderungan kehilangan kehidupan, harta benda dan lingkungan sumberdayanya serta kondisi dimana masyarakat tidak mampu keluar dari akibat yang ditimbulkan, sehingga membutuhkan tindakan luar

15

biasa untuk menghadapinya disini diperlukanlah pendidikan yang tepat. b. Penyebab Bencana Robert J.Kodoatie & Roestam Sjarief (2006:68) membagi penyebab bencana menjadi dua, yaitu alam dan manusia. Secara alami bencana akan selalu terjadi di permukaan bumi, misalnya tsunami, gempa bumi, gunung meletus, kekeringan, banjir, longsor dan lain sebagainya. Sedangkan bencana yang diakibatkan oleh aktifitas manusia adalah segala aktifitas manusia yang merusak atau menggangu keseimbangan alam sehingga alam mencari

keseimbanganya dangan wujud berupa perubahan yang sangat cepat atau kontras sehingga menimbulkan ancaman kepada manusia. Bencana dapat dibedakan menjadi dua yaitu fisik dan sosial sehingga diperlukan penanganan yang berbeda dari setiap bencana tersebut. Penanganan bencana yang tepat dapat mengurangi kerugian atau korban yang ditimbulkan, sehingga diperlukannya pendidikan kebencanaan diajarkan sejak dini kepada siswa dengan tujuan suatu saat jika terjadi bencana masyarakat dapat memberi respon yang cepat dan tepat. c. Banjir Krishna S. Pribadi (2008:VII-1) Banjir adalah suatu kejadian saat air menggenangi daerah yang biasanya tidak digenangi air dalam selang waktu tertentu. Banjir umumnya terjadi pada saat aliran air

16

melebihi volume air yang dapat ditampung dalam sungai, danau, rawa, drainase maupun saluran air lainnya pada selang waktu tertentu. Masyarakat yang tinggal disekitar sungai atau daerah pantai yang landai merupakan masyarakat yang paling beresiko terhadap ancaman banjir. Semakin dekat tempat tinggal kita dengan sumber banjir, semakin besar resiko kita terkena banjir. d. Penyebab Banjir Penyebab utama banjir menurut Krishna S. Pribadi (2008:VII2) adalah curah hujan yang sangat tinggi yang berada di atas ambang normal. Hujan lebat yang berlangsung selama berhari-hari

mengakibatkan jumlah air yang jatuh ke bumi sangat banyak. Hujan lebat dapat terjadi secara musiman dan meliputi daerah yang sangat luas. Perubahan iklim seperti El Nino juga dapat mengakibatkan hujan yang sangat lebat. Selain curah hujan yang sangat tinggi di atas normal, banjir juga dapat disebabkan oleh gelombang badai tropis, luapan air pasang di laut yang menghambat aliran air sungai, jebolnya tanggul maupun tindakan manusia yang tidak ramah terhadap lingkungan. e. Jenis-Jenis Banjir Krishna S. Pribadi (2008:VII-4) membagi jenis-jenis banjir menjadi : 1) Banjir Sungai Banjir sungai adalah banjir yang terjadi di dataran rendah yang dilalui oleh aliran sungai. Banjir yang terjadi di sepanjang

17

aliran sungai ini merupakan fenomena alam yang umumnya berlangsung secara musiman dan terjadi pada saat musim hujan tiba. Banjir akibat luapan sungai ini dapat terjadi selama berminggu-minggu. Pendangkalan sungai, baik oleh sedimentasi maupun sampah juga mengakibatkan berkurangnya daya angkut sungai terhadap limpasan air hujan, sehingga mengakibatkan luapan air kedaratan. 2) Banjir Pantai Banjir pantai adalah banjir yang terjadi di sekitar pantai. Banjir pantai terjadi akibat angin laut yang bertiup kearah daratan dengan kencang sehingga menimbulkan gelombang laut tinggi yang menyapu ke arah daratan sehingga terjadilah banjir di sepanjang pantai. Banjir pantai bukan disebabkan oleh hujan dalam siklus hidrologi, melainkan hujan lebat akibat badai. 3) Banjir Bandang Banjir bandang adalah jenis banjr yang datang secara mendadak dan terjadi akibat meningkatnya muka air sungai secara cepat akibat hujan yang lebat. Pada daerah lembah sungai dan daerah dengan kemiringan yang tinggi, air mengalir lebih cepat dibanding daerah yang lebih landai. 4) Banjir Kota Banjir kota adalah banjir yang terjadi pada daerah perkotaan. Banjir perkotaan terjadi karena berkurangnya lahan

18

kosong yang dapat berfungsi sebagai daerah penyerap air hujan. Lahan kosong tersebut umumnya sudah beralih fungsi menjadi pemukiman, gedung, jalan dll. Banjir kota dapat juga diakibatkan tidak berfungsinya saluran air hujan dengan baik. f. Resiko Bencana Krishna S. Pribadi (2008:I-5) Resiko bencana adalah besarnya kemungkinan kerugian yang mungkin terjadi seperti hilangnya nyawa, cedera, kerugian harta benda, serta gangguan terhadap kegiatan ekonomi yang disebabkan oleh fenomena tertentu. Resiko terjadinya bencana bergantung pada tingkat ancaman atau potensi bahaya baik fisik maupun non fisik. Pada dasarnya, resiko bencana terdiri dari dua elemen, yaitu : bahaya dan kerentanan. Secara sederhana resiko bencana dapat dirumuskan sebagai berikut : RB RB A Kr = A x Kr

= Risiko Bencana = Ancaman Bahaya = Kerentanan

g. Pengertian Pengelolaan Bencana Robert J.Kodoatie & Roestam Sjarief (2006:69) mendefinisikan pengelolaan sebagai suatu aktifitas, seni, cara, gaya, pengorganisasian, kepemimpinan, pengendalian dalam mengendalikan atau mengelola kegiatan. Tahap pengelolaan dimulai dari perencanaan, pelaksanaan,

19

pengawasan, operasi dan pemeliharaan, organisasi, kepemimpinan, pengendalian sampai evaluasi dan monitoring. Pengelolaan bencana merupakan aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat dalam menghadapi segala potensi bencana dengan tujuan untuk mengurangi dampak bencana yang akan terjadi. Berhasil atau tidaknya pengelolaan bencana sangat ditentukan oleh pengetahuan yang diterima pada saat sekolah atau pengalaman terhadap bencana yang terjadi pada masa lalu. h. Siklus Pengelolaan Bencana Walaupun setiap bencana mempunyai karakteristik yang berbeda-beda namun pada hakekatnya pola pengelolaan secara subtansi hampir sama. Oleh karena itu, dari filosofi dan konsep manajemen bencana maka dapat dibuat siklus pengelolaan bencana yang terpadu. Berikut siklus pengelolaan bencana :

20

C. Saat Menjelang

Bencana Persiapan Dan Kesiagaan
B. Pra-Bencana

Dampak Bencana

D. Saat Bencana

Mitigasi (Pengurangan)

Respon/ Tindakan Darurat Dan Pertolongan

E. Pasca Bencana

Pemulihan/ Recovery Pencegahan (Preventiv)

Action Plan

Perencanaan/ Pengembangan
E. Pasca Bencana

A. Jauh Sebelum Bencana

Gambar 3. Diagram Siklus Pengelolaan Bencana. (Carter, 1991: Dalam Robert J.Kodoatie & Roestam Sjarief, 2006:137).

Siklus di atas secara umum menggambarkan proses-proses pengelolaan bencana yang pada intinya merupakan tindakan-tindakan nyata dari jauh sebelum bencana terjadi, pra-bencana, saat menjelang bencana, saat bencana dan pasca bencana. i. Mitigasi (Reduksi) Mitigasi menurut Robert J. Kodoatie & Roestam Sjarief (2006:143), adalah tindakan-tindakan yang bertujuan untuk mereduksi dampak bencana baik dampak ke komunitas yaitu jiwa, harta benda maupun dampak ke infrastruktur. Berhubungan dengan waktu, tindakan mitigasi hampir mirip dengan tindakan preventif.

21

Mitigasi merupakan kegiatan yang sangat penting karena kegiatan ini merupakan kegiatan sebelum terjadinya bencana yang dimaksudkan untuk mengantisipasi agar korban jiwa dan kerugian materi yang ditimbulkan dapat dikurangi. Masyarakat dan siswa yang berada di daerah rawan bencana maupun yang berada di luar sangat besar perannya, sehingga perlu ditingkatkan kesadaran, kepedulian dan kecintaannya terhadap alam dan lingkungan hidup melalu pendidikan yang diajarkan di sekolah. j. Kesiapsiagaan/Preparedness Kesiapsiagaan adalah suatu aksi/aktifitas yang membuat pemerintah, organisasi, masyarakat, perorangan ( stakeholders) dapat merespon bencana yang bakal terjadi dengan cepat, tepat, efektif, efesien dan benar (Carter, 1991. Dalam Robert J.Kodoatie & Roestam Sjarief, 2006:145). Lebih lanjut kesiapsiagaan merupakan tindakan perencanaan berseri meliputi modul-modul peringatan, evakuasi, search and resceu (SAR), perkiraan kerusakan dan respon darurat. B. Kerangka Penelitian Peristiwa demi peristiwa hendaknya membuka mata kita bahwa manajemen bencana di negara ini masih sangat jauh dari yang diharapkan. Selama ini, manajemen bencana dianggap bukan prioritas utama dan hanya datang sewaktu-waktu saja, padahal Indonesia adalah wilayah rawan terhadap bencana, serta mitigasi bencana yang tepat dinilai sangat perlu dipahami dan

22

dikuasi oleh semua kalangan, baik pemerintah, masyarakat maupun pihak swasta. Kelurahan Sewu, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta dapat digolongkan sebagai daerah yang cukup parah terkena dampak pada saat peristiwa banjir Bengawan Solo pada akhir Tahun 2007 silam, hal ini disebabkan karena letaknya yang berada tepat pada jalur DAS Bengawan Solo dan masih rendahnya pemahan masyarakat tentang mitigasi bencana banjir yang tepat. Sekolah memiliki peran yang strategis dalam upaya mitigasi bencana. Oleh karena itu perlu membangun kapasitas guru agar memahami konsep yang benar tentang kebencanaan. Guru merupakan pembentuk konsep diri dalam memahami mitigasi bencana pada siswa namun kenyataan di lapangan sebagian besar guru belum memiliki ketrampilan dan pengetahuan mengenai mitigasi bencana, padahal peran guru pada pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam pembentukan konsep diri dan pemahaman mitigasi bencana bagi siswa. Guru memiliki empat peran yang cukup strategis dalam upaya kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana berdasarkan uraian parameter sekolah siaga bencana maka keempat peran itu adalah sebagai model atau contoh melalui pengetahuan dan sikap, perumus dan penyampai kebijakan, penyusun dan pelaksana rencana kesiapsiagaan di sekolah dan manajemen mobilitas sumberdaya.

23

Peran guru terhadap kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana berdasarkan parameter SSB dapat dijelaskan pada Gambar 4 berikut :
Kajian Potensi Bencana

Informasi Kebencanaan

Peran Guru

Pengetahuan dan Sikap

Kebijakan

Perencanaan Kesiapsiagaan

Mobilitas Sumberdaya

Sekolah Siaga Bencana

C. Hipotesis

Gambar 4. Kerangka Penelitian Sumber : Penulis, 2012

Berdasarkan uraian kerangka penelitian, maka peneliti mengajukan hipotesis yaitu : Kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan guru dalam mengkaji potensi bencana.

BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di sekolah yang terdapat pada Kelurahan Sewu Kecamatan Jebres Kota Surakarta yang terdi dari 3 sekolah, yaitu SD N Karengan 124, SD N Kampung Sewu 25, dan SMP MIS (Modern Islamic School) Surakarta. Penelitian dilaksanakan selama enam bulan yaitu antara bulan Agustus sampai dengan Febuari 2012. B. Populasi, Sampel, dan Sampling Populasi penelitian Populasi yang digunaan pada penelitian ini adalah seluruh guru yang terdapat pada kompleks sekolah di Kelurahan Sewu yang meliputi, SD N Karengan 124 (13 guru), SD N Kampung Sewu 25 (14 guru) dan SMP MIS (Modern Islamic School) Surakarta (16 guru). Secara keseluruhan total populasi yang ada adalah 43 guru karena jumlah populasi yang tidak begitu banyak sehingga penulis berinisiatif untuk menjadikan keseluruhan populasi menjadi responden dalam penelitian ini. C. Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah gejala yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang menjadi fokus pemikiran. Variabel dalam penelitian ini merupakan segala bentuk peran yang dilakukan oleh guru dalam upaya pengurangan resiko bencana yang meliputi; kemampuan guru dalam

24

25

menghadapi bencana dan kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana, yang terdiri dari : 1. Kemampuan Guru Kemampuan merupakan elemen yang penting dalam

kesiapsiagaan berbasis sekolah. Kemampuan yang baik menjadi landasan membangun kesiapsiagaan. Untuk memahami kesadaran guru dari perspektif afektif, maka penelitian ini diawali dengan upaya memahami kondisi guru secara kognitif yaitu: pengetahuan dasar bencana, kemampuan mengkaji potensi bencana, dan sikap dalam merespon bencana. Tahap-tahap yang terkait dengan kognitif kemampuan guru meliputi 4 tahap, yakni obyektif (O) digunakan untuk mengukur pengetahuan dasar bencana dan kemampuan mengkaji potensi bencana, sedangkan reflektif (R), intepretatif (I), dan decision (D) digunakan untuk mengukur sikap guru dalam merespon bencana. 2. Kesiapsiagaan Sekolah Kesiapsiagaan merupakan serangkaian upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat dan berdaya guna. Kesiapsiagaan dalam penelitian ini difokuskan pada tiga indikator yaitu : a. Kebijakan Kebijakan sekolah pada dasarnya adalah bentuk dukungan secara formal dari pimpinan sekolah yang dituangkan dalam

26

peraturan sekolah dan kesepakatan mengenai hal yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Berikut bentuk-bentuk kebijakan sekolah secara umum : 1) Sekolah memiliki peraturan yang dibuat untuk mengantisipasi bencana. 2) Sekolah mengintegrasikan pendidikan bencana dalam

kurikulum sekolah. 3) Sekolah mengirimkan guru untuk mengikuti diklat pelatihan bencana. 4) Sekolah mensosialisasikan kebijakan kebencanaan kepada warga sekolah b. Perencanaan Kesiapsiagaan Rencana kesiapsiagaan berisikan daftar kebutuhan dan aktifitas yang dilakukan oleh komponen sekolah dalam

menghadapi bencana, yang meliputi : 1) Dokumen penilaian resiko bencana yang disusun secara partisipasif oleh warga sekolah. 2) Protokol komunikasi dan kordinasi. 3) Protap kesiapsiagaan sekolah yang disepakati dan dilaksanakan oleh seluruh komponen sekolah. 4) Peta evakuasi sekolah, dengan tanda dan rambu yang terpasang dan mudah dipahami oleh seluruh komponen sekolah.

27

c. Mobilitas Sumberdaya Mobilitas sumberdaya merupakan upaya pengerahan dari sumberdaya yang telah dimiliki dan disusun sesuai dengan perencanaan kesiapsiagaan yang merupakan kebutuhan dasar pasca bencana, yang meliputi : 1) Adanya gugus siaga bencana sekolah yang termasuk perwakilan peserta didik. 2) Adanya perlengkapan dasar dan suplai kebutuhan dasar pasca bencana. 3) Pemantauan dan evaluasi partisipasi mengenai kesiagaan sekolah secara rutin. 4) Adanya kerjasama penanggulangan bencana dengan pihak luar sekolah. D. Teknik Pengumpulan Data Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut : 1. Studi Kepustakaan Penelitiaan ini mengacu pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh : a. Siti Irine Astuti Dwiningrum dengan judul Sosialisasi Pendidikan Mitigasi Pada Lingkungan Rawan Bencana, penelitian ini dilaksanakan pada Tahun 2010 dan mengambil setting penelitian di DIY dengan

28

hasil, pendekatan pengetahuan kebencanaan merupakan modal penting bagi pendidikan mitigasi bencana yang relatif sudah dimiliki oleh guru. b. Theresa Jurenzy dengan judul Karakteristik Sosial Budaya Masyarakat Dalam Kaitannya Dengan Kesiapsiagaan dan Mitigasi Bencana di Daerah Rawan Bencana, penelitian ini dilaksanakan pada Tahun 2011 dengan mengambil setting penelitian di Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor, Jawa Barat, dengan hasil bahwa masyarakat katulampa memiliki karakteristik sosial yang terdiri atas kelembagaan, stratifikasi sosial, kohesi sosial, kearifan lokal, pengetahuan dan sikap. Karakteristik sosial budaya tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kesiapsiagaan dan mitigasi, sehingga masyarakat belum memiliki kesiapan yang matang dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana. Studi kepustakaan dilakukan untuk membaca dalam bentuk buku, majalah, atau tulisan-tulisan lainnya yang diterbitkan secara umum yang berkenaan dengan topik penelitian yaitu pendidikan mitigasi bencana dan kebencanaan. Teknik ini dipergunakan dalam pengambilan jenis data sekunder seperti: jenis bencana, kerusakan yang diakibatkan oleh bencana, profile sekolah, jumlah guru, staf dan murid yang terdapat pada sekolah. 2. Wawancara Wawancara atau interviu (interview) merupakan salah satu bentuk teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini. Sebelum

29

melakukan wawancara peneliti menyiapkan instrumen wawancara yang berupa daftar pokok-pokok pertanyaan yang harus tercakup oleh pewawancara selama wawancara berlangsung. Wawancara ini dilakukan kepada kepala sekolah serta sebagian bapak dan ibu guru dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang jenis bencana yang pernah terjadi, serta tindakan sekolah dalam menghadapi bencana tersebut, dengan data ini nantinya sekolah dapat dinilai tingkat kerentanannya terhadap bencana. 3. Observasi Observasi (observation) atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan atau keadaan yang sedang berlangsung. Observasi dilakukan secara non partisipatif sehingga pengamat tidak ikut serta dalam kegiatan. Pengamatan yang dilakukan meliputi letak sekolah terhadap sungai, keadaan sarana dan prasarana sekolah, kegiatan pembelajaran. Data yang didapatkan dari observasi adalah letak dan kerentanan sekolah terhadap ancaman bencana. 4. Angket Angket atau kuesioner (questionnaire) merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data secara tidak langsung. Instrumen atau alat pengumpul datanya berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh responden.

30

Penyebaran angket untuk mengetahui dan menilai tingkat pengetahuan dan ketrampilan guru dalam menghadapi bencana yang terdapat pada lingkungan sekolah yang nantinya dijadikan dasar pengukuran kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana. E. Teknik Uji Persyaratan Analisis 1. Uji Validitas Sebelum digunakan untuk mengukur kemampuan guru, kuesioner terlebih dahulu diujicobakan pada guru di luar sampel penelitian. Uji coba dilaksanakan pada guru di SD Muhammadiyah 6 Surakarta. Pemilihan guru pada SD Muhammadiyah 6 Surakarta sebagai uji coba instrumen karena memiliki kesamaan sebagai tempat penelitiaan. Kesamaan atau homogenitas tersebut adalah 1). Terletak pada satu desa yang memiliki latar belakang geografis yang sama. 2). Kemampuan guru dan keadaan fasilitas sekolah yang hampir sama, hal ini dapat dilihat dari tingkat pendidikan guru dan keadaan bangunan sekolah yang telah diobservasi, namun karena kurangnya jumlah responden yang akan digunakan sebagai uji validitas maka peneliti berinisiatif untuk menambahkan SMP Negeri 2 Kartasura sebagai tempat untuk melakukan uji validitas instrumen. Setelah kuesioner dibagikan kepada responden maka hasilnya diolah dengan menggunakan teknik uji butir soal. 2. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas instrumen dimaksudkan untuk memperoleh

keterandalan atau keterpercayaan instrumen. Kuesioner dikatakan reliabel

31

apabila dapat memberikan hasil yang relatif sama apabila dilakukan pengukuran kembali pada obyek yang berbeda dan dalam waktu yang berbeda. Pada penelitian ini uji reabilitas dilakukan dengan menggunakan dengan menggunakan teknik uji reabilitas Tes (awal-akhir). 3. Uji Nomalitas Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel yang diambil berasal dari populasi berdistribusi normal atau tidak. Metode yang digunakan dalam uji normalitas adalah metode Kolmogorov Smirnov. a. Hipotesisi
H O = Sampel berasal dari populasi normal
H1

= Sampel tidak berasal dari populasi normal
Sup F n ( x )
x

b. Statistik uji : D

F0 ( x)

c. Daerah kritis : terima Ho jika D > Dα Dα adalah nilai kritis untuk uji Kolmogorov Smirnov satu sampel, diperoleh dari tabel Kolmogorov Smirnov satu sampel
Fn ( x )

adalah nilai peluang komulatif (fungsi distribusi kumulatif)

berdasarkan data sampel
F0 ( x )

adalah nilai peluang komulatif (fungsi distribusi kumulatif )

dibawah Ho P(Z<Zi) d. Taraf signifikasi : α = 0,05

32

4. Uji Homogenitas Setalah dilakukan uji normalitas maka selanjutnya dilakukan uji kesamaan varian (homogenitas) dengan Levene Test, uji ini digunakan untuk mengetahui apakah varian ketiga kelompok kelas sama. Data yang memenuhi syarat adalah jika varian sama atau subjek berasal dari kelompok yang homogeny. Langkah-langkah uji homogenitas sebagai berikut: a. Menentukan Hipotesis Ho: Kedua varian adalah sama (varian pengetahuan dan sikap) H1 : Kedua varian adalah berbeda (varian pengetahuan dan sikap) b. Kriteria Pengujian (berdasar probabilitas / signifikansi) Ho diterima jika P value> 0,05 Ho ditolak jika P value< 0,05 5. Uji Hipotesis Derajat hubungan dan kontribusi kemampuan guru dalam menghadapi bencana berdasarkan indikator pengetahuan dan sikap diuji menggunaka pendekatan deskriptif kuantitatif. Deskriptif kuantitatif dipilih karena penelitian terdiri dari beberapa variabel yang diambil menggunakan dua pendekatan yang berbeda yaitu kuantitatif dan kualitatif sehingga hipotesis tidak dapat diuji menggunakan statistik. Penggunaan deskriptif bertujuan untuk meminimalisasi tingkat kesalahan analisi hipotesis dari dua macam data yang berbeda karena variebel merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisah-pisahkan.

33

F. Teknik Analisis Data Penelitian ini merupakan jenis penelitian survai dengan tipe descriptive explanotory research, yaitu penelitian penjelasan yang menghubungkan antara variable-variabel penelitian dengan menguji hipotesis yang dirumuskan sebelumnya (Singarimbun dan Efendi,1989) dan menjelaskan secara deskriptif keadaan yang ditemukan dilapangan. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh pendekatan kualitatif. Pendekatan kuantitatif ini menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden. Sedangkan pendekatan kualitatif digunakan dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan menggali pemahaman responden secara subjektif sehingga dapat mendukung data kuantitatif. Data yang diperoleh secara kuantitatif merupakan data yang berhubungan dengan kemampuan guru dalam menghadapi bencana. Data kuantitatif terlebih dahulu dilakukan tabulasi agar data lebih mudah dipahami. Setelah itu dilakukan penghitungan presentase jawaban responden yang dibuat dalam bentuk tabel frekuensi. Data yang diperoleh secara kualitatif merupakan data yang berhubungan dengan kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana. Data kuantitatif yang telah terkumpul akan dibandingkan dengan data kualitatif kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk data kuantitatif dan deskriptif kualitatif untuk data kualitatif sehingga dapat diketahui hubungan antara variabel yang akan diuji kemudian dapat diketahui jawaban dari hipotesis yang telah diajukan.

BAB IV A. Deskripsi Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis data yaitu data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif terdiri dari tiga macam yaitu data tentang pengetahuan dasar guru terhadap bencana, kemampuan guru dalam mengkaji potensi bencana, dan sikap guru dalam merespon bencana. Ketiga macam data tersebut semua diperoleh melalui kuesioner. Data kualitatif digunakan untuk mendukung dari setiap temuan fenomena yang ditangkap oleh data kuantitatif. Data kualitatif terdiri dari tiga macam yaitu data kebijakan sekolah tentang bencana, rencana tanggap darurat yang disusun oleh sekolah dan mobilitas sumberdaya, data ini diperoleh dengan cara melakukan observasi dan wawancara. Tabulasi data pengetahuan dan sikap guru dalam menghadapi bencana masing-masing guru adalah sebagai berikut : 1. Pengetahuan dasar guru terhadap bencana Berdasarkan hasil tabulasi data diperoleh nilai tertinggi 10 dan terendah 5, nilai rata-rata sebesar 7,5 dan nilai standar deviasi (SD) sebesar 1,5018. Hasil pengelompokan dengan interval yang dilakukan terhadap data pengetahuan guru terhadap bencana dipaparkan pada tabel 1.

34

35

Tabel 1. Hasil Pengelompokan Pengetahuan Dasar Guru Terhadap Bencana. No 1 2 3 4 5 6 Nilai 5 6 7 8 9 10 Jumlah Tally III IIIIII IIIIIII IIIIIIII IIIIII IIII Frekuensi 3 6 7 8 6 4 34 fk 3 9 16 24 30 34 fr 8,8% 17,6% 20,6% 23,6% 17,6% 11,8% 100%

Untuk lebih jelasnya penulis sajikan dalam bentuk histogram sebagai berikut :

Pengetahuan Dasar Kebencanaan
8 8 7 6 5 4 3 2 1 0 7 6 6 4 3

Frekuensi

5

6

7

8

9

10

Nilai Gambar 5. Grafik Histogram Pengetahuan Dasar Kebencanaan Guru

2. Kemampuan guru dalam mengkaji potensi bencana Berdasarkan hasil tabulasi data diperoleh nilai tertinggi 10 dan terendah 5, nilai rata-rata sebesar 7,2 dan nilai standar deviasi (SD) sebesar 1,5355. Hasil pengelompokan dengan interval yang dilakukan terhadap data kemampuan guru dalam mengkaji potensi bencana dipaparkan pada tabel 2.

36

Tabel 2.Hasil Pengelompokan Kemampuan Guru Dalam Mengkaji Potensi Bencana. No 1 2 3 4 5 6 Nilai 5 6 7 8 9 10 Jumlah Tally IIII IIIIIIII IIIIIII IIIIIII IIIII III Frekuensi 4 8 7 7 5 3 34 Fk 4 12 19 26 31 34 Fr 11,8% 23,5% 20.6% 20.6% 14,7% 8,8% 100%

Untuk lebih jelasnya penulis sajikan dalam bentuk histogram sebagai berikut :

Kemampuan Mengkaji Potensi Bencana
8 8 7 6 5 4 3 2 1 0 7 7 5 4 3

Frekuensi

5

6

7

8

9

10

Nilai Gambar 6. Grafik Histogram Kemampuan Guru Dalam Mengkaji Potensi Bencana 3. Sikap guru dalam merespon bencana Berdasarkan hasil tabulasi data diperoleh nilai tertinggi 9 dan terendah 5, nilai rata-rata sebesar 7,1 dan nilai standar deviasi (SD) sebesar 1,0764. Hasil pengelompokan dengan interval yang dilakukan terhadap data sikap guru dalam merespon bencana dipaparkan pada tabel 3.

37

Tabel 3.Hasil Pengelompokan Sikap Guru Dalam Merespon Bencana. No 1 2 3 4 5 6 Nilai 5 6 7 8 9 10 Jumlah Tally III IIIIIIIIII IIIIIIIIIII IIIIIIII II Frekuensi 3 10 11 8 2 0 34 fk 3 13 24 32 34 0 fr 8,8% 29,4% 32,4% 23,5% 5,79% 0 100%

Untuk lebih jelasnya penulis sajikan dalam bentuk histogram sebagai berikut : Sikap Guru Dalam Menghadapi Bencana
12 10 10

11
8

Frekuensi

8 6 4 3 2 0 5 6 7 8 9 10

2
0

Nilai Gambar 7. Grafik Histogram Sikap Guru Dalam Merespon Bencana.

B. Pengujian Persyaratan Analisis Pengujian persyratan analisis digunakan uji validitas, uji reliabilitas, uji normalitas dan uji homogenitas. Uji validitas menggunakan metode Uji Butir Soal, uji reliabilitas menggunakan metode Tes (Awal-Akhir), uji normalitas menggunakan metode Kolmogrov Smirnov dan uji homogenitas menggunakan metode Levenee Test.

38

1. Uji Validitas dan Reliabilitas Sebelum instrumen yang berupa soal pilihan ganda dan pernyataan tentang bencana diberikan kepada subyek penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji coba. Tujuan uji coba adalah mengukur validitas dan reliabilitas instrumen. Subyek uji coba adalah 30 guru dari SD Muhammadiyah 6 Surakarta dan SMP N 2 Kartasura tahun ajaran 2012/2013. a. Instrumen soal pilihan ganda 1) Uji validitas soal pilihan ganda. Berdasarkan uji validitas diketahui bahwa untuk soal pilihan ganda terdapat 28 soal yang valid, yaitu pertanyaan 1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, sehingga soal-soal tersebut boleh dipakai sebagai instrumen pengumpulan data, sedangkan untuk soal 7 dan 15 dinyatakan tidak valid dan dikeluarkan. Adapun ringkasan uji validitas soal pilihan ganda disajikan pada Tabel 4. Sebagai berikut :

39

Tabel 4. Hasil Uji Validitas Soal Pilihan Ganda No Item rxy rtabel Kesimpulan 1 0,721 0.361 Valid 2 0,745 0.361 Valid 3 0,993 0.361 Valid 4 0,882 0.361 Valid 5 0,993 0.361 Valid 6 0,891 0.361 Valid 7 0,179 0.361 Tidak Valid 8 0,418 0.361 Valid 9 0,753 0.361 Valid 10 0,993 0.361 Valid 11 0,769 0.361 Valid 12 0,544 0.361 Valid 13 0,745 0.361 Valid 14 0,882 0.361 Valid 15 0,301 0.361 Tidak Valid 16 0,900 0.361 Valid 17 0,993 0.361 Valid 18 0,993 0.361 Valid 19 0,891 0.361 Valid 20 0,882 0.361 Valid 21 0,803 0.361 Valid 22 0,993 0.361 Valid 23 0,682 0.361 Valid 24 0,828 0.361 Valid 25 0,586 0.361 Valid 26 0,993 0.361 Valid 27 0,556 0.361 Valid 28 0,769 0.361 Valid 29 0,544 0.361 Valid 30 0,608 0.361 Valid Sumber : Hasil Pengolahan Data Pada Lampiran 8. 2) Uji Reliabilitas soal pilihan ganda. Berdasarkan hasil uji reliabilitas yang dilakukan dengan melakukan Tes (awal-akhir) diperoleh indeks reliabilitas awal sebesar 0,974 dan indeks reliabilitas akhir sebesar 0,987 dan nilai rtabel 0,361, karena nilai indeks reliabilitas

40

lebih besar dari nilai rtabel maka menunjukan bahwa soal pilihan ganda reliabel karena memiliki indeks reliabilitas relatif tinggi. b. Instrumen soal pernyataan 1) Uji validitas soal pernyataan. Berdasarkan uji validitas diketahui bahwa untuk soal pernyataan terdapat 19 soal yang valid, yaitu pertanyaan 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, sehingga soal-soal tersebut boleh dipakai sebagai instrumen pengumpulan data. Sedangkan untuk soal 8 dan 14 dinyatakan tidak valid dan dikeluarkan. Adapun ringkasan uji validitas soal pilihan ganda disajikan pada Tabel 5. Sebagai berikut: Tabel 5. Hasil Uji Validitas Soal Pilihan Pernyataan No Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 rxy 0,783 0,895 0,803 0,802 0,823 0,780 0,775 -0,007 0,763 0,855 0,706 0,790 0,685 0,330 0,782 0,873 0,756 0,394 0,899 0,840 0,916 Rtabel 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 Kesimpulan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

Sumber : Hasil Pengolahan Data Pada Lampiran 10.

41

3) Uji Reliabilitas soal pernyataan. Berdasarkan hasil uji reliabilitas yang dilakukan dengan melaakukan Tes (awal-akhir) diperoleh indeks reliabilitas awal sebesar 0,924 dan indeks reliabilitas akhir sebesar 0,960 dan nilai rtabel 0,361, karena nilai indeks reliabilitas lebih besar dari nilai rtabel maka menunjukan bahwa soal pilihan ganda reliabel karena memiliki indeks reliabilitas relatif tinggi. 2. Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk menguji sampel data yang telah mewakili populasi apakah memiliki distribusi normal atau tidak. Teknik uji yang digunakan adalah metode Kolmogrov Smirnov pada α = 0,05. Rangkuman hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 6. berikut : Tabel 6. Hasil Uji Normalitas Pengetahuan dan Sikap. Variabel Pengetahuan Sikap Probabilitas 0,861 0.652 Konstanta (α) 0,05 0,05

Sumber : Hasil Pengolahan Data Pada Lampiran 12.

Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui hasil probabilitas dari uji Kolmogrov Smirnov pada data pengetahuan sebesar 0,816>0,05 maka data pengetahuan dapat disimpulkan memiliki distribusi yang normal, sedangkan untuk data sikap memiliki probabilitas sebesar 0,652>0,05 maka data sikap dapat disimpulkan memiliki distribusi data yang normal. 3. Uji Homogenitas Analisis ini bertujuan untuk menguji apakah sampel dalam penelitian ini berasal dari populasi yang memiliki variansi yang sama atau

42

tidak. Teknik uji yang digunakan adalah metode Levenee Test. Rangkuman hasil analisis dari uji homogenitas dapat dilihat pada tabel 7 berikut : Tabel 7. Hasil Uji Homogenitas Pengetahuan dan Sikap. Variabel Pengetahuan Sikap Probabilitas 0,167 0.266 Konstanta (α) 0,05 0,05

Sumber : Hasil Pengolahan Data Pada Lampiran 12. Berdasarkan tabel 7 hasil probabilitas dari uji Levenee Test pada data pengetahuan sebesar 0,167>0,05 dan sikap sebasar 0,266>0,05 dengan demikian data pengetahuan dan sikap dapat disimpulkan memiliki variansi yang homogeny. C. Analisis Data dan Pengujian Hipotesis Setelah diketahui bahwa semua data yang telah diuji dalam keadaan normal dan homogeny, maka kemudian diadakan pengujian hipotesis. Uji hipotesis yang digunakan adalah Deskriptif Kuantitatif. Hasil dari perhitungan kuesioner yang telah disebarkan pada responden didapat nilai rata-rata pengetahuan guru sebesar 7,35 dan nilai rata-rata sikap guru dalam merespon bencana sebesar 7,1 sehingga

ditemukannya adanya keseimbangan nilai antara pengetahuan guru dan sikap dalam merespon bencana. Temuan ini menandakan bahwa antara pengetahuan dengan kesiapsiagaan memiliki hubungan yang erat. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara nilai pengetahuan terhadap nilai sikap sehingga dapat diketahui semakin tinggi nilai pengetahuan maka akan diikuti kenaikan nilai sikap guru.

43

Kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan guru dalam mengkaji potensi bencana, sehingga hipotesis yang diajukan peneliti dapat diterima. Sesuai penemuan di lapangan bahwa ukuran pengetahuan guru memiliki hubungan dengan kesiapsiagaan menghadapi bencana, namun dalam menentukkan tingkat kesiapsiagaan sekolah tidak cukup hanya menggunakan satu variabel saja, sehingga tingginya nilai pengetahuan guru tidak akan berarti jika variabel yang lain tidak terpenuhi oleh sekolah. D. Pembahasan Hasil Analisis Data Berdasarkan hasil temuan di lapangan maka secara garis besar peran guru terhadap kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana dapat diidentifikasikan sebagai berikut : 1. Kemampuan Guru Secara umum yang menjadi responden adalah semua guru yang terdapat pada SD N Kampung Sewu 25, SD N Karengan 124 dan SMP MIS (Modern Islamic School) Surakarta yang secara langsung/tidak langsung mengalami kejadian bencana terutama banjir. Berdasarkan dinamika berfikir secara ORID maka didapatkan kemampuan guru dalam kaitannya dengan bencana dalam penelitian ini dibagi menjadi : a. Pengetahuan Dasar Guru Terhadap Bencana Pengetahuan dasar bencana merupakan indikator yang sangat mendasar dalam kemampuan guru saat menghadapi bencana, karena guru tidak mungkin mampu menyikapi dan merespon potensi bencana

44

yang ada di lingkungan sekolah tanpa memiliki dasar pengetahuan yang baik. Berdasarkan tahap objektif (O) secara umum hasil kuesioner yang dibagikan kepada 34 responden diperoleh hasil sebagai berikut; 3 responden memperoleh nilai 5, 6 responden memperoleh nilai 6, 7 responden memperoleh nilai 7, 8 responden memperoleh nilai 8, 9 responden memperoleh nilai 6 dan 4 responden memperoleh nilai 10. Hasil rata-rata nilai dari pengetahuan dasar bencana sebesar 7,5 sehingga dapat dikategorikan pengetahuan dasar kebencanaan guru baik. Jawaban responden secara gasir besar tentang pengetahuan dasar bencana dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Bencana merupakan fenomena alam yang sifatnya merusak dan merugikan manusia 2) Berdasarkan penyebabnya bencana dibedakan menjadi dua yaitu bencana alam dan bencana sosial. 3) Dalam mengurangi dampak bencana sekolah memiliki peran utama yaitu meningkatkan kesadaran siswa dan warga masyarakat tentang bencana 4) Tujuan diberikannya pendidikan mitigasi bencana kepada siswa adalah untuk meningkatkan kapasitas siswa dalam menghadapi bencana. b. Kemampuan Guru Dalam Mengkaji Potensi Bencana Kemampuan guru dalam mengkaji potensi bencana merupakan dasar dari sikap guru dalam merespon bencana, karena guru tidak

45

mungkin mampu merespon/menyikapi bencana secara benar apabila tidak mampu mengkaji potensi bencana yang ada di lingkungan sekolah dengan baik. Berdasarkan tahap objektif (O) secara umum hasil kuesioner yang dibagikan kepada 34 responden diperoleh hasil sebagai berikut; 4 responden memperoleh nilai 5, 8 responden memperoleh nilai 6, 7 responden memperoleh nilai 7, 7 responden memperoleh nilai 8, 5 responden memperoleh nilai 9 dan 3 responden memperoleh nilai 10. Hasil rata-rata nilai dari kemampuan mengkaji potensi bencana sebesar 7,2 sehingga dapat dikategorikan pengetahuan dasar kebencanaan guru cukup. Jawabaan terhadap kemampuan mengkaji potensi bencana secara garis besar dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Berdasarkan letak geografisnya Indonesia merupakan daerah yang sangat rawan bencana. 2) Memahami bahwa bencana alam tidak dapat diprediksi kapan terjadinya sehingga kita perlu menghindarinya. 3) Belajar dari peristiwa bencana yang telah terjadi dan tetap bersikap tenang serta saling menolong. 4) Lebih mengenali dan menjaga lingkungan tempat tinggal. c. Sikap Sikap merupakan perwujudan dari pengetahuan yang

diimplementasikan melalui sebuah tindakan dan ketrampilan untuk mempertahankan diri dalam menghadapi bencana, secara umum hasil

46

kuesioner yang dibagikan kepada 34 responden diperoleh hasil sebagai berikut; 5 responden memperoleh nilai 3, 10 responden memperoleh nilai 6, 11 responden memperoleh nilai 7, 8 responden memperoleh nilai 8, 2 responden memperoleh nilai 9 dan tidak ada responden yang memperoleh nilai 10. Hasil rata-rata nilai dari kemampuan mengkaji potensi bencana sebesar 7,1 sehingga dapat dikategorikan sikap guru dalam merespon bencana cukup. Tahap-tahap yang terkait dengan sikap dan ketrampilan akan kebencanaan meliputi 3 tahap, yakni reflektif (R), intepretatif (I) dan decision (D). untuk memahami lebih lanjut tentang tahap kesadaran guru dalam menghadapi bencana banjir akan diuraikan berikut: Tabel 8.Tahap Reflektif Tentang Kebencanaan Banjir.
NO

sebagai

Pernyataan
Saya sedih banjir membuat kegiatan sekolah tidak dapat berlangsung. Saya sedih banjir membuat warga banyak kehilangan harta benda. Saya sedih banyak warga dan siswa belum sadar akan menjaga konservasi lingkungannya. Saya takut banjir akan membuat saya kehilangan anggota keluarga. Saya kawatir banyak siswa terserang penyakit akibat banjir Saya sedih banyak warga belum sadar untuk menjaga konservasi lingkungan Saya takut jika banjir terjadi di lingkungan rumah saya

TS F 0 % 0% F 8

KS % 22,8% F 11

S % 31,4% F 16

SS % 45,7%

Jumlah

1

34

2

0

0%

4

11,4%

17

48,6%

14

50%

34

3

2

5,7%

3

8,6%

20

57,1%

10

28,6%

34

4

5

14,3%

5

14,3%

19

54,2%

6

17,1%

34

5

0

0%

0

0%

23

65,7%

12

34,3%

34

6 7

0 5

0% 14,3%

3 5

8,6% 14,3%

20 13

57,1% 37,1%

12 12

34,3% 34,3%

34 34

Sumber : Data Primer Penelitian 2013.

47

Keterangan : TS = Tidak Sesuai KS = Kurang Sesuai

S SS

= Sesuai = Sangat Sesuai

Berdasarkan tabel 8 dapat disimpulkan bahwa secara reflektif, guru cenderung menyatakan sangat sesuai dengan keadaan bahwa saat terjadi banjir menyebabkan perasaan sedih karena kegiatan

pembelajaran tidak dapat berlangsung, dan cenderung menyatakan sesuai bahwa banjir menyebabkan banyak kehilangan harta benda, kehilangan keluarga, siswa terserang penyakit, dan warga belum sadar untuk menjaga lingkungan. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa kesadaran guru terhadap bencana sudah mulai tumbuh akibat dari kejadian bencana yang pernah terjadi, sehingga jika nanti terjadi bencana guru dapat mengetahui kemungkinan buruk yang diakibatkan oleh bencana. Tabel 9. Tahap Intepretatif Tentang Kebencanaan Banjir.
NO 1 2 3 4 5 Pernyataan Banjir membuat saya banyak belajar Banjir mengingatkan kita untuk menggalakan penghijauan Banjir mengingatkan kita untuk tidak menebang pohon sembarangan Banjir mengingatkan kita akan kebesaran Allah SWT Banjir membuat saya belajar untuk lebih mandiri TS F 1 0 0 0 2 % 2,9% 0% 0% 0% 5,7% F 4 4 2 4 5 KS % 11,4% 11,4% 5,7% 11,4% 14,3% F 20 13 13 3 17 S % 57,1% 37,1% 37,1% 8,6% 48,6% F 10 18 20 28 11 SS % 28,6% 51,4% 57,1% 80% 31,4% Jumlah 34 34 34 34 34

Sumber : Data Primer Penelitian 2013. Keterangan : TS = Tidak Sesuai S = Sesuai KS = Kurang Sesuai SS = Sangat Sesuai

48

Berdasarkan tabel 9 dapat disimpulkan bahwa secara intepretatif, guru cenderung menyatakan sangat sesuai dengan keadaan bahwa saat terjadi banjir mengingatkan untuk menggalakan penghijauan dan banjir mengingatkan akan kuasa Allah SWT, dan cenderung menyatakan sesuai bahwa banjir membuat guru banyak belajar dan lebih mandiri. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa tidak selamanya bencana memberikan dampak negatif namun juga memberikan dampak yang positif yaitu membuat manusia untuk lebih belajar dan menghargai lingkungannya. Tabel 10. Tahap Decision Tentang Kebencanaan Banjir
NO 1 Pernyataan Saya ikut menyelamatkan barang-barang penting saat banjir terjadi di sekolah Warga sekolah perlu diberikan simulasi tata cara menghadapai bencana banjir Sekolah perlu membuat jalur evakuasi dan tempat penyelamatan diri jika terjadi bencana Tetap memilih tinggal di daerah rawan bencana karena tempat kelahiran Saat terjadi banjir semua warga sekolah dalam penyelamatan diri harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sekolah Pendidikan tentang bencana perlu segera diberikan kepada siswa dan masyarakat Saya ikut membantu menyiapkan tempat pengungsian saat terjadi bencana TS F 0 % 0% F 5 KS % 14,3% F 15 S % 42,95 % 45,7% F 15 SS % 42,95% Jumlah 34

2

2

5,7%

3

5,6%

14

16

45,7%

34

3

1

2,9%

2

5,7%

20

34,3%

12

34,3%

34

4

12

34,3%

16

45,7%

4

8,6%

3

8,6%

34

5

3

8,6%

4

11,4%

20

22,9%

8

22,9%

34

6

0

0%

5

14,3%

15

42,9%

15

42,9%

34

7

1

2,9%

4

11,4%

23

65,7

7

20%

34

Sumber : Data Primer Penelitian 2013. Keterangan : TS = Tidak Sesuai S = Sesuai KS = Kurang Sesuai SS = Sangat Sesuai

49

Berdasarkan tabel 10 dapat disimpulkan bahwa secara decision, guru cenderung menyatakan sangat sesuai dengan keadaan bahwa saat terjadi banjir untuk ikut menyelamatkan barang-barang penting sekolah dan perlu dilakukannya simulasi dalam menghadapi bencana, sedangkan cenderung menyatakan sesuai bahwa sekolah perlu membuat jalur evakuasi, pelaksanaan prosedur penyelamatan yang ditetapkan sekolah, pemberian pendidikan kebencanaan kepada siswa dan pembuatan tempat pengungsian, dan cenderung memilih tidak sesuai untuk memilih tetap tinggal di daerah rawan bencana. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa respon guru dalam menghadapi bencana sudah cukup terbentuk oleh pengalaman dalam menghadapi bencana yang pernah dialami. 2. Kesiapsiagaan Sekolah Kesiapsiagaan sekolah merupakan hasil dari jawaban ketiga parameter sekolah siaga bencana yang diuji, meliputi : a. Kebijakan Kebijakan pada dasarnya adalah bentuk dukungan secara formal dari pimpinan sekolah yang dituangkan dalam peraturan sekolah dan kesepakatan mengenai hal yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Berdasarkan temuan dilapangan maka dapat diketahui sebagai berikut :

50

Tabel 11.Kebijakan Sekolah.
NO 1 2 3 4 5 6 Item Pemeriksaan Sekolah memiliki peraturan yang dibuat untuk mengantisipasi bencana Sekolah memiliki tim penanggulangan bencana Sekolah mengintegrasikan pendidikan bencana dalam kurikulum sekolah Sekolah mengirimkan guru untuk mengikuti diklat pelatihan bencana Sekolah memiliki forum komunikasi yang membahas kebencanaan Sekolah mensosialisasikan kebijakan kebencanaan kepada warga sekolah Sd Karengan Ya Tidak Sd Kampung Sewu Ya Tidak Smp MIS Ya Tidak

       

     

 

 

Sumber : Data Primer Penelitian 2013. Berdasarkan tabel 11 dapat diketahui bahwa dari 6 parameter kebijakan sekolah hanya melaksanakan 2 parameter yaitu; Sekolah memiliki peraturan yang dibuat untuk mengantisipasi bencana dan Sekolah memiliki tim penaggulangan bencana, namun untuk 4 parameter yang lain seperti; sekolah mengintegrasikan pendidikan bencana dalam kurikulum sekolah, sekolah mengirimkan guru untuk

mengikuti diklat pelatihan bencana, sekolah memiliki forum komunikasi yang membahas kebencanaan, dan sekolah

mensosialisasikan kebijakan kebencanaan kepada warga sekolah, belum dapat dilaksanakan sekolah sehingga perlu dilakukan

pengkajian ulang terhadap keempat parameter tersebut agar diketahui permasalahannya dan kendala kenapa sekolah tidak dapat

melaksanakan kebijakan tersebut. Penemuan masalah terhadap parameter tersebut dengan harapan dapat dilakukan perbaikan

51

sehingga untuk waktu yang akan datang parameter tersebut sudah dapat dilaksanakan oleh sekolah. Hasil analisis kebijakan sekolah dapat diketahui bahwa ketiga sekolah belum memiliki peraturan yang dibuat secara sepesifik untuk mengantisipasi apabila bencana terjadi. Kebijakan merupakan salah satu dasar yang harus dipenuhi dalam menciptakan Sekolah Siaga Bencana (SSB) dan hal ini tidak dapat dipenuhi secara utuh oleh sekolah. b. Rencana Kesiapsiagaan Perencanaan kesiapsiagaan dibentuk dengan tujuan untuk menjamin adanya tindakan cepat dan tepat saat terjadi bencana dengan memadukan dan mempertimbangkan sistem penanggulangan bencana disekolah berdasarkan kondisi wilayah setempat.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dilapangan maka didapatkan hasil sebagai berikut. Tabel 12. Rencana Kesiapsiagaan.
NO Item Pemeriksaan Sekolah memiliki dokumen penilaian resiko bencana yang disusun secara partisipatif dengan warga sekolah Sekolah memiliki protokol komunikasi dan kordinasi Sekolah memiliki protap kesiagaan sekolah yang disepakati dan dilaksanakan seluruh komponen sekolah Dokumen penting sekolah digandakan dan tersimpan baik, agar tetap ada meskipun sekolah terkena bencana Adanya peta jalur evakuasi sekolah Memiliki lokasi evakuasi dan sudah tersosialisasi ke komponen sekolah Sd Karengan Ya Tidak Sd Kampung Sewu Ya Tidak Smp MIS Ya Tidak

1 2 3

      

     

  

4 5 6

 

Sumber : Data Primer Penelitian 2013.

52

Berdasarkan tabel 12 dapat diketahui bahwa dari 6 parameter rencana kesiapsiagaan, sekolah baru melaksanakan 1 parameter yaitu; Dokumen penting sekolah digandakan dan tersimpan baik, agar tetap ada meskipun sekolah terkena bencana, namun untuk 5 parameter yang lain seperti; Sekolah memiliki dokumen penilaian resiko bencana yang disusun secara partisipatif dengan warga sekolah, Sekolah memiliki protokol komunikasi dan kordinasi, Sekolah memiliki protap kesiagaan sekolah yang disepakati dan dilaksanakan seluruh komponen sekolah, Adanya peta jalur evakuasi sekolah, dan Memiliki lokasi evakuasi dan sudah tersosialisaikan ke komponen sekolah, belum dapat

dilaksanakan oleh sekolah sehingga perlu dilakukan peninjauan ulang permasalahan kenapa tidak terlaksananya kelima parameter dari rencana tanggap darurat. Peninjauan ulang masalah diharapkan memberikan solusi kepada sekolah agar dapat melaksanakan parameter rencana tanggap darurat secara menyeluruh. Terlaksananya parameter tanggap darurat bertujuan untuk memberikan tuntunan dalam pelaksanaan kesiapsiagaan sehingga kesiapsiagaan guru tidak hanya sebatas reaksional dan spontanitas tanpa adanya prosedur yang pasti. c. Mobilitas Sumberdaya Mobilitas sumberdaya merupakan wujud dari implementasi kebijakan dan rencana kesiapsiagaan. Mobilitas sumberdaya

merupakan cerminan dari kemampuan sekolah dan pemangku sekolah,

53

dalam mobilisasi terbuka peluang partisipasi dari para pemangku kepentingan lainnya. Berdasarkan observasi dan wawancara

dilapangan maka didapatkan hasil sebagai berikut. Tabel 13. Mobilitas Sumberdaya
NO 1 2 3 4 Item Pemeriksaan Adanya gugus siaga bencana sekolah yang termasuk perwakilan peserta didik Adanya perlengkapan dasar dan suplai kebutuhan dasar pasca bencana Pemantauan dan evaluasi partisipasi mengenai kesiagaan sekolah secara rutin Adanya kerjasama penanggulangan bencana dengan pihak luar sekolah Sd Karengan Ya Tidak Sd Kampung Sewu Ya Tidak Smp MIS Ya Tidak

    

   

  

Sumber : Data Primer Penelitian 2013. Berdasarkan tabel 13 dapat diketahui dari 4 parameter mobilitas sumberdaya, sekolah baru melaksanakan 1 parameter yaitu; Adanya kerjasama penanggulangan bencana dengan pihak luar sekolah, namun untuk 3 parameter yang lain belum dapat dilaksanakan oleh sekolah sehingga perlu dilakukan pengkajian ulang ketiga parameter tersebut. Parameter yang tidak terpenuhi dapat disebabkan pada kedua indikator yang dikaji sebelumnya masih terdapat banyak parameter yang belum dapat dilaksanakan oleh sekolah sehingga mempengaruhi dalam pelaksanaan mobilitas sumberdaya. Mobilitas yang dilakukan sekolah hanya berkaitan menjalin kerjasama dengan pihak luar sekolah dalam penanggulangan bencana.

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan analisis data dan pembahasan data pada BAB IV, maka dapat disimpulkan: 1. Peran guru yang ditunjukkan dengan kemampuan guru dalam menghadapi bencana yang diukur berdasarkan pengetahuan dan sikap maka didapatkan hasil sebagai berikut : a. Pengetahuan dasar guru terhadap bencana diperoleh nilai terendah 5 dan tertinggi 10 dengan nilai rata-rata sebesar 7,5 sehingga dapat dikategorikan pengetahuan dasar kebencanaan guru baik. b. Kemampuan guru dalam mengkaji potensi bencana diperoleh nilai terendah 5 dan tertinggi 10 dengan nilai rata-rata sebesar 7,2 sehingga dapat dikategorikan kemampuan mengkaji potensi bencana yang dimiliki guru cukup. c. Sikap guru dalam menghadapi bencana diperoleh nilai terendah 5 dan tertinggi 9 dengan nilai rata-rata 7,1 sehingga dapat dikategorikan sikap guru dalam menghadapi bencana cukup. 2. Ditinjau dari parameter sekolah siaga bencana maka kesiapsiagaan sekolah didapatkan hasil sebagai berikut. a. Kebijakan sekolah tentang bencana belum dirumuskan secara kongkrit oleh ketiga sekolah di lokasi penelitian, hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara dengan kepala sekolah bahwa hanya kebijakan yang 54

55

berhubungan dengan pendidikan yang telah diterapkan sejauh ini. Sehingga menyebabkan guru tidak memiliki pedoman yang kuat dalam upaya kesiapsiagaan b. Perencanaan kesiapsiagaan sekolah secara garis besar belum disusun oleh komponen sekolah hal ini dapat dilihat dari hasil observasi

bahwa dalam menghadapi bencana sekolah tidak memiliki rencana yang terpadu dalam mengurangi kerugian akibat bencana. Rencana yang disusun hanya sebatas pengalaman kerugian yang pernah terjadi dimasa lalu tanpa dilakukan identifikasi ulang kemungkinan kerugian yang dapat terjadi dimasa depan sehingga menyebabkan upaya penanggulangan bencana yang dilakukan sekolah hanya bersifat reaksional dan spontanitas. c. Mobilitas sumberdaya yang telah dilakukan oleh sekolah baru berkaitan kerjasama penanggulangan bencana dengan pihak luar sekolah sedangkan untuk mobilitas sumberdaya dalam internal sekolah masih belum terlaksanakan, sehingga dalam penaggulangan bencana sekolah belum memiliki kemandirian karena masih terlalu tergantung dengan pihak eksternal sekolah. B. Implikasi Berdasarkan pada kajian teori dan hasil penelitian ini, penulis akan menyampaikan implikasi yang berguna baik secara teoritis maupun secara praktis dalam upaya peningkatan kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana.

56

1. Implikasi Teoritis a. Pengetahuan merupakan faktor yang penting dalam kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana, namun bukanlah merupakan satusatunya faktor yang menentukan kesiapsiagaan di sekolah karena masih ada faktor lain yang memberikan pengaruh seperti kebijakan dan rencana tanggap darurat. b. Sekolah siaga bencana tidak akan tercapai apabila sekolah tidak memiliki dan melaksanakan kebijakan, rencana kesiapsiagaan serta mobilitas sumberdaya secara konsisten. c. Penanaman kesiapsiagaan di sekolah dapat berhasil dengan baik jika ketiga faktor dapat dijalankan secara berimbang dan berdampingan. 2. Implikasi Praktis Penelitian yang dilakukan pada SD N Kampung Sewu 25, SD Karengan 124, dan SMP MIS (Modern Islamic School) Surakarta yang berada di kawasan rawan bencana banjir di Kelurahan Sewu Kecamatan Jebres Kota Surakarta menunjukan dari hasil kedua variabel yang diteliti bahwa sekolah belum siaga terhadap bencana karena hanya memenuhi satu variabel yang dapat dikategorikan baik yaitu kemampuan guru namun pada variabel kesiapsiagaan dari ketiga parameter yang diuji masih masuk dalam kualifikasi kurang. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kesiapsiagaan sekolah akan tercapai apabila setiap variabel dapat dijalankan secara berdampingan.

57

C. Saran Kegiatan penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pihak-pihak yang terkait. Melalui hasil penelitian ini disarankan agar : 1. Komponen sekolah lebih peka terhadap kondisi lingkungan sekitar sekolah sehingga setiap kemungkinan bencana yang terjadi dapat dideteksi sejak dini. 2. Meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana, seharusnya sekolah memberikan diklat kepada tenaga pendidik agar dapat mengembangkan parameter sekolah siaga bencana dengan benar. 3. Sekolah menetapkan kebijakan tentang bencana secara sistematik dan sesuai indikator kebijakan yang dirumuskan dalam konsorsium sekolah siaga bencana sehingga guru memiliki pedoman yang pasti dalam upaya kesiapsiagaan bencana. 4. Warga sekolah menyusun rencana kesiapsiagaan yang disepakati dan dilaksanakan bersama, sehingga dalam menghadapi bencana warga sekolah tidak hanya berdasarkan pada pengalaman bencana yang pernah terjadi, melainkan berdasarkan protap yang disepakati. 5. Sekolah perlu mengadakan praktek simulasi yang dilaksanakan rutin setiap tahunnya sehingga kesiapsiagaan warga sekolah semakin terbentuk.

58

DAFTAR PUSTAKA Budiyono. 2000. Statistik Dasar Untuk Penelitian. Surakarta: FKIP UNS. Dwiningrum, Siti Irine Astuti. 2010. Sosialisasi Pendidikan Mitigasi Pada Lingkungan Rawan Bencana. Jurnal. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta. Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Rineke Cipta. Jurenzy, Theresa. 2011. Karakteristik Sosial Budaya Masyarakat dalam Kaitannya Dengan Kesiapsiagaan dan Mitigasi bencan Di Daerah Rawan Bencana. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor Kodoatie, Robert.J dan Roestam Sjarief. 2006. Pengelolaan Bencana Terpadu. Jakarta: Yarsif Watampone. Konsorsium Pendidikan Bencana Indonesia. 2011. Kerangka Kerja Sekolah Siaga Bencana. Jakarta. Mulyasana, Dedy. 2011. Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Naim, Ngainun. 2009. Menjadi Guru Inspiratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Pribadi, S. Krishna. 2008. Buku Pegangan Guru : Pendidikan Siaga Bencana. Bandung: Pusat Mitigasi Bencana – Institut Teknologi Bandung. Sugiantoro, Ronny dan Hadi Purnomo. 2010. Manejemen Bencana Respons dan Tindakan Terhadap Bencana. Yogyakarta: Media Pressindo. Sukmadinata, Nana Syaodih. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Singarimbun, Masri dan Sofian Efendi. 1995. Metode Penelitian Survai. Jakarta: PT Pustaka LP3ES Indonesia. Tim Pengembang MKDP Kurikulum Dan Pembelajaran Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan UPI. 2011. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Lampiran 1. Surat Izin Validasi Riset

59

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Jl. A. Yani Tromol Pos 1 – Pabelan, Kartasura Telp (0271) 717417 Fax: 715448 Surakarta 57102 Website: http://www.ums.ac.id Email: ums@ums.ac.id

Nomor Lamp Hal

: 1326/FKIP/C.2-III/I/2013 :: MOHON IJIN VALIDASI RISET

Surakarta, 14 Febuari 2013

Kepada

: Yth. Bapak/Ibu kepala sekolah di SD Muhammadiyah 6 Surakarta Assalamu’alaikum Wr.Wb Pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta, menyatakan bahwa mahasiswa : Nama Nim Jurusan Fakultas : Imam Bashori : A. 610080001 : Pendidikan Geografi : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Akan mengadakan riset guna penyusunan skripsi dengan judul : PERAN GURU TERHADAP KESIAPSIAGAAN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR DI KELURAHAN SEWU

KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA. Mohon bantuan mahasiswa tersebut dapat diizinkan dalam pencarian data riset di wilayah/ tempat Bapak/ ibu. Atas kerjasama dan bantuannya diucapkan terimakasih Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

60

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Jl. A. Yani Tromol Pos 1 – Pabelan, Kartasura Telp (0271) 717417 Fax: 715448 Surakarta 57102 Website: http://www.ums.ac.id Email: ums@ums.ac.id

Nomor Lamp Hal

: 1326/FKIP/C.2-III/I/2013 :: MOHON IJIN VALIDASI RISET

Surakarta, 14 Febuari 2013

Kepada

: Yth. Bapak/Ibu kepala sekolah di SMP N 2 Kartasura Assalamu’alaikum Wr.Wb Pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta, menyatakan bahwa mahasiswa : Nama Nim Jurusan Fakultas : Imam Bashori : A. 610080001 : Pendidikan Geografi : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Akan mengadakan riset guna penyusunan skripsi dengan judul : PERAN GURU TERHADAP KESIAPSIAGAAN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR DI KELURAHAN SEWU

KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA. Mohon bantuan mahasiswa tersebut dapat diizinkan dalam pencarian data riset di wilayah/ tempat Bapak/ ibu. Atas kerjasama dan bantuannya diucapkan terimakasih Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Lampiran 2. Surat Izin Riset

61

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Jl. A. Yani Tromol Pos 1 – Pabelan, Kartasura Telp (0271) 717417 Fax: 715448 Surakarta 57102 Website: http://www.ums.ac.id Email: ums@ums.ac.id

Nomor Lamp Hal

: 1326/FKIP/C.2-III/I/2013 :: MOHON IJIN RISET

Surakarta, 22 Januari 2013

Kepada

: Yth. Bapak/Ibu kepala sekolah di SD N Karengan 124 Assalamu’alaikum Wr.Wb Pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta, menyatakan bahwa mahasiswa : Nama Nim Jurusan Fakultas : Imam Bashori : A. 610080001 : Pendidikan Geografi : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Akan mengadakan riset guna penyusunan skripsi dengan judul : PERAN GURU TERHADAP KESIAPSIAGAAN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR DI KELURAHAN SEWU

KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA. Mohon bantuan mahasiswa tersebut dapat diizinkan dalam pencarian data riset di wilayah/ tempat Bapak/ ibu. Atas kerjasama dan bantuannya diucapkan terimakasih Wassalamu’alaikum Wr. Wb

62

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Jl. A. Yani Tromol Pos 1 – Pabelan, Kartasura Telp (0271) 717417 Fax: 715448 Surakarta 57102 Website: http://www.ums.ac.id Email: ums@ums.ac.id

Nomor Lamp Hal

: 1324/FKIP/B.2-III/I/2013 :: MOHON IJIN RISET

Surakarta, 22 Januari 2013

Kepada

: Yth. Bapak/Ibu kepala sekolah di SD N Kampung Sewu Assalamu’alaikum Wr.Wb Pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta, menyatakan bahwa mahasiswa : Nama Nim Jurusan Fakultas : Imam Bashori : A. 610080001 : Pendidikan Geografi : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Akan mengadakan riset guna penyusunan skripsi dengan judul : PERAN GURU TERHADAP KESIAPSIAGAAN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR DI KELURAHAN SEWU

KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA. Mohon bantuan mahasiswa tersebut dapat diizinkan dalam pencarian data riset di wilayah/ tempat Bapak/ ibu. Atas kerjasama dan bantuannya diucapkan terimakasih Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

63

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Jl. A. Yani Tromol Pos 1 – Pabelan, Kartasura Telp (0271) 717417 Fax: 715448 Surakarta 57102 Website: http://www.ums.ac.id Email: ums@ums.ac.id

Nomor Lamp Hal

: 1325/FKIP/D.2-III/I/2013 :: MOHON IJIN RISET

Surakarta, 22 Januari 2013

Kepada

: Yth. Bapak/Ibu kepala sekolah di SMP MIS Surakarta Assalamu’alaikum Wr.Wb Pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta, menyatakan bahwa mahasiswa : Nama Nim Jurusan Fakultas : Imam Bashori : A. 610080001 : Pendidikan Geografi : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Akan mengadakan riset guna penyusunan skripsi dengan judul : PERAN GURU TERHADAP KESIAPSIAGAAN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR DI KELURAHAN SEWU

KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA. Mohon bantuan mahasiswa tersebut dapat diizinkan dalam pencarian data riset di wilayah/ tempat Bapak/ ibu. Atas kerjasama dan bantuannya diucapkan terimakasih Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

64 Lmpiran 3. Surat Keterangan Pemberian Izin SMP MIS

65 Lampiran 4. Profile Sekolah

DATA FORMASI PEMBAGIAN TUGAS GURU / KARYAWAN SMP MODERN ISLAMIC SCHOOL ( MIS ) SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2012 / 2013
No. 1. Nama Drs. M. Ali Darokah Hj.Siti Laksmi Djubaidah, SPd NIP Tmpt / Tgl Lahir Surakarta, 23 – 01 – 1967 Surakarta, 24 – 04 – 1953 Alamat Semanggi Rt.04 / XXI Pasar Kliwon Surakarta Gg.Gelatik 31 Waringin Rejo Rt.02 / XIX Cemani Sukoharjo Kampungsewu Rt.05 / IX Surakarta Jabatan Kep.Sekolah Golongan / Pangkat TMT 19 – 07 – 2010 01 – 03 – 1989 19 – 07 2010 Yay : 25/6/200
CPNS: 1/1/2008 PNS : 1/1/2010

Lampiran 5. Formasi Pembagian Guru Dan Karyawan

Masa Kerja Tahun Bulan 2 23 3 7

2.

19530424 198903 2 002

Guru Negeri Dpk. WKS

Penata Tk.I III / d

Ijazah Tertinggi / Jurusan / Tahun S1 Syari’ah Peradilan Agama Akta IV Th.1992 Sarjana Matematika Th.2003

Mata Pelajaran Agama

Jml Jam

Ket -

Matematika

-

2

3

3.

Nuning Mulyawati, SPd

19731104 200801 2 004

Surakarta, 04 – 11 – 1973

Kepala Lab

III / a

12

4

Sarjana Biologi Th.2001

IPA

-

4.

Siti Rachmawati,S.Pd

-

Yogyakarta, 27 – 12 – 1967

5.

Dra.Yupri Hantini

-

Ngawi, 03 – 11 – 1966

Jl.Krakatau Barat Rt.06 / XXIV Nusukan Banjarsari, Surakarta Trayon Rt.01 / IV Klumprit Mojolaban, Sukoharjo Cinderejo Kidul Rt.04 / VIII Gilingan Surakarta Ngoresan Rt.02 / XXII Kec.Jebres Surakarta Waringin Rejo Rt.02 / XIX Cemani Sukoharjo

GT Yayasan

01 – 10 – 1989 23 -

D2 Bahasa Inggris Th.1988

Bahasa Inggris Bahasa Jawa

-

GT Yayasan

01 – 08 – 1991 01 – 08 – 1997 25 – 07 – 2002 21 2

6.

Tri Prasetyanto

-

Surakarta, 11 – 12 – 1961 Surakarta, 07 – 08 – 1980 Jakarta, 07 – 08 – 1980

GTT Yayasan

-

15

2

Sarjana Ilmu Pendd.Kurikulum dan Teknologi Pendd (PKTP) Th.1990 D III Jurusan Tari Th.1986

BP BK

-

Kesenian Daearah

-

7.

Fitria Nur Ariyani, SPd

-

GTT Yayasan

-

10

3

8.

Diana Wulandari, SPd

-

GTT Yayasan

01 – 07 – 2005 7 3

Sarjana Pendidikan Ekonomi Th.2003 Sarjana Pendidikan Bhs.Indonesia dan Sastra Indonesia dan

IPS Bahasa Jawa

-

Bhs.Indonesia

-

66

9..

Supriyatna, SPd

-

Sragen, 04 – 08 – 1983 Surakarta, 27 – 06 – 1984

10..

Tri Nur Hapsari, SPd

-

Wonosari Rt.04 / VIII Banaran, Kalijambe, Sragen Semanggi Rt. 03 / XVII Pasar Kliwon 57117 Surakarta Sentul Rt. 03 / X Bekonang Mojolaban Sukoharjo

GTT Yayasan

01 – 07 – 2005 01 – 07 – 2008 4 3 7 3

Daerah Th.2007 Sarjana Pendidikan Sejarah Th.2003 S1 UMS Pendidikan Bhs.Indonesia Sastra Indonesia .dan Daerah 2008 Sarjana Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi 2004 Ijazah Tertinggi / Jurusan / Tahun S1 Sejarah 2005

IPS

-

GTT Yayasan

Bhs.Indonesia Bahasa Arab

-

11.

Dwi Sarono, SPd

-

Sukoharjo, 20 – 04 – 1977

GTT Yayasan

01 – 07 – 2009 3 3

Penjaskes

-

Tahun No. 12. Nama Sri Rejeki, SPd NIP Tmpt / Tgl Lahir Solo, 12 – 03 – 1971 Alamat Jl.Bagong Blok H/7 Ngringo Indah Palur Jabatan GTT Yayasan Golongan / Pangkat TMT

Bulan

Mata Pelajaran Agama Pkn Budi Pekerti

Jml Jam

Ket -

01 – 07 – 2009

3

3

13.

Zakaria Zuhdi , S. Kom.

-

Solo , 01 – 01 1988

Semanggi Rt. 04 / XX pasar Kliwon Surakarta

GTT Yayasan

-

01 – 07 2010

3

3

S. Kom. STMIK Sinar Nusantara Surakarta 2011

TIK

14

Ardi Gunawan

-

Solo , 01 – 05 1989

Tegal harjo Rt. 01 / Vi Jebres Surakarta

GTT Yayasan

-

20 – 07 2010

2

-

Semester Akhir Pertunjukan Perdalangan UNS tahun 2011

Kesda Seni Rupa Seni Musik

67

15

Hudi Ari Setyawan,S.Pd

-

Surakarta, 01 – 02 1988

Praon Rt 6 Rw 8 Nusukan Surakarta

GTT Yayasan

-

01 – 07 2012

S1 Matematika UMS Tahun 2012

Matematika

16 Akhidah Aminati

-

17.

Riyadi, S.Pd

-

Surakarta, 12 - 121969

Pucang sawit Rt02/07 Jebres, Surakarta

GTT Yayasan

-

01 – 07 2011

2

4

S1 Biologi

IPA

GURU EKSTRA KURIKULER

1. Sri Edi

Banjar Negara 01 – 09 1986

Sawah Karang Rt. 03 / 26 Jebres Surakarta

GTT Yayasan

-

15 – 11 2009

Semester Akhir FKIP Bahasa Inggris UNS Tahun 2011

Bhs. Inggris

-

-

2. Edy Haryanto

Surakarta, 01 – 11 – 1982

Kampung Sewu Rt. 05 / VI Surakarta

GTT Yayasan

01 – 07 – 2005 7 3

SMK 3 tahun / Teknik Elektro Th.2002

Pembina Pramuka

Surakarta, 20 Oktober 2012 Kepala SMP MIS Ska.

Drs. M. Ali Darokah 68

DATA FORMASI PEMBAGIAN TUGAS GURU / KARYAWAN SMP MODERN ISLAMIC SCHOOL ( MIS ) SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2012 / 2013

No. 1.

Nama Sularti

NIP -

Tmpt / Tgl Lahir Solo, 27 – 09 – 1947 Solo, 15 – 05 – 1951 Riau, 15 – 05 – 1959 Surakarta, 16 – 06 – 1966 Boyolali, 03 – 04 – 1969 Surakarta, 29 – 10 – 1971

Alamat Pucangsawit Rt.05 / VIII Surakarta Semanggi Rt.04 / XX Ps.Kliwon Surakarta Kampung Baru Rt.02 / I Surakarta Kampung Sewu Rt.05 / VI Surakarta Kampung Sewu Rt.01 / IV Surakarta Semanggi Rt.02 Rw 22 Surakarta

Jabatan Kep. Tata Usaha Bendahara Yayasan Perpustakaan

Golongan / Pangkat -

TMT 01 – 08 – 1966 01 – 08 – 1972 01 – 02 – 1982 01 – 07 – 1992 01 – 07 – 1991 06 – 10 2012

Masa Kerja Tahun Bulan

46

2

Ijazah Tertinggi / Jurusan / Tahun SKP Negeri / B Th.1965 SMEA Tata Buku Th.1970 SMKK Busana 1980 SMEA Negeri Tata Buku Th.1984 STM Pertanian Th.1989 SMA Tahun1991

Mata Pelajaran -

Jml Jam -

Ket -

2.

Suwarni

-

-

-

-

-

40

2

3.

Farida Ariyani

-

-

-

-

-

30

8

4.

Edi Suwarno

-

Pegawai Tata Usaha Pesuruh / Penjaga Sekolah Pegawai Tata Usaha

-

-

-

-

20

3

5.

Sutiman

-

-

-

-

-

21

3

6.

Budi Ahyari

-

-

-

-

-

-

1

Surakarta, 20 Oktober 2012 Kepala SMP MIS Ska.

Drs. M. Ali Darokah

69

70 Lampiran 6. Kuisoner KUESIONER PEMAHAMAN GURU TERHADAP BENCANA Kuisioner ini bertujuan untuk mengukur dan menilai pengetahuan dan kemampuan guru dalam mengkaji potensi bencana yang terdapat pada lingkungan sekitar sekolah. 1. Identitas responden Nama :...................................................................... Jabatan : ..................................................................... Sekolah : ..................................................................... 2. Pengetahuan dan kemampuan dalam mengkaji peotensi bencana Isilah pertanyaan pilihan ganda dibawah ini dengan memberika tanda (X) pada salah satu jawaban yang menurut bapak/ibu guru benar. 1. Obyektif (O) a. Pengetahuan dasar kebencanaan 1. Bencana merupakan fenomena alam yang sifatnya merusak dan merugikan manusia yang disebabkan oleh tenaga……. a. Endogen dan bumi c. Eksogen dan angin b. Bumi dan magma d. Endogen dan eksogen 2. Secara umum bencana dapat dibedakan menjadi…… a. Fisik c. Alam b. Sosial d. Fisik dan sosial 3. Gempa bumi merupakan salah satu bentuk bencana yang disebabkan oleh….. a. Angin b. Bergesernya lempeng samudra dan lempeng benua c. Air d. Gelombang 4. Banjir yang terjadi didaerah pesisir atau tepian pantai pada umunya disebabkan oleh…. a. Banjir Rob c. Banjir sungai b. Banjir bandang d. Banjir kota 5. Besarnya kemungkinan kerugian yang mungkin terjadi seperti hilangnya nyawa dan harta benda disebut….. a. Resiko bencana c. Manajemen bencana b. Mitigasi bencana d. Kesiapsiagaan 6. Suatu aksi atau aktifitas yang membuat pemerintah, organisasi dan msyarakat dapat merespon bencana yang bakal terjadi dengan cepat, tepat dan efektif disebut…… a. Resiko bencana c. Mitigasi bencana b. Manajemen bencana d. Kesiapsiagaan 7. Suatu badan yang dibentuk oleh pemerintah dengan tujuan untuk menangani bencana adalah….. a. BAPENAS c. BNPB b. BATAN d. BAPEPAM

71 8. Dalam mengurangi dampak bencana sekolah memiliki peran utama yaitu…. a. Membuat tanggul b. Menigkatkan kesadaran siswa dan warga masyarakat tentang bencana c. Penyalur bantuan bencana d. Menyiapkan tempat evakuasi 9. Tujuan diberikannya pelajaran mitigasi bencana kepada siswa adalah untuk…... a. Meningkatkan kapasitas siswa dalam menghadapi bencana b. Sebagai materi tambahan c. Menambah pengetahuan siswa d. Mengikuti tuntutan kurikulum 10. Suatu fenomena alam maupun sosial yang memiliki kecenderungan untuk meberikan dampak yang merugikan baik materi maupun jiwa kepada masyarakat atau kelompok, merupakan definisi dari….. a. Mitigasi c. Kapasitas b. Bencana d. Kesiapsiagaan b. Kemampuan mengkaji potensi bencana 1. Letak Indonesia yang teradapat pada pertemuan antara lempeng Eurasia dan indoaustralia menyebabkan Indonesia sangat rawan dari bencana…….. a. Gempa bumi c. Puting beliung b. Banjir d. Kebakaran 2. Berdasarkan letak geografis Indonesia yang memiliki iklim tropis maka bencana utama yang menjadi ancaman adalah……. a. Gunung melutus c. Gempa bumi b. Tsunami d. Kekeringan dan banjir 3. Indonesia merupakan negara yang dilalui jalur cincin api (ring of fire) dunia, hal ini menyebabkan Indonesia kaya akan….. a. Danau c. Gunung api b. Sungai d. Pegunungan 4. Secara geografis Kota Solo merupakan daerah cekungan (basin) antara gunung lawu dan gunung merapi sehingga Kota Solo sangat rawan bencana….. a. Banjir c. Tanah longsor b. Gempa bumi d. Kekeringan 5. Pada musim hujan selain bencana banjir yang menjadi ancaman di Kota Solo terdapat bencana lain yang siap untuk mengancam yaitu……. a. Banjir c. Puting beliung b. Gempa bumi d. Longsor 6. Longsor dapat terjadi dikarenakan tingginya curah hujan dan…….. a. Letak bukit c. Luas bukit b. Tinggi bukit d. Kemiringan lereng 7. Daerah pantai selatan jawa bila dilihat dari letak geografisnya merupakan zona rawan bencana…… a. Banjir dan longsor c. Gempa bumi dan kemarau b. Tsunami dan puting beliung d. Gempa bumi dan tsunami

72 8. Konversi lahan menjadi permukiman dan kebiasaan manusia membuang sampah sembarangan merupakan pemicu bencana….. a. Kekeringan c. Longsor b. Banjir d. Gempa bumi 9. Jika ditinjau dari keadaan topografi, Kelurahan Sewu merupakan daerah yang sangat rawan bencana……. a. Gempa bumi c. Banjir b. Longsor d. Kekeringan 10. Ancaman bahaya yang ditimbulkan dari bencana kekeringan adalah…….. a. Kelaparan dan kekurangan c. Kerusakan sarana pangan infrastruktur b. Meningkatnya penganguran d. Gangguan keamanan Isilah pernyataan dibawah ini dengan memberika satu tanda () pada kolom tidak sesuai (TS), kurang sesuai (KS), sesuai (S), dan sangat sesuai (SS) yang terdapat pada kuisioneir sesuai dengan pengetahuan bapak/ibu guru. 2. Reflektif (R) NO 1 2 3 4 5 6 7 Pernyataan Saya sedih banjir membuat kegiatan sekolah tidak dapat berlangsung. Saya sedih banjir membuat warga banyak kehilangan harta benda. Saya sedih banyak warga dan siswa belum sadar akan menjaga konservasi lingkungannya. Saya takut banjir akan membuat saya kehilangan anggota keluarga. Saya kawatir banyak siswa terserang penyakit akibat banjir Saya sedih banyak warga belum sadar untuk menjaga konservasi lingkungan Saya takut jika banjir terjadi di lingkungan rumah saya TS KS S SS

3. Intepretatif (I) NO 1 2 Pernyataan Banjir membuat saya banyak belajar. Banjir mengingatkan kita untuk penghijauan. menggalakkan TS KS S SS

73 3 4 5 Banjir mengingatkan kita untuk tidak menebang pohon sembarangan. Banjir mengingatkan kita akan kebesaran Allah SWT Banjir membuat saya belajar untuk lebih mandiri

4. Decision (D) NO 1 2 3 4 5 Pernyataan Saya ikut menyelamatkan barang-barang penting saat banjir terjadi di sekolah. Warga sekolah perlu diberi simulasi tata cara menghadapi bencana banjir. Menurut saya sekolah perlu membuat jalur evakuasi dan tempat penyelamatan diri jika terjadi bencana. Tetap memilih tinggal di daerah rawan bencana karena tempat kelahiran. Saat terjadi banjir semua warga sekolah dalam penyelamatan diri harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sekolah. Pendidikan tentang bencana perlu segera diberikan kepada siswa dan masyarakat Saya ikut membantu menyiapkan tempat pengungsian saat terjadi banjir TS KS S SS

6 7

\

74 Lampiran 7. Daftar Observasi Dan Wawancara FORMULIR OBSERVASI DAN WAWANCARA RENCANA TANGGAP DARURAT DAN KEBIJAKAN SEKOLAH Lokasi Pemeriksaan Tanggal Pemeriksaan Jam Pemeriksa : : : Pemeriksa dan Tanda Tangan

No 1 2 3 4 5 6

1. Observasi dan Wawancara Rencana Tanggap Darurat Item Pemeriksaan Sekolah memiliki dokumen penilaian resiko bencana yang disusun secara partisipatif dengan warga sekolah Sekolah memiliki protokol komunikasi dan kordinasi Sekolah memiliki protap kesiagaan sekolah yang disepakati dan dilaksanakan seluruh komponen sekolah Dokumen penting sekolah digandakan dan tersimpan baik, agar tetap ada meskipun sekolah terkena bencana Adanya peta jalur evakuasi sekolah Memiliki lokasi evakuasi dan sudah tersosialisaikan ke komponen sekolah

Ya

Tidak

Keterangan

2. Observasi dan Wawancara Kebijakan Sekolah No 1 2 3 4 5 6 Item Pemeriksaan Sekolah memiliki peraturan yang dibuat untuk mengantisipasi bencana Sekolah memiliki tim penaggulangan bencana Sekolah mengintegrasikan pendidikan bencana dalam kurikulum sekolah Sekolah mengirimkan guru untuk mengikuti diklat pelatihan bencana Sekolah memiliki forum komunikasi yang membahas kebencanaaan Sekolah mensosialisasikan kebijakan kebencanaan kepada warga sekolah Ya Tidak Keterangan

75 Lampiran 8. Uji Validitas Kuisoner Pengetahuan

76 Lampiran 9. Uji Reliabilitas Kuisoner Pengetahuan

77 Lampiran 10. Uji Validitas Kuisoner Sikap

78 Lampiran 11. Uji Reliabilitas Kuisoner Sikap

79 Lampiran 12. Uji Normalitas, Uji Homogenitas dan Uji Hipotesis a. Uji Normalitas
One-Sam ple Kolm ogorov-Sm irnov Test Pengetahuan N Normal Parameters
a,b

Sikap 34 56.56 7.909 .112 .112 -.091 .652 .789

34 Mean Std. Deviation 14.74 2.035 .140 .120 -.140 .816 .518

Most Extreme Differences

Absolute Positive Negative

Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

b. Uji Homogenitas
Test of Hom ogeneity of Variances Pengetahuan Levene Statistic 1.302 df1 8 df2 18 Sig. .303

ANOVA Pengetahuan Sum of Squares Betw een Groups Within Groups Total 78.284 58.333 136.618 df 15 18 33 Mean Square 5.219 3.241 F 1.610 Sig. .167

Test of Homogeneity of Variances Sikap Levene Statistic .724 df1 6 df2 25 Sig. .634

ANOVA Sikap Sum of Squares Between Groups Within Groups Total 622.460 1441.923 2064.382 df 8 25 33 Mean Square 77.807 57.677 F 1.349 Sig. .266

Lampiran 13. Peta Administrasi Kec. Jebres

80

81 Lampiran 14. Peta Administrasi Kel. Sewu

82 Lampiran 15. Peta Banjir Kota Surakarta

83 Lampiran 16. Peta Topografi Kota Surakarta

84 Lampiran 17. Citra Kel. Sewu

Lampiran 18. Foto Banjir Di Kelurahan Sewu Tahun 2007

85

Gambar ini diperoleh dari arsip sekolah SD N Kampung Sewu 25 yang menunjukkan bahwa tahun 2007 silam sekolah sangat terdampak bencana. Banjir 2007 menyebabkan banyak kerugian bagi sekolah dapat dilihat bahwa air merendam sekolah hampir setinggi 2 M sehingga menyebabkan arsip sekolah dan sarana penunjang pembelajaran rusak, tidak hanya itu sekolahpun menjadi tempat pengungsian sementara warga sekitar.

86 Lampiran 19. Foto Banjir Dan Puting Beliung Di Kelurahan Sewu Tahun 2013

Gambar ini diperoleh ketika peneliti selesai melakukan penyuluhan bencana kepada anggota PMR SMP MIS (Modern Islamic School) Surakarta, tepatnya pada tanggal 13 Febuari 2013. Hujan lebat yang disertai angin kencang selama beberapa jam menyebabkan banjir dan puting beliung dibeberapa tempat dan salah satunya terjadi di Kelurahan Sewu. Banjir merendam sebagian permukiman warga yang terdapat di sekitar bantaran sungai Bengawan Solo dan puting beliung menumbangkan beberapa pohon dan salah satunya didepan kantor kelurahan sewu yang menyebabkan instalasi listrik terputus untuk sementara waktu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful