P. 1
Imanuel Kant 1

Imanuel Kant 1

|Views: 26|Likes:
Published by n2_andy

More info:

Published by: n2_andy on Jun 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/13/2013

pdf

text

original

BAB IV ANALISIS EPISTEMOLOGI KRITISISME IMMANUEL KANT DALAM PERSPEKTIF ISLAM NALAR BURHANI MUHAMMAD ABED AL-JABIRI A.

Keunggulan Epistemologi Kritisisme Immanuel Kant dalam Filsafat Modern Perkembangan sains, sebagian terbesar adalah hasil peradaban Barat pada periode modern dan merupakan satu dari keberhasilan-keberhasilan yang terbesar dari akal manusia. Satu permasalahan yang muncul pada filsafat abad modern khususnya abad ke-17 dan 18 adalah masalah epistemologi. Satu diskursus yang sedang dikaji oleh penulis sekarang adalah bagaimana Epsitemologi Kritisisme Imamnuel Kant dapat dipresentasikan. Epistemologi Kritisisme yang dimaksd dalam hal ini adalah gagasan Immanuel Kant secara substansial yang mengkritik validitas ilmu

pengetahuan, menguji operasionalitasnya dan menentukan batas-batas ilmu pengetahuan itu sendiri. Pemikiran seorang tokoh filsuf Eropa modern dapat dipahami, apabila menengok kembali kepada segi historisnya. Karena dari sanalah memang lahir filsafat untuk pertama kalinya. Filsafat modern merupakan kelanjutan dari filsafat Yunani. Pokok pemikiran yang muncul pada filsafat modern, sebenarnya merupakan kelanjutan dan berdasarkan pemikir-pemikir Yunani Kuno. Lebih jelasnya, penulis akan mencoba menelusuri dari pendekatan historis. Secara konvensional orang mengadakan periodesasi filsafat sebagai berikut : 1. Masa Yunani Kuno (abad ke-6 SM sampai dengan akhir abad ke-3 SM) 2. Mmasa abad pertengahan (akhir abad ke-3 SM sampai dengan awal abad ke-15) 3. Masa modern (akhir abad ke-15 sampai dengan abad ke-19) 4. Masa dewasa ini (filsafat kontemporer) abad 20 M.

77

58

Wajah filsafat pada awal kelahirannya (abad ke-6 SM sampai dengan ke-3 SM) menampilkan diri sebagai “mitologi”, dongeng-dongeng, takhayul, novel-novel, sajak-sajak dan nyanyian-nyanyian yang menggambarkan para dewa dan asal-usul terjadinya alam semesta. Hal ini berlangsung lebih kurang tiga abad. Karena manusia tidak lagi merasa puas atas dongeng-dongeng dan takhayul para dewa kemudian manusia mulai mencoba mencari jawaban secara aqliah. Di sini filsafat lari dari mitos ke logos dengan tokoh-tokoh terkenal yaitu Thales (624-548), Anaximandros (610-540), Pytagoras (580500), Demokritos (460-370), Anaximenes dan lain-lain yang dikenal sebagai filsuf alam “kosmologi”.1 Dengan tinggal landasnya para filsuf alam semesta, filsafat Yunani Kuno mencapai puncak keagungannya pada diri Socrates (469-399 SM), Plato (427-347) dan Aristoteles (384-322 SM). Di sinilah perkembangan filsafat Yunani Kuno yang semula lahir menampakkan dirinya sebagai mitologi, kemudian berkembang menjadi kosmologi kemudian menjadi etika dan akhirnya kembali lagi menjadi sesuatu yang bersifat mistik pada akhir abad ke-13, diajarkan oleh Plotinus yang menamakan dirinya sebagai aliran Neo-Platonisme. Sekitar abad ke-7 sampai dengan ke-9, filsafat sudah berubah wajahnya untuk mengabdi pada dogma-dogma agama Kristen. Filsafat pada masa ini dikenal sebagai abad kegelapan, filsafat abad pertengahan. Tokoh yang tampil pada abad pertengahan adalah Agustinus (354-430) dan Thomas Aquinas (1225-1274). Merekalah yang dapat memadukan ajaran agama Kristen dengan filsafat, sehingga kehadiran filsafat Yunani Kuno tidak perlu dilarang bahkan filsafat Yunani Kuno diinterpretasikan sedemikian rupa untuk memberikan justifikasi atau pembenaran bagi dogma-dogma gereja. Dalam perkembangan sejarah menuju abad ke-16 di Eropa muncul suatu gerakan Renaissance (kelahiran kembali), manusia seakan-akan lahir kembali dari tidur abad pertengahan. Seluruh kebudayaan Barat dibangunkan dari suatu keadaan statis menuju manusia bebas yaitu manusia yang tidak lagi
1

Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002),

hlm. 9-10

59

terikat oleh otoritas selain atoritas individu masing-masing. Inilah jembatan antara abad pertengahan dan zaman modern. Abad Renaissance kemudian disusul oleh zaman Aufklarung di abad ke-18. Aufklarung merupakan suatu gerakan (zaman) yang didukung oleh suatu kepercayaan bahwa akal manusia merupakan segala-galanya.2 Zaman modern dapat dianggap sebagai sebuah pemberontakan terhadap alam pikir abad pertengahan. Renaissance yang menghidupkan kembali kebudayaan Yunani-Romawi sebagai alternatif terhadap kebudayaan Kristiani, bukan hanya merupakan pemberontakan di bidang nilai-nilai kultural, melainkan juga menyongsong zaman baru dengan krisis abad pertengahan itu. Penemuan-penemuan penting di bidang ilmu pengetahuan juga kunci fajar zaman baru itu yang meninggalkan alam pikir abad pertengahan. Seperti halnya : Copernicus dan Galileo-Galilei sebagai pemikirpemikir unggul yang telah menemukan bahwa bumi mengitari matahari dan bukan sebaliknya. a. Sumber Epistemologi Kritisisme Immanuel Kant Sosok Immanuel Kant (1724-1804) adalah sosok seorang filsuf terbesar yang sangat populer diantara para filosuf modern.

Kepopulerannya tidaklah terlepas dari 3 karya terbesarnya yang diawali dengan kata Critique yakni Critique of Pure Reason (1781), Critique of Practical Reason (1787) dan Critique of Judgement (1790). Oleh sebab adanya awalan Critique dalam 3 karya terbesar tersebut, maka filsafatnya disebut Kritisisme yang berisi gagasan-gagasan atau pemikiran-pemikiran Immanuel Kant secara berurutan yakni epistemologi, etika dan estetika. Melalui ketiga karya tersebut, pemikiran dan pola pikir Immanuel Kant banyak dituangkan. Dia termasuk filosuf abad ke-18 yang lebih dikenal dengan nama abad pencerahan atau Aufklarung. Di mana pencerahan (dengan hal cerah atau cahaya) dimaksudkan bahwa ilmu pengetahuan eksak dan eksperimental lebih dipentingkan daripada inspirasi filsafat dan agama. Seperti halnya Immanuel Kant mengatakan bahwa manusia harus
2

Ibid., hlm. 12-18

60

berani membiarkan dirinya dipimpin oleh cahaya akal. Dan Hegel melihat dalam filsafat pencerahan adanya suatu penerimaan akal dan penolakan wahyu agama. Sangatlah sukar bila membatasi gejala filsafat pencerahan dari sudut daerah dan zaman. Contoh gejala umum filsafat pencerahan dari sudut daerah dan zaman seperti Tolland di Eropa, Hume di Inggris, Wolf dan Lessing di Jerman, Montesqieu, Voltaire dan Diderot di Perancis.3 Mengenai sumber pengetahuan, pertama-tama para filsuf modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kekuasaan feodal, melainkan dari diri manusia itu sendiri. Tentang aspek mana yang ambil peranan dalam perolehan pengetahuan itu mereka berbeda pendapat. Aliran Rasional dengan tokohnya Descartes berpendapat bahwa sumber pengetahuan adalah rasio. Kebenaran yang pasti berasal dari rasio. Selanjutnya Aliran Rasional dan ajarannya dikembangkan oleh tokoh G.W. Leibniz (1846-1716), Wolf di Jerman. Sedang Aliran Empiris

dengan tokoh David Hume, sebaliknya meyakini bahwa pengalamanlah sebagai sumber pengetahuan baik pengalaman batin maupun inderawi. Di mana Plato dan Aristoteles-lah yang dianggap sebagai cikal bakal Aliran Rasionalisme dan Empirisme. Dari sinilah timbul Kritisisme Immanuel Kant yang berusaha mengkritik kedua aliran tersebut untuk mencapai sumber pengetahuan yang benar.4 Yakni, pengetahuan manusia berasal dari luar maupun dari jiwa manusia itu sendiri.5 Immanuel Kant merupakan orang yang seakan-akan telah menyempurnakan pencerahan dengan tiba-tiba. Dengan munculnya Kant sekaligus dimulailah zaman baru, sebab filsafatnya mengantarkan suatu gagasan baru yang memberi acuan mengenai apa yang akan dipikirkan secara kefilsafatan di zaman yang lebih kemudian. Dan ia sendiri merasa bahwa ia meneruskan pencerahan.
Brouwer dan Puspa Heryadi, Sejarah Filsafat Barat Modern dan Sezaman, (Bandung : Alumni, 1986), hlm. 75 4 Yusriah, “Pengaruh Kritisisme Kant Terhadap Filsafat Modern dalam Jurnal Teologia,” (Semarang : Media Komunikasi Informasi Keilmuan, 1989), hlm. 9 5 Pradana Boy ZTF, Filsafat Islam – Sejarah Aliran dan Tokoh, (Malang : UMM Press, 2003), hlm. 12
3

61

Benarlah bahwa gagasan-gagasan Immanuel Kant ini dimunculkan oleh bentrokan Epistemologi yang timbul dari pemikiran Rasionalisme di Jerman sebagaimana dikembangkan oleh Leibniz-Wolf dengan Empirisme Inggris yang kemudian bermuara dalam pemikiran Hume. Kant mencoba untuk mengatasi bentrokan tersebut dengan menunjukkan unsur-unsur mana dalam pemikiran manusia yang berasal dari pengalaman dan unsurunsur mana yang terdapat dalam akal manusia. b. Validitas Ilmu Persoalan yang diperdebatkan pada waktu itu salah satunya adalah soal “objektivitas pengetahuan”. Apakah pengetahuan yang sungguhsungguh objektif itu berasal dari akal ataukah dari pengalaman. Descartes berpendapat, bahwa dalil Cogito Ergo Sum adalah dasar dari segala pengetahuan. Kenyataan bahwa “saya ada” adalah kenyataan objektif, kenyataan tentang dunia bukan sekedar persepsi seseorang. Oleh karena itu dalil Cogito Ergo Sum adalah dasar objektivitas pengetahuan. Sedangkan Leibniz yakin bahwa dalam pemahaman itu sendiri sudah terdapat prinsip-prinsip innate yang kebenarannya diketahui secara intuitif, tidak tergantung pada pengalaman dan dari sinilah penjelasan tentang dunia diderivasikan secara utuh, objek dasar yang paling dasar dalam dunia adalah substansi atau metode. Dalam diri setiap substansi sudah tercakup subjek dan predikat yang tidak terbatas dan sempurna. Setiap metode memiliki kemampuan untuk mendapatkan gagasan (perceptio) yang baru dan jelas, sehingga tercapailah gagasan yang jelas dan disadari (apperceptio). Pengalaman adalah tingkat pertama pengetahuan akal, jadi bukan merupakan sumber pengetahuan. Sebaliknya, Hume menolak pendapat dioperasikan tanpa ide, dan ide hanya dicari melalui pengamatan. Menurut Hume, isi pemikiran harus merupakan suatu analisis akhir yang didasarkan atas pengalaman yang terdiri dari impresi-impresi.6

Joko Siswanto, Sistem-sistem Metafisika Barat dari Aristoteles Sampai Derrida, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 60

6

62

Nampaknya bila ditelusuri lebih detail dan valid, maka filsafat Kant lebih berusaha untuk mengumpulkan dan mengatasi kedua aliran tersebut. Satu hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa sekalipun inspirasi filsafat Kant muncul dari dua aliran yang berbeda yakni Rasionalisme dan Empirisme, namun Kant tidak begitu saja langsung memadukan dua pemikiran tersebut menjadi satu sistem. Sebab, mengikuti salah satu aliran di atas tidak akan

menyelesaikan masalah. Kedua-duanya keliru, kekeliruan Rasionalisme ialah karena Rasionalisme tidak memperhatikan pengalaman, lebih mementingkan rasio, pengertian dan aspek-aspek statis. Sedangkan Empirisme lebih mementingkan pengalaman dan aspek-aspek dinamis, tetapi tidak memiliki konsep untuk menggambarkan pengalaman.7 Kant yang mencoba mempersatukan Rasionalisme dan Empirisme, mengatakan bahwa dengan hanya mementingkan salah satu dari kedua aspek sumber pengetahuan (rasio dan empiri) tidaklah akan diperoleh pengetahuan yang kebenarannya bersifat universal sekaligus dapat memberikan informasi baru. Menurut Kant, syarat dasar suatu ilmu adalah : a) bersifat umum, mutlak serta b) memberi pengetahuan baru. Pengetahuan yang rasional adalah pengetahuan yang analitis a priori, di sini predikat sudah termuat dalam subjek. Sedangkan pengetahuan yang empiris adalah pengetahuan yang sintetis a posteriori, di sini predikat dihubungkan dengan subjek yang berdasarkan pengalaman inderawi. Masing-masing mempunyai kekuatan dan kelemahan. Pengetahuan rasional (analitis a priori) adalah pengetahuan yang bersifat universal, tapi tidak memberi informasi baru. Sebaliknya empiris (sintetis a posteriori) dapat memberikan informasi baru, tetapi kebenarannya tidak universal. Dengan demikian, baik Rasionalisme maupun Empirisme tidak memenuhi syarat yang dituntut oleh suatu ilmu. Sehingga Kant mengemukakan bahwa pengetahuan itu seharusnya sintetis a priori yakni pengetahuan

7

Ibid., hlm. 61

63

bersumber dari rasio dan empiri yang sekaligus bersifat a priori dan a posteriori.8 Maka ilmu pengetahuan menuntut adanya putusan-putusan a priori yang bersifat sintesis. Oleh karena itu, suatu metafisika yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah harus juga bekerja dengan mempergunakan putusan-putusan yang a priori, namun juga bersifat sintesis. Dengan demikian, bagi Kant perlu menyelidiki bagaimana mungkin ada putusan-putusan yang “sintesis a priori”, putusan-putusan yang sekalipun sintesis, namun tidak tergantung dari pengalaman. Jadi Kant memandang pengenalan sebagai sintesis antara unsur-unsur a priori dan unsur-unsur a posteriori yang masing-masing memainkan peranan sebagai bentuk (a priori) dan materi (a posteriori). Penemuan Kant dalam hal tersebut menandakan suatu revolusi dalam filsafat yang

diperbandingkan dengan revolusi kopernikan artinya suatu revolusi yang dapat diperbandingkan dengan perubahan revolusioner yang diadakan oleh Copernicus dalam bidang astronomi. Sebelum Kant, dahulu para filsuf mencoba mengerti pengenalan dengan mengandaikan bahwa “si subjek (aku) mengarahkan diri kepada objek” (dunia, benda-benda). Tetapi Kant sebaliknya berpangkal dan bertolak dari anggapan bahwa “objeklah yang mengarahkan diri kepada si subjek”. Seperti Copernicus menetapkan bahwa bumi berputar di sekitar matahari, bukan sebaliknya. Jadi yang revolusioner dari pendekatan Kant adalah ia tidak lagi mulai dari objekobjek melainkan dari subjek. Oleh karena itu, struktur subjek sendiri harus diselidiki yaitu kebenaran bukan penyesuaian pengetahuan dengan dunia melainkan dunia dengan pengetahuan manusia.9

Rizal Mustansyir, Filsafat Analitik Sejarah, Perkembangan dan Peranan Para Tokohnya, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 33 9 Brouwer dan Puspa Heryadi, op.cit., hlm. 69-74

8

64

c. Struktur Epistemologi Kritisisme Immanuel Kant Dalam karyanya Kant Kritik atas Rasio Murni, Kant membedakan 3 macam pengertian : 1. Pengertian analitis, dengan sifatnya predikat yang sudah termuat dalam konsep subjek dan tidak memberikan pengertian baru, misalnya lingkaran “bulat”. 2. Pengertian sintetis a posteriori di mana predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman inderawi dan memberikan pengertian baru, misal manusia merasa panas. 3. Pengertian sintetis a priori, pada pengertian ini dipakai sumber pengetahuan yang bersifat a priori dan a posteriori sekaligus, akal budi dan pengalaman inderawi dibutuhkan serentak. Hasilnya akan memperoleh pengertian umum, universal dan pasti, misalnya air mendidih pada suhu 1000 C, bumi berputar sekitar porosnya setiap 24 jam.10 Disinilah pada tingkat pengertian sintesis a priori Kant mulai menyelididki bagaimana mungkin ada putusan-putusan yang sintesis a priori yaitu putusan yang sekalipun sintetis namun tidak tergantung dari pengalaman. Dalam rangka menghubungkan teori Empirisme dan Rasionalisme maka Kant berusaha menjelaskan dengan tingkat-tingkat pengenalan roh yaitu dari tingkat yang terendah sampai yang tertinggi. Pengenalan yang terendah adalah pengamatan inderawi kemudian akal, dan akhirnya sampai pada tingkat budhi (intelek). Pada pengamatan inderawi ini, yang menjadi unsur a posteriori ialah kesan-kesan atau cerapan-cerapan indera yang manusia terima dari objek yang tampak. Indera-indera bersifat menerima apa yang disajikan objek yang tampak dari kesan-kesan yang langsung itu. Manusia mendapat pengenalan dan pengetahuan, akan tetapi yang manusia amati hanyalah penampakan, gejala-gejalanya (fenomena) bukan dalam bendanya sendiri das Ding an
Lili Cahyadi, Hukum Moral Ajaran Immanuel Kant tentang Etika dan Emperatif Kategoris, (Yogyakarta : Kanisius, 1991), hlm. 35
10

65

Sich. Pada pengenalan inderawi harus dilengkapi dengan adanya “ruang” dan “waktu”.11 Sedangkan pengamatan dan pengenalan pada taraf akal, Kant membedakan antara akal dengan budi, tugas akal mengatur data-data inderawi dengan mengemukakan putusan-putusan. Segala hasil

pengamatan indera diolah oleh akal sehingga menjadi suatu sintesa yang teratur dalam putusan-putusan. Pengenalan pada taraf akal tersebut merupakan sintesis antara bentuk dan materi, apa yang diperoleh melalui bidang indera harus dituangkan kedalam apa yang dinamakan bidang akal yang bisa melalui kategori yang jumlahnya ada 12 dan dapat dirangkum menjadi 4 kategori asasi yaitu : kuantitas yang terdiri dari kesatuan, kejamakan dan keutuhan. Kualitas terdiri dari realitas, negasi dan pembatasan. Hubungan terdiri atas substansi, kausalitas, dan resiprositas. Modalitas terdiri atas kemungkinan, peneguhan dan keniscayaan. Di mana tiap deretan kategori terdiri atas 3 kategori tersebut yang pertama dan yang kedua saling bertentangan (umpamanya : kesatuan dan kejamakan), sedang yang ketiga (yaitu keutuhan) mewujudkan kesatuan yang lebih tinggi dari kedua kategori yang mendahuluinya. Cara berpikir yang demikian itu, yaitu pemikiran dengan memakai tesa, antitesa dan sintesa di zaman yang lebih kemudian diperkembangkan oleh Fichte, Schelling dan Hegel. Sedang pengenalan pada bidang budi ini tugasnya adalah menarik kesimpulan dari putusan-putusan yang telah dibuat akal, budi

menggabungkan putusan-putusn yang dipimpin oleh tiga idea yaitu jiwa, dunia dan Allah atau dengan kata lain psikologi, kosmologi dan teologi.12 Namun ketiga macam idea itu sendiri tidak mungkin dapat dicapai oleh akal pikir manusia. Ketiga idea ini hanya merupakan petunjuk untuk menciptakan kesatuan pengetahuan. Walaupun ketiga idea tersebut

11 12

Joko Siswanto, op.cit., hlm. 63 Yusriah, op.cit., hlm. 12.

66

berkaitan dengan pengalaman tetapi mereka sendiri tidak termasuk pengalaman manusia. d. Hakikat Epistemologi Kritisisme Immanuel Kant Pada dasarnya filsafat Immanuel Kant terdapat perhubungan antara idealisme dan realisme. Hal itu bias dimulai dengan pertanyaan apa yang dimaksudkan dengan istilah Das Ding an Sich? Dalam pengamatan

perbedaan fenomenon dan benda rupanya sama dengan perbedaan antara dua realitas. Pengamatan membatasi pengetahuan yang tidak bisa

melampui pengamatan sendiri dan mencapai benda di luar manusia sedang tanpa sense data manusia tidak dapat mengenal apa-apa dengan memakai kategori-kategori. Dengan memakai kategori manusia hanya bisa

mengenal benda pada umumnya tetapi bukan salah satu benda yang khusus. Pengamatan yang dibentuk oleh kategori-kategori melebihi

kategori-kategori itu sehingga hal yang nampak menampakkan dirinya sebagai hal yang kebetulan dan bentuk yang lain memang mungkin. Dengan menyebut fenomenon dengan nama noumenon hal mengerti menampakkan diri sebagai hal yang membatasi pengamatan dan bendabenda tidak lagi dianggap sebagai fenomenon saja. Pengamatan menjadi mungkin karena mengerti dan mengamati membatasi satu yang lain dan hal itu dijelaskan dengan istilah noumenon. Berdasar teori tentang noumenon dan fenomenon menjadi nyata adanya hukum-hukum alam di dunia manusia yang tidak bisa disangkal. Ada hukum-hukum alam karena manusia mengkonstitusikan fenomenonfenomenon yang sesuai dengan aturan-aturan dari pengetahuan manusia. Tapi dalam pengetahuan itu pengalaman muncul sebagai hal yang tidak lengkap dan kadang sempurna: segala hal yang diketahui dalam pengamatan ialah hal yang bersyarat dan kebetulan sehingga setiap hukum ialah hukum empiris yang dibuat berdasar induksi. Das ding an sich ialah suatu ide dari suatu hukum yang tidak bersyarat dan yang mengkonstitusikan pengamatan sebagai system. Jelaslah bahwa hakikat Epistemologi Kritisisme Immanuel Kant ialah

67

suatu idealisme yang transendental karena mengada sama dengan mengetahui.13 Diskursus di atas mengindikasikan bahwa kritik terhadap keunggulan Epistemologi Immanuel Kant, terletak pada kemampuannya untuk

menjembatani 2 corak pemikiran yang sangat berbeda antara Rasionalisme dengan Empirisme menjadi kesatuan harmonis. Sehingga, baik pengetahuan yang diperoleh dalam bidang inderawi maupun yang diperoleh dalam bidang akal mencerminkan langkah-langkah logis yang dengan sendirinya dapat diterima dalam pemikiran tokoh-tokoh Linguistic Analysis (Analisis Bahasa) atau Analytical Philosophy ataupun Logical Analysis (Analisis Logika) dalam abad ke-20-an. Di mana ketiga istilah tersebut berbeda tetapi pada hakikatnya mengandung pengertian yang sama yaitu suatu pandangan yang berupaya menjelaskan (melalui analisis) penggunaan bahasa dalam filsafat. Dengan segala kemampuannya, Immanuel Kant mampu memadukan dua aliran yang berbeda tersebut.14 Dengan tujuan mengkritik validitas ilmu pengetahuan, menguji operasionalitasnya dan menentukan batas-batas ilmu pengetahuan itu sendiri sedemikian rupa. Kant telah memberikan pembetulan terhadap sikap berat sebelah yang dikemukakan oleh penganut Rasionalisme dan Empirisme dan telah membuka jalan bagi perkembangan filsafat di kemudian hari. Sungguh merupakan sumbangan yang sangat berharga bagi dunia filsafat secara umum. Sedangkan pengetahuan yang terletak dalam bidang rasio, mungkin tidak akan pernah digubris oleh kaum Atomisme Logik dan kaum Positivisme Logik. Sebab Kant telah mengaitkan pengetahuan yang diperoleh secara logis itu dengan ‘sesuatu’ yang justru bersifat tidak logis yaitu Allah, jiwa dan dunia. Bagi kaum Atomisme Logik misalnya terutama dalam pandangan Wittgenstein, ketiga idea itu dianggap “sesuatu yang bersifat mistis”. Akan tetapi justru di sinilah letak keistimewaan Kant, sebab Kant sendiri mengakui bahwa akal manusia tidak akan pernah dapat mencapai ketiga macam idea tersebut. Ketiga macam idea tersebut hanya merupakan
13 14

Brouwer dan Puspa Heryadi, op.cit., hlm. 73-74. Rizal Mustansyir, op.cit., hlm. 36

68

postulat yang mendasari suatu bentuk putusan sintetik a priori. Suatu hal yang tidak diragukan lagi Kant telah menolak metafisika (senada dengan kaum Positivisme Logik dan para tokoh analitik bahasa pada umumnya bagi filsafat). Menurut Kant, metafisika ilmiah yang mengatasi pengalaman inderawi itu mustahil, sebab metafisika demikian hanya mengenai noumenon (sesuatu yang tidak teramati) bukan tentang fenomin (sesuatu yang teramati).15 Filsafat menjadi lebih lengkap dengan kehadiran Kant daripada sebelumnya. Karena sebelum kehadiran Immanuel Kant tidak pernah ada para filsuf yang berani mensintesis aliran Rasionalisme dan Empirisme tersebut. Jadi, benarlah pernyataan bahwa dengan kehadiran Kant, filsafat Barat mengalami suatu “pergeseran paradigma” sehingga manusia bisa mengatakan, Kant telah memberi filsafat suatu “mitos” baru yakni mitos tentang benda di dalam lubuknya.16 Khazanah Epistemologi Kant segera berdampak kuat terhadap semua bidang penyelidikan filosofis yang mendatangkan suatu zaman (baru) di “era modern” filsafat Barat dan membangkitkan serangkaian panjang filsafat “pasca-modern” atau “pasca-kritis”. Tidak dapat disangkal bahwa hingga zaman sekarang pengaruh Kant sangat besar khususnya terhadap pemikiran Jerman, metafisika Rasionalitas yang diajarkan Wolf telah disingkirkan oleh filsafat Kant. Epistemologi Kant mengandung suatu kritik atas seluruh filsafat yang mendahuluinya. Perpecahan Empirisme dan Rasionalisme diatasi dengan Epistemologi Kritisisme Kant yang memberi tempat baik kepada unsur a posteirori maupun unsur a priori dalam pengenalan manusia. Namun peranan yang diberikan unsur a priori lebih besar daripada peranan yang diberikan kepada unsur a posteriori. Makin tinggi tingkat pengenalan, makin berkuranglah peranan unsur a posteriori. Maka tidak terlalu mengherankan bahwa dalam sejarah filsafat “pasca Kant” sintesa antara Rasionalisme dan Empirisme diganti oleh pertentangan yang menghasilkan dua aliran baru yaitu Idealisme dan
Ibid. Stephen Palmquist, Pohon Filsafat Teks Kuliah Pengantar Filsafat, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000), hlm. 108
16 15

69

Positivisme. Idealisme dengan tokohnya Fichte, Schalling dan Hegel yang menekankan unsur kesadaran. Idealisme melanjutkan pikiran Kant bahwa subjek memberi struktur kepada kenyataan. Idealisme berbicara tentang “Aku” kebebasan dan sejarah Positivisme melanjutkan skeptisisme Kant. Namun Positivisme baru mulai memainkan peranan penting setelah perkembangan Idealisme.17 Sekitar abad 19 di Jerman lahirlah aliran baru dalam filsafat dan dianggap aliran paling penting yaitu Neo-Kantianisme : perhatian baru untuk filsafat Kant yang mana dalam aliran ini Kant dan pengikut-pengikutnya memainkan peranan penting, manifesto yang melontarkan himbauan untuk kembali kepada Kritisisme Kant dengan tokohnya yang terkenal antara lain : H. Von Helmhalzz F. Lange, H. Vaihinger, Wilhem Dilthey, dan lain-lain. Lebih-lebih di abad 20, seorang tokoh pendiri aliran analitik dalam kalangan Universitas Marburg, yaitu Herman Cohen telah mempelajari filsafat Kant dan menganalisa ketiga karya yang penting, Kritik atas Rasio Murni, Kritik atas Rasio Praktis, dan Kritik atas Daya Pertimbangan. Filsafat analitik yang lahir di abad ke-20 ini, tidak terlepas juga dari pengaruh filsafat Kant, karena baik pengetahuan yang diperoleh dalam bidang inderawi atau akal kedua-duanya mencerminkan langkah-langkah logis. Hal tersebut dengan sendirinya merupakan acuan bagi filsafat analitik.18

B. Epistemologi Kritisisme Immanuel Kant dalam Perspektif Islam Epistemologi Kritisisme Immanuel Kant adalah filsafat pengetahuan Immanuel Kant yang mencoba menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Kritisisme Kant dapat dianggap

sebagai suatu usaha rakasasa untuk mendamaikan Rasionalisme dan Empirisme dengan mengkolaborasikan keduanya.19

Yusriah, op.cit., hlm. 13 Ibid, hlm. 12-13 19 Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat dan Etika Suatu Pengantar, (Bandung: Yayasan Plasa, 1997), hlm. 78.
18

17

70

Pernyataan tersebut mengidentifikasikan bahwa dalam Kritisisme Immanuel Kant tidak mengedepankan akal secara absolut dan tidak pula mengedepankan pengalaman secara mutlak. Tetapi Kritisisme Kant,

memadukan antara unsur-unsur yang terdapat dalam Rasionalisme dengan unsur-unsur Empirisme menjadi kesatuan yang harmonis sebagai sumber pengetahuan. Hal itu dilakukan berawal dari usaha Kant yang melihat tentang kelemahan dan kelebihan masing-masing kedua aliran yang saling bertentangan (Rasionalisme dan Empirisme). Baginya Rasionalisme hanya dapat memberikan kebenaran yang universal dan tidak dapat memberikan informasi yang baru. Karena Rasionalisme hanya mementingkan akan secara mutlak dalam memperoleh pengetahuan. Sedangkan Empirisme, baginya

hanya dapat memberikan informasi yang baru tetapi kebenarannya tidak universal. Karena Empirisme hanya mementingkan pengalaman saja sebagai sumber pengetahuan. Menurut Kanti, sumber pengetahuan yang benar adalah pengetahuan bersifat universal kebenarannya dan dapat memberikan informasi yang baru sehingga pengetahuan itu sebenarnya bersifat sintesis a priori, yakni bersifat rasio dan empiri dengan melalui tiga tingkatan dari yang terendah sampai tertinggi (tingkat pencerapan inderawi, akal budi, dan budaya). Tak dapat disangkal bahwa keberhasilan Kritisisme Immanuel Kant berangkat dari temuan yang telah dicapai oleh para tokoh besar sebelumnya, kemudian melihat problem-problem, mencermati kesalahan-kesalahan,

menyadari (meluruskan) keraguan, dan mengembangkan temuan-temuan dan metode-metode mereka dengan memulai dari beberapa filosof yang mendahuluinya seperti dari Plato dan Aristoteles hingga tokoh-tokoh yang sezaman dengan Walff, melewati Descartes dan Leibniz, lebih-lebih Hume yang diakui oleh Kant bahwa ia telah menyadarkan dirinya dari "keterlelapan dogmatis". Hanya saja, Kant dalam kajiannya tidak membatasi diri pada obyek yang ia geluti dan mempengaruhi perhatiannya.20
Ali Harb, Kritik Nalar al-Qur'an, terj. Haqd al-Aql al-Qur'an, penj. M. Faisol Fatawi, (Yogyakarta: LKiS, 2003), hlm. 344.
20

71

Term rasio dan empiri dalam Kritisisme sebagai sarana memperoleh pengetahuan tidak bertentangan dengan al-Qur'an khususnya dalam QS. AnNahl: 78 dan QS. Al-Mukminuun: 78. Yang masing-masing artinya adalah "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur" (QS. An-Nahl: 78) dan "Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan, dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur" (QS. Al-Mukminun: 78).21 Dalam kandungan QS. An-Nahl: 78 dan Al-Mukminun: 78 tersebut, menunjukkan bahwa al-Qur'an mengajak manusia menggunakan pancaindra dan akal sekaligus, baik yang bersifat material maupun spiritual. Indra dan akal saling menyempurnakan. Antara keduanya tidak terpisah dan berdiri sendiri sebagaimana diklaim masing-masing oleh filsuf Empirisme dan Rasionalisme.22 Sehingga dalam hal ini, Kritisisme Immanuel Kant yang

sistetis a priori yakni pengetahuan bersumber dari rasio dan empiri sekaligus tidak bertentangan dengan al-Qur'an. Selanjutnya dalam tradisi pemikiran Islam, epistemologi melalui berbagai sarana dan sumber pengetahuan untuk mencapai suatu kebenaran dan kenyataan. Perbedaan dalam pemeliharaan dasar ontologi, dengan sendirinya akan mengakibatkan sarana yang akan dipakai dengan indera, akal, intuisi, kasyf, dan sarana lain juga menunjukkan kelebihan dan kelemahan sistem epistemologi dengan batas-batas validasi suatu sistem pengetahuan.23 Dalam hal ini Miska Muh. Amien telah memberi definisi sebagai berikut: Epistemologi Islam adalah usaha manusia untuk menelaah masalahmasalah obyektifitas, metodologi, sumber serta validasi pengetahuan secara mendalam dengan menggunakan subyek Islam sebagai titik tolak berpikir.24

Depag RI., Al-Qur'an dan Terjemahnya, (Semarang: CV. Alwaah, 1993), hlm. 535. Ali Abdul Azhim, Epistemologi dan Aksiologi Perspektif Al-Qur'an, (Bandung: Rosda Karya, 1989), hlm. 32. 23 Koento Wibisono, dkk., Reformasi Filsafat Pendidikan Islam, (Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 12. 24 Miska Muh. Amien, Epistemologi Islam, (Jakarta: Universitas Indonesia, 1983), hlm. 2-3.
22

21

72

Sehingga epistemologi dalam Islam pun merupakan titik sentral pandangan Islam yang menjadi tolak ukur yang menentukan hal-hal dengan tujuan yang diketahui, menunjukkan batas-batasnya. Islam sendiri, mempunyai 3 kerangka epistemologi yakni 1. Epistemologi Bayani, studi filosofis terhadap sistem bangunan

pengetahuan yang menempatkan teks (wahyu sebagai kebenaran mutlak, akal berada pada posisi sekunder yang hanya bertugas untuk memberikan pembenaran terhadap teks tersebut. Metode yang digunakan adalah

metode bayani dengan memahami (menganalisis) teks guna menemukan makna yang dikandung dalam lafat dan dengan istinbat hukum-hukum dan al-Qur'an khususnya. Peran akal dalam metode Bayani hanya sebatas sebagai alat pembenaran atau justifikasi atas teks yang dipahami atau diinterpretasi. 2. Epistemologi burhani, studi filosofis terhadap sistem bangunan

pengetahuan yang menempatkan akal, percobaan, dan hukum-hukum logika sebagai sumber pengetahuan. Pendekatan burhani adalah

pendekatan yang mendasarkan diri pada kekuatan rasio melalui instrumen logika (induksi, deduksi, abdiksi, simbolik, proses, dan lain-lain). 3. Epistemologi irfani, pengetahuan diperoleh dengan metode ilham dan kasyf yang telah dikenal jauh sebelum Islam. Metode yang digunakan adalah metode irfani, yaitu pemahaman yang bertumpu pada instrumen pengalaman bathini dhawq, qalb, wijdan, basirah, dan intuisi.25 Sebagaimana al-Jabiri pun memetakkan ilmu-ilmu keislaman antara lain kalam, fiqh, tasawuf, dan filsafat Islam menjadi 3 bentuk epistemologi yakni bayani, irfani, dan burhani.26 Sehubungan dengan hal itu, maka M. Amin Abdullah dalam dunia pemikiran Muslim memetakan 3 macam teori pengetahuan yang biasa disebutsebut yakni
Pradana Bay ZTF, Filsafat Islam: Sejarah, Aliran, dan Tokoh, (Malang: UMM Press, 2003), hlm. 45-49. 26 A. Khudari Shaleh, "Moh. Abed al-Jabiri – Model Epistemologi Islam", dalam buku Pemikiran Islam Kontemporer, (Yogyakarta: Jendela, 2003), hlm. 231.
25

73

1. Pengetahuan Rasional, pengetahuan yang bersumber dari akal. Tokohtokohnya adalah al-Farabi, Ibnu Sina, Ibn Bajjah, Ibn Tufail, Ibnu Rusyd, dan lain-lain 2. Pengetahuan inderawi, pengetahuan ini hanya terbatas pada klasifikasi sumber pengetahuan dan belum ada filsuf yang mengembangkan teori ini. 3. Pengetahuan kasyf, pengetahuan yang diperoleh melalui ilham.27 Dari ketiga teori pengetahuan tersebut, kiranya pengetahuan Sedangkan

Rasionallah yang sangat mendominasi tradisi filsafat Islam.

pengetahuan inderawi (empiris) kurang mendapat tempat, walaupun al-Qur'an sendiri banyak mendorong untuk menggunakan indera sebagai sumber pengetahuan. Akan tetapi dari ketiga macam epistemologi Islam tersebut, tidak menutup kemungkinan akan terjadi semacam keterpaduan atau pengkombinasian di antara ketiganya atau pengkombinasian dengan unsur yang lain. Sebagai contohnya adalah sebagai berikut: Ibnu Bajjah sebagai filosof muslim di bagian barat, menjelaskan: pengetahuan dapat diperoleh dengan menggunakan metode eksperimen (berconaan). Percobaan dikakukan lewat perasaan (indera). Tetapi dilain pihak Ibnu Bajjah mengatakan pengamatan inderawi semata-mata belum cukup untuk mendapat kebenaran dan masih harus ditingkatkan lebih lanjut ke tingkat pengamatan akal (rasio). Mengenai Tuhan sendiri dapat diketahui manusia melalui filsafat: "Manusia dengan berpikir sendiri (berfilsafat) akan dapat memahami (makrifat) tentang akal yang tertinggi yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa.28 Kalau disimpulkan, pemikiran Ibn Bajjah merupakan perpaduan antara perasaan dengan akal. Dalam masalah pengetahuan fakta dia mempergunakan metode rasional empiris, tetapi mengenai kebenaran Tuhan dia

mempergunakan filsafat kebenaran itu sendiri dapat diperoleh manusia apabila manusia menyadari.
Amin Abdullah, Studi Agama Normativitas atau Historisitas, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 244. 28 Hasbullah Bakry, Di Sekitar Filsafat Skolastik Islam, (Jakarta: Tinta Mas, 1973), hlm. 58.
27

74

Kemudian, al-Ghazali sebagai tokoh sufisme mempunyai corak pemikiran yang bersifat sufistik. Dalam mempelajari epistemologi al-Ghazali memang agak rumit sebagaimana mempelajari epistemologi Kritisisme Immanuel Kant, dalam arti mempelajari corak berpikirnya yang sebenarnya. Metode al-Ghazali sendiri dimulai dari keragu-raguan (bandingkan dengan Rene Descartes). Keragu-raguan yang mengelilingi al-Ghazali bukan septis, sebab ia meragukan atau lebih tepat tidak percaya kepada kemampuan perasaan (indera) dan kemampuan akal sebelum diuji secara kritis sebagaimana diungkapkan bahwa "setelah timbul syak – wa – sangka maka timbul pengetahuan biasa saja bahwa segala yang tidak saja diketahui dan lain-lain yang seperti itu, dan yang hanya meyakinkan saja bukanlah pengetahuan yang pasti. Satuan ilmu yang tidak pasti, ilmu yang tidak menentu, bukanlah ilmu yakin.29 Setelah ia tidak percaya pada indera, ia pun meragukan kemampuan akal. Hal ini dapat dilihat dalam pembahasannya mengenai ilmu mahsut "Mungkin di belakang penetapan akal itu akan datang perhubungan-perhubungan lainnya, jika hal ini terjadi besar kemungkinannya apa yang telah ditetapkan oleh akal itu akan disalahkan juga seperti ketetapan akal menyalahkan yang mahsut.30 Dari keragu-raguan tersebut, maka ia berpindah metode dalam mencari kebenaran yang asalnya menggunakan indra, dan akal kemudian beralih menggunakan hati atau lebih dikenal dengan tasawufnya. Para sejarawan mencatat bahwa sejarah pemikiran muslim sebelum munculnya ajaran tasawuf al-Ghazali ditandai dengan pertentangan yang sengit antara golongan fuqaha (ahli fiqh) dengan ahli sufi, dan antara golongan sufi dengan folongan al-Asy'ariyah. Kemudian datanglah al-Ghazali mendamaikan kedua belah pihak yang bersengketa. Sehingga membuat para fuqaha dapat menerima ajaran tasawuf, dan para sufi dapat menerima ajaran fuqaha. Bagi al-Ghazali, tasawuf bukanlah suatu ajaran yang berdiri sendiri, terpisah dari syari'at. Hal ini nampak dalam isi ajaran yang termuat dalam
29 30

H. Rus'an, Mutiara Ihya Ulumud din, (Jakarta: CV. Mulya, 1964), hlm. 18. Miska Muh. Amien, op.cit., hlm. 53.

75

kitabn ihya'nya yang merupakan perpaduan yang harmonis antara fiqh, tasawuf, dan ilmu kalam.31 Sejalan dengan itu, Suhrawardi terkenal dengan filsafat Ishraqiyyah yang mensistesis metode diskursif dan intuitif. Ishraqiyyah Suhrawardi

merupakan suatu perubahan corak pemikiran filsafat Islam, akibat pengaruh mistisisme. Suhrawardi dengan Ishraqiyyahnya mencoba untuk menunjukkan ketidakmampuan akal murni untuk menemukan hakikat kebenaran, dan di sisi lain ia juga mengkritik teori tasawuf al-Ghazali yang terlalu menonjolkan intuisi. Dia menawarkan konstruksi pemikiran baru dengan menyatukan kebenaran agama dan metafisika yang diserap dari filsafat Persia Kuno, tradisi Iran, filsafat Yunani serta filsafat Islam dengan mendekatkan nasional (diskursif) dan mistisisme (intuisi) untuk menemukan hakikat kebenaran. Pemikiran utama Ishraqiyyah merupakan simbol-simbol yang memadukan pemikiran tradisional dengan hermetisme serta filsafat Pytagoras, Plato, Aristoteles, dan Zoroaster, serta unsur-unsur lainnya. Inti dari ajaran Cahaya

Ishraqiyyah terfokus pada sifat dan penggambaran cahaya (nur).

dalam Ishraqiyyah tidak bersifat material dan juga tidak dapat didefinisikan. Semua realitas terdiri dari tingkatan-tingkatan cahaya dan kegelapan. Suhrawardi menyebutkan sebagai realitas absolut, yaitu realitas ketuhanan yang tidak terbatas dan tidak dibatasi, cahaya segala cahaya (nur al-anwar). Ishraqiyyah memberi kesempatan pada akal untuk menyelami kebenaran, juga menawarkan agama, filsafat, dan tasawuf sebagai sarana untuk memperoleh kebenaran spiritual.32 Selanjutnya Muh Iqbal sebagai seorang filosof Islam sesudah Ibn Rusd, khususnya dalam The Reconstruction berusaha memblender warisan ilmu Islam klasik yaitu kalam. Dia bukan saja memadukan tasawuf dan

filsafat Islam yang sejak akhir masa klasik atau awal abad tengah memang sudah bisa dipadukan dengan munculnya apa yang disebut dengan tasawuf
Amin Abdullah, op.cit., hlm. 279-280. Musyafa Fathoni, "Filsafat Ishraqiyyah Suhrawardi: Sintesis metode diskursif dan intuisi" dalam At-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam, vol. 4, no. 2 Juli 2004, hlm. 177.
32 31

76

falsafi, demikian juga berpaduannya kalam dengan filsafat tetapi juga berusaha memadukan teologi (kalam) dengan tasawuf. Pada kasus yang

terakhir itu sampai-sampai Gibb terheran-heran bagaimana Iqbal bisa menyatakan bercita-cita merekonstruksi teologi Islam yang telah ada, namun ternyata yang dibahas bukan teologi ortodoks tetapi malah teologi Sufis. Pernyataan yang menunjukkan dapat dipadukannya antara kalam dan tasawuf, terlihat dari ucapan Iqbal tentang kesatuan wujud yakni "Ego yang tertinggi dalam kata-kata Qur'an adalah Maha Kaya (tidak memerlukan) sesuatu alam. Bagi Dia (Tuhan), yang bukan ego tidak menyatakan dirinya sebagai sesuatu yang lain yang terletak berhadap-hadapan, atau kalau tidak demikian halnya, maka sebagaimana ego kita yang terbatas berada dalam hubungan parsial dengan sesuatu yang lain yang terletak berhdap-hadapan itu. Apa yang kita namakan alam atau yang bukan ego itu, hanyalah satu saat yang melintas dalam kehidupan Tuhan.33 Selanjutnya setelah Iqbal, terdapat Mulla Sandra yang terkenal dengan karyanya Al-Hikmah al-Muta-aliyah yang merupakan satu perspektif baru di dalam kehidupan intelektual Islam berdasarkan sintesis dan pengharmonisan hamper semua aliran pemikiran Islam. Ia juga satu aliran pemikiran dimana tujuan wahyu, hakikat kebenaran yang dicapai melalui dzang dan kasyf serta penalaran dan pembuktian rasional disatukan. Dalam kombinasi tersebut

terlihat dengan jelas keterpaduan yang harmonis antara prinsip-prinsip irfan, filsafat, dn agama. Dimana pembuktian rasional / filsafat terkait erat dengan al-Qur'an dan hadits Nabi, serta ajaran-ajaran para imam, yang dipadukan dengan doktrin-doktrin irfan sebagai hasil iluminasi yang diperoleh oleh jiwa yang suci melalui interprestasi simbolik terhadap teks-teks suci, yang dipahami melalui intuisi intelektual pemikiran rasional ditentukan kepda kebenaran-kebenaran yang universal dari irfan.

Yusuf Suyono, "Relasi Ilmu-ilmu Keislaman dalam pemikiran Abduh dan Iqbal" dalam Theologi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, vol. 13, no. I, Februari 2002, hlm. 14.

33

77

Mengenai akal sebagai sumber pengetahuan, Mulla membedakan menjadi 4 tingkat: potensi akal, akal positif, akal aktual, dan akal yang diperoleh.34 Mulla Sadra menyatakan bahwa untuk memperoleh petunjuk yang benar tidak cukup hanya dengan bertaklid kepada kata-kata agama, tetapi harus disertai penylidikan dan penalaran, sebab, tidak ada tempat bersandar bagi agama kecuali ucapan-ucapan Nabi dan pembuktian akal yang menjelaskan tentang kebenaran misinya. Akan tetapi, petunjuk yang benar tidak akan diperoleh jika hanya mengandalkan akal, tanpa sinar agama. Dengan kata lain, langkah akal akan terbatas dan kemampuannya menjadi berkurang jika dia tidak diberi petunjuk oleh sinar agama. Oleh karena itu, harus terjadi kombinasi yang serasi antara agama, dan akal. Salah satunya tidak dapat dipisahkan dari lainnya. Agama yang benar dan bersinar terang tidak akan menjadikan hukum-hukum bertentangan dengan pengetahuan yang meyakinkan dan pasti agama yang disertai akal adalah cahaya di atas cahaya.35 Dengan demikian, dari paparan panjang lebar tersebut maka terlihat dengan jelas bahwa sebenarnya epistemology Kritisisme Immanuel Kant ingin mensejajarkan atau mengkombinasikan unsur yang satu dengan unsur yang lain sehingga terjadi keterpaduan untuk mencpai kesatuan yang harmonis sebagaimana yang telah berkembang dalam Islam khususnya dunia pemikiran muslim.

Sayyid Mohsen Miri, "Mulla Sadra Kehidupan dan Pemikirannya," dalam Jurnal alHuda, vol. 2, no. 8, Islamic Center, Jakarta, 2003, hlm. 137. 35 Syaifan HUr, Filsafat Wujud Mulla Sadra, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 125.

34

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->