P. 1
Bahan Belajar Keterampilan Medik Tahun Ajar 2009

Bahan Belajar Keterampilan Medik Tahun Ajar 2009

|Views: 320|Likes:

More info:

Published by: Arrum Chyntia Yuliyanti on Jun 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/29/2015

pdf

text

original

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi

Kedokteran

BAHAN BELAJAR KETERAMPILAN MEDIK

FARMASI KEDOKTERAN
Siti Rahmatul Aini, S.F, Apt, dr. Triana Dyah C, dr. Ilsa Hunaifi Andang Sari, S.Si, Apt, Drs. Agus Supriyanto, Apt, dr. Nurhidayati M.Kes, Emmy Amalia dr.

PENDAHULUAN
Ilmu farmasi kedokteran merupakan ilmu terintegrasi dengan ilmu farmasi dan ilmu kedokteran klinik. Ditilik dari sejarahnya, sebelum abad XX, obat yang digunakan masih sederhana yaitu obat tradisional dan Ars Prescribendi dan Ars Preparans dipegang oleh 1 ahli yaitu dokter/tabib. Sedangkan setelah abad XX, melalui perkembangan ilmu pengobatan maka diciptakan obat dari bahan kimia, Ars prescribendi oleh dokter dan Ars preparansi dilakukan oleh apoteker.

PERIHAL OBAT
BATASAN OBAT Obat dapat didefinisikan sebagai suatu zat yang dimaksudkan untuk dipakai dalam diagnosis, mengurangi rasa sakit, mengobati atau mencegah penyakit pada manusia, hewan dan tumbuhan. Obat adalah unsur bahan aktif secara fisiologis, zat kimia, atau racun. Menurut Permenkes RI No.242/1990, obat adalah bahan atau panduan bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, pemulihan, dan peningkatan kesehatan termasuk kontrasepsi dan sediaan biologis. Obat adalah unsur bahan aktif secara fisiologis, zat kimia, atau racun, sedangkan menurut Permenkes No.193/Kab/B-VII/71, obat adalah bahan/paduan bahan yang digunakan dalam menetapkan :  Diagnosis Contoh: cairan kontras (BaSO4)  Mencegah Contoh: vaksin, pil KB.  Menghilangkan penyakit/ gejala, luka/kelainan Contoh: obat-obat simptomatis, contoh: parasetamol.  Memperindah/memperelok tubuh Contoh: obat jerawat, pemutih KATEGORI OBAT Obat bisa dikategorikan menurut UU Farmasi, bentuk (fisik), cara pemberian dan khasiat/efek obat. Berdasarkan keamanannya obat dapat digolongkan (Peraturan MenKes No. 242/ Thn 90)  Obat bebas  Obat bebas terbatas  Obat keras  Obat Psikotropika  Obat narkotika

Menurut Jenisnya Obat Dapat Dibedakan Menjadi :

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

1

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi

Kedokteran

  

Obat baku/bahan obat Obat jadi Obat paten

  

Substansi yang ditetapkan oleh Farmakope Indonesia atau buku resmi lainnya yang ditetapkan pemerintah. Obat standart, obat generik: obat dengan komposisi dan nama teknis standart seperti dalam Farmakope Indonesia atau buku lain yang ditetapkan pemerintah. Trade name: obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar seperti nama pabrik atau yang dikuasakannya dan dijual dalam bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya dan obat tersebut obat yang masih dilindung oleh hak patennya. Obat paten tidak tersedia dalam bentuk generik, dan tidak boleh suatu perusahaan membuat nama paten yang lain dengan kandungan yang sama selama masa paten obat ini masih dikuasai oleh perusahaan leadernya atau selama hak paten kandungannya tidak dijual atau dilisensikan ke perusahaan lain yang berminat. obat yang telah habis masa patennya obat dengan nama generik, nama resmi yang telah ditetapkan dalam Farmakope Indonesia dan INN (International Non-propietary Names) dari WHO (World Health Organization) untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Nama generik ini ditempatkan sebagai judul dari monografi sediaan-sediaan obat yang mengandung nama generik tersebut sebagai zat tunggal (Obat Generik Berlogo). Obat Generik bisa berupa obat off paten yang terdiri atas branded generik dan generik (berlogo). Obat tradisional, jamu, fitofarmaka: obat yang didapat langsung dari bahan-bahan alamiah Indonesia. Obat generik yang dibuat oleh pabrik dengan nama yang berbeda dengan nama generiknya tetapi komposisinya sama dengan generiknya. Yang membedakan adalah bentuk sediaan, rasa, kemasan dan promosi.

 

Obat Off Paten Obat Generik

 

 

Obat asli

Obat dengan  Nama Dagang

Menurut Cara Pemberiannya, Obat Dibedakan Menjadi:  Obat sistemik, yaitu cara pemberian obat yang memungkinkan obat masuk dalam tubuh dan beredar dalam sirkulasi sistemik sehingga efek kerjanya bersifat sistemik. Cara pemberian obat sistemik ini misalnya pemberian per oral dan parenteral.  Obat lokal, yaitu cara pemberian obat yang menghasilkan efek setempat atau hanya pada tempat pemberian. Obat lokal ini tidak atau minimal ditemukan dalam sirkulasi sistemik. Cara pemberian obat dengan efek lokal misalnya obat topikal seperti salep kulit, sampho anti ketombe, dan pemberian per inhalasi. Menurut khasiat/efek obat, obat dibedakan menjadi kelas terapi seperti tercantum dalam Daftar Obat Essensial Nasional ( DOEN). Penggolongan Berdasar Efek Farmakologi Contoh : Fenobarbital; dapat dikategorikan menurut:  Tempat kerja dalam tubuh; merupakan obat yang bekerja pada SSP  Aktivitas terapeutik; merupakan obat sedatif-hipnotik.  Mekanisme kerja farmakologi; merupakan depressan SSP  Sumber asal/ sifat-sifat kimia; merupakan turunan asam barbiturat. Menurut bentuk dan struktur kimia:

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

2

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi

Kedokteran
      

Asam; contoh acetosal, acidum ascorbinium, barbitalum Basa; contoh alucol, bisacodyl, hidrochlorothiazida Garam; contoh : natrium chlorida, papaverine HCI, atropine sulfas Garam/senyawa kompleks; contoh: magnesium trisilikat, cynacobalamin, aluminium/ kalium sulfat. Ester; contoh: chloramphenicol palmitat, adrenaline bitartrat, gliceryl guayacolate Kristal mengandung aior: contoh ampiciline trihiodrat, calcii lactas, codein HCI Isotop radioaktif: contoh : chlormerodin Hg, natrii yodida.

Hubungan antara struktur kimia-sifat kimia dan aktivitas biologis obat.
Struktur kimia Sifat kimia-fisika Aktifitas biologis obat

Jumlah Macam Susunan dari atom molekul obat

Kelarutan Koefisien partisi Adsorpsi Derajat ionisasi

Respon Kenaikan jumlah ikatan obat reseptor

Penggolongan Obat Tradisional

Penggolongan obat di atas adalah obat yang berbasis kimia modern, padahal juga dikenal obat yang berasal dari alam, yang biasa dikenal sebagai obat tradisional.Obat tradisional Indonesia semula hanya dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu obat tradisional atau jamu dan fitofarmaka. Namun, dengan semakin berkembangnya teknologi, telah diciptakan peralatan berteknologi tinggi yang membantu proses produksi sehingga industri jamu maupun industri farmasi mampu membuat jamu dalam bentuk ekstrak. Namun, sayang pembuatan sediaan yang lebih praktis ini belum diiringi dengan perkembangan penelitian sampai dengan uji klinik. Saat ini obat tradisional dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu jamu, obat ekstrak alam, dan fitofarmaka.

1.

Jamu (Empirical based herbal medicine)

Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, misalnya dalam bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional. Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur yang disusun dari berbagai tanaman obat yang jumlahnya cukup banyak, berkisar antara 5 – 10 macam bahkan lebih. Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris. Jamu yang telah digunakan secara turunmenurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun, telah membuktikan keamanan dan manfaat secara langsung untuk tujuan kesehatan tertentu.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

3

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi

Kedokteran

2.

Obat Herbal Terstandar (Scientific based herbal medicine)

Adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral. Untuk melaksanakan proses ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah dengan tenaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan maupun ketrampilan pembuatan ekstrak. Selain proses produksi dengan tehnologi maju, jenis ini pada umumnya telah ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik seperti standart kandungan bahan berkhasiat, standart pembuatan ekstrak tanaman obat, standart pembuatan obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas akut maupun kronis. 3. Fitofarmaka (Clinical based herbal medicine) Merupakan bentuk obat tradisional dari bahan alam yang dapat disejajarkan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia.. Dengan uji klinik akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal karena manfaatnya jelas dengan pembuktian secara ilimiah.

TATA NAMA
Sesuai dengan Monografi Farmakope Indonesia, maka nama yang sah digunakan dalam penulisan resep adalah:  Nama latin : contoh: acidium acetylsalicylicum,aecetaminofen, methampyronum  Nama Indonesia : contoh:asam asetilsalisilat, asetaminofen, metampiron  Nama lazim/generik : contoh: acetosal, paracetamol, antalgin

DERIVAT OBAT (TURUNAN OBAT)
Derivat (turunan) obat adalah sekelompok obat yang diturunkan dari senyawa yang sama dengan senyawa induk tetapi masing-masing punya struktur kimia yang berbeda, umumnya digunakan untuk sekelompok obat dengan khasiat yang sama, dan didapatkan dari hasil” manipulasi molekuler” senyawa induk (dengan struktrur kimia tertentu). Tujuan dibuatnya derivat obat adalah untuk mendapatkan obat baru dengan efek sama tapi lebih poten dan efek samping lebih kecil atau efek berbeda. Berdasarkan efek farmakologinya, derivat obat ini dapat dikategorikan menjadi obat lain. Sebagai contoh, SULFONAMID, suatu antimikroba, secara struktur kimia menyerupai PABA. Dari sulfonamid dapat diturunkan banyak obat baru dengan efek berbeda antara lain: chlorthiazide (berefek diuretika/ penurun tekanan darah); chlorpropamida yang mempunyai struktur mirip sulfonamid tapi berefek lain yaitu sebagai obat anti-diabetik.

DOSIS OBAT
Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

4

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi

Kedokteran

Dosis lazim, dosis terapeutik adalah sejumlah obat ( dalam satuan berat/volume unit) yang memberikan efek terapeutik pada penderita ( dewasa). Selain dosis terapeutik, dikenal pula istilah, dosis awal, dosis pemeliharaan, dosis maksimum, dosis toksis, dan dosis letal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dosis antara lain adalah faktor obat, faktor pemberian, faktor penderita dan indikasi dan patologi penyakit. Dosis Maksimum (DM) kecuali dinyatakan lain, adalah dosis maksimum untuk dewasa untuk pemakaian melalui mulut, injeksi subkutan dan rektal. Penyerahan obat dengan melebih DM dapat dilakukan, jika dibelakang jumlah obat bersangkutan pada resep dibubuhi tanda seru dan paraf dokter penulis resep. Dosis Lazim untuk dewasa, anak dan bayi hanya merupakan petunjuk dan tidak mengikat. • FAKTOR OBAT Dipengaruhi oleh sifat fisika, daya larut (air/lemak), bentuk(kristal/amorf), sifat kimia (asam, basa, garam, ester), derajat keasaman (pH dan pKa), toksisitas. • FAKTOR RUTE PEMBERIAN OBAT Dosis obat yang diberikan melalui rute/cara pemberian apapun, harus mencapai dosis terapi dalam pada target organ. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor, misanya faktor yang membatasi kemampuan absorbsi obat pada pemberian per oral, maka dosis oral berbeda dengan dosis obat yang diberikan secara parenteral. Dosis obat pada pemberian per oral lebih tinggi dari pada per parenteral. • FAKTOR PENDERITA Dipengaruhi oleh umur (anak, dewasa, geriatri), berat badan (normal, obesitas, malnutrisi), luas permukaan tubuh, ras dan sensitivitas individual. •   INDIKASI DAN PATOLOGI PENYAKIT Penyebab penyakit Keadaan pato-fisiologis, misalnya pada gangguan fungsi hepar dan/atau gangguan fungsi ginjal, beberapa jenis obat dikontraindikasikan, atau dosis beberapa jenis obat perlu diturunkan atau interval pemberian diperlama.

PERHITUNGAN DOSIS OBAT UNTUK ANAK Anak bukanlah miniatur dewasa, oleh karena organ tubuhnya (hepar, ginjal, saluran pencernaan, dan SSP) belum berfungsi secara sempurna, luas permukaan tubuh, kecepatan metabolisme basal, serta volume dan distribusi cairan tubuh berbeda dengan orang dewasa, maka besar dosis pada anak ditentukan berdasarkan pada keadan fisiologi anak. Dalam menghitung dosis obat untuk anak, perlu dibedakan antara :      Prematur Neonatus ( 1bln) Infant ( s.d 1 thn) Balita (>1-5 thn) Anak ( 6-12 tahun)

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan dosis anak: Faktor farmakokinetik obat  Absorpsi : kemampuan absorpsi dipengaruhi oleh  PH lambung dan usus  Waktu pengosongan lambung  Waktu transit

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

5

Ket rumus diling: Da= dosis anak DM= dosis Maksimum n= umur 2.73 m2 Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 6 . Berdasar perbandingan umur: Rumus young ( Anak umur 1 – 8 tahun) Da = n x DM (mg) n +12 Angka 12 menunjukkan berlaku untuk umur anak <12 tahun Dosis Rangkap = Dosis Kombinasi Apabila dalam resep terdapat dua atau lebih obat yang mempunyai khasiat sama. Berdasar perbandingan berat badan dianggap berat badan BBa orang dewasa 70 kg DM (mg) Rumus Clark = 70 3.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran     Enzim pencernaan Distribusi : jumlah obat yang sampai di jaringan dipengaruhi oleh:  Masa jaringan  Kandungan lemak  Aliran darah  Permeabilitas membran  Kadar protein plasma  Volume cairan ekstraseluler Metabolisme : kecepatan metabolisme dipengaruhi oleh:  Ukuran hepar  Kemampuan enzim mikrosomal Eksresi : proses eksresi obat terutama melalui ginjal dan dipengaruhi oleh:  Kecepatan filtrasi glomeruler  Proses sekresi dan reabsopsi tubuler Cara menghitung dosis anak 1. Berdasar perbandingan luas permukaan tubuh (LPT) Dianggap bahwa luas permukaan tubuh orang dewasa : 1. Didasarkan perbandingan dengan dosis dewasa. Rumus Dilling 20 DM (mg) Da = n Angka 20 menunjukkan bahwa rumus ini berlaku untuk orang dewasa >20-24 tahun. maka dosisdosis yang ada dihitung sebagai berikut : Dosis A DM A + Dosis B DM B + dan seterusnya ≤1 Dihitung dosis rangkap sekali dan dosis rangkap sehari.

73 4. BB ideal dan komposisi komponen tubuh berbeda dengan BB normal Untuk perhitungan dosisnya harus memperhatikan kelarutan obat dalam lemak (lipofisitas) :  Berdasar berat badan tanpa lemak (BBTL) untuk obat non-lipofilik.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Rumus ( crawford.8+0.Terry Rouke) = LPT a DM (mg) 1.8 n = umur dalam tahun atau 2.5 + n DM Da = 19. Untuk bayi 0-11 bulan Da= 89 13 + M DM Da = dosis anak DM= Dosis Makanan m = umur dalam bulan atau 28. gentamisin  Berdasar berat badan normal ( BBN) untuk obat lipofilik Contoh: thiopental Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 7 . PERHITUNGAN DOSIS OBAT PADA OBESITAS Dikatakan obesitas jika BB > 20%. Contoh: digitoksin.9 W Da = 1+ W W= berat dalam kg DM Untuk balita 1 – 4 tahun 4. Didasarkan atas ukuran fisik anak secara individual  Sesuai dengan BB anak ( dalam kg)  Sesuai dengan LPT anak ( dalam m2) CATATAN: Kelemahan perhitungan anak dengan perbandingan dengan dosis dewasa:  Umur: tidak tepat oleh karena ada variasi BB dan LPT  Berat Badan : tidak tepat untuk semua obat  LPT : tidak praktis terutama kasus gawat Karena kelemahan-kelemahan tersebut maka diciptakan rumus baru untuk menghitung dosis anak yang lebih akurat oleh bagian farmasi kedokteran Unair.5 + W Da = 41 DM W= berat badan dalam kg Catatan : rumus ini diturunkan dari Rumus Clark ( yang telah diseuaikan untuk anak Indonesia).

5-1 g/ hari ( dosis tunggal atau terbagi) . anak : 10 mg/kg BB/ hari DOSIS UNTUK EFEK BERBEDA Sebagai contoh. dosisnya 30 mg/ 3-4 d. PHENOBARBITAL sebagai :  sedative – hipnotik.  Griseofulvin 0. dosisnya 30-60 mg/2-3 DM KURVA BENTUK BEL Menunjukkan efek obat dalam populasi Error: Reference source not found Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 8 .■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran DOSIS LAZIM / TERAPEUTIK Yang tertulis dalam pustaka  Dosis sekali (tunggal) Bisacodyl 5-10 mg/ dosis tunggal  Dosis sehari Dexamethasone 0.2-2mg/ hari Diazepam 5-30 mg dalam dosis terbagi  Dosis/kg.BB/hari  Ampicilin 50-100 mg/kg BB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam.d  antikonvulsan.

Peraturan MenKes No. dalam Keputusan Menkes No. dan dokter hewan kepada apoteker pengelola apotek untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Resep harus ditulis dengan jelas (terbaca red) dan lengkap 2. drh 2. 26/ thn 1981 BAB III pasal 10 menjelaskan: 1. Selain itu . 242/ thn 90 : Pasal 1 ayat 1 Obat adalah bahan atau panduan bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sisitem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa. apabila dalam hal dimkasud ayat (1) karena pertimbangan tertentu dokter penulis tetap pada pendirianya. dokter wajib menyatakan secara tertulis atau membubuhkan tanda tangan yang lazim diatas resep. pemulihan. • Penderita yang bersangkutan • Petugas kesehatan • Petugas yang berwenang menurut perundang. dokter gigi. Pasal 16: 1. Tanggal penulisan R/. 922/thn 1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek Pasal 1 ayat 1 Resep adalah permintaan tertulis dari dokter.26/thn 81) resep juga harus memuat juga: 1. Peraturan MenKes No. drg. nama setiap obat dan komposisi obat 3. alamat. dan nomor izin praktek dr. Jenis hewan. Nama. nama. 5. Peraturan MenKes RI No. Tanda tangan /paraf dokter penulis R/ sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. 2. apoteker harus memberitahukan kepada dokter penulis resep. serta alamat pemilik untuk R/ dokter hewan 6. penyembuhan penyakit. 280/ thn 1981 tentang resep yang terdapat dalam BAB II yang berbunyi: Pasal II : disamping memuat pasal 10 ( no. Pasal 17 ayat 3: R/ atau salinan R/ hanya boleh diperlihatkan kepada : • dokter penulis R/ atau yang merawat. 922/ thn 93: Pasal 15 ayat 3 Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis dalam R/ apoteker wajib berkonsultasi dngan dokter untuk pemilihan obat yang tepat. Tanda seru dan paraf dokter untuk R/ yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis maksimal.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran UNDANG-UNDANG FARMASI & KODE ETIK KEFARMASIAN DALAM KEDOKTERAN UU FARMASI Peraturan MenKes no. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan R/ 4.undangan yang berlaku Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 9 . dan peningkatan kesehatan termasuk kontrasepsi dan sediaan biologis. Masih tentang resep. apabila apoteker menganggap bahwa dalam R/ terdapat kekeliruan atau penulisan resep yang tidak tepat. pencegahan penyakit. Ketentuan mengenai resep yang dimaksud ayat ( 1) ditetapkan Menteri.

Lambang obat bebas terbatas Sebagai contoh peringatannya :  P No. Obat ini ditandai dengan lingkaran warna hijau. Pada kemasannya ada tanda lingkaran biru tua dan termasuk obat daftar W ( Werschuwin) ( Kep.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran GOLONGAN OBAT Peraturan MenKes no. dan toko obat.  Lasonil  Liquor burowl  P No. 3 : awas obat keras hanya untuk bagian luar badan  Anthistamin pemakain luar . caladril. tapi juga dengan batasan jumlah dan isi berkhasiat serta tanda peringatan P.  Dulcolax tablet  Acetaminofen = >600 mg/tab atau >40 mg/ml (kep Menkes no.66227/73)  SG tablet. hanya untuk kumur . 242/ thn 90 pasal 1 ayat 3 menyebutkan bahwa obat digolongkan menjadi : 1. Lambang obat bebas Contohnya:      2.  P No. caladin. Vitamin larut air 2-4 salep. 4 : awas obat keras hanya untuk dibakar  Dalam bentuk rokok dan sebuk untuk penyakit asma yang mengandung scopolamin. 6355/69). Oralit Parasetamol ≤ 500mg Ibuprofen 200 mg Obat bebas terbatas yaitu obat yang dibeli secara bebas tanpa resep dokter. awas obat keras tidak boleh ditelan  Dulcolax Suppos  Amonia 10 % ke bawah  P No. I : awas obat keras. Di buku ISO ditandai dengan tulisan T. Menkes No. 2 : awas obat keras.5 . 6 : awas obat keras wasir jangan ditelan:  Varemoid Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 10 .  P No. Obat bebas obat bebas yaitu obat yang dijual bebas dan dapat dibeli secara bebas tanpa resep dokter. misal dalam bentuk cream. jangan ditelan  Gargarisma khan  Betadin gargarisma  P NO. di toko. bacalah aturan pemakaiannya. Dibuku ISO ada tanda atau tulisan B.

Obat ini termasuk daftar G ( Gevarrlijk). Dokter yang berizin (dr. dan keputusan Menkes : 924/93 (OWA 2) maka menurut cara memperolehnya. pasien dengan resep dokter untuk obat yang bukan OWA 2. Psikotropika Menurut Undang-undang RI no. Lambang obat keras Berdasarkan keputusan Menkes No.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 3. I. asam mefenamat)  antihistamin dan obat asma  Psikotropika Kombinasi  Obat Keras tertentu Menurut UU No. Harus dengan resep dokter ( G1)  Untuk semua injeksi  Antibiotika dan virus  Obat-obat jantung  Obat-obat psikotropika. Pasal 2 ayat 2 tentang penggolongan psikotropika: Penggolongan psikotropika: Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 11 . apoteker 3. dokter/dokter gigi 4.drg) 4. PBF (pedagang besar farmasi) 2. dokter hewan Yang berhak memiliki serta menyimpan obat daftar G dalam jumlah yang patut disangka bahwa obat tersebut tidak akan digunakan sendiri adalah: 1. 49/1949 pasal 3 ayat 2. 5 tahun 1997 tentang PSIKOTROPIKA yang terdiri atas 16 bab 74 pasal. 347/ menkes/SK/VII/1990 tentang obat wajib Apotek (OWA 1) No. b. tertanggal 11 maret 1997. Disarankan oleh apoteker di apotek  pil kb  analgetik-antipiretik ( antalgin. Dokter hewan (dalam batas haknya) 4. Apoteker hanya dapat menjual obat keras kepada: 1. Obat keras Adalah obat yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI dan yang ditandai dengan lingkaran warna merah lingkaran merah bergaris tepi hitam dengan tulisan huruf K di dalamnya dan di penandaanya harus dicantum kalimat “Harus dengan Resep Dokter”. APA (apoteker pengelola apotik) 3. obat keras terbagi 2: a. PSIKOTROPIKA adalah zat atau obat baik alamiah maupun bukan narkotik yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

mengedarkan psikotropika golongan I d.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 1. 3. BAB I pasal 1 Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 12 . Narkotika Obat narkotika ditandai dengan lingkaran warna putih ada palang merah di tengah-tengahnya dan termasuk daftar O (Opiat). Pasal 68 : tindak pidana di bidang Psikotropika sebagaimana diatur dalam undang-undang ini adalah kejahatan: 5. memproduksi atau menggunakan psikotropika golongan I c. menolong orang sakit dalam keadaan darurat c. 2. BAB XIV. psikotropika golongan I untuk ilmu pengetahuan 3. menjalankan praktek dan diberikan dengan suntikan b. Lambang obat golongan narkotika UU Narkotika No. mengimpor selain kepentingan ilmu pengetahuan e. psikotropika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan atau ilmu pengetahuan. Jika terorganisasi maka akan dipidana mati atau seumur hidup dan membayar denda 750 juta. menggunakan psikotropika selain yang dimaksud pasal 4 ayat 2 b. psikotropika golongan I psikotropika golngan II psikotropika golongan III psikotropika golongan IV Pasal 4 1. Peresepan tidak boleh diulang dan ada tanda tangan dokter penulis resep. Barang Siapa: a. Pasal 14 ayat 5 Dokter hanya diperbolehkan menyerahkan obat psikotropika apabila: a. secara tanpa hak memiliki menyimpan atau membawa psikotropika golongan I dipidana penjara paling sedikit 4 tahun dan selama-lamanya 15 tahun dan membayar denda paling sedikit 150 juta dan paling bayak 750 jt. Di buku ISO ditandai dengan tulisan N. Ketentuan Pidana ( 13 pasal) Pasal 59 1. 2. 22 tahun 1997 tentang Narkotika dengan 15 BAB 104 pasal. Untuk memperolehnya harus dengan resep dokter dan apotik wajib melaporkan jumlah dan macamnya. 4. 2. menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek. 9 thn 1976 yang terdiri atas 10 bab 55 pasal diganti dengan UU no. selain pasal 4 ayat 2 psikotropika golongan I dinyatakan sebagai barang terlarang.

Narkotika golongan II= Metadon. obat-obat ini mulai dari pembuatannya sampai pemakaiannya diawasi dengan ketat oleh Pemerintah dan hanya boleh diserahkan oleh apotek atas resep dokter. kecuali jumlah sangat terbatas untuk pengembangan ilmu pengetahuan dengan pengawasan ketat dari Menkes. narkotika golongan I dilarang diproduksi atau digunakan dalam proses produksi. balai pengobatan dan dokter.kodein. BAB III. memberantas peredaran gelap narkotika. mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika 3. opium. rumah sakit. Pasal 5 Narkotika golongan I hanya digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan dilarang digunakan untuk kepentingan lainnya. morfina. penyerahan narkotika hanya dilakukan oleh: apotek.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Narkotika : zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semisintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran. tebain c. heroin b. Menkes : mengupayakan tersedianya narkotika untuk pelayanan kesehatan atau pengembangan ilmu pengetahuan Pasal 9 I. Tujuan pengaturan Narkotika 1.kokain. Pasal 39 1. Oleh karena itu. Puskesmas. Tiap bulan apotek wajib melaporkan pembelian dan pemakaiannya pada pemerintah. menjamin ketersediaannya narkotika untuk keperluan pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan. petidin. 2. Narkotika golongan I. Pengadaan Pasal 6 I. hilangnya rasa. mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Pasal 4 Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan. BAB II Pasal 2 Narkotika digolongkan menjadi: a. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 13 . BAB V PEREDARAN Pasal 33 Narkotika dalam bentuk obat jadi hanya dapat diedarkan setelah terdaftar pada Depkes Pasal 37 Narkotika golongan I hanya dapat disalurkan oleh pabrik obat tertentu atau pedagang besar farmasi tertentu kepada lembaga ilmu pengetahuan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan. Narkotika golongan III.

c. 385 tahun 1989 Pasal 26 Ayat 1 Dokter dan dokter gigi dilarang: a. sikap dan kebiasaan manusia dalam pergaulan sesama manusia dalam masyarakat yang mengutamakan kejujuran terhadap diri sendiri dan sesama manusia. Balai Pengobatan. dan dokter mengedarluaskan narkotika golongan II dan III bukan untuk pelayanan kesehatan. Pasal 99 Dipidana penjara paling lama 10 tahun dan didenda 200 juta bagi pimpinan Rumah Puskesmas. Pasal 1 ayat 1 Daerah terpencil adalah daerah yang sulit komunikasinya meliputi wilayah administrasi yang luas serta berpenduduk jarang. Menolong orang sakit dalam keadaan darurat melalui suntikan. dipidana paling lama 5 tahun dan didenda 250 jt. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 14 . melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kode etik kedokteran b. rumah sakit. menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika golongan II orang lain. Penyerahan narkotika oleh dokter hanya dilakukan dalam: a. apotek. KETENTUAN PIDANA ( PASAL 78-99) Pasal 84 Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum: a. sarana penyimpanan pemerintah. tingkah laku. b. 4. puskesmas. dokter. Bagi apoteker: 1.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 2. apotik lain . balai pengobatan hanya dapat menyerahkan narkotika kepada pasien berdasarkan R/ dokter. Ayat 2 Larangan pada ayat 1b tidak berlaku bagi dokter yang bertugas di Puskesmas atau daerah terpencil yang tidak ada apotek atau menolong orang sakit dalam keadaan darurat. dipidana paling lama 10 tahun dan didenda 500 jt. Peraturan ini juga berlaku untuk obat dan golongan psikotropika dan narkotika. 5. narkotika dalam bentuk suntikan dalam jumlah tertentu . disarankan dokter dimaksud ayat 4 hanya dapat diperoleh di apotek. apotek. menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika golongan I orang lain. untuk untuk untuk Sakit. puskesmas. menjalankan praktek dan diberikan melalui suntikan. c. balai pengobatan. KODE ETIK KEFARMASIAN DALAM KEDOKTERAN Etika adalah suatu perbuatan. BAB XII. Menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek. dipidana paling lama 15 tahun dan didenda 750 jt b. pasien. R/ adalah rahasia tidak boleh dibicarakan kepada siapapun kecuali bila diperlukan untuk membuktikan kebenaran yaitu berdasarkan perintah pengadilan. apotek hanya dapat menyerahkan narkotika kepada : rumah sakit. Menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika golongan III orang lain. yang HAK DAN KEWAJIBAN DOKTER TENTANG PENGELOLAAN OBAT SESUAI PERATURAN PERUNDANGAN Hal ini dicantumkan dalam peraturan Menkes No. 3. memberikan suntikan atau meracik obat kecuali suntikan.

suspensi. tidak boleh merubah obat yang tertulis dalam R/. dll. Disamping itu perlu diperhatikan pula penulisan resepnya agar jelas dan lengkap . jangan meninggalkan kertas R/ kosong yang sudah ditanda tangani 3. sifat sediaan. maka apoteker harus memberi pertolongan dalam batas pengetahuan dan kemampuannya. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 15 . kecuali suntikan  menulis R/ harus obat produk dari perusahaan farmasi tertentu  menjual obat ditempat praktek kecuali dengan ketentuan tertentu  menjual contoh obat. demikian juga sebaliknya. 4. apabila seorang pasien meminta nasehatnya dalam bidang pengobatan. dapat melindungi obat dari faktor-faktor yang menimbulkan kerusakan baik di luar maupun dalam tubuh.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 2. sehingga tidak memberikan permasalahan dalam pelayanannya. kondisi penderita dan penyakitnya. tanpa konsultasi dokter penulis R/ 3. 2. Bagi dokter: 1. anak balita: sebaiknya diberikan oral dalam bentuk sediaan cairan ( solutio. dapat dikemas/ dibentuk lebih menarik dan menyenangkan Dalam memilih BSO perlu memperhatikan sifat bahan obat. kecuali jika pertolongan atau pengobatan itu sangat diperlukan. kalau ada kesalahan dengan apoteker saat memberikan obat. Hendaknya dokter langsung berhubungan dengan apoteker. 4. seorang apoteker hendaknya menghindarkan diri dari tindakan atau pernyataan yang dapat menyebabkan berkurangnya atau hilangnya kepercayaan pasien pada dokter. sedang bentuk tablet atau kapsul hendaknya dihindari bagi anak dibawah umur lima tahun. emulsi. inhalasi) 5. efisien dan atau memberikan efek yang optimal. Umur penderita: a. BENTUK SEDIAAN OBAT Bentuk sediaan obat (BSO) diperlukan agar penggunaan senyawa obat/ zat berkhasiat dalam farmakoterapi dapat secara aman. maka apoteker harus menyarankan atau menasehati pasien untuk datang ke dokternya. Bentuk sediaan padat yang masih dapat diberikan ialah bentuk pulveres ( puyer). harga. karena bentuk sediaan cair lebih mudah diminum daripada bentuk padat. maka bertentangan sekali dengan kode etik bila hal ini dibicarakan dengan pasien. perlu dijaga agar kertas R/ jangan sampai digunakan orang lain untuk memberi atau menerima sebagaimana telah terjadi 2. dapat menutupi rasa pahit dan tidak enak dari bahan obat 3. MANFAT BENTUK SEDIAAN OBAT Bentuk sediaan obat dipilih agar: 1. menghindarkan semua tindakan yang berentangan dengan etika kedokteran diantaranya:  memberikan atau meracik obat. FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MENENTUKAN PEMILIHAN BENTUK SEDIAAN OBAT 1. merupakan sediaan yang cocok untuk:  obat yang tidak stabil. tidak larut  setiap cara penggunaan  penyakit pada berbagai tubuh 6. dapat menyediakan kerja yang luas 4. dapat melengkapi kerja obat yang optimum ( topikal. guttae) . Umumnya BSO mengandung satu atau lebih senyawa obat/ zat yang berkhasiat dan bahan dasar/ vehikulum yang diperlukan untuk formulasi tertentu.

guttae. Vitamin C dalam bentuk sediaan cairan (oral) akan terurai. supositoria 2. ditujukan untuk pemakaian oral atau luar. atau linimentum/ cream/ unguentum/ cream dengan vehikulum tertentu. Misalnya berbagai garam Fe ( Ferosi Sulfat. Obat yang tidak stabil diberikan dalam bentuk suspensi atau larutan air dapat dibuat dalam bentuk serbuk atau granul. Orang dewasa : obat yang diberikan per oral lebih sering diberikan dalam bentuk sediaan padat daripada bentuk sediaan cair. tidak ditemukan dalam bentuk serbuk. pilih bentuk sediaan cair seperti bentuk sediaan pada anak-anak. suspensi/mixtura agitanda. Lokasi tubuh dimana obat harus bekerja: a. bahan obat yang berbau amis: dipilih dalam bentuk sediaan tablet atau kapsul atau lebih baik dalam bentuk dagree. Bentuk sediaan tersebut harus dapat dibedakan untuk dipakai pada kulit biasa atau kulit berambut atau mukosa dan untuk kulit yang utuh atau terluka. sehingga diberikan dalam bentuk sediaan tablet. Geriatri : dalam hal kesulitan menelan pada penderita lanjut usia. Penyerapan atau penetrasi obat melalui kulit: bentuk sediaan injeksi. obat dengan bentuk sediaan sustained release ( berupa tablet atau capsul) bekerja lebih lama daripada bentuk sediaan tablet atau kapsul biasa. pemberiaan obat cukup sekali atau dua kali sehari. sehingga akan lebih enak diberikan dalam bentuk sediaan padat ( tablet/kapsul) Misalnya. Anak-anak atau orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet lebih mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran b. cream. emulsi. Bentuk teraupetik obat yang optimal dan efek samping yang minimal bagi penderita: a. Bentuk sediaan setengah padat : unguenta. rektal atau injeksi. 2. pulveres. Ferosi klorida. b. tabula.. Ferosi carbonas). 6. suspensi. penderita tidak sadar atau koma: dipilih bentuk sediaan injeksi atu rektal b. b. Metronidazol b. Masalah stabilitas yang sering dihadapi dalam sediaan bentuk cair. Keadaan umum penderita a. karena bila diberikan dalam bentuk sediaan cair akan berasa seperti besi karatan pada lidah sangat tidak menyenangkan. unguentum/pasta. Bentuk sediaan yang paling enak/ cocok bagi penderita: a. infusa. Bentuk sediaan cair: solutio/mixtura. dll. efek lokal: bentuk sediaan dapat berupa solutio/mixtura. penderita masuk rumah sakit atau berobat jalan. 4. Efek sistemik : bentuk sediaan dapat berupa cairan atau padat. 5. per oral. dll 3. capsula. pasta. 3. c. c. BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO) PADAT PULVIS DAN GRANULA (SERBUK DAN GRANUL) Serbuk adalah campuran kering bahan obat dan zat kimia yang dihaluskan. Kecepatan dan lama obat yang dikehendaki a. Bahan oral yang sangat pahit meskipun mudah larut dalam air tidak diberikan dalam bentuk sediaan cair. morphin HCI diberikan dalam bentuk sediaan injeksi. oleh karena bentuk sediaan padat (tablet/kapsul) umumnya lebih stabil dalam penyimpanan daripada sediaan cair. Chloramphenicol. Serbuk Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 16 . obat berbentuk sediaan injeksi lebih cepat diabsorpsi daripada bentuk sediaan per oral atau per rektal b. Karena mempunyai pemakaian yang luas. Bentuk sediaan padat : pulvis. Cotrimoxsazol. tidak dalam bentuk oral. MACAM BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO) 1. Emetin HCI. serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut daripada bentuk sediaan yang dipadatkan.

pengikat. tidak semua obat dapat diberikan dengan bentuk ini. Yang tersedia merupakan sediaan paten. Sediaan ini sebagai obat luar untuk terapetik. penyerapan oleh gastrointestinal cukup baik 3. Ukuran partikel granul adalah 2-4 mm. kering dan homogen  Ukuran partikel 1. TABLET) Tablet adalah sediaan padat yang mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pembantu ( pengisi.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran oral yang dapat diserahkan dalam bentuk terbagi ( pulveres) atau tidak terbagi ( pulvis). Berat pulveres antara 300-500 mg. dapat dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit. Serbuk oral yang tidak terbagi hanya terbatas pada obat yang relatif tidak paten. Syarat : memenuhi persyaratan yang tertera dalam Farmakope Indonesia yaitu Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 17 . dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. GRANULA Sediaan serbuk kasar yang dimaksudkan untuk di suspensikan /dilarutkan dalam air. Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat 100 mesh seperti tertera pada pengayak dan derajat halus serbuk 1141 agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka. pelicin). PULVIS ADSPERSORIUS (serbuk tabur) Serbuk ringan untuk topikal. FINELY DIVIDE POWDERS Sediaan serbuk yang dimaksudkan untuk disuspensikan/dilarutkan dalam air atau dicampur dengan makanan lunak/ bahan lain. atau dicampur dengan makanan lunak/bahan lain. EFER VERSENT POWDER Sediaan yang mengandung selain bahan obat juga bahan pembantu yaitu Na bicarbonat dan asam citrat. pada umumnya untuk pemakaian oral 2. atau Na bisosfat.Granula dibagi bulk granula dan divided granula. dokter hanya menyusun kombinasi dan dosis obat secara tepat sesuai kebutuhan 4.25 um-1. seperti laksan.makanan diet dan beberapa analgetika tertentu dan pasien dapat menakar secara syarat pulvis maupun pulveres :  Serbuk halus . antasida. misalnya beberapa obat yang saling berinteraksi. Contoh: antibiotik syrup (dry syrup). Bentuk sediaannnya pada umumnya paten yang tidak stabil dalam penyimpanan cukup lama. serbuk untuk injeksi. Yang tersedia merupakan sediaan paten. dapat digolongkan tablet cetak dan tablet kempa. profilaksi dan lubricant Penggunaan:  untuk tujuan menyerap tubuh  untuk mengurangi gesekan antara 2 lipatan  sebagai vehicle (pengisi)  tidak diberikan untuk luka yang terbuka. TABULAE ( COMPRESI. rasa pahit yang tidak enak dan tidak dapat disembunyikan. 5. Diracik berdasarkan formula resep dokter. pengancur. Keuntungan dan kerugiannya: 1.Berdasarkan metode pembuatan.7 um Macam-macam serbuk PULVERES ( serbuk terbagi) Suatu serbuk yang terbagi dalam bobot yang kurang lebih sama. asam tetrat.

e. serta dibuat besar-besaran. produk lain mungkin dirancang untuk melepaskan zat secara perlahan-lahan supaya diabsorspsi secara lambat sehingga dapat memperpanjang aksinya. Penghancur (disintegrator) Dengan tujuan supaya tablet dapat/cepat hancur di lambung. Contoh: talkum 5% . Ca-karbonat. 4. Jenis tablet ini sekarang sudah jarang digunakan. mudah ditelan. Merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil. PERJALANAN OBAT DALAM BENTUK SEDIAAN TABLET Error: Reference source not foundMacam-macam tambahan untuk pembuatan tablet: (adanya bahan tambahan akan mempengaruhi kecepatan disolusi dan bioavailabilitas) DIAGREGASI 1. Bahan pembantu lain. digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan obat. Penyimpanan dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan lembab dan pada etiket tertera tidak untuk langsung ditelan. anatasida. g. MACAM – MACAM TABLET 1. Tablet dilarutkan atau didespresikan dalam air sebelum pemberian. Tablet bukal Digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara gusi dan pipi. memberikan residu dengan rasa enak di rongga mulut. Sedangkan menurut Farmakope USA ditambah kecepatan disolusi ( kecepatan hancur dalam tubuh. waktu hancur. Oleh karena itu. Tablet lozenges ( tablet hisap) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 18 . Jenis ini digunakan pada formulasi tablet untuk anak. Penggunaan : pengobatan lokal dan sistemik. Contoh: amilum kering. Tablet kunyah ( chewable) Dimaksud untuk dikunyah. asam tartrat) dan Na-bikarbonat dan apabila dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbon dioksida. Tablet effervescent Dibuat dengan cara kempa. umumnya silindris. TABLET KEMPA (Compressed Tablet) a. Ca-fosfat. Pelicin ( lubricant) Supaya talet tidak melekat pada cetakan (matriks). tidak meninggalkan rasa pahit atau tidak enak. Tablet sub lingual Digunakan dengan cara meletakkan di bawah lidah. Tablet Hipodermik Merupakan tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air dan digunakan untuk memberikan sediaan injeksi hipodermik. Pengisi (diluent) Untuk memperbesar volume tablet. pembuatan tablet memerlukan bahan tambahan yang disesuaikan terhadap fungsi/penggunaannya. Beberapa produk obat dirancang untuk melepaskan zat yang berkhasiat dan diabsorspsi tubuh secara cepat dan sempurna. Contoh: Mucilago gummi arabicium 10-20% 3. 5. misal zat warna. dan Na-alginat. Efek yang ditimbulkan bersifat sistemik dan lambat. Zat aktif diserap langsung melalui mukosa mulut dan efek yang ditimbulkan bersifat sistemik dan cepat. Tablet triturat. Mg-stearat. b. terutama formulasi multivitamin. kekerasan. dan antibiotika tertentu. Zat aktif terserap langsung melalui mukosa mulut. Bentuk sediaan tablet pada saat ini disiapkan oleh pabrik obat dengan alat dan teknik khusus. selain zat aktif juga mengandung campuran asam ( asam sitrat. biasanya 15 menit) dan bioavalibilitas . agaragar. d. Pengikat (binder) Dengan tujuan supaya tablet tidak mudah pecah dan bahan tablet dan saling merekat. amilum. Contoh: sakarum laktis. 2. c. gelatin. f.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran keseragaman bobot dan kadar.

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Adalah sediaan padat mengandung satu atau lebih bahan obat. sediaan pelepasan ajeg. Obat tersebut hancur di lambung. Dengan sediaan ini. zat penyalut bagian luar dapat diwarnai. yakni aksi berulang (repeat action). anatara lain melindungi zat aktif dari udara. Untuk tujuan identifikasi dari nilai estetika. pengobatan vaginitis. umumnya dengan bahan dasar beraroma manis yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan-lahan dalam mulut. Sediaan pelepasan ajeg (Sustained Action) Suatu produk dirancang untuk melepaskan suatu dosis terapetik awal (loading dose) yang diikuti oleh dosis tambahan untuk memelihara kisaran kadar terapi (dosis pemeliharaan-maintenance dose) suatu pelepasan obat yang lebih lambat dan konstan. c. konsentrasi obat dalam plasma yang relatif konstan dapat dipertahankan dengan fluktuasi yang minimal. Produk tersebut. SCT ( sugar Coated Tablet). a. Tablet lozenges umumnya ditujukan untuk pengobatan iritasi lokal atau infeksi mulut atau tenggorokan. khususnya vagina. pengobatan infeksi candida albicans. penyerapan bahan obat terjadi secara perlahan dalam kurun waktu yang lama. aksi berulang dan sediaan konvesional. Pelet umumnya mengandung zat berkhasiat hormon alami atau hormon sintesis tablet implantasi untuk Keluarga Berencana disebut susuk. dan pelepasan ajeg ( sustained action). tetapi dapat juga mengandung bahan aktif yang ditujukan untuk absorpsi sistemik. Error: Reference source not found 2. Tablet salut biasa Umumnya tablet disalut dengan gula dari suspensi dalam air mengandung serbuk yang tidak larut. Sediaan aksi panjang ( Prolonged action) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 19 . Secara umum. Cara penggunaanya dengan mengimplementasi pelet di bawah kulit. Tablet pelepasan terkendali ( Slow Reacting tablet (SRT)) Tablet pelepasan terkendali dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif aktif akan tersedia selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan. b. aksi panjang (prolong action). Guna tablet vagina dimaksudkan untuk : kontrasepsi. benar-benar mengendalikan pelepasan dan absorpsi obat sehingga dapat memelihara secara ajeg dan dapat diperkirakan kadar obat plasma. sedangkan tablet hisap yang dibuat dengan cara kempa disebut dengan troches/trochisi. membuat penampilan lebih baik dan mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna. TABLET SALUT Tablet disalut untuk berbagai alasan. Pada tablet ada yang namanya kaplet yaitu tablet yang bentuknya menyerupai kapsul. kelembapan atau cahaya. Tablet implantasi Tablet implantasi juga disebut sebagai pelet/implants. Tablet salut enterik ( Enteric Coated tablet (ECT) Jika obat dapat rusak atau inaktif karena cairan lambung atau dapat mengiritasi lambung. Karena itu. Tablet hisap yang dibuat dengan cara dituang kadang-kadang disebut dengan pastiles. Kurva hubungan antara kadar dalam plasma dan waktu untuk sediaan aksi panjang. diperlukan bahan yang untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati lambung. produk sediaan lepas lambat ( Slow Reacting Tablet) dapat dibagi menjadi 3 tipe: 1. 2. i. Tablet vagina Adalah talet yang dimasukkan ke dalam rongga tubuh. sediaan pelepasan ajeg ini sepenuhnya menggambarkan sediaan pelepasan terkendali . Berkaitan dengan hal ini.menutupi rasa dan bau tidak enak. terdapat beberapa jenis sediaan obat yang mudahnya digolongkan ke dalam pelepasan terkendali. h.

Berbagai istilah lain yang sering dikaitkan dengan produk sediaan pelepasan terkendali meliput: Extended action. Biaya mahal 2. sediaan semacam ini sering juga disebut pelepasan lambat. Kepatuhan penderita tinggi karena obat yang dimakan lebih sedikit 4. Beberapa keuntungan sediaan pelepasan terkendali. 4. Menghindari pemakaian obat pada malam hari 6. Mengurangi jumlah dan frekunsi pemakaian 3. Adapun kerugiannya: 1. Sedangkan produk lain tidak.efek lambat Mukosa mulut .■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Sediaan obat yang dirancang untuk melepaskan obat secara lambat dan memberi cadangan secara terus menerus. MACAM. meliputi: 1. 3. Lozenges Trochisci Pastiles 5. Efektivitas pelepasan obat dipengaruhi dan dibatasi oleh lama tinggal di saluran pencernaan. Bahkan beberapa produk mempunyai bagian ketiga. tujuan utama produk obat tersebut adalah untuk mencapai suatu efek samping yang diinginkan. 6. Tablet bukal Ditelan Pemakaian GIT Tempat absorpsi Dikunyah kemudian ditelan Dilarutkan kemudian ditelan Dihisap GIT MUKOSA GIT Mukosa mulut Diletakkan antara gusi dan pipi 6. Mempertahankan efek terapi untuk bebas waktu yang lama. sebagaimana tersirat dari uraian diatas. Dose dumping. 2. Fleksibilitas aturan dosis hilang 5. Dan biasanya digunakan bila tidak diperlukan aksi obat dengan cepat. Dalam hal ini absorpsi cepat yang menyebabkan kadar puncak obat dalam plasma sangat tinggi dapat dicegah. 3. selama selang waktu yang panjang. Sering menimbulkan korelasi in vitro-in vivo yang jelek. Tablet sublingual Diletakkan di bawah lidah Mukosa mulut .efek sistemik Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 20 . Tablet kempa Tablet salut gula (SCT) Tablet salut film (FCT) Tablet salut enterik (ECT) Tablet lepasan terkendali 2. yang disebabkan oleh fluktuasi kadar obat dalam plasma. Kepatuhan dan kemudahan penderita terhadap dosis mungkin berkurang. yaitu adanya sejumlah besar obat dari sediaan lepas secara cepat. dan bagian kedua merupakan dosis yang baru dilepaskan setelah beberapa waktu berlangsung. Karena itu. hal tersebut dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan seperti keracunan dan lebih sulit bila terjadi gangguan teknologi atau antaraksi. Pada gambar terlihat bahwa konsentrasi obat dalam darah mempunyai puncak dan lembah. Sediaan aksi berulang ( Repeat action) Sediaan repeat action terdiri dari 2 bagian. PEMAKAIAN DAN TEMPAT ABSORPSI TABLET Macam 1. Mengurangi efek samping obat yang disebabkan oleh kadar obat yang tinggi dalam darah. drug delivery system dan programmed drug delivery.efek sistemik . Tablet kunyah (chewable) 3. Tujuan sediaan pelepasan terkendali Sebagaimana tersirat dalam uraian diatas. long action. Tablet Effervescent 4. Efek obat lebih seragam 5. Bagian pertama mempunyai dosis yang dapat melepaskan obatnya secara tepat. timed release.

efek sistemik .efek cepat Mukosa vagina .000 (terbesar). Ukuran : 5 (terkecil). Sediaan pelepasan lambat ( time release) dalam kapsul keras: sustained released capsules dan enteric coated capsules. Pellet Cont:norplant susuk KB Dimasukkan ke vagina Dilarutkan kemudian disuntikkan Disisipkan di bawah kulit CAPSULAE (KAPSUL) Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak. Tablet hipodermik 9.efek lama 7.efek lokal . 2.efek sistemik . cair atau pasta dengan atau tanpa zat tambahan. Macam sediaan kapsul ada kapsul biasa dan time released form. Tablet vagina 8. Sediaan dapat berupa obat paten atau puyer yang disusun oleh penulis resep untuk memilih obat tunggal atau campuran dengan dosis tepat yang paling baik bagi setiap pasien. Biasanya dipakai secara oral. Capsule gelatinosae operculatae (Hard gelatine capsules/kapsul gelatin keras) Cangkang berisi gelatin. Obat bekerja setelah cangkang/kulit kapsul larut dan obat terlarut serta diabsorpsi utuh. Soft capsule (kapsul lunak) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 21 . Isi terpisah dari cangkang.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran . Syarat : memenuhi persyaratan yang tertera dalam farmakope Indonesia ( mengenai keseragaman bobot dan waktu hancur) Macam kapsul menurut sifat cangkang: 1. granul. Bentuk obat dalam kapsul dapat berupa serbuk. gula. air dan zat warna. Fleksibilitas ini merupakan kelebihan kapsul cangkang dibandingkan bentuk sediaan tablet atau kapsul cangkang lunak.

Belladon (spamolitik)  Barbital (sedatif)  Diazepam ( trankuilizer)  Aminophylin ( bronkodilator)  Bisacodyl (laksatif) Faktor-faktor yang mempengaruhi pelepasan obat bentuk supositoria: 1. Isinya adalah zat aktif dalam vehikulum. c.Suppositoria digunakan melalui rektum. Efek lokal : hemorrhoid. Mengurangi metablisme obat dalam hepar (tidak mengalami first past effect) Alasan pembatasan di atas adalah karena bentuk sediaan supositoria bahan obat tidak diabsorpsi secara sempurna. SUPPOSITORIA. Umumnya meleleh. misalnya : PEG ( Poly Etilen Glikol) . lokal anastetik 2. faktor fisisologi: . kapsul vit.lokal : supositoria. tetapi gula diganti bahan plasticier yang membuat kapsul menjadi lunak. bacilia . Obat tidak dapat diberikan per injeksi karena penderita berobat jalan. . ovula. yang diberikan melalui rektal.dapat melarut. Obat yang dapat mengiritasi lambung f. BACILLA Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk. melunak.dapat meleleh. Obat rusak oleh enzim yang ada di saluran cerna e. OVULA. bentuk seperti telur. misalnya: a. bentuk seperti torpedo. umumnya fraksi yang diabsorbsi lebih rendah dibandingkan pemberian oral. Menurut Farmakope Indonesia. Obat tak dapat diberikan per oral karena penderita hiperemesis atau baru saja menjalani operasi pada traktus digestivus bagian atas.volume cairan rektum . Penderita dalam keadaan an-kooperatif g.isi rektum Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 22 .Ovula digunakan melalui vagina. b.Bacila digunakan melalui saluran kencing. Isi tak terpisah dari cangkang ( cairan dalam minyak. tube. bentuk seperti batang Syarat : pada suhu tubuh bahan dasar harus dapat larut dan meleleh Bahan dasar supositoria : . oval. Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat. misalnya : Oleum cacao Tujuan pengobatan : . Bahan obat yang diberikan dapat dalam supositoria untuk efek sistemik:  Extr. suspensi). atau melunak atau melarut pada suhu tubuh. Bentuk: bulat.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Cangkang mengandung seperti no. membedakan: .sistematik : suposioria Bentuk : Error: Reference source not found Mekanisme pelepasan obat: Error: Reference source not found Tujuan pemberian obat dalam bentuk supositoria : 1. Efek sistemik. diberikan apabila cara pemberian lain sulit dilakukan. Misal: kapsul minyak ikan. Penderita tak dapat menelan d. sebagai pembawa zat berpengaruh pada pelepasan zat teraupetik.A. vagina atau uretra. .1.

COLLUTORIA (KOLUTORIUM) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 23 . Apabila menyebut solutio. maka omset juga cepat 5. manula dan untuk penderita yang sukar menelan.motilitas dinding rektum 2. faktor fisika kimia obat: .sifat mukosa rektum . Absorpsi obatnya cepat. Dapat diberikan dalam larutan yang encer. maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan. Oleh karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata. untuk obat yang bersifat iritasi terhadap lambung. jangan diberikan dalam bentuk sediaan cair karena obat dapat rusak. Sifat-sifat: 1. atau dalam hal larutan lidokain oral topikal untuk penggunaan pada permukaan mukosa mulut. Untuk obat luar mudah pemakaiannnya.basis supositoria. Cara pemakaian supositoria hendaknya penderita diberitahu dengan jelas.konsentrasi obat dalam basis . 7. oleh karena itu biasanya ditambah pemanis atau perasa ( flavoring agen) 9. LARUTAN TOPIKAL Larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol untuk penggunaan topikal pada kulit. supaya jangan ditelan. untuk menghindari obat dikeluarkan terlalu cepat bersama faeces sebelum sempat bekerja.ukuran partikel . umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. Istilah lotio digunakan untuk larutan atau suspesi yang digunakan secara topikal. Bagi obat yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar ditutupi. pemanis dan pemanis dan pewarna yang larut dalam air atau campuran konsolven-air. jika hanya melarutkan satu jenis zat dalam pelarut yang cocok. 6.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran . Bentuk sediaan larutan digolongkan menurut cara pemberiannya. mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma. pada suhu sejuk 5-15 0C BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO) CAIR SOLUTIONES/MIXTURA ( LARUTAN) Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut.kelarutan obat . Cocok untuk anak-anak. SEDIAAN FARMASI YANG BERUPA LARUTAN / MIXTURA a.Diantara solutio dan mixtura tidak ada perbedaan yang pokok. Volume pemberian besar jika dibandingkan dengan tetes oral. malam sebelum tidur. tingtur dan air. Waktu dan cara pemakaian supositoria: 1. penderita dalam posisi terlentang untuk menghindari meleleh obat keluar rektum/vagina. LARUTAN ORAL Sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral. misal: terdispersi secara molekular dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. 8. Homogen 2. misalnya larutan topikal atau penggolongan didasarkan pada sistem pelarut dan zat pelarut dan terlarut seperti spiritus. Sesudah defekasi. 4. Obat-obat yang tidak stabil dalam air (misal: asetosal). Penyimpanan . 2. Dosis dapat diubah-ubah 3.

Sifat. tetapi biasanya sekitar5-15%. hati-hati untuk penderita yang tidak tahan alkohol atau penderita tertentu. Cara pemakaian: diencerkan dulu dengan air sesuai aturan. Pada umumnya bahan obat adalah antimikroba atau lainnya yang tidak larut dan tidak stabil dalam bentuk cair pada penyimpanan. Contoh: Bisovon eliksir. agar obat yang terkandung di dalamnya dapat langsung terkena selaput lendir sepanjang tenggorokan. Kegunaan akohol disini selain sebagai pelarut juga. Contoh: Effisol liquid.sifat sirup: 1.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Adalah obat cuci mulut. Sifat-sifat: 1. sediaan padat yang berupa serbuk atau granul yang terdiri dari bahan obat. Sirup thymi. Tidak berwarna. Sirup Simpleks. Berhubung mengandung alkohol. selain mengandung bahan obat juga alkohol dan zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya. biasanya 10%. MIXTURA AGITANDA ( CAMPURAN KOCOK) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 24 . selain mengandung obat juga mengandung sakarosa <60%. b. rasanya lebih enak. COLLYRIA Adalah obat cuci mata sediaan harus memenuhi syarat-syarat seperti tetes mata. perasa (flavorong agent). tidak beraroma. glukosa/sakarosa 64%. tidak boleh ditelan. d. SIRUP Larutan oral yang selain mengandung bahan obat juga mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi sebagai pemanis. kecuali bahan pelarut. Dibanding dengan sediaan sirup. pemanis.Contoh : panadol sirup. ELIKSIRA (Eliksir) Larutan oral. kemudian dikumur-kumur sampai pharing. lalu dikumur-kumur. juga sebagai pengawet atau corrigens saporis. GARGARISMA (Gargle) Adalah obat kumur. antiseptika. Sirup obat. gliserol atau sorbitol sebagai pengental atau stabilisator. Apabila akan digunakan ditambah pelarut (air suling) sesuai petunjuk yang diminta. Cara pemakaian : diencerkan dulu dengan sesuai aturan. Tujuan penggunaan untuk pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. pengawet dan pewarna. Contoh: Betadingargle & mouthwash. biasanya merupakan larutan pekat yang mengandung antiseptika atau adstringentia. 3. mengandung ekstrak thymi 36% ( biasanya sebagai expectorant). d. perasa. sering disebut sirup putih. zat pewangi dan zat perasa. analgetika lokal atau adstringentia. dan bahan lainnya. Sirup kering. stabilisator. tidak ditelan. Cocok untuk penderita yang sukar menelan 2. solutio oral mengandung glukosa/sakarosa 65%. zat pewarna. c. Batugin eliksir. Kadar Alkohol antara 3-75%. biasanya merupakan larutan pekat dalam air yang mengandung bahan deodoran. Ada 4 macam sediaan sirup: a. c. eliksir kurang manis dan kurang kental. pewarna. misal sakit hepar. Cocok diberikan untuk anak-anak dan penderita yang sukar menelan. b. Homogen 2.

Contoh. sehingga cepat mengendap. Suspensi selain mengandung obat juga mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas. anak-anak dan manula. karena zat aktif (obat) BM-nya lebih tinggi dan pada umumnya merupakan sedian Non Generik . Liquor Faberi (FMI). sistem ini disebut emulsi minyak dalam air (A/M). 2.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Mixtura agitanda adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut dalam cairan pembawa. Kerugian BSO emulsi : Oral : dalam penyimpanan dapat terjadi pemisahan antara air dan minyak yang tidak dapat diperbaiki dengan pengocokan. dan senyawa amonium kuartener. Contoh. sering menimbulkan “cake” yang menyulitkan obat terbagi rata pada pengocokan terutama untuk sediaan paten. tidak terbentuk garam kompleks yang tidak dapat diabsorpsi dari saluran pencernaan. memperbaiki rasa dan aroma.perasa( flavoring agent) 3. Konsisten emulsi sangat beragam. Suspensi merupakan cairan kental tetapi kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi. Polycrol gel EMULSA (EMULSI) Emulsi adalah sistem dua fase. Mylanta. Tujuan penggunaan BSO emulsi: 1. benzalkonium klorida. Contoh obat dalam: Scott Emulsion. memperpanjang efek. pengawet yang biasa digunakan dalam emulsi adalah metil. oral : memperbaiki absorbsi. kecepatan absorpsi obat tergantung pada besar kecilnya ukuran partikel yang terdispersi. Topikal : dalam penyimpanan yang cukup lama dapat menjadi keras. Jika minyak yang merupakan fase terdispersi dan larutan dalam air merupakan fase pembawa. atau suspensi. emulsi dapat distabilkan dengan penambah bahan pengemulsi (surfaktan). etil. Pada umumnya untuk pemakaian luar (topikal) dan dihindari penambahan stabilisator PGA(Pulvis gummi arabicium). topikal maupun injeksi. pada umumnya ditambah pemanis. propil dan butil paraben. Kekentalannya lebih tinggi dibanding suspensi. penetrasi/absopsi lebih baik 3. Contoh zat tambahan (stabilisator): PGA. asam benzoat. SEDIAAN FARMASI LAIN YANG BERUPA SUSPENSI: GELS / MAGMA Sediaan suspensi yang berbentuk kolodial dispersi. Contoh obat luar: Cream A/M atau M/A GUTTAE (TETES) Sediaan cair berupa larutan (solutio). Tujuan stabilisator adalah menghambat pengendapan zat aktif obat sehingga pada penuangan obat pertama dan terakhir mendekati sama kadarnya. 4. tragakant. cocok untuk penderita yang sukar menelan. sediaan harus dikocok dan mudah dituangkan. 2. SUSPENSIONES ( SUSPENSI) Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Penetes yang dimaksud Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 25 . parenteral : memperbaiki absorpsi . mulai dari cairan yang mudah dituang hingga krim setengah padat. emulsi eliksir. digunakan dengan cara meneteskan dengan alat penetes tertentu. Semua emulsi memerlukan bahan antimikroba karena air mempermudah pertumbuhan mikroorganisme. Bentuk sediaan obat emulsi dapat digunakan untuk oral. tragakant. salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil. topikal: mudah dibersihkan. 5. Contoh suspensi oral:Gelusil. Sifat-sifat: 1. Suspensi dapat digunakan secara oral maupun topikal. dimaksudkan untuk obat dalam dan luar.

dan bahan tambahan lain yang sesuai dengan bentuk sediaannya. Bentuk sediaannya dapat berupa solutio. suspensi dan merupakan sediaan paten (nama dagang). c. steril 2. lokal anastesik. 2. heksilen glikol dan minyak nabati. sehingga aturan pakai tepat. antiinflamasi. sehingga cocok untuk bayi dan balita. 1. Perhatikan kemasan pada bobotnya. gliserol. GUTTAE NASALES (tetes hidung) Obat tetes untuk hidung dengan cara meneteskan bahan obat ke dalam rongga hidung. pada umumnya ditambah pemanis. Sifat-sifat: 1. diagnostika. cairan pembawa umumnya digunakan air. Bahan obatnya berkhasiat sebagai antimikroba. GUTTAE AURICULARES (tetes telinga) Obat tetes yang digunakan untuk telinga dengan cara meneteskan obat kedalam telinga. isotonis atau hampir isotonis (hipertonis masih diperbolehkan) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 26 . pH sebaiknya asam (5. miotika dan zat irigasi. anastetika. lokal anastetik. digunakan dengan cara meneteskan obat ke dalam minuman atau makanan. GUTTAE ORAL Obat tetes untuk oral.5-7. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal ( antiseptika. Minyak lemak dan minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai pembawa. dan zat uuntuk irigasi. dan antiseptika. GUTTAE OPTHALMICAE (tetes mata) Obat tetes mata merupakan sediaan steril berupa larutan atau suspensi digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata. Pada umumnya obat berkhasiat sebagai antimikroba.5 3.5 mg (1 tetes baku= 0. Sifat-sifat: 1. midriatika. volume pemberian kecil. GUTTAE ORIS Obat tetes topikal yang digunakan untuk mulut. ph sebaiknya antara 5.0-6. Komposisi selain zat berkhasiat juga mengandung zat pendapar. Macam –macam Guttae: a. sebaiknya isotonis atau hampir isotonis. vitamin dan antitusif. pengawet. antiseptika. dengan mengencerkan lebih dahulu dengan air dan kemudian dikumur-kumur. analgetika-antipiretika. Contoh: Triaminic drops b. jadi 1 ml= 20 tetes. dll). 2.025% e. antimikroba. Khasiat obat yang sering digunakan meliputi antimikroba. kortikosteroid. Contoh: effisol liquid. lokal anastesik.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran adalah penetes baku yang tertera dalam Farmakope Indonesia. Pembawa yang digunakan pada umumnya adalah propilen-glikol. pewarna. bahan obat pada umumnya berkhasiat sebagai dekongestan. Apabila bentuk sediaan suspensi. 2. Contoh: iliadin 0.5 mg dan 52. sirup. perasa. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal. analgetika.05 ml). yaitu penetes pada suhu 200C memberikan tetesan air suling yang bobotnya antara 47. Sifat-sifat: 1. harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan bila terjadi massa yang mengeras atau pengumpulan.0) d. bahan pembawa yang digunakan harus mempunyai kekentalan yang cocok agar bahan obat yang mudah menempel pada dinding telinga.

infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras. untuk dosis tunggal. Ekstrak cair adalah sediaan cair simplisia nabati. b. inj. INFUSA (INFUS) Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90 derajat celcius selama 15 menit. inj valium.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 3. inj.5 bagian • Daun tempuyung (sonchus folia) 2 bagian • Temulawak( curcuma rhizoma) 4 bagian Contoh: Infus Orthosiphon 0. sedang untuk pemakaian tunggal atau untuk operasi tanpa bahan pengawet. Contoh: Cendometason guttae opthalmicae. kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Streptomycin sulfat. ISTILAH INFUSA DI SINI DITUJUKAN UNTUK MENUNJUKKAN METODE EKSTRAKSI BAHAN ALAM. Untuk pembuatan 100 bagian infus berikut. Cairan intravena ( infundabilia : infus i. Dextrose Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 27 . yang mengandung etanol sebagai pelarut atau sebagai pengawet atau sebagai pelarut dan pengawet. Kristal steril untuk dibuat larutan Obat dalam bentuk kristal. Kristal steril. Berdasarkan bentuk sediaan: a. yang disuntikan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Contoh: inj Vit C.V) Sediaan steril berupa larutan atau suspensi dalam volume besar. sebelum disuntikkan. suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan. isohidris untuk pemakaian ganda (multiple) ditambah pengawet yang cocok. Larutan : obat terlarut dalam air suling/minyak/pelarut organik yang lain. Penicilin G Sodium d. emulsi. Kecuali dinyatakan lain. dan kecuali untuk simplisia yang tertera di bawah ini. EXTRACTUM ET EXTRACTUM LIQUIDUM (EKSTRAK DAN EKSTRAK CAIR) Ekstrak adalah sediaan paket yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dan simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai. Suspensi : obat tersuspensi dalam air suling/minyak Contoh: inj. INFUSA SIMPLISIA TIDAK BOLEH ATAU DILARANG DIBERIKAN SECARA INTRAVENA (INFUSDABILATA). 4. untuk dibuat suspensi dengan zat cair steril yang ditentukan (umumnya aqua pro injetie) e. Inj Cortison Acetat suspensi c. dilarutkan/disuspensikan terlebih dahulu dalam pelarut steril (umumnya dalam aqua pro injectie) Contoh : inj.5 %  BERBEDA DENGAN CAIRAN INFUS UNTUK TERAPI CAIRAN INTRAVENA. INJECTIONES (INJEKSI. Penicilin oil. digunakan sejumlah yang tertera: • Daun kumis kucing( orthosiphon folia) 0. OBAT SUNTIK) Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan. dibuat dengan menggunakan 10% simplisia. Inj luminal. Sediaan digunakan untuk dehidrasi atau pemberian nutrisi secara parenteral. Contoh: inj. Ringer lactat.

Minyak yang dipakai adalah minyak lemak berasal dari nabati.Efek yang ditimbulkan kurang cepat. Valium 3. luka dan rasa sakit).c) .Contoh: inj.Arachidis). Injeksi intrakardial (i.s) 8. 4. Biasanya zat tersebut dicampurkan dengan air. bebas pirogen.Contoh: ekstrak allergen. Injeksi intravena ( i.Aksi obat cepat karena tidak melalui proses absorpsi .Biasanya diberikan dalam keadaan darurat. larutan dalam air lebih cepat diabsosrpsi dari pada dalam minyak. tidak boleh mengandung bakterisida.k. . minyak wijen ( Ol sesami).Contoh : ampisilin injeksi. misalnya minyak kacang (Ol. minyak zaitun ( Ol olivarum).umumnya berupa larutan atau suspensi dalam air. 5. isohidris. isotonis. . .Volume yang digunakan 0. selain sebagai pelarut juga digunakan untuk mempertinggi stabilitas obat atau hasil larutannya. dan biasanya durasi lebih besar dari pada pemberian i. Pelarut bukan air:  Minyak: olea neutralisata ad injectionem Guna pelarut minyak ialah agar waktu kerja obat lebih lama.umumnya tidak lebih dari 20 ml. Injeksi peritoneal(i. dan diracik dalam wadah dosis tunggal. . 6.d) Larutan hanya digunakan dalam keadaan gawat karena dikehendaki onset yang cepat. Injeksi intratekal (i.Sediaan obat dapat berupa larutan.t) atau subarakhnoid.Sediaan harus berupa larutan jernih.1-0.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Berdasarkan cara pemberian: Injeksi intraderma/intrakutan (i.Meninggalkan tanda sedikit melepuh pada tempat yang disuntikan. gliserin. Injeksi peridural (p. PELARUT OBAT SUNTIK ( Vehiculum) 1. Injeksi intrasternal (i. Streptomycin.Volume yang digunakan < 2 ml . .c) . vaksin BCG 2. 1. intraspinal. emulsi atau suspensi . Pembawa minyak hanya dipakai penyuntikan ke dalam otot.d) 7. . Injeksi intramuskular (i. larutan yang bersifat hipertonis harus diberikan perlahan-lahan. .Digunakan untuk pengobatan sistemik .Digunakan untuk pengobatan sistemik .Sediaan berupa larutan yang harus isotonis. steril. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 28 .2 ml . inj. Injeksi Subkutan/hipodermik(s. parafin liq. pelarut air: aqua bidestilata steril (pro injectionem) 2.p) 9. dll.v .m) . .  Bukan minyak : alkohol. propilen-glikol. Papaverin.Tergantung dari tipe preparatnya.Contoh : inj.intradural.v) .umumnya berupa larutan atau suspensi (bahan obat yang mengiritasi atau suspensi kental menyebabkan abses.Digunakan untuk diagnose atau immunitas . Syarat injeksi: aman.

9. Contoh :  Benzalkonium kloroda 0. 2.Asam sitrat dan garamnya (1-3 %) .gas nitrogen .■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran BAHAN TAMBAHAN LAIN 1. Bekerjanya obat cepat (onset cepat) 2. 2. koma.zat pengkhelat ( mis. umumnya berbentuk vial atau flacon volume 10-20 ml. Kerusakan obat dalam GIT dapat dihindari 5.5 %  Benzyl alkohol 2 %  Fenil merkuri nitrat/asetat 0. oleh dokter atau perawat yang berkompeten.Asam fosfat dan garamnya (0. bahan yang digunakan bersifat bakteriostatik.2 % 4. terutama pemberian intavena. o Mencapai pH sama dengan pH darah (7. Larutan penyangga ( buffer) Tujuan penambahan larutan penyangga: o Menghindari perubahan pH dalam penyimpanan karena berinteraksi dengan wadah. Kekeliruan pemberian obat atau dosis hampir tidak mungkin diperbaiki.15 % . Biovailabilitas sempurna atau hampir sempurna 4.gas karbondioksida .05-0. gliserin. pada umumnya berbentuk ampul dengan volume 1-10 ml. Untuk menaikkan kelarutan : alkohol. Wadah dosis ganda ( multiple dose). Rasa nyeri pada tempat suntikan 7.8-2%). Antioksidan Tujuannya: menghindari terjadinya oksidasi obat dalam sediaannya. Wadah untuk infus i. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 29 . Pengawet Untuk injeksi pada wadah ganda ( multiple dese).002 % KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PEMBERIAN SECARA INJEKSI 1. WADAH OBAT SUNTIK 1.v yaitu botol infus dari kaca atau plastik biasanya dengan volume 500 ml. 6.Asam asetat dan garamnya(1-2%) . Obat hanya dapat diberikan kepada penderita di RS atau tempat praktek dokter. Efek obat dapat diramalkan dengan tepat 3.Na bisulfit 0. Contoh antioksidan: . Diberikan untuk penderita yang sakit keras. untuk stabilisator.Na Metabisulfit 0. 3.4) Contoh : . EDTA 0. Surface active agent terutama non ionik.1 %  Klorobotanol 0. Efek psikologis pada penderita yang takut disuntik 8.01-0. Wadah dosis tunggal ( single dose).075%) . Bahan penambah kelarutan a. an-cooperatif. 3. dll b.

mengandung zat aktif terapetik yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan. sedangkan aerosol topikal untuk pengobatan berbagai penyakit kulit. Imunoserum mempunyai kekuatan khas mengikat venon atau toksin yang dibentuk oleh bakteri. single dose Vol. terutama untuk preparat yang digunakan untuk telinga. Pada aerosol inhalasi. AEROSOLUM ( AEROSOL) Aerosol farmasetik adalah sediaan yang dikemas di bawah tekanan. Imunoserum diperoleh dari hewan yang diimunisasi dengan penyuntikan toksin atau toksid. Pemakaiannya secara topikal. tidak boleh digunakan secara parenteral. mikroorganisme atau antigen lain yang sesuai. multiple dose Vol 10-20 ml SEDIAAN STERIL YANG LAIN a. ukuran partikel obat harus dikontrol dan ukuran rata-rata partikel obat harus lebih kecil dari 10 mg. Sterilitas obat dapat dipertahankan Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 30 . antigen virus atau antigen lain yang digunakan untuk pembuatan sediaan. suspensi. Sediaan ini digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit dan juga pemakaian lokal pada hidung ( aerosol nasal). Aerosol digunakan untuk obat dalam dan luar. Aerosol oral digunakan untuk pengobatan simtomatik. Vaksin dibuat dari bakteria. Imunoglobin khas diperoleh dari serum yang mengandung kekebalan dengan endapan fraksi dan perlakuan dengan enzim atau cara kimia atau fisika lain. Obat mudah dipakai hanya dengan menekan tombol. 3. mulut (aerosol lingua) atau paru-paru ( aerosol inhalasi). seperti pada asma bronkiale. IRIGATIONES (Irigasi) Irigasi adalah larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau rongga-rongga tubuh. Pada etiket diberi tanda bahwa sediaa ini tidak dapat digunakan untuk injeksi. IMMUNOSERA ( Imunoserrum) Imunoserum adalah sediaan yang mengandung imunglobulin khas yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian. Jenis aerosol lain dapat mengandung partikel-partikel berdiameter beberapa ratus mikrometer. ataupun rusak karena kelembaban udara. selama imunisasi hewan tidak boleh diberi penisilin. 1-10 ml Vial/flacon. c. Keuntungan bentuk sediaan aerosol: 1. juga untuk pertolongan pertama pada keadaan tertentu. b. Sediaan ini dikenal sebagai inhaler dosis terukur. 2. riketsia atau virus dan dapat berupa suspensi organisme hidup atau fraksi-fraksinya atau toksoid. venin.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Ampul. tenggorokkan dan hidung yang dapat dipakai berulang kali. Obat tidak terkontaminasi dengan bahan asing. VACCINA ( Vaksin ) Vaksin adalah sediaan yang mengandung zat antigenik yang mampu menimbulkan kekebalan aktif dan khas pada manusia.

2. Sebagai pelindung atau pengobatan tergantung dari komponen zat aktifnya Contoh : Baby Lotion. Dioleskan pada kulit yang luka atau sakit sehingga membentuk lapisan yang tipis di permukaan kulit setelah kering. Kerugian bentuk sediaan aerosol : 1. Untuk pemakaian topikal dapat uniform. Serbuk dapat juga diberikan secara inhalasi.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 4. suspensi atau solutio dalam minyak atau alkohol tergantung dari zat aktifnya. Sifat-sifatnya : 1. Harganya mahal 2. Wadah obat yang diberikan secara inhalasi disebut inhaler. Contoh: Alupent aerosol. Apabila pelarutnya minyak. INHALATIONES ( INHALASI) Inhalasi adalah sediaan obat atau larutan atau suspensi terdiri atas satu atau lebih bahan obat yang diberikan melalui saluran nafas hidung atau untuk memperoleh efek lokal atau sistemik. Penyemprotan hanya sesuai untuk pemberian larutan inhalasi jika memberikan tetesan dengan ukuran cukup halus dan seragam sehingga kabut dapat mencapai bronkioli (2-6 um). LINIMENTUM ( LINIMENTA) Sediaan cair yang digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit . Contoh: Vicks Inhaler. 3. iritasinya berkurang apabila dibandingkan dengan pelarut alkohol. Obat yang perlu diberikan dalam dosis tertentu. Kelompok sediaan lain yang dikenal sebagai inhaler dosis terukur adalah suspensi atau larutan obat dalam gas propelan cair dengan atau tanpa konsolven dan dimaksud untuk memberikan dosis obat terukur ke dalam saluran pernapasan. 5. Volume dosis tunggal yang umum diberikan mengandung 25-100 ul/ug tiap kali semprot. sedangkan dosis ganda biasanya lebih dari beberapa ratus. Bentuk sediaan obat lotion dapat berupa solutio atau emulsi tergantung dari zat aktifnya. penggunaan aerosol inhalasi tidak efektif. Contoh: Bricasma inhaler. 2. Jenis inhalasi khusus disebut inhalat terdiri dari satu atau kombinasi beberapa obat. yang karena bertekanan uap tinggi. Bentuk sediaan linimentum dapat berupa emulsi. wadahnya dilengkapi dengan katup khusus sebagai meterd aerosol sehingga dosisnya dapat terkontrol. Sifat-sifatnya : 1. Bagi penderita asma atau emfisema apabila bronkus sudah banyak sekret (lendir). Dipakai pada kulit yang utuh ( tidak boleh adanya luka berakibat terjadinya iritasi) dan dengan cara digosokkan pada permukaan kulit. menggunakan alat mekanik secara manual untuk menghasilkan tekanan atau inhalasi yang dalam bagi penderita yang bersangkutan. membentuk lapisan yang tipis pada kulit tanpa menyentuh area sehingga menimbulkan efek dingin dan segar. Contoh : Linimentum salonpas ( untuk counteriritant) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 31 . dapat terbawa oleh aliran udara ke dalam saluran hidung dan memberikan efek. Larutan bahan obat dalam air steril atau dalam larutan natrium klorida untuk inhalasi dapat disempotkan menggunakan gas inert. SEDIAAN CAIR LAIN LOTION ( OBAT GOSOK) Sediaan cair yang dihunakan untuk pemakaiain luar pada kulit. Linimentum dengan pelarut alkohol atau hidroalkohol baik digunakan untuk tujuan counterrritan sedang pelarut minyak cocok untuk tujuan memijat atau mengurut.

vaseline. unguenta 2. Tujuannya terutama memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. Oleh karena itu maka obat Voltaren diberikan secara topikal tapi bertujuan untuk menghasilkan efek sistemik.  Pembersih. Penggunaan bahan dasar ini terutama sebagai pelunak (emolien). obat akan diabsorpsi oleh lapisan kulit dan membrana mukosa. khusus untuk sediaan setengah padat dengan basis berminyak. jelene 2. pengering. Oleh karena ia merupakan NSAID maka sifat khasnya adalah mengiritasi lambung dan menyebabkan pendarahan lambung jika diberikan per oral. anthihistamin. penutup. contoh vaseline. oculenta 7. Sabun : alumunium stearat + minyak mineral. Sulfur. dan voltaren.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran SEDIAAN SETENGAH PADAT Biasanya digunakan secara topikal dan berefek lokal. contoh : asam salsilat adalah salah satu contoh obat yang khas tujuannya apakah akan digunakan sebagai antiseptik/antifungi/keratolitik. all propose cream. jelly 5. Hanya sejumlah kecil bahan berair yang dapat dicampurkan kedalamnya. sediaan lain. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 32 . sapo 6. Komposisi sediaan ini. Adapun prosesnya adalah sbb: setelah obat dilepas basis. Adapun pembagian basis hidrokarbon ini adalah sbb: 1. kemungkinan obat akan diabsorpsi lebih lanjut masuk ke pembuluh darah kemudian ke sirkulasi sistemik. contoh : • in ora base • emplastrum • liniment Bahan obat bisa terdiri dari obat khas topikal. dan tidak tampak berubah dalam waktu lama. dll atau obat lain contoh : antibiotik. lunak mudah dipakai dengan cara dioleskan. cream 3. resorcinol. antibiotika.campora. A. pasta 4. Parafin padat/cair. Basis Hidrokarbon Dikenal sebagai basis berlemak antara lain vaseline putih dan salep putih. tidak mengering. Vanishing cream untuk obat jerawat. kortikosteroid. tetapi dengan perkembangan teknologi di bidang farmasi tersedia juga obat yang bertujuan untuk memberi efek sistemik karena tertentu contoh: obat anti-inflamasi diklofenak.  Pelunak ( emolien) Bahan dasar atau basis yang digunakan harus memenuhi persyaratan stabil maksudnya tidak terpisah dari obatnya kecuali penicilin dan tetrasilikin yang diberikan dalam bentuk sediaan dalam bentuk sediaan oinment. Voltaren merupakan NSAID yang merupakan obat pilihan pertama untuk reumatoid artritis. cocok/ sesuai serta dapat terdistribusi merata. kortikosteroid. disamping mengandung bahan obat juga memerlukan bahan dasar/basis yang berfungsi sebagai bahan pembawa obat disamping fungsi lain yaitu:  Pelumas (lubricant). Bentuk Resep:  Obat standart/paten  Racikan Macam sediaan setengah padat 1. Plastik : Polietilen cair 3.  Pelindung (protective). Adapun sifat basis ini sukar dicuci. contoh krem pembersih.

arachidis. Ol sesami. Emulsi A/M Lanolin Cold Cream PEMILIHAN BAHAN DASAR Tergantung pada banyak faktor antara lain:  Khasiat yang diinginkan  Sifat bahan obat yang dicampurkan. E.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran B. Basis ini disebut tercuci oleh karena mudah dicuci dengan air atau dilap basah sehingga lebih dapat diterima sebagai bahan dasar kosmetik. contoh:  adeps lanae ( lemak bulu domba) . untuk mengabsorpsi kebasahan lesi. beberapa sediaan lebih efektif menggunakan bahan dasar tercuci daripada bahan dasar hidrokarbon. Ol. Olivarium. anhidrus : merupakan bahan dasar yang dapat bercampur dengan air dan membentuk emulsi air dalam minyak.  Hidrofilik petrolatum  Parafin hidrofilik  Lanoloin anhidrat. Keuntungan yang lain adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terdapat pada keadaan dermatologik ( ket: pada lesi dermatologik akut banyak mengandung air. C. Emulsi M/A ( sedikit minyak yang terselubung dalam air) : Vinishing cream Hidrophilic Oint 2. Basis Polimer sintetik Silikon. Basis absorpsi/ bahan dasar serap Manfaat bahan dasar ini juga sebagai emolien 1. 2. Hidrous : merupakan emulsi air dalam minyak dan dapat bercampur dengan sejumlah air tambahan. Contohnya antara lain salep hidrofilik atau tepat disebut krim (chemores). contoh:  Lanolin ( merupakan kombinasi asam lemak dan air dengan perbandingan 3:1). dimetikon/dimetilpolisiloksan D. Basis Tercuci Merupakan emulsi minyak dalam air. Basis Tipe Emulsi 1. sedangkan basis tercuci ini lebih banyak airnya daripada minyak sehingga air dari sediaan ini akan lebih mudah bercampur dengan air dan lesi.  Ketersediaan hayati  Stabilitas dan ketahanan bahan jadi Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 33 .  Cholesterol. Basis lemak dan minyak Ol . ingat bahwa air larut dalam air bukan dalam minyak). Contoh lain: • PEG 4000 40% dilebur dengan • Peg 400 60% • (POLIETILEN GLIKOL) F.

mengandung salah satu/lebih bahan obat terlarut/terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Kerugian : Karena banyak mengandung air maka mudah dibersihkan sehingga kontaknya dengan kulit singkat ( kerja obat singkat) Fungsi :  Pengobatan setempat  Pendingin  Pelunak Sediaan  Racikan  Standart  Non Generik / Obat dengan nama dagang Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 34 .■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Dalam beberapa hal perlu menggunakan bahan dasar yang kurang ideal untuk menjaga stabilitasnya.A UNGT SbDM m e t v. Misalnya obat-obat yang cepat terhidrolisis. pelunak Sediaan : Racikan. UNGUENTUM ( Ointment. terdiri atas satu atau lebih bahan berkhasiat dalam bahan dasar yang cocok.e Standart = R/ 2-4 Salf 20 SsDM ue Paten = R/ Nerisona fatty Oint/Oint tube I StDM u. Bahan dasar biasanya berminyak sehingga kontak dengan kulit lebih lama. Standar. salep) Adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan.L. Contoh Penulisan R/ Unguenta Racikan = R/ Vioform 3% Acid salisil 4 % Adeps Lanae 2 Vaseline AD 15 M.e CREAM ( KRIM) Adalah bentuk sediaan setengah padat. Istilah ini secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair diformulasikan sebagai air dalam minyak/minyak dalam air. oleh karena kontaknya dengan kulit lebih lama. Basis krim M/A dioleskan pada kulit untuk mendapatkan :  Fase penguapan yang kontinyu  Menaikkan konsentrasi obat dalam air  Membentuk lapisan film pada permukaan kulit Keuntungan : oleh karena mengandung banyak air maka bisa berfungsi sebagai pendingin kulit.u. Bahan obat : sampai dengan 10 % Bahan dasar : A ( misal vaselin putih)/B/D ( misal lanolin) atau bisa juga campuran bahan dasar A dan D Fungsi : pengobatan setempat. Keuntungan : kontak dengan kulit lebih lama sehingga kerja obat lebih efektif. Basis krim menggunakan bahan dasar yang dapat dicuci dengan air antara lain basis emulsi atau cream tipe air/minyak ( A/M atau minyak/air ( M/A) Basis krim A/M dapat menyimpan lipid dan kelembaban dalam stratum korneum dan kemampuan memperbaiki jaringan dari kekeringan karena mempunyai sifat emolien. meskipun obat tersebut lebih efektif dalam bahan dasar yang mengandung air. pelindung. Paten. lebih stabil dalam bahan dasar hidro karbon daripada bahan dasar yang mengandung air.F.

e Racikan= R/ CMC 1 % PEG 10-30 % CaCO3 15-50 % Na Lauryl Sulfat 1-2 % Pengawet Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 35 .f Non Generik / Obat dengan nama dagang= R/Nerisona Cream tube I SsDM m.d. Bahan obat : padat 40-60% Bahan dasar : A/B/D Fungsi :  Pengobatan setempat  Pelindung pada bagian yang diolesi  Pembersih ( pasata gigi)  Tidak bisa untuk daerah berambut  Pengering  Obat dapat kontak lama dengan kulit  Cocok untuk lesi akut yang cendrung membentuk kerak menggelembung/mengeluarkan cairan.u. Cara pemakaian : dioleskan dulu pada kain kasa Sediaan : racikan. Non Generik / Obat dengan nama dagang CONTOH PASTA Standart = Pasta lasari R/ Acid salicyl 0. misalnya pasta natrium karbonsimetilselulose.f.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Contoh Cream Racikan= R/ Hidrocortison Asetat 0. dibuat dengan mencampurkan bahan obat berbentuk serbuk dalam jumlah besar(40-60 %) dalam vaselin/parafin cair atau ke dalam bahan dasar berlemak dibuat dari gel fase tunggal mengandung air. Oxyd 6.a cream sbDM met v.l. sedangkan pasta berlemak misalnya pasta zink oksida. Keuntungannya : bahan obat bisa 40-60 % lebih banyak Kerugiannya : tak bisa menempel pada kulit berambut.e standart= R/All Purpose Cream 25 S.250 Vaselin Flav ad 25 Mfla pasta SsDM v. Sediaan tersebut berupa masa lembek.5 Zinc. Standart.u. Pasta berlemak ternyata kurang berminyak dan lebih menyerap dibandingkan dengan salep karena tingginya kadar obat yang mempunyai afinitas terhadap air dan daya penetrasi dan daya maserasi lebih rendah dibandingkan dengan salep. merupakan salep yang padat dan kaku yang tidak meleleh pada suhu tubuh.10 m.1 Basis Crem A/M ad.e PASTA Pasta adalah sediaan setengah padat yang mengandung satu/lebih bahan obat yang ditunjukkan untuk pemakaian topikal.e.u.

antara lain karbomer ( PEG. bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang larut dalam air. Keuntungan menggunakan salep mata yaitu obat dapat kontak lama dengan mata. pektin) Bahan dasar : Gom. pendingin  Mudah berjamur  Mudah kering oleh karena basisnya mengandung air  Efek lokal atau kemungkinan sistemik Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang ( Bioplacenton) SAPO Sediaan cair/setengah padat/padat yang terdiri dari campuran satu atau lebih bahan obat dengan suatu detergent/sabun.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Na F Warna 0. Alginat. Vaselin merupakan dasar salep mata yang banyak digunakan. memungkinkan difusi obat dalam cairan mata dan tetap mempertahankan aktivitas obat dalam jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang cocok. SEDIAAN LAIN 1. terpenetrasi oleh suatu cairan. Bahan dasar : Penyabunan Alkali dengan lemak ( A no. Caragen agar Pektin. CMC) dan gom alam ( tragakanta. Bahan dasar yang lain adalah beberapa bahan dasar salep yang dapat menyerap.1-1% Aqua ad 100 Cara pemakaian : Tidak langsung dioleskan pada kulit tetapi dioleskan dahulu pada kain kasa Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang. As.Standart. Tragakanta. pembawa obat. Dasar salep yang dipilih tidak boleh mengiritasi mata.3) Fungsi : pembersih kulit & pembawa obat Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang OCULENTA ( UNGENTUM OPHTALMICAE) Sediaan salep steril untuk pengobatan mata dengan menggunakan dasar/basis salep yang cocok. sehingga obat tetap berkhasiat selama penyimpanan  Untuk obat dalam larutan/serbuk halus. IN ORA BASE Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 36 . basis tidak mengiritasi mata dan memungkinkan obat tersebar dengan perantaraan air mata. GEL Gel atau jeli merupakan sistem semi padat yang terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar. Bahan dasar salep seperti ini memungkinkan dispersi obat larut yang lebih baik.racikan JELLY. semi sintetik (metil selulose. Sabun diperoleh dengan proses penyabunan alkali dengan lemak atau asam lemak tinggi. CMC) Tidak dikemas dalam pot tapi dalam tube Sifat :  Pelicin kulit. Sifat :  Steril. Gel/jeli topikal merupakan gel fase tunggal dengan menggunakan bahan dasar larut dalam air.

Sifat emplastrum :  Proteksi dan bantuan mekanis pada kulit  Kontak obat dengan kulit erat  Obat tidak melelh sehingga efek lokal lebih intensif. konsistensinya sedemikian rupa sehingga mudah melekat pada kulit dan biasanya dilapisi dengan kain.Sifat PEDOMAN  DERMATOSA Akut : Krim M/A Kronis : Salep Pasta Krim M/A atau A/M Sub Akut : pasta Krim A/M  KEADAAN KULIT Kering : salep Krim Basah : Salep = Basis 4 ( D) Krim M/A atau A/M Berambut : basis 5 ( E) Krim M/A atau A/M Bersisik atau lap. Digunakan untuk pengobatan bibir dan mukosa mulut Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang ( contoh Kenalog) 2. korneum tebal tambahkan keratolitik.Fisiologi Kulit  Tujuan : . Pelumas keratolitik Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 37 .luas permukaan kulit. . Str.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Merupakan preparat Non Generik / Obat dengan nama dagang setengah padat yang dioleskan. jika lesi luas ( ½ luas permukaan tubuh atau lebih berikan sediaan lotion ( murah).Obat lama dikulit . EMPLASTRUM Dari segi kimia hasil proses penyabunan dari asam lemak dengan logam berat. Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang ( Kove salonpas) HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATKAN DALAM MEMILIH BENTUK SEDIAAN SETENGAH PADAT  Kondisi kulit yang terkena penyakit: . .macam . Str corneum tebal.Pembersih.Fungsi  Basis : .Penetrasi Obat baik .Lapisan Straturn Komeum. jika lap.Macam . dll  Bentuk sediaan : .

Setelah dicocokkan maka sediaan yang cocok adalah krim M/A. Tempat melayani resep : apotek ( umum.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Contoh : pada lesi yang akut dan basah. Merupakan dokumen legal ( karena dilindungi UU) Agar pelayanan oleh apotek tidak dijumpai hal-hal yang merugikan penderita. Dengan cara yang benar. Orang yang berhak menulis resep adalah:  Dokter ( umum. atau dokter hewan kepada APA ( Apoteker Pengelola Apotek) untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundangan-undangan yang berlaku. 3. spesialis)  Dokter gigi terbatas untuk penyakit gigi  Dokter hewan terbatas untuk hewan Orang yang berhak mengetahui resep : • Dokter penulis resep atau yang merawat penderita • Penderita. Sebagai catatan terapi Sebaiknya resep dibuat rangkap 2 : • 1 lembar untuk pasien agar mendapat obat • 1 lembar sebagai catatan dokter bila pasien datang lain untuk kontrol atau tidak sembuh. juga untuk memonitor atau mengevaluasi pengoabatan. Lihat pada dermatosa yang akut dan pada keadaan kulit yang basah. Fungsi resep : 1. maka berikan sediaan yang cocok sesuai pedoman diatas. dokter gigi. atau dengan petugas kesehatan lain. Depkes. misalnya instansi yang membiayai pasien. Merupakan media komunikasi Dari dokter kepada apoteker. etc. ATURAN PENULISAN RESEP A. • Jelas dapat dibaca • Sesuai aturan/kaidah penulisan yang berlaku Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 38 . misal Dinas Kesehatan. 4. RS) Cara menyimpan resep : disimpan rapi sebagai dokumen selama tiga tahun Cara pemusnahan resep : dibakar oleh apotek dan dilaporkan pada instansi yang berwenang. • Petugas kesehatan • Petugas lain yang berwenang menurut UU. RESEP Kata resep berasal dari bahasa latin: Recipe (R/) : ambilah Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. sebaiknya tidak perlu diberitahu. Sebagai perwujudan cara terapi Upaya terapi pasien dengan menggunakan obat 2. Balai Pengawasan Obat dan Makanan. tetapi kalau berpengaruh jelek pada psikologisnya. 922/1993: Resep merupakan suatu permintaan tertulis dari dokter.

b. tuss. Resep ditulis: Resep ditulis pada blanko R/ yang berukuran : Panjang : 15-18 cm Lebar : 10-12 cm Ditulis dengan tinta dan bahasa latin. Acetosal 100 mg. 3). b/v. Satuan jumlah/kekuatan obat 2. Allerin Exp. Nama obat. 2) Nama Sinonim  Misal : Asetosal ( ac.salic). antiinflamasi) dengan Lindocin (antibiotik) atau sebaliknya.60 ml.acet. Satuan tab.5 g dalam 100 g sediaan . Tab. Pot.5 % ( b/v) = 0. Bronsolven. Aturan/kaidah penulisan resep: 1.5 % ( b/b) = 0. BAHASA LATIN DALAM RESEP Bahasa latin dalam resep digunakan untuk penulisan: • Nama obat ( obat baku) • Pembentukan/bentuk obat • Petunjuk penggunaan obat ( biasanya disingkat) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 39 .5 ml dalam 100 ml sediaan 2 . 26/1980 dan Keputusan Menkes No.0. ml (mililiter) Persentase %. C. tab. Nigr. Satuan internasional : IU Volume : l (liter). 2. •    Obat jadi ditulis nama standart sesuai DOEN ( berisi nama obat generik berlogo) Misal: 1). Ac. Contoh: ampicilin syr. Ac Benzoic. (OBH) • Obat dengan Nama Dagang  Contoh : Tab. 500 mg. b/b. misalnya Indocin (anlgesik. Singkatan ditulis dalam bahasa latin dan harus lengkap penulisannya agar memenuhi syarat untuk dibuatkan/dilayani obatnya di apotek. Lag No. Tetesan/drops ( = 0. v=volume) Arti prosentase : ./lag/tube ( biji) Satuan tersebut ditulis dengan angka Romawi . 2). Tab Aminophylin 200 mg. mcg (mikrogram). Aspirin./cap.0. biasa juga ditulis cth. Salic. v/b (b=berat.  Dapat ditulis: 1) Nama generik. • • • • Alat penakar Sendok makan (=15 ml)  C Sendok teh ( = 8 ml)  Cth Sendok obat ( =5 ml)  C plastik.05 ml)  gtt B.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Resep harus sesuai dengan Peraturan Menkes NO. 120 ml  Nama obat harus ditulis dengan jelas agar tidak keliru diberikan.280/1981. v/v. mg (miligram)..I 3.5 % (v/v) = 0.a. Berat : g (gram). Theophylin. • Bahan baku ( bentuk aslinya).5 g dalam 100 ml sediaan .0. harus ditulis dengan jelas dan lengkap.

Tidak boleh membuat singkatan versi sendiri. istilah/kata tersebut ditulis utuh. . seperti singkatan bahasa Indonesia. jangan disingkat. Misalnya: obat diberikan untuk 3 hari ( maksudnya kalau sampai 3 hari tidak terlihat perkembangannya yang positif. namun tidak boleh disingkat. Singkatan Bahasa asing yang Penting : Iter…x = iteratur= diulang…x N. Lact) Corringens coloris ( warna)= carmine Corringens odoris (bau)= ol. alamat pasien • Tempat dan tanggal penulisan R/ • Simbol R/ (= invocatio) • Nama. misal: sendok plastik harus ditulis C plastik.I = ne iteratur = tidak boleh diulang Cito = segera Urgent = penting Statim = penting P.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Biasanya ditulis dengan singaktan yang baku ( disepakati Internasional) dan dihindarkan singkatan dalam bahasa Indonesia.Vehicle ( pembawa) yang diperlukan bila resep merupakan racikan dokter sendiri dan bukan obat jadi. bisa tunggal atau beberapa bahan.M = periculum in mora= berbahaya bila ditunda! = ditulis dibelakang jumlah obat jika dosis melebihi dosis maksimum. Superscriptio • Nama. Alasan penggunaan bahasa latin : • Bahasa latin adalah bahasa yang mati ( artinya bahasa yang sudah tidak berkembang lagi) • Merupakan bahasa Internasional dalam dunia kedokteran dan kefarmasian • Menghindari dualisme ( adanya perbedaan pengertian).I. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 40 . Jadi istilah tersebut harus ditulis lengkap. RESEP LENGKAP Resep lengkap terdiri atas : 1. .Remidium corrigens ( hanya kalau perlu). ada baiknya pasien tidak perlu tahu obat/ bahan obat apa yang diberikan.Remidium adjuvant/korektor= nama dan jumlah obat tambahan . banyak menimbulkan istilahistilah baru yang tidak dijumpai singkatannya dalam bahasa latin. meliputi: . maka diupayakan agar seluruh pesan tersampaikan. Penulisan singkatan ini dikarenakan ukuran blanko R/ yang tidak terlalu besar. Rossarum ( minyak permen) Corringens constituen: ditambahkan untuk bahan yang sedikit agar dapat dibuat sediaan obat. umur (khususnya u/anak).remidium cardinale = nama dan jumlah bahan-bahan pokok. alamat. meliputi: Corringens saporis= perasa. Bila ada istilah yang tidak ada dalam bahasa latin. Untuk hal-hal yang khusus. Inscriptio • Jenis bahan obat dalam resep. pasien kembali kepada dokternya). maka boleh digunakan bahasa Indonesia. dan nomor izin praktek dokter 2. Misal : saccharum lactis ( sacch. • Dalam keadaan tertentu karena faktor psikologi. Kerugian : Akibat perkembangan dari ilmu kedokteran dan kefarmasian.

• Untuk resep dokter RS/Klinik/Poliklinik harus ada 1). Obat narkotika dan psikotropika tertentu  paraf u/ gol. Signatura/transcriptio berisi petunjuk penggunaan obat. alamat. sediaannya dipilih obat mana dan sediaan apa yang paling efektif dan cocok untuk penderita • Penggunaan kombinasi obat harus dipertimbangkan adanya kemungkinan interaksi • Dosis diperhitngkan dengan tepat sesuai kondisi penderita. dan peringatan lain. • Sertakan info tentang cara penggunaan. ml.Ahmad yani 9 Gerung : Gerung. Subscriptio Memuat cara pembuatan (nama dan jumlah bentuk sediaan) 4. efek samping. Nama. izin kerja.obat selain diatas Dalam memberikan resep kepada pasien perlu diperhatikan hal-hal sbb: • Penggunaan obat. Enni Yuliani SIP : DU-2000/III/1999 Alamat Rumah/Praktek Jl.2). 3). nama. • Adanya catatan ( kartu obat) untuk evaluasi jika pasien kembali lagi.I) 3.mg. …………………… R/ Pro Alamat Umur : : : Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 41 . Contoh blanko resep dokter praktek swasta : • dr. tanda tangan/paraf. alamat RS/Klinik/Poliklinik. misal: perubahan urin menjadi merah bila mengkonsumsi Rifampisin.g) atau satuan isi untuk cairan (tetes. sebuah resep dikatakan sah bila: • Untuk resep dokter praktek swasta harus ada nama. alamat praktek dan rumah. • Dibubuhkan pada resep setelah signa  tanda tangan u/ gol. • Penulisan singkatan dalam bahasa latin • Jumlah obat/sediaan seperlunya.bagian/unit di RS.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Jumlah bahan obat dinyatakan dalam satuan berat untuk bahan padat (mcg. tanda tangan/paraf* dokter penulis resep.

c (= tandailah 3x sehari 1 tablet 1 jam sebelum makan)  s.d. khusus untuk nama pasien perlu dicantumkan: jenis spesies( jenis binatang seperti kucing. anjing.d. • Pada lembar resep yang digunakan oleh dokter hewan. • Penulisan resep tidak boleh dicantumkan kode-kode tertentu. dan SMF. Penulisan tersebut diperlukan terutama untuk keamanan agar angkanya tidak ditambahi. misalnya’X’ jika diperlukan dapat ditulis’-X-‘.t. yaitu: 1. RS. dll). nama binatang.no.d.susp. • Pada penulisan numero dengan menggunakan angka romawi. Apabila ada keraguan dalam penjelasan dengan menggunakan bahasa tersebut. misalnya untuk obat narkotika jumlahnya tidak ditambahi oleh pasien yang akan menyalahgunakan pamakaiannya.l.Pemuda 18 Mataram Mataram.c.a. • Untuk penulisan resep digunakan bahasa latin.XX (= campur sesuai aturan puyer sesuai takaran di atas sebanyak 20 bungkus). • Untuk nama obat Non Generik / Obat dengan nama dagang harus secara lengkap dan jelas.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Contoh Blanko resep dokter RS/Klinik/Poliklinik Klinik Bersalin EXONERO JL.l.h. berat badan. • Penulisan signa harus jelas. ‘iter’ harus ditulis disebelah kiri di bawah pada setiap R/ yang memerlukan pengulangan maka harus ditulis pada sebelah kiri atas dari resep. bagian nama sampai dengan alamat dapat diganti oleh kop. • Untuk tanda-tanda khusus seperti ‘Cito’ atau ‘PIM’ harus ditulis disebelah kanan pada bagian atas kertas resep. FORMULA RESEP Dalam menuliskan resep.200ml (= campur dan buat sesuai aturan suspensi sebanyak 200 ml)  f.f ( = tandailah dengan formulanya)  m. Resep Formula Magistralis -sediaan disusun oleh dokter sendiri Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 42 .d.d. atau penambahan angka untuk obat lainnya oleh pihak apotek ( terutama dalam hubungannya dengan klaim asuransi). resep yang demikian hanya berlaku lokal untuk negara Indonesia saja. Catatan : untuk resep-resep intern misalnya RS. nama dan alamat pemilik.l.a. • Penulisan nama obat dengan menggunakan singkatan bahasa latin. bila termasuk obat baku/generik. …………………… Dokter : R/ Pro : Alamat : Umur : Arti singkatan bahasa latin:  s.f.u.tab. maka gunakan bahasa Indonesia. dokter.t.pulv. dengan mencantumkan dan lain-lain yang diperlukan. seorang dokter bisa memilih 3 penulisan formula resep.a.

obat yang dipilih : bahan baku ( racikan) Sediaan Non Generik / Obat dengan nama dagang ..f.obat berupa standart/baku menurut: Formula standart. vehikulum/constituen.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran . Contoh cara penulisan.satu sediaan bisa memiliki banyak formulasi . . . dan Makna masing-masing formula Resep: 1.l. XV** s. Resep Formula Officinalis .Bila memakai formula ini.q. Buatlah puyer sejumlah 15 bungkus. farmakope Indonesia. antara lain : corrigen saporis.s* m.d.obat yang dipilih berupa obat dengan nama dagang atau obat jadi .d. *** signa pro re nata ter de die pulveres una=” tandai: bila perlu 3x sehari 1 bungkus puyer” Makna resep “setiap bungkus puyer mengandung bahan obat: Parasetamol 100 mg.Obat / sediaan generik berlogo .r.a pulv.p. 3.n t. Phenobarbital 10 Mg.memakai bahan tambahan. Komposisi tersebut dibuat puyer sesuai dengan dosis obat yang digunakan.I *** Paraf - - arti singkatan * Saccaharum lactum quantum sactis = “ Saccaharum lactum secukupnya”. dan tujuan produk obat yang akan diberikan. Resep Formula Spesialistis .t.d no.sediaan jadi sesuai pabrik . coloris.dokter harus memahami spesifikasi/kekhususan.berupa sediaan jadi atau sediaan yang diracik apotek. dan Saccaharum laktum ( sebagai pemanis dan pembawa) secukupnya.Dokter harus memahami isi/komposisi obat dan indikasinya. Obat diperlukan untuk 5 hari. Arti.” Atau: Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 43 . Extra farmakope dan Formularium Indonesia. 2. ** misce fac lege artis pulveres da tales dosis nomero quindecem=” campur dan buatlah sesuai aturan puyer sebanyak dosis tersebut diatas sebanyak 15 bungkus”. sifat. RESEP MARGINALIS Sediaan padat R/ Paracetamol mg 100 Phenobarbital mg 10 Sacch.d pulv. Lact. . odoris. dokter harus memahami spesifikasi/kekhususan bahan sediaan obat (BSO). Aturan pakai : 3x sehari masing-masing 1 bungkus.

s m. Luminal 50 mg no. sehingga bila diperlukan dosis lain yang tidak sama dengan kandungan obat dalam sediaan tersebut.d.t. Lact.d pulv.Paracetamol No.a pulv.q.d.a Makna resep : “ tablet parasetamol ( 1 tablet =500 mg) sebanyak 3 tablet ( jadi 3x500 mg= 1500 mg= 1.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran R/ Paracetamol g 1. akan memberikan masalah.III Sacch.I Paraf .l. Tablet Luminal ( 1 tablet = 50 mg ) sebanyak 3 tablet ( jadi 3x50 = 150 mg).l. Apa bedanya kedua resep tersebut? Pada R/1 ditulis jumlah banyaknya obat untuk tiap bungkus puyer.a no.d pulv.f.a pulv.d. sedangkan R/2 ditulis jumlah banyaknya obat untuk 15 bungkus puyer.Makna resep : “ dari bahan obat : Parasetamol 1. XV s.s” Mengapa resep seperti ini tidak dianjurkan? Sediaan tablet Parasetamol dan Luminal mengandung sejumlah obat yang tertentu per tablet.d. Phenobarnital 150 mg dan saccharum laktum secukupnya dicampur dan dibuat untuk menajdi 15 bungkus puyer.f. Tidak dianjurkan bentuk peresepan berikut: R/ Tab. dan Saccharum laktum secukupnya.n t. Jadi tiap bungkus mengandung 100 mg dan Phenobarbital 10 mg. Obat diperlukan untuk 5 hari. Aturan pakai : 3x sehari masing-masing 1 bungkus.r.q. XV s.p.n t. no.p.5 g.5 Phenobarbital mg 150 Sacch.r. Dicampur dan dibuat untuk menjadi 15 bungkus puyer. Aturan pakai : s.I Paraf   arti singkatan : s.5 gr).s m.arti singkatan : idem sda .d. III Tab. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 44 . Lact.

dan bahan Adeps lanae 2 gram dan vaseline album( ditambahkan hingga mencapai 20 g). suspensi.l. menggangggu homogenitas dan kadar obat dalam darah yang akhirnya akan mempengaruhi tujuan terapi.** s.d.1 p.a pulv.l.” **** signa bi de die usus externus mane et vespere = “ tandai: 2x sehari untuk pemakaian luar pagi dan sore hari.r. XXX* da. berikan sesudah makan’.u.m. ungt*** s. Obat sediaan cair (sirup.in caps.” Makna resep “ campur dan buatlah salep sebanyak 20 gram yang mengandung : Tetrasiklin 3 %.alb.d. Sediaan Cair  sekarang sudah tidak ada sediaan cair yang disusun formula oleh dokter melalui resep. stabilitas tidak bisa dijamin apabila dibuat di apotek.5 % Ad.b.f.” Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 45 .n t.f. Hidrokortison 2.Lan.d.d.”***misce fac lege artis unguenta = “ campur dan buatlah sesuai aturan salep. karena untuk membuat sediaan cair perlu teknologi dan sudah tersedia dalam bentuk sediaan jadi yang siap pakai oleh pabrik farmasi.a no.** da in capsula= “berikan dalam bentuk kapsul”.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran R/ Aminophylin mg 150 Prednison mg 5 m.t. Pencampuran sediaan obat padat ke dalam sebuah sediaan jadi cair dilarang karena sangat tidak rasional.et. aturan pakai: untuk pemakaian luar 2x sehari pagi dan sore.e.c*** Paraf Arti singkatan * misce fac lege artis pulveres da tales dosis nomero trigenta= “ campur dan buatlah sesuai aturan puyer sesuai dosis tersebut sebanyak 30 bungkus”.d caps.*** signa pro re nata ter de die capsula una post coenam=”tandai : bila perlu 3x sehari masing-masing 1 kapsul.ad 20 ** m. emulsi) harus dibuat segera dan memerlukan tambahan pengawet. v **** Paraf Arti singkatan * Adeps lanae 2= “ Adeps lanae sebanyak 2 gram”** vaselin album ad 20 = “Vaselin album sampai 20 gram.p.a.5 %.2* Vas. Sediaan ½ Padat R/ Tetrasiklin 3 % Hidrokortison 2.

RESEP OFFICINALIS Sediaan Padat R/ Amoxycilin 500 mg no. caps.” Sediaan Cair R/ Pot.t.d.t. di dapat dari : 3 % x20 gram = 0.6 Hidrokortison 0.6 gram.b.d.et. Alb.5 %x20 gram = 0.d.d.5 Ad. Adeps lanae 2 gram dan Vaseline album sampai jumlah salep sebanyak 20 gram. 100 * s. v ** Paraf Arti resep : ambilkan Tetrasiklin 0.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Atau R/ Tetracyclin 0. dengan basis salep: Adeps lanae (10 %) dan Vaseline album.** signa ter de die cochlear theae= “tandailah 3x sehari masing-masing 2 sendok teh” Makna resep: Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 46 .e.u.a” Apa beda resep ini dengan resep diatas? Rsep ini memakai jumlah obat dalam gram. Makna resep “ salep resep diatas mengandung Tetrasiklin 3 %.XV s. demikian pula Hidrokortison: 2.Yaitu Tetrasiklin 0.5 gram.ad 20 m.6 gram.c.Lan. Hidrokortison 2. Dibuat salep .5 gram.tuss.d.d.ml.alb.2 Vas. 2. Aturan pakai.6 gram. Cth.f.5 %.d.a. II* * Paraf Arti singkatan * potio album contra tussim = “ obat batuk putih (OBP). ungt* s.m.* campur dan buatlah menurut aturan salep.l. Makna resep:” berikan kapsul amoksisilin 500 mg sebanyak 15 butir.I * Paraf Arti singkatan * signa ter de die capsula una=” tandailah 3x sehari 1 kapsul”. 3xsehari masing-masing 1 kapsul.** tandailah dua kali sehari untuk pemakaian luar pagi dan sore hari. Hidrokortison 0. Aturan pakai : s.

caps I Paraf Makna resep “berikan kapsul Amoxan 500 mg 15 butir.u.” Formula dan sediaan Amoxan: Bisa dilihat di buku IIMS/ISO Sediaan Cair R/ Cohistan expt..■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran ” berikan obat batuk putih100 ml.I Laboratorium Keterampilan Medik Paraf FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 47 .d.t.m. Anis.60 ml lag. Ad.Ad 100 m. Amm.” Formula Ungt.setelah mandi Makna resep “ Berikan salep Sulfuris Salisilitum sebanyak 20 gram.I* s. Aturan pakai: 3x sehari.100 3. RESEP SPESIALISTIS Sediaan Padat R/ Caps Amoxan 500 mg no. Simpl.10 Aq.Sulf.Pip. Cth.” Formula Potio Album Contra Tusim ( OBP) R/ sol. masing-masing 1 kapsul.Salicyl.v** ( setelah Mandi) Paraf Arti singkatan * Ungentum Sulfuric Salicylitum= “ salep Belerang-Salsilat” ** signa bi de die usus externus mane et vespere = tandailah 2 x sehari .f. Aturan pakai : 3x sehari masing-masing 2 sendok teh.t.XV s.dest.d.untuk pemakaian luar.2 Ol. 20* s. Aturan pakai 2x sehari untuk pemakaian luar.e.d.d.l. dan sore hari sesudah mandi.b.I Syr.a mixt Sediaan ½ Padat R/ Ungt.Mint. Sulfuris Salicylitum( 2-4 Zalf) R/ acidum salicylicum 2 Sulfur praesipitatum 4 Vaselin alb.d.spirt.pagi dsan sore.Gtt.d.et. pagi.

” Formula dan sediaan Cohistan Expectoran: Bisa dilihat di ISO/IIMS Sediaan ½ Padat R/ Scabicid cr.i. R/ Otopain ear drop lag I s.* Laboratorium Keterampilan Medik Paraf FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 48 .m.II a.” Makna resep “berikan Scabicid cream 1 tube. Komposisi/ formula harus diketahui secara baik oleh dokter penulis resep. Aturan pakai : diminum 3x sehari masing-masing 1 sendok teh.** Paraf Arti singkatan: * Scabicid cream tube una= “krim Scabicid 1 tube” ** signa usus cognitus =” Tandailah : aturan pakai sudah tahu. kekuatan. 2.c.u. II ( duo) * s.d.” Makna resep “berikan Cohistan expectoran 60 ml 1 botol. R/ Inj.I* s. injeksi Pethidin sebanyak 2 ampul”.b. Perhatian Karena obat ini ( injeksi Pethidin) termasuk golongan narkotika.” Formula dan sediaan Scabicid Cream : Lihat ISO/IIMS Catatan : dalam penulisan formula spesialistis dokter hanya perlu menuliskan nama Non Generik / Obat dengan nama dagang yang diberikan oleh pabriknya. Pethidin amp.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Arti singkatan * Cohistan expectoran 60 ml lag una= “ Cohistan Expectoran 60 ml 1 btl.d gtt. dan jumlahnya.Tub. telah diketahui.d. maka dokter harus memberi tanda tangan bukan paraf. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PENULISAN RESEP: 1. Aturan pakai .m** Tanda tangan Arti singkatan: * injeksi Pethidin ampula duo = “ Injeksi Pethudin dua ampul” ** signa in manum medici = “ Serahkan pada dokter” Makna resep “ serahkan pada dokter.

b.n = pro re nata= bila perlu. Makna resep “ Berikan salep mata Kloramfenikol 1 % 1 tube. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 49 . Aturan pakai : bila demam/panas berikan 0. 3.d.. Aturan pakai : 2x sehari mata kanan dan kiri”.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Arti singkatan: • signa bi de die guttae duo auriculae dextra=”Tandailah 2x sehari 2 tetes pada telinga kanan”. 2 semprotan. R/ Tempra oral drop fl. Aturan pakai 2x sehari 2 tetes pada telinga kanan “.p. hidung atau mata kanan atau mata kiri atau kedua-duanya.I s. Misal: selain p. Aturan pakai 2x sehari.II Paraf Makna resep : “ berikan Bricasma aerosol 1 flacon/botol. hidung atau mata harus jelas untuk telinga. Perhatian: Seperti halnya tetes. Perhatian: Untuk tetes telinga. kiri atau keduanya. dapat diberi keterangan” febris/demam/panas”. bisa diberi keterangan.d.n. salep mata jelas untuk mata kanan.b.d. 5. dapat diberikan 3x sehari. Paraf Arti singkatan: • signa bi de die unguentum opthalmicum ocular dexter et ocular sinister=” tandailah 2x sehari salep mata.4 ml (dengan pipet yang tersedia). Pemakaian kata” ear drop” ( bahasa inggris) diperbolehkan. Untuk obat-obat simptomatis yang diminum bila demam. Opth.t. Od & Os. R/ Chloramphenicol Ungt.d puff.r. ungt.I s. mata kanan dan mata kiri”. 1 % tub. Perhatian: Bila pemberian hanya waktu tertentu.4 ml Paraf Makna Resep: “berikan Tempra oral drop satu flacon/botol.Opth.d.r. 0.d. 4. R/ Bricasma Aerosol fl I s. Makna Resep “Berikan Otopain Ear drop (satu) botol.

Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 50 .d. 2 hirupan (inhalan)”.b.d inh. Yang satu aerosol yang satu lagi inhalasi.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran R/ Bricasma Turbohaler fl I s.II Paraf Makna resep : “ Berikan Bricasama Turbohaler 1 botol. Perhatikan perbedaan kedua resep Perhatikan perbedaan aturan pakai dan sediaan/alat yang digunakan. Aturan pakai 2x sehari.

n.in.th Caps Cylsm Collyr Collut Conc Cr d/da d.c.adsp.r..h o. p.n.in p.m haust h.h o. S scat.a filtr g.I o.d Ungt.ung Vesp Lege artis Legena Linimentum Liquor Liquor Carbonas detergent Liquidium Parafin liquidium Litus oris Lotio Lozonges Mane Misce Misce da signa Mane et vespere Misce fac Misce fac pulveres Miligramata Mixtura Meridium Noctum Ne iteretur Omni dimidia hora Omni hora Omni bi horio Omni tri horio Omni mane Omni noctum Partes aequales Post coenam Periculum in mora Potio Pro paupere Pro re nata Pulvis Pulveres Pulvis adspersorius Quarter de die/ quarter in die Quantum satis/quanrum suficit Recipe Recens Recenter paratus Signa Scatula Si necesse est.e s. m.s.d/4.f.2 plo dil. Si necesse sit Solutio Spiritus Signa suo nomine Signa usus externus Signa usus internus Signa usus notus Sgna usus cognitus Sumendum Ter de die/ ter in die Unguentum Vespere Menurut semestinya (= aturan) Botol Linimen Cairan Cairan varbonas pencuci Cair Parpum cair Tutul mulut Air pembersih Tablet hisap Pagi hari Campurlah Campur dan berilah tanda Pagi dan sore hari Campur dan buatlah Campur dan buatlah serbuk Miligram Larutan campuran Siang/tengah hari Malam hari Tidak diulang Tiap ½ jam Tiap jam Tiap 2 jam Tiap 3 jam Tiap pagi hari Tiap malam Tiap bagian yang sama Sesudah makan Berbahaya bila ditunda Cairan utk diminum Utk si miskin Bila perlu Serbuk (tunggal) Serbuk( jamak) Serbuk tabur Empat kali sehari Secukupnya Ambillah Segar Dibuat baru Tanda Dos Bila perlu Bila perlu Larutan Alkohol= etanol Tandai dengan namanya Tanda untuk obat luar Tanda untuk obat dalam Tanda aturan pakai sudah tahu Tanda aturan pakai sdh tahu utk Diminum Tiga kali sehari Salep Senja(=sore)hari Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 51 .a lag lin liq Liq.u.d.det Liq Paraf.f.i.s sol. d q.aeq p.d/t. rec. R.b.bidest aq.liq Lit.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran ISTILAH BAHASA LATIN DALAM RESEP Aa a.u. o.n pulv pulv.m.d/q.h c C Cp C.h.s.I.liq extr.n s.t.c sum.i.M Pot.pro. p.i.d.d b.spiss extr.i s.d d.et v.i.m inf inf.u.m.opth gtt. s.oris Lot Loz m/man m. ½ .d.c ad ad lib aDM aq.auric gtt.n.c d. N ne iter/ N.p.inj aq.u.nasal h h..Carb.s m.e s.steril b.f d.p.n s. m.h./solut spir s.t. m.d.d/b. div./o.d.c.l. o. o.sicc f f.G garg gtt gtt.d d. P.pulv mg mixt merid.d dext empl enem extr extr. t.iv iter iter 2x Lc Ana Ante coenam Ad Ad libitium Adbe Aqua bidestilata Aqua destilata Aqua pro injectio Aqua sterilisata Bis de die/bis in die Bis hora Cum Cochlear Cochlear pultis Cochlear theae Capsulae Clysma Collyrium Collutio Concentratus Cream Da Dorante coenam Da cum formula De die Da in demidio Da in duplo Dilitus Devide in dartes/equales Da tasles dosis Dexter Emplastrum Enema Extractum Extractum liquidium Extractum spisssum Extractum siccum Fac/fiat Fac lege artis Filtra Grama Gargarisma Guttae Guttae opthalimiceae Guttae auriculares Guttae nasales Hora Hora matutina Haustus Hora somni In manum medici Infusum Infus intavenus Iteretur /iteratie Iteretur 2x Loco Masing-masing sama banyak Sebelum makan Sampai Sampai yang diinginkan Tambahkan Air suling 2 kali Air suling Air untuk larutan suntik Air steril 2 kali sehari 2 jam Dengan Sendok makan 9 15 ml) Sendok bubur 9 8 ml) Sendok the(5 ml) Kapsul Lavement (cairan utk bubur) Cuci mata Cuci muluit Pekat Krim Berilah Selama makan Berilah dengan resep/formulanya sehari Berilah setengahnya Berilah 2 kalinya Encer Bagilah dalam bagian yg sama Berikan sebanyak takaran tersebut Kanan Plester Lavement Ekstrak/sari Sari cair Sari kental Sari kering Buat/ dibuat Buat menurut seni( aturan) Saring Garam Obat kumur Tetes Tetes mata Tetes relinga Tetes hidung Jam Pagi-pagi Sekali minum sebelum tidur Serahkan ke dokter Rebusan Sediaan steril untuk intravenous Diulang Diulang 2 kali Penggantinya l. p.h.dest aq. r.aeq d. q.d.s i.

Hal ini biasanya dilakukan dengan cara : mengobati pasien. Pemberian obat yang tidak diperlukan. una 2=II= duo. d. lama pemakaian). Tepat tindak lanjut Namun ada hal-hal yang tidak dapat disangkal dalam pemberian obat yaitu kemungkinan terjadinya hasil pengobatan yang seperti yang diharapkan ( Drug related problem). bentuk sediaan. unum. Peresepan salah 2. Tepat informasi 6. cara & lama pemberian 5. Ketidakberhasilan pengobatan ini dapat disebabkan oleh: 1. dosis. mengurangi atau meniadakan rasa sakit. b. Tepat diagnosis 2. Peresepan obat majemuk (polifarmasi). Respon aneh individu terhadap obat b. Perilaku pasien yang tidak mendukung a.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran ANGKA LATIN 1= I = Unus. Tepat indikasi 3. Terdapat 7 kriteria penggunaan obat secara rasional (POSR). Peresepan obat berlebih c. Pemberian obat yang dikontraindikasikan pada penderita Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 52 . Pengobatan kurang tepat (missal: pemilihan obat. rute. PENGGUNAAN OBAT RASIONAL Terapi dengan menggunakan obat terutama ditujukan untuk meningkatkan kualitas atau mempertahankan hidup pasien. Kesalahan dispensing 3. Penulisan resep yang kurang tepat a. Penggunaan obat tidak sesuai dengan perintah pengobatan ( Non compliance) 4. Terjadi kesalahan atau kecelakaan 5. Tidak tepat penderita a. menghentikan atau memperlambat proses penyakit serta mencegah penyakit atau gejalanya. Obat yang tidak tersedia pada saat dibutuhkan b. yaitu : 1. Berhubungan dengan cara pengobatan yang tidak tepat b. Penyerahan obat yang tidak tepat a. Tepat pemilihan obat 4. ae 3=III=tres 4=IV=quatuor 5=V=quinguae 6=VI=sex 7=VII=Septem 8=VIII= octo 9=IX=novem 10=X= decem 12=XII=duodecem 15=XV=quidacem 20=XX=viginti 21=XXI=unus et viginti 25=XXV=quinguae et viginti 30=XXX=trigenta 40=XL=quadragenta 50=L=Quingenta 51=LI=unus quingenta 90=XC=nona genta 100=C=Centum 500=D=quncenti 1000=M=mille 2000=MM=duo mille 121=CXXI=centum unus et viginti 131=CXXXI= centum unus trigenta. e. interval dosis. unae. Idiosinkrasi pasien a. Tepat penilaian kondisi pasien 7. Tepat dosis.

• Pasien yang tidak dapat menerima pengobatan peroral memerlukan adanya kajian apakah pengobatan dapat diabaikan sementara waktu atau apakah diperlukan rute atau pengobatan alternatif. b. Gagal untuk mengenali dan menyelesaikan adanya keputusan terapi yang tidak tepat. yaitu melalui pemberian sediaan obat yang pelepasannya terkendali sehingga cukup diberikan satu kali sehari.  Bentuk sediaan obat Pada obat-obat tertentu. Contoh: • Pemberian obat sedasi untuk malam hari sebaiknya 30 menit sebelum tidur.  Pemilihan waktu pemberian obat Sangat penting untuk memahami tentang ketepatan waktu pemberian dosis obat. Gagal dalam memantau efek pengobatan pada pasien. Masalah yang terkait dengan pemberian obat  Rute pemberian obat Rute pemberian obat perlu dievaluasi untuk memastikan bahwa rute tersebut tepat bagi pasien. Pemantauan yang tidak tepat a.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 6. kadang-kadang tidak tersedia di bangsal / di apotek / di puskesmas. Contoh: suspensi fenitoin 90mg dalam 15 ml dipertimbangkan memberikan efek terapeutik yang kurang lebih sama dengan kapsul atau tablet yang mengandung natrium fenitoin 100mg. atau obat tidak tersedia pada saat dibutuhkan). Contoh: pasien yang diterapi dengan Calsium chanel blockers pelepasan terkendali harus menggunakan nama dagang obat yang sama untuk terapi pemeliharaanya. Pada rute pemberian obat dapat diperlukan penyesuaian dosis untuk pasien dan pemantauan intensif terhadap efek klinis. Contoh : • Sediaan obat yang pelepasannya terkendali akan tidak tepat jika diberikan melalui selang naso-gastrik. sangatlah penting untuk mempertimbangkan bioekuivalensi berbagai nama dagang obat. Contoh : • Pasien yang tidak dapat menerima pengobatan secara oral karena tidak mampu / tidak boleh minum obat seperti sebelum operasi. harus dilakukan kajian terhadap pengobatan yang sedang diterima saat ini untuk menentukan formulasi atau pilihan obat alternatif. • Dosis yang terabaikan (kadang-kadang terlupakan. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 53 . • Pasien dengan keadaan tidak memungkinkan akses melalui vena sehingga pemeberian obat secara IV harus dihindari. Pasien yang mungkin mengalami kesulitan dalam mematuhi aturan pengobatan akan memperoleh kemudahan dengan penyederhanaan aturan pengobatan. Rute pemberian obat juga harus disesuaikan dengan obat itu sendiri. tidak sadar atau menderita mual dan muntah.

fungsi hati dan ginjal. Pertimbangkan apakah pengobatan tersebut akan efektif bila diberikan hanya jika perlu atau perlu diberikan secara teratur.  Frekwensi pemberian obat Pastikan frekwensi pemberian obat telah sesuai dengan farmakokinetika obat ataupun formulasinya. Contoh: • Acute anger glaucoma dilaporkan terjadi pada pasien dengan pemberian ipatropium bromida secara nebulasi. Beberapa makanan dapat mempengaruhi absorpsi obat-obat tertentu sehingga perlu diperikasa adanya persyaratan bahwa suatu obat harus diberikan bersamaan dengan atau sesuadah makan. • Diuretik lebih baik diberikan pada pagi hari daripada malam hari (kecuali pada pasien yang dikateterisasi). Contoh: • Profilaksis anti malaria yang tepat untuk wisatawan sesuai dengan tempat tujuan mereka. terutama jika digunakan bersama-sama dengan salbutamol secara nebulasi). Contoh: • Furosemid secara intravena harus diberikan pada kecepatan tidak lebih dari 4mg per menit. • Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 54 . Masalah yang terkait dengan obat • Ketepatan pengobatan Aturan pengobatan perlu dikaji untuk memastikan kesesuaiannya dengan kondisi pasien. persoalan kepatuhan dan lain-lain. alergi. Perhatian/perlakuan khusus diperlukan untuk mencegah uap nebulasi dari masker menuju ke mata pasien. kontra indikasi. Contoh: • Tetrasiklin harus diberikan 1 jam sebelum makan atau pada saat perut kosong dan tidak boleh diberikan bersamaan dengan susu. Contoh: • Laktulosa perlu diberikan secara teratur agar efektif. atau justru menghindari pemberian bersamaan dengan makanan/ minuman.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Pemberian obat antihiperlipidemia golongan statin harus pada malam hari karena tujuan untuk mengurangi produksi kolesterol endogen yang diproduksi oleh tubuh pada malam hari.  Kecepatan pemberian obat Untuk obat-obat tertentu perlu dipastikan bahwa obat-obat tersebut diberikan pada kecepatan yang tepat. Aturan pengobatan juga perlu dikaji dalam rangka memastikan ketepatan untuk masingmasing individu pasien.  Efek samping yang terkait dengan cara pemberian obat Perlu diantisipasi efek samping yang mungkin timbul sebagai akibat dari rute pemberian obat. pilihan waktu dan lamanya kunjungan. • antipirektik hanya diberikan jika diperlukan untuk mengatasi demam. mengingat faktor-faktor seperti: keadaan penyakit yang bersamaan.

Contoh: • Karbamazepin menginduksi metabolismenya sendiri. • • • Pentingnya pengobatan Pertimbangkan apakah pengobatan benar-benar dibutuhkan oleh pasien. • Pengobatan jangka pendek untuk infeksi. Kardio selektif beta bloker lebih dipilih dan beta bloker harus dihindarkan pada mereka yang sering mengalami kejadian hipoglikemia. serta mengganggu respon metabolisme dan autonomik terhadap hipoglikemia. Contoh: • Walaupun beta bloker tidak dikontra indikasikan untuk diabetes. • Pertimbangkan apakah suatu pengobatan masih diindikasikan untuk pasien – seperti penyelesaian suatu periode antibotika. usia. mual / muntah. Interaksi obat Interaksi obat dapat termasuk: interaksi obat-penyakit. Kadang-kadang dosis obat perlu disesuaikan ketika terapi berlangsung. • Penurunan dosis kortikosteroid pada tahap akhir pengobatan jangka panjang asma. Efek samping yang tidak terduga perlu diidentifikasi dan dinilai untuk memutuskan apakah pengobatan dapat dilanjutkan.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran • Beta bloker dapat memperparah keadaan asma. harus dihentikan (dan pengobatan alternatif diberikan) dan apakah pengobatan tambahan perlu diresepkan untuk mengatasi efek samping obat. tetapi golongan obat ini dapat mengakibatkan sedikit penurunan toleransi terhadap glukosa darah. interaksi obat-obat. fungsi ginjal dan hati). Contoh: • Pengobatan seumur hidup untuk disfungsi tiroid atau diabetes mellitus. diare atau demam. • • Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 55 . yang dapat mengarah pada duplikasi pengobatan (termasuk obat yang berbeda tetapi memiliki mekanisme aksi sama) atau pengobatan yang diberikan untuk mengatasi efek samping yang diakibat obat (termasuk ruam. Jangka waktu pengobatan Beberapa terapi obat harus dilanjutkan untuk seumur hidup. muntah). mual. sementara obat yang lain perlu diberikan untuk suatu pengobatan jangka waktu tertentu. sehingga harus dihindarkan pada pasien dengan riwayat penyakit asma atau penyakit paru obstrutif menahun. interaksi obat-diet atau interaksi obat – uji laboratorium. Ketepatan dosis Pertimbangkan pedoman dosis (termasuk dosis maksimum dan minimum) dan variable pasien yang mempengaruhi dosis (termasuk tinggi. Contoh: • Perlu dipertimbangkan antara resiko dan manfaat jika pasien diobati atau tidak diobati (terutama pada kehamilan dan menyusui). Efek samping obat Efek samping yang dapat diantisipasi perlu dicegah atau ditangani dengan tepat. • Pertimbangkan dasar pemikiran pada pemberian pengobatan yang bersamaan ataupun tambahan pengobatan. berat. sehingga perlu kajian terhadap khasiatnya dan atau penyesuain dosis.

Untuk dokter dan tenaga keperawatan Memudahkan dokter dan tenaga keperwatan untuk menentukan pengobatan yang paling bermanfaat. Pedoman Pengobatan Salah satu aspek yang dapat memudahkan dan menjamin terlaksananya POSR adalah adanya suatu pedoman pengobatan. Eritromisin estolat menyebabkan peningkatan semu terhadap aspartat transaminase AST / SGOT. OTT dapat timbul karena pencampuran dua jenis injeksi yang tidak tepat atau penambahan suatu injeksi ke dalam cairan infus yang tidak tepat. Kompatibilitas / Ketercampuran obat. Untuk pengelolaan suplai obat Suplai obat tiap penyakit baik oleh pemerintah sendiri ataupun melalui kerjasama dengan pihak swasta. lebih terjamin. Dapat memperkirakan kebutuhan obat secara lebih riil berdasarkan epidemiologi penyakit.9% ketika digunakan bersamaan dalam satu alat suntik (syring drive) sehingga sangat penting untuk memeriksa semua tanda / indikasi pengendapan sebelum pemberian obat. aman. Manfaat pedoman pengobatan: a. Untuk pemegang kebijaksanaan kesehatan Pedoman pengobatan bermanfaat untuk mengukur mutu pelayanan pengobatan dan pengendalian biaya.paling dibutuhkan.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran • • • • Amiodaron meningkatkan konsentrasi digoksin dalam plasma sehingga memerlukan penurunan dosis pemeliharaan digoksin. Pedoman tersbut disusun berdasarkan bukti ilmiah dan kesepakatan para ahli.ragaman pengobatan antara petugas sehingga kepatuhan pasien terhadap pengobatan lebih terjamin. Aspek Hukum Pedoman Pengobatan a. Tenaga kesehatan lebih dapat memusatkan perhatian pada proses penegakan diagnosis. • Siklizin cenderung mengendap dengan adanya NaCl 0. c. d. mutu peresepan lebih terjamin dan memungkinkan evaluasi. meningkatnya toksisitas atau efek samping lain. Contoh. Masalah obat yang tidak tercampurkan (OTT) secara fisika maupun kimia dapat muncul dan mengakibatkan hilangnya potensi. b. rasional dan ekonomis bagi pasien. aman dan ekonomis. PPAB. Sebagai standar keprofesian. Untuk pasien Pengobatan yang diterima oleh pasien hanya pengobatan yang paling bermanfaat. Atau adanya logam bervalensi 2 pada diet (misalnya sayur bayam) dapat mengurangi absorpsi ciprofloksasin secara bermakna. Contoh pedoman yang digunakan di Indonesia adalah FRS. dan PDT. sehingga anggaran obat dapat dimanfaatkan secara lebih efektif. serta dapat mengurangi kebingungan pasien akibat keaneka. Sebagian makanan enteral yang diberikan melalui selang nasogastrik dapat mengganggu absorpsi fenitoin. DOEN. supervisi dan monitoring praktek peresepan serta memberikan perlindungan hukum. DOEW. karena pedoman pengobatan dibuat atas dasar pertimbangan ilmiah dan juga merupakan kesepakatan berbagai ahli yang relevan dan kompeten Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 56 .

antara lain: 1. karena telah mengikuti prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan hukum. Penggunaan antibiotik secara tidak rasonal menyebabkan terjadinya resistensi obat. Dampak terhadap efek samping obat Semakin banyak jenis obat yang diberikan. Kurangnya pengetahuan tentang farmakoterapi 2. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 57 . Dampak pengobatan tidak rasonal a. Sistem pelayanan kesehatan yang kurang merata 9. efek samping yang mungkin dialami oleh pasein dapat meningkat. Pengawasan penggunaan dan peredaran obat yang kurang ketat. Faktor penyebab penggunaan obat yang tidak rasional Banyak faktor yang mendorong terjadinya pnggunaan obat yang tidak rasional. Diagnosis yang tidak pasti sehingga pemberian obat seperti “ shot gun therapy” 4. Memberi status hukum yang jelas dan dapat diterima. Tekanan dari industri farmasi 8. kurangnya motivasi dokter dan tenaga paramedis untuk menambah ilmu misalnya jarang mengikuti kursus penyegar 5. Dampak terhadap biaya pengobatan Waktu perawatan lebih lama. pemberian obat tanpa indikasi dan pemberian obat yang tidak perlu menyebabkan biaya pengobatan meningkat b. Tidak adanya pedoman pengobatan pada unit-unit pelayanan kesehatan 6.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran b. Kurang mendapat informasi obat yang benar 3. Tekanan dari penderita 7.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->