Siswoyo

TEKNIK LISTRIK INDUSTRI
JILID 3 SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang

TEKNIK LISTRIK INDUSTRI
JILID 3
Untuk SMK
Penulis Perancang Kulit Ukuran Buku : Siswoyo : TIM : 17,6 x 25 cm

SIS t

SISWOYO Teknik Listrik Industri Jilid 3 untuk SMK /oleh Siswoyo ---Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. iii , 218 hlm ISBN ISBN : 978-979-060-081-2 : 978-979-060-084-3

Diterbitkan oleh

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2008

KATA SAMBUTAN Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya, kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan. Jakarta, Direktur Pembinaan SMK

PENGANTAR
Era persaingan dimasa sekarang dan masa yang akan datang mensyaratkan bahwa bangsa yang unggul adalah yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang unggul. Keunggulan SDM hanya dapat diraih melalui pendidikan. Pemerintah melalui UU Sisdiknas No 20/ 2003, jenjang pendidikan menengah kejuruan termasuk program vokasional yang mendapatkan perhatian. Buku Teknik Listrik Industri ini disusun berdasarkan profil standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk bidang Teknik Listrik Industri. Dengan pemahaman yang dimiliki, diharapkan dapat menyokong profesionalitas kerja para lulusan yang akan memasuki dunia kerja. Bagi para guru SMK, buku ini dapat digunakan sebagai salah satu referensi sehingga dapat membantu dalam mengembangkan materi pembelajaran yang aktual dan tepat guna. Buku ini juga bisa digunakan para alumni SMK untuk memperluas pemahamannya di bidang pemanfaatan tenaga listrik terkait dengan bidang kerjanya masing-masing. Buku ini dibagi menjadi lima belas bab, yaitu: (1) Pengetahuan Listrik dasar (2) Kemagnetan dan elektromagnetis (3) Dasar Listrik arus bolak-balik (4) Transformator (5) Motor Listrik arus bolak balik (6) Mesin arus searah (7) Pengendalian motor listrik (8)Alat ukur dan pengukuran listrik (9) Elektronika dasar (10) Elektronika daya (11) Sistem pengamanan bahaya listrik (12) Teknik pengaturan otomatis (13) Generator sinkron (14) Distribusi tenaga listrik (15) Pembangkit listrik Mikrohidro. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktur Pembinaan SMK, Kasubdit Pembelajaran, beserta staf atas kepercayaan dan kerjasamanya dalam penulisan buku ini. Kritik dari pembaca dan kalangan praktisi akan kami perhatikan. Semoga buku ini bermanfaat bagi banyak pihak dan menjadi bagian amal jariah bagi para penulis dan pihak-pihak yang terlibat dalam proses penyusunan buku ini. Amin

Penulis

i

.........................................................1-3 Tegangan Listrik............ 1-16 Hubungan Seri Resistor .......... 1-13 Resistor ..6 Rangkaian Magnetik ...................19 1...................................... 1-16 Hubungan Paralel Resistor ….......................................12 1....... 1-27 Hubungan Seri Baterai ……..............9 Soal-soal .............. 2-8 2...................4 Kerapatan Fluk Magnet.. 2-23 2.... 1-22 Rangkaian Resistor Gabungan ............................ 1-21 Ekivalen Sumer Tegangan dan Sumber Arus ..... 1-17 Hukum Kirchhof-Tegangan .................................. 2-14 2.........1 Prinsip Pembangkitan Listrik AC .................. 1-32 Soal-Soal ........21 1...............7 Aplikasi Kemagnetan & Elektromagnet .3 1......................23 Fenomena Elektrostatis ..................................................8 Rangkuman .......................................1 1.............................................................1-4 Arus Listrik.................13 1..............................22 1. 1-8 Mengukur Arus Listrik .......1-2 Generator Elektrostatis Van de Graff .....................................5 Bahan Ferromagnet ......................................... 2-9 2.............................................................. 1-19 Mengukur Resistansi dengan Tegangan dan Arus .....................8 1..................................................9 1.........7 1...................................... 2-16 2........ 2-7 2............. 2-2 2........10 1...............4 1..................... 1-11 H u k u m Ohm ......................2 1...... 1-24 Konversi Hubungan Bintang-Segitiga .........................................................18 1....2 Prinsip Dasar Listrik AC .......................................................................................................................1 Prinsip Kemagnetan .......2 Fluksi Medan Magnet ..........................................................................20 1..............3 Kuat Medan Magnet ...........16 1............................................................................................................................................................................................................................... 2-25 BAB 3 3.................................................1-18 HukumKirchoff-Arus .... 1-34 BAB 2 2...........Daftar Isi : BAB 1 1............................................ 1-28 Rangkuman ..............11 1.................... 2-10 2.17 1..................... 3.......1-9 Kerapatan Arus Listrik ............15 1................. 3-2 3-4 ...............6 1.............................5 1.............. 1-12 Tahanan Konduktor ........14 1. 1-9 Tahanan Penganta......................................................................1-20 Tahanan Dalam Baterai ................1-7 Arus Listrik pada PenghantarLogam ..........

.................14 Trafo Pengukuran Tegangan .............22 Transformator dalam Jaringan Asimetris ..........13 Transformator Pengukuran ................................................................................................21 Konfigurasi Transformator 3 phasa ..... 3........... 4-25 4.... 4-14 4............. 4-21 4. 3.........................................26 Soal-soal .................. 4-3 4.................5 Rangkaian Resistor Seri Induktor dengan Listrik AC ....... 3..9 Efisiensi Transformator ....... 4-24 4............20 Minyak Trafo dan Relay Buchholz ..........................10 Akibat Hubung Singkat ................... 4-16 4............................................................................19 Hubungan J a m Belitan Trafo ......... 3........... 4-20 4......... 4-22 4......12 Soal-soal ......................... 3...............16 Transformator 3 Phasa ..............8 Rugi-rugi Transformator ............... 4-28 ................6 Rangkaian Listrik Transformator ...................................3 K o m p o n e n Pasif D a l a m Listrik AC .......................................11 Autotransformator .............. 4-9 4.......................................24 Paralel Dua Transformator . 4-16 4.......................................................7 Diagram Vektor Tegangan ....... 3............. 3........................11 Rangkuman .................................................... 4-21 4.18 Hubungan belitan Transformator .......... 4-27 4.............................. 4-4 4..........25 Rangkuman ................. 4-13 4............6 Rangkaian Resistor Seri dengan Kapasitor .... 4-3 4.................................................................................................................................................................10 Kompensasi Daya ........................ 3......... 3-12 3-17 3-21 3-33 3-40 3-45 3-53 3-55 3-58 3-61 BAB 4 4 ..............................................3 Prinsip kerja Transformator ........................4 Tranformator Ideal ......2 Transformator .............3.8 Sistem Listrik Tiga Fasa .............................. 4-17 4........... 4-20 4......................... 3..................... 4-15 4............................................................. 4-2 4... 4-23 4..........................7 Resonansi ...... 4-10 4...................5 Inti Transformator ........................................ 4-12 4.... 4-18 4.......................................23 Pengelompokan Hubungan Transformator ...................................................... 4-9 4................................15 Trafo Pengukuran Arus ..........................12 Transformator khusus ...............17 Inti Transformator 3 Phasa ............................................................................................. 4-7 4......................................................... 1 M e s i n Listrik ...........................................4 Bilangan Komplek ...........9 Pengukuran Daya Listrik Tiga Phasa .......................................................

.................................................... 6-9 6.3 Hubungan Kecepatan.................1 Mesin Arus Searah ................. 5......... 5........7 Putaran Motor Induksi ............................................ Torsi dan Daya Motor .................... 5................5 Konstruksi Motor Induksi .21 Rangkuman ..7 Reaksi Jangkar .....................11 Pengaturan Kecepatan Motor DC .............. 6-2 6................................ 5.. 5.................................................................................... 6-8 6....8 Karakteristik Torsi Motor Induksi ........................................8 Arah Putaran Mesin DC .......15 Motor DC belitan Shunt.................... 6-18 6..............14 Motor DC penguat terpisah ....................................................................................................................... 6-19 6...... 5....................15 Motor Dua Kecepatan (Dahlander) .........16 Prinsip kerja Motor AC Satu Phasa ................................................... 6-20 6. 6-15 6..18 Motor Shaded Pole ............. 5..............................................................12 Reaksi Jangkar pada Motor DC .....................................................6 Rugi-rugi dan Efisiensi Motor Induksi ..................11 Pengasutan Resistor Stator .........................10 Starting Motor DC ..................19 Motor Universal ............10 Pengasutan Hubungan Langsung (DOL) .................. 5................4 Generator belitan Shunt ................ 5........................................ 6-16 6...................................... 5............................................................................ ..................... . 6-21 ................. 6-13 6......................... 6-10 6............14 Pengasutan Motor Slipring ......................................................................................................................... 5... 6-7 6.............. 5.......6 Konstruksi Generator DC ................4 Prinsip Kerja Motor Induksi ................................................ 5-22 Soal-soal ...... 5.. 5................................................................BAB 5 5.......... 5-2 5-2 5-3 5-4 5-7 5-7 5-9 5-9 5-10 5-11 5-12 5-14 5-15 5-16 5-19 5-20 5-22 5-23 5-24 5-25 5-25 5-27 BAB 6 6.......2 Prinsip kerja Generator DC .......12 Pengasutan Saklar Bintang-Segitiga.......................20 Motor Tiga Phasa Suply Tegangan Satu Phasa . 6-12 6....................13 Motor belitan Seri ................................. 6-4 6............2 Mengukur Torsi .................................... 5.......................................3 Generator penguat terpisah ................. 5.......5 Generator belitan Kompound.....................1 Mengukur Kecepatan Putaran .......................... 5..................................17 Motor Kapasitor ..9 Prinsip kerja Motor DC .............9 Pengasutan Motor Induksi .............................................13 Pengasutan Soft Starting ................................. 5.... 6-8 6.......................... 5........ 5......................

....................3 Pengendalian Kontaktor Elektromagnetik .................................. Alat Ukur Besi Putar .................................. 8-10 8......... 8-3 8........... Data Teknik Osiloskop ............. 8-9 8............... Osiloskop Dua Kanal ...............................13 Soal-soal ................................................................................................................................. 6-22 6......................... 7-24 7........ 8-14 8.. 7-21 7.................. Alat Ukur Digital ... Alat Ukur Elektrodinamik ..................... 8-2 8................................................... Alat Ukur Piringan Putar ... 7-7 7..................19 Rangkuman .2 Komponen Sistem Pengendalian .17....1......................... 8-18 8........ Alat Ukur Analog Kumparan Putar .....20...........7. 7-19 7... 7-34 BAB 8 8.......................................................17 Belitan Jangkar ..... 7-2 7.10................ 8-4 8................................................. 8-7 8........ Pengukuran Tegangan DC ...................... Alat Ukur Listrik Analog .........................9... 8-19 8................ 7-14 7.............. .....................................12 Rangkuman ............... 8-7 8............................ Direct ON Line ............. 8-14 8........... 6-21 6..... Multimeter Analog .................. 8-19 8..........................9 Panel Kontrol Motor ........ Ukuran Standar Kelistrikan ...........3...12........ 7-3 7......18 Rugi-rugi Daya dan Efisiensi Motor DC ............................................................................................. Sistem Pengukuran .... 8-4 8.......................................1 Sistem Pengendalian ........ 8-8 8.. 8-17 8............................ …….10 Instalasi Motor Induksi Sebagai Water Pump .18. Osiloskop Digital ................14...7 Pengendali Dua Motor Bekerja Bergantian ....... 6-33 BAB 7 7......................................... Pengukuran Tahan ......................... Pengukuran Arus DC .....4... 6-29 6..................................................... 7-26 7...................11 Rangkaian Kontrol Motor ...4 Pengendalian Hubungan Langsung...................6................................................... 8-16 8............. 6-30 6................... Osiloskop .......................................... Sistem Satuan .13..................................8.............................. ......................... 7-33 7............5 Pengendalian Bintang-Segitiga ..... 7-17 7.....8 Pengendalian Motor Soft Starter .....................5.. Alat Ukur Listrik .................................6.................................................. Osiloskop Analog ...................19... 8-21 8....................16.......6 Pengendalian Putaran Kanan-Kiri ........ 7-8 7....20 Soal-soal ................... 8-22 ............................................. Jembatan Wheatstone ............11.... 7-10 7............................................................................. 8-5 8...........15..................................................... .2..... 8-12 8............................................16 Motor DC belitan Kompound ..............

......................2 Komponen Elektronika Daya ....... 9-4 9.................10-25 10..10-11 10................. 8........................................................8 Penyearah Terkendali Thyristor ..1.......... Sistem Pengamanan Bahaya Listrik .................................. 9-8 9........7 Penyearah Diode .. 8-24 8-28 8-29 8-31 BAB 9 9.............................6 Diode ................................................................................................7.........................................................................................................................................21.4..... 9-2 9....................4 Transistor ............ 10-30 10..... 9-21 BAB 10 10......... Proteksi Tegangan Ekstra Rendah . Tindakan Pengamanan untuk Keselamatan ......................................................................2 Struktur Atom Semikonduktor ............................................3 Semikonduktor Tipe N .. 10-9 10.....4 Semikonduktor Tipe P ........................... 8.... 8...................................23....24....1 Konversi Daya ...................................... 10-1 10. Metode Lissajous ...............................................11 Rangkuman ............................................................................. 11............. 11.........................10 Garis Beban Transistor .......12 Soal-soal ......... 9-4 9................. Proteksi dengan Rintangan .......11 Rangkuman ........................................................................................... 9-20 9................................... 10-31 BAB 11 11..............12 Soal-soal ............................. 10-4 10...3 Diode ................8.......... 9-10 9..................... 10-6 10.......7 Diode Zener .......10 Aplikasi Elektronika Daya .................6.................... 11.............. Kode International Protection .....................8 Transistor Bipolar .......... 10-18 10........6 IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor) . Rangkuman ...........1 Bahan Semikonduktor ............. 9-5 9...................................... Soal-Soal ... 9-11 9.................... Proteksi dengan Isolasi Bagian Aktif ...................... 9-1 9.............................................................. 11.............................3......... 9-3 9........................................................................ 10-4 10.9 Transistor dalam Praktek .................................................10-26 10...22..........5.... 10-12 10.........................5 Sambungan PN ................2....... 11-2 11-4 11-7 11-8 11-9 11-10 11-11 ................... 11..................................9 Modul Trigger TCA 785 . Jenis Gangguan Listrik .. 11. 9-6 9......5 Thyristor ........................ Pengukuran Dengan Osiloskop ........................

... 12-25 12...... 12-17 12............. Proteksi dari Sentuhan Tidak Langsung .........20......... 11-13 11.............16. 12-10 12.......................13......... 11-20 11................................................... Proteksi dengan Isolasi Ganda .. Pengukuran Tahanan Pembumian dengan Voltmeter dan Ampermeter ...20....................18... 12-28 12....8..................... Kontroler Integral (I) .............11..1................. Pengukuran Tahanan Isolasi Lantai dan Dinding ........ 11-27 BAB 12 12....15...............12............... 11-12 11...................... 11-25 11........... 12-23 12........ Proteksi Gawai Proteksi Arus Sisa (ELCB) ....... 12-20 12. Seleksi tipe Kontroler untuk Aplikasi Tertentu .14... 11-24 11.... Kontroler Proporsional Derivatif (PD) ...................................................15...... 11-18 11......10................... 11-22 11.................. Pengertian sistem Pengaturan ....... Kontroler Proporsional Integral (PI) ........4............. Kontroler Derivatif (D) ............9............................. Soal-soal ................................... 12-37 .............. Proteksi pemisahan Sirkit Listrik ............... 12-36 12.... 12-18 12. 12-26 12......... Kontroler D u a Posisi ........ Proteksi lokasi tidak Konduktif ..................................... 11-15 11.............8...............................19....... Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TN .......18.............. 11-17 11.9...................................12.................. Rangkaian Dasar ............... Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TT ..... Soal-soal . 12-5 12............................. 12-2 12.....3........ Sistem Pembumian TN ............... 11-24 11....... Jenis Sistem Distribusi ................................................. Kontroler Proporsional (P) . Elektropneumatik ...........................12-17 12...... 12-29 12... Rangkuman .21....... Tipe Kontroler .... Komponen Elektro Pneumatik ...............11.................6. Kontroler Tiga Posisi .............. Diagram Blok Sistem Kontrol .......... Rangkuman ....... Pengujian Sistem Pembumian TN ......... 12-27 12.........................................23.10.....17............. 11-23 11........ 11-11 11................................ 12-23 12....................... 11-19 11...........14.19........ 12-35 12.......... Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian IT ... Pengukuran Tahanan Pembumian ..13............12-24 12............ 11-21 11........... Karakteristik Osilasi pada Sistem Kontrol ........................... 12-27 12.........11...............17........................................ Optimisasi Kontroler ........2....24...................... Kontroler PID ..................................... 11-25 11.. 12-22 12...16.....................................................22...................... Pengukuran Arus Sisa dan Tegangan pada ELCB ..............7..5........ 11-14 11................ Perilaku Sistem Kontrol ...

............. Peranan Tenaga Listrik ....................................... 13................1... 14.......10........BAB 13 13............ Beban Listrik ... 13........... 13.............. 13.. Sistem Mikrohidro 15..10.....................7.8...4................................2........... Pendahuluan .................................5......13................................................. 14.... 13..............1...................5. Soal-soal 15-2 15-2 15-4 15-4 15-4 15-8 15-9 15-10 15-13 15-14 15-16 15-17 15-17 .................9....................... Kerja Parallel Generator ................................................................ Menentukan Resistansi dan Reaktansi .....11.... Jaringan Listrik .7......... Langkah Pertama Keselamatan 15.......... 14... 13. 14-2 14-2 14-3 14-5 14-9 14-18 14-20 14-26 14-27 14-31 14-32 BAB 15 15............... 13.................... 14. Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik ........... 14.......... Peringatan Tentang Pengoperasian Mikrohidro 15..................1. Penggunaan Energi ......................... Komponen Generator Mikrohidro 15..................... Pembangkit Mikrohidro 15.... Penghantar .... 14........ 14..................6............ Instalasi Mikrohidro 15............ 13. Memilih Lokasi Mikrohidro 15...11.......7. Pengaturan Tegangan .......... 13..................... Rangkuman .... Generator Berbeban ...........................4..... Panel Hubung Bagi (PHB) .................................. 14....8..............................3..... Generator Tanpa Beban ......... Perawatan Dan Perbaikan 15..... 13-1 13-2 13-10 13-12 13-13 13-15 13-18 13-23 13-26 13-27 BAB 14 14........5....... Pengoperasian 15...10.....................................9. Soal-soal ..... Konstruksi Mesin Sinkron ......... Rangkuman ...9... Spesifikasi Teknik 15................. Prinsip Kerja ........... Alat Pengukur dan Pembatas (APP) ..... Desain Bendungan 15...................2...3......... Sejarah Penyediaan Tenaga Listrik ........ Soal-soal ..........3....... 14....... 14........6..12........6....... Rangkuman 15.8...................................................2.............................4.........

.

......... 10-1 10-4 10-4 10-6 10-9 10-11 10-12 10-18 10-25 10-26 10-30 10-31 ........................................... 10..........................................................................................12 Soal-soal .......................................10 Aplikasi Elektronika Daya ............................ 10................................................................................................. 10.................................BAB 10 ELEKTRONIKA DAYA Daftar Isi : 10................. 10.........11 Rangkuman .. 10........................3 Diode .....5 Thyristor ............8 Penyearah Terkendali Thyristor ...9 Modul Trigger TCA 785 ....................... 10.................... 10................ 10........... 10....4 Transistor .. 10...........................6 IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor) ..........2 Komponen Elektronika Daya .....1 Konversi Daya ........................................ 10..............7 Penyearah Diode ..............................................................................

Pertama dari listrik PLN 220 V melalui penyearah yang mengubah listrik AC menjadi listrik DC yang dibebani motor DC. Contoh: Listrik AC 220 V/50 Hz diturunkan melewati trafo menjadi 12VAC dan kemudian disearahkan oleh Diode menjadi tegangan DC 12V 10-2 . ada empat jenis pemanfatan energi yang berbeda-beda gambar-10. Ketiga dari sumber PLN 220 V dengan AC konverter diubah tegangannnya menjadi 180 V untuk menyalakan lampu.1 dijelaskan ada empat konverter daya yang terbagi dalam empat kuadran. Keempat dari sumber Akumulator truk 24 V dengan DC konverter diubah tegangan 12 V untuk pesawat CB Transmitter.Elektronika Daya 10. Kuadrant 1 disebut penyearah fungsinya menyearahkan listrik arus bolak-balik menjadi listrik arus searah.1 : Pemanfaatan Energi Listrik Pada gambar-10. Energi mengalir dari sistem listrik AC satu arah ke sistem DC. Gambar 10. 1. Kedua mobil dengan sumber akumulator 12 V dengan inverter yang mengubah listrik DC menjadi listrik AC dihasilkan tegangan AC 220 V dibebani PC.1.1. Konversi Daya Ada empat tipe konversi daya.

yaitu pengatur tegangan AC (tegangan berubah. 3. Rancangan konverter daya paling sedikit mengandung lima elemen gambar-10. (3) piranti pengaman dan monitoring. (4) sistem kontrol lop tertutup dan (5) beban. 4. yaitu (1) sumber energi. Kuadran 3 disebut inverter yaitu mengubah listrik arus searah menjadi listrik arus bolak-balik pada tegangan dan frekuensi yang dapat diatur. Contoh: Listrik DC 12 V dari akumulator dengan perangkat inverter diubah menjadi listrik tegangan AC 220V. Kuadran 2 disebut DC chopper atau dikenal juga dengan istilah DCDCkonverter. (2) komponen daya. sumber energi piranti pengaman dan monitoring komponen daya sistem kontrol lop tertutup beban Gambar 10. frekuensi konstan) dan cycloconverter (tegangan dan frekuensi dapat diatur).Elektronika Daya 2. frekuensi 50 Hz. Contoh: tegangan AC 220 V dan frekuensi 50 Hz menjadi tegangan AC 110 V dan frekuensi yang baru 100 Hz. Kuadran 4 disebut AC-AC konverter yaitu mengubah energi listrik arus bolak balik dengan tegangan dan frekuensi tertentu menjadi arus bolak balik dengan tegangan dan frekuensi yang lain.2 : Diagram Blok Konverter Daya 10-3 . Contoh: Listrik DC 15V dengan komponen elektronika diubah menjadi listrik DC 5V. Ada dua jenis konverter AC. Listrik arus searah diubah dalam menjadi arus searah dengan besaran yang berbeda.2.

5. 10-4 . mengalirkan arus anoda yang besar (IA). Bahan semikonduktor memiliki sifat bisa menjadi penghantar atau bisa juga memiliki sifat menghambat arus listrik tergantung kondisi tegangan eksternal yang diberikan. 10. Triac. Komponen Elektronika Daya Bahan konduktor memiliki sifat menghantar listrik yang tinggi. Komponen Transistor daya harus memenuhi persyaratan memiliki tegangan kolektor-emiter (VCEO) yang besar.4: Thyristor arus kolektor (IC) terpenuhi. kemampuan menahan perubahan arus sesaat di/dt serta kemampuan menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt. Transistor . aluminium.4. Tetapi ketika diberikan bias mundur. Gambar 10.3: Transistor daya Diode yang dipakai elektronika daya memiliki syarat menahan tegangan anoda-katode (VAK) besar. menahan perubahan arus sesaat di/dt. Gambar 10. Demikian juga dengan komponen Thyristor mampu menahan tegangan anoda-katoda (VAK).3 dan gambar 10. dan mampu menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt gambar 10. baja. bahan semikonduktor memiliki sifat sebagai isolator. besi. bahan konduktor dipakai sebagai konduktor listrik. yaitu Anoda dan Katoda gambar 10. yaitu dari anode ke katoda yang disebut posisi panjar maju (forward). Ketika diberikan tegangan bias maju.Elektronika Daya 10. seperti kawat tembaga. Namun Diode memiliki keterbatasan menahan tegangan panjar mundur yang disebut tegangan break down. dsb. yang disebut panjar mundur (reverse) gambar 10. dapat melewatkan arus anoda (IA) yang besar. Diode Diode memiliki dua kaki. Jika tegangan ini dilewati maka Diode dikatakan rusak dan harus diganti yang baru.Thyristor.3.2. penguatan DC (β) yang besar. Beberapa komponen elektronika daya meliputi: Diode. mampu menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt. maka semikonduktor akan berfungsi sebagai konduktor. Sebaliknya Diode akan menahan aliran arus atau memblok arus yang berasal dari katode ke anoda. Diode hanya dapat melewatkan arus listrik dari satu arah saja.6. IGBT dsb.

5. Sumbu vertikal untuk menunjukkan arus (mA sampai Amper).7. Garis arus maju (forward) dimulai dari sumbu nol keatas dengan satuan Amper.6. Pada kondisi panjar mundur (reverse) Diode dalam posisi memblok arus. Diode silikon akan mulai forward ketika telah dicapai tegangan cut-in sebesar 0. 10-5 . Karakteristik Diode menggambarkan arus fungsi dari tegangan. Simbol dan fisik Diode Gambar 10. Garis arus mundur (reverse) dimulai sumbu nol ke arah bawah dengan orde mA.7 Volt. Tegangan positif (forward) dihitung dari sumbu nol ke arah kanan. untuk Diode germanium tegangan cut-in 0. Diode memiliki batas menahan tegangan reverse pada nilai tertentu.Elektronika Daya Gambar 10. Tegangan negatif (reverse) dimulai sumbu negatif ke arah kiri. a) Panjar maju (forward) dan b) panjar mundur (reverse) Pada kondisi panjar maju (forward) Diode mengalirkan arus DC dapat diamati dari penunjukan ampermeter dengan arus If. kondisi ini disebut posisi mundur (reverse). Jika tegangan reverse terlampaui maka Diode akan rusak secara permanen gambar 10. untuk tegangan disebut tegangan maju Uf (forward).3 Volt. Karakteristik sebuah Diode digambarkan oleh sumbu horizontal untuk tegangan (Volt).

Jika tegangan breakdown ini terlewati dipastikan diode akan terbakar dan rusak permanen.8.7: Karakteristik Diode Dari pengamatan visual karakteristik diode diatas dapat dilihat beberapa parameter penting. 1. Gambar 10. bahwa Transistor memiliki dua kemampuan.8: Karakteristik Output Transistor 10-6 .5 mA sampai 4. Transistor berfungsi bekerja sebagai saklar yang bekerja ON/OFF pada kecepatan yang sangat tinggi dalam orde mikro detik. Dalam aplikasi elektronika daya.Elektronika Daya Gambar 10. tegangan breakdown terjadi pada tegangan mendekati 75V. 100 mA. 150 mA sampai 370 mA dan arus kolektor IC terbesar 400 mA. yaitu dimulai dari terkecil IB = 0. 10. Transistor banyak digunakan sebagai saklar elektronika. 0. pertama sebagai penguatan dan kedua sebagai saklar elektronik.5 mA. Karakteristik output Transistor BD 135 yang diperlihatkan pada gambar-10.6V tegangan reverse maksimum yang diijinkan sebesar 50V. 1.0 mA dan terbesar 4. Ada sepuluh perubahan arus basis IB. Tampak perubahan arus kolektor IC terkecil 50 mA.0 mA.4. Misalnya dalam teknik Switching Power Supply. Transistor Daya Pembahasan tentang Transistor sudah dibahas pada Bab 9 Elektronika Dasar. yaitu : Tegangan cut-in besarnya 0.5 mA.2 mA.

Dengan pengaturan arus basis IB Transistor dapat difungsikan sebagai saklar elektronik dalam posisi ON atau OFF. Ketiga ketika arus basis IB mendekati nol.9 : Transistor Sebagai Saklar Gambar 10. Dengan tegangan supply UB = 12V dan pada tegangan basis U1.4. Ketika Transistor sebagai saklar kita akan lihat tegangan kolektor terhadap emitor UCE.Elektronika Daya 10.1. tegangan UCE mendekati tegangan UB dan arus basis IB dan arus kolektor IC mendekati nol. sehingga lampu P1 menyala. yaitu ketika Transistor kondisi ON. Saat Transistor kondisi ON tegangan UCE saturasi.10 : Tegangan Operasi Transistor sebagai saklar Gambar 10. Ketika Transistor kondisi OFF. terjadi saat arus basis IB maksimum pada titik A3. Jika tegangan basis U1 dimatikan dan arus basis IB=0. Pertama Transistor kondisi sebagai saklar ON terjadi ketika tegangan UCE saturasi. 10-7 . yaitu dengan mengatur arus basis IB dapat menghasilkan arus kolektor IC yang dapat menghidupkan lampu P1 dan mematikan lampu. Ada dua kondisi. akan mengalir arus basis IB yang membuat Transistor cut-in dan menghantarkan arus kolektor IC. Arus basis IB dan arus kolektor maksimum dan tahanan kolektor emitor RCE mendekati nol.10.11 : Garis Beban Transistor Karakteristik output Transistor memperlihatkan garis kerja Transistor dalam tiga kondisi. Kedua Transistor berfungsi sebagai penguat sinyal input ketika arus basis IB berada diantara arus kerjanya A2 sampai A1. Gambar 10. dan Transistor kondisi OFF. Transistor sebagai Saklar Transistor dapat difungsikan sebagai saklar elektronik. pada saat tersebut tahanan RCE tak terhingga gambar-10. terjadi antara 0 sampai 50 mdetik.11. dengan sendirinya Transistor kembali mati dan lampu P1 akan mati. Transistor kondisi OFF ketika tegangan UCE sama dengan tegangan suply UB titik A1 gambar-10.

I C 3.I C IB = U IB IBmin Bmin IC RV U1 UBE Faktor penguatan tegangan Arus basis Arus basis minimum Faktor penguatan Transistor (β) Arus kolektor Tahanan depan basis Tegangan input Tegangan basis emitor Contoh : Transistor BC 107 difungsikan gerbang NAND = Not And. RC = 150 Ω b) RV = RV = 5.I C IB = U .4V − 0.65V − 0.2 V dan faktor penguatan tegangan U = 3.12 Tentukan besarnya tahanan RC dan RV ? Gambar 10.5 k Ω . IBmin Bmin (U 1 − U BE ). arus mengalir pada LED IF = 20 mA.2V = If 20mA (U 1 − U BE ).4 V.20mA RC = 158 Ω .65 V. tegangan saturasi UCEsat = 0. dan Bmin = 120.12 : Transistor Sebagai Gerbang NAND Jawaban : a) RC = U b − U F − U CEsat 5V − 1.120 = U . tegangan UBE = 0.Bmin (3.Bmin RV = U . tegangan sinyal 1 U1 = 3.6 kΩ 10-8 . RV = 5.Elektronika Daya U . tegangan LED UF = 1.65 V.65V ). gambar-10.

13 maka arus induksi pada relay diode bukan dialirkan lewat melewati kolektor Transistor.14 Gambar 10. yaitu tegangan forward UF dan tegangan reverse UR. Tegangan reverse untuk Thyristor UR sekitar 600 Volt.15. Ketika Transistor dari kondisi ON dititik A2 dan menuju OFF di titik A1 timbul tegangan induksi pada relay. maka ada arus yang tetap dipertahankan disebut arus holding IH sebesar 5 mA. Thyristor Thyristor dikembangkan oleh Bell Laboratories tahun 1950-an dan mulai digunakan secara komersial oleh General Electric tahun 1960an. maka tegangan keluaran dari Anoda bisa diatur. yaitu Anoda.Elektronika Daya 10. Thyristor atau SCR (Silicon Controlled Rectifier) termasuk dalam komponen elektronik yang banyak dipakai dalam aplikasi listrik industri. dengan mengatur arus gate IG yang besarnya antara 1 mA sampai terbesar 100 mA. Gambar 10. salah satu alasannya adalah memiliki kemampuan untuk bekerja dalam tegangan dan arus yang besar. jika arus gate diatur dari 0 mA sampai diatas 50 mA. Thyristor memiliki tiga kaki. Pada tegangan forward UF. Transistor Penggerak Relay Kolektor Transistor yang dipasang kan relay mengandung induktor.5.13 : Transistor Sebagai Penggerak Relay 10. Juga dikenal ada dua jenis Thyristor dengan P-gate dan N-gate gambar-10. Dengan diode R1 yang berfungsi sebagai running diode gambar-10. Katoda dan Gate.14 : Bentuk Fisik & Simbol Thrystor Fungsi Gate pada Thyristor menyerupai basis pada Transistor.4.4 A sampai dengan 1500 A.000 Volt dan mampu mengatur arus 0. Karakteristik Thyristor memperlihatkan dua variabel.2. Agar Thyristor tetap ON. dan variabel arus forward IF dan arus reverse IR gambar-10. Tegangan yang mampu diatur mulai dari 50 Volt sampai 5. maka Thyristor akan cut-in dan mengalirkan arus forward IF. 10-9 .

16: Nilai Batas Thrystor Aplikasi Thyristor yang paling banyak adalah sebagai penyearah tegangan AC ke DC yang dapat diatur. yaitu : tegangan gate-katode = 0.15: Karakteristik Thrystor Thyristor TIC 106 D sesuai dengan data sheet memiliki beberapa parameter penting.Elektronika Daya Gambar 10.17 tampak empat Thyristor dalam hubungan jembatan yang dihubungkan dengan beban luar RL.8 V.2 mA. Tegangan kerja yang diijinkan pada Anoda = 400 V dan dapat mengalirkan arus nominal = 5 A. Gambar 10. 10-10 . agar Thyristor tetap posisi ON diperlukan arus holding = 5 mA. arus gate minimal 0. Gambar-10.

18 : Struktur Fisik dan Kemasan IGBT IGBT memiliki kesamaan dengan Transistor bipolar. arus Collector IC dari 2 A sampai 24 A. perbedaannya pada Transistor bipolar arus basis IB yang diatur. pada tegangan UCE = 20 V dan tegangan gate diatur dari minimum 8 V. Dimasa depan IGBT akan menjadi andalan dalam industri elektronika maupun dalam listrik industri. IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor) IGBT komponen elektronika yang banyak dipakai dalam elektronika daya. dipakai komponen utama Variable Voltage Variable Frequency (VVVF) pada KRL modern. 9 V dan maksimal 16 V.6.17: Fuse Sebagai Pengaman Thrystor 10. Sedangkan pada IGBT yang diatur adalah tegangan gate ke emitor UGE. aplikasinya sangat luas dipakai untuk mengatur putaran motor DC atau motor AC daya besar.Elektronika Daya Gambar 10. Dari gambar-10. dipakai dalam kontrol pembangkit tenaga angin dan tenaga panas matahari. 10-11 .19 karakteristik IGBT. Gambar 10. dipakai sebagai inverter yang mengubah tegangan DC menjadi AC.

10.7. Penyearah dengan Diode sering disebut penyearah tanpa kendali. Tegangan input U1 merupakan gelombang sinusoida. listrik DC dipakai untuk berbagai kebutuhan misalnya Power Supply. Penyearah dengan Thyristor termasuk penyearah terkendali. Pengisi Akumulator. 10-12 Gambar 10.20. Penyearah Diode Setengah Gelombang Satu Phasa Rangkaian transformator penurun tegangan dengan sebuah Diode R1 setengah gelombang dan sebuah lampu E1 sebagai beban. Penyearah Diode Penyearah digunakan untuk mengubah listrik AC menjadi listrik DC.7. artinya tegangan output yang dihasilkan bisa diatur dengan pengaturan penyalaan sudut α sesuai dengan kebutuhan. dan tegangan output setelah Diode Ud bentuknya setengah gelombang bagian yang positifnya saja gambar 10. Komponen elektronika yang dipakai Diode. artinya tegangan output yang dihasilkan tetap tidak bisa dikendalikan. Ada empat tipe penyearah dengan Diode.Elektronika Daya Gambar 10.20: Diode Setengah Gelombang 1 Phasa .19 : Karakteristik Output IGBT 10.1. terdiri penyearah setengah gelombang dan gelombang penuh satu phasa dan setengah gelombang dan gelombang penuh tiga phasa. Alat penyepuhan logam. atau Thyristor. Sekunder trafo sebagai tegangan input U1 = 25 V dan bentuk tegangan output DC dapat dilihat dari osiloskop.

Penyearah Diode Gelombang Penuh Satu Phasa Sekunder transformator penurun tegangan dipasang empat Diode R1.Elektronika Daya Persamaan tegangan dan arus DC : Udi=0. Tegangan DC yang dihasilkan mengandung riak gelombang dan bukan DC murni yang rata. Pd Udi Ud U1 Iz Id PT Pd Tegangan searah ideal Tegangan searah Tegangan efektif Arus melewati Diode Arus searah Daya transformator Daya arus searah 10.2. dan titik Ct difungsikan sebagai terminal negatipnya. Output dihubungkan dengan beban RL.9 . R3 dan R4 yang dihubungkan dengan sistem jembatan gambar 10.21. Gambar 10.U1 I z = Id PT = 3. Tegangan DC pulsa pertama melalui Diode R1 dan R4. 10-13 . disini cukup dipakai dua buah diode. Pd Penyearah gelombang penuh satu phasa bisa juga dihasilkan dari trafo yang menggunakan centre-tap (Ct).21 : Rangkaian Penyearah Jembatan .Diode Persamaan tegangan DC : Udi=0. R2.7.45. sedangkan pulsa kedua melalui Diode R3 dan R2.1 . U1 Udi Ud U1 Iz Id PT Pd Tegangan searah ideal Tegangan searah Tegangan efektif Arus melewati Diode Arus searah Daya transformator Daya arus searah Iz = Id 2 PT = 1.23 .

0. tegangan ripple up =3. 1 A c) CG= 0.88 V Gambar 10. frekuensi ripple fp =100Hz. 3.23 .7 V. tegangan cut-in Diode Uf = 0. Pd = 1.75 . Gambar 10. terjadi pengosongan muatan kapasitor. Hitunglah: a) Faktor daya transformator b) Berapa besarnya tegangan AC c) Tentukan besarnya kapasitas kapasitor Jawaban : a) PT = 1. Berikutnya Diode R2 dan Diode R3 melewatkan tegangan negatif menjadi tegangan DC positif.up 100 Hz .4 V 10-14 . Saat tegangan dari puncak menuju lembah.7 V = 9.23 : Penyearah Jembatan Dengan Filter RC 0. Uf = 12 v 2 + 2 . dan arus 1A.23.up CG Kondensator Id Arus searah fp Frekuensi riple Up Tegangan riple Contoh : Penyearah gelombang penuh diberikan tegangan 12VAC.75 .22 .8 W b) U1= Ud 2 + 2 .22 : Penyearah Jembatan Dengan Filter Capasitor CG = 0. Ιd = ≈ 2200μF fp.1A = 14. Ketika Diode R1 dan Diode R4 melalukan tegangan positif.Elektronika Daya Untuk meratakan tegangan DC dipasang kapasitor elektrolit CG berfungsi sebagai filter dengan beban RL gambar 10. kapasitor CG mengisi muatan sampai penuh. Kapasitor CG mengisi muatan dan mengosongkan muatan. Ιd fp.23 .75 . 12V.4V. Rangkaian filter dengan kapasitor menjadikan tegangan DC menjadi lebih rata gambar 10.

R2 dan R3 anak konduksi secara bergantian sesuai dengan siklus gelombang saat nilainya lebih positif. masih mengandung riak (ripple). Diode hanya konduksi ketika tegangan anode lebih positif dibandingkan tegangan katode.7. sampai 2700. • Diode R1 mulai konduksi setelah melewati 300. • Diode R2 mulai konduksi pada sudut 1500. Gambar 10. atau sepanjang 1200. R2 dan R3 ketika katodenya disatukan menjadi terminal positif gambar-10.25.25: Penyearah ½ Gelombang 3 Phasa Diode Terbalik Urutan konduksi masing-masing Diode R1. Tegangan DC yang dihasilkan negatif gambar-10. 10-15 .24. R2 dan R3 dipasang terbalik.Elektronika Daya 10. R2 juga konduksi sepanjang 1200. R2 dan R3 pada penyearah setengah gelombang dapat diperiksa pada gambar-10. Masing-masing Diode akan konduksi ketika ada tegangan positif. sampai sudut 1500. Arus searah negatif kembali ke sekunder trafo melalui kawat N.24 : Penyearah Diode ½ Gelombang 3 Phasa Rangkaian penyearah Diode setengah gelombang dengan ketiga Diode R1. ketiga anodenya disatukan sebagai terminal positif.3. • Diode R3 mulai konduksi pada sudut 2700. Tegangan DC yang dihasilkan melalui beban resistif RL. Diode R1. Penyearah Diode Setengah Gelombang Tiga Phasa Rangkaian penyearah Diode tiga phasa menggunakan tiga Diode penyearah R1. 3 pulsa/ periode Gambar 10. Tegangan DC yang dihasilkan tidak benar-benar rata. sedangkan tegangan yang negatif akan diblok.56. sampai 3900 juga sepanjang 1200.

R6 dan R2 anodanya yang disatukan sebagai terminal negatif gambar 10. Gambar 10. Tegangan DC yang dihasilkan memiliki enam pulsa yang dihasilkan oleh masing-masing Diode tsb. Pd 10.26 : Urutan Kerja Penyearah Diode 3 Phasa ½ Gelombang Persamaan tegangan dan arus penyearah setengah gelombang: Udi=0. Penyearah Diode Gelombang Penuh Tiga Phasa Penyearah Diode gelombang penuh tiga phasa menggunakan sistem jembatan dengan enam buah Diode R1. Tegangan DC yang dihasilkan halus karena tegangan riak (ripple) kecil dan lebih rata. 10-16 .5 .7.27.68 . U1 Udi Ud U1 Iz Id PT Pd Tegangan searah ideal Tegangan searah Tegangan efektif Arus melewati Diode Arus searah Daya transformator Daya arus searah Iz = Id 3 PT = 1. Diode R4. R3 dan R5 katodanya disatukan sebagai terminal positif.4.Elektronika Daya Dapat disimpulkan ketiga Diode memiliki sudut konduksi 1200.

Konduksi dimulai dari Diode R1+R6 sepanjang sudut komutasi 600. U1 Udi Ud U1 Iz Id PT Pd Tegangan searah ideal Tegangan searah Tegangan efektif Arus melewati Diode Arus searah Daya transformator Daya arus searah 10-17 Iz = Id 3 PT = 1. lanjutnya Diode R3+R2. Jelas dalam satu siklus gelombang tiga phasa terjadi enam kali komutasi dari keenam Diode secara bergantian dan bersama-sama. Berturut-turut disusul Diode R1+R2. dimana konduksi secara bergantian.27 : Penyearah Jembatan Gelombang Penuh 3 Phasa Urutan konduksi dari keenam Diode dapat dilihat dari siklus gelombang sinusoida.1 .35 .Elektronika Daya Gambar 10.28. Apa yang terjadi ketika salah satu dari Diode tersebut rusak ? Gambar 10. Pd . urutan keempat R3+R4. kelima R5+R4 dan terakhir R5+R6 gambar 10.28 : Bentuk Gelombang Penyearah Penuh 3 Phasa Persamaan tegangan dan arus penyearah Diode gelombang penuh: Udi=1.

04 1.23 0. penyearah tak terkendali menghasilkan tegangan keluaran DC yang tetap. PT: daya trafo.68 0. Penyearah Terkendali Thyristor Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa. 10-18 .18 1. Vd: tegangan dcberbeban. IZ: arus yang mengalir melalui satu dioda 10.Elektronika Daya Tabel 10. Pd: daya dc.45 1. Tegangan keluaran penyearah Thyristor dapat diubah-ubah atau dikendalikan dengan mengendalikan sudut penyalaan α dari Thyristor. Jenis Penyearah Diode Jenis rangkaian Kode Rang kaian Penyearah satu-pulsa E1U Penyearah dua-pulsa jembatan B2U Penyearah tiga-pulsa.35 0.1 Id 0. V1: tegangan ac.1. Bila dikehendaki tegangan keluaran yang bisa diubah-ubah.48 1. Penyalaan ini dilakukan dengan memberikan pulsa trigger pada gate Thyristor.9 0. Id: arus dc.21 3.1 PT Pd IZ Id 2 Id 3 Id 3 Vdi: tegangan dc-tanpa beban.8.5 1. Pulsa trigger dibangkitkan secara khusus oleh rangkaian trigger. titik bintang M3U Penyearah enampulsa jembatan B6U Tega ngan tanpa beban Vdi V1 Faktor ripel 0. digunakan Thyristor sebagai pengganti dioda.

Gambar 10. Dengan penyearah Thyristor setengah gelombang hanya gelombang positif dari sinusoida yang dilewatkan.30 :Sudut Penyalaan dan Output Tegangan DC ½ Gelombang Persamaan tegangan pada beban resistif setengah gelombang: Udα= U (1+ cos α) 2 Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode Tegangan effektip Sudut penyalaan gate Pada beban resistif RL akan dihasilkan tegangan dan arus yang sephasa gambar10. dimana antara tegangan dan arus ada beda phasa. dengan mengatur sudut penyalaan gate Thyristor. Pada beban resistif RL.30 Tegangan negatif di blok tidak dilewatkan.8. Penyearah Thyristor Setengah Gelombang Satu Phasa Rangkaian penyearah Thyristor kelebihannya tegangan outputnya bisa diatur. pemanas heater. Dengan beban resistif RL maka arus dan tegangan yang dihasilkan sephasa. Yang termasuk beban resistif.1. arus beban dengan tegangan tidak sephasa. maka Thyristor akan konduksi dan mengalirkan arus kebeban. saat Thyristor diberikan trigger α Gambar 10. maka tegangan positif saja yang dilewatkan oleh Thyristor gambar-10.31.31 : Tegangan dan Arus DC Beban Resistif 10-19 . rice cooker.Elektronika Daya 10. misalnya lampu pijar. khususnya karena bebannya resistif RL. tegangan output yang dihasilkan akan mengecil sesuai dengan sudut konduksi dari Thyristor. Sebuah Thyristor Q1 dan sebuah beban resistif RL dihubungkan dengan listrik AC gambar10. Pada gate Thyristor diberikan penyalaan sebesar α. Kondisinya berbeda jika beban mengandung induktor.29: Penyearah Terkendali ½ Gelombang Gambar 10. Untuk beban terpasang mengandung resistifinduktif. ketika sudut penyalaan α diperbesar.29. Pada gate diberikan pulsa penyulut α. gelombang negatif di blocking oleh Thyristor.

33. Pada beban resistif-induktif ditambahkan sebuah Diode R1 (free wheel Diode). Trafo pulsa Trigger Thrystor gunanya sebagai isolasi rangkaian Thyristor dengan modul trigger gambar-10. sisi beban mengandung resistif-induktif.34. Gambar 10. Diode freewheel akan mengalirkan tegangan induksi sehingga tidak merusak Thyristor. Beban resistif memiliki sudut pengaturan pulsa triger 10-20 .32. Beban yang mengandung resistif-induktif adalah beban motor. Tetapi arus positif dan sebagian arus negatif dilakukan oleh Thyristor. Gambar 10. Ada Diode R1 yang diparalel dengan beban yang disebut sebagai free wheel Diode.35. misalnya beban motor DC.32 : Tegangan dan Arus DC Beban Induktif Untuk daya yang lebih besar. Thyristor akan konduksi lebih lama sebesar sudut θ dan pada beban muncul siklus tegangan negatif gambar-10. gate dikopel dengan trafo pulsa.Elektronika Daya arus beban naik dan tidak segera mencapai nol saat tegangan berada dititik nol. Rangkaian pengaturan beban dengan Thyristor setengah gelombang dihubungkan dengan sumber tegangan AC. untuk daya kecil hubungan modul trigger ke gate Thyristor bisa langsung gambar-10. Saat Thyristor menuju OFF maka induktor akan membangkitkan tegangan induksi. tegangan negatifnya diblok.33 : Modul Gambar 10. untuk beban resistif dan beban induktif gambar-10. Analisa gelombang yang dihasilkan Thyristor hanya konduksi saat tegangan positif saja.34 : Penyearah Thrystor dengan Diode Grafik tegangan Udα fungsi penyalaan sudut α. Terminal gate Thyristor dihubungkan dengan modul trigger. Pada beban resisitip-induksip. sudut pengaturan sudut α untuk beban resistif-induktif effektif antara 00 sampai 900. Potensiometer modul penyulut trigger untuk mengatur sudut penyalaan α.

dan pada tahap berikutnya menyusul Thyristor Q2 dan Q3 konduksi. bentuk tegangan searah antara tegangan dan arus se-phasa. Contoh : penyearah Thyristor dengan beban resistif.36 : Penyearah Terkendali Jembatan 1 Phasa Persamaan penyearah Thyristor gelomabang penuh satu phasa beban resistif RL.8. Gambar 10. Tegangan input 100VAC. Q3 dan Q4 dalam hubungan jembatan gambar-10. Untuk beban induktif sudut pengaturan pulsa trigger. Pada beban resistif RL. Dengan beban resistif RL. direkomendasikan antara 00 sampai 900. Penyearah Thyristor Gelombang Penuh Satu Phasa Penyearah terkendali penuh satu phasa dengan empat buah Thyristor Q1. Pasangan Thyristor adalah Q1Q4 dan Q2-Q3.75 ⇒ Udo Udo ∧ 0o: α = 0o = 100 V α = 60o = 75 V ∧ Gambar 10. masing-masing diberikan pulsa penyulut pada sudut α untuk siklus positif dan siklus negatif tegangan sumber.Elektronika Daya dari 00 sampai 1800. Q2. pada sudut penyalaan α maka Thyristor Q1 dan Q4 akan konduksi bersamaan.36.2. pengaturan sudut α dari 00 sampai 1800. 10-21 .35 : Grafik Fungsi Penyalaan Gate Thrystor 10. Hitung tegangan DC saat sudut penyalaan α = 00 dan α = 600 Jawaban : Udα = 1 ⇒ Udo Udo Udα 60o: = 0.

pengaturan sudut α dari 00 sampai 900 saja.37 : Penyearah Thyristor ½ Gelombang 3 Phasa 10-22 .U Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode.5.8.Elektronika Daya Udα =0. Gambar 10. Katode ketiga Thyristor disatukan menjadi terminal positif.U Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode Tegangan effektip Sudut penyalaan gate Untuk beban mengandung resistif dan induktif.Udo cos α Udo = 0. UG2.5. Masing-masing Thyristor mendapatkan pulsa penyalaan yang berbedabeda melalui UG1.37.9.3. Aplikasi dipakai pada pengaturan motor DC dengan daya tinggi.Udo (1+ cos α) Udo = 0. terminal negatif dari kawat netral N. Tegangan effektip Sudut penyalaan gate 10. dengan beban resistif RL gambar10.9. Penyearah tiga phasa digunakan untuk mendapatkan nilai rata-rata tegangan keluaran yang lebih tinggi dengan frekuensi lebih tinggi dibanding penyearah satu phasa. Tegangan DC yang dihasilkan melalui beban resistif RL. Q2 dan Q3. Penyearah Thyristor Setengah Gelombang Tiga Phasa Rangkaian penyearah Thyristor setengah gelombang tiga phasa dengan tiga Thyristor Q1. berlaku persamaan tegangan sebagai berikut: Udα =0. UG3.

Karena tiap phasa tegangan masukan berbeda 1200.38.39. Q5.UG5. Gambar 10. UG4 . Q4. berikutnya pada 10-23 . Sebuah beban resistif RL sebagai beban DC gambar. Contoh ketika tegangan DC terbentuk dari puncak gelombang UL1L2 yang konduksi Thyristor Q1+Q6. cos α Udo = 0. maka pulsa penyulutan diberikan dengan beda phasa 1200. Q6 dan Q2 disatukan menjadi terminal negatif. Penyearah Thyristor Gelombang Penuh Tiga Phasa Penyearah Thyristor tiga phasa terdiri atas enam buah Thyristor Q1.8. Katoda dari Diode Q1. Gambar 10. U Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode Tegangan efektif Sudut penyalaan gate 10. Q2. UG2.38 : Grafik Pengaturan Sudut Penyalaan Persamaan tegangan pada beban resistif. Tegangan DC yang dihasilkan mengandung ripple. Udα =Udo.Q3 dan Q5 disatukan sebagai terminal positif. UG3. dan Q6. Untuk beban induktif pengaturan sudut penyalaan α antara 00 sampai 900 gambar-10.40. pengaturan sudut penyalaan trigger α dari 00 sampai 1500. Q3. Pada beban resistif.39 : Penyearah Terkendali 3 Phasa Untuk melihat urutan konduksi dari keenam Thyristor dapat dilihat dari gelombang tiga phasa gambar-10.10. dan anode dari Thyristor Q4.676 . dan UG6.4. Masing-masing Thyristor mendapatkan pulsa penyalaan yang berbedabeda melalui UG1.Elektronika Daya Arus searah negatif kembali ke sekunder trafo melalui kawat N.

Elektronika Daya puncak tegangan –UL3L1 yang konduksi Thyristor Q1+Q2 dan seterusnya.35 . dan apa yang terjadi ketika Thyristor Q1 dan Q3 tidak bekerja? Berikan jawabannya dengan melihat gelombang sinusoida di bawah ini. cos α Udo = 1. pengaturan sudut α dari 00 sampai 1500.40: Bentuk Tegangan DC Penyearah 3 Phasa Persamaan tegangan pada beban resistif. Udα =Udo. Apa yang terjadi jika salah satu dari keenam Thyristor tersebut mati (misalnya Q1) tidak bekerja. U Udα Udo U α Tegangan searah terkendali Tegangan DC Diode Tegangan efektif Sudut penyalaan gate Gambar 10.41 : Urutan Penyalaan Gate-Thrystor 3 Phasa 10-24 . Gambar 10.

untuk T1 untuk melayani Thyristor Q1 dan Q4. Tegangan pulsa trigger dari kaki 14 dan 15 chip TCA 785. menghasilkan tegangan gigi gergaji. Rangkaian ini terdiri dari potensio R2 yang berguna untuk mengatur sudut penyalaan α. • Kaki 14 tegangan output pulsa untuk trafo pulsa T2.Elektronika Daya 10. Gambar 10. • Kaki 15 sebagai sinkronisasi mendapat tegangan sinusoida dari jala-jala.42.9. • Kaki 10 dan 11. sedangkan T2 melayani Thyristor Q2 dan Q3. Gambar 10. • Kaki 15 tegangan output pulsa untuk trafo pulsa T1.43.43 : Bentuk Gelombang Chip TCA785 10-25 . Tiap trafo pulsa memiliki dua belitan sekunder. Modul Trigger TCA 785 Rangkaian modul trigger dalam bentuk chip TCA-785 sudah tersedia dan dapat digunakan secara komersial untuk pengaturan daya sampai 15 kW dengan tegangan 3 x 380V gambar-10.42 : Rangkaian Pembangkit Pulsa Chip TCA785 Dalam modul chip TCA 785 ada beberapa kaki yang harus diperiksa jika kaki output 14 dan kaki 15 tidak menghasilkan tegangan pulsa gambar-10. Untuk pengaturan daya besar dipakai trafo pulsa T1 dan T2.

Terdapat dua kelompok penyearah Thyristor. Daya yang mampu dikendalikan sebesar 15 kW beban DC gambar 10. Aplikasi Elektronika Daya Aplikasi penyearah Thyristor gelombang penuh satu phasa untuk mengendalikan putaran motor DC untuk putaran kekanan dan putaran ke kiri. dengan mengatur besarnya tegangan ke terminal motor. Untuk mengatur kecepatan motor.44 : Rangkaian Daya 1 Phasa Beban DC 15 Kw 10. Gambar 10.10. Gambar 10.Elektronika Daya Rangkaian lengkap terdiri atas rangkaian daya dengan penyearah asimetris gelombang penuh dengan dua Diode dan dua Thyristor. penyearah satu jika dijalankan motor DC akan berputar ke kanan. Ketika penyearah kedua dijalankan maka motor DC akan berputar ke kiri.45 : Aplikasi Pengendalian putaran Motor DC 10-26 .44.

meliputi: . penyearah pertama yang bekerja dan motor DC putarannya kekanan.Kontrol alat-alat pemanas . antara lain. motor akan berhenti. Saat potensiometer berharga negatif.46 (b). Pengendali Tegangan AC Teknik pengontrolan fasa memberikan kemudahan dalam sistem pengendalian AC.46 : Bentuk Dasar Pengendali Tegangan AC 10-27 . maka putaran motor dapat diatur dari minimal menuju putaran nominal.Kontrol kecepatan motor induksi Rangkaian pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan dua-Thyristor yang dirangkai anti-paralel gambar 10. Thrystor Anti Paralel b). penyearah kedua yang bekerja dan motor berputar kekiri. Penggunaan alat ini.46 (a) atau menggunakan Triac gambar 10.Elektronika Daya Potensiometer pada modul trig-ger mengatur sudut penyalaan Thyristor. Ketika potensiometer berharga positif. Pengendali tegangan saluran AC digunakan untuk mengubah-ubah harga rms tegangan AC yang dicatukan ke beban dengan menggunakan Thyristor sebagai saklar.10.1.Kontrol penerangan . 10. a). Ketika potensiometer posisi di tengah (tegangan nol). TRIAC Gambar 10.

Q2 mendapat bias maju. efisien dan handal. Sehingga hasil pengendalian tidak berbeda dari yang menggunakan Thyristor anti-paralel gambar 10. yang hanya ada satu gate saja. Setelah itu. Dari gambar 10. Gambar 10. Q2 diberi trigger dengan sudut yang sama.Elektronika Daya Penggunaan dua Thyristor anti paralel memberikan pendalian tegangan AC secara simetris pada kedua setengah gelombang pertama dan setengah gelombang berikutnya. yaitu tegangan menuju nol dan negatif. baik yang setengah gelombang maupun gelombang penuh (rangkaian jembatan). Namun kebutuhan sinyal trigger sama. Q1 akan tetap konduksi sampai terjadi perubahan arah (komutasi).2. Triac merupakan komponen dua-arah sehingga untuk mengendalikan tegangan AC pada kedua setengah gelombang cukup dengan satu pulsa trigger. Agar rangkaian dapat bekerja. bahwa dua Thyristor anti-paralel dapat digantikan dengan sebuah Triac. yaitu sekali pada waktu setengah perioda pertama dan sekali pada waktu setengah perioda berikutnya. Barangkali inilah yang membuat rangkaian pengendalian jenis ini sangat populer di masyarakat. Untuk beban yang lebih besar. Keterbatasannya terletak pada kapasitasnya yang masih terbatas dibandingkan bila menggunakan Thyristor. metode pengendalian. proses yang terjadi sama persis dengan yang pertama.10.47 : Rangkaian Dimmer dengan TRIAC Pengendalian yang bisa dilakukan dengan menggunakan metoda ini hanya terbatas pada beban fasa-satu saja. Seketika itu Q1 akan konduksi. dan Q2 dalam keadaan sebaliknya. misalnya α. ketika pada setengah gelombang pertama Q1 harus diberi sinyal penyalaan pada gatenya dengan sudut penyalaan. Penggunaan Triac merupakan cara yang paling simpel. pada setengah perioda berikutnya. sedangkan Q1 bias mundur. Dengan demikian bentuk gelombang keluaran pada seperti yang ditunjukkan pada gambar.46 jika tegangan sinusoidal dimasukkan pada rangkaian seperti pada gambar. 10-28 . 10. Kemudian pada setengah gelombang berikutnya.47. kemudian dikembangkan lagi menggunakan sistem fasa-tiga. Pengendalian Dimer Seperti yang telah disinggung sebelumnya. Bedanya di sini hanya pada gatenya. maka pada setengah gelombang pertama Thyristor Q1 mendapat bias maju.

Rangkaian VVVF ini dipakai pada KRL merk HOLEC di Jabotabek. Pengaturan Kecepatan Motor DC Pemakain motor DC di industri sangat banyak. Blok diagram pengaturan motor DC seperti pada gambar 10. Selanjutnya sembilan buah IGBT membentuk konfigurasi yang akan menghasilkan tegangan AC 3 phasa dengan tegangan dan frekuensi yang dapat diatur. salah satu alasannya karena motor DC mudah diatur kecepatannya. industri tekstil dsb.48 dimana tegangan AC 3 phasa disearahkan menjadi tegangan DC oleh enam buah Diode.3.10. Gambar 10. dengan mengatur waktu ON oleh generator PWM.20.48 : Aplikasi IGBT Untuk Kontrol Motor Induksi 3 Phasa Rangkaian Cycloconverter gambar-10. Salah satu pemakaiannya di Industri kertas. Blok Diagram Pengaturan Kecepatan Motor DC 10-29 .4. 10.49.Elektronika Daya 10.10. Aplikasi IGBT untuk Inverter Gambar 10.

Kuadran 3 disebut Inverter 4.5V akan menjadi input Kontroller yang mengatur tegangan yang masuk ke rangkaian jangkar motor DC. Bagian setting mengatur posisi potensiometer untuk mengatur tegangan 10 Volt pada 1000 Rpm. • Thyristor mampu menahan tegangan anoda-katoda (VAK). hasilnya 10 x 0. Kuadrant 1 disebut penyearah 2. agar Thyristor tetap posisi ON diperlukan arus holding. dan mampu menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt • Thyristor memiliki tiga kaki. atau dipakai dalam inverter. 2. Transistor dan Thyristor termasuk Triac. Selisih tegangan ini disebut sebagai kesalahan (error) yang menjadi input pengatur tegangan (penguatan 10X). 1.05V (10V – 10. Tegangan 0.11. dan mengubah menjadi tegangan 10. 5. dapat melewatkan arus anoda (IA) yang besar. Tachogenerator akan mendeteksi kecepatan motor DC.5V. kemampuan menahan perubahan arus sesaat di/dt serta kemampuan menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt. 10-30 . yaitu : tegangan gate-katode. penguatan DC (β) yang besar. Katoda dan Gate. yaitu Anoda. • Aplikasi Thyristor yang paling banyak sebagai penyearah tegangan AC ke DC. Kuadran 4 disebut AC-AC Konverter • Komponen elektronika daya yang banyak dipakai meliputi Diode. arus gate minimal. mengalirkan arus anoda yang besar (IA). • Thyristor memiliki parameter penting. menahan perubahan arus sesaat di/dt. 4. 10.05V = 0. mampu menahan perubahan tegangan sesaat dv/dt. Kondisi akan terjadi secara terus menerus yang menghasilkan putaran motor DC tetap konstan. Kuadran 2 disebut DC Chopper 3. 6. diperoleh selisih -0. Rangkuman • Ada empat konverter daya yang terbagi dalam empat kuadran. 3. Motor DC akan berputar setelah dihubungkan dengan suply DC sampai putaran mendekati 1000 Rpm. arus kolektor (IC) terpenuhi.Elektronika Daya Cara kerja: 1. misalkan 1050 Rpm. • Diode yang dipakai elektronika daya memiliki syarat menahan tegangan anoda-katode (VAK) besar. Tegangan 10. • Transistor daya harus memenuhi persyaratan memiliki tegangan kolektoremiter (VCEO) yang besar.05V). jenisnya ada P gate dan N-gate. akibatnya putaran menurun sesuai dengan setting putarn 1000 Rpm 7.05 Volt dibandingkan dengan tegangan setting 10 V.05 Volt.

Sedangkan pada IGBT yang diatur adalah tegangan gate ke emitor UGE.9 . Tegangan setengah gelombang 1 phasa Udα = U (1+ cos α) 2 2. U1 4.68 . (4) sistem kontrol loop tertutup dan (5) beban. DC Chopper c). Inverter d). (3) piranti pengaman dan monitoring.Udo (1+ cos α) Udo = 0.35 .Elektronika Daya • IGBT memiliki kesamaan dengan Transistor bipolar. yaitu (1) sumber energi.U1 2. gambarkan skematik pengawatannya dan gambar gelombang sinus dan gelombang DC nya. cos α Udo = 0. Buatlah gambar skematiknya dan jelaskan cara kerja saklar elektronik. Tegangan setengah gelombang 3 phasa Udi=0. • Pengaturan daya AC dipakai Thyristor terpasang antiparalel. • Penyearah tanpa kendali dengan Diode: 1. Tegangan gelombang penuh 3 phasa Udα =Udo.U • Modul trigger chip TCA-785 dipakai untuk triger sistem satu phasa maupun tiga phasa. U1 3.U 3.45. U1 • Penyearah terkendali dengan Thyristor :' 1. 3. Tegangan setengah gelombang 3 phasa Udα =Udo. cos α Udo=1. AC-AC Konverter 2. U 4. 10. difungsikan sebagai saklar elektronik. Jelaskan cara kerja : a). Penyearah b). Soal-soal 1.35. Tegangan gelombang penuh 1phasa Udi=0. 10-31 . Tegangan setengah gelombang 1 phasa Udi=0. Diode BY127 dipakai untuk penyearah gelombang penuh dari sebuah trafo 220/12 Volt. Transistor jenis PNP. (2) komponen daya. Tegangan gelombang penuh 3 phasa Udi=1. • Ada empat tipe penyearah terdiri penyearah setengah gelombang dan gelombang penuh satu phasa dan setengah gelombang tiga phasa dan gelombang penuh tiga phasa. perbedaannya pada Transistor bipolar arus basis IB yang diatur. dengan mengatur sudut penyalaan daya beban AC dapat dikendalikan.5.12.676 . • Rancangan konverter daya mengandung lima elemen.9. Tegangan gelombang penuh 1phasa Udα =0.

Hitunglah a) nilai tahanan bias sendiri RV dan b) nilai tahanan pembagi tegangan R1 dan R2. 5.0A. tegangan ripple up =1.2 V dan faktor penguatan tegangan U = 3. 7.62 V dengan arus basis IB = 0. dan Bmin = 120. frekuensi ripple fp =100Hz.4 V. Transistor BC 107 difungsikan gerbang NAND. Hitunglah: a) Faktor daya transformator b) Berapa besarnya tegangan AC c) Tentukan besarnya kapasitas kapasitor. arus mengalir pada LED IF = 20 mA.5V. tegangan LED UF = 1.7 V. Hitung tegangan DC yang dihasilkan pada sudut pengaturan α = 0 – 600.Elektronika Daya 4. tegangan cut-in Diode Uf = 0. Transistor BC 107. dan arus 2.3 mA. tegangan UBE = 0. tegangan sinyal 1 U1 = 3. diberikan tegangan sumber UB = 12 V. Penyearah gelombang penuh diberikan tegangan 24VAC.65 V. tegangan saturasi UCEsat = 0. 10-32 .65 V. Penyearah dengan Thyristor gelombang penuh satu phasa dipasang pada tegangan 220 VAC. Tentukan besarnya tahanan RC dan RV ? 6. Membutuhkan tegangan bias UBE =0.

......14.... Proteksi dengan Isolasi Bagian Aktif ................................ Tindakan Pengamanan untuk Keselamatan . Proteksi lokasi tidak Konduktif ............................................. 11... 11...............................................19............................... 11.........................11.............17..... 11..................... 11...6..................2....... 11...10..23...... Sistem Pembumian TN ... 11.........8................ Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TT .... 11..................... 11-2 11-4 11-7 11-8 11-9 11-10 11-11 11-11 11-12 11-13 11-14 11-15 11-17 11-18 11-19 11-20 11-21 11-22 11-23 11-24 11-24 11-25 11-25 11-27 ................................................................ 11................. 11.. 11............. 11...12. Jenis Gangguan Listrik .......5.... Proteksi dengan Isolasi Ganda ........ Pengukuran Tahanan Pembumian dengan Voltmeter dan Ampermeter .......................18............13............ Pengukuran Tahanan Pembumian ........ Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian IT .. Rangkuman .. Pengukuran Arus Sisa dan Tegangan pada ELCB..............16............................7...... Sistem Pengamanan Bahaya Listrik ............. Proteksi pemisahan Sirkit Listrik ..... 11....22...1................ 11....... Proteksi dari Sentuhan Tidak Langsung .............. 11.... 11........15.. Proteksi dengan Rintangan ..3... 11................ 11................ Pengukuran Tahanan Isolasi Lantai dan Dinding . Soal-soal ...... Pengujian Sistem Pembumian TN ... Jenis Sistem Distribusi .......... Pengukuran Pengaman Sistem Pembumian TN ................24....21.BAB 11 SISTEM PENGAMANAN BAHAYA LISTRIK Daftar Isi : 11. 11... Proteksi Gawai Proteksi Arus Sisa (ELCB) ....20.... Proteksi Tegangan Ekstra Rendah .. 11..... Kode International Protection ....9...... 11....................... 11.4..... 11...............

Diatas 10mA sampai 200mA jantung tahan sampai jangka waktu maksimal 2 detik saja. Tahanan tubuh manusia rata-rata 1000Ω. Model terjadinya aliran ketubuh manusia gambar-11. beberapa penelitian menyebutkan sampai dengan arus listrik 50mA adalah batas aman bagi manusia. Daerah 3 (200 sd 500mA) Jantung merasakan sengatan kuat dan terasa sakit.2. jika melewati 0. melewati tahanan sentuh tangan Rut.5 sd 10 mA) jantung bereaksi dan rasa kesemutan muncul dipermukaan kulit. sumber listrik AC mengalirkan arus ke tubuh manusia sebesar Ik.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11.1.5 detik masuk daerah bahaya.5mA) jantung tidak terpengaruh sama sekali bahkan dalam jangka waktu lama.1.1 : Grafik bahaya arus listrik 11-2 . Bahkan beberapa kasus tersengat listrik bisa berakibat pada kematian. Jantung sebagai organ tubuh yang paling rentan terhadap pengaruh arus listrik.2 : Aliran listrik sentuhan langsung Gambar 11. tubuh manusia Rki dan tahanan pijakan kaki Ru2. Daerah 2 (0. arus yang aman tubuh manusia maksimum 50mA. Daerah 1 (0. Daerah 4 (diatas 500mA) jantung akan rusak dan secara permanen dapat merusak sistem peredaran darah bahkan berakibat kematian. maka besarnya tegangan sentuh adalah sebesar : UB = Rk. Ik = 1000Ω x 50 mA = 50 V. ada empat batasan gambar-11. Gambar 11. Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Pernah tersengat aliran listrik PLN 220V ? jika ya pasti sangat mengagetkan. Mengapa tegangan listrik 12 Volt pada akumulator tidak menyengat dan membahaykan manusia ? Tubuh manusia memiliki batas aman dialiiri listrik.1 sd 0.

Faktor yang berpengaruh ada dua. karena tubuh manusia baru merasakan pengaruh tegangan listrik diatas 50V.4b. sehingga ketika terjadi arus bocor akan disalurkan ke tanah dan tidak membahayakan manusia. akibat tegangan sentuh yang berbahaya dapat diminimalkan.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Terjawab mengapa tegangan Akumulator 12V tidak menyengat saat dipegang terminal positip dan terminal negatifnya.4b : Tegangan sentuh tidak langsung 11-3 . arus yang mengalir ketubuh besarnya : Ik = U/Rk =220V/1000Ω = 220mA Arus Ik sebesar 200mA dalam hitungan milidetik tidak membahayakan jantung. cara pertama tangan orang menyentuh langsung kawat beraliran listrik gambar-11. Gambar 11. Tetapi dengan tindakan pengamanan yang baik. peralatan listrik dipasang pentanahan yang baik.4a : Tegangan sentuh langsung Gambar 11. ketika terjadi kerusakan isolasi pada peralatan listrik dan orang menyentuh peralatan listrik tersebut yang bersangkutan akan terkena bahaya tegangan sentuh gambar-11. Bahaya listrik akibat tegangan sentuh langsung dan tidak langsung. generator atau transformator.3 : Tahanan tubuh manusia Gambar 11.2 detik sudah berakibat fatal bisa melukai bahkan bisa mematikan. Kerusakan isolasi bisa terjadi pada belitan kawat pada motor listrik. yaitu besarnya arus mengalir ketubuh dan lama waktunya menyentuh.3. tangan menyentuh tegangan PLN 220V gambar11. Isolasi yang rusak harus diganti karena termasuk kategori kerusakan permanen. keduanya sama berbahayanya. Tegangan sentuh bisa terjadi dengan dua cara. Tubuh manusia rata-rata memiliki tahanan Rk sebesar 1000Ω = 1kΩ.4a. Kawat sebaiknya berisolasi sehingga bila tersentuh tidak membahayakan. tetapi diatas 0. Cara kedua tegangan sentuh tidak langsung.

contoh mainan anak-anak.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11.5.6 : Motor listrik tahan dari siraman air Gambar 11.2. Motor listrik jenis ini tepat digunakan di luar bangunan tanpa alat pelindung dan tetap bekerja normal dan tidak berpengaruh pada kinerjanya. 11-4 Gambar 11. sehingga cairan arah dari samping tidak terlindungi. Klas III peralatan listrik yang menggunakan tegangan rendah yang aman. Klas I memberikan keterangan bahwa badan alat harus dihubungkan dengan pentanahan. Klas II menunjukkan alat dirancang dengan isolasi ganda dan aman dari tegangan sentuh. Ada motor listrik dengan proteksi ketahanan masuknya air dari arah vertikal saja gambar-11. disamping harganya juga berbeda.6. Perbedaan rancangan ini harus diketahui oleh teknisi karena berpengaruh pada ketahanan dan umur teknik motor. Name plate motor dengan IP 54. Tapi juga ada yang memiliki proteksi secara menyeluruh dari segala arah cairan gambar-11. Kode International Protection Gambar 11.7 : Motor listrik tahan siraman air vertikal dan segala arah . yang menyatakan proteksi atas masuknya debu dan tahan masuknya air dari arah vertikal maupun horizontal.7a.5 : Simbol pengamanan pada nameplate Peralatan listrik pada name plate tertera simbol yang berhubungan dengan tindakan pengamanan gambar-11.7b. Motor listrik bahkan dirancang oleh pabriknya dengan kemampuan tahan terhadap siraman langsung air gambar11.

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik

Kode IP (International Protection) peralatan listrik menunjukkan tingkat proteksi yang diberikan oleh selungkup dari sentuhan langsung ke bagian yang berbahaya, dari masuknya benda asing padat dan masuknya air. Contoh IP X1 artinya angka X menyatakan tidak persyaratan proteksi dari masuknya benda asing padat. Angka 1 menyatakan proteksi tetesan air vertikal. Contoh IP 5X, angka 5 proteksi masuknya debu, angka X tidak ada proteksi masuknya air dengan efek merusak. Tabel 11.1. merupakan contoh simbol Indek proteksi alat listrik yang dinyatakan dengan gambar. Tabel 11.1. Contoh Simbol Indek Proteksi Alat Listrik
Digit kesatu : Proteksi terhadap benda padat IP 0 Test Tanpa proteksi Proteksi terhadap benda padat lebih besar 50 mm (contoh, kontak dengan tangan) Proteksi terhadap benda padat lebih besar 12 mm (contoh jari tangan) Proteksi terhadap benda padat lebih besar 2,5 mm (contoh penghantar kabel) Proteksi terhadap benda padat lebih besar 1 mm (contoh alat kabel kecil) Proteksi terhadap debu (tidak ada lepisan/enda pan yang membahaya kan) Proteksi Digit kedua : Proteksi terhadap zat cair IP 0 Test Tanpa proteksi Digit ketiga : Proteksi terhadap benturan mekanis IP Test 0 Tanpa proteksi

1

1

Proteksi terhadap air yang jatuh ke bawah / vertikal (kondurasi)

1

Proteksi terhadap benturan dengan energi 0,225 joule Proteksi terhadap benturan dengan energi 0,375 joule Proteksi terhadap benturan dengan energi 0,5 joule Proteksi terhadap benturan dengan energi 2 joule Proteksi terhadap benturan dengan energi 6 joule Proteksi

2

2

Proteksi terhadap air sampai o dengan 15 dari vertikal Proteksi terhadap jatuhnya hujan o sampai 60 dari vertical Proteksi terhadap semprotan air dari segala arah Proteksi terhadap semprotan air yang kuat dari segala arah

2

3

3

3

4

4

5

5

5

7

6

Proteksi

9

11-5

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik
Digit kesatu : Proteksi terhadap benda padat IP 6 Test terhadap debu secara keseluruhan Digit kedua : Proteksi terhadap zat cair IP Test terhadap semprotan air bertekanan berat Proteksi terhadap pengaruh dari pencelupan Proteksi terhadap pengaruh dari pencelupan di bawah tekanan Digit ketiga : Proteksi terhadap benturan mekanis IP Test terhadap benturan dengan energi 20 joule

7

8

..m

Tabel 11.2. Kode IP XX Angka pertama X, proteksi masuknya benda asing padat 0 Tanpa proteksi 1 diameter ≥ 50 mm 2 diameter ≥ 12,5 mm 3 diameter ≥ 2,5 mm 4 diameter ≥ 1,0 mm 5 debu 6 kedap debu Angka kedua X, proteksi air 0 1 2 3 4 5 6 7 8 tanpa proteksi tetesan air vertikal tetesan air miring 150 semprotan butir air halus semprotan butir air lebih besar pancaran air pancaran air yang kuat perendaman sementara perendaman kontinyu

Tindakan pengamanan dalam pekerjaan sangat penting bagi setiap teknisi yang bekerja dengan tegangan kerja diatas 50V. Seorang teknisi menggunakan sarung tangan karet khusus dan helm dengan pelindung mata gambar-11.8 melakukan perbaikan dalam kondisi bertegangan. Bahkan teknisi tersebut harus memiliki sertifikat kompetensi khusus, karena kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal bagi keselamatan jiwanya. Pekerjaan perbaikan instalasi listrik disarankan tegangan listrik harus dimatikan dan diberikan keterangan sedang dilakukan perbaikan.

Gambar 11.8 : Pelindung tangan dan mata

11-6

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik

11.3. Jenis Gangguan Listrik
Gangguan listrik adalah kejadian yang tidak diinginkan dan mengganggu kerja alat listrik. Akibat gangguan, peralatan listrik tidak berfungsi dan sangat merugikan. Bahkan gangguan yang luas dapat mengganggu keseluruhan kerja sistem produksi dan akan merugikan perusahaan sekaligus pelanggan. Jenis gangguan listrik terjadi karena berbagai penyebab, salah satunya kerusakan isolasi kabel gambar-11.9a. Pertama gangguan hubungsingkat antar phasa L1-L2-L3. Kedua gangguan hubungsingkat Pemutus Daya. Ketiga gangguan hubung singkat antar phasa setelah pemutus daya. Keempat hubungsingkat phasa dengan tanah. Kelima kerusakan isolasi belitan stator motor, sebagai akibatnya terjadi tegangan sentuh jika badan alat dipegang orang. Sistem listrik 3 phasa tegangan rendah digambarkan dengan belitan trafo sekunder dalam hubungan bintang tegangan 400/230V gambar-11.9b. Titik netral sekunder trafo dihubungkan ke tanah dengan tahanan pentanahan RB. Jala-jala dengan 3 kawat phasa L1-L2-L3 dan satu kawat netral N untuk melayani beban 3 phasa dan beban 1 phasa. Sebuah lampu mengalami gangguan, terdapat dua tegangan yang berbeda. Aliran listrik dari L3 menuju lampu dan menuju kawat netral N. Tegangan sentuh UB yang dirasakan oleh orang dan tegangan gangguan UF. Dalam kasus ini tegangan UB = tegangan UF, jika besarnya > 50V membahayakan orangnya. Meskipun kran air yang disentuh orang tsb dihubungkan tanah RA, tegangan sentuh yang dirasakan orang bisa membahayakan.

Gambar 11.9a : Gangguan listrik dibeberapa titik

Gambar 11.9b : Gangguan listrik dari beban lampu

11-7

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik

Tabel 11.3. Tegangan Sentuh yang aman Orang dewasa AC 50V, DC 120V Anak-anak Hewan peliharaan AC 25V, DC 60V Binatang ditaman Gangguan listrik bisa terjadi pada tiang saluran distribusi ke pelanggan, dari tiga kawat phasa salah satu kawat phasa putus dan terhubung ke tanah gambar11.10. Idealnya ketika terjadi kawat Gambar 11.10: Tegangan phasa menyentuh tanah, maka penglangkah akibat gangguan ke aman listrik berupa fuse atau relay di tanah gardu distribusi terdekat putus sehingga tidak terjadi tegangan gangguan tanah. Dari titik gangguan ke tanah akan terjadi tegangan gangguan yang terbesar dan semakin mengecil sampai radius 20 meter. Ketika orang mendekati titik gangguan akan merasakan tegangan langkah US makin besar, dan ketika menjauhi titik gangguan tegangan langkah akan mengecil.

11.4. Tindakan Pengamanan untuk Keselamatan
Keamanan Vs Sentuhan langsung dan tidak langsung keamanan vs arus kejut listrik dibawah kondisi normal, (keamanan vs sentuhan langsung atau keamanan dasar) keamanan vs arus kejut listrik kondisi gangguan/ tidak normal (perlindungan terhadap sentuhan langsung atau kegagalan perlindungan)

tindakan proteksi dengan : • tegangan ekstra rendah (SELV) • tegangan ekstra rendah dengan pemutusan yang aman

tindakan proteksi dengan :

• • • •

isolasi bagian aktif perlindungan / bungkus isolasi buat penghalang buat jarak aman

pembatasan beban

pengamanan tambahan dengan : gawai pengaman arus sisa (GPAS)

tindakan proteksi dengan : pengamanan otomatis melalui: • sistem TN • sistem TT • sistem IT • penyama potensial • isolasi proteksi • ruang bebas penghantar • pemutus keamanan

Gambar 11.11: Peta Tindakan Pengamanan 11-8

Dengan pemisahan secara elektrik.5. Proteksi Tegangan Ekstra Rendah Tegangan ekstra rendah AC 50V dan DC 120V aman jika tersentuh langsung manusia gambar-11. dirancang stop kontak dengan desain khusus SELV dan PELV gambar-11. yaitu 230V gambar-11.13. terjadi proteksi bila terjadi kegagalan isolasi dalam peralatan listrik tersebut.12. Sirkit SELV (safety extra low voltage) tidak boleh dikebumikan. Untuk menjamin sistem SELV dan PELV bekerja baik. Gambar 11.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11.14. Stop kontak SELV memiliki dua lubang kontak yang tidak bisa dipertukarkan. dilengkapi dengan selungkup pengaman isolasi ganda. Stop kontak PELV memiliki tiga lubang kontak.13 : Stop kontak khusus untuk tegangan rendah Gambar 11.12 : Pengamanan dengan tegangan rendah Gambar 11. Tegangan primer dan sekunder tranformator pemisah besarnya sama. Untuk menurunkan tegangan dipakai transformator penurun tegangan 230V/ 50V. Tindakan pengamanan bisa dilakukan dengan menggunakan transformator pemisah atau motor-generator.14 : Pengaman dengan trafo pemisah 11-9 . sedangkan untuk PELV (protective extra low voltage) bisa dilakukan pembumian. satunya berfungsi sebagai sambungan ke penghantar PE (protective earth). Selungkup pengaman dihubungkan ke penghantar PE (Protective Earth = pengaman ketanah). Atau menggunakan transformator 230/120 V yang disearahkan dengan diode bridge sehingga diperoleh tegangan DC 120V.

Perlindungan pada stop kontak portable juga dirancang dengan kriteria tertentu. Kabel diberikan perlindungan selubung luar dan bahan isolasi yang memberikan perlindungan elektrik antar kawat gambar11. karet.0mm.16. listrik dan pengaruh thermal. Kode huruf B adalah proteksi terhadap jari tangan manusia dan huruf D menyatakan proteksi terhadap masuknya kawat. sedang angka 4 menyatakan proteksi benda asing padat ukuran 1.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Gambar 11. IP 4X. Tujuannya menghindarkan tegangan sentuh tangan manusia dengan bagian aktif yang bertegangan.16 : Kabel berisolasi thermoplastik Gambar 11.15 : Pengamanan dengan selungkup isolasi Gambar 11. Bahan isolasi kabel dari PVC dan karet dirancang mampu menahan tegangan kerja antar penghantar aktif. IP XXB atau IP XXD gambar-11.17. Proteksi ini cukup baik selama selungkup bahan isolasi berfungsi semestinya. yute.17 : Perlindungan pengaman stop kontak 11-10 . Fungsinya sebagai pelindung mekanis pada waktu pemasangan. Angka 2 menyatakan proteksi benda asing padat ukuran 12.6. Angka X menyatakan tidak ada proteksi terhadap tetesan air. Jika salah satu kabel terluka maka akan terlindungi dari kemungkinan hubungsingkat antara dua kabel aktifnya. Meskipun ada kegagalan isolasi. misalnya dengan kode IP 2X.15. Bahan isolasi harus tahan oleh pengaruh tekanan mekanik.5 mm. dipastikan arus kejut IK terhalang oleh bahan isolasi dan arus kejutnya nol. Selubung luar kabel terbuat dari bahan thermoplastik. Proteksi dengan Isolasi Bagian Aktif Peralatan listrik dirancang dan diberikan perlindungan selungkup dari bahan isolasi gambar-11. bahan kimia. bagian aktif seluruhnya tertutup oleh isolasi yang hanya dapat dilepas dengan merusaknya.

Bentangan kawat saluran udara telanjang di atas atap rumah harus diperhatikan jarak minimal dengan atap rumah sebesar 2.20 : Pengamanan sentuhan tidak langsung 11-11 . Penangkal petir juga cukup jauh dari saluran kawat udara telanjang. Gambar 11.4 meter gambar-11. L3. Proteksi dengan Rintangan Ruang gardu dan panel listrik merupakan ruang yang memiliki tingkat bahaya listrik yang tinggi. Diperlukan rintangan berupa pagar besi yang dilengkapi dengan kunci sehingga orang yang tidak berkepentingan bisa bebas keluar masuk ruangan gambar11.20.5 meter dan jarak dari cerobong 0. Jarak ini cukup aman jika orang berdiri dan jangkauan tangan tidak akan menyentuh kawat listrik secara langsung. Hanya teknisi listrik yang berpengalaman yang boleh berada ditempat tersebut untuk keperluan pelayanan dan perbaikan saja.8. L2.18.19. Tiang antena dari logam yang berdiri tegak harus dijauhkan dari jalur saluran kawat telanjang.7. untuk menghindarkan saat tiupan angin cukup kencang akan saling menyentuh dan membahayakan. N dan PE) gambar-11. BKT saat normal tidak bertegangan dan aman Gambar 11.19 : Jarak aman bentangan kabel udara 11. Proteksi dari Sentuhan Tidak Langsung Sentuhan tidak langsung adalah sentuhan pada BKT (bagian konduktif terbuka) peralatan atau instalasi listrik yang menjadi bertegangan akibat kegagalan isolasi.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Maksud dari rintangan adalah untuk mencegah sentuhan tidak disengaja dengan bagian aktif. tetapi tidak mencegah sentuhan disengaja dengan cara menghindari rintangan secara sengaja.18 : Pengamanan dengan rintangan Gambar 11. Sumber listrik 3 phasa dengan 5 kawat (L1. Rintangan diberikan tanda-tanda bahaya listrik dengan warna merah menyolok sehingga mudah dikenali dan memberi peringatan secara jelas.

menyatakan susunan penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE). yang dikebumikan titik netral. I (isolate) mengisolasi N (netral). T = hubungan langsung ke bumi I = satu titik dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi. C (common) bersamaan C 11-12 . phase dua 3 kawat. yaitu TN. aliran listrik gangguan dikembalikan ke kawat PE. Huruf berikutnya.9. S = fungsi proteksi yang diberikan oleh penghantar yang terpisah dari netral atau dari saluran yang dikebumikan C = fungsi netral atau fungsi proteksi tergabung dalam penghantar tunggal (PEN). N Huruf kedua menyatakan hubungan BKT instalasi ke bumi. tidak tergantung pembumian setiap titik tenaga listrik. 11. TT dan IT. phase dua 5 kawat. T = hubungan listrik langsung BKT ke bumi. Tabel 11. Jenis Sistem Distribusi Secara komersial sistem distribusi listrik banyak menggunakan listrik AC tiga phasa dan satu phasa. Distribusi tegangan DC dipakai untuk keperluan khusus seperti saluran listrik atas Kereta Rel Listrik dengan tegangan 1500V di wilayah Jabotabek. Keterangan : Notasi T (terre. Jenis penghantar aktif AC menurut PUIL 2000: 45 dikenal beberapa jenis. Jenis pembumian sistem untuk sistem tiga phasa secara umum dikenal tiga sistem. meliputi phase tunggal 2 kawat. Sistem penghantar distribusi dikenal dua yaitu jenis sistem penghantar aktif dan jenis pembumian sistem. sehingga orang terhindar arus kejut meskipun menyentuh bagian BKT.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik disentuh. N = hubungan listrik langsung BKT ketitik yang dikebumikan dari sistem tenaga listrik. prancis) langsung. S (separate) memisahkan.4. Jenis Pembumian Sistem Contohnya sistem TN-C Huruf pertama menyatakan hubungan sistem tenaga listrik ke T bumi. phase tiga 3 kawat dan phase tiga dengan 4 kawat. Ketiga isolasi gagal. phasa tunggal 3 kawat.

Titik netral dibumikan di RB. Ada tiga jenis sistem TN sesuai dengan susunan penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE). BKT dihubungkan ke elektrode bumi secara listrik terpisah RA dari elektrode bumi sistem gambar11.21c. Titik netral sistem dibumikan dengan nilai tahanan RB. di sebagian sistem gambar-11.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Gambar 11.21b. Gambar 11. Titik netral sistem dibumukan dengan nilai tahanan RB.10.1 Gambar 11.21a.21b : Sistem Pembumian TN-C-S Gambar 11. Sistem Pembumian TN Sistem TN mempunyai satu titik yang dikebumikan langsung pada titik bintang sekunder trafo.21c : Sistem pembumian TN-C Sistem pembumian TT mempunyai satu titik yang dibumikan langsung (RB). • Sistem TN-C-S fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) digabungkan dalam penghantar tunggal.22. hal 45 11-13 .21a : Sistem Pembumian TN-S • Sistem TN-S fungsi penghantar proteksi PE terpisah diseluruh sistem gambar-11. • TN-C fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) tergabung dalam penghantar tunggal PEN diseluruh sistem gambar-11. dan BKT instalasi dihubungkan ke titik tersebut oleh penghantar proteksi (PEN).22 : Sistem Pembumian TT 1 PUIL 2000.

disebagian sistem. arus dari trafo -> L1 -> belitan phasa-1 -> badan alat -> kawat PE ---> terminal penyama potensial -> pembumian RA -> tanah -> pembumian RB -> netral trafo.24 : Sistem pembumian TN-C-S digabung kawat PE Alternatif-2 : Kawat PEN dekat trafo putus. Perbandingan tahanan RB dan RE : RB 50V ≤ RE U O − 50V RB RE 50V Uo Tahanan pembumian trafo Tahanan pembumian potensial Tegangan sentuh aman manusia Tegangan phasa-netral Gambar 11. atau satu titik dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi RB.11. Gambar 11.23.25.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Sistem pembumian IT semua bagian aktif yang diisolasi dari bumi. Alternatif-1 : Jalannya arus saat terjadi gangguan adalah : Arus dari trafo -> L1 -> belitan phasa-1 -> badan alat-> kawat PE -> netral trafo.23 : Sistem Pembumian IT 11. Ketika terjadi gangguan phasa L1-PE. BKT instalasi listrik dibumikan secara independen atau secara kolektif atau pembumian sistem RA gambar-11. Sehingga tegangan phasa ke phasa L1-L2 = L2-L3 = L3-L1 = 400 V. Sehingga titik netral PEN 11-14 .24. Gambar 11. drop tegangan di RB = 50 V.25 : Beda tegangan titik netral akibat gangguan ke tanah Kondisi normal tegangan phasa ke netral L1-N = L2-N = L3-N = 230 V hubungan bintang dengan titik netral dibumikan di RB gambar-11. Pengukuran Pengaman pada Sistem Pembumian TN Sistem pembumian TN-C-S penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) digabungkan dalam penghantar tunggal. Beban tiga phasa terjadi gangguan isolasi pada belitan phasa-1 gambar-11.

jika ditekan tombol reset maka ELCB akan bekerja memutus rangkaian OFF. 11-15 . Dilengkapi dengan tombol reset. Penampang penghantar sistem TN TN-C TN-S Penampang penghantar PEN tidak boleh kurang 10mm2 tembaga atau 16 mm2 aluminium Penghantar PE terpisah dari penghantar netral < 10 mm2 tembaga atau <16mm2 aluminium.6. ELCB harus di ON kan kembali dengan menaikkan tombol ON ke atas.26 : Prinsip tercegahlah bertahannya tegangan kerja ELCB sentuh yang terlalu tinggi.27. dengan kawat phasa dan netral diputus bersamaan dengan arus bocor 50mA gambar-11.26. sehingga Gambar 11. Untuk pemakaian daya besar dipilih arus sisa dengan rating lebih besar dari 30 mA. Waktu pemutusan maksimum sistem TN Tegangan Waktu pemutusan U detik ≤ AC 230 V 0. Pengaman Gawai Proteksi Arus Sisa (ELCB) GPAS3 atau ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker) adalah pemutus yang peka terhadap arus sisa. yang dapat memutuskan sirkit termasuk penghantar netralnya secara otomatis dalam waktu tertentu gambar-11. Apabila arus sisa yang timbul karena terjadi kegagalan isolasi melebihi nilai tertentu. Tegangan phasa L2-N = L3-N menjadi 259V (metode geometris). tetapi tidak boleh kurang dari penghantar phasenya 11. besarnya tegangan phasa L1-N menjadi 180 V (230V50V). Desain fisik ELCB dengan satu phasa.5. Untuk sistem TN-S dan TN-C berikut sistem IT tidak boleh dipasang ELCB.4 ≤ AC 400 V 0.1 Waktu pemutusan konvensional maksimum 5 detik Tabel 11.12. Tabel 11.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik bergeser sebesar = 50V. ELCB sangat dianjurkan pada sistem TT. misalkan 300 mA atau 500 mA.2 ≥ AC 400 V 0.

27 : Fisik ELCB Kini tersedia ELCB dalam bentuk portabel yang dipasangkan pada stop kontak.29 : ELCB portabel 11-16 . Cara ini bisa melayani beban satu phasa. maka pada kawat netral mengalir arus bocor. Jika besarnya arus bocor memenuhi syarat maka akan mengaktifkan sistem mekanik elektromagnetik. Jika salah satu beban terjadi kegagalan isolasi. Perhatikan daya beban harus sesuai dengan rating ELCB. Gambar 11. dan diujung lainnya terhubung ke stop kontak menuju beban gambar-11. Tabel 11. Kemampuan ELCB pada tegangan 230V Arus bocor (mA) 30 300 500 Rating arus beban 10ª Rating arus beban 16ª Daya (Watt) 6.680 Gambar 11.300 3. dan ELCB akan OFF secara otomatis. beban motor tiga phasa dan tersedia melayani stop kontak. terminal PE dibumikan tersendiri RA gambar11. Persyaratan bisa bekerja dengan baik penghantar PE tersambung dengan baik ke bumi.29. Bebannya satu phasa berupa peralatan kerja yang mudah dipindah-pindahkan seperti mesin bor tangan.28.7.28 : Pemasangan ELCB untuk pengamanan kelompok beban Gambar 11.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Pemasangan ELCB pada sistem TT dilakukan dengan cara penghantar protektif PE memiliki rel atau terminal tersendiri. Suplay tiga phasa L1-L2-L3 dan N disambungkan langsung ke terminal ELCB. mesin gergaji listrik.9 69 115 2.

dilakukan dengan cara membumikan titik netral di sumbernya RB. Besarnya tahanan pembumian RA : Gambar 11. pembumian dua beban disatukan dengan kawat PE dikebumikan di RA. Gambar 11.31.13. kemudian arus mengalir menuju RB dan kembali ke netral trafo. Saat terjadi gangguan phasa L1 arus gangguan dari kawat PE mengalir lewat RA.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Sistem TN yang dilengkapi dengan ELCB dapat dilakukan dengan penghantar netral (N) dan penghantar protektif (PE) terpisah. Badan alat dihubungkan dengan penghantar PE. arus bocor akan mengaktifkan ELCB dan tegangan sentuh yang besar tidak akan terjadi.30. Penghantar netral dan protektif disatukan pada titik sumber dihubungkan ke bumi di RB gambar-11.32 : ELCB pada sistem TT 11-17 .31 : Pengukuran tahanan pembumian sistem TT RA = UL I ΔN Gambar 11. Pengukuran Pengaman pada Sistem Pembumian TT Sistem TT dalam PUIL 2000 disebut sistem Pembumian Pengaman (sistem PP). Ketika terjadi kegagalan isolasi. Saat terjadi gangguan arus gangguan mengalir ke kawat PE ke pembumian RA lewat tanah menuju ke RB dan ke netral trafo gambar-11. BKT dibumikan dengan penghantar protektif secara terpisah RA gambar-11. Sistem pembumian TT yang dipasang ELCB pada beban satu phasa dan beban tiga phasa.32.30 : ELCB pada pembumian TN 11.

5 A Tahanan RA dalam Ω UL = 50 V UL = 25 V 5. Titik netral buatan dapat dihubungkan secara langsung ke bumi jika impedansi urutan nol yang dihasilkan cukup tinggi.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik RA IΔn Tahanan pembumian penghantar PE Arus bocor ELCB Contoh: Tegangan jala-jala 230 V diketahui tahanan saat hubung singkat 5Ω. dalam kelompok atau secara kolektif ke pipa besi atau komponen logam yang terhubung langsung ke tanah.14. Pengukuran Pengaman pada Sistem Pembumian IT Sistem pembumian IT. Jika tidak ada titik netral maka penghantar phasa dapat dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi.665 832 165 82 100 50 11.33. instalasi harus diisolasi dari bumi atau dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi yang cukup tinggi RB gambar-11. Tahanan Pembumian RA pada Sistem TT Arus sisa ELCB 0.8. Gambar 11.03 A 0.000 2500 1.33 : Pengukuran tahanan pembumian sistem IT 11-18 . diketahui tahanan pembumian PE sebesar 2Ω. Jawaban : IK = U O = 230V = 46 A RA 5Ω UB = IK. Hitunglah besarnya arus gangguan dan besarnya tegangan sentuh.01 A 0.3 A 0. Tabel 11. RA = 46A x 2Ω = 92 V Dengan melihat karakteristik ELCB dipilih rating 16A. BKT harus dibumikan secara individual.

Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Besarnya impedansi Z sebesar : Z≤ U Zs U Ia 2. Proteksi dengan Isolasi Ganda Untuk memberikan pengamanan yang baik beberapa alat listrik dirancang dengan isolasi ganda.2 11.35 : Isolasi ganda pada peralatan listrik 11-19 . Dalam isolasi ganda ada dua jenis isolasi.8 0.9.4 0. Gambar 11. Isolasi tambahan ini diperkuat dengan sekrup dari bahan isolasi.1 Netral terdistribusi (detik) 0.34. Jika terjadi kegagalan isolasi.35.34 : Simbol pengamanan isolasi ganda Gambar 11.Ia Impedansi pembumian Tegangan phasa-netral Arus gangguan (sistem TN ) Menghitung besarnya tahanan pembumian langsung RA : RA . isolasi tambahan akan menahan arus kejut sehingga tetap aman bagi pemakai alat. bagian luarnya diberikan isolasi kedua yang menjamin tidak akan terjadi tegangan sentuh gambar-11. Id ≤ UL RA Id UL Tahanan pembumian langsung Arus gangguan sisa Tegangan sentuh (50 V) Tabel 11. tidak boleh mengganti sekrup logam yang memiliki sifat menghantarkan listrik.2 0. bagian aktif diisolasi dengan isolasi dasar. Alat dengan isolasi ganda tidak memerlukan sistem pentanahan.15.4 0. simbol isolasi ganda gambar-11. Waktu Pemutusan Maksimum Pada Sistem IT Tegangan nominal instalasi Uo 230/400 V 400/690 V 580/1000 V Netral tidak terdistribusi (detik) 0.

Bagian luar ditutup oleh isolasi lapisan kedua untuk menjamin tidak ada bagian konduktif yang bersinggungan dengan tangan.5 m.16. Antara motor dan mekanik bor menggunakan poros bahan isolasi. Seluruh bagian aktif berupa motor listrik dan sistem penggerak roda gigi dari logam dibungkus rapat dengan bahan isolasi.36 : Mesin bor dengan isolasi ganda 11. Proteksi Lokasi tidak Konduktif PUIL 2000 :57 mengatur juga bahwa isolasi bisa diberikan pada suatu ruangan yang disebut dengan proteksi lokasi tidak konduktif gambar-11.5 m sehingga cukup bebas orang berdiri tanpa menyentuh langit-langit tersebut.25 m. jika terjadi kegagalan isolasi pada motor listriknya.37. Gambar 11. sehingga meskipun mata bor dipegang dijamin tidak ada arus kejut mengalir ke tubuh manusia. dan tinggi lantai terhadap langitlangit minimal 2. Dan jarak antara dua peralatan harus lebih besar dari 2. Jarak dinding dengan kondukstif minimal 1. Gambar 11. Bahkan tombol tekan motor juga terbungkus bahan isolasi secara rapat.36. Resistansi lantai dan dinding pada setiap titik pengukuran besarnya 50 KΩ jika tegangan nominal isolasi tidak melebihi 500V atau 100 KΩ jika tegangan nominal isolasi melebihi 500 V.37 : Jarak aman pengamanan ruang kerja 11-20 .Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Mesin bor tangan merupakan alat listrik dengan pelindung isolasi ganda gambar-11.

Pemisahan sirkit listrik bisa dengan trafo pemisah atau motorgenerator.38. Bagian aktif dari sirkit yang dipisahkan tidak boleh dihubungkan pada setiap titik ke sirkit lainnya atau ke bumi.40 : Pengamanan pada peralatan listrik 11-21 .39.38 : Pengamanan dengan pemisahan sirkit listrik Gambar 11.17.39 : Trafo pemisah melayani dua stop kontak Gambar 11. Bila sirkit beban terjadi kegagalan isolasi. secara elektrik terpisah dengan sirkit sumber sehingga tegangan sentuh terhindarkan. Proteksi Pemisahan Sirkit Listrik Tindakan pengamanan dengan cara pemisahan sirkit listrik antara pemasok dengan sirkit beban dengan transformator pemisah gambar11. sehingga sistem pengamanan pemisah tidak berfungsi.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Gambar 11. badan alat sisi sekunder trafo pemisah bisa digabungkan sebagai pengganti penghantar protektif PE gambar11. Beberapa alat bisa dipasok dari sekunder trafo pemisah. Jika terjadi kegagalan isolasi pada sirkit sekunder trafo pemisah maka akan terjadi hubung singkat.

Pengukuran Tahanan pembumian sistem Tahanan terminal potensial Tahanan pembumian tegangan tinggi Instalasi tegangan rendah adalah instlasi listrik yang diberikan tegangan dibawah 500V gambar11.42. Selama pengukuran sumber tegangan harus dimatikan semua.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11.1Ω < 3Ω Gambar 11. Megger dioperasikan dan mengukur setiap titik-titik yang diperlukan. sebab fungsi utama isolasi sebagai sarana proteksi dasar. Tahanan isolasi suatu instalasi merupakan salah satu unsur yang menentukan kualitas instalasi tersebut.42 : Pengukuran tahanan isolasi 11-22 .18. Dengan menggunakan Megger maka hasil pengukuran mendekati sesuai tabel dibawah. semua saklar menuju ke beban dan penghantar aktif ke stop kontak harus diputuskan. Pengukuran Tahanan Pembumian Gambar 11. Langkah pertama sumber tegangan harus dimatikan dan semua jalur instalsi bebas tegangan.41 : Pengukuran pembumian dengan megger Pengukuran tahanan pembumian dapat dilakukan dengan cara sederhana dengan menggunakan alat ukur Megger gambar-11.41. R < 1Ω < 0.

25 ≥ 0. Pengukuran Tahanan Isolasi Lantai dan Dinding PUIL 2000 hal.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik Sebagai contoh rumah tinggal disuplay listrik PLN dilakukan pengukuran isolasi dengan menggunakan Megger. Tabel 11. ditemptkan antara pelat logam dan permukaan lantai yang akan diuji gambar-11.0 11. Agar rata letakkan sebatang kayu diatas permukaan logam.43.19. Nilai resistansi isolasi minimum Tegangan sirkit nominal Tegangan ekstar rendah (SELV. untuk dinding) dipasang diatas pelat logam tersebut selama pengukuran berlangsung.43 : Pengukuran tahanan isolasi lantai/dinding Beban sebesar 750 N (sekitar 75 kg. dgn pengecualian hal tsb diatas Diatas 500 V Tegangan uji arus searah (V) 250 500 1000 Resistansi isolasi (MΩ) ≥ 0. Sebuah pelat logam bujur sangkar berukuran 250 mm x 250 mm dan kertas atau kain penyerap air basah berukuran 270 mm x 270 mm. Besarnya tahanan isolasi lantai adalah : ZX ≤ U X I ZX UX IX Impedansi lantai/ dinding Tegangan terukur voltmeter Arus terukur ampermeter 11-23 . PELV dan FELV) yang memenuhi persyaratan Sampai dgn tegangan 500 V.91 menyatakan untuk melakukan pengukuran tahanan isolasi lantai dapat digunakan metoda pengukuran Ampermeter dan Voltmeter.5 ≥ 1. maka hasil yang dicapai harus lebih besar dari yang tertera pada Tabel di bawah. lantai) atau 250 N (25 kg. Gambar 11.10.

Gambar 11.11.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Waktu pemutusan maksimum sistem TN Tegangan Uo (Volt) Waktu pemutusan Jika terjadi gangguan ≤ 230 V 0. Besarnya tahanan pembumian RA sebesar : RA = 11-24 UE IE RA ≤ UL Ia RA ≤ UL I Δn . MCB. geser perlahanlahan sampai terbaca tegangan V dan penunjukan arus A.45. Pengukuran Tahanan Pembumian Tahanan pembumian yang akan diukur dihubungkan dengan tegangan phasa L. Pengujian Sistem Pembumian TN Dalam sistem TN dilakukan dengan cara semua BKT peralatan dan instalasi dibumikan dengan melalui penghantar proteksi PE. Jika terjadi kegagalan isolasi.4 detik hubung pendek antara penghantar phasa dengan ≤ 400 V 0. melalui pengaman arus lebih. Sebuah Voltmeter yang memiliki tahanan dalam Ri ≥ 40 KΩ.2 detik penghantar proteksi PE > 400 V 0.45 : Pengukuran tahanan pembumian Posisikan tahanan geser pada resistansi maksimum (1000 Ω).44 : Pengujian sistem pembumian TN Tabel 11. maka dengan segera terjadi pemutusan rangkaian dengan waktu pemutusan yang cepat sesuai tabel di bawah. Jika terjadi gangguan hubung pendek pada suatu lokasi dalam instalasi. mengalir arus gangguan yang akan memutuskan secara otomatis alat pengaman fuse.44. tahanan geser bernilai antara 20 Ω sampai 1000 Ω. ampermeter. Gambar 11.21. dan sebuah elektrode bantu yang ditanam dengan jarak lebih dari 20 m dari elektrode pembumian RA. ELCB sehingga tegangan sentuh yang berbahaya tidak terjadi. antara penghantar phase dengan penghantar proteksi PE gambar-11.20.1 detik Waktu pemutusan konvensional yang tidak dilampaui 5 detik diijinkan untuk sirkit distribusi *) PUIL 2000 hal 66 11. gambar-11.

sebuah Voltmeter memiliki Tahanan dalam minimal 3 KΩ dan sebuah elektrode bantu yang dibumikan dengan jarak lebih besar 20 m dari lokasi motor. 11.46 : Pengukuran tahanan maksimum. Ia. artinya arus sisa yang melewati tahanan geser mengerjakan alat ELCB dengan baik. dari masuknya benda asing padat dan masuknya air. Tegangan phasa dari L3 melalui tahanan geser bernilai 10kΩ dan Ampermeter. arus aman tubuh manusia 50mA. Tahanan geser pada posisi Gambar 11. IΔn UL Tahanan pembumian Tegangan phasa-netral Arus Arus gangguan Tegangan sentuh 11.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik RA UE IE. maka besarnya tegangan sentuh aman 50 Volt.000 Ω.23. bumi ELCB lakukan pengaturan sampai terbaca Ampermeter dan Voltmeter menunjukkan skala 50V. Kode IP (International Protection) peralatan listrik menunjukkan tingkat proteksi yang diberikan oleh selungkup dari sentuhan langsung ke bagian yang berbahaya.22. Pada saat itu ELCB harus OFF. Pengukuran Arus Sisa dan Tegangan pada ELCB Motor induksi 3 phasa dilengkapi dengan proteksi ELCB akan diukur dengan menggunakan Ampermeter dan Voltmeter untuk menguji besarnya arus sisa yang mengakibatkan ELCB bekerja gambar-11. 11-25 .46. saklar di-ON-kan. Tahanan tubuh manusia rata-rata 1. Rangkuman • • • Penelitian arus listrik 50 mA adalah batas aman bagi manusia.

bagian luarnya diberikan isolasi kedua yang menjamin tidak akan terjadi tegangan sentuh. Kelima kerusakan isolasi belitan stator motor. 4. 5.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik • • Pekerjaan perbaikan instalasi listrik disarankan tegangan listrik harus dimatikan dan diberikan keterangan sedang dilakukan perbaikan. 2. yang tidak diinginkan dan • Jenis gangguan listrik terjadi karena kerusakan isolasi kabel. • Sistem TN-S fungsi penghantar proteksi PE terpisah diseluruh sistem gambar-11.21a. dapat digunakan metoda • • • • • 11-26 . • • • • • Sistem TN-C-S fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) digabungkan dalam penghantar tunggal. instalasi harus diisolasi dari bumi atau dihubungkan ke bumi melalui suatu impedansi yang cukup tinggi RB Dalam isolasi ganda ada dua jenis isolasi. 3. Kedua gangguan hubung. Tindakan pengamanan dengan cara pemisahan sirkit listrik antara pemasok dengan sirkit beban dengan transformator pemisah Pengukuran tahanan pembumian dapat dilakukan dengan cara sederhana dengan menggunakan alat ukur Megger Pengukuran tahanan isolasi lantai pengukuran Ampermeter dan Voltmeter. bagian aktif diisolasi dengan isolasi dasar. Pertama gangguan hubung singkat antar phasa L1-L2-L3. TN-C fungsi penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) tergabung dalam penghantar tunggal PEN Sistem pembumian TT mempunyai satu titik yang dibumikan langsung (RB). Ketiga gangguan hubung singkat antar phasa setelah pemutus daya. sebagai akibatnya terjadi tegangan sentuh jika badan alat dipegang orang. yang dapat memutuskan sirkit termasuk penghantar netralnya secara otomatis Sistem pembumian IT. ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker) adalah pemutus yang peka terhadap arus sisa. • Jenis pembumian sistem untuk sistem tiga phasa secara umum dikenal tiga sistem. yaitu TN. Titik netral dibumikan di RB. 1. Sistem pembumian TN-C-S penghantar netral (N) dan penghantar proteksi (PE) digabungkan dalam penghantar tunggal. TT dan IT. Gangguan listrik adalah kejadian mengganggu kerja alat listrik. Keempat hubungsingkat phasa dengan tanah.singkat Pemutus Daya.

6. 3. Jelaskan pentingnya sistem pengamanan dalam instalasi listrik. Soal-soal 1. Mengapa tegangan 50V dianggap aman bagi tubuh manusia. Ketika tersengat listrik ada orang yang terkaget-kaget. Trafo pemisah dapat menjadi alat pengamanan. Jelaskan mengapa terjadi hal demikian. 5. 4. jelaskan mengapa hal tersebut dilakukan. Gambarkan skematik pengukuran tahanan pembumian instalasi rumah tinggal. 7.24.Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11. Jelaskan prosedur dan urutannya dengan benar. Bodi motor listrik sebaiknya diketanahkan. jelaskan. 2. ada yang pingsan dan bahkan ada korban jiwa. jelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi. Dikenal bahaya tegangan sentuh langsung dan tidak langsung. jelaskan kedua istilah tersebut dan berikan contohnya. 11-27 .

....................................... Rangkuman .......................17................16.......... Seleksi tipe Kontroler untuk Aplikasi Tertentu ................ Kontroler Derivatif (D) ............................13.......... 12-2 12-5 12-10 12-17 12-17 12-18 12-20 12-22 12-23 12-23 12-24 12-25 12-26 12-27 12-27 12-28 12-29 12-35 12-36 12-37 ..... 12.......7. Kontroler Tiga Posisi ................ Perilaku Sistem Kontrol .3. Optimisasi Kontroler .4................8........14.......................................................................................... Komponen Elektro Pneumatik ...................... 12. 12................ 12...................... 12... Rangkaian Dasar .. 12......18.............................. 12............. Elektropneumatik .......................................................... Kontroler Proporsional Derivatif (PD) ..... Diagram Blok Sistem Kontrol ......11........2........................... 12.... 12.... 12.......................... 12... 12... 12......... Karakteristik Osilasi pada Sistem Kontrol ........BAB 12 TEKNIK PENGATURAN OTOMATIS Daftar Isi : 12....1................. 12........................ 12......19...............................................................................15...... 12...... Soal-soal .......5..... Kontroler Integral (I) ...................12..........20..................6... 12............. Kontroler Dua Posisi ....................... 12................. Kontroler Proporsional Integral (PI) ....... Tipe Kontroler ............... Pengertian sistem Pengaturan .......................... 12......... Kontroler PID .............. Kontroler Proporsional (P) ...................10.....................9..........

rem. dan pengendara. Sistem kontrol berkendaraan berarti kombinasi dari komponen-komponen tersebut yang menghasilkan berjalannya kendaraan pada lintasan yang diinginkan. Besar arus eksitasi disesuaikan dengan kebutuhan untuk menghasilkan arus keluaran I oleh Generator. Semua upaya itu dilakukan untuk mempertahankan kendaraan pada lintasan yang diinginkan. Dengan berubah-ubahnya arus I maka arus eksitasi Ie juga harus berubah mengikuti nilai arus I tersebut. seperti pada gambar 12.1 Pengaturan manual tegangan pada Generator Dalam sistem tersebut.1. Misalnya kita ingin mengatur agar tegangan yang dihasilkan oleh Generator arus searah bernilai konstan. Pengertian Sistem Pengaturan Pengertian kontrol atau pengaturan adalah proses atau upaya untuk mencapai tujuan. jika ada kendaraan lain di depan atau lampu penyeberangan berwarna merah maka pengendara menginjak rem dan menurunkan kecepatannya. Sebagai contoh sederhana dan akrab dengan aktivitas sehari-hari dari konsep kontrol atau pengaturan adalah saat mengendarai kendaraan. misalnya pedal gas. Perubahan arus eksitasi dilakukan secara manual. Ketika jalan lengang dan aturan memperbolehkan. seorang operator harus terus-menerus melihat besar arus keluaran yang diinginkan untuk disesuaikan dengan besar arus eksitasi yang 12-2 . pengendara mempercepat laju kendaraan dengan membuka pedal gas.Teknik Pengaturan Otomatis 12. karena tegangan keluaran U diinginkan tetap maka arus keluaran I berubah sesuai dengan nilai beban. Karena pengaturan ini dilakukan secara manual. Ada beberapa komponen yang terlibat di dalamnya. Tujuan yang diinginkan dari proses tersebut adalah berjalannya kendaraan pada lintasan (track) yang diinginkan. Arus keluaran dihasilkan oleh kecepatan putar rotor pada Generator yang dibangkitkan oleh arus eksitasi Ie. Demikian pula. mesin (penggerak). Gambar 12. speedometer.1.

2 Diagram blok sistem kontrol Contoh lain dapat disebutkan berupa proses memindahkan barang oleh tangan kita. Tujuannya adalah menjaga suhu tubuh agar berjalan normal. 12-3 . Pada saat tangan bergerak untuk memindahkan barang. sistem kontrol digambarkan pada gambar 12.1 memperlihatkan contoh sistem kontrol dengan komponenkomponennya. arus eksitasi disebut variabel buatan (manipulated variable) y. Dalam bentuk diagram blok. maka variabel yang dikontrol adalah kecepatan dan aktuatornya adalah kontaktor. Dalam teknik kontrol dipelajari tentang pengaturan sistem agar menghasilkan keluaran yang diinginkan. Dalam istilah teknik kontrol. Pada proses tersebut. mata akan menangkap informasi tentang posisi pada saat itu. Komponennya berupa tangan (dalam hal ini tentunya dengan otot tangan).Teknik Pengaturan Otomatis diperlukan. tegangan U disebut variabel yang dikontrol x. dan aktuator. tujuannya adalah posisi atau letak barang yang diinginkan. Informasi tersebut diproses oleh otak untuk disimpulkan apakah posisinya sudah benar atau tidak. mata. Dalam diagram blok tersebut. Misalnya plant berupa motor listrik. Selanjutnya. apabila posisinya masih belum tercapai maka otak akan memerintahkan otot tangan untuk bergerak memindahkan barang ke posisi yang diinginkan. Proses pengaturan suhu tubuh adalah juga contoh dari sistem kontrol. variabel (besaran) yang dikontrol. Secara umum dapat dikatakan semua proses yang terjadi di alam pada hakikatnya adalah sebuah sistem kontrol. Komponen utama sistem kontrol terdiri atas objek yang dikontrol (disebut plant). dan otak sebagai pengontrol. Gambar 12.2. plant menghasilkan variabel yang dikontrol serta kontroler menghasilkan variabel termanipulasi. Tegangan konstan yang diinginkan dalam pengaturan ini disebut variabel acuan (referensi). dan arus beban I disebut variabel gangguan (disturbance variable) z. Tabel 12.

Teknik Pengaturan Otomatis Tabel 12. Istilah penting dalam sistem kontrol Istilah Variabel yang dikontrol Variabel acuan Variabel termanipulasi Selisih (error) Variabel gangguan Simbol x w y e z Contoh Tegangan Tegangan acuan Arus eksitasi Selisih tegangan Arus beban Selain secara manual.3 Pengaturan tegangan secara otomatis 12-4 . Tabel 12. Gambar 12.2. pengaturan tegangan pada Generator bisa dilakukan secara otomatis dengan menggunakan Thyristor.2 memperlihatkan istilah teknis dalam sistem kontrol serta simbol formalnya.3. seperti diperlihatkan pada gambar 12. Contoh komponen sistem kontrol Plant Motor listrik Generator Pengatur suhu ruangan Variabel yang dikontrol Kecepatan putar Tegangan suhu Aktuator Kontaktor Transistor Thyristor Tabel 12.1.

peranan operator diganti oleh gabungan antara sensor tegangan (berupa trafo tegangan) dan Thyristor sebagai aktuator penghasil arus eksitasi yang mengatur kecepatan putar rotor dalam Generator.2.2. b. sedangkan aliran informasi diperlihatkan dengan garis dengan tanda anak panah di salah satu ujungnya yang menandakan arah informasi atau data dalam proses pengaturan tersebut. dibuat diagram blok yang menggambarkan aliran informasi dan komponen yang terlibat dalam sistem kontrol tersebut. 12. Seperti diperlihatkan pada gambar 12.4 Diagram blok sistem kontrol open-loop 12-5 . Gambar kotak mewakili tiap komponen dalam sistem kontrol. Sistem Kontrol Lingkar-tertutup (Closed-Loop Control System) atau sistem kontrol dengan umpan balik (Feedback Control System).4. Dalam sistem tersebut. Selisih tegangan ini menjadi input pemicu (trigger) Thyristor yang menentukan nilai arus eksitasi dan output tegangan yang selanjutnya mempengaruhi Generator untuk menghasilkan tegangan output yang diinginkan.3. Pada gambar 12. setiap harga tegangan yang dihasilkan oleh Generator ditangkap oleh trafo tegangan untuk dibandingkan dengan tegangan acuan (referensi). masukan acuan kontroler aktuator plant keluaran Gambar 12. Diagram Blok Sistem Kontrol Ada dua bentuk umum sistem kontrol yaitu : a.Teknik Pengaturan Otomatis Dalam pengaturan secara otomatis. Sistem Kontrol Lingkar-terbuka (Open-Loop Control System). sebaliknya jika tegangan output lebih tinggi dari tegangan acuan maka Thyristor akan menghasilkan arus eksitasi sehingga tegangan output Generator turun mendekati harga tegangan acuannya. Prinsip pengaturannya adalah sebagai berikut : apabila tegangan output lebih rendah dari tegangan acuan maka Thyristor akan menghasilkan arus eksitasi sehingga tegangan output Generator naik mendekati harga tegangan acuannya. Sistem kontrol yang pertama sering disebut pengaturan secara manual. untuk memudahkan melihat proses pengaturan yang berlangsung dalam sistem kontrol. Diagram blok sistem kontrol lingkar terbuka (SKL-buka) diperlihatkan dalam gambar 12. sedangkan yang kedua disebut kontrol otomatis. peranan operator diganti oleh peralatan atau komponen yang secara otomatis bekerja sesuai dengan fungsi operator.

Akibatnya ketelitian sistem sangat bergantung kepada kalibrasi. Sistem kontrol ini bermanfaat 12-6 . Di lain pihak.5 Diagram blok sistem kontrol closed-loop Dalam sistem kontrol lingkar tertutup. Dalam sistem tersebut.Teknik Pengaturan Otomatis Sedangkan diagram blok sistem kontrol lingkar tertutup diperlihatkan dalam gambar 12. nilai keluaran berpengaruh langsung terhadap aksi pengaturan. Sistem kontrol lingkar-terbuka adalah sistem yang keluarannya tidak berpengaruh terhadap aksi pengaturan. Dalam hal adanya gangguan. Perendaman. Sistem kontrol lingkar tertutup dalam kenyataannya selalu merujuk kepada sistem yang menggunakan umpan balik untuk mengurangi error sistem.5. dan penyabunan dalam mesin cuci beroperasi berdasarkan waktu yang ditentukan oleh pengguna. dalam sistem ini keluarannya tidak diukur ataupun diumpanbalikkan untuk dibandingkan dengan masukan. pencucian. Keuntungan dari sistem kontrol lingkar-tertutup terlihat dari penggunaan umpan balik yang membuat respon sistem tidak terlalu peka (sensitif) terhadap gangguan luar ataupun perubahan nilai-nilai komponen dalam sistem. Dengan kata lain. keluaran tidak dibandingkan dengan masukan acuan. kestabilan menjadi masalah besar dalam sistem kontrol lingkar-tertutup karena penanganan error yang berlebihan bisa menyebabkan osilasi. sehingga masukan acuan berhubungan dengan kondisi operasi (operating condition) yang tetap. sistem kontrol lingkar-terbuka tidak akan menunjukkan hasil yang diharapkan. Mesin tidak mengukur kondisi sinyal keluaran berupa kebersihan pakaian. Contoh praktis sistem ini adalah mesin cuci. Hal tersebut memungkinkan penggunaan komponen yang tidak akurat dan murah untuk mewujudkan pengendalian yang akurat untuk suatu plant. masukan acuan komparator kontroler aktuator plant keluaran umpan balik Gambar 12. Sistem kontrol ini dapat digunakan dalam praktek hanya jika hubungan antara masukan dan keluaran diketahui dan tidak ada gangguan. sistem kontrol lingkar-terbuka relatif lebih mudah dibuat karena kestabilan sistem bukan masalah utama. Dari sisi kestabilan. Sinyal selisih (error) yaitu perbedaan antara masukan acuan dan sinyal umpan balik diberikan kepada kontroler sedemikian sehingga dalam prosesnya memperkecil selisih dan menghasilkan keluaran sistem pada harga atau kondisi yang diinginkan.

Seorang operator (KONTROLER) bertugas untuk mengatur aksi buka tutup katup (AKTUATOR) pada saluran uap panas. Dalam merealisasikan sistem yang dikendalikan dengan komputer maka penambahan komponen pengubah dari sinyal analog ke digital dan sebaliknya mutlak diperlukan untuk menjamin keberlangsungan proses dalam sistem tersebut Contoh 1: Pemanasan air Perhatikan diagram skematik sistem pemanasan air pada gambar 12. sebaliknya jika suhu air panas lebih dari yang diinginkan maka tutup katup saluran uap. Air yang akan dipanaskan disimpan dalam tangki air (PLANT). tetapi biasanya sistem kontrol lingkar tertutup juga memerlukan daya dan biaya yang relatif lebih besar dibandingkan dengan sistem kontrol lingkar-terbuka yang bersesuaian.6.7 melalui diagram blok berikut 12-7 . Sebuah termometer (SENSOR) digunakan untuk mendeteksi besar suhu air panas yang dihasilkan. Dewasa ini dengan kemajuan teknologi dalam bidang elektronika dan komputer. hampir seluruh sistem dikendalikan secara elektronis dan terkomputerisasi.Teknik Pengaturan Otomatis apabila ada gangguan yang bersifat sukar ditentukan atau diramalkan. Sistem kontrol tersebut dapat gambar 12.6 Sistem Pemanasan Air Skema tersebut memperlihatkan sistem pengaturan yang bertujuan untuk memperoleh air panas dengan suhu tertentu. Mekanisme pemanasan air dilakukan dengan mengalirkan uap panas ke dalam saluran uap panas yang selanjutnya uap panas ini akan memanaskan air dingin yang masuk ke dalam tangki. Peran manusia menjadi hanya sebagai operator. Algoritma kontrolnya adalah apabila suhu air panas kurang dari yang diinginkan maka buka katup saluran uap. saluran uap panas saluran air panas katup tangki air pengukur suhu (termometer) saluran air dingin pembuangan uap panas Gambar 12.

Dalam sistem ini. karena data suhu tidak diproses langsung oleh sistem tetapi diproses melalui operator.Teknik Pengaturan Otomatis suhu air panas yang diinginkan kontroler (operator) aktuator (katup + tangan operator) plant (tangki air) suhu air panas sebenarnya Gambar 12. kita tidak dapat mengatakan sistem ini sebagai SKL-tutup. intervensi operator menyebabkan berlangsungnya proses dalam sistem. 12-8 . Selain itu sensor elektronis juga menjadi kebutuhan untuk menjamin tersedianya informasi keluaran yang terus-menerus.9 secara skematik memperlihatkan pengaturan tinggi permukaan air.8 Diagram blok sistem pemanasan air secara otomatis Contoh 2. Bentuk diagram blok sistem kontrol lingkar tertutup untuk sistem pemanasan air ini diperlihatkan pada gambar 12. Seorang operator (KONTROLER) bertugas membuka tutup kran air (AKTUATOR) untuk menjaga tinggi permukaan air yang tetap. Apabila diinginkan menjadi sistem kontrol lingkar tertutup. maka fungsi operator harus diambil alih oleh peralatan elektronika pemroses keputusan (misalnya komputer atau mikrokontroler) serta rangkaian penggerak (driver) pemutar buka tutup katup. Algoritma kontrolnya adalah buka kran air apabila tinggi permukaan air turun dan tutup kran air apabila tinggi permukaan air lebih dari yang diinginkan. Dengan kata lain.8 suhu air panas yang diinginkan komparator kontroler motor listrik + driver tangki air suhu air panas sebenarnya mikrokontroler atau komputer sensor suhu (transduser) Gambar 12. yang ingin diatur adalah tinggi permukaan air dalam tangki (PLANT). Pengaturan tinggi permukaan air Gambar 12.7 Diagram blok sistem pemanasan air Meskipun ada sensor berupa termometer pada sistem ini.

samping kiri.9 Pengaturan tinggi permukaan air saluran air keluar Disini yang berfungsi sebagai sensor adalah mata sang operator yang selalu melihat tinggi permukaan air. 12-9 .11. Mobile Robot Mobile robot secara sederhana didefinisikan sebagai robot yang bergerak sendiri mengikuti jalur (path) yang diinginkan untuk menghindari rintangan.11 Prototipe mobile robot Prototipe mobile robot tersebut dilengkapi dengan sensor ultrasonik untuk mendeteksi jarak dirinya ke penghalang di depan.Teknik Pengaturan Otomatis operator tangki air kran air tinggi permukaan air yang diinginkan saluran air masuk Gambar 12. dan kanannya. Prototipenya diperlihatkan dalam gambar 12. Gambar 12.10 diagram blok pengaturan tinggi air Contoh 3. Diagram blok sistem kontrol lingkar terbuka untuk sistem ini dapat digambarkan dalam bentuk berikut aktuator (katup + tangan operator) tinggi permukaan air sebenarnya tinggi permukaan air yang diinginkan kontroler (operator) plant (tangki air) Gambar 12.

12 kontrol otomatis pada mobile robot 12. 12-10 .Teknik Pengaturan Otomatis Selain itu.3. sedangkan perilaku dinamis ditandai oleh respon sistem kontrol terhadap inputnya. Perilaku statis sistem kontrol diperlihatkan oleh hubungan linier antara variabel yang dikontrol dengan perubahan variabel termanipulasinya. Cara kerjanya adalah sebagai berikut.13 memperlihatkan sistem kontrol pada Generator arus searah dengan variabel yang dikontrol berupa tegangan dan variabel termanipulasinya arus eksitasi pada lilitan medannya. gambar 12. Jika di kiri tidak ada penghalang.12.13a adalah diagram rangkaiannya sedangkan gambar 12. Perilaku Sistem Kontrol Ada dua tipe perilaku sistem kontrol. maka robot berbelok ke kiri. Sedangkan jika penghalang juga berada di kiri dan kanan. jalur (path) yang diinginkan komparator kontroler driver motor stepper motor jalur stepper sebenarnya mikrokontroler sensor jarak (ultrasonik) Gambar 12. mikrokontroler digunakan sebagai pengaturnya. dan motor stepper difungsikan untuk menggerakkan rodanya. yaitu statis dan dinamis. Robot berjalan dalam arah lurus ke depan.13b memperlihatkan karakteristik statis dari sistem kontrol pada Generator tersebut. jika sensor depan mendeteksi adanya penghalang. maka robot bergerak mundur. Sebagai contoh. sebaliknya jika penghalangnya di kiri. maka sensor samping (kiri dan kanan) akan mendeteksi ada atau tidak penghalang. maka dia berbelok ke kanan. Gambar 12. Diagram blok sederhana untuk menggambarkan sistem tersebut diperlihatkan pada gambar 12.

yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara perubahan nilai variabel yang dikontrol (x) dengan perubahan nilai variabel termanipulasi (y). Gambar 12.Teknik Pengaturan Otomatis Gambar 12. hubungan antara arus eksitasi dan tegangan keluaran digambarkan dengan garis lurus (persamaan linier) seperti diperlihatkan pada gambar 11.14 Hubungan tegangan fungsi arus Perilaku statis dari sistem kontrol dinyatakan dengan koefisien transfer (Ks). 12-11 .14.13 Perilaku statis Generator Arus Searah Untuk setiap nilai arus yang dihasilkan oleh Generator.

15. koefisien transfer dinyatakan dengan rumus : KS = Δx Δy Contoh : Sebuah pemanas listrik memerlukan arus dari 5 A sampai 7 A untuk menghasilkan suhu dari 80o C sampai 100oC. sedangkan respon sistemnya berupa variabel yang dikontrol. Gambar 11-16 memperlihatkan respon sistem dan simbolnya. hubungan tersebut diperlihatkan pada gambar 12. Hitung koefisien transfer dari sistem tersebut. Gambar 12. Input berasal dari variabel termanipulasi.15 Perubahan Tegangan fungsi Arus Eksitasi Dari grafik tersebut. Jawab : KS = K Δx 100 0 C − 80 0 C = = 10 A Δy 7 A − 5A Sedangkan perilaku sistem dinamis ditinjau dari respon sistem yang dikontrol terhadap input berbentuk tangga (step).Teknik Pengaturan Otomatis Secara grafis.16 Sistem PT0 12-12 . Gambar 12.

sehingga untuk sistem PT0 begitu input diberikan pada sistem atau sistem dijalankan. T2 berarti waktu tunda responnya tingkat dua. Sistem kontrol waktu tunda dua langkah (PT2). Terlihat bahwa pada sistem PT0. Gambar 12.16a. Sistem kontrol waktu tunda satu langkah (PT1). Pada gambar tersebut terlihat sistem merespon inputnya secara langsung tanpa ada selang waktu.17 Model fisik PT1 12-13 .Teknik Pengaturan Otomatis Berdasarkan bentuk responnya. Sistem kontrol waktu tunda banyak (PTn).17. nilai output langsung mengikuti nilai inputnya tanpa penundaan waktu. Sistem kontrol dengan waktu mati (dead time). Tujuan pengaturannya adalah air diinginkan memiliki suhu tertentu. dan seterusnya. Simbol sistem PT0 diperlihatkan pada gambar 12. P pada penamaan sistem tersebut berarti proporsional. Sedangkan T berindeks berarti waktu tunda respon terhadap inputnya. T0 (T-nol) artinya tidak ada waktu tunda pada respon sistem. T1 berarti waktu tunda responnya tingkat satu. Waktu tunda adalah waktu yang dibutuhkan oleh respon sistem untuk mencapai bentuk inputnya.16b. Sementara sistem PT1 diperlihatkan pada gambar 12. semakin besar tingkat waktu tundanya semakin lambat respon output terhadap inputnya. Bentuk respon sistem PT0 diperlihatkan pada gambar 12. 2. 4. respon sistem langsung mengikuti bentuk inputnya. artinya bentuk sinyal reponnya sebanding dengan bentuk sinyal inputnya. Secara umum. Model fisik dari sistem PT1 menggambarkan sebuah proses pemanasan air dengan mengalirkan uap panas pada sebuah tangki melalui operasi buka tutup katup. dan 5. yaitu 1. 3. ada lima klasifikasi sistem kontrol. Sistem kontrol tanpa waktu tunda (PT0). Sebagai contoh dari sistem ini adalah pengaturan arus kolektor suatu transistor bipolar dengan input arus basisnya.

19 Model Sistem Kontrol PT2 Model radiator dengan saluran masuk uap panas melalui katup dan dilengkapi saluran keluar udara dari radiator tersebut. karena jika tegangan diberikan pada kumparan. sedangkan y menandai suhu air yang diinginkan. Prinsip pengaturannya sama dengan pemanasan air. arus yang muncul mengikuti bentuk eksponensial seperti pada gambar 12. Kondisi ini berlangsung dalam rentang waktu tertentu yang disebut waktu mati (deadtime) Tu.19. x menyatakan suhu air setiap saat. Suhu air bertambah seiring dengan banyaknya uap panas yang mengalir ke dalam tangki. Contoh lain dari sistem PT1 adalah kumparan. yaitu diharapkan radiator tersebut memiliki suhu akhir tertentu.Teknik Pengaturan Otomatis Pada saat katup dibuka untuk mengalirkan uap panas ke dalam tangki. Perubahan suhu air dalam tangki mengikuti grafik pada gambar 12. Gambar 12.18a. Terlihat bahwa nilai outputnya mencapai atau mengikuti nilai inputnya dalam waktu tertentu (waktu tunda). 12-14 . Adanya saluran keluar yang tidak dilengkapi katup menyebabkan suhu dalam radiator tidak mengalami perubahan. Pada saat katup uap panas dibuka maka proses pemanasan mulai berlangsung. Gambar 12. seolah-olah uap panas yang masuk langsung dibuang melalui saluran keluar.18 Respon Kontrol PT1 Radiator pemanas ruang dengan uap pemanas merupakan contoh sistem PT2 diperlihatkan pada gambar 12.18a. Simbol sistem PT1 diperlihatkan pada gambar 12. Perubahan suhu air berlangsung lambat dan mengikuti bentuk eksponensial dengan konstanta waktu Ts.18b. proses pemanasan mulai berlangsung. Pada grafik tersebut.

Suhu akhir diperoleh dalam selang waktu tertentu yang disebut waktu menetap (settling time) Tg.21 Respon kontrol PTn Misalnya dalam suatu sistem kontrol ada enam komponen yang terlibat dalam proses pengaturan dan masing-masing menyumbang waktu tunda terhadap sistem maka sistemnya disebut sistem PT6. Contoh lain dari sistem PT2 ini adalah motor arus searah dengan magnet permanen. 12-15 . sistem PTn adalah sistem dengan respon yang sangat lambat dibandingkan dengan dua sistem terdahulu. dimana kecepatannya diatur melalui perubahan arus jangkar.20b.Teknik Pengaturan Otomatis Apabila proses pemasukan uap panas terus berlangsung. Kalau sistem PT1 waktu tundanya mungkin berkisar dalam satuan milidetik dan sistem PT2 waktu tundanya dalam kisaran puluhan milidetik. Sistem ini memiliki dua konstanta waktu. Perbedaannya terletak pada kisaran waktu tunda dalam satuan puluhan detik.21. Sementara itu. Adanya dua parameter waktu tunda Tu dan Tg menyebabkan sistem ini disebut sistem PT2. Simbol sistemnya diperlihatkan pada gambar 12. Gambar 12.20 Respon sistem PT2 Gambar 12. bahwa output sistem mulai merespon setelah beberapa saat (waktu mati) dan mencapai inputnya setelah selang waktu tertentu (waktu menetap). maka waktu tunda untuk sistem PTn mungkin berkisar dalam satuan detik sampai puluhan detik.20. Dapat dilihat pada simbol itu. maka perubahan suhu dalam radiator mengikuti pola grafik pada gambar 12. Secara grafik. satu untuk lilitan jangkar dan yang lainnya untuk mempercepat bagian jangkar. bentuk respon untuk sistem PTn sama dengan sistem PT2 yaitu memiliki dua konstanta waktu seperti diperlihatkan pada gambar 12.

Gambar 12.23a.22 memperlihatkan proses pemindahan barang atau bahan di sebuah proses produksi dari satu tempat ke tempat lain melalui ban berjalan. waktu mati didefinisikan sebagai saat ketika sistem tidak merespon inputnya. maka ada rentang waktu kosong (deadtime) sebelum output sistem – dalam hal ini awal proses di bagian berikutnya – terjadi. Terlihat bahwa output baru muncul (x) setelah waktu mati (Tt) dari waktu awal inputnya (y). Sedangkan simbol sistem kontrol dengan waktu mati diperlihatkan pada gambar 12. Seperti diuraikan sebelumnya. Gambar 12.23b.23 Respon Kontrol Deadtime 12-16 . Gambar 12. Karena ada waktu yang dibutuhkan oleh barang atau bahan untuk berpindah dari posisi semula ke posisi akhir. respon sistem kontrol yang memiliki waktu mati diperlihatkan pada gambar 12.22 Model Dead Time . Jadi output sistem baru muncul setelah waktu mati. Secara grafik.Teknik Pengaturan Otomatis Kelompok lainnya adalah sistem kontrol dengan waktu mati (deadtime).

Gambar 12. kontroler Proporsional dan Integral (PI). yaitu kontroler kontinyu dan kontroler diskrit.24. Tipe Kontroler Kontroler dapat diibaratkan sebagai otak dari sistem kontrol. dan kontroler Proporsional-Intergral-Derivatif (PID). Kontroler integral (I).4. Apabila ruangan bersuhu rendah maka kontroler bekerja untuk menaikkan suhu ruangan. 12. Kontroler diskrit terdiri atas kontroler dua posisi (On-Off) dan kontroler tiga posisi.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Sedangkan kontroler kontinyu terdiri atas lima jenis. sehingga dinamai juga kontroler On-Off. ada dua input ke kontroler. sebaliknya apabila suhu ruangan mencapai posisi suhu tinggi maka kontroler bekerja untuk menurunkan suhu ruangan dengan cara memutus arus pemanasnya. kontroler Proporsional Derivatif (PD). Komponen tersebut berfungsi sebagai pusat pengatur proses dalam sistem kontrol. Karakteristik kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. yaitu kontroler Proporsional (P).5. Input yang diproses oleh kontroler adalah selisih dari dua input tersebut (error e). Sedangkan output kontroler berupa variabel termanipulasi (y). yaitu output sebenarnya yang dihasilkan plant (disebut variabel yang dikontrol x) dan masukan acuan (referensi w).24 Kontroler dua posisi (On-Off) 12-17 . Salah satu penerapan kontroler ini misalnya pada pengaturan suhu ruangan agar berada di antara dua nilai suhu rendah dan tinggi (suhu nyaman). Secara teknis. kontroler Derivatif (D). Kontroler Dua Posisi Kontroler tipe ini memiliki prinsip kerja nyala-padam (On-Off) secara bergantian dengan waktu yang ditentukan. Kondisi suhu mengikuti grafik pada gambar tersebut. Berdasarkan cara kerjanya ada dua tipe kontroler.

Waktu tunda tersebut muncul baik pada saat kondisi on ke off ataupun sebaliknya dari kondisi off ke on seperti terlihat pada gambar tersebut sebagai akibat komponen atau pengatur tidak bisa langsung merespon perubahan inputnya.24. perpindahan (transisi) dari posisi on ke off berlangsung ketika suhu mencapai suhu tinggi (xo) dan sebaliknya perpindahan posisi off ke on terjadi pada saat suhu mencapai suhu rendah (xu). Dengan melihat kurva ini. sehingga proses awal berulang.25. Adanya magnet menyebabkan suatu saat keping bimetal kembali akan tertarik dan menyebabkan kontak kembali bekerja dan proses pemanasan berlangsung kembali. timbul waktu tunda Tu. suhu naik sedikit demi sedikit sampai mencapai suhu tingginya. 12-18 .26 Kontroler suhu bimetal Kontroler suhu bimetal adalah sebuah kontroler dua posisi yang diperlihatkan pada gambar 12.Teknik Pengaturan Otomatis Pada saat awal proses pemanasan ruangan. keping bimetal kembali melengkung dan memutus kontak dengan pemanas. Simbol kontrol dua posisi (On-Off) diperlihatkan pada gambar 12.25 Simbol kontrol on-off Gambar 12. Pada kontroler ini bentuk kurva karakteristik input-outputnya disebut hysteresis seperti terlihat di bagian kiri gambar 12. Posisi On-Offnya ditentukan oleh kontak bimetal.26. Apabila suhu panas maka keping bimetal akan melengkung sedemikian sehingga kontak terlepas sehingga elemen pemanasnya terputus kontaknya sehingga suhu akan turun. dan seterusnya. Karena suhu naik. Gambar 12. Karena ketidakidealan sistem.

dan keadaan mati (Off). Ketika posisi saklar pada 0.27 memiliki karakteristik satu posisi On dan dua posisi Off. Contoh pemakaian kontroler tiga posisi adalah pada sistem pengaturan suhu yang memerlukan tiga keadaan. satu pemanas bekerja. panas-sedang.6. hasilnya suhu dingin.27 Kontrol tiga posisi Jika pemanas akan dinaikkan temperaturnya. Sedangkan karakterisitik dan simbol dari kontroler tiga posisi terlihat pada gambar 12. Dalam bentuk rangkaian listrik digambarkan pada gambar 12. sensor temperatur menggerakkan saklar ke cabang 2. Pemanas listrik R1. Ketika sensor suhu mencapai angka setting tertentu saklar cabang akan menghubungkan cabang 1 dengan pemanas R1.28. atau sebaliknya dua On dan satu Off. pada posisi ini pemanas R1 dan R2 secara bersamaan bekerja dan dihasilkan temperatur lebih tinggi.28 Karakteristik dan simbol kontroler tiga posisi Gambar 12. terhubung pada induk saklar 1 dan 2.29 Karakteristik kontroler tiga posisi dengan posisi tengah nol 12-19 . Kontroler Tiga Posisi Kontroler tiga posisi gambar 12. seperti diperlihatkan pada gambar 12. kedua pemanas posisi Off dan kedua pemanas tidak mendapat catu daya listrik.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Gambar 12.29 Gambar 12. yaitu panas-tinggi. Sedangkan pemanas R2 hanya terhubung pada saklar cabang 2 saja.27.

32. Kontroler Proporsional (P) Kontroler Proporsional memiliki karakteristik bahwa outputnya berupa variabel yang dikontrol berubah sebanding (Proporsional) dengan inputnya yang berupa variabel selisih (error) antara masukan acuan (reference) dengan variabel termanipulasi atau output nyata dari plant. Karakteristik dan diagram blok kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. Hubungan antara variabel yang dikontrol y dengan error e dinyatakan dengan bentuk persamaan linier dengan konstanta kesebandingan (proporsional) KRP. Gambar 12.30 Kontrol proporsional Apabila tinggi air sesungguhnya sangat rendah maka katup akan membuka lebar-lebar.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Gambar 12.31. Gambar 12.30. sebaliknya apabila tinggi air sesungguhnya melebihi tinggi air acuan maka katup akan menutup sekecil mungkin.31 Aplikasi kontroler proporsional Respon sistem kontrol dengan kontroler proporsional diperlihatkan pada gambar 12.7. Buka tutup katup akan sebanding dengan posisi pelampung yang mengukur selisih antara tinggi permukaan air yang diinginkan (referensi) dengan tinggi air sesungguhnya (x).32 Respon kontrol proporsional 12-20 . Aplikasi kontroler proporsional misalnya pada pengaturan tinggi permukaan air seperti pada gambar 12.

34 Aplikasi kontroler integral 12-21 . sehingga diharapkan selisihnya semakin kecil. Dengan demikian diharapkan tangki air akan terisi air lagi secara cepat sampai ketinggian yang diinginkan. seperti diperlihatkan pada gambar 12.8. Jadi. Input sistem berupa variabel selisih (error) antara masukan acuan (referensi) dengan variabel termanipulasi atau output nyata dari plant. pemakaian kontroler integral relatif lebih baik dalam hal memperkecil selisih antara masukan acuan dengan Gambar 12.33 Kontroler Integral output nyata. jika selisih acuan dengan output nyata besar maka perubahan nilai output juga besar. Dalam sistem tersebut.34. Dengan demikian. Semakin besar selisih tersebut. operasi buka tutup katup dilakukan oleh motor listrik. artinya aktuator akan “mengejar” selisih tersebut. Aplikasi kontroler integral ini misalnya pada pengaturan level permukaan air yang melibatkan motor sebagai komponen aktuatornya. yaitu apabila kecepatan berkurangnya air semakin besar (misalnya saat pemakaian air yang banyak). Dibandingkan dengan kontroler proporsional.33. sehingga air akan semakin banyak mengalir. kontroler integral akan mendorong sistem yang dikontrol (plant) untuk mencapai output yang diinginkan. Karakteristik dan diagram blok kontroler integral diperlihatkan pada gambar 12. Torsi motor yang dihasilkan bergantung kepada nilai selisih antara acuan (yh) dengan output nyata (y) yang diukur melalui pelampung. Kontroler Integral (I) Laju perubahan (kecepatan) nilai output dari kontroler integral sebanding dengan nilai inputnya. Gambar 12. maka torsi motor akan semakin besar dan mempercepat buka katup. sehingga selisih (error) nya semakin kecil.Teknik Pengaturan Otomatis 12.

Kontroler Proporsional Integral (PI) Kontroler PI merupakan gabungan fungsi dari kontroler Proporsional dan Integral. Respon sistem terhadap input tangga (step) dan diagram blok dari kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. buka tutup katup berlangsung atas dasar data output nyata yang diukur melalui pelampung dan torsi motor.Teknik Pengaturan Otomatis 12. sementara kontroler P digunakan untuk mempertahankan agar kontroler masih merespon meskipun untuk nilai selisih yang kecil. Gambar 12. Gambar 12. karena buka tutupnya menyesuaikan dengan kondisi air yang ada dalam tangki.35 Kontroler Proporsional Integral Aplikasi tipe kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. Kombinasi dua mode pengontrolan ini menghasilkan operasi katup yang efektif.9. Torsi motor berubah berdasarkan nilai selisih antara ketinggian air nyata (y) dan tinggi air yang diinginkan (yh).35.36.36 Aplikasi Kontroler PI 12-22 . Pada sistem ini. Penggabungan ini untuk menutupi kekurangan kontroler P yang relatif lambat responnya.

Apabila keadaan air mendekati penuh. 12-23 .39. Kontroler Derivatif (D) Penggunaan kontroler P saja dalam sistem kontrol kadang-kadang menyebabkan respon sistem melebihi input acuannya. Pada sistem ini.39 Aplikasi Kontroler Derivatif Dalam keadaan tangki kosong artinya selisihnya besar.Teknik Pengaturan Otomatis 12. buka tutup katup bergantung kepada perubahan nilai selisih antara tinggi air nyata yang diukur melalui pelampung (y) dan tinggi air yang diinginkan (yh).38 Respon kontroler derivatif untuk sinyal lereng Gambar 12. nilai ouput yang melebihi nilai acuannya ditekan sekecil mungkin.37 Respon kontroler maka kontroler mengirimkan sinyal ke derivatif untuk sinyal step aktuator yang semakin besar pula. maka nilai selisihnya kecil. Gambar 12. Misalnya level air dalam tangki melebihi dari tinggi yang diinginkan. sehingga katup akan memperkecil volume air yang masuk ke dalam tangki. Untuk mengurangi atau menghindari kondisi ini maka digunakan kontroler tipe derivatif. Aplikasi kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12.37 dan gambar 12. Input ke kontroler derivatif berupa perubahan selisih antara output nyata dan masukan acuannya atau kecepatan error. sehingga apabila selisih antara output nyata dan masukan acuannya semakin besar Gambar 12. Respon kontroler ini untuk input tangga (step) dan input lereng (ramp) diperlihatkan pada gambar 12. maka katup akan membuka dengan cepat sehingga laju air masuk ke tangki semakin besar.10. Keadaan ini disebut overshoot. Dengan demikian.38.

40.41 Aplikasi Kontroler PD Ketika pengisian air dalam tangki penampung mencukupi maka pelampung akan bergerak keatas dan menggerakkan dua tuas. Gambar 12. 12-24 .11. Gambar 12. Tuas bawah mengimbangi gerakan oleh tekanan pegas akibat dorongan piston.41. maka penggabungan dua tipe kontroler P dan D cukup efektif untuk mendapatkan respon sistem yang baik.Teknik Pengaturan Otomatis 12. seperti diperlihatkan pada gambar 12. Tuas atas menggerakkan piston dalam silinder yang akan meutup katup aliran air.40 Respon kontroler PD terhadap sinyal lereng Apabila kontroler PD diterapkan pada pengaturan tinggi air maka buka tutup katupnya berdasarkan data selisih dan laju perubahan selisih antara tinggi air nyata (y) dengan tinggi air yang diinginkan (yh). Kontroler Proporsional Derivatif (PD) Karena kontroler derivatif mampu mengurangi overshoot yang terjadi dalam sistem kontrol. Respon kontroler terhadap input lereng (ramp) dan diagram blok kontroler ini diperlihatkan pada gambar 12. Kontroler PD memadukan fungsi kontroler P dan D.

sehingga disebut kontroler PID. Kontroler ini memadukan fungsi tiga kontroler sebelumnya (P. errornya sangat kecil (keunggulan kontroler I).12. maka untuk mendapatkan hasil pengontrolan yang baik digunakan perpaduan tiga tipe kontroler tersebut. dan D).43 Aplikasi kontroler PID 12-25 .42. Respon kontroler terhadap input tangga (step) dan diagram bloknya diperlihatkan pada gambar 12. motor DC akan mati.36.26 dengan kontroler jenis Derivatif pada gambar 12.42 Respon kontroler PID terhadap sinyal step Aplikasi kontroler PID dalam sistem kontrol tinggi air dalam tangki diperlihatkan pada gambar 12. Pengisian permukaan air setinggi h akan di ikuti oleh pergerakan pelampung yang menggerakkan baik tuas.Teknik Pengaturan Otomatis 12. Perhatikan kontroler ini merupakan gabungan kontroler PI yang ada digambar 12. karena tipe kontroler memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. dan overshoot-nya kecil (keunggulan kontroler D). Potensiometer akan memperkecil tegangan. maka pelampung akan bergerak keatas. Sekaligus katup akan menutup aliran air yang menuju ke bak penampung bawah. maupun potensiometer yang memberikan umpan balik pada motor DC yang mengisi air. Kontroler PID Dari uraian sebelumnya. Gambar 12.43. Dengan kontroler PID diharapkan responnya sangat cepat (keunggulan kontroler P). Jika permukaan air sesuai dengan setting. I. Gambar 12.

Tabel 12. Tipe kontroler. yaitu loop stabil. analogi rangkaian listrik. loop batas stabil.44 Karakteristik osilasi 12-26 . hubungan antar variabelnya dicantumkan dalam tabel berikut.3. diagram blok.13.Teknik Pengaturan Otomatis Untuk memudahkan analisis sistem kontrol biasanya digunakan analogi penggambaran sistem kontrol dengan rangkaian listrik. Bentuk karakteristiknya diperlihatkan pada gambar 12. Karakteristik Osilasi Pada Sistem Kontrol Ada tiga karakteristik osilasi apabila sebuah lingkar (loop) diterapkan pada sistem kontrol. Aplikasi Op-Amp Sebagai Kontroller 12. dan loop tidak stabil. Gambar 12.44.

dan waktu menetap (settling time)nya. dan kemudahan dalam realisasi menentukan tipe kontroler yang digunakan dalam aplikasi tersebut. Nilai optimal masing-masing parameter tersebut diperlihatkan pada tabel berikut.4. hal-hal teknis berkaitan dengan karakteristik sistem. Berikut adalah tabel perbandingan pemilihan tipe kontroler untuk aplikasi tertentu. Optimisasi Kontroler Dalam menerapkan tipe kontroler untuk aplikasi tertentu. respon sistem melebihi dari nilai masukan acuannya dan semakin lama semakin besar. Selain pertimbangan ekonomis. yang pada tingkat tertentu merusak komponen sistemnya.14. output sistemnya berosilasi terus-menerus. Seleksi Tipe Kontroler Untuk Aplikasi Tertentu Dalam prakteknya. penggunaan tipe kontroler sangat bergantung kepada jenis aplikasi yang akan menggunakan kontroler dalam realisasinya. Ada dua pendekatan yang cukup terkenal dan praktis (rule of thumb) dalam menentukan nilai optimal dari suatu parameter relatif terhadap parameter lainnya. respon sistemnya bisa mengikuti masukan acuannya dengan error semakin kecil dan menuju nol. Tabel 12. Hal ini tentu saja menyebabkan kerusakan dalam sistem. waktu tunda (delay time). beberapa parameter yang harus diperhatikan adalah konstanta waktu dari masing-masing tipe kontroler. Tentu saja yang terjadi adalah motor menjadi rusak karena terjadi panas berlebih dalam komponen motor tersebut. 12.15.Teknik Pengaturan Otomatis Dalam sistem kontrol dengan loop stabil. yaitu pendekatan Chien/Hornes/Reswick dan pendekatan Ziegler/Nichols. Karakteristik loop yang tidak stabil adalah kualitas terburuk dari sistem kontrol. Sementara untuk loop batas stabil. sifat-sifat fisis dari besaran yang dikontrol. Misalnya pada pengaturan kecepatan motor arus searah terjadi loop tidak stabil maka motor berputar semakin lama semakin besar sampai melebihi batas kecepatan nominalnya yang tercantum dalam nameplate-nya. 12-27 . Dalam sistem tersebut. Perbandingan jenis kontroller untuk masing-masing aplikasi 12.

dan Tv = 0.45.Teknik Pengaturan Otomatis Tabel 12. Tn. Komponen elektropneumatik .5.2 × × = 1. Dengan kriteria 20 % osilasi dari nilai output kontrolernya.16. dan Tv apabila dipilih kontroler PID untuk merealisasikan kontroler tersebut. Jawab 1 Tg 1 600 × = 1.42 × 60 = 25. : Dari tabel.2 A/K 10 60 K S Tu Tn = 2Tu = 2 × 60 = 120 detik . dan konstanta proporsional KS = 10 K/A. tentukan nilai parameter KRP. Sinyal-sinyal DC tersebut diaktifkan melalui rangkaian logika. 12-28 Gambar 12. yang disebut elektropneumatik.2 detik.42Tu = 0. waktu akhir respon kontroler (settling time) Tg = 600 detik. . K RP = 1. Elektropneumatik Di industri banyak digunakan komponenkomponen yang merupakan kombinasi elektrik dan pneumatik. Rangkaian dari komponen-komponen tersebut bekerja dengan energi listrik. Parameter Ziegler-Nichols Contoh : Sebuah sistem kontrol suhu membutuhkan spesifikasi kontroler sebagai berikut : waktu tunda Tu = 60 detik. Pneumatik dapat digunakan untuk mengontrol daya dengan bantuan sinyal listrik (biasanya digunakan 24 V DC).2 × 12. Parameter kontroller dengan pendekatan Chien/Hornes/Reswick Tabel 12.6.

Bagian-bagian tersebut bekerja secara elektropneumatik. Gambar 12.2. saklar akan berubah fungsi setiap kali ditekan. Komponen elektropneumatik terdiri bagian elektrik. Misalnya satu kali ditekan dia akan tertutup (dan terus bertahan) dan ditekan lagi saklar akan terbuka. 12. posisi silinder. Tombol NO. normally clossed atau dalam bentuk toggle gambar-12. dan sebagainya) dapat diteruskan ke bagian pengontrol.17. Sensor-sensor Melalui pengesetan pada sensor.NC dan toggle Misalnya dia akan tetap off sebelum ada orang yang mengubah posisi saklar menjadi on. bekerja berdasarkan mekanis. Bagian Elektrik Bagian ini biasanya berupa rangkaian tertutup dan mempunyai bagian output yang digunakan untuk menyambungkannya dengan komponen atau bagian lain sesuai dengan kebutuhan.47 Limit switch 12-29 . dan akan tetap pada posisinya sampai ada yang mengubahnya. tegangan. 12.Teknik Pengaturan Otomatis 12.46. informasiinformasi dari luar yang menunjukkan kondisi bagian yang dikontrol (misalnya perubahan tekanan.1. Sedangkan untuk model saklar tekan. normally open. elektropneumatik dan bagian mekanik. Di pasaran biasanya tersedia dalam bentuk saklar tekan (pushbutton) atau selector switch.17. akan bekerja selama beberapa waktu saja setelah saklar tersebut ditekan.46 Untuk model selector switch.17. pneumatik digunakan seperti pada silinder dan throttle dan katup penghalang. Komponen Elektropneumatik Di bagian aktuator. Gambar 12. Untuk tipe toggle.

• Dengan medan magnet yang tinggi komponen ini tidak dapat diset.Teknik Pengaturan Otomatis Sebuah limit-switch mekanik gambar-12. Gambar 12. maka dia akan mengeluarkan sinyal untuk mengontrol kerja mesin atau bagian dari mesin.48 Limit switch Saklar tekanan biasanya berfungsi sebagai tekanan penyambung. maka saklar akan terbuka atau tertutup. Saklar ini dapat berfungsi sebagai pemutus. pemutus atau pengubah aliran arus dengan cara mengeset saklar pada tekanan tertentu. Ketika ada tekanan melebihi nilai setingnya. Medan magnet biasanya segera berintegrasi dengan badan piston. penyambung atau pengubah arah arus. dapat di set pada posisi tertentu. sehingga kontak bergerak. • Bebas waktu tunggu • Masa pakainya panjang • Sensitifitasnya terbatas. sehingga ketika ada benda kerja yang menyentuh limit-swtich tersebut.2 ms). Saat ini banyak digunakan saklar tekanan yang bekerja secara elektronis.47. Daya tekan tersebut dapat diatur melalui sebuah tombol putar gambar-12.49 Proximity switch terpasang pada silinder (sekitar 0. Tekanan input didapat dari sebuah piston yang akan menghasilkan daya tekan.48. maka limit switch akan bekerja. Limit-switch biasanya berfungsi sebagai pembuka atau penyambung dan pengubah aliran arus. 12-30 . Ketika tekanan mencapai nilai seting yang ditetapkan. • Hanya memerlukan sedikit instalasi Saklar proximity merupakan sensor non-kontak. Biasanya rumah kontak saklar ini berupa diode jenis LED yang akan langsung menyala saat terjadi kontak (saklar tersambung). Saklar magnet jenis proximity juga dapat diset pada posisi tertentu dalam silinder gambar 12. bekerja berdasarkan induksi magnet yang ditimbulkan oleh belitan pada kontak-dalam. Karakteristik penting saklar jenis ini ialah: • Bekerja tanpa memerlukan daya • Waktu pensaklaran yang singkat Gambar 12. Saklar tekanan elektronis bekerja melalui tekanan yang terjadi pada membran. atau mengalihkan arah arus.49.

51 menunjukkan rangkaian kontak atau sambungan sebuah relay. Ini dimaksudkan relay dapat bekerja dengan tegangan yang berbeda-beda. Relay banyak digunakan untuk berbagai jenis kontrol. Relay biasanya bekerja dengan daya rendah (sekitar 1kW. Relay dan Kontaktor Relay dan kontaktor merupakan saklar yang bekerja berdasarkan prinsip elektro-magnetik yang terjadi pada kontaktor-kontaktornya gambar 12. Oleh karena itu gambar potongan saklarnya digambarkan sama. Jangkar akan bergerak dan kontak bekerja.17. K2 dan seterusnya.50 Konstruksi Dapat bekerja dengan tegangan Relay dan kontaktor yang berbeda-beda Relay dapat bekerja dengan tegangan DC maupun AC Relay dapat bekerja dengan sinyak-kuadrupel Relay juga dapat bekerja dengan delay sinyal. Arus masuk melalui belitan eksitasi (terminal A1 dan A2). deret kedua merupakan jenis deret kontak. Relay tersedia dalam tipe normally-open (terbuka). seperti: • Relay menunjukkan gambaran • • • • antara sinyal dan daya Gambar 12.50. 12-31 . Relay bekerja dengan tegangan bebas. maka sambungan akan terputus pula.3.Teknik Pengaturan Otomatis 12. atau sebagai pengubah aliran arus gambar-12. • • • Belitan untuk arus eksitasi digambarkan sebagao A1 dan A2 Relai digambarkan sebagai K1. Rangkaian kontak relay digambarkan melalui angka-angka yang terdiri dari dua deret. Relay dan kontaktor bekerja dengan prinsip yang sama. pengaturan dan pengecekan. Deret pertama merupakan order atau tingkatan. Jika aliran arus pada jangkar terputus. kontaktor bekerja dengan daya yang lebih besar sampai 100 kW. tertutup.

Teknik Pengaturan Otomatis Gambar 12. sehingga dapat mengubah status sambungan (tersambung atau terputus). yang akan membangkitkan medan elektro magnetik. Arus listrik mengalir melalui belitan magnet. Magnet yang dibangkitkan oleh belitan akan menaikkan jangkar ke atas. Katup magnetik terdiri dari belitan magnet (ini adalah elemen elektronik) dan katup pneumatik.4. Kontaktor dengan kontak utama dan kontak bantu 12.51. Katup Magnetik Katup magnetik merupakan konverter elektromagnetik. sehingga dapat menarik jangkar. Didalam pendorong katup terdapat gerbang jangkar yang akan bergerak.17. dalam waktu yang bersamaan akan terjadi Gambar 12. dimana tekanan udara dikontrol.52 Katup Magnetik 12-32 .51: dimulai dari penyetelan dasar katup. pengaliran udara3 dalam jangkar akan menghalangi udara dari atas ke bawah. Jangkar terhubung dengan pendorong katup. Katup magnetik Gambar 12. Oleh karena itu tidak ada arus lagi yang mengalir melalui belitan (spul) dari jangkar ke bawah dan aliran dari 1 ke 2 juga terhalang. Prinsip kerja katup kontrol 3/2 gambar 12. sehingga akan terjadinya aliran udara bebas dari 1 ke 2.51. yaitu dengan menutup aliran udara dari 1 ke 2. Selanjutnya. yang meng-gambarkan adanya bagian kontrol mekanis dan elektronik.

Teknik Pengaturan Otomatis pertukaran udara dari 3 ke 2. yang me-nyebabkan piston bergerak ke kiri. Sinyal listrik akan mengakibatkan jangkar bekerja membuka katup kontrol dan ini akan menimbulkan perubahan tekanan pada piston.54. dan akan mengakibatkan terjadinya tekanan pada piston ke arah kanan. Disini aliran udara dari jalur 1 ke 2 dihalangi dengan mengontrol katup magnetik 3/2. Katup magnetik 3/2 12-33 .53 menunjukkan penyetelan dasar dari katup magnetik 3/2. poros elektromagnet dapat berputar. Batang jangkar katup magnetik Katup Magnetik 3/2 dengan Penyetelan Balik. Tekanan udara juga dapat diatur melalui perangkat yang dapat diatur dengan tangan.52. sehingga hanya memerlukan arus dan daya listrik kecil. Gambar-12.53. dengan bantuan tangan. terdapat aliran tekanan udara pada lempeng yang dikontrol. dan ini akan mempengaruhi adanya pertukaran udara tersebut. Gambar 12. sehingga udara dapat mengalir dari jalur 1 ke 2. Gambar 12. Tekanan udara pada jalur 1 akan mengakibatkan lempeng penahan bergerak ke kiri dan jangkar akan bergerak ke depan. Di dalam elektropneumatik terdapat valve yang dapat dikontrol. Oleh karena itu. akan ada tekanan udara pada lempeng kontrol. Keunggulan penggunaan kontrol dengan elektropneumatik adalah belitan magnet relatif berukuran kecil. Pada saat ini aliran udara masuk dari jalur 3 ke 1 terhalang. menunjukkan dasar fungsi sebuah elektropneumatik gambar-12. dan katup akan teraliri udara melalui lubang di dalam jangkar di jalur 82. maka jangkar akan bergerak ke kiri sehingga kedalamannya akan bertambah. sementara udara dapat masuk melalui jalur 3 ke 2. Pada saat sinyal kontrol bekerja. Melalui eksitasi belitan magnet. sehingga katup akan terbebas dari kontrol tekanan.

12-34 . Gambar 12. Lubang yang menghubungkan kedalaman jangkar-jangkar akan berada pada tekanan di port 1. Gambar 12. Gambar 12.54. Jika ada sinyal kontrol. Disini. yaitu dengan mencegah aliran udara dari jalur 1 ke 2 dan dari 1 ke 4. tanpa mempertahankan impuls katup dalam memori. maka katup akan berada di tengah.56 menunjukkan penyetelan dasar katup 5/3 (penyetelan halus di-offkan).57. Katup magnetik 5/2 Katup Magnetik Impulse 5/2 gambar 12. untuk mempertahankan piston pada posisi tertentu. Melalui eksitasi sebuah magnet akan mulai dijelaskan prinsip pengontrolan katup dan piston yang akan mengubah posisi saklar. bahwa untuk mengatur gerakan katup diperlukan sinyal kontrol untuk Y1 hingga Y2.56.55 mempunyai prinsip kontrol yang sama dengan katup katup magnetik yang dijelaskan sebelumnya.Teknik Pengaturan Otomatis Katup magnetik 5/2 mempunyai perbedaan bentuk fisik jika dibandingkan katup magnetik 3/2 gambar 12. yang perlu diperhatikan. Perbedaan tersebut terletak pada sinyal listrik pembangkit eksitasi pada belitan magnet. belitan magnet hanya memer-lukan impuls yang pendek. Katup magnetik 5/3 Pengaturan katup mendapat masukan udara dari jalur 82 atau 84. Katup magnetik impulse 5/2 Katup magnetik jalur 5/3. Gambar 12. yaitu perlu belitan magnet yang tereksitasi untuk menggerakkan piston. Dengan menggunakan eksitasi magnet akan memungkinkan feder pusat berada di posisi tengah. tetapi untuk katup ini tidak ada definisi penyetelan dasar. Secara prinsip kedua katup tersebut mempunyai cara kerja yang sama.55.

56 maka relay K1 akan energized dan ini akan meng-aktifkan kontak relay pada lead arus-2 serta katup magnetik Y1 di bagian silinder 1V1. Disini kembali berlaku prinsip-prinsip perancangan rangkaian yaitu dengan memper hatikan fungsi dan karakteristik penyetelan. Operasi Maju dan Mundur Silinder Cara kerja silinder sangat berbeda dengan cara kerja pneumatik.18. Silinder 1A1 akan bergerak ketika S1 dioperasikan lagi dan mencapai ujung tabung ketika S1 dioperasikan untuk waktu yang diperlukan silinder bergerak dari ujung ke ujung tabung. Silinder pada gambar 12. Silinder operasi ganda katup 5/2 12-35 . Dalam praktik. Silinder tunggal dengan dgn katup magnetik 3/2 Gambar 12. pada elektropnuematikpun dapat dibuat rangkaian dasar yang harus di set secara bersama-sama. 12.18. sehingga jalur katup 3/2 dapat memberikan pengontrolan. Kontrol jenis ini mempunyai keunggulan. Gambar 12. Silinder dengan Operasi Ganda Disini juga akan dijelaskan kemungkinan-kemungkinan peng-aturan yang lebih banyak karena menggunakan pengaturan tekanan udara secara ganda. Komponen-komponen harus di-tangani dengan baik sehingga dan berfungsi baik dan dapat direncana kan pengontrolan yang sesuai. bahwa arus relay dapat digunakan untuk mengaktifkan perangkat lainnya.57 atas hanya akan bergerak ketika S1 ditekan untuk waktu selama silinder bergerak. Operasi satu arah dari Silinder Dengan mengoperasikan saklar-1 gambar 12.58.59. Rangkaian Dasar Seperti halnya pada pneumatik.Teknik Pengaturan Otomatis 12. pengaturan dilakukan melalui relay.1. Disini tidak ada pengaturan secara langsung.

60. Soal-soal 12-36 .20.57 bawah menunjukkan bahwa silinder 1A1 bergerak berdasarkan impuls yang diperoleh dari S1 dan S2 yang ditekan sesaat saja. S1 dapat dioperasikan kembali ketika S2 dioperasikan. Silinder ganda dengan katup 5/3 2.19. Rangkuman 2. untuk meng-operasikannya hanya diperlukan impuls yang pendek saja periodenya. dan pengaturan katup 1V1 tidak dapat dialihkan. Impuls 1V1 tersimpan oleh sinyal yang pertamakali datang. Katup path 5/2 1V1 merupakan sebuah katup dengan memori. Gambar 12.Teknik Pengaturan Otomatis Gambar-12. sehingga belitan magnet Y1 dan Y2 akan aktif. Oleh karena itu.

.............................................. Kerja Parallel Generator ................................................................ Generator Tanpa Beban ................ 13.................. Pendahuluan .....................................8........10................................. 13............. Prinsip Kerja ....... 13........................ 13.. Konstruksi Mesin Sinkron ......................... Soal-soal ...... 13................................. 13....... Generator Berbeban ................ Pengaturan Tegangan ...........................6. 13............................ Rangkuman ...........3.7... 13-1 13-2 13-10 13-12 13-13 13-15 13-18 13-23 13-26 13-27 ..................... 13.............BAB 13 GENERATOR SINKRON Daftar Isi : 13..4...... Menentukan Resistansi dan Reaktansi ...............2............5....... 13...1...9.....................

karena bekerja pada kecepatan dan frekuensi konstan dibawah kondisi “ Steady state “. Konstruksi dari sebuah Mesin Sinkron secara garis besar adalah sebagai berikut : 12-2 . beberapa Mesin Sinkron sering dioperasikan secara paralel. seperti di pusat-pusat pembangkit. Ada dua struktur medan magnet pada Mesin Sinkron yang merupakan dasar keja dari Mesin tersebut. Mesin Sinkron bila difungsikan sebagai motor berputar dalam kecepatan konstan. Kumparan DC pada struktur medan yang berputar dihubungkan pada sumber luar melaui slipring dan sikat arang. Pendahuluan Sebagian besar energi listrik yang dipergunakan oleh konsumen untuk kebutuhan sehari-hari dihasilkan oleh generator Sinkron Phasa banyak (polyphase) yang ada di pusat pembangkit tenaga listrik. Sebagai generator. Hampir semua Mesin Sinkron mempunyai belitan ggl berupa stator yang diam dan struktur medan magnit berputar sebagai rotor. Mesin Sinkron bisa dioperasikan baik sebagai generator maupun motor. yaitu kumparan yang mengalirkan penguatan DC dan sebuah jangkar tempat dibangkitkannya ggl arus bolak-balik. yaitu kumparan yang mengalirkan penguatan DC dan sebuah jangkar tempat dibangkitkannya ggl arus bola-balik. Kumparan DC pada medan magnet yang berputar dihubungkan pada sumber listrik DC luar melaui Slipring dan sikat arang. apabila dikehendaki kecepatan yang bersifat variabel. maka motor Sinkron dilengkapi dengan dengan pengubah frekuensi seperti “Inverter” atau “ Cyclo-converter”. Adapun tujuan dari paralel generator adalah menambah daya pasokan dari pembangkit yang dibebankan ke masing-masing generator yang dikirimkan ke beban. Hampir semua Mesin Sinkron mempunyai jangkar diam sebagai stator dan medan magnet berputar sebagai rotor.1. tetapi ada juga yang tidak mempergunakan sikat arang yaitu sistem “ brushless excitation”. tetapi ada juga yang tidak mempergunakan sikat arang arang disebut “brushless excitation”. Disebut Mesin Sinkron. 13.Generator Sinkron 13.2 Konstruksi Mesin Sinkron Ada dua struktur medan magnit pada Mesin Sinkron yang merupakan dasar keja dari Mesin tersebut. Generator Sinkron yang dipergunakan ini mempunyai rating daya dari ratusan sampai ribuan Mega-Volt-Ampere (MVA).

maka generator DC yang digunakan tidak dengan penguatan sendiri tetapi dengan “ Pilot Exciter” sebagai penguatan atau menggunakan magnet permanen.Generator Sinkron 13. tetapi rating daya yang besar. Gambar 13. dan arus dialirkan ke rotor melalui Slipring. Alternatif lainnya untuk penguatan eksitasi adalah menggunakan Diode silikon dan Thyristor. bahwa untuk membangkitkan flux magnetik diperlukan penguatan DC.1 Generator Sinkron Tiga Phasa dengan Penguatan Generator DC “Pilot Exciter”. Pada Mesin Sinkron dengan kecepatan rendah.2 Generator Sinkron Tiga Phasa dengan Sistem Penguatan “Brushless Exciter System”.Bentuk Penguatan Seperti telah diuraikan diatas. 12-3 . Gambar 13. seperti generator Hydroelectric.1. Penguatan DC ini bisa diperoleh dari generator DC penguatan sendiri yang seporos dengan rotor Mesin Sinkron.2. Dua tipe sistem penguatan “ Solid state” adalah : • Sistem statis yang menggunakan Diode atau Thyristor statis.

2.3. (a) Rotor Kutub onjol ( b ) Rotor kutub Silinder Gambar 13. Dengan inti ferromagnetik yang bagus berarti permebilitas dan resistivitas dari bahan tinggi.3 Bentuk Rotor 13. Gambar 13.4 memperlihatkan alur stator tempat kumparan jangkar.2. sedangkan Mesin dengan kecepatan rendah seperti Hydroelectric atau Generator Listrik Diesel mempunyai rotor kutub menonjol gambar 13. 13.3a. sehingga tidak dibutuhkan sikat arang dan slipring. Bentuk Rotor Untuk medan rotor yang digunakan tergantung pada kecepatan Mesin.2.Generator Sinkron • “Brushless System”.3b. pada sistem ini penyearah dipasangkan diporos yang berputar dengan rotor. Belitan jangkar (stator) yang umum digunakan oleh Mesin Sinkron Tiga Phasa. Bentuk Stator Stator dari Mesin Sinkron terbuat dari bahan ferromagnetik yang berbentuk laminasi untuk mengurangi rugi-rugi arus pusar. ada dua tipe yaitu : 12-4 . Mesin dengan kecepatan tinggi seperti turbo generator mempunyai bentuk silinder gambar 13.4 Inti Stator dan Alur pada Stator Gambar 13.

Generator Sinkron a. Satu siklus ggl penuh menunjukkan 360 derajat listrik. Bila kumparan tiga Phasa dimulai pada Sa. adalah : α lis = P α mek 2 Gambar 13.2. satu siklus ggl penuh akan dihasilkan bila rotor dengan 4 kutub berputar 180 derajat mekanis. Berapa sudut mekanis ditunjukkan dengan 180 derajat listrik. Antar kumparan Phasa dipisahkan sebesar 120 derajat listrik atau 60 derajat mekanik. b. dan Fc bisa disatukan dalam dua cara.5 Belitan Satu Lapis Generator Sinkron Tiga Phasa Contoh : Sebuah generator Sinkron mempunyai 12 kutub. adapun hubungan antara sudut rotor mekanis αmek dan sudut listrik αlis. Fb. Belitan satu lapis (Single Layer Winding). Jawaban : Sudut mekanis antara kutub utara dan kutub selatan adalah : 360 sudut mekanis = 30 0 α mek = 12 kutub Ini menunjukkan 180 derajat listrik : α lis = P 12 α mek = x30 0 = 180 0 2 2 12-5 . Belitan berlapis ganda (Double Layer Winding). 13.4. yaitu hubungan bintang dan segitiga.5 memperlihatkan belitan satu lapis karena hanya ada satu sisi lilitan didalam masing-masing alur. dan Sc dan berakhir di Fa. Belitan Stator Satu Lapis Gambar 13. Sb.

Jadi ggl yang dibangkitkan sistem tiga Phasa secara simetris adalah : E A = E A ∠0 0 Volt E B = E B ∠ − 120 0 Volt E C = E C ∠ − 240 0 Volt Gambar 13.6 Urutan Phasa ABC Gambar 13. sedangkan urutan Phasa ABC disebut urutan Phasa positif. dengan demikian tega. diikuti Phasa B.7 Belitan Berlapis Ganda Generator Sinkron Tiga Phasa 12-6 .ngan maksimum pertama terjadi dalam Phasa A. Kebalikan arah putaran dihasilkan dalam urutan ACB.6 (searah jarum jam). atau urutan Phasa negatif.Generator Sinkron Untuk menunjukkan arah dari putaran rotor gambar 13. dan kemu-dian Phasa C. urutan Phasa yang dihasilkan oleh suplai tiga Phasa adalah ABC.

Perhatikan gambar 13. Total ggl stator per Phasa E adalah jumlah dari seluruh vektor. Bila alur-alur tidak terlalu lebar. Pada masing-masing alur ada dua sisi lilitan dan masingmasing lilitan memiliki lebih dari satu putaran. demikian pula ggl yang dinduksikan dalam alur 3 akan tertinggal 2ψ derajat. masing-masing penghantar yang berada dalam alur akan membangkitkan tegangan yang sama. Dalam kenyataannya cara seperti ini tidak menghasilkan cara yang efektif dalam penggunaan inti stator. Masing-masing tegangan Phasa akan sama untuk menghasilkan tegangan per peng-hantar dan jumlah total dari penghantar per Phasa. Faktor ini selalu lebih kecil dari satu. E 2 .7 memperlihatkan bagian dari sebuah kumparan jangkar yang secara umum banyak digunakan. gambar 5. Sehingga. Diasumsikan ada n alur per Phasa per kutub. Untuk mengatasi masalah ini.5 hanya mempunyai satu lilitan per kutub per Phasa. sehingga tidak ada tegang-an dalam winding overhang. E = E1 + E 2 + E 3 + E 4 12-7 . jarak antara alur dalam derajat listrik. karena variasi kerapatan flux dalam inti dan juga melokalisir pengaruh panas dalam daerah alur dan menimbulkan harmonik.Belitan Berlapis Ganda Kumparan jangkar yang diperlihatkan pada gambar 13. adalah : 180 derajat listrik ψ= n x m dimana m menyatakan jumlah Phasa. Semua ggl ini ditunjukkan masingmasing oleh phasor E 1 . 13. ggl pada termi-nal menjadi lebih kecil bila dibanding-kan dengan kumparan yang telah dipu-satkan. dan seterusnya. E 3 .6.2.Generator Sinkron 13.5. Suatu faktor yang harus dikalikan dengan ggl dari sebuah kumparan distribusi untuk menghasil-kan total ggl yang dibangkitkan disebut faktor distribusi Kd untuk kumparan. Faktor Distribusi Seperti telah dijelaskan diatas bahwa sebuah kumparan terdiri dari sejumlah lilitan yang ditempatkan dalam alur se-cara terpisah.8. akibatnya masing-masing kumparan hanya dua lilitan secara seri. disini diperlihatkan ggl yang dinduksikan dalam alur 2 akan tertinggal (lagging) dari ggl yang dibangkitkan dalam alur 1 sebesar ψ =15 derajat listrik. generator praktisnya mempunyai kumparan terdistribusi dalam beberapa alur per kutub per Phasa. danE 4 .2. Bagian dari lilitan yang tidak terletak ke-dalam alur biasanya disebut “ Winding Overhang”.

Kd = 13.7. sedangkan bila diletakkan dalam alur 1 dan 6 disebut kisar pendek. karena ini sama dengan 5/6 kisar kutub. karena mempunyai beberapa keuntungan.Generator Sinkron Total ggl stator E lebih kecil dibandingkan jumlah aljabar dari ggl lilitan oleh faktor.9. dan bisa dinyatakan dengan persamaan : Sin(1 / 2nψ ) Kd = nSin(ψ/2) Keuntungan dari kumparan distribusi. adalah memperbaiki bentuk gelombang tegangan yang dibangkitkan. Jumlah Vektor E1 + E 2 + E 3 + E 4 = Jumlah Aljabar 4xE lili tan Kd adalah faktor distribusi. memperlihatkan bentuk kisar dari sebuah kumparan. Faktor Kisar Gambar 13. diantaranya : Gambar 13.10.2. seperti terlihat pada gambar 13.9 Total ggl Et dari Tiga ggl Sinusoidal 12-8 . Kisar : 5/6 = 5/6 x 180 derajat = 150 derajat 1/6 = 1/6 x 180 derajat = 30 derajat. bila sisi lilitan diletakkan dalam alur 1 dan 7 disebut kisar penuh.8 Diagram Phasor dari Tegangan Induksi Lilitan Gambar 13. Kisar pendek sering digunakan.

EL.10 Kisar Kumparan • • • Menghemat tembaga yang digunakan.EL 12-9 .EL 2.11 Vektor Tegangan Lilitan Sedangkan kisar pendek dengan sudut 30 derajat listrik. Memperbaiki bentuk gelombang dari tegangan yang dibangkitkan. Cos 30/2 Kp = E 2. Faktor .Cos 30 / 2 = = Cos15 0 2. Kerugian arus pusar dan Hysterisis dikurangi. maka total induksi = 2 EL (gambar 13.Kisar = Jumlah Vektor ggl induksi lili tan = Kp Jumlah Aljabar ggl induksi lili tan EL ggl yang diinduksikan pada masing-masing lilitan.8b. seperti diperlihatkan pada gambar 13.Generator Sinkron Gambar 13.11). bila lilitan merupakan kisar penuh. maka tegangan resultannya adalah : E = 2 EL. Gambar 13.

atau N = Sedangkan f = 120 P Sehingga Ggl induksi rata-rata per penghantar menjadi : φ.φ.φ.N 120. Atau Kp = Cos 13.φ.3.f . maka Ggl efektif/Phasa E = 4.φ. Apabila Z = Jumlah penghantar atau sisi lilitan dalam seri/Phasa = 2 T T = Jumlah lilitan per Phasa 60 dφ = φP dan dt = detik N Ggl induksi rata-rata per penghantar : dφ φ. Kd.f.f.P 120.φ Volt 60 P bila ada Z penghantar dalam seri/Phasa.φ .11x 4.T = 4. Gaya Gerak Listrik Kumparan Pada Sub bab sebelumnya telah dibahas mengenai frekuensi dan besarnya tegangan masing-masing Phasa secara umum. T Volt 13.44 .φ. 12-10 . Prinsip Kerja Generator Sinkron Kecepatan rotor dan frekuensi dari tegangan yang dibangkitkan berbanding secara langsung.Generator Sinkron 30 α = Cos 2 2 0 p = Sin 2 0 dimana p adalah kisar kumparan dalam derajat listrik.f .22 memperlihatkan prinsip kerja dari sebuah generator AC dengan dua kutub.T Volt bila faktor distribusi dan faktor kisar dimasukkan.Z Volt = 2. Gambar 13.8.(2T) = 4.N.P Er = Volt = = dt 60 / N 60 P. dan dimisalkan hanya memiliki satu lilitan yang terbuat dari dua penghantar secara seri. yaitu penghantar a dan a’.44 x f .f.f Er = x = 2.T volt Ggl efektif/Phasa = 1. Untuk lebih mendekati nilai ggl sebenarnya yang terjadi maka harus diperhatikan faktor distribusi dan faktor kisar. maka : Ggl rata-rata/Phasa = 2.f. Kp .2.P φ.f .

maka rotor harus berputar 3600 Rpm. frekuensi 1 Hz. rotor harus berputar pada kecepatan n/60 revolution per detik (rps). Sin ( ωt – 120˚ ) ΦC = Φm. Diasumsikan rotor berputar searah jarum jam. Sin ( ωt – 240˚ ) Besarnya fluks resultan adalah jumlah vektor ketiga fluks tersebut ΦT = ΦA + ΦB + ΦC. f = Untuk generator Sinkron tiga Phasa. dalam generator sebenarnya terdiri dari banyak lilitan dalam masing-masing Phasa yang terdistribusi pada masing-masing alur stator dan disebut “Lilitan terdistribusi”.Generator Sinkron Lilitan seperti ini disebut “Lilitan terpusat”. 12-11 . bila rotor mempunyai lebih dari 1 pasang kutub. maka besar- P 2 n Hertz 60 Gambar 13.12 Diagram Generator AC Satu Phasa Dua Kutub. Bila kecepatannya 60 Revolution per menit (Rpm). misalnya P kutub maka masing-masing revolution dari rotor menginduksikan P/2 siklus tegangan dalam lilitan stator. Dalam keadaan seimbang besarnya fluksi sesaat : ΦA = Φm. Satu putar-an rotor dalam satu detik menghasilkan satu siklus per ditik atau 1 Hertz (Hz). maka flux medan rotor bergerak sesuai lilitan jangkar. Sin ωt ΦB = Φm. b – b’ dan c – c’ pada gambar 13.13. Frekuensi dari tegangan induksi sebagai sebuah fungsi dari kecepatan rotor . Untuk kecepatan rotor n rpm. yang merupakan fungsi tempat (Φ) dan waktu (t). Masing-masing lilitan akan menghasil-kan gelombang Fluksi sinus satu dengan lainnya berbeda 120 derajat listrik. harus ada tiga belitan yang masingmasing terpisah sebesar 120 derajat listrik da-lam ruang sekitar keliling celah udara seperti diperlihatkan pada kumparan a – a’. Untuk frekuensi f = 60 Hz.

Φm. bila diuraikan maka suku kesatu. Besarnya tegangan masing-masing Phasa adalah : E maks = Bm. dan kelima akan silang menghilangkan.13 Diagram Generator AC Tiga Phasa Dua Kutub 13.Φm. Sin ( ωt + φ – 240˚ )+ ½.4 Generator Tanpa Beban Apabila sebuah Mesin Sinkron difung-sikan sebagai generator dengan diputar pada kecepatan Sinkron dan rotor diberi arus medan (If). Sin ( ωt – φ) + ½.Φm. l. Sin ( ωt – φ ) + ½.Φm.Generator Sinkron besarnya fluks total adalah. Jadi medan resultan merupakan medan putar dengan modulus 3/2 Φ dengan sudut putar sebesar ω.Sin(ωt – 120˚) + Φm. ΦT = ¾ Φm. yaitu : Eo = 4.Φ ) Weber . Sin (ωt + φ )+ ½.Sin ωt + Φm. ω r Volt dimana : Bm = Kerapatan Flux maximum kumparan medan rotor (Tesla) l = Panjang masing-masing lilitan dalam medan magnetik (Weber) ω = Kecep sudut dari rotor (rad/s) r = Radius dari jangkar (meter) Gambar 13. ΦT = Φm. Sin(ωt – 240˚). maka dari persamaan 8-5 diperoleh : ΦT = ½. f. Sin ( ωt .Sin (α + β ) + ½ Sin (α + β ). Cos (φ – 240˚) Dengan memakai transformasi trigonometri dari : Sin α . φm. Cos β = ½. Sin ( ωt + φ – 480˚ ) Dari persamaan diatas. ketiga. T Volt 12-12 .Φm. Kp. Dengan demikian dari persamaan akan didapat fluksi total sebesar.Kd.44 . maka pada kumparan jangkar stator akan diinduksikan tega-ngan tanpa beban (Eo).

Generator Sinkron Dalam keadaan tanpa beban arus jangkar tidak mengalir pada stator, sehingga tidak terdapat pengaruh reaksi jangkar. Fluk hanya dihasilkan oleh arus medan (If). Bila besarnya arus medan dinaikkan, maka tegangan output juga akan naik sampai titik saturasi(jenuh) seperti diperlihatkan pada gambar 13.14. Kondisi Generator tanpa beban bisa digambarkan rangkaian ekuivalennya seperti diperlihatkan pada gambar 13.14b.

(b) (a) Gambar 13.14 Kurva dan Rangkaian Ekuivalen Generator Tanpa Beban

13.5. Generator Berbeban
Bila Generator diberi beban yang beru-bah-ubah maka besarnya tegangan terminal V akan berubah-ubah pula, hal ini disebabkan adanya kerugian tegangan pada:

• • •

Resistansi jangkar Ra Reaktansi bocor jangkar Reaksi Jangkar Xa

a. Resistansi Jangkar Resistansi jangkar/Phasa Ra menyebab-kan terjadinya tegangan jatuh (Kerugian tegangan)/Phasa I.Ra yang sePhasa dengan arus jangkar. b. Reaktansi Bocor Jangkar Saat arus mengalir melalui penghantar jangkar, sebagian fluk yang terjadi tidak mengimbas pada jalur yang telah ditentukan, hal seperti ini disebut Fluk Bocor.

12-13

Generator Sinkron c. Reaksi Jangkar Adanya arus yang mengalir pada kumparan jangkar saat Generator dibe-bani ) yang berintegrasi dengan fluksi yang akan menimbulkan fluksi jangkar ( dihasilkan pada kumparan medan rotor( fluksi resultan sebesar : ), sehingga akan dihasilkan suatu

φ R = φF + φ A
Interaksi antara kedua fluksi ini disebut sebagai reaksi jangkar, seperti diperlihatkan pada Gambar 13.15. yang mengilustrasikan kondisi reaksi jangkar untuk jenis beban yang berbeda-beda. Gambar 13.15a , memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat generator dibebani tahanan (resistif) sehingga arus jangkar Ia sePhasa dengan ggl Eb dan akan tegak lurus terhadap . Gambar 13.15b, memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat generator dibebani kapasitif , sehingga arus jangkar Ia mendahului ggl Eb sebesar θ terbelakang terhadap dengan sudut (90 -θ). dan Gambar 13.15c, memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat dibebani kapasitif murni yang mengakibatkan arus jangkar Ia mendahului ggl Eb dan akan memperkuat yang berpengaruh terhadap sebesar pemagnetan. Gambar 13.15d, memperlihatkan kondisi reaksi jangkar saat arus diberi beban induktif murni sehingga mengakibatkan arus jangkar Ia terbelakang dan akan memper-lemah yang berpengaruh dari ggl Eb sebesar terhadap pemagnetan.

Gambar 13.15 Kondisi Reaksi Jangkar

12-14

Generator Sinkron Jumlah dari reaktansi bocor reaktansi Sinkron Xs. dan reaktansi jangkar Xa biasa disebut

Vektor diagram untuk beban yang bersifat Induktif, resistif murni, dan kapasitif diper- lihatkan pada Gambar 12 .16 Berdasarkan gambar diatas, maka bisa ditentukan besarnya tegangan jatuh yang terjadi, yaitu : Total Tegangan Jatuh pada Beban : = I.R a + j(I.X a + I.X L ) = =

Gambar 13.16 Vektor Diagram dari Beban Generator

13.6 Menentukan Resistansi dan Reaktansi
Untuk bisa menentukan nilai reaktansi dan impedansi dari sebuah generator, harus dilakukan percobaan(test). Ada tiga jenis test yang biasa dilakukan, yaitu :

12-15

Generator Sinkron

• • •

Test Tanpa beban ( Beban Nol ) Test Hubung Singkat. Test Resistansi Jangkar.

13.6.1. Test Tanpa Beban
Test Tanpa Beban dilakukan pada kecepatan Sinkron dengan rangkaian jangkar terbuka (tanpa beban) seperti diperlihatkan pada Gambar 13.17 perco-baan dilakukan dengan cara mengatur arus medan (If) dari nol sampai rating tegangan output terminal tercapai.

Gambar 13.17 Rangkaian Test Generator Tanpa Beban.

13.6.2. Test Hubung Singkat
Untuk melakukan test ini terminal alternator dihubung singkat dengan Ampermeter diletakkan diantara dua penghantar yang dihubung singkat tersebut Gambar 13.18. Arus medan dinaikkan secara bertahap sampai diperoleh arus jangkar maksimum. Selama proses test arus If dan arus hubung singkat Ihs dicatat. Dari hasil kedua test diatas, maka dapat digambar bentuk karakteristik seperti diperlihatkan pada gambar 13.18

Gambar 13.18 Rangkaian Test Generator di Hubung Singkat

12-16

Faktor ini tergantung pada bentuk dan ukuran alur.. resistansi DC diukur antara dua terminal output sehingga dua Phasa terhubung secara seri Gambar 13.. R eff ...Ohm I hs Gambar 13. Bila nilai Ra telah diketahui.6.20 Pengukuran Resistansi DC 12-17 . Resistansi per Phasa adalah setengahnya dari yang diukur.6 . adalah : Zs = Eo I f = kons tan . nilai Xs bisa ditentukan berdasarkan persamaan : 2 2 Xs = Zs − Ra Ohm Gambar 13.2 s/d 1. Test Resistansi Jangkar Dengan rangkaian medan terbuka... Dalam kenyataannya nilai resistansi dikalikan dengan suatu faktor untuk menentukan nilai resistansi AC efektif .Generator Sinkron Impedansi Sinkron dicari berdasarkan hasil test.20. Nilainya berkisar antara 1. ukuran penghantar jangkar.3.19 Karakteristik Tanpa Beban dan Hubung Singkat sebuah Generator 13. dan konstruksi kumparan..

Ada tiga metoda atau cara yang sering digunakan untuk menentukan pengaturan tegangan tersebut.21 Vektor Diagram Pf “Lagging” 12-18 . Gambar 13.7. Pengaturan Tegangan Pengaturan tegangan adalah perubahan tegangan terminal antara keadaan beban nol dengan beban penuh. langkah-langkahnya sebagai berikut : • Tentukan nilai impedansi Sinkron dari karakteristik tanpa beban dan karakteristik hubung singkat. dan ini dinyatakan dengan persamaan : Eo − V x100 % Pengaturan Tegangan = V Terjadinya perbedaan tegangan terminal V dalam keadaan berbeban dengan tegangan Eo pada saat tidak berbeban dipengaruhi oleh faktor daya dan besar-nya arus jangkar (Ia) yang mengalir. • Metoda Faktor Daya Nol atau Metoda Potier. Metoda Impedansi Sinkron Untuk menentukan pangaturan tegangan dengan menggunakan Metoda Impedansi Sinkron.7. Untuk menentukan pengaturan tega-ngan dari generator adalah dengan memanfaatkan karakteristik tanpa beban dan hubung singkat yang diperoleh dari hasil percobaan dan pengukuran tahanan jangkar.1.Generator Sinkron 13. • Metoda Amper Lilit atau Metoda GGM. yaitu : • Metoda Impedansi Sinkron atau Metoda GGL. 13. • Berdasarkan persamaan hitung nilai Xs • Hitung harga tegangan tanpa beban Eo • Hitung prosentase pengaturan tegangan. • Tentukan nilai Ra berdasarkan hasil pengukuran dan perhitungan.

Xs) 2 . • Gambar 5. Adapun langkah-langkah menentukan nilai arus medan yang diperlukan untuk memperoleh tegangan terminal generator saat diberi beban penuh. OC = Arus medan yang diperlukan untuk mendapatkan arus beban penuh pada hubung singkat.21 memperlihatkan contoh Vektor diagram untuk beban dengan faktor daya lagging.23 memperlihatkan diagram secara lengkap dengan karakteristik beban nol dan hubung singkat. AB = OC = dengan sudut (90 0 + ϕ) terhadap OA. Eo =OC = Tegangan tanpa beban V =OA = Tegangan terminal I. OA = Arus medan yang diperlukan untuk mendapatkan tegangan nominal.2. %Pengaturan = Eo − V x100 V Pengaturan yang diperoleh dengan metoda ini biasanya lebih besar dari nilai sebenarnya. Tentukan nilai arus medan (Vektor AB) dari percobaan hubung singkat yang diperlukan untuk mendapatkan arus beban penuh generator. Metoda Amper Lilit Perhitungan dengan Metoda Amper Lilit berdasarkan data yang diperoleh dari percobaan tanpa beban dan hubung singkat.Xs = BC= Tegangan jatuh Reaktansi Sin-kron. b. Dengan metoda ini reaktansi bocor Xl diabaikan dan reaksi jangkar diperhitungkan.Ra=AB=Tegangan jatuh Resistansi Jang-kar I. 12-19 . OC = OF 2 + FC 2 OC = (OD + DF) 2 + (FB + BC) 2 atau Eo = (V cos ϕ + I.Generator Sinkron Gambar 13.22 a. adalah sebagai berikut : • • • Tentukan nilai arus medan (Vektor OA) dari percobaan beban nol yang diperlukan untuk mendapatkan tegangan nominal generator.R a )2 + ( V sin ϕ + I. 13. dan c) Hitung nilai arus medan total yang ditunjukkan oleh vektor OB. Gambarkan diagram vektornya dengan memperhatikan faktor dayanya : • untuk faktor daya “Lagging” dengan sudut (90 0 + ϕ) • untuk faktor daya “Leading” dengan sudut (90 0 − ϕ) • untuk faktor daya “Unity” dengan sudut (90 0 ) perhatikan gambar 13.7.

22 Vektor Arus Medan 12-20 .Generator Sinkron Gambar 13.

dan Vektor Arus Medan. OB = OA 2 + AB2 + 2xOAxABxcos{180 − (900 + ϕ)} 17. OB = Total arus medan yang dibutuhkan untuk mendapatkan tegangan Eo dari karakteristik beban nol. Hubung Singkat.3. Metoda Potier Metoda ini berdasarkan pada pemisahan kerugian akibat reaktansi bocor Xl dan pengaruh reaksi jangkar Xa. Data yang diperlukan adalah : • Karakteristik Tanpa beban.Generator Sinkron Gambar 13.7. Pada kecepatan Sinkron dengan beban reaktor. yang membedakannya supaya menghasilkan faktor daya nol.23 Karakteristik Beban Nol. maka generator harus diberi beban reaktor murni. • Karakteristik Beban penuh dengan faktor daya nol. atur arus medan sampai tega-ngan nominal dan beban reaktor (arus beban) sampai arus nominal 12-21 . Khusus untuk karakteristik beban penuh dengan faktor daya nol dapat diperoleh dengan cara melakukan percobaan terhadap generator seperti halnya pada saat percobaan tanpa beban. Langkah-langkah untuk menggambar Diagram Potier sebagai berikut : 1. yaitu menaikkan arus medan secara bertahap. Arus jangkar dan faktor daya nol saat dibe-bani harus dijaga konstan.

DF untuk penyeimbang reaktansi bocor jangkar (JF) Gambar 13. 5. Eo − V x100 % Pengaturan Tegangan = V 12-22 .24 Diagram Potier Dari gambar Diagram Potier diatas. Melalui titik D tarik garis sejajar kurva senjang udara sampai memotong kurva beban nol dititik J. 6. Panjang JF menunjukkan kerugian tegangan akibat reaktansi bocor. • BH = AF = arus medan yang dibutuhkan untuk mengatasi reaksi jangkar. maka besarnya arus medan yang dibutuhkan untuk tegangan tanpa beban Eo bisa diketahui. AF menunjukkan besarnya arus medan yang dibutuhkan untuk mengatasi efek magnetisasi akibat raeksi jangkar saat beban penuh. • V ditambah JF (I. OB menunjukkan nilai arus medan saat percobaan tersebut. Gambarkan garis sejajar melalui kurva beban nol. berdasarkan percobaan hubung singkat dengan arus jangkar penuh. Segitiga ADJ dise-but segitiga Potier. 8. 7. Gambar garis JF tegak lurus AD.Xl) menghasilkan tegangan E. Buat titik B.Generator Sinkron 2. Buat titik A yang menunjuk-kan nilai arus medan pada percobaan faktor daya nol pada saat tegangan nominal.25. • Bila vektor BH ditambah kan ke OG. bisa dilihat bahwa : • V nilai tegangan terminal saat beban penuh. Tarik garis AD yang sama dan sejajar garis OB. 4. Vektor diagram yang terlihat pada diagram Potier bisa digambarkan secara terpisah seperti terlihat pada Gambar 13. 3.

Untuk mengatasi beban yang terus meningkat tersebut bisa diatasi dengan menjalankan generator lain yang kemudian dioperasikan secara paralel dengan generator yang telah bekerja sebelumnya.1. Keuntungan lain. Kerja Paralel Generator Bila suatu generator mendapat pembebanan lebih dari kapasitasnya bisa mengakibatkan generator tidak bekerja atau rusak.8.Generator Sinkron Gambar 13. generator tersebut dapat dihentikan serta beban dialihkan pada generator lain. Frekuensi kedua generator atau frekuensi generator dengan jala-jala harus sama. Urutan phasa dari kedua generator harus sama. 12-23 .8.25 Vektor Diagram Potier 13. Nilai efektif arus bolak-balik dari tegangan harus sama. 13. Tegangan Generator yang diparalelkan mempunyai bentuk gelombang yang sama. bila salah satu generator tiba-tiba mengalami gangguan. sehingga pemutusan listrik secara total bisa dihindari. Cara Memparalel Generator Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk memparalel dua buah generator atau lebih ialah : • • • • • Polaritas dari generator harus sama dan bertentangan setiap saat terhadap satu sama lainnya.

Urutan lampu akan beru-bah menrut urutan L1 . dan Synchroscope. c. dan L3 redup. Gambar 13. • L1 dan L2 sama terang • L3 Gelap dan Voltmeter=0 V 12-24 . Dalam keadaan saklar S terbuka operasikan generator.L3. pilih lampu dengan tegangan kerja dua kali tegangan phasa netral generator atau gunakan dua lampu yang dihubungkan secara seri. pada keadaan ini. Cara Otomatis 13.27a.2. Lampu Cahaya berputar dan Volt-meter b.26.8. yaitu : a. L2 terang.27c.27b.L2 . Perhatikan Gambar 13.26 Rangkaian Paralel Generator Perhatikan Gambar 13. Voltmeter. kemudian lihat urutan nyala lampu.L2 . pada keadaan ini L1 paling terang. pada keadaan ini: • L2 paling terang • L1 terang • L3 terang Perhatikan gambar 13.L3 . Frekuensi Meter.L1 . Lampu Cahaya Berputar dan Volt-meter Dengan rangkaian pada gambar 13.Generator Sinkron Ada beberapa cara untuk memparalelkan generator dengan mengacu pada syarat-syarat diatas.

Bila jarum penunjuk ber-putar berlawanan arah jarum jam berarti frekuensi generator lebih rendah dan bila searah jarum jam berarti frekuensi generator lebih tinggi. Frekuensi Meter dan Synchroscope Pada pusat-pusat pembangkit tenaga listrik. Penggunaan alat ini dilengkapi dengan Voltmeter untuk memonitor kesamaan tegangan dan Frekuensi meter untuk kesamaan frekuensi. Gambar 13. Ketepatan sudut phasa dapat dilihat dari synchroscope.27 Rangkaian Lampu Berputar 13.Generator Sinkron Pada saat kondisi ini maka generator dapat diparalelkan dengan jala-jala (generator lain).3.8.28. Alat synchroscope tidak bisa menunjukkan urutan phasa jala-jala. maka pada kondisi ini saklar dimasukkan (ON). berarti beda phasa generator dan jala-jala telah 0 (Nol) dan seli-sih frekuensi telah 0 (Nol). sehingga untuk memparalelkan perlu dipakai indikator urutan phasa jala-jala. Pada saat jarum telah diam dan menunjuk pada kedudukan vertikal. untuk indikator paralel generator banyak yang menggunakan alat Synchroscope gambar 13. 12-25 . Voltmeter.

belitan stator berupa belitan satu lapis atau belitan lapis anda. Kd. berlaku rumus. • Stator dari Mesin Sinkron terbuat dari bahan ferromagnetik. Rangkuman • Mesin Sinkron bisa dioperasikan baik sebagai generator maupun motor.9. E = 4. dan urutan phasa. sedangkan Mesin dengan kecepatan rendah seperti hydroelectric mempunyai rotor kutub menonjol.Generator Sinkron 13. frekuensi. • Belitan stator satu lapis karena hanya ada satu sisi lilitan didalam masing-masing alur.f . • Generator Sinkron Tiga Phasa memiliki dua jenis eksitasi a) dengan penguatan generator DC “Pilot Exciter.φ . Gambar 13. T Volt 12-26 . • Pada masing-masing alur ada dua sisi lilitan dan masing-masing lilitan memiliki lebih dari satu putaran. b) penguatan brushless. • Tegangan efektif per phasa bila faktor distribusi dan faktor kisar dimasukkan. 28 Sychroscope 13. Apabila semua kondisi telah tercapai alat memberi suatu sinyal bahwa saklar untuk paralel dapat dimasukkan. Paralel Otomatis Paralel generator secara otomatis biasanya menggunakan alat yang secara otomatis memonitor perbedaan phasa.44 .10. • Pada belitan stator mengandung faktor ditribusi dan faktor kisar belitan yang besarnya lebih kecil dari satu. tegangan. • Bentuk rotor Mesin Sinkron berkecepatan tinggi seperti turbo generator mempunyai bentuk silinder. Kp .

c) Cara Otomatis 13. Frekuensi Meter. dan Synchroscope. test hubung singkat. test resistansi jangkar. 400 V. bedakan warna dari masing-masing phasa. yaitu : test tanpa beban. Generator Sinkron memiliki data name plate 3 phasa. 4 kutub.11. • Ada perbedaan karakteristik saat generator tanpa beban dan generator berbeban. maka pada kumparan stator akan diinduksikan tegangan. • Ada tiga metoda yang digunakan untuk menentukan pengaturan tegangan yaitu : metoda Impedansi Sinkron atau Metoda GGL. metoda Amper Lilit atau Metoda GGM. f = P 2 n Hertz. b) Voltmeter. Sebuah generator Sinkron mempunyai 8 kutub. Soal-soal 1. 3 phasa. • Pengaturan tegangan adalah perubahan tegangan terminal antara keadaan beban nol dengan beban penuh. akan di rewinding.Generator Sinkron • Frekuensi dari tegangan induksi sebagai sebuah fungsi dari kecepatan rotor. reaksi Jangkar. • Saat generator berbeban mengalir arus pada jangkar. metoda Faktor Daya Nol (Potier). 12-27 . Hitungkan putaran Sinkron permenit. 3. Generator Sinkron memiliki 24 alur. hal ini disebabkan adanya kerugian tegangan pada: resistansi jangkar Ra. • Pengukuran resistansi dan impedansi generator dilakukan tiga jenis test yang bisa dilakukan. Buatlah gambar wiring yang lengkap dan jelas. • Teknik parallel generator menggunakan : a) Lampu Cahaya berputar dan Volt-meter. maka besarnya tegangan terminal V akan berubah-ubah. Berapa sudut mekanis ditunjukkan dengan 180 derajat listrik. 2 HP. 60 • Mesin Sinkron difungsikan sebagai generator. e) urutan phasa dari kedua generator harus sama. c) tegangan generator sama. d) frekuensi sama. 2. rotor diputar pada kecepatan Sinkron dan belitan medan rotor diberi arus medan (If). • Syarat untuk paralel dua generator Sinkron meliputi : a) Polaritas dari generator harus sama b) nilai efektif arus bolak-balik dari tegangan harus sama. 4 kutub. 50 Hz. reaktansi bocor jangkar.

5. 50 Hz. Generator Sinkron akan dilakukan paralel dengan jala-jala PLN 3x 380V. Buatlah gambar skematik paralel generator dengan jalajala PLN lengkap dengan peralatan ukur yang diperlukan. Jelaskan langkah paralel generator dan parameter yang harus dipenuhi. 12-28 . Bagaimana cara agar generator tersebut menghasilkan tegangan 220V dan frekuensinya 50Hz. listrik yang dihasilkan dipakai untuk memberikan listrik untuk sejumlah rumah.Generator Sinkron 4. Generator 2KW. 220V/50Hz digerakkan dengan mesin diesel.

........ Penggunaan Energi ... 14.............................. Soal-soal ........11.......................................................... 14. Rangkuman ......1....... 14... 14.....6................................9........ 14-2 14-2 14-3 14-5 14-9 14-18 14-20 14-26 14-27 14-31 14-32 ............... Alat Pengukur dan Pembatas (APP) .................... Penghantar .............. Panel Hubung Bagi (PHB) ...............................................BAB 14 SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK Daftar Isi : 14..3. 14..........10......4..5.. Beban Listrik .......... 14........... Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik ........2................ Jaringan Listrik ..............................8.................... 14... Sejarah Penyediaan Tenaga Listrik ................................ 14......................... Peranan Tenaga Listrik ........................................ 14..............................7............................. 14..........

memasak dan pertukangan. karena alam maupun kejadian-kejadian teknis. Sejak jaman prasejarah sumber energi alam.1. tetapi dapat berubah dari energi satu ke energi lainnya. Materi ini mengandung energi dan energi ini dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Menurut hukum kekekalan energi bahwa energi itu tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan. Energi Nuklir 5. Penggunaan Energi Sejak awal kehidupan di dunia ini. diantaranya: 1. cair dan gas) yang ada di alam semesta ini disebut materi. seperti kayu dipakai memanaskan badan.1. 14.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14. sehingga dapat menemukan bentuk-bentuk energi alam lainnya yang dapat dimanfaatkan dalam kebutuhan dan kegiatan sehari-hari. Manusia mulai memanfaatkan energi batubara untuk keperluan pemanasan dan memasak pada awal abad ke 14. Sejak abad 18 di Inggris batubara ini digunakan untuk menghasilkan uap dan menggerakkan mesin uap pada pabrik pengerjaan logam dan tekstil. Energi Medan Magnet 3. Energi Panas 7. Energi Listrik Semua zat-zat (padat. pembuatan transformator dan akhirnya diperoleh sistem jaringan arus bolak-balik sebagai transmisi dari pembangkit ke beban/pemakai. bentuk energi lainnya seperti angin dan air dimanfaatkan untuk keperluan pengangkutan dan penggilingan biji-bijian. 14-2 . Energi Grafitasi 4. Selanjutnya dikembangkan generator arus bolak-balik dengan tegangan tetap.2. Sampai sekarang hasil penelitian menghasilkan beberapa sumber energi. Energi Sinar 6. Berbagai penelitian dan uji coba dilakukan. manusia sudah memerlukan energi alam. Energi Mekanik 2. Sejarah Penyediaan Tenaga Listrik Pada tahun 1885 seorang dari Perancis bernama Lucian Gauland dan John Gibbs dari Inggris menjual hak patent generator arus bolak-balik kepada seorang pengusaha bernama George Westinghouse gambar 14. Awal abad 12. untuk mencukupi kebutuhan.

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

a. Generator Gaulard dan Gibbs b. Generator Westinghouse Gambar 14.1 Generator

Sejarah kelistrikan di Indonesia dimulai dengan selesai dibangunnya pusat tenaga listrik di Gambir, Jakarta Mei 1887, kemudian di Medan (1899), Surakarta (1902), Bandung (1906), Surabaya (1912), dan Banjarmasin (1922). Pusat-pusat tenaga listrik ini pada awalnya menggunakan tenaga thermis. Kemudian disusul dengan pembuatan pusat-pusat listrik tenaga air : PLTA Giringan di Madiun (1917), PLTA Tes di Bengkulu (1920), PLTA Plengan di Priangan (1922), PLTA Bengkok dan PLTA Dago di Bandung (1923). Sebelum kemerdekaan pengusahaan tenaga listrik di Indonesia dikelola oleh beberapa perusahaan swasta, diantaranya yang terbesar adalah NIGEM (Nederlands Indische Gas en Electriciteits Maatschappij) yang kemudian menjelma menjadi OGEM (Overzese Gas en Electriciteits Maatschappij), ANIEM (Algemene Nederlands Indhische Electriciteits Maatschappij), dan GEBEO (Gemeen Schappelijk Electriciteits Bedrijk Bandung en Omsheken). Sedangkan Jawatan Tenaga Air membangun dan mengusahakan sebagian besar pusat-pusat listrik tenaga air di Jawa Barat. Sejak tahun 1958 pengelolaan ketenaga listrikan di Indonesia oleh Perusahaan Umum Listrik Negara.

14.3. Peranan Tenaga Listrik
Di pusat pembangkit tenaga listrik, generator digerakan oleh turbin dari bentuk energi lainnya antara lain : dari Air - PLTA; Gas - PLTG; Uap PLTU; ; Diesel - PLTD; Panas Bumi - PLTP; Nuklir - PLTN. Energi listrik dari pusat pembangkitnya disalurkan melalui jaringan transmisi yang jaraknya relatif jauh ke pemakai listrik/konsumen.

14-3

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Gambar 14.2 Penyaluran Energi Listrik dari Sumber ke Beban

Konsumen listrik di Indonesia dengan sumber dari PLN atau Perusahaan swasta lainnya dapat dibedakan sebagai berikut : 1. Konsumen Rumah Tangga Masing-masing rumah dayanya antara 450VA s.d. 4400VA, secara umum menggunakan sistem 1 fasa dengan tegangan rendah 220V / 380V dan jumlahnya sangat banyak. 2. Penerangan Jalan Umum (PJU)
Pada kota-kota besar penerangan jalan umum ini sangat diperlukan oleh karena bebannya berupa lampu dengan masing-masing daya tiap lampu/tiang antara 50VA s.d. 250VA bergantung pada jenis jalan yang diterangi, maka sistem yang digunakan 1 fasa dengan tegangan rendah 220V / 380V. 3. Konsumen Pabrik Jumlahnya tidak sebanyak konsumen rumah tangga, tetapi masingmasing pabrik dayanya dalam orde ratusan kVA. Penggunaannya untuk pabrik yang kecil masih menggunakan sistem 1 fasa tegangan rendah (220V/380V), untuk pabrik-pabrik skala besar menggunakan sistem 3 fasa dan saluran masuknya dengan jaringan tegangan menengah 20kV. 4. Konsumen Komersial Yang dimaksud konsumen komersial antara lain stasiun, terminal, KRL (Kereta Rel Listrik), hotel-hotel berbintang, rumah sakit besar, kampus,
14-4

Sistem Distribusi Tenaga Listrik
stadion olahraga, mall, supermarket, apartemen. Rata-rata menggunakan sistem 3 fasa, untuk yang kapasitasnya kecil dengan tegangan rendah, sedangkan yang berkapasitas besar dengan tegangan menengah 20KV.

Gambar 14.3 Distribusi Tenaga Listrik ke Konsumen

14.4. Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik

Gambar 14.4 Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik

Keterangan :
G GI GH GD TT TM TR APP = Generator / Pembangkit Tenaga Listrik = Gardu Induk = Gardu Hubung = Gardu Distribusi = Jaringan Tegangan Tinggi = Jaringan Tegangan Menengah = Jaringan Tegangan Rendah = Alat Pembatas/Pengukur

Instalasi dari pembangkitan sampai dengan alat pembatas/pengukur (APP) disebut Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik.
14-5

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Dari mulai APP sampai titik akhir beban disebut Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik. Standarisasi daya tersambung yang disediakan oleh pengusaha ketenagalistikan (PT. PLN) berupa daftar penyeragaman pembatasan dan pengukuran dengan daya tersedia untuk tarif S-2, S-3, R-1, R-2, R-4, U-1, U-2, G-1, I-1, I-2, I-3, H-1 dan H-2 pada jaringan distribusi tegangan rendah. Sedangkan daya tersambung pada tegangan menengah, dengan pembatas untuk tarif S-4, SS-4, I-4, U-3, H-3 dan G-2 adalah sebagai tabel 14.1. berikut : Tabel 14.1. Daya Tersambung pada Tegangan Menengah Arus Nominal (Amper) 6,3 10 16 20 25 32 40 50 63 80 100 125 160 200 250 Daya Tersambung (kVA) pada Tegangan 6 kV *) 210 260 335 415 520 655 830 1.040 1.300 1.660 2.080 2.600 12 kV *) 210 335 415 520 665 830 1.040 1.310 1.660 2.880 2.600 3.325 4.155 5.195 15 kV *) 260 415 520 650 830 1.040 1.300 1.635 2.080 2.600 3.250 4.155 5.195 6.495 20 kV 210**) 235***) 240 345 555 690 865 1.110 1.385 1.730 2.180 2.770 3.465 4.330 5.540 6.930 8.660

Keterangan : *) Secara bertahap disesuaikan menjadi 20 kV **) Pengukuran tegangan menengah tetapi dengan pembatasan pada sisi tegangan rendah dengan pembatas arus 3 x 355 Amper tegangan 220/380 Volt. ***) Pengukuran tegangan menengah tetapi dengan pembatasan pada sisi tegangan rendah dengan pembatas arus 3 x 630 Amper tegangan 127/220 Volt.
14-6

5 90 100 105 110 112.5 120 122.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Pengguna listrik yang dilayani oleh PT.5 28 30 32 33 35 36 40 42 44 45 48 50 52.2.5 24 25 27 27.5 87.2.5 54 55 60 66 Daya Tersambung (kVA) 210 245 275 310 345 380 415 485 520 555 605 625 690 725 760 780 830 865 935 950 970 1040 1110 1140 1210 1245 1385 1455 1525 1560 1660 1730 1815 1870 1905 2075 2285 Arus Primer (A) 67. PLN dapat dibedakan menjadi beberapa golongan yang ditunjukkan tabel 14. berikut ini : Tabel 14.5 70 75 80 82.5 18 20 21 22 22. Daya Tersambung Fungsi Arus Primer. Arus Primer (A) 6 7 8 9 10 11 12 14 15 16 17.5 200 210 220 225 240 250 270 275 280 300 315 330 350 385 Daya Tersambung (kVA) 2335 2425 2595 2770 2855 3030 3115 3465 3635 3805 3895 4150 4240 4330 4670 4845 5190 5450 5540 5710 6055 6230 6660 6930 7265 7615 7785 8305 8660 9345 9515 9690 10380 10900 11420 12110 13320 14-7 .5 125 135 140 150 157.5 160 165 175 180 192.

Daya Tersambung Tiga Phasa Arus Nominal TR (Amper) 3 x 355 3 x 425 3 x 500 3 x 630 3 x 800 3 x 1000 Daya Tersambung (kVA) 233 279 329 414 526 630 Pengguna listrik yang dilayani oleh PT.3. berikut ini : 14-8 .540 6. PLN dapat dibedakan menjadi beberapa golongan yang ditunjukkan pada tabel 3.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Daya yang disarankan untuk pelanggan TM 20 kV (Pengukuran pada sisi TM dengan relai sekunder) Pelanggan TM 20KV yang dibatasi dengan pelabur TM.465 4.180 2. berikut : Tabel 14.5.4.4.3. standarisasi dayanya seperti tabel 14. standarisasi dayanya seperti tabel 14.930 8.730 2.660 Pelanggan TM yang dibatasi dengan pelabur TR.770 3.330 5. berikut : Tabel 14.3 10 16 20 25 32 40 50 63 80 100 125 160 200 250 Daya Tersambung (kVA) 240 345 555 690 865 1.110 1. Daya Tersambung Fungsi Pelabur Arus Nominal TM (Amper) 6.385 1.

5. 7. 9. 2.000 kVA keatas 250 VA s/d 200 kVA 201 Kva KEATAS 14. Golongan Tarif S–1 S–2 S–3 S–4 SS – 4 R–1 R–2 R–3 R–4 U–1 U–2 U–3 U–4 H–1 H–2 H–3 I–1 I–2 I–3 I–4 I–5 G–1 G–2 J Penjelasan Pemakai sangat kecil Badan sosial kecil Badan sosial sedang Badan sosial besar Badan sosial besar dikelola swasta untuk komersial Rumah tangga kecil Rumah tangga sedang Rumah tangga menengah Rumah tangga besar Usaha Kecil Usaha Sedang Usaha Besar Sambungan Sementara Perhotelan Kecil Perhotelan Sedang Perhotelan Besar Industri Rumah Tangga Industri Kecil Industri Sedang Industri Menengah Industri Besar Gedung Pemerintahan kecil/sedang Gedung Pemerintahan Besar Penerangan Umum Sistem Teganga n TR TR TR TM TM TR TR TR TR TR TR TM TR TR TR TM TR TR TR TM TT TR TM TR Batas Daya s/d 200 VA 250 VA s/d 2200VA 2201 VA s/d 200 kVA 201 Kva KEATAS 201 Kva KEATAS 250 VA s/d 500 VA 501 VA s/d 2200 VA 2201 VA s/d 6600 VA 6601 VA KEATAS 250 VA s/d 2200 VA 2201 VA s/d 200 kVA 201 kVA keatas 250 VA s/d 99 kVA 100 kVA s/d 200 kVA 201 kVA keatas 450 VA s/d 2200 VA 2201 VA s/d 13. Tegangan generator pembangkit relatif rendah (6kV-24kV). 14. 4.9 kVA 14 kVA s/d 200 kVA 201 Kva KEATAS 30. 16. 10. 5. 18. 11.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Tabel 14. 20. Golongan Pelanggan PLN No 1. 14. Penurunan tegangan dari jaringan tegangan tinggi /ekstra tinggi sebelum ke konsumen dilakukan dua kali.5. Jaringan Listrik Pusat tenaga listrik umumnya terletak jauh dari pusat bebannya. Maka tegangan ini dinaikan dengan transformator daya ke tegangan yang lebih tinggi antara 150kV-500kV. 24. Tujuan peningkatan tegangan ini. Energi listrik yang dihasilkan pusat pembangkitan disalurkan melalui jaringan transmisi. selain memperbesar daya hantar dari saluran (berbanding lurus dengan kwadrat tegangan). 19. 17. 22. Yang pertama dilakukan di gardu induk 14-9 . juga untuk memperkecil rugi daya dan susut tegangan pada saluran transmisi. 6. 21. 3. 15. 12. 8. 23.

Gambar 14. Namun saluran bawah tanah jauh lebih mahal dibanding saluran udara.5 Saluran penghantar udara untuk rumah tinggal (mengganggu keindahan pandangan) 14-10 . perbaikannya lebih sulit. saluran bawah tanah lebih disukai dan juga tidak mudah terganggu oleh cuaca buruk: hujan. Yang kedua dilakukan pada gardu distribusi dari 150 kV ke 20 kV. petir angin dan sebagainya. Dari segi estetik. menurunkan tegangan dari 500kV ke 150kV atau dari 150kV ke 70kV. Ada dua macam saluran transmisi/distribusi PLN yaitu saluran udara (overhed lines) dan saluran kabel bawah tanah (undergound cable). sering disebut juga sebagai saluran transmisi. Kedua cara penyaluran tersebut mesing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian. Saluran listrik dari sumber pembangkit tenaga listrik sampai transformator terakhir.Sistem Distribusi Tenaga Listrik (GI). atau dari 70kV ke 20 kV. sedangkan dari transformator terakhir sampai konsumen disebut saluran distribusi atau saluran primer. tidak cocok untuk daerah banjir karena bila terjadi gangguan / kerusakan.

Sistem Distribusi Tenaga Listrik Gambar 14. pencurian kabel lebih sulit. Dari pertimbangan diatas. salju. Sedangkan keuntungan pemasangan saluran bawah tanah antara lain : + Biaya pemeliharaan saluran kabel bawah tanah relatif murah. angin. petir.6 Saluran kabel bawah tanah pada suatu perumahan elit Secara rinci keuntungan pemasangan saluran udara antara lain : + Biaya investasi untuk membangun suatu saluran udara jauh lebih murah dibandingkan untuk saluran dibawah tanah. akan lebih mudah dengan membuat lubang untuk tiang-tiang listrik. Sedangkan untuk saluran bawah tanah akan cocok digunakan pada : • saluran transmisi tegangan rendah. misalnya di pegunungan atau daerah jarang penduduknya. gangguan layang-layang. sabotase. Pada akhir / ujung dari saluran transmisi. + Sambungan bawah tanah relatif tidak terganggu oleh pengaruhpengaruh cuaca : hujan. tidak semerawut seperti saluran udara. + Untuk daerah-daerah yang tanah nya banyak mengandung batubatuan. bahwa saluran udara lebih cocok di gunakan pada : • saluran transmisi tegangan tinggi. + Saluran bawah tanah tidak menggangu keindahan pandangan. • daerah luar kota. kota-kota besar yang banyak penduduknya 14-11 . + Bila terjadi gangguan lebih mudah mencarinya dan lebih mudah memperbaikinya jika dibandingkan untuk saluran bawah tanah. saluran masuk ke dalam suatu gedung / bangunan sebagai pengguna energi listrik.

berkas rancangan instalasi listrik terdiri dari : gambar situasi.Penerangan : Lampu-lampu Listrik . diagram garis tunggal dan gambar rinci. gambar instalasi. Data yang perlu ditulis pada gambar situasi ini adalah alamat lengkap.Tenaga : Motor-motor Listrik Dalam perencanaan instalasi listrik pada suatu gedung / bangunan.Cabang / SDP : Sub Distribution Panel .Kabel (berisolasi) 4. 4.Kawat Penghantar (tidak berisolasi) . Gambar Situasi Keterangan : A : Lokasi bangunan B : Jarak bangunan ke tiang C : kode tiang / transformator U : menunjukkan arah utara Gambar 14. PHB : Papan Hubung Bagi .Sistem Distribusi Tenaga Listrik Komponen/peralatan utama perlistrikan pada gedung/bangunan tersebut terdiri dari: 1. Beban . Bila belum ada jaringan listriknya.7 Situasi Yang menunjukan gambar posisi gedung / bangunan yang akan dipasang instalasi listriknya terhadap saluran / jaringan listrik terdekat.5.1.Beban / SSDP : Sub-sub Distribution Panel 3. Penghantar : . APP : Alat Pengukur dan Pembatas (milik PLN) 2. 14-12 . jarak terhadap sumber listrik terdekat (tiang listrik / bangunan yang sudah berlistrik) untuk daerah yang sudah ada jaringan listriknya.Utama / MDP : Main Distribution Panel . perlu digambarkan rencana pemasangan tiang-tiang listrik.

Untuk konsumen domestik / bangunan kecil. sehingga jarak ke beban jauh dari PHB utama dibagi menjadi beberapa group cabang / Sub Distribution Panel baru disalurkan ke beban. Biasanya dengan sistem satu fasa.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14. Saluran masuk langsung ke APP yang biasanya terletak didepan / bagian yang mudah dilihat dari luar. Gambar Instalasi Yang menunjukan gambar denah bangunan (pandangan atas) dengan rencana tata letak perlengkapan listrik dan rencana hubungan perlengkapan listriknya. dari PHB dibagi menjadi beberapa group dan langsung ke beban.Untuk konsumen industri karena areanya luas. yang biasanya berjarak rendah. Dari APP ke PHB utama melalui kabel toefoer. Pada PHB ini energi listrik didistribusikan ke beban menjadi beberap group / kelompok : . 14-13 .5.2. . dan posisinya ada didalam bangunan.

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Gambar 14.8 Denah rumah tipe T-125 lantai dasar

14-14

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Gambar 14.9 Instalasi rumah tipe T-125 lantai dasar

14-15

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

14.5.3. Diagram Garis Tunggal
Diagram garis tunggal dari APP (alat pegukur dan pembatas) ke PHB (panel hubung bagi) utama yang di distribusikan ke beberapa group langsung ke beban (untuk bangunan berkapasitas kecil) dan melalui panel cabang (SDP) maupun sub panel cabang (SSDP) baru ke beban gambar 14.10. Pada diagram garis tunggal ini selain pembagian group pada PHB utama / cabang / sub cabang juga menginformasikan jenis beban, ukuran dan jenis penghantar, ukuran dan jenis pengaman arusnya, dan sistem pembumian / pertanahannya gambar 14.11.

Gambar 14.10 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan Tegangan Rendah 380/220V.

14-16

Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Gambar 14.11 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan sistem Tegangan Menengah 20KV dan Tegangan Rendah 380/220V.

14.5.4. Gambar Rinci
Gambar rinci dalam bangunan diperlukan untuk memberikan penjelasan yang rinci dari perancang ke pada pelaksana proyek atau dalam hal ini kontraktor. Dalam gambar rinci dapat diberikan ukuran (panjang x lebar x tinggi) suatu barang, misalkan panel hubung bagi. Bahkan cara pemasangan kabel, atau pemasngan detail instalasi penangkal petir dapat ditambahkan. Gambar rinci sekurang-kurangnya meliputi : - Ukuran fisik PHB - Cara pemasangan perlengkapan listrik - Cara pemasangan kabel / penghantar - Cara kerja rangkaian kendali - dan lain-lain informasi / data yang diperlukan sebagai pelengkap.

14-17

9 kVA sampai dengan 630 kVA untuk sistem tiga fasa Gambar 14.13 APP Sistem tiga fasa 14-18 .Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14.450 VA sampai dengan 4.12 APP Sistem satu fasa Gambar 14. Alat Pengukur dan Pembatas (APP) APP merupakan bagian dari pekerjaan dan tanggung jawab pengusaha ketenagalistrikan (PLN).6.400 VA untuk sistem satu fasa . Terdiri dari alat ukur kwh meter dan pembatas arus : .4.

000 3 x 300 197.000 *) 3 x 500 329.000 Alat ukur kwh meter tiga 3 x 125 82.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Tabel 14.000 3 x 100 66.500 380V empat kawat 3 x 80 53.000 *) 3 x 800 526.6.000 Alat ukur kwh meter tiga 3 x 63 41.000 *) 3 x 630 414.400 3x6 3.000 *) fasa fasa fasa trafo Keterangan : *) : Tarif tegangan rendah diatas 200kVA hanya disediakan untuk tarif R-4 14-19 .000 *) 3 x 425 279.000 3 x 225 147.000 3 x 250 164.600 3 x 16 10.500 3 x 35 23.600 3 x 20 14.300 1 x 10 2.000 arus tegangan rendah 3 x 200 131.500 1 x 20 4.000 3 x 50 33.000 380V empat kawat dengan 3 x 160 105. Standar Daya PLN Langganan tegangan rendah sistem 220V/380V 220 Volt satu fasa 380 Volt tiga fasa Daya Tersambung Pembatas Arus Pengukuran (VA) (A) 1x2 Alat ukur kwh meter satu 450 220V dua kawat 1x4 900 1x6 1.900 3 x 10 6.200 1 x 16 3.200 3 x 25 16.000 630.000 *) 3 x 1.000 3 x 353 233.

Untuk PHB sistem tegangan menengah. Tujuan busbar dibagi menjadi dua segmen ini adalah jika sumber listrik dari PLN mati akibat gangguan ataupun karena pemeliharaan.Panel Cabang / SDP : Sub Distribution Panel .Panel Utama / MDP : Main Distribution Panel . Dari kedua busbar didistribusikan ke beban secara langsung atau melalui SDP dan atau SSDP. Cos φ meter • Lampu indikator • dll Contoh gambar diagram satu garisnya bisa dilihat pada gambar 14. Voltmeter.10. hantaran utamanya merupakan kabel feeder dan biasanya menggunakan NYFGBY. yang dapat dibedakan sebagai : . 14-20 . Peralatan dari : • • • • • • • • • • pengaman arus listrik untuk penghubung dan pemutus terdiri CB (Circuit Breaker) MCB (Miniatur Circuit Breaker) MCCB (Mold Case Circuit Breaker) NFB (No Fuse Circuit Breaker) ACB (Air Circuit Breaker) OCB (Oil Circuit Breaker) VCB (Vacuum Circuit Breaker) SF6CB (Sulfur Circuit Breaker) Sekering dan pemisah Switch dan DS (Disconnecting Switch) Peralatan tambahan dalam PHB antara lain : • Rele proteksi • Trafo tegangan. terdiri dari tiga cubicle yaitu satu cubicle incoming dan cubicle outgoing.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14.7.Panel Beban / SSDP : Sub-sub Distribution Panel Untuk PHB sistem tegangan rendah. Panel Hubung Bagi (PHB) Panel Hubung Bagi (PHB) adalah panel berbentuk alamari (cubicle). yang satu mendapat saluran masuk dari APP (pengusaha ketenagalistrikan) dan satunya lagi dari sumber listrik sendiri (genset). Di dalam panel biasanya busbar / rel dibagi menjadi dua segmen yang saling berhubungan dengan saklar pemisah. maka suplai ke beban tidak akan terganggu dengan adanya sumber listrik sendiri (genset) sebagai cadangan. Frekuensi meter. Trafo arus • Alat-alat listrik : Ampermeter.

MCB banyak digunakan untuk pengaman sirkit satu phasa dan tiga phasa.7. Peralatan dan rangkaian dari busbar sampai ke beban seperti pada PHB sistem tegangan rendah. Dapat memutuskan rangkaian tiga phasa walaupun terjadi hubung singkat pada salah satu phasanya. Saluran daya tegangan menengah ditransfer melalui trafo distribusi ke LVMDP (Low Voltage Main Distribution Panel).1.14 Contoh Panel Cubicle di ruang Praktek POLBAN 14. Gambar 14. Keuntungan menggunakan MCB.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Hantaran masuk merupakan kabel tegangan menengah dan biasanya dengan kabel XLPE atau NZXSBY. Berikut ini adalah salah satu contoh cubicle yang ada di ruang praktek di POLBAN. MCB (Miniatur Circuit Breaker) MCB adalah pengaman rangkaian yang dilengkapi dengan pengaman thermis (bimetal) untuk pengaman beban lebih dan juga dilengkapi relai elektromagnetik untuk pengaman hubung singkat. Contoh gambar diagram satu garisnya bisa dilihat pada gambar 14.11. yaitu : 1. 14-21 . Pengaman arus listriknya terdiri dari sekering dan LBS (Load Break Switch).

pengamanan secara thermis memiliki kelambatan. pengaman termis berfungsi untuk mengamankan arus beban lebih sedangkan pengaman elektromagnetis berfungsi untuk mengamankan jika terjadi hubung singkat. Pada 14-22 . MCCB (Molded Case Circuit Breaker) MCCB merupakan alat pengaman yang dalam proses operasinya mempunyai dua fungsi yaitu sebagai pengaman dan sebagai alat untuk penghubung. sedangkan untuk pengaman tiga phasa biasanya memiliki tiga kutub dengan tuas yang disatukan. Pengaman thermis pada MCB memiliki prinsip yang sama dengan thermal overload yaitu menggunakan dua buah logam yang digabungkan (bimetal).2.15 MCB (Miniatur Circuit Breaker) 14. (a) MCB 1 fasa (b) MCB 3 fasa Gambar 14.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 2. Dapat digunakan kembali setelah rangkaian diperbaiki akibat hubung singkat atau beban lebih. Jika dilihat dari segi pengaman. Mempunyai tanggapan yang baik apabila terjadi hubung singkat atau beban lebih.7. ini bergantung pada besarnya arus yang harus diamankan. 3. maka MCCB dapat berfungsi sebagai pengaman gangguan arus hubung singkat dan arus beban lebih. Pada MCB terdapat dua jenis pengaman yaitu secara thermis dan elektromagnetis. sehingga apabila terjadi gangguan pada salah satu kutub maka kutub yang lainnya juga akan ikut terputus. sedangkan pengaman elektromagnetik menggunakan sebuah kumparan yang dapat menarik sebuah angker dari besi lunak. MCB dibuat hanya memiliki satu kutub untuk pengaman satu phasa.

mempunyai kemampuan pemutusan yang dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan.Sistem Distribusi Tenaga Listrik jenis tertentu pengaman ini. ACB (Air Circuit Breaker) ACB (Air Circuit Breaker) merupakan jenis circuit breaker dengan sarana pemadam busur api berupa udara. Arc chute 3.3. Mounting for ST or UVT connection block 4. 14-23 . BMC material for base and cover 2. Trip-free mechanism 5. Udara pada tekanan ruang atmosfer digunakan sebagai peredam busur api yang timbul akibat proses switching maupun gangguan. Clear and IEC-complaint maekings 7. Gambar 14.7.16 Molded Case Circuit Breaker Keterangan : 1. Magnetic trip unit 8. ACB dapat digunakan pada tegangan rendah dan tegangan menengah. Compact size 14. Moving contacts 6.

17 ACB (Air Circuit Breaker) Air Circuit Breaker dapat digunakan pada tegangan rendah dan tegangan menengah. Rating standar Air Circuit Breaker (ACB) yang dapat dijumpai dipasaran adalah sbb: • LV-ACB: Ue = 250V dan 660V Ie = 800A-6300A Icn = 45kA-170kA • LV-ACB: Ue = 7. 14-24 . Bila terjadi busur api dalam minyak.7. Gas yang terbentuk tersebut mempunyai sifat thermal conductivity yang baik dengan tegangan ionisasi tinggi sehingga baik sekali digunakan sebagi bahan media pemadam loncatan bunga api.5kA-72kA 14. OCB (Oil Circuit Breaker) Oil Circuit Breaker adalah jenis CB yang menggunakan minyak sebagai sarana pemadam busur api yang timbul saat terjadi gangguan. maka minyak yang dekat busur api akan berubah menjadi uap minyak dan busur api akan dikelilingi oleh gelembunggelembung uap minyak dan gas.4.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Gambar 14.2kV dan 24kV Ie = 800A-7000A Icn = 12.

5.7.19 VCB (Vakum Circuit Breaker) 14-25 . Gambar 14.18 OCB (Oil Circuit Breaker) 14. VCB (Vacuum Circuit Breaker) Pada dasarnya kerja dari CB ini sama dengan jenis lainnya hanya ruang kontak dimana terjadi busur api merupakan ruang hampa udara yang tinggi sehingga peralatan dari CB jenis ini dilengkapi dengan seal penyekat udara untuk mencegah kebocoran.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Gambar 14.

Gambar 14. A2C. Prinsip pemadaman busur apinya adalah Gas SF6 ditiupkan sepanjang busur api.6. 14-26 . ada yang dipasang di udara atau di dalam tanah. ada yang berinti tunggal atau banyak. Rating tegangan CB adalah antara 3.7. A3C.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14.6 KV – 760 KV. Gas SF6 merupakan gas berat yang mempunyai sifat dielektrik dan sifat memadamkan busur api yang baik sekali. ada yang kaku atau berserabut. penyaluran arus listriknya dari panel ke beban digunakan penghantar listrik yang sesuai dengan penggunaanya. Kabel Penghantar yang terbungkus isolasi.20 SF6 CB (Sulfur Hexafluoride Circuit Breaker) 14. AL sebagai contoh BC. Penghantar Untuk instalasi listrik. SF6 CB (Sulfur Hexafluoride Circuit Breaker) SF6 CB adalah pemutus rangkaian yan menggunakan gas SF6 sebagai sarana pemadam busur api. ACSR.8. Ada dua macam penghantar listrik yaitu : . dan masing-masing digunakan sesuai dengan kondisi pemasangannya. gas ini akan mengambil panas dari busur api tersebut dan akhirnya padam. BCC.Kawat Penghantar tanpa isolasi (telanjang) yang dibuat dari Cu.

Induktor (L) yang bersifat induktip c. NYFGBY Berikut ini adalah gambar diagram satu garis untuk konsumen tegangan rendah dan konsumen tegangan tinggi. NYY. Gambar 14. NYMHY. sodium. Beban Listrik Menurut sifatnya. alat pendingin/AC/Freezer/kulkas. merkuri.Untuk peralatan yang menggunakan motor-motor listrik (pompa air. beban listrik terdiri dari : a. Secara garis besar beban listrik adalah : . Kapasitor (C) yang bersifat kapasitip Beban listrik yang dimaksud adalah piranti / peralatan yang menggunakan / mengkonsumsi energi listrik. Sebagai contoh : NYA. komputer. penerangan dengan lampu tabung yang menggunakan balast/trafo bersifat induktif (lampu TL.9. TV.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Hal ini bisa dilihat dari masing-masing karakter jenis kabelnya pada nomen klatur kabel. 14-27 . pemanas listrik yang bersifat resistip . Resistor (R) yang bersifat resistip b. NYM.21 Diagram Transmisi dan Distribusi 14. peralatan laboratorium).Untuk penerangan dengan lampu-lampu pijar. NYYHY. dll).

Penerangan (Lighting) Penerangan gedung merupakan penggunaan yang dominan. maka saat awal (start) menarik arus listrik yang besar (3 sampai 5 kali nilai arus nominal). 4 kawat dengan tegangannya 220V/380V. misalnya pada motor listrik. 220 V. maka arus listrik pada beban ini segera mengalir dengan cepatnya sampai pada nilai tertentu (sebesar nilai arus nominal beban) dan dengan nilai yang tetap hingga tidak diaktifkan (dimatikan). Motor-motor listrik 14.9. Bagaimana instalasinya? Jawaban: Dengan cara sederhana bisa kita naikan sebagai berikut : • Dengan jumlah lampu 900 TL. balast 10 W. balast 10w memerlukan arus = 14-28 . cos φ = 0. cosφ = 0.22 Rangkaian macam-macam Beban Sistem 3 phasa.1.8.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Jika beban resistip diaktifkan (dinyalakan). Begitu motor diaktifkan (digerakkan). • Tiap lampu TL40W. Jumlah lampu yang digunakan akan mempengaruhi pembagian group dari panel penerangan. Lain halnya dengan beban induktip. Gambar 14. karena dibutuhkan oleh semua gedung dan juga waktu penggunaannya yang panjang.8. Beban yang ada 900 lampu TL 40 W. frekuensi 50 HZ. Stop kontak 3. 4 kawat Jenis beban listrik dalam gedung/bangunan dapat dikelompokan menjadi : 1. setiap phasa dibebani : 900/3 = 300 TL. kemudian turun kembali ke arus nominal. Contoh : Suatu bangunan disuplai listrik 3 phasa. Penerangan (lighting) 2. penampang penghantarnya dan pengamannya (CB atau MCB) serta sakelar kendalinya. 220 V.

8. IS = 84 A.5 ~13 group. Gambar 14. stop kontak ini dinamakan KKB (Kotak Kontak Biasa) dan KKK (Kotak Kontak Khusus) KKB adalah kotak kontak yang dipasang untuk digunakan sewaktu-waktu (tidak secara tetap) bagi piranti listrik jenis apapun yang memerlukannya.9. KKK adalah kotak kontak yang dipasang khusus untuk digunakan secara tetap bagi suatu jenis piranti listrik tertentu yang diketahui daya maupun tegangannya. 0. 14-29 . Stop Kontak Stop Kontak adalah istilah populer yang biasa digunakan sehari-hari. • • 14. Dalam PUIL 2000.220 • • Maka untuk 300 lampu = 300.36 A maka pengaman utama (MCB atau Sekering) yang digunakan sebesar 100A.28 =6. Arus listrik tiap phasa panel utama = 13 x 6. dan dihubungkan langsung ke panel sebagai group tersendiri. Satu group adalah 12 armatur x 2 TL = 24 TL jadi arus listrik tiap group = 24 x 0. IT = 84 A Lampu dibagi dalam group (tiap group maksimum 12-14 titik lampu).72 A =87. asalkan penggunaannya tidak melebihi batas kemampuannya.2.23 Macam-macam Stop Kontak Dengan demikian.28 A 0. maka tiap phasa terdapat 300 TL/2 = 150 armatur (titik lampu) dan tiap phasa mempunyai 150 armatur = 12. KKK mempunyai tempat/lokasi tertentu dengan beban tetap.72 A dengan demikian pengaman yang digunakan (MCB atau Sekering) tiap group dapat digunakan 10A.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 40 + 10 = 0.28A = 84 A Bila lampu menyala sekaligus : IR = 84 A . bila tiap titik terdiri dari 2 TL.

escalator dan sebagainya. dan motor kelas medium sampai besar (diatas 5 HP). kompresor yang merupakan bagian penting dari sistem pendingin udara. integral (diatas 1 HP). motor listrik digunakan untuk menggerakan pompa. 14. yaitu: a. elevator.9. Motor arus searah b. Motor-motor Listrik Motor-motor listrik merupakan beban kedua terbanyak sesudah penerangan.24 Piranti-piranti menggunakan motor 14-30 . dan juga sebagai pengerak mesin-mesin industri.Sistem Distribusi Tenaga Listrik Sedangkan KKB tersebar diseluruh bangunan dengan beban tidak tetap.3. kipas angin. Motor arus bolak-balik satu phasa c. Eskalator Air Conditioning Gambar 14. Motor-motor juga dapat dikelompokan berdasarkan jenis arus yang digunakan. Motor arus bolak-balik tiga phasa Berikut ini adalah gambar beberapa berbagai piranti yang menggunakan motor. Motor dikategorikan sebagai motor fraksional (kurang dari 1 HP). dan biasanya jadi satu dengan group untuk penerangan.

• Standar PLN untuk tarif jaringan tegangan rendah 380/220V. penghantar. ANIEM . Energi Panas. 14-31 . kemudia dibangun beberapa PLTA sejak 1917. • Penyaluran listrik tegangan rendah dengan penghantar udara atau dengan kabel tanah. OGEM. • Pelanggan listrik PLN di kelompokkan menurut empat jenis. tetapi dapat berubah dari energi satu ke energi lainnya. terakhir ke konsumen tegangan rendah 380/220V. diagram garis tunggal dan gambar rinci. di Indonesia energi listrik diusahakan sejak 1887 di Jakarta. H-3 dan G-2.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14. Energi Listrik. U-1. U-3. diantaranya: Energi Mekanik. I-2. rancangan instalasi listrik terdiri dari : gambar situasi. adalah tarif S-4.10. gambar instalasi. • Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi itu tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan. • Tahun 1885 di Perancis dipakai energi listrik secara komersial terbatas. masuk ke jaringan 70 KV dan system distribusi tegangan menengah 20KV. yaitu konsumen Rumah Tangga. G-1. R-4. Energi Nuklir. Energi Sinar. seperti: NIGEM. R-1. • Secara garis besar energi listrik dibagi dua kelompok. R-2. yaitu penyedia daya (pembangkitan dan transmisi) dan pemanfaat (konsumen). PHB (papan hubung bagi). I-1. sejak abad 18 batubara digunakan untuk menghasilkan uap dikenal sebagai era industri di Inggris. dan beban • Dalam perencanaan instalasi listrik pada suatu gedung/bangunan. • Standar PLN jaringan distribusi tegangan menengah 20KV. • Sejak 1958 kelistrikan di Indonesia dikelola oleh Perum Listrik Negara. Energi Grafitasi. • Dari pusat pembangkit (6KV) listrik di transmisikan (150-500KV) ke kota-kota besar.GEBEO. S-3. Konsumen Komersial. I-4. Rangkuman • Manusia memakai energi alam (kayu. angin) sejak awal peradaban dimulai. U-2. • Sampai sekarang hasil penelitian menghasilkan beberapa sumber energi. adalah tarif S-2. Penerangan Jalan Umum (PJU). air. SS-4. • Pengusahaan listrik di Indonesia sebelum kemerdekaan oleh beberapa perusahaan swasta Hindia Belanda. I-3. H-1 dan H-2. Energi Medan Magnet. konsumen Pabrik. • Komponen penyaluran energi listrik ke konsumen terdiri atas APP (alat pengukur dan pembatas).

14. 6. Sebutkan pemakaian listrik AC 1 phasa dan AC 3 phasa di Industri. VCB (Vacuum Circuit Breaker). Sekering dan pemisah. MCCB (Mold Case Circuit Breaker).11. Trafo tegangan. Jelaskan bagaimana batubara dapat diubah menjadi energi uap yang selanjutnya menggerakkan mesin uap (James Watt). Motor AC tiga phasa. NFB (No Fuse Circuit Breaker). OCB (Oil Circuit Breaker). Energi minyak makin Mahal ($130/barel). SF6CB (Sulfur Circuit Breaker). ACB (Air Circuit Breaker). 3. Jelaskan secara singkat bahwa energi alam (kayu. 14-32 . sampai pemanfaatannya untuk rumah tangga dan industri kecil UKM. jelaskan secara singkat cara kerja KRL. Lampu indikator • Ada dua macam penghantar listrik yaitu : Kawat (telanjang) dan Kabel. Switch dan Disconnecting Switch (DS). MCB (Miniatur Circuit Breaker). • Peralatan tambahan dalam PHB antara lain : Rele proteksi .Sistem Distribusi Tenaga Listrik • APP dimiliki dan tanggungjawab PLN. 7. angin) dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi oleh manusia pada saat energi listrik belum ditemukan. PLTA dibangun di daerah pegunungan yang jauh dari perkotaan. Alat-alat listrik : Ampermeter. gambarkan secara skematik penyaluran daya listrik dari pembangkitan sampai ke konsumen industri Dan konsumen rumah tangga. yaitu: Motor DC. Cos φ meter. dapatkan listrik DC berasal dari lsitrik AC ? jelaskan 5. pengadaan energi listrik alternatip adalah salah satu jawaban atas krisis energi. • Menurut sifatnya. • Motor-motor dikelompokan berdasarkan jenis arus yang digunakan. Frekuensi meter. Sebutkan pemakain listrik arus DC untuk proses industri. • PHB tempat pembagian ke cabang beban. dilengkapi alat pengaman. mencakup KWhmeter dan pembatas arus (MCB). Voltmeter. air. Soal-soal 1. beban listrik terdiri dari : Resistor (R) yang bersifat resistip. Trafo arus. Induktor (L) yang bersifat induktip dan Kapasitor. 2. Motor AC satu phasa. Energi listrik dengan tegangan 1500 Volt DC dapat menggerakkan Kereta Rel Listrik. 4. • Peralatan pengaman arus listrik untuk penghubung dan pemutus terdiri dari :CB (Circuit Breaker). jelaskan skematik pembangkitan listrik Mikrohidro skala 100 KW dipedesaan.

Beban listrik 1. Beban yang ada 400 lampu TL 40 W. 220 V. Suatu bangunan disuplai listrik 3 phasa.Sistem Distribusi Tenaga Listrik 8. 9. Bagaimana instalasinya? 14-33 . berapa harga energi yang harus dibayar pada soal No 3 diatas.000 watt bekerja selama 5 jam. Jika harga energi adalah Rp 700/kWh. 4 kawat dengan tegangannya 220V/380V. 10. balast 10 W. frekuensi 50 HZ. cos φ = 0. Hitung berapa energi listrik yang dikonsumsi.8.

7.10. 15. 15.2.13.3.BAB 15 PEMBANGKIT LISTRIK MIKROHYDRO Daftar Isi : 15.4. 15. 15.6.12.8. 15. 15. 15.9.1. Pembangkit Mikrohidro Sistem Mikrohidro Langkah Pertama Keselamatan Peringatan Tentang Pengoperasian Mikrohidro Memilih Lokasi Mikrohidro Desain Bendungan Komponen Generator Mikrohidro Instalasi Mikrohidro Pengoperasian Perawatan Dan Perbaikan Spesifikasi Teknik Rangkuman Soal-soal . 15. 15. 15. 15. 15.5.11.

didesain menunjang keselamatan. Pembangkit Mikrohidro Pembangkitan Listrik Mikrohidro. arti keseluruhan adalah pembangkitan listrik daya kecil yang digerakkan oleh tenaga air. Mikrohidro berasal dari kata micro yang berarti kecil dan hydro artinya air.2. Beberapa point dari pedoman ini.1. tapi peralatan dari listrik akan menjadi berbahaya bila tidak digunakan dengan baik. Sistem Mikrohidro Sistem Mikrohidro gambar 15. melalui sebuah pipa yang ujungnya dipasangkan filter untuk menyaring air sehingga kotoran tidak masuk ke pipa dan Turbin. Tenaga air besaral dari aliran sungai kecil atau danau yang dibendung dan kemudian dari ketinggian tertentu dan memiliki debit yang sesuai akan menggerakkan Turbin yang dihubungkan dengan Generator listrik. Turbin dan Generator Mikrohidro Generator yang digunakan untuk Mikrohidro dirancang mudah untuk dioperasikan dan dipelihara.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15. Gambar 15.1. 15-2 . pembangkitan listrik dihasilkan oleh Generator listrik DC atau AC. instruksinya menunjukan hal yang wajib diperhatikan dan harus diikuti seperti ditunjukan berikut ini: 15.2 terdiri dari penampungan air dalam bentuk bendungan kecil (A).

Air buangan dialiskan kesaluran pembuangan dan kembali kesungai. Generator akan menghasilkan energi listrik yang siap digunakan untuk berbagai kebutuhan. ketika dilakukan perbaikan berkala pada Turbin. Dudukan Turbin Pipa menuju Turbin sering disebut pipa pesat (C).2 Sistem Pembangkit Listrik Mikrohidro Keterangan gambar 15.2 A. Akibat energi potensial air. Katup pembuka (D) dipasang sebelum Turbin. Turbin H. 15-3 . Pipa lubang angin C. Pipa pesat atau Pipa pesat D. Generator G. gunanya untuk menutup aliran air ke Turbin. sudu-sudu Turbin akan memutar poros Turbin yang dikopel langsung dengan Generator listrik (F).Pembangkit Listrik Mikrohidro Gambar 15. dilengkapi dengan pipa pernapasan udara (B) gunanya agar udara yang terjebak dalam pipa bisa keluar dan tidak menghantam sudu-sudu Turbin. Katup pembuka atau Gate valve E. Spear valve F. Aliran air dari pipa pesat melewati katup spear (E) untuk mengatur debit air yang masuk ke Turbin air (G). Tangki air dari bendungan B.

hati terhadap bahaya sentuhan dan kejutan listrik. 6. GMH mampu membangkitkan tenaga yang besar dari output rata-rata.5.. Badan Generator Mikrohidro harus di bumikan. yaitu ketinggian jatuh air dan debit aliran. 15. jika tidak dilakukan akan mengakibatkan penggunaan yang melebihi batas sehingga umurnya akan pendek. Bagaimanapun juga peringatan mengenai langkah pengoperasian harus dituruti untuk menjaga kelangsungan usia pakai GMH. Langkah Pertama Keselamatan Listrik membantu kehidupan kita.8 H. Juga dapat terjadi jika diameter pipa melebihi diameter yang disarankan. Peringatan Tentang Pengoperasian Mikrohidro Generator Mikrohidro (GMH) didesain agar mudah untuk dioperasikan dan mudah untuk diperbaiki. Jauhkan jari dari Turbin yang berputar. Jika pemakaian tenaga melebihi daya maksimum yang terdapat di pedoman ini.3. • Jangan lupa untuk melumasi bearing pada waktu yang telah disarankan. Memilih Lokasi Mikrohidro Ada dua faktor yang mempengaruhi output daya Generator Mikrohidro. Jangan izinkan mereka bermain dengan sambungan listrik.coba untuk memutuskan kabel atau membuka alat untuk perbaikan saat Generator sedang kerja. Jangan coba. Jangan pernah membiarkan sambungan listrik basah. tabel berikut menunjukan bermacam kombinasi ketinggian dan aliran air untuk mencapai output daya maksimum yang diinginkan untuk tiap model : Daya output Generator Dimana : H = tinggi efektif jatuh air (m) Q = debit air liter/detik 15-4 Pout = 9.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15. kerusakan Generator Mikrohidro mungkin tidak dapat diperbaiki dan membutuhkan pengawatan total/ total rewiring. tapi listrik menjadi berbahaya jika pencegahan yang sederhana tidak dipatuhi 1. 3. Debit aliran merupakan jumlah dari air yang melewati Turbin tiap waktu. beban besar dan peralatan mungkin harus dikurangi. • Pastikan Electronic Load Kontroller di set kurang lebih pada 220V. 5. Jika ada pertanyaan tentang keselamatan. 4. 15. 2. yang diukur dalam meter. Hati. Cabut kabel utama terlebih.4. tanyakan pada ahlinya. Selain itu. Ketinggian jatuh air merupakan jarak vertical antara Turbin dengan bendungan air. yang diukur dalam liter/detik. • Dibawah kondisi ketinggian air yang telah ditentukan pedoman ini. Q …… KW . Beritahukan anak-anak tentang bahaya sentuhan langsung ke listrik.

Pengukuran ketinggian Jalan ke atas daerah dari tempat landai dimana kamu akan menempatkan Turbin ke sumber air berada atau lakukan kebalikannya.4 5.7 26m 34. jalan ke bawah dari tempat landai darimana sumber air berada ke tempat terbaik untuk menempatkan Turbin 15-5 .6 32m 38.4 9. menggunakan table maka akan menghasilkan daya listrik sampai 4.3 liter/detik.9 4.0 7. Ini ditunjukan pada gambar sistem.6 10.2 8.0 7.3 5. Ikatlah dibagian atas dari 1 meter panjang stik lalu ujung bagian horizontal dari ujung atas bagian yang miring seperti tingkatan arus. 15.Pembangkit Listrik Mikrohidro Tabel 15.7 kW. gunakan pita pengukur/ meteran dan klinometer atau spirit level. Untuk mengukur.0 8.5.2 34m 39. jika ketinggian jatuh air 24 meter dan debit aliran air 33.0 Sebagai contoh.3 28m 36. Gambar 15.7 5. Kurang akurat tapi digunakan sebagai cara alternatif yang bermanfaat untuk anda membuatnya sendiri dari setengah tube/botol transparan yang diisi dengan air.2 6.1. Pengukuran Ketinggian Ketinggian jatuh air merupakan tinggi vertikal dimana air mengalir masuk ke pipa pesat lalu turun ke permukaan Turbin. Daya Output hubungannya dengan tinggi dan debit Ketinggian air H (m) Aliran air Q (l/ sec) Output Turbin (kW) Output Gen.1.3 Mengukur ketinggian jatuh air. (kW) 24m 33.6 6.9 30m 37.

2. Sebagai contoh ketinggian 24m tekanan 34psi sampai ketinggian 34m dengan tekanan 48psi. Ujung atas pipa berada dibawah permukaan air dan bagian pipa lainnya mengalirkan air dari kali.4 Mengukur Debit Air Pengukuran Aliran : Aliran= Volume ember (liter) Waktu untuk memenuhi ember (detik) 15-6 .422 psi / meter dari ketinggian. Metoda lainnya ialah “metode bejana/ bak”. pipa yang pendek (kurang dari 1 meter) dipendam kedalam “bendungan” kecil gunakan lumpur atau semen. 15. Pengukuran Aliran Jalan terbaik untuk mengukur aliran air ialah dengan menggunakan “metoda bendungan”. Lakukan pengukuran sendiri atau minta petunjuk konsultan ahli yang berpengalaman. Untuk kedua model mikrohidro tertentu. maka output yang dihasilkan akan berkurang. Pengukuran tekanan menunjukan1. Ambil bagian pipa yang memiliki diameter yang sama dengan pipa pesat.4 dibawah. Bagi volume ember (dalam liter) dengan waktu pemenuhan (dalam detik) untuk memperoleh aliran rata-rata dalam liter per detik. Jangan mencoba untuk melebihi ketinggian yang telah disarankan. Gambar 15. Ukuran ember untuk menampung air berkisar 100-200 liter (setengah atau memenuhi tong minyak kosong). Ketika muncul aliran yg tenang.Pembangkit Listrik Mikrohidro Dengan menuju tingkatan yg diraih dan mengulang kembali prosesnya ketinggian total dapat terukur gambar 15. segera tempatkan ember untuk menampung aliran dan saat itu adalah waktu untuk mengisi ember. Bertambah besarnya daya keluaran memang menguntungkan. Metode lain digunakan untuk pengukur tekanan dan panjang selang yang akurat.3. tapi jika terlalu tinggi rotor akan berputar sangat cepat dan mengakibatkan berkurangnya umur bearing. masukan ke kali atau bendungan dimana ada aliran datang dan lakukan pengukuran aliran dari sini. Tapi bila lebih besar maka daya keluarannya pun akan bertambah. jika ukurannya lebih pendek.5. ketinggian harusnya antara 24m dan 34m. Dari gambar 15.

Saat memasang pipa pesat. Selain ketinggian vertical penting yang harus diperhatikan tingkat kemiringan horizontal dan panjang pipa pesat dapat berubah walaupun kemiringan pipa pesat yang seharusnya >600.5b.3 Persiapan Lokasi Mikrohidro Saat lokasi ketinggian dan aliran sudah pada tempat yang benar baru kemudian panjang dan posisi pipa pesat dapat ditentukan. Air yang dibawa ketempat Turbin sebelumnya dan mengurangi panjang pipa pesat yang dibutuhkan. Jalan terbaik untuk mengurangi panjang pipa pesat ditunjukan pada gambar 15. pada gambar yang pertama (A) pipa pesat mengikuti jalur kali.5.5. Untuk melakukannya. 15-7 . Gambar 15. Ini merupakan pemborosan panjang dan biaya. Gambar C menunjukan dimana jalur saluran alternatif atau “power conduit” memotong sisi bukit. coba jaga agar selalu lurus dan terhindar. bagian dari puncak kemiringan mungkin membutuhkan penggalian saat (ditempat lain) pipa pesat mungkin membutuhkan kutub bantu dsb. Pada gambar B.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15. Jalur pipa a) yang melingkar b) jalur memintas Pipa pesat diwakili oleh garis hitam A-B. jalur yang paling gampang(langsung) dipilih untuk mengurangi panjang dan biaya.5a dan 15. Saluran pipa air mengikuti kontur bukit dan hanya memerlukan parit sederhana yang luasnya 30cm x 30cm. Katup gate harus dipasang agar dapat menutup kapan saja saat terjadi tekanan tinggi diujung pipa pesat. Pipa pesat harus terbuat dari baja dengan diameter 150mm dan ketebalan 4mm. cobalah untuk membuatnya tetap berdiri dan memghindari bagian tajam atau sudut.

5 kali volume air di pipa pesat [1750 liter]. 15. sehingga Turbin terus berfungsi 2) Memilki pengaman yang cukup untuk mencegah pasir. dls. pasir. Bagian atas pipa pesat biasanya tidak ditempatkan dibawah tapi beberapa jalur dinding bagian atas bendungan jadi bagian bawah bendungannya seolah mengendap agar dapat menarik.6 Pipa melintas dan pembuangan air ke sungai Bendungan atau tangki penampung air di atas pipa pesat di desain agar dapat menampung volume air kira-kira 2.6. Mencakup aspek keselamaatan untuk menajuhkannya dari jangkauan anak dan binatang yang mungkin masuk kedalam pipa pesat. Gambar 15. Desain Bendungan Aspek terpenting bagI bendungan diantaranya : 1) Membiarkan air mengalir terus menerus ke pipa pesat. 3) Memiliki jalur yang memudahkan untuk menghentikan aliran air saat mengganti bearing. 15-8 . tumbuh-tumbuhan atau kotoran lainnya masuk kedalam pipa pesat karena dapat menggangu Turbin.menunjukan tandon air yang didesain sederhana yang bias digunakan untuk segala keberhasilan. lumpur. dsb. Dari aliran yg Turbin yang tersumbat. Ukuran desain yang ideal ditunjukan pada pada gambar sistem walau pada point utama digunakan untuk memastikan jangan sampai bendungan kosong.Pembangkit Listrik Mikrohidro Gambar 15.7.

Pengawatan ke konsumen dengan kabel berisolasi jenis NYM 15-9 . dapat juga dipakai pipa pralon dengan kualitas terbaik dengan ketebalan tertentu.Pembangkit Listrik Mikrohidro Saringan sampah akan membantu menjaga agar bendungan selalu bersih dan tertutup untuk anak-anak.7. Komponen yang diperlukan dapat diperoleh di daerah setempat. Komponen Generator Mikrohidro Komponen Generator Mikrohidro terdiri atas : • Rakitan Turbin. Sumbat pengering digunakan secara periodik untuk mengosongkan pasir dan daun atau benda lainnya yang dapat menyumbat. panjang 28-40m dan diameternya 150mm Kabel dari Generator ke konsumen. Sistem terdiri dari dua komponen utama. Pipa pesat sebaiknya terbuat dari baja.7. Komponen tambahan yang harus ada mencakup : • • • Pipa baja dengan ketebalan 4mm. Tandon air terbuat dari kotak anti air terletak di saluran daya/ power dan pipa pesat. jadi aliran tidak terhambat dan 50% daerah ujung permukaan pipa harus dibor dengan lubang yang luasnya 1cm Gambar 15. Ujung pipa dilubangi selanjutnya air masuk.Generator • Pipa pesat adaptor flange • Katup • Gasket karet • Mur dan baut M24 • Kontrol panel termasuk pengatur beban listrik termasuk panel electronic load kontroller • Ballast merupakan dummy-load. Tandon Air 15. Fitting elbow disisipkan diantara inlet pipa pesat dan pipa pipa pesat. Ukuran lubang sangat penting. Aliran pipa pesat dihentikan oleh tarikan kawat jadi inlet keluar dari air. yaitu turbin Generator dan electronic load kontroller.

1.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15.8 Pemasangan Turbin dan Generator a) tampak samping b) tampak dari atas 15-10 . 2) Sisipkan katup gate ke nozzle injector pipe followed dengan menggunakan elbow~120° yang akan tersambung ke pipa pesat. Lakukan pembersihan dengan jarak antara Turbin dan tanah paling sedikit 500mm. Dudukan Turbin harus terbuat dari beton dengan 6 buah baut M24 menancap padanya. Pembersihan seperti ini diperlukan untuk menjaga agar tidak ada percikan hitam yang akan mengganggu kinerja Turbin. Sudutnya bergantung dari kemiringan .8 : 1) Baut Turbin ke dudukan atau bagian dasar Turbin.8.8. Lakukan ini seperti gambar 15. perangkat mikrohidro siap untuk dipasang. Gambar 15. Instalasi Mikrohidro 15. Aspek Mekanik Setelah menemukan lokasi yang sesuai kemudian pekerjaan sipil selesai.

jadi dengan tidak sengaja akan memutuskan rangkaian. Ini dapat dikurangi dengan meng-nolkan ballast. Hubungan sistem gambar 15.jenis sinkron. Pemasangan dapat dimulai dari arah yang berbeda. Untuk melakukannya ELC menyambungkan daya yang bukan digunakan konsumen ke beban ballast pemanas udara dimana kelebihan energy dibakar dalam panas. Beberapa orang mungkin menginginkan pemasangan pipa pesat sebelum terpasang diantara kedua elbow.9 sebagai berikut : 15-11 . Ini akan menempel dengan lubang angin/ ventilasi yang mengalirkan udara masuk dari pipa pesat. maka ballast tambahan secara otomatis tersambung dan saat daya turun dibawah batas yang diijinkan secara otomatis sambungan akan terlepas. Jika daya pada ballast utama boros melebihi batas. 15. Meskipun tidak diharuskan. Gelombang distorsi disebabkan oleh sambungan triac atau Thyristor menyebabkan Generator panas. Saluran udara dibagian atas yang terbuka harus lebih besar daripada ketinggian air di bendungan. Beban dikendalikan oleh electronic load controller (ELC) yang terpasang pada kontrol box. ELC didesain untuk mempertahankan tegangan agar konstan dan frekuensi yang mendekati konstan dengan menjaga beban elektrik yang konstan pada Generator. sedang beban ballast tambahan hanya 33%.Pembangkit Listrik Mikrohidro 3) Tempelkan elbow 120° (atau yg lain) ke dinding foreway. satu yang utama dan satunya sebagai tambahan. ELC dipasang parallel dengan output Generator. Jumlah beban ballast utama 66% dari total. Aspek Elektrik Generator menggunakan magnet permanent. Alihkan air dari bendungan atau block pipa pipa pesat lainnya selama proses pemasangan berlangsung 4) Mulai memasang pipa pesat. Disini ballast tambahan digunakan. ballast tambahan membiarkan Generator kerja pada temperatur yang rendah.8. jadi tegangan yang menyebrang dari ballast akan memberi bentuk gelombang yang bagus.2. Dua beban ballast digunakan.

Hubungan kontrol kelistrikan Untuk menyambungkan komponen listrik. mungkin salah satunya di powerhouse bersama Turbin atau ditempat lain. ikuti langkah berikut : Hal yang berhubungan dengan listrik sebaiknya dipasang oleh orang yang kompeten dalam hal pengawatan pada keadaan bertegangan. Bumikan (ground) Mikrohidro. Sebagai contoh 11kW atau 12kW untuk 10kW Generator. dari kontrol box ke beban user dan dari kontrol box ke ballast harus sudah menggunakan kawat tembaga berisolasi multistranded. dirumah pemakai. untuk pencegahan kerugian dan bahaya api. Semua pengawatan dari Generator ke kontrol box. pasang ditempat yang aman.9. Beban ballast menjadi panas. 2 3 4 5 6 15-12 . Beban ballast utama akan berkisar 7kW atau 8kW (+ 66%) sedang ballast tambahan berkisar 3kW atau 4kW (+ 33%).Pembangkit Listrik Mikrohidro Gene rator AC Jaringan utama atau papan distribusi Power supply AC 220v ELC (electronic load controller) Ballast Gambar 15. Sistem penyambungannya dengan dasar netral. Netral dan phasa digabungkan ke element beban dalam waktu yang sangat cepat. Diagram pengawatan menunjukan semua lokasi penyambungan tapi catatan sebagian besar komponen sudah disambungakn ke kontrol panel Sambungkan kabel beban user L1 dan L2 dengan kontrol box dan house Sambungkan beban ballast utama dan tambahan ke kontrol box seperti yang ditunjukan. sampai 1000 C. 1 Pasang kontrol box di tempat yang terlindung dari hujan dan sinar matahari. Lakukan ini dengan menyisipkan salah satu ujung kawat Mikrohidro yang panjangnya 16mm dan ujung bahan logam atau tiang logam lainnya yang tidak jauh dari ground Mikrohidro Sambungkan Generator dengan kontrol box. Tutup pintu kontrol box. yang ukurannya lihat buku PUIL. Sistem sekarang siap untuk pengoperasian yang pertama. Gabungan (total) beban balas berkisar (max) 10-15% lebih besar dari output Generator.

10 Electronic Load Kontroller 15. Biarkan katup gate selalu terbuka saat Turbin beroperasi dan hanya akan tertutup saat perbaikan Turbin Isi bendungan dan biarkan air mengalir dengan bebas masuk ke dalam pipa pesat. setelah satu atau dua menit tegangan akan turun ke 220V Selalu putar handle katup dengan perlahan dan hati-hati untuk menghindari perubahan yang mendadak bagi tekanan air di pipa pesat. timbul energi listrik.Pengoperasian 1 2 3 4 5 Periksa saluran daya dan bendungan apakah terbebas dari puing-puing Pastikan Turbin mati dan seluruh jalur supply aliran listrik mati.9. Turbin akan berbutar dan air akan mengalir keluar dari Turbin (ke pengering). 15-13 . Dan jika OK gunakan switch pada pintu kontrol panel untuk menghubungkan daya ke pengguna. Perubahan mendadak di akibatkan efek air yang beradu dan pecahnya pipa pesat. Saat air mengalir. sesuaikan aliran air dengan menggunakan katup spear jadi tegangan tetap pada 230V. temperature yang berlebih atau masalah lainnya. 6 Operasikan seperti ini selama 15 menit.Pembangkit Listrik Mikrohidro Gambar 15. Switch di kontrol box harus dalam posisi”off” Buka lebar-lebar katup spear dan katup gate. sambil mengamati bila ada kebisingan yang aneh. Tegangan akan bertambah sampai Voltmeter di kontrol box membaca 230V. jika tegangan bertambah terus.

Sebelum digunakan lagi. untuk mematikan sistem 15. Sangat penting memasang Mikrohidro ditempat yang tidak berpotensi banjir. Satu dekat dengan bagian dalam casing Turbin dan yang satunya berada di shaft Turbin dekat Generator.1. Tidak akan timbul kerusakan permanent.Pembangkit Listrik Mikrohidro 7 Tegangan harus stabil saat beban hidup atau saat mati.10. pastikan power socket juga kering. 15. Jika didalam ruangan Generator menjadi lembab perlu untuk dilakukan pengeringan. Perlindungan sederhana dengan menggunakan atap. Kemudian secara perlahan tutup katup spear dan tutup katup gate. Sebelum melakukan pelumasan. Pengembunan dalam Generator merupakan hal yang normal di daerah tropis dan tidak berpengaruh bagi kinerja Mikrohidro. Perawatan Dan Perbaikan Perawatan umum untuk Mikrohidro anda akan menambah umurnya. Selalu bersihkan nipple sebelum melumasi. Jjika tegangan turun sampai 220V periksa kondisi aliran air. Pelumasan Bearing Mikrohidro memiliki dua bearing di Turbin yang harus diperiksa secara berkala. bersihkan nipples dan berikan pelumas extra dengan menggunakan semprotan pelumas. diperlukan untuk melindungi Generator dari hujan atau dengan membangun gudang kecil yang dapat dikunci (lebih disukai). 15-14 . yang akan merusak peralatan anda. Bertambahnya gesekan juga akan mengurangi daya keluaran. tapi periksa bearing untuk melihat jika pada bearing terdapat air.10. Karena akan dihasilkan tegangan yang salah. Bearing Generator pilih yang jenis Free Maintenace Tidak melumasi bearing secara tepat waktu dan mengurangi umur pakainya dan akan memmerlukan penggantian. Gunakan tangan yang kering. Jangan biarkan terjadi hubungan elektrik menjadi basah. 8 Kapan saja ketika mematikan sistem. Ikuti petunjuk berikut. yang pertama tutup katup spear untuk menghentikan aliran air dan kemudian Voltmeter menunjuk ke 100V. switch di kontrol box diposisikan “off”. hati-hati dengan Electrocution Jangan menyumbat peralatan secara langsung ke Mikrohidro tanpa menggunakan beban yang terkontrol. Jangan coba untuk mengeringkannya dekat dengan api. Tegangan perlu diperiksa dan disesuaikan jika ukuran aliran air berubah. Keduanya telah dilumasi di pabrik tapi memerlukan pelumasan kembali setiap 3 bulan sekali. Turbine harus berhenti terlebih dulu sebelum dilumasi.

15-15 . periksa bagian seperti dibawah ini: 1. Ini akan menghentikan aliran arus. hanya ada dua pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dulu pada waktu yang teratur. atau jika terjadi hubung singkat fuse akan putus. Ini biasanya tersedia di sebagian besar Negara. Mengganti Bearing dan Seal Bagian dari pelumasan bearing. maka dimasa yang akan datang jadi berbahaya bagi Generator. Kondisi ketinggian dan aliran terpenuhi. Itu berarti sistem tidak terpasang denga benar.3. Periksa setiap langkah sekali lagi 2. tapi Mikrohidro tidak kerja. Untuk beberapa saat Mikrohidro sudah menghasilkan listrik dan kemudian aliran listriknya mati Jika petunjuk dari pedoman ini tidak diikuti dan pengunaan daya terlalu besar.2. Penggantian kedua bearing Turbin dan bearing seal setiap dua tahun. Jika ini terjadi Generator memrlukan pengawatan yang baru dengan motor yang sudah sudah lama pengalamannya.10. tekan casing bearing keluar dengan menggunakan tongkat baja yang pendek 10 Saat perakitan ulang.Pembangkit Listrik Mikrohidro 15. Troubleshooting Jika ada masalah yang terjadi. pastikan seluruh bagian terpasang ditempat yang tepat dan seluruh bautnya sudah terpasang kencang 11 Buka kembali katup gate dengan perlahan sampai aliran air kembali normal. ikuti langkah berikut : 1 Matikan sistem kelistrikan 2 Tutup secara perlahan katup gate untuk menghentikan aliran air ke Turbin 3 Lepaskan kabel power dari Generator 4 Tunggu sampai tidak aliran menjadi kecil atau tidak ada aliran air keluar dan Turbin berhenti berputar 5 Lepaskan kopeling langsung antara shaft Turbin dengan shaft Generator 6 Lepaskan pengggerak/ runner dari shaft Turbin 7 Lepaskan bearing yang dekat runner dengan menarik shaft Turbin kearah Generator 8 Lepaskan bearing yang dekat runner dengan menarik shaft Turbin kearah Generator 9 Untuk mengganti seal bearing. tapi jika ragu hubungi dealer anda. Tunggu sampai dulu sebelum kabel disambungkan kembali dan sistem mulai kerja lagi. Untuk mengganti bearing dan seal.10. 15. Jika fuse putus dan diganti dengan yang ukurannya lebih besar. Sangat penting untuk mengganti fuse dengan spesifikasi yang sama.

7kW sampai 16kW tergantung model). Untuk melihat apakah tegangan stabil dan apakah memiliki kotak kontrol. dengan daya berbeda kode A dan B yang berbeda kapasitas dayanya Tipe A Tipe B 4.7kW to 8kW 9. Setelah kerja beberapa saat diketahui output jadi berkurang Resistansi kabel harus tepat.Pembangkit Listrik Mikrohidro 3. 15.4kW to 16kW 100%+15% 100%+15% 220V~ 220V~ 50 Hz 50 Hz 70 Hz 70 Hz 1500rpm 1500rpm 1000mm 1000mm 80kg 100kg Turgo Turgo 270mm 270mm 20 20 1 2 Sinkron Sinkron Magnet Magnet Sesuai ukuran Sesuai ukuran SKF 46208 SKF 46208 1 Daya keluaran 2 Beban maksimum 3 Tegangan 4 Frekuensi daya keuarant 5 Frekuensi pada kecepatan beroperasi 6 Kecepatan 7 Tinggi 8 Berat 9 Tipe Turbin 10 Diameter 11 Nomber emebr 12 Number pipa 13 Generator 14 Fuse 15 Ukuran bearing ujung Generator 15-16 . Pengujian di kali menunjukan bahwa Mikrohidro menghasilkan output yang baik (4. jika perlu saring dan bersihkan. 4.baru ini berkurang Berkurangnya daya keluaran berarti menunjukan putaran Turbin melambat dari pada biasanya. tapi saat beban dipasang tegangan menjadi semakin turun Telah terjadi beban berlebih. ujilah dengan tukang listrik yang ahli. Tegangan 220V dengan kondisi beban nol. kabel panjang akan menghasilkan kehilangan output yang kecil. Pastikan ada cukup air yang masuk ke bendungan dan yakinkan sumber air memiliki aliran sesuai dengan yang diinginkan. kurangi pemakain beban. Spesifikasi Teknik Berikut ini dua model Mikrohidro. untuk jarak kawat memungkinkan untuk menambah diameter kabel 5. Daya keluaran baru. Selain itu periksas bendungan dan pipa pesat. Juga periksa bagian casing Turbin harus terbebas dari dedaunan atau kotoran lainnya dan bearing Turbin sudah cukup dilumasi. Hilangnya daya untuk panjang kabel 100m kurang lebih 10W.11.

electronic load control.Pembangkit Listrik Mikrohidro 16. Soal-soal 1. pada periode tertentu ganti bearing. kabel listrik dari pembangkit ke pemakai. Lokasi memiliki potensi untuk pemasangan Mikrohidro. jelaskan cara kerjanya.Ukuran bearing ujung Turbin 17 Seal size 3 18 Kabel yg disarankan 19 Temperature 20 Kelembaban Catatan : SKF 46208 8x58x10mm 16mm2 5 . Pemeliharaan dilakukan secara rutin.90% Untuk menghasilkan daya keluaran sebesar 1. dummy load dan beban. Hitunglah berapa KW potensi terpasang listrik secara teoritik. baik mekanik dengan memberikan pelumasan pada bearing. 3.500C 0 .90% SKF 46208 38x58x10mm 20mm2 5 . Jelaskan cara kerjanya. 15-17 . tinggi jatuh airnya 20 meter. Komponen Mikrohidro terdiri atas: bendungan. • • 15. 15. baik musim hujan.13. Daya yang dibangkitkan sebanding dengan tinggi jatuh air dan besarnya debit air per detiknya. pipa pesat. memiliki debit 20 liter/detik. Gambarkan skematik diagram hubungan generator. dengan electronic load controller. Gambarkan skematik diagram dari sejak tendon air sampai ke turbin air. 2. Pengukuran debit air dilakukan sepanjang waktu/ musin. generator. Jika beban lebih besar menyebabkan kerusakan permanen pada stator. Rangkuman • • • Mikrohidro adalah pembangkit listrik sekala kecil dengan ukuran puluhan KW sampai ratusan KW dengan memanfaatkan potensi air. musin kering untuk mengetahui potensi maksimum dan potensi minimumnya. turbin air.12.2 ialah dengan mengolah keluaran ketinggian dan kondisi aliran secara spesifik.500C 0 . Keluaran yang lebih besar mungkin dihasilkan bila ketinggian lebih besar atau aliran lebih cepat dari yang disarankan.

5. dan jelaskan cara mematikan yang benar dan tepat. 15-18 . Jelaskan pentingnya pemeliharaan Mikrohidro. Jelaskan tatacara pengoperasian Mikrohidro saat pertama dihidupkan. Apa fungsi dipasang dummy load ? jika beban terpasang 50% apa yang terjadi pada dummy load dan jika beban terpasang 75%nya apa yang terjadi pada dummy load.Pembangkit Listrik Mikrohidro 4. kali 6. baik pemeliharaan sisi turbin. sisi generator dan perangkat elektriknya.

R. 1986 Eko Putra. Pergamou Press. 1990 Cathey.DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 A R Bean. Programmable Logic Controller. Switchgear Manual 8th edition. Gava Media : Yogyakarta. Jakarta. USA.Singapore. Elektrotechnik. Pengantar Teknik Tenaga Listrik. McGraw-Hill.C. Reparasi Listrik 1. The Lineman’s and Cableman’s Handbook. Penerbit Universitas Indonesia. Mechanical and Electrical Equipment for Buildings. Philips. Electrical Systems for Architects. 1995 Badan Standarisasi Nasional SNI 04-0225-2000. Canada. McGraw-Hill. DEPDIKBUD Dikmenjur. Schweiz. England. Dadras. 1977 A. Chapman and Hall. Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000. 1980. Penerbit Erlangga. LP3ES. 1988 Brian Scaddam. Jimmie . 1994 Brian Scaddan. 3rd Edition. 9th Edition.R. Sprecher+Schuh Verkauf AG Auswahl. Verlag – AG. The IEE Wiring Regulations Explained and Illustrated. 1968 Edwin B. Dournelley & Sons. Daschler.T. Sistem Distribusi Daya Listrik. American Electrician’s Handbook. Berlin.2004 . Jakarta. 2003 By Terrell Croft cs. 1968 A. PLC Konsep Pemrograman dan Aplikasi (Omron CPM1A /CPM2A dan ZEN Programmable Relay). Armatur dan Komponen. 1982 A. 1986 Bernhard Boehle cs.School of Industrial Engineering Purdue University Diesel Emergensi. USA. PT PLN Jasa Pendidikan dan Pelatihan. Jakarta 1995. 1993 Aly S.J. 1996 Catalog. Benyamin Stein cs. Lighting Fittings Performance and Design. Instalasi Listrik Rumah Tangga. 1970 Catalog. Braunschweig.. John Wiley & Sons. Aaraw. 2nd Edition. Philips Lighting. Catalog. Jakarta. VEB Verlag Technik. 7th Edition Volume II. Kurtz. 2000 Abdul Kadir. Warrington. Pabla. Soeparno. 1994 Abdul Kadir. McGraw-Hill. Protective Relays. Distribusi dan Utilisasi Tenaga Listrik. Yayasan PUIL.2001 Chang. Materi kursus Teknisi Turbin/Mesin PLTA Modul II. Penerbit Erlangga. E.. 7th Edition.S. Taschenbuch Elektrotechnik.Dr. R. Soepatah. Philippow. USA.Agfianto. Clags Ltd. 2000 Bambang. Electrical Machines : Analysis and Design Applying Matlab. van C.

McGrawHill. New York. Standard Application of Electrical Details. 1981 Graham Dixon. Metropolitan Book.1989. B. Karyanto. Lamulen.A. Verlag. 1990 Haberle Heinz. 1983 F. Commercial Electrical Wiring. Programmable Controllers Theory and Implementation. Klaus Tkotz. “Tabellenbuch Elektrotechnik Elektronik” Umuler-Boum. Bryan. 4th Edition.kc. 6th Edition. 2004 Friedrich. Electrical Installation Hand Book. 2006 L. 2005 George Mc Pherson. PT. Electrical Power Engineering proficiency Course.. Fachkunde Elektrotechnik. Electrical Engineering Materials Reference Guide. John Wiley & Sons. Berlin. Fachkunde Mechatronik. 1986 Haberle. Gupta. L. 2000. USA. Panduan Reparasi Mesin Diesel. Verlag Europa-Lehrmittel. Vollmer GmBH & Co. Instruksi Kerja Pengujian Rele. E. Verlag. GmbH. H. Jakarta. Pengoperasian Emergency Diesel Generator. Third Edition. Vollmer GmbH & Co. kG. 1997 M. McGraw-Hill. Electrical Installation Technology. 1984 Michael Neidle. 1984 John E. USA. dalam bahasa 47 48 . 1992 Iman Sugandi Cs. United States of America. Rineka Cipta. 1998 G. Nourwey. Heinz.24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 37 38 39 40 42 43 44 45 46 Ernst Hornemann cs.Seip. Vollmer. Nourney. PT Elex Media Komputindo. 2000. Tabelleubuch Elektroteknik. Fachkunde Electrotechnik. Gupta. Workshop Practice in Electrical Engineering. Electrical Appliances (Haynes for home DIY). 2001. Ferlag Europa-Lehrmittel. 1978 Jerome F. Electrotechnik Fur Praktiker. GTZ GmbH.Copper Development Centre South East Asia. Wayne Beoty. Bryan. E. Braunschweigh. Ris. Jakarta. GmbH. Penerbit Pedoman Ilmu Jaya. 1992 Gunter G. J. R. Abdul. Murray. New Delhi.Tabellenbuch Elektrotechnik.. Etall. Industrial Text Company. Nourenweg. Transformator. Panduan Instalasi Listrik. Verlag Europa – Lehr Mittel. 2000 Gregor Haberk. 2000 H. Kadir. 3rd edition. Gagasan Usaha Penunjang Tenaga Listrik . An Introduction to Electrical Machines and Transformers. Utilization of Electric Power and Electric Traction. Second Edition. Mueller. AT Verlag Aarau. John Wiley & sons. 1990. P. Traister and Ronald T. Teknik Listrik Instalasi Penerangan.A. Saguling. Jullundur City. Etall.E. Verlag Europa – Lehrmittel. Suyatmo. Indonesia Power UBP.

Home Repair Handbook. Holt-Saunders International Edition.SEN. PT PLN JASDIKLAT. PT PLN JASDIKLAT.1997. Februari 2002. 2nd. Jakarta.. Diktat Programmable Logic Controller (PLC).1984 Sofian Yahya. Kissell. Wood. Politeknik Negeri Bandung.S. Saptono Istiawan S. Canada. Frank D. New Jersey. 1999 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 Nasar. Thomas E. B. Mesin Tak Serempak dalam Praktek. 1990 .1996.W. Teknik Elektro untuk Ahli bangunan Mesin. Van Hoek. PT PLN Persero. 1999 Robert W. Pengukuran dan Alat-alat Ukur Listrik. Modern Industrial / Electrical Motor Controls. Peter Hasse Overvoltage Protection of Low Voltage System. Generator. 1998 Petruzella. John Wiley and Sons. Van Harten. Konversi Energi Selubung bangunan pada Bangunan Gedung. A Text Book of Electrical Tecnology. Electromechanics and Electric Machines. 1997. Ir. Instalasi Listrik Arus Kuat 2. BSN. Koln. Electric Motor Repair. New York.TM & Mabuchi Magarisawa. 1989. 2000 Soelaiman. Theraja. Bina Cipta. Principles of Electric Machines and Power Electronics.K. Jakarta. Ruang artistik dengan Pencahayaan.Indonesia penerbit Erlangga. Pretience Hall. Verlag GmbH. 2000 Soedhana Sapiie dan Osamu Nishino.L. Sumanto. 1995. Yogyakarta.C. 1988 Rosenberg. Pengoperasian Mesin Diesel. Nirja. E. Pradya Paramita. New Delhi. P. Glencoe/McGraw-Hill. Industrial Electronics. Setiawan. Trimitra Mandiri. etal. 1998. Penerbit Andi Offset. PT PLN Persero. 1988. R. 1980 Rob Lutes. Mesin Arus Searah.A. 2006 SNI. Canada. Griya Kreasi. 1983. Jakarta. PT Pradnya Paramita. P. 1970. Robert. Troubleshooting and Repairing Small Home Appliances.

Lambang Huruf Untuk Instrumen Ukur Lambang Huruf Untuk Instrumen Ukur No.Simbol-simbol Gambar Listrik a. 1 2 3 4 5 6 7 8 Lambang T G M K m µ n p Keterangan tera giga mega kilo mili mikro nano piko = 1 012 = 1 09 = 1 06 = 1 03 = 1 03 = 1 06 = 1 09 = 1 012 . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Lambang A V VA Var W Wh Vah varh Ω Hz h min s n cosφ φ ‫ג‬ f t to z Keterangan ampere volt voltampere var watt watt-jam voltampere-jam var-jam ohm hertz jam menit detik jumlah putaran premenit faktor daya sudut fase panjang gelombang frekuensi waktu suhu impedans Awal Pada Satuan SI No.

3 ~ Arus bolak-balik Catatan : a) Nilai frekuensi dapat ditambahkan di sebelah kanan lambang. 2 2M_____ 220/110V 4 5 ~ 50 Hz 3 N~ 50Hz 400/230 V . Contoh : Arus bolak balik. Lambang Gambar Untuk Diagram Lambang Gambar Untuk Diagram Saluran Arus Kuat No 1 Lambang keterangan Arus searah Catatan : Tegangan dapat ditunjukkan di sebelah kanan lambang dan jenis sistem di sebelah kiri. 1 2 3 4 5 6 7 8 Lambang TΩ GW MW kW mV µA nF pF Keterangan 1 teraohm = 1 012 ohm 1 gigawatt = 1 09 W 1 megawatt = 1 06 W 1 kilowatt = 1 03 W 1 milivolt = 1 03 V 1 mikroampere = 1 06 A 1 nanofarad = 1 09 farad 1 pikofarad = 1 012 farad b. 50Hz. b) Tegangan dapat juga ditunjukan di sebelah kanan lambang. Arus bolak balik.Contoh Penggunaan Awalan Pada Satuan SI No. fase tiga. c) Jumlah fase dan adanya netral dapat ditunjukan sebelah kiri lambang. 220V (110V antara setiap penghantar sisi dan kawat tengah). dengan netral. tiga penghantar termasuk kawat tengah. 400V (230V tegangan antara fase dengan netral) 3N dapat diganti dengan 3 + N. Contoh : Arus searah. 50 Hz. 2 M dapat diganti dengan 2 + M.

Sirkit arus searah. fase tiga. Contoh : Tiga Penghantar (No. Sirkit fase tiga.No Lambang keterangan Arus bolak-balik.9) b) Penjelasan tambahan dapat ditunjukan sebagai berikut : 1) di atas garis: jenis arus. 2) Di bawah garis: jumlah penghantar sirkit diikuti dengan tanda kali dan luas penampang setiap penghantar. sistem distribusi. maka jumlah penghantarnya ditunjukan dengan menambah garis-garis pendekatau dengan satu garis pendek dan sebuah bilangan. tiga penghantar berpenampang 120 mm2. 6 3 N~ 50Hz / TN-S 7 ’ 8 9 10 11 12 . Contoh : Sirkit arus searah. 220V (antara penghantar sisi dan kawat tengah 110V). Penghantar Kelompok Penghantar Saluran Kabel Sirkit Catatan : a) Jika sebuah garis melambangkan sekelompok penghantar. 50Hz. 400 V. dua penghantar sisi berpenampang 50 mm2 dan kawat tengah 25 mm2.8 dan No. 110V. frekuensi dan tegangan. dengan netral berpenampang 50 mm2. 50Hz sistem mempunyai satu titik dibumikan langsung dan netral serta penghantar pengaman terpisah sepanjang jaringan. dua penhantar alumunium ver penampang 120 mm2.

b) Ujung penghantar atau kabel tidak dihubungkan dan diisolasi khusus. 17 a) Percabangan penghantar. b) Dua percabangan penghantar 18 Saluran bawah tanah 19 Saluran dalam laut. . b) Dua dari lima penghantar dalam suatu kabel.No Lambang keterangan Penghantar fleksibel 13 14 Penghantar pilin diperlihatkan dua penghantar. 16 a) Ujung penghantar atau kabel tidak dihubungkan. 20 Saluran udara. 15 Penghantar dalam suatu kabel : a) Tiga penghantar dalam suatu kabel.

No 21 Lambang keterangan Saluran dalam jalur atau pipa. . yang diperlihatkan jenis arus bolak balik. luas penampang dan keterangan lainnya dapat diperlihatkan di atas saluran yang menggambarkan lintas pipa. Contoh : Saluran dalam jalur dengan enam jurusan 22 Saluran masuk orang (manhole) 23 Saluran dengan titik sambung/hubung tertanam. 24 Saluran dengan penahan gas atau minyak 25 Titik sadap pada saluran sebagai penyulang konsumen. 26 Sadap sistem 27 Sadapan hubung seri 28 Unit daya saluran. Catatan : Jumlah pipa.

30 Titik injeksi penyulang daya. 31 Kotak ujung kabel. mof sambung lurus. a) Dinyatakan dengan garis ganda. mof ujung a) satu kabel berinti tiga b) tiga kabel berinti satu 32 Kotak sambung lurus. 34 Kotak sambung cabang empat. tiga penghantar.No 29 Lambang keterangan Penahan daya pada penyulang distribusi. 35 Penghantar netral 36 Penghantar pengaman . b) Dinyatakan dengan garis tunggal. 33 Kotak sambung cabang tiga.

Lambang Gambar Untuk Diagram Instalasi Pusat dan Gardu Listrik No.No 37 Lambang keterangan Penghantar pengaman dan penghantar netral di gabung Contoh: Saluran fase tiga dengan penghantar pengaman dan penghantar netral c. 5 Lambang Keterangan a) Sakelar pengubah aliran . 1 Lambang Keterangan a) Sakelar penghubung b) Sakelar pemutus c) Sakelar berselungkup. saklar bersekat pelindung 2 Sakelar dengan pemutusan : a) Secara termis b) Secara eektromagnetis 3 Sakelar dengan pelayanan a) Relai termal b) Relai elektromagnetik 4 a) Sakelar. lambang umum b) Sakelar kutub tiga No.

Lambang Keterangan b) Sakelar pengubah aliran dengan kedudukan netral 6 Pemutus sirkit / CB (Circuit Breaker) 7 Pemisah DS (Disconnecting Switch) 8 Pemutus daya LBS (Load Break Switch) 9 NFB (No Fuse Beaker) CB yang tak berwujud fuse 10 a) Pengaman lebur b) Sakelar pemisah dengan pengaman lebur 11 Pengaman lebur dengan sirkit alarm terpisah 12 Kotak kontak .No.

blok terminal 20 Perangkat hubung bagi dan kendali 21 Bumi. indikator 16 a) Klakson b) Sirene c) Peluit yang bekerja secara listrik 17 Bel 18 Pendengung 19 Jalur terminal. pembumian . Lambang Keterangan 13 Tusuk Kontak 14 Kontak tusuk 15 a) Lampu.No. lambang umum lampu isyarat b) Lampu kedip.

M 26 27 28 Transformator 29 Auto transformator satu fase 30 Sel atau akumulator . Lambang Keterangan 22 Hubungan rangka atau badan Pembumian rangka 23 24 Penyekatan atau dielektrik 25 Sekat pelindung. selungkup Catatan .G b) Motor . garis pemisah.Penjelasan macam selungkup dapat ditambahkan dengan catatan atau dengan lambang kimiawi logam Garis batas. sumbu a) Generator .No.

1) Pusat tenaga listrik 33 34 Gardu listrik 35 Pusat listrik tenaga air 36 Pusat listrik tenaga termal (batubara. minyak bumi.dsb) 37 Pusat tenaga nuklir No.8. 31 Lambang Keterangan Baterai sel atau baterai akumulator 32 Lambang umum dari : a) Instrumen penunjuk langsung atau pesawat ukur b) Instrumen pencatat c) Instrumen penjumlah Contoh : a) Voltmeter b) Wattmeter c) Wh-meter d) (lihat Bagian 2. gas. Lambang Keterangan .No.

b.b d. ”garis” dapat diganti dengan ”garis putus-putus” Pengawatan tampak (di permukaan) 2 3 Pengawatan tidak tampak (di bawah permukaan) 4 Pengawatan dalam pipa . 1 Lambang Keterangan Pengawatan (lambang) Catatan .38 Pusat listrik panas bumi 39 Pusat listrik tenaga matahari 40 Pusat listrik tenaga angin 41 Pusat listrik plasma MHD (magnetohydrodynamic) 42 Gardu listrik konversi arus searah ke a. Lambang Gambar untuk Diagram Instalasi Bangunan No.Untuk maksud tertentu.

No. lambang umum Saluran dari bawah 9 Saluran dari atas 10 Kotak sambung atau kotak hubung 11 Kotak cabang tiga 12 Kotak-saluran masuk utama . Lambang Keterangan Catatan-Jenis pipa dapat diyatakan. jika perlu a) Pengawatan menuju keatas b) Pengawatan menuju ke bawah Catatan: Lambang 5 & 6 1) pernyataan ”ke atas” dan ”ke bawah” hanya berlaku jika gambar dibaca dalam posisi yang benar 2) Panah pada garis miring menyatakan arah aliran daya 3) Pengawatan berpangkal pada lingkaran atau titik hitam 5 6 Pengawatan melalui ruangan secara tegak lurus 7 8 Kotak.

titik sadap lampu dengan pengawatannya b) Lampu dipasang tetap pada dinding dengan pengawatan-nya 15 Kelompok dari tiga buah lampu 40 W 16 Perangkat lampu dengan sakelar sendiri 17 a) Lampu darurat b) Armatur penerangan darurat 18 a) Lampu floresen. Lambang Keterangan 13 Perangkat hubung bagi dan kendali dengan lima pipa 14 a) Lampu. lambang umum b) Kelompok dari tiga buah lampu floresen 40 W .No.

No. 19 Lambang Keterangan Proyektor. lambang umum 20 Lampu sorot 21 Lampu sebar 22 Lengkapan tambahan untuk lampu luah Catatan : Hanya digunakan jika lengkapan tambahan tidak termasuk dalam armartur penerangan Peranti listrik Catatan-jika perlu untuk lebih jelas dapat diberikan nama Alat pemanas listrik Pemanas air listrik 23 24 25 Kipas dengan pengawatannya 26 Jam hadir (temi clock) 27 Kunci listrik 28 Instrumen interkom .

29 Lambang Keterangan Sakelar. lambang umum 30 Sakelar dengan lampu pandu 31 Sakelar pembatas waktu.No. kutub tunggal 32 Sakelar satu arah a) Kutub tunggal b) Kutub dua c) Kutub tiga 33 a) Sakelar tarik kutub tunggal b) Fungsi dari sakelar 30 a) dan 31a) 34 a) Sakelar dengan posisi ganda untuk bermacam-macam tingkat penerangan b) Fungsi dari sakelar a) a) 35 b) a) Sakelar kelompok b) Fungsi dari saklar a) b) .

No. Lambang Keterangan 36 a) Sakelar dua arah b) Fungsi dari dua buah sakelar a) yang digabung a) 37 b) a) Sakelar Silang b) Fungsi dari sakelar a) 38 Sakelar dim 39 Tombol tekan 40 Tombol tekan dengan lampu indikator 41 Tombol tekan dengan pencapaian terbatas (tertutup gelas. dsb) 42 Perlengkapan pembatas waktu 43 Sakelar waktu 44 Sakelar berkunci gawai sistem jaga .

misalnya untuk 3 buah tusuk kontak 47 Kotak kontak dengan kontak pengaman.NKZAA . teleks dan sebagainya. NAKBA NAHKZAA. 52 e.No. misalnya kontak pembumian Kotak kontak bertutup 48 49 Kotak kontak dengan sakelar tunggal 50 Kotak kontak dengan sakelar interlok 51 Kotak kontak dengan transformator pemisah misalnya untuk alat cukur Kotak kontak untuk peranti elektronik misalnya untuk telepon. Nomenklatur Kabel Code A AA Arti Selubung atau lapisan perlindungan luar bahan serat (misalnya goni/jute) Selubung atau lapisan perlindungan luar dua lapis dari bahan serat (jute) Contoh NKRA. Lambang Keterangan 45 Kotak kontak 46 Kotak kontak ganda.

yang dipasang secara berlawanan arah untuk kabel tegangan nominal 0.Code B Arti Perisai dari pita baja ganda Selubung dari timah hitam Contoh NYBY. NEKBA NYBUY NYCY NHSSHCou NYCEY NYCWY C Penghantar konsentris tembaga Selubung penghantar dibawah selubung luar CE CW Penghantar konsentris pada masing-masing inti. NAKBY NKLY.2 kV) Spiral anti tekanan Pita penguat non-magnetis D E F G G Kabel dengan masing-masing intinya berselubung logam Perisai Kawat Baja pipih Spiral dari kawat baja pipih Isolasi karet/EPR Selubung isolasi dari karet NEKBA NYFGbY NYKRG NGA NGG N2GAU NYRGbY.6/1 kV (1. N2XSEYFGbY NHKBA. NAHKLY NKWKZY 2G Gb H K KL KWK Isolasi karet butil dengan daya tahan lebih tinggi terhadap panas Spiral pita baja (mengikuti F atau R) Lapisan penghantar diatas isolasi. dalam hal kabel berinti banyak Penghantar konsentris pada masing-masing inti. untuk membatasi medan listrik Selubung timbal Selubung alumunium Selubung dari pita tembaga yang terpasang dan dilas memanjang . NHKRA NKBA.

N2XSY NYA .pelindung listrik dari pita tembaga yang dibulatkan pada semua inti kabel bersamasama Pelindung listrik dari pita tembaga yang menyelubungi masing-masing inti kabel Tali penggantung dari baja Selubung isolasi dari XLPE Selubung isolasi dari PVC Selubung isolasi dari polythylene SE T 2X Y 2Y N2XSEY NF2X.perisai dari tembaga . NFAY NIKLDEY NOKDEFOA NPKDvFSt2Y NKROA NYM-O NYFGbY-O NYKQ NYRGbY NKRRGbY N2XSY Q R RR S Jalinan (brid) dari kawat-kawat baja berselubung-seng Perisai dari kawat-kawat baja bulat Dua lapisan perisai dari kawat-kawat baja bulat . NAKBA NF2X.Code L MK N NA NF NI NO NP O Arti Perisai dari jalinan-kawat-baja-bulat (braid) Kabel dengan selubung timah hitam untuk pemasngan dalam kapal laut Kabel standar penghantar tembaga Kabel standar penghantar alumunium Kabel udara berisolasi dipilin Kabel bertekanan gas Kabel bertekanan minyak Kabel dalam pipa bertekanan gas Perisai-terbuka dari kawat-kawat baja Kabel berpenampang oval Kabel tanpa inti berwarna hijau kuning Contoh NTRLA MK NYA. NYY NAYFGbY.

Code Z Z Arti Perisai dari kawat-kawat baja yang masingmasing mempunyai bentuk ”Z” Penghantar ber isolasi dengan beban-tarik Selubung logam dari pita seng Contoh NKZAA NYMZ NYRUZY .

....................................................1 1.....18 Kurva konduktansi fungsi tahanan R .................................... 1...............................................................................................25 Rangkaian pembagi tegangan ........................................................ 1.........9b Voltmeter diujung-ujung beban ............................................... 1........34 Karakteristik daya terhadap perubahan tahanan .....35 Rangkaian tahanan a) sebenarnya b) disederhanankan c) hasil akhir ................................................................................ 1........... 1.............22 Seri Resistor dengan sumber DC ................. Pengetahuan Listrik Dasar Sifat muatan listrik ........ 1............... 1-38 Baterai terhubung seri dengan Beban Ra ............... 1.... 1..............23 Paralel beban dengan sumber DC ..........13 Ampermeter .................................................................24 Aplikasi hukum Kirchhoff tegangan ...........................31 Karakteristik daya fungsi arus ...............33 Rangkaian ekivalen sumber arus ...................30 Karakteristik tegangan fungsi arus ................. 1...................................................................2 1.......................... 1...29 Pengukuran tahanan dalam baterai .......5 Generator elektrostatis Van de Graff ..32 Rangkaian ekivalen sumber tegangan .. 1.................... 1.........11 Atom terdiri atas proton dan elektron ............................................20a Kurva arus fungsi tegangan ......... 1........................... 1.................................................................. 1.DAFTAR GAMBAR DAFTAR GAMBAR Bab 1.......................20b Kurva arus fungsi tahanan ..................................................................................................17 Kumpulan atom membentuk material .............................................................4 1-2 1-2 1-2 1-2 1-3 1-4 1-5 1-6 1-6 1-7 1-7 1-8 1-8 1-9 1-9 1-9 1-10 1-11 1-11 1-12 1-12 1-13 1-16 1-17 1-18 1-19 1-19 1-21 1-21 1-21 1-22 1-22 1-23 1-23 1-23 1-24 1-26 1-27 1-29 viii .................................... 1.............15 Kerapatan arus pada penghantar ....................36 Rangkaian Tahanan disederhanakan .......................27 Pengukuran tahanan nilai R kecil ......................... 1..................9a Mengukur tegangan ........................................ 1.......................................................... 1............................................................................12 Aliran listrik merupakan aliran elektron ..3 1...................... 1................................... 1.................... 1.... 1............................. 1............................8 Simbol dan fisik Voltmeter ... 1.................7 Sumber tegangan DC Power suply ......26 Hukum Kirchoff-arus ....................................................................................................................... 1. Batang kaca dan batang plastik yang berbeda muatannya saling tarik menarik........................................ 1.......... 1.................................................10 Arus listrik mengalir ke beban .. 1.......................................................... 1....................................... 1..... 1....................................................................... Fenomena elektrostatis ........19 Rangkaian hukum Ohm ..............16 Kurva rapat arus fungsi luas penampang .... 1........................6 Model visual tegangan .................. 1....... 1.............................................................37 Hubungan Segitiga dan hub bintang ............................... Batang plastik yang bermuatan sama saling tolak menolak .......................28 Pengukuran tahanan nilai R besar ........................14 Mengukur arus dengan Ampermeter ......

...................................................... Belitan kawat berinti udara ..................................33 2...... Kurva histerisis .................... Rangkaian magnetik ...........................................7 2................. Gelombang belitan primer dan belitan sekunder .......................... Kawat melingkar berarus membentuk kutub magnet ...37 2............................19 2.....1 2...........12 2...................................................... Kurva magnetisasi ............. Prinsip tangan kanan Flemming ......5 2....................40 Sifat magnet saling tarik menarik...............................34 2...............................3 2............................................ Daerah pengaruh medan magnet.............16 2...........13 2.........18 2....... Prinsip torsi pada kawat berarus ................................... Prinsip timbulnya torsi motor DC .......15 2................. Model uji gaya tolak ....... Torsi F motor DC ........ Induksi pada cincin ................................................ Hukum tangan kanan ................................................. Garis medan magnet utara-selatan ............9 2.................... Prinsip alat ukur listrik............................................. Kurva BH ferromagnetik ..11 2... Belitan kawat membentuk kutub magnet.............................. Histerisis magnet permanen-ferromagnetik ....39 2.............27 2..........................................................4 2............................................ Prinsip putaran sekrup................. Prinsip elektromagnetik ....................................................................10 2.. Elektromagnetik sekeliling kawat...........28 2.......................... tolak-menolak ..............DAFTAR GAMBAR Bab 2............................................... Daerah netral pada magnet permanet..............................26 2.... Kurva BH inti udara ...............................6 2... Medan magnet pada toroida.................................38 2....................................................................................................35 2........21 2......................................................................................................17 2........... Interaksi elektromagnetik.................................................... Prinsip tangan kiri Flemming ..........................................2 2..............23 2....................24 2............. Kutub utara-selatan magnet permanet ....... Pola garis medan magnet permanen ... Prinsip hukum Lorentz ...... Kerapatan fluk magnet ...................................................................32 2................................................... 2-2 2-2 2-2 2-3 2-3 2-3 2-4 2-4 2-4 2-5 2-5 2-5 2-6 2-6 2-6 2-7 2-7 2-8 2-9 2-10 2-10 2-11 2-12 2-13 2-13 2-14 2-16 2-16 2-17 2-17 2-18 2-18 2-19 2-19 2-20 2-20 2-20 2-21 2-21 2-22 ix .... Perbedaan besi biasa dan magnet permanen .........................................31 2.......... Prinsip dasar motor DC ............. Prinsip generator ......................................................................................14 2. Pola garis medan magnet tolak menolak dan tarik menarik ..................................................................... Bahan ferromagneik .....................................................29 2................. Garis magnet membentuk selubung seputar kawat berarus .......................... Prinsip induksi elektromagnetik ......... Kemagnetan dan Elektromagnetis 2.......36 2.............25 2...........................................................................................................................................................30 2....... Garis gaya magnet pada permukaan rata dan silinder....................................8 2............20 2.............22 2........................................

............................................2 3...........................................14 3..................................................................................................................... Rangkaian R Seri dan Segitiga Daya ......... Pembentukan gelombang sinusoida ......................................36 3........................6 3........12 3...............................16 3..............................................................3 3..................8b 3...................41 3.......15 3....28 3...11 3.............................................................. Resistor parallel Induktor ......44 3.......................32 3......................... Dasar Listrik Arus Bolak Balik 3... Daya diklep beban resistif ........ Generator AC dua kutub .. Rangkaian Resistor paralel kapasitor ............. Segitiga Impedansi Induktif dan Kapasitif ..................................................................................................DAFTAR GAMBAR Bab 3............ Panjang gelombang ............................................... Segitiga impedansi ........................46 3.....10 3....................7 3...23 3...................22 3......................... Rangkaian R Paralel dan Segitiga Daya ......... Segitiga daya .......................................................5 3.........................33 3.... Segitiga konduktansi..................................................... Bentuk arus beban Resistor parallel Induktor ................................40 3......... Segitiga Admitansi ................................................1 3..38 3............ Segitiga Daya .........................................24 3.............................................................17 3.................... .............. Generator AC empat kutub ................................. Rangkaian pembangkit gelombang pulsa .................13 3......................................................... Daya aktif beban induktif ..... Nilai kapsitansi fungsi frekuensi ................................................................. Seri Resistor dengan Induktor .................................... suseptansi dan admitansi .........................8a 3.. Segitiga arus ..........42 3... Pengukuran daya dengan wattmeter ...29 3................27 3...............19 3........................................................ Prinsip harga efektif gelombang sinusoida ................................. Bentuk gelombang tegangan dan arus beban Induktor ....... nilai efektif gelombang sinusoida.............................. Resistor seri kapasitor. Satu siklus ... Rangkaian Seri R... Bentuk gelombang AC ...................... Segitiga Daya Aktif........................... Resistor seri Induktor listrik AC ..................... Rangkaian resistor listrik AC ................ L...... Bentuk gelombang tegangan beban Resistor dan Induktor .. Kapasitor pada sumber listrik AC ....34 3......................................................................... C dan Diagram Vektor Tegangan .................... Segitiga tegangan Resistor seri Induktor ... dan wattmeter .... Diagram Faktor Kerja ................................................................................................ Harga sesaat gelombang sinusoida ..................... tegangan...47 Prinsip pembangkitan Listrik AC ..........37 3.........30 3................39 3.......................... Reaktif dan Semu ...................................................................... Pengukuran arus.................43 3.................. 3-1 3-1 3-1 3-1 3-2 3-2 3-4 3-5 3-5 3-6 3-7 3-10 3-10 3-12 3-13 3-14 3-14 3-15 3-15 3-16 3-21 3-21 3-22 3-22 3-23 3-23 3-24 3-25 3-25 3-25 3-26 3-26 3-27 3-27 3-28 3-29 3-29 3-30 3-30 3-31 3-34 3-34 3-35 3-35 3-36 3-37 x .................... Gelombang tegangan dan arus beban Kapasitor ....................................9 3.............................................4 3.............25 3........ Nilai puncak...........................................26 3.... Daya aktif beban impedansi ..........31 3................................................... Prinsip generator AC .................... Vektor tegangan dengan skala ............................... Nilai induktansi fungsi frekuensi .......................................................................35 3...........18 3.................................45 3....................................... Proyeksi lingkaran ke garis kuadran..................... ....

.........................3 4................................................. tegangan phasa-netral .................61 3................................ Tegangan phasa netral..................65 3.................. Segitiga Daya Kompensasi ............ Terminal Motor Hubung Singkat ...........69 3.................. Prinsip Tangan Kanan Flemming ....55 3............64 3....................................................56 3.................................66 3...67 3.......................... Arus Magnetisasi dan Tegangan Output Trafo ......... beban tidak seimbang ....................75 3............................... Vektor Arus dan Vektor Konduktansi.............. Kompensasi Parelel & Kompensasi Seri Beban Satu Phasa ................................................. tegangan phasa ke phasa . L.............. Beban Bintang dan Segitiga ...............81 3.........77 3....................................................................... Rangkaian Resonansi LC .................60 3..........................83 3........................54 3..84 3........................ Transformator 4.......................... Rangkaian Kompensasi Paralel dan Kompensasi Seri ................... Prinsip kerja Transformator Satu Phasa...........................................................................76 3.......................................................................... Kompensasi Sentral .......................................................53 3..82 3..................2 4................... Terminal Motor Hubung Singkat ........ Aliran Daya Reaktif Sebelum dan Sesudah Kompensasi..51 3....................................... Pembangkitan Tegangan Induksi .DAFTAR GAMBAR 3.... Hubungan Segitiga ....1 4...................70 3............. Vektor Tegangan phasa-netral......... Pengukuran Daya dengan dua wattmeter .................80 3................................59 3... Penyederhanaan rangkaian ....... Vektor Diagram Arus .................................. Diagram Arus Resonansi.................................................................58 3....................................................... Pengukuran Daya dengan satu wattmeter ..........79 3......... Prinsip Wattmeter ..... Vektor Arus Magnetisasi........................ Vektor Arus phasa dengan arus jala-jala.......................................................................... Beban Bintang .......... Pengukur Tegangan phasa-phasa.......... Rangkaian Resonansi C..57 3..... 3-38 3-40 3-40 3-41 3-42 3-42 3-43 3-43 3-44 3-45 3-45 3-46 3-46 3-47 3-47 3-48 3-48 3-49 3-49 3-49 3-50 3-50 3-50 3-51 3-51 3-51 3-52 3-53 3-54 3-54 3-54 3-55 3-55 3-56 3-56 3-57 3-57 3-58 Bab 4................. Lampu TL dengan kompensasi kapasitor......................... Nameplate Trafo Satu Phasa .................... Bentuk Tegangan Input......................... Pengukuran Daya dengan Trafo Arus (CT) ...............................48 3......................72 3....... Trafo satu phasa jenis Core ........................................ 4-2 4-3 4-4 4-4 4-6 4-6 .......................................... Diagram Arus Saat Resonansi ...........4 4.............................78 3........................ Kompensasi Grup .... Rangkaian pembangkit.........85 Rangkaian Paralel R............................................74 3.....6 xi Peta Jenis-jenis Mesin Listrik ...............................68 3..................................................................................................73 3..... Rangkaian Resonansi LC .................... Vektor Tegangan dan Arus beban Resistif tidak seimbang............................... Tegangan Bintang dan segitiga . Prinsip Generator 3 Phasa ........................................................... Gelombang Sinusoida 3 phasa ...................................................49 3................63 3..... C dan diagram vektor arus ...............................5 4...... L ..62 3...................... Vektor Arus Segitiga ...........71 3.....................50 3............................ pengukuran dan beban bintang-segitiga ........52 3..................................... Diagram Vektor Tegangan dan Arus 3 phasa ..............................................

........................ Rangkaian Trafo Welding ............... Grafik efisiensi Transformator ................................................ Pengawatan Uji Trafo a) Uji tanpa beban b) Uji hubung singkat ..............17 4....... Trafo daya Yzn5 dan bentuk vektor tegangan sekundernya .........42 4... Autotrafo dengan bentuk inti toroida .................37 4.......31 4................ Bentuk fisik Trafo Arus (CT) ................... Grafik tegangan sekunder fungsi arus beban ................46 4....................................41 4......8 4......................... Trafo tiga phasa dengan belitan primer hubungan Segitiga.....16 4..........43 4..12 4..................................................... Nameplate Trafo Arus ..................... Trafo tiga phasa belitan primer dan sekunder hubungan Segitiga ............ Prinsip Transformator khusus untuk Welding ......30 4...............................29 4.........................L....................................................24 4............7 4.....................35 4....... Namplate Trafo daya tiga phasa.. Grafik tegangan fungsi arus. Pengukuran dengan trafo tegangan (PT) .................................. Pengaturan Tapping terminal Trafo Distribusi .........................19 4..... Name plate Trafo tegangan ................................................DAFTAR GAMBAR 4................................................14 4........ Belitan primer dan sekunder Trafo tiga phasa ......18 4............. Trafo 3 phasa hubungan Segitiga terbuka (hubungan VV) ....................................................50 Belitan primer dan sekunder Trafo Satu Phasa ................................................................ Paralel Dua Trafo satu phasa ..............27 4.................. Trafo tiga phasa belitan primer dan sekunder hubungan Bintang . Aplikasi Trafo arus sebagai meter potable .36 4............................................ Trafo daya (Yyn6 dan Dyn5) dengan beban asimetris ................. Vektor tegangan a) beban induktip b) beban kapasitip .......................32 4. Rangkaian listrik Autotransformator ................ Pengukuran dengan Trafo Arus ..................................9 4.......... Relay Buchholz ...........39 4............................................................ M dan tipe UI ...................................... Inti Trafo jenis pelat digulung ...................44 4....................40 4........ Rangkaian pengganti Trafo tanpa beban ..............38 4.. Vektor tegangan dan arus pada Uji tanpa beban................................................. Susunan belitan primer dan sekunder ........................ Keterangan nameplate Trafo Arus ............................................. Bentuk Inti Trafo tipe E-I.........................................22 4......... Vektor kelompok Jam pada Trafo 3 phasa ........ Rangkaian pengganti Trafo sekunder dihubung singkat ............48 4............... Bentuk fisik Transformator tiga phasa ..............49 4...................................................... ............................................ pada Trafo Welding ............................... Rangkaian ekivalen Trafo ............13 4.......26 4...... Paralel Dua Trafo Tiga phasa ......20 4................................................. belitan sekunder hubungan Bintang ................21 4................... Grafik Arus Hubung Singkat Trafo Grafik Arus Hubung Singkat Trafo .................................. Vektor tegangan dan arus pada Uji hubung singkat ...............10 4.......................34 4...................... 4-7 4-7 4-8 4-8 4-8 4-9 4-9 4-9 4-10 4-10 4-11 4-11 4-12 4-12 4-12 4-13 4-14 4-14 4-15 4-15 4-15 4-16 4-16 4-16 4-17 4-17 4-17 4-18 4-18 4-19 4-20 4-20 4-20 4-21 4-21 4-22 4-22 4-23 4-23 4-24 4-24 4-24 4-25 4-26 xii .......................................28 4...47 4............................ Bentuk inti Trafo 3 Phasa ..................11 4...................................................23 4...............15 4...................25 4.... Pemasangan Trafo Outdoor .....................33 4....................................45 4.................... Rangkaian pengganti Trafo dengan komponen resistansi dan induktansi . Inti Trafo tipe EI satu Phasa ................

...... Nameplate motor Induksi............................................27 5.. Putaran motor dilihat dari sisi poros .......................... Gelombang arus medan bantu dan arus medan utama ..... Rugi-rugi daya motor induksi .................................20 5........................................................................................... Hubungan belitan Bintang Ganda.................38 5.........................23 5......24 5........................... Pengujian Motor Listrik di Laboratorium .... Motor Listrik Arus Bolak Balik 5.............. Medan magnet pada Stator Motor satu Phasa ... Torsi Motor .............................................................41 5................... Nameplate Motor Induksi Jenis Slipring . berkutub dua (p=1) .....................................................16 5................................12 5..... Pengawatan Motor Slipring dengan tiga tahapan Resistor ... Karakteristik torsi Motor Slipring ... Bentuk fisik Motor Induksi Rotor Slipring . Karakteristik Arus Pengasutan Bintang-Segitiga ........................32 5.. Karakteristik Torsi motor induksi .............10 5.................17 5........21 5........ Karakteristik Torsi................. Pengawatan Pengasutan Resistor Stator....36 5............................ Hubungan belitan Segitiga Dahlander berkutub empat (p=2) .42 xiii Pengukuran kecepatan dengan Tachometer .........5 5..........................19 5....................................................40 5....................................................... Karakteristik Torsi dengan tiga tahapan ....... Karakteristik Torsi Pengasutan Bintang-Segitiga ......................................18 5................30 5................................................... Prinsip kerja motor induksi ...................................... Pengasutan DOL .........................................................7 5.................... Karakteristik Arus fungsi putaran................. Fisik motor induksi ............29 5..........................6 5....... Torsi motor pada rotor dan torsi pada poros ..14 5....37 5.. Belitan Stator dan Rotor Motor Slipring berikut Resistor pada Rangkaian Rotor............................................................................13 5.. Karakteristik putaran fungsi torsi beban ....31 5............................... Karakteristik Torsi Pengasutan Resistor Stator ... Pengasutan DOL . Karakteristik parameter efisiensi..................................3 5.................. Pengawatan Pengasutan Soft Starting..........................................................................................................28 5......................... Pengawatan Pengasutan Bintang-Segitiga ..................................................15 5..... Bentuk rotor sangkar .DAFTAR GAMBAR Bab 5............ Pengawatan Pengasutan Tegangan dengan Autotransformato....................................... Rangkaian Belitan Motor dua kecepatan (Dahlander) ........... 5-2 5-2 5-3 5-4 5-4 5-5 5-6 5-7 5-7 5-8 5-8 5-9 5-9 5-10 5-10 5-11 5-11 5-12 5-12 5-12 5-13 5-14 5-14 5-15 5-15 5-15 5-16 5-16 5-17 5-17 5-17 5-18 5-18 5-19 5-19 5-20 5-20 5-20 5-21 5-21 5-21 5-22 ................................................25 5. Prinsip Medan Magnet Utama dan Medan magnet Bantu Motor Satu Phasa ....33 5.........................................39 5............................................ Rotor sangkar ............................. Belitan stator motor induksi 2 kutub ................................................ Hubungan Belitan Motor Dahlander .....................1 5.................................... Pengawatan Motor Induksi Pengasutan Langsung (DOL) ..........................8 5.... Bentuk fisik Motor Kapasitor ............22 5.....2 5....................putaran......34 5...... Karakteristik Torsi Pengasutan Soft Starting .................4 5........26 5..... Karakteristik Arus Pengasutan Soft Starting ................9 5.........................35 5.......11 5........................................... Bentuk gelombang sinusoida dan timbulnya medan putar pada stator motor induksi ......................................................... faktor kerja dan arus beban.

.................................. Membalik arah putaran Mesin DC ........... Karakteristik tegangan Generator Penguat Terpisah .........45 5.............................. Penampang Komutator ..................................................... dan b) Tegangan DC pada Komutator........29 6.........................20 6..32 Stator Mesin DC dan Medan Magnet Utama dan Medan Magnet Bantu ............... Arah putaran Mesin DC ... 5-22 5-23 5-23 5-23 5-24 5-24 5-24 5-25 Bab 6............2 6..3 6............. Rangkaian Generator Belitan Shunt .... Kutub bantu dan Belitan Kompensasi ........... Starting Motor DC dengan Tahanan Depan jangkar ....... Pengecekan sifat elektromagnetik pada Jangkar Motor DC ........................................13 6.14 6...................................... Fisik Mesin DC ................50 Pengawatan Motor Kapasitor Pembalikan Putaran ............................... Kutub Magnet Utama dan Kutub Bantu Mesin DC ........................ Prinsip pembangkitan tegangan DC ....... belitan kutub bantu dan belitan kompensasi ................................................................................................23 6....................................22 6.....48 5...................................................... Karakteristik arus Pengasutan Motor DC ..................... Tegangan DC pada Komutator ...1 6......... Aturan Tangan Kiri untuk Prinsip Kerja Motor DC .............................................................. Stator dan Rotor Motor Universal ................ Bentuk Fisik Generator DC ...............9 6..........................................21 6....... Hubungan belitan penguat medan dan Jangkar Motor DC .... Penampang Motor Shaded Pole ..........24 6...16 6... Pemegang Sikat Arang ................................................................................................................. Pengawatan dengan Dua Kapasitor .......... Motor tiga Phasa disuply tegangan satu Phasa . Garis medan Magnet jangkar .............27 6.................. Mesin Listrik Arus Searah 6................................ a) Bentuk tegangan AC dan Slipring......................................................................12 6..... Model kerja Motor DC ......................43 5............DAFTAR GAMBAR 5............................................................10 6........................... Karakteristik Tegangan generator kompound ............26 6............. Komutator pada Motor Universal ......................................................................................................................18 6.................15 6................................31 6......................................17 6.......................................7 6........................................... Pergeseran Garis Netral akibat Reaksi jangkar .................................... Karakteristik Torsi Motor kapasitor................46 5................................................................................................................ Model Prinsip Kerja Generator DC ..................... Kutub Magnet Utama..................4 6................................................44 5...... 6-2 6-2 6-3 6-3 6-4 6-4 6-5 6-5 6-6 6-6 6-7 6-7 6-8 6-8 6-8 6-9 6-9 6-10 6-10 6-10 6-11 6-11 6-11 6-12 6-12 6-13 6-13 6-14 6-14 6-15 6-15 6-15 xiv .....5 6................................... Kaidah Tangan Kanan .......... Karakteristik tegangan generator Shunt .19 6..................... Karakteristik tegangan generator Shunt ...6 6. Rangkaian belitan jangkar.................................. a) Rangkaian Generator DC Penguat terpisah dan b) Penguat magnet permanen ........................47 5...11 6...................25 6.28 6.....30 6....... Garis Netral Reaksi Jangkar ........................................... Bentuk fisik Motor Shaded Pole ...................8 6........................ Proses pembangkitan Torsi Motor DC ............ Pembangkitan Tegangan DC pada Angker ...............................49 5..

....................................................... Diode.........38 6.................................................................................... Relay dikemas plastik tertutup........ Belitan Jangkar .................................. Prinsip Belitan Gelombang ..47 6......1 7............................... Belitan Gelombang Tunggal ..............43 6........ Timer OFF delay.18 7............ Tampak irisan Miniatur Circuit Breaker ........ Fisik MCCB...............................21 7..........37 6............................ Jenis-jenis kontak ...16 7................................... Karakteristik putaran fungsi tegangan jangkar ....................12 7............................................. Pengawatan Daya Bintang ................17 7..............................................................11 7...................................DAFTAR GAMBAR 6......24 7..............3 7........................... Karakteritik putaran Motor Penguat Terpisah ........................10 7...........................40 6.......................................................... Kontrol relay impuls ......................................33 6....34 6.....39 6......20 7.................................................................................................................. Bentuk fisik kontak diam dan kontak bergerak ...... kode angka dan terminal kontaktor ............ Rangkaian daya dan kontrol Direct ON Line (DOL) ............................ Tombol tekan ..... Prinsip Belitan Gelung ...... Koil set-reset.............................................................................. Belitan Gelung Tunggal .................7 7............................................................ Karakteristik putaran fungsi arus eksitasi ....................................42 6...... Tampak irisan Motor Control Circuit Breaker ................... Pengaturan tegangan Jangkar dengan sudut penyalaan Thyristor ................... Karakteristik putaran Motor DC Kompound ........ Pengendalian Motor Listrik 7...........................................45 6............... Simbol dan bentuk fisik relay ........... Simbol.......................... Tampak samping irisan kontaktor.............................. Letak Sisi-sisi Kumparran dalam Alur Jangkar .......... Rangkaian Motor DC Belitan Shunt.Segitiga ................23 7....................................................................................................................... Kutub bantu untuk mengatasi akibat Reaksi jangkar pada Motor DC ........... Varistor dan RC sebagai pengaman relay .................. Rangkaian Motor DC Seri.................. Rangkaian Motor DC Belitan Kompound............ 6-16 6-16 6-17 6-17 6-18 6-19 6-20 6-20 6-20 6-21 6-21 6-22 6-22 6-23 6-24 6-26 6-26 6-28 Bab 7......50 Drop tegangan Penguat Medan Seri dan Jangkar Motor DC ..............35 6...........9 7.....................................8 7....... Simbol timer dan karakteristik timer ......4 7.......................19 7.........................................................22 7.......... Hubungan terminal a) Bintang b) Segitiga.....13 7............ Perbandingan DOL dan Bintang Segitiga................46 6....14 7...5 7...........................25 7........................................... Bentuk fisik kontaktor ..............................................26 xv Sistem Pengendalian terdiri rangkaian daya dan rangkaian kontrol Dasar Sistem Pengaturan Otomatik . Komponen Reed Switch ......................................2 7.... Rangkaian daya dan kontrol motor induksi ...................... 7-2 7-2 7-2 7-3 7-3 7-3 7-4 7-4 7-4 7-5 7-5 7-5 7-6 7-6 7-6 7-7 7-7 7-7 7-8 7-8 7-9 7-9 7-10 7-11 7-11 7-12 ......................................36 6..................15 7..................48 6........................... Kontrol ON-OFF dengan bimetal .......................................................................................................................6 7..........49 6... Rangkaian Motor DC Penguat Terpisah........... Pengawatan kontrol bintang-segitiga ....................................................44 6..................................................................... Karakteristik putaran Motor DC Seri ...........41 6.................

50 7.............. Pengawatan Daya Pembalikan Putaran Motor Induksi ................43 7......... Karakteristik a) Arus Fungsi Putaran b) Torsi Fungsi Putaran .......9 8......28 7..10 8............................................. Jenis skala meter analog ..........51 7............. Dudukan poros jarum penunjuk .................. Pengawatan kontrol bintang segitiga dengan timer .44 7....................................31 7.......................45 7............ Pemakaian Trafo Arus CT Pengamanan Motor ................ Multimeter analog ...........6 8.................. Pengawatan motor slipring dua tahap resistor .................. Pola penyimpangan jarum meter analog ...................................49 7......... Instalasi pompa air dgn dua pompa .. Alat Ukur dan Pengukran Listrik 8....................................................... Instalasi Pompa Air Dengan Kendali Pressure Switch ................................... Multimeter digital AC dan DC ....... Meter listrik Analog .........13 Tampilan meter Digital ................54 7..12 8.................. Diagram Satu Garis Instalasi Pengasutan Soft Starting .1 8. Pengaman under voltage .......................................42 7....41 7.......... Komponen alat ukur listrik analog ................. Pengawatan daya pengasutan resistor dua tahap ................48 7..................55 7............. Pengawatan daya dua motor bekerja bergantian ............................ Pengawatan kontrol otomatis bintang-segitiga ....... Instalasi Pompa Air Dengan Kendali Level Switch .....3 8......53 7......... Instalasi pompa air dgn kendali dua buah level switch ....................................11 8..4 8..... Pengawatan kontrol pengasutan resistor dua tahap ............................37 7........... Pengawatan motor slipring tiga tahap resistor .........................29 7.......7 8...................................................................................47 7...............................................2 8.................................36 7.................52 7.................................................35 7..... Pengaman beban lebih dengan PTC/NTC ..8 8... Tampilan penunjukan digital ............................................... Pengawatan pengasutan dengan autotransformator ......... Tiga jenis display digital .......... Pengawatan kontrol motor slipring .......................... 7-13 7-13 7-14 7-15 7-16 7-16 7-17 7-18 7-18 7-19 7-20 7-20 7-21 7-22 7-22 7-23 7-23 7-23 7-24 7-24 7-25 7-25 7-26 7-27 7-27 7-28 7-29 7-30 7-31 7-32 7-32 Bab 8...........34 7..................... Pengawatan kontrol autotransformator ........................................... Penunjukan meter analog dan meter digital .................... Pengawatan soft starting a) DOL b) Bintang segitiga . Prinsip Alat Ukur Kumparan Putar ..33 7............................ Pengawatan daya bintang-segitiga .............. 8-2 8-2 8-5 8-5 8-6 8-6 8-6 8-7 8-7 8-8 8-8 8-8 8-9 xvi ..40 7..........46 7...................................................56 7..................................................DAFTAR GAMBAR 7....................................32 7......... Nameplate motor induksi bintang segitiga .................5 8.......................................................................... Pengawatan a) Ampermeter Switch b) Voltmeter Switch .27 7............................................................... Pengaturan Selang Waktu Oleh Timer ... Pengawatan kontrol dua motor bergantian ..........................................57 Hubungan Bintang Segitiga ............................... Pengamanan bimetal overload dan arus hubung singkat ...............................................................................39 7..... Kontrol pembalikan motor dilengkapi lampu indikator ........... Tata letak komponen dalam bok panel ................................30 7..................... Pengawatan kontrol pembalikan putaran .......................38 7. Prinsip kerja alat ukur digital ..

........ 9................................. Lissajous untuk menentukan frekuensi ....................................37 8.......................................40 8...DAFTAR GAMBAR 8.......................... xvii 9-2 9-2 9-3 9-3 9-4 9-4 9-5 9-5 9-6 9-6 9-7 9-7 .................. Tahanan paralel ampermeter ... Pancaran elektron ke layar pendar CRT ...........3 Orbit atom .... 9..26 8......... Blok diagram Osiloskop Digital ....................34 8........................22 8...... Pengawatan kWH meter satu phasa dan tiga phasa .....43 8.............................................. Mengukur sudut penyalaan TRIAC dengan Osiloskop ..... Mengukur Arus AC dengan Osiloskop .... Prinsip alat ukur besi putar ...........28 8................ 9............ 9...........15 8........... Pengembangan model Wheatstone .......................11 Aplikasi Diode Zener sebagai penstabil tegangan .. 9...........6 Sambungan PN .............45 8... Prinsip elektrodinamik ........................................23 8..............................................................................................................17 8............... 9............................ Mengukur sudut penyalaan TRIAC dengan Osiloskop ............. Sampling sinyal analog oleh ADC ........................................ 9............................................5 Semikonduktor Tipe P ............................................... 9..............................24 8............................................................................. 9. Mengukur beda phasa dengan Osiloskop .................2 Thyristor ..............30 8..........................................................................................................44 8.......7 Simbol dan fisik Diode ..........4 Semikonduktor Tipe N ....14 8.9 Diode Panjar Mundur .1 Transistor .............................................38 8... Tahanan depan dan paralel ampermeter .............................................10 Karakteristik Diode ..............................25 8.................39 8...................................................... Sinyal input berbeda fasa 900 dg output ................................................. 9.............................35 8. 8-9 8-10 8-10 8-11 8-11 8-12 8-12 8-13 8-14 8-14 8-15 8-15 8-16 8-16 8-17 8-17 8-18 8-19 8-20 8-20 8-21 8-22 8-23 8-23 8-24 8-25 8-26 8-26 8-27 8-28 8-28 8-29 Bab 9 Elektronika Dasar 9............................... Pengawatan wattmeter dengan beban satu phasa ....... Prinsip Alat ukur Piringan Putar (kWHmeter) ...........................33 8................................. Blok diagram Osiloskop dua kanal . Jenis-jenis Pengukuran Tahanan ........ Pembagi tegangan 10 1 pada Probe ...........29 8...................................32 8.18 8........................................................................................................................ Trigering memunculkan sinyal gigi gergaji ..................19 8... Mengukur tegangan AC dengan Osiloskop ....46 Meter kumparan putar dengan diode penyearah ............. 9................................41 8............................................................. Pemasangan wattmeter ... Bentuk fisik Osiloskop ........ kWH meter ...............................31 8........................................................ Batas ukur Ampermeter ................................. Penambahan Batas Ukur meter .........................................36 8.........21 8.................................20 8.....42 8.................. Blok diagram sistem Osiloskop .....12 Karakteristik Diode Zener ....................................................................................................16 8............................................................... Mengukur tegangan DC dengan Osiloskop ...................................................................................................... Rangkaian jembatan Wheatstone ...........................................................................................8 Diode Panjar Maju ............... Tahanan seri RV pada Voltmeter .....................

.............................23 9........................ Rangkaian Penyearah Jembatan ......... Karakteristik Transistor ................... Transistor Sebagai Saklar ...... Transistor dengan Tahanan Bias ..... Rangkaian dan Diagram Waktu Schmitt Trigger .............. Bentuk Pendingin Transistor .....................................................13 10..... Fisik Transistor ................................................................................20 9.... Nilai Batas Thrystor .............. Penguatan Sinyal ................ Diagram Blok Konverter Daya ................5 10...............................34 9............. Rangkaian Bias Pembagi Tegangan Tanpa RC .............................................................................. Karakteristik Output Transistor ......... Transistor Sebagai Gerbang NAND ...................................... Diode Setengah Gelombang 1 Phasa ................... 9-8 9-8 9-8 9-9 9-9 9-10 9-11 9-11 9-12 9-13 9-13 9-14 9-15 9-15 9-16 9-16 9-17 9-17 9-18 9-18 9-19 9-19 9-19 Bab 10. Simbol dan fisik Diode .................................. Bentuk Fisik & Simbol Thrystor ..........16 9................................. Tegangan Bias Transistor NPN ................................9 10.. Elektronika Daya 10........................... Struktur Fisik dan Kemasan IGBT ............... Tegangan bias Transistor ..........................15 9........................................................ Karakteristik Output Transistor . 10-2 10-3 10-4 10-4 10-5 10-5 10-6 10-6 10-7 10-7 10-7 10-8 10-9 10-9 10-10 10-10 10-11 10-11 10-12 10-12 10-13 xviii ........14 9... Karakteristik Input Transistor .........................20 10............. Diagram Blok Konverter Daya ......................................................................26 9..................25 9...18 10...............................................2 10.............31 9...........................17 10............... Garis Beban Transistor ................32 9.............. Karakteristik Output IGBT .. Transistor Sebagai Penggerak Relay ......DAFTAR GAMBAR 9............................. Diagram Waktu Bistable Multivibrator .......................................................................................................................................................................................................................15 10.........28 9....27 9.....................................19 10.... Karakteristik Thrystor ....................................................................................................6 10..Diode .. Tegangan Operasi Transistor sebagai saklar ....................................21 9....................................16 10..........35 Transistor Bipolar .........................................................................13 9............22 9................................................................... Pemindahan Panas Pada Pendingin Transistor ........11 10................ Prinsip Kerja Penguat ...................17 9...............2 10...........................1 10....................8 10............................................. Karakteristik Diode .............................33 9..........4 10..... Fuse Sebagai Pengaman Thrystor ...............24 9................ Sinyal Pada Titik-titik Pengukuran ...................21 Pemanfaatan Energi Listrik ....................29 9......30 9......... Titik Kerja Penguat Klas AB ....... Thyristor ....... Rangkaian Bistable Multivibrator ..................................................18 9.. Rangkaian Push-Pull ................... Casis Transistor Dengan Isolator ..................................... Rangkaian Bias Pembagi Tegangan Dengan RC .......................................................................19 9.............................................................7 10........................................................................................... Karakteristik Transistor Empat Kuadran .....................12 10.............14 10......10 10.......................................................... Rangkaian Dasar Transistor .......... a) Panjar maju (forward) dan b) panjar mundur (reverse) ......................

........................23 10.....10 11..................................................... Rangkaian Daya 1 Phasa Beban DC 15 Kw .........................................................6 11................ Penyearah Jembatan Gelombang Penuh 3 Phasa .. Pengaman dengan trafo pemisah .................................................39 10...................44 10............................................................... Aliran listrik sentuhan langsung ................................................... Gangguan listrik dibeberapa titik ....31 10......................... Aplikasi IGBT Untuk Kontrol Motor Induksi 3 Phasa .......41 10......................................... Rangkaian Dimmer dengan TRIAC ......................... Stop kontak khusus untuk tegangan rendah ............ Tegangan dan Arus DC Beban Induktif ..... Motor listrik tahan dari siraman air .................. Rangkaian Pembangkit Pulsa Chip TCA785 .......9b 11....8 11.......................................................... Urutan Penyalaan Gate-Thrystor 3 Phasa ...................... 10-14 10-15 10-15 10-16 10-17 10-17 10-19 10-19 10-19 10-20 10-20 10-20 10-21 10-21 10-22 10-23 10-23 10-24 10-24 10-25 10-25 10-26 10-26 10-27 10-28 10-29 10-29 Bab 11 Sistem Pengamanan Bahaya Listrik 11......... Bentuk Gelombang Penyearah Penuh 3 Phasa .....................DAFTAR GAMBAR 10... Tegangan sentuh langsung ..................33 10.......... Bentuk Dasar Pengendali Tegangan AC .......................24 10....28 10.........4a 11.......35 10.......................................................... Grafik Pengaturan Sudut Penyalaan .............................. Pelindung tangan dan mata .......................30 10..26 10..........27 10................................ 11-2 11-2 11-3 11-3 11-3 11-4 11-4 11-4 11-6 11-7 11-7 11-8 11-8 11-9 11-9 11-9 ........2 11..................................... Urutan Kerja Penyearah Diode 3 Phasa ½ Gelombang .................7 11...............1 11.............................................13 11...............40 10.......36 10........... Penyearah Terkendali Jembatan 1 Phasa .. Tegangan sentuh tidak langsung .......... Grafik Fungsi Penyalaan Gate Thrystor ..... Modul Trigger Thrystor .......... Bentuk Tegangan DC Penyearah 3 Phasa .... Peta Tindakan Pengamanan ...................................25 10.......................4b 11..............11 11... Penyearah Thrystor dengan Diode .............. Motor listrik tahan siraman air vertikal dan segala arah ....................... Tegangan langkah akibat gangguan ke tanah ....... Blok Diagram Pengaturan Kecepatan Motor DC .................49 Penyearah Jembatan Dengan Filter RC ...34 10.................... Penyearah Thyristor ½ Gelombang 3 Phasa ......................................................... Penyearah Diode ½ Gelombang 3 Phasa .....................12 11.............. Simbol pengamanan pada nameplate ...................... Penyearah ½ Gelombang 3 Phasa Diode Terbalik .....................................3 11......... Penyearah Terkendali 3 Phasa ........................................... Penyearah Terkendali ½ Gelombang ......................45 10...42 10............................................. Gangguan listrik dari beban lampu ............................. Aplikasi Pengendalian putaran Motor DC ......................................47 10.............................................48 10...................................... Tegangan dan Arus DC Beban Resistif ......................43 10...... Sudut Penyalaan dan Output Tegangan DC ½ Gelombang ......................5 11....29 10......... Pengamanan dengan tegangan rendah .......14 xix Grafik bahaya arus listrik ....38 10.....46 10...32 10............... Bentuk Gelombang Chip TCA785 .........37 10....9a 11.................................. Tahanan tubuh manusia .....

............................30 ELCB pada pembumian TN ... Pengaturan tinggi permukaan air ................................ 12-2 12-3 12-4 12-5 12-6 12-7 12-8 12-8 12-9 xx ...................19 Jarak aman bentangan kabel udara ....20 Pengamanan sentuhan tidak langsung ..............................23 Sistem Pembumian IT . Diagram blok sistem kontrol open-loop .... Sistem Pemanasan Air .................... 11........35 Isolasi ganda pada peralatan listrik .. 11........... 11.............. 11..................................................................... 11........................................... 11..................25 Beda tegangan titik netral akibat gangguan ke tanah .................................... 11..... 11...........................44 Pengujian sistem pembumian TN ................. 11.................................................................................. 11...29 ELCB portabel ......... 11.....................................................................8 12.............28 Pemasangan ELCB untuk pengamanan kelompok beban ............................................ 11........................21b Sistem Pembumian TN-C-S .... 11.41 Pengukuran pembumian dengan megger .................... 11................................................................26 Prinsip kerja ELCB ........................................................................ 11............DAFTAR GAMBAR 11..........3 12..... 11..........18 Pengamanan dengan rintangan ..................5 12..............................37 Jarak aman pengamanan ruang kerja ............................... 11............................. Diagram blok sistem kontrol closed-loop .. 11.......39 Trafo pemisah melayani dua stop kontak .................4 12.......... 11.................................. 11................21c Sistem pembumian TN-C ................6 12.... 11........................... 11........ 11.........36 Mesin bor dengan isolasi ganda .....27 Fisik ELCB ......................46 Pengukuran tahanan bumi ELCB ............... 11.......................15 Pengamanan dengan selungkup isolasi . 11... Pengaturan tegangan secara otomatis .......................21a Sistem Pembumian TN-S ............................33 Pengukuran tahanan pembumian sistem IT ............17 Perlindungan pengaman stop kontak ................................................. 11..........................................22 Sistem Pembumian TT ..........42 Pengukuran tahanan isolasi ....................................34 Simbol pengamanan isolasi ganda ..................................... Diagram blok sistem pemanasan air ....................45 Pengukuran tahanan pembumian ..................... 11.............................................................31 Pengukuran tahanan pembumian sistem TT ...........16 Kabel berisolasi thermoplastik .............................................................................................................................. Diagram blok sistem kontrol .. 11.......... 11-10 11-10 11-10 11-11 11-11 11-11 11-13 11-13 11-13 11-13 11-14 11-14 11-14 11-15 11-16 11-16 11-16 11-17 11-17 11-17 11-18 11-19 11-19 11-20 11-20 11-21 11-21 11-21 11-22 11-22 11-23 11-24 11-24 11-25 Bab 12 Teknik Pengaturan Otomatis 12................................................................. 11....................................40 Pengamanan pada peralatan listrik ...................................................7 12..................................................................43 Pengukuran tahanan isolasi lantai/dinding ...............9 Pengaturan manual tegangan pada Generator ...............2 12.......... 11.............24 Sistem pembumian TN-C-S digabung kawat PE ............1 12.............38 Pengamanan dengan pemisahan sirkit listrik ...................... 11............ Diagram blok sistem pemanasan air secara otomatis .....32 ELCB pada sistem TT ................. 11...................... 11..............

......... Katup Magnetik .30 12....................................... Aplikasi Kontroler PI .............. Kontaktor dengan kontak utama dan kontak bantu .... Aplikasi kontroler proporsional .... Proximity switch terpasang pada silinder .......................................................... Karakteristik osilasi ..................................... Respon kontroler PID terhadap sinyal step .....53 12............................................15 12...............28 12.. Katup magnetik 5/2 ..................................36 12................NC dan toggle ...... Konstruksi Relay dan kontaktor .......27 12..........56 12......57 xxi Diagram blok pengaturan tinggi air .............................. Respon kontroler derivatif untuk sinyal step .52 12............................................. Respon kontrol PTn ..50 12........................................................ Simbol kontrol on-off ....................................... 12-9 12-9 12-10 12-11 12-11 12-12 12-12 12-13 12-14 12-14 12-15 12-15 12-16 12-16 12-17 12-18 12-18 12-19 12-19 12-19 12-20 12-20 12-20 12-21 12-21 12-22 12-22 12-23 12-23 12-23 12-24 12-24 12-25 12-25 12-26 12-28 12-29 12-29 12-30 12-30 12-31 12-32 12-32 12-33 12-33 12-34 12-34 12-34 ....... Respon Kontrol Deadtime .............25 12.55 12.............. Respon Kontrol PT1 ............. Kontroler Integral ....................................................... Katup magnetik impulse 5/2 ...... Kontrol proporsional ......................................... Model Dead Time .32 12................................................................... Katup magnetik 3/2 ........31 12.......................................46 12................................................. Kontrol otomatis pada mobile robot ....... Hubungan tegangan fungsi arus ................................................................................................... Model Sistem Kontrol PT2 ....................... Kontroler Proporsional Integral ...........................19 12...................DAFTAR GAMBAR 12..................................... Limit switch tekanan ............ Kontroler suhu bimetal ......... Perubahan Tegangan fungsi Arus Eksitasi .. Kontrol tiga posisi ................. Aplikasi kontroler integral ....... Karakteristik dan simbol kontroler tiga posisi ........... Tombol NO.........................................22 12.............................42 12... Perilaku statis Generator Arus Searah ..................54 12............41 12... Respon Sistem PT2 ................................................................24 12..............47 12.............. Karakteristik kontroler tiga posisi dengan posisi tengah nol ................................. Sistem PT0 ...........40 12...........................38 12.......................................................................................29 12.......................................43 12........................... Respon kontrol proporsional .................................................................................................................................................... Limit switch .................39 12...............17 12................................................ Komponen elektropneumatik ............................... Prototipe mobile robot .21 12........................................................13 12...........20 12.......... Respon kontroler PD terhadap sinyal lereng .............11 12............................. Aplikasi Kontroler PD .....................................................14 12....................................................................................................................48 12. Batang jangkar katup magnetik ..........44 12......................49 12...............................................................16 12........................................................................................................................................................45 12.... Respon kontroler derivatif untuk sinyal lereng ...............................23 12.................................................................................................26 12....... Aplikasi Kontroler Derivatif ...................................................................... Kontroler dua posisi (On-Off) ........................................................................ Katup magnetik 5/3 ..........................34 12....................................................... Aplikasi kontroler PID .33 12............37 12........10 12........................................35 12.............. Model fisik PT1 ...............................................12 12.....18 12......51 12...........

...........................13 Diagram Generator AC Tiga Fasa Dua Kutub ................................17 Rangkaian Test Generator Tanpa Beban...................................................18 Rangkaian Test Generator di Hubung Singkat .................28 Sychroscope ............................... 13........................................................................................16 Vektor Diagram dari Beban Generator ...................................................... 13.... ......................................4 14... ...............5 Generator . 13.................. 13..................................................... 13..................................60 Silinder ganda dengan katup 5/3 ..7 Belitan Berlapis Ganda Generator Sinkron Tiga Fasa ....................... 13.23 Karakteristik Beban Nol............................24 Diagram Potier ................................................................................ 13............................. 13......................................1 14.........................10 Kisar Kumparan ...................................................... Saluran penghantar udara untuk rumah tinggal (mengganggu keindahan pandangan) ....9 Total ggl Et dari Tiga ggl Sinusoidal ..........1 13-3 13-3 13-4 13-4 13-5 13-6 13-6 13-8 13-8 13-9 13-9 13-11 13-12 13-13 13-14 13-15 13-16 13-17 13-17 13-18 13-19 13-20 13-21 13-22 13-23 13-24 13-25 13-26 Bab 14...............................................................21 Vektor Diagram Pf “Lagging” ........ dan Vektor Arus Medan....... 13...... 13......................................... 14-2 14-3 14-4 14-4 14-9 xxii .......................... Hubung Singkat.. Sistem Distribusi Tenaga Listrik 14.. 13............................58 Silinder tunggal dengan dgn katup magnetik 3/2 .. 13.......... . 12-35 12...15 Kondisi Reaksi Jangkar ...................... 13..................5 Belitan Satu Lapis Generator Sinkron Tiga Fasa ....................27 Rangkaian Lampu Berputar .. 13.............25 Vektor Diagram Potier .......... 13....... 12-36 Bab 13....................................................................... ........................... Generator Sinkron Generator Sinkron Tiga Fasa dengan Penguatan Generator DC “Pilot Exciter”........ 13...............6 Urutan Fasa ABC .............................................................................. 13........22 Vektor Arus Medan ..... 13........................................................................14 Kurva dan Rangkaian Ekuivalen Generator Tanpa Beban .2 Generator Sinkron Tiga Fasa dengan Sistem Penguatan “Brushless Exciter System”.........59 Silinder operasi ganda katup 5/2 ......................12 Diagram Generator AC Satu Fasa Dua Kutub.............................................. 12-35 12........3 14.............. 13......................... 13.....DAFTAR GAMBAR 12............ 13..........11 Vektor Tegangan Lilitan ............................... Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik ............................................ 13........ Distribusi Tenaga Listrik ke Konsumen ..................................................8 Diagram Phasor dari Tegangan Induksi Lilitan ....20 Pengukuran Resistansi DC . 13................................4 Inti Stator dan Alur pada Stator ........ 13.......................................................... 13..................19 Karakteristik Tanpa Beban dan Hubung Singkat sebuah Generator ........2 14......................... 13............................. 13..................................... 13....26 Rangkaian Paralel Generator ..........3 Bentuk Rotor ..... Penyaluran energi listrik dari sumber ke beban .......................... .............................................

.. 14.................5 15................................ Pembangkit Listrik Mikrohidro 15................................22 Rangkaian macam-macam Beban Sistem 3 phasa...............10 Turbin dan Generator Mikrohidro ..............10 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan Tegangan Rendah 380/220V.............. Electronic Load Kontroller ......... 14................14 Contoh cubicle di ruang praktek POLBAN .....4 15........................8 Denah rumah tipe T-125 lantai dasar .............................................6 Saluran kabel bawah tanah pada suatu perumahan elit ............. 14-10 14-11 14-13 14-14 14-15 14-16 14-17 14-17 14-20 14-21 14-22 14-23 14-24 14-24 14-25 14-26 14-27 14-28 14-30 Bab 15........................12 APP Sistem satu fasa ..... 4 kawat ........................... 14........................11 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan system tegangan Menengah 20KV dan Tegangan Rendah 380/220V..... 15-2 15-3 15-5 15-6 15-7 15-8 15-9 15-11 15-12 15-13 xxiii ........................................ 14..................15 MCB (Miniatur Circuit Breaker) ............18 OCB (Oil Circuit Breaker) ...............2 15......... 14..................... 14.......................................8 15......16 Molded Case Circuit Breaker ........................................20 SF6 CB (Sulfur Hexafluoride Circuit Breaker) ................... ..................................17 ACB (Air Circuit Breaker) . 14......................................................................... 14... Pemasangan Turbin dan Generator .3 15.....................13 APP Sistem tiga fasa ........................... 14...7 15...9 15........................ ..............................23 Macam-macam Stop Kontak ..............1 15.............................. Tandon Air ................................................................7 Situasi ................................................. 14.......................................................................................... Mengukur debit air .................................19 VCB (Vakum Circuit Breaker) ..... 14........................... Jalur pipa a) yang melingkar b) jalur memintas ........9 Instalasi rumah tipe T-125 lantai dasar ....... 14................. Sistem Pembangkit Listrik Mikrohidro ................... 14.............................. Mengukur ketinggian jatuh air ................................. 14............................................................................................................. 14............. 14....................21 Diagram Transmisi dan Distribusi ...........................................................................................6 15.......................... 14..........DAFTAR GAMBAR 14................................. Hubungan kontrol kelistrikan ....................................... Pipa melintas dan pembuangan air ke sungai ........24 Piranti-piranti menggunakan motor ............ 14.............

........................................................................ Tabel 4..5...........1 Harga Sesaat Tegangan Sinusoida .... Aplikasi Op-Amp Sebagai Kontroller.................3....1 Kemampuan Hantar Arus ................................ Besaran Sistem Internasional ............................. Contoh Simbol Indek Proteksi Alat Listrik ...............................................................................................................2 Parameter dan rumus kemagnetan ..... Parameter Ziegler-Nichols ........ Tabel 10..............................3 Tegangan dan arus pada Resistor....................... Tabel 3............. Tabel 9. Jenis Penyearah Diode ................ Tabel 11.......... Tabel 6.....................6................................................... Tabel 6................... Tabel 1.......................... Contoh komponen sistem kontrol ............. Daya tersambung fungsi arus primer .....2...................... Tabel 11............................ Parameter kontroller pendekatan Chien/Hornes/Reswick .....2...................................................................................... .........4......................... Tabel 6.......... Tabel 9........................................ 1-10 1-12 1-12 1-14 1-15 1-16 2-12 2-15 3-8 3-9 3-10 3-12 3-53 4-25 6-11 6-19 6-25 6-27 8-3 8-3 9-10 9-10 10-18 11-5 11-6 11-8 11-12 11-15 11-15 11-16 11-16 11-19 11-23 11-24 12-4 12-4 12-26 12-27 12-28 12-28 14-5 14-6 xxiv..... Tabel 14................... Tabel 8..... Tabel 11........5... Tabel 1............ Tabel 11..................... Tabel 3...... Tabel 1.... Tabel 11.. Jenis Pembumian Sistem .......5 Tahanan jenis bahan ........ Tabel 11........................2..................... Tabel 8............. Tabel 3...... Perbandingan jenis kontroller untuk masing-masing aplikasi .............................................. Waktu Pemutusan Maksimum Pada Sistem IT.....................2 Resistansi dan Konduktivitas . Tabel 11.................... Tabel 12.....6 Koefisien temperatur bahan pada 200C ....................................................................1 Grup rangkaian umum untuk arus putar-transformator daya ....8..9.............. Tabel 12......11..........1............5 Tabel Nameplate Motor Induksi ...... Tabel 11............................2 Harga rata-rata gelombang sinusoida............. Tabel 2............3 Harga efektif gelombang sinusoida .......4 Hubungan Sisi Kumparan dengan Lamel Belitan Gelombang....................................2 Rangkaian Motor-motor DC ..1.10..... Tabel 12..4 Bentuk tegangan dan arus listrik AC.. Tabel 12..... Tabel 1............... Aplikasi Transistor ............................. Tabel 1.DAFTAR TABEL   DAFTAR TABEL Tabel 1........................... Kode IP XX ....... Tabel 3........................................... Waktu pemutusan maksimum sistem TN .. Tegangan Sentuh yang aman ................6. Tabel 11..3.... Tabel 14.................................. Penampang penghantar sistem TN ..... Tabel 11...................... .....1.. Kemampuan ELCB pada tegangan 230V ..................... Daya tersambung pada tegangan menengah ........7.................. Tabel 12...8 Pengukuran ............ Tabel 11.................................2... Batasan Nilai Transistor . Tabel 3.......3 Hubungan Sisi Kumparan dengan Lamel Belitan Gelung................... Tahanan Pembumian RA pada Sistem TT . Istilah penting dalam sistem kontrol ......2......1.................. Nilai resistansi isolasi minimum .1.............................. Besaran dan Simbol Kelistrikan ............................1 Permeabilitas ................... Waktu pemutusan maksimum sistem TN .......................4...................................... Tabel 6..................................... Tabel 12......... Tabel 2........1 Notasi pengenal belitan Generator DC .1..

.....5.. Daya tersambung fungsi Pelabur ...............6..........DAFTAR TABEL   Tabel 14.................................. Tabel 14........... Golongan Pelanggan PLN . .............................4..3.............. Tabel 14.... 14-7 14-7 14-8 14-18 xxiv...... Standar Daya PLN ............... Tabel 14.................................. Daya Tersambung Tiga Phasa .....................................

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful