Kerajaan Gowa-Tallo; Ekspedisi Islam Oleh “Serambi Madinah” dari Timur

Sejarah Gowa tentu tidak dapat dipisahkan dengan Islam. Daerah ini menjadi salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang kini berpenduduk tidak kurang dari 600 ribu jiwa yang mayoritasnya adalah Muslim. Setelah Kerajaan Gowa-Tallo memeluk Islam, penyebaran Islam di Sulawesi dan bagian timur Indonesia sangat pesat. Kerajaan Gowa-Tallo berhasil menorehkan tinta emas sejarah peletakan dasar dan penyebaran Islam di bagian timur negeri ini. Kerajaan ini juga adalah kerajaan yang menerapkan syariah Islam. Karena itu, wajar kalau Gowa ini dikenal sebagai “Serambi Madinah”. Tulisan ini berupaya menyegarkan ingatan kita kembali tentang sejarah gemilang ini. Awal Masuknya Islam Penyebaran Islam di Nusantara pada awalnya tidak bisa dilepaskan dari aktivitas perdagangan. Demikian halnya dengan kedatangan Islam di Gowa. Penyebaran Islam yang dilakukan oleh para pedagang dimungkinkan karena di dalam ajaran Islam tidak dibedakan antara tugas keagamaan seorang Muslim, sebagai penyebar nilai-nilai kebenaran, dan profesinya sebagai pedagang. Setiap Muslim, apapun profesinya, dituntut untuk menyampaikan ajaran Islam sekalipun satu ayat. Sekalipun para pedagang Muslim sudah berada di Sulawesi Selatan sejak akhir Abad XV, tidak diperoleh keterangan secara pasti, baik dari sumber lokal maupun sumber dari luar, tentang terjadinya konversi ke dalam Islam oleh salah seorang raja setempat pada masa itu, sebagaimana yang terjadi pada agama Katolik. Agaknya inilah yang menjadi faktor pendorong para pedagang melayu mengundang tiga orang mubalig dari Koto Tangah (Kota Tengah1) Minangkabau ke Makassar untuk mengislamkan elit Kerajaan Gowa-Tallo. Inisiatif untuk mendatangkan mubalig khusus ke Makassar sudah ada sejak Anakkodah Bonang (Nahkodah Bonang2). Ia adalah seorang ulama dari Minangkabau sekaligus pedagang yang berada di Gowa pada pertengahan Abad XVI (1525).

3 Lontara Wajo menyebutkan bahwa ketiga datuk itu datang pada permulaan Abad XVII dari Koto Tangah. Khatib Tunggal. yang lebih populer dengan nama Datuk Patimang. yang lebih populer dengan nama Datuk ri Bandang.4 Graaf dan Pigeaud mengemukakan bahwa Datuk ri Bandang sebelum ke Makassar lebih dulu belajar di Giri. Khatib Sulung. La Patiware Daeng Parabu. Minangkabau. Khatib Bungsu.Keberhasilan penyebaran Islam terjadi setelah memasuki awal Abad XVII dengan kehadiran tiga orang mubalig yang bergelar datuk dari Minangkabau. (2) Sulaiman. Setelah mendapat penjelasan. Sebab. Kedatangan Datuk Tellue mendapat sambutan hangat dari Datuk Luwu’. ketika tiba di Makassar. diutus secara khusus oleh Sultan Aceh dan Sultan Johor untuk mengembangkan dan menyiarkan agama Islam di Sulawesi Selatan.5 Ekspedisi Islam oleh Kerajaan Gowa-Tallo’ Sejak agama Islam menjadi agama resmi di Gowa-Tallo’. Datuk ri Bandang dan temannya yang lain. yang lebih dikenal dengan nama Datuk ri Tiro. mereka berangkat ke Luwu untuk menemui Datuk Luwu’. mereka memperoleh keterangan dari orang-orang Melayu yang banyak tinggal di Gowa. Datuk Luwu adalah raja yang paling dihormati. Mereka menanyakan kepada orang-orang Melayu yang sudah lama bermukim di Makassar tentang raja yang paling dihormati. Raja Gowa Sultan Alauddin makin kuat kedudukannya. tetapi lebih dulu menyusun strategi dakwah. tempat orang-orang Bugis-Makassar berdiam. Mereka dikenal dengan nama Datuk Tellue (Bugis) atau Datuk Tallua (Makassar). yang menjadi wakil raja untuk urusan . bahwa raja yang paling dimuliakan dan dihormati adalah Datuk Luwu’. (3) Abdul Jawad. Sesampainya di Gowa. Ketiga ulama tersebut yang berasal dari Kota Tengah Minangkabau. di Riau dan Johor. tidak langsung melaksanakan misinya. karena kerajaanya dianggap kerajaan tertua dan tempat asal nenek moyang raja-raja Sulawesi Selatan. La Patiware Daeng Parabu. sedangkan yang paling kuat dan berpengaruh ialah Raja Tallok dan Raja Gowa. Mereka terlebih dulu mempelajari kebudayaan orang Bugis-Makassar. yaitu: (1) Abdul Makmur. beliau juga diakui sebagai Amirul Mukminin (kepala agama Islam) dan kekuasaan Bate Salapanga diimbangi oleh qadhi.

DR. Andi. Sejarah Sulawesi Selatan (hal:228-231). Ahmad. dengan dalih bahwa Gowa sekarang sudah melihat jalan kebajikan. DR. Lembaga Penelitian dan Pelestarian Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan TOMANURUNG. Hasanuddin University Press. Hasanuddin University Press. Kerajaan Gowa meminta kepada kerajaan-kerajaan taklukannya agar turut memeluk agama Islam. 55-62). 1988. Massiara Dg.keagamaan bahkan oleh orang-orang Makassar. Bugis dan Mandar yang telah lebih dulu memeluk agama Islam pada abad XVI. Sultan Alauddin dipandang sebagai pemimpin Islan di Sulawesi Selatan. 1999 5 Sewang. Prof. MA. Menyingkap Tabir Sejarah dan Budaya di Sulawesi Selatan (hal. Rapi. Sejarah Sulawesi Selatan (hal:228-231).A. DR. Makalah “Empat Abad Islam di Sulawesi Selatan”. Prof. Cara pendekatan yang dilakukan oleh Sultan Alauddin dan Pembesar Kerajaan Gowa adalah mengingatkan perjanjian persaudaraan lama antara Gowa dan negeri atau kerajaan yang takluk atau bersahabat yang berbunyi antara lain: barangsiapa di antara kita (Gowa dan sekutunya atau daerah taklukannya) melihat suatu jalan kebajikan. maka salah satu dari mereka yang melihat itu harus menyampaikan kepada pihak lainnya. Makalah “Empat Abad Islam di Sulawesi Selatan”. MA. Mr. H. Ahmad. Prof. Pusat Kajian Islam (Centre For Middle Eastern Studies) Devisi Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora PKP Unhas dan Pemkot Makassar.6 Karena itu. 5-7 September 20007 6 H. Seminar Internasional dan Festival Kebudayaan. 5-7 September 20007 4 Zainal Abidin. Andi. Prof. 1999 2 ibid 3 Sewang. [Gus Uwik] Catatan Kaki: 1 Zainal Abidin. H. DR. Mr. yaitu agama Islam. Pusat Kajian Islam (Centre For Middle Eastern Studies) Devisi Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora PKP Unhas dan Pemkot Makassar. Seminar Internasional dan Festival Kebudayaan. .

Penyebaran Islam yang dilakukan oleh Kerajaan Gowa-Tallo di seluruh Sulawesi Selatan. dan Bicara (Sistem hukum). Pemimpin tertinggi Parewa sara’ adalah ulama yang menagani hal-hal yang berhubungan dengan syariah Islam. Mandar dan lain-lain memperoleh warna baru. pemerintahan. Kemudian bertambah satu sendi lagi. Pemimpin tertinggi Pampawa Ade’ adalah Raja yang khusus menangani pemerintahan.1 Sistem pranata sosial ini sudah lama mengakar dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat Bugis/Makassar. Wari’ (Sitem protokoler kerajaan). Karena begitu kuatnya pengaruh Islam yang dikembangkan oleh para mubalig dengan dukungan para raja-raja yang telah memeluk Islam.2 Dalam praktiknya. Sebelum Islam datang Pangngadakkan ini terdiri 4 sendi yaitu: Ade’ (Adat istiadat). yakni Sara’ (syariah Islam) setelah Islam resmi diterima sebagai agama kerajaan. Tentu perubahan ini mengarah pada islamisasi segala aspek kehidupan tersebut. 4 (empat) dari yang pertama dipegang oleh Pampawa Ade’ (Pelaksana Adat). Rapang (Pengambilan keputusan berdasarkan perbandingan). karena sara’ (syariah) telah masuk pula menjadi salah satu dari sendi-sendi adat-istiadat itu. telah memberikan pengaruh dan perubahan terhadap kehidupan sosial-masyarakat yang meliputi segala bidang. yang kelima dipegang oleh Parewa Sara’ (perangkat Syariat) dipimpin oleh Ulama. Ini bisa kita lihat dari bagaimana proses islamisasi di Sulawesi Selatan yang dimulai pada abad ke-17 ini dapat mengubah sendi-sendi “Pangngadakkan (Makassar) atau Pangngaderreng (Bugis) yang menyebabkan pranata-pranata kehidupan sosial-budaya orang Makassar dan Bugis. ekonomi maupun sosial-budaya. tetapi tidak berarti terjadi sekularisasi antara urusan Kerajaan . Imam. bahkan sampai kebagian timur Nusantara. yaitu Raja dan Pembantu-pembatunya. Pangadakkang/Pangngaderreng adalah sistem pranata sosial yang berisi kitab undang-undang dasar tertinggi orang Bugis/Makassar. Kadi (Qodhi). maka rakyat kerajaan berbondong-bondong memeluk Islam tanpa dipaksa ataupun diancam. baik aspek politik. dan para pembantunya. Adanya dikotomi tugas ini berimplikasi pada sistem pengaturan sosial selanjutnya. Kedua lembaga ini memiliki fungsi dan tugas sesuai dengan bidangnya masing-masing dan memiliki kekuasaan otonomi tersendiri.

maka wibawa dan kepatuhan rakyat pada Islam dan adat sama kuatnya. to masiri’na berhak menghukumnya sesuai dengan ketentuan adat karena berada di wilayah otonomi adat. pen. Itulah sebabnya jika tidak ada to masiri’na di dalam rumah. yang dalam Islam dirajam. dia harus dikawal oleh to . kemudian diterjemahkan dalam bentuk dicemplungkan hidup-hidup ke dasar laut. wanita dilarang menerima tamu laki-laki. Wanita atau pria yang berzina setelah menikah.4 Jika yang bezina adalah pria atau wanita lajang maka dia dihukum cambuk. safar dan berpakain.6 3. namun adat tetap tunduk pada ajaran (syariah) Islam.5 2.dan keagamaan (bukan pemisahan negara dengan Islam. Wanita dalam menerima tamu.3 Syariah Islam di Bidang Sosial-Kemasyaraktan Beberapa contoh penerapan syariah Islam dalam undang-undang Pangngadakkan/Pangngaderreng dapat dilihat di antaranya: 1. keduanya saling mengisi atau beriringan. Terkait dengan para penjaga wanita Bugis-Makassar. Begitu pula jika bepergian. ia akan dilindungi dari kejaran to masiri’na (mahram) demi menghargai otonomi Imam yang akan menikahkan mereka menurut syariah Islam. Sebab.). istilah mahram diterjemahkan to masiri’na7 (diadopsi dari budaya siri’) yang berfungsi menjaga dan melindungi nama dan harkat perempuan. Jika ditemukan di luar rumah Imam. Jika sepasang muda-mudi kawin lari (silariang) atau kabur. dalam praktiknya. jika tiba di rumah Imam (Abballa’ imang/mabbola imang). Perzinaan. Yang terjadi kemudian adalah syariah Islam tetap bertoleransi pada adat sepanjang tidak bertentangan dengan pelaksanaan syariah Islam. Karena syariah Islam telah masuk ke dalam sistem Pangngadakkan/Pangngaderreng. Kawin Lari (Silariang [Makassar]).

7 Idem. sudah dikenal pakain Baju Bodo (baju yang lengannya pendek). .UmH. Pusat Kajian Islam (Centre For Middle Eastern Studies) Devisi Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora PKP Unhas dan Pemkot Makassar. 4 Idem. Nurhayati Rahman. SH. Demikian seperti dituturkan oleh Andi Kumala Idjo. “Wawancara”. LF HTI Gowa. lalu setelah Islam menjadi agama Kerajaan Gowa. 6 DR. Desember 2007. sebelum Islam. Seminar Internasional dan Festival Kebudayaan. Makalah “Syariat Islam dan Sitem Pangngaderreng”. Desember 2007. 3 Idem. Makalah “Syariat Islam dan Sitem Pangngaderreng”. yang menggantikan Raja Gowa ke-36 Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang (19461960). satu diikat dipinggang (appalikang [Makassar]) dan satunya lagi dipakai menutup kepala (berkerudung) atau “abbongong (Makassar)”. 5 Andi Kumala Idjo. Nurhayati Rahman. 8 Andi Kumala Idjo. 5-8 September 2007 2 Idem.masiri’na (mahram) dan juga selalu menggunakan dua sarung.Hum. “Wawancara”. M. Pusat Kajian Islam (Centre For Middle Eastern Studies) Devisi Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora PKP Unhas dan Pemkot Makassar. maka baju Bodo diganti menjadi Baju Labbu. SH. SH selaku putra mahkota pewaris tahta Kerajaan Gowa sekarang ini. LF HTI Gowa. M. 5-8 September 2007.8 [Gus Uwik] Catatan kaki: 1 DR. Seminar Internasional dan Festival Kebudayaan. Begitu juga dalam pakain adat Gowa.

Sebagaimana sudah kita sebutkan sebelumnya. Isra’ Mikraj Nabi. sebagai pejabat sara’ ia juga mengatur urusan upacara-upacara keagamaan (hari besar Islam. . (6) dilarang mappangaddi (berzina). dan lain-lain. secara umum berlaku sistem Pangngadakkan/Pangngaderreng selalu terdiri dari Pampawa Ade’ dan Parewa Sara’. Kadi (Qadhi) inilah yang menjadi hakim. Dia mengadili segala perkara dalam penerapan syariah Islam. pen. setelah Arung Matowa (Raja) Wajo ke-XII yang bernama La Sangkuru’ Mulajaji memeluk Islam tahun 1610. Parewa Sara’ inilah yang mendampingi Raja dalam menjalankan syariah Islam. yang sudah kembali dari Luwu’. (3) dilarang mappolo-bea (bertenung melihat nasib). (8) dilarang makan cammugumugu (babi). Hal serupa juga terjadi pada seluruh Kerajaan di bawah kekuasaan Gowa ini. Jika terjadi pelanggaran terhadap larangan-larangan di atas.. Sekalipun fungsi kadi (qadhi) ini tidak hanya mengadili perkara tentang syariah Islam. Raja Gowa selanjutnya mengirim ulama Minangkabau. (7) dilarang minum pakkunesse’ (minuman keras). seperti: 1 (1) dilarang mappinang rakka’ (memberi sesajen pada apa saja). yaitu Raja dan pembantu-pembantunya.) Id dan lain-lain yang diadakan di Istana Raja. (2) dilarang mammanu-manu’ (bertenung tentang alamat baik-buruk melakukan suatu pekerjaan).) kepada Sulaiman Khatib Sulung. pen.Penerapan Syariah Di Kerajaan Wajo. Setelah ketentuan-ketentuan ditetapkan maka Arung Matowa Wajo mempercayakan pengurusan dan penyusunan aparat sara’ (pejabat syariah.2 juga urusan pernikahan dan urusan kematian terutama keluarga Raja.) seperti Maulid Nabi Muhammad saw. Qadhi. pasti pelakunya akan dijatuhi hukuman/sanksi sesuai syariah Islam. pen. dan Parewa Sara’ (pejabat syariah). Sebabnya. (4) dilarang boto’ (berjudi). Sembahyang (Shalat. Khatib Sulung mengajarkan keimanan kepada Allah dan segala larangan-larangannya. Bidang Hukum/Pperadilan Lembaga Pangngadakkan/pangngaderreng terdiri dari Pampawa Ade’ (pelaksan adat). Sulaiman Khatib Sulung. Imam. dan (8) dilarang mappakkere’ (mempercayai benda keramat). (5) dilarang makan riba (bunga piutang). yaitu Ulama.

Di Kerajaan Wajo juga diangkat kali (kadi).4 Di Kerajaan Bone juga diangkat kali (kadi) dengan sebutan Petta KaliE . Menurut Andi Kumala Idjo. yang sering juga disebut kali. Raja Gowa XIV I Mangarangi Daeng Manrabiah yang memeluk Islam pertama kali dari raja-raja Gowa bersama pamannya I Mallingkaan Daeng manyonri’ (Raja Tallo) selaku Mangkubumi (kepala pemerintahan/perdana menteri) Kerajaan Gowa. I Mallombasi Daeng Mattawang diberi gelar Sultan Hasanuddin. Makkah adalah bagian integral dari Kekhilafahan Islam. Kemudian I Mangarangi Daeng Manrabiah diberi gelar Sultan Alauddin. putra Mahkota Kerajaan Gowa sekarang. diangkat seorang kali (kadi) dengan sebutan Daengta Kalia3 atau Daengta Kali Gowa. 7 Begitu pula Raja Gowa XVI. Pemberian gelar “Sultan” ini oleh Mufti Makkah/Arabia menunjukkan adanya hubungan struktural Kesultanan Gowa dengan Negara Khilafah Islamiah pada waktu itu. sedangkan I Mallingkaan Daeng Manyonri diberi gelar Sultan Awwalul Islam. diberi gelar Sultan Malikussaid oleh Mufti Arabia. SH. yakni Makkah sebagai wilayah kegubernuran (wali) dari Khilafah Islamiyah. Menerapkan syariah Islam. . Disebut Petta karena semua kali diangkat dari kalangan bangsawan. bisa kita jumpai setidaknya sebagai mewakili seluruh kerajan yang lain. “Petta” adalah sebutan bangsawan berarti “Tuanku”. Pada tahun 1605 saat Rja Gowa XIV telah memeluk Islam. yakni Kerajaan Gowa sebagai pemimpin kerajaan-kerajaan lainnya. Demikian seterusnya.5 Keberadaan qadhi (kadi/kali) yang sering juga disebut Daengta Kalia/Petta KaliE menunjukkan bahwa penerapan syraiah Islam sudah terlembaga dengan sitematis pada waktu itu. gelar “Sultan” ini diberikan oleh Mufti Makkah. masa itu Khilafah dipimpin oleh Khalifah Ahmad I (1603-1617) dari Kekhalifahan Bani Utsmaniyah.6 Sejak Raja Gowa XIV itulah gelar “Sultan” diberikan kepada setiap raja Gowa berikutnya. semisal Raja Gowa XV I Mannuntugi Daeng Mattola Karaeng Lakiung. Bidang Politik dan Pemerintahan Pemberian gelar “Sultan” kepada Raja.Keberadaan kadi (qadhi).

Pendekatan struktural dilakukan Kerajaan Gowa-Tallo dengan menyebarkan Islam kepada rakyat Gowa-Tallo dan juga segera menyebarkannya ke kerajaan-kerajaan lainnya. maka Gowa akan memeranginya. 63-91). syariah tetap masih mengakomodasi hukum-hukum adat yang tidak bertentangan dengan syariah Islam. Penyebaran Islam dilakukan baik melalui pendekatan struktural maupun kultural. yaitu raja dan pembatu-pembantunya.) yaitu Ulama. Catatan kaki: 1 H.A. Rapi. Adapun pendekatan kultural dilakukan dengan cara Kerajaan mengutus para mubalig ke seluruh pelosok-pelosok daerah. Imam. Massiara Dg. Perlu dicatat.Setelah Islam menjadi agama resmi Kerajaan Gowa-Tallo’. seperti yang dilakukannya terhadap Kerajaan Tellumpoccoe (Bone. dst. Lembaga Penelitian dan Pelestarian Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan TOMANURUNG. Berbeda halnya ketika Kerajaan yang diajak oleh Gowa memeluk Islam. bahwa penyebaran Islam oleh Kerajaan Gowa-Tallo kepada rakyat ataupun rajaraja memegang teguh prinsip mengajak dengan cara damai. Qadhi (Kali/Kadi). Ibid. Rappang dan Sidenreng) memeluk Islam dengan cara damai setelah diajak oleh Gowa. Ini menunjukkan bahwa Gowa sebagai institusi pemerintahan menyadari kewajibannya untuk menyebarkan Islam kepada siapa saja dan dimana saja. lalu menolak Islam. Soppeng dan Wajo) sampai ditaklukkannya. Bisa kita lihat bagaimana Kerajaan Ajatappareng (Suppak. 1988. Contoh-contoh penerapannya sudah disebutkan di atas. Menyingkap Tabir Sejarah dan Budaya di Sulawesi Selatan (hlm. pen. 2 Ibid. 3 4 . Kerajaan ini kemudian menerapkan syariah Islam melalui lembaga Parewa Sara’ (Pejabat Syariah. Sekalipun masih tetap ada Lembaga Pampawa Ade’ (pelaksana Adat). Kerajaan menyebarkan Islam. Sawitto. Ibid.

Rapi. “Wawancara”. 63-91). 1988.A. LF HTI Gowa. Massiara Dg. Andi Kumala Idjo. SH. . Desember 2007 H. Menyingkap Tabir Sejarah dan Budaya di Sulawesi Selatan (hlm.5 Ibid. Lembaga 6 7 Penelitian dan Pelestarian Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan TOMANURUNG.

jika mau memeluk Islam maka Kerajaan Bone dan Gowa hidup sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Selanjutnya Raja Bone La Tenriruwa berkata lagi: Memang ada kata sepakat moyang kami dengan Raja Gowa yang mengatakan. maka kita tetap pada tempat kita semula. maka rakyatnya pun menolak bahkan Ade’ Pitue (Hadat Tujuh) memecat La Tenriruwa dari tahtanya. Saya kemukakan keterangan ini. Berkatalah Raja Bone La Tenriruwa kepada rakyat banyak: Hai rakyat Bone. mari kita sekalian terima baik Raja Gowa itu. bahwa penyebaran Islam harus dilakukan secara damai. Demikian isi pidato Raja Bone La Tenriruwa kepada rakyat banyak. Setelah mengadakan pembicaraan antara Raja Gowa dan Raja Bone. Pada mulanya sama sekali tidak bermaksud untuk memaksa raja-raja menerima Islam. kita akan lihat saya ataukah Raja Gowa yang mati. bukan karena saya takut berperang lawan orang-orang Makassar. saya sampaikan padamu. tetapi karena ternyata kepada Baginda. Akan tetapi. dan bermufakat mengangkat La Tenripale to Akkapeang menjadi raja Bone XII (1611-1625). rakyat Bone dikumpulkan di suatu lapangan terbuka karena Raja akan menyampaikan sesuatu kepada mereka. Raja Bone XII inilah yang berperang dengan Raja Gowa sehingga ditaklukkan oleh Gowa. kemudian mereka masuk Islam. Karena bagi saya sendiri sudah tidak ada kesangsian apa-apa. yaitu menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mengikut Nabi Muhammad saw.Prinsip damai Kerajaan Gowa dalam menyebarluaskan Islam dapat dicermati ketika Raja Gowa XIV Sultan Alauddin bersama Mangkubumi (Raja Tallo) Sultan Awwalul Islam dan pasukannya mendatangi Bone untuk mengajak memeluk Islam. bila kita diperangi dahulu dan dikalahkan. bahwa betapa Raja Gowa memiliki maksud yang baik kepada Raja Bone dan Rakyat Bone untuk hanya semata-mata agar memeluk Islam.1 Kalau kita mencermati petikan pidato di atas dapat dipahami. baru kita terima agama Islam. Akhirnya. bahwa barangsiapa di antara kita mendapat kebaikan. Abdul Razak Daeng Patunru’ (1969: 21) menguraikan bagaimana Gowa mengajak kerajaankerajaan memeluk Islam. Mereka tiba di Bone dan mengambil tempat di Palette. maka saya akan turun ke gelanggang. Bila kita terima agama Islam. maka jelas rakyat Bone akan menjadi budak dari Gowa. Saya sudah yakin benar bahwa Islam inilah agama yang benar. Namun. adalah raja Bone yang pertama memeluk agama Islam. maka Gowa dan Bone adalah dua sejoli yang paling tangguh di tengah lapangan. sekalipun Raja Bone La Tenriruwa sudah memeluk Islam lalu mengajak rakyatnya. bahwa kini Raja Gowa datang ke Bone menunjukkan jalan lurus bagi kita sekalian ialah agama Islam. Raja Bone XI. mereka pun . Raja Gowa berkata bahwa bila agama Islam diterima oleh kita. Bahkan dikatakan kepada mereka. kata Raja Bone La Tenriruwa. bahwa selain raja-raja itu menolak seruan Baginda. Tapi kalau semua kata-kata dan janji Raja Gowa itu diingkarinya. La Tenriruwa. “Pada hakekatnya Raja Gowa sebagai seorang Muslim dan memegang teguh prinsip agama Islam. dialah menuntun di depan.

63-91). 2.A. I Mallingkaan Daeng Nyonri Sultan Idris (1893-1895). yang terpajang di Museum Ballalompoa saat ini.or. ada semacam pengakuan atau legitimasi yang harus datang dari Turki Utsmani sebagai spiritual power (Dunia Islam masa itu) kepada raja terpilih. Rapi. menurut Andi Kumala Idjo. yang dapat kita pahami adalah dalam hal pemberian gelar “sultan” kepada raja-raja Gowa yang diberikan oleh Mufti Makkah menurut penuturan Andi Kumala Idjo. DR. Desember 2007 Sumber: http://hizbut-tahrir. 1988. Bapak Prof. SH sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya. Menyingkap Tabir Sejarah dan Budaya di Sulawesi Selatan (hlm. Sewang menambahkan. Desember 2007 3. bahwa Turki Utsmani adalah Khalifah.3 [Gus Uwik] Catatan kaki: 1. Hanya saja. SH.2 bahwa memang pada masa kerajaan-kerajaan dulu telah masuk Islam. Ahmad Sewang. pakar Sejarah UIN Alauddin Makassar. H.” Hubungan Kerajaan Gowa dengan Khilafah Islamiyah Hubungan Kerajaan Gowa dengan Khilafah Islamiyah pada waktu itu. Mirip dengan pernyataan Prof. LF HTI Gowa. Lembaga Penelitian dan Pelestarian Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan TOMANURUNG. “Wawancara”. LF HTI Gowa.mengambil sikap dan tindakan yang nyata untuk menentang kekuasaan dan pengaruh Gowa yang sejak dahulu telah tertanam di tanah-tanah Bugis pada umumnya. Massiara Dg. M. Prof.id/2008/08/01/kerajaan-gowa-tallo-ekspidisi-islam-olehserambi-madinah-dari-timur-%E2%80%93-bagian-iv/ . “Wawancara”. SH adalah pakaian Turki dilihat dari baju dan songkok Turkinya. Dr. Andi Kumala Idjo. Selain itu yang dapat kita lihat adalah foto Raja Gowa yang ke-33. Beliau mencontohkan legitimasi Sultan Buton oleh Turki Utsmani sekalipun beliau mengatakan tidak sejauh itu pernah membahas masalah ini. Ahmad Sewang. MA.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful