P. 1
Teknologi Pengolahan Limbah Padat

Teknologi Pengolahan Limbah Padat

|Views: 86|Likes:
http://chemeng2301.blogspot.com/
http://chemeng2301.blogspot.com/

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Anggi Yudi Tiawarman on Jun 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/19/2013

pdf

text

original

Sections

LOGO

Teknologi Pengolahan Limbah Padat

PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI RENI DESMIARTI

PROGRAM PEMERINTAH UNTUK PENGELOLAAN LINGKUNGAN Kelompok Kerja Air Minum Penyehatan Lingkungan (AMPL)

Air Minum

A AMPL B

Air Limbah

C
Persampahan

D
Drainase

Sasaran RPJMN 2010-2015 bidang AMPL
Air Minum
 Tersedianya akses air minum bagi 70 persen penduduk pada akhir tahun 2014, (akses air minum perpipaan 32 persen dan akses air minum non-perpipaan terlindungi 38 persen).

Air Limbah

 Terwujudnya kondisi Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) hingga akhir tahun 2014, yang ditandai dengan tersedianya akses terhadap sistem pengelolaan air limbah terpusat (off-site) bagi 10 persen total penduduk, baik melalui sistem pengelolaan air limbah terpusat skala kota sebesar 5 persen maupun sistem pengelolaan air limbah terpusat skala komunal sebesar 5 persen serta penyediaan akses dan peningkatan kualitas terhadap sistem pengelolaan air limbah setempat (on-site) yang layak bagi 90 persen total penduduk.

Persampahan Drainase

 Tersedianya akses terhadap pengelolaan sampah bagi 80 persen rumah tangga di daerah perkotaan.
 Menurunnya luas genangan sebesar 22.500 Ha di 100 kawasan strategis perkotaan

Dari mana kita mulai untuk mengelola lingkungan???
Diri sendiri, tempat tinggal, lingkungan sekitar dan masyarakat umum. Lingkungan yang baik berupa sumber daya alam yang melimpah yang diberikan Allah SWT kepada manusia tidak akan lestari dan pulih (recovery) apabila tidak ada campur tangan manusia. Hal ini diingatkan oleh Allah dalam Surat Ar Ra’d ayat 11

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Jenis Limbah Padat
Limbah Padat

Municipal
Limbah perkotaan yang pada umumnya dihasilkan oleh perumahan dan perkantoran, biasa disebut sebagai “sampah” (trash) Berupa : kertas, sampah taman, gelas, logam, plastik, sisa makanan, serta bahan lain seperti karet, kulit, dan tekstil
www.themegallery.com

Non Municipal
Limbah yang berasal kegiatan industri, pertanian, pertambangan, dengan jumlah yang jauh lebih besar daripada sampah perkotaan

Company Logo

Sampah padat di Indonesia
 Sampah padat di kota-kota Indonesia pada umumnya dibedakan atas sampah hayati (74%) dan non-hayati  Sampah hayati : biomassa dari permukiman, pasar, atau jalan  Sampah non-hayati : kertas, plastik, kaleng, logam, keramik, kaca, berangkal, tekstil, karet, batere, dll.  Karakteristik dan jenis komponen yang terkandung di dalam sampah padat kota bergantung pada sumber/asal sampah itu sendiri (perumahan, perkantoran, pertokoan, industri, pasar, taman kota).  Hal ini sangat menentukan sistem pengelolaan dan pemanfaatannya.

 Pemanfaatan sampah padat hayati pada umumnya adalah :

 sampah biomassa untuk pembuatan kompos
 batok kelapa untuk bahan bakar, pembuatan arang dan arang aktif  sabut kelapa sebagai bahan bakar, bahan baku pembuatan matras, jok mobil, keset, dll  kayu sebagai bahan bakar atau barang-barang lain yang mempunyai nilai tambah tinggi  kulit telur sebagai bahan baku produksi bahan bangunan  tulang sebagai bahan baku pembuatan lem dan lain-lain

Pemanfaatan limbah padat industri CPO

www.themegallery.com

Company Logo

Sampah padat non-hayati pada umumnya dimanfaatkan sebagai bahan baku industri  limbah plastik sebagai bahan baku industri plastik lain  limbah aki dan batere kering sebagai sumber logam Pb dan Hg  limbah kertas sebagai bahan baku pembuatan pulp

 limbah karet sebagai barang-barang seni atau perabot rumah tangga
 logam, gelas, dan masih banyak lagi sebagai bahan industri lainnya

Peta alur pemanfaatan sampah padat kota di Indonesia
plastik Rumah tangga kertas industri pulp industri pulp dan kertas industri plastik

Pasar

daur ulang bahan

logam

Pertokoan

karet

industri

gelas/kaca Industri pembuatan kompos

Jalan/taman kota

land fill

Perlu Perubahan Paradigma Dalam Mengelola Sampah
HAL YANG DAPAT DILAKUKAN :

Memilah sampah  Melakukan 3M : Mengurangi sampah, Memanfaatkan sampah, dan mendaur ulang sampah

Amanat UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah

Mengurangi Sampah
Pilih produk dengan kemasan yang dapat didaur ulang. Hindari memakai dan membeli produk yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar. Gunakan produk yang dapat diisi ulang (refill). Misalnya alat tulis yang bisa diisi ulang kembali). Maksimumkan penggunaan alat-alat penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan ditulis kembali. Kurangi penggunaan bahan sekali pakai. Gunakan kedua sisi kertas untuk penulisan dan fotokopi. Hindari membeli dan memakai barang-barang yang kurang perlu.

Mendaur Ulang Sampah
Pilih produk dan kemasan yang dapat didaur ulang dan mudah terurai.

Olah sampah kertas menjadi kertas atau karton kembali.

Lakukan pengolahan sampah organik menjadi kompos. Lakukan pengolahan sampah non organik menjadi barang yang bermanfaat.

Memanfaatkan Kembali
1
Pilihlah wadah, kantong atau benda yang dapat digunakan beberapa kali atau berulang-ulang. Misalnya, pergunakan serbet dari kain dari pada menggunakan tissu, menggunakan baterai yang dapat di charge kembali.

2
Gunakan kembali wadah atau kemasan yang telah kosong untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya. Misalnya botol bekas minuman digunakan kembali menjadi tempat minyak goreng.

3
Gunakan alat-alat penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan ditulis kembali.

4
Gunakan sisi kertas yang masih kosong untuk menulis.

5
Gunakan email (surat elektronik) untuk berkirim surat

6
Jual atau berikan sampah yang terpilah kepada pihak yang memerlukan

Usaha pemanfaatan sampah
 Sampah yang tidak dapat didaur ulang diolah secara biologi (composting, biogas), proses termal (pembakaran, insinerasi), maupun landfill.  Dua alternatif proses pengolahan sampah menjadi energi adalah :  proses biologis untuk menghasilkan gas bio  proses termal yang menghasilkan panas

Diagram pemanfaatan sampah kota sebagai sumber energi dan daur ulang bahan secara terpadu

Scrap

Humus Bahan Bakar

Gas Buang Bersih

Non-hayati Limbah cair kota

Pengolahan Secara Biologi
Hayati

Biogas

Gas Metan

Limbah Padat Kota

Hayati dan non-hayati

Pengolahan Awal
Hayati dan non-hayati

RDF

Thermal Process
Abu

Energi

Listrik Gas Metan Panas

Pemanfaatan Kembali

Daur Ulang
Non-hayati Rejected Waste

Rejected Waste

Landfill
Gas Metan

Barang-barang yang bermanfaat

Bahan baku industri

Potensi sampah padat perkotaan sebagai sumber energi
 Sampah padat kota sebagian besar terdiri dari bahan-bahan hayati, terutama biomassa sekitar 74% yang pada umumnya dalam keadaan basah dengan kadar air 20 -40%, kandungan kertas 9 10% dalam keadaan basah atau kering.  Kedua komponen tersebut mudah terbakar, menentukan jumlah kandungan karbon di dalam sampah dan sangat menentukan dalam pemanfaatannya sebagai sumber energi.  Untuk kota Padang dapat mencapai 488m3 biomassa per hari dan kertas 66 m3/hari.

 Karakteristik lain yang ikut menentukan adalah nilai kalor. Sampah padat kota di Indonesia memiliki nilai kalor rata-rata sekitar 1750 – 2500 kkal/kg (HHV), dan kota Bandung khususnya 1200 kkal/kg.  Nilai kalor minimum yang diperlukan sebagai bahan baku proses konversi sampah menjadi energi minimum adalah sekitar 1300 – 1500 kkal/kg (HHV).  Pemanfaatan bergantung pada jenis teknologi yang digunakan.

 Pada proses biologis, jumlah kandungan karbon dan nitrogen sangat menentukan keberhasilan proses konversi
 Pada proses termal, nilai kalor sangat menentukan keberhasilan proses

Potensi sampah padat perkotaan sebagai sumber daur ulang bahan

Limbah kertas Limbah Kertas Plastik

Bandar

Suplier

Pabrik Kertas

Pemulung

Pelapak
Limbah plastik

Penggiling

Suplier

Pabrik Bijih Plastik

Pabrik Plastik

 Untuk mengetahui lebih lanjut potensi pemanfaatan limbah
plastik dan kertas, sebelumnya perlu diketahui jenis-jenis limbah kertas dan plastik yang terdapat di dalam campuran sampah padat kota yang masih dapat dimanfaatkan

 Limbah kertas dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelas berdasarkan nilai dan mutunya :

 limbah percetakan dan tulisan

 limbah karung kraft
 limbah kardus berombak  limbah karton  limbah kertas koran  kertas bekas

 kertas pengemas dan pembungkus

 Kendala yang perlu diperhatikan adalah bahan lain yang tidak dapat dimanfaatkan sebagai daur ulang kertas :

 semua jenis kertas yang mengandung campuran plastik berikut : polyethylene, expanded polystyrene foam, cellophane, ABS
 perlengkapan bayi yang terbuat dari kertas  campuran benang, lem, bahan-bahan kimia, dan tali pada kertas  kertas amplas, kertas dengan lapisan zat aspal (tarred), kertas minyak, kertas bitumen, roofing, dll.

 Limbah plastik dapat dikelompokkan berdasarkan sifat-sifat mendasar yang dimiliki plastik (termoplastik, termoset, dan elastomer)  Termoplastik Jenis polimer yang mempunyai struktur rantai molekul lurus, baik dengan rantai cabang atau tidak. Dapat dilelehkan melalui pemanasan dan dapat dicetak berulang-ulang menjadi produk tertentu. Plastik yang termasuk ke dalam jenis ini adalah : PP (polypropylene), PE (polyethylene), PS (polystryrene), PVC (polyvinyl-chloride), PC (polycarbonate), PET (polyethylene terephtalate), dan PA (polyamide).

 Thermoset Jenis polimer yang mempunyai struktur model 3 dimensi. Setelah terbentuk menjadi produk tertentu, tidak dapat dapat dilelehkan dan dibentuk kembali. Plastik yang termasuk dalam kelompok ini adalah : UF (urea formaldehida), MF, PF, epoxy, polyurethane, unsaturated PS (Polystyrene).  Elastomer Jenis polimer yang pada temperatur ruang bersifat seperti karet alam. Plastik yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah : SBR, chloroprene rubber, nitrile rubber, buthyl rubber, dll.

Pemanfaatan plastik sebagai sumber daur ulang bahan
Limbah Plastik

Daur Ulang Langsung

Tak Langsung

Pemotongan

Potong & Campur dengan Limbah Pabrik

Separasi
PVC

Injection Moulding
PP

Pencucian
Air : Alkohol = 1 : 1

Pencucian
Air : Alkohol = 2 : 3 LDPE

Pengeringan

Pelletizing

Moulding Injection & Compressing
HDPE

Karakterisasi limbah
 Karakterisasi limbah mempunyai 3 tujuan :  sebagai dasar perencanaan analisa ekonomi, perancangan, dan selanjutnya pengoperasian serta manajemen sistem pengelolaan.  rehabilitasi atau retrofit sistem pengelolaan yang ada  mempermudah optimasi sistem pengelolaan yang ada, monitoring emisi, atau analisa ketidakberfungsian piranti limbah-ke-energi  Melalui karakterisasi limbah, dapat diketahui konstituen utama sampah, karakter yang berhubungan dengan nilai kalor bakar, dan parameter-parameter lain yang berpengaruh pada pembakaran dan karakter emisi gas.  Keanekaragaman karakteristik sampah kota menuntut cara pemisahan/daur ulang yang beraneka ragam pula.

Teknologi pemisahan
 Berbagai sistem pengelolaan sampah mempunyai persyaratan tertentu dalam hal sifat atau kualitas sampah yang akan diolahnya.  Penanganan awal yang paling umum adalah pemisahan limbah berdasarkan jenis dan ukurannya.  Selanjutnya limbah diolah dengan sistem pengecilan ukuran.  Beberapa alat pemroses awal limbah padat di antaranya adalah shredder, ayakan trommel, pemisah magnetis, air classifier, dan baling.  Pemilahan dimulai oleh kerja pemulung yang sering kali telah mengambil sebagian dari sampah di bak sampah rumah tangga, TPS, dan TPA, berupa kertas, plastik, karton, logam, dan karet. Sisanya adalah limbah yang pada saat ini tidak mempunyai pasar daur ulang.

 Shredding  Operasi shredding tidak hanya bertujuan untuk mengecilkan ukuran sampah dan membuat sampah menjadi lebih seragam, tetapi juga melibatkan proses pencampuran sampah.  Contoh mesin shredder adalah flail-mill dan hammer-mill  Ayakan trommel  Bekerja berdasarkan perbedaan ukuran partikel.  Berupa ayakan berbentuk silinder terbuka pada kedua ujungnya yang bergerak secara rotary pada sumbunya. Silinder dipasang horisontal dengan sedikit kemiringan.  Limbah masuk pada ujung silinder yang lebih tinggi dan oleh gerakan silinder, limbah dengan ukuran lebih besar daripada ukuran lubang ayakan keluar pada ujung lain.

 Pemisah magnetis  Bekerja berdasarkan sifat magnetik suatu bahan terhadap medan magnet.  Sampah diangkut dengan konveyor dan dilewatkan sebuah medan magnet. Limbah yang bersifat feromagnetis akan tertahan oleh medan magnet, sedangkan bahan yang tidak feromagnetis akan terus terbawa konveyor  Air classifier  Bekerja berdasarkan densitas bahan dalam sampah.  Limbah dimasukkan dalam suatu arus udara di mana sampah akan terfluidisasi. Fraksi bahan yang ringan akan terbawa oleh arus udara dan fraksi berat akan jatuh dan terkumpul di bagian bawah alat.  Sampah dapat dipilah menjadi 2 atau 3 kelompok

 Baling  Bertujuan untuk mengatur dimensi limbah sedemikian rupa sehingga memudahkan penanganan lebih lanjut.  Sampah dipres hingga kerapatan dan dimensi tertentu.  Baling tidak merubah sifat fisik maupun kimia sampah.

 Proses ini menghasilkan pengurangan volume sampah, yaitu dengan memperkecil rongga-rongga tumpukan sampah.
 Baling juga memperkecil terjadinya gas metan  Biasanya tidak ditujukan untuk proses pembakaran dan menghasilkan air lindi yang tidak pekat.

Teknologi Pengelolaan Limbah Padat
 Insinerasi
 Pirolisa dan Gasifikasi  Pemadatan / Densifikasi  Proses Biologis : Biogas dan Pengomposan

 Lahan Urug

Insinerasi
 Proses oksidasi bahan organik menjadi bahan anorganik.  Insinerasi adalah sistem pembuangan sampah dengan cara mengurangi volume dan massa sampah.  Sebenarnya bukan suatu solusi dari sistem pengelolaan sampah karena sistem ini pada dasarnya hanya memindahkan sampah dari bentuk padat yang kasat mata menjadi sampah yang tidak kasat mata (gas).  Banyak difungsikan sebagai sistem pembangkit energi.  Jika berlangsung secara sempurna, komponen utama penyusun bahan organik (C dan H) akan dikonversi menjadi gas karbon dioksida dan uap air. Unsur penyusun lain (S dan N) dioksidasi menjadi oksida dalam fasa gas (SOx dan NOx), sedangkan unsur inert tetap berada pada fasa padat atau teruapkan dan terbawa oleh gas-gas.

 Untuk mengurangi pencemaran lingkungan, insinerator dilengkapi sistem pengendalian polusi udara.  Sistem insinerasi dapat mengurangi volume dan berat padatan hingga masing-masing 90% dan 75%.  Proses insinerasi menghasilkan energi panas yang dapat digunakan untuk pembuatan kukus, proses pengeringan, dan pembangkit listrik.

 Insinerasi limbah padat akan menyisakan residu yang beratnya kira-kira sama dengan kandungan bahan inert. Discrepancy berat residu dari berat yang diperkirakan dapat terjadi karena :
 penguapan atau entrainment sebagian bahan inert  proses oksidasi dari bahan-bahan logam  pembakaran bahan organik yang tidak sempurna  Umpan limbah perkotaan biasanya mempunyai densitas 13 – 17 lb/cuft, sedangkan residu 110 lb/cuft.

 Kandungan energi (heating value)

 menentukan kemampuan dalam mempertahankan keberlangsungan proses pembakaran dan banyaknya energi yang mungkin diperoleh dari sistem insinerasi
 Kebutuhan udara pembakar

 komponen utama penyusun limbah padat adalah karbon, hidrogen, dan oksigen
 kebutuhan udara dapat dihitung secara kasar dengan cara bahwa 1 cuft udara pada STP diperlukan untuk setiap 94 Btu energi netto yang dilepas dalam pembakaran (dengan

 walaupun dalam memperkirakan produksi panas dan kebutuhan udara pembakar cukup dilakukan dengan hanya mempertimbangkan unsur-unsur pentingnya saja, batasanbatasan lingkungan dalam hal polusi udara didasarkan pada produk-produk pembakaran dari unsur-unsur minoritas yang terkandung dalam limbah padat.

Kriteria desain insinerator
 mewadahi limbah yang sedang terbakar  memasok udara dalam jumlah yang cukup untuk terjadinya proses pembakaran  mencampur udara pembakar dan gas hasil proses pirolisa untuk menjamin terjadinya pembakaran sempurna sebelum gas-gas hasil pembakaran didinginkan  mengatur suhu gas hasil insinerasi sehingga tidak merusak refraktori dan peralatan pembersih gas  menghilangkan partikulat dan gas pencemar dari gas buang  memasukkan umpan dan mengeluarkan residu tanpa terjadinya pelepasan gas hasil pembakaran  mencapai persyaratan di atas secara ekonomis dan bebas masalah  memenuhi standar-standar estetika, untuk penempatan di lingkungan perumahan

 Tingkat kemungkinan suatu bahan dapat diinsinerasi bergantung pada faktor-faktor berikut :

 Kandungan air

 Nilai kandungan panas
 Garam-garaman anorganik  Kandungan sulfur dan halogen

 Jenis-jenis insinerator :  open burning  single chamber incinerator  open pit incinerator  multiple chamber incinerator  starved air unit  aqueous waste injector  multiple heart  rotary kiln  incinerator unggun pancar (fluidized bed incinerator)

 Open Burning
 Adalah teknik insinerasi sampah yang paling tua

 Terdiri dari tumpukan sampah di atas tanah dan dibakar tanpa menggunakan bantuan peralatan pembakaran khusus

Single chamber incinerator
 Limbah padat pada sistem ini diletakkan di atas grid kemudian dibakar.  Sistem ini dapat dilengkapi peralatan penyalaan atau tidak.  Pada sistem ini upaya mengendalikan emisi dilakukan dengan menambahkan afterburner dan damper, keduanya dimaksudkan untuk mengendalikan proses pembakaran.  Sebagian besar emisi yang dihasilkan disebabkan oleh proses pembakaran yang tidak sempurna.

 Open Pit Insinerator  Insinerator jenis ini dikembangkan untuk mengendalikan insinerasi bahan-bahan eksplosif, limbah yang akan menghasilkan bahaya ledakan atau pelepasan panas yang tinggi pada insinerator tertututp biasa

 Udara pembakar disemprotkan ke dalam ruang bakar dari bagian atas insinerator dengan kecepatan tinggi sehingga menciptakan turbulensi.
 Temperatur pembakaran dapat mencapai 2000 °F dan menghasilkan gas dengan asap dan

 Multiple chamber incinerator  Dalam upaya untuk mencapai pembakaran bahan secara sempurna dan mengurangi partikulat yang terbawa gas buang, insinerator dengan banyak ruang bakar telah dikembangkan.

 Ruang bakar utama digunakan untuk membakar padatan. Ruang bakar kedua memperpanjang waktu tinggal produk gas yang tidak terbakar dan merupakan tempat masuk bahan bakar tambahan guna pembakaran produk gas yang belum terbakar dan padatan-

 Pada insinerator jenis ini, baffle-baffle didesain untuk mengarahkan aliran gas hingga membuat belokan 90° dalam arah horisontal maupun vertikal sehingga memungkinkan terjadinya pengendapan padatan yang terbawa aliran gas.  Pada jenis in-line insinerator arah belokan gas hanya vertikal. Jenis in biasanya dilengkapi dengan sistem pengeluaran abu otomatis atau konveyor pembuang debu dan beroperasi secara kontinu.

 Starved Air Unit (SAU)
 Dalam upaya mengurangi emisi partikulat, laju udara pembakar yang masuk melalui grid dapat dikurangi. Sebagai akibatnya pembakaran sempurna gas-gas hasil proses pirolisa dan gasifikasi padatan tidak terjadi di atas unggun. Gas-gas tersebut dibakar di ruang yang terpisah dari ruang insinerasi yaitu di ruang bakar kedua (secondary).  Limbah padat ditempatkan dalam ruang bakar primary dan dibakar dengan udara yang jumlahnya kurang dari volume stoikiometrinya,

 Aqueous waste injector  Aqueous Waste injection terdiri dari sebuah nozel yang berguna untuk mengatomisasi limbah yang akan dibakar, dan alat penunjang lainnya.  Jenis-jenis nozel: mechanical atomizing nozzles, rotary cap burners, external low-pressure air atomizing burner, external high-pressure two-flow burner, internal mix nozzles, dan sonic nozzles.  Limbah yang dapat diolah dengan sistem ini adalah limbah cair dan lumpur yang dapat dipompa.  Temperatur pembakaran yang digunakan antara 13003000 °F (700-1650 °C).

 Limbah yang akan dibakar diatomisasi dengan ukuran partikel antara 40-100 m dan disemburkan ke dalam ruang bakar.  Efisiensi destruksi ditentukan oleh banyaknya pengembunan dan uap yang bereaksi.  Turbulensi sangat diinginkan untuk mendapatkan destruksi limbah organik setinggi mungkin.  Penempatan dan peletakan alat pembakar (fuel burner) serta nozel penginjeksi akan tergantung pada aliran cairan yang akan diinsinerasi (aksial, radial ataupun tangensial).

 Multiple heart  Multiple-hearth furnace terdiri dari sebuah rak baja, tungku berbentuk lingkaran yang disusun seri, satu di atas yang lainnya dan biasanya berjumlah 5-8 buah, shaft rabble arms beserta rabble teeth-nya dengan kecepatan berputar ¾ – 2 rpm.  Temperatur pembakaran 1400-1800 °F (760-980 °C).  Umpan dimasukkan dari atas tungku secara terus menerus dan abu dari proses dikeluarkan melalui silo.  Limbah yang dapat diproses dalam multiple-hearth furnace memiliki kandungan padatan minimum antara 15-50 %-berat.

 Limbah yang kandungan padatannya di bawah 15 %berat padatan mempunyai sifat seperti cairan daripada padatan. Limbah semacam ini cenderung untuk mengalir di dalam tungku dan manfaat rabble tidak akan efektif.

 Jika kandungan padatan di atas 50 % berat, maka lumpur bersifat sangat viscous dan cenderung untuk menutup rabble teeth.  Udara dipasok dari bagian bawah furnace dan naik melalui tungku demi tungku dengan membawa produk pembakaran dan partikel abu. Sebagian udara pembakar yang tidak sempat memasuki rabble arms didaur ulang.

 Multiple-heart furnace terdiri dari tiga zona, yaitu zona pengeringan, zona pembakaran, dan zona pendinginan.
• Zona pengeringan – terletak di bagian atas furnace – gunanya untuk memanaskan dan menguapkan kandungan air (moisture) yang dikandung oleh umpan sekaligus mendinginkan gas panas yang akan keluar dari furnace.

Zona pembakaran – terletak di bagian tengah furnace – limbah lumpur yang memasuki zona ini dipanaskan sampai terbakar (temperatur pembakaran) – jika lumpur terlalu kering (berisi lebih dari 25 %berat padatan) atau kandungan minyak dalam limbah tinggi maka sebuah afterburner perlu ditambahkan. Afterburner ini berguna untuk menjaga kalau ada senyawa volatil yang tidak terbakar yang menyebabkan asap dan bau emisi. Letak afterburner yang efektif adalah pada aliran sebelum gas keluar dari insinerator

Zona pendinginan – terletak di bagian bawah furnace – untuk mendinginkan abu sisa pembakaran dengan cara memindahkan panas sensibelnya pada udara pembakar yang diumpankan dari bawah furnace.

Multiple Heart

 Rotary Kiln
 Sistem insinerator jenis rotary kiln merupakan sistem pembuangan limbah yang paling universal dari segi jenis dan kondisi limbah yang dikelola.  Insinerator jenis ini dapat digunakan untuk mengolah berbagai jenis limbah padat dan sludge, cair maupun limbah gas.  Perangkat insinerator jenis rotary kiln biasanya terdiri dari sistem pengumpan, injeksi udara, kiln atau silinder horisontal yang dapat berputar pada sumbunya, afterburner, sistem pengumpul dan pengambilan abu, dan sistem pengendali pencemaran udara

 Keunggulan rotary kiln :  mampu membakar berbagai variasi aliran limbah  limbah mengalami perlakuan awal yang minimum  dapat membakar berbagai macam limbah (padatan atau cair) pada waktu bersamaan  tersedia dalam berbagai macam jenis mekanisme pengumpan (ram feeder, screw, injeksi langsung, dan lain-lain)  waktu tinggal limbah dalam kiln mudah dikendalikan  mempunyai turbulensi yang tinggi dan kontak yang efektif dengan udara di dalam kiln.

 Kelemahan rotary kiln

 partikulat yang terbawa oleh aliran gas relatif tinggi  diperlukannya after-burner yang terpisah untuk menghancurkan senyawa-senyawa volatil  kondisi di sepanjang tanur (kiln) sulit dikontrol

 jumlah udara berlebih (excess) yang dibutuhkan relatif besar yaitu sekitar 100 % dari stoikiometri
 seal tanur yang efektif sulit diperoleh  jumlah panas yang hilang (pada abu buangan) cukup berarti

Proses Pembuatan Semen

www.themegallery.com

Company Logo

Rotary Kiln

 Fluidized bed incinerator
 Limbah yang dapat diolah adalah cairan organik, gas dan butiran atau padatan dari proses sumur minyak.  Penghancuran limbah terjadi di mana bahan berada dalam keadaan terfluidakan.  Proses pembakaran terjadi pada temperatur sekitar 1400-2000 °F (760-1100 °C).  Di dalam tungku terdapat suatu media padat granular yang berfungsi sebagai penyimpan panas, biasanya berupa pasir.  FBI menggunakan forced draft fan untuk menggerakkan unggun maupun untuk mengalirkan gas hasil insinerasi dalam sistem.

Fluidized-bed combustion (FBC)

www.themegallery.com

Company Logo

Circulating fluidized-bed combustion (CFBC)

www.themegallery.com

Company Logo

Pirolisa dan Gasifikasi
 Pirolisa adalah proses konversi bahan organik atau dekomposisi limbah padat melalui jalur pemanasan tanpa kehadiran oksigen  Dengan adanya proses pemanasan pada temperatur tinggi, molekul bahan organik besar diurai menjadi molekul organik yang lebih kecil dan lebih sederhana  Proses pirolisa menghasilkan produk fasa gas, tar, larutan asam asetat, metanol, dan padatan char dan inert dari sampah  Komposisi produk pirolisa bervariasi dan bergantung pada laju pemanasan dan temperatur akhir ruang pirolisa

 Gas yang dihasilkan dimanfaatkan untuk :  menghasilkan udara panas  menggerakkan motor (menghasilkan energi mekanis)  membangkitkan tenaga listrik  Bahan organik yang dapat dikonversi adalah bahan dengan kandungan selulosa tinggi (kertas) dan berkelakuan mirip dengan kayu  Dalam proses gasifikasi, suatu gas reaktif dimasukkan ke dalam reaktor untuk bereaksi dengan produkproduk pirolisa dan menghasilkan produk-produk gas yang lebih banyak.  Gas reaktif yang biasa digunakan dalam gasifikasi adalah oksigen, kukus, dan terkadang hidrogen.

 Gas-gas hasil pirolisa juga akan bereaksi dengan arang dan tar dan menghasilkan tambahan gas jika temperatur pirolisanya tinggi.  Produk padat pirolisa berupa arang tidak murni dengan berat 17 – 25 % berat umpan dan kandungan panas 11.000 – 12.000 Btu/lb arang.

 Produk fasa cair mengandung 70 – 80 % air dengan kandungan panas 1000 – 2000 Btu/lb
 Gasifikasi adalah proses konversi termokimia padatan organik menjadi gas yang melibatkan proses perengkahan dan pembakaran tidak sempurna pada temperatur tinggi, yaitu 900 – 1000 °C  Gas produk pirolisa dapat dibakar dengan nilai kalor 4000 kJ/Nm3

 Keuntungan proses pirolisa/gasifikasi (dibandingkan dengan insinerator) :  volume gas yang perlu dibersihkan lebih sedikit, meskipun gas produk pirolisa dan gasifikasi dibakar  udara berlebih yang dibutuhkan untuk membakar gas produk pirolisa dan gasifikasi jauh lebih sedikit  memungkinkan untuk dipasang di lokasi yang relatif jauh dari instalasi pengolahan limbah. Arang dan tar dapat disimpan hingga dibutuhkan  biaya pemasangan lebih sederhana  dapat menangani berbagai jenis limbah seperti karet, plastik, dan kertas yang biasanya menyebabkan permasalah pada insinerator  peluang pemanfaatan produk-produk energi sistem pirolisa lebih bervariasi

Pemadatan/Densifikasi
 Merupakan proses pemanfaatan limbah selulosik halus yang melibatkan kegiatan pemanasan dan pemadatan dengan tujuan untuk meningkatkan nilai kalor per satuan volum.  Proses densifikasi dapat meningkatkan densitas bahan sampai 10 kali

Proses Mikrobiologis
 Biogas  Adalah teknologi konversi biomassa menjadi gas yang kaya akan metana dan slurry dengan bantuan mikroba anaerob.  Gas metana digunakan untuk berbagai sistem pembangkitan energi sedangkan slurry digunakan sebagai kompos.  Dua jenis teknologi biogas untuk MSW, yaitu :
• sistem basah : umpan limbah berupa slurry dengan kandungan padatan < 10% • sistem kering : umpan limbah dengan kandungan

 Pada sistem biogas yang mengolah limbah yang telah disortir, sisa limbah organik dicampur dengan air hingga diperoleh lumpur dengan kandungan padatan 30–35%, lumpur selanjutnya difermentasi oleh bakteri mesofilik dalam digester dengan waktu tinggal 3 minggu, perolehan gas mencapai 145 m3/ton limbah organik  Campuran limbah padat kota, limbah cair kota, dan kotoran ternak dapat pula diproses menjadi biogas

 Kapasitas sistem pengolahan limbah padat dengan digester gas bio antara 20.000 – 55.000 ton/tahun
 Produk digestion berupa gas dengan nilai kalor 6500 kJ/Nm3

 Terdapat juga proses konversi 2 tahap yang melibatkan bakteri mesofilik dan termofilik. • Pertama Enzim ekstraseluler mengkonversi bahan organik tak larut menjadi bahan yang larut dalam air, sementara bakteri anaerobik fakultatif mengkonversi bahan organik kompleks menjadi asam dan alkohol sederhana • Kedua Acetobacter anaerobik melanjutkan proses asidifikasi bahan organik menjadi asam asetat dan selanjutnya bakteri metanogenik asam asetat mengkonversi metana dan karbondioksida. Proses ini mengolah umpan dengan kandungan padatan sekitar 10 %. Waktu tinggal bahan pada tiap tahap mencapai 7 hari

 Pengomposan  Adalah proses terkendali penguraian bahan hayati sampah secara biologi.

 Kompos merupakan sejenis pupuk organik dan baik sebagai bahan tambahan dalam memperbaiki struktur dan kinerja tanah.  Berbeda dengan pupuk buatan, kandungan unsur N, P, dan K dalam kompos tidak tinggi, tetapi kompos mengandung unsur hara mikro (Fe, B, S, dan Ca) yang diperlukan oleh tanaman.
 Proses pengomposan mereduksi volum timbunan sampah hingga 75%.

 Proses pengomposan bergantung pada temperatur, jumlah oksigen, kandungan air, dan rasio antara karbon dan nitrogen dalam sampah  Populasi mikroorganisme berubah terus seiring dengan waktu. • Pada saat temperatur berubah dari ambien ke temperatur mesofilik, jumlah bakteri akan berlipat mencapai beberapa juta per gram. • Jika panas tetap di dalam sistem, temperatur akan terus meningkat sampai tingkat termofilik. Pada tahap ini, bakteri mesofilik diganti oleh bakteri termofilik. Sebagian besar proses dekomposisi sampah terjadi pada tahap ini. • Setelah beberapa minggu, temperatur kompos akan turun dan pada akhirnya bakteri mesofilik kembali berfungsi menggantikan bakteri termofilik

 Proses pengomposan dapat berlangsung dalam kondisi aerobik dan anaerobik. Proses aerobik berlangsung lebih cepat dan tidak menimbulkan bau.  Oksigen optimum adalah 5 – 15%  Oksigen di bawah 5% mengakibatkan proses berlangsung secara anaerobik dan memperlambat dekomposisi serta menimbulkan bau.  Oksigen di atas 15% mengakibatkan kehilangan panas pada tumpukan sampah dan memperlambat proses dekomposisi

 Kadar air optimum adalah 50 – 60%  Kelebihan air akan menghalangi pergerakan udara dalam tumpukan dan hal ini akan menyebabkan bakteri aerobik mati sehingga proses berlangsung secara anaerobik  Kekurangan air akan mengganggu perkembangan jasad renik dan hal ini akan memperlambat proses dekomposisi  Rasio C : N yang ideal adalah 20 : 1 sampai 40 : 1  Rasio C : N yang tinggi mengakibatkan proses dekomposisi berlangsung lama  Rasio C : N yang rendah, proses dekomposisi pada awalnya berlangsung cepat, namun akan segera menjadi lambat karena kekurangan unsur C

Jenis bahan organik yang dapat dikomposkan dan rasio kandungan C : N Jenis Bahan Sisa dapur/makanan Rumput Kotoran sapi Jerami Perdu/semak Rasio C : N 10 : 1 15 : 1 19 : 1 80 : 1 40-80 : 1

Kertas
Kayu

170 : 1
700 : 1

Sanitary land fill (lahan urug)
 Sampah dimasukkan ke dalam lubang, dipadatkan (compacted), dan ditutup dengan tanah  Mengurangi jumlah tikus, lalat, dan vermin lain  Mengurangi bahaya kebakaran

 Mengurangi bau
 Mengurangi bahaya pencemaran air permukaan dan air tanah

 Sistem baru dilengkapi dengan pengumpul air lindi (leachate) dan gas yang dihasilkan selama dekomposisi

 Pemilihan lokasi lahan urug :  lahan bukan merupakan daerah bajir  permeabilitas tanah maksimum 10 -7 cm/detik  sesuai dengan rencana tata ruang  merupakan daerah yang stabil secara geologi  bukan merupakan daerah resapan air tanah  ketebalan lapisan tanah liat minimum 1 meter
 Rekayasa dan konstruksi  sistem pelapisan  sistem pengaturan aliran air permukaan  sistem pengumpulan air lindi  sistem pengolahan air lindi

 Pengoperasian lahan urug  manajemen air lindi  manajemen air tanah  manajemen air permukaan
 Manajemen pasca operasi  monitoring  securing

 Permasalahan lahan urug  Gas metana Dapat terkumpul di dalam lubang dalam tanah dan menyebabkan terjadinya ledakan  Air lindi Kontaminasi air permukaan dan air tanah oleh air lindi dari lahan urug yang tidak dilengkapi dengan sistem saluran yang baik  Waktu operasi Lahan urug bukanlah cara penanganan sampah untuk jangka panjang karena ada saatnya di mana lahan urug akan terisi penuh oleh sampah, dan tidak ada tempat lain untuk digunakan sebagai lahan urug baru

 Pasca operasi
• pengawasan harus tetap dilakukan untuk mencegah kontaminasi air permukaan dan air tanah serta bahaya ledakan • rumah atau bangunan lain tidak boleh dibangun di atas lahan dan sekitar lahan urug untuk jangka waktu yang lama

Namun, lahan urug tetap diperlukan untuk menimbun sampah atau limbah yang tidak dapat dibakar atau yang tidak dapat digunakan lagi

www.themegallery.com

Company Logo

Recycling
 Recycle (daur ulang) lebih disukai daripada lahan urug atau insinerasi karena dapat

menghemat sumber daya alam dan lebih
ramah lingkungan (environmentally benign)  Proses daur ulang dapat menciptakan

lapangan kerja
 Satu hal yang perlu digarisbawahi agar proses daur ulang dapat dilaksanakan adalah

tersedianya pasar yang menjual barangbarang hasil daur ulang, dan bahan daur ulang harus lebih disukai daripada bahan awal

LOGO

www.themegallery.com

Click to edit company slogan .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->