■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi

Kedokteran

BAHAN BELAJAR KETERAMPILAN MEDIK

FARMASI KEDOKTERAN
Siti Rahmatul Aini, S.F, Apt, dr. Triana Dyah C, dr. Ilsa Hunaifi Andang Sari, S.Si, Apt, Drs. Agus Supriyanto, Apt, dr. Nurhidayati M.Kes, Emmy Amalia dr.

PENDAHULUAN
Ilmu farmasi kedokteran merupakan ilmu terintegrasi dengan ilmu farmasi dan ilmu kedokteran klinik. Ditilik dari sejarahnya, sebelum abad XX, obat yang digunakan masih sederhana yaitu obat tradisional dan Ars Prescribendi dan Ars Preparans dipegang oleh 1 ahli yaitu dokter/tabib. Sedangkan setelah abad XX, melalui perkembangan ilmu pengobatan maka diciptakan obat dari bahan kimia, Ars prescribendi oleh dokter dan Ars preparansi dilakukan oleh apoteker.

PERIHAL OBAT
BATASAN OBAT Obat dapat didefinisikan sebagai suatu zat yang dimaksudkan untuk dipakai dalam diagnosis, mengurangi rasa sakit, mengobati atau mencegah penyakit pada manusia, hewan dan tumbuhan. Obat adalah unsur bahan aktif secara fisiologis, zat kimia, atau racun. Menurut Permenkes RI No.242/1990, obat adalah bahan atau panduan bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, pemulihan, dan peningkatan kesehatan termasuk kontrasepsi dan sediaan biologis. Obat adalah unsur bahan aktif secara fisiologis, zat kimia, atau racun, sedangkan menurut Permenkes No.193/Kab/B-VII/71, obat adalah bahan/paduan bahan yang digunakan dalam menetapkan :  Diagnosis Contoh: cairan kontras (BaSO4)  Mencegah Contoh: vaksin, pil KB.  Menghilangkan penyakit/ gejala, luka/kelainan Contoh: obat-obat simptomatis, contoh: parasetamol.  Memperindah/memperelok tubuh Contoh: obat jerawat, pemutih KATEGORI OBAT Obat bisa dikategorikan menurut UU Farmasi, bentuk (fisik), cara pemberian dan khasiat/efek obat. Berdasarkan keamanannya obat dapat digolongkan (Peraturan MenKes No. 242/ Thn 90)  Obat bebas  Obat bebas terbatas  Obat keras  Obat Psikotropika  Obat narkotika

Menurut Jenisnya Obat Dapat Dibedakan Menjadi :

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

1

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi

Kedokteran

  

Obat baku/bahan obat Obat jadi Obat paten

  

Substansi yang ditetapkan oleh Farmakope Indonesia atau buku resmi lainnya yang ditetapkan pemerintah. Obat standart, obat generik: obat dengan komposisi dan nama teknis standart seperti dalam Farmakope Indonesia atau buku lain yang ditetapkan pemerintah. Trade name: obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar seperti nama pabrik atau yang dikuasakannya dan dijual dalam bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya dan obat tersebut obat yang masih dilindung oleh hak patennya. Obat paten tidak tersedia dalam bentuk generik, dan tidak boleh suatu perusahaan membuat nama paten yang lain dengan kandungan yang sama selama masa paten obat ini masih dikuasai oleh perusahaan leadernya atau selama hak paten kandungannya tidak dijual atau dilisensikan ke perusahaan lain yang berminat. obat yang telah habis masa patennya obat dengan nama generik, nama resmi yang telah ditetapkan dalam Farmakope Indonesia dan INN (International Non-propietary Names) dari WHO (World Health Organization) untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Nama generik ini ditempatkan sebagai judul dari monografi sediaan-sediaan obat yang mengandung nama generik tersebut sebagai zat tunggal (Obat Generik Berlogo). Obat Generik bisa berupa obat off paten yang terdiri atas branded generik dan generik (berlogo). Obat tradisional, jamu, fitofarmaka: obat yang didapat langsung dari bahan-bahan alamiah Indonesia. Obat generik yang dibuat oleh pabrik dengan nama yang berbeda dengan nama generiknya tetapi komposisinya sama dengan generiknya. Yang membedakan adalah bentuk sediaan, rasa, kemasan dan promosi.

 

Obat Off Paten Obat Generik

 

 

Obat asli

Obat dengan  Nama Dagang

Menurut Cara Pemberiannya, Obat Dibedakan Menjadi:  Obat sistemik, yaitu cara pemberian obat yang memungkinkan obat masuk dalam tubuh dan beredar dalam sirkulasi sistemik sehingga efek kerjanya bersifat sistemik. Cara pemberian obat sistemik ini misalnya pemberian per oral dan parenteral.  Obat lokal, yaitu cara pemberian obat yang menghasilkan efek setempat atau hanya pada tempat pemberian. Obat lokal ini tidak atau minimal ditemukan dalam sirkulasi sistemik. Cara pemberian obat dengan efek lokal misalnya obat topikal seperti salep kulit, sampho anti ketombe, dan pemberian per inhalasi. Menurut khasiat/efek obat, obat dibedakan menjadi kelas terapi seperti tercantum dalam Daftar Obat Essensial Nasional ( DOEN). Penggolongan Berdasar Efek Farmakologi Contoh : Fenobarbital; dapat dikategorikan menurut:  Tempat kerja dalam tubuh; merupakan obat yang bekerja pada SSP  Aktivitas terapeutik; merupakan obat sedatif-hipnotik.  Mekanisme kerja farmakologi; merupakan depressan SSP  Sumber asal/ sifat-sifat kimia; merupakan turunan asam barbiturat. Menurut bentuk dan struktur kimia:

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

2

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi

Kedokteran
      

Asam; contoh acetosal, acidum ascorbinium, barbitalum Basa; contoh alucol, bisacodyl, hidrochlorothiazida Garam; contoh : natrium chlorida, papaverine HCI, atropine sulfas Garam/senyawa kompleks; contoh: magnesium trisilikat, cynacobalamin, aluminium/ kalium sulfat. Ester; contoh: chloramphenicol palmitat, adrenaline bitartrat, gliceryl guayacolate Kristal mengandung aior: contoh ampiciline trihiodrat, calcii lactas, codein HCI Isotop radioaktif: contoh : chlormerodin Hg, natrii yodida.

Hubungan antara struktur kimia-sifat kimia dan aktivitas biologis obat.
Struktur kimia Sifat kimia-fisika Aktifitas biologis obat

Jumlah Macam Susunan dari atom molekul obat

Kelarutan Koefisien partisi Adsorpsi Derajat ionisasi

Respon Kenaikan jumlah ikatan obat reseptor

Penggolongan Obat Tradisional

Penggolongan obat di atas adalah obat yang berbasis kimia modern, padahal juga dikenal obat yang berasal dari alam, yang biasa dikenal sebagai obat tradisional.Obat tradisional Indonesia semula hanya dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu obat tradisional atau jamu dan fitofarmaka. Namun, dengan semakin berkembangnya teknologi, telah diciptakan peralatan berteknologi tinggi yang membantu proses produksi sehingga industri jamu maupun industri farmasi mampu membuat jamu dalam bentuk ekstrak. Namun, sayang pembuatan sediaan yang lebih praktis ini belum diiringi dengan perkembangan penelitian sampai dengan uji klinik. Saat ini obat tradisional dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu jamu, obat ekstrak alam, dan fitofarmaka.

1.

Jamu (Empirical based herbal medicine)

Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, misalnya dalam bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional. Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur yang disusun dari berbagai tanaman obat yang jumlahnya cukup banyak, berkisar antara 5 – 10 macam bahkan lebih. Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris. Jamu yang telah digunakan secara turunmenurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun, telah membuktikan keamanan dan manfaat secara langsung untuk tujuan kesehatan tertentu.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

3

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi

Kedokteran

2.

Obat Herbal Terstandar (Scientific based herbal medicine)

Adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral. Untuk melaksanakan proses ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah dengan tenaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan maupun ketrampilan pembuatan ekstrak. Selain proses produksi dengan tehnologi maju, jenis ini pada umumnya telah ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik seperti standart kandungan bahan berkhasiat, standart pembuatan ekstrak tanaman obat, standart pembuatan obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas akut maupun kronis. 3. Fitofarmaka (Clinical based herbal medicine) Merupakan bentuk obat tradisional dari bahan alam yang dapat disejajarkan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia.. Dengan uji klinik akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal karena manfaatnya jelas dengan pembuktian secara ilimiah.

TATA NAMA
Sesuai dengan Monografi Farmakope Indonesia, maka nama yang sah digunakan dalam penulisan resep adalah:  Nama latin : contoh: acidium acetylsalicylicum,aecetaminofen, methampyronum  Nama Indonesia : contoh:asam asetilsalisilat, asetaminofen, metampiron  Nama lazim/generik : contoh: acetosal, paracetamol, antalgin

DERIVAT OBAT (TURUNAN OBAT)
Derivat (turunan) obat adalah sekelompok obat yang diturunkan dari senyawa yang sama dengan senyawa induk tetapi masing-masing punya struktur kimia yang berbeda, umumnya digunakan untuk sekelompok obat dengan khasiat yang sama, dan didapatkan dari hasil” manipulasi molekuler” senyawa induk (dengan struktrur kimia tertentu). Tujuan dibuatnya derivat obat adalah untuk mendapatkan obat baru dengan efek sama tapi lebih poten dan efek samping lebih kecil atau efek berbeda. Berdasarkan efek farmakologinya, derivat obat ini dapat dikategorikan menjadi obat lain. Sebagai contoh, SULFONAMID, suatu antimikroba, secara struktur kimia menyerupai PABA. Dari sulfonamid dapat diturunkan banyak obat baru dengan efek berbeda antara lain: chlorthiazide (berefek diuretika/ penurun tekanan darah); chlorpropamida yang mempunyai struktur mirip sulfonamid tapi berefek lain yaitu sebagai obat anti-diabetik.

DOSIS OBAT
Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

4

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi

Kedokteran

Dosis lazim, dosis terapeutik adalah sejumlah obat ( dalam satuan berat/volume unit) yang memberikan efek terapeutik pada penderita ( dewasa). Selain dosis terapeutik, dikenal pula istilah, dosis awal, dosis pemeliharaan, dosis maksimum, dosis toksis, dan dosis letal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dosis antara lain adalah faktor obat, faktor pemberian, faktor penderita dan indikasi dan patologi penyakit. Dosis Maksimum (DM) kecuali dinyatakan lain, adalah dosis maksimum untuk dewasa untuk pemakaian melalui mulut, injeksi subkutan dan rektal. Penyerahan obat dengan melebih DM dapat dilakukan, jika dibelakang jumlah obat bersangkutan pada resep dibubuhi tanda seru dan paraf dokter penulis resep. Dosis Lazim untuk dewasa, anak dan bayi hanya merupakan petunjuk dan tidak mengikat. • FAKTOR OBAT Dipengaruhi oleh sifat fisika, daya larut (air/lemak), bentuk(kristal/amorf), sifat kimia (asam, basa, garam, ester), derajat keasaman (pH dan pKa), toksisitas. • FAKTOR RUTE PEMBERIAN OBAT Dosis obat yang diberikan melalui rute/cara pemberian apapun, harus mencapai dosis terapi dalam pada target organ. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor, misanya faktor yang membatasi kemampuan absorbsi obat pada pemberian per oral, maka dosis oral berbeda dengan dosis obat yang diberikan secara parenteral. Dosis obat pada pemberian per oral lebih tinggi dari pada per parenteral. • FAKTOR PENDERITA Dipengaruhi oleh umur (anak, dewasa, geriatri), berat badan (normal, obesitas, malnutrisi), luas permukaan tubuh, ras dan sensitivitas individual. •   INDIKASI DAN PATOLOGI PENYAKIT Penyebab penyakit Keadaan pato-fisiologis, misalnya pada gangguan fungsi hepar dan/atau gangguan fungsi ginjal, beberapa jenis obat dikontraindikasikan, atau dosis beberapa jenis obat perlu diturunkan atau interval pemberian diperlama.

PERHITUNGAN DOSIS OBAT UNTUK ANAK Anak bukanlah miniatur dewasa, oleh karena organ tubuhnya (hepar, ginjal, saluran pencernaan, dan SSP) belum berfungsi secara sempurna, luas permukaan tubuh, kecepatan metabolisme basal, serta volume dan distribusi cairan tubuh berbeda dengan orang dewasa, maka besar dosis pada anak ditentukan berdasarkan pada keadan fisiologi anak. Dalam menghitung dosis obat untuk anak, perlu dibedakan antara :      Prematur Neonatus ( 1bln) Infant ( s.d 1 thn) Balita (>1-5 thn) Anak ( 6-12 tahun)

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan dosis anak: Faktor farmakokinetik obat  Absorpsi : kemampuan absorpsi dipengaruhi oleh  PH lambung dan usus  Waktu pengosongan lambung  Waktu transit

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

5

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran     Enzim pencernaan Distribusi : jumlah obat yang sampai di jaringan dipengaruhi oleh:  Masa jaringan  Kandungan lemak  Aliran darah  Permeabilitas membran  Kadar protein plasma  Volume cairan ekstraseluler Metabolisme : kecepatan metabolisme dipengaruhi oleh:  Ukuran hepar  Kemampuan enzim mikrosomal Eksresi : proses eksresi obat terutama melalui ginjal dan dipengaruhi oleh:  Kecepatan filtrasi glomeruler  Proses sekresi dan reabsopsi tubuler Cara menghitung dosis anak 1. Berdasar perbandingan berat badan dianggap berat badan BBa orang dewasa 70 kg DM (mg) Rumus Clark = 70 3.73 m2 Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 6 . Rumus Dilling 20 DM (mg) Da = n Angka 20 menunjukkan bahwa rumus ini berlaku untuk orang dewasa >20-24 tahun. maka dosisdosis yang ada dihitung sebagai berikut : Dosis A DM A + Dosis B DM B + dan seterusnya ≤1 Dihitung dosis rangkap sekali dan dosis rangkap sehari. Berdasar perbandingan umur: Rumus young ( Anak umur 1 – 8 tahun) Da = n x DM (mg) n +12 Angka 12 menunjukkan berlaku untuk umur anak <12 tahun Dosis Rangkap = Dosis Kombinasi Apabila dalam resep terdapat dua atau lebih obat yang mempunyai khasiat sama. Berdasar perbandingan luas permukaan tubuh (LPT) Dianggap bahwa luas permukaan tubuh orang dewasa : 1. Didasarkan perbandingan dengan dosis dewasa. Ket rumus diling: Da= dosis anak DM= dosis Maksimum n= umur 2.

8+0.5 + n DM Da = 19. Contoh: digitoksin.9 W Da = 1+ W W= berat dalam kg DM Untuk balita 1 – 4 tahun 4.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Rumus ( crawford.5 + W Da = 41 DM W= berat badan dalam kg Catatan : rumus ini diturunkan dari Rumus Clark ( yang telah diseuaikan untuk anak Indonesia). PERHITUNGAN DOSIS OBAT PADA OBESITAS Dikatakan obesitas jika BB > 20%. Didasarkan atas ukuran fisik anak secara individual  Sesuai dengan BB anak ( dalam kg)  Sesuai dengan LPT anak ( dalam m2) CATATAN: Kelemahan perhitungan anak dengan perbandingan dengan dosis dewasa:  Umur: tidak tepat oleh karena ada variasi BB dan LPT  Berat Badan : tidak tepat untuk semua obat  LPT : tidak praktis terutama kasus gawat Karena kelemahan-kelemahan tersebut maka diciptakan rumus baru untuk menghitung dosis anak yang lebih akurat oleh bagian farmasi kedokteran Unair. BB ideal dan komposisi komponen tubuh berbeda dengan BB normal Untuk perhitungan dosisnya harus memperhatikan kelarutan obat dalam lemak (lipofisitas) :  Berdasar berat badan tanpa lemak (BBTL) untuk obat non-lipofilik. Untuk bayi 0-11 bulan Da= 89 13 + M DM Da = dosis anak DM= Dosis Makanan m = umur dalam bulan atau 28.8 n = umur dalam tahun atau 2.73 4. gentamisin  Berdasar berat badan normal ( BBN) untuk obat lipofilik Contoh: thiopental Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 7 .Terry Rouke) = LPT a DM (mg) 1.

anak : 10 mg/kg BB/ hari DOSIS UNTUK EFEK BERBEDA Sebagai contoh.2-2mg/ hari Diazepam 5-30 mg dalam dosis terbagi  Dosis/kg. dosisnya 30-60 mg/2-3 DM KURVA BENTUK BEL Menunjukkan efek obat dalam populasi Error: Reference source not found Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 8 .■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran DOSIS LAZIM / TERAPEUTIK Yang tertulis dalam pustaka  Dosis sekali (tunggal) Bisacodyl 5-10 mg/ dosis tunggal  Dosis sehari Dexamethasone 0.5-1 g/ hari ( dosis tunggal atau terbagi) .BB/hari  Ampicilin 50-100 mg/kg BB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam.  Griseofulvin 0. dosisnya 30 mg/ 3-4 d.d  antikonvulsan. PHENOBARBITAL sebagai :  sedative – hipnotik.

922/ thn 93: Pasal 15 ayat 3 Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis dalam R/ apoteker wajib berkonsultasi dngan dokter untuk pemilihan obat yang tepat. penyembuhan penyakit. Tanggal penulisan R/. Pasal 16: 1. Resep harus ditulis dengan jelas (terbaca red) dan lengkap 2. pemulihan. 26/ thn 1981 BAB III pasal 10 menjelaskan: 1. Selain itu .26/thn 81) resep juga harus memuat juga: 1. dokter gigi. Pasal 17 ayat 3: R/ atau salinan R/ hanya boleh diperlihatkan kepada : • dokter penulis R/ atau yang merawat.undangan yang berlaku Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 9 . 242/ thn 90 : Pasal 1 ayat 1 Obat adalah bahan atau panduan bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sisitem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa. 280/ thn 1981 tentang resep yang terdapat dalam BAB II yang berbunyi: Pasal II : disamping memuat pasal 10 ( no.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran UNDANG-UNDANG FARMASI & KODE ETIK KEFARMASIAN DALAM KEDOKTERAN UU FARMASI Peraturan MenKes no. Peraturan MenKes RI No. dokter wajib menyatakan secara tertulis atau membubuhkan tanda tangan yang lazim diatas resep. serta alamat pemilik untuk R/ dokter hewan 6. drg. Peraturan MenKes No. Jenis hewan. Peraturan MenKes No. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan R/ 4. 5. apoteker harus memberitahukan kepada dokter penulis resep. dan nomor izin praktek dr. 2. dan peningkatan kesehatan termasuk kontrasepsi dan sediaan biologis. Tanda tangan /paraf dokter penulis R/ sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. nama. apabila apoteker menganggap bahwa dalam R/ terdapat kekeliruan atau penulisan resep yang tidak tepat. Tanda seru dan paraf dokter untuk R/ yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis maksimal. nama setiap obat dan komposisi obat 3. Nama. Masih tentang resep. dalam Keputusan Menkes No. drh 2. • Penderita yang bersangkutan • Petugas kesehatan • Petugas yang berwenang menurut perundang. dan dokter hewan kepada apoteker pengelola apotek untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Ketentuan mengenai resep yang dimaksud ayat ( 1) ditetapkan Menteri. 922/thn 1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek Pasal 1 ayat 1 Resep adalah permintaan tertulis dari dokter. pencegahan penyakit. apabila dalam hal dimkasud ayat (1) karena pertimbangan tertentu dokter penulis tetap pada pendirianya. alamat.

66227/73)  SG tablet.  P No. Vitamin larut air 2-4 salep.5 . Lambang obat bebas terbatas Sebagai contoh peringatannya :  P No. caladril. dan toko obat. awas obat keras tidak boleh ditelan  Dulcolax Suppos  Amonia 10 % ke bawah  P No.  P No. Oralit Parasetamol ≤ 500mg Ibuprofen 200 mg Obat bebas terbatas yaitu obat yang dibeli secara bebas tanpa resep dokter. 3 : awas obat keras hanya untuk bagian luar badan  Anthistamin pemakain luar . 6355/69). 2 : awas obat keras.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran GOLONGAN OBAT Peraturan MenKes no. Pada kemasannya ada tanda lingkaran biru tua dan termasuk obat daftar W ( Werschuwin) ( Kep. tapi juga dengan batasan jumlah dan isi berkhasiat serta tanda peringatan P.  Lasonil  Liquor burowl  P No. hanya untuk kumur . Dibuku ISO ada tanda atau tulisan B. 6 : awas obat keras wasir jangan ditelan:  Varemoid Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 10 . Obat bebas obat bebas yaitu obat yang dijual bebas dan dapat dibeli secara bebas tanpa resep dokter. Lambang obat bebas Contohnya:      2. jangan ditelan  Gargarisma khan  Betadin gargarisma  P NO. 4 : awas obat keras hanya untuk dibakar  Dalam bentuk rokok dan sebuk untuk penyakit asma yang mengandung scopolamin. I : awas obat keras.  Dulcolax tablet  Acetaminofen = >600 mg/tab atau >40 mg/ml (kep Menkes no. 242/ thn 90 pasal 1 ayat 3 menyebutkan bahwa obat digolongkan menjadi : 1. Di buku ISO ditandai dengan tulisan T. misal dalam bentuk cream. bacalah aturan pemakaiannya. di toko. Obat ini ditandai dengan lingkaran warna hijau. Menkes No. caladin.

347/ menkes/SK/VII/1990 tentang obat wajib Apotek (OWA 1) No. I. b.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 3. Disarankan oleh apoteker di apotek  pil kb  analgetik-antipiretik ( antalgin. Pasal 2 ayat 2 tentang penggolongan psikotropika: Penggolongan psikotropika: Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 11 . Lambang obat keras Berdasarkan keputusan Menkes No. dan keputusan Menkes : 924/93 (OWA 2) maka menurut cara memperolehnya. Harus dengan resep dokter ( G1)  Untuk semua injeksi  Antibiotika dan virus  Obat-obat jantung  Obat-obat psikotropika. Apoteker hanya dapat menjual obat keras kepada: 1. dokter hewan Yang berhak memiliki serta menyimpan obat daftar G dalam jumlah yang patut disangka bahwa obat tersebut tidak akan digunakan sendiri adalah: 1. pasien dengan resep dokter untuk obat yang bukan OWA 2.drg) 4. Psikotropika Menurut Undang-undang RI no. 5 tahun 1997 tentang PSIKOTROPIKA yang terdiri atas 16 bab 74 pasal. tertanggal 11 maret 1997. APA (apoteker pengelola apotik) 3. Dokter hewan (dalam batas haknya) 4. Dokter yang berizin (dr. PBF (pedagang besar farmasi) 2. PSIKOTROPIKA adalah zat atau obat baik alamiah maupun bukan narkotik yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. obat keras terbagi 2: a. apoteker 3. dokter/dokter gigi 4. 49/1949 pasal 3 ayat 2. Obat ini termasuk daftar G ( Gevarrlijk). Obat keras Adalah obat yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI dan yang ditandai dengan lingkaran warna merah lingkaran merah bergaris tepi hitam dengan tulisan huruf K di dalamnya dan di penandaanya harus dicantum kalimat “Harus dengan Resep Dokter”. asam mefenamat)  antihistamin dan obat asma  Psikotropika Kombinasi  Obat Keras tertentu Menurut UU No.

psikotropika golongan I psikotropika golngan II psikotropika golongan III psikotropika golongan IV Pasal 4 1. 9 thn 1976 yang terdiri atas 10 bab 55 pasal diganti dengan UU no. psikotropika golongan I untuk ilmu pengetahuan 3. Pasal 68 : tindak pidana di bidang Psikotropika sebagaimana diatur dalam undang-undang ini adalah kejahatan: 5. mengedarkan psikotropika golongan I d. mengimpor selain kepentingan ilmu pengetahuan e. Jika terorganisasi maka akan dipidana mati atau seumur hidup dan membayar denda 750 juta. menggunakan psikotropika selain yang dimaksud pasal 4 ayat 2 b. Barang Siapa: a. Untuk memperolehnya harus dengan resep dokter dan apotik wajib melaporkan jumlah dan macamnya. Lambang obat golongan narkotika UU Narkotika No. secara tanpa hak memiliki menyimpan atau membawa psikotropika golongan I dipidana penjara paling sedikit 4 tahun dan selama-lamanya 15 tahun dan membayar denda paling sedikit 150 juta dan paling bayak 750 jt. Ketentuan Pidana ( 13 pasal) Pasal 59 1. memproduksi atau menggunakan psikotropika golongan I c. Di buku ISO ditandai dengan tulisan N. 4. BAB I pasal 1 Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 12 . 2. 3. psikotropika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan atau ilmu pengetahuan. menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek. selain pasal 4 ayat 2 psikotropika golongan I dinyatakan sebagai barang terlarang. Peresepan tidak boleh diulang dan ada tanda tangan dokter penulis resep. menolong orang sakit dalam keadaan darurat c. 2. 22 tahun 1997 tentang Narkotika dengan 15 BAB 104 pasal. 2. Narkotika Obat narkotika ditandai dengan lingkaran warna putih ada palang merah di tengah-tengahnya dan termasuk daftar O (Opiat).■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 1. BAB XIV. menjalankan praktek dan diberikan dengan suntikan b. Pasal 14 ayat 5 Dokter hanya diperbolehkan menyerahkan obat psikotropika apabila: a.

memberantas peredaran gelap narkotika. petidin. Pengadaan Pasal 6 I. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 13 . menjamin ketersediaannya narkotika untuk keperluan pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan. BAB V PEREDARAN Pasal 33 Narkotika dalam bentuk obat jadi hanya dapat diedarkan setelah terdaftar pada Depkes Pasal 37 Narkotika golongan I hanya dapat disalurkan oleh pabrik obat tertentu atau pedagang besar farmasi tertentu kepada lembaga ilmu pengetahuan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan. penyerahan narkotika hanya dilakukan oleh: apotek. BAB II Pasal 2 Narkotika digolongkan menjadi: a. mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika 3. Oleh karena itu.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Narkotika : zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semisintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran. narkotika golongan I dilarang diproduksi atau digunakan dalam proses produksi. Narkotika golongan III. Pasal 39 1. morfina. BAB III.kodein. heroin b. Narkotika golongan II= Metadon. kecuali jumlah sangat terbatas untuk pengembangan ilmu pengetahuan dengan pengawasan ketat dari Menkes. mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Menkes : mengupayakan tersedianya narkotika untuk pelayanan kesehatan atau pengembangan ilmu pengetahuan Pasal 9 I. 2. Puskesmas. Tiap bulan apotek wajib melaporkan pembelian dan pemakaiannya pada pemerintah. Pasal 5 Narkotika golongan I hanya digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan dilarang digunakan untuk kepentingan lainnya. Tujuan pengaturan Narkotika 1. hilangnya rasa. tebain c. Narkotika golongan I. obat-obat ini mulai dari pembuatannya sampai pemakaiannya diawasi dengan ketat oleh Pemerintah dan hanya boleh diserahkan oleh apotek atas resep dokter. opium. Pasal 4 Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan. rumah sakit. balai pengobatan dan dokter.kokain.

4. c. apotek hanya dapat menyerahkan narkotika kepada : rumah sakit. rumah sakit. menjalankan praktek dan diberikan melalui suntikan. 385 tahun 1989 Pasal 26 Ayat 1 Dokter dan dokter gigi dilarang: a. puskesmas. tingkah laku. dokter. c. 5. menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika golongan II orang lain. dipidana paling lama 5 tahun dan didenda 250 jt. Pasal 1 ayat 1 Daerah terpencil adalah daerah yang sulit komunikasinya meliputi wilayah administrasi yang luas serta berpenduduk jarang. Menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek. melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kode etik kedokteran b. 3. b. Peraturan ini juga berlaku untuk obat dan golongan psikotropika dan narkotika. KETENTUAN PIDANA ( PASAL 78-99) Pasal 84 Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum: a. dipidana paling lama 10 tahun dan didenda 500 jt. apotek. Penyerahan narkotika oleh dokter hanya dilakukan dalam: a. R/ adalah rahasia tidak boleh dibicarakan kepada siapapun kecuali bila diperlukan untuk membuktikan kebenaran yaitu berdasarkan perintah pengadilan. puskesmas. Pasal 99 Dipidana penjara paling lama 10 tahun dan didenda 200 juta bagi pimpinan Rumah Puskesmas. yang HAK DAN KEWAJIBAN DOKTER TENTANG PENGELOLAAN OBAT SESUAI PERATURAN PERUNDANGAN Hal ini dicantumkan dalam peraturan Menkes No.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 2. untuk untuk untuk Sakit. apotek. dan dokter mengedarluaskan narkotika golongan II dan III bukan untuk pelayanan kesehatan. disarankan dokter dimaksud ayat 4 hanya dapat diperoleh di apotek. menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika golongan I orang lain. balai pengobatan. Menolong orang sakit dalam keadaan darurat melalui suntikan. Ayat 2 Larangan pada ayat 1b tidak berlaku bagi dokter yang bertugas di Puskesmas atau daerah terpencil yang tidak ada apotek atau menolong orang sakit dalam keadaan darurat. narkotika dalam bentuk suntikan dalam jumlah tertentu . dipidana paling lama 15 tahun dan didenda 750 jt b. balai pengobatan hanya dapat menyerahkan narkotika kepada pasien berdasarkan R/ dokter. sikap dan kebiasaan manusia dalam pergaulan sesama manusia dalam masyarakat yang mengutamakan kejujuran terhadap diri sendiri dan sesama manusia. apotik lain . BAB XII. Menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika golongan III orang lain. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 14 . Balai Pengobatan. memberikan suntikan atau meracik obat kecuali suntikan. Bagi apoteker: 1. KODE ETIK KEFARMASIAN DALAM KEDOKTERAN Etika adalah suatu perbuatan. pasien. sarana penyimpanan pemerintah.

maka apoteker harus menyarankan atau menasehati pasien untuk datang ke dokternya. FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MENENTUKAN PEMILIHAN BENTUK SEDIAAN OBAT 1. Disamping itu perlu diperhatikan pula penulisan resepnya agar jelas dan lengkap . dapat menutupi rasa pahit dan tidak enak dari bahan obat 3. tidak larut  setiap cara penggunaan  penyakit pada berbagai tubuh 6. Umur penderita: a. emulsi. kondisi penderita dan penyakitnya. dll. sedang bentuk tablet atau kapsul hendaknya dihindari bagi anak dibawah umur lima tahun. maka apoteker harus memberi pertolongan dalam batas pengetahuan dan kemampuannya. dapat dikemas/ dibentuk lebih menarik dan menyenangkan Dalam memilih BSO perlu memperhatikan sifat bahan obat. Umumnya BSO mengandung satu atau lebih senyawa obat/ zat yang berkhasiat dan bahan dasar/ vehikulum yang diperlukan untuk formulasi tertentu. maka bertentangan sekali dengan kode etik bila hal ini dibicarakan dengan pasien. kecuali jika pertolongan atau pengobatan itu sangat diperlukan.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 2. Bentuk sediaan padat yang masih dapat diberikan ialah bentuk pulveres ( puyer). seorang apoteker hendaknya menghindarkan diri dari tindakan atau pernyataan yang dapat menyebabkan berkurangnya atau hilangnya kepercayaan pasien pada dokter. demikian juga sebaliknya. dapat melindungi obat dari faktor-faktor yang menimbulkan kerusakan baik di luar maupun dalam tubuh. 4. apabila seorang pasien meminta nasehatnya dalam bidang pengobatan. 2. inhalasi) 5. karena bentuk sediaan cair lebih mudah diminum daripada bentuk padat. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 15 . dapat menyediakan kerja yang luas 4. kecuali suntikan  menulis R/ harus obat produk dari perusahaan farmasi tertentu  menjual obat ditempat praktek kecuali dengan ketentuan tertentu  menjual contoh obat. perlu dijaga agar kertas R/ jangan sampai digunakan orang lain untuk memberi atau menerima sebagaimana telah terjadi 2. Hendaknya dokter langsung berhubungan dengan apoteker. harga. merupakan sediaan yang cocok untuk:  obat yang tidak stabil. jangan meninggalkan kertas R/ kosong yang sudah ditanda tangani 3. dapat melengkapi kerja obat yang optimum ( topikal. tidak boleh merubah obat yang tertulis dalam R/. anak balita: sebaiknya diberikan oral dalam bentuk sediaan cairan ( solutio. kalau ada kesalahan dengan apoteker saat memberikan obat. menghindarkan semua tindakan yang berentangan dengan etika kedokteran diantaranya:  memberikan atau meracik obat. sifat sediaan. suspensi. tanpa konsultasi dokter penulis R/ 3. MANFAT BENTUK SEDIAAN OBAT Bentuk sediaan obat dipilih agar: 1. guttae) . sehingga tidak memberikan permasalahan dalam pelayanannya. efisien dan atau memberikan efek yang optimal. Bagi dokter: 1. BENTUK SEDIAAN OBAT Bentuk sediaan obat (BSO) diperlukan agar penggunaan senyawa obat/ zat berkhasiat dalam farmakoterapi dapat secara aman. 4.

cream. 3. Ferosi carbonas). 6. Bahan oral yang sangat pahit meskipun mudah larut dalam air tidak diberikan dalam bentuk sediaan cair. tidak dalam bentuk oral. tabula. Vitamin C dalam bentuk sediaan cairan (oral) akan terurai. Karena mempunyai pemakaian yang luas. c. Orang dewasa : obat yang diberikan per oral lebih sering diberikan dalam bentuk sediaan padat daripada bentuk sediaan cair. ditujukan untuk pemakaian oral atau luar. atau linimentum/ cream/ unguentum/ cream dengan vehikulum tertentu. karena bila diberikan dalam bentuk sediaan cair akan berasa seperti besi karatan pada lidah sangat tidak menyenangkan. Bentuk teraupetik obat yang optimal dan efek samping yang minimal bagi penderita: a. tidak ditemukan dalam bentuk serbuk. morphin HCI diberikan dalam bentuk sediaan injeksi. Serbuk Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 16 .. Bentuk sediaan yang paling enak/ cocok bagi penderita: a. sehingga diberikan dalam bentuk sediaan tablet. penderita tidak sadar atau koma: dipilih bentuk sediaan injeksi atu rektal b. dll. supositoria 2. Misalnya berbagai garam Fe ( Ferosi Sulfat. suspensi/mixtura agitanda. pilih bentuk sediaan cair seperti bentuk sediaan pada anak-anak. Emetin HCI. pemberiaan obat cukup sekali atau dua kali sehari. Masalah stabilitas yang sering dihadapi dalam sediaan bentuk cair. dll 3. 5. 4. suspensi. sehingga akan lebih enak diberikan dalam bentuk sediaan padat ( tablet/kapsul) Misalnya. Efek sistemik : bentuk sediaan dapat berupa cairan atau padat. Obat yang tidak stabil diberikan dalam bentuk suspensi atau larutan air dapat dibuat dalam bentuk serbuk atau granul. pasta. Anak-anak atau orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet lebih mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran b. Kecepatan dan lama obat yang dikehendaki a. Lokasi tubuh dimana obat harus bekerja: a. pulveres. unguentum/pasta. efek lokal: bentuk sediaan dapat berupa solutio/mixtura. obat berbentuk sediaan injeksi lebih cepat diabsorpsi daripada bentuk sediaan per oral atau per rektal b. penderita masuk rumah sakit atau berobat jalan. Geriatri : dalam hal kesulitan menelan pada penderita lanjut usia. capsula. rektal atau injeksi. Bentuk sediaan setengah padat : unguenta. b. per oral. 2. Keadaan umum penderita a. Bentuk sediaan cair: solutio/mixtura. Cotrimoxsazol. Metronidazol b. infusa. oleh karena bentuk sediaan padat (tablet/kapsul) umumnya lebih stabil dalam penyimpanan daripada sediaan cair. Bentuk sediaan padat : pulvis. guttae. Penyerapan atau penetrasi obat melalui kulit: bentuk sediaan injeksi. obat dengan bentuk sediaan sustained release ( berupa tablet atau capsul) bekerja lebih lama daripada bentuk sediaan tablet atau kapsul biasa. BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO) PADAT PULVIS DAN GRANULA (SERBUK DAN GRANUL) Serbuk adalah campuran kering bahan obat dan zat kimia yang dihaluskan. c. b. emulsi. Ferosi klorida. MACAM BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO) 1. serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut daripada bentuk sediaan yang dipadatkan. bahan obat yang berbau amis: dipilih dalam bentuk sediaan tablet atau kapsul atau lebih baik dalam bentuk dagree. Chloramphenicol. Bentuk sediaan tersebut harus dapat dibedakan untuk dipakai pada kulit biasa atau kulit berambut atau mukosa dan untuk kulit yang utuh atau terluka.

Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat 100 mesh seperti tertera pada pengayak dan derajat halus serbuk 1141 agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka. pengikat. dapat dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit. Syarat : memenuhi persyaratan yang tertera dalam Farmakope Indonesia yaitu Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 17 .■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran oral yang dapat diserahkan dalam bentuk terbagi ( pulveres) atau tidak terbagi ( pulvis). 5. dokter hanya menyusun kombinasi dan dosis obat secara tepat sesuai kebutuhan 4. profilaksi dan lubricant Penggunaan:  untuk tujuan menyerap tubuh  untuk mengurangi gesekan antara 2 lipatan  sebagai vehicle (pengisi)  tidak diberikan untuk luka yang terbuka. atau dicampur dengan makanan lunak/bahan lain. dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. misalnya beberapa obat yang saling berinteraksi. EFER VERSENT POWDER Sediaan yang mengandung selain bahan obat juga bahan pembantu yaitu Na bicarbonat dan asam citrat. serbuk untuk injeksi. Sediaan ini sebagai obat luar untuk terapetik. dapat digolongkan tablet cetak dan tablet kempa. seperti laksan. penyerapan oleh gastrointestinal cukup baik 3. atau Na bisosfat.Berdasarkan metode pembuatan. pada umumnya untuk pemakaian oral 2. GRANULA Sediaan serbuk kasar yang dimaksudkan untuk di suspensikan /dilarutkan dalam air.makanan diet dan beberapa analgetika tertentu dan pasien dapat menakar secara syarat pulvis maupun pulveres :  Serbuk halus . Serbuk oral yang tidak terbagi hanya terbatas pada obat yang relatif tidak paten. TABULAE ( COMPRESI. TABLET) Tablet adalah sediaan padat yang mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pembantu ( pengisi. Contoh: antibiotik syrup (dry syrup). Diracik berdasarkan formula resep dokter.25 um-1. kering dan homogen  Ukuran partikel 1. Yang tersedia merupakan sediaan paten. tidak semua obat dapat diberikan dengan bentuk ini. asam tetrat.7 um Macam-macam serbuk PULVERES ( serbuk terbagi) Suatu serbuk yang terbagi dalam bobot yang kurang lebih sama. Keuntungan dan kerugiannya: 1. pelicin). antasida. rasa pahit yang tidak enak dan tidak dapat disembunyikan. Ukuran partikel granul adalah 2-4 mm. Bentuk sediaannnya pada umumnya paten yang tidak stabil dalam penyimpanan cukup lama. Yang tersedia merupakan sediaan paten. pengancur. PULVIS ADSPERSORIUS (serbuk tabur) Serbuk ringan untuk topikal. FINELY DIVIDE POWDERS Sediaan serbuk yang dimaksudkan untuk disuspensikan/dilarutkan dalam air atau dicampur dengan makanan lunak/ bahan lain. Berat pulveres antara 300-500 mg.Granula dibagi bulk granula dan divided granula.

Contoh: talkum 5% . dan antibiotika tertentu. Bentuk sediaan tablet pada saat ini disiapkan oleh pabrik obat dengan alat dan teknik khusus. agaragar. Tablet sub lingual Digunakan dengan cara meletakkan di bawah lidah. Penghancur (disintegrator) Dengan tujuan supaya tablet dapat/cepat hancur di lambung. Ca-karbonat. terutama formulasi multivitamin. Merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil. digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan obat. selain zat aktif juga mengandung campuran asam ( asam sitrat. produk lain mungkin dirancang untuk melepaskan zat secara perlahan-lahan supaya diabsorspsi secara lambat sehingga dapat memperpanjang aksinya. Tablet kunyah ( chewable) Dimaksud untuk dikunyah. Contoh: amilum kering. asam tartrat) dan Na-bikarbonat dan apabila dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbon dioksida. tidak meninggalkan rasa pahit atau tidak enak. Contoh: sakarum laktis. Tablet lozenges ( tablet hisap) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 18 . Jenis ini digunakan pada formulasi tablet untuk anak. serta dibuat besar-besaran. e. Sedangkan menurut Farmakope USA ditambah kecepatan disolusi ( kecepatan hancur dalam tubuh. mudah ditelan. Bahan pembantu lain. Mg-stearat. dan Na-alginat. Tablet Hipodermik Merupakan tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air dan digunakan untuk memberikan sediaan injeksi hipodermik. c. Tablet triturat.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran keseragaman bobot dan kadar. waktu hancur. amilum. TABLET KEMPA (Compressed Tablet) a. d. Oleh karena itu. Beberapa produk obat dirancang untuk melepaskan zat yang berkhasiat dan diabsorspsi tubuh secara cepat dan sempurna. Pengisi (diluent) Untuk memperbesar volume tablet. memberikan residu dengan rasa enak di rongga mulut. b. Tablet effervescent Dibuat dengan cara kempa. gelatin. f. Efek yang ditimbulkan bersifat sistemik dan lambat. Penyimpanan dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan lembab dan pada etiket tertera tidak untuk langsung ditelan. misal zat warna. kekerasan. pembuatan tablet memerlukan bahan tambahan yang disesuaikan terhadap fungsi/penggunaannya. Zat aktif diserap langsung melalui mukosa mulut dan efek yang ditimbulkan bersifat sistemik dan cepat. PERJALANAN OBAT DALAM BENTUK SEDIAAN TABLET Error: Reference source not foundMacam-macam tambahan untuk pembuatan tablet: (adanya bahan tambahan akan mempengaruhi kecepatan disolusi dan bioavailabilitas) DIAGREGASI 1. Jenis tablet ini sekarang sudah jarang digunakan. 2. MACAM – MACAM TABLET 1. biasanya 15 menit) dan bioavalibilitas . anatasida. Tablet bukal Digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara gusi dan pipi. Contoh: Mucilago gummi arabicium 10-20% 3. Pelicin ( lubricant) Supaya talet tidak melekat pada cetakan (matriks). Zat aktif terserap langsung melalui mukosa mulut. 4. Pengikat (binder) Dengan tujuan supaya tablet tidak mudah pecah dan bahan tablet dan saling merekat. Penggunaan : pengobatan lokal dan sistemik. umumnya silindris. g. Tablet dilarutkan atau didespresikan dalam air sebelum pemberian. 5. Ca-fosfat.

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Adalah sediaan padat mengandung satu atau lebih bahan obat. Dengan sediaan ini. Tablet implantasi Tablet implantasi juga disebut sebagai pelet/implants. diperlukan bahan yang untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati lambung. Pelet umumnya mengandung zat berkhasiat hormon alami atau hormon sintesis tablet implantasi untuk Keluarga Berencana disebut susuk. Tablet vagina Adalah talet yang dimasukkan ke dalam rongga tubuh. zat penyalut bagian luar dapat diwarnai. penyerapan bahan obat terjadi secara perlahan dalam kurun waktu yang lama. b. TABLET SALUT Tablet disalut untuk berbagai alasan. sediaan pelepasan ajeg. Berkaitan dengan hal ini. membuat penampilan lebih baik dan mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna. Untuk tujuan identifikasi dari nilai estetika. produk sediaan lepas lambat ( Slow Reacting Tablet) dapat dibagi menjadi 3 tipe: 1. aksi berulang dan sediaan konvesional. terdapat beberapa jenis sediaan obat yang mudahnya digolongkan ke dalam pelepasan terkendali. i. dan pelepasan ajeg ( sustained action). khususnya vagina. Tablet salut enterik ( Enteric Coated tablet (ECT) Jika obat dapat rusak atau inaktif karena cairan lambung atau dapat mengiritasi lambung. SCT ( sugar Coated Tablet). tetapi dapat juga mengandung bahan aktif yang ditujukan untuk absorpsi sistemik. benar-benar mengendalikan pelepasan dan absorpsi obat sehingga dapat memelihara secara ajeg dan dapat diperkirakan kadar obat plasma. Cara penggunaanya dengan mengimplementasi pelet di bawah kulit. sedangkan tablet hisap yang dibuat dengan cara kempa disebut dengan troches/trochisi. a. Tablet pelepasan terkendali ( Slow Reacting tablet (SRT)) Tablet pelepasan terkendali dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif aktif akan tersedia selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan. Pada tablet ada yang namanya kaplet yaitu tablet yang bentuknya menyerupai kapsul. Obat tersebut hancur di lambung. Tablet hisap yang dibuat dengan cara dituang kadang-kadang disebut dengan pastiles. yakni aksi berulang (repeat action). pengobatan infeksi candida albicans. Tablet salut biasa Umumnya tablet disalut dengan gula dari suspensi dalam air mengandung serbuk yang tidak larut. anatara lain melindungi zat aktif dari udara. umumnya dengan bahan dasar beraroma manis yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan-lahan dalam mulut. c. h. Tablet lozenges umumnya ditujukan untuk pengobatan iritasi lokal atau infeksi mulut atau tenggorokan. Secara umum. Sediaan pelepasan ajeg (Sustained Action) Suatu produk dirancang untuk melepaskan suatu dosis terapetik awal (loading dose) yang diikuti oleh dosis tambahan untuk memelihara kisaran kadar terapi (dosis pemeliharaan-maintenance dose) suatu pelepasan obat yang lebih lambat dan konstan. Error: Reference source not found 2. Guna tablet vagina dimaksudkan untuk : kontrasepsi. kelembapan atau cahaya. sediaan pelepasan ajeg ini sepenuhnya menggambarkan sediaan pelepasan terkendali . 2. Kurva hubungan antara kadar dalam plasma dan waktu untuk sediaan aksi panjang. Karena itu. Sediaan aksi panjang ( Prolonged action) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 19 . Produk tersebut. konsentrasi obat dalam plasma yang relatif konstan dapat dipertahankan dengan fluktuasi yang minimal.menutupi rasa dan bau tidak enak. aksi panjang (prolong action). pengobatan vaginitis.

hal tersebut dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan seperti keracunan dan lebih sulit bila terjadi gangguan teknologi atau antaraksi. Dose dumping. Tablet bukal Ditelan Pemakaian GIT Tempat absorpsi Dikunyah kemudian ditelan Dilarutkan kemudian ditelan Dihisap GIT MUKOSA GIT Mukosa mulut Diletakkan antara gusi dan pipi 6. yang disebabkan oleh fluktuasi kadar obat dalam plasma. 2.efek sistemik . Sedangkan produk lain tidak. Tablet sublingual Diletakkan di bawah lidah Mukosa mulut . long action. Sering menimbulkan korelasi in vitro-in vivo yang jelek. Karena itu. timed release. Kepatuhan penderita tinggi karena obat yang dimakan lebih sedikit 4.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Sediaan obat yang dirancang untuk melepaskan obat secara lambat dan memberi cadangan secara terus menerus. Fleksibilitas aturan dosis hilang 5. 6. tujuan utama produk obat tersebut adalah untuk mencapai suatu efek samping yang diinginkan. meliputi: 1. yaitu adanya sejumlah besar obat dari sediaan lepas secara cepat. Tablet Effervescent 4. Tablet kempa Tablet salut gula (SCT) Tablet salut film (FCT) Tablet salut enterik (ECT) Tablet lepasan terkendali 2. Berbagai istilah lain yang sering dikaitkan dengan produk sediaan pelepasan terkendali meliput: Extended action. Efektivitas pelepasan obat dipengaruhi dan dibatasi oleh lama tinggal di saluran pencernaan. dan bagian kedua merupakan dosis yang baru dilepaskan setelah beberapa waktu berlangsung. 3. Mengurangi efek samping obat yang disebabkan oleh kadar obat yang tinggi dalam darah. Pada gambar terlihat bahwa konsentrasi obat dalam darah mempunyai puncak dan lembah. Sediaan aksi berulang ( Repeat action) Sediaan repeat action terdiri dari 2 bagian. 4. Biaya mahal 2. Bagian pertama mempunyai dosis yang dapat melepaskan obatnya secara tepat. Dalam hal ini absorpsi cepat yang menyebabkan kadar puncak obat dalam plasma sangat tinggi dapat dicegah. Lozenges Trochisci Pastiles 5. Mempertahankan efek terapi untuk bebas waktu yang lama. 3. Kepatuhan dan kemudahan penderita terhadap dosis mungkin berkurang. Menghindari pemakaian obat pada malam hari 6. Adapun kerugiannya: 1. Efek obat lebih seragam 5. selama selang waktu yang panjang. MACAM.efek sistemik Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 20 . Beberapa keuntungan sediaan pelepasan terkendali. Bahkan beberapa produk mempunyai bagian ketiga. PEMAKAIAN DAN TEMPAT ABSORPSI TABLET Macam 1. Dan biasanya digunakan bila tidak diperlukan aksi obat dengan cepat. sediaan semacam ini sering juga disebut pelepasan lambat. sebagaimana tersirat dari uraian diatas. Mengurangi jumlah dan frekunsi pemakaian 3. drug delivery system dan programmed drug delivery. Tablet kunyah (chewable) 3. Tujuan sediaan pelepasan terkendali Sebagaimana tersirat dalam uraian diatas.efek lambat Mukosa mulut .

Biasanya dipakai secara oral. Sediaan pelepasan lambat ( time release) dalam kapsul keras: sustained released capsules dan enteric coated capsules.efek sistemik . Soft capsule (kapsul lunak) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 21 . 2.000 (terbesar).efek lama 7. Pellet Cont:norplant susuk KB Dimasukkan ke vagina Dilarutkan kemudian disuntikkan Disisipkan di bawah kulit CAPSULAE (KAPSUL) Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak. Isi terpisah dari cangkang. cair atau pasta dengan atau tanpa zat tambahan. gula. Ukuran : 5 (terkecil). Obat bekerja setelah cangkang/kulit kapsul larut dan obat terlarut serta diabsorpsi utuh. Bentuk obat dalam kapsul dapat berupa serbuk. Fleksibilitas ini merupakan kelebihan kapsul cangkang dibandingkan bentuk sediaan tablet atau kapsul cangkang lunak. Tablet hipodermik 9. Macam sediaan kapsul ada kapsul biasa dan time released form.efek sistemik .■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran . Capsule gelatinosae operculatae (Hard gelatine capsules/kapsul gelatin keras) Cangkang berisi gelatin. granul. air dan zat warna. Syarat : memenuhi persyaratan yang tertera dalam farmakope Indonesia ( mengenai keseragaman bobot dan waktu hancur) Macam kapsul menurut sifat cangkang: 1. Sediaan dapat berupa obat paten atau puyer yang disusun oleh penulis resep untuk memilih obat tunggal atau campuran dengan dosis tepat yang paling baik bagi setiap pasien. Tablet vagina 8.efek lokal .efek cepat Mukosa vagina .

Obat tidak dapat diberikan per injeksi karena penderita berobat jalan. BACILLA Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk. tetapi gula diganti bahan plasticier yang membuat kapsul menjadi lunak. lokal anastetik 2. vagina atau uretra. Obat tak dapat diberikan per oral karena penderita hiperemesis atau baru saja menjalani operasi pada traktus digestivus bagian atas. Efek lokal : hemorrhoid. misalnya : PEG ( Poly Etilen Glikol) . Umumnya meleleh. Belladon (spamolitik)  Barbital (sedatif)  Diazepam ( trankuilizer)  Aminophylin ( bronkodilator)  Bisacodyl (laksatif) Faktor-faktor yang mempengaruhi pelepasan obat bentuk supositoria: 1. Obat yang dapat mengiritasi lambung f. Bentuk: bulat. Mengurangi metablisme obat dalam hepar (tidak mengalami first past effect) Alasan pembatasan di atas adalah karena bentuk sediaan supositoria bahan obat tidak diabsorpsi secara sempurna.volume cairan rektum . bentuk seperti batang Syarat : pada suhu tubuh bahan dasar harus dapat larut dan meleleh Bahan dasar supositoria : . Bahan obat yang diberikan dapat dalam supositoria untuk efek sistemik:  Extr. Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat.Ovula digunakan melalui vagina.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Cangkang mengandung seperti no.lokal : supositoria. melunak. OVULA.1. Efek sistemik.isi rektum Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 22 . . yang diberikan melalui rektal. umumnya fraksi yang diabsorbsi lebih rendah dibandingkan pemberian oral. bentuk seperti torpedo. Menurut Farmakope Indonesia.Suppositoria digunakan melalui rektum.A. Isinya adalah zat aktif dalam vehikulum. bentuk seperti telur. oval. Penderita dalam keadaan an-kooperatif g. . kapsul vit. sebagai pembawa zat berpengaruh pada pelepasan zat teraupetik. SUPPOSITORIA. Obat rusak oleh enzim yang ada di saluran cerna e. tube. Isi tak terpisah dari cangkang ( cairan dalam minyak. Penderita tak dapat menelan d. faktor fisisologi: .Bacila digunakan melalui saluran kencing. ovula. misalnya : Oleum cacao Tujuan pengobatan : . b.sistematik : suposioria Bentuk : Error: Reference source not found Mekanisme pelepasan obat: Error: Reference source not found Tujuan pemberian obat dalam bentuk supositoria : 1. membedakan: .dapat meleleh. bacilia . atau melunak atau melarut pada suhu tubuh. misalnya: a. diberikan apabila cara pemberian lain sulit dilakukan. c.dapat melarut. suspensi). Misal: kapsul minyak ikan.

tingtur dan air. Volume pemberian besar jika dibandingkan dengan tetes oral. pemanis dan pemanis dan pewarna yang larut dalam air atau campuran konsolven-air.ukuran partikel . Dapat diberikan dalam larutan yang encer. manula dan untuk penderita yang sukar menelan. Cara pemakaian supositoria hendaknya penderita diberitahu dengan jelas.kelarutan obat . Untuk obat luar mudah pemakaiannnya. untuk obat yang bersifat iritasi terhadap lambung. COLLUTORIA (KOLUTORIUM) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 23 . LARUTAN TOPIKAL Larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol untuk penggunaan topikal pada kulit. maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan. malam sebelum tidur. jika hanya melarutkan satu jenis zat dalam pelarut yang cocok. maka omset juga cepat 5. Dosis dapat diubah-ubah 3. 2. 8. pada suhu sejuk 5-15 0C BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO) CAIR SOLUTIONES/MIXTURA ( LARUTAN) Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma. Absorpsi obatnya cepat. Penyimpanan . Oleh karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata. Sifat-sifat: 1. supaya jangan ditelan. Istilah lotio digunakan untuk larutan atau suspesi yang digunakan secara topikal. jangan diberikan dalam bentuk sediaan cair karena obat dapat rusak. 6.Diantara solutio dan mixtura tidak ada perbedaan yang pokok.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran . misal: terdispersi secara molekular dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Bentuk sediaan larutan digolongkan menurut cara pemberiannya. Bagi obat yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar ditutupi.sifat mukosa rektum . atau dalam hal larutan lidokain oral topikal untuk penggunaan pada permukaan mukosa mulut. LARUTAN ORAL Sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral. Obat-obat yang tidak stabil dalam air (misal: asetosal). 4. untuk menghindari obat dikeluarkan terlalu cepat bersama faeces sebelum sempat bekerja.konsentrasi obat dalam basis .basis supositoria. Apabila menyebut solutio. SEDIAAN FARMASI YANG BERUPA LARUTAN / MIXTURA a. oleh karena itu biasanya ditambah pemanis atau perasa ( flavoring agen) 9. Sesudah defekasi.motilitas dinding rektum 2. Homogen 2. penderita dalam posisi terlentang untuk menghindari meleleh obat keluar rektum/vagina. 7. Cocok untuk anak-anak. faktor fisika kimia obat: . misalnya larutan topikal atau penggolongan didasarkan pada sistem pelarut dan zat pelarut dan terlarut seperti spiritus. Waktu dan cara pemakaian supositoria: 1.

dan bahan lainnya. tetapi biasanya sekitar5-15%. pengawet dan pewarna. tidak beraroma. eliksir kurang manis dan kurang kental. Kadar Alkohol antara 3-75%. 3. sediaan padat yang berupa serbuk atau granul yang terdiri dari bahan obat. Cocok untuk penderita yang sukar menelan 2. Sirup kering. antiseptika. Dibanding dengan sediaan sirup.sifat sirup: 1. biasanya merupakan larutan pekat yang mengandung antiseptika atau adstringentia. b.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Adalah obat cuci mulut. Ada 4 macam sediaan sirup: a.Contoh : panadol sirup. c. GARGARISMA (Gargle) Adalah obat kumur. mengandung ekstrak thymi 36% ( biasanya sebagai expectorant). analgetika lokal atau adstringentia. lalu dikumur-kumur. gliserol atau sorbitol sebagai pengental atau stabilisator. Sirup Simpleks. selain mengandung obat juga mengandung sakarosa <60%. zat pewarna. selain mengandung bahan obat juga alkohol dan zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya. ELIKSIRA (Eliksir) Larutan oral. tidak boleh ditelan. Contoh: Bisovon eliksir. SIRUP Larutan oral yang selain mengandung bahan obat juga mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi sebagai pemanis. agar obat yang terkandung di dalamnya dapat langsung terkena selaput lendir sepanjang tenggorokan. rasanya lebih enak. perasa (flavorong agent). kecuali bahan pelarut. b. Pada umumnya bahan obat adalah antimikroba atau lainnya yang tidak larut dan tidak stabil dalam bentuk cair pada penyimpanan. biasanya 10%. Sirup thymi. solutio oral mengandung glukosa/sakarosa 65%. Apabila akan digunakan ditambah pelarut (air suling) sesuai petunjuk yang diminta. Batugin eliksir. glukosa/sakarosa 64%. c. pewarna. Contoh: Effisol liquid. Cocok diberikan untuk anak-anak dan penderita yang sukar menelan. biasanya merupakan larutan pekat dalam air yang mengandung bahan deodoran. stabilisator. hati-hati untuk penderita yang tidak tahan alkohol atau penderita tertentu. Sifat. d. Berhubung mengandung alkohol. Sirup obat. Cara pemakaian : diencerkan dulu dengan sesuai aturan. d. MIXTURA AGITANDA ( CAMPURAN KOCOK) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 24 . Kegunaan akohol disini selain sebagai pelarut juga. sering disebut sirup putih. Tidak berwarna. Tujuan penggunaan untuk pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. COLLYRIA Adalah obat cuci mata sediaan harus memenuhi syarat-syarat seperti tetes mata. kemudian dikumur-kumur sampai pharing. Contoh: Betadingargle & mouthwash. Homogen 2. zat pewangi dan zat perasa. Sifat-sifat: 1. perasa. pemanis. juga sebagai pengawet atau corrigens saporis. misal sakit hepar. tidak ditelan. Cara pemakaian: diencerkan dulu dengan air sesuai aturan.

dan senyawa amonium kuartener. topikal maupun injeksi. Contoh zat tambahan (stabilisator): PGA. 4. sistem ini disebut emulsi minyak dalam air (A/M). Contoh obat luar: Cream A/M atau M/A GUTTAE (TETES) Sediaan cair berupa larutan (solutio). cocok untuk penderita yang sukar menelan. salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil. sehingga cepat mengendap. 2. Suspensi dapat digunakan secara oral maupun topikal.perasa( flavoring agent) 3. Polycrol gel EMULSA (EMULSI) Emulsi adalah sistem dua fase. Konsisten emulsi sangat beragam. asam benzoat. Jika minyak yang merupakan fase terdispersi dan larutan dalam air merupakan fase pembawa. atau suspensi. kecepatan absorpsi obat tergantung pada besar kecilnya ukuran partikel yang terdispersi. Topikal : dalam penyimpanan yang cukup lama dapat menjadi keras. emulsi dapat distabilkan dengan penambah bahan pengemulsi (surfaktan). Contoh obat dalam: Scott Emulsion. Suspensi selain mengandung obat juga mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas. Semua emulsi memerlukan bahan antimikroba karena air mempermudah pertumbuhan mikroorganisme. pengawet yang biasa digunakan dalam emulsi adalah metil. Suspensi merupakan cairan kental tetapi kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi. Penetes yang dimaksud Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 25 . Sifat-sifat: 1. tidak terbentuk garam kompleks yang tidak dapat diabsorpsi dari saluran pencernaan. sediaan harus dikocok dan mudah dituangkan. memperpanjang efek. SUSPENSIONES ( SUSPENSI) Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. 2. karena zat aktif (obat) BM-nya lebih tinggi dan pada umumnya merupakan sedian Non Generik . topikal: mudah dibersihkan.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Mixtura agitanda adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut dalam cairan pembawa. Mylanta. Contoh. dimaksudkan untuk obat dalam dan luar. penetrasi/absopsi lebih baik 3. Kekentalannya lebih tinggi dibanding suspensi. digunakan dengan cara meneteskan dengan alat penetes tertentu. Tujuan stabilisator adalah menghambat pengendapan zat aktif obat sehingga pada penuangan obat pertama dan terakhir mendekati sama kadarnya. tragakant. mulai dari cairan yang mudah dituang hingga krim setengah padat. benzalkonium klorida. propil dan butil paraben. Contoh suspensi oral:Gelusil. anak-anak dan manula. memperbaiki rasa dan aroma. sering menimbulkan “cake” yang menyulitkan obat terbagi rata pada pengocokan terutama untuk sediaan paten. Bentuk sediaan obat emulsi dapat digunakan untuk oral. Tujuan penggunaan BSO emulsi: 1. Liquor Faberi (FMI). 5. emulsi eliksir. Contoh. tragakant. Pada umumnya untuk pemakaian luar (topikal) dan dihindari penambahan stabilisator PGA(Pulvis gummi arabicium). Kerugian BSO emulsi : Oral : dalam penyimpanan dapat terjadi pemisahan antara air dan minyak yang tidak dapat diperbaiki dengan pengocokan. SEDIAAN FARMASI LAIN YANG BERUPA SUSPENSI: GELS / MAGMA Sediaan suspensi yang berbentuk kolodial dispersi. etil. parenteral : memperbaiki absorpsi . oral : memperbaiki absorbsi. pada umumnya ditambah pemanis.

bahan pembawa yang digunakan harus mempunyai kekentalan yang cocok agar bahan obat yang mudah menempel pada dinding telinga. 1. Contoh: iliadin 0. heksilen glikol dan minyak nabati. vitamin dan antitusif. 2. 2. GUTTAE OPTHALMICAE (tetes mata) Obat tetes mata merupakan sediaan steril berupa larutan atau suspensi digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata. Sifat-sifat: 1. Minyak lemak dan minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai pembawa. Komposisi selain zat berkhasiat juga mengandung zat pendapar. diagnostika.5 mg (1 tetes baku= 0.05 ml). antiseptika. sehingga cocok untuk bayi dan balita. GUTTAE AURICULARES (tetes telinga) Obat tetes yang digunakan untuk telinga dengan cara meneteskan obat kedalam telinga. Contoh: Triaminic drops b. ph sebaiknya antara 5. Sifat-sifat: 1. lokal anastetik. midriatika.025% e.0) d. isotonis atau hampir isotonis (hipertonis masih diperbolehkan) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 26 .5 3. bahan obat pada umumnya berkhasiat sebagai dekongestan. Apabila bentuk sediaan suspensi. lokal anastesik.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran adalah penetes baku yang tertera dalam Farmakope Indonesia. kortikosteroid. analgetika-antipiretika. miotika dan zat irigasi. Macam –macam Guttae: a. dll). cairan pembawa umumnya digunakan air. Bentuk sediaannya dapat berupa solutio. Bahan obatnya berkhasiat sebagai antimikroba. sirup. Pada umumnya obat berkhasiat sebagai antimikroba. perasa. Perhatikan kemasan pada bobotnya. jadi 1 ml= 20 tetes. gliserol. Khasiat obat yang sering digunakan meliputi antimikroba. dan antiseptika. lokal anastesik. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal. GUTTAE ORAL Obat tetes untuk oral. digunakan dengan cara meneteskan obat ke dalam minuman atau makanan. sehingga aturan pakai tepat. dan bahan tambahan lain yang sesuai dengan bentuk sediaannya. harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan bila terjadi massa yang mengeras atau pengumpulan. yaitu penetes pada suhu 200C memberikan tetesan air suling yang bobotnya antara 47. Sifat-sifat: 1. antimikroba.5 mg dan 52. c. Pembawa yang digunakan pada umumnya adalah propilen-glikol. volume pemberian kecil. pewarna. pH sebaiknya asam (5. dengan mengencerkan lebih dahulu dengan air dan kemudian dikumur-kumur. analgetika. steril 2. GUTTAE NASALES (tetes hidung) Obat tetes untuk hidung dengan cara meneteskan bahan obat ke dalam rongga hidung. suspensi dan merupakan sediaan paten (nama dagang). dan zat uuntuk irigasi.0-6. pengawet. pada umumnya ditambah pemanis. Contoh: effisol liquid. 2. sebaiknya isotonis atau hampir isotonis. antiinflamasi. anastetika. GUTTAE ORIS Obat tetes topikal yang digunakan untuk mulut. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal ( antiseptika.5-7.

EXTRACTUM ET EXTRACTUM LIQUIDUM (EKSTRAK DAN EKSTRAK CAIR) Ekstrak adalah sediaan paket yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dan simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai. 4. Kecuali dinyatakan lain. Dextrose Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 27 . Kristal steril untuk dibuat larutan Obat dalam bentuk kristal. untuk dosis tunggal. isohidris untuk pemakaian ganda (multiple) ditambah pengawet yang cocok. Penicilin oil. suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan. sedang untuk pemakaian tunggal atau untuk operasi tanpa bahan pengawet.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 3. ISTILAH INFUSA DI SINI DITUJUKAN UNTUK MENUNJUKKAN METODE EKSTRAKSI BAHAN ALAM. digunakan sejumlah yang tertera: • Daun kumis kucing( orthosiphon folia) 0. Penicilin G Sodium d. kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. untuk dibuat suspensi dengan zat cair steril yang ditentukan (umumnya aqua pro injetie) e. inj valium. yang mengandung etanol sebagai pelarut atau sebagai pengawet atau sebagai pelarut dan pengawet. Contoh: inj. yang disuntikan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Inj luminal. dilarutkan/disuspensikan terlebih dahulu dalam pelarut steril (umumnya dalam aqua pro injectie) Contoh : inj. Inj Cortison Acetat suspensi c.V) Sediaan steril berupa larutan atau suspensi dalam volume besar. inj. Kristal steril. Contoh: inj Vit C.5 %  BERBEDA DENGAN CAIRAN INFUS UNTUK TERAPI CAIRAN INTRAVENA. Berdasarkan bentuk sediaan: a. Cairan intravena ( infundabilia : infus i. Suspensi : obat tersuspensi dalam air suling/minyak Contoh: inj. dibuat dengan menggunakan 10% simplisia. Larutan : obat terlarut dalam air suling/minyak/pelarut organik yang lain. Streptomycin sulfat. inj. INJECTIONES (INJEKSI. INFUSA (INFUS) Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90 derajat celcius selama 15 menit. Ekstrak cair adalah sediaan cair simplisia nabati. OBAT SUNTIK) Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan. b. INFUSA SIMPLISIA TIDAK BOLEH ATAU DILARANG DIBERIKAN SECARA INTRAVENA (INFUSDABILATA). sebelum disuntikkan. infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras. Ringer lactat. emulsi.5 bagian • Daun tempuyung (sonchus folia) 2 bagian • Temulawak( curcuma rhizoma) 4 bagian Contoh: Infus Orthosiphon 0. Contoh: Cendometason guttae opthalmicae. dan kecuali untuk simplisia yang tertera di bawah ini. Sediaan digunakan untuk dehidrasi atau pemberian nutrisi secara parenteral. Untuk pembuatan 100 bagian infus berikut.

inj. misalnya minyak kacang (Ol. . isotonis.Contoh : inj. Injeksi intratekal (i. PELARUT OBAT SUNTIK ( Vehiculum) 1. minyak zaitun ( Ol olivarum). bebas pirogen. Injeksi intramuskular (i. larutan yang bersifat hipertonis harus diberikan perlahan-lahan.Efek yang ditimbulkan kurang cepat. 5.c) .umumnya tidak lebih dari 20 ml. Streptomycin. 1.c) .Volume yang digunakan < 2 ml . Minyak yang dipakai adalah minyak lemak berasal dari nabati. parafin liq.Tergantung dari tipe preparatnya.d) Larutan hanya digunakan dalam keadaan gawat karena dikehendaki onset yang cepat. .Contoh: ekstrak allergen. dan biasanya durasi lebih besar dari pada pemberian i.Sediaan obat dapat berupa larutan.1-0.Sediaan berupa larutan yang harus isotonis. selain sebagai pelarut juga digunakan untuk mempertinggi stabilitas obat atau hasil larutannya. Pelarut bukan air:  Minyak: olea neutralisata ad injectionem Guna pelarut minyak ialah agar waktu kerja obat lebih lama. dan diracik dalam wadah dosis tunggal. Valium 3. propilen-glikol. Injeksi intrasternal (i.Volume yang digunakan 0.s) 8. intraspinal. Pembawa minyak hanya dipakai penyuntikan ke dalam otot. pelarut air: aqua bidestilata steril (pro injectionem) 2. Injeksi peritoneal(i. steril. vaksin BCG 2.v) .p) 9.intradural. 6.m) . .Meninggalkan tanda sedikit melepuh pada tempat yang disuntikan.  Bukan minyak : alkohol.Digunakan untuk diagnose atau immunitas . .d) 7. . Injeksi Subkutan/hipodermik(s. dll.v .2 ml .Contoh: inj. . 4.Biasanya diberikan dalam keadaan darurat. Papaverin.Aksi obat cepat karena tidak melalui proses absorpsi . Biasanya zat tersebut dicampurkan dengan air. Syarat injeksi: aman. minyak wijen ( Ol sesami).Digunakan untuk pengobatan sistemik . Injeksi peridural (p.Arachidis). emulsi atau suspensi . gliserin. isohidris. .t) atau subarakhnoid. tidak boleh mengandung bakterisida. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 28 . Injeksi intrakardial (i.umumnya berupa larutan atau suspensi dalam air. .Sediaan harus berupa larutan jernih.Contoh : ampisilin injeksi. larutan dalam air lebih cepat diabsosrpsi dari pada dalam minyak. Injeksi intravena ( i.k.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Berdasarkan cara pemberian: Injeksi intraderma/intrakutan (i.Digunakan untuk pengobatan sistemik .umumnya berupa larutan atau suspensi (bahan obat yang mengiritasi atau suspensi kental menyebabkan abses. luka dan rasa sakit).

Contoh antioksidan: . Surface active agent terutama non ionik.15 % . Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 29 . 2. Wadah dosis tunggal ( single dose).4) Contoh : . 3. WADAH OBAT SUNTIK 1. Biovailabilitas sempurna atau hampir sempurna 4. Obat hanya dapat diberikan kepada penderita di RS atau tempat praktek dokter.Asam fosfat dan garamnya (0. Wadah dosis ganda ( multiple dose).gas karbondioksida . untuk stabilisator. Efek psikologis pada penderita yang takut disuntik 8. Kekeliruan pemberian obat atau dosis hampir tidak mungkin diperbaiki. Efek obat dapat diramalkan dengan tepat 3. 9. Bekerjanya obat cepat (onset cepat) 2. dll b. oleh dokter atau perawat yang berkompeten.1 %  Klorobotanol 0. bahan yang digunakan bersifat bakteriostatik.Na Metabisulfit 0. an-cooperatif. EDTA 0. gliserin. Untuk menaikkan kelarutan : alkohol. Pengawet Untuk injeksi pada wadah ganda ( multiple dese). o Mencapai pH sama dengan pH darah (7.8-2%). pada umumnya berbentuk ampul dengan volume 1-10 ml.075%) .Asam asetat dan garamnya(1-2%) .v yaitu botol infus dari kaca atau plastik biasanya dengan volume 500 ml. Bahan penambah kelarutan a.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran BAHAN TAMBAHAN LAIN 1.2 % 4. Larutan penyangga ( buffer) Tujuan penambahan larutan penyangga: o Menghindari perubahan pH dalam penyimpanan karena berinteraksi dengan wadah. Kerusakan obat dalam GIT dapat dihindari 5. Antioksidan Tujuannya: menghindari terjadinya oksidasi obat dalam sediaannya. terutama pemberian intavena.05-0. Diberikan untuk penderita yang sakit keras. 6.Asam sitrat dan garamnya (1-3 %) . Rasa nyeri pada tempat suntikan 7. Wadah untuk infus i.5 %  Benzyl alkohol 2 %  Fenil merkuri nitrat/asetat 0.zat pengkhelat ( mis.002 % KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PEMBERIAN SECARA INJEKSI 1. koma. 2.Na bisulfit 0.gas nitrogen . 3.01-0. Contoh :  Benzalkonium kloroda 0. umumnya berbentuk vial atau flacon volume 10-20 ml.

Obat tidak terkontaminasi dengan bahan asing. b. venin. mikroorganisme atau antigen lain yang sesuai. 3. Pemakaiannya secara topikal. Vaksin dibuat dari bakteria. VACCINA ( Vaksin ) Vaksin adalah sediaan yang mengandung zat antigenik yang mampu menimbulkan kekebalan aktif dan khas pada manusia. Pada aerosol inhalasi. Jenis aerosol lain dapat mengandung partikel-partikel berdiameter beberapa ratus mikrometer. Sterilitas obat dapat dipertahankan Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 30 . Obat mudah dipakai hanya dengan menekan tombol. terutama untuk preparat yang digunakan untuk telinga. Imunoglobin khas diperoleh dari serum yang mengandung kekebalan dengan endapan fraksi dan perlakuan dengan enzim atau cara kimia atau fisika lain. juga untuk pertolongan pertama pada keadaan tertentu. multiple dose Vol 10-20 ml SEDIAAN STERIL YANG LAIN a. single dose Vol. Imunoserum mempunyai kekuatan khas mengikat venon atau toksin yang dibentuk oleh bakteri. Keuntungan bentuk sediaan aerosol: 1. selama imunisasi hewan tidak boleh diberi penisilin. ukuran partikel obat harus dikontrol dan ukuran rata-rata partikel obat harus lebih kecil dari 10 mg.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Ampul. Sediaan ini dikenal sebagai inhaler dosis terukur. tidak boleh digunakan secara parenteral. mulut (aerosol lingua) atau paru-paru ( aerosol inhalasi). Pada etiket diberi tanda bahwa sediaa ini tidak dapat digunakan untuk injeksi. tenggorokkan dan hidung yang dapat dipakai berulang kali. c. riketsia atau virus dan dapat berupa suspensi organisme hidup atau fraksi-fraksinya atau toksoid. seperti pada asma bronkiale. sedangkan aerosol topikal untuk pengobatan berbagai penyakit kulit. suspensi. ataupun rusak karena kelembaban udara. Aerosol oral digunakan untuk pengobatan simtomatik. IRIGATIONES (Irigasi) Irigasi adalah larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau rongga-rongga tubuh. 1-10 ml Vial/flacon. AEROSOLUM ( AEROSOL) Aerosol farmasetik adalah sediaan yang dikemas di bawah tekanan. mengandung zat aktif terapetik yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan. Sediaan ini digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit dan juga pemakaian lokal pada hidung ( aerosol nasal). Imunoserum diperoleh dari hewan yang diimunisasi dengan penyuntikan toksin atau toksid. 2. Aerosol digunakan untuk obat dalam dan luar. IMMUNOSERA ( Imunoserrum) Imunoserum adalah sediaan yang mengandung imunglobulin khas yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian. antigen virus atau antigen lain yang digunakan untuk pembuatan sediaan.

Contoh: Vicks Inhaler. Larutan bahan obat dalam air steril atau dalam larutan natrium klorida untuk inhalasi dapat disempotkan menggunakan gas inert. penggunaan aerosol inhalasi tidak efektif. Sifat-sifatnya : 1. Contoh: Bricasma inhaler. Contoh : Linimentum salonpas ( untuk counteriritant) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 31 . Volume dosis tunggal yang umum diberikan mengandung 25-100 ul/ug tiap kali semprot. Sebagai pelindung atau pengobatan tergantung dari komponen zat aktifnya Contoh : Baby Lotion. yang karena bertekanan uap tinggi. membentuk lapisan yang tipis pada kulit tanpa menyentuh area sehingga menimbulkan efek dingin dan segar. Kerugian bentuk sediaan aerosol : 1. Penyemprotan hanya sesuai untuk pemberian larutan inhalasi jika memberikan tetesan dengan ukuran cukup halus dan seragam sehingga kabut dapat mencapai bronkioli (2-6 um). Harganya mahal 2. Jenis inhalasi khusus disebut inhalat terdiri dari satu atau kombinasi beberapa obat. INHALATIONES ( INHALASI) Inhalasi adalah sediaan obat atau larutan atau suspensi terdiri atas satu atau lebih bahan obat yang diberikan melalui saluran nafas hidung atau untuk memperoleh efek lokal atau sistemik.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 4. Dioleskan pada kulit yang luka atau sakit sehingga membentuk lapisan yang tipis di permukaan kulit setelah kering. 2. Obat yang perlu diberikan dalam dosis tertentu. Apabila pelarutnya minyak. Bagi penderita asma atau emfisema apabila bronkus sudah banyak sekret (lendir). suspensi atau solutio dalam minyak atau alkohol tergantung dari zat aktifnya. menggunakan alat mekanik secara manual untuk menghasilkan tekanan atau inhalasi yang dalam bagi penderita yang bersangkutan. Bentuk sediaan obat lotion dapat berupa solutio atau emulsi tergantung dari zat aktifnya. sedangkan dosis ganda biasanya lebih dari beberapa ratus. LINIMENTUM ( LINIMENTA) Sediaan cair yang digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit . Bentuk sediaan linimentum dapat berupa emulsi. Serbuk dapat juga diberikan secara inhalasi. Kelompok sediaan lain yang dikenal sebagai inhaler dosis terukur adalah suspensi atau larutan obat dalam gas propelan cair dengan atau tanpa konsolven dan dimaksud untuk memberikan dosis obat terukur ke dalam saluran pernapasan. Linimentum dengan pelarut alkohol atau hidroalkohol baik digunakan untuk tujuan counterrritan sedang pelarut minyak cocok untuk tujuan memijat atau mengurut. 2. Dipakai pada kulit yang utuh ( tidak boleh adanya luka berakibat terjadinya iritasi) dan dengan cara digosokkan pada permukaan kulit. Sifat-sifatnya : 1. SEDIAAN CAIR LAIN LOTION ( OBAT GOSOK) Sediaan cair yang dihunakan untuk pemakaiain luar pada kulit. 5. Contoh: Alupent aerosol. 3. dapat terbawa oleh aliran udara ke dalam saluran hidung dan memberikan efek. iritasinya berkurang apabila dibandingkan dengan pelarut alkohol. Wadah obat yang diberikan secara inhalasi disebut inhaler. wadahnya dilengkapi dengan katup khusus sebagai meterd aerosol sehingga dosisnya dapat terkontrol. Untuk pemakaian topikal dapat uniform.

campora. Adapun sifat basis ini sukar dicuci. contoh : asam salsilat adalah salah satu contoh obat yang khas tujuannya apakah akan digunakan sebagai antiseptik/antifungi/keratolitik. obat akan diabsorpsi oleh lapisan kulit dan membrana mukosa. oculenta 7. Tujuannya terutama memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. pengering. antibiotika. all propose cream. Komposisi sediaan ini. lunak mudah dipakai dengan cara dioleskan. contoh krem pembersih. Oleh karena ia merupakan NSAID maka sifat khasnya adalah mengiritasi lambung dan menyebabkan pendarahan lambung jika diberikan per oral. dan tidak tampak berubah dalam waktu lama. dll atau obat lain contoh : antibiotik. Adapun prosesnya adalah sbb: setelah obat dilepas basis. Bentuk Resep:  Obat standart/paten  Racikan Macam sediaan setengah padat 1. Parafin padat/cair. penutup. cocok/ sesuai serta dapat terdistribusi merata. disamping mengandung bahan obat juga memerlukan bahan dasar/basis yang berfungsi sebagai bahan pembawa obat disamping fungsi lain yaitu:  Pelumas (lubricant). cream 3. sapo 6. Penggunaan bahan dasar ini terutama sebagai pelunak (emolien). contoh : • in ora base • emplastrum • liniment Bahan obat bisa terdiri dari obat khas topikal. kortikosteroid. Basis Hidrokarbon Dikenal sebagai basis berlemak antara lain vaseline putih dan salep putih. dan voltaren. Hanya sejumlah kecil bahan berair yang dapat dicampurkan kedalamnya. A. tidak mengering. anthihistamin. Adapun pembagian basis hidrokarbon ini adalah sbb: 1. khusus untuk sediaan setengah padat dengan basis berminyak.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran SEDIAAN SETENGAH PADAT Biasanya digunakan secara topikal dan berefek lokal. Sulfur. kemungkinan obat akan diabsorpsi lebih lanjut masuk ke pembuluh darah kemudian ke sirkulasi sistemik. jelene 2. Vanishing cream untuk obat jerawat. vaseline. kortikosteroid.  Pelindung (protective). jelly 5. tetapi dengan perkembangan teknologi di bidang farmasi tersedia juga obat yang bertujuan untuk memberi efek sistemik karena tertentu contoh: obat anti-inflamasi diklofenak.  Pelunak ( emolien) Bahan dasar atau basis yang digunakan harus memenuhi persyaratan stabil maksudnya tidak terpisah dari obatnya kecuali penicilin dan tetrasilikin yang diberikan dalam bentuk sediaan dalam bentuk sediaan oinment. Plastik : Polietilen cair 3. contoh vaseline. sediaan lain. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 32 . resorcinol.  Pembersih. Voltaren merupakan NSAID yang merupakan obat pilihan pertama untuk reumatoid artritis. Sabun : alumunium stearat + minyak mineral. Oleh karena itu maka obat Voltaren diberikan secara topikal tapi bertujuan untuk menghasilkan efek sistemik. unguenta 2. pasta 4.

Basis Tercuci Merupakan emulsi minyak dalam air.  Ketersediaan hayati  Stabilitas dan ketahanan bahan jadi Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 33 . Contohnya antara lain salep hidrofilik atau tepat disebut krim (chemores). Basis Tipe Emulsi 1. Olivarium. beberapa sediaan lebih efektif menggunakan bahan dasar tercuci daripada bahan dasar hidrokarbon. ingat bahwa air larut dalam air bukan dalam minyak). Contoh lain: • PEG 4000 40% dilebur dengan • Peg 400 60% • (POLIETILEN GLIKOL) F. Basis absorpsi/ bahan dasar serap Manfaat bahan dasar ini juga sebagai emolien 1. dimetikon/dimetilpolisiloksan D. C. Keuntungan yang lain adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terdapat pada keadaan dermatologik ( ket: pada lesi dermatologik akut banyak mengandung air. Ol. Ol sesami. E. Basis ini disebut tercuci oleh karena mudah dicuci dengan air atau dilap basah sehingga lebih dapat diterima sebagai bahan dasar kosmetik. Emulsi A/M Lanolin Cold Cream PEMILIHAN BAHAN DASAR Tergantung pada banyak faktor antara lain:  Khasiat yang diinginkan  Sifat bahan obat yang dicampurkan. sedangkan basis tercuci ini lebih banyak airnya daripada minyak sehingga air dari sediaan ini akan lebih mudah bercampur dengan air dan lesi. anhidrus : merupakan bahan dasar yang dapat bercampur dengan air dan membentuk emulsi air dalam minyak. Hidrous : merupakan emulsi air dalam minyak dan dapat bercampur dengan sejumlah air tambahan. contoh:  adeps lanae ( lemak bulu domba) .  Hidrofilik petrolatum  Parafin hidrofilik  Lanoloin anhidrat. contoh:  Lanolin ( merupakan kombinasi asam lemak dan air dengan perbandingan 3:1). Emulsi M/A ( sedikit minyak yang terselubung dalam air) : Vinishing cream Hidrophilic Oint 2. Basis lemak dan minyak Ol . untuk mengabsorpsi kebasahan lesi. arachidis.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran B.  Cholesterol. Basis Polimer sintetik Silikon. 2.

A UNGT SbDM m e t v. Istilah ini secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair diformulasikan sebagai air dalam minyak/minyak dalam air. UNGUENTUM ( Ointment.e CREAM ( KRIM) Adalah bentuk sediaan setengah padat. Kerugian : Karena banyak mengandung air maka mudah dibersihkan sehingga kontaknya dengan kulit singkat ( kerja obat singkat) Fungsi :  Pengobatan setempat  Pendingin  Pelunak Sediaan  Racikan  Standart  Non Generik / Obat dengan nama dagang Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 34 . lebih stabil dalam bahan dasar hidro karbon daripada bahan dasar yang mengandung air. salep) Adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan.u. Bahan obat : sampai dengan 10 % Bahan dasar : A ( misal vaselin putih)/B/D ( misal lanolin) atau bisa juga campuran bahan dasar A dan D Fungsi : pengobatan setempat. mengandung salah satu/lebih bahan obat terlarut/terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. pelunak Sediaan : Racikan. meskipun obat tersebut lebih efektif dalam bahan dasar yang mengandung air.F. Basis krim M/A dioleskan pada kulit untuk mendapatkan :  Fase penguapan yang kontinyu  Menaikkan konsentrasi obat dalam air  Membentuk lapisan film pada permukaan kulit Keuntungan : oleh karena mengandung banyak air maka bisa berfungsi sebagai pendingin kulit. oleh karena kontaknya dengan kulit lebih lama. Keuntungan : kontak dengan kulit lebih lama sehingga kerja obat lebih efektif. Misalnya obat-obat yang cepat terhidrolisis.L.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Dalam beberapa hal perlu menggunakan bahan dasar yang kurang ideal untuk menjaga stabilitasnya.e Standart = R/ 2-4 Salf 20 SsDM ue Paten = R/ Nerisona fatty Oint/Oint tube I StDM u. Bahan dasar biasanya berminyak sehingga kontak dengan kulit lebih lama. Contoh Penulisan R/ Unguenta Racikan = R/ Vioform 3% Acid salisil 4 % Adeps Lanae 2 Vaseline AD 15 M. Basis krim menggunakan bahan dasar yang dapat dicuci dengan air antara lain basis emulsi atau cream tipe air/minyak ( A/M atau minyak/air ( M/A) Basis krim A/M dapat menyimpan lipid dan kelembaban dalam stratum korneum dan kemampuan memperbaiki jaringan dari kekeringan karena mempunyai sifat emolien. terdiri atas satu atau lebih bahan berkhasiat dalam bahan dasar yang cocok. Paten. pelindung. Standar.

f. Bahan obat : padat 40-60% Bahan dasar : A/B/D Fungsi :  Pengobatan setempat  Pelindung pada bagian yang diolesi  Pembersih ( pasata gigi)  Tidak bisa untuk daerah berambut  Pengering  Obat dapat kontak lama dengan kulit  Cocok untuk lesi akut yang cendrung membentuk kerak menggelembung/mengeluarkan cairan.u.e. Cara pemakaian : dioleskan dulu pada kain kasa Sediaan : racikan.f Non Generik / Obat dengan nama dagang= R/Nerisona Cream tube I SsDM m.e standart= R/All Purpose Cream 25 S. Pasta berlemak ternyata kurang berminyak dan lebih menyerap dibandingkan dengan salep karena tingginya kadar obat yang mempunyai afinitas terhadap air dan daya penetrasi dan daya maserasi lebih rendah dibandingkan dengan salep.l. dibuat dengan mencampurkan bahan obat berbentuk serbuk dalam jumlah besar(40-60 %) dalam vaselin/parafin cair atau ke dalam bahan dasar berlemak dibuat dari gel fase tunggal mengandung air.250 Vaselin Flav ad 25 Mfla pasta SsDM v. merupakan salep yang padat dan kaku yang tidak meleleh pada suhu tubuh.1 Basis Crem A/M ad.e Racikan= R/ CMC 1 % PEG 10-30 % CaCO3 15-50 % Na Lauryl Sulfat 1-2 % Pengawet Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 35 .d. Oxyd 6. Standart.a cream sbDM met v.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Contoh Cream Racikan= R/ Hidrocortison Asetat 0.5 Zinc. misalnya pasta natrium karbonsimetilselulose.u.u. Keuntungannya : bahan obat bisa 40-60 % lebih banyak Kerugiannya : tak bisa menempel pada kulit berambut.10 m. Non Generik / Obat dengan nama dagang CONTOH PASTA Standart = Pasta lasari R/ Acid salicyl 0. sedangkan pasta berlemak misalnya pasta zink oksida.e PASTA Pasta adalah sediaan setengah padat yang mengandung satu/lebih bahan obat yang ditunjukkan untuk pemakaian topikal. Sediaan tersebut berupa masa lembek.

Alginat.3) Fungsi : pembersih kulit & pembawa obat Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang OCULENTA ( UNGENTUM OPHTALMICAE) Sediaan salep steril untuk pengobatan mata dengan menggunakan dasar/basis salep yang cocok. CMC) dan gom alam ( tragakanta. As. GEL Gel atau jeli merupakan sistem semi padat yang terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar. Gel/jeli topikal merupakan gel fase tunggal dengan menggunakan bahan dasar larut dalam air. Bahan dasar : Penyabunan Alkali dengan lemak ( A no. pembawa obat. IN ORA BASE Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 36 . pektin) Bahan dasar : Gom.1-1% Aqua ad 100 Cara pemakaian : Tidak langsung dioleskan pada kulit tetapi dioleskan dahulu pada kain kasa Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang. Bahan dasar salep seperti ini memungkinkan dispersi obat larut yang lebih baik. SEDIAAN LAIN 1. Vaselin merupakan dasar salep mata yang banyak digunakan. Dasar salep yang dipilih tidak boleh mengiritasi mata. bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang larut dalam air.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Na F Warna 0. antara lain karbomer ( PEG. Bahan dasar yang lain adalah beberapa bahan dasar salep yang dapat menyerap.racikan JELLY. CMC) Tidak dikemas dalam pot tapi dalam tube Sifat :  Pelicin kulit.Standart. semi sintetik (metil selulose. Tragakanta. Sabun diperoleh dengan proses penyabunan alkali dengan lemak atau asam lemak tinggi. Keuntungan menggunakan salep mata yaitu obat dapat kontak lama dengan mata. Caragen agar Pektin. basis tidak mengiritasi mata dan memungkinkan obat tersebar dengan perantaraan air mata. pendingin  Mudah berjamur  Mudah kering oleh karena basisnya mengandung air  Efek lokal atau kemungkinan sistemik Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang ( Bioplacenton) SAPO Sediaan cair/setengah padat/padat yang terdiri dari campuran satu atau lebih bahan obat dengan suatu detergent/sabun. memungkinkan difusi obat dalam cairan mata dan tetap mempertahankan aktivitas obat dalam jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang cocok. terpenetrasi oleh suatu cairan. Sifat :  Steril. sehingga obat tetap berkhasiat selama penyimpanan  Untuk obat dalam larutan/serbuk halus.

korneum tebal tambahkan keratolitik. jika lesi luas ( ½ luas permukaan tubuh atau lebih berikan sediaan lotion ( murah).macam . dll  Bentuk sediaan : .Sifat PEDOMAN  DERMATOSA Akut : Krim M/A Kronis : Salep Pasta Krim M/A atau A/M Sub Akut : pasta Krim A/M  KEADAAN KULIT Kering : salep Krim Basah : Salep = Basis 4 ( D) Krim M/A atau A/M Berambut : basis 5 ( E) Krim M/A atau A/M Bersisik atau lap.Fisiologi Kulit  Tujuan : . . .Obat lama dikulit . Str. Sifat emplastrum :  Proteksi dan bantuan mekanis pada kulit  Kontak obat dengan kulit erat  Obat tidak melelh sehingga efek lokal lebih intensif. Digunakan untuk pengobatan bibir dan mukosa mulut Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang ( contoh Kenalog) 2. EMPLASTRUM Dari segi kimia hasil proses penyabunan dari asam lemak dengan logam berat. Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang ( Kove salonpas) HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATKAN DALAM MEMILIH BENTUK SEDIAAN SETENGAH PADAT  Kondisi kulit yang terkena penyakit: . Str corneum tebal. konsistensinya sedemikian rupa sehingga mudah melekat pada kulit dan biasanya dilapisi dengan kain.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Merupakan preparat Non Generik / Obat dengan nama dagang setengah padat yang dioleskan. jika lap.Fungsi  Basis : . Pelumas keratolitik Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 37 .Lapisan Straturn Komeum.Pembersih.Penetrasi Obat baik .luas permukaan kulit.Macam .

Depkes. atau dokter hewan kepada APA ( Apoteker Pengelola Apotek) untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Merupakan dokumen legal ( karena dilindungi UU) Agar pelayanan oleh apotek tidak dijumpai hal-hal yang merugikan penderita. Setelah dicocokkan maka sediaan yang cocok adalah krim M/A. RESEP Kata resep berasal dari bahasa latin: Recipe (R/) : ambilah Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. tetapi kalau berpengaruh jelek pada psikologisnya. Orang yang berhak menulis resep adalah:  Dokter ( umum. Fungsi resep : 1. misalnya instansi yang membiayai pasien. Lihat pada dermatosa yang akut dan pada keadaan kulit yang basah. 3. Merupakan media komunikasi Dari dokter kepada apoteker. 4. maka berikan sediaan yang cocok sesuai pedoman diatas. misal Dinas Kesehatan. sebaiknya tidak perlu diberitahu.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Contoh : pada lesi yang akut dan basah. Dengan cara yang benar. Tempat melayani resep : apotek ( umum. Sebagai catatan terapi Sebaiknya resep dibuat rangkap 2 : • 1 lembar untuk pasien agar mendapat obat • 1 lembar sebagai catatan dokter bila pasien datang lain untuk kontrol atau tidak sembuh. • Petugas kesehatan • Petugas lain yang berwenang menurut UU. • Jelas dapat dibaca • Sesuai aturan/kaidah penulisan yang berlaku Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 38 . dokter gigi. spesialis)  Dokter gigi terbatas untuk penyakit gigi  Dokter hewan terbatas untuk hewan Orang yang berhak mengetahui resep : • Dokter penulis resep atau yang merawat penderita • Penderita. atau dengan petugas kesehatan lain. juga untuk memonitor atau mengevaluasi pengoabatan. 922/1993: Resep merupakan suatu permintaan tertulis dari dokter. Sebagai perwujudan cara terapi Upaya terapi pasien dengan menggunakan obat 2. ATURAN PENULISAN RESEP A. etc. RS) Cara menyimpan resep : disimpan rapi sebagai dokumen selama tiga tahun Cara pemusnahan resep : dibakar oleh apotek dan dilaporkan pada instansi yang berwenang. Balai Pengawasan Obat dan Makanan.

Nama obat. antiinflamasi) dengan Lindocin (antibiotik) atau sebaliknya. Berat : g (gram).salic).05 ml)  gtt B. biasa juga ditulis cth. b/b. 500 mg. Salic.b. 2) Nama Sinonim  Misal : Asetosal ( ac. harus ditulis dengan jelas dan lengkap.5 g dalam 100 ml sediaan .5 ml dalam 100 ml sediaan 2 . Satuan tab. v/b (b=berat./lag/tube ( biji) Satuan tersebut ditulis dengan angka Romawi . Bronsolven. Aspirin.a. Aturan/kaidah penulisan resep: 1. Ac. 120 ml  Nama obat harus ditulis dengan jelas agar tidak keliru diberikan. Theophylin. Satuan jumlah/kekuatan obat 2./cap. Resep ditulis: Resep ditulis pada blanko R/ yang berukuran : Panjang : 15-18 cm Lebar : 10-12 cm Ditulis dengan tinta dan bahasa latin. • Bahan baku ( bentuk aslinya). Allerin Exp.5 g dalam 100 g sediaan . v/v.. Pot. Tetesan/drops ( = 0. misalnya Indocin (anlgesik. • • • • Alat penakar Sendok makan (=15 ml)  C Sendok teh ( = 8 ml)  Cth Sendok obat ( =5 ml)  C plastik. Satuan internasional : IU Volume : l (liter). ml (mililiter) Persentase %.5 % ( b/v) = 0. C.I 3. 2.280/1981. 3).5 % ( b/b) = 0.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Resep harus sesuai dengan Peraturan Menkes NO.  Dapat ditulis: 1) Nama generik. mg (miligram). Nigr. •    Obat jadi ditulis nama standart sesuai DOEN ( berisi nama obat generik berlogo) Misal: 1).0. mcg (mikrogram). 2).0. b/v. v=volume) Arti prosentase : . tab. 26/1980 dan Keputusan Menkes No. tuss. Tab Aminophylin 200 mg. (OBH) • Obat dengan Nama Dagang  Contoh : Tab.acet. Lag No. Acetosal 100 mg. Contoh: ampicilin syr. Ac Benzoic. Tab.0. BAHASA LATIN DALAM RESEP Bahasa latin dalam resep digunakan untuk penulisan: • Nama obat ( obat baku) • Pembentukan/bentuk obat • Petunjuk penggunaan obat ( biasanya disingkat) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 39 .5 % (v/v) = 0. Singkatan ditulis dalam bahasa latin dan harus lengkap penulisannya agar memenuhi syarat untuk dibuatkan/dilayani obatnya di apotek.60 ml.

umur (khususnya u/anak). RESEP LENGKAP Resep lengkap terdiri atas : 1. namun tidak boleh disingkat. banyak menimbulkan istilahistilah baru yang tidak dijumpai singkatannya dalam bahasa latin.M = periculum in mora= berbahaya bila ditunda! = ditulis dibelakang jumlah obat jika dosis melebihi dosis maksimum. . seperti singkatan bahasa Indonesia. . Lact) Corringens coloris ( warna)= carmine Corringens odoris (bau)= ol. Penulisan singkatan ini dikarenakan ukuran blanko R/ yang tidak terlalu besar.I = ne iteratur = tidak boleh diulang Cito = segera Urgent = penting Statim = penting P. Tidak boleh membuat singkatan versi sendiri. ada baiknya pasien tidak perlu tahu obat/ bahan obat apa yang diberikan. meliputi: . Misalnya: obat diberikan untuk 3 hari ( maksudnya kalau sampai 3 hari tidak terlihat perkembangannya yang positif.Vehicle ( pembawa) yang diperlukan bila resep merupakan racikan dokter sendiri dan bukan obat jadi. • Dalam keadaan tertentu karena faktor psikologi. meliputi: Corringens saporis= perasa. maka diupayakan agar seluruh pesan tersampaikan. Untuk hal-hal yang khusus.Remidium adjuvant/korektor= nama dan jumlah obat tambahan .I. pasien kembali kepada dokternya). alamat pasien • Tempat dan tanggal penulisan R/ • Simbol R/ (= invocatio) • Nama. istilah/kata tersebut ditulis utuh. alamat. maka boleh digunakan bahasa Indonesia.Remidium corrigens ( hanya kalau perlu). Bila ada istilah yang tidak ada dalam bahasa latin. jangan disingkat. Rossarum ( minyak permen) Corringens constituen: ditambahkan untuk bahan yang sedikit agar dapat dibuat sediaan obat.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Biasanya ditulis dengan singaktan yang baku ( disepakati Internasional) dan dihindarkan singkatan dalam bahasa Indonesia. Misal : saccharum lactis ( sacch. Jadi istilah tersebut harus ditulis lengkap. Inscriptio • Jenis bahan obat dalam resep. misal: sendok plastik harus ditulis C plastik. Singkatan Bahasa asing yang Penting : Iter…x = iteratur= diulang…x N. dan nomor izin praktek dokter 2.remidium cardinale = nama dan jumlah bahan-bahan pokok. Kerugian : Akibat perkembangan dari ilmu kedokteran dan kefarmasian. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 40 . bisa tunggal atau beberapa bahan. Alasan penggunaan bahasa latin : • Bahasa latin adalah bahasa yang mati ( artinya bahasa yang sudah tidak berkembang lagi) • Merupakan bahasa Internasional dalam dunia kedokteran dan kefarmasian • Menghindari dualisme ( adanya perbedaan pengertian). Superscriptio • Nama.

Ahmad yani 9 Gerung : Gerung. • Dibubuhkan pada resep setelah signa  tanda tangan u/ gol. • Untuk resep dokter RS/Klinik/Poliklinik harus ada 1). 3). Subscriptio Memuat cara pembuatan (nama dan jumlah bentuk sediaan) 4. misal: perubahan urin menjadi merah bila mengkonsumsi Rifampisin.mg. efek samping.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Jumlah bahan obat dinyatakan dalam satuan berat untuk bahan padat (mcg. • Adanya catatan ( kartu obat) untuk evaluasi jika pasien kembali lagi. sebuah resep dikatakan sah bila: • Untuk resep dokter praktek swasta harus ada nama. Nama. nama. alamat RS/Klinik/Poliklinik. Obat narkotika dan psikotropika tertentu  paraf u/ gol.g) atau satuan isi untuk cairan (tetes. Contoh blanko resep dokter praktek swasta : • dr. Signatura/transcriptio berisi petunjuk penggunaan obat. izin kerja. dan peringatan lain. tanda tangan/paraf* dokter penulis resep.2).obat selain diatas Dalam memberikan resep kepada pasien perlu diperhatikan hal-hal sbb: • Penggunaan obat. tanda tangan/paraf.I) 3. sediaannya dipilih obat mana dan sediaan apa yang paling efektif dan cocok untuk penderita • Penggunaan kombinasi obat harus dipertimbangkan adanya kemungkinan interaksi • Dosis diperhitngkan dengan tepat sesuai kondisi penderita. alamat praktek dan rumah. • Sertakan info tentang cara penggunaan.bagian/unit di RS. alamat. …………………… R/ Pro Alamat Umur : : : Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 41 . • Penulisan singkatan dalam bahasa latin • Jumlah obat/sediaan seperlunya. Enni Yuliani SIP : DU-2000/III/1999 Alamat Rumah/Praktek Jl. ml.

• Untuk penulisan resep digunakan bahasa latin.c.f. Catatan : untuk resep-resep intern misalnya RS.tab.no. bagian nama sampai dengan alamat dapat diganti oleh kop.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Contoh Blanko resep dokter RS/Klinik/Poliklinik Klinik Bersalin EXONERO JL. RS.a. dokter. atau penambahan angka untuk obat lainnya oleh pihak apotek ( terutama dalam hubungannya dengan klaim asuransi).a.l.200ml (= campur dan buat sesuai aturan suspensi sebanyak 200 ml)  f. Resep Formula Magistralis -sediaan disusun oleh dokter sendiri Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 42 . • Pada lembar resep yang digunakan oleh dokter hewan. • Penulisan signa harus jelas. bila termasuk obat baku/generik.l.d. maka gunakan bahasa Indonesia.d. nama dan alamat pemilik. berat badan.l. misalnya untuk obat narkotika jumlahnya tidak ditambahi oleh pasien yang akan menyalahgunakan pamakaiannya.t. Penulisan tersebut diperlukan terutama untuk keamanan agar angkanya tidak ditambahi. nama binatang. yaitu: 1. misalnya’X’ jika diperlukan dapat ditulis’-X-‘.Pemuda 18 Mataram Mataram. …………………… Dokter : R/ Pro : Alamat : Umur : Arti singkatan bahasa latin:  s.XX (= campur sesuai aturan puyer sesuai takaran di atas sebanyak 20 bungkus).a. • Untuk tanda-tanda khusus seperti ‘Cito’ atau ‘PIM’ harus ditulis disebelah kanan pada bagian atas kertas resep. FORMULA RESEP Dalam menuliskan resep. khusus untuk nama pasien perlu dicantumkan: jenis spesies( jenis binatang seperti kucing.u. seorang dokter bisa memilih 3 penulisan formula resep.pulv.h.f ( = tandailah dengan formulanya)  m.c (= tandailah 3x sehari 1 tablet 1 jam sebelum makan)  s. ‘iter’ harus ditulis disebelah kiri di bawah pada setiap R/ yang memerlukan pengulangan maka harus ditulis pada sebelah kiri atas dari resep.d. • Pada penulisan numero dengan menggunakan angka romawi. • Penulisan nama obat dengan menggunakan singkatan bahasa latin. resep yang demikian hanya berlaku lokal untuk negara Indonesia saja. dan SMF. dengan mencantumkan dan lain-lain yang diperlukan. Apabila ada keraguan dalam penjelasan dengan menggunakan bahasa tersebut. anjing.susp.d.d. • Penulisan resep tidak boleh dicantumkan kode-kode tertentu.t. • Untuk nama obat Non Generik / Obat dengan nama dagang harus secara lengkap dan jelas. dll).

odoris. Aturan pakai : 3x sehari masing-masing 1 bungkus.d pulv.Obat / sediaan generik berlogo . vehikulum/constituen. sifat.berupa sediaan jadi atau sediaan yang diracik apotek.t. antara lain : corrigen saporis.n t. farmakope Indonesia. coloris. Buatlah puyer sejumlah 15 bungkus. Contoh cara penulisan. *** signa pro re nata ter de die pulveres una=” tandai: bila perlu 3x sehari 1 bungkus puyer” Makna resep “setiap bungkus puyer mengandung bahan obat: Parasetamol 100 mg.satu sediaan bisa memiliki banyak formulasi . dokter harus memahami spesifikasi/kekhususan bahan sediaan obat (BSO). dan tujuan produk obat yang akan diberikan. Resep Formula Officinalis .a pulv.r.Dokter harus memahami isi/komposisi obat dan indikasinya. Komposisi tersebut dibuat puyer sesuai dengan dosis obat yang digunakan.l.sediaan jadi sesuai pabrik . .Bila memakai formula ini. dan Makna masing-masing formula Resep: 1. XV** s.obat yang dipilih berupa obat dengan nama dagang atau obat jadi .obat berupa standart/baku menurut: Formula standart.q.” Atau: Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 43 .d.. Arti.I *** Paraf - - arti singkatan * Saccaharum lactum quantum sactis = “ Saccaharum lactum secukupnya”. Resep Formula Spesialistis . . Extra farmakope dan Formularium Indonesia. 3. .s* m. 2. ** misce fac lege artis pulveres da tales dosis nomero quindecem=” campur dan buatlah sesuai aturan puyer sebanyak dosis tersebut diatas sebanyak 15 bungkus”.obat yang dipilih : bahan baku ( racikan) Sediaan Non Generik / Obat dengan nama dagang .■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran . Phenobarbital 10 Mg. Obat diperlukan untuk 5 hari.d. Lact.d no. dan Saccaharum laktum ( sebagai pemanis dan pembawa) secukupnya.memakai bahan tambahan.p.dokter harus memahami spesifikasi/kekhususan. RESEP MARGINALIS Sediaan padat R/ Paracetamol mg 100 Phenobarbital mg 10 Sacch.f.

l.arti singkatan : idem sda . XV s. III Tab. Phenobarnital 150 mg dan saccharum laktum secukupnya dicampur dan dibuat untuk menajdi 15 bungkus puyer. no.d.a no. XV s.III Sacch. Tablet Luminal ( 1 tablet = 50 mg ) sebanyak 3 tablet ( jadi 3x50 = 150 mg).5 g.s m.Makna resep : “ dari bahan obat : Parasetamol 1.q.d pulv.t. Aturan pakai : 3x sehari masing-masing 1 bungkus.s m. sedangkan R/2 ditulis jumlah banyaknya obat untuk 15 bungkus puyer.n t.5 Phenobarbital mg 150 Sacch.q.I Paraf .d.l. sehingga bila diperlukan dosis lain yang tidak sama dengan kandungan obat dalam sediaan tersebut.f.s” Mengapa resep seperti ini tidak dianjurkan? Sediaan tablet Parasetamol dan Luminal mengandung sejumlah obat yang tertentu per tablet. Lact.Paracetamol No. Jadi tiap bungkus mengandung 100 mg dan Phenobarbital 10 mg.r.a pulv. dan Saccharum laktum secukupnya.n t.a Makna resep : “ tablet parasetamol ( 1 tablet =500 mg) sebanyak 3 tablet ( jadi 3x500 mg= 1500 mg= 1. Aturan pakai : s. Dicampur dan dibuat untuk menjadi 15 bungkus puyer. akan memberikan masalah.p.d.d. Obat diperlukan untuk 5 hari.I Paraf   arti singkatan : s.a pulv.d pulv. Lact.f.5 gr). Luminal 50 mg no. Tidak dianjurkan bentuk peresepan berikut: R/ Tab. Apa bedanya kedua resep tersebut? Pada R/1 ditulis jumlah banyaknya obat untuk tiap bungkus puyer.r.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran R/ Paracetamol g 1.d. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 44 .p.

Hidrokortison 2.” Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 45 . stabilitas tidak bisa dijamin apabila dibuat di apotek. menggangggu homogenitas dan kadar obat dalam darah yang akhirnya akan mempengaruhi tujuan terapi.l.d. Pencampuran sediaan obat padat ke dalam sebuah sediaan jadi cair dilarang karena sangat tidak rasional.n t.m.1 p.c*** Paraf Arti singkatan * misce fac lege artis pulveres da tales dosis nomero trigenta= “ campur dan buatlah sesuai aturan puyer sesuai dosis tersebut sebanyak 30 bungkus”.d caps.5 % Ad.d.2* Vas.in caps.alb.r.a pulv. v **** Paraf Arti singkatan * Adeps lanae 2= “ Adeps lanae sebanyak 2 gram”** vaselin album ad 20 = “Vaselin album sampai 20 gram. Obat sediaan cair (sirup.f.” Makna resep “ campur dan buatlah salep sebanyak 20 gram yang mengandung : Tetrasiklin 3 %. suspensi.*** signa pro re nata ter de die capsula una post coenam=”tandai : bila perlu 3x sehari masing-masing 1 kapsul.d.” **** signa bi de die usus externus mane et vespere = “ tandai: 2x sehari untuk pemakaian luar pagi dan sore hari.ad 20 ** m.d. ungt*** s.Lan. berikan sesudah makan’.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran R/ Aminophylin mg 150 Prednison mg 5 m.a.l. aturan pakai: untuk pemakaian luar 2x sehari pagi dan sore.t.u.b.a no. Sediaan Cair  sekarang sudah tidak ada sediaan cair yang disusun formula oleh dokter melalui resep.e. karena untuk membuat sediaan cair perlu teknologi dan sudah tersedia dalam bentuk sediaan jadi yang siap pakai oleh pabrik farmasi.p.5 %.f. dan bahan Adeps lanae 2 gram dan vaseline album( ditambahkan hingga mencapai 20 g).”***misce fac lege artis unguenta = “ campur dan buatlah sesuai aturan salep.** da in capsula= “berikan dalam bentuk kapsul”. emulsi) harus dibuat segera dan memerlukan tambahan pengawet. Sediaan ½ Padat R/ Tetrasiklin 3 % Hidrokortison 2. XXX* da.et.** s.

** tandailah dua kali sehari untuk pemakaian luar pagi dan sore hari. Hidrokortison 2.6 gram.a” Apa beda resep ini dengan resep diatas? Rsep ini memakai jumlah obat dalam gram.d.6 Hidrokortison 0.d.m.5 gram. 2.e.* campur dan buatlah menurut aturan salep. ungt* s. Alb.d.l.d. Hidrokortison 0. Makna resep “ salep resep diatas mengandung Tetrasiklin 3 %.d. caps. 100 * s.c.Lan. demikian pula Hidrokortison: 2.b. dengan basis salep: Adeps lanae (10 %) dan Vaseline album. Cth.et.5 Ad.” Sediaan Cair R/ Pot. Adeps lanae 2 gram dan Vaseline album sampai jumlah salep sebanyak 20 gram.6 gram.I * Paraf Arti singkatan * signa ter de die capsula una=” tandailah 3x sehari 1 kapsul”.ml. Makna resep:” berikan kapsul amoksisilin 500 mg sebanyak 15 butir.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Atau R/ Tetracyclin 0. v ** Paraf Arti resep : ambilkan Tetrasiklin 0. Aturan pakai.d.Yaitu Tetrasiklin 0. Aturan pakai : s.alb. di dapat dari : 3 % x20 gram = 0.ad 20 m.d.t.u. 3xsehari masing-masing 1 kapsul.5 %x20 gram = 0.2 Vas.XV s.f.** signa ter de die cochlear theae= “tandailah 3x sehari masing-masing 2 sendok teh” Makna resep: Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 46 .t. RESEP OFFICINALIS Sediaan Padat R/ Amoxycilin 500 mg no.a.tuss.6 gram. Dibuat salep .5 gram. II* * Paraf Arti singkatan * potio album contra tussim = “ obat batuk putih (OBP).5 %.

Simpl.I* s. caps I Paraf Makna resep “berikan kapsul Amoxan 500 mg 15 butir.t.Sulf. Aturan pakai 2x sehari untuk pemakaian luar. Amm.d.Ad 100 m.d.b.d. Sulfuris Salicylitum( 2-4 Zalf) R/ acidum salicylicum 2 Sulfur praesipitatum 4 Vaselin alb.Gtt.100 3.t.” Formula Potio Album Contra Tusim ( OBP) R/ sol.XV s. masing-masing 1 kapsul.dest.Pip. Ad. Cth.10 Aq.Salicyl. pagi.m. Anis.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran ” berikan obat batuk putih100 ml.f.2 Ol.l.” Formula Ungt.Mint.v** ( setelah Mandi) Paraf Arti singkatan * Ungentum Sulfuric Salicylitum= “ salep Belerang-Salsilat” ** signa bi de die usus externus mane et vespere = tandailah 2 x sehari . dan sore hari sesudah mandi.d. 20* s.a mixt Sediaan ½ Padat R/ Ungt.untuk pemakaian luar..I Laboratorium Keterampilan Medik Paraf FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 47 .spirt.et.u.I Syr. Aturan pakai : 3x sehari masing-masing 2 sendok teh.60 ml lag.” Formula dan sediaan Amoxan: Bisa dilihat di buku IIMS/ISO Sediaan Cair R/ Cohistan expt.pagi dsan sore. Aturan pakai: 3x sehari.d.e.d. RESEP SPESIALISTIS Sediaan Padat R/ Caps Amoxan 500 mg no.setelah mandi Makna resep “ Berikan salep Sulfuris Salisilitum sebanyak 20 gram.

2. maka dokter harus memberi tanda tangan bukan paraf.” Makna resep “berikan Cohistan expectoran 60 ml 1 botol.” Makna resep “berikan Scabicid cream 1 tube.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Arti singkatan * Cohistan expectoran 60 ml lag una= “ Cohistan Expectoran 60 ml 1 btl.m** Tanda tangan Arti singkatan: * injeksi Pethidin ampula duo = “ Injeksi Pethudin dua ampul” ** signa in manum medici = “ Serahkan pada dokter” Makna resep “ serahkan pada dokter.* Laboratorium Keterampilan Medik Paraf FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 48 .m. telah diketahui. Komposisi/ formula harus diketahui secara baik oleh dokter penulis resep.” Formula dan sediaan Scabicid Cream : Lihat ISO/IIMS Catatan : dalam penulisan formula spesialistis dokter hanya perlu menuliskan nama Non Generik / Obat dengan nama dagang yang diberikan oleh pabriknya.b. R/ Inj.Tub. R/ Otopain ear drop lag I s. Aturan pakai : diminum 3x sehari masing-masing 1 sendok teh. II ( duo) * s.u. Pethidin amp.II a.d. Aturan pakai .** Paraf Arti singkatan: * Scabicid cream tube una= “krim Scabicid 1 tube” ** signa usus cognitus =” Tandailah : aturan pakai sudah tahu. kekuatan.I* s.” Formula dan sediaan Cohistan Expectoran: Bisa dilihat di ISO/IIMS Sediaan ½ Padat R/ Scabicid cr. dan jumlahnya.i. Perhatian Karena obat ini ( injeksi Pethidin) termasuk golongan narkotika.c.d gtt. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PENULISAN RESEP: 1. injeksi Pethidin sebanyak 2 ampul”.d.

Makna Resep “Berikan Otopain Ear drop (satu) botol. R/ Chloramphenicol Ungt.r. hidung atau mata kanan atau mata kiri atau kedua-duanya.t. dapat diberikan 3x sehari. kiri atau keduanya.I s. Paraf Arti singkatan: • signa bi de die unguentum opthalmicum ocular dexter et ocular sinister=” tandailah 2x sehari salep mata. dapat diberi keterangan” febris/demam/panas”. 5.d. mata kanan dan mata kiri”. Pemakaian kata” ear drop” ( bahasa inggris) diperbolehkan.b. Aturan pakai : 2x sehari mata kanan dan kiri”. Perhatian: Bila pemberian hanya waktu tertentu.Opth.d. Opth.p. R/ Tempra oral drop fl. Untuk obat-obat simptomatis yang diminum bila demam. R/ Bricasma Aerosol fl I s. Makna resep “ Berikan salep mata Kloramfenikol 1 % 1 tube. 1 % tub. Perhatian: Untuk tetes telinga.b. salep mata jelas untuk mata kanan. 2 semprotan. Perhatian: Seperti halnya tetes. ungt. 3. hidung atau mata harus jelas untuk telinga.4 ml Paraf Makna Resep: “berikan Tempra oral drop satu flacon/botol.d. Aturan pakai 2x sehari 2 tetes pada telinga kanan “. 0.. Aturan pakai 2x sehari. bisa diberi keterangan.II Paraf Makna resep : “ berikan Bricasma aerosol 1 flacon/botol.I s. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 49 . Od & Os.4 ml (dengan pipet yang tersedia).n = pro re nata= bila perlu.d puff. Misal: selain p. 4.d.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Arti singkatan: • signa bi de die guttae duo auriculae dextra=”Tandailah 2x sehari 2 tetes pada telinga kanan”.d. Aturan pakai : bila demam/panas berikan 0.n.r.

d.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran R/ Bricasma Turbohaler fl I s.d inh. 2 hirupan (inhalan)”.b. Perhatikan perbedaan kedua resep Perhatikan perbedaan aturan pakai dan sediaan/alat yang digunakan. Aturan pakai 2x sehari.II Paraf Makna resep : “ Berikan Bricasama Turbohaler 1 botol. Yang satu aerosol yang satu lagi inhalasi. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 50 .

½ .p.a filtr g.pulv mg mixt merid.s i.d.liq Lit. m.c d.I o.n. div.aeq d. o.a lag lin liq Liq.p.opth gtt. Si necesse sit Solutio Spiritus Signa suo nomine Signa usus externus Signa usus internus Signa usus notus Sgna usus cognitus Sumendum Ter de die/ ter in die Unguentum Vespere Menurut semestinya (= aturan) Botol Linimen Cairan Cairan varbonas pencuci Cair Parpum cair Tutul mulut Air pembersih Tablet hisap Pagi hari Campurlah Campur dan berilah tanda Pagi dan sore hari Campur dan buatlah Campur dan buatlah serbuk Miligram Larutan campuran Siang/tengah hari Malam hari Tidak diulang Tiap ½ jam Tiap jam Tiap 2 jam Tiap 3 jam Tiap pagi hari Tiap malam Tiap bagian yang sama Sesudah makan Berbahaya bila ditunda Cairan utk diminum Utk si miskin Bila perlu Serbuk (tunggal) Serbuk( jamak) Serbuk tabur Empat kali sehari Secukupnya Ambillah Segar Dibuat baru Tanda Dos Bila perlu Bila perlu Larutan Alkohol= etanol Tandai dengan namanya Tanda untuk obat luar Tanda untuk obat dalam Tanda aturan pakai sudah tahu Tanda aturan pakai sdh tahu utk Diminum Tiga kali sehari Salep Senja(=sore)hari Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 51 .in.c sum.aeq p.i.r.n.c.d.I.i s.th Caps Cylsm Collyr Collut Conc Cr d/da d.d. o.h.e s.M Pot.f d.n s.d d.h c C Cp C./solut spir s. m./o. s.liq extr.h..s sol.l.f. S scat.m. P. m.adsp.pro.m.h. p..auric gtt. N ne iter/ N.ung Vesp Lege artis Legena Linimentum Liquor Liquor Carbonas detergent Liquidium Parafin liquidium Litus oris Lotio Lozonges Mane Misce Misce da signa Mane et vespere Misce fac Misce fac pulveres Miligramata Mixtura Meridium Noctum Ne iteretur Omni dimidia hora Omni hora Omni bi horio Omni tri horio Omni mane Omni noctum Partes aequales Post coenam Periculum in mora Potio Pro paupere Pro re nata Pulvis Pulveres Pulvis adspersorius Quarter de die/ quarter in die Quantum satis/quanrum suficit Recipe Recens Recenter paratus Signa Scatula Si necesse est.i.s.sicc f f. o. d q.n s.i.Carb.d b. rec.s.h o.d.d/t.et v.oris Lot Loz m/man m.u.inj aq.u.c ad ad lib aDM aq.in p.d dext empl enem extr extr.2 plo dil.c.i.nasal h h.d/4.d d.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran ISTILAH BAHASA LATIN DALAM RESEP Aa a.bidest aq.n pulv pulv. p.e s.t.G garg gtt gtt.dest aq.steril b. R.m haust h. p.d. t.m inf inf.det Liq Paraf.b.spiss extr.d Ungt.u. r.s m.d/q.t.u.d.h o.iv iter iter 2x Lc Ana Ante coenam Ad Ad libitium Adbe Aqua bidestilata Aqua destilata Aqua pro injectio Aqua sterilisata Bis de die/bis in die Bis hora Cum Cochlear Cochlear pultis Cochlear theae Capsulae Clysma Collyrium Collutio Concentratus Cream Da Dorante coenam Da cum formula De die Da in demidio Da in duplo Dilitus Devide in dartes/equales Da tasles dosis Dexter Emplastrum Enema Extractum Extractum liquidium Extractum spisssum Extractum siccum Fac/fiat Fac lege artis Filtra Grama Gargarisma Guttae Guttae opthalimiceae Guttae auriculares Guttae nasales Hora Hora matutina Haustus Hora somni In manum medici Infusum Infus intavenus Iteretur /iteratie Iteretur 2x Loco Masing-masing sama banyak Sebelum makan Sampai Sampai yang diinginkan Tambahkan Air suling 2 kali Air suling Air untuk larutan suntik Air steril 2 kali sehari 2 jam Dengan Sendok makan 9 15 ml) Sendok bubur 9 8 ml) Sendok the(5 ml) Kapsul Lavement (cairan utk bubur) Cuci mata Cuci muluit Pekat Krim Berilah Selama makan Berilah dengan resep/formulanya sehari Berilah setengahnya Berilah 2 kalinya Encer Bagilah dalam bagian yg sama Berikan sebanyak takaran tersebut Kanan Plester Lavement Ekstrak/sari Sari cair Sari kental Sari kering Buat/ dibuat Buat menurut seni( aturan) Saring Garam Obat kumur Tetes Tetes mata Tetes relinga Tetes hidung Jam Pagi-pagi Sekali minum sebelum tidur Serahkan ke dokter Rebusan Sediaan steril untuk intravenous Diulang Diulang 2 kali Penggantinya l.d/b. q.n.f.

cara & lama pemberian 5. Terdapat 7 kriteria penggunaan obat secara rasional (POSR). rute. Pemberian obat yang tidak diperlukan. Perilaku pasien yang tidak mendukung a. interval dosis. Tidak tepat penderita a. Peresepan obat berlebih c. Tepat penilaian kondisi pasien 7. PENGGUNAAN OBAT RASIONAL Terapi dengan menggunakan obat terutama ditujukan untuk meningkatkan kualitas atau mempertahankan hidup pasien. Tepat tindak lanjut Namun ada hal-hal yang tidak dapat disangkal dalam pemberian obat yaitu kemungkinan terjadinya hasil pengobatan yang seperti yang diharapkan ( Drug related problem). Idiosinkrasi pasien a. lama pemakaian). Tepat diagnosis 2. Penulisan resep yang kurang tepat a. yaitu : 1. Berhubungan dengan cara pengobatan yang tidak tepat b. b. ae 3=III=tres 4=IV=quatuor 5=V=quinguae 6=VI=sex 7=VII=Septem 8=VIII= octo 9=IX=novem 10=X= decem 12=XII=duodecem 15=XV=quidacem 20=XX=viginti 21=XXI=unus et viginti 25=XXV=quinguae et viginti 30=XXX=trigenta 40=XL=quadragenta 50=L=Quingenta 51=LI=unus quingenta 90=XC=nona genta 100=C=Centum 500=D=quncenti 1000=M=mille 2000=MM=duo mille 121=CXXI=centum unus et viginti 131=CXXXI= centum unus trigenta. mengurangi atau meniadakan rasa sakit. Pemberian obat yang dikontraindikasikan pada penderita Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 52 . Tepat informasi 6. Tepat indikasi 3. dosis. Ketidakberhasilan pengobatan ini dapat disebabkan oleh: 1. Terjadi kesalahan atau kecelakaan 5. unae. una 2=II= duo. Peresepan obat majemuk (polifarmasi). unum.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran ANGKA LATIN 1= I = Unus. Respon aneh individu terhadap obat b. Tepat dosis. Pengobatan kurang tepat (missal: pemilihan obat. Kesalahan dispensing 3. Penyerahan obat yang tidak tepat a. menghentikan atau memperlambat proses penyakit serta mencegah penyakit atau gejalanya. Tepat pemilihan obat 4. Penggunaan obat tidak sesuai dengan perintah pengobatan ( Non compliance) 4. e. d. Peresepan salah 2. Obat yang tidak tersedia pada saat dibutuhkan b. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara : mengobati pasien. bentuk sediaan.

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 6. • Pasien dengan keadaan tidak memungkinkan akses melalui vena sehingga pemeberian obat secara IV harus dihindari. atau obat tidak tersedia pada saat dibutuhkan). Gagal dalam memantau efek pengobatan pada pasien. Pada rute pemberian obat dapat diperlukan penyesuaian dosis untuk pasien dan pemantauan intensif terhadap efek klinis. sangatlah penting untuk mempertimbangkan bioekuivalensi berbagai nama dagang obat. kadang-kadang tidak tersedia di bangsal / di apotek / di puskesmas. Contoh: suspensi fenitoin 90mg dalam 15 ml dipertimbangkan memberikan efek terapeutik yang kurang lebih sama dengan kapsul atau tablet yang mengandung natrium fenitoin 100mg. tidak sadar atau menderita mual dan muntah. yaitu melalui pemberian sediaan obat yang pelepasannya terkendali sehingga cukup diberikan satu kali sehari. Masalah yang terkait dengan pemberian obat  Rute pemberian obat Rute pemberian obat perlu dievaluasi untuk memastikan bahwa rute tersebut tepat bagi pasien. Pemantauan yang tidak tepat a. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 53 . • Pasien yang tidak dapat menerima pengobatan peroral memerlukan adanya kajian apakah pengobatan dapat diabaikan sementara waktu atau apakah diperlukan rute atau pengobatan alternatif. • Dosis yang terabaikan (kadang-kadang terlupakan. Contoh: pasien yang diterapi dengan Calsium chanel blockers pelepasan terkendali harus menggunakan nama dagang obat yang sama untuk terapi pemeliharaanya.  Bentuk sediaan obat Pada obat-obat tertentu. Pasien yang mungkin mengalami kesulitan dalam mematuhi aturan pengobatan akan memperoleh kemudahan dengan penyederhanaan aturan pengobatan. Contoh : • Sediaan obat yang pelepasannya terkendali akan tidak tepat jika diberikan melalui selang naso-gastrik. Rute pemberian obat juga harus disesuaikan dengan obat itu sendiri. Gagal untuk mengenali dan menyelesaikan adanya keputusan terapi yang tidak tepat.  Pemilihan waktu pemberian obat Sangat penting untuk memahami tentang ketepatan waktu pemberian dosis obat. Contoh : • Pasien yang tidak dapat menerima pengobatan secara oral karena tidak mampu / tidak boleh minum obat seperti sebelum operasi. b. harus dilakukan kajian terhadap pengobatan yang sedang diterima saat ini untuk menentukan formulasi atau pilihan obat alternatif. Contoh: • Pemberian obat sedasi untuk malam hari sebaiknya 30 menit sebelum tidur.

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Pemberian obat antihiperlipidemia golongan statin harus pada malam hari karena tujuan untuk mengurangi produksi kolesterol endogen yang diproduksi oleh tubuh pada malam hari. • Diuretik lebih baik diberikan pada pagi hari daripada malam hari (kecuali pada pasien yang dikateterisasi).  Frekwensi pemberian obat Pastikan frekwensi pemberian obat telah sesuai dengan farmakokinetika obat ataupun formulasinya. Contoh: • Laktulosa perlu diberikan secara teratur agar efektif. Masalah yang terkait dengan obat • Ketepatan pengobatan Aturan pengobatan perlu dikaji untuk memastikan kesesuaiannya dengan kondisi pasien. fungsi hati dan ginjal. atau justru menghindari pemberian bersamaan dengan makanan/ minuman. persoalan kepatuhan dan lain-lain. alergi. Contoh: • Profilaksis anti malaria yang tepat untuk wisatawan sesuai dengan tempat tujuan mereka. mengingat faktor-faktor seperti: keadaan penyakit yang bersamaan. • antipirektik hanya diberikan jika diperlukan untuk mengatasi demam. kontra indikasi. Contoh: • Acute anger glaucoma dilaporkan terjadi pada pasien dengan pemberian ipatropium bromida secara nebulasi. Pertimbangkan apakah pengobatan tersebut akan efektif bila diberikan hanya jika perlu atau perlu diberikan secara teratur. terutama jika digunakan bersama-sama dengan salbutamol secara nebulasi). Contoh: • Furosemid secara intravena harus diberikan pada kecepatan tidak lebih dari 4mg per menit. Contoh: • Tetrasiklin harus diberikan 1 jam sebelum makan atau pada saat perut kosong dan tidak boleh diberikan bersamaan dengan susu. Aturan pengobatan juga perlu dikaji dalam rangka memastikan ketepatan untuk masingmasing individu pasien. Perhatian/perlakuan khusus diperlukan untuk mencegah uap nebulasi dari masker menuju ke mata pasien.  Efek samping yang terkait dengan cara pemberian obat Perlu diantisipasi efek samping yang mungkin timbul sebagai akibat dari rute pemberian obat. Beberapa makanan dapat mempengaruhi absorpsi obat-obat tertentu sehingga perlu diperikasa adanya persyaratan bahwa suatu obat harus diberikan bersamaan dengan atau sesuadah makan. • Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 54 .  Kecepatan pemberian obat Untuk obat-obat tertentu perlu dipastikan bahwa obat-obat tersebut diberikan pada kecepatan yang tepat. pilihan waktu dan lamanya kunjungan.

• Pertimbangkan apakah suatu pengobatan masih diindikasikan untuk pasien – seperti penyelesaian suatu periode antibotika. Efek samping yang tidak terduga perlu diidentifikasi dan dinilai untuk memutuskan apakah pengobatan dapat dilanjutkan.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran • Beta bloker dapat memperparah keadaan asma. Kardio selektif beta bloker lebih dipilih dan beta bloker harus dihindarkan pada mereka yang sering mengalami kejadian hipoglikemia. • Penurunan dosis kortikosteroid pada tahap akhir pengobatan jangka panjang asma. • Pertimbangkan dasar pemikiran pada pemberian pengobatan yang bersamaan ataupun tambahan pengobatan. Contoh: • Walaupun beta bloker tidak dikontra indikasikan untuk diabetes. Jangka waktu pengobatan Beberapa terapi obat harus dilanjutkan untuk seumur hidup. sehingga perlu kajian terhadap khasiatnya dan atau penyesuain dosis. diare atau demam. Ketepatan dosis Pertimbangkan pedoman dosis (termasuk dosis maksimum dan minimum) dan variable pasien yang mempengaruhi dosis (termasuk tinggi. Contoh: • Pengobatan seumur hidup untuk disfungsi tiroid atau diabetes mellitus. sementara obat yang lain perlu diberikan untuk suatu pengobatan jangka waktu tertentu. Contoh: • Perlu dipertimbangkan antara resiko dan manfaat jika pasien diobati atau tidak diobati (terutama pada kehamilan dan menyusui). Kadang-kadang dosis obat perlu disesuaikan ketika terapi berlangsung. interaksi obat-diet atau interaksi obat – uji laboratorium. • • • Pentingnya pengobatan Pertimbangkan apakah pengobatan benar-benar dibutuhkan oleh pasien. sehingga harus dihindarkan pada pasien dengan riwayat penyakit asma atau penyakit paru obstrutif menahun. mual. serta mengganggu respon metabolisme dan autonomik terhadap hipoglikemia. muntah). • • Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 55 . berat. harus dihentikan (dan pengobatan alternatif diberikan) dan apakah pengobatan tambahan perlu diresepkan untuk mengatasi efek samping obat. usia. yang dapat mengarah pada duplikasi pengobatan (termasuk obat yang berbeda tetapi memiliki mekanisme aksi sama) atau pengobatan yang diberikan untuk mengatasi efek samping yang diakibat obat (termasuk ruam. mual / muntah. Contoh: • Karbamazepin menginduksi metabolismenya sendiri. interaksi obat-obat. Efek samping obat Efek samping yang dapat diantisipasi perlu dicegah atau ditangani dengan tepat. Interaksi obat Interaksi obat dapat termasuk: interaksi obat-penyakit. fungsi ginjal dan hati). • Pengobatan jangka pendek untuk infeksi. tetapi golongan obat ini dapat mengakibatkan sedikit penurunan toleransi terhadap glukosa darah.

paling dibutuhkan. lebih terjamin. Sebagian makanan enteral yang diberikan melalui selang nasogastrik dapat mengganggu absorpsi fenitoin. serta dapat mengurangi kebingungan pasien akibat keaneka. Pedoman tersbut disusun berdasarkan bukti ilmiah dan kesepakatan para ahli. rasional dan ekonomis bagi pasien. Sebagai standar keprofesian. Pedoman Pengobatan Salah satu aspek yang dapat memudahkan dan menjamin terlaksananya POSR adalah adanya suatu pedoman pengobatan. Untuk pasien Pengobatan yang diterima oleh pasien hanya pengobatan yang paling bermanfaat. Masalah obat yang tidak tercampurkan (OTT) secara fisika maupun kimia dapat muncul dan mengakibatkan hilangnya potensi.ragaman pengobatan antara petugas sehingga kepatuhan pasien terhadap pengobatan lebih terjamin.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran • • • • Amiodaron meningkatkan konsentrasi digoksin dalam plasma sehingga memerlukan penurunan dosis pemeliharaan digoksin. d. OTT dapat timbul karena pencampuran dua jenis injeksi yang tidak tepat atau penambahan suatu injeksi ke dalam cairan infus yang tidak tepat. Kompatibilitas / Ketercampuran obat. c. Manfaat pedoman pengobatan: a. sehingga anggaran obat dapat dimanfaatkan secara lebih efektif. DOEW. Aspek Hukum Pedoman Pengobatan a. PPAB. supervisi dan monitoring praktek peresepan serta memberikan perlindungan hukum. Contoh pedoman yang digunakan di Indonesia adalah FRS. DOEN. Tenaga kesehatan lebih dapat memusatkan perhatian pada proses penegakan diagnosis. mutu peresepan lebih terjamin dan memungkinkan evaluasi.9% ketika digunakan bersamaan dalam satu alat suntik (syring drive) sehingga sangat penting untuk memeriksa semua tanda / indikasi pengendapan sebelum pemberian obat. meningkatnya toksisitas atau efek samping lain. Untuk dokter dan tenaga keperawatan Memudahkan dokter dan tenaga keperwatan untuk menentukan pengobatan yang paling bermanfaat. • Siklizin cenderung mengendap dengan adanya NaCl 0. Contoh. Dapat memperkirakan kebutuhan obat secara lebih riil berdasarkan epidemiologi penyakit. dan PDT. Atau adanya logam bervalensi 2 pada diet (misalnya sayur bayam) dapat mengurangi absorpsi ciprofloksasin secara bermakna. Eritromisin estolat menyebabkan peningkatan semu terhadap aspartat transaminase AST / SGOT. Untuk pengelolaan suplai obat Suplai obat tiap penyakit baik oleh pemerintah sendiri ataupun melalui kerjasama dengan pihak swasta. aman dan ekonomis. karena pedoman pengobatan dibuat atas dasar pertimbangan ilmiah dan juga merupakan kesepakatan berbagai ahli yang relevan dan kompeten Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 56 . aman. b. Untuk pemegang kebijaksanaan kesehatan Pedoman pengobatan bermanfaat untuk mengukur mutu pelayanan pengobatan dan pengendalian biaya.

Penggunaan antibiotik secara tidak rasonal menyebabkan terjadinya resistensi obat. Memberi status hukum yang jelas dan dapat diterima. Dampak terhadap efek samping obat Semakin banyak jenis obat yang diberikan. Kurang mendapat informasi obat yang benar 3. Kurangnya pengetahuan tentang farmakoterapi 2. Pengawasan penggunaan dan peredaran obat yang kurang ketat. kurangnya motivasi dokter dan tenaga paramedis untuk menambah ilmu misalnya jarang mengikuti kursus penyegar 5. Faktor penyebab penggunaan obat yang tidak rasional Banyak faktor yang mendorong terjadinya pnggunaan obat yang tidak rasional. Tekanan dari industri farmasi 8. pemberian obat tanpa indikasi dan pemberian obat yang tidak perlu menyebabkan biaya pengobatan meningkat b. Dampak terhadap biaya pengobatan Waktu perawatan lebih lama. Tidak adanya pedoman pengobatan pada unit-unit pelayanan kesehatan 6. efek samping yang mungkin dialami oleh pasein dapat meningkat. karena telah mengikuti prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan hukum. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 57 . Dampak pengobatan tidak rasonal a.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran b. antara lain: 1. Sistem pelayanan kesehatan yang kurang merata 9. Tekanan dari penderita 7. Diagnosis yang tidak pasti sehingga pemberian obat seperti “ shot gun therapy” 4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful