Siswoyo

TEKNIK LISTRIK INDUSTRI
JILID 3 SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang

TEKNIK LISTRIK INDUSTRI
JILID 3
Untuk SMK
Penulis Perancang Kulit Ukuran Buku : Siswoyo : TIM : 17,6 x 25 cm

SIS t

SISWOYO Teknik Listrik Industri Jilid 3 untuk SMK /oleh Siswoyo ---Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. iii , 218 hlm ISBN ISBN : 978-979-060-081-2 : 978-979-060-084-3

Diterbitkan oleh

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2008

KATA SAMBUTAN Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya, kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan. Jakarta, Direktur Pembinaan SMK

PENGANTAR
Era persaingan dimasa sekarang dan masa yang akan datang mensyaratkan bahwa bangsa yang unggul adalah yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang unggul. Keunggulan SDM hanya dapat diraih melalui pendidikan. Pemerintah melalui UU Sisdiknas No 20/ 2003, jenjang pendidikan menengah kejuruan termasuk program vokasional yang mendapatkan perhatian. Buku Teknik Listrik Industri ini disusun berdasarkan profil standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk bidang Teknik Listrik Industri. Dengan pemahaman yang dimiliki, diharapkan dapat menyokong profesionalitas kerja para lulusan yang akan memasuki dunia kerja. Bagi para guru SMK, buku ini dapat digunakan sebagai salah satu referensi sehingga dapat membantu dalam mengembangkan materi pembelajaran yang aktual dan tepat guna. Buku ini juga bisa digunakan para alumni SMK untuk memperluas pemahamannya di bidang pemanfaatan tenaga listrik terkait dengan bidang kerjanya masing-masing. Buku ini dibagi menjadi lima belas bab, yaitu: (1) Pengetahuan Listrik dasar (2) Kemagnetan dan elektromagnetis (3) Dasar Listrik arus bolak-balik (4) Transformator (5) Motor Listrik arus bolak balik (6) Mesin arus searah (7) Pengendalian motor listrik (8)Alat ukur dan pengukuran listrik (9) Elektronika dasar (10) Elektronika daya (11) Sistem pengamanan bahaya listrik (12) Teknik pengaturan otomatis (13) Generator sinkron (14) Distribusi tenaga listrik (15) Pembangkit listrik Mikrohidro. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktur Pembinaan SMK, Kasubdit Pembelajaran, beserta staf atas kepercayaan dan kerjasamanya dalam penulisan buku ini. Kritik dari pembaca dan kalangan praktisi akan kami perhatikan. Semoga buku ini bermanfaat bagi banyak pihak dan menjadi bagian amal jariah bagi para penulis dan pihak-pihak yang terlibat dalam proses penyusunan buku ini. Amin

Penulis

i

................ 2-10 2..............................1-2 Generator Elektrostatis Van de Graff ........................ 3-2 3-4 .......................... 2-25 BAB 3 3............17 1.....................................................................1-9 Kerapatan Arus Listrik ........................................................................1 Prinsip Pembangkitan Listrik AC ..........1 Prinsip Kemagnetan ............. 2-16 2.............................................................6 1..........18 1......2 Fluksi Medan Magnet .............. 1-9 Tahanan Penganta.................... 1-13 Resistor .................. 1-27 Hubungan Seri Baterai ……............... 1-34 BAB 2 2........................ 2-2 2....5 Bahan Ferromagnet ............................................................................13 1......................................................2 Prinsip Dasar Listrik AC .....................1-7 Arus Listrik pada PenghantarLogam .. 1-24 Konversi Hubungan Bintang-Segitiga ........ 2-7 2......11 1................3 Kuat Medan Magnet ...............1 1............... 1-22 Rangkaian Resistor Gabungan .................................................................................4 1..................................................12 1..........9 1.....22 1................. 1-11 H u k u m Ohm .......................................... 1-32 Soal-Soal ......16 1....10 1....................................... 1-19 Mengukur Resistansi dengan Tegangan dan Arus .....15 1......20 1.........................................................................................1-20 Tahanan Dalam Baterai ......21 1.... 1-8 Mengukur Arus Listrik ............ 1-12 Tahanan Konduktor ............23 Fenomena Elektrostatis .. 1-16 Hubungan Paralel Resistor …...... 2-8 2.........2 1.......................................................................4 Kerapatan Fluk Magnet........................ 1-21 Ekivalen Sumer Tegangan dan Sumber Arus .. 2-14 2..............................................................14 1...................8 Rangkuman ....................................... 1-17 Hukum Kirchhof-Tegangan ................1-18 HukumKirchoff-Arus .......6 Rangkaian Magnetik ............5 1.................................................8 1..1-3 Tegangan Listrik...................7 Aplikasi Kemagnetan & Elektromagnet ........................3 1.........................................................................7 1.......... 2-23 2........9 Soal-soal ........ 1-28 Rangkuman ...........19 1.........................................................................................1-4 Arus Listrik................................ 1-16 Hubungan Seri Resistor .............. 2-9 2................ 3.........Daftar Isi : BAB 1 1...............................................................................................................................

..... 4-10 4..... 4-12 4....... 4-24 4........................................................................................................................................................ 4-21 4. 4-9 4.............10 Kompensasi Daya .............. 4-4 4..................................................................................................13 Transformator Pengukuran ............ 3................8 Sistem Listrik Tiga Fasa ........16 Transformator 3 Phasa ................................................................................................................... 4-25 4.......................7 Diagram Vektor Tegangan ... 4-17 4.8 Rugi-rugi Transformator .. 4-2 4......... 4-14 4..................................6 Rangkaian Resistor Seri dengan Kapasitor ...2 Transformator ..........................................................................................................................................................3..5 Rangkaian Resistor Seri Induktor dengan Listrik AC ..7 Resonansi .......... 3........................ 3..................9 Pengukuran Daya Listrik Tiga Phasa ................................15 Trafo Pengukuran Arus ................................ 4-16 4............11 Rangkuman .............. 4-20 4.......... 1 M e s i n Listrik ..................... 4-28 .............................................................. 4-3 4...............11 Autotransformator ........................5 Inti Transformator ..............24 Paralel Dua Transformator .... 4-7 4...............3 Prinsip kerja Transformator ....................................................... 4-22 4...............................................................................................10 Akibat Hubung Singkat ..... 3............................................................21 Konfigurasi Transformator 3 phasa ............. 4-27 4..23 Pengelompokan Hubungan Transformator .........14 Trafo Pengukuran Tegangan .......... 4-3 4......12 Soal-soal ...............................17 Inti Transformator 3 Phasa ............. 3..............25 Rangkuman .......22 Transformator dalam Jaringan Asimetris .............. 4-16 4....3 K o m p o n e n Pasif D a l a m Listrik AC ............ 4-23 4. 3.........................................26 Soal-soal ...... 4-9 4.................................................................... 3.................. 3-12 3-17 3-21 3-33 3-40 3-45 3-53 3-55 3-58 3-61 BAB 4 4 ...................12 Transformator khusus ................. 4-15 4.................................... 4-21 4.4 Bilangan Komplek .....20 Minyak Trafo dan Relay Buchholz ............................................. 4-20 4......................................................6 Rangkaian Listrik Transformator .... 4-13 4...................... 3..........................9 Efisiensi Transformator ...... 3...........19 Hubungan J a m Belitan Trafo ............18 Hubungan belitan Transformator ......................................... 4-18 4.............................................................4 Tranformator Ideal ...

..................................................................... 5........10 Pengasutan Hubungan Langsung (DOL) .. 5.................................................11 Pengasutan Resistor Stator ...............17 Motor Kapasitor ........ .3 Hubungan Kecepatan. 5..............15 Motor DC belitan Shunt..............................3 Generator penguat terpisah ..7 Reaksi Jangkar ......... 5....................13 Pengasutan Soft Starting .......................... 5....................16 Prinsip kerja Motor AC Satu Phasa ........................................................................................................... 5-22 Soal-soal ................................. 5.......... 6-8 6...................................... 5..15 Motor Dua Kecepatan (Dahlander) ..........................................2 Prinsip kerja Generator DC ..................................................... 5......13 Motor belitan Seri ................................... 6-18 6....................................9 Pengasutan Motor Induksi ......................................................... 5......................10 Starting Motor DC ...14 Pengasutan Motor Slipring ......6 Konstruksi Generator DC ............... 5................................. 6-15 6................ 6-8 6............................................ 5.... 6-19 6........................................ 5........ 6-2 6... 6-9 6.....................................9 Prinsip kerja Motor DC ...............................7 Putaran Motor Induksi ...11 Pengaturan Kecepatan Motor DC ..BAB 5 5..................... 6-12 6............................................................. 5................................................5 Konstruksi Motor Induksi ................1 Mesin Arus Searah ..................................................12 Reaksi Jangkar pada Motor DC ........................................................................................................... 6-16 6....... 5........................................ Torsi dan Daya Motor .............. 6-7 6............................ 6-21 ...4 Generator belitan Shunt ................................20 Motor Tiga Phasa Suply Tegangan Satu Phasa ...14 Motor DC penguat terpisah ................... 5-2 5-2 5-3 5-4 5-7 5-7 5-9 5-9 5-10 5-11 5-12 5-14 5-15 5-16 5-19 5-20 5-22 5-23 5-24 5-25 5-25 5-27 BAB 6 6.........................5 Generator belitan Kompound..................19 Motor Universal .......... 6-13 6...............................................8 Arah Putaran Mesin DC .........................8 Karakteristik Torsi Motor Induksi ..........................12 Pengasutan Saklar Bintang-Segitiga.........4 Prinsip Kerja Motor Induksi ........................................................... 6-10 6......... 5..........6 Rugi-rugi dan Efisiensi Motor Induksi ......1 Mengukur Kecepatan Putaran ........ 5........................... 5.............18 Motor Shaded Pole ........................................................................................ 6-4 6......2 Mengukur Torsi .21 Rangkuman .... 5... 6-20 6.......... ............... 5..... 5........

...........2 Komponen Sistem Pengendalian .... Alat Ukur Elektrodinamik ........................................................................20 Soal-soal ......................................13............... 7-21 7.........18 Rugi-rugi Daya dan Efisiensi Motor DC ........................................... 7-8 7............................12....................................... Pengukuran Arus DC ..10.............................. Osiloskop Digital . 8-2 8...................................8 Pengendalian Motor Soft Starter ......................11 Rangkaian Kontrol Motor .......... 7-2 7.. 8-7 8..........20... 8-17 8... 8-14 8..............7.........17 Belitan Jangkar ...........................4....9.................................... 8-3 8......... 8-21 8.......... Osiloskop .........19.......................... Ukuran Standar Kelistrikan ................ 7-24 7....................................4 Pengendalian Hubungan Langsung...... Alat Ukur Besi Putar .... 8-7 8........14... Multimeter Analog ........................................................... Alat Ukur Listrik Analog ............................. 8-19 8.10 Instalasi Motor Induksi Sebagai Water Pump ............................................... Jembatan Wheatstone .....7 Pengendali Dua Motor Bekerja Bergantian ..................................................8............... 8-22 ........................... 7-14 7.. Sistem Satuan ....................................................................... 8-4 8.... 7-19 7..... 6-21 6........................12 Rangkuman ... Pengukuran Tahan ......................................... 7-10 7........................17........2................................................................. 8-19 8......................6.............................. 7-3 7....... 7-26 7.3.............................. Alat Ukur Digital ............. 7-34 BAB 8 8. Osiloskop Analog .. 7-7 7.......16 Motor DC belitan Kompound ............. .................9 Panel Kontrol Motor ....18................. Direct ON Line ......... 7-17 7..... ……...3 Pengendalian Kontaktor Elektromagnetik ...15........ 6-22 6.................................................. Sistem Pengukuran .19 Rangkuman .............1...............................6 Pengendalian Putaran Kanan-Kiri ...................... Pengukuran Tegangan DC ....... 8-9 8................................................... 8-12 8...... .. Data Teknik Osiloskop ..................... ....................... 8-5 8....................6............................... Alat Ukur Analog Kumparan Putar ..........5 Pengendalian Bintang-Segitiga ..................................... 8-18 8.......................11.... Alat Ukur Piringan Putar .............. 6-33 BAB 7 7... 6-30 6..... 8-14 8....................................... 7-33 7....................................................... 8-8 8. Alat Ukur Listrik ......................16................... 8-10 8.................... Osiloskop Dua Kanal ....................................................................................13 Soal-soal ....... 8-16 8............................ 8-4 8...........................................1 Sistem Pengendalian ... 6-29 6.....5.

.... 9-4 9........... 11.......... 10-31 BAB 11 11..................................6..10 Aplikasi Elektronika Daya ................ Sistem Pengamanan Bahaya Listrik ...........................12 Soal-soal .................................7..................................................................8............................3.....................11 Rangkuman ............... 8............10-25 10....... 9-3 9...................................................................................................... 9-4 9........... 9-6 9........................5.. 10-4 10........... Proteksi Tegangan Ekstra Rendah ........ 10-1 10.......3 Semikonduktor Tipe N ....... 10-6 10...................7 Penyearah Diode ...... Tindakan Pengamanan untuk Keselamatan ................................................. 11........................................................................................ 11.............................. 10-4 10.........9 Transistor dalam Praktek ............ 9-1 9.... Metode Lissajous . Kode International Protection ............. Jenis Gangguan Listrik ................. 11-2 11-4 11-7 11-8 11-9 11-10 11-11 ................21..........6 IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor) ......... 11........................................... 8..1............................................................... 9-20 9...........................................................................6 Diode ........................................... Proteksi dengan Isolasi Bagian Aktif ...................................24..............2 Komponen Elektronika Daya .................................... Pengukuran Dengan Osiloskop .............................................................. Proteksi dengan Rintangan ...8 Transistor Bipolar .....4.................. 11........1 Konversi Daya .. 9-5 9........................................................8 Penyearah Terkendali Thyristor ..............7 Diode Zener ..............................12 Soal-soal ....... 10-30 10...................................................... 10-12 10..................23.........1 Bahan Semikonduktor .........................................10 Garis Beban Transistor ..... 8................................. 9-11 9.............3 Diode .............................. 8-24 8-28 8-29 8-31 BAB 9 9.............. 9-10 9.11 Rangkuman ......4 Semikonduktor Tipe P .. 10-18 10.....................................................5 Sambungan PN ... Rangkuman .... Soal-Soal ...........22...................2 Struktur Atom Semikonduktor ...............9 Modul Trigger TCA 785 .......... 9-21 BAB 10 10.4 Transistor ...............5 Thyristor ..........................................................10-11 10.......... 10-9 10..10-26 10........................ 11............ 9-2 9..... 9-8 9..........2......................

..... 11-11 11. Proteksi pemisahan Sirkit Listrik ............2...... 11-27 BAB 12 12...................20......8....................12-24 12. 11-23 11.... 12-23 12.......... 12-23 12.. 12-35 12.............................. Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian IT ... Kontroler Tiga Posisi ................................................................... Rangkaian Dasar ..12-17 12.......................................13... Rangkuman .......................... 11-22 11.....................10.......................19............16............. Soal-soal ..............................17........... Optimisasi Kontroler ...... Kontroler Proporsional Integral (PI) .............11........................10............ 11-24 11........... 12-2 12......................... 11-19 11........ Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TN . Kontroler D u a Posisi ....................................................................... Sistem Pembumian TN ... Karakteristik Osilasi pada Sistem Kontrol ....... 11-12 11............... Pengujian Sistem Pembumian TN ...................... 12-26 12............................................................. Pengertian sistem Pengaturan ........ 12-37 ....... Jenis Sistem Distribusi . 12-27 12.......... Proteksi dengan Isolasi Ganda ....... Kontroler Derivatif (D) ................ Proteksi Gawai Proteksi Arus Sisa (ELCB) ....................3..... 12-27 12................... 11-25 11............. 11-15 11.......................... 11-20 11..........8...20.... Proteksi dari Sentuhan Tidak Langsung .....6....... Diagram Blok Sistem Kontrol . 12-29 12.... Proteksi lokasi tidak Konduktif ............1.........18............... 12-17 12....15.............9..18... 12-22 12... Pengukuran Tahanan Pembumian dengan Voltmeter dan Ampermeter ...... Kontroler Proporsional (P) ....11.............24.........14. 12-10 12............ Kontroler Proporsional Derivatif (PD) ....... 12-36 12..16.................. Seleksi tipe Kontroler untuk Aplikasi Tertentu ........................................... 12-20 12.......7................ Kontroler Integral (I) .... Pengukuran Tahanan Isolasi Lantai dan Dinding .12...... 11-21 11............................. Tipe Kontroler .... 12-18 12.......... 12-28 12......15............... Rangkuman .............17...........................5............... 11-25 11...............................11...........4.13.14.. Pengukuran Arus Sisa dan Tegangan pada ELCB ............ 11-17 11. 11-24 11....... Kontroler PID ..... 12-5 12...9.................................. Elektropneumatik .......22.23...... 11-13 11.................. Soal-soal ......19... Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TT ......................12............. Perilaku Sistem Kontrol ............................21.................... 11-14 11.................................. Pengukuran Tahanan Pembumian ........ 11-18 11........ Komponen Elektro Pneumatik ........................................... 12-25 12........

..........9....................9..... 14...... Penggunaan Energi ............................... Soal-soal 15-2 15-2 15-4 15-4 15-4 15-8 15-9 15-10 15-13 15-14 15-16 15-17 15-17 .................................7.................................5........... Soal-soal ... Penghantar .................... Spesifikasi Teknik 15. Generator Berbeban ...........10.......7.........3.. Peranan Tenaga Listrik ..... 13......................1.. 14........ 14............. Kerja Parallel Generator .........8........ Memilih Lokasi Mikrohidro 15...... 14... Rangkuman ......... Rangkuman ...................................... 13............. Instalasi Mikrohidro 15.............11..............7...... 14................... 14......... 13.................5.....6......... 14-2 14-2 14-3 14-5 14-9 14-18 14-20 14-26 14-27 14-31 14-32 BAB 15 15........BAB 13 13.................... Jaringan Listrik ......................8............... 13..........................4.... Soal-soal ......................... 13........1. Konstruksi Mesin Sinkron ........... Generator Tanpa Beban ................8.........3.. Sistem Mikrohidro 15........ Desain Bendungan 15....10................1. Alat Pengukur dan Pembatas (APP) .....2...... Pengaturan Tegangan . 14.... Pendahuluan ...... Panel Hubung Bagi (PHB) ................. Peringatan Tentang Pengoperasian Mikrohidro 15............. 14.................6............. 14......2....... Pembangkit Mikrohidro 15... 13. 13.6.........3... 13................. Komponen Generator Mikrohidro 15................................11....................................................4..................................................12......5..13......... Langkah Pertama Keselamatan 15....................... Pengoperasian 15........ Sejarah Penyediaan Tenaga Listrik .9.......... Beban Listrik .................. 13..... Menentukan Resistansi dan Reaktansi ...... Rangkuman 15...... Perawatan Dan Perbaikan 15.10.................... 14.......... 13-1 13-2 13-10 13-12 13-13 13-15 13-18 13-23 13-26 13-27 BAB 14 14........................... Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik .........2........................4. Prinsip Kerja ...................

.

.................... 10...............................................2 Komponen Elektronika Daya ............................................... 10... 10....................12 Soal-soal ...............11 Rangkuman ......... 10.........................8 Penyearah Terkendali Thyristor ......................4 Transistor ..... 10................................................ 10.................7 Penyearah Diode ....................... 10......BAB 10 ELEKTRONIKA DAYA Daftar Isi : 10.... 10...... 10........10 Aplikasi Elektronika Daya ......5 Thyristor ........................................3 Diode ................................................ 10. 10............ 10-1 10-4 10-4 10-6 10-9 10-11 10-12 10-18 10-25 10-26 10-30 10-31 ........................................9 Modul Trigger TCA 785 ..............................................................................................................................................................1 Konversi Daya .......6 IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor) ........................

1. Contoh: Listrik AC 220 V/50 Hz diturunkan melewati trafo menjadi 12VAC dan kemudian disearahkan oleh Diode menjadi tegangan DC 12V 10-2 . Ketiga dari sumber PLN 220 V dengan AC konverter diubah tegangannnya menjadi 180 V untuk menyalakan lampu.1 dijelaskan ada empat konverter daya yang terbagi dalam empat kuadran. Gambar 10.1. Energi mengalir dari sistem listrik AC satu arah ke sistem DC. Kedua mobil dengan sumber akumulator 12 V dengan inverter yang mengubah listrik DC menjadi listrik AC dihasilkan tegangan AC 220 V dibebani PC. Pertama dari listrik PLN 220 V melalui penyearah yang mengubah listrik AC menjadi listrik DC yang dibebani motor DC. 1. Keempat dari sumber Akumulator truk 24 V dengan DC konverter diubah tegangan 12 V untuk pesawat CB Transmitter. Konversi Daya Ada empat tipe konversi daya.1 : Pemanfaatan Energi Listrik Pada gambar-10.Elektronika Daya 10. Kuadrant 1 disebut penyearah fungsinya menyearahkan listrik arus bolak-balik menjadi listrik arus searah. ada empat jenis pemanfatan energi yang berbeda-beda gambar-10.

2. yaitu (1) sumber energi. frekuensi 50 Hz. Contoh: Listrik DC 12 V dari akumulator dengan perangkat inverter diubah menjadi listrik tegangan AC 220V. sumber energi piranti pengaman dan monitoring komponen daya sistem kontrol lop tertutup beban Gambar 10. 4.Elektronika Daya 2. (4) sistem kontrol lop tertutup dan (5) beban. 3. Rancangan konverter daya paling sedikit mengandung lima elemen gambar-10. (2) komponen daya. yaitu pengatur tegangan AC (tegangan berubah. Kuadran 2 disebut DC chopper atau dikenal juga dengan istilah DCDCkonverter. Listrik arus searah diubah dalam menjadi arus searah dengan besaran yang berbeda. Contoh: tegangan AC 220 V dan frekuensi 50 Hz menjadi tegangan AC 110 V dan frekuensi yang baru 100 Hz. (3) piranti pengaman dan monitoring.2 : Diagram Blok Konverter Daya 10-3 . Contoh: Listrik DC 15V dengan komponen elektronika diubah menjadi listrik DC 5V. Ada dua jenis konverter AC. Kuadran 4 disebut AC-AC konverter yaitu mengubah energi listrik arus bolak balik dengan tegangan dan frekuensi tertentu menjadi arus bolak balik dengan tegangan dan frekuensi yang lain. Kuadran 3 disebut inverter yaitu mengubah listrik arus searah menjadi listrik arus bolak-balik pada tegangan dan frekuensi yang dapat diatur. frekuensi konstan) dan cycloconverter (tegangan dan frekuensi dapat diatur).

Thyristor. Komponen Elektronika Daya Bahan konduktor memiliki sifat menghantar listrik yang tinggi.Elektronika Daya 10. Diode hanya dapat melewatkan arus listrik dari satu arah saja.3 dan gambar 10. yang disebut panjar mundur (reverse) gambar 10. yaitu Anoda dan Katoda gambar 10. Bahan semikonduktor memiliki sifat bisa menjadi penghantar atau bisa juga memiliki sifat menghambat arus listrik tergantung kondisi tegangan eksternal yang diberikan.5.4: Thyristor arus kolektor (IC) terpenuhi. Gambar 10. dapat melewatkan arus anoda (IA) yang besar. bahan semikonduktor memiliki sifat sebagai isolator. dan mampu menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt gambar 10. IGBT dsb. Triac. baja. Sebaliknya Diode akan menahan aliran arus atau memblok arus yang berasal dari katode ke anoda. Tetapi ketika diberikan bias mundur. Jika tegangan ini dilewati maka Diode dikatakan rusak dan harus diganti yang baru. maka semikonduktor akan berfungsi sebagai konduktor. kemampuan menahan perubahan arus sesaat di/dt serta kemampuan menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt. aluminium. Komponen Transistor daya harus memenuhi persyaratan memiliki tegangan kolektor-emiter (VCEO) yang besar.6. dsb. seperti kawat tembaga. penguatan DC (β) yang besar. mampu menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt.2.3. 10. Demikian juga dengan komponen Thyristor mampu menahan tegangan anoda-katoda (VAK).3: Transistor daya Diode yang dipakai elektronika daya memiliki syarat menahan tegangan anoda-katode (VAK) besar. bahan konduktor dipakai sebagai konduktor listrik. Namun Diode memiliki keterbatasan menahan tegangan panjar mundur yang disebut tegangan break down. Transistor .4. yaitu dari anode ke katoda yang disebut posisi panjar maju (forward). 10-4 . Gambar 10. mengalirkan arus anoda yang besar (IA). besi. Ketika diberikan tegangan bias maju. Diode Diode memiliki dua kaki. menahan perubahan arus sesaat di/dt. Beberapa komponen elektronika daya meliputi: Diode.

Garis arus mundur (reverse) dimulai sumbu nol ke arah bawah dengan orde mA. Tegangan positif (forward) dihitung dari sumbu nol ke arah kanan. untuk tegangan disebut tegangan maju Uf (forward).3 Volt. Sumbu vertikal untuk menunjukkan arus (mA sampai Amper). Karakteristik sebuah Diode digambarkan oleh sumbu horizontal untuk tegangan (Volt). 10-5 . Simbol dan fisik Diode Gambar 10.5. Jika tegangan reverse terlampaui maka Diode akan rusak secara permanen gambar 10. untuk Diode germanium tegangan cut-in 0.6. kondisi ini disebut posisi mundur (reverse). Pada kondisi panjar mundur (reverse) Diode dalam posisi memblok arus. Diode silikon akan mulai forward ketika telah dicapai tegangan cut-in sebesar 0.Elektronika Daya Gambar 10. Tegangan negatif (reverse) dimulai sumbu negatif ke arah kiri. Garis arus maju (forward) dimulai dari sumbu nol keatas dengan satuan Amper. Karakteristik Diode menggambarkan arus fungsi dari tegangan.7 Volt. Diode memiliki batas menahan tegangan reverse pada nilai tertentu.7. a) Panjar maju (forward) dan b) panjar mundur (reverse) Pada kondisi panjar maju (forward) Diode mengalirkan arus DC dapat diamati dari penunjukan ampermeter dengan arus If.

1. yaitu : Tegangan cut-in besarnya 0.5 mA. 100 mA.5 mA sampai 4. Dalam aplikasi elektronika daya.0 mA dan terbesar 4. Transistor Daya Pembahasan tentang Transistor sudah dibahas pada Bab 9 Elektronika Dasar. 150 mA sampai 370 mA dan arus kolektor IC terbesar 400 mA. tegangan breakdown terjadi pada tegangan mendekati 75V.Elektronika Daya Gambar 10. Transistor banyak digunakan sebagai saklar elektronika. 10.6V tegangan reverse maksimum yang diijinkan sebesar 50V. Jika tegangan breakdown ini terlewati dipastikan diode akan terbakar dan rusak permanen.4. Transistor berfungsi bekerja sebagai saklar yang bekerja ON/OFF pada kecepatan yang sangat tinggi dalam orde mikro detik. 0.8. Misalnya dalam teknik Switching Power Supply.8: Karakteristik Output Transistor 10-6 . yaitu dimulai dari terkecil IB = 0. pertama sebagai penguatan dan kedua sebagai saklar elektronik. Karakteristik output Transistor BD 135 yang diperlihatkan pada gambar-10. bahwa Transistor memiliki dua kemampuan.7: Karakteristik Diode Dari pengamatan visual karakteristik diode diatas dapat dilihat beberapa parameter penting. Gambar 10. 1.0 mA. Tampak perubahan arus kolektor IC terkecil 50 mA. Ada sepuluh perubahan arus basis IB.2 mA.5 mA.

Saat Transistor kondisi ON tegangan UCE saturasi. tegangan UCE mendekati tegangan UB dan arus basis IB dan arus kolektor IC mendekati nol. Ketika Transistor kondisi OFF. yaitu dengan mengatur arus basis IB dapat menghasilkan arus kolektor IC yang dapat menghidupkan lampu P1 dan mematikan lampu. Ketiga ketika arus basis IB mendekati nol. Transistor sebagai Saklar Transistor dapat difungsikan sebagai saklar elektronik. Dengan pengaturan arus basis IB Transistor dapat difungsikan sebagai saklar elektronik dalam posisi ON atau OFF. akan mengalir arus basis IB yang membuat Transistor cut-in dan menghantarkan arus kolektor IC. sehingga lampu P1 menyala. Jika tegangan basis U1 dimatikan dan arus basis IB=0.10. terjadi antara 0 sampai 50 mdetik.10 : Tegangan Operasi Transistor sebagai saklar Gambar 10.4. Pertama Transistor kondisi sebagai saklar ON terjadi ketika tegangan UCE saturasi. Kedua Transistor berfungsi sebagai penguat sinyal input ketika arus basis IB berada diantara arus kerjanya A2 sampai A1. Gambar 10. Transistor kondisi OFF ketika tegangan UCE sama dengan tegangan suply UB titik A1 gambar-10. dan Transistor kondisi OFF. Ketika Transistor sebagai saklar kita akan lihat tegangan kolektor terhadap emitor UCE.11 : Garis Beban Transistor Karakteristik output Transistor memperlihatkan garis kerja Transistor dalam tiga kondisi.9 : Transistor Sebagai Saklar Gambar 10. 10-7 . pada saat tersebut tahanan RCE tak terhingga gambar-10. terjadi saat arus basis IB maksimum pada titik A3.1. Arus basis IB dan arus kolektor maksimum dan tahanan kolektor emitor RCE mendekati nol. Dengan tegangan supply UB = 12V dan pada tegangan basis U1. dengan sendirinya Transistor kembali mati dan lampu P1 akan mati.Elektronika Daya 10. yaitu ketika Transistor kondisi ON. Ada dua kondisi.11.

65 V. tegangan saturasi UCEsat = 0.I C 3. gambar-10.Elektronika Daya U .2V = If 20mA (U 1 − U BE ).I C IB = U .Bmin (3.5 k Ω . dan Bmin = 120.6 kΩ 10-8 .65V ).4V − 0.65V − 0. RC = 150 Ω b) RV = RV = 5. tegangan LED UF = 1. tegangan sinyal 1 U1 = 3. RV = 5.12 Tentukan besarnya tahanan RC dan RV ? Gambar 10.2 V dan faktor penguatan tegangan U = 3.Bmin RV = U .I C IB = U IB IBmin Bmin IC RV U1 UBE Faktor penguatan tegangan Arus basis Arus basis minimum Faktor penguatan Transistor (β) Arus kolektor Tahanan depan basis Tegangan input Tegangan basis emitor Contoh : Transistor BC 107 difungsikan gerbang NAND = Not And.120 = U . IBmin Bmin (U 1 − U BE ).12 : Transistor Sebagai Gerbang NAND Jawaban : a) RC = U b − U F − U CEsat 5V − 1.65 V.4 V.20mA RC = 158 Ω . arus mengalir pada LED IF = 20 mA. tegangan UBE = 0.

2. Transistor Penggerak Relay Kolektor Transistor yang dipasang kan relay mengandung induktor. Ketika Transistor dari kondisi ON dititik A2 dan menuju OFF di titik A1 timbul tegangan induksi pada relay.4. 10-9 . Juga dikenal ada dua jenis Thyristor dengan P-gate dan N-gate gambar-10. maka Thyristor akan cut-in dan mengalirkan arus forward IF.15. Thyristor atau SCR (Silicon Controlled Rectifier) termasuk dalam komponen elektronik yang banyak dipakai dalam aplikasi listrik industri.14 : Bentuk Fisik & Simbol Thrystor Fungsi Gate pada Thyristor menyerupai basis pada Transistor.13 maka arus induksi pada relay diode bukan dialirkan lewat melewati kolektor Transistor. Thyristor memiliki tiga kaki. Gambar 10.4 A sampai dengan 1500 A.14 Gambar 10. jika arus gate diatur dari 0 mA sampai diatas 50 mA. Tegangan yang mampu diatur mulai dari 50 Volt sampai 5. dengan mengatur arus gate IG yang besarnya antara 1 mA sampai terbesar 100 mA.13 : Transistor Sebagai Penggerak Relay 10. Pada tegangan forward UF.000 Volt dan mampu mengatur arus 0. Tegangan reverse untuk Thyristor UR sekitar 600 Volt. Dengan diode R1 yang berfungsi sebagai running diode gambar-10.Elektronika Daya 10. Agar Thyristor tetap ON. yaitu tegangan forward UF dan tegangan reverse UR.5. Thyristor Thyristor dikembangkan oleh Bell Laboratories tahun 1950-an dan mulai digunakan secara komersial oleh General Electric tahun 1960an. maka tegangan keluaran dari Anoda bisa diatur. salah satu alasannya adalah memiliki kemampuan untuk bekerja dalam tegangan dan arus yang besar. maka ada arus yang tetap dipertahankan disebut arus holding IH sebesar 5 mA. Karakteristik Thyristor memperlihatkan dua variabel. yaitu Anoda. dan variabel arus forward IF dan arus reverse IR gambar-10. Katoda dan Gate.

17 tampak empat Thyristor dalam hubungan jembatan yang dihubungkan dengan beban luar RL.2 mA.8 V. yaitu : tegangan gate-katode = 0. 10-10 . arus gate minimal 0. Gambar-10.15: Karakteristik Thrystor Thyristor TIC 106 D sesuai dengan data sheet memiliki beberapa parameter penting.Elektronika Daya Gambar 10. Tegangan kerja yang diijinkan pada Anoda = 400 V dan dapat mengalirkan arus nominal = 5 A. agar Thyristor tetap posisi ON diperlukan arus holding = 5 mA. Gambar 10.16: Nilai Batas Thrystor Aplikasi Thyristor yang paling banyak adalah sebagai penyearah tegangan AC ke DC yang dapat diatur.

18 : Struktur Fisik dan Kemasan IGBT IGBT memiliki kesamaan dengan Transistor bipolar. 9 V dan maksimal 16 V.Elektronika Daya Gambar 10. dipakai sebagai inverter yang mengubah tegangan DC menjadi AC. Dimasa depan IGBT akan menjadi andalan dalam industri elektronika maupun dalam listrik industri. perbedaannya pada Transistor bipolar arus basis IB yang diatur. aplikasinya sangat luas dipakai untuk mengatur putaran motor DC atau motor AC daya besar. dipakai dalam kontrol pembangkit tenaga angin dan tenaga panas matahari. IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor) IGBT komponen elektronika yang banyak dipakai dalam elektronika daya. arus Collector IC dari 2 A sampai 24 A. Gambar 10.6.17: Fuse Sebagai Pengaman Thrystor 10. pada tegangan UCE = 20 V dan tegangan gate diatur dari minimum 8 V. Dari gambar-10. Sedangkan pada IGBT yang diatur adalah tegangan gate ke emitor UGE. dipakai komponen utama Variable Voltage Variable Frequency (VVVF) pada KRL modern. 10-11 .19 karakteristik IGBT.

Pengisi Akumulator. Penyearah Diode Setengah Gelombang Satu Phasa Rangkaian transformator penurun tegangan dengan sebuah Diode R1 setengah gelombang dan sebuah lampu E1 sebagai beban. artinya tegangan output yang dihasilkan bisa diatur dengan pengaturan penyalaan sudut α sesuai dengan kebutuhan. Sekunder trafo sebagai tegangan input U1 = 25 V dan bentuk tegangan output DC dapat dilihat dari osiloskop. Alat penyepuhan logam.Elektronika Daya Gambar 10. atau Thyristor.19 : Karakteristik Output IGBT 10. artinya tegangan output yang dihasilkan tetap tidak bisa dikendalikan.7. dan tegangan output setelah Diode Ud bentuknya setengah gelombang bagian yang positifnya saja gambar 10.20. Penyearah dengan Thyristor termasuk penyearah terkendali.20: Diode Setengah Gelombang 1 Phasa . 10-12 Gambar 10. 10. Penyearah Diode Penyearah digunakan untuk mengubah listrik AC menjadi listrik DC.1. Ada empat tipe penyearah dengan Diode. listrik DC dipakai untuk berbagai kebutuhan misalnya Power Supply. terdiri penyearah setengah gelombang dan gelombang penuh satu phasa dan setengah gelombang dan gelombang penuh tiga phasa.7. Tegangan input U1 merupakan gelombang sinusoida. Komponen elektronika yang dipakai Diode. Penyearah dengan Diode sering disebut penyearah tanpa kendali.

dan titik Ct difungsikan sebagai terminal negatipnya.Elektronika Daya Persamaan tegangan dan arus DC : Udi=0. 10-13 . disini cukup dipakai dua buah diode.21. Tegangan DC yang dihasilkan mengandung riak gelombang dan bukan DC murni yang rata. Tegangan DC pulsa pertama melalui Diode R1 dan R4. Penyearah Diode Gelombang Penuh Satu Phasa Sekunder transformator penurun tegangan dipasang empat Diode R1. R3 dan R4 yang dihubungkan dengan sistem jembatan gambar 10.21 : Rangkaian Penyearah Jembatan . U1 Udi Ud U1 Iz Id PT Pd Tegangan searah ideal Tegangan searah Tegangan efektif Arus melewati Diode Arus searah Daya transformator Daya arus searah Iz = Id 2 PT = 1.23 .Diode Persamaan tegangan DC : Udi=0. Gambar 10.1 . R2.9 . Pd Udi Ud U1 Iz Id PT Pd Tegangan searah ideal Tegangan searah Tegangan efektif Arus melewati Diode Arus searah Daya transformator Daya arus searah 10.U1 I z = Id PT = 3. sedangkan pulsa kedua melalui Diode R3 dan R2.2. Output dihubungkan dengan beban RL. Pd Penyearah gelombang penuh satu phasa bisa juga dihasilkan dari trafo yang menggunakan centre-tap (Ct).7.45.

Berikutnya Diode R2 dan Diode R3 melewatkan tegangan negatif menjadi tegangan DC positif. tegangan ripple up =3. Uf = 12 v 2 + 2 . 0. frekuensi ripple fp =100Hz.22 : Penyearah Jembatan Dengan Filter Capasitor CG = 0.Elektronika Daya Untuk meratakan tegangan DC dipasang kapasitor elektrolit CG berfungsi sebagai filter dengan beban RL gambar 10.23. 12V. Ketika Diode R1 dan Diode R4 melalukan tegangan positif.23 .4 V 10-14 .8 W b) U1= Ud 2 + 2 . Ιd = ≈ 2200μF fp.75 . dan arus 1A.4V.7 V = 9. Pd = 1.22 .23 .75 . 1 A c) CG= 0. Ιd fp.23 : Penyearah Jembatan Dengan Filter RC 0. Gambar 10. tegangan cut-in Diode Uf = 0.75 . Kapasitor CG mengisi muatan dan mengosongkan muatan.up CG Kondensator Id Arus searah fp Frekuensi riple Up Tegangan riple Contoh : Penyearah gelombang penuh diberikan tegangan 12VAC.up 100 Hz . terjadi pengosongan muatan kapasitor. kapasitor CG mengisi muatan sampai penuh.88 V Gambar 10. Rangkaian filter dengan kapasitor menjadikan tegangan DC menjadi lebih rata gambar 10.1A = 14. 3. Saat tegangan dari puncak menuju lembah.7 V. Hitunglah: a) Faktor daya transformator b) Berapa besarnya tegangan AC c) Tentukan besarnya kapasitas kapasitor Jawaban : a) PT = 1.

3 pulsa/ periode Gambar 10. atau sepanjang 1200. • Diode R3 mulai konduksi pada sudut 2700.25. Tegangan DC yang dihasilkan melalui beban resistif RL.24 : Penyearah Diode ½ Gelombang 3 Phasa Rangkaian penyearah Diode setengah gelombang dengan ketiga Diode R1.24.56. sedangkan tegangan yang negatif akan diblok. • Diode R1 mulai konduksi setelah melewati 300. R2 juga konduksi sepanjang 1200.Elektronika Daya 10. Masing-masing Diode akan konduksi ketika ada tegangan positif. R2 dan R3 dipasang terbalik. Diode hanya konduksi ketika tegangan anode lebih positif dibandingkan tegangan katode.3. masih mengandung riak (ripple). • Diode R2 mulai konduksi pada sudut 1500. Tegangan DC yang dihasilkan negatif gambar-10. R2 dan R3 pada penyearah setengah gelombang dapat diperiksa pada gambar-10. Diode R1.25: Penyearah ½ Gelombang 3 Phasa Diode Terbalik Urutan konduksi masing-masing Diode R1. Arus searah negatif kembali ke sekunder trafo melalui kawat N. sampai 2700. ketiga anodenya disatukan sebagai terminal positif. R2 dan R3 ketika katodenya disatukan menjadi terminal positif gambar-10. Tegangan DC yang dihasilkan tidak benar-benar rata. Gambar 10. sampai 3900 juga sepanjang 1200. 10-15 . sampai sudut 1500. R2 dan R3 anak konduksi secara bergantian sesuai dengan siklus gelombang saat nilainya lebih positif. Penyearah Diode Setengah Gelombang Tiga Phasa Rangkaian penyearah Diode tiga phasa menggunakan tiga Diode penyearah R1.7.

4. Tegangan DC yang dihasilkan halus karena tegangan riak (ripple) kecil dan lebih rata. Diode R4. U1 Udi Ud U1 Iz Id PT Pd Tegangan searah ideal Tegangan searah Tegangan efektif Arus melewati Diode Arus searah Daya transformator Daya arus searah Iz = Id 3 PT = 1.68 .7.5 . R3 dan R5 katodanya disatukan sebagai terminal positif. 10-16 .27. Gambar 10. Penyearah Diode Gelombang Penuh Tiga Phasa Penyearah Diode gelombang penuh tiga phasa menggunakan sistem jembatan dengan enam buah Diode R1.Elektronika Daya Dapat disimpulkan ketiga Diode memiliki sudut konduksi 1200.26 : Urutan Kerja Penyearah Diode 3 Phasa ½ Gelombang Persamaan tegangan dan arus penyearah setengah gelombang: Udi=0. Tegangan DC yang dihasilkan memiliki enam pulsa yang dihasilkan oleh masing-masing Diode tsb. Pd 10. R6 dan R2 anodanya yang disatukan sebagai terminal negatif gambar 10.

28 : Bentuk Gelombang Penyearah Penuh 3 Phasa Persamaan tegangan dan arus penyearah Diode gelombang penuh: Udi=1.27 : Penyearah Jembatan Gelombang Penuh 3 Phasa Urutan konduksi dari keenam Diode dapat dilihat dari siklus gelombang sinusoida. Jelas dalam satu siklus gelombang tiga phasa terjadi enam kali komutasi dari keenam Diode secara bergantian dan bersama-sama.28. urutan keempat R3+R4.1 . dimana konduksi secara bergantian. Konduksi dimulai dari Diode R1+R6 sepanjang sudut komutasi 600.35 . lanjutnya Diode R3+R2. Apa yang terjadi ketika salah satu dari Diode tersebut rusak ? Gambar 10.Elektronika Daya Gambar 10. Pd . kelima R5+R4 dan terakhir R5+R6 gambar 10. U1 Udi Ud U1 Iz Id PT Pd Tegangan searah ideal Tegangan searah Tegangan efektif Arus melewati Diode Arus searah Daya transformator Daya arus searah 10-17 Iz = Id 3 PT = 1. Berturut-turut disusul Diode R1+R2.

5 1.18 1.48 1.23 0. Penyalaan ini dilakukan dengan memberikan pulsa trigger pada gate Thyristor.68 0. Vd: tegangan dcberbeban.21 3.04 1.Elektronika Daya Tabel 10.45 1. penyearah tak terkendali menghasilkan tegangan keluaran DC yang tetap.9 0. digunakan Thyristor sebagai pengganti dioda. Pd: daya dc. IZ: arus yang mengalir melalui satu dioda 10. PT: daya trafo. Pulsa trigger dibangkitkan secara khusus oleh rangkaian trigger.1 PT Pd IZ Id 2 Id 3 Id 3 Vdi: tegangan dc-tanpa beban.8. 10-18 . Id: arus dc.1. Jenis Penyearah Diode Jenis rangkaian Kode Rang kaian Penyearah satu-pulsa E1U Penyearah dua-pulsa jembatan B2U Penyearah tiga-pulsa.35 0. titik bintang M3U Penyearah enampulsa jembatan B6U Tega ngan tanpa beban Vdi V1 Faktor ripel 0. Tegangan keluaran penyearah Thyristor dapat diubah-ubah atau dikendalikan dengan mengendalikan sudut penyalaan α dari Thyristor. V1: tegangan ac.1 Id 0. Bila dikehendaki tegangan keluaran yang bisa diubah-ubah. Penyearah Terkendali Thyristor Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa.

dimana antara tegangan dan arus ada beda phasa. saat Thyristor diberikan trigger α Gambar 10.29. Pada beban resistif RL.31. Yang termasuk beban resistif. maka Thyristor akan konduksi dan mengalirkan arus kebeban.30 Tegangan negatif di blok tidak dilewatkan. ketika sudut penyalaan α diperbesar. khususnya karena bebannya resistif RL. pemanas heater. Penyearah Thyristor Setengah Gelombang Satu Phasa Rangkaian penyearah Thyristor kelebihannya tegangan outputnya bisa diatur.30 :Sudut Penyalaan dan Output Tegangan DC ½ Gelombang Persamaan tegangan pada beban resistif setengah gelombang: Udα= U (1+ cos α) 2 Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode Tegangan effektip Sudut penyalaan gate Pada beban resistif RL akan dihasilkan tegangan dan arus yang sephasa gambar10.29: Penyearah Terkendali ½ Gelombang Gambar 10. gelombang negatif di blocking oleh Thyristor.31 : Tegangan dan Arus DC Beban Resistif 10-19 . Sebuah Thyristor Q1 dan sebuah beban resistif RL dihubungkan dengan listrik AC gambar10. arus beban dengan tegangan tidak sephasa. rice cooker. Untuk beban terpasang mengandung resistifinduktif. misalnya lampu pijar. Pada gate diberikan pulsa penyulut α. Pada gate Thyristor diberikan penyalaan sebesar α.1. maka tegangan positif saja yang dilewatkan oleh Thyristor gambar-10. dengan mengatur sudut penyalaan gate Thyristor. Gambar 10. Dengan beban resistif RL maka arus dan tegangan yang dihasilkan sephasa.8. tegangan output yang dihasilkan akan mengecil sesuai dengan sudut konduksi dari Thyristor.Elektronika Daya 10. Kondisinya berbeda jika beban mengandung induktor. Dengan penyearah Thyristor setengah gelombang hanya gelombang positif dari sinusoida yang dilewatkan.

Trafo pulsa Trigger Thrystor gunanya sebagai isolasi rangkaian Thyristor dengan modul trigger gambar-10. Rangkaian pengaturan beban dengan Thyristor setengah gelombang dihubungkan dengan sumber tegangan AC.Elektronika Daya arus beban naik dan tidak segera mencapai nol saat tegangan berada dititik nol. sudut pengaturan sudut α untuk beban resistif-induktif effektif antara 00 sampai 900.33 : Modul Gambar 10. Gambar 10. Tetapi arus positif dan sebagian arus negatif dilakukan oleh Thyristor. gate dikopel dengan trafo pulsa. Terminal gate Thyristor dihubungkan dengan modul trigger.32 : Tegangan dan Arus DC Beban Induktif Untuk daya yang lebih besar. Ada Diode R1 yang diparalel dengan beban yang disebut sebagai free wheel Diode. misalnya beban motor DC. Gambar 10. Beban yang mengandung resistif-induktif adalah beban motor.35. untuk beban resistif dan beban induktif gambar-10.33.32. Saat Thyristor menuju OFF maka induktor akan membangkitkan tegangan induksi.34. tegangan negatifnya diblok. untuk daya kecil hubungan modul trigger ke gate Thyristor bisa langsung gambar-10. Analisa gelombang yang dihasilkan Thyristor hanya konduksi saat tegangan positif saja. Pada beban resistif-induktif ditambahkan sebuah Diode R1 (free wheel Diode). sisi beban mengandung resistif-induktif. Thyristor akan konduksi lebih lama sebesar sudut θ dan pada beban muncul siklus tegangan negatif gambar-10. Pada beban resisitip-induksip. Beban resistif memiliki sudut pengaturan pulsa triger 10-20 . Potensiometer modul penyulut trigger untuk mengatur sudut penyalaan α. Diode freewheel akan mengalirkan tegangan induksi sehingga tidak merusak Thyristor.34 : Penyearah Thrystor dengan Diode Grafik tegangan Udα fungsi penyalaan sudut α.

Hitung tegangan DC saat sudut penyalaan α = 00 dan α = 600 Jawaban : Udα = 1 ⇒ Udo Udo Udα 60o: = 0. bentuk tegangan searah antara tegangan dan arus se-phasa. Q3 dan Q4 dalam hubungan jembatan gambar-10.Elektronika Daya dari 00 sampai 1800. Q2. Tegangan input 100VAC. masing-masing diberikan pulsa penyulut pada sudut α untuk siklus positif dan siklus negatif tegangan sumber.2. direkomendasikan antara 00 sampai 900. pada sudut penyalaan α maka Thyristor Q1 dan Q4 akan konduksi bersamaan.36 : Penyearah Terkendali Jembatan 1 Phasa Persamaan penyearah Thyristor gelomabang penuh satu phasa beban resistif RL. 10-21 . Gambar 10.36. Pada beban resistif RL. Penyearah Thyristor Gelombang Penuh Satu Phasa Penyearah terkendali penuh satu phasa dengan empat buah Thyristor Q1.8. dan pada tahap berikutnya menyusul Thyristor Q2 dan Q3 konduksi. pengaturan sudut α dari 00 sampai 1800. Untuk beban induktif sudut pengaturan pulsa trigger.75 ⇒ Udo Udo ∧ 0o: α = 0o = 100 V α = 60o = 75 V ∧ Gambar 10.35 : Grafik Fungsi Penyalaan Gate Thrystor 10. Dengan beban resistif RL. Pasangan Thyristor adalah Q1Q4 dan Q2-Q3. Contoh : penyearah Thyristor dengan beban resistif.

Gambar 10.Udo (1+ cos α) Udo = 0.5. UG2. terminal negatif dari kawat netral N.9.U Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode Tegangan effektip Sudut penyalaan gate Untuk beban mengandung resistif dan induktif. berlaku persamaan tegangan sebagai berikut: Udα =0. pengaturan sudut α dari 00 sampai 900 saja. Tegangan effektip Sudut penyalaan gate 10.Elektronika Daya Udα =0. Q2 dan Q3.37 : Penyearah Thyristor ½ Gelombang 3 Phasa 10-22 .5.8.U Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode. Masing-masing Thyristor mendapatkan pulsa penyalaan yang berbedabeda melalui UG1. UG3.9.Udo cos α Udo = 0. Katode ketiga Thyristor disatukan menjadi terminal positif.37. Tegangan DC yang dihasilkan melalui beban resistif RL. dengan beban resistif RL gambar10.3. Penyearah Thyristor Setengah Gelombang Tiga Phasa Rangkaian penyearah Thyristor setengah gelombang tiga phasa dengan tiga Thyristor Q1. Penyearah tiga phasa digunakan untuk mendapatkan nilai rata-rata tegangan keluaran yang lebih tinggi dengan frekuensi lebih tinggi dibanding penyearah satu phasa. Aplikasi dipakai pada pengaturan motor DC dengan daya tinggi.

10. Tegangan DC yang dihasilkan mengandung ripple. Contoh ketika tegangan DC terbentuk dari puncak gelombang UL1L2 yang konduksi Thyristor Q1+Q6. Untuk beban induktif pengaturan sudut penyalaan α antara 00 sampai 900 gambar-10. dan anode dari Thyristor Q4. Karena tiap phasa tegangan masukan berbeda 1200. maka pulsa penyulutan diberikan dengan beda phasa 1200. Q6 dan Q2 disatukan menjadi terminal negatif. Q2. UG3. Gambar 10. Q5. dan Q6. Q4. Gambar 10. Penyearah Thyristor Gelombang Penuh Tiga Phasa Penyearah Thyristor tiga phasa terdiri atas enam buah Thyristor Q1. dan UG6. Masing-masing Thyristor mendapatkan pulsa penyalaan yang berbedabeda melalui UG1.38. Pada beban resistif. Katoda dari Diode Q1.UG5.38 : Grafik Pengaturan Sudut Penyalaan Persamaan tegangan pada beban resistif.Elektronika Daya Arus searah negatif kembali ke sekunder trafo melalui kawat N. Q3.40. Sebuah beban resistif RL sebagai beban DC gambar.8. U Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode Tegangan efektif Sudut penyalaan gate 10.676 .4. cos α Udo = 0. UG4 . pengaturan sudut penyalaan trigger α dari 00 sampai 1500. UG2.39 : Penyearah Terkendali 3 Phasa Untuk melihat urutan konduksi dari keenam Thyristor dapat dilihat dari gelombang tiga phasa gambar-10.Q3 dan Q5 disatukan sebagai terminal positif.39. Udα =Udo. berikutnya pada 10-23 .

Elektronika Daya puncak tegangan –UL3L1 yang konduksi Thyristor Q1+Q2 dan seterusnya.41 : Urutan Penyalaan Gate-Thrystor 3 Phasa 10-24 . Udα =Udo. Apa yang terjadi jika salah satu dari keenam Thyristor tersebut mati (misalnya Q1) tidak bekerja. U Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode Tegangan efektif Sudut penyalaan gate Gambar 10.40: Bentuk Tegangan DC Penyearah 3 Phasa Persamaan tegangan pada beban resistif. pengaturan sudut α dari 00 sampai 1500.35 . dan apa yang terjadi ketika Thyristor Q1 dan Q3 tidak bekerja? Berikan jawabannya dengan melihat gelombang sinusoida di bawah ini. Gambar 10. cos α Udo = 1.

Tegangan pulsa trigger dari kaki 14 dan 15 chip TCA 785.Elektronika Daya 10. • Kaki 14 tegangan output pulsa untuk trafo pulsa T2. • Kaki 10 dan 11.43 : Bentuk Gelombang Chip TCA785 10-25 . Gambar 10. sedangkan T2 melayani Thyristor Q2 dan Q3. • Kaki 15 sebagai sinkronisasi mendapat tegangan sinusoida dari jala-jala. menghasilkan tegangan gigi gergaji.9. Tiap trafo pulsa memiliki dua belitan sekunder.42. untuk T1 untuk melayani Thyristor Q1 dan Q4. Untuk pengaturan daya besar dipakai trafo pulsa T1 dan T2. • Kaki 15 tegangan output pulsa untuk trafo pulsa T1. Modul Trigger TCA 785 Rangkaian modul trigger dalam bentuk chip TCA-785 sudah tersedia dan dapat digunakan secara komersial untuk pengaturan daya sampai 15 kW dengan tegangan 3 x 380V gambar-10.43. Gambar 10.42 : Rangkaian Pembangkit Pulsa Chip TCA785 Dalam modul chip TCA 785 ada beberapa kaki yang harus diperiksa jika kaki output 14 dan kaki 15 tidak menghasilkan tegangan pulsa gambar-10. Rangkaian ini terdiri dari potensio R2 yang berguna untuk mengatur sudut penyalaan α.

Terdapat dua kelompok penyearah Thyristor. Aplikasi Elektronika Daya Aplikasi penyearah Thyristor gelombang penuh satu phasa untuk mengendalikan putaran motor DC untuk putaran kekanan dan putaran ke kiri.10. Gambar 10.44 : Rangkaian Daya 1 Phasa Beban DC 15 Kw 10. Untuk mengatur kecepatan motor.45 : Aplikasi Pengendalian putaran Motor DC 10-26 . penyearah satu jika dijalankan motor DC akan berputar ke kanan. Gambar 10.Elektronika Daya Rangkaian lengkap terdiri atas rangkaian daya dengan penyearah asimetris gelombang penuh dengan dua Diode dan dua Thyristor. Daya yang mampu dikendalikan sebesar 15 kW beban DC gambar 10.44. dengan mengatur besarnya tegangan ke terminal motor. Ketika penyearah kedua dijalankan maka motor DC akan berputar ke kiri.

Ketika potensiometer posisi di tengah (tegangan nol). motor akan berhenti. Pengendali tegangan saluran AC digunakan untuk mengubah-ubah harga rms tegangan AC yang dicatukan ke beban dengan menggunakan Thyristor sebagai saklar.10.46 : Bentuk Dasar Pengendali Tegangan AC 10-27 . TRIAC Gambar 10. penyearah pertama yang bekerja dan motor DC putarannya kekanan. 10. antara lain.46 (b).Kontrol penerangan . maka putaran motor dapat diatur dari minimal menuju putaran nominal. Ketika potensiometer berharga positif.1. a). Penggunaan alat ini.Elektronika Daya Potensiometer pada modul trig-ger mengatur sudut penyalaan Thyristor. meliputi: .Kontrol alat-alat pemanas .Kontrol kecepatan motor induksi Rangkaian pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan dua-Thyristor yang dirangkai anti-paralel gambar 10. Saat potensiometer berharga negatif.46 (a) atau menggunakan Triac gambar 10. penyearah kedua yang bekerja dan motor berputar kekiri. Thrystor Anti Paralel b). Pengendali Tegangan AC Teknik pengontrolan fasa memberikan kemudahan dalam sistem pengendalian AC.

pada setengah perioda berikutnya. Triac merupakan komponen dua-arah sehingga untuk mengendalikan tegangan AC pada kedua setengah gelombang cukup dengan satu pulsa trigger. dan Q2 dalam keadaan sebaliknya. Namun kebutuhan sinyal trigger sama. sedangkan Q1 bias mundur. Pengendalian Dimer Seperti yang telah disinggung sebelumnya. maka pada setengah gelombang pertama Thyristor Q1 mendapat bias maju. efisien dan handal. Gambar 10. ketika pada setengah gelombang pertama Q1 harus diberi sinyal penyalaan pada gatenya dengan sudut penyalaan. yaitu sekali pada waktu setengah perioda pertama dan sekali pada waktu setengah perioda berikutnya.47 : Rangkaian Dimmer dengan TRIAC Pengendalian yang bisa dilakukan dengan menggunakan metoda ini hanya terbatas pada beban fasa-satu saja. Sehingga hasil pengendalian tidak berbeda dari yang menggunakan Thyristor anti-paralel gambar 10. Agar rangkaian dapat bekerja. Barangkali inilah yang membuat rangkaian pengendalian jenis ini sangat populer di masyarakat.46 jika tegangan sinusoidal dimasukkan pada rangkaian seperti pada gambar. Q2 diberi trigger dengan sudut yang sama. Untuk beban yang lebih besar. 10-28 . 10.10. Seketika itu Q1 akan konduksi. metode pengendalian. proses yang terjadi sama persis dengan yang pertama. Kemudian pada setengah gelombang berikutnya. Penggunaan Triac merupakan cara yang paling simpel. yang hanya ada satu gate saja.2. Q1 akan tetap konduksi sampai terjadi perubahan arah (komutasi). Q2 mendapat bias maju.47. kemudian dikembangkan lagi menggunakan sistem fasa-tiga. bahwa dua Thyristor anti-paralel dapat digantikan dengan sebuah Triac. Keterbatasannya terletak pada kapasitasnya yang masih terbatas dibandingkan bila menggunakan Thyristor. Dengan demikian bentuk gelombang keluaran pada seperti yang ditunjukkan pada gambar. Dari gambar 10. yaitu tegangan menuju nol dan negatif.Elektronika Daya Penggunaan dua Thyristor anti paralel memberikan pendalian tegangan AC secara simetris pada kedua setengah gelombang pertama dan setengah gelombang berikutnya. misalnya α. Setelah itu. baik yang setengah gelombang maupun gelombang penuh (rangkaian jembatan). Bedanya di sini hanya pada gatenya.

Salah satu pemakaiannya di Industri kertas.10. industri tekstil dsb.Elektronika Daya 10.4.48 : Aplikasi IGBT Untuk Kontrol Motor Induksi 3 Phasa Rangkaian Cycloconverter gambar-10.3.20. Aplikasi IGBT untuk Inverter Gambar 10.49. Blok diagram pengaturan motor DC seperti pada gambar 10. dengan mengatur waktu ON oleh generator PWM. Rangkaian VVVF ini dipakai pada KRL merk HOLEC di Jabotabek. Gambar 10. Selanjutnya sembilan buah IGBT membentuk konfigurasi yang akan menghasilkan tegangan AC 3 phasa dengan tegangan dan frekuensi yang dapat diatur. salah satu alasannya karena motor DC mudah diatur kecepatannya. Pengaturan Kecepatan Motor DC Pemakain motor DC di industri sangat banyak.10. 10. Blok Diagram Pengaturan Kecepatan Motor DC 10-29 .48 dimana tegangan AC 3 phasa disearahkan menjadi tegangan DC oleh enam buah Diode.

Selisih tegangan ini disebut sebagai kesalahan (error) yang menjadi input pengatur tegangan (penguatan 10X). Tegangan 10. • Aplikasi Thyristor yang paling banyak sebagai penyearah tegangan AC ke DC.05 Volt. Kuadran 4 disebut AC-AC Konverter • Komponen elektronika daya yang banyak dipakai meliputi Diode. diperoleh selisih -0. yaitu : tegangan gate-katode. hasilnya 10 x 0. • Thyristor memiliki parameter penting. arus kolektor (IC) terpenuhi. Motor DC akan berputar setelah dihubungkan dengan suply DC sampai putaran mendekati 1000 Rpm. Kuadran 2 disebut DC Chopper 3. • Diode yang dipakai elektronika daya memiliki syarat menahan tegangan anoda-katode (VAK) besar. 3. misalkan 1050 Rpm. Kondisi akan terjadi secara terus menerus yang menghasilkan putaran motor DC tetap konstan. 2.Elektronika Daya Cara kerja: 1. Tachogenerator akan mendeteksi kecepatan motor DC. mengalirkan arus anoda yang besar (IA). Transistor dan Thyristor termasuk Triac.5V. dan mengubah menjadi tegangan 10. penguatan DC (β) yang besar. dapat melewatkan arus anoda (IA) yang besar. • Thyristor mampu menahan tegangan anoda-katoda (VAK). 6. mampu menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt. arus gate minimal. 10. menahan perubahan arus sesaat di/dt. agar Thyristor tetap posisi ON diperlukan arus holding. jenisnya ada P gate dan N-gate. • Transistor daya harus memenuhi persyaratan memiliki tegangan kolektoremiter (VCEO) yang besar. 1. Kuadrant 1 disebut penyearah 2. Tegangan 0. 10-30 .05V = 0. Bagian setting mengatur posisi potensiometer untuk mengatur tegangan 10 Volt pada 1000 Rpm.05 Volt dibandingkan dengan tegangan setting 10 V. akibatnya putaran menurun sesuai dengan setting putarn 1000 Rpm 7.05V). 4. Rangkuman • Ada empat konverter daya yang terbagi dalam empat kuadran. atau dipakai dalam inverter. kemampuan menahan perubahan arus sesaat di/dt serta kemampuan menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt. yaitu Anoda. Katoda dan Gate. 5.05V (10V – 10.5V akan menjadi input Kontroller yang mengatur tegangan yang masuk ke rangkaian jangkar motor DC. dan mampu menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt • Thyristor memiliki tiga kaki.11. Kuadran 3 disebut Inverter 4.

perbedaannya pada Transistor bipolar arus basis IB yang diatur.9 . 10-31 .Udo (1+ cos α) Udo = 0. Soal-soal 1. Buatlah gambar skematiknya dan jelaskan cara kerja saklar elektronik. • Ada empat tipe penyearah terdiri penyearah setengah gelombang dan gelombang penuh satu phasa dan setengah gelombang tiga phasa dan gelombang penuh tiga phasa. 10. U1 3. Tegangan setengah gelombang 3 phasa Udi=0. • Penyearah tanpa kendali dengan Diode: 1.U1 2. Penyearah b). Tegangan setengah gelombang 1 phasa Udα = U (1+ cos α) 2 2.45. Sedangkan pada IGBT yang diatur adalah tegangan gate ke emitor UGE.U • Modul trigger chip TCA-785 dipakai untuk triger sistem satu phasa maupun tiga phasa. Tegangan gelombang penuh 3 phasa Udi=1. (3) piranti pengaman dan monitoring. Tegangan gelombang penuh 1phasa Udi=0. Tegangan gelombang penuh 3 phasa Udα =Udo.35. Jelaskan cara kerja : a). • Pengaturan daya AC dipakai Thyristor terpasang antiparalel. yaitu (1) sumber energi. (2) komponen daya.12. U1 • Penyearah terkendali dengan Thyristor :' 1.U 3. AC-AC Konverter 2. cos α Udo = 0. Tegangan gelombang penuh 1phasa Udα =0. U 4. difungsikan sebagai saklar elektronik. (4) sistem kontrol loop tertutup dan (5) beban. Tegangan setengah gelombang 1 phasa Udi=0. Transistor jenis PNP. DC Chopper c). gambarkan skematik pengawatannya dan gambar gelombang sinus dan gelombang DC nya. Inverter d). cos α Udo=1.676 . 3.Elektronika Daya • IGBT memiliki kesamaan dengan Transistor bipolar. Tegangan setengah gelombang 3 phasa Udα =Udo.5.35 . dengan mengatur sudut penyalaan daya beban AC dapat dikendalikan.9. • Rancangan konverter daya mengandung lima elemen.68 . Diode BY127 dipakai untuk penyearah gelombang penuh dari sebuah trafo 220/12 Volt. U1 4.

tegangan LED UF = 1.5V. Penyearah gelombang penuh diberikan tegangan 24VAC. arus mengalir pada LED IF = 20 mA. frekuensi ripple fp =100Hz. dan Bmin = 120. 7.65 V. dan arus 2. Transistor BC 107 difungsikan gerbang NAND. Hitunglah: a) Faktor daya transformator b) Berapa besarnya tegangan AC c) Tentukan besarnya kapasitas kapasitor. Tentukan besarnya tahanan RC dan RV ? 6. 10-32 . tegangan sinyal 1 U1 = 3.4 V. tegangan saturasi UCEsat = 0.2 V dan faktor penguatan tegangan U = 3. Transistor BC 107.65 V. tegangan cut-in Diode Uf = 0. Hitung tegangan DC yang dihasilkan pada sudut pengaturan α = 0 – 600.7 V. tegangan ripple up =1. Hitunglah a) nilai tahanan bias sendiri RV dan b) nilai tahanan pembagi tegangan R1 dan R2. diberikan tegangan sumber UB = 12 V.62 V dengan arus basis IB = 0.3 mA.0A. tegangan UBE = 0. Penyearah dengan Thyristor gelombang penuh satu phasa dipasang pada tegangan 220 VAC.Elektronika Daya 4. Membutuhkan tegangan bias UBE =0. 5.

..................... 11....17....... Proteksi Tegangan Ekstra Rendah .......... 11.....4..... Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian IT .............. 11............ Pengukuran Tahanan Pembumian .............. 11.......... Jenis Sistem Distribusi . Pengujian Sistem Pembumian TN ....... Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TT . Proteksi dengan Isolasi Ganda ...................19.... 11.............6........................ Rangkuman ...10.................... 11... 11-2 11-4 11-7 11-8 11-9 11-10 11-11 11-11 11-12 11-13 11-14 11-15 11-17 11-18 11-19 11-20 11-21 11-22 11-23 11-24 11-24 11-25 11-25 11-27 ...20.................. Proteksi lokasi tidak Konduktif ....12.13....... Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TN ........... 11... Proteksi dengan Rintangan ... Soal-soal ....... 11...............................11.................................... Sistem Pembumian TN ...... 11........ 11................... 11...BAB 11 SISTEM PENGAMANAN BAHAYA LISTRIK Daftar Isi : 11.......................... Kode International Protection .... 11..21............................. 11. 11............ Pengukuran Tahanan Isolasi Lantai dan Dinding ...1....18.................15..... 11......... 11........3... 11.. Pengukuran Arus Sisa dan Tegangan pada ELCB........... Proteksi dengan Isolasi Bagian Aktif ............... 11.. 11..............8...............7...........................24........................... 11....5........... 11........... Jenis Gangguan Listrik .................................... 11......14........... Sistem Pengamanan Bahaya Listrik ....................................22........... Pengukuran Tahanan Pembumian dengan Voltmeter dan Ampermeter ......23...... Proteksi dari Sentuhan Tidak Langsung ........2..... Tindakan Pengamanan untuk Keselamatan .9.........16...... Proteksi pemisahan Sirkit Listrik .. 11........ Proteksi Gawai Proteksi Arus Sisa (ELCB) ........

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Pernah tersengat aliran listrik PLN 220V ? jika ya pasti sangat mengagetkan.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Ik = 1000Ω x 50 mA = 50 V. Gambar 11. Bahkan beberapa kasus tersengat listrik bisa berakibat pada kematian.1 : Grafik bahaya arus listrik 11-2 . Daerah 3 (200 sd 500mA) Jantung merasakan sengatan kuat dan terasa sakit. sumber listrik AC mengalirkan arus ke tubuh manusia sebesar Ik.1. Daerah 2 (0. Jantung sebagai organ tubuh yang paling rentan terhadap pengaruh arus listrik. tubuh manusia Rki dan tahanan pijakan kaki Ru2.1. melewati tahanan sentuh tangan Rut.1 sd 0. ada empat batasan gambar-11. Daerah 1 (0.5 detik masuk daerah bahaya. Mengapa tegangan listrik 12 Volt pada akumulator tidak menyengat dan membahaykan manusia ? Tubuh manusia memiliki batas aman dialiiri listrik. Model terjadinya aliran ketubuh manusia gambar-11.5 sd 10 mA) jantung bereaksi dan rasa kesemutan muncul dipermukaan kulit.5mA) jantung tidak terpengaruh sama sekali bahkan dalam jangka waktu lama. Daerah 4 (diatas 500mA) jantung akan rusak dan secara permanen dapat merusak sistem peredaran darah bahkan berakibat kematian. Tahanan tubuh manusia rata-rata 1000Ω. arus yang aman tubuh manusia maksimum 50mA. jika melewati 0.2. beberapa penelitian menyebutkan sampai dengan arus listrik 50mA adalah batas aman bagi manusia. Diatas 10mA sampai 200mA jantung tahan sampai jangka waktu maksimal 2 detik saja.2 : Aliran listrik sentuhan langsung Gambar 11. maka besarnya tegangan sentuh adalah sebesar : UB = Rk.

Kerusakan isolasi bisa terjadi pada belitan kawat pada motor listrik.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Terjawab mengapa tegangan Akumulator 12V tidak menyengat saat dipegang terminal positip dan terminal negatifnya. Gambar 11. keduanya sama berbahayanya.4b. ketika terjadi kerusakan isolasi pada peralatan listrik dan orang menyentuh peralatan listrik tersebut yang bersangkutan akan terkena bahaya tegangan sentuh gambar-11. akibat tegangan sentuh yang berbahaya dapat diminimalkan. Tetapi dengan tindakan pengamanan yang baik. Tegangan sentuh bisa terjadi dengan dua cara. Faktor yang berpengaruh ada dua.4b : Tegangan sentuh tidak langsung 11-3 .3 : Tahanan tubuh manusia Gambar 11.3. arus yang mengalir ketubuh besarnya : Ik = U/Rk =220V/1000Ω = 220mA Arus Ik sebesar 200mA dalam hitungan milidetik tidak membahayakan jantung. tangan menyentuh tegangan PLN 220V gambar11.2 detik sudah berakibat fatal bisa melukai bahkan bisa mematikan. generator atau transformator. yaitu besarnya arus mengalir ketubuh dan lama waktunya menyentuh. sehingga ketika terjadi arus bocor akan disalurkan ke tanah dan tidak membahayakan manusia. Isolasi yang rusak harus diganti karena termasuk kategori kerusakan permanen. karena tubuh manusia baru merasakan pengaruh tegangan listrik diatas 50V. Bahaya listrik akibat tegangan sentuh langsung dan tidak langsung.4a : Tegangan sentuh langsung Gambar 11. tetapi diatas 0.4a. Tubuh manusia rata-rata memiliki tahanan Rk sebesar 1000Ω = 1kΩ. peralatan listrik dipasang pentanahan yang baik. cara pertama tangan orang menyentuh langsung kawat beraliran listrik gambar-11. Kawat sebaiknya berisolasi sehingga bila tersentuh tidak membahayakan. Cara kedua tegangan sentuh tidak langsung.

7b. Klas III peralatan listrik yang menggunakan tegangan rendah yang aman. contoh mainan anak-anak. Kode International Protection Gambar 11.6.5.7a. Motor listrik jenis ini tepat digunakan di luar bangunan tanpa alat pelindung dan tetap bekerja normal dan tidak berpengaruh pada kinerjanya. 11-4 Gambar 11. disamping harganya juga berbeda.2. Name plate motor dengan IP 54. sehingga cairan arah dari samping tidak terlindungi.6 : Motor listrik tahan dari siraman air Gambar 11. Motor listrik bahkan dirancang oleh pabriknya dengan kemampuan tahan terhadap siraman langsung air gambar11. Ada motor listrik dengan proteksi ketahanan masuknya air dari arah vertikal saja gambar-11. Klas II menunjukkan alat dirancang dengan isolasi ganda dan aman dari tegangan sentuh.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Klas I memberikan keterangan bahwa badan alat harus dihubungkan dengan pentanahan.7 : Motor listrik tahan siraman air vertikal dan segala arah . Tapi juga ada yang memiliki proteksi secara menyeluruh dari segala arah cairan gambar-11. yang menyatakan proteksi atas masuknya debu dan tahan masuknya air dari arah vertikal maupun horizontal. Perbedaan rancangan ini harus diketahui oleh teknisi karena berpengaruh pada ketahanan dan umur teknik motor.5 : Simbol pengamanan pada nameplate Peralatan listrik pada name plate tertera simbol yang berhubungan dengan tindakan pengamanan gambar-11.

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik

Kode IP (International Protection) peralatan listrik menunjukkan tingkat proteksi yang diberikan oleh selungkup dari sentuhan langsung ke bagian yang berbahaya, dari masuknya benda asing padat dan masuknya air. Contoh IP X1 artinya angka X menyatakan tidak persyaratan proteksi dari masuknya benda asing padat. Angka 1 menyatakan proteksi tetesan air vertikal. Contoh IP 5X, angka 5 proteksi masuknya debu, angka X tidak ada proteksi masuknya air dengan efek merusak. Tabel 11.1. merupakan contoh simbol Indek proteksi alat listrik yang dinyatakan dengan gambar. Tabel 11.1. Contoh Simbol Indek Proteksi Alat Listrik
Digit kesatu : Proteksi terhadap benda padat IP 0 Test Tanpa proteksi Proteksi terhadap benda padat lebih besar 50 mm (contoh, kontak dengan tangan) Proteksi terhadap benda padat lebih besar 12 mm (contoh jari tangan) Proteksi terhadap benda padat lebih besar 2,5 mm (contoh penghantar kabel) Proteksi terhadap benda padat lebih besar 1 mm (contoh alat kabel kecil) Proteksi terhadap debu (tidak ada lepisan/enda pan yang membahaya kan) Proteksi Digit kedua : Proteksi terhadap zat cair IP 0 Test Tanpa proteksi Digit ketiga : Proteksi terhadap benturan mekanis IP Test 0 Tanpa proteksi

1

1

Proteksi terhadap air yang jatuh ke bawah / vertikal (kondurasi)

1

Proteksi terhadap benturan dengan energi 0,225 joule Proteksi terhadap benturan dengan energi 0,375 joule Proteksi terhadap benturan dengan energi 0,5 joule Proteksi terhadap benturan dengan energi 2 joule Proteksi terhadap benturan dengan energi 6 joule Proteksi

2

2

Proteksi terhadap air sampai o dengan 15 dari vertikal Proteksi terhadap jatuhnya hujan o sampai 60 dari vertical Proteksi terhadap semprotan air dari segala arah Proteksi terhadap semprotan air yang kuat dari segala arah

2

3

3

3

4

4

5

5

5

7

6

Proteksi

9

11-5

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
Digit kesatu : Proteksi terhadap benda padat IP 6 Test terhadap debu secara keseluruhan Digit kedua : Proteksi terhadap zat cair IP Test terhadap semprotan air bertekanan berat Proteksi terhadap pengaruh dari pencelupan Proteksi terhadap pengaruh dari pencelupan di bawah tekanan Digit ketiga : Proteksi terhadap benturan mekanis IP Test terhadap benturan dengan energi 20 joule

7

8

..m

Tabel 11.2. Kode IP XX Angka pertama X, proteksi masuknya benda asing padat 0 Tanpa proteksi 1 diameter ≥ 50 mm 2 diameter ≥ 12,5 mm 3 diameter ≥ 2,5 mm 4 diameter ≥ 1,0 mm 5 debu 6 kedap debu Angka kedua X, proteksi air 0 1 2 3 4 5 6 7 8 tanpa proteksi tetesan air vertikal tetesan air miring 150 semprotan butir air halus semprotan butir air lebih besar pancaran air pancaran air yang kuat perendaman sementara perendaman kontinyu

Tindakan pengamanan dalam pekerjaan sangat penting bagi setiap teknisi yang bekerja dengan tegangan kerja diatas 50V. Seorang teknisi menggunakan sarung tangan karet khusus dan helm dengan pelindung mata gambar-11.8 melakukan perbaikan dalam kondisi bertegangan. Bahkan teknisi tersebut harus memiliki sertifikat kompetensi khusus, karena kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal bagi keselamatan jiwanya. Pekerjaan perbaikan instalasi listrik disarankan tegangan listrik harus dimatikan dan diberikan keterangan sedang dilakukan perbaikan.

Gambar 11.8 : Pelindung tangan dan mata

11-6

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik

11.3. Jenis Gangguan Listrik
Gangguan listrik adalah kejadian yang tidak diinginkan dan mengganggu kerja alat listrik. Akibat gangguan, peralatan listrik tidak berfungsi dan sangat merugikan. Bahkan gangguan yang luas dapat mengganggu keseluruhan kerja sistem produksi dan akan merugikan perusahaan sekaligus pelanggan. Jenis gangguan listrik terjadi karena berbagai penyebab, salah satunya kerusakan isolasi kabel gambar-11.9a. Pertama gangguan hubungsingkat antar phasa L1-L2-L3. Kedua gangguan hubungsingkat Pemutus Daya. Ketiga gangguan hubung singkat antar phasa setelah pemutus daya. Keempat hubungsingkat phasa dengan tanah. Kelima kerusakan isolasi belitan stator motor, sebagai akibatnya terjadi tegangan sentuh jika badan alat dipegang orang. Sistem listrik 3 phasa tegangan rendah digambarkan dengan belitan trafo sekunder dalam hubungan bintang tegangan 400/230V gambar-11.9b. Titik netral sekunder trafo dihubungkan ke tanah dengan tahanan pentanahan RB. Jala-jala dengan 3 kawat phasa L1-L2-L3 dan satu kawat netral N untuk melayani beban 3 phasa dan beban 1 phasa. Sebuah lampu mengalami gangguan, terdapat dua tegangan yang berbeda. Aliran listrik dari L3 menuju lampu dan menuju kawat netral N. Tegangan sentuh UB yang dirasakan oleh orang dan tegangan gangguan UF. Dalam kasus ini tegangan UB = tegangan UF, jika besarnya > 50V membahayakan orangnya. Meskipun kran air yang disentuh orang tsb dihubungkan tanah RA, tegangan sentuh yang dirasakan orang bisa membahayakan.

Gambar 11.9a : Gangguan listrik dibeberapa titik

Gambar 11.9b : Gangguan listrik dari beban lampu

11-7

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik

Tabel 11.3. Tegangan Sentuh yang aman Orang dewasa AC 50V, DC 120V Anak-anak Hewan peliharaan AC 25V, DC 60V Binatang ditaman Gangguan listrik bisa terjadi pada tiang saluran distribusi ke pelanggan, dari tiga kawat phasa salah satu kawat phasa putus dan terhubung ke tanah gambar11.10. Idealnya ketika terjadi kawat Gambar 11.10: Tegangan phasa menyentuh tanah, maka penglangkah akibat gangguan ke aman listrik berupa fuse atau relay di tanah gardu distribusi terdekat putus sehingga tidak terjadi tegangan gangguan tanah. Dari titik gangguan ke tanah akan terjadi tegangan gangguan yang terbesar dan semakin mengecil sampai radius 20 meter. Ketika orang mendekati titik gangguan akan merasakan tegangan langkah US makin besar, dan ketika menjauhi titik gangguan tegangan langkah akan mengecil.

11.4. Tindakan Pengamanan untuk Keselamatan
Keamanan Vs Sentuhan langsung dan tidak langsung keamanan vs arus kejut listrik dibawah kondisi normal, (keamanan vs sentuhan langsung atau keamanan dasar) keamanan vs arus kejut listrik kondisi gangguan/ tidak normal (perlindungan terhadap sentuhan langsung atau kegagalan perlindungan)

tindakan proteksi dengan : • tegangan ekstra rendah (SELV) • tegangan ekstra rendah dengan pemutusan yang aman

tindakan proteksi dengan :

• • • •

isolasi bagian aktif perlindungan / bungkus isolasi buat penghalang buat jarak aman

pembatasan beban

pengamanan tambahan dengan : gawai pengaman arus sisa (GPAS)

tindakan proteksi dengan : pengamanan otomatis melalui: • sistem TN • sistem TT • sistem IT • penyama potensial • isolasi proteksi • ruang bebas penghantar • pemutus keamanan

Gambar 11.11: Peta Tindakan Pengamanan 11-8

14 : Pengaman dengan trafo pemisah 11-9 . Tindakan pengamanan bisa dilakukan dengan menggunakan transformator pemisah atau motor-generator. yaitu 230V gambar-11. Sirkit SELV (safety extra low voltage) tidak boleh dikebumikan. Untuk menjamin sistem SELV dan PELV bekerja baik. dirancang stop kontak dengan desain khusus SELV dan PELV gambar-11. Untuk menurunkan tegangan dipakai transformator penurun tegangan 230V/ 50V. satunya berfungsi sebagai sambungan ke penghantar PE (protective earth). Tegangan primer dan sekunder tranformator pemisah besarnya sama. Proteksi Tegangan Ekstra Rendah Tegangan ekstra rendah AC 50V dan DC 120V aman jika tersentuh langsung manusia gambar-11. Selungkup pengaman dihubungkan ke penghantar PE (Protective Earth = pengaman ketanah).Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11.14.13 : Stop kontak khusus untuk tegangan rendah Gambar 11.13. terjadi proteksi bila terjadi kegagalan isolasi dalam peralatan listrik tersebut. Stop kontak SELV memiliki dua lubang kontak yang tidak bisa dipertukarkan. Dengan pemisahan secara elektrik. Gambar 11. dilengkapi dengan selungkup pengaman isolasi ganda. Stop kontak PELV memiliki tiga lubang kontak.5.12. Atau menggunakan transformator 230/120 V yang disearahkan dengan diode bridge sehingga diperoleh tegangan DC 120V.12 : Pengamanan dengan tegangan rendah Gambar 11. sedangkan untuk PELV (protective extra low voltage) bisa dilakukan pembumian.

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. karet. misalnya dengan kode IP 2X.16.15. Tujuannya menghindarkan tegangan sentuh tangan manusia dengan bagian aktif yang bertegangan. Angka 2 menyatakan proteksi benda asing padat ukuran 12. listrik dan pengaruh thermal. Selubung luar kabel terbuat dari bahan thermoplastik. bahan kimia. Bahan isolasi harus tahan oleh pengaruh tekanan mekanik. Gambar 11. Perlindungan pada stop kontak portable juga dirancang dengan kriteria tertentu. sedang angka 4 menyatakan proteksi benda asing padat ukuran 1. yute. Proteksi dengan Isolasi Bagian Aktif Peralatan listrik dirancang dan diberikan perlindungan selungkup dari bahan isolasi gambar-11. Fungsinya sebagai pelindung mekanis pada waktu pemasangan.17 : Perlindungan pengaman stop kontak 11-10 . IP 4X.0mm. Bahan isolasi kabel dari PVC dan karet dirancang mampu menahan tegangan kerja antar penghantar aktif.15 : Pengamanan dengan selungkup isolasi Gambar 11. Meskipun ada kegagalan isolasi. Proteksi ini cukup baik selama selungkup bahan isolasi berfungsi semestinya. Kode huruf B adalah proteksi terhadap jari tangan manusia dan huruf D menyatakan proteksi terhadap masuknya kawat. bagian aktif seluruhnya tertutup oleh isolasi yang hanya dapat dilepas dengan merusaknya. dipastikan arus kejut IK terhalang oleh bahan isolasi dan arus kejutnya nol.6.17. Kabel diberikan perlindungan selubung luar dan bahan isolasi yang memberikan perlindungan elektrik antar kawat gambar11. Angka X menyatakan tidak ada proteksi terhadap tetesan air. IP XXB atau IP XXD gambar-11. Jika salah satu kabel terluka maka akan terlindungi dari kemungkinan hubungsingkat antara dua kabel aktifnya.16 : Kabel berisolasi thermoplastik Gambar 11.5 mm.

20.18.20 : Pengamanan sentuhan tidak langsung 11-11 . Bentangan kawat saluran udara telanjang di atas atap rumah harus diperhatikan jarak minimal dengan atap rumah sebesar 2.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Penangkal petir juga cukup jauh dari saluran kawat udara telanjang.18 : Pengamanan dengan rintangan Gambar 11. Rintangan diberikan tanda-tanda bahaya listrik dengan warna merah menyolok sehingga mudah dikenali dan memberi peringatan secara jelas. Tiang antena dari logam yang berdiri tegak harus dijauhkan dari jalur saluran kawat telanjang. Proteksi dengan Rintangan Ruang gardu dan panel listrik merupakan ruang yang memiliki tingkat bahaya listrik yang tinggi.5 meter dan jarak dari cerobong 0. N dan PE) gambar-11. BKT saat normal tidak bertegangan dan aman Gambar 11.4 meter gambar-11. Jarak ini cukup aman jika orang berdiri dan jangkauan tangan tidak akan menyentuh kawat listrik secara langsung.8.7. Gambar 11. Hanya teknisi listrik yang berpengalaman yang boleh berada ditempat tersebut untuk keperluan pelayanan dan perbaikan saja. tetapi tidak mencegah sentuhan disengaja dengan cara menghindari rintangan secara sengaja. Maksud dari rintangan adalah untuk mencegah sentuhan tidak disengaja dengan bagian aktif. untuk menghindarkan saat tiupan angin cukup kencang akan saling menyentuh dan membahayakan. L2.19. Proteksi dari Sentuhan Tidak Langsung Sentuhan tidak langsung adalah sentuhan pada BKT (bagian konduktif terbuka) peralatan atau instalasi listrik yang menjadi bertegangan akibat kegagalan isolasi. Diperlukan rintangan berupa pagar besi yang dilengkapi dengan kunci sehingga orang yang tidak berkepentingan bisa bebas keluar masuk ruangan gambar11. L3. Sumber listrik 3 phasa dengan 5 kawat (L1.19 : Jarak aman bentangan kabel udara 11.

T = hubungan listrik langsung BKT ke bumi. Keterangan : Notasi T (terre. N = hubungan listrik langsung BKT ketitik yang dikebumikan dari sistem tenaga listrik. yang dikebumikan titik netral. Sistem penghantar distribusi dikenal dua yaitu jenis sistem penghantar aktif dan jenis pembumian sistem. Ketiga isolasi gagal. S (separate) memisahkan.4. phase dua 3 kawat. tidak tergantung pembumian setiap titik tenaga listrik. phasa tunggal 3 kawat. menyatakan susunan penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE). prancis) langsung. Jenis Pembumian Sistem Contohnya sistem TN-C Huruf pertama menyatakan hubungan sistem tenaga listrik ke T bumi. S = fungsi proteksi yang diberikan oleh penghantar yang terpisah dari netral atau dari saluran yang dikebumikan C = fungsi netral atau fungsi proteksi tergabung dalam penghantar tunggal (PEN). Jenis penghantar aktif AC menurut PUIL 2000: 45 dikenal beberapa jenis. yaitu TN. I (isolate) mengisolasi N (netral). Tabel 11. meliputi phase tunggal 2 kawat. aliran listrik gangguan dikembalikan ke kawat PE. sehingga orang terhindar arus kejut meskipun menyentuh bagian BKT.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik disentuh. N Huruf kedua menyatakan hubungan BKT instalasi ke bumi. TT dan IT. Jenis pembumian sistem untuk sistem tiga phasa secara umum dikenal tiga sistem.9. 11. T = hubungan langsung ke bumi I = satu titik dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi. C (common) bersamaan C 11-12 . phase tiga 3 kawat dan phase tiga dengan 4 kawat. phase dua 5 kawat. Huruf berikutnya. Jenis Sistem Distribusi Secara komersial sistem distribusi listrik banyak menggunakan listrik AC tiga phasa dan satu phasa. Distribusi tegangan DC dipakai untuk keperluan khusus seperti saluran listrik atas Kereta Rel Listrik dengan tegangan 1500V di wilayah Jabotabek.

21b : Sistem Pembumian TN-C-S Gambar 11. Gambar 11. Titik netral dibumikan di RB.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Titik netral sistem dibumukan dengan nilai tahanan RB. Sistem Pembumian TN Sistem TN mempunyai satu titik yang dikebumikan langsung pada titik bintang sekunder trafo. • TN-C fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) tergabung dalam penghantar tunggal PEN diseluruh sistem gambar-11. di sebagian sistem gambar-11.21a : Sistem Pembumian TN-S • Sistem TN-S fungsi penghantar proteksi PE terpisah diseluruh sistem gambar-11. dan BKT instalasi dihubungkan ke titik tersebut oleh penghantar proteksi (PEN).1 Gambar 11.21c : Sistem pembumian TN-C Sistem pembumian TT mempunyai satu titik yang dibumikan langsung (RB).21b.22 : Sistem Pembumian TT 1 PUIL 2000.21a.10.21c. Titik netral sistem dibumikan dengan nilai tahanan RB. • Sistem TN-C-S fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) digabungkan dalam penghantar tunggal. hal 45 11-13 . Ada tiga jenis sistem TN sesuai dengan susunan penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE). BKT dihubungkan ke elektrode bumi secara listrik terpisah RA dari elektrode bumi sistem gambar11.22. Gambar 11.

23. BKT instalasi listrik dibumikan secara independen atau secara kolektif atau pembumian sistem RA gambar-11.23 : Sistem Pembumian IT 11. Alternatif-1 : Jalannya arus saat terjadi gangguan adalah : Arus dari trafo -> L1 -> belitan phasa-1 -> badan alat-> kawat PE -> netral trafo.11.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Sistem pembumian IT semua bagian aktif yang diisolasi dari bumi. disebagian sistem. Pengukuran Pengaman pada Sistem Pembumian TN Sistem pembumian TN-C-S penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) digabungkan dalam penghantar tunggal. Gambar 11.24 : Sistem pembumian TN-C-S digabung kawat PE Alternatif-2 : Kawat PEN dekat trafo putus. arus dari trafo -> L1 -> belitan phasa-1 -> badan alat -> kawat PE ---> terminal penyama potensial -> pembumian RA -> tanah -> pembumian RB -> netral trafo.25. drop tegangan di RB = 50 V. Perbandingan tahanan RB dan RE : RB 50V ≤ RE U O − 50V RB RE 50V Uo Tahanan pembumian trafo Tahanan pembumian potensial Tegangan sentuh aman manusia Tegangan phasa-netral Gambar 11.24.25 : Beda tegangan titik netral akibat gangguan ke tanah Kondisi normal tegangan phasa ke netral L1-N = L2-N = L3-N = 230 V hubungan bintang dengan titik netral dibumikan di RB gambar-11. Beban tiga phasa terjadi gangguan isolasi pada belitan phasa-1 gambar-11. Gambar 11. Sehingga tegangan phasa ke phasa L1-L2 = L2-L3 = L3-L1 = 400 V. Sehingga titik netral PEN 11-14 . Ketika terjadi gangguan phasa L1-PE. atau satu titik dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi RB.

27. Desain fisik ELCB dengan satu phasa. ELCB harus di ON kan kembali dengan menaikkan tombol ON ke atas. sehingga Gambar 11. Apabila arus sisa yang timbul karena terjadi kegagalan isolasi melebihi nilai tertentu. 11-15 . ELCB sangat dianjurkan pada sistem TT. besarnya tegangan phasa L1-N menjadi 180 V (230V50V).26. Waktu pemutusan maksimum sistem TN Tegangan Waktu pemutusan U detik ≤ AC 230 V 0.2 ≥ AC 400 V 0. Tegangan phasa L2-N = L3-N menjadi 259V (metode geometris). Dilengkapi dengan tombol reset.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik bergeser sebesar = 50V.26 : Prinsip tercegahlah bertahannya tegangan kerja ELCB sentuh yang terlalu tinggi. Untuk sistem TN-S dan TN-C berikut sistem IT tidak boleh dipasang ELCB. yang dapat memutuskan sirkit termasuk penghantar netralnya secara otomatis dalam waktu tertentu gambar-11. tetapi tidak boleh kurang dari penghantar phasenya 11. Pengaman Gawai Proteksi Arus Sisa (ELCB) GPAS3 atau ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker) adalah pemutus yang peka terhadap arus sisa.1 Waktu pemutusan konvensional maksimum 5 detik Tabel 11. Untuk pemakaian daya besar dipilih arus sisa dengan rating lebih besar dari 30 mA.4 ≤ AC 400 V 0.5. jika ditekan tombol reset maka ELCB akan bekerja memutus rangkaian OFF.12. misalkan 300 mA atau 500 mA. Tabel 11. dengan kawat phasa dan netral diputus bersamaan dengan arus bocor 50mA gambar-11.6. Penampang penghantar sistem TN TN-C TN-S Penampang penghantar PEN tidak boleh kurang 10mm2 tembaga atau 16 mm2 aluminium Penghantar PE terpisah dari penghantar netral < 10 mm2 tembaga atau <16mm2 aluminium.

Suplay tiga phasa L1-L2-L3 dan N disambungkan langsung ke terminal ELCB. Kemampuan ELCB pada tegangan 230V Arus bocor (mA) 30 300 500 Rating arus beban 10ª Rating arus beban 16ª Daya (Watt) 6. dan diujung lainnya terhubung ke stop kontak menuju beban gambar-11. Cara ini bisa melayani beban satu phasa. Tabel 11.680 Gambar 11.29 : ELCB portabel 11-16 .Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Pemasangan ELCB pada sistem TT dilakukan dengan cara penghantar protektif PE memiliki rel atau terminal tersendiri. Persyaratan bisa bekerja dengan baik penghantar PE tersambung dengan baik ke bumi. maka pada kawat netral mengalir arus bocor. Jika besarnya arus bocor memenuhi syarat maka akan mengaktifkan sistem mekanik elektromagnetik. terminal PE dibumikan tersendiri RA gambar11.27 : Fisik ELCB Kini tersedia ELCB dalam bentuk portabel yang dipasangkan pada stop kontak.300 3. mesin gergaji listrik.9 69 115 2. Bebannya satu phasa berupa peralatan kerja yang mudah dipindah-pindahkan seperti mesin bor tangan.28 : Pemasangan ELCB untuk pengamanan kelompok beban Gambar 11.28. Perhatikan daya beban harus sesuai dengan rating ELCB. Jika salah satu beban terjadi kegagalan isolasi. Gambar 11. dan ELCB akan OFF secara otomatis.7.29. beban motor tiga phasa dan tersedia melayani stop kontak.

kemudian arus mengalir menuju RB dan kembali ke netral trafo.32.32 : ELCB pada sistem TT 11-17 . arus bocor akan mengaktifkan ELCB dan tegangan sentuh yang besar tidak akan terjadi. Badan alat dihubungkan dengan penghantar PE.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Sistem TN yang dilengkapi dengan ELCB dapat dilakukan dengan penghantar netral (N) dan penghantar protektif (PE) terpisah. dilakukan dengan cara membumikan titik netral di sumbernya RB.31. Saat terjadi gangguan phasa L1 arus gangguan dari kawat PE mengalir lewat RA. Ketika terjadi kegagalan isolasi. Gambar 11. Sistem pembumian TT yang dipasang ELCB pada beban satu phasa dan beban tiga phasa. Saat terjadi gangguan arus gangguan mengalir ke kawat PE ke pembumian RA lewat tanah menuju ke RB dan ke netral trafo gambar-11. Penghantar netral dan protektif disatukan pada titik sumber dihubungkan ke bumi di RB gambar-11. pembumian dua beban disatukan dengan kawat PE dikebumikan di RA.13.31 : Pengukuran tahanan pembumian sistem TT RA = UL I ΔN Gambar 11.30 : ELCB pada pembumian TN 11. Pengukuran Pengaman pada Sistem Pembumian TT Sistem TT dalam PUIL 2000 disebut sistem Pembumian Pengaman (sistem PP). Besarnya tahanan pembumian RA : Gambar 11. BKT dibumikan dengan penghantar protektif secara terpisah RA gambar-11.30.

8.3 A 0. BKT harus dibumikan secara individual. Pengukuran Pengaman pada Sistem Pembumian IT Sistem pembumian IT. Tabel 11.03 A 0.01 A 0.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik RA IΔn Tahanan pembumian penghantar PE Arus bocor ELCB Contoh: Tegangan jala-jala 230 V diketahui tahanan saat hubung singkat 5Ω. Hitunglah besarnya arus gangguan dan besarnya tegangan sentuh.14.5 A Tahanan RA dalam Ω UL = 50 V UL = 25 V 5. Tahanan Pembumian RA pada Sistem TT Arus sisa ELCB 0. diketahui tahanan pembumian PE sebesar 2Ω.665 832 165 82 100 50 11.33 : Pengukuran tahanan pembumian sistem IT 11-18 . RA = 46A x 2Ω = 92 V Dengan melihat karakteristik ELCB dipilih rating 16A. Jawaban : IK = U O = 230V = 46 A RA 5Ω UB = IK. Gambar 11.33.000 2500 1. dalam kelompok atau secara kolektif ke pipa besi atau komponen logam yang terhubung langsung ke tanah. Titik netral buatan dapat dihubungkan secara langsung ke bumi jika impedansi urutan nol yang dihasilkan cukup tinggi. instalasi harus diisolasi dari bumi atau dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi yang cukup tinggi RB gambar-11. Jika tidak ada titik netral maka penghantar phasa dapat dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi.

9. simbol isolasi ganda gambar-11. Jika terjadi kegagalan isolasi. Alat dengan isolasi ganda tidak memerlukan sistem pentanahan. bagian luarnya diberikan isolasi kedua yang menjamin tidak akan terjadi tegangan sentuh gambar-11.Ia Impedansi pembumian Tegangan phasa-netral Arus gangguan (sistem TN ) Menghitung besarnya tahanan pembumian langsung RA : RA .2 0.8 0. Dalam isolasi ganda ada dua jenis isolasi. tidak boleh mengganti sekrup logam yang memiliki sifat menghantarkan listrik. Proteksi dengan Isolasi Ganda Untuk memberikan pengamanan yang baik beberapa alat listrik dirancang dengan isolasi ganda. isolasi tambahan akan menahan arus kejut sehingga tetap aman bagi pemakai alat.35.1 Netral terdistribusi (detik) 0.34. Gambar 11.2 11. Waktu Pemutusan Maksimum Pada Sistem IT Tegangan nominal instalasi Uo 230/400 V 400/690 V 580/1000 V Netral tidak terdistribusi (detik) 0.4 0. bagian aktif diisolasi dengan isolasi dasar. Id ≤ UL RA Id UL Tahanan pembumian langsung Arus gangguan sisa Tegangan sentuh (50 V) Tabel 11.35 : Isolasi ganda pada peralatan listrik 11-19 .Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Besarnya impedansi Z sebesar : Z≤ U Zs U Ia 2. Isolasi tambahan ini diperkuat dengan sekrup dari bahan isolasi.4 0.15.34 : Simbol pengamanan isolasi ganda Gambar 11.

5 m.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Mesin bor tangan merupakan alat listrik dengan pelindung isolasi ganda gambar-11. jika terjadi kegagalan isolasi pada motor listriknya. Gambar 11.36. Gambar 11. Seluruh bagian aktif berupa motor listrik dan sistem penggerak roda gigi dari logam dibungkus rapat dengan bahan isolasi.5 m sehingga cukup bebas orang berdiri tanpa menyentuh langit-langit tersebut. Proteksi Lokasi tidak Konduktif PUIL 2000 :57 mengatur juga bahwa isolasi bisa diberikan pada suatu ruangan yang disebut dengan proteksi lokasi tidak konduktif gambar-11.16. Antara motor dan mekanik bor menggunakan poros bahan isolasi.36 : Mesin bor dengan isolasi ganda 11. Jarak dinding dengan kondukstif minimal 1.37. sehingga meskipun mata bor dipegang dijamin tidak ada arus kejut mengalir ke tubuh manusia.25 m. Resistansi lantai dan dinding pada setiap titik pengukuran besarnya 50 KΩ jika tegangan nominal isolasi tidak melebihi 500V atau 100 KΩ jika tegangan nominal isolasi melebihi 500 V. Bahkan tombol tekan motor juga terbungkus bahan isolasi secara rapat. Dan jarak antara dua peralatan harus lebih besar dari 2. dan tinggi lantai terhadap langitlangit minimal 2.37 : Jarak aman pengamanan ruang kerja 11-20 . Bagian luar ditutup oleh isolasi lapisan kedua untuk menjamin tidak ada bagian konduktif yang bersinggungan dengan tangan.

sehingga sistem pengamanan pemisah tidak berfungsi.39.17.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Proteksi Pemisahan Sirkit Listrik Tindakan pengamanan dengan cara pemisahan sirkit listrik antara pemasok dengan sirkit beban dengan transformator pemisah gambar11. Pemisahan sirkit listrik bisa dengan trafo pemisah atau motorgenerator. Beberapa alat bisa dipasok dari sekunder trafo pemisah.39 : Trafo pemisah melayani dua stop kontak Gambar 11. Jika terjadi kegagalan isolasi pada sirkit sekunder trafo pemisah maka akan terjadi hubung singkat. Bagian aktif dari sirkit yang dipisahkan tidak boleh dihubungkan pada setiap titik ke sirkit lainnya atau ke bumi. secara elektrik terpisah dengan sirkit sumber sehingga tegangan sentuh terhindarkan. badan alat sisi sekunder trafo pemisah bisa digabungkan sebagai pengganti penghantar protektif PE gambar11. Bila sirkit beban terjadi kegagalan isolasi.40 : Pengamanan pada peralatan listrik 11-21 .38.38 : Pengamanan dengan pemisahan sirkit listrik Gambar 11. Gambar 11.

R < 1Ω < 0.41 : Pengukuran pembumian dengan megger Pengukuran tahanan pembumian dapat dilakukan dengan cara sederhana dengan menggunakan alat ukur Megger gambar-11.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11.42.1Ω < 3Ω Gambar 11. Pengukuran Tahanan pembumian sistem Tahanan terminal potensial Tahanan pembumian tegangan tinggi Instalasi tegangan rendah adalah instlasi listrik yang diberikan tegangan dibawah 500V gambar11. Selama pengukuran sumber tegangan harus dimatikan semua. Megger dioperasikan dan mengukur setiap titik-titik yang diperlukan.41. Pengukuran Tahanan Pembumian Gambar 11. sebab fungsi utama isolasi sebagai sarana proteksi dasar. Tahanan isolasi suatu instalasi merupakan salah satu unsur yang menentukan kualitas instalasi tersebut. Dengan menggunakan Megger maka hasil pengukuran mendekati sesuai tabel dibawah.18. semua saklar menuju ke beban dan penghantar aktif ke stop kontak harus diputuskan.42 : Pengukuran tahanan isolasi 11-22 . Langkah pertama sumber tegangan harus dimatikan dan semua jalur instalsi bebas tegangan.

Tabel 11. PELV dan FELV) yang memenuhi persyaratan Sampai dgn tegangan 500 V. Pengukuran Tahanan Isolasi Lantai dan Dinding PUIL 2000 hal.43.19.43 : Pengukuran tahanan isolasi lantai/dinding Beban sebesar 750 N (sekitar 75 kg. ditemptkan antara pelat logam dan permukaan lantai yang akan diuji gambar-11.10. Sebuah pelat logam bujur sangkar berukuran 250 mm x 250 mm dan kertas atau kain penyerap air basah berukuran 270 mm x 270 mm. Gambar 11. Besarnya tahanan isolasi lantai adalah : ZX ≤ U X I ZX UX IX Impedansi lantai/ dinding Tegangan terukur voltmeter Arus terukur ampermeter 11-23 . Agar rata letakkan sebatang kayu diatas permukaan logam.5 ≥ 1. dgn pengecualian hal tsb diatas Diatas 500 V Tegangan uji arus searah (V) 250 500 1000 Resistansi isolasi (MΩ) ≥ 0.25 ≥ 0. Nilai resistansi isolasi minimum Tegangan sirkit nominal Tegangan ekstar rendah (SELV. maka hasil yang dicapai harus lebih besar dari yang tertera pada Tabel di bawah.91 menyatakan untuk melakukan pengukuran tahanan isolasi lantai dapat digunakan metoda pengukuran Ampermeter dan Voltmeter. untuk dinding) dipasang diatas pelat logam tersebut selama pengukuran berlangsung. lantai) atau 250 N (25 kg.0 11.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Sebagai contoh rumah tinggal disuplay listrik PLN dilakukan pengukuran isolasi dengan menggunakan Megger.

Sebuah Voltmeter yang memiliki tahanan dalam Ri ≥ 40 KΩ. gambar-11. Jika terjadi gangguan hubung pendek pada suatu lokasi dalam instalasi. mengalir arus gangguan yang akan memutuskan secara otomatis alat pengaman fuse.11.20. Jika terjadi kegagalan isolasi.45.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11.2 detik penghantar proteksi PE > 400 V 0. ampermeter. Waktu pemutusan maksimum sistem TN Tegangan Uo (Volt) Waktu pemutusan Jika terjadi gangguan ≤ 230 V 0. Gambar 11. MCB. Pengukuran Tahanan Pembumian Tahanan pembumian yang akan diukur dihubungkan dengan tegangan phasa L. geser perlahanlahan sampai terbaca tegangan V dan penunjukan arus A. ELCB sehingga tegangan sentuh yang berbahaya tidak terjadi. dan sebuah elektrode bantu yang ditanam dengan jarak lebih dari 20 m dari elektrode pembumian RA.44 : Pengujian sistem pembumian TN Tabel 11. Pengujian Sistem Pembumian TN Dalam sistem TN dilakukan dengan cara semua BKT peralatan dan instalasi dibumikan dengan melalui penghantar proteksi PE.21. antara penghantar phase dengan penghantar proteksi PE gambar-11.45 : Pengukuran tahanan pembumian Posisikan tahanan geser pada resistansi maksimum (1000 Ω). Gambar 11.1 detik Waktu pemutusan konvensional yang tidak dilampaui 5 detik diijinkan untuk sirkit distribusi *) PUIL 2000 hal 66 11. melalui pengaman arus lebih. tahanan geser bernilai antara 20 Ω sampai 1000 Ω.44. Besarnya tahanan pembumian RA sebesar : RA = 11-24 UE IE RA ≤ UL Ia RA ≤ UL I Δn . maka dengan segera terjadi pemutusan rangkaian dengan waktu pemutusan yang cepat sesuai tabel di bawah.4 detik hubung pendek antara penghantar phasa dengan ≤ 400 V 0.

Tegangan phasa dari L3 melalui tahanan geser bernilai 10kΩ dan Ampermeter. saklar di-ON-kan. bumi ELCB lakukan pengaturan sampai terbaca Ampermeter dan Voltmeter menunjukkan skala 50V. IΔn UL Tahanan pembumian Tegangan phasa-netral Arus Arus gangguan Tegangan sentuh 11.46. maka besarnya tegangan sentuh aman 50 Volt. Rangkuman • • • Penelitian arus listrik 50 mA adalah batas aman bagi manusia.000 Ω.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik RA UE IE. Tahanan tubuh manusia rata-rata 1.46 : Pengukuran tahanan maksimum.22. Pengukuran Arus Sisa dan Tegangan pada ELCB Motor induksi 3 phasa dilengkapi dengan proteksi ELCB akan diukur dengan menggunakan Ampermeter dan Voltmeter untuk menguji besarnya arus sisa yang mengakibatkan ELCB bekerja gambar-11. Ia. dari masuknya benda asing padat dan masuknya air. 11. Kode IP (International Protection) peralatan listrik menunjukkan tingkat proteksi yang diberikan oleh selungkup dari sentuhan langsung ke bagian yang berbahaya. artinya arus sisa yang melewati tahanan geser mengerjakan alat ELCB dengan baik. arus aman tubuh manusia 50mA.23. 11-25 . Pada saat itu ELCB harus OFF. sebuah Voltmeter memiliki Tahanan dalam minimal 3 KΩ dan sebuah elektrode bantu yang dibumikan dengan jarak lebih besar 20 m dari lokasi motor. Tahanan geser pada posisi Gambar 11.

Sistem pembumian TN-C-S penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) digabungkan dalam penghantar tunggal. Keempat hubungsingkat phasa dengan tanah. Gangguan listrik adalah kejadian mengganggu kerja alat listrik. • • • • • Sistem TN-C-S fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) digabungkan dalam penghantar tunggal. TT dan IT. yaitu TN. instalasi harus diisolasi dari bumi atau dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi yang cukup tinggi RB Dalam isolasi ganda ada dua jenis isolasi. • Sistem TN-S fungsi penghantar proteksi PE terpisah diseluruh sistem gambar-11. 3. TN-C fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) tergabung dalam penghantar tunggal PEN Sistem pembumian TT mempunyai satu titik yang dibumikan langsung (RB).singkat Pemutus Daya. 2. dapat digunakan metoda • • • • • 11-26 . Tindakan pengamanan dengan cara pemisahan sirkit listrik antara pemasok dengan sirkit beban dengan transformator pemisah Pengukuran tahanan pembumian dapat dilakukan dengan cara sederhana dengan menggunakan alat ukur Megger Pengukuran tahanan isolasi lantai pengukuran Ampermeter dan Voltmeter. 1. sebagai akibatnya terjadi tegangan sentuh jika badan alat dipegang orang. Titik netral dibumikan di RB. Kedua gangguan hubung. Pertama gangguan hubung singkat antar phasa L1-L2-L3. bagian luarnya diberikan isolasi kedua yang menjamin tidak akan terjadi tegangan sentuh. • Jenis pembumian sistem untuk sistem tiga phasa secara umum dikenal tiga sistem. yang tidak diinginkan dan • Jenis gangguan listrik terjadi karena kerusakan isolasi kabel. bagian aktif diisolasi dengan isolasi dasar. Kelima kerusakan isolasi belitan stator motor. yang dapat memutuskan sirkit termasuk penghantar netralnya secara otomatis Sistem pembumian IT.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik • • Pekerjaan perbaikan instalasi listrik disarankan tegangan listrik harus dimatikan dan diberikan keterangan sedang dilakukan perbaikan.21a. 5. Ketiga gangguan hubung singkat antar phasa setelah pemutus daya. ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker) adalah pemutus yang peka terhadap arus sisa. 4.

ada yang pingsan dan bahkan ada korban jiwa. jelaskan. 7. Dikenal bahaya tegangan sentuh langsung dan tidak langsung. Gambarkan skematik pengukuran tahanan pembumian instalasi rumah tinggal. Jelaskan prosedur dan urutannya dengan benar. 5. Trafo pemisah dapat menjadi alat pengamanan. jelaskan mengapa hal tersebut dilakukan. 6. 11-27 . jelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi. jelaskan kedua istilah tersebut dan berikan contohnya. Bodi motor listrik sebaiknya diketanahkan. 3. Jelaskan mengapa terjadi hal demikian. Mengapa tegangan 50V dianggap aman bagi tubuh manusia.24. Soal-soal 1. 2.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Jelaskan pentingnya sistem pengamanan dalam instalasi listrik. Ketika tersengat listrik ada orang yang terkaget-kaget. 4.

......1... Rangkaian Dasar ........ Perilaku Sistem Kontrol ........ Kontroler Dua Posisi ................... Pengertian sistem Pengaturan .................................12......5......2....... 12........................... 12........ 12........9..... 12-2 12-5 12-10 12-17 12-17 12-18 12-20 12-22 12-23 12-23 12-24 12-25 12-26 12-27 12-27 12-28 12-29 12-35 12-36 12-37 .................. Kontroler Derivatif (D) ... Komponen Elektro Pneumatik ..... Soal-soal .........3..17.................... 12......20..................... 12.18............ Kontroler Tiga Posisi ...................... 12.......................... Kontroler Integral (I) ..............................19........................... Kontroler PID ........................ Kontroler Proporsional Derivatif (PD) ............. 12. 12.....16.......................................13.10.......................... 12......... Kontroler Proporsional (P) ......................... 12................................................... 12....................8.14........... 12.......................... 12............. 12.......................................... Seleksi tipe Kontroler untuk Aplikasi Tertentu .................... Optimisasi Kontroler ........................ Elektropneumatik ....15...........BAB 12 TEKNIK PENGATURAN OTOMATIS Daftar Isi : 12.. Karakteristik Osilasi pada Sistem Kontrol ........ 12..........................................6..... 12.......... 12..... Rangkuman ................ Kontroler Proporsional Integral (PI) ...... Diagram Blok Sistem Kontrol ..........4........ 12.................................7.......11...................................... 12........................ Tipe Kontroler ................

pengendara mempercepat laju kendaraan dengan membuka pedal gas.1 Pengaturan manual tegangan pada Generator Dalam sistem tersebut. Arus keluaran dihasilkan oleh kecepatan putar rotor pada Generator yang dibangkitkan oleh arus eksitasi Ie. Ada beberapa komponen yang terlibat di dalamnya. karena tegangan keluaran U diinginkan tetap maka arus keluaran I berubah sesuai dengan nilai beban. misalnya pedal gas. Demikian pula. mesin (penggerak). Pengertian Sistem Pengaturan Pengertian kontrol atau pengaturan adalah proses atau upaya untuk mencapai tujuan. Tujuan yang diinginkan dari proses tersebut adalah berjalannya kendaraan pada lintasan (track) yang diinginkan. speedometer. seperti pada gambar 12. Sistem kontrol berkendaraan berarti kombinasi dari komponen-komponen tersebut yang menghasilkan berjalannya kendaraan pada lintasan yang diinginkan. jika ada kendaraan lain di depan atau lampu penyeberangan berwarna merah maka pengendara menginjak rem dan menurunkan kecepatannya. Misalnya kita ingin mengatur agar tegangan yang dihasilkan oleh Generator arus searah bernilai konstan. Semua upaya itu dilakukan untuk mempertahankan kendaraan pada lintasan yang diinginkan. Gambar 12. Besar arus eksitasi disesuaikan dengan kebutuhan untuk menghasilkan arus keluaran I oleh Generator. seorang operator harus terus-menerus melihat besar arus keluaran yang diinginkan untuk disesuaikan dengan besar arus eksitasi yang 12-2 .Teknik Pengaturan Otomatis 12. rem. Karena pengaturan ini dilakukan secara manual. Sebagai contoh sederhana dan akrab dengan aktivitas sehari-hari dari konsep kontrol atau pengaturan adalah saat mengendarai kendaraan. Perubahan arus eksitasi dilakukan secara manual. dan pengendara. Dengan berubah-ubahnya arus I maka arus eksitasi Ie juga harus berubah mengikuti nilai arus I tersebut. Ketika jalan lengang dan aturan memperbolehkan.1.1.

Pada saat tangan bergerak untuk memindahkan barang. Tegangan konstan yang diinginkan dalam pengaturan ini disebut variabel acuan (referensi). Dalam istilah teknik kontrol. Secara umum dapat dikatakan semua proses yang terjadi di alam pada hakikatnya adalah sebuah sistem kontrol. Gambar 12. tegangan U disebut variabel yang dikontrol x. mata akan menangkap informasi tentang posisi pada saat itu.1 memperlihatkan contoh sistem kontrol dengan komponenkomponennya. Pada proses tersebut. Komponennya berupa tangan (dalam hal ini tentunya dengan otot tangan). Dalam teknik kontrol dipelajari tentang pengaturan sistem agar menghasilkan keluaran yang diinginkan. dan otak sebagai pengontrol. Informasi tersebut diproses oleh otak untuk disimpulkan apakah posisinya sudah benar atau tidak. Dalam bentuk diagram blok. Misalnya plant berupa motor listrik. Komponen utama sistem kontrol terdiri atas objek yang dikontrol (disebut plant).2. Selanjutnya. Proses pengaturan suhu tubuh adalah juga contoh dari sistem kontrol. apabila posisinya masih belum tercapai maka otak akan memerintahkan otot tangan untuk bergerak memindahkan barang ke posisi yang diinginkan. dan aktuator. arus eksitasi disebut variabel buatan (manipulated variable) y. Dalam diagram blok tersebut. 12-3 . maka variabel yang dikontrol adalah kecepatan dan aktuatornya adalah kontaktor.Teknik Pengaturan Otomatis diperlukan. Tabel 12. variabel (besaran) yang dikontrol. plant menghasilkan variabel yang dikontrol serta kontroler menghasilkan variabel termanipulasi.2 Diagram blok sistem kontrol Contoh lain dapat disebutkan berupa proses memindahkan barang oleh tangan kita. tujuannya adalah posisi atau letak barang yang diinginkan. dan arus beban I disebut variabel gangguan (disturbance variable) z. sistem kontrol digambarkan pada gambar 12. mata. Tujuannya adalah menjaga suhu tubuh agar berjalan normal.

2 memperlihatkan istilah teknis dalam sistem kontrol serta simbol formalnya.3 Pengaturan tegangan secara otomatis 12-4 .1.Teknik Pengaturan Otomatis Tabel 12. Gambar 12. Tabel 12. Istilah penting dalam sistem kontrol Istilah Variabel yang dikontrol Variabel acuan Variabel termanipulasi Selisih (error) Variabel gangguan Simbol x w y e z Contoh Tegangan Tegangan acuan Arus eksitasi Selisih tegangan Arus beban Selain secara manual. seperti diperlihatkan pada gambar 12. Contoh komponen sistem kontrol Plant Motor listrik Generator Pengatur suhu ruangan Variabel yang dikontrol Kecepatan putar Tegangan suhu Aktuator Kontaktor Transistor Thyristor Tabel 12. pengaturan tegangan pada Generator bisa dilakukan secara otomatis dengan menggunakan Thyristor.2.3.

setiap harga tegangan yang dihasilkan oleh Generator ditangkap oleh trafo tegangan untuk dibandingkan dengan tegangan acuan (referensi). dibuat diagram blok yang menggambarkan aliran informasi dan komponen yang terlibat dalam sistem kontrol tersebut.Teknik Pengaturan Otomatis Dalam pengaturan secara otomatis. Pada gambar 12. Seperti diperlihatkan pada gambar 12. Gambar kotak mewakili tiap komponen dalam sistem kontrol.3. untuk memudahkan melihat proses pengaturan yang berlangsung dalam sistem kontrol. sedangkan aliran informasi diperlihatkan dengan garis dengan tanda anak panah di salah satu ujungnya yang menandakan arah informasi atau data dalam proses pengaturan tersebut. Selisih tegangan ini menjadi input pemicu (trigger) Thyristor yang menentukan nilai arus eksitasi dan output tegangan yang selanjutnya mempengaruhi Generator untuk menghasilkan tegangan output yang diinginkan.2. Diagram Blok Sistem Kontrol Ada dua bentuk umum sistem kontrol yaitu : a. masukan acuan kontroler aktuator plant keluaran Gambar 12. Dalam sistem tersebut. Sistem Kontrol Lingkar-tertutup (Closed-Loop Control System) atau sistem kontrol dengan umpan balik (Feedback Control System). Prinsip pengaturannya adalah sebagai berikut : apabila tegangan output lebih rendah dari tegangan acuan maka Thyristor akan menghasilkan arus eksitasi sehingga tegangan output Generator naik mendekati harga tegangan acuannya.4 Diagram blok sistem kontrol open-loop 12-5 .4. sebaliknya jika tegangan output lebih tinggi dari tegangan acuan maka Thyristor akan menghasilkan arus eksitasi sehingga tegangan output Generator turun mendekati harga tegangan acuannya. Diagram blok sistem kontrol lingkar terbuka (SKL-buka) diperlihatkan dalam gambar 12. b. 12. peranan operator diganti oleh gabungan antara sensor tegangan (berupa trafo tegangan) dan Thyristor sebagai aktuator penghasil arus eksitasi yang mengatur kecepatan putar rotor dalam Generator. sedangkan yang kedua disebut kontrol otomatis.2. Sistem kontrol yang pertama sering disebut pengaturan secara manual. peranan operator diganti oleh peralatan atau komponen yang secara otomatis bekerja sesuai dengan fungsi operator. Sistem Kontrol Lingkar-terbuka (Open-Loop Control System).

5 Diagram blok sistem kontrol closed-loop Dalam sistem kontrol lingkar tertutup. keluaran tidak dibandingkan dengan masukan acuan.Teknik Pengaturan Otomatis Sedangkan diagram blok sistem kontrol lingkar tertutup diperlihatkan dalam gambar 12. sistem kontrol lingkar-terbuka tidak akan menunjukkan hasil yang diharapkan. dan penyabunan dalam mesin cuci beroperasi berdasarkan waktu yang ditentukan oleh pengguna. sehingga masukan acuan berhubungan dengan kondisi operasi (operating condition) yang tetap. Sistem kontrol ini dapat digunakan dalam praktek hanya jika hubungan antara masukan dan keluaran diketahui dan tidak ada gangguan. Sistem kontrol lingkar-terbuka adalah sistem yang keluarannya tidak berpengaruh terhadap aksi pengaturan. Sistem kontrol ini bermanfaat 12-6 . Perendaman. sistem kontrol lingkar-terbuka relatif lebih mudah dibuat karena kestabilan sistem bukan masalah utama. Sinyal selisih (error) yaitu perbedaan antara masukan acuan dan sinyal umpan balik diberikan kepada kontroler sedemikian sehingga dalam prosesnya memperkecil selisih dan menghasilkan keluaran sistem pada harga atau kondisi yang diinginkan. Contoh praktis sistem ini adalah mesin cuci. Dalam hal adanya gangguan. Dalam sistem tersebut. Dari sisi kestabilan. Keuntungan dari sistem kontrol lingkar-tertutup terlihat dari penggunaan umpan balik yang membuat respon sistem tidak terlalu peka (sensitif) terhadap gangguan luar ataupun perubahan nilai-nilai komponen dalam sistem. masukan acuan komparator kontroler aktuator plant keluaran umpan balik Gambar 12. Sistem kontrol lingkar tertutup dalam kenyataannya selalu merujuk kepada sistem yang menggunakan umpan balik untuk mengurangi error sistem.5. nilai keluaran berpengaruh langsung terhadap aksi pengaturan. kestabilan menjadi masalah besar dalam sistem kontrol lingkar-tertutup karena penanganan error yang berlebihan bisa menyebabkan osilasi. Di lain pihak. Mesin tidak mengukur kondisi sinyal keluaran berupa kebersihan pakaian. Akibatnya ketelitian sistem sangat bergantung kepada kalibrasi. pencucian. Hal tersebut memungkinkan penggunaan komponen yang tidak akurat dan murah untuk mewujudkan pengendalian yang akurat untuk suatu plant. Dengan kata lain. dalam sistem ini keluarannya tidak diukur ataupun diumpanbalikkan untuk dibandingkan dengan masukan.

Algoritma kontrolnya adalah apabila suhu air panas kurang dari yang diinginkan maka buka katup saluran uap. tetapi biasanya sistem kontrol lingkar tertutup juga memerlukan daya dan biaya yang relatif lebih besar dibandingkan dengan sistem kontrol lingkar-terbuka yang bersesuaian. saluran uap panas saluran air panas katup tangki air pengukur suhu (termometer) saluran air dingin pembuangan uap panas Gambar 12. Mekanisme pemanasan air dilakukan dengan mengalirkan uap panas ke dalam saluran uap panas yang selanjutnya uap panas ini akan memanaskan air dingin yang masuk ke dalam tangki.6 Sistem Pemanasan Air Skema tersebut memperlihatkan sistem pengaturan yang bertujuan untuk memperoleh air panas dengan suhu tertentu.Teknik Pengaturan Otomatis apabila ada gangguan yang bersifat sukar ditentukan atau diramalkan. Dewasa ini dengan kemajuan teknologi dalam bidang elektronika dan komputer. Air yang akan dipanaskan disimpan dalam tangki air (PLANT). hampir seluruh sistem dikendalikan secara elektronis dan terkomputerisasi. sebaliknya jika suhu air panas lebih dari yang diinginkan maka tutup katup saluran uap. Dalam merealisasikan sistem yang dikendalikan dengan komputer maka penambahan komponen pengubah dari sinyal analog ke digital dan sebaliknya mutlak diperlukan untuk menjamin keberlangsungan proses dalam sistem tersebut Contoh 1: Pemanasan air Perhatikan diagram skematik sistem pemanasan air pada gambar 12. Seorang operator (KONTROLER) bertugas untuk mengatur aksi buka tutup katup (AKTUATOR) pada saluran uap panas.7 melalui diagram blok berikut 12-7 . Sebuah termometer (SENSOR) digunakan untuk mendeteksi besar suhu air panas yang dihasilkan.6. Sistem kontrol tersebut dapat gambar 12. Peran manusia menjadi hanya sebagai operator.

kita tidak dapat mengatakan sistem ini sebagai SKL-tutup. intervensi operator menyebabkan berlangsungnya proses dalam sistem.9 secara skematik memperlihatkan pengaturan tinggi permukaan air. maka fungsi operator harus diambil alih oleh peralatan elektronika pemroses keputusan (misalnya komputer atau mikrokontroler) serta rangkaian penggerak (driver) pemutar buka tutup katup.8 Diagram blok sistem pemanasan air secara otomatis Contoh 2. Apabila diinginkan menjadi sistem kontrol lingkar tertutup. Seorang operator (KONTROLER) bertugas membuka tutup kran air (AKTUATOR) untuk menjaga tinggi permukaan air yang tetap. yang ingin diatur adalah tinggi permukaan air dalam tangki (PLANT). Dalam sistem ini. Dengan kata lain.Teknik Pengaturan Otomatis suhu air panas yang diinginkan kontroler (operator) aktuator (katup + tangan operator) plant (tangki air) suhu air panas sebenarnya Gambar 12.7 Diagram blok sistem pemanasan air Meskipun ada sensor berupa termometer pada sistem ini. Algoritma kontrolnya adalah buka kran air apabila tinggi permukaan air turun dan tutup kran air apabila tinggi permukaan air lebih dari yang diinginkan. 12-8 .8 suhu air panas yang diinginkan komparator kontroler motor listrik + driver tangki air suhu air panas sebenarnya mikrokontroler atau komputer sensor suhu (transduser) Gambar 12. Selain itu sensor elektronis juga menjadi kebutuhan untuk menjamin tersedianya informasi keluaran yang terus-menerus. Pengaturan tinggi permukaan air Gambar 12. Bentuk diagram blok sistem kontrol lingkar tertutup untuk sistem pemanasan air ini diperlihatkan pada gambar 12. karena data suhu tidak diproses langsung oleh sistem tetapi diproses melalui operator.

Gambar 12.10 diagram blok pengaturan tinggi air Contoh 3. 12-9 . dan kanannya. Prototipenya diperlihatkan dalam gambar 12. Mobile Robot Mobile robot secara sederhana didefinisikan sebagai robot yang bergerak sendiri mengikuti jalur (path) yang diinginkan untuk menghindari rintangan. Diagram blok sistem kontrol lingkar terbuka untuk sistem ini dapat digambarkan dalam bentuk berikut aktuator (katup + tangan operator) tinggi permukaan air sebenarnya tinggi permukaan air yang diinginkan kontroler (operator) plant (tangki air) Gambar 12.9 Pengaturan tinggi permukaan air saluran air keluar Disini yang berfungsi sebagai sensor adalah mata sang operator yang selalu melihat tinggi permukaan air. samping kiri.11.Teknik Pengaturan Otomatis operator tangki air kran air tinggi permukaan air yang diinginkan saluran air masuk Gambar 12.11 Prototipe mobile robot Prototipe mobile robot tersebut dilengkapi dengan sensor ultrasonik untuk mendeteksi jarak dirinya ke penghalang di depan.

Perilaku Sistem Kontrol Ada dua tipe perilaku sistem kontrol. maka dia berbelok ke kanan. Jika di kiri tidak ada penghalang. jika sensor depan mendeteksi adanya penghalang. maka robot berbelok ke kiri. yaitu statis dan dinamis. dan motor stepper difungsikan untuk menggerakkan rodanya. mikrokontroler digunakan sebagai pengaturnya. maka sensor samping (kiri dan kanan) akan mendeteksi ada atau tidak penghalang.13 memperlihatkan sistem kontrol pada Generator arus searah dengan variabel yang dikontrol berupa tegangan dan variabel termanipulasinya arus eksitasi pada lilitan medannya. gambar 12.13a adalah diagram rangkaiannya sedangkan gambar 12. Cara kerjanya adalah sebagai berikut.3. Gambar 12.13b memperlihatkan karakteristik statis dari sistem kontrol pada Generator tersebut. jalur (path) yang diinginkan komparator kontroler driver motor stepper motor jalur stepper sebenarnya mikrokontroler sensor jarak (ultrasonik) Gambar 12.12. sebaliknya jika penghalangnya di kiri. Sebagai contoh. 12-10 . Robot berjalan dalam arah lurus ke depan. Diagram blok sederhana untuk menggambarkan sistem tersebut diperlihatkan pada gambar 12.12 kontrol otomatis pada mobile robot 12. Perilaku statis sistem kontrol diperlihatkan oleh hubungan linier antara variabel yang dikontrol dengan perubahan variabel termanipulasinya. Sedangkan jika penghalang juga berada di kiri dan kanan.Teknik Pengaturan Otomatis Selain itu. sedangkan perilaku dinamis ditandai oleh respon sistem kontrol terhadap inputnya. maka robot bergerak mundur.

hubungan antara arus eksitasi dan tegangan keluaran digambarkan dengan garis lurus (persamaan linier) seperti diperlihatkan pada gambar 11. yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara perubahan nilai variabel yang dikontrol (x) dengan perubahan nilai variabel termanipulasi (y).13 Perilaku statis Generator Arus Searah Untuk setiap nilai arus yang dihasilkan oleh Generator. 12-11 .Teknik Pengaturan Otomatis Gambar 12. Gambar 12.14 Hubungan tegangan fungsi arus Perilaku statis dari sistem kontrol dinyatakan dengan koefisien transfer (Ks).14.

Teknik Pengaturan Otomatis Secara grafis.16 Sistem PT0 12-12 . Jawab : KS = K Δx 100 0 C − 80 0 C = = 10 A Δy 7 A − 5A Sedangkan perilaku sistem dinamis ditinjau dari respon sistem yang dikontrol terhadap input berbentuk tangga (step). Gambar 12. koefisien transfer dinyatakan dengan rumus : KS = Δx Δy Contoh : Sebuah pemanas listrik memerlukan arus dari 5 A sampai 7 A untuk menghasilkan suhu dari 80o C sampai 100oC. hubungan tersebut diperlihatkan pada gambar 12.15 Perubahan Tegangan fungsi Arus Eksitasi Dari grafik tersebut. Input berasal dari variabel termanipulasi. Gambar 11-16 memperlihatkan respon sistem dan simbolnya. Gambar 12. sedangkan respon sistemnya berupa variabel yang dikontrol. Hitung koefisien transfer dari sistem tersebut.15.

T0 (T-nol) artinya tidak ada waktu tunda pada respon sistem. Sedangkan T berindeks berarti waktu tunda respon terhadap inputnya. dan seterusnya. Simbol sistem PT0 diperlihatkan pada gambar 12. T2 berarti waktu tunda responnya tingkat dua. 4. 3.16a. Terlihat bahwa pada sistem PT0. sehingga untuk sistem PT0 begitu input diberikan pada sistem atau sistem dijalankan.17 Model fisik PT1 12-13 . yaitu 1. respon sistem langsung mengikuti bentuk inputnya.17. Sistem kontrol waktu tunda satu langkah (PT1).Teknik Pengaturan Otomatis Berdasarkan bentuk responnya. artinya bentuk sinyal reponnya sebanding dengan bentuk sinyal inputnya. Sebagai contoh dari sistem ini adalah pengaturan arus kolektor suatu transistor bipolar dengan input arus basisnya. Bentuk respon sistem PT0 diperlihatkan pada gambar 12. Secara umum. Sementara sistem PT1 diperlihatkan pada gambar 12. Pada gambar tersebut terlihat sistem merespon inputnya secara langsung tanpa ada selang waktu. nilai output langsung mengikuti nilai inputnya tanpa penundaan waktu.16b. Waktu tunda adalah waktu yang dibutuhkan oleh respon sistem untuk mencapai bentuk inputnya. Model fisik dari sistem PT1 menggambarkan sebuah proses pemanasan air dengan mengalirkan uap panas pada sebuah tangki melalui operasi buka tutup katup. Gambar 12. T1 berarti waktu tunda responnya tingkat satu. dan 5. Sistem kontrol tanpa waktu tunda (PT0). 2. semakin besar tingkat waktu tundanya semakin lambat respon output terhadap inputnya. P pada penamaan sistem tersebut berarti proporsional. ada lima klasifikasi sistem kontrol. Sistem kontrol dengan waktu mati (dead time). Sistem kontrol waktu tunda banyak (PTn). Tujuan pengaturannya adalah air diinginkan memiliki suhu tertentu. Sistem kontrol waktu tunda dua langkah (PT2).

Pada grafik tersebut. 12-14 . Kondisi ini berlangsung dalam rentang waktu tertentu yang disebut waktu mati (deadtime) Tu. Simbol sistem PT1 diperlihatkan pada gambar 12. sedangkan y menandai suhu air yang diinginkan. Gambar 12. x menyatakan suhu air setiap saat.18b. Adanya saluran keluar yang tidak dilengkapi katup menyebabkan suhu dalam radiator tidak mengalami perubahan.18a. Prinsip pengaturannya sama dengan pemanasan air. Terlihat bahwa nilai outputnya mencapai atau mengikuti nilai inputnya dalam waktu tertentu (waktu tunda). Contoh lain dari sistem PT1 adalah kumparan. karena jika tegangan diberikan pada kumparan.Teknik Pengaturan Otomatis Pada saat katup dibuka untuk mengalirkan uap panas ke dalam tangki.18a. Pada saat katup uap panas dibuka maka proses pemanasan mulai berlangsung.18 Respon Kontrol PT1 Radiator pemanas ruang dengan uap pemanas merupakan contoh sistem PT2 diperlihatkan pada gambar 12. Gambar 12. Perubahan suhu air dalam tangki mengikuti grafik pada gambar 12. Suhu air bertambah seiring dengan banyaknya uap panas yang mengalir ke dalam tangki.19. proses pemanasan mulai berlangsung. arus yang muncul mengikuti bentuk eksponensial seperti pada gambar 12. yaitu diharapkan radiator tersebut memiliki suhu akhir tertentu.19 Model Sistem Kontrol PT2 Model radiator dengan saluran masuk uap panas melalui katup dan dilengkapi saluran keluar udara dari radiator tersebut. Perubahan suhu air berlangsung lambat dan mengikuti bentuk eksponensial dengan konstanta waktu Ts. seolah-olah uap panas yang masuk langsung dibuang melalui saluran keluar.

satu untuk lilitan jangkar dan yang lainnya untuk mempercepat bagian jangkar. dimana kecepatannya diatur melalui perubahan arus jangkar. Dapat dilihat pada simbol itu. Secara grafik. 12-15 . Sementara itu. maka perubahan suhu dalam radiator mengikuti pola grafik pada gambar 12.20b. Simbol sistemnya diperlihatkan pada gambar 12.20.21. bahwa output sistem mulai merespon setelah beberapa saat (waktu mati) dan mencapai inputnya setelah selang waktu tertentu (waktu menetap). bentuk respon untuk sistem PTn sama dengan sistem PT2 yaitu memiliki dua konstanta waktu seperti diperlihatkan pada gambar 12. Perbedaannya terletak pada kisaran waktu tunda dalam satuan puluhan detik. Contoh lain dari sistem PT2 ini adalah motor arus searah dengan magnet permanen. Kalau sistem PT1 waktu tundanya mungkin berkisar dalam satuan milidetik dan sistem PT2 waktu tundanya dalam kisaran puluhan milidetik.21 Respon kontrol PTn Misalnya dalam suatu sistem kontrol ada enam komponen yang terlibat dalam proses pengaturan dan masing-masing menyumbang waktu tunda terhadap sistem maka sistemnya disebut sistem PT6. sistem PTn adalah sistem dengan respon yang sangat lambat dibandingkan dengan dua sistem terdahulu.Teknik Pengaturan Otomatis Apabila proses pemasukan uap panas terus berlangsung. Sistem ini memiliki dua konstanta waktu. maka waktu tunda untuk sistem PTn mungkin berkisar dalam satuan detik sampai puluhan detik. Gambar 12. Adanya dua parameter waktu tunda Tu dan Tg menyebabkan sistem ini disebut sistem PT2. Suhu akhir diperoleh dalam selang waktu tertentu yang disebut waktu menetap (settling time) Tg.20 Respon sistem PT2 Gambar 12.

Gambar 12.Teknik Pengaturan Otomatis Kelompok lainnya adalah sistem kontrol dengan waktu mati (deadtime). waktu mati didefinisikan sebagai saat ketika sistem tidak merespon inputnya.23b. Gambar 12. maka ada rentang waktu kosong (deadtime) sebelum output sistem – dalam hal ini awal proses di bagian berikutnya – terjadi.23 Respon Kontrol Deadtime 12-16 . Terlihat bahwa output baru muncul (x) setelah waktu mati (Tt) dari waktu awal inputnya (y). Seperti diuraikan sebelumnya. Karena ada waktu yang dibutuhkan oleh barang atau bahan untuk berpindah dari posisi semula ke posisi akhir. Jadi output sistem baru muncul setelah waktu mati. Gambar 12. Sedangkan simbol sistem kontrol dengan waktu mati diperlihatkan pada gambar 12.23a. respon sistem kontrol yang memiliki waktu mati diperlihatkan pada gambar 12.22 Model Dead Time . Secara grafik.22 memperlihatkan proses pemindahan barang atau bahan di sebuah proses produksi dari satu tempat ke tempat lain melalui ban berjalan.

sehingga dinamai juga kontroler On-Off.4. Kondisi suhu mengikuti grafik pada gambar tersebut. Salah satu penerapan kontroler ini misalnya pada pengaturan suhu ruangan agar berada di antara dua nilai suhu rendah dan tinggi (suhu nyaman). Tipe Kontroler Kontroler dapat diibaratkan sebagai otak dari sistem kontrol. Komponen tersebut berfungsi sebagai pusat pengatur proses dalam sistem kontrol.5. Sedangkan kontroler kontinyu terdiri atas lima jenis. dan kontroler Proporsional-Intergral-Derivatif (PID). Apabila ruangan bersuhu rendah maka kontroler bekerja untuk menaikkan suhu ruangan.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Secara teknis. ada dua input ke kontroler. yaitu output sebenarnya yang dihasilkan plant (disebut variabel yang dikontrol x) dan masukan acuan (referensi w). kontroler Proporsional Derivatif (PD). yaitu kontroler Proporsional (P). kontroler Proporsional dan Integral (PI). Kontroler integral (I). Kontroler diskrit terdiri atas kontroler dua posisi (On-Off) dan kontroler tiga posisi.24 Kontroler dua posisi (On-Off) 12-17 . 12. Karakteristik kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. kontroler Derivatif (D). yaitu kontroler kontinyu dan kontroler diskrit. Input yang diproses oleh kontroler adalah selisih dari dua input tersebut (error e). sebaliknya apabila suhu ruangan mencapai posisi suhu tinggi maka kontroler bekerja untuk menurunkan suhu ruangan dengan cara memutus arus pemanasnya. Sedangkan output kontroler berupa variabel termanipulasi (y). Gambar 12. Berdasarkan cara kerjanya ada dua tipe kontroler.24. Kontroler Dua Posisi Kontroler tipe ini memiliki prinsip kerja nyala-padam (On-Off) secara bergantian dengan waktu yang ditentukan.

Adanya magnet menyebabkan suatu saat keping bimetal kembali akan tertarik dan menyebabkan kontak kembali bekerja dan proses pemanasan berlangsung kembali. Dengan melihat kurva ini.24. timbul waktu tunda Tu. Karena suhu naik.25 Simbol kontrol on-off Gambar 12. sehingga proses awal berulang. keping bimetal kembali melengkung dan memutus kontak dengan pemanas.25. Simbol kontrol dua posisi (On-Off) diperlihatkan pada gambar 12.26 Kontroler suhu bimetal Kontroler suhu bimetal adalah sebuah kontroler dua posisi yang diperlihatkan pada gambar 12.Teknik Pengaturan Otomatis Pada saat awal proses pemanasan ruangan. 12-18 . perpindahan (transisi) dari posisi on ke off berlangsung ketika suhu mencapai suhu tinggi (xo) dan sebaliknya perpindahan posisi off ke on terjadi pada saat suhu mencapai suhu rendah (xu). Pada kontroler ini bentuk kurva karakteristik input-outputnya disebut hysteresis seperti terlihat di bagian kiri gambar 12. Karena ketidakidealan sistem. Gambar 12. Waktu tunda tersebut muncul baik pada saat kondisi on ke off ataupun sebaliknya dari kondisi off ke on seperti terlihat pada gambar tersebut sebagai akibat komponen atau pengatur tidak bisa langsung merespon perubahan inputnya. Posisi On-Offnya ditentukan oleh kontak bimetal. dan seterusnya.26. Apabila suhu panas maka keping bimetal akan melengkung sedemikian sehingga kontak terlepas sehingga elemen pemanasnya terputus kontaknya sehingga suhu akan turun. suhu naik sedikit demi sedikit sampai mencapai suhu tingginya.

seperti diperlihatkan pada gambar 12. Contoh pemakaian kontroler tiga posisi adalah pada sistem pengaturan suhu yang memerlukan tiga keadaan. Sedangkan pemanas R2 hanya terhubung pada saklar cabang 2 saja. Kontroler Tiga Posisi Kontroler tiga posisi gambar 12. Ketika posisi saklar pada 0.6. dan keadaan mati (Off). satu pemanas bekerja. Pemanas listrik R1.29 Karakteristik kontroler tiga posisi dengan posisi tengah nol 12-19 . hasilnya suhu dingin.27. panas-sedang. Gambar 12. pada posisi ini pemanas R1 dan R2 secara bersamaan bekerja dan dihasilkan temperatur lebih tinggi. Ketika sensor suhu mencapai angka setting tertentu saklar cabang akan menghubungkan cabang 1 dengan pemanas R1.28.28 Karakteristik dan simbol kontroler tiga posisi Gambar 12. sensor temperatur menggerakkan saklar ke cabang 2.27 memiliki karakteristik satu posisi On dan dua posisi Off. kedua pemanas posisi Off dan kedua pemanas tidak mendapat catu daya listrik.27 Kontrol tiga posisi Jika pemanas akan dinaikkan temperaturnya. Dalam bentuk rangkaian listrik digambarkan pada gambar 12. yaitu panas-tinggi.29 Gambar 12. terhubung pada induk saklar 1 dan 2. Sedangkan karakterisitik dan simbol dari kontroler tiga posisi terlihat pada gambar 12.Teknik Pengaturan Otomatis 12. atau sebaliknya dua On dan satu Off.

30 Kontrol proporsional Apabila tinggi air sesungguhnya sangat rendah maka katup akan membuka lebar-lebar.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Kontroler Proporsional (P) Kontroler Proporsional memiliki karakteristik bahwa outputnya berupa variabel yang dikontrol berubah sebanding (Proporsional) dengan inputnya yang berupa variabel selisih (error) antara masukan acuan (reference) dengan variabel termanipulasi atau output nyata dari plant.32.7. Karakteristik dan diagram blok kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12.30.32 Respon kontrol proporsional 12-20 . Hubungan antara variabel yang dikontrol y dengan error e dinyatakan dengan bentuk persamaan linier dengan konstanta kesebandingan (proporsional) KRP. sebaliknya apabila tinggi air sesungguhnya melebihi tinggi air acuan maka katup akan menutup sekecil mungkin. Aplikasi kontroler proporsional misalnya pada pengaturan tinggi permukaan air seperti pada gambar 12. Gambar 12. Buka tutup katup akan sebanding dengan posisi pelampung yang mengukur selisih antara tinggi permukaan air yang diinginkan (referensi) dengan tinggi air sesungguhnya (x).31. Gambar 12. Gambar 12.31 Aplikasi kontroler proporsional Respon sistem kontrol dengan kontroler proporsional diperlihatkan pada gambar 12.

Dengan demikian. Gambar 12. sehingga diharapkan selisihnya semakin kecil. jika selisih acuan dengan output nyata besar maka perubahan nilai output juga besar. Aplikasi kontroler integral ini misalnya pada pengaturan level permukaan air yang melibatkan motor sebagai komponen aktuatornya. Semakin besar selisih tersebut. seperti diperlihatkan pada gambar 12.33 Kontroler Integral output nyata. pemakaian kontroler integral relatif lebih baik dalam hal memperkecil selisih antara masukan acuan dengan Gambar 12. sehingga air akan semakin banyak mengalir. Dibandingkan dengan kontroler proporsional. kontroler integral akan mendorong sistem yang dikontrol (plant) untuk mencapai output yang diinginkan.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Karakteristik dan diagram blok kontroler integral diperlihatkan pada gambar 12.8. Kontroler Integral (I) Laju perubahan (kecepatan) nilai output dari kontroler integral sebanding dengan nilai inputnya. Input sistem berupa variabel selisih (error) antara masukan acuan (referensi) dengan variabel termanipulasi atau output nyata dari plant.34.33. Dalam sistem tersebut. yaitu apabila kecepatan berkurangnya air semakin besar (misalnya saat pemakaian air yang banyak). sehingga selisih (error) nya semakin kecil. maka torsi motor akan semakin besar dan mempercepat buka katup. Dengan demikian diharapkan tangki air akan terisi air lagi secara cepat sampai ketinggian yang diinginkan. artinya aktuator akan “mengejar” selisih tersebut. operasi buka tutup katup dilakukan oleh motor listrik. Jadi. Torsi motor yang dihasilkan bergantung kepada nilai selisih antara acuan (yh) dengan output nyata (y) yang diukur melalui pelampung.34 Aplikasi kontroler integral 12-21 .

36 Aplikasi Kontroler PI 12-22 . Respon sistem terhadap input tangga (step) dan diagram blok dari kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. sementara kontroler P digunakan untuk mempertahankan agar kontroler masih merespon meskipun untuk nilai selisih yang kecil.35. Kombinasi dua mode pengontrolan ini menghasilkan operasi katup yang efektif.35 Kontroler Proporsional Integral Aplikasi tipe kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. Kontroler Proporsional Integral (PI) Kontroler PI merupakan gabungan fungsi dari kontroler Proporsional dan Integral. karena buka tutupnya menyesuaikan dengan kondisi air yang ada dalam tangki.36. buka tutup katup berlangsung atas dasar data output nyata yang diukur melalui pelampung dan torsi motor. Torsi motor berubah berdasarkan nilai selisih antara ketinggian air nyata (y) dan tinggi air yang diinginkan (yh).Teknik Pengaturan Otomatis 12. Penggabungan ini untuk menutupi kekurangan kontroler P yang relatif lambat responnya. Gambar 12. Pada sistem ini. Gambar 12.9.

Respon kontroler ini untuk input tangga (step) dan input lereng (ramp) diperlihatkan pada gambar 12.37 Respon kontroler maka kontroler mengirimkan sinyal ke derivatif untuk sinyal step aktuator yang semakin besar pula. Kontroler Derivatif (D) Penggunaan kontroler P saja dalam sistem kontrol kadang-kadang menyebabkan respon sistem melebihi input acuannya. Misalnya level air dalam tangki melebihi dari tinggi yang diinginkan.38 Respon kontroler derivatif untuk sinyal lereng Gambar 12. maka nilai selisihnya kecil. buka tutup katup bergantung kepada perubahan nilai selisih antara tinggi air nyata yang diukur melalui pelampung (y) dan tinggi air yang diinginkan (yh).39 Aplikasi Kontroler Derivatif Dalam keadaan tangki kosong artinya selisihnya besar.10.Teknik Pengaturan Otomatis 12.39. 12-23 . Aplikasi kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. Input ke kontroler derivatif berupa perubahan selisih antara output nyata dan masukan acuannya atau kecepatan error. sehingga katup akan memperkecil volume air yang masuk ke dalam tangki. Untuk mengurangi atau menghindari kondisi ini maka digunakan kontroler tipe derivatif. Dengan demikian. Pada sistem ini. Apabila keadaan air mendekati penuh. Keadaan ini disebut overshoot. sehingga apabila selisih antara output nyata dan masukan acuannya semakin besar Gambar 12. Gambar 12. nilai ouput yang melebihi nilai acuannya ditekan sekecil mungkin.37 dan gambar 12.38. maka katup akan membuka dengan cepat sehingga laju air masuk ke tangki semakin besar.

41. Tuas bawah mengimbangi gerakan oleh tekanan pegas akibat dorongan piston.40. Gambar 12. Gambar 12. Respon kontroler terhadap input lereng (ramp) dan diagram blok kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. seperti diperlihatkan pada gambar 12.40 Respon kontroler PD terhadap sinyal lereng Apabila kontroler PD diterapkan pada pengaturan tinggi air maka buka tutup katupnya berdasarkan data selisih dan laju perubahan selisih antara tinggi air nyata (y) dengan tinggi air yang diinginkan (yh). Kontroler PD memadukan fungsi kontroler P dan D. 12-24 . Tuas atas menggerakkan piston dalam silinder yang akan meutup katup aliran air. maka penggabungan dua tipe kontroler P dan D cukup efektif untuk mendapatkan respon sistem yang baik.Teknik Pengaturan Otomatis 12.41 Aplikasi Kontroler PD Ketika pengisian air dalam tangki penampung mencukupi maka pelampung akan bergerak keatas dan menggerakkan dua tuas.11. Kontroler Proporsional Derivatif (PD) Karena kontroler derivatif mampu mengurangi overshoot yang terjadi dalam sistem kontrol.

Gambar 12. Respon kontroler terhadap input tangga (step) dan diagram bloknya diperlihatkan pada gambar 12.12. maupun potensiometer yang memberikan umpan balik pada motor DC yang mengisi air. maka untuk mendapatkan hasil pengontrolan yang baik digunakan perpaduan tiga tipe kontroler tersebut. Sekaligus katup akan menutup aliran air yang menuju ke bak penampung bawah. sehingga disebut kontroler PID. I. motor DC akan mati.42. Dengan kontroler PID diharapkan responnya sangat cepat (keunggulan kontroler P). Kontroler ini memadukan fungsi tiga kontroler sebelumnya (P. Potensiometer akan memperkecil tegangan. Jika permukaan air sesuai dengan setting. karena tipe kontroler memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. maka pelampung akan bergerak keatas.36. Pengisian permukaan air setinggi h akan di ikuti oleh pergerakan pelampung yang menggerakkan baik tuas.43 Aplikasi kontroler PID 12-25 . dan D). Gambar 12.26 dengan kontroler jenis Derivatif pada gambar 12.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Kontroler PID Dari uraian sebelumnya. dan overshoot-nya kecil (keunggulan kontroler D).43.42 Respon kontroler PID terhadap sinyal step Aplikasi kontroler PID dalam sistem kontrol tinggi air dalam tangki diperlihatkan pada gambar 12. errornya sangat kecil (keunggulan kontroler I). Perhatikan kontroler ini merupakan gabungan kontroler PI yang ada digambar 12.

44. Tabel 12. analogi rangkaian listrik. diagram blok. Tipe kontroler.Teknik Pengaturan Otomatis Untuk memudahkan analisis sistem kontrol biasanya digunakan analogi penggambaran sistem kontrol dengan rangkaian listrik. dan loop tidak stabil. Aplikasi Op-Amp Sebagai Kontroller 12.44 Karakteristik osilasi 12-26 .3. Karakteristik Osilasi Pada Sistem Kontrol Ada tiga karakteristik osilasi apabila sebuah lingkar (loop) diterapkan pada sistem kontrol.13. loop batas stabil. Bentuk karakteristiknya diperlihatkan pada gambar 12. yaitu loop stabil. Gambar 12. hubungan antar variabelnya dicantumkan dalam tabel berikut.

Ada dua pendekatan yang cukup terkenal dan praktis (rule of thumb) dalam menentukan nilai optimal dari suatu parameter relatif terhadap parameter lainnya. respon sistem melebihi dari nilai masukan acuannya dan semakin lama semakin besar. Perbandingan jenis kontroller untuk masing-masing aplikasi 12. Karakteristik loop yang tidak stabil adalah kualitas terburuk dari sistem kontrol. sifat-sifat fisis dari besaran yang dikontrol. 12. dan kemudahan dalam realisasi menentukan tipe kontroler yang digunakan dalam aplikasi tersebut.4. dan waktu menetap (settling time)nya. Nilai optimal masing-masing parameter tersebut diperlihatkan pada tabel berikut. Seleksi Tipe Kontroler Untuk Aplikasi Tertentu Dalam prakteknya.15. yang pada tingkat tertentu merusak komponen sistemnya.14. beberapa parameter yang harus diperhatikan adalah konstanta waktu dari masing-masing tipe kontroler. Selain pertimbangan ekonomis. Hal ini tentu saja menyebabkan kerusakan dalam sistem. output sistemnya berosilasi terus-menerus.Teknik Pengaturan Otomatis Dalam sistem kontrol dengan loop stabil. yaitu pendekatan Chien/Hornes/Reswick dan pendekatan Ziegler/Nichols. hal-hal teknis berkaitan dengan karakteristik sistem. Sementara untuk loop batas stabil. Optimisasi Kontroler Dalam menerapkan tipe kontroler untuk aplikasi tertentu. 12-27 . respon sistemnya bisa mengikuti masukan acuannya dengan error semakin kecil dan menuju nol. Dalam sistem tersebut. Misalnya pada pengaturan kecepatan motor arus searah terjadi loop tidak stabil maka motor berputar semakin lama semakin besar sampai melebihi batas kecepatan nominalnya yang tercantum dalam nameplate-nya. Tabel 12. Berikut adalah tabel perbandingan pemilihan tipe kontroler untuk aplikasi tertentu. Tentu saja yang terjadi adalah motor menjadi rusak karena terjadi panas berlebih dalam komponen motor tersebut. waktu tunda (delay time). penggunaan tipe kontroler sangat bergantung kepada jenis aplikasi yang akan menggunakan kontroler dalam realisasinya.

12-28 Gambar 12. Tn.42 × 60 = 25. Parameter Ziegler-Nichols Contoh : Sebuah sistem kontrol suhu membutuhkan spesifikasi kontroler sebagai berikut : waktu tunda Tu = 60 detik. Dengan kriteria 20 % osilasi dari nilai output kontrolernya. Pneumatik dapat digunakan untuk mengontrol daya dengan bantuan sinyal listrik (biasanya digunakan 24 V DC).45. Parameter kontroller dengan pendekatan Chien/Hornes/Reswick Tabel 12. waktu akhir respon kontroler (settling time) Tg = 600 detik. dan Tv = 0.Teknik Pengaturan Otomatis Tabel 12. dan Tv apabila dipilih kontroler PID untuk merealisasikan kontroler tersebut. Komponen elektropneumatik . Rangkaian dari komponen-komponen tersebut bekerja dengan energi listrik.6. yang disebut elektropneumatik. : Dari tabel.42Tu = 0. dan konstanta proporsional KS = 10 K/A. Elektropneumatik Di industri banyak digunakan komponenkomponen yang merupakan kombinasi elektrik dan pneumatik. Jawab 1 Tg 1 600 × = 1.5. K RP = 1. Sinyal-sinyal DC tersebut diaktifkan melalui rangkaian logika.16.2 × × = 1. .2 × 12.2 A/K 10 60 K S Tu Tn = 2Tu = 2 × 60 = 120 detik . tentukan nilai parameter KRP.2 detik.

17. Misalnya satu kali ditekan dia akan tertutup (dan terus bertahan) dan ditekan lagi saklar akan terbuka. normally clossed atau dalam bentuk toggle gambar-12.2.46 Untuk model selector switch. pneumatik digunakan seperti pada silinder dan throttle dan katup penghalang. Sedangkan untuk model saklar tekan. bekerja berdasarkan mekanis. informasiinformasi dari luar yang menunjukkan kondisi bagian yang dikontrol (misalnya perubahan tekanan.46. dan akan tetap pada posisinya sampai ada yang mengubahnya. Gambar 12. Sensor-sensor Melalui pengesetan pada sensor. Bagian Elektrik Bagian ini biasanya berupa rangkaian tertutup dan mempunyai bagian output yang digunakan untuk menyambungkannya dengan komponen atau bagian lain sesuai dengan kebutuhan. tegangan. elektropneumatik dan bagian mekanik. Komponen elektropneumatik terdiri bagian elektrik. Gambar 12. posisi silinder.NC dan toggle Misalnya dia akan tetap off sebelum ada orang yang mengubah posisi saklar menjadi on. Tombol NO.17.1.47 Limit switch 12-29 . 12. akan bekerja selama beberapa waktu saja setelah saklar tersebut ditekan.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Komponen Elektropneumatik Di bagian aktuator.17. normally open. Di pasaran biasanya tersedia dalam bentuk saklar tekan (pushbutton) atau selector switch. saklar akan berubah fungsi setiap kali ditekan. dan sebagainya) dapat diteruskan ke bagian pengontrol. 12. Untuk tipe toggle. Bagian-bagian tersebut bekerja secara elektropneumatik.

Karakteristik penting saklar jenis ini ialah: • Bekerja tanpa memerlukan daya • Waktu pensaklaran yang singkat Gambar 12. Ketika ada tekanan melebihi nilai setingnya. Gambar 12. Saklar ini dapat berfungsi sebagai pemutus. maka saklar akan terbuka atau tertutup. Medan magnet biasanya segera berintegrasi dengan badan piston. sehingga kontak bergerak.48. 12-30 . dapat di set pada posisi tertentu. • Dengan medan magnet yang tinggi komponen ini tidak dapat diset. Saat ini banyak digunakan saklar tekanan yang bekerja secara elektronis.2 ms). bekerja berdasarkan induksi magnet yang ditimbulkan oleh belitan pada kontak-dalam. Saklar tekanan elektronis bekerja melalui tekanan yang terjadi pada membran. • Hanya memerlukan sedikit instalasi Saklar proximity merupakan sensor non-kontak.Teknik Pengaturan Otomatis Sebuah limit-switch mekanik gambar-12. Saklar magnet jenis proximity juga dapat diset pada posisi tertentu dalam silinder gambar 12.47. Daya tekan tersebut dapat diatur melalui sebuah tombol putar gambar-12. maka dia akan mengeluarkan sinyal untuk mengontrol kerja mesin atau bagian dari mesin. Tekanan input didapat dari sebuah piston yang akan menghasilkan daya tekan. Ketika tekanan mencapai nilai seting yang ditetapkan. pemutus atau pengubah aliran arus dengan cara mengeset saklar pada tekanan tertentu.49. Biasanya rumah kontak saklar ini berupa diode jenis LED yang akan langsung menyala saat terjadi kontak (saklar tersambung). • Bebas waktu tunggu • Masa pakainya panjang • Sensitifitasnya terbatas. atau mengalihkan arah arus. penyambung atau pengubah arah arus.49 Proximity switch terpasang pada silinder (sekitar 0. Limit-switch biasanya berfungsi sebagai pembuka atau penyambung dan pengubah aliran arus. maka limit switch akan bekerja.48 Limit switch Saklar tekanan biasanya berfungsi sebagai tekanan penyambung. sehingga ketika ada benda kerja yang menyentuh limit-swtich tersebut.

seperti: • Relay menunjukkan gambaran • • • • antara sinyal dan daya Gambar 12. tertutup.17. Relay bekerja dengan tegangan bebas. kontaktor bekerja dengan daya yang lebih besar sampai 100 kW. Relay tersedia dalam tipe normally-open (terbuka). Arus masuk melalui belitan eksitasi (terminal A1 dan A2). Ini dimaksudkan relay dapat bekerja dengan tegangan yang berbeda-beda. Deret pertama merupakan order atau tingkatan.50 Konstruksi Dapat bekerja dengan tegangan Relay dan kontaktor yang berbeda-beda Relay dapat bekerja dengan tegangan DC maupun AC Relay dapat bekerja dengan sinyak-kuadrupel Relay juga dapat bekerja dengan delay sinyal. atau sebagai pengubah aliran arus gambar-12. Rangkaian kontak relay digambarkan melalui angka-angka yang terdiri dari dua deret. Jika aliran arus pada jangkar terputus.50.51 menunjukkan rangkaian kontak atau sambungan sebuah relay. Relay dan kontaktor bekerja dengan prinsip yang sama. Relay dan Kontaktor Relay dan kontaktor merupakan saklar yang bekerja berdasarkan prinsip elektro-magnetik yang terjadi pada kontaktor-kontaktornya gambar 12. K2 dan seterusnya. Relay biasanya bekerja dengan daya rendah (sekitar 1kW. maka sambungan akan terputus pula.3. • • • Belitan untuk arus eksitasi digambarkan sebagao A1 dan A2 Relai digambarkan sebagai K1. 12-31 .Teknik Pengaturan Otomatis 12. deret kedua merupakan jenis deret kontak. pengaturan dan pengecekan. Relay banyak digunakan untuk berbagai jenis kontrol. Oleh karena itu gambar potongan saklarnya digambarkan sama. Jangkar akan bergerak dan kontak bekerja.

Kontaktor dengan kontak utama dan kontak bantu 12. Oleh karena itu tidak ada arus lagi yang mengalir melalui belitan (spul) dari jangkar ke bawah dan aliran dari 1 ke 2 juga terhalang. pengaliran udara3 dalam jangkar akan menghalangi udara dari atas ke bawah. Didalam pendorong katup terdapat gerbang jangkar yang akan bergerak. sehingga dapat menarik jangkar.4. yaitu dengan menutup aliran udara dari 1 ke 2.51. dimana tekanan udara dikontrol.17. yang akan membangkitkan medan elektro magnetik. dalam waktu yang bersamaan akan terjadi Gambar 12. Jangkar terhubung dengan pendorong katup. Katup magnetik terdiri dari belitan magnet (ini adalah elemen elektronik) dan katup pneumatik. Prinsip kerja katup kontrol 3/2 gambar 12. Magnet yang dibangkitkan oleh belitan akan menaikkan jangkar ke atas.52 Katup Magnetik 12-32 . Arus listrik mengalir melalui belitan magnet. Katup Magnetik Katup magnetik merupakan konverter elektromagnetik. sehingga akan terjadinya aliran udara bebas dari 1 ke 2.Teknik Pengaturan Otomatis Gambar 12.51: dimulai dari penyetelan dasar katup. yang meng-gambarkan adanya bagian kontrol mekanis dan elektronik. sehingga dapat mengubah status sambungan (tersambung atau terputus). Selanjutnya.51. Katup magnetik Gambar 12.

52.Teknik Pengaturan Otomatis pertukaran udara dari 3 ke 2. menunjukkan dasar fungsi sebuah elektropneumatik gambar-12. poros elektromagnet dapat berputar. Melalui eksitasi belitan magnet. sementara udara dapat masuk melalui jalur 3 ke 2. dengan bantuan tangan. Katup magnetik 3/2 12-33 . sehingga hanya memerlukan arus dan daya listrik kecil. maka jangkar akan bergerak ke kiri sehingga kedalamannya akan bertambah.54. Pada saat sinyal kontrol bekerja. yang me-nyebabkan piston bergerak ke kiri. dan ini akan mempengaruhi adanya pertukaran udara tersebut. Di dalam elektropneumatik terdapat valve yang dapat dikontrol. dan akan mengakibatkan terjadinya tekanan pada piston ke arah kanan. akan ada tekanan udara pada lempeng kontrol. Gambar 12. Pada saat ini aliran udara masuk dari jalur 3 ke 1 terhalang. Oleh karena itu. Gambar-12. Disini aliran udara dari jalur 1 ke 2 dihalangi dengan mengontrol katup magnetik 3/2. sehingga udara dapat mengalir dari jalur 1 ke 2.53. Batang jangkar katup magnetik Katup Magnetik 3/2 dengan Penyetelan Balik. sehingga katup akan terbebas dari kontrol tekanan. Tekanan udara pada jalur 1 akan mengakibatkan lempeng penahan bergerak ke kiri dan jangkar akan bergerak ke depan. Keunggulan penggunaan kontrol dengan elektropneumatik adalah belitan magnet relatif berukuran kecil. terdapat aliran tekanan udara pada lempeng yang dikontrol. dan katup akan teraliri udara melalui lubang di dalam jangkar di jalur 82. Gambar 12. Tekanan udara juga dapat diatur melalui perangkat yang dapat diatur dengan tangan. Sinyal listrik akan mengakibatkan jangkar bekerja membuka katup kontrol dan ini akan menimbulkan perubahan tekanan pada piston.53 menunjukkan penyetelan dasar dari katup magnetik 3/2.

Jika ada sinyal kontrol. yang perlu diperhatikan. tanpa mempertahankan impuls katup dalam memori.55. yaitu perlu belitan magnet yang tereksitasi untuk menggerakkan piston.57. belitan magnet hanya memer-lukan impuls yang pendek.Teknik Pengaturan Otomatis Katup magnetik 5/2 mempunyai perbedaan bentuk fisik jika dibandingkan katup magnetik 3/2 gambar 12. maka katup akan berada di tengah. Secara prinsip kedua katup tersebut mempunyai cara kerja yang sama. Disini. tetapi untuk katup ini tidak ada definisi penyetelan dasar. Gambar 12. Perbedaan tersebut terletak pada sinyal listrik pembangkit eksitasi pada belitan magnet. Dengan menggunakan eksitasi magnet akan memungkinkan feder pusat berada di posisi tengah. Gambar 12. Gambar 12. untuk mempertahankan piston pada posisi tertentu. yaitu dengan mencegah aliran udara dari jalur 1 ke 2 dan dari 1 ke 4.56. Lubang yang menghubungkan kedalaman jangkar-jangkar akan berada pada tekanan di port 1. Katup magnetik 5/2 Katup Magnetik Impulse 5/2 gambar 12.56 menunjukkan penyetelan dasar katup 5/3 (penyetelan halus di-offkan).54. bahwa untuk mengatur gerakan katup diperlukan sinyal kontrol untuk Y1 hingga Y2. Melalui eksitasi sebuah magnet akan mulai dijelaskan prinsip pengontrolan katup dan piston yang akan mengubah posisi saklar.55 mempunyai prinsip kontrol yang sama dengan katup katup magnetik yang dijelaskan sebelumnya. Katup magnetik 5/3 Pengaturan katup mendapat masukan udara dari jalur 82 atau 84. Gambar 12. Katup magnetik impulse 5/2 Katup magnetik jalur 5/3. 12-34 .

Silinder pada gambar 12.59.58. Kontrol jenis ini mempunyai keunggulan. Operasi satu arah dari Silinder Dengan mengoperasikan saklar-1 gambar 12. Dalam praktik. Komponen-komponen harus di-tangani dengan baik sehingga dan berfungsi baik dan dapat direncana kan pengontrolan yang sesuai. sehingga jalur katup 3/2 dapat memberikan pengontrolan. Gambar 12.1. Silinder dengan Operasi Ganda Disini juga akan dijelaskan kemungkinan-kemungkinan peng-aturan yang lebih banyak karena menggunakan pengaturan tekanan udara secara ganda. pada elektropnuematikpun dapat dibuat rangkaian dasar yang harus di set secara bersama-sama. Silinder 1A1 akan bergerak ketika S1 dioperasikan lagi dan mencapai ujung tabung ketika S1 dioperasikan untuk waktu yang diperlukan silinder bergerak dari ujung ke ujung tabung. pengaturan dilakukan melalui relay. Silinder tunggal dengan dgn katup magnetik 3/2 Gambar 12.56 maka relay K1 akan energized dan ini akan meng-aktifkan kontak relay pada lead arus-2 serta katup magnetik Y1 di bagian silinder 1V1. Disini kembali berlaku prinsip-prinsip perancangan rangkaian yaitu dengan memper hatikan fungsi dan karakteristik penyetelan. Silinder operasi ganda katup 5/2 12-35 . Disini tidak ada pengaturan secara langsung.57 atas hanya akan bergerak ketika S1 ditekan untuk waktu selama silinder bergerak. bahwa arus relay dapat digunakan untuk mengaktifkan perangkat lainnya.18.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Operasi Maju dan Mundur Silinder Cara kerja silinder sangat berbeda dengan cara kerja pneumatik. 12.18. Rangkaian Dasar Seperti halnya pada pneumatik.

Gambar 12. Silinder ganda dengan katup 5/3 2. Katup path 5/2 1V1 merupakan sebuah katup dengan memori.57 bawah menunjukkan bahwa silinder 1A1 bergerak berdasarkan impuls yang diperoleh dari S1 dan S2 yang ditekan sesaat saja. Oleh karena itu. S1 dapat dioperasikan kembali ketika S2 dioperasikan. Impuls 1V1 tersimpan oleh sinyal yang pertamakali datang.Teknik Pengaturan Otomatis Gambar-12. Soal-soal 12-36 . sehingga belitan magnet Y1 dan Y2 akan aktif.19. untuk meng-operasikannya hanya diperlukan impuls yang pendek saja periodenya. Rangkuman 2.60. dan pengaturan katup 1V1 tidak dapat dialihkan.20.

........... 13.......... 13.......................2.........................3...... Generator Berbeban .... 13............................ 13-1 13-2 13-10 13-12 13-13 13-15 13-18 13-23 13-26 13-27 .................................... 13. 13............. Pengaturan Tegangan .............................. Kerja Parallel Generator ...................................9.6..........1.....................4............................... Rangkuman ................ 13..................... 13..... Generator Tanpa Beban .....10..8........... 13...BAB 13 GENERATOR SINKRON Daftar Isi : 13..... 13....5................................................................. Pendahuluan .............. Menentukan Resistansi dan Reaktansi ................... Prinsip Kerja .................................... Konstruksi Mesin Sinkron ...........7... Soal-soal ........................

Kumparan DC pada medan magnet yang berputar dihubungkan pada sumber listrik DC luar melaui Slipring dan sikat arang. Sebagai generator. tetapi ada juga yang tidak mempergunakan sikat arang arang disebut “brushless excitation”. Hampir semua Mesin Sinkron mempunyai belitan ggl berupa stator yang diam dan struktur medan magnit berputar sebagai rotor. seperti di pusat-pusat pembangkit. yaitu kumparan yang mengalirkan penguatan DC dan sebuah jangkar tempat dibangkitkannya ggl arus bolak-balik. Ada dua struktur medan magnet pada Mesin Sinkron yang merupakan dasar keja dari Mesin tersebut.Generator Sinkron 13. tetapi ada juga yang tidak mempergunakan sikat arang yaitu sistem “ brushless excitation”. karena bekerja pada kecepatan dan frekuensi konstan dibawah kondisi “ Steady state “. 13. Pendahuluan Sebagian besar energi listrik yang dipergunakan oleh konsumen untuk kebutuhan sehari-hari dihasilkan oleh generator Sinkron Phasa banyak (polyphase) yang ada di pusat pembangkit tenaga listrik. Adapun tujuan dari paralel generator adalah menambah daya pasokan dari pembangkit yang dibebankan ke masing-masing generator yang dikirimkan ke beban.2 Konstruksi Mesin Sinkron Ada dua struktur medan magnit pada Mesin Sinkron yang merupakan dasar keja dari Mesin tersebut. Generator Sinkron yang dipergunakan ini mempunyai rating daya dari ratusan sampai ribuan Mega-Volt-Ampere (MVA). Mesin Sinkron bila difungsikan sebagai motor berputar dalam kecepatan konstan. Mesin Sinkron bisa dioperasikan baik sebagai generator maupun motor. Konstruksi dari sebuah Mesin Sinkron secara garis besar adalah sebagai berikut : 12-2 . yaitu kumparan yang mengalirkan penguatan DC dan sebuah jangkar tempat dibangkitkannya ggl arus bola-balik. Disebut Mesin Sinkron.1. Hampir semua Mesin Sinkron mempunyai jangkar diam sebagai stator dan medan magnet berputar sebagai rotor. apabila dikehendaki kecepatan yang bersifat variabel. maka motor Sinkron dilengkapi dengan dengan pengubah frekuensi seperti “Inverter” atau “ Cyclo-converter”. Kumparan DC pada struktur medan yang berputar dihubungkan pada sumber luar melaui slipring dan sikat arang. beberapa Mesin Sinkron sering dioperasikan secara paralel.

Generator Sinkron 13. dan arus dialirkan ke rotor melalui Slipring. Alternatif lainnya untuk penguatan eksitasi adalah menggunakan Diode silikon dan Thyristor.1. Gambar 13. Pada Mesin Sinkron dengan kecepatan rendah. Penguatan DC ini bisa diperoleh dari generator DC penguatan sendiri yang seporos dengan rotor Mesin Sinkron. maka generator DC yang digunakan tidak dengan penguatan sendiri tetapi dengan “ Pilot Exciter” sebagai penguatan atau menggunakan magnet permanen. bahwa untuk membangkitkan flux magnetik diperlukan penguatan DC.Bentuk Penguatan Seperti telah diuraikan diatas. seperti generator Hydroelectric. 12-3 . Gambar 13.2. Dua tipe sistem penguatan “ Solid state” adalah : • Sistem statis yang menggunakan Diode atau Thyristor statis. tetapi rating daya yang besar.2 Generator Sinkron Tiga Phasa dengan Sistem Penguatan “Brushless Exciter System”.1 Generator Sinkron Tiga Phasa dengan Penguatan Generator DC “Pilot Exciter”.

4 Inti Stator dan Alur pada Stator Gambar 13.3.2. sehingga tidak dibutuhkan sikat arang dan slipring. Belitan jangkar (stator) yang umum digunakan oleh Mesin Sinkron Tiga Phasa.4 memperlihatkan alur stator tempat kumparan jangkar. 13.Generator Sinkron • “Brushless System”. Dengan inti ferromagnetik yang bagus berarti permebilitas dan resistivitas dari bahan tinggi. Bentuk Rotor Untuk medan rotor yang digunakan tergantung pada kecepatan Mesin. pada sistem ini penyearah dipasangkan diporos yang berputar dengan rotor. (a) Rotor Kutub onjol ( b ) Rotor kutub Silinder Gambar 13. ada dua tipe yaitu : 12-4 . Mesin dengan kecepatan tinggi seperti turbo generator mempunyai bentuk silinder gambar 13.2.2. Bentuk Stator Stator dari Mesin Sinkron terbuat dari bahan ferromagnetik yang berbentuk laminasi untuk mengurangi rugi-rugi arus pusar. sedangkan Mesin dengan kecepatan rendah seperti Hydroelectric atau Generator Listrik Diesel mempunyai rotor kutub menonjol gambar 13.3 Bentuk Rotor 13. Gambar 13.3a.3b.

b. Belitan Stator Satu Lapis Gambar 13.5 memperlihatkan belitan satu lapis karena hanya ada satu sisi lilitan didalam masing-masing alur. Bila kumparan tiga Phasa dimulai pada Sa. dan Sc dan berakhir di Fa. Antar kumparan Phasa dipisahkan sebesar 120 derajat listrik atau 60 derajat mekanik.Generator Sinkron a. Sb.4. Satu siklus ggl penuh menunjukkan 360 derajat listrik. Jawaban : Sudut mekanis antara kutub utara dan kutub selatan adalah : 360 sudut mekanis = 30 0 α mek = 12 kutub Ini menunjukkan 180 derajat listrik : α lis = P 12 α mek = x30 0 = 180 0 2 2 12-5 . Belitan berlapis ganda (Double Layer Winding). satu siklus ggl penuh akan dihasilkan bila rotor dengan 4 kutub berputar 180 derajat mekanis.2. Belitan satu lapis (Single Layer Winding). Berapa sudut mekanis ditunjukkan dengan 180 derajat listrik. adalah : α lis = P α mek 2 Gambar 13. dan Fc bisa disatukan dalam dua cara. yaitu hubungan bintang dan segitiga. 13.5 Belitan Satu Lapis Generator Sinkron Tiga Phasa Contoh : Sebuah generator Sinkron mempunyai 12 kutub. Fb. adapun hubungan antara sudut rotor mekanis αmek dan sudut listrik αlis.

Jadi ggl yang dibangkitkan sistem tiga Phasa secara simetris adalah : E A = E A ∠0 0 Volt E B = E B ∠ − 120 0 Volt E C = E C ∠ − 240 0 Volt Gambar 13. sedangkan urutan Phasa ABC disebut urutan Phasa positif. dengan demikian tega. atau urutan Phasa negatif. urutan Phasa yang dihasilkan oleh suplai tiga Phasa adalah ABC.6 Urutan Phasa ABC Gambar 13.Generator Sinkron Untuk menunjukkan arah dari putaran rotor gambar 13. Kebalikan arah putaran dihasilkan dalam urutan ACB.6 (searah jarum jam).ngan maksimum pertama terjadi dalam Phasa A.7 Belitan Berlapis Ganda Generator Sinkron Tiga Phasa 12-6 . dan kemu-dian Phasa C. diikuti Phasa B.

6. ggl pada termi-nal menjadi lebih kecil bila dibanding-kan dengan kumparan yang telah dipu-satkan. disini diperlihatkan ggl yang dinduksikan dalam alur 2 akan tertinggal (lagging) dari ggl yang dibangkitkan dalam alur 1 sebesar ψ =15 derajat listrik. Suatu faktor yang harus dikalikan dengan ggl dari sebuah kumparan distribusi untuk menghasil-kan total ggl yang dibangkitkan disebut faktor distribusi Kd untuk kumparan. demikian pula ggl yang dinduksikan dalam alur 3 akan tertinggal 2ψ derajat. danE 4 .7 memperlihatkan bagian dari sebuah kumparan jangkar yang secara umum banyak digunakan.8.5 hanya mempunyai satu lilitan per kutub per Phasa.2. 13. Perhatikan gambar 13.Belitan Berlapis Ganda Kumparan jangkar yang diperlihatkan pada gambar 13. Sehingga. gambar 5. dan seterusnya. Faktor Distribusi Seperti telah dijelaskan diatas bahwa sebuah kumparan terdiri dari sejumlah lilitan yang ditempatkan dalam alur se-cara terpisah. adalah : 180 derajat listrik ψ= n x m dimana m menyatakan jumlah Phasa. Diasumsikan ada n alur per Phasa per kutub. Semua ggl ini ditunjukkan masingmasing oleh phasor E 1 . E 2 . Masing-masing tegangan Phasa akan sama untuk menghasilkan tegangan per peng-hantar dan jumlah total dari penghantar per Phasa. Untuk mengatasi masalah ini. Bagian dari lilitan yang tidak terletak ke-dalam alur biasanya disebut “ Winding Overhang”. Faktor ini selalu lebih kecil dari satu. akibatnya masing-masing kumparan hanya dua lilitan secara seri. E = E1 + E 2 + E 3 + E 4 12-7 . Bila alur-alur tidak terlalu lebar. Dalam kenyataannya cara seperti ini tidak menghasilkan cara yang efektif dalam penggunaan inti stator. karena variasi kerapatan flux dalam inti dan juga melokalisir pengaruh panas dalam daerah alur dan menimbulkan harmonik.5. masing-masing penghantar yang berada dalam alur akan membangkitkan tegangan yang sama. Total ggl stator per Phasa E adalah jumlah dari seluruh vektor. sehingga tidak ada tegang-an dalam winding overhang.Generator Sinkron 13. jarak antara alur dalam derajat listrik.2. Pada masing-masing alur ada dua sisi lilitan dan masingmasing lilitan memiliki lebih dari satu putaran. generator praktisnya mempunyai kumparan terdistribusi dalam beberapa alur per kutub per Phasa. E 3 .

Faktor Kisar Gambar 13. Kisar : 5/6 = 5/6 x 180 derajat = 150 derajat 1/6 = 1/6 x 180 derajat = 30 derajat. dan bisa dinyatakan dengan persamaan : Sin(1 / 2nψ ) Kd = nSin(ψ/2) Keuntungan dari kumparan distribusi.Generator Sinkron Total ggl stator E lebih kecil dibandingkan jumlah aljabar dari ggl lilitan oleh faktor. karena ini sama dengan 5/6 kisar kutub.10.9. Jumlah Vektor E1 + E 2 + E 3 + E 4 = Jumlah Aljabar 4xE lili tan Kd adalah faktor distribusi.9 Total ggl Et dari Tiga ggl Sinusoidal 12-8 . diantaranya : Gambar 13.2.8 Diagram Phasor dari Tegangan Induksi Lilitan Gambar 13. karena mempunyai beberapa keuntungan.7. sedangkan bila diletakkan dalam alur 1 dan 6 disebut kisar pendek. bila sisi lilitan diletakkan dalam alur 1 dan 7 disebut kisar penuh. Kd = 13. seperti terlihat pada gambar 13. memperlihatkan bentuk kisar dari sebuah kumparan. Kisar pendek sering digunakan. adalah memperbaiki bentuk gelombang tegangan yang dibangkitkan.

Generator Sinkron Gambar 13. Gambar 13.EL 12-9 . Cos 30/2 Kp = E 2. Kerugian arus pusar dan Hysterisis dikurangi.Cos 30 / 2 = = Cos15 0 2. maka total induksi = 2 EL (gambar 13. seperti diperlihatkan pada gambar 13. bila lilitan merupakan kisar penuh.8b.EL. maka tegangan resultannya adalah : E = 2 EL.Kisar = Jumlah Vektor ggl induksi lili tan = Kp Jumlah Aljabar ggl induksi lili tan EL ggl yang diinduksikan pada masing-masing lilitan.EL 2. Faktor .11 Vektor Tegangan Lilitan Sedangkan kisar pendek dengan sudut 30 derajat listrik. Memperbaiki bentuk gelombang dari tegangan yang dibangkitkan.11).10 Kisar Kumparan • • • Menghemat tembaga yang digunakan.

Atau Kp = Cos 13. Prinsip Kerja Generator Sinkron Kecepatan rotor dan frekuensi dari tegangan yang dibangkitkan berbanding secara langsung.f .φ. T Volt 13.T Volt bila faktor distribusi dan faktor kisar dimasukkan.f Er = x = 2.P 120.Z Volt = 2. maka Ggl efektif/Phasa E = 4.P φ.11x 4.φ.44 x f . Gambar 13.φ.(2T) = 4.f.f.N.P Er = Volt = = dt 60 / N 60 P.φ.f .44 .φ .T = 4.8.2. yaitu penghantar a dan a’. Kp . Gaya Gerak Listrik Kumparan Pada Sub bab sebelumnya telah dibahas mengenai frekuensi dan besarnya tegangan masing-masing Phasa secara umum. 12-10 . atau N = Sedangkan f = 120 P Sehingga Ggl induksi rata-rata per penghantar menjadi : φ.φ Volt 60 P bila ada Z penghantar dalam seri/Phasa.22 memperlihatkan prinsip kerja dari sebuah generator AC dengan dua kutub.Generator Sinkron 30 α = Cos 2 2 0 p = Sin 2 0 dimana p adalah kisar kumparan dalam derajat listrik. maka : Ggl rata-rata/Phasa = 2.T volt Ggl efektif/Phasa = 1.f. Untuk lebih mendekati nilai ggl sebenarnya yang terjadi maka harus diperhatikan faktor distribusi dan faktor kisar. dan dimisalkan hanya memiliki satu lilitan yang terbuat dari dua penghantar secara seri.φ. Kd.f.f .3.N 120. Apabila Z = Jumlah penghantar atau sisi lilitan dalam seri/Phasa = 2 T T = Jumlah lilitan per Phasa 60 dφ = φP dan dt = detik N Ggl induksi rata-rata per penghantar : dφ φ.

maka rotor harus berputar 3600 Rpm. Sin ωt ΦB = Φm. rotor harus berputar pada kecepatan n/60 revolution per detik (rps). frekuensi 1 Hz.12 Diagram Generator AC Satu Phasa Dua Kutub.13. Masing-masing lilitan akan menghasil-kan gelombang Fluksi sinus satu dengan lainnya berbeda 120 derajat listrik. Frekuensi dari tegangan induksi sebagai sebuah fungsi dari kecepatan rotor . Untuk kecepatan rotor n rpm. misalnya P kutub maka masing-masing revolution dari rotor menginduksikan P/2 siklus tegangan dalam lilitan stator. yang merupakan fungsi tempat (Φ) dan waktu (t). Bila kecepatannya 60 Revolution per menit (Rpm). Satu putar-an rotor dalam satu detik menghasilkan satu siklus per ditik atau 1 Hertz (Hz). Diasumsikan rotor berputar searah jarum jam. harus ada tiga belitan yang masingmasing terpisah sebesar 120 derajat listrik da-lam ruang sekitar keliling celah udara seperti diperlihatkan pada kumparan a – a’. maka flux medan rotor bergerak sesuai lilitan jangkar. bila rotor mempunyai lebih dari 1 pasang kutub. dalam generator sebenarnya terdiri dari banyak lilitan dalam masing-masing Phasa yang terdistribusi pada masing-masing alur stator dan disebut “Lilitan terdistribusi”. b – b’ dan c – c’ pada gambar 13. 12-11 . Sin ( ωt – 240˚ ) Besarnya fluks resultan adalah jumlah vektor ketiga fluks tersebut ΦT = ΦA + ΦB + ΦC. Untuk frekuensi f = 60 Hz. f = Untuk generator Sinkron tiga Phasa. Dalam keadaan seimbang besarnya fluksi sesaat : ΦA = Φm. Sin ( ωt – 120˚ ) ΦC = Φm.Generator Sinkron Lilitan seperti ini disebut “Lilitan terpusat”. maka besar- P 2 n Hertz 60 Gambar 13.

Sin(ωt – 240˚). Cos β = ½.13 Diagram Generator AC Tiga Phasa Dua Kutub 13.Sin (α + β ) + ½ Sin (α + β ).Kd. yaitu : Eo = 4.Generator Sinkron besarnya fluks total adalah. maka pada kumparan jangkar stator akan diinduksikan tega-ngan tanpa beban (Eo). l. Jadi medan resultan merupakan medan putar dengan modulus 3/2 Φ dengan sudut putar sebesar ω. ΦT = Φm.Sin ωt + Φm.Φm. Sin ( ωt + φ – 480˚ ) Dari persamaan diatas.Φm. Sin ( ωt – φ ) + ½.Φm. Sin ( ωt – φ) + ½. dan kelima akan silang menghilangkan. Dengan demikian dari persamaan akan didapat fluksi total sebesar.Φm.Sin(ωt – 120˚) + Φm. maka dari persamaan 8-5 diperoleh : ΦT = ½.4 Generator Tanpa Beban Apabila sebuah Mesin Sinkron difung-sikan sebagai generator dengan diputar pada kecepatan Sinkron dan rotor diberi arus medan (If). Kp. ketiga. Sin ( ωt + φ – 240˚ )+ ½.Φ ) Weber . f. Sin ( ωt . T Volt 12-12 . bila diuraikan maka suku kesatu.44 . ω r Volt dimana : Bm = Kerapatan Flux maximum kumparan medan rotor (Tesla) l = Panjang masing-masing lilitan dalam medan magnetik (Weber) ω = Kecep sudut dari rotor (rad/s) r = Radius dari jangkar (meter) Gambar 13. φm. ΦT = ¾ Φm. Besarnya tegangan masing-masing Phasa adalah : E maks = Bm.Φm. Sin (ωt + φ )+ ½. Cos (φ – 240˚) Dengan memakai transformasi trigonometri dari : Sin α .

Generator Sinkron Dalam keadaan tanpa beban arus jangkar tidak mengalir pada stator, sehingga tidak terdapat pengaruh reaksi jangkar. Fluk hanya dihasilkan oleh arus medan (If). Bila besarnya arus medan dinaikkan, maka tegangan output juga akan naik sampai titik saturasi(jenuh) seperti diperlihatkan pada gambar 13.14. Kondisi Generator tanpa beban bisa digambarkan rangkaian ekuivalennya seperti diperlihatkan pada gambar 13.14b.

(b) (a) Gambar 13.14 Kurva dan Rangkaian Ekuivalen Generator Tanpa Beban

13.5. Generator Berbeban
Bila Generator diberi beban yang beru-bah-ubah maka besarnya tegangan terminal V akan berubah-ubah pula, hal ini disebabkan adanya kerugian tegangan pada:

• • •

Resistansi jangkar Ra Reaktansi bocor jangkar Reaksi Jangkar Xa

a. Resistansi Jangkar Resistansi jangkar/Phasa Ra menyebab-kan terjadinya tegangan jatuh (Kerugian tegangan)/Phasa I.Ra yang sePhasa dengan arus jangkar. b. Reaktansi Bocor Jangkar Saat arus mengalir melalui penghantar jangkar, sebagian fluk yang terjadi tidak mengimbas pada jalur yang telah ditentukan, hal seperti ini disebut Fluk Bocor.

12-13

Generator Sinkron c. Reaksi Jangkar Adanya arus yang mengalir pada kumparan jangkar saat Generator dibe-bani ) yang berintegrasi dengan fluksi yang akan menimbulkan fluksi jangkar ( dihasilkan pada kumparan medan rotor( fluksi resultan sebesar : ), sehingga akan dihasilkan suatu

φ R = φF + φ A
Interaksi antara kedua fluksi ini disebut sebagai reaksi jangkar, seperti diperlihatkan pada Gambar 13.15. yang mengilustrasikan kondisi reaksi jangkar untuk jenis beban yang berbeda-beda. Gambar 13.15a , memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat generator dibebani tahanan (resistif) sehingga arus jangkar Ia sePhasa dengan ggl Eb dan akan tegak lurus terhadap . Gambar 13.15b, memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat generator dibebani kapasitif , sehingga arus jangkar Ia mendahului ggl Eb sebesar θ terbelakang terhadap dengan sudut (90 -θ). dan Gambar 13.15c, memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat dibebani kapasitif murni yang mengakibatkan arus jangkar Ia mendahului ggl Eb dan akan memperkuat yang berpengaruh terhadap sebesar pemagnetan. Gambar 13.15d, memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat arus diberi beban induktif murni sehingga mengakibatkan arus jangkar Ia terbelakang dan akan memper-lemah yang berpengaruh dari ggl Eb sebesar terhadap pemagnetan.

Gambar 13.15 Kondisi Reaksi Jangkar

12-14

Generator Sinkron Jumlah dari reaktansi bocor reaktansi Sinkron Xs. dan reaktansi jangkar Xa biasa disebut

Vektor diagram untuk beban yang bersifat Induktif, resistif murni, dan kapasitif diper- lihatkan pada Gambar 12 .16 Berdasarkan gambar diatas, maka bisa ditentukan besarnya tegangan jatuh yang terjadi, yaitu : Total Tegangan Jatuh pada Beban : = I.R a + j(I.X a + I.X L ) = =

Gambar 13.16 Vektor Diagram dari Beban Generator

13.6 Menentukan Resistansi dan Reaktansi
Untuk bisa menentukan nilai reaktansi dan impedansi dari sebuah generator, harus dilakukan percobaan(test). Ada tiga jenis test yang biasa dilakukan, yaitu :

12-15

Generator Sinkron

• • •

Test Tanpa beban ( Beban Nol ) Test Hubung Singkat. Test Resistansi Jangkar.

13.6.1. Test Tanpa Beban
Test Tanpa Beban dilakukan pada kecepatan Sinkron dengan rangkaian jangkar terbuka (tanpa beban) seperti diperlihatkan pada Gambar 13.17 perco-baan dilakukan dengan cara mengatur arus medan (If) dari nol sampai rating tegangan output terminal tercapai.

Gambar 13.17 Rangkaian Test Generator Tanpa Beban.

13.6.2. Test Hubung Singkat
Untuk melakukan test ini terminal alternator dihubung singkat dengan Ampermeter diletakkan diantara dua penghantar yang dihubung singkat tersebut Gambar 13.18. Arus medan dinaikkan secara bertahap sampai diperoleh arus jangkar maksimum. Selama proses test arus If dan arus hubung singkat Ihs dicatat. Dari hasil kedua test diatas, maka dapat digambar bentuk karakteristik seperti diperlihatkan pada gambar 13.18

Gambar 13.18 Rangkaian Test Generator di Hubung Singkat

12-16

dan konstruksi kumparan.20 Pengukuran Resistansi DC 12-17 .Generator Sinkron Impedansi Sinkron dicari berdasarkan hasil test. adalah : Zs = Eo I f = kons tan ..6 ... Test Resistansi Jangkar Dengan rangkaian medan terbuka.Ohm I hs Gambar 13. Dalam kenyataannya nilai resistansi dikalikan dengan suatu faktor untuk menentukan nilai resistansi AC efektif . Faktor ini tergantung pada bentuk dan ukuran alur. Resistansi per Phasa adalah setengahnya dari yang diukur.3. Bila nilai Ra telah diketahui. Nilainya berkisar antara 1. R eff .. nilai Xs bisa ditentukan berdasarkan persamaan : 2 2 Xs = Zs − Ra Ohm Gambar 13.6...19 Karakteristik Tanpa Beban dan Hubung Singkat sebuah Generator 13.. resistansi DC diukur antara dua terminal output sehingga dua Phasa terhubung secara seri Gambar 13.20.2 s/d 1. ukuran penghantar jangkar.

7. 13. dan ini dinyatakan dengan persamaan : Eo − V x100 % Pengaturan Tegangan = V Terjadinya perbedaan tegangan terminal V dalam keadaan berbeban dengan tegangan Eo pada saat tidak berbeban dipengaruhi oleh faktor daya dan besar-nya arus jangkar (Ia) yang mengalir. Untuk menentukan pengaturan tega-ngan dari generator adalah dengan memanfaatkan karakteristik tanpa beban dan hubung singkat yang diperoleh dari hasil percobaan dan pengukuran tahanan jangkar. Metoda Impedansi Sinkron Untuk menentukan pangaturan tegangan dengan menggunakan Metoda Impedansi Sinkron. yaitu : • Metoda Impedansi Sinkron atau Metoda GGL. Gambar 13. langkah-langkahnya sebagai berikut : • Tentukan nilai impedansi Sinkron dari karakteristik tanpa beban dan karakteristik hubung singkat.7.1.21 Vektor Diagram Pf “Lagging” 12-18 . • Tentukan nilai Ra berdasarkan hasil pengukuran dan perhitungan. Ada tiga metoda atau cara yang sering digunakan untuk menentukan pengaturan tegangan tersebut. • Metoda Amper Lilit atau Metoda GGM.Generator Sinkron 13. Pengaturan Tegangan Pengaturan tegangan adalah perubahan tegangan terminal antara keadaan beban nol dengan beban penuh. • Metoda Faktor Daya Nol atau Metoda Potier. • Berdasarkan persamaan hitung nilai Xs • Hitung harga tegangan tanpa beban Eo • Hitung prosentase pengaturan tegangan.

12-19 . dan c) Hitung nilai arus medan total yang ditunjukkan oleh vektor OB.Xs = BC= Tegangan jatuh Reaktansi Sin-kron. • Gambar 5. OC = Arus medan yang diperlukan untuk mendapatkan arus beban penuh pada hubung singkat. OC = OF 2 + FC 2 OC = (OD + DF) 2 + (FB + BC) 2 atau Eo = (V cos ϕ + I.22 a. Gambarkan diagram vektornya dengan memperhatikan faktor dayanya : • untuk faktor daya “Lagging” dengan sudut (90 0 + ϕ) • untuk faktor daya “Leading” dengan sudut (90 0 − ϕ) • untuk faktor daya “Unity” dengan sudut (90 0 ) perhatikan gambar 13.7.Xs) 2 . Adapun langkah-langkah menentukan nilai arus medan yang diperlukan untuk memperoleh tegangan terminal generator saat diberi beban penuh.R a )2 + ( V sin ϕ + I. b. Eo =OC = Tegangan tanpa beban V =OA = Tegangan terminal I. AB = OC = dengan sudut (90 0 + ϕ) terhadap OA.Ra=AB=Tegangan jatuh Resistansi Jang-kar I.2.23 memperlihatkan diagram secara lengkap dengan karakteristik beban nol dan hubung singkat.Generator Sinkron Gambar 13. OA = Arus medan yang diperlukan untuk mendapatkan tegangan nominal. Dengan metoda ini reaktansi bocor Xl diabaikan dan reaksi jangkar diperhitungkan. adalah sebagai berikut : • • • Tentukan nilai arus medan (Vektor OA) dari percobaan beban nol yang diperlukan untuk mendapatkan tegangan nominal generator. Tentukan nilai arus medan (Vektor AB) dari percobaan hubung singkat yang diperlukan untuk mendapatkan arus beban penuh generator. %Pengaturan = Eo − V x100 V Pengaturan yang diperoleh dengan metoda ini biasanya lebih besar dari nilai sebenarnya. 13. Metoda Amper Lilit Perhitungan dengan Metoda Amper Lilit berdasarkan data yang diperoleh dari percobaan tanpa beban dan hubung singkat.21 memperlihatkan contoh Vektor diagram untuk beban dengan faktor daya lagging.

Generator Sinkron Gambar 13.22 Vektor Arus Medan 12-20 .

• Karakteristik Beban penuh dengan faktor daya nol. OB = Total arus medan yang dibutuhkan untuk mendapatkan tegangan Eo dari karakteristik beban nol. Data yang diperlukan adalah : • Karakteristik Tanpa beban. Metoda Potier Metoda ini berdasarkan pada pemisahan kerugian akibat reaktansi bocor Xl dan pengaruh reaksi jangkar Xa. atur arus medan sampai tega-ngan nominal dan beban reaktor (arus beban) sampai arus nominal 12-21 . maka generator harus diberi beban reaktor murni.Generator Sinkron Gambar 13. dan Vektor Arus Medan. Khusus untuk karakteristik beban penuh dengan faktor daya nol dapat diperoleh dengan cara melakukan percobaan terhadap generator seperti halnya pada saat percobaan tanpa beban. Pada kecepatan Sinkron dengan beban reaktor. yang membedakannya supaya menghasilkan faktor daya nol. Langkah-langkah untuk menggambar Diagram Potier sebagai berikut : 1. Hubung Singkat.7. yaitu menaikkan arus medan secara bertahap. OB = OA 2 + AB2 + 2xOAxABxcos{180 − (900 + ϕ)} 17.3. Arus jangkar dan faktor daya nol saat dibe-bani harus dijaga konstan.23 Karakteristik Beban Nol.

AF menunjukkan besarnya arus medan yang dibutuhkan untuk mengatasi efek magnetisasi akibat raeksi jangkar saat beban penuh.Generator Sinkron 2. Panjang JF menunjukkan kerugian tegangan akibat reaktansi bocor. Tarik garis AD yang sama dan sejajar garis OB. Segitiga ADJ dise-but segitiga Potier. DF untuk penyeimbang reaktansi bocor jangkar (JF) Gambar 13. maka besarnya arus medan yang dibutuhkan untuk tegangan tanpa beban Eo bisa diketahui. Buat titik A yang menunjuk-kan nilai arus medan pada percobaan faktor daya nol pada saat tegangan nominal. 3. 4.24 Diagram Potier Dari gambar Diagram Potier diatas. Buat titik B. Vektor diagram yang terlihat pada diagram Potier bisa digambarkan secara terpisah seperti terlihat pada Gambar 13. • V ditambah JF (I. berdasarkan percobaan hubung singkat dengan arus jangkar penuh.25. Melalui titik D tarik garis sejajar kurva senjang udara sampai memotong kurva beban nol dititik J. OB menunjukkan nilai arus medan saat percobaan tersebut. 5. Gambarkan garis sejajar melalui kurva beban nol. 8. Eo − V x100 % Pengaturan Tegangan = V 12-22 .Xl) menghasilkan tegangan E. • Bila vektor BH ditambah kan ke OG. 7. bisa dilihat bahwa : • V nilai tegangan terminal saat beban penuh. 6. • BH = AF = arus medan yang dibutuhkan untuk mengatasi reaksi jangkar. Gambar garis JF tegak lurus AD.

8. bila salah satu generator tiba-tiba mengalami gangguan. Tegangan Generator yang diparalelkan mempunyai bentuk gelombang yang sama.Generator Sinkron Gambar 13.8. Untuk mengatasi beban yang terus meningkat tersebut bisa diatasi dengan menjalankan generator lain yang kemudian dioperasikan secara paralel dengan generator yang telah bekerja sebelumnya.25 Vektor Diagram Potier 13. Cara Memparalel Generator Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk memparalel dua buah generator atau lebih ialah : • • • • • Polaritas dari generator harus sama dan bertentangan setiap saat terhadap satu sama lainnya.1. Urutan phasa dari kedua generator harus sama. Kerja Paralel Generator Bila suatu generator mendapat pembebanan lebih dari kapasitasnya bisa mengakibatkan generator tidak bekerja atau rusak. generator tersebut dapat dihentikan serta beban dialihkan pada generator lain. Keuntungan lain. Frekuensi kedua generator atau frekuensi generator dengan jala-jala harus sama. Nilai efektif arus bolak-balik dari tegangan harus sama. 13. sehingga pemutusan listrik secara total bisa dihindari. 12-23 .

Frekuensi Meter. Cara Otomatis 13. Dalam keadaan saklar S terbuka operasikan generator.L3 . Voltmeter. pilih lampu dengan tegangan kerja dua kali tegangan phasa netral generator atau gunakan dua lampu yang dihubungkan secara seri.8.L2 . pada keadaan ini: • L2 paling terang • L1 terang • L3 terang Perhatikan gambar 13.L2 . Lampu Cahaya Berputar dan Volt-meter Dengan rangkaian pada gambar 13. dan L3 redup. Urutan lampu akan beru-bah menrut urutan L1 .2. Perhatikan Gambar 13. • L1 dan L2 sama terang • L3 Gelap dan Voltmeter=0 V 12-24 .27b.26.26 Rangkaian Paralel Generator Perhatikan Gambar 13. Lampu Cahaya berputar dan Volt-meter b. kemudian lihat urutan nyala lampu.L3. pada keadaan ini. Gambar 13. c. L2 terang.27a. dan Synchroscope. yaitu : a. pada keadaan ini L1 paling terang.Generator Sinkron Ada beberapa cara untuk memparalelkan generator dengan mengacu pada syarat-syarat diatas.L1 .27c.

Alat synchroscope tidak bisa menunjukkan urutan phasa jala-jala. Penggunaan alat ini dilengkapi dengan Voltmeter untuk memonitor kesamaan tegangan dan Frekuensi meter untuk kesamaan frekuensi. sehingga untuk memparalelkan perlu dipakai indikator urutan phasa jala-jala. untuk indikator paralel generator banyak yang menggunakan alat Synchroscope gambar 13. maka pada kondisi ini saklar dimasukkan (ON).27 Rangkaian Lampu Berputar 13. Ketepatan sudut phasa dapat dilihat dari synchroscope.28.8. berarti beda phasa generator dan jala-jala telah 0 (Nol) dan seli-sih frekuensi telah 0 (Nol). Bila jarum penunjuk ber-putar berlawanan arah jarum jam berarti frekuensi generator lebih rendah dan bila searah jarum jam berarti frekuensi generator lebih tinggi. 12-25 . Voltmeter.Generator Sinkron Pada saat kondisi ini maka generator dapat diparalelkan dengan jala-jala (generator lain). Pada saat jarum telah diam dan menunjuk pada kedudukan vertikal. Frekuensi Meter dan Synchroscope Pada pusat-pusat pembangkit tenaga listrik. Gambar 13.3.

Generator Sinkron 13. b) penguatan brushless. • Belitan stator satu lapis karena hanya ada satu sisi lilitan didalam masing-masing alur.9. • Pada masing-masing alur ada dua sisi lilitan dan masing-masing lilitan memiliki lebih dari satu putaran. Kp . E = 4. dan urutan phasa. Rangkuman • Mesin Sinkron bisa dioperasikan baik sebagai generator maupun motor. Gambar 13.10. Apabila semua kondisi telah tercapai alat memberi suatu sinyal bahwa saklar untuk paralel dapat dimasukkan. tegangan.φ . frekuensi. berlaku rumus. Paralel Otomatis Paralel generator secara otomatis biasanya menggunakan alat yang secara otomatis memonitor perbedaan phasa. • Tegangan efektif per phasa bila faktor distribusi dan faktor kisar dimasukkan. 28 Sychroscope 13. • Stator dari Mesin Sinkron terbuat dari bahan ferromagnetik. T Volt 12-26 . • Generator Sinkron Tiga Phasa memiliki dua jenis eksitasi a) dengan penguatan generator DC “Pilot Exciter.44 . belitan stator berupa belitan satu lapis atau belitan lapis anda.f . sedangkan Mesin dengan kecepatan rendah seperti hydroelectric mempunyai rotor kutub menonjol. • Bentuk rotor Mesin Sinkron berkecepatan tinggi seperti turbo generator mempunyai bentuk silinder. • Pada belitan stator mengandung faktor ditribusi dan faktor kisar belitan yang besarnya lebih kecil dari satu. Kd.

d) frekuensi sama. bedakan warna dari masing-masing phasa. metoda Faktor Daya Nol (Potier). akan di rewinding. • Pengukuran resistansi dan impedansi generator dilakukan tiga jenis test yang bisa dilakukan. Generator Sinkron memiliki data name plate 3 phasa.11. Buatlah gambar wiring yang lengkap dan jelas. 60 • Mesin Sinkron difungsikan sebagai generator. Sebuah generator Sinkron mempunyai 8 kutub. Berapa sudut mekanis ditunjukkan dengan 180 derajat listrik. • Saat generator berbeban mengalir arus pada jangkar. c) tegangan generator sama. 2. Hitungkan putaran Sinkron permenit. • Pengaturan tegangan adalah perubahan tegangan terminal antara keadaan beban nol dengan beban penuh. Soal-soal 1. • Ada tiga metoda yang digunakan untuk menentukan pengaturan tegangan yaitu : metoda Impedansi Sinkron atau Metoda GGL. c) Cara Otomatis 13. test resistansi jangkar. 400 V. 50 Hz. • Ada perbedaan karakteristik saat generator tanpa beban dan generator berbeban. reaksi Jangkar. f = P 2 n Hertz. metoda Amper Lilit atau Metoda GGM. 2 HP. 4 kutub.Generator Sinkron • Frekuensi dari tegangan induksi sebagai sebuah fungsi dari kecepatan rotor. 3. 12-27 . • Syarat untuk paralel dua generator Sinkron meliputi : a) Polaritas dari generator harus sama b) nilai efektif arus bolak-balik dari tegangan harus sama. e) urutan phasa dari kedua generator harus sama. b) Voltmeter. reaktansi bocor jangkar. yaitu : test tanpa beban. test hubung singkat. Generator Sinkron memiliki 24 alur. hal ini disebabkan adanya kerugian tegangan pada: resistansi jangkar Ra. 3 phasa. 4 kutub. maka besarnya tegangan terminal V akan berubah-ubah. rotor diputar pada kecepatan Sinkron dan belitan medan rotor diberi arus medan (If). • Teknik parallel generator menggunakan : a) Lampu Cahaya berputar dan Volt-meter. Frekuensi Meter. maka pada kumparan stator akan diinduksikan tegangan. dan Synchroscope.

12-28 . Jelaskan langkah paralel generator dan parameter yang harus dipenuhi. Generator Sinkron akan dilakukan paralel dengan jala-jala PLN 3x 380V. Generator 2KW. 5. 220V/50Hz digerakkan dengan mesin diesel.Generator Sinkron 4. Bagaimana cara agar generator tersebut menghasilkan tegangan 220V dan frekuensinya 50Hz. listrik yang dihasilkan dipakai untuk memberikan listrik untuk sejumlah rumah. 50 Hz. Buatlah gambar skematik paralel generator dengan jalajala PLN lengkap dengan peralatan ukur yang diperlukan.

................................................... Penggunaan Energi ............ 14-2 14-2 14-3 14-5 14-9 14-18 14-20 14-26 14-27 14-31 14-32 .....2....... 14............. 14..... Soal-soal .... Sejarah Penyediaan Tenaga Listrik ......BAB 14 SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK Daftar Isi : 14..................6........... Beban Listrik .....................................................3...... Peranan Tenaga Listrik ..4................. Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik ................9.. Panel Hubung Bagi (PHB) ..................... 14....................10.................................................................. 14....... 14. Jaringan Listrik .................... 14.................11.................7............................. Alat Pengukur dan Pembatas (APP) ..... 14...................... 14........... Rangkuman .8.5..... Penghantar .....................................1........ 14........ 14............................

tetapi dapat berubah dari energi satu ke energi lainnya. Manusia mulai memanfaatkan energi batubara untuk keperluan pemanasan dan memasak pada awal abad ke 14. Sejarah Penyediaan Tenaga Listrik Pada tahun 1885 seorang dari Perancis bernama Lucian Gauland dan John Gibbs dari Inggris menjual hak patent generator arus bolak-balik kepada seorang pengusaha bernama George Westinghouse gambar 14. 14-2 . seperti kayu dipakai memanaskan badan. Awal abad 12.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14.1.2. sehingga dapat menemukan bentuk-bentuk energi alam lainnya yang dapat dimanfaatkan dalam kebutuhan dan kegiatan sehari-hari. bentuk energi lainnya seperti angin dan air dimanfaatkan untuk keperluan pengangkutan dan penggilingan biji-bijian. Energi Sinar 6. Sejak jaman prasejarah sumber energi alam. pembuatan transformator dan akhirnya diperoleh sistem jaringan arus bolak-balik sebagai transmisi dari pembangkit ke beban/pemakai. manusia sudah memerlukan energi alam. Sejak abad 18 di Inggris batubara ini digunakan untuk menghasilkan uap dan menggerakkan mesin uap pada pabrik pengerjaan logam dan tekstil. memasak dan pertukangan. diantaranya: 1. Energi Panas 7. Berbagai penelitian dan uji coba dilakukan. Energi Listrik Semua zat-zat (padat. karena alam maupun kejadian-kejadian teknis. untuk mencukupi kebutuhan. Sampai sekarang hasil penelitian menghasilkan beberapa sumber energi. Energi Medan Magnet 3. Menurut hukum kekekalan energi bahwa energi itu tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan. 14. Energi Grafitasi 4. Penggunaan Energi Sejak awal kehidupan di dunia ini. Energi Nuklir 5. Selanjutnya dikembangkan generator arus bolak-balik dengan tegangan tetap. cair dan gas) yang ada di alam semesta ini disebut materi.1. Energi Mekanik 2. Materi ini mengandung energi dan energi ini dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

a. Generator Gaulard dan Gibbs b. Generator Westinghouse Gambar 14.1 Generator

Sejarah kelistrikan di Indonesia dimulai dengan selesai dibangunnya pusat tenaga listrik di Gambir, Jakarta Mei 1887, kemudian di Medan (1899), Surakarta (1902), Bandung (1906), Surabaya (1912), dan Banjarmasin (1922). Pusat-pusat tenaga listrik ini pada awalnya menggunakan tenaga thermis. Kemudian disusul dengan pembuatan pusat-pusat listrik tenaga air : PLTA Giringan di Madiun (1917), PLTA Tes di Bengkulu (1920), PLTA Plengan di Priangan (1922), PLTA Bengkok dan PLTA Dago di Bandung (1923). Sebelum kemerdekaan pengusahaan tenaga listrik di Indonesia dikelola oleh beberapa perusahaan swasta, diantaranya yang terbesar adalah NIGEM (Nederlands Indische Gas en Electriciteits Maatschappij) yang kemudian menjelma menjadi OGEM (Overzese Gas en Electriciteits Maatschappij), ANIEM (Algemene Nederlands Indhische Electriciteits Maatschappij), dan GEBEO (Gemeen Schappelijk Electriciteits Bedrijk Bandung en Omsheken). Sedangkan Jawatan Tenaga Air membangun dan mengusahakan sebagian besar pusat-pusat listrik tenaga air di Jawa Barat. Sejak tahun 1958 pengelolaan ketenaga listrikan di Indonesia oleh Perusahaan Umum Listrik Negara.

14.3. Peranan Tenaga Listrik
Di pusat pembangkit tenaga listrik, generator digerakan oleh turbin dari bentuk energi lainnya antara lain : dari Air - PLTA; Gas - PLTG; Uap PLTU; ; Diesel - PLTD; Panas Bumi - PLTP; Nuklir - PLTN. Energi listrik dari pusat pembangkitnya disalurkan melalui jaringan transmisi yang jaraknya relatif jauh ke pemakai listrik/konsumen.

14-3

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Gambar 14.2 Penyaluran Energi Listrik dari Sumber ke Beban

Konsumen listrik di Indonesia dengan sumber dari PLN atau Perusahaan swasta lainnya dapat dibedakan sebagai berikut : 1. Konsumen Rumah Tangga Masing-masing rumah dayanya antara 450VA s.d. 4400VA, secara umum menggunakan sistem 1 fasa dengan tegangan rendah 220V / 380V dan jumlahnya sangat banyak. 2. Penerangan Jalan Umum (PJU)
Pada kota-kota besar penerangan jalan umum ini sangat diperlukan oleh karena bebannya berupa lampu dengan masing-masing daya tiap lampu/tiang antara 50VA s.d. 250VA bergantung pada jenis jalan yang diterangi, maka sistem yang digunakan 1 fasa dengan tegangan rendah 220V / 380V. 3. Konsumen Pabrik Jumlahnya tidak sebanyak konsumen rumah tangga, tetapi masingmasing pabrik dayanya dalam orde ratusan kVA. Penggunaannya untuk pabrik yang kecil masih menggunakan sistem 1 fasa tegangan rendah (220V/380V), untuk pabrik-pabrik skala besar menggunakan sistem 3 fasa dan saluran masuknya dengan jaringan tegangan menengah 20kV. 4. Konsumen Komersial Yang dimaksud konsumen komersial antara lain stasiun, terminal, KRL (Kereta Rel Listrik), hotel-hotel berbintang, rumah sakit besar, kampus,
14-4

Sistem Distribusi Tenaga Listrik
stadion olahraga, mall, supermarket, apartemen. Rata-rata menggunakan sistem 3 fasa, untuk yang kapasitasnya kecil dengan tegangan rendah, sedangkan yang berkapasitas besar dengan tegangan menengah 20KV.

Gambar 14.3 Distribusi Tenaga Listrik ke Konsumen

14.4. Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik

Gambar 14.4 Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik

Keterangan :
G GI GH GD TT TM TR APP = Generator / Pembangkit Tenaga Listrik = Gardu Induk = Gardu Hubung = Gardu Distribusi = Jaringan Tegangan Tinggi = Jaringan Tegangan Menengah = Jaringan Tegangan Rendah = Alat Pembatas/Pengukur

Instalasi dari pembangkitan sampai dengan alat pembatas/pengukur (APP) disebut Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik.
14-5

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Dari mulai APP sampai titik akhir beban disebut Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik. Standarisasi daya tersambung yang disediakan oleh pengusaha ketenagalistikan (PT. PLN) berupa daftar penyeragaman pembatasan dan pengukuran dengan daya tersedia untuk tarif S-2, S-3, R-1, R-2, R-4, U-1, U-2, G-1, I-1, I-2, I-3, H-1 dan H-2 pada jaringan distribusi tegangan rendah. Sedangkan daya tersambung pada tegangan menengah, dengan pembatas untuk tarif S-4, SS-4, I-4, U-3, H-3 dan G-2 adalah sebagai tabel 14.1. berikut : Tabel 14.1. Daya Tersambung pada Tegangan Menengah Arus Nominal (Amper) 6,3 10 16 20 25 32 40 50 63 80 100 125 160 200 250 Daya Tersambung (kVA) pada Tegangan 6 kV *) 210 260 335 415 520 655 830 1.040 1.300 1.660 2.080 2.600 12 kV *) 210 335 415 520 665 830 1.040 1.310 1.660 2.880 2.600 3.325 4.155 5.195 15 kV *) 260 415 520 650 830 1.040 1.300 1.635 2.080 2.600 3.250 4.155 5.195 6.495 20 kV 210**) 235***) 240 345 555 690 865 1.110 1.385 1.730 2.180 2.770 3.465 4.330 5.540 6.930 8.660

Keterangan : *) Secara bertahap disesuaikan menjadi 20 kV **) Pengukuran tegangan menengah tetapi dengan pembatasan pada sisi tegangan rendah dengan pembatas arus 3 x 355 Amper tegangan 220/380 Volt. ***) Pengukuran tegangan menengah tetapi dengan pembatasan pada sisi tegangan rendah dengan pembatas arus 3 x 630 Amper tegangan 127/220 Volt.
14-6

PLN dapat dibedakan menjadi beberapa golongan yang ditunjukkan tabel 14.5 160 165 175 180 192.5 200 210 220 225 240 250 270 275 280 300 315 330 350 385 Daya Tersambung (kVA) 2335 2425 2595 2770 2855 3030 3115 3465 3635 3805 3895 4150 4240 4330 4670 4845 5190 5450 5540 5710 6055 6230 6660 6930 7265 7615 7785 8305 8660 9345 9515 9690 10380 10900 11420 12110 13320 14-7 .5 18 20 21 22 22.5 87.5 28 30 32 33 35 36 40 42 44 45 48 50 52.2.5 90 100 105 110 112.2.5 54 55 60 66 Daya Tersambung (kVA) 210 245 275 310 345 380 415 485 520 555 605 625 690 725 760 780 830 865 935 950 970 1040 1110 1140 1210 1245 1385 1455 1525 1560 1660 1730 1815 1870 1905 2075 2285 Arus Primer (A) 67. Arus Primer (A) 6 7 8 9 10 11 12 14 15 16 17.5 70 75 80 82.5 125 135 140 150 157.5 120 122.5 24 25 27 27. Daya Tersambung Fungsi Arus Primer.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Pengguna listrik yang dilayani oleh PT. berikut ini : Tabel 14.

3.660 Pelanggan TM yang dibatasi dengan pelabur TR. berikut : Tabel 14.730 2. berikut : Tabel 14.465 4.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Daya yang disarankan untuk pelanggan TM 20 kV (Pengukuran pada sisi TM dengan relai sekunder) Pelanggan TM 20KV yang dibatasi dengan pelabur TM.4.5.3.540 6.770 3.385 1.110 1. standarisasi dayanya seperti tabel 14.930 8.4. Daya Tersambung Fungsi Pelabur Arus Nominal TM (Amper) 6. Daya Tersambung Tiga Phasa Arus Nominal TR (Amper) 3 x 355 3 x 425 3 x 500 3 x 630 3 x 800 3 x 1000 Daya Tersambung (kVA) 233 279 329 414 526 630 Pengguna listrik yang dilayani oleh PT.330 5. standarisasi dayanya seperti tabel 14. PLN dapat dibedakan menjadi beberapa golongan yang ditunjukkan pada tabel 3.3 10 16 20 25 32 40 50 63 80 100 125 160 200 250 Daya Tersambung (kVA) 240 345 555 690 865 1. berikut ini : 14-8 .180 2.

7. 18. 24. Jaringan Listrik Pusat tenaga listrik umumnya terletak jauh dari pusat bebannya.5. Penurunan tegangan dari jaringan tegangan tinggi /ekstra tinggi sebelum ke konsumen dilakukan dua kali. 23. 11. 20. Tegangan generator pembangkit relatif rendah (6kV-24kV). 14. 15. 17. Tujuan peningkatan tegangan ini. Maka tegangan ini dinaikan dengan transformator daya ke tegangan yang lebih tinggi antara 150kV-500kV. 4. 9. Golongan Pelanggan PLN No 1.000 kVA keatas 250 VA s/d 200 kVA 201 Kva KEATAS 14. 16. Golongan Tarif S–1 S–2 S–3 S–4 SS – 4 R–1 R–2 R–3 R–4 U–1 U–2 U–3 U–4 H–1 H–2 H–3 I–1 I–2 I–3 I–4 I–5 G–1 G–2 J Penjelasan Pemakai sangat kecil Badan sosial kecil Badan sosial sedang Badan sosial besar Badan sosial besar dikelola swasta untuk komersial Rumah tangga kecil Rumah tangga sedang Rumah tangga menengah Rumah tangga besar Usaha Kecil Usaha Sedang Usaha Besar Sambungan Sementara Perhotelan Kecil Perhotelan Sedang Perhotelan Besar Industri Rumah Tangga Industri Kecil Industri Sedang Industri Menengah Industri Besar Gedung Pemerintahan kecil/sedang Gedung Pemerintahan Besar Penerangan Umum Sistem Teganga n TR TR TR TM TM TR TR TR TR TR TR TM TR TR TR TM TR TR TR TM TT TR TM TR Batas Daya s/d 200 VA 250 VA s/d 2200VA 2201 VA s/d 200 kVA 201 Kva KEATAS 201 Kva KEATAS 250 VA s/d 500 VA 501 VA s/d 2200 VA 2201 VA s/d 6600 VA 6601 VA KEATAS 250 VA s/d 2200 VA 2201 VA s/d 200 kVA 201 kVA keatas 250 VA s/d 99 kVA 100 kVA s/d 200 kVA 201 kVA keatas 450 VA s/d 2200 VA 2201 VA s/d 13. 3. juga untuk memperkecil rugi daya dan susut tegangan pada saluran transmisi.9 kVA 14 kVA s/d 200 kVA 201 Kva KEATAS 30. 22. 10. Yang pertama dilakukan di gardu induk 14-9 . 14. 21. 8. 12.5.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Tabel 14. 2. 6. Energi listrik yang dihasilkan pusat pembangkitan disalurkan melalui jaringan transmisi. selain memperbesar daya hantar dari saluran (berbanding lurus dengan kwadrat tegangan). 19. 5.

Sistem Distribusi Tenaga Listrik (GI). petir angin dan sebagainya. Yang kedua dilakukan pada gardu distribusi dari 150 kV ke 20 kV.5 Saluran penghantar udara untuk rumah tinggal (mengganggu keindahan pandangan) 14-10 . sedangkan dari transformator terakhir sampai konsumen disebut saluran distribusi atau saluran primer. perbaikannya lebih sulit. saluran bawah tanah lebih disukai dan juga tidak mudah terganggu oleh cuaca buruk: hujan. Dari segi estetik. Namun saluran bawah tanah jauh lebih mahal dibanding saluran udara. menurunkan tegangan dari 500kV ke 150kV atau dari 150kV ke 70kV. Gambar 14. tidak cocok untuk daerah banjir karena bila terjadi gangguan / kerusakan. Kedua cara penyaluran tersebut mesing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian. Saluran listrik dari sumber pembangkit tenaga listrik sampai transformator terakhir. sering disebut juga sebagai saluran transmisi. atau dari 70kV ke 20 kV. Ada dua macam saluran transmisi/distribusi PLN yaitu saluran udara (overhed lines) dan saluran kabel bawah tanah (undergound cable).

Sistem Distribusi Tenaga Listrik Gambar 14. misalnya di pegunungan atau daerah jarang penduduknya. akan lebih mudah dengan membuat lubang untuk tiang-tiang listrik. saluran masuk ke dalam suatu gedung / bangunan sebagai pengguna energi listrik. tidak semerawut seperti saluran udara. Pada akhir / ujung dari saluran transmisi. gangguan layang-layang. • daerah luar kota. pencurian kabel lebih sulit. petir. + Untuk daerah-daerah yang tanah nya banyak mengandung batubatuan. bahwa saluran udara lebih cocok di gunakan pada : • saluran transmisi tegangan tinggi. + Sambungan bawah tanah relatif tidak terganggu oleh pengaruhpengaruh cuaca : hujan. angin.6 Saluran kabel bawah tanah pada suatu perumahan elit Secara rinci keuntungan pemasangan saluran udara antara lain : + Biaya investasi untuk membangun suatu saluran udara jauh lebih murah dibandingkan untuk saluran dibawah tanah. kota-kota besar yang banyak penduduknya 14-11 . salju. Dari pertimbangan diatas. Sedangkan untuk saluran bawah tanah akan cocok digunakan pada : • saluran transmisi tegangan rendah. sabotase. + Saluran bawah tanah tidak menggangu keindahan pandangan. Sedangkan keuntungan pemasangan saluran bawah tanah antara lain : + Biaya pemeliharaan saluran kabel bawah tanah relatif murah. + Bila terjadi gangguan lebih mudah mencarinya dan lebih mudah memperbaikinya jika dibandingkan untuk saluran bawah tanah.

Penerangan : Lampu-lampu Listrik . 14-12 .Tenaga : Motor-motor Listrik Dalam perencanaan instalasi listrik pada suatu gedung / bangunan.5.7 Situasi Yang menunjukan gambar posisi gedung / bangunan yang akan dipasang instalasi listriknya terhadap saluran / jaringan listrik terdekat. Data yang perlu ditulis pada gambar situasi ini adalah alamat lengkap.Utama / MDP : Main Distribution Panel . diagram garis tunggal dan gambar rinci.Beban / SSDP : Sub-sub Distribution Panel 3. Bila belum ada jaringan listriknya. Gambar Situasi Keterangan : A : Lokasi bangunan B : Jarak bangunan ke tiang C : kode tiang / transformator U : menunjukkan arah utara Gambar 14. Penghantar : . jarak terhadap sumber listrik terdekat (tiang listrik / bangunan yang sudah berlistrik) untuk daerah yang sudah ada jaringan listriknya. 4. berkas rancangan instalasi listrik terdiri dari : gambar situasi. PHB : Papan Hubung Bagi . Beban .1. APP : Alat Pengukur dan Pembatas (milik PLN) 2.Kabel (berisolasi) 4. perlu digambarkan rencana pemasangan tiang-tiang listrik.Kawat Penghantar (tidak berisolasi) .Cabang / SDP : Sub Distribution Panel . gambar instalasi.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Komponen/peralatan utama perlistrikan pada gedung/bangunan tersebut terdiri dari: 1.

5. sehingga jarak ke beban jauh dari PHB utama dibagi menjadi beberapa group cabang / Sub Distribution Panel baru disalurkan ke beban. dari PHB dibagi menjadi beberapa group dan langsung ke beban.Untuk konsumen industri karena areanya luas.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14. Biasanya dengan sistem satu fasa.2. . Pada PHB ini energi listrik didistribusikan ke beban menjadi beberap group / kelompok : . Gambar Instalasi Yang menunjukan gambar denah bangunan (pandangan atas) dengan rencana tata letak perlengkapan listrik dan rencana hubungan perlengkapan listriknya. dan posisinya ada didalam bangunan. yang biasanya berjarak rendah. Dari APP ke PHB utama melalui kabel toefoer.Untuk konsumen domestik / bangunan kecil. Saluran masuk langsung ke APP yang biasanya terletak didepan / bagian yang mudah dilihat dari luar. 14-13 .

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Gambar 14.8 Denah rumah tipe T-125 lantai dasar

14-14

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Gambar 14.9 Instalasi rumah tipe T-125 lantai dasar

14-15

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

14.5.3. Diagram Garis Tunggal
Diagram garis tunggal dari APP (alat pegukur dan pembatas) ke PHB (panel hubung bagi) utama yang di distribusikan ke beberapa group langsung ke beban (untuk bangunan berkapasitas kecil) dan melalui panel cabang (SDP) maupun sub panel cabang (SSDP) baru ke beban gambar 14.10. Pada diagram garis tunggal ini selain pembagian group pada PHB utama / cabang / sub cabang juga menginformasikan jenis beban, ukuran dan jenis penghantar, ukuran dan jenis pengaman arusnya, dan sistem pembumian / pertanahannya gambar 14.11.

Gambar 14.10 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan Tegangan Rendah 380/220V.

14-16

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Gambar 14.11 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan sistem Tegangan Menengah 20KV dan Tegangan Rendah 380/220V.

14.5.4. Gambar Rinci
Gambar rinci dalam bangunan diperlukan untuk memberikan penjelasan yang rinci dari perancang ke pada pelaksana proyek atau dalam hal ini kontraktor. Dalam gambar rinci dapat diberikan ukuran (panjang x lebar x tinggi) suatu barang, misalkan panel hubung bagi. Bahkan cara pemasangan kabel, atau pemasngan detail instalasi penangkal petir dapat ditambahkan. Gambar rinci sekurang-kurangnya meliputi : - Ukuran fisik PHB - Cara pemasangan perlengkapan listrik - Cara pemasangan kabel / penghantar - Cara kerja rangkaian kendali - dan lain-lain informasi / data yang diperlukan sebagai pelengkap.

14-17

Alat Pengukur dan Pembatas (APP) APP merupakan bagian dari pekerjaan dan tanggung jawab pengusaha ketenagalistrikan (PLN).4.400 VA untuk sistem satu fasa .6.12 APP Sistem satu fasa Gambar 14.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14.9 kVA sampai dengan 630 kVA untuk sistem tiga fasa Gambar 14.13 APP Sistem tiga fasa 14-18 . Terdiri dari alat ukur kwh meter dan pembatas arus : .450 VA sampai dengan 4.

200 1 x 16 3.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Tabel 14.000 *) 3 x 1.500 1 x 20 4.900 3 x 10 6.600 3 x 16 10.000 3 x 50 33.000 *) fasa fasa fasa trafo Keterangan : *) : Tarif tegangan rendah diatas 200kVA hanya disediakan untuk tarif R-4 14-19 .200 3 x 25 16.000 Alat ukur kwh meter tiga 3 x 63 41.500 380V empat kawat 3 x 80 53.600 3 x 20 14.000 3 x 225 147.000 Alat ukur kwh meter tiga 3 x 125 82.000 *) 3 x 800 526.000 630.300 1 x 10 2.000 3 x 353 233.000 *) 3 x 425 279.000 3 x 300 197.400 3x6 3.000 *) 3 x 500 329.000 arus tegangan rendah 3 x 200 131.000 *) 3 x 630 414.000 380V empat kawat dengan 3 x 160 105.500 3 x 35 23.6. Standar Daya PLN Langganan tegangan rendah sistem 220V/380V 220 Volt satu fasa 380 Volt tiga fasa Daya Tersambung Pembatas Arus Pengukuran (VA) (A) 1x2 Alat ukur kwh meter satu 450 220V dua kawat 1x4 900 1x6 1.000 3 x 250 164.000 3 x 100 66.

Frekuensi meter. yang dapat dibedakan sebagai : .Panel Beban / SSDP : Sub-sub Distribution Panel Untuk PHB sistem tegangan rendah. Di dalam panel biasanya busbar / rel dibagi menjadi dua segmen yang saling berhubungan dengan saklar pemisah.Panel Cabang / SDP : Sub Distribution Panel . yang satu mendapat saluran masuk dari APP (pengusaha ketenagalistrikan) dan satunya lagi dari sumber listrik sendiri (genset). maka suplai ke beban tidak akan terganggu dengan adanya sumber listrik sendiri (genset) sebagai cadangan.7. Trafo arus • Alat-alat listrik : Ampermeter. 14-20 . Dari kedua busbar didistribusikan ke beban secara langsung atau melalui SDP dan atau SSDP.Panel Utama / MDP : Main Distribution Panel . Panel Hubung Bagi (PHB) Panel Hubung Bagi (PHB) adalah panel berbentuk alamari (cubicle). terdiri dari tiga cubicle yaitu satu cubicle incoming dan cubicle outgoing.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14. Voltmeter. Cos φ meter • Lampu indikator • dll Contoh gambar diagram satu garisnya bisa dilihat pada gambar 14. Untuk PHB sistem tegangan menengah. Peralatan dari : • • • • • • • • • • pengaman arus listrik untuk penghubung dan pemutus terdiri CB (Circuit Breaker) MCB (Miniatur Circuit Breaker) MCCB (Mold Case Circuit Breaker) NFB (No Fuse Circuit Breaker) ACB (Air Circuit Breaker) OCB (Oil Circuit Breaker) VCB (Vacuum Circuit Breaker) SF6CB (Sulfur Circuit Breaker) Sekering dan pemisah Switch dan DS (Disconnecting Switch) Peralatan tambahan dalam PHB antara lain : • Rele proteksi • Trafo tegangan. Tujuan busbar dibagi menjadi dua segmen ini adalah jika sumber listrik dari PLN mati akibat gangguan ataupun karena pemeliharaan.10. hantaran utamanya merupakan kabel feeder dan biasanya menggunakan NYFGBY.

11. Dapat memutuskan rangkaian tiga phasa walaupun terjadi hubung singkat pada salah satu phasanya. Keuntungan menggunakan MCB. 14-21 . Peralatan dan rangkaian dari busbar sampai ke beban seperti pada PHB sistem tegangan rendah. Pengaman arus listriknya terdiri dari sekering dan LBS (Load Break Switch). Berikut ini adalah salah satu contoh cubicle yang ada di ruang praktek di POLBAN.14 Contoh Panel Cubicle di ruang Praktek POLBAN 14. MCB banyak digunakan untuk pengaman sirkit satu phasa dan tiga phasa.1.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Hantaran masuk merupakan kabel tegangan menengah dan biasanya dengan kabel XLPE atau NZXSBY. Gambar 14. yaitu : 1. MCB (Miniatur Circuit Breaker) MCB adalah pengaman rangkaian yang dilengkapi dengan pengaman thermis (bimetal) untuk pengaman beban lebih dan juga dilengkapi relai elektromagnetik untuk pengaman hubung singkat.7. Contoh gambar diagram satu garisnya bisa dilihat pada gambar 14. Saluran daya tegangan menengah ditransfer melalui trafo distribusi ke LVMDP (Low Voltage Main Distribution Panel).

sehingga apabila terjadi gangguan pada salah satu kutub maka kutub yang lainnya juga akan ikut terputus. MCB dibuat hanya memiliki satu kutub untuk pengaman satu phasa. Mempunyai tanggapan yang baik apabila terjadi hubung singkat atau beban lebih.15 MCB (Miniatur Circuit Breaker) 14. sedangkan pengaman elektromagnetik menggunakan sebuah kumparan yang dapat menarik sebuah angker dari besi lunak. maka MCCB dapat berfungsi sebagai pengaman gangguan arus hubung singkat dan arus beban lebih. Dapat digunakan kembali setelah rangkaian diperbaiki akibat hubung singkat atau beban lebih. MCCB (Molded Case Circuit Breaker) MCCB merupakan alat pengaman yang dalam proses operasinya mempunyai dua fungsi yaitu sebagai pengaman dan sebagai alat untuk penghubung.2. pengamanan secara thermis memiliki kelambatan. 3.7. Pengaman thermis pada MCB memiliki prinsip yang sama dengan thermal overload yaitu menggunakan dua buah logam yang digabungkan (bimetal). Pada 14-22 . sedangkan untuk pengaman tiga phasa biasanya memiliki tiga kutub dengan tuas yang disatukan. pengaman termis berfungsi untuk mengamankan arus beban lebih sedangkan pengaman elektromagnetis berfungsi untuk mengamankan jika terjadi hubung singkat. Pada MCB terdapat dua jenis pengaman yaitu secara thermis dan elektromagnetis. (a) MCB 1 fasa (b) MCB 3 fasa Gambar 14. Jika dilihat dari segi pengaman.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 2. ini bergantung pada besarnya arus yang harus diamankan.

ACB dapat digunakan pada tegangan rendah dan tegangan menengah. Trip-free mechanism 5.3. Moving contacts 6. Compact size 14.7. Gambar 14.16 Molded Case Circuit Breaker Keterangan : 1. mempunyai kemampuan pemutusan yang dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan. Magnetic trip unit 8. Arc chute 3. Mounting for ST or UVT connection block 4. ACB (Air Circuit Breaker) ACB (Air Circuit Breaker) merupakan jenis circuit breaker dengan sarana pemadam busur api berupa udara. BMC material for base and cover 2. Clear and IEC-complaint maekings 7. 14-23 . Udara pada tekanan ruang atmosfer digunakan sebagai peredam busur api yang timbul akibat proses switching maupun gangguan.Sistem Distribusi Tenaga Listrik jenis tertentu pengaman ini.

Rating standar Air Circuit Breaker (ACB) yang dapat dijumpai dipasaran adalah sbb: • LV-ACB: Ue = 250V dan 660V Ie = 800A-6300A Icn = 45kA-170kA • LV-ACB: Ue = 7.4. 14-24 .7. Bila terjadi busur api dalam minyak.5kA-72kA 14.17 ACB (Air Circuit Breaker) Air Circuit Breaker dapat digunakan pada tegangan rendah dan tegangan menengah. Gas yang terbentuk tersebut mempunyai sifat thermal conductivity yang baik dengan tegangan ionisasi tinggi sehingga baik sekali digunakan sebagi bahan media pemadam loncatan bunga api. OCB (Oil Circuit Breaker) Oil Circuit Breaker adalah jenis CB yang menggunakan minyak sebagai sarana pemadam busur api yang timbul saat terjadi gangguan. maka minyak yang dekat busur api akan berubah menjadi uap minyak dan busur api akan dikelilingi oleh gelembunggelembung uap minyak dan gas.2kV dan 24kV Ie = 800A-7000A Icn = 12.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Gambar 14.

5.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Gambar 14.18 OCB (Oil Circuit Breaker) 14.7. Gambar 14.19 VCB (Vakum Circuit Breaker) 14-25 . VCB (Vacuum Circuit Breaker) Pada dasarnya kerja dari CB ini sama dengan jenis lainnya hanya ruang kontak dimana terjadi busur api merupakan ruang hampa udara yang tinggi sehingga peralatan dari CB jenis ini dilengkapi dengan seal penyekat udara untuk mencegah kebocoran.

BCC. Gambar 14. Penghantar Untuk instalasi listrik.7. dan masing-masing digunakan sesuai dengan kondisi pemasangannya. ada yang dipasang di udara atau di dalam tanah.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14. A2C. AL sebagai contoh BC.20 SF6 CB (Sulfur Hexafluoride Circuit Breaker) 14. Ada dua macam penghantar listrik yaitu : .Kawat Penghantar tanpa isolasi (telanjang) yang dibuat dari Cu.8. ACSR. Prinsip pemadaman busur apinya adalah Gas SF6 ditiupkan sepanjang busur api.6. ada yang berinti tunggal atau banyak. Kabel Penghantar yang terbungkus isolasi. 14-26 . A3C. ada yang kaku atau berserabut. penyaluran arus listriknya dari panel ke beban digunakan penghantar listrik yang sesuai dengan penggunaanya. SF6 CB (Sulfur Hexafluoride Circuit Breaker) SF6 CB adalah pemutus rangkaian yan menggunakan gas SF6 sebagai sarana pemadam busur api. Rating tegangan CB adalah antara 3. gas ini akan mengambil panas dari busur api tersebut dan akhirnya padam. Gas SF6 merupakan gas berat yang mempunyai sifat dielektrik dan sifat memadamkan busur api yang baik sekali.6 KV – 760 KV.

NYMHY. 14-27 . Secara garis besar beban listrik adalah : . sodium. pemanas listrik yang bersifat resistip . peralatan laboratorium). dll). alat pendingin/AC/Freezer/kulkas. Beban Listrik Menurut sifatnya. Sebagai contoh : NYA. NYY. Induktor (L) yang bersifat induktip c. komputer. TV.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Hal ini bisa dilihat dari masing-masing karakter jenis kabelnya pada nomen klatur kabel.Untuk peralatan yang menggunakan motor-motor listrik (pompa air. merkuri. penerangan dengan lampu tabung yang menggunakan balast/trafo bersifat induktif (lampu TL. NYYHY. NYFGBY Berikut ini adalah gambar diagram satu garis untuk konsumen tegangan rendah dan konsumen tegangan tinggi.Untuk penerangan dengan lampu-lampu pijar. NYM. beban listrik terdiri dari : a.21 Diagram Transmisi dan Distribusi 14.9. Resistor (R) yang bersifat resistip b. Gambar 14. Kapasitor (C) yang bersifat kapasitip Beban listrik yang dimaksud adalah piranti / peralatan yang menggunakan / mengkonsumsi energi listrik.

setiap phasa dibebani : 900/3 = 300 TL. cosφ = 0. 4 kawat Jenis beban listrik dalam gedung/bangunan dapat dikelompokan menjadi : 1.1. kemudian turun kembali ke arus nominal. balast 10 W. Begitu motor diaktifkan (digerakkan). 220 V. misalnya pada motor listrik. Gambar 14.9.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Jika beban resistip diaktifkan (dinyalakan). karena dibutuhkan oleh semua gedung dan juga waktu penggunaannya yang panjang. Stop kontak 3. Contoh : Suatu bangunan disuplai listrik 3 phasa. maka saat awal (start) menarik arus listrik yang besar (3 sampai 5 kali nilai arus nominal). Beban yang ada 900 lampu TL 40 W. Motor-motor listrik 14. 220 V.8. 4 kawat dengan tegangannya 220V/380V. • Tiap lampu TL40W. Penerangan (Lighting) Penerangan gedung merupakan penggunaan yang dominan. maka arus listrik pada beban ini segera mengalir dengan cepatnya sampai pada nilai tertentu (sebesar nilai arus nominal beban) dan dengan nilai yang tetap hingga tidak diaktifkan (dimatikan). frekuensi 50 HZ. Lain halnya dengan beban induktip. balast 10w memerlukan arus = 14-28 . Jumlah lampu yang digunakan akan mempengaruhi pembagian group dari panel penerangan. cos φ = 0.8. penampang penghantarnya dan pengamannya (CB atau MCB) serta sakelar kendalinya. Bagaimana instalasinya? Jawaban: Dengan cara sederhana bisa kita naikan sebagai berikut : • Dengan jumlah lampu 900 TL.22 Rangkaian macam-macam Beban Sistem 3 phasa. Penerangan (lighting) 2.

Stop Kontak Stop Kontak adalah istilah populer yang biasa digunakan sehari-hari.9. IT = 84 A Lampu dibagi dalam group (tiap group maksimum 12-14 titik lampu). KKK mempunyai tempat/lokasi tertentu dengan beban tetap.72 A =87.5 ~13 group. IS = 84 A. Gambar 14. stop kontak ini dinamakan KKB (Kotak Kontak Biasa) dan KKK (Kotak Kontak Khusus) KKB adalah kotak kontak yang dipasang untuk digunakan sewaktu-waktu (tidak secara tetap) bagi piranti listrik jenis apapun yang memerlukannya.220 • • Maka untuk 300 lampu = 300.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 40 + 10 = 0. Satu group adalah 12 armatur x 2 TL = 24 TL jadi arus listrik tiap group = 24 x 0. Arus listrik tiap phasa panel utama = 13 x 6.36 A maka pengaman utama (MCB atau Sekering) yang digunakan sebesar 100A.28 =6. 14-29 . bila tiap titik terdiri dari 2 TL. • • 14. dan dihubungkan langsung ke panel sebagai group tersendiri.2. asalkan penggunaannya tidak melebihi batas kemampuannya. Dalam PUIL 2000. maka tiap phasa terdapat 300 TL/2 = 150 armatur (titik lampu) dan tiap phasa mempunyai 150 armatur = 12.28 A 0. KKK adalah kotak kontak yang dipasang khusus untuk digunakan secara tetap bagi suatu jenis piranti listrik tertentu yang diketahui daya maupun tegangannya.28A = 84 A Bila lampu menyala sekaligus : IR = 84 A .23 Macam-macam Stop Kontak Dengan demikian.8.72 A dengan demikian pengaman yang digunakan (MCB atau Sekering) tiap group dapat digunakan 10A. 0.

motor listrik digunakan untuk menggerakan pompa. kipas angin. dan biasanya jadi satu dengan group untuk penerangan.9.3.24 Piranti-piranti menggunakan motor 14-30 . 14. Eskalator Air Conditioning Gambar 14. Motor-motor Listrik Motor-motor listrik merupakan beban kedua terbanyak sesudah penerangan. Motor arus bolak-balik tiga phasa Berikut ini adalah gambar beberapa berbagai piranti yang menggunakan motor.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Sedangkan KKB tersebar diseluruh bangunan dengan beban tidak tetap. Motor arus bolak-balik satu phasa c. Motor-motor juga dapat dikelompokan berdasarkan jenis arus yang digunakan. elevator. kompresor yang merupakan bagian penting dari sistem pendingin udara. dan motor kelas medium sampai besar (diatas 5 HP). Motor dikategorikan sebagai motor fraksional (kurang dari 1 HP). dan juga sebagai pengerak mesin-mesin industri. integral (diatas 1 HP). escalator dan sebagainya. Motor arus searah b. yaitu: a.

di Indonesia energi listrik diusahakan sejak 1887 di Jakarta. I-4. • Tahun 1885 di Perancis dipakai energi listrik secara komersial terbatas.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14. I-1. • Penyaluran listrik tegangan rendah dengan penghantar udara atau dengan kabel tanah. diantaranya: Energi Mekanik. R-1. R-4. PHB (papan hubung bagi). U-1.GEBEO. yaitu penyedia daya (pembangkitan dan transmisi) dan pemanfaat (konsumen). seperti: NIGEM. • Komponen penyaluran energi listrik ke konsumen terdiri atas APP (alat pengukur dan pembatas). 14-31 . Penerangan Jalan Umum (PJU). Konsumen Komersial. Energi Grafitasi. H-3 dan G-2. diagram garis tunggal dan gambar rinci. G-1. ANIEM . • Standar PLN jaringan distribusi tegangan menengah 20KV. R-2. yaitu konsumen Rumah Tangga. penghantar. I-3. angin) sejak awal peradaban dimulai.10. adalah tarif S-2. rancangan instalasi listrik terdiri dari : gambar situasi. • Sejak 1958 kelistrikan di Indonesia dikelola oleh Perum Listrik Negara. kemudia dibangun beberapa PLTA sejak 1917. • Sampai sekarang hasil penelitian menghasilkan beberapa sumber energi. Energi Nuklir. Energi Panas. Energi Sinar. sejak abad 18 batubara digunakan untuk menghasilkan uap dikenal sebagai era industri di Inggris. gambar instalasi. H-1 dan H-2. • Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi itu tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan. • Secara garis besar energi listrik dibagi dua kelompok. U-3. U-2. • Dari pusat pembangkit (6KV) listrik di transmisikan (150-500KV) ke kota-kota besar. I-2. S-3. SS-4. • Standar PLN untuk tarif jaringan tegangan rendah 380/220V. tetapi dapat berubah dari energi satu ke energi lainnya. dan beban • Dalam perencanaan instalasi listrik pada suatu gedung/bangunan. Energi Listrik. konsumen Pabrik. adalah tarif S-4. terakhir ke konsumen tegangan rendah 380/220V. air. • Pelanggan listrik PLN di kelompokkan menurut empat jenis. OGEM. masuk ke jaringan 70 KV dan system distribusi tegangan menengah 20KV. • Pengusahaan listrik di Indonesia sebelum kemerdekaan oleh beberapa perusahaan swasta Hindia Belanda. Energi Medan Magnet. Rangkuman • Manusia memakai energi alam (kayu.

• PHB tempat pembagian ke cabang beban. sampai pemanfaatannya untuk rumah tangga dan industri kecil UKM. Trafo tegangan. Sekering dan pemisah. 3. Sebutkan pemakaian listrik AC 1 phasa dan AC 3 phasa di Industri. gambarkan secara skematik penyaluran daya listrik dari pembangkitan sampai ke konsumen industri Dan konsumen rumah tangga. Switch dan Disconnecting Switch (DS). 2. yaitu: Motor DC. OCB (Oil Circuit Breaker). MCB (Miniatur Circuit Breaker). Lampu indikator • Ada dua macam penghantar listrik yaitu : Kawat (telanjang) dan Kabel. 14. Cos φ meter. NFB (No Fuse Circuit Breaker). Alat-alat listrik : Ampermeter. Motor AC tiga phasa. SF6CB (Sulfur Circuit Breaker). • Menurut sifatnya. 6. air. dilengkapi alat pengaman. 14-32 . Frekuensi meter.11.Sistem Distribusi Tenaga Listrik • APP dimiliki dan tanggungjawab PLN. dapatkan listrik DC berasal dari lsitrik AC ? jelaskan 5. jelaskan skematik pembangkitan listrik Mikrohidro skala 100 KW dipedesaan. Jelaskan bagaimana batubara dapat diubah menjadi energi uap yang selanjutnya menggerakkan mesin uap (James Watt). ACB (Air Circuit Breaker). • Peralatan pengaman arus listrik untuk penghubung dan pemutus terdiri dari :CB (Circuit Breaker). PLTA dibangun di daerah pegunungan yang jauh dari perkotaan. beban listrik terdiri dari : Resistor (R) yang bersifat resistip. Jelaskan secara singkat bahwa energi alam (kayu. angin) dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi oleh manusia pada saat energi listrik belum ditemukan. Soal-soal 1. MCCB (Mold Case Circuit Breaker). 7. Voltmeter. Sebutkan pemakain listrik arus DC untuk proses industri. jelaskan secara singkat cara kerja KRL. Energi minyak makin Mahal ($130/barel). Energi listrik dengan tegangan 1500 Volt DC dapat menggerakkan Kereta Rel Listrik. • Motor-motor dikelompokan berdasarkan jenis arus yang digunakan. • Peralatan tambahan dalam PHB antara lain : Rele proteksi . pengadaan energi listrik alternatip adalah salah satu jawaban atas krisis energi. mencakup KWhmeter dan pembatas arus (MCB). Trafo arus. Induktor (L) yang bersifat induktip dan Kapasitor. 4. Motor AC satu phasa. VCB (Vacuum Circuit Breaker).

cos φ = 0. frekuensi 50 HZ. Suatu bangunan disuplai listrik 3 phasa. 220 V.000 watt bekerja selama 5 jam.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 8. Bagaimana instalasinya? 14-33 . Beban yang ada 400 lampu TL 40 W. 9. 10. Beban listrik 1. balast 10 W.8. berapa harga energi yang harus dibayar pada soal No 3 diatas. Hitung berapa energi listrik yang dikonsumsi. Jika harga energi adalah Rp 700/kWh. 4 kawat dengan tegangannya 220V/380V.

10. 15. 15.8. 15. 15. 15.1. 15.5. 15. 15.6. Pembangkit Mikrohidro Sistem Mikrohidro Langkah Pertama Keselamatan Peringatan Tentang Pengoperasian Mikrohidro Memilih Lokasi Mikrohidro Desain Bendungan Komponen Generator Mikrohidro Instalasi Mikrohidro Pengoperasian Perawatan Dan Perbaikan Spesifikasi Teknik Rangkuman Soal-soal . 15.3.7.11. 15.9.2.4. 15. 15.12.BAB 15 PEMBANGKIT LISTRIK MIKROHYDRO Daftar Isi : 15.13.

Mikrohidro berasal dari kata micro yang berarti kecil dan hydro artinya air. Pembangkit Mikrohidro Pembangkitan Listrik Mikrohidro.1. Beberapa point dari pedoman ini. Tenaga air besaral dari aliran sungai kecil atau danau yang dibendung dan kemudian dari ketinggian tertentu dan memiliki debit yang sesuai akan menggerakkan Turbin yang dihubungkan dengan Generator listrik.2. 15-2 .2 terdiri dari penampungan air dalam bentuk bendungan kecil (A). melalui sebuah pipa yang ujungnya dipasangkan filter untuk menyaring air sehingga kotoran tidak masuk ke pipa dan Turbin.1. pembangkitan listrik dihasilkan oleh Generator listrik DC atau AC. Gambar 15.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15. didesain menunjang keselamatan. Turbin dan Generator Mikrohidro Generator yang digunakan untuk Mikrohidro dirancang mudah untuk dioperasikan dan dipelihara. tapi peralatan dari listrik akan menjadi berbahaya bila tidak digunakan dengan baik. arti keseluruhan adalah pembangkitan listrik daya kecil yang digerakkan oleh tenaga air. Sistem Mikrohidro Sistem Mikrohidro gambar 15. instruksinya menunjukan hal yang wajib diperhatikan dan harus diikuti seperti ditunjukan berikut ini: 15.

2 A. Aliran air dari pipa pesat melewati katup spear (E) untuk mengatur debit air yang masuk ke Turbin air (G). Katup pembuka (D) dipasang sebelum Turbin. ketika dilakukan perbaikan berkala pada Turbin. Pipa lubang angin C. gunanya untuk menutup aliran air ke Turbin.2 Sistem Pembangkit Listrik Mikrohidro Keterangan gambar 15. 15-3 . Air buangan dialiskan kesaluran pembuangan dan kembali kesungai. sudu-sudu Turbin akan memutar poros Turbin yang dikopel langsung dengan Generator listrik (F). Dudukan Turbin Pipa menuju Turbin sering disebut pipa pesat (C). Turbin H. dilengkapi dengan pipa pernapasan udara (B) gunanya agar udara yang terjebak dalam pipa bisa keluar dan tidak menghantam sudu-sudu Turbin. Katup pembuka atau Gate valve E. Generator akan menghasilkan energi listrik yang siap digunakan untuk berbagai kebutuhan. Pipa pesat atau Pipa pesat D. Generator G. Akibat energi potensial air.Pembangkit Listrik Mikrohidro Gambar 15. Tangki air dari bendungan B. Spear valve F.

2. Langkah Pertama Keselamatan Listrik membantu kehidupan kita.hati terhadap bahaya sentuhan dan kejutan listrik. kerusakan Generator Mikrohidro mungkin tidak dapat diperbaiki dan membutuhkan pengawatan total/ total rewiring. Badan Generator Mikrohidro harus di bumikan.coba untuk memutuskan kabel atau membuka alat untuk perbaikan saat Generator sedang kerja. • Jangan lupa untuk melumasi bearing pada waktu yang telah disarankan. Debit aliran merupakan jumlah dari air yang melewati Turbin tiap waktu.8 H. Beritahukan anak-anak tentang bahaya sentuhan langsung ke listrik.3. tanyakan pada ahlinya. • Dibawah kondisi ketinggian air yang telah ditentukan pedoman ini. GMH mampu membangkitkan tenaga yang besar dari output rata-rata. Memilih Lokasi Mikrohidro Ada dua faktor yang mempengaruhi output daya Generator Mikrohidro. 15. Jika pemakaian tenaga melebihi daya maksimum yang terdapat di pedoman ini. Jangan pernah membiarkan sambungan listrik basah. Jangan izinkan mereka bermain dengan sambungan listrik..5. Hati. 4. 6. beban besar dan peralatan mungkin harus dikurangi. Cabut kabel utama terlebih. Q …… KW . Juga dapat terjadi jika diameter pipa melebihi diameter yang disarankan. 15.4. jika tidak dilakukan akan mengakibatkan penggunaan yang melebihi batas sehingga umurnya akan pendek. yang diukur dalam meter. Jangan coba. Peringatan Tentang Pengoperasian Mikrohidro Generator Mikrohidro (GMH) didesain agar mudah untuk dioperasikan dan mudah untuk diperbaiki. 5. Jika ada pertanyaan tentang keselamatan. tabel berikut menunjukan bermacam kombinasi ketinggian dan aliran air untuk mencapai output daya maksimum yang diinginkan untuk tiap model : Daya output Generator Dimana : H = tinggi efektif jatuh air (m) Q = debit air liter/detik 15-4 Pout = 9.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15. Bagaimanapun juga peringatan mengenai langkah pengoperasian harus dituruti untuk menjaga kelangsungan usia pakai GMH. 3. Ketinggian jatuh air merupakan jarak vertical antara Turbin dengan bendungan air. yang diukur dalam liter/detik. tapi listrik menjadi berbahaya jika pencegahan yang sederhana tidak dipatuhi 1. yaitu ketinggian jatuh air dan debit aliran. Selain itu. • Pastikan Electronic Load Kontroller di set kurang lebih pada 220V. Jauhkan jari dari Turbin yang berputar.

9 4. Gambar 15.0 7.1.0 8. 15.7 kW.3 28m 36.9 30m 37. Pengukuran ketinggian Jalan ke atas daerah dari tempat landai dimana kamu akan menempatkan Turbin ke sumber air berada atau lakukan kebalikannya. Pengukuran Ketinggian Ketinggian jatuh air merupakan tinggi vertikal dimana air mengalir masuk ke pipa pesat lalu turun ke permukaan Turbin.0 Sebagai contoh.3 Mengukur ketinggian jatuh air. menggunakan table maka akan menghasilkan daya listrik sampai 4.7 5. (kW) 24m 33.6 6.3 liter/detik. gunakan pita pengukur/ meteran dan klinometer atau spirit level. Daya Output hubungannya dengan tinggi dan debit Ketinggian air H (m) Aliran air Q (l/ sec) Output Turbin (kW) Output Gen.0 7.2 6.4 9. jalan ke bawah dari tempat landai darimana sumber air berada ke tempat terbaik untuk menempatkan Turbin 15-5 .2 34m 39.6 32m 38.4 5.1. Untuk mengukur.Pembangkit Listrik Mikrohidro Tabel 15.3 5. Kurang akurat tapi digunakan sebagai cara alternatif yang bermanfaat untuk anda membuatnya sendiri dari setengah tube/botol transparan yang diisi dengan air. Ikatlah dibagian atas dari 1 meter panjang stik lalu ujung bagian horizontal dari ujung atas bagian yang miring seperti tingkatan arus. jika ketinggian jatuh air 24 meter dan debit aliran air 33.6 10.7 26m 34.2 8.5. Ini ditunjukan pada gambar sistem.

pipa yang pendek (kurang dari 1 meter) dipendam kedalam “bendungan” kecil gunakan lumpur atau semen. Bertambah besarnya daya keluaran memang menguntungkan.3.5. Jangan mencoba untuk melebihi ketinggian yang telah disarankan. Bagi volume ember (dalam liter) dengan waktu pemenuhan (dalam detik) untuk memperoleh aliran rata-rata dalam liter per detik. 15. Sebagai contoh ketinggian 24m tekanan 34psi sampai ketinggian 34m dengan tekanan 48psi.Pembangkit Listrik Mikrohidro Dengan menuju tingkatan yg diraih dan mengulang kembali prosesnya ketinggian total dapat terukur gambar 15. ketinggian harusnya antara 24m dan 34m. Dari gambar 15. Ujung atas pipa berada dibawah permukaan air dan bagian pipa lainnya mengalirkan air dari kali. maka output yang dihasilkan akan berkurang. Untuk kedua model mikrohidro tertentu. Metode lain digunakan untuk pengukur tekanan dan panjang selang yang akurat.422 psi / meter dari ketinggian. tapi jika terlalu tinggi rotor akan berputar sangat cepat dan mengakibatkan berkurangnya umur bearing. segera tempatkan ember untuk menampung aliran dan saat itu adalah waktu untuk mengisi ember.2. Gambar 15. Ambil bagian pipa yang memiliki diameter yang sama dengan pipa pesat.4 dibawah. Tapi bila lebih besar maka daya keluarannya pun akan bertambah. Pengukuran Aliran Jalan terbaik untuk mengukur aliran air ialah dengan menggunakan “metoda bendungan”. Lakukan pengukuran sendiri atau minta petunjuk konsultan ahli yang berpengalaman. jika ukurannya lebih pendek. Metoda lainnya ialah “metode bejana/ bak”. Pengukuran tekanan menunjukan1. Ukuran ember untuk menampung air berkisar 100-200 liter (setengah atau memenuhi tong minyak kosong). Ketika muncul aliran yg tenang.4 Mengukur Debit Air Pengukuran Aliran : Aliran= Volume ember (liter) Waktu untuk memenuhi ember (detik) 15-6 . masukan ke kali atau bendungan dimana ada aliran datang dan lakukan pengukuran aliran dari sini.

5. Jalur pipa a) yang melingkar b) jalur memintas Pipa pesat diwakili oleh garis hitam A-B. 15-7 . Selain ketinggian vertical penting yang harus diperhatikan tingkat kemiringan horizontal dan panjang pipa pesat dapat berubah walaupun kemiringan pipa pesat yang seharusnya >600. Pada gambar B. Ini merupakan pemborosan panjang dan biaya. cobalah untuk membuatnya tetap berdiri dan memghindari bagian tajam atau sudut.5b.5a dan 15. Katup gate harus dipasang agar dapat menutup kapan saja saat terjadi tekanan tinggi diujung pipa pesat. Saat memasang pipa pesat. bagian dari puncak kemiringan mungkin membutuhkan penggalian saat (ditempat lain) pipa pesat mungkin membutuhkan kutub bantu dsb. Air yang dibawa ketempat Turbin sebelumnya dan mengurangi panjang pipa pesat yang dibutuhkan.3 Persiapan Lokasi Mikrohidro Saat lokasi ketinggian dan aliran sudah pada tempat yang benar baru kemudian panjang dan posisi pipa pesat dapat ditentukan. pada gambar yang pertama (A) pipa pesat mengikuti jalur kali. jalur yang paling gampang(langsung) dipilih untuk mengurangi panjang dan biaya. Jalan terbaik untuk mengurangi panjang pipa pesat ditunjukan pada gambar 15.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15.5. coba jaga agar selalu lurus dan terhindar. Gambar C menunjukan dimana jalur saluran alternatif atau “power conduit” memotong sisi bukit. Saluran pipa air mengikuti kontur bukit dan hanya memerlukan parit sederhana yang luasnya 30cm x 30cm. Pipa pesat harus terbuat dari baja dengan diameter 150mm dan ketebalan 4mm. Gambar 15. Untuk melakukannya.

dls. Bagian atas pipa pesat biasanya tidak ditempatkan dibawah tapi beberapa jalur dinding bagian atas bendungan jadi bagian bawah bendungannya seolah mengendap agar dapat menarik. 3) Memiliki jalur yang memudahkan untuk menghentikan aliran air saat mengganti bearing. 15. dsb.6. Ukuran desain yang ideal ditunjukan pada pada gambar sistem walau pada point utama digunakan untuk memastikan jangan sampai bendungan kosong. tumbuh-tumbuhan atau kotoran lainnya masuk kedalam pipa pesat karena dapat menggangu Turbin.5 kali volume air di pipa pesat [1750 liter]. Dari aliran yg Turbin yang tersumbat. Desain Bendungan Aspek terpenting bagI bendungan diantaranya : 1) Membiarkan air mengalir terus menerus ke pipa pesat.Pembangkit Listrik Mikrohidro Gambar 15.7. Mencakup aspek keselamaatan untuk menajuhkannya dari jangkauan anak dan binatang yang mungkin masuk kedalam pipa pesat.6 Pipa melintas dan pembuangan air ke sungai Bendungan atau tangki penampung air di atas pipa pesat di desain agar dapat menampung volume air kira-kira 2. pasir. sehingga Turbin terus berfungsi 2) Memilki pengaman yang cukup untuk mencegah pasir. 15-8 . lumpur.menunjukan tandon air yang didesain sederhana yang bias digunakan untuk segala keberhasilan. Gambar 15.

Tandon air terbuat dari kotak anti air terletak di saluran daya/ power dan pipa pesat.Generator • Pipa pesat adaptor flange • Katup • Gasket karet • Mur dan baut M24 • Kontrol panel termasuk pengatur beban listrik termasuk panel electronic load kontroller • Ballast merupakan dummy-load. Komponen yang diperlukan dapat diperoleh di daerah setempat.Pembangkit Listrik Mikrohidro Saringan sampah akan membantu menjaga agar bendungan selalu bersih dan tertutup untuk anak-anak. dapat juga dipakai pipa pralon dengan kualitas terbaik dengan ketebalan tertentu. jadi aliran tidak terhambat dan 50% daerah ujung permukaan pipa harus dibor dengan lubang yang luasnya 1cm Gambar 15. Fitting elbow disisipkan diantara inlet pipa pesat dan pipa pipa pesat.7. Pengawatan ke konsumen dengan kabel berisolasi jenis NYM 15-9 . panjang 28-40m dan diameternya 150mm Kabel dari Generator ke konsumen. Tandon Air 15. Ukuran lubang sangat penting. Aliran pipa pesat dihentikan oleh tarikan kawat jadi inlet keluar dari air. Sumbat pengering digunakan secara periodik untuk mengosongkan pasir dan daun atau benda lainnya yang dapat menyumbat. Pipa pesat sebaiknya terbuat dari baja.7. Komponen tambahan yang harus ada mencakup : • • • Pipa baja dengan ketebalan 4mm. Komponen Generator Mikrohidro Komponen Generator Mikrohidro terdiri atas : • Rakitan Turbin. yaitu turbin Generator dan electronic load kontroller. Sistem terdiri dari dua komponen utama. Ujung pipa dilubangi selanjutnya air masuk.

Lakukan pembersihan dengan jarak antara Turbin dan tanah paling sedikit 500mm. Aspek Mekanik Setelah menemukan lokasi yang sesuai kemudian pekerjaan sipil selesai. Sudutnya bergantung dari kemiringan . 2) Sisipkan katup gate ke nozzle injector pipe followed dengan menggunakan elbow~120° yang akan tersambung ke pipa pesat.8 Pemasangan Turbin dan Generator a) tampak samping b) tampak dari atas 15-10 . Pembersihan seperti ini diperlukan untuk menjaga agar tidak ada percikan hitam yang akan mengganggu kinerja Turbin. Instalasi Mikrohidro 15. Lakukan ini seperti gambar 15.8.1. perangkat mikrohidro siap untuk dipasang.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15.8 : 1) Baut Turbin ke dudukan atau bagian dasar Turbin. Dudukan Turbin harus terbuat dari beton dengan 6 buah baut M24 menancap padanya. Gambar 15.8.

Saluran udara dibagian atas yang terbuka harus lebih besar daripada ketinggian air di bendungan. Meskipun tidak diharuskan.jenis sinkron.9 sebagai berikut : 15-11 . ELC dipasang parallel dengan output Generator. Beban dikendalikan oleh electronic load controller (ELC) yang terpasang pada kontrol box. satu yang utama dan satunya sebagai tambahan.Pembangkit Listrik Mikrohidro 3) Tempelkan elbow 120° (atau yg lain) ke dinding foreway. Jumlah beban ballast utama 66% dari total. Alihkan air dari bendungan atau block pipa pipa pesat lainnya selama proses pemasangan berlangsung 4) Mulai memasang pipa pesat. Dua beban ballast digunakan. Disini ballast tambahan digunakan. Ini dapat dikurangi dengan meng-nolkan ballast. jadi tegangan yang menyebrang dari ballast akan memberi bentuk gelombang yang bagus. Hubungan sistem gambar 15. Aspek Elektrik Generator menggunakan magnet permanent. Untuk melakukannya ELC menyambungkan daya yang bukan digunakan konsumen ke beban ballast pemanas udara dimana kelebihan energy dibakar dalam panas. sedang beban ballast tambahan hanya 33%. maka ballast tambahan secara otomatis tersambung dan saat daya turun dibawah batas yang diijinkan secara otomatis sambungan akan terlepas. Gelombang distorsi disebabkan oleh sambungan triac atau Thyristor menyebabkan Generator panas. 15. Ini akan menempel dengan lubang angin/ ventilasi yang mengalirkan udara masuk dari pipa pesat. jadi dengan tidak sengaja akan memutuskan rangkaian. ballast tambahan membiarkan Generator kerja pada temperatur yang rendah.2. Jika daya pada ballast utama boros melebihi batas.8. ELC didesain untuk mempertahankan tegangan agar konstan dan frekuensi yang mendekati konstan dengan menjaga beban elektrik yang konstan pada Generator. Pemasangan dapat dimulai dari arah yang berbeda. Beberapa orang mungkin menginginkan pemasangan pipa pesat sebelum terpasang diantara kedua elbow.

dirumah pemakai.Pembangkit Listrik Mikrohidro Gene rator AC Jaringan utama atau papan distribusi Power supply AC 220v ELC (electronic load controller) Ballast Gambar 15. Hubungan kontrol kelistrikan Untuk menyambungkan komponen listrik. Sebagai contoh 11kW atau 12kW untuk 10kW Generator. Beban ballast menjadi panas. Lakukan ini dengan menyisipkan salah satu ujung kawat Mikrohidro yang panjangnya 16mm dan ujung bahan logam atau tiang logam lainnya yang tidak jauh dari ground Mikrohidro Sambungkan Generator dengan kontrol box. pasang ditempat yang aman. sampai 1000 C. 2 3 4 5 6 15-12 . Sistem sekarang siap untuk pengoperasian yang pertama. dari kontrol box ke beban user dan dari kontrol box ke ballast harus sudah menggunakan kawat tembaga berisolasi multistranded. Beban ballast utama akan berkisar 7kW atau 8kW (+ 66%) sedang ballast tambahan berkisar 3kW atau 4kW (+ 33%). Tutup pintu kontrol box. Diagram pengawatan menunjukan semua lokasi penyambungan tapi catatan sebagian besar komponen sudah disambungakn ke kontrol panel Sambungkan kabel beban user L1 dan L2 dengan kontrol box dan house Sambungkan beban ballast utama dan tambahan ke kontrol box seperti yang ditunjukan. ikuti langkah berikut : Hal yang berhubungan dengan listrik sebaiknya dipasang oleh orang yang kompeten dalam hal pengawatan pada keadaan bertegangan. yang ukurannya lihat buku PUIL. Semua pengawatan dari Generator ke kontrol box. 1 Pasang kontrol box di tempat yang terlindung dari hujan dan sinar matahari. Bumikan (ground) Mikrohidro. Sistem penyambungannya dengan dasar netral. mungkin salah satunya di powerhouse bersama Turbin atau ditempat lain. Netral dan phasa digabungkan ke element beban dalam waktu yang sangat cepat. Gabungan (total) beban balas berkisar (max) 10-15% lebih besar dari output Generator. untuk pencegahan kerugian dan bahaya api.9.

temperature yang berlebih atau masalah lainnya.Pengoperasian 1 2 3 4 5 Periksa saluran daya dan bendungan apakah terbebas dari puing-puing Pastikan Turbin mati dan seluruh jalur supply aliran listrik mati.10 Electronic Load Kontroller 15. setelah satu atau dua menit tegangan akan turun ke 220V Selalu putar handle katup dengan perlahan dan hati-hati untuk menghindari perubahan yang mendadak bagi tekanan air di pipa pesat. Saat air mengalir. sambil mengamati bila ada kebisingan yang aneh.9. sesuaikan aliran air dengan menggunakan katup spear jadi tegangan tetap pada 230V. Tegangan akan bertambah sampai Voltmeter di kontrol box membaca 230V. Biarkan katup gate selalu terbuka saat Turbin beroperasi dan hanya akan tertutup saat perbaikan Turbin Isi bendungan dan biarkan air mengalir dengan bebas masuk ke dalam pipa pesat. jika tegangan bertambah terus. timbul energi listrik. Switch di kontrol box harus dalam posisi”off” Buka lebar-lebar katup spear dan katup gate. Turbin akan berbutar dan air akan mengalir keluar dari Turbin (ke pengering). 6 Operasikan seperti ini selama 15 menit.Pembangkit Listrik Mikrohidro Gambar 15. Dan jika OK gunakan switch pada pintu kontrol panel untuk menghubungkan daya ke pengguna. Perubahan mendadak di akibatkan efek air yang beradu dan pecahnya pipa pesat. 15-13 .

Jangan coba untuk mengeringkannya dekat dengan api. Keduanya telah dilumasi di pabrik tapi memerlukan pelumasan kembali setiap 3 bulan sekali. Pengembunan dalam Generator merupakan hal yang normal di daerah tropis dan tidak berpengaruh bagi kinerja Mikrohidro. Sangat penting memasang Mikrohidro ditempat yang tidak berpotensi banjir. 15. diperlukan untuk melindungi Generator dari hujan atau dengan membangun gudang kecil yang dapat dikunci (lebih disukai). tapi periksa bearing untuk melihat jika pada bearing terdapat air. pastikan power socket juga kering. Kemudian secara perlahan tutup katup spear dan tutup katup gate.10. hati-hati dengan Electrocution Jangan menyumbat peralatan secara langsung ke Mikrohidro tanpa menggunakan beban yang terkontrol.1.10. Sebelum digunakan lagi.Pembangkit Listrik Mikrohidro 7 Tegangan harus stabil saat beban hidup atau saat mati. Perlindungan sederhana dengan menggunakan atap. Pelumasan Bearing Mikrohidro memiliki dua bearing di Turbin yang harus diperiksa secara berkala. Bertambahnya gesekan juga akan mengurangi daya keluaran. Tegangan perlu diperiksa dan disesuaikan jika ukuran aliran air berubah. untuk mematikan sistem 15. Jjika tegangan turun sampai 220V periksa kondisi aliran air. Ikuti petunjuk berikut. yang akan merusak peralatan anda. Turbine harus berhenti terlebih dulu sebelum dilumasi. switch di kontrol box diposisikan “off”. Selalu bersihkan nipple sebelum melumasi. Perawatan Dan Perbaikan Perawatan umum untuk Mikrohidro anda akan menambah umurnya. Sebelum melakukan pelumasan. 8 Kapan saja ketika mematikan sistem. Gunakan tangan yang kering. Karena akan dihasilkan tegangan yang salah. Satu dekat dengan bagian dalam casing Turbin dan yang satunya berada di shaft Turbin dekat Generator. bersihkan nipples dan berikan pelumas extra dengan menggunakan semprotan pelumas. Tidak akan timbul kerusakan permanent. Jika didalam ruangan Generator menjadi lembab perlu untuk dilakukan pengeringan. Jangan biarkan terjadi hubungan elektrik menjadi basah. yang pertama tutup katup spear untuk menghentikan aliran air dan kemudian Voltmeter menunjuk ke 100V. 15-14 . Bearing Generator pilih yang jenis Free Maintenace Tidak melumasi bearing secara tepat waktu dan mengurangi umur pakainya dan akan memmerlukan penggantian.

15. Untuk mengganti bearing dan seal.10. Jika fuse putus dan diganti dengan yang ukurannya lebih besar.3. atau jika terjadi hubung singkat fuse akan putus. hanya ada dua pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dulu pada waktu yang teratur. Kondisi ketinggian dan aliran terpenuhi.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15. Tunggu sampai dulu sebelum kabel disambungkan kembali dan sistem mulai kerja lagi. 15-15 .10. tapi Mikrohidro tidak kerja. maka dimasa yang akan datang jadi berbahaya bagi Generator. Itu berarti sistem tidak terpasang denga benar. Penggantian kedua bearing Turbin dan bearing seal setiap dua tahun. ikuti langkah berikut : 1 Matikan sistem kelistrikan 2 Tutup secara perlahan katup gate untuk menghentikan aliran air ke Turbin 3 Lepaskan kabel power dari Generator 4 Tunggu sampai tidak aliran menjadi kecil atau tidak ada aliran air keluar dan Turbin berhenti berputar 5 Lepaskan kopeling langsung antara shaft Turbin dengan shaft Generator 6 Lepaskan pengggerak/ runner dari shaft Turbin 7 Lepaskan bearing yang dekat runner dengan menarik shaft Turbin kearah Generator 8 Lepaskan bearing yang dekat runner dengan menarik shaft Turbin kearah Generator 9 Untuk mengganti seal bearing. pastikan seluruh bagian terpasang ditempat yang tepat dan seluruh bautnya sudah terpasang kencang 11 Buka kembali katup gate dengan perlahan sampai aliran air kembali normal. Troubleshooting Jika ada masalah yang terjadi. Ini akan menghentikan aliran arus. Sangat penting untuk mengganti fuse dengan spesifikasi yang sama. Mengganti Bearing dan Seal Bagian dari pelumasan bearing. Periksa setiap langkah sekali lagi 2. periksa bagian seperti dibawah ini: 1. Ini biasanya tersedia di sebagian besar Negara. Jika ini terjadi Generator memrlukan pengawatan yang baru dengan motor yang sudah sudah lama pengalamannya. tapi jika ragu hubungi dealer anda. Untuk beberapa saat Mikrohidro sudah menghasilkan listrik dan kemudian aliran listriknya mati Jika petunjuk dari pedoman ini tidak diikuti dan pengunaan daya terlalu besar. tekan casing bearing keluar dengan menggunakan tongkat baja yang pendek 10 Saat perakitan ulang.2.

Selain itu periksas bendungan dan pipa pesat. jika perlu saring dan bersihkan.11. Untuk melihat apakah tegangan stabil dan apakah memiliki kotak kontrol. kabel panjang akan menghasilkan kehilangan output yang kecil. Spesifikasi Teknik Berikut ini dua model Mikrohidro. Setelah kerja beberapa saat diketahui output jadi berkurang Resistansi kabel harus tepat. Juga periksa bagian casing Turbin harus terbebas dari dedaunan atau kotoran lainnya dan bearing Turbin sudah cukup dilumasi.4kW to 16kW 100%+15% 100%+15% 220V~ 220V~ 50 Hz 50 Hz 70 Hz 70 Hz 1500rpm 1500rpm 1000mm 1000mm 80kg 100kg Turgo Turgo 270mm 270mm 20 20 1 2 Sinkron Sinkron Magnet Magnet Sesuai ukuran Sesuai ukuran SKF 46208 SKF 46208 1 Daya keluaran 2 Beban maksimum 3 Tegangan 4 Frekuensi daya keuarant 5 Frekuensi pada kecepatan beroperasi 6 Kecepatan 7 Tinggi 8 Berat 9 Tipe Turbin 10 Diameter 11 Nomber emebr 12 Number pipa 13 Generator 14 Fuse 15 Ukuran bearing ujung Generator 15-16 .baru ini berkurang Berkurangnya daya keluaran berarti menunjukan putaran Turbin melambat dari pada biasanya. Pengujian di kali menunjukan bahwa Mikrohidro menghasilkan output yang baik (4. ujilah dengan tukang listrik yang ahli. Tegangan 220V dengan kondisi beban nol.7kW to 8kW 9. 15. untuk jarak kawat memungkinkan untuk menambah diameter kabel 5. kurangi pemakain beban. Pastikan ada cukup air yang masuk ke bendungan dan yakinkan sumber air memiliki aliran sesuai dengan yang diinginkan. Daya keluaran baru.7kW sampai 16kW tergantung model). Hilangnya daya untuk panjang kabel 100m kurang lebih 10W.Pembangkit Listrik Mikrohidro 3. dengan daya berbeda kode A dan B yang berbeda kapasitas dayanya Tipe A Tipe B 4. tapi saat beban dipasang tegangan menjadi semakin turun Telah terjadi beban berlebih. 4.

Ukuran bearing ujung Turbin 17 Seal size 3 18 Kabel yg disarankan 19 Temperature 20 Kelembaban Catatan : SKF 46208 8x58x10mm 16mm2 5 . pipa pesat. Rangkuman • • • Mikrohidro adalah pembangkit listrik sekala kecil dengan ukuran puluhan KW sampai ratusan KW dengan memanfaatkan potensi air. baik mekanik dengan memberikan pelumasan pada bearing. Komponen Mikrohidro terdiri atas: bendungan. Pemeliharaan dilakukan secara rutin. Gambarkan skematik diagram dari sejak tendon air sampai ke turbin air. pada periode tertentu ganti bearing. 2.90% SKF 46208 38x58x10mm 20mm2 5 .12. dengan electronic load controller. musin kering untuk mengetahui potensi maksimum dan potensi minimumnya. tinggi jatuh airnya 20 meter. turbin air. Hitunglah berapa KW potensi terpasang listrik secara teoritik. generator.500C 0 .90% Untuk menghasilkan daya keluaran sebesar 1. Jelaskan cara kerjanya. Pengukuran debit air dilakukan sepanjang waktu/ musin. Soal-soal 1.500C 0 . Daya yang dibangkitkan sebanding dengan tinggi jatuh air dan besarnya debit air per detiknya. dummy load dan beban. electronic load control. 15. Gambarkan skematik diagram hubungan generator. kabel listrik dari pembangkit ke pemakai. Jika beban lebih besar menyebabkan kerusakan permanen pada stator. 3.2 ialah dengan mengolah keluaran ketinggian dan kondisi aliran secara spesifik. baik musim hujan. memiliki debit 20 liter/detik.Pembangkit Listrik Mikrohidro 16. Keluaran yang lebih besar mungkin dihasilkan bila ketinggian lebih besar atau aliran lebih cepat dari yang disarankan.13. 15-17 . jelaskan cara kerjanya. • • 15. Lokasi memiliki potensi untuk pemasangan Mikrohidro.

15-18 . sisi generator dan perangkat elektriknya. 5. Jelaskan tatacara pengoperasian Mikrohidro saat pertama dihidupkan. Apa fungsi dipasang dummy load ? jika beban terpasang 50% apa yang terjadi pada dummy load dan jika beban terpasang 75%nya apa yang terjadi pada dummy load.Pembangkit Listrik Mikrohidro 4. kali 6. Jelaskan pentingnya pemeliharaan Mikrohidro. baik pemeliharaan sisi turbin. dan jelaskan cara mematikan yang benar dan tepat.

1977 A.Dr. 2000 Bambang.School of Industrial Engineering Purdue University Diesel Emergensi. Philips. 1990 Cathey. 7th Edition Volume II. 1993 Aly S. 1982 A. E.2001 Chang. Electrical Systems for Architects. 1995 Badan Standarisasi Nasional SNI 04-0225-2000.. Taschenbuch Elektrotechnik. USA. Verlag – AG. Electrical Machines : Analysis and Design Applying Matlab. Pengantar Teknik Tenaga Listrik. Lighting Fittings Performance and Design. Penerbit Erlangga. R. Jakarta. Pergamou Press. 1968 A. Penerbit Universitas Indonesia. The Lineman’s and Cableman’s Handbook. 2000 Abdul Kadir. 7th Edition. VEB Verlag Technik. Pabla. Berlin. 1988 Brian Scaddam. van C. McGraw-Hill.DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 A R Bean. 1980. Chapman and Hall. McGraw-Hill. Jakarta 1995. Switchgear Manual 8th edition. American Electrician’s Handbook. Kurtz. Mechanical and Electrical Equipment for Buildings. 2nd Edition. England. Instalasi Listrik Rumah Tangga. Soepatah. Gava Media : Yogyakarta. 3rd Edition. LP3ES. 1994 Brian Scaddan. USA. John Wiley & Sons. R. Materi kursus Teknisi Turbin/Mesin PLTA Modul II. Schweiz. Benyamin Stein cs.2004 . Yayasan PUIL. Philips Lighting. Jakarta. McGraw-Hill. Distribusi dan Utilisasi Tenaga Listrik. USA. Dadras. Braunschweig. Canada. 2003 By Terrell Croft cs.T. Philippow.Singapore. Dournelley & Sons. PLC Konsep Pemrograman dan Aplikasi (Omron CPM1A /CPM2A dan ZEN Programmable Relay). Warrington. Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000. Reparasi Listrik 1. Jimmie . 1996 Catalog. Sistem Distribusi Daya Listrik. 1986 Eko Putra. The IEE Wiring Regulations Explained and Illustrated. Clags Ltd. Sprecher+Schuh Verkauf AG Auswahl. 1968 Edwin B.J. Jakarta.C. Aaraw. PT PLN Jasa Pendidikan dan Pelatihan. Penerbit Erlangga. DEPDIKBUD Dikmenjur. 1994 Abdul Kadir. Protective Relays. 1970 Catalog..R. Armatur dan Komponen. Soeparno. Elektrotechnik.Agfianto.S. Daschler. 9th Edition. 1986 Bernhard Boehle cs. Programmable Logic Controller. Catalog.

New York. Verlag Europa – Lehr Mittel. Verlag. Karyanto. “Tabellenbuch Elektrotechnik Elektronik” Umuler-Boum. Suyatmo. Electrical Installation Hand Book. Fachkunde Elektrotechnik. dalam bahasa 47 48 .E. Mueller. Etall. Abdul.Seip.. Berlin. 1990 Haberle Heinz. Wayne Beoty. Pengoperasian Emergency Diesel Generator. Indonesia Power UBP. Electrical Installation Technology. Traister and Ronald T. Bryan. Rineka Cipta. Lamulen. GTZ GmbH. USA. 2006 L. Gagasan Usaha Penunjang Tenaga Listrik . Electrotechnik Fur Praktiker. Braunschweigh. Murray. Utilization of Electric Power and Electric Traction. Industrial Text Company. GmbH. GmbH.Tabellenbuch Elektrotechnik. H. John Wiley & sons. Electrical Power Engineering proficiency Course.1989. Vollmer GmBH & Co. Fachkunde Mechatronik. Vollmer. 4th Edition. 1997 M. Verlag Europa-Lehrmittel. Panduan Instalasi Listrik. P. 1984 Michael Neidle. Heinz. Ferlag Europa-Lehrmittel. United States of America. 1992 Iman Sugandi Cs. Standard Application of Electrical Details. Teknik Listrik Instalasi Penerangan. 2005 George Mc Pherson. John Wiley & Sons. Verlag Europa – Lehrmittel.Copper Development Centre South East Asia.24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 37 38 39 40 42 43 44 45 46 Ernst Hornemann cs. Jullundur City. Electrical Engineering Materials Reference Guide. 3rd edition. 1981 Graham Dixon. Programmable Controllers Theory and Implementation. E. 2004 Friedrich. USA. E. Metropolitan Book. Bryan. Panduan Reparasi Mesin Diesel. Electrical Appliances (Haynes for home DIY). McGrawHill. Second Edition. 6th Edition. 1990. Third Edition. Gupta. Vollmer GmbH & Co. Nourwey. AT Verlag Aarau. Ris. Tabelleubuch Elektroteknik.A. PT. L. 1992 Gunter G. 2000 Gregor Haberk. Commercial Electrical Wiring. Kadir. 2000 H. 2000. Klaus Tkotz. Saguling. Fachkunde Electrotechnik. Transformator. Penerbit Pedoman Ilmu Jaya. 1998 G. 1986 Haberle. Gupta. 2001. R. PT Elex Media Komputindo. 1983 F.. Etall. J. 2000. McGraw-Hill. B. 1978 Jerome F.A. An Introduction to Electrical Machines and Transformers. New Delhi. kG.kc. Jakarta. Verlag. Instruksi Kerja Pengujian Rele. Nourney. 1984 John E. Jakarta. Workshop Practice in Electrical Engineering. Nourenweg.

Glencoe/McGraw-Hill. John Wiley and Sons. P. 1999 Robert W. Sumanto. Kissell.W. Yogyakarta. Van Harten. Konversi Energi Selubung bangunan pada Bangunan Gedung. Jakarta. Diktat Programmable Logic Controller (PLC).L. Electromechanics and Electric Machines. Principles of Electric Machines and Power Electronics. Electric Motor Repair. 1988 Rosenberg. Trimitra Mandiri. 2000 Soedhana Sapiie dan Osamu Nishino. Verlag GmbH. Robert. Instalasi Listrik Arus Kuat 2. PT PLN JASDIKLAT. Canada. Ruang artistik dengan Pencahayaan. R. 1988. Bina Cipta.. New Jersey. New York. BSN. 1998. E. Pradya Paramita. 2006 SNI. Jakarta. Canada. 1970. Modern Industrial / Electrical Motor Controls. Van Hoek. P. PT PLN Persero. PT PLN JASDIKLAT. 1980 Rob Lutes. 1997. Thomas E. Setiawan. Ir. Mesin Arus Searah. 1999 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 Nasar. Frank D. B. New Delhi.K. Peter Hasse Overvoltage Protection of Low Voltage System. Griya Kreasi. 1995.SEN. Pengoperasian Mesin Diesel. Politeknik Negeri Bandung. Koln. 1983. Generator.1984 Sofian Yahya. Theraja.1997. 1990 . Industrial Electronics.1996. Nirja.S. PT PLN Persero. Teknik Elektro untuk Ahli bangunan Mesin. PT Pradnya Paramita. Home Repair Handbook. Troubleshooting and Repairing Small Home Appliances.TM & Mabuchi Magarisawa. A Text Book of Electrical Tecnology. 1989. Pretience Hall. Penerbit Andi Offset. 2000 Soelaiman. Saptono Istiawan S.C. Mesin Tak Serempak dalam Praktek. Pengukuran dan Alat-alat Ukur Listrik. etal. Jakarta. 2nd.Indonesia penerbit Erlangga. Wood. 1998 Petruzella. Februari 2002.A. Holt-Saunders International Edition.

Simbol-simbol Gambar Listrik a. 1 2 3 4 5 6 7 8 Lambang T G M K m µ n p Keterangan tera giga mega kilo mili mikro nano piko = 1 012 = 1 09 = 1 06 = 1 03 = 1 03 = 1 06 = 1 09 = 1 012 . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Lambang A V VA Var W Wh Vah varh Ω Hz h min s n cosφ φ ‫ג‬ f t to z Keterangan ampere volt voltampere var watt watt-jam voltampere-jam var-jam ohm hertz jam menit detik jumlah putaran premenit faktor daya sudut fase panjang gelombang frekuensi waktu suhu impedans Awal Pada Satuan SI No.Lambang Huruf Untuk Instrumen Ukur Lambang Huruf Untuk Instrumen Ukur No.

Contoh : Arus bolak balik. Arus bolak balik. dengan netral. 400V (230V tegangan antara fase dengan netral) 3N dapat diganti dengan 3 + N. 50 Hz. 3 ~ Arus bolak-balik Catatan : a) Nilai frekuensi dapat ditambahkan di sebelah kanan lambang. 1 2 3 4 5 6 7 8 Lambang TΩ GW MW kW mV µA nF pF Keterangan 1 teraohm = 1 012 ohm 1 gigawatt = 1 09 W 1 megawatt = 1 06 W 1 kilowatt = 1 03 W 1 milivolt = 1 03 V 1 mikroampere = 1 06 A 1 nanofarad = 1 09 farad 1 pikofarad = 1 012 farad b. 220V (110V antara setiap penghantar sisi dan kawat tengah). fase tiga. 2 2M_____ 220/110V 4 5 ~ 50 Hz 3 N~ 50Hz 400/230 V . Lambang Gambar Untuk Diagram Lambang Gambar Untuk Diagram Saluran Arus Kuat No 1 Lambang keterangan Arus searah Catatan : Tegangan dapat ditunjukkan di sebelah kanan lambang dan jenis sistem di sebelah kiri.Contoh Penggunaan Awalan Pada Satuan SI No. b) Tegangan dapat juga ditunjukan di sebelah kanan lambang. 2 M dapat diganti dengan 2 + M. c) Jumlah fase dan adanya netral dapat ditunjukan sebelah kiri lambang. Contoh : Arus searah. 50Hz. tiga penghantar termasuk kawat tengah.

9) b) Penjelasan tambahan dapat ditunjukan sebagai berikut : 1) di atas garis: jenis arus. dua penghantar sisi berpenampang 50 mm2 dan kawat tengah 25 mm2. 50Hz sistem mempunyai satu titik dibumikan langsung dan netral serta penghantar pengaman terpisah sepanjang jaringan. 220V (antara penghantar sisi dan kawat tengah 110V). dua penhantar alumunium ver penampang 120 mm2. 2) Di bawah garis: jumlah penghantar sirkit diikuti dengan tanda kali dan luas penampang setiap penghantar. maka jumlah penghantarnya ditunjukan dengan menambah garis-garis pendekatau dengan satu garis pendek dan sebuah bilangan. frekuensi dan tegangan. 6 3 N~ 50Hz / TN-S 7 ’ 8 9 10 11 12 . 400 V. Contoh : Sirkit arus searah. Penghantar Kelompok Penghantar Saluran Kabel Sirkit Catatan : a) Jika sebuah garis melambangkan sekelompok penghantar. Contoh : Tiga Penghantar (No. Sirkit fase tiga. fase tiga. tiga penghantar berpenampang 120 mm2.8 dan No. 110V. sistem distribusi. Sirkit arus searah.No Lambang keterangan Arus bolak-balik. dengan netral berpenampang 50 mm2. 50Hz.

b) Dua dari lima penghantar dalam suatu kabel. 16 a) Ujung penghantar atau kabel tidak dihubungkan.No Lambang keterangan Penghantar fleksibel 13 14 Penghantar pilin diperlihatkan dua penghantar. b) Ujung penghantar atau kabel tidak dihubungkan dan diisolasi khusus. . b) Dua percabangan penghantar 18 Saluran bawah tanah 19 Saluran dalam laut. 17 a) Percabangan penghantar. 20 Saluran udara. 15 Penghantar dalam suatu kabel : a) Tiga penghantar dalam suatu kabel.

luas penampang dan keterangan lainnya dapat diperlihatkan di atas saluran yang menggambarkan lintas pipa. Catatan : Jumlah pipa. yang diperlihatkan jenis arus bolak balik.No 21 Lambang keterangan Saluran dalam jalur atau pipa. 26 Sadap sistem 27 Sadapan hubung seri 28 Unit daya saluran. . 24 Saluran dengan penahan gas atau minyak 25 Titik sadap pada saluran sebagai penyulang konsumen. Contoh : Saluran dalam jalur dengan enam jurusan 22 Saluran masuk orang (manhole) 23 Saluran dengan titik sambung/hubung tertanam.

34 Kotak sambung cabang empat. 33 Kotak sambung cabang tiga. b) Dinyatakan dengan garis tunggal.No 29 Lambang keterangan Penahan daya pada penyulang distribusi. mof sambung lurus. 30 Titik injeksi penyulang daya. a) Dinyatakan dengan garis ganda. 31 Kotak ujung kabel. tiga penghantar. 35 Penghantar netral 36 Penghantar pengaman . mof ujung a) satu kabel berinti tiga b) tiga kabel berinti satu 32 Kotak sambung lurus.

1 Lambang Keterangan a) Sakelar penghubung b) Sakelar pemutus c) Sakelar berselungkup. lambang umum b) Sakelar kutub tiga No. saklar bersekat pelindung 2 Sakelar dengan pemutusan : a) Secara termis b) Secara eektromagnetis 3 Sakelar dengan pelayanan a) Relai termal b) Relai elektromagnetik 4 a) Sakelar. Lambang Gambar Untuk Diagram Instalasi Pusat dan Gardu Listrik No.No 37 Lambang keterangan Penghantar pengaman dan penghantar netral di gabung Contoh: Saluran fase tiga dengan penghantar pengaman dan penghantar netral c. 5 Lambang Keterangan a) Sakelar pengubah aliran .

No. Lambang Keterangan b) Sakelar pengubah aliran dengan kedudukan netral 6 Pemutus sirkit / CB (Circuit Breaker) 7 Pemisah DS (Disconnecting Switch) 8 Pemutus daya LBS (Load Break Switch) 9 NFB (No Fuse Beaker) CB yang tak berwujud fuse 10 a) Pengaman lebur b) Sakelar pemisah dengan pengaman lebur 11 Pengaman lebur dengan sirkit alarm terpisah 12 Kotak kontak .

indikator 16 a) Klakson b) Sirene c) Peluit yang bekerja secara listrik 17 Bel 18 Pendengung 19 Jalur terminal.No. pembumian . lambang umum lampu isyarat b) Lampu kedip. blok terminal 20 Perangkat hubung bagi dan kendali 21 Bumi. Lambang Keterangan 13 Tusuk Kontak 14 Kontak tusuk 15 a) Lampu.

M 26 27 28 Transformator 29 Auto transformator satu fase 30 Sel atau akumulator .G b) Motor . Lambang Keterangan 22 Hubungan rangka atau badan Pembumian rangka 23 24 Penyekatan atau dielektrik 25 Sekat pelindung.No.Penjelasan macam selungkup dapat ditambahkan dengan catatan atau dengan lambang kimiawi logam Garis batas. selungkup Catatan . garis pemisah. sumbu a) Generator .

minyak bumi. 31 Lambang Keterangan Baterai sel atau baterai akumulator 32 Lambang umum dari : a) Instrumen penunjuk langsung atau pesawat ukur b) Instrumen pencatat c) Instrumen penjumlah Contoh : a) Voltmeter b) Wattmeter c) Wh-meter d) (lihat Bagian 2.No.dsb) 37 Pusat tenaga nuklir No. Lambang Keterangan . gas.8.1) Pusat tenaga listrik 33 34 Gardu listrik 35 Pusat listrik tenaga air 36 Pusat listrik tenaga termal (batubara.

38 Pusat listrik panas bumi 39 Pusat listrik tenaga matahari 40 Pusat listrik tenaga angin 41 Pusat listrik plasma MHD (magnetohydrodynamic) 42 Gardu listrik konversi arus searah ke a. 1 Lambang Keterangan Pengawatan (lambang) Catatan .b.b d.Untuk maksud tertentu. Lambang Gambar untuk Diagram Instalasi Bangunan No. ”garis” dapat diganti dengan ”garis putus-putus” Pengawatan tampak (di permukaan) 2 3 Pengawatan tidak tampak (di bawah permukaan) 4 Pengawatan dalam pipa .

No. Lambang Keterangan Catatan-Jenis pipa dapat diyatakan. lambang umum Saluran dari bawah 9 Saluran dari atas 10 Kotak sambung atau kotak hubung 11 Kotak cabang tiga 12 Kotak-saluran masuk utama . jika perlu a) Pengawatan menuju keatas b) Pengawatan menuju ke bawah Catatan: Lambang 5 & 6 1) pernyataan ”ke atas” dan ”ke bawah” hanya berlaku jika gambar dibaca dalam posisi yang benar 2) Panah pada garis miring menyatakan arah aliran daya 3) Pengawatan berpangkal pada lingkaran atau titik hitam 5 6 Pengawatan melalui ruangan secara tegak lurus 7 8 Kotak.

lambang umum b) Kelompok dari tiga buah lampu floresen 40 W . Lambang Keterangan 13 Perangkat hubung bagi dan kendali dengan lima pipa 14 a) Lampu.No. titik sadap lampu dengan pengawatannya b) Lampu dipasang tetap pada dinding dengan pengawatan-nya 15 Kelompok dari tiga buah lampu 40 W 16 Perangkat lampu dengan sakelar sendiri 17 a) Lampu darurat b) Armatur penerangan darurat 18 a) Lampu floresen.

lambang umum 20 Lampu sorot 21 Lampu sebar 22 Lengkapan tambahan untuk lampu luah Catatan : Hanya digunakan jika lengkapan tambahan tidak termasuk dalam armartur penerangan Peranti listrik Catatan-jika perlu untuk lebih jelas dapat diberikan nama Alat pemanas listrik Pemanas air listrik 23 24 25 Kipas dengan pengawatannya 26 Jam hadir (temi clock) 27 Kunci listrik 28 Instrumen interkom .No. 19 Lambang Keterangan Proyektor.

kutub tunggal 32 Sakelar satu arah a) Kutub tunggal b) Kutub dua c) Kutub tiga 33 a) Sakelar tarik kutub tunggal b) Fungsi dari sakelar 30 a) dan 31a) 34 a) Sakelar dengan posisi ganda untuk bermacam-macam tingkat penerangan b) Fungsi dari sakelar a) a) 35 b) a) Sakelar kelompok b) Fungsi dari saklar a) b) . 29 Lambang Keterangan Sakelar.No. lambang umum 30 Sakelar dengan lampu pandu 31 Sakelar pembatas waktu.

Lambang Keterangan 36 a) Sakelar dua arah b) Fungsi dari dua buah sakelar a) yang digabung a) 37 b) a) Sakelar Silang b) Fungsi dari sakelar a) 38 Sakelar dim 39 Tombol tekan 40 Tombol tekan dengan lampu indikator 41 Tombol tekan dengan pencapaian terbatas (tertutup gelas. dsb) 42 Perlengkapan pembatas waktu 43 Sakelar waktu 44 Sakelar berkunci gawai sistem jaga .No.

NAKBA NAHKZAA. Nomenklatur Kabel Code A AA Arti Selubung atau lapisan perlindungan luar bahan serat (misalnya goni/jute) Selubung atau lapisan perlindungan luar dua lapis dari bahan serat (jute) Contoh NKRA. teleks dan sebagainya.No. misalnya untuk 3 buah tusuk kontak 47 Kotak kontak dengan kontak pengaman.NKZAA . misalnya kontak pembumian Kotak kontak bertutup 48 49 Kotak kontak dengan sakelar tunggal 50 Kotak kontak dengan sakelar interlok 51 Kotak kontak dengan transformator pemisah misalnya untuk alat cukur Kotak kontak untuk peranti elektronik misalnya untuk telepon. Lambang Keterangan 45 Kotak kontak 46 Kotak kontak ganda. 52 e.

NEKBA NYBUY NYCY NHSSHCou NYCEY NYCWY C Penghantar konsentris tembaga Selubung penghantar dibawah selubung luar CE CW Penghantar konsentris pada masing-masing inti. NAHKLY NKWKZY 2G Gb H K KL KWK Isolasi karet butil dengan daya tahan lebih tinggi terhadap panas Spiral pita baja (mengikuti F atau R) Lapisan penghantar diatas isolasi.2 kV) Spiral anti tekanan Pita penguat non-magnetis D E F G G Kabel dengan masing-masing intinya berselubung logam Perisai Kawat Baja pipih Spiral dari kawat baja pipih Isolasi karet/EPR Selubung isolasi dari karet NEKBA NYFGbY NYKRG NGA NGG N2GAU NYRGbY.Code B Arti Perisai dari pita baja ganda Selubung dari timah hitam Contoh NYBY. NHKRA NKBA.6/1 kV (1. dalam hal kabel berinti banyak Penghantar konsentris pada masing-masing inti. yang dipasang secara berlawanan arah untuk kabel tegangan nominal 0. NAKBY NKLY. untuk membatasi medan listrik Selubung timbal Selubung alumunium Selubung dari pita tembaga yang terpasang dan dilas memanjang . N2XSEYFGbY NHKBA.

perisai dari tembaga .Code L MK N NA NF NI NO NP O Arti Perisai dari jalinan-kawat-baja-bulat (braid) Kabel dengan selubung timah hitam untuk pemasngan dalam kapal laut Kabel standar penghantar tembaga Kabel standar penghantar alumunium Kabel udara berisolasi dipilin Kabel bertekanan gas Kabel bertekanan minyak Kabel dalam pipa bertekanan gas Perisai-terbuka dari kawat-kawat baja Kabel berpenampang oval Kabel tanpa inti berwarna hijau kuning Contoh NTRLA MK NYA. NYY NAYFGbY. N2XSY NYA . NAKBA NF2X. NFAY NIKLDEY NOKDEFOA NPKDvFSt2Y NKROA NYM-O NYFGbY-O NYKQ NYRGbY NKRRGbY N2XSY Q R RR S Jalinan (brid) dari kawat-kawat baja berselubung-seng Perisai dari kawat-kawat baja bulat Dua lapisan perisai dari kawat-kawat baja bulat .pelindung listrik dari pita tembaga yang dibulatkan pada semua inti kabel bersamasama Pelindung listrik dari pita tembaga yang menyelubungi masing-masing inti kabel Tali penggantung dari baja Selubung isolasi dari XLPE Selubung isolasi dari PVC Selubung isolasi dari polythylene SE T 2X Y 2Y N2XSEY NF2X.

Code Z Z Arti Perisai dari kawat-kawat baja yang masingmasing mempunyai bentuk ”Z” Penghantar ber isolasi dengan beban-tarik Selubung logam dari pita seng Contoh NKZAA NYMZ NYRUZY .

..........3 1.........................................8 Simbol dan fisik Voltmeter ............................................................................................................................................................................ 1........................33 Rangkaian ekivalen sumber arus ..... 1........................................23 Paralel beban dengan sumber DC ....... 1... 1............. 1........................................ 1..................................................................................7 Sumber tegangan DC Power suply ............ 1...........................5 Generator elektrostatis Van de Graff .................18 Kurva konduktansi fungsi tahanan R ........... Batang kaca dan batang plastik yang berbeda muatannya saling tarik menarik....... 1............DAFTAR GAMBAR DAFTAR GAMBAR Bab 1. 1. 1................37 Hubungan Segitiga dan hub bintang ................................................. 1........................................................17 Kumpulan atom membentuk material .................10 Arus listrik mengalir ke beban .................................. 1.............11 Atom terdiri atas proton dan elektron ..................................24 Aplikasi hukum Kirchhoff tegangan ...............................................................35 Rangkaian tahanan a) sebenarnya b) disederhanankan c) hasil akhir ........ 1..........................................20b Kurva arus fungsi tahanan ..........................27 Pengukuran tahanan nilai R kecil ...........16 Kurva rapat arus fungsi luas penampang ................................................................................... 1................................................. 1................................9b Voltmeter diujung-ujung beban ............ Batang plastik yang bermuatan sama saling tolak menolak .......................................................12 Aliran listrik merupakan aliran elektron ...... 1...................................9a Mengukur tegangan ................14 Mengukur arus dengan Ampermeter ....................1 1......................2 1..................... 1...... 1.................................................. 1............................................31 Karakteristik daya fungsi arus ........ 1...............................................................4 1-2 1-2 1-2 1-2 1-3 1-4 1-5 1-6 1-6 1-7 1-7 1-8 1-8 1-9 1-9 1-9 1-10 1-11 1-11 1-12 1-12 1-13 1-16 1-17 1-18 1-19 1-19 1-21 1-21 1-21 1-22 1-22 1-23 1-23 1-23 1-24 1-26 1-27 1-29 viii ...................... 1............................................................. 1-38 Baterai terhubung seri dengan Beban Ra .................... 1..........25 Rangkaian pembagi tegangan ....22 Seri Resistor dengan sumber DC ...............13 Ampermeter ..........................................32 Rangkaian ekivalen sumber tegangan ................ 1........ 1............................................................... 1..................15 Kerapatan arus pada penghantar ....... Fenomena elektrostatis ................................................................. Pengetahuan Listrik Dasar Sifat muatan listrik ........................28 Pengukuran tahanan nilai R besar ................26 Hukum Kirchoff-arus ....... 1...............................................6 Model visual tegangan ...................... 1............................................................. 1................................................ 1...................19 Rangkaian hukum Ohm ........ 1............ 1........................... 1................30 Karakteristik tegangan fungsi arus ........ 1................................. 1...................29 Pengukuran tahanan dalam baterai ..... 1......36 Rangkaian Tahanan disederhanakan .....................34 Karakteristik daya terhadap perubahan tahanan ................20a Kurva arus fungsi tegangan ...............

................... Kurva BH ferromagnetik ..............................8 2........................ Medan magnet pada toroida........................... Prinsip tangan kiri Flemming ................31 2.......................................... Kurva histerisis ...............................................38 2... Pola garis medan magnet permanen ........ Gelombang belitan primer dan belitan sekunder .............26 2........................... Prinsip timbulnya torsi motor DC ................................... Prinsip tangan kanan Flemming .................................................... Kurva BH inti udara ..............................................................................................23 2.................... Prinsip putaran sekrup............................24 2................ Prinsip hukum Lorentz .............................................................................. Rangkaian magnetik ....................... Garis gaya magnet pada permukaan rata dan silinder....9 2.............. Pola garis medan magnet tolak menolak dan tarik menarik ..............................14 2...................19 2.32 2............ Bahan ferromagneik ............. Prinsip dasar motor DC ............................................................15 2............................ Daerah pengaruh medan magnet................1 2........DAFTAR GAMBAR Bab 2..................... Prinsip alat ukur listrik....................................................... Prinsip torsi pada kawat berarus ...................................... Kemagnetan dan Elektromagnetis 2............11 2...........................29 2..........................................28 2. tolak-menolak .............................. Kutub utara-selatan magnet permanet ..........................17 2................13 2..........................6 2............................................36 2................................. Prinsip induksi elektromagnetik .............35 2..............................................12 2........................................................... Belitan kawat membentuk kutub magnet............................ Histerisis magnet permanen-ferromagnetik ...........................................7 2.................................39 2...........................................2 2..............................33 2..............4 2......................................18 2.......... Hukum tangan kanan ........ Garis medan magnet utara-selatan .........................10 2................................... Interaksi elektromagnetik........................................................................... Kurva magnetisasi ..............................37 2......................16 2..........................27 2...................................... Elektromagnetik sekeliling kawat.............................20 2........22 2................................................3 2......................... Kawat melingkar berarus membentuk kutub magnet .............................. Belitan kawat berinti udara ....... Prinsip generator ...21 2........40 Sifat magnet saling tarik menarik.................................................... Model uji gaya tolak . Torsi F motor DC ...............34 2.........25 2............ Daerah netral pada magnet permanet.................30 2................................................5 2..................................................................................... 2-2 2-2 2-2 2-3 2-3 2-3 2-4 2-4 2-4 2-5 2-5 2-5 2-6 2-6 2-6 2-7 2-7 2-8 2-9 2-10 2-10 2-11 2-12 2-13 2-13 2-14 2-16 2-16 2-17 2-17 2-18 2-18 2-19 2-19 2-20 2-20 2-20 2-21 2-21 2-22 ix .. Prinsip elektromagnetik ........................ Perbedaan besi biasa dan magnet permanen ..... Garis magnet membentuk selubung seputar kawat berarus .............. Kerapatan fluk magnet ........ Induksi pada cincin ......................................

... tegangan..........................................................26 3...... Rangkaian Resistor paralel kapasitor ......................... Segitiga impedansi ............................................................................. Segitiga Daya Aktif............46 3.............................................45 3.........32 3......................................... Harga sesaat gelombang sinusoida ................. Segitiga daya .......23 3................................................... ..................................................................................................43 3.......... Diagram Faktor Kerja .......44 3......................... Pembentukan gelombang sinusoida ...................................................................... Daya aktif beban induktif ......................................................................................... Bentuk gelombang tegangan beban Resistor dan Induktor .........................................14 3........1 3.16 3..................3 3............................... Bentuk arus beban Resistor parallel Induktor .................................31 3.............................................. Rangkaian R Seri dan Segitiga Daya ...................................................... Rangkaian pembangkit gelombang pulsa . Vektor tegangan dengan skala ..... L................................................................. Gelombang tegangan dan arus beban Kapasitor ...................18 3. Nilai kapsitansi fungsi frekuensi .............28 3..............................8b 3.........36 3........................................................... Generator AC dua kutub . Dasar Listrik Arus Bolak Balik 3. suseptansi dan admitansi ................................38 3................................................................. Segitiga Impedansi Induktif dan Kapasitif ... Kapasitor pada sumber listrik AC .......... Rangkaian Seri R................................................................................12 3................ Rangkaian R Paralel dan Segitiga Daya ....................................................... Proyeksi lingkaran ke garis kuadran...............................8a 3............24 3.........................................................25 3..13 3............................. Bentuk gelombang tegangan dan arus beban Induktor ...11 3........................5 3........................4 3.. Reaktif dan Semu ...............................................................................9 3............................ Nilai puncak..................47 Prinsip pembangkitan Listrik AC ...22 3............ Pengukuran arus.........................39 3.............27 3..... Segitiga tegangan Resistor seri Induktor .................... Segitiga Daya ..................30 3............................................. Segitiga Admitansi ..........................37 3.....................................................2 3........ Bentuk gelombang AC .................. dan wattmeter ............. 3-1 3-1 3-1 3-1 3-2 3-2 3-4 3-5 3-5 3-6 3-7 3-10 3-10 3-12 3-13 3-14 3-14 3-15 3-15 3-16 3-21 3-21 3-22 3-22 3-23 3-23 3-24 3-25 3-25 3-25 3-26 3-26 3-27 3-27 3-28 3-29 3-29 3-30 3-30 3-31 3-34 3-34 3-35 3-35 3-36 3-37 x ................... Segitiga konduktansi.............. Prinsip generator AC ....35 3......... Daya diklep beban resistif ..34 3.................. ..................... C dan Diagram Vektor Tegangan ..33 3.......................................... Seri Resistor dengan Induktor ....................... Resistor parallel Induktor ... Segitiga arus ....................................7 3...... Rangkaian resistor listrik AC ..................................................15 3....... Prinsip harga efektif gelombang sinusoida ................................................................................29 3.....41 3........................19 3.............................. Pengukuran daya dengan wattmeter ....................................10 3...... Satu siklus .......................... Nilai induktansi fungsi frekuensi ..............40 3..........6 3..............42 3....... Resistor seri Induktor listrik AC ................17 3. Panjang gelombang .DAFTAR GAMBAR Bab 3.............................. nilai efektif gelombang sinusoida................ Generator AC empat kutub ......... Resistor seri kapasitor.................................................................. Daya aktif beban impedansi .........

....... Prinsip Generator 3 Phasa ........................................................61 3................... tegangan phasa ke phasa .72 3.................................69 3............................................. Bentuk Tegangan Input...75 3.....54 3..................49 3...................................68 3......... beban tidak seimbang ......5 4....... Segitiga Daya Kompensasi ............................... Prinsip kerja Transformator Satu Phasa........................................59 3...... Pengukuran Daya dengan satu wattmeter .................................. Pengukuran Daya dengan Trafo Arus (CT) ..........51 3.................................... Kompensasi Grup ................................ Hubungan Segitiga ............... Pengukuran Daya dengan dua wattmeter ................... L ................ Beban Bintang . Vektor Tegangan dan Arus beban Resistif tidak seimbang....................83 3........................................... Diagram Arus Saat Resonansi ......... Rangkaian pembangkit........48 3........67 3......................................................64 3........... Vektor Arus dan Vektor Konduktansi....................................................................................76 3.... C dan diagram vektor arus ..................................... Vektor Arus Segitiga ...4 4.........................57 3....................................... Prinsip Wattmeter .........................................................52 3................... Transformator 4................................................................... pengukuran dan beban bintang-segitiga ......60 3...... Vektor Tegangan phasa-netral..................82 3................................................................................... Diagram Arus Resonansi............... Prinsip Tangan Kanan Flemming ...................................79 3.... Terminal Motor Hubung Singkat .......78 3.......................... Nameplate Trafo Satu Phasa ..... Pengukur Tegangan phasa-phasa......................................................................... tegangan phasa-netral .........DAFTAR GAMBAR 3............................65 3..70 3..................................................................... Arus Magnetisasi dan Tegangan Output Trafo . Pembangkitan Tegangan Induksi .... Kompensasi Parelel & Kompensasi Seri Beban Satu Phasa ............................................................................6 xi Peta Jenis-jenis Mesin Listrik .........73 3.....................84 3...................... Aliran Daya Reaktif Sebelum dan Sesudah Kompensasi.............................63 3...... Vektor Diagram Arus ....... Terminal Motor Hubung Singkat ...................................................50 3............................................... Beban Bintang dan Segitiga .................74 3.......53 3............... Lampu TL dengan kompensasi kapasitor................................................85 Rangkaian Paralel R...... Penyederhanaan rangkaian . Vektor Arus Magnetisasi...........71 3.... Kompensasi Sentral ..... Diagram Vektor Tegangan dan Arus 3 phasa ....................80 3........................ L......... Tegangan phasa netral......... Rangkaian Resonansi C.................... Vektor Arus phasa dengan arus jala-jala...........................................2 4..............66 3......... Rangkaian Kompensasi Paralel dan Kompensasi Seri ................. Rangkaian Resonansi LC ... 3-38 3-40 3-40 3-41 3-42 3-42 3-43 3-43 3-44 3-45 3-45 3-46 3-46 3-47 3-47 3-48 3-48 3-49 3-49 3-49 3-50 3-50 3-50 3-51 3-51 3-51 3-52 3-53 3-54 3-54 3-54 3-55 3-55 3-56 3-56 3-57 3-57 3-58 Bab 4........................................1 4.................................81 3......................................................62 3...56 3..........77 3....................... Tegangan Bintang dan segitiga .................................... Gelombang Sinusoida 3 phasa ....58 3.....55 3.............. Trafo satu phasa jenis Core ..........................................................3 4............................................................................. Rangkaian Resonansi LC ........ 4-2 4-3 4-4 4-4 4-6 4-6 ...........

..............................................................21 4...... Vektor tegangan dan arus pada Uji tanpa beban.. Inti Trafo tipe EI satu Phasa .. .............. Bentuk Inti Trafo tipe E-I.....33 4....................42 4.................9 4.....................................20 4......... Prinsip Transformator khusus untuk Welding ..................... Pengaturan Tapping terminal Trafo Distribusi .....34 4............. Belitan primer dan sekunder Trafo tiga phasa ............49 4......8 4..................L............... Namplate Trafo daya tiga phasa....................................47 4..........................................16 4........... Pengukuran dengan trafo tegangan (PT) .............. Pengawatan Uji Trafo a) Uji tanpa beban b) Uji hubung singkat .......................................19 4...........................................................37 4...32 4... belitan sekunder hubungan Bintang .43 4.............. Autotrafo dengan bentuk inti toroida ....39 4............................27 4...................................... pada Trafo Welding ............11 4..41 4...........................14 4...................50 Belitan primer dan sekunder Trafo Satu Phasa ......................... Trafo tiga phasa belitan primer dan sekunder hubungan Segitiga .............44 4................................................12 4.............. Paralel Dua Trafo satu phasa ........28 4................ Rangkaian pengganti Trafo tanpa beban ............ Bentuk fisik Transformator tiga phasa ...... Paralel Dua Trafo Tiga phasa .......29 4................................ Vektor tegangan a) beban induktip b) beban kapasitip ............... Relay Buchholz .......................................... Trafo tiga phasa dengan belitan primer hubungan Segitiga.................. Rangkaian pengganti Trafo sekunder dihubung singkat ..................... Bentuk inti Trafo 3 Phasa ............................ Grafik Arus Hubung Singkat Trafo Grafik Arus Hubung Singkat Trafo ...... Aplikasi Trafo arus sebagai meter potable ....................36 4. Rangkaian Trafo Welding ................................. 4-7 4-7 4-8 4-8 4-8 4-9 4-9 4-9 4-10 4-10 4-11 4-11 4-12 4-12 4-12 4-13 4-14 4-14 4-15 4-15 4-15 4-16 4-16 4-16 4-17 4-17 4-17 4-18 4-18 4-19 4-20 4-20 4-20 4-21 4-21 4-22 4-22 4-23 4-23 4-24 4-24 4-24 4-25 4-26 xii ................................... Rangkaian listrik Autotransformator ..................................................................................... Vektor kelompok Jam pada Trafo 3 phasa ........................... Inti Trafo jenis pelat digulung ................18 4................. Rangkaian ekivalen Trafo ......................48 4.....30 4..............................25 4..........35 4....................46 4................................. Grafik tegangan fungsi arus.......40 4....................... M dan tipe UI ....... Name plate Trafo tegangan .........38 4........................7 4................................... Keterangan nameplate Trafo Arus ..... Trafo daya (Yyn6 dan Dyn5) dengan beban asimetris ... Grafik efisiensi Transformator ............................................................................DAFTAR GAMBAR 4......................... Susunan belitan primer dan sekunder ...........................24 4..... Pengukuran dengan Trafo Arus .. Grafik tegangan sekunder fungsi arus beban .45 4.................10 4................................................................ Trafo daya Yzn5 dan bentuk vektor tegangan sekundernya ... Trafo 3 phasa hubungan Segitiga terbuka (hubungan VV) ..............23 4...................................................................................................13 4. Trafo tiga phasa belitan primer dan sekunder hubungan Bintang ........................................................................................ Nameplate Trafo Arus ... Rangkaian pengganti Trafo dengan komponen resistansi dan induktansi ..31 4......... Vektor tegangan dan arus pada Uji hubung singkat ...... Pemasangan Trafo Outdoor ..........15 4..........26 4............. Bentuk fisik Trafo Arus (CT) ........................................................17 4......................................22 4.......................................

......... berkutub dua (p=1) .................14 5.............. Karakteristik Torsi Pengasutan Soft Starting ................................... Rangkaian Belitan Motor dua kecepatan (Dahlander) .. Karakteristik putaran fungsi torsi beban ............................................. Fisik motor induksi ........................................................................ Karakteristik Torsi Pengasutan Resistor Stator ......................... Prinsip kerja motor induksi ....41 5................... Torsi Motor .............. Karakteristik Arus Pengasutan Soft Starting ...11 5........... Putaran motor dilihat dari sisi poros .......................... Nameplate motor Induksi........ 5-2 5-2 5-3 5-4 5-4 5-5 5-6 5-7 5-7 5-8 5-8 5-9 5-9 5-10 5-10 5-11 5-11 5-12 5-12 5-12 5-13 5-14 5-14 5-15 5-15 5-15 5-16 5-16 5-17 5-17 5-17 5-18 5-18 5-19 5-19 5-20 5-20 5-20 5-21 5-21 5-21 5-22 ....putaran.................................................4 5.....................................5 5................ Medan magnet pada Stator Motor satu Phasa .....12 5..........13 5...........15 5......................... Motor Listrik Arus Bolak Balik 5................................1 5...................... Karakteristik Arus fungsi putaran................... Pengujian Motor Listrik di Laboratorium ....................................................21 5.19 5............ Hubungan belitan Segitiga Dahlander berkutub empat (p=2) ...........8 5....................................................... Gelombang arus medan bantu dan arus medan utama . Torsi motor pada rotor dan torsi pada poros ......... Prinsip Medan Magnet Utama dan Medan magnet Bantu Motor Satu Phasa ......................................................................................... Pengawatan Pengasutan Bintang-Segitiga .................................... Hubungan Belitan Motor Dahlander ....................................................... Karakteristik Arus Pengasutan Bintang-Segitiga ........... Pengawatan Pengasutan Resistor Stator......... Pengawatan Pengasutan Soft Starting.................................................................37 5.........10 5... Bentuk fisik Motor Kapasitor ....40 5....................... Karakteristik Torsi motor induksi ..........20 5.............................................................................................................42 xiii Pengukuran kecepatan dengan Tachometer ...............35 5........ Karakteristik torsi Motor Slipring ................................ Pengawatan Pengasutan Tegangan dengan Autotransformato............................................... Belitan Stator dan Rotor Motor Slipring berikut Resistor pada Rangkaian Rotor............................33 5...........27 5......................................................................................................... Karakteristik Torsi dengan tiga tahapan ...................DAFTAR GAMBAR Bab 5........... Pengawatan Motor Slipring dengan tiga tahapan Resistor ....16 5.........................39 5. faktor kerja dan arus beban.................. Nameplate Motor Induksi Jenis Slipring ....................................... Karakteristik Torsi Pengasutan Bintang-Segitiga ................. Rotor sangkar ...................... Karakteristik Torsi...............38 5................ Pengasutan DOL ......................... Bentuk rotor sangkar ..................................................28 5.26 5..........3 5...............................17 5...........7 5......................... Pengasutan DOL ...9 5...................................23 5............29 5.............30 5............................25 5...................31 5...........18 5.................................... Bentuk gelombang sinusoida dan timbulnya medan putar pada stator motor induksi .32 5........ Belitan stator motor induksi 2 kutub . Pengawatan Motor Induksi Pengasutan Langsung (DOL) ....24 5...................... Rugi-rugi daya motor induksi ..... Karakteristik parameter efisiensi.....................2 5. Bentuk fisik Motor Induksi Rotor Slipring ..36 5.......22 5........6 5.................... Hubungan belitan Bintang Ganda.......34 5..........................................

............................. Penampang Komutator ..............18 6................................... Mesin Listrik Arus Searah 6............................ Fisik Mesin DC ........................................................................ 6-2 6-2 6-3 6-3 6-4 6-4 6-5 6-5 6-6 6-6 6-7 6-7 6-8 6-8 6-8 6-9 6-9 6-10 6-10 6-10 6-11 6-11 6-11 6-12 6-12 6-13 6-13 6-14 6-14 6-15 6-15 6-15 xiv ...........................43 5...................................31 6....................................................... Hubungan belitan penguat medan dan Jangkar Motor DC ........... Bentuk Fisik Generator DC ........................................................................3 6.......................24 6.... a) Rangkaian Generator DC Penguat terpisah dan b) Penguat magnet permanen .....47 5..........32 Stator Mesin DC dan Medan Magnet Utama dan Medan Magnet Bantu ..29 6.................................................................... Model kerja Motor DC ............27 6.......................... dan b) Tegangan DC pada Komutator.........................................10 6...................20 6...26 6................. a) Bentuk tegangan AC dan Slipring....50 Pengawatan Motor Kapasitor Pembalikan Putaran ........................................................2 6..........................DAFTAR GAMBAR 5.. Rangkaian belitan jangkar........... Stator dan Rotor Motor Universal ... Karakteristik tegangan generator Shunt ................11 6... Motor tiga Phasa disuply tegangan satu Phasa .........9 6...........................................................1 6...............30 6.19 6................5 6...................................................................................................... Kutub Magnet Utama.................................... Prinsip pembangkitan tegangan DC ..................23 6............................ Pergeseran Garis Netral akibat Reaksi jangkar .... Garis medan Magnet jangkar ...........45 5................7 6.........................................8 6...............12 6.48 5.............. Rangkaian Generator Belitan Shunt ............... Karakteristik tegangan generator Shunt ......................46 5....25 6...17 6................................................... Pengecekan sifat elektromagnetik pada Jangkar Motor DC ............... Pemegang Sikat Arang ........................21 6................22 6................ Bentuk fisik Motor Shaded Pole .................................................................... Membalik arah putaran Mesin DC ................. Karakteristik arus Pengasutan Motor DC ........................................................ 5-22 5-23 5-23 5-23 5-24 5-24 5-24 5-25 Bab 6.. Pembangkitan Tegangan DC pada Angker ...... Kutub bantu dan Belitan Kompensasi ......................................... Starting Motor DC dengan Tahanan Depan jangkar ...........13 6... Proses pembangkitan Torsi Motor DC .................4 6........................ Tegangan DC pada Komutator ............................6 6..................................... Karakteristik Tegangan generator kompound ............................................................... Aturan Tangan Kiri untuk Prinsip Kerja Motor DC ..14 6.... Model Prinsip Kerja Generator DC ...... Kaidah Tangan Kanan ....................................................................................... Penampang Motor Shaded Pole .................... Pengawatan dengan Dua Kapasitor .................................... Komutator pada Motor Universal ...... Garis Netral Reaksi Jangkar ................ Arah putaran Mesin DC ...................... Kutub Magnet Utama dan Kutub Bantu Mesin DC . Karakteristik Torsi Motor kapasitor.........49 5.......15 6.............................................44 5............. belitan kutub bantu dan belitan kompensasi .............................................................................................28 6.... Karakteristik tegangan Generator Penguat Terpisah ........16 6.

.........................34 6....................................... kode angka dan terminal kontaktor ................................................................... Kontrol relay impuls .................9 7..............48 6...16 7.............................. Rangkaian Motor DC Belitan Kompound.......................................................................... Simbol dan bentuk fisik relay .........................2 7...........40 6......3 7........35 6................... Pengawatan Daya Bintang ...19 7...7 7....... Rangkaian Motor DC Seri....................26 xv Sistem Pengendalian terdiri rangkaian daya dan rangkaian kontrol Dasar Sistem Pengaturan Otomatik ............................ Letak Sisi-sisi Kumparran dalam Alur Jangkar .............17 7.......................................... Koil set-reset.................................................................................................................................... Komponen Reed Switch .........................................................................37 6................. Perbandingan DOL dan Bintang Segitiga.................................15 7... Karakteristik putaran Motor DC Seri ....... Kutub bantu untuk mengatasi akibat Reaksi jangkar pada Motor DC ...12 7.................................................................................... Belitan Gelombang Tunggal ......45 6........................................ Fisik MCCB..47 6.................33 6................ Prinsip Belitan Gelung ................... Belitan Gelung Tunggal ........................................................................................................................36 6.................................................... 6-16 6-16 6-17 6-17 6-18 6-19 6-20 6-20 6-20 6-21 6-21 6-22 6-22 6-23 6-24 6-26 6-26 6-28 Bab 7. Rangkaian daya dan kontrol motor induksi ....................... Rangkaian Motor DC Belitan Shunt......... Hubungan terminal a) Bintang b) Segitiga.... Bentuk fisik kontak diam dan kontak bergerak .............................................................5 7..........22 7.......................8 7..............49 6................................43 6.................................. Tampak irisan Motor Control Circuit Breaker ..................................................46 6..6 7......Segitiga ....4 7........... Karakteritik putaran Motor Penguat Terpisah ...44 6........11 7....... Tampak irisan Miniatur Circuit Breaker .............DAFTAR GAMBAR 6...... Pengendalian Motor Listrik 7.... Simbol.... Relay dikemas plastik tertutup........ Karakteristik putaran fungsi arus eksitasi ... Simbol timer dan karakteristik timer ......24 7........... Prinsip Belitan Gelombang ................................................................................................................................................25 7... Tampak samping irisan kontaktor..................41 6..................10 7................ 7-2 7-2 7-2 7-3 7-3 7-3 7-4 7-4 7-4 7-5 7-5 7-5 7-6 7-6 7-6 7-7 7-7 7-7 7-8 7-8 7-9 7-9 7-10 7-11 7-11 7-12 .............. Kontrol ON-OFF dengan bimetal ..... Karakteristik putaran fungsi tegangan jangkar ...13 7.................... Varistor dan RC sebagai pengaman relay ............42 6........................................................20 7..............39 6................21 7......... Tombol tekan ...... Bentuk fisik kontaktor .............................................................. Timer OFF delay...... Karakteristik putaran Motor DC Kompound .......................................................... Pengaturan tegangan Jangkar dengan sudut penyalaan Thyristor ....................................... Pengawatan kontrol bintang-segitiga . Belitan Jangkar ....................................................................................50 Drop tegangan Penguat Medan Seri dan Jangkar Motor DC ...14 7.........................18 7.................... Rangkaian Motor DC Penguat Terpisah.....................................................38 6...................................... Diode..........................................1 7........................23 7.......................................... Jenis-jenis kontak ....... Rangkaian daya dan kontrol Direct ON Line (DOL) ..

..................................................................... Meter listrik Analog ..31 7..................32 7........................................ Pemakaian Trafo Arus CT Pengamanan Motor .......................... Pengawatan Daya Pembalikan Putaran Motor Induksi .........35 7.....38 7....... Prinsip kerja alat ukur digital .........33 7.57 Hubungan Bintang Segitiga .......... Prinsip Alat Ukur Kumparan Putar ... Pengawatan motor slipring dua tahap resistor ... Tata letak komponen dalam bok panel .....54 7................................................................................................51 7.............11 8.........1 8............ Instalasi Pompa Air Dengan Kendali Pressure Switch ........9 8....... Kontrol pembalikan motor dilengkapi lampu indikator ........... Multimeter digital AC dan DC ........ Pengaman beban lebih dengan PTC/NTC ..........................................................2 8.................. Pengawatan kontrol dua motor bergantian ........... Pengaturan Selang Waktu Oleh Timer ......................44 7....... Karakteristik a) Arus Fungsi Putaran b) Torsi Fungsi Putaran ......... Pengawatan kontrol bintang segitiga dengan timer ... Jenis skala meter analog ................................................................................................. Alat Ukur dan Pengukran Listrik 8...27 7..................................56 7....... Pengawatan kontrol motor slipring ........3 8...........................42 7............................................................... Pengawatan daya bintang-segitiga ............. Instalasi Pompa Air Dengan Kendali Level Switch ....... Pengamanan bimetal overload dan arus hubung singkat ...... Instalasi pompa air dgn kendali dua buah level switch ............. Tiga jenis display digital ...........4 8... Nameplate motor induksi bintang segitiga .......5 8..................... 7-13 7-13 7-14 7-15 7-16 7-16 7-17 7-18 7-18 7-19 7-20 7-20 7-21 7-22 7-22 7-23 7-23 7-23 7-24 7-24 7-25 7-25 7-26 7-27 7-27 7-28 7-29 7-30 7-31 7-32 7-32 Bab 8.....................................................................................................55 7............. Pengawatan kontrol otomatis bintang-segitiga ................13 Tampilan meter Digital ............8 8..............................................52 7..... Pengawatan pengasutan dengan autotransformator ...........................46 7................................ Pengawatan daya pengasutan resistor dua tahap ............................................. Diagram Satu Garis Instalasi Pengasutan Soft Starting ....43 7........................................50 7... Penunjukan meter analog dan meter digital ................................. Pengaman under voltage ................ Pengawatan kontrol pembalikan putaran ...28 7........................30 7....... Pola penyimpangan jarum meter analog ....................41 7......................................36 7...49 7.................34 7.........7 8..........37 7. Pengawatan motor slipring tiga tahap resistor ........ Komponen alat ukur listrik analog .........................39 7.......40 7.47 7.. Multimeter analog ..................................................... Dudukan poros jarum penunjuk ..................................................... 8-2 8-2 8-5 8-5 8-6 8-6 8-6 8-7 8-7 8-8 8-8 8-8 8-9 xvi ............45 7... Pengawatan kontrol autotransformator ......................................53 7............................................ Pengawatan soft starting a) DOL b) Bintang segitiga ................ Tampilan penunjukan digital ........................... Pengawatan kontrol pengasutan resistor dua tahap .....................................29 7... Pengawatan a) Ampermeter Switch b) Voltmeter Switch .........10 8................................12 8..............6 8................ Pengawatan daya dua motor bekerja bergantian ....................... Instalasi pompa air dgn dua pompa .......DAFTAR GAMBAR 7..48 7.........

...............................................................4 Semikonduktor Tipe N ....................16 8........................................................................ Penambahan Batas Ukur meter ................38 8............ Sinyal input berbeda fasa 900 dg output .........................................................................11 Aplikasi Diode Zener sebagai penstabil tegangan ....... 9................43 8............................................... Pembagi tegangan 10 1 pada Probe ........ Jenis-jenis Pengukuran Tahanan ......... Mengukur sudut penyalaan TRIAC dengan Osiloskop ........................................46 Meter kumparan putar dengan diode penyearah ..... Tahanan seri RV pada Voltmeter .................................................... xvii 9-2 9-2 9-3 9-3 9-4 9-4 9-5 9-5 9-6 9-6 9-7 9-7 .............................. 9....23 8................ 9............................................................................................ 9....... Mengukur beda phasa dengan Osiloskop ...................... Tahanan paralel ampermeter .......22 8.................................15 8....26 8..................................45 8................................................................18 8.............................................................. Blok diagram Osiloskop dua kanal ................................................20 8..............................19 8................................................................ Pancaran elektron ke layar pendar CRT .......................... Pengawatan kWH meter satu phasa dan tiga phasa ......................... Rangkaian jembatan Wheatstone ... 9..............................................29 8... 9...........3 Orbit atom ............10 Karakteristik Diode .9 Diode Panjar Mundur ............................................ Mengukur tegangan AC dengan Osiloskop ..5 Semikonduktor Tipe P .. 9....................... kWH meter ..33 8....................31 8.. Pengembangan model Wheatstone ..............25 8......................................................................................12 Karakteristik Diode Zener ...................................................................... Prinsip elektrodinamik ............42 8...........35 8....................... 9..................... Mengukur tegangan DC dengan Osiloskop ......... Pengawatan wattmeter dengan beban satu phasa ..........................................30 8................. Pemasangan wattmeter .......................... Sampling sinyal analog oleh ADC .........37 8.................. 9................1 Transistor ....................................6 Sambungan PN ..........................................36 8..................................... Mengukur Arus AC dengan Osiloskop ........28 8..14 8.DAFTAR GAMBAR 8..............8 Diode Panjar Maju ..................................32 8...............................34 8....................................... Prinsip Alat ukur Piringan Putar (kWHmeter) .17 8................................................... Bentuk fisik Osiloskop .................................41 8................................7 Simbol dan fisik Diode ............. Trigering memunculkan sinyal gigi gergaji ...............2 Thyristor ......... 8-9 8-10 8-10 8-11 8-11 8-12 8-12 8-13 8-14 8-14 8-15 8-15 8-16 8-16 8-17 8-17 8-18 8-19 8-20 8-20 8-21 8-22 8-23 8-23 8-24 8-25 8-26 8-26 8-27 8-28 8-28 8-29 Bab 9 Elektronika Dasar 9.......... Mengukur sudut penyalaan TRIAC dengan Osiloskop ......................................................44 8...........40 8........... 9.... Prinsip alat ukur besi putar ............................ Tahanan depan dan paralel ampermeter ................................. Lissajous untuk menentukan frekuensi ...... Blok diagram Osiloskop Digital ...24 8....21 8................................................................39 8................................................ 9............. Blok diagram sistem Osiloskop ................................................. Batas ukur Ampermeter ...........................................

.......................... Karakteristik Output IGBT ...........................................................................24 9................................ 9-8 9-8 9-8 9-9 9-9 9-10 9-11 9-11 9-12 9-13 9-13 9-14 9-15 9-15 9-16 9-16 9-17 9-17 9-18 9-18 9-19 9-19 9-19 Bab 10...............................11 10.......... Karakteristik Output Transistor ..............13 10..........23 9....................... Rangkaian Push-Pull ............................28 9. Bentuk Fisik & Simbol Thrystor .............. Prinsip Kerja Penguat ...21 9................................................................................................ Elektronika Daya 10............19 9.13 9....................... Diode Setengah Gelombang 1 Phasa ......................... Simbol dan fisik Diode ........................8 10.............14 9................................14 10............................ Diagram Blok Konverter Daya .............. Thyristor ....................... Struktur Fisik dan Kemasan IGBT ............................................................... Bentuk Pendingin Transistor ....................... 10-2 10-3 10-4 10-4 10-5 10-5 10-6 10-6 10-7 10-7 10-7 10-8 10-9 10-9 10-10 10-10 10-11 10-11 10-12 10-12 10-13 xviii ... Nilai Batas Thrystor .......................29 9...34 9........................Diode ..........18 10.. Rangkaian Bias Pembagi Tegangan Tanpa RC ......................... Rangkaian Bistable Multivibrator .................................................. Karakteristik Thrystor ........................................................ Karakteristik Transistor ....................32 9................. Sinyal Pada Titik-titik Pengukuran ......................26 9...........4 10...........12 10............. Rangkaian Penyearah Jembatan .............. Pemindahan Panas Pada Pendingin Transistor ..........................16 10........... Tegangan Bias Transistor NPN ... Casis Transistor Dengan Isolator ................................... Rangkaian Dasar Transistor ........................... Penguatan Sinyal ............16 9.. Tegangan bias Transistor .............................................................19 10...........................5 10......... Tegangan Operasi Transistor sebagai saklar .............................................20 10........................ Karakteristik Transistor Empat Kuadran ..........6 10....................................................1 10..............................20 9...2 10......................................18 9........................................................................31 9................. Transistor dengan Tahanan Bias ............ Garis Beban Transistor .... Transistor Sebagai Gerbang NAND .................30 9..........15 9....................................27 9...10 10........17 10.......7 10............................... Karakteristik Input Transistor ................................................................ Rangkaian Bias Pembagi Tegangan Dengan RC .. Rangkaian dan Diagram Waktu Schmitt Trigger ................... Transistor Sebagai Penggerak Relay .........................33 9................. Karakteristik Diode ...............................15 10......................35 Transistor Bipolar .......... Fuse Sebagai Pengaman Thrystor ...........................................................................2 10....................................................................................................................... Fisik Transistor ...................... Titik Kerja Penguat Klas AB ............................................................................ Transistor Sebagai Saklar . Karakteristik Output Transistor ....DAFTAR GAMBAR 9.............................................25 9.......................................................................................................................... Diagram Blok Konverter Daya ........................... Diagram Waktu Bistable Multivibrator ......................22 9..................... a) Panjar maju (forward) dan b) panjar mundur (reverse) .......................17 9.............................................9 10...............21 Pemanfaatan Energi Listrik ..

.......................................... Penyearah Terkendali ½ Gelombang ............................ Penyearah Jembatan Gelombang Penuh 3 Phasa .......8 11........................................45 10......... Penyearah Thyristor ½ Gelombang 3 Phasa ................10 11............11 11.....................9a 11.............................................................................. Simbol pengamanan pada nameplate .....................................43 10...................... Tegangan dan Arus DC Beban Induktif ................................. Grafik Fungsi Penyalaan Gate Thrystor .................................. Motor listrik tahan dari siraman air .........6 11............... Tahanan tubuh manusia .................... Bentuk Gelombang Penyearah Penuh 3 Phasa .............. Penyearah ½ Gelombang 3 Phasa Diode Terbalik .................................... Urutan Kerja Penyearah Diode 3 Phasa ½ Gelombang .....................33 10...........................................................28 10............................24 10..................................13 11.......... Pengamanan dengan tegangan rendah .....................27 10.............29 10................ Bentuk Gelombang Chip TCA785 .............................................32 10............. Gangguan listrik dibeberapa titik ................................. Tegangan dan Arus DC Beban Resistif ...............14 xix Grafik bahaya arus listrik .............................. Tegangan sentuh langsung ........9b 11..........41 10............. Aplikasi IGBT Untuk Kontrol Motor Induksi 3 Phasa ...23 10................................ Penyearah Terkendali Jembatan 1 Phasa ................................. Aliran listrik sentuhan langsung ... Modul Trigger Thrystor ................. Grafik Pengaturan Sudut Penyalaan ..... Pelindung tangan dan mata ........................38 10......................39 10............................ 11-2 11-2 11-3 11-3 11-3 11-4 11-4 11-4 11-6 11-7 11-7 11-8 11-8 11-9 11-9 11-9 . Penyearah Terkendali 3 Phasa ............................................................ Aplikasi Pengendalian putaran Motor DC ................................... Penyearah Diode ½ Gelombang 3 Phasa ...............4b 11..........47 10. Blok Diagram Pengaturan Kecepatan Motor DC ......46 10.. 10-14 10-15 10-15 10-16 10-17 10-17 10-19 10-19 10-19 10-20 10-20 10-20 10-21 10-21 10-22 10-23 10-23 10-24 10-24 10-25 10-25 10-26 10-26 10-27 10-28 10-29 10-29 Bab 11 Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11..............4a 11...36 10...... Rangkaian Dimmer dengan TRIAC .....48 10........ Bentuk Tegangan DC Penyearah 3 Phasa ................................. Sudut Penyalaan dan Output Tegangan DC ½ Gelombang ... Urutan Penyalaan Gate-Thrystor 3 Phasa .....................42 10.. Bentuk Dasar Pengendali Tegangan AC .............................................. Stop kontak khusus untuk tegangan rendah ................................40 10......7 11..................DAFTAR GAMBAR 10..3 11..................5 11. Rangkaian Pembangkit Pulsa Chip TCA785 ................25 10.....37 10................34 10.31 10............. Rangkaian Daya 1 Phasa Beban DC 15 Kw ....2 11.............................. Peta Tindakan Pengamanan ................35 10...............44 10.. Pengaman dengan trafo pemisah .... Tegangan langkah akibat gangguan ke tanah .....................30 10...................12 11............. Tegangan sentuh tidak langsung .. Motor listrik tahan siraman air vertikal dan segala arah ..............................26 10....................49 Penyearah Jembatan Dengan Filter RC ................................................................................................................ Gangguan listrik dari beban lampu ... Penyearah Thrystor dengan Diode ...............1 11.............................

.. Diagram blok sistem pemanasan air .................23 Sistem Pembumian IT .....19 Jarak aman bentangan kabel udara ......................................................................32 ELCB pada sistem TT .....................21b Sistem Pembumian TN-C-S ............ 11........................................................................... 11..........2 12........... 11..................24 Sistem pembumian TN-C-S digabung kawat PE ......................................................22 Sistem Pembumian TT .4 12............. 11..........DAFTAR GAMBAR 11. 11....................................................41 Pengukuran pembumian dengan megger ............................................................................................. Diagram blok sistem kontrol open-loop ......................28 Pemasangan ELCB untuk pengamanan kelompok beban ................... 11..................44 Pengujian sistem pembumian TN ......................... 11-10 11-10 11-10 11-11 11-11 11-11 11-13 11-13 11-13 11-13 11-14 11-14 11-14 11-15 11-16 11-16 11-16 11-17 11-17 11-17 11-18 11-19 11-19 11-20 11-20 11-21 11-21 11-21 11-22 11-22 11-23 11-24 11-24 11-25 Bab 12 Teknik Pengaturan Otomatis 12................... 11........... 11....................................15 Pengamanan dengan selungkup isolasi .............................. 11................................................. 11....................... 11.................. 11................................................................................... 11................................... Pengaturan tinggi permukaan air ............7 12..................................................................................................... 11.................................. Diagram blok sistem kontrol .............................5 12................... 11................29 ELCB portabel ..............38 Pengamanan dengan pemisahan sirkit listrik . 11................... 11................................................................... 11.......................6 12........................................................1 12.............17 Perlindungan pengaman stop kontak ....... Sistem Pemanasan Air ..............43 Pengukuran tahanan isolasi lantai/dinding .................................................. 11.......................8 12.........18 Pengamanan dengan rintangan ...........................................25 Beda tegangan titik netral akibat gangguan ke tanah ..............42 Pengukuran tahanan isolasi .....................................30 ELCB pada pembumian TN ... Pengaturan tegangan secara otomatis ....... 12-2 12-3 12-4 12-5 12-6 12-7 12-8 12-8 12-9 xx ................................................... 11.......9 Pengaturan manual tegangan pada Generator .........37 Jarak aman pengamanan ruang kerja ............. 11..........................36 Mesin bor dengan isolasi ganda ... 11.... Diagram blok sistem pemanasan air secara otomatis ..................26 Prinsip kerja ELCB .......... 11..21c Sistem pembumian TN-C ........... 11......................... 11........................31 Pengukuran tahanan pembumian sistem TT .34 Simbol pengamanan isolasi ganda ................................................ 11............................................ 11................... 11.................21a Sistem Pembumian TN-S ................ 11.........3 12..... 11..................................................................45 Pengukuran tahanan pembumian ....................20 Pengamanan sentuhan tidak langsung ........39 Trafo pemisah melayani dua stop kontak ...46 Pengukuran tahanan bumi ELCB .16 Kabel berisolasi thermoplastik ..33 Pengukuran tahanan pembumian sistem IT ............40 Pengamanan pada peralatan listrik ......... Diagram blok sistem kontrol closed-loop ..35 Isolasi ganda pada peralatan listrik ..27 Fisik ELCB .................................... 11........... 11............................ 11..........

....................... Kontrol proporsional .............32 12...............38 12................................................................................................. Aplikasi kontroler PID .......................................... Respon kontroler derivatif untuk sinyal step ................. Kontroler Integral .......56 12.................. Perilaku statis Generator Arus Searah .......51 12.....................37 12........................................... Katup magnetik 5/2 ... Kontrol tiga posisi ................................................ Limit switch tekanan ............. Model Dead Time ......................10 12...................... Katup magnetik 3/2 ........31 12.......36 12.....................................12 12.... Karakteristik kontroler tiga posisi dengan posisi tengah nol .................................................... Aplikasi Kontroler PI ..........................................13 12.... Kontroler suhu bimetal ................55 12....................... Tombol NO............................................... Katup magnetik 5/3 ...........45 12............................... Konstruksi Relay dan kontaktor ............. Simbol kontrol on-off ............................... Respon kontroler derivatif untuk sinyal lereng ................................... Respon kontrol proporsional . Karakteristik dan simbol kontroler tiga posisi ...........44 12.....................................................................................................16 12....... Respon Kontrol PT1 .........14 12.............. Aplikasi kontroler integral .........24 12............28 12..............................................DAFTAR GAMBAR 12....................................53 12...........22 12...... Katup Magnetik ............................................ Karakteristik osilasi ..............................21 12........42 12............................ Kontrol otomatis pada mobile robot ...........................48 12. Sistem PT0 ..............................................26 12..................................................33 12......................15 12..........27 12........... Aplikasi kontroler proporsional .......................................20 12...............................25 12........................... Model fisik PT1 ............40 12..........................................................................................................................................................................35 12.....................................................................................23 12.....30 12.29 12.......18 12... Kontroler Proporsional Integral ......................................... Perubahan Tegangan fungsi Arus Eksitasi ......52 12................19 12...........................41 12................................................................ Respon kontroler PID terhadap sinyal step ....................................................................... Respon Kontrol Deadtime ........... 12-9 12-9 12-10 12-11 12-11 12-12 12-12 12-13 12-14 12-14 12-15 12-15 12-16 12-16 12-17 12-18 12-18 12-19 12-19 12-19 12-20 12-20 12-20 12-21 12-21 12-22 12-22 12-23 12-23 12-23 12-24 12-24 12-25 12-25 12-26 12-28 12-29 12-29 12-30 12-30 12-31 12-32 12-32 12-33 12-33 12-34 12-34 12-34 ......................................................................... Hubungan tegangan fungsi arus ................................... Kontroler dua posisi (On-Off) .......... Respon Sistem PT2 ..... Proximity switch terpasang pada silinder ...........54 12................. Respon kontrol PTn .........43 12...... Komponen elektropneumatik ................................. Aplikasi Kontroler Derivatif ...................34 12......................................................57 xxi Diagram blok pengaturan tinggi air ........39 12................................NC dan toggle ........................................ Kontaktor dengan kontak utama dan kontak bantu ............47 12............. Limit switch ....................................................................................................................17 12.. Aplikasi Kontroler PD ...................................................................................49 12......................................................................................................11 12...................... Model Sistem Kontrol PT2 ..... Batang jangkar katup magnetik .........46 12............ Respon kontroler PD terhadap sinyal lereng ........................................................... Prototipe mobile robot ......50 12............................................. Katup magnetik impulse 5/2 ..........................

... 12-35 12.............. Generator Sinkron Generator Sinkron Tiga Fasa dengan Penguatan Generator DC “Pilot Exciter”................................... 13............ ................22 Vektor Arus Medan ............................................................3 Bentuk Rotor ............. 13............................................................................................................. .......... Saluran penghantar udara untuk rumah tinggal (mengganggu keindahan pandangan) .............19 Karakteristik Tanpa Beban dan Hubung Singkat sebuah Generator . 13........................12 Diagram Generator AC Satu Fasa Dua Kutub.......................14 Kurva dan Rangkaian Ekuivalen Generator Tanpa Beban ..................................................26 Rangkaian Paralel Generator .........16 Vektor Diagram dari Beban Generator ............................60 Silinder ganda dengan katup 5/3 ..... 13......................................15 Kondisi Reaksi Jangkar ................28 Sychroscope ................................................59 Silinder operasi ganda katup 5/2 .......................................27 Rangkaian Lampu Berputar ........ 13.............5 Belitan Satu Lapis Generator Sinkron Tiga Fasa ..13 Diagram Generator AC Tiga Fasa Dua Kutub ...24 Diagram Potier ........................................................................................................... ....................... 13... dan Vektor Arus Medan... 13........... 13............................................................6 Urutan Fasa ABC ................... 13....4 14............................... 13...................................1 13-3 13-3 13-4 13-4 13-5 13-6 13-6 13-8 13-8 13-9 13-9 13-11 13-12 13-13 13-14 13-15 13-16 13-17 13-17 13-18 13-19 13-20 13-21 13-22 13-23 13-24 13-25 13-26 Bab 14...........3 14......... 13................... 13.....................17 Rangkaian Test Generator Tanpa Beban................... 13..........................................................................................................18 Rangkaian Test Generator di Hubung Singkat ............. Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14. 13...............7 Belitan Berlapis Ganda Generator Sinkron Tiga Fasa ......................................1 14................................ 13......................................... 13... Penyaluran energi listrik dari sumber ke beban . 13...................................58 Silinder tunggal dengan dgn katup magnetik 3/2 ................................... 13............ 13........... Distribusi Tenaga Listrik ke Konsumen ..... 13...............11 Vektor Tegangan Lilitan .......................... 13........... ........................................................................................................................ 13.2 Generator Sinkron Tiga Fasa dengan Sistem Penguatan “Brushless Exciter System”. 14-2 14-3 14-4 14-4 14-9 xxii .............................. 12-36 Bab 13.................. Hubung Singkat.............................................21 Vektor Diagram Pf “Lagging” ....20 Pengukuran Resistansi DC .10 Kisar Kumparan .....................2 14..... 12-35 12.................9 Total ggl Et dari Tiga ggl Sinusoidal ........... 13.......5 Generator ...................4 Inti Stator dan Alur pada Stator .......................................................... 13...........................DAFTAR GAMBAR 12............................................23 Karakteristik Beban Nol....25 Vektor Diagram Potier ......... Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik .............. 13.............. ....... 13..... 13....... 13...........................................................8 Diagram Phasor dari Tegangan Induksi Lilitan ...............

.............8 15...................................................9 15........24 Piranti-piranti menggunakan motor ....................................................................12 APP Sistem satu fasa ................21 Diagram Transmisi dan Distribusi .......... 14........... 14.....6 15........................................................................................................................ Pipa melintas dan pembuangan air ke sungai ..........1 15.....23 Macam-macam Stop Kontak ................................ 14. 14............................................................. Pembangkit Listrik Mikrohidro 15............10 Turbin dan Generator Mikrohidro ......................................................... 14.................................... Tandon Air ..............8 Denah rumah tipe T-125 lantai dasar .......... 14................. Electronic Load Kontroller ............................................ 14.................................19 VCB (Vakum Circuit Breaker) .18 OCB (Oil Circuit Breaker) .......DAFTAR GAMBAR 14.....14 Contoh cubicle di ruang praktek POLBAN ...................................................................................... 14.................. 14....................................................................16 Molded Case Circuit Breaker . Jalur pipa a) yang melingkar b) jalur memintas ......... ...................................................... 14. 15-2 15-3 15-5 15-6 15-7 15-8 15-9 15-11 15-12 15-13 xxiii ......................... 14...................................11 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan system tegangan Menengah 20KV dan Tegangan Rendah 380/220V.....20 SF6 CB (Sulfur Hexafluoride Circuit Breaker) ............................. 14-10 14-11 14-13 14-14 14-15 14-16 14-17 14-17 14-20 14-21 14-22 14-23 14-24 14-24 14-25 14-26 14-27 14-28 14-30 Bab 15............13 APP Sistem tiga fasa .........................17 ACB (Air Circuit Breaker) . 14........................2 15................................ 14............................................. Hubungan kontrol kelistrikan ............................5 15.................. ...................... 14. 14.............22 Rangkaian macam-macam Beban Sistem 3 phasa....... 14...................7 Situasi ................. Mengukur debit air ................................9 Instalasi rumah tipe T-125 lantai dasar .................................................................. Sistem Pembangkit Listrik Mikrohidro ......10 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan Tegangan Rendah 380/220V.... Mengukur ketinggian jatuh air .........................................3 15..................4 15................................................................ 14......... 4 kawat .....................................7 15.. 14...................6 Saluran kabel bawah tanah pada suatu perumahan elit . Pemasangan Turbin dan Generator ..............15 MCB (Miniatur Circuit Breaker) .......

................................................ Aplikasi Transistor ........ Tabel 10......5 Tahanan jenis bahan ............................... Contoh komponen sistem kontrol ........................1.....5.............6............. Contoh Simbol Indek Proteksi Alat Listrik ............................. Parameter Ziegler-Nichols ...3............. Tabel 2................................. Tegangan Sentuh yang aman ....1..... Tabel 3......7........... Tabel 6..6.......................................................... Besaran dan Simbol Kelistrikan ......................... Tabel 6......................... Kode IP XX ............. Daya tersambung pada tegangan menengah .... Tabel 2........ Tabel 1.......DAFTAR TABEL   DAFTAR TABEL Tabel 1..................................... Tabel 11............................... Tabel 6... Tabel 6.2 Parameter dan rumus kemagnetan .............. Tabel 9........5 Tabel Nameplate Motor Induksi .................. Tabel 12........... Tabel 1.......... Waktu pemutusan maksimum sistem TN ...... Tabel 11.................................2............................. Tabel 3............. Tabel 11........ Tabel 11................................... Penampang penghantar sistem TN .. Tabel 12......3 Hubungan Sisi Kumparan dengan Lamel Belitan Gelung.......... Waktu pemutusan maksimum sistem TN . Tabel 11......................................... Tabel 1...................2 Harga rata-rata gelombang sinusoida....................... Tabel 12............ Tabel 1....2.............. ..8 Pengukuran ............................................1 Permeabilitas ........1....................................................... Jenis Pembumian Sistem ............................................................3.....4..4 Bentuk tegangan dan arus listrik AC...................1..9..... Aplikasi Op-Amp Sebagai Kontroller...................... Tabel 9.. Tabel 11..... Tabel 3......................... Tabel 14........................1 Notasi pengenal belitan Generator DC ...........11............ Tabel 3..................................... Waktu Pemutusan Maksimum Pada Sistem IT..4.............................2 Resistansi dan Konduktivitas .. Tabel 11...............3 Harga efektif gelombang sinusoida .......4 Hubungan Sisi Kumparan dengan Lamel Belitan Gelombang..........5. ................... Tabel 1...... Batasan Nilai Transistor ..2............................. Tabel 12.. Tabel 11...10...... Daya tersambung fungsi arus primer ............ Tabel 12.1 Harga Sesaat Tegangan Sinusoida ....................................... Tabel 4....................8................................. Tahanan Pembumian RA pada Sistem TT ......... Tabel 3...1 Kemampuan Hantar Arus ........................6 Koefisien temperatur bahan pada 200C ... Parameter kontroller pendekatan Chien/Hornes/Reswick ................................ Tabel 12............ 1-10 1-12 1-12 1-14 1-15 1-16 2-12 2-15 3-8 3-9 3-10 3-12 3-53 4-25 6-11 6-19 6-25 6-27 8-3 8-3 9-10 9-10 10-18 11-5 11-6 11-8 11-12 11-15 11-15 11-16 11-16 11-19 11-23 11-24 12-4 12-4 12-26 12-27 12-28 12-28 14-5 14-6 xxiv.................................. Istilah penting dalam sistem kontrol .... Tabel 11................... Jenis Penyearah Diode .. Perbandingan jenis kontroller untuk masing-masing aplikasi ...1......... Tabel 8.................. Tabel 8...........3 Tegangan dan arus pada Resistor.............. Kemampuan ELCB pada tegangan 230V .................2................. Tabel 11........2 Rangkaian Motor-motor DC ..................................................1............ Nilai resistansi isolasi minimum .................................................... Besaran Sistem Internasional ......1 Grup rangkaian umum untuk arus putar-transformator daya ....... Tabel 14..............2.......................... Tabel 11........................................

... Standar Daya PLN ....... Tabel 14. ....................................................................5............3... 14-7 14-7 14-8 14-18 xxiv..... Tabel 14... Daya tersambung fungsi Pelabur ...........4....DAFTAR TABEL   Tabel 14........................................6........ Golongan Pelanggan PLN ............. Tabel 14....................................... Daya Tersambung Tiga Phasa ..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful