Siswoyo

TEKNIK LISTRIK INDUSTRI
JILID 3 SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang

TEKNIK LISTRIK INDUSTRI
JILID 3
Untuk SMK
Penulis Perancang Kulit Ukuran Buku : Siswoyo : TIM : 17,6 x 25 cm

SIS t

SISWOYO Teknik Listrik Industri Jilid 3 untuk SMK /oleh Siswoyo ---Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. iii , 218 hlm ISBN ISBN : 978-979-060-081-2 : 978-979-060-084-3

Diterbitkan oleh

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2008

KATA SAMBUTAN Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya, kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan. Jakarta, Direktur Pembinaan SMK

PENGANTAR
Era persaingan dimasa sekarang dan masa yang akan datang mensyaratkan bahwa bangsa yang unggul adalah yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang unggul. Keunggulan SDM hanya dapat diraih melalui pendidikan. Pemerintah melalui UU Sisdiknas No 20/ 2003, jenjang pendidikan menengah kejuruan termasuk program vokasional yang mendapatkan perhatian. Buku Teknik Listrik Industri ini disusun berdasarkan profil standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk bidang Teknik Listrik Industri. Dengan pemahaman yang dimiliki, diharapkan dapat menyokong profesionalitas kerja para lulusan yang akan memasuki dunia kerja. Bagi para guru SMK, buku ini dapat digunakan sebagai salah satu referensi sehingga dapat membantu dalam mengembangkan materi pembelajaran yang aktual dan tepat guna. Buku ini juga bisa digunakan para alumni SMK untuk memperluas pemahamannya di bidang pemanfaatan tenaga listrik terkait dengan bidang kerjanya masing-masing. Buku ini dibagi menjadi lima belas bab, yaitu: (1) Pengetahuan Listrik dasar (2) Kemagnetan dan elektromagnetis (3) Dasar Listrik arus bolak-balik (4) Transformator (5) Motor Listrik arus bolak balik (6) Mesin arus searah (7) Pengendalian motor listrik (8)Alat ukur dan pengukuran listrik (9) Elektronika dasar (10) Elektronika daya (11) Sistem pengamanan bahaya listrik (12) Teknik pengaturan otomatis (13) Generator sinkron (14) Distribusi tenaga listrik (15) Pembangkit listrik Mikrohidro. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktur Pembinaan SMK, Kasubdit Pembelajaran, beserta staf atas kepercayaan dan kerjasamanya dalam penulisan buku ini. Kritik dari pembaca dan kalangan praktisi akan kami perhatikan. Semoga buku ini bermanfaat bagi banyak pihak dan menjadi bagian amal jariah bagi para penulis dan pihak-pihak yang terlibat dalam proses penyusunan buku ini. Amin

Penulis

i

...............1 Prinsip Pembangkitan Listrik AC ................20 1..............8 1.2 Prinsip Dasar Listrik AC .................. 1-16 Hubungan Seri Resistor ................................................ 3-2 3-4 .............................. 2-8 2........................................................... 1-21 Ekivalen Sumer Tegangan dan Sumber Arus ...........................17 1.......................... 2-25 BAB 3 3. 1-19 Mengukur Resistansi dengan Tegangan dan Arus .....7 Aplikasi Kemagnetan & Elektromagnet ......................................1-4 Arus Listrik..............................6 1..............................9 1...............................................1-7 Arus Listrik pada PenghantarLogam ........1-2 Generator Elektrostatis Van de Graff ............ 2-2 2...........3 Kuat Medan Magnet ......10 1.............................................................................. 2-7 2.......5 Bahan Ferromagnet ............................ 3..................18 1...................................1-18 HukumKirchoff-Arus ............................................... 2-16 2......................................11 1...................................................................Daftar Isi : BAB 1 1..........14 1....................22 1..................1-9 Kerapatan Arus Listrik ................... 1-32 Soal-Soal .13 1............................5 1.....................12 1...........................8 Rangkuman ...........16 1.................................................................................... 2-23 2...........4 Kerapatan Fluk Magnet...........................15 1.. 2-9 2.................. 1-8 Mengukur Arus Listrik ........ 1-11 H u k u m Ohm ..................................................................1 1........................................................1 Prinsip Kemagnetan .................. 1-34 BAB 2 2....19 1..................... 1-12 Tahanan Konduktor ................. 1-9 Tahanan Penganta................. 2-14 2.....................21 1................................................2 1.9 Soal-soal .. 1-22 Rangkaian Resistor Gabungan ...........23 Fenomena Elektrostatis ....................... 1-13 Resistor .................................1-20 Tahanan Dalam Baterai ................................................................................. 1-28 Rangkuman ..............................7 1...........................................................................1-3 Tegangan Listrik... 1-17 Hukum Kirchhof-Tegangan ...3 1.................6 Rangkaian Magnetik .............................2 Fluksi Medan Magnet ............ 1-27 Hubungan Seri Baterai ……..................4 1.......................................... 1-24 Konversi Hubungan Bintang-Segitiga ............................................................................... 2-10 2...... 1-16 Hubungan Paralel Resistor ….......

.. 4-20 4............................... 3...................... 4-14 4.............26 Soal-soal ............................................................................................................................. 4-20 4. 4-15 4..................................... 4-12 4..........4 Bilangan Komplek ............................... 3.3 Prinsip kerja Transformator .................... 3.. 3.......... 3........... 4-9 4..........9 Pengukuran Daya Listrik Tiga Phasa ............................................................................... 4-3 4.................................. 4-27 4..................................... 4-10 4..........................................23 Pengelompokan Hubungan Transformator ...................................... 4-7 4..... 4-21 4...11 Autotransformator ..... 3-12 3-17 3-21 3-33 3-40 3-45 3-53 3-55 3-58 3-61 BAB 4 4 ........25 Rangkuman ......18 Hubungan belitan Transformator .......10 Kompensasi Daya ..24 Paralel Dua Transformator ................................... 4-2 4..............4 Tranformator Ideal ...................... 4-24 4................................................ 4-4 4..........................12 Soal-soal .......3.............5 Inti Transformator ........................................................ 4-16 4......................................................................6 Rangkaian Listrik Transformator ...... 3...................... 4-16 4.............................12 Transformator khusus .............................19 Hubungan J a m Belitan Trafo .............7 Diagram Vektor Tegangan .......6 Rangkaian Resistor Seri dengan Kapasitor .... 4-25 4...14 Trafo Pengukuran Tegangan ........................................13 Transformator Pengukuran ...15 Trafo Pengukuran Arus ...............................7 Resonansi ...............8 Rugi-rugi Transformator .................... 4-3 4...............3 K o m p o n e n Pasif D a l a m Listrik AC .................................... 4-21 4...............................................................8 Sistem Listrik Tiga Fasa ...17 Inti Transformator 3 Phasa . 4-18 4..........................................9 Efisiensi Transformator ..................................... 1 M e s i n Listrik ............ 4-22 4.............................................................. 4-9 4........................... 4-17 4......................... 4-23 4...5 Rangkaian Resistor Seri Induktor dengan Listrik AC ..16 Transformator 3 Phasa .21 Konfigurasi Transformator 3 phasa ............ 4-28 ....................................................................................... 3......................................10 Akibat Hubung Singkat ...........................11 Rangkuman .............................2 Transformator ..............................................................22 Transformator dalam Jaringan Asimetris .. 3............. 4-13 4......................... 3........20 Minyak Trafo dan Relay Buchholz ................................................................................................

.....................BAB 5 5..................................21 Rangkuman .. 5................................2 Prinsip kerja Generator DC .....6 Konstruksi Generator DC .5 Konstruksi Motor Induksi ........ 6-13 6.......... 6-9 6.................................................... 5... 5.......... ....................................................................13 Motor belitan Seri ................2 Mengukur Torsi .. 6-16 6......... Torsi dan Daya Motor .......................................... 5..........................3 Generator penguat terpisah .......................................................... 5.............................................................. 5.. 5.............9 Prinsip kerja Motor DC ............................ 5................4 Generator belitan Shunt ...............17 Motor Kapasitor ........................7 Reaksi Jangkar .................................................... 6-8 6....13 Pengasutan Soft Starting ......................................................................1 Mesin Arus Searah .......................16 Prinsip kerja Motor AC Satu Phasa ...... 5........................................................... 6-4 6.......................................................................... 6-21 .................. 5...11 Pengaturan Kecepatan Motor DC ............14 Pengasutan Motor Slipring ...............10 Pengasutan Hubungan Langsung (DOL) .......................................12 Pengasutan Saklar Bintang-Segitiga.. 5-2 5-2 5-3 5-4 5-7 5-7 5-9 5-9 5-10 5-11 5-12 5-14 5-15 5-16 5-19 5-20 5-22 5-23 5-24 5-25 5-25 5-27 BAB 6 6............................. 5................................................15 Motor DC belitan Shunt...1 Mengukur Kecepatan Putaran ........... 5......................................................... 6-2 6........................ . 6-10 6........7 Putaran Motor Induksi ................................................................. 5... 6-15 6................................................................11 Pengasutan Resistor Stator ............................................................... 6-19 6........ 6-8 6.3 Hubungan Kecepatan................. 5......................... 6-18 6..... 5.........15 Motor Dua Kecepatan (Dahlander) . 5..... 6-20 6................. 5...................................6 Rugi-rugi dan Efisiensi Motor Induksi ................................ 6-12 6..........4 Prinsip Kerja Motor Induksi ...........................9 Pengasutan Motor Induksi .................8 Karakteristik Torsi Motor Induksi ...14 Motor DC penguat terpisah ............................................................19 Motor Universal ..20 Motor Tiga Phasa Suply Tegangan Satu Phasa ................................18 Motor Shaded Pole ..........8 Arah Putaran Mesin DC ..................................................12 Reaksi Jangkar pada Motor DC ....................... 5................... 5.................................................10 Starting Motor DC .... 5-22 Soal-soal ............5 Generator belitan Kompound............ 5.................................... 6-7 6........

.................................................2 Komponen Sistem Pengendalian ............. …….......12.... 6-30 6.......... Alat Ukur Digital ..... ....2............... 7-8 7............6.......................... 8-5 8........................................20...................................... 8-19 8.....8 Pengendalian Motor Soft Starter ................................ ......................................14........................................1 Sistem Pengendalian ..12 Rangkuman ...........................19........... Pengukuran Tahan .... Data Teknik Osiloskop .........................3 Pengendalian Kontaktor Elektromagnetik ........... Alat Ukur Analog Kumparan Putar ......................10 Instalasi Motor Induksi Sebagai Water Pump ................ 7-19 7.......................15.........7...........18 Rugi-rugi Daya dan Efisiensi Motor DC ............... 6-33 BAB 7 7....... Jembatan Wheatstone .................18............................. 8-4 8... 7-3 7.................. Alat Ukur Listrik ........6 Pengendalian Putaran Kanan-Kiri ....... 8-2 8......... Alat Ukur Piringan Putar ........................10............................ 8-12 8...4 Pengendalian Hubungan Langsung.............7 Pengendali Dua Motor Bekerja Bergantian .............5.............17 Belitan Jangkar ..................................................13.................... 8-7 8..................19 Rangkuman ....1.....................8.......................... 8-10 8....... 7-33 7.............. 8-21 8........................... ....11.......................11 Rangkaian Kontrol Motor .... 8-14 8.... 8-8 8............ Alat Ukur Listrik Analog ................................... 8-22 ..... 8-17 8.. 7-17 7.................. Osiloskop Dua Kanal ..............9 Panel Kontrol Motor ....................................... Osiloskop ........................................ 7-2 7......................13 Soal-soal ...................... 8-4 8................................................... 7-21 7...... 7-24 7.................................................... 7-34 BAB 8 8........ 7-26 7........ 6-22 6.......... Ukuran Standar Kelistrikan ....................................................... Pengukuran Arus DC ........... 8-16 8....20 Soal-soal ........................ Sistem Satuan .................. Alat Ukur Besi Putar ......... Multimeter Analog ........................... 6-21 6..................................................................... Pengukuran Tegangan DC ... Alat Ukur Elektrodinamik ..6............................ Osiloskop Digital ......................5 Pengendalian Bintang-Segitiga ....................... Osiloskop Analog ................ 8-7 8................................................ 8-19 8...... 8-14 8.....................................4........ 7-10 7...............................17.......................... 8-18 8...................... 6-29 6.............................................................................9....... 7-7 7.............. 8-3 8..........3..........16 Motor DC belitan Kompound ..16................ Direct ON Line . 8-9 8................ Sistem Pengukuran ........... 7-14 7..........................................

............................................ 9-5 9........ 9-10 9........... 11......... 9-6 9..................23........................................ 10-30 10................................. 10-9 10..... 9-2 9........................................ Metode Lissajous ... Soal-Soal ......7..4 Transistor .......2 Komponen Elektronika Daya ......9 Transistor dalam Praktek .............5................1..11 Rangkuman ....................11 Rangkuman .............................9 Modul Trigger TCA 785 ...............8 Transistor Bipolar ..........3 Diode ........12 Soal-soal .5 Thyristor .................4....... 11-2 11-4 11-7 11-8 11-9 11-10 11-11 .......................................5 Sambungan PN ................................... Sistem Pengamanan Bahaya Listrik ...4 Semikonduktor Tipe P ................................... Tindakan Pengamanan untuk Keselamatan ....8 Penyearah Terkendali Thyristor ..............................7 Penyearah Diode ........................................................ Kode International Protection ...................................................... 9-20 9.... 9-3 9.... 9-4 9.................. 11........................................................................................ 10-12 10......................... Jenis Gangguan Listrik .............10 Garis Beban Transistor ....... 9-4 9.....10-11 10...... 10-6 10..................... 9-1 9... 9-11 9................. 10-31 BAB 11 11.................8..................................................... 8..7 Diode Zener .........2 Struktur Atom Semikonduktor ..1 Konversi Daya ....6......... Proteksi Tegangan Ekstra Rendah ..10-26 10........... 11....10-25 10........................................... 10-18 10.....10 Aplikasi Elektronika Daya .....6 Diode .. Pengukuran Dengan Osiloskop .....................3.......................................................................................................... 10-1 10.................................................................... Proteksi dengan Rintangan ............................... Proteksi dengan Isolasi Bagian Aktif ... 9-21 BAB 10 10.............................................1 Bahan Semikonduktor ..............................3 Semikonduktor Tipe N ... Rangkuman ...6 IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor) ........................................................................ 8............... 11....................................................................... 8-24 8-28 8-29 8-31 BAB 9 9......... 8...12 Soal-soal ..... 11.......................................... 11............................................. 10-4 10......................21................................................. 9-8 9..24.................................22.................................2... 10-4 10......................................

11-14 11......20. 12-25 12..... Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TT .............. 11-20 11...........................8............................................................9..................... Komponen Elektro Pneumatik ............... Kontroler PID .. Soal-soal .......... 12-27 12..17.......................................... 12-23 12......... 11-25 11....12-24 12........... Elektropneumatik .... 11-11 11........... 11-22 11..... 12-29 12..........................7....19............. 11-13 11....14........ 12-5 12...21... Pengukuran Tahanan Pembumian dengan Voltmeter dan Ampermeter .....4..................... 12-10 12.................. 11-21 11... 11-27 BAB 12 12......... Seleksi tipe Kontroler untuk Aplikasi Tertentu ..................................18..................................20.... Soal-soal ... 11-17 11.......... Karakteristik Osilasi pada Sistem Kontrol ............................................... 12-2 12......24. Jenis Sistem Distribusi .15......... Proteksi Gawai Proteksi Arus Sisa (ELCB) ........13.................. 11-24 11........................... 12-35 12...16... Proteksi dari Sentuhan Tidak Langsung ..22..11.19.......17... 12-17 12.... 12-28 12............... Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian IT ........................ 11-19 11...5....1.............. 11-15 11........10... 12-18 12.. 11-18 11................................. Diagram Blok Sistem Kontrol .............. 12-26 12........... Proteksi dengan Isolasi Ganda ...................12.............10.............. Proteksi pemisahan Sirkit Listrik ... Rangkaian Dasar ...... Kontroler Integral (I) .............................................................. 11-25 11..............9..................................11...11.........................3.................... Pengujian Sistem Pembumian TN .............. Proteksi lokasi tidak Konduktif ......... Kontroler Proporsional Derivatif (PD) ..... Kontroler D u a Posisi ... Rangkuman .......... Tipe Kontroler .......... Kontroler Tiga Posisi ............................ 11-24 11...........15... 12-37 ........... Perilaku Sistem Kontrol .18.. Pengukuran Arus Sisa dan Tegangan pada ELCB ................12-17 12...2....12................................... 12-27 12.....13..... Kontroler Proporsional (P) ...................... 11-12 11.............. Kontroler Derivatif (D) ...................14... Pengukuran Tahanan Isolasi Lantai dan Dinding ...........23...............16................................. 12-23 12..6..............................................8... Kontroler Proporsional Integral (PI) ...................... Sistem Pembumian TN ......... Pengukuran Tahanan Pembumian .................. 12-36 12.............. 12-22 12..................... 12-20 12................... Rangkuman .......... 11-23 11..................... Optimisasi Kontroler . Pengertian sistem Pengaturan . Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TN .........................................................

.. Instalasi Mikrohidro 15..1..... 13.........6........ Jaringan Listrik .......................................13............................ Konstruksi Mesin Sinkron .............11........ Beban Listrik .... Penggunaan Energi .......................... Soal-soal .... Prinsip Kerja ..................9...... Spesifikasi Teknik 15........ 14. Penghantar ......... Pembangkit Mikrohidro 15.............................. Kerja Parallel Generator .............. Pengaturan Tegangan ...............8..... Peranan Tenaga Listrik ..... Komponen Generator Mikrohidro 15...........12...................................................................... 14........ Sejarah Penyediaan Tenaga Listrik .......................7..................4. 13.....1... Peringatan Tentang Pengoperasian Mikrohidro 15........................... 14......... 13-1 13-2 13-10 13-12 13-13 13-15 13-18 13-23 13-26 13-27 BAB 14 14...................5............ Memilih Lokasi Mikrohidro 15....7........... 14-2 14-2 14-3 14-5 14-9 14-18 14-20 14-26 14-27 14-31 14-32 BAB 15 15........... Alat Pengukur dan Pembatas (APP) ...3...............6.............3...4............2... Rangkuman ............. Generator Berbeban .................................... 13............... Rangkuman 15. 14. Menentukan Resistansi dan Reaktansi ..............8..............................................6.............9. 13......... 13................ 13............. Langkah Pertama Keselamatan 15... Desain Bendungan 15..........5......8........ 14....... Soal-soal 15-2 15-2 15-4 15-4 15-4 15-8 15-9 15-10 15-13 15-14 15-16 15-17 15-17 .................9. Sistem Mikrohidro 15... 14..... 14..2. 13..........................10............... Generator Tanpa Beban ................3. Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik ...........4.......11...................BAB 13 13... 14... Rangkuman .... Pendahuluan ................. Perawatan Dan Perbaikan 15.......2.. 13.............. Pengoperasian 15...........................10... 14..... 13........................ Panel Hubung Bagi (PHB) .........................5...............7...................... Soal-soal ......................... 14.........1.10............

.

.....5 Thyristor ......................................................................................... 10......................................................................................... 10....................... 10..........................................7 Penyearah Diode .6 IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor) ..........10 Aplikasi Elektronika Daya ........................................... 10.9 Modul Trigger TCA 785 ..3 Diode ..... 10-1 10-4 10-4 10-6 10-9 10-11 10-12 10-18 10-25 10-26 10-30 10-31 ..........12 Soal-soal ........ 10.. 10.........................................................................................1 Konversi Daya .......... 10...................................................................4 Transistor ...........BAB 10 ELEKTRONIKA DAYA Daftar Isi : 10...................................2 Komponen Elektronika Daya ...................................................8 Penyearah Terkendali Thyristor ......... 10........ 10...... 10.............................. 10....11 Rangkuman ...........

Konversi Daya Ada empat tipe konversi daya. Kuadrant 1 disebut penyearah fungsinya menyearahkan listrik arus bolak-balik menjadi listrik arus searah.1 : Pemanfaatan Energi Listrik Pada gambar-10. ada empat jenis pemanfatan energi yang berbeda-beda gambar-10.Elektronika Daya 10. Contoh: Listrik AC 220 V/50 Hz diturunkan melewati trafo menjadi 12VAC dan kemudian disearahkan oleh Diode menjadi tegangan DC 12V 10-2 .1.1. Energi mengalir dari sistem listrik AC satu arah ke sistem DC. 1.1 dijelaskan ada empat konverter daya yang terbagi dalam empat kuadran. Pertama dari listrik PLN 220 V melalui penyearah yang mengubah listrik AC menjadi listrik DC yang dibebani motor DC. Gambar 10. Kedua mobil dengan sumber akumulator 12 V dengan inverter yang mengubah listrik DC menjadi listrik AC dihasilkan tegangan AC 220 V dibebani PC. Ketiga dari sumber PLN 220 V dengan AC konverter diubah tegangannnya menjadi 180 V untuk menyalakan lampu. Keempat dari sumber Akumulator truk 24 V dengan DC konverter diubah tegangan 12 V untuk pesawat CB Transmitter.

Listrik arus searah diubah dalam menjadi arus searah dengan besaran yang berbeda.2. yaitu pengatur tegangan AC (tegangan berubah. (3) piranti pengaman dan monitoring. frekuensi konstan) dan cycloconverter (tegangan dan frekuensi dapat diatur). (2) komponen daya. Contoh: Listrik DC 12 V dari akumulator dengan perangkat inverter diubah menjadi listrik tegangan AC 220V. Contoh: Listrik DC 15V dengan komponen elektronika diubah menjadi listrik DC 5V. 4. Contoh: tegangan AC 220 V dan frekuensi 50 Hz menjadi tegangan AC 110 V dan frekuensi yang baru 100 Hz.2 : Diagram Blok Konverter Daya 10-3 . Kuadran 3 disebut inverter yaitu mengubah listrik arus searah menjadi listrik arus bolak-balik pada tegangan dan frekuensi yang dapat diatur. Rancangan konverter daya paling sedikit mengandung lima elemen gambar-10.Elektronika Daya 2. frekuensi 50 Hz. Kuadran 2 disebut DC chopper atau dikenal juga dengan istilah DCDCkonverter. 3. Kuadran 4 disebut AC-AC konverter yaitu mengubah energi listrik arus bolak balik dengan tegangan dan frekuensi tertentu menjadi arus bolak balik dengan tegangan dan frekuensi yang lain. Ada dua jenis konverter AC. yaitu (1) sumber energi. sumber energi piranti pengaman dan monitoring komponen daya sistem kontrol lop tertutup beban Gambar 10. (4) sistem kontrol lop tertutup dan (5) beban.

yang disebut panjar mundur (reverse) gambar 10. aluminium.4. baja. yaitu Anoda dan Katoda gambar 10. Gambar 10. Jika tegangan ini dilewati maka Diode dikatakan rusak dan harus diganti yang baru.3 dan gambar 10. dapat melewatkan arus anoda (IA) yang besar. bahan semikonduktor memiliki sifat sebagai isolator.6. IGBT dsb. Ketika diberikan tegangan bias maju. dan mampu menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt gambar 10.4: Thyristor arus kolektor (IC) terpenuhi. Komponen Elektronika Daya Bahan konduktor memiliki sifat menghantar listrik yang tinggi. besi.3: Transistor daya Diode yang dipakai elektronika daya memiliki syarat menahan tegangan anoda-katode (VAK) besar. bahan konduktor dipakai sebagai konduktor listrik.2. Namun Diode memiliki keterbatasan menahan tegangan panjar mundur yang disebut tegangan break down. seperti kawat tembaga. Sebaliknya Diode akan menahan aliran arus atau memblok arus yang berasal dari katode ke anoda. Diode Diode memiliki dua kaki.Thyristor. Bahan semikonduktor memiliki sifat bisa menjadi penghantar atau bisa juga memiliki sifat menghambat arus listrik tergantung kondisi tegangan eksternal yang diberikan. maka semikonduktor akan berfungsi sebagai konduktor. yaitu dari anode ke katoda yang disebut posisi panjar maju (forward). Gambar 10. menahan perubahan arus sesaat di/dt.5. dsb. Triac.Elektronika Daya 10. Diode hanya dapat melewatkan arus listrik dari satu arah saja. Tetapi ketika diberikan bias mundur. Transistor . Beberapa komponen elektronika daya meliputi: Diode. kemampuan menahan perubahan arus sesaat di/dt serta kemampuan menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt. 10-4 . Demikian juga dengan komponen Thyristor mampu menahan tegangan anoda-katoda (VAK). 10. mampu menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt.3. mengalirkan arus anoda yang besar (IA). Komponen Transistor daya harus memenuhi persyaratan memiliki tegangan kolektor-emiter (VCEO) yang besar. penguatan DC (β) yang besar.

7 Volt. Tegangan positif (forward) dihitung dari sumbu nol ke arah kanan. Karakteristik sebuah Diode digambarkan oleh sumbu horizontal untuk tegangan (Volt). kondisi ini disebut posisi mundur (reverse).7.5. Diode memiliki batas menahan tegangan reverse pada nilai tertentu. Sumbu vertikal untuk menunjukkan arus (mA sampai Amper). Simbol dan fisik Diode Gambar 10. 10-5 . Diode silikon akan mulai forward ketika telah dicapai tegangan cut-in sebesar 0. untuk Diode germanium tegangan cut-in 0. untuk tegangan disebut tegangan maju Uf (forward). Garis arus mundur (reverse) dimulai sumbu nol ke arah bawah dengan orde mA. Karakteristik Diode menggambarkan arus fungsi dari tegangan. Tegangan negatif (reverse) dimulai sumbu negatif ke arah kiri.6. a) Panjar maju (forward) dan b) panjar mundur (reverse) Pada kondisi panjar maju (forward) Diode mengalirkan arus DC dapat diamati dari penunjukan ampermeter dengan arus If. Garis arus maju (forward) dimulai dari sumbu nol keatas dengan satuan Amper. Pada kondisi panjar mundur (reverse) Diode dalam posisi memblok arus. Jika tegangan reverse terlampaui maka Diode akan rusak secara permanen gambar 10.3 Volt.Elektronika Daya Gambar 10.

Transistor berfungsi bekerja sebagai saklar yang bekerja ON/OFF pada kecepatan yang sangat tinggi dalam orde mikro detik.5 mA. Misalnya dalam teknik Switching Power Supply.7: Karakteristik Diode Dari pengamatan visual karakteristik diode diatas dapat dilihat beberapa parameter penting.0 mA.6V tegangan reverse maksimum yang diijinkan sebesar 50V. yaitu dimulai dari terkecil IB = 0. Karakteristik output Transistor BD 135 yang diperlihatkan pada gambar-10. Jika tegangan breakdown ini terlewati dipastikan diode akan terbakar dan rusak permanen. Tampak perubahan arus kolektor IC terkecil 50 mA.8: Karakteristik Output Transistor 10-6 . 150 mA sampai 370 mA dan arus kolektor IC terbesar 400 mA.5 mA.Elektronika Daya Gambar 10. 1. pertama sebagai penguatan dan kedua sebagai saklar elektronik.0 mA dan terbesar 4. tegangan breakdown terjadi pada tegangan mendekati 75V.5 mA sampai 4. Gambar 10. Ada sepuluh perubahan arus basis IB. 1. Transistor Daya Pembahasan tentang Transistor sudah dibahas pada Bab 9 Elektronika Dasar. bahwa Transistor memiliki dua kemampuan.8. Dalam aplikasi elektronika daya. Transistor banyak digunakan sebagai saklar elektronika. 100 mA. yaitu : Tegangan cut-in besarnya 0.2 mA.4. 0. 10.

yaitu ketika Transistor kondisi ON. Ketiga ketika arus basis IB mendekati nol. Kedua Transistor berfungsi sebagai penguat sinyal input ketika arus basis IB berada diantara arus kerjanya A2 sampai A1. Jika tegangan basis U1 dimatikan dan arus basis IB=0. Gambar 10.11 : Garis Beban Transistor Karakteristik output Transistor memperlihatkan garis kerja Transistor dalam tiga kondisi. Ada dua kondisi. Transistor sebagai Saklar Transistor dapat difungsikan sebagai saklar elektronik.10. terjadi antara 0 sampai 50 mdetik. Dengan tegangan supply UB = 12V dan pada tegangan basis U1. akan mengalir arus basis IB yang membuat Transistor cut-in dan menghantarkan arus kolektor IC.1. Arus basis IB dan arus kolektor maksimum dan tahanan kolektor emitor RCE mendekati nol.11. pada saat tersebut tahanan RCE tak terhingga gambar-10.10 : Tegangan Operasi Transistor sebagai saklar Gambar 10. 10-7 .Elektronika Daya 10. Dengan pengaturan arus basis IB Transistor dapat difungsikan sebagai saklar elektronik dalam posisi ON atau OFF.4. dengan sendirinya Transistor kembali mati dan lampu P1 akan mati. terjadi saat arus basis IB maksimum pada titik A3.9 : Transistor Sebagai Saklar Gambar 10. Transistor kondisi OFF ketika tegangan UCE sama dengan tegangan suply UB titik A1 gambar-10. dan Transistor kondisi OFF. Ketika Transistor kondisi OFF. Ketika Transistor sebagai saklar kita akan lihat tegangan kolektor terhadap emitor UCE. yaitu dengan mengatur arus basis IB dapat menghasilkan arus kolektor IC yang dapat menghidupkan lampu P1 dan mematikan lampu. Saat Transistor kondisi ON tegangan UCE saturasi. tegangan UCE mendekati tegangan UB dan arus basis IB dan arus kolektor IC mendekati nol. sehingga lampu P1 menyala. Pertama Transistor kondisi sebagai saklar ON terjadi ketika tegangan UCE saturasi.

2V = If 20mA (U 1 − U BE ). dan Bmin = 120. RV = 5.4V − 0.20mA RC = 158 Ω .Bmin (3. IBmin Bmin (U 1 − U BE ).65V ).2 V dan faktor penguatan tegangan U = 3. tegangan UBE = 0.65V − 0.5 k Ω .I C IB = U . tegangan sinyal 1 U1 = 3. gambar-10. tegangan LED UF = 1.6 kΩ 10-8 .Bmin RV = U .120 = U . RC = 150 Ω b) RV = RV = 5.65 V. tegangan saturasi UCEsat = 0.12 Tentukan besarnya tahanan RC dan RV ? Gambar 10. arus mengalir pada LED IF = 20 mA.65 V.12 : Transistor Sebagai Gerbang NAND Jawaban : a) RC = U b − U F − U CEsat 5V − 1.4 V.I C IB = U IB IBmin Bmin IC RV U1 UBE Faktor penguatan tegangan Arus basis Arus basis minimum Faktor penguatan Transistor (β) Arus kolektor Tahanan depan basis Tegangan input Tegangan basis emitor Contoh : Transistor BC 107 difungsikan gerbang NAND = Not And.Elektronika Daya U .I C 3.

Katoda dan Gate. Pada tegangan forward UF.13 maka arus induksi pada relay diode bukan dialirkan lewat melewati kolektor Transistor. yaitu Anoda.4 A sampai dengan 1500 A.4. Tegangan reverse untuk Thyristor UR sekitar 600 Volt. Juga dikenal ada dua jenis Thyristor dengan P-gate dan N-gate gambar-10. dan variabel arus forward IF dan arus reverse IR gambar-10.14 : Bentuk Fisik & Simbol Thrystor Fungsi Gate pada Thyristor menyerupai basis pada Transistor.13 : Transistor Sebagai Penggerak Relay 10. Transistor Penggerak Relay Kolektor Transistor yang dipasang kan relay mengandung induktor. Karakteristik Thyristor memperlihatkan dua variabel.2. maka ada arus yang tetap dipertahankan disebut arus holding IH sebesar 5 mA.15. dengan mengatur arus gate IG yang besarnya antara 1 mA sampai terbesar 100 mA. Tegangan yang mampu diatur mulai dari 50 Volt sampai 5.14 Gambar 10.Elektronika Daya 10. Agar Thyristor tetap ON. maka Thyristor akan cut-in dan mengalirkan arus forward IF. jika arus gate diatur dari 0 mA sampai diatas 50 mA. 10-9 .5. salah satu alasannya adalah memiliki kemampuan untuk bekerja dalam tegangan dan arus yang besar. Dengan diode R1 yang berfungsi sebagai running diode gambar-10.000 Volt dan mampu mengatur arus 0. Ketika Transistor dari kondisi ON dititik A2 dan menuju OFF di titik A1 timbul tegangan induksi pada relay. Thyristor memiliki tiga kaki. yaitu tegangan forward UF dan tegangan reverse UR. Thyristor Thyristor dikembangkan oleh Bell Laboratories tahun 1950-an dan mulai digunakan secara komersial oleh General Electric tahun 1960an. Gambar 10. maka tegangan keluaran dari Anoda bisa diatur. Thyristor atau SCR (Silicon Controlled Rectifier) termasuk dalam komponen elektronik yang banyak dipakai dalam aplikasi listrik industri.

Elektronika Daya Gambar 10. Gambar 10. Tegangan kerja yang diijinkan pada Anoda = 400 V dan dapat mengalirkan arus nominal = 5 A. agar Thyristor tetap posisi ON diperlukan arus holding = 5 mA. 10-10 .8 V. yaitu : tegangan gate-katode = 0.17 tampak empat Thyristor dalam hubungan jembatan yang dihubungkan dengan beban luar RL.16: Nilai Batas Thrystor Aplikasi Thyristor yang paling banyak adalah sebagai penyearah tegangan AC ke DC yang dapat diatur. Gambar-10.2 mA.15: Karakteristik Thrystor Thyristor TIC 106 D sesuai dengan data sheet memiliki beberapa parameter penting. arus gate minimal 0.

aplikasinya sangat luas dipakai untuk mengatur putaran motor DC atau motor AC daya besar. dipakai sebagai inverter yang mengubah tegangan DC menjadi AC. Gambar 10. Dimasa depan IGBT akan menjadi andalan dalam industri elektronika maupun dalam listrik industri. Sedangkan pada IGBT yang diatur adalah tegangan gate ke emitor UGE. 10-11 . Dari gambar-10. pada tegangan UCE = 20 V dan tegangan gate diatur dari minimum 8 V.Elektronika Daya Gambar 10.17: Fuse Sebagai Pengaman Thrystor 10.18 : Struktur Fisik dan Kemasan IGBT IGBT memiliki kesamaan dengan Transistor bipolar. dipakai dalam kontrol pembangkit tenaga angin dan tenaga panas matahari. IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor) IGBT komponen elektronika yang banyak dipakai dalam elektronika daya.19 karakteristik IGBT. 9 V dan maksimal 16 V. dipakai komponen utama Variable Voltage Variable Frequency (VVVF) pada KRL modern.6. perbedaannya pada Transistor bipolar arus basis IB yang diatur. arus Collector IC dari 2 A sampai 24 A.

7. Penyearah Diode Setengah Gelombang Satu Phasa Rangkaian transformator penurun tegangan dengan sebuah Diode R1 setengah gelombang dan sebuah lampu E1 sebagai beban. Komponen elektronika yang dipakai Diode.Elektronika Daya Gambar 10. artinya tegangan output yang dihasilkan bisa diatur dengan pengaturan penyalaan sudut α sesuai dengan kebutuhan. artinya tegangan output yang dihasilkan tetap tidak bisa dikendalikan. Ada empat tipe penyearah dengan Diode.20.1. Sekunder trafo sebagai tegangan input U1 = 25 V dan bentuk tegangan output DC dapat dilihat dari osiloskop. Alat penyepuhan logam. 10-12 Gambar 10.20: Diode Setengah Gelombang 1 Phasa . Penyearah dengan Diode sering disebut penyearah tanpa kendali. atau Thyristor. Penyearah Diode Penyearah digunakan untuk mengubah listrik AC menjadi listrik DC. Tegangan input U1 merupakan gelombang sinusoida. dan tegangan output setelah Diode Ud bentuknya setengah gelombang bagian yang positifnya saja gambar 10. Pengisi Akumulator. Penyearah dengan Thyristor termasuk penyearah terkendali.19 : Karakteristik Output IGBT 10. listrik DC dipakai untuk berbagai kebutuhan misalnya Power Supply. terdiri penyearah setengah gelombang dan gelombang penuh satu phasa dan setengah gelombang dan gelombang penuh tiga phasa. 10.7.

Tegangan DC pulsa pertama melalui Diode R1 dan R4. sedangkan pulsa kedua melalui Diode R3 dan R2.21. Pd Penyearah gelombang penuh satu phasa bisa juga dihasilkan dari trafo yang menggunakan centre-tap (Ct).Diode Persamaan tegangan DC : Udi=0. R3 dan R4 yang dihubungkan dengan sistem jembatan gambar 10. R2. dan titik Ct difungsikan sebagai terminal negatipnya.7.Elektronika Daya Persamaan tegangan dan arus DC : Udi=0.9 .1 .23 .45. 10-13 . U1 Udi Ud U1 Iz Id PT Pd Tegangan searah ideal Tegangan searah Tegangan efektif Arus melewati Diode Arus searah Daya transformator Daya arus searah Iz = Id 2 PT = 1.U1 I z = Id PT = 3. Output dihubungkan dengan beban RL. Tegangan DC yang dihasilkan mengandung riak gelombang dan bukan DC murni yang rata. Gambar 10. Penyearah Diode Gelombang Penuh Satu Phasa Sekunder transformator penurun tegangan dipasang empat Diode R1.2. disini cukup dipakai dua buah diode. Pd Udi Ud U1 Iz Id PT Pd Tegangan searah ideal Tegangan searah Tegangan efektif Arus melewati Diode Arus searah Daya transformator Daya arus searah 10.21 : Rangkaian Penyearah Jembatan .

kapasitor CG mengisi muatan sampai penuh. Ketika Diode R1 dan Diode R4 melalukan tegangan positif. frekuensi ripple fp =100Hz. Ιd = ≈ 2200μF fp. 12V.8 W b) U1= Ud 2 + 2 . tegangan ripple up =3.1A = 14. 3.23.88 V Gambar 10.23 . 1 A c) CG= 0.7 V = 9. Rangkaian filter dengan kapasitor menjadikan tegangan DC menjadi lebih rata gambar 10. Pd = 1.75 . Ιd fp. dan arus 1A. Kapasitor CG mengisi muatan dan mengosongkan muatan. Uf = 12 v 2 + 2 .23 .up CG Kondensator Id Arus searah fp Frekuensi riple Up Tegangan riple Contoh : Penyearah gelombang penuh diberikan tegangan 12VAC.75 .7 V. Hitunglah: a) Faktor daya transformator b) Berapa besarnya tegangan AC c) Tentukan besarnya kapasitas kapasitor Jawaban : a) PT = 1. tegangan cut-in Diode Uf = 0.up 100 Hz . terjadi pengosongan muatan kapasitor. Gambar 10.Elektronika Daya Untuk meratakan tegangan DC dipasang kapasitor elektrolit CG berfungsi sebagai filter dengan beban RL gambar 10.4 V 10-14 . 0.23 : Penyearah Jembatan Dengan Filter RC 0.22 .4V.22 : Penyearah Jembatan Dengan Filter Capasitor CG = 0. Saat tegangan dari puncak menuju lembah. Berikutnya Diode R2 dan Diode R3 melewatkan tegangan negatif menjadi tegangan DC positif.75 .

25. Gambar 10. 3 pulsa/ periode Gambar 10.56. sampai 2700. R2 dan R3 pada penyearah setengah gelombang dapat diperiksa pada gambar-10.7. Penyearah Diode Setengah Gelombang Tiga Phasa Rangkaian penyearah Diode tiga phasa menggunakan tiga Diode penyearah R1. 10-15 . • Diode R2 mulai konduksi pada sudut 1500. R2 dan R3 dipasang terbalik. sedangkan tegangan yang negatif akan diblok. ketiga anodenya disatukan sebagai terminal positif. R2 dan R3 ketika katodenya disatukan menjadi terminal positif gambar-10.3. • Diode R1 mulai konduksi setelah melewati 300.25: Penyearah ½ Gelombang 3 Phasa Diode Terbalik Urutan konduksi masing-masing Diode R1. Tegangan DC yang dihasilkan tidak benar-benar rata. sampai 3900 juga sepanjang 1200. Arus searah negatif kembali ke sekunder trafo melalui kawat N. Tegangan DC yang dihasilkan negatif gambar-10.Elektronika Daya 10. Diode R1. • Diode R3 mulai konduksi pada sudut 2700.24.24 : Penyearah Diode ½ Gelombang 3 Phasa Rangkaian penyearah Diode setengah gelombang dengan ketiga Diode R1. Diode hanya konduksi ketika tegangan anode lebih positif dibandingkan tegangan katode. atau sepanjang 1200. Tegangan DC yang dihasilkan melalui beban resistif RL. Masing-masing Diode akan konduksi ketika ada tegangan positif. R2 juga konduksi sepanjang 1200. masih mengandung riak (ripple). sampai sudut 1500. R2 dan R3 anak konduksi secara bergantian sesuai dengan siklus gelombang saat nilainya lebih positif.

Elektronika Daya Dapat disimpulkan ketiga Diode memiliki sudut konduksi 1200.68 . Penyearah Diode Gelombang Penuh Tiga Phasa Penyearah Diode gelombang penuh tiga phasa menggunakan sistem jembatan dengan enam buah Diode R1. Tegangan DC yang dihasilkan halus karena tegangan riak (ripple) kecil dan lebih rata. R6 dan R2 anodanya yang disatukan sebagai terminal negatif gambar 10.27.7. 10-16 . Gambar 10.26 : Urutan Kerja Penyearah Diode 3 Phasa ½ Gelombang Persamaan tegangan dan arus penyearah setengah gelombang: Udi=0. U1 Udi Ud U1 Iz Id PT Pd Tegangan searah ideal Tegangan searah Tegangan efektif Arus melewati Diode Arus searah Daya transformator Daya arus searah Iz = Id 3 PT = 1. Diode R4.4. Pd 10. R3 dan R5 katodanya disatukan sebagai terminal positif. Tegangan DC yang dihasilkan memiliki enam pulsa yang dihasilkan oleh masing-masing Diode tsb.5 .

28. U1 Udi Ud U1 Iz Id PT Pd Tegangan searah ideal Tegangan searah Tegangan efektif Arus melewati Diode Arus searah Daya transformator Daya arus searah 10-17 Iz = Id 3 PT = 1. Apa yang terjadi ketika salah satu dari Diode tersebut rusak ? Gambar 10.Elektronika Daya Gambar 10. Jelas dalam satu siklus gelombang tiga phasa terjadi enam kali komutasi dari keenam Diode secara bergantian dan bersama-sama.1 . Berturut-turut disusul Diode R1+R2. Pd .28 : Bentuk Gelombang Penyearah Penuh 3 Phasa Persamaan tegangan dan arus penyearah Diode gelombang penuh: Udi=1.35 . urutan keempat R3+R4. lanjutnya Diode R3+R2.27 : Penyearah Jembatan Gelombang Penuh 3 Phasa Urutan konduksi dari keenam Diode dapat dilihat dari siklus gelombang sinusoida. kelima R5+R4 dan terakhir R5+R6 gambar 10. dimana konduksi secara bergantian. Konduksi dimulai dari Diode R1+R6 sepanjang sudut komutasi 600.

Penyalaan ini dilakukan dengan memberikan pulsa trigger pada gate Thyristor.18 1.9 0. Tegangan keluaran penyearah Thyristor dapat diubah-ubah atau dikendalikan dengan mengendalikan sudut penyalaan α dari Thyristor.1 PT Pd IZ Id 2 Id 3 Id 3 Vdi: tegangan dc-tanpa beban. penyearah tak terkendali menghasilkan tegangan keluaran DC yang tetap. Vd: tegangan dcberbeban.68 0. IZ: arus yang mengalir melalui satu dioda 10. Pulsa trigger dibangkitkan secara khusus oleh rangkaian trigger. Jenis Penyearah Diode Jenis rangkaian Kode Rang kaian Penyearah satu-pulsa E1U Penyearah dua-pulsa jembatan B2U Penyearah tiga-pulsa. Id: arus dc. PT: daya trafo. Penyearah Terkendali Thyristor Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa.1. titik bintang M3U Penyearah enampulsa jembatan B6U Tega ngan tanpa beban Vdi V1 Faktor ripel 0. 10-18 . Pd: daya dc. V1: tegangan ac.5 1. Bila dikehendaki tegangan keluaran yang bisa diubah-ubah.48 1.23 0.1 Id 0.Elektronika Daya Tabel 10. digunakan Thyristor sebagai pengganti dioda.21 3.8.45 1.04 1.35 0.

8.29: Penyearah Terkendali ½ Gelombang Gambar 10. Pada gate diberikan pulsa penyulut α.1. Kondisinya berbeda jika beban mengandung induktor.Elektronika Daya 10. Dengan beban resistif RL maka arus dan tegangan yang dihasilkan sephasa.29. maka Thyristor akan konduksi dan mengalirkan arus kebeban. misalnya lampu pijar. Pada gate Thyristor diberikan penyalaan sebesar α.31 : Tegangan dan Arus DC Beban Resistif 10-19 . pemanas heater. Sebuah Thyristor Q1 dan sebuah beban resistif RL dihubungkan dengan listrik AC gambar10. arus beban dengan tegangan tidak sephasa.30 :Sudut Penyalaan dan Output Tegangan DC ½ Gelombang Persamaan tegangan pada beban resistif setengah gelombang: Udα= U (1+ cos α) 2 Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode Tegangan effektip Sudut penyalaan gate Pada beban resistif RL akan dihasilkan tegangan dan arus yang sephasa gambar10.31. Dengan penyearah Thyristor setengah gelombang hanya gelombang positif dari sinusoida yang dilewatkan. rice cooker. maka tegangan positif saja yang dilewatkan oleh Thyristor gambar-10. dimana antara tegangan dan arus ada beda phasa. Pada beban resistif RL. Yang termasuk beban resistif. ketika sudut penyalaan α diperbesar. Gambar 10. gelombang negatif di blocking oleh Thyristor. Untuk beban terpasang mengandung resistifinduktif. khususnya karena bebannya resistif RL. saat Thyristor diberikan trigger α Gambar 10. dengan mengatur sudut penyalaan gate Thyristor.30 Tegangan negatif di blok tidak dilewatkan. tegangan output yang dihasilkan akan mengecil sesuai dengan sudut konduksi dari Thyristor. Penyearah Thyristor Setengah Gelombang Satu Phasa Rangkaian penyearah Thyristor kelebihannya tegangan outputnya bisa diatur.

35.Elektronika Daya arus beban naik dan tidak segera mencapai nol saat tegangan berada dititik nol. Potensiometer modul penyulut trigger untuk mengatur sudut penyalaan α. untuk beban resistif dan beban induktif gambar-10.32 : Tegangan dan Arus DC Beban Induktif Untuk daya yang lebih besar. Tetapi arus positif dan sebagian arus negatif dilakukan oleh Thyristor. sisi beban mengandung resistif-induktif. Gambar 10.34. Beban yang mengandung resistif-induktif adalah beban motor. Beban resistif memiliki sudut pengaturan pulsa triger 10-20 . sudut pengaturan sudut α untuk beban resistif-induktif effektif antara 00 sampai 900. Saat Thyristor menuju OFF maka induktor akan membangkitkan tegangan induksi.33 : Modul Gambar 10.33. misalnya beban motor DC. Gambar 10. Rangkaian pengaturan beban dengan Thyristor setengah gelombang dihubungkan dengan sumber tegangan AC. Analisa gelombang yang dihasilkan Thyristor hanya konduksi saat tegangan positif saja. Pada beban resistif-induktif ditambahkan sebuah Diode R1 (free wheel Diode). tegangan negatifnya diblok. Ada Diode R1 yang diparalel dengan beban yang disebut sebagai free wheel Diode. Terminal gate Thyristor dihubungkan dengan modul trigger. Diode freewheel akan mengalirkan tegangan induksi sehingga tidak merusak Thyristor.32. Pada beban resisitip-induksip. Trafo pulsa Trigger Thrystor gunanya sebagai isolasi rangkaian Thyristor dengan modul trigger gambar-10. Thyristor akan konduksi lebih lama sebesar sudut θ dan pada beban muncul siklus tegangan negatif gambar-10. gate dikopel dengan trafo pulsa. untuk daya kecil hubungan modul trigger ke gate Thyristor bisa langsung gambar-10.34 : Penyearah Thrystor dengan Diode Grafik tegangan Udα fungsi penyalaan sudut α.

pada sudut penyalaan α maka Thyristor Q1 dan Q4 akan konduksi bersamaan. bentuk tegangan searah antara tegangan dan arus se-phasa. dan pada tahap berikutnya menyusul Thyristor Q2 dan Q3 konduksi. pengaturan sudut α dari 00 sampai 1800. Dengan beban resistif RL. Gambar 10.36 : Penyearah Terkendali Jembatan 1 Phasa Persamaan penyearah Thyristor gelomabang penuh satu phasa beban resistif RL.2. Q3 dan Q4 dalam hubungan jembatan gambar-10.Elektronika Daya dari 00 sampai 1800. Tegangan input 100VAC.36.35 : Grafik Fungsi Penyalaan Gate Thrystor 10. Untuk beban induktif sudut pengaturan pulsa trigger. 10-21 . direkomendasikan antara 00 sampai 900. Hitung tegangan DC saat sudut penyalaan α = 00 dan α = 600 Jawaban : Udα = 1 ⇒ Udo Udo Udα 60o: = 0. Contoh : penyearah Thyristor dengan beban resistif.75 ⇒ Udo Udo ∧ 0o: α = 0o = 100 V α = 60o = 75 V ∧ Gambar 10. Penyearah Thyristor Gelombang Penuh Satu Phasa Penyearah terkendali penuh satu phasa dengan empat buah Thyristor Q1. Pada beban resistif RL.8. Q2. Pasangan Thyristor adalah Q1Q4 dan Q2-Q3. masing-masing diberikan pulsa penyulut pada sudut α untuk siklus positif dan siklus negatif tegangan sumber.

Udo (1+ cos α) Udo = 0. Katode ketiga Thyristor disatukan menjadi terminal positif.37 : Penyearah Thyristor ½ Gelombang 3 Phasa 10-22 .9. Tegangan effektip Sudut penyalaan gate 10. Q2 dan Q3. terminal negatif dari kawat netral N. Aplikasi dipakai pada pengaturan motor DC dengan daya tinggi.37.5. Penyearah tiga phasa digunakan untuk mendapatkan nilai rata-rata tegangan keluaran yang lebih tinggi dengan frekuensi lebih tinggi dibanding penyearah satu phasa.Udo cos α Udo = 0.8. Tegangan DC yang dihasilkan melalui beban resistif RL. pengaturan sudut α dari 00 sampai 900 saja.U Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode Tegangan effektip Sudut penyalaan gate Untuk beban mengandung resistif dan induktif. dengan beban resistif RL gambar10.5. Gambar 10. Penyearah Thyristor Setengah Gelombang Tiga Phasa Rangkaian penyearah Thyristor setengah gelombang tiga phasa dengan tiga Thyristor Q1. berlaku persamaan tegangan sebagai berikut: Udα =0. Masing-masing Thyristor mendapatkan pulsa penyalaan yang berbedabeda melalui UG1.9. UG3.U Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode.Elektronika Daya Udα =0. UG2.3.

cos α Udo = 0. Penyearah Thyristor Gelombang Penuh Tiga Phasa Penyearah Thyristor tiga phasa terdiri atas enam buah Thyristor Q1. Masing-masing Thyristor mendapatkan pulsa penyalaan yang berbedabeda melalui UG1. Contoh ketika tegangan DC terbentuk dari puncak gelombang UL1L2 yang konduksi Thyristor Q1+Q6.Q3 dan Q5 disatukan sebagai terminal positif.38 : Grafik Pengaturan Sudut Penyalaan Persamaan tegangan pada beban resistif.676 . berikutnya pada 10-23 . Udα =Udo. Q4. Gambar 10.Elektronika Daya Arus searah negatif kembali ke sekunder trafo melalui kawat N.38. Q5. Gambar 10. dan anode dari Thyristor Q4. Karena tiap phasa tegangan masukan berbeda 1200.4. UG2.UG5. Pada beban resistif. U Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode Tegangan efektif Sudut penyalaan gate 10. dan UG6. dan Q6. Tegangan DC yang dihasilkan mengandung ripple.39 : Penyearah Terkendali 3 Phasa Untuk melihat urutan konduksi dari keenam Thyristor dapat dilihat dari gelombang tiga phasa gambar-10.39. Katoda dari Diode Q1. pengaturan sudut penyalaan trigger α dari 00 sampai 1500. Q3. UG4 . Q6 dan Q2 disatukan menjadi terminal negatif. UG3. Sebuah beban resistif RL sebagai beban DC gambar. maka pulsa penyulutan diberikan dengan beda phasa 1200.40. Untuk beban induktif pengaturan sudut penyalaan α antara 00 sampai 900 gambar-10.8. Q2.10.

41 : Urutan Penyalaan Gate-Thrystor 3 Phasa 10-24 .Elektronika Daya puncak tegangan –UL3L1 yang konduksi Thyristor Q1+Q2 dan seterusnya. U Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode Tegangan efektif Sudut penyalaan gate Gambar 10. Udα =Udo.35 . Gambar 10. dan apa yang terjadi ketika Thyristor Q1 dan Q3 tidak bekerja? Berikan jawabannya dengan melihat gelombang sinusoida di bawah ini. pengaturan sudut α dari 00 sampai 1500. cos α Udo = 1.40: Bentuk Tegangan DC Penyearah 3 Phasa Persamaan tegangan pada beban resistif. Apa yang terjadi jika salah satu dari keenam Thyristor tersebut mati (misalnya Q1) tidak bekerja.

• Kaki 15 sebagai sinkronisasi mendapat tegangan sinusoida dari jala-jala.43. • Kaki 15 tegangan output pulsa untuk trafo pulsa T1. Untuk pengaturan daya besar dipakai trafo pulsa T1 dan T2.43 : Bentuk Gelombang Chip TCA785 10-25 .Elektronika Daya 10. • Kaki 14 tegangan output pulsa untuk trafo pulsa T2. menghasilkan tegangan gigi gergaji.42. Modul Trigger TCA 785 Rangkaian modul trigger dalam bentuk chip TCA-785 sudah tersedia dan dapat digunakan secara komersial untuk pengaturan daya sampai 15 kW dengan tegangan 3 x 380V gambar-10. untuk T1 untuk melayani Thyristor Q1 dan Q4. • Kaki 10 dan 11. Gambar 10. sedangkan T2 melayani Thyristor Q2 dan Q3.9.42 : Rangkaian Pembangkit Pulsa Chip TCA785 Dalam modul chip TCA 785 ada beberapa kaki yang harus diperiksa jika kaki output 14 dan kaki 15 tidak menghasilkan tegangan pulsa gambar-10. Gambar 10. Tiap trafo pulsa memiliki dua belitan sekunder. Rangkaian ini terdiri dari potensio R2 yang berguna untuk mengatur sudut penyalaan α. Tegangan pulsa trigger dari kaki 14 dan 15 chip TCA 785.

10.44 : Rangkaian Daya 1 Phasa Beban DC 15 Kw 10. Daya yang mampu dikendalikan sebesar 15 kW beban DC gambar 10.Elektronika Daya Rangkaian lengkap terdiri atas rangkaian daya dengan penyearah asimetris gelombang penuh dengan dua Diode dan dua Thyristor.45 : Aplikasi Pengendalian putaran Motor DC 10-26 . Ketika penyearah kedua dijalankan maka motor DC akan berputar ke kiri. Untuk mengatur kecepatan motor. Gambar 10. penyearah satu jika dijalankan motor DC akan berputar ke kanan. Terdapat dua kelompok penyearah Thyristor. Gambar 10.44. Aplikasi Elektronika Daya Aplikasi penyearah Thyristor gelombang penuh satu phasa untuk mengendalikan putaran motor DC untuk putaran kekanan dan putaran ke kiri. dengan mengatur besarnya tegangan ke terminal motor.

46 (a) atau menggunakan Triac gambar 10.46 : Bentuk Dasar Pengendali Tegangan AC 10-27 .46 (b). Saat potensiometer berharga negatif. penyearah pertama yang bekerja dan motor DC putarannya kekanan. antara lain. a).1. Pengendali tegangan saluran AC digunakan untuk mengubah-ubah harga rms tegangan AC yang dicatukan ke beban dengan menggunakan Thyristor sebagai saklar.10. 10. Thrystor Anti Paralel b). Ketika potensiometer posisi di tengah (tegangan nol).Kontrol penerangan .Kontrol kecepatan motor induksi Rangkaian pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan dua-Thyristor yang dirangkai anti-paralel gambar 10. TRIAC Gambar 10. meliputi: .Kontrol alat-alat pemanas . Pengendali Tegangan AC Teknik pengontrolan fasa memberikan kemudahan dalam sistem pengendalian AC. Penggunaan alat ini. motor akan berhenti.Elektronika Daya Potensiometer pada modul trig-ger mengatur sudut penyalaan Thyristor. penyearah kedua yang bekerja dan motor berputar kekiri. maka putaran motor dapat diatur dari minimal menuju putaran nominal. Ketika potensiometer berharga positif.

Penggunaan Triac merupakan cara yang paling simpel. yaitu sekali pada waktu setengah perioda pertama dan sekali pada waktu setengah perioda berikutnya. Triac merupakan komponen dua-arah sehingga untuk mengendalikan tegangan AC pada kedua setengah gelombang cukup dengan satu pulsa trigger. kemudian dikembangkan lagi menggunakan sistem fasa-tiga. maka pada setengah gelombang pertama Thyristor Q1 mendapat bias maju. baik yang setengah gelombang maupun gelombang penuh (rangkaian jembatan). Namun kebutuhan sinyal trigger sama. efisien dan handal. 10. Q2 mendapat bias maju.Elektronika Daya Penggunaan dua Thyristor anti paralel memberikan pendalian tegangan AC secara simetris pada kedua setengah gelombang pertama dan setengah gelombang berikutnya.10. pada setengah perioda berikutnya. Setelah itu. Q2 diberi trigger dengan sudut yang sama. Kemudian pada setengah gelombang berikutnya. metode pengendalian. yang hanya ada satu gate saja. ketika pada setengah gelombang pertama Q1 harus diberi sinyal penyalaan pada gatenya dengan sudut penyalaan. yaitu tegangan menuju nol dan negatif.47. dan Q2 dalam keadaan sebaliknya. Untuk beban yang lebih besar. Barangkali inilah yang membuat rangkaian pengendalian jenis ini sangat populer di masyarakat. Dengan demikian bentuk gelombang keluaran pada seperti yang ditunjukkan pada gambar. proses yang terjadi sama persis dengan yang pertama. sedangkan Q1 bias mundur. misalnya α. Bedanya di sini hanya pada gatenya. Keterbatasannya terletak pada kapasitasnya yang masih terbatas dibandingkan bila menggunakan Thyristor.46 jika tegangan sinusoidal dimasukkan pada rangkaian seperti pada gambar. Seketika itu Q1 akan konduksi. Pengendalian Dimer Seperti yang telah disinggung sebelumnya. Agar rangkaian dapat bekerja. Q1 akan tetap konduksi sampai terjadi perubahan arah (komutasi). 10-28 .2. Sehingga hasil pengendalian tidak berbeda dari yang menggunakan Thyristor anti-paralel gambar 10. bahwa dua Thyristor anti-paralel dapat digantikan dengan sebuah Triac. Dari gambar 10. Gambar 10.47 : Rangkaian Dimmer dengan TRIAC Pengendalian yang bisa dilakukan dengan menggunakan metoda ini hanya terbatas pada beban fasa-satu saja.

industri tekstil dsb.48 dimana tegangan AC 3 phasa disearahkan menjadi tegangan DC oleh enam buah Diode.49. Blok diagram pengaturan motor DC seperti pada gambar 10. Pengaturan Kecepatan Motor DC Pemakain motor DC di industri sangat banyak. Gambar 10.10.48 : Aplikasi IGBT Untuk Kontrol Motor Induksi 3 Phasa Rangkaian Cycloconverter gambar-10. Blok Diagram Pengaturan Kecepatan Motor DC 10-29 .20.4. 10. Salah satu pemakaiannya di Industri kertas. Aplikasi IGBT untuk Inverter Gambar 10.3. salah satu alasannya karena motor DC mudah diatur kecepatannya.Elektronika Daya 10. dengan mengatur waktu ON oleh generator PWM. Selanjutnya sembilan buah IGBT membentuk konfigurasi yang akan menghasilkan tegangan AC 3 phasa dengan tegangan dan frekuensi yang dapat diatur.10. Rangkaian VVVF ini dipakai pada KRL merk HOLEC di Jabotabek.

penguatan DC (β) yang besar.Elektronika Daya Cara kerja: 1. arus gate minimal. mampu menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt. Kuadran 2 disebut DC Chopper 3. 4. hasilnya 10 x 0. yaitu Anoda. Bagian setting mengatur posisi potensiometer untuk mengatur tegangan 10 Volt pada 1000 Rpm. 2. jenisnya ada P gate dan N-gate. Kuadran 3 disebut Inverter 4. 3. Rangkuman • Ada empat konverter daya yang terbagi dalam empat kuadran. Katoda dan Gate. • Thyristor mampu menahan tegangan anoda-katoda (VAK).5V akan menjadi input Kontroller yang mengatur tegangan yang masuk ke rangkaian jangkar motor DC. dan mengubah menjadi tegangan 10. 10. yaitu : tegangan gate-katode. • Thyristor memiliki parameter penting. Tegangan 0. Motor DC akan berputar setelah dihubungkan dengan suply DC sampai putaran mendekati 1000 Rpm. Kuadran 4 disebut AC-AC Konverter • Komponen elektronika daya yang banyak dipakai meliputi Diode. • Diode yang dipakai elektronika daya memiliki syarat menahan tegangan anoda-katode (VAK) besar.05 Volt dibandingkan dengan tegangan setting 10 V. • Transistor daya harus memenuhi persyaratan memiliki tegangan kolektoremiter (VCEO) yang besar. 1.05 Volt.5V.05V = 0. 6. 5. akibatnya putaran menurun sesuai dengan setting putarn 1000 Rpm 7.05V). menahan perubahan arus sesaat di/dt. 10-30 . Tegangan 10.05V (10V – 10. atau dipakai dalam inverter. mengalirkan arus anoda yang besar (IA). • Aplikasi Thyristor yang paling banyak sebagai penyearah tegangan AC ke DC. dan mampu menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt • Thyristor memiliki tiga kaki. Tachogenerator akan mendeteksi kecepatan motor DC. diperoleh selisih -0. dapat melewatkan arus anoda (IA) yang besar. Selisih tegangan ini disebut sebagai kesalahan (error) yang menjadi input pengatur tegangan (penguatan 10X). Transistor dan Thyristor termasuk Triac. arus kolektor (IC) terpenuhi. agar Thyristor tetap posisi ON diperlukan arus holding.11. misalkan 1050 Rpm. Kuadrant 1 disebut penyearah 2. Kondisi akan terjadi secara terus menerus yang menghasilkan putaran motor DC tetap konstan. kemampuan menahan perubahan arus sesaat di/dt serta kemampuan menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt.

3.68 . Tegangan gelombang penuh 3 phasa Udi=1.U 3. Buatlah gambar skematiknya dan jelaskan cara kerja saklar elektronik. perbedaannya pada Transistor bipolar arus basis IB yang diatur. Jelaskan cara kerja : a). U1 3. Inverter d). Tegangan setengah gelombang 3 phasa Udα =Udo. 10-31 . Tegangan setengah gelombang 1 phasa Udi=0. • Penyearah tanpa kendali dengan Diode: 1.U • Modul trigger chip TCA-785 dipakai untuk triger sistem satu phasa maupun tiga phasa. (3) piranti pengaman dan monitoring. Tegangan gelombang penuh 1phasa Udα =0.35. gambarkan skematik pengawatannya dan gambar gelombang sinus dan gelombang DC nya. U1 • Penyearah terkendali dengan Thyristor :' 1. AC-AC Konverter 2. Tegangan gelombang penuh 1phasa Udi=0. (4) sistem kontrol loop tertutup dan (5) beban.U1 2.35 .Elektronika Daya • IGBT memiliki kesamaan dengan Transistor bipolar. • Ada empat tipe penyearah terdiri penyearah setengah gelombang dan gelombang penuh satu phasa dan setengah gelombang tiga phasa dan gelombang penuh tiga phasa. Tegangan gelombang penuh 3 phasa Udα =Udo. yaitu (1) sumber energi. dengan mengatur sudut penyalaan daya beban AC dapat dikendalikan. Sedangkan pada IGBT yang diatur adalah tegangan gate ke emitor UGE. Tegangan setengah gelombang 3 phasa Udi=0. cos α Udo=1.9 . DC Chopper c). U1 4. cos α Udo = 0. Penyearah b). Tegangan setengah gelombang 1 phasa Udα = U (1+ cos α) 2 2. Soal-soal 1.45.9. 10. Transistor jenis PNP. • Pengaturan daya AC dipakai Thyristor terpasang antiparalel. difungsikan sebagai saklar elektronik.5. (2) komponen daya.Udo (1+ cos α) Udo = 0. Diode BY127 dipakai untuk penyearah gelombang penuh dari sebuah trafo 220/12 Volt. • Rancangan konverter daya mengandung lima elemen.12.676 . U 4.

7. tegangan UBE = 0.62 V dengan arus basis IB = 0.5V. Hitunglah: a) Faktor daya transformator b) Berapa besarnya tegangan AC c) Tentukan besarnya kapasitas kapasitor. dan arus 2. tegangan LED UF = 1. 5. Membutuhkan tegangan bias UBE =0.65 V. Transistor BC 107.3 mA. Tentukan besarnya tahanan RC dan RV ? 6. arus mengalir pada LED IF = 20 mA. tegangan cut-in Diode Uf = 0. Penyearah gelombang penuh diberikan tegangan 24VAC.Elektronika Daya 4. 10-32 . Hitung tegangan DC yang dihasilkan pada sudut pengaturan α = 0 – 600.0A. tegangan ripple up =1.4 V. dan Bmin = 120.2 V dan faktor penguatan tegangan U = 3. tegangan sinyal 1 U1 = 3.65 V. Hitunglah a) nilai tahanan bias sendiri RV dan b) nilai tahanan pembagi tegangan R1 dan R2.7 V. frekuensi ripple fp =100Hz. Transistor BC 107 difungsikan gerbang NAND. Penyearah dengan Thyristor gelombang penuh satu phasa dipasang pada tegangan 220 VAC. tegangan saturasi UCEsat = 0. diberikan tegangan sumber UB = 12 V.

...........6. Pengukuran Tahanan Pembumian dengan Voltmeter dan Ampermeter .......... 11.... Pengukuran Tahanan Pembumian ..... 11..... 11........... Proteksi pemisahan Sirkit Listrik ... Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TN ... Jenis Gangguan Listrik ......... 11....... 11.. Proteksi dengan Isolasi Ganda ............................. 11................................. Pengujian Sistem Pembumian TN .................14..................................................22....................19..................................11.....................10.............24......12......8..5....................18... Proteksi dengan Rintangan .. Soal-soal ............17... Proteksi dari Sentuhan Tidak Langsung ................20.......... Kode International Protection . 11. 11.BAB 11 SISTEM PENGAMANAN BAHAYA LISTRIK Daftar Isi : 11....................................... 11. 11.......................7............... Rangkuman ....23...... 11.............. Proteksi Tegangan Ekstra Rendah ................ 11-2 11-4 11-7 11-8 11-9 11-10 11-11 11-11 11-12 11-13 11-14 11-15 11-17 11-18 11-19 11-20 11-21 11-22 11-23 11-24 11-24 11-25 11-25 11-27 ..... Proteksi dengan Isolasi Bagian Aktif . 11..... 11............... Sistem Pengamanan Bahaya Listrik ........ 11............ 11...4.. 11.................... Proteksi lokasi tidak Konduktif .....15.. Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian IT .... 11......3.13......................2. Tindakan Pengamanan untuk Keselamatan ........... Pengukuran Tahanan Isolasi Lantai dan Dinding ................... Jenis Sistem Distribusi .................. 11......... Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TT ..........................21.9...1.16............... 11...... 11......................................... 11.... 11........... 11..... Pengukuran Arus Sisa dan Tegangan pada ELCB... Proteksi Gawai Proteksi Arus Sisa (ELCB) . Sistem Pembumian TN ...

Diatas 10mA sampai 200mA jantung tahan sampai jangka waktu maksimal 2 detik saja. Daerah 1 (0. Mengapa tegangan listrik 12 Volt pada akumulator tidak menyengat dan membahaykan manusia ? Tubuh manusia memiliki batas aman dialiiri listrik.1. sumber listrik AC mengalirkan arus ke tubuh manusia sebesar Ik. ada empat batasan gambar-11.5 sd 10 mA) jantung bereaksi dan rasa kesemutan muncul dipermukaan kulit. Daerah 4 (diatas 500mA) jantung akan rusak dan secara permanen dapat merusak sistem peredaran darah bahkan berakibat kematian.2 : Aliran listrik sentuhan langsung Gambar 11.1 sd 0. Model terjadinya aliran ketubuh manusia gambar-11.1. Daerah 3 (200 sd 500mA) Jantung merasakan sengatan kuat dan terasa sakit. Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Pernah tersengat aliran listrik PLN 220V ? jika ya pasti sangat mengagetkan. melewati tahanan sentuh tangan Rut.5 detik masuk daerah bahaya. maka besarnya tegangan sentuh adalah sebesar : UB = Rk. Tahanan tubuh manusia rata-rata 1000Ω. Ik = 1000Ω x 50 mA = 50 V.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11.5mA) jantung tidak terpengaruh sama sekali bahkan dalam jangka waktu lama. beberapa penelitian menyebutkan sampai dengan arus listrik 50mA adalah batas aman bagi manusia. jika melewati 0. Gambar 11. tubuh manusia Rki dan tahanan pijakan kaki Ru2. Bahkan beberapa kasus tersengat listrik bisa berakibat pada kematian. arus yang aman tubuh manusia maksimum 50mA. Jantung sebagai organ tubuh yang paling rentan terhadap pengaruh arus listrik.2.1 : Grafik bahaya arus listrik 11-2 . Daerah 2 (0.

Bahaya listrik akibat tegangan sentuh langsung dan tidak langsung. Cara kedua tegangan sentuh tidak langsung. arus yang mengalir ketubuh besarnya : Ik = U/Rk =220V/1000Ω = 220mA Arus Ik sebesar 200mA dalam hitungan milidetik tidak membahayakan jantung. Faktor yang berpengaruh ada dua.4b : Tegangan sentuh tidak langsung 11-3 . peralatan listrik dipasang pentanahan yang baik. karena tubuh manusia baru merasakan pengaruh tegangan listrik diatas 50V. generator atau transformator. Gambar 11. Isolasi yang rusak harus diganti karena termasuk kategori kerusakan permanen. Tetapi dengan tindakan pengamanan yang baik. sehingga ketika terjadi arus bocor akan disalurkan ke tanah dan tidak membahayakan manusia.4a.3 : Tahanan tubuh manusia Gambar 11.2 detik sudah berakibat fatal bisa melukai bahkan bisa mematikan. Kerusakan isolasi bisa terjadi pada belitan kawat pada motor listrik. akibat tegangan sentuh yang berbahaya dapat diminimalkan. keduanya sama berbahayanya. Tubuh manusia rata-rata memiliki tahanan Rk sebesar 1000Ω = 1kΩ. tangan menyentuh tegangan PLN 220V gambar11.3.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Terjawab mengapa tegangan Akumulator 12V tidak menyengat saat dipegang terminal positip dan terminal negatifnya.4a : Tegangan sentuh langsung Gambar 11. yaitu besarnya arus mengalir ketubuh dan lama waktunya menyentuh. tetapi diatas 0.4b. Tegangan sentuh bisa terjadi dengan dua cara. Kawat sebaiknya berisolasi sehingga bila tersentuh tidak membahayakan. ketika terjadi kerusakan isolasi pada peralatan listrik dan orang menyentuh peralatan listrik tersebut yang bersangkutan akan terkena bahaya tegangan sentuh gambar-11. cara pertama tangan orang menyentuh langsung kawat beraliran listrik gambar-11.

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Perbedaan rancangan ini harus diketahui oleh teknisi karena berpengaruh pada ketahanan dan umur teknik motor. Motor listrik jenis ini tepat digunakan di luar bangunan tanpa alat pelindung dan tetap bekerja normal dan tidak berpengaruh pada kinerjanya. sehingga cairan arah dari samping tidak terlindungi.7 : Motor listrik tahan siraman air vertikal dan segala arah .5 : Simbol pengamanan pada nameplate Peralatan listrik pada name plate tertera simbol yang berhubungan dengan tindakan pengamanan gambar-11. 11-4 Gambar 11. Kode International Protection Gambar 11. Klas III peralatan listrik yang menggunakan tegangan rendah yang aman. contoh mainan anak-anak.7a. Name plate motor dengan IP 54. Motor listrik bahkan dirancang oleh pabriknya dengan kemampuan tahan terhadap siraman langsung air gambar11. Ada motor listrik dengan proteksi ketahanan masuknya air dari arah vertikal saja gambar-11.6.6 : Motor listrik tahan dari siraman air Gambar 11.7b. disamping harganya juga berbeda.2. Klas I memberikan keterangan bahwa badan alat harus dihubungkan dengan pentanahan. Klas II menunjukkan alat dirancang dengan isolasi ganda dan aman dari tegangan sentuh. yang menyatakan proteksi atas masuknya debu dan tahan masuknya air dari arah vertikal maupun horizontal.5. Tapi juga ada yang memiliki proteksi secara menyeluruh dari segala arah cairan gambar-11.

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik

Kode IP (International Protection) peralatan listrik menunjukkan tingkat proteksi yang diberikan oleh selungkup dari sentuhan langsung ke bagian yang berbahaya, dari masuknya benda asing padat dan masuknya air. Contoh IP X1 artinya angka X menyatakan tidak persyaratan proteksi dari masuknya benda asing padat. Angka 1 menyatakan proteksi tetesan air vertikal. Contoh IP 5X, angka 5 proteksi masuknya debu, angka X tidak ada proteksi masuknya air dengan efek merusak. Tabel 11.1. merupakan contoh simbol Indek proteksi alat listrik yang dinyatakan dengan gambar. Tabel 11.1. Contoh Simbol Indek Proteksi Alat Listrik
Digit kesatu : Proteksi terhadap benda padat IP 0 Test Tanpa proteksi Proteksi terhadap benda padat lebih besar 50 mm (contoh, kontak dengan tangan) Proteksi terhadap benda padat lebih besar 12 mm (contoh jari tangan) Proteksi terhadap benda padat lebih besar 2,5 mm (contoh penghantar kabel) Proteksi terhadap benda padat lebih besar 1 mm (contoh alat kabel kecil) Proteksi terhadap debu (tidak ada lepisan/enda pan yang membahaya kan) Proteksi Digit kedua : Proteksi terhadap zat cair IP 0 Test Tanpa proteksi Digit ketiga : Proteksi terhadap benturan mekanis IP Test 0 Tanpa proteksi

1

1

Proteksi terhadap air yang jatuh ke bawah / vertikal (kondurasi)

1

Proteksi terhadap benturan dengan energi 0,225 joule Proteksi terhadap benturan dengan energi 0,375 joule Proteksi terhadap benturan dengan energi 0,5 joule Proteksi terhadap benturan dengan energi 2 joule Proteksi terhadap benturan dengan energi 6 joule Proteksi

2

2

Proteksi terhadap air sampai o dengan 15 dari vertikal Proteksi terhadap jatuhnya hujan o sampai 60 dari vertical Proteksi terhadap semprotan air dari segala arah Proteksi terhadap semprotan air yang kuat dari segala arah

2

3

3

3

4

4

5

5

5

7

6

Proteksi

9

11-5

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
Digit kesatu : Proteksi terhadap benda padat IP 6 Test terhadap debu secara keseluruhan Digit kedua : Proteksi terhadap zat cair IP Test terhadap semprotan air bertekanan berat Proteksi terhadap pengaruh dari pencelupan Proteksi terhadap pengaruh dari pencelupan di bawah tekanan Digit ketiga : Proteksi terhadap benturan mekanis IP Test terhadap benturan dengan energi 20 joule

7

8

..m

Tabel 11.2. Kode IP XX Angka pertama X, proteksi masuknya benda asing padat 0 Tanpa proteksi 1 diameter ≥ 50 mm 2 diameter ≥ 12,5 mm 3 diameter ≥ 2,5 mm 4 diameter ≥ 1,0 mm 5 debu 6 kedap debu Angka kedua X, proteksi air 0 1 2 3 4 5 6 7 8 tanpa proteksi tetesan air vertikal tetesan air miring 150 semprotan butir air halus semprotan butir air lebih besar pancaran air pancaran air yang kuat perendaman sementara perendaman kontinyu

Tindakan pengamanan dalam pekerjaan sangat penting bagi setiap teknisi yang bekerja dengan tegangan kerja diatas 50V. Seorang teknisi menggunakan sarung tangan karet khusus dan helm dengan pelindung mata gambar-11.8 melakukan perbaikan dalam kondisi bertegangan. Bahkan teknisi tersebut harus memiliki sertifikat kompetensi khusus, karena kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal bagi keselamatan jiwanya. Pekerjaan perbaikan instalasi listrik disarankan tegangan listrik harus dimatikan dan diberikan keterangan sedang dilakukan perbaikan.

Gambar 11.8 : Pelindung tangan dan mata

11-6

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik

11.3. Jenis Gangguan Listrik
Gangguan listrik adalah kejadian yang tidak diinginkan dan mengganggu kerja alat listrik. Akibat gangguan, peralatan listrik tidak berfungsi dan sangat merugikan. Bahkan gangguan yang luas dapat mengganggu keseluruhan kerja sistem produksi dan akan merugikan perusahaan sekaligus pelanggan. Jenis gangguan listrik terjadi karena berbagai penyebab, salah satunya kerusakan isolasi kabel gambar-11.9a. Pertama gangguan hubungsingkat antar phasa L1-L2-L3. Kedua gangguan hubungsingkat Pemutus Daya. Ketiga gangguan hubung singkat antar phasa setelah pemutus daya. Keempat hubungsingkat phasa dengan tanah. Kelima kerusakan isolasi belitan stator motor, sebagai akibatnya terjadi tegangan sentuh jika badan alat dipegang orang. Sistem listrik 3 phasa tegangan rendah digambarkan dengan belitan trafo sekunder dalam hubungan bintang tegangan 400/230V gambar-11.9b. Titik netral sekunder trafo dihubungkan ke tanah dengan tahanan pentanahan RB. Jala-jala dengan 3 kawat phasa L1-L2-L3 dan satu kawat netral N untuk melayani beban 3 phasa dan beban 1 phasa. Sebuah lampu mengalami gangguan, terdapat dua tegangan yang berbeda. Aliran listrik dari L3 menuju lampu dan menuju kawat netral N. Tegangan sentuh UB yang dirasakan oleh orang dan tegangan gangguan UF. Dalam kasus ini tegangan UB = tegangan UF, jika besarnya > 50V membahayakan orangnya. Meskipun kran air yang disentuh orang tsb dihubungkan tanah RA, tegangan sentuh yang dirasakan orang bisa membahayakan.

Gambar 11.9a : Gangguan listrik dibeberapa titik

Gambar 11.9b : Gangguan listrik dari beban lampu

11-7

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik

Tabel 11.3. Tegangan Sentuh yang aman Orang dewasa AC 50V, DC 120V Anak-anak Hewan peliharaan AC 25V, DC 60V Binatang ditaman Gangguan listrik bisa terjadi pada tiang saluran distribusi ke pelanggan, dari tiga kawat phasa salah satu kawat phasa putus dan terhubung ke tanah gambar11.10. Idealnya ketika terjadi kawat Gambar 11.10: Tegangan phasa menyentuh tanah, maka penglangkah akibat gangguan ke aman listrik berupa fuse atau relay di tanah gardu distribusi terdekat putus sehingga tidak terjadi tegangan gangguan tanah. Dari titik gangguan ke tanah akan terjadi tegangan gangguan yang terbesar dan semakin mengecil sampai radius 20 meter. Ketika orang mendekati titik gangguan akan merasakan tegangan langkah US makin besar, dan ketika menjauhi titik gangguan tegangan langkah akan mengecil.

11.4. Tindakan Pengamanan untuk Keselamatan
Keamanan Vs Sentuhan langsung dan tidak langsung keamanan vs arus kejut listrik dibawah kondisi normal, (keamanan vs sentuhan langsung atau keamanan dasar) keamanan vs arus kejut listrik kondisi gangguan/ tidak normal (perlindungan terhadap sentuhan langsung atau kegagalan perlindungan)

tindakan proteksi dengan : • tegangan ekstra rendah (SELV) • tegangan ekstra rendah dengan pemutusan yang aman

tindakan proteksi dengan :

• • • •

isolasi bagian aktif perlindungan / bungkus isolasi buat penghalang buat jarak aman

pembatasan beban

pengamanan tambahan dengan : gawai pengaman arus sisa (GPAS)

tindakan proteksi dengan : pengamanan otomatis melalui: • sistem TN • sistem TT • sistem IT • penyama potensial • isolasi proteksi • ruang bebas penghantar • pemutus keamanan

Gambar 11.11: Peta Tindakan Pengamanan 11-8

dirancang stop kontak dengan desain khusus SELV dan PELV gambar-11.13 : Stop kontak khusus untuk tegangan rendah Gambar 11. Stop kontak PELV memiliki tiga lubang kontak.14. Tegangan primer dan sekunder tranformator pemisah besarnya sama. Stop kontak SELV memiliki dua lubang kontak yang tidak bisa dipertukarkan.5. Untuk menjamin sistem SELV dan PELV bekerja baik. Gambar 11. Sirkit SELV (safety extra low voltage) tidak boleh dikebumikan.12. Atau menggunakan transformator 230/120 V yang disearahkan dengan diode bridge sehingga diperoleh tegangan DC 120V. Dengan pemisahan secara elektrik. yaitu 230V gambar-11.13.12 : Pengamanan dengan tegangan rendah Gambar 11. Untuk menurunkan tegangan dipakai transformator penurun tegangan 230V/ 50V.14 : Pengaman dengan trafo pemisah 11-9 . Selungkup pengaman dihubungkan ke penghantar PE (Protective Earth = pengaman ketanah). Tindakan pengamanan bisa dilakukan dengan menggunakan transformator pemisah atau motor-generator. terjadi proteksi bila terjadi kegagalan isolasi dalam peralatan listrik tersebut. sedangkan untuk PELV (protective extra low voltage) bisa dilakukan pembumian.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. satunya berfungsi sebagai sambungan ke penghantar PE (protective earth). dilengkapi dengan selungkup pengaman isolasi ganda. Proteksi Tegangan Ekstra Rendah Tegangan ekstra rendah AC 50V dan DC 120V aman jika tersentuh langsung manusia gambar-11.

Bahan isolasi kabel dari PVC dan karet dirancang mampu menahan tegangan kerja antar penghantar aktif. Kode huruf B adalah proteksi terhadap jari tangan manusia dan huruf D menyatakan proteksi terhadap masuknya kawat. dipastikan arus kejut IK terhalang oleh bahan isolasi dan arus kejutnya nol.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11.6. karet. Selubung luar kabel terbuat dari bahan thermoplastik. Fungsinya sebagai pelindung mekanis pada waktu pemasangan. Kabel diberikan perlindungan selubung luar dan bahan isolasi yang memberikan perlindungan elektrik antar kawat gambar11. Proteksi ini cukup baik selama selungkup bahan isolasi berfungsi semestinya.15.15 : Pengamanan dengan selungkup isolasi Gambar 11. IP XXB atau IP XXD gambar-11. Perlindungan pada stop kontak portable juga dirancang dengan kriteria tertentu. Proteksi dengan Isolasi Bagian Aktif Peralatan listrik dirancang dan diberikan perlindungan selungkup dari bahan isolasi gambar-11.17.16.5 mm.16 : Kabel berisolasi thermoplastik Gambar 11.0mm. bahan kimia. Meskipun ada kegagalan isolasi. Angka 2 menyatakan proteksi benda asing padat ukuran 12. IP 4X. Angka X menyatakan tidak ada proteksi terhadap tetesan air. yute. Jika salah satu kabel terluka maka akan terlindungi dari kemungkinan hubungsingkat antara dua kabel aktifnya. sedang angka 4 menyatakan proteksi benda asing padat ukuran 1. misalnya dengan kode IP 2X. bagian aktif seluruhnya tertutup oleh isolasi yang hanya dapat dilepas dengan merusaknya.17 : Perlindungan pengaman stop kontak 11-10 . Tujuannya menghindarkan tegangan sentuh tangan manusia dengan bagian aktif yang bertegangan. Gambar 11. listrik dan pengaruh thermal. Bahan isolasi harus tahan oleh pengaruh tekanan mekanik.

8.20 : Pengamanan sentuhan tidak langsung 11-11 .18 : Pengamanan dengan rintangan Gambar 11. Bentangan kawat saluran udara telanjang di atas atap rumah harus diperhatikan jarak minimal dengan atap rumah sebesar 2.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Maksud dari rintangan adalah untuk mencegah sentuhan tidak disengaja dengan bagian aktif. Jarak ini cukup aman jika orang berdiri dan jangkauan tangan tidak akan menyentuh kawat listrik secara langsung.4 meter gambar-11. untuk menghindarkan saat tiupan angin cukup kencang akan saling menyentuh dan membahayakan. Gambar 11. L2. Sumber listrik 3 phasa dengan 5 kawat (L1. Hanya teknisi listrik yang berpengalaman yang boleh berada ditempat tersebut untuk keperluan pelayanan dan perbaikan saja. Diperlukan rintangan berupa pagar besi yang dilengkapi dengan kunci sehingga orang yang tidak berkepentingan bisa bebas keluar masuk ruangan gambar11. Penangkal petir juga cukup jauh dari saluran kawat udara telanjang. L3. Proteksi dengan Rintangan Ruang gardu dan panel listrik merupakan ruang yang memiliki tingkat bahaya listrik yang tinggi.20. Tiang antena dari logam yang berdiri tegak harus dijauhkan dari jalur saluran kawat telanjang.19 : Jarak aman bentangan kabel udara 11. tetapi tidak mencegah sentuhan disengaja dengan cara menghindari rintangan secara sengaja.5 meter dan jarak dari cerobong 0.7. BKT saat normal tidak bertegangan dan aman Gambar 11.18. N dan PE) gambar-11.19. Rintangan diberikan tanda-tanda bahaya listrik dengan warna merah menyolok sehingga mudah dikenali dan memberi peringatan secara jelas. Proteksi dari Sentuhan Tidak Langsung Sentuhan tidak langsung adalah sentuhan pada BKT (bagian konduktif terbuka) peralatan atau instalasi listrik yang menjadi bertegangan akibat kegagalan isolasi.

9. menyatakan susunan penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE). I (isolate) mengisolasi N (netral). N Huruf kedua menyatakan hubungan BKT instalasi ke bumi. aliran listrik gangguan dikembalikan ke kawat PE. TT dan IT. meliputi phase tunggal 2 kawat. phase dua 5 kawat. Sistem penghantar distribusi dikenal dua yaitu jenis sistem penghantar aktif dan jenis pembumian sistem. Distribusi tegangan DC dipakai untuk keperluan khusus seperti saluran listrik atas Kereta Rel Listrik dengan tegangan 1500V di wilayah Jabotabek. Jenis Pembumian Sistem Contohnya sistem TN-C Huruf pertama menyatakan hubungan sistem tenaga listrik ke T bumi. Tabel 11. phase dua 3 kawat. S = fungsi proteksi yang diberikan oleh penghantar yang terpisah dari netral atau dari saluran yang dikebumikan C = fungsi netral atau fungsi proteksi tergabung dalam penghantar tunggal (PEN). Jenis Sistem Distribusi Secara komersial sistem distribusi listrik banyak menggunakan listrik AC tiga phasa dan satu phasa. Jenis pembumian sistem untuk sistem tiga phasa secara umum dikenal tiga sistem. phase tiga 3 kawat dan phase tiga dengan 4 kawat. T = hubungan listrik langsung BKT ke bumi. phasa tunggal 3 kawat. Huruf berikutnya. Jenis penghantar aktif AC menurut PUIL 2000: 45 dikenal beberapa jenis. T = hubungan langsung ke bumi I = satu titik dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi. 11. yaitu TN. tidak tergantung pembumian setiap titik tenaga listrik. Ketiga isolasi gagal.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik disentuh. prancis) langsung. yang dikebumikan titik netral.4. N = hubungan listrik langsung BKT ketitik yang dikebumikan dari sistem tenaga listrik. S (separate) memisahkan. C (common) bersamaan C 11-12 . sehingga orang terhindar arus kejut meskipun menyentuh bagian BKT. Keterangan : Notasi T (terre.

dan BKT instalasi dihubungkan ke titik tersebut oleh penghantar proteksi (PEN).22.21c : Sistem pembumian TN-C Sistem pembumian TT mempunyai satu titik yang dibumikan langsung (RB).21b.10.21a : Sistem Pembumian TN-S • Sistem TN-S fungsi penghantar proteksi PE terpisah diseluruh sistem gambar-11. Titik netral sistem dibumukan dengan nilai tahanan RB.21a.1 Gambar 11. BKT dihubungkan ke elektrode bumi secara listrik terpisah RA dari elektrode bumi sistem gambar11. • TN-C fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) tergabung dalam penghantar tunggal PEN diseluruh sistem gambar-11. Sistem Pembumian TN Sistem TN mempunyai satu titik yang dikebumikan langsung pada titik bintang sekunder trafo. Titik netral sistem dibumikan dengan nilai tahanan RB. Ada tiga jenis sistem TN sesuai dengan susunan penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE).22 : Sistem Pembumian TT 1 PUIL 2000.21c. di sebagian sistem gambar-11. Titik netral dibumikan di RB. Gambar 11.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. • Sistem TN-C-S fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) digabungkan dalam penghantar tunggal.21b : Sistem Pembumian TN-C-S Gambar 11. Gambar 11. hal 45 11-13 .

Beban tiga phasa terjadi gangguan isolasi pada belitan phasa-1 gambar-11. Alternatif-1 : Jalannya arus saat terjadi gangguan adalah : Arus dari trafo -> L1 -> belitan phasa-1 -> badan alat-> kawat PE -> netral trafo.25.23. Gambar 11. Sehingga titik netral PEN 11-14 .24 : Sistem pembumian TN-C-S digabung kawat PE Alternatif-2 : Kawat PEN dekat trafo putus. Ketika terjadi gangguan phasa L1-PE. arus dari trafo -> L1 -> belitan phasa-1 -> badan alat -> kawat PE ---> terminal penyama potensial -> pembumian RA -> tanah -> pembumian RB -> netral trafo. Sehingga tegangan phasa ke phasa L1-L2 = L2-L3 = L3-L1 = 400 V. drop tegangan di RB = 50 V. Gambar 11.23 : Sistem Pembumian IT 11. atau satu titik dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi RB.25 : Beda tegangan titik netral akibat gangguan ke tanah Kondisi normal tegangan phasa ke netral L1-N = L2-N = L3-N = 230 V hubungan bintang dengan titik netral dibumikan di RB gambar-11. Pengukuran Pengaman pada Sistem Pembumian TN Sistem pembumian TN-C-S penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) digabungkan dalam penghantar tunggal.11. BKT instalasi listrik dibumikan secara independen atau secara kolektif atau pembumian sistem RA gambar-11.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Sistem pembumian IT semua bagian aktif yang diisolasi dari bumi. disebagian sistem. Perbandingan tahanan RB dan RE : RB 50V ≤ RE U O − 50V RB RE 50V Uo Tahanan pembumian trafo Tahanan pembumian potensial Tegangan sentuh aman manusia Tegangan phasa-netral Gambar 11.24.

tetapi tidak boleh kurang dari penghantar phasenya 11. ELCB harus di ON kan kembali dengan menaikkan tombol ON ke atas. misalkan 300 mA atau 500 mA. Apabila arus sisa yang timbul karena terjadi kegagalan isolasi melebihi nilai tertentu.1 Waktu pemutusan konvensional maksimum 5 detik Tabel 11. Pengaman Gawai Proteksi Arus Sisa (ELCB) GPAS3 atau ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker) adalah pemutus yang peka terhadap arus sisa.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik bergeser sebesar = 50V. Untuk pemakaian daya besar dipilih arus sisa dengan rating lebih besar dari 30 mA. Untuk sistem TN-S dan TN-C berikut sistem IT tidak boleh dipasang ELCB. ELCB sangat dianjurkan pada sistem TT.27. besarnya tegangan phasa L1-N menjadi 180 V (230V50V). sehingga Gambar 11. dengan kawat phasa dan netral diputus bersamaan dengan arus bocor 50mA gambar-11. yang dapat memutuskan sirkit termasuk penghantar netralnya secara otomatis dalam waktu tertentu gambar-11. 11-15 . jika ditekan tombol reset maka ELCB akan bekerja memutus rangkaian OFF.26 : Prinsip tercegahlah bertahannya tegangan kerja ELCB sentuh yang terlalu tinggi. Tabel 11.6. Desain fisik ELCB dengan satu phasa.4 ≤ AC 400 V 0.2 ≥ AC 400 V 0. Penampang penghantar sistem TN TN-C TN-S Penampang penghantar PEN tidak boleh kurang 10mm2 tembaga atau 16 mm2 aluminium Penghantar PE terpisah dari penghantar netral < 10 mm2 tembaga atau <16mm2 aluminium. Dilengkapi dengan tombol reset.26. Tegangan phasa L2-N = L3-N menjadi 259V (metode geometris).5.12. Waktu pemutusan maksimum sistem TN Tegangan Waktu pemutusan U detik ≤ AC 230 V 0.

Suplay tiga phasa L1-L2-L3 dan N disambungkan langsung ke terminal ELCB. Jika besarnya arus bocor memenuhi syarat maka akan mengaktifkan sistem mekanik elektromagnetik. Gambar 11. Perhatikan daya beban harus sesuai dengan rating ELCB. mesin gergaji listrik. Tabel 11. Bebannya satu phasa berupa peralatan kerja yang mudah dipindah-pindahkan seperti mesin bor tangan.29. maka pada kawat netral mengalir arus bocor. beban motor tiga phasa dan tersedia melayani stop kontak. Jika salah satu beban terjadi kegagalan isolasi.9 69 115 2. Kemampuan ELCB pada tegangan 230V Arus bocor (mA) 30 300 500 Rating arus beban 10ª Rating arus beban 16ª Daya (Watt) 6.7.27 : Fisik ELCB Kini tersedia ELCB dalam bentuk portabel yang dipasangkan pada stop kontak.29 : ELCB portabel 11-16 . Persyaratan bisa bekerja dengan baik penghantar PE tersambung dengan baik ke bumi. dan diujung lainnya terhubung ke stop kontak menuju beban gambar-11.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Pemasangan ELCB pada sistem TT dilakukan dengan cara penghantar protektif PE memiliki rel atau terminal tersendiri.300 3. terminal PE dibumikan tersendiri RA gambar11.28 : Pemasangan ELCB untuk pengamanan kelompok beban Gambar 11.28. dan ELCB akan OFF secara otomatis.680 Gambar 11. Cara ini bisa melayani beban satu phasa.

Badan alat dihubungkan dengan penghantar PE.31 : Pengukuran tahanan pembumian sistem TT RA = UL I ΔN Gambar 11.32 : ELCB pada sistem TT 11-17 . kemudian arus mengalir menuju RB dan kembali ke netral trafo.13.30. arus bocor akan mengaktifkan ELCB dan tegangan sentuh yang besar tidak akan terjadi. Penghantar netral dan protektif disatukan pada titik sumber dihubungkan ke bumi di RB gambar-11. dilakukan dengan cara membumikan titik netral di sumbernya RB. Saat terjadi gangguan arus gangguan mengalir ke kawat PE ke pembumian RA lewat tanah menuju ke RB dan ke netral trafo gambar-11.31. Ketika terjadi kegagalan isolasi.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Sistem TN yang dilengkapi dengan ELCB dapat dilakukan dengan penghantar netral (N) dan penghantar protektif (PE) terpisah. Pengukuran Pengaman pada Sistem Pembumian TT Sistem TT dalam PUIL 2000 disebut sistem Pembumian Pengaman (sistem PP). Besarnya tahanan pembumian RA : Gambar 11. BKT dibumikan dengan penghantar protektif secara terpisah RA gambar-11.32. Saat terjadi gangguan phasa L1 arus gangguan dari kawat PE mengalir lewat RA. Gambar 11. pembumian dua beban disatukan dengan kawat PE dikebumikan di RA.30 : ELCB pada pembumian TN 11. Sistem pembumian TT yang dipasang ELCB pada beban satu phasa dan beban tiga phasa.

BKT harus dibumikan secara individual.665 832 165 82 100 50 11. Jika tidak ada titik netral maka penghantar phasa dapat dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi.01 A 0. RA = 46A x 2Ω = 92 V Dengan melihat karakteristik ELCB dipilih rating 16A. Tahanan Pembumian RA pada Sistem TT Arus sisa ELCB 0.5 A Tahanan RA dalam Ω UL = 50 V UL = 25 V 5.8.33. Tabel 11. Jawaban : IK = U O = 230V = 46 A RA 5Ω UB = IK. Hitunglah besarnya arus gangguan dan besarnya tegangan sentuh. Titik netral buatan dapat dihubungkan secara langsung ke bumi jika impedansi urutan nol yang dihasilkan cukup tinggi. instalasi harus diisolasi dari bumi atau dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi yang cukup tinggi RB gambar-11. Gambar 11.03 A 0. dalam kelompok atau secara kolektif ke pipa besi atau komponen logam yang terhubung langsung ke tanah.14.33 : Pengukuran tahanan pembumian sistem IT 11-18 .Sistem Pengamanan Bahaya Listrik RA IΔn Tahanan pembumian penghantar PE Arus bocor ELCB Contoh: Tegangan jala-jala 230 V diketahui tahanan saat hubung singkat 5Ω.3 A 0. Pengukuran Pengaman pada Sistem Pembumian IT Sistem pembumian IT. diketahui tahanan pembumian PE sebesar 2Ω.000 2500 1.

35. Proteksi dengan Isolasi Ganda Untuk memberikan pengamanan yang baik beberapa alat listrik dirancang dengan isolasi ganda. Waktu Pemutusan Maksimum Pada Sistem IT Tegangan nominal instalasi Uo 230/400 V 400/690 V 580/1000 V Netral tidak terdistribusi (detik) 0.2 0. tidak boleh mengganti sekrup logam yang memiliki sifat menghantarkan listrik.8 0. isolasi tambahan akan menahan arus kejut sehingga tetap aman bagi pemakai alat. Jika terjadi kegagalan isolasi.1 Netral terdistribusi (detik) 0.15. Gambar 11.Ia Impedansi pembumian Tegangan phasa-netral Arus gangguan (sistem TN ) Menghitung besarnya tahanan pembumian langsung RA : RA .4 0. bagian luarnya diberikan isolasi kedua yang menjamin tidak akan terjadi tegangan sentuh gambar-11.2 11.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Besarnya impedansi Z sebesar : Z≤ U Zs U Ia 2. Dalam isolasi ganda ada dua jenis isolasi. bagian aktif diisolasi dengan isolasi dasar. simbol isolasi ganda gambar-11. Isolasi tambahan ini diperkuat dengan sekrup dari bahan isolasi.9.34 : Simbol pengamanan isolasi ganda Gambar 11. Alat dengan isolasi ganda tidak memerlukan sistem pentanahan. Id ≤ UL RA Id UL Tahanan pembumian langsung Arus gangguan sisa Tegangan sentuh (50 V) Tabel 11.34.4 0.35 : Isolasi ganda pada peralatan listrik 11-19 .

Seluruh bagian aktif berupa motor listrik dan sistem penggerak roda gigi dari logam dibungkus rapat dengan bahan isolasi.36 : Mesin bor dengan isolasi ganda 11. dan tinggi lantai terhadap langitlangit minimal 2. Proteksi Lokasi tidak Konduktif PUIL 2000 :57 mengatur juga bahwa isolasi bisa diberikan pada suatu ruangan yang disebut dengan proteksi lokasi tidak konduktif gambar-11.25 m. Jarak dinding dengan kondukstif minimal 1.5 m sehingga cukup bebas orang berdiri tanpa menyentuh langit-langit tersebut. Bahkan tombol tekan motor juga terbungkus bahan isolasi secara rapat. Antara motor dan mekanik bor menggunakan poros bahan isolasi. Resistansi lantai dan dinding pada setiap titik pengukuran besarnya 50 KΩ jika tegangan nominal isolasi tidak melebihi 500V atau 100 KΩ jika tegangan nominal isolasi melebihi 500 V. Gambar 11. jika terjadi kegagalan isolasi pada motor listriknya.16. sehingga meskipun mata bor dipegang dijamin tidak ada arus kejut mengalir ke tubuh manusia.37 : Jarak aman pengamanan ruang kerja 11-20 . Gambar 11.37.36. Dan jarak antara dua peralatan harus lebih besar dari 2. Bagian luar ditutup oleh isolasi lapisan kedua untuk menjamin tidak ada bagian konduktif yang bersinggungan dengan tangan.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Mesin bor tangan merupakan alat listrik dengan pelindung isolasi ganda gambar-11.5 m.

sehingga sistem pengamanan pemisah tidak berfungsi. Bila sirkit beban terjadi kegagalan isolasi. secara elektrik terpisah dengan sirkit sumber sehingga tegangan sentuh terhindarkan.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Pemisahan sirkit listrik bisa dengan trafo pemisah atau motorgenerator.39 : Trafo pemisah melayani dua stop kontak Gambar 11. Bagian aktif dari sirkit yang dipisahkan tidak boleh dihubungkan pada setiap titik ke sirkit lainnya atau ke bumi. Jika terjadi kegagalan isolasi pada sirkit sekunder trafo pemisah maka akan terjadi hubung singkat.38 : Pengamanan dengan pemisahan sirkit listrik Gambar 11.40 : Pengamanan pada peralatan listrik 11-21 .39. badan alat sisi sekunder trafo pemisah bisa digabungkan sebagai pengganti penghantar protektif PE gambar11. Gambar 11. Proteksi Pemisahan Sirkit Listrik Tindakan pengamanan dengan cara pemisahan sirkit listrik antara pemasok dengan sirkit beban dengan transformator pemisah gambar11. Beberapa alat bisa dipasok dari sekunder trafo pemisah.17.38.

Megger dioperasikan dan mengukur setiap titik-titik yang diperlukan.41 : Pengukuran pembumian dengan megger Pengukuran tahanan pembumian dapat dilakukan dengan cara sederhana dengan menggunakan alat ukur Megger gambar-11. Dengan menggunakan Megger maka hasil pengukuran mendekati sesuai tabel dibawah.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Selama pengukuran sumber tegangan harus dimatikan semua. sebab fungsi utama isolasi sebagai sarana proteksi dasar. R < 1Ω < 0. Pengukuran Tahanan pembumian sistem Tahanan terminal potensial Tahanan pembumian tegangan tinggi Instalasi tegangan rendah adalah instlasi listrik yang diberikan tegangan dibawah 500V gambar11. Pengukuran Tahanan Pembumian Gambar 11.18.41.42. Langkah pertama sumber tegangan harus dimatikan dan semua jalur instalsi bebas tegangan.42 : Pengukuran tahanan isolasi 11-22 . semua saklar menuju ke beban dan penghantar aktif ke stop kontak harus diputuskan.1Ω < 3Ω Gambar 11. Tahanan isolasi suatu instalasi merupakan salah satu unsur yang menentukan kualitas instalasi tersebut.

Nilai resistansi isolasi minimum Tegangan sirkit nominal Tegangan ekstar rendah (SELV.10.5 ≥ 1. Gambar 11. Pengukuran Tahanan Isolasi Lantai dan Dinding PUIL 2000 hal.25 ≥ 0. PELV dan FELV) yang memenuhi persyaratan Sampai dgn tegangan 500 V. Sebuah pelat logam bujur sangkar berukuran 250 mm x 250 mm dan kertas atau kain penyerap air basah berukuran 270 mm x 270 mm. ditemptkan antara pelat logam dan permukaan lantai yang akan diuji gambar-11.43.91 menyatakan untuk melakukan pengukuran tahanan isolasi lantai dapat digunakan metoda pengukuran Ampermeter dan Voltmeter. dgn pengecualian hal tsb diatas Diatas 500 V Tegangan uji arus searah (V) 250 500 1000 Resistansi isolasi (MΩ) ≥ 0. Besarnya tahanan isolasi lantai adalah : ZX ≤ U X I ZX UX IX Impedansi lantai/ dinding Tegangan terukur voltmeter Arus terukur ampermeter 11-23 .19.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Sebagai contoh rumah tinggal disuplay listrik PLN dilakukan pengukuran isolasi dengan menggunakan Megger. maka hasil yang dicapai harus lebih besar dari yang tertera pada Tabel di bawah. lantai) atau 250 N (25 kg.0 11. Agar rata letakkan sebatang kayu diatas permukaan logam. Tabel 11.43 : Pengukuran tahanan isolasi lantai/dinding Beban sebesar 750 N (sekitar 75 kg. untuk dinding) dipasang diatas pelat logam tersebut selama pengukuran berlangsung.

21. ELCB sehingga tegangan sentuh yang berbahaya tidak terjadi. ampermeter. Gambar 11. Sebuah Voltmeter yang memiliki tahanan dalam Ri ≥ 40 KΩ.1 detik Waktu pemutusan konvensional yang tidak dilampaui 5 detik diijinkan untuk sirkit distribusi *) PUIL 2000 hal 66 11.44 : Pengujian sistem pembumian TN Tabel 11. geser perlahanlahan sampai terbaca tegangan V dan penunjukan arus A.20.45. mengalir arus gangguan yang akan memutuskan secara otomatis alat pengaman fuse. gambar-11. Besarnya tahanan pembumian RA sebesar : RA = 11-24 UE IE RA ≤ UL Ia RA ≤ UL I Δn . Pengujian Sistem Pembumian TN Dalam sistem TN dilakukan dengan cara semua BKT peralatan dan instalasi dibumikan dengan melalui penghantar proteksi PE.11. dan sebuah elektrode bantu yang ditanam dengan jarak lebih dari 20 m dari elektrode pembumian RA. Pengukuran Tahanan Pembumian Tahanan pembumian yang akan diukur dihubungkan dengan tegangan phasa L.2 detik penghantar proteksi PE > 400 V 0.4 detik hubung pendek antara penghantar phasa dengan ≤ 400 V 0. melalui pengaman arus lebih. antara penghantar phase dengan penghantar proteksi PE gambar-11. MCB.45 : Pengukuran tahanan pembumian Posisikan tahanan geser pada resistansi maksimum (1000 Ω).44. maka dengan segera terjadi pemutusan rangkaian dengan waktu pemutusan yang cepat sesuai tabel di bawah. tahanan geser bernilai antara 20 Ω sampai 1000 Ω. Jika terjadi gangguan hubung pendek pada suatu lokasi dalam instalasi. Jika terjadi kegagalan isolasi.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Gambar 11. Waktu pemutusan maksimum sistem TN Tegangan Uo (Volt) Waktu pemutusan Jika terjadi gangguan ≤ 230 V 0.

Tahanan geser pada posisi Gambar 11.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik RA UE IE. maka besarnya tegangan sentuh aman 50 Volt. IΔn UL Tahanan pembumian Tegangan phasa-netral Arus Arus gangguan Tegangan sentuh 11. artinya arus sisa yang melewati tahanan geser mengerjakan alat ELCB dengan baik.22. saklar di-ON-kan. 11-25 .46 : Pengukuran tahanan maksimum. Rangkuman • • • Penelitian arus listrik 50 mA adalah batas aman bagi manusia. Tegangan phasa dari L3 melalui tahanan geser bernilai 10kΩ dan Ampermeter. dari masuknya benda asing padat dan masuknya air. Ia. Kode IP (International Protection) peralatan listrik menunjukkan tingkat proteksi yang diberikan oleh selungkup dari sentuhan langsung ke bagian yang berbahaya. arus aman tubuh manusia 50mA. Pengukuran Arus Sisa dan Tegangan pada ELCB Motor induksi 3 phasa dilengkapi dengan proteksi ELCB akan diukur dengan menggunakan Ampermeter dan Voltmeter untuk menguji besarnya arus sisa yang mengakibatkan ELCB bekerja gambar-11. Tahanan tubuh manusia rata-rata 1. sebuah Voltmeter memiliki Tahanan dalam minimal 3 KΩ dan sebuah elektrode bantu yang dibumikan dengan jarak lebih besar 20 m dari lokasi motor.000 Ω. bumi ELCB lakukan pengaturan sampai terbaca Ampermeter dan Voltmeter menunjukkan skala 50V. 11. Pada saat itu ELCB harus OFF.46.23.

Kedua gangguan hubung. sebagai akibatnya terjadi tegangan sentuh jika badan alat dipegang orang.21a. Sistem pembumian TN-C-S penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) digabungkan dalam penghantar tunggal. instalasi harus diisolasi dari bumi atau dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi yang cukup tinggi RB Dalam isolasi ganda ada dua jenis isolasi. 3. Ketiga gangguan hubung singkat antar phasa setelah pemutus daya. • Sistem TN-S fungsi penghantar proteksi PE terpisah diseluruh sistem gambar-11. dapat digunakan metoda • • • • • 11-26 . Gangguan listrik adalah kejadian mengganggu kerja alat listrik. • Jenis pembumian sistem untuk sistem tiga phasa secara umum dikenal tiga sistem. Keempat hubungsingkat phasa dengan tanah. Tindakan pengamanan dengan cara pemisahan sirkit listrik antara pemasok dengan sirkit beban dengan transformator pemisah Pengukuran tahanan pembumian dapat dilakukan dengan cara sederhana dengan menggunakan alat ukur Megger Pengukuran tahanan isolasi lantai pengukuran Ampermeter dan Voltmeter. • • • • • Sistem TN-C-S fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) digabungkan dalam penghantar tunggal. TN-C fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) tergabung dalam penghantar tunggal PEN Sistem pembumian TT mempunyai satu titik yang dibumikan langsung (RB). 4. bagian aktif diisolasi dengan isolasi dasar. 1. yang tidak diinginkan dan • Jenis gangguan listrik terjadi karena kerusakan isolasi kabel. 5.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik • • Pekerjaan perbaikan instalasi listrik disarankan tegangan listrik harus dimatikan dan diberikan keterangan sedang dilakukan perbaikan. yang dapat memutuskan sirkit termasuk penghantar netralnya secara otomatis Sistem pembumian IT. bagian luarnya diberikan isolasi kedua yang menjamin tidak akan terjadi tegangan sentuh.singkat Pemutus Daya. Titik netral dibumikan di RB. 2. Kelima kerusakan isolasi belitan stator motor. yaitu TN. ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker) adalah pemutus yang peka terhadap arus sisa. TT dan IT. Pertama gangguan hubung singkat antar phasa L1-L2-L3.

ada yang pingsan dan bahkan ada korban jiwa. 3. jelaskan mengapa hal tersebut dilakukan. Bodi motor listrik sebaiknya diketanahkan. 11-27 . jelaskan kedua istilah tersebut dan berikan contohnya. Jelaskan pentingnya sistem pengamanan dalam instalasi listrik. Jelaskan mengapa terjadi hal demikian.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Jelaskan prosedur dan urutannya dengan benar.24. jelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi. jelaskan. 7. 5. Gambarkan skematik pengukuran tahanan pembumian instalasi rumah tinggal. Trafo pemisah dapat menjadi alat pengamanan. Soal-soal 1. 6. Ketika tersengat listrik ada orang yang terkaget-kaget. Mengapa tegangan 50V dianggap aman bagi tubuh manusia. 2. 4. Dikenal bahaya tegangan sentuh langsung dan tidak langsung.

.......8......................... 12.... Komponen Elektro Pneumatik .12......1........................... 12...............9........... 12.................... 12... Diagram Blok Sistem Kontrol ... Seleksi tipe Kontroler untuk Aplikasi Tertentu .............6........................................................................5......20............. Kontroler Tiga Posisi . Kontroler Proporsional Integral (PI) .................................... Kontroler Proporsional (P) ...... 12............... 12............17.......... Kontroler Integral (I) ......11............ 12......7...........................................................2.............. 12..............14.....................................................................................13........ 12............. 12............ 12. 12...........................19....................... Kontroler PID ..... Soal-soal ....... 12...........10................. Perilaku Sistem Kontrol ............BAB 12 TEKNIK PENGATURAN OTOMATIS Daftar Isi : 12................ 12..............15. 12................... Optimisasi Kontroler ...... Tipe Kontroler .... Pengertian sistem Pengaturan ............. Kontroler Dua Posisi ...3...................................................... Rangkaian Dasar ..... Rangkuman ................ Karakteristik Osilasi pada Sistem Kontrol ........................... 12................................ 12...4..... 12...... Kontroler Proporsional Derivatif (PD) .......... Elektropneumatik ......... 12..16... 12-2 12-5 12-10 12-17 12-17 12-18 12-20 12-22 12-23 12-23 12-24 12-25 12-26 12-27 12-27 12-28 12-29 12-35 12-36 12-37 .18.......................... Kontroler Derivatif (D) .............................

Demikian pula. Tujuan yang diinginkan dari proses tersebut adalah berjalannya kendaraan pada lintasan (track) yang diinginkan. Pengertian Sistem Pengaturan Pengertian kontrol atau pengaturan adalah proses atau upaya untuk mencapai tujuan. speedometer. Sistem kontrol berkendaraan berarti kombinasi dari komponen-komponen tersebut yang menghasilkan berjalannya kendaraan pada lintasan yang diinginkan.1. Misalnya kita ingin mengatur agar tegangan yang dihasilkan oleh Generator arus searah bernilai konstan. Gambar 12. Besar arus eksitasi disesuaikan dengan kebutuhan untuk menghasilkan arus keluaran I oleh Generator. Arus keluaran dihasilkan oleh kecepatan putar rotor pada Generator yang dibangkitkan oleh arus eksitasi Ie. seperti pada gambar 12. pengendara mempercepat laju kendaraan dengan membuka pedal gas. Ketika jalan lengang dan aturan memperbolehkan. jika ada kendaraan lain di depan atau lampu penyeberangan berwarna merah maka pengendara menginjak rem dan menurunkan kecepatannya. misalnya pedal gas. dan pengendara. rem.1. Karena pengaturan ini dilakukan secara manual.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Ada beberapa komponen yang terlibat di dalamnya. karena tegangan keluaran U diinginkan tetap maka arus keluaran I berubah sesuai dengan nilai beban. mesin (penggerak). seorang operator harus terus-menerus melihat besar arus keluaran yang diinginkan untuk disesuaikan dengan besar arus eksitasi yang 12-2 .1 Pengaturan manual tegangan pada Generator Dalam sistem tersebut. Dengan berubah-ubahnya arus I maka arus eksitasi Ie juga harus berubah mengikuti nilai arus I tersebut. Sebagai contoh sederhana dan akrab dengan aktivitas sehari-hari dari konsep kontrol atau pengaturan adalah saat mengendarai kendaraan. Perubahan arus eksitasi dilakukan secara manual. Semua upaya itu dilakukan untuk mempertahankan kendaraan pada lintasan yang diinginkan.

dan arus beban I disebut variabel gangguan (disturbance variable) z. variabel (besaran) yang dikontrol.2 Diagram blok sistem kontrol Contoh lain dapat disebutkan berupa proses memindahkan barang oleh tangan kita. dan aktuator. Tabel 12. Tujuannya adalah menjaga suhu tubuh agar berjalan normal. Dalam diagram blok tersebut. Gambar 12. sistem kontrol digambarkan pada gambar 12. 12-3 . dan otak sebagai pengontrol. Tegangan konstan yang diinginkan dalam pengaturan ini disebut variabel acuan (referensi).2. Dalam istilah teknik kontrol. maka variabel yang dikontrol adalah kecepatan dan aktuatornya adalah kontaktor. Dalam bentuk diagram blok. arus eksitasi disebut variabel buatan (manipulated variable) y. Komponennya berupa tangan (dalam hal ini tentunya dengan otot tangan). Selanjutnya. Komponen utama sistem kontrol terdiri atas objek yang dikontrol (disebut plant). Dalam teknik kontrol dipelajari tentang pengaturan sistem agar menghasilkan keluaran yang diinginkan.Teknik Pengaturan Otomatis diperlukan. mata akan menangkap informasi tentang posisi pada saat itu. Secara umum dapat dikatakan semua proses yang terjadi di alam pada hakikatnya adalah sebuah sistem kontrol. Pada proses tersebut. apabila posisinya masih belum tercapai maka otak akan memerintahkan otot tangan untuk bergerak memindahkan barang ke posisi yang diinginkan. Informasi tersebut diproses oleh otak untuk disimpulkan apakah posisinya sudah benar atau tidak. mata. Misalnya plant berupa motor listrik. tujuannya adalah posisi atau letak barang yang diinginkan.1 memperlihatkan contoh sistem kontrol dengan komponenkomponennya. Proses pengaturan suhu tubuh adalah juga contoh dari sistem kontrol. Pada saat tangan bergerak untuk memindahkan barang. tegangan U disebut variabel yang dikontrol x. plant menghasilkan variabel yang dikontrol serta kontroler menghasilkan variabel termanipulasi.

Gambar 12. Contoh komponen sistem kontrol Plant Motor listrik Generator Pengatur suhu ruangan Variabel yang dikontrol Kecepatan putar Tegangan suhu Aktuator Kontaktor Transistor Thyristor Tabel 12.2 memperlihatkan istilah teknis dalam sistem kontrol serta simbol formalnya.2.3. Tabel 12. pengaturan tegangan pada Generator bisa dilakukan secara otomatis dengan menggunakan Thyristor. seperti diperlihatkan pada gambar 12.3 Pengaturan tegangan secara otomatis 12-4 .1. Istilah penting dalam sistem kontrol Istilah Variabel yang dikontrol Variabel acuan Variabel termanipulasi Selisih (error) Variabel gangguan Simbol x w y e z Contoh Tegangan Tegangan acuan Arus eksitasi Selisih tegangan Arus beban Selain secara manual.Teknik Pengaturan Otomatis Tabel 12.

masukan acuan kontroler aktuator plant keluaran Gambar 12. Dalam sistem tersebut. Sistem kontrol yang pertama sering disebut pengaturan secara manual. dibuat diagram blok yang menggambarkan aliran informasi dan komponen yang terlibat dalam sistem kontrol tersebut. Diagram blok sistem kontrol lingkar terbuka (SKL-buka) diperlihatkan dalam gambar 12. setiap harga tegangan yang dihasilkan oleh Generator ditangkap oleh trafo tegangan untuk dibandingkan dengan tegangan acuan (referensi). untuk memudahkan melihat proses pengaturan yang berlangsung dalam sistem kontrol. Selisih tegangan ini menjadi input pemicu (trigger) Thyristor yang menentukan nilai arus eksitasi dan output tegangan yang selanjutnya mempengaruhi Generator untuk menghasilkan tegangan output yang diinginkan. Prinsip pengaturannya adalah sebagai berikut : apabila tegangan output lebih rendah dari tegangan acuan maka Thyristor akan menghasilkan arus eksitasi sehingga tegangan output Generator naik mendekati harga tegangan acuannya. 12. Sistem Kontrol Lingkar-terbuka (Open-Loop Control System). Gambar kotak mewakili tiap komponen dalam sistem kontrol. Sistem Kontrol Lingkar-tertutup (Closed-Loop Control System) atau sistem kontrol dengan umpan balik (Feedback Control System). peranan operator diganti oleh gabungan antara sensor tegangan (berupa trafo tegangan) dan Thyristor sebagai aktuator penghasil arus eksitasi yang mengatur kecepatan putar rotor dalam Generator. Seperti diperlihatkan pada gambar 12.2.4. b. sedangkan aliran informasi diperlihatkan dengan garis dengan tanda anak panah di salah satu ujungnya yang menandakan arah informasi atau data dalam proses pengaturan tersebut. sedangkan yang kedua disebut kontrol otomatis. sebaliknya jika tegangan output lebih tinggi dari tegangan acuan maka Thyristor akan menghasilkan arus eksitasi sehingga tegangan output Generator turun mendekati harga tegangan acuannya.3.Teknik Pengaturan Otomatis Dalam pengaturan secara otomatis. peranan operator diganti oleh peralatan atau komponen yang secara otomatis bekerja sesuai dengan fungsi operator.2. Pada gambar 12. Diagram Blok Sistem Kontrol Ada dua bentuk umum sistem kontrol yaitu : a.4 Diagram blok sistem kontrol open-loop 12-5 .

Dari sisi kestabilan. Dengan kata lain. sehingga masukan acuan berhubungan dengan kondisi operasi (operating condition) yang tetap. dan penyabunan dalam mesin cuci beroperasi berdasarkan waktu yang ditentukan oleh pengguna. Keuntungan dari sistem kontrol lingkar-tertutup terlihat dari penggunaan umpan balik yang membuat respon sistem tidak terlalu peka (sensitif) terhadap gangguan luar ataupun perubahan nilai-nilai komponen dalam sistem. Sistem kontrol ini dapat digunakan dalam praktek hanya jika hubungan antara masukan dan keluaran diketahui dan tidak ada gangguan. dalam sistem ini keluarannya tidak diukur ataupun diumpanbalikkan untuk dibandingkan dengan masukan. Sinyal selisih (error) yaitu perbedaan antara masukan acuan dan sinyal umpan balik diberikan kepada kontroler sedemikian sehingga dalam prosesnya memperkecil selisih dan menghasilkan keluaran sistem pada harga atau kondisi yang diinginkan. Di lain pihak. Mesin tidak mengukur kondisi sinyal keluaran berupa kebersihan pakaian. Sistem kontrol ini bermanfaat 12-6 .Teknik Pengaturan Otomatis Sedangkan diagram blok sistem kontrol lingkar tertutup diperlihatkan dalam gambar 12. Dalam sistem tersebut.5 Diagram blok sistem kontrol closed-loop Dalam sistem kontrol lingkar tertutup. keluaran tidak dibandingkan dengan masukan acuan. Dalam hal adanya gangguan.5. sistem kontrol lingkar-terbuka tidak akan menunjukkan hasil yang diharapkan. Sistem kontrol lingkar tertutup dalam kenyataannya selalu merujuk kepada sistem yang menggunakan umpan balik untuk mengurangi error sistem. Akibatnya ketelitian sistem sangat bergantung kepada kalibrasi. Hal tersebut memungkinkan penggunaan komponen yang tidak akurat dan murah untuk mewujudkan pengendalian yang akurat untuk suatu plant. Sistem kontrol lingkar-terbuka adalah sistem yang keluarannya tidak berpengaruh terhadap aksi pengaturan. sistem kontrol lingkar-terbuka relatif lebih mudah dibuat karena kestabilan sistem bukan masalah utama. nilai keluaran berpengaruh langsung terhadap aksi pengaturan. kestabilan menjadi masalah besar dalam sistem kontrol lingkar-tertutup karena penanganan error yang berlebihan bisa menyebabkan osilasi. Contoh praktis sistem ini adalah mesin cuci. Perendaman. pencucian. masukan acuan komparator kontroler aktuator plant keluaran umpan balik Gambar 12.

hampir seluruh sistem dikendalikan secara elektronis dan terkomputerisasi.6. Peran manusia menjadi hanya sebagai operator. saluran uap panas saluran air panas katup tangki air pengukur suhu (termometer) saluran air dingin pembuangan uap panas Gambar 12. Algoritma kontrolnya adalah apabila suhu air panas kurang dari yang diinginkan maka buka katup saluran uap. sebaliknya jika suhu air panas lebih dari yang diinginkan maka tutup katup saluran uap. Dewasa ini dengan kemajuan teknologi dalam bidang elektronika dan komputer. Sistem kontrol tersebut dapat gambar 12. Air yang akan dipanaskan disimpan dalam tangki air (PLANT). Sebuah termometer (SENSOR) digunakan untuk mendeteksi besar suhu air panas yang dihasilkan.7 melalui diagram blok berikut 12-7 .Teknik Pengaturan Otomatis apabila ada gangguan yang bersifat sukar ditentukan atau diramalkan. Mekanisme pemanasan air dilakukan dengan mengalirkan uap panas ke dalam saluran uap panas yang selanjutnya uap panas ini akan memanaskan air dingin yang masuk ke dalam tangki. Seorang operator (KONTROLER) bertugas untuk mengatur aksi buka tutup katup (AKTUATOR) pada saluran uap panas. Dalam merealisasikan sistem yang dikendalikan dengan komputer maka penambahan komponen pengubah dari sinyal analog ke digital dan sebaliknya mutlak diperlukan untuk menjamin keberlangsungan proses dalam sistem tersebut Contoh 1: Pemanasan air Perhatikan diagram skematik sistem pemanasan air pada gambar 12. tetapi biasanya sistem kontrol lingkar tertutup juga memerlukan daya dan biaya yang relatif lebih besar dibandingkan dengan sistem kontrol lingkar-terbuka yang bersesuaian.6 Sistem Pemanasan Air Skema tersebut memperlihatkan sistem pengaturan yang bertujuan untuk memperoleh air panas dengan suhu tertentu.

Pengaturan tinggi permukaan air Gambar 12. maka fungsi operator harus diambil alih oleh peralatan elektronika pemroses keputusan (misalnya komputer atau mikrokontroler) serta rangkaian penggerak (driver) pemutar buka tutup katup. 12-8 . yang ingin diatur adalah tinggi permukaan air dalam tangki (PLANT). Apabila diinginkan menjadi sistem kontrol lingkar tertutup.7 Diagram blok sistem pemanasan air Meskipun ada sensor berupa termometer pada sistem ini.8 suhu air panas yang diinginkan komparator kontroler motor listrik + driver tangki air suhu air panas sebenarnya mikrokontroler atau komputer sensor suhu (transduser) Gambar 12.8 Diagram blok sistem pemanasan air secara otomatis Contoh 2. Seorang operator (KONTROLER) bertugas membuka tutup kran air (AKTUATOR) untuk menjaga tinggi permukaan air yang tetap.9 secara skematik memperlihatkan pengaturan tinggi permukaan air. karena data suhu tidak diproses langsung oleh sistem tetapi diproses melalui operator. Algoritma kontrolnya adalah buka kran air apabila tinggi permukaan air turun dan tutup kran air apabila tinggi permukaan air lebih dari yang diinginkan. Dengan kata lain. intervensi operator menyebabkan berlangsungnya proses dalam sistem.Teknik Pengaturan Otomatis suhu air panas yang diinginkan kontroler (operator) aktuator (katup + tangan operator) plant (tangki air) suhu air panas sebenarnya Gambar 12. Dalam sistem ini. Selain itu sensor elektronis juga menjadi kebutuhan untuk menjamin tersedianya informasi keluaran yang terus-menerus. Bentuk diagram blok sistem kontrol lingkar tertutup untuk sistem pemanasan air ini diperlihatkan pada gambar 12. kita tidak dapat mengatakan sistem ini sebagai SKL-tutup.

9 Pengaturan tinggi permukaan air saluran air keluar Disini yang berfungsi sebagai sensor adalah mata sang operator yang selalu melihat tinggi permukaan air. dan kanannya.11.10 diagram blok pengaturan tinggi air Contoh 3. Mobile Robot Mobile robot secara sederhana didefinisikan sebagai robot yang bergerak sendiri mengikuti jalur (path) yang diinginkan untuk menghindari rintangan. Gambar 12. Prototipenya diperlihatkan dalam gambar 12. 12-9 .Teknik Pengaturan Otomatis operator tangki air kran air tinggi permukaan air yang diinginkan saluran air masuk Gambar 12. Diagram blok sistem kontrol lingkar terbuka untuk sistem ini dapat digambarkan dalam bentuk berikut aktuator (katup + tangan operator) tinggi permukaan air sebenarnya tinggi permukaan air yang diinginkan kontroler (operator) plant (tangki air) Gambar 12.11 Prototipe mobile robot Prototipe mobile robot tersebut dilengkapi dengan sensor ultrasonik untuk mendeteksi jarak dirinya ke penghalang di depan. samping kiri.

sebaliknya jika penghalangnya di kiri. mikrokontroler digunakan sebagai pengaturnya. sedangkan perilaku dinamis ditandai oleh respon sistem kontrol terhadap inputnya. 12-10 . yaitu statis dan dinamis.13a adalah diagram rangkaiannya sedangkan gambar 12. Sebagai contoh. Jika di kiri tidak ada penghalang. Cara kerjanya adalah sebagai berikut.13 memperlihatkan sistem kontrol pada Generator arus searah dengan variabel yang dikontrol berupa tegangan dan variabel termanipulasinya arus eksitasi pada lilitan medannya.3. Perilaku Sistem Kontrol Ada dua tipe perilaku sistem kontrol. maka dia berbelok ke kanan. maka robot bergerak mundur. jika sensor depan mendeteksi adanya penghalang. Perilaku statis sistem kontrol diperlihatkan oleh hubungan linier antara variabel yang dikontrol dengan perubahan variabel termanipulasinya. maka robot berbelok ke kiri. Sedangkan jika penghalang juga berada di kiri dan kanan.Teknik Pengaturan Otomatis Selain itu.13b memperlihatkan karakteristik statis dari sistem kontrol pada Generator tersebut. Robot berjalan dalam arah lurus ke depan. gambar 12. dan motor stepper difungsikan untuk menggerakkan rodanya.12. Diagram blok sederhana untuk menggambarkan sistem tersebut diperlihatkan pada gambar 12.12 kontrol otomatis pada mobile robot 12. jalur (path) yang diinginkan komparator kontroler driver motor stepper motor jalur stepper sebenarnya mikrokontroler sensor jarak (ultrasonik) Gambar 12. Gambar 12. maka sensor samping (kiri dan kanan) akan mendeteksi ada atau tidak penghalang.

14. Gambar 12.14 Hubungan tegangan fungsi arus Perilaku statis dari sistem kontrol dinyatakan dengan koefisien transfer (Ks).13 Perilaku statis Generator Arus Searah Untuk setiap nilai arus yang dihasilkan oleh Generator. yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara perubahan nilai variabel yang dikontrol (x) dengan perubahan nilai variabel termanipulasi (y).Teknik Pengaturan Otomatis Gambar 12. hubungan antara arus eksitasi dan tegangan keluaran digambarkan dengan garis lurus (persamaan linier) seperti diperlihatkan pada gambar 11. 12-11 .

15. Hitung koefisien transfer dari sistem tersebut. Gambar 12. Jawab : KS = K Δx 100 0 C − 80 0 C = = 10 A Δy 7 A − 5A Sedangkan perilaku sistem dinamis ditinjau dari respon sistem yang dikontrol terhadap input berbentuk tangga (step).15 Perubahan Tegangan fungsi Arus Eksitasi Dari grafik tersebut. koefisien transfer dinyatakan dengan rumus : KS = Δx Δy Contoh : Sebuah pemanas listrik memerlukan arus dari 5 A sampai 7 A untuk menghasilkan suhu dari 80o C sampai 100oC. hubungan tersebut diperlihatkan pada gambar 12. Gambar 11-16 memperlihatkan respon sistem dan simbolnya.16 Sistem PT0 12-12 . Gambar 12. sedangkan respon sistemnya berupa variabel yang dikontrol. Input berasal dari variabel termanipulasi.Teknik Pengaturan Otomatis Secara grafis.

Bentuk respon sistem PT0 diperlihatkan pada gambar 12. artinya bentuk sinyal reponnya sebanding dengan bentuk sinyal inputnya. 3. T1 berarti waktu tunda responnya tingkat satu. Pada gambar tersebut terlihat sistem merespon inputnya secara langsung tanpa ada selang waktu. Sistem kontrol dengan waktu mati (dead time). semakin besar tingkat waktu tundanya semakin lambat respon output terhadap inputnya.Teknik Pengaturan Otomatis Berdasarkan bentuk responnya. yaitu 1. 4. Terlihat bahwa pada sistem PT0. Waktu tunda adalah waktu yang dibutuhkan oleh respon sistem untuk mencapai bentuk inputnya. Sistem kontrol waktu tunda dua langkah (PT2). T0 (T-nol) artinya tidak ada waktu tunda pada respon sistem. Simbol sistem PT0 diperlihatkan pada gambar 12. ada lima klasifikasi sistem kontrol. Gambar 12.17. sehingga untuk sistem PT0 begitu input diberikan pada sistem atau sistem dijalankan. nilai output langsung mengikuti nilai inputnya tanpa penundaan waktu.16b. dan 5. Sistem kontrol waktu tunda banyak (PTn). Sistem kontrol tanpa waktu tunda (PT0). Sementara sistem PT1 diperlihatkan pada gambar 12. T2 berarti waktu tunda responnya tingkat dua. Sedangkan T berindeks berarti waktu tunda respon terhadap inputnya. Sistem kontrol waktu tunda satu langkah (PT1). Tujuan pengaturannya adalah air diinginkan memiliki suhu tertentu. Model fisik dari sistem PT1 menggambarkan sebuah proses pemanasan air dengan mengalirkan uap panas pada sebuah tangki melalui operasi buka tutup katup. 2.16a. Secara umum. dan seterusnya. respon sistem langsung mengikuti bentuk inputnya. P pada penamaan sistem tersebut berarti proporsional.17 Model fisik PT1 12-13 . Sebagai contoh dari sistem ini adalah pengaturan arus kolektor suatu transistor bipolar dengan input arus basisnya.

Pada saat katup uap panas dibuka maka proses pemanasan mulai berlangsung. Kondisi ini berlangsung dalam rentang waktu tertentu yang disebut waktu mati (deadtime) Tu. arus yang muncul mengikuti bentuk eksponensial seperti pada gambar 12. Perubahan suhu air berlangsung lambat dan mengikuti bentuk eksponensial dengan konstanta waktu Ts. Pada grafik tersebut.19. yaitu diharapkan radiator tersebut memiliki suhu akhir tertentu. Simbol sistem PT1 diperlihatkan pada gambar 12. x menyatakan suhu air setiap saat. proses pemanasan mulai berlangsung. 12-14 . Gambar 12.18a. Gambar 12. Suhu air bertambah seiring dengan banyaknya uap panas yang mengalir ke dalam tangki. Adanya saluran keluar yang tidak dilengkapi katup menyebabkan suhu dalam radiator tidak mengalami perubahan.19 Model Sistem Kontrol PT2 Model radiator dengan saluran masuk uap panas melalui katup dan dilengkapi saluran keluar udara dari radiator tersebut.18 Respon Kontrol PT1 Radiator pemanas ruang dengan uap pemanas merupakan contoh sistem PT2 diperlihatkan pada gambar 12. Prinsip pengaturannya sama dengan pemanasan air. Terlihat bahwa nilai outputnya mencapai atau mengikuti nilai inputnya dalam waktu tertentu (waktu tunda). seolah-olah uap panas yang masuk langsung dibuang melalui saluran keluar. karena jika tegangan diberikan pada kumparan. sedangkan y menandai suhu air yang diinginkan.18b.18a.Teknik Pengaturan Otomatis Pada saat katup dibuka untuk mengalirkan uap panas ke dalam tangki. Perubahan suhu air dalam tangki mengikuti grafik pada gambar 12. Contoh lain dari sistem PT1 adalah kumparan.

Sistem ini memiliki dua konstanta waktu.Teknik Pengaturan Otomatis Apabila proses pemasukan uap panas terus berlangsung. maka waktu tunda untuk sistem PTn mungkin berkisar dalam satuan detik sampai puluhan detik. 12-15 . Secara grafik.20b. Dapat dilihat pada simbol itu. maka perubahan suhu dalam radiator mengikuti pola grafik pada gambar 12. satu untuk lilitan jangkar dan yang lainnya untuk mempercepat bagian jangkar. Sementara itu.21.20. Simbol sistemnya diperlihatkan pada gambar 12. Adanya dua parameter waktu tunda Tu dan Tg menyebabkan sistem ini disebut sistem PT2. bentuk respon untuk sistem PTn sama dengan sistem PT2 yaitu memiliki dua konstanta waktu seperti diperlihatkan pada gambar 12. sistem PTn adalah sistem dengan respon yang sangat lambat dibandingkan dengan dua sistem terdahulu. Kalau sistem PT1 waktu tundanya mungkin berkisar dalam satuan milidetik dan sistem PT2 waktu tundanya dalam kisaran puluhan milidetik. Suhu akhir diperoleh dalam selang waktu tertentu yang disebut waktu menetap (settling time) Tg. dimana kecepatannya diatur melalui perubahan arus jangkar. Perbedaannya terletak pada kisaran waktu tunda dalam satuan puluhan detik. bahwa output sistem mulai merespon setelah beberapa saat (waktu mati) dan mencapai inputnya setelah selang waktu tertentu (waktu menetap).21 Respon kontrol PTn Misalnya dalam suatu sistem kontrol ada enam komponen yang terlibat dalam proses pengaturan dan masing-masing menyumbang waktu tunda terhadap sistem maka sistemnya disebut sistem PT6.20 Respon sistem PT2 Gambar 12. Contoh lain dari sistem PT2 ini adalah motor arus searah dengan magnet permanen. Gambar 12.

Seperti diuraikan sebelumnya. waktu mati didefinisikan sebagai saat ketika sistem tidak merespon inputnya. Karena ada waktu yang dibutuhkan oleh barang atau bahan untuk berpindah dari posisi semula ke posisi akhir. Jadi output sistem baru muncul setelah waktu mati. respon sistem kontrol yang memiliki waktu mati diperlihatkan pada gambar 12.22 memperlihatkan proses pemindahan barang atau bahan di sebuah proses produksi dari satu tempat ke tempat lain melalui ban berjalan. Gambar 12.22 Model Dead Time . maka ada rentang waktu kosong (deadtime) sebelum output sistem – dalam hal ini awal proses di bagian berikutnya – terjadi. Gambar 12.23 Respon Kontrol Deadtime 12-16 .23a.23b. Gambar 12. Terlihat bahwa output baru muncul (x) setelah waktu mati (Tt) dari waktu awal inputnya (y).Teknik Pengaturan Otomatis Kelompok lainnya adalah sistem kontrol dengan waktu mati (deadtime). Sedangkan simbol sistem kontrol dengan waktu mati diperlihatkan pada gambar 12. Secara grafik.

Teknik Pengaturan Otomatis 12. Tipe Kontroler Kontroler dapat diibaratkan sebagai otak dari sistem kontrol. 12. sebaliknya apabila suhu ruangan mencapai posisi suhu tinggi maka kontroler bekerja untuk menurunkan suhu ruangan dengan cara memutus arus pemanasnya. Input yang diproses oleh kontroler adalah selisih dari dua input tersebut (error e). yaitu kontroler kontinyu dan kontroler diskrit.24 Kontroler dua posisi (On-Off) 12-17 . Kontroler integral (I). Kontroler diskrit terdiri atas kontroler dua posisi (On-Off) dan kontroler tiga posisi.4. yaitu kontroler Proporsional (P). Secara teknis. dan kontroler Proporsional-Intergral-Derivatif (PID). kontroler Derivatif (D). Berdasarkan cara kerjanya ada dua tipe kontroler. Apabila ruangan bersuhu rendah maka kontroler bekerja untuk menaikkan suhu ruangan. sehingga dinamai juga kontroler On-Off. kontroler Proporsional dan Integral (PI). Komponen tersebut berfungsi sebagai pusat pengatur proses dalam sistem kontrol. Sedangkan kontroler kontinyu terdiri atas lima jenis. kontroler Proporsional Derivatif (PD). yaitu output sebenarnya yang dihasilkan plant (disebut variabel yang dikontrol x) dan masukan acuan (referensi w). Gambar 12. Kontroler Dua Posisi Kontroler tipe ini memiliki prinsip kerja nyala-padam (On-Off) secara bergantian dengan waktu yang ditentukan. Salah satu penerapan kontroler ini misalnya pada pengaturan suhu ruangan agar berada di antara dua nilai suhu rendah dan tinggi (suhu nyaman). Karakteristik kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. ada dua input ke kontroler. Sedangkan output kontroler berupa variabel termanipulasi (y). Kondisi suhu mengikuti grafik pada gambar tersebut.24.5.

Waktu tunda tersebut muncul baik pada saat kondisi on ke off ataupun sebaliknya dari kondisi off ke on seperti terlihat pada gambar tersebut sebagai akibat komponen atau pengatur tidak bisa langsung merespon perubahan inputnya.26. Apabila suhu panas maka keping bimetal akan melengkung sedemikian sehingga kontak terlepas sehingga elemen pemanasnya terputus kontaknya sehingga suhu akan turun. Pada kontroler ini bentuk kurva karakteristik input-outputnya disebut hysteresis seperti terlihat di bagian kiri gambar 12. Simbol kontrol dua posisi (On-Off) diperlihatkan pada gambar 12. Posisi On-Offnya ditentukan oleh kontak bimetal. keping bimetal kembali melengkung dan memutus kontak dengan pemanas. suhu naik sedikit demi sedikit sampai mencapai suhu tingginya. Dengan melihat kurva ini.25 Simbol kontrol on-off Gambar 12. perpindahan (transisi) dari posisi on ke off berlangsung ketika suhu mencapai suhu tinggi (xo) dan sebaliknya perpindahan posisi off ke on terjadi pada saat suhu mencapai suhu rendah (xu).24. Karena suhu naik. timbul waktu tunda Tu. dan seterusnya.25. sehingga proses awal berulang. Adanya magnet menyebabkan suatu saat keping bimetal kembali akan tertarik dan menyebabkan kontak kembali bekerja dan proses pemanasan berlangsung kembali.26 Kontroler suhu bimetal Kontroler suhu bimetal adalah sebuah kontroler dua posisi yang diperlihatkan pada gambar 12. Karena ketidakidealan sistem. 12-18 . Gambar 12.Teknik Pengaturan Otomatis Pada saat awal proses pemanasan ruangan.

Teknik Pengaturan Otomatis 12. Pemanas listrik R1. Dalam bentuk rangkaian listrik digambarkan pada gambar 12. sensor temperatur menggerakkan saklar ke cabang 2. Gambar 12.27 memiliki karakteristik satu posisi On dan dua posisi Off. pada posisi ini pemanas R1 dan R2 secara bersamaan bekerja dan dihasilkan temperatur lebih tinggi.28. dan keadaan mati (Off). hasilnya suhu dingin.28 Karakteristik dan simbol kontroler tiga posisi Gambar 12. yaitu panas-tinggi. Sedangkan karakterisitik dan simbol dari kontroler tiga posisi terlihat pada gambar 12. atau sebaliknya dua On dan satu Off. Kontroler Tiga Posisi Kontroler tiga posisi gambar 12. panas-sedang. satu pemanas bekerja. kedua pemanas posisi Off dan kedua pemanas tidak mendapat catu daya listrik. Contoh pemakaian kontroler tiga posisi adalah pada sistem pengaturan suhu yang memerlukan tiga keadaan. Ketika posisi saklar pada 0. terhubung pada induk saklar 1 dan 2. Ketika sensor suhu mencapai angka setting tertentu saklar cabang akan menghubungkan cabang 1 dengan pemanas R1. Sedangkan pemanas R2 hanya terhubung pada saklar cabang 2 saja.6.29 Karakteristik kontroler tiga posisi dengan posisi tengah nol 12-19 .29 Gambar 12.27 Kontrol tiga posisi Jika pemanas akan dinaikkan temperaturnya. seperti diperlihatkan pada gambar 12.27.

Gambar 12. Aplikasi kontroler proporsional misalnya pada pengaturan tinggi permukaan air seperti pada gambar 12.32.31. Gambar 12.30. Kontroler Proporsional (P) Kontroler Proporsional memiliki karakteristik bahwa outputnya berupa variabel yang dikontrol berubah sebanding (Proporsional) dengan inputnya yang berupa variabel selisih (error) antara masukan acuan (reference) dengan variabel termanipulasi atau output nyata dari plant. Buka tutup katup akan sebanding dengan posisi pelampung yang mengukur selisih antara tinggi permukaan air yang diinginkan (referensi) dengan tinggi air sesungguhnya (x).7.30 Kontrol proporsional Apabila tinggi air sesungguhnya sangat rendah maka katup akan membuka lebar-lebar.Teknik Pengaturan Otomatis 12. sebaliknya apabila tinggi air sesungguhnya melebihi tinggi air acuan maka katup akan menutup sekecil mungkin. Gambar 12.31 Aplikasi kontroler proporsional Respon sistem kontrol dengan kontroler proporsional diperlihatkan pada gambar 12.32 Respon kontrol proporsional 12-20 . Karakteristik dan diagram blok kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. Hubungan antara variabel yang dikontrol y dengan error e dinyatakan dengan bentuk persamaan linier dengan konstanta kesebandingan (proporsional) KRP.

artinya aktuator akan “mengejar” selisih tersebut. pemakaian kontroler integral relatif lebih baik dalam hal memperkecil selisih antara masukan acuan dengan Gambar 12. seperti diperlihatkan pada gambar 12. Dibandingkan dengan kontroler proporsional. Dalam sistem tersebut.8. sehingga air akan semakin banyak mengalir.34. Kontroler Integral (I) Laju perubahan (kecepatan) nilai output dari kontroler integral sebanding dengan nilai inputnya. Dengan demikian. Karakteristik dan diagram blok kontroler integral diperlihatkan pada gambar 12. Torsi motor yang dihasilkan bergantung kepada nilai selisih antara acuan (yh) dengan output nyata (y) yang diukur melalui pelampung.33. sehingga diharapkan selisihnya semakin kecil. yaitu apabila kecepatan berkurangnya air semakin besar (misalnya saat pemakaian air yang banyak). sehingga selisih (error) nya semakin kecil. Aplikasi kontroler integral ini misalnya pada pengaturan level permukaan air yang melibatkan motor sebagai komponen aktuatornya. Jadi. jika selisih acuan dengan output nyata besar maka perubahan nilai output juga besar. Semakin besar selisih tersebut. operasi buka tutup katup dilakukan oleh motor listrik.34 Aplikasi kontroler integral 12-21 . maka torsi motor akan semakin besar dan mempercepat buka katup.33 Kontroler Integral output nyata.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Dengan demikian diharapkan tangki air akan terisi air lagi secara cepat sampai ketinggian yang diinginkan. Gambar 12. Input sistem berupa variabel selisih (error) antara masukan acuan (referensi) dengan variabel termanipulasi atau output nyata dari plant. kontroler integral akan mendorong sistem yang dikontrol (plant) untuk mencapai output yang diinginkan.

Kombinasi dua mode pengontrolan ini menghasilkan operasi katup yang efektif. Torsi motor berubah berdasarkan nilai selisih antara ketinggian air nyata (y) dan tinggi air yang diinginkan (yh). Gambar 12.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Kontroler Proporsional Integral (PI) Kontroler PI merupakan gabungan fungsi dari kontroler Proporsional dan Integral. Pada sistem ini. Gambar 12.35. Respon sistem terhadap input tangga (step) dan diagram blok dari kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. buka tutup katup berlangsung atas dasar data output nyata yang diukur melalui pelampung dan torsi motor. Penggabungan ini untuk menutupi kekurangan kontroler P yang relatif lambat responnya.36 Aplikasi Kontroler PI 12-22 .9. sementara kontroler P digunakan untuk mempertahankan agar kontroler masih merespon meskipun untuk nilai selisih yang kecil. karena buka tutupnya menyesuaikan dengan kondisi air yang ada dalam tangki.36.35 Kontroler Proporsional Integral Aplikasi tipe kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12.

Teknik Pengaturan Otomatis 12. Apabila keadaan air mendekati penuh. Input ke kontroler derivatif berupa perubahan selisih antara output nyata dan masukan acuannya atau kecepatan error.39. Kontroler Derivatif (D) Penggunaan kontroler P saja dalam sistem kontrol kadang-kadang menyebabkan respon sistem melebihi input acuannya. maka nilai selisihnya kecil. Respon kontroler ini untuk input tangga (step) dan input lereng (ramp) diperlihatkan pada gambar 12. sehingga katup akan memperkecil volume air yang masuk ke dalam tangki.10. nilai ouput yang melebihi nilai acuannya ditekan sekecil mungkin. Misalnya level air dalam tangki melebihi dari tinggi yang diinginkan.38 Respon kontroler derivatif untuk sinyal lereng Gambar 12.39 Aplikasi Kontroler Derivatif Dalam keadaan tangki kosong artinya selisihnya besar.37 Respon kontroler maka kontroler mengirimkan sinyal ke derivatif untuk sinyal step aktuator yang semakin besar pula. buka tutup katup bergantung kepada perubahan nilai selisih antara tinggi air nyata yang diukur melalui pelampung (y) dan tinggi air yang diinginkan (yh). sehingga apabila selisih antara output nyata dan masukan acuannya semakin besar Gambar 12. 12-23 . Aplikasi kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12.38.37 dan gambar 12. Gambar 12. Pada sistem ini. Dengan demikian. Untuk mengurangi atau menghindari kondisi ini maka digunakan kontroler tipe derivatif. maka katup akan membuka dengan cepat sehingga laju air masuk ke tangki semakin besar. Keadaan ini disebut overshoot.

Gambar 12.Teknik Pengaturan Otomatis 12.41 Aplikasi Kontroler PD Ketika pengisian air dalam tangki penampung mencukupi maka pelampung akan bergerak keatas dan menggerakkan dua tuas. Respon kontroler terhadap input lereng (ramp) dan diagram blok kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12.41. seperti diperlihatkan pada gambar 12. Kontroler PD memadukan fungsi kontroler P dan D. Tuas atas menggerakkan piston dalam silinder yang akan meutup katup aliran air.11.40.40 Respon kontroler PD terhadap sinyal lereng Apabila kontroler PD diterapkan pada pengaturan tinggi air maka buka tutup katupnya berdasarkan data selisih dan laju perubahan selisih antara tinggi air nyata (y) dengan tinggi air yang diinginkan (yh). Tuas bawah mengimbangi gerakan oleh tekanan pegas akibat dorongan piston. Kontroler Proporsional Derivatif (PD) Karena kontroler derivatif mampu mengurangi overshoot yang terjadi dalam sistem kontrol. 12-24 . Gambar 12. maka penggabungan dua tipe kontroler P dan D cukup efektif untuk mendapatkan respon sistem yang baik.

43. Pengisian permukaan air setinggi h akan di ikuti oleh pergerakan pelampung yang menggerakkan baik tuas. Gambar 12.12. Jika permukaan air sesuai dengan setting. karena tipe kontroler memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. dan D). dan overshoot-nya kecil (keunggulan kontroler D). Kontroler PID Dari uraian sebelumnya.42 Respon kontroler PID terhadap sinyal step Aplikasi kontroler PID dalam sistem kontrol tinggi air dalam tangki diperlihatkan pada gambar 12. motor DC akan mati.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Potensiometer akan memperkecil tegangan.36. maka pelampung akan bergerak keatas.26 dengan kontroler jenis Derivatif pada gambar 12. Sekaligus katup akan menutup aliran air yang menuju ke bak penampung bawah. Gambar 12. sehingga disebut kontroler PID. Respon kontroler terhadap input tangga (step) dan diagram bloknya diperlihatkan pada gambar 12.42. maupun potensiometer yang memberikan umpan balik pada motor DC yang mengisi air. Dengan kontroler PID diharapkan responnya sangat cepat (keunggulan kontroler P). Kontroler ini memadukan fungsi tiga kontroler sebelumnya (P. I.43 Aplikasi kontroler PID 12-25 . maka untuk mendapatkan hasil pengontrolan yang baik digunakan perpaduan tiga tipe kontroler tersebut. Perhatikan kontroler ini merupakan gabungan kontroler PI yang ada digambar 12. errornya sangat kecil (keunggulan kontroler I).

diagram blok. Gambar 12. Tipe kontroler. Aplikasi Op-Amp Sebagai Kontroller 12. hubungan antar variabelnya dicantumkan dalam tabel berikut.13. yaitu loop stabil. analogi rangkaian listrik. Karakteristik Osilasi Pada Sistem Kontrol Ada tiga karakteristik osilasi apabila sebuah lingkar (loop) diterapkan pada sistem kontrol.Teknik Pengaturan Otomatis Untuk memudahkan analisis sistem kontrol biasanya digunakan analogi penggambaran sistem kontrol dengan rangkaian listrik. Tabel 12.44 Karakteristik osilasi 12-26 . Bentuk karakteristiknya diperlihatkan pada gambar 12.3.44. dan loop tidak stabil. loop batas stabil.

hal-hal teknis berkaitan dengan karakteristik sistem. Tabel 12. Selain pertimbangan ekonomis. Sementara untuk loop batas stabil.4. beberapa parameter yang harus diperhatikan adalah konstanta waktu dari masing-masing tipe kontroler. Misalnya pada pengaturan kecepatan motor arus searah terjadi loop tidak stabil maka motor berputar semakin lama semakin besar sampai melebihi batas kecepatan nominalnya yang tercantum dalam nameplate-nya.14. Nilai optimal masing-masing parameter tersebut diperlihatkan pada tabel berikut. Berikut adalah tabel perbandingan pemilihan tipe kontroler untuk aplikasi tertentu. 12-27 . output sistemnya berosilasi terus-menerus. penggunaan tipe kontroler sangat bergantung kepada jenis aplikasi yang akan menggunakan kontroler dalam realisasinya. Karakteristik loop yang tidak stabil adalah kualitas terburuk dari sistem kontrol. dan waktu menetap (settling time)nya.Teknik Pengaturan Otomatis Dalam sistem kontrol dengan loop stabil. sifat-sifat fisis dari besaran yang dikontrol. respon sistem melebihi dari nilai masukan acuannya dan semakin lama semakin besar. Optimisasi Kontroler Dalam menerapkan tipe kontroler untuk aplikasi tertentu.15. 12. Ada dua pendekatan yang cukup terkenal dan praktis (rule of thumb) dalam menentukan nilai optimal dari suatu parameter relatif terhadap parameter lainnya. Dalam sistem tersebut. waktu tunda (delay time). Seleksi Tipe Kontroler Untuk Aplikasi Tertentu Dalam prakteknya. Tentu saja yang terjadi adalah motor menjadi rusak karena terjadi panas berlebih dalam komponen motor tersebut. yang pada tingkat tertentu merusak komponen sistemnya. yaitu pendekatan Chien/Hornes/Reswick dan pendekatan Ziegler/Nichols. respon sistemnya bisa mengikuti masukan acuannya dengan error semakin kecil dan menuju nol. dan kemudahan dalam realisasi menentukan tipe kontroler yang digunakan dalam aplikasi tersebut. Hal ini tentu saja menyebabkan kerusakan dalam sistem. Perbandingan jenis kontroller untuk masing-masing aplikasi 12.

K RP = 1.6.2 detik. . Elektropneumatik Di industri banyak digunakan komponenkomponen yang merupakan kombinasi elektrik dan pneumatik. dan konstanta proporsional KS = 10 K/A. tentukan nilai parameter KRP. 12-28 Gambar 12. Dengan kriteria 20 % osilasi dari nilai output kontrolernya. yang disebut elektropneumatik.42Tu = 0.16. dan Tv = 0.Teknik Pengaturan Otomatis Tabel 12. Tn.2 × 12. waktu akhir respon kontroler (settling time) Tg = 600 detik. : Dari tabel. Rangkaian dari komponen-komponen tersebut bekerja dengan energi listrik. Parameter Ziegler-Nichols Contoh : Sebuah sistem kontrol suhu membutuhkan spesifikasi kontroler sebagai berikut : waktu tunda Tu = 60 detik.5.2 A/K 10 60 K S Tu Tn = 2Tu = 2 × 60 = 120 detik . Parameter kontroller dengan pendekatan Chien/Hornes/Reswick Tabel 12.45.42 × 60 = 25. Pneumatik dapat digunakan untuk mengontrol daya dengan bantuan sinyal listrik (biasanya digunakan 24 V DC). Jawab 1 Tg 1 600 × = 1.2 × × = 1. dan Tv apabila dipilih kontroler PID untuk merealisasikan kontroler tersebut. Komponen elektropneumatik . Sinyal-sinyal DC tersebut diaktifkan melalui rangkaian logika.

17. dan akan tetap pada posisinya sampai ada yang mengubahnya. dan sebagainya) dapat diteruskan ke bagian pengontrol. saklar akan berubah fungsi setiap kali ditekan. Sensor-sensor Melalui pengesetan pada sensor. normally open.47 Limit switch 12-29 . Untuk tipe toggle.17. posisi silinder.17. Tombol NO. normally clossed atau dalam bentuk toggle gambar-12. tegangan. Misalnya satu kali ditekan dia akan tertutup (dan terus bertahan) dan ditekan lagi saklar akan terbuka. bekerja berdasarkan mekanis.2. 12. elektropneumatik dan bagian mekanik.46. Komponen Elektropneumatik Di bagian aktuator. Sedangkan untuk model saklar tekan. Komponen elektropneumatik terdiri bagian elektrik.Teknik Pengaturan Otomatis 12. informasiinformasi dari luar yang menunjukkan kondisi bagian yang dikontrol (misalnya perubahan tekanan. Bagian Elektrik Bagian ini biasanya berupa rangkaian tertutup dan mempunyai bagian output yang digunakan untuk menyambungkannya dengan komponen atau bagian lain sesuai dengan kebutuhan. 12. Bagian-bagian tersebut bekerja secara elektropneumatik. Di pasaran biasanya tersedia dalam bentuk saklar tekan (pushbutton) atau selector switch. pneumatik digunakan seperti pada silinder dan throttle dan katup penghalang. akan bekerja selama beberapa waktu saja setelah saklar tersebut ditekan.46 Untuk model selector switch. Gambar 12.1.NC dan toggle Misalnya dia akan tetap off sebelum ada orang yang mengubah posisi saklar menjadi on. Gambar 12.

Ketika tekanan mencapai nilai seting yang ditetapkan.2 ms). Saat ini banyak digunakan saklar tekanan yang bekerja secara elektronis. 12-30 . atau mengalihkan arah arus. Saklar ini dapat berfungsi sebagai pemutus. • Bebas waktu tunggu • Masa pakainya panjang • Sensitifitasnya terbatas.49. Biasanya rumah kontak saklar ini berupa diode jenis LED yang akan langsung menyala saat terjadi kontak (saklar tersambung).Teknik Pengaturan Otomatis Sebuah limit-switch mekanik gambar-12.47. maka saklar akan terbuka atau tertutup. sehingga kontak bergerak. Tekanan input didapat dari sebuah piston yang akan menghasilkan daya tekan. bekerja berdasarkan induksi magnet yang ditimbulkan oleh belitan pada kontak-dalam. Saklar tekanan elektronis bekerja melalui tekanan yang terjadi pada membran. • Hanya memerlukan sedikit instalasi Saklar proximity merupakan sensor non-kontak. Medan magnet biasanya segera berintegrasi dengan badan piston. maka limit switch akan bekerja. • Dengan medan magnet yang tinggi komponen ini tidak dapat diset. Gambar 12. Saklar magnet jenis proximity juga dapat diset pada posisi tertentu dalam silinder gambar 12. Limit-switch biasanya berfungsi sebagai pembuka atau penyambung dan pengubah aliran arus. penyambung atau pengubah arah arus.48.49 Proximity switch terpasang pada silinder (sekitar 0. maka dia akan mengeluarkan sinyal untuk mengontrol kerja mesin atau bagian dari mesin. sehingga ketika ada benda kerja yang menyentuh limit-swtich tersebut.48 Limit switch Saklar tekanan biasanya berfungsi sebagai tekanan penyambung. Karakteristik penting saklar jenis ini ialah: • Bekerja tanpa memerlukan daya • Waktu pensaklaran yang singkat Gambar 12. pemutus atau pengubah aliran arus dengan cara mengeset saklar pada tekanan tertentu. Daya tekan tersebut dapat diatur melalui sebuah tombol putar gambar-12. Ketika ada tekanan melebihi nilai setingnya. dapat di set pada posisi tertentu.

tertutup. 12-31 . kontaktor bekerja dengan daya yang lebih besar sampai 100 kW. K2 dan seterusnya. deret kedua merupakan jenis deret kontak.3. Jika aliran arus pada jangkar terputus. maka sambungan akan terputus pula. Relay biasanya bekerja dengan daya rendah (sekitar 1kW.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Relay dan kontaktor bekerja dengan prinsip yang sama. Ini dimaksudkan relay dapat bekerja dengan tegangan yang berbeda-beda.17. Deret pertama merupakan order atau tingkatan. Relay tersedia dalam tipe normally-open (terbuka). Jangkar akan bergerak dan kontak bekerja. atau sebagai pengubah aliran arus gambar-12. Relay banyak digunakan untuk berbagai jenis kontrol.50 Konstruksi Dapat bekerja dengan tegangan Relay dan kontaktor yang berbeda-beda Relay dapat bekerja dengan tegangan DC maupun AC Relay dapat bekerja dengan sinyak-kuadrupel Relay juga dapat bekerja dengan delay sinyal. Rangkaian kontak relay digambarkan melalui angka-angka yang terdiri dari dua deret. • • • Belitan untuk arus eksitasi digambarkan sebagao A1 dan A2 Relai digambarkan sebagai K1. Relay bekerja dengan tegangan bebas. Arus masuk melalui belitan eksitasi (terminal A1 dan A2). Relay dan Kontaktor Relay dan kontaktor merupakan saklar yang bekerja berdasarkan prinsip elektro-magnetik yang terjadi pada kontaktor-kontaktornya gambar 12. seperti: • Relay menunjukkan gambaran • • • • antara sinyal dan daya Gambar 12. Oleh karena itu gambar potongan saklarnya digambarkan sama.50. pengaturan dan pengecekan.51 menunjukkan rangkaian kontak atau sambungan sebuah relay.

Oleh karena itu tidak ada arus lagi yang mengalir melalui belitan (spul) dari jangkar ke bawah dan aliran dari 1 ke 2 juga terhalang. Selanjutnya. Arus listrik mengalir melalui belitan magnet.51. sehingga dapat mengubah status sambungan (tersambung atau terputus). dimana tekanan udara dikontrol.51. yang meng-gambarkan adanya bagian kontrol mekanis dan elektronik. Katup magnetik Gambar 12. Magnet yang dibangkitkan oleh belitan akan menaikkan jangkar ke atas.52 Katup Magnetik 12-32 . Katup Magnetik Katup magnetik merupakan konverter elektromagnetik. Katup magnetik terdiri dari belitan magnet (ini adalah elemen elektronik) dan katup pneumatik.17.Teknik Pengaturan Otomatis Gambar 12. Didalam pendorong katup terdapat gerbang jangkar yang akan bergerak. sehingga akan terjadinya aliran udara bebas dari 1 ke 2. yang akan membangkitkan medan elektro magnetik. dalam waktu yang bersamaan akan terjadi Gambar 12. sehingga dapat menarik jangkar. Jangkar terhubung dengan pendorong katup. Prinsip kerja katup kontrol 3/2 gambar 12.51: dimulai dari penyetelan dasar katup. Kontaktor dengan kontak utama dan kontak bantu 12.4. yaitu dengan menutup aliran udara dari 1 ke 2. pengaliran udara3 dalam jangkar akan menghalangi udara dari atas ke bawah.

sehingga udara dapat mengalir dari jalur 1 ke 2. Disini aliran udara dari jalur 1 ke 2 dihalangi dengan mengontrol katup magnetik 3/2. Keunggulan penggunaan kontrol dengan elektropneumatik adalah belitan magnet relatif berukuran kecil. Katup magnetik 3/2 12-33 . Batang jangkar katup magnetik Katup Magnetik 3/2 dengan Penyetelan Balik.52. poros elektromagnet dapat berputar. dan ini akan mempengaruhi adanya pertukaran udara tersebut. Melalui eksitasi belitan magnet. yang me-nyebabkan piston bergerak ke kiri. dengan bantuan tangan. Tekanan udara pada jalur 1 akan mengakibatkan lempeng penahan bergerak ke kiri dan jangkar akan bergerak ke depan.54. Tekanan udara juga dapat diatur melalui perangkat yang dapat diatur dengan tangan. sementara udara dapat masuk melalui jalur 3 ke 2. dan akan mengakibatkan terjadinya tekanan pada piston ke arah kanan. dan katup akan teraliri udara melalui lubang di dalam jangkar di jalur 82. sehingga katup akan terbebas dari kontrol tekanan. maka jangkar akan bergerak ke kiri sehingga kedalamannya akan bertambah. Oleh karena itu. Gambar 12. terdapat aliran tekanan udara pada lempeng yang dikontrol. akan ada tekanan udara pada lempeng kontrol. sehingga hanya memerlukan arus dan daya listrik kecil. menunjukkan dasar fungsi sebuah elektropneumatik gambar-12. Pada saat sinyal kontrol bekerja. Di dalam elektropneumatik terdapat valve yang dapat dikontrol. Pada saat ini aliran udara masuk dari jalur 3 ke 1 terhalang.Teknik Pengaturan Otomatis pertukaran udara dari 3 ke 2. Sinyal listrik akan mengakibatkan jangkar bekerja membuka katup kontrol dan ini akan menimbulkan perubahan tekanan pada piston. Gambar 12. Gambar-12.53.53 menunjukkan penyetelan dasar dari katup magnetik 3/2.

Gambar 12.56 menunjukkan penyetelan dasar katup 5/3 (penyetelan halus di-offkan).56. Lubang yang menghubungkan kedalaman jangkar-jangkar akan berada pada tekanan di port 1. bahwa untuk mengatur gerakan katup diperlukan sinyal kontrol untuk Y1 hingga Y2. Katup magnetik impulse 5/2 Katup magnetik jalur 5/3. belitan magnet hanya memer-lukan impuls yang pendek. yang perlu diperhatikan. Gambar 12. 12-34 .54.57.Teknik Pengaturan Otomatis Katup magnetik 5/2 mempunyai perbedaan bentuk fisik jika dibandingkan katup magnetik 3/2 gambar 12. Melalui eksitasi sebuah magnet akan mulai dijelaskan prinsip pengontrolan katup dan piston yang akan mengubah posisi saklar. yaitu dengan mencegah aliran udara dari jalur 1 ke 2 dan dari 1 ke 4. tetapi untuk katup ini tidak ada definisi penyetelan dasar. untuk mempertahankan piston pada posisi tertentu. maka katup akan berada di tengah.55 mempunyai prinsip kontrol yang sama dengan katup katup magnetik yang dijelaskan sebelumnya. Secara prinsip kedua katup tersebut mempunyai cara kerja yang sama. Gambar 12. Jika ada sinyal kontrol. Disini. Gambar 12. Katup magnetik 5/2 Katup Magnetik Impulse 5/2 gambar 12. tanpa mempertahankan impuls katup dalam memori. yaitu perlu belitan magnet yang tereksitasi untuk menggerakkan piston. Perbedaan tersebut terletak pada sinyal listrik pembangkit eksitasi pada belitan magnet.55. Dengan menggunakan eksitasi magnet akan memungkinkan feder pusat berada di posisi tengah. Katup magnetik 5/3 Pengaturan katup mendapat masukan udara dari jalur 82 atau 84.

59. Rangkaian Dasar Seperti halnya pada pneumatik. pengaturan dilakukan melalui relay. Silinder dengan Operasi Ganda Disini juga akan dijelaskan kemungkinan-kemungkinan peng-aturan yang lebih banyak karena menggunakan pengaturan tekanan udara secara ganda. Operasi Maju dan Mundur Silinder Cara kerja silinder sangat berbeda dengan cara kerja pneumatik.18. Silinder tunggal dengan dgn katup magnetik 3/2 Gambar 12. pada elektropnuematikpun dapat dibuat rangkaian dasar yang harus di set secara bersama-sama. Operasi satu arah dari Silinder Dengan mengoperasikan saklar-1 gambar 12. 12. Silinder pada gambar 12.18. sehingga jalur katup 3/2 dapat memberikan pengontrolan. Dalam praktik.58. Disini kembali berlaku prinsip-prinsip perancangan rangkaian yaitu dengan memper hatikan fungsi dan karakteristik penyetelan. bahwa arus relay dapat digunakan untuk mengaktifkan perangkat lainnya.1. Silinder 1A1 akan bergerak ketika S1 dioperasikan lagi dan mencapai ujung tabung ketika S1 dioperasikan untuk waktu yang diperlukan silinder bergerak dari ujung ke ujung tabung.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Gambar 12. Kontrol jenis ini mempunyai keunggulan.57 atas hanya akan bergerak ketika S1 ditekan untuk waktu selama silinder bergerak. Disini tidak ada pengaturan secara langsung.56 maka relay K1 akan energized dan ini akan meng-aktifkan kontak relay pada lead arus-2 serta katup magnetik Y1 di bagian silinder 1V1. Komponen-komponen harus di-tangani dengan baik sehingga dan berfungsi baik dan dapat direncana kan pengontrolan yang sesuai. Silinder operasi ganda katup 5/2 12-35 .

57 bawah menunjukkan bahwa silinder 1A1 bergerak berdasarkan impuls yang diperoleh dari S1 dan S2 yang ditekan sesaat saja. Katup path 5/2 1V1 merupakan sebuah katup dengan memori. Gambar 12. S1 dapat dioperasikan kembali ketika S2 dioperasikan.60. Rangkuman 2.19. Impuls 1V1 tersimpan oleh sinyal yang pertamakali datang. dan pengaturan katup 1V1 tidak dapat dialihkan. untuk meng-operasikannya hanya diperlukan impuls yang pendek saja periodenya. Soal-soal 12-36 . sehingga belitan magnet Y1 dan Y2 akan aktif. Silinder ganda dengan katup 5/3 2.20.Teknik Pengaturan Otomatis Gambar-12. Oleh karena itu.

.......... Menentukan Resistansi dan Reaktansi .......... 13......................9........ Generator Tanpa Beban ...3..........BAB 13 GENERATOR SINKRON Daftar Isi : 13................. Konstruksi Mesin Sinkron ..8........ 13................... 13.....................................................1.......... 13............................... 13-1 13-2 13-10 13-12 13-13 13-15 13-18 13-23 13-26 13-27 ................................. Prinsip Kerja .... 13.............. 13.................... Generator Berbeban ............... Kerja Parallel Generator ............................................................. 13.. Soal-soal ...................4........7.................10............. Pengaturan Tegangan .. 13............2....5........................... Rangkuman ......................................... 13....6............... Pendahuluan ...............

apabila dikehendaki kecepatan yang bersifat variabel. karena bekerja pada kecepatan dan frekuensi konstan dibawah kondisi “ Steady state “. Adapun tujuan dari paralel generator adalah menambah daya pasokan dari pembangkit yang dibebankan ke masing-masing generator yang dikirimkan ke beban.2 Konstruksi Mesin Sinkron Ada dua struktur medan magnit pada Mesin Sinkron yang merupakan dasar keja dari Mesin tersebut. Disebut Mesin Sinkron. Hampir semua Mesin Sinkron mempunyai belitan ggl berupa stator yang diam dan struktur medan magnit berputar sebagai rotor. maka motor Sinkron dilengkapi dengan dengan pengubah frekuensi seperti “Inverter” atau “ Cyclo-converter”. tetapi ada juga yang tidak mempergunakan sikat arang arang disebut “brushless excitation”. Generator Sinkron yang dipergunakan ini mempunyai rating daya dari ratusan sampai ribuan Mega-Volt-Ampere (MVA). yaitu kumparan yang mengalirkan penguatan DC dan sebuah jangkar tempat dibangkitkannya ggl arus bola-balik. Hampir semua Mesin Sinkron mempunyai jangkar diam sebagai stator dan medan magnet berputar sebagai rotor.1. yaitu kumparan yang mengalirkan penguatan DC dan sebuah jangkar tempat dibangkitkannya ggl arus bolak-balik. Kumparan DC pada struktur medan yang berputar dihubungkan pada sumber luar melaui slipring dan sikat arang. Mesin Sinkron bisa dioperasikan baik sebagai generator maupun motor. seperti di pusat-pusat pembangkit. beberapa Mesin Sinkron sering dioperasikan secara paralel. Mesin Sinkron bila difungsikan sebagai motor berputar dalam kecepatan konstan. Kumparan DC pada medan magnet yang berputar dihubungkan pada sumber listrik DC luar melaui Slipring dan sikat arang. Sebagai generator.Generator Sinkron 13. Pendahuluan Sebagian besar energi listrik yang dipergunakan oleh konsumen untuk kebutuhan sehari-hari dihasilkan oleh generator Sinkron Phasa banyak (polyphase) yang ada di pusat pembangkit tenaga listrik. tetapi ada juga yang tidak mempergunakan sikat arang yaitu sistem “ brushless excitation”. Ada dua struktur medan magnet pada Mesin Sinkron yang merupakan dasar keja dari Mesin tersebut. Konstruksi dari sebuah Mesin Sinkron secara garis besar adalah sebagai berikut : 12-2 . 13.

tetapi rating daya yang besar. Dua tipe sistem penguatan “ Solid state” adalah : • Sistem statis yang menggunakan Diode atau Thyristor statis.Generator Sinkron 13.Bentuk Penguatan Seperti telah diuraikan diatas.2. bahwa untuk membangkitkan flux magnetik diperlukan penguatan DC. Penguatan DC ini bisa diperoleh dari generator DC penguatan sendiri yang seporos dengan rotor Mesin Sinkron. maka generator DC yang digunakan tidak dengan penguatan sendiri tetapi dengan “ Pilot Exciter” sebagai penguatan atau menggunakan magnet permanen. dan arus dialirkan ke rotor melalui Slipring. 12-3 .2 Generator Sinkron Tiga Phasa dengan Sistem Penguatan “Brushless Exciter System”.1 Generator Sinkron Tiga Phasa dengan Penguatan Generator DC “Pilot Exciter”. seperti generator Hydroelectric. Gambar 13. Gambar 13. Alternatif lainnya untuk penguatan eksitasi adalah menggunakan Diode silikon dan Thyristor.1. Pada Mesin Sinkron dengan kecepatan rendah.

sehingga tidak dibutuhkan sikat arang dan slipring. sedangkan Mesin dengan kecepatan rendah seperti Hydroelectric atau Generator Listrik Diesel mempunyai rotor kutub menonjol gambar 13.Generator Sinkron • “Brushless System”.2.3. (a) Rotor Kutub onjol ( b ) Rotor kutub Silinder Gambar 13.4 memperlihatkan alur stator tempat kumparan jangkar. Bentuk Rotor Untuk medan rotor yang digunakan tergantung pada kecepatan Mesin. Gambar 13.3a. Belitan jangkar (stator) yang umum digunakan oleh Mesin Sinkron Tiga Phasa.3 Bentuk Rotor 13. Bentuk Stator Stator dari Mesin Sinkron terbuat dari bahan ferromagnetik yang berbentuk laminasi untuk mengurangi rugi-rugi arus pusar. Mesin dengan kecepatan tinggi seperti turbo generator mempunyai bentuk silinder gambar 13.2. pada sistem ini penyearah dipasangkan diporos yang berputar dengan rotor. Dengan inti ferromagnetik yang bagus berarti permebilitas dan resistivitas dari bahan tinggi.4 Inti Stator dan Alur pada Stator Gambar 13.3b.2. ada dua tipe yaitu : 12-4 . 13.

dan Fc bisa disatukan dalam dua cara. adalah : α lis = P α mek 2 Gambar 13. Belitan berlapis ganda (Double Layer Winding). Jawaban : Sudut mekanis antara kutub utara dan kutub selatan adalah : 360 sudut mekanis = 30 0 α mek = 12 kutub Ini menunjukkan 180 derajat listrik : α lis = P 12 α mek = x30 0 = 180 0 2 2 12-5 . 13.5 Belitan Satu Lapis Generator Sinkron Tiga Phasa Contoh : Sebuah generator Sinkron mempunyai 12 kutub. b. Sb. Fb.Generator Sinkron a. Belitan satu lapis (Single Layer Winding). dan Sc dan berakhir di Fa. Belitan Stator Satu Lapis Gambar 13.2. Berapa sudut mekanis ditunjukkan dengan 180 derajat listrik. satu siklus ggl penuh akan dihasilkan bila rotor dengan 4 kutub berputar 180 derajat mekanis. Antar kumparan Phasa dipisahkan sebesar 120 derajat listrik atau 60 derajat mekanik.4. Bila kumparan tiga Phasa dimulai pada Sa. yaitu hubungan bintang dan segitiga. Satu siklus ggl penuh menunjukkan 360 derajat listrik. adapun hubungan antara sudut rotor mekanis αmek dan sudut listrik αlis.5 memperlihatkan belitan satu lapis karena hanya ada satu sisi lilitan didalam masing-masing alur.

Kebalikan arah putaran dihasilkan dalam urutan ACB. atau urutan Phasa negatif. sedangkan urutan Phasa ABC disebut urutan Phasa positif. Jadi ggl yang dibangkitkan sistem tiga Phasa secara simetris adalah : E A = E A ∠0 0 Volt E B = E B ∠ − 120 0 Volt E C = E C ∠ − 240 0 Volt Gambar 13.6 (searah jarum jam). dengan demikian tega. diikuti Phasa B.Generator Sinkron Untuk menunjukkan arah dari putaran rotor gambar 13. dan kemu-dian Phasa C. urutan Phasa yang dihasilkan oleh suplai tiga Phasa adalah ABC.7 Belitan Berlapis Ganda Generator Sinkron Tiga Phasa 12-6 .ngan maksimum pertama terjadi dalam Phasa A.6 Urutan Phasa ABC Gambar 13.

Total ggl stator per Phasa E adalah jumlah dari seluruh vektor. adalah : 180 derajat listrik ψ= n x m dimana m menyatakan jumlah Phasa. Bagian dari lilitan yang tidak terletak ke-dalam alur biasanya disebut “ Winding Overhang”. masing-masing penghantar yang berada dalam alur akan membangkitkan tegangan yang sama.6. disini diperlihatkan ggl yang dinduksikan dalam alur 2 akan tertinggal (lagging) dari ggl yang dibangkitkan dalam alur 1 sebesar ψ =15 derajat listrik.7 memperlihatkan bagian dari sebuah kumparan jangkar yang secara umum banyak digunakan. Sehingga. sehingga tidak ada tegang-an dalam winding overhang. Faktor Distribusi Seperti telah dijelaskan diatas bahwa sebuah kumparan terdiri dari sejumlah lilitan yang ditempatkan dalam alur se-cara terpisah.5. Suatu faktor yang harus dikalikan dengan ggl dari sebuah kumparan distribusi untuk menghasil-kan total ggl yang dibangkitkan disebut faktor distribusi Kd untuk kumparan. E 3 . akibatnya masing-masing kumparan hanya dua lilitan secara seri. 13. Dalam kenyataannya cara seperti ini tidak menghasilkan cara yang efektif dalam penggunaan inti stator.5 hanya mempunyai satu lilitan per kutub per Phasa. Diasumsikan ada n alur per Phasa per kutub. demikian pula ggl yang dinduksikan dalam alur 3 akan tertinggal 2ψ derajat. Untuk mengatasi masalah ini. danE 4 .Generator Sinkron 13. jarak antara alur dalam derajat listrik. gambar 5. Masing-masing tegangan Phasa akan sama untuk menghasilkan tegangan per peng-hantar dan jumlah total dari penghantar per Phasa. karena variasi kerapatan flux dalam inti dan juga melokalisir pengaruh panas dalam daerah alur dan menimbulkan harmonik. generator praktisnya mempunyai kumparan terdistribusi dalam beberapa alur per kutub per Phasa. E = E1 + E 2 + E 3 + E 4 12-7 . Semua ggl ini ditunjukkan masingmasing oleh phasor E 1 . dan seterusnya. ggl pada termi-nal menjadi lebih kecil bila dibanding-kan dengan kumparan yang telah dipu-satkan.Belitan Berlapis Ganda Kumparan jangkar yang diperlihatkan pada gambar 13.2. Bila alur-alur tidak terlalu lebar. Perhatikan gambar 13. Pada masing-masing alur ada dua sisi lilitan dan masingmasing lilitan memiliki lebih dari satu putaran.8. Faktor ini selalu lebih kecil dari satu.2. E 2 .

8 Diagram Phasor dari Tegangan Induksi Lilitan Gambar 13. Kisar pendek sering digunakan.7. seperti terlihat pada gambar 13.9. bila sisi lilitan diletakkan dalam alur 1 dan 7 disebut kisar penuh. karena mempunyai beberapa keuntungan. Faktor Kisar Gambar 13. adalah memperbaiki bentuk gelombang tegangan yang dibangkitkan. Kisar : 5/6 = 5/6 x 180 derajat = 150 derajat 1/6 = 1/6 x 180 derajat = 30 derajat.9 Total ggl Et dari Tiga ggl Sinusoidal 12-8 .10.2. karena ini sama dengan 5/6 kisar kutub. Kd = 13.Generator Sinkron Total ggl stator E lebih kecil dibandingkan jumlah aljabar dari ggl lilitan oleh faktor. memperlihatkan bentuk kisar dari sebuah kumparan. dan bisa dinyatakan dengan persamaan : Sin(1 / 2nψ ) Kd = nSin(ψ/2) Keuntungan dari kumparan distribusi. diantaranya : Gambar 13. Jumlah Vektor E1 + E 2 + E 3 + E 4 = Jumlah Aljabar 4xE lili tan Kd adalah faktor distribusi. sedangkan bila diletakkan dalam alur 1 dan 6 disebut kisar pendek.

EL 2. seperti diperlihatkan pada gambar 13.EL 12-9 . bila lilitan merupakan kisar penuh.Generator Sinkron Gambar 13. Memperbaiki bentuk gelombang dari tegangan yang dibangkitkan. Faktor . maka tegangan resultannya adalah : E = 2 EL. Cos 30/2 Kp = E 2.8b.11).10 Kisar Kumparan • • • Menghemat tembaga yang digunakan.11 Vektor Tegangan Lilitan Sedangkan kisar pendek dengan sudut 30 derajat listrik.Kisar = Jumlah Vektor ggl induksi lili tan = Kp Jumlah Aljabar ggl induksi lili tan EL ggl yang diinduksikan pada masing-masing lilitan. Gambar 13.EL. maka total induksi = 2 EL (gambar 13.Cos 30 / 2 = = Cos15 0 2. Kerugian arus pusar dan Hysterisis dikurangi.

Atau Kp = Cos 13.Z Volt = 2.φ.T = 4.f.φ.11x 4.f .T Volt bila faktor distribusi dan faktor kisar dimasukkan.2. dan dimisalkan hanya memiliki satu lilitan yang terbuat dari dua penghantar secara seri.f Er = x = 2. T Volt 13.f.P 120.N 120.P φ.f .8.φ. maka : Ggl rata-rata/Phasa = 2.φ. Gaya Gerak Listrik Kumparan Pada Sub bab sebelumnya telah dibahas mengenai frekuensi dan besarnya tegangan masing-masing Phasa secara umum.f . maka Ggl efektif/Phasa E = 4.φ.f.44 x f . Apabila Z = Jumlah penghantar atau sisi lilitan dalam seri/Phasa = 2 T T = Jumlah lilitan per Phasa 60 dφ = φP dan dt = detik N Ggl induksi rata-rata per penghantar : dφ φ. yaitu penghantar a dan a’. Untuk lebih mendekati nilai ggl sebenarnya yang terjadi maka harus diperhatikan faktor distribusi dan faktor kisar.f.T volt Ggl efektif/Phasa = 1. Kd. Prinsip Kerja Generator Sinkron Kecepatan rotor dan frekuensi dari tegangan yang dibangkitkan berbanding secara langsung. 12-10 . atau N = Sedangkan f = 120 P Sehingga Ggl induksi rata-rata per penghantar menjadi : φ.φ Volt 60 P bila ada Z penghantar dalam seri/Phasa.φ .44 .(2T) = 4.N.P Er = Volt = = dt 60 / N 60 P.3.Generator Sinkron 30 α = Cos 2 2 0 p = Sin 2 0 dimana p adalah kisar kumparan dalam derajat listrik. Kp .22 memperlihatkan prinsip kerja dari sebuah generator AC dengan dua kutub. Gambar 13.

Masing-masing lilitan akan menghasil-kan gelombang Fluksi sinus satu dengan lainnya berbeda 120 derajat listrik. Untuk frekuensi f = 60 Hz. Untuk kecepatan rotor n rpm. b – b’ dan c – c’ pada gambar 13. bila rotor mempunyai lebih dari 1 pasang kutub. Dalam keadaan seimbang besarnya fluksi sesaat : ΦA = Φm. Satu putar-an rotor dalam satu detik menghasilkan satu siklus per ditik atau 1 Hertz (Hz).13. maka flux medan rotor bergerak sesuai lilitan jangkar. yang merupakan fungsi tempat (Φ) dan waktu (t).Generator Sinkron Lilitan seperti ini disebut “Lilitan terpusat”. rotor harus berputar pada kecepatan n/60 revolution per detik (rps). Bila kecepatannya 60 Revolution per menit (Rpm). Diasumsikan rotor berputar searah jarum jam. maka besar- P 2 n Hertz 60 Gambar 13.12 Diagram Generator AC Satu Phasa Dua Kutub. misalnya P kutub maka masing-masing revolution dari rotor menginduksikan P/2 siklus tegangan dalam lilitan stator. Sin ( ωt – 240˚ ) Besarnya fluks resultan adalah jumlah vektor ketiga fluks tersebut ΦT = ΦA + ΦB + ΦC. 12-11 . frekuensi 1 Hz. f = Untuk generator Sinkron tiga Phasa. Frekuensi dari tegangan induksi sebagai sebuah fungsi dari kecepatan rotor . Sin ωt ΦB = Φm. harus ada tiga belitan yang masingmasing terpisah sebesar 120 derajat listrik da-lam ruang sekitar keliling celah udara seperti diperlihatkan pada kumparan a – a’. dalam generator sebenarnya terdiri dari banyak lilitan dalam masing-masing Phasa yang terdistribusi pada masing-masing alur stator dan disebut “Lilitan terdistribusi”. Sin ( ωt – 120˚ ) ΦC = Φm. maka rotor harus berputar 3600 Rpm.

Φm. Cos (φ – 240˚) Dengan memakai transformasi trigonometri dari : Sin α .Sin (α + β ) + ½ Sin (α + β ). Cos β = ½. yaitu : Eo = 4.Φm. Dengan demikian dari persamaan akan didapat fluksi total sebesar. Sin ( ωt + φ – 240˚ )+ ½. maka pada kumparan jangkar stator akan diinduksikan tega-ngan tanpa beban (Eo). bila diuraikan maka suku kesatu. maka dari persamaan 8-5 diperoleh : ΦT = ½. ΦT = ¾ Φm. ΦT = Φm. Sin ( ωt – φ ) + ½. Sin(ωt – 240˚). Besarnya tegangan masing-masing Phasa adalah : E maks = Bm. Sin ( ωt – φ) + ½.44 . f.4 Generator Tanpa Beban Apabila sebuah Mesin Sinkron difung-sikan sebagai generator dengan diputar pada kecepatan Sinkron dan rotor diberi arus medan (If). ω r Volt dimana : Bm = Kerapatan Flux maximum kumparan medan rotor (Tesla) l = Panjang masing-masing lilitan dalam medan magnetik (Weber) ω = Kecep sudut dari rotor (rad/s) r = Radius dari jangkar (meter) Gambar 13. Jadi medan resultan merupakan medan putar dengan modulus 3/2 Φ dengan sudut putar sebesar ω. Sin ( ωt .Generator Sinkron besarnya fluks total adalah.Φ ) Weber . φm.Sin ωt + Φm. dan kelima akan silang menghilangkan.Kd. Kp. Sin (ωt + φ )+ ½. ketiga. T Volt 12-12 .Sin(ωt – 120˚) + Φm.Φm.Φm.13 Diagram Generator AC Tiga Phasa Dua Kutub 13.Φm. Sin ( ωt + φ – 480˚ ) Dari persamaan diatas. l.

Generator Sinkron Dalam keadaan tanpa beban arus jangkar tidak mengalir pada stator, sehingga tidak terdapat pengaruh reaksi jangkar. Fluk hanya dihasilkan oleh arus medan (If). Bila besarnya arus medan dinaikkan, maka tegangan output juga akan naik sampai titik saturasi(jenuh) seperti diperlihatkan pada gambar 13.14. Kondisi Generator tanpa beban bisa digambarkan rangkaian ekuivalennya seperti diperlihatkan pada gambar 13.14b.

(b) (a) Gambar 13.14 Kurva dan Rangkaian Ekuivalen Generator Tanpa Beban

13.5. Generator Berbeban
Bila Generator diberi beban yang beru-bah-ubah maka besarnya tegangan terminal V akan berubah-ubah pula, hal ini disebabkan adanya kerugian tegangan pada:

• • •

Resistansi jangkar Ra Reaktansi bocor jangkar Reaksi Jangkar Xa

a. Resistansi Jangkar Resistansi jangkar/Phasa Ra menyebab-kan terjadinya tegangan jatuh (Kerugian tegangan)/Phasa I.Ra yang sePhasa dengan arus jangkar. b. Reaktansi Bocor Jangkar Saat arus mengalir melalui penghantar jangkar, sebagian fluk yang terjadi tidak mengimbas pada jalur yang telah ditentukan, hal seperti ini disebut Fluk Bocor.

12-13

Generator Sinkron c. Reaksi Jangkar Adanya arus yang mengalir pada kumparan jangkar saat Generator dibe-bani ) yang berintegrasi dengan fluksi yang akan menimbulkan fluksi jangkar ( dihasilkan pada kumparan medan rotor( fluksi resultan sebesar : ), sehingga akan dihasilkan suatu

φ R = φF + φ A
Interaksi antara kedua fluksi ini disebut sebagai reaksi jangkar, seperti diperlihatkan pada Gambar 13.15. yang mengilustrasikan kondisi reaksi jangkar untuk jenis beban yang berbeda-beda. Gambar 13.15a , memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat generator dibebani tahanan (resistif) sehingga arus jangkar Ia sePhasa dengan ggl Eb dan akan tegak lurus terhadap . Gambar 13.15b, memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat generator dibebani kapasitif , sehingga arus jangkar Ia mendahului ggl Eb sebesar θ terbelakang terhadap dengan sudut (90 -θ). dan Gambar 13.15c, memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat dibebani kapasitif murni yang mengakibatkan arus jangkar Ia mendahului ggl Eb dan akan memperkuat yang berpengaruh terhadap sebesar pemagnetan. Gambar 13.15d, memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat arus diberi beban induktif murni sehingga mengakibatkan arus jangkar Ia terbelakang dan akan memper-lemah yang berpengaruh dari ggl Eb sebesar terhadap pemagnetan.

Gambar 13.15 Kondisi Reaksi Jangkar

12-14

Generator Sinkron Jumlah dari reaktansi bocor reaktansi Sinkron Xs. dan reaktansi jangkar Xa biasa disebut

Vektor diagram untuk beban yang bersifat Induktif, resistif murni, dan kapasitif diper- lihatkan pada Gambar 12 .16 Berdasarkan gambar diatas, maka bisa ditentukan besarnya tegangan jatuh yang terjadi, yaitu : Total Tegangan Jatuh pada Beban : = I.R a + j(I.X a + I.X L ) = =

Gambar 13.16 Vektor Diagram dari Beban Generator

13.6 Menentukan Resistansi dan Reaktansi
Untuk bisa menentukan nilai reaktansi dan impedansi dari sebuah generator, harus dilakukan percobaan(test). Ada tiga jenis test yang biasa dilakukan, yaitu :

12-15

Generator Sinkron

• • •

Test Tanpa beban ( Beban Nol ) Test Hubung Singkat. Test Resistansi Jangkar.

13.6.1. Test Tanpa Beban
Test Tanpa Beban dilakukan pada kecepatan Sinkron dengan rangkaian jangkar terbuka (tanpa beban) seperti diperlihatkan pada Gambar 13.17 perco-baan dilakukan dengan cara mengatur arus medan (If) dari nol sampai rating tegangan output terminal tercapai.

Gambar 13.17 Rangkaian Test Generator Tanpa Beban.

13.6.2. Test Hubung Singkat
Untuk melakukan test ini terminal alternator dihubung singkat dengan Ampermeter diletakkan diantara dua penghantar yang dihubung singkat tersebut Gambar 13.18. Arus medan dinaikkan secara bertahap sampai diperoleh arus jangkar maksimum. Selama proses test arus If dan arus hubung singkat Ihs dicatat. Dari hasil kedua test diatas, maka dapat digambar bentuk karakteristik seperti diperlihatkan pada gambar 13.18

Gambar 13.18 Rangkaian Test Generator di Hubung Singkat

12-16

. Nilainya berkisar antara 1. R eff . Resistansi per Phasa adalah setengahnya dari yang diukur. Test Resistansi Jangkar Dengan rangkaian medan terbuka. Faktor ini tergantung pada bentuk dan ukuran alur.20.19 Karakteristik Tanpa Beban dan Hubung Singkat sebuah Generator 13. Dalam kenyataannya nilai resistansi dikalikan dengan suatu faktor untuk menentukan nilai resistansi AC efektif .2 s/d 1. ukuran penghantar jangkar.6.6 . Bila nilai Ra telah diketahui..Ohm I hs Gambar 13. adalah : Zs = Eo I f = kons tan .20 Pengukuran Resistansi DC 12-17 .3. nilai Xs bisa ditentukan berdasarkan persamaan : 2 2 Xs = Zs − Ra Ohm Gambar 13. dan konstruksi kumparan. resistansi DC diukur antara dua terminal output sehingga dua Phasa terhubung secara seri Gambar 13.Generator Sinkron Impedansi Sinkron dicari berdasarkan hasil test......

Pengaturan Tegangan Pengaturan tegangan adalah perubahan tegangan terminal antara keadaan beban nol dengan beban penuh. yaitu : • Metoda Impedansi Sinkron atau Metoda GGL.Generator Sinkron 13.7. • Metoda Faktor Daya Nol atau Metoda Potier.21 Vektor Diagram Pf “Lagging” 12-18 . • Metoda Amper Lilit atau Metoda GGM. 13. dan ini dinyatakan dengan persamaan : Eo − V x100 % Pengaturan Tegangan = V Terjadinya perbedaan tegangan terminal V dalam keadaan berbeban dengan tegangan Eo pada saat tidak berbeban dipengaruhi oleh faktor daya dan besar-nya arus jangkar (Ia) yang mengalir. • Tentukan nilai Ra berdasarkan hasil pengukuran dan perhitungan. Ada tiga metoda atau cara yang sering digunakan untuk menentukan pengaturan tegangan tersebut. • Berdasarkan persamaan hitung nilai Xs • Hitung harga tegangan tanpa beban Eo • Hitung prosentase pengaturan tegangan. Untuk menentukan pengaturan tega-ngan dari generator adalah dengan memanfaatkan karakteristik tanpa beban dan hubung singkat yang diperoleh dari hasil percobaan dan pengukuran tahanan jangkar.7. langkah-langkahnya sebagai berikut : • Tentukan nilai impedansi Sinkron dari karakteristik tanpa beban dan karakteristik hubung singkat. Gambar 13. Metoda Impedansi Sinkron Untuk menentukan pangaturan tegangan dengan menggunakan Metoda Impedansi Sinkron.1.

23 memperlihatkan diagram secara lengkap dengan karakteristik beban nol dan hubung singkat. • Gambar 5. Eo =OC = Tegangan tanpa beban V =OA = Tegangan terminal I. Gambarkan diagram vektornya dengan memperhatikan faktor dayanya : • untuk faktor daya “Lagging” dengan sudut (90 0 + ϕ) • untuk faktor daya “Leading” dengan sudut (90 0 − ϕ) • untuk faktor daya “Unity” dengan sudut (90 0 ) perhatikan gambar 13.Generator Sinkron Gambar 13. OC = OF 2 + FC 2 OC = (OD + DF) 2 + (FB + BC) 2 atau Eo = (V cos ϕ + I. Metoda Amper Lilit Perhitungan dengan Metoda Amper Lilit berdasarkan data yang diperoleh dari percobaan tanpa beban dan hubung singkat. 13. Tentukan nilai arus medan (Vektor AB) dari percobaan hubung singkat yang diperlukan untuk mendapatkan arus beban penuh generator. OA = Arus medan yang diperlukan untuk mendapatkan tegangan nominal.21 memperlihatkan contoh Vektor diagram untuk beban dengan faktor daya lagging. OC = Arus medan yang diperlukan untuk mendapatkan arus beban penuh pada hubung singkat. %Pengaturan = Eo − V x100 V Pengaturan yang diperoleh dengan metoda ini biasanya lebih besar dari nilai sebenarnya.Xs = BC= Tegangan jatuh Reaktansi Sin-kron. Dengan metoda ini reaktansi bocor Xl diabaikan dan reaksi jangkar diperhitungkan. Adapun langkah-langkah menentukan nilai arus medan yang diperlukan untuk memperoleh tegangan terminal generator saat diberi beban penuh.22 a. dan c) Hitung nilai arus medan total yang ditunjukkan oleh vektor OB.2. 12-19 . AB = OC = dengan sudut (90 0 + ϕ) terhadap OA.Xs) 2 .R a )2 + ( V sin ϕ + I. adalah sebagai berikut : • • • Tentukan nilai arus medan (Vektor OA) dari percobaan beban nol yang diperlukan untuk mendapatkan tegangan nominal generator.Ra=AB=Tegangan jatuh Resistansi Jang-kar I.7. b.

22 Vektor Arus Medan 12-20 .Generator Sinkron Gambar 13.

7. atur arus medan sampai tega-ngan nominal dan beban reaktor (arus beban) sampai arus nominal 12-21 . OB = OA 2 + AB2 + 2xOAxABxcos{180 − (900 + ϕ)} 17. Data yang diperlukan adalah : • Karakteristik Tanpa beban. • Karakteristik Beban penuh dengan faktor daya nol. Pada kecepatan Sinkron dengan beban reaktor. maka generator harus diberi beban reaktor murni. Arus jangkar dan faktor daya nol saat dibe-bani harus dijaga konstan. yang membedakannya supaya menghasilkan faktor daya nol. Metoda Potier Metoda ini berdasarkan pada pemisahan kerugian akibat reaktansi bocor Xl dan pengaruh reaksi jangkar Xa. dan Vektor Arus Medan. Hubung Singkat.Generator Sinkron Gambar 13. Khusus untuk karakteristik beban penuh dengan faktor daya nol dapat diperoleh dengan cara melakukan percobaan terhadap generator seperti halnya pada saat percobaan tanpa beban. yaitu menaikkan arus medan secara bertahap. Langkah-langkah untuk menggambar Diagram Potier sebagai berikut : 1. OB = Total arus medan yang dibutuhkan untuk mendapatkan tegangan Eo dari karakteristik beban nol.3.23 Karakteristik Beban Nol.

8. AF menunjukkan besarnya arus medan yang dibutuhkan untuk mengatasi efek magnetisasi akibat raeksi jangkar saat beban penuh.24 Diagram Potier Dari gambar Diagram Potier diatas. bisa dilihat bahwa : • V nilai tegangan terminal saat beban penuh. Panjang JF menunjukkan kerugian tegangan akibat reaktansi bocor. • V ditambah JF (I. Melalui titik D tarik garis sejajar kurva senjang udara sampai memotong kurva beban nol dititik J. Gambar garis JF tegak lurus AD. Gambarkan garis sejajar melalui kurva beban nol. Segitiga ADJ dise-but segitiga Potier. DF untuk penyeimbang reaktansi bocor jangkar (JF) Gambar 13. 3. OB menunjukkan nilai arus medan saat percobaan tersebut.25.Xl) menghasilkan tegangan E.Generator Sinkron 2. Eo − V x100 % Pengaturan Tegangan = V 12-22 . 7. 5. Tarik garis AD yang sama dan sejajar garis OB. Buat titik A yang menunjuk-kan nilai arus medan pada percobaan faktor daya nol pada saat tegangan nominal. Buat titik B. berdasarkan percobaan hubung singkat dengan arus jangkar penuh. Vektor diagram yang terlihat pada diagram Potier bisa digambarkan secara terpisah seperti terlihat pada Gambar 13. 6. 4. maka besarnya arus medan yang dibutuhkan untuk tegangan tanpa beban Eo bisa diketahui. • Bila vektor BH ditambah kan ke OG. • BH = AF = arus medan yang dibutuhkan untuk mengatasi reaksi jangkar.

Kerja Paralel Generator Bila suatu generator mendapat pembebanan lebih dari kapasitasnya bisa mengakibatkan generator tidak bekerja atau rusak. sehingga pemutusan listrik secara total bisa dihindari.1. Nilai efektif arus bolak-balik dari tegangan harus sama.8. Keuntungan lain. Untuk mengatasi beban yang terus meningkat tersebut bisa diatasi dengan menjalankan generator lain yang kemudian dioperasikan secara paralel dengan generator yang telah bekerja sebelumnya. 13. generator tersebut dapat dihentikan serta beban dialihkan pada generator lain. Cara Memparalel Generator Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk memparalel dua buah generator atau lebih ialah : • • • • • Polaritas dari generator harus sama dan bertentangan setiap saat terhadap satu sama lainnya. bila salah satu generator tiba-tiba mengalami gangguan. Urutan phasa dari kedua generator harus sama.25 Vektor Diagram Potier 13.8. Frekuensi kedua generator atau frekuensi generator dengan jala-jala harus sama.Generator Sinkron Gambar 13. Tegangan Generator yang diparalelkan mempunyai bentuk gelombang yang sama. 12-23 .

2. dan Synchroscope.L1 .27a. • L1 dan L2 sama terang • L3 Gelap dan Voltmeter=0 V 12-24 . kemudian lihat urutan nyala lampu. Lampu Cahaya berputar dan Volt-meter b. Voltmeter.27b.L2 .8. pada keadaan ini L1 paling terang.Generator Sinkron Ada beberapa cara untuk memparalelkan generator dengan mengacu pada syarat-syarat diatas. Lampu Cahaya Berputar dan Volt-meter Dengan rangkaian pada gambar 13. Frekuensi Meter. Dalam keadaan saklar S terbuka operasikan generator. dan L3 redup. yaitu : a. pada keadaan ini: • L2 paling terang • L1 terang • L3 terang Perhatikan gambar 13.L3 . pada keadaan ini.26. Urutan lampu akan beru-bah menrut urutan L1 .L2 . Perhatikan Gambar 13.L3.27c. c. pilih lampu dengan tegangan kerja dua kali tegangan phasa netral generator atau gunakan dua lampu yang dihubungkan secara seri.26 Rangkaian Paralel Generator Perhatikan Gambar 13. Cara Otomatis 13. L2 terang. Gambar 13.

Alat synchroscope tidak bisa menunjukkan urutan phasa jala-jala.27 Rangkaian Lampu Berputar 13.8.3. berarti beda phasa generator dan jala-jala telah 0 (Nol) dan seli-sih frekuensi telah 0 (Nol). Voltmeter. Pada saat jarum telah diam dan menunjuk pada kedudukan vertikal. Frekuensi Meter dan Synchroscope Pada pusat-pusat pembangkit tenaga listrik.Generator Sinkron Pada saat kondisi ini maka generator dapat diparalelkan dengan jala-jala (generator lain). sehingga untuk memparalelkan perlu dipakai indikator urutan phasa jala-jala. Ketepatan sudut phasa dapat dilihat dari synchroscope.28. Bila jarum penunjuk ber-putar berlawanan arah jarum jam berarti frekuensi generator lebih rendah dan bila searah jarum jam berarti frekuensi generator lebih tinggi. 12-25 . Gambar 13. Penggunaan alat ini dilengkapi dengan Voltmeter untuk memonitor kesamaan tegangan dan Frekuensi meter untuk kesamaan frekuensi. untuk indikator paralel generator banyak yang menggunakan alat Synchroscope gambar 13. maka pada kondisi ini saklar dimasukkan (ON).

10. sedangkan Mesin dengan kecepatan rendah seperti hydroelectric mempunyai rotor kutub menonjol. 28 Sychroscope 13. tegangan. • Bentuk rotor Mesin Sinkron berkecepatan tinggi seperti turbo generator mempunyai bentuk silinder.44 . • Belitan stator satu lapis karena hanya ada satu sisi lilitan didalam masing-masing alur. b) penguatan brushless. Kp . • Tegangan efektif per phasa bila faktor distribusi dan faktor kisar dimasukkan. berlaku rumus.f . • Generator Sinkron Tiga Phasa memiliki dua jenis eksitasi a) dengan penguatan generator DC “Pilot Exciter. Gambar 13. • Pada masing-masing alur ada dua sisi lilitan dan masing-masing lilitan memiliki lebih dari satu putaran.9. • Pada belitan stator mengandung faktor ditribusi dan faktor kisar belitan yang besarnya lebih kecil dari satu. E = 4. Kd. dan urutan phasa.φ . Apabila semua kondisi telah tercapai alat memberi suatu sinyal bahwa saklar untuk paralel dapat dimasukkan.Generator Sinkron 13. • Stator dari Mesin Sinkron terbuat dari bahan ferromagnetik. Paralel Otomatis Paralel generator secara otomatis biasanya menggunakan alat yang secara otomatis memonitor perbedaan phasa. T Volt 12-26 . frekuensi. Rangkuman • Mesin Sinkron bisa dioperasikan baik sebagai generator maupun motor. belitan stator berupa belitan satu lapis atau belitan lapis anda.

test hubung singkat. dan Synchroscope. • Pengukuran resistansi dan impedansi generator dilakukan tiga jenis test yang bisa dilakukan.11.Generator Sinkron • Frekuensi dari tegangan induksi sebagai sebuah fungsi dari kecepatan rotor. 12-27 . Generator Sinkron memiliki data name plate 3 phasa. 50 Hz. reaktansi bocor jangkar. 400 V. maka besarnya tegangan terminal V akan berubah-ubah. f = P 2 n Hertz. bedakan warna dari masing-masing phasa. test resistansi jangkar. rotor diputar pada kecepatan Sinkron dan belitan medan rotor diberi arus medan (If). 3. Generator Sinkron memiliki 24 alur. 4 kutub. hal ini disebabkan adanya kerugian tegangan pada: resistansi jangkar Ra. • Pengaturan tegangan adalah perubahan tegangan terminal antara keadaan beban nol dengan beban penuh. 60 • Mesin Sinkron difungsikan sebagai generator. 2 HP. Berapa sudut mekanis ditunjukkan dengan 180 derajat listrik. metoda Amper Lilit atau Metoda GGM. Buatlah gambar wiring yang lengkap dan jelas. • Syarat untuk paralel dua generator Sinkron meliputi : a) Polaritas dari generator harus sama b) nilai efektif arus bolak-balik dari tegangan harus sama. Hitungkan putaran Sinkron permenit. b) Voltmeter. Frekuensi Meter. c) tegangan generator sama. 2. yaitu : test tanpa beban. akan di rewinding. reaksi Jangkar. 3 phasa. 4 kutub. • Ada tiga metoda yang digunakan untuk menentukan pengaturan tegangan yaitu : metoda Impedansi Sinkron atau Metoda GGL. • Teknik parallel generator menggunakan : a) Lampu Cahaya berputar dan Volt-meter. e) urutan phasa dari kedua generator harus sama. c) Cara Otomatis 13. • Ada perbedaan karakteristik saat generator tanpa beban dan generator berbeban. Soal-soal 1. metoda Faktor Daya Nol (Potier). • Saat generator berbeban mengalir arus pada jangkar. Sebuah generator Sinkron mempunyai 8 kutub. maka pada kumparan stator akan diinduksikan tegangan. d) frekuensi sama.

Generator Sinkron akan dilakukan paralel dengan jala-jala PLN 3x 380V. 12-28 . 5. Buatlah gambar skematik paralel generator dengan jalajala PLN lengkap dengan peralatan ukur yang diperlukan. Bagaimana cara agar generator tersebut menghasilkan tegangan 220V dan frekuensinya 50Hz. 50 Hz. listrik yang dihasilkan dipakai untuk memberikan listrik untuk sejumlah rumah.Generator Sinkron 4. Jelaskan langkah paralel generator dan parameter yang harus dipenuhi. 220V/50Hz digerakkan dengan mesin diesel. Generator 2KW.

...... 14............4.............. 14.......... 14............ 14......................... Soal-soal ..... Panel Hubung Bagi (PHB) .......... Sejarah Penyediaan Tenaga Listrik ........................2.................10...... 14.......................... Penggunaan Energi .................................BAB 14 SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK Daftar Isi : 14....... 14.. Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik ................... Alat Pengukur dan Pembatas (APP) .............................. Beban Listrik ............. Jaringan Listrik .................6. 14.... Penghantar ................9..7..........................................8............................ Rangkuman ............................. 14-2 14-2 14-3 14-5 14-9 14-18 14-20 14-26 14-27 14-31 14-32 . Peranan Tenaga Listrik .....................................3....... 14........................ 14...................... 14...1................5.....................11...........

Penggunaan Energi Sejak awal kehidupan di dunia ini. Energi Nuklir 5. manusia sudah memerlukan energi alam. Sampai sekarang hasil penelitian menghasilkan beberapa sumber energi. Menurut hukum kekekalan energi bahwa energi itu tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan. bentuk energi lainnya seperti angin dan air dimanfaatkan untuk keperluan pengangkutan dan penggilingan biji-bijian. Sejarah Penyediaan Tenaga Listrik Pada tahun 1885 seorang dari Perancis bernama Lucian Gauland dan John Gibbs dari Inggris menjual hak patent generator arus bolak-balik kepada seorang pengusaha bernama George Westinghouse gambar 14. Awal abad 12. Energi Grafitasi 4. 14-2 . Sejak jaman prasejarah sumber energi alam. untuk mencukupi kebutuhan. tetapi dapat berubah dari energi satu ke energi lainnya. Materi ini mengandung energi dan energi ini dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Energi Sinar 6. Manusia mulai memanfaatkan energi batubara untuk keperluan pemanasan dan memasak pada awal abad ke 14.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14. diantaranya: 1. Sejak abad 18 di Inggris batubara ini digunakan untuk menghasilkan uap dan menggerakkan mesin uap pada pabrik pengerjaan logam dan tekstil. seperti kayu dipakai memanaskan badan.1. memasak dan pertukangan.2. cair dan gas) yang ada di alam semesta ini disebut materi. 14. Berbagai penelitian dan uji coba dilakukan. Selanjutnya dikembangkan generator arus bolak-balik dengan tegangan tetap. Energi Panas 7. Energi Mekanik 2. karena alam maupun kejadian-kejadian teknis. sehingga dapat menemukan bentuk-bentuk energi alam lainnya yang dapat dimanfaatkan dalam kebutuhan dan kegiatan sehari-hari. Energi Medan Magnet 3. Energi Listrik Semua zat-zat (padat.1. pembuatan transformator dan akhirnya diperoleh sistem jaringan arus bolak-balik sebagai transmisi dari pembangkit ke beban/pemakai.

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

a. Generator Gaulard dan Gibbs b. Generator Westinghouse Gambar 14.1 Generator

Sejarah kelistrikan di Indonesia dimulai dengan selesai dibangunnya pusat tenaga listrik di Gambir, Jakarta Mei 1887, kemudian di Medan (1899), Surakarta (1902), Bandung (1906), Surabaya (1912), dan Banjarmasin (1922). Pusat-pusat tenaga listrik ini pada awalnya menggunakan tenaga thermis. Kemudian disusul dengan pembuatan pusat-pusat listrik tenaga air : PLTA Giringan di Madiun (1917), PLTA Tes di Bengkulu (1920), PLTA Plengan di Priangan (1922), PLTA Bengkok dan PLTA Dago di Bandung (1923). Sebelum kemerdekaan pengusahaan tenaga listrik di Indonesia dikelola oleh beberapa perusahaan swasta, diantaranya yang terbesar adalah NIGEM (Nederlands Indische Gas en Electriciteits Maatschappij) yang kemudian menjelma menjadi OGEM (Overzese Gas en Electriciteits Maatschappij), ANIEM (Algemene Nederlands Indhische Electriciteits Maatschappij), dan GEBEO (Gemeen Schappelijk Electriciteits Bedrijk Bandung en Omsheken). Sedangkan Jawatan Tenaga Air membangun dan mengusahakan sebagian besar pusat-pusat listrik tenaga air di Jawa Barat. Sejak tahun 1958 pengelolaan ketenaga listrikan di Indonesia oleh Perusahaan Umum Listrik Negara.

14.3. Peranan Tenaga Listrik
Di pusat pembangkit tenaga listrik, generator digerakan oleh turbin dari bentuk energi lainnya antara lain : dari Air - PLTA; Gas - PLTG; Uap PLTU; ; Diesel - PLTD; Panas Bumi - PLTP; Nuklir - PLTN. Energi listrik dari pusat pembangkitnya disalurkan melalui jaringan transmisi yang jaraknya relatif jauh ke pemakai listrik/konsumen.

14-3

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Gambar 14.2 Penyaluran Energi Listrik dari Sumber ke Beban

Konsumen listrik di Indonesia dengan sumber dari PLN atau Perusahaan swasta lainnya dapat dibedakan sebagai berikut : 1. Konsumen Rumah Tangga Masing-masing rumah dayanya antara 450VA s.d. 4400VA, secara umum menggunakan sistem 1 fasa dengan tegangan rendah 220V / 380V dan jumlahnya sangat banyak. 2. Penerangan Jalan Umum (PJU)
Pada kota-kota besar penerangan jalan umum ini sangat diperlukan oleh karena bebannya berupa lampu dengan masing-masing daya tiap lampu/tiang antara 50VA s.d. 250VA bergantung pada jenis jalan yang diterangi, maka sistem yang digunakan 1 fasa dengan tegangan rendah 220V / 380V. 3. Konsumen Pabrik Jumlahnya tidak sebanyak konsumen rumah tangga, tetapi masingmasing pabrik dayanya dalam orde ratusan kVA. Penggunaannya untuk pabrik yang kecil masih menggunakan sistem 1 fasa tegangan rendah (220V/380V), untuk pabrik-pabrik skala besar menggunakan sistem 3 fasa dan saluran masuknya dengan jaringan tegangan menengah 20kV. 4. Konsumen Komersial Yang dimaksud konsumen komersial antara lain stasiun, terminal, KRL (Kereta Rel Listrik), hotel-hotel berbintang, rumah sakit besar, kampus,
14-4

Sistem Distribusi Tenaga Listrik
stadion olahraga, mall, supermarket, apartemen. Rata-rata menggunakan sistem 3 fasa, untuk yang kapasitasnya kecil dengan tegangan rendah, sedangkan yang berkapasitas besar dengan tegangan menengah 20KV.

Gambar 14.3 Distribusi Tenaga Listrik ke Konsumen

14.4. Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik

Gambar 14.4 Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik

Keterangan :
G GI GH GD TT TM TR APP = Generator / Pembangkit Tenaga Listrik = Gardu Induk = Gardu Hubung = Gardu Distribusi = Jaringan Tegangan Tinggi = Jaringan Tegangan Menengah = Jaringan Tegangan Rendah = Alat Pembatas/Pengukur

Instalasi dari pembangkitan sampai dengan alat pembatas/pengukur (APP) disebut Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik.
14-5

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Dari mulai APP sampai titik akhir beban disebut Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik. Standarisasi daya tersambung yang disediakan oleh pengusaha ketenagalistikan (PT. PLN) berupa daftar penyeragaman pembatasan dan pengukuran dengan daya tersedia untuk tarif S-2, S-3, R-1, R-2, R-4, U-1, U-2, G-1, I-1, I-2, I-3, H-1 dan H-2 pada jaringan distribusi tegangan rendah. Sedangkan daya tersambung pada tegangan menengah, dengan pembatas untuk tarif S-4, SS-4, I-4, U-3, H-3 dan G-2 adalah sebagai tabel 14.1. berikut : Tabel 14.1. Daya Tersambung pada Tegangan Menengah Arus Nominal (Amper) 6,3 10 16 20 25 32 40 50 63 80 100 125 160 200 250 Daya Tersambung (kVA) pada Tegangan 6 kV *) 210 260 335 415 520 655 830 1.040 1.300 1.660 2.080 2.600 12 kV *) 210 335 415 520 665 830 1.040 1.310 1.660 2.880 2.600 3.325 4.155 5.195 15 kV *) 260 415 520 650 830 1.040 1.300 1.635 2.080 2.600 3.250 4.155 5.195 6.495 20 kV 210**) 235***) 240 345 555 690 865 1.110 1.385 1.730 2.180 2.770 3.465 4.330 5.540 6.930 8.660

Keterangan : *) Secara bertahap disesuaikan menjadi 20 kV **) Pengukuran tegangan menengah tetapi dengan pembatasan pada sisi tegangan rendah dengan pembatas arus 3 x 355 Amper tegangan 220/380 Volt. ***) Pengukuran tegangan menengah tetapi dengan pembatasan pada sisi tegangan rendah dengan pembatas arus 3 x 630 Amper tegangan 127/220 Volt.
14-6

5 160 165 175 180 192.5 54 55 60 66 Daya Tersambung (kVA) 210 245 275 310 345 380 415 485 520 555 605 625 690 725 760 780 830 865 935 950 970 1040 1110 1140 1210 1245 1385 1455 1525 1560 1660 1730 1815 1870 1905 2075 2285 Arus Primer (A) 67.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Pengguna listrik yang dilayani oleh PT.5 120 122.5 90 100 105 110 112.5 18 20 21 22 22.2.2. berikut ini : Tabel 14.5 125 135 140 150 157.5 87.5 200 210 220 225 240 250 270 275 280 300 315 330 350 385 Daya Tersambung (kVA) 2335 2425 2595 2770 2855 3030 3115 3465 3635 3805 3895 4150 4240 4330 4670 4845 5190 5450 5540 5710 6055 6230 6660 6930 7265 7615 7785 8305 8660 9345 9515 9690 10380 10900 11420 12110 13320 14-7 .5 24 25 27 27. Daya Tersambung Fungsi Arus Primer.5 28 30 32 33 35 36 40 42 44 45 48 50 52.5 70 75 80 82. PLN dapat dibedakan menjadi beberapa golongan yang ditunjukkan tabel 14. Arus Primer (A) 6 7 8 9 10 11 12 14 15 16 17.

385 1.465 4. standarisasi dayanya seperti tabel 14. berikut : Tabel 14.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Daya yang disarankan untuk pelanggan TM 20 kV (Pengukuran pada sisi TM dengan relai sekunder) Pelanggan TM 20KV yang dibatasi dengan pelabur TM. Daya Tersambung Tiga Phasa Arus Nominal TR (Amper) 3 x 355 3 x 425 3 x 500 3 x 630 3 x 800 3 x 1000 Daya Tersambung (kVA) 233 279 329 414 526 630 Pengguna listrik yang dilayani oleh PT.770 3.4. berikut ini : 14-8 .330 5.110 1.3 10 16 20 25 32 40 50 63 80 100 125 160 200 250 Daya Tersambung (kVA) 240 345 555 690 865 1.730 2.3.540 6.5.930 8. standarisasi dayanya seperti tabel 14.180 2. PLN dapat dibedakan menjadi beberapa golongan yang ditunjukkan pada tabel 3.4. berikut : Tabel 14. Daya Tersambung Fungsi Pelabur Arus Nominal TM (Amper) 6.660 Pelanggan TM yang dibatasi dengan pelabur TR.3.

Golongan Pelanggan PLN No 1. 18. 20. Penurunan tegangan dari jaringan tegangan tinggi /ekstra tinggi sebelum ke konsumen dilakukan dua kali. 19. 5. Golongan Tarif S–1 S–2 S–3 S–4 SS – 4 R–1 R–2 R–3 R–4 U–1 U–2 U–3 U–4 H–1 H–2 H–3 I–1 I–2 I–3 I–4 I–5 G–1 G–2 J Penjelasan Pemakai sangat kecil Badan sosial kecil Badan sosial sedang Badan sosial besar Badan sosial besar dikelola swasta untuk komersial Rumah tangga kecil Rumah tangga sedang Rumah tangga menengah Rumah tangga besar Usaha Kecil Usaha Sedang Usaha Besar Sambungan Sementara Perhotelan Kecil Perhotelan Sedang Perhotelan Besar Industri Rumah Tangga Industri Kecil Industri Sedang Industri Menengah Industri Besar Gedung Pemerintahan kecil/sedang Gedung Pemerintahan Besar Penerangan Umum Sistem Teganga n TR TR TR TM TM TR TR TR TR TR TR TM TR TR TR TM TR TR TR TM TT TR TM TR Batas Daya s/d 200 VA 250 VA s/d 2200VA 2201 VA s/d 200 kVA 201 Kva KEATAS 201 Kva KEATAS 250 VA s/d 500 VA 501 VA s/d 2200 VA 2201 VA s/d 6600 VA 6601 VA KEATAS 250 VA s/d 2200 VA 2201 VA s/d 200 kVA 201 kVA keatas 250 VA s/d 99 kVA 100 kVA s/d 200 kVA 201 kVA keatas 450 VA s/d 2200 VA 2201 VA s/d 13. Maka tegangan ini dinaikan dengan transformator daya ke tegangan yang lebih tinggi antara 150kV-500kV. 10.9 kVA 14 kVA s/d 200 kVA 201 Kva KEATAS 30. Energi listrik yang dihasilkan pusat pembangkitan disalurkan melalui jaringan transmisi. 24.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Tabel 14. 2. 14. Tegangan generator pembangkit relatif rendah (6kV-24kV). Yang pertama dilakukan di gardu induk 14-9 . 6.000 kVA keatas 250 VA s/d 200 kVA 201 Kva KEATAS 14.5. 4. 9. 23. 11. 7. 8. 21.5. 22. juga untuk memperkecil rugi daya dan susut tegangan pada saluran transmisi. 14. Jaringan Listrik Pusat tenaga listrik umumnya terletak jauh dari pusat bebannya. 16. 3. 15. selain memperbesar daya hantar dari saluran (berbanding lurus dengan kwadrat tegangan). Tujuan peningkatan tegangan ini. 12. 17.

petir angin dan sebagainya. sedangkan dari transformator terakhir sampai konsumen disebut saluran distribusi atau saluran primer. Gambar 14. Yang kedua dilakukan pada gardu distribusi dari 150 kV ke 20 kV. Dari segi estetik.Sistem Distribusi Tenaga Listrik (GI). sering disebut juga sebagai saluran transmisi. Saluran listrik dari sumber pembangkit tenaga listrik sampai transformator terakhir. saluran bawah tanah lebih disukai dan juga tidak mudah terganggu oleh cuaca buruk: hujan. menurunkan tegangan dari 500kV ke 150kV atau dari 150kV ke 70kV. tidak cocok untuk daerah banjir karena bila terjadi gangguan / kerusakan. perbaikannya lebih sulit. atau dari 70kV ke 20 kV.5 Saluran penghantar udara untuk rumah tinggal (mengganggu keindahan pandangan) 14-10 . Ada dua macam saluran transmisi/distribusi PLN yaitu saluran udara (overhed lines) dan saluran kabel bawah tanah (undergound cable). Namun saluran bawah tanah jauh lebih mahal dibanding saluran udara. Kedua cara penyaluran tersebut mesing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian.

6 Saluran kabel bawah tanah pada suatu perumahan elit Secara rinci keuntungan pemasangan saluran udara antara lain : + Biaya investasi untuk membangun suatu saluran udara jauh lebih murah dibandingkan untuk saluran dibawah tanah. kota-kota besar yang banyak penduduknya 14-11 . + Saluran bawah tanah tidak menggangu keindahan pandangan. Sedangkan untuk saluran bawah tanah akan cocok digunakan pada : • saluran transmisi tegangan rendah. akan lebih mudah dengan membuat lubang untuk tiang-tiang listrik. salju. Sedangkan keuntungan pemasangan saluran bawah tanah antara lain : + Biaya pemeliharaan saluran kabel bawah tanah relatif murah. saluran masuk ke dalam suatu gedung / bangunan sebagai pengguna energi listrik. petir. Pada akhir / ujung dari saluran transmisi. misalnya di pegunungan atau daerah jarang penduduknya. gangguan layang-layang. pencurian kabel lebih sulit. tidak semerawut seperti saluran udara. sabotase. + Untuk daerah-daerah yang tanah nya banyak mengandung batubatuan. bahwa saluran udara lebih cocok di gunakan pada : • saluran transmisi tegangan tinggi. + Bila terjadi gangguan lebih mudah mencarinya dan lebih mudah memperbaikinya jika dibandingkan untuk saluran bawah tanah.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Gambar 14. angin. Dari pertimbangan diatas. • daerah luar kota. + Sambungan bawah tanah relatif tidak terganggu oleh pengaruhpengaruh cuaca : hujan.

diagram garis tunggal dan gambar rinci. perlu digambarkan rencana pemasangan tiang-tiang listrik. Bila belum ada jaringan listriknya. gambar instalasi.7 Situasi Yang menunjukan gambar posisi gedung / bangunan yang akan dipasang instalasi listriknya terhadap saluran / jaringan listrik terdekat.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Komponen/peralatan utama perlistrikan pada gedung/bangunan tersebut terdiri dari: 1.5. Data yang perlu ditulis pada gambar situasi ini adalah alamat lengkap. 4.Kabel (berisolasi) 4.Cabang / SDP : Sub Distribution Panel . jarak terhadap sumber listrik terdekat (tiang listrik / bangunan yang sudah berlistrik) untuk daerah yang sudah ada jaringan listriknya. 14-12 .Tenaga : Motor-motor Listrik Dalam perencanaan instalasi listrik pada suatu gedung / bangunan.Beban / SSDP : Sub-sub Distribution Panel 3. PHB : Papan Hubung Bagi .Utama / MDP : Main Distribution Panel .1.Penerangan : Lampu-lampu Listrik . berkas rancangan instalasi listrik terdiri dari : gambar situasi.Kawat Penghantar (tidak berisolasi) . APP : Alat Pengukur dan Pembatas (milik PLN) 2. Gambar Situasi Keterangan : A : Lokasi bangunan B : Jarak bangunan ke tiang C : kode tiang / transformator U : menunjukkan arah utara Gambar 14. Beban . Penghantar : .

Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14. 14-13 . .Untuk konsumen domestik / bangunan kecil. yang biasanya berjarak rendah. dan posisinya ada didalam bangunan. Gambar Instalasi Yang menunjukan gambar denah bangunan (pandangan atas) dengan rencana tata letak perlengkapan listrik dan rencana hubungan perlengkapan listriknya.2. Dari APP ke PHB utama melalui kabel toefoer. Saluran masuk langsung ke APP yang biasanya terletak didepan / bagian yang mudah dilihat dari luar. Biasanya dengan sistem satu fasa.Untuk konsumen industri karena areanya luas. sehingga jarak ke beban jauh dari PHB utama dibagi menjadi beberapa group cabang / Sub Distribution Panel baru disalurkan ke beban. dari PHB dibagi menjadi beberapa group dan langsung ke beban.5. Pada PHB ini energi listrik didistribusikan ke beban menjadi beberap group / kelompok : .

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Gambar 14.8 Denah rumah tipe T-125 lantai dasar

14-14

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Gambar 14.9 Instalasi rumah tipe T-125 lantai dasar

14-15

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

14.5.3. Diagram Garis Tunggal
Diagram garis tunggal dari APP (alat pegukur dan pembatas) ke PHB (panel hubung bagi) utama yang di distribusikan ke beberapa group langsung ke beban (untuk bangunan berkapasitas kecil) dan melalui panel cabang (SDP) maupun sub panel cabang (SSDP) baru ke beban gambar 14.10. Pada diagram garis tunggal ini selain pembagian group pada PHB utama / cabang / sub cabang juga menginformasikan jenis beban, ukuran dan jenis penghantar, ukuran dan jenis pengaman arusnya, dan sistem pembumian / pertanahannya gambar 14.11.

Gambar 14.10 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan Tegangan Rendah 380/220V.

14-16

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Gambar 14.11 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan sistem Tegangan Menengah 20KV dan Tegangan Rendah 380/220V.

14.5.4. Gambar Rinci
Gambar rinci dalam bangunan diperlukan untuk memberikan penjelasan yang rinci dari perancang ke pada pelaksana proyek atau dalam hal ini kontraktor. Dalam gambar rinci dapat diberikan ukuran (panjang x lebar x tinggi) suatu barang, misalkan panel hubung bagi. Bahkan cara pemasangan kabel, atau pemasngan detail instalasi penangkal petir dapat ditambahkan. Gambar rinci sekurang-kurangnya meliputi : - Ukuran fisik PHB - Cara pemasangan perlengkapan listrik - Cara pemasangan kabel / penghantar - Cara kerja rangkaian kendali - dan lain-lain informasi / data yang diperlukan sebagai pelengkap.

14-17

450 VA sampai dengan 4.13 APP Sistem tiga fasa 14-18 . Terdiri dari alat ukur kwh meter dan pembatas arus : . Alat Pengukur dan Pembatas (APP) APP merupakan bagian dari pekerjaan dan tanggung jawab pengusaha ketenagalistrikan (PLN).9 kVA sampai dengan 630 kVA untuk sistem tiga fasa Gambar 14.4.12 APP Sistem satu fasa Gambar 14.400 VA untuk sistem satu fasa .Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14.6.

300 1 x 10 2.500 1 x 20 4.600 3 x 16 10.500 3 x 35 23.6.000 3 x 50 33. Standar Daya PLN Langganan tegangan rendah sistem 220V/380V 220 Volt satu fasa 380 Volt tiga fasa Daya Tersambung Pembatas Arus Pengukuran (VA) (A) 1x2 Alat ukur kwh meter satu 450 220V dua kawat 1x4 900 1x6 1.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Tabel 14.000 *) 3 x 800 526.000 630.000 3 x 300 197.000 *) 3 x 630 414.000 *) 3 x 1.000 *) 3 x 500 329.500 380V empat kawat 3 x 80 53.000 *) fasa fasa fasa trafo Keterangan : *) : Tarif tegangan rendah diatas 200kVA hanya disediakan untuk tarif R-4 14-19 .000 3 x 225 147.000 380V empat kawat dengan 3 x 160 105.000 3 x 250 164.000 Alat ukur kwh meter tiga 3 x 63 41.000 3 x 100 66.200 1 x 16 3.600 3 x 20 14.000 3 x 353 233.200 3 x 25 16.400 3x6 3.000 Alat ukur kwh meter tiga 3 x 125 82.000 arus tegangan rendah 3 x 200 131.000 *) 3 x 425 279.900 3 x 10 6.

Panel Beban / SSDP : Sub-sub Distribution Panel Untuk PHB sistem tegangan rendah. Trafo arus • Alat-alat listrik : Ampermeter. 14-20 .Panel Utama / MDP : Main Distribution Panel . Panel Hubung Bagi (PHB) Panel Hubung Bagi (PHB) adalah panel berbentuk alamari (cubicle).Panel Cabang / SDP : Sub Distribution Panel . Di dalam panel biasanya busbar / rel dibagi menjadi dua segmen yang saling berhubungan dengan saklar pemisah. Dari kedua busbar didistribusikan ke beban secara langsung atau melalui SDP dan atau SSDP. terdiri dari tiga cubicle yaitu satu cubicle incoming dan cubicle outgoing. Cos φ meter • Lampu indikator • dll Contoh gambar diagram satu garisnya bisa dilihat pada gambar 14. maka suplai ke beban tidak akan terganggu dengan adanya sumber listrik sendiri (genset) sebagai cadangan. Untuk PHB sistem tegangan menengah. Frekuensi meter.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14. Voltmeter. Peralatan dari : • • • • • • • • • • pengaman arus listrik untuk penghubung dan pemutus terdiri CB (Circuit Breaker) MCB (Miniatur Circuit Breaker) MCCB (Mold Case Circuit Breaker) NFB (No Fuse Circuit Breaker) ACB (Air Circuit Breaker) OCB (Oil Circuit Breaker) VCB (Vacuum Circuit Breaker) SF6CB (Sulfur Circuit Breaker) Sekering dan pemisah Switch dan DS (Disconnecting Switch) Peralatan tambahan dalam PHB antara lain : • Rele proteksi • Trafo tegangan. Tujuan busbar dibagi menjadi dua segmen ini adalah jika sumber listrik dari PLN mati akibat gangguan ataupun karena pemeliharaan. hantaran utamanya merupakan kabel feeder dan biasanya menggunakan NYFGBY.7. yang satu mendapat saluran masuk dari APP (pengusaha ketenagalistrikan) dan satunya lagi dari sumber listrik sendiri (genset).10. yang dapat dibedakan sebagai : .

1. Saluran daya tegangan menengah ditransfer melalui trafo distribusi ke LVMDP (Low Voltage Main Distribution Panel).Sistem Distribusi Tenaga Listrik Hantaran masuk merupakan kabel tegangan menengah dan biasanya dengan kabel XLPE atau NZXSBY. Dapat memutuskan rangkaian tiga phasa walaupun terjadi hubung singkat pada salah satu phasanya. Pengaman arus listriknya terdiri dari sekering dan LBS (Load Break Switch). Contoh gambar diagram satu garisnya bisa dilihat pada gambar 14. MCB (Miniatur Circuit Breaker) MCB adalah pengaman rangkaian yang dilengkapi dengan pengaman thermis (bimetal) untuk pengaman beban lebih dan juga dilengkapi relai elektromagnetik untuk pengaman hubung singkat.14 Contoh Panel Cubicle di ruang Praktek POLBAN 14. Gambar 14.7. yaitu : 1. Keuntungan menggunakan MCB. MCB banyak digunakan untuk pengaman sirkit satu phasa dan tiga phasa. Berikut ini adalah salah satu contoh cubicle yang ada di ruang praktek di POLBAN. Peralatan dan rangkaian dari busbar sampai ke beban seperti pada PHB sistem tegangan rendah.11. 14-21 .

15 MCB (Miniatur Circuit Breaker) 14. Mempunyai tanggapan yang baik apabila terjadi hubung singkat atau beban lebih. ini bergantung pada besarnya arus yang harus diamankan.2.7. Pada 14-22 . sedangkan pengaman elektromagnetik menggunakan sebuah kumparan yang dapat menarik sebuah angker dari besi lunak.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 2. Dapat digunakan kembali setelah rangkaian diperbaiki akibat hubung singkat atau beban lebih. sehingga apabila terjadi gangguan pada salah satu kutub maka kutub yang lainnya juga akan ikut terputus. Jika dilihat dari segi pengaman. pengaman termis berfungsi untuk mengamankan arus beban lebih sedangkan pengaman elektromagnetis berfungsi untuk mengamankan jika terjadi hubung singkat. sedangkan untuk pengaman tiga phasa biasanya memiliki tiga kutub dengan tuas yang disatukan. Pengaman thermis pada MCB memiliki prinsip yang sama dengan thermal overload yaitu menggunakan dua buah logam yang digabungkan (bimetal). MCCB (Molded Case Circuit Breaker) MCCB merupakan alat pengaman yang dalam proses operasinya mempunyai dua fungsi yaitu sebagai pengaman dan sebagai alat untuk penghubung. pengamanan secara thermis memiliki kelambatan. MCB dibuat hanya memiliki satu kutub untuk pengaman satu phasa. maka MCCB dapat berfungsi sebagai pengaman gangguan arus hubung singkat dan arus beban lebih. Pada MCB terdapat dua jenis pengaman yaitu secara thermis dan elektromagnetis. 3. (a) MCB 1 fasa (b) MCB 3 fasa Gambar 14.

Mounting for ST or UVT connection block 4. ACB (Air Circuit Breaker) ACB (Air Circuit Breaker) merupakan jenis circuit breaker dengan sarana pemadam busur api berupa udara. Moving contacts 6. Arc chute 3. Magnetic trip unit 8. ACB dapat digunakan pada tegangan rendah dan tegangan menengah. Clear and IEC-complaint maekings 7.Sistem Distribusi Tenaga Listrik jenis tertentu pengaman ini. BMC material for base and cover 2.7. Udara pada tekanan ruang atmosfer digunakan sebagai peredam busur api yang timbul akibat proses switching maupun gangguan. mempunyai kemampuan pemutusan yang dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan. Gambar 14. Compact size 14. Trip-free mechanism 5. 14-23 .16 Molded Case Circuit Breaker Keterangan : 1.3.

Bila terjadi busur api dalam minyak.17 ACB (Air Circuit Breaker) Air Circuit Breaker dapat digunakan pada tegangan rendah dan tegangan menengah.7. OCB (Oil Circuit Breaker) Oil Circuit Breaker adalah jenis CB yang menggunakan minyak sebagai sarana pemadam busur api yang timbul saat terjadi gangguan. 14-24 .Sistem Distribusi Tenaga Listrik Gambar 14.5kA-72kA 14. Gas yang terbentuk tersebut mempunyai sifat thermal conductivity yang baik dengan tegangan ionisasi tinggi sehingga baik sekali digunakan sebagi bahan media pemadam loncatan bunga api.2kV dan 24kV Ie = 800A-7000A Icn = 12.4. Rating standar Air Circuit Breaker (ACB) yang dapat dijumpai dipasaran adalah sbb: • LV-ACB: Ue = 250V dan 660V Ie = 800A-6300A Icn = 45kA-170kA • LV-ACB: Ue = 7. maka minyak yang dekat busur api akan berubah menjadi uap minyak dan busur api akan dikelilingi oleh gelembunggelembung uap minyak dan gas.

18 OCB (Oil Circuit Breaker) 14. Gambar 14. VCB (Vacuum Circuit Breaker) Pada dasarnya kerja dari CB ini sama dengan jenis lainnya hanya ruang kontak dimana terjadi busur api merupakan ruang hampa udara yang tinggi sehingga peralatan dari CB jenis ini dilengkapi dengan seal penyekat udara untuk mencegah kebocoran.5.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Gambar 14.7.19 VCB (Vakum Circuit Breaker) 14-25 .

ada yang dipasang di udara atau di dalam tanah. SF6 CB (Sulfur Hexafluoride Circuit Breaker) SF6 CB adalah pemutus rangkaian yan menggunakan gas SF6 sebagai sarana pemadam busur api. penyaluran arus listriknya dari panel ke beban digunakan penghantar listrik yang sesuai dengan penggunaanya. ada yang kaku atau berserabut. Kabel Penghantar yang terbungkus isolasi. 14-26 . Prinsip pemadaman busur apinya adalah Gas SF6 ditiupkan sepanjang busur api. Gas SF6 merupakan gas berat yang mempunyai sifat dielektrik dan sifat memadamkan busur api yang baik sekali. BCC.8.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14. ACSR. Ada dua macam penghantar listrik yaitu : . dan masing-masing digunakan sesuai dengan kondisi pemasangannya. ada yang berinti tunggal atau banyak. Gambar 14.6.Kawat Penghantar tanpa isolasi (telanjang) yang dibuat dari Cu. Rating tegangan CB adalah antara 3.20 SF6 CB (Sulfur Hexafluoride Circuit Breaker) 14.6 KV – 760 KV. AL sebagai contoh BC. Penghantar Untuk instalasi listrik.7. A2C. gas ini akan mengambil panas dari busur api tersebut dan akhirnya padam. A3C.

TV. peralatan laboratorium). NYFGBY Berikut ini adalah gambar diagram satu garis untuk konsumen tegangan rendah dan konsumen tegangan tinggi. dll).21 Diagram Transmisi dan Distribusi 14. pemanas listrik yang bersifat resistip . alat pendingin/AC/Freezer/kulkas. NYM. NYY. Kapasitor (C) yang bersifat kapasitip Beban listrik yang dimaksud adalah piranti / peralatan yang menggunakan / mengkonsumsi energi listrik. Sebagai contoh : NYA. komputer. Induktor (L) yang bersifat induktip c. merkuri. NYMHY. 14-27 . Secara garis besar beban listrik adalah : .Untuk peralatan yang menggunakan motor-motor listrik (pompa air. NYYHY. penerangan dengan lampu tabung yang menggunakan balast/trafo bersifat induktif (lampu TL. Resistor (R) yang bersifat resistip b. Gambar 14. sodium.Untuk penerangan dengan lampu-lampu pijar.9. beban listrik terdiri dari : a. Beban Listrik Menurut sifatnya.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Hal ini bisa dilihat dari masing-masing karakter jenis kabelnya pada nomen klatur kabel.

frekuensi 50 HZ. Contoh : Suatu bangunan disuplai listrik 3 phasa. penampang penghantarnya dan pengamannya (CB atau MCB) serta sakelar kendalinya. cos φ = 0. karena dibutuhkan oleh semua gedung dan juga waktu penggunaannya yang panjang. 220 V. cosφ = 0. Bagaimana instalasinya? Jawaban: Dengan cara sederhana bisa kita naikan sebagai berikut : • Dengan jumlah lampu 900 TL. maka saat awal (start) menarik arus listrik yang besar (3 sampai 5 kali nilai arus nominal).8.1. Stop kontak 3. setiap phasa dibebani : 900/3 = 300 TL. 220 V. Begitu motor diaktifkan (digerakkan). misalnya pada motor listrik.8. 4 kawat dengan tegangannya 220V/380V. balast 10w memerlukan arus = 14-28 .Sistem Distribusi Tenaga Listrik Jika beban resistip diaktifkan (dinyalakan). Motor-motor listrik 14. Jumlah lampu yang digunakan akan mempengaruhi pembagian group dari panel penerangan. balast 10 W. Penerangan (Lighting) Penerangan gedung merupakan penggunaan yang dominan. Penerangan (lighting) 2. • Tiap lampu TL40W. kemudian turun kembali ke arus nominal. Lain halnya dengan beban induktip.22 Rangkaian macam-macam Beban Sistem 3 phasa. Gambar 14.9. maka arus listrik pada beban ini segera mengalir dengan cepatnya sampai pada nilai tertentu (sebesar nilai arus nominal beban) dan dengan nilai yang tetap hingga tidak diaktifkan (dimatikan). Beban yang ada 900 lampu TL 40 W. 4 kawat Jenis beban listrik dalam gedung/bangunan dapat dikelompokan menjadi : 1.

28A = 84 A Bila lampu menyala sekaligus : IR = 84 A .8.28 A 0. Dalam PUIL 2000.36 A maka pengaman utama (MCB atau Sekering) yang digunakan sebesar 100A.72 A =87. Gambar 14.72 A dengan demikian pengaman yang digunakan (MCB atau Sekering) tiap group dapat digunakan 10A.28 =6.9.2.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 40 + 10 = 0. 14-29 . maka tiap phasa terdapat 300 TL/2 = 150 armatur (titik lampu) dan tiap phasa mempunyai 150 armatur = 12. Stop Kontak Stop Kontak adalah istilah populer yang biasa digunakan sehari-hari. IT = 84 A Lampu dibagi dalam group (tiap group maksimum 12-14 titik lampu). dan dihubungkan langsung ke panel sebagai group tersendiri. 0.5 ~13 group. bila tiap titik terdiri dari 2 TL.23 Macam-macam Stop Kontak Dengan demikian.220 • • Maka untuk 300 lampu = 300. KKK adalah kotak kontak yang dipasang khusus untuk digunakan secara tetap bagi suatu jenis piranti listrik tertentu yang diketahui daya maupun tegangannya. Arus listrik tiap phasa panel utama = 13 x 6. IS = 84 A. asalkan penggunaannya tidak melebihi batas kemampuannya. stop kontak ini dinamakan KKB (Kotak Kontak Biasa) dan KKK (Kotak Kontak Khusus) KKB adalah kotak kontak yang dipasang untuk digunakan sewaktu-waktu (tidak secara tetap) bagi piranti listrik jenis apapun yang memerlukannya. Satu group adalah 12 armatur x 2 TL = 24 TL jadi arus listrik tiap group = 24 x 0. • • 14. KKK mempunyai tempat/lokasi tertentu dengan beban tetap.

14. Motor arus bolak-balik tiga phasa Berikut ini adalah gambar beberapa berbagai piranti yang menggunakan motor. Motor arus bolak-balik satu phasa c. dan biasanya jadi satu dengan group untuk penerangan.24 Piranti-piranti menggunakan motor 14-30 . motor listrik digunakan untuk menggerakan pompa. Motor arus searah b. dan motor kelas medium sampai besar (diatas 5 HP).3. dan juga sebagai pengerak mesin-mesin industri.9. Eskalator Air Conditioning Gambar 14.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Sedangkan KKB tersebar diseluruh bangunan dengan beban tidak tetap. kompresor yang merupakan bagian penting dari sistem pendingin udara. integral (diatas 1 HP). Motor-motor Listrik Motor-motor listrik merupakan beban kedua terbanyak sesudah penerangan. Motor-motor juga dapat dikelompokan berdasarkan jenis arus yang digunakan. kipas angin. elevator. yaitu: a. Motor dikategorikan sebagai motor fraksional (kurang dari 1 HP). escalator dan sebagainya.

G-1. U-3. I-3. • Standar PLN untuk tarif jaringan tegangan rendah 380/220V. • Secara garis besar energi listrik dibagi dua kelompok. H-3 dan G-2. adalah tarif S-4. diagram garis tunggal dan gambar rinci. SS-4. Energi Medan Magnet. gambar instalasi.GEBEO. masuk ke jaringan 70 KV dan system distribusi tegangan menengah 20KV. • Pelanggan listrik PLN di kelompokkan menurut empat jenis. I-2. Energi Sinar. angin) sejak awal peradaban dimulai.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14. • Komponen penyaluran energi listrik ke konsumen terdiri atas APP (alat pengukur dan pembatas). tetapi dapat berubah dari energi satu ke energi lainnya. rancangan instalasi listrik terdiri dari : gambar situasi. Energi Panas. penghantar. diantaranya: Energi Mekanik. yaitu konsumen Rumah Tangga. U-1. • Sampai sekarang hasil penelitian menghasilkan beberapa sumber energi. Energi Listrik. Rangkuman • Manusia memakai energi alam (kayu. I-1. adalah tarif S-2. dan beban • Dalam perencanaan instalasi listrik pada suatu gedung/bangunan. H-1 dan H-2. seperti: NIGEM. • Pengusahaan listrik di Indonesia sebelum kemerdekaan oleh beberapa perusahaan swasta Hindia Belanda. I-4. Penerangan Jalan Umum (PJU). R-1. Konsumen Komersial. Energi Nuklir. • Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi itu tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan. • Sejak 1958 kelistrikan di Indonesia dikelola oleh Perum Listrik Negara. • Tahun 1885 di Perancis dipakai energi listrik secara komersial terbatas. kemudia dibangun beberapa PLTA sejak 1917. 14-31 . ANIEM . di Indonesia energi listrik diusahakan sejak 1887 di Jakarta. air. terakhir ke konsumen tegangan rendah 380/220V. yaitu penyedia daya (pembangkitan dan transmisi) dan pemanfaat (konsumen). • Penyaluran listrik tegangan rendah dengan penghantar udara atau dengan kabel tanah. • Standar PLN jaringan distribusi tegangan menengah 20KV. R-2. OGEM. sejak abad 18 batubara digunakan untuk menghasilkan uap dikenal sebagai era industri di Inggris. Energi Grafitasi. S-3. PHB (papan hubung bagi). • Dari pusat pembangkit (6KV) listrik di transmisikan (150-500KV) ke kota-kota besar. konsumen Pabrik.10. R-4. U-2.

Lampu indikator • Ada dua macam penghantar listrik yaitu : Kawat (telanjang) dan Kabel. air. mencakup KWhmeter dan pembatas arus (MCB). Sebutkan pemakain listrik arus DC untuk proses industri. jelaskan skematik pembangkitan listrik Mikrohidro skala 100 KW dipedesaan. 14-32 . PLTA dibangun di daerah pegunungan yang jauh dari perkotaan. • Peralatan pengaman arus listrik untuk penghubung dan pemutus terdiri dari :CB (Circuit Breaker). Alat-alat listrik : Ampermeter. yaitu: Motor DC. dilengkapi alat pengaman. SF6CB (Sulfur Circuit Breaker). Trafo tegangan. angin) dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi oleh manusia pada saat energi listrik belum ditemukan. Sebutkan pemakaian listrik AC 1 phasa dan AC 3 phasa di Industri. Jelaskan bagaimana batubara dapat diubah menjadi energi uap yang selanjutnya menggerakkan mesin uap (James Watt). • Motor-motor dikelompokan berdasarkan jenis arus yang digunakan.11. MCB (Miniatur Circuit Breaker). 4. Voltmeter. 6. beban listrik terdiri dari : Resistor (R) yang bersifat resistip. VCB (Vacuum Circuit Breaker). gambarkan secara skematik penyaluran daya listrik dari pembangkitan sampai ke konsumen industri Dan konsumen rumah tangga. Motor AC tiga phasa. NFB (No Fuse Circuit Breaker). ACB (Air Circuit Breaker). dapatkan listrik DC berasal dari lsitrik AC ? jelaskan 5. sampai pemanfaatannya untuk rumah tangga dan industri kecil UKM. Cos φ meter. OCB (Oil Circuit Breaker). • Peralatan tambahan dalam PHB antara lain : Rele proteksi . Soal-soal 1. Induktor (L) yang bersifat induktip dan Kapasitor. Jelaskan secara singkat bahwa energi alam (kayu.Sistem Distribusi Tenaga Listrik • APP dimiliki dan tanggungjawab PLN. Motor AC satu phasa. 14. pengadaan energi listrik alternatip adalah salah satu jawaban atas krisis energi. 7. MCCB (Mold Case Circuit Breaker). jelaskan secara singkat cara kerja KRL. 3. • PHB tempat pembagian ke cabang beban. Trafo arus. Switch dan Disconnecting Switch (DS). Sekering dan pemisah. Energi listrik dengan tegangan 1500 Volt DC dapat menggerakkan Kereta Rel Listrik. 2. Frekuensi meter. Energi minyak makin Mahal ($130/barel). • Menurut sifatnya.

Beban listrik 1.8. berapa harga energi yang harus dibayar pada soal No 3 diatas. frekuensi 50 HZ. Bagaimana instalasinya? 14-33 . Beban yang ada 400 lampu TL 40 W. cos φ = 0. Hitung berapa energi listrik yang dikonsumsi. Suatu bangunan disuplai listrik 3 phasa. 10.000 watt bekerja selama 5 jam. 9. 4 kawat dengan tegangannya 220V/380V. 220 V.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 8. Jika harga energi adalah Rp 700/kWh. balast 10 W.

12. 15. 15. 15. 15. 15.8.10. 15. 15.13.BAB 15 PEMBANGKIT LISTRIK MIKROHYDRO Daftar Isi : 15.5. 15. 15. 15. 15.3.2.1.7.4. Pembangkit Mikrohidro Sistem Mikrohidro Langkah Pertama Keselamatan Peringatan Tentang Pengoperasian Mikrohidro Memilih Lokasi Mikrohidro Desain Bendungan Komponen Generator Mikrohidro Instalasi Mikrohidro Pengoperasian Perawatan Dan Perbaikan Spesifikasi Teknik Rangkuman Soal-soal .11.6.9. 15.

Turbin dan Generator Mikrohidro Generator yang digunakan untuk Mikrohidro dirancang mudah untuk dioperasikan dan dipelihara. arti keseluruhan adalah pembangkitan listrik daya kecil yang digerakkan oleh tenaga air. Pembangkit Mikrohidro Pembangkitan Listrik Mikrohidro.1. didesain menunjang keselamatan.2. Sistem Mikrohidro Sistem Mikrohidro gambar 15. Mikrohidro berasal dari kata micro yang berarti kecil dan hydro artinya air. melalui sebuah pipa yang ujungnya dipasangkan filter untuk menyaring air sehingga kotoran tidak masuk ke pipa dan Turbin.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15. instruksinya menunjukan hal yang wajib diperhatikan dan harus diikuti seperti ditunjukan berikut ini: 15. 15-2 .1.2 terdiri dari penampungan air dalam bentuk bendungan kecil (A). Tenaga air besaral dari aliran sungai kecil atau danau yang dibendung dan kemudian dari ketinggian tertentu dan memiliki debit yang sesuai akan menggerakkan Turbin yang dihubungkan dengan Generator listrik. Gambar 15. tapi peralatan dari listrik akan menjadi berbahaya bila tidak digunakan dengan baik. Beberapa point dari pedoman ini. pembangkitan listrik dihasilkan oleh Generator listrik DC atau AC.

Air buangan dialiskan kesaluran pembuangan dan kembali kesungai.2 A. Pipa lubang angin C. Generator G. 15-3 . Spear valve F.Pembangkit Listrik Mikrohidro Gambar 15. ketika dilakukan perbaikan berkala pada Turbin. sudu-sudu Turbin akan memutar poros Turbin yang dikopel langsung dengan Generator listrik (F). Katup pembuka (D) dipasang sebelum Turbin. Katup pembuka atau Gate valve E. Pipa pesat atau Pipa pesat D. Dudukan Turbin Pipa menuju Turbin sering disebut pipa pesat (C).2 Sistem Pembangkit Listrik Mikrohidro Keterangan gambar 15. Turbin H. Tangki air dari bendungan B. dilengkapi dengan pipa pernapasan udara (B) gunanya agar udara yang terjebak dalam pipa bisa keluar dan tidak menghantam sudu-sudu Turbin. Aliran air dari pipa pesat melewati katup spear (E) untuk mengatur debit air yang masuk ke Turbin air (G). Akibat energi potensial air. Generator akan menghasilkan energi listrik yang siap digunakan untuk berbagai kebutuhan. gunanya untuk menutup aliran air ke Turbin.

Memilih Lokasi Mikrohidro Ada dua faktor yang mempengaruhi output daya Generator Mikrohidro. Bagaimanapun juga peringatan mengenai langkah pengoperasian harus dituruti untuk menjaga kelangsungan usia pakai GMH. Langkah Pertama Keselamatan Listrik membantu kehidupan kita. Cabut kabel utama terlebih. yang diukur dalam liter/detik. jika tidak dilakukan akan mengakibatkan penggunaan yang melebihi batas sehingga umurnya akan pendek.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15. Juga dapat terjadi jika diameter pipa melebihi diameter yang disarankan. beban besar dan peralatan mungkin harus dikurangi. Selain itu. Jangan izinkan mereka bermain dengan sambungan listrik. Jika pemakaian tenaga melebihi daya maksimum yang terdapat di pedoman ini. 3. 15. 5. kerusakan Generator Mikrohidro mungkin tidak dapat diperbaiki dan membutuhkan pengawatan total/ total rewiring.8 H. tapi listrik menjadi berbahaya jika pencegahan yang sederhana tidak dipatuhi 1. yang diukur dalam meter.4.5. Ketinggian jatuh air merupakan jarak vertical antara Turbin dengan bendungan air. Jika ada pertanyaan tentang keselamatan. • Pastikan Electronic Load Kontroller di set kurang lebih pada 220V. yaitu ketinggian jatuh air dan debit aliran. • Jangan lupa untuk melumasi bearing pada waktu yang telah disarankan. 6. Badan Generator Mikrohidro harus di bumikan.3.. 2. Hati. Peringatan Tentang Pengoperasian Mikrohidro Generator Mikrohidro (GMH) didesain agar mudah untuk dioperasikan dan mudah untuk diperbaiki. Jangan coba. 4. Jangan pernah membiarkan sambungan listrik basah.hati terhadap bahaya sentuhan dan kejutan listrik. • Dibawah kondisi ketinggian air yang telah ditentukan pedoman ini.coba untuk memutuskan kabel atau membuka alat untuk perbaikan saat Generator sedang kerja. tabel berikut menunjukan bermacam kombinasi ketinggian dan aliran air untuk mencapai output daya maksimum yang diinginkan untuk tiap model : Daya output Generator Dimana : H = tinggi efektif jatuh air (m) Q = debit air liter/detik 15-4 Pout = 9. Beritahukan anak-anak tentang bahaya sentuhan langsung ke listrik. Debit aliran merupakan jumlah dari air yang melewati Turbin tiap waktu. Jauhkan jari dari Turbin yang berputar. Q …… KW . GMH mampu membangkitkan tenaga yang besar dari output rata-rata. tanyakan pada ahlinya. 15.

jalan ke bawah dari tempat landai darimana sumber air berada ke tempat terbaik untuk menempatkan Turbin 15-5 .3 liter/detik.1.6 6.0 7.3 5.7 kW. jika ketinggian jatuh air 24 meter dan debit aliran air 33.7 26m 34.5.0 7.4 9.9 30m 37. Gambar 15. menggunakan table maka akan menghasilkan daya listrik sampai 4. Untuk mengukur.3 28m 36. Daya Output hubungannya dengan tinggi dan debit Ketinggian air H (m) Aliran air Q (l/ sec) Output Turbin (kW) Output Gen. 15.6 10. gunakan pita pengukur/ meteran dan klinometer atau spirit level. Pengukuran ketinggian Jalan ke atas daerah dari tempat landai dimana kamu akan menempatkan Turbin ke sumber air berada atau lakukan kebalikannya.6 32m 38.4 5. Pengukuran Ketinggian Ketinggian jatuh air merupakan tinggi vertikal dimana air mengalir masuk ke pipa pesat lalu turun ke permukaan Turbin. Ini ditunjukan pada gambar sistem.2 8.Pembangkit Listrik Mikrohidro Tabel 15.3 Mengukur ketinggian jatuh air.2 34m 39. (kW) 24m 33. Kurang akurat tapi digunakan sebagai cara alternatif yang bermanfaat untuk anda membuatnya sendiri dari setengah tube/botol transparan yang diisi dengan air.9 4. Ikatlah dibagian atas dari 1 meter panjang stik lalu ujung bagian horizontal dari ujung atas bagian yang miring seperti tingkatan arus.7 5.0 8.2 6.0 Sebagai contoh.1.

Ujung atas pipa berada dibawah permukaan air dan bagian pipa lainnya mengalirkan air dari kali. Untuk kedua model mikrohidro tertentu. Metode lain digunakan untuk pengukur tekanan dan panjang selang yang akurat. Gambar 15. Ketika muncul aliran yg tenang. Pengukuran Aliran Jalan terbaik untuk mengukur aliran air ialah dengan menggunakan “metoda bendungan”. Tapi bila lebih besar maka daya keluarannya pun akan bertambah. Metoda lainnya ialah “metode bejana/ bak”. ketinggian harusnya antara 24m dan 34m.3.5. segera tempatkan ember untuk menampung aliran dan saat itu adalah waktu untuk mengisi ember.2. Lakukan pengukuran sendiri atau minta petunjuk konsultan ahli yang berpengalaman. pipa yang pendek (kurang dari 1 meter) dipendam kedalam “bendungan” kecil gunakan lumpur atau semen.4 Mengukur Debit Air Pengukuran Aliran : Aliran= Volume ember (liter) Waktu untuk memenuhi ember (detik) 15-6 .4 dibawah. Ukuran ember untuk menampung air berkisar 100-200 liter (setengah atau memenuhi tong minyak kosong). Jangan mencoba untuk melebihi ketinggian yang telah disarankan.Pembangkit Listrik Mikrohidro Dengan menuju tingkatan yg diraih dan mengulang kembali prosesnya ketinggian total dapat terukur gambar 15.422 psi / meter dari ketinggian. Ambil bagian pipa yang memiliki diameter yang sama dengan pipa pesat. maka output yang dihasilkan akan berkurang. jika ukurannya lebih pendek. 15. Sebagai contoh ketinggian 24m tekanan 34psi sampai ketinggian 34m dengan tekanan 48psi. Bagi volume ember (dalam liter) dengan waktu pemenuhan (dalam detik) untuk memperoleh aliran rata-rata dalam liter per detik. tapi jika terlalu tinggi rotor akan berputar sangat cepat dan mengakibatkan berkurangnya umur bearing. Bertambah besarnya daya keluaran memang menguntungkan. masukan ke kali atau bendungan dimana ada aliran datang dan lakukan pengukuran aliran dari sini. Dari gambar 15. Pengukuran tekanan menunjukan1.

Pembangkit Listrik Mikrohidro 15.3 Persiapan Lokasi Mikrohidro Saat lokasi ketinggian dan aliran sudah pada tempat yang benar baru kemudian panjang dan posisi pipa pesat dapat ditentukan. coba jaga agar selalu lurus dan terhindar. Air yang dibawa ketempat Turbin sebelumnya dan mengurangi panjang pipa pesat yang dibutuhkan. Pada gambar B.5a dan 15. Gambar 15. bagian dari puncak kemiringan mungkin membutuhkan penggalian saat (ditempat lain) pipa pesat mungkin membutuhkan kutub bantu dsb. Katup gate harus dipasang agar dapat menutup kapan saja saat terjadi tekanan tinggi diujung pipa pesat. Ini merupakan pemborosan panjang dan biaya. Pipa pesat harus terbuat dari baja dengan diameter 150mm dan ketebalan 4mm.5b. Selain ketinggian vertical penting yang harus diperhatikan tingkat kemiringan horizontal dan panjang pipa pesat dapat berubah walaupun kemiringan pipa pesat yang seharusnya >600. cobalah untuk membuatnya tetap berdiri dan memghindari bagian tajam atau sudut.5. 15-7 . Saluran pipa air mengikuti kontur bukit dan hanya memerlukan parit sederhana yang luasnya 30cm x 30cm.5. Gambar C menunjukan dimana jalur saluran alternatif atau “power conduit” memotong sisi bukit. pada gambar yang pertama (A) pipa pesat mengikuti jalur kali. Jalur pipa a) yang melingkar b) jalur memintas Pipa pesat diwakili oleh garis hitam A-B. Jalan terbaik untuk mengurangi panjang pipa pesat ditunjukan pada gambar 15. Saat memasang pipa pesat. Untuk melakukannya. jalur yang paling gampang(langsung) dipilih untuk mengurangi panjang dan biaya.

lumpur.5 kali volume air di pipa pesat [1750 liter]. Gambar 15. 15-8 .7. sehingga Turbin terus berfungsi 2) Memilki pengaman yang cukup untuk mencegah pasir. Bagian atas pipa pesat biasanya tidak ditempatkan dibawah tapi beberapa jalur dinding bagian atas bendungan jadi bagian bawah bendungannya seolah mengendap agar dapat menarik. Dari aliran yg Turbin yang tersumbat.menunjukan tandon air yang didesain sederhana yang bias digunakan untuk segala keberhasilan. 15. dls. Mencakup aspek keselamaatan untuk menajuhkannya dari jangkauan anak dan binatang yang mungkin masuk kedalam pipa pesat. Ukuran desain yang ideal ditunjukan pada pada gambar sistem walau pada point utama digunakan untuk memastikan jangan sampai bendungan kosong. dsb.6 Pipa melintas dan pembuangan air ke sungai Bendungan atau tangki penampung air di atas pipa pesat di desain agar dapat menampung volume air kira-kira 2. tumbuh-tumbuhan atau kotoran lainnya masuk kedalam pipa pesat karena dapat menggangu Turbin.Pembangkit Listrik Mikrohidro Gambar 15.6. Desain Bendungan Aspek terpenting bagI bendungan diantaranya : 1) Membiarkan air mengalir terus menerus ke pipa pesat. 3) Memiliki jalur yang memudahkan untuk menghentikan aliran air saat mengganti bearing. pasir.

7. Komponen tambahan yang harus ada mencakup : • • • Pipa baja dengan ketebalan 4mm. Ukuran lubang sangat penting. Komponen Generator Mikrohidro Komponen Generator Mikrohidro terdiri atas : • Rakitan Turbin. Sumbat pengering digunakan secara periodik untuk mengosongkan pasir dan daun atau benda lainnya yang dapat menyumbat. panjang 28-40m dan diameternya 150mm Kabel dari Generator ke konsumen. Pengawatan ke konsumen dengan kabel berisolasi jenis NYM 15-9 .Generator • Pipa pesat adaptor flange • Katup • Gasket karet • Mur dan baut M24 • Kontrol panel termasuk pengatur beban listrik termasuk panel electronic load kontroller • Ballast merupakan dummy-load.Pembangkit Listrik Mikrohidro Saringan sampah akan membantu menjaga agar bendungan selalu bersih dan tertutup untuk anak-anak.7. Aliran pipa pesat dihentikan oleh tarikan kawat jadi inlet keluar dari air. Pipa pesat sebaiknya terbuat dari baja. Sistem terdiri dari dua komponen utama. yaitu turbin Generator dan electronic load kontroller. Fitting elbow disisipkan diantara inlet pipa pesat dan pipa pipa pesat. Tandon air terbuat dari kotak anti air terletak di saluran daya/ power dan pipa pesat. dapat juga dipakai pipa pralon dengan kualitas terbaik dengan ketebalan tertentu. jadi aliran tidak terhambat dan 50% daerah ujung permukaan pipa harus dibor dengan lubang yang luasnya 1cm Gambar 15. Ujung pipa dilubangi selanjutnya air masuk. Komponen yang diperlukan dapat diperoleh di daerah setempat. Tandon Air 15.

perangkat mikrohidro siap untuk dipasang. Instalasi Mikrohidro 15.8 : 1) Baut Turbin ke dudukan atau bagian dasar Turbin.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15. Dudukan Turbin harus terbuat dari beton dengan 6 buah baut M24 menancap padanya. Aspek Mekanik Setelah menemukan lokasi yang sesuai kemudian pekerjaan sipil selesai. Lakukan pembersihan dengan jarak antara Turbin dan tanah paling sedikit 500mm. Lakukan ini seperti gambar 15.1. 2) Sisipkan katup gate ke nozzle injector pipe followed dengan menggunakan elbow~120° yang akan tersambung ke pipa pesat. Gambar 15.8. Sudutnya bergantung dari kemiringan . Pembersihan seperti ini diperlukan untuk menjaga agar tidak ada percikan hitam yang akan mengganggu kinerja Turbin.8 Pemasangan Turbin dan Generator a) tampak samping b) tampak dari atas 15-10 .8.

Untuk melakukannya ELC menyambungkan daya yang bukan digunakan konsumen ke beban ballast pemanas udara dimana kelebihan energy dibakar dalam panas.jenis sinkron. Meskipun tidak diharuskan. ELC didesain untuk mempertahankan tegangan agar konstan dan frekuensi yang mendekati konstan dengan menjaga beban elektrik yang konstan pada Generator. satu yang utama dan satunya sebagai tambahan. Hubungan sistem gambar 15. Aspek Elektrik Generator menggunakan magnet permanent.2. Alihkan air dari bendungan atau block pipa pipa pesat lainnya selama proses pemasangan berlangsung 4) Mulai memasang pipa pesat. Ini dapat dikurangi dengan meng-nolkan ballast. Disini ballast tambahan digunakan. Gelombang distorsi disebabkan oleh sambungan triac atau Thyristor menyebabkan Generator panas. Saluran udara dibagian atas yang terbuka harus lebih besar daripada ketinggian air di bendungan. ELC dipasang parallel dengan output Generator. Jika daya pada ballast utama boros melebihi batas. jadi dengan tidak sengaja akan memutuskan rangkaian.8. 15.Pembangkit Listrik Mikrohidro 3) Tempelkan elbow 120° (atau yg lain) ke dinding foreway. maka ballast tambahan secara otomatis tersambung dan saat daya turun dibawah batas yang diijinkan secara otomatis sambungan akan terlepas. Beberapa orang mungkin menginginkan pemasangan pipa pesat sebelum terpasang diantara kedua elbow. Ini akan menempel dengan lubang angin/ ventilasi yang mengalirkan udara masuk dari pipa pesat. Dua beban ballast digunakan. Jumlah beban ballast utama 66% dari total. sedang beban ballast tambahan hanya 33%. Pemasangan dapat dimulai dari arah yang berbeda. ballast tambahan membiarkan Generator kerja pada temperatur yang rendah. Beban dikendalikan oleh electronic load controller (ELC) yang terpasang pada kontrol box.9 sebagai berikut : 15-11 . jadi tegangan yang menyebrang dari ballast akan memberi bentuk gelombang yang bagus.

Sistem sekarang siap untuk pengoperasian yang pertama. ikuti langkah berikut : Hal yang berhubungan dengan listrik sebaiknya dipasang oleh orang yang kompeten dalam hal pengawatan pada keadaan bertegangan.9. Sistem penyambungannya dengan dasar netral. Semua pengawatan dari Generator ke kontrol box.Pembangkit Listrik Mikrohidro Gene rator AC Jaringan utama atau papan distribusi Power supply AC 220v ELC (electronic load controller) Ballast Gambar 15. Beban ballast utama akan berkisar 7kW atau 8kW (+ 66%) sedang ballast tambahan berkisar 3kW atau 4kW (+ 33%). Beban ballast menjadi panas. Lakukan ini dengan menyisipkan salah satu ujung kawat Mikrohidro yang panjangnya 16mm dan ujung bahan logam atau tiang logam lainnya yang tidak jauh dari ground Mikrohidro Sambungkan Generator dengan kontrol box. 2 3 4 5 6 15-12 . dirumah pemakai. dari kontrol box ke beban user dan dari kontrol box ke ballast harus sudah menggunakan kawat tembaga berisolasi multistranded. Sebagai contoh 11kW atau 12kW untuk 10kW Generator. Gabungan (total) beban balas berkisar (max) 10-15% lebih besar dari output Generator. Bumikan (ground) Mikrohidro. Diagram pengawatan menunjukan semua lokasi penyambungan tapi catatan sebagian besar komponen sudah disambungakn ke kontrol panel Sambungkan kabel beban user L1 dan L2 dengan kontrol box dan house Sambungkan beban ballast utama dan tambahan ke kontrol box seperti yang ditunjukan. mungkin salah satunya di powerhouse bersama Turbin atau ditempat lain. Netral dan phasa digabungkan ke element beban dalam waktu yang sangat cepat. Tutup pintu kontrol box. sampai 1000 C. yang ukurannya lihat buku PUIL. 1 Pasang kontrol box di tempat yang terlindung dari hujan dan sinar matahari. Hubungan kontrol kelistrikan Untuk menyambungkan komponen listrik. pasang ditempat yang aman. untuk pencegahan kerugian dan bahaya api.

setelah satu atau dua menit tegangan akan turun ke 220V Selalu putar handle katup dengan perlahan dan hati-hati untuk menghindari perubahan yang mendadak bagi tekanan air di pipa pesat.Pembangkit Listrik Mikrohidro Gambar 15. Turbin akan berbutar dan air akan mengalir keluar dari Turbin (ke pengering). temperature yang berlebih atau masalah lainnya. jika tegangan bertambah terus. 15-13 . sambil mengamati bila ada kebisingan yang aneh.9. Saat air mengalir. sesuaikan aliran air dengan menggunakan katup spear jadi tegangan tetap pada 230V. timbul energi listrik.Pengoperasian 1 2 3 4 5 Periksa saluran daya dan bendungan apakah terbebas dari puing-puing Pastikan Turbin mati dan seluruh jalur supply aliran listrik mati. Tegangan akan bertambah sampai Voltmeter di kontrol box membaca 230V. 6 Operasikan seperti ini selama 15 menit.10 Electronic Load Kontroller 15. Switch di kontrol box harus dalam posisi”off” Buka lebar-lebar katup spear dan katup gate. Dan jika OK gunakan switch pada pintu kontrol panel untuk menghubungkan daya ke pengguna. Perubahan mendadak di akibatkan efek air yang beradu dan pecahnya pipa pesat. Biarkan katup gate selalu terbuka saat Turbin beroperasi dan hanya akan tertutup saat perbaikan Turbin Isi bendungan dan biarkan air mengalir dengan bebas masuk ke dalam pipa pesat.

tapi periksa bearing untuk melihat jika pada bearing terdapat air. Sangat penting memasang Mikrohidro ditempat yang tidak berpotensi banjir. Perlindungan sederhana dengan menggunakan atap. Jjika tegangan turun sampai 220V periksa kondisi aliran air. Tidak akan timbul kerusakan permanent. Kemudian secara perlahan tutup katup spear dan tutup katup gate. 15. Jangan biarkan terjadi hubungan elektrik menjadi basah.1.Pembangkit Listrik Mikrohidro 7 Tegangan harus stabil saat beban hidup atau saat mati. Karena akan dihasilkan tegangan yang salah. Ikuti petunjuk berikut. Jangan coba untuk mengeringkannya dekat dengan api. Satu dekat dengan bagian dalam casing Turbin dan yang satunya berada di shaft Turbin dekat Generator. Sebelum melakukan pelumasan. Jika didalam ruangan Generator menjadi lembab perlu untuk dilakukan pengeringan. yang akan merusak peralatan anda. Bearing Generator pilih yang jenis Free Maintenace Tidak melumasi bearing secara tepat waktu dan mengurangi umur pakainya dan akan memmerlukan penggantian. Sebelum digunakan lagi. switch di kontrol box diposisikan “off”. Turbine harus berhenti terlebih dulu sebelum dilumasi. yang pertama tutup katup spear untuk menghentikan aliran air dan kemudian Voltmeter menunjuk ke 100V. Tegangan perlu diperiksa dan disesuaikan jika ukuran aliran air berubah. Gunakan tangan yang kering. untuk mematikan sistem 15. pastikan power socket juga kering. Bertambahnya gesekan juga akan mengurangi daya keluaran. Keduanya telah dilumasi di pabrik tapi memerlukan pelumasan kembali setiap 3 bulan sekali. Selalu bersihkan nipple sebelum melumasi.10.10. Pengembunan dalam Generator merupakan hal yang normal di daerah tropis dan tidak berpengaruh bagi kinerja Mikrohidro. Pelumasan Bearing Mikrohidro memiliki dua bearing di Turbin yang harus diperiksa secara berkala. bersihkan nipples dan berikan pelumas extra dengan menggunakan semprotan pelumas. diperlukan untuk melindungi Generator dari hujan atau dengan membangun gudang kecil yang dapat dikunci (lebih disukai). Perawatan Dan Perbaikan Perawatan umum untuk Mikrohidro anda akan menambah umurnya. hati-hati dengan Electrocution Jangan menyumbat peralatan secara langsung ke Mikrohidro tanpa menggunakan beban yang terkontrol. 15-14 . 8 Kapan saja ketika mematikan sistem.

2. Troubleshooting Jika ada masalah yang terjadi. Jika fuse putus dan diganti dengan yang ukurannya lebih besar. Sangat penting untuk mengganti fuse dengan spesifikasi yang sama. Tunggu sampai dulu sebelum kabel disambungkan kembali dan sistem mulai kerja lagi. 15. atau jika terjadi hubung singkat fuse akan putus. Ini biasanya tersedia di sebagian besar Negara. Mengganti Bearing dan Seal Bagian dari pelumasan bearing. Itu berarti sistem tidak terpasang denga benar.10. Periksa setiap langkah sekali lagi 2. Ini akan menghentikan aliran arus. hanya ada dua pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dulu pada waktu yang teratur. pastikan seluruh bagian terpasang ditempat yang tepat dan seluruh bautnya sudah terpasang kencang 11 Buka kembali katup gate dengan perlahan sampai aliran air kembali normal. periksa bagian seperti dibawah ini: 1. tapi Mikrohidro tidak kerja.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15.3. ikuti langkah berikut : 1 Matikan sistem kelistrikan 2 Tutup secara perlahan katup gate untuk menghentikan aliran air ke Turbin 3 Lepaskan kabel power dari Generator 4 Tunggu sampai tidak aliran menjadi kecil atau tidak ada aliran air keluar dan Turbin berhenti berputar 5 Lepaskan kopeling langsung antara shaft Turbin dengan shaft Generator 6 Lepaskan pengggerak/ runner dari shaft Turbin 7 Lepaskan bearing yang dekat runner dengan menarik shaft Turbin kearah Generator 8 Lepaskan bearing yang dekat runner dengan menarik shaft Turbin kearah Generator 9 Untuk mengganti seal bearing. Penggantian kedua bearing Turbin dan bearing seal setiap dua tahun. maka dimasa yang akan datang jadi berbahaya bagi Generator. Kondisi ketinggian dan aliran terpenuhi. Untuk mengganti bearing dan seal. 15-15 .10. tapi jika ragu hubungi dealer anda. Untuk beberapa saat Mikrohidro sudah menghasilkan listrik dan kemudian aliran listriknya mati Jika petunjuk dari pedoman ini tidak diikuti dan pengunaan daya terlalu besar. tekan casing bearing keluar dengan menggunakan tongkat baja yang pendek 10 Saat perakitan ulang. Jika ini terjadi Generator memrlukan pengawatan yang baru dengan motor yang sudah sudah lama pengalamannya.

baru ini berkurang Berkurangnya daya keluaran berarti menunjukan putaran Turbin melambat dari pada biasanya. Spesifikasi Teknik Berikut ini dua model Mikrohidro.7kW to 8kW 9.11. kabel panjang akan menghasilkan kehilangan output yang kecil. kurangi pemakain beban.Pembangkit Listrik Mikrohidro 3.4kW to 16kW 100%+15% 100%+15% 220V~ 220V~ 50 Hz 50 Hz 70 Hz 70 Hz 1500rpm 1500rpm 1000mm 1000mm 80kg 100kg Turgo Turgo 270mm 270mm 20 20 1 2 Sinkron Sinkron Magnet Magnet Sesuai ukuran Sesuai ukuran SKF 46208 SKF 46208 1 Daya keluaran 2 Beban maksimum 3 Tegangan 4 Frekuensi daya keuarant 5 Frekuensi pada kecepatan beroperasi 6 Kecepatan 7 Tinggi 8 Berat 9 Tipe Turbin 10 Diameter 11 Nomber emebr 12 Number pipa 13 Generator 14 Fuse 15 Ukuran bearing ujung Generator 15-16 . Tegangan 220V dengan kondisi beban nol. ujilah dengan tukang listrik yang ahli. Untuk melihat apakah tegangan stabil dan apakah memiliki kotak kontrol. untuk jarak kawat memungkinkan untuk menambah diameter kabel 5. Pastikan ada cukup air yang masuk ke bendungan dan yakinkan sumber air memiliki aliran sesuai dengan yang diinginkan. Selain itu periksas bendungan dan pipa pesat. Setelah kerja beberapa saat diketahui output jadi berkurang Resistansi kabel harus tepat. dengan daya berbeda kode A dan B yang berbeda kapasitas dayanya Tipe A Tipe B 4. Pengujian di kali menunjukan bahwa Mikrohidro menghasilkan output yang baik (4.7kW sampai 16kW tergantung model). jika perlu saring dan bersihkan. Daya keluaran baru. Hilangnya daya untuk panjang kabel 100m kurang lebih 10W. tapi saat beban dipasang tegangan menjadi semakin turun Telah terjadi beban berlebih. 4. 15. Juga periksa bagian casing Turbin harus terbebas dari dedaunan atau kotoran lainnya dan bearing Turbin sudah cukup dilumasi.

Ukuran bearing ujung Turbin 17 Seal size 3 18 Kabel yg disarankan 19 Temperature 20 Kelembaban Catatan : SKF 46208 8x58x10mm 16mm2 5 . 3. 15-17 . musin kering untuk mengetahui potensi maksimum dan potensi minimumnya. Lokasi memiliki potensi untuk pemasangan Mikrohidro. dengan electronic load controller.12.90% SKF 46208 38x58x10mm 20mm2 5 . 2.500C 0 . tinggi jatuh airnya 20 meter. turbin air. Daya yang dibangkitkan sebanding dengan tinggi jatuh air dan besarnya debit air per detiknya. • • 15.13. jelaskan cara kerjanya. pipa pesat.2 ialah dengan mengolah keluaran ketinggian dan kondisi aliran secara spesifik.90% Untuk menghasilkan daya keluaran sebesar 1. memiliki debit 20 liter/detik. Pengukuran debit air dilakukan sepanjang waktu/ musin. dummy load dan beban. Jelaskan cara kerjanya. generator. Gambarkan skematik diagram hubungan generator. Soal-soal 1. Gambarkan skematik diagram dari sejak tendon air sampai ke turbin air.Pembangkit Listrik Mikrohidro 16. Rangkuman • • • Mikrohidro adalah pembangkit listrik sekala kecil dengan ukuran puluhan KW sampai ratusan KW dengan memanfaatkan potensi air. Hitunglah berapa KW potensi terpasang listrik secara teoritik. pada periode tertentu ganti bearing.500C 0 . Pemeliharaan dilakukan secara rutin. electronic load control. Keluaran yang lebih besar mungkin dihasilkan bila ketinggian lebih besar atau aliran lebih cepat dari yang disarankan. baik musim hujan. baik mekanik dengan memberikan pelumasan pada bearing. 15. Komponen Mikrohidro terdiri atas: bendungan. Jika beban lebih besar menyebabkan kerusakan permanen pada stator. kabel listrik dari pembangkit ke pemakai.

sisi generator dan perangkat elektriknya. 5.Pembangkit Listrik Mikrohidro 4. dan jelaskan cara mematikan yang benar dan tepat. Jelaskan tatacara pengoperasian Mikrohidro saat pertama dihidupkan. kali 6. 15-18 . Jelaskan pentingnya pemeliharaan Mikrohidro. Apa fungsi dipasang dummy load ? jika beban terpasang 50% apa yang terjadi pada dummy load dan jika beban terpasang 75%nya apa yang terjadi pada dummy load. baik pemeliharaan sisi turbin.

Pergamou Press.. 1968 Edwin B. 7th Edition Volume II. van C. PT PLN Jasa Pendidikan dan Pelatihan. Warrington.Agfianto. Penerbit Erlangga.S. Penerbit Universitas Indonesia.Dr. Clags Ltd. 1986 Eko Putra. Distribusi dan Utilisasi Tenaga Listrik. 1977 A. R. 1986 Bernhard Boehle cs.2001 Chang. 1990 Cathey. Benyamin Stein cs. The Lineman’s and Cableman’s Handbook. McGraw-Hill. 2000 Bambang. Kurtz. Dournelley & Sons.T. 2003 By Terrell Croft cs. 3rd Edition. Armatur dan Komponen. Materi kursus Teknisi Turbin/Mesin PLTA Modul II. Chapman and Hall. The IEE Wiring Regulations Explained and Illustrated. DEPDIKBUD Dikmenjur. Penerbit Erlangga. Gava Media : Yogyakarta. Jakarta 1995.J. Elektrotechnik. 1996 Catalog. 1995 Badan Standarisasi Nasional SNI 04-0225-2000. PLC Konsep Pemrograman dan Aplikasi (Omron CPM1A /CPM2A dan ZEN Programmable Relay). Soepatah. American Electrician’s Handbook. 9th Edition. 1970 Catalog.Singapore. McGraw-Hill. Instalasi Listrik Rumah Tangga. USA. USA. Berlin. Canada. R. Sistem Distribusi Daya Listrik. 1980. Sprecher+Schuh Verkauf AG Auswahl. Programmable Logic Controller.. Catalog. 1994 Abdul Kadir. Schweiz. Switchgear Manual 8th edition. 1968 A. Aaraw. England. Braunschweig.2004 . Mechanical and Electrical Equipment for Buildings. Jakarta. Electrical Systems for Architects. LP3ES. John Wiley & Sons.C. 1988 Brian Scaddam. 2000 Abdul Kadir. VEB Verlag Technik.R. Pengantar Teknik Tenaga Listrik.DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 A R Bean. Philippow. McGraw-Hill.School of Industrial Engineering Purdue University Diesel Emergensi. Verlag – AG. Daschler. Electrical Machines : Analysis and Design Applying Matlab. 2nd Edition. Jakarta. Philips Lighting. 1982 A. Protective Relays. Dadras. Yayasan PUIL. Reparasi Listrik 1. USA. 1994 Brian Scaddan. 1993 Aly S. 7th Edition. Jakarta. Philips. Taschenbuch Elektrotechnik. Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000. Jimmie . E. Soeparno. Lighting Fittings Performance and Design. Pabla.

Third Edition. 2000. Braunschweigh. Nourney. 2005 George Mc Pherson. John Wiley & Sons. Rineka Cipta. Pengoperasian Emergency Diesel Generator. PT Elex Media Komputindo. Suyatmo. Fachkunde Mechatronik. Programmable Controllers Theory and Implementation. Jakarta. Abdul. Ris. Verlag Europa-Lehrmittel. Electrical Power Engineering proficiency Course.A. 2004 Friedrich. 1998 G. Murray. 1986 Haberle. Mueller.kc. 1978 Jerome F. “Tabellenbuch Elektrotechnik Elektronik” Umuler-Boum. 4th Edition. Verlag. Ferlag Europa-Lehrmittel. McGraw-Hill. New York. Industrial Text Company. John Wiley & sons. New Delhi. Teknik Listrik Instalasi Penerangan. 2000.A. Workshop Practice in Electrical Engineering. 1984 John E. Transformator. 1990. GTZ GmbH. Gupta. kG. Verlag Europa – Lehrmittel. E. Bryan. 1992 Iman Sugandi Cs. Electrical Engineering Materials Reference Guide. An Introduction to Electrical Machines and Transformers.. Tabelleubuch Elektroteknik. Heinz. Utilization of Electric Power and Electric Traction. McGrawHill. Etall. E. Fachkunde Elektrotechnik. 2000 H. Kadir. Karyanto. Bryan. Standard Application of Electrical Details. J. Penerbit Pedoman Ilmu Jaya.1989. dalam bahasa 47 48 . 1997 M. Nourwey. Vollmer GmbH & Co. USA. 1990 Haberle Heinz. GmbH. Commercial Electrical Wiring. Wayne Beoty. GmbH.E.24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 37 38 39 40 42 43 44 45 46 Ernst Hornemann cs. P. Traister and Ronald T. PT.Seip. United States of America. Etall. 1983 F. Jakarta. Gagasan Usaha Penunjang Tenaga Listrik . 1981 Graham Dixon. Metropolitan Book. Vollmer GmBH & Co. L.. 2006 L. R. Panduan Reparasi Mesin Diesel. Klaus Tkotz. Vollmer. Electrical Installation Hand Book. 6th Edition. 2000 Gregor Haberk. 3rd edition. Second Edition. Verlag Europa – Lehr Mittel.Copper Development Centre South East Asia. Gupta. Indonesia Power UBP. Panduan Instalasi Listrik. Fachkunde Electrotechnik. 2001. Lamulen. 1992 Gunter G. Jullundur City. Saguling. Electrical Appliances (Haynes for home DIY). Instruksi Kerja Pengujian Rele. B. Electrotechnik Fur Praktiker. USA. 1984 Michael Neidle. AT Verlag Aarau. H. Electrical Installation Technology. Berlin. Verlag.Tabellenbuch Elektrotechnik. Nourenweg.

Ir.C. 1990 .W. Van Harten.A. New Delhi. Frank D. P. John Wiley and Sons. Electromechanics and Electric Machines.SEN. P. Industrial Electronics. Thomas E. Griya Kreasi. 1988 Rosenberg..1984 Sofian Yahya. PT PLN Persero. Pretience Hall. Electric Motor Repair. Van Hoek. Canada. Theraja. Instalasi Listrik Arus Kuat 2. Canada. Robert. Verlag GmbH. Principles of Electric Machines and Power Electronics. 1995. Jakarta. Home Repair Handbook. Holt-Saunders International Edition. 1980 Rob Lutes. Pengoperasian Mesin Diesel. E. Mesin Arus Searah. 1999 Robert W. 1998. 2000 Soedhana Sapiie dan Osamu Nishino. Saptono Istiawan S. Pradya Paramita. Pengukuran dan Alat-alat Ukur Listrik. Teknik Elektro untuk Ahli bangunan Mesin. 1997. Koln.TM & Mabuchi Magarisawa. New Jersey. PT PLN Persero. Wood. Bina Cipta. A Text Book of Electrical Tecnology. 1988. 1989. PT Pradnya Paramita. PT PLN JASDIKLAT. Februari 2002. Modern Industrial / Electrical Motor Controls. 2006 SNI. 2nd. Jakarta.K. Glencoe/McGraw-Hill. Troubleshooting and Repairing Small Home Appliances. Yogyakarta. Peter Hasse Overvoltage Protection of Low Voltage System. Setiawan. New York. Politeknik Negeri Bandung.1996.Indonesia penerbit Erlangga. 1999 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 Nasar. B. Sumanto.1997. etal. BSN. Ruang artistik dengan Pencahayaan. Penerbit Andi Offset. Diktat Programmable Logic Controller (PLC). Konversi Energi Selubung bangunan pada Bangunan Gedung. Mesin Tak Serempak dalam Praktek. Trimitra Mandiri. Jakarta. PT PLN JASDIKLAT.S.L. 2000 Soelaiman. Kissell. 1983. R. Generator. 1998 Petruzella. Nirja. 1970.

Lambang Huruf Untuk Instrumen Ukur Lambang Huruf Untuk Instrumen Ukur No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Lambang T G M K m µ n p Keterangan tera giga mega kilo mili mikro nano piko = 1 012 = 1 09 = 1 06 = 1 03 = 1 03 = 1 06 = 1 09 = 1 012 . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Lambang A V VA Var W Wh Vah varh Ω Hz h min s n cosφ φ ‫ג‬ f t to z Keterangan ampere volt voltampere var watt watt-jam voltampere-jam var-jam ohm hertz jam menit detik jumlah putaran premenit faktor daya sudut fase panjang gelombang frekuensi waktu suhu impedans Awal Pada Satuan SI No.Simbol-simbol Gambar Listrik a.

c) Jumlah fase dan adanya netral dapat ditunjukan sebelah kiri lambang. 50Hz. dengan netral. 50 Hz. tiga penghantar termasuk kawat tengah. 1 2 3 4 5 6 7 8 Lambang TΩ GW MW kW mV µA nF pF Keterangan 1 teraohm = 1 012 ohm 1 gigawatt = 1 09 W 1 megawatt = 1 06 W 1 kilowatt = 1 03 W 1 milivolt = 1 03 V 1 mikroampere = 1 06 A 1 nanofarad = 1 09 farad 1 pikofarad = 1 012 farad b. Arus bolak balik. Contoh : Arus bolak balik. b) Tegangan dapat juga ditunjukan di sebelah kanan lambang. fase tiga. 220V (110V antara setiap penghantar sisi dan kawat tengah). 2 M dapat diganti dengan 2 + M. Lambang Gambar Untuk Diagram Lambang Gambar Untuk Diagram Saluran Arus Kuat No 1 Lambang keterangan Arus searah Catatan : Tegangan dapat ditunjukkan di sebelah kanan lambang dan jenis sistem di sebelah kiri. 2 2M_____ 220/110V 4 5 ~ 50 Hz 3 N~ 50Hz 400/230 V . 3 ~ Arus bolak-balik Catatan : a) Nilai frekuensi dapat ditambahkan di sebelah kanan lambang. Contoh : Arus searah.Contoh Penggunaan Awalan Pada Satuan SI No. 400V (230V tegangan antara fase dengan netral) 3N dapat diganti dengan 3 + N.

frekuensi dan tegangan. Penghantar Kelompok Penghantar Saluran Kabel Sirkit Catatan : a) Jika sebuah garis melambangkan sekelompok penghantar. 220V (antara penghantar sisi dan kawat tengah 110V). 50Hz. dua penghantar sisi berpenampang 50 mm2 dan kawat tengah 25 mm2. sistem distribusi. dua penhantar alumunium ver penampang 120 mm2. 6 3 N~ 50Hz / TN-S 7 ’ 8 9 10 11 12 . 110V. maka jumlah penghantarnya ditunjukan dengan menambah garis-garis pendekatau dengan satu garis pendek dan sebuah bilangan. Sirkit fase tiga. Sirkit arus searah. Contoh : Tiga Penghantar (No. 50Hz sistem mempunyai satu titik dibumikan langsung dan netral serta penghantar pengaman terpisah sepanjang jaringan.9) b) Penjelasan tambahan dapat ditunjukan sebagai berikut : 1) di atas garis: jenis arus. fase tiga. 400 V.8 dan No.No Lambang keterangan Arus bolak-balik. tiga penghantar berpenampang 120 mm2. dengan netral berpenampang 50 mm2. Contoh : Sirkit arus searah. 2) Di bawah garis: jumlah penghantar sirkit diikuti dengan tanda kali dan luas penampang setiap penghantar.

b) Dua dari lima penghantar dalam suatu kabel. 16 a) Ujung penghantar atau kabel tidak dihubungkan. 17 a) Percabangan penghantar.No Lambang keterangan Penghantar fleksibel 13 14 Penghantar pilin diperlihatkan dua penghantar. 20 Saluran udara. b) Dua percabangan penghantar 18 Saluran bawah tanah 19 Saluran dalam laut. b) Ujung penghantar atau kabel tidak dihubungkan dan diisolasi khusus. 15 Penghantar dalam suatu kabel : a) Tiga penghantar dalam suatu kabel. .

Catatan : Jumlah pipa. 24 Saluran dengan penahan gas atau minyak 25 Titik sadap pada saluran sebagai penyulang konsumen. luas penampang dan keterangan lainnya dapat diperlihatkan di atas saluran yang menggambarkan lintas pipa.No 21 Lambang keterangan Saluran dalam jalur atau pipa. Contoh : Saluran dalam jalur dengan enam jurusan 22 Saluran masuk orang (manhole) 23 Saluran dengan titik sambung/hubung tertanam. . yang diperlihatkan jenis arus bolak balik. 26 Sadap sistem 27 Sadapan hubung seri 28 Unit daya saluran.

30 Titik injeksi penyulang daya. 31 Kotak ujung kabel. a) Dinyatakan dengan garis ganda. 35 Penghantar netral 36 Penghantar pengaman . mof sambung lurus.No 29 Lambang keterangan Penahan daya pada penyulang distribusi. b) Dinyatakan dengan garis tunggal. mof ujung a) satu kabel berinti tiga b) tiga kabel berinti satu 32 Kotak sambung lurus. tiga penghantar. 34 Kotak sambung cabang empat. 33 Kotak sambung cabang tiga.

saklar bersekat pelindung 2 Sakelar dengan pemutusan : a) Secara termis b) Secara eektromagnetis 3 Sakelar dengan pelayanan a) Relai termal b) Relai elektromagnetik 4 a) Sakelar. 5 Lambang Keterangan a) Sakelar pengubah aliran . lambang umum b) Sakelar kutub tiga No. 1 Lambang Keterangan a) Sakelar penghubung b) Sakelar pemutus c) Sakelar berselungkup. Lambang Gambar Untuk Diagram Instalasi Pusat dan Gardu Listrik No.No 37 Lambang keterangan Penghantar pengaman dan penghantar netral di gabung Contoh: Saluran fase tiga dengan penghantar pengaman dan penghantar netral c.

Lambang Keterangan b) Sakelar pengubah aliran dengan kedudukan netral 6 Pemutus sirkit / CB (Circuit Breaker) 7 Pemisah DS (Disconnecting Switch) 8 Pemutus daya LBS (Load Break Switch) 9 NFB (No Fuse Beaker) CB yang tak berwujud fuse 10 a) Pengaman lebur b) Sakelar pemisah dengan pengaman lebur 11 Pengaman lebur dengan sirkit alarm terpisah 12 Kotak kontak .No.

Lambang Keterangan 13 Tusuk Kontak 14 Kontak tusuk 15 a) Lampu. blok terminal 20 Perangkat hubung bagi dan kendali 21 Bumi.No. lambang umum lampu isyarat b) Lampu kedip. indikator 16 a) Klakson b) Sirene c) Peluit yang bekerja secara listrik 17 Bel 18 Pendengung 19 Jalur terminal. pembumian .

G b) Motor . Lambang Keterangan 22 Hubungan rangka atau badan Pembumian rangka 23 24 Penyekatan atau dielektrik 25 Sekat pelindung.No.Penjelasan macam selungkup dapat ditambahkan dengan catatan atau dengan lambang kimiawi logam Garis batas. garis pemisah.M 26 27 28 Transformator 29 Auto transformator satu fase 30 Sel atau akumulator . sumbu a) Generator . selungkup Catatan .

No.1) Pusat tenaga listrik 33 34 Gardu listrik 35 Pusat listrik tenaga air 36 Pusat listrik tenaga termal (batubara. minyak bumi.8.dsb) 37 Pusat tenaga nuklir No. gas. 31 Lambang Keterangan Baterai sel atau baterai akumulator 32 Lambang umum dari : a) Instrumen penunjuk langsung atau pesawat ukur b) Instrumen pencatat c) Instrumen penjumlah Contoh : a) Voltmeter b) Wattmeter c) Wh-meter d) (lihat Bagian 2. Lambang Keterangan .

Untuk maksud tertentu.b d. Lambang Gambar untuk Diagram Instalasi Bangunan No.b. ”garis” dapat diganti dengan ”garis putus-putus” Pengawatan tampak (di permukaan) 2 3 Pengawatan tidak tampak (di bawah permukaan) 4 Pengawatan dalam pipa .38 Pusat listrik panas bumi 39 Pusat listrik tenaga matahari 40 Pusat listrik tenaga angin 41 Pusat listrik plasma MHD (magnetohydrodynamic) 42 Gardu listrik konversi arus searah ke a. 1 Lambang Keterangan Pengawatan (lambang) Catatan .

lambang umum Saluran dari bawah 9 Saluran dari atas 10 Kotak sambung atau kotak hubung 11 Kotak cabang tiga 12 Kotak-saluran masuk utama . Lambang Keterangan Catatan-Jenis pipa dapat diyatakan. jika perlu a) Pengawatan menuju keatas b) Pengawatan menuju ke bawah Catatan: Lambang 5 & 6 1) pernyataan ”ke atas” dan ”ke bawah” hanya berlaku jika gambar dibaca dalam posisi yang benar 2) Panah pada garis miring menyatakan arah aliran daya 3) Pengawatan berpangkal pada lingkaran atau titik hitam 5 6 Pengawatan melalui ruangan secara tegak lurus 7 8 Kotak.No.

titik sadap lampu dengan pengawatannya b) Lampu dipasang tetap pada dinding dengan pengawatan-nya 15 Kelompok dari tiga buah lampu 40 W 16 Perangkat lampu dengan sakelar sendiri 17 a) Lampu darurat b) Armatur penerangan darurat 18 a) Lampu floresen. lambang umum b) Kelompok dari tiga buah lampu floresen 40 W .No. Lambang Keterangan 13 Perangkat hubung bagi dan kendali dengan lima pipa 14 a) Lampu.

lambang umum 20 Lampu sorot 21 Lampu sebar 22 Lengkapan tambahan untuk lampu luah Catatan : Hanya digunakan jika lengkapan tambahan tidak termasuk dalam armartur penerangan Peranti listrik Catatan-jika perlu untuk lebih jelas dapat diberikan nama Alat pemanas listrik Pemanas air listrik 23 24 25 Kipas dengan pengawatannya 26 Jam hadir (temi clock) 27 Kunci listrik 28 Instrumen interkom .No. 19 Lambang Keterangan Proyektor.

29 Lambang Keterangan Sakelar. kutub tunggal 32 Sakelar satu arah a) Kutub tunggal b) Kutub dua c) Kutub tiga 33 a) Sakelar tarik kutub tunggal b) Fungsi dari sakelar 30 a) dan 31a) 34 a) Sakelar dengan posisi ganda untuk bermacam-macam tingkat penerangan b) Fungsi dari sakelar a) a) 35 b) a) Sakelar kelompok b) Fungsi dari saklar a) b) .No. lambang umum 30 Sakelar dengan lampu pandu 31 Sakelar pembatas waktu.

No. dsb) 42 Perlengkapan pembatas waktu 43 Sakelar waktu 44 Sakelar berkunci gawai sistem jaga . Lambang Keterangan 36 a) Sakelar dua arah b) Fungsi dari dua buah sakelar a) yang digabung a) 37 b) a) Sakelar Silang b) Fungsi dari sakelar a) 38 Sakelar dim 39 Tombol tekan 40 Tombol tekan dengan lampu indikator 41 Tombol tekan dengan pencapaian terbatas (tertutup gelas.

Lambang Keterangan 45 Kotak kontak 46 Kotak kontak ganda. misalnya untuk 3 buah tusuk kontak 47 Kotak kontak dengan kontak pengaman.NKZAA . 52 e. misalnya kontak pembumian Kotak kontak bertutup 48 49 Kotak kontak dengan sakelar tunggal 50 Kotak kontak dengan sakelar interlok 51 Kotak kontak dengan transformator pemisah misalnya untuk alat cukur Kotak kontak untuk peranti elektronik misalnya untuk telepon. teleks dan sebagainya.No. Nomenklatur Kabel Code A AA Arti Selubung atau lapisan perlindungan luar bahan serat (misalnya goni/jute) Selubung atau lapisan perlindungan luar dua lapis dari bahan serat (jute) Contoh NKRA. NAKBA NAHKZAA.

Code B Arti Perisai dari pita baja ganda Selubung dari timah hitam Contoh NYBY. NAKBY NKLY. N2XSEYFGbY NHKBA. NAHKLY NKWKZY 2G Gb H K KL KWK Isolasi karet butil dengan daya tahan lebih tinggi terhadap panas Spiral pita baja (mengikuti F atau R) Lapisan penghantar diatas isolasi. dalam hal kabel berinti banyak Penghantar konsentris pada masing-masing inti. NHKRA NKBA.2 kV) Spiral anti tekanan Pita penguat non-magnetis D E F G G Kabel dengan masing-masing intinya berselubung logam Perisai Kawat Baja pipih Spiral dari kawat baja pipih Isolasi karet/EPR Selubung isolasi dari karet NEKBA NYFGbY NYKRG NGA NGG N2GAU NYRGbY. NEKBA NYBUY NYCY NHSSHCou NYCEY NYCWY C Penghantar konsentris tembaga Selubung penghantar dibawah selubung luar CE CW Penghantar konsentris pada masing-masing inti.6/1 kV (1. yang dipasang secara berlawanan arah untuk kabel tegangan nominal 0. untuk membatasi medan listrik Selubung timbal Selubung alumunium Selubung dari pita tembaga yang terpasang dan dilas memanjang .

perisai dari tembaga . NFAY NIKLDEY NOKDEFOA NPKDvFSt2Y NKROA NYM-O NYFGbY-O NYKQ NYRGbY NKRRGbY N2XSY Q R RR S Jalinan (brid) dari kawat-kawat baja berselubung-seng Perisai dari kawat-kawat baja bulat Dua lapisan perisai dari kawat-kawat baja bulat . N2XSY NYA .pelindung listrik dari pita tembaga yang dibulatkan pada semua inti kabel bersamasama Pelindung listrik dari pita tembaga yang menyelubungi masing-masing inti kabel Tali penggantung dari baja Selubung isolasi dari XLPE Selubung isolasi dari PVC Selubung isolasi dari polythylene SE T 2X Y 2Y N2XSEY NF2X. NYY NAYFGbY. NAKBA NF2X.Code L MK N NA NF NI NO NP O Arti Perisai dari jalinan-kawat-baja-bulat (braid) Kabel dengan selubung timah hitam untuk pemasngan dalam kapal laut Kabel standar penghantar tembaga Kabel standar penghantar alumunium Kabel udara berisolasi dipilin Kabel bertekanan gas Kabel bertekanan minyak Kabel dalam pipa bertekanan gas Perisai-terbuka dari kawat-kawat baja Kabel berpenampang oval Kabel tanpa inti berwarna hijau kuning Contoh NTRLA MK NYA.

Code Z Z Arti Perisai dari kawat-kawat baja yang masingmasing mempunyai bentuk ”Z” Penghantar ber isolasi dengan beban-tarik Selubung logam dari pita seng Contoh NKZAA NYMZ NYRUZY .

..... 1.............28 Pengukuran tahanan nilai R besar ....................35 Rangkaian tahanan a) sebenarnya b) disederhanankan c) hasil akhir ............................................... 1.................................. 1...............................7 Sumber tegangan DC Power suply ..........................................................................................................1 1..... 1................................................................. 1...30 Karakteristik tegangan fungsi arus ...............................................................................23 Paralel beban dengan sumber DC ....11 Atom terdiri atas proton dan elektron ..................... 1............................. 1......................12 Aliran listrik merupakan aliran elektron ............................................. 1......... 1................13 Ampermeter ............................................................................................................ 1............................. 1....18 Kurva konduktansi fungsi tahanan R .................................................................. 1......... 1........... 1-38 Baterai terhubung seri dengan Beban Ra ........................20a Kurva arus fungsi tegangan ................25 Rangkaian pembagi tegangan .....17 Kumpulan atom membentuk material ......................................9a Mengukur tegangan .....................................................27 Pengukuran tahanan nilai R kecil ..........31 Karakteristik daya fungsi arus .................34 Karakteristik daya terhadap perubahan tahanan ....... 1.............................................................. 1.................................................24 Aplikasi hukum Kirchhoff tegangan ........................................... 1.................................DAFTAR GAMBAR DAFTAR GAMBAR Bab 1.. 1................................. Batang plastik yang bermuatan sama saling tolak menolak .................. 1.... 1................................ 1.................... 1........................... 1. Fenomena elektrostatis ........19 Rangkaian hukum Ohm ........ 1... Pengetahuan Listrik Dasar Sifat muatan listrik ......33 Rangkaian ekivalen sumber arus ......15 Kerapatan arus pada penghantar ......................... 1...............................29 Pengukuran tahanan dalam baterai ............................32 Rangkaian ekivalen sumber tegangan ...........................................................................8 Simbol dan fisik Voltmeter ......22 Seri Resistor dengan sumber DC ..2 1...............20b Kurva arus fungsi tahanan ..........................37 Hubungan Segitiga dan hub bintang .......3 1.14 Mengukur arus dengan Ampermeter .. 1................................................5 Generator elektrostatis Van de Graff ...............................................9b Voltmeter diujung-ujung beban ...................................................................................... 1.........................................................................10 Arus listrik mengalir ke beban ............... 1.....6 Model visual tegangan ....................... 1...........26 Hukum Kirchoff-arus ........................................................................................... 1.... 1.... 1.. Batang kaca dan batang plastik yang berbeda muatannya saling tarik menarik.........................................................................................................................4 1-2 1-2 1-2 1-2 1-3 1-4 1-5 1-6 1-6 1-7 1-7 1-8 1-8 1-9 1-9 1-9 1-10 1-11 1-11 1-12 1-12 1-13 1-16 1-17 1-18 1-19 1-19 1-21 1-21 1-21 1-22 1-22 1-23 1-23 1-23 1-24 1-26 1-27 1-29 viii .. 1............................................................................................. 1.. 1..............................36 Rangkaian Tahanan disederhanakan ...... 1.......16 Kurva rapat arus fungsi luas penampang ...

...............33 2.....30 2.....36 2............................................8 2.............................................13 2............................34 2................................... Elektromagnetik sekeliling kawat..... Torsi F motor DC ...............................................40 Sifat magnet saling tarik menarik........ Kurva BH ferromagnetik ............................... Prinsip tangan kiri Flemming ...9 2................................... Hukum tangan kanan .................... Kurva histerisis ............1 2.......................... Model uji gaya tolak ......7 2.......................26 2....................................24 2.......................................... Interaksi elektromagnetik............DAFTAR GAMBAR Bab 2......................31 2.......20 2...............................................................3 2..... Prinsip putaran sekrup.... Prinsip torsi pada kawat berarus ........5 2... Kerapatan fluk magnet .................................................................................................. Rangkaian magnetik .................................................................................32 2..............................................................................15 2..........................................4 2................38 2....37 2..27 2............................................. Belitan kawat berinti udara ..................................11 2................................................ Prinsip generator ........2 2.22 2.... Perbedaan besi biasa dan magnet permanen ........ Prinsip alat ukur listrik...........................................29 2................................................17 2................................ 2-2 2-2 2-2 2-3 2-3 2-3 2-4 2-4 2-4 2-5 2-5 2-5 2-6 2-6 2-6 2-7 2-7 2-8 2-9 2-10 2-10 2-11 2-12 2-13 2-13 2-14 2-16 2-16 2-17 2-17 2-18 2-18 2-19 2-19 2-20 2-20 2-20 2-21 2-21 2-22 ix ..................................... Induksi pada cincin ................................. Prinsip hukum Lorentz .... Prinsip tangan kanan Flemming ........................................................................... Daerah pengaruh medan magnet....................................................................... Garis magnet membentuk selubung seputar kawat berarus ................................. Histerisis magnet permanen-ferromagnetik ... Kutub utara-selatan magnet permanet ............................................... Medan magnet pada toroida.....6 2..19 2...................................................................................................................................................................28 2.....................39 2.................................................. Kawat melingkar berarus membentuk kutub magnet .....35 2.....................21 2................................................. Gelombang belitan primer dan belitan sekunder ................................................. Belitan kawat membentuk kutub magnet.............. Pola garis medan magnet tolak menolak dan tarik menarik ........................14 2......................... Pola garis medan magnet permanen ............ Prinsip elektromagnetik .........25 2............ Bahan ferromagneik ............ Garis gaya magnet pada permukaan rata dan silinder..........................................................10 2......... Kemagnetan dan Elektromagnetis 2............ Garis medan magnet utara-selatan ...12 2....................................................................................... tolak-menolak ........................16 2....... Prinsip dasar motor DC .............. Prinsip induksi elektromagnetik ..........23 2........18 2.......... Prinsip timbulnya torsi motor DC .... Kurva magnetisasi .......... Daerah netral pada magnet permanet............................................................ Kurva BH inti udara ...

......43 3..............................6 3.................. Nilai kapsitansi fungsi frekuensi .................................................46 3..........3 3................................................................... Bentuk gelombang tegangan beban Resistor dan Induktor ......................................... Segitiga daya .................8a 3...............28 3....... Satu siklus .................................................. Pengukuran arus................................................................................................... Rangkaian Resistor paralel kapasitor .................. ....... Rangkaian R Seri dan Segitiga Daya ...................................35 3.........34 3..................... Segitiga Daya ............................ Daya aktif beban induktif .....................25 3............................ Nilai puncak...... dan wattmeter ...31 3... Harga sesaat gelombang sinusoida .......................18 3..........................37 3.11 3....14 3.. Diagram Faktor Kerja ........................ Daya aktif beban impedansi ...... Rangkaian Seri R................................................................41 3... 3-1 3-1 3-1 3-1 3-2 3-2 3-4 3-5 3-5 3-6 3-7 3-10 3-10 3-12 3-13 3-14 3-14 3-15 3-15 3-16 3-21 3-21 3-22 3-22 3-23 3-23 3-24 3-25 3-25 3-25 3-26 3-26 3-27 3-27 3-28 3-29 3-29 3-30 3-30 3-31 3-34 3-34 3-35 3-35 3-36 3-37 x .......... Bentuk arus beban Resistor parallel Induktor ............... Bentuk gelombang AC ................. Resistor seri kapasitor........................................................................................... Daya diklep beban resistif ................39 3............................................................... Segitiga Daya Aktif..44 3.............. Segitiga tegangan Resistor seri Induktor ............. nilai efektif gelombang sinusoida........................ Kapasitor pada sumber listrik AC ..10 3... Prinsip harga efektif gelombang sinusoida ......... L......13 3.. tegangan......................2 3........................7 3.................................23 3....................16 3.................................................................................................. Generator AC empat kutub ..................19 3........................................................ Generator AC dua kutub ...DAFTAR GAMBAR Bab 3..26 3............4 3.....................................22 3..............................36 3... . Rangkaian resistor listrik AC ................................................................42 3...................................................................................................... Seri Resistor dengan Induktor ................................ Segitiga konduktansi.......................... Nilai induktansi fungsi frekuensi .................................................... Vektor tegangan dengan skala ..38 3....33 3........29 3.............. Segitiga Admitansi ........ Pengukuran daya dengan wattmeter ..................................................9 3.............................17 3......5 3................................. Rangkaian R Paralel dan Segitiga Daya ................... Dasar Listrik Arus Bolak Balik 3.......................................... Segitiga Impedansi Induktif dan Kapasitif ....................... Proyeksi lingkaran ke garis kuadran................40 3..............................27 3.............................12 3......................32 3.........8b 3........24 3.......................................................................................... Gelombang tegangan dan arus beban Kapasitor ...........................45 3.... Resistor seri Induktor listrik AC . suseptansi dan admitansi ................................. Resistor parallel Induktor ...................................... Rangkaian pembangkit gelombang pulsa ..1 3............ Reaktif dan Semu ... Bentuk gelombang tegangan dan arus beban Induktor ........................... Segitiga impedansi ..........................................................47 Prinsip pembangkitan Listrik AC ........................................... Prinsip generator AC ......................................................................................15 3.............. C dan Diagram Vektor Tegangan ... Panjang gelombang .... Pembentukan gelombang sinusoida ..................30 3............................ Segitiga arus .................................................................

................69 3..............67 3..........................................51 3............................................ Pengukuran Daya dengan dua wattmeter ....... Terminal Motor Hubung Singkat .............62 3....................................... Rangkaian Kompensasi Paralel dan Kompensasi Seri ........ Diagram Vektor Tegangan dan Arus 3 phasa . Prinsip kerja Transformator Satu Phasa......................... Rangkaian Resonansi C............... Prinsip Generator 3 Phasa ...... Rangkaian Resonansi LC ............................................................. Kompensasi Parelel & Kompensasi Seri Beban Satu Phasa ....................... Vektor Arus Segitiga ..................57 3..... L ...................................83 3....................58 3.....................2 4.........................79 3............................................ Pengukur Tegangan phasa-phasa....55 3......................................... Vektor Diagram Arus .........................................72 3.........3 4................... beban tidak seimbang .................70 3........................................... Prinsip Wattmeter ................................................76 3............................................................5 4..............................................................................................................61 3............................80 3....84 3................. 3-38 3-40 3-40 3-41 3-42 3-42 3-43 3-43 3-44 3-45 3-45 3-46 3-46 3-47 3-47 3-48 3-48 3-49 3-49 3-49 3-50 3-50 3-50 3-51 3-51 3-51 3-52 3-53 3-54 3-54 3-54 3-55 3-55 3-56 3-56 3-57 3-57 3-58 Bab 4......................... Trafo satu phasa jenis Core ........... Prinsip Tangan Kanan Flemming ..................................................................................... Pengukuran Daya dengan Trafo Arus (CT) . Terminal Motor Hubung Singkat ............ Beban Bintang ...................... Diagram Arus Saat Resonansi ........4 4....... Hubungan Segitiga ....................................................................................53 3.................. Transformator 4..... C dan diagram vektor arus ........................................................48 3.............................................................................. tegangan phasa ke phasa ................................. Beban Bintang dan Segitiga ..............................................56 3.............................................................................. tegangan phasa-netral ............59 3........... Arus Magnetisasi dan Tegangan Output Trafo ........71 3.......... Kompensasi Grup .78 3........73 3..........52 3.................49 3.....66 3............................................. Pengukuran Daya dengan satu wattmeter ................. Tegangan Bintang dan segitiga ........................ Vektor Arus phasa dengan arus jala-jala.......................... L............81 3............................ Vektor Tegangan dan Arus beban Resistif tidak seimbang................. Segitiga Daya Kompensasi .......................6 xi Peta Jenis-jenis Mesin Listrik ...........82 3..............60 3............................... Rangkaian Resonansi LC .........65 3...85 Rangkaian Paralel R.............................. Pembangkitan Tegangan Induksi .. Vektor Arus dan Vektor Konduktansi................ Penyederhanaan rangkaian . Diagram Arus Resonansi............64 3........................... Vektor Tegangan phasa-netral.................................................. 4-2 4-3 4-4 4-4 4-6 4-6 ....................75 3...............DAFTAR GAMBAR 3................................... Nameplate Trafo Satu Phasa .. pengukuran dan beban bintang-segitiga ....................... Kompensasi Sentral ................74 3....................................................54 3.............68 3..................................1 4.................63 3..... Bentuk Tegangan Input........... Gelombang Sinusoida 3 phasa .............77 3. Aliran Daya Reaktif Sebelum dan Sesudah Kompensasi...............50 3....... Tegangan phasa netral.. Vektor Arus Magnetisasi. Lampu TL dengan kompensasi kapasitor.... Rangkaian pembangkit...............................

..43 4...................... Namplate Trafo daya tiga phasa............ Trafo tiga phasa belitan primer dan sekunder hubungan Bintang .....................................................34 4............ Rangkaian Trafo Welding ............ Susunan belitan primer dan sekunder .......... M dan tipe UI ..............................35 4.......................................44 4.....36 4.......................................................................... Trafo 3 phasa hubungan Segitiga terbuka (hubungan VV) .........18 4........................ Grafik tegangan fungsi arus....................DAFTAR GAMBAR 4....... ........ Bentuk inti Trafo 3 Phasa .............................38 4.............8 4..................................................................................................................... Grafik Arus Hubung Singkat Trafo Grafik Arus Hubung Singkat Trafo ....50 Belitan primer dan sekunder Trafo Satu Phasa .....................................10 4...............16 4....24 4..............................................11 4.28 4.......... Inti Trafo jenis pelat digulung ....... Keterangan nameplate Trafo Arus ............................................................................. Aplikasi Trafo arus sebagai meter potable .....20 4......... Bentuk fisik Trafo Arus (CT) ...........12 4..................27 4......... Pengukuran dengan trafo tegangan (PT) ..........................13 4........ Rangkaian pengganti Trafo sekunder dihubung singkat ..........................15 4........... Grafik tegangan sekunder fungsi arus beban ......... Rangkaian ekivalen Trafo ........................................ Relay Buchholz ..40 4...........................................22 4................................................ Vektor tegangan a) beban induktip b) beban kapasitip ..... Pengawatan Uji Trafo a) Uji tanpa beban b) Uji hubung singkat ...................... pada Trafo Welding .................................................... belitan sekunder hubungan Bintang ......49 4.........47 4...................26 4...... Pengukuran dengan Trafo Arus ................. Trafo tiga phasa belitan primer dan sekunder hubungan Segitiga ......... Vektor tegangan dan arus pada Uji hubung singkat ...........32 4........................42 4.................................25 4................................ Pemasangan Trafo Outdoor ...... 4-7 4-7 4-8 4-8 4-8 4-9 4-9 4-9 4-10 4-10 4-11 4-11 4-12 4-12 4-12 4-13 4-14 4-14 4-15 4-15 4-15 4-16 4-16 4-16 4-17 4-17 4-17 4-18 4-18 4-19 4-20 4-20 4-20 4-21 4-21 4-22 4-22 4-23 4-23 4-24 4-24 4-24 4-25 4-26 xii .....................14 4......................... Paralel Dua Trafo Tiga phasa ...............................29 4..........19 4................... Trafo daya (Yyn6 dan Dyn5) dengan beban asimetris . Paralel Dua Trafo satu phasa ....... Nameplate Trafo Arus .......................... Rangkaian pengganti Trafo tanpa beban ......................................37 4................17 4................9 4...........................41 4................ Pengaturan Tapping terminal Trafo Distribusi ......................L................................................................................ Vektor kelompok Jam pada Trafo 3 phasa . Prinsip Transformator khusus untuk Welding .........................23 4................................................... Name plate Trafo tegangan ........33 4..........................45 4........................ Inti Trafo tipe EI satu Phasa ..................46 4...... Belitan primer dan sekunder Trafo tiga phasa .........................48 4........... Trafo daya Yzn5 dan bentuk vektor tegangan sekundernya ....................21 4......... Rangkaian pengganti Trafo dengan komponen resistansi dan induktansi .....30 4.. Rangkaian listrik Autotransformator ............. Trafo tiga phasa dengan belitan primer hubungan Segitiga....................... Vektor tegangan dan arus pada Uji tanpa beban...................................7 4............................. Bentuk Inti Trafo tipe E-I.............................39 4.............. Grafik efisiensi Transformator ...... Bentuk fisik Transformator tiga phasa ..31 4............................ Autotrafo dengan bentuk inti toroida ......................

29 5......................10 5.......... Hubungan belitan Segitiga Dahlander berkutub empat (p=2) ..................38 5..............................24 5...... Prinsip Medan Magnet Utama dan Medan magnet Bantu Motor Satu Phasa .............................................................28 5................30 5...... Pengujian Motor Listrik di Laboratorium ............. Karakteristik putaran fungsi torsi beban ..................26 5........................................ Hubungan belitan Bintang Ganda................................................................1 5.....................................................................39 5...................34 5...15 5................. Hubungan Belitan Motor Dahlander ......................... Pengawatan Pengasutan Bintang-Segitiga .........18 5....................20 5...32 5........41 5............. Nameplate Motor Induksi Jenis Slipring .. Pengawatan Pengasutan Soft Starting...............42 xiii Pengukuran kecepatan dengan Tachometer ........... Torsi Motor . Karakteristik Arus Pengasutan Soft Starting ...............................................40 5................................................37 5..27 5............................................. Putaran motor dilihat dari sisi poros .........................................................................................DAFTAR GAMBAR Bab 5...... Bentuk rotor sangkar ...........11 5..................................................... Karakteristik Torsi Pengasutan Bintang-Segitiga ..................14 5...........................................31 5....21 5........... Torsi motor pada rotor dan torsi pada poros ........... Pengawatan Motor Slipring dengan tiga tahapan Resistor ........................................... Belitan stator motor induksi 2 kutub ....................................... Belitan Stator dan Rotor Motor Slipring berikut Resistor pada Rangkaian Rotor........... Prinsip kerja motor induksi .................................. Karakteristik Torsi............ berkutub dua (p=1) ....................4 5....6 5........................................ Karakteristik Torsi Pengasutan Soft Starting ........................................ Medan magnet pada Stator Motor satu Phasa ..13 5............. Karakteristik parameter efisiensi........................8 5............................ faktor kerja dan arus beban..................... Pengawatan Pengasutan Resistor Stator.......25 5.........................................................12 5................. Nameplate motor Induksi......................... Karakteristik torsi Motor Slipring ..... Karakteristik Torsi dengan tiga tahapan .........36 5. Karakteristik Arus fungsi putaran............................. Bentuk gelombang sinusoida dan timbulnya medan putar pada stator motor induksi ......................... Karakteristik Torsi Pengasutan Resistor Stator .......19 5.. Motor Listrik Arus Bolak Balik 5.............. Fisik motor induksi . Karakteristik Torsi motor induksi ...................................... Karakteristik Arus Pengasutan Bintang-Segitiga .......................................... Pengawatan Motor Induksi Pengasutan Langsung (DOL) .............23 5..........putaran......................... 5-2 5-2 5-3 5-4 5-4 5-5 5-6 5-7 5-7 5-8 5-8 5-9 5-9 5-10 5-10 5-11 5-11 5-12 5-12 5-12 5-13 5-14 5-14 5-15 5-15 5-15 5-16 5-16 5-17 5-17 5-17 5-18 5-18 5-19 5-19 5-20 5-20 5-20 5-21 5-21 5-21 5-22 ... Pengasutan DOL ............... Rotor sangkar ................................................... Pengawatan Pengasutan Tegangan dengan Autotransformato........................ Pengasutan DOL ........................................................................2 5............17 5.........9 5.......... Gelombang arus medan bantu dan arus medan utama .............. Rugi-rugi daya motor induksi .......... Bentuk fisik Motor Kapasitor .................................. Rangkaian Belitan Motor dua kecepatan (Dahlander) ..................16 5..........7 5..3 5.................................................. Bentuk fisik Motor Induksi Rotor Slipring ...............................22 5...5 5........35 5...........33 5......................................

.................... Model kerja Motor DC .........................32 Stator Mesin DC dan Medan Magnet Utama dan Medan Magnet Bantu ............................... Karakteristik arus Pengasutan Motor DC ..................................... Pemegang Sikat Arang ...........16 6.........14 6............... Kutub Magnet Utama....... Bentuk Fisik Generator DC ........ Karakteristik tegangan generator Shunt ............. 6-2 6-2 6-3 6-3 6-4 6-4 6-5 6-5 6-6 6-6 6-7 6-7 6-8 6-8 6-8 6-9 6-9 6-10 6-10 6-10 6-11 6-11 6-11 6-12 6-12 6-13 6-13 6-14 6-14 6-15 6-15 6-15 xiv ............................... Model Prinsip Kerja Generator DC ...................19 6... Prinsip pembangkitan tegangan DC ........ Karakteristik Tegangan generator kompound ... Proses pembangkitan Torsi Motor DC ..........22 6................................................................................................. Garis Netral Reaksi Jangkar ..... Bentuk fisik Motor Shaded Pole . Kaidah Tangan Kanan ..... Kutub bantu dan Belitan Kompensasi ................28 6................................... Penampang Motor Shaded Pole ..31 6...... Fisik Mesin DC ..9 6..................................20 6.......23 6............................45 5......3 6............ Starting Motor DC dengan Tahanan Depan jangkar .......................... Pembangkitan Tegangan DC pada Angker ............................ Membalik arah putaran Mesin DC .....................................................................................6 6............................................................ Garis medan Magnet jangkar .............................. Komutator pada Motor Universal ........................................................... Karakteristik Torsi Motor kapasitor..15 6..................................... Karakteristik tegangan Generator Penguat Terpisah ..................... Pengecekan sifat elektromagnetik pada Jangkar Motor DC ...47 5.......................30 6.......................................................44 5............... belitan kutub bantu dan belitan kompensasi ... Rangkaian Generator Belitan Shunt ..............................11 6.................. Pergeseran Garis Netral akibat Reaksi jangkar ...12 6.. a) Rangkaian Generator DC Penguat terpisah dan b) Penguat magnet permanen .....................................4 6............................26 6....10 6...........................................................................................DAFTAR GAMBAR 5.................................................. Stator dan Rotor Motor Universal ........ Rangkaian belitan jangkar......................50 Pengawatan Motor Kapasitor Pembalikan Putaran . Aturan Tangan Kiri untuk Prinsip Kerja Motor DC ..................46 5..................................1 6........................................................8 6..................................27 6....29 6.. Hubungan belitan penguat medan dan Jangkar Motor DC .13 6.......5 6............. Arah putaran Mesin DC ..................................................... Tegangan DC pada Komutator ... Mesin Listrik Arus Searah 6....................49 5........24 6.......................................................................................25 6...................................................................................................... Penampang Komutator ..43 5.......17 6........ a) Bentuk tegangan AC dan Slipring.............................................2 6........... dan b) Tegangan DC pada Komutator...............................................................................21 6............ Motor tiga Phasa disuply tegangan satu Phasa ......................... Kutub Magnet Utama dan Kutub Bantu Mesin DC .................. Pengawatan dengan Dua Kapasitor ...............................7 6... Karakteristik tegangan generator Shunt ..........48 5............. 5-22 5-23 5-23 5-23 5-24 5-24 5-24 5-25 Bab 6..............................................18 6...................................

........................................... Bentuk fisik kontaktor ................11 7........................................................ Pengaturan tegangan Jangkar dengan sudut penyalaan Thyristor ............... Tombol tekan ................14 7..................................38 6.............................24 7..........................................................................42 6................... kode angka dan terminal kontaktor .............16 7...... Diode............. Rangkaian Motor DC Seri........... Varistor dan RC sebagai pengaman relay ..........41 6.......................18 7..................49 6...........1 7..................................12 7.......................... Simbol dan bentuk fisik relay ......................................................... Rangkaian daya dan kontrol Direct ON Line (DOL) .............DAFTAR GAMBAR 6...................................17 7.......... Karakteristik putaran Motor DC Kompound .............................................. Pengawatan kontrol bintang-segitiga ..... Relay dikemas plastik tertutup.................26 xv Sistem Pengendalian terdiri rangkaian daya dan rangkaian kontrol Dasar Sistem Pengaturan Otomatik ....... Belitan Gelombang Tunggal . 6-16 6-16 6-17 6-17 6-18 6-19 6-20 6-20 6-20 6-21 6-21 6-22 6-22 6-23 6-24 6-26 6-26 6-28 Bab 7............................... Fisik MCCB................. Bentuk fisik kontak diam dan kontak bergerak ........ Timer OFF delay............................................................ Karakteritik putaran Motor Penguat Terpisah .............44 6.........15 7................................................................. Rangkaian daya dan kontrol motor induksi ...... Karakteristik putaran fungsi tegangan jangkar . Rangkaian Motor DC Belitan Shunt..............................46 6....21 7..................... Pengendalian Motor Listrik 7........................................................................................... Kutub bantu untuk mengatasi akibat Reaksi jangkar pada Motor DC .................................................. Simbol...........................................2 7.......... 7-2 7-2 7-2 7-3 7-3 7-3 7-4 7-4 7-4 7-5 7-5 7-5 7-6 7-6 7-6 7-7 7-7 7-7 7-8 7-8 7-9 7-9 7-10 7-11 7-11 7-12 ............................................20 7....................39 6..................... Belitan Gelung Tunggal ..............................10 7....................................................... Tampak irisan Miniatur Circuit Breaker ....................................... Simbol timer dan karakteristik timer .............................40 6......................25 7.45 6...... Prinsip Belitan Gelung ............................... Kontrol ON-OFF dengan bimetal .................................... Rangkaian Motor DC Belitan Kompound................. Koil set-reset..........48 6.................. Hubungan terminal a) Bintang b) Segitiga.22 7...... Tampak irisan Motor Control Circuit Breaker ..........47 6.............13 7........................................................33 6.....................................3 7.......................36 6........8 7.....................................................................9 7................... Tampak samping irisan kontaktor........7 7... Prinsip Belitan Gelombang ................... Jenis-jenis kontak .6 7.................................................................................................... Komponen Reed Switch .............Segitiga ............................................................37 6......... Rangkaian Motor DC Penguat Terpisah........................43 6.................................... Karakteristik putaran Motor DC Seri ................................... Pengawatan Daya Bintang .34 6................. Karakteristik putaran fungsi arus eksitasi ...................19 7............................ Letak Sisi-sisi Kumparran dalam Alur Jangkar ........... Kontrol relay impuls .............................35 6.................................................4 7...............23 7..............50 Drop tegangan Penguat Medan Seri dan Jangkar Motor DC ............ Belitan Jangkar ... Perbandingan DOL dan Bintang Segitiga...........................................5 7........

..................32 7............... Pengawatan motor slipring dua tahap resistor ... Prinsip kerja alat ukur digital .............................46 7... 7-13 7-13 7-14 7-15 7-16 7-16 7-17 7-18 7-18 7-19 7-20 7-20 7-21 7-22 7-22 7-23 7-23 7-23 7-24 7-24 7-25 7-25 7-26 7-27 7-27 7-28 7-29 7-30 7-31 7-32 7-32 Bab 8................................ Multimeter digital AC dan DC .................................. Pengawatan kontrol dua motor bergantian ..... Nameplate motor induksi bintang segitiga ................ Tiga jenis display digital ... Pengaman under voltage ......................................................52 7...........54 7... Pengawatan a) Ampermeter Switch b) Voltmeter Switch ......................13 Tampilan meter Digital ...... Pengawatan Daya Pembalikan Putaran Motor Induksi ..................47 7.......................37 7..................................................................31 7.................................. Kontrol pembalikan motor dilengkapi lampu indikator ........................ Pengawatan daya pengasutan resistor dua tahap .................................................... Pengawatan pengasutan dengan autotransformator ................. Diagram Satu Garis Instalasi Pengasutan Soft Starting .......................... Penunjukan meter analog dan meter digital .......................................43 7............................................................................. Pengaman beban lebih dengan PTC/NTC .... Pengaturan Selang Waktu Oleh Timer .12 8.............................. Pengawatan kontrol motor slipring ..........27 7...................................34 7..................53 7................... Pengawatan kontrol pembalikan putaran .........30 7...............38 7....................... Jenis skala meter analog ........................ Pola penyimpangan jarum meter analog ................................... Prinsip Alat Ukur Kumparan Putar ............................33 7......56 7............................ Pengawatan kontrol otomatis bintang-segitiga ... Pengawatan soft starting a) DOL b) Bintang segitiga ...............50 7...... Pengawatan kontrol bintang segitiga dengan timer ............. Pemakaian Trafo Arus CT Pengamanan Motor ............... Alat Ukur dan Pengukran Listrik 8.................................36 7..........................41 7..................................49 7.......................... Pengawatan kontrol pengasutan resistor dua tahap ................51 7........ Pengamanan bimetal overload dan arus hubung singkat .............. Pengawatan daya bintang-segitiga ..39 7......... Instalasi pompa air dgn kendali dua buah level switch ........................... Pengawatan daya dua motor bekerja bergantian .......11 8......................42 7...........................................................6 8......................................................... Dudukan poros jarum penunjuk ..DAFTAR GAMBAR 7................ Pengawatan kontrol autotransformator ...5 8...............3 8........35 7........... 8-2 8-2 8-5 8-5 8-6 8-6 8-6 8-7 8-7 8-8 8-8 8-8 8-9 xvi ..55 7..................................... Instalasi pompa air dgn dua pompa ............................8 8..........1 8.44 7.... Instalasi Pompa Air Dengan Kendali Level Switch .................10 8..............................7 8........28 7.......... Meter listrik Analog ........................ Multimeter analog ............. Pengawatan motor slipring tiga tahap resistor ....2 8.......................9 8............................................................. Tata letak komponen dalam bok panel .................48 7........45 7..57 Hubungan Bintang Segitiga .4 8............................29 7. Karakteristik a) Arus Fungsi Putaran b) Torsi Fungsi Putaran ................ Tampilan penunjukan digital ....... Instalasi Pompa Air Dengan Kendali Pressure Switch ..............40 7...................................... Komponen alat ukur listrik analog ...................

...... Mengukur tegangan AC dengan Osiloskop ... Tahanan seri RV pada Voltmeter ...................................40 8................................... 9..........................................33 8.... Prinsip alat ukur besi putar ................................ Mengukur Arus AC dengan Osiloskop ............32 8................. 9........................................................ Blok diagram sistem Osiloskop ....4 Semikonduktor Tipe N ......................... 9............. Prinsip Alat ukur Piringan Putar (kWHmeter) ......7 Simbol dan fisik Diode ......................................................................................................5 Semikonduktor Tipe P ........8 Diode Panjar Maju .1 Transistor ................................................ Mengukur beda phasa dengan Osiloskop ...23 8.................. 9..........17 8............................................................................................................................................................ Jenis-jenis Pengukuran Tahanan ...................................................................................................39 8............. Blok diagram Osiloskop dua kanal ..............................................44 8... Pengawatan kWH meter satu phasa dan tiga phasa ..................2 Thyristor ..................................... Rangkaian jembatan Wheatstone .............................................. 9............................................ Blok diagram Osiloskop Digital ...... Bentuk fisik Osiloskop ..........................................30 8... Prinsip elektrodinamik .46 Meter kumparan putar dengan diode penyearah .................10 Karakteristik Diode ............................................................................... Pancaran elektron ke layar pendar CRT ..... Mengukur sudut penyalaan TRIAC dengan Osiloskop ................DAFTAR GAMBAR 8................................................................................ 9........................15 8...........18 8..................................................... Sampling sinyal analog oleh ADC ............................45 8.12 Karakteristik Diode Zener ................. Mengukur sudut penyalaan TRIAC dengan Osiloskop ................................................. Pengembangan model Wheatstone ................... Sinyal input berbeda fasa 900 dg output ....... Pemasangan wattmeter ..........................26 8..............3 Orbit atom .....21 8......................................34 8...35 8.9 Diode Panjar Mundur ....... 9..........11 Aplikasi Diode Zener sebagai penstabil tegangan .................... xvii 9-2 9-2 9-3 9-3 9-4 9-4 9-5 9-5 9-6 9-6 9-7 9-7 .........................24 8.. Mengukur tegangan DC dengan Osiloskop ....6 Sambungan PN ...........42 8...........................................................................................................20 8......................31 8..................... Penambahan Batas Ukur meter ......................................................38 8....29 8..........................................................19 8...25 8..... Tahanan paralel ampermeter .............. Tahanan depan dan paralel ampermeter ............22 8....14 8............................28 8......................... 9. 9.....................................................................................................................37 8........... 9...................16 8.......... 9..................... Pengawatan wattmeter dengan beban satu phasa ..36 8....................................................... Trigering memunculkan sinyal gigi gergaji .................... Batas ukur Ampermeter ....................................41 8................................... Lissajous untuk menentukan frekuensi ........................... Pembagi tegangan 10 1 pada Probe .......................43 8............... 8-9 8-10 8-10 8-11 8-11 8-12 8-12 8-13 8-14 8-14 8-15 8-15 8-16 8-16 8-17 8-17 8-18 8-19 8-20 8-20 8-21 8-22 8-23 8-23 8-24 8-25 8-26 8-26 8-27 8-28 8-28 8-29 Bab 9 Elektronika Dasar 9.. kWH meter ...............

......................................... Rangkaian dan Diagram Waktu Schmitt Trigger ...................................... Fisik Transistor ..........................................14 9................................................ Transistor Sebagai Gerbang NAND .........................................10 10........................... Rangkaian Bias Pembagi Tegangan Dengan RC ...31 9................ Diode Setengah Gelombang 1 Phasa ........ Garis Beban Transistor ...... Fuse Sebagai Pengaman Thrystor ........................19 10....................... Tegangan Operasi Transistor sebagai saklar ..... Rangkaian Bias Pembagi Tegangan Tanpa RC ...........................................................................................19 9............................................................................................... 10-2 10-3 10-4 10-4 10-5 10-5 10-6 10-6 10-7 10-7 10-7 10-8 10-9 10-9 10-10 10-10 10-11 10-11 10-12 10-12 10-13 xviii .......1 10...................... Bentuk Fisik & Simbol Thrystor ................................... Karakteristik Thrystor ...................................14 10...............................5 10........................ Tegangan bias Transistor .................9 10............................................. 9-8 9-8 9-8 9-9 9-9 9-10 9-11 9-11 9-12 9-13 9-13 9-14 9-15 9-15 9-16 9-16 9-17 9-17 9-18 9-18 9-19 9-19 9-19 Bab 10......... Karakteristik Output Transistor ..........35 Transistor Bipolar ..........................29 9...34 9............................................................18 10.......................................................................... Struktur Fisik dan Kemasan IGBT ........ Diagram Waktu Bistable Multivibrator ..............................................................................12 10......24 9......................................................13 10...........................22 9.................. Karakteristik Transistor Empat Kuadran ...... Rangkaian Push-Pull ................15 9...Diode ..........30 9... Titik Kerja Penguat Klas AB ................. Karakteristik Input Transistor .................. Sinyal Pada Titik-titik Pengukuran ........... Penguatan Sinyal ......................................................... Transistor dengan Tahanan Bias ...........20 10..... Karakteristik Diode ................ Rangkaian Dasar Transistor ...21 9.............................................................................7 10.............2 10..................... a) Panjar maju (forward) dan b) panjar mundur (reverse) .................................. Pemindahan Panas Pada Pendingin Transistor ...16 9.. Bentuk Pendingin Transistor .......... Transistor Sebagai Penggerak Relay ............... Diagram Blok Konverter Daya ....................15 10..........................................................25 9...........DAFTAR GAMBAR 9......... Rangkaian Penyearah Jembatan .....17 10..............................26 9............................... Rangkaian Bistable Multivibrator ...........................13 9.....32 9..................................................................... Nilai Batas Thrystor ... Thyristor ............. Karakteristik Output Transistor ..........................................21 Pemanfaatan Energi Listrik .............8 10.... Karakteristik Output IGBT .......................11 10..33 9............................................. Elektronika Daya 10......................20 9........... Karakteristik Transistor .........4 10............................................................................................... Transistor Sebagai Saklar ...........................17 9..................................................... Diagram Blok Konverter Daya .........................28 9..........................................2 10..........................................................................................................6 10.... Prinsip Kerja Penguat ... Simbol dan fisik Diode ..............................................18 9.................16 10.... Tegangan Bias Transistor NPN ............. Casis Transistor Dengan Isolator .....23 9..........................................27 9.......

11-2 11-2 11-3 11-3 11-3 11-4 11-4 11-4 11-6 11-7 11-7 11-8 11-8 11-9 11-9 11-9 ........................................12 11.....................45 10..7 11....... Blok Diagram Pengaturan Kecepatan Motor DC .32 10.........13 11.............. Bentuk Gelombang Penyearah Penuh 3 Phasa ................... Bentuk Tegangan DC Penyearah 3 Phasa .......42 10.................................................DAFTAR GAMBAR 10..........36 10............... Aplikasi IGBT Untuk Kontrol Motor Induksi 3 Phasa ........................................................... Grafik Pengaturan Sudut Penyalaan ....3 11.... Gangguan listrik dibeberapa titik ..4a 11..................................................33 10........................................................................................................ Tahanan tubuh manusia .......8 11.... Penyearah Terkendali Jembatan 1 Phasa ................................................................................ Grafik Fungsi Penyalaan Gate Thrystor . Rangkaian Dimmer dengan TRIAC ......... Tegangan langkah akibat gangguan ke tanah ............. Penyearah Terkendali 3 Phasa ...................................... Tegangan sentuh tidak langsung .............. Tegangan dan Arus DC Beban Resistif ...1 11.....9b 11.......2 11............ Motor listrik tahan dari siraman air ............................4b 11...................................................................................................... Urutan Penyalaan Gate-Thrystor 3 Phasa .............. Rangkaian Pembangkit Pulsa Chip TCA785 ....................... 10-14 10-15 10-15 10-16 10-17 10-17 10-19 10-19 10-19 10-20 10-20 10-20 10-21 10-21 10-22 10-23 10-23 10-24 10-24 10-25 10-25 10-26 10-26 10-27 10-28 10-29 10-29 Bab 11 Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11...............40 10..30 10...38 10....... Peta Tindakan Pengamanan .................39 10............... Simbol pengamanan pada nameplate ........................26 10.............................10 11...28 10... Pelindung tangan dan mata ...................................................... Tegangan sentuh langsung ................................ Tegangan dan Arus DC Beban Induktif .......46 10................... Penyearah ½ Gelombang 3 Phasa Diode Terbalik ........37 10....................................... Stop kontak khusus untuk tegangan rendah ............29 10........24 10..... Gangguan listrik dari beban lampu ................35 10.......... Urutan Kerja Penyearah Diode 3 Phasa ½ Gelombang ................ Aplikasi Pengendalian putaran Motor DC .. Bentuk Gelombang Chip TCA785 .......................................................47 10.................. Aliran listrik sentuhan langsung .23 10........................................... Bentuk Dasar Pengendali Tegangan AC .............. Sudut Penyalaan dan Output Tegangan DC ½ Gelombang ..................................... Motor listrik tahan siraman air vertikal dan segala arah .............31 10..................34 10...............11 11... Pengaman dengan trafo pemisah .................................. Penyearah Jembatan Gelombang Penuh 3 Phasa .........48 10........ Pengamanan dengan tegangan rendah .......................41 10......25 10.............5 11.......49 Penyearah Jembatan Dengan Filter RC ..............................................................................14 xix Grafik bahaya arus listrik ................43 10................................ Penyearah Terkendali ½ Gelombang ....................... Penyearah Diode ½ Gelombang 3 Phasa .......... Modul Trigger Thrystor ..........6 11.................... Penyearah Thrystor dengan Diode ........44 10..27 10...... Rangkaian Daya 1 Phasa Beban DC 15 Kw ................... Penyearah Thyristor ½ Gelombang 3 Phasa ..................................9a 11.............................................

..........................25 Beda tegangan titik netral akibat gangguan ke tanah ........4 12.................................................21b Sistem Pembumian TN-C-S ..... 11............................................5 12.............................................16 Kabel berisolasi thermoplastik ..................................... Diagram blok sistem kontrol open-loop ....................................41 Pengukuran pembumian dengan megger ..................................................................9 Pengaturan manual tegangan pada Generator .....15 Pengamanan dengan selungkup isolasi .................28 Pemasangan ELCB untuk pengamanan kelompok beban ....45 Pengukuran tahanan pembumian .............21c Sistem pembumian TN-C .............................. Diagram blok sistem pemanasan air secara otomatis ........................ 11. 11.......................................................................37 Jarak aman pengamanan ruang kerja ...........3 12.......................................................................... 11........43 Pengukuran tahanan isolasi lantai/dinding ........................ 11...................................1 12...... Pengaturan tegangan secara otomatis ...................................... 11...............7 12.............................. 11.... 11.... 11................. 11.............. 11...8 12............ Diagram blok sistem kontrol closed-loop ..........31 Pengukuran tahanan pembumian sistem TT ...35 Isolasi ganda pada peralatan listrik ........... 11................ 11.......................... 11............ 11....38 Pengamanan dengan pemisahan sirkit listrik .20 Pengamanan sentuhan tidak langsung .............23 Sistem Pembumian IT ..................................................................................................36 Mesin bor dengan isolasi ganda ...........27 Fisik ELCB ............. Diagram blok sistem pemanasan air ............................................................... 11...19 Jarak aman bentangan kabel udara ....................... 11............ 11.......................... 11.2 12........DAFTAR GAMBAR 11.. Pengaturan tinggi permukaan air ..................17 Perlindungan pengaman stop kontak ................ 11..... 11............... 11....................46 Pengukuran tahanan bumi ELCB ........30 ELCB pada pembumian TN ............18 Pengamanan dengan rintangan .......40 Pengamanan pada peralatan listrik .. 11........................................................................................................ 11.............................. 11........................... 11...............................................................29 ELCB portabel .........34 Simbol pengamanan isolasi ganda ....21a Sistem Pembumian TN-S ...........22 Sistem Pembumian TT .................................................44 Pengujian sistem pembumian TN ...................... 11................... 11.......... 11-10 11-10 11-10 11-11 11-11 11-11 11-13 11-13 11-13 11-13 11-14 11-14 11-14 11-15 11-16 11-16 11-16 11-17 11-17 11-17 11-18 11-19 11-19 11-20 11-20 11-21 11-21 11-21 11-22 11-22 11-23 11-24 11-24 11-25 Bab 12 Teknik Pengaturan Otomatis 12..................................... 11................... Sistem Pemanasan Air ..........................................................32 ELCB pada sistem TT .........39 Trafo pemisah melayani dua stop kontak .......... 11...................................................42 Pengukuran tahanan isolasi ..........................................................24 Sistem pembumian TN-C-S digabung kawat PE ...........................................................6 12................................................................26 Prinsip kerja ELCB ....................33 Pengukuran tahanan pembumian sistem IT ... 11. 12-2 12-3 12-4 12-5 12-6 12-7 12-8 12-8 12-9 xx ............... Diagram blok sistem kontrol . 11................................... 11.............

..........14 12............................56 12................... Perubahan Tegangan fungsi Arus Eksitasi .....................26 12.......................................11 12......................................................15 12........... Respon Kontrol Deadtime ........................23 12....................................................................................................................................... Kontroler suhu bimetal .25 12....................43 12...............................17 12......................................36 12...................44 12..... Katup Magnetik ..................................................................34 12.............................. Proximity switch terpasang pada silinder .................................... Katup magnetik 3/2 .33 12........ Respon Kontrol PT1 .............................................................................................................................................................................................................................................52 12... Kontroler dua posisi (On-Off) .............................30 12...45 12..............................28 12... Perilaku statis Generator Arus Searah ...... Aplikasi Kontroler PI .......................37 12......................................................................................22 12.................... Kontrol proporsional ............................................... Sistem PT0 .............. Konstruksi Relay dan kontaktor .... Respon kontroler derivatif untuk sinyal step ...............................................................................35 12........................................... Katup magnetik 5/3 ............ Kontrol otomatis pada mobile robot ....16 12................. Kontroler Proporsional Integral .........................29 12............ Katup magnetik 5/2 ...13 12........... Karakteristik kontroler tiga posisi dengan posisi tengah nol ........................................................ Kontroler Integral ......................50 12...... Karakteristik dan simbol kontroler tiga posisi ......................... Simbol kontrol on-off ............................................. Aplikasi kontroler PID ................................................NC dan toggle ...... Model Sistem Kontrol PT2 ..................31 12....................................................................49 12..54 12................ Kontrol tiga posisi .................51 12................24 12.57 xxi Diagram blok pengaturan tinggi air .......................39 12............ Tombol NO..... Limit switch tekanan .......38 12.53 12...............................20 12...................... Respon kontroler derivatif untuk sinyal lereng ........ Limit switch .............. Respon Sistem PT2 ..............................................55 12.................. Hubungan tegangan fungsi arus .............................................................................. 12-9 12-9 12-10 12-11 12-11 12-12 12-12 12-13 12-14 12-14 12-15 12-15 12-16 12-16 12-17 12-18 12-18 12-19 12-19 12-19 12-20 12-20 12-20 12-21 12-21 12-22 12-22 12-23 12-23 12-23 12-24 12-24 12-25 12-25 12-26 12-28 12-29 12-29 12-30 12-30 12-31 12-32 12-32 12-33 12-33 12-34 12-34 12-34 ............................................................................................................................. Prototipe mobile robot ............ Model fisik PT1 ...... Katup magnetik impulse 5/2 ................................................... Aplikasi kontroler proporsional ..... Respon kontrol proporsional ....................................... Model Dead Time ..21 12.............................. Respon kontrol PTn ......................... Karakteristik osilasi ...27 12.10 12............40 12.......................................................... Respon kontroler PD terhadap sinyal lereng ............................................................................................ Aplikasi kontroler integral .. Batang jangkar katup magnetik .......................19 12................................................48 12................................................. Komponen elektropneumatik ...........................................12 12.............41 12................... Aplikasi Kontroler Derivatif .........42 12..46 12................. Kontaktor dengan kontak utama dan kontak bantu ........................................32 12.......18 12.................................... Respon kontroler PID terhadap sinyal step ........47 12............ Aplikasi Kontroler PD ...........................DAFTAR GAMBAR 12..........................................................

..................................16 Vektor Diagram dari Beban Generator .................................................. 13..................6 Urutan Fasa ABC .........5 Generator .............14 Kurva dan Rangkaian Ekuivalen Generator Tanpa Beban .............. 12-35 12................28 Sychroscope ........................................................... 13.....................................2 14......7 Belitan Berlapis Ganda Generator Sinkron Tiga Fasa ...............18 Rangkaian Test Generator di Hubung Singkat ...8 Diagram Phasor dari Tegangan Induksi Lilitan ........................................ 13. Generator Sinkron Generator Sinkron Tiga Fasa dengan Penguatan Generator DC “Pilot Exciter”.. 12-35 12............ Distribusi Tenaga Listrik ke Konsumen ............................ ..............................................10 Kisar Kumparan ....................... 14-2 14-3 14-4 14-4 14-9 xxii .......................... 13................................ 13............................................................. Saluran penghantar udara untuk rumah tinggal (mengganggu keindahan pandangan) .................59 Silinder operasi ganda katup 5/2 ...58 Silinder tunggal dengan dgn katup magnetik 3/2 ................. 13...... 13.. .......... 13.....4 Inti Stator dan Alur pada Stator ......................................................................25 Vektor Diagram Potier ............. 13...................... 13........11 Vektor Tegangan Lilitan ......................3 Bentuk Rotor ................................26 Rangkaian Paralel Generator ..2 Generator Sinkron Tiga Fasa dengan Sistem Penguatan “Brushless Exciter System”............................... Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik ......................... Hubung Singkat..................................................................................................................22 Vektor Arus Medan ............ 13....................................................... 13...........17 Rangkaian Test Generator Tanpa Beban.. 13............24 Diagram Potier ...........................1 13-3 13-3 13-4 13-4 13-5 13-6 13-6 13-8 13-8 13-9 13-9 13-11 13-12 13-13 13-14 13-15 13-16 13-17 13-17 13-18 13-19 13-20 13-21 13-22 13-23 13-24 13-25 13-26 Bab 14................ 13.........19 Karakteristik Tanpa Beban dan Hubung Singkat sebuah Generator ............... 13..........1 14............................................ 13.............. Penyaluran energi listrik dari sumber ke beban ..............27 Rangkaian Lampu Berputar ............................................................... 13. dan Vektor Arus Medan....................................... 13..........13 Diagram Generator AC Tiga Fasa Dua Kutub .................12 Diagram Generator AC Satu Fasa Dua Kutub..............................................................................60 Silinder ganda dengan katup 5/3 ... 13.........................DAFTAR GAMBAR 12.21 Vektor Diagram Pf “Lagging” ............... 13.... 13.................3 14...........23 Karakteristik Beban Nol....................................................5 Belitan Satu Lapis Generator Sinkron Tiga Fasa ...................... Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14............................. 12-36 Bab 13.............. 13..........................................................20 Pengukuran Resistansi DC .........................15 Kondisi Reaksi Jangkar .................... ....................................................................................... .....4 14............................... 13.. 13........ 13...........9 Total ggl Et dari Tiga ggl Sinusoidal .................................... 13.... 13............ 13......................................... ....

.... Electronic Load Kontroller ................ 4 kawat ................................................................. Jalur pipa a) yang melingkar b) jalur memintas .......................9 Instalasi rumah tipe T-125 lantai dasar ................... 14................................ 14..........18 OCB (Oil Circuit Breaker) .................. 14.......... 14. Tandon Air ..................4 15..................................6 Saluran kabel bawah tanah pada suatu perumahan elit ........ Sistem Pembangkit Listrik Mikrohidro ........... 14...........................14 Contoh cubicle di ruang praktek POLBAN .... 14...........................................15 MCB (Miniatur Circuit Breaker) ...........10 Turbin dan Generator Mikrohidro .....13 APP Sistem tiga fasa .....................11 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan system tegangan Menengah 20KV dan Tegangan Rendah 380/220V....................... Mengukur ketinggian jatuh air ......................22 Rangkaian macam-macam Beban Sistem 3 phasa....... 14.................................... 14.....2 15................................................... Pemasangan Turbin dan Generator ...................................................17 ACB (Air Circuit Breaker) ...............16 Molded Case Circuit Breaker .....................1 15......5 15.............................................................................9 15....................................... 14............................................................. 14...... Pembangkit Listrik Mikrohidro 15.................................. 15-2 15-3 15-5 15-6 15-7 15-8 15-9 15-11 15-12 15-13 xxiii .................... 14.........................10 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan Tegangan Rendah 380/220V...............................................................DAFTAR GAMBAR 14.... 14......................................................... 14............. 14................... 14........ .................................................... ..............................................................8 Denah rumah tipe T-125 lantai dasar .......7 Situasi ........... Pipa melintas dan pembuangan air ke sungai .......................12 APP Sistem satu fasa ..... Hubungan kontrol kelistrikan ..................................3 15..............8 15. 14-10 14-11 14-13 14-14 14-15 14-16 14-17 14-17 14-20 14-21 14-22 14-23 14-24 14-24 14-25 14-26 14-27 14-28 14-30 Bab 15......................23 Macam-macam Stop Kontak .........................................19 VCB (Vakum Circuit Breaker) .............................6 15. 14.......................................................................................... Mengukur debit air ............. 14.....21 Diagram Transmisi dan Distribusi .........20 SF6 CB (Sulfur Hexafluoride Circuit Breaker) ................................................................................24 Piranti-piranti menggunakan motor ... 14.....7 15............

........ Tabel 11......2. Tabel 1....4 Bentuk tegangan dan arus listrik AC................ Tabel 11.......................... Waktu Pemutusan Maksimum Pada Sistem IT.................................................... Nilai resistansi isolasi minimum .......... Tabel 10..... Tabel 11......... Tabel 12...................... Jenis Pembumian Sistem ... Tabel 3. Aplikasi Op-Amp Sebagai Kontroller..6................ Tabel 6....... Tabel 8....7...................................10........2.... Tabel 14. Tabel 2.... Tabel 1...........................................................5 Tabel Nameplate Motor Induksi ................ Tabel 3.....2.................................1 Notasi pengenal belitan Generator DC ........ Batasan Nilai Transistor ................................................ Tabel 6.............. Tabel 11.....1....... ......................6 Koefisien temperatur bahan pada 200C .......... Tabel 11.......................1 Harga Sesaat Tegangan Sinusoida ....4 Hubungan Sisi Kumparan dengan Lamel Belitan Gelombang...................... Penampang penghantar sistem TN .....8 Pengukuran ......2 Parameter dan rumus kemagnetan ............. Tabel 1... Parameter kontroller pendekatan Chien/Hornes/Reswick ......... Perbandingan jenis kontroller untuk masing-masing aplikasi .............................................................2 Resistansi dan Konduktivitas ............................. Daya tersambung fungsi arus primer ............ Waktu pemutusan maksimum sistem TN .................. Tabel 11............................. Tabel 2...................5 Tahanan jenis bahan .. Tabel 1................... Aplikasi Transistor ..1..... Daya tersambung pada tegangan menengah ...............3 Tegangan dan arus pada Resistor.....6....... Tabel 9.......................3 Hubungan Sisi Kumparan dengan Lamel Belitan Gelung.........1................................ Waktu pemutusan maksimum sistem TN . Tabel 3. Tabel 11....... Tabel 3...................... Tabel 6.... Tabel 12...........8......2..............................DAFTAR TABEL   DAFTAR TABEL Tabel 1..........5......... Tabel 12....... Tabel 12............................................................1............... Tabel 11...... Tabel 11..... Istilah penting dalam sistem kontrol ............................................ Tahanan Pembumian RA pada Sistem TT ...................... Tabel 11................. 1-10 1-12 1-12 1-14 1-15 1-16 2-12 2-15 3-8 3-9 3-10 3-12 3-53 4-25 6-11 6-19 6-25 6-27 8-3 8-3 9-10 9-10 10-18 11-5 11-6 11-8 11-12 11-15 11-15 11-16 11-16 11-19 11-23 11-24 12-4 12-4 12-26 12-27 12-28 12-28 14-5 14-6 xxiv..... Contoh Simbol Indek Proteksi Alat Listrik ............................ Besaran dan Simbol Kelistrikan ......................................4......................................................... Kemampuan ELCB pada tegangan 230V .....1 Permeabilitas ...........................5......................2 Rangkaian Motor-motor DC ................1. Jenis Penyearah Diode . Parameter Ziegler-Nichols .................................................................3 Harga efektif gelombang sinusoida ...1....................... Tabel 14.................4......................1 Grup rangkaian umum untuk arus putar-transformator daya ......1 Kemampuan Hantar Arus ............... ........................................3.................................................................................... Contoh komponen sistem kontrol ...... Tabel 4........... Tabel 3........ Tegangan Sentuh yang aman .................................... Tabel 12.. Besaran Sistem Internasional ....................................................11.... Tabel 9...........3. Tabel 12....................2 Harga rata-rata gelombang sinusoida. Tabel 6....................2.........9... Tabel 8......... Kode IP XX .. Tabel 11............... Tabel 1..

.................. Daya Tersambung Tiga Phasa ............... 14-7 14-7 14-8 14-18 xxiv... Daya tersambung fungsi Pelabur .... Golongan Pelanggan PLN ...................................................6....4.................................. Tabel 14...........................................3....................DAFTAR TABEL   Tabel 14....... Tabel 14..5.............. .. Tabel 14. Standar Daya PLN .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful