2

adanya kontraksi pada uterus. Hasil BAB penelitian I menunjukkan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan setelah terjadi persalinan dan 50% kematian nifas terjadi dalam 24 jam pertama (Bobak, 2004). A. Sehingga untuk mencegah dan menangani komplikasi yang timbul, Latar belakang maka diperlukan pemantauan khusus dalam pemberian asuhan keperawatan Pembangunan kesehatan pada hakekatnya merupakan yang komprehensif. penyelenggaraan kesehatan untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi Asuhan masa nifas dilakukan untuk derajat menemukan kondisi tidak normal setiap penduduk untuk dapat mewujudkan kesehatan masyarakat dan masalah-masalah kegawatdaruratan pada ibu dan mental. perlu tidaknya rujukan yang optimal, yaitu sempurnanya kesehatan fisik Pembangunan terhadap keadaan kritis yang terjadi (Saefudin, 2002). umum dari tujuan kesehatan itu merupakan salah satu unsur kesejahteraan Untuk itu penulisyang tertarik untuk melakukan studi Indonesia kasus dalam pembangunan nasional harus dicapai oleh Bangsa seperti menyusun Karya TulisPembukaan Ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Ny. yang tercantum dalam UUD 1945. D dengan Post Partum Normal Di Kelurahan Upaya pembangunan bidang kesehatanWonosari”. tidak hanya terfokus pada upaya penyembuhan saja, tetapi juga berkembang kearah promotif, B. Identifikasi masalah preventif dan rehabilitatif. Salah satu upaya pembangunan bidang kesehatan Berdasrkan yang terdapat dalam latar belakang diatas, diwujudkan dalam uraian usaha untuk meningkatkan derajat kesehatan paramaka ibu diperoleh rumusan dalam penelitian ini ditimbulkan adalah “Asuhan post partum karena masalah banyaknya komplikasi yang setelah Keperawatan Pada Ny. D dengan Post Partum Normal Di Kelurahan melahirkan diantaranya yaitu perdarahan, infeksi puerperalis, endometritis, Wonosari”. mastitis, trombosis, embol dan post partum depresi. Dimana perdarahan merupakan penyebab terbanyak kematian wanita selama periode post partum. Berdasarkan penelitian diperoleh informasi bahwa angka kematian ibu di Indonesia karena perdarahan post partum mempunyai peringkat yang tinggi, salah satu penyebab perdarahannya adalah Atonia uteri atau tidak upaya

PENDAHULUAN

1

3

C.

Tujuan umum dan khusus 1. Tujuan umum Adapun tujuan umum dari penulisan ini adalah untuk mendapatkan gambaran dan pelaksanaan asuhan keperawatan pada Ny. D dengan post partum normal. 2. Tujuan khusus a. Mengetahui dan menerapkan melalui hasil pengkajian pada Ny. D dengan post partum normal. b. Mengetahui dan menentukan prioritas masalah keperawatan pada Ny. D dengan post partum normal. c. Mengetahui dan menyusun rencana keperawatan pada Ny. D dengan post partum normal. d. Mengetahui dan melakukan tindakan keperawatan pada Ny. D dengan post partum normal. e. Melakukan evaluasi keperawatan pada Ny. D dengan post partum normal.

D.

Manfaat 1. Bagi rawat inap Agar lebih bisa meningkatkan kwalitas pelayanannya khususnya pada ibu post partum.

4

2. Peneliti Untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan dalam penelitian serta menerapkan ilimu yang telah didapat selama studi, khususnya metodologi penelitian dalam rangka menganalisa masalah maternitas khususnya tentang post partum normal. 3. Instalasi pendidikan Sebagai bahan wacana diperpustakaan dan refrensi awal penelitian selanjutnya bagi perpustakaan di instalasi pendidikan. 4. Bagi masyarakat Agar masyarakat terutama bagi para ibu dapat menambah

pengetahuannya tentang post partum normal.

5

BAB II TIJAUAN TEORI
A. Pengertian Persalinan adalah suatu proses fisiologis yang memungkinkan serangkaian perubahan yang besar pada ibu untuk dapat melahirkan janinnya melalui jalan lahir (Hacker, 2001). Persalinan normal adalah proses alamiah yang dialami aleh setiap manita hamil cukup bulan dengan kehamilan normal. Persalinan tidak normal adalah jika bayi dilahirkan sebelum waktu (prematur), lewat waktu (postmatur) atau dengan bantuan alat, seperti forseps, ekstrasi vakum, atau bisa juga lewat pembedahan (bedah caesar) (Edjun, 2004) Masa nifas atau post partum adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai dengan pulihnya alat-alat reproduksi sampai keadaan sebelum hamil, berlangsung 6-8 minggu. Masa puerperium atau masa nifas mulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu, akan tetapi seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebalum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. Ada yang membagi nifas dalam 3 periode : 1. Puerperium dini yaitu masa pemulihan dimana dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.

Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila ibu selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. produksi hormon ini akan disupresi). Oksitosin pituitari dilepaskan (pada kebanyakan kehamilan. .6 2. Distensi uterus Distensi uterus menyebabkan terjadinya hal berikut : a. 1. Serabut ototyang teregang sampai batas kemampuan nya akan bereaksi dengan mengadakan kontraksi. Kadar progesteron menurun (relaksasi otot menghilang). B. c. Kadar esterogen dan prostaglandin meninggi. Perubahan kadar hormon Perubahan kadar hormon mungkin disebabkan oleh penuaan plasenta dan terjadi sebagai berikut : a. Penyebab persalinan belum diketahui tetapi ada beberapa faktor yang turut berperan dan saling berkaitan. Etiologi Penyebab mulainya persalinan. b. Puerperium intermedial adalah pemulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya 6-8 minggu. Produksi dan pelepasan prostagladin F miometrium. b. 3. 2.

Adapun tanda-tanda persalinan yaitu : a. Peningkatan tekanan dan ketegangan pada dinding uterus. 3. C. Sirkulasi plasenta mungkinterganggu sehingga menimbulkan perubahan hormonal (seperti atas). Stimulasi dinding uterus yang tegang tersebut sehingga timbul kontraksi. b. kadang-kadang setiap 10 sampai 20 menit dengan . Penurunan tekanan secara mendadak ketika selaput amnion pecah. Tetapi akibat pergeseran ini terjadi peningkatan tekanan pada kandung kemih sehingga akan lebih sering berkemih. ia akan menyebabkan : a. Tekanan janin Kalau janin sudah mencapai batas pertumbuhannya didalam uterus. Gangguan emosional yang kuat (lewat rantai korteks-hipotalamus hipofise) dapat menyababkan pelepasan oksitosin.7 c. Persalinan palsu Selama 4 sampai 8 minggu akhir masa kehamilan rahim menjalani kontraksi tak teratur dan bersifat sporadik. wanita akan merasa lebih lega dan lebih mudah bernafas. Faktor-faktor lain a. b. Pada bulan terakhir kehamilan. Lightening atau pengosongan Penurunan secara bertahap. 4. b. Manifestasi klinis 1.

sering (braxton hicks).8 intensitas lebih besar. Kadangkadang mengalami kontraksi yang kuat. Pembukaan secara serentak. sebagian menipis dan berdilatasi ketuban pecah dengan spontan (jensen. 2005). Terjadinya lightening. Serviks menjadi lunak (matang). 2. Pembukaan serviks Serviks sering dirasakan melunak akibat peningkatan kandung air dan lisis kolagen. Gambar jalannya persalinan secara klinis ditemukan sebagai berikut : 1. serviks. Lendir serviks berwarna kecoklatan atau bercak darah (bloody show) keluar. Passage bagian tulang punggul. Tanda persalinan sudah dekat a. Terjadinya his permulaan (palsu). c. . atau penipisan sementara serviks itu melebar ke dalam segmen bawah uterus. vagina dan dasar panggul (displacement). b. Mengeluh merasa nyeri yang menetap pada punggung bagian bawah dan tekanan pada sakroiliaka. Passager terutamam janin (secara khusus bagian kepala janin) plus plasenta. selaput dan cairan ketuban/amnion. Faktor-faktor yang terlibat dalam persalinan : 1. Lendir vagina yang keluar semakin banyak akibat besarnya kongesti selaput lendir vagina. 3. Power yaitu kontraksi dan retraksi otot-otot rahim plus kerja otot-otot volunter dari ibu yaitu kontraksi otot perut dan diafrakma sewaktu ibu mengejan atau meneren.

3. Terjadinya pengeluaran cairan. Pimpinan persalinan Sikap menghadapi setiap pembagian waktu persalinan. Emboli pulmonal . 4. 2. Terjadinya his persalinan. Endometritis 4. c. Kala IV = observarsi 2 jam. Kala I = sampai pembukaan lengkap. Kala II = pengusiran janin. Tromboflebitis 6.9 2. Mastitis 5. Perawatan diruang inap Konsep rawat gabung dan mobilisasi dini. Komplikasi Komplikasi post partum (Varly. 5. Trauma traktus genitourinarius yang terinfeksi. Pembagian waktu persalinan a. 2000: 267-273) 1. Tanda persalinan a. Infeksi puerpeural. c. D. yang disebabkan oleh persalinan lama. KPD dan teknik aseptik yang tidak dipatuhi. Kala III = pengeluaran uri. 3. d. b. Terjadinya pengeluaran pembawa tanda. b.

. normal kembali dalam 24 jam pertama. Golongan darah d. Sistem kardiovoskuler Dapat terjadi bradikardi setelah persalinan. Depresi pasca partum E. Tanda-tanda vital Suhu 24 jam pertama meningkat kurang dari 38°C akibat adanya dehidarasi dan perubahan hormonal. Perdarahan post partum 8. bila kenaikan suhu lebih dari 2 hari maka pasien menunjukan adanya sepsis peurpeural infeksi traktus urinarius. b. Hemoglobin b. perdarahan yang berlebihan (hemorogie post partum). endometriasis. Luekosit F. Hematokrit c. Adaptasi fisiologis dan psikologis post partum 1. takhikardi bisa terjadi merefleksikan atau menunjukan adanya kesulitan dalam proses persalinan atau persalinan lama. Adaptasi fisologis a. Pemeriksaan pengunjung a. mastistis pembengkakan payudara pada hari kedua ketiga dapat menyebabkan peningkatan suhu pasien.10 7. relaksasi otot.

Sistem muskulo skeletal Terjadi peregangan dan penekanan otot. h. areola mamae berwarna hitam dan kembali normal setelah minggu pertama. 2000:237). e. . g. peristaltik usus terjadi penurunan segera setelah bayi lahir. puting susu menonjol. Tekanan darah normal setelah melahirkan. f. Macam-macam lochea atau darah niifas adalah : (1)Lochea rubra : berwarna merah pada hari pertama sampai hari kedua paska persalinan. Sistem reproduksi Terjdi proses involusio uteri dimana terjadi perubahan penebalan alat genetalia interna dan eksterna ang berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil (Wiknjosastro.11 c. oedema ekstremitas bahwa akan berkurang dalam minggu pertama. pembesaran payudara. penambahan sistolok 30 mmHg atau penambahan diastolik 15mmHg khususnya bila diseratai adanya sakit kepala atau gangguan pengelihatan. Sistem perkemihan Kandung kemih oedema dan sensitifitas menurun sehingga menimbulkan overdestension. Laktasi Produk ASI mulai hari ke-4 post partum. Sistem gastrointestinal Pengendalian fungsi defekasi lambat dalan minggu pertama. kolostrum berwarna kuning keputihan. d.

sefalopelvik. (3)Lochea serosa : berwarna merah kekuningan pada hari ketujuh sampai hari keempat belas paska persalinan. serviks sudah matang (porsio teraba lunak. ada kemunduran his. Menstruasi biasanya setelah 12 minggu post partum pada ibu yang tidak menyusui dan 36 minggu pada ibu yang menyusui. kelahiran aterm. Payudara bengkak (Engorgement) Payudara terasa lebih penuh / tegang dan nyeri sekitar hari ketiga atau keempat sesudah melahirkan akibat statis di vena dan pembuluh limfe. Sistem indokrin Mengalami perubahan secara tiba-tiba dalam kala IV persalinan. j. (4)Lochea alba : berwarna putih setelah dua minggu paska persalinan. i. sedikit bersifat deuritik. tidak ada disproporsi. k. mulai mendatar dan mulai membuka). Prolaktin menurun pada wanita yang tidak meneteki bayinya dan akan meningkat pada wanita yang meneteki. Syarat pemberian oksitosin. Setelah plasenta lahir terjadi penurunan estrogen dan progesteron. .12 (2)Lochea sanguinolenta : berwarna merah kecoklatan pada hari ketiga sampai hari ketujuh paska persalinan. waktu paruh sangat singkat (3 menit) dan awal kerja 5 menit. janin presentasi kepala. Induksi oksitosin Sifat farmakologi oksitosin adalah kontraksi bersifat ritmik. ukuran panggul normal. Induksi persalinan kemungkinan besar akan berhasil bila skor bishop lebih dari 8.

insulin dan kartisol bebas) yang diperlukan untuk pertambuhan payudara dan produksi susu terdapat dalam kadar yang meningkat selama kehamilan kadar estrogen yang tinggi menghambat pengikatan prolaktin pada jaringan. Pertumbuhan payudara. Bila tidak dikeluarkan . 4. puting lebih datar dan sukar diisap bayi. . Pelepasan hormon hipofise. tiroid.13 tanda bahwa ASI mulai banyak di sekresi. ASI menumpuk dalam payudara sehingga areola menjadi menonjol. l. Secara umum diyakini bahwa walaupun semua unsur hormontal (estrogen. dan payudara terasa nyeri sekali. Estrogen Estrogen merupakan faktor yang mempengaruhi : 1. Untuk pencegahan susukan bayi setelah lahir bila memungkinkan tanpa dijadwal (on demand) keluarkan ASI dengan tangan. ibu demam. 3. Sehingga menghambat efek proloktin pada epitel target. Retensi air dan natrium. Prolaktin Pada kehamilan. progesteron. 2. Pertumbuhan uterus. prolaktin serum mulai meningkat pada trimester pertama dan meningkat secara progresif sampai aterm. m. Kulit payudara nampak lebih merah mengkilap. Sering terjadi pada payudara yang elastissitasnya kurang.

memfokuskan energi pada bayi yang menyebabkan persepsi penyempitan dan kemampuan menerima informasi kurang. 2. Fase taking in Terjadi pada hari pertama dan kedua setelah melahirkan. Pada minggu keempat sampai kelima ibu siap menerima peran barunya dalam belajar tentang hal-hal baru. a. Adaptasi psikologis ibu dalam menerima perannya sebagai orang tua. Fase letting go Dimulai sekitar minggu kelima setelah melahirkan. Anggota keluarga telah menyesuaikan diri dengan lahirnya bayi. 4. Progesteron Progesteron mempengaruhi tubuh ibu melalui : 1. Relaksasi otot polos. Perkembangan duktus laktoferus dan alveoli. 2.14 n. Setelah melahirkan secara bertahap. Fase taking hold Mulai dari hari ketiga setelah melahirkan. b. 3. . Relaksasi jaringan ikat. 5. Kenaikan suhu. Perubahan sekretonik dalam payudara. c. Ibu membutuhkan perlindungan dan pelayanan.

2. Diagnosa keperawatan 1. Beri informasi mengenai penyebab nyeri. Intervensi : a. dibuktikan dengan pasien mengatakan nyeri berkurang. Pasien mampu mendemonstrasikan. d. Nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan (Dongoes. c. Kriteria hasil : a. . Kurang pengetahuan tentang perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurangnya informasi (Doenges. Tentukan karakteristik dan lokasi nyeri. b. Kolaborasi pemberian analgetika. d. Kaji tingkat pengetahuan pasien. Pasien paham cara-cara perawatan diri dan bayi. Beri informasi tentang perawatan diri dan dan bayi. b. e. Kriteria hasil : mengungkapkan hilang nya nyeri setelah dilakkukan tindakan. c. Kaji suhu dan nadi. 2000:338). Tujuan : nyeri berkurang. b.15 G. 2000). Intervensi : a. Dorong pasien untuk melakukan sendiri. Beri pendidikan kesehatan. Tujuan : pasien dapat mendemonstrasikan dan mengungkapkan pemahaman diri post partum. Ajarkan teknik relaksasi.

. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan (Doenges. c. d. 2000). b. b. 2000). Intervensi : a. e. b. 4. Observasi penyabab gangguan eliminasi BAB.16 e. Libatkan keluarga ketika memberi pendidikan kesehaatan. Tujuan : infeksi tidak terjadi. c. f. Intervensi : a. Kriteria hasil : pasien bila BAB dengan konstipasi lembek. d. Kriteria hasil : a. Kolaborasi pemberian obat pencahar. Observasi tanda-tanda infeksi . Tidak ada tanda infeksi. Anjurkan klien untuk tidak menahan BAB. Berikan cairan per-oral 6-7gelas perhari. 3. Ajarkan untuk ambulasi dini sesuai toleransi. Luka episiotomi membaik. Monitor tanda vital terutama suhu. Lakukan perawatan luka. Tujuan : pola eliminasi normal. penurunan peristaltik usus (Doenges. Perubahan pola eliminasi: BAB (konstipasi) berhubungan dengan penurunan otot abdomen. Kolaborasi pemberian diit tinggi serat. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.

Jaga kebersihan sekitar luka. yang dapat menyebabkan relaksasi uterus dan hemoragic. Intervensi : a. e. Perubahan proses keluarga. Kolaborasi tentang pemberian antibiotik. Mempertahankan berat jenis urine dalam batas normal. 2001). Mengidentifikasi cairan yang abnormal dan mengganti cairan sesuai dengan kebutuhan. f. Kriteria hasil : a. Beritahu pasien tentang jumlah lochea yang normal. harapan tidak realistik dan stresor (Doenges. Resiko kurang volume cairan berhubungan dengan pendarahan pasca partum. d. parenting berhubungan dengan kelahiran anak I. c. Individu akan mempertahankan masukan cairan dan elektrolit. . Ppertahankan cairan parenteral sesuai instruksi. Tujuan : tidak terjadi kekurangan volume cairan. 6. Ukur intake dan output cairan. 5. b. Hindari masase yang tak perlu pada fundus. Anjurkan untuk menghubungi dokter bila pengeluaran lochea berlebihan. Tujuan : klien dan pasangan menceritakan perasaan berkenaan dengan menjadi orang tua dan secara aktual melakukan tugas perawatan bayi. b. c.17 e.

18 Intervensi : a. Beri dorongan orang tua untuk ikut serta dalam perawatan. b. . e. Beri informasi tentang kebutuhan dan perawatan bayi. d. Kaji usia status perkawinan. Biarkan orang tua mengawasi perawat saat merawat anak. c. Dorongan untuk menceritakan kesulitan mmenjadi orang tua . ketersediaan sumber pendukung dan latar belakang budaya.

Pathway .19 H.

warna haid merah segar. karyawati. siklus haid 28 hari. lama pernikahan sudah 1 tahun. Dlanggu. islam. Klaten. jumlah pembalut 2 pembalut dalam 1 hari. perempuan. Pengkajian umum Pengkajian dilakukan pada tanggal 29 Mei 2010 pukul 15. Dlanggu. karyawan. lama haid 7 hari. 2. klaten. islam. dlanggu. Wonosari. Riwayat kesehatan Pasien mengatakan nyeri pada luka jahitan setelah melahirkan anak pertamanya yang mempunyai BB 3700 gram dan pasien mengatakan kurang paham tentang perawatan payudara. Wonosari. melahirkan pd tanggal 24 mei 2010. Tidak mempunyai riwayat penyakit jantung.20 BAB III RESUME KEPERAWATAN A. Pasien menarche pada usia 13 tahun. dan tidak ada keluhan. Biodata Nama Ny. laki-laki. 3. Penanggung jawab Tn.00 WIB di Kelurahan Wonosari. DM (Diabetes Mellitus). tidak mengalami . Menikah pada waktu usia 19 tahun. Y 21 tahun. Klaten. Didalam anggota keluarga pasien tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit keturunan maupun alergi. Keluhan utama : pasien mengatakan nyeri pada luka jahitan. SMU. SMU. Hipertensi dan Asma. Pasien mengatakan belum pernah mondok di rumah sakit. 1. H 20 tahun. memiliki 1 anak. G1P1A0. pernikahan yang pertama.

di tolong oleh Bidan dengan melahirkan seorang bayi laki-laki dengan BB 3700 gram dengan keadaan sehat dan baik. Pola pemenuhan kebutuhan sehari hari : a. pasien mengatakan tidak ada keluhan. jika ada waktu senggang pasien lebih sering menggunakannya untuk berkumpul sambil nonton tv bersama keluarga. c. Eliminasi Pasien mengatakan selama hamil BAK lebih sering terutama pada trimester ke 3 yaitu 7-9 kali dalam sehari. . pasien mengatakan minum 7-8 gelas perhari dan diselingi minum susu. Pasien mengatakan belum pernah KB. Istirahat Selama hamil pasien mengatakan tidur selama 6-7 jam pada malam hari dan tidak pernah tidur siang karena bekerja. setelah melahirkan pasien mengatakan tidur selama 7-8 jam pada malam hari dan sering terbangun untuk menyusui bayinya. melahirkan dengan normal.21 komplikasi/penyulit. b. dan pasien mengatakan BAB 1 kali dalam sehari. setelah melahirkan pasien mengatakan BAK 5-6 kali dalam sehari. 4. pasien mengatakan tidak ada keluhan. pasien mengatakan lebih banyak makan sayuran dan buahbuahan. Nutrisi Pasien mengatakan makan 3kali sehari dan memperbanyak sayuran hijau. pasien mengatakan tidak ada keluhan.

pasien beragama islam dan rajin menunaikan sholat 5 waktu dan rajin berdoa. Aktifitas Selama hamil pasien mengatakan selama hamil masih bekerja tapi dengan hati-hati dan tidak terlalu capek. gosok gigi 2 kali sehari. Hygiene Pasien mengatakan selama hamil dan setelah melahirkan mandi 2 kali sehari. pasien mengatakan selama masa nifas dilarang mertuanya untuk tidak mengerjakan pekerjaan yang berat-berat dulu. keramas 1 kali dalam 2 hari dan ganti pakaian 2 kali sehari. pasien mengatakan tidak ada keluhan. . pasien mengatakan jika keluarganya sangat senang sekali dengan kelahiran anak pertamanya ini. pasien mengatakan hubungan dengan tetangganya cukup baik. pasien mengatakan masih takut untuk bergerak karena masih merasakan nyeri pada luka jahitannya. e.22 d. f. setelah melahirkan pasien mengatakan untuk sementara cuti dari pekerjaannya dulu dan mengurangi kegiatannya dan juga tidak banyak bergerak karena masih takut dengan luka jahitannya. g. Riwayat sosial budaya Pasien mengatakan hubungan dengan keluarganya cukup harmonis. Riwayat psikologis dan spiritual Pasien mengatakan sangat senang sekali dengan kelahiran anak pertamanya ini.

nadi 84 kali/menit. bersih. status emosional stabil. pasien mengatakan akan memberikan ASI eksklusif bagi bayinya selama beberapa bulan kedepan dan jika sudah mulai bekerja akan tetap memberikan ASI eksklusif tapi diselingi dengan susu formula. mata simetris. kesadaran pasien composmentis. sclera tidak ikterik. gigi . muka simetris bersih. pasien mengatakan dalam perawatan bayinya masih dibantu oleh keluarganya. 5. pendengaran baik. rambut hitam lurus. bersih. b. tinggi badan 158 cm. Pemeriksaan fisik a. konjungtiva tidak anemis. pasien mengatakan ASI sangat baik untuk bayinya. tekanan darah 120/80 mmHg. respirasi 24 kali/menit. untuk pertumbuhan dan perkembangan bayinya dan juga untuk kekebalan tubuh bayinya. Pengetahuan ibu Pasien mengatakan selama masa nifas harus memperbanyak makan sayuran hijau seperti daun katub untuk memperlancar pangeluaran ASI. suhu 36. mulut mukosa lembab.23 h. tidak ada secret. telinga simetris. pasien mengatakan sedikit paham tentang makanan untuk bayinya. hidung simetris. berat badan 49 kg. tidak ada polip. Hasil tanda-tanda vital Keadaan umum pasien baik.8° C. Keadaan umum Kepala mesochepal tidak ada benjolan. pasien mengatakan kurang begitu paham tentang perawatan payudara yang benar.

c. palpasi tinggi fundus uteri 3 jari dibawah pusat. keadaan luka kering. aerola hiperpigmentasi. payudara lunak tidak bengkak. auskultasi vesikuler. ASI dapat keluar. jumlah pembalut 2 kali dalam 1 hari. warna merah kecoklatan. tidak ada tanda radang. tidak ada nyeri tekan. auskultasi regular. genetalia lochea sangoelenta. tidak ada varises. . kontraksi kuat. abdomen inspeksi terdapat linea nigra. perkusi sonor. palpasi tidak terdapat nyeri tekan. perenium dan anus terdapat 1 jahitan pada perenium. d. bagian dada pada jantung inspeksi ictus kordis tidak tampak. ekstremitas atas bawah dapat berfungsi dengan baik tidak ada oedema. mamae putting susu menonjol.24 bersih. sf 3 kali 1 tablet. perkusi redup. Pemeriksaan penunjang Tidak ada pemeriksaan laboratorim yang menunjang. leher tidak ada pembesaran kelenjar tiroyd. Obat-obatan yang sudah didapat Amphicilin 500 mg 3 kali 1 tablet. antalgin 500 mg 3 kali 1 tablet. perkusi tympani. palpasi ictus cordis tidak tampak. pada paru-paru inspeksi pengembangan dada kanan kiri sama.

pasien mengatakan kurang begitu paham tentang perawatan payudara. Analisa data pasien 1.8°C. Data subyektif : Pasien mengatakan nyeri pada luka jahitan. problem : gangguan rasa nyaman. pasien mengatakan skala nyeri 4. Data subyektif psien mengatakan nyeri saat bergerak pada luka jahitan. pasien tidak begitu paham tentang perawatan payudara. terdapat 1 jahitan. etiologi : adanya luka insisi perineum. C. data obyektif keadaan luka kering. Data fokus 1. pasien mengatakan skala nyeri 4. tanda-tanda vital tekanan darah 120/80 mmHg. problem : resiko tinggi infeksi. nadi 24 kali/manit. pasien mengatakan nyeri saat bergerak pada luka jahitan. pasien menggeleng saat di tanya. 3. 2. skala nyeri 4. pasien tampak berhati-hati ketika bergerak. respirasi 84 kali/menit. Data subyektif pasien mengatakan kurang begitu paham tentang perawatan payudara. suhu 36. data obyektif pasien menggelengkan kepala saat . keadaan luka jahitan kering.25 B. data obyektif pasien tampak menahan nyeri . terdapat 1 jahitan. 2. tiologi : inkontinuitas jaringan. Data subyektif pasien mengatakan nyeri pada luka jahitan. Data obyektif : Pasien tampak menahan nyeri.

kolaborasi dalam pemberian analgetik. Rencana keperawatan 1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan. problem : kurang pengetahuan. berhubungan dengan adanya luka insisi E. etiologi : kurang informasi. tidak ada tanda-tanda infeksi. 3. 2. D. observasi tanda-tanda infeksi. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan. Resiko tinggi infeksi perineum/episiotomy. 2. berhubungan dengan adanya luka insisi . dengan criteria hasil luka insisi perineum membaik. Prioritas masalah 1. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan infeksi tidak terjadi. jaga kebersihan sekitar luka.26 ditanya tentang perawatan payudara. Resiko tinggi infeksi perineum/episiotomy. Dengan intervensi monitor tanda-tanda vital. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan payudara.

beri posisi yang nyaman.27 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama2x24 jam diharapkan nyeri berkurang dengan criteria hasil pasien tampak rileks. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan payudara. pasien tahu manfaat perawatan payudara. beritahu penyebab nyeri. F. jelaskan manfaat ASI. mendemontrasikan perawatan payudara. Implementasi keperawatan Pada tanggal 29 mei 2010 dengan diagnose “Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi perineum/episiotomy” implementasi yang dilakukan mengkaji tanda-tanda vital dengan respon subyektif pasien mengatakan mau diperiksa.8°C. skala nyeri 1. respirasi 24 kali/menit. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x30 menit diharapkan pasien mengerti tentang cara perawatan payudara dengan criteria hasil pasien tahu tentang perawatan payudara. suhu 36. Dengan intervensi jelaskan tujuan dan manfaat tentang perawatan payudara. pasien mengatakan nyeri berkurang. ajarkan teknik relaksasi. respon obyektif tekanan darah 120/80 mmHg. 3. kolaborasi pemberian analgetik. Dengan intervensi monitor tanda-tanda vital. nadi 84 kali/menit. kaji tingkatan nyeri. ajarkan cara menyusui yang benar. kemudian mengkaji tanda-tanda infeksi dengan respon subyektif pasien mengatakan nyeri pada .

pada tanggal 30 mei 2010 dengan diagnose “Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi perineum/episiotomy” implementasi yang dilakukan mengkaji tanda-tanda vital dengan respon subyektif pasien mengatakan mau diperiksa. untuk diagnose yang ke 2 “Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan” implementasi yang dilakukan memberikan posisi yang nyaman dengan respon subyektif pasien mengatakan ingin istirahat dengan nyaman. respirasi 24 kali/menit. respon obyektif luka kering. kemudian mengajarkan atau memberikan posisi yang nyaman dengan respon subyektif pasien mengatakan ingin istirahat lebih nyaman. kemudian melakukan perawatan luka dengan respon subyektif pasien mengatakan mau dilakukan perawatan luka. kemudian menjaga kebersihan sekitar luka dengan respon pasien mengatakan nyeri berkurang. respon obyektif skala nyeri 2. respon obyektif tekanan darah 120/80 mmHg.28 luka jahitan. respon obyektif luka kering. kemudian mengkaji tingkatan nyeri respon subyektif pasien mengatakan nyeri berkurang. nadi 84 kali/menit. respon obyektif skala nyeri 1. respon obyektif pasien tampak nyaman. respon obyektif pasien tampak rileks. respon obyektif keadaan luka kering. terdapat 1 jahitan. kemudian untuk diagnose yang ke 3 “Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan payudara” . dan pada tanggal 31 mei 2010 dengan diagnose “Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan” implementasi yang dilakukan mengkaji tingkatan nyeri dengan respon subyektif pasien mengatakan skala nyeri 1. suhu 36.5°C.

29 implementasi yang dilakukan menjelaskan tujuan dan manfaat perawatan payudara dengan respon subyektif pasien mengatakan ingin tahu tentang perawatan payudara. obyektif luka kering. Evaluasi tindakan Pada tanggal 29 mei 2010 untuk diagnose yang pertama “Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi perineum/episiotomy” dengan hasil evaluasi subyek pasien mengatakan nyeri pada luka jahitan. G. assesement masalah teratasi sebagian. pada diagnose yang ke 2 “Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan” dengan hasil evaluasi subyektif pasien mengatakan nyeri berkurang. assesement masalah belum teratasi. kemudian pada tanggal 31 mei 2010 dengan . skala nyeri 4. respon obyektif pasien tampak memperhatikan. kemudian mengajarkan tentang cara perawatan payudara dengan respon subyektif pasien ingin tahu caranya. respon obyektif pasien dapat mempraktekkan caranya. planning intervensi dihentikan . obyektif skala nyeri 2. respon obyektif pasien tampak memperhatikan. assesement masalah teratasi. planning intervensi dilanjutkan. obyektif luka kering. pada tanggal 30 mei 2010 dengan diagnoasa yang pertama “Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi perinenum/episiotomy” dengan hasil evaluasi subyektif pasien mengatakan nyeri berkurang. kemudian menjelaskan manfaat ASI respon subyektif pasien mengatakan ingin mengetahui manfaatnya. planning intervensi dilanjuutkan.

planning intervensi dihentikan. planning intervensi dihentikan.30 diagnose yang ke 2 “Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan” dengan hasil evaluasi subyektif pasien mengatakan nyeri berkurang. assesement masalah teratasi. . assesement masalah teratasi. obyektif pasien dapat mempraktekkan tentang cara perawatan payudara. kemudian untuk diagnose yang ke 3 “Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan payudara” dengan hasil evaluasi subyektif pasien mengatakan sudah paham tentang perawatan payudara. obyektif skala nyeri 1.

Resiko infeksi adalah peningkatan resiko untuk terinvasi oleh organism pathogen (Nanda. B. Adapun diagnosa keperawatan yang muncul adalah : a. Kekuatan metode pengamatan adalah kriteria yang diamati jelas. protozoa dan parasit) dari beberapa sumber baik dari dalam maupun dari luar tubuh (Carpenito. Diagnosa 1. jamur. Kelemahannya jika dalam perbincangan tidak terarah akan membutuhkan waktu yang lama. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi perinium/episiotomy. 2000). Resiko infeksi adalah suatu kondisi individu yang mengalami peningkatan resiko terserang organism patogenik (Wilkinson. 2006). Resiko tinggi infeksi adalah keadaan dimana seorang individu beresiko terserang agen oportunistik atau patogenik (virus. Dilakukan secara langsung. . edisi 7). Kelemahan membutuhkan jangka waktu yang lama. Kekuatan dari metode wawancara adalah dapat dilakukan tanpa bantuan alat apapun. Pengkajian Pada pembahasan laporan ini penulis melakukan pengkajian menggunakan metode wawancara dan pengamatan/observasi.31 BAB IV PEMBAHASAN A. bakteri.

maka akan terjadi infeksi ( Doenges.8° C . Karena bila perawatan luka pasien tidak menggunakan teknik aseptik yang benar dan kondisi daya tahan tubuh yang kurang baik.32 Resiko tinggi infeksi dapat ditegakkan bila ada kata mendukung yaitu kemerahan pada kulit sekitar luka. keadaan luka kering. Nyeri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami perasaan yang tidak nyaman dan berespon terhadap stimulus yang berbahaya (Carpenito. Nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan. oedema eksudat. 2000). pasien mengatakan ada luka yang dijahit pada perineum. Data obyektif yaitu terdapat 1 jahitan. Penulis memprioritaskan masalah ini menjadi diagnosa pertama. Diagnosa tersebut ditegakkan karena didapatkan data subyektif. b. digambarkan dalam istilah seperti kerusakan yang tiba-tiba atau perlahan dari intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari 6 bulan (Wilkinson. Suhu tubuh 36. nyeri. Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan dan meningkat akibat adanya kerusakan jaringan yang actual atau potensial. 2000). nadi dan sel darah putih (Doenges. edisi 7). peningkatan suhu. 2000). Nyeri adalah pengalaman emosional atau sensori yang tidak menyenangkan yang muncul dari kerusakan jaringan secara actual atau potensial atau menunjukkan adanya kerusakan : serangan .

wajah kemerahan (Doenges. kram. Penulis memprioritaskan masalah ini menjadi diagnosa kedua karena berdasarkan keluhan yang dirasakan pasien saat itu dan apabila masalah tersebut tidak segera diatasi akan menimbulkan ketidaknyamanan pasien. Kurang pengetahuan tentang perawatan payudara berhubungan dengan kurangnya informasi. 2006). mengganggu aktivitas klien dan apabila rasa nyeri sudah ditransmisikan oleh syaraf ke otak. skala nyeri 4. 2000). nyeri tekan pada abdomen. .33 mendadak atau perlahan dari intensitas ringan sampai berat yang dapat diantisipasi atau diprediksi durasi nyeri kurang dari 6 bulan (Nanda. Nyeri ditegakkan bila ada data yang mendukung yaitu melaporkan nyeri insisi. pasien tampak menahan nyeri saat bergerak. Kurang pengetahuan adalah tidak ada atau kurang informasi kognitif berhubungan dengan topic yang spesifik (Nanda. Kurang pengetahuan adalah suatu kondisi dimana individu atau kelompok mengalami kekurangan pengetahuan kognitif atau ketrampilan psikomotor mengenai suatu keadaan dan rencana tindakan pengobatan (Carpenito. maka akan terjadi nyeri hebat dan bisa menyebabkan syok neuroginik. perilaku melindungi. Data obyektif. c. 2001). Diagnosa ini ditegakkan karena ditemukan data-data yang mendukung yaitu data subyektif pasien mengatakan nyeri pada luka jahitan saat bergerak. 2006).

Resiko kekurangan volume cairan adalah kondisi seorang individu yang beresiko mengalami dehidrasi vaskuler atau intraseluler (Wilkinson. interstisial dan atau intraseluler. kehilangan cairan tanpa perubahan sodium (Nanda. atau interseluler (Carpenito. 2006). puting susu terlihat kotor. mengarah kepada dehidrasi.34 Alasan diagnosa ini diangkat menjadi diagnosa ketiga karena berdasarkan keluhan pasien saat itu (Doenges. 2006).2000). seluler atau veskuler (Nanda. Resiko kekurangan volume cairan adalah resiko untuk mengalami dehidrasi intraseluler. Data obyektif. Diagnosa yang tidak muncul dalam kasus adalah : a. Resiko kurang volume cairan berhubungan dengan perdarahan pasca partum. edisi 7). pasien menggeleng saat ditanya tentang perawatan payudara. abses payudara. 2. Kekurangan volume cairan adalah keadaan dimana seseorang yang tidak makan dan minum peroral mempunyai resiko terjadinya dehidrasi vaskuler. intertisial. pasien mengatakan tidak tahu cara merawat payudara dan manfaat dari perawatan payudara. Dengan data subyektif. membran mukosa kering atau kulit kering. berat . Ditandai dengan tidak adanya keseimbangan antara masukan dan haluaran. Kekurangan volume cairan adalah penurunan cairan intravascular. 2000). Penulis memprioritaskan masalh ini karena bila tidak diangkat akan menimbulkan masalah-masalah dalam laktasi seperti payudara bengkak.

Sedangkan pada kasus diatas. Batasan karakteristik kekurangan volume cairan adalah mengalami kelemahan. dll (Nanda. penurunan turgor kulit/lidah. membrane mucus/kulit kering. Konstipasi adalah penurunan frekuensi defekasi dengan diikuti kesulitan atau pengeluaran feces yang tidak tuntas atau feces kering dan keras (Nanda. haus. 2006). Keluhan mengejan dan nyeri pada saat defekasi. edisi 7). perasaaan pengosongan tidak kuat. Untuk menegakkan diagnosa harus ada data yang mendukung adalah data mayor yaitu feses keras dan defekasi kurang dari 3 minggu. tekanan darah menurun. peristaltik menurun. volume/tekanan nadi menurun. turgor kulit menurun. Sedangkan pada pengkajian penulis tidak menemukan data-data yang mendukung seperti diatas. . nadi meningkat. feses keras dan kering (Carpenito. b. Data minor yaitu menurunnya bising usus keluhan rektal penuh. penulis tidak menemukan data yang mendukung seperti diatas. Konstipasi adalah suatu keadaan dimana seseorang individu mengalami atau beresiko tinggi atau mengalami statis pada usus besar mengakibatkan jarang BAB.35 badanberkurang. 2006). Konstipasi adalah suatu penurunan frekuensi defekasi yang normal pada seseorang. Perubahan pola eliminasi BAB : konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot abdomen. 2000). haus/mual/anoreksia. disertai dengan kesulitan keluarnya feces yang tidak lengkap atau keluarnya feces yang sangat keras dan kering (Wilkinson.

2001). C. harapan tidak realistik dari stresor (Doenges. 2000). edisi 7). diduga terjadi infeksi (Doenges. kehilangan tidak dikehendaki dan faktor maturasional seperti usia remaja (Carpenito. definisi yang lebih jelas mungkin : kondisi disfungsi yang dialami suatu keluarga dan biasaya berfungsi efektif) (Wilkinson. Hal ini disebabkan karena adanya faktor situasional yang berhubungan dengan harapan yang tidak realistik. Intervensi 1. Perubahan proses keluarga. 2000). nadi.36 c. parenting berhubungan dengan kelahiran anak pertama. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik dengan rasional membantu mencegah dan menghalangi penyebaran infeksi dan membantu proses penyembuhan luka (Doenges. 2000). Perubahan proses keluarga adalah keadaan dimana terdapat resiko terhadap gangguan proses interaksi antara orang tua/pemberi asuhan utama dan bayi (Carpenito. 2000). Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi perineum/episiotomy dengan rencana tindakan : monitor vital sign dengan rasional jika ditemukan peningkatan suhu. Hal ini tidak terjadi karena pasien menerima kehadiran bayi nya dengan senang hati dan pasien tergolong orang dewasa. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan dengan rasional . Perubahan proses keluarga adalah suatu perubahan dalam hubungan dan/atau fungsi keluarga (definisi Nanda tidak menjelaskan suatu masalah secara mendasar.

suhu kulit. Berikan informasi mengenai penyebab nyeri dengan rasional untuk meningkatkan pemecahan masalah. 2000). bakteri dapat berpindah melalui aliran kapiler ke luka insisi (Doenges. penampilan urine. 2000). Ajarkan pasien cara mencuci tangan yang benar (Wilkinson. 2000). Ajarkan teknik relaksasi dengan teknik nafas dalam bila nyeri muncul dengan rasional keadaan rileks meningkatkan kesenganan pasien (Doenges. edisi 7 ). lokasi intensitas dan skala nyeri dengan rasional membantu dalam mengidentifikasi derajat kenyamanan dan kebutuhan untuk keefektifan analgesik (Doenges. Kolaborasi pemberian antibiotik dengan rasional dapat mencegah infeksi dan penyebaran kejaringan sekitar aliran darah asalkan baik cara dan dosis sesuai dengan keadaan klien (Doenges. 2000). denyut jantung. edisi 7). penampilan luka.37 menurunkan kontaminasi silang (Doenges. lesi kulit. 2000). membantu mengurangi rasa nyeri (Doenges. Informasikan untuk menjaga hygiene pribadi untuk melindungi tubuh terhadap infeksi (Wilkinson. sekresi. pembuangan. 2. Atur posisi klien senyaman mungkin denganrasional memperlancar peredaran darah serta menurunkan nyeri (Doenges. 2000). edisi 7). Anjurkan untuk menjaga kebersihan luka dan rasional lingkungan yang lembab merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Pantau tanda/gejala infeksi (misalnya suhu tubuh. . 2000). Nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan dengan rencana tindakan : kaji karakteristik. Berikan terapi antibiotic bila diperlukan (Wilkinson. edisi 7). keletihan dan malaise) (Wilkinson.

Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang perawatan payudara dengan rasional menhindari penyampaian informasi yang tidak afektif dan dapat mengetahui seberapa dalam pengetahuan pasien (Doenges. D. memberikan kenyamanan dan pembuat peran ibu menyusui (Doenges. Implementasi 1. diduga terjadi . Tindakan yang dilakukan adalah monitoring tanda-tanda vital rasionalnya jika ditemukan adanya peningkatan suhu. Lakukan breast care dengan rasional peragaan secara langsung dapat gambaran nyata tentang informasi yang kita berikan (Doenges. 2000). edisi 7). edisi 7). Jelaskan kegunaan ASI dengan rasional membantu pasien mengetahui keuntungan ASI (Doenges. Resiko tinggi infeksi berhungan dengan adanya luka insisi perineum/episiotomy. Anjurkan pasien untuk menyusui bayinya setelah melahirkan dengan rasional menghindari terjadinya bingung puting pada bayi (Doenges. menjamin supali susu adekuat. 2000). 2000). Kurang pengetahuan tentang perawatan payudara berhubungan dengan kurangnya informasi dengan rencana tindakan : jelaskan pentingnya perawatan payudara dengan rasional membantu mencegah puting pecah dan luka. 2000). 2000).38 Pemberian analgesic (Wilkinson. 3. nadi. Penatalaksanaan nyeri : meringankan atau mengurangi nyeri sampai pada tingkat kenyaman yang dapat diterima oleh pasien (Wilkinson.

Kelemahannya bisa terjadi cross infeksi. 2000). biaya akan meningkat karena perawatan bertambah. Melakukan perawatan luka rasional dapat membantu penyembuhan atau penurunan resiko terjadinya infeksi (Doenges. Menganjurkan pasien untuk tarik nafas dalam jika nyeri menurunkan ketegangan emosional dan dapat meningkatkan perasaan kontrol sebagai mekanisme koping pasien (Doenges. Tindakan yang dilakukan adalah observasi tanda-tanda vital rasional pada kebanyakan pasien yang mengalami nyeri menyebabkan gelisah serta tekanan darah dan nadi meningkat (Doenges. . 2000). 2. 2000). 2000). Kekuatan dari pelaksanaan tindakan dapat dilakukan dengan baik karena adanya keterlibatan pasien yang kooperatif dan mematuhi anjuran tim kesehatan.39 infeksi (Doenges. membantu mengurangi rasa nyeri (Doenges. Nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan. Memberikan posisi yang nyaman rasional memperlancar peredaran darah serta menurunkan nyeri (Doenges. 2000). Kekuatan pasien mau mengikuti : anjuran perawat untuk menjaga lukanya agar tetap kering. 2000). Kelemhannya pasien kurang yakin tindakan tersebut dapat mengatasi nyeri karena disebabkan nyeri masih timbul. Memberitahu pasien penyebab nyeri rasional untuk meningkatkan pemecahan masalah.

luka kering.40 E. 2. pasien tampak tenang nyaman. . Evaluasi yang ditemukan : pasien mengatakan sudah tahu tentang perawatan payudara. tidak ada pus. Kurang pengetahuan tentang perawatan payudara berhubungan dengan kurang informasi. masalah teratasi dan tindakan dihentikan. Evaluasi 1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka insisi perineum/episiotomy. Masalah teratasi dan rencana tindakan dihentikan. skala nyeri 1. Masalah teratasi dan rencana tindakan dihentikan. Evaluasi yang ditemukan : pasien mengatakan nyeri berkurang. Nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan. 3. Evaluasi yang ditemukan : pasien mengatakan nyeri berkurang.

berlangsung 6-8 minggu. mulai dari persalinan selesai yang dialami oleh setiap wanita hamil cukup bulan dengan kehamilan normal sampai dengan pulihnya alat-alat reproduksi sampai keadaan sebelum hamil. menentukan diagnose yang muncul. membuat rencana tindakan. Dari hasil tindakan yang telah dilakukan pada Ny. maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa post partum normal adalah masa nifas atau masa pulih kembali. . D dapat ditegakkan tiga masalah keperawatan yaitu resiko tinggi infeksi. gangguan rasa nyaman nyeri dan kurangnya pengetahuan mengenai perawatan payudara dapat teratasi dan intervensi dhentikan.41 BAB V PENUTUP Berdasarkan uraian-uraian dari bab sebelumnya maka penulis menarik beberapa kesimpulan dan memberikan saran sebagai berikut : A. Kesimpulan Berdasarkan pengertian diatas. Asuhan keperawatan pada pasien post partum normal adalah suatu tindakan keperawatan yang diberikan pada ibu post partum mulai dari pengkajian data. mengimplementasikan dan terakhir melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan.

42 B. Kepada masyarakat umumnya dan kepada pasien post partum dan keluarga khususnya agar selalu memeriksakan kondisi bayi dan kondisi ibunya setelah melahirkan agar tidak terjadi kondisi kritis. Kepada tenaga kesehatan agar selalu memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasiennya agar pasien mendapatkan kepuasan terhadap pelayanan yang telah diberikan. 2. Saran Adapun saran yang dapat diberikan setelah melakukan study kasus mengenai post partum normal adalah : 1. .

Jakarta:Yayasan Essentia Medica. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Diagnosa Keperawatan. 2006. Marilynn E. Alih Bahasa I Made Kariasi. Jakarta:Hipokrates.Kp. Essensial Obstetri dan Ginekologi. 2009. Omo. Yogyakarta:Pustaka Cendekia. S. Panduan Diagnosa keperawatan. Jakarta:EGC. Alih Bahasa Dr Mohammad Hakimi. Lynda Jual. Jakarta:EGC. 2003. Jakarta:Jaringan Nasional Pelatihan Klinik (JNPK-KR). 2000. . Alih Bahasa Budi Santoso. Soekaemi et all. Nanda. Ni Made Sumawarti.Kp. Oxorn. Patofiologi dan Fisiologi Persalinan Human Labor and Birth. Alih Bahasa Monica Sster. 2001. 2001. Siswosudarmo. 2008. Carpenito. S.Kp. 2006. Doenges. Edisi 2.43 DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Edisi 10. Moore. Rencana asuhan keperawatan. Doenges. D. Jakarta:EGC. Prima Medika. Risanto. Soekir. Hacker. Obstetri Fisiologi. S. Harry. Alih Bahasa Yunita Cristina. 2000. Asuhan Persalinan Normal dan Insiasi Menyusui Dini. Abdul Madjid. Marilynn E. Alih Bahasa Yasmin Asih. Ova Emilia. Editor dr Sinta Aji Arirukmi. Ph. Lynda Jual.

S.Kp.com/doc/16287636/ASUHAN-KEPERAWATANMATERNITAS diakses pada tanggal 14 Juli 2010. Syahirul Alimi.Kp. http://www. Alih Bahasa Waidyawati. Elsi Dwihapsari.com/doc/21899776/BAB-I diakses pada tanggal 14 Juli 2010. S.scribd. Intan Sari Nurjanah. M.Kp.scribd. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC.scribd. http://www.com/doc/24817163/Postpartum-Normal diakses pada tanggal 14 Juni 2010. Jakarta: EGC. Edisi 6. S.Kes. http://www.Kp. Judith M.44 Wilkinson. S.scribd.com/doc/32931258/ASUHAN-KEBIDANAN-NIFAS diakses pada tanggal 14 Juli 2010. . http://www.

45 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful