P. 1
Diagram Alir Unit Polypropilene

Diagram Alir Unit Polypropilene

|Views: 174|Likes:
Published by Akhmad Ade Sucitro

More info:

Published by: Akhmad Ade Sucitro on Jun 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2013

pdf

text

original

Proses Industri Kimia Proses Pembuatan Polypropylene di Kilang Pertamina RU III Plaju Sumatera Selatan.

Oleh : Akhmad Ade Sucitro (03111003087)

Dosen Pengasuh :

Dr. Ir. Hj. Sri Haryati, DEA

Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya April 2013

Diagram Alir Unit Polypropilene Pertamina RU III Plaju Tangki penyimp an Unit Ekstraksi PENGERINGAN propane Tangki LPG DEPROPANIZER propylene propylene Unit Polimerisasi Unit Purifikasi Tangki Propylen e polypropylene powder polypropylene Pengeringan powder Pencetakan pellet polypropylene Packing package 25 kg Gudang .

Pada ekstraksi ini. Dan sebagian hydrogen sulfide (H2S) dari 6000 ppm menjadi 10 ppm. terjadi dua kali proses ekstraksi. dan carbon dioxide (CO2) dengan menggunakan larutan diethanolamine (dea) pada konsentrasi 20% berat. c. Reaksi Diethanol Amin dengan Carbonyl Sulfide (COS). Unit Ekstraksi Unit ekstraksi dibagi menjadi dua tahap yaitu ekstraksi dengan menggunakan Diethanol Amin (DEA) dan ekstraksi dengan menggunakan Natrium Hidroksida (NaOH).a. dan Carbon Dioxide (CO2) yang ada didalam RAW propane propylene. Fungsi dari ekstraksi dengan DEA ini ialah menghilangkan kadar carbonyl sulfide (COS) dalam RAW PP hingga menjadi 5 ppm mol maksimum. Beberapa reaksi yang terjadi pada proses ekstraksi dengan dea adalah . Pelepasan gas-gas yang tidak diinginkan tersebut terjadi didalam sebuah alat yang dinamakan dea regenerator dengan larutan dea pada temperatur 120oC dan tekanan 0. Unit Propylene Purification Unit Polypropylene Polimerization Unit Finishing (Pelletizer) Unit Bagging (Packaging Product) I.5 kg/cm2g. Ekstraksi dengan menggunakan Diethil Amin (DEA). Hydrogen Sulfide (H2S).Terdapat beberapa unit pada Kilang Polypropylene. d. yang pertama ialah primary dea ekstraktor dan secondary dea ekstraktor. R2NH + 2 COS (CH2CH2OCOSH)2NH Reaksi Diethanol Amin dengan Hydrogen Sulfide (H2S) 2 R2NH + H2S (R2NH2)2S (R2NH2)2S + H2S 2R2NH2HS Reaksi Diethanol Amin dengan Carbon Dioxide (CO2) 2 R2NH + H2O + CO2 (R2NH2)2CO3 2 (R2NH2)2CO3+ H2O + CO2 2 R2NH2HCO3 2 R2NH + CO2 2 RNHCOONH2R . yaitu : a. I. b. Ektraksi dilakukan sebanyak dua kali dikarenakan untuk menghilangkan atau melepaskan beberapa zat yang tidak diinginkan seperti Carbonyl Sulfide (COS).

dan NaHCO3 maka konsentrasi NaOH pada kolom non regeneratif NaOH extractor semakin lama akan semakin menurun. dan bila konsentrasi mencapai < 4% berat maka NaOH akan diganti dengan NaOH 10 % berat yang baru. H2O. dan partikel-partikel yang terikut dalam treated Propane Propilen. Sedangkan pada 2nd filter terdiri dari 2 buah cartridge dari bahan resin.b. air. Penghilangan methyl mercaptan selain untuk memperbaiki kualitas propilene ialah untuk mencegah terjadinya korosi pada peralatan yang akan dilalui oleh bahan baku. I. tanpa adanya zat pengotor. Sand filter berisikan pasir kuarsa yang dapat dicuci dengan air. . Unit Pengeringan Unit pengeringan terbagi menjadi dua tahap diantaranya adalah Filtrasi dan Pengeringan.Peralatan selanjutnya adalah DEA filter yang berfungsi untuk memisahkan partikel-partikel terutama iron sulphide yang terdapat dalam larutan dea. Adapun reaksi pada alat-alat tersebut adalah : Reaksi pada extractor : NaOH + RSH RSNa + H2O Reaksi pada regenerator : RSNa + H2O NaOH + RSH II. Selanjutnya propane propylene melewati Water coalescer yang berisikan cartridge filter yang dipasang secara seri (two stage filter) yang berfungsi untuk memisahkan air dalam treated propane propylene sebelum ke dryer. cotton dan paper.5 kg/cm2g. Proses ekstraksi non generatif terjadi didalam primary NaOH extractor. ekstraksi dengan menggunakan Natrium Hidroksida (NaOH) Ekstraksi dengan menggunakan natrium hidroksida dibagi menjadi 2 yaitu ekstraksi non generatif dan ekstraksi generatif. Didalam kolom generatif extractor terjadi ekstraksi antara liquid-liquid antara methyl mercaptan dengan NaOH. Pada 1st filter terdiri dari 3 buah cartridge dengan bahan fiber glass. Dalam proses filtrasi terdapat beberapa komponen diantaranya adalah Sand filter yang berfungsi untuk memisahkan NaOH.Dari proses tersebut maka yang dihasilkan dari proses ekstraksi dengan menggunakan dea ialah propane propylene yang murni. Pada proses ekstraksi NaOH generatif berfungsi untuk menghilangkan methyl mercaptan (RSH) dari 150 ppm mol menjadi 5 ppm mol maksimal. Fungsi ekstraksi non generatif dengan menggunakan Natrium Hidroksida (NaOH) ialah untuk menghilangkan hidrogen sulfida (H2S) hingga 1 ppm berat dan carbon dioksida hingga 5 ppm berat dalam raw propane propilene. Adapun reaksi yang terjadi didalam primary NaOH extractor ialah: 2 NaOH + H2S Na2S + H2O Na2S + H2S 2 NaHS NaOH + CO2 NaHCO3 Dengan terbentuknya Na2S . Dan pada kolom NaOH regenerator terjadi proses pelucutan methyl mercaptan dalam naoh dengan temperatur 120 ºCdan tekanan 0.

Kemudian propilene menuju ke Arsine removal yaitu alat yang digunakan untuk menghilangkan kadar arsine yang terdapat didalam propilene. Fungsi dryer disini ialah untuk menghilangkan saturated water yang ada didalam RAW propane propylene hingga kelembaban air 7 ppm berat maksimal. . Ethane.4% MOL Ethilene < 100 MOL PPM Acetylene < 5 MOL PPM Propadiene < 5 MOL PPM M.3-Butadiena < 5 MOL PPM Total Butane < 10 MOL PPM Carbonil Sulfide < 0. ethana. carbon dioxide dan carbon monoxide yang terkandung didalam propilene.Setelah tahap filtrasi propane propylene menuju ke dryer atau alat pengering. Lights End Stripper yang berfumgsi untuk methana. Setelah itu propilene menuju ke COS absorber.6 mol minimal dengan cara distilasi bertekanan. kemudian propilene menuju Dehydrator yaitu alat yang berfungsi untuk menghilangkan kelembaban air (H2O). Semua alat menggunakan proses stripping dan absorbsi. Unit Depropanizer Unit depropanizer berfungsi untuk memisahkan propilene dari propane hingga didapatkan kemurnian propilene mencapai 99. fungsi COS absorber ialah untuk menghilangkan kadar carbonyl sulfida (COS) yang terdapat didalam propilene. Spesifikasi propilene yang diinginkan adalah : Propilene > 99.2 MOL PPM Carbon Dioxide < 4 MOL PPM Water < 1 WT PPM Oksigen < 5 MOL PPM Total sulfur < 1 WT PPM Hidrogen < 5 MOL PPM Methanol < 5 MOL PPM IV. Setelah melalui Lights End Stripper. Unit Purifikasi Dalam unit purifikasi ini terjadi proses peghilangan impurities atau pengotor didalam propilene dengan metode stripping dan absorbsi.6% MOL Methane. Propane < 0. Acetylene < 5 MOL PPM 1. Didalam unit ini terdiri dari beberapa peralatan didalamnya diantara lain adalah. III.05 MOL PPM Carbon Monoxide < 0.

V. katalis dan gas hidrogen diinjeksikan ke dalam rektor pertama. polimerisasi dibantu dengan bantuan 3 katalyst sehingga pada akhirnya menghasilkan powder homopolymer polypropilene. kg/cm2g Temperature. Oc Konsentrasi Slurry. % WT 1st reactor Fase liquid 29 -38 70 -72 120 -200 3366 2nd Reactor Fase gas 17 –19 80 2334 60 40 Unit Polypropylene Polimerization T102/3/ PROPYLENE SILO PP POWDER IMPURITIS REMOVAL POLYMERIZATION (REACTOR) DRYING BAGGING PLANT PELLETIZING PELLET PP WARE HOUSE/GUDANG HYDROGEN     MAIN-CAT AT-CAT OF-CAT N-HEXANE DISTRIBUSI POLYTAM ADDITIVES/ STABILIZER . Kg/M3 Produksi PolyPropilene. Kondisi operasi reaktor polimerisasi: Dalam hal ini. Kondisi Operasi Tipe Polimerisasi Pressure. Unit Polimerisasi Dalam proses polimerisasi. Kg/hari Blend Ratio. propilene.

Naiknya suhu juga berakibat mengembangkan slury. sehingga sulit untuk mengontrol kualitas produksi. Jika banyak komponen yang tidak ikut bereaksi tinggal dalam reaktor. Dapat diatur dengan perubahan volume dalam reaktor.2.Variabel –variabel . jumlah Polymerisasi akan naik secara eksponensial apabila suhu reaksi naik. Makin tinggi konsentrasi slury maka residence time akan makin meningkat. sehingga merupakan variabel yang saling bergantungan. Tekanan Parsial Monomer : Tekanan parsial monomer ditentukan oleh suhu reaktor. yaitu dengan mengubah level cairan slury dan tepung di reaktor. Proses pengontrolan reaktor Reactor Temperatur Control  Liquid phase reactor D-2201 Temperatur reactor harus dikontrol konstan variasi temperatur mengakibatkan fluktuasi terhadap aktifitas polymerisasi dan tekanan di dalam reactor.V.        V. Jumlah polymerisasi dihitung atas dasar hubungan antara MFR dan komponen H2/C3=. Recident Time: Naiknya recident time katalis akan menaikan jumlah polymerisasi di kedua reaktor cair dan gas. Panas reaksi polymerisasi dalam reactor fasa cair dipindahkan dengan menggunakan kombinasi sistem pendingin di Jacket Reactor dan dengan sirkulasi gas. Pengontrolan Aktivitas Katalis Suhu Reaksi:   Pada reaktor fase cair. maka tekanan parsial monomer akan turun yang menyebabkan menurunnya jumlah reaksi polymerisasi. sehingga suhu harus diatur pada titik yang optimal untuk semua grade. Konsentrasi Hidrogen: Untuk reaktor cair. konsentrasi hidrogen yang lebih tinggi membuat Polymerisasi lebih besar.1.

terutama hidrogen. Adapun jenis additive yang digunakan adalah: PelletizingJenis Additive / Stabilizeryang digunakan : •AE-Stabilizer : primary heat stabilizer (anti oxidant) •AI-Stabilizer: secondary heat stabilizer (anti oxidant) •AH-Stabilizer:heat stabilizer(tape& injection grade) .  Gas Phase Reactor D-2203 Pada keadaan normal. Drying (pengeringan) Fungsi dari drying atau pengeringan ialah untuk menghilangakan N-Hexane dengan cara mengeringkan powder polypropilene hingga kadar N-Hexane mencapai 100 – 200 ppm mol . kemudian diextrude pada temperatur 236-241oC dan memotong menjadi butiran-butiran polypropylene (pellet). Selain itu juga menggunakan steam 3S dengan temperatur 110oC dan tekanan 0. Unit Pencetakan (pelletizing) Pada unit pencetakan atau pelletizing ini polypropilene yang sudah berbentuk powder kemudian diubah menjadi pellet dengan cara mencampur powder polimer dan additive . VI. untuk selanjutnya di kembalikan menuju reaktor fasa cair. tekanan reaktor dikontrol bersamaan dengan sistem yang ada. Untuk menjaga tekanan reaktor konstan.kontrol yang digunakan untuk mengatasi panas reaksi polymerisasi adalah laju alir sistem pendingin sirkulasi gas.5 kg/cm2g.8 Kg/cm2g. yakni dengan mengatur laju alir CW berdasarkan pada tekanan di D-2208. VII. dengan menggunakan media pemanasan adalah Nitrogen 5 Normal. Sebagai alat pemotongnya digunakan alat pemotong atau cutter dengan bahan titanium atau stainless stell. Tekanan di set normalnya pada 16. Reactor Pressure Control  Liquid phase reactor D-2201 Tekanan reaktor fase cair tidak dikontrol secara langsung. maka kelebihan uap propylene dialirkan keluar dari D-2203 dan dikondensasikan di E-2208. Secara otomatis tergantung pada temperatur operasi dan kandungan inert gas.

•HD-Stabilizer: whitening agent. Disamping itu ada 2 gudang tempat penyimpanan polytam (polypropilene dengan kapasitas masing-masing ialah 1500 ton.SC Pelletizing Silo Packing .SA.HD. Nitrogen ADDITIVES: AE. •SC-Stabilizer : anti blocking agent. •SB-StAbilizer: slip agent. Packing (bagging plant) Bagging Plant atau unit Packing berfungsi untuk mengantongi produk politam (polypropylene) dalam karung yang setiap karungnya terdiri dari 25Kg.AH.HA. SB. VIII.AI. BLOCK FLOW DIAGRAM MAIN PROCESS OF Catalyst Dillution AT Catalyst with Hexane Propylene Recovery N-Hexane 1ST Reactor Liquid Phase Polymerization 2nd Reactor Gas Phase Polymerization Propylene Recovery Batch PreMAIN CAT Polymerization Powder Separation PROPYLENE Vent Gas to Flare & Atmosfir Drying &Steaming Hydrogen Steam.•HA-Stabilizer:neutralizerdan lubricant. Kapasitas pengantongan 25Kg ialah 800 karung per jam.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->