Siswoyo

TEKNIK LISTRIK INDUSTRI
JILID 3 SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang

TEKNIK LISTRIK INDUSTRI
JILID 3
Untuk SMK
Penulis Perancang Kulit Ukuran Buku : Siswoyo : TIM : 17,6 x 25 cm

SIS t

SISWOYO Teknik Listrik Industri Jilid 3 untuk SMK /oleh Siswoyo ---Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. iii , 218 hlm ISBN ISBN : 978-979-060-081-2 : 978-979-060-084-3

Diterbitkan oleh

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2008

KATA SAMBUTAN Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya, kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan. Jakarta, Direktur Pembinaan SMK

PENGANTAR
Era persaingan dimasa sekarang dan masa yang akan datang mensyaratkan bahwa bangsa yang unggul adalah yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang unggul. Keunggulan SDM hanya dapat diraih melalui pendidikan. Pemerintah melalui UU Sisdiknas No 20/ 2003, jenjang pendidikan menengah kejuruan termasuk program vokasional yang mendapatkan perhatian. Buku Teknik Listrik Industri ini disusun berdasarkan profil standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk bidang Teknik Listrik Industri. Dengan pemahaman yang dimiliki, diharapkan dapat menyokong profesionalitas kerja para lulusan yang akan memasuki dunia kerja. Bagi para guru SMK, buku ini dapat digunakan sebagai salah satu referensi sehingga dapat membantu dalam mengembangkan materi pembelajaran yang aktual dan tepat guna. Buku ini juga bisa digunakan para alumni SMK untuk memperluas pemahamannya di bidang pemanfaatan tenaga listrik terkait dengan bidang kerjanya masing-masing. Buku ini dibagi menjadi lima belas bab, yaitu: (1) Pengetahuan Listrik dasar (2) Kemagnetan dan elektromagnetis (3) Dasar Listrik arus bolak-balik (4) Transformator (5) Motor Listrik arus bolak balik (6) Mesin arus searah (7) Pengendalian motor listrik (8)Alat ukur dan pengukuran listrik (9) Elektronika dasar (10) Elektronika daya (11) Sistem pengamanan bahaya listrik (12) Teknik pengaturan otomatis (13) Generator sinkron (14) Distribusi tenaga listrik (15) Pembangkit listrik Mikrohidro. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktur Pembinaan SMK, Kasubdit Pembelajaran, beserta staf atas kepercayaan dan kerjasamanya dalam penulisan buku ini. Kritik dari pembaca dan kalangan praktisi akan kami perhatikan. Semoga buku ini bermanfaat bagi banyak pihak dan menjadi bagian amal jariah bagi para penulis dan pihak-pihak yang terlibat dalam proses penyusunan buku ini. Amin

Penulis

i

........................ 2-2 2.....19 1................ 2-9 2........................ 1-32 Soal-Soal ........ 1-28 Rangkuman ...........................................20 1......... 3-2 3-4 ......1-7 Arus Listrik pada PenghantarLogam .....................17 1.............................................................................1-3 Tegangan Listrik..........Daftar Isi : BAB 1 1.......................... 1-16 Hubungan Seri Resistor .......................... 2-7 2.............................................................13 1........................1-4 Arus Listrik....................5 Bahan Ferromagnet ................ 2-10 2.....16 1............................... 1-16 Hubungan Paralel Resistor …......1-9 Kerapatan Arus Listrik ..........................................1 Prinsip Pembangkitan Listrik AC ..................................................1-18 HukumKirchoff-Arus ......................................2 1...........................................................................3 Kuat Medan Magnet ..... 1-27 Hubungan Seri Baterai ……............................ 2-16 2.......15 1......................... 2-8 2.. 3............... 2-14 2.............. 1-21 Ekivalen Sumer Tegangan dan Sumber Arus ............................................................................................3 1....6 1........2 Prinsip Dasar Listrik AC .... 1-9 Tahanan Penganta...............1 1. 1-11 H u k u m Ohm ....................................... 1-8 Mengukur Arus Listrik ...................23 Fenomena Elektrostatis ............................................................................................................21 1.. 1-17 Hukum Kirchhof-Tegangan ................................................14 1...... 1-12 Tahanan Konduktor .....6 Rangkaian Magnetik .................................... 1-22 Rangkaian Resistor Gabungan .....................8 Rangkuman ..18 1..................................1-20 Tahanan Dalam Baterai .......................................................9 Soal-soal .7 1...........4 1.....5 1.. 1-13 Resistor . 2-23 2..............................22 1............................................................................. 2-25 BAB 3 3.........9 1......... 1-34 BAB 2 2...................................................4 Kerapatan Fluk Magnet...................................................7 Aplikasi Kemagnetan & Elektromagnet ............................................................11 1............ 1-19 Mengukur Resistansi dengan Tegangan dan Arus ...............................1 Prinsip Kemagnetan ....................................... 1-24 Konversi Hubungan Bintang-Segitiga ...........8 1.................10 1.......................................................12 1...........................1-2 Generator Elektrostatis Van de Graff ......................2 Fluksi Medan Magnet ..........................

................................................. 4-15 4.............................................................................. 4-25 4................. 3........................................................12 Transformator khusus ......18 Hubungan belitan Transformator ....... 3........13 Transformator Pengukuran ....3........5 Rangkaian Resistor Seri Induktor dengan Listrik AC ............................................... 4-4 4....................9 Pengukuran Daya Listrik Tiga Phasa ............................11 Autotransformator ... 4-3 4.................................................................................................... 4-20 4........16 Transformator 3 Phasa .... 4-2 4.... 4-28 .................................... 4-17 4...12 Soal-soal ................ 4-27 4.................. 3............ 4-3 4............ 4-23 4..............................................10 Kompensasi Daya ...............................................11 Rangkuman .... 3..................19 Hubungan J a m Belitan Trafo ..............................................................10 Akibat Hubung Singkat ..............................22 Transformator dalam Jaringan Asimetris ........... 4-21 4.......6 Rangkaian Listrik Transformator ............. 3.......14 Trafo Pengukuran Tegangan .....4 Bilangan Komplek ..... 4-20 4........20 Minyak Trafo dan Relay Buchholz ............................................26 Soal-soal .8 Sistem Listrik Tiga Fasa ...3 K o m p o n e n Pasif D a l a m Listrik AC .................................. 4-16 4.................................................................. 4-10 4..............................................................................5 Inti Transformator .................. 3...............6 Rangkaian Resistor Seri dengan Kapasitor ......7 Diagram Vektor Tegangan ...........15 Trafo Pengukuran Arus ............. 4-24 4......... 4-13 4................... 3.25 Rangkuman .................4 Tranformator Ideal .........21 Konfigurasi Transformator 3 phasa ...........................................................2 Transformator .............. 4-7 4........................ 1 M e s i n Listrik .......................24 Paralel Dua Transformator ...... 4-14 4................................... 4-9 4...................................... 4-9 4.....8 Rugi-rugi Transformator .............................................................. 4-21 4..................... 3-12 3-17 3-21 3-33 3-40 3-45 3-53 3-55 3-58 3-61 BAB 4 4 .... 3...........17 Inti Transformator 3 Phasa ..... 4-22 4.............................. 4-18 4................3 Prinsip kerja Transformator ............................................... 3.................. 4-16 4.........................................................7 Resonansi ...............................................23 Pengelompokan Hubungan Transformator ........................... 4-12 4.................................................9 Efisiensi Transformator ....................................................................................

..... 5.. 6-20 6...................................19 Motor Universal ..... 5..... 5.......................16 Prinsip kerja Motor AC Satu Phasa ................... 5.......... 5......... 5.................................... 5................................. 6-12 6............................. Torsi dan Daya Motor ..............7 Putaran Motor Induksi ........ 5........... 6-21 ........................ 5............................................4 Prinsip Kerja Motor Induksi ....21 Rangkuman . 5..............1 Mesin Arus Searah ....................... 6-8 6.3 Hubungan Kecepatan........................................14 Motor DC penguat terpisah .......................5 Generator belitan Kompound... ..................................................................... 6-4 6.................2 Prinsip kerja Generator DC .............. 6-15 6................. 6-8 6.............................................12 Pengasutan Saklar Bintang-Segitiga...............................................................15 Motor Dua Kecepatan (Dahlander) ......13 Motor belitan Seri .........8 Arah Putaran Mesin DC ................. 5...................... 5....................................................... 5...........10 Pengasutan Hubungan Langsung (DOL) .....13 Pengasutan Soft Starting .. 5-2 5-2 5-3 5-4 5-7 5-7 5-9 5-9 5-10 5-11 5-12 5-14 5-15 5-16 5-19 5-20 5-22 5-23 5-24 5-25 5-25 5-27 BAB 6 6.......................................................................................................................12 Reaksi Jangkar pada Motor DC .........6 Rugi-rugi dan Efisiensi Motor Induksi ......... 6-9 6..............BAB 5 5............................................. 5.................11 Pengaturan Kecepatan Motor DC ................................................... 5..... 5-22 Soal-soal ......... 5.9 Prinsip kerja Motor DC .......................9 Pengasutan Motor Induksi ...........4 Generator belitan Shunt .7 Reaksi Jangkar ......................... 6-13 6................ ....................11 Pengasutan Resistor Stator .......................17 Motor Kapasitor .. 6-16 6.....3 Generator penguat terpisah ....................................................................................................14 Pengasutan Motor Slipring .......................18 Motor Shaded Pole . 6-2 6........................... 6-18 6..................... 5.............1 Mengukur Kecepatan Putaran .... 6-19 6............................................................................................................10 Starting Motor DC ...............................2 Mengukur Torsi ........................................... 5....... 5..................20 Motor Tiga Phasa Suply Tegangan Satu Phasa ...............................................................................................5 Konstruksi Motor Induksi ................................................ 6-7 6..................................15 Motor DC belitan Shunt.................. 6-10 6.....................................8 Karakteristik Torsi Motor Induksi .. 5...............................6 Konstruksi Generator DC ..

..............17........................ Multimeter Analog ......... 7-7 7............18 Rugi-rugi Daya dan Efisiensi Motor DC ............................................................................. 7-8 7. 7-26 7.......4...... 8-14 8.................................... ............ Alat Ukur Digital . 8-18 8.............................................. 8-14 8.... 8-8 8...10 Instalasi Motor Induksi Sebagai Water Pump .............................18....... 6-21 6..............7 Pengendali Dua Motor Bekerja Bergantian ......................................................... 8-16 8...................20 Soal-soal .....11...................8.......... 6-22 6.............................................................. 7-3 7.....................20.16............................11 Rangkaian Kontrol Motor ................... Pengukuran Tegangan DC ................................... 8-5 8............................................ 8-22 .....................19..... Alat Ukur Elektrodinamik ...........................................................12...13 Soal-soal . Osiloskop Digital .............. 7-24 7......... Direct ON Line .........2 Komponen Sistem Pengendalian .........................................14........ 7-33 7..................5............................................. Pengukuran Arus DC .. 7-19 7....................... ……............... 8-2 8....6 Pengendalian Putaran Kanan-Kiri ............... 7-34 BAB 8 8... Alat Ukur Listrik Analog ..... Sistem Satuan ......................................................3 Pengendalian Kontaktor Elektromagnetik ....................... .....................................................3........ 8-17 8...... 8-4 8.............9 Panel Kontrol Motor .. 6-30 6..... 8-19 8............ 8-4 8...........................15.. Ukuran Standar Kelistrikan ........9........................ 8-21 8.............1 Sistem Pengendalian .......................................................2. Osiloskop Analog .................................................. 8-12 8.............1.................................................... Jembatan Wheatstone .................................................................. Sistem Pengukuran ............ 8-19 8.........8 Pengendalian Motor Soft Starter ............................. Osiloskop Dua Kanal .........13....... Osiloskop ....10.......... Alat Ukur Besi Putar ..................................17 Belitan Jangkar ..... 6-33 BAB 7 7...... 8-10 8.......... 7-14 7.. 8-7 8......... 6-29 6. Pengukuran Tahan .....19 Rangkuman ....... ............................................... 7-2 7...... 8-3 8...................................................................................................7.................. Alat Ukur Listrik ..................... 7-10 7........ Alat Ukur Piringan Putar ....12 Rangkuman ...................... Alat Ukur Analog Kumparan Putar . Data Teknik Osiloskop ........................... 7-21 7..5 Pengendalian Bintang-Segitiga ............. 8-7 8.....6............................................ 8-9 8......4 Pengendalian Hubungan Langsung. 7-17 7........................................................6..................16 Motor DC belitan Kompound .

........ 9-3 9... 10-12 10.. Proteksi Tegangan Ekstra Rendah ............1. 11-2 11-4 11-7 11-8 11-9 11-10 11-11 ..... 9-20 9...................................11 Rangkuman ............................4......... 11......................... 9-6 9..... 11............................................ 11......... 9-11 9.............................................. 8.24............................. 10-30 10...........1 Konversi Daya ..........12 Soal-soal ... Rangkuman ...................10-11 10....... 9-4 9................................................................................ 9-2 9............... Kode International Protection ..........................6 Diode ......................................................................................5 Sambungan PN ........... 9-21 BAB 10 10..................... 10-31 BAB 11 11................ Metode Lissajous ..................... 9-5 9.12 Soal-soal ....................5........ 10-4 10.......... 9-8 9......................10 Aplikasi Elektronika Daya ......9 Modul Trigger TCA 785 .......... Tindakan Pengamanan untuk Keselamatan .................. Sistem Pengamanan Bahaya Listrik .....................4 Semikonduktor Tipe P .................................... Soal-Soal ........................................... 9-1 9...............8 Transistor Bipolar ... 10-18 10..10-26 10...8.......23......... Proteksi dengan Rintangan .. 11......................11 Rangkuman ......8 Penyearah Terkendali Thyristor ...................................................................9 Transistor dalam Praktek ... 8......................... 10-4 10...................7 Penyearah Diode ...............................................................................3.........7...............................................6....4 Transistor ...................................................................2 Struktur Atom Semikonduktor ............................. 8-24 8-28 8-29 8-31 BAB 9 9............... 8..................................22..............................................7 Diode Zener .......................................2................21.. 9-4 9...............................10-25 10..................... Jenis Gangguan Listrik ............................ Proteksi dengan Isolasi Bagian Aktif ...................................................2 Komponen Elektronika Daya ....... 11..............................6 IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor) ....................10 Garis Beban Transistor ............................. 9-10 9...................... Pengukuran Dengan Osiloskop ............................................. 10-1 10........................3 Diode ......... 10-6 10..........................3 Semikonduktor Tipe N .................. 11...........5 Thyristor ........ 10-9 10..1 Bahan Semikonduktor ......................

.. 12-27 12.................. Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian IT ......... Proteksi dari Sentuhan Tidak Langsung ........ 12-18 12........ 11-17 11..... Tipe Kontroler ...............18......5............................. Pengukuran Tahanan Isolasi Lantai dan Dinding ................... Elektropneumatik ..21........12-17 12....................................4.8........................................... 11-24 11....... Proteksi Gawai Proteksi Arus Sisa (ELCB) ....................... Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TN ................ Kontroler Derivatif (D) ...9.............. 12-17 12........12-24 12.... 12-27 12.... Pengujian Sistem Pembumian TN .. Kontroler D u a Posisi ...................8... 12-10 12................................. 12-29 12......2.............................23.........22....... 12-25 12....1.....12... Pengertian sistem Pengaturan . Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TT .........17. 11-25 11.............16.................................... 11-21 11............ Komponen Elektro Pneumatik .............. 12-23 12..... 11-12 11.................. 12-2 12.....24..... Rangkaian Dasar .......... Kontroler Proporsional Integral (PI) ............ 12-35 12. 11-13 11...... Proteksi dengan Isolasi Ganda ............. Soal-soal .................................11..................20.........19..........20........ Kontroler Proporsional (P) ............................17................... 11-11 11............ 11-24 11...........11.........10.......... 12-28 12.. 12-36 12......... 12-20 12................................................ 12-5 12.15..............................9.................... 11-19 11..............................................14............... Perilaku Sistem Kontrol ...................14..........13.................16........ 11-15 11... 12-26 12............................... Optimisasi Kontroler ........ Diagram Blok Sistem Kontrol ....... 11-25 11....11..........19......................... Seleksi tipe Kontroler untuk Aplikasi Tertentu ... 11-20 11................... Jenis Sistem Distribusi ...................... Kontroler PID .............. 12-23 12......... Proteksi pemisahan Sirkit Listrik .15.. 11-22 11.......18.............................................. 11-23 11...................................................... 11-27 BAB 12 12........... 12-22 12................. 11-18 11..12...... 11-14 11..............3.... Kontroler Tiga Posisi ..10........................................ Rangkuman ... 12-37 .. Sistem Pembumian TN .......... Karakteristik Osilasi pada Sistem Kontrol ................ Pengukuran Tahanan Pembumian .. Proteksi lokasi tidak Konduktif ..................6.... Pengukuran Arus Sisa dan Tegangan pada ELCB ........... Kontroler Proporsional Derivatif (PD) ... Rangkuman .... Soal-soal ........ Kontroler Integral (I) ...........................13............ Pengukuran Tahanan Pembumian dengan Voltmeter dan Ampermeter ............................7...

....2...........8................................. Prinsip Kerja .. Perawatan Dan Perbaikan 15. Penghantar ....... Kerja Parallel Generator ..... Spesifikasi Teknik 15......6....4.... 13.....9..... Rangkuman ..........................4....5.... Generator Berbeban ................... 13....11.......... Pengaturan Tegangan ....... Jaringan Listrik ..BAB 13 13....................... Menentukan Resistansi dan Reaktansi ..................................................... Pengoperasian 15..........................12...................... Desain Bendungan 15.......... 14...........7................................7. Penggunaan Energi ................6......8. 14........... 14.2.......... 13...................................... 14......... Soal-soal .............. 14-2 14-2 14-3 14-5 14-9 14-18 14-20 14-26 14-27 14-31 14-32 BAB 15 15................ Pendahuluan ... 14.... 13-1 13-2 13-10 13-12 13-13 13-15 13-18 13-23 13-26 13-27 BAB 14 14... Peringatan Tentang Pengoperasian Mikrohidro 15....9.............. 14.... Memilih Lokasi Mikrohidro 15..................................... 14......... 13...... Alat Pengukur dan Pembatas (APP) ............1........5..................13.3...................... Soal-soal 15-2 15-2 15-4 15-4 15-4 15-8 15-9 15-10 15-13 15-14 15-16 15-17 15-17 ...................1........7.......................................................................... Panel Hubung Bagi (PHB) .......3......... Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik .................................... Langkah Pertama Keselamatan 15.....................5...............10... 14.. Rangkuman . Komponen Generator Mikrohidro 15........ Generator Tanpa Beban .11.............. Sistem Mikrohidro 15..............................................................6... 14...8............ 13...........2... Beban Listrik ... Pembangkit Mikrohidro 15......... Konstruksi Mesin Sinkron .....................3..... 13..10.................... 13....10.9................... 13.... Instalasi Mikrohidro 15.........................................4...1.. Peranan Tenaga Listrik . Sejarah Penyediaan Tenaga Listrik ......... Rangkuman 15... Soal-soal .......... 14..... 13............

.

10.................11 Rangkuman ............... 10....... 10.................................................................. 10.................9 Modul Trigger TCA 785 .............. 10..10 Aplikasi Elektronika Daya ................... 10......2 Komponen Elektronika Daya ..................3 Diode ..................................................................................... 10-1 10-4 10-4 10-6 10-9 10-11 10-12 10-18 10-25 10-26 10-30 10-31 ..................................12 Soal-soal ................... 10..........7 Penyearah Diode .......... 10...............................................................8 Penyearah Terkendali Thyristor ............... 10.. 10............................................................................BAB 10 ELEKTRONIKA DAYA Daftar Isi : 10... 10........4 Transistor .........................1 Konversi Daya .......................................5 Thyristor ......................................................................6 IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor) .....................

ada empat jenis pemanfatan energi yang berbeda-beda gambar-10.Elektronika Daya 10. Ketiga dari sumber PLN 220 V dengan AC konverter diubah tegangannnya menjadi 180 V untuk menyalakan lampu. Gambar 10. Energi mengalir dari sistem listrik AC satu arah ke sistem DC. Keempat dari sumber Akumulator truk 24 V dengan DC konverter diubah tegangan 12 V untuk pesawat CB Transmitter.1 dijelaskan ada empat konverter daya yang terbagi dalam empat kuadran. Contoh: Listrik AC 220 V/50 Hz diturunkan melewati trafo menjadi 12VAC dan kemudian disearahkan oleh Diode menjadi tegangan DC 12V 10-2 . Pertama dari listrik PLN 220 V melalui penyearah yang mengubah listrik AC menjadi listrik DC yang dibebani motor DC. 1. Kedua mobil dengan sumber akumulator 12 V dengan inverter yang mengubah listrik DC menjadi listrik AC dihasilkan tegangan AC 220 V dibebani PC.1.1. Konversi Daya Ada empat tipe konversi daya. Kuadrant 1 disebut penyearah fungsinya menyearahkan listrik arus bolak-balik menjadi listrik arus searah.1 : Pemanfaatan Energi Listrik Pada gambar-10.

(4) sistem kontrol lop tertutup dan (5) beban. Contoh: tegangan AC 220 V dan frekuensi 50 Hz menjadi tegangan AC 110 V dan frekuensi yang baru 100 Hz. yaitu (1) sumber energi. Contoh: Listrik DC 12 V dari akumulator dengan perangkat inverter diubah menjadi listrik tegangan AC 220V. (3) piranti pengaman dan monitoring. Listrik arus searah diubah dalam menjadi arus searah dengan besaran yang berbeda. Kuadran 3 disebut inverter yaitu mengubah listrik arus searah menjadi listrik arus bolak-balik pada tegangan dan frekuensi yang dapat diatur. sumber energi piranti pengaman dan monitoring komponen daya sistem kontrol lop tertutup beban Gambar 10. (2) komponen daya. Kuadran 4 disebut AC-AC konverter yaitu mengubah energi listrik arus bolak balik dengan tegangan dan frekuensi tertentu menjadi arus bolak balik dengan tegangan dan frekuensi yang lain. Ada dua jenis konverter AC. Kuadran 2 disebut DC chopper atau dikenal juga dengan istilah DCDCkonverter. 3.2. yaitu pengatur tegangan AC (tegangan berubah.Elektronika Daya 2. frekuensi konstan) dan cycloconverter (tegangan dan frekuensi dapat diatur). frekuensi 50 Hz.2 : Diagram Blok Konverter Daya 10-3 . Contoh: Listrik DC 15V dengan komponen elektronika diubah menjadi listrik DC 5V. 4. Rancangan konverter daya paling sedikit mengandung lima elemen gambar-10.

yaitu dari anode ke katoda yang disebut posisi panjar maju (forward). kemampuan menahan perubahan arus sesaat di/dt serta kemampuan menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt. Diode Diode memiliki dua kaki.3 dan gambar 10. Bahan semikonduktor memiliki sifat bisa menjadi penghantar atau bisa juga memiliki sifat menghambat arus listrik tergantung kondisi tegangan eksternal yang diberikan.Elektronika Daya 10.3. Demikian juga dengan komponen Thyristor mampu menahan tegangan anoda-katoda (VAK).4. Tetapi ketika diberikan bias mundur. aluminium. IGBT dsb. bahan semikonduktor memiliki sifat sebagai isolator. Namun Diode memiliki keterbatasan menahan tegangan panjar mundur yang disebut tegangan break down.6. 10-4 .4: Thyristor arus kolektor (IC) terpenuhi. 10. baja. seperti kawat tembaga. yaitu Anoda dan Katoda gambar 10. Triac. Beberapa komponen elektronika daya meliputi: Diode. dan mampu menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt gambar 10. menahan perubahan arus sesaat di/dt. yang disebut panjar mundur (reverse) gambar 10. bahan konduktor dipakai sebagai konduktor listrik. Gambar 10. Jika tegangan ini dilewati maka Diode dikatakan rusak dan harus diganti yang baru. Komponen Elektronika Daya Bahan konduktor memiliki sifat menghantar listrik yang tinggi. Sebaliknya Diode akan menahan aliran arus atau memblok arus yang berasal dari katode ke anoda. dsb. mengalirkan arus anoda yang besar (IA). dapat melewatkan arus anoda (IA) yang besar. besi. Gambar 10. mampu menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt.3: Transistor daya Diode yang dipakai elektronika daya memiliki syarat menahan tegangan anoda-katode (VAK) besar. Komponen Transistor daya harus memenuhi persyaratan memiliki tegangan kolektor-emiter (VCEO) yang besar.5.2. penguatan DC (β) yang besar. Diode hanya dapat melewatkan arus listrik dari satu arah saja. Transistor .Thyristor. maka semikonduktor akan berfungsi sebagai konduktor. Ketika diberikan tegangan bias maju.

Jika tegangan reverse terlampaui maka Diode akan rusak secara permanen gambar 10. Garis arus mundur (reverse) dimulai sumbu nol ke arah bawah dengan orde mA. Karakteristik sebuah Diode digambarkan oleh sumbu horizontal untuk tegangan (Volt). Simbol dan fisik Diode Gambar 10. Diode memiliki batas menahan tegangan reverse pada nilai tertentu. Tegangan positif (forward) dihitung dari sumbu nol ke arah kanan. Sumbu vertikal untuk menunjukkan arus (mA sampai Amper). untuk Diode germanium tegangan cut-in 0.3 Volt. Diode silikon akan mulai forward ketika telah dicapai tegangan cut-in sebesar 0. 10-5 . a) Panjar maju (forward) dan b) panjar mundur (reverse) Pada kondisi panjar maju (forward) Diode mengalirkan arus DC dapat diamati dari penunjukan ampermeter dengan arus If. Tegangan negatif (reverse) dimulai sumbu negatif ke arah kiri.7.6. kondisi ini disebut posisi mundur (reverse).7 Volt.5.Elektronika Daya Gambar 10. Karakteristik Diode menggambarkan arus fungsi dari tegangan. Pada kondisi panjar mundur (reverse) Diode dalam posisi memblok arus. Garis arus maju (forward) dimulai dari sumbu nol keatas dengan satuan Amper. untuk tegangan disebut tegangan maju Uf (forward).

0 mA.0 mA dan terbesar 4.8. 100 mA. Dalam aplikasi elektronika daya. Transistor berfungsi bekerja sebagai saklar yang bekerja ON/OFF pada kecepatan yang sangat tinggi dalam orde mikro detik. Ada sepuluh perubahan arus basis IB.2 mA. Karakteristik output Transistor BD 135 yang diperlihatkan pada gambar-10.6V tegangan reverse maksimum yang diijinkan sebesar 50V. tegangan breakdown terjadi pada tegangan mendekati 75V.5 mA sampai 4. yaitu : Tegangan cut-in besarnya 0.Elektronika Daya Gambar 10. Transistor Daya Pembahasan tentang Transistor sudah dibahas pada Bab 9 Elektronika Dasar. bahwa Transistor memiliki dua kemampuan. pertama sebagai penguatan dan kedua sebagai saklar elektronik. Misalnya dalam teknik Switching Power Supply.5 mA. 1. yaitu dimulai dari terkecil IB = 0. 150 mA sampai 370 mA dan arus kolektor IC terbesar 400 mA.5 mA. 10. 1. Jika tegangan breakdown ini terlewati dipastikan diode akan terbakar dan rusak permanen. Transistor banyak digunakan sebagai saklar elektronika. 0.8: Karakteristik Output Transistor 10-6 .4. Tampak perubahan arus kolektor IC terkecil 50 mA.7: Karakteristik Diode Dari pengamatan visual karakteristik diode diatas dapat dilihat beberapa parameter penting. Gambar 10.

pada saat tersebut tahanan RCE tak terhingga gambar-10. yaitu ketika Transistor kondisi ON. Ketika Transistor sebagai saklar kita akan lihat tegangan kolektor terhadap emitor UCE.11. Pertama Transistor kondisi sebagai saklar ON terjadi ketika tegangan UCE saturasi. 10-7 .1.Elektronika Daya 10. Ketika Transistor kondisi OFF. Saat Transistor kondisi ON tegangan UCE saturasi. Ketiga ketika arus basis IB mendekati nol. dan Transistor kondisi OFF. Kedua Transistor berfungsi sebagai penguat sinyal input ketika arus basis IB berada diantara arus kerjanya A2 sampai A1. Gambar 10.10 : Tegangan Operasi Transistor sebagai saklar Gambar 10. akan mengalir arus basis IB yang membuat Transistor cut-in dan menghantarkan arus kolektor IC. Arus basis IB dan arus kolektor maksimum dan tahanan kolektor emitor RCE mendekati nol. yaitu dengan mengatur arus basis IB dapat menghasilkan arus kolektor IC yang dapat menghidupkan lampu P1 dan mematikan lampu.10.11 : Garis Beban Transistor Karakteristik output Transistor memperlihatkan garis kerja Transistor dalam tiga kondisi.4. Transistor sebagai Saklar Transistor dapat difungsikan sebagai saklar elektronik. sehingga lampu P1 menyala. terjadi saat arus basis IB maksimum pada titik A3. tegangan UCE mendekati tegangan UB dan arus basis IB dan arus kolektor IC mendekati nol.9 : Transistor Sebagai Saklar Gambar 10. Ada dua kondisi. Dengan pengaturan arus basis IB Transistor dapat difungsikan sebagai saklar elektronik dalam posisi ON atau OFF. Transistor kondisi OFF ketika tegangan UCE sama dengan tegangan suply UB titik A1 gambar-10. Jika tegangan basis U1 dimatikan dan arus basis IB=0. terjadi antara 0 sampai 50 mdetik. dengan sendirinya Transistor kembali mati dan lampu P1 akan mati. Dengan tegangan supply UB = 12V dan pada tegangan basis U1.

Elektronika Daya U .I C IB = U . tegangan UBE = 0. RV = 5.I C 3.65 V.65 V.12 Tentukan besarnya tahanan RC dan RV ? Gambar 10.65V ).Bmin (3.12 : Transistor Sebagai Gerbang NAND Jawaban : a) RC = U b − U F − U CEsat 5V − 1.120 = U .6 kΩ 10-8 .4 V. tegangan LED UF = 1.I C IB = U IB IBmin Bmin IC RV U1 UBE Faktor penguatan tegangan Arus basis Arus basis minimum Faktor penguatan Transistor (β) Arus kolektor Tahanan depan basis Tegangan input Tegangan basis emitor Contoh : Transistor BC 107 difungsikan gerbang NAND = Not And.2V = If 20mA (U 1 − U BE ).20mA RC = 158 Ω .65V − 0.Bmin RV = U . tegangan sinyal 1 U1 = 3.4V − 0. dan Bmin = 120. gambar-10. tegangan saturasi UCEsat = 0. IBmin Bmin (U 1 − U BE ). arus mengalir pada LED IF = 20 mA.5 k Ω . RC = 150 Ω b) RV = RV = 5.2 V dan faktor penguatan tegangan U = 3.

Juga dikenal ada dua jenis Thyristor dengan P-gate dan N-gate gambar-10. Thyristor Thyristor dikembangkan oleh Bell Laboratories tahun 1950-an dan mulai digunakan secara komersial oleh General Electric tahun 1960an. Katoda dan Gate. salah satu alasannya adalah memiliki kemampuan untuk bekerja dalam tegangan dan arus yang besar.Elektronika Daya 10. Thyristor memiliki tiga kaki. Gambar 10.5. Dengan diode R1 yang berfungsi sebagai running diode gambar-10. dengan mengatur arus gate IG yang besarnya antara 1 mA sampai terbesar 100 mA. Ketika Transistor dari kondisi ON dititik A2 dan menuju OFF di titik A1 timbul tegangan induksi pada relay.14 Gambar 10. Pada tegangan forward UF. dan variabel arus forward IF dan arus reverse IR gambar-10. Tegangan yang mampu diatur mulai dari 50 Volt sampai 5.4. Karakteristik Thyristor memperlihatkan dua variabel. jika arus gate diatur dari 0 mA sampai diatas 50 mA.13 maka arus induksi pada relay diode bukan dialirkan lewat melewati kolektor Transistor.000 Volt dan mampu mengatur arus 0.15. 10-9 . Agar Thyristor tetap ON. Thyristor atau SCR (Silicon Controlled Rectifier) termasuk dalam komponen elektronik yang banyak dipakai dalam aplikasi listrik industri.14 : Bentuk Fisik & Simbol Thrystor Fungsi Gate pada Thyristor menyerupai basis pada Transistor.4 A sampai dengan 1500 A. Transistor Penggerak Relay Kolektor Transistor yang dipasang kan relay mengandung induktor.13 : Transistor Sebagai Penggerak Relay 10. maka tegangan keluaran dari Anoda bisa diatur. yaitu Anoda.2. maka ada arus yang tetap dipertahankan disebut arus holding IH sebesar 5 mA. Tegangan reverse untuk Thyristor UR sekitar 600 Volt. maka Thyristor akan cut-in dan mengalirkan arus forward IF. yaitu tegangan forward UF dan tegangan reverse UR.

yaitu : tegangan gate-katode = 0. Gambar 10.17 tampak empat Thyristor dalam hubungan jembatan yang dihubungkan dengan beban luar RL. arus gate minimal 0.8 V. Gambar-10. Tegangan kerja yang diijinkan pada Anoda = 400 V dan dapat mengalirkan arus nominal = 5 A. agar Thyristor tetap posisi ON diperlukan arus holding = 5 mA.15: Karakteristik Thrystor Thyristor TIC 106 D sesuai dengan data sheet memiliki beberapa parameter penting. 10-10 .16: Nilai Batas Thrystor Aplikasi Thyristor yang paling banyak adalah sebagai penyearah tegangan AC ke DC yang dapat diatur.2 mA.Elektronika Daya Gambar 10.

dipakai komponen utama Variable Voltage Variable Frequency (VVVF) pada KRL modern. dipakai sebagai inverter yang mengubah tegangan DC menjadi AC. dipakai dalam kontrol pembangkit tenaga angin dan tenaga panas matahari.18 : Struktur Fisik dan Kemasan IGBT IGBT memiliki kesamaan dengan Transistor bipolar.17: Fuse Sebagai Pengaman Thrystor 10. 10-11 .6. perbedaannya pada Transistor bipolar arus basis IB yang diatur.Elektronika Daya Gambar 10. pada tegangan UCE = 20 V dan tegangan gate diatur dari minimum 8 V. Dari gambar-10. arus Collector IC dari 2 A sampai 24 A. aplikasinya sangat luas dipakai untuk mengatur putaran motor DC atau motor AC daya besar. Dimasa depan IGBT akan menjadi andalan dalam industri elektronika maupun dalam listrik industri. Sedangkan pada IGBT yang diatur adalah tegangan gate ke emitor UGE. Gambar 10.19 karakteristik IGBT. 9 V dan maksimal 16 V. IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor) IGBT komponen elektronika yang banyak dipakai dalam elektronika daya.

Penyearah dengan Thyristor termasuk penyearah terkendali. Komponen elektronika yang dipakai Diode.20: Diode Setengah Gelombang 1 Phasa . Penyearah Diode Penyearah digunakan untuk mengubah listrik AC menjadi listrik DC.7. listrik DC dipakai untuk berbagai kebutuhan misalnya Power Supply. 10. Ada empat tipe penyearah dengan Diode.1. terdiri penyearah setengah gelombang dan gelombang penuh satu phasa dan setengah gelombang dan gelombang penuh tiga phasa. Penyearah Diode Setengah Gelombang Satu Phasa Rangkaian transformator penurun tegangan dengan sebuah Diode R1 setengah gelombang dan sebuah lampu E1 sebagai beban. Penyearah dengan Diode sering disebut penyearah tanpa kendali. atau Thyristor.19 : Karakteristik Output IGBT 10.Elektronika Daya Gambar 10. Pengisi Akumulator. dan tegangan output setelah Diode Ud bentuknya setengah gelombang bagian yang positifnya saja gambar 10. artinya tegangan output yang dihasilkan tetap tidak bisa dikendalikan. Sekunder trafo sebagai tegangan input U1 = 25 V dan bentuk tegangan output DC dapat dilihat dari osiloskop.20.7. artinya tegangan output yang dihasilkan bisa diatur dengan pengaturan penyalaan sudut α sesuai dengan kebutuhan. Alat penyepuhan logam. 10-12 Gambar 10. Tegangan input U1 merupakan gelombang sinusoida.

2. R3 dan R4 yang dihubungkan dengan sistem jembatan gambar 10. R2. dan titik Ct difungsikan sebagai terminal negatipnya. Tegangan DC yang dihasilkan mengandung riak gelombang dan bukan DC murni yang rata. Pd Penyearah gelombang penuh satu phasa bisa juga dihasilkan dari trafo yang menggunakan centre-tap (Ct).45. Pd Udi Ud U1 Iz Id PT Pd Tegangan searah ideal Tegangan searah Tegangan efektif Arus melewati Diode Arus searah Daya transformator Daya arus searah 10. 10-13 . sedangkan pulsa kedua melalui Diode R3 dan R2.9 .21 : Rangkaian Penyearah Jembatan . U1 Udi Ud U1 Iz Id PT Pd Tegangan searah ideal Tegangan searah Tegangan efektif Arus melewati Diode Arus searah Daya transformator Daya arus searah Iz = Id 2 PT = 1. Tegangan DC pulsa pertama melalui Diode R1 dan R4.23 . disini cukup dipakai dua buah diode.1 .7. Output dihubungkan dengan beban RL. Penyearah Diode Gelombang Penuh Satu Phasa Sekunder transformator penurun tegangan dipasang empat Diode R1.Diode Persamaan tegangan DC : Udi=0.U1 I z = Id PT = 3. Gambar 10.Elektronika Daya Persamaan tegangan dan arus DC : Udi=0.21.

Saat tegangan dari puncak menuju lembah.23.23 . Ketika Diode R1 dan Diode R4 melalukan tegangan positif. 0. 1 A c) CG= 0.75 .23 : Penyearah Jembatan Dengan Filter RC 0.7 V. Rangkaian filter dengan kapasitor menjadikan tegangan DC menjadi lebih rata gambar 10.75 . 12V.up CG Kondensator Id Arus searah fp Frekuensi riple Up Tegangan riple Contoh : Penyearah gelombang penuh diberikan tegangan 12VAC. tegangan ripple up =3.up 100 Hz . frekuensi ripple fp =100Hz.22 . Berikutnya Diode R2 dan Diode R3 melewatkan tegangan negatif menjadi tegangan DC positif. Gambar 10. Hitunglah: a) Faktor daya transformator b) Berapa besarnya tegangan AC c) Tentukan besarnya kapasitas kapasitor Jawaban : a) PT = 1.22 : Penyearah Jembatan Dengan Filter Capasitor CG = 0. Kapasitor CG mengisi muatan dan mengosongkan muatan.23 . tegangan cut-in Diode Uf = 0.8 W b) U1= Ud 2 + 2 . Ιd = ≈ 2200μF fp.4 V 10-14 .75 . terjadi pengosongan muatan kapasitor. Uf = 12 v 2 + 2 .Elektronika Daya Untuk meratakan tegangan DC dipasang kapasitor elektrolit CG berfungsi sebagai filter dengan beban RL gambar 10. 3. kapasitor CG mengisi muatan sampai penuh.7 V = 9. Pd = 1.1A = 14. dan arus 1A.4V.88 V Gambar 10. Ιd fp.

3 pulsa/ periode Gambar 10.Elektronika Daya 10.56. R2 dan R3 dipasang terbalik. Tegangan DC yang dihasilkan negatif gambar-10. Diode hanya konduksi ketika tegangan anode lebih positif dibandingkan tegangan katode. • Diode R3 mulai konduksi pada sudut 2700.3. Gambar 10. atau sepanjang 1200. Arus searah negatif kembali ke sekunder trafo melalui kawat N. Diode R1. sedangkan tegangan yang negatif akan diblok. sampai 3900 juga sepanjang 1200. Penyearah Diode Setengah Gelombang Tiga Phasa Rangkaian penyearah Diode tiga phasa menggunakan tiga Diode penyearah R1.25: Penyearah ½ Gelombang 3 Phasa Diode Terbalik Urutan konduksi masing-masing Diode R1. sampai 2700. R2 dan R3 pada penyearah setengah gelombang dapat diperiksa pada gambar-10.24. ketiga anodenya disatukan sebagai terminal positif.7. • Diode R2 mulai konduksi pada sudut 1500. Tegangan DC yang dihasilkan tidak benar-benar rata. sampai sudut 1500. R2 juga konduksi sepanjang 1200. R2 dan R3 anak konduksi secara bergantian sesuai dengan siklus gelombang saat nilainya lebih positif. R2 dan R3 ketika katodenya disatukan menjadi terminal positif gambar-10. masih mengandung riak (ripple). 10-15 . Masing-masing Diode akan konduksi ketika ada tegangan positif.24 : Penyearah Diode ½ Gelombang 3 Phasa Rangkaian penyearah Diode setengah gelombang dengan ketiga Diode R1.25. • Diode R1 mulai konduksi setelah melewati 300. Tegangan DC yang dihasilkan melalui beban resistif RL.

U1 Udi Ud U1 Iz Id PT Pd Tegangan searah ideal Tegangan searah Tegangan efektif Arus melewati Diode Arus searah Daya transformator Daya arus searah Iz = Id 3 PT = 1.Elektronika Daya Dapat disimpulkan ketiga Diode memiliki sudut konduksi 1200.5 . Penyearah Diode Gelombang Penuh Tiga Phasa Penyearah Diode gelombang penuh tiga phasa menggunakan sistem jembatan dengan enam buah Diode R1. Tegangan DC yang dihasilkan memiliki enam pulsa yang dihasilkan oleh masing-masing Diode tsb. Tegangan DC yang dihasilkan halus karena tegangan riak (ripple) kecil dan lebih rata. Gambar 10.7.27.68 .26 : Urutan Kerja Penyearah Diode 3 Phasa ½ Gelombang Persamaan tegangan dan arus penyearah setengah gelombang: Udi=0.4. Diode R4. 10-16 . R3 dan R5 katodanya disatukan sebagai terminal positif. Pd 10. R6 dan R2 anodanya yang disatukan sebagai terminal negatif gambar 10.

Konduksi dimulai dari Diode R1+R6 sepanjang sudut komutasi 600.1 .27 : Penyearah Jembatan Gelombang Penuh 3 Phasa Urutan konduksi dari keenam Diode dapat dilihat dari siklus gelombang sinusoida. dimana konduksi secara bergantian. kelima R5+R4 dan terakhir R5+R6 gambar 10. Berturut-turut disusul Diode R1+R2.35 . lanjutnya Diode R3+R2. Apa yang terjadi ketika salah satu dari Diode tersebut rusak ? Gambar 10.28.Elektronika Daya Gambar 10. urutan keempat R3+R4. Jelas dalam satu siklus gelombang tiga phasa terjadi enam kali komutasi dari keenam Diode secara bergantian dan bersama-sama. Pd . U1 Udi Ud U1 Iz Id PT Pd Tegangan searah ideal Tegangan searah Tegangan efektif Arus melewati Diode Arus searah Daya transformator Daya arus searah 10-17 Iz = Id 3 PT = 1.28 : Bentuk Gelombang Penyearah Penuh 3 Phasa Persamaan tegangan dan arus penyearah Diode gelombang penuh: Udi=1.

1 PT Pd IZ Id 2 Id 3 Id 3 Vdi: tegangan dc-tanpa beban.9 0.Elektronika Daya Tabel 10. penyearah tak terkendali menghasilkan tegangan keluaran DC yang tetap. Tegangan keluaran penyearah Thyristor dapat diubah-ubah atau dikendalikan dengan mengendalikan sudut penyalaan α dari Thyristor.48 1. IZ: arus yang mengalir melalui satu dioda 10. Id: arus dc. digunakan Thyristor sebagai pengganti dioda. Vd: tegangan dcberbeban.5 1. PT: daya trafo. V1: tegangan ac. Penyearah Terkendali Thyristor Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa. 10-18 . Bila dikehendaki tegangan keluaran yang bisa diubah-ubah.04 1. titik bintang M3U Penyearah enampulsa jembatan B6U Tega ngan tanpa beban Vdi V1 Faktor ripel 0.1. Jenis Penyearah Diode Jenis rangkaian Kode Rang kaian Penyearah satu-pulsa E1U Penyearah dua-pulsa jembatan B2U Penyearah tiga-pulsa. Pulsa trigger dibangkitkan secara khusus oleh rangkaian trigger. Penyalaan ini dilakukan dengan memberikan pulsa trigger pada gate Thyristor. Pd: daya dc.68 0.21 3.1 Id 0.35 0.23 0.8.45 1.18 1.

29: Penyearah Terkendali ½ Gelombang Gambar 10.1. khususnya karena bebannya resistif RL. gelombang negatif di blocking oleh Thyristor. Gambar 10. pemanas heater. Penyearah Thyristor Setengah Gelombang Satu Phasa Rangkaian penyearah Thyristor kelebihannya tegangan outputnya bisa diatur. arus beban dengan tegangan tidak sephasa. tegangan output yang dihasilkan akan mengecil sesuai dengan sudut konduksi dari Thyristor.8. Pada gate diberikan pulsa penyulut α. ketika sudut penyalaan α diperbesar.31.30 :Sudut Penyalaan dan Output Tegangan DC ½ Gelombang Persamaan tegangan pada beban resistif setengah gelombang: Udα= U (1+ cos α) 2 Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode Tegangan effektip Sudut penyalaan gate Pada beban resistif RL akan dihasilkan tegangan dan arus yang sephasa gambar10. dimana antara tegangan dan arus ada beda phasa. rice cooker. misalnya lampu pijar. Dengan beban resistif RL maka arus dan tegangan yang dihasilkan sephasa. Sebuah Thyristor Q1 dan sebuah beban resistif RL dihubungkan dengan listrik AC gambar10.30 Tegangan negatif di blok tidak dilewatkan. Pada gate Thyristor diberikan penyalaan sebesar α. saat Thyristor diberikan trigger α Gambar 10.Elektronika Daya 10.29. dengan mengatur sudut penyalaan gate Thyristor.31 : Tegangan dan Arus DC Beban Resistif 10-19 . maka tegangan positif saja yang dilewatkan oleh Thyristor gambar-10. Dengan penyearah Thyristor setengah gelombang hanya gelombang positif dari sinusoida yang dilewatkan. Yang termasuk beban resistif. Kondisinya berbeda jika beban mengandung induktor. maka Thyristor akan konduksi dan mengalirkan arus kebeban. Untuk beban terpasang mengandung resistifinduktif. Pada beban resistif RL.

Elektronika Daya arus beban naik dan tidak segera mencapai nol saat tegangan berada dititik nol. Ada Diode R1 yang diparalel dengan beban yang disebut sebagai free wheel Diode. untuk beban resistif dan beban induktif gambar-10. Analisa gelombang yang dihasilkan Thyristor hanya konduksi saat tegangan positif saja. Terminal gate Thyristor dihubungkan dengan modul trigger.33 : Modul Gambar 10.32 : Tegangan dan Arus DC Beban Induktif Untuk daya yang lebih besar. Diode freewheel akan mengalirkan tegangan induksi sehingga tidak merusak Thyristor. Thyristor akan konduksi lebih lama sebesar sudut θ dan pada beban muncul siklus tegangan negatif gambar-10.35. Gambar 10.34. Beban yang mengandung resistif-induktif adalah beban motor. misalnya beban motor DC. Potensiometer modul penyulut trigger untuk mengatur sudut penyalaan α. Saat Thyristor menuju OFF maka induktor akan membangkitkan tegangan induksi. Beban resistif memiliki sudut pengaturan pulsa triger 10-20 . Rangkaian pengaturan beban dengan Thyristor setengah gelombang dihubungkan dengan sumber tegangan AC. sudut pengaturan sudut α untuk beban resistif-induktif effektif antara 00 sampai 900. untuk daya kecil hubungan modul trigger ke gate Thyristor bisa langsung gambar-10. Gambar 10.34 : Penyearah Thrystor dengan Diode Grafik tegangan Udα fungsi penyalaan sudut α. Tetapi arus positif dan sebagian arus negatif dilakukan oleh Thyristor.33.32. sisi beban mengandung resistif-induktif. Pada beban resisitip-induksip. Pada beban resistif-induktif ditambahkan sebuah Diode R1 (free wheel Diode). Trafo pulsa Trigger Thrystor gunanya sebagai isolasi rangkaian Thyristor dengan modul trigger gambar-10. tegangan negatifnya diblok. gate dikopel dengan trafo pulsa.

75 ⇒ Udo Udo ∧ 0o: α = 0o = 100 V α = 60o = 75 V ∧ Gambar 10. bentuk tegangan searah antara tegangan dan arus se-phasa.2.35 : Grafik Fungsi Penyalaan Gate Thrystor 10. Q2. Untuk beban induktif sudut pengaturan pulsa trigger. Penyearah Thyristor Gelombang Penuh Satu Phasa Penyearah terkendali penuh satu phasa dengan empat buah Thyristor Q1. Hitung tegangan DC saat sudut penyalaan α = 00 dan α = 600 Jawaban : Udα = 1 ⇒ Udo Udo Udα 60o: = 0. masing-masing diberikan pulsa penyulut pada sudut α untuk siklus positif dan siklus negatif tegangan sumber. Contoh : penyearah Thyristor dengan beban resistif. Dengan beban resistif RL. pada sudut penyalaan α maka Thyristor Q1 dan Q4 akan konduksi bersamaan. Pasangan Thyristor adalah Q1Q4 dan Q2-Q3. Pada beban resistif RL. Tegangan input 100VAC. Gambar 10.8. Q3 dan Q4 dalam hubungan jembatan gambar-10. 10-21 .36 : Penyearah Terkendali Jembatan 1 Phasa Persamaan penyearah Thyristor gelomabang penuh satu phasa beban resistif RL.36.Elektronika Daya dari 00 sampai 1800. direkomendasikan antara 00 sampai 900. pengaturan sudut α dari 00 sampai 1800. dan pada tahap berikutnya menyusul Thyristor Q2 dan Q3 konduksi.

37.9. Q2 dan Q3.8. Aplikasi dipakai pada pengaturan motor DC dengan daya tinggi. Tegangan effektip Sudut penyalaan gate 10. Penyearah Thyristor Setengah Gelombang Tiga Phasa Rangkaian penyearah Thyristor setengah gelombang tiga phasa dengan tiga Thyristor Q1.Elektronika Daya Udα =0.5.9.U Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode. berlaku persamaan tegangan sebagai berikut: Udα =0.U Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode Tegangan effektip Sudut penyalaan gate Untuk beban mengandung resistif dan induktif. Tegangan DC yang dihasilkan melalui beban resistif RL. dengan beban resistif RL gambar10. Katode ketiga Thyristor disatukan menjadi terminal positif. pengaturan sudut α dari 00 sampai 900 saja.3. Masing-masing Thyristor mendapatkan pulsa penyalaan yang berbedabeda melalui UG1. Penyearah tiga phasa digunakan untuk mendapatkan nilai rata-rata tegangan keluaran yang lebih tinggi dengan frekuensi lebih tinggi dibanding penyearah satu phasa. UG3.Udo (1+ cos α) Udo = 0. UG2. terminal negatif dari kawat netral N.5. Gambar 10.Udo cos α Udo = 0.37 : Penyearah Thyristor ½ Gelombang 3 Phasa 10-22 .

Q5. Penyearah Thyristor Gelombang Penuh Tiga Phasa Penyearah Thyristor tiga phasa terdiri atas enam buah Thyristor Q1. Q2.38 : Grafik Pengaturan Sudut Penyalaan Persamaan tegangan pada beban resistif. UG2. berikutnya pada 10-23 .38. Q3. U Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode Tegangan efektif Sudut penyalaan gate 10. Q4. dan UG6. Pada beban resistif.676 . Contoh ketika tegangan DC terbentuk dari puncak gelombang UL1L2 yang konduksi Thyristor Q1+Q6. dan anode dari Thyristor Q4.39. Untuk beban induktif pengaturan sudut penyalaan α antara 00 sampai 900 gambar-10. UG4 . Masing-masing Thyristor mendapatkan pulsa penyalaan yang berbedabeda melalui UG1.Elektronika Daya Arus searah negatif kembali ke sekunder trafo melalui kawat N. Gambar 10. Sebuah beban resistif RL sebagai beban DC gambar. Udα =Udo. cos α Udo = 0.40. UG3.39 : Penyearah Terkendali 3 Phasa Untuk melihat urutan konduksi dari keenam Thyristor dapat dilihat dari gelombang tiga phasa gambar-10. Karena tiap phasa tegangan masukan berbeda 1200.8. Q6 dan Q2 disatukan menjadi terminal negatif. maka pulsa penyulutan diberikan dengan beda phasa 1200.4.10. Katoda dari Diode Q1. Gambar 10. pengaturan sudut penyalaan trigger α dari 00 sampai 1500. dan Q6.Q3 dan Q5 disatukan sebagai terminal positif.UG5. Tegangan DC yang dihasilkan mengandung ripple.

Apa yang terjadi jika salah satu dari keenam Thyristor tersebut mati (misalnya Q1) tidak bekerja.40: Bentuk Tegangan DC Penyearah 3 Phasa Persamaan tegangan pada beban resistif. U Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode Tegangan efektif Sudut penyalaan gate Gambar 10. cos α Udo = 1.41 : Urutan Penyalaan Gate-Thrystor 3 Phasa 10-24 . Udα =Udo. dan apa yang terjadi ketika Thyristor Q1 dan Q3 tidak bekerja? Berikan jawabannya dengan melihat gelombang sinusoida di bawah ini.Elektronika Daya puncak tegangan –UL3L1 yang konduksi Thyristor Q1+Q2 dan seterusnya.35 . pengaturan sudut α dari 00 sampai 1500. Gambar 10.

menghasilkan tegangan gigi gergaji.9. Rangkaian ini terdiri dari potensio R2 yang berguna untuk mengatur sudut penyalaan α. Gambar 10. Tiap trafo pulsa memiliki dua belitan sekunder. Tegangan pulsa trigger dari kaki 14 dan 15 chip TCA 785. • Kaki 14 tegangan output pulsa untuk trafo pulsa T2.43.42.Elektronika Daya 10. • Kaki 15 sebagai sinkronisasi mendapat tegangan sinusoida dari jala-jala.42 : Rangkaian Pembangkit Pulsa Chip TCA785 Dalam modul chip TCA 785 ada beberapa kaki yang harus diperiksa jika kaki output 14 dan kaki 15 tidak menghasilkan tegangan pulsa gambar-10. • Kaki 15 tegangan output pulsa untuk trafo pulsa T1. • Kaki 10 dan 11. Gambar 10. Untuk pengaturan daya besar dipakai trafo pulsa T1 dan T2. untuk T1 untuk melayani Thyristor Q1 dan Q4.43 : Bentuk Gelombang Chip TCA785 10-25 . sedangkan T2 melayani Thyristor Q2 dan Q3. Modul Trigger TCA 785 Rangkaian modul trigger dalam bentuk chip TCA-785 sudah tersedia dan dapat digunakan secara komersial untuk pengaturan daya sampai 15 kW dengan tegangan 3 x 380V gambar-10.

Ketika penyearah kedua dijalankan maka motor DC akan berputar ke kiri. Untuk mengatur kecepatan motor.45 : Aplikasi Pengendalian putaran Motor DC 10-26 . Terdapat dua kelompok penyearah Thyristor.Elektronika Daya Rangkaian lengkap terdiri atas rangkaian daya dengan penyearah asimetris gelombang penuh dengan dua Diode dan dua Thyristor.44.44 : Rangkaian Daya 1 Phasa Beban DC 15 Kw 10. dengan mengatur besarnya tegangan ke terminal motor. penyearah satu jika dijalankan motor DC akan berputar ke kanan.10. Gambar 10. Daya yang mampu dikendalikan sebesar 15 kW beban DC gambar 10. Gambar 10. Aplikasi Elektronika Daya Aplikasi penyearah Thyristor gelombang penuh satu phasa untuk mengendalikan putaran motor DC untuk putaran kekanan dan putaran ke kiri.

motor akan berhenti. Pengendali tegangan saluran AC digunakan untuk mengubah-ubah harga rms tegangan AC yang dicatukan ke beban dengan menggunakan Thyristor sebagai saklar.10. a). Saat potensiometer berharga negatif.Kontrol alat-alat pemanas . Penggunaan alat ini. 10. meliputi: . maka putaran motor dapat diatur dari minimal menuju putaran nominal.Kontrol penerangan . penyearah pertama yang bekerja dan motor DC putarannya kekanan. antara lain.1. TRIAC Gambar 10.46 : Bentuk Dasar Pengendali Tegangan AC 10-27 .46 (b).46 (a) atau menggunakan Triac gambar 10.Elektronika Daya Potensiometer pada modul trig-ger mengatur sudut penyalaan Thyristor.Kontrol kecepatan motor induksi Rangkaian pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan dua-Thyristor yang dirangkai anti-paralel gambar 10. Pengendali Tegangan AC Teknik pengontrolan fasa memberikan kemudahan dalam sistem pengendalian AC. Thrystor Anti Paralel b). penyearah kedua yang bekerja dan motor berputar kekiri. Ketika potensiometer posisi di tengah (tegangan nol). Ketika potensiometer berharga positif.

Setelah itu. Dari gambar 10. Seketika itu Q1 akan konduksi. yang hanya ada satu gate saja. proses yang terjadi sama persis dengan yang pertama.47 : Rangkaian Dimmer dengan TRIAC Pengendalian yang bisa dilakukan dengan menggunakan metoda ini hanya terbatas pada beban fasa-satu saja. misalnya α. bahwa dua Thyristor anti-paralel dapat digantikan dengan sebuah Triac. Gambar 10. Untuk beban yang lebih besar. Penggunaan Triac merupakan cara yang paling simpel. baik yang setengah gelombang maupun gelombang penuh (rangkaian jembatan).47.2. Kemudian pada setengah gelombang berikutnya. Keterbatasannya terletak pada kapasitasnya yang masih terbatas dibandingkan bila menggunakan Thyristor. ketika pada setengah gelombang pertama Q1 harus diberi sinyal penyalaan pada gatenya dengan sudut penyalaan. Barangkali inilah yang membuat rangkaian pengendalian jenis ini sangat populer di masyarakat. metode pengendalian. Q1 akan tetap konduksi sampai terjadi perubahan arah (komutasi). 10-28 .Elektronika Daya Penggunaan dua Thyristor anti paralel memberikan pendalian tegangan AC secara simetris pada kedua setengah gelombang pertama dan setengah gelombang berikutnya. maka pada setengah gelombang pertama Thyristor Q1 mendapat bias maju. Agar rangkaian dapat bekerja. Q2 mendapat bias maju. Pengendalian Dimer Seperti yang telah disinggung sebelumnya. pada setengah perioda berikutnya.46 jika tegangan sinusoidal dimasukkan pada rangkaian seperti pada gambar. Bedanya di sini hanya pada gatenya. Sehingga hasil pengendalian tidak berbeda dari yang menggunakan Thyristor anti-paralel gambar 10. Dengan demikian bentuk gelombang keluaran pada seperti yang ditunjukkan pada gambar. Q2 diberi trigger dengan sudut yang sama. yaitu tegangan menuju nol dan negatif. sedangkan Q1 bias mundur.10. kemudian dikembangkan lagi menggunakan sistem fasa-tiga. Triac merupakan komponen dua-arah sehingga untuk mengendalikan tegangan AC pada kedua setengah gelombang cukup dengan satu pulsa trigger. 10. dan Q2 dalam keadaan sebaliknya. yaitu sekali pada waktu setengah perioda pertama dan sekali pada waktu setengah perioda berikutnya. efisien dan handal. Namun kebutuhan sinyal trigger sama.

10. Pengaturan Kecepatan Motor DC Pemakain motor DC di industri sangat banyak. Blok diagram pengaturan motor DC seperti pada gambar 10. Rangkaian VVVF ini dipakai pada KRL merk HOLEC di Jabotabek. industri tekstil dsb. Selanjutnya sembilan buah IGBT membentuk konfigurasi yang akan menghasilkan tegangan AC 3 phasa dengan tegangan dan frekuensi yang dapat diatur.3. salah satu alasannya karena motor DC mudah diatur kecepatannya.4. Blok Diagram Pengaturan Kecepatan Motor DC 10-29 . 10.48 : Aplikasi IGBT Untuk Kontrol Motor Induksi 3 Phasa Rangkaian Cycloconverter gambar-10.49. Gambar 10.Elektronika Daya 10. Aplikasi IGBT untuk Inverter Gambar 10. dengan mengatur waktu ON oleh generator PWM. Salah satu pemakaiannya di Industri kertas.10.48 dimana tegangan AC 3 phasa disearahkan menjadi tegangan DC oleh enam buah Diode.20.

atau dipakai dalam inverter.Elektronika Daya Cara kerja: 1. Rangkuman • Ada empat konverter daya yang terbagi dalam empat kuadran. 2. Kuadrant 1 disebut penyearah 2. hasilnya 10 x 0. 10-30 . 3. Kuadran 2 disebut DC Chopper 3. mampu menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt. yaitu Anoda. dan mampu menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt • Thyristor memiliki tiga kaki. Kondisi akan terjadi secara terus menerus yang menghasilkan putaran motor DC tetap konstan. • Transistor daya harus memenuhi persyaratan memiliki tegangan kolektoremiter (VCEO) yang besar.05V = 0. Tegangan 0. mengalirkan arus anoda yang besar (IA). yaitu : tegangan gate-katode.5V. 5.11.05V). Kuadran 4 disebut AC-AC Konverter • Komponen elektronika daya yang banyak dipakai meliputi Diode. kemampuan menahan perubahan arus sesaat di/dt serta kemampuan menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt. Motor DC akan berputar setelah dihubungkan dengan suply DC sampai putaran mendekati 1000 Rpm. dapat melewatkan arus anoda (IA) yang besar. • Thyristor memiliki parameter penting. • Thyristor mampu menahan tegangan anoda-katoda (VAK). menahan perubahan arus sesaat di/dt. jenisnya ada P gate dan N-gate. 10. arus gate minimal. 1. • Diode yang dipakai elektronika daya memiliki syarat menahan tegangan anoda-katode (VAK) besar. agar Thyristor tetap posisi ON diperlukan arus holding. 4.5V akan menjadi input Kontroller yang mengatur tegangan yang masuk ke rangkaian jangkar motor DC. penguatan DC (β) yang besar. Transistor dan Thyristor termasuk Triac. • Aplikasi Thyristor yang paling banyak sebagai penyearah tegangan AC ke DC.05V (10V – 10. arus kolektor (IC) terpenuhi. Tegangan 10. Katoda dan Gate. Bagian setting mengatur posisi potensiometer untuk mengatur tegangan 10 Volt pada 1000 Rpm. Tachogenerator akan mendeteksi kecepatan motor DC. Kuadran 3 disebut Inverter 4. Selisih tegangan ini disebut sebagai kesalahan (error) yang menjadi input pengatur tegangan (penguatan 10X).05 Volt dibandingkan dengan tegangan setting 10 V. akibatnya putaran menurun sesuai dengan setting putarn 1000 Rpm 7. dan mengubah menjadi tegangan 10. misalkan 1050 Rpm.05 Volt. diperoleh selisih -0. 6.

U 4. Tegangan gelombang penuh 3 phasa Udα =Udo. cos α Udo=1. Tegangan gelombang penuh 1phasa Udα =0.Udo (1+ cos α) Udo = 0.9. yaitu (1) sumber energi. Penyearah b). dengan mengatur sudut penyalaan daya beban AC dapat dikendalikan. Tegangan setengah gelombang 1 phasa Udi=0. U1 3. Sedangkan pada IGBT yang diatur adalah tegangan gate ke emitor UGE.U1 2. Tegangan setengah gelombang 1 phasa Udα = U (1+ cos α) 2 2.35 . Tegangan setengah gelombang 3 phasa Udα =Udo. • Penyearah tanpa kendali dengan Diode: 1.12.Elektronika Daya • IGBT memiliki kesamaan dengan Transistor bipolar.U • Modul trigger chip TCA-785 dipakai untuk triger sistem satu phasa maupun tiga phasa.U 3. cos α Udo = 0. Tegangan setengah gelombang 3 phasa Udi=0.35. perbedaannya pada Transistor bipolar arus basis IB yang diatur. U1 • Penyearah terkendali dengan Thyristor :' 1. 10-31 . DC Chopper c). • Rancangan konverter daya mengandung lima elemen. Transistor jenis PNP. Soal-soal 1.676 .5. gambarkan skematik pengawatannya dan gambar gelombang sinus dan gelombang DC nya. Tegangan gelombang penuh 1phasa Udi=0.68 . (3) piranti pengaman dan monitoring. (4) sistem kontrol loop tertutup dan (5) beban. (2) komponen daya. Buatlah gambar skematiknya dan jelaskan cara kerja saklar elektronik. Diode BY127 dipakai untuk penyearah gelombang penuh dari sebuah trafo 220/12 Volt. • Ada empat tipe penyearah terdiri penyearah setengah gelombang dan gelombang penuh satu phasa dan setengah gelombang tiga phasa dan gelombang penuh tiga phasa. Jelaskan cara kerja : a). • Pengaturan daya AC dipakai Thyristor terpasang antiparalel. difungsikan sebagai saklar elektronik. AC-AC Konverter 2. Inverter d). Tegangan gelombang penuh 3 phasa Udi=1. U1 4. 3. 10.9 .45.

Transistor BC 107. Penyearah dengan Thyristor gelombang penuh satu phasa dipasang pada tegangan 220 VAC. tegangan cut-in Diode Uf = 0. tegangan sinyal 1 U1 = 3. tegangan UBE = 0.65 V. tegangan ripple up =1. Hitunglah a) nilai tahanan bias sendiri RV dan b) nilai tahanan pembagi tegangan R1 dan R2. Transistor BC 107 difungsikan gerbang NAND. Hitunglah: a) Faktor daya transformator b) Berapa besarnya tegangan AC c) Tentukan besarnya kapasitas kapasitor.2 V dan faktor penguatan tegangan U = 3. diberikan tegangan sumber UB = 12 V. Hitung tegangan DC yang dihasilkan pada sudut pengaturan α = 0 – 600.62 V dengan arus basis IB = 0. Tentukan besarnya tahanan RC dan RV ? 6.4 V. arus mengalir pada LED IF = 20 mA. dan arus 2. tegangan LED UF = 1.7 V.5V. Penyearah gelombang penuh diberikan tegangan 24VAC. 5. 7. frekuensi ripple fp =100Hz. dan Bmin = 120. Membutuhkan tegangan bias UBE =0. 10-32 .3 mA.0A. tegangan saturasi UCEsat = 0.65 V.Elektronika Daya 4.

..14......22........... Sistem Pengamanan Bahaya Listrik ......... Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian IT ..... Proteksi Tegangan Ekstra Rendah ................................. 11.......15.. Proteksi Gawai Proteksi Arus Sisa (ELCB) . 11............ 11...23.....12................. Pengukuran Tahanan Pembumian dengan Voltmeter dan Ampermeter ..19................ 11........ Tindakan Pengamanan untuk Keselamatan ................. 11................ Pengujian Sistem Pembumian TN ...... 11-2 11-4 11-7 11-8 11-9 11-10 11-11 11-11 11-12 11-13 11-14 11-15 11-17 11-18 11-19 11-20 11-21 11-22 11-23 11-24 11-24 11-25 11-25 11-27 .................. 11. Proteksi pemisahan Sirkit Listrik .................................... 11............ 11.......... 11..................... 11.1.........3..4............. 11.....................9..BAB 11 SISTEM PENGAMANAN BAHAYA LISTRIK Daftar Isi : 11.......... 11.... Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TN ........... 11.... 11...........................24..... Proteksi dari Sentuhan Tidak Langsung ....... 11............................10...6... 11......................21.........17..... Proteksi dengan Isolasi Ganda ...................... Proteksi dengan Rintangan . 11...................... 11..5........ Pengukuran Tahanan Pembumian .................... Sistem Pembumian TN .16... Proteksi dengan Isolasi Bagian Aktif .............13.7... 11.................. Rangkuman .... 11........8.................11............ Soal-soal ... Proteksi lokasi tidak Konduktif ................2...... Jenis Sistem Distribusi ..... Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TT ........ 11....... Pengukuran Arus Sisa dan Tegangan pada ELCB................ Kode International Protection ........ Pengukuran Tahanan Isolasi Lantai dan Dinding ........... 11. 11................18............20...... Jenis Gangguan Listrik ..............................................

2. beberapa penelitian menyebutkan sampai dengan arus listrik 50mA adalah batas aman bagi manusia. Daerah 4 (diatas 500mA) jantung akan rusak dan secara permanen dapat merusak sistem peredaran darah bahkan berakibat kematian. Daerah 1 (0. Jantung sebagai organ tubuh yang paling rentan terhadap pengaruh arus listrik. Mengapa tegangan listrik 12 Volt pada akumulator tidak menyengat dan membahaykan manusia ? Tubuh manusia memiliki batas aman dialiiri listrik. Gambar 11.2 : Aliran listrik sentuhan langsung Gambar 11. sumber listrik AC mengalirkan arus ke tubuh manusia sebesar Ik.1. maka besarnya tegangan sentuh adalah sebesar : UB = Rk. Daerah 2 (0. Daerah 3 (200 sd 500mA) Jantung merasakan sengatan kuat dan terasa sakit. Tahanan tubuh manusia rata-rata 1000Ω.5 detik masuk daerah bahaya.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Pernah tersengat aliran listrik PLN 220V ? jika ya pasti sangat mengagetkan. arus yang aman tubuh manusia maksimum 50mA.1.1 sd 0.5 sd 10 mA) jantung bereaksi dan rasa kesemutan muncul dipermukaan kulit.5mA) jantung tidak terpengaruh sama sekali bahkan dalam jangka waktu lama. jika melewati 0. Diatas 10mA sampai 200mA jantung tahan sampai jangka waktu maksimal 2 detik saja. tubuh manusia Rki dan tahanan pijakan kaki Ru2. Ik = 1000Ω x 50 mA = 50 V. ada empat batasan gambar-11. Model terjadinya aliran ketubuh manusia gambar-11. melewati tahanan sentuh tangan Rut. Bahkan beberapa kasus tersengat listrik bisa berakibat pada kematian.1 : Grafik bahaya arus listrik 11-2 .

generator atau transformator. yaitu besarnya arus mengalir ketubuh dan lama waktunya menyentuh. karena tubuh manusia baru merasakan pengaruh tegangan listrik diatas 50V. sehingga ketika terjadi arus bocor akan disalurkan ke tanah dan tidak membahayakan manusia. tangan menyentuh tegangan PLN 220V gambar11.3. Tegangan sentuh bisa terjadi dengan dua cara. peralatan listrik dipasang pentanahan yang baik.4a : Tegangan sentuh langsung Gambar 11. ketika terjadi kerusakan isolasi pada peralatan listrik dan orang menyentuh peralatan listrik tersebut yang bersangkutan akan terkena bahaya tegangan sentuh gambar-11.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Terjawab mengapa tegangan Akumulator 12V tidak menyengat saat dipegang terminal positip dan terminal negatifnya. Tetapi dengan tindakan pengamanan yang baik. Cara kedua tegangan sentuh tidak langsung.4a. Kerusakan isolasi bisa terjadi pada belitan kawat pada motor listrik. cara pertama tangan orang menyentuh langsung kawat beraliran listrik gambar-11. Bahaya listrik akibat tegangan sentuh langsung dan tidak langsung. Kawat sebaiknya berisolasi sehingga bila tersentuh tidak membahayakan.2 detik sudah berakibat fatal bisa melukai bahkan bisa mematikan. Faktor yang berpengaruh ada dua.4b : Tegangan sentuh tidak langsung 11-3 . Isolasi yang rusak harus diganti karena termasuk kategori kerusakan permanen. tetapi diatas 0. Tubuh manusia rata-rata memiliki tahanan Rk sebesar 1000Ω = 1kΩ. keduanya sama berbahayanya.3 : Tahanan tubuh manusia Gambar 11. akibat tegangan sentuh yang berbahaya dapat diminimalkan. arus yang mengalir ketubuh besarnya : Ik = U/Rk =220V/1000Ω = 220mA Arus Ik sebesar 200mA dalam hitungan milidetik tidak membahayakan jantung. Gambar 11.4b.

11-4 Gambar 11.5 : Simbol pengamanan pada nameplate Peralatan listrik pada name plate tertera simbol yang berhubungan dengan tindakan pengamanan gambar-11. yang menyatakan proteksi atas masuknya debu dan tahan masuknya air dari arah vertikal maupun horizontal.6.2.7a. disamping harganya juga berbeda. Motor listrik jenis ini tepat digunakan di luar bangunan tanpa alat pelindung dan tetap bekerja normal dan tidak berpengaruh pada kinerjanya. Kode International Protection Gambar 11.7b. sehingga cairan arah dari samping tidak terlindungi. contoh mainan anak-anak. Perbedaan rancangan ini harus diketahui oleh teknisi karena berpengaruh pada ketahanan dan umur teknik motor. Klas I memberikan keterangan bahwa badan alat harus dihubungkan dengan pentanahan.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Tapi juga ada yang memiliki proteksi secara menyeluruh dari segala arah cairan gambar-11. Klas II menunjukkan alat dirancang dengan isolasi ganda dan aman dari tegangan sentuh. Motor listrik bahkan dirancang oleh pabriknya dengan kemampuan tahan terhadap siraman langsung air gambar11.6 : Motor listrik tahan dari siraman air Gambar 11. Name plate motor dengan IP 54.5. Ada motor listrik dengan proteksi ketahanan masuknya air dari arah vertikal saja gambar-11. Klas III peralatan listrik yang menggunakan tegangan rendah yang aman.7 : Motor listrik tahan siraman air vertikal dan segala arah .

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik

Kode IP (International Protection) peralatan listrik menunjukkan tingkat proteksi yang diberikan oleh selungkup dari sentuhan langsung ke bagian yang berbahaya, dari masuknya benda asing padat dan masuknya air. Contoh IP X1 artinya angka X menyatakan tidak persyaratan proteksi dari masuknya benda asing padat. Angka 1 menyatakan proteksi tetesan air vertikal. Contoh IP 5X, angka 5 proteksi masuknya debu, angka X tidak ada proteksi masuknya air dengan efek merusak. Tabel 11.1. merupakan contoh simbol Indek proteksi alat listrik yang dinyatakan dengan gambar. Tabel 11.1. Contoh Simbol Indek Proteksi Alat Listrik
Digit kesatu : Proteksi terhadap benda padat IP 0 Test Tanpa proteksi Proteksi terhadap benda padat lebih besar 50 mm (contoh, kontak dengan tangan) Proteksi terhadap benda padat lebih besar 12 mm (contoh jari tangan) Proteksi terhadap benda padat lebih besar 2,5 mm (contoh penghantar kabel) Proteksi terhadap benda padat lebih besar 1 mm (contoh alat kabel kecil) Proteksi terhadap debu (tidak ada lepisan/enda pan yang membahaya kan) Proteksi Digit kedua : Proteksi terhadap zat cair IP 0 Test Tanpa proteksi Digit ketiga : Proteksi terhadap benturan mekanis IP Test 0 Tanpa proteksi

1

1

Proteksi terhadap air yang jatuh ke bawah / vertikal (kondurasi)

1

Proteksi terhadap benturan dengan energi 0,225 joule Proteksi terhadap benturan dengan energi 0,375 joule Proteksi terhadap benturan dengan energi 0,5 joule Proteksi terhadap benturan dengan energi 2 joule Proteksi terhadap benturan dengan energi 6 joule Proteksi

2

2

Proteksi terhadap air sampai o dengan 15 dari vertikal Proteksi terhadap jatuhnya hujan o sampai 60 dari vertical Proteksi terhadap semprotan air dari segala arah Proteksi terhadap semprotan air yang kuat dari segala arah

2

3

3

3

4

4

5

5

5

7

6

Proteksi

9

11-5

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
Digit kesatu : Proteksi terhadap benda padat IP 6 Test terhadap debu secara keseluruhan Digit kedua : Proteksi terhadap zat cair IP Test terhadap semprotan air bertekanan berat Proteksi terhadap pengaruh dari pencelupan Proteksi terhadap pengaruh dari pencelupan di bawah tekanan Digit ketiga : Proteksi terhadap benturan mekanis IP Test terhadap benturan dengan energi 20 joule

7

8

..m

Tabel 11.2. Kode IP XX Angka pertama X, proteksi masuknya benda asing padat 0 Tanpa proteksi 1 diameter ≥ 50 mm 2 diameter ≥ 12,5 mm 3 diameter ≥ 2,5 mm 4 diameter ≥ 1,0 mm 5 debu 6 kedap debu Angka kedua X, proteksi air 0 1 2 3 4 5 6 7 8 tanpa proteksi tetesan air vertikal tetesan air miring 150 semprotan butir air halus semprotan butir air lebih besar pancaran air pancaran air yang kuat perendaman sementara perendaman kontinyu

Tindakan pengamanan dalam pekerjaan sangat penting bagi setiap teknisi yang bekerja dengan tegangan kerja diatas 50V. Seorang teknisi menggunakan sarung tangan karet khusus dan helm dengan pelindung mata gambar-11.8 melakukan perbaikan dalam kondisi bertegangan. Bahkan teknisi tersebut harus memiliki sertifikat kompetensi khusus, karena kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal bagi keselamatan jiwanya. Pekerjaan perbaikan instalasi listrik disarankan tegangan listrik harus dimatikan dan diberikan keterangan sedang dilakukan perbaikan.

Gambar 11.8 : Pelindung tangan dan mata

11-6

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik

11.3. Jenis Gangguan Listrik
Gangguan listrik adalah kejadian yang tidak diinginkan dan mengganggu kerja alat listrik. Akibat gangguan, peralatan listrik tidak berfungsi dan sangat merugikan. Bahkan gangguan yang luas dapat mengganggu keseluruhan kerja sistem produksi dan akan merugikan perusahaan sekaligus pelanggan. Jenis gangguan listrik terjadi karena berbagai penyebab, salah satunya kerusakan isolasi kabel gambar-11.9a. Pertama gangguan hubungsingkat antar phasa L1-L2-L3. Kedua gangguan hubungsingkat Pemutus Daya. Ketiga gangguan hubung singkat antar phasa setelah pemutus daya. Keempat hubungsingkat phasa dengan tanah. Kelima kerusakan isolasi belitan stator motor, sebagai akibatnya terjadi tegangan sentuh jika badan alat dipegang orang. Sistem listrik 3 phasa tegangan rendah digambarkan dengan belitan trafo sekunder dalam hubungan bintang tegangan 400/230V gambar-11.9b. Titik netral sekunder trafo dihubungkan ke tanah dengan tahanan pentanahan RB. Jala-jala dengan 3 kawat phasa L1-L2-L3 dan satu kawat netral N untuk melayani beban 3 phasa dan beban 1 phasa. Sebuah lampu mengalami gangguan, terdapat dua tegangan yang berbeda. Aliran listrik dari L3 menuju lampu dan menuju kawat netral N. Tegangan sentuh UB yang dirasakan oleh orang dan tegangan gangguan UF. Dalam kasus ini tegangan UB = tegangan UF, jika besarnya > 50V membahayakan orangnya. Meskipun kran air yang disentuh orang tsb dihubungkan tanah RA, tegangan sentuh yang dirasakan orang bisa membahayakan.

Gambar 11.9a : Gangguan listrik dibeberapa titik

Gambar 11.9b : Gangguan listrik dari beban lampu

11-7

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik

Tabel 11.3. Tegangan Sentuh yang aman Orang dewasa AC 50V, DC 120V Anak-anak Hewan peliharaan AC 25V, DC 60V Binatang ditaman Gangguan listrik bisa terjadi pada tiang saluran distribusi ke pelanggan, dari tiga kawat phasa salah satu kawat phasa putus dan terhubung ke tanah gambar11.10. Idealnya ketika terjadi kawat Gambar 11.10: Tegangan phasa menyentuh tanah, maka penglangkah akibat gangguan ke aman listrik berupa fuse atau relay di tanah gardu distribusi terdekat putus sehingga tidak terjadi tegangan gangguan tanah. Dari titik gangguan ke tanah akan terjadi tegangan gangguan yang terbesar dan semakin mengecil sampai radius 20 meter. Ketika orang mendekati titik gangguan akan merasakan tegangan langkah US makin besar, dan ketika menjauhi titik gangguan tegangan langkah akan mengecil.

11.4. Tindakan Pengamanan untuk Keselamatan
Keamanan Vs Sentuhan langsung dan tidak langsung keamanan vs arus kejut listrik dibawah kondisi normal, (keamanan vs sentuhan langsung atau keamanan dasar) keamanan vs arus kejut listrik kondisi gangguan/ tidak normal (perlindungan terhadap sentuhan langsung atau kegagalan perlindungan)

tindakan proteksi dengan : • tegangan ekstra rendah (SELV) • tegangan ekstra rendah dengan pemutusan yang aman

tindakan proteksi dengan :

• • • •

isolasi bagian aktif perlindungan / bungkus isolasi buat penghalang buat jarak aman

pembatasan beban

pengamanan tambahan dengan : gawai pengaman arus sisa (GPAS)

tindakan proteksi dengan : pengamanan otomatis melalui: • sistem TN • sistem TT • sistem IT • penyama potensial • isolasi proteksi • ruang bebas penghantar • pemutus keamanan

Gambar 11.11: Peta Tindakan Pengamanan 11-8

Tindakan pengamanan bisa dilakukan dengan menggunakan transformator pemisah atau motor-generator. terjadi proteksi bila terjadi kegagalan isolasi dalam peralatan listrik tersebut.12.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Dengan pemisahan secara elektrik. Selungkup pengaman dihubungkan ke penghantar PE (Protective Earth = pengaman ketanah). sedangkan untuk PELV (protective extra low voltage) bisa dilakukan pembumian. Stop kontak PELV memiliki tiga lubang kontak.12 : Pengamanan dengan tegangan rendah Gambar 11. Sirkit SELV (safety extra low voltage) tidak boleh dikebumikan. Tegangan primer dan sekunder tranformator pemisah besarnya sama.14.13 : Stop kontak khusus untuk tegangan rendah Gambar 11. Atau menggunakan transformator 230/120 V yang disearahkan dengan diode bridge sehingga diperoleh tegangan DC 120V.14 : Pengaman dengan trafo pemisah 11-9 . Gambar 11. Proteksi Tegangan Ekstra Rendah Tegangan ekstra rendah AC 50V dan DC 120V aman jika tersentuh langsung manusia gambar-11. satunya berfungsi sebagai sambungan ke penghantar PE (protective earth).5. Stop kontak SELV memiliki dua lubang kontak yang tidak bisa dipertukarkan. yaitu 230V gambar-11. dirancang stop kontak dengan desain khusus SELV dan PELV gambar-11.13. Untuk menjamin sistem SELV dan PELV bekerja baik. dilengkapi dengan selungkup pengaman isolasi ganda. Untuk menurunkan tegangan dipakai transformator penurun tegangan 230V/ 50V.

Bahan isolasi kabel dari PVC dan karet dirancang mampu menahan tegangan kerja antar penghantar aktif. bahan kimia. Angka 2 menyatakan proteksi benda asing padat ukuran 12.17. Tujuannya menghindarkan tegangan sentuh tangan manusia dengan bagian aktif yang bertegangan. Jika salah satu kabel terluka maka akan terlindungi dari kemungkinan hubungsingkat antara dua kabel aktifnya.15. yute. IP XXB atau IP XXD gambar-11.5 mm. Fungsinya sebagai pelindung mekanis pada waktu pemasangan. misalnya dengan kode IP 2X. Proteksi dengan Isolasi Bagian Aktif Peralatan listrik dirancang dan diberikan perlindungan selungkup dari bahan isolasi gambar-11.17 : Perlindungan pengaman stop kontak 11-10 .15 : Pengamanan dengan selungkup isolasi Gambar 11.16.6.0mm.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Gambar 11. listrik dan pengaruh thermal. karet. Kode huruf B adalah proteksi terhadap jari tangan manusia dan huruf D menyatakan proteksi terhadap masuknya kawat. dipastikan arus kejut IK terhalang oleh bahan isolasi dan arus kejutnya nol. Proteksi ini cukup baik selama selungkup bahan isolasi berfungsi semestinya. IP 4X. Kabel diberikan perlindungan selubung luar dan bahan isolasi yang memberikan perlindungan elektrik antar kawat gambar11. Angka X menyatakan tidak ada proteksi terhadap tetesan air. bagian aktif seluruhnya tertutup oleh isolasi yang hanya dapat dilepas dengan merusaknya. Meskipun ada kegagalan isolasi.16 : Kabel berisolasi thermoplastik Gambar 11. Perlindungan pada stop kontak portable juga dirancang dengan kriteria tertentu. Bahan isolasi harus tahan oleh pengaruh tekanan mekanik. sedang angka 4 menyatakan proteksi benda asing padat ukuran 1. Selubung luar kabel terbuat dari bahan thermoplastik.

N dan PE) gambar-11. BKT saat normal tidak bertegangan dan aman Gambar 11. Jarak ini cukup aman jika orang berdiri dan jangkauan tangan tidak akan menyentuh kawat listrik secara langsung.19. Proteksi dengan Rintangan Ruang gardu dan panel listrik merupakan ruang yang memiliki tingkat bahaya listrik yang tinggi.19 : Jarak aman bentangan kabel udara 11. Bentangan kawat saluran udara telanjang di atas atap rumah harus diperhatikan jarak minimal dengan atap rumah sebesar 2.18 : Pengamanan dengan rintangan Gambar 11.5 meter dan jarak dari cerobong 0. tetapi tidak mencegah sentuhan disengaja dengan cara menghindari rintangan secara sengaja.4 meter gambar-11. Diperlukan rintangan berupa pagar besi yang dilengkapi dengan kunci sehingga orang yang tidak berkepentingan bisa bebas keluar masuk ruangan gambar11. Penangkal petir juga cukup jauh dari saluran kawat udara telanjang. L3. L2.20 : Pengamanan sentuhan tidak langsung 11-11 .20. Gambar 11. Maksud dari rintangan adalah untuk mencegah sentuhan tidak disengaja dengan bagian aktif. Hanya teknisi listrik yang berpengalaman yang boleh berada ditempat tersebut untuk keperluan pelayanan dan perbaikan saja. Rintangan diberikan tanda-tanda bahaya listrik dengan warna merah menyolok sehingga mudah dikenali dan memberi peringatan secara jelas.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Proteksi dari Sentuhan Tidak Langsung Sentuhan tidak langsung adalah sentuhan pada BKT (bagian konduktif terbuka) peralatan atau instalasi listrik yang menjadi bertegangan akibat kegagalan isolasi.18.7. Sumber listrik 3 phasa dengan 5 kawat (L1. untuk menghindarkan saat tiupan angin cukup kencang akan saling menyentuh dan membahayakan. Tiang antena dari logam yang berdiri tegak harus dijauhkan dari jalur saluran kawat telanjang.8.

Distribusi tegangan DC dipakai untuk keperluan khusus seperti saluran listrik atas Kereta Rel Listrik dengan tegangan 1500V di wilayah Jabotabek. 11. aliran listrik gangguan dikembalikan ke kawat PE.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik disentuh. S (separate) memisahkan. phase dua 3 kawat. Jenis penghantar aktif AC menurut PUIL 2000: 45 dikenal beberapa jenis. Jenis Sistem Distribusi Secara komersial sistem distribusi listrik banyak menggunakan listrik AC tiga phasa dan satu phasa. Tabel 11. S = fungsi proteksi yang diberikan oleh penghantar yang terpisah dari netral atau dari saluran yang dikebumikan C = fungsi netral atau fungsi proteksi tergabung dalam penghantar tunggal (PEN). prancis) langsung. Huruf berikutnya. phasa tunggal 3 kawat. sehingga orang terhindar arus kejut meskipun menyentuh bagian BKT. C (common) bersamaan C 11-12 . yang dikebumikan titik netral. yaitu TN. TT dan IT. phase tiga 3 kawat dan phase tiga dengan 4 kawat. menyatakan susunan penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE). T = hubungan langsung ke bumi I = satu titik dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi. meliputi phase tunggal 2 kawat. Ketiga isolasi gagal. N = hubungan listrik langsung BKT ketitik yang dikebumikan dari sistem tenaga listrik. Jenis pembumian sistem untuk sistem tiga phasa secara umum dikenal tiga sistem. Sistem penghantar distribusi dikenal dua yaitu jenis sistem penghantar aktif dan jenis pembumian sistem. N Huruf kedua menyatakan hubungan BKT instalasi ke bumi. tidak tergantung pembumian setiap titik tenaga listrik.4. T = hubungan listrik langsung BKT ke bumi. phase dua 5 kawat.9. Jenis Pembumian Sistem Contohnya sistem TN-C Huruf pertama menyatakan hubungan sistem tenaga listrik ke T bumi. I (isolate) mengisolasi N (netral). Keterangan : Notasi T (terre.

21c : Sistem pembumian TN-C Sistem pembumian TT mempunyai satu titik yang dibumikan langsung (RB). Sistem Pembumian TN Sistem TN mempunyai satu titik yang dikebumikan langsung pada titik bintang sekunder trafo. Ada tiga jenis sistem TN sesuai dengan susunan penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE). dan BKT instalasi dihubungkan ke titik tersebut oleh penghantar proteksi (PEN). hal 45 11-13 .22.21c. Gambar 11. BKT dihubungkan ke elektrode bumi secara listrik terpisah RA dari elektrode bumi sistem gambar11.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11.21a. Gambar 11.21a : Sistem Pembumian TN-S • Sistem TN-S fungsi penghantar proteksi PE terpisah diseluruh sistem gambar-11. Titik netral sistem dibumukan dengan nilai tahanan RB.10. Titik netral dibumikan di RB.21b : Sistem Pembumian TN-C-S Gambar 11.1 Gambar 11. • Sistem TN-C-S fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) digabungkan dalam penghantar tunggal. • TN-C fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) tergabung dalam penghantar tunggal PEN diseluruh sistem gambar-11. Titik netral sistem dibumikan dengan nilai tahanan RB.21b.22 : Sistem Pembumian TT 1 PUIL 2000. di sebagian sistem gambar-11.

23 : Sistem Pembumian IT 11. disebagian sistem.24 : Sistem pembumian TN-C-S digabung kawat PE Alternatif-2 : Kawat PEN dekat trafo putus.23. Ketika terjadi gangguan phasa L1-PE. Sehingga titik netral PEN 11-14 . Sehingga tegangan phasa ke phasa L1-L2 = L2-L3 = L3-L1 = 400 V. Pengukuran Pengaman pada Sistem Pembumian TN Sistem pembumian TN-C-S penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) digabungkan dalam penghantar tunggal. arus dari trafo -> L1 -> belitan phasa-1 -> badan alat -> kawat PE ---> terminal penyama potensial -> pembumian RA -> tanah -> pembumian RB -> netral trafo.11.25 : Beda tegangan titik netral akibat gangguan ke tanah Kondisi normal tegangan phasa ke netral L1-N = L2-N = L3-N = 230 V hubungan bintang dengan titik netral dibumikan di RB gambar-11. Alternatif-1 : Jalannya arus saat terjadi gangguan adalah : Arus dari trafo -> L1 -> belitan phasa-1 -> badan alat-> kawat PE -> netral trafo. BKT instalasi listrik dibumikan secara independen atau secara kolektif atau pembumian sistem RA gambar-11. atau satu titik dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi RB.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Sistem pembumian IT semua bagian aktif yang diisolasi dari bumi.25.24. Gambar 11. Perbandingan tahanan RB dan RE : RB 50V ≤ RE U O − 50V RB RE 50V Uo Tahanan pembumian trafo Tahanan pembumian potensial Tegangan sentuh aman manusia Tegangan phasa-netral Gambar 11. Gambar 11. Beban tiga phasa terjadi gangguan isolasi pada belitan phasa-1 gambar-11. drop tegangan di RB = 50 V.

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik bergeser sebesar = 50V. jika ditekan tombol reset maka ELCB akan bekerja memutus rangkaian OFF.6. besarnya tegangan phasa L1-N menjadi 180 V (230V50V). yang dapat memutuskan sirkit termasuk penghantar netralnya secara otomatis dalam waktu tertentu gambar-11. tetapi tidak boleh kurang dari penghantar phasenya 11. Tabel 11.5. Untuk sistem TN-S dan TN-C berikut sistem IT tidak boleh dipasang ELCB.4 ≤ AC 400 V 0. dengan kawat phasa dan netral diputus bersamaan dengan arus bocor 50mA gambar-11. Dilengkapi dengan tombol reset. Penampang penghantar sistem TN TN-C TN-S Penampang penghantar PEN tidak boleh kurang 10mm2 tembaga atau 16 mm2 aluminium Penghantar PE terpisah dari penghantar netral < 10 mm2 tembaga atau <16mm2 aluminium. 11-15 . ELCB harus di ON kan kembali dengan menaikkan tombol ON ke atas. Untuk pemakaian daya besar dipilih arus sisa dengan rating lebih besar dari 30 mA. ELCB sangat dianjurkan pada sistem TT. Waktu pemutusan maksimum sistem TN Tegangan Waktu pemutusan U detik ≤ AC 230 V 0. misalkan 300 mA atau 500 mA. Tegangan phasa L2-N = L3-N menjadi 259V (metode geometris).1 Waktu pemutusan konvensional maksimum 5 detik Tabel 11.12. Apabila arus sisa yang timbul karena terjadi kegagalan isolasi melebihi nilai tertentu.26 : Prinsip tercegahlah bertahannya tegangan kerja ELCB sentuh yang terlalu tinggi. sehingga Gambar 11. Desain fisik ELCB dengan satu phasa.27.26. Pengaman Gawai Proteksi Arus Sisa (ELCB) GPAS3 atau ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker) adalah pemutus yang peka terhadap arus sisa.2 ≥ AC 400 V 0.

Jika salah satu beban terjadi kegagalan isolasi.29.680 Gambar 11.27 : Fisik ELCB Kini tersedia ELCB dalam bentuk portabel yang dipasangkan pada stop kontak.28. Suplay tiga phasa L1-L2-L3 dan N disambungkan langsung ke terminal ELCB.9 69 115 2.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Pemasangan ELCB pada sistem TT dilakukan dengan cara penghantar protektif PE memiliki rel atau terminal tersendiri.29 : ELCB portabel 11-16 . beban motor tiga phasa dan tersedia melayani stop kontak.28 : Pemasangan ELCB untuk pengamanan kelompok beban Gambar 11. Bebannya satu phasa berupa peralatan kerja yang mudah dipindah-pindahkan seperti mesin bor tangan. Cara ini bisa melayani beban satu phasa. Gambar 11.7. Tabel 11. dan ELCB akan OFF secara otomatis. Perhatikan daya beban harus sesuai dengan rating ELCB. Persyaratan bisa bekerja dengan baik penghantar PE tersambung dengan baik ke bumi. Kemampuan ELCB pada tegangan 230V Arus bocor (mA) 30 300 500 Rating arus beban 10ª Rating arus beban 16ª Daya (Watt) 6.300 3. Jika besarnya arus bocor memenuhi syarat maka akan mengaktifkan sistem mekanik elektromagnetik. mesin gergaji listrik. dan diujung lainnya terhubung ke stop kontak menuju beban gambar-11. maka pada kawat netral mengalir arus bocor. terminal PE dibumikan tersendiri RA gambar11.

Besarnya tahanan pembumian RA : Gambar 11. Penghantar netral dan protektif disatukan pada titik sumber dihubungkan ke bumi di RB gambar-11. dilakukan dengan cara membumikan titik netral di sumbernya RB. Pengukuran Pengaman pada Sistem Pembumian TT Sistem TT dalam PUIL 2000 disebut sistem Pembumian Pengaman (sistem PP). Ketika terjadi kegagalan isolasi.31. arus bocor akan mengaktifkan ELCB dan tegangan sentuh yang besar tidak akan terjadi. Sistem pembumian TT yang dipasang ELCB pada beban satu phasa dan beban tiga phasa. Saat terjadi gangguan phasa L1 arus gangguan dari kawat PE mengalir lewat RA. Gambar 11. kemudian arus mengalir menuju RB dan kembali ke netral trafo. Saat terjadi gangguan arus gangguan mengalir ke kawat PE ke pembumian RA lewat tanah menuju ke RB dan ke netral trafo gambar-11. BKT dibumikan dengan penghantar protektif secara terpisah RA gambar-11.31 : Pengukuran tahanan pembumian sistem TT RA = UL I ΔN Gambar 11.13.32 : ELCB pada sistem TT 11-17 . pembumian dua beban disatukan dengan kawat PE dikebumikan di RA.30 : ELCB pada pembumian TN 11.32.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Sistem TN yang dilengkapi dengan ELCB dapat dilakukan dengan penghantar netral (N) dan penghantar protektif (PE) terpisah.30. Badan alat dihubungkan dengan penghantar PE.

33. BKT harus dibumikan secara individual.3 A 0.665 832 165 82 100 50 11.000 2500 1.5 A Tahanan RA dalam Ω UL = 50 V UL = 25 V 5.03 A 0. Tahanan Pembumian RA pada Sistem TT Arus sisa ELCB 0.8. Hitunglah besarnya arus gangguan dan besarnya tegangan sentuh. instalasi harus diisolasi dari bumi atau dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi yang cukup tinggi RB gambar-11. Gambar 11. Titik netral buatan dapat dihubungkan secara langsung ke bumi jika impedansi urutan nol yang dihasilkan cukup tinggi.14. Pengukuran Pengaman pada Sistem Pembumian IT Sistem pembumian IT. Tabel 11. diketahui tahanan pembumian PE sebesar 2Ω. Jika tidak ada titik netral maka penghantar phasa dapat dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik RA IΔn Tahanan pembumian penghantar PE Arus bocor ELCB Contoh: Tegangan jala-jala 230 V diketahui tahanan saat hubung singkat 5Ω.01 A 0.33 : Pengukuran tahanan pembumian sistem IT 11-18 . dalam kelompok atau secara kolektif ke pipa besi atau komponen logam yang terhubung langsung ke tanah. Jawaban : IK = U O = 230V = 46 A RA 5Ω UB = IK. RA = 46A x 2Ω = 92 V Dengan melihat karakteristik ELCB dipilih rating 16A.

1 Netral terdistribusi (detik) 0.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Besarnya impedansi Z sebesar : Z≤ U Zs U Ia 2. Id ≤ UL RA Id UL Tahanan pembumian langsung Arus gangguan sisa Tegangan sentuh (50 V) Tabel 11. Waktu Pemutusan Maksimum Pada Sistem IT Tegangan nominal instalasi Uo 230/400 V 400/690 V 580/1000 V Netral tidak terdistribusi (detik) 0.2 11. Alat dengan isolasi ganda tidak memerlukan sistem pentanahan. Proteksi dengan Isolasi Ganda Untuk memberikan pengamanan yang baik beberapa alat listrik dirancang dengan isolasi ganda.35 : Isolasi ganda pada peralatan listrik 11-19 . bagian luarnya diberikan isolasi kedua yang menjamin tidak akan terjadi tegangan sentuh gambar-11. simbol isolasi ganda gambar-11.8 0.34. Dalam isolasi ganda ada dua jenis isolasi.34 : Simbol pengamanan isolasi ganda Gambar 11. Jika terjadi kegagalan isolasi.15.35. Isolasi tambahan ini diperkuat dengan sekrup dari bahan isolasi.4 0. bagian aktif diisolasi dengan isolasi dasar.Ia Impedansi pembumian Tegangan phasa-netral Arus gangguan (sistem TN ) Menghitung besarnya tahanan pembumian langsung RA : RA .9. Gambar 11.4 0.2 0. tidak boleh mengganti sekrup logam yang memiliki sifat menghantarkan listrik. isolasi tambahan akan menahan arus kejut sehingga tetap aman bagi pemakai alat.

Proteksi Lokasi tidak Konduktif PUIL 2000 :57 mengatur juga bahwa isolasi bisa diberikan pada suatu ruangan yang disebut dengan proteksi lokasi tidak konduktif gambar-11. dan tinggi lantai terhadap langitlangit minimal 2. Seluruh bagian aktif berupa motor listrik dan sistem penggerak roda gigi dari logam dibungkus rapat dengan bahan isolasi.36. Jarak dinding dengan kondukstif minimal 1. jika terjadi kegagalan isolasi pada motor listriknya.25 m. Gambar 11. Antara motor dan mekanik bor menggunakan poros bahan isolasi.5 m. Resistansi lantai dan dinding pada setiap titik pengukuran besarnya 50 KΩ jika tegangan nominal isolasi tidak melebihi 500V atau 100 KΩ jika tegangan nominal isolasi melebihi 500 V. Bagian luar ditutup oleh isolasi lapisan kedua untuk menjamin tidak ada bagian konduktif yang bersinggungan dengan tangan.37 : Jarak aman pengamanan ruang kerja 11-20 .37.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Mesin bor tangan merupakan alat listrik dengan pelindung isolasi ganda gambar-11. Gambar 11.5 m sehingga cukup bebas orang berdiri tanpa menyentuh langit-langit tersebut.36 : Mesin bor dengan isolasi ganda 11.16. sehingga meskipun mata bor dipegang dijamin tidak ada arus kejut mengalir ke tubuh manusia. Bahkan tombol tekan motor juga terbungkus bahan isolasi secara rapat. Dan jarak antara dua peralatan harus lebih besar dari 2.

Beberapa alat bisa dipasok dari sekunder trafo pemisah.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Pemisahan sirkit listrik bisa dengan trafo pemisah atau motorgenerator.39 : Trafo pemisah melayani dua stop kontak Gambar 11.38.40 : Pengamanan pada peralatan listrik 11-21 . Bagian aktif dari sirkit yang dipisahkan tidak boleh dihubungkan pada setiap titik ke sirkit lainnya atau ke bumi. Bila sirkit beban terjadi kegagalan isolasi. Jika terjadi kegagalan isolasi pada sirkit sekunder trafo pemisah maka akan terjadi hubung singkat. secara elektrik terpisah dengan sirkit sumber sehingga tegangan sentuh terhindarkan. Proteksi Pemisahan Sirkit Listrik Tindakan pengamanan dengan cara pemisahan sirkit listrik antara pemasok dengan sirkit beban dengan transformator pemisah gambar11. Gambar 11.39.38 : Pengamanan dengan pemisahan sirkit listrik Gambar 11. badan alat sisi sekunder trafo pemisah bisa digabungkan sebagai pengganti penghantar protektif PE gambar11.17. sehingga sistem pengamanan pemisah tidak berfungsi.

42. R < 1Ω < 0.42 : Pengukuran tahanan isolasi 11-22 .41. Langkah pertama sumber tegangan harus dimatikan dan semua jalur instalsi bebas tegangan. Pengukuran Tahanan pembumian sistem Tahanan terminal potensial Tahanan pembumian tegangan tinggi Instalasi tegangan rendah adalah instlasi listrik yang diberikan tegangan dibawah 500V gambar11. Dengan menggunakan Megger maka hasil pengukuran mendekati sesuai tabel dibawah. Tahanan isolasi suatu instalasi merupakan salah satu unsur yang menentukan kualitas instalasi tersebut. sebab fungsi utama isolasi sebagai sarana proteksi dasar. Pengukuran Tahanan Pembumian Gambar 11.18. Selama pengukuran sumber tegangan harus dimatikan semua.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Megger dioperasikan dan mengukur setiap titik-titik yang diperlukan. semua saklar menuju ke beban dan penghantar aktif ke stop kontak harus diputuskan.1Ω < 3Ω Gambar 11.41 : Pengukuran pembumian dengan megger Pengukuran tahanan pembumian dapat dilakukan dengan cara sederhana dengan menggunakan alat ukur Megger gambar-11.

Pengukuran Tahanan Isolasi Lantai dan Dinding PUIL 2000 hal. Tabel 11. Agar rata letakkan sebatang kayu diatas permukaan logam.43. ditemptkan antara pelat logam dan permukaan lantai yang akan diuji gambar-11. dgn pengecualian hal tsb diatas Diatas 500 V Tegangan uji arus searah (V) 250 500 1000 Resistansi isolasi (MΩ) ≥ 0.43 : Pengukuran tahanan isolasi lantai/dinding Beban sebesar 750 N (sekitar 75 kg. Sebuah pelat logam bujur sangkar berukuran 250 mm x 250 mm dan kertas atau kain penyerap air basah berukuran 270 mm x 270 mm.10.0 11.5 ≥ 1. Gambar 11.19. maka hasil yang dicapai harus lebih besar dari yang tertera pada Tabel di bawah.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Sebagai contoh rumah tinggal disuplay listrik PLN dilakukan pengukuran isolasi dengan menggunakan Megger.25 ≥ 0. lantai) atau 250 N (25 kg. Nilai resistansi isolasi minimum Tegangan sirkit nominal Tegangan ekstar rendah (SELV. PELV dan FELV) yang memenuhi persyaratan Sampai dgn tegangan 500 V. untuk dinding) dipasang diatas pelat logam tersebut selama pengukuran berlangsung.91 menyatakan untuk melakukan pengukuran tahanan isolasi lantai dapat digunakan metoda pengukuran Ampermeter dan Voltmeter. Besarnya tahanan isolasi lantai adalah : ZX ≤ U X I ZX UX IX Impedansi lantai/ dinding Tegangan terukur voltmeter Arus terukur ampermeter 11-23 .

44. ELCB sehingga tegangan sentuh yang berbahaya tidak terjadi. Jika terjadi gangguan hubung pendek pada suatu lokasi dalam instalasi. Besarnya tahanan pembumian RA sebesar : RA = 11-24 UE IE RA ≤ UL Ia RA ≤ UL I Δn . Pengujian Sistem Pembumian TN Dalam sistem TN dilakukan dengan cara semua BKT peralatan dan instalasi dibumikan dengan melalui penghantar proteksi PE. Waktu pemutusan maksimum sistem TN Tegangan Uo (Volt) Waktu pemutusan Jika terjadi gangguan ≤ 230 V 0.45 : Pengukuran tahanan pembumian Posisikan tahanan geser pada resistansi maksimum (1000 Ω). gambar-11. Jika terjadi kegagalan isolasi.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11.20. antara penghantar phase dengan penghantar proteksi PE gambar-11. Gambar 11. tahanan geser bernilai antara 20 Ω sampai 1000 Ω. dan sebuah elektrode bantu yang ditanam dengan jarak lebih dari 20 m dari elektrode pembumian RA. MCB. Pengukuran Tahanan Pembumian Tahanan pembumian yang akan diukur dihubungkan dengan tegangan phasa L.21. Gambar 11. geser perlahanlahan sampai terbaca tegangan V dan penunjukan arus A. melalui pengaman arus lebih.11.1 detik Waktu pemutusan konvensional yang tidak dilampaui 5 detik diijinkan untuk sirkit distribusi *) PUIL 2000 hal 66 11. maka dengan segera terjadi pemutusan rangkaian dengan waktu pemutusan yang cepat sesuai tabel di bawah. ampermeter.4 detik hubung pendek antara penghantar phasa dengan ≤ 400 V 0. mengalir arus gangguan yang akan memutuskan secara otomatis alat pengaman fuse.45. Sebuah Voltmeter yang memiliki tahanan dalam Ri ≥ 40 KΩ.2 detik penghantar proteksi PE > 400 V 0.44 : Pengujian sistem pembumian TN Tabel 11.

Pengukuran Arus Sisa dan Tegangan pada ELCB Motor induksi 3 phasa dilengkapi dengan proteksi ELCB akan diukur dengan menggunakan Ampermeter dan Voltmeter untuk menguji besarnya arus sisa yang mengakibatkan ELCB bekerja gambar-11. IΔn UL Tahanan pembumian Tegangan phasa-netral Arus Arus gangguan Tegangan sentuh 11.23. maka besarnya tegangan sentuh aman 50 Volt. dari masuknya benda asing padat dan masuknya air. Tahanan tubuh manusia rata-rata 1.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik RA UE IE. Tahanan geser pada posisi Gambar 11. Kode IP (International Protection) peralatan listrik menunjukkan tingkat proteksi yang diberikan oleh selungkup dari sentuhan langsung ke bagian yang berbahaya. Ia. bumi ELCB lakukan pengaturan sampai terbaca Ampermeter dan Voltmeter menunjukkan skala 50V. saklar di-ON-kan.000 Ω. 11.22. arus aman tubuh manusia 50mA.46. artinya arus sisa yang melewati tahanan geser mengerjakan alat ELCB dengan baik. Rangkuman • • • Penelitian arus listrik 50 mA adalah batas aman bagi manusia.46 : Pengukuran tahanan maksimum. Tegangan phasa dari L3 melalui tahanan geser bernilai 10kΩ dan Ampermeter. sebuah Voltmeter memiliki Tahanan dalam minimal 3 KΩ dan sebuah elektrode bantu yang dibumikan dengan jarak lebih besar 20 m dari lokasi motor. Pada saat itu ELCB harus OFF. 11-25 .

Kedua gangguan hubung. yang dapat memutuskan sirkit termasuk penghantar netralnya secara otomatis Sistem pembumian IT. 3. Pertama gangguan hubung singkat antar phasa L1-L2-L3. bagian aktif diisolasi dengan isolasi dasar. sebagai akibatnya terjadi tegangan sentuh jika badan alat dipegang orang. 1. 5. ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker) adalah pemutus yang peka terhadap arus sisa. TT dan IT. Gangguan listrik adalah kejadian mengganggu kerja alat listrik. Titik netral dibumikan di RB.singkat Pemutus Daya. yang tidak diinginkan dan • Jenis gangguan listrik terjadi karena kerusakan isolasi kabel. Kelima kerusakan isolasi belitan stator motor. • Sistem TN-S fungsi penghantar proteksi PE terpisah diseluruh sistem gambar-11. 4. Keempat hubungsingkat phasa dengan tanah. Ketiga gangguan hubung singkat antar phasa setelah pemutus daya. Tindakan pengamanan dengan cara pemisahan sirkit listrik antara pemasok dengan sirkit beban dengan transformator pemisah Pengukuran tahanan pembumian dapat dilakukan dengan cara sederhana dengan menggunakan alat ukur Megger Pengukuran tahanan isolasi lantai pengukuran Ampermeter dan Voltmeter. • • • • • Sistem TN-C-S fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) digabungkan dalam penghantar tunggal. bagian luarnya diberikan isolasi kedua yang menjamin tidak akan terjadi tegangan sentuh. dapat digunakan metoda • • • • • 11-26 . instalasi harus diisolasi dari bumi atau dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi yang cukup tinggi RB Dalam isolasi ganda ada dua jenis isolasi. TN-C fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) tergabung dalam penghantar tunggal PEN Sistem pembumian TT mempunyai satu titik yang dibumikan langsung (RB). Sistem pembumian TN-C-S penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) digabungkan dalam penghantar tunggal. 2.21a. • Jenis pembumian sistem untuk sistem tiga phasa secara umum dikenal tiga sistem. yaitu TN.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik • • Pekerjaan perbaikan instalasi listrik disarankan tegangan listrik harus dimatikan dan diberikan keterangan sedang dilakukan perbaikan.

Ketika tersengat listrik ada orang yang terkaget-kaget. 6. Trafo pemisah dapat menjadi alat pengamanan.24.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Jelaskan mengapa terjadi hal demikian. Soal-soal 1. 4. Bodi motor listrik sebaiknya diketanahkan. jelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi. Jelaskan pentingnya sistem pengamanan dalam instalasi listrik. jelaskan kedua istilah tersebut dan berikan contohnya. Dikenal bahaya tegangan sentuh langsung dan tidak langsung. ada yang pingsan dan bahkan ada korban jiwa. jelaskan. jelaskan mengapa hal tersebut dilakukan. Gambarkan skematik pengukuran tahanan pembumian instalasi rumah tinggal. Mengapa tegangan 50V dianggap aman bagi tubuh manusia. 11-27 . 2. Jelaskan prosedur dan urutannya dengan benar. 5. 3. 7.

.................. Kontroler PID ..............................................................BAB 12 TEKNIK PENGATURAN OTOMATIS Daftar Isi : 12.... 12............ Soal-soal ................... 12... Seleksi tipe Kontroler untuk Aplikasi Tertentu ............ Kontroler Integral (I) .................. Kontroler Proporsional Integral (PI) ........................ Kontroler Dua Posisi ...... Elektropneumatik ..........................15.... 12-2 12-5 12-10 12-17 12-17 12-18 12-20 12-22 12-23 12-23 12-24 12-25 12-26 12-27 12-27 12-28 12-29 12-35 12-36 12-37 ........ 12...16..... Karakteristik Osilasi pada Sistem Kontrol ........3.................... Kontroler Derivatif (D) ...... Kontroler Proporsional Derivatif (PD) ..13................................ Optimisasi Kontroler .......................... Kontroler Proporsional (P) ...8.......................................... Rangkuman .......... 12......... Perilaku Sistem Kontrol . Tipe Kontroler ..............................................................4................ 12..............................5............6........ 12... Diagram Blok Sistem Kontrol ............... 12............................................ 12........................ Pengertian sistem Pengaturan ..............9.............17...... 12.14............................ Komponen Elektro Pneumatik ........ 12............. 12...................20...................18................... Rangkaian Dasar ....... 12........ 12.10....12...............................................1.........11....................7..... 12........2........................ Kontroler Tiga Posisi .. 12.................19.. 12...................................... 12... 12....... 12...

mesin (penggerak). misalnya pedal gas. Tujuan yang diinginkan dari proses tersebut adalah berjalannya kendaraan pada lintasan (track) yang diinginkan. Gambar 12. rem. speedometer.1. Dengan berubah-ubahnya arus I maka arus eksitasi Ie juga harus berubah mengikuti nilai arus I tersebut. pengendara mempercepat laju kendaraan dengan membuka pedal gas.Teknik Pengaturan Otomatis 12.1 Pengaturan manual tegangan pada Generator Dalam sistem tersebut. karena tegangan keluaran U diinginkan tetap maka arus keluaran I berubah sesuai dengan nilai beban. dan pengendara. jika ada kendaraan lain di depan atau lampu penyeberangan berwarna merah maka pengendara menginjak rem dan menurunkan kecepatannya. Karena pengaturan ini dilakukan secara manual. Sebagai contoh sederhana dan akrab dengan aktivitas sehari-hari dari konsep kontrol atau pengaturan adalah saat mengendarai kendaraan. seperti pada gambar 12. Sistem kontrol berkendaraan berarti kombinasi dari komponen-komponen tersebut yang menghasilkan berjalannya kendaraan pada lintasan yang diinginkan. Ada beberapa komponen yang terlibat di dalamnya. Ketika jalan lengang dan aturan memperbolehkan. Arus keluaran dihasilkan oleh kecepatan putar rotor pada Generator yang dibangkitkan oleh arus eksitasi Ie. Demikian pula. seorang operator harus terus-menerus melihat besar arus keluaran yang diinginkan untuk disesuaikan dengan besar arus eksitasi yang 12-2 . Perubahan arus eksitasi dilakukan secara manual. Besar arus eksitasi disesuaikan dengan kebutuhan untuk menghasilkan arus keluaran I oleh Generator.1. Misalnya kita ingin mengatur agar tegangan yang dihasilkan oleh Generator arus searah bernilai konstan. Pengertian Sistem Pengaturan Pengertian kontrol atau pengaturan adalah proses atau upaya untuk mencapai tujuan. Semua upaya itu dilakukan untuk mempertahankan kendaraan pada lintasan yang diinginkan.

plant menghasilkan variabel yang dikontrol serta kontroler menghasilkan variabel termanipulasi. Pada proses tersebut. Dalam diagram blok tersebut. Tegangan konstan yang diinginkan dalam pengaturan ini disebut variabel acuan (referensi). Dalam teknik kontrol dipelajari tentang pengaturan sistem agar menghasilkan keluaran yang diinginkan. mata akan menangkap informasi tentang posisi pada saat itu. dan arus beban I disebut variabel gangguan (disturbance variable) z. Gambar 12.1 memperlihatkan contoh sistem kontrol dengan komponenkomponennya.2 Diagram blok sistem kontrol Contoh lain dapat disebutkan berupa proses memindahkan barang oleh tangan kita. Selanjutnya. sistem kontrol digambarkan pada gambar 12. Tujuannya adalah menjaga suhu tubuh agar berjalan normal. dan otak sebagai pengontrol. Tabel 12. Pada saat tangan bergerak untuk memindahkan barang. Dalam bentuk diagram blok. maka variabel yang dikontrol adalah kecepatan dan aktuatornya adalah kontaktor. Secara umum dapat dikatakan semua proses yang terjadi di alam pada hakikatnya adalah sebuah sistem kontrol. tegangan U disebut variabel yang dikontrol x. mata. 12-3 . Komponennya berupa tangan (dalam hal ini tentunya dengan otot tangan).Teknik Pengaturan Otomatis diperlukan. Dalam istilah teknik kontrol. variabel (besaran) yang dikontrol. tujuannya adalah posisi atau letak barang yang diinginkan. Informasi tersebut diproses oleh otak untuk disimpulkan apakah posisinya sudah benar atau tidak.2. Proses pengaturan suhu tubuh adalah juga contoh dari sistem kontrol. arus eksitasi disebut variabel buatan (manipulated variable) y. Misalnya plant berupa motor listrik. dan aktuator. Komponen utama sistem kontrol terdiri atas objek yang dikontrol (disebut plant). apabila posisinya masih belum tercapai maka otak akan memerintahkan otot tangan untuk bergerak memindahkan barang ke posisi yang diinginkan.

pengaturan tegangan pada Generator bisa dilakukan secara otomatis dengan menggunakan Thyristor.Teknik Pengaturan Otomatis Tabel 12.1. Gambar 12.3. Istilah penting dalam sistem kontrol Istilah Variabel yang dikontrol Variabel acuan Variabel termanipulasi Selisih (error) Variabel gangguan Simbol x w y e z Contoh Tegangan Tegangan acuan Arus eksitasi Selisih tegangan Arus beban Selain secara manual. Contoh komponen sistem kontrol Plant Motor listrik Generator Pengatur suhu ruangan Variabel yang dikontrol Kecepatan putar Tegangan suhu Aktuator Kontaktor Transistor Thyristor Tabel 12. Tabel 12.2.2 memperlihatkan istilah teknis dalam sistem kontrol serta simbol formalnya.3 Pengaturan tegangan secara otomatis 12-4 . seperti diperlihatkan pada gambar 12.

Diagram Blok Sistem Kontrol Ada dua bentuk umum sistem kontrol yaitu : a. sedangkan yang kedua disebut kontrol otomatis. peranan operator diganti oleh gabungan antara sensor tegangan (berupa trafo tegangan) dan Thyristor sebagai aktuator penghasil arus eksitasi yang mengatur kecepatan putar rotor dalam Generator.4.2. Pada gambar 12. Sistem Kontrol Lingkar-tertutup (Closed-Loop Control System) atau sistem kontrol dengan umpan balik (Feedback Control System). Sistem Kontrol Lingkar-terbuka (Open-Loop Control System). Prinsip pengaturannya adalah sebagai berikut : apabila tegangan output lebih rendah dari tegangan acuan maka Thyristor akan menghasilkan arus eksitasi sehingga tegangan output Generator naik mendekati harga tegangan acuannya. 12. masukan acuan kontroler aktuator plant keluaran Gambar 12. b. Selisih tegangan ini menjadi input pemicu (trigger) Thyristor yang menentukan nilai arus eksitasi dan output tegangan yang selanjutnya mempengaruhi Generator untuk menghasilkan tegangan output yang diinginkan.2.3. peranan operator diganti oleh peralatan atau komponen yang secara otomatis bekerja sesuai dengan fungsi operator. dibuat diagram blok yang menggambarkan aliran informasi dan komponen yang terlibat dalam sistem kontrol tersebut.Teknik Pengaturan Otomatis Dalam pengaturan secara otomatis. setiap harga tegangan yang dihasilkan oleh Generator ditangkap oleh trafo tegangan untuk dibandingkan dengan tegangan acuan (referensi). Gambar kotak mewakili tiap komponen dalam sistem kontrol. Sistem kontrol yang pertama sering disebut pengaturan secara manual. Diagram blok sistem kontrol lingkar terbuka (SKL-buka) diperlihatkan dalam gambar 12. Seperti diperlihatkan pada gambar 12. sedangkan aliran informasi diperlihatkan dengan garis dengan tanda anak panah di salah satu ujungnya yang menandakan arah informasi atau data dalam proses pengaturan tersebut. sebaliknya jika tegangan output lebih tinggi dari tegangan acuan maka Thyristor akan menghasilkan arus eksitasi sehingga tegangan output Generator turun mendekati harga tegangan acuannya. Dalam sistem tersebut.4 Diagram blok sistem kontrol open-loop 12-5 . untuk memudahkan melihat proses pengaturan yang berlangsung dalam sistem kontrol.

pencucian. sistem kontrol lingkar-terbuka tidak akan menunjukkan hasil yang diharapkan. keluaran tidak dibandingkan dengan masukan acuan. Dengan kata lain. sistem kontrol lingkar-terbuka relatif lebih mudah dibuat karena kestabilan sistem bukan masalah utama. Akibatnya ketelitian sistem sangat bergantung kepada kalibrasi. Di lain pihak. Mesin tidak mengukur kondisi sinyal keluaran berupa kebersihan pakaian. Sistem kontrol lingkar tertutup dalam kenyataannya selalu merujuk kepada sistem yang menggunakan umpan balik untuk mengurangi error sistem. dalam sistem ini keluarannya tidak diukur ataupun diumpanbalikkan untuk dibandingkan dengan masukan.5 Diagram blok sistem kontrol closed-loop Dalam sistem kontrol lingkar tertutup. Perendaman.5. Keuntungan dari sistem kontrol lingkar-tertutup terlihat dari penggunaan umpan balik yang membuat respon sistem tidak terlalu peka (sensitif) terhadap gangguan luar ataupun perubahan nilai-nilai komponen dalam sistem. dan penyabunan dalam mesin cuci beroperasi berdasarkan waktu yang ditentukan oleh pengguna. sehingga masukan acuan berhubungan dengan kondisi operasi (operating condition) yang tetap. Sinyal selisih (error) yaitu perbedaan antara masukan acuan dan sinyal umpan balik diberikan kepada kontroler sedemikian sehingga dalam prosesnya memperkecil selisih dan menghasilkan keluaran sistem pada harga atau kondisi yang diinginkan. Hal tersebut memungkinkan penggunaan komponen yang tidak akurat dan murah untuk mewujudkan pengendalian yang akurat untuk suatu plant. Dalam hal adanya gangguan. Sistem kontrol ini bermanfaat 12-6 . Sistem kontrol ini dapat digunakan dalam praktek hanya jika hubungan antara masukan dan keluaran diketahui dan tidak ada gangguan. Sistem kontrol lingkar-terbuka adalah sistem yang keluarannya tidak berpengaruh terhadap aksi pengaturan. kestabilan menjadi masalah besar dalam sistem kontrol lingkar-tertutup karena penanganan error yang berlebihan bisa menyebabkan osilasi. Dalam sistem tersebut. Dari sisi kestabilan.Teknik Pengaturan Otomatis Sedangkan diagram blok sistem kontrol lingkar tertutup diperlihatkan dalam gambar 12. nilai keluaran berpengaruh langsung terhadap aksi pengaturan. masukan acuan komparator kontroler aktuator plant keluaran umpan balik Gambar 12. Contoh praktis sistem ini adalah mesin cuci.

Dewasa ini dengan kemajuan teknologi dalam bidang elektronika dan komputer.7 melalui diagram blok berikut 12-7 . Peran manusia menjadi hanya sebagai operator. Mekanisme pemanasan air dilakukan dengan mengalirkan uap panas ke dalam saluran uap panas yang selanjutnya uap panas ini akan memanaskan air dingin yang masuk ke dalam tangki. saluran uap panas saluran air panas katup tangki air pengukur suhu (termometer) saluran air dingin pembuangan uap panas Gambar 12.Teknik Pengaturan Otomatis apabila ada gangguan yang bersifat sukar ditentukan atau diramalkan. Algoritma kontrolnya adalah apabila suhu air panas kurang dari yang diinginkan maka buka katup saluran uap. hampir seluruh sistem dikendalikan secara elektronis dan terkomputerisasi. Dalam merealisasikan sistem yang dikendalikan dengan komputer maka penambahan komponen pengubah dari sinyal analog ke digital dan sebaliknya mutlak diperlukan untuk menjamin keberlangsungan proses dalam sistem tersebut Contoh 1: Pemanasan air Perhatikan diagram skematik sistem pemanasan air pada gambar 12.6. sebaliknya jika suhu air panas lebih dari yang diinginkan maka tutup katup saluran uap.6 Sistem Pemanasan Air Skema tersebut memperlihatkan sistem pengaturan yang bertujuan untuk memperoleh air panas dengan suhu tertentu. Air yang akan dipanaskan disimpan dalam tangki air (PLANT). tetapi biasanya sistem kontrol lingkar tertutup juga memerlukan daya dan biaya yang relatif lebih besar dibandingkan dengan sistem kontrol lingkar-terbuka yang bersesuaian. Sistem kontrol tersebut dapat gambar 12. Sebuah termometer (SENSOR) digunakan untuk mendeteksi besar suhu air panas yang dihasilkan. Seorang operator (KONTROLER) bertugas untuk mengatur aksi buka tutup katup (AKTUATOR) pada saluran uap panas.

Algoritma kontrolnya adalah buka kran air apabila tinggi permukaan air turun dan tutup kran air apabila tinggi permukaan air lebih dari yang diinginkan. Selain itu sensor elektronis juga menjadi kebutuhan untuk menjamin tersedianya informasi keluaran yang terus-menerus. yang ingin diatur adalah tinggi permukaan air dalam tangki (PLANT).9 secara skematik memperlihatkan pengaturan tinggi permukaan air. Dalam sistem ini. karena data suhu tidak diproses langsung oleh sistem tetapi diproses melalui operator.7 Diagram blok sistem pemanasan air Meskipun ada sensor berupa termometer pada sistem ini. Pengaturan tinggi permukaan air Gambar 12. kita tidak dapat mengatakan sistem ini sebagai SKL-tutup. 12-8 .8 Diagram blok sistem pemanasan air secara otomatis Contoh 2. intervensi operator menyebabkan berlangsungnya proses dalam sistem. Dengan kata lain. Bentuk diagram blok sistem kontrol lingkar tertutup untuk sistem pemanasan air ini diperlihatkan pada gambar 12. Apabila diinginkan menjadi sistem kontrol lingkar tertutup.8 suhu air panas yang diinginkan komparator kontroler motor listrik + driver tangki air suhu air panas sebenarnya mikrokontroler atau komputer sensor suhu (transduser) Gambar 12. maka fungsi operator harus diambil alih oleh peralatan elektronika pemroses keputusan (misalnya komputer atau mikrokontroler) serta rangkaian penggerak (driver) pemutar buka tutup katup.Teknik Pengaturan Otomatis suhu air panas yang diinginkan kontroler (operator) aktuator (katup + tangan operator) plant (tangki air) suhu air panas sebenarnya Gambar 12. Seorang operator (KONTROLER) bertugas membuka tutup kran air (AKTUATOR) untuk menjaga tinggi permukaan air yang tetap.

Gambar 12.11 Prototipe mobile robot Prototipe mobile robot tersebut dilengkapi dengan sensor ultrasonik untuk mendeteksi jarak dirinya ke penghalang di depan. Prototipenya diperlihatkan dalam gambar 12. dan kanannya.10 diagram blok pengaturan tinggi air Contoh 3. Mobile Robot Mobile robot secara sederhana didefinisikan sebagai robot yang bergerak sendiri mengikuti jalur (path) yang diinginkan untuk menghindari rintangan.9 Pengaturan tinggi permukaan air saluran air keluar Disini yang berfungsi sebagai sensor adalah mata sang operator yang selalu melihat tinggi permukaan air. 12-9 . Diagram blok sistem kontrol lingkar terbuka untuk sistem ini dapat digambarkan dalam bentuk berikut aktuator (katup + tangan operator) tinggi permukaan air sebenarnya tinggi permukaan air yang diinginkan kontroler (operator) plant (tangki air) Gambar 12.11. samping kiri.Teknik Pengaturan Otomatis operator tangki air kran air tinggi permukaan air yang diinginkan saluran air masuk Gambar 12.

12 kontrol otomatis pada mobile robot 12. Sebagai contoh. gambar 12. Perilaku Sistem Kontrol Ada dua tipe perilaku sistem kontrol. Robot berjalan dalam arah lurus ke depan. Sedangkan jika penghalang juga berada di kiri dan kanan. maka dia berbelok ke kanan. mikrokontroler digunakan sebagai pengaturnya. Perilaku statis sistem kontrol diperlihatkan oleh hubungan linier antara variabel yang dikontrol dengan perubahan variabel termanipulasinya.13b memperlihatkan karakteristik statis dari sistem kontrol pada Generator tersebut. jalur (path) yang diinginkan komparator kontroler driver motor stepper motor jalur stepper sebenarnya mikrokontroler sensor jarak (ultrasonik) Gambar 12. yaitu statis dan dinamis. Gambar 12. maka sensor samping (kiri dan kanan) akan mendeteksi ada atau tidak penghalang. jika sensor depan mendeteksi adanya penghalang.3. 12-10 .13a adalah diagram rangkaiannya sedangkan gambar 12. sebaliknya jika penghalangnya di kiri.Teknik Pengaturan Otomatis Selain itu. sedangkan perilaku dinamis ditandai oleh respon sistem kontrol terhadap inputnya. Diagram blok sederhana untuk menggambarkan sistem tersebut diperlihatkan pada gambar 12. Jika di kiri tidak ada penghalang. maka robot bergerak mundur. Cara kerjanya adalah sebagai berikut.13 memperlihatkan sistem kontrol pada Generator arus searah dengan variabel yang dikontrol berupa tegangan dan variabel termanipulasinya arus eksitasi pada lilitan medannya.12. maka robot berbelok ke kiri. dan motor stepper difungsikan untuk menggerakkan rodanya.

yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara perubahan nilai variabel yang dikontrol (x) dengan perubahan nilai variabel termanipulasi (y). 12-11 .14.Teknik Pengaturan Otomatis Gambar 12.13 Perilaku statis Generator Arus Searah Untuk setiap nilai arus yang dihasilkan oleh Generator. Gambar 12. hubungan antara arus eksitasi dan tegangan keluaran digambarkan dengan garis lurus (persamaan linier) seperti diperlihatkan pada gambar 11.14 Hubungan tegangan fungsi arus Perilaku statis dari sistem kontrol dinyatakan dengan koefisien transfer (Ks).

15. Hitung koefisien transfer dari sistem tersebut. Input berasal dari variabel termanipulasi.Teknik Pengaturan Otomatis Secara grafis. Gambar 11-16 memperlihatkan respon sistem dan simbolnya. Gambar 12. koefisien transfer dinyatakan dengan rumus : KS = Δx Δy Contoh : Sebuah pemanas listrik memerlukan arus dari 5 A sampai 7 A untuk menghasilkan suhu dari 80o C sampai 100oC.16 Sistem PT0 12-12 .15 Perubahan Tegangan fungsi Arus Eksitasi Dari grafik tersebut. hubungan tersebut diperlihatkan pada gambar 12. Gambar 12. sedangkan respon sistemnya berupa variabel yang dikontrol. Jawab : KS = K Δx 100 0 C − 80 0 C = = 10 A Δy 7 A − 5A Sedangkan perilaku sistem dinamis ditinjau dari respon sistem yang dikontrol terhadap input berbentuk tangga (step).

dan 5.Teknik Pengaturan Otomatis Berdasarkan bentuk responnya. T0 (T-nol) artinya tidak ada waktu tunda pada respon sistem. Bentuk respon sistem PT0 diperlihatkan pada gambar 12. yaitu 1.16b. Secara umum. P pada penamaan sistem tersebut berarti proporsional. artinya bentuk sinyal reponnya sebanding dengan bentuk sinyal inputnya. sehingga untuk sistem PT0 begitu input diberikan pada sistem atau sistem dijalankan. T2 berarti waktu tunda responnya tingkat dua. dan seterusnya. Sementara sistem PT1 diperlihatkan pada gambar 12. 2. ada lima klasifikasi sistem kontrol. nilai output langsung mengikuti nilai inputnya tanpa penundaan waktu. Simbol sistem PT0 diperlihatkan pada gambar 12. Sedangkan T berindeks berarti waktu tunda respon terhadap inputnya. Waktu tunda adalah waktu yang dibutuhkan oleh respon sistem untuk mencapai bentuk inputnya. semakin besar tingkat waktu tundanya semakin lambat respon output terhadap inputnya. Gambar 12. Tujuan pengaturannya adalah air diinginkan memiliki suhu tertentu. Sistem kontrol dengan waktu mati (dead time). Sistem kontrol waktu tunda banyak (PTn). 4. 3. Sistem kontrol waktu tunda dua langkah (PT2). Sistem kontrol tanpa waktu tunda (PT0). Model fisik dari sistem PT1 menggambarkan sebuah proses pemanasan air dengan mengalirkan uap panas pada sebuah tangki melalui operasi buka tutup katup.16a. Sistem kontrol waktu tunda satu langkah (PT1). T1 berarti waktu tunda responnya tingkat satu.17. Sebagai contoh dari sistem ini adalah pengaturan arus kolektor suatu transistor bipolar dengan input arus basisnya. Pada gambar tersebut terlihat sistem merespon inputnya secara langsung tanpa ada selang waktu.17 Model fisik PT1 12-13 . Terlihat bahwa pada sistem PT0. respon sistem langsung mengikuti bentuk inputnya.

arus yang muncul mengikuti bentuk eksponensial seperti pada gambar 12. Simbol sistem PT1 diperlihatkan pada gambar 12. 12-14 . seolah-olah uap panas yang masuk langsung dibuang melalui saluran keluar. Contoh lain dari sistem PT1 adalah kumparan. Pada saat katup uap panas dibuka maka proses pemanasan mulai berlangsung. karena jika tegangan diberikan pada kumparan.18b. Perubahan suhu air dalam tangki mengikuti grafik pada gambar 12. Gambar 12. Suhu air bertambah seiring dengan banyaknya uap panas yang mengalir ke dalam tangki. x menyatakan suhu air setiap saat. yaitu diharapkan radiator tersebut memiliki suhu akhir tertentu.19 Model Sistem Kontrol PT2 Model radiator dengan saluran masuk uap panas melalui katup dan dilengkapi saluran keluar udara dari radiator tersebut. Perubahan suhu air berlangsung lambat dan mengikuti bentuk eksponensial dengan konstanta waktu Ts. Prinsip pengaturannya sama dengan pemanasan air. proses pemanasan mulai berlangsung. Pada grafik tersebut.18a.18 Respon Kontrol PT1 Radiator pemanas ruang dengan uap pemanas merupakan contoh sistem PT2 diperlihatkan pada gambar 12. Kondisi ini berlangsung dalam rentang waktu tertentu yang disebut waktu mati (deadtime) Tu. Terlihat bahwa nilai outputnya mencapai atau mengikuti nilai inputnya dalam waktu tertentu (waktu tunda).Teknik Pengaturan Otomatis Pada saat katup dibuka untuk mengalirkan uap panas ke dalam tangki. Adanya saluran keluar yang tidak dilengkapi katup menyebabkan suhu dalam radiator tidak mengalami perubahan. sedangkan y menandai suhu air yang diinginkan.18a.19. Gambar 12.

Suhu akhir diperoleh dalam selang waktu tertentu yang disebut waktu menetap (settling time) Tg.20 Respon sistem PT2 Gambar 12. Adanya dua parameter waktu tunda Tu dan Tg menyebabkan sistem ini disebut sistem PT2. dimana kecepatannya diatur melalui perubahan arus jangkar. bentuk respon untuk sistem PTn sama dengan sistem PT2 yaitu memiliki dua konstanta waktu seperti diperlihatkan pada gambar 12. Kalau sistem PT1 waktu tundanya mungkin berkisar dalam satuan milidetik dan sistem PT2 waktu tundanya dalam kisaran puluhan milidetik. Secara grafik. Simbol sistemnya diperlihatkan pada gambar 12. maka perubahan suhu dalam radiator mengikuti pola grafik pada gambar 12. maka waktu tunda untuk sistem PTn mungkin berkisar dalam satuan detik sampai puluhan detik. Sementara itu. Sistem ini memiliki dua konstanta waktu. bahwa output sistem mulai merespon setelah beberapa saat (waktu mati) dan mencapai inputnya setelah selang waktu tertentu (waktu menetap).20b. 12-15 . satu untuk lilitan jangkar dan yang lainnya untuk mempercepat bagian jangkar. Contoh lain dari sistem PT2 ini adalah motor arus searah dengan magnet permanen. sistem PTn adalah sistem dengan respon yang sangat lambat dibandingkan dengan dua sistem terdahulu.21 Respon kontrol PTn Misalnya dalam suatu sistem kontrol ada enam komponen yang terlibat dalam proses pengaturan dan masing-masing menyumbang waktu tunda terhadap sistem maka sistemnya disebut sistem PT6.20.Teknik Pengaturan Otomatis Apabila proses pemasukan uap panas terus berlangsung.21. Dapat dilihat pada simbol itu. Gambar 12. Perbedaannya terletak pada kisaran waktu tunda dalam satuan puluhan detik.

Gambar 12. Terlihat bahwa output baru muncul (x) setelah waktu mati (Tt) dari waktu awal inputnya (y).22 Model Dead Time .23a.Teknik Pengaturan Otomatis Kelompok lainnya adalah sistem kontrol dengan waktu mati (deadtime). Karena ada waktu yang dibutuhkan oleh barang atau bahan untuk berpindah dari posisi semula ke posisi akhir. waktu mati didefinisikan sebagai saat ketika sistem tidak merespon inputnya. Gambar 12.23 Respon Kontrol Deadtime 12-16 . Gambar 12. maka ada rentang waktu kosong (deadtime) sebelum output sistem – dalam hal ini awal proses di bagian berikutnya – terjadi.22 memperlihatkan proses pemindahan barang atau bahan di sebuah proses produksi dari satu tempat ke tempat lain melalui ban berjalan.23b. Seperti diuraikan sebelumnya. Jadi output sistem baru muncul setelah waktu mati. respon sistem kontrol yang memiliki waktu mati diperlihatkan pada gambar 12. Secara grafik. Sedangkan simbol sistem kontrol dengan waktu mati diperlihatkan pada gambar 12.

Apabila ruangan bersuhu rendah maka kontroler bekerja untuk menaikkan suhu ruangan. Kondisi suhu mengikuti grafik pada gambar tersebut. Input yang diproses oleh kontroler adalah selisih dari dua input tersebut (error e). sebaliknya apabila suhu ruangan mencapai posisi suhu tinggi maka kontroler bekerja untuk menurunkan suhu ruangan dengan cara memutus arus pemanasnya.5. Kontroler Dua Posisi Kontroler tipe ini memiliki prinsip kerja nyala-padam (On-Off) secara bergantian dengan waktu yang ditentukan. Secara teknis.24. yaitu kontroler Proporsional (P). sehingga dinamai juga kontroler On-Off. dan kontroler Proporsional-Intergral-Derivatif (PID). Kontroler integral (I). Gambar 12. kontroler Proporsional dan Integral (PI). Sedangkan kontroler kontinyu terdiri atas lima jenis. yaitu kontroler kontinyu dan kontroler diskrit. Kontroler diskrit terdiri atas kontroler dua posisi (On-Off) dan kontroler tiga posisi. Komponen tersebut berfungsi sebagai pusat pengatur proses dalam sistem kontrol. Berdasarkan cara kerjanya ada dua tipe kontroler. Tipe Kontroler Kontroler dapat diibaratkan sebagai otak dari sistem kontrol. Salah satu penerapan kontroler ini misalnya pada pengaturan suhu ruangan agar berada di antara dua nilai suhu rendah dan tinggi (suhu nyaman).4. kontroler Derivatif (D).24 Kontroler dua posisi (On-Off) 12-17 . Sedangkan output kontroler berupa variabel termanipulasi (y). 12. yaitu output sebenarnya yang dihasilkan plant (disebut variabel yang dikontrol x) dan masukan acuan (referensi w). ada dua input ke kontroler. kontroler Proporsional Derivatif (PD). Karakteristik kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12.Teknik Pengaturan Otomatis 12.

25.26 Kontroler suhu bimetal Kontroler suhu bimetal adalah sebuah kontroler dua posisi yang diperlihatkan pada gambar 12. Dengan melihat kurva ini. Apabila suhu panas maka keping bimetal akan melengkung sedemikian sehingga kontak terlepas sehingga elemen pemanasnya terputus kontaknya sehingga suhu akan turun.26. perpindahan (transisi) dari posisi on ke off berlangsung ketika suhu mencapai suhu tinggi (xo) dan sebaliknya perpindahan posisi off ke on terjadi pada saat suhu mencapai suhu rendah (xu). Waktu tunda tersebut muncul baik pada saat kondisi on ke off ataupun sebaliknya dari kondisi off ke on seperti terlihat pada gambar tersebut sebagai akibat komponen atau pengatur tidak bisa langsung merespon perubahan inputnya. Karena suhu naik.24. Karena ketidakidealan sistem. 12-18 . Gambar 12. dan seterusnya. Simbol kontrol dua posisi (On-Off) diperlihatkan pada gambar 12. suhu naik sedikit demi sedikit sampai mencapai suhu tingginya. Pada kontroler ini bentuk kurva karakteristik input-outputnya disebut hysteresis seperti terlihat di bagian kiri gambar 12. Adanya magnet menyebabkan suatu saat keping bimetal kembali akan tertarik dan menyebabkan kontak kembali bekerja dan proses pemanasan berlangsung kembali.Teknik Pengaturan Otomatis Pada saat awal proses pemanasan ruangan. Posisi On-Offnya ditentukan oleh kontak bimetal. sehingga proses awal berulang.25 Simbol kontrol on-off Gambar 12. timbul waktu tunda Tu. keping bimetal kembali melengkung dan memutus kontak dengan pemanas.

Ketika posisi saklar pada 0. pada posisi ini pemanas R1 dan R2 secara bersamaan bekerja dan dihasilkan temperatur lebih tinggi. seperti diperlihatkan pada gambar 12. kedua pemanas posisi Off dan kedua pemanas tidak mendapat catu daya listrik. Ketika sensor suhu mencapai angka setting tertentu saklar cabang akan menghubungkan cabang 1 dengan pemanas R1. hasilnya suhu dingin.29 Gambar 12. Sedangkan karakterisitik dan simbol dari kontroler tiga posisi terlihat pada gambar 12. dan keadaan mati (Off). Gambar 12. Kontroler Tiga Posisi Kontroler tiga posisi gambar 12. Dalam bentuk rangkaian listrik digambarkan pada gambar 12.28. yaitu panas-tinggi.Teknik Pengaturan Otomatis 12.6. satu pemanas bekerja. Contoh pemakaian kontroler tiga posisi adalah pada sistem pengaturan suhu yang memerlukan tiga keadaan. terhubung pada induk saklar 1 dan 2. sensor temperatur menggerakkan saklar ke cabang 2.28 Karakteristik dan simbol kontroler tiga posisi Gambar 12. Pemanas listrik R1.27 Kontrol tiga posisi Jika pemanas akan dinaikkan temperaturnya.27 memiliki karakteristik satu posisi On dan dua posisi Off.29 Karakteristik kontroler tiga posisi dengan posisi tengah nol 12-19 .27. atau sebaliknya dua On dan satu Off. panas-sedang. Sedangkan pemanas R2 hanya terhubung pada saklar cabang 2 saja.

sebaliknya apabila tinggi air sesungguhnya melebihi tinggi air acuan maka katup akan menutup sekecil mungkin. Aplikasi kontroler proporsional misalnya pada pengaturan tinggi permukaan air seperti pada gambar 12.30 Kontrol proporsional Apabila tinggi air sesungguhnya sangat rendah maka katup akan membuka lebar-lebar.Teknik Pengaturan Otomatis 12.32 Respon kontrol proporsional 12-20 . Karakteristik dan diagram blok kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. Gambar 12. Kontroler Proporsional (P) Kontroler Proporsional memiliki karakteristik bahwa outputnya berupa variabel yang dikontrol berubah sebanding (Proporsional) dengan inputnya yang berupa variabel selisih (error) antara masukan acuan (reference) dengan variabel termanipulasi atau output nyata dari plant. Gambar 12.30.31.31 Aplikasi kontroler proporsional Respon sistem kontrol dengan kontroler proporsional diperlihatkan pada gambar 12. Hubungan antara variabel yang dikontrol y dengan error e dinyatakan dengan bentuk persamaan linier dengan konstanta kesebandingan (proporsional) KRP.32. Gambar 12. Buka tutup katup akan sebanding dengan posisi pelampung yang mengukur selisih antara tinggi permukaan air yang diinginkan (referensi) dengan tinggi air sesungguhnya (x).7.

Dengan demikian.33 Kontroler Integral output nyata.34 Aplikasi kontroler integral 12-21 . pemakaian kontroler integral relatif lebih baik dalam hal memperkecil selisih antara masukan acuan dengan Gambar 12. maka torsi motor akan semakin besar dan mempercepat buka katup.33. Dibandingkan dengan kontroler proporsional. Gambar 12. Karakteristik dan diagram blok kontroler integral diperlihatkan pada gambar 12. jika selisih acuan dengan output nyata besar maka perubahan nilai output juga besar. Dengan demikian diharapkan tangki air akan terisi air lagi secara cepat sampai ketinggian yang diinginkan.34. seperti diperlihatkan pada gambar 12. sehingga diharapkan selisihnya semakin kecil. Dalam sistem tersebut. Semakin besar selisih tersebut. sehingga air akan semakin banyak mengalir. Torsi motor yang dihasilkan bergantung kepada nilai selisih antara acuan (yh) dengan output nyata (y) yang diukur melalui pelampung.8. sehingga selisih (error) nya semakin kecil.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Kontroler Integral (I) Laju perubahan (kecepatan) nilai output dari kontroler integral sebanding dengan nilai inputnya. Input sistem berupa variabel selisih (error) antara masukan acuan (referensi) dengan variabel termanipulasi atau output nyata dari plant. kontroler integral akan mendorong sistem yang dikontrol (plant) untuk mencapai output yang diinginkan. artinya aktuator akan “mengejar” selisih tersebut. operasi buka tutup katup dilakukan oleh motor listrik. Aplikasi kontroler integral ini misalnya pada pengaturan level permukaan air yang melibatkan motor sebagai komponen aktuatornya. Jadi. yaitu apabila kecepatan berkurangnya air semakin besar (misalnya saat pemakaian air yang banyak).

Pada sistem ini. Gambar 12. Respon sistem terhadap input tangga (step) dan diagram blok dari kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. Gambar 12.9.35.35 Kontroler Proporsional Integral Aplikasi tipe kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. Kontroler Proporsional Integral (PI) Kontroler PI merupakan gabungan fungsi dari kontroler Proporsional dan Integral. Torsi motor berubah berdasarkan nilai selisih antara ketinggian air nyata (y) dan tinggi air yang diinginkan (yh). buka tutup katup berlangsung atas dasar data output nyata yang diukur melalui pelampung dan torsi motor. karena buka tutupnya menyesuaikan dengan kondisi air yang ada dalam tangki. sementara kontroler P digunakan untuk mempertahankan agar kontroler masih merespon meskipun untuk nilai selisih yang kecil.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Kombinasi dua mode pengontrolan ini menghasilkan operasi katup yang efektif. Penggabungan ini untuk menutupi kekurangan kontroler P yang relatif lambat responnya.36 Aplikasi Kontroler PI 12-22 .36.

Aplikasi kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. maka katup akan membuka dengan cepat sehingga laju air masuk ke tangki semakin besar.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Respon kontroler ini untuk input tangga (step) dan input lereng (ramp) diperlihatkan pada gambar 12. maka nilai selisihnya kecil.38 Respon kontroler derivatif untuk sinyal lereng Gambar 12.10. 12-23 .37 dan gambar 12.39.38. nilai ouput yang melebihi nilai acuannya ditekan sekecil mungkin. Gambar 12.37 Respon kontroler maka kontroler mengirimkan sinyal ke derivatif untuk sinyal step aktuator yang semakin besar pula. Misalnya level air dalam tangki melebihi dari tinggi yang diinginkan.39 Aplikasi Kontroler Derivatif Dalam keadaan tangki kosong artinya selisihnya besar. Apabila keadaan air mendekati penuh. Dengan demikian. Kontroler Derivatif (D) Penggunaan kontroler P saja dalam sistem kontrol kadang-kadang menyebabkan respon sistem melebihi input acuannya. buka tutup katup bergantung kepada perubahan nilai selisih antara tinggi air nyata yang diukur melalui pelampung (y) dan tinggi air yang diinginkan (yh). Input ke kontroler derivatif berupa perubahan selisih antara output nyata dan masukan acuannya atau kecepatan error. Untuk mengurangi atau menghindari kondisi ini maka digunakan kontroler tipe derivatif. sehingga katup akan memperkecil volume air yang masuk ke dalam tangki. sehingga apabila selisih antara output nyata dan masukan acuannya semakin besar Gambar 12. Keadaan ini disebut overshoot. Pada sistem ini.

Tuas bawah mengimbangi gerakan oleh tekanan pegas akibat dorongan piston. Kontroler Proporsional Derivatif (PD) Karena kontroler derivatif mampu mengurangi overshoot yang terjadi dalam sistem kontrol.40 Respon kontroler PD terhadap sinyal lereng Apabila kontroler PD diterapkan pada pengaturan tinggi air maka buka tutup katupnya berdasarkan data selisih dan laju perubahan selisih antara tinggi air nyata (y) dengan tinggi air yang diinginkan (yh).11.41. Gambar 12.41 Aplikasi Kontroler PD Ketika pengisian air dalam tangki penampung mencukupi maka pelampung akan bergerak keatas dan menggerakkan dua tuas. seperti diperlihatkan pada gambar 12. Respon kontroler terhadap input lereng (ramp) dan diagram blok kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. maka penggabungan dua tipe kontroler P dan D cukup efektif untuk mendapatkan respon sistem yang baik.Teknik Pengaturan Otomatis 12. 12-24 . Kontroler PD memadukan fungsi kontroler P dan D. Gambar 12.40. Tuas atas menggerakkan piston dalam silinder yang akan meutup katup aliran air.

karena tipe kontroler memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. maka untuk mendapatkan hasil pengontrolan yang baik digunakan perpaduan tiga tipe kontroler tersebut.12.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Sekaligus katup akan menutup aliran air yang menuju ke bak penampung bawah. Perhatikan kontroler ini merupakan gabungan kontroler PI yang ada digambar 12. maka pelampung akan bergerak keatas. Gambar 12. dan D). Kontroler PID Dari uraian sebelumnya. Pengisian permukaan air setinggi h akan di ikuti oleh pergerakan pelampung yang menggerakkan baik tuas. Kontroler ini memadukan fungsi tiga kontroler sebelumnya (P. errornya sangat kecil (keunggulan kontroler I). Gambar 12. Respon kontroler terhadap input tangga (step) dan diagram bloknya diperlihatkan pada gambar 12. I. Potensiometer akan memperkecil tegangan.42 Respon kontroler PID terhadap sinyal step Aplikasi kontroler PID dalam sistem kontrol tinggi air dalam tangki diperlihatkan pada gambar 12.43. motor DC akan mati.26 dengan kontroler jenis Derivatif pada gambar 12. Jika permukaan air sesuai dengan setting.42. maupun potensiometer yang memberikan umpan balik pada motor DC yang mengisi air. Dengan kontroler PID diharapkan responnya sangat cepat (keunggulan kontroler P). dan overshoot-nya kecil (keunggulan kontroler D).36.43 Aplikasi kontroler PID 12-25 . sehingga disebut kontroler PID.

Tipe kontroler. yaitu loop stabil.44.Teknik Pengaturan Otomatis Untuk memudahkan analisis sistem kontrol biasanya digunakan analogi penggambaran sistem kontrol dengan rangkaian listrik. loop batas stabil.3.13. dan loop tidak stabil. hubungan antar variabelnya dicantumkan dalam tabel berikut. Karakteristik Osilasi Pada Sistem Kontrol Ada tiga karakteristik osilasi apabila sebuah lingkar (loop) diterapkan pada sistem kontrol. Tabel 12. analogi rangkaian listrik. Bentuk karakteristiknya diperlihatkan pada gambar 12. Gambar 12.44 Karakteristik osilasi 12-26 . Aplikasi Op-Amp Sebagai Kontroller 12. diagram blok.

Optimisasi Kontroler Dalam menerapkan tipe kontroler untuk aplikasi tertentu. Seleksi Tipe Kontroler Untuk Aplikasi Tertentu Dalam prakteknya. Misalnya pada pengaturan kecepatan motor arus searah terjadi loop tidak stabil maka motor berputar semakin lama semakin besar sampai melebihi batas kecepatan nominalnya yang tercantum dalam nameplate-nya. beberapa parameter yang harus diperhatikan adalah konstanta waktu dari masing-masing tipe kontroler. 12-27 . Berikut adalah tabel perbandingan pemilihan tipe kontroler untuk aplikasi tertentu. dan kemudahan dalam realisasi menentukan tipe kontroler yang digunakan dalam aplikasi tersebut. Tentu saja yang terjadi adalah motor menjadi rusak karena terjadi panas berlebih dalam komponen motor tersebut. Dalam sistem tersebut. respon sistemnya bisa mengikuti masukan acuannya dengan error semakin kecil dan menuju nol. Karakteristik loop yang tidak stabil adalah kualitas terburuk dari sistem kontrol. 12.15. Tabel 12. Selain pertimbangan ekonomis. dan waktu menetap (settling time)nya. respon sistem melebihi dari nilai masukan acuannya dan semakin lama semakin besar. penggunaan tipe kontroler sangat bergantung kepada jenis aplikasi yang akan menggunakan kontroler dalam realisasinya. waktu tunda (delay time).Teknik Pengaturan Otomatis Dalam sistem kontrol dengan loop stabil. Hal ini tentu saja menyebabkan kerusakan dalam sistem.14. Nilai optimal masing-masing parameter tersebut diperlihatkan pada tabel berikut. hal-hal teknis berkaitan dengan karakteristik sistem. yaitu pendekatan Chien/Hornes/Reswick dan pendekatan Ziegler/Nichols. Sementara untuk loop batas stabil. output sistemnya berosilasi terus-menerus. Perbandingan jenis kontroller untuk masing-masing aplikasi 12. sifat-sifat fisis dari besaran yang dikontrol. Ada dua pendekatan yang cukup terkenal dan praktis (rule of thumb) dalam menentukan nilai optimal dari suatu parameter relatif terhadap parameter lainnya. yang pada tingkat tertentu merusak komponen sistemnya.4.

5. Jawab 1 Tg 1 600 × = 1. K RP = 1.2 A/K 10 60 K S Tu Tn = 2Tu = 2 × 60 = 120 detik . Komponen elektropneumatik .42Tu = 0. waktu akhir respon kontroler (settling time) Tg = 600 detik. dan Tv = 0.6.42 × 60 = 25. Rangkaian dari komponen-komponen tersebut bekerja dengan energi listrik. Elektropneumatik Di industri banyak digunakan komponenkomponen yang merupakan kombinasi elektrik dan pneumatik. Parameter Ziegler-Nichols Contoh : Sebuah sistem kontrol suhu membutuhkan spesifikasi kontroler sebagai berikut : waktu tunda Tu = 60 detik.2 × 12. . dan Tv apabila dipilih kontroler PID untuk merealisasikan kontroler tersebut. : Dari tabel.16.2 detik. Sinyal-sinyal DC tersebut diaktifkan melalui rangkaian logika.45. Pneumatik dapat digunakan untuk mengontrol daya dengan bantuan sinyal listrik (biasanya digunakan 24 V DC). tentukan nilai parameter KRP. Dengan kriteria 20 % osilasi dari nilai output kontrolernya.Teknik Pengaturan Otomatis Tabel 12. 12-28 Gambar 12. dan konstanta proporsional KS = 10 K/A. Parameter kontroller dengan pendekatan Chien/Hornes/Reswick Tabel 12. yang disebut elektropneumatik.2 × × = 1. Tn.

17. Misalnya satu kali ditekan dia akan tertutup (dan terus bertahan) dan ditekan lagi saklar akan terbuka. posisi silinder. Komponen elektropneumatik terdiri bagian elektrik. Sensor-sensor Melalui pengesetan pada sensor. akan bekerja selama beberapa waktu saja setelah saklar tersebut ditekan. informasiinformasi dari luar yang menunjukkan kondisi bagian yang dikontrol (misalnya perubahan tekanan. tegangan. Sedangkan untuk model saklar tekan. dan sebagainya) dapat diteruskan ke bagian pengontrol. normally clossed atau dalam bentuk toggle gambar-12. Gambar 12. 12.46 Untuk model selector switch. bekerja berdasarkan mekanis. Bagian Elektrik Bagian ini biasanya berupa rangkaian tertutup dan mempunyai bagian output yang digunakan untuk menyambungkannya dengan komponen atau bagian lain sesuai dengan kebutuhan. Bagian-bagian tersebut bekerja secara elektropneumatik. 12. normally open.47 Limit switch 12-29 . Gambar 12. Komponen Elektropneumatik Di bagian aktuator. Di pasaran biasanya tersedia dalam bentuk saklar tekan (pushbutton) atau selector switch. Tombol NO. Untuk tipe toggle.2.17. pneumatik digunakan seperti pada silinder dan throttle dan katup penghalang. saklar akan berubah fungsi setiap kali ditekan.17.1. elektropneumatik dan bagian mekanik.Teknik Pengaturan Otomatis 12.46. dan akan tetap pada posisinya sampai ada yang mengubahnya.NC dan toggle Misalnya dia akan tetap off sebelum ada orang yang mengubah posisi saklar menjadi on.

47. Daya tekan tersebut dapat diatur melalui sebuah tombol putar gambar-12. • Dengan medan magnet yang tinggi komponen ini tidak dapat diset.2 ms). 12-30 .49 Proximity switch terpasang pada silinder (sekitar 0. Ketika ada tekanan melebihi nilai setingnya. Saklar tekanan elektronis bekerja melalui tekanan yang terjadi pada membran. • Hanya memerlukan sedikit instalasi Saklar proximity merupakan sensor non-kontak. Saat ini banyak digunakan saklar tekanan yang bekerja secara elektronis. Karakteristik penting saklar jenis ini ialah: • Bekerja tanpa memerlukan daya • Waktu pensaklaran yang singkat Gambar 12. maka limit switch akan bekerja. penyambung atau pengubah arah arus. Medan magnet biasanya segera berintegrasi dengan badan piston. Gambar 12. sehingga kontak bergerak. atau mengalihkan arah arus.48. Limit-switch biasanya berfungsi sebagai pembuka atau penyambung dan pengubah aliran arus. pemutus atau pengubah aliran arus dengan cara mengeset saklar pada tekanan tertentu. Ketika tekanan mencapai nilai seting yang ditetapkan. maka dia akan mengeluarkan sinyal untuk mengontrol kerja mesin atau bagian dari mesin. Biasanya rumah kontak saklar ini berupa diode jenis LED yang akan langsung menyala saat terjadi kontak (saklar tersambung). dapat di set pada posisi tertentu. Saklar ini dapat berfungsi sebagai pemutus.48 Limit switch Saklar tekanan biasanya berfungsi sebagai tekanan penyambung. Tekanan input didapat dari sebuah piston yang akan menghasilkan daya tekan. bekerja berdasarkan induksi magnet yang ditimbulkan oleh belitan pada kontak-dalam. Saklar magnet jenis proximity juga dapat diset pada posisi tertentu dalam silinder gambar 12. maka saklar akan terbuka atau tertutup.Teknik Pengaturan Otomatis Sebuah limit-switch mekanik gambar-12. • Bebas waktu tunggu • Masa pakainya panjang • Sensitifitasnya terbatas. sehingga ketika ada benda kerja yang menyentuh limit-swtich tersebut.49.

• • • Belitan untuk arus eksitasi digambarkan sebagao A1 dan A2 Relai digambarkan sebagai K1.50. Arus masuk melalui belitan eksitasi (terminal A1 dan A2). kontaktor bekerja dengan daya yang lebih besar sampai 100 kW. Relay dan kontaktor bekerja dengan prinsip yang sama. Jangkar akan bergerak dan kontak bekerja. K2 dan seterusnya.Teknik Pengaturan Otomatis 12. deret kedua merupakan jenis deret kontak. Relay dan Kontaktor Relay dan kontaktor merupakan saklar yang bekerja berdasarkan prinsip elektro-magnetik yang terjadi pada kontaktor-kontaktornya gambar 12.50 Konstruksi Dapat bekerja dengan tegangan Relay dan kontaktor yang berbeda-beda Relay dapat bekerja dengan tegangan DC maupun AC Relay dapat bekerja dengan sinyak-kuadrupel Relay juga dapat bekerja dengan delay sinyal. Deret pertama merupakan order atau tingkatan. pengaturan dan pengecekan. Relay tersedia dalam tipe normally-open (terbuka). Relay biasanya bekerja dengan daya rendah (sekitar 1kW. Jika aliran arus pada jangkar terputus. Oleh karena itu gambar potongan saklarnya digambarkan sama. tertutup. seperti: • Relay menunjukkan gambaran • • • • antara sinyal dan daya Gambar 12.17. 12-31 .3. Ini dimaksudkan relay dapat bekerja dengan tegangan yang berbeda-beda. Relay banyak digunakan untuk berbagai jenis kontrol. Rangkaian kontak relay digambarkan melalui angka-angka yang terdiri dari dua deret. atau sebagai pengubah aliran arus gambar-12. Relay bekerja dengan tegangan bebas.51 menunjukkan rangkaian kontak atau sambungan sebuah relay. maka sambungan akan terputus pula.

Oleh karena itu tidak ada arus lagi yang mengalir melalui belitan (spul) dari jangkar ke bawah dan aliran dari 1 ke 2 juga terhalang. Katup magnetik terdiri dari belitan magnet (ini adalah elemen elektronik) dan katup pneumatik. yang akan membangkitkan medan elektro magnetik. yang meng-gambarkan adanya bagian kontrol mekanis dan elektronik.51. Selanjutnya.52 Katup Magnetik 12-32 . Arus listrik mengalir melalui belitan magnet. Katup Magnetik Katup magnetik merupakan konverter elektromagnetik.17.4. Katup magnetik Gambar 12. sehingga akan terjadinya aliran udara bebas dari 1 ke 2. dimana tekanan udara dikontrol. Jangkar terhubung dengan pendorong katup. Didalam pendorong katup terdapat gerbang jangkar yang akan bergerak.51: dimulai dari penyetelan dasar katup.Teknik Pengaturan Otomatis Gambar 12. Kontaktor dengan kontak utama dan kontak bantu 12. yaitu dengan menutup aliran udara dari 1 ke 2. sehingga dapat mengubah status sambungan (tersambung atau terputus). pengaliran udara3 dalam jangkar akan menghalangi udara dari atas ke bawah.51. Prinsip kerja katup kontrol 3/2 gambar 12. dalam waktu yang bersamaan akan terjadi Gambar 12. sehingga dapat menarik jangkar. Magnet yang dibangkitkan oleh belitan akan menaikkan jangkar ke atas.

Batang jangkar katup magnetik Katup Magnetik 3/2 dengan Penyetelan Balik. yang me-nyebabkan piston bergerak ke kiri. Pada saat sinyal kontrol bekerja. dengan bantuan tangan. Gambar-12. terdapat aliran tekanan udara pada lempeng yang dikontrol. Tekanan udara juga dapat diatur melalui perangkat yang dapat diatur dengan tangan. dan akan mengakibatkan terjadinya tekanan pada piston ke arah kanan. sehingga katup akan terbebas dari kontrol tekanan. Di dalam elektropneumatik terdapat valve yang dapat dikontrol. dan katup akan teraliri udara melalui lubang di dalam jangkar di jalur 82.Teknik Pengaturan Otomatis pertukaran udara dari 3 ke 2. Pada saat ini aliran udara masuk dari jalur 3 ke 1 terhalang.53 menunjukkan penyetelan dasar dari katup magnetik 3/2. sementara udara dapat masuk melalui jalur 3 ke 2. akan ada tekanan udara pada lempeng kontrol. Sinyal listrik akan mengakibatkan jangkar bekerja membuka katup kontrol dan ini akan menimbulkan perubahan tekanan pada piston. Keunggulan penggunaan kontrol dengan elektropneumatik adalah belitan magnet relatif berukuran kecil. Katup magnetik 3/2 12-33 . dan ini akan mempengaruhi adanya pertukaran udara tersebut.54. maka jangkar akan bergerak ke kiri sehingga kedalamannya akan bertambah. Gambar 12.53. poros elektromagnet dapat berputar. Oleh karena itu. Tekanan udara pada jalur 1 akan mengakibatkan lempeng penahan bergerak ke kiri dan jangkar akan bergerak ke depan. sehingga udara dapat mengalir dari jalur 1 ke 2. Gambar 12.52. Disini aliran udara dari jalur 1 ke 2 dihalangi dengan mengontrol katup magnetik 3/2. menunjukkan dasar fungsi sebuah elektropneumatik gambar-12. Melalui eksitasi belitan magnet. sehingga hanya memerlukan arus dan daya listrik kecil.

Katup magnetik 5/2 Katup Magnetik Impulse 5/2 gambar 12. Gambar 12. Katup magnetik 5/3 Pengaturan katup mendapat masukan udara dari jalur 82 atau 84.57. tetapi untuk katup ini tidak ada definisi penyetelan dasar.56 menunjukkan penyetelan dasar katup 5/3 (penyetelan halus di-offkan). Dengan menggunakan eksitasi magnet akan memungkinkan feder pusat berada di posisi tengah. untuk mempertahankan piston pada posisi tertentu. Gambar 12.Teknik Pengaturan Otomatis Katup magnetik 5/2 mempunyai perbedaan bentuk fisik jika dibandingkan katup magnetik 3/2 gambar 12. tanpa mempertahankan impuls katup dalam memori.56. maka katup akan berada di tengah. yaitu dengan mencegah aliran udara dari jalur 1 ke 2 dan dari 1 ke 4. Disini. Gambar 12. Perbedaan tersebut terletak pada sinyal listrik pembangkit eksitasi pada belitan magnet.55 mempunyai prinsip kontrol yang sama dengan katup katup magnetik yang dijelaskan sebelumnya. Lubang yang menghubungkan kedalaman jangkar-jangkar akan berada pada tekanan di port 1.55.54. yaitu perlu belitan magnet yang tereksitasi untuk menggerakkan piston. Melalui eksitasi sebuah magnet akan mulai dijelaskan prinsip pengontrolan katup dan piston yang akan mengubah posisi saklar. Jika ada sinyal kontrol. bahwa untuk mengatur gerakan katup diperlukan sinyal kontrol untuk Y1 hingga Y2. Gambar 12. 12-34 . Katup magnetik impulse 5/2 Katup magnetik jalur 5/3. belitan magnet hanya memer-lukan impuls yang pendek. Secara prinsip kedua katup tersebut mempunyai cara kerja yang sama. yang perlu diperhatikan.

58.56 maka relay K1 akan energized dan ini akan meng-aktifkan kontak relay pada lead arus-2 serta katup magnetik Y1 di bagian silinder 1V1. Kontrol jenis ini mempunyai keunggulan. Rangkaian Dasar Seperti halnya pada pneumatik. Dalam praktik. Silinder tunggal dengan dgn katup magnetik 3/2 Gambar 12. Disini tidak ada pengaturan secara langsung. sehingga jalur katup 3/2 dapat memberikan pengontrolan. Silinder dengan Operasi Ganda Disini juga akan dijelaskan kemungkinan-kemungkinan peng-aturan yang lebih banyak karena menggunakan pengaturan tekanan udara secara ganda.Teknik Pengaturan Otomatis 12.18. Disini kembali berlaku prinsip-prinsip perancangan rangkaian yaitu dengan memper hatikan fungsi dan karakteristik penyetelan. 12.59. Silinder operasi ganda katup 5/2 12-35 .57 atas hanya akan bergerak ketika S1 ditekan untuk waktu selama silinder bergerak. pada elektropnuematikpun dapat dibuat rangkaian dasar yang harus di set secara bersama-sama. bahwa arus relay dapat digunakan untuk mengaktifkan perangkat lainnya.18. Operasi satu arah dari Silinder Dengan mengoperasikan saklar-1 gambar 12. Operasi Maju dan Mundur Silinder Cara kerja silinder sangat berbeda dengan cara kerja pneumatik. pengaturan dilakukan melalui relay.1. Komponen-komponen harus di-tangani dengan baik sehingga dan berfungsi baik dan dapat direncana kan pengontrolan yang sesuai. Gambar 12. Silinder pada gambar 12. Silinder 1A1 akan bergerak ketika S1 dioperasikan lagi dan mencapai ujung tabung ketika S1 dioperasikan untuk waktu yang diperlukan silinder bergerak dari ujung ke ujung tabung.

Silinder ganda dengan katup 5/3 2. Gambar 12. untuk meng-operasikannya hanya diperlukan impuls yang pendek saja periodenya. Impuls 1V1 tersimpan oleh sinyal yang pertamakali datang.57 bawah menunjukkan bahwa silinder 1A1 bergerak berdasarkan impuls yang diperoleh dari S1 dan S2 yang ditekan sesaat saja. Rangkuman 2. Oleh karena itu. sehingga belitan magnet Y1 dan Y2 akan aktif.Teknik Pengaturan Otomatis Gambar-12. Soal-soal 12-36 . dan pengaturan katup 1V1 tidak dapat dialihkan. Katup path 5/2 1V1 merupakan sebuah katup dengan memori.19. S1 dapat dioperasikan kembali ketika S2 dioperasikan.60.20.

....... 13-1 13-2 13-10 13-12 13-13 13-15 13-18 13-23 13-26 13-27 ... 13..9........................ 13.............BAB 13 GENERATOR SINKRON Daftar Isi : 13....................8.......1................................. Pengaturan Tegangan .........5........................ Soal-soal .............7.... 13..3............................. Prinsip Kerja ......2....... Rangkuman .....4................................................... 13...................................................... Generator Berbeban ....... Pendahuluan ......6............................ 13. 13...............................10................ Kerja Parallel Generator ......... Konstruksi Mesin Sinkron ................................. 13.... 13................... Menentukan Resistansi dan Reaktansi .......... Generator Tanpa Beban . 13...................................................

seperti di pusat-pusat pembangkit. Hampir semua Mesin Sinkron mempunyai belitan ggl berupa stator yang diam dan struktur medan magnit berputar sebagai rotor. Kumparan DC pada struktur medan yang berputar dihubungkan pada sumber luar melaui slipring dan sikat arang.Generator Sinkron 13. Mesin Sinkron bila difungsikan sebagai motor berputar dalam kecepatan konstan. apabila dikehendaki kecepatan yang bersifat variabel. karena bekerja pada kecepatan dan frekuensi konstan dibawah kondisi “ Steady state “. yaitu kumparan yang mengalirkan penguatan DC dan sebuah jangkar tempat dibangkitkannya ggl arus bola-balik. tetapi ada juga yang tidak mempergunakan sikat arang yaitu sistem “ brushless excitation”. yaitu kumparan yang mengalirkan penguatan DC dan sebuah jangkar tempat dibangkitkannya ggl arus bolak-balik. Generator Sinkron yang dipergunakan ini mempunyai rating daya dari ratusan sampai ribuan Mega-Volt-Ampere (MVA). Hampir semua Mesin Sinkron mempunyai jangkar diam sebagai stator dan medan magnet berputar sebagai rotor. Kumparan DC pada medan magnet yang berputar dihubungkan pada sumber listrik DC luar melaui Slipring dan sikat arang. Adapun tujuan dari paralel generator adalah menambah daya pasokan dari pembangkit yang dibebankan ke masing-masing generator yang dikirimkan ke beban. beberapa Mesin Sinkron sering dioperasikan secara paralel. tetapi ada juga yang tidak mempergunakan sikat arang arang disebut “brushless excitation”. 13.1. Ada dua struktur medan magnet pada Mesin Sinkron yang merupakan dasar keja dari Mesin tersebut. Mesin Sinkron bisa dioperasikan baik sebagai generator maupun motor. Konstruksi dari sebuah Mesin Sinkron secara garis besar adalah sebagai berikut : 12-2 . Sebagai generator. Pendahuluan Sebagian besar energi listrik yang dipergunakan oleh konsumen untuk kebutuhan sehari-hari dihasilkan oleh generator Sinkron Phasa banyak (polyphase) yang ada di pusat pembangkit tenaga listrik. maka motor Sinkron dilengkapi dengan dengan pengubah frekuensi seperti “Inverter” atau “ Cyclo-converter”.2 Konstruksi Mesin Sinkron Ada dua struktur medan magnit pada Mesin Sinkron yang merupakan dasar keja dari Mesin tersebut. Disebut Mesin Sinkron.

2 Generator Sinkron Tiga Phasa dengan Sistem Penguatan “Brushless Exciter System”. Penguatan DC ini bisa diperoleh dari generator DC penguatan sendiri yang seporos dengan rotor Mesin Sinkron. bahwa untuk membangkitkan flux magnetik diperlukan penguatan DC. Dua tipe sistem penguatan “ Solid state” adalah : • Sistem statis yang menggunakan Diode atau Thyristor statis.2. dan arus dialirkan ke rotor melalui Slipring. seperti generator Hydroelectric.1.1 Generator Sinkron Tiga Phasa dengan Penguatan Generator DC “Pilot Exciter”. 12-3 . Gambar 13. Alternatif lainnya untuk penguatan eksitasi adalah menggunakan Diode silikon dan Thyristor. Pada Mesin Sinkron dengan kecepatan rendah. maka generator DC yang digunakan tidak dengan penguatan sendiri tetapi dengan “ Pilot Exciter” sebagai penguatan atau menggunakan magnet permanen. tetapi rating daya yang besar.Bentuk Penguatan Seperti telah diuraikan diatas.Generator Sinkron 13. Gambar 13.

3.4 Inti Stator dan Alur pada Stator Gambar 13.3a.4 memperlihatkan alur stator tempat kumparan jangkar. ada dua tipe yaitu : 12-4 . (a) Rotor Kutub onjol ( b ) Rotor kutub Silinder Gambar 13. 13. Bentuk Rotor Untuk medan rotor yang digunakan tergantung pada kecepatan Mesin. Dengan inti ferromagnetik yang bagus berarti permebilitas dan resistivitas dari bahan tinggi. sedangkan Mesin dengan kecepatan rendah seperti Hydroelectric atau Generator Listrik Diesel mempunyai rotor kutub menonjol gambar 13.2. Bentuk Stator Stator dari Mesin Sinkron terbuat dari bahan ferromagnetik yang berbentuk laminasi untuk mengurangi rugi-rugi arus pusar. Gambar 13.3b.3 Bentuk Rotor 13. sehingga tidak dibutuhkan sikat arang dan slipring.Generator Sinkron • “Brushless System”.2. Belitan jangkar (stator) yang umum digunakan oleh Mesin Sinkron Tiga Phasa. pada sistem ini penyearah dipasangkan diporos yang berputar dengan rotor.2. Mesin dengan kecepatan tinggi seperti turbo generator mempunyai bentuk silinder gambar 13.

satu siklus ggl penuh akan dihasilkan bila rotor dengan 4 kutub berputar 180 derajat mekanis. dan Fc bisa disatukan dalam dua cara.5 Belitan Satu Lapis Generator Sinkron Tiga Phasa Contoh : Sebuah generator Sinkron mempunyai 12 kutub. Berapa sudut mekanis ditunjukkan dengan 180 derajat listrik. Satu siklus ggl penuh menunjukkan 360 derajat listrik. Bila kumparan tiga Phasa dimulai pada Sa.Generator Sinkron a. Belitan Stator Satu Lapis Gambar 13. b.5 memperlihatkan belitan satu lapis karena hanya ada satu sisi lilitan didalam masing-masing alur. Antar kumparan Phasa dipisahkan sebesar 120 derajat listrik atau 60 derajat mekanik.2.4. Belitan satu lapis (Single Layer Winding). yaitu hubungan bintang dan segitiga. adalah : α lis = P α mek 2 Gambar 13. Jawaban : Sudut mekanis antara kutub utara dan kutub selatan adalah : 360 sudut mekanis = 30 0 α mek = 12 kutub Ini menunjukkan 180 derajat listrik : α lis = P 12 α mek = x30 0 = 180 0 2 2 12-5 . Belitan berlapis ganda (Double Layer Winding). 13. dan Sc dan berakhir di Fa. Sb. adapun hubungan antara sudut rotor mekanis αmek dan sudut listrik αlis. Fb.

diikuti Phasa B.6 Urutan Phasa ABC Gambar 13.ngan maksimum pertama terjadi dalam Phasa A.6 (searah jarum jam). sedangkan urutan Phasa ABC disebut urutan Phasa positif. urutan Phasa yang dihasilkan oleh suplai tiga Phasa adalah ABC. Jadi ggl yang dibangkitkan sistem tiga Phasa secara simetris adalah : E A = E A ∠0 0 Volt E B = E B ∠ − 120 0 Volt E C = E C ∠ − 240 0 Volt Gambar 13. atau urutan Phasa negatif.Generator Sinkron Untuk menunjukkan arah dari putaran rotor gambar 13. Kebalikan arah putaran dihasilkan dalam urutan ACB. dengan demikian tega.7 Belitan Berlapis Ganda Generator Sinkron Tiga Phasa 12-6 . dan kemu-dian Phasa C.

5. E 2 . masing-masing penghantar yang berada dalam alur akan membangkitkan tegangan yang sama. Faktor ini selalu lebih kecil dari satu. gambar 5.8. Perhatikan gambar 13. Untuk mengatasi masalah ini.2.2. E = E1 + E 2 + E 3 + E 4 12-7 . disini diperlihatkan ggl yang dinduksikan dalam alur 2 akan tertinggal (lagging) dari ggl yang dibangkitkan dalam alur 1 sebesar ψ =15 derajat listrik. adalah : 180 derajat listrik ψ= n x m dimana m menyatakan jumlah Phasa. Pada masing-masing alur ada dua sisi lilitan dan masingmasing lilitan memiliki lebih dari satu putaran. Bila alur-alur tidak terlalu lebar. E 3 . Dalam kenyataannya cara seperti ini tidak menghasilkan cara yang efektif dalam penggunaan inti stator.7 memperlihatkan bagian dari sebuah kumparan jangkar yang secara umum banyak digunakan. generator praktisnya mempunyai kumparan terdistribusi dalam beberapa alur per kutub per Phasa. danE 4 .5 hanya mempunyai satu lilitan per kutub per Phasa. ggl pada termi-nal menjadi lebih kecil bila dibanding-kan dengan kumparan yang telah dipu-satkan. sehingga tidak ada tegang-an dalam winding overhang. demikian pula ggl yang dinduksikan dalam alur 3 akan tertinggal 2ψ derajat. karena variasi kerapatan flux dalam inti dan juga melokalisir pengaruh panas dalam daerah alur dan menimbulkan harmonik. 13. Faktor Distribusi Seperti telah dijelaskan diatas bahwa sebuah kumparan terdiri dari sejumlah lilitan yang ditempatkan dalam alur se-cara terpisah. Total ggl stator per Phasa E adalah jumlah dari seluruh vektor. Diasumsikan ada n alur per Phasa per kutub. akibatnya masing-masing kumparan hanya dua lilitan secara seri. Suatu faktor yang harus dikalikan dengan ggl dari sebuah kumparan distribusi untuk menghasil-kan total ggl yang dibangkitkan disebut faktor distribusi Kd untuk kumparan. dan seterusnya. Bagian dari lilitan yang tidak terletak ke-dalam alur biasanya disebut “ Winding Overhang”.Generator Sinkron 13. Sehingga. jarak antara alur dalam derajat listrik.6. Semua ggl ini ditunjukkan masingmasing oleh phasor E 1 . Masing-masing tegangan Phasa akan sama untuk menghasilkan tegangan per peng-hantar dan jumlah total dari penghantar per Phasa.Belitan Berlapis Ganda Kumparan jangkar yang diperlihatkan pada gambar 13.

diantaranya : Gambar 13. sedangkan bila diletakkan dalam alur 1 dan 6 disebut kisar pendek.9 Total ggl Et dari Tiga ggl Sinusoidal 12-8 . karena ini sama dengan 5/6 kisar kutub.7. seperti terlihat pada gambar 13. Faktor Kisar Gambar 13. Kisar : 5/6 = 5/6 x 180 derajat = 150 derajat 1/6 = 1/6 x 180 derajat = 30 derajat.10.Generator Sinkron Total ggl stator E lebih kecil dibandingkan jumlah aljabar dari ggl lilitan oleh faktor. karena mempunyai beberapa keuntungan. adalah memperbaiki bentuk gelombang tegangan yang dibangkitkan.2. memperlihatkan bentuk kisar dari sebuah kumparan.8 Diagram Phasor dari Tegangan Induksi Lilitan Gambar 13.9. Kd = 13. dan bisa dinyatakan dengan persamaan : Sin(1 / 2nψ ) Kd = nSin(ψ/2) Keuntungan dari kumparan distribusi. bila sisi lilitan diletakkan dalam alur 1 dan 7 disebut kisar penuh. Kisar pendek sering digunakan. Jumlah Vektor E1 + E 2 + E 3 + E 4 = Jumlah Aljabar 4xE lili tan Kd adalah faktor distribusi.

Cos 30/2 Kp = E 2.Cos 30 / 2 = = Cos15 0 2. Kerugian arus pusar dan Hysterisis dikurangi.EL 12-9 . Faktor .8b. bila lilitan merupakan kisar penuh.11 Vektor Tegangan Lilitan Sedangkan kisar pendek dengan sudut 30 derajat listrik.Kisar = Jumlah Vektor ggl induksi lili tan = Kp Jumlah Aljabar ggl induksi lili tan EL ggl yang diinduksikan pada masing-masing lilitan.Generator Sinkron Gambar 13.10 Kisar Kumparan • • • Menghemat tembaga yang digunakan. seperti diperlihatkan pada gambar 13. maka tegangan resultannya adalah : E = 2 EL. Gambar 13. maka total induksi = 2 EL (gambar 13.EL. Memperbaiki bentuk gelombang dari tegangan yang dibangkitkan.11).EL 2.

Apabila Z = Jumlah penghantar atau sisi lilitan dalam seri/Phasa = 2 T T = Jumlah lilitan per Phasa 60 dφ = φP dan dt = detik N Ggl induksi rata-rata per penghantar : dφ φ. dan dimisalkan hanya memiliki satu lilitan yang terbuat dari dua penghantar secara seri.T volt Ggl efektif/Phasa = 1.P Er = Volt = = dt 60 / N 60 P.φ. maka Ggl efektif/Phasa E = 4. maka : Ggl rata-rata/Phasa = 2.f . 12-10 . Prinsip Kerja Generator Sinkron Kecepatan rotor dan frekuensi dari tegangan yang dibangkitkan berbanding secara langsung.44 x f . Kp .f.P 120.f.N 120.22 memperlihatkan prinsip kerja dari sebuah generator AC dengan dua kutub. Gaya Gerak Listrik Kumparan Pada Sub bab sebelumnya telah dibahas mengenai frekuensi dan besarnya tegangan masing-masing Phasa secara umum.φ .(2T) = 4. atau N = Sedangkan f = 120 P Sehingga Ggl induksi rata-rata per penghantar menjadi : φ.φ Volt 60 P bila ada Z penghantar dalam seri/Phasa. Atau Kp = Cos 13.11x 4.Generator Sinkron 30 α = Cos 2 2 0 p = Sin 2 0 dimana p adalah kisar kumparan dalam derajat listrik.φ.T = 4.φ.2.f .44 .T Volt bila faktor distribusi dan faktor kisar dimasukkan.Z Volt = 2. Kd. Gambar 13.f .8. Untuk lebih mendekati nilai ggl sebenarnya yang terjadi maka harus diperhatikan faktor distribusi dan faktor kisar.f Er = x = 2. T Volt 13.f. yaitu penghantar a dan a’.P φ.φ.φ.N.f.3.

frekuensi 1 Hz.Generator Sinkron Lilitan seperti ini disebut “Lilitan terpusat”. dalam generator sebenarnya terdiri dari banyak lilitan dalam masing-masing Phasa yang terdistribusi pada masing-masing alur stator dan disebut “Lilitan terdistribusi”. misalnya P kutub maka masing-masing revolution dari rotor menginduksikan P/2 siklus tegangan dalam lilitan stator. 12-11 . Masing-masing lilitan akan menghasil-kan gelombang Fluksi sinus satu dengan lainnya berbeda 120 derajat listrik.12 Diagram Generator AC Satu Phasa Dua Kutub. maka flux medan rotor bergerak sesuai lilitan jangkar. Dalam keadaan seimbang besarnya fluksi sesaat : ΦA = Φm. bila rotor mempunyai lebih dari 1 pasang kutub. Sin ( ωt – 240˚ ) Besarnya fluks resultan adalah jumlah vektor ketiga fluks tersebut ΦT = ΦA + ΦB + ΦC. Bila kecepatannya 60 Revolution per menit (Rpm).13. Sin ( ωt – 120˚ ) ΦC = Φm. maka rotor harus berputar 3600 Rpm. Diasumsikan rotor berputar searah jarum jam. Sin ωt ΦB = Φm. Satu putar-an rotor dalam satu detik menghasilkan satu siklus per ditik atau 1 Hertz (Hz). b – b’ dan c – c’ pada gambar 13. rotor harus berputar pada kecepatan n/60 revolution per detik (rps). maka besar- P 2 n Hertz 60 Gambar 13. f = Untuk generator Sinkron tiga Phasa. harus ada tiga belitan yang masingmasing terpisah sebesar 120 derajat listrik da-lam ruang sekitar keliling celah udara seperti diperlihatkan pada kumparan a – a’. Untuk kecepatan rotor n rpm. Untuk frekuensi f = 60 Hz. Frekuensi dari tegangan induksi sebagai sebuah fungsi dari kecepatan rotor . yang merupakan fungsi tempat (Φ) dan waktu (t).

φm. Kp.Sin(ωt – 120˚) + Φm.Φm. l. bila diuraikan maka suku kesatu.Kd. ketiga. Cos (φ – 240˚) Dengan memakai transformasi trigonometri dari : Sin α . Sin ( ωt + φ – 240˚ )+ ½.Φ ) Weber . yaitu : Eo = 4.4 Generator Tanpa Beban Apabila sebuah Mesin Sinkron difung-sikan sebagai generator dengan diputar pada kecepatan Sinkron dan rotor diberi arus medan (If). Sin ( ωt . Dengan demikian dari persamaan akan didapat fluksi total sebesar.Φm.Sin ωt + Φm.Φm. T Volt 12-12 . Sin ( ωt – φ) + ½. Sin(ωt – 240˚). Cos β = ½. dan kelima akan silang menghilangkan. maka pada kumparan jangkar stator akan diinduksikan tega-ngan tanpa beban (Eo). ΦT = Φm. ω r Volt dimana : Bm = Kerapatan Flux maximum kumparan medan rotor (Tesla) l = Panjang masing-masing lilitan dalam medan magnetik (Weber) ω = Kecep sudut dari rotor (rad/s) r = Radius dari jangkar (meter) Gambar 13.Φm. Sin ( ωt + φ – 480˚ ) Dari persamaan diatas. Sin ( ωt – φ ) + ½.Sin (α + β ) + ½ Sin (α + β ).Generator Sinkron besarnya fluks total adalah.44 . Besarnya tegangan masing-masing Phasa adalah : E maks = Bm. Jadi medan resultan merupakan medan putar dengan modulus 3/2 Φ dengan sudut putar sebesar ω. maka dari persamaan 8-5 diperoleh : ΦT = ½. ΦT = ¾ Φm.Φm. Sin (ωt + φ )+ ½.13 Diagram Generator AC Tiga Phasa Dua Kutub 13. f.

Generator Sinkron Dalam keadaan tanpa beban arus jangkar tidak mengalir pada stator, sehingga tidak terdapat pengaruh reaksi jangkar. Fluk hanya dihasilkan oleh arus medan (If). Bila besarnya arus medan dinaikkan, maka tegangan output juga akan naik sampai titik saturasi(jenuh) seperti diperlihatkan pada gambar 13.14. Kondisi Generator tanpa beban bisa digambarkan rangkaian ekuivalennya seperti diperlihatkan pada gambar 13.14b.

(b) (a) Gambar 13.14 Kurva dan Rangkaian Ekuivalen Generator Tanpa Beban

13.5. Generator Berbeban
Bila Generator diberi beban yang beru-bah-ubah maka besarnya tegangan terminal V akan berubah-ubah pula, hal ini disebabkan adanya kerugian tegangan pada:

• • •

Resistansi jangkar Ra Reaktansi bocor jangkar Reaksi Jangkar Xa

a. Resistansi Jangkar Resistansi jangkar/Phasa Ra menyebab-kan terjadinya tegangan jatuh (Kerugian tegangan)/Phasa I.Ra yang sePhasa dengan arus jangkar. b. Reaktansi Bocor Jangkar Saat arus mengalir melalui penghantar jangkar, sebagian fluk yang terjadi tidak mengimbas pada jalur yang telah ditentukan, hal seperti ini disebut Fluk Bocor.

12-13

Generator Sinkron c. Reaksi Jangkar Adanya arus yang mengalir pada kumparan jangkar saat Generator dibe-bani ) yang berintegrasi dengan fluksi yang akan menimbulkan fluksi jangkar ( dihasilkan pada kumparan medan rotor( fluksi resultan sebesar : ), sehingga akan dihasilkan suatu

φ R = φF + φ A
Interaksi antara kedua fluksi ini disebut sebagai reaksi jangkar, seperti diperlihatkan pada Gambar 13.15. yang mengilustrasikan kondisi reaksi jangkar untuk jenis beban yang berbeda-beda. Gambar 13.15a , memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat generator dibebani tahanan (resistif) sehingga arus jangkar Ia sePhasa dengan ggl Eb dan akan tegak lurus terhadap . Gambar 13.15b, memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat generator dibebani kapasitif , sehingga arus jangkar Ia mendahului ggl Eb sebesar θ terbelakang terhadap dengan sudut (90 -θ). dan Gambar 13.15c, memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat dibebani kapasitif murni yang mengakibatkan arus jangkar Ia mendahului ggl Eb dan akan memperkuat yang berpengaruh terhadap sebesar pemagnetan. Gambar 13.15d, memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat arus diberi beban induktif murni sehingga mengakibatkan arus jangkar Ia terbelakang dan akan memper-lemah yang berpengaruh dari ggl Eb sebesar terhadap pemagnetan.

Gambar 13.15 Kondisi Reaksi Jangkar

12-14

Generator Sinkron Jumlah dari reaktansi bocor reaktansi Sinkron Xs. dan reaktansi jangkar Xa biasa disebut

Vektor diagram untuk beban yang bersifat Induktif, resistif murni, dan kapasitif diper- lihatkan pada Gambar 12 .16 Berdasarkan gambar diatas, maka bisa ditentukan besarnya tegangan jatuh yang terjadi, yaitu : Total Tegangan Jatuh pada Beban : = I.R a + j(I.X a + I.X L ) = =

Gambar 13.16 Vektor Diagram dari Beban Generator

13.6 Menentukan Resistansi dan Reaktansi
Untuk bisa menentukan nilai reaktansi dan impedansi dari sebuah generator, harus dilakukan percobaan(test). Ada tiga jenis test yang biasa dilakukan, yaitu :

12-15

Generator Sinkron

• • •

Test Tanpa beban ( Beban Nol ) Test Hubung Singkat. Test Resistansi Jangkar.

13.6.1. Test Tanpa Beban
Test Tanpa Beban dilakukan pada kecepatan Sinkron dengan rangkaian jangkar terbuka (tanpa beban) seperti diperlihatkan pada Gambar 13.17 perco-baan dilakukan dengan cara mengatur arus medan (If) dari nol sampai rating tegangan output terminal tercapai.

Gambar 13.17 Rangkaian Test Generator Tanpa Beban.

13.6.2. Test Hubung Singkat
Untuk melakukan test ini terminal alternator dihubung singkat dengan Ampermeter diletakkan diantara dua penghantar yang dihubung singkat tersebut Gambar 13.18. Arus medan dinaikkan secara bertahap sampai diperoleh arus jangkar maksimum. Selama proses test arus If dan arus hubung singkat Ihs dicatat. Dari hasil kedua test diatas, maka dapat digambar bentuk karakteristik seperti diperlihatkan pada gambar 13.18

Gambar 13.18 Rangkaian Test Generator di Hubung Singkat

12-16

ukuran penghantar jangkar. R eff .. Dalam kenyataannya nilai resistansi dikalikan dengan suatu faktor untuk menentukan nilai resistansi AC efektif .. Test Resistansi Jangkar Dengan rangkaian medan terbuka.. Faktor ini tergantung pada bentuk dan ukuran alur.19 Karakteristik Tanpa Beban dan Hubung Singkat sebuah Generator 13. Nilainya berkisar antara 1.20.6 ..Ohm I hs Gambar 13.2 s/d 1. nilai Xs bisa ditentukan berdasarkan persamaan : 2 2 Xs = Zs − Ra Ohm Gambar 13.Generator Sinkron Impedansi Sinkron dicari berdasarkan hasil test. Bila nilai Ra telah diketahui. Resistansi per Phasa adalah setengahnya dari yang diukur..3... resistansi DC diukur antara dua terminal output sehingga dua Phasa terhubung secara seri Gambar 13.6.20 Pengukuran Resistansi DC 12-17 . adalah : Zs = Eo I f = kons tan . dan konstruksi kumparan.

• Metoda Faktor Daya Nol atau Metoda Potier. Gambar 13. • Tentukan nilai Ra berdasarkan hasil pengukuran dan perhitungan.7. • Berdasarkan persamaan hitung nilai Xs • Hitung harga tegangan tanpa beban Eo • Hitung prosentase pengaturan tegangan. langkah-langkahnya sebagai berikut : • Tentukan nilai impedansi Sinkron dari karakteristik tanpa beban dan karakteristik hubung singkat. Pengaturan Tegangan Pengaturan tegangan adalah perubahan tegangan terminal antara keadaan beban nol dengan beban penuh. Ada tiga metoda atau cara yang sering digunakan untuk menentukan pengaturan tegangan tersebut.Generator Sinkron 13. dan ini dinyatakan dengan persamaan : Eo − V x100 % Pengaturan Tegangan = V Terjadinya perbedaan tegangan terminal V dalam keadaan berbeban dengan tegangan Eo pada saat tidak berbeban dipengaruhi oleh faktor daya dan besar-nya arus jangkar (Ia) yang mengalir. Metoda Impedansi Sinkron Untuk menentukan pangaturan tegangan dengan menggunakan Metoda Impedansi Sinkron. yaitu : • Metoda Impedansi Sinkron atau Metoda GGL.7. 13. Untuk menentukan pengaturan tega-ngan dari generator adalah dengan memanfaatkan karakteristik tanpa beban dan hubung singkat yang diperoleh dari hasil percobaan dan pengukuran tahanan jangkar.21 Vektor Diagram Pf “Lagging” 12-18 . • Metoda Amper Lilit atau Metoda GGM.1.

Xs = BC= Tegangan jatuh Reaktansi Sin-kron. Adapun langkah-langkah menentukan nilai arus medan yang diperlukan untuk memperoleh tegangan terminal generator saat diberi beban penuh. b.Ra=AB=Tegangan jatuh Resistansi Jang-kar I. dan c) Hitung nilai arus medan total yang ditunjukkan oleh vektor OB. OC = OF 2 + FC 2 OC = (OD + DF) 2 + (FB + BC) 2 atau Eo = (V cos ϕ + I.R a )2 + ( V sin ϕ + I.22 a. 13.7. %Pengaturan = Eo − V x100 V Pengaturan yang diperoleh dengan metoda ini biasanya lebih besar dari nilai sebenarnya.23 memperlihatkan diagram secara lengkap dengan karakteristik beban nol dan hubung singkat. adalah sebagai berikut : • • • Tentukan nilai arus medan (Vektor OA) dari percobaan beban nol yang diperlukan untuk mendapatkan tegangan nominal generator. Gambarkan diagram vektornya dengan memperhatikan faktor dayanya : • untuk faktor daya “Lagging” dengan sudut (90 0 + ϕ) • untuk faktor daya “Leading” dengan sudut (90 0 − ϕ) • untuk faktor daya “Unity” dengan sudut (90 0 ) perhatikan gambar 13.2. AB = OC = dengan sudut (90 0 + ϕ) terhadap OA. OC = Arus medan yang diperlukan untuk mendapatkan arus beban penuh pada hubung singkat. Eo =OC = Tegangan tanpa beban V =OA = Tegangan terminal I. Dengan metoda ini reaktansi bocor Xl diabaikan dan reaksi jangkar diperhitungkan. OA = Arus medan yang diperlukan untuk mendapatkan tegangan nominal.21 memperlihatkan contoh Vektor diagram untuk beban dengan faktor daya lagging. 12-19 . • Gambar 5. Metoda Amper Lilit Perhitungan dengan Metoda Amper Lilit berdasarkan data yang diperoleh dari percobaan tanpa beban dan hubung singkat.Generator Sinkron Gambar 13.Xs) 2 . Tentukan nilai arus medan (Vektor AB) dari percobaan hubung singkat yang diperlukan untuk mendapatkan arus beban penuh generator.

Generator Sinkron Gambar 13.22 Vektor Arus Medan 12-20 .

Metoda Potier Metoda ini berdasarkan pada pemisahan kerugian akibat reaktansi bocor Xl dan pengaruh reaksi jangkar Xa. Data yang diperlukan adalah : • Karakteristik Tanpa beban.Generator Sinkron Gambar 13. Langkah-langkah untuk menggambar Diagram Potier sebagai berikut : 1. Pada kecepatan Sinkron dengan beban reaktor.23 Karakteristik Beban Nol. maka generator harus diberi beban reaktor murni. Arus jangkar dan faktor daya nol saat dibe-bani harus dijaga konstan. yang membedakannya supaya menghasilkan faktor daya nol.7. dan Vektor Arus Medan. • Karakteristik Beban penuh dengan faktor daya nol. yaitu menaikkan arus medan secara bertahap. Hubung Singkat. OB = Total arus medan yang dibutuhkan untuk mendapatkan tegangan Eo dari karakteristik beban nol. OB = OA 2 + AB2 + 2xOAxABxcos{180 − (900 + ϕ)} 17.3. atur arus medan sampai tega-ngan nominal dan beban reaktor (arus beban) sampai arus nominal 12-21 . Khusus untuk karakteristik beban penuh dengan faktor daya nol dapat diperoleh dengan cara melakukan percobaan terhadap generator seperti halnya pada saat percobaan tanpa beban.

• Bila vektor BH ditambah kan ke OG. OB menunjukkan nilai arus medan saat percobaan tersebut. Segitiga ADJ dise-but segitiga Potier. • V ditambah JF (I. AF menunjukkan besarnya arus medan yang dibutuhkan untuk mengatasi efek magnetisasi akibat raeksi jangkar saat beban penuh.Xl) menghasilkan tegangan E. Tarik garis AD yang sama dan sejajar garis OB. Melalui titik D tarik garis sejajar kurva senjang udara sampai memotong kurva beban nol dititik J. Vektor diagram yang terlihat pada diagram Potier bisa digambarkan secara terpisah seperti terlihat pada Gambar 13.25.24 Diagram Potier Dari gambar Diagram Potier diatas. 4. 3. Gambarkan garis sejajar melalui kurva beban nol. DF untuk penyeimbang reaktansi bocor jangkar (JF) Gambar 13. Buat titik A yang menunjuk-kan nilai arus medan pada percobaan faktor daya nol pada saat tegangan nominal. berdasarkan percobaan hubung singkat dengan arus jangkar penuh. • BH = AF = arus medan yang dibutuhkan untuk mengatasi reaksi jangkar. Eo − V x100 % Pengaturan Tegangan = V 12-22 . bisa dilihat bahwa : • V nilai tegangan terminal saat beban penuh. maka besarnya arus medan yang dibutuhkan untuk tegangan tanpa beban Eo bisa diketahui. 6. Panjang JF menunjukkan kerugian tegangan akibat reaktansi bocor. Gambar garis JF tegak lurus AD. 7.Generator Sinkron 2. 5. 8. Buat titik B.

sehingga pemutusan listrik secara total bisa dihindari. Cara Memparalel Generator Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk memparalel dua buah generator atau lebih ialah : • • • • • Polaritas dari generator harus sama dan bertentangan setiap saat terhadap satu sama lainnya. Tegangan Generator yang diparalelkan mempunyai bentuk gelombang yang sama.Generator Sinkron Gambar 13. Untuk mengatasi beban yang terus meningkat tersebut bisa diatasi dengan menjalankan generator lain yang kemudian dioperasikan secara paralel dengan generator yang telah bekerja sebelumnya.8. Keuntungan lain. bila salah satu generator tiba-tiba mengalami gangguan.8. 12-23 . 13. Nilai efektif arus bolak-balik dari tegangan harus sama.1.25 Vektor Diagram Potier 13. Kerja Paralel Generator Bila suatu generator mendapat pembebanan lebih dari kapasitasnya bisa mengakibatkan generator tidak bekerja atau rusak. generator tersebut dapat dihentikan serta beban dialihkan pada generator lain. Frekuensi kedua generator atau frekuensi generator dengan jala-jala harus sama. Urutan phasa dari kedua generator harus sama.

L2 terang. Gambar 13. Urutan lampu akan beru-bah menrut urutan L1 . Voltmeter.27c. Lampu Cahaya Berputar dan Volt-meter Dengan rangkaian pada gambar 13. pada keadaan ini: • L2 paling terang • L1 terang • L3 terang Perhatikan gambar 13.26. pada keadaan ini L1 paling terang. • L1 dan L2 sama terang • L3 Gelap dan Voltmeter=0 V 12-24 .L2 . pilih lampu dengan tegangan kerja dua kali tegangan phasa netral generator atau gunakan dua lampu yang dihubungkan secara seri. kemudian lihat urutan nyala lampu. Lampu Cahaya berputar dan Volt-meter b.L3.Generator Sinkron Ada beberapa cara untuk memparalelkan generator dengan mengacu pada syarat-syarat diatas. yaitu : a.L3 . c.L2 .L1 . Cara Otomatis 13. Frekuensi Meter.2.8. pada keadaan ini. dan L3 redup. dan Synchroscope.26 Rangkaian Paralel Generator Perhatikan Gambar 13.27b. Dalam keadaan saklar S terbuka operasikan generator. Perhatikan Gambar 13.27a.

Generator Sinkron Pada saat kondisi ini maka generator dapat diparalelkan dengan jala-jala (generator lain). Voltmeter. Ketepatan sudut phasa dapat dilihat dari synchroscope. Gambar 13. 12-25 . Penggunaan alat ini dilengkapi dengan Voltmeter untuk memonitor kesamaan tegangan dan Frekuensi meter untuk kesamaan frekuensi.3. Alat synchroscope tidak bisa menunjukkan urutan phasa jala-jala. sehingga untuk memparalelkan perlu dipakai indikator urutan phasa jala-jala. Frekuensi Meter dan Synchroscope Pada pusat-pusat pembangkit tenaga listrik.28.8. untuk indikator paralel generator banyak yang menggunakan alat Synchroscope gambar 13. maka pada kondisi ini saklar dimasukkan (ON). Pada saat jarum telah diam dan menunjuk pada kedudukan vertikal. berarti beda phasa generator dan jala-jala telah 0 (Nol) dan seli-sih frekuensi telah 0 (Nol). Bila jarum penunjuk ber-putar berlawanan arah jarum jam berarti frekuensi generator lebih rendah dan bila searah jarum jam berarti frekuensi generator lebih tinggi.27 Rangkaian Lampu Berputar 13.

Paralel Otomatis Paralel generator secara otomatis biasanya menggunakan alat yang secara otomatis memonitor perbedaan phasa. Kp . • Belitan stator satu lapis karena hanya ada satu sisi lilitan didalam masing-masing alur. Apabila semua kondisi telah tercapai alat memberi suatu sinyal bahwa saklar untuk paralel dapat dimasukkan.9. berlaku rumus. Rangkuman • Mesin Sinkron bisa dioperasikan baik sebagai generator maupun motor. • Generator Sinkron Tiga Phasa memiliki dua jenis eksitasi a) dengan penguatan generator DC “Pilot Exciter. sedangkan Mesin dengan kecepatan rendah seperti hydroelectric mempunyai rotor kutub menonjol.φ . belitan stator berupa belitan satu lapis atau belitan lapis anda. T Volt 12-26 . • Bentuk rotor Mesin Sinkron berkecepatan tinggi seperti turbo generator mempunyai bentuk silinder. E = 4. Kd. frekuensi. b) penguatan brushless.44 .Generator Sinkron 13. • Tegangan efektif per phasa bila faktor distribusi dan faktor kisar dimasukkan. tegangan. Gambar 13. • Stator dari Mesin Sinkron terbuat dari bahan ferromagnetik.10. 28 Sychroscope 13. dan urutan phasa. • Pada belitan stator mengandung faktor ditribusi dan faktor kisar belitan yang besarnya lebih kecil dari satu.f . • Pada masing-masing alur ada dua sisi lilitan dan masing-masing lilitan memiliki lebih dari satu putaran.

Soal-soal 1. • Saat generator berbeban mengalir arus pada jangkar. yaitu : test tanpa beban. 3. metoda Amper Lilit atau Metoda GGM. 4 kutub. • Teknik parallel generator menggunakan : a) Lampu Cahaya berputar dan Volt-meter. Generator Sinkron memiliki data name plate 3 phasa. 400 V. Hitungkan putaran Sinkron permenit. Sebuah generator Sinkron mempunyai 8 kutub. reaktansi bocor jangkar. test resistansi jangkar. • Syarat untuk paralel dua generator Sinkron meliputi : a) Polaritas dari generator harus sama b) nilai efektif arus bolak-balik dari tegangan harus sama. • Pengaturan tegangan adalah perubahan tegangan terminal antara keadaan beban nol dengan beban penuh. Frekuensi Meter. metoda Faktor Daya Nol (Potier). Generator Sinkron memiliki 24 alur. e) urutan phasa dari kedua generator harus sama. maka pada kumparan stator akan diinduksikan tegangan. b) Voltmeter. • Ada tiga metoda yang digunakan untuk menentukan pengaturan tegangan yaitu : metoda Impedansi Sinkron atau Metoda GGL. 2. 3 phasa.Generator Sinkron • Frekuensi dari tegangan induksi sebagai sebuah fungsi dari kecepatan rotor. 12-27 . • Pengukuran resistansi dan impedansi generator dilakukan tiga jenis test yang bisa dilakukan. 50 Hz. 2 HP. 60 • Mesin Sinkron difungsikan sebagai generator. test hubung singkat. d) frekuensi sama.11. dan Synchroscope. rotor diputar pada kecepatan Sinkron dan belitan medan rotor diberi arus medan (If). Buatlah gambar wiring yang lengkap dan jelas. c) tegangan generator sama. maka besarnya tegangan terminal V akan berubah-ubah. hal ini disebabkan adanya kerugian tegangan pada: resistansi jangkar Ra. bedakan warna dari masing-masing phasa. c) Cara Otomatis 13. akan di rewinding. 4 kutub. Berapa sudut mekanis ditunjukkan dengan 180 derajat listrik. reaksi Jangkar. f = P 2 n Hertz. • Ada perbedaan karakteristik saat generator tanpa beban dan generator berbeban.

Generator Sinkron 4. listrik yang dihasilkan dipakai untuk memberikan listrik untuk sejumlah rumah. Bagaimana cara agar generator tersebut menghasilkan tegangan 220V dan frekuensinya 50Hz. Generator 2KW. 12-28 . 220V/50Hz digerakkan dengan mesin diesel. Buatlah gambar skematik paralel generator dengan jalajala PLN lengkap dengan peralatan ukur yang diperlukan. Jelaskan langkah paralel generator dan parameter yang harus dipenuhi. 5. Generator Sinkron akan dilakukan paralel dengan jala-jala PLN 3x 380V. 50 Hz.

14........................... 14-2 14-2 14-3 14-5 14-9 14-18 14-20 14-26 14-27 14-31 14-32 ..............................5.................... 14.....4....... 14... Jaringan Listrik ........................... 14......................... Alat Pengukur dan Pembatas (APP) ............6..........10..................................................................... Penggunaan Energi ........... Beban Listrik ...3.... 14.8.........9. 14... Sejarah Penyediaan Tenaga Listrik .... 14...................................................... 14............... Peranan Tenaga Listrik .BAB 14 SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK Daftar Isi : 14...............................1...........................2....................... 14....... Panel Hubung Bagi (PHB) .. 14....... Rangkuman ......... Penghantar .......... Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik .............7.......................11.............. Soal-soal .............................................

1. Berbagai penelitian dan uji coba dilakukan.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14. Sampai sekarang hasil penelitian menghasilkan beberapa sumber energi. Sejak jaman prasejarah sumber energi alam. pembuatan transformator dan akhirnya diperoleh sistem jaringan arus bolak-balik sebagai transmisi dari pembangkit ke beban/pemakai. Energi Mekanik 2.2. Sejak abad 18 di Inggris batubara ini digunakan untuk menghasilkan uap dan menggerakkan mesin uap pada pabrik pengerjaan logam dan tekstil. Energi Panas 7.1. untuk mencukupi kebutuhan. karena alam maupun kejadian-kejadian teknis. Menurut hukum kekekalan energi bahwa energi itu tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan. Sejarah Penyediaan Tenaga Listrik Pada tahun 1885 seorang dari Perancis bernama Lucian Gauland dan John Gibbs dari Inggris menjual hak patent generator arus bolak-balik kepada seorang pengusaha bernama George Westinghouse gambar 14. memasak dan pertukangan. tetapi dapat berubah dari energi satu ke energi lainnya. manusia sudah memerlukan energi alam. Selanjutnya dikembangkan generator arus bolak-balik dengan tegangan tetap. Energi Medan Magnet 3. seperti kayu dipakai memanaskan badan. Awal abad 12. Energi Listrik Semua zat-zat (padat. bentuk energi lainnya seperti angin dan air dimanfaatkan untuk keperluan pengangkutan dan penggilingan biji-bijian. Energi Grafitasi 4. Manusia mulai memanfaatkan energi batubara untuk keperluan pemanasan dan memasak pada awal abad ke 14. Energi Sinar 6. 14. Penggunaan Energi Sejak awal kehidupan di dunia ini. 14-2 . cair dan gas) yang ada di alam semesta ini disebut materi. sehingga dapat menemukan bentuk-bentuk energi alam lainnya yang dapat dimanfaatkan dalam kebutuhan dan kegiatan sehari-hari. diantaranya: 1. Materi ini mengandung energi dan energi ini dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Energi Nuklir 5.

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

a. Generator Gaulard dan Gibbs b. Generator Westinghouse Gambar 14.1 Generator

Sejarah kelistrikan di Indonesia dimulai dengan selesai dibangunnya pusat tenaga listrik di Gambir, Jakarta Mei 1887, kemudian di Medan (1899), Surakarta (1902), Bandung (1906), Surabaya (1912), dan Banjarmasin (1922). Pusat-pusat tenaga listrik ini pada awalnya menggunakan tenaga thermis. Kemudian disusul dengan pembuatan pusat-pusat listrik tenaga air : PLTA Giringan di Madiun (1917), PLTA Tes di Bengkulu (1920), PLTA Plengan di Priangan (1922), PLTA Bengkok dan PLTA Dago di Bandung (1923). Sebelum kemerdekaan pengusahaan tenaga listrik di Indonesia dikelola oleh beberapa perusahaan swasta, diantaranya yang terbesar adalah NIGEM (Nederlands Indische Gas en Electriciteits Maatschappij) yang kemudian menjelma menjadi OGEM (Overzese Gas en Electriciteits Maatschappij), ANIEM (Algemene Nederlands Indhische Electriciteits Maatschappij), dan GEBEO (Gemeen Schappelijk Electriciteits Bedrijk Bandung en Omsheken). Sedangkan Jawatan Tenaga Air membangun dan mengusahakan sebagian besar pusat-pusat listrik tenaga air di Jawa Barat. Sejak tahun 1958 pengelolaan ketenaga listrikan di Indonesia oleh Perusahaan Umum Listrik Negara.

14.3. Peranan Tenaga Listrik
Di pusat pembangkit tenaga listrik, generator digerakan oleh turbin dari bentuk energi lainnya antara lain : dari Air - PLTA; Gas - PLTG; Uap PLTU; ; Diesel - PLTD; Panas Bumi - PLTP; Nuklir - PLTN. Energi listrik dari pusat pembangkitnya disalurkan melalui jaringan transmisi yang jaraknya relatif jauh ke pemakai listrik/konsumen.

14-3

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Gambar 14.2 Penyaluran Energi Listrik dari Sumber ke Beban

Konsumen listrik di Indonesia dengan sumber dari PLN atau Perusahaan swasta lainnya dapat dibedakan sebagai berikut : 1. Konsumen Rumah Tangga Masing-masing rumah dayanya antara 450VA s.d. 4400VA, secara umum menggunakan sistem 1 fasa dengan tegangan rendah 220V / 380V dan jumlahnya sangat banyak. 2. Penerangan Jalan Umum (PJU)
Pada kota-kota besar penerangan jalan umum ini sangat diperlukan oleh karena bebannya berupa lampu dengan masing-masing daya tiap lampu/tiang antara 50VA s.d. 250VA bergantung pada jenis jalan yang diterangi, maka sistem yang digunakan 1 fasa dengan tegangan rendah 220V / 380V. 3. Konsumen Pabrik Jumlahnya tidak sebanyak konsumen rumah tangga, tetapi masingmasing pabrik dayanya dalam orde ratusan kVA. Penggunaannya untuk pabrik yang kecil masih menggunakan sistem 1 fasa tegangan rendah (220V/380V), untuk pabrik-pabrik skala besar menggunakan sistem 3 fasa dan saluran masuknya dengan jaringan tegangan menengah 20kV. 4. Konsumen Komersial Yang dimaksud konsumen komersial antara lain stasiun, terminal, KRL (Kereta Rel Listrik), hotel-hotel berbintang, rumah sakit besar, kampus,
14-4

Sistem Distribusi Tenaga Listrik
stadion olahraga, mall, supermarket, apartemen. Rata-rata menggunakan sistem 3 fasa, untuk yang kapasitasnya kecil dengan tegangan rendah, sedangkan yang berkapasitas besar dengan tegangan menengah 20KV.

Gambar 14.3 Distribusi Tenaga Listrik ke Konsumen

14.4. Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik

Gambar 14.4 Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik

Keterangan :
G GI GH GD TT TM TR APP = Generator / Pembangkit Tenaga Listrik = Gardu Induk = Gardu Hubung = Gardu Distribusi = Jaringan Tegangan Tinggi = Jaringan Tegangan Menengah = Jaringan Tegangan Rendah = Alat Pembatas/Pengukur

Instalasi dari pembangkitan sampai dengan alat pembatas/pengukur (APP) disebut Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik.
14-5

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Dari mulai APP sampai titik akhir beban disebut Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik. Standarisasi daya tersambung yang disediakan oleh pengusaha ketenagalistikan (PT. PLN) berupa daftar penyeragaman pembatasan dan pengukuran dengan daya tersedia untuk tarif S-2, S-3, R-1, R-2, R-4, U-1, U-2, G-1, I-1, I-2, I-3, H-1 dan H-2 pada jaringan distribusi tegangan rendah. Sedangkan daya tersambung pada tegangan menengah, dengan pembatas untuk tarif S-4, SS-4, I-4, U-3, H-3 dan G-2 adalah sebagai tabel 14.1. berikut : Tabel 14.1. Daya Tersambung pada Tegangan Menengah Arus Nominal (Amper) 6,3 10 16 20 25 32 40 50 63 80 100 125 160 200 250 Daya Tersambung (kVA) pada Tegangan 6 kV *) 210 260 335 415 520 655 830 1.040 1.300 1.660 2.080 2.600 12 kV *) 210 335 415 520 665 830 1.040 1.310 1.660 2.880 2.600 3.325 4.155 5.195 15 kV *) 260 415 520 650 830 1.040 1.300 1.635 2.080 2.600 3.250 4.155 5.195 6.495 20 kV 210**) 235***) 240 345 555 690 865 1.110 1.385 1.730 2.180 2.770 3.465 4.330 5.540 6.930 8.660

Keterangan : *) Secara bertahap disesuaikan menjadi 20 kV **) Pengukuran tegangan menengah tetapi dengan pembatasan pada sisi tegangan rendah dengan pembatas arus 3 x 355 Amper tegangan 220/380 Volt. ***) Pengukuran tegangan menengah tetapi dengan pembatasan pada sisi tegangan rendah dengan pembatas arus 3 x 630 Amper tegangan 127/220 Volt.
14-6

2.5 200 210 220 225 240 250 270 275 280 300 315 330 350 385 Daya Tersambung (kVA) 2335 2425 2595 2770 2855 3030 3115 3465 3635 3805 3895 4150 4240 4330 4670 4845 5190 5450 5540 5710 6055 6230 6660 6930 7265 7615 7785 8305 8660 9345 9515 9690 10380 10900 11420 12110 13320 14-7 . PLN dapat dibedakan menjadi beberapa golongan yang ditunjukkan tabel 14.5 18 20 21 22 22. Daya Tersambung Fungsi Arus Primer.5 87.5 24 25 27 27.5 90 100 105 110 112.5 120 122. berikut ini : Tabel 14.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Pengguna listrik yang dilayani oleh PT.5 125 135 140 150 157.5 54 55 60 66 Daya Tersambung (kVA) 210 245 275 310 345 380 415 485 520 555 605 625 690 725 760 780 830 865 935 950 970 1040 1110 1140 1210 1245 1385 1455 1525 1560 1660 1730 1815 1870 1905 2075 2285 Arus Primer (A) 67. Arus Primer (A) 6 7 8 9 10 11 12 14 15 16 17.5 28 30 32 33 35 36 40 42 44 45 48 50 52.5 160 165 175 180 192.5 70 75 80 82.2.

berikut : Tabel 14.465 4.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Daya yang disarankan untuk pelanggan TM 20 kV (Pengukuran pada sisi TM dengan relai sekunder) Pelanggan TM 20KV yang dibatasi dengan pelabur TM. berikut ini : 14-8 .3 10 16 20 25 32 40 50 63 80 100 125 160 200 250 Daya Tersambung (kVA) 240 345 555 690 865 1.3.180 2. berikut : Tabel 14.330 5.660 Pelanggan TM yang dibatasi dengan pelabur TR.110 1.4.770 3. standarisasi dayanya seperti tabel 14.3.5.540 6. standarisasi dayanya seperti tabel 14. Daya Tersambung Fungsi Pelabur Arus Nominal TM (Amper) 6.4. PLN dapat dibedakan menjadi beberapa golongan yang ditunjukkan pada tabel 3. Daya Tersambung Tiga Phasa Arus Nominal TR (Amper) 3 x 355 3 x 425 3 x 500 3 x 630 3 x 800 3 x 1000 Daya Tersambung (kVA) 233 279 329 414 526 630 Pengguna listrik yang dilayani oleh PT.385 1.930 8.730 2.

Maka tegangan ini dinaikan dengan transformator daya ke tegangan yang lebih tinggi antara 150kV-500kV. 11. 24. 16. 2. 8.5. Golongan Tarif S–1 S–2 S–3 S–4 SS – 4 R–1 R–2 R–3 R–4 U–1 U–2 U–3 U–4 H–1 H–2 H–3 I–1 I–2 I–3 I–4 I–5 G–1 G–2 J Penjelasan Pemakai sangat kecil Badan sosial kecil Badan sosial sedang Badan sosial besar Badan sosial besar dikelola swasta untuk komersial Rumah tangga kecil Rumah tangga sedang Rumah tangga menengah Rumah tangga besar Usaha Kecil Usaha Sedang Usaha Besar Sambungan Sementara Perhotelan Kecil Perhotelan Sedang Perhotelan Besar Industri Rumah Tangga Industri Kecil Industri Sedang Industri Menengah Industri Besar Gedung Pemerintahan kecil/sedang Gedung Pemerintahan Besar Penerangan Umum Sistem Teganga n TR TR TR TM TM TR TR TR TR TR TR TM TR TR TR TM TR TR TR TM TT TR TM TR Batas Daya s/d 200 VA 250 VA s/d 2200VA 2201 VA s/d 200 kVA 201 Kva KEATAS 201 Kva KEATAS 250 VA s/d 500 VA 501 VA s/d 2200 VA 2201 VA s/d 6600 VA 6601 VA KEATAS 250 VA s/d 2200 VA 2201 VA s/d 200 kVA 201 kVA keatas 250 VA s/d 99 kVA 100 kVA s/d 200 kVA 201 kVA keatas 450 VA s/d 2200 VA 2201 VA s/d 13. 4. selain memperbesar daya hantar dari saluran (berbanding lurus dengan kwadrat tegangan). 12. 9. 20.9 kVA 14 kVA s/d 200 kVA 201 Kva KEATAS 30. 22. Golongan Pelanggan PLN No 1. Tegangan generator pembangkit relatif rendah (6kV-24kV). Yang pertama dilakukan di gardu induk 14-9 . 14.000 kVA keatas 250 VA s/d 200 kVA 201 Kva KEATAS 14. Tujuan peningkatan tegangan ini. 5. juga untuk memperkecil rugi daya dan susut tegangan pada saluran transmisi. 23. 19. 15. 18. 3. 17. Energi listrik yang dihasilkan pusat pembangkitan disalurkan melalui jaringan transmisi.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Tabel 14. 14. Penurunan tegangan dari jaringan tegangan tinggi /ekstra tinggi sebelum ke konsumen dilakukan dua kali.5. 7. 21. 10. Jaringan Listrik Pusat tenaga listrik umumnya terletak jauh dari pusat bebannya. 6.

Kedua cara penyaluran tersebut mesing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian. perbaikannya lebih sulit. tidak cocok untuk daerah banjir karena bila terjadi gangguan / kerusakan.5 Saluran penghantar udara untuk rumah tinggal (mengganggu keindahan pandangan) 14-10 . Yang kedua dilakukan pada gardu distribusi dari 150 kV ke 20 kV. Namun saluran bawah tanah jauh lebih mahal dibanding saluran udara. sedangkan dari transformator terakhir sampai konsumen disebut saluran distribusi atau saluran primer. sering disebut juga sebagai saluran transmisi. Gambar 14. saluran bawah tanah lebih disukai dan juga tidak mudah terganggu oleh cuaca buruk: hujan. Saluran listrik dari sumber pembangkit tenaga listrik sampai transformator terakhir. Ada dua macam saluran transmisi/distribusi PLN yaitu saluran udara (overhed lines) dan saluran kabel bawah tanah (undergound cable). petir angin dan sebagainya. Dari segi estetik.Sistem Distribusi Tenaga Listrik (GI). menurunkan tegangan dari 500kV ke 150kV atau dari 150kV ke 70kV. atau dari 70kV ke 20 kV.

sabotase. bahwa saluran udara lebih cocok di gunakan pada : • saluran transmisi tegangan tinggi. kota-kota besar yang banyak penduduknya 14-11 . Pada akhir / ujung dari saluran transmisi. Dari pertimbangan diatas. salju. Sedangkan keuntungan pemasangan saluran bawah tanah antara lain : + Biaya pemeliharaan saluran kabel bawah tanah relatif murah. + Bila terjadi gangguan lebih mudah mencarinya dan lebih mudah memperbaikinya jika dibandingkan untuk saluran bawah tanah. angin. saluran masuk ke dalam suatu gedung / bangunan sebagai pengguna energi listrik. • daerah luar kota. + Sambungan bawah tanah relatif tidak terganggu oleh pengaruhpengaruh cuaca : hujan. gangguan layang-layang. + Untuk daerah-daerah yang tanah nya banyak mengandung batubatuan.6 Saluran kabel bawah tanah pada suatu perumahan elit Secara rinci keuntungan pemasangan saluran udara antara lain : + Biaya investasi untuk membangun suatu saluran udara jauh lebih murah dibandingkan untuk saluran dibawah tanah. Sedangkan untuk saluran bawah tanah akan cocok digunakan pada : • saluran transmisi tegangan rendah.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Gambar 14. misalnya di pegunungan atau daerah jarang penduduknya. tidak semerawut seperti saluran udara. pencurian kabel lebih sulit. petir. akan lebih mudah dengan membuat lubang untuk tiang-tiang listrik. + Saluran bawah tanah tidak menggangu keindahan pandangan.

Utama / MDP : Main Distribution Panel . perlu digambarkan rencana pemasangan tiang-tiang listrik. Penghantar : .Kabel (berisolasi) 4.Penerangan : Lampu-lampu Listrik . jarak terhadap sumber listrik terdekat (tiang listrik / bangunan yang sudah berlistrik) untuk daerah yang sudah ada jaringan listriknya. 4.Beban / SSDP : Sub-sub Distribution Panel 3. berkas rancangan instalasi listrik terdiri dari : gambar situasi. 14-12 .1. PHB : Papan Hubung Bagi .Sistem Distribusi Tenaga Listrik Komponen/peralatan utama perlistrikan pada gedung/bangunan tersebut terdiri dari: 1.7 Situasi Yang menunjukan gambar posisi gedung / bangunan yang akan dipasang instalasi listriknya terhadap saluran / jaringan listrik terdekat.5.Cabang / SDP : Sub Distribution Panel . Data yang perlu ditulis pada gambar situasi ini adalah alamat lengkap. diagram garis tunggal dan gambar rinci.Kawat Penghantar (tidak berisolasi) . Bila belum ada jaringan listriknya. Gambar Situasi Keterangan : A : Lokasi bangunan B : Jarak bangunan ke tiang C : kode tiang / transformator U : menunjukkan arah utara Gambar 14.Tenaga : Motor-motor Listrik Dalam perencanaan instalasi listrik pada suatu gedung / bangunan. Beban . gambar instalasi. APP : Alat Pengukur dan Pembatas (milik PLN) 2.

Untuk konsumen industri karena areanya luas. yang biasanya berjarak rendah. Dari APP ke PHB utama melalui kabel toefoer. sehingga jarak ke beban jauh dari PHB utama dibagi menjadi beberapa group cabang / Sub Distribution Panel baru disalurkan ke beban. dan posisinya ada didalam bangunan.2. . 14-13 . Pada PHB ini energi listrik didistribusikan ke beban menjadi beberap group / kelompok : .5. Gambar Instalasi Yang menunjukan gambar denah bangunan (pandangan atas) dengan rencana tata letak perlengkapan listrik dan rencana hubungan perlengkapan listriknya. dari PHB dibagi menjadi beberapa group dan langsung ke beban.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14.Untuk konsumen domestik / bangunan kecil. Saluran masuk langsung ke APP yang biasanya terletak didepan / bagian yang mudah dilihat dari luar. Biasanya dengan sistem satu fasa.

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Gambar 14.8 Denah rumah tipe T-125 lantai dasar

14-14

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Gambar 14.9 Instalasi rumah tipe T-125 lantai dasar

14-15

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

14.5.3. Diagram Garis Tunggal
Diagram garis tunggal dari APP (alat pegukur dan pembatas) ke PHB (panel hubung bagi) utama yang di distribusikan ke beberapa group langsung ke beban (untuk bangunan berkapasitas kecil) dan melalui panel cabang (SDP) maupun sub panel cabang (SSDP) baru ke beban gambar 14.10. Pada diagram garis tunggal ini selain pembagian group pada PHB utama / cabang / sub cabang juga menginformasikan jenis beban, ukuran dan jenis penghantar, ukuran dan jenis pengaman arusnya, dan sistem pembumian / pertanahannya gambar 14.11.

Gambar 14.10 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan Tegangan Rendah 380/220V.

14-16

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Gambar 14.11 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan sistem Tegangan Menengah 20KV dan Tegangan Rendah 380/220V.

14.5.4. Gambar Rinci
Gambar rinci dalam bangunan diperlukan untuk memberikan penjelasan yang rinci dari perancang ke pada pelaksana proyek atau dalam hal ini kontraktor. Dalam gambar rinci dapat diberikan ukuran (panjang x lebar x tinggi) suatu barang, misalkan panel hubung bagi. Bahkan cara pemasangan kabel, atau pemasngan detail instalasi penangkal petir dapat ditambahkan. Gambar rinci sekurang-kurangnya meliputi : - Ukuran fisik PHB - Cara pemasangan perlengkapan listrik - Cara pemasangan kabel / penghantar - Cara kerja rangkaian kendali - dan lain-lain informasi / data yang diperlukan sebagai pelengkap.

14-17

450 VA sampai dengan 4.12 APP Sistem satu fasa Gambar 14. Alat Pengukur dan Pembatas (APP) APP merupakan bagian dari pekerjaan dan tanggung jawab pengusaha ketenagalistrikan (PLN).6.9 kVA sampai dengan 630 kVA untuk sistem tiga fasa Gambar 14.400 VA untuk sistem satu fasa .4. Terdiri dari alat ukur kwh meter dan pembatas arus : .13 APP Sistem tiga fasa 14-18 .Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14.

000 3 x 100 66.500 380V empat kawat 3 x 80 53.000 arus tegangan rendah 3 x 200 131.300 1 x 10 2.000 *) 3 x 1.6.000 *) 3 x 630 414.200 1 x 16 3.000 380V empat kawat dengan 3 x 160 105.000 *) 3 x 500 329.600 3 x 16 10.900 3 x 10 6.400 3x6 3.000 Alat ukur kwh meter tiga 3 x 125 82.000 3 x 225 147.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Tabel 14. Standar Daya PLN Langganan tegangan rendah sistem 220V/380V 220 Volt satu fasa 380 Volt tiga fasa Daya Tersambung Pembatas Arus Pengukuran (VA) (A) 1x2 Alat ukur kwh meter satu 450 220V dua kawat 1x4 900 1x6 1.000 630.000 *) 3 x 800 526.000 *) fasa fasa fasa trafo Keterangan : *) : Tarif tegangan rendah diatas 200kVA hanya disediakan untuk tarif R-4 14-19 .000 Alat ukur kwh meter tiga 3 x 63 41.500 1 x 20 4.000 3 x 50 33.500 3 x 35 23.000 3 x 250 164.000 *) 3 x 425 279.000 3 x 353 233.000 3 x 300 197.200 3 x 25 16.600 3 x 20 14.

7. Peralatan dari : • • • • • • • • • • pengaman arus listrik untuk penghubung dan pemutus terdiri CB (Circuit Breaker) MCB (Miniatur Circuit Breaker) MCCB (Mold Case Circuit Breaker) NFB (No Fuse Circuit Breaker) ACB (Air Circuit Breaker) OCB (Oil Circuit Breaker) VCB (Vacuum Circuit Breaker) SF6CB (Sulfur Circuit Breaker) Sekering dan pemisah Switch dan DS (Disconnecting Switch) Peralatan tambahan dalam PHB antara lain : • Rele proteksi • Trafo tegangan. yang dapat dibedakan sebagai : . hantaran utamanya merupakan kabel feeder dan biasanya menggunakan NYFGBY. maka suplai ke beban tidak akan terganggu dengan adanya sumber listrik sendiri (genset) sebagai cadangan.Panel Beban / SSDP : Sub-sub Distribution Panel Untuk PHB sistem tegangan rendah. Frekuensi meter. Trafo arus • Alat-alat listrik : Ampermeter. yang satu mendapat saluran masuk dari APP (pengusaha ketenagalistrikan) dan satunya lagi dari sumber listrik sendiri (genset). Di dalam panel biasanya busbar / rel dibagi menjadi dua segmen yang saling berhubungan dengan saklar pemisah. Untuk PHB sistem tegangan menengah.10.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14. 14-20 . Voltmeter. terdiri dari tiga cubicle yaitu satu cubicle incoming dan cubicle outgoing.Panel Cabang / SDP : Sub Distribution Panel . Panel Hubung Bagi (PHB) Panel Hubung Bagi (PHB) adalah panel berbentuk alamari (cubicle). Cos φ meter • Lampu indikator • dll Contoh gambar diagram satu garisnya bisa dilihat pada gambar 14. Dari kedua busbar didistribusikan ke beban secara langsung atau melalui SDP dan atau SSDP. Tujuan busbar dibagi menjadi dua segmen ini adalah jika sumber listrik dari PLN mati akibat gangguan ataupun karena pemeliharaan.Panel Utama / MDP : Main Distribution Panel .

Sistem Distribusi Tenaga Listrik Hantaran masuk merupakan kabel tegangan menengah dan biasanya dengan kabel XLPE atau NZXSBY. Peralatan dan rangkaian dari busbar sampai ke beban seperti pada PHB sistem tegangan rendah. Dapat memutuskan rangkaian tiga phasa walaupun terjadi hubung singkat pada salah satu phasanya. Pengaman arus listriknya terdiri dari sekering dan LBS (Load Break Switch). Saluran daya tegangan menengah ditransfer melalui trafo distribusi ke LVMDP (Low Voltage Main Distribution Panel). 14-21 . Gambar 14.14 Contoh Panel Cubicle di ruang Praktek POLBAN 14. MCB (Miniatur Circuit Breaker) MCB adalah pengaman rangkaian yang dilengkapi dengan pengaman thermis (bimetal) untuk pengaman beban lebih dan juga dilengkapi relai elektromagnetik untuk pengaman hubung singkat. Keuntungan menggunakan MCB.7. Contoh gambar diagram satu garisnya bisa dilihat pada gambar 14.1. MCB banyak digunakan untuk pengaman sirkit satu phasa dan tiga phasa. Berikut ini adalah salah satu contoh cubicle yang ada di ruang praktek di POLBAN. yaitu : 1.11.

2.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 2. ini bergantung pada besarnya arus yang harus diamankan. 3.15 MCB (Miniatur Circuit Breaker) 14. (a) MCB 1 fasa (b) MCB 3 fasa Gambar 14. pengaman termis berfungsi untuk mengamankan arus beban lebih sedangkan pengaman elektromagnetis berfungsi untuk mengamankan jika terjadi hubung singkat.7. Dapat digunakan kembali setelah rangkaian diperbaiki akibat hubung singkat atau beban lebih. Pada MCB terdapat dua jenis pengaman yaitu secara thermis dan elektromagnetis. Jika dilihat dari segi pengaman. sehingga apabila terjadi gangguan pada salah satu kutub maka kutub yang lainnya juga akan ikut terputus. Mempunyai tanggapan yang baik apabila terjadi hubung singkat atau beban lebih. MCCB (Molded Case Circuit Breaker) MCCB merupakan alat pengaman yang dalam proses operasinya mempunyai dua fungsi yaitu sebagai pengaman dan sebagai alat untuk penghubung. Pengaman thermis pada MCB memiliki prinsip yang sama dengan thermal overload yaitu menggunakan dua buah logam yang digabungkan (bimetal). maka MCCB dapat berfungsi sebagai pengaman gangguan arus hubung singkat dan arus beban lebih. Pada 14-22 . pengamanan secara thermis memiliki kelambatan. MCB dibuat hanya memiliki satu kutub untuk pengaman satu phasa. sedangkan untuk pengaman tiga phasa biasanya memiliki tiga kutub dengan tuas yang disatukan. sedangkan pengaman elektromagnetik menggunakan sebuah kumparan yang dapat menarik sebuah angker dari besi lunak.

Moving contacts 6. ACB (Air Circuit Breaker) ACB (Air Circuit Breaker) merupakan jenis circuit breaker dengan sarana pemadam busur api berupa udara.Sistem Distribusi Tenaga Listrik jenis tertentu pengaman ini. Gambar 14. BMC material for base and cover 2. Compact size 14. 14-23 .7. Trip-free mechanism 5. ACB dapat digunakan pada tegangan rendah dan tegangan menengah. mempunyai kemampuan pemutusan yang dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan. Arc chute 3. Udara pada tekanan ruang atmosfer digunakan sebagai peredam busur api yang timbul akibat proses switching maupun gangguan. Clear and IEC-complaint maekings 7. Mounting for ST or UVT connection block 4.16 Molded Case Circuit Breaker Keterangan : 1. Magnetic trip unit 8.3.

Bila terjadi busur api dalam minyak.4.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Gambar 14.7. Rating standar Air Circuit Breaker (ACB) yang dapat dijumpai dipasaran adalah sbb: • LV-ACB: Ue = 250V dan 660V Ie = 800A-6300A Icn = 45kA-170kA • LV-ACB: Ue = 7. maka minyak yang dekat busur api akan berubah menjadi uap minyak dan busur api akan dikelilingi oleh gelembunggelembung uap minyak dan gas.2kV dan 24kV Ie = 800A-7000A Icn = 12.5kA-72kA 14.17 ACB (Air Circuit Breaker) Air Circuit Breaker dapat digunakan pada tegangan rendah dan tegangan menengah. 14-24 . Gas yang terbentuk tersebut mempunyai sifat thermal conductivity yang baik dengan tegangan ionisasi tinggi sehingga baik sekali digunakan sebagi bahan media pemadam loncatan bunga api. OCB (Oil Circuit Breaker) Oil Circuit Breaker adalah jenis CB yang menggunakan minyak sebagai sarana pemadam busur api yang timbul saat terjadi gangguan.

VCB (Vacuum Circuit Breaker) Pada dasarnya kerja dari CB ini sama dengan jenis lainnya hanya ruang kontak dimana terjadi busur api merupakan ruang hampa udara yang tinggi sehingga peralatan dari CB jenis ini dilengkapi dengan seal penyekat udara untuk mencegah kebocoran.7.5.19 VCB (Vakum Circuit Breaker) 14-25 .18 OCB (Oil Circuit Breaker) 14. Gambar 14.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Gambar 14.

Gas SF6 merupakan gas berat yang mempunyai sifat dielektrik dan sifat memadamkan busur api yang baik sekali. A3C.6. Penghantar Untuk instalasi listrik.Kawat Penghantar tanpa isolasi (telanjang) yang dibuat dari Cu.6 KV – 760 KV. 14-26 . Ada dua macam penghantar listrik yaitu : .Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14. dan masing-masing digunakan sesuai dengan kondisi pemasangannya. SF6 CB (Sulfur Hexafluoride Circuit Breaker) SF6 CB adalah pemutus rangkaian yan menggunakan gas SF6 sebagai sarana pemadam busur api. ACSR. Prinsip pemadaman busur apinya adalah Gas SF6 ditiupkan sepanjang busur api. BCC. A2C. Kabel Penghantar yang terbungkus isolasi. ada yang kaku atau berserabut. Rating tegangan CB adalah antara 3.7.8. penyaluran arus listriknya dari panel ke beban digunakan penghantar listrik yang sesuai dengan penggunaanya.20 SF6 CB (Sulfur Hexafluoride Circuit Breaker) 14. ada yang berinti tunggal atau banyak. gas ini akan mengambil panas dari busur api tersebut dan akhirnya padam. ada yang dipasang di udara atau di dalam tanah. AL sebagai contoh BC. Gambar 14.

merkuri. Secara garis besar beban listrik adalah : .9.21 Diagram Transmisi dan Distribusi 14. NYMHY. beban listrik terdiri dari : a.Untuk penerangan dengan lampu-lampu pijar. Gambar 14. Resistor (R) yang bersifat resistip b. penerangan dengan lampu tabung yang menggunakan balast/trafo bersifat induktif (lampu TL.Untuk peralatan yang menggunakan motor-motor listrik (pompa air. Beban Listrik Menurut sifatnya. NYFGBY Berikut ini adalah gambar diagram satu garis untuk konsumen tegangan rendah dan konsumen tegangan tinggi. alat pendingin/AC/Freezer/kulkas. sodium. pemanas listrik yang bersifat resistip . NYY. Kapasitor (C) yang bersifat kapasitip Beban listrik yang dimaksud adalah piranti / peralatan yang menggunakan / mengkonsumsi energi listrik. dll). Sebagai contoh : NYA. NYM. peralatan laboratorium).Sistem Distribusi Tenaga Listrik Hal ini bisa dilihat dari masing-masing karakter jenis kabelnya pada nomen klatur kabel. TV. 14-27 . NYYHY. Induktor (L) yang bersifat induktip c. komputer.

1. 220 V. Jumlah lampu yang digunakan akan mempengaruhi pembagian group dari panel penerangan.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Jika beban resistip diaktifkan (dinyalakan).8.8. 4 kawat Jenis beban listrik dalam gedung/bangunan dapat dikelompokan menjadi : 1. Gambar 14. kemudian turun kembali ke arus nominal.22 Rangkaian macam-macam Beban Sistem 3 phasa. • Tiap lampu TL40W. frekuensi 50 HZ. cos φ = 0. Stop kontak 3. maka saat awal (start) menarik arus listrik yang besar (3 sampai 5 kali nilai arus nominal). Bagaimana instalasinya? Jawaban: Dengan cara sederhana bisa kita naikan sebagai berikut : • Dengan jumlah lampu 900 TL.9. maka arus listrik pada beban ini segera mengalir dengan cepatnya sampai pada nilai tertentu (sebesar nilai arus nominal beban) dan dengan nilai yang tetap hingga tidak diaktifkan (dimatikan). penampang penghantarnya dan pengamannya (CB atau MCB) serta sakelar kendalinya. misalnya pada motor listrik. Beban yang ada 900 lampu TL 40 W. cosφ = 0. karena dibutuhkan oleh semua gedung dan juga waktu penggunaannya yang panjang. Penerangan (Lighting) Penerangan gedung merupakan penggunaan yang dominan. balast 10w memerlukan arus = 14-28 . Contoh : Suatu bangunan disuplai listrik 3 phasa. 4 kawat dengan tegangannya 220V/380V. 220 V. setiap phasa dibebani : 900/3 = 300 TL. Lain halnya dengan beban induktip. Begitu motor diaktifkan (digerakkan). Motor-motor listrik 14. Penerangan (lighting) 2. balast 10 W.

220 • • Maka untuk 300 lampu = 300.28 =6.5 ~13 group.72 A =87. IT = 84 A Lampu dibagi dalam group (tiap group maksimum 12-14 titik lampu). Stop Kontak Stop Kontak adalah istilah populer yang biasa digunakan sehari-hari.28A = 84 A Bila lampu menyala sekaligus : IR = 84 A . maka tiap phasa terdapat 300 TL/2 = 150 armatur (titik lampu) dan tiap phasa mempunyai 150 armatur = 12.72 A dengan demikian pengaman yang digunakan (MCB atau Sekering) tiap group dapat digunakan 10A. Gambar 14. Dalam PUIL 2000. Arus listrik tiap phasa panel utama = 13 x 6. dan dihubungkan langsung ke panel sebagai group tersendiri. Satu group adalah 12 armatur x 2 TL = 24 TL jadi arus listrik tiap group = 24 x 0.2.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 40 + 10 = 0.9. KKK adalah kotak kontak yang dipasang khusus untuk digunakan secara tetap bagi suatu jenis piranti listrik tertentu yang diketahui daya maupun tegangannya. IS = 84 A. asalkan penggunaannya tidak melebihi batas kemampuannya.28 A 0. bila tiap titik terdiri dari 2 TL.36 A maka pengaman utama (MCB atau Sekering) yang digunakan sebesar 100A. KKK mempunyai tempat/lokasi tertentu dengan beban tetap. 14-29 . • • 14. 0. stop kontak ini dinamakan KKB (Kotak Kontak Biasa) dan KKK (Kotak Kontak Khusus) KKB adalah kotak kontak yang dipasang untuk digunakan sewaktu-waktu (tidak secara tetap) bagi piranti listrik jenis apapun yang memerlukannya.23 Macam-macam Stop Kontak Dengan demikian.8.

integral (diatas 1 HP). Motor-motor Listrik Motor-motor listrik merupakan beban kedua terbanyak sesudah penerangan. escalator dan sebagainya. Motor arus bolak-balik tiga phasa Berikut ini adalah gambar beberapa berbagai piranti yang menggunakan motor.9. 14. dan biasanya jadi satu dengan group untuk penerangan. dan motor kelas medium sampai besar (diatas 5 HP). motor listrik digunakan untuk menggerakan pompa. kompresor yang merupakan bagian penting dari sistem pendingin udara. Motor dikategorikan sebagai motor fraksional (kurang dari 1 HP). kipas angin. Motor-motor juga dapat dikelompokan berdasarkan jenis arus yang digunakan. elevator. Motor arus searah b. Eskalator Air Conditioning Gambar 14. dan juga sebagai pengerak mesin-mesin industri.3. yaitu: a.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Sedangkan KKB tersebar diseluruh bangunan dengan beban tidak tetap. Motor arus bolak-balik satu phasa c.24 Piranti-piranti menggunakan motor 14-30 .

PHB (papan hubung bagi). U-1. I-4. • Tahun 1885 di Perancis dipakai energi listrik secara komersial terbatas. I-3.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14.GEBEO. masuk ke jaringan 70 KV dan system distribusi tegangan menengah 20KV. Energi Sinar. kemudia dibangun beberapa PLTA sejak 1917. angin) sejak awal peradaban dimulai. S-3. • Dari pusat pembangkit (6KV) listrik di transmisikan (150-500KV) ke kota-kota besar. Energi Panas. Energi Listrik. di Indonesia energi listrik diusahakan sejak 1887 di Jakarta. Rangkuman • Manusia memakai energi alam (kayu. adalah tarif S-2. • Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi itu tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan. H-1 dan H-2. • Secara garis besar energi listrik dibagi dua kelompok. gambar instalasi. U-3. H-3 dan G-2. R-2. Energi Nuklir. SS-4. R-1. penghantar. Energi Grafitasi. • Penyaluran listrik tegangan rendah dengan penghantar udara atau dengan kabel tanah. sejak abad 18 batubara digunakan untuk menghasilkan uap dikenal sebagai era industri di Inggris. U-2. OGEM. konsumen Pabrik. • Pengusahaan listrik di Indonesia sebelum kemerdekaan oleh beberapa perusahaan swasta Hindia Belanda. adalah tarif S-4. Konsumen Komersial.10. yaitu penyedia daya (pembangkitan dan transmisi) dan pemanfaat (konsumen). 14-31 . rancangan instalasi listrik terdiri dari : gambar situasi. • Komponen penyaluran energi listrik ke konsumen terdiri atas APP (alat pengukur dan pembatas). dan beban • Dalam perencanaan instalasi listrik pada suatu gedung/bangunan. I-2. • Pelanggan listrik PLN di kelompokkan menurut empat jenis. diantaranya: Energi Mekanik. I-1. diagram garis tunggal dan gambar rinci. ANIEM . R-4. seperti: NIGEM. • Standar PLN untuk tarif jaringan tegangan rendah 380/220V. yaitu konsumen Rumah Tangga. Penerangan Jalan Umum (PJU). G-1. terakhir ke konsumen tegangan rendah 380/220V. • Sejak 1958 kelistrikan di Indonesia dikelola oleh Perum Listrik Negara. Energi Medan Magnet. • Standar PLN jaringan distribusi tegangan menengah 20KV. tetapi dapat berubah dari energi satu ke energi lainnya. air. • Sampai sekarang hasil penelitian menghasilkan beberapa sumber energi.

Soal-soal 1. angin) dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi oleh manusia pada saat energi listrik belum ditemukan. 2. • Peralatan pengaman arus listrik untuk penghubung dan pemutus terdiri dari :CB (Circuit Breaker). Sebutkan pemakaian listrik AC 1 phasa dan AC 3 phasa di Industri. Alat-alat listrik : Ampermeter. • Menurut sifatnya. Cos φ meter. gambarkan secara skematik penyaluran daya listrik dari pembangkitan sampai ke konsumen industri Dan konsumen rumah tangga. yaitu: Motor DC. OCB (Oil Circuit Breaker). 6. 14-32 . Energi minyak makin Mahal ($130/barel). Lampu indikator • Ada dua macam penghantar listrik yaitu : Kawat (telanjang) dan Kabel. dilengkapi alat pengaman. Frekuensi meter. NFB (No Fuse Circuit Breaker). pengadaan energi listrik alternatip adalah salah satu jawaban atas krisis energi. Jelaskan bagaimana batubara dapat diubah menjadi energi uap yang selanjutnya menggerakkan mesin uap (James Watt). 3. Energi listrik dengan tegangan 1500 Volt DC dapat menggerakkan Kereta Rel Listrik.11. Sebutkan pemakain listrik arus DC untuk proses industri. Induktor (L) yang bersifat induktip dan Kapasitor. mencakup KWhmeter dan pembatas arus (MCB). beban listrik terdiri dari : Resistor (R) yang bersifat resistip. Trafo arus. sampai pemanfaatannya untuk rumah tangga dan industri kecil UKM.Sistem Distribusi Tenaga Listrik • APP dimiliki dan tanggungjawab PLN. PLTA dibangun di daerah pegunungan yang jauh dari perkotaan. Motor AC satu phasa. MCCB (Mold Case Circuit Breaker). Motor AC tiga phasa. 14. Switch dan Disconnecting Switch (DS). • Peralatan tambahan dalam PHB antara lain : Rele proteksi . Sekering dan pemisah. • Motor-motor dikelompokan berdasarkan jenis arus yang digunakan. 7. Voltmeter. Jelaskan secara singkat bahwa energi alam (kayu. 4. VCB (Vacuum Circuit Breaker). SF6CB (Sulfur Circuit Breaker). jelaskan secara singkat cara kerja KRL. ACB (Air Circuit Breaker). MCB (Miniatur Circuit Breaker). jelaskan skematik pembangkitan listrik Mikrohidro skala 100 KW dipedesaan. • PHB tempat pembagian ke cabang beban. Trafo tegangan. air. dapatkan listrik DC berasal dari lsitrik AC ? jelaskan 5.

berapa harga energi yang harus dibayar pada soal No 3 diatas. Suatu bangunan disuplai listrik 3 phasa. Beban yang ada 400 lampu TL 40 W. 4 kawat dengan tegangannya 220V/380V. Beban listrik 1. cos φ = 0. 10.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 8. frekuensi 50 HZ.8. Hitung berapa energi listrik yang dikonsumsi. 9. balast 10 W. 220 V.000 watt bekerja selama 5 jam. Bagaimana instalasinya? 14-33 . Jika harga energi adalah Rp 700/kWh.

8. 15.3. 15.9. 15. 15. 15. 15. Pembangkit Mikrohidro Sistem Mikrohidro Langkah Pertama Keselamatan Peringatan Tentang Pengoperasian Mikrohidro Memilih Lokasi Mikrohidro Desain Bendungan Komponen Generator Mikrohidro Instalasi Mikrohidro Pengoperasian Perawatan Dan Perbaikan Spesifikasi Teknik Rangkuman Soal-soal .10. 15.1.BAB 15 PEMBANGKIT LISTRIK MIKROHYDRO Daftar Isi : 15.13. 15.4. 15.2. 15.7.11. 15.6.12.5. 15.

Beberapa point dari pedoman ini. Tenaga air besaral dari aliran sungai kecil atau danau yang dibendung dan kemudian dari ketinggian tertentu dan memiliki debit yang sesuai akan menggerakkan Turbin yang dihubungkan dengan Generator listrik.1. arti keseluruhan adalah pembangkitan listrik daya kecil yang digerakkan oleh tenaga air. instruksinya menunjukan hal yang wajib diperhatikan dan harus diikuti seperti ditunjukan berikut ini: 15. Turbin dan Generator Mikrohidro Generator yang digunakan untuk Mikrohidro dirancang mudah untuk dioperasikan dan dipelihara. tapi peralatan dari listrik akan menjadi berbahaya bila tidak digunakan dengan baik.1. Pembangkit Mikrohidro Pembangkitan Listrik Mikrohidro. melalui sebuah pipa yang ujungnya dipasangkan filter untuk menyaring air sehingga kotoran tidak masuk ke pipa dan Turbin.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15. Mikrohidro berasal dari kata micro yang berarti kecil dan hydro artinya air. 15-2 . Gambar 15. pembangkitan listrik dihasilkan oleh Generator listrik DC atau AC.2. didesain menunjang keselamatan.2 terdiri dari penampungan air dalam bentuk bendungan kecil (A). Sistem Mikrohidro Sistem Mikrohidro gambar 15.

Katup pembuka (D) dipasang sebelum Turbin. 15-3 . Spear valve F. gunanya untuk menutup aliran air ke Turbin. Tangki air dari bendungan B. Generator akan menghasilkan energi listrik yang siap digunakan untuk berbagai kebutuhan. ketika dilakukan perbaikan berkala pada Turbin. Turbin H.2 A. Akibat energi potensial air. Pipa pesat atau Pipa pesat D. Aliran air dari pipa pesat melewati katup spear (E) untuk mengatur debit air yang masuk ke Turbin air (G). Pipa lubang angin C. Air buangan dialiskan kesaluran pembuangan dan kembali kesungai. Dudukan Turbin Pipa menuju Turbin sering disebut pipa pesat (C). Katup pembuka atau Gate valve E. sudu-sudu Turbin akan memutar poros Turbin yang dikopel langsung dengan Generator listrik (F). dilengkapi dengan pipa pernapasan udara (B) gunanya agar udara yang terjebak dalam pipa bisa keluar dan tidak menghantam sudu-sudu Turbin.2 Sistem Pembangkit Listrik Mikrohidro Keterangan gambar 15. Generator G.Pembangkit Listrik Mikrohidro Gambar 15.

Selain itu. 15.5. yang diukur dalam meter. 2. • Dibawah kondisi ketinggian air yang telah ditentukan pedoman ini.4. Beritahukan anak-anak tentang bahaya sentuhan langsung ke listrik. 4. Debit aliran merupakan jumlah dari air yang melewati Turbin tiap waktu. yaitu ketinggian jatuh air dan debit aliran. Hati. 15. Jangan pernah membiarkan sambungan listrik basah. • Jangan lupa untuk melumasi bearing pada waktu yang telah disarankan. 6.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15. yang diukur dalam liter/detik. Peringatan Tentang Pengoperasian Mikrohidro Generator Mikrohidro (GMH) didesain agar mudah untuk dioperasikan dan mudah untuk diperbaiki. Ketinggian jatuh air merupakan jarak vertical antara Turbin dengan bendungan air. Juga dapat terjadi jika diameter pipa melebihi diameter yang disarankan. Jangan coba. GMH mampu membangkitkan tenaga yang besar dari output rata-rata. tapi listrik menjadi berbahaya jika pencegahan yang sederhana tidak dipatuhi 1. Bagaimanapun juga peringatan mengenai langkah pengoperasian harus dituruti untuk menjaga kelangsungan usia pakai GMH. Langkah Pertama Keselamatan Listrik membantu kehidupan kita. tabel berikut menunjukan bermacam kombinasi ketinggian dan aliran air untuk mencapai output daya maksimum yang diinginkan untuk tiap model : Daya output Generator Dimana : H = tinggi efektif jatuh air (m) Q = debit air liter/detik 15-4 Pout = 9. kerusakan Generator Mikrohidro mungkin tidak dapat diperbaiki dan membutuhkan pengawatan total/ total rewiring. Jauhkan jari dari Turbin yang berputar. 5.3. jika tidak dilakukan akan mengakibatkan penggunaan yang melebihi batas sehingga umurnya akan pendek. • Pastikan Electronic Load Kontroller di set kurang lebih pada 220V. beban besar dan peralatan mungkin harus dikurangi. Badan Generator Mikrohidro harus di bumikan. Cabut kabel utama terlebih. Jangan izinkan mereka bermain dengan sambungan listrik.. 3. Memilih Lokasi Mikrohidro Ada dua faktor yang mempengaruhi output daya Generator Mikrohidro. tanyakan pada ahlinya. Q …… KW . Jika pemakaian tenaga melebihi daya maksimum yang terdapat di pedoman ini.8 H.coba untuk memutuskan kabel atau membuka alat untuk perbaikan saat Generator sedang kerja. Jika ada pertanyaan tentang keselamatan.hati terhadap bahaya sentuhan dan kejutan listrik.

Pengukuran ketinggian Jalan ke atas daerah dari tempat landai dimana kamu akan menempatkan Turbin ke sumber air berada atau lakukan kebalikannya. Daya Output hubungannya dengan tinggi dan debit Ketinggian air H (m) Aliran air Q (l/ sec) Output Turbin (kW) Output Gen. jika ketinggian jatuh air 24 meter dan debit aliran air 33. Ini ditunjukan pada gambar sistem.3 liter/detik. jalan ke bawah dari tempat landai darimana sumber air berada ke tempat terbaik untuk menempatkan Turbin 15-5 .6 32m 38.3 Mengukur ketinggian jatuh air.7 5.3 28m 36.5.6 6. gunakan pita pengukur/ meteran dan klinometer atau spirit level. Pengukuran Ketinggian Ketinggian jatuh air merupakan tinggi vertikal dimana air mengalir masuk ke pipa pesat lalu turun ke permukaan Turbin.2 6.1. menggunakan table maka akan menghasilkan daya listrik sampai 4.2 34m 39.1. Ikatlah dibagian atas dari 1 meter panjang stik lalu ujung bagian horizontal dari ujung atas bagian yang miring seperti tingkatan arus.0 Sebagai contoh.9 4. Gambar 15.0 7.6 10.9 30m 37.7 26m 34.0 8.0 7.4 9.2 8. Untuk mengukur. Kurang akurat tapi digunakan sebagai cara alternatif yang bermanfaat untuk anda membuatnya sendiri dari setengah tube/botol transparan yang diisi dengan air. 15.3 5.4 5.Pembangkit Listrik Mikrohidro Tabel 15. (kW) 24m 33.7 kW.

2. 15. Lakukan pengukuran sendiri atau minta petunjuk konsultan ahli yang berpengalaman. masukan ke kali atau bendungan dimana ada aliran datang dan lakukan pengukuran aliran dari sini. Ukuran ember untuk menampung air berkisar 100-200 liter (setengah atau memenuhi tong minyak kosong). jika ukurannya lebih pendek.5.422 psi / meter dari ketinggian. Untuk kedua model mikrohidro tertentu.4 Mengukur Debit Air Pengukuran Aliran : Aliran= Volume ember (liter) Waktu untuk memenuhi ember (detik) 15-6 . Gambar 15. Bagi volume ember (dalam liter) dengan waktu pemenuhan (dalam detik) untuk memperoleh aliran rata-rata dalam liter per detik.Pembangkit Listrik Mikrohidro Dengan menuju tingkatan yg diraih dan mengulang kembali prosesnya ketinggian total dapat terukur gambar 15.4 dibawah. maka output yang dihasilkan akan berkurang. Pengukuran tekanan menunjukan1. Jangan mencoba untuk melebihi ketinggian yang telah disarankan. segera tempatkan ember untuk menampung aliran dan saat itu adalah waktu untuk mengisi ember. ketinggian harusnya antara 24m dan 34m. Dari gambar 15.3. tapi jika terlalu tinggi rotor akan berputar sangat cepat dan mengakibatkan berkurangnya umur bearing. Ujung atas pipa berada dibawah permukaan air dan bagian pipa lainnya mengalirkan air dari kali. Pengukuran Aliran Jalan terbaik untuk mengukur aliran air ialah dengan menggunakan “metoda bendungan”. pipa yang pendek (kurang dari 1 meter) dipendam kedalam “bendungan” kecil gunakan lumpur atau semen. Sebagai contoh ketinggian 24m tekanan 34psi sampai ketinggian 34m dengan tekanan 48psi. Metoda lainnya ialah “metode bejana/ bak”. Bertambah besarnya daya keluaran memang menguntungkan. Metode lain digunakan untuk pengukur tekanan dan panjang selang yang akurat. Tapi bila lebih besar maka daya keluarannya pun akan bertambah. Ketika muncul aliran yg tenang. Ambil bagian pipa yang memiliki diameter yang sama dengan pipa pesat.

Air yang dibawa ketempat Turbin sebelumnya dan mengurangi panjang pipa pesat yang dibutuhkan. 15-7 . Pipa pesat harus terbuat dari baja dengan diameter 150mm dan ketebalan 4mm. Jalur pipa a) yang melingkar b) jalur memintas Pipa pesat diwakili oleh garis hitam A-B. Saat memasang pipa pesat. Untuk melakukannya. Selain ketinggian vertical penting yang harus diperhatikan tingkat kemiringan horizontal dan panjang pipa pesat dapat berubah walaupun kemiringan pipa pesat yang seharusnya >600.5. pada gambar yang pertama (A) pipa pesat mengikuti jalur kali. Saluran pipa air mengikuti kontur bukit dan hanya memerlukan parit sederhana yang luasnya 30cm x 30cm.5.5b. Katup gate harus dipasang agar dapat menutup kapan saja saat terjadi tekanan tinggi diujung pipa pesat. cobalah untuk membuatnya tetap berdiri dan memghindari bagian tajam atau sudut. Gambar 15. Ini merupakan pemborosan panjang dan biaya. Jalan terbaik untuk mengurangi panjang pipa pesat ditunjukan pada gambar 15. bagian dari puncak kemiringan mungkin membutuhkan penggalian saat (ditempat lain) pipa pesat mungkin membutuhkan kutub bantu dsb. Pada gambar B.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15.3 Persiapan Lokasi Mikrohidro Saat lokasi ketinggian dan aliran sudah pada tempat yang benar baru kemudian panjang dan posisi pipa pesat dapat ditentukan. coba jaga agar selalu lurus dan terhindar. jalur yang paling gampang(langsung) dipilih untuk mengurangi panjang dan biaya. Gambar C menunjukan dimana jalur saluran alternatif atau “power conduit” memotong sisi bukit.5a dan 15.

5 kali volume air di pipa pesat [1750 liter]. lumpur. Dari aliran yg Turbin yang tersumbat. sehingga Turbin terus berfungsi 2) Memilki pengaman yang cukup untuk mencegah pasir. pasir. Desain Bendungan Aspek terpenting bagI bendungan diantaranya : 1) Membiarkan air mengalir terus menerus ke pipa pesat. Gambar 15. 15. Bagian atas pipa pesat biasanya tidak ditempatkan dibawah tapi beberapa jalur dinding bagian atas bendungan jadi bagian bawah bendungannya seolah mengendap agar dapat menarik. dls.Pembangkit Listrik Mikrohidro Gambar 15. 15-8 . tumbuh-tumbuhan atau kotoran lainnya masuk kedalam pipa pesat karena dapat menggangu Turbin. Mencakup aspek keselamaatan untuk menajuhkannya dari jangkauan anak dan binatang yang mungkin masuk kedalam pipa pesat. Ukuran desain yang ideal ditunjukan pada pada gambar sistem walau pada point utama digunakan untuk memastikan jangan sampai bendungan kosong.6 Pipa melintas dan pembuangan air ke sungai Bendungan atau tangki penampung air di atas pipa pesat di desain agar dapat menampung volume air kira-kira 2. 3) Memiliki jalur yang memudahkan untuk menghentikan aliran air saat mengganti bearing.6. dsb.menunjukan tandon air yang didesain sederhana yang bias digunakan untuk segala keberhasilan.7.

dapat juga dipakai pipa pralon dengan kualitas terbaik dengan ketebalan tertentu. Fitting elbow disisipkan diantara inlet pipa pesat dan pipa pipa pesat.Pembangkit Listrik Mikrohidro Saringan sampah akan membantu menjaga agar bendungan selalu bersih dan tertutup untuk anak-anak. Sistem terdiri dari dua komponen utama. Tandon air terbuat dari kotak anti air terletak di saluran daya/ power dan pipa pesat. Komponen tambahan yang harus ada mencakup : • • • Pipa baja dengan ketebalan 4mm. Komponen Generator Mikrohidro Komponen Generator Mikrohidro terdiri atas : • Rakitan Turbin. Ujung pipa dilubangi selanjutnya air masuk. Tandon Air 15. Aliran pipa pesat dihentikan oleh tarikan kawat jadi inlet keluar dari air. Pengawatan ke konsumen dengan kabel berisolasi jenis NYM 15-9 . jadi aliran tidak terhambat dan 50% daerah ujung permukaan pipa harus dibor dengan lubang yang luasnya 1cm Gambar 15. panjang 28-40m dan diameternya 150mm Kabel dari Generator ke konsumen. Sumbat pengering digunakan secara periodik untuk mengosongkan pasir dan daun atau benda lainnya yang dapat menyumbat. Ukuran lubang sangat penting.7. Pipa pesat sebaiknya terbuat dari baja.Generator • Pipa pesat adaptor flange • Katup • Gasket karet • Mur dan baut M24 • Kontrol panel termasuk pengatur beban listrik termasuk panel electronic load kontroller • Ballast merupakan dummy-load.7. yaitu turbin Generator dan electronic load kontroller. Komponen yang diperlukan dapat diperoleh di daerah setempat.

8.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15. Dudukan Turbin harus terbuat dari beton dengan 6 buah baut M24 menancap padanya. Gambar 15. Lakukan ini seperti gambar 15. Sudutnya bergantung dari kemiringan .8. Pembersihan seperti ini diperlukan untuk menjaga agar tidak ada percikan hitam yang akan mengganggu kinerja Turbin.8 Pemasangan Turbin dan Generator a) tampak samping b) tampak dari atas 15-10 .1. Instalasi Mikrohidro 15. Lakukan pembersihan dengan jarak antara Turbin dan tanah paling sedikit 500mm. 2) Sisipkan katup gate ke nozzle injector pipe followed dengan menggunakan elbow~120° yang akan tersambung ke pipa pesat. perangkat mikrohidro siap untuk dipasang. Aspek Mekanik Setelah menemukan lokasi yang sesuai kemudian pekerjaan sipil selesai.8 : 1) Baut Turbin ke dudukan atau bagian dasar Turbin.

15.2. Hubungan sistem gambar 15. Aspek Elektrik Generator menggunakan magnet permanent. maka ballast tambahan secara otomatis tersambung dan saat daya turun dibawah batas yang diijinkan secara otomatis sambungan akan terlepas. ELC dipasang parallel dengan output Generator. satu yang utama dan satunya sebagai tambahan. Beban dikendalikan oleh electronic load controller (ELC) yang terpasang pada kontrol box. jadi dengan tidak sengaja akan memutuskan rangkaian. Untuk melakukannya ELC menyambungkan daya yang bukan digunakan konsumen ke beban ballast pemanas udara dimana kelebihan energy dibakar dalam panas. sedang beban ballast tambahan hanya 33%. Disini ballast tambahan digunakan.9 sebagai berikut : 15-11 .8.Pembangkit Listrik Mikrohidro 3) Tempelkan elbow 120° (atau yg lain) ke dinding foreway. Pemasangan dapat dimulai dari arah yang berbeda. ballast tambahan membiarkan Generator kerja pada temperatur yang rendah. Ini akan menempel dengan lubang angin/ ventilasi yang mengalirkan udara masuk dari pipa pesat. Jika daya pada ballast utama boros melebihi batas. Ini dapat dikurangi dengan meng-nolkan ballast. Beberapa orang mungkin menginginkan pemasangan pipa pesat sebelum terpasang diantara kedua elbow. Dua beban ballast digunakan. Meskipun tidak diharuskan. jadi tegangan yang menyebrang dari ballast akan memberi bentuk gelombang yang bagus.jenis sinkron. Gelombang distorsi disebabkan oleh sambungan triac atau Thyristor menyebabkan Generator panas. ELC didesain untuk mempertahankan tegangan agar konstan dan frekuensi yang mendekati konstan dengan menjaga beban elektrik yang konstan pada Generator. Saluran udara dibagian atas yang terbuka harus lebih besar daripada ketinggian air di bendungan. Alihkan air dari bendungan atau block pipa pipa pesat lainnya selama proses pemasangan berlangsung 4) Mulai memasang pipa pesat. Jumlah beban ballast utama 66% dari total.

mungkin salah satunya di powerhouse bersama Turbin atau ditempat lain. yang ukurannya lihat buku PUIL. Gabungan (total) beban balas berkisar (max) 10-15% lebih besar dari output Generator. Tutup pintu kontrol box. Sistem penyambungannya dengan dasar netral. dirumah pemakai. Lakukan ini dengan menyisipkan salah satu ujung kawat Mikrohidro yang panjangnya 16mm dan ujung bahan logam atau tiang logam lainnya yang tidak jauh dari ground Mikrohidro Sambungkan Generator dengan kontrol box. Bumikan (ground) Mikrohidro.9. untuk pencegahan kerugian dan bahaya api. Hubungan kontrol kelistrikan Untuk menyambungkan komponen listrik. 1 Pasang kontrol box di tempat yang terlindung dari hujan dan sinar matahari. sampai 1000 C. ikuti langkah berikut : Hal yang berhubungan dengan listrik sebaiknya dipasang oleh orang yang kompeten dalam hal pengawatan pada keadaan bertegangan. Beban ballast menjadi panas. 2 3 4 5 6 15-12 . pasang ditempat yang aman.Pembangkit Listrik Mikrohidro Gene rator AC Jaringan utama atau papan distribusi Power supply AC 220v ELC (electronic load controller) Ballast Gambar 15. Beban ballast utama akan berkisar 7kW atau 8kW (+ 66%) sedang ballast tambahan berkisar 3kW atau 4kW (+ 33%). Netral dan phasa digabungkan ke element beban dalam waktu yang sangat cepat. Semua pengawatan dari Generator ke kontrol box. Diagram pengawatan menunjukan semua lokasi penyambungan tapi catatan sebagian besar komponen sudah disambungakn ke kontrol panel Sambungkan kabel beban user L1 dan L2 dengan kontrol box dan house Sambungkan beban ballast utama dan tambahan ke kontrol box seperti yang ditunjukan. dari kontrol box ke beban user dan dari kontrol box ke ballast harus sudah menggunakan kawat tembaga berisolasi multistranded. Sebagai contoh 11kW atau 12kW untuk 10kW Generator. Sistem sekarang siap untuk pengoperasian yang pertama.

sesuaikan aliran air dengan menggunakan katup spear jadi tegangan tetap pada 230V.9.10 Electronic Load Kontroller 15. Turbin akan berbutar dan air akan mengalir keluar dari Turbin (ke pengering). Switch di kontrol box harus dalam posisi”off” Buka lebar-lebar katup spear dan katup gate.Pembangkit Listrik Mikrohidro Gambar 15. 6 Operasikan seperti ini selama 15 menit. Dan jika OK gunakan switch pada pintu kontrol panel untuk menghubungkan daya ke pengguna. Tegangan akan bertambah sampai Voltmeter di kontrol box membaca 230V. temperature yang berlebih atau masalah lainnya. 15-13 . Perubahan mendadak di akibatkan efek air yang beradu dan pecahnya pipa pesat. timbul energi listrik. sambil mengamati bila ada kebisingan yang aneh.Pengoperasian 1 2 3 4 5 Periksa saluran daya dan bendungan apakah terbebas dari puing-puing Pastikan Turbin mati dan seluruh jalur supply aliran listrik mati. setelah satu atau dua menit tegangan akan turun ke 220V Selalu putar handle katup dengan perlahan dan hati-hati untuk menghindari perubahan yang mendadak bagi tekanan air di pipa pesat. jika tegangan bertambah terus. Biarkan katup gate selalu terbuka saat Turbin beroperasi dan hanya akan tertutup saat perbaikan Turbin Isi bendungan dan biarkan air mengalir dengan bebas masuk ke dalam pipa pesat. Saat air mengalir.

Jangan coba untuk mengeringkannya dekat dengan api. Pelumasan Bearing Mikrohidro memiliki dua bearing di Turbin yang harus diperiksa secara berkala. Turbine harus berhenti terlebih dulu sebelum dilumasi. 15. Karena akan dihasilkan tegangan yang salah. Satu dekat dengan bagian dalam casing Turbin dan yang satunya berada di shaft Turbin dekat Generator. hati-hati dengan Electrocution Jangan menyumbat peralatan secara langsung ke Mikrohidro tanpa menggunakan beban yang terkontrol.Pembangkit Listrik Mikrohidro 7 Tegangan harus stabil saat beban hidup atau saat mati. Bearing Generator pilih yang jenis Free Maintenace Tidak melumasi bearing secara tepat waktu dan mengurangi umur pakainya dan akan memmerlukan penggantian. Perlindungan sederhana dengan menggunakan atap. Kemudian secara perlahan tutup katup spear dan tutup katup gate. Jjika tegangan turun sampai 220V periksa kondisi aliran air. Jangan biarkan terjadi hubungan elektrik menjadi basah.10. Pengembunan dalam Generator merupakan hal yang normal di daerah tropis dan tidak berpengaruh bagi kinerja Mikrohidro. Sebelum melakukan pelumasan. 8 Kapan saja ketika mematikan sistem. untuk mematikan sistem 15. Selalu bersihkan nipple sebelum melumasi. Gunakan tangan yang kering. Bertambahnya gesekan juga akan mengurangi daya keluaran. Tegangan perlu diperiksa dan disesuaikan jika ukuran aliran air berubah. yang pertama tutup katup spear untuk menghentikan aliran air dan kemudian Voltmeter menunjuk ke 100V. Jika didalam ruangan Generator menjadi lembab perlu untuk dilakukan pengeringan. yang akan merusak peralatan anda. Keduanya telah dilumasi di pabrik tapi memerlukan pelumasan kembali setiap 3 bulan sekali. Tidak akan timbul kerusakan permanent. pastikan power socket juga kering. Ikuti petunjuk berikut.1. diperlukan untuk melindungi Generator dari hujan atau dengan membangun gudang kecil yang dapat dikunci (lebih disukai). switch di kontrol box diposisikan “off”. bersihkan nipples dan berikan pelumas extra dengan menggunakan semprotan pelumas. Sebelum digunakan lagi. Sangat penting memasang Mikrohidro ditempat yang tidak berpotensi banjir. Perawatan Dan Perbaikan Perawatan umum untuk Mikrohidro anda akan menambah umurnya. 15-14 .10. tapi periksa bearing untuk melihat jika pada bearing terdapat air.

ikuti langkah berikut : 1 Matikan sistem kelistrikan 2 Tutup secara perlahan katup gate untuk menghentikan aliran air ke Turbin 3 Lepaskan kabel power dari Generator 4 Tunggu sampai tidak aliran menjadi kecil atau tidak ada aliran air keluar dan Turbin berhenti berputar 5 Lepaskan kopeling langsung antara shaft Turbin dengan shaft Generator 6 Lepaskan pengggerak/ runner dari shaft Turbin 7 Lepaskan bearing yang dekat runner dengan menarik shaft Turbin kearah Generator 8 Lepaskan bearing yang dekat runner dengan menarik shaft Turbin kearah Generator 9 Untuk mengganti seal bearing. Ini biasanya tersedia di sebagian besar Negara.10. Kondisi ketinggian dan aliran terpenuhi. Untuk beberapa saat Mikrohidro sudah menghasilkan listrik dan kemudian aliran listriknya mati Jika petunjuk dari pedoman ini tidak diikuti dan pengunaan daya terlalu besar. Jika ini terjadi Generator memrlukan pengawatan yang baru dengan motor yang sudah sudah lama pengalamannya.3. tapi Mikrohidro tidak kerja. 15.2. Itu berarti sistem tidak terpasang denga benar. periksa bagian seperti dibawah ini: 1. tekan casing bearing keluar dengan menggunakan tongkat baja yang pendek 10 Saat perakitan ulang. atau jika terjadi hubung singkat fuse akan putus. Jika fuse putus dan diganti dengan yang ukurannya lebih besar. 15-15 . pastikan seluruh bagian terpasang ditempat yang tepat dan seluruh bautnya sudah terpasang kencang 11 Buka kembali katup gate dengan perlahan sampai aliran air kembali normal. maka dimasa yang akan datang jadi berbahaya bagi Generator. Ini akan menghentikan aliran arus. Troubleshooting Jika ada masalah yang terjadi. Penggantian kedua bearing Turbin dan bearing seal setiap dua tahun. tapi jika ragu hubungi dealer anda. Sangat penting untuk mengganti fuse dengan spesifikasi yang sama. hanya ada dua pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dulu pada waktu yang teratur.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15. Mengganti Bearing dan Seal Bagian dari pelumasan bearing. Tunggu sampai dulu sebelum kabel disambungkan kembali dan sistem mulai kerja lagi.10. Untuk mengganti bearing dan seal. Periksa setiap langkah sekali lagi 2.

dengan daya berbeda kode A dan B yang berbeda kapasitas dayanya Tipe A Tipe B 4.7kW sampai 16kW tergantung model). kabel panjang akan menghasilkan kehilangan output yang kecil. untuk jarak kawat memungkinkan untuk menambah diameter kabel 5. Spesifikasi Teknik Berikut ini dua model Mikrohidro. Pastikan ada cukup air yang masuk ke bendungan dan yakinkan sumber air memiliki aliran sesuai dengan yang diinginkan. jika perlu saring dan bersihkan. Hilangnya daya untuk panjang kabel 100m kurang lebih 10W.11. ujilah dengan tukang listrik yang ahli. Pengujian di kali menunjukan bahwa Mikrohidro menghasilkan output yang baik (4. kurangi pemakain beban. Tegangan 220V dengan kondisi beban nol. Daya keluaran baru.Pembangkit Listrik Mikrohidro 3.baru ini berkurang Berkurangnya daya keluaran berarti menunjukan putaran Turbin melambat dari pada biasanya.4kW to 16kW 100%+15% 100%+15% 220V~ 220V~ 50 Hz 50 Hz 70 Hz 70 Hz 1500rpm 1500rpm 1000mm 1000mm 80kg 100kg Turgo Turgo 270mm 270mm 20 20 1 2 Sinkron Sinkron Magnet Magnet Sesuai ukuran Sesuai ukuran SKF 46208 SKF 46208 1 Daya keluaran 2 Beban maksimum 3 Tegangan 4 Frekuensi daya keuarant 5 Frekuensi pada kecepatan beroperasi 6 Kecepatan 7 Tinggi 8 Berat 9 Tipe Turbin 10 Diameter 11 Nomber emebr 12 Number pipa 13 Generator 14 Fuse 15 Ukuran bearing ujung Generator 15-16 . Setelah kerja beberapa saat diketahui output jadi berkurang Resistansi kabel harus tepat. tapi saat beban dipasang tegangan menjadi semakin turun Telah terjadi beban berlebih.7kW to 8kW 9. Untuk melihat apakah tegangan stabil dan apakah memiliki kotak kontrol. Selain itu periksas bendungan dan pipa pesat. 4. 15. Juga periksa bagian casing Turbin harus terbebas dari dedaunan atau kotoran lainnya dan bearing Turbin sudah cukup dilumasi.

memiliki debit 20 liter/detik. Gambarkan skematik diagram hubungan generator. Gambarkan skematik diagram dari sejak tendon air sampai ke turbin air.13.2 ialah dengan mengolah keluaran ketinggian dan kondisi aliran secara spesifik.500C 0 .90% Untuk menghasilkan daya keluaran sebesar 1. dummy load dan beban. Keluaran yang lebih besar mungkin dihasilkan bila ketinggian lebih besar atau aliran lebih cepat dari yang disarankan. Pengukuran debit air dilakukan sepanjang waktu/ musin. pipa pesat. Pemeliharaan dilakukan secara rutin. 15. kabel listrik dari pembangkit ke pemakai. • • 15. Jelaskan cara kerjanya. Daya yang dibangkitkan sebanding dengan tinggi jatuh air dan besarnya debit air per detiknya.12. tinggi jatuh airnya 20 meter. Lokasi memiliki potensi untuk pemasangan Mikrohidro. Rangkuman • • • Mikrohidro adalah pembangkit listrik sekala kecil dengan ukuran puluhan KW sampai ratusan KW dengan memanfaatkan potensi air. 15-17 .90% SKF 46208 38x58x10mm 20mm2 5 . 2. 3. jelaskan cara kerjanya.Pembangkit Listrik Mikrohidro 16. musin kering untuk mengetahui potensi maksimum dan potensi minimumnya. baik mekanik dengan memberikan pelumasan pada bearing. Komponen Mikrohidro terdiri atas: bendungan.Ukuran bearing ujung Turbin 17 Seal size 3 18 Kabel yg disarankan 19 Temperature 20 Kelembaban Catatan : SKF 46208 8x58x10mm 16mm2 5 . turbin air. Hitunglah berapa KW potensi terpasang listrik secara teoritik. generator. Jika beban lebih besar menyebabkan kerusakan permanen pada stator. dengan electronic load controller. pada periode tertentu ganti bearing.500C 0 . electronic load control. baik musim hujan. Soal-soal 1.

Pembangkit Listrik Mikrohidro 4. 15-18 . sisi generator dan perangkat elektriknya. Jelaskan pentingnya pemeliharaan Mikrohidro. baik pemeliharaan sisi turbin. 5. dan jelaskan cara mematikan yang benar dan tepat. kali 6. Jelaskan tatacara pengoperasian Mikrohidro saat pertama dihidupkan. Apa fungsi dipasang dummy load ? jika beban terpasang 50% apa yang terjadi pada dummy load dan jika beban terpasang 75%nya apa yang terjadi pada dummy load.

. Soepatah. R. R.School of Industrial Engineering Purdue University Diesel Emergensi. Kurtz.J. Elektrotechnik. Protective Relays. 1982 A. American Electrician’s Handbook.C. 1994 Abdul Kadir.Dr. Gava Media : Yogyakarta.T. Soeparno. Sprecher+Schuh Verkauf AG Auswahl. Distribusi dan Utilisasi Tenaga Listrik. Instalasi Listrik Rumah Tangga. 1980. Yayasan PUIL. Berlin. 1977 A. PT PLN Jasa Pendidikan dan Pelatihan. Braunschweig. Philippow. Penerbit Universitas Indonesia. Pabla.2001 Chang. Taschenbuch Elektrotechnik. Schweiz. 1995 Badan Standarisasi Nasional SNI 04-0225-2000. Jakarta 1995. 7th Edition. 1988 Brian Scaddam. 1993 Aly S. Programmable Logic Controller. Dournelley & Sons. Benyamin Stein cs. 1986 Eko Putra. 7th Edition Volume II. 2003 By Terrell Croft cs. 1990 Cathey. Aaraw. Penerbit Erlangga. 1996 Catalog. Jakarta.Agfianto. 1968 A. Daschler. 1970 Catalog. Pengantar Teknik Tenaga Listrik. Penerbit Erlangga. McGraw-Hill. van C. Mechanical and Electrical Equipment for Buildings. Canada. Sistem Distribusi Daya Listrik. Electrical Machines : Analysis and Design Applying Matlab.DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 A R Bean.Singapore.2004 . Chapman and Hall. LP3ES. Lighting Fittings Performance and Design. Catalog. Armatur dan Komponen. McGraw-Hill. 9th Edition. PLC Konsep Pemrograman dan Aplikasi (Omron CPM1A /CPM2A dan ZEN Programmable Relay). Philips Lighting. DEPDIKBUD Dikmenjur. 1994 Brian Scaddan. Clags Ltd. Pergamou Press. Verlag – AG. Reparasi Listrik 1. VEB Verlag Technik.S. Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000. 3rd Edition. 2000 Abdul Kadir.. The IEE Wiring Regulations Explained and Illustrated. McGraw-Hill. 2nd Edition. Jimmie . Warrington. USA. 2000 Bambang. USA. England. 1986 Bernhard Boehle cs. John Wiley & Sons. Electrical Systems for Architects. 1968 Edwin B. E.R. Switchgear Manual 8th edition. Jakarta. Dadras. Materi kursus Teknisi Turbin/Mesin PLTA Modul II. The Lineman’s and Cableman’s Handbook. USA. Jakarta. Philips.

Utilization of Electric Power and Electric Traction. Bryan. 1998 G. 2004 Friedrich. E. Ris. E. GTZ GmbH. AT Verlag Aarau. McGrawHill.kc. Vollmer GmbH & Co. Fachkunde Electrotechnik. B.A. GmbH. Electrical Installation Hand Book. Electrotechnik Fur Praktiker. Fachkunde Elektrotechnik. P. Instruksi Kerja Pengujian Rele. Panduan Reparasi Mesin Diesel. Bryan. Jakarta. Kadir. Braunschweigh. Verlag Europa-Lehrmittel. 1984 John E. Rineka Cipta. Verlag. John Wiley & sons. Metropolitan Book. 1990 Haberle Heinz. R. 2000 Gregor Haberk. Electrical Engineering Materials Reference Guide. Berlin. Murray. Indonesia Power UBP. USA. 1992 Gunter G. Verlag Europa – Lehrmittel. Vollmer. Electrical Appliances (Haynes for home DIY). Etall. L. Second Edition.1989.. 3rd edition. Pengoperasian Emergency Diesel Generator. Gagasan Usaha Penunjang Tenaga Listrik . 6th Edition. kG. Transformator. Penerbit Pedoman Ilmu Jaya. 2005 George Mc Pherson. J. PT. New York. H. United States of America. 1997 M. “Tabellenbuch Elektrotechnik Elektronik” Umuler-Boum. Gupta. 2000.. 1981 Graham Dixon. Teknik Listrik Instalasi Penerangan. dalam bahasa 47 48 . Fachkunde Mechatronik. Workshop Practice in Electrical Engineering. Electrical Installation Technology. 2000 H. Vollmer GmBH & Co. 1992 Iman Sugandi Cs. Etall. An Introduction to Electrical Machines and Transformers. Industrial Text Company. Electrical Power Engineering proficiency Course. 1990.Seip. Tabelleubuch Elektroteknik.A. New Delhi.24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 37 38 39 40 42 43 44 45 46 Ernst Hornemann cs. 1983 F. Verlag Europa – Lehr Mittel. GmbH. PT Elex Media Komputindo. Jullundur City. John Wiley & Sons. Suyatmo. Nourney. McGraw-Hill. Standard Application of Electrical Details. 4th Edition. Nourwey. Lamulen. USA.Tabellenbuch Elektrotechnik. Saguling. 2001. Klaus Tkotz. Nourenweg. Programmable Controllers Theory and Implementation. Heinz.Copper Development Centre South East Asia. Ferlag Europa-Lehrmittel. Karyanto. 1984 Michael Neidle. 1986 Haberle.E. Gupta. Commercial Electrical Wiring. 2006 L. 1978 Jerome F. Third Edition. Abdul. Verlag. Panduan Instalasi Listrik. Traister and Ronald T. Mueller. Jakarta. 2000. Wayne Beoty.

P. 1999 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 Nasar.SEN. Theraja. 1998 Petruzella. Thomas E. 2000 Soelaiman. Griya Kreasi. 2000 Soedhana Sapiie dan Osamu Nishino.1984 Sofian Yahya. Robert.W. Trimitra Mandiri. Canada. Electromechanics and Electric Machines. Generator.1996. Jakarta. Pretience Hall. Bina Cipta. P. John Wiley and Sons. New York. 1988. Diktat Programmable Logic Controller (PLC). Teknik Elektro untuk Ahli bangunan Mesin. Yogyakarta. Kissell.K. Pengukuran dan Alat-alat Ukur Listrik. 1980 Rob Lutes.C. Electric Motor Repair. Konversi Energi Selubung bangunan pada Bangunan Gedung. Politeknik Negeri Bandung. PT PLN Persero. Mesin Arus Searah. Modern Industrial / Electrical Motor Controls. Pradya Paramita. A Text Book of Electrical Tecnology. PT PLN JASDIKLAT. Februari 2002. Jakarta.Indonesia penerbit Erlangga. Holt-Saunders International Edition. 2006 SNI. Glencoe/McGraw-Hill. 1997. Troubleshooting and Repairing Small Home Appliances. Home Repair Handbook. etal. Saptono Istiawan S.A.1997.. Ruang artistik dengan Pencahayaan. PT PLN JASDIKLAT. Principles of Electric Machines and Power Electronics. PT PLN Persero. 1989. R. 1990 . Industrial Electronics. PT Pradnya Paramita. Jakarta. 2nd. Frank D. Mesin Tak Serempak dalam Praktek. Setiawan. 1988 Rosenberg.L.TM & Mabuchi Magarisawa. 1995. B. 1999 Robert W. Canada. Sumanto. Instalasi Listrik Arus Kuat 2. E. BSN. New Delhi. Koln. Penerbit Andi Offset. Verlag GmbH. Pengoperasian Mesin Diesel. 1998. 1983. Ir. Wood. Peter Hasse Overvoltage Protection of Low Voltage System. Van Harten.S. Nirja. New Jersey. Van Hoek. 1970.

Lambang Huruf Untuk Instrumen Ukur Lambang Huruf Untuk Instrumen Ukur No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Lambang A V VA Var W Wh Vah varh Ω Hz h min s n cosφ φ ‫ג‬ f t to z Keterangan ampere volt voltampere var watt watt-jam voltampere-jam var-jam ohm hertz jam menit detik jumlah putaran premenit faktor daya sudut fase panjang gelombang frekuensi waktu suhu impedans Awal Pada Satuan SI No.Simbol-simbol Gambar Listrik a. 1 2 3 4 5 6 7 8 Lambang T G M K m µ n p Keterangan tera giga mega kilo mili mikro nano piko = 1 012 = 1 09 = 1 06 = 1 03 = 1 03 = 1 06 = 1 09 = 1 012 .

2 M dapat diganti dengan 2 + M. tiga penghantar termasuk kawat tengah. Lambang Gambar Untuk Diagram Lambang Gambar Untuk Diagram Saluran Arus Kuat No 1 Lambang keterangan Arus searah Catatan : Tegangan dapat ditunjukkan di sebelah kanan lambang dan jenis sistem di sebelah kiri. Arus bolak balik. c) Jumlah fase dan adanya netral dapat ditunjukan sebelah kiri lambang. fase tiga. 220V (110V antara setiap penghantar sisi dan kawat tengah). b) Tegangan dapat juga ditunjukan di sebelah kanan lambang. 50Hz. 50 Hz. Contoh : Arus searah. 1 2 3 4 5 6 7 8 Lambang TΩ GW MW kW mV µA nF pF Keterangan 1 teraohm = 1 012 ohm 1 gigawatt = 1 09 W 1 megawatt = 1 06 W 1 kilowatt = 1 03 W 1 milivolt = 1 03 V 1 mikroampere = 1 06 A 1 nanofarad = 1 09 farad 1 pikofarad = 1 012 farad b. 2 2M_____ 220/110V 4 5 ~ 50 Hz 3 N~ 50Hz 400/230 V . Contoh : Arus bolak balik. 3 ~ Arus bolak-balik Catatan : a) Nilai frekuensi dapat ditambahkan di sebelah kanan lambang. 400V (230V tegangan antara fase dengan netral) 3N dapat diganti dengan 3 + N.Contoh Penggunaan Awalan Pada Satuan SI No. dengan netral.

8 dan No. Contoh : Tiga Penghantar (No. 50Hz sistem mempunyai satu titik dibumikan langsung dan netral serta penghantar pengaman terpisah sepanjang jaringan. 2) Di bawah garis: jumlah penghantar sirkit diikuti dengan tanda kali dan luas penampang setiap penghantar. dua penghantar sisi berpenampang 50 mm2 dan kawat tengah 25 mm2. 400 V. Sirkit fase tiga. Sirkit arus searah. maka jumlah penghantarnya ditunjukan dengan menambah garis-garis pendekatau dengan satu garis pendek dan sebuah bilangan. tiga penghantar berpenampang 120 mm2. Penghantar Kelompok Penghantar Saluran Kabel Sirkit Catatan : a) Jika sebuah garis melambangkan sekelompok penghantar. frekuensi dan tegangan.No Lambang keterangan Arus bolak-balik. fase tiga. Contoh : Sirkit arus searah. dua penhantar alumunium ver penampang 120 mm2. 110V. dengan netral berpenampang 50 mm2. 6 3 N~ 50Hz / TN-S 7 ’ 8 9 10 11 12 .9) b) Penjelasan tambahan dapat ditunjukan sebagai berikut : 1) di atas garis: jenis arus. sistem distribusi. 220V (antara penghantar sisi dan kawat tengah 110V). 50Hz.

16 a) Ujung penghantar atau kabel tidak dihubungkan. 17 a) Percabangan penghantar.No Lambang keterangan Penghantar fleksibel 13 14 Penghantar pilin diperlihatkan dua penghantar. b) Dua percabangan penghantar 18 Saluran bawah tanah 19 Saluran dalam laut. b) Dua dari lima penghantar dalam suatu kabel. . 20 Saluran udara. b) Ujung penghantar atau kabel tidak dihubungkan dan diisolasi khusus. 15 Penghantar dalam suatu kabel : a) Tiga penghantar dalam suatu kabel.

luas penampang dan keterangan lainnya dapat diperlihatkan di atas saluran yang menggambarkan lintas pipa. Catatan : Jumlah pipa. 24 Saluran dengan penahan gas atau minyak 25 Titik sadap pada saluran sebagai penyulang konsumen.No 21 Lambang keterangan Saluran dalam jalur atau pipa. Contoh : Saluran dalam jalur dengan enam jurusan 22 Saluran masuk orang (manhole) 23 Saluran dengan titik sambung/hubung tertanam. yang diperlihatkan jenis arus bolak balik. 26 Sadap sistem 27 Sadapan hubung seri 28 Unit daya saluran. .

b) Dinyatakan dengan garis tunggal. mof sambung lurus. 34 Kotak sambung cabang empat. 30 Titik injeksi penyulang daya. tiga penghantar.No 29 Lambang keterangan Penahan daya pada penyulang distribusi. a) Dinyatakan dengan garis ganda. mof ujung a) satu kabel berinti tiga b) tiga kabel berinti satu 32 Kotak sambung lurus. 33 Kotak sambung cabang tiga. 35 Penghantar netral 36 Penghantar pengaman . 31 Kotak ujung kabel.

5 Lambang Keterangan a) Sakelar pengubah aliran . lambang umum b) Sakelar kutub tiga No. saklar bersekat pelindung 2 Sakelar dengan pemutusan : a) Secara termis b) Secara eektromagnetis 3 Sakelar dengan pelayanan a) Relai termal b) Relai elektromagnetik 4 a) Sakelar.No 37 Lambang keterangan Penghantar pengaman dan penghantar netral di gabung Contoh: Saluran fase tiga dengan penghantar pengaman dan penghantar netral c. Lambang Gambar Untuk Diagram Instalasi Pusat dan Gardu Listrik No. 1 Lambang Keterangan a) Sakelar penghubung b) Sakelar pemutus c) Sakelar berselungkup.

Lambang Keterangan b) Sakelar pengubah aliran dengan kedudukan netral 6 Pemutus sirkit / CB (Circuit Breaker) 7 Pemisah DS (Disconnecting Switch) 8 Pemutus daya LBS (Load Break Switch) 9 NFB (No Fuse Beaker) CB yang tak berwujud fuse 10 a) Pengaman lebur b) Sakelar pemisah dengan pengaman lebur 11 Pengaman lebur dengan sirkit alarm terpisah 12 Kotak kontak .No.

pembumian . lambang umum lampu isyarat b) Lampu kedip.No. Lambang Keterangan 13 Tusuk Kontak 14 Kontak tusuk 15 a) Lampu. indikator 16 a) Klakson b) Sirene c) Peluit yang bekerja secara listrik 17 Bel 18 Pendengung 19 Jalur terminal. blok terminal 20 Perangkat hubung bagi dan kendali 21 Bumi.

Lambang Keterangan 22 Hubungan rangka atau badan Pembumian rangka 23 24 Penyekatan atau dielektrik 25 Sekat pelindung.No.G b) Motor . selungkup Catatan . garis pemisah.Penjelasan macam selungkup dapat ditambahkan dengan catatan atau dengan lambang kimiawi logam Garis batas.M 26 27 28 Transformator 29 Auto transformator satu fase 30 Sel atau akumulator . sumbu a) Generator .

No.8. 31 Lambang Keterangan Baterai sel atau baterai akumulator 32 Lambang umum dari : a) Instrumen penunjuk langsung atau pesawat ukur b) Instrumen pencatat c) Instrumen penjumlah Contoh : a) Voltmeter b) Wattmeter c) Wh-meter d) (lihat Bagian 2. minyak bumi. gas.dsb) 37 Pusat tenaga nuklir No.1) Pusat tenaga listrik 33 34 Gardu listrik 35 Pusat listrik tenaga air 36 Pusat listrik tenaga termal (batubara. Lambang Keterangan .

Untuk maksud tertentu. ”garis” dapat diganti dengan ”garis putus-putus” Pengawatan tampak (di permukaan) 2 3 Pengawatan tidak tampak (di bawah permukaan) 4 Pengawatan dalam pipa .b d. 1 Lambang Keterangan Pengawatan (lambang) Catatan .38 Pusat listrik panas bumi 39 Pusat listrik tenaga matahari 40 Pusat listrik tenaga angin 41 Pusat listrik plasma MHD (magnetohydrodynamic) 42 Gardu listrik konversi arus searah ke a.b. Lambang Gambar untuk Diagram Instalasi Bangunan No.

lambang umum Saluran dari bawah 9 Saluran dari atas 10 Kotak sambung atau kotak hubung 11 Kotak cabang tiga 12 Kotak-saluran masuk utama . Lambang Keterangan Catatan-Jenis pipa dapat diyatakan.No. jika perlu a) Pengawatan menuju keatas b) Pengawatan menuju ke bawah Catatan: Lambang 5 & 6 1) pernyataan ”ke atas” dan ”ke bawah” hanya berlaku jika gambar dibaca dalam posisi yang benar 2) Panah pada garis miring menyatakan arah aliran daya 3) Pengawatan berpangkal pada lingkaran atau titik hitam 5 6 Pengawatan melalui ruangan secara tegak lurus 7 8 Kotak.

No. lambang umum b) Kelompok dari tiga buah lampu floresen 40 W . Lambang Keterangan 13 Perangkat hubung bagi dan kendali dengan lima pipa 14 a) Lampu. titik sadap lampu dengan pengawatannya b) Lampu dipasang tetap pada dinding dengan pengawatan-nya 15 Kelompok dari tiga buah lampu 40 W 16 Perangkat lampu dengan sakelar sendiri 17 a) Lampu darurat b) Armatur penerangan darurat 18 a) Lampu floresen.

lambang umum 20 Lampu sorot 21 Lampu sebar 22 Lengkapan tambahan untuk lampu luah Catatan : Hanya digunakan jika lengkapan tambahan tidak termasuk dalam armartur penerangan Peranti listrik Catatan-jika perlu untuk lebih jelas dapat diberikan nama Alat pemanas listrik Pemanas air listrik 23 24 25 Kipas dengan pengawatannya 26 Jam hadir (temi clock) 27 Kunci listrik 28 Instrumen interkom . 19 Lambang Keterangan Proyektor.No.

kutub tunggal 32 Sakelar satu arah a) Kutub tunggal b) Kutub dua c) Kutub tiga 33 a) Sakelar tarik kutub tunggal b) Fungsi dari sakelar 30 a) dan 31a) 34 a) Sakelar dengan posisi ganda untuk bermacam-macam tingkat penerangan b) Fungsi dari sakelar a) a) 35 b) a) Sakelar kelompok b) Fungsi dari saklar a) b) . lambang umum 30 Sakelar dengan lampu pandu 31 Sakelar pembatas waktu.No. 29 Lambang Keterangan Sakelar.

Lambang Keterangan 36 a) Sakelar dua arah b) Fungsi dari dua buah sakelar a) yang digabung a) 37 b) a) Sakelar Silang b) Fungsi dari sakelar a) 38 Sakelar dim 39 Tombol tekan 40 Tombol tekan dengan lampu indikator 41 Tombol tekan dengan pencapaian terbatas (tertutup gelas.No. dsb) 42 Perlengkapan pembatas waktu 43 Sakelar waktu 44 Sakelar berkunci gawai sistem jaga .

misalnya kontak pembumian Kotak kontak bertutup 48 49 Kotak kontak dengan sakelar tunggal 50 Kotak kontak dengan sakelar interlok 51 Kotak kontak dengan transformator pemisah misalnya untuk alat cukur Kotak kontak untuk peranti elektronik misalnya untuk telepon. teleks dan sebagainya. Lambang Keterangan 45 Kotak kontak 46 Kotak kontak ganda. Nomenklatur Kabel Code A AA Arti Selubung atau lapisan perlindungan luar bahan serat (misalnya goni/jute) Selubung atau lapisan perlindungan luar dua lapis dari bahan serat (jute) Contoh NKRA.No.NKZAA . NAKBA NAHKZAA. misalnya untuk 3 buah tusuk kontak 47 Kotak kontak dengan kontak pengaman. 52 e.

6/1 kV (1. NHKRA NKBA. yang dipasang secara berlawanan arah untuk kabel tegangan nominal 0. untuk membatasi medan listrik Selubung timbal Selubung alumunium Selubung dari pita tembaga yang terpasang dan dilas memanjang . dalam hal kabel berinti banyak Penghantar konsentris pada masing-masing inti. NEKBA NYBUY NYCY NHSSHCou NYCEY NYCWY C Penghantar konsentris tembaga Selubung penghantar dibawah selubung luar CE CW Penghantar konsentris pada masing-masing inti. NAHKLY NKWKZY 2G Gb H K KL KWK Isolasi karet butil dengan daya tahan lebih tinggi terhadap panas Spiral pita baja (mengikuti F atau R) Lapisan penghantar diatas isolasi. N2XSEYFGbY NHKBA.2 kV) Spiral anti tekanan Pita penguat non-magnetis D E F G G Kabel dengan masing-masing intinya berselubung logam Perisai Kawat Baja pipih Spiral dari kawat baja pipih Isolasi karet/EPR Selubung isolasi dari karet NEKBA NYFGbY NYKRG NGA NGG N2GAU NYRGbY.Code B Arti Perisai dari pita baja ganda Selubung dari timah hitam Contoh NYBY. NAKBY NKLY.

NYY NAYFGbY.Code L MK N NA NF NI NO NP O Arti Perisai dari jalinan-kawat-baja-bulat (braid) Kabel dengan selubung timah hitam untuk pemasngan dalam kapal laut Kabel standar penghantar tembaga Kabel standar penghantar alumunium Kabel udara berisolasi dipilin Kabel bertekanan gas Kabel bertekanan minyak Kabel dalam pipa bertekanan gas Perisai-terbuka dari kawat-kawat baja Kabel berpenampang oval Kabel tanpa inti berwarna hijau kuning Contoh NTRLA MK NYA. NAKBA NF2X. NFAY NIKLDEY NOKDEFOA NPKDvFSt2Y NKROA NYM-O NYFGbY-O NYKQ NYRGbY NKRRGbY N2XSY Q R RR S Jalinan (brid) dari kawat-kawat baja berselubung-seng Perisai dari kawat-kawat baja bulat Dua lapisan perisai dari kawat-kawat baja bulat .perisai dari tembaga . N2XSY NYA .pelindung listrik dari pita tembaga yang dibulatkan pada semua inti kabel bersamasama Pelindung listrik dari pita tembaga yang menyelubungi masing-masing inti kabel Tali penggantung dari baja Selubung isolasi dari XLPE Selubung isolasi dari PVC Selubung isolasi dari polythylene SE T 2X Y 2Y N2XSEY NF2X.

Code Z Z Arti Perisai dari kawat-kawat baja yang masingmasing mempunyai bentuk ”Z” Penghantar ber isolasi dengan beban-tarik Selubung logam dari pita seng Contoh NKZAA NYMZ NYRUZY .

...........................................10 Arus listrik mengalir ke beban ..........23 Paralel beban dengan sumber DC ... Pengetahuan Listrik Dasar Sifat muatan listrik ............... 1... 1....... 1........9a Mengukur tegangan .........25 Rangkaian pembagi tegangan ..........22 Seri Resistor dengan sumber DC .................................32 Rangkaian ekivalen sumber tegangan .............................. 1.....................................12 Aliran listrik merupakan aliran elektron .1 1................18 Kurva konduktansi fungsi tahanan R .................................................................. 1.......................................35 Rangkaian tahanan a) sebenarnya b) disederhanankan c) hasil akhir ........................... 1....9b Voltmeter diujung-ujung beban ....................................................................................... 1.. 1................ 1... 1-38 Baterai terhubung seri dengan Beban Ra ..............14 Mengukur arus dengan Ampermeter ........ 1............26 Hukum Kirchoff-arus ...............................................................................................................................34 Karakteristik daya terhadap perubahan tahanan .................................................... 1................................................. 1.........13 Ampermeter ........................19 Rangkaian hukum Ohm ...............29 Pengukuran tahanan dalam baterai ........... 1................................27 Pengukuran tahanan nilai R kecil ..... 1......... Fenomena elektrostatis ..............16 Kurva rapat arus fungsi luas penampang . 1............ 1.......2 1.............................. 1...5 Generator elektrostatis Van de Graff ............................................. 1.....................................17 Kumpulan atom membentuk material ........... 1...................... 1...........................4 1-2 1-2 1-2 1-2 1-3 1-4 1-5 1-6 1-6 1-7 1-7 1-8 1-8 1-9 1-9 1-9 1-10 1-11 1-11 1-12 1-12 1-13 1-16 1-17 1-18 1-19 1-19 1-21 1-21 1-21 1-22 1-22 1-23 1-23 1-23 1-24 1-26 1-27 1-29 viii ..................................................................... 1......................................................................20b Kurva arus fungsi tahanan ..........31 Karakteristik daya fungsi arus ............. Batang kaca dan batang plastik yang berbeda muatannya saling tarik menarik...........28 Pengukuran tahanan nilai R besar ...................... 1... 1..............................3 1.................20a Kurva arus fungsi tegangan ....................................15 Kerapatan arus pada penghantar ............. 1.........................................6 Model visual tegangan ...............24 Aplikasi hukum Kirchhoff tegangan .....................8 Simbol dan fisik Voltmeter .......................................................................................... 1..... 1...................... 1.......................36 Rangkaian Tahanan disederhanakan ................................................................................................. 1..............33 Rangkaian ekivalen sumber arus ............................ 1........................................................................................................................................................................ 1......................................... 1.........................................................37 Hubungan Segitiga dan hub bintang ................................................................DAFTAR GAMBAR DAFTAR GAMBAR Bab 1.......7 Sumber tegangan DC Power suply .............. 1........................................ 1..11 Atom terdiri atas proton dan elektron ............30 Karakteristik tegangan fungsi arus .......................... 1.. 1.......................................................... Batang plastik yang bermuatan sama saling tolak menolak ...........

.............................................. Garis gaya magnet pada permukaan rata dan silinder....................................40 Sifat magnet saling tarik menarik................. Kawat melingkar berarus membentuk kutub magnet ......................38 2.........................................1 2..................32 2... Histerisis magnet permanen-ferromagnetik ...............34 2.........................................................................17 2... Perbedaan besi biasa dan magnet permanen .................... Model uji gaya tolak ............30 2.................................... Prinsip alat ukur listrik.......................................... Prinsip putaran sekrup.......................24 2............................................................. Belitan kawat berinti udara ................................................ Prinsip tangan kanan Flemming ............... Kurva histerisis . Kurva BH inti udara ..18 2................10 2.............................. 2-2 2-2 2-2 2-3 2-3 2-3 2-4 2-4 2-4 2-5 2-5 2-5 2-6 2-6 2-6 2-7 2-7 2-8 2-9 2-10 2-10 2-11 2-12 2-13 2-13 2-14 2-16 2-16 2-17 2-17 2-18 2-18 2-19 2-19 2-20 2-20 2-20 2-21 2-21 2-22 ix ....................35 2.............11 2.6 2......4 2.................. Prinsip tangan kiri Flemming ...DAFTAR GAMBAR Bab 2....................................................... Prinsip induksi elektromagnetik .........................37 2..............................8 2...... Induksi pada cincin ............... Prinsip timbulnya torsi motor DC ....................................................................................................................25 2............................................. Prinsip generator ............... Daerah netral pada magnet permanet.. Kurva BH ferromagnetik .................... Pola garis medan magnet tolak menolak dan tarik menarik . Hukum tangan kanan ................... Kemagnetan dan Elektromagnetis 2....... Belitan kawat membentuk kutub magnet..............2 2.....27 2...................39 2...............12 2.............................. Torsi F motor DC ....................................31 2...........................33 2........................... Rangkaian magnetik ....20 2.................................................................................................................3 2...................................................5 2...........................................................................36 2.......... Daerah pengaruh medan magnet........ Gelombang belitan primer dan belitan sekunder . Garis medan magnet utara-selatan ...................................22 2......29 2.... Prinsip hukum Lorentz ........23 2..................... Garis magnet membentuk selubung seputar kawat berarus .................... Interaksi elektromagnetik. Pola garis medan magnet permanen .................................. Prinsip dasar motor DC ....... Prinsip torsi pada kawat berarus .......... tolak-menolak .......................................................................21 2........... Kutub utara-selatan magnet permanet .........................................................15 2............................................................... Kerapatan fluk magnet ....... Medan magnet pada toroida..............................26 2.......................................................9 2......................................................................................................... Kurva magnetisasi .......................... Elektromagnetik sekeliling kawat.. Bahan ferromagneik ...........................................13 2....................................14 2......7 2............................... Prinsip elektromagnetik .................16 2..............................19 2....28 2..............................................................................................................

........ ......................... Gelombang tegangan dan arus beban Kapasitor ...............10 3....................32 3........................ Segitiga Impedansi Induktif dan Kapasitif ................2 3......................................37 3................................................ Prinsip generator AC ..........................................35 3.............................................................. Bentuk arus beban Resistor parallel Induktor ..............33 3......DAFTAR GAMBAR Bab 3............................. Generator AC empat kutub .....................31 3........8a 3............................3 3..................................... Kapasitor pada sumber listrik AC .......................... Pengukuran arus............................. Diagram Faktor Kerja ...........27 3........13 3............ Segitiga Daya ............. Rangkaian Seri R.. Proyeksi lingkaran ke garis kuadran.. Vektor tegangan dengan skala ................... Dasar Listrik Arus Bolak Balik 3............................ Segitiga tegangan Resistor seri Induktor .....26 3.......23 3............................................................ Segitiga daya ..........5 3.................................................................................................................1 3......... Resistor seri kapasitor.............15 3..... nilai efektif gelombang sinusoida................... Rangkaian pembangkit gelombang pulsa .......43 3................ Segitiga arus ....................... Segitiga konduktansi.............. Bentuk gelombang AC ....................44 3................... Segitiga impedansi ...................................................................... tegangan......... Nilai puncak.......... Resistor parallel Induktor ....18 3....................... C dan Diagram Vektor Tegangan .......34 3.............................................. Pembentukan gelombang sinusoida ..29 3....................17 3..............12 3..... Daya aktif beban impedansi ......6 3......22 3......................... Segitiga Daya Aktif..........40 3.............................................19 3........... Harga sesaat gelombang sinusoida ...........9 3...........................47 Prinsip pembangkitan Listrik AC ...7 3........... Rangkaian Resistor paralel kapasitor ................................................ Generator AC dua kutub ........................... Satu siklus ...... 3-1 3-1 3-1 3-1 3-2 3-2 3-4 3-5 3-5 3-6 3-7 3-10 3-10 3-12 3-13 3-14 3-14 3-15 3-15 3-16 3-21 3-21 3-22 3-22 3-23 3-23 3-24 3-25 3-25 3-25 3-26 3-26 3-27 3-27 3-28 3-29 3-29 3-30 3-30 3-31 3-34 3-34 3-35 3-35 3-36 3-37 x ...............................16 3............................................................................................. Bentuk gelombang tegangan beban Resistor dan Induktor .......24 3...........................................................................................................................................46 3............................ Bentuk gelombang tegangan dan arus beban Induktor .......... Nilai kapsitansi fungsi frekuensi .............................................. Rangkaian R Paralel dan Segitiga Daya .......................................8b 3.................... Segitiga Admitansi ................................ Seri Resistor dengan Induktor ............... Nilai induktansi fungsi frekuensi .......... Rangkaian resistor listrik AC .42 3..............36 3........... Rangkaian R Seri dan Segitiga Daya ....... L.38 3......................................... Prinsip harga efektif gelombang sinusoida .................................45 3......... Daya diklep beban resistif ..........................................................................................39 3........................ ...........41 3....4 3.............. Daya aktif beban induktif .......... dan wattmeter ............... Panjang gelombang .................................................................................................11 3............ suseptansi dan admitansi ..25 3........................28 3.....................30 3............................................................................................ Pengukuran daya dengan wattmeter ..........................14 3................................... Reaktif dan Semu ....................... Resistor seri Induktor listrik AC ...........................................................................................................

........... Kompensasi Sentral ......................... Pengukuran Daya dengan Trafo Arus (CT) .......................................83 3... Pengukur Tegangan phasa-phasa..... beban tidak seimbang .................................. pengukuran dan beban bintang-segitiga .........................79 3........................... Vektor Arus Segitiga ........................................................68 3.............. Lampu TL dengan kompensasi kapasitor..............85 Rangkaian Paralel R...................... L .......................................................................................51 3..... Rangkaian Kompensasi Paralel dan Kompensasi Seri .............................................. Vektor Diagram Arus ... Aliran Daya Reaktif Sebelum dan Sesudah Kompensasi......... Arus Magnetisasi dan Tegangan Output Trafo ..... L....................60 3..................................... Pengukuran Daya dengan satu wattmeter ........ Pembangkitan Tegangan Induksi ..................... Pengukuran Daya dengan dua wattmeter .............................................DAFTAR GAMBAR 3.............82 3........71 3............................................................................58 3...........52 3.............................. 4-2 4-3 4-4 4-4 4-6 4-6 .............. Segitiga Daya Kompensasi ..........................70 3............................. Prinsip Wattmeter ......................................................................................... Rangkaian Resonansi LC ................. Penyederhanaan rangkaian .................... Vektor Arus dan Vektor Konduktansi.................................49 3...... Vektor Tegangan dan Arus beban Resistif tidak seimbang.............................. Diagram Arus Resonansi........................ Prinsip kerja Transformator Satu Phasa.......78 3............ 3-38 3-40 3-40 3-41 3-42 3-42 3-43 3-43 3-44 3-45 3-45 3-46 3-46 3-47 3-47 3-48 3-48 3-49 3-49 3-49 3-50 3-50 3-50 3-51 3-51 3-51 3-52 3-53 3-54 3-54 3-54 3-55 3-55 3-56 3-56 3-57 3-57 3-58 Bab 4.........................................2 4................................. Trafo satu phasa jenis Core ......72 3.. Rangkaian Resonansi LC ................. Tegangan phasa netral....................................81 3................................. Transformator 4.............................................76 3......... Diagram Vektor Tegangan dan Arus 3 phasa ...............................64 3.............. Rangkaian pembangkit.....62 3.......77 3.67 3... Tegangan Bintang dan segitiga .73 3...............56 3.........55 3............ Vektor Arus phasa dengan arus jala-jala................69 3..............4 4................................................ Nameplate Trafo Satu Phasa ......................................... Prinsip Generator 3 Phasa ............ Vektor Tegangan phasa-netral.........................................48 3..................................................................................... tegangan phasa ke phasa ..................53 3.5 4........................63 3.................. Rangkaian Resonansi C...................... tegangan phasa-netral ............75 3....59 3................ Terminal Motor Hubung Singkat ............74 3............................................ Gelombang Sinusoida 3 phasa .......65 3...........3 4....... Terminal Motor Hubung Singkat ..... Diagram Arus Saat Resonansi .....50 3.....1 4...... C dan diagram vektor arus ....................................................................................................... Prinsip Tangan Kanan Flemming .......................................................................54 3..... Beban Bintang dan Segitiga .............66 3...................... Kompensasi Parelel & Kompensasi Seri Beban Satu Phasa ..................................................61 3...........6 xi Peta Jenis-jenis Mesin Listrik ................. Bentuk Tegangan Input........ Kompensasi Grup ................ Vektor Arus Magnetisasi...57 3........................ Beban Bintang .............................. Hubungan Segitiga ................................................................80 3.........84 3...........................................

......................................... Trafo daya (Yyn6 dan Dyn5) dengan beban asimetris ............................ Inti Trafo tipe EI satu Phasa ................................26 4................. Vektor tegangan dan arus pada Uji tanpa beban..........32 4......................50 Belitan primer dan sekunder Trafo Satu Phasa ....................................42 4.....7 4.......24 4............................... Susunan belitan primer dan sekunder ............................................38 4.............. ... Pengaturan Tapping terminal Trafo Distribusi ...........8 4......... Trafo 3 phasa hubungan Segitiga terbuka (hubungan VV) .......... Grafik efisiensi Transformator .46 4.... Rangkaian listrik Autotransformator ..44 4.................................................17 4..................................................... pada Trafo Welding .............................................12 4........................39 4..........23 4.33 4...........................................16 4.........47 4.................13 4....... 4-7 4-7 4-8 4-8 4-8 4-9 4-9 4-9 4-10 4-10 4-11 4-11 4-12 4-12 4-12 4-13 4-14 4-14 4-15 4-15 4-15 4-16 4-16 4-16 4-17 4-17 4-17 4-18 4-18 4-19 4-20 4-20 4-20 4-21 4-21 4-22 4-22 4-23 4-23 4-24 4-24 4-24 4-25 4-26 xii ..................... belitan sekunder hubungan Bintang .................. Inti Trafo jenis pelat digulung ...... Rangkaian pengganti Trafo dengan komponen resistansi dan induktansi ..................................20 4.............. Paralel Dua Trafo satu phasa .............................................10 4...............................................................................................30 4.......................................31 4...................................49 4....... Aplikasi Trafo arus sebagai meter potable ............................ Belitan primer dan sekunder Trafo tiga phasa .35 4. Vektor tegangan a) beban induktip b) beban kapasitip ..... Rangkaian ekivalen Trafo .......36 4...................34 4....22 4... Rangkaian pengganti Trafo tanpa beban ............. Trafo daya Yzn5 dan bentuk vektor tegangan sekundernya ..9 4.............19 4....................... Bentuk fisik Transformator tiga phasa . Pengukuran dengan Trafo Arus .................. Pemasangan Trafo Outdoor . Rangkaian pengganti Trafo sekunder dihubung singkat ........................................................................................29 4....................15 4................37 4................... M dan tipe UI .................................................................27 4......................48 4.......................................L...................................... Rangkaian Trafo Welding ... Relay Buchholz .....................................................................28 4.............. Vektor tegangan dan arus pada Uji hubung singkat .......DAFTAR GAMBAR 4............. Vektor kelompok Jam pada Trafo 3 phasa .... Bentuk fisik Trafo Arus (CT) ..... Paralel Dua Trafo Tiga phasa ........................................ Prinsip Transformator khusus untuk Welding . Name plate Trafo tegangan ..................... Pengawatan Uji Trafo a) Uji tanpa beban b) Uji hubung singkat ......................41 4................. Grafik tegangan fungsi arus.... Trafo tiga phasa dengan belitan primer hubungan Segitiga.................................. Bentuk Inti Trafo tipe E-I...................................... Namplate Trafo daya tiga phasa................21 4............................18 4............... Pengukuran dengan trafo tegangan (PT) . Bentuk inti Trafo 3 Phasa ...........45 4............. Autotrafo dengan bentuk inti toroida ..................................11 4.....................43 4..............................14 4...................... Trafo tiga phasa belitan primer dan sekunder hubungan Bintang ..................... Grafik tegangan sekunder fungsi arus beban ....................................................40 4.......... Nameplate Trafo Arus ..........................25 4......................... Trafo tiga phasa belitan primer dan sekunder hubungan Segitiga ............................... Grafik Arus Hubung Singkat Trafo Grafik Arus Hubung Singkat Trafo ....... Keterangan nameplate Trafo Arus ..

........ Nameplate Motor Induksi Jenis Slipring ..........................26 5................. Bentuk fisik Motor Kapasitor .................................................................................. Pengawatan Motor Induksi Pengasutan Langsung (DOL) ..........................22 5...............................18 5...................................... Prinsip kerja motor induksi .................................... Karakteristik Arus Pengasutan Bintang-Segitiga ..20 5....4 5....................................... Pengawatan Pengasutan Soft Starting......................................33 5. Karakteristik Torsi Pengasutan Bintang-Segitiga ........................................................ Karakteristik putaran fungsi torsi beban .......12 5.......36 5................................. Rugi-rugi daya motor induksi ......... Hubungan belitan Bintang Ganda......................................... berkutub dua (p=1) .19 5.................21 5.40 5... Karakteristik Torsi dengan tiga tahapan .. Motor Listrik Arus Bolak Balik 5..................... Karakteristik Torsi Pengasutan Soft Starting ........................................................30 5.23 5.....10 5.................................. Karakteristik Arus fungsi putaran................. Bentuk fisik Motor Induksi Rotor Slipring .... Karakteristik Torsi..........................13 5......11 5.. Nameplate motor Induksi........................... Fisik motor induksi .. Bentuk gelombang sinusoida dan timbulnya medan putar pada stator motor induksi .................. Gelombang arus medan bantu dan arus medan utama ......................... Karakteristik Torsi Pengasutan Resistor Stator ..2 5.............................8 5...............42 xiii Pengukuran kecepatan dengan Tachometer .................................. 5-2 5-2 5-3 5-4 5-4 5-5 5-6 5-7 5-7 5-8 5-8 5-9 5-9 5-10 5-10 5-11 5-11 5-12 5-12 5-12 5-13 5-14 5-14 5-15 5-15 5-15 5-16 5-16 5-17 5-17 5-17 5-18 5-18 5-19 5-19 5-20 5-20 5-20 5-21 5-21 5-21 5-22 .............25 5....31 5...7 5........................28 5.......... Belitan Stator dan Rotor Motor Slipring berikut Resistor pada Rangkaian Rotor.... Rangkaian Belitan Motor dua kecepatan (Dahlander) .................................................41 5.................. Pengawatan Motor Slipring dengan tiga tahapan Resistor .............. Torsi motor pada rotor dan torsi pada poros ... faktor kerja dan arus beban... Pengasutan DOL ...............................35 5........................ Pengawatan Pengasutan Resistor Stator............................................................34 5........................................................ Karakteristik parameter efisiensi.............. Putaran motor dilihat dari sisi poros .......... Pengawatan Pengasutan Bintang-Segitiga ...38 5.6 5.........................14 5.............32 5............................................9 5......... Belitan stator motor induksi 2 kutub ........DAFTAR GAMBAR Bab 5......................... Karakteristik Torsi motor induksi ....................................... Hubungan Belitan Motor Dahlander .............................................putaran...............16 5..........................................39 5...................... Torsi Motor ......................................37 5....... Bentuk rotor sangkar ............................ Pengujian Motor Listrik di Laboratorium ........................................... Medan magnet pada Stator Motor satu Phasa .......................... Prinsip Medan Magnet Utama dan Medan magnet Bantu Motor Satu Phasa ..................................... Pengasutan DOL ..........................................1 5...............15 5.................. Hubungan belitan Segitiga Dahlander berkutub empat (p=2) ...... Rotor sangkar .........5 5....................3 5.......................... Karakteristik Arus Pengasutan Soft Starting .......24 5.......................................17 5.................27 5................... Karakteristik torsi Motor Slipring .....................................29 5.................................................................. Pengawatan Pengasutan Tegangan dengan Autotransformato..........

....................... Pembangkitan Tegangan DC pada Angker ............................. Komutator pada Motor Universal ................................................................................... 6-2 6-2 6-3 6-3 6-4 6-4 6-5 6-5 6-6 6-6 6-7 6-7 6-8 6-8 6-8 6-9 6-9 6-10 6-10 6-10 6-11 6-11 6-11 6-12 6-12 6-13 6-13 6-14 6-14 6-15 6-15 6-15 xiv ...4 6.. Mesin Listrik Arus Searah 6................... a) Bentuk tegangan AC dan Slipring......................................................6 6....... Kutub Magnet Utama..........21 6......................................................... Proses pembangkitan Torsi Motor DC ..............................8 6....... Garis Netral Reaksi Jangkar .28 6....................... Penampang Komutator ...........................45 5........ Karakteristik arus Pengasutan Motor DC ................................................ Bentuk fisik Motor Shaded Pole ......................................................................................................................19 6............ Starting Motor DC dengan Tahanan Depan jangkar ........................................50 Pengawatan Motor Kapasitor Pembalikan Putaran ......................................................................................................17 6........................ Membalik arah putaran Mesin DC ........................................................... Pergeseran Garis Netral akibat Reaksi jangkar ... Karakteristik Torsi Motor kapasitor...............................10 6.... Model Prinsip Kerja Generator DC .................................................................................................1 6.........22 6...........46 5......3 6................. dan b) Tegangan DC pada Komutator.................. Pengawatan dengan Dua Kapasitor .................................... Karakteristik tegangan generator Shunt ............14 6..................... Penampang Motor Shaded Pole ...........5 6............................................. Pemegang Sikat Arang .....................15 6..................................49 5.......... 5-22 5-23 5-23 5-23 5-24 5-24 5-24 5-25 Bab 6........ Arah putaran Mesin DC .... Hubungan belitan penguat medan dan Jangkar Motor DC ...............................................................7 6.........18 6......2 6......... Bentuk Fisik Generator DC ....... Garis medan Magnet jangkar ..47 5....31 6. Kutub bantu dan Belitan Kompensasi ................................ Karakteristik tegangan generator Shunt ..............................................12 6............................. Motor tiga Phasa disuply tegangan satu Phasa ....................................................32 Stator Mesin DC dan Medan Magnet Utama dan Medan Magnet Bantu ......................... Kaidah Tangan Kanan ..16 6.... Model kerja Motor DC ... Rangkaian belitan jangkar.. Stator dan Rotor Motor Universal .................24 6...........................20 6............9 6............................................ Prinsip pembangkitan tegangan DC ................................ Fisik Mesin DC ....... Kutub Magnet Utama dan Kutub Bantu Mesin DC .................. Karakteristik tegangan Generator Penguat Terpisah ...................................................... Aturan Tangan Kiri untuk Prinsip Kerja Motor DC .............................11 6....................................... Pengecekan sifat elektromagnetik pada Jangkar Motor DC .........13 6...........44 5......... Tegangan DC pada Komutator ..................................................................23 6.................... belitan kutub bantu dan belitan kompensasi ........30 6.........25 6...................43 5.......27 6........................48 5.................................................29 6........ a) Rangkaian Generator DC Penguat terpisah dan b) Penguat magnet permanen ......... Karakteristik Tegangan generator kompound .......26 6........ Rangkaian Generator Belitan Shunt ...........DAFTAR GAMBAR 5.

. Relay dikemas plastik tertutup..................4 7.....50 Drop tegangan Penguat Medan Seri dan Jangkar Motor DC ............... Komponen Reed Switch ......................... Pengendalian Motor Listrik 7.......................12 7................. kode angka dan terminal kontaktor ................... Tampak irisan Motor Control Circuit Breaker ................................................................21 7... Karakteritik putaran Motor Penguat Terpisah ........................................ Kutub bantu untuk mengatasi akibat Reaksi jangkar pada Motor DC ..........17 7......47 6...........7 7....................................... Simbol dan bentuk fisik relay ................13 7.. Karakteristik putaran fungsi tegangan jangkar ............................................34 6...48 6...........................8 7.... Belitan Jangkar ................................. Karakteristik putaran Motor DC Kompound ...........................18 7......................26 xv Sistem Pengendalian terdiri rangkaian daya dan rangkaian kontrol Dasar Sistem Pengaturan Otomatik .. Prinsip Belitan Gelombang ............... Letak Sisi-sisi Kumparran dalam Alur Jangkar ...................................................... 6-16 6-16 6-17 6-17 6-18 6-19 6-20 6-20 6-20 6-21 6-21 6-22 6-22 6-23 6-24 6-26 6-26 6-28 Bab 7......................... Prinsip Belitan Gelung ................................... Varistor dan RC sebagai pengaman relay ...................... Rangkaian daya dan kontrol Direct ON Line (DOL) ............................. Tampak samping irisan kontaktor............ Tombol tekan ......39 6................6 7...... Perbandingan DOL dan Bintang Segitiga......................... Pengaturan tegangan Jangkar dengan sudut penyalaan Thyristor ............................................................22 7........................................................................................................................................................................ Rangkaian Motor DC Belitan Kompound...................... Rangkaian Motor DC Penguat Terpisah......................................... Belitan Gelung Tunggal .................... Rangkaian Motor DC Belitan Shunt.............20 7...........42 6...............40 6..................................2 7.............................. Rangkaian Motor DC Seri......24 7....................DAFTAR GAMBAR 6...................................14 7............................................................................................. Kontrol ON-OFF dengan bimetal ...16 7..................................................... Timer OFF delay........... Diode...............5 7.... Kontrol relay impuls ............ Karakteristik putaran fungsi arus eksitasi ... Pengawatan Daya Bintang .................................................................. Rangkaian daya dan kontrol motor induksi .........................43 6...............41 6........................ Hubungan terminal a) Bintang b) Segitiga................35 6..................... Koil set-reset............................46 6........45 6........................................ Karakteristik putaran Motor DC Seri ..................................... Simbol timer dan karakteristik timer .....................................9 7........36 6..........................23 7................... Tampak irisan Miniatur Circuit Breaker .......44 6.................11 7.. 7-2 7-2 7-2 7-3 7-3 7-3 7-4 7-4 7-4 7-5 7-5 7-5 7-6 7-6 7-6 7-7 7-7 7-7 7-8 7-8 7-9 7-9 7-10 7-11 7-11 7-12 ............................1 7..................... Jenis-jenis kontak .15 7..........................25 7............................3 7..................................33 6.......................37 6.............................. Pengawatan kontrol bintang-segitiga ...........................................................................10 7..............Segitiga ....49 6................... Simbol....................... Belitan Gelombang Tunggal ............. Bentuk fisik kontaktor .. Bentuk fisik kontak diam dan kontak bergerak .............38 6...................... Fisik MCCB.............................19 7........................................................................................................

..50 7................................... Pengawatan daya dua motor bekerja bergantian ............................... Pengawatan pengasutan dengan autotransformator ...40 7............... Tiga jenis display digital ........ Instalasi pompa air dgn kendali dua buah level switch .............................................. Pengawatan motor slipring tiga tahap resistor ..........................................51 7. Prinsip Alat Ukur Kumparan Putar .............................. Nameplate motor induksi bintang segitiga ......... Diagram Satu Garis Instalasi Pengasutan Soft Starting ............... Pengaman under voltage ................ Tata letak komponen dalam bok panel ........ Pengawatan kontrol bintang segitiga dengan timer ....................................1 8.... Pengawatan kontrol pengasutan resistor dua tahap ...... Instalasi Pompa Air Dengan Kendali Level Switch ..... Pengawatan kontrol pembalikan putaran .....38 7............. Penunjukan meter analog dan meter digital ..........................11 8. Pola penyimpangan jarum meter analog ... Alat Ukur dan Pengukran Listrik 8.............................................. Jenis skala meter analog ..........................48 7.................................................. 7-13 7-13 7-14 7-15 7-16 7-16 7-17 7-18 7-18 7-19 7-20 7-20 7-21 7-22 7-22 7-23 7-23 7-23 7-24 7-24 7-25 7-25 7-26 7-27 7-27 7-28 7-29 7-30 7-31 7-32 7-32 Bab 8...........................37 7..56 7... Pengawatan kontrol otomatis bintang-segitiga .......... Meter listrik Analog ............... Multimeter digital AC dan DC ...........................32 7......53 7.........................30 7..... Instalasi Pompa Air Dengan Kendali Pressure Switch ........9 8........................ Pengaturan Selang Waktu Oleh Timer ................................55 7...... 8-2 8-2 8-5 8-5 8-6 8-6 8-6 8-7 8-7 8-8 8-8 8-8 8-9 xvi ............8 8.............29 7............................ Pengawatan motor slipring dua tahap resistor ...........39 7..................... Karakteristik a) Arus Fungsi Putaran b) Torsi Fungsi Putaran ........12 8...................5 8.............10 8..............................33 7............................27 7............43 7...34 7...................49 7..............................................45 7.................................52 7...DAFTAR GAMBAR 7................................. Pengawatan daya pengasutan resistor dua tahap .. Instalasi pompa air dgn dua pompa .........4 8...................................42 7...................................................................2 8......... Multimeter analog .44 7.......................................... Pengawatan kontrol autotransformator ......... Pengawatan kontrol motor slipring .... Pengawatan kontrol dua motor bergantian ........41 7........................................ Pengawatan Daya Pembalikan Putaran Motor Induksi ........35 7.. Prinsip kerja alat ukur digital ...................................................3 8...... Pengaman beban lebih dengan PTC/NTC ......54 7.................................... Pengawatan a) Ampermeter Switch b) Voltmeter Switch ......................31 7........................................................................... Kontrol pembalikan motor dilengkapi lampu indikator ...................... Pemakaian Trafo Arus CT Pengamanan Motor ..........57 Hubungan Bintang Segitiga ..............................................................................7 8............... Pengawatan daya bintang-segitiga .................................. Dudukan poros jarum penunjuk .... Pengawatan soft starting a) DOL b) Bintang segitiga ........................... Pengamanan bimetal overload dan arus hubung singkat ......................28 7.....................13 Tampilan meter Digital ............ Komponen alat ukur listrik analog ................................... Tampilan penunjukan digital ..6 8.47 7.................36 7..........................46 7.......................

..................................................................................................................20 8.............. Jenis-jenis Pengukuran Tahanan .................................................. Penambahan Batas Ukur meter ..................17 8....................43 8.........31 8.. Pengembangan model Wheatstone ........14 8......39 8............................... Mengukur tegangan DC dengan Osiloskop .......................... Bentuk fisik Osiloskop .......................................................1 Transistor ..................................... Prinsip elektrodinamik .................................................................................................................. Mengukur beda phasa dengan Osiloskop ........30 8.......41 8..................... 9.................... Prinsip alat ukur besi putar ......... Pembagi tegangan 10 1 pada Probe ......................................... 9................................................................................. 9. Sampling sinyal analog oleh ADC ..................37 8.........46 Meter kumparan putar dengan diode penyearah .............................. Batas ukur Ampermeter ....8 Diode Panjar Maju ................. Tahanan depan dan paralel ampermeter ............. Blok diagram Osiloskop Digital ............... Sinyal input berbeda fasa 900 dg output .......7 Simbol dan fisik Diode ......................38 8....12 Karakteristik Diode Zener ....................................10 Karakteristik Diode ................................. Tahanan paralel ampermeter . Mengukur sudut penyalaan TRIAC dengan Osiloskop ..... 9..............42 8.........................DAFTAR GAMBAR 8.............................................................. 9........15 8................32 8................................25 8............................. 9......... Rangkaian jembatan Wheatstone ......................35 8..................................... Blok diagram sistem Osiloskop .....................29 8...............................33 8.....28 8...................... Mengukur sudut penyalaan TRIAC dengan Osiloskop ........................23 8......................................................24 8...... Blok diagram Osiloskop dua kanal ......44 8.18 8................................... kWH meter ......................40 8.. Lissajous untuk menentukan frekuensi ... Tahanan seri RV pada Voltmeter ........................................... 9......................36 8................ Prinsip Alat ukur Piringan Putar (kWHmeter) ....................... 9........................................................21 8.....3 Orbit atom ...............4 Semikonduktor Tipe N ........................ Mengukur tegangan AC dengan Osiloskop ..........................................5 Semikonduktor Tipe P .............................. Mengukur Arus AC dengan Osiloskop .................................................... Pemasangan wattmeter ..............................9 Diode Panjar Mundur ................................................45 8...............................................................................11 Aplikasi Diode Zener sebagai penstabil tegangan ............................. xvii 9-2 9-2 9-3 9-3 9-4 9-4 9-5 9-5 9-6 9-6 9-7 9-7 ...................6 Sambungan PN .................... 9.............................2 Thyristor .....................16 8.. Pengawatan wattmeter dengan beban satu phasa ...................................22 8............................................................34 8......................19 8............ 8-9 8-10 8-10 8-11 8-11 8-12 8-12 8-13 8-14 8-14 8-15 8-15 8-16 8-16 8-17 8-17 8-18 8-19 8-20 8-20 8-21 8-22 8-23 8-23 8-24 8-25 8-26 8-26 8-27 8-28 8-28 8-29 Bab 9 Elektronika Dasar 9..........................................................................................................................................26 8.............. Pancaran elektron ke layar pendar CRT ........... Pengawatan kWH meter satu phasa dan tiga phasa .... 9... Trigering memunculkan sinyal gigi gergaji .............. 9......................

..............................................................................12 10................. Penguatan Sinyal ...........................................19 9..................................... Transistor dengan Tahanan Bias . Pemindahan Panas Pada Pendingin Transistor .............................................33 9......Diode ..........................................21 9............2 10. Karakteristik Thrystor .. Diagram Blok Konverter Daya ............27 9...................................................................29 9................. Nilai Batas Thrystor ........................................................................................................19 10.............. Rangkaian Push-Pull ...........................................................16 10....................34 9............. Struktur Fisik dan Kemasan IGBT ............ Prinsip Kerja Penguat ................. Rangkaian Bias Pembagi Tegangan Dengan RC .....................................2 10............................................. Fisik Transistor ................... Transistor Sebagai Gerbang NAND ..................................................................................................24 9.................. Transistor Sebagai Saklar ......................5 10........................... Diagram Waktu Bistable Multivibrator ..18 10................... 9-8 9-8 9-8 9-9 9-9 9-10 9-11 9-11 9-12 9-13 9-13 9-14 9-15 9-15 9-16 9-16 9-17 9-17 9-18 9-18 9-19 9-19 9-19 Bab 10............................... Karakteristik Transistor Empat Kuadran .......................... Sinyal Pada Titik-titik Pengukuran ............................... Transistor Sebagai Penggerak Relay ................................................17 10..............7 10.......DAFTAR GAMBAR 9.......13 10.................. Simbol dan fisik Diode ............................................................................................................... Tegangan Bias Transistor NPN ....................................... Rangkaian Bistable Multivibrator .............. Bentuk Pendingin Transistor .20 9....4 10........................... Rangkaian Dasar Transistor .....1 10.............. Thyristor ....... Fuse Sebagai Pengaman Thrystor .... Karakteristik Transistor ...................9 10..............28 9..............................8 10..26 9..............................................23 9...................................................................................... Karakteristik Output Transistor .......... Tegangan bias Transistor ......14 9. Garis Beban Transistor ..........................................................................................................................................20 10. Elektronika Daya 10......................18 9....... Rangkaian Bias Pembagi Tegangan Tanpa RC . Diode Setengah Gelombang 1 Phasa ............................25 9..............35 Transistor Bipolar .................................. Casis Transistor Dengan Isolator ...................... Diagram Blok Konverter Daya ........................................11 10................ Rangkaian Penyearah Jembatan ................................................. Rangkaian dan Diagram Waktu Schmitt Trigger ...............15 9..................... 10-2 10-3 10-4 10-4 10-5 10-5 10-6 10-6 10-7 10-7 10-7 10-8 10-9 10-9 10-10 10-10 10-11 10-11 10-12 10-12 10-13 xviii ...................15 10............................... Titik Kerja Penguat Klas AB ........................... a) Panjar maju (forward) dan b) panjar mundur (reverse) ..............10 10......................... Karakteristik Output Transistor .................... Karakteristik Input Transistor ...........................16 9............. Karakteristik Output IGBT . Bentuk Fisik & Simbol Thrystor ....................... Karakteristik Diode ...22 9....................................................30 9.13 9....14 10......... Tegangan Operasi Transistor sebagai saklar .................................32 9........................17 9...................21 Pemanfaatan Energi Listrik .............................31 9...................6 10............................................................

........................48 10......... Aplikasi IGBT Untuk Kontrol Motor Induksi 3 Phasa ...42 10.............................. Penyearah Terkendali ½ Gelombang .............30 10................... Bentuk Gelombang Penyearah Penuh 3 Phasa .... Bentuk Dasar Pengendali Tegangan AC ........................................... Grafik Fungsi Penyalaan Gate Thrystor .............. Sudut Penyalaan dan Output Tegangan DC ½ Gelombang ..32 10..........2 11..................................................... Aliran listrik sentuhan langsung ..................................... Tegangan dan Arus DC Beban Induktif ................. Urutan Penyalaan Gate-Thrystor 3 Phasa ...................................................................................... Penyearah Terkendali Jembatan 1 Phasa . Blok Diagram Pengaturan Kecepatan Motor DC ... Bentuk Gelombang Chip TCA785 .. Penyearah ½ Gelombang 3 Phasa Diode Terbalik . Rangkaian Daya 1 Phasa Beban DC 15 Kw .............................47 10........................................................38 10............................................. Tegangan sentuh tidak langsung .........................DAFTAR GAMBAR 10.................36 10.............................................................14 xix Grafik bahaya arus listrik .......40 10................... Penyearah Thrystor dengan Diode ......... Pelindung tangan dan mata ...29 10........................................ Aplikasi Pengendalian putaran Motor DC .......................12 11............23 10........46 10........................................................... Tegangan dan Arus DC Beban Resistif ...........3 11......25 10...... 10-14 10-15 10-15 10-16 10-17 10-17 10-19 10-19 10-19 10-20 10-20 10-20 10-21 10-21 10-22 10-23 10-23 10-24 10-24 10-25 10-25 10-26 10-26 10-27 10-28 10-29 10-29 Bab 11 Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11..................................... Penyearah Diode ½ Gelombang 3 Phasa ........... Stop kontak khusus untuk tegangan rendah ...........13 11........24 10.......... 11-2 11-2 11-3 11-3 11-3 11-4 11-4 11-4 11-6 11-7 11-7 11-8 11-8 11-9 11-9 11-9 ...........11 11................................4b 11........ Penyearah Jembatan Gelombang Penuh 3 Phasa ..................................... Gangguan listrik dari beban lampu ..................... Tegangan langkah akibat gangguan ke tanah .................................39 10.....7 11.................................... Bentuk Tegangan DC Penyearah 3 Phasa .....43 10............. Peta Tindakan Pengamanan ........... Pengaman dengan trafo pemisah ........41 10........... Penyearah Thyristor ½ Gelombang 3 Phasa .... Gangguan listrik dibeberapa titik .................... Motor listrik tahan dari siraman air .........34 10....10 11.....44 10......... Grafik Pengaturan Sudut Penyalaan ............................ Pengamanan dengan tegangan rendah ...... Modul Trigger Thrystor .................................................................................................................................................. Simbol pengamanan pada nameplate .................37 10..... Rangkaian Dimmer dengan TRIAC ............. Urutan Kerja Penyearah Diode 3 Phasa ½ Gelombang ......................49 Penyearah Jembatan Dengan Filter RC ............6 11.....4a 11....................................26 10................................................................................... Rangkaian Pembangkit Pulsa Chip TCA785 ............27 10............... Motor listrik tahan siraman air vertikal dan segala arah ...........8 11....... Tahanan tubuh manusia ............9a 11........45 10...................33 10...............35 10...... Penyearah Terkendali 3 Phasa ................................................28 10. Tegangan sentuh langsung ...................................9b 11...31 10.5 11........1 11...

................... 11......................39 Trafo pemisah melayani dua stop kontak ............... 11..8 12.....9 Pengaturan manual tegangan pada Generator ............................ 11-10 11-10 11-10 11-11 11-11 11-11 11-13 11-13 11-13 11-13 11-14 11-14 11-14 11-15 11-16 11-16 11-16 11-17 11-17 11-17 11-18 11-19 11-19 11-20 11-20 11-21 11-21 11-21 11-22 11-22 11-23 11-24 11-24 11-25 Bab 12 Teknik Pengaturan Otomatis 12.....................33 Pengukuran tahanan pembumian sistem IT .......... Diagram blok sistem kontrol open-loop ............ 11.................................. 11........ 11...... Diagram blok sistem kontrol ..................................... Sistem Pemanasan Air ...........42 Pengukuran tahanan isolasi ..........................45 Pengukuran tahanan pembumian ......................................... 11...........18 Pengamanan dengan rintangan . Diagram blok sistem pemanasan air ......... 11................ 11.................................................................................... 11............................... Diagram blok sistem pemanasan air secara otomatis .......................... 11.......................................................7 12.................41 Pengukuran pembumian dengan megger .............32 ELCB pada sistem TT ..................... 11................................... 11............................................................26 Prinsip kerja ELCB ........21b Sistem Pembumian TN-C-S ...................................................... Pengaturan tegangan secara otomatis ..16 Kabel berisolasi thermoplastik ............36 Mesin bor dengan isolasi ganda .... 11...............22 Sistem Pembumian TT .........31 Pengukuran tahanan pembumian sistem TT .........25 Beda tegangan titik netral akibat gangguan ke tanah .. 11......................................... 11..................................5 12..............19 Jarak aman bentangan kabel udara ..............................................24 Sistem pembumian TN-C-S digabung kawat PE ...... 11....2 12.......................... 11............................ 11.........................................................20 Pengamanan sentuhan tidak langsung ..1 12.................................................30 ELCB pada pembumian TN .......37 Jarak aman pengamanan ruang kerja ......................DAFTAR GAMBAR 11...........................28 Pemasangan ELCB untuk pengamanan kelompok beban ....................... 11...........21a Sistem Pembumian TN-S ................ 11..................... 11......... Diagram blok sistem kontrol closed-loop .................................................................................... 11.................................. 11.......................................... Pengaturan tinggi permukaan air ...............................................15 Pengamanan dengan selungkup isolasi .46 Pengukuran tahanan bumi ELCB .... 11...................... 12-2 12-3 12-4 12-5 12-6 12-7 12-8 12-8 12-9 xx ...............35 Isolasi ganda pada peralatan listrik ..44 Pengujian sistem pembumian TN ..38 Pengamanan dengan pemisahan sirkit listrik ............................................................................21c Sistem pembumian TN-C ...............6 12........................................ 11..23 Sistem Pembumian IT ............ 11.............4 12.......... 11.........................34 Simbol pengamanan isolasi ganda ...................................................................... 11......................................... 11.......... 11.................................................40 Pengamanan pada peralatan listrik ...............27 Fisik ELCB ............29 ELCB portabel ......................... 11.......................................43 Pengukuran tahanan isolasi lantai/dinding ......................................................... 11.............. 11.......17 Perlindungan pengaman stop kontak .....3 12............

49 12..................................................................................................................38 12............ Karakteristik osilasi .. Kontroler Integral ..............................NC dan toggle ...... Simbol kontrol on-off ...... Kontroler dua posisi (On-Off) ......... Model fisik PT1 ..............45 12................ Katup magnetik impulse 5/2 ...............................12 12.................................................51 12....................................... Kontaktor dengan kontak utama dan kontak bantu .............16 12............... Limit switch tekanan ...........44 12............................ Aplikasi Kontroler PD ............................................ Respon kontrol proporsional .................................................. Perilaku statis Generator Arus Searah .....................................................................27 12........................................................................ Model Sistem Kontrol PT2 ........................................................... Katup magnetik 5/3 .................................. Katup magnetik 3/2 ..... Aplikasi kontroler proporsional ...... Respon Sistem PT2 .............................17 12................53 12..................56 12.......................31 12..... Perubahan Tegangan fungsi Arus Eksitasi ............. Kontroler Proporsional Integral ..................... Tombol NO......15 12.................... Respon kontroler PD terhadap sinyal lereng ................................................................................................... Aplikasi kontroler PID .............................................................................10 12... Respon Kontrol PT1 ...........48 12........................................................................ Katup Magnetik ........................... Limit switch .........................42 12.......... Respon Kontrol Deadtime ......... Sistem PT0 ............................................................ Konstruksi Relay dan kontaktor ..20 12............50 12............ Aplikasi Kontroler Derivatif ..................................47 12...................................29 12................. Respon kontrol PTn .....28 12.........DAFTAR GAMBAR 12....................................................................33 12.............. Katup magnetik 5/2 ............. Proximity switch terpasang pada silinder ............... Karakteristik dan simbol kontroler tiga posisi .....19 12............................39 12..................................36 12.....23 12.................................... Hubungan tegangan fungsi arus .............................................................................. Aplikasi Kontroler PI ..22 12..........................................................18 12................... 12-9 12-9 12-10 12-11 12-11 12-12 12-12 12-13 12-14 12-14 12-15 12-15 12-16 12-16 12-17 12-18 12-18 12-19 12-19 12-19 12-20 12-20 12-20 12-21 12-21 12-22 12-22 12-23 12-23 12-23 12-24 12-24 12-25 12-25 12-26 12-28 12-29 12-29 12-30 12-30 12-31 12-32 12-32 12-33 12-33 12-34 12-34 12-34 ................ Kontrol otomatis pada mobile robot ..........................................................43 12......................................................46 12................ Respon kontroler derivatif untuk sinyal step ....................... Kontrol tiga posisi ........34 12...............41 12......26 12............................................................................ Komponen elektropneumatik . Aplikasi kontroler integral .................................. Model Dead Time .................................................... Batang jangkar katup magnetik ...................37 12................... Kontroler suhu bimetal ...............25 12.............................................................................52 12...................................................13 12...........24 12..40 12........................................................ Prototipe mobile robot ............32 12........ Respon kontroler PID terhadap sinyal step .............................11 12...............21 12.................... Karakteristik kontroler tiga posisi dengan posisi tengah nol ..................................30 12.......54 12........................................................ Respon kontroler derivatif untuk sinyal lereng ..............................55 12..........................14 12..........................................35 12......................................................57 xxi Diagram blok pengaturan tinggi air .......... Kontrol proporsional .............................................................

........................28 Sychroscope ................................. 13...................17 Rangkaian Test Generator Tanpa Beban........................................ Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14....26 Rangkaian Paralel Generator ........................................................................................59 Silinder operasi ganda katup 5/2 ................................. Distribusi Tenaga Listrik ke Konsumen .... ..............................58 Silinder tunggal dengan dgn katup magnetik 3/2 ..........................................4 14.......... Penyaluran energi listrik dari sumber ke beban ..................................................................... 13........ Generator Sinkron Generator Sinkron Tiga Fasa dengan Penguatan Generator DC “Pilot Exciter”........................................ Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik . 13................ 13.11 Vektor Tegangan Lilitan ...20 Pengukuran Resistansi DC ...................... 13......10 Kisar Kumparan .............................................................. Saluran penghantar udara untuk rumah tinggal (mengganggu keindahan pandangan) . 13............ 13............................. 12-35 12.... .......27 Rangkaian Lampu Berputar .......... 14-2 14-3 14-4 14-4 14-9 xxii ....... 13.......... 13.............................................................................................................. 12-35 12.......... 13. dan Vektor Arus Medan... 13.....18 Rangkaian Test Generator di Hubung Singkat . 13...........1 14...............................8 Diagram Phasor dari Tegangan Induksi Lilitan ................................................................... 13.................................... 13... 13................................2 Generator Sinkron Tiga Fasa dengan Sistem Penguatan “Brushless Exciter System”................................4 Inti Stator dan Alur pada Stator ..............13 Diagram Generator AC Tiga Fasa Dua Kutub ......................... Hubung Singkat.............................................. 13......................................... ..9 Total ggl Et dari Tiga ggl Sinusoidal .............................DAFTAR GAMBAR 12.5 Belitan Satu Lapis Generator Sinkron Tiga Fasa .16 Vektor Diagram dari Beban Generator ..........1 13-3 13-3 13-4 13-4 13-5 13-6 13-6 13-8 13-8 13-9 13-9 13-11 13-12 13-13 13-14 13-15 13-16 13-17 13-17 13-18 13-19 13-20 13-21 13-22 13-23 13-24 13-25 13-26 Bab 14................................ 13....................................................60 Silinder ganda dengan katup 5/3 ............................................... 13.......................................................2 14.19 Karakteristik Tanpa Beban dan Hubung Singkat sebuah Generator ................22 Vektor Arus Medan ....7 Belitan Berlapis Ganda Generator Sinkron Tiga Fasa ........................ 13....................................15 Kondisi Reaksi Jangkar .................................................................................................. .........3 Bentuk Rotor ........ 13....... 13................ 13..................................................................................................................................12 Diagram Generator AC Satu Fasa Dua Kutub............... 13............21 Vektor Diagram Pf “Lagging” .................. 13......... 12-36 Bab 13........23 Karakteristik Beban Nol........................................... 13. 13..................... 13.... ................. 13.25 Vektor Diagram Potier ........24 Diagram Potier ............6 Urutan Fasa ABC ..............................3 14.................14 Kurva dan Rangkaian Ekuivalen Generator Tanpa Beban .............5 Generator ....................

.......... 14......................16 Molded Case Circuit Breaker .....................................................................20 SF6 CB (Sulfur Hexafluoride Circuit Breaker) .... ....... 14-10 14-11 14-13 14-14 14-15 14-16 14-17 14-17 14-20 14-21 14-22 14-23 14-24 14-24 14-25 14-26 14-27 14-28 14-30 Bab 15.. 14......... Mengukur debit air ...........10 Turbin dan Generator Mikrohidro .................9 15.................................. 14.. 14................................... Electronic Load Kontroller .. Pemasangan Turbin dan Generator ..8 15..................14 Contoh cubicle di ruang praktek POLBAN ..11 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan system tegangan Menengah 20KV dan Tegangan Rendah 380/220V................................24 Piranti-piranti menggunakan motor .......................................7 15.......................................................... 15-2 15-3 15-5 15-6 15-7 15-8 15-9 15-11 15-12 15-13 xxiii .. Jalur pipa a) yang melingkar b) jalur memintas ...............23 Macam-macam Stop Kontak .............. 14.8 Denah rumah tipe T-125 lantai dasar .................... 14................................. ............ Pipa melintas dan pembuangan air ke sungai .....................................................................................19 VCB (Vakum Circuit Breaker) .........................18 OCB (Oil Circuit Breaker) .....................7 Situasi .......................................................4 15..........1 15....................... Sistem Pembangkit Listrik Mikrohidro ..................................................................21 Diagram Transmisi dan Distribusi .......................17 ACB (Air Circuit Breaker) ....6 Saluran kabel bawah tanah pada suatu perumahan elit ............................... 14.......................................................................... 14......................10 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan Tegangan Rendah 380/220V.... 14...................... 14..........................9 Instalasi rumah tipe T-125 lantai dasar . 14.. 4 kawat ....3 15.................. Tandon Air ... Hubungan kontrol kelistrikan .. Pembangkit Listrik Mikrohidro 15..... 14......................................................22 Rangkaian macam-macam Beban Sistem 3 phasa....................................................................................DAFTAR GAMBAR 14...... 14.................................................................................. Mengukur ketinggian jatuh air .........................6 15.............12 APP Sistem satu fasa .................... 14.... 14......................................13 APP Sistem tiga fasa ........... 14............................................15 MCB (Miniatur Circuit Breaker) ......................... 14.......................................................................................................................2 15...... 14..........................5 15.......

............................................................. Tabel 11.............1......................... Tabel 12.1............ Nilai resistansi isolasi minimum .. Tabel 11..... Tahanan Pembumian RA pada Sistem TT . Daya tersambung fungsi arus primer ........... Tabel 3.2.......... Tabel 12............................2................ Tabel 11.............. Tabel 8................................. Tabel 14....8........ Tabel 12..9.... Istilah penting dalam sistem kontrol ........... 1-10 1-12 1-12 1-14 1-15 1-16 2-12 2-15 3-8 3-9 3-10 3-12 3-53 4-25 6-11 6-19 6-25 6-27 8-3 8-3 9-10 9-10 10-18 11-5 11-6 11-8 11-12 11-15 11-15 11-16 11-16 11-19 11-23 11-24 12-4 12-4 12-26 12-27 12-28 12-28 14-5 14-6 xxiv......2......................... Besaran Sistem Internasional .. Tabel 11.........4..3... Daya tersambung pada tegangan menengah ........ Waktu Pemutusan Maksimum Pada Sistem IT......... Tabel 2...........1................................ Tabel 11................... Jenis Penyearah Diode ............... Tabel 3....... Tabel 11...... Tabel 11.. Contoh Simbol Indek Proteksi Alat Listrik .......5..... Tabel 1...........................................1 Grup rangkaian umum untuk arus putar-transformator daya ...................... Tabel 1............. Tabel 6.......2 Rangkaian Motor-motor DC .3 Hubungan Sisi Kumparan dengan Lamel Belitan Gelung.......... Penampang penghantar sistem TN ................................ ............2................... Tabel 11....... Tabel 12..................................6........................................2 Harga rata-rata gelombang sinusoida............ Besaran dan Simbol Kelistrikan ..3 Harga efektif gelombang sinusoida .............3 Tegangan dan arus pada Resistor........... Tabel 1..8 Pengukuran .............. Waktu pemutusan maksimum sistem TN .................1.............................. Aplikasi Op-Amp Sebagai Kontroller.1 Kemampuan Hantar Arus ...................... ... Parameter kontroller pendekatan Chien/Hornes/Reswick ............ Tabel 6............ Tabel 3........................................3.........7..................... Waktu pemutusan maksimum sistem TN ...............................1. Tabel 11............... Parameter Ziegler-Nichols .................... Tabel 9................ Tabel 1.........................1 Notasi pengenal belitan Generator DC ... Tabel 12.......4......................... Tabel 6....5................2 Parameter dan rumus kemagnetan ......... Perbandingan jenis kontroller untuk masing-masing aplikasi ............5 Tahanan jenis bahan ......... Tabel 4................... Tabel 2..............................2....DAFTAR TABEL   DAFTAR TABEL Tabel 1........................ Batasan Nilai Transistor ........................ Tabel 3.............................. Aplikasi Transistor ....................... Jenis Pembumian Sistem .....................11......4 Hubungan Sisi Kumparan dengan Lamel Belitan Gelombang.........1 Harga Sesaat Tegangan Sinusoida ............................................6............................. Kemampuan ELCB pada tegangan 230V ................. Contoh komponen sistem kontrol .. Kode IP XX .......... Tabel 6................5 Tabel Nameplate Motor Induksi .. Tabel 8.......................1 Permeabilitas .................................................4 Bentuk tegangan dan arus listrik AC.......... Tabel 14...............6 Koefisien temperatur bahan pada 200C ................................... Tabel 10..... Tabel 11.................................................. Tabel 11............................ Tabel 12.......2 Resistansi dan Konduktivitas .................. Tabel 1......10................ Tabel 3.........................................................................1..................................... Tabel 9................... Tegangan Sentuh yang aman ......................

...3.......4.............. 14-7 14-7 14-8 14-18 xxiv... Daya tersambung fungsi Pelabur ............................... ..........................................................DAFTAR TABEL   Tabel 14.......... Tabel 14....... Tabel 14.......6........................................ Standar Daya PLN .................... Daya Tersambung Tiga Phasa .. Tabel 14.......... Golongan Pelanggan PLN ......5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful